Penjelasan Hadis Arba’in An-Nawawiyah (Bag. 4): Hadis 3, Islam Dibangun di Atas Lima Perkara

Daftar Isi ToggleTeks hadisKedudukan hadisFaidah-faidah hadisKeindahan metode pengajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamDua kalimat syahadat adalah rukun Islam yang paling agung dan simbol tauhidSalat merupakan rukun Islam yang paling agung setelah syahadatZakat mensucikan jiwa dan hartaHaji merupakan rukun Islam dan syiar besar dalam IslamPuasa Ramadan adalah salah satu rukun Islam dan menjadi keistimewaan umat IslamTeks hadisعَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ ” رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ “Dari Abu  ‘Abdurrahman ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhuma, ia mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah; mendirikan salat; menunaikan zakat; menunaikan haji (ke Baitullah); dan berpuasa Ramadan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Kedudukan hadisHadis ini memiliki keutamaan dan kedudukan yang sangat besar, karena menjelaskan dasar-dasar dan kaidah-kaidah Islam yang menjadi fondasi agama ini. Dengan dasar-dasar itulah, seseorang dianggap sebagai seorang Muslim.Dasar-dasar tersebut adalah: Mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan salat, menunaikan zakat, menunaikan haji ke Baitullah, dan berpuasa di bulan Ramadan.Hadis ini tidak menyebutkan rukun yang lain, karena iman kepada Allah dan Rasul-Nya sudah mencakup seluruh keyakinan dan ibadah dalam Islam.Selain itu, hadis ini juga tidak menyebutkan jihad, meskipun jihad merupakan kewajiban yang sangat penting. Hal ini karena jihad pada dasarnya berstatus fardhu kifayah, yaitu kewajiban kolektif yang tidak dibebankan kepada setiap individu Muslim, kecuali dalam kondisi-kondisi tertentu yang menjadikannya fardhu ‘ain. Abu Al-Abbas Al-Qurthubi rahimahullah berkata,يعني أن هذه الخمس أساس دين الإسلام وقواعده التي عليها بني وبها يقوم وإنما خص هذه بالذكر ولم يذكر معها الجهاد مع أنه يظهر الدين ويقمع عناد الكافرين لأن هذه الخمس فرض دائم والجهاد من فروض الكفايات وقد يسقط في بعض الأوقات“Maksudnya adalah bahwa kelima hal ini (rukun Islam) merupakan pondasi agama Islam dan kaidah-kaidah yang di atasnya agama dibangun serta dengannya agama tegak. Adapun penyebutan secara khusus kelima hal ini saja tanpa menyebutkan jihad, padahal jihad dapat memenangkan agama dan menundukkan perlawanan orang-orang kafir, karena kelima hal ini merupakan kewajiban yang bersifat abadi (terus-menerus), sedangkan jihad termasuk dalam kewajiban kolektif (fardhu kifayah) yang terkadang bisa gugur (tidak wajib) pada waktu-waktu tertentu.” [1]Kandungan makna hadis ini sebenarnya telah disinggung sebelumnya dalam hadis Jibril yang dibahas pada artikel sebelumnya. Pengulangan makna tersebut dalam hadis ini bertujuan untuk menegaskan serta memperkuat pemahaman tentang prinsip-prinsip dasar Islam.Oleh karena itu, hadis ini sangat penting untuk diperhatikan, dipahami, dihafal, dan disebarluaskan di kalangan umat Islam sebagai bagian dari upaya menjaga pemahaman yang benar terhadap ajaran Islam.Faidah-faidah hadisKeindahan metode pengajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamMemberikan contoh-contoh yang nyata (mudah dilihat dan dibayangkan) merupakan salah satu metode pengajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengibaratkan Islam seperti sebuah bangunan yang kita tempati untuk berlindung dari panas dan dingin.Bangunan Islam di atas lima (rukun) itu seperti bangunan sebuah rumah dari kemah yang berdiri di atas lima tiang; satu tiang berada di tengah, sedangkan yang lainnya berada di sisi-sisinya sebagai penopang. Tiang tengah yang menjadi dasar bangunan itu adalah dua kalimat syahadat, sedangkan tiang-tiang lainnya menjadi penopangnya. Selama tiang tengah masih berdiri, maka rumah itu tetap ada, meskipun sebagian tiang penopangnya jatuh. Namun jika tiang tengah itu jatuh, maka rumah itu akan runtuh seluruhnya; karena tiang tengah adalah pokok (dasar), sedangkan tiang-tiang lainnya mengikuti dan menopangnya. [2]Dengan perumpamaan ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin memudahkan kita dalam memahami bahwa dalam Islam terdapat rukun-rukun yang menjadi penopang agama. Jika salah satu rukun itu rusak atau ditinggalkan, maka bangunan Islam pada diri seseorang akan menjadi lemah, bahkan bisa runtuh.Perhatikanlah bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendekatkan pemahaman kepada kita melalui contoh yang nyata dan mudah dipahami. Oleh karena itu, para guru, dosen, dan orang tua sangat membutuhkan metode seperti ini, yaitu menggunakan contoh-contoh yang nyata agar pemahaman anak-anak dan para pelajar menjadi lebih mudah dan jelas.Dua kalimat syahadat adalah rukun Islam yang paling agung dan simbol tauhidMakna syahadat “Laa ilaha illallah” adalah: tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah.Kalimat ini mengandung dua rukun, yaitu penafian (nafy) dan penetapan (itsbat). Pada bagian awal terdapat penafian, dan pada bagian akhir terdapat penetapan. Penafian tersebut berarti menolak segala bentuk ibadah kepada selain Allah. Ini adalah penafian yang bersifat umum. Sedangkan penetapan di akhir kalimat adalah menetapkan bahwa ibadah hanya untuk Allah semata, tanpa sekutu bagi-Nya.Tujuan dari kalimat tauhid ini adalah mentauhidkan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang benar. Adapun sesembahan selain Allah jumlahnya banyak dan memang ada, tetapi semuanya adalah sesembahan yang batil. Yang dinafikan oleh kalimat tauhid ini bukanlah keberadaan sesembahan itu, tetapi hak ketuhanan yang benar dari selain Allah.Konsekuensi dari syahadat “Laa ilaha illallah” adalah tidak beribadah kecuali kepada Allah semata tanpa sekutu. Sedangkan konsekuensi dari syahadat “Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam” adalah membenarkan semua yang beliau sampaikan, melaksanakan semua perintahnya, menjauhi semua larangannya, dan beribadah kepada Allah hanya sesuai dengan syariat yang beliau bawa.Inilah makna dari kedua syahadat tersebut. Syahadat “Laa ilaha illallah” menuntut agar ibadah hanya ditujukan kepada Allah. Sedangkan syahadat “Muhammad Rasulullah” menuntut agar ibadah dilakukan sesuai dengan syariat yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Oleh karena itu, seorang Muslim harus memurnikan keikhlasan hanya kepada Allah, sehingga tidak menyembah selain-Nya. Selain itu, ia juga harus mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara sempurna, baik dalam melakukan suatu amal maupun dalam meninggalkannya, sesuai dengan apa yang beliau ajarkan.Allah Ta’ala berfirman,فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا“Barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan tidak mempersekutukan seorang pun dalam ibadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)Amal saleh adalah amal yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika salah satu dari dua syarat ini tidak terpenuhi, maka amal tersebut akan tertolak.Jika seseorang beramal dengan ikhlas tetapi tidak sesuai dengan sunah, maka amalnya tertolak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من أحدث في أمرنا ما ليس منه فهو رد“Barangsiapa mengada-adakan dalam urusan agama kami sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak.” (Muttafaqun ‘alaihi)Sebaliknya, jika seseorang beramal sesuai dengan sunah tetapi tidak ikhlas kepada Allah (misalnya karena riya atau menyekutukan Allah), maka amal tersebut juga tertolak. Allah berfirman,وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا“Dan Kami hadapkan kepada segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu seperti debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)Dalam hadis tentang rukun Islam yang lima, syahadat disebutkan terlebih dahulu karena keduanya merupakan pondasi bagi rukun-rukun yang lain. Hal ini serupa dengan rukun iman yang dimulai dengan iman kepada Allah, karena iman kepada Allah adalah dasar bagi seluruh rukun iman yang lainnya. [3]Salat merupakan rukun Islam yang paling agung setelah syahadatYang dimaksud dengan menegakkan salat adalah terus-menerus menjaganya atau secara umum melaksanakannya.Abdullah bin Syaqiq radhiyallahu ‘anhu berkata,كان أصحابُ مُحمَّدٍ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم لا يرَوْنَ شيئًا مِن الأعمال تَرْكُه كُفْرٌ غيرَ الصَّلاةِ“Para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memandang ada suatu amalan yang jika ditinggalkan menjadi kekafiran selain salat.” (HR. Tirmidzi)Ayyub as-Sikhtiyani berkata,تَرْكُ الصَّلَاةِ كُفْرٌ لَا يُخْتَلَفُ فِيهِ“Meninggalkan salat adalah kekafiran yang tidak diperselisihkan di dalamnya.”Pendapat ini juga dipegang oleh Abdullah ibn al-Mubarak, Ahmad ibn Hanbal, dan Ishaq ibn Rahwayh. Bahkan Ishaq ibn Rahwayh menukil adanya ijmak (kesepakatan) para ulama tentang hal tersebut. Dan Muhammad ibn Nasr al-Marwazi berkata,هُوَ قَوْلُ جُمْهُورِ أَهْلِ الحَدِيثِ“Ini adalah pendapat mayoritas ulama ahli hadis.” [4]Namun sangat disayangkan, ada sebagian umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meninggalkan salat bukan karena mengingkari kewajibannya, tetapi karena malas dan lalai.Zakat mensucikan jiwa dan hartaZakat membawa keberkahan pada harta serta membersihkan jiwa orang kaya dari sifat kikir dan bakhil, sekaligus membersihkan hati orang miskin dari dengki dan iri.Allah Azza wa Jalla berfirman,خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا“Ambillah zakat dari harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103)Syekh Abdunnashir Asy-Syatri berkata,والمراد بإيتاء الزكاة: إعطاء الزكاة وإيصالها لمستحقيها، ولا بد من إيصالها لأصحابها. والزكاة في اللغة هي النماء والزيادة، ولكن الشرع استعمل هذا اللفظ في شيء آخر، وهو إخراج جزء من المال الزكوي عما بقي. فالشرع قد يتصرف في الألفاظ اللغوية فيزيد فيها أو ينقص منها“Yang dimaksud dengan menunaikan zakat adalah memberikan zakat dan menyampaikannya kepada orang-orang yang berhak menerimanya, dan zakat tersebut harus sampai kepada para penerimanya. Zakat dalam bahasa berarti pertumbuhan dan penambahan, namun syariat menggunakan kata ini untuk makna lain, yaitu mengeluarkan sebagian harta yang wajib dizakati sehingga tersisa bagian yang lain. Syariat terkadang menggunakan kata-kata bahasa dengan makna yang berbeda, bisa ditambah atau dikurangi dari makna bahasanya.” [5]Haji merupakan rukun Islam dan syiar besar dalam IslamHaji merupakan salah satu rukun Islam dan syiar besar dalam agama. Ibadah ini wajib bagi setiap Muslim yang mampu. Allah berfirman,وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا“Dan kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan haji ke Baitullah, yaitu bagi orang yang mampu menempuh jalan ke sana.” (QS. Ali ‘Imran: 97)Kemampuan (istitha‘ah) dalam haji mencakup beberapa hal, yaitu kemampuan finansial, kemampuan fisik, keamanan perjalanan, serta adanya mahram atau pendamping yang aman bagi wanita. Pada masa sekarang, termasuk juga mendapatkan kesempatan melalui kuota atau undian haji.Puasa Ramadan adalah salah satu rukun Islam dan menjadi keistimewaan umat IslamPuasa Ramadan merupakan salah satu rukun Islam dan menjadi keistimewaan bagi umat Islam. Puasa diwajibkan bagi setiap Muslim yang balig, berakal, tidak sedang bepergian (mukim), serta bagi wanita yang suci dari haid dan nifas.Allah berfirman,يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)Puasa juga menjadi sarana mendidik dan melatih ketakwaan. Oleh karena itu, orang tua hendaknya membiasakan anak-anak untuk berpuasa dan menjaga salat, baik di bulan Ramadan maupun di waktu lainnya, agar ketika mereka telah balig, mereka mampu melaksanakannya dengan baik. Selain itu, umat Islam juga perlu menjaga kehormatan bulan Ramadan, dan tidak meremehkan ibadah puasa, karena puasa adalah bentuk ketaatan kepada Allah dan sarana mendekatkan diri kepada-Nya.Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 3***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Syarh Al -Arbain An-Nawawiyah fii Al-Ahadits Ash-Shahihah An-Nanawiyah karya Imam Ibnu Daqiq Al-‘Ied, hal. 37.[2] Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah karya Syihabuddin Ahmad bin Al Husain bin Ruslan, hal. 88.[3] Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah karya Syekh Abdul Muhsin Al-‘Abbad, 9: 7 (melalui Maktabah Syamilah dengan diringkas oleh Penulis).[4] Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 147.[5] Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah Al-Mukhtashor, hal. 37.

Penjelasan Hadis Arba’in An-Nawawiyah (Bag. 4): Hadis 3, Islam Dibangun di Atas Lima Perkara

Daftar Isi ToggleTeks hadisKedudukan hadisFaidah-faidah hadisKeindahan metode pengajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamDua kalimat syahadat adalah rukun Islam yang paling agung dan simbol tauhidSalat merupakan rukun Islam yang paling agung setelah syahadatZakat mensucikan jiwa dan hartaHaji merupakan rukun Islam dan syiar besar dalam IslamPuasa Ramadan adalah salah satu rukun Islam dan menjadi keistimewaan umat IslamTeks hadisعَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ ” رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ “Dari Abu  ‘Abdurrahman ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhuma, ia mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah; mendirikan salat; menunaikan zakat; menunaikan haji (ke Baitullah); dan berpuasa Ramadan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Kedudukan hadisHadis ini memiliki keutamaan dan kedudukan yang sangat besar, karena menjelaskan dasar-dasar dan kaidah-kaidah Islam yang menjadi fondasi agama ini. Dengan dasar-dasar itulah, seseorang dianggap sebagai seorang Muslim.Dasar-dasar tersebut adalah: Mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan salat, menunaikan zakat, menunaikan haji ke Baitullah, dan berpuasa di bulan Ramadan.Hadis ini tidak menyebutkan rukun yang lain, karena iman kepada Allah dan Rasul-Nya sudah mencakup seluruh keyakinan dan ibadah dalam Islam.Selain itu, hadis ini juga tidak menyebutkan jihad, meskipun jihad merupakan kewajiban yang sangat penting. Hal ini karena jihad pada dasarnya berstatus fardhu kifayah, yaitu kewajiban kolektif yang tidak dibebankan kepada setiap individu Muslim, kecuali dalam kondisi-kondisi tertentu yang menjadikannya fardhu ‘ain. Abu Al-Abbas Al-Qurthubi rahimahullah berkata,يعني أن هذه الخمس أساس دين الإسلام وقواعده التي عليها بني وبها يقوم وإنما خص هذه بالذكر ولم يذكر معها الجهاد مع أنه يظهر الدين ويقمع عناد الكافرين لأن هذه الخمس فرض دائم والجهاد من فروض الكفايات وقد يسقط في بعض الأوقات“Maksudnya adalah bahwa kelima hal ini (rukun Islam) merupakan pondasi agama Islam dan kaidah-kaidah yang di atasnya agama dibangun serta dengannya agama tegak. Adapun penyebutan secara khusus kelima hal ini saja tanpa menyebutkan jihad, padahal jihad dapat memenangkan agama dan menundukkan perlawanan orang-orang kafir, karena kelima hal ini merupakan kewajiban yang bersifat abadi (terus-menerus), sedangkan jihad termasuk dalam kewajiban kolektif (fardhu kifayah) yang terkadang bisa gugur (tidak wajib) pada waktu-waktu tertentu.” [1]Kandungan makna hadis ini sebenarnya telah disinggung sebelumnya dalam hadis Jibril yang dibahas pada artikel sebelumnya. Pengulangan makna tersebut dalam hadis ini bertujuan untuk menegaskan serta memperkuat pemahaman tentang prinsip-prinsip dasar Islam.Oleh karena itu, hadis ini sangat penting untuk diperhatikan, dipahami, dihafal, dan disebarluaskan di kalangan umat Islam sebagai bagian dari upaya menjaga pemahaman yang benar terhadap ajaran Islam.Faidah-faidah hadisKeindahan metode pengajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamMemberikan contoh-contoh yang nyata (mudah dilihat dan dibayangkan) merupakan salah satu metode pengajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengibaratkan Islam seperti sebuah bangunan yang kita tempati untuk berlindung dari panas dan dingin.Bangunan Islam di atas lima (rukun) itu seperti bangunan sebuah rumah dari kemah yang berdiri di atas lima tiang; satu tiang berada di tengah, sedangkan yang lainnya berada di sisi-sisinya sebagai penopang. Tiang tengah yang menjadi dasar bangunan itu adalah dua kalimat syahadat, sedangkan tiang-tiang lainnya menjadi penopangnya. Selama tiang tengah masih berdiri, maka rumah itu tetap ada, meskipun sebagian tiang penopangnya jatuh. Namun jika tiang tengah itu jatuh, maka rumah itu akan runtuh seluruhnya; karena tiang tengah adalah pokok (dasar), sedangkan tiang-tiang lainnya mengikuti dan menopangnya. [2]Dengan perumpamaan ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin memudahkan kita dalam memahami bahwa dalam Islam terdapat rukun-rukun yang menjadi penopang agama. Jika salah satu rukun itu rusak atau ditinggalkan, maka bangunan Islam pada diri seseorang akan menjadi lemah, bahkan bisa runtuh.Perhatikanlah bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendekatkan pemahaman kepada kita melalui contoh yang nyata dan mudah dipahami. Oleh karena itu, para guru, dosen, dan orang tua sangat membutuhkan metode seperti ini, yaitu menggunakan contoh-contoh yang nyata agar pemahaman anak-anak dan para pelajar menjadi lebih mudah dan jelas.Dua kalimat syahadat adalah rukun Islam yang paling agung dan simbol tauhidMakna syahadat “Laa ilaha illallah” adalah: tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah.Kalimat ini mengandung dua rukun, yaitu penafian (nafy) dan penetapan (itsbat). Pada bagian awal terdapat penafian, dan pada bagian akhir terdapat penetapan. Penafian tersebut berarti menolak segala bentuk ibadah kepada selain Allah. Ini adalah penafian yang bersifat umum. Sedangkan penetapan di akhir kalimat adalah menetapkan bahwa ibadah hanya untuk Allah semata, tanpa sekutu bagi-Nya.Tujuan dari kalimat tauhid ini adalah mentauhidkan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang benar. Adapun sesembahan selain Allah jumlahnya banyak dan memang ada, tetapi semuanya adalah sesembahan yang batil. Yang dinafikan oleh kalimat tauhid ini bukanlah keberadaan sesembahan itu, tetapi hak ketuhanan yang benar dari selain Allah.Konsekuensi dari syahadat “Laa ilaha illallah” adalah tidak beribadah kecuali kepada Allah semata tanpa sekutu. Sedangkan konsekuensi dari syahadat “Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam” adalah membenarkan semua yang beliau sampaikan, melaksanakan semua perintahnya, menjauhi semua larangannya, dan beribadah kepada Allah hanya sesuai dengan syariat yang beliau bawa.Inilah makna dari kedua syahadat tersebut. Syahadat “Laa ilaha illallah” menuntut agar ibadah hanya ditujukan kepada Allah. Sedangkan syahadat “Muhammad Rasulullah” menuntut agar ibadah dilakukan sesuai dengan syariat yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Oleh karena itu, seorang Muslim harus memurnikan keikhlasan hanya kepada Allah, sehingga tidak menyembah selain-Nya. Selain itu, ia juga harus mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara sempurna, baik dalam melakukan suatu amal maupun dalam meninggalkannya, sesuai dengan apa yang beliau ajarkan.Allah Ta’ala berfirman,فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا“Barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan tidak mempersekutukan seorang pun dalam ibadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)Amal saleh adalah amal yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika salah satu dari dua syarat ini tidak terpenuhi, maka amal tersebut akan tertolak.Jika seseorang beramal dengan ikhlas tetapi tidak sesuai dengan sunah, maka amalnya tertolak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من أحدث في أمرنا ما ليس منه فهو رد“Barangsiapa mengada-adakan dalam urusan agama kami sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak.” (Muttafaqun ‘alaihi)Sebaliknya, jika seseorang beramal sesuai dengan sunah tetapi tidak ikhlas kepada Allah (misalnya karena riya atau menyekutukan Allah), maka amal tersebut juga tertolak. Allah berfirman,وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا“Dan Kami hadapkan kepada segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu seperti debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)Dalam hadis tentang rukun Islam yang lima, syahadat disebutkan terlebih dahulu karena keduanya merupakan pondasi bagi rukun-rukun yang lain. Hal ini serupa dengan rukun iman yang dimulai dengan iman kepada Allah, karena iman kepada Allah adalah dasar bagi seluruh rukun iman yang lainnya. [3]Salat merupakan rukun Islam yang paling agung setelah syahadatYang dimaksud dengan menegakkan salat adalah terus-menerus menjaganya atau secara umum melaksanakannya.Abdullah bin Syaqiq radhiyallahu ‘anhu berkata,كان أصحابُ مُحمَّدٍ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم لا يرَوْنَ شيئًا مِن الأعمال تَرْكُه كُفْرٌ غيرَ الصَّلاةِ“Para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memandang ada suatu amalan yang jika ditinggalkan menjadi kekafiran selain salat.” (HR. Tirmidzi)Ayyub as-Sikhtiyani berkata,تَرْكُ الصَّلَاةِ كُفْرٌ لَا يُخْتَلَفُ فِيهِ“Meninggalkan salat adalah kekafiran yang tidak diperselisihkan di dalamnya.”Pendapat ini juga dipegang oleh Abdullah ibn al-Mubarak, Ahmad ibn Hanbal, dan Ishaq ibn Rahwayh. Bahkan Ishaq ibn Rahwayh menukil adanya ijmak (kesepakatan) para ulama tentang hal tersebut. Dan Muhammad ibn Nasr al-Marwazi berkata,هُوَ قَوْلُ جُمْهُورِ أَهْلِ الحَدِيثِ“Ini adalah pendapat mayoritas ulama ahli hadis.” [4]Namun sangat disayangkan, ada sebagian umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meninggalkan salat bukan karena mengingkari kewajibannya, tetapi karena malas dan lalai.Zakat mensucikan jiwa dan hartaZakat membawa keberkahan pada harta serta membersihkan jiwa orang kaya dari sifat kikir dan bakhil, sekaligus membersihkan hati orang miskin dari dengki dan iri.Allah Azza wa Jalla berfirman,خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا“Ambillah zakat dari harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103)Syekh Abdunnashir Asy-Syatri berkata,والمراد بإيتاء الزكاة: إعطاء الزكاة وإيصالها لمستحقيها، ولا بد من إيصالها لأصحابها. والزكاة في اللغة هي النماء والزيادة، ولكن الشرع استعمل هذا اللفظ في شيء آخر، وهو إخراج جزء من المال الزكوي عما بقي. فالشرع قد يتصرف في الألفاظ اللغوية فيزيد فيها أو ينقص منها“Yang dimaksud dengan menunaikan zakat adalah memberikan zakat dan menyampaikannya kepada orang-orang yang berhak menerimanya, dan zakat tersebut harus sampai kepada para penerimanya. Zakat dalam bahasa berarti pertumbuhan dan penambahan, namun syariat menggunakan kata ini untuk makna lain, yaitu mengeluarkan sebagian harta yang wajib dizakati sehingga tersisa bagian yang lain. Syariat terkadang menggunakan kata-kata bahasa dengan makna yang berbeda, bisa ditambah atau dikurangi dari makna bahasanya.” [5]Haji merupakan rukun Islam dan syiar besar dalam IslamHaji merupakan salah satu rukun Islam dan syiar besar dalam agama. Ibadah ini wajib bagi setiap Muslim yang mampu. Allah berfirman,وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا“Dan kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan haji ke Baitullah, yaitu bagi orang yang mampu menempuh jalan ke sana.” (QS. Ali ‘Imran: 97)Kemampuan (istitha‘ah) dalam haji mencakup beberapa hal, yaitu kemampuan finansial, kemampuan fisik, keamanan perjalanan, serta adanya mahram atau pendamping yang aman bagi wanita. Pada masa sekarang, termasuk juga mendapatkan kesempatan melalui kuota atau undian haji.Puasa Ramadan adalah salah satu rukun Islam dan menjadi keistimewaan umat IslamPuasa Ramadan merupakan salah satu rukun Islam dan menjadi keistimewaan bagi umat Islam. Puasa diwajibkan bagi setiap Muslim yang balig, berakal, tidak sedang bepergian (mukim), serta bagi wanita yang suci dari haid dan nifas.Allah berfirman,يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)Puasa juga menjadi sarana mendidik dan melatih ketakwaan. Oleh karena itu, orang tua hendaknya membiasakan anak-anak untuk berpuasa dan menjaga salat, baik di bulan Ramadan maupun di waktu lainnya, agar ketika mereka telah balig, mereka mampu melaksanakannya dengan baik. Selain itu, umat Islam juga perlu menjaga kehormatan bulan Ramadan, dan tidak meremehkan ibadah puasa, karena puasa adalah bentuk ketaatan kepada Allah dan sarana mendekatkan diri kepada-Nya.Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 3***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Syarh Al -Arbain An-Nawawiyah fii Al-Ahadits Ash-Shahihah An-Nanawiyah karya Imam Ibnu Daqiq Al-‘Ied, hal. 37.[2] Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah karya Syihabuddin Ahmad bin Al Husain bin Ruslan, hal. 88.[3] Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah karya Syekh Abdul Muhsin Al-‘Abbad, 9: 7 (melalui Maktabah Syamilah dengan diringkas oleh Penulis).[4] Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 147.[5] Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah Al-Mukhtashor, hal. 37.
Daftar Isi ToggleTeks hadisKedudukan hadisFaidah-faidah hadisKeindahan metode pengajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamDua kalimat syahadat adalah rukun Islam yang paling agung dan simbol tauhidSalat merupakan rukun Islam yang paling agung setelah syahadatZakat mensucikan jiwa dan hartaHaji merupakan rukun Islam dan syiar besar dalam IslamPuasa Ramadan adalah salah satu rukun Islam dan menjadi keistimewaan umat IslamTeks hadisعَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ ” رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ “Dari Abu  ‘Abdurrahman ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhuma, ia mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah; mendirikan salat; menunaikan zakat; menunaikan haji (ke Baitullah); dan berpuasa Ramadan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Kedudukan hadisHadis ini memiliki keutamaan dan kedudukan yang sangat besar, karena menjelaskan dasar-dasar dan kaidah-kaidah Islam yang menjadi fondasi agama ini. Dengan dasar-dasar itulah, seseorang dianggap sebagai seorang Muslim.Dasar-dasar tersebut adalah: Mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan salat, menunaikan zakat, menunaikan haji ke Baitullah, dan berpuasa di bulan Ramadan.Hadis ini tidak menyebutkan rukun yang lain, karena iman kepada Allah dan Rasul-Nya sudah mencakup seluruh keyakinan dan ibadah dalam Islam.Selain itu, hadis ini juga tidak menyebutkan jihad, meskipun jihad merupakan kewajiban yang sangat penting. Hal ini karena jihad pada dasarnya berstatus fardhu kifayah, yaitu kewajiban kolektif yang tidak dibebankan kepada setiap individu Muslim, kecuali dalam kondisi-kondisi tertentu yang menjadikannya fardhu ‘ain. Abu Al-Abbas Al-Qurthubi rahimahullah berkata,يعني أن هذه الخمس أساس دين الإسلام وقواعده التي عليها بني وبها يقوم وإنما خص هذه بالذكر ولم يذكر معها الجهاد مع أنه يظهر الدين ويقمع عناد الكافرين لأن هذه الخمس فرض دائم والجهاد من فروض الكفايات وقد يسقط في بعض الأوقات“Maksudnya adalah bahwa kelima hal ini (rukun Islam) merupakan pondasi agama Islam dan kaidah-kaidah yang di atasnya agama dibangun serta dengannya agama tegak. Adapun penyebutan secara khusus kelima hal ini saja tanpa menyebutkan jihad, padahal jihad dapat memenangkan agama dan menundukkan perlawanan orang-orang kafir, karena kelima hal ini merupakan kewajiban yang bersifat abadi (terus-menerus), sedangkan jihad termasuk dalam kewajiban kolektif (fardhu kifayah) yang terkadang bisa gugur (tidak wajib) pada waktu-waktu tertentu.” [1]Kandungan makna hadis ini sebenarnya telah disinggung sebelumnya dalam hadis Jibril yang dibahas pada artikel sebelumnya. Pengulangan makna tersebut dalam hadis ini bertujuan untuk menegaskan serta memperkuat pemahaman tentang prinsip-prinsip dasar Islam.Oleh karena itu, hadis ini sangat penting untuk diperhatikan, dipahami, dihafal, dan disebarluaskan di kalangan umat Islam sebagai bagian dari upaya menjaga pemahaman yang benar terhadap ajaran Islam.Faidah-faidah hadisKeindahan metode pengajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamMemberikan contoh-contoh yang nyata (mudah dilihat dan dibayangkan) merupakan salah satu metode pengajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengibaratkan Islam seperti sebuah bangunan yang kita tempati untuk berlindung dari panas dan dingin.Bangunan Islam di atas lima (rukun) itu seperti bangunan sebuah rumah dari kemah yang berdiri di atas lima tiang; satu tiang berada di tengah, sedangkan yang lainnya berada di sisi-sisinya sebagai penopang. Tiang tengah yang menjadi dasar bangunan itu adalah dua kalimat syahadat, sedangkan tiang-tiang lainnya menjadi penopangnya. Selama tiang tengah masih berdiri, maka rumah itu tetap ada, meskipun sebagian tiang penopangnya jatuh. Namun jika tiang tengah itu jatuh, maka rumah itu akan runtuh seluruhnya; karena tiang tengah adalah pokok (dasar), sedangkan tiang-tiang lainnya mengikuti dan menopangnya. [2]Dengan perumpamaan ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin memudahkan kita dalam memahami bahwa dalam Islam terdapat rukun-rukun yang menjadi penopang agama. Jika salah satu rukun itu rusak atau ditinggalkan, maka bangunan Islam pada diri seseorang akan menjadi lemah, bahkan bisa runtuh.Perhatikanlah bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendekatkan pemahaman kepada kita melalui contoh yang nyata dan mudah dipahami. Oleh karena itu, para guru, dosen, dan orang tua sangat membutuhkan metode seperti ini, yaitu menggunakan contoh-contoh yang nyata agar pemahaman anak-anak dan para pelajar menjadi lebih mudah dan jelas.Dua kalimat syahadat adalah rukun Islam yang paling agung dan simbol tauhidMakna syahadat “Laa ilaha illallah” adalah: tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah.Kalimat ini mengandung dua rukun, yaitu penafian (nafy) dan penetapan (itsbat). Pada bagian awal terdapat penafian, dan pada bagian akhir terdapat penetapan. Penafian tersebut berarti menolak segala bentuk ibadah kepada selain Allah. Ini adalah penafian yang bersifat umum. Sedangkan penetapan di akhir kalimat adalah menetapkan bahwa ibadah hanya untuk Allah semata, tanpa sekutu bagi-Nya.Tujuan dari kalimat tauhid ini adalah mentauhidkan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang benar. Adapun sesembahan selain Allah jumlahnya banyak dan memang ada, tetapi semuanya adalah sesembahan yang batil. Yang dinafikan oleh kalimat tauhid ini bukanlah keberadaan sesembahan itu, tetapi hak ketuhanan yang benar dari selain Allah.Konsekuensi dari syahadat “Laa ilaha illallah” adalah tidak beribadah kecuali kepada Allah semata tanpa sekutu. Sedangkan konsekuensi dari syahadat “Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam” adalah membenarkan semua yang beliau sampaikan, melaksanakan semua perintahnya, menjauhi semua larangannya, dan beribadah kepada Allah hanya sesuai dengan syariat yang beliau bawa.Inilah makna dari kedua syahadat tersebut. Syahadat “Laa ilaha illallah” menuntut agar ibadah hanya ditujukan kepada Allah. Sedangkan syahadat “Muhammad Rasulullah” menuntut agar ibadah dilakukan sesuai dengan syariat yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Oleh karena itu, seorang Muslim harus memurnikan keikhlasan hanya kepada Allah, sehingga tidak menyembah selain-Nya. Selain itu, ia juga harus mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara sempurna, baik dalam melakukan suatu amal maupun dalam meninggalkannya, sesuai dengan apa yang beliau ajarkan.Allah Ta’ala berfirman,فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا“Barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan tidak mempersekutukan seorang pun dalam ibadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)Amal saleh adalah amal yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika salah satu dari dua syarat ini tidak terpenuhi, maka amal tersebut akan tertolak.Jika seseorang beramal dengan ikhlas tetapi tidak sesuai dengan sunah, maka amalnya tertolak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من أحدث في أمرنا ما ليس منه فهو رد“Barangsiapa mengada-adakan dalam urusan agama kami sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak.” (Muttafaqun ‘alaihi)Sebaliknya, jika seseorang beramal sesuai dengan sunah tetapi tidak ikhlas kepada Allah (misalnya karena riya atau menyekutukan Allah), maka amal tersebut juga tertolak. Allah berfirman,وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا“Dan Kami hadapkan kepada segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu seperti debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)Dalam hadis tentang rukun Islam yang lima, syahadat disebutkan terlebih dahulu karena keduanya merupakan pondasi bagi rukun-rukun yang lain. Hal ini serupa dengan rukun iman yang dimulai dengan iman kepada Allah, karena iman kepada Allah adalah dasar bagi seluruh rukun iman yang lainnya. [3]Salat merupakan rukun Islam yang paling agung setelah syahadatYang dimaksud dengan menegakkan salat adalah terus-menerus menjaganya atau secara umum melaksanakannya.Abdullah bin Syaqiq radhiyallahu ‘anhu berkata,كان أصحابُ مُحمَّدٍ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم لا يرَوْنَ شيئًا مِن الأعمال تَرْكُه كُفْرٌ غيرَ الصَّلاةِ“Para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memandang ada suatu amalan yang jika ditinggalkan menjadi kekafiran selain salat.” (HR. Tirmidzi)Ayyub as-Sikhtiyani berkata,تَرْكُ الصَّلَاةِ كُفْرٌ لَا يُخْتَلَفُ فِيهِ“Meninggalkan salat adalah kekafiran yang tidak diperselisihkan di dalamnya.”Pendapat ini juga dipegang oleh Abdullah ibn al-Mubarak, Ahmad ibn Hanbal, dan Ishaq ibn Rahwayh. Bahkan Ishaq ibn Rahwayh menukil adanya ijmak (kesepakatan) para ulama tentang hal tersebut. Dan Muhammad ibn Nasr al-Marwazi berkata,هُوَ قَوْلُ جُمْهُورِ أَهْلِ الحَدِيثِ“Ini adalah pendapat mayoritas ulama ahli hadis.” [4]Namun sangat disayangkan, ada sebagian umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meninggalkan salat bukan karena mengingkari kewajibannya, tetapi karena malas dan lalai.Zakat mensucikan jiwa dan hartaZakat membawa keberkahan pada harta serta membersihkan jiwa orang kaya dari sifat kikir dan bakhil, sekaligus membersihkan hati orang miskin dari dengki dan iri.Allah Azza wa Jalla berfirman,خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا“Ambillah zakat dari harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103)Syekh Abdunnashir Asy-Syatri berkata,والمراد بإيتاء الزكاة: إعطاء الزكاة وإيصالها لمستحقيها، ولا بد من إيصالها لأصحابها. والزكاة في اللغة هي النماء والزيادة، ولكن الشرع استعمل هذا اللفظ في شيء آخر، وهو إخراج جزء من المال الزكوي عما بقي. فالشرع قد يتصرف في الألفاظ اللغوية فيزيد فيها أو ينقص منها“Yang dimaksud dengan menunaikan zakat adalah memberikan zakat dan menyampaikannya kepada orang-orang yang berhak menerimanya, dan zakat tersebut harus sampai kepada para penerimanya. Zakat dalam bahasa berarti pertumbuhan dan penambahan, namun syariat menggunakan kata ini untuk makna lain, yaitu mengeluarkan sebagian harta yang wajib dizakati sehingga tersisa bagian yang lain. Syariat terkadang menggunakan kata-kata bahasa dengan makna yang berbeda, bisa ditambah atau dikurangi dari makna bahasanya.” [5]Haji merupakan rukun Islam dan syiar besar dalam IslamHaji merupakan salah satu rukun Islam dan syiar besar dalam agama. Ibadah ini wajib bagi setiap Muslim yang mampu. Allah berfirman,وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا“Dan kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan haji ke Baitullah, yaitu bagi orang yang mampu menempuh jalan ke sana.” (QS. Ali ‘Imran: 97)Kemampuan (istitha‘ah) dalam haji mencakup beberapa hal, yaitu kemampuan finansial, kemampuan fisik, keamanan perjalanan, serta adanya mahram atau pendamping yang aman bagi wanita. Pada masa sekarang, termasuk juga mendapatkan kesempatan melalui kuota atau undian haji.Puasa Ramadan adalah salah satu rukun Islam dan menjadi keistimewaan umat IslamPuasa Ramadan merupakan salah satu rukun Islam dan menjadi keistimewaan bagi umat Islam. Puasa diwajibkan bagi setiap Muslim yang balig, berakal, tidak sedang bepergian (mukim), serta bagi wanita yang suci dari haid dan nifas.Allah berfirman,يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)Puasa juga menjadi sarana mendidik dan melatih ketakwaan. Oleh karena itu, orang tua hendaknya membiasakan anak-anak untuk berpuasa dan menjaga salat, baik di bulan Ramadan maupun di waktu lainnya, agar ketika mereka telah balig, mereka mampu melaksanakannya dengan baik. Selain itu, umat Islam juga perlu menjaga kehormatan bulan Ramadan, dan tidak meremehkan ibadah puasa, karena puasa adalah bentuk ketaatan kepada Allah dan sarana mendekatkan diri kepada-Nya.Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 3***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Syarh Al -Arbain An-Nawawiyah fii Al-Ahadits Ash-Shahihah An-Nanawiyah karya Imam Ibnu Daqiq Al-‘Ied, hal. 37.[2] Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah karya Syihabuddin Ahmad bin Al Husain bin Ruslan, hal. 88.[3] Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah karya Syekh Abdul Muhsin Al-‘Abbad, 9: 7 (melalui Maktabah Syamilah dengan diringkas oleh Penulis).[4] Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 147.[5] Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah Al-Mukhtashor, hal. 37.


Daftar Isi ToggleTeks hadisKedudukan hadisFaidah-faidah hadisKeindahan metode pengajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamDua kalimat syahadat adalah rukun Islam yang paling agung dan simbol tauhidSalat merupakan rukun Islam yang paling agung setelah syahadatZakat mensucikan jiwa dan hartaHaji merupakan rukun Islam dan syiar besar dalam IslamPuasa Ramadan adalah salah satu rukun Islam dan menjadi keistimewaan umat IslamTeks hadisعَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ ” رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ “Dari Abu  ‘Abdurrahman ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhuma, ia mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah; mendirikan salat; menunaikan zakat; menunaikan haji (ke Baitullah); dan berpuasa Ramadan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Kedudukan hadisHadis ini memiliki keutamaan dan kedudukan yang sangat besar, karena menjelaskan dasar-dasar dan kaidah-kaidah Islam yang menjadi fondasi agama ini. Dengan dasar-dasar itulah, seseorang dianggap sebagai seorang Muslim.Dasar-dasar tersebut adalah: Mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan salat, menunaikan zakat, menunaikan haji ke Baitullah, dan berpuasa di bulan Ramadan.Hadis ini tidak menyebutkan rukun yang lain, karena iman kepada Allah dan Rasul-Nya sudah mencakup seluruh keyakinan dan ibadah dalam Islam.Selain itu, hadis ini juga tidak menyebutkan jihad, meskipun jihad merupakan kewajiban yang sangat penting. Hal ini karena jihad pada dasarnya berstatus fardhu kifayah, yaitu kewajiban kolektif yang tidak dibebankan kepada setiap individu Muslim, kecuali dalam kondisi-kondisi tertentu yang menjadikannya fardhu ‘ain. Abu Al-Abbas Al-Qurthubi rahimahullah berkata,يعني أن هذه الخمس أساس دين الإسلام وقواعده التي عليها بني وبها يقوم وإنما خص هذه بالذكر ولم يذكر معها الجهاد مع أنه يظهر الدين ويقمع عناد الكافرين لأن هذه الخمس فرض دائم والجهاد من فروض الكفايات وقد يسقط في بعض الأوقات“Maksudnya adalah bahwa kelima hal ini (rukun Islam) merupakan pondasi agama Islam dan kaidah-kaidah yang di atasnya agama dibangun serta dengannya agama tegak. Adapun penyebutan secara khusus kelima hal ini saja tanpa menyebutkan jihad, padahal jihad dapat memenangkan agama dan menundukkan perlawanan orang-orang kafir, karena kelima hal ini merupakan kewajiban yang bersifat abadi (terus-menerus), sedangkan jihad termasuk dalam kewajiban kolektif (fardhu kifayah) yang terkadang bisa gugur (tidak wajib) pada waktu-waktu tertentu.” [1]Kandungan makna hadis ini sebenarnya telah disinggung sebelumnya dalam hadis Jibril yang dibahas pada artikel sebelumnya. Pengulangan makna tersebut dalam hadis ini bertujuan untuk menegaskan serta memperkuat pemahaman tentang prinsip-prinsip dasar Islam.Oleh karena itu, hadis ini sangat penting untuk diperhatikan, dipahami, dihafal, dan disebarluaskan di kalangan umat Islam sebagai bagian dari upaya menjaga pemahaman yang benar terhadap ajaran Islam.Faidah-faidah hadisKeindahan metode pengajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamMemberikan contoh-contoh yang nyata (mudah dilihat dan dibayangkan) merupakan salah satu metode pengajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengibaratkan Islam seperti sebuah bangunan yang kita tempati untuk berlindung dari panas dan dingin.Bangunan Islam di atas lima (rukun) itu seperti bangunan sebuah rumah dari kemah yang berdiri di atas lima tiang; satu tiang berada di tengah, sedangkan yang lainnya berada di sisi-sisinya sebagai penopang. Tiang tengah yang menjadi dasar bangunan itu adalah dua kalimat syahadat, sedangkan tiang-tiang lainnya menjadi penopangnya. Selama tiang tengah masih berdiri, maka rumah itu tetap ada, meskipun sebagian tiang penopangnya jatuh. Namun jika tiang tengah itu jatuh, maka rumah itu akan runtuh seluruhnya; karena tiang tengah adalah pokok (dasar), sedangkan tiang-tiang lainnya mengikuti dan menopangnya. [2]Dengan perumpamaan ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin memudahkan kita dalam memahami bahwa dalam Islam terdapat rukun-rukun yang menjadi penopang agama. Jika salah satu rukun itu rusak atau ditinggalkan, maka bangunan Islam pada diri seseorang akan menjadi lemah, bahkan bisa runtuh.Perhatikanlah bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendekatkan pemahaman kepada kita melalui contoh yang nyata dan mudah dipahami. Oleh karena itu, para guru, dosen, dan orang tua sangat membutuhkan metode seperti ini, yaitu menggunakan contoh-contoh yang nyata agar pemahaman anak-anak dan para pelajar menjadi lebih mudah dan jelas.Dua kalimat syahadat adalah rukun Islam yang paling agung dan simbol tauhidMakna syahadat “Laa ilaha illallah” adalah: tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah.Kalimat ini mengandung dua rukun, yaitu penafian (nafy) dan penetapan (itsbat). Pada bagian awal terdapat penafian, dan pada bagian akhir terdapat penetapan. Penafian tersebut berarti menolak segala bentuk ibadah kepada selain Allah. Ini adalah penafian yang bersifat umum. Sedangkan penetapan di akhir kalimat adalah menetapkan bahwa ibadah hanya untuk Allah semata, tanpa sekutu bagi-Nya.Tujuan dari kalimat tauhid ini adalah mentauhidkan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang benar. Adapun sesembahan selain Allah jumlahnya banyak dan memang ada, tetapi semuanya adalah sesembahan yang batil. Yang dinafikan oleh kalimat tauhid ini bukanlah keberadaan sesembahan itu, tetapi hak ketuhanan yang benar dari selain Allah.Konsekuensi dari syahadat “Laa ilaha illallah” adalah tidak beribadah kecuali kepada Allah semata tanpa sekutu. Sedangkan konsekuensi dari syahadat “Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam” adalah membenarkan semua yang beliau sampaikan, melaksanakan semua perintahnya, menjauhi semua larangannya, dan beribadah kepada Allah hanya sesuai dengan syariat yang beliau bawa.Inilah makna dari kedua syahadat tersebut. Syahadat “Laa ilaha illallah” menuntut agar ibadah hanya ditujukan kepada Allah. Sedangkan syahadat “Muhammad Rasulullah” menuntut agar ibadah dilakukan sesuai dengan syariat yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Oleh karena itu, seorang Muslim harus memurnikan keikhlasan hanya kepada Allah, sehingga tidak menyembah selain-Nya. Selain itu, ia juga harus mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara sempurna, baik dalam melakukan suatu amal maupun dalam meninggalkannya, sesuai dengan apa yang beliau ajarkan.Allah Ta’ala berfirman,فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا“Barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan tidak mempersekutukan seorang pun dalam ibadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)Amal saleh adalah amal yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika salah satu dari dua syarat ini tidak terpenuhi, maka amal tersebut akan tertolak.Jika seseorang beramal dengan ikhlas tetapi tidak sesuai dengan sunah, maka amalnya tertolak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من أحدث في أمرنا ما ليس منه فهو رد“Barangsiapa mengada-adakan dalam urusan agama kami sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak.” (Muttafaqun ‘alaihi)Sebaliknya, jika seseorang beramal sesuai dengan sunah tetapi tidak ikhlas kepada Allah (misalnya karena riya atau menyekutukan Allah), maka amal tersebut juga tertolak. Allah berfirman,وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا“Dan Kami hadapkan kepada segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu seperti debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)Dalam hadis tentang rukun Islam yang lima, syahadat disebutkan terlebih dahulu karena keduanya merupakan pondasi bagi rukun-rukun yang lain. Hal ini serupa dengan rukun iman yang dimulai dengan iman kepada Allah, karena iman kepada Allah adalah dasar bagi seluruh rukun iman yang lainnya. [3]Salat merupakan rukun Islam yang paling agung setelah syahadatYang dimaksud dengan menegakkan salat adalah terus-menerus menjaganya atau secara umum melaksanakannya.Abdullah bin Syaqiq radhiyallahu ‘anhu berkata,كان أصحابُ مُحمَّدٍ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم لا يرَوْنَ شيئًا مِن الأعمال تَرْكُه كُفْرٌ غيرَ الصَّلاةِ“Para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memandang ada suatu amalan yang jika ditinggalkan menjadi kekafiran selain salat.” (HR. Tirmidzi)Ayyub as-Sikhtiyani berkata,تَرْكُ الصَّلَاةِ كُفْرٌ لَا يُخْتَلَفُ فِيهِ“Meninggalkan salat adalah kekafiran yang tidak diperselisihkan di dalamnya.”Pendapat ini juga dipegang oleh Abdullah ibn al-Mubarak, Ahmad ibn Hanbal, dan Ishaq ibn Rahwayh. Bahkan Ishaq ibn Rahwayh menukil adanya ijmak (kesepakatan) para ulama tentang hal tersebut. Dan Muhammad ibn Nasr al-Marwazi berkata,هُوَ قَوْلُ جُمْهُورِ أَهْلِ الحَدِيثِ“Ini adalah pendapat mayoritas ulama ahli hadis.” [4]Namun sangat disayangkan, ada sebagian umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meninggalkan salat bukan karena mengingkari kewajibannya, tetapi karena malas dan lalai.Zakat mensucikan jiwa dan hartaZakat membawa keberkahan pada harta serta membersihkan jiwa orang kaya dari sifat kikir dan bakhil, sekaligus membersihkan hati orang miskin dari dengki dan iri.Allah Azza wa Jalla berfirman,خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا“Ambillah zakat dari harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103)Syekh Abdunnashir Asy-Syatri berkata,والمراد بإيتاء الزكاة: إعطاء الزكاة وإيصالها لمستحقيها، ولا بد من إيصالها لأصحابها. والزكاة في اللغة هي النماء والزيادة، ولكن الشرع استعمل هذا اللفظ في شيء آخر، وهو إخراج جزء من المال الزكوي عما بقي. فالشرع قد يتصرف في الألفاظ اللغوية فيزيد فيها أو ينقص منها“Yang dimaksud dengan menunaikan zakat adalah memberikan zakat dan menyampaikannya kepada orang-orang yang berhak menerimanya, dan zakat tersebut harus sampai kepada para penerimanya. Zakat dalam bahasa berarti pertumbuhan dan penambahan, namun syariat menggunakan kata ini untuk makna lain, yaitu mengeluarkan sebagian harta yang wajib dizakati sehingga tersisa bagian yang lain. Syariat terkadang menggunakan kata-kata bahasa dengan makna yang berbeda, bisa ditambah atau dikurangi dari makna bahasanya.” [5]Haji merupakan rukun Islam dan syiar besar dalam IslamHaji merupakan salah satu rukun Islam dan syiar besar dalam agama. Ibadah ini wajib bagi setiap Muslim yang mampu. Allah berfirman,وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا“Dan kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan haji ke Baitullah, yaitu bagi orang yang mampu menempuh jalan ke sana.” (QS. Ali ‘Imran: 97)Kemampuan (istitha‘ah) dalam haji mencakup beberapa hal, yaitu kemampuan finansial, kemampuan fisik, keamanan perjalanan, serta adanya mahram atau pendamping yang aman bagi wanita. Pada masa sekarang, termasuk juga mendapatkan kesempatan melalui kuota atau undian haji.Puasa Ramadan adalah salah satu rukun Islam dan menjadi keistimewaan umat IslamPuasa Ramadan merupakan salah satu rukun Islam dan menjadi keistimewaan bagi umat Islam. Puasa diwajibkan bagi setiap Muslim yang balig, berakal, tidak sedang bepergian (mukim), serta bagi wanita yang suci dari haid dan nifas.Allah berfirman,يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)Puasa juga menjadi sarana mendidik dan melatih ketakwaan. Oleh karena itu, orang tua hendaknya membiasakan anak-anak untuk berpuasa dan menjaga salat, baik di bulan Ramadan maupun di waktu lainnya, agar ketika mereka telah balig, mereka mampu melaksanakannya dengan baik. Selain itu, umat Islam juga perlu menjaga kehormatan bulan Ramadan, dan tidak meremehkan ibadah puasa, karena puasa adalah bentuk ketaatan kepada Allah dan sarana mendekatkan diri kepada-Nya.Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 3***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Syarh Al -Arbain An-Nawawiyah fii Al-Ahadits Ash-Shahihah An-Nanawiyah karya Imam Ibnu Daqiq Al-‘Ied, hal. 37.[2] Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah karya Syihabuddin Ahmad bin Al Husain bin Ruslan, hal. 88.[3] Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah karya Syekh Abdul Muhsin Al-‘Abbad, 9: 7 (melalui Maktabah Syamilah dengan diringkas oleh Penulis).[4] Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 147.[5] Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah Al-Mukhtashor, hal. 37.

Antara Ibnul ‘Arabi dengan Ibnu ’Arabi (Bag. 1)

Daftar Isi TogglePentingnya mengetahui nama-nama para ulamaIbnul ’Arabi (dengan alif lam) [1]Ibnu ‘Arabi (tanpa alif lam) [2]Seringkali dalam mempelajari ilmu, terkhusus ilmu agama, kita dihadapkan dengan nama-nama para ulama yang sangat berjasa terhadap ilmu yang kita pelajari, rahimahumullahu jami’an.Secara tidak langsung, kita diharuskan untuk mengenal nama-nama mereka (para ulama). Menariknya, ada di antara mereka yang namanya sama persis, di antara mereka ada yang namanya sama dengan nama ayahnya, seperti contohnya ’Abbad bin ’Abbad; ada yang laqab (gelar) penyebutannya sama, seperti Ath-Thabari, ada Ath-Thabari ahli tafsir dan ada Ath-Thabari ulama dari mazhab Syafi’i; ada pula yang kunyah-nya sama; dan seterusnya.Hal ini bisa dilihat di dalam kitab-kitab biografi para ulama, dan kitab-kitab rijaalul hadis (para perawi hadis), seperti Lisaanul Mizan, Taqribut Tahdzib, Mu’jam Al-Mufassirin, Siyar A’laamin Nubala, dan kitab-kitab lainnya. Menjadi semakin menarik tatkala seorang penuntut ilmu dapat membedakan antara nama-nama yang ada, yang dapat terbedakan dari jalur nasabnya atau nama ayahnya.Pentingnya mengetahui nama-nama para ulamaDalam pembahasan ilmu hadis, terutama yang berkaitan dengan sanad, perbedaan mengenai nama-nama para ulama sering kali terjadi. Yaitu, seringkali nama-nama para ulama atau perawi yang lemah dimanipulasi agar tidak terlihat kelemahannya.Misalnya, dalam sebuah sanad hanya disebutkan ”Dari Abu Abdirrahman”, sedangkan nama yang menggunakan kunyah Abu ’Abdirrahman banyak sekali, ada yang memang orang tsiqah (terpercaya) dan ada yang lemah riwayatnya, bahkan palsu. Lalu, siapa Abu ’Abdirrahman yang dimaksud pada sanad tersebut? Maka, sangat penting untuk mengetahu nama para ulama yang sebenarnya, agar kebenaran tetap tersampaikan dan keburukan dapat terenyahkan.Di antara yang menarik adalah perbedaan nama Ibnul Arabi (dengan alif lam) dengan Ibnu Arabi (tanpa alif lam). Karena keduanya memiliki perbedaan yang sangat jauh sekali. Hal-hal seperti ini, jika tidak diketahui, dikhawatirkan banyak yang terjatuh kepada kesalahan-kesalahan yang dilontarkan oleh salah satu nama yang sama.Ibnul ’Arabi (dengan alif lam) [1]Nama beliau adalah Muhammad bin ’Abdillah bin Muhammad bin ’Abdillah bin Ahmad Al-Ma’arifi Al-Andalusi Al-Isybili. Yang sering dikenal dengan Abu Bakr Ibnul ’Arabi. Beliau adalah seorang qadhi, penghafal hadis-hadis Nabi shallallahu ’alaih wa sallam, di antara pembesar fuqaha mazhab Maliki.Beliau dilahirkan pada 22 Sya’ban 468 H di kota إشبيلية (Isybilia) yang dikenal dengan Sevilla di Spanyol. Oleh karena itu, beliau dikatakan الإشبيلي (Al-Isybili) karena beliau dilahirkan di Sevilla, tepatnya di sebelah selatan Spanyol. Di tempat itulah beliau tumbuh dan berkembang serta mengambil ilmu dari para ulama setempat.Pada tahun 485 H, kurang lebih saat beliau berusia tujuh belas tahun, beliau berangkat rihlah ke wilayah timur bersama ayahnya, untuk belajar ilmu kepada para ulama di sana. Beliau mengambil ilmu dari para ulama di Mesir, Syam, Baghdad, dan Hijaz. Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah di dalam Siyar A’lamin Nubala menyebutkan nama dari guru beliau di setiap tempat yang Ibnul ’Arabi kunjungi.Beliau kembali pulang ke kampung halaman pada tahun 495 H. Di antara alasan beliau pulang, disebutkan oleh Adz Dzahabi adalah karena ayahnya wafat. Kemudian beliau mulai mengajar, dan para penuntut ilmu berdatangan kepadanya untuk mendengarkan hadis dan juga ilmu. Beliau pernah menjabat sebagai Qadhi (Hakim) di Sevilla pada tahun 538 H, kemudian diberhentikan dari jabatannya, lalu beliaupun mendedikasikan waktunya untuk menyebarkan ilmu dan menulis karya.Beliau wafat di dekat Fez (Fas) di daerah Maroko bulan Rabiul akhir 543 H. Beliau meninggalkan beberapa karya tulis, di antaranya,Ahkaamul Qur’an;An-Nasikh wal Mansukh fil Qur’an;Al-‘Awashim minal Qawashim;Qanun At-Ta’wil.Dan karya tulis lainnya. Rahimahullah Ta’ala rahmatan wasi’ah.Ibnu ‘Arabi (tanpa alif lam) [2]Nama beliau adalah Muhammad bin ’Ali bin Muhammad bin Ahmad Ath-Tha’i Al-Hatimi Al-Mursi. Kunyah beliau adalah Abu Bakr, laqab beliau adalah Muhyiddin (penghidup agama), masyhur-nya beliau adalah Ibnu ’Arabi. Dilahirkan pada tahun 560 H di kota Mursi, Spanyol.Disebutkan mengapa gelar beliau adalah Ath-Tha’i, dikarenakan beliau pernah menetap di Yaman dalam beberapa waktu yang cukup lama. Beliau adalah seorang yang berilmu, sufi (tasawuf) tulen. Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata tentangnya,العَلاَّمَةُ، صَاحِبُ التَّوَالِيفِ الكَثِيْرَةِ، مُحْيِي الدِّيْنِ”Seorang yang berilmu, pemilik karya tulis yang banyak, penghidup agama.” [3]Kemudian Adz-Dzahabi menuturkan, ”Ibnu ’Arabi tinggal di Rum (wilayah Bizantium) selama beberapa waktu. Beliau adalah sosok yang cerdas dan memiliki ilmu yang luas. Beliau pernah bekerja sebagai penulis resmi untuk sebagian penguasa di wilayah Maroko. Kemudian ia memilih hidup zuhud, menyendiri, fokus beribadah, mengasingkan diri, melakukan perjalanan, serta melepaskan diri (dari keterikatan duniawi). Ia menjelajahi wilayah Tihamah (dataran rendah) hingga Najd (dataran tinggi). Ia juga sering melakukan khalwat (menyendiri) dan menulis sangat banyak catatan mengenai tasawuf aliran Wihdatul Wujud (kesatuan wujud).” [3]Al-Imam Taqiyuddin Al-Farisi rahimahullah juga menuturkan, “Beliau juga tinggal di kota Mekah selama beberapa tahun. Di Mekah, beliau menulis karya tulisnya, di antaranya yang beliau namakan dengan “Al-Futuhaat Al-Makkiyah”. Beliau juga memiliki karya tulis lainnya, di antaranya, “Fusush Al-Hikam”, serta banyak sya’ir yang sangat bagus dari segi kefasihan bahasanya. Namun sayangnya, beliau telah nodai atau mencoreng kehebatannya itu dengan pernyataannya secara terang-terangan mengenai ajaran Wihdatul Wujud yang mutlak. Dan beliau menyatakan hal tersebut secara tegas di dalam buku-bukunya.” [4]Beliau wafat pada malam Jumat, 24 Rabiul akhir 638 H di Damaskus. Dan dikebumikan di sebuah komplek pemakaman yang terkenal dengan nama Turbah Bani Zaki. Demikianlah secara ringkas biografi atau latar belakang dari Ibnu ‘Arabi.Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah menuturkan,إِنْ كَانَ مُحْيِي الدِّيْنِ رَجَعَ عَنْ مَقَالاَتِهِ تِلْكَ قَبْلَ المَوْتِ، فَقَدْ فَازَ، وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللهِ بِعَزِيْزٍ“Jika Muhyiddin (Ibnu ‘Arabi) telah bertobat (menarik kembali) perkataan-perkataan itu sebelum wafatnya, maka sungguh ia telah beruntung, dan hal itu bukanlah sesuatu yang sulit bagi Allah.” [3]Bisa dilihat dari kedua nama, cukup terlihat perbedaan antara Ibnul ‘Arabi dengan Ibnu ‘Arabi. Di antara persamaannya adalah:Berasal dari Andalus (Spanyol);Kunyah-nya Abu Bakr;Nama aslinya Muhammad;Keduanya melalukan safar (perjalanan jauh) untuk menuntut ilmu ke wilayah timur.Dari beberapa kesamaan ini, maka perlu dibedakan. Yaitu dilihat dari alif lam-nya. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah membedakan penyebutan keduanya dalam kitabnya Majmu’ Fatawa, yaitu Ibnul ‘Arabi untuk Muhammad bin Muhammad Al-Isybili (ulama Maliki), dan Ibnu ‘Arabi (tanpa alif lam) untuk Muhammad bin ‘Ali. Yang dilakukan oleh Syekhul Islam tersebut dapat dijadikan sebagai patokan untuk membedakan antara kedua nama tersebut. Sehingga tidak tertukar antara keduanya.Wallahu a’lam.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Depok, 15 Safar 1447/ 29 Juli 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan Kaki:[1] Siyar A’amin Nubala dan Mu’jam Al-Mufassirin, hal. 109.[2] ‘Aqidatu Ibnu ‘Arabi wa Hayatuhu, hal. 9; Siyar A’lamin Nubala, 23: 48; Mizaanul I’tidal, 3: 659.[3] Siyar A’lamin Nubala, 23: 48.[4] ‘Aqidatu Ibnu ‘Arabi wa Hayatuhu, hal. 11-12. Referensi:– Adz-Dzahabī, Syamsuddīn Muḥammad ibn Aḥmad ibn ʿUthmān. Siyar Aʿlām an-Nubalā’. Di-tahqiq oleh Shuʿayb al-Arnā’ūṭ, Bashshār ʿAwwād Maʿrūf, dkk. Cet. ke-3. 25 jilid. Beirut: Mu’assasah ar-Risālah, 1405 H/1985 M. (diakses melalui Maktabah Syamilah)– Adz-Dzahabī, Syamsuddīn Muḥammad ibn Aḥmad ibn ʿUthmān. Mīzān al-Iʿtidāl fī Naqd ar-Rijāl. Di-tahqiq oleh ʿAlī Muḥammad al-Bijāwī. Cet. ke-1. 4 jilid. Beirut: Dār al-Maʿrifah, 1382 H/1963 M. (diakses melalui Maktabah Syamilah)– Al-Fāsī, Taqiyuddīn Muhammad ibn Ahmad ibn ‘Alī. Juz’un Fīhi ‘Aqīdah Ibn ‘Arabī wa Hayātuh wa Mā Qālahu al-Mu’arrikhūn wa al-‘Ulamā’u Fīh. Di-tahqiq oleh ‘Alī Hasan ‘Alī ‘Abd al-Hamīd. Cet. ke-1. Dammām: Dār Ibn al-Jawzī, 1404 H/1984 M.– Al-Qādhī, Ahmad ibn ‘Abd ar-Rahmān ibn ‘Uthmān. Da‘wah at-Taqrīb baina al-Adyān: Dirāsah Naqdiyyah fī Dhaw’i al-‘Aqīdah al-Islāmiyyah. Cet. ke-1. 2 jilid. Dammām: Dār Ibn al-Jawzī, 1421 H/2000 M.– Nuwaihidh, ‘Ādil. Mu‘jam al-Mufassirīn: min Shadr al-Islām hattā al-‘Ashr al-Hādhir. Cet. ke-3. 2 jilid. Beirut: Mu’assasah Nuwaihidh at-Tsaqāfiyyah, 1409 H/1988 M.

Antara Ibnul ‘Arabi dengan Ibnu ’Arabi (Bag. 1)

Daftar Isi TogglePentingnya mengetahui nama-nama para ulamaIbnul ’Arabi (dengan alif lam) [1]Ibnu ‘Arabi (tanpa alif lam) [2]Seringkali dalam mempelajari ilmu, terkhusus ilmu agama, kita dihadapkan dengan nama-nama para ulama yang sangat berjasa terhadap ilmu yang kita pelajari, rahimahumullahu jami’an.Secara tidak langsung, kita diharuskan untuk mengenal nama-nama mereka (para ulama). Menariknya, ada di antara mereka yang namanya sama persis, di antara mereka ada yang namanya sama dengan nama ayahnya, seperti contohnya ’Abbad bin ’Abbad; ada yang laqab (gelar) penyebutannya sama, seperti Ath-Thabari, ada Ath-Thabari ahli tafsir dan ada Ath-Thabari ulama dari mazhab Syafi’i; ada pula yang kunyah-nya sama; dan seterusnya.Hal ini bisa dilihat di dalam kitab-kitab biografi para ulama, dan kitab-kitab rijaalul hadis (para perawi hadis), seperti Lisaanul Mizan, Taqribut Tahdzib, Mu’jam Al-Mufassirin, Siyar A’laamin Nubala, dan kitab-kitab lainnya. Menjadi semakin menarik tatkala seorang penuntut ilmu dapat membedakan antara nama-nama yang ada, yang dapat terbedakan dari jalur nasabnya atau nama ayahnya.Pentingnya mengetahui nama-nama para ulamaDalam pembahasan ilmu hadis, terutama yang berkaitan dengan sanad, perbedaan mengenai nama-nama para ulama sering kali terjadi. Yaitu, seringkali nama-nama para ulama atau perawi yang lemah dimanipulasi agar tidak terlihat kelemahannya.Misalnya, dalam sebuah sanad hanya disebutkan ”Dari Abu Abdirrahman”, sedangkan nama yang menggunakan kunyah Abu ’Abdirrahman banyak sekali, ada yang memang orang tsiqah (terpercaya) dan ada yang lemah riwayatnya, bahkan palsu. Lalu, siapa Abu ’Abdirrahman yang dimaksud pada sanad tersebut? Maka, sangat penting untuk mengetahu nama para ulama yang sebenarnya, agar kebenaran tetap tersampaikan dan keburukan dapat terenyahkan.Di antara yang menarik adalah perbedaan nama Ibnul Arabi (dengan alif lam) dengan Ibnu Arabi (tanpa alif lam). Karena keduanya memiliki perbedaan yang sangat jauh sekali. Hal-hal seperti ini, jika tidak diketahui, dikhawatirkan banyak yang terjatuh kepada kesalahan-kesalahan yang dilontarkan oleh salah satu nama yang sama.Ibnul ’Arabi (dengan alif lam) [1]Nama beliau adalah Muhammad bin ’Abdillah bin Muhammad bin ’Abdillah bin Ahmad Al-Ma’arifi Al-Andalusi Al-Isybili. Yang sering dikenal dengan Abu Bakr Ibnul ’Arabi. Beliau adalah seorang qadhi, penghafal hadis-hadis Nabi shallallahu ’alaih wa sallam, di antara pembesar fuqaha mazhab Maliki.Beliau dilahirkan pada 22 Sya’ban 468 H di kota إشبيلية (Isybilia) yang dikenal dengan Sevilla di Spanyol. Oleh karena itu, beliau dikatakan الإشبيلي (Al-Isybili) karena beliau dilahirkan di Sevilla, tepatnya di sebelah selatan Spanyol. Di tempat itulah beliau tumbuh dan berkembang serta mengambil ilmu dari para ulama setempat.Pada tahun 485 H, kurang lebih saat beliau berusia tujuh belas tahun, beliau berangkat rihlah ke wilayah timur bersama ayahnya, untuk belajar ilmu kepada para ulama di sana. Beliau mengambil ilmu dari para ulama di Mesir, Syam, Baghdad, dan Hijaz. Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah di dalam Siyar A’lamin Nubala menyebutkan nama dari guru beliau di setiap tempat yang Ibnul ’Arabi kunjungi.Beliau kembali pulang ke kampung halaman pada tahun 495 H. Di antara alasan beliau pulang, disebutkan oleh Adz Dzahabi adalah karena ayahnya wafat. Kemudian beliau mulai mengajar, dan para penuntut ilmu berdatangan kepadanya untuk mendengarkan hadis dan juga ilmu. Beliau pernah menjabat sebagai Qadhi (Hakim) di Sevilla pada tahun 538 H, kemudian diberhentikan dari jabatannya, lalu beliaupun mendedikasikan waktunya untuk menyebarkan ilmu dan menulis karya.Beliau wafat di dekat Fez (Fas) di daerah Maroko bulan Rabiul akhir 543 H. Beliau meninggalkan beberapa karya tulis, di antaranya,Ahkaamul Qur’an;An-Nasikh wal Mansukh fil Qur’an;Al-‘Awashim minal Qawashim;Qanun At-Ta’wil.Dan karya tulis lainnya. Rahimahullah Ta’ala rahmatan wasi’ah.Ibnu ‘Arabi (tanpa alif lam) [2]Nama beliau adalah Muhammad bin ’Ali bin Muhammad bin Ahmad Ath-Tha’i Al-Hatimi Al-Mursi. Kunyah beliau adalah Abu Bakr, laqab beliau adalah Muhyiddin (penghidup agama), masyhur-nya beliau adalah Ibnu ’Arabi. Dilahirkan pada tahun 560 H di kota Mursi, Spanyol.Disebutkan mengapa gelar beliau adalah Ath-Tha’i, dikarenakan beliau pernah menetap di Yaman dalam beberapa waktu yang cukup lama. Beliau adalah seorang yang berilmu, sufi (tasawuf) tulen. Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata tentangnya,العَلاَّمَةُ، صَاحِبُ التَّوَالِيفِ الكَثِيْرَةِ، مُحْيِي الدِّيْنِ”Seorang yang berilmu, pemilik karya tulis yang banyak, penghidup agama.” [3]Kemudian Adz-Dzahabi menuturkan, ”Ibnu ’Arabi tinggal di Rum (wilayah Bizantium) selama beberapa waktu. Beliau adalah sosok yang cerdas dan memiliki ilmu yang luas. Beliau pernah bekerja sebagai penulis resmi untuk sebagian penguasa di wilayah Maroko. Kemudian ia memilih hidup zuhud, menyendiri, fokus beribadah, mengasingkan diri, melakukan perjalanan, serta melepaskan diri (dari keterikatan duniawi). Ia menjelajahi wilayah Tihamah (dataran rendah) hingga Najd (dataran tinggi). Ia juga sering melakukan khalwat (menyendiri) dan menulis sangat banyak catatan mengenai tasawuf aliran Wihdatul Wujud (kesatuan wujud).” [3]Al-Imam Taqiyuddin Al-Farisi rahimahullah juga menuturkan, “Beliau juga tinggal di kota Mekah selama beberapa tahun. Di Mekah, beliau menulis karya tulisnya, di antaranya yang beliau namakan dengan “Al-Futuhaat Al-Makkiyah”. Beliau juga memiliki karya tulis lainnya, di antaranya, “Fusush Al-Hikam”, serta banyak sya’ir yang sangat bagus dari segi kefasihan bahasanya. Namun sayangnya, beliau telah nodai atau mencoreng kehebatannya itu dengan pernyataannya secara terang-terangan mengenai ajaran Wihdatul Wujud yang mutlak. Dan beliau menyatakan hal tersebut secara tegas di dalam buku-bukunya.” [4]Beliau wafat pada malam Jumat, 24 Rabiul akhir 638 H di Damaskus. Dan dikebumikan di sebuah komplek pemakaman yang terkenal dengan nama Turbah Bani Zaki. Demikianlah secara ringkas biografi atau latar belakang dari Ibnu ‘Arabi.Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah menuturkan,إِنْ كَانَ مُحْيِي الدِّيْنِ رَجَعَ عَنْ مَقَالاَتِهِ تِلْكَ قَبْلَ المَوْتِ، فَقَدْ فَازَ، وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللهِ بِعَزِيْزٍ“Jika Muhyiddin (Ibnu ‘Arabi) telah bertobat (menarik kembali) perkataan-perkataan itu sebelum wafatnya, maka sungguh ia telah beruntung, dan hal itu bukanlah sesuatu yang sulit bagi Allah.” [3]Bisa dilihat dari kedua nama, cukup terlihat perbedaan antara Ibnul ‘Arabi dengan Ibnu ‘Arabi. Di antara persamaannya adalah:Berasal dari Andalus (Spanyol);Kunyah-nya Abu Bakr;Nama aslinya Muhammad;Keduanya melalukan safar (perjalanan jauh) untuk menuntut ilmu ke wilayah timur.Dari beberapa kesamaan ini, maka perlu dibedakan. Yaitu dilihat dari alif lam-nya. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah membedakan penyebutan keduanya dalam kitabnya Majmu’ Fatawa, yaitu Ibnul ‘Arabi untuk Muhammad bin Muhammad Al-Isybili (ulama Maliki), dan Ibnu ‘Arabi (tanpa alif lam) untuk Muhammad bin ‘Ali. Yang dilakukan oleh Syekhul Islam tersebut dapat dijadikan sebagai patokan untuk membedakan antara kedua nama tersebut. Sehingga tidak tertukar antara keduanya.Wallahu a’lam.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Depok, 15 Safar 1447/ 29 Juli 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan Kaki:[1] Siyar A’amin Nubala dan Mu’jam Al-Mufassirin, hal. 109.[2] ‘Aqidatu Ibnu ‘Arabi wa Hayatuhu, hal. 9; Siyar A’lamin Nubala, 23: 48; Mizaanul I’tidal, 3: 659.[3] Siyar A’lamin Nubala, 23: 48.[4] ‘Aqidatu Ibnu ‘Arabi wa Hayatuhu, hal. 11-12. Referensi:– Adz-Dzahabī, Syamsuddīn Muḥammad ibn Aḥmad ibn ʿUthmān. Siyar Aʿlām an-Nubalā’. Di-tahqiq oleh Shuʿayb al-Arnā’ūṭ, Bashshār ʿAwwād Maʿrūf, dkk. Cet. ke-3. 25 jilid. Beirut: Mu’assasah ar-Risālah, 1405 H/1985 M. (diakses melalui Maktabah Syamilah)– Adz-Dzahabī, Syamsuddīn Muḥammad ibn Aḥmad ibn ʿUthmān. Mīzān al-Iʿtidāl fī Naqd ar-Rijāl. Di-tahqiq oleh ʿAlī Muḥammad al-Bijāwī. Cet. ke-1. 4 jilid. Beirut: Dār al-Maʿrifah, 1382 H/1963 M. (diakses melalui Maktabah Syamilah)– Al-Fāsī, Taqiyuddīn Muhammad ibn Ahmad ibn ‘Alī. Juz’un Fīhi ‘Aqīdah Ibn ‘Arabī wa Hayātuh wa Mā Qālahu al-Mu’arrikhūn wa al-‘Ulamā’u Fīh. Di-tahqiq oleh ‘Alī Hasan ‘Alī ‘Abd al-Hamīd. Cet. ke-1. Dammām: Dār Ibn al-Jawzī, 1404 H/1984 M.– Al-Qādhī, Ahmad ibn ‘Abd ar-Rahmān ibn ‘Uthmān. Da‘wah at-Taqrīb baina al-Adyān: Dirāsah Naqdiyyah fī Dhaw’i al-‘Aqīdah al-Islāmiyyah. Cet. ke-1. 2 jilid. Dammām: Dār Ibn al-Jawzī, 1421 H/2000 M.– Nuwaihidh, ‘Ādil. Mu‘jam al-Mufassirīn: min Shadr al-Islām hattā al-‘Ashr al-Hādhir. Cet. ke-3. 2 jilid. Beirut: Mu’assasah Nuwaihidh at-Tsaqāfiyyah, 1409 H/1988 M.
Daftar Isi TogglePentingnya mengetahui nama-nama para ulamaIbnul ’Arabi (dengan alif lam) [1]Ibnu ‘Arabi (tanpa alif lam) [2]Seringkali dalam mempelajari ilmu, terkhusus ilmu agama, kita dihadapkan dengan nama-nama para ulama yang sangat berjasa terhadap ilmu yang kita pelajari, rahimahumullahu jami’an.Secara tidak langsung, kita diharuskan untuk mengenal nama-nama mereka (para ulama). Menariknya, ada di antara mereka yang namanya sama persis, di antara mereka ada yang namanya sama dengan nama ayahnya, seperti contohnya ’Abbad bin ’Abbad; ada yang laqab (gelar) penyebutannya sama, seperti Ath-Thabari, ada Ath-Thabari ahli tafsir dan ada Ath-Thabari ulama dari mazhab Syafi’i; ada pula yang kunyah-nya sama; dan seterusnya.Hal ini bisa dilihat di dalam kitab-kitab biografi para ulama, dan kitab-kitab rijaalul hadis (para perawi hadis), seperti Lisaanul Mizan, Taqribut Tahdzib, Mu’jam Al-Mufassirin, Siyar A’laamin Nubala, dan kitab-kitab lainnya. Menjadi semakin menarik tatkala seorang penuntut ilmu dapat membedakan antara nama-nama yang ada, yang dapat terbedakan dari jalur nasabnya atau nama ayahnya.Pentingnya mengetahui nama-nama para ulamaDalam pembahasan ilmu hadis, terutama yang berkaitan dengan sanad, perbedaan mengenai nama-nama para ulama sering kali terjadi. Yaitu, seringkali nama-nama para ulama atau perawi yang lemah dimanipulasi agar tidak terlihat kelemahannya.Misalnya, dalam sebuah sanad hanya disebutkan ”Dari Abu Abdirrahman”, sedangkan nama yang menggunakan kunyah Abu ’Abdirrahman banyak sekali, ada yang memang orang tsiqah (terpercaya) dan ada yang lemah riwayatnya, bahkan palsu. Lalu, siapa Abu ’Abdirrahman yang dimaksud pada sanad tersebut? Maka, sangat penting untuk mengetahu nama para ulama yang sebenarnya, agar kebenaran tetap tersampaikan dan keburukan dapat terenyahkan.Di antara yang menarik adalah perbedaan nama Ibnul Arabi (dengan alif lam) dengan Ibnu Arabi (tanpa alif lam). Karena keduanya memiliki perbedaan yang sangat jauh sekali. Hal-hal seperti ini, jika tidak diketahui, dikhawatirkan banyak yang terjatuh kepada kesalahan-kesalahan yang dilontarkan oleh salah satu nama yang sama.Ibnul ’Arabi (dengan alif lam) [1]Nama beliau adalah Muhammad bin ’Abdillah bin Muhammad bin ’Abdillah bin Ahmad Al-Ma’arifi Al-Andalusi Al-Isybili. Yang sering dikenal dengan Abu Bakr Ibnul ’Arabi. Beliau adalah seorang qadhi, penghafal hadis-hadis Nabi shallallahu ’alaih wa sallam, di antara pembesar fuqaha mazhab Maliki.Beliau dilahirkan pada 22 Sya’ban 468 H di kota إشبيلية (Isybilia) yang dikenal dengan Sevilla di Spanyol. Oleh karena itu, beliau dikatakan الإشبيلي (Al-Isybili) karena beliau dilahirkan di Sevilla, tepatnya di sebelah selatan Spanyol. Di tempat itulah beliau tumbuh dan berkembang serta mengambil ilmu dari para ulama setempat.Pada tahun 485 H, kurang lebih saat beliau berusia tujuh belas tahun, beliau berangkat rihlah ke wilayah timur bersama ayahnya, untuk belajar ilmu kepada para ulama di sana. Beliau mengambil ilmu dari para ulama di Mesir, Syam, Baghdad, dan Hijaz. Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah di dalam Siyar A’lamin Nubala menyebutkan nama dari guru beliau di setiap tempat yang Ibnul ’Arabi kunjungi.Beliau kembali pulang ke kampung halaman pada tahun 495 H. Di antara alasan beliau pulang, disebutkan oleh Adz Dzahabi adalah karena ayahnya wafat. Kemudian beliau mulai mengajar, dan para penuntut ilmu berdatangan kepadanya untuk mendengarkan hadis dan juga ilmu. Beliau pernah menjabat sebagai Qadhi (Hakim) di Sevilla pada tahun 538 H, kemudian diberhentikan dari jabatannya, lalu beliaupun mendedikasikan waktunya untuk menyebarkan ilmu dan menulis karya.Beliau wafat di dekat Fez (Fas) di daerah Maroko bulan Rabiul akhir 543 H. Beliau meninggalkan beberapa karya tulis, di antaranya,Ahkaamul Qur’an;An-Nasikh wal Mansukh fil Qur’an;Al-‘Awashim minal Qawashim;Qanun At-Ta’wil.Dan karya tulis lainnya. Rahimahullah Ta’ala rahmatan wasi’ah.Ibnu ‘Arabi (tanpa alif lam) [2]Nama beliau adalah Muhammad bin ’Ali bin Muhammad bin Ahmad Ath-Tha’i Al-Hatimi Al-Mursi. Kunyah beliau adalah Abu Bakr, laqab beliau adalah Muhyiddin (penghidup agama), masyhur-nya beliau adalah Ibnu ’Arabi. Dilahirkan pada tahun 560 H di kota Mursi, Spanyol.Disebutkan mengapa gelar beliau adalah Ath-Tha’i, dikarenakan beliau pernah menetap di Yaman dalam beberapa waktu yang cukup lama. Beliau adalah seorang yang berilmu, sufi (tasawuf) tulen. Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata tentangnya,العَلاَّمَةُ، صَاحِبُ التَّوَالِيفِ الكَثِيْرَةِ، مُحْيِي الدِّيْنِ”Seorang yang berilmu, pemilik karya tulis yang banyak, penghidup agama.” [3]Kemudian Adz-Dzahabi menuturkan, ”Ibnu ’Arabi tinggal di Rum (wilayah Bizantium) selama beberapa waktu. Beliau adalah sosok yang cerdas dan memiliki ilmu yang luas. Beliau pernah bekerja sebagai penulis resmi untuk sebagian penguasa di wilayah Maroko. Kemudian ia memilih hidup zuhud, menyendiri, fokus beribadah, mengasingkan diri, melakukan perjalanan, serta melepaskan diri (dari keterikatan duniawi). Ia menjelajahi wilayah Tihamah (dataran rendah) hingga Najd (dataran tinggi). Ia juga sering melakukan khalwat (menyendiri) dan menulis sangat banyak catatan mengenai tasawuf aliran Wihdatul Wujud (kesatuan wujud).” [3]Al-Imam Taqiyuddin Al-Farisi rahimahullah juga menuturkan, “Beliau juga tinggal di kota Mekah selama beberapa tahun. Di Mekah, beliau menulis karya tulisnya, di antaranya yang beliau namakan dengan “Al-Futuhaat Al-Makkiyah”. Beliau juga memiliki karya tulis lainnya, di antaranya, “Fusush Al-Hikam”, serta banyak sya’ir yang sangat bagus dari segi kefasihan bahasanya. Namun sayangnya, beliau telah nodai atau mencoreng kehebatannya itu dengan pernyataannya secara terang-terangan mengenai ajaran Wihdatul Wujud yang mutlak. Dan beliau menyatakan hal tersebut secara tegas di dalam buku-bukunya.” [4]Beliau wafat pada malam Jumat, 24 Rabiul akhir 638 H di Damaskus. Dan dikebumikan di sebuah komplek pemakaman yang terkenal dengan nama Turbah Bani Zaki. Demikianlah secara ringkas biografi atau latar belakang dari Ibnu ‘Arabi.Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah menuturkan,إِنْ كَانَ مُحْيِي الدِّيْنِ رَجَعَ عَنْ مَقَالاَتِهِ تِلْكَ قَبْلَ المَوْتِ، فَقَدْ فَازَ، وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللهِ بِعَزِيْزٍ“Jika Muhyiddin (Ibnu ‘Arabi) telah bertobat (menarik kembali) perkataan-perkataan itu sebelum wafatnya, maka sungguh ia telah beruntung, dan hal itu bukanlah sesuatu yang sulit bagi Allah.” [3]Bisa dilihat dari kedua nama, cukup terlihat perbedaan antara Ibnul ‘Arabi dengan Ibnu ‘Arabi. Di antara persamaannya adalah:Berasal dari Andalus (Spanyol);Kunyah-nya Abu Bakr;Nama aslinya Muhammad;Keduanya melalukan safar (perjalanan jauh) untuk menuntut ilmu ke wilayah timur.Dari beberapa kesamaan ini, maka perlu dibedakan. Yaitu dilihat dari alif lam-nya. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah membedakan penyebutan keduanya dalam kitabnya Majmu’ Fatawa, yaitu Ibnul ‘Arabi untuk Muhammad bin Muhammad Al-Isybili (ulama Maliki), dan Ibnu ‘Arabi (tanpa alif lam) untuk Muhammad bin ‘Ali. Yang dilakukan oleh Syekhul Islam tersebut dapat dijadikan sebagai patokan untuk membedakan antara kedua nama tersebut. Sehingga tidak tertukar antara keduanya.Wallahu a’lam.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Depok, 15 Safar 1447/ 29 Juli 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan Kaki:[1] Siyar A’amin Nubala dan Mu’jam Al-Mufassirin, hal. 109.[2] ‘Aqidatu Ibnu ‘Arabi wa Hayatuhu, hal. 9; Siyar A’lamin Nubala, 23: 48; Mizaanul I’tidal, 3: 659.[3] Siyar A’lamin Nubala, 23: 48.[4] ‘Aqidatu Ibnu ‘Arabi wa Hayatuhu, hal. 11-12. Referensi:– Adz-Dzahabī, Syamsuddīn Muḥammad ibn Aḥmad ibn ʿUthmān. Siyar Aʿlām an-Nubalā’. Di-tahqiq oleh Shuʿayb al-Arnā’ūṭ, Bashshār ʿAwwād Maʿrūf, dkk. Cet. ke-3. 25 jilid. Beirut: Mu’assasah ar-Risālah, 1405 H/1985 M. (diakses melalui Maktabah Syamilah)– Adz-Dzahabī, Syamsuddīn Muḥammad ibn Aḥmad ibn ʿUthmān. Mīzān al-Iʿtidāl fī Naqd ar-Rijāl. Di-tahqiq oleh ʿAlī Muḥammad al-Bijāwī. Cet. ke-1. 4 jilid. Beirut: Dār al-Maʿrifah, 1382 H/1963 M. (diakses melalui Maktabah Syamilah)– Al-Fāsī, Taqiyuddīn Muhammad ibn Ahmad ibn ‘Alī. Juz’un Fīhi ‘Aqīdah Ibn ‘Arabī wa Hayātuh wa Mā Qālahu al-Mu’arrikhūn wa al-‘Ulamā’u Fīh. Di-tahqiq oleh ‘Alī Hasan ‘Alī ‘Abd al-Hamīd. Cet. ke-1. Dammām: Dār Ibn al-Jawzī, 1404 H/1984 M.– Al-Qādhī, Ahmad ibn ‘Abd ar-Rahmān ibn ‘Uthmān. Da‘wah at-Taqrīb baina al-Adyān: Dirāsah Naqdiyyah fī Dhaw’i al-‘Aqīdah al-Islāmiyyah. Cet. ke-1. 2 jilid. Dammām: Dār Ibn al-Jawzī, 1421 H/2000 M.– Nuwaihidh, ‘Ādil. Mu‘jam al-Mufassirīn: min Shadr al-Islām hattā al-‘Ashr al-Hādhir. Cet. ke-3. 2 jilid. Beirut: Mu’assasah Nuwaihidh at-Tsaqāfiyyah, 1409 H/1988 M.


Daftar Isi TogglePentingnya mengetahui nama-nama para ulamaIbnul ’Arabi (dengan alif lam) [1]Ibnu ‘Arabi (tanpa alif lam) [2]Seringkali dalam mempelajari ilmu, terkhusus ilmu agama, kita dihadapkan dengan nama-nama para ulama yang sangat berjasa terhadap ilmu yang kita pelajari, rahimahumullahu jami’an.Secara tidak langsung, kita diharuskan untuk mengenal nama-nama mereka (para ulama). Menariknya, ada di antara mereka yang namanya sama persis, di antara mereka ada yang namanya sama dengan nama ayahnya, seperti contohnya ’Abbad bin ’Abbad; ada yang laqab (gelar) penyebutannya sama, seperti Ath-Thabari, ada Ath-Thabari ahli tafsir dan ada Ath-Thabari ulama dari mazhab Syafi’i; ada pula yang kunyah-nya sama; dan seterusnya.Hal ini bisa dilihat di dalam kitab-kitab biografi para ulama, dan kitab-kitab rijaalul hadis (para perawi hadis), seperti Lisaanul Mizan, Taqribut Tahdzib, Mu’jam Al-Mufassirin, Siyar A’laamin Nubala, dan kitab-kitab lainnya. Menjadi semakin menarik tatkala seorang penuntut ilmu dapat membedakan antara nama-nama yang ada, yang dapat terbedakan dari jalur nasabnya atau nama ayahnya.Pentingnya mengetahui nama-nama para ulamaDalam pembahasan ilmu hadis, terutama yang berkaitan dengan sanad, perbedaan mengenai nama-nama para ulama sering kali terjadi. Yaitu, seringkali nama-nama para ulama atau perawi yang lemah dimanipulasi agar tidak terlihat kelemahannya.Misalnya, dalam sebuah sanad hanya disebutkan ”Dari Abu Abdirrahman”, sedangkan nama yang menggunakan kunyah Abu ’Abdirrahman banyak sekali, ada yang memang orang tsiqah (terpercaya) dan ada yang lemah riwayatnya, bahkan palsu. Lalu, siapa Abu ’Abdirrahman yang dimaksud pada sanad tersebut? Maka, sangat penting untuk mengetahu nama para ulama yang sebenarnya, agar kebenaran tetap tersampaikan dan keburukan dapat terenyahkan.Di antara yang menarik adalah perbedaan nama Ibnul Arabi (dengan alif lam) dengan Ibnu Arabi (tanpa alif lam). Karena keduanya memiliki perbedaan yang sangat jauh sekali. Hal-hal seperti ini, jika tidak diketahui, dikhawatirkan banyak yang terjatuh kepada kesalahan-kesalahan yang dilontarkan oleh salah satu nama yang sama.Ibnul ’Arabi (dengan alif lam) [1]Nama beliau adalah Muhammad bin ’Abdillah bin Muhammad bin ’Abdillah bin Ahmad Al-Ma’arifi Al-Andalusi Al-Isybili. Yang sering dikenal dengan Abu Bakr Ibnul ’Arabi. Beliau adalah seorang qadhi, penghafal hadis-hadis Nabi shallallahu ’alaih wa sallam, di antara pembesar fuqaha mazhab Maliki.Beliau dilahirkan pada 22 Sya’ban 468 H di kota إشبيلية (Isybilia) yang dikenal dengan Sevilla di Spanyol. Oleh karena itu, beliau dikatakan الإشبيلي (Al-Isybili) karena beliau dilahirkan di Sevilla, tepatnya di sebelah selatan Spanyol. Di tempat itulah beliau tumbuh dan berkembang serta mengambil ilmu dari para ulama setempat.Pada tahun 485 H, kurang lebih saat beliau berusia tujuh belas tahun, beliau berangkat rihlah ke wilayah timur bersama ayahnya, untuk belajar ilmu kepada para ulama di sana. Beliau mengambil ilmu dari para ulama di Mesir, Syam, Baghdad, dan Hijaz. Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah di dalam Siyar A’lamin Nubala menyebutkan nama dari guru beliau di setiap tempat yang Ibnul ’Arabi kunjungi.Beliau kembali pulang ke kampung halaman pada tahun 495 H. Di antara alasan beliau pulang, disebutkan oleh Adz Dzahabi adalah karena ayahnya wafat. Kemudian beliau mulai mengajar, dan para penuntut ilmu berdatangan kepadanya untuk mendengarkan hadis dan juga ilmu. Beliau pernah menjabat sebagai Qadhi (Hakim) di Sevilla pada tahun 538 H, kemudian diberhentikan dari jabatannya, lalu beliaupun mendedikasikan waktunya untuk menyebarkan ilmu dan menulis karya.Beliau wafat di dekat Fez (Fas) di daerah Maroko bulan Rabiul akhir 543 H. Beliau meninggalkan beberapa karya tulis, di antaranya,Ahkaamul Qur’an;An-Nasikh wal Mansukh fil Qur’an;Al-‘Awashim minal Qawashim;Qanun At-Ta’wil.Dan karya tulis lainnya. Rahimahullah Ta’ala rahmatan wasi’ah.Ibnu ‘Arabi (tanpa alif lam) [2]Nama beliau adalah Muhammad bin ’Ali bin Muhammad bin Ahmad Ath-Tha’i Al-Hatimi Al-Mursi. Kunyah beliau adalah Abu Bakr, laqab beliau adalah Muhyiddin (penghidup agama), masyhur-nya beliau adalah Ibnu ’Arabi. Dilahirkan pada tahun 560 H di kota Mursi, Spanyol.Disebutkan mengapa gelar beliau adalah Ath-Tha’i, dikarenakan beliau pernah menetap di Yaman dalam beberapa waktu yang cukup lama. Beliau adalah seorang yang berilmu, sufi (tasawuf) tulen. Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata tentangnya,العَلاَّمَةُ، صَاحِبُ التَّوَالِيفِ الكَثِيْرَةِ، مُحْيِي الدِّيْنِ”Seorang yang berilmu, pemilik karya tulis yang banyak, penghidup agama.” [3]Kemudian Adz-Dzahabi menuturkan, ”Ibnu ’Arabi tinggal di Rum (wilayah Bizantium) selama beberapa waktu. Beliau adalah sosok yang cerdas dan memiliki ilmu yang luas. Beliau pernah bekerja sebagai penulis resmi untuk sebagian penguasa di wilayah Maroko. Kemudian ia memilih hidup zuhud, menyendiri, fokus beribadah, mengasingkan diri, melakukan perjalanan, serta melepaskan diri (dari keterikatan duniawi). Ia menjelajahi wilayah Tihamah (dataran rendah) hingga Najd (dataran tinggi). Ia juga sering melakukan khalwat (menyendiri) dan menulis sangat banyak catatan mengenai tasawuf aliran Wihdatul Wujud (kesatuan wujud).” [3]Al-Imam Taqiyuddin Al-Farisi rahimahullah juga menuturkan, “Beliau juga tinggal di kota Mekah selama beberapa tahun. Di Mekah, beliau menulis karya tulisnya, di antaranya yang beliau namakan dengan “Al-Futuhaat Al-Makkiyah”. Beliau juga memiliki karya tulis lainnya, di antaranya, “Fusush Al-Hikam”, serta banyak sya’ir yang sangat bagus dari segi kefasihan bahasanya. Namun sayangnya, beliau telah nodai atau mencoreng kehebatannya itu dengan pernyataannya secara terang-terangan mengenai ajaran Wihdatul Wujud yang mutlak. Dan beliau menyatakan hal tersebut secara tegas di dalam buku-bukunya.” [4]Beliau wafat pada malam Jumat, 24 Rabiul akhir 638 H di Damaskus. Dan dikebumikan di sebuah komplek pemakaman yang terkenal dengan nama Turbah Bani Zaki. Demikianlah secara ringkas biografi atau latar belakang dari Ibnu ‘Arabi.Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah menuturkan,إِنْ كَانَ مُحْيِي الدِّيْنِ رَجَعَ عَنْ مَقَالاَتِهِ تِلْكَ قَبْلَ المَوْتِ، فَقَدْ فَازَ، وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللهِ بِعَزِيْزٍ“Jika Muhyiddin (Ibnu ‘Arabi) telah bertobat (menarik kembali) perkataan-perkataan itu sebelum wafatnya, maka sungguh ia telah beruntung, dan hal itu bukanlah sesuatu yang sulit bagi Allah.” [3]Bisa dilihat dari kedua nama, cukup terlihat perbedaan antara Ibnul ‘Arabi dengan Ibnu ‘Arabi. Di antara persamaannya adalah:Berasal dari Andalus (Spanyol);Kunyah-nya Abu Bakr;Nama aslinya Muhammad;Keduanya melalukan safar (perjalanan jauh) untuk menuntut ilmu ke wilayah timur.Dari beberapa kesamaan ini, maka perlu dibedakan. Yaitu dilihat dari alif lam-nya. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah membedakan penyebutan keduanya dalam kitabnya Majmu’ Fatawa, yaitu Ibnul ‘Arabi untuk Muhammad bin Muhammad Al-Isybili (ulama Maliki), dan Ibnu ‘Arabi (tanpa alif lam) untuk Muhammad bin ‘Ali. Yang dilakukan oleh Syekhul Islam tersebut dapat dijadikan sebagai patokan untuk membedakan antara kedua nama tersebut. Sehingga tidak tertukar antara keduanya.Wallahu a’lam.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Depok, 15 Safar 1447/ 29 Juli 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan Kaki:[1] Siyar A’amin Nubala dan Mu’jam Al-Mufassirin, hal. 109.[2] ‘Aqidatu Ibnu ‘Arabi wa Hayatuhu, hal. 9; Siyar A’lamin Nubala, 23: 48; Mizaanul I’tidal, 3: 659.[3] Siyar A’lamin Nubala, 23: 48.[4] ‘Aqidatu Ibnu ‘Arabi wa Hayatuhu, hal. 11-12. Referensi:– Adz-Dzahabī, Syamsuddīn Muḥammad ibn Aḥmad ibn ʿUthmān. Siyar Aʿlām an-Nubalā’. Di-tahqiq oleh Shuʿayb al-Arnā’ūṭ, Bashshār ʿAwwād Maʿrūf, dkk. Cet. ke-3. 25 jilid. Beirut: Mu’assasah ar-Risālah, 1405 H/1985 M. (diakses melalui Maktabah Syamilah)– Adz-Dzahabī, Syamsuddīn Muḥammad ibn Aḥmad ibn ʿUthmān. Mīzān al-Iʿtidāl fī Naqd ar-Rijāl. Di-tahqiq oleh ʿAlī Muḥammad al-Bijāwī. Cet. ke-1. 4 jilid. Beirut: Dār al-Maʿrifah, 1382 H/1963 M. (diakses melalui Maktabah Syamilah)– Al-Fāsī, Taqiyuddīn Muhammad ibn Ahmad ibn ‘Alī. Juz’un Fīhi ‘Aqīdah Ibn ‘Arabī wa Hayātuh wa Mā Qālahu al-Mu’arrikhūn wa al-‘Ulamā’u Fīh. Di-tahqiq oleh ‘Alī Hasan ‘Alī ‘Abd al-Hamīd. Cet. ke-1. Dammām: Dār Ibn al-Jawzī, 1404 H/1984 M.– Al-Qādhī, Ahmad ibn ‘Abd ar-Rahmān ibn ‘Uthmān. Da‘wah at-Taqrīb baina al-Adyān: Dirāsah Naqdiyyah fī Dhaw’i al-‘Aqīdah al-Islāmiyyah. Cet. ke-1. 2 jilid. Dammām: Dār Ibn al-Jawzī, 1421 H/2000 M.– Nuwaihidh, ‘Ādil. Mu‘jam al-Mufassirīn: min Shadr al-Islām hattā al-‘Ashr al-Hādhir. Cet. ke-3. 2 jilid. Beirut: Mu’assasah Nuwaihidh at-Tsaqāfiyyah, 1409 H/1988 M.

Maksiat Membuat Sulit untuk Berbuat Baik dan Taubat

Maksiat tidak hanya meninggalkan catatan dosa, tetapi juga dapat merusak irādah (kehendak) hati untuk berbuat baik dan bertaubat. Semakin sering dosa dituruti, keinginan bermaksiat dapat semakin kuat, sedangkan keinginan untuk bertaubat semakin melemah. Surah Al-Muddatstsir ayat 35–48 memberikan gambaran yang sangat dalam: manusia mendapat peringatan, diberi kehendak untuk memilih maju atau mundur, kemudian harus mempertanggungjawabkan pilihannya.   Daftar Isi tutup 1. Maksiat Melemahkan Kehendak Hati 2. Manusia Sedang Maju atau Mundur 3. Manusia Memiliki Kehendak dan Pilihan 4. Apa Perbedaan Irādah dan Masyī’ah? 5. Perbedaan Irādah Kauniyyah dan Irādah Syar‘iyyah 6. Setiap Pilihan Akan Dipertanggungjawabkan 7. Jangan Sampai Maksiat Menjadi Belenggu 8. Siapa yang Selamat? Aṣḥābul-Yamīn 9. Mengapa Mereka Masuk Saqar? 10. Alur Kerusakan Irādah karena Maksiat 11. Kita Berusaha, tetapi Tetap Memohon Taufik kepada Allah 12. Penutup: Jangan Biarkan Maksiat Menguasai Irādah 13. Pelajaran Penting  Maksiat Melemahkan Kehendak HatiIbnul Qayyim rahimahullah menjelaskan salah satu akibat maksiat yang sangat menakutkan:وَمِنْهَا – وَهُوَ مِنْ أَخْوَفِهَا عَلَى الْعَبْدِ – أَنَّهَا تُضْعِفُ الْقَلْبَ عَنْ إِرَادَتِهِ، فَتُقَوِّي إِرَادَةَ الْمَعْصِيَةِ، وَتُضْعِفُ إِرَادَةَ التَّوْبَةِ شَيْئًا فَشَيْئًا، إِلَى أَنْ تَنْسَلِخَ مِنْ قَلْبِهِ إِرَادَةُ التَّوْبَةِ بِالْكُلِّيَّةِ، فَلَوْ مَاتَ نِصْفُهُ لَمَا تَابَ إِلَى اللَّهِ، فَيَأْتِي بِالِاسْتِغْفَارِ وَتَوْبَةِ الْكَذَّابِينَ بِاللِّسَانِ بِشَيْءٍ كَثِيرٍ، وَقَلْبُهُ مَعْقُودٌ بِالْمَعْصِيَةِ، مُصِرٌّ عَلَيْهَا، عَازِمٌ عَلَى مُوَاقَعَتِهَا مَتَى أَمْكَنَهُ، وَهَذَا مِنْ أَعْظَمِ الْأَمْرَاضِ وَأَقْرَبِهَا إِلَى الْهَلَاكِ.“Di antara dampak dosa—dan ini termasuk yang paling ditakutkan bagi seorang hamba—adalah dosa melemahkan hati dari kehendaknya menuju kebaikan. Sebaliknya, dosa menguatkan keinginan untuk melakukan maksiat dan sedikit demi sedikit melemahkan keinginan untuk bertaubat, sampai keinginan bertaubat benar-benar tercabut dari hatinya.Seandainya separuh dirinya telah mati sekalipun, ia belum juga bertaubat kepada Allah. Ia mungkin banyak beristighfar dan mengucapkan taubat dengan lisannya seperti taubatnya para pendusta, sementara hatinya masih terikat dengan maksiat, terus-menerus melakukannya, dan bertekad mengulanginya ketika ada kesempatan. Ini termasuk penyakit paling besar dan paling dekat dengan kebinasaan.”(Lihat Ibnul Qayyim, Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’, hlm. 89, dari buku Dosa itu Candu – Penerbit Rumaysho)Perhatikan dua ungkapan penting:تُقَوِّي إِرَادَةَ الْمَعْصِيَةِ“Maksiat menguatkan keinginan untuk bermaksiat.”dan:تُضْعِفُ إِرَادَةَ التَّوْبَةِ شَيْئًا فَشَيْئًا“Maksiat sedikit demi sedikit melemahkan keinginan untuk bertaubat.”Inilah bahaya dosa yang sering tidak disadari. Masalahnya bukan hanya dosa yang terjadi hari ini, tetapi apa yang sedang dilakukan dosa tersebut terhadap hati kita untuk hari-hari berikutnya.Dosa pertama mungkin terasa berat. Ketika diulang, rasa bersalah mulai berkurang. Setelah terbiasa, dosa semakin mudah dilakukan. Pada akhirnya, bukan hanya maksiat yang sulit ditinggalkan, tetapi keinginan untuk meninggalkannya pun semakin melemah. Manusia Sedang Maju atau MundurAllah Ta‘ala berfirman,إِنَّهَا لَإِحْدَى الْكُبَرِ ۝ نَذِيرًا لِلْبَشَرِ ۝ لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَ“Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang sangat besar, sebagai peringatan bagi manusia, yaitu bagi siapa di antara kalian yang ingin maju atau mundur.” (QS. Al-Muddatstsir: 35–37)Ayat ini sebelumnya berbicara tentang dahsyatnya neraka Saqar. Allah menjadikannya نَذِيرًا لِلْبَشَرِ, peringatan bagi manusia.Setelah peringatan datang, manusia dihadapkan pada pilihan:أَنْ يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَ“Mau maju atau mundur.”Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:أَيْ: لِمَنْ شَاءَ أَنْ يَقْبَلَ النِّذَارَةَ وَيَهْتَدِيَ لِلْحَقِّ، أَوْ يَتَأَخَّرَ عَنْهَا وَيُوَلِّيَ دُبُرَهَا.“Maksudnya, bagi siapa yang mau menerima peringatan dan mendapatkan petunjuk menuju kebenaran, atau mundur darinya dan berpaling membelakanginya.”Maka maju bukan sekadar menjadi lebih sukses dalam urusan dunia.Maju yang sebenarnya adalah semakin dekat kepada Allah, semakin menerima nasihat, semakin mengikuti kebenaran, semakin baik shalatnya, semakin mudah bertaubat, dan semakin jauh dari maksiat.Sedangkan mundur adalah berpaling dari peringatan Allah.Dahulu merasa bersalah ketika terlambat shalat, sekarang biasa saja. Dahulu takut melihat yang haram, sekarang dicari. Dahulu setelah berdosa langsung beristighfar, sekarang berkata, “Nanti saja bertaubat.” Itulah kemunduran. Manusia Memiliki Kehendak dan PilihanPerhatikan firman Allah:لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ“Bagi siapa di antara kalian yang menghendaki.”Allah menetapkan bahwa manusia mempunyai kehendak. Dalam ayat lain Allah berfirman,لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ ۝ وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ“(Yaitu) bagi siapa di antara kalian yang menghendaki menempuh jalan yang lurus. Dan kalian tidak dapat menghendaki kecuali apabila Allah menghendakinya, Rabb seluruh alam.” (QS. At-Takwir: 28–29)Manusia bukan makhluk yang dipaksa melakukan ketaatan atau kemaksiatan. Ia memiliki kehendak, kemampuan, dan pilihan. Karena itulah manusia mendapatkan perintah dan larangan serta memperoleh pahala atau hukuman atas amalnya.Namun kehendak manusia bukanlah kehendak yang berdiri sendiri di luar kehendak Allah. Kehendak seorang hamba berada di bawah masyī’ah Allah.Allah menetapkan dua hal sekaligus:وَمَا تَشَاءُونَ“Kalian mempunyai kehendak.”Kemudian:إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ“Namun kehendak kalian berada di bawah kehendak Allah.”Takdir Allah tidak meniadakan kehendak dan pilihan manusia. IslamWeb juga menjelaskan bahwa Allah memberi hamba pilihan dalam ketaatan dan kemaksiatan, tetapi pilihan tersebut tidak keluar dari kehendak Allah. Apa Perbedaan Irādah dan Masyī’ah?Dua istilah yang sering ditemukan adalah:الإِرَادَةُ (al-irādah): kehendak atau keinginan.الْمَشِيئَةُ (al-masyī’ah): kehendak.Keduanya memiliki makna yang sangat berdekatan. Namun dalam pembahasan tentang sifat Allah terdapat perbedaan penting.Masyī’ah Allah berkaitan dengan apa yang Allah kehendaki terjadi secara kauni dan qadari. Apa yang Allah kehendaki secara kauni pasti terjadi.Adapun irādah Allah dalam dalil-dalil syariat mempunyai dua penggunaan: irādah kauniyyah dan irādah syar‘iyyah.Sebagaimana dijelaskan para ulama:الْإِرَادَةُ الْكَوْنِيَّةُ بِمَعْنَى الْمَشِيئَةِ، وَالْإِرَادَةُ الشَّرْعِيَّةُ بِمَعْنَى الْمَحَبَّةِ.“Irādah kauniyyah bermakna masyī’ah, sedangkan irādah syar‘iyyah bermakna kecintaan.”IslamWeb juga menukil penjelasan bahwa masyī’ah dalam Al-Qur’an dan Sunnah digunakan dalam makna kauni-qadari, sedangkan irādah dapat digunakan dalam makna kauni maupun syar‘i. Perbedaan Irādah Kauniyyah dan Irādah Syar‘iyyahPembedaIrādah Kauniyyah QadariyyahIrādah Syar‘iyyah DīniyyahArabالإِرَادَةُ الْكَوْنِيَّةُ الْقَدَرِيَّةُالإِرَادَةُ الشَّرْعِيَّةُ الدِّينِيَّةُMaknaKehendak Allah terhadap sesuatu yang terjadi di alamApa yang Allah kehendaki secara agama dan syariatHubungan dengan masyī’ahSama maknanya dengan masyī’ahBerkaitan dengan mahabbah dan rida AllahApakah pasti terjadi?Pasti terjadiBisa terjadi, bisa tidakApakah selalu dicintai Allah?TidakYaMencakup ketaatanYaYaMencakup kemaksiatanYa, dari sisi ditakdirkan terjadinyaTidakContohIman, kufur, hidup, mati, sehat, sakit yang benar-benar terjadiIman, shalat, taubat, takwa dan seluruh ketaatanIrādah kauniyyah pasti terjadi dan bisa berkaitan dengan sesuatu yang Allah cintai ataupun Allah benci. Adapun irādah syar‘iyyah hanya berkaitan dengan sesuatu yang Allah cintai, tetapi apa yang Allah kehendaki secara syar‘i belum tentu dilakukan manusia.Contohnya, Allah memerintahkan manusia beriman. Allah mencintai iman dan tidak meridai kekufuran. Namun kenyataannya tidak semua manusia beriman.Kekufuran yang terjadi tidak berarti Allah mencintai kekufuran. Ia terjadi berdasarkan irādah kauniyyah Allah, sedangkan secara syariat Allah tidak mencintai dan meridainya.Maka penting dipahami:Terjadinya sesuatu tidak otomatis menunjukkan bahwa Allah mencintai sesuatu tersebut. Setiap Pilihan Akan DipertanggungjawabkanSetelah Allah menyebutkan pilihan untuk maju atau mundur, Allah langsung berfirman,كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ“Setiap jiwa tergadai dengan apa yang telah dikerjakannya.” (QS. Al-Muddatstsir: 38)Ini merupakan hubungan yang sangat penting.Ayat 37 berbicara tentang kehendak dan pilihan.Ayat 38 berbicara tentang amal dan konsekuensi.Manusia boleh memilih jalannya, tetapi manusia tidak bisa memilih agar jalan tersebut tidak memiliki akibat.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan makna rahīnah:أَيْ: مُعْتَقَلَةٌ بِعَمَلِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ.“Maksudnya, jiwa itu tertahan karena amalnya pada hari Kiamat.”Kata مُعْتَقَلَةٌ memberikan gambaran kuat: tertahan dan terikat.Di tempat lain, ketika menjelaskan ayat:كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ“Setiap orang tergadai dengan apa yang telah dikerjakannya.” (QS. Ath-Thur: 21)Ibnu Katsir menjelaskan:أَيْ: مُرْتَهَنٌ بِعَمَلِهِ، لَا يُحْمَلُ عَلَيْهِ ذَنْبُ غَيْرِهِ مِنَ النَّاسِ.“Maksudnya, seseorang tergadai oleh amalnya. Dosa orang lain tidak dibebankan kepadanya.”Maka terdapat prinsip keadilan:Pilihan kita → amal kita → tanggung jawab kita. Jangan Sampai Maksiat Menjadi BelengguDi sinilah perkataan Ibnul Qayyim di awal semakin terasa.Di dunia, dosa yang terus dilakukan dapat mengikat irādah hati. Seseorang semakin ingin bermaksiat dan semakin lemah keinginannya untuk bertaubat.Di akhirat, amal buruk dapat menjadi sebab seseorang tertahan karena amalnya.Ibnu Katsir ketika menjelaskan ayat lain yang berkaitan dengan makna ini menerangkan tentang jiwa yang tertahan dari kebaikan dan tergadai sehingga tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, lalu beliau menghubungkannya dengan:كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ ۝ إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ(QS. Al-Muddatstsir: 38–39)Jangan meremehkan dosa dengan berkata:“Sekarang saja, nanti saya bisa berhenti.”Sebab masalahnya: apakah nanti hati kita masih ingin berhenti?Ibnul Qayyim mengingatkan bahwa yang dapat rusak karena maksiat justru إِرَادَةُ التَّوْبَةِ, keinginan untuk bertaubat. Siapa yang Selamat? Aṣḥābul-YamīnAllah kemudian mengecualikan:إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ ۝ فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ ۝ عَنِ الْمُجْرِمِينَ“Kecuali golongan kanan. Mereka berada di dalam surga, saling bertanya tentang orang-orang yang berdosa.”(QS. Al-Muddatstsir: 39–41)Aṣḥābul-yamīn adalah orang-orang yang Allah selamatkan.Maka ada kontras:رَهِينَةٌ — tergadai dan tertahan.Sedangkan aṣḥābul-yamīn mendapatkan keselamatan.Ini juga meluruskan anggapan manusia tentang kebebasan. Pelaku maksiat mungkin berkata, “Saya bebas melakukan apa yang saya mau.” Padahal jika hawa nafsu telah menguasainya, sebenarnya ia justru menjadi tawanan keinginannya.Ketaatan kepada Allah bukanlah belenggu. Justru ketaatan membebaskan manusia dari perbudakan hawa nafsu. Mengapa Mereka Masuk Saqar?Setelah itu aṣḥābul-yamīn bertanya kepada para pendosa:مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ“Apa yang menyebabkan kalian masuk ke dalam Saqar?” (QS. Al-Muddatstsir: 42)Mereka menjawab:قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ ۝ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ ۝ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ ۝ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ ۝ حَتَّى أَتَانَا الْيَقِينُ“Mereka berkata, ‘Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat. Kami tidak memberi makan orang miskin. Kami biasa berbincang dalam kebatilan bersama orang-orang yang membicarakannya. Dan kami mendustakan hari pembalasan, sampai datang kepada kami kematian.’” (QS. Al-Muddatstsir: 43–47)Perhatikan bagaimana Al-Qur’an menggambarkan jalan kemunduran:meninggalkan shalat → tidak peduli kepada orang miskin → larut bersama lingkungan kebatilan → mendustakan hari akhir → kematian datang sebelum bertaubat.Inilah gambaran nyata dari:أَنْ يَتَأَخَّرَ“Mundur.”Kemunduran spiritual sering kali tidak terjadi sekaligus.Ibnul Qayyim mengatakan:شَيْئًا فَشَيْئًا“Sedikit demi sedikit.”Awalnya dosa.Kemudian dosa diulang.Setelah itu menjadi kebiasaan.Kebiasaan menguatkan keinginan.Keinginan untuk bertaubat melemah.Akhirnya kematian datang sebelum seseorang kembali kepada Allah. Alur Kerusakan Irādah karena MaksiatRangkaian ayat ini dapat diringkas:نَذِيرًا لِلْبَشَرِAda peringatan. ↓لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْManusia mempunyai kehendak. ↓أَنْ يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَIa memilih maju atau mundur. ↓بِمَا كَسَبَتْPilihan melahirkan amal. ↓رَهِينَةٌAmal buruk dapat mengikat pelakunya. ↓إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِAda orang-orang yang Allah selamatkan. ↓مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ؟Orang yang terus memilih jalan kemunduran akhirnya ditanya, “Apa yang memasukkan kalian ke Saqar?”Maka bisa diringkas lagi: IRĀDAH → PILIHAN → AMAL → KEBIASAAN → KONDISI HATI → NASIB AKHIRAT Kita Berusaha, tetapi Tetap Memohon Taufik kepada AllahWalaupun manusia memiliki irādah dan pilihan, jangan sampai ia merasa mampu istiqamah dengan kekuatannya sendiri.Allah berfirman,وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ“Kalian tidak dapat menghendaki kecuali apabila Allah menghendakinya, Rabb seluruh alam.” (QS. At-Takwir: 29)Kita berusaha memperbaiki irādah, tetapi taufik tetap berasal dari Allah.Karena itu, setelah berusaha meninggalkan dosa, perbanyaklah doa agar Allah meneguhkan hati. Penutup: Jangan Biarkan Maksiat Menguasai IrādahMaksiat jangan hanya dilihat dari kenikmatan sesaat ketika dilakukan. Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika dosa mulai mengubah hati: maksiat semakin dicintai, nasihat semakin dibenci, dan taubat semakin ditunda. Jangan menunggu hati menjadi baik untuk meninggalkan dosa; tinggalkanlah dosa agar Allah memperbaiki hati kita.Ingatlah bahwa setiap hari kita sedang bergerak:أَنْ يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَ“Maju atau mundur.”Semoga Allah menjadikan kita termasuk aṣḥābul-yamīn.اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ، وَوَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ، وَأَعِنَّا عَلَى تَرْكِ مَعْصِيَتِكَ، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ حَتَّى نَلْقَاكَ.Allāhummaj‘alnā min aṣḥābil-yamīn, wa waffiqnā liṭā‘atik, wa a‘innā ‘alā tarki ma‘ṣiyatik, wa tsabbit qulūbanā ‘alā dīnika ḥattā nalqāk.“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan kanan. Berilah kami taufik untuk menaati-Mu, bantulah kami meninggalkan maksiat kepada-Mu, dan teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu hingga kami berjumpa dengan-Mu.”Pelajaran PentingMaksiat bukan hanya soal apa yang kita lakukan, tetapi juga apa yang sedang dibentuknya di dalam hati. Sekali memilih dosa mungkin terasa sebagai pilihan. Jika terus diulang, ia menjadi kebiasaan. Kebiasaan menguatkan irādah. Irādah yang rusak membuat taubat terasa semakin berat. Karena itu, selamatkan hati sebelum dosa berubah menjadi belenggu. ReferensiIbnul Qayyim Al-Jauziyyah. Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’, pembahasan tentang dampak maksiat yang melemahkan kehendak untuk bertaubat.Ibnu Katsir. Tafsīr Al-Qur’ān Al-‘Azhīm, tafsir QS. Al-Muddatstsir: 35–48 dan QS. Ath-Thur: 21.As-Sa‘di, ‘Abdurrahman bin Nashir. Taisīr Al-Karīm Ar-Rahmān, tafsir QS. Al-Muddatstsir: 37–39.  —- Diselesaikan Rabu pagi, 6 Rabiul Awwal 1448 H, 19 Agustus 2026 @ perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin menuju Sekar Kedhaton Kotagede JogjaPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsashabul yamin dosa ibnul qayyim iradah istiqamah kehendak hati maksiat penyakit hati Tafsir Al-Muddatstsir taubat

Maksiat Membuat Sulit untuk Berbuat Baik dan Taubat

Maksiat tidak hanya meninggalkan catatan dosa, tetapi juga dapat merusak irādah (kehendak) hati untuk berbuat baik dan bertaubat. Semakin sering dosa dituruti, keinginan bermaksiat dapat semakin kuat, sedangkan keinginan untuk bertaubat semakin melemah. Surah Al-Muddatstsir ayat 35–48 memberikan gambaran yang sangat dalam: manusia mendapat peringatan, diberi kehendak untuk memilih maju atau mundur, kemudian harus mempertanggungjawabkan pilihannya.   Daftar Isi tutup 1. Maksiat Melemahkan Kehendak Hati 2. Manusia Sedang Maju atau Mundur 3. Manusia Memiliki Kehendak dan Pilihan 4. Apa Perbedaan Irādah dan Masyī’ah? 5. Perbedaan Irādah Kauniyyah dan Irādah Syar‘iyyah 6. Setiap Pilihan Akan Dipertanggungjawabkan 7. Jangan Sampai Maksiat Menjadi Belenggu 8. Siapa yang Selamat? Aṣḥābul-Yamīn 9. Mengapa Mereka Masuk Saqar? 10. Alur Kerusakan Irādah karena Maksiat 11. Kita Berusaha, tetapi Tetap Memohon Taufik kepada Allah 12. Penutup: Jangan Biarkan Maksiat Menguasai Irādah 13. Pelajaran Penting  Maksiat Melemahkan Kehendak HatiIbnul Qayyim rahimahullah menjelaskan salah satu akibat maksiat yang sangat menakutkan:وَمِنْهَا – وَهُوَ مِنْ أَخْوَفِهَا عَلَى الْعَبْدِ – أَنَّهَا تُضْعِفُ الْقَلْبَ عَنْ إِرَادَتِهِ، فَتُقَوِّي إِرَادَةَ الْمَعْصِيَةِ، وَتُضْعِفُ إِرَادَةَ التَّوْبَةِ شَيْئًا فَشَيْئًا، إِلَى أَنْ تَنْسَلِخَ مِنْ قَلْبِهِ إِرَادَةُ التَّوْبَةِ بِالْكُلِّيَّةِ، فَلَوْ مَاتَ نِصْفُهُ لَمَا تَابَ إِلَى اللَّهِ، فَيَأْتِي بِالِاسْتِغْفَارِ وَتَوْبَةِ الْكَذَّابِينَ بِاللِّسَانِ بِشَيْءٍ كَثِيرٍ، وَقَلْبُهُ مَعْقُودٌ بِالْمَعْصِيَةِ، مُصِرٌّ عَلَيْهَا، عَازِمٌ عَلَى مُوَاقَعَتِهَا مَتَى أَمْكَنَهُ، وَهَذَا مِنْ أَعْظَمِ الْأَمْرَاضِ وَأَقْرَبِهَا إِلَى الْهَلَاكِ.“Di antara dampak dosa—dan ini termasuk yang paling ditakutkan bagi seorang hamba—adalah dosa melemahkan hati dari kehendaknya menuju kebaikan. Sebaliknya, dosa menguatkan keinginan untuk melakukan maksiat dan sedikit demi sedikit melemahkan keinginan untuk bertaubat, sampai keinginan bertaubat benar-benar tercabut dari hatinya.Seandainya separuh dirinya telah mati sekalipun, ia belum juga bertaubat kepada Allah. Ia mungkin banyak beristighfar dan mengucapkan taubat dengan lisannya seperti taubatnya para pendusta, sementara hatinya masih terikat dengan maksiat, terus-menerus melakukannya, dan bertekad mengulanginya ketika ada kesempatan. Ini termasuk penyakit paling besar dan paling dekat dengan kebinasaan.”(Lihat Ibnul Qayyim, Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’, hlm. 89, dari buku Dosa itu Candu – Penerbit Rumaysho)Perhatikan dua ungkapan penting:تُقَوِّي إِرَادَةَ الْمَعْصِيَةِ“Maksiat menguatkan keinginan untuk bermaksiat.”dan:تُضْعِفُ إِرَادَةَ التَّوْبَةِ شَيْئًا فَشَيْئًا“Maksiat sedikit demi sedikit melemahkan keinginan untuk bertaubat.”Inilah bahaya dosa yang sering tidak disadari. Masalahnya bukan hanya dosa yang terjadi hari ini, tetapi apa yang sedang dilakukan dosa tersebut terhadap hati kita untuk hari-hari berikutnya.Dosa pertama mungkin terasa berat. Ketika diulang, rasa bersalah mulai berkurang. Setelah terbiasa, dosa semakin mudah dilakukan. Pada akhirnya, bukan hanya maksiat yang sulit ditinggalkan, tetapi keinginan untuk meninggalkannya pun semakin melemah. Manusia Sedang Maju atau MundurAllah Ta‘ala berfirman,إِنَّهَا لَإِحْدَى الْكُبَرِ ۝ نَذِيرًا لِلْبَشَرِ ۝ لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَ“Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang sangat besar, sebagai peringatan bagi manusia, yaitu bagi siapa di antara kalian yang ingin maju atau mundur.” (QS. Al-Muddatstsir: 35–37)Ayat ini sebelumnya berbicara tentang dahsyatnya neraka Saqar. Allah menjadikannya نَذِيرًا لِلْبَشَرِ, peringatan bagi manusia.Setelah peringatan datang, manusia dihadapkan pada pilihan:أَنْ يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَ“Mau maju atau mundur.”Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:أَيْ: لِمَنْ شَاءَ أَنْ يَقْبَلَ النِّذَارَةَ وَيَهْتَدِيَ لِلْحَقِّ، أَوْ يَتَأَخَّرَ عَنْهَا وَيُوَلِّيَ دُبُرَهَا.“Maksudnya, bagi siapa yang mau menerima peringatan dan mendapatkan petunjuk menuju kebenaran, atau mundur darinya dan berpaling membelakanginya.”Maka maju bukan sekadar menjadi lebih sukses dalam urusan dunia.Maju yang sebenarnya adalah semakin dekat kepada Allah, semakin menerima nasihat, semakin mengikuti kebenaran, semakin baik shalatnya, semakin mudah bertaubat, dan semakin jauh dari maksiat.Sedangkan mundur adalah berpaling dari peringatan Allah.Dahulu merasa bersalah ketika terlambat shalat, sekarang biasa saja. Dahulu takut melihat yang haram, sekarang dicari. Dahulu setelah berdosa langsung beristighfar, sekarang berkata, “Nanti saja bertaubat.” Itulah kemunduran. Manusia Memiliki Kehendak dan PilihanPerhatikan firman Allah:لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ“Bagi siapa di antara kalian yang menghendaki.”Allah menetapkan bahwa manusia mempunyai kehendak. Dalam ayat lain Allah berfirman,لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ ۝ وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ“(Yaitu) bagi siapa di antara kalian yang menghendaki menempuh jalan yang lurus. Dan kalian tidak dapat menghendaki kecuali apabila Allah menghendakinya, Rabb seluruh alam.” (QS. At-Takwir: 28–29)Manusia bukan makhluk yang dipaksa melakukan ketaatan atau kemaksiatan. Ia memiliki kehendak, kemampuan, dan pilihan. Karena itulah manusia mendapatkan perintah dan larangan serta memperoleh pahala atau hukuman atas amalnya.Namun kehendak manusia bukanlah kehendak yang berdiri sendiri di luar kehendak Allah. Kehendak seorang hamba berada di bawah masyī’ah Allah.Allah menetapkan dua hal sekaligus:وَمَا تَشَاءُونَ“Kalian mempunyai kehendak.”Kemudian:إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ“Namun kehendak kalian berada di bawah kehendak Allah.”Takdir Allah tidak meniadakan kehendak dan pilihan manusia. IslamWeb juga menjelaskan bahwa Allah memberi hamba pilihan dalam ketaatan dan kemaksiatan, tetapi pilihan tersebut tidak keluar dari kehendak Allah. Apa Perbedaan Irādah dan Masyī’ah?Dua istilah yang sering ditemukan adalah:الإِرَادَةُ (al-irādah): kehendak atau keinginan.الْمَشِيئَةُ (al-masyī’ah): kehendak.Keduanya memiliki makna yang sangat berdekatan. Namun dalam pembahasan tentang sifat Allah terdapat perbedaan penting.Masyī’ah Allah berkaitan dengan apa yang Allah kehendaki terjadi secara kauni dan qadari. Apa yang Allah kehendaki secara kauni pasti terjadi.Adapun irādah Allah dalam dalil-dalil syariat mempunyai dua penggunaan: irādah kauniyyah dan irādah syar‘iyyah.Sebagaimana dijelaskan para ulama:الْإِرَادَةُ الْكَوْنِيَّةُ بِمَعْنَى الْمَشِيئَةِ، وَالْإِرَادَةُ الشَّرْعِيَّةُ بِمَعْنَى الْمَحَبَّةِ.“Irādah kauniyyah bermakna masyī’ah, sedangkan irādah syar‘iyyah bermakna kecintaan.”IslamWeb juga menukil penjelasan bahwa masyī’ah dalam Al-Qur’an dan Sunnah digunakan dalam makna kauni-qadari, sedangkan irādah dapat digunakan dalam makna kauni maupun syar‘i. Perbedaan Irādah Kauniyyah dan Irādah Syar‘iyyahPembedaIrādah Kauniyyah QadariyyahIrādah Syar‘iyyah DīniyyahArabالإِرَادَةُ الْكَوْنِيَّةُ الْقَدَرِيَّةُالإِرَادَةُ الشَّرْعِيَّةُ الدِّينِيَّةُMaknaKehendak Allah terhadap sesuatu yang terjadi di alamApa yang Allah kehendaki secara agama dan syariatHubungan dengan masyī’ahSama maknanya dengan masyī’ahBerkaitan dengan mahabbah dan rida AllahApakah pasti terjadi?Pasti terjadiBisa terjadi, bisa tidakApakah selalu dicintai Allah?TidakYaMencakup ketaatanYaYaMencakup kemaksiatanYa, dari sisi ditakdirkan terjadinyaTidakContohIman, kufur, hidup, mati, sehat, sakit yang benar-benar terjadiIman, shalat, taubat, takwa dan seluruh ketaatanIrādah kauniyyah pasti terjadi dan bisa berkaitan dengan sesuatu yang Allah cintai ataupun Allah benci. Adapun irādah syar‘iyyah hanya berkaitan dengan sesuatu yang Allah cintai, tetapi apa yang Allah kehendaki secara syar‘i belum tentu dilakukan manusia.Contohnya, Allah memerintahkan manusia beriman. Allah mencintai iman dan tidak meridai kekufuran. Namun kenyataannya tidak semua manusia beriman.Kekufuran yang terjadi tidak berarti Allah mencintai kekufuran. Ia terjadi berdasarkan irādah kauniyyah Allah, sedangkan secara syariat Allah tidak mencintai dan meridainya.Maka penting dipahami:Terjadinya sesuatu tidak otomatis menunjukkan bahwa Allah mencintai sesuatu tersebut. Setiap Pilihan Akan DipertanggungjawabkanSetelah Allah menyebutkan pilihan untuk maju atau mundur, Allah langsung berfirman,كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ“Setiap jiwa tergadai dengan apa yang telah dikerjakannya.” (QS. Al-Muddatstsir: 38)Ini merupakan hubungan yang sangat penting.Ayat 37 berbicara tentang kehendak dan pilihan.Ayat 38 berbicara tentang amal dan konsekuensi.Manusia boleh memilih jalannya, tetapi manusia tidak bisa memilih agar jalan tersebut tidak memiliki akibat.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan makna rahīnah:أَيْ: مُعْتَقَلَةٌ بِعَمَلِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ.“Maksudnya, jiwa itu tertahan karena amalnya pada hari Kiamat.”Kata مُعْتَقَلَةٌ memberikan gambaran kuat: tertahan dan terikat.Di tempat lain, ketika menjelaskan ayat:كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ“Setiap orang tergadai dengan apa yang telah dikerjakannya.” (QS. Ath-Thur: 21)Ibnu Katsir menjelaskan:أَيْ: مُرْتَهَنٌ بِعَمَلِهِ، لَا يُحْمَلُ عَلَيْهِ ذَنْبُ غَيْرِهِ مِنَ النَّاسِ.“Maksudnya, seseorang tergadai oleh amalnya. Dosa orang lain tidak dibebankan kepadanya.”Maka terdapat prinsip keadilan:Pilihan kita → amal kita → tanggung jawab kita. Jangan Sampai Maksiat Menjadi BelengguDi sinilah perkataan Ibnul Qayyim di awal semakin terasa.Di dunia, dosa yang terus dilakukan dapat mengikat irādah hati. Seseorang semakin ingin bermaksiat dan semakin lemah keinginannya untuk bertaubat.Di akhirat, amal buruk dapat menjadi sebab seseorang tertahan karena amalnya.Ibnu Katsir ketika menjelaskan ayat lain yang berkaitan dengan makna ini menerangkan tentang jiwa yang tertahan dari kebaikan dan tergadai sehingga tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, lalu beliau menghubungkannya dengan:كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ ۝ إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ(QS. Al-Muddatstsir: 38–39)Jangan meremehkan dosa dengan berkata:“Sekarang saja, nanti saya bisa berhenti.”Sebab masalahnya: apakah nanti hati kita masih ingin berhenti?Ibnul Qayyim mengingatkan bahwa yang dapat rusak karena maksiat justru إِرَادَةُ التَّوْبَةِ, keinginan untuk bertaubat. Siapa yang Selamat? Aṣḥābul-YamīnAllah kemudian mengecualikan:إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ ۝ فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ ۝ عَنِ الْمُجْرِمِينَ“Kecuali golongan kanan. Mereka berada di dalam surga, saling bertanya tentang orang-orang yang berdosa.”(QS. Al-Muddatstsir: 39–41)Aṣḥābul-yamīn adalah orang-orang yang Allah selamatkan.Maka ada kontras:رَهِينَةٌ — tergadai dan tertahan.Sedangkan aṣḥābul-yamīn mendapatkan keselamatan.Ini juga meluruskan anggapan manusia tentang kebebasan. Pelaku maksiat mungkin berkata, “Saya bebas melakukan apa yang saya mau.” Padahal jika hawa nafsu telah menguasainya, sebenarnya ia justru menjadi tawanan keinginannya.Ketaatan kepada Allah bukanlah belenggu. Justru ketaatan membebaskan manusia dari perbudakan hawa nafsu. Mengapa Mereka Masuk Saqar?Setelah itu aṣḥābul-yamīn bertanya kepada para pendosa:مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ“Apa yang menyebabkan kalian masuk ke dalam Saqar?” (QS. Al-Muddatstsir: 42)Mereka menjawab:قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ ۝ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ ۝ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ ۝ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ ۝ حَتَّى أَتَانَا الْيَقِينُ“Mereka berkata, ‘Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat. Kami tidak memberi makan orang miskin. Kami biasa berbincang dalam kebatilan bersama orang-orang yang membicarakannya. Dan kami mendustakan hari pembalasan, sampai datang kepada kami kematian.’” (QS. Al-Muddatstsir: 43–47)Perhatikan bagaimana Al-Qur’an menggambarkan jalan kemunduran:meninggalkan shalat → tidak peduli kepada orang miskin → larut bersama lingkungan kebatilan → mendustakan hari akhir → kematian datang sebelum bertaubat.Inilah gambaran nyata dari:أَنْ يَتَأَخَّرَ“Mundur.”Kemunduran spiritual sering kali tidak terjadi sekaligus.Ibnul Qayyim mengatakan:شَيْئًا فَشَيْئًا“Sedikit demi sedikit.”Awalnya dosa.Kemudian dosa diulang.Setelah itu menjadi kebiasaan.Kebiasaan menguatkan keinginan.Keinginan untuk bertaubat melemah.Akhirnya kematian datang sebelum seseorang kembali kepada Allah. Alur Kerusakan Irādah karena MaksiatRangkaian ayat ini dapat diringkas:نَذِيرًا لِلْبَشَرِAda peringatan. ↓لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْManusia mempunyai kehendak. ↓أَنْ يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَIa memilih maju atau mundur. ↓بِمَا كَسَبَتْPilihan melahirkan amal. ↓رَهِينَةٌAmal buruk dapat mengikat pelakunya. ↓إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِAda orang-orang yang Allah selamatkan. ↓مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ؟Orang yang terus memilih jalan kemunduran akhirnya ditanya, “Apa yang memasukkan kalian ke Saqar?”Maka bisa diringkas lagi: IRĀDAH → PILIHAN → AMAL → KEBIASAAN → KONDISI HATI → NASIB AKHIRAT Kita Berusaha, tetapi Tetap Memohon Taufik kepada AllahWalaupun manusia memiliki irādah dan pilihan, jangan sampai ia merasa mampu istiqamah dengan kekuatannya sendiri.Allah berfirman,وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ“Kalian tidak dapat menghendaki kecuali apabila Allah menghendakinya, Rabb seluruh alam.” (QS. At-Takwir: 29)Kita berusaha memperbaiki irādah, tetapi taufik tetap berasal dari Allah.Karena itu, setelah berusaha meninggalkan dosa, perbanyaklah doa agar Allah meneguhkan hati. Penutup: Jangan Biarkan Maksiat Menguasai IrādahMaksiat jangan hanya dilihat dari kenikmatan sesaat ketika dilakukan. Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika dosa mulai mengubah hati: maksiat semakin dicintai, nasihat semakin dibenci, dan taubat semakin ditunda. Jangan menunggu hati menjadi baik untuk meninggalkan dosa; tinggalkanlah dosa agar Allah memperbaiki hati kita.Ingatlah bahwa setiap hari kita sedang bergerak:أَنْ يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَ“Maju atau mundur.”Semoga Allah menjadikan kita termasuk aṣḥābul-yamīn.اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ، وَوَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ، وَأَعِنَّا عَلَى تَرْكِ مَعْصِيَتِكَ، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ حَتَّى نَلْقَاكَ.Allāhummaj‘alnā min aṣḥābil-yamīn, wa waffiqnā liṭā‘atik, wa a‘innā ‘alā tarki ma‘ṣiyatik, wa tsabbit qulūbanā ‘alā dīnika ḥattā nalqāk.“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan kanan. Berilah kami taufik untuk menaati-Mu, bantulah kami meninggalkan maksiat kepada-Mu, dan teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu hingga kami berjumpa dengan-Mu.”Pelajaran PentingMaksiat bukan hanya soal apa yang kita lakukan, tetapi juga apa yang sedang dibentuknya di dalam hati. Sekali memilih dosa mungkin terasa sebagai pilihan. Jika terus diulang, ia menjadi kebiasaan. Kebiasaan menguatkan irādah. Irādah yang rusak membuat taubat terasa semakin berat. Karena itu, selamatkan hati sebelum dosa berubah menjadi belenggu. ReferensiIbnul Qayyim Al-Jauziyyah. Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’, pembahasan tentang dampak maksiat yang melemahkan kehendak untuk bertaubat.Ibnu Katsir. Tafsīr Al-Qur’ān Al-‘Azhīm, tafsir QS. Al-Muddatstsir: 35–48 dan QS. Ath-Thur: 21.As-Sa‘di, ‘Abdurrahman bin Nashir. Taisīr Al-Karīm Ar-Rahmān, tafsir QS. Al-Muddatstsir: 37–39.  —- Diselesaikan Rabu pagi, 6 Rabiul Awwal 1448 H, 19 Agustus 2026 @ perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin menuju Sekar Kedhaton Kotagede JogjaPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsashabul yamin dosa ibnul qayyim iradah istiqamah kehendak hati maksiat penyakit hati Tafsir Al-Muddatstsir taubat
Maksiat tidak hanya meninggalkan catatan dosa, tetapi juga dapat merusak irādah (kehendak) hati untuk berbuat baik dan bertaubat. Semakin sering dosa dituruti, keinginan bermaksiat dapat semakin kuat, sedangkan keinginan untuk bertaubat semakin melemah. Surah Al-Muddatstsir ayat 35–48 memberikan gambaran yang sangat dalam: manusia mendapat peringatan, diberi kehendak untuk memilih maju atau mundur, kemudian harus mempertanggungjawabkan pilihannya.   Daftar Isi tutup 1. Maksiat Melemahkan Kehendak Hati 2. Manusia Sedang Maju atau Mundur 3. Manusia Memiliki Kehendak dan Pilihan 4. Apa Perbedaan Irādah dan Masyī’ah? 5. Perbedaan Irādah Kauniyyah dan Irādah Syar‘iyyah 6. Setiap Pilihan Akan Dipertanggungjawabkan 7. Jangan Sampai Maksiat Menjadi Belenggu 8. Siapa yang Selamat? Aṣḥābul-Yamīn 9. Mengapa Mereka Masuk Saqar? 10. Alur Kerusakan Irādah karena Maksiat 11. Kita Berusaha, tetapi Tetap Memohon Taufik kepada Allah 12. Penutup: Jangan Biarkan Maksiat Menguasai Irādah 13. Pelajaran Penting  Maksiat Melemahkan Kehendak HatiIbnul Qayyim rahimahullah menjelaskan salah satu akibat maksiat yang sangat menakutkan:وَمِنْهَا – وَهُوَ مِنْ أَخْوَفِهَا عَلَى الْعَبْدِ – أَنَّهَا تُضْعِفُ الْقَلْبَ عَنْ إِرَادَتِهِ، فَتُقَوِّي إِرَادَةَ الْمَعْصِيَةِ، وَتُضْعِفُ إِرَادَةَ التَّوْبَةِ شَيْئًا فَشَيْئًا، إِلَى أَنْ تَنْسَلِخَ مِنْ قَلْبِهِ إِرَادَةُ التَّوْبَةِ بِالْكُلِّيَّةِ، فَلَوْ مَاتَ نِصْفُهُ لَمَا تَابَ إِلَى اللَّهِ، فَيَأْتِي بِالِاسْتِغْفَارِ وَتَوْبَةِ الْكَذَّابِينَ بِاللِّسَانِ بِشَيْءٍ كَثِيرٍ، وَقَلْبُهُ مَعْقُودٌ بِالْمَعْصِيَةِ، مُصِرٌّ عَلَيْهَا، عَازِمٌ عَلَى مُوَاقَعَتِهَا مَتَى أَمْكَنَهُ، وَهَذَا مِنْ أَعْظَمِ الْأَمْرَاضِ وَأَقْرَبِهَا إِلَى الْهَلَاكِ.“Di antara dampak dosa—dan ini termasuk yang paling ditakutkan bagi seorang hamba—adalah dosa melemahkan hati dari kehendaknya menuju kebaikan. Sebaliknya, dosa menguatkan keinginan untuk melakukan maksiat dan sedikit demi sedikit melemahkan keinginan untuk bertaubat, sampai keinginan bertaubat benar-benar tercabut dari hatinya.Seandainya separuh dirinya telah mati sekalipun, ia belum juga bertaubat kepada Allah. Ia mungkin banyak beristighfar dan mengucapkan taubat dengan lisannya seperti taubatnya para pendusta, sementara hatinya masih terikat dengan maksiat, terus-menerus melakukannya, dan bertekad mengulanginya ketika ada kesempatan. Ini termasuk penyakit paling besar dan paling dekat dengan kebinasaan.”(Lihat Ibnul Qayyim, Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’, hlm. 89, dari buku Dosa itu Candu – Penerbit Rumaysho)Perhatikan dua ungkapan penting:تُقَوِّي إِرَادَةَ الْمَعْصِيَةِ“Maksiat menguatkan keinginan untuk bermaksiat.”dan:تُضْعِفُ إِرَادَةَ التَّوْبَةِ شَيْئًا فَشَيْئًا“Maksiat sedikit demi sedikit melemahkan keinginan untuk bertaubat.”Inilah bahaya dosa yang sering tidak disadari. Masalahnya bukan hanya dosa yang terjadi hari ini, tetapi apa yang sedang dilakukan dosa tersebut terhadap hati kita untuk hari-hari berikutnya.Dosa pertama mungkin terasa berat. Ketika diulang, rasa bersalah mulai berkurang. Setelah terbiasa, dosa semakin mudah dilakukan. Pada akhirnya, bukan hanya maksiat yang sulit ditinggalkan, tetapi keinginan untuk meninggalkannya pun semakin melemah. Manusia Sedang Maju atau MundurAllah Ta‘ala berfirman,إِنَّهَا لَإِحْدَى الْكُبَرِ ۝ نَذِيرًا لِلْبَشَرِ ۝ لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَ“Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang sangat besar, sebagai peringatan bagi manusia, yaitu bagi siapa di antara kalian yang ingin maju atau mundur.” (QS. Al-Muddatstsir: 35–37)Ayat ini sebelumnya berbicara tentang dahsyatnya neraka Saqar. Allah menjadikannya نَذِيرًا لِلْبَشَرِ, peringatan bagi manusia.Setelah peringatan datang, manusia dihadapkan pada pilihan:أَنْ يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَ“Mau maju atau mundur.”Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:أَيْ: لِمَنْ شَاءَ أَنْ يَقْبَلَ النِّذَارَةَ وَيَهْتَدِيَ لِلْحَقِّ، أَوْ يَتَأَخَّرَ عَنْهَا وَيُوَلِّيَ دُبُرَهَا.“Maksudnya, bagi siapa yang mau menerima peringatan dan mendapatkan petunjuk menuju kebenaran, atau mundur darinya dan berpaling membelakanginya.”Maka maju bukan sekadar menjadi lebih sukses dalam urusan dunia.Maju yang sebenarnya adalah semakin dekat kepada Allah, semakin menerima nasihat, semakin mengikuti kebenaran, semakin baik shalatnya, semakin mudah bertaubat, dan semakin jauh dari maksiat.Sedangkan mundur adalah berpaling dari peringatan Allah.Dahulu merasa bersalah ketika terlambat shalat, sekarang biasa saja. Dahulu takut melihat yang haram, sekarang dicari. Dahulu setelah berdosa langsung beristighfar, sekarang berkata, “Nanti saja bertaubat.” Itulah kemunduran. Manusia Memiliki Kehendak dan PilihanPerhatikan firman Allah:لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ“Bagi siapa di antara kalian yang menghendaki.”Allah menetapkan bahwa manusia mempunyai kehendak. Dalam ayat lain Allah berfirman,لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ ۝ وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ“(Yaitu) bagi siapa di antara kalian yang menghendaki menempuh jalan yang lurus. Dan kalian tidak dapat menghendaki kecuali apabila Allah menghendakinya, Rabb seluruh alam.” (QS. At-Takwir: 28–29)Manusia bukan makhluk yang dipaksa melakukan ketaatan atau kemaksiatan. Ia memiliki kehendak, kemampuan, dan pilihan. Karena itulah manusia mendapatkan perintah dan larangan serta memperoleh pahala atau hukuman atas amalnya.Namun kehendak manusia bukanlah kehendak yang berdiri sendiri di luar kehendak Allah. Kehendak seorang hamba berada di bawah masyī’ah Allah.Allah menetapkan dua hal sekaligus:وَمَا تَشَاءُونَ“Kalian mempunyai kehendak.”Kemudian:إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ“Namun kehendak kalian berada di bawah kehendak Allah.”Takdir Allah tidak meniadakan kehendak dan pilihan manusia. IslamWeb juga menjelaskan bahwa Allah memberi hamba pilihan dalam ketaatan dan kemaksiatan, tetapi pilihan tersebut tidak keluar dari kehendak Allah. Apa Perbedaan Irādah dan Masyī’ah?Dua istilah yang sering ditemukan adalah:الإِرَادَةُ (al-irādah): kehendak atau keinginan.الْمَشِيئَةُ (al-masyī’ah): kehendak.Keduanya memiliki makna yang sangat berdekatan. Namun dalam pembahasan tentang sifat Allah terdapat perbedaan penting.Masyī’ah Allah berkaitan dengan apa yang Allah kehendaki terjadi secara kauni dan qadari. Apa yang Allah kehendaki secara kauni pasti terjadi.Adapun irādah Allah dalam dalil-dalil syariat mempunyai dua penggunaan: irādah kauniyyah dan irādah syar‘iyyah.Sebagaimana dijelaskan para ulama:الْإِرَادَةُ الْكَوْنِيَّةُ بِمَعْنَى الْمَشِيئَةِ، وَالْإِرَادَةُ الشَّرْعِيَّةُ بِمَعْنَى الْمَحَبَّةِ.“Irādah kauniyyah bermakna masyī’ah, sedangkan irādah syar‘iyyah bermakna kecintaan.”IslamWeb juga menukil penjelasan bahwa masyī’ah dalam Al-Qur’an dan Sunnah digunakan dalam makna kauni-qadari, sedangkan irādah dapat digunakan dalam makna kauni maupun syar‘i. Perbedaan Irādah Kauniyyah dan Irādah Syar‘iyyahPembedaIrādah Kauniyyah QadariyyahIrādah Syar‘iyyah DīniyyahArabالإِرَادَةُ الْكَوْنِيَّةُ الْقَدَرِيَّةُالإِرَادَةُ الشَّرْعِيَّةُ الدِّينِيَّةُMaknaKehendak Allah terhadap sesuatu yang terjadi di alamApa yang Allah kehendaki secara agama dan syariatHubungan dengan masyī’ahSama maknanya dengan masyī’ahBerkaitan dengan mahabbah dan rida AllahApakah pasti terjadi?Pasti terjadiBisa terjadi, bisa tidakApakah selalu dicintai Allah?TidakYaMencakup ketaatanYaYaMencakup kemaksiatanYa, dari sisi ditakdirkan terjadinyaTidakContohIman, kufur, hidup, mati, sehat, sakit yang benar-benar terjadiIman, shalat, taubat, takwa dan seluruh ketaatanIrādah kauniyyah pasti terjadi dan bisa berkaitan dengan sesuatu yang Allah cintai ataupun Allah benci. Adapun irādah syar‘iyyah hanya berkaitan dengan sesuatu yang Allah cintai, tetapi apa yang Allah kehendaki secara syar‘i belum tentu dilakukan manusia.Contohnya, Allah memerintahkan manusia beriman. Allah mencintai iman dan tidak meridai kekufuran. Namun kenyataannya tidak semua manusia beriman.Kekufuran yang terjadi tidak berarti Allah mencintai kekufuran. Ia terjadi berdasarkan irādah kauniyyah Allah, sedangkan secara syariat Allah tidak mencintai dan meridainya.Maka penting dipahami:Terjadinya sesuatu tidak otomatis menunjukkan bahwa Allah mencintai sesuatu tersebut. Setiap Pilihan Akan DipertanggungjawabkanSetelah Allah menyebutkan pilihan untuk maju atau mundur, Allah langsung berfirman,كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ“Setiap jiwa tergadai dengan apa yang telah dikerjakannya.” (QS. Al-Muddatstsir: 38)Ini merupakan hubungan yang sangat penting.Ayat 37 berbicara tentang kehendak dan pilihan.Ayat 38 berbicara tentang amal dan konsekuensi.Manusia boleh memilih jalannya, tetapi manusia tidak bisa memilih agar jalan tersebut tidak memiliki akibat.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan makna rahīnah:أَيْ: مُعْتَقَلَةٌ بِعَمَلِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ.“Maksudnya, jiwa itu tertahan karena amalnya pada hari Kiamat.”Kata مُعْتَقَلَةٌ memberikan gambaran kuat: tertahan dan terikat.Di tempat lain, ketika menjelaskan ayat:كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ“Setiap orang tergadai dengan apa yang telah dikerjakannya.” (QS. Ath-Thur: 21)Ibnu Katsir menjelaskan:أَيْ: مُرْتَهَنٌ بِعَمَلِهِ، لَا يُحْمَلُ عَلَيْهِ ذَنْبُ غَيْرِهِ مِنَ النَّاسِ.“Maksudnya, seseorang tergadai oleh amalnya. Dosa orang lain tidak dibebankan kepadanya.”Maka terdapat prinsip keadilan:Pilihan kita → amal kita → tanggung jawab kita. Jangan Sampai Maksiat Menjadi BelengguDi sinilah perkataan Ibnul Qayyim di awal semakin terasa.Di dunia, dosa yang terus dilakukan dapat mengikat irādah hati. Seseorang semakin ingin bermaksiat dan semakin lemah keinginannya untuk bertaubat.Di akhirat, amal buruk dapat menjadi sebab seseorang tertahan karena amalnya.Ibnu Katsir ketika menjelaskan ayat lain yang berkaitan dengan makna ini menerangkan tentang jiwa yang tertahan dari kebaikan dan tergadai sehingga tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, lalu beliau menghubungkannya dengan:كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ ۝ إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ(QS. Al-Muddatstsir: 38–39)Jangan meremehkan dosa dengan berkata:“Sekarang saja, nanti saya bisa berhenti.”Sebab masalahnya: apakah nanti hati kita masih ingin berhenti?Ibnul Qayyim mengingatkan bahwa yang dapat rusak karena maksiat justru إِرَادَةُ التَّوْبَةِ, keinginan untuk bertaubat. Siapa yang Selamat? Aṣḥābul-YamīnAllah kemudian mengecualikan:إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ ۝ فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ ۝ عَنِ الْمُجْرِمِينَ“Kecuali golongan kanan. Mereka berada di dalam surga, saling bertanya tentang orang-orang yang berdosa.”(QS. Al-Muddatstsir: 39–41)Aṣḥābul-yamīn adalah orang-orang yang Allah selamatkan.Maka ada kontras:رَهِينَةٌ — tergadai dan tertahan.Sedangkan aṣḥābul-yamīn mendapatkan keselamatan.Ini juga meluruskan anggapan manusia tentang kebebasan. Pelaku maksiat mungkin berkata, “Saya bebas melakukan apa yang saya mau.” Padahal jika hawa nafsu telah menguasainya, sebenarnya ia justru menjadi tawanan keinginannya.Ketaatan kepada Allah bukanlah belenggu. Justru ketaatan membebaskan manusia dari perbudakan hawa nafsu. Mengapa Mereka Masuk Saqar?Setelah itu aṣḥābul-yamīn bertanya kepada para pendosa:مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ“Apa yang menyebabkan kalian masuk ke dalam Saqar?” (QS. Al-Muddatstsir: 42)Mereka menjawab:قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ ۝ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ ۝ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ ۝ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ ۝ حَتَّى أَتَانَا الْيَقِينُ“Mereka berkata, ‘Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat. Kami tidak memberi makan orang miskin. Kami biasa berbincang dalam kebatilan bersama orang-orang yang membicarakannya. Dan kami mendustakan hari pembalasan, sampai datang kepada kami kematian.’” (QS. Al-Muddatstsir: 43–47)Perhatikan bagaimana Al-Qur’an menggambarkan jalan kemunduran:meninggalkan shalat → tidak peduli kepada orang miskin → larut bersama lingkungan kebatilan → mendustakan hari akhir → kematian datang sebelum bertaubat.Inilah gambaran nyata dari:أَنْ يَتَأَخَّرَ“Mundur.”Kemunduran spiritual sering kali tidak terjadi sekaligus.Ibnul Qayyim mengatakan:شَيْئًا فَشَيْئًا“Sedikit demi sedikit.”Awalnya dosa.Kemudian dosa diulang.Setelah itu menjadi kebiasaan.Kebiasaan menguatkan keinginan.Keinginan untuk bertaubat melemah.Akhirnya kematian datang sebelum seseorang kembali kepada Allah. Alur Kerusakan Irādah karena MaksiatRangkaian ayat ini dapat diringkas:نَذِيرًا لِلْبَشَرِAda peringatan. ↓لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْManusia mempunyai kehendak. ↓أَنْ يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَIa memilih maju atau mundur. ↓بِمَا كَسَبَتْPilihan melahirkan amal. ↓رَهِينَةٌAmal buruk dapat mengikat pelakunya. ↓إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِAda orang-orang yang Allah selamatkan. ↓مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ؟Orang yang terus memilih jalan kemunduran akhirnya ditanya, “Apa yang memasukkan kalian ke Saqar?”Maka bisa diringkas lagi: IRĀDAH → PILIHAN → AMAL → KEBIASAAN → KONDISI HATI → NASIB AKHIRAT Kita Berusaha, tetapi Tetap Memohon Taufik kepada AllahWalaupun manusia memiliki irādah dan pilihan, jangan sampai ia merasa mampu istiqamah dengan kekuatannya sendiri.Allah berfirman,وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ“Kalian tidak dapat menghendaki kecuali apabila Allah menghendakinya, Rabb seluruh alam.” (QS. At-Takwir: 29)Kita berusaha memperbaiki irādah, tetapi taufik tetap berasal dari Allah.Karena itu, setelah berusaha meninggalkan dosa, perbanyaklah doa agar Allah meneguhkan hati. Penutup: Jangan Biarkan Maksiat Menguasai IrādahMaksiat jangan hanya dilihat dari kenikmatan sesaat ketika dilakukan. Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika dosa mulai mengubah hati: maksiat semakin dicintai, nasihat semakin dibenci, dan taubat semakin ditunda. Jangan menunggu hati menjadi baik untuk meninggalkan dosa; tinggalkanlah dosa agar Allah memperbaiki hati kita.Ingatlah bahwa setiap hari kita sedang bergerak:أَنْ يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَ“Maju atau mundur.”Semoga Allah menjadikan kita termasuk aṣḥābul-yamīn.اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ، وَوَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ، وَأَعِنَّا عَلَى تَرْكِ مَعْصِيَتِكَ، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ حَتَّى نَلْقَاكَ.Allāhummaj‘alnā min aṣḥābil-yamīn, wa waffiqnā liṭā‘atik, wa a‘innā ‘alā tarki ma‘ṣiyatik, wa tsabbit qulūbanā ‘alā dīnika ḥattā nalqāk.“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan kanan. Berilah kami taufik untuk menaati-Mu, bantulah kami meninggalkan maksiat kepada-Mu, dan teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu hingga kami berjumpa dengan-Mu.”Pelajaran PentingMaksiat bukan hanya soal apa yang kita lakukan, tetapi juga apa yang sedang dibentuknya di dalam hati. Sekali memilih dosa mungkin terasa sebagai pilihan. Jika terus diulang, ia menjadi kebiasaan. Kebiasaan menguatkan irādah. Irādah yang rusak membuat taubat terasa semakin berat. Karena itu, selamatkan hati sebelum dosa berubah menjadi belenggu. ReferensiIbnul Qayyim Al-Jauziyyah. Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’, pembahasan tentang dampak maksiat yang melemahkan kehendak untuk bertaubat.Ibnu Katsir. Tafsīr Al-Qur’ān Al-‘Azhīm, tafsir QS. Al-Muddatstsir: 35–48 dan QS. Ath-Thur: 21.As-Sa‘di, ‘Abdurrahman bin Nashir. Taisīr Al-Karīm Ar-Rahmān, tafsir QS. Al-Muddatstsir: 37–39.  —- Diselesaikan Rabu pagi, 6 Rabiul Awwal 1448 H, 19 Agustus 2026 @ perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin menuju Sekar Kedhaton Kotagede JogjaPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsashabul yamin dosa ibnul qayyim iradah istiqamah kehendak hati maksiat penyakit hati Tafsir Al-Muddatstsir taubat


Maksiat tidak hanya meninggalkan catatan dosa, tetapi juga dapat merusak irādah (kehendak) hati untuk berbuat baik dan bertaubat. Semakin sering dosa dituruti, keinginan bermaksiat dapat semakin kuat, sedangkan keinginan untuk bertaubat semakin melemah. Surah Al-Muddatstsir ayat 35–48 memberikan gambaran yang sangat dalam: manusia mendapat peringatan, diberi kehendak untuk memilih maju atau mundur, kemudian harus mempertanggungjawabkan pilihannya.   Daftar Isi tutup 1. Maksiat Melemahkan Kehendak Hati 2. Manusia Sedang Maju atau Mundur 3. Manusia Memiliki Kehendak dan Pilihan 4. Apa Perbedaan Irādah dan Masyī’ah? 5. Perbedaan Irādah Kauniyyah dan Irādah Syar‘iyyah 6. Setiap Pilihan Akan Dipertanggungjawabkan 7. Jangan Sampai Maksiat Menjadi Belenggu 8. Siapa yang Selamat? Aṣḥābul-Yamīn 9. Mengapa Mereka Masuk Saqar? 10. Alur Kerusakan Irādah karena Maksiat 11. Kita Berusaha, tetapi Tetap Memohon Taufik kepada Allah 12. Penutup: Jangan Biarkan Maksiat Menguasai Irādah 13. Pelajaran Penting  Maksiat Melemahkan Kehendak HatiIbnul Qayyim rahimahullah menjelaskan salah satu akibat maksiat yang sangat menakutkan:وَمِنْهَا – وَهُوَ مِنْ أَخْوَفِهَا عَلَى الْعَبْدِ – أَنَّهَا تُضْعِفُ الْقَلْبَ عَنْ إِرَادَتِهِ، فَتُقَوِّي إِرَادَةَ الْمَعْصِيَةِ، وَتُضْعِفُ إِرَادَةَ التَّوْبَةِ شَيْئًا فَشَيْئًا، إِلَى أَنْ تَنْسَلِخَ مِنْ قَلْبِهِ إِرَادَةُ التَّوْبَةِ بِالْكُلِّيَّةِ، فَلَوْ مَاتَ نِصْفُهُ لَمَا تَابَ إِلَى اللَّهِ، فَيَأْتِي بِالِاسْتِغْفَارِ وَتَوْبَةِ الْكَذَّابِينَ بِاللِّسَانِ بِشَيْءٍ كَثِيرٍ، وَقَلْبُهُ مَعْقُودٌ بِالْمَعْصِيَةِ، مُصِرٌّ عَلَيْهَا، عَازِمٌ عَلَى مُوَاقَعَتِهَا مَتَى أَمْكَنَهُ، وَهَذَا مِنْ أَعْظَمِ الْأَمْرَاضِ وَأَقْرَبِهَا إِلَى الْهَلَاكِ.“Di antara dampak dosa—dan ini termasuk yang paling ditakutkan bagi seorang hamba—adalah dosa melemahkan hati dari kehendaknya menuju kebaikan. Sebaliknya, dosa menguatkan keinginan untuk melakukan maksiat dan sedikit demi sedikit melemahkan keinginan untuk bertaubat, sampai keinginan bertaubat benar-benar tercabut dari hatinya.Seandainya separuh dirinya telah mati sekalipun, ia belum juga bertaubat kepada Allah. Ia mungkin banyak beristighfar dan mengucapkan taubat dengan lisannya seperti taubatnya para pendusta, sementara hatinya masih terikat dengan maksiat, terus-menerus melakukannya, dan bertekad mengulanginya ketika ada kesempatan. Ini termasuk penyakit paling besar dan paling dekat dengan kebinasaan.”(Lihat Ibnul Qayyim, Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’, hlm. 89, dari buku Dosa itu Candu – Penerbit Rumaysho)Perhatikan dua ungkapan penting:تُقَوِّي إِرَادَةَ الْمَعْصِيَةِ“Maksiat menguatkan keinginan untuk bermaksiat.”dan:تُضْعِفُ إِرَادَةَ التَّوْبَةِ شَيْئًا فَشَيْئًا“Maksiat sedikit demi sedikit melemahkan keinginan untuk bertaubat.”Inilah bahaya dosa yang sering tidak disadari. Masalahnya bukan hanya dosa yang terjadi hari ini, tetapi apa yang sedang dilakukan dosa tersebut terhadap hati kita untuk hari-hari berikutnya.Dosa pertama mungkin terasa berat. Ketika diulang, rasa bersalah mulai berkurang. Setelah terbiasa, dosa semakin mudah dilakukan. Pada akhirnya, bukan hanya maksiat yang sulit ditinggalkan, tetapi keinginan untuk meninggalkannya pun semakin melemah. Manusia Sedang Maju atau MundurAllah Ta‘ala berfirman,إِنَّهَا لَإِحْدَى الْكُبَرِ ۝ نَذِيرًا لِلْبَشَرِ ۝ لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَ“Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang sangat besar, sebagai peringatan bagi manusia, yaitu bagi siapa di antara kalian yang ingin maju atau mundur.” (QS. Al-Muddatstsir: 35–37)Ayat ini sebelumnya berbicara tentang dahsyatnya neraka Saqar. Allah menjadikannya نَذِيرًا لِلْبَشَرِ, peringatan bagi manusia.Setelah peringatan datang, manusia dihadapkan pada pilihan:أَنْ يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَ“Mau maju atau mundur.”Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:أَيْ: لِمَنْ شَاءَ أَنْ يَقْبَلَ النِّذَارَةَ وَيَهْتَدِيَ لِلْحَقِّ، أَوْ يَتَأَخَّرَ عَنْهَا وَيُوَلِّيَ دُبُرَهَا.“Maksudnya, bagi siapa yang mau menerima peringatan dan mendapatkan petunjuk menuju kebenaran, atau mundur darinya dan berpaling membelakanginya.”Maka maju bukan sekadar menjadi lebih sukses dalam urusan dunia.Maju yang sebenarnya adalah semakin dekat kepada Allah, semakin menerima nasihat, semakin mengikuti kebenaran, semakin baik shalatnya, semakin mudah bertaubat, dan semakin jauh dari maksiat.Sedangkan mundur adalah berpaling dari peringatan Allah.Dahulu merasa bersalah ketika terlambat shalat, sekarang biasa saja. Dahulu takut melihat yang haram, sekarang dicari. Dahulu setelah berdosa langsung beristighfar, sekarang berkata, “Nanti saja bertaubat.” Itulah kemunduran. Manusia Memiliki Kehendak dan PilihanPerhatikan firman Allah:لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ“Bagi siapa di antara kalian yang menghendaki.”Allah menetapkan bahwa manusia mempunyai kehendak. Dalam ayat lain Allah berfirman,لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ ۝ وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ“(Yaitu) bagi siapa di antara kalian yang menghendaki menempuh jalan yang lurus. Dan kalian tidak dapat menghendaki kecuali apabila Allah menghendakinya, Rabb seluruh alam.” (QS. At-Takwir: 28–29)Manusia bukan makhluk yang dipaksa melakukan ketaatan atau kemaksiatan. Ia memiliki kehendak, kemampuan, dan pilihan. Karena itulah manusia mendapatkan perintah dan larangan serta memperoleh pahala atau hukuman atas amalnya.Namun kehendak manusia bukanlah kehendak yang berdiri sendiri di luar kehendak Allah. Kehendak seorang hamba berada di bawah masyī’ah Allah.Allah menetapkan dua hal sekaligus:وَمَا تَشَاءُونَ“Kalian mempunyai kehendak.”Kemudian:إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ“Namun kehendak kalian berada di bawah kehendak Allah.”Takdir Allah tidak meniadakan kehendak dan pilihan manusia. IslamWeb juga menjelaskan bahwa Allah memberi hamba pilihan dalam ketaatan dan kemaksiatan, tetapi pilihan tersebut tidak keluar dari kehendak Allah. Apa Perbedaan Irādah dan Masyī’ah?Dua istilah yang sering ditemukan adalah:الإِرَادَةُ (al-irādah): kehendak atau keinginan.الْمَشِيئَةُ (al-masyī’ah): kehendak.Keduanya memiliki makna yang sangat berdekatan. Namun dalam pembahasan tentang sifat Allah terdapat perbedaan penting.Masyī’ah Allah berkaitan dengan apa yang Allah kehendaki terjadi secara kauni dan qadari. Apa yang Allah kehendaki secara kauni pasti terjadi.Adapun irādah Allah dalam dalil-dalil syariat mempunyai dua penggunaan: irādah kauniyyah dan irādah syar‘iyyah.Sebagaimana dijelaskan para ulama:الْإِرَادَةُ الْكَوْنِيَّةُ بِمَعْنَى الْمَشِيئَةِ، وَالْإِرَادَةُ الشَّرْعِيَّةُ بِمَعْنَى الْمَحَبَّةِ.“Irādah kauniyyah bermakna masyī’ah, sedangkan irādah syar‘iyyah bermakna kecintaan.”IslamWeb juga menukil penjelasan bahwa masyī’ah dalam Al-Qur’an dan Sunnah digunakan dalam makna kauni-qadari, sedangkan irādah dapat digunakan dalam makna kauni maupun syar‘i. Perbedaan Irādah Kauniyyah dan Irādah Syar‘iyyahPembedaIrādah Kauniyyah QadariyyahIrādah Syar‘iyyah DīniyyahArabالإِرَادَةُ الْكَوْنِيَّةُ الْقَدَرِيَّةُالإِرَادَةُ الشَّرْعِيَّةُ الدِّينِيَّةُMaknaKehendak Allah terhadap sesuatu yang terjadi di alamApa yang Allah kehendaki secara agama dan syariatHubungan dengan masyī’ahSama maknanya dengan masyī’ahBerkaitan dengan mahabbah dan rida AllahApakah pasti terjadi?Pasti terjadiBisa terjadi, bisa tidakApakah selalu dicintai Allah?TidakYaMencakup ketaatanYaYaMencakup kemaksiatanYa, dari sisi ditakdirkan terjadinyaTidakContohIman, kufur, hidup, mati, sehat, sakit yang benar-benar terjadiIman, shalat, taubat, takwa dan seluruh ketaatanIrādah kauniyyah pasti terjadi dan bisa berkaitan dengan sesuatu yang Allah cintai ataupun Allah benci. Adapun irādah syar‘iyyah hanya berkaitan dengan sesuatu yang Allah cintai, tetapi apa yang Allah kehendaki secara syar‘i belum tentu dilakukan manusia.Contohnya, Allah memerintahkan manusia beriman. Allah mencintai iman dan tidak meridai kekufuran. Namun kenyataannya tidak semua manusia beriman.Kekufuran yang terjadi tidak berarti Allah mencintai kekufuran. Ia terjadi berdasarkan irādah kauniyyah Allah, sedangkan secara syariat Allah tidak mencintai dan meridainya.Maka penting dipahami:Terjadinya sesuatu tidak otomatis menunjukkan bahwa Allah mencintai sesuatu tersebut. Setiap Pilihan Akan DipertanggungjawabkanSetelah Allah menyebutkan pilihan untuk maju atau mundur, Allah langsung berfirman,كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ“Setiap jiwa tergadai dengan apa yang telah dikerjakannya.” (QS. Al-Muddatstsir: 38)Ini merupakan hubungan yang sangat penting.Ayat 37 berbicara tentang kehendak dan pilihan.Ayat 38 berbicara tentang amal dan konsekuensi.Manusia boleh memilih jalannya, tetapi manusia tidak bisa memilih agar jalan tersebut tidak memiliki akibat.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan makna rahīnah:أَيْ: مُعْتَقَلَةٌ بِعَمَلِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ.“Maksudnya, jiwa itu tertahan karena amalnya pada hari Kiamat.”Kata مُعْتَقَلَةٌ memberikan gambaran kuat: tertahan dan terikat.Di tempat lain, ketika menjelaskan ayat:كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ“Setiap orang tergadai dengan apa yang telah dikerjakannya.” (QS. Ath-Thur: 21)Ibnu Katsir menjelaskan:أَيْ: مُرْتَهَنٌ بِعَمَلِهِ، لَا يُحْمَلُ عَلَيْهِ ذَنْبُ غَيْرِهِ مِنَ النَّاسِ.“Maksudnya, seseorang tergadai oleh amalnya. Dosa orang lain tidak dibebankan kepadanya.”Maka terdapat prinsip keadilan:Pilihan kita → amal kita → tanggung jawab kita. Jangan Sampai Maksiat Menjadi BelengguDi sinilah perkataan Ibnul Qayyim di awal semakin terasa.Di dunia, dosa yang terus dilakukan dapat mengikat irādah hati. Seseorang semakin ingin bermaksiat dan semakin lemah keinginannya untuk bertaubat.Di akhirat, amal buruk dapat menjadi sebab seseorang tertahan karena amalnya.Ibnu Katsir ketika menjelaskan ayat lain yang berkaitan dengan makna ini menerangkan tentang jiwa yang tertahan dari kebaikan dan tergadai sehingga tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, lalu beliau menghubungkannya dengan:كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ ۝ إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ(QS. Al-Muddatstsir: 38–39)Jangan meremehkan dosa dengan berkata:“Sekarang saja, nanti saya bisa berhenti.”Sebab masalahnya: apakah nanti hati kita masih ingin berhenti?Ibnul Qayyim mengingatkan bahwa yang dapat rusak karena maksiat justru إِرَادَةُ التَّوْبَةِ, keinginan untuk bertaubat. Siapa yang Selamat? Aṣḥābul-YamīnAllah kemudian mengecualikan:إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ ۝ فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ ۝ عَنِ الْمُجْرِمِينَ“Kecuali golongan kanan. Mereka berada di dalam surga, saling bertanya tentang orang-orang yang berdosa.”(QS. Al-Muddatstsir: 39–41)Aṣḥābul-yamīn adalah orang-orang yang Allah selamatkan.Maka ada kontras:رَهِينَةٌ — tergadai dan tertahan.Sedangkan aṣḥābul-yamīn mendapatkan keselamatan.Ini juga meluruskan anggapan manusia tentang kebebasan. Pelaku maksiat mungkin berkata, “Saya bebas melakukan apa yang saya mau.” Padahal jika hawa nafsu telah menguasainya, sebenarnya ia justru menjadi tawanan keinginannya.Ketaatan kepada Allah bukanlah belenggu. Justru ketaatan membebaskan manusia dari perbudakan hawa nafsu. Mengapa Mereka Masuk Saqar?Setelah itu aṣḥābul-yamīn bertanya kepada para pendosa:مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ“Apa yang menyebabkan kalian masuk ke dalam Saqar?” (QS. Al-Muddatstsir: 42)Mereka menjawab:قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ ۝ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ ۝ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ ۝ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ ۝ حَتَّى أَتَانَا الْيَقِينُ“Mereka berkata, ‘Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat. Kami tidak memberi makan orang miskin. Kami biasa berbincang dalam kebatilan bersama orang-orang yang membicarakannya. Dan kami mendustakan hari pembalasan, sampai datang kepada kami kematian.’” (QS. Al-Muddatstsir: 43–47)Perhatikan bagaimana Al-Qur’an menggambarkan jalan kemunduran:meninggalkan shalat → tidak peduli kepada orang miskin → larut bersama lingkungan kebatilan → mendustakan hari akhir → kematian datang sebelum bertaubat.Inilah gambaran nyata dari:أَنْ يَتَأَخَّرَ“Mundur.”Kemunduran spiritual sering kali tidak terjadi sekaligus.Ibnul Qayyim mengatakan:شَيْئًا فَشَيْئًا“Sedikit demi sedikit.”Awalnya dosa.Kemudian dosa diulang.Setelah itu menjadi kebiasaan.Kebiasaan menguatkan keinginan.Keinginan untuk bertaubat melemah.Akhirnya kematian datang sebelum seseorang kembali kepada Allah. Alur Kerusakan Irādah karena MaksiatRangkaian ayat ini dapat diringkas:نَذِيرًا لِلْبَشَرِAda peringatan. ↓لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْManusia mempunyai kehendak. ↓أَنْ يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَIa memilih maju atau mundur. ↓بِمَا كَسَبَتْPilihan melahirkan amal. ↓رَهِينَةٌAmal buruk dapat mengikat pelakunya. ↓إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِAda orang-orang yang Allah selamatkan. ↓مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ؟Orang yang terus memilih jalan kemunduran akhirnya ditanya, “Apa yang memasukkan kalian ke Saqar?”Maka bisa diringkas lagi: IRĀDAH → PILIHAN → AMAL → KEBIASAAN → KONDISI HATI → NASIB AKHIRAT Kita Berusaha, tetapi Tetap Memohon Taufik kepada AllahWalaupun manusia memiliki irādah dan pilihan, jangan sampai ia merasa mampu istiqamah dengan kekuatannya sendiri.Allah berfirman,وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ“Kalian tidak dapat menghendaki kecuali apabila Allah menghendakinya, Rabb seluruh alam.” (QS. At-Takwir: 29)Kita berusaha memperbaiki irādah, tetapi taufik tetap berasal dari Allah.Karena itu, setelah berusaha meninggalkan dosa, perbanyaklah doa agar Allah meneguhkan hati. Penutup: Jangan Biarkan Maksiat Menguasai IrādahMaksiat jangan hanya dilihat dari kenikmatan sesaat ketika dilakukan. Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika dosa mulai mengubah hati: maksiat semakin dicintai, nasihat semakin dibenci, dan taubat semakin ditunda. Jangan menunggu hati menjadi baik untuk meninggalkan dosa; tinggalkanlah dosa agar Allah memperbaiki hati kita.Ingatlah bahwa setiap hari kita sedang bergerak:أَنْ يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَ“Maju atau mundur.”Semoga Allah menjadikan kita termasuk aṣḥābul-yamīn.اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ، وَوَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ، وَأَعِنَّا عَلَى تَرْكِ مَعْصِيَتِكَ، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ حَتَّى نَلْقَاكَ.Allāhummaj‘alnā min aṣḥābil-yamīn, wa waffiqnā liṭā‘atik, wa a‘innā ‘alā tarki ma‘ṣiyatik, wa tsabbit qulūbanā ‘alā dīnika ḥattā nalqāk.“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan kanan. Berilah kami taufik untuk menaati-Mu, bantulah kami meninggalkan maksiat kepada-Mu, dan teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu hingga kami berjumpa dengan-Mu.”Pelajaran PentingMaksiat bukan hanya soal apa yang kita lakukan, tetapi juga apa yang sedang dibentuknya di dalam hati. Sekali memilih dosa mungkin terasa sebagai pilihan. Jika terus diulang, ia menjadi kebiasaan. Kebiasaan menguatkan irādah. Irādah yang rusak membuat taubat terasa semakin berat. Karena itu, selamatkan hati sebelum dosa berubah menjadi belenggu. ReferensiIbnul Qayyim Al-Jauziyyah. Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’, pembahasan tentang dampak maksiat yang melemahkan kehendak untuk bertaubat.Ibnu Katsir. Tafsīr Al-Qur’ān Al-‘Azhīm, tafsir QS. Al-Muddatstsir: 35–48 dan QS. Ath-Thur: 21.As-Sa‘di, ‘Abdurrahman bin Nashir. Taisīr Al-Karīm Ar-Rahmān, tafsir QS. Al-Muddatstsir: 37–39.  —- Diselesaikan Rabu pagi, 6 Rabiul Awwal 1448 H, 19 Agustus 2026 @ perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin menuju Sekar Kedhaton Kotagede JogjaPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsashabul yamin dosa ibnul qayyim iradah istiqamah kehendak hati maksiat penyakit hati Tafsir Al-Muddatstsir taubat

Ummu Ma‘bad Menggambarkan Rasulullah ﷺ: Akhlak dan Wibawa Nabi

Ada orang yang baru kita temui sebentar, tetapi kebaikan akhlaknya meninggalkan kesan begitu lama. Itulah yang dirasakan Ummu Ma‘bad ketika Rasulullah ﷺ singgah di kemahnya dalam perjalanan hijrah menuju Madinah. Pertemuan yang singkat itu melahirkan salah satu gambaran paling indah tentang wibawa, tutur kata, penampilan, kepemimpinan, dan akhlak Rasulullah ﷺ.  Daftar Isi tutup 1. Suami Ummu Ma‘bad Pulang dan Terkejut 2. Gambaran Rasulullah ﷺ Menurut Ummu Ma‘bad 3. Abu Ma‘bad Mengenali Siapa Orang Itu 4. Ungkapan Indah Sebagai Catatan dari Ummu Ma’bad  30. Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Sa‘id Ar-Razi, telah menceritakan kepada kami Makram bin Mihraz Al-Khuza‘i, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Hizam bin Hisyam, dari ayahnya, dari kakeknya, Hubaisy bin Khalid, bahwa:Ketika Rasulullah ﷺ keluar dari Makkah dalam perjalanan hijrah menuju Madinah, beliau ditemani oleh Abu Bakar, mantan budak Abu Bakar yaitu ‘Amir bin Fuhairah, dan seorang penunjuk jalan dari Bani Laits bernama ‘Abdullah bin Uraiqith.Dalam perjalanan, mereka melewati dua kemah milik Ummu Ma‘bad Al-Khuza‘iyyah.Ummu Ma‘bad adalah seorang wanita yang tangguh dan terbuka dalam berinteraksi. Ia biasa duduk di halaman kemahnya, memberi minum dan makanan kepada siapa saja yang singgah.Rombongan Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya apakah ia memiliki daging atau kurma yang bisa mereka beli. Namun, mereka tidak mendapatkan apa pun darinya. Saat itu mereka memang sedang mengalami kesulitan bekal, sedangkan daerah tersebut pun sedang dilanda musim paceklik.Rasulullah ﷺ kemudian melihat seekor kambing di salah satu sudut kemah.Beliau bertanya,مَا هَذِهِ الشَّاةُ يَا أُمَّ مَعْبَدٍ؟“Wahai Ummu Ma‘bad, kambing apakah ini?”Ummu Ma‘bad menjawab, “Ini kambing yang tertinggal dari kawanan karena sudah terlalu lemah.”Rasulullah ﷺ bertanya,هَلْ بِهَا مِنْ لَبَنٍ؟“Apakah kambing ini masih memiliki susu?”Ummu Ma‘bad menjawab, “Keadaannya bahkan lebih lemah daripada sekadar bisa menghasilkan susu.”Rasulullah ﷺ kemudian bertanya,أَتَأْذَنِينَ لِي أَنْ أَحْلُبَهَا؟“Apakah engkau mengizinkanku untuk memerahnya?”Ummu Ma‘bad menjawab, “Ya. Ayah dan ibuku sebagai tebusan bagimu. Jika engkau memang melihat ada susu padanya, maka perahlah.”Lalu kambing itu dibawa kepada Rasulullah ﷺ.Beliau mengusap ambingnya dengan tangan beliau, menyebut nama Allah Ta‘ala, lalu berdoa memohon keberkahan untuk kambing Ummu Ma‘bad tersebut.Tiba-tiba kambing itu merenggangkan kedua kakinya, ambingnya pun penuh dan susu mengalir deras. Kambing itu bahkan mulai memamah kembali makanannya dengan tenang.Rasulullah ﷺ kemudian meminta sebuah wadah yang cukup besar untuk membuat satu rombongan kenyang apabila meminumnya.Beliau memerah kambing tersebut.Susu mengalir begitu deras memenuhi wadah hingga muncul buih di atasnya.Kemudian Rasulullah ﷺ memberikan susu itu terlebih dahulu kepada Ummu Ma‘bad hingga ia minum sampai puas. Setelah itu, beliau memberikan minum kepada para sahabatnya hingga mereka semua merasa puas. Dan Rasulullah ﷺ menjadi orang terakhir yang minum.Setelah itu mereka beristirahat sejenak.Kemudian Rasulullah ﷺ kembali memerah kambing tersebut untuk kedua kalinya hingga memenuhi wadah.Beliau meninggalkan susu itu untuk Ummu Ma‘bad.Setelah melakukan transaksi dengannya, rombongan Rasulullah ﷺ pun melanjutkan perjalanan. Suami Ummu Ma‘bad Pulang dan TerkejutTidak lama setelah rombongan itu pergi, suami Ummu Ma‘bad, yaitu Abu Ma‘bad, pulang.Ia sedang menggiring beberapa ekor kambing yang kurus kering. Karena begitu kurusnya, kambing-kambing itu berjalan dengan sangat lemah. Saking buruk kondisi dan kurangnya makanan, sumsum pada tulang kambing-kambing itu pun tinggal sedikit.Ketika Abu Ma‘bad melihat adanya susu, ia terkejut.Ia berkata, “Dari mana engkau mendapatkan susu ini, wahai Ummu Ma‘bad? Padahal kambing-kambing sedang jauh dari tempat kita, tidak ada kambing yang baru melahirkan, dan di rumah pun tidak ada kambing yang bisa diperah.”Ummu Ma‘bad menjawab,لَا وَاللَّهِ، إِلَّا أَنَّهُ مَرَّ بِنَا رَجُلٌ مُبَارَكٌ، مِنْ حَالِهِ كَذَا وَكَذَا.“Tidak, demi Allah. Hanya saja, tadi ada seorang lelaki yang penuh keberkahan melewati tempat kita. Keadaannya begini dan begini.”Abu Ma‘bad berkata,صِفِيهِ لِي يَا أُمَّ مَعْبَدٍ“Coba gambarkan orang itu kepadaku, wahai Ummu Ma‘bad.” Gambaran Rasulullah ﷺ Menurut Ummu Ma‘badUmmu Ma‘bad berkata,رَأَيْتُ رَجُلًا ظَاهِرَ الْوَضَاءَةِ، أَبْلَجَ الْوَجْهِ، حَسَنَ الْخَلْقِ، لَمْ تَعِبْهُ ثُجْلَةٌ، وَلَمْ تُزْرِ بِهِ صَعْلَةٌ، وَسِيمٌ قَسِيمٌ، فِي عَيْنَيْهِ دَعَجٌ، وَفِي أَشْفَارِهِ وَطَفٌ، وَفِي صَوْتِهِ صَحَلٌ، وَفِي عُنُقِهِ سَطَعٌ، وَفِي لِحْيَتِهِ كَثَافَةٌ، أَزَجُّ أَقْرَنُ. “Aku melihat seorang lelaki yang sangat jelas keelokan dan ketampanan dirinya. Wajahnya cerah dan bercahaya. Akhlak dan penampilannya sangat baik.”Tubuhnya tidak tercela karena perut yang terlalu besar, dan kepalanya pun tidak kecil sehingga merusak keserasian penampilannya.Beliau adalah seorang yang tampan, elok, dan memiliki bentuk tubuh yang serasi.Kedua matanya hitam pekat dan indah.Bulu matanya panjang.Pada suaranya terdapat sedikit kesan berat dan serak yang menambah kewibawaan.Lehernya tampak jenjang dan indah.Janggutnya lebat.Alisnya melengkung panjang dan hampir bersambung.إِنْ صَمَتَ فَعَلَيْهِ الْوَقَارُ، وَإِنْ تَكَلَّمَ سَمَاهُ وَعَلَاهُ الْبَهَاءُ، أَجْمَلُ النَّاسِ وَأَبْهَاهُ مِنْ بَعِيدٍ، وَأَحْلَاهُ وَأَحْسَنُهُ مِنْ قَرِيبٍ. Apabila beliau diam, tampaklah kewibawaan pada dirinya.Apabila beliau berbicara, tampaklah kemuliaan dan keindahan yang semakin meninggikan pesonanya.Dari kejauhan, beliau adalah manusia yang paling indah dan paling berwibawa untuk dipandang.Dan ketika dilihat dari dekat, beliau adalah orang yang paling manis, paling elok, dan paling menawan.حُلْوُ الْمَنْطِقِ، فَصْلٌ، لَا نَزْرٌ وَلَا هَذَرٌ، كَأَنَّ مَنْطِقَهُ خَرَزَاتُ نَظْمٍ يَتَحَدَّرْنَ. Ucapannya begitu indah.Pembicaraannya jelas dan terpilah dengan baik.Tidak terlalu singkat sehingga sulit dipahami, dan tidak pula terlalu banyak hingga bertele-tele.Kata-kata yang keluar dari lisannya seakan-akan untaian mutiara yang tersusun rapi lalu bergulir satu demi satu.رَبْعٌ، لَا يَأْسٌ مِنْ طُولٍ، وَلَا تَقْتَحِمُهُ عَيْنٌ مِنْ قِصَرٍ، غُصْنٌ بَيْنَ غُصْنَيْنِ، فَهُوَ أَنْضَرُ الثَّلَاثَةِ مَنْظَرًا، وَأَحْسَنُهُمْ قَدْرًا. Tinggi badannya sedang.Beliau tidak terlalu tinggi sehingga orang merasa kurang nyaman melihatnya, dan tidak pula terlalu pendek sehingga mata meremehkannya.Di tengah dua orang yang menyertainya, beliau bagaikan sebuah dahan yang tumbuh di antara dua dahan lainnya.Beliaulah yang paling segar dan indah dipandang di antara ketiganya, sekaligus yang paling tinggi kedudukan dan wibawanya.لَهُ رُفَقَاءُ يَحُفُّونَ بِهِ، إِنْ قَالَ أَنْصَتُوا لِقَوْلِهِ، وَإِنْ أَمَرَ تَبَادَرُوا إِلَى أَمْرِهِ، مَحْفُودٌ مَحْشُودٌ، لَا عَابِسٌ وَلَا مُفَنَّدٌ.Beliau memiliki para sahabat yang mengelilinginya.Apabila beliau berbicara, mereka diam mendengarkan perkataannya.Apabila beliau memberi perintah, mereka segera berlomba melaksanakannya.Beliau adalah seorang yang dilayani dan dikelilingi oleh para sahabatnya.Namun beliau bukan seorang yang bermuka masam dan bukan pula orang yang suka merendahkan atau mencela orang lain. Abu Ma‘bad Mengenali Siapa Orang ItuSetelah mendengar penjelasan istrinya, Abu Ma‘bad berkata,هُوَ وَاللَّهِ صَاحِبُ قُرَيْشٍ الَّذِي ذُكِرَ لَنَا مِنْ أَمْرِهِ مَا ذُكِرَ بِمَكَّةَ“Demi Allah, orang itu pasti orang Quraisy yang selama ini telah kita dengar berita tentang dirinya di Makkah.”Abu Ma‘bad melanjutkan, وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَصْحَبَهُ، وَلَأَفْعَلَنَّ إِنْ وَجَدْتُ إِلَى ذَلِكَ سَبِيلًا. فَأَصْبَحَ صَوْتٌ بِمَكَّةَ، يَسْمَعُونَ الصَّوْتَ وَلَا يَدْرُونَ مَنْ صَاحِبُهُ، وَهُوَ يَقُولُ:“Sungguh, sebelumnya aku sudah berkeinginan untuk menjadi sahabat dan mengikutinya. Dan sungguh aku benar-benar akan melakukannya apabila aku mendapatkan jalan untuk itu.” Ungkapan Indah Sebagai Catatan dari Ummu Ma’badBeberapa ungkapan yang sangat indah dari kesaksian Ummu Ma‘badإِنْ صَمَتَ فَعَلَيْهِ الْوَقَارُ، وَإِنْ تَكَلَّمَ سَمَاهُ وَعَلَاهُ الْبَهَاءُ“Jika beliau diam, tampak kewibawaan pada dirinya. Jika beliau berbicara, kemuliaan dan keindahan semakin terpancar darinya.”Kemudian:حُلْوُ الْمَنْطِقِ، فَصْلٌ، لَا نَزْرٌ وَلَا هَذَرٌ“Ucapannya indah dan jelas; tidak terlalu sedikit, tidak pula berlebihan dan bertele-tele.”Dan:كَأَنَّ مَنْطِقَهُ خَرَزَاتُ نَظْمٍ يَتَحَدَّرْنَ“Seakan-akan kata-kata beliau adalah untaian mutiara yang tersusun rapi lalu bergulir satu demi satu.”Serta:إِنْ قَالَ أَنْصَتُوا لِقَوْلِهِ، وَإِنْ أَمَرَ تَبَادَرُوا إِلَى أَمْرِهِ“Jika beliau berbicara, para sahabat diam mendengarkan. Jika beliau memerintahkan sesuatu, mereka segera berlomba melaksanakannya.”  Tagsakhlak mulia akhlak Rasulullah cinta Rasulullah hijrah nabi keteladanan Nabi rasulullah sifat Nabi sirah nabi sunnah nabi Ummu Ma‘bad

Ummu Ma‘bad Menggambarkan Rasulullah ﷺ: Akhlak dan Wibawa Nabi

Ada orang yang baru kita temui sebentar, tetapi kebaikan akhlaknya meninggalkan kesan begitu lama. Itulah yang dirasakan Ummu Ma‘bad ketika Rasulullah ﷺ singgah di kemahnya dalam perjalanan hijrah menuju Madinah. Pertemuan yang singkat itu melahirkan salah satu gambaran paling indah tentang wibawa, tutur kata, penampilan, kepemimpinan, dan akhlak Rasulullah ﷺ.  Daftar Isi tutup 1. Suami Ummu Ma‘bad Pulang dan Terkejut 2. Gambaran Rasulullah ﷺ Menurut Ummu Ma‘bad 3. Abu Ma‘bad Mengenali Siapa Orang Itu 4. Ungkapan Indah Sebagai Catatan dari Ummu Ma’bad  30. Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Sa‘id Ar-Razi, telah menceritakan kepada kami Makram bin Mihraz Al-Khuza‘i, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Hizam bin Hisyam, dari ayahnya, dari kakeknya, Hubaisy bin Khalid, bahwa:Ketika Rasulullah ﷺ keluar dari Makkah dalam perjalanan hijrah menuju Madinah, beliau ditemani oleh Abu Bakar, mantan budak Abu Bakar yaitu ‘Amir bin Fuhairah, dan seorang penunjuk jalan dari Bani Laits bernama ‘Abdullah bin Uraiqith.Dalam perjalanan, mereka melewati dua kemah milik Ummu Ma‘bad Al-Khuza‘iyyah.Ummu Ma‘bad adalah seorang wanita yang tangguh dan terbuka dalam berinteraksi. Ia biasa duduk di halaman kemahnya, memberi minum dan makanan kepada siapa saja yang singgah.Rombongan Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya apakah ia memiliki daging atau kurma yang bisa mereka beli. Namun, mereka tidak mendapatkan apa pun darinya. Saat itu mereka memang sedang mengalami kesulitan bekal, sedangkan daerah tersebut pun sedang dilanda musim paceklik.Rasulullah ﷺ kemudian melihat seekor kambing di salah satu sudut kemah.Beliau bertanya,مَا هَذِهِ الشَّاةُ يَا أُمَّ مَعْبَدٍ؟“Wahai Ummu Ma‘bad, kambing apakah ini?”Ummu Ma‘bad menjawab, “Ini kambing yang tertinggal dari kawanan karena sudah terlalu lemah.”Rasulullah ﷺ bertanya,هَلْ بِهَا مِنْ لَبَنٍ؟“Apakah kambing ini masih memiliki susu?”Ummu Ma‘bad menjawab, “Keadaannya bahkan lebih lemah daripada sekadar bisa menghasilkan susu.”Rasulullah ﷺ kemudian bertanya,أَتَأْذَنِينَ لِي أَنْ أَحْلُبَهَا؟“Apakah engkau mengizinkanku untuk memerahnya?”Ummu Ma‘bad menjawab, “Ya. Ayah dan ibuku sebagai tebusan bagimu. Jika engkau memang melihat ada susu padanya, maka perahlah.”Lalu kambing itu dibawa kepada Rasulullah ﷺ.Beliau mengusap ambingnya dengan tangan beliau, menyebut nama Allah Ta‘ala, lalu berdoa memohon keberkahan untuk kambing Ummu Ma‘bad tersebut.Tiba-tiba kambing itu merenggangkan kedua kakinya, ambingnya pun penuh dan susu mengalir deras. Kambing itu bahkan mulai memamah kembali makanannya dengan tenang.Rasulullah ﷺ kemudian meminta sebuah wadah yang cukup besar untuk membuat satu rombongan kenyang apabila meminumnya.Beliau memerah kambing tersebut.Susu mengalir begitu deras memenuhi wadah hingga muncul buih di atasnya.Kemudian Rasulullah ﷺ memberikan susu itu terlebih dahulu kepada Ummu Ma‘bad hingga ia minum sampai puas. Setelah itu, beliau memberikan minum kepada para sahabatnya hingga mereka semua merasa puas. Dan Rasulullah ﷺ menjadi orang terakhir yang minum.Setelah itu mereka beristirahat sejenak.Kemudian Rasulullah ﷺ kembali memerah kambing tersebut untuk kedua kalinya hingga memenuhi wadah.Beliau meninggalkan susu itu untuk Ummu Ma‘bad.Setelah melakukan transaksi dengannya, rombongan Rasulullah ﷺ pun melanjutkan perjalanan. Suami Ummu Ma‘bad Pulang dan TerkejutTidak lama setelah rombongan itu pergi, suami Ummu Ma‘bad, yaitu Abu Ma‘bad, pulang.Ia sedang menggiring beberapa ekor kambing yang kurus kering. Karena begitu kurusnya, kambing-kambing itu berjalan dengan sangat lemah. Saking buruk kondisi dan kurangnya makanan, sumsum pada tulang kambing-kambing itu pun tinggal sedikit.Ketika Abu Ma‘bad melihat adanya susu, ia terkejut.Ia berkata, “Dari mana engkau mendapatkan susu ini, wahai Ummu Ma‘bad? Padahal kambing-kambing sedang jauh dari tempat kita, tidak ada kambing yang baru melahirkan, dan di rumah pun tidak ada kambing yang bisa diperah.”Ummu Ma‘bad menjawab,لَا وَاللَّهِ، إِلَّا أَنَّهُ مَرَّ بِنَا رَجُلٌ مُبَارَكٌ، مِنْ حَالِهِ كَذَا وَكَذَا.“Tidak, demi Allah. Hanya saja, tadi ada seorang lelaki yang penuh keberkahan melewati tempat kita. Keadaannya begini dan begini.”Abu Ma‘bad berkata,صِفِيهِ لِي يَا أُمَّ مَعْبَدٍ“Coba gambarkan orang itu kepadaku, wahai Ummu Ma‘bad.” Gambaran Rasulullah ﷺ Menurut Ummu Ma‘badUmmu Ma‘bad berkata,رَأَيْتُ رَجُلًا ظَاهِرَ الْوَضَاءَةِ، أَبْلَجَ الْوَجْهِ، حَسَنَ الْخَلْقِ، لَمْ تَعِبْهُ ثُجْلَةٌ، وَلَمْ تُزْرِ بِهِ صَعْلَةٌ، وَسِيمٌ قَسِيمٌ، فِي عَيْنَيْهِ دَعَجٌ، وَفِي أَشْفَارِهِ وَطَفٌ، وَفِي صَوْتِهِ صَحَلٌ، وَفِي عُنُقِهِ سَطَعٌ، وَفِي لِحْيَتِهِ كَثَافَةٌ، أَزَجُّ أَقْرَنُ. “Aku melihat seorang lelaki yang sangat jelas keelokan dan ketampanan dirinya. Wajahnya cerah dan bercahaya. Akhlak dan penampilannya sangat baik.”Tubuhnya tidak tercela karena perut yang terlalu besar, dan kepalanya pun tidak kecil sehingga merusak keserasian penampilannya.Beliau adalah seorang yang tampan, elok, dan memiliki bentuk tubuh yang serasi.Kedua matanya hitam pekat dan indah.Bulu matanya panjang.Pada suaranya terdapat sedikit kesan berat dan serak yang menambah kewibawaan.Lehernya tampak jenjang dan indah.Janggutnya lebat.Alisnya melengkung panjang dan hampir bersambung.إِنْ صَمَتَ فَعَلَيْهِ الْوَقَارُ، وَإِنْ تَكَلَّمَ سَمَاهُ وَعَلَاهُ الْبَهَاءُ، أَجْمَلُ النَّاسِ وَأَبْهَاهُ مِنْ بَعِيدٍ، وَأَحْلَاهُ وَأَحْسَنُهُ مِنْ قَرِيبٍ. Apabila beliau diam, tampaklah kewibawaan pada dirinya.Apabila beliau berbicara, tampaklah kemuliaan dan keindahan yang semakin meninggikan pesonanya.Dari kejauhan, beliau adalah manusia yang paling indah dan paling berwibawa untuk dipandang.Dan ketika dilihat dari dekat, beliau adalah orang yang paling manis, paling elok, dan paling menawan.حُلْوُ الْمَنْطِقِ، فَصْلٌ، لَا نَزْرٌ وَلَا هَذَرٌ، كَأَنَّ مَنْطِقَهُ خَرَزَاتُ نَظْمٍ يَتَحَدَّرْنَ. Ucapannya begitu indah.Pembicaraannya jelas dan terpilah dengan baik.Tidak terlalu singkat sehingga sulit dipahami, dan tidak pula terlalu banyak hingga bertele-tele.Kata-kata yang keluar dari lisannya seakan-akan untaian mutiara yang tersusun rapi lalu bergulir satu demi satu.رَبْعٌ، لَا يَأْسٌ مِنْ طُولٍ، وَلَا تَقْتَحِمُهُ عَيْنٌ مِنْ قِصَرٍ، غُصْنٌ بَيْنَ غُصْنَيْنِ، فَهُوَ أَنْضَرُ الثَّلَاثَةِ مَنْظَرًا، وَأَحْسَنُهُمْ قَدْرًا. Tinggi badannya sedang.Beliau tidak terlalu tinggi sehingga orang merasa kurang nyaman melihatnya, dan tidak pula terlalu pendek sehingga mata meremehkannya.Di tengah dua orang yang menyertainya, beliau bagaikan sebuah dahan yang tumbuh di antara dua dahan lainnya.Beliaulah yang paling segar dan indah dipandang di antara ketiganya, sekaligus yang paling tinggi kedudukan dan wibawanya.لَهُ رُفَقَاءُ يَحُفُّونَ بِهِ، إِنْ قَالَ أَنْصَتُوا لِقَوْلِهِ، وَإِنْ أَمَرَ تَبَادَرُوا إِلَى أَمْرِهِ، مَحْفُودٌ مَحْشُودٌ، لَا عَابِسٌ وَلَا مُفَنَّدٌ.Beliau memiliki para sahabat yang mengelilinginya.Apabila beliau berbicara, mereka diam mendengarkan perkataannya.Apabila beliau memberi perintah, mereka segera berlomba melaksanakannya.Beliau adalah seorang yang dilayani dan dikelilingi oleh para sahabatnya.Namun beliau bukan seorang yang bermuka masam dan bukan pula orang yang suka merendahkan atau mencela orang lain. Abu Ma‘bad Mengenali Siapa Orang ItuSetelah mendengar penjelasan istrinya, Abu Ma‘bad berkata,هُوَ وَاللَّهِ صَاحِبُ قُرَيْشٍ الَّذِي ذُكِرَ لَنَا مِنْ أَمْرِهِ مَا ذُكِرَ بِمَكَّةَ“Demi Allah, orang itu pasti orang Quraisy yang selama ini telah kita dengar berita tentang dirinya di Makkah.”Abu Ma‘bad melanjutkan, وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَصْحَبَهُ، وَلَأَفْعَلَنَّ إِنْ وَجَدْتُ إِلَى ذَلِكَ سَبِيلًا. فَأَصْبَحَ صَوْتٌ بِمَكَّةَ، يَسْمَعُونَ الصَّوْتَ وَلَا يَدْرُونَ مَنْ صَاحِبُهُ، وَهُوَ يَقُولُ:“Sungguh, sebelumnya aku sudah berkeinginan untuk menjadi sahabat dan mengikutinya. Dan sungguh aku benar-benar akan melakukannya apabila aku mendapatkan jalan untuk itu.” Ungkapan Indah Sebagai Catatan dari Ummu Ma’badBeberapa ungkapan yang sangat indah dari kesaksian Ummu Ma‘badإِنْ صَمَتَ فَعَلَيْهِ الْوَقَارُ، وَإِنْ تَكَلَّمَ سَمَاهُ وَعَلَاهُ الْبَهَاءُ“Jika beliau diam, tampak kewibawaan pada dirinya. Jika beliau berbicara, kemuliaan dan keindahan semakin terpancar darinya.”Kemudian:حُلْوُ الْمَنْطِقِ، فَصْلٌ، لَا نَزْرٌ وَلَا هَذَرٌ“Ucapannya indah dan jelas; tidak terlalu sedikit, tidak pula berlebihan dan bertele-tele.”Dan:كَأَنَّ مَنْطِقَهُ خَرَزَاتُ نَظْمٍ يَتَحَدَّرْنَ“Seakan-akan kata-kata beliau adalah untaian mutiara yang tersusun rapi lalu bergulir satu demi satu.”Serta:إِنْ قَالَ أَنْصَتُوا لِقَوْلِهِ، وَإِنْ أَمَرَ تَبَادَرُوا إِلَى أَمْرِهِ“Jika beliau berbicara, para sahabat diam mendengarkan. Jika beliau memerintahkan sesuatu, mereka segera berlomba melaksanakannya.”  Tagsakhlak mulia akhlak Rasulullah cinta Rasulullah hijrah nabi keteladanan Nabi rasulullah sifat Nabi sirah nabi sunnah nabi Ummu Ma‘bad
Ada orang yang baru kita temui sebentar, tetapi kebaikan akhlaknya meninggalkan kesan begitu lama. Itulah yang dirasakan Ummu Ma‘bad ketika Rasulullah ﷺ singgah di kemahnya dalam perjalanan hijrah menuju Madinah. Pertemuan yang singkat itu melahirkan salah satu gambaran paling indah tentang wibawa, tutur kata, penampilan, kepemimpinan, dan akhlak Rasulullah ﷺ.  Daftar Isi tutup 1. Suami Ummu Ma‘bad Pulang dan Terkejut 2. Gambaran Rasulullah ﷺ Menurut Ummu Ma‘bad 3. Abu Ma‘bad Mengenali Siapa Orang Itu 4. Ungkapan Indah Sebagai Catatan dari Ummu Ma’bad  30. Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Sa‘id Ar-Razi, telah menceritakan kepada kami Makram bin Mihraz Al-Khuza‘i, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Hizam bin Hisyam, dari ayahnya, dari kakeknya, Hubaisy bin Khalid, bahwa:Ketika Rasulullah ﷺ keluar dari Makkah dalam perjalanan hijrah menuju Madinah, beliau ditemani oleh Abu Bakar, mantan budak Abu Bakar yaitu ‘Amir bin Fuhairah, dan seorang penunjuk jalan dari Bani Laits bernama ‘Abdullah bin Uraiqith.Dalam perjalanan, mereka melewati dua kemah milik Ummu Ma‘bad Al-Khuza‘iyyah.Ummu Ma‘bad adalah seorang wanita yang tangguh dan terbuka dalam berinteraksi. Ia biasa duduk di halaman kemahnya, memberi minum dan makanan kepada siapa saja yang singgah.Rombongan Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya apakah ia memiliki daging atau kurma yang bisa mereka beli. Namun, mereka tidak mendapatkan apa pun darinya. Saat itu mereka memang sedang mengalami kesulitan bekal, sedangkan daerah tersebut pun sedang dilanda musim paceklik.Rasulullah ﷺ kemudian melihat seekor kambing di salah satu sudut kemah.Beliau bertanya,مَا هَذِهِ الشَّاةُ يَا أُمَّ مَعْبَدٍ؟“Wahai Ummu Ma‘bad, kambing apakah ini?”Ummu Ma‘bad menjawab, “Ini kambing yang tertinggal dari kawanan karena sudah terlalu lemah.”Rasulullah ﷺ bertanya,هَلْ بِهَا مِنْ لَبَنٍ؟“Apakah kambing ini masih memiliki susu?”Ummu Ma‘bad menjawab, “Keadaannya bahkan lebih lemah daripada sekadar bisa menghasilkan susu.”Rasulullah ﷺ kemudian bertanya,أَتَأْذَنِينَ لِي أَنْ أَحْلُبَهَا؟“Apakah engkau mengizinkanku untuk memerahnya?”Ummu Ma‘bad menjawab, “Ya. Ayah dan ibuku sebagai tebusan bagimu. Jika engkau memang melihat ada susu padanya, maka perahlah.”Lalu kambing itu dibawa kepada Rasulullah ﷺ.Beliau mengusap ambingnya dengan tangan beliau, menyebut nama Allah Ta‘ala, lalu berdoa memohon keberkahan untuk kambing Ummu Ma‘bad tersebut.Tiba-tiba kambing itu merenggangkan kedua kakinya, ambingnya pun penuh dan susu mengalir deras. Kambing itu bahkan mulai memamah kembali makanannya dengan tenang.Rasulullah ﷺ kemudian meminta sebuah wadah yang cukup besar untuk membuat satu rombongan kenyang apabila meminumnya.Beliau memerah kambing tersebut.Susu mengalir begitu deras memenuhi wadah hingga muncul buih di atasnya.Kemudian Rasulullah ﷺ memberikan susu itu terlebih dahulu kepada Ummu Ma‘bad hingga ia minum sampai puas. Setelah itu, beliau memberikan minum kepada para sahabatnya hingga mereka semua merasa puas. Dan Rasulullah ﷺ menjadi orang terakhir yang minum.Setelah itu mereka beristirahat sejenak.Kemudian Rasulullah ﷺ kembali memerah kambing tersebut untuk kedua kalinya hingga memenuhi wadah.Beliau meninggalkan susu itu untuk Ummu Ma‘bad.Setelah melakukan transaksi dengannya, rombongan Rasulullah ﷺ pun melanjutkan perjalanan. Suami Ummu Ma‘bad Pulang dan TerkejutTidak lama setelah rombongan itu pergi, suami Ummu Ma‘bad, yaitu Abu Ma‘bad, pulang.Ia sedang menggiring beberapa ekor kambing yang kurus kering. Karena begitu kurusnya, kambing-kambing itu berjalan dengan sangat lemah. Saking buruk kondisi dan kurangnya makanan, sumsum pada tulang kambing-kambing itu pun tinggal sedikit.Ketika Abu Ma‘bad melihat adanya susu, ia terkejut.Ia berkata, “Dari mana engkau mendapatkan susu ini, wahai Ummu Ma‘bad? Padahal kambing-kambing sedang jauh dari tempat kita, tidak ada kambing yang baru melahirkan, dan di rumah pun tidak ada kambing yang bisa diperah.”Ummu Ma‘bad menjawab,لَا وَاللَّهِ، إِلَّا أَنَّهُ مَرَّ بِنَا رَجُلٌ مُبَارَكٌ، مِنْ حَالِهِ كَذَا وَكَذَا.“Tidak, demi Allah. Hanya saja, tadi ada seorang lelaki yang penuh keberkahan melewati tempat kita. Keadaannya begini dan begini.”Abu Ma‘bad berkata,صِفِيهِ لِي يَا أُمَّ مَعْبَدٍ“Coba gambarkan orang itu kepadaku, wahai Ummu Ma‘bad.” Gambaran Rasulullah ﷺ Menurut Ummu Ma‘badUmmu Ma‘bad berkata,رَأَيْتُ رَجُلًا ظَاهِرَ الْوَضَاءَةِ، أَبْلَجَ الْوَجْهِ، حَسَنَ الْخَلْقِ، لَمْ تَعِبْهُ ثُجْلَةٌ، وَلَمْ تُزْرِ بِهِ صَعْلَةٌ، وَسِيمٌ قَسِيمٌ، فِي عَيْنَيْهِ دَعَجٌ، وَفِي أَشْفَارِهِ وَطَفٌ، وَفِي صَوْتِهِ صَحَلٌ، وَفِي عُنُقِهِ سَطَعٌ، وَفِي لِحْيَتِهِ كَثَافَةٌ، أَزَجُّ أَقْرَنُ. “Aku melihat seorang lelaki yang sangat jelas keelokan dan ketampanan dirinya. Wajahnya cerah dan bercahaya. Akhlak dan penampilannya sangat baik.”Tubuhnya tidak tercela karena perut yang terlalu besar, dan kepalanya pun tidak kecil sehingga merusak keserasian penampilannya.Beliau adalah seorang yang tampan, elok, dan memiliki bentuk tubuh yang serasi.Kedua matanya hitam pekat dan indah.Bulu matanya panjang.Pada suaranya terdapat sedikit kesan berat dan serak yang menambah kewibawaan.Lehernya tampak jenjang dan indah.Janggutnya lebat.Alisnya melengkung panjang dan hampir bersambung.إِنْ صَمَتَ فَعَلَيْهِ الْوَقَارُ، وَإِنْ تَكَلَّمَ سَمَاهُ وَعَلَاهُ الْبَهَاءُ، أَجْمَلُ النَّاسِ وَأَبْهَاهُ مِنْ بَعِيدٍ، وَأَحْلَاهُ وَأَحْسَنُهُ مِنْ قَرِيبٍ. Apabila beliau diam, tampaklah kewibawaan pada dirinya.Apabila beliau berbicara, tampaklah kemuliaan dan keindahan yang semakin meninggikan pesonanya.Dari kejauhan, beliau adalah manusia yang paling indah dan paling berwibawa untuk dipandang.Dan ketika dilihat dari dekat, beliau adalah orang yang paling manis, paling elok, dan paling menawan.حُلْوُ الْمَنْطِقِ، فَصْلٌ، لَا نَزْرٌ وَلَا هَذَرٌ، كَأَنَّ مَنْطِقَهُ خَرَزَاتُ نَظْمٍ يَتَحَدَّرْنَ. Ucapannya begitu indah.Pembicaraannya jelas dan terpilah dengan baik.Tidak terlalu singkat sehingga sulit dipahami, dan tidak pula terlalu banyak hingga bertele-tele.Kata-kata yang keluar dari lisannya seakan-akan untaian mutiara yang tersusun rapi lalu bergulir satu demi satu.رَبْعٌ، لَا يَأْسٌ مِنْ طُولٍ، وَلَا تَقْتَحِمُهُ عَيْنٌ مِنْ قِصَرٍ، غُصْنٌ بَيْنَ غُصْنَيْنِ، فَهُوَ أَنْضَرُ الثَّلَاثَةِ مَنْظَرًا، وَأَحْسَنُهُمْ قَدْرًا. Tinggi badannya sedang.Beliau tidak terlalu tinggi sehingga orang merasa kurang nyaman melihatnya, dan tidak pula terlalu pendek sehingga mata meremehkannya.Di tengah dua orang yang menyertainya, beliau bagaikan sebuah dahan yang tumbuh di antara dua dahan lainnya.Beliaulah yang paling segar dan indah dipandang di antara ketiganya, sekaligus yang paling tinggi kedudukan dan wibawanya.لَهُ رُفَقَاءُ يَحُفُّونَ بِهِ، إِنْ قَالَ أَنْصَتُوا لِقَوْلِهِ، وَإِنْ أَمَرَ تَبَادَرُوا إِلَى أَمْرِهِ، مَحْفُودٌ مَحْشُودٌ، لَا عَابِسٌ وَلَا مُفَنَّدٌ.Beliau memiliki para sahabat yang mengelilinginya.Apabila beliau berbicara, mereka diam mendengarkan perkataannya.Apabila beliau memberi perintah, mereka segera berlomba melaksanakannya.Beliau adalah seorang yang dilayani dan dikelilingi oleh para sahabatnya.Namun beliau bukan seorang yang bermuka masam dan bukan pula orang yang suka merendahkan atau mencela orang lain. Abu Ma‘bad Mengenali Siapa Orang ItuSetelah mendengar penjelasan istrinya, Abu Ma‘bad berkata,هُوَ وَاللَّهِ صَاحِبُ قُرَيْشٍ الَّذِي ذُكِرَ لَنَا مِنْ أَمْرِهِ مَا ذُكِرَ بِمَكَّةَ“Demi Allah, orang itu pasti orang Quraisy yang selama ini telah kita dengar berita tentang dirinya di Makkah.”Abu Ma‘bad melanjutkan, وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَصْحَبَهُ، وَلَأَفْعَلَنَّ إِنْ وَجَدْتُ إِلَى ذَلِكَ سَبِيلًا. فَأَصْبَحَ صَوْتٌ بِمَكَّةَ، يَسْمَعُونَ الصَّوْتَ وَلَا يَدْرُونَ مَنْ صَاحِبُهُ، وَهُوَ يَقُولُ:“Sungguh, sebelumnya aku sudah berkeinginan untuk menjadi sahabat dan mengikutinya. Dan sungguh aku benar-benar akan melakukannya apabila aku mendapatkan jalan untuk itu.” Ungkapan Indah Sebagai Catatan dari Ummu Ma’badBeberapa ungkapan yang sangat indah dari kesaksian Ummu Ma‘badإِنْ صَمَتَ فَعَلَيْهِ الْوَقَارُ، وَإِنْ تَكَلَّمَ سَمَاهُ وَعَلَاهُ الْبَهَاءُ“Jika beliau diam, tampak kewibawaan pada dirinya. Jika beliau berbicara, kemuliaan dan keindahan semakin terpancar darinya.”Kemudian:حُلْوُ الْمَنْطِقِ، فَصْلٌ، لَا نَزْرٌ وَلَا هَذَرٌ“Ucapannya indah dan jelas; tidak terlalu sedikit, tidak pula berlebihan dan bertele-tele.”Dan:كَأَنَّ مَنْطِقَهُ خَرَزَاتُ نَظْمٍ يَتَحَدَّرْنَ“Seakan-akan kata-kata beliau adalah untaian mutiara yang tersusun rapi lalu bergulir satu demi satu.”Serta:إِنْ قَالَ أَنْصَتُوا لِقَوْلِهِ، وَإِنْ أَمَرَ تَبَادَرُوا إِلَى أَمْرِهِ“Jika beliau berbicara, para sahabat diam mendengarkan. Jika beliau memerintahkan sesuatu, mereka segera berlomba melaksanakannya.”  Tagsakhlak mulia akhlak Rasulullah cinta Rasulullah hijrah nabi keteladanan Nabi rasulullah sifat Nabi sirah nabi sunnah nabi Ummu Ma‘bad


Ada orang yang baru kita temui sebentar, tetapi kebaikan akhlaknya meninggalkan kesan begitu lama. Itulah yang dirasakan Ummu Ma‘bad ketika Rasulullah ﷺ singgah di kemahnya dalam perjalanan hijrah menuju Madinah. Pertemuan yang singkat itu melahirkan salah satu gambaran paling indah tentang wibawa, tutur kata, penampilan, kepemimpinan, dan akhlak Rasulullah ﷺ.  Daftar Isi tutup 1. Suami Ummu Ma‘bad Pulang dan Terkejut 2. Gambaran Rasulullah ﷺ Menurut Ummu Ma‘bad 3. Abu Ma‘bad Mengenali Siapa Orang Itu 4. Ungkapan Indah Sebagai Catatan dari Ummu Ma’bad  30. Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Sa‘id Ar-Razi, telah menceritakan kepada kami Makram bin Mihraz Al-Khuza‘i, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Hizam bin Hisyam, dari ayahnya, dari kakeknya, Hubaisy bin Khalid, bahwa:Ketika Rasulullah ﷺ keluar dari Makkah dalam perjalanan hijrah menuju Madinah, beliau ditemani oleh Abu Bakar, mantan budak Abu Bakar yaitu ‘Amir bin Fuhairah, dan seorang penunjuk jalan dari Bani Laits bernama ‘Abdullah bin Uraiqith.Dalam perjalanan, mereka melewati dua kemah milik Ummu Ma‘bad Al-Khuza‘iyyah.Ummu Ma‘bad adalah seorang wanita yang tangguh dan terbuka dalam berinteraksi. Ia biasa duduk di halaman kemahnya, memberi minum dan makanan kepada siapa saja yang singgah.Rombongan Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya apakah ia memiliki daging atau kurma yang bisa mereka beli. Namun, mereka tidak mendapatkan apa pun darinya. Saat itu mereka memang sedang mengalami kesulitan bekal, sedangkan daerah tersebut pun sedang dilanda musim paceklik.Rasulullah ﷺ kemudian melihat seekor kambing di salah satu sudut kemah.Beliau bertanya,مَا هَذِهِ الشَّاةُ يَا أُمَّ مَعْبَدٍ؟“Wahai Ummu Ma‘bad, kambing apakah ini?”Ummu Ma‘bad menjawab, “Ini kambing yang tertinggal dari kawanan karena sudah terlalu lemah.”Rasulullah ﷺ bertanya,هَلْ بِهَا مِنْ لَبَنٍ؟“Apakah kambing ini masih memiliki susu?”Ummu Ma‘bad menjawab, “Keadaannya bahkan lebih lemah daripada sekadar bisa menghasilkan susu.”Rasulullah ﷺ kemudian bertanya,أَتَأْذَنِينَ لِي أَنْ أَحْلُبَهَا؟“Apakah engkau mengizinkanku untuk memerahnya?”Ummu Ma‘bad menjawab, “Ya. Ayah dan ibuku sebagai tebusan bagimu. Jika engkau memang melihat ada susu padanya, maka perahlah.”Lalu kambing itu dibawa kepada Rasulullah ﷺ.Beliau mengusap ambingnya dengan tangan beliau, menyebut nama Allah Ta‘ala, lalu berdoa memohon keberkahan untuk kambing Ummu Ma‘bad tersebut.Tiba-tiba kambing itu merenggangkan kedua kakinya, ambingnya pun penuh dan susu mengalir deras. Kambing itu bahkan mulai memamah kembali makanannya dengan tenang.Rasulullah ﷺ kemudian meminta sebuah wadah yang cukup besar untuk membuat satu rombongan kenyang apabila meminumnya.Beliau memerah kambing tersebut.Susu mengalir begitu deras memenuhi wadah hingga muncul buih di atasnya.Kemudian Rasulullah ﷺ memberikan susu itu terlebih dahulu kepada Ummu Ma‘bad hingga ia minum sampai puas. Setelah itu, beliau memberikan minum kepada para sahabatnya hingga mereka semua merasa puas. Dan Rasulullah ﷺ menjadi orang terakhir yang minum.Setelah itu mereka beristirahat sejenak.Kemudian Rasulullah ﷺ kembali memerah kambing tersebut untuk kedua kalinya hingga memenuhi wadah.Beliau meninggalkan susu itu untuk Ummu Ma‘bad.Setelah melakukan transaksi dengannya, rombongan Rasulullah ﷺ pun melanjutkan perjalanan. Suami Ummu Ma‘bad Pulang dan TerkejutTidak lama setelah rombongan itu pergi, suami Ummu Ma‘bad, yaitu Abu Ma‘bad, pulang.Ia sedang menggiring beberapa ekor kambing yang kurus kering. Karena begitu kurusnya, kambing-kambing itu berjalan dengan sangat lemah. Saking buruk kondisi dan kurangnya makanan, sumsum pada tulang kambing-kambing itu pun tinggal sedikit.Ketika Abu Ma‘bad melihat adanya susu, ia terkejut.Ia berkata, “Dari mana engkau mendapatkan susu ini, wahai Ummu Ma‘bad? Padahal kambing-kambing sedang jauh dari tempat kita, tidak ada kambing yang baru melahirkan, dan di rumah pun tidak ada kambing yang bisa diperah.”Ummu Ma‘bad menjawab,لَا وَاللَّهِ، إِلَّا أَنَّهُ مَرَّ بِنَا رَجُلٌ مُبَارَكٌ، مِنْ حَالِهِ كَذَا وَكَذَا.“Tidak, demi Allah. Hanya saja, tadi ada seorang lelaki yang penuh keberkahan melewati tempat kita. Keadaannya begini dan begini.”Abu Ma‘bad berkata,صِفِيهِ لِي يَا أُمَّ مَعْبَدٍ“Coba gambarkan orang itu kepadaku, wahai Ummu Ma‘bad.” Gambaran Rasulullah ﷺ Menurut Ummu Ma‘badUmmu Ma‘bad berkata,رَأَيْتُ رَجُلًا ظَاهِرَ الْوَضَاءَةِ، أَبْلَجَ الْوَجْهِ، حَسَنَ الْخَلْقِ، لَمْ تَعِبْهُ ثُجْلَةٌ، وَلَمْ تُزْرِ بِهِ صَعْلَةٌ، وَسِيمٌ قَسِيمٌ، فِي عَيْنَيْهِ دَعَجٌ، وَفِي أَشْفَارِهِ وَطَفٌ، وَفِي صَوْتِهِ صَحَلٌ، وَفِي عُنُقِهِ سَطَعٌ، وَفِي لِحْيَتِهِ كَثَافَةٌ، أَزَجُّ أَقْرَنُ. “Aku melihat seorang lelaki yang sangat jelas keelokan dan ketampanan dirinya. Wajahnya cerah dan bercahaya. Akhlak dan penampilannya sangat baik.”Tubuhnya tidak tercela karena perut yang terlalu besar, dan kepalanya pun tidak kecil sehingga merusak keserasian penampilannya.Beliau adalah seorang yang tampan, elok, dan memiliki bentuk tubuh yang serasi.Kedua matanya hitam pekat dan indah.Bulu matanya panjang.Pada suaranya terdapat sedikit kesan berat dan serak yang menambah kewibawaan.Lehernya tampak jenjang dan indah.Janggutnya lebat.Alisnya melengkung panjang dan hampir bersambung.إِنْ صَمَتَ فَعَلَيْهِ الْوَقَارُ، وَإِنْ تَكَلَّمَ سَمَاهُ وَعَلَاهُ الْبَهَاءُ، أَجْمَلُ النَّاسِ وَأَبْهَاهُ مِنْ بَعِيدٍ، وَأَحْلَاهُ وَأَحْسَنُهُ مِنْ قَرِيبٍ. Apabila beliau diam, tampaklah kewibawaan pada dirinya.Apabila beliau berbicara, tampaklah kemuliaan dan keindahan yang semakin meninggikan pesonanya.Dari kejauhan, beliau adalah manusia yang paling indah dan paling berwibawa untuk dipandang.Dan ketika dilihat dari dekat, beliau adalah orang yang paling manis, paling elok, dan paling menawan.حُلْوُ الْمَنْطِقِ، فَصْلٌ، لَا نَزْرٌ وَلَا هَذَرٌ، كَأَنَّ مَنْطِقَهُ خَرَزَاتُ نَظْمٍ يَتَحَدَّرْنَ. Ucapannya begitu indah.Pembicaraannya jelas dan terpilah dengan baik.Tidak terlalu singkat sehingga sulit dipahami, dan tidak pula terlalu banyak hingga bertele-tele.Kata-kata yang keluar dari lisannya seakan-akan untaian mutiara yang tersusun rapi lalu bergulir satu demi satu.رَبْعٌ، لَا يَأْسٌ مِنْ طُولٍ، وَلَا تَقْتَحِمُهُ عَيْنٌ مِنْ قِصَرٍ، غُصْنٌ بَيْنَ غُصْنَيْنِ، فَهُوَ أَنْضَرُ الثَّلَاثَةِ مَنْظَرًا، وَأَحْسَنُهُمْ قَدْرًا. Tinggi badannya sedang.Beliau tidak terlalu tinggi sehingga orang merasa kurang nyaman melihatnya, dan tidak pula terlalu pendek sehingga mata meremehkannya.Di tengah dua orang yang menyertainya, beliau bagaikan sebuah dahan yang tumbuh di antara dua dahan lainnya.Beliaulah yang paling segar dan indah dipandang di antara ketiganya, sekaligus yang paling tinggi kedudukan dan wibawanya.لَهُ رُفَقَاءُ يَحُفُّونَ بِهِ، إِنْ قَالَ أَنْصَتُوا لِقَوْلِهِ، وَإِنْ أَمَرَ تَبَادَرُوا إِلَى أَمْرِهِ، مَحْفُودٌ مَحْشُودٌ، لَا عَابِسٌ وَلَا مُفَنَّدٌ.Beliau memiliki para sahabat yang mengelilinginya.Apabila beliau berbicara, mereka diam mendengarkan perkataannya.Apabila beliau memberi perintah, mereka segera berlomba melaksanakannya.Beliau adalah seorang yang dilayani dan dikelilingi oleh para sahabatnya.Namun beliau bukan seorang yang bermuka masam dan bukan pula orang yang suka merendahkan atau mencela orang lain. Abu Ma‘bad Mengenali Siapa Orang ItuSetelah mendengar penjelasan istrinya, Abu Ma‘bad berkata,هُوَ وَاللَّهِ صَاحِبُ قُرَيْشٍ الَّذِي ذُكِرَ لَنَا مِنْ أَمْرِهِ مَا ذُكِرَ بِمَكَّةَ“Demi Allah, orang itu pasti orang Quraisy yang selama ini telah kita dengar berita tentang dirinya di Makkah.”Abu Ma‘bad melanjutkan, وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَصْحَبَهُ، وَلَأَفْعَلَنَّ إِنْ وَجَدْتُ إِلَى ذَلِكَ سَبِيلًا. فَأَصْبَحَ صَوْتٌ بِمَكَّةَ، يَسْمَعُونَ الصَّوْتَ وَلَا يَدْرُونَ مَنْ صَاحِبُهُ، وَهُوَ يَقُولُ:“Sungguh, sebelumnya aku sudah berkeinginan untuk menjadi sahabat dan mengikutinya. Dan sungguh aku benar-benar akan melakukannya apabila aku mendapatkan jalan untuk itu.” Ungkapan Indah Sebagai Catatan dari Ummu Ma’badBeberapa ungkapan yang sangat indah dari kesaksian Ummu Ma‘badإِنْ صَمَتَ فَعَلَيْهِ الْوَقَارُ، وَإِنْ تَكَلَّمَ سَمَاهُ وَعَلَاهُ الْبَهَاءُ“Jika beliau diam, tampak kewibawaan pada dirinya. Jika beliau berbicara, kemuliaan dan keindahan semakin terpancar darinya.”Kemudian:حُلْوُ الْمَنْطِقِ، فَصْلٌ، لَا نَزْرٌ وَلَا هَذَرٌ“Ucapannya indah dan jelas; tidak terlalu sedikit, tidak pula berlebihan dan bertele-tele.”Dan:كَأَنَّ مَنْطِقَهُ خَرَزَاتُ نَظْمٍ يَتَحَدَّرْنَ“Seakan-akan kata-kata beliau adalah untaian mutiara yang tersusun rapi lalu bergulir satu demi satu.”Serta:إِنْ قَالَ أَنْصَتُوا لِقَوْلِهِ، وَإِنْ أَمَرَ تَبَادَرُوا إِلَى أَمْرِهِ“Jika beliau berbicara, para sahabat diam mendengarkan. Jika beliau memerintahkan sesuatu, mereka segera berlomba melaksanakannya.”  Tagsakhlak mulia akhlak Rasulullah cinta Rasulullah hijrah nabi keteladanan Nabi rasulullah sifat Nabi sirah nabi sunnah nabi Ummu Ma‘bad

Menjadi Seorang Muslim yang Visioner

Daftar Isi ToggleMengapa kita merindukan waktu luang, tetapi menyia-nyiakannya saat ia datang?Kiat sederhana melawan distraksiBiasakan merencanakan, biasakan menyelesaikan“Impulsif”, sebuah kata yang maknanya sederhana: tindakan tiba-tiba tanpa dipikir panjang. Dalam keseharian, kita mengenalnya sebagai keputusan yang diambil saat emosi memuncak—marah, kecewa, atau sekadar kesal—tanpa sempat menimbang dampaknya. Orang yang impulsif biasanya hanya merespons, bukan merencanakan. Ia bergerak karena pancingan, bukan karena tujuan. Dan di zaman yang serba cepat ini, di mana segala sesuatu berebut menarik perhatian kita, sikap impulsif menjadi jebakan yang kian sulit dihindari. Padahal, Islam sangat memuliakan ketenangan, perencanaan, dan sikap tidak tergesa-gesa. Allah Ta’ala bahkan menyifati penciptaan langit dan bumi dengan penuh perhitungan, bukan dengan ketergesaan. Maka, seorang mukmin semestinya meneladani prinsip ini dalam setiap masalah, sekecil apa pun.Coba renungkan sejenak: berapa banyak penyesalan yang lahir dari keputusan yang kita ambil tanpa pikir panjang? Kata-kata yang terlepas dari lisan saat marah, janji yang diucapkan tanpa perhitungan, atau pilihan-pilihan kecil yang ternyata membawa dampak besar. Rasulullah ﷺ mengingatkan,التَّأَنِّي مِنَ اللَّهِ وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ“Ketenangan dan tidak tergesa-gesa itu dari Allah, sedangkan tergesa-gesa itu dari setan.” (HR. Abu Ya’la no. 4256 dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra no. 20270, dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 1795)Jika ketenangan itu berasal dari Allah, maka perencanaan adalah salah satu bentuk ikhtiar untuk meraih ketenangan itu. Orang yang merencanakan urusannya sedang berusaha menyerupai hikmah ilahi dalam mengatur segala sesuatu. Tentu, perencanaan manusia tidak bisa sempurna, dan di atas segalanya, Allah-lah sebaik-baik perencana. Namun, sebagai hamba, kita diperintahkan untuk berbuat secara ihsan (profesional dan sebaik mungkin), termasuk dalam mengelola waktu dan keputusan. Allah Ta’ala berfirman,وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ“Dan berbuat baiklah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah [2]: 195).Maka, menulis rencana bukan sekadar kebiasaan produktif ala self-help, tetapi menjadi cerminan dari sikap ihsan seorang muslim terhadap waktu dan amanah hidupnya.Mengapa kita merindukan waktu luang, tetapi menyia-nyiakannya saat ia datang?Ada fenomena yang cukup umum kita alami: saat disibukkan oleh pekerjaan atau tugas, kita mengeluh kelelahan dan merindukan waktu luang. Dalam lamunan, kita membayangkan akan melakukan banyak hal produktif saat libur tiba—membaca Al-Qur’an, berzikir, membaca buku yang lama tertunda, menulis, belajar keterampilan baru, atau sekadar membersihkan hati dengan ibadah yang lebih khusyuk. Tapi, anehnya, ketika waktu luang itu benar-benar hadir, kita justru kebingungan. “Mau ngapain, ya?” gumam kita di pagi hari sambil memandangi langit-langit kamar. Lalu, tanpa sadar, tangan meraih gawai, notifikasi satu per satu dibuka, dan tanpa terasa tiga jam berlalu hanya untuk scrolling tanpa tujuan.Mengapa ini bisa terjadi? Jawabannya sederhana: karena kita tidak punya rencana. Waktu luang yang tidak direncanakan akan dengan mudah diisi oleh hal-hal yang tidak bernilai. Setan sangat piawai mengisi kekosongan; bukan hanya dalam aspek spiritual, tetapi juga dalam aspek manajemen waktu. Dalam kekosongan rencana, ia bisikkan kemalasan. Ia hiasi kesia-siaan dengan tampilan yang menghibur. Akhirnya, waktu yang mulia berubah menjadi penyesalan. Rasulullah ﷺ bersabda,نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ“Dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu (rugi) di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari no. 6412)Hadis ini begitu populer, tetapi seringkali kita hanya menghafalnya tanpa meresapi. Waktu luang adalah nikmat yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Waktu luang itu bukan untuk dibunuh, melainkan untuk dihidupi dengan rencana yang bermanfaat. Dan rencana itu tidak akan muncul begitu saja; harus ditulis, dipikirkan, dan disengaja.Kiat sederhana melawan distraksi Pernahkah Anda mengalaminya? Malam hari, sebelum tidur, tekad sudah bulat: besok pagi akan menulis rencana, membuat target, atau sekadar membereskan catatan-catatan yang berserakan di kepala. Namun, begitu pagi datang dan jemari baru saja membuka aplikasi catatan di ponsel, tiba-tiba sebuah notifikasi mampir. Grup WhatsApp ramai membahas sesuatu, media sosial menawarkan video pendek yang “menarik”, atau marketplace mengirimkan diskon yang sulit diabaikan. Dan tanpa terasa, tiga jam lenyap begitu saja. Rencana yang semula terang benderang di pikiran, tiba-tiba redup, lalu padam. Menjelang malam, penyesalan datang. Tapi keesokan harinya, siklus yang sama terulang lagi. Inilah potret kita hari ini: selalu berniat baik, tetapi kalah oleh algoritma yang memang dirancang untuk mencuri fokus.Di sinilah saya ingin menyampaikan saran yang sangat sederhana: miliki sebuah buku notes kecil dan pulpen. Ya, manual. Bukan digital. Bukan aplikasi canggih yang katanya bisa menyinkronkan segalanya. Sebab, kita semua maklum, perangkat yang sama yang kita gunakan untuk “produktif” adalah perangkat yang sama yang membuka ribuan pintu distraksi. Godaan itu nyata, dan ia dikemas sedemikian rupa agar kita lengah. Maka, sebelum menyesali waktu yang hilang sia-sia, lebih baik kita mundur sejenak dari layar. Kita kembali kepada benda yang sunyi: kertas dan tinta. Tak memiliki notifikasi. Tidak pula mengirimkan peringatan diskon. Ia hanya diam, menunggu tuannya mencurahkan isi kepala dan hatinya.Duduklah bersama buku kecil itu dalam keheningan. Momen ini adalah salah satu bentuk khalwah yang dianjurkan; bukan menyendiri untuk berbuat maksiat, tetapi menyendiri untuk menata jiwa dan pikiran. Para ulama kita terdahulu amat akrab dengan kebiasaan ini. Al-Imam Al-Khaththabi rahimahullah (w. 388 H) menuturkan dalam kitabnya, Al-‘Uzlah,مَا رَأَيْتُ شَيْئًا أَشَدَّ تَثْبِيتًا لِلْإِيمَانِ، وَأَنْفَى لِلْمَعْصِيَةِ، وَأَحْيَا لِلْقَلْبِ مِنَ الْعُزْلَةِ وَالتَّفَكُّرِ“Aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih mengokohkan iman, lebih meniadakan kemaksiatan, dan lebih menghidupkan hati, melebihi ‘uzlah (menyendiri) dan tafakur.” (Al-Khaththabi, Al-‘Uzlah, hal. 44)Dalam sunyi bersama buku catatan, otak kita dipaksa kembali bekerja, merangkai kata, mengurai masalah, dan merumuskan rencana. Tidak seperti mengetik di gawai yang seringkali otomatis dan cepat berlalu, menulis dengan tangan melibatkan proses kognitif yang lebih dalam. Ini adalah latihan bagi pikiran yang selama ini mungkin terlalu sering dimanjakan oleh kecerdasan buatan.Dengan buku itu, tuliskan apa saja. Besok akan mengerjakan apa. Pekan ini target apa yang harus dicapai. Kegelisahan apa yang mengganjal. Pengalaman baik yang baru saja terjadi. Atau, kesalahan yang harus segera diperbaiki. Luapkan. Jangan pedulikan apakah tulisan itu rapi, indah, atau layak dipublikasikan. Tulisan yang jujur—yang lahir murni dari hati—memang tidak selalu rapi. Ia punya cela, punya luka. Dan di situlah letak autentisitasnya. Sebab, jika kita hanya menginginkan tulisan yang sempurna, AI bisa melakukannya dalam hitungan detik. Tetapi, bisakah mesin menggantikan kepuasan batin saat kita menuangkan isi jiwa sendiri di atas kertas? Tentu tidak. Karena yang kita butuhkan bukan sekadar deretan kata yang tersusun apik, melainkan jejak kejujuran yang bisa kita baca kembali suatu hari nanti—sebagai pengingat bahwa kita pernah berjuang, pernah lemah, dan pernah bangkit lagi. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang melupakan Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri.” (QS. Al-Hasyr [59]: 19)Orang yang terlalu sibuk menatap layar—hingga melupakan dirinya sendiri—sedang berada dalam bahaya. Buku kecil dan pulpen ini adalah alat sederhana untuk kembali mengingat: siapa kita, apa tujuan kita, dan ke mana langkah kaki ini hendak menuju.Biasakan merencanakan, biasakan menyelesaikanKebiasaan merencanakan dan menulis ini mungkin akan terasa canggung di awal. Tapi, percayalah, jika sudah menjadi kebiasaan, hidup Anda akan terasa jauh lebih teratur. Saya berbicara dari pengalaman. Banyak dari kita menjalani hari-hari secara reaktif: ada masalah, bereaksi; ada ajakan, ikut; ada peluang, menyambar. Tanpa rencana, kita menjadi seperti kapal tanpa kemudi—bergerak, tetapi tidak menuju ke mana-mana. Padahal, seorang mukmin sejati adalah orang yang memiliki visi. Ia tahu ke mana ia berjalan, karena ia sadar bahwa hidup ini adalah perjalanan menuju Allah. Setiap langkah, setiap keputusan, dan setiap pilihan akan dihisab. Maka, ia tidak akan membiarkan hari-harinya berlalu tanpa isi yang berarti.Setelah merencanakan, langkah berikutnya adalah mengeksekusi. Di sinilah letak tantangannya. Banyak orang pandai membuat rencana, tetapi hanya sedikit yang mampu menyelesaikannya. Di sinilah buku kecil itu kembali berperan. Ketika Anda mencoret item demi item yang telah berhasil dikerjakan, ada rasa puas dan lega yang sulit digambarkan. Coretan itu adalah bukti bahwa Anda maju. Bahwa Anda bukan sekadar pemimpi, tetapi pelaku. Rasulullah ﷺ bersabda,احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ“Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu merasa lemah.” (HR. Muslim no. 2664).Perhatikan tiga kata kunci dalam hadis ini: ihrish (bersungguh-sungguh), ista’in billah (minta tolong kepada Allah), dan la ta’jiz (jangan lemah). Merencanakan adalah bagian dari ihrish. Berdoa agar rencana dimudahkan adalah ista’in billah. Dan mengeksekusi rencana hingga selesai tanpa menyerah di tengah jalan adalah bentuk menjauhi ‘ajz (kelemahan). Betapa padunya ruh produktivitas Islami yang diajarkan oleh Nabi kita ﷺ.Akhirnya, marilah kita mulai dari sekarang. Jangan menunggu tahun baru, jangan menunggu awal bulan, jangan menunggu hari Senin. Ambillah selembar kertas, atau buku kecil yang mungkin sudah lama terlupakan di laci. Tuliskan rencana Anda untuk besok, atau bahkan untuk satu jam ke depan. Coret apa yang sudah selesai. Tulis pula apa yang berkecamuk di hati. Biarkan ia menjadi saksi bahwa Anda pernah berjuang untuk menjadi hamba yang lebih tertib, lebih terencana, dan lebih siap menghadapi hari esok—baik hari esok di dunia, maupun hari esok di akhirat yang abadi.Wallahu a’lam bish-shawab.Baca juga: Memanfaatkan Waktu Luang untuk Hal-Hal yang Bermanfaat***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Menjadi Seorang Muslim yang Visioner

Daftar Isi ToggleMengapa kita merindukan waktu luang, tetapi menyia-nyiakannya saat ia datang?Kiat sederhana melawan distraksiBiasakan merencanakan, biasakan menyelesaikan“Impulsif”, sebuah kata yang maknanya sederhana: tindakan tiba-tiba tanpa dipikir panjang. Dalam keseharian, kita mengenalnya sebagai keputusan yang diambil saat emosi memuncak—marah, kecewa, atau sekadar kesal—tanpa sempat menimbang dampaknya. Orang yang impulsif biasanya hanya merespons, bukan merencanakan. Ia bergerak karena pancingan, bukan karena tujuan. Dan di zaman yang serba cepat ini, di mana segala sesuatu berebut menarik perhatian kita, sikap impulsif menjadi jebakan yang kian sulit dihindari. Padahal, Islam sangat memuliakan ketenangan, perencanaan, dan sikap tidak tergesa-gesa. Allah Ta’ala bahkan menyifati penciptaan langit dan bumi dengan penuh perhitungan, bukan dengan ketergesaan. Maka, seorang mukmin semestinya meneladani prinsip ini dalam setiap masalah, sekecil apa pun.Coba renungkan sejenak: berapa banyak penyesalan yang lahir dari keputusan yang kita ambil tanpa pikir panjang? Kata-kata yang terlepas dari lisan saat marah, janji yang diucapkan tanpa perhitungan, atau pilihan-pilihan kecil yang ternyata membawa dampak besar. Rasulullah ﷺ mengingatkan,التَّأَنِّي مِنَ اللَّهِ وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ“Ketenangan dan tidak tergesa-gesa itu dari Allah, sedangkan tergesa-gesa itu dari setan.” (HR. Abu Ya’la no. 4256 dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra no. 20270, dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 1795)Jika ketenangan itu berasal dari Allah, maka perencanaan adalah salah satu bentuk ikhtiar untuk meraih ketenangan itu. Orang yang merencanakan urusannya sedang berusaha menyerupai hikmah ilahi dalam mengatur segala sesuatu. Tentu, perencanaan manusia tidak bisa sempurna, dan di atas segalanya, Allah-lah sebaik-baik perencana. Namun, sebagai hamba, kita diperintahkan untuk berbuat secara ihsan (profesional dan sebaik mungkin), termasuk dalam mengelola waktu dan keputusan. Allah Ta’ala berfirman,وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ“Dan berbuat baiklah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah [2]: 195).Maka, menulis rencana bukan sekadar kebiasaan produktif ala self-help, tetapi menjadi cerminan dari sikap ihsan seorang muslim terhadap waktu dan amanah hidupnya.Mengapa kita merindukan waktu luang, tetapi menyia-nyiakannya saat ia datang?Ada fenomena yang cukup umum kita alami: saat disibukkan oleh pekerjaan atau tugas, kita mengeluh kelelahan dan merindukan waktu luang. Dalam lamunan, kita membayangkan akan melakukan banyak hal produktif saat libur tiba—membaca Al-Qur’an, berzikir, membaca buku yang lama tertunda, menulis, belajar keterampilan baru, atau sekadar membersihkan hati dengan ibadah yang lebih khusyuk. Tapi, anehnya, ketika waktu luang itu benar-benar hadir, kita justru kebingungan. “Mau ngapain, ya?” gumam kita di pagi hari sambil memandangi langit-langit kamar. Lalu, tanpa sadar, tangan meraih gawai, notifikasi satu per satu dibuka, dan tanpa terasa tiga jam berlalu hanya untuk scrolling tanpa tujuan.Mengapa ini bisa terjadi? Jawabannya sederhana: karena kita tidak punya rencana. Waktu luang yang tidak direncanakan akan dengan mudah diisi oleh hal-hal yang tidak bernilai. Setan sangat piawai mengisi kekosongan; bukan hanya dalam aspek spiritual, tetapi juga dalam aspek manajemen waktu. Dalam kekosongan rencana, ia bisikkan kemalasan. Ia hiasi kesia-siaan dengan tampilan yang menghibur. Akhirnya, waktu yang mulia berubah menjadi penyesalan. Rasulullah ﷺ bersabda,نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ“Dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu (rugi) di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari no. 6412)Hadis ini begitu populer, tetapi seringkali kita hanya menghafalnya tanpa meresapi. Waktu luang adalah nikmat yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Waktu luang itu bukan untuk dibunuh, melainkan untuk dihidupi dengan rencana yang bermanfaat. Dan rencana itu tidak akan muncul begitu saja; harus ditulis, dipikirkan, dan disengaja.Kiat sederhana melawan distraksi Pernahkah Anda mengalaminya? Malam hari, sebelum tidur, tekad sudah bulat: besok pagi akan menulis rencana, membuat target, atau sekadar membereskan catatan-catatan yang berserakan di kepala. Namun, begitu pagi datang dan jemari baru saja membuka aplikasi catatan di ponsel, tiba-tiba sebuah notifikasi mampir. Grup WhatsApp ramai membahas sesuatu, media sosial menawarkan video pendek yang “menarik”, atau marketplace mengirimkan diskon yang sulit diabaikan. Dan tanpa terasa, tiga jam lenyap begitu saja. Rencana yang semula terang benderang di pikiran, tiba-tiba redup, lalu padam. Menjelang malam, penyesalan datang. Tapi keesokan harinya, siklus yang sama terulang lagi. Inilah potret kita hari ini: selalu berniat baik, tetapi kalah oleh algoritma yang memang dirancang untuk mencuri fokus.Di sinilah saya ingin menyampaikan saran yang sangat sederhana: miliki sebuah buku notes kecil dan pulpen. Ya, manual. Bukan digital. Bukan aplikasi canggih yang katanya bisa menyinkronkan segalanya. Sebab, kita semua maklum, perangkat yang sama yang kita gunakan untuk “produktif” adalah perangkat yang sama yang membuka ribuan pintu distraksi. Godaan itu nyata, dan ia dikemas sedemikian rupa agar kita lengah. Maka, sebelum menyesali waktu yang hilang sia-sia, lebih baik kita mundur sejenak dari layar. Kita kembali kepada benda yang sunyi: kertas dan tinta. Tak memiliki notifikasi. Tidak pula mengirimkan peringatan diskon. Ia hanya diam, menunggu tuannya mencurahkan isi kepala dan hatinya.Duduklah bersama buku kecil itu dalam keheningan. Momen ini adalah salah satu bentuk khalwah yang dianjurkan; bukan menyendiri untuk berbuat maksiat, tetapi menyendiri untuk menata jiwa dan pikiran. Para ulama kita terdahulu amat akrab dengan kebiasaan ini. Al-Imam Al-Khaththabi rahimahullah (w. 388 H) menuturkan dalam kitabnya, Al-‘Uzlah,مَا رَأَيْتُ شَيْئًا أَشَدَّ تَثْبِيتًا لِلْإِيمَانِ، وَأَنْفَى لِلْمَعْصِيَةِ، وَأَحْيَا لِلْقَلْبِ مِنَ الْعُزْلَةِ وَالتَّفَكُّرِ“Aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih mengokohkan iman, lebih meniadakan kemaksiatan, dan lebih menghidupkan hati, melebihi ‘uzlah (menyendiri) dan tafakur.” (Al-Khaththabi, Al-‘Uzlah, hal. 44)Dalam sunyi bersama buku catatan, otak kita dipaksa kembali bekerja, merangkai kata, mengurai masalah, dan merumuskan rencana. Tidak seperti mengetik di gawai yang seringkali otomatis dan cepat berlalu, menulis dengan tangan melibatkan proses kognitif yang lebih dalam. Ini adalah latihan bagi pikiran yang selama ini mungkin terlalu sering dimanjakan oleh kecerdasan buatan.Dengan buku itu, tuliskan apa saja. Besok akan mengerjakan apa. Pekan ini target apa yang harus dicapai. Kegelisahan apa yang mengganjal. Pengalaman baik yang baru saja terjadi. Atau, kesalahan yang harus segera diperbaiki. Luapkan. Jangan pedulikan apakah tulisan itu rapi, indah, atau layak dipublikasikan. Tulisan yang jujur—yang lahir murni dari hati—memang tidak selalu rapi. Ia punya cela, punya luka. Dan di situlah letak autentisitasnya. Sebab, jika kita hanya menginginkan tulisan yang sempurna, AI bisa melakukannya dalam hitungan detik. Tetapi, bisakah mesin menggantikan kepuasan batin saat kita menuangkan isi jiwa sendiri di atas kertas? Tentu tidak. Karena yang kita butuhkan bukan sekadar deretan kata yang tersusun apik, melainkan jejak kejujuran yang bisa kita baca kembali suatu hari nanti—sebagai pengingat bahwa kita pernah berjuang, pernah lemah, dan pernah bangkit lagi. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang melupakan Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri.” (QS. Al-Hasyr [59]: 19)Orang yang terlalu sibuk menatap layar—hingga melupakan dirinya sendiri—sedang berada dalam bahaya. Buku kecil dan pulpen ini adalah alat sederhana untuk kembali mengingat: siapa kita, apa tujuan kita, dan ke mana langkah kaki ini hendak menuju.Biasakan merencanakan, biasakan menyelesaikanKebiasaan merencanakan dan menulis ini mungkin akan terasa canggung di awal. Tapi, percayalah, jika sudah menjadi kebiasaan, hidup Anda akan terasa jauh lebih teratur. Saya berbicara dari pengalaman. Banyak dari kita menjalani hari-hari secara reaktif: ada masalah, bereaksi; ada ajakan, ikut; ada peluang, menyambar. Tanpa rencana, kita menjadi seperti kapal tanpa kemudi—bergerak, tetapi tidak menuju ke mana-mana. Padahal, seorang mukmin sejati adalah orang yang memiliki visi. Ia tahu ke mana ia berjalan, karena ia sadar bahwa hidup ini adalah perjalanan menuju Allah. Setiap langkah, setiap keputusan, dan setiap pilihan akan dihisab. Maka, ia tidak akan membiarkan hari-harinya berlalu tanpa isi yang berarti.Setelah merencanakan, langkah berikutnya adalah mengeksekusi. Di sinilah letak tantangannya. Banyak orang pandai membuat rencana, tetapi hanya sedikit yang mampu menyelesaikannya. Di sinilah buku kecil itu kembali berperan. Ketika Anda mencoret item demi item yang telah berhasil dikerjakan, ada rasa puas dan lega yang sulit digambarkan. Coretan itu adalah bukti bahwa Anda maju. Bahwa Anda bukan sekadar pemimpi, tetapi pelaku. Rasulullah ﷺ bersabda,احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ“Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu merasa lemah.” (HR. Muslim no. 2664).Perhatikan tiga kata kunci dalam hadis ini: ihrish (bersungguh-sungguh), ista’in billah (minta tolong kepada Allah), dan la ta’jiz (jangan lemah). Merencanakan adalah bagian dari ihrish. Berdoa agar rencana dimudahkan adalah ista’in billah. Dan mengeksekusi rencana hingga selesai tanpa menyerah di tengah jalan adalah bentuk menjauhi ‘ajz (kelemahan). Betapa padunya ruh produktivitas Islami yang diajarkan oleh Nabi kita ﷺ.Akhirnya, marilah kita mulai dari sekarang. Jangan menunggu tahun baru, jangan menunggu awal bulan, jangan menunggu hari Senin. Ambillah selembar kertas, atau buku kecil yang mungkin sudah lama terlupakan di laci. Tuliskan rencana Anda untuk besok, atau bahkan untuk satu jam ke depan. Coret apa yang sudah selesai. Tulis pula apa yang berkecamuk di hati. Biarkan ia menjadi saksi bahwa Anda pernah berjuang untuk menjadi hamba yang lebih tertib, lebih terencana, dan lebih siap menghadapi hari esok—baik hari esok di dunia, maupun hari esok di akhirat yang abadi.Wallahu a’lam bish-shawab.Baca juga: Memanfaatkan Waktu Luang untuk Hal-Hal yang Bermanfaat***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleMengapa kita merindukan waktu luang, tetapi menyia-nyiakannya saat ia datang?Kiat sederhana melawan distraksiBiasakan merencanakan, biasakan menyelesaikan“Impulsif”, sebuah kata yang maknanya sederhana: tindakan tiba-tiba tanpa dipikir panjang. Dalam keseharian, kita mengenalnya sebagai keputusan yang diambil saat emosi memuncak—marah, kecewa, atau sekadar kesal—tanpa sempat menimbang dampaknya. Orang yang impulsif biasanya hanya merespons, bukan merencanakan. Ia bergerak karena pancingan, bukan karena tujuan. Dan di zaman yang serba cepat ini, di mana segala sesuatu berebut menarik perhatian kita, sikap impulsif menjadi jebakan yang kian sulit dihindari. Padahal, Islam sangat memuliakan ketenangan, perencanaan, dan sikap tidak tergesa-gesa. Allah Ta’ala bahkan menyifati penciptaan langit dan bumi dengan penuh perhitungan, bukan dengan ketergesaan. Maka, seorang mukmin semestinya meneladani prinsip ini dalam setiap masalah, sekecil apa pun.Coba renungkan sejenak: berapa banyak penyesalan yang lahir dari keputusan yang kita ambil tanpa pikir panjang? Kata-kata yang terlepas dari lisan saat marah, janji yang diucapkan tanpa perhitungan, atau pilihan-pilihan kecil yang ternyata membawa dampak besar. Rasulullah ﷺ mengingatkan,التَّأَنِّي مِنَ اللَّهِ وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ“Ketenangan dan tidak tergesa-gesa itu dari Allah, sedangkan tergesa-gesa itu dari setan.” (HR. Abu Ya’la no. 4256 dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra no. 20270, dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 1795)Jika ketenangan itu berasal dari Allah, maka perencanaan adalah salah satu bentuk ikhtiar untuk meraih ketenangan itu. Orang yang merencanakan urusannya sedang berusaha menyerupai hikmah ilahi dalam mengatur segala sesuatu. Tentu, perencanaan manusia tidak bisa sempurna, dan di atas segalanya, Allah-lah sebaik-baik perencana. Namun, sebagai hamba, kita diperintahkan untuk berbuat secara ihsan (profesional dan sebaik mungkin), termasuk dalam mengelola waktu dan keputusan. Allah Ta’ala berfirman,وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ“Dan berbuat baiklah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah [2]: 195).Maka, menulis rencana bukan sekadar kebiasaan produktif ala self-help, tetapi menjadi cerminan dari sikap ihsan seorang muslim terhadap waktu dan amanah hidupnya.Mengapa kita merindukan waktu luang, tetapi menyia-nyiakannya saat ia datang?Ada fenomena yang cukup umum kita alami: saat disibukkan oleh pekerjaan atau tugas, kita mengeluh kelelahan dan merindukan waktu luang. Dalam lamunan, kita membayangkan akan melakukan banyak hal produktif saat libur tiba—membaca Al-Qur’an, berzikir, membaca buku yang lama tertunda, menulis, belajar keterampilan baru, atau sekadar membersihkan hati dengan ibadah yang lebih khusyuk. Tapi, anehnya, ketika waktu luang itu benar-benar hadir, kita justru kebingungan. “Mau ngapain, ya?” gumam kita di pagi hari sambil memandangi langit-langit kamar. Lalu, tanpa sadar, tangan meraih gawai, notifikasi satu per satu dibuka, dan tanpa terasa tiga jam berlalu hanya untuk scrolling tanpa tujuan.Mengapa ini bisa terjadi? Jawabannya sederhana: karena kita tidak punya rencana. Waktu luang yang tidak direncanakan akan dengan mudah diisi oleh hal-hal yang tidak bernilai. Setan sangat piawai mengisi kekosongan; bukan hanya dalam aspek spiritual, tetapi juga dalam aspek manajemen waktu. Dalam kekosongan rencana, ia bisikkan kemalasan. Ia hiasi kesia-siaan dengan tampilan yang menghibur. Akhirnya, waktu yang mulia berubah menjadi penyesalan. Rasulullah ﷺ bersabda,نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ“Dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu (rugi) di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari no. 6412)Hadis ini begitu populer, tetapi seringkali kita hanya menghafalnya tanpa meresapi. Waktu luang adalah nikmat yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Waktu luang itu bukan untuk dibunuh, melainkan untuk dihidupi dengan rencana yang bermanfaat. Dan rencana itu tidak akan muncul begitu saja; harus ditulis, dipikirkan, dan disengaja.Kiat sederhana melawan distraksi Pernahkah Anda mengalaminya? Malam hari, sebelum tidur, tekad sudah bulat: besok pagi akan menulis rencana, membuat target, atau sekadar membereskan catatan-catatan yang berserakan di kepala. Namun, begitu pagi datang dan jemari baru saja membuka aplikasi catatan di ponsel, tiba-tiba sebuah notifikasi mampir. Grup WhatsApp ramai membahas sesuatu, media sosial menawarkan video pendek yang “menarik”, atau marketplace mengirimkan diskon yang sulit diabaikan. Dan tanpa terasa, tiga jam lenyap begitu saja. Rencana yang semula terang benderang di pikiran, tiba-tiba redup, lalu padam. Menjelang malam, penyesalan datang. Tapi keesokan harinya, siklus yang sama terulang lagi. Inilah potret kita hari ini: selalu berniat baik, tetapi kalah oleh algoritma yang memang dirancang untuk mencuri fokus.Di sinilah saya ingin menyampaikan saran yang sangat sederhana: miliki sebuah buku notes kecil dan pulpen. Ya, manual. Bukan digital. Bukan aplikasi canggih yang katanya bisa menyinkronkan segalanya. Sebab, kita semua maklum, perangkat yang sama yang kita gunakan untuk “produktif” adalah perangkat yang sama yang membuka ribuan pintu distraksi. Godaan itu nyata, dan ia dikemas sedemikian rupa agar kita lengah. Maka, sebelum menyesali waktu yang hilang sia-sia, lebih baik kita mundur sejenak dari layar. Kita kembali kepada benda yang sunyi: kertas dan tinta. Tak memiliki notifikasi. Tidak pula mengirimkan peringatan diskon. Ia hanya diam, menunggu tuannya mencurahkan isi kepala dan hatinya.Duduklah bersama buku kecil itu dalam keheningan. Momen ini adalah salah satu bentuk khalwah yang dianjurkan; bukan menyendiri untuk berbuat maksiat, tetapi menyendiri untuk menata jiwa dan pikiran. Para ulama kita terdahulu amat akrab dengan kebiasaan ini. Al-Imam Al-Khaththabi rahimahullah (w. 388 H) menuturkan dalam kitabnya, Al-‘Uzlah,مَا رَأَيْتُ شَيْئًا أَشَدَّ تَثْبِيتًا لِلْإِيمَانِ، وَأَنْفَى لِلْمَعْصِيَةِ، وَأَحْيَا لِلْقَلْبِ مِنَ الْعُزْلَةِ وَالتَّفَكُّرِ“Aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih mengokohkan iman, lebih meniadakan kemaksiatan, dan lebih menghidupkan hati, melebihi ‘uzlah (menyendiri) dan tafakur.” (Al-Khaththabi, Al-‘Uzlah, hal. 44)Dalam sunyi bersama buku catatan, otak kita dipaksa kembali bekerja, merangkai kata, mengurai masalah, dan merumuskan rencana. Tidak seperti mengetik di gawai yang seringkali otomatis dan cepat berlalu, menulis dengan tangan melibatkan proses kognitif yang lebih dalam. Ini adalah latihan bagi pikiran yang selama ini mungkin terlalu sering dimanjakan oleh kecerdasan buatan.Dengan buku itu, tuliskan apa saja. Besok akan mengerjakan apa. Pekan ini target apa yang harus dicapai. Kegelisahan apa yang mengganjal. Pengalaman baik yang baru saja terjadi. Atau, kesalahan yang harus segera diperbaiki. Luapkan. Jangan pedulikan apakah tulisan itu rapi, indah, atau layak dipublikasikan. Tulisan yang jujur—yang lahir murni dari hati—memang tidak selalu rapi. Ia punya cela, punya luka. Dan di situlah letak autentisitasnya. Sebab, jika kita hanya menginginkan tulisan yang sempurna, AI bisa melakukannya dalam hitungan detik. Tetapi, bisakah mesin menggantikan kepuasan batin saat kita menuangkan isi jiwa sendiri di atas kertas? Tentu tidak. Karena yang kita butuhkan bukan sekadar deretan kata yang tersusun apik, melainkan jejak kejujuran yang bisa kita baca kembali suatu hari nanti—sebagai pengingat bahwa kita pernah berjuang, pernah lemah, dan pernah bangkit lagi. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang melupakan Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri.” (QS. Al-Hasyr [59]: 19)Orang yang terlalu sibuk menatap layar—hingga melupakan dirinya sendiri—sedang berada dalam bahaya. Buku kecil dan pulpen ini adalah alat sederhana untuk kembali mengingat: siapa kita, apa tujuan kita, dan ke mana langkah kaki ini hendak menuju.Biasakan merencanakan, biasakan menyelesaikanKebiasaan merencanakan dan menulis ini mungkin akan terasa canggung di awal. Tapi, percayalah, jika sudah menjadi kebiasaan, hidup Anda akan terasa jauh lebih teratur. Saya berbicara dari pengalaman. Banyak dari kita menjalani hari-hari secara reaktif: ada masalah, bereaksi; ada ajakan, ikut; ada peluang, menyambar. Tanpa rencana, kita menjadi seperti kapal tanpa kemudi—bergerak, tetapi tidak menuju ke mana-mana. Padahal, seorang mukmin sejati adalah orang yang memiliki visi. Ia tahu ke mana ia berjalan, karena ia sadar bahwa hidup ini adalah perjalanan menuju Allah. Setiap langkah, setiap keputusan, dan setiap pilihan akan dihisab. Maka, ia tidak akan membiarkan hari-harinya berlalu tanpa isi yang berarti.Setelah merencanakan, langkah berikutnya adalah mengeksekusi. Di sinilah letak tantangannya. Banyak orang pandai membuat rencana, tetapi hanya sedikit yang mampu menyelesaikannya. Di sinilah buku kecil itu kembali berperan. Ketika Anda mencoret item demi item yang telah berhasil dikerjakan, ada rasa puas dan lega yang sulit digambarkan. Coretan itu adalah bukti bahwa Anda maju. Bahwa Anda bukan sekadar pemimpi, tetapi pelaku. Rasulullah ﷺ bersabda,احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ“Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu merasa lemah.” (HR. Muslim no. 2664).Perhatikan tiga kata kunci dalam hadis ini: ihrish (bersungguh-sungguh), ista’in billah (minta tolong kepada Allah), dan la ta’jiz (jangan lemah). Merencanakan adalah bagian dari ihrish. Berdoa agar rencana dimudahkan adalah ista’in billah. Dan mengeksekusi rencana hingga selesai tanpa menyerah di tengah jalan adalah bentuk menjauhi ‘ajz (kelemahan). Betapa padunya ruh produktivitas Islami yang diajarkan oleh Nabi kita ﷺ.Akhirnya, marilah kita mulai dari sekarang. Jangan menunggu tahun baru, jangan menunggu awal bulan, jangan menunggu hari Senin. Ambillah selembar kertas, atau buku kecil yang mungkin sudah lama terlupakan di laci. Tuliskan rencana Anda untuk besok, atau bahkan untuk satu jam ke depan. Coret apa yang sudah selesai. Tulis pula apa yang berkecamuk di hati. Biarkan ia menjadi saksi bahwa Anda pernah berjuang untuk menjadi hamba yang lebih tertib, lebih terencana, dan lebih siap menghadapi hari esok—baik hari esok di dunia, maupun hari esok di akhirat yang abadi.Wallahu a’lam bish-shawab.Baca juga: Memanfaatkan Waktu Luang untuk Hal-Hal yang Bermanfaat***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleMengapa kita merindukan waktu luang, tetapi menyia-nyiakannya saat ia datang?Kiat sederhana melawan distraksiBiasakan merencanakan, biasakan menyelesaikan“Impulsif”, sebuah kata yang maknanya sederhana: tindakan tiba-tiba tanpa dipikir panjang. Dalam keseharian, kita mengenalnya sebagai keputusan yang diambil saat emosi memuncak—marah, kecewa, atau sekadar kesal—tanpa sempat menimbang dampaknya. Orang yang impulsif biasanya hanya merespons, bukan merencanakan. Ia bergerak karena pancingan, bukan karena tujuan. Dan di zaman yang serba cepat ini, di mana segala sesuatu berebut menarik perhatian kita, sikap impulsif menjadi jebakan yang kian sulit dihindari. Padahal, Islam sangat memuliakan ketenangan, perencanaan, dan sikap tidak tergesa-gesa. Allah Ta’ala bahkan menyifati penciptaan langit dan bumi dengan penuh perhitungan, bukan dengan ketergesaan. Maka, seorang mukmin semestinya meneladani prinsip ini dalam setiap masalah, sekecil apa pun.Coba renungkan sejenak: berapa banyak penyesalan yang lahir dari keputusan yang kita ambil tanpa pikir panjang? Kata-kata yang terlepas dari lisan saat marah, janji yang diucapkan tanpa perhitungan, atau pilihan-pilihan kecil yang ternyata membawa dampak besar. Rasulullah ﷺ mengingatkan,التَّأَنِّي مِنَ اللَّهِ وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ“Ketenangan dan tidak tergesa-gesa itu dari Allah, sedangkan tergesa-gesa itu dari setan.” (HR. Abu Ya’la no. 4256 dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra no. 20270, dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 1795)Jika ketenangan itu berasal dari Allah, maka perencanaan adalah salah satu bentuk ikhtiar untuk meraih ketenangan itu. Orang yang merencanakan urusannya sedang berusaha menyerupai hikmah ilahi dalam mengatur segala sesuatu. Tentu, perencanaan manusia tidak bisa sempurna, dan di atas segalanya, Allah-lah sebaik-baik perencana. Namun, sebagai hamba, kita diperintahkan untuk berbuat secara ihsan (profesional dan sebaik mungkin), termasuk dalam mengelola waktu dan keputusan. Allah Ta’ala berfirman,وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ“Dan berbuat baiklah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah [2]: 195).Maka, menulis rencana bukan sekadar kebiasaan produktif ala self-help, tetapi menjadi cerminan dari sikap ihsan seorang muslim terhadap waktu dan amanah hidupnya.Mengapa kita merindukan waktu luang, tetapi menyia-nyiakannya saat ia datang?Ada fenomena yang cukup umum kita alami: saat disibukkan oleh pekerjaan atau tugas, kita mengeluh kelelahan dan merindukan waktu luang. Dalam lamunan, kita membayangkan akan melakukan banyak hal produktif saat libur tiba—membaca Al-Qur’an, berzikir, membaca buku yang lama tertunda, menulis, belajar keterampilan baru, atau sekadar membersihkan hati dengan ibadah yang lebih khusyuk. Tapi, anehnya, ketika waktu luang itu benar-benar hadir, kita justru kebingungan. “Mau ngapain, ya?” gumam kita di pagi hari sambil memandangi langit-langit kamar. Lalu, tanpa sadar, tangan meraih gawai, notifikasi satu per satu dibuka, dan tanpa terasa tiga jam berlalu hanya untuk scrolling tanpa tujuan.Mengapa ini bisa terjadi? Jawabannya sederhana: karena kita tidak punya rencana. Waktu luang yang tidak direncanakan akan dengan mudah diisi oleh hal-hal yang tidak bernilai. Setan sangat piawai mengisi kekosongan; bukan hanya dalam aspek spiritual, tetapi juga dalam aspek manajemen waktu. Dalam kekosongan rencana, ia bisikkan kemalasan. Ia hiasi kesia-siaan dengan tampilan yang menghibur. Akhirnya, waktu yang mulia berubah menjadi penyesalan. Rasulullah ﷺ bersabda,نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ“Dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu (rugi) di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari no. 6412)Hadis ini begitu populer, tetapi seringkali kita hanya menghafalnya tanpa meresapi. Waktu luang adalah nikmat yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Waktu luang itu bukan untuk dibunuh, melainkan untuk dihidupi dengan rencana yang bermanfaat. Dan rencana itu tidak akan muncul begitu saja; harus ditulis, dipikirkan, dan disengaja.Kiat sederhana melawan distraksi Pernahkah Anda mengalaminya? Malam hari, sebelum tidur, tekad sudah bulat: besok pagi akan menulis rencana, membuat target, atau sekadar membereskan catatan-catatan yang berserakan di kepala. Namun, begitu pagi datang dan jemari baru saja membuka aplikasi catatan di ponsel, tiba-tiba sebuah notifikasi mampir. Grup WhatsApp ramai membahas sesuatu, media sosial menawarkan video pendek yang “menarik”, atau marketplace mengirimkan diskon yang sulit diabaikan. Dan tanpa terasa, tiga jam lenyap begitu saja. Rencana yang semula terang benderang di pikiran, tiba-tiba redup, lalu padam. Menjelang malam, penyesalan datang. Tapi keesokan harinya, siklus yang sama terulang lagi. Inilah potret kita hari ini: selalu berniat baik, tetapi kalah oleh algoritma yang memang dirancang untuk mencuri fokus.Di sinilah saya ingin menyampaikan saran yang sangat sederhana: miliki sebuah buku notes kecil dan pulpen. Ya, manual. Bukan digital. Bukan aplikasi canggih yang katanya bisa menyinkronkan segalanya. Sebab, kita semua maklum, perangkat yang sama yang kita gunakan untuk “produktif” adalah perangkat yang sama yang membuka ribuan pintu distraksi. Godaan itu nyata, dan ia dikemas sedemikian rupa agar kita lengah. Maka, sebelum menyesali waktu yang hilang sia-sia, lebih baik kita mundur sejenak dari layar. Kita kembali kepada benda yang sunyi: kertas dan tinta. Tak memiliki notifikasi. Tidak pula mengirimkan peringatan diskon. Ia hanya diam, menunggu tuannya mencurahkan isi kepala dan hatinya.Duduklah bersama buku kecil itu dalam keheningan. Momen ini adalah salah satu bentuk khalwah yang dianjurkan; bukan menyendiri untuk berbuat maksiat, tetapi menyendiri untuk menata jiwa dan pikiran. Para ulama kita terdahulu amat akrab dengan kebiasaan ini. Al-Imam Al-Khaththabi rahimahullah (w. 388 H) menuturkan dalam kitabnya, Al-‘Uzlah,مَا رَأَيْتُ شَيْئًا أَشَدَّ تَثْبِيتًا لِلْإِيمَانِ، وَأَنْفَى لِلْمَعْصِيَةِ، وَأَحْيَا لِلْقَلْبِ مِنَ الْعُزْلَةِ وَالتَّفَكُّرِ“Aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih mengokohkan iman, lebih meniadakan kemaksiatan, dan lebih menghidupkan hati, melebihi ‘uzlah (menyendiri) dan tafakur.” (Al-Khaththabi, Al-‘Uzlah, hal. 44)Dalam sunyi bersama buku catatan, otak kita dipaksa kembali bekerja, merangkai kata, mengurai masalah, dan merumuskan rencana. Tidak seperti mengetik di gawai yang seringkali otomatis dan cepat berlalu, menulis dengan tangan melibatkan proses kognitif yang lebih dalam. Ini adalah latihan bagi pikiran yang selama ini mungkin terlalu sering dimanjakan oleh kecerdasan buatan.Dengan buku itu, tuliskan apa saja. Besok akan mengerjakan apa. Pekan ini target apa yang harus dicapai. Kegelisahan apa yang mengganjal. Pengalaman baik yang baru saja terjadi. Atau, kesalahan yang harus segera diperbaiki. Luapkan. Jangan pedulikan apakah tulisan itu rapi, indah, atau layak dipublikasikan. Tulisan yang jujur—yang lahir murni dari hati—memang tidak selalu rapi. Ia punya cela, punya luka. Dan di situlah letak autentisitasnya. Sebab, jika kita hanya menginginkan tulisan yang sempurna, AI bisa melakukannya dalam hitungan detik. Tetapi, bisakah mesin menggantikan kepuasan batin saat kita menuangkan isi jiwa sendiri di atas kertas? Tentu tidak. Karena yang kita butuhkan bukan sekadar deretan kata yang tersusun apik, melainkan jejak kejujuran yang bisa kita baca kembali suatu hari nanti—sebagai pengingat bahwa kita pernah berjuang, pernah lemah, dan pernah bangkit lagi. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang melupakan Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri.” (QS. Al-Hasyr [59]: 19)Orang yang terlalu sibuk menatap layar—hingga melupakan dirinya sendiri—sedang berada dalam bahaya. Buku kecil dan pulpen ini adalah alat sederhana untuk kembali mengingat: siapa kita, apa tujuan kita, dan ke mana langkah kaki ini hendak menuju.Biasakan merencanakan, biasakan menyelesaikanKebiasaan merencanakan dan menulis ini mungkin akan terasa canggung di awal. Tapi, percayalah, jika sudah menjadi kebiasaan, hidup Anda akan terasa jauh lebih teratur. Saya berbicara dari pengalaman. Banyak dari kita menjalani hari-hari secara reaktif: ada masalah, bereaksi; ada ajakan, ikut; ada peluang, menyambar. Tanpa rencana, kita menjadi seperti kapal tanpa kemudi—bergerak, tetapi tidak menuju ke mana-mana. Padahal, seorang mukmin sejati adalah orang yang memiliki visi. Ia tahu ke mana ia berjalan, karena ia sadar bahwa hidup ini adalah perjalanan menuju Allah. Setiap langkah, setiap keputusan, dan setiap pilihan akan dihisab. Maka, ia tidak akan membiarkan hari-harinya berlalu tanpa isi yang berarti.Setelah merencanakan, langkah berikutnya adalah mengeksekusi. Di sinilah letak tantangannya. Banyak orang pandai membuat rencana, tetapi hanya sedikit yang mampu menyelesaikannya. Di sinilah buku kecil itu kembali berperan. Ketika Anda mencoret item demi item yang telah berhasil dikerjakan, ada rasa puas dan lega yang sulit digambarkan. Coretan itu adalah bukti bahwa Anda maju. Bahwa Anda bukan sekadar pemimpi, tetapi pelaku. Rasulullah ﷺ bersabda,احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ“Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu merasa lemah.” (HR. Muslim no. 2664).Perhatikan tiga kata kunci dalam hadis ini: ihrish (bersungguh-sungguh), ista’in billah (minta tolong kepada Allah), dan la ta’jiz (jangan lemah). Merencanakan adalah bagian dari ihrish. Berdoa agar rencana dimudahkan adalah ista’in billah. Dan mengeksekusi rencana hingga selesai tanpa menyerah di tengah jalan adalah bentuk menjauhi ‘ajz (kelemahan). Betapa padunya ruh produktivitas Islami yang diajarkan oleh Nabi kita ﷺ.Akhirnya, marilah kita mulai dari sekarang. Jangan menunggu tahun baru, jangan menunggu awal bulan, jangan menunggu hari Senin. Ambillah selembar kertas, atau buku kecil yang mungkin sudah lama terlupakan di laci. Tuliskan rencana Anda untuk besok, atau bahkan untuk satu jam ke depan. Coret apa yang sudah selesai. Tulis pula apa yang berkecamuk di hati. Biarkan ia menjadi saksi bahwa Anda pernah berjuang untuk menjadi hamba yang lebih tertib, lebih terencana, dan lebih siap menghadapi hari esok—baik hari esok di dunia, maupun hari esok di akhirat yang abadi.Wallahu a’lam bish-shawab.Baca juga: Memanfaatkan Waktu Luang untuk Hal-Hal yang Bermanfaat***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Mengenal Wakaf Produktif Menurut Badan Wakaf Indonesia (BWI)

Tidak semua harta yang diberikan untuk masjid, pesantren, atau kepentingan umat otomatis berstatus wakaf. Wakaf memiliki unsur, aturan, dan konsekuensi hukum yang berbeda dari sedekah atau hibah biasa. Bahkan, harta wakaf dapat dikelola secara produktif sehingga pokok hartanya tetap terjaga, sementara manfaatnya terus mengalir kepada umat.  Daftar Isi tutup 1. Apa yang Dimaksud Wakaf? 2. Kriteria Pokok Wakaf 3. Cara Mudah Membedakan Wakaf dengan Sedekah 3.1. Beda Wakaf dan Sedekah 4. Macam-Macam Wakaf 4.1. Berdasarkan objeknya: benda tidak bergerak dan bergerak 4.2. Berdasarkan peruntukannya: khairi, ahli, dan musytarak 4.3. Berdasarkan Mekanisme Menggunakan Uang: Wakaf Uang dan Wakaf Melalui Uang 5. Mengenal Wakaf Produktif 5.1. Rumus sederhana wakaf produktif 6. Praktik Wakaf Produktif  Apa yang Dimaksud Wakaf?Menurut UU No. 41 Tahun 2004 yang dimuat Badan Wakaf Indonesia (BWI), definisi wakaf adalah: “Wakaf adalah perbuatan hukum wakif untuk memisahkan dan/atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum menurut syariah.”Wakif adalah pihak yang mewakafkan harta benda miliknya.Ikrar Wakaf adalah pernyataan kehendak wakif yang diucapkan secara lisan dan/atau tulisan kepada Nazhir untuk mewakafkan harta benda miliknya.Nazhir adalah pihak yang menerima harta benda wakaf dari Wakif untuk dikelola dan dikembangkan sesuai dengan peruntukannya.Harta Benda Wakaf adalah harta benda yang memiliki daya tahan lama dan/atau manfaat jangka panjang serta mempunyai nilai ekonomi menurut syariah yang diwakafkan oleh Wakif.Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf (PPAIW), adalah pejabat berwenang yang ditetapkan oleh Menteri untuk membuat akta ikrar wakaf.Badan Wakaf Indonesia adalah lembaga independen untuk mengembangkan perwakafan di Indonesia.Pemerintah adalah perangkat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas Presiden beserta para menteri.Menteri adalah menteri yang bertanggung jawab di bidang agama.Baca juga: Hadits Wakaf (01): Wakaf Termasuk Amal Jariyah Kriteria Pokok WakafDari definisi dan Pasal 6 UU Wakaf tersebut, kriteria pokok wakaf menurut BWI dapat diringkas menjadi enam unsur:Ada wakif — pihak yang mewakafkan. Harta yang diwakafkan harus merupakan harta yang memang dimiliki/dikuasai secara sah oleh wakif.Ada harta benda wakaf — objek tersebut harus mempunyai daya tahan lama dan/atau manfaat jangka panjang, serta mempunyai nilai ekonomi menurut syariah. Ini poin yang sangat penting untuk membedakan wakaf dari sedekah biasa.Ada nazhir — pihak yang menerima amanah untuk mengelola dan mengembangkan harta wakaf sesuai peruntukannya, bukan untuk memilikinya.Ada ikrar wakaf — yaitu pernyataan kehendak wakif, secara lisan dan/atau tulisan, untuk mewakafkan hartanya kepada nazhir.Ada peruntukan wakaf — diarahkan untuk keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum yang tidak bertentangan dengan syariah, misalnya pendidikan, kesehatan, fakir miskin, peningkatan ekonomi umat, dan kemaslahatan umum.Ada jangka waktu wakaf — menurut UU 41/2004 dapat selamanya ataupun untuk jangka waktu tertentu, sesuai ketentuan objek wakafnya. Kriteria objek wakaf yang paling pentingBWI memberikan rumusan yang sangat membantu:Harta benda wakaf adalah harta benda yang memiliki daya tahan lama dan/atau manfaat jangka panjang serta mempunyai nilai ekonomi menurut syariah.Karena itu, wakaf tidak mesti tanah atau masjid. UU Wakaf mengakui benda tidak bergerak maupun benda bergerak, termasuk tanah, bangunan, uang, logam mulia, surat berharga, kendaraan, dan hak kekayaan intelektual sepanjang memenuhi ketentuannya. Cara Mudah Membedakan Wakaf dengan SedekahMisalnya:A memberi Rp10 juta kepada pesantren untuk membeli beras yang langsung dibagikan.→ Ini pada dasarnya sedekah/infaq, bukan wakaf uang, karena uangnya memang untuk dihabiskan.A mewakafkan Rp10 juta sebagai wakaf uang, kemudian pokok wakaf dikelola dan hasilnya digunakan untuk pendidikan santri.→ Ini wakaf uang.A memberikan Rp10 juta untuk dibelikan tanah yang kemudian dijadikan aset wakaf pesantren.→ Ini dapat masuk wakaf melalui uang, dengan aset yang diwujudkan menjadi harta wakaf.Jadi rumus sederhananya bisa dibuat:WAKAF = Wakif + Harta Wakaf + Nazhir + Ikrar + Peruntukan + Jangka WaktuBeda Wakaf dan SedekahAspekSedekah/Donasi BiasaWakafStatus hartaDiserahkan kepada penerima sesuai akadMenjadi harta wakafPokok hartaBoleh digunakan/dihabiskan sesuai tujuan pemberianPada prinsipnya pokok/aset wakaf dijagaBisa dijual?Bisa, tergantung status kepemilikan penerimaPada prinsipnya tidak boleh dijual/dialihkan sembaranganBisa diwariskan?Jika sudah menjadi milik lembaga, bukan warisan pemberiHarta wakaf tidak diwariskanPengelolaPenerima/pemilikNazhirPenggunaanSesuai maksud pemberianTerikat ikrar dan peruntukan wakafPerlindungan wakafTidak menggunakan rezim hukum wakafDilindungi UU Wakaf bila prosedurnya dipenuhi Menurut UU No. 41 Tahun 2004, harta yang telah diwakafkan dilarang dijadikan jaminan, disita, dihibahkan, dijual, diwariskan, ditukar, atau dialihkan dalam bentuk pengalihan hak lainnya, dengan pengecualian tertentu yang diatur UU.Contoh yang paling mudahMisalnya seseorang berkata: “Saya berikan rumah ini kepada Yayasan A untuk operasional pesantren.”Kalau ini merupakan hibah/sumbangan, dan kepemilikannya sah dialihkan kepada yayasan, rumah tersebut menjadi aset yayasan. Konsekuensi pengelolaannya mengikuti hukum yayasan dan maksud pemberiannya.Tetapi kalau ia berkata: “Saya wakafkan rumah ini untuk pesantren, dikelola secara produktif oleh Nazhir A dan hasilnya untuk pendidikan santri.”Maka rumah tersebut menjadi harta wakaf. Nazhir bukan pemilik bebas yang dapat menjual dan membagikan uangnya sesuka hati. Ia terikat pada ikrar dan peruntukan wakaf.Bagaimana dengan uang Rp100 juta untuk membangun masjid?Ini contoh yang lebih menarik.Kalau seseorang berkata: “Ini Rp100 juta, saya sumbangkan untuk pembangunan masjid.”Uangnya dapat dibelanjakan: semen, besi, upah tukang, keramik dan seterusnya. Uang Rp100 juta itu memang habis digunakan.Berbeda apabila ia secara jelas menyatakan: “Rp100 juta ini saya wakafkan melalui uang untuk pembangunan masjid.”BWI membedakan wakaf uang dengan wakaf melalui uang. Pada wakaf melalui uang, uang dipakai untuk memperoleh/mewujudkan harta benda wakaf tertentu. Sedangkan pada wakaf uang, uang itulah objek wakaf, sehingga pokoknya dijaga dan hasil pengelolaannya yang disalurkan.Jadi jangan sampai tiga hal berikut dicampur:Sedekah Rp100 juta → uang boleh dihabiskan sesuai tujuan sedekah.Wakaf melalui uang Rp100 juta → uang digunakan untuk mewujudkan aset/program wakaf yang ditentukan.Wakaf uang Rp100 juta → uang menjadi pokok wakaf; pokok dijaga/dikelola dan hasilnya dimanfaatkan.Ambulans juga demikianKalau seseorang berkata: “Saya hibahkan ambulans ini kepada Yayasan X.”Setelah hibah sempurna, ambulans menjadi aset Yayasan X.Tetapi: “Saya wakafkan ambulans ini untuk pelayanan kesehatan kaum muslimin.”maka ambulans menjadi harta benda wakaf bergerak dan pengelolaannya harus mengikuti peruntukan wakaf.Ini berpengaruh ketika, misalnya, 10 tahun kemudian ambulans rusak berat. Pengurus tidak semestinya memperlakukannya begitu saja seperti mobil milik yayasan biasa. Status wakaf membawa aturan khusus mengenai pengelolaan, perubahan, penukaran, atau pengalihan aset wakaf.Ini sangat penting untuk pesantren dan yayasanBayangkan ada seorang donatur memberi tanah dengan ucapan: “Pak Ustadz, tanah ini saya berikan untuk pesantren.”Dua puluh tahun kemudian anaknya berkata: “Tanah ini dulu hanya dipinjamkan Bapak kepada pesantren.”Pengurus mengatakan: “Tidak, dulu katanya wakaf.”Ahli waris bertanya: “Mana Akta Ikrar Wakafnya?”Di sinilah potensi sengketa muncul.Karena itu, kalau memang maksud pemberi wakaf, jangan hanya dicatat sebagai “donasi tanah”. Sebaliknya, kalau maksudnya hibah kepada yayasan, jangan kemudian oleh pengurus secara sepihak disebut “wakaf”.Untuk pengelolaan pesantren/yayasan, perlu dibedakan tiga hal:1. Aset wakaf→ ada wakif, nazhir, ikrar, peruntukan; aset terikat hukum wakaf.2. Aset milik yayasan→ misalnya diperoleh melalui hibah, pembelian yayasan, atau sumber sah lainnya; menjadi kekayaan yayasan.3. Aset titipan/pinjaman→ hanya dipakai lembaga; kepemilikannya tetap pada pihak lain.Jangan dicampur pembukuannya.Karena “dipakai pesantren” tidak otomatis berarti “milik pesantren”, dan “diberikan kepada pesantren” tidak otomatis berarti “wakaf”.Ini juga menjawab mengapa BWI sangat menekankan administrasi dan sertifikasi wakaf. Kejelasan tersebut bukan hanya urusan birokrasi, tetapi menjadi perlindungan bagi wakif, nazhir, lembaga, penerima manfaat, dan ahli waris. Macam-Macam WakafBerdasarkan objeknya: benda tidak bergerak dan bergerakBWI membedakan harta benda wakaf menjadi benda tidak bergerak dan benda bergerak. Benda tidak bergerak misalnya tanah dan bangunan. Benda bergerak antara lain uang, logam mulia, surat berharga seperti saham dan sukuk, kendaraan, hak kekayaan intelektual, serta hak sewa.Baca juga: Hadits Wakaf (03): Wakaf Bisa dengan Harta Milik yang BergerakBerdasarkan peruntukannya: khairi, ahli, dan musytarakBWI juga mempunyai klasifikasi yang cukup jelas berdasarkan siapa yang memperoleh manfaat wakaf:JenisPeruntukanWakaf KhairiUntuk kemaslahatan/kebaikan umumWakaf AhliUntuk keluarga atau keturunan wakifWakaf MusytarakGabungan keluarga dan masyarakat umumMisalnya, tanah untuk masjid atau sekolah termasuk contoh wakaf khairi. Wakaf yang manfaatnya dikhususkan bagi keturunan wakif disebut wakaf ahli. Sedangkan apabila manfaatnya diperuntukkan bagi keluarga sekaligus masyarakat umum disebut wakaf musytarak.Contoh wakaf musytarakSalah satu yang paling jelas adalah wakaf Syekh Said bin Omar bin Abdullah Makarim di Singapura. Menurut buku Wakaf Kontemporer yang diterbitkan BWI, beliau mewakafkan hartanya dan hasil pengelolaannya diberikan kepada:keluarganya yang membutuhkan + masjid/sekolah Islam yang membutuhkan + fakir miskin di Makkah dan Madinah.BWI juga mencatat praktik di Malaysia melalui Johor Corporation dan Waqaf An-Nur Corporation. Dalam skema yang dipaparkan BWI, sebagian saham perusahaan diwakafkan dengan pembagian manfaat:70% → Johor Corporation sebagai wakaf ahli25% → sabilillah melalui Waqaf An-Nur5% → kepentingan umum melalui Majlis Agama Islam Johor.Ini menunjukkan bahwa wakaf musytarak tidak harus berupa rumah atau tanah. Saham atau aset produktif juga dapat menghasilkan manfaat yang kemudian dialokasikan kepada beberapa kelompok penerima.Berdasarkan Mekanisme Menggunakan Uang: Wakaf Uang dan Wakaf Melalui UangWakaf uang berarti uang itu sendiri menjadi harta wakaf. Pokok uang harus dipertahankan dan dikelola secara produktif; hasil pengelolaannya diberikan kepada mauquf ‘alaih.Sedangkan wakaf melalui uang berarti uang hanyalah sarana untuk memperoleh aset wakaf. Misalnya: “Saya wakaf Rp50 juta untuk pembangunan gedung pesantren.” Uangnya digunakan untuk mewujudkan bangunan/aset yang menjadi wakaf. BWI menjelaskan bahwa wakaf melalui uang dapat diarahkan pada proyek sosial maupun produktif.“Wakaf produktif” bukan lawan dari “wakaf uang”. Wakaf uang justru pada dasarnya dikelola secara produktif. BWI menyebut bahwa nilai pokok wakaf uang harus dijaga dan diinvestasikan sesuai syariah agar menghasilkan manfaat bagi penerima wakaf.Baca juga: Wakaf Ahli dari Kebun Milik Abu Thalhah Mengenal Wakaf ProduktifBWI mendefinisikan wakaf produktif sebagai pengelolaan aset wakaf yang diarahkan agar menghasilkan surplus/keuntungan berkelanjutan, kemudian hasilnya dimanfaatkan bagi mauquf ‘alaih (penerima manfaat). Jadi, pokok/aset wakaf dijaga, sedangkan hasil pengembangannya yang disalurkan.Contohnya: tanah wakaf dibangun ruko untuk disewakan; kebun wakaf dikelola sehingga menghasilkan panen; gedung wakaf disewakan; atau uang wakaf diinvestasikan melalui instrumen syariah dan hasilnya digunakan untuk pendidikan, dakwah, kesehatan, dan sebagainya.Menariknya, BWI bahkan menjelaskan bahwa secara substansi wakaf sejak awal memang memiliki karakter produktif, dengan merujuk antara lain kepada wakaf tanah Khaibar oleh Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu.Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Umar pernah mendapatkan sebidang tanah di Khaibar, lalu ia menghadap Nabi mohon petunjuk beliau tentang pengelolaannya seraya berkata,“Wahai Rasulullah, saya mendapatkan tanah di Khaibar. Yang menurut saya, saya belum pernah memiliki tanah yang lebih baik daripada tanah tersebut. Beliau bersabda,إِنْ شِئْتَ حَبَّسْتَ أَصْلَهَا ، وَتَصَدَّقْتَ بِهَا“Kalau engkau mau, kau tahan pohonnya dan sedekahkan buah (hasilnya).”Perawi hadits berkata,فَتَصَدَّقَ عُمَرُ أَنَّهُ لاَ يُبَاعُ أَصْلُهَا وَلاَ يُوهَبُ وَلاَ يُورَثُ ، فِى الْفُقَرَاءِ وَالْقُرْبَى وَالرِّقَابِ وَفِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالضَّيْفِ وَابْنِ السَّبِيلِ ، وَلاَ جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ ، أَوْ يُطْعِمَ صَدِيقًا غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ فِيهِLalu Umar mewakafkan tanahnya dengan syarat pohonnya tidak boleh dijual, tidak boleh dihadiahkan, dan tidak boleh diwarisi. Hasil dari pohon tersebut disedekahkan kepada kaum fakir, kerabat-kerabat, budak-budak, orang-orang yang membela agama Allah, tamu, dan musafir yang kehabisan bekal. Namun tidak masalah bagi pengurus wakaf untuk memakan hasilnya dengan baik dan memberi makan teman-temannya yang tidak memiliki harta. (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari, no. 2772; Muslim, no. 1632).Baca juga: Hadits Wakaf (02): Aturan Penting WakafSkema wakaf produkti menurut hadits Umar:Tanah/kebun Khaibar ↓ pokok tanah ditahan ↓ tanah tetap dikelola ↓ menghasilkan buah/pendapatan ↓ hasilnya disedekahkanInilah substansi wakaf produktif. Rumus sederhana wakaf produktifASET WAKAF → DIKELOLA/DIKEMBANGKAN → MENGHASILKAN → HASILNYA DISALURKANSedangkan aset pokok wakaf tetap dipertahankan.BWI bahkan memberikan ungkapan yang sangat mudah dipahami:Wakaf produktif adalah wakaf yang “bisa membiayai dirinya sendiri dan orang lain yang menjadi peruntukan wakaf.” ContohnyaMisalnya seseorang mewakafkan tanah 2.000 m².Kalau tanah tersebut langsung dibangun sekolah gratis, manfaat tanah langsung diterima masyarakat. Dalam salah satu tulisan BWI, model semacam ini disebut wakaf langsung.Tetapi jika tanah tersebut dibangun ruko atau gedung sewa, lalu:ruko disewakan → menghasilkan Rp200 juta/tahun → biaya pemeliharaan dibayar → hasil bersih digunakan untuk beasiswa santri,maka ini merupakan contoh yang sangat jelas dari wakaf produktif.BWI menjelaskan bahwa objek wakaf produktif bisa berupa uang, benda bergerak, tanah, rumah, bangunan, maupun lahan. Jadi yang menentukan sifat “produktif” bukan apakah objeknya uang atau tanah, melainkan bagaimana aset wakaf tersebut dikelola agar menghasilkan surplus/manfaat ekonomi berkelanjutan.Dasarnya sangat dekat dengan hadis wakaf UmarBWI menghubungkan konsep tersebut dengan wakaf Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu atas tanah Khaibar. Tanahnya ditahan, sedangkan hasilnya disedekahkan. Karena itu, BWI memandang praktik ini sebagai dasar historis wakaf produktif.Maka secara konseptual bisa diringkas:حَبْسُ الْأَصْلِ وَتَسْبِيلُ الثَّمَرَةِ“Menahan pokok harta dan mengalirkan hasil/manfaatnya.”Jadi, tiga ciri penting wakaf produktif menurut BWIPokok/aset wakaf dipertahankan.Aset dikelola atau dikembangkan sehingga produktif dan menghasilkan surplus/keuntungan.Hasilnya disalurkan kepada mauquf ‘alaih sesuai tujuan wakaf secara berkelanjutan.Ini berbeda dari anggapan bahwa “produktif” berarti harus bisnis komersial murni. Tujuan akhirnya tetap kemaslahatan sesuai ikrar wakaf; aktivitas ekonominya merupakan sarana agar manfaat wakaf berkelanjutan. Praktik Wakaf ProduktifNabi ﷺ sendiri mempunyai aset yang hasilnya terus dimanfaatkanAda pula praktik Nabi ﷺ yang sangat menarik. Dalam riwayat mengenai aset Bani Nadhir, Nabi ﷺ memperoleh harta fai’. Beliau mengambil hasilnya untuk nafkah keluarga selama setahun, kemudian sisanya digunakan untuk kuda, persenjataan, dan kepentingan di jalan Allah.IslamWeb juga memuat riwayat tentang tiga kelompok aset Nabi ﷺ:فَأَمَّا بَنُو النَّضِيرِ فَكَانَتْ حَبْسًا لِنَوَائِبِهِ، وَأَمَّا فَدَكُ فَكَانَتْ حَبْسًا لِأَبْنَاءِ السَّبِيلِ…Secara ringkas: aset Bani Nadhir digunakan untuk berbagai kebutuhan beliau, Fadak diperuntukkan bagi ibnu sabil, sedangkan dari Khaibar ada bagian untuk nafkah keluarga; kelebihannya diberikan kepada fakir Muhajirin.Ini menarik karena bukan model:aset → dijual → uang habis,tetapi lebih dekat kepada:aset → dipertahankan/dikelola → menghasilkan → hasil/manfaat dialokasikan.IslamWeb juga menukil riwayat bahwa ketika Nabi ﷺ wafat, beliau meninggalkan antara lain tanah yang beliau jadikan sedekah, dan Ibnu Hajar menjelaskan bahwa beliau menyedekahkan manfaat tanah tersebut sehingga hukumnya menjadi hukum wakaf. IslamWeb: Dalil dan Praktik Wakaf Nabi ﷺ dan Para SahabatRumaysho.Com juga membahas harta fai’ Nabi ﷺ dari Bani Nadhir: beliau mengambil kecukupan keluarga selama setahun, sedangkan sisanya dimanfaatkan untuk kuda, persenjataan, dan kepentingan kaum muslimin. Sumur Raumah: wakaf produktif Utsman bin AffanContoh sahabat lainnya adalah Sumur Raumah (بئر رومة).Nabi ﷺ bersabda mengenai sumur tersebut:مَنْ يَشْتَرِي بِئْرَ رُومَةَ فَيَجْعَلَ دَلْوَهُ مَعَ دِلَاءِ الْمُسْلِمِينَ…“Siapa yang membeli Sumur Raumah lalu menjadikan timbanya bersama timba-timba kaum muslimin …?”Utsman radhiyallahu ‘anhu kemudian membelinya dengan hartanya sendiri dan mewakafkannya bagi kaum muslimin. IslamQA dan IslamWeb sama-sama menyebut praktik ini sebagai wakaf Utsman.Namun ada catatan: Sumur Raumah lebih tepat disebut aset wakaf yang menghasilkan manfaat langsung berupa air, bukan “produktif” dalam arti modern berupa bisnis yang menghasilkan laba tunai. Meskipun demikian, pokok aset tetap dijaga dan manfaatnya terus mengalir. Para sahabat yang mampu banyak melakukan wakafAda keterangan yang sangat menarik dalam literatur Syafi’iyyah yang dimuat IslamWeb:وَجَاءَ عَنْ جَابِرٍ: مَا بَقِيَ أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ لَهُ مَقْدِرَةٌ حَتَّى وَقَفَDiriwayatkan dari Jabir bahwa tidak tersisa seorang pun dari sahabat Nabi ﷺ yang mempunyai kemampuan kecuali ia melakukan wakaf.Ini menunjukkan wakaf bukan praktik sporadis yang hanya dilakukan Umar.“Istilah wakaf produktif merupakan istilah yang populer pada masa kini, tetapi substansinya telah dipraktikkan sejak zaman Nabi ﷺ dan para sahabat. Contoh paling jelas adalah wakaf Umar berupa tanah produktif di Khaibar: pokok tanah dipertahankan, sedangkan hasilnya disalurkan kepada penerima manfaat.” Baca juga: Matan Taqrib: Pengertian, Hukum, Hikmah, Rukun, Syarat, dan Fikih Wakaf Catatan:IslamWeb menjadikan hadits Umar di Khaibar sebagai dasar definisi wakaf:حَبْسُ الْأَصْلِ وَتَسْبِيلُ الْمَنْفَعَةِ“Menahan pokok harta dan mengalirkan manfaatnya.”IslamWeb juga menjelaskan bahwa wakaf harus berupa sesuatu yang dapat dimanfaatkan dengan tetap mempertahankan bendanya. Karena itu, makanan dan minuman yang habis ketika digunakan berbeda dengan aset wakaf yang manfaatnya terus berlangsung.Pengembangan/investasi harta wakaf dinilai disyariatkan dengan sejumlah ketentuan, antara lain: investasinya harus halal dan bebas riba; memberikan maslahat yang kuat; risiko dijaga agar tidak menghilangkan pokok wakaf; memperhatikan keseimbangan keuntungan dan risiko; proyek besar didahului studi kelayakan; dilakukan oleh pihak yang berwenang mengelola wakaf; serta tetap memperhatikan syarat yang ditetapkan wakif.Bahkan terdapat kaidah yang sangat bagus:عِمَارَةُ الْوَقْفِ مُقَدَّمَةٌ عَلَى الصَّرْفِ إِلَى الْمُسْتَحِقِّينَ“Pemeliharaan/pengembangan harta wakaf didahulukan daripada penyaluran kepada para penerima manfaat.” Maksudnya, jangan sampai semua hasil wakaf dibagikan tetapi aset produktifnya kemudian rusak dan berhenti menghasilkan.IslamWeb juga secara khusus membahas investasi harta wakaf. Di sini dinukil keputusan International Islamic Fiqh Academy:يُقْصَدُ بِاسْتِثْمَارِ أَمْوَالِ الْوَقْفِ: تَنْمِيَةُ الْأَمْوَالِ الْوَقْفِيَّةِ -سَوَاءٌ أَكَانَتْ أُصُولًا، أَمْ رَيْعًا- بِوَسَائِلَ اسْتِثْمَارِيَّةٍ مُبَاحَةٍ شَرْعًاMaksudnya, investasi harta wakaf adalah mengembangkan kekayaan wakaf—baik berupa aset pokok maupun hasilnya—dengan sarana investasi yang dibenarkan syariat.Di sana juga ditegaskan:يَتَعَيَّنُ الْمُحَافَظَةُ عَلَى الْمَوْقُوفِ بِمَا يُحَقِّقُ بَقَاءَ عَيْنِهِ، وَدَوَامَ نَفْعِهِ“Harta wakaf wajib dijaga sehingga keberadaan asetnya tetap terpelihara dan manfaatnya terus berlangsung.” Referensi:Aula, M. A. (2013, January 11). Pemberdayaan umat melalui lembaga wakaf. Badan Wakaf Indonesia. https://www.bwi.go.id/884/2013/01/11/pemberdayaan-umat-melalui-lembaga-wakaf/Badan Wakaf Indonesia. (2021, September 24). Tipologi wakaf produktif. https://www.bwi.go.id/7334/2021/09/24/tipologi-wakaf-produktif/Badan Wakaf Indonesia. (2021, November 23). Wakif sebagai mauquf alaih. https://www.bwi.go.id/7521/2021/11/23/wakif-sebagai-mauquf-alaih/Badan Wakaf Indonesia. (2023, January 2). Definisi wakaf produktif. https://www.bwi.go.id/8579/2023/01/02/definisi-wakaf-produktif/Badan Wakaf Indonesia. (2023, May 26). Pengembangan wakaf produktif. https://www.bwi.go.id/8787/2023/05/26/pengembangan-wakaf-produktif/Badan Wakaf Indonesia. (2026, July 14). Wakaf progresif untuk Indonesia. https://www.bwi.go.id/12194/2026/07/14/wakaf-progresif-untuk-indonesia/Islam Question & Answer. (2001, May 19). Aḥkām al-waqf [أحكام الوقف]. https://islamqa.info/ar/answers/13720IslamWeb. (2005, June 6). Istitsmār amwāl al-waqf fī maḥāfiẓ istitsmāriyyah [استثمار أموال الوقف في محافظ استثمارية]. IslamWebIslamWeb. (2018). Ḥadīts al-waqf [حديث الوقف]. IslamWebIslamWeb. (2021). Ḍamān al-mustatsmir al-khasārah fī amwāl al-waqf [ضمان المستثمر الخسارة في أموال الوقف]. IslamWebAl-Shāfiʿī, M. ibn I. (n.d.). Musnad al-Imām al-Shāfiʿī: Bāb taḥbīs al-aṣl wa tasbīl al-tsamarah [مسند الإمام الشافعي: باب تحبيس الأصل وتسبيل الثمرة]. IslamWeb. IslamWeb Library —- Diselesaikan Selasa pagi, 5 Rabiul Awwal 1448 H, 18 Agustus 2026 @ perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin menuju Masjid Jenderal Sudirman Demangan JogjaPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsBadan Wakaf Indonesia BWI fikih wakaf sedekah jariyah wakaf wakaf ahli wakaf khairi wakaf musytarak wakaf produktif wakaf uang

Mengenal Wakaf Produktif Menurut Badan Wakaf Indonesia (BWI)

Tidak semua harta yang diberikan untuk masjid, pesantren, atau kepentingan umat otomatis berstatus wakaf. Wakaf memiliki unsur, aturan, dan konsekuensi hukum yang berbeda dari sedekah atau hibah biasa. Bahkan, harta wakaf dapat dikelola secara produktif sehingga pokok hartanya tetap terjaga, sementara manfaatnya terus mengalir kepada umat.  Daftar Isi tutup 1. Apa yang Dimaksud Wakaf? 2. Kriteria Pokok Wakaf 3. Cara Mudah Membedakan Wakaf dengan Sedekah 3.1. Beda Wakaf dan Sedekah 4. Macam-Macam Wakaf 4.1. Berdasarkan objeknya: benda tidak bergerak dan bergerak 4.2. Berdasarkan peruntukannya: khairi, ahli, dan musytarak 4.3. Berdasarkan Mekanisme Menggunakan Uang: Wakaf Uang dan Wakaf Melalui Uang 5. Mengenal Wakaf Produktif 5.1. Rumus sederhana wakaf produktif 6. Praktik Wakaf Produktif  Apa yang Dimaksud Wakaf?Menurut UU No. 41 Tahun 2004 yang dimuat Badan Wakaf Indonesia (BWI), definisi wakaf adalah: “Wakaf adalah perbuatan hukum wakif untuk memisahkan dan/atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum menurut syariah.”Wakif adalah pihak yang mewakafkan harta benda miliknya.Ikrar Wakaf adalah pernyataan kehendak wakif yang diucapkan secara lisan dan/atau tulisan kepada Nazhir untuk mewakafkan harta benda miliknya.Nazhir adalah pihak yang menerima harta benda wakaf dari Wakif untuk dikelola dan dikembangkan sesuai dengan peruntukannya.Harta Benda Wakaf adalah harta benda yang memiliki daya tahan lama dan/atau manfaat jangka panjang serta mempunyai nilai ekonomi menurut syariah yang diwakafkan oleh Wakif.Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf (PPAIW), adalah pejabat berwenang yang ditetapkan oleh Menteri untuk membuat akta ikrar wakaf.Badan Wakaf Indonesia adalah lembaga independen untuk mengembangkan perwakafan di Indonesia.Pemerintah adalah perangkat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas Presiden beserta para menteri.Menteri adalah menteri yang bertanggung jawab di bidang agama.Baca juga: Hadits Wakaf (01): Wakaf Termasuk Amal Jariyah Kriteria Pokok WakafDari definisi dan Pasal 6 UU Wakaf tersebut, kriteria pokok wakaf menurut BWI dapat diringkas menjadi enam unsur:Ada wakif — pihak yang mewakafkan. Harta yang diwakafkan harus merupakan harta yang memang dimiliki/dikuasai secara sah oleh wakif.Ada harta benda wakaf — objek tersebut harus mempunyai daya tahan lama dan/atau manfaat jangka panjang, serta mempunyai nilai ekonomi menurut syariah. Ini poin yang sangat penting untuk membedakan wakaf dari sedekah biasa.Ada nazhir — pihak yang menerima amanah untuk mengelola dan mengembangkan harta wakaf sesuai peruntukannya, bukan untuk memilikinya.Ada ikrar wakaf — yaitu pernyataan kehendak wakif, secara lisan dan/atau tulisan, untuk mewakafkan hartanya kepada nazhir.Ada peruntukan wakaf — diarahkan untuk keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum yang tidak bertentangan dengan syariah, misalnya pendidikan, kesehatan, fakir miskin, peningkatan ekonomi umat, dan kemaslahatan umum.Ada jangka waktu wakaf — menurut UU 41/2004 dapat selamanya ataupun untuk jangka waktu tertentu, sesuai ketentuan objek wakafnya. Kriteria objek wakaf yang paling pentingBWI memberikan rumusan yang sangat membantu:Harta benda wakaf adalah harta benda yang memiliki daya tahan lama dan/atau manfaat jangka panjang serta mempunyai nilai ekonomi menurut syariah.Karena itu, wakaf tidak mesti tanah atau masjid. UU Wakaf mengakui benda tidak bergerak maupun benda bergerak, termasuk tanah, bangunan, uang, logam mulia, surat berharga, kendaraan, dan hak kekayaan intelektual sepanjang memenuhi ketentuannya. Cara Mudah Membedakan Wakaf dengan SedekahMisalnya:A memberi Rp10 juta kepada pesantren untuk membeli beras yang langsung dibagikan.→ Ini pada dasarnya sedekah/infaq, bukan wakaf uang, karena uangnya memang untuk dihabiskan.A mewakafkan Rp10 juta sebagai wakaf uang, kemudian pokok wakaf dikelola dan hasilnya digunakan untuk pendidikan santri.→ Ini wakaf uang.A memberikan Rp10 juta untuk dibelikan tanah yang kemudian dijadikan aset wakaf pesantren.→ Ini dapat masuk wakaf melalui uang, dengan aset yang diwujudkan menjadi harta wakaf.Jadi rumus sederhananya bisa dibuat:WAKAF = Wakif + Harta Wakaf + Nazhir + Ikrar + Peruntukan + Jangka WaktuBeda Wakaf dan SedekahAspekSedekah/Donasi BiasaWakafStatus hartaDiserahkan kepada penerima sesuai akadMenjadi harta wakafPokok hartaBoleh digunakan/dihabiskan sesuai tujuan pemberianPada prinsipnya pokok/aset wakaf dijagaBisa dijual?Bisa, tergantung status kepemilikan penerimaPada prinsipnya tidak boleh dijual/dialihkan sembaranganBisa diwariskan?Jika sudah menjadi milik lembaga, bukan warisan pemberiHarta wakaf tidak diwariskanPengelolaPenerima/pemilikNazhirPenggunaanSesuai maksud pemberianTerikat ikrar dan peruntukan wakafPerlindungan wakafTidak menggunakan rezim hukum wakafDilindungi UU Wakaf bila prosedurnya dipenuhi Menurut UU No. 41 Tahun 2004, harta yang telah diwakafkan dilarang dijadikan jaminan, disita, dihibahkan, dijual, diwariskan, ditukar, atau dialihkan dalam bentuk pengalihan hak lainnya, dengan pengecualian tertentu yang diatur UU.Contoh yang paling mudahMisalnya seseorang berkata: “Saya berikan rumah ini kepada Yayasan A untuk operasional pesantren.”Kalau ini merupakan hibah/sumbangan, dan kepemilikannya sah dialihkan kepada yayasan, rumah tersebut menjadi aset yayasan. Konsekuensi pengelolaannya mengikuti hukum yayasan dan maksud pemberiannya.Tetapi kalau ia berkata: “Saya wakafkan rumah ini untuk pesantren, dikelola secara produktif oleh Nazhir A dan hasilnya untuk pendidikan santri.”Maka rumah tersebut menjadi harta wakaf. Nazhir bukan pemilik bebas yang dapat menjual dan membagikan uangnya sesuka hati. Ia terikat pada ikrar dan peruntukan wakaf.Bagaimana dengan uang Rp100 juta untuk membangun masjid?Ini contoh yang lebih menarik.Kalau seseorang berkata: “Ini Rp100 juta, saya sumbangkan untuk pembangunan masjid.”Uangnya dapat dibelanjakan: semen, besi, upah tukang, keramik dan seterusnya. Uang Rp100 juta itu memang habis digunakan.Berbeda apabila ia secara jelas menyatakan: “Rp100 juta ini saya wakafkan melalui uang untuk pembangunan masjid.”BWI membedakan wakaf uang dengan wakaf melalui uang. Pada wakaf melalui uang, uang dipakai untuk memperoleh/mewujudkan harta benda wakaf tertentu. Sedangkan pada wakaf uang, uang itulah objek wakaf, sehingga pokoknya dijaga dan hasil pengelolaannya yang disalurkan.Jadi jangan sampai tiga hal berikut dicampur:Sedekah Rp100 juta → uang boleh dihabiskan sesuai tujuan sedekah.Wakaf melalui uang Rp100 juta → uang digunakan untuk mewujudkan aset/program wakaf yang ditentukan.Wakaf uang Rp100 juta → uang menjadi pokok wakaf; pokok dijaga/dikelola dan hasilnya dimanfaatkan.Ambulans juga demikianKalau seseorang berkata: “Saya hibahkan ambulans ini kepada Yayasan X.”Setelah hibah sempurna, ambulans menjadi aset Yayasan X.Tetapi: “Saya wakafkan ambulans ini untuk pelayanan kesehatan kaum muslimin.”maka ambulans menjadi harta benda wakaf bergerak dan pengelolaannya harus mengikuti peruntukan wakaf.Ini berpengaruh ketika, misalnya, 10 tahun kemudian ambulans rusak berat. Pengurus tidak semestinya memperlakukannya begitu saja seperti mobil milik yayasan biasa. Status wakaf membawa aturan khusus mengenai pengelolaan, perubahan, penukaran, atau pengalihan aset wakaf.Ini sangat penting untuk pesantren dan yayasanBayangkan ada seorang donatur memberi tanah dengan ucapan: “Pak Ustadz, tanah ini saya berikan untuk pesantren.”Dua puluh tahun kemudian anaknya berkata: “Tanah ini dulu hanya dipinjamkan Bapak kepada pesantren.”Pengurus mengatakan: “Tidak, dulu katanya wakaf.”Ahli waris bertanya: “Mana Akta Ikrar Wakafnya?”Di sinilah potensi sengketa muncul.Karena itu, kalau memang maksud pemberi wakaf, jangan hanya dicatat sebagai “donasi tanah”. Sebaliknya, kalau maksudnya hibah kepada yayasan, jangan kemudian oleh pengurus secara sepihak disebut “wakaf”.Untuk pengelolaan pesantren/yayasan, perlu dibedakan tiga hal:1. Aset wakaf→ ada wakif, nazhir, ikrar, peruntukan; aset terikat hukum wakaf.2. Aset milik yayasan→ misalnya diperoleh melalui hibah, pembelian yayasan, atau sumber sah lainnya; menjadi kekayaan yayasan.3. Aset titipan/pinjaman→ hanya dipakai lembaga; kepemilikannya tetap pada pihak lain.Jangan dicampur pembukuannya.Karena “dipakai pesantren” tidak otomatis berarti “milik pesantren”, dan “diberikan kepada pesantren” tidak otomatis berarti “wakaf”.Ini juga menjawab mengapa BWI sangat menekankan administrasi dan sertifikasi wakaf. Kejelasan tersebut bukan hanya urusan birokrasi, tetapi menjadi perlindungan bagi wakif, nazhir, lembaga, penerima manfaat, dan ahli waris. Macam-Macam WakafBerdasarkan objeknya: benda tidak bergerak dan bergerakBWI membedakan harta benda wakaf menjadi benda tidak bergerak dan benda bergerak. Benda tidak bergerak misalnya tanah dan bangunan. Benda bergerak antara lain uang, logam mulia, surat berharga seperti saham dan sukuk, kendaraan, hak kekayaan intelektual, serta hak sewa.Baca juga: Hadits Wakaf (03): Wakaf Bisa dengan Harta Milik yang BergerakBerdasarkan peruntukannya: khairi, ahli, dan musytarakBWI juga mempunyai klasifikasi yang cukup jelas berdasarkan siapa yang memperoleh manfaat wakaf:JenisPeruntukanWakaf KhairiUntuk kemaslahatan/kebaikan umumWakaf AhliUntuk keluarga atau keturunan wakifWakaf MusytarakGabungan keluarga dan masyarakat umumMisalnya, tanah untuk masjid atau sekolah termasuk contoh wakaf khairi. Wakaf yang manfaatnya dikhususkan bagi keturunan wakif disebut wakaf ahli. Sedangkan apabila manfaatnya diperuntukkan bagi keluarga sekaligus masyarakat umum disebut wakaf musytarak.Contoh wakaf musytarakSalah satu yang paling jelas adalah wakaf Syekh Said bin Omar bin Abdullah Makarim di Singapura. Menurut buku Wakaf Kontemporer yang diterbitkan BWI, beliau mewakafkan hartanya dan hasil pengelolaannya diberikan kepada:keluarganya yang membutuhkan + masjid/sekolah Islam yang membutuhkan + fakir miskin di Makkah dan Madinah.BWI juga mencatat praktik di Malaysia melalui Johor Corporation dan Waqaf An-Nur Corporation. Dalam skema yang dipaparkan BWI, sebagian saham perusahaan diwakafkan dengan pembagian manfaat:70% → Johor Corporation sebagai wakaf ahli25% → sabilillah melalui Waqaf An-Nur5% → kepentingan umum melalui Majlis Agama Islam Johor.Ini menunjukkan bahwa wakaf musytarak tidak harus berupa rumah atau tanah. Saham atau aset produktif juga dapat menghasilkan manfaat yang kemudian dialokasikan kepada beberapa kelompok penerima.Berdasarkan Mekanisme Menggunakan Uang: Wakaf Uang dan Wakaf Melalui UangWakaf uang berarti uang itu sendiri menjadi harta wakaf. Pokok uang harus dipertahankan dan dikelola secara produktif; hasil pengelolaannya diberikan kepada mauquf ‘alaih.Sedangkan wakaf melalui uang berarti uang hanyalah sarana untuk memperoleh aset wakaf. Misalnya: “Saya wakaf Rp50 juta untuk pembangunan gedung pesantren.” Uangnya digunakan untuk mewujudkan bangunan/aset yang menjadi wakaf. BWI menjelaskan bahwa wakaf melalui uang dapat diarahkan pada proyek sosial maupun produktif.“Wakaf produktif” bukan lawan dari “wakaf uang”. Wakaf uang justru pada dasarnya dikelola secara produktif. BWI menyebut bahwa nilai pokok wakaf uang harus dijaga dan diinvestasikan sesuai syariah agar menghasilkan manfaat bagi penerima wakaf.Baca juga: Wakaf Ahli dari Kebun Milik Abu Thalhah Mengenal Wakaf ProduktifBWI mendefinisikan wakaf produktif sebagai pengelolaan aset wakaf yang diarahkan agar menghasilkan surplus/keuntungan berkelanjutan, kemudian hasilnya dimanfaatkan bagi mauquf ‘alaih (penerima manfaat). Jadi, pokok/aset wakaf dijaga, sedangkan hasil pengembangannya yang disalurkan.Contohnya: tanah wakaf dibangun ruko untuk disewakan; kebun wakaf dikelola sehingga menghasilkan panen; gedung wakaf disewakan; atau uang wakaf diinvestasikan melalui instrumen syariah dan hasilnya digunakan untuk pendidikan, dakwah, kesehatan, dan sebagainya.Menariknya, BWI bahkan menjelaskan bahwa secara substansi wakaf sejak awal memang memiliki karakter produktif, dengan merujuk antara lain kepada wakaf tanah Khaibar oleh Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu.Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Umar pernah mendapatkan sebidang tanah di Khaibar, lalu ia menghadap Nabi mohon petunjuk beliau tentang pengelolaannya seraya berkata,“Wahai Rasulullah, saya mendapatkan tanah di Khaibar. Yang menurut saya, saya belum pernah memiliki tanah yang lebih baik daripada tanah tersebut. Beliau bersabda,إِنْ شِئْتَ حَبَّسْتَ أَصْلَهَا ، وَتَصَدَّقْتَ بِهَا“Kalau engkau mau, kau tahan pohonnya dan sedekahkan buah (hasilnya).”Perawi hadits berkata,فَتَصَدَّقَ عُمَرُ أَنَّهُ لاَ يُبَاعُ أَصْلُهَا وَلاَ يُوهَبُ وَلاَ يُورَثُ ، فِى الْفُقَرَاءِ وَالْقُرْبَى وَالرِّقَابِ وَفِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالضَّيْفِ وَابْنِ السَّبِيلِ ، وَلاَ جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ ، أَوْ يُطْعِمَ صَدِيقًا غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ فِيهِLalu Umar mewakafkan tanahnya dengan syarat pohonnya tidak boleh dijual, tidak boleh dihadiahkan, dan tidak boleh diwarisi. Hasil dari pohon tersebut disedekahkan kepada kaum fakir, kerabat-kerabat, budak-budak, orang-orang yang membela agama Allah, tamu, dan musafir yang kehabisan bekal. Namun tidak masalah bagi pengurus wakaf untuk memakan hasilnya dengan baik dan memberi makan teman-temannya yang tidak memiliki harta. (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari, no. 2772; Muslim, no. 1632).Baca juga: Hadits Wakaf (02): Aturan Penting WakafSkema wakaf produkti menurut hadits Umar:Tanah/kebun Khaibar ↓ pokok tanah ditahan ↓ tanah tetap dikelola ↓ menghasilkan buah/pendapatan ↓ hasilnya disedekahkanInilah substansi wakaf produktif. Rumus sederhana wakaf produktifASET WAKAF → DIKELOLA/DIKEMBANGKAN → MENGHASILKAN → HASILNYA DISALURKANSedangkan aset pokok wakaf tetap dipertahankan.BWI bahkan memberikan ungkapan yang sangat mudah dipahami:Wakaf produktif adalah wakaf yang “bisa membiayai dirinya sendiri dan orang lain yang menjadi peruntukan wakaf.” ContohnyaMisalnya seseorang mewakafkan tanah 2.000 m².Kalau tanah tersebut langsung dibangun sekolah gratis, manfaat tanah langsung diterima masyarakat. Dalam salah satu tulisan BWI, model semacam ini disebut wakaf langsung.Tetapi jika tanah tersebut dibangun ruko atau gedung sewa, lalu:ruko disewakan → menghasilkan Rp200 juta/tahun → biaya pemeliharaan dibayar → hasil bersih digunakan untuk beasiswa santri,maka ini merupakan contoh yang sangat jelas dari wakaf produktif.BWI menjelaskan bahwa objek wakaf produktif bisa berupa uang, benda bergerak, tanah, rumah, bangunan, maupun lahan. Jadi yang menentukan sifat “produktif” bukan apakah objeknya uang atau tanah, melainkan bagaimana aset wakaf tersebut dikelola agar menghasilkan surplus/manfaat ekonomi berkelanjutan.Dasarnya sangat dekat dengan hadis wakaf UmarBWI menghubungkan konsep tersebut dengan wakaf Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu atas tanah Khaibar. Tanahnya ditahan, sedangkan hasilnya disedekahkan. Karena itu, BWI memandang praktik ini sebagai dasar historis wakaf produktif.Maka secara konseptual bisa diringkas:حَبْسُ الْأَصْلِ وَتَسْبِيلُ الثَّمَرَةِ“Menahan pokok harta dan mengalirkan hasil/manfaatnya.”Jadi, tiga ciri penting wakaf produktif menurut BWIPokok/aset wakaf dipertahankan.Aset dikelola atau dikembangkan sehingga produktif dan menghasilkan surplus/keuntungan.Hasilnya disalurkan kepada mauquf ‘alaih sesuai tujuan wakaf secara berkelanjutan.Ini berbeda dari anggapan bahwa “produktif” berarti harus bisnis komersial murni. Tujuan akhirnya tetap kemaslahatan sesuai ikrar wakaf; aktivitas ekonominya merupakan sarana agar manfaat wakaf berkelanjutan. Praktik Wakaf ProduktifNabi ﷺ sendiri mempunyai aset yang hasilnya terus dimanfaatkanAda pula praktik Nabi ﷺ yang sangat menarik. Dalam riwayat mengenai aset Bani Nadhir, Nabi ﷺ memperoleh harta fai’. Beliau mengambil hasilnya untuk nafkah keluarga selama setahun, kemudian sisanya digunakan untuk kuda, persenjataan, dan kepentingan di jalan Allah.IslamWeb juga memuat riwayat tentang tiga kelompok aset Nabi ﷺ:فَأَمَّا بَنُو النَّضِيرِ فَكَانَتْ حَبْسًا لِنَوَائِبِهِ، وَأَمَّا فَدَكُ فَكَانَتْ حَبْسًا لِأَبْنَاءِ السَّبِيلِ…Secara ringkas: aset Bani Nadhir digunakan untuk berbagai kebutuhan beliau, Fadak diperuntukkan bagi ibnu sabil, sedangkan dari Khaibar ada bagian untuk nafkah keluarga; kelebihannya diberikan kepada fakir Muhajirin.Ini menarik karena bukan model:aset → dijual → uang habis,tetapi lebih dekat kepada:aset → dipertahankan/dikelola → menghasilkan → hasil/manfaat dialokasikan.IslamWeb juga menukil riwayat bahwa ketika Nabi ﷺ wafat, beliau meninggalkan antara lain tanah yang beliau jadikan sedekah, dan Ibnu Hajar menjelaskan bahwa beliau menyedekahkan manfaat tanah tersebut sehingga hukumnya menjadi hukum wakaf. IslamWeb: Dalil dan Praktik Wakaf Nabi ﷺ dan Para SahabatRumaysho.Com juga membahas harta fai’ Nabi ﷺ dari Bani Nadhir: beliau mengambil kecukupan keluarga selama setahun, sedangkan sisanya dimanfaatkan untuk kuda, persenjataan, dan kepentingan kaum muslimin. Sumur Raumah: wakaf produktif Utsman bin AffanContoh sahabat lainnya adalah Sumur Raumah (بئر رومة).Nabi ﷺ bersabda mengenai sumur tersebut:مَنْ يَشْتَرِي بِئْرَ رُومَةَ فَيَجْعَلَ دَلْوَهُ مَعَ دِلَاءِ الْمُسْلِمِينَ…“Siapa yang membeli Sumur Raumah lalu menjadikan timbanya bersama timba-timba kaum muslimin …?”Utsman radhiyallahu ‘anhu kemudian membelinya dengan hartanya sendiri dan mewakafkannya bagi kaum muslimin. IslamQA dan IslamWeb sama-sama menyebut praktik ini sebagai wakaf Utsman.Namun ada catatan: Sumur Raumah lebih tepat disebut aset wakaf yang menghasilkan manfaat langsung berupa air, bukan “produktif” dalam arti modern berupa bisnis yang menghasilkan laba tunai. Meskipun demikian, pokok aset tetap dijaga dan manfaatnya terus mengalir. Para sahabat yang mampu banyak melakukan wakafAda keterangan yang sangat menarik dalam literatur Syafi’iyyah yang dimuat IslamWeb:وَجَاءَ عَنْ جَابِرٍ: مَا بَقِيَ أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ لَهُ مَقْدِرَةٌ حَتَّى وَقَفَDiriwayatkan dari Jabir bahwa tidak tersisa seorang pun dari sahabat Nabi ﷺ yang mempunyai kemampuan kecuali ia melakukan wakaf.Ini menunjukkan wakaf bukan praktik sporadis yang hanya dilakukan Umar.“Istilah wakaf produktif merupakan istilah yang populer pada masa kini, tetapi substansinya telah dipraktikkan sejak zaman Nabi ﷺ dan para sahabat. Contoh paling jelas adalah wakaf Umar berupa tanah produktif di Khaibar: pokok tanah dipertahankan, sedangkan hasilnya disalurkan kepada penerima manfaat.” Baca juga: Matan Taqrib: Pengertian, Hukum, Hikmah, Rukun, Syarat, dan Fikih Wakaf Catatan:IslamWeb menjadikan hadits Umar di Khaibar sebagai dasar definisi wakaf:حَبْسُ الْأَصْلِ وَتَسْبِيلُ الْمَنْفَعَةِ“Menahan pokok harta dan mengalirkan manfaatnya.”IslamWeb juga menjelaskan bahwa wakaf harus berupa sesuatu yang dapat dimanfaatkan dengan tetap mempertahankan bendanya. Karena itu, makanan dan minuman yang habis ketika digunakan berbeda dengan aset wakaf yang manfaatnya terus berlangsung.Pengembangan/investasi harta wakaf dinilai disyariatkan dengan sejumlah ketentuan, antara lain: investasinya harus halal dan bebas riba; memberikan maslahat yang kuat; risiko dijaga agar tidak menghilangkan pokok wakaf; memperhatikan keseimbangan keuntungan dan risiko; proyek besar didahului studi kelayakan; dilakukan oleh pihak yang berwenang mengelola wakaf; serta tetap memperhatikan syarat yang ditetapkan wakif.Bahkan terdapat kaidah yang sangat bagus:عِمَارَةُ الْوَقْفِ مُقَدَّمَةٌ عَلَى الصَّرْفِ إِلَى الْمُسْتَحِقِّينَ“Pemeliharaan/pengembangan harta wakaf didahulukan daripada penyaluran kepada para penerima manfaat.” Maksudnya, jangan sampai semua hasil wakaf dibagikan tetapi aset produktifnya kemudian rusak dan berhenti menghasilkan.IslamWeb juga secara khusus membahas investasi harta wakaf. Di sini dinukil keputusan International Islamic Fiqh Academy:يُقْصَدُ بِاسْتِثْمَارِ أَمْوَالِ الْوَقْفِ: تَنْمِيَةُ الْأَمْوَالِ الْوَقْفِيَّةِ -سَوَاءٌ أَكَانَتْ أُصُولًا، أَمْ رَيْعًا- بِوَسَائِلَ اسْتِثْمَارِيَّةٍ مُبَاحَةٍ شَرْعًاMaksudnya, investasi harta wakaf adalah mengembangkan kekayaan wakaf—baik berupa aset pokok maupun hasilnya—dengan sarana investasi yang dibenarkan syariat.Di sana juga ditegaskan:يَتَعَيَّنُ الْمُحَافَظَةُ عَلَى الْمَوْقُوفِ بِمَا يُحَقِّقُ بَقَاءَ عَيْنِهِ، وَدَوَامَ نَفْعِهِ“Harta wakaf wajib dijaga sehingga keberadaan asetnya tetap terpelihara dan manfaatnya terus berlangsung.” Referensi:Aula, M. A. (2013, January 11). Pemberdayaan umat melalui lembaga wakaf. Badan Wakaf Indonesia. https://www.bwi.go.id/884/2013/01/11/pemberdayaan-umat-melalui-lembaga-wakaf/Badan Wakaf Indonesia. (2021, September 24). Tipologi wakaf produktif. https://www.bwi.go.id/7334/2021/09/24/tipologi-wakaf-produktif/Badan Wakaf Indonesia. (2021, November 23). Wakif sebagai mauquf alaih. https://www.bwi.go.id/7521/2021/11/23/wakif-sebagai-mauquf-alaih/Badan Wakaf Indonesia. (2023, January 2). Definisi wakaf produktif. https://www.bwi.go.id/8579/2023/01/02/definisi-wakaf-produktif/Badan Wakaf Indonesia. (2023, May 26). Pengembangan wakaf produktif. https://www.bwi.go.id/8787/2023/05/26/pengembangan-wakaf-produktif/Badan Wakaf Indonesia. (2026, July 14). Wakaf progresif untuk Indonesia. https://www.bwi.go.id/12194/2026/07/14/wakaf-progresif-untuk-indonesia/Islam Question & Answer. (2001, May 19). Aḥkām al-waqf [أحكام الوقف]. https://islamqa.info/ar/answers/13720IslamWeb. (2005, June 6). Istitsmār amwāl al-waqf fī maḥāfiẓ istitsmāriyyah [استثمار أموال الوقف في محافظ استثمارية]. IslamWebIslamWeb. (2018). Ḥadīts al-waqf [حديث الوقف]. IslamWebIslamWeb. (2021). Ḍamān al-mustatsmir al-khasārah fī amwāl al-waqf [ضمان المستثمر الخسارة في أموال الوقف]. IslamWebAl-Shāfiʿī, M. ibn I. (n.d.). Musnad al-Imām al-Shāfiʿī: Bāb taḥbīs al-aṣl wa tasbīl al-tsamarah [مسند الإمام الشافعي: باب تحبيس الأصل وتسبيل الثمرة]. IslamWeb. IslamWeb Library —- Diselesaikan Selasa pagi, 5 Rabiul Awwal 1448 H, 18 Agustus 2026 @ perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin menuju Masjid Jenderal Sudirman Demangan JogjaPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsBadan Wakaf Indonesia BWI fikih wakaf sedekah jariyah wakaf wakaf ahli wakaf khairi wakaf musytarak wakaf produktif wakaf uang
Tidak semua harta yang diberikan untuk masjid, pesantren, atau kepentingan umat otomatis berstatus wakaf. Wakaf memiliki unsur, aturan, dan konsekuensi hukum yang berbeda dari sedekah atau hibah biasa. Bahkan, harta wakaf dapat dikelola secara produktif sehingga pokok hartanya tetap terjaga, sementara manfaatnya terus mengalir kepada umat.  Daftar Isi tutup 1. Apa yang Dimaksud Wakaf? 2. Kriteria Pokok Wakaf 3. Cara Mudah Membedakan Wakaf dengan Sedekah 3.1. Beda Wakaf dan Sedekah 4. Macam-Macam Wakaf 4.1. Berdasarkan objeknya: benda tidak bergerak dan bergerak 4.2. Berdasarkan peruntukannya: khairi, ahli, dan musytarak 4.3. Berdasarkan Mekanisme Menggunakan Uang: Wakaf Uang dan Wakaf Melalui Uang 5. Mengenal Wakaf Produktif 5.1. Rumus sederhana wakaf produktif 6. Praktik Wakaf Produktif  Apa yang Dimaksud Wakaf?Menurut UU No. 41 Tahun 2004 yang dimuat Badan Wakaf Indonesia (BWI), definisi wakaf adalah: “Wakaf adalah perbuatan hukum wakif untuk memisahkan dan/atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum menurut syariah.”Wakif adalah pihak yang mewakafkan harta benda miliknya.Ikrar Wakaf adalah pernyataan kehendak wakif yang diucapkan secara lisan dan/atau tulisan kepada Nazhir untuk mewakafkan harta benda miliknya.Nazhir adalah pihak yang menerima harta benda wakaf dari Wakif untuk dikelola dan dikembangkan sesuai dengan peruntukannya.Harta Benda Wakaf adalah harta benda yang memiliki daya tahan lama dan/atau manfaat jangka panjang serta mempunyai nilai ekonomi menurut syariah yang diwakafkan oleh Wakif.Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf (PPAIW), adalah pejabat berwenang yang ditetapkan oleh Menteri untuk membuat akta ikrar wakaf.Badan Wakaf Indonesia adalah lembaga independen untuk mengembangkan perwakafan di Indonesia.Pemerintah adalah perangkat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas Presiden beserta para menteri.Menteri adalah menteri yang bertanggung jawab di bidang agama.Baca juga: Hadits Wakaf (01): Wakaf Termasuk Amal Jariyah Kriteria Pokok WakafDari definisi dan Pasal 6 UU Wakaf tersebut, kriteria pokok wakaf menurut BWI dapat diringkas menjadi enam unsur:Ada wakif — pihak yang mewakafkan. Harta yang diwakafkan harus merupakan harta yang memang dimiliki/dikuasai secara sah oleh wakif.Ada harta benda wakaf — objek tersebut harus mempunyai daya tahan lama dan/atau manfaat jangka panjang, serta mempunyai nilai ekonomi menurut syariah. Ini poin yang sangat penting untuk membedakan wakaf dari sedekah biasa.Ada nazhir — pihak yang menerima amanah untuk mengelola dan mengembangkan harta wakaf sesuai peruntukannya, bukan untuk memilikinya.Ada ikrar wakaf — yaitu pernyataan kehendak wakif, secara lisan dan/atau tulisan, untuk mewakafkan hartanya kepada nazhir.Ada peruntukan wakaf — diarahkan untuk keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum yang tidak bertentangan dengan syariah, misalnya pendidikan, kesehatan, fakir miskin, peningkatan ekonomi umat, dan kemaslahatan umum.Ada jangka waktu wakaf — menurut UU 41/2004 dapat selamanya ataupun untuk jangka waktu tertentu, sesuai ketentuan objek wakafnya. Kriteria objek wakaf yang paling pentingBWI memberikan rumusan yang sangat membantu:Harta benda wakaf adalah harta benda yang memiliki daya tahan lama dan/atau manfaat jangka panjang serta mempunyai nilai ekonomi menurut syariah.Karena itu, wakaf tidak mesti tanah atau masjid. UU Wakaf mengakui benda tidak bergerak maupun benda bergerak, termasuk tanah, bangunan, uang, logam mulia, surat berharga, kendaraan, dan hak kekayaan intelektual sepanjang memenuhi ketentuannya. Cara Mudah Membedakan Wakaf dengan SedekahMisalnya:A memberi Rp10 juta kepada pesantren untuk membeli beras yang langsung dibagikan.→ Ini pada dasarnya sedekah/infaq, bukan wakaf uang, karena uangnya memang untuk dihabiskan.A mewakafkan Rp10 juta sebagai wakaf uang, kemudian pokok wakaf dikelola dan hasilnya digunakan untuk pendidikan santri.→ Ini wakaf uang.A memberikan Rp10 juta untuk dibelikan tanah yang kemudian dijadikan aset wakaf pesantren.→ Ini dapat masuk wakaf melalui uang, dengan aset yang diwujudkan menjadi harta wakaf.Jadi rumus sederhananya bisa dibuat:WAKAF = Wakif + Harta Wakaf + Nazhir + Ikrar + Peruntukan + Jangka WaktuBeda Wakaf dan SedekahAspekSedekah/Donasi BiasaWakafStatus hartaDiserahkan kepada penerima sesuai akadMenjadi harta wakafPokok hartaBoleh digunakan/dihabiskan sesuai tujuan pemberianPada prinsipnya pokok/aset wakaf dijagaBisa dijual?Bisa, tergantung status kepemilikan penerimaPada prinsipnya tidak boleh dijual/dialihkan sembaranganBisa diwariskan?Jika sudah menjadi milik lembaga, bukan warisan pemberiHarta wakaf tidak diwariskanPengelolaPenerima/pemilikNazhirPenggunaanSesuai maksud pemberianTerikat ikrar dan peruntukan wakafPerlindungan wakafTidak menggunakan rezim hukum wakafDilindungi UU Wakaf bila prosedurnya dipenuhi Menurut UU No. 41 Tahun 2004, harta yang telah diwakafkan dilarang dijadikan jaminan, disita, dihibahkan, dijual, diwariskan, ditukar, atau dialihkan dalam bentuk pengalihan hak lainnya, dengan pengecualian tertentu yang diatur UU.Contoh yang paling mudahMisalnya seseorang berkata: “Saya berikan rumah ini kepada Yayasan A untuk operasional pesantren.”Kalau ini merupakan hibah/sumbangan, dan kepemilikannya sah dialihkan kepada yayasan, rumah tersebut menjadi aset yayasan. Konsekuensi pengelolaannya mengikuti hukum yayasan dan maksud pemberiannya.Tetapi kalau ia berkata: “Saya wakafkan rumah ini untuk pesantren, dikelola secara produktif oleh Nazhir A dan hasilnya untuk pendidikan santri.”Maka rumah tersebut menjadi harta wakaf. Nazhir bukan pemilik bebas yang dapat menjual dan membagikan uangnya sesuka hati. Ia terikat pada ikrar dan peruntukan wakaf.Bagaimana dengan uang Rp100 juta untuk membangun masjid?Ini contoh yang lebih menarik.Kalau seseorang berkata: “Ini Rp100 juta, saya sumbangkan untuk pembangunan masjid.”Uangnya dapat dibelanjakan: semen, besi, upah tukang, keramik dan seterusnya. Uang Rp100 juta itu memang habis digunakan.Berbeda apabila ia secara jelas menyatakan: “Rp100 juta ini saya wakafkan melalui uang untuk pembangunan masjid.”BWI membedakan wakaf uang dengan wakaf melalui uang. Pada wakaf melalui uang, uang dipakai untuk memperoleh/mewujudkan harta benda wakaf tertentu. Sedangkan pada wakaf uang, uang itulah objek wakaf, sehingga pokoknya dijaga dan hasil pengelolaannya yang disalurkan.Jadi jangan sampai tiga hal berikut dicampur:Sedekah Rp100 juta → uang boleh dihabiskan sesuai tujuan sedekah.Wakaf melalui uang Rp100 juta → uang digunakan untuk mewujudkan aset/program wakaf yang ditentukan.Wakaf uang Rp100 juta → uang menjadi pokok wakaf; pokok dijaga/dikelola dan hasilnya dimanfaatkan.Ambulans juga demikianKalau seseorang berkata: “Saya hibahkan ambulans ini kepada Yayasan X.”Setelah hibah sempurna, ambulans menjadi aset Yayasan X.Tetapi: “Saya wakafkan ambulans ini untuk pelayanan kesehatan kaum muslimin.”maka ambulans menjadi harta benda wakaf bergerak dan pengelolaannya harus mengikuti peruntukan wakaf.Ini berpengaruh ketika, misalnya, 10 tahun kemudian ambulans rusak berat. Pengurus tidak semestinya memperlakukannya begitu saja seperti mobil milik yayasan biasa. Status wakaf membawa aturan khusus mengenai pengelolaan, perubahan, penukaran, atau pengalihan aset wakaf.Ini sangat penting untuk pesantren dan yayasanBayangkan ada seorang donatur memberi tanah dengan ucapan: “Pak Ustadz, tanah ini saya berikan untuk pesantren.”Dua puluh tahun kemudian anaknya berkata: “Tanah ini dulu hanya dipinjamkan Bapak kepada pesantren.”Pengurus mengatakan: “Tidak, dulu katanya wakaf.”Ahli waris bertanya: “Mana Akta Ikrar Wakafnya?”Di sinilah potensi sengketa muncul.Karena itu, kalau memang maksud pemberi wakaf, jangan hanya dicatat sebagai “donasi tanah”. Sebaliknya, kalau maksudnya hibah kepada yayasan, jangan kemudian oleh pengurus secara sepihak disebut “wakaf”.Untuk pengelolaan pesantren/yayasan, perlu dibedakan tiga hal:1. Aset wakaf→ ada wakif, nazhir, ikrar, peruntukan; aset terikat hukum wakaf.2. Aset milik yayasan→ misalnya diperoleh melalui hibah, pembelian yayasan, atau sumber sah lainnya; menjadi kekayaan yayasan.3. Aset titipan/pinjaman→ hanya dipakai lembaga; kepemilikannya tetap pada pihak lain.Jangan dicampur pembukuannya.Karena “dipakai pesantren” tidak otomatis berarti “milik pesantren”, dan “diberikan kepada pesantren” tidak otomatis berarti “wakaf”.Ini juga menjawab mengapa BWI sangat menekankan administrasi dan sertifikasi wakaf. Kejelasan tersebut bukan hanya urusan birokrasi, tetapi menjadi perlindungan bagi wakif, nazhir, lembaga, penerima manfaat, dan ahli waris. Macam-Macam WakafBerdasarkan objeknya: benda tidak bergerak dan bergerakBWI membedakan harta benda wakaf menjadi benda tidak bergerak dan benda bergerak. Benda tidak bergerak misalnya tanah dan bangunan. Benda bergerak antara lain uang, logam mulia, surat berharga seperti saham dan sukuk, kendaraan, hak kekayaan intelektual, serta hak sewa.Baca juga: Hadits Wakaf (03): Wakaf Bisa dengan Harta Milik yang BergerakBerdasarkan peruntukannya: khairi, ahli, dan musytarakBWI juga mempunyai klasifikasi yang cukup jelas berdasarkan siapa yang memperoleh manfaat wakaf:JenisPeruntukanWakaf KhairiUntuk kemaslahatan/kebaikan umumWakaf AhliUntuk keluarga atau keturunan wakifWakaf MusytarakGabungan keluarga dan masyarakat umumMisalnya, tanah untuk masjid atau sekolah termasuk contoh wakaf khairi. Wakaf yang manfaatnya dikhususkan bagi keturunan wakif disebut wakaf ahli. Sedangkan apabila manfaatnya diperuntukkan bagi keluarga sekaligus masyarakat umum disebut wakaf musytarak.Contoh wakaf musytarakSalah satu yang paling jelas adalah wakaf Syekh Said bin Omar bin Abdullah Makarim di Singapura. Menurut buku Wakaf Kontemporer yang diterbitkan BWI, beliau mewakafkan hartanya dan hasil pengelolaannya diberikan kepada:keluarganya yang membutuhkan + masjid/sekolah Islam yang membutuhkan + fakir miskin di Makkah dan Madinah.BWI juga mencatat praktik di Malaysia melalui Johor Corporation dan Waqaf An-Nur Corporation. Dalam skema yang dipaparkan BWI, sebagian saham perusahaan diwakafkan dengan pembagian manfaat:70% → Johor Corporation sebagai wakaf ahli25% → sabilillah melalui Waqaf An-Nur5% → kepentingan umum melalui Majlis Agama Islam Johor.Ini menunjukkan bahwa wakaf musytarak tidak harus berupa rumah atau tanah. Saham atau aset produktif juga dapat menghasilkan manfaat yang kemudian dialokasikan kepada beberapa kelompok penerima.Berdasarkan Mekanisme Menggunakan Uang: Wakaf Uang dan Wakaf Melalui UangWakaf uang berarti uang itu sendiri menjadi harta wakaf. Pokok uang harus dipertahankan dan dikelola secara produktif; hasil pengelolaannya diberikan kepada mauquf ‘alaih.Sedangkan wakaf melalui uang berarti uang hanyalah sarana untuk memperoleh aset wakaf. Misalnya: “Saya wakaf Rp50 juta untuk pembangunan gedung pesantren.” Uangnya digunakan untuk mewujudkan bangunan/aset yang menjadi wakaf. BWI menjelaskan bahwa wakaf melalui uang dapat diarahkan pada proyek sosial maupun produktif.“Wakaf produktif” bukan lawan dari “wakaf uang”. Wakaf uang justru pada dasarnya dikelola secara produktif. BWI menyebut bahwa nilai pokok wakaf uang harus dijaga dan diinvestasikan sesuai syariah agar menghasilkan manfaat bagi penerima wakaf.Baca juga: Wakaf Ahli dari Kebun Milik Abu Thalhah Mengenal Wakaf ProduktifBWI mendefinisikan wakaf produktif sebagai pengelolaan aset wakaf yang diarahkan agar menghasilkan surplus/keuntungan berkelanjutan, kemudian hasilnya dimanfaatkan bagi mauquf ‘alaih (penerima manfaat). Jadi, pokok/aset wakaf dijaga, sedangkan hasil pengembangannya yang disalurkan.Contohnya: tanah wakaf dibangun ruko untuk disewakan; kebun wakaf dikelola sehingga menghasilkan panen; gedung wakaf disewakan; atau uang wakaf diinvestasikan melalui instrumen syariah dan hasilnya digunakan untuk pendidikan, dakwah, kesehatan, dan sebagainya.Menariknya, BWI bahkan menjelaskan bahwa secara substansi wakaf sejak awal memang memiliki karakter produktif, dengan merujuk antara lain kepada wakaf tanah Khaibar oleh Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu.Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Umar pernah mendapatkan sebidang tanah di Khaibar, lalu ia menghadap Nabi mohon petunjuk beliau tentang pengelolaannya seraya berkata,“Wahai Rasulullah, saya mendapatkan tanah di Khaibar. Yang menurut saya, saya belum pernah memiliki tanah yang lebih baik daripada tanah tersebut. Beliau bersabda,إِنْ شِئْتَ حَبَّسْتَ أَصْلَهَا ، وَتَصَدَّقْتَ بِهَا“Kalau engkau mau, kau tahan pohonnya dan sedekahkan buah (hasilnya).”Perawi hadits berkata,فَتَصَدَّقَ عُمَرُ أَنَّهُ لاَ يُبَاعُ أَصْلُهَا وَلاَ يُوهَبُ وَلاَ يُورَثُ ، فِى الْفُقَرَاءِ وَالْقُرْبَى وَالرِّقَابِ وَفِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالضَّيْفِ وَابْنِ السَّبِيلِ ، وَلاَ جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ ، أَوْ يُطْعِمَ صَدِيقًا غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ فِيهِLalu Umar mewakafkan tanahnya dengan syarat pohonnya tidak boleh dijual, tidak boleh dihadiahkan, dan tidak boleh diwarisi. Hasil dari pohon tersebut disedekahkan kepada kaum fakir, kerabat-kerabat, budak-budak, orang-orang yang membela agama Allah, tamu, dan musafir yang kehabisan bekal. Namun tidak masalah bagi pengurus wakaf untuk memakan hasilnya dengan baik dan memberi makan teman-temannya yang tidak memiliki harta. (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari, no. 2772; Muslim, no. 1632).Baca juga: Hadits Wakaf (02): Aturan Penting WakafSkema wakaf produkti menurut hadits Umar:Tanah/kebun Khaibar ↓ pokok tanah ditahan ↓ tanah tetap dikelola ↓ menghasilkan buah/pendapatan ↓ hasilnya disedekahkanInilah substansi wakaf produktif. Rumus sederhana wakaf produktifASET WAKAF → DIKELOLA/DIKEMBANGKAN → MENGHASILKAN → HASILNYA DISALURKANSedangkan aset pokok wakaf tetap dipertahankan.BWI bahkan memberikan ungkapan yang sangat mudah dipahami:Wakaf produktif adalah wakaf yang “bisa membiayai dirinya sendiri dan orang lain yang menjadi peruntukan wakaf.” ContohnyaMisalnya seseorang mewakafkan tanah 2.000 m².Kalau tanah tersebut langsung dibangun sekolah gratis, manfaat tanah langsung diterima masyarakat. Dalam salah satu tulisan BWI, model semacam ini disebut wakaf langsung.Tetapi jika tanah tersebut dibangun ruko atau gedung sewa, lalu:ruko disewakan → menghasilkan Rp200 juta/tahun → biaya pemeliharaan dibayar → hasil bersih digunakan untuk beasiswa santri,maka ini merupakan contoh yang sangat jelas dari wakaf produktif.BWI menjelaskan bahwa objek wakaf produktif bisa berupa uang, benda bergerak, tanah, rumah, bangunan, maupun lahan. Jadi yang menentukan sifat “produktif” bukan apakah objeknya uang atau tanah, melainkan bagaimana aset wakaf tersebut dikelola agar menghasilkan surplus/manfaat ekonomi berkelanjutan.Dasarnya sangat dekat dengan hadis wakaf UmarBWI menghubungkan konsep tersebut dengan wakaf Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu atas tanah Khaibar. Tanahnya ditahan, sedangkan hasilnya disedekahkan. Karena itu, BWI memandang praktik ini sebagai dasar historis wakaf produktif.Maka secara konseptual bisa diringkas:حَبْسُ الْأَصْلِ وَتَسْبِيلُ الثَّمَرَةِ“Menahan pokok harta dan mengalirkan hasil/manfaatnya.”Jadi, tiga ciri penting wakaf produktif menurut BWIPokok/aset wakaf dipertahankan.Aset dikelola atau dikembangkan sehingga produktif dan menghasilkan surplus/keuntungan.Hasilnya disalurkan kepada mauquf ‘alaih sesuai tujuan wakaf secara berkelanjutan.Ini berbeda dari anggapan bahwa “produktif” berarti harus bisnis komersial murni. Tujuan akhirnya tetap kemaslahatan sesuai ikrar wakaf; aktivitas ekonominya merupakan sarana agar manfaat wakaf berkelanjutan. Praktik Wakaf ProduktifNabi ﷺ sendiri mempunyai aset yang hasilnya terus dimanfaatkanAda pula praktik Nabi ﷺ yang sangat menarik. Dalam riwayat mengenai aset Bani Nadhir, Nabi ﷺ memperoleh harta fai’. Beliau mengambil hasilnya untuk nafkah keluarga selama setahun, kemudian sisanya digunakan untuk kuda, persenjataan, dan kepentingan di jalan Allah.IslamWeb juga memuat riwayat tentang tiga kelompok aset Nabi ﷺ:فَأَمَّا بَنُو النَّضِيرِ فَكَانَتْ حَبْسًا لِنَوَائِبِهِ، وَأَمَّا فَدَكُ فَكَانَتْ حَبْسًا لِأَبْنَاءِ السَّبِيلِ…Secara ringkas: aset Bani Nadhir digunakan untuk berbagai kebutuhan beliau, Fadak diperuntukkan bagi ibnu sabil, sedangkan dari Khaibar ada bagian untuk nafkah keluarga; kelebihannya diberikan kepada fakir Muhajirin.Ini menarik karena bukan model:aset → dijual → uang habis,tetapi lebih dekat kepada:aset → dipertahankan/dikelola → menghasilkan → hasil/manfaat dialokasikan.IslamWeb juga menukil riwayat bahwa ketika Nabi ﷺ wafat, beliau meninggalkan antara lain tanah yang beliau jadikan sedekah, dan Ibnu Hajar menjelaskan bahwa beliau menyedekahkan manfaat tanah tersebut sehingga hukumnya menjadi hukum wakaf. IslamWeb: Dalil dan Praktik Wakaf Nabi ﷺ dan Para SahabatRumaysho.Com juga membahas harta fai’ Nabi ﷺ dari Bani Nadhir: beliau mengambil kecukupan keluarga selama setahun, sedangkan sisanya dimanfaatkan untuk kuda, persenjataan, dan kepentingan kaum muslimin. Sumur Raumah: wakaf produktif Utsman bin AffanContoh sahabat lainnya adalah Sumur Raumah (بئر رومة).Nabi ﷺ bersabda mengenai sumur tersebut:مَنْ يَشْتَرِي بِئْرَ رُومَةَ فَيَجْعَلَ دَلْوَهُ مَعَ دِلَاءِ الْمُسْلِمِينَ…“Siapa yang membeli Sumur Raumah lalu menjadikan timbanya bersama timba-timba kaum muslimin …?”Utsman radhiyallahu ‘anhu kemudian membelinya dengan hartanya sendiri dan mewakafkannya bagi kaum muslimin. IslamQA dan IslamWeb sama-sama menyebut praktik ini sebagai wakaf Utsman.Namun ada catatan: Sumur Raumah lebih tepat disebut aset wakaf yang menghasilkan manfaat langsung berupa air, bukan “produktif” dalam arti modern berupa bisnis yang menghasilkan laba tunai. Meskipun demikian, pokok aset tetap dijaga dan manfaatnya terus mengalir. Para sahabat yang mampu banyak melakukan wakafAda keterangan yang sangat menarik dalam literatur Syafi’iyyah yang dimuat IslamWeb:وَجَاءَ عَنْ جَابِرٍ: مَا بَقِيَ أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ لَهُ مَقْدِرَةٌ حَتَّى وَقَفَDiriwayatkan dari Jabir bahwa tidak tersisa seorang pun dari sahabat Nabi ﷺ yang mempunyai kemampuan kecuali ia melakukan wakaf.Ini menunjukkan wakaf bukan praktik sporadis yang hanya dilakukan Umar.“Istilah wakaf produktif merupakan istilah yang populer pada masa kini, tetapi substansinya telah dipraktikkan sejak zaman Nabi ﷺ dan para sahabat. Contoh paling jelas adalah wakaf Umar berupa tanah produktif di Khaibar: pokok tanah dipertahankan, sedangkan hasilnya disalurkan kepada penerima manfaat.” Baca juga: Matan Taqrib: Pengertian, Hukum, Hikmah, Rukun, Syarat, dan Fikih Wakaf Catatan:IslamWeb menjadikan hadits Umar di Khaibar sebagai dasar definisi wakaf:حَبْسُ الْأَصْلِ وَتَسْبِيلُ الْمَنْفَعَةِ“Menahan pokok harta dan mengalirkan manfaatnya.”IslamWeb juga menjelaskan bahwa wakaf harus berupa sesuatu yang dapat dimanfaatkan dengan tetap mempertahankan bendanya. Karena itu, makanan dan minuman yang habis ketika digunakan berbeda dengan aset wakaf yang manfaatnya terus berlangsung.Pengembangan/investasi harta wakaf dinilai disyariatkan dengan sejumlah ketentuan, antara lain: investasinya harus halal dan bebas riba; memberikan maslahat yang kuat; risiko dijaga agar tidak menghilangkan pokok wakaf; memperhatikan keseimbangan keuntungan dan risiko; proyek besar didahului studi kelayakan; dilakukan oleh pihak yang berwenang mengelola wakaf; serta tetap memperhatikan syarat yang ditetapkan wakif.Bahkan terdapat kaidah yang sangat bagus:عِمَارَةُ الْوَقْفِ مُقَدَّمَةٌ عَلَى الصَّرْفِ إِلَى الْمُسْتَحِقِّينَ“Pemeliharaan/pengembangan harta wakaf didahulukan daripada penyaluran kepada para penerima manfaat.” Maksudnya, jangan sampai semua hasil wakaf dibagikan tetapi aset produktifnya kemudian rusak dan berhenti menghasilkan.IslamWeb juga secara khusus membahas investasi harta wakaf. Di sini dinukil keputusan International Islamic Fiqh Academy:يُقْصَدُ بِاسْتِثْمَارِ أَمْوَالِ الْوَقْفِ: تَنْمِيَةُ الْأَمْوَالِ الْوَقْفِيَّةِ -سَوَاءٌ أَكَانَتْ أُصُولًا، أَمْ رَيْعًا- بِوَسَائِلَ اسْتِثْمَارِيَّةٍ مُبَاحَةٍ شَرْعًاMaksudnya, investasi harta wakaf adalah mengembangkan kekayaan wakaf—baik berupa aset pokok maupun hasilnya—dengan sarana investasi yang dibenarkan syariat.Di sana juga ditegaskan:يَتَعَيَّنُ الْمُحَافَظَةُ عَلَى الْمَوْقُوفِ بِمَا يُحَقِّقُ بَقَاءَ عَيْنِهِ، وَدَوَامَ نَفْعِهِ“Harta wakaf wajib dijaga sehingga keberadaan asetnya tetap terpelihara dan manfaatnya terus berlangsung.” Referensi:Aula, M. A. (2013, January 11). Pemberdayaan umat melalui lembaga wakaf. Badan Wakaf Indonesia. https://www.bwi.go.id/884/2013/01/11/pemberdayaan-umat-melalui-lembaga-wakaf/Badan Wakaf Indonesia. (2021, September 24). Tipologi wakaf produktif. https://www.bwi.go.id/7334/2021/09/24/tipologi-wakaf-produktif/Badan Wakaf Indonesia. (2021, November 23). Wakif sebagai mauquf alaih. https://www.bwi.go.id/7521/2021/11/23/wakif-sebagai-mauquf-alaih/Badan Wakaf Indonesia. (2023, January 2). Definisi wakaf produktif. https://www.bwi.go.id/8579/2023/01/02/definisi-wakaf-produktif/Badan Wakaf Indonesia. (2023, May 26). Pengembangan wakaf produktif. https://www.bwi.go.id/8787/2023/05/26/pengembangan-wakaf-produktif/Badan Wakaf Indonesia. (2026, July 14). Wakaf progresif untuk Indonesia. https://www.bwi.go.id/12194/2026/07/14/wakaf-progresif-untuk-indonesia/Islam Question & Answer. (2001, May 19). Aḥkām al-waqf [أحكام الوقف]. https://islamqa.info/ar/answers/13720IslamWeb. (2005, June 6). Istitsmār amwāl al-waqf fī maḥāfiẓ istitsmāriyyah [استثمار أموال الوقف في محافظ استثمارية]. IslamWebIslamWeb. (2018). Ḥadīts al-waqf [حديث الوقف]. IslamWebIslamWeb. (2021). Ḍamān al-mustatsmir al-khasārah fī amwāl al-waqf [ضمان المستثمر الخسارة في أموال الوقف]. IslamWebAl-Shāfiʿī, M. ibn I. (n.d.). Musnad al-Imām al-Shāfiʿī: Bāb taḥbīs al-aṣl wa tasbīl al-tsamarah [مسند الإمام الشافعي: باب تحبيس الأصل وتسبيل الثمرة]. IslamWeb. IslamWeb Library —- Diselesaikan Selasa pagi, 5 Rabiul Awwal 1448 H, 18 Agustus 2026 @ perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin menuju Masjid Jenderal Sudirman Demangan JogjaPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsBadan Wakaf Indonesia BWI fikih wakaf sedekah jariyah wakaf wakaf ahli wakaf khairi wakaf musytarak wakaf produktif wakaf uang


Tidak semua harta yang diberikan untuk masjid, pesantren, atau kepentingan umat otomatis berstatus wakaf. Wakaf memiliki unsur, aturan, dan konsekuensi hukum yang berbeda dari sedekah atau hibah biasa. Bahkan, harta wakaf dapat dikelola secara produktif sehingga pokok hartanya tetap terjaga, sementara manfaatnya terus mengalir kepada umat.  Daftar Isi tutup 1. Apa yang Dimaksud Wakaf? 2. Kriteria Pokok Wakaf 3. Cara Mudah Membedakan Wakaf dengan Sedekah 3.1. Beda Wakaf dan Sedekah 4. Macam-Macam Wakaf 4.1. Berdasarkan objeknya: benda tidak bergerak dan bergerak 4.2. Berdasarkan peruntukannya: khairi, ahli, dan musytarak 4.3. Berdasarkan Mekanisme Menggunakan Uang: Wakaf Uang dan Wakaf Melalui Uang 5. Mengenal Wakaf Produktif 5.1. Rumus sederhana wakaf produktif 6. Praktik Wakaf Produktif  Apa yang Dimaksud Wakaf?Menurut UU No. 41 Tahun 2004 yang dimuat Badan Wakaf Indonesia (BWI), definisi wakaf adalah: “Wakaf adalah perbuatan hukum wakif untuk memisahkan dan/atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum menurut syariah.”Wakif adalah pihak yang mewakafkan harta benda miliknya.Ikrar Wakaf adalah pernyataan kehendak wakif yang diucapkan secara lisan dan/atau tulisan kepada Nazhir untuk mewakafkan harta benda miliknya.Nazhir adalah pihak yang menerima harta benda wakaf dari Wakif untuk dikelola dan dikembangkan sesuai dengan peruntukannya.Harta Benda Wakaf adalah harta benda yang memiliki daya tahan lama dan/atau manfaat jangka panjang serta mempunyai nilai ekonomi menurut syariah yang diwakafkan oleh Wakif.Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf (PPAIW), adalah pejabat berwenang yang ditetapkan oleh Menteri untuk membuat akta ikrar wakaf.Badan Wakaf Indonesia adalah lembaga independen untuk mengembangkan perwakafan di Indonesia.Pemerintah adalah perangkat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas Presiden beserta para menteri.Menteri adalah menteri yang bertanggung jawab di bidang agama.Baca juga: Hadits Wakaf (01): Wakaf Termasuk Amal Jariyah Kriteria Pokok WakafDari definisi dan Pasal 6 UU Wakaf tersebut, kriteria pokok wakaf menurut BWI dapat diringkas menjadi enam unsur:Ada wakif — pihak yang mewakafkan. Harta yang diwakafkan harus merupakan harta yang memang dimiliki/dikuasai secara sah oleh wakif.Ada harta benda wakaf — objek tersebut harus mempunyai daya tahan lama dan/atau manfaat jangka panjang, serta mempunyai nilai ekonomi menurut syariah. Ini poin yang sangat penting untuk membedakan wakaf dari sedekah biasa.Ada nazhir — pihak yang menerima amanah untuk mengelola dan mengembangkan harta wakaf sesuai peruntukannya, bukan untuk memilikinya.Ada ikrar wakaf — yaitu pernyataan kehendak wakif, secara lisan dan/atau tulisan, untuk mewakafkan hartanya kepada nazhir.Ada peruntukan wakaf — diarahkan untuk keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum yang tidak bertentangan dengan syariah, misalnya pendidikan, kesehatan, fakir miskin, peningkatan ekonomi umat, dan kemaslahatan umum.Ada jangka waktu wakaf — menurut UU 41/2004 dapat selamanya ataupun untuk jangka waktu tertentu, sesuai ketentuan objek wakafnya. Kriteria objek wakaf yang paling pentingBWI memberikan rumusan yang sangat membantu:Harta benda wakaf adalah harta benda yang memiliki daya tahan lama dan/atau manfaat jangka panjang serta mempunyai nilai ekonomi menurut syariah.Karena itu, wakaf tidak mesti tanah atau masjid. UU Wakaf mengakui benda tidak bergerak maupun benda bergerak, termasuk tanah, bangunan, uang, logam mulia, surat berharga, kendaraan, dan hak kekayaan intelektual sepanjang memenuhi ketentuannya. Cara Mudah Membedakan Wakaf dengan SedekahMisalnya:A memberi Rp10 juta kepada pesantren untuk membeli beras yang langsung dibagikan.→ Ini pada dasarnya sedekah/infaq, bukan wakaf uang, karena uangnya memang untuk dihabiskan.A mewakafkan Rp10 juta sebagai wakaf uang, kemudian pokok wakaf dikelola dan hasilnya digunakan untuk pendidikan santri.→ Ini wakaf uang.A memberikan Rp10 juta untuk dibelikan tanah yang kemudian dijadikan aset wakaf pesantren.→ Ini dapat masuk wakaf melalui uang, dengan aset yang diwujudkan menjadi harta wakaf.Jadi rumus sederhananya bisa dibuat:WAKAF = Wakif + Harta Wakaf + Nazhir + Ikrar + Peruntukan + Jangka WaktuBeda Wakaf dan SedekahAspekSedekah/Donasi BiasaWakafStatus hartaDiserahkan kepada penerima sesuai akadMenjadi harta wakafPokok hartaBoleh digunakan/dihabiskan sesuai tujuan pemberianPada prinsipnya pokok/aset wakaf dijagaBisa dijual?Bisa, tergantung status kepemilikan penerimaPada prinsipnya tidak boleh dijual/dialihkan sembaranganBisa diwariskan?Jika sudah menjadi milik lembaga, bukan warisan pemberiHarta wakaf tidak diwariskanPengelolaPenerima/pemilikNazhirPenggunaanSesuai maksud pemberianTerikat ikrar dan peruntukan wakafPerlindungan wakafTidak menggunakan rezim hukum wakafDilindungi UU Wakaf bila prosedurnya dipenuhi Menurut UU No. 41 Tahun 2004, harta yang telah diwakafkan dilarang dijadikan jaminan, disita, dihibahkan, dijual, diwariskan, ditukar, atau dialihkan dalam bentuk pengalihan hak lainnya, dengan pengecualian tertentu yang diatur UU.Contoh yang paling mudahMisalnya seseorang berkata: “Saya berikan rumah ini kepada Yayasan A untuk operasional pesantren.”Kalau ini merupakan hibah/sumbangan, dan kepemilikannya sah dialihkan kepada yayasan, rumah tersebut menjadi aset yayasan. Konsekuensi pengelolaannya mengikuti hukum yayasan dan maksud pemberiannya.Tetapi kalau ia berkata: “Saya wakafkan rumah ini untuk pesantren, dikelola secara produktif oleh Nazhir A dan hasilnya untuk pendidikan santri.”Maka rumah tersebut menjadi harta wakaf. Nazhir bukan pemilik bebas yang dapat menjual dan membagikan uangnya sesuka hati. Ia terikat pada ikrar dan peruntukan wakaf.Bagaimana dengan uang Rp100 juta untuk membangun masjid?Ini contoh yang lebih menarik.Kalau seseorang berkata: “Ini Rp100 juta, saya sumbangkan untuk pembangunan masjid.”Uangnya dapat dibelanjakan: semen, besi, upah tukang, keramik dan seterusnya. Uang Rp100 juta itu memang habis digunakan.Berbeda apabila ia secara jelas menyatakan: “Rp100 juta ini saya wakafkan melalui uang untuk pembangunan masjid.”BWI membedakan wakaf uang dengan wakaf melalui uang. Pada wakaf melalui uang, uang dipakai untuk memperoleh/mewujudkan harta benda wakaf tertentu. Sedangkan pada wakaf uang, uang itulah objek wakaf, sehingga pokoknya dijaga dan hasil pengelolaannya yang disalurkan.Jadi jangan sampai tiga hal berikut dicampur:Sedekah Rp100 juta → uang boleh dihabiskan sesuai tujuan sedekah.Wakaf melalui uang Rp100 juta → uang digunakan untuk mewujudkan aset/program wakaf yang ditentukan.Wakaf uang Rp100 juta → uang menjadi pokok wakaf; pokok dijaga/dikelola dan hasilnya dimanfaatkan.Ambulans juga demikianKalau seseorang berkata: “Saya hibahkan ambulans ini kepada Yayasan X.”Setelah hibah sempurna, ambulans menjadi aset Yayasan X.Tetapi: “Saya wakafkan ambulans ini untuk pelayanan kesehatan kaum muslimin.”maka ambulans menjadi harta benda wakaf bergerak dan pengelolaannya harus mengikuti peruntukan wakaf.Ini berpengaruh ketika, misalnya, 10 tahun kemudian ambulans rusak berat. Pengurus tidak semestinya memperlakukannya begitu saja seperti mobil milik yayasan biasa. Status wakaf membawa aturan khusus mengenai pengelolaan, perubahan, penukaran, atau pengalihan aset wakaf.Ini sangat penting untuk pesantren dan yayasanBayangkan ada seorang donatur memberi tanah dengan ucapan: “Pak Ustadz, tanah ini saya berikan untuk pesantren.”Dua puluh tahun kemudian anaknya berkata: “Tanah ini dulu hanya dipinjamkan Bapak kepada pesantren.”Pengurus mengatakan: “Tidak, dulu katanya wakaf.”Ahli waris bertanya: “Mana Akta Ikrar Wakafnya?”Di sinilah potensi sengketa muncul.Karena itu, kalau memang maksud pemberi wakaf, jangan hanya dicatat sebagai “donasi tanah”. Sebaliknya, kalau maksudnya hibah kepada yayasan, jangan kemudian oleh pengurus secara sepihak disebut “wakaf”.Untuk pengelolaan pesantren/yayasan, perlu dibedakan tiga hal:1. Aset wakaf→ ada wakif, nazhir, ikrar, peruntukan; aset terikat hukum wakaf.2. Aset milik yayasan→ misalnya diperoleh melalui hibah, pembelian yayasan, atau sumber sah lainnya; menjadi kekayaan yayasan.3. Aset titipan/pinjaman→ hanya dipakai lembaga; kepemilikannya tetap pada pihak lain.Jangan dicampur pembukuannya.Karena “dipakai pesantren” tidak otomatis berarti “milik pesantren”, dan “diberikan kepada pesantren” tidak otomatis berarti “wakaf”.Ini juga menjawab mengapa BWI sangat menekankan administrasi dan sertifikasi wakaf. Kejelasan tersebut bukan hanya urusan birokrasi, tetapi menjadi perlindungan bagi wakif, nazhir, lembaga, penerima manfaat, dan ahli waris. Macam-Macam WakafBerdasarkan objeknya: benda tidak bergerak dan bergerakBWI membedakan harta benda wakaf menjadi benda tidak bergerak dan benda bergerak. Benda tidak bergerak misalnya tanah dan bangunan. Benda bergerak antara lain uang, logam mulia, surat berharga seperti saham dan sukuk, kendaraan, hak kekayaan intelektual, serta hak sewa.Baca juga: Hadits Wakaf (03): Wakaf Bisa dengan Harta Milik yang BergerakBerdasarkan peruntukannya: khairi, ahli, dan musytarakBWI juga mempunyai klasifikasi yang cukup jelas berdasarkan siapa yang memperoleh manfaat wakaf:JenisPeruntukanWakaf KhairiUntuk kemaslahatan/kebaikan umumWakaf AhliUntuk keluarga atau keturunan wakifWakaf MusytarakGabungan keluarga dan masyarakat umumMisalnya, tanah untuk masjid atau sekolah termasuk contoh wakaf khairi. Wakaf yang manfaatnya dikhususkan bagi keturunan wakif disebut wakaf ahli. Sedangkan apabila manfaatnya diperuntukkan bagi keluarga sekaligus masyarakat umum disebut wakaf musytarak.Contoh wakaf musytarakSalah satu yang paling jelas adalah wakaf Syekh Said bin Omar bin Abdullah Makarim di Singapura. Menurut buku Wakaf Kontemporer yang diterbitkan BWI, beliau mewakafkan hartanya dan hasil pengelolaannya diberikan kepada:keluarganya yang membutuhkan + masjid/sekolah Islam yang membutuhkan + fakir miskin di Makkah dan Madinah.BWI juga mencatat praktik di Malaysia melalui Johor Corporation dan Waqaf An-Nur Corporation. Dalam skema yang dipaparkan BWI, sebagian saham perusahaan diwakafkan dengan pembagian manfaat:70% → Johor Corporation sebagai wakaf ahli25% → sabilillah melalui Waqaf An-Nur5% → kepentingan umum melalui Majlis Agama Islam Johor.Ini menunjukkan bahwa wakaf musytarak tidak harus berupa rumah atau tanah. Saham atau aset produktif juga dapat menghasilkan manfaat yang kemudian dialokasikan kepada beberapa kelompok penerima.Berdasarkan Mekanisme Menggunakan Uang: Wakaf Uang dan Wakaf Melalui UangWakaf uang berarti uang itu sendiri menjadi harta wakaf. Pokok uang harus dipertahankan dan dikelola secara produktif; hasil pengelolaannya diberikan kepada mauquf ‘alaih.Sedangkan wakaf melalui uang berarti uang hanyalah sarana untuk memperoleh aset wakaf. Misalnya: “Saya wakaf Rp50 juta untuk pembangunan gedung pesantren.” Uangnya digunakan untuk mewujudkan bangunan/aset yang menjadi wakaf. BWI menjelaskan bahwa wakaf melalui uang dapat diarahkan pada proyek sosial maupun produktif.“Wakaf produktif” bukan lawan dari “wakaf uang”. Wakaf uang justru pada dasarnya dikelola secara produktif. BWI menyebut bahwa nilai pokok wakaf uang harus dijaga dan diinvestasikan sesuai syariah agar menghasilkan manfaat bagi penerima wakaf.Baca juga: Wakaf Ahli dari Kebun Milik Abu Thalhah Mengenal Wakaf ProduktifBWI mendefinisikan wakaf produktif sebagai pengelolaan aset wakaf yang diarahkan agar menghasilkan surplus/keuntungan berkelanjutan, kemudian hasilnya dimanfaatkan bagi mauquf ‘alaih (penerima manfaat). Jadi, pokok/aset wakaf dijaga, sedangkan hasil pengembangannya yang disalurkan.Contohnya: tanah wakaf dibangun ruko untuk disewakan; kebun wakaf dikelola sehingga menghasilkan panen; gedung wakaf disewakan; atau uang wakaf diinvestasikan melalui instrumen syariah dan hasilnya digunakan untuk pendidikan, dakwah, kesehatan, dan sebagainya.Menariknya, BWI bahkan menjelaskan bahwa secara substansi wakaf sejak awal memang memiliki karakter produktif, dengan merujuk antara lain kepada wakaf tanah Khaibar oleh Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu.Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Umar pernah mendapatkan sebidang tanah di Khaibar, lalu ia menghadap Nabi mohon petunjuk beliau tentang pengelolaannya seraya berkata,“Wahai Rasulullah, saya mendapatkan tanah di Khaibar. Yang menurut saya, saya belum pernah memiliki tanah yang lebih baik daripada tanah tersebut. Beliau bersabda,إِنْ شِئْتَ حَبَّسْتَ أَصْلَهَا ، وَتَصَدَّقْتَ بِهَا“Kalau engkau mau, kau tahan pohonnya dan sedekahkan buah (hasilnya).”Perawi hadits berkata,فَتَصَدَّقَ عُمَرُ أَنَّهُ لاَ يُبَاعُ أَصْلُهَا وَلاَ يُوهَبُ وَلاَ يُورَثُ ، فِى الْفُقَرَاءِ وَالْقُرْبَى وَالرِّقَابِ وَفِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالضَّيْفِ وَابْنِ السَّبِيلِ ، وَلاَ جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ ، أَوْ يُطْعِمَ صَدِيقًا غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ فِيهِLalu Umar mewakafkan tanahnya dengan syarat pohonnya tidak boleh dijual, tidak boleh dihadiahkan, dan tidak boleh diwarisi. Hasil dari pohon tersebut disedekahkan kepada kaum fakir, kerabat-kerabat, budak-budak, orang-orang yang membela agama Allah, tamu, dan musafir yang kehabisan bekal. Namun tidak masalah bagi pengurus wakaf untuk memakan hasilnya dengan baik dan memberi makan teman-temannya yang tidak memiliki harta. (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari, no. 2772; Muslim, no. 1632).Baca juga: Hadits Wakaf (02): Aturan Penting WakafSkema wakaf produkti menurut hadits Umar:Tanah/kebun Khaibar ↓ pokok tanah ditahan ↓ tanah tetap dikelola ↓ menghasilkan buah/pendapatan ↓ hasilnya disedekahkanInilah substansi wakaf produktif. Rumus sederhana wakaf produktifASET WAKAF → DIKELOLA/DIKEMBANGKAN → MENGHASILKAN → HASILNYA DISALURKANSedangkan aset pokok wakaf tetap dipertahankan.BWI bahkan memberikan ungkapan yang sangat mudah dipahami:Wakaf produktif adalah wakaf yang “bisa membiayai dirinya sendiri dan orang lain yang menjadi peruntukan wakaf.” ContohnyaMisalnya seseorang mewakafkan tanah 2.000 m².Kalau tanah tersebut langsung dibangun sekolah gratis, manfaat tanah langsung diterima masyarakat. Dalam salah satu tulisan BWI, model semacam ini disebut wakaf langsung.Tetapi jika tanah tersebut dibangun ruko atau gedung sewa, lalu:ruko disewakan → menghasilkan Rp200 juta/tahun → biaya pemeliharaan dibayar → hasil bersih digunakan untuk beasiswa santri,maka ini merupakan contoh yang sangat jelas dari wakaf produktif.BWI menjelaskan bahwa objek wakaf produktif bisa berupa uang, benda bergerak, tanah, rumah, bangunan, maupun lahan. Jadi yang menentukan sifat “produktif” bukan apakah objeknya uang atau tanah, melainkan bagaimana aset wakaf tersebut dikelola agar menghasilkan surplus/manfaat ekonomi berkelanjutan.Dasarnya sangat dekat dengan hadis wakaf UmarBWI menghubungkan konsep tersebut dengan wakaf Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu atas tanah Khaibar. Tanahnya ditahan, sedangkan hasilnya disedekahkan. Karena itu, BWI memandang praktik ini sebagai dasar historis wakaf produktif.Maka secara konseptual bisa diringkas:حَبْسُ الْأَصْلِ وَتَسْبِيلُ الثَّمَرَةِ“Menahan pokok harta dan mengalirkan hasil/manfaatnya.”Jadi, tiga ciri penting wakaf produktif menurut BWIPokok/aset wakaf dipertahankan.Aset dikelola atau dikembangkan sehingga produktif dan menghasilkan surplus/keuntungan.Hasilnya disalurkan kepada mauquf ‘alaih sesuai tujuan wakaf secara berkelanjutan.Ini berbeda dari anggapan bahwa “produktif” berarti harus bisnis komersial murni. Tujuan akhirnya tetap kemaslahatan sesuai ikrar wakaf; aktivitas ekonominya merupakan sarana agar manfaat wakaf berkelanjutan. Praktik Wakaf ProduktifNabi ﷺ sendiri mempunyai aset yang hasilnya terus dimanfaatkanAda pula praktik Nabi ﷺ yang sangat menarik. Dalam riwayat mengenai aset Bani Nadhir, Nabi ﷺ memperoleh harta fai’. Beliau mengambil hasilnya untuk nafkah keluarga selama setahun, kemudian sisanya digunakan untuk kuda, persenjataan, dan kepentingan di jalan Allah.IslamWeb juga memuat riwayat tentang tiga kelompok aset Nabi ﷺ:فَأَمَّا بَنُو النَّضِيرِ فَكَانَتْ حَبْسًا لِنَوَائِبِهِ، وَأَمَّا فَدَكُ فَكَانَتْ حَبْسًا لِأَبْنَاءِ السَّبِيلِ…Secara ringkas: aset Bani Nadhir digunakan untuk berbagai kebutuhan beliau, Fadak diperuntukkan bagi ibnu sabil, sedangkan dari Khaibar ada bagian untuk nafkah keluarga; kelebihannya diberikan kepada fakir Muhajirin.Ini menarik karena bukan model:aset → dijual → uang habis,tetapi lebih dekat kepada:aset → dipertahankan/dikelola → menghasilkan → hasil/manfaat dialokasikan.IslamWeb juga menukil riwayat bahwa ketika Nabi ﷺ wafat, beliau meninggalkan antara lain tanah yang beliau jadikan sedekah, dan Ibnu Hajar menjelaskan bahwa beliau menyedekahkan manfaat tanah tersebut sehingga hukumnya menjadi hukum wakaf. IslamWeb: Dalil dan Praktik Wakaf Nabi ﷺ dan Para SahabatRumaysho.Com juga membahas harta fai’ Nabi ﷺ dari Bani Nadhir: beliau mengambil kecukupan keluarga selama setahun, sedangkan sisanya dimanfaatkan untuk kuda, persenjataan, dan kepentingan kaum muslimin. Sumur Raumah: wakaf produktif Utsman bin AffanContoh sahabat lainnya adalah Sumur Raumah (بئر رومة).Nabi ﷺ bersabda mengenai sumur tersebut:مَنْ يَشْتَرِي بِئْرَ رُومَةَ فَيَجْعَلَ دَلْوَهُ مَعَ دِلَاءِ الْمُسْلِمِينَ…“Siapa yang membeli Sumur Raumah lalu menjadikan timbanya bersama timba-timba kaum muslimin …?”Utsman radhiyallahu ‘anhu kemudian membelinya dengan hartanya sendiri dan mewakafkannya bagi kaum muslimin. IslamQA dan IslamWeb sama-sama menyebut praktik ini sebagai wakaf Utsman.Namun ada catatan: Sumur Raumah lebih tepat disebut aset wakaf yang menghasilkan manfaat langsung berupa air, bukan “produktif” dalam arti modern berupa bisnis yang menghasilkan laba tunai. Meskipun demikian, pokok aset tetap dijaga dan manfaatnya terus mengalir. Para sahabat yang mampu banyak melakukan wakafAda keterangan yang sangat menarik dalam literatur Syafi’iyyah yang dimuat IslamWeb:وَجَاءَ عَنْ جَابِرٍ: مَا بَقِيَ أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ لَهُ مَقْدِرَةٌ حَتَّى وَقَفَDiriwayatkan dari Jabir bahwa tidak tersisa seorang pun dari sahabat Nabi ﷺ yang mempunyai kemampuan kecuali ia melakukan wakaf.Ini menunjukkan wakaf bukan praktik sporadis yang hanya dilakukan Umar.“Istilah wakaf produktif merupakan istilah yang populer pada masa kini, tetapi substansinya telah dipraktikkan sejak zaman Nabi ﷺ dan para sahabat. Contoh paling jelas adalah wakaf Umar berupa tanah produktif di Khaibar: pokok tanah dipertahankan, sedangkan hasilnya disalurkan kepada penerima manfaat.” Baca juga: Matan Taqrib: Pengertian, Hukum, Hikmah, Rukun, Syarat, dan Fikih Wakaf Catatan:IslamWeb menjadikan hadits Umar di Khaibar sebagai dasar definisi wakaf:حَبْسُ الْأَصْلِ وَتَسْبِيلُ الْمَنْفَعَةِ“Menahan pokok harta dan mengalirkan manfaatnya.”IslamWeb juga menjelaskan bahwa wakaf harus berupa sesuatu yang dapat dimanfaatkan dengan tetap mempertahankan bendanya. Karena itu, makanan dan minuman yang habis ketika digunakan berbeda dengan aset wakaf yang manfaatnya terus berlangsung.Pengembangan/investasi harta wakaf dinilai disyariatkan dengan sejumlah ketentuan, antara lain: investasinya harus halal dan bebas riba; memberikan maslahat yang kuat; risiko dijaga agar tidak menghilangkan pokok wakaf; memperhatikan keseimbangan keuntungan dan risiko; proyek besar didahului studi kelayakan; dilakukan oleh pihak yang berwenang mengelola wakaf; serta tetap memperhatikan syarat yang ditetapkan wakif.Bahkan terdapat kaidah yang sangat bagus:عِمَارَةُ الْوَقْفِ مُقَدَّمَةٌ عَلَى الصَّرْفِ إِلَى الْمُسْتَحِقِّينَ“Pemeliharaan/pengembangan harta wakaf didahulukan daripada penyaluran kepada para penerima manfaat.” Maksudnya, jangan sampai semua hasil wakaf dibagikan tetapi aset produktifnya kemudian rusak dan berhenti menghasilkan.IslamWeb juga secara khusus membahas investasi harta wakaf. Di sini dinukil keputusan International Islamic Fiqh Academy:يُقْصَدُ بِاسْتِثْمَارِ أَمْوَالِ الْوَقْفِ: تَنْمِيَةُ الْأَمْوَالِ الْوَقْفِيَّةِ -سَوَاءٌ أَكَانَتْ أُصُولًا، أَمْ رَيْعًا- بِوَسَائِلَ اسْتِثْمَارِيَّةٍ مُبَاحَةٍ شَرْعًاMaksudnya, investasi harta wakaf adalah mengembangkan kekayaan wakaf—baik berupa aset pokok maupun hasilnya—dengan sarana investasi yang dibenarkan syariat.Di sana juga ditegaskan:يَتَعَيَّنُ الْمُحَافَظَةُ عَلَى الْمَوْقُوفِ بِمَا يُحَقِّقُ بَقَاءَ عَيْنِهِ، وَدَوَامَ نَفْعِهِ“Harta wakaf wajib dijaga sehingga keberadaan asetnya tetap terpelihara dan manfaatnya terus berlangsung.” Referensi:Aula, M. A. (2013, January 11). Pemberdayaan umat melalui lembaga wakaf. Badan Wakaf Indonesia. https://www.bwi.go.id/884/2013/01/11/pemberdayaan-umat-melalui-lembaga-wakaf/Badan Wakaf Indonesia. (2021, September 24). Tipologi wakaf produktif. https://www.bwi.go.id/7334/2021/09/24/tipologi-wakaf-produktif/Badan Wakaf Indonesia. (2021, November 23). Wakif sebagai mauquf alaih. https://www.bwi.go.id/7521/2021/11/23/wakif-sebagai-mauquf-alaih/Badan Wakaf Indonesia. (2023, January 2). Definisi wakaf produktif. https://www.bwi.go.id/8579/2023/01/02/definisi-wakaf-produktif/Badan Wakaf Indonesia. (2023, May 26). Pengembangan wakaf produktif. https://www.bwi.go.id/8787/2023/05/26/pengembangan-wakaf-produktif/Badan Wakaf Indonesia. (2026, July 14). Wakaf progresif untuk Indonesia. https://www.bwi.go.id/12194/2026/07/14/wakaf-progresif-untuk-indonesia/Islam Question & Answer. (2001, May 19). Aḥkām al-waqf [أحكام الوقف]. https://islamqa.info/ar/answers/13720IslamWeb. (2005, June 6). Istitsmār amwāl al-waqf fī maḥāfiẓ istitsmāriyyah [استثمار أموال الوقف في محافظ استثمارية]. IslamWebIslamWeb. (2018). Ḥadīts al-waqf [حديث الوقف]. IslamWebIslamWeb. (2021). Ḍamān al-mustatsmir al-khasārah fī amwāl al-waqf [ضمان المستثمر الخسارة في أموال الوقف]. IslamWebAl-Shāfiʿī, M. ibn I. (n.d.). Musnad al-Imām al-Shāfiʿī: Bāb taḥbīs al-aṣl wa tasbīl al-tsamarah [مسند الإمام الشافعي: باب تحبيس الأصل وتسبيل الثمرة]. IslamWeb. IslamWeb Library —- Diselesaikan Selasa pagi, 5 Rabiul Awwal 1448 H, 18 Agustus 2026 @ perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin menuju Masjid Jenderal Sudirman Demangan JogjaPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsBadan Wakaf Indonesia BWI fikih wakaf sedekah jariyah wakaf wakaf ahli wakaf khairi wakaf musytarak wakaf produktif wakaf uang

Laporan Produksi Yufid – Juli 2026

Laporan Produksi Yufid – Juli 2026 Diterbitkan untuk para donatur dan Sahabat Yufid Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah, bulan Juli 2026 telah kita lalui. Dengan pertolongan Allah, kemudian dukungan Anda, para donatur serta Sahabat Yufid, perjalanan dakwah ini terus bergerak dan menghadirkan karya yang insya Allah bermanfaat. Laporan ini adalah catatan tentang jejak kebaikan yang kita ikhtiarkan bersama sepanjang Juli 2026. Apa yang tercapai, dan apa yang belum. Berikut apa yang telah lahir dari perjalanan tersebut. Tiga angka bulan ini Juli 2026MaknanyaKonten baru312 video (203 produksi + 109 siaran langsung), 92 konten Instagram, 16 artikel, 809 audio kajianRata-rata 10 video baru setiap hari sepanjang Juli — seluruhnya GRATIS untuk umat.Tayangan±16,7 juta tayangan lintas platform (7,9 juta YouTube + 8,8 juta Instagram)Rata-rata 374 tayangan baru dimulai setiap menit, siang dan malam, tanpa jeda.Waktu menyimak430.525 jam ditonton di YouTubeSetara satu orang menyimak kajian tanpa henti selama 49 tahun — hanya dalam satu bulan. Cerita di Balik Angka: Serial Rezeki Ketika keadaan ekonomi terasa makin berat, urusan rezeki mudah berubah menjadi sumber kecemasan. Di tengah keadaan seperti itu, kita perlu kembali mengingat bahwa rezeki datang dari Allah. Kita berusaha, tetapi hati tetap bertawakal dan bersabar atas ketetapan-Nya. Melalui Yufid.TV, kami menghadirkan serial Shorts bersama Ustadz Johan Saputra Halim yang membahas berbagai persoalan seputar rezeki. Sepanjang Juli, telah diproduksi 7 video dalam serial ini, di antaranya “Gaji Numpang Lewat”, “Bisnis Sepi? Cek Ini Dulu”, dan “Cara Kerja Rezeki Tak Selalu Masuk Akal”.  Ketujuh video ini telah disaksikan 288.380 views sepanjang Juli. Serial ini adalah salah satu bentuk andil Yufid sebagai media dakwah: memahamkan umat dalam menyikapi rezeki. Di tengah berbagai persoalan kehidupan, Yufid berusaha terus hadir bersama umat, menghadirkan nasihat, solusi, dan pencerahan yang dekat dengan keseharian. Semoga konten-konten ini menjadi pengingat bahwa rezeki tidak selalu berjalan seperti yang kita bayangkan, tetapi selalu berada dalam ketetapan Allah. Ringkasan produksi per kanal Agar mudah diperiksa, angka di bawah ini dipisahkan antara video yang diproduksi tim dan siaran langsung yang disiarkan tim. Keduanya berbeda beban kerjanya, sehingga tidak digabung dalam satu angka. Kanal / programJuli 2026Juni 2026Rata-rata bulananA. Video produksiYufid.TV167136111di antaranya: Nasehat Ulama231616di antaranya: Motion Graphic & Shorts24336Yufid EDU354622Yufid Kids111Al-‘Ilmu Nurun008Total video produksi203183142B. Siaran langsungSiaran langsung Yufid.TV (live)109107115Total seluruh unggahan video312257257C. Konten non-videoInstagram Yufid.TV — konten465248Instagram Yufid Network — konten465248Artikel (4 situs redaksi)*161712Terjemahan Arab–Indonesia (kata)77.69068.46254.120Audio kajian baru (Kajian.net)8092.1971.006Perekaman artikel menjadi audio0627*Rincian artikel: KonsultasiSyariah.com 7 artikel; KhotbahJumat.com 7 artikel; KisahMuslim.com 2 artikel; PengusahaMuslim.com 0 artikel. Definisi angka Agar tidak ada angka yang berpindah makna dari bulan ke bulan, berikut definisi yang kami pakai: Video produksi: video yang melalui proses produksi tim (perekaman, penyuntingan, grafis, takarir). Termasuk Shorts dan motion graphic; masing-masing dihitung satu kali. Siaran langsung: sesi kajian yang disiarkan langsung dan tetap tersimpan di kanal. Dihitung terpisah dari video produksi. Konten Instagram: unggahan feed, carousel, dan reels; satu unggahan dihitung satu, berapa pun jumlah slide-nya. Audio kajian baru: rekaman kajian yang diproses dan diunggah ke Kajian.net pada bulan berjalan. Pertumbuhan dan infrastruktur Pertumbuhan pengikut Juli 2026: +26.203 di seluruh platform (YouTube +10.743, Instagram +15.460). Total pengikut Yufid kini 6,91 juta: 5,20 juta subscribers YouTube dan 1,71 juta followers Instagram. Di balik semua itu, tim infrastruktur merawat 3 server yang menghidupi 30 situs web dakwah, termasuk situs sejumlah ulama, agar tetap menyala 24 jam. Empat di antaranya adalah situs redaksi yang aktif memproduksi artikel baru setiap bulan; selebihnya adalah pustaka dakwah yang terus dirawat agar tetap dapat diakses. Yang Belum Tercapai Bulan Ini Sebagai bagian dari amanah, kami laporkan juga yang belum berjalan sesuai harapan, bukan hanya yang berhenti di angka nol, tetapi juga yang turun. Audio kajian turun tajam: 2.197 → 809. Yufid EDU turun: 46 → 35 video. Instagram turun: 52 → 46 konten per akun.  Penurunan pada produksi pada 3 elemen di atas, dikarenakan tim Yufid difokuskan untuk menambah produksi video, yang di antara video tersebut memerlukan upaya yang lebih besar dan waktu yang lebih lama. Contohnya: memproduksi video Nasehat Ulama, memerlukan proses yang lebih panjang: dari mulai memilih video, menulis subtitle dalam bahasa Arab, menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, lanjut mengedit video, lalu video tersebut diperiksa kembali, seringkali revisi sebelum video layak tayang. Terima Kasih dan Doa Setiap konten yang hadir dan setiap ilmu yang tersebar tidak lepas dari dukungan, doa, dan kontribusi para donatur serta Sahabat Yufid. Allah Ta‘ala-lah yang menggerakkan hati Anda untuk ikut mengambil bagian dalam dakwah ini. Maka laporan ini bukan hanya tentang angka dan capaian, tetapi tentang jejak kebaikan yang kita ikhtiarkan bersama agar terus memberikan manfaat. Jazakumullah khairan atas setiap doa, dukungan, dan kontribusi yang telah Anda berikan. Semoga Allah Ta‘ala menerima amal kebaikan tersebut, melimpahkan keberkahan pada harta, keluarga, dan waktu Anda, serta menjadikan setiap ilmu yang tersebar melalui Yufid sebagai amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Aamiin. Bagi Anda yang ingin pahala ilmu ini terus mengalir, pintu menopang dakwah selalu terbuka, berapa pun nilainya, karena yang Allah lihat bukan besar kecilnya, melainkan keikhlasan di baliknya. yufid.org/donasi-untuk-yufid → Dukung Dakwah Yufid Dan bagi yang belum dimudahkan berdonasi, doa Anda untuk dakwah ini pun amal yang sangat berharga di sisi Allah. Wallahu a‘lam. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma‘in, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Tentang Yufid: Yayasan Yufid Network telah 16 tahun menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis: 25.163 video di lima kanal YouTube dengan total 974,8 juta tayangan, dan insya Allah menembus satu miliar dalam waktu dekat, serta 10.241 artikel dan proyek terjemahan yang telah menuntaskan 5,1 juta kata sejak 2018. 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 69 times, 1 visit(s) today Post Views: 107

Laporan Produksi Yufid – Juli 2026

Laporan Produksi Yufid – Juli 2026 Diterbitkan untuk para donatur dan Sahabat Yufid Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah, bulan Juli 2026 telah kita lalui. Dengan pertolongan Allah, kemudian dukungan Anda, para donatur serta Sahabat Yufid, perjalanan dakwah ini terus bergerak dan menghadirkan karya yang insya Allah bermanfaat. Laporan ini adalah catatan tentang jejak kebaikan yang kita ikhtiarkan bersama sepanjang Juli 2026. Apa yang tercapai, dan apa yang belum. Berikut apa yang telah lahir dari perjalanan tersebut. Tiga angka bulan ini Juli 2026MaknanyaKonten baru312 video (203 produksi + 109 siaran langsung), 92 konten Instagram, 16 artikel, 809 audio kajianRata-rata 10 video baru setiap hari sepanjang Juli — seluruhnya GRATIS untuk umat.Tayangan±16,7 juta tayangan lintas platform (7,9 juta YouTube + 8,8 juta Instagram)Rata-rata 374 tayangan baru dimulai setiap menit, siang dan malam, tanpa jeda.Waktu menyimak430.525 jam ditonton di YouTubeSetara satu orang menyimak kajian tanpa henti selama 49 tahun — hanya dalam satu bulan. Cerita di Balik Angka: Serial Rezeki Ketika keadaan ekonomi terasa makin berat, urusan rezeki mudah berubah menjadi sumber kecemasan. Di tengah keadaan seperti itu, kita perlu kembali mengingat bahwa rezeki datang dari Allah. Kita berusaha, tetapi hati tetap bertawakal dan bersabar atas ketetapan-Nya. Melalui Yufid.TV, kami menghadirkan serial Shorts bersama Ustadz Johan Saputra Halim yang membahas berbagai persoalan seputar rezeki. Sepanjang Juli, telah diproduksi 7 video dalam serial ini, di antaranya “Gaji Numpang Lewat”, “Bisnis Sepi? Cek Ini Dulu”, dan “Cara Kerja Rezeki Tak Selalu Masuk Akal”.  Ketujuh video ini telah disaksikan 288.380 views sepanjang Juli. Serial ini adalah salah satu bentuk andil Yufid sebagai media dakwah: memahamkan umat dalam menyikapi rezeki. Di tengah berbagai persoalan kehidupan, Yufid berusaha terus hadir bersama umat, menghadirkan nasihat, solusi, dan pencerahan yang dekat dengan keseharian. Semoga konten-konten ini menjadi pengingat bahwa rezeki tidak selalu berjalan seperti yang kita bayangkan, tetapi selalu berada dalam ketetapan Allah. Ringkasan produksi per kanal Agar mudah diperiksa, angka di bawah ini dipisahkan antara video yang diproduksi tim dan siaran langsung yang disiarkan tim. Keduanya berbeda beban kerjanya, sehingga tidak digabung dalam satu angka. Kanal / programJuli 2026Juni 2026Rata-rata bulananA. Video produksiYufid.TV167136111di antaranya: Nasehat Ulama231616di antaranya: Motion Graphic & Shorts24336Yufid EDU354622Yufid Kids111Al-‘Ilmu Nurun008Total video produksi203183142B. Siaran langsungSiaran langsung Yufid.TV (live)109107115Total seluruh unggahan video312257257C. Konten non-videoInstagram Yufid.TV — konten465248Instagram Yufid Network — konten465248Artikel (4 situs redaksi)*161712Terjemahan Arab–Indonesia (kata)77.69068.46254.120Audio kajian baru (Kajian.net)8092.1971.006Perekaman artikel menjadi audio0627*Rincian artikel: KonsultasiSyariah.com 7 artikel; KhotbahJumat.com 7 artikel; KisahMuslim.com 2 artikel; PengusahaMuslim.com 0 artikel. Definisi angka Agar tidak ada angka yang berpindah makna dari bulan ke bulan, berikut definisi yang kami pakai: Video produksi: video yang melalui proses produksi tim (perekaman, penyuntingan, grafis, takarir). Termasuk Shorts dan motion graphic; masing-masing dihitung satu kali. Siaran langsung: sesi kajian yang disiarkan langsung dan tetap tersimpan di kanal. Dihitung terpisah dari video produksi. Konten Instagram: unggahan feed, carousel, dan reels; satu unggahan dihitung satu, berapa pun jumlah slide-nya. Audio kajian baru: rekaman kajian yang diproses dan diunggah ke Kajian.net pada bulan berjalan. Pertumbuhan dan infrastruktur Pertumbuhan pengikut Juli 2026: +26.203 di seluruh platform (YouTube +10.743, Instagram +15.460). Total pengikut Yufid kini 6,91 juta: 5,20 juta subscribers YouTube dan 1,71 juta followers Instagram. Di balik semua itu, tim infrastruktur merawat 3 server yang menghidupi 30 situs web dakwah, termasuk situs sejumlah ulama, agar tetap menyala 24 jam. Empat di antaranya adalah situs redaksi yang aktif memproduksi artikel baru setiap bulan; selebihnya adalah pustaka dakwah yang terus dirawat agar tetap dapat diakses. Yang Belum Tercapai Bulan Ini Sebagai bagian dari amanah, kami laporkan juga yang belum berjalan sesuai harapan, bukan hanya yang berhenti di angka nol, tetapi juga yang turun. Audio kajian turun tajam: 2.197 → 809. Yufid EDU turun: 46 → 35 video. Instagram turun: 52 → 46 konten per akun.  Penurunan pada produksi pada 3 elemen di atas, dikarenakan tim Yufid difokuskan untuk menambah produksi video, yang di antara video tersebut memerlukan upaya yang lebih besar dan waktu yang lebih lama. Contohnya: memproduksi video Nasehat Ulama, memerlukan proses yang lebih panjang: dari mulai memilih video, menulis subtitle dalam bahasa Arab, menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, lanjut mengedit video, lalu video tersebut diperiksa kembali, seringkali revisi sebelum video layak tayang. Terima Kasih dan Doa Setiap konten yang hadir dan setiap ilmu yang tersebar tidak lepas dari dukungan, doa, dan kontribusi para donatur serta Sahabat Yufid. Allah Ta‘ala-lah yang menggerakkan hati Anda untuk ikut mengambil bagian dalam dakwah ini. Maka laporan ini bukan hanya tentang angka dan capaian, tetapi tentang jejak kebaikan yang kita ikhtiarkan bersama agar terus memberikan manfaat. Jazakumullah khairan atas setiap doa, dukungan, dan kontribusi yang telah Anda berikan. Semoga Allah Ta‘ala menerima amal kebaikan tersebut, melimpahkan keberkahan pada harta, keluarga, dan waktu Anda, serta menjadikan setiap ilmu yang tersebar melalui Yufid sebagai amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Aamiin. Bagi Anda yang ingin pahala ilmu ini terus mengalir, pintu menopang dakwah selalu terbuka, berapa pun nilainya, karena yang Allah lihat bukan besar kecilnya, melainkan keikhlasan di baliknya. yufid.org/donasi-untuk-yufid → Dukung Dakwah Yufid Dan bagi yang belum dimudahkan berdonasi, doa Anda untuk dakwah ini pun amal yang sangat berharga di sisi Allah. Wallahu a‘lam. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma‘in, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Tentang Yufid: Yayasan Yufid Network telah 16 tahun menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis: 25.163 video di lima kanal YouTube dengan total 974,8 juta tayangan, dan insya Allah menembus satu miliar dalam waktu dekat, serta 10.241 artikel dan proyek terjemahan yang telah menuntaskan 5,1 juta kata sejak 2018. 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 69 times, 1 visit(s) today Post Views: 107
Laporan Produksi Yufid – Juli 2026 Diterbitkan untuk para donatur dan Sahabat Yufid Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah, bulan Juli 2026 telah kita lalui. Dengan pertolongan Allah, kemudian dukungan Anda, para donatur serta Sahabat Yufid, perjalanan dakwah ini terus bergerak dan menghadirkan karya yang insya Allah bermanfaat. Laporan ini adalah catatan tentang jejak kebaikan yang kita ikhtiarkan bersama sepanjang Juli 2026. Apa yang tercapai, dan apa yang belum. Berikut apa yang telah lahir dari perjalanan tersebut. Tiga angka bulan ini Juli 2026MaknanyaKonten baru312 video (203 produksi + 109 siaran langsung), 92 konten Instagram, 16 artikel, 809 audio kajianRata-rata 10 video baru setiap hari sepanjang Juli — seluruhnya GRATIS untuk umat.Tayangan±16,7 juta tayangan lintas platform (7,9 juta YouTube + 8,8 juta Instagram)Rata-rata 374 tayangan baru dimulai setiap menit, siang dan malam, tanpa jeda.Waktu menyimak430.525 jam ditonton di YouTubeSetara satu orang menyimak kajian tanpa henti selama 49 tahun — hanya dalam satu bulan. Cerita di Balik Angka: Serial Rezeki Ketika keadaan ekonomi terasa makin berat, urusan rezeki mudah berubah menjadi sumber kecemasan. Di tengah keadaan seperti itu, kita perlu kembali mengingat bahwa rezeki datang dari Allah. Kita berusaha, tetapi hati tetap bertawakal dan bersabar atas ketetapan-Nya. Melalui Yufid.TV, kami menghadirkan serial Shorts bersama Ustadz Johan Saputra Halim yang membahas berbagai persoalan seputar rezeki. Sepanjang Juli, telah diproduksi 7 video dalam serial ini, di antaranya “Gaji Numpang Lewat”, “Bisnis Sepi? Cek Ini Dulu”, dan “Cara Kerja Rezeki Tak Selalu Masuk Akal”.  Ketujuh video ini telah disaksikan 288.380 views sepanjang Juli. Serial ini adalah salah satu bentuk andil Yufid sebagai media dakwah: memahamkan umat dalam menyikapi rezeki. Di tengah berbagai persoalan kehidupan, Yufid berusaha terus hadir bersama umat, menghadirkan nasihat, solusi, dan pencerahan yang dekat dengan keseharian. Semoga konten-konten ini menjadi pengingat bahwa rezeki tidak selalu berjalan seperti yang kita bayangkan, tetapi selalu berada dalam ketetapan Allah. Ringkasan produksi per kanal Agar mudah diperiksa, angka di bawah ini dipisahkan antara video yang diproduksi tim dan siaran langsung yang disiarkan tim. Keduanya berbeda beban kerjanya, sehingga tidak digabung dalam satu angka. Kanal / programJuli 2026Juni 2026Rata-rata bulananA. Video produksiYufid.TV167136111di antaranya: Nasehat Ulama231616di antaranya: Motion Graphic & Shorts24336Yufid EDU354622Yufid Kids111Al-‘Ilmu Nurun008Total video produksi203183142B. Siaran langsungSiaran langsung Yufid.TV (live)109107115Total seluruh unggahan video312257257C. Konten non-videoInstagram Yufid.TV — konten465248Instagram Yufid Network — konten465248Artikel (4 situs redaksi)*161712Terjemahan Arab–Indonesia (kata)77.69068.46254.120Audio kajian baru (Kajian.net)8092.1971.006Perekaman artikel menjadi audio0627*Rincian artikel: KonsultasiSyariah.com 7 artikel; KhotbahJumat.com 7 artikel; KisahMuslim.com 2 artikel; PengusahaMuslim.com 0 artikel. Definisi angka Agar tidak ada angka yang berpindah makna dari bulan ke bulan, berikut definisi yang kami pakai: Video produksi: video yang melalui proses produksi tim (perekaman, penyuntingan, grafis, takarir). Termasuk Shorts dan motion graphic; masing-masing dihitung satu kali. Siaran langsung: sesi kajian yang disiarkan langsung dan tetap tersimpan di kanal. Dihitung terpisah dari video produksi. Konten Instagram: unggahan feed, carousel, dan reels; satu unggahan dihitung satu, berapa pun jumlah slide-nya. Audio kajian baru: rekaman kajian yang diproses dan diunggah ke Kajian.net pada bulan berjalan. Pertumbuhan dan infrastruktur Pertumbuhan pengikut Juli 2026: +26.203 di seluruh platform (YouTube +10.743, Instagram +15.460). Total pengikut Yufid kini 6,91 juta: 5,20 juta subscribers YouTube dan 1,71 juta followers Instagram. Di balik semua itu, tim infrastruktur merawat 3 server yang menghidupi 30 situs web dakwah, termasuk situs sejumlah ulama, agar tetap menyala 24 jam. Empat di antaranya adalah situs redaksi yang aktif memproduksi artikel baru setiap bulan; selebihnya adalah pustaka dakwah yang terus dirawat agar tetap dapat diakses. Yang Belum Tercapai Bulan Ini Sebagai bagian dari amanah, kami laporkan juga yang belum berjalan sesuai harapan, bukan hanya yang berhenti di angka nol, tetapi juga yang turun. Audio kajian turun tajam: 2.197 → 809. Yufid EDU turun: 46 → 35 video. Instagram turun: 52 → 46 konten per akun.  Penurunan pada produksi pada 3 elemen di atas, dikarenakan tim Yufid difokuskan untuk menambah produksi video, yang di antara video tersebut memerlukan upaya yang lebih besar dan waktu yang lebih lama. Contohnya: memproduksi video Nasehat Ulama, memerlukan proses yang lebih panjang: dari mulai memilih video, menulis subtitle dalam bahasa Arab, menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, lanjut mengedit video, lalu video tersebut diperiksa kembali, seringkali revisi sebelum video layak tayang. Terima Kasih dan Doa Setiap konten yang hadir dan setiap ilmu yang tersebar tidak lepas dari dukungan, doa, dan kontribusi para donatur serta Sahabat Yufid. Allah Ta‘ala-lah yang menggerakkan hati Anda untuk ikut mengambil bagian dalam dakwah ini. Maka laporan ini bukan hanya tentang angka dan capaian, tetapi tentang jejak kebaikan yang kita ikhtiarkan bersama agar terus memberikan manfaat. Jazakumullah khairan atas setiap doa, dukungan, dan kontribusi yang telah Anda berikan. Semoga Allah Ta‘ala menerima amal kebaikan tersebut, melimpahkan keberkahan pada harta, keluarga, dan waktu Anda, serta menjadikan setiap ilmu yang tersebar melalui Yufid sebagai amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Aamiin. Bagi Anda yang ingin pahala ilmu ini terus mengalir, pintu menopang dakwah selalu terbuka, berapa pun nilainya, karena yang Allah lihat bukan besar kecilnya, melainkan keikhlasan di baliknya. yufid.org/donasi-untuk-yufid → Dukung Dakwah Yufid Dan bagi yang belum dimudahkan berdonasi, doa Anda untuk dakwah ini pun amal yang sangat berharga di sisi Allah. Wallahu a‘lam. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma‘in, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Tentang Yufid: Yayasan Yufid Network telah 16 tahun menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis: 25.163 video di lima kanal YouTube dengan total 974,8 juta tayangan, dan insya Allah menembus satu miliar dalam waktu dekat, serta 10.241 artikel dan proyek terjemahan yang telah menuntaskan 5,1 juta kata sejak 2018. 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 69 times, 1 visit(s) today Post Views: 107


Laporan Produksi Yufid – Juli 2026 Diterbitkan untuk para donatur dan Sahabat Yufid Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah, bulan Juli 2026 telah kita lalui. Dengan pertolongan Allah, kemudian dukungan Anda, para donatur serta Sahabat Yufid, perjalanan dakwah ini terus bergerak dan menghadirkan karya yang insya Allah bermanfaat. Laporan ini adalah catatan tentang jejak kebaikan yang kita ikhtiarkan bersama sepanjang Juli 2026. Apa yang tercapai, dan apa yang belum. Berikut apa yang telah lahir dari perjalanan tersebut. Tiga angka bulan ini Juli 2026MaknanyaKonten baru312 video (203 produksi + 109 siaran langsung), 92 konten Instagram, 16 artikel, 809 audio kajianRata-rata 10 video baru setiap hari sepanjang Juli — seluruhnya GRATIS untuk umat.Tayangan±16,7 juta tayangan lintas platform (7,9 juta YouTube + 8,8 juta Instagram)Rata-rata 374 tayangan baru dimulai setiap menit, siang dan malam, tanpa jeda.Waktu menyimak430.525 jam ditonton di YouTubeSetara satu orang menyimak kajian tanpa henti selama 49 tahun — hanya dalam satu bulan. Cerita di Balik Angka: Serial Rezeki Ketika keadaan ekonomi terasa makin berat, urusan rezeki mudah berubah menjadi sumber kecemasan. Di tengah keadaan seperti itu, kita perlu kembali mengingat bahwa rezeki datang dari Allah. Kita berusaha, tetapi hati tetap bertawakal dan bersabar atas ketetapan-Nya. Melalui Yufid.TV, kami menghadirkan serial Shorts bersama Ustadz Johan Saputra Halim yang membahas berbagai persoalan seputar rezeki. Sepanjang Juli, telah diproduksi 7 video dalam serial ini, di antaranya “Gaji Numpang Lewat”, “Bisnis Sepi? Cek Ini Dulu”, dan “Cara Kerja Rezeki Tak Selalu Masuk Akal”.  Ketujuh video ini telah disaksikan 288.380 views sepanjang Juli. Serial ini adalah salah satu bentuk andil Yufid sebagai media dakwah: memahamkan umat dalam menyikapi rezeki. Di tengah berbagai persoalan kehidupan, Yufid berusaha terus hadir bersama umat, menghadirkan nasihat, solusi, dan pencerahan yang dekat dengan keseharian. Semoga konten-konten ini menjadi pengingat bahwa rezeki tidak selalu berjalan seperti yang kita bayangkan, tetapi selalu berada dalam ketetapan Allah. Ringkasan produksi per kanal Agar mudah diperiksa, angka di bawah ini dipisahkan antara video yang diproduksi tim dan siaran langsung yang disiarkan tim. Keduanya berbeda beban kerjanya, sehingga tidak digabung dalam satu angka. Kanal / programJuli 2026Juni 2026Rata-rata bulananA. Video produksiYufid.TV167136111di antaranya: Nasehat Ulama231616di antaranya: Motion Graphic & Shorts24336Yufid EDU354622Yufid Kids111Al-‘Ilmu Nurun008Total video produksi203183142B. Siaran langsungSiaran langsung Yufid.TV (live)109107115Total seluruh unggahan video312257257C. Konten non-videoInstagram Yufid.TV — konten465248Instagram Yufid Network — konten465248Artikel (4 situs redaksi)*161712Terjemahan Arab–Indonesia (kata)77.69068.46254.120Audio kajian baru (Kajian.net)8092.1971.006Perekaman artikel menjadi audio0627*Rincian artikel: KonsultasiSyariah.com 7 artikel; KhotbahJumat.com 7 artikel; KisahMuslim.com 2 artikel; PengusahaMuslim.com 0 artikel. Definisi angka Agar tidak ada angka yang berpindah makna dari bulan ke bulan, berikut definisi yang kami pakai: Video produksi: video yang melalui proses produksi tim (perekaman, penyuntingan, grafis, takarir). Termasuk Shorts dan motion graphic; masing-masing dihitung satu kali. Siaran langsung: sesi kajian yang disiarkan langsung dan tetap tersimpan di kanal. Dihitung terpisah dari video produksi. Konten Instagram: unggahan feed, carousel, dan reels; satu unggahan dihitung satu, berapa pun jumlah slide-nya. Audio kajian baru: rekaman kajian yang diproses dan diunggah ke Kajian.net pada bulan berjalan. Pertumbuhan dan infrastruktur Pertumbuhan pengikut Juli 2026: +26.203 di seluruh platform (YouTube +10.743, Instagram +15.460). Total pengikut Yufid kini 6,91 juta: 5,20 juta subscribers YouTube dan 1,71 juta followers Instagram. Di balik semua itu, tim infrastruktur merawat 3 server yang menghidupi 30 situs web dakwah, termasuk situs sejumlah ulama, agar tetap menyala 24 jam. Empat di antaranya adalah situs redaksi yang aktif memproduksi artikel baru setiap bulan; selebihnya adalah pustaka dakwah yang terus dirawat agar tetap dapat diakses. Yang Belum Tercapai Bulan Ini Sebagai bagian dari amanah, kami laporkan juga yang belum berjalan sesuai harapan, bukan hanya yang berhenti di angka nol, tetapi juga yang turun. Audio kajian turun tajam: 2.197 → 809. Yufid EDU turun: 46 → 35 video. Instagram turun: 52 → 46 konten per akun.  Penurunan pada produksi pada 3 elemen di atas, dikarenakan tim Yufid difokuskan untuk menambah produksi video, yang di antara video tersebut memerlukan upaya yang lebih besar dan waktu yang lebih lama. Contohnya: memproduksi video Nasehat Ulama, memerlukan proses yang lebih panjang: dari mulai memilih video, menulis subtitle dalam bahasa Arab, menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, lanjut mengedit video, lalu video tersebut diperiksa kembali, seringkali revisi sebelum video layak tayang. Terima Kasih dan Doa Setiap konten yang hadir dan setiap ilmu yang tersebar tidak lepas dari dukungan, doa, dan kontribusi para donatur serta Sahabat Yufid. Allah Ta‘ala-lah yang menggerakkan hati Anda untuk ikut mengambil bagian dalam dakwah ini. Maka laporan ini bukan hanya tentang angka dan capaian, tetapi tentang jejak kebaikan yang kita ikhtiarkan bersama agar terus memberikan manfaat. Jazakumullah khairan atas setiap doa, dukungan, dan kontribusi yang telah Anda berikan. Semoga Allah Ta‘ala menerima amal kebaikan tersebut, melimpahkan keberkahan pada harta, keluarga, dan waktu Anda, serta menjadikan setiap ilmu yang tersebar melalui Yufid sebagai amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Aamiin. Bagi Anda yang ingin pahala ilmu ini terus mengalir, pintu menopang dakwah selalu terbuka, berapa pun nilainya, karena yang Allah lihat bukan besar kecilnya, melainkan keikhlasan di baliknya. yufid.org/donasi-untuk-yufid → Dukung Dakwah Yufid Dan bagi yang belum dimudahkan berdonasi, doa Anda untuk dakwah ini pun amal yang sangat berharga di sisi Allah. Wallahu a‘lam. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma‘in, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Tentang Yufid: Yayasan Yufid Network telah 16 tahun menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis: 25.163 video di lima kanal YouTube dengan total 974,8 juta tayangan, dan insya Allah menembus satu miliar dalam waktu dekat, serta 10.241 artikel dan proyek terjemahan yang telah menuntaskan 5,1 juta kata sejak 2018. 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 69 times, 1 visit(s) today Post Views: 107

Mengapa Dia Hidup Nyaman, Sedangkan Aku Terus Diuji? – Syaikh Utsaimin

Akan tetapi, jika Allah menghendaki keburukan bagi hamba-Nya, Allah menangguhkannya, meng-istidrajnya (membiarkannya terus terbuai secara bertahap), terus melimpahkan nikmat kepadanya, dan menjauhkan berbagai musibah darinya, hingga ia menjadi angkuh. Kita berlindung kepada Allah. Dan ia bergembira dengan kegembiraan yang tercela atas nikmat yang Allah berikan kepadanya. Ketika itulah ia menemui Rabbnya dalam keadaan tenggelam dalam dosa-dosanya, lalu ia dihukum karena dosa-dosanya di akhirat. Kita memohon keselamatan kepada Allah. Maka jika engkau melihat seseorang terang-terangan menentang Allah dengan kemaksiatan, sementara Allah menjaganya dari cobaan dan terus melimpahkan nikmat kepadanya, maka ketahuilah bahwa Allah menghendaki keburukan baginya. Mengapa? Karena Allah menangguhkan hukumannya hingga ia menghadap pada hari Kiamat dengan dosa tersebut. Kemudian disebutkan dalam hadis ini bahwa besarnya balasan sebanding dengan besarnya cobaan. Artinya, semakin besar cobaan, semakin besar pula balasannya. Cobaan yang ringan memiliki pahala yang sedikit, sedangkan cobaan yang berat memiliki pahala yang besar. Apabila Allah menguji mereka dengan berbagai kesulitan berat, Allah memberikan kepada mereka pahala yang sangat banyak karenanya. Sebaliknya, apabila musibah itu ringan, pahalanya pun ringan. “Dan sesungguhnya Allah apabila mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Barang siapa rida, baginya keridaan; dan barang siapa murka, baginya kemurkaan.” (HR. Ibnu Majah). Ini juga merupakan kabar gembira bagi seorang mukmin. Ketika ia diuji dengan musibah, janganlah ia menyangka bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala membencinya. Bahkan, boleh jadi hal itu merupakan tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengujinya dengan berbagai musibah. Apabila seseorang rida dan bersabar, serta mengharapkan pahala dari Allah, maka baginya keridaan. Namun, jika ia murka, maka baginya kemurkaan. Dalam hadis ini terdapat dorongan agar seseorang bersabar menghadapi berbagai musibah, hingga ditetapkan baginya keridaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan Allah-lah yang memberi taufik. ===== لَكِنْ إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْهَلَ لَهُ وَاسْتَدْرَجَهُ وَأَدَرَّ عَلَيْهِ النِّعَمَ وَدَفَعَ عَنْهُ النِّقَمَ حَتَّى يَبْطَرَ وَالْعِيَاذُ بِاللهِ وَيَفْرَحَ فَرَحًا مَذْمُومًا بِمَا أَنْعَمَ اللهُ بِهِ عَلَيْهِ وَحِينَئِذٍ يُلَاقِي رَبَّهُ وَهُوَ مَغْمُورٌ بِسَيِّئَاتِهِ فَيُعَاقَبُ بِهَا فِي الْآخِرَةِ نَسْأَلُ اللهَ الْعَافِيَةَ فَإِذَا رَأَيْتَ شَخْصًا يُبَارِزُ اللهَ بِالْعِصْيَانِ وَقَدْ وَقَاهُ اللهُ الْبَلَاءَ وَأَدَرَّ عَلَيْهِ النِّعَمَ فَاعْلَمْ أَنَّ اللهَ إِنَّمَا أَرَادَ بِهِ شَرًّا لِمَاذَا؟ لِأَنَّ اللهَ أَخَّرَ عَنْهُ الْعُقُوبَةَ حَتَّى يُوَافِي بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ ذَكَرَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مِنْ عِظَمِ الْبَلَاءِ يَعْنِي أَنَّهُ كُلَّمَا عَظُمَ الْبَلَاءُ عَظُمَ الْجَزَاءُ فَالْبَلَاءُ السَّهْلُ لَهُ أَجْرٌ يَسِيرٌ، وَالْبَلَاءُ الشَّدِيدُ لَهُ أَجْرٌ كَبِيرٌ إِذَا ابْتَلَاهُمْ بِالشَّدَائِدِ أَعْطَاهُمْ عَلَيْهَا مِنَ الْأَجْرِ الْكَثِيرِ وَإِذَا هَانَتِ الْمَصَائِبُ هَانَ الْأَجْرُ وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ وَهَذِهِ أَيْضًا بُشْرَى لِلْمُؤْمِنِ إِذَا ابْتُلِيَ بِالْمُصِيبَةِ فَلَا يَظُنَّ أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يُبْغِضُهُ بَلْ قَدْ يَكُونُ هَذَا مِنْ عَلَامَةِ مَحَبَّةِ اللهِ لِلْعَبْدِ يَبْتَلِيهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِالْمَصَائِبِ فَإِذَا رَضِيَ الْإِنْسَانُ وَصَبَرَ وَاحْتَسَبَ فَلَهُ الرِّضَا وَإِنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ وَفِي هَذَا حَثٌّ عَلَى أَنَّ الْإِنْسَانَ يَصْبِرُ عَلَى الْمَصَائِبِ حَتَّى يُكْتَبَ لَهُ الرِّضَا مِنَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَاللهُ الْمُوَفِّقُ

Mengapa Dia Hidup Nyaman, Sedangkan Aku Terus Diuji? – Syaikh Utsaimin

Akan tetapi, jika Allah menghendaki keburukan bagi hamba-Nya, Allah menangguhkannya, meng-istidrajnya (membiarkannya terus terbuai secara bertahap), terus melimpahkan nikmat kepadanya, dan menjauhkan berbagai musibah darinya, hingga ia menjadi angkuh. Kita berlindung kepada Allah. Dan ia bergembira dengan kegembiraan yang tercela atas nikmat yang Allah berikan kepadanya. Ketika itulah ia menemui Rabbnya dalam keadaan tenggelam dalam dosa-dosanya, lalu ia dihukum karena dosa-dosanya di akhirat. Kita memohon keselamatan kepada Allah. Maka jika engkau melihat seseorang terang-terangan menentang Allah dengan kemaksiatan, sementara Allah menjaganya dari cobaan dan terus melimpahkan nikmat kepadanya, maka ketahuilah bahwa Allah menghendaki keburukan baginya. Mengapa? Karena Allah menangguhkan hukumannya hingga ia menghadap pada hari Kiamat dengan dosa tersebut. Kemudian disebutkan dalam hadis ini bahwa besarnya balasan sebanding dengan besarnya cobaan. Artinya, semakin besar cobaan, semakin besar pula balasannya. Cobaan yang ringan memiliki pahala yang sedikit, sedangkan cobaan yang berat memiliki pahala yang besar. Apabila Allah menguji mereka dengan berbagai kesulitan berat, Allah memberikan kepada mereka pahala yang sangat banyak karenanya. Sebaliknya, apabila musibah itu ringan, pahalanya pun ringan. “Dan sesungguhnya Allah apabila mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Barang siapa rida, baginya keridaan; dan barang siapa murka, baginya kemurkaan.” (HR. Ibnu Majah). Ini juga merupakan kabar gembira bagi seorang mukmin. Ketika ia diuji dengan musibah, janganlah ia menyangka bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala membencinya. Bahkan, boleh jadi hal itu merupakan tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengujinya dengan berbagai musibah. Apabila seseorang rida dan bersabar, serta mengharapkan pahala dari Allah, maka baginya keridaan. Namun, jika ia murka, maka baginya kemurkaan. Dalam hadis ini terdapat dorongan agar seseorang bersabar menghadapi berbagai musibah, hingga ditetapkan baginya keridaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan Allah-lah yang memberi taufik. ===== لَكِنْ إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْهَلَ لَهُ وَاسْتَدْرَجَهُ وَأَدَرَّ عَلَيْهِ النِّعَمَ وَدَفَعَ عَنْهُ النِّقَمَ حَتَّى يَبْطَرَ وَالْعِيَاذُ بِاللهِ وَيَفْرَحَ فَرَحًا مَذْمُومًا بِمَا أَنْعَمَ اللهُ بِهِ عَلَيْهِ وَحِينَئِذٍ يُلَاقِي رَبَّهُ وَهُوَ مَغْمُورٌ بِسَيِّئَاتِهِ فَيُعَاقَبُ بِهَا فِي الْآخِرَةِ نَسْأَلُ اللهَ الْعَافِيَةَ فَإِذَا رَأَيْتَ شَخْصًا يُبَارِزُ اللهَ بِالْعِصْيَانِ وَقَدْ وَقَاهُ اللهُ الْبَلَاءَ وَأَدَرَّ عَلَيْهِ النِّعَمَ فَاعْلَمْ أَنَّ اللهَ إِنَّمَا أَرَادَ بِهِ شَرًّا لِمَاذَا؟ لِأَنَّ اللهَ أَخَّرَ عَنْهُ الْعُقُوبَةَ حَتَّى يُوَافِي بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ ذَكَرَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مِنْ عِظَمِ الْبَلَاءِ يَعْنِي أَنَّهُ كُلَّمَا عَظُمَ الْبَلَاءُ عَظُمَ الْجَزَاءُ فَالْبَلَاءُ السَّهْلُ لَهُ أَجْرٌ يَسِيرٌ، وَالْبَلَاءُ الشَّدِيدُ لَهُ أَجْرٌ كَبِيرٌ إِذَا ابْتَلَاهُمْ بِالشَّدَائِدِ أَعْطَاهُمْ عَلَيْهَا مِنَ الْأَجْرِ الْكَثِيرِ وَإِذَا هَانَتِ الْمَصَائِبُ هَانَ الْأَجْرُ وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ وَهَذِهِ أَيْضًا بُشْرَى لِلْمُؤْمِنِ إِذَا ابْتُلِيَ بِالْمُصِيبَةِ فَلَا يَظُنَّ أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يُبْغِضُهُ بَلْ قَدْ يَكُونُ هَذَا مِنْ عَلَامَةِ مَحَبَّةِ اللهِ لِلْعَبْدِ يَبْتَلِيهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِالْمَصَائِبِ فَإِذَا رَضِيَ الْإِنْسَانُ وَصَبَرَ وَاحْتَسَبَ فَلَهُ الرِّضَا وَإِنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ وَفِي هَذَا حَثٌّ عَلَى أَنَّ الْإِنْسَانَ يَصْبِرُ عَلَى الْمَصَائِبِ حَتَّى يُكْتَبَ لَهُ الرِّضَا مِنَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَاللهُ الْمُوَفِّقُ
Akan tetapi, jika Allah menghendaki keburukan bagi hamba-Nya, Allah menangguhkannya, meng-istidrajnya (membiarkannya terus terbuai secara bertahap), terus melimpahkan nikmat kepadanya, dan menjauhkan berbagai musibah darinya, hingga ia menjadi angkuh. Kita berlindung kepada Allah. Dan ia bergembira dengan kegembiraan yang tercela atas nikmat yang Allah berikan kepadanya. Ketika itulah ia menemui Rabbnya dalam keadaan tenggelam dalam dosa-dosanya, lalu ia dihukum karena dosa-dosanya di akhirat. Kita memohon keselamatan kepada Allah. Maka jika engkau melihat seseorang terang-terangan menentang Allah dengan kemaksiatan, sementara Allah menjaganya dari cobaan dan terus melimpahkan nikmat kepadanya, maka ketahuilah bahwa Allah menghendaki keburukan baginya. Mengapa? Karena Allah menangguhkan hukumannya hingga ia menghadap pada hari Kiamat dengan dosa tersebut. Kemudian disebutkan dalam hadis ini bahwa besarnya balasan sebanding dengan besarnya cobaan. Artinya, semakin besar cobaan, semakin besar pula balasannya. Cobaan yang ringan memiliki pahala yang sedikit, sedangkan cobaan yang berat memiliki pahala yang besar. Apabila Allah menguji mereka dengan berbagai kesulitan berat, Allah memberikan kepada mereka pahala yang sangat banyak karenanya. Sebaliknya, apabila musibah itu ringan, pahalanya pun ringan. “Dan sesungguhnya Allah apabila mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Barang siapa rida, baginya keridaan; dan barang siapa murka, baginya kemurkaan.” (HR. Ibnu Majah). Ini juga merupakan kabar gembira bagi seorang mukmin. Ketika ia diuji dengan musibah, janganlah ia menyangka bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala membencinya. Bahkan, boleh jadi hal itu merupakan tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengujinya dengan berbagai musibah. Apabila seseorang rida dan bersabar, serta mengharapkan pahala dari Allah, maka baginya keridaan. Namun, jika ia murka, maka baginya kemurkaan. Dalam hadis ini terdapat dorongan agar seseorang bersabar menghadapi berbagai musibah, hingga ditetapkan baginya keridaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan Allah-lah yang memberi taufik. ===== لَكِنْ إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْهَلَ لَهُ وَاسْتَدْرَجَهُ وَأَدَرَّ عَلَيْهِ النِّعَمَ وَدَفَعَ عَنْهُ النِّقَمَ حَتَّى يَبْطَرَ وَالْعِيَاذُ بِاللهِ وَيَفْرَحَ فَرَحًا مَذْمُومًا بِمَا أَنْعَمَ اللهُ بِهِ عَلَيْهِ وَحِينَئِذٍ يُلَاقِي رَبَّهُ وَهُوَ مَغْمُورٌ بِسَيِّئَاتِهِ فَيُعَاقَبُ بِهَا فِي الْآخِرَةِ نَسْأَلُ اللهَ الْعَافِيَةَ فَإِذَا رَأَيْتَ شَخْصًا يُبَارِزُ اللهَ بِالْعِصْيَانِ وَقَدْ وَقَاهُ اللهُ الْبَلَاءَ وَأَدَرَّ عَلَيْهِ النِّعَمَ فَاعْلَمْ أَنَّ اللهَ إِنَّمَا أَرَادَ بِهِ شَرًّا لِمَاذَا؟ لِأَنَّ اللهَ أَخَّرَ عَنْهُ الْعُقُوبَةَ حَتَّى يُوَافِي بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ ذَكَرَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مِنْ عِظَمِ الْبَلَاءِ يَعْنِي أَنَّهُ كُلَّمَا عَظُمَ الْبَلَاءُ عَظُمَ الْجَزَاءُ فَالْبَلَاءُ السَّهْلُ لَهُ أَجْرٌ يَسِيرٌ، وَالْبَلَاءُ الشَّدِيدُ لَهُ أَجْرٌ كَبِيرٌ إِذَا ابْتَلَاهُمْ بِالشَّدَائِدِ أَعْطَاهُمْ عَلَيْهَا مِنَ الْأَجْرِ الْكَثِيرِ وَإِذَا هَانَتِ الْمَصَائِبُ هَانَ الْأَجْرُ وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ وَهَذِهِ أَيْضًا بُشْرَى لِلْمُؤْمِنِ إِذَا ابْتُلِيَ بِالْمُصِيبَةِ فَلَا يَظُنَّ أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يُبْغِضُهُ بَلْ قَدْ يَكُونُ هَذَا مِنْ عَلَامَةِ مَحَبَّةِ اللهِ لِلْعَبْدِ يَبْتَلِيهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِالْمَصَائِبِ فَإِذَا رَضِيَ الْإِنْسَانُ وَصَبَرَ وَاحْتَسَبَ فَلَهُ الرِّضَا وَإِنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ وَفِي هَذَا حَثٌّ عَلَى أَنَّ الْإِنْسَانَ يَصْبِرُ عَلَى الْمَصَائِبِ حَتَّى يُكْتَبَ لَهُ الرِّضَا مِنَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَاللهُ الْمُوَفِّقُ


Akan tetapi, jika Allah menghendaki keburukan bagi hamba-Nya, Allah menangguhkannya, meng-istidrajnya (membiarkannya terus terbuai secara bertahap), terus melimpahkan nikmat kepadanya, dan menjauhkan berbagai musibah darinya, hingga ia menjadi angkuh. Kita berlindung kepada Allah. Dan ia bergembira dengan kegembiraan yang tercela atas nikmat yang Allah berikan kepadanya. Ketika itulah ia menemui Rabbnya dalam keadaan tenggelam dalam dosa-dosanya, lalu ia dihukum karena dosa-dosanya di akhirat. Kita memohon keselamatan kepada Allah. Maka jika engkau melihat seseorang terang-terangan menentang Allah dengan kemaksiatan, sementara Allah menjaganya dari cobaan dan terus melimpahkan nikmat kepadanya, maka ketahuilah bahwa Allah menghendaki keburukan baginya. Mengapa? Karena Allah menangguhkan hukumannya hingga ia menghadap pada hari Kiamat dengan dosa tersebut. Kemudian disebutkan dalam hadis ini bahwa besarnya balasan sebanding dengan besarnya cobaan. Artinya, semakin besar cobaan, semakin besar pula balasannya. Cobaan yang ringan memiliki pahala yang sedikit, sedangkan cobaan yang berat memiliki pahala yang besar. Apabila Allah menguji mereka dengan berbagai kesulitan berat, Allah memberikan kepada mereka pahala yang sangat banyak karenanya. Sebaliknya, apabila musibah itu ringan, pahalanya pun ringan. “Dan sesungguhnya Allah apabila mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Barang siapa rida, baginya keridaan; dan barang siapa murka, baginya kemurkaan.” (HR. Ibnu Majah). Ini juga merupakan kabar gembira bagi seorang mukmin. Ketika ia diuji dengan musibah, janganlah ia menyangka bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala membencinya. Bahkan, boleh jadi hal itu merupakan tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengujinya dengan berbagai musibah. Apabila seseorang rida dan bersabar, serta mengharapkan pahala dari Allah, maka baginya keridaan. Namun, jika ia murka, maka baginya kemurkaan. Dalam hadis ini terdapat dorongan agar seseorang bersabar menghadapi berbagai musibah, hingga ditetapkan baginya keridaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan Allah-lah yang memberi taufik. ===== لَكِنْ إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْهَلَ لَهُ وَاسْتَدْرَجَهُ وَأَدَرَّ عَلَيْهِ النِّعَمَ وَدَفَعَ عَنْهُ النِّقَمَ حَتَّى يَبْطَرَ وَالْعِيَاذُ بِاللهِ وَيَفْرَحَ فَرَحًا مَذْمُومًا بِمَا أَنْعَمَ اللهُ بِهِ عَلَيْهِ وَحِينَئِذٍ يُلَاقِي رَبَّهُ وَهُوَ مَغْمُورٌ بِسَيِّئَاتِهِ فَيُعَاقَبُ بِهَا فِي الْآخِرَةِ نَسْأَلُ اللهَ الْعَافِيَةَ فَإِذَا رَأَيْتَ شَخْصًا يُبَارِزُ اللهَ بِالْعِصْيَانِ وَقَدْ وَقَاهُ اللهُ الْبَلَاءَ وَأَدَرَّ عَلَيْهِ النِّعَمَ فَاعْلَمْ أَنَّ اللهَ إِنَّمَا أَرَادَ بِهِ شَرًّا لِمَاذَا؟ لِأَنَّ اللهَ أَخَّرَ عَنْهُ الْعُقُوبَةَ حَتَّى يُوَافِي بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ ذَكَرَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مِنْ عِظَمِ الْبَلَاءِ يَعْنِي أَنَّهُ كُلَّمَا عَظُمَ الْبَلَاءُ عَظُمَ الْجَزَاءُ فَالْبَلَاءُ السَّهْلُ لَهُ أَجْرٌ يَسِيرٌ، وَالْبَلَاءُ الشَّدِيدُ لَهُ أَجْرٌ كَبِيرٌ إِذَا ابْتَلَاهُمْ بِالشَّدَائِدِ أَعْطَاهُمْ عَلَيْهَا مِنَ الْأَجْرِ الْكَثِيرِ وَإِذَا هَانَتِ الْمَصَائِبُ هَانَ الْأَجْرُ وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ وَهَذِهِ أَيْضًا بُشْرَى لِلْمُؤْمِنِ إِذَا ابْتُلِيَ بِالْمُصِيبَةِ فَلَا يَظُنَّ أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يُبْغِضُهُ بَلْ قَدْ يَكُونُ هَذَا مِنْ عَلَامَةِ مَحَبَّةِ اللهِ لِلْعَبْدِ يَبْتَلِيهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِالْمَصَائِبِ فَإِذَا رَضِيَ الْإِنْسَانُ وَصَبَرَ وَاحْتَسَبَ فَلَهُ الرِّضَا وَإِنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ وَفِي هَذَا حَثٌّ عَلَى أَنَّ الْإِنْسَانَ يَصْبِرُ عَلَى الْمَصَائِبِ حَتَّى يُكْتَبَ لَهُ الرِّضَا مِنَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَاللهُ الْمُوَفِّقُ

Begitulah Setan Mengincar Imanmu: Seperti Anjing Lapar Mengincar Daging

Perumpamaan setan dan manusia seperti seseorang yang memiliki sepotong daging di hadapannya. sedangkan di sekelilingnya ada seekor anjing lapar yang terus mengitarinya dari segala arah. Sang anjing menunggu orang itu lengah sedikit saja untuk menyambar dagingnya. Sepotong daging itu adalah iman. Ketahuilah, wahai Muslim, bahwa engkau memiliki musuh yang mengancam imanmu. Ia melihatmu, sementara engkau tidak melihatnya. Ia terus berupaya menguasaimu setiap saat, mendatangimu dari segala arah, sedangkan engkau tidak melihatnya. Tidak ada targetnya selain iman yang ada pada dirimu. Ia bekerja siang dan malam dengan segala sarana dan berbagai cara untuk melenyapkan iman itu darimu. Tidak ada yang menjadi perhatiannya selain hal tersebut. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan perihal dan keadaan musuh ini dalam firman-Nya Jalla fi ‘Ulahu tentang setan, semoga Allah ‘Azza wa Jalla melindungi kita darinya. Allah berfirman, “Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al-A’raf: 17) Kapan ia mengucapkan perkataan ini? Kapan setan mengucapkannya? Ia telah mengucapkannya sejak dahulu, ketika ia telah jatuh dalam kesesatan. Iblis berkata, “Wahai Rabbku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat…” (QS. Al-Hijr: 39). Saat itulah ia mengucapkan perkataan tadi. Iblis berkata, “Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al-A’raf: 17). Inilah sangkaan Iblis terhadap manusia: bahwa mereka akan menjadi seperti itu. Karena itulah Allah berfirman dalam Surah Saba’, “Dan sungguh, Iblis telah membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka, lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian dari orang-orang mukmin.” (QS. Saba’: 20). Saya akan mengungkapkannya dengan ungkapan sehari-hari yang barangkali dapat membantu menjelaskan maknanya. Saya katakan, kebanyakan manusia ternyata benar-benar sesuai dengan sangkaan Iblis terhadap mereka. Iblis menyangka bahwa sebagian besar manusia akan menjadi pengikutnya. Sangkaan yang ia sangkakan itu benar-benar terjadi pada kebanyakan manusia, kecuali sedikit orang yang Allah selamatkan. Karena itu, bersungguh-sungguhlah agar engkau termasuk orang-orang yang memperoleh keselamatan, yang selamat dari musuh ini, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkanmu untuk memperlakukannya sebagai musuh. Menentukan siapa yang menjadi musuh kita bukanlah urusan yang kita tetapkan menurut pendapat sendiri. Sekarang, sebagian orang justru menentukan sendiri siapa musuh-musuhnya. Ia membuat penetapan sendiri, hingga engkau mendapatinya memusuhi orang yang tidak semestinya dimusuhi. Demi Allah, sebagian orang sekarang justru memusuhi orang-orang saleh dari kalangan hamba Allah. Ia membenci dan tidak menyukai orang-orang saleh, hatinya dipenuhi kedengkian dan berbagai hal buruk terhadap mereka. Bahkan ia menganggap orang-orang saleh sebagai musuh bebuyutannya. Padahal semua itu berasal dari hasutan setan. Allah Subhanahu wa Ta’ala-lah yang telah menentukan bagi kita siapa musuh-musuh kita. Bukankah Allah berfirman, “Dan Allah lebih mengetahui tentang musuh-musuh kalian.” (QS. An-Nisa’: 45). Allah ‘Azza wa Jalla-lah Yang Maha Mengetahui. Dialah yang telah menjelaskannya kepada kita. Dan musuh terbesar kita, yang benar-benar wajib kita perlakukan sebagai musuh, adalah setan. “Sesungguhnya setan adalah musuh bagi kalian, maka perlakukanlah ia sebagai musuh. Sesungguhnya ia hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6). Karena itu, dalam perkara ini seseorang benar-benar perlu menjadikan setan sebagai musuh dalam perkara memperbarui iman. Imanmu tidak akan selamat kecuali dengan memperlakukan setan sebagai musuh. Engkau benar-benar memusuhinya. Dan permusuhan yang kuat ini akan melahirkan kewaspadaan yang tinggi terhadap hasutan setan, berbagai waswasnya, dan upayanya memalingkan manusia dari agama Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta kewaspadaan terhadap berbagai cara yang ditempuhnya. Ibnul Qayyim rahimahullah Ta’ala memberikan sebuah perumpamaan untuk menjelaskan keadaan setan terhadap manusia, sebuah perumpamaan yang memperjelas hal tersebut. Ibnul Qayyim berkata, “Perumpamaan setan dan manusia seperti seseorang yang memiliki sepotong daging. Sepotong daging itu adalah iman. Di hadapannya ada sepotong daging, sedangkan di sekelilingnya ada seekor anjing lapar yang terus mengitarinya dari segala arah. Anjing itu menunggu sedikit saja kelengahan dari pemilik daging untuk menyambar dagingnya.” (Lihat At-Tibyan fi Aqsam Al-Qur’an) Demikianlah keadaan setan, subhanallah! Setan terus mengitari manusia dari segala arah dan mengintainya di setiap jalan. Sebagaimana sabda Nabi kita ‘alaihish shalatu was salam, “Sesungguhnya setan mengintai anak Adam di jalan-jalannya, di setiap jalan yang ditempuhnya.” (Lihat HR. An-Nasa’i no. 3134). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Perdayakanlah siapa saja di antara mereka yang engkau sanggupi dengan ajakanmu, kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki, bersekutulah dengan mereka dalam harta dan anak-anak, serta berilah mereka janji. Padahal setan tidak menjanjikan kepada mereka selain tipuan belaka. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, engkau tidak memiliki kekuasaan atas mereka. Dan cukuplah Rabbmu sebagai penjaga.” (QS. Al-Isra’: 64–65) Ini adalah perkara yang harus benar-benar disadari oleh seorang hamba. Sebagaimana perkataan sebagian salaf, “Musuh yang melihatmu sedangkan engkau tidak melihatnya, sangat berat untuk dihadapi.” Namun kesulitan yang berat ini menjadi ringan dengan kuatnya hubungan dengan Allah dan zikir kepada-Nya. Sesungguhnya zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan benteng yang sangat kokoh dari setan yang terkutuk. “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, engkau tidak memiliki kekuasaan atas mereka.” (QS. Al-Isra’: 65) Seorang hamba yang senantiasa berzikir kepada Allah dan berlindung kepada-Nya, setan tidak memiliki jalan untuk menguasainya. Setan mendapatkan jalan terhadap orang yang berpaling dari mengingat Allah. “Barang siapa berpaling dari peringatan Tuhan Yang Maha Pengasih, Kami jadikan baginya setan, maka setan itu menjadi teman karibnya.” (QS. Az-Zukhruf: 36) ===== مَثَلُ الشَّيْطَانِ وَالْإِنْسَانِ كَمَثَلِ شَخْصٍ مَعَهُ قِطْعَةٌ مِنَ اللَّحْمِ بَيْنَ يَدَيْهِ وَحَوْلَهُ كَلْبٌ جَائِعٌ يَطُوفُ بِهِ مِنْ كُلِّ جِهَةٍ يَنْتَظِرُ أَقَلَّ غَفْلَةٍ مِنْ صَاحِبِ اللَّحْمِ لِيَخْطَفَ مِنْهُ لَحْمَهُ الْقِطْعَةُ مِنَ اللَّحْمِ هِيَ الْإِيمَانُ وَاعْلَمْ أَيُّهَا الْمُسْلِمُ أَنَّ لَكَ عَدُوًّا فِي إِيمَانِكَ يَرَاكَ وَلَا تَرَاهُ مُتَسَلِّطٌ عَلَيْكَ فِي كُلِّ وَقْتٍ، يَأْتِيكَ مِنْ كُلِّ جِهَةٍ وَأَنْتَ لَا تَرَاهُ وَلَيْسَ لَهُ مُهِمَّةٌ إِلَّا هَذَا الْإِيمَانَ الَّذِي عِنْدَكَ يَعْمَلُ لَيْلَ نَهَارَ بِكُلِّ الْوَسَائِلِ وَشَتَّى الطُّرُقِ لِيُذْهِبَ عَنْكَ هَذَا الْإِيمَانَ لَا هَمَّ لَهُ إِلَّا هَذَا كَمَا ذَكَرَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْ شَأْنِ وَحَالِ هَذَا الْعَدُوِّ فِي قَوْلِهِ جَلَّ فِي عُلَاهُ عَنِ الشَّيْطَانِ أَعَاذَنَا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْهُ قَالَ: ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ هَذِهِ قَالَهَا مَتَى؟ مَتَى قَالَهَا الشَّيْطَانُ؟ قَالَهَا قَدِيمًا عِنْدَمَا حَصَلَتْ مِنْهُ الْغَوَايَةُ قَالَ: رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي حِينَذَاكَ قَالَ هَذِهِ الْكَلِمَةَ قَالَ: وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ هَذَا ظَنٌّ ظَنَّهُ فِي النَّاسِ أَنَّهُمْ يَكُونُونَ كَذَلِكَ وَلِهَذَا قَالَ اللهُ فِي سُورَةِ سَبَأٍ وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ فَاتَّبَعُوهُ إِلَّا فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَقُولُهَا بِعِبَارَةٍ دَارِجَةٍ رُبَّمَا يَكُونُ لَهَا شَيْءٌ مِنَ الْوَاقِعِ فِي فَهْمِ الْمَعْنَى أَقُولُ: أَكْثَرُ النَّاسِ مَا خَيَّبُوا ظَنَّ إِبْلِيسَ فِيهِمْ ظَنَّ فِي أَكْثَرِ النَّاسِ أَنْ يَكُونُوا أَتْبَاعَهُ هَذَا الظَّنُّ الَّذِي ظَنَّهُ حَصَلَ فِي أَكْثَرِ النَّاسِ، إِلَّا الْقَلِيلَ الَّذِينَ نَجَّاهُمُ اللهُ وَلِهَذَا اجْتَهِدْ أَنْ تَكُونَ فِي أَهْلِ النَّجَاةِ، أَهْلِ السَّلَامَةِ مِنْ هَذَا الْعَدُوِّ الَّذِي أَمَرَكَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ تَتَّخِذَهُ عَدُوًّا لَيْسَتْ مَسْأَلَةُ الْأَعْدَاءِ مَسْأَلَةَ اقْتِرَاحَاتٍ الْآنَ بَعْضُ النَّاسِ هُوَ الَّذِي يُحَدِّدُ مَنْ هُمْ أَعْدَاؤُهُ وَيَقْتَرِحُ، وَتَجِدُهُ يُعَادِي مَنْ لَا يُعَادَى وَاللهِ، بَعْضُ النَّاسِ الْآنَ يُعَادِي الصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِ اللهِ وَيُبْغِضُهُمْ وَيَكْرَهُهُمْ، وَيَمْتَلِئُ قَلْبُهُ فِي الْغِلِّ وَأَشْيَاءَ كَثِيرَةٍ عَلَيْهِمْ وَيَعْتَبِرُهُمْ هُمُ الْعَدُوَّ اللَّدُودَ لَهُ، وَهَذَا كُلُّهُ مِنْ نَزْغِ الشَّيْطَانِ الْعَدُوُّ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هُوَ الَّذِي حَدَّدَ لَنَا مَنْ هُمْ أَعْدَاؤُنَا أَلَيْسَ اللهُ قَالَ: وَاللهُ أَعْلَمُ بِأَعْدَائِكُمْ؟ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ الْأَعْلَمُ، هُوَ الَّذِي بَيَّنَ لَنَا وَأَشَدُّ الْأَعْدَاءِ لَنَا، الَّذِي يَجِبُ أَنْ نَتَّخِذَهُ فِعْلًا عَدُوًّا، الشَّيْطَانُ إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ وَلِهَذَا يَحْتَاجُ الْإِنْسَانُ فِعْلًا فِي هَذَا الْبَابِ، بَابِ تَجْدِيدِ الْإِيمَانِ أَنْ يَتَّخِذَ الشَّيْطَانَ عَدُوًّا لَا يُمْكِنُ أَنْ يَسْلَمَ لَكَ إِيمَانُكَ إِلَّا بِاتِّخَاذِ الشَّيْطَانِ عَدُوًّا تُعَادِيهِ عَدَاوَةً شَدِيدَةً تُوَلِّدُ هَذِهِ الْعَدَاوَةُ الْحَذَرَ الشَّدِيدَ مِنْ نَزْغِ الشَّيْطَانِ وَوَسَاوِسِهِ وَصَدِّهِ عَنْ دِينِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْحَذَرَ مِنْ طَرَائِقِهِ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى ضَرَبَ مِثَالًا لِبَيَانِ حَالِ الشَّيْطَانِ مَعَ الْإِنْسَانِ، مِثَالًا يُوَضِّحُ يَقُولُ: مَثَلُ الشَّيْطَانِ وَالْإِنْسَانِ كَمَثَلِ شَخْصٍ مَعَهُ قِطْعَةٌ مِنَ اللَّحْمِ الْقِطْعَةُ مِنَ اللَّحْمِ هِيَ الْإِيمَانُ مَعَهُ قِطْعَةٌ مِنَ اللَّحْمِ بَيْنَ يَدَيْهِ، وَحَوْلَهُ كَلْبٌ جَائِعٌ يَطُوفُ بِهِ مِنْ كُلِّ جِهَةٍ يَنْتَظِرُ أَقَلَّ غَفْلَةٍ مِنْ صَاحِبِ اللَّحْمِ لِيَخْطَفَ مِنْهُ لَحْمَهُ وَهَذِهِ حَالُ الشَّيْطَانِ، سُبْحَانَ اللهِ يَطُوفُ بِالْإِنْسَانِ مِنْ كُلِّ جِهَةٍ، وَقَاعِدٌ لَهُ بِكُلِّ طَرِيقٍ كَمَا قَالَ نَبِيُّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِنَّ الشَّيْطَانَ قَاعِدٌ لِابْنِ آدَمَ بِأَطْرُقِهِ بِكُلِّ طَرِيقٍ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَقُولُ وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُم بِصَوْتِكَ وَأَجْلِبْ عَلَيْهِم بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ وَعِدْهُمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ وَكِيلًا هَذَا أَمْرٌ لَا بُدَّ أَنْ يَسْتَشْعِرَهُ الْعَبْدُ وَكَمَا قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: عَدُوٌّ يَرَاكَ وَلَا تَرَاهُ، شَدِيدُ الْمُؤْنَةِ لَكِنْ هَذِهِ الْمُؤْنَةُ الشَّدِيدَةُ تَهُونُ مَعَ قُوَّةِ الصِّلَةِ بِاللهِ وَالذِّكْرِ لِلهِ فَإِنَّ ذِكْرَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى حِصْنٌ حَصِينٌ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ الْعَبْدُ الذَّاكِرُ لِلهِ، الْمُلْتَجِئُ إِلَى اللهِ، لَيْسَ لِلشَّيْطَانِ عَلَيْهِ سَبِيلٌ سَبِيلُهُ عَلَى مَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ

Begitulah Setan Mengincar Imanmu: Seperti Anjing Lapar Mengincar Daging

Perumpamaan setan dan manusia seperti seseorang yang memiliki sepotong daging di hadapannya. sedangkan di sekelilingnya ada seekor anjing lapar yang terus mengitarinya dari segala arah. Sang anjing menunggu orang itu lengah sedikit saja untuk menyambar dagingnya. Sepotong daging itu adalah iman. Ketahuilah, wahai Muslim, bahwa engkau memiliki musuh yang mengancam imanmu. Ia melihatmu, sementara engkau tidak melihatnya. Ia terus berupaya menguasaimu setiap saat, mendatangimu dari segala arah, sedangkan engkau tidak melihatnya. Tidak ada targetnya selain iman yang ada pada dirimu. Ia bekerja siang dan malam dengan segala sarana dan berbagai cara untuk melenyapkan iman itu darimu. Tidak ada yang menjadi perhatiannya selain hal tersebut. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan perihal dan keadaan musuh ini dalam firman-Nya Jalla fi ‘Ulahu tentang setan, semoga Allah ‘Azza wa Jalla melindungi kita darinya. Allah berfirman, “Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al-A’raf: 17) Kapan ia mengucapkan perkataan ini? Kapan setan mengucapkannya? Ia telah mengucapkannya sejak dahulu, ketika ia telah jatuh dalam kesesatan. Iblis berkata, “Wahai Rabbku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat…” (QS. Al-Hijr: 39). Saat itulah ia mengucapkan perkataan tadi. Iblis berkata, “Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al-A’raf: 17). Inilah sangkaan Iblis terhadap manusia: bahwa mereka akan menjadi seperti itu. Karena itulah Allah berfirman dalam Surah Saba’, “Dan sungguh, Iblis telah membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka, lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian dari orang-orang mukmin.” (QS. Saba’: 20). Saya akan mengungkapkannya dengan ungkapan sehari-hari yang barangkali dapat membantu menjelaskan maknanya. Saya katakan, kebanyakan manusia ternyata benar-benar sesuai dengan sangkaan Iblis terhadap mereka. Iblis menyangka bahwa sebagian besar manusia akan menjadi pengikutnya. Sangkaan yang ia sangkakan itu benar-benar terjadi pada kebanyakan manusia, kecuali sedikit orang yang Allah selamatkan. Karena itu, bersungguh-sungguhlah agar engkau termasuk orang-orang yang memperoleh keselamatan, yang selamat dari musuh ini, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkanmu untuk memperlakukannya sebagai musuh. Menentukan siapa yang menjadi musuh kita bukanlah urusan yang kita tetapkan menurut pendapat sendiri. Sekarang, sebagian orang justru menentukan sendiri siapa musuh-musuhnya. Ia membuat penetapan sendiri, hingga engkau mendapatinya memusuhi orang yang tidak semestinya dimusuhi. Demi Allah, sebagian orang sekarang justru memusuhi orang-orang saleh dari kalangan hamba Allah. Ia membenci dan tidak menyukai orang-orang saleh, hatinya dipenuhi kedengkian dan berbagai hal buruk terhadap mereka. Bahkan ia menganggap orang-orang saleh sebagai musuh bebuyutannya. Padahal semua itu berasal dari hasutan setan. Allah Subhanahu wa Ta’ala-lah yang telah menentukan bagi kita siapa musuh-musuh kita. Bukankah Allah berfirman, “Dan Allah lebih mengetahui tentang musuh-musuh kalian.” (QS. An-Nisa’: 45). Allah ‘Azza wa Jalla-lah Yang Maha Mengetahui. Dialah yang telah menjelaskannya kepada kita. Dan musuh terbesar kita, yang benar-benar wajib kita perlakukan sebagai musuh, adalah setan. “Sesungguhnya setan adalah musuh bagi kalian, maka perlakukanlah ia sebagai musuh. Sesungguhnya ia hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6). Karena itu, dalam perkara ini seseorang benar-benar perlu menjadikan setan sebagai musuh dalam perkara memperbarui iman. Imanmu tidak akan selamat kecuali dengan memperlakukan setan sebagai musuh. Engkau benar-benar memusuhinya. Dan permusuhan yang kuat ini akan melahirkan kewaspadaan yang tinggi terhadap hasutan setan, berbagai waswasnya, dan upayanya memalingkan manusia dari agama Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta kewaspadaan terhadap berbagai cara yang ditempuhnya. Ibnul Qayyim rahimahullah Ta’ala memberikan sebuah perumpamaan untuk menjelaskan keadaan setan terhadap manusia, sebuah perumpamaan yang memperjelas hal tersebut. Ibnul Qayyim berkata, “Perumpamaan setan dan manusia seperti seseorang yang memiliki sepotong daging. Sepotong daging itu adalah iman. Di hadapannya ada sepotong daging, sedangkan di sekelilingnya ada seekor anjing lapar yang terus mengitarinya dari segala arah. Anjing itu menunggu sedikit saja kelengahan dari pemilik daging untuk menyambar dagingnya.” (Lihat At-Tibyan fi Aqsam Al-Qur’an) Demikianlah keadaan setan, subhanallah! Setan terus mengitari manusia dari segala arah dan mengintainya di setiap jalan. Sebagaimana sabda Nabi kita ‘alaihish shalatu was salam, “Sesungguhnya setan mengintai anak Adam di jalan-jalannya, di setiap jalan yang ditempuhnya.” (Lihat HR. An-Nasa’i no. 3134). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Perdayakanlah siapa saja di antara mereka yang engkau sanggupi dengan ajakanmu, kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki, bersekutulah dengan mereka dalam harta dan anak-anak, serta berilah mereka janji. Padahal setan tidak menjanjikan kepada mereka selain tipuan belaka. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, engkau tidak memiliki kekuasaan atas mereka. Dan cukuplah Rabbmu sebagai penjaga.” (QS. Al-Isra’: 64–65) Ini adalah perkara yang harus benar-benar disadari oleh seorang hamba. Sebagaimana perkataan sebagian salaf, “Musuh yang melihatmu sedangkan engkau tidak melihatnya, sangat berat untuk dihadapi.” Namun kesulitan yang berat ini menjadi ringan dengan kuatnya hubungan dengan Allah dan zikir kepada-Nya. Sesungguhnya zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan benteng yang sangat kokoh dari setan yang terkutuk. “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, engkau tidak memiliki kekuasaan atas mereka.” (QS. Al-Isra’: 65) Seorang hamba yang senantiasa berzikir kepada Allah dan berlindung kepada-Nya, setan tidak memiliki jalan untuk menguasainya. Setan mendapatkan jalan terhadap orang yang berpaling dari mengingat Allah. “Barang siapa berpaling dari peringatan Tuhan Yang Maha Pengasih, Kami jadikan baginya setan, maka setan itu menjadi teman karibnya.” (QS. Az-Zukhruf: 36) ===== مَثَلُ الشَّيْطَانِ وَالْإِنْسَانِ كَمَثَلِ شَخْصٍ مَعَهُ قِطْعَةٌ مِنَ اللَّحْمِ بَيْنَ يَدَيْهِ وَحَوْلَهُ كَلْبٌ جَائِعٌ يَطُوفُ بِهِ مِنْ كُلِّ جِهَةٍ يَنْتَظِرُ أَقَلَّ غَفْلَةٍ مِنْ صَاحِبِ اللَّحْمِ لِيَخْطَفَ مِنْهُ لَحْمَهُ الْقِطْعَةُ مِنَ اللَّحْمِ هِيَ الْإِيمَانُ وَاعْلَمْ أَيُّهَا الْمُسْلِمُ أَنَّ لَكَ عَدُوًّا فِي إِيمَانِكَ يَرَاكَ وَلَا تَرَاهُ مُتَسَلِّطٌ عَلَيْكَ فِي كُلِّ وَقْتٍ، يَأْتِيكَ مِنْ كُلِّ جِهَةٍ وَأَنْتَ لَا تَرَاهُ وَلَيْسَ لَهُ مُهِمَّةٌ إِلَّا هَذَا الْإِيمَانَ الَّذِي عِنْدَكَ يَعْمَلُ لَيْلَ نَهَارَ بِكُلِّ الْوَسَائِلِ وَشَتَّى الطُّرُقِ لِيُذْهِبَ عَنْكَ هَذَا الْإِيمَانَ لَا هَمَّ لَهُ إِلَّا هَذَا كَمَا ذَكَرَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْ شَأْنِ وَحَالِ هَذَا الْعَدُوِّ فِي قَوْلِهِ جَلَّ فِي عُلَاهُ عَنِ الشَّيْطَانِ أَعَاذَنَا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْهُ قَالَ: ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ هَذِهِ قَالَهَا مَتَى؟ مَتَى قَالَهَا الشَّيْطَانُ؟ قَالَهَا قَدِيمًا عِنْدَمَا حَصَلَتْ مِنْهُ الْغَوَايَةُ قَالَ: رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي حِينَذَاكَ قَالَ هَذِهِ الْكَلِمَةَ قَالَ: وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ هَذَا ظَنٌّ ظَنَّهُ فِي النَّاسِ أَنَّهُمْ يَكُونُونَ كَذَلِكَ وَلِهَذَا قَالَ اللهُ فِي سُورَةِ سَبَأٍ وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ فَاتَّبَعُوهُ إِلَّا فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَقُولُهَا بِعِبَارَةٍ دَارِجَةٍ رُبَّمَا يَكُونُ لَهَا شَيْءٌ مِنَ الْوَاقِعِ فِي فَهْمِ الْمَعْنَى أَقُولُ: أَكْثَرُ النَّاسِ مَا خَيَّبُوا ظَنَّ إِبْلِيسَ فِيهِمْ ظَنَّ فِي أَكْثَرِ النَّاسِ أَنْ يَكُونُوا أَتْبَاعَهُ هَذَا الظَّنُّ الَّذِي ظَنَّهُ حَصَلَ فِي أَكْثَرِ النَّاسِ، إِلَّا الْقَلِيلَ الَّذِينَ نَجَّاهُمُ اللهُ وَلِهَذَا اجْتَهِدْ أَنْ تَكُونَ فِي أَهْلِ النَّجَاةِ، أَهْلِ السَّلَامَةِ مِنْ هَذَا الْعَدُوِّ الَّذِي أَمَرَكَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ تَتَّخِذَهُ عَدُوًّا لَيْسَتْ مَسْأَلَةُ الْأَعْدَاءِ مَسْأَلَةَ اقْتِرَاحَاتٍ الْآنَ بَعْضُ النَّاسِ هُوَ الَّذِي يُحَدِّدُ مَنْ هُمْ أَعْدَاؤُهُ وَيَقْتَرِحُ، وَتَجِدُهُ يُعَادِي مَنْ لَا يُعَادَى وَاللهِ، بَعْضُ النَّاسِ الْآنَ يُعَادِي الصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِ اللهِ وَيُبْغِضُهُمْ وَيَكْرَهُهُمْ، وَيَمْتَلِئُ قَلْبُهُ فِي الْغِلِّ وَأَشْيَاءَ كَثِيرَةٍ عَلَيْهِمْ وَيَعْتَبِرُهُمْ هُمُ الْعَدُوَّ اللَّدُودَ لَهُ، وَهَذَا كُلُّهُ مِنْ نَزْغِ الشَّيْطَانِ الْعَدُوُّ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هُوَ الَّذِي حَدَّدَ لَنَا مَنْ هُمْ أَعْدَاؤُنَا أَلَيْسَ اللهُ قَالَ: وَاللهُ أَعْلَمُ بِأَعْدَائِكُمْ؟ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ الْأَعْلَمُ، هُوَ الَّذِي بَيَّنَ لَنَا وَأَشَدُّ الْأَعْدَاءِ لَنَا، الَّذِي يَجِبُ أَنْ نَتَّخِذَهُ فِعْلًا عَدُوًّا، الشَّيْطَانُ إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ وَلِهَذَا يَحْتَاجُ الْإِنْسَانُ فِعْلًا فِي هَذَا الْبَابِ، بَابِ تَجْدِيدِ الْإِيمَانِ أَنْ يَتَّخِذَ الشَّيْطَانَ عَدُوًّا لَا يُمْكِنُ أَنْ يَسْلَمَ لَكَ إِيمَانُكَ إِلَّا بِاتِّخَاذِ الشَّيْطَانِ عَدُوًّا تُعَادِيهِ عَدَاوَةً شَدِيدَةً تُوَلِّدُ هَذِهِ الْعَدَاوَةُ الْحَذَرَ الشَّدِيدَ مِنْ نَزْغِ الشَّيْطَانِ وَوَسَاوِسِهِ وَصَدِّهِ عَنْ دِينِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْحَذَرَ مِنْ طَرَائِقِهِ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى ضَرَبَ مِثَالًا لِبَيَانِ حَالِ الشَّيْطَانِ مَعَ الْإِنْسَانِ، مِثَالًا يُوَضِّحُ يَقُولُ: مَثَلُ الشَّيْطَانِ وَالْإِنْسَانِ كَمَثَلِ شَخْصٍ مَعَهُ قِطْعَةٌ مِنَ اللَّحْمِ الْقِطْعَةُ مِنَ اللَّحْمِ هِيَ الْإِيمَانُ مَعَهُ قِطْعَةٌ مِنَ اللَّحْمِ بَيْنَ يَدَيْهِ، وَحَوْلَهُ كَلْبٌ جَائِعٌ يَطُوفُ بِهِ مِنْ كُلِّ جِهَةٍ يَنْتَظِرُ أَقَلَّ غَفْلَةٍ مِنْ صَاحِبِ اللَّحْمِ لِيَخْطَفَ مِنْهُ لَحْمَهُ وَهَذِهِ حَالُ الشَّيْطَانِ، سُبْحَانَ اللهِ يَطُوفُ بِالْإِنْسَانِ مِنْ كُلِّ جِهَةٍ، وَقَاعِدٌ لَهُ بِكُلِّ طَرِيقٍ كَمَا قَالَ نَبِيُّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِنَّ الشَّيْطَانَ قَاعِدٌ لِابْنِ آدَمَ بِأَطْرُقِهِ بِكُلِّ طَرِيقٍ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَقُولُ وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُم بِصَوْتِكَ وَأَجْلِبْ عَلَيْهِم بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ وَعِدْهُمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ وَكِيلًا هَذَا أَمْرٌ لَا بُدَّ أَنْ يَسْتَشْعِرَهُ الْعَبْدُ وَكَمَا قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: عَدُوٌّ يَرَاكَ وَلَا تَرَاهُ، شَدِيدُ الْمُؤْنَةِ لَكِنْ هَذِهِ الْمُؤْنَةُ الشَّدِيدَةُ تَهُونُ مَعَ قُوَّةِ الصِّلَةِ بِاللهِ وَالذِّكْرِ لِلهِ فَإِنَّ ذِكْرَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى حِصْنٌ حَصِينٌ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ الْعَبْدُ الذَّاكِرُ لِلهِ، الْمُلْتَجِئُ إِلَى اللهِ، لَيْسَ لِلشَّيْطَانِ عَلَيْهِ سَبِيلٌ سَبِيلُهُ عَلَى مَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ
Perumpamaan setan dan manusia seperti seseorang yang memiliki sepotong daging di hadapannya. sedangkan di sekelilingnya ada seekor anjing lapar yang terus mengitarinya dari segala arah. Sang anjing menunggu orang itu lengah sedikit saja untuk menyambar dagingnya. Sepotong daging itu adalah iman. Ketahuilah, wahai Muslim, bahwa engkau memiliki musuh yang mengancam imanmu. Ia melihatmu, sementara engkau tidak melihatnya. Ia terus berupaya menguasaimu setiap saat, mendatangimu dari segala arah, sedangkan engkau tidak melihatnya. Tidak ada targetnya selain iman yang ada pada dirimu. Ia bekerja siang dan malam dengan segala sarana dan berbagai cara untuk melenyapkan iman itu darimu. Tidak ada yang menjadi perhatiannya selain hal tersebut. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan perihal dan keadaan musuh ini dalam firman-Nya Jalla fi ‘Ulahu tentang setan, semoga Allah ‘Azza wa Jalla melindungi kita darinya. Allah berfirman, “Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al-A’raf: 17) Kapan ia mengucapkan perkataan ini? Kapan setan mengucapkannya? Ia telah mengucapkannya sejak dahulu, ketika ia telah jatuh dalam kesesatan. Iblis berkata, “Wahai Rabbku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat…” (QS. Al-Hijr: 39). Saat itulah ia mengucapkan perkataan tadi. Iblis berkata, “Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al-A’raf: 17). Inilah sangkaan Iblis terhadap manusia: bahwa mereka akan menjadi seperti itu. Karena itulah Allah berfirman dalam Surah Saba’, “Dan sungguh, Iblis telah membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka, lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian dari orang-orang mukmin.” (QS. Saba’: 20). Saya akan mengungkapkannya dengan ungkapan sehari-hari yang barangkali dapat membantu menjelaskan maknanya. Saya katakan, kebanyakan manusia ternyata benar-benar sesuai dengan sangkaan Iblis terhadap mereka. Iblis menyangka bahwa sebagian besar manusia akan menjadi pengikutnya. Sangkaan yang ia sangkakan itu benar-benar terjadi pada kebanyakan manusia, kecuali sedikit orang yang Allah selamatkan. Karena itu, bersungguh-sungguhlah agar engkau termasuk orang-orang yang memperoleh keselamatan, yang selamat dari musuh ini, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkanmu untuk memperlakukannya sebagai musuh. Menentukan siapa yang menjadi musuh kita bukanlah urusan yang kita tetapkan menurut pendapat sendiri. Sekarang, sebagian orang justru menentukan sendiri siapa musuh-musuhnya. Ia membuat penetapan sendiri, hingga engkau mendapatinya memusuhi orang yang tidak semestinya dimusuhi. Demi Allah, sebagian orang sekarang justru memusuhi orang-orang saleh dari kalangan hamba Allah. Ia membenci dan tidak menyukai orang-orang saleh, hatinya dipenuhi kedengkian dan berbagai hal buruk terhadap mereka. Bahkan ia menganggap orang-orang saleh sebagai musuh bebuyutannya. Padahal semua itu berasal dari hasutan setan. Allah Subhanahu wa Ta’ala-lah yang telah menentukan bagi kita siapa musuh-musuh kita. Bukankah Allah berfirman, “Dan Allah lebih mengetahui tentang musuh-musuh kalian.” (QS. An-Nisa’: 45). Allah ‘Azza wa Jalla-lah Yang Maha Mengetahui. Dialah yang telah menjelaskannya kepada kita. Dan musuh terbesar kita, yang benar-benar wajib kita perlakukan sebagai musuh, adalah setan. “Sesungguhnya setan adalah musuh bagi kalian, maka perlakukanlah ia sebagai musuh. Sesungguhnya ia hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6). Karena itu, dalam perkara ini seseorang benar-benar perlu menjadikan setan sebagai musuh dalam perkara memperbarui iman. Imanmu tidak akan selamat kecuali dengan memperlakukan setan sebagai musuh. Engkau benar-benar memusuhinya. Dan permusuhan yang kuat ini akan melahirkan kewaspadaan yang tinggi terhadap hasutan setan, berbagai waswasnya, dan upayanya memalingkan manusia dari agama Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta kewaspadaan terhadap berbagai cara yang ditempuhnya. Ibnul Qayyim rahimahullah Ta’ala memberikan sebuah perumpamaan untuk menjelaskan keadaan setan terhadap manusia, sebuah perumpamaan yang memperjelas hal tersebut. Ibnul Qayyim berkata, “Perumpamaan setan dan manusia seperti seseorang yang memiliki sepotong daging. Sepotong daging itu adalah iman. Di hadapannya ada sepotong daging, sedangkan di sekelilingnya ada seekor anjing lapar yang terus mengitarinya dari segala arah. Anjing itu menunggu sedikit saja kelengahan dari pemilik daging untuk menyambar dagingnya.” (Lihat At-Tibyan fi Aqsam Al-Qur’an) Demikianlah keadaan setan, subhanallah! Setan terus mengitari manusia dari segala arah dan mengintainya di setiap jalan. Sebagaimana sabda Nabi kita ‘alaihish shalatu was salam, “Sesungguhnya setan mengintai anak Adam di jalan-jalannya, di setiap jalan yang ditempuhnya.” (Lihat HR. An-Nasa’i no. 3134). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Perdayakanlah siapa saja di antara mereka yang engkau sanggupi dengan ajakanmu, kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki, bersekutulah dengan mereka dalam harta dan anak-anak, serta berilah mereka janji. Padahal setan tidak menjanjikan kepada mereka selain tipuan belaka. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, engkau tidak memiliki kekuasaan atas mereka. Dan cukuplah Rabbmu sebagai penjaga.” (QS. Al-Isra’: 64–65) Ini adalah perkara yang harus benar-benar disadari oleh seorang hamba. Sebagaimana perkataan sebagian salaf, “Musuh yang melihatmu sedangkan engkau tidak melihatnya, sangat berat untuk dihadapi.” Namun kesulitan yang berat ini menjadi ringan dengan kuatnya hubungan dengan Allah dan zikir kepada-Nya. Sesungguhnya zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan benteng yang sangat kokoh dari setan yang terkutuk. “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, engkau tidak memiliki kekuasaan atas mereka.” (QS. Al-Isra’: 65) Seorang hamba yang senantiasa berzikir kepada Allah dan berlindung kepada-Nya, setan tidak memiliki jalan untuk menguasainya. Setan mendapatkan jalan terhadap orang yang berpaling dari mengingat Allah. “Barang siapa berpaling dari peringatan Tuhan Yang Maha Pengasih, Kami jadikan baginya setan, maka setan itu menjadi teman karibnya.” (QS. Az-Zukhruf: 36) ===== مَثَلُ الشَّيْطَانِ وَالْإِنْسَانِ كَمَثَلِ شَخْصٍ مَعَهُ قِطْعَةٌ مِنَ اللَّحْمِ بَيْنَ يَدَيْهِ وَحَوْلَهُ كَلْبٌ جَائِعٌ يَطُوفُ بِهِ مِنْ كُلِّ جِهَةٍ يَنْتَظِرُ أَقَلَّ غَفْلَةٍ مِنْ صَاحِبِ اللَّحْمِ لِيَخْطَفَ مِنْهُ لَحْمَهُ الْقِطْعَةُ مِنَ اللَّحْمِ هِيَ الْإِيمَانُ وَاعْلَمْ أَيُّهَا الْمُسْلِمُ أَنَّ لَكَ عَدُوًّا فِي إِيمَانِكَ يَرَاكَ وَلَا تَرَاهُ مُتَسَلِّطٌ عَلَيْكَ فِي كُلِّ وَقْتٍ، يَأْتِيكَ مِنْ كُلِّ جِهَةٍ وَأَنْتَ لَا تَرَاهُ وَلَيْسَ لَهُ مُهِمَّةٌ إِلَّا هَذَا الْإِيمَانَ الَّذِي عِنْدَكَ يَعْمَلُ لَيْلَ نَهَارَ بِكُلِّ الْوَسَائِلِ وَشَتَّى الطُّرُقِ لِيُذْهِبَ عَنْكَ هَذَا الْإِيمَانَ لَا هَمَّ لَهُ إِلَّا هَذَا كَمَا ذَكَرَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْ شَأْنِ وَحَالِ هَذَا الْعَدُوِّ فِي قَوْلِهِ جَلَّ فِي عُلَاهُ عَنِ الشَّيْطَانِ أَعَاذَنَا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْهُ قَالَ: ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ هَذِهِ قَالَهَا مَتَى؟ مَتَى قَالَهَا الشَّيْطَانُ؟ قَالَهَا قَدِيمًا عِنْدَمَا حَصَلَتْ مِنْهُ الْغَوَايَةُ قَالَ: رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي حِينَذَاكَ قَالَ هَذِهِ الْكَلِمَةَ قَالَ: وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ هَذَا ظَنٌّ ظَنَّهُ فِي النَّاسِ أَنَّهُمْ يَكُونُونَ كَذَلِكَ وَلِهَذَا قَالَ اللهُ فِي سُورَةِ سَبَأٍ وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ فَاتَّبَعُوهُ إِلَّا فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَقُولُهَا بِعِبَارَةٍ دَارِجَةٍ رُبَّمَا يَكُونُ لَهَا شَيْءٌ مِنَ الْوَاقِعِ فِي فَهْمِ الْمَعْنَى أَقُولُ: أَكْثَرُ النَّاسِ مَا خَيَّبُوا ظَنَّ إِبْلِيسَ فِيهِمْ ظَنَّ فِي أَكْثَرِ النَّاسِ أَنْ يَكُونُوا أَتْبَاعَهُ هَذَا الظَّنُّ الَّذِي ظَنَّهُ حَصَلَ فِي أَكْثَرِ النَّاسِ، إِلَّا الْقَلِيلَ الَّذِينَ نَجَّاهُمُ اللهُ وَلِهَذَا اجْتَهِدْ أَنْ تَكُونَ فِي أَهْلِ النَّجَاةِ، أَهْلِ السَّلَامَةِ مِنْ هَذَا الْعَدُوِّ الَّذِي أَمَرَكَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ تَتَّخِذَهُ عَدُوًّا لَيْسَتْ مَسْأَلَةُ الْأَعْدَاءِ مَسْأَلَةَ اقْتِرَاحَاتٍ الْآنَ بَعْضُ النَّاسِ هُوَ الَّذِي يُحَدِّدُ مَنْ هُمْ أَعْدَاؤُهُ وَيَقْتَرِحُ، وَتَجِدُهُ يُعَادِي مَنْ لَا يُعَادَى وَاللهِ، بَعْضُ النَّاسِ الْآنَ يُعَادِي الصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِ اللهِ وَيُبْغِضُهُمْ وَيَكْرَهُهُمْ، وَيَمْتَلِئُ قَلْبُهُ فِي الْغِلِّ وَأَشْيَاءَ كَثِيرَةٍ عَلَيْهِمْ وَيَعْتَبِرُهُمْ هُمُ الْعَدُوَّ اللَّدُودَ لَهُ، وَهَذَا كُلُّهُ مِنْ نَزْغِ الشَّيْطَانِ الْعَدُوُّ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هُوَ الَّذِي حَدَّدَ لَنَا مَنْ هُمْ أَعْدَاؤُنَا أَلَيْسَ اللهُ قَالَ: وَاللهُ أَعْلَمُ بِأَعْدَائِكُمْ؟ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ الْأَعْلَمُ، هُوَ الَّذِي بَيَّنَ لَنَا وَأَشَدُّ الْأَعْدَاءِ لَنَا، الَّذِي يَجِبُ أَنْ نَتَّخِذَهُ فِعْلًا عَدُوًّا، الشَّيْطَانُ إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ وَلِهَذَا يَحْتَاجُ الْإِنْسَانُ فِعْلًا فِي هَذَا الْبَابِ، بَابِ تَجْدِيدِ الْإِيمَانِ أَنْ يَتَّخِذَ الشَّيْطَانَ عَدُوًّا لَا يُمْكِنُ أَنْ يَسْلَمَ لَكَ إِيمَانُكَ إِلَّا بِاتِّخَاذِ الشَّيْطَانِ عَدُوًّا تُعَادِيهِ عَدَاوَةً شَدِيدَةً تُوَلِّدُ هَذِهِ الْعَدَاوَةُ الْحَذَرَ الشَّدِيدَ مِنْ نَزْغِ الشَّيْطَانِ وَوَسَاوِسِهِ وَصَدِّهِ عَنْ دِينِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْحَذَرَ مِنْ طَرَائِقِهِ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى ضَرَبَ مِثَالًا لِبَيَانِ حَالِ الشَّيْطَانِ مَعَ الْإِنْسَانِ، مِثَالًا يُوَضِّحُ يَقُولُ: مَثَلُ الشَّيْطَانِ وَالْإِنْسَانِ كَمَثَلِ شَخْصٍ مَعَهُ قِطْعَةٌ مِنَ اللَّحْمِ الْقِطْعَةُ مِنَ اللَّحْمِ هِيَ الْإِيمَانُ مَعَهُ قِطْعَةٌ مِنَ اللَّحْمِ بَيْنَ يَدَيْهِ، وَحَوْلَهُ كَلْبٌ جَائِعٌ يَطُوفُ بِهِ مِنْ كُلِّ جِهَةٍ يَنْتَظِرُ أَقَلَّ غَفْلَةٍ مِنْ صَاحِبِ اللَّحْمِ لِيَخْطَفَ مِنْهُ لَحْمَهُ وَهَذِهِ حَالُ الشَّيْطَانِ، سُبْحَانَ اللهِ يَطُوفُ بِالْإِنْسَانِ مِنْ كُلِّ جِهَةٍ، وَقَاعِدٌ لَهُ بِكُلِّ طَرِيقٍ كَمَا قَالَ نَبِيُّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِنَّ الشَّيْطَانَ قَاعِدٌ لِابْنِ آدَمَ بِأَطْرُقِهِ بِكُلِّ طَرِيقٍ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَقُولُ وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُم بِصَوْتِكَ وَأَجْلِبْ عَلَيْهِم بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ وَعِدْهُمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ وَكِيلًا هَذَا أَمْرٌ لَا بُدَّ أَنْ يَسْتَشْعِرَهُ الْعَبْدُ وَكَمَا قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: عَدُوٌّ يَرَاكَ وَلَا تَرَاهُ، شَدِيدُ الْمُؤْنَةِ لَكِنْ هَذِهِ الْمُؤْنَةُ الشَّدِيدَةُ تَهُونُ مَعَ قُوَّةِ الصِّلَةِ بِاللهِ وَالذِّكْرِ لِلهِ فَإِنَّ ذِكْرَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى حِصْنٌ حَصِينٌ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ الْعَبْدُ الذَّاكِرُ لِلهِ، الْمُلْتَجِئُ إِلَى اللهِ، لَيْسَ لِلشَّيْطَانِ عَلَيْهِ سَبِيلٌ سَبِيلُهُ عَلَى مَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ


Perumpamaan setan dan manusia seperti seseorang yang memiliki sepotong daging di hadapannya. sedangkan di sekelilingnya ada seekor anjing lapar yang terus mengitarinya dari segala arah. Sang anjing menunggu orang itu lengah sedikit saja untuk menyambar dagingnya. Sepotong daging itu adalah iman. Ketahuilah, wahai Muslim, bahwa engkau memiliki musuh yang mengancam imanmu. Ia melihatmu, sementara engkau tidak melihatnya. Ia terus berupaya menguasaimu setiap saat, mendatangimu dari segala arah, sedangkan engkau tidak melihatnya. Tidak ada targetnya selain iman yang ada pada dirimu. Ia bekerja siang dan malam dengan segala sarana dan berbagai cara untuk melenyapkan iman itu darimu. Tidak ada yang menjadi perhatiannya selain hal tersebut. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan perihal dan keadaan musuh ini dalam firman-Nya Jalla fi ‘Ulahu tentang setan, semoga Allah ‘Azza wa Jalla melindungi kita darinya. Allah berfirman, “Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al-A’raf: 17) Kapan ia mengucapkan perkataan ini? Kapan setan mengucapkannya? Ia telah mengucapkannya sejak dahulu, ketika ia telah jatuh dalam kesesatan. Iblis berkata, “Wahai Rabbku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat…” (QS. Al-Hijr: 39). Saat itulah ia mengucapkan perkataan tadi. Iblis berkata, “Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al-A’raf: 17). Inilah sangkaan Iblis terhadap manusia: bahwa mereka akan menjadi seperti itu. Karena itulah Allah berfirman dalam Surah Saba’, “Dan sungguh, Iblis telah membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka, lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian dari orang-orang mukmin.” (QS. Saba’: 20). Saya akan mengungkapkannya dengan ungkapan sehari-hari yang barangkali dapat membantu menjelaskan maknanya. Saya katakan, kebanyakan manusia ternyata benar-benar sesuai dengan sangkaan Iblis terhadap mereka. Iblis menyangka bahwa sebagian besar manusia akan menjadi pengikutnya. Sangkaan yang ia sangkakan itu benar-benar terjadi pada kebanyakan manusia, kecuali sedikit orang yang Allah selamatkan. Karena itu, bersungguh-sungguhlah agar engkau termasuk orang-orang yang memperoleh keselamatan, yang selamat dari musuh ini, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkanmu untuk memperlakukannya sebagai musuh. Menentukan siapa yang menjadi musuh kita bukanlah urusan yang kita tetapkan menurut pendapat sendiri. Sekarang, sebagian orang justru menentukan sendiri siapa musuh-musuhnya. Ia membuat penetapan sendiri, hingga engkau mendapatinya memusuhi orang yang tidak semestinya dimusuhi. Demi Allah, sebagian orang sekarang justru memusuhi orang-orang saleh dari kalangan hamba Allah. Ia membenci dan tidak menyukai orang-orang saleh, hatinya dipenuhi kedengkian dan berbagai hal buruk terhadap mereka. Bahkan ia menganggap orang-orang saleh sebagai musuh bebuyutannya. Padahal semua itu berasal dari hasutan setan. Allah Subhanahu wa Ta’ala-lah yang telah menentukan bagi kita siapa musuh-musuh kita. Bukankah Allah berfirman, “Dan Allah lebih mengetahui tentang musuh-musuh kalian.” (QS. An-Nisa’: 45). Allah ‘Azza wa Jalla-lah Yang Maha Mengetahui. Dialah yang telah menjelaskannya kepada kita. Dan musuh terbesar kita, yang benar-benar wajib kita perlakukan sebagai musuh, adalah setan. “Sesungguhnya setan adalah musuh bagi kalian, maka perlakukanlah ia sebagai musuh. Sesungguhnya ia hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6). Karena itu, dalam perkara ini seseorang benar-benar perlu menjadikan setan sebagai musuh dalam perkara memperbarui iman. Imanmu tidak akan selamat kecuali dengan memperlakukan setan sebagai musuh. Engkau benar-benar memusuhinya. Dan permusuhan yang kuat ini akan melahirkan kewaspadaan yang tinggi terhadap hasutan setan, berbagai waswasnya, dan upayanya memalingkan manusia dari agama Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta kewaspadaan terhadap berbagai cara yang ditempuhnya. Ibnul Qayyim rahimahullah Ta’ala memberikan sebuah perumpamaan untuk menjelaskan keadaan setan terhadap manusia, sebuah perumpamaan yang memperjelas hal tersebut. Ibnul Qayyim berkata, “Perumpamaan setan dan manusia seperti seseorang yang memiliki sepotong daging. Sepotong daging itu adalah iman. Di hadapannya ada sepotong daging, sedangkan di sekelilingnya ada seekor anjing lapar yang terus mengitarinya dari segala arah. Anjing itu menunggu sedikit saja kelengahan dari pemilik daging untuk menyambar dagingnya.” (Lihat At-Tibyan fi Aqsam Al-Qur’an) Demikianlah keadaan setan, subhanallah! Setan terus mengitari manusia dari segala arah dan mengintainya di setiap jalan. Sebagaimana sabda Nabi kita ‘alaihish shalatu was salam, “Sesungguhnya setan mengintai anak Adam di jalan-jalannya, di setiap jalan yang ditempuhnya.” (Lihat HR. An-Nasa’i no. 3134). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Perdayakanlah siapa saja di antara mereka yang engkau sanggupi dengan ajakanmu, kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki, bersekutulah dengan mereka dalam harta dan anak-anak, serta berilah mereka janji. Padahal setan tidak menjanjikan kepada mereka selain tipuan belaka. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, engkau tidak memiliki kekuasaan atas mereka. Dan cukuplah Rabbmu sebagai penjaga.” (QS. Al-Isra’: 64–65) Ini adalah perkara yang harus benar-benar disadari oleh seorang hamba. Sebagaimana perkataan sebagian salaf, “Musuh yang melihatmu sedangkan engkau tidak melihatnya, sangat berat untuk dihadapi.” Namun kesulitan yang berat ini menjadi ringan dengan kuatnya hubungan dengan Allah dan zikir kepada-Nya. Sesungguhnya zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan benteng yang sangat kokoh dari setan yang terkutuk. “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, engkau tidak memiliki kekuasaan atas mereka.” (QS. Al-Isra’: 65) Seorang hamba yang senantiasa berzikir kepada Allah dan berlindung kepada-Nya, setan tidak memiliki jalan untuk menguasainya. Setan mendapatkan jalan terhadap orang yang berpaling dari mengingat Allah. “Barang siapa berpaling dari peringatan Tuhan Yang Maha Pengasih, Kami jadikan baginya setan, maka setan itu menjadi teman karibnya.” (QS. Az-Zukhruf: 36) ===== مَثَلُ الشَّيْطَانِ وَالْإِنْسَانِ كَمَثَلِ شَخْصٍ مَعَهُ قِطْعَةٌ مِنَ اللَّحْمِ بَيْنَ يَدَيْهِ وَحَوْلَهُ كَلْبٌ جَائِعٌ يَطُوفُ بِهِ مِنْ كُلِّ جِهَةٍ يَنْتَظِرُ أَقَلَّ غَفْلَةٍ مِنْ صَاحِبِ اللَّحْمِ لِيَخْطَفَ مِنْهُ لَحْمَهُ الْقِطْعَةُ مِنَ اللَّحْمِ هِيَ الْإِيمَانُ وَاعْلَمْ أَيُّهَا الْمُسْلِمُ أَنَّ لَكَ عَدُوًّا فِي إِيمَانِكَ يَرَاكَ وَلَا تَرَاهُ مُتَسَلِّطٌ عَلَيْكَ فِي كُلِّ وَقْتٍ، يَأْتِيكَ مِنْ كُلِّ جِهَةٍ وَأَنْتَ لَا تَرَاهُ وَلَيْسَ لَهُ مُهِمَّةٌ إِلَّا هَذَا الْإِيمَانَ الَّذِي عِنْدَكَ يَعْمَلُ لَيْلَ نَهَارَ بِكُلِّ الْوَسَائِلِ وَشَتَّى الطُّرُقِ لِيُذْهِبَ عَنْكَ هَذَا الْإِيمَانَ لَا هَمَّ لَهُ إِلَّا هَذَا كَمَا ذَكَرَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْ شَأْنِ وَحَالِ هَذَا الْعَدُوِّ فِي قَوْلِهِ جَلَّ فِي عُلَاهُ عَنِ الشَّيْطَانِ أَعَاذَنَا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْهُ قَالَ: ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ هَذِهِ قَالَهَا مَتَى؟ مَتَى قَالَهَا الشَّيْطَانُ؟ قَالَهَا قَدِيمًا عِنْدَمَا حَصَلَتْ مِنْهُ الْغَوَايَةُ قَالَ: رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي حِينَذَاكَ قَالَ هَذِهِ الْكَلِمَةَ قَالَ: وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ هَذَا ظَنٌّ ظَنَّهُ فِي النَّاسِ أَنَّهُمْ يَكُونُونَ كَذَلِكَ وَلِهَذَا قَالَ اللهُ فِي سُورَةِ سَبَأٍ وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ فَاتَّبَعُوهُ إِلَّا فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَقُولُهَا بِعِبَارَةٍ دَارِجَةٍ رُبَّمَا يَكُونُ لَهَا شَيْءٌ مِنَ الْوَاقِعِ فِي فَهْمِ الْمَعْنَى أَقُولُ: أَكْثَرُ النَّاسِ مَا خَيَّبُوا ظَنَّ إِبْلِيسَ فِيهِمْ ظَنَّ فِي أَكْثَرِ النَّاسِ أَنْ يَكُونُوا أَتْبَاعَهُ هَذَا الظَّنُّ الَّذِي ظَنَّهُ حَصَلَ فِي أَكْثَرِ النَّاسِ، إِلَّا الْقَلِيلَ الَّذِينَ نَجَّاهُمُ اللهُ وَلِهَذَا اجْتَهِدْ أَنْ تَكُونَ فِي أَهْلِ النَّجَاةِ، أَهْلِ السَّلَامَةِ مِنْ هَذَا الْعَدُوِّ الَّذِي أَمَرَكَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ تَتَّخِذَهُ عَدُوًّا لَيْسَتْ مَسْأَلَةُ الْأَعْدَاءِ مَسْأَلَةَ اقْتِرَاحَاتٍ الْآنَ بَعْضُ النَّاسِ هُوَ الَّذِي يُحَدِّدُ مَنْ هُمْ أَعْدَاؤُهُ وَيَقْتَرِحُ، وَتَجِدُهُ يُعَادِي مَنْ لَا يُعَادَى وَاللهِ، بَعْضُ النَّاسِ الْآنَ يُعَادِي الصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِ اللهِ وَيُبْغِضُهُمْ وَيَكْرَهُهُمْ، وَيَمْتَلِئُ قَلْبُهُ فِي الْغِلِّ وَأَشْيَاءَ كَثِيرَةٍ عَلَيْهِمْ وَيَعْتَبِرُهُمْ هُمُ الْعَدُوَّ اللَّدُودَ لَهُ، وَهَذَا كُلُّهُ مِنْ نَزْغِ الشَّيْطَانِ الْعَدُوُّ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هُوَ الَّذِي حَدَّدَ لَنَا مَنْ هُمْ أَعْدَاؤُنَا أَلَيْسَ اللهُ قَالَ: وَاللهُ أَعْلَمُ بِأَعْدَائِكُمْ؟ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ الْأَعْلَمُ، هُوَ الَّذِي بَيَّنَ لَنَا وَأَشَدُّ الْأَعْدَاءِ لَنَا، الَّذِي يَجِبُ أَنْ نَتَّخِذَهُ فِعْلًا عَدُوًّا، الشَّيْطَانُ إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ وَلِهَذَا يَحْتَاجُ الْإِنْسَانُ فِعْلًا فِي هَذَا الْبَابِ، بَابِ تَجْدِيدِ الْإِيمَانِ أَنْ يَتَّخِذَ الشَّيْطَانَ عَدُوًّا لَا يُمْكِنُ أَنْ يَسْلَمَ لَكَ إِيمَانُكَ إِلَّا بِاتِّخَاذِ الشَّيْطَانِ عَدُوًّا تُعَادِيهِ عَدَاوَةً شَدِيدَةً تُوَلِّدُ هَذِهِ الْعَدَاوَةُ الْحَذَرَ الشَّدِيدَ مِنْ نَزْغِ الشَّيْطَانِ وَوَسَاوِسِهِ وَصَدِّهِ عَنْ دِينِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْحَذَرَ مِنْ طَرَائِقِهِ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى ضَرَبَ مِثَالًا لِبَيَانِ حَالِ الشَّيْطَانِ مَعَ الْإِنْسَانِ، مِثَالًا يُوَضِّحُ يَقُولُ: مَثَلُ الشَّيْطَانِ وَالْإِنْسَانِ كَمَثَلِ شَخْصٍ مَعَهُ قِطْعَةٌ مِنَ اللَّحْمِ الْقِطْعَةُ مِنَ اللَّحْمِ هِيَ الْإِيمَانُ مَعَهُ قِطْعَةٌ مِنَ اللَّحْمِ بَيْنَ يَدَيْهِ، وَحَوْلَهُ كَلْبٌ جَائِعٌ يَطُوفُ بِهِ مِنْ كُلِّ جِهَةٍ يَنْتَظِرُ أَقَلَّ غَفْلَةٍ مِنْ صَاحِبِ اللَّحْمِ لِيَخْطَفَ مِنْهُ لَحْمَهُ وَهَذِهِ حَالُ الشَّيْطَانِ، سُبْحَانَ اللهِ يَطُوفُ بِالْإِنْسَانِ مِنْ كُلِّ جِهَةٍ، وَقَاعِدٌ لَهُ بِكُلِّ طَرِيقٍ كَمَا قَالَ نَبِيُّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِنَّ الشَّيْطَانَ قَاعِدٌ لِابْنِ آدَمَ بِأَطْرُقِهِ بِكُلِّ طَرِيقٍ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَقُولُ وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُم بِصَوْتِكَ وَأَجْلِبْ عَلَيْهِم بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ وَعِدْهُمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ وَكِيلًا هَذَا أَمْرٌ لَا بُدَّ أَنْ يَسْتَشْعِرَهُ الْعَبْدُ وَكَمَا قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: عَدُوٌّ يَرَاكَ وَلَا تَرَاهُ، شَدِيدُ الْمُؤْنَةِ لَكِنْ هَذِهِ الْمُؤْنَةُ الشَّدِيدَةُ تَهُونُ مَعَ قُوَّةِ الصِّلَةِ بِاللهِ وَالذِّكْرِ لِلهِ فَإِنَّ ذِكْرَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى حِصْنٌ حَصِينٌ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ الْعَبْدُ الذَّاكِرُ لِلهِ، الْمُلْتَجِئُ إِلَى اللهِ، لَيْسَ لِلشَّيْطَانِ عَلَيْهِ سَبِيلٌ سَبِيلُهُ عَلَى مَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ

Seperti Apa Fisik Rasulullah ﷺ? Kesaksian Ummu Ma‘bad yang Hanya Bertemu Sesaat

Salah satu cara kita mengenal bagaimana penampilan Rasulullah ﷺ adalah melalui riwayat orang-orang yang pernah melihat beliau secara langsung. Di antara gambaran paling detail dan indah datang dari Ummu Ma‘bad, seorang wanita yang justru hanya bertemu Rasulullah ﷺ dalam waktu singkat ketika beliau sedang berhijrah menuju Madinah.  Daftar Isi tutup 1. Rasulullah ﷺ Singgah di Kemah Ummu Ma‘bad 2. Suami Ummu Ma‘bad Pulang dan Terkejut 3. Gambaran Rasulullah ﷺ Menurut Ummu Ma‘bad 4. Abu Ma‘bad Mengenali Siapa Orang Itu 5. Suara Misterius Terdengar di Makkah 6. Penjelasan Deskripsi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Hadits Ummu Ma’bad 6.1. Wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Berseri 6.2. Tubuh Nabi ﷺ Tidak Terlalu Kurus 7. Tidak Terlalu Kurus dan Tidak Pula Membuncit 7.1. “Wasīm Qasīm” 7.2. “Da‘aj” pada Kedua Mata 7.3. Bulu Mata yang Panjang 7.4. Suara Nabi ﷺ 7.5. Leher Nabi ﷺ 7.6. Alis Rasulullah ﷺ 7.7. Ketika Berbicara, Nabi ﷺ Tampak Semakin Luhur 7.8. Penjelasan Cara Bicara Rasulullah ﷺ 7.9. Tidak Terlalu Sedikit dan Tidak Berlebihan 7.10. Tinggi Badan Rasulullah ﷺ 7.11. Tidak Pendek sehingga Dipandang Remeh 7.12. Hubungan Rasulullah ﷺ dengan Para Sahabat 7.13. Nabi ﷺ Tidak Bermuka Masam 7.14. Makna “Wa Lā Mufannad” 8. Ringkasan Deskripsi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Ummu Ma’bad 9. Kesimpulan Deskripsi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam 10. Pertemuan Singkat, tetapi Membekas Begitu Dalam  Rasulullah ﷺ Singgah di Kemah Ummu Ma‘badKetika Rasulullah ﷺ keluar dari Makkah dalam perjalanan hijrah menuju Madinah, beliau ditemani oleh Abu Bakar, mantan budak Abu Bakar yaitu ‘Amir bin Fuhairah, dan seorang penunjuk jalan dari Bani Laits bernama ‘Abdullah bin Uraiqith.Dalam perjalanan, mereka melewati dua kemah milik Ummu Ma‘bad Al-Khuza‘iyyah.Ummu Ma‘bad adalah seorang wanita yang tangguh dan terbuka dalam berinteraksi. Ia biasa duduk di halaman kemahnya, memberi minum dan makanan kepada siapa saja yang singgah.Rombongan Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya apakah ia memiliki daging atau kurma yang bisa mereka beli. Namun, mereka tidak mendapatkan apa pun darinya. Saat itu mereka memang sedang mengalami kesulitan bekal, sedangkan daerah tersebut pun sedang dilanda musim paceklik.Rasulullah ﷺ kemudian melihat seekor kambing di salah satu sudut kemah.Beliau bertanya,مَا هَذِهِ الشَّاةُ يَا أُمَّ مَعْبَدٍ؟“Wahai Ummu Ma‘bad, kambing apakah ini?”Ummu Ma‘bad menjawab, “Ini kambing yang tertinggal dari kawanan karena sudah terlalu lemah.”Rasulullah ﷺ bertanya,هَلْ بِهَا مِنْ لَبَنٍ؟“Apakah kambing ini masih memiliki susu?”Ummu Ma‘bad menjawab, “Keadaannya bahkan lebih lemah daripada sekadar bisa menghasilkan susu.”Rasulullah ﷺ kemudian bertanya,أَتَأْذَنِينَ لِي أَنْ أَحْلُبَهَا؟“Apakah engkau mengizinkanku untuk memerahnya?”Ummu Ma‘bad menjawab, “Ya. Ayah dan ibuku sebagai tebusan bagimu. Jika engkau memang melihat ada susu padanya, maka perahlah.”Lalu kambing itu dibawa kepada Rasulullah ﷺ.Beliau mengusap ambingnya dengan tangan beliau, menyebut nama Allah Ta‘ala, lalu berdoa memohon keberkahan untuk kambing Ummu Ma‘bad tersebut.Tiba-tiba kambing itu merenggangkan kedua kakinya, ambingnya pun penuh dan susu mengalir deras. Kambing itu bahkan mulai memamah kembali makanannya dengan tenang.Rasulullah ﷺ kemudian meminta sebuah wadah yang cukup besar untuk membuat satu rombongan kenyang apabila meminumnya.Beliau memerah kambing tersebut.Susu mengalir begitu deras memenuhi wadah hingga muncul buih di atasnya.Kemudian Rasulullah ﷺ memberikan susu itu terlebih dahulu kepada Ummu Ma‘bad hingga ia minum sampai puas. Setelah itu, beliau memberikan minum kepada para sahabatnya hingga mereka semua merasa puas. Dan Rasulullah ﷺ menjadi orang terakhir yang minum.Setelah itu mereka beristirahat sejenak.Kemudian Rasulullah ﷺ kembali memerah kambing tersebut untuk kedua kalinya hingga memenuhi wadah.Beliau meninggalkan susu itu untuk Ummu Ma‘bad.Setelah melakukan transaksi dengannya, rombongan Rasulullah ﷺ pun melanjutkan perjalanan. Suami Ummu Ma‘bad Pulang dan TerkejutTidak lama setelah rombongan itu pergi, suami Ummu Ma‘bad, yaitu Abu Ma‘bad, pulang.Ia sedang menggiring beberapa ekor kambing yang kurus kering. Karena begitu kurusnya, kambing-kambing itu berjalan dengan sangat lemah. Saking buruk kondisi dan kurangnya makanan, sumsum pada tulang kambing-kambing itu pun tinggal sedikit.Ketika Abu Ma‘bad melihat adanya susu, ia terkejut.Ia berkata, “Dari mana engkau mendapatkan susu ini, wahai Ummu Ma‘bad? Padahal kambing-kambing sedang jauh dari tempat kita, tidak ada kambing yang baru melahirkan, dan di rumah pun tidak ada kambing yang bisa diperah.”Ummu Ma‘bad menjawab,لَا وَاللَّهِ، إِلَّا أَنَّهُ مَرَّ بِنَا رَجُلٌ مُبَارَكٌ، مِنْ حَالِهِ كَذَا وَكَذَا.“Tidak, demi Allah. Hanya saja, tadi ada seorang lelaki yang penuh keberkahan melewati tempat kita. Keadaannya begini dan begini.”Abu Ma‘bad berkata,صِفِيهِ لِي يَا أُمَّ مَعْبَدٍ“Coba gambarkan orang itu kepadaku, wahai Ummu Ma‘bad.” Gambaran Rasulullah ﷺ Menurut Ummu Ma‘badUmmu Ma‘bad menjelaskan rinci,رَأَيْتُ رَجُلًا ظَاهِرَ الْوَضَاءَةِ، أَبْلَجَ الْوَجْهِ، لَمْ تَعِبْهُ نَحْلَةٌ، وَلَمْ تُزْرِ بِهِ صَقْلَةٌ، وَسِيمٌ قَسِيمٌ، فِي عَيْنِهِ دَعَجٌ، وَفِي أَشْفَارِهِ وَطَفٌ، وَفِي صَوْتِهِ صَهَلٌ، وَفِي عُنُقِهِ سَطَعٌ، وَفِي لِحْيَتِهِ كَثَاثَةٌ، أَزَجُّ أَقْرَنُ. “Aku melihat seorang lelaki yang sangat nyata keelokan dan kecerahan penampilannya. Wajahnya berseri dan bercahaya. Tubuhnya tidak terlalu kurus sehingga mengurangi keelokannya, dan tidak pula bentuk pinggang atau sisi tubuhnya mengurangi keserasian penampilannya. Ia seorang yang rupawan, tampan, dan serasi. Pada matanya terdapat warna hitam yang pekat dan indah. Bulu matanya panjang. Pada suaranya terdapat ketegasan dan kekuatan. Lehernya jenjang dan tegak. Janggutnya lebat. Alisnya panjang, melengkung indah, dan kedua alisnya bertemu.إِنْ صَمَتَ فَعَلَيْهِ الْوَقَارُ، وَإِنْ تَكَلَّمَ سَمَا وَعَلَاهُ الْبَهَاءُ، أَجْمَلُ النَّاسِ وَأَبْهَاهُ مِنْ بَعِيدٍ، وَأَجْلَاهُ وَأَحْسَنُهُ مِنْ قَرِيبٍ. Apabila ia diam, tampak kewibawaan pada dirinya. Apabila berbicara, ia tampak semakin luhur dan kemuliaan serta keelokannya semakin terpancar. Dari kejauhan, ia adalah manusia yang paling indah dan paling memesona; ketika dilihat dari dekat, ia tampak semakin jelas keelokannya dan semakin indah.حُلْوُ الْمَنْطِقِ، فَصْلٌ، لَا نَزْرٌ وَلَا هَذَرٌ، كَأَنَّ مَنْطِقَهُ خَرَزَاتُ نَظْمٍ يَتَحَدَّرْنَ. Tutur katanya manis dan menyenangkan. Ucapannya jelas dan terpilah; tidak terlalu sedikit dan tidak pula berlebihan atau bertele-tele. Seakan-akan kata-katanya adalah butiran-butiran mutiara yang tersusun rapi lalu bergulir satu demi satu.رَبْعَةٌ، لَا يَأْسَ مِنْ طُولٍ، وَلَا تَقْتَحِمُهُ عَيْنٌ مِنْ قِصَرٍ، غُصْنٌ بَيْنَ غُصْنَيْنِ، فَهُوَ أَنْضَرُ الثَّلَاثَةِ مَنْظَرًا، وَأَحْسَنُهُمْ قَدْرًا. Tinggi badannya sedang, cenderung kepada tinggi tetapi tidak berlebihan, dan ia tidak pendek sehingga mata memandangnya rendah atau meremehkannya. Di antara dua orang yang menyertainya, ia bagaikan sebuah dahan yang indah di antara dua dahan lainnya. Dialah yang paling segar dan elok dipandang di antara ketiganya serta yang paling tinggi kedudukan dan wibawanya.لَهُ رُفَقَاءُ يَحُفُّونَ بِهِ، إِنْ قَالَ أَنْصَتُوا لِقَوْلِهِ، وَإِنْ أَمَرَ تَبَادَرُوا لِأَمْرِهِ، مَحْشُودٌ مَحْفُودٌ، لَا عَابِسٌ وَلَا مُفَنَّدٌ.Ia mempunyai para sahabat yang mengelilinginya. Jika ia berbicara, mereka diam dan menyimak perkataannya. Jika ia memberi perintah, mereka segera berlomba melaksanakan perintahnya. Orang-orang berkumpul di sekelilingnya, melayani dan sigap membantunya. Ia bukan orang yang bermuka masam dan bukan pula orang yang perkataannya tidak bernilai atau kehilangan kejernihan pikiran.” Abu Ma‘bad Mengenali Siapa Orang ItuSetelah mendengar penjelasan istrinya, Abu Ma‘bad berkata,هُوَ وَاللَّهِ صَاحِبُ قُرَيْشٍ الَّذِي ذُكِرَ لَنَا مِنْ أَمْرِهِ مَا ذُكِرَ بِمَكَّةَ، وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَصْحَبَهُ، وَلَأَفْعَلَنَّ إِنْ وَجَدْتُ إِلَى ذَلِكَ سَبِيلًا. “Demi Allah, orang itu pasti orang Quraisy yang selama ini telah kita dengar berita tentang dirinya di Makkah. Sungguh, sebelumnya aku sudah berkeinginan untuk menjadi sahabat dan mengikutinya. Dan sungguh aku benar-benar akan melakukannya apabila aku mendapatkan jalan untuk itu.” Suara Misterius Terdengar di Makkahوَأَصْبَحَ صَوْتٌ بِمَكَّةَ عَالِيًا، يَسْمَعُونَ الصَّوْتَ، وَلَا يَدْرُونَ مَنْ صَاحِبُهُ، وَهُوَ يَقُولُ: جَزَى اللَّهُ رَبُّ النَّاسِ خَيْرَ جَزَائِهِ رَفِيقَيْنِ قَالَا خَيْمَتَيْ أُمِّ مَعْبَدِ هُمَا نَزَلَاهَا بِالْهُدَى وَاهْتَدَتْ بِهِ فَقَدْ فَازَ مَنْ أَمْسَى رَفِيقَ مُحَمَّدِ فَيَا لِقُصَيٍّ مَا زَوَى اللَّهُ عَنْكُمْ بِهِ مِنْ فَعَالٍ لَا يُجَازَى وَسُؤْدُدِ لِيَهْنِ بَنِي كَعْبٍ مَقَامُ فَتَاتِهِمْ وَمَقْعَدُهَا لِلْمُؤْمِنِينَ بِمَرْصَدِ سَلُوا أُخْتَكُمْ عَنْ شَاتِهَا وَإِنَائِهَا فَإِنَّكُمْ إِنْ تَسْأَلُوا الشَّاةَ تَشْهَدِ دَعَاهَا بِشَاةٍ حَائِلٍ فَتَحَلَّبَتْ عَلَيْهِ صَرِيحًا ضَرَّةُ الشَّاةِ مُزْبِدِ فَغَادَرَهَا رَهْنًا لَدَيْهَا لِحَالِبٍ يُرَدِّدُهَا فِي مَصْدَرٍ ثُمَّ مَوْرِدِKemudian pada pagi harinya terdengar sebuah suara keras di Makkah. Mereka mendengar suara itu, tetapi tidak mengetahui siapa pemiliknya. Suara itu berkata:“Semoga Allah, Rabb seluruh manusia, memberikan sebaik-baik balasan-Nya kepada dua orang sahabat yang singgah di kemah Ummu Ma‘bad.Keduanya singgah di sana dengan membawa petunjuk, dan dengannya ia memperoleh petunjuk. Sungguh beruntung orang yang pada petang hari menjadi sahabat Muhammad.Wahai keturunan Qushay, betapa banyak kebaikan yang Allah jauhkan dari kalian melalui dirinya, berupa berbagai perbuatan mulia yang tak tertandingi dan kemuliaan yang tinggi.Berbahagialah Bani Ka‘b karena tempat tinggal wanita mereka, dan tempat duduknya yang menjadi tempat singgah dan pengamatan bagi kaum beriman.Tanyakanlah kepada saudari kalian tentang kambingnya dan wadahnya. Jika kalian bertanya kepada kambing itu, niscaya kambing itu akan menjadi saksi.Beliau mendatangi seekor kambing betina yang tidak sedang bunting, lalu kambing itu mengeluarkan susu untuk beliau. Ambing kambing itu mengalirkan susu murni yang berbuih.Lalu beliau meninggalkannya di tempat wanita itu sebagai jaminan bagi orang yang memerahnya, yang akan terus memerahnya berulang kali, pada waktu pergi maupun kembali.” Penjelasan Deskripsi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Hadits Ummu Ma’badWajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam BerseriPerkataan Ummu Ma‘bad:أَبْلَجَ الْوَجْهِMaksudnya, wajah Rasulullah ﷺ berseri-seri dan bercahaya.Dalam bahasa Arab dikatakan:تَبَلَّجَ الصُّبْحُ وَانْبَلَجَketika cahaya pagi mulai terang.Ummu Ma‘bad tidak bermaksud dengan kata balaj bahwa kedua alis Nabi ﷺ terpisah. Hal itu terlihat karena setelahnya ia justru menggambarkan beliau dengan sifat:أَقْرَنُyakni kedua alis beliau bertemu atau hampir bersambung. Tubuh Nabi ﷺ Tidak Terlalu KurusDalam satu riwayat disebutkan:لَمْ تَعِبْهُ نَحْلَةٌArtinya, beliau tidak memiliki tubuh yang terlalu kurus sehingga mengurangi keelokannya.النَّحْلَةُ di sini berarti kekurusan atau kecilnya tubuh.Namun terdapat riwayat lain:ثُجْلَةٌdengan huruf tsa dan jim.Kata tersebut berarti perut yang besar.Dikatakan:رَجُلٌ أَثْجَلُyakni seorang lelaki yang berperut besar.Demikian pula kata العَثْجَل memiliki makna serupa. Tidak Terlalu Kurus dan Tidak Pula MembuncitPerkataan:وَلَمْ تُزْرِ بِهِ صَقْلَةٌMaksudnya adalah tubuh yang terlalu kecil atau terlalu ramping.Ada yang menjelaskan bahwa maksud Ummu Ma‘bad ialah:Rasulullah ﷺ tidak mempunyai pinggang yang sangat membesar, dan tidak pula terlalu kurus. Tubuh beliau berada dalam keadaan yang kuat dan serasi.الصَّقْلَةُ berarti bagian pinggang atau sisi tubuh.Dikatakan:فَرَسٌ صَقِلٌuntuk kuda yang bagian tersebut terlalu panjang, dan ini dianggap sebagai suatu kekurangan.Jadi Ummu Ma‘bad ingin menjelaskan bahwa Nabi ﷺ tidak kurus berlebihan dan tidak pula terlalu membesar tubuhnya.Dalam riwayat lain berbunyi:لَمْ تُزْرِ بِهِ صَعْلَةٌdengan huruf ‘ain.الصَّعْلَةُ berarti kepala yang kecil.Burung unta jantan disebut:صَعْلٌkarena kepalanya kecil. “Wasīm Qasīm”Perkataannya:وَسِيمٌ قَسِيمٌالْوَسِيمُ berarti orang yang bagus, rupawan, dan bercahaya wajahnya.Dikatakan:وَسِيمٌ بَيِّنُ الْوَسَامَةِyakni seseorang yang jelas ketampanannya.Sedangkan:الْقَسِيمُjuga berarti orang yang elok atau tampan.الْقَسَامَةُ berarti keelokan dan ketampanan.Jadi ungkapan ini menggambarkan Nabi ﷺ sebagai seorang yang rupawan, elok, dan serasi penampilannya. “Da‘aj” pada Kedua Mataالدَّعَجُberarti warna hitam yang pekat pada mata atau pada sesuatu yang lain.Dalam konteks ini, maksudnya adalah bagian hitam kedua mata Nabi ﷺ tampak hitam pekat, yang merupakan salah satu sifat keelokan mata. Bulu Mata yang PanjangPerkataan:وَفِي أَشْفَارِهِ وَطَفٌArtinya, bulu mata beliau panjang.Dikatakan:وَطِفَ فَهُوَ أَوْطَفُapabila bulu mata seseorang panjang.Ada pula riwayat dengan kata:عَطَفٌatau:غَطَفٌKeduanya juga dimaksudkan untuk menggambarkan panjangnya bulu mata. Suara Nabi ﷺDalam satu riwayat disebutkan:وَفِي صَوْتِهِ صَهَلٌArtinya, pada suara beliau terdapat kekuatan dan ketegasan.Kata tersebut berkaitan dengan:صَهِيلُ الْخَيْلِyaitu ringkikan kuda.Dalam riwayat lain disebutkan:صَحَلٌArtinya, terdapat sedikit kesan serak pada suara.Maksudnya, suara beliau tidak terlalu tinggi dan tajam.Suara seperti ini dianggap indah selama kesan seraknya tidak berlebihan. Leher Nabi ﷺPerkataan:وَفِي عُنُقِهِ سَطَعٌArtinya, leher beliau panjang dan jenjang.Dikatakan:رَجُلٌ أَسْطَعُyaitu lelaki yang berleher jenjang.Dan:عُنُقٌ سَطْعَاءُyaitu leher yang tegak.Dari akar kata inilah digunakan ungkapan untuk fajar ketika pertama kali cahayanya muncul memanjang:سَطَعَ يَسْطَعُ Alis Rasulullah ﷺPerkataan:أَزَجُّ أَقْرَنُالزَّجَجُ pada alis berarti alis yang melengkung dengan indah, panjang pada ujung-ujungnya, dan sempurna pertumbuhannya.Sedangkan:الْقَرَنُberarti bertemunya kedua alis.Namun terdapat riwayat lain mengenai sifat Rasulullah ﷺ dari Hind bin Abi Halah yang menyebutkan:أَزَجُّ الْحَوَاجِبِ، سَوَابِغُ مِنْ غَيْرِ قَرَنٍ“Alis beliau melengkung dan panjang sempurna, tetapi tidak bersambung.”Jadi, memang terdapat perbedaan lafaz riwayat mengenai apakah kedua alis beliau bersambung atau tidak. Ketika Berbicara, Nabi ﷺ Tampak Semakin LuhurPerkataan:إِنْ تَكَلَّمَ سَمَاMaksudnya, ketika Rasulullah ﷺ berbicara, beliau mengangkat kepalanya dan tampak semakin luhur di antara orang-orang yang duduk bersama beliau. Penjelasan Cara Bicara Rasulullah ﷺPerkataan Ummu Ma‘bad mengenai cara bicara beliau:فَصْلٌArtinya:بَيِّنٌyakni jelas dan mudah dibedakan maksudnya.Ucapan Rasulullah ﷺ tidak rancu dan tidak bercampur-aduk. Tidak Terlalu Sedikit dan Tidak BerlebihanPerkataan:لَا نَزْرٌ وَلَا هَذَرٌMaksudnya, perkataan Rasulullah ﷺ berada di tengah: tidak terlalu sedikit dan tidak pula terlalu banyak.النَّزْرُberarti sedikit.Sedangkan:الْهَذَرُberarti terlalu banyak berbicara.Inilah makna yang juga terdapat dalam hadis Hind bin Abi Halah:يَتَكَلَّمُ بِجَوَامِعِ الْكَلِمِ، فَصْلٌ، لَا فُضُولٌ وَلَا تَقْصِيرٌ“Beliau berbicara dengan kalimat-kalimat yang ringkas namun sarat makna. Ucapannya jelas; tidak berlebihan dan tidak pula kurang.” Tinggi Badan Rasulullah ﷺPerkataan Ummu Ma‘bad:لَا بَأْسَ مِنْ طُولٍMaksudnya, postur tubuh beliau tidak membuat orang merasa bahwa beliau terlalu tinggi. Sebab Rasulullah ﷺ memang lebih mendekati postur tinggi. Namun beliau bukanlah orang yang sangat tinggi sehingga orang lain seakan tidak mungkin menyamai tinggi beliau karena tinggi yang berlebihan.Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas:لَيْسَ بِالطَّوِيلِ الْبَائِنِ وَلَا بِالْقَصِيرِ“Beliau bukan orang yang sangat tinggi menjulang dan bukan pula orang yang pendek.” Tidak Pendek sehingga Dipandang RemehPerkataan:وَلَا تَقْتَحِمُهُ عَيْنٌ مِنْ قِصَرٍArtinya, beliau tidak pendek sehingga mata orang meremehkan atau memandang rendah beliau lalu beralih melihat orang lain.Dalam bahasa Arab dikatakan:اقْتَحَمَتْ فُلَانًا عَيْنِيyakni: “Mataku memandang orang itu rendah dan kecil.”Jadi maksudnya, tidak ada kekurangan pada tinggi badan Nabi ﷺ yang membuat orang menganggap beliau remeh. Hubungan Rasulullah ﷺ dengan Para SahabatPerkataan:مَحْشُودٌ مَحْفُودٌMaksudnya, para sahabat berkumpul mengelilingi beliau, melayani beliau, dan segera menaati beliau.Dikatakan:رَجُلٌ مَحْشُودٌyakni seseorang yang banyak manusia berkumpul di sekelilingnya.الْمَحْفُودُartinya orang yang dilayani.Sedangkan:الْحَفَدَةُberarti para pelayan.Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman,وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً“Dan Dia menjadikan untuk kalian dari pasangan-pasangan kalian anak-anak dan cucu-cucu/para pembantu.”(QS. An-Nahl: 72)Maksudnya, mereka adalah anak-anak sekaligus orang-orang yang membantu.Ada pula yang mengatakan bahwa:الْحَفَدَةُberarti para penolong.Asal katanya dari:حَفَدَ يَحْفِدُyakni bersegera dalam berjalan atau bergerak. Nabi ﷺ Tidak Bermuka MasamPerkataan:لَا عَابِسٌArtinya: Beliau bukan orang yang bermuka masam. Makna “Wa Lā Mufannad”Perkataan:وَلَا مُفَنَّدٌMufannad adalah orang yang perkataannya tidak lagi mempunyai banyak manfaat karena telah terkena kelemahan akal akibat usia lanjut.Allah Subhanahu wa Ta‘ala menceritakan perkataan Nabi Ya‘qub ‘alaihis salam:لَوْلَا أَنْ تُفَنِّدُونِ“Sekiranya kalian tidak menuduhku sudah pikun.” (QS. Yusuf: 94)Artinya: “Seandainya kalian tidak menganggapku telah pikun dan berkata bahwa aku sudah lemah akal karena usia.”Dalam hadis juga disebutkan:مَا يَنْتَظِرُ أَحَدُكُمْ إِلَّا هَرَمًا مُفَنِّدًا“Tidaklah salah seorang di antara kalian menunggu kecuali usia tua yang melemahkan akal.”Dalam riwayat lain berbunyi:وَلَا مُعْتَدٍ“Dan beliau bukan orang yang melampaui batas.”Kata tersebut berasal dari:الِاعْتِدَاءُyang berarti kezaliman dan tindakan melampaui batas. Ringkasan Deskripsi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Ummu Ma’bad BagianLafaz HadisGambaran Rasulullah ﷺWajahأَبْلَجَ الْوَجْهِWajah beliau cerah, berseri, dan bercahaya.Postur tubuhلَمْ تَعِبْهُ نَحْلَةٌTubuh beliau tidak terlalu kurus sehingga mengurangi keelokannya.Keserasian tubuhوَلَمْ تُزْرِ بِهِ صَقْلَةٌTubuh beliau proporsional; tidak terlalu kurus dan tidak pula membesar secara tidak serasi.Riwayat lain tentang perutثُجْلَةٌBeliau tidak memiliki perut yang terlalu besar sehingga merusak keserasian tubuh.Riwayat lain tentang kepalaصَعْلَةٌKepala beliau tidak terlalu kecil sehingga mengurangi keelokan penampilan.Ketampananوَسِيمٌ قَسِيمٌBeliau rupawan, tampan, elok, dan serasi penampilannya.Mataفِي عَيْنِهِ دَعَجٌBagian hitam mata beliau hitam pekat dan indah.Bulu mataوَفِي أَشْفَارِهِ وَطَفٌBulu mata beliau panjang.Suaraوَفِي صَوْتِهِ صَهَلٌSuara beliau memiliki kekuatan dan ketegasan.Riwayat lain tentang suaraصَحَلٌSuara beliau memiliki sedikit kesan serak yang lembut, tidak melengking tajam.Leherوَفِي عُنُقِهِ سَطَعٌLeher beliau jenjang dan tegak.Janggutوَفِي لِحْيَتِهِ كَثَاثَةٌJanggut beliau lebat.Alisأَزَجُّ أَقْرَنُAlis beliau panjang, melengkung indah, dan dalam riwayat ini disebut bertemu/bersambung. Ada riwayat lain yang menyebut tidak bersambung.Ketika diamإِنْ صَمَتَ فَعَلَيْهِ الْوَقَارُKetika diam, terpancar ketenangan dan kewibawaan.Ketika berbicaraوَإِنْ تَكَلَّمَ سَمَا وَعَلَاهُ الْبَهَاءُKetika berbicara, beliau tampak semakin luhur, berwibawa, dan memesona.Dilihat dari jauhأَجْمَلُ النَّاسِ وَأَبْهَاهُ مِنْ بَعِيدٍDari kejauhan, beliau tampak sangat indah dan berwibawa.Dilihat dari dekatوَأَجْلَاهُ وَأَحْسَنُهُ مِنْ قَرِيبٍDari dekat, keelokan beliau semakin jelas dan semakin menawan.Tutur kataحُلْوُ الْمَنْطِقِTutur kata beliau indah dan menyenangkan didengar.Cara berbicaraفَصْلٌUcapan beliau jelas, teratur, dan mudah dipahami.Tidak bertele-teleلَا نَزْرٌ وَلَا هَذَرٌTidak terlalu sedikit hingga sulit dipahami dan tidak berlebihan atau bertele-tele.Susunan perkataanكَأَنَّ مَنْطِقَهُ خَرَزَاتُ نَظْمٍ يَتَحَدَّرْنَKata-kata beliau tersusun rapi, seakan-akan untaian mutiara yang bergulir satu demi satu.Tinggi badanرَبْعَةٌTinggi beliau sedang dan proporsional, cenderung tinggi tetapi tidak berlebihan.Tidak terlalu pendekوَلَا تَقْتَحِمُهُ عَيْنٌ مِنْ قِصَرٍBeliau tidak pendek sehingga orang memandang remeh kepadanya.Di tengah sahabatغُصْنٌ بَيْنَ غُصْنَيْنِDi antara dua sahabatnya, beliau bagaikan dahan paling indah di antara dua dahan.Penampilan di antara tiga orangأَنْضَرُ الثَّلَاثَةِ مَنْظَرًاBeliau yang paling segar dan indah dipandang di antara ketiganya.Wibawaوَأَحْسَنُهُمْ قَدْرًاBeliau tampak paling tinggi kedudukan dan wibawanya.Dicintai sahabatلَهُ رُفَقَاءُ يَحُفُّونَ بِهِPara sahabat senang berada dan berkumpul di sekeliling beliau.Saat berbicaraإِنْ قَالَ أَنْصَتُوا لِقَوْلِهِKetika beliau berbicara, para sahabat diam dan menyimak dengan penuh perhatian.Saat memerintahوَإِنْ أَمَرَ تَبَادَرُوا لِأَمْرِهِKetika beliau memerintah, mereka segera berlomba melaksanakannya.Hubungan dengan sahabatمَحْشُودٌ مَحْفُودٌPara sahabat berkumpul, membantu, melayani, dan sigap menaati beliau.Ekspresi wajahلَا عَابِسٌBeliau bukan orang yang suka bermuka masam.Kejernihan perkataanوَلَا مُفَنَّدٌBeliau bukan orang yang ucapannya kacau, lemah, atau tidak bernilai. Dalam riwayat lain: وَلَا مُعْتَدٍ, bukan orang yang melampaui batas. Kesimpulan Deskripsi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamIndah fisiknya: wajah berseri, rupawan, mata indah, bulu mata panjang, janggut lebat, dan tubuh proporsional.Berwibawa kepribadiannya: ketika diam beliau berwibawa; ketika berbicara semakin tampak kemuliaannya.Indah komunikasinya: tutur katanya menyenangkan, jelas, tidak terlalu sedikit, dan tidak bertele-tele.Dicintai pengikutnya: sahabat mengelilingi beliau, serius mendengarkan, dan bersegera menjalankan perintahnya.Mulia akhlaknya: tidak bermuka masam, tidak kasar, dan perkataannya bernilai. Pertemuan Singkat, tetapi Membekas Begitu DalamUmmu Ma‘bad bukanlah orang yang bertahun-tahun membersamai Rasulullah ﷺ. Pertemuannya dengan beliau sangat singkat, hanya ketika Rasulullah ﷺ singgah di kemahnya dalam perjalanan hijrah. Namun lihatlah bagaimana ia mampu menceritakan Rasulullah ﷺ dengan begitu detail.Ia mengingat wajah beliau, mata, bulu mata, suara, janggut, postur tubuh, cara diam, cara berbicara, pilihan kata, kewibawaan, bahkan bagaimana para sahabat bersikap ketika Rasulullah ﷺ berbicara dan memberikan perintah.Dari sini ada beberapa pelajaran menarik:1. Pribadi yang agung tidak membutuhkan waktu lama untuk meninggalkan kesan.Ummu Ma‘bad hanya bertemu sebentar, tetapi perjumpaan itu begitu kuat membekas dalam ingatannya.2. Dakwah Rasulullah ﷺ bukan hanya melalui kata-kata.Sebelum seseorang memahami panjang lebar ajaran beliau, ia bisa terlebih dahulu tersentuh oleh akhlak, ketenangan, keramahan, kewibawaan, dan cara beliau memperlakukan manusia.3. Yang diperhatikan Ummu Ma‘bad bukan hanya fisik.Deskripsinya bergerak dari penampilan menuju kepribadian:إِنْ صَمَتَ فَعَلَيْهِ الْوَقَارُ“Ketika beliau diam, tampak kewibawaan pada dirinya.”Lalu menuju cara berkomunikasi:حُلْوُ الْمَنْطِقِ، فَصْلٌ، لَا نَزْرٌ وَلَا هَذَرٌ“Tutur katanya indah dan jelas; tidak terlalu sedikit dan tidak pula berlebihan.”Bahkan sampai kepada kepemimpinan beliau:إِنْ قَالَ أَنْصَتُوا لِقَوْلِهِ، وَإِنْ أَمَرَ تَبَادَرُوا لِأَمْرِهِ“Jika beliau berbicara, para sahabat menyimaknya. Jika beliau memerintah, mereka segera melaksanakannya.”4. Orang lain sering mengenal agama kita melalui perilaku kita terlebih dahulu.Seseorang mungkin belum sempat mendengar kajian kita, membaca tulisan kita, atau mengetahui dalil yang kita sampaikan. Namun ia sudah bisa menilai Islam dari wajah, ucapan, keramahan, kejujuran, adab, dan cara kita memperlakukannya.5. Pertemuan singkat bisa menjadi dakwah yang sangat panjang pengaruhnya.Rasulullah ﷺ hanya singgah. Tetapi setelah beliau pergi, Ummu Ma‘bad masih menceritakan beliau kepada suaminya. Bahkan Abu Ma‘bad sampai mengatakan:وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَصْحَبَهُ، وَلَأَفْعَلَنَّ إِنْ وَجَدْتُ إِلَى ذَلِكَ سَبِيلًا“Sungguh aku ingin menyertainya, dan sungguh aku benar-benar akan melakukannya jika aku mendapatkan jalan untuk itu.”Rasulullah ﷺ hanya singgah sebentar di kemah Ummu Ma‘bad, tetapi akhlaknya tinggal lama dalam ingatannya. Referensi: Al-Mu’jam Al-Kabir Ath-Thabrani Islamweb, Syarhus Sunnah Al-Baghawi Islamweb —- Diselesaikan Selasa pagi @ Pondok Pesantren Darush Sholihin, 6 Rabiul Awwal 1448 H, 18 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak mulia akhlak Nabi akhlak Rasulullah cinta Rasulullah hijrah nabi keteladanan Nabi nabi muhammad rasulullah sifat fisik nabi muhammad sifat Nabi sirah nabi sunnah nabi teladan Rasulullah Ummu Ma‘bad

Seperti Apa Fisik Rasulullah ﷺ? Kesaksian Ummu Ma‘bad yang Hanya Bertemu Sesaat

Salah satu cara kita mengenal bagaimana penampilan Rasulullah ﷺ adalah melalui riwayat orang-orang yang pernah melihat beliau secara langsung. Di antara gambaran paling detail dan indah datang dari Ummu Ma‘bad, seorang wanita yang justru hanya bertemu Rasulullah ﷺ dalam waktu singkat ketika beliau sedang berhijrah menuju Madinah.  Daftar Isi tutup 1. Rasulullah ﷺ Singgah di Kemah Ummu Ma‘bad 2. Suami Ummu Ma‘bad Pulang dan Terkejut 3. Gambaran Rasulullah ﷺ Menurut Ummu Ma‘bad 4. Abu Ma‘bad Mengenali Siapa Orang Itu 5. Suara Misterius Terdengar di Makkah 6. Penjelasan Deskripsi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Hadits Ummu Ma’bad 6.1. Wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Berseri 6.2. Tubuh Nabi ﷺ Tidak Terlalu Kurus 7. Tidak Terlalu Kurus dan Tidak Pula Membuncit 7.1. “Wasīm Qasīm” 7.2. “Da‘aj” pada Kedua Mata 7.3. Bulu Mata yang Panjang 7.4. Suara Nabi ﷺ 7.5. Leher Nabi ﷺ 7.6. Alis Rasulullah ﷺ 7.7. Ketika Berbicara, Nabi ﷺ Tampak Semakin Luhur 7.8. Penjelasan Cara Bicara Rasulullah ﷺ 7.9. Tidak Terlalu Sedikit dan Tidak Berlebihan 7.10. Tinggi Badan Rasulullah ﷺ 7.11. Tidak Pendek sehingga Dipandang Remeh 7.12. Hubungan Rasulullah ﷺ dengan Para Sahabat 7.13. Nabi ﷺ Tidak Bermuka Masam 7.14. Makna “Wa Lā Mufannad” 8. Ringkasan Deskripsi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Ummu Ma’bad 9. Kesimpulan Deskripsi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam 10. Pertemuan Singkat, tetapi Membekas Begitu Dalam  Rasulullah ﷺ Singgah di Kemah Ummu Ma‘badKetika Rasulullah ﷺ keluar dari Makkah dalam perjalanan hijrah menuju Madinah, beliau ditemani oleh Abu Bakar, mantan budak Abu Bakar yaitu ‘Amir bin Fuhairah, dan seorang penunjuk jalan dari Bani Laits bernama ‘Abdullah bin Uraiqith.Dalam perjalanan, mereka melewati dua kemah milik Ummu Ma‘bad Al-Khuza‘iyyah.Ummu Ma‘bad adalah seorang wanita yang tangguh dan terbuka dalam berinteraksi. Ia biasa duduk di halaman kemahnya, memberi minum dan makanan kepada siapa saja yang singgah.Rombongan Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya apakah ia memiliki daging atau kurma yang bisa mereka beli. Namun, mereka tidak mendapatkan apa pun darinya. Saat itu mereka memang sedang mengalami kesulitan bekal, sedangkan daerah tersebut pun sedang dilanda musim paceklik.Rasulullah ﷺ kemudian melihat seekor kambing di salah satu sudut kemah.Beliau bertanya,مَا هَذِهِ الشَّاةُ يَا أُمَّ مَعْبَدٍ؟“Wahai Ummu Ma‘bad, kambing apakah ini?”Ummu Ma‘bad menjawab, “Ini kambing yang tertinggal dari kawanan karena sudah terlalu lemah.”Rasulullah ﷺ bertanya,هَلْ بِهَا مِنْ لَبَنٍ؟“Apakah kambing ini masih memiliki susu?”Ummu Ma‘bad menjawab, “Keadaannya bahkan lebih lemah daripada sekadar bisa menghasilkan susu.”Rasulullah ﷺ kemudian bertanya,أَتَأْذَنِينَ لِي أَنْ أَحْلُبَهَا؟“Apakah engkau mengizinkanku untuk memerahnya?”Ummu Ma‘bad menjawab, “Ya. Ayah dan ibuku sebagai tebusan bagimu. Jika engkau memang melihat ada susu padanya, maka perahlah.”Lalu kambing itu dibawa kepada Rasulullah ﷺ.Beliau mengusap ambingnya dengan tangan beliau, menyebut nama Allah Ta‘ala, lalu berdoa memohon keberkahan untuk kambing Ummu Ma‘bad tersebut.Tiba-tiba kambing itu merenggangkan kedua kakinya, ambingnya pun penuh dan susu mengalir deras. Kambing itu bahkan mulai memamah kembali makanannya dengan tenang.Rasulullah ﷺ kemudian meminta sebuah wadah yang cukup besar untuk membuat satu rombongan kenyang apabila meminumnya.Beliau memerah kambing tersebut.Susu mengalir begitu deras memenuhi wadah hingga muncul buih di atasnya.Kemudian Rasulullah ﷺ memberikan susu itu terlebih dahulu kepada Ummu Ma‘bad hingga ia minum sampai puas. Setelah itu, beliau memberikan minum kepada para sahabatnya hingga mereka semua merasa puas. Dan Rasulullah ﷺ menjadi orang terakhir yang minum.Setelah itu mereka beristirahat sejenak.Kemudian Rasulullah ﷺ kembali memerah kambing tersebut untuk kedua kalinya hingga memenuhi wadah.Beliau meninggalkan susu itu untuk Ummu Ma‘bad.Setelah melakukan transaksi dengannya, rombongan Rasulullah ﷺ pun melanjutkan perjalanan. Suami Ummu Ma‘bad Pulang dan TerkejutTidak lama setelah rombongan itu pergi, suami Ummu Ma‘bad, yaitu Abu Ma‘bad, pulang.Ia sedang menggiring beberapa ekor kambing yang kurus kering. Karena begitu kurusnya, kambing-kambing itu berjalan dengan sangat lemah. Saking buruk kondisi dan kurangnya makanan, sumsum pada tulang kambing-kambing itu pun tinggal sedikit.Ketika Abu Ma‘bad melihat adanya susu, ia terkejut.Ia berkata, “Dari mana engkau mendapatkan susu ini, wahai Ummu Ma‘bad? Padahal kambing-kambing sedang jauh dari tempat kita, tidak ada kambing yang baru melahirkan, dan di rumah pun tidak ada kambing yang bisa diperah.”Ummu Ma‘bad menjawab,لَا وَاللَّهِ، إِلَّا أَنَّهُ مَرَّ بِنَا رَجُلٌ مُبَارَكٌ، مِنْ حَالِهِ كَذَا وَكَذَا.“Tidak, demi Allah. Hanya saja, tadi ada seorang lelaki yang penuh keberkahan melewati tempat kita. Keadaannya begini dan begini.”Abu Ma‘bad berkata,صِفِيهِ لِي يَا أُمَّ مَعْبَدٍ“Coba gambarkan orang itu kepadaku, wahai Ummu Ma‘bad.” Gambaran Rasulullah ﷺ Menurut Ummu Ma‘badUmmu Ma‘bad menjelaskan rinci,رَأَيْتُ رَجُلًا ظَاهِرَ الْوَضَاءَةِ، أَبْلَجَ الْوَجْهِ، لَمْ تَعِبْهُ نَحْلَةٌ، وَلَمْ تُزْرِ بِهِ صَقْلَةٌ، وَسِيمٌ قَسِيمٌ، فِي عَيْنِهِ دَعَجٌ، وَفِي أَشْفَارِهِ وَطَفٌ، وَفِي صَوْتِهِ صَهَلٌ، وَفِي عُنُقِهِ سَطَعٌ، وَفِي لِحْيَتِهِ كَثَاثَةٌ، أَزَجُّ أَقْرَنُ. “Aku melihat seorang lelaki yang sangat nyata keelokan dan kecerahan penampilannya. Wajahnya berseri dan bercahaya. Tubuhnya tidak terlalu kurus sehingga mengurangi keelokannya, dan tidak pula bentuk pinggang atau sisi tubuhnya mengurangi keserasian penampilannya. Ia seorang yang rupawan, tampan, dan serasi. Pada matanya terdapat warna hitam yang pekat dan indah. Bulu matanya panjang. Pada suaranya terdapat ketegasan dan kekuatan. Lehernya jenjang dan tegak. Janggutnya lebat. Alisnya panjang, melengkung indah, dan kedua alisnya bertemu.إِنْ صَمَتَ فَعَلَيْهِ الْوَقَارُ، وَإِنْ تَكَلَّمَ سَمَا وَعَلَاهُ الْبَهَاءُ، أَجْمَلُ النَّاسِ وَأَبْهَاهُ مِنْ بَعِيدٍ، وَأَجْلَاهُ وَأَحْسَنُهُ مِنْ قَرِيبٍ. Apabila ia diam, tampak kewibawaan pada dirinya. Apabila berbicara, ia tampak semakin luhur dan kemuliaan serta keelokannya semakin terpancar. Dari kejauhan, ia adalah manusia yang paling indah dan paling memesona; ketika dilihat dari dekat, ia tampak semakin jelas keelokannya dan semakin indah.حُلْوُ الْمَنْطِقِ، فَصْلٌ، لَا نَزْرٌ وَلَا هَذَرٌ، كَأَنَّ مَنْطِقَهُ خَرَزَاتُ نَظْمٍ يَتَحَدَّرْنَ. Tutur katanya manis dan menyenangkan. Ucapannya jelas dan terpilah; tidak terlalu sedikit dan tidak pula berlebihan atau bertele-tele. Seakan-akan kata-katanya adalah butiran-butiran mutiara yang tersusun rapi lalu bergulir satu demi satu.رَبْعَةٌ، لَا يَأْسَ مِنْ طُولٍ، وَلَا تَقْتَحِمُهُ عَيْنٌ مِنْ قِصَرٍ، غُصْنٌ بَيْنَ غُصْنَيْنِ، فَهُوَ أَنْضَرُ الثَّلَاثَةِ مَنْظَرًا، وَأَحْسَنُهُمْ قَدْرًا. Tinggi badannya sedang, cenderung kepada tinggi tetapi tidak berlebihan, dan ia tidak pendek sehingga mata memandangnya rendah atau meremehkannya. Di antara dua orang yang menyertainya, ia bagaikan sebuah dahan yang indah di antara dua dahan lainnya. Dialah yang paling segar dan elok dipandang di antara ketiganya serta yang paling tinggi kedudukan dan wibawanya.لَهُ رُفَقَاءُ يَحُفُّونَ بِهِ، إِنْ قَالَ أَنْصَتُوا لِقَوْلِهِ، وَإِنْ أَمَرَ تَبَادَرُوا لِأَمْرِهِ، مَحْشُودٌ مَحْفُودٌ، لَا عَابِسٌ وَلَا مُفَنَّدٌ.Ia mempunyai para sahabat yang mengelilinginya. Jika ia berbicara, mereka diam dan menyimak perkataannya. Jika ia memberi perintah, mereka segera berlomba melaksanakan perintahnya. Orang-orang berkumpul di sekelilingnya, melayani dan sigap membantunya. Ia bukan orang yang bermuka masam dan bukan pula orang yang perkataannya tidak bernilai atau kehilangan kejernihan pikiran.” Abu Ma‘bad Mengenali Siapa Orang ItuSetelah mendengar penjelasan istrinya, Abu Ma‘bad berkata,هُوَ وَاللَّهِ صَاحِبُ قُرَيْشٍ الَّذِي ذُكِرَ لَنَا مِنْ أَمْرِهِ مَا ذُكِرَ بِمَكَّةَ، وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَصْحَبَهُ، وَلَأَفْعَلَنَّ إِنْ وَجَدْتُ إِلَى ذَلِكَ سَبِيلًا. “Demi Allah, orang itu pasti orang Quraisy yang selama ini telah kita dengar berita tentang dirinya di Makkah. Sungguh, sebelumnya aku sudah berkeinginan untuk menjadi sahabat dan mengikutinya. Dan sungguh aku benar-benar akan melakukannya apabila aku mendapatkan jalan untuk itu.” Suara Misterius Terdengar di Makkahوَأَصْبَحَ صَوْتٌ بِمَكَّةَ عَالِيًا، يَسْمَعُونَ الصَّوْتَ، وَلَا يَدْرُونَ مَنْ صَاحِبُهُ، وَهُوَ يَقُولُ: جَزَى اللَّهُ رَبُّ النَّاسِ خَيْرَ جَزَائِهِ رَفِيقَيْنِ قَالَا خَيْمَتَيْ أُمِّ مَعْبَدِ هُمَا نَزَلَاهَا بِالْهُدَى وَاهْتَدَتْ بِهِ فَقَدْ فَازَ مَنْ أَمْسَى رَفِيقَ مُحَمَّدِ فَيَا لِقُصَيٍّ مَا زَوَى اللَّهُ عَنْكُمْ بِهِ مِنْ فَعَالٍ لَا يُجَازَى وَسُؤْدُدِ لِيَهْنِ بَنِي كَعْبٍ مَقَامُ فَتَاتِهِمْ وَمَقْعَدُهَا لِلْمُؤْمِنِينَ بِمَرْصَدِ سَلُوا أُخْتَكُمْ عَنْ شَاتِهَا وَإِنَائِهَا فَإِنَّكُمْ إِنْ تَسْأَلُوا الشَّاةَ تَشْهَدِ دَعَاهَا بِشَاةٍ حَائِلٍ فَتَحَلَّبَتْ عَلَيْهِ صَرِيحًا ضَرَّةُ الشَّاةِ مُزْبِدِ فَغَادَرَهَا رَهْنًا لَدَيْهَا لِحَالِبٍ يُرَدِّدُهَا فِي مَصْدَرٍ ثُمَّ مَوْرِدِKemudian pada pagi harinya terdengar sebuah suara keras di Makkah. Mereka mendengar suara itu, tetapi tidak mengetahui siapa pemiliknya. Suara itu berkata:“Semoga Allah, Rabb seluruh manusia, memberikan sebaik-baik balasan-Nya kepada dua orang sahabat yang singgah di kemah Ummu Ma‘bad.Keduanya singgah di sana dengan membawa petunjuk, dan dengannya ia memperoleh petunjuk. Sungguh beruntung orang yang pada petang hari menjadi sahabat Muhammad.Wahai keturunan Qushay, betapa banyak kebaikan yang Allah jauhkan dari kalian melalui dirinya, berupa berbagai perbuatan mulia yang tak tertandingi dan kemuliaan yang tinggi.Berbahagialah Bani Ka‘b karena tempat tinggal wanita mereka, dan tempat duduknya yang menjadi tempat singgah dan pengamatan bagi kaum beriman.Tanyakanlah kepada saudari kalian tentang kambingnya dan wadahnya. Jika kalian bertanya kepada kambing itu, niscaya kambing itu akan menjadi saksi.Beliau mendatangi seekor kambing betina yang tidak sedang bunting, lalu kambing itu mengeluarkan susu untuk beliau. Ambing kambing itu mengalirkan susu murni yang berbuih.Lalu beliau meninggalkannya di tempat wanita itu sebagai jaminan bagi orang yang memerahnya, yang akan terus memerahnya berulang kali, pada waktu pergi maupun kembali.” Penjelasan Deskripsi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Hadits Ummu Ma’badWajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam BerseriPerkataan Ummu Ma‘bad:أَبْلَجَ الْوَجْهِMaksudnya, wajah Rasulullah ﷺ berseri-seri dan bercahaya.Dalam bahasa Arab dikatakan:تَبَلَّجَ الصُّبْحُ وَانْبَلَجَketika cahaya pagi mulai terang.Ummu Ma‘bad tidak bermaksud dengan kata balaj bahwa kedua alis Nabi ﷺ terpisah. Hal itu terlihat karena setelahnya ia justru menggambarkan beliau dengan sifat:أَقْرَنُyakni kedua alis beliau bertemu atau hampir bersambung. Tubuh Nabi ﷺ Tidak Terlalu KurusDalam satu riwayat disebutkan:لَمْ تَعِبْهُ نَحْلَةٌArtinya, beliau tidak memiliki tubuh yang terlalu kurus sehingga mengurangi keelokannya.النَّحْلَةُ di sini berarti kekurusan atau kecilnya tubuh.Namun terdapat riwayat lain:ثُجْلَةٌdengan huruf tsa dan jim.Kata tersebut berarti perut yang besar.Dikatakan:رَجُلٌ أَثْجَلُyakni seorang lelaki yang berperut besar.Demikian pula kata العَثْجَل memiliki makna serupa. Tidak Terlalu Kurus dan Tidak Pula MembuncitPerkataan:وَلَمْ تُزْرِ بِهِ صَقْلَةٌMaksudnya adalah tubuh yang terlalu kecil atau terlalu ramping.Ada yang menjelaskan bahwa maksud Ummu Ma‘bad ialah:Rasulullah ﷺ tidak mempunyai pinggang yang sangat membesar, dan tidak pula terlalu kurus. Tubuh beliau berada dalam keadaan yang kuat dan serasi.الصَّقْلَةُ berarti bagian pinggang atau sisi tubuh.Dikatakan:فَرَسٌ صَقِلٌuntuk kuda yang bagian tersebut terlalu panjang, dan ini dianggap sebagai suatu kekurangan.Jadi Ummu Ma‘bad ingin menjelaskan bahwa Nabi ﷺ tidak kurus berlebihan dan tidak pula terlalu membesar tubuhnya.Dalam riwayat lain berbunyi:لَمْ تُزْرِ بِهِ صَعْلَةٌdengan huruf ‘ain.الصَّعْلَةُ berarti kepala yang kecil.Burung unta jantan disebut:صَعْلٌkarena kepalanya kecil. “Wasīm Qasīm”Perkataannya:وَسِيمٌ قَسِيمٌالْوَسِيمُ berarti orang yang bagus, rupawan, dan bercahaya wajahnya.Dikatakan:وَسِيمٌ بَيِّنُ الْوَسَامَةِyakni seseorang yang jelas ketampanannya.Sedangkan:الْقَسِيمُjuga berarti orang yang elok atau tampan.الْقَسَامَةُ berarti keelokan dan ketampanan.Jadi ungkapan ini menggambarkan Nabi ﷺ sebagai seorang yang rupawan, elok, dan serasi penampilannya. “Da‘aj” pada Kedua Mataالدَّعَجُberarti warna hitam yang pekat pada mata atau pada sesuatu yang lain.Dalam konteks ini, maksudnya adalah bagian hitam kedua mata Nabi ﷺ tampak hitam pekat, yang merupakan salah satu sifat keelokan mata. Bulu Mata yang PanjangPerkataan:وَفِي أَشْفَارِهِ وَطَفٌArtinya, bulu mata beliau panjang.Dikatakan:وَطِفَ فَهُوَ أَوْطَفُapabila bulu mata seseorang panjang.Ada pula riwayat dengan kata:عَطَفٌatau:غَطَفٌKeduanya juga dimaksudkan untuk menggambarkan panjangnya bulu mata. Suara Nabi ﷺDalam satu riwayat disebutkan:وَفِي صَوْتِهِ صَهَلٌArtinya, pada suara beliau terdapat kekuatan dan ketegasan.Kata tersebut berkaitan dengan:صَهِيلُ الْخَيْلِyaitu ringkikan kuda.Dalam riwayat lain disebutkan:صَحَلٌArtinya, terdapat sedikit kesan serak pada suara.Maksudnya, suara beliau tidak terlalu tinggi dan tajam.Suara seperti ini dianggap indah selama kesan seraknya tidak berlebihan. Leher Nabi ﷺPerkataan:وَفِي عُنُقِهِ سَطَعٌArtinya, leher beliau panjang dan jenjang.Dikatakan:رَجُلٌ أَسْطَعُyaitu lelaki yang berleher jenjang.Dan:عُنُقٌ سَطْعَاءُyaitu leher yang tegak.Dari akar kata inilah digunakan ungkapan untuk fajar ketika pertama kali cahayanya muncul memanjang:سَطَعَ يَسْطَعُ Alis Rasulullah ﷺPerkataan:أَزَجُّ أَقْرَنُالزَّجَجُ pada alis berarti alis yang melengkung dengan indah, panjang pada ujung-ujungnya, dan sempurna pertumbuhannya.Sedangkan:الْقَرَنُberarti bertemunya kedua alis.Namun terdapat riwayat lain mengenai sifat Rasulullah ﷺ dari Hind bin Abi Halah yang menyebutkan:أَزَجُّ الْحَوَاجِبِ، سَوَابِغُ مِنْ غَيْرِ قَرَنٍ“Alis beliau melengkung dan panjang sempurna, tetapi tidak bersambung.”Jadi, memang terdapat perbedaan lafaz riwayat mengenai apakah kedua alis beliau bersambung atau tidak. Ketika Berbicara, Nabi ﷺ Tampak Semakin LuhurPerkataan:إِنْ تَكَلَّمَ سَمَاMaksudnya, ketika Rasulullah ﷺ berbicara, beliau mengangkat kepalanya dan tampak semakin luhur di antara orang-orang yang duduk bersama beliau. Penjelasan Cara Bicara Rasulullah ﷺPerkataan Ummu Ma‘bad mengenai cara bicara beliau:فَصْلٌArtinya:بَيِّنٌyakni jelas dan mudah dibedakan maksudnya.Ucapan Rasulullah ﷺ tidak rancu dan tidak bercampur-aduk. Tidak Terlalu Sedikit dan Tidak BerlebihanPerkataan:لَا نَزْرٌ وَلَا هَذَرٌMaksudnya, perkataan Rasulullah ﷺ berada di tengah: tidak terlalu sedikit dan tidak pula terlalu banyak.النَّزْرُberarti sedikit.Sedangkan:الْهَذَرُberarti terlalu banyak berbicara.Inilah makna yang juga terdapat dalam hadis Hind bin Abi Halah:يَتَكَلَّمُ بِجَوَامِعِ الْكَلِمِ، فَصْلٌ، لَا فُضُولٌ وَلَا تَقْصِيرٌ“Beliau berbicara dengan kalimat-kalimat yang ringkas namun sarat makna. Ucapannya jelas; tidak berlebihan dan tidak pula kurang.” Tinggi Badan Rasulullah ﷺPerkataan Ummu Ma‘bad:لَا بَأْسَ مِنْ طُولٍMaksudnya, postur tubuh beliau tidak membuat orang merasa bahwa beliau terlalu tinggi. Sebab Rasulullah ﷺ memang lebih mendekati postur tinggi. Namun beliau bukanlah orang yang sangat tinggi sehingga orang lain seakan tidak mungkin menyamai tinggi beliau karena tinggi yang berlebihan.Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas:لَيْسَ بِالطَّوِيلِ الْبَائِنِ وَلَا بِالْقَصِيرِ“Beliau bukan orang yang sangat tinggi menjulang dan bukan pula orang yang pendek.” Tidak Pendek sehingga Dipandang RemehPerkataan:وَلَا تَقْتَحِمُهُ عَيْنٌ مِنْ قِصَرٍArtinya, beliau tidak pendek sehingga mata orang meremehkan atau memandang rendah beliau lalu beralih melihat orang lain.Dalam bahasa Arab dikatakan:اقْتَحَمَتْ فُلَانًا عَيْنِيyakni: “Mataku memandang orang itu rendah dan kecil.”Jadi maksudnya, tidak ada kekurangan pada tinggi badan Nabi ﷺ yang membuat orang menganggap beliau remeh. Hubungan Rasulullah ﷺ dengan Para SahabatPerkataan:مَحْشُودٌ مَحْفُودٌMaksudnya, para sahabat berkumpul mengelilingi beliau, melayani beliau, dan segera menaati beliau.Dikatakan:رَجُلٌ مَحْشُودٌyakni seseorang yang banyak manusia berkumpul di sekelilingnya.الْمَحْفُودُartinya orang yang dilayani.Sedangkan:الْحَفَدَةُberarti para pelayan.Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman,وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً“Dan Dia menjadikan untuk kalian dari pasangan-pasangan kalian anak-anak dan cucu-cucu/para pembantu.”(QS. An-Nahl: 72)Maksudnya, mereka adalah anak-anak sekaligus orang-orang yang membantu.Ada pula yang mengatakan bahwa:الْحَفَدَةُberarti para penolong.Asal katanya dari:حَفَدَ يَحْفِدُyakni bersegera dalam berjalan atau bergerak. Nabi ﷺ Tidak Bermuka MasamPerkataan:لَا عَابِسٌArtinya: Beliau bukan orang yang bermuka masam. Makna “Wa Lā Mufannad”Perkataan:وَلَا مُفَنَّدٌMufannad adalah orang yang perkataannya tidak lagi mempunyai banyak manfaat karena telah terkena kelemahan akal akibat usia lanjut.Allah Subhanahu wa Ta‘ala menceritakan perkataan Nabi Ya‘qub ‘alaihis salam:لَوْلَا أَنْ تُفَنِّدُونِ“Sekiranya kalian tidak menuduhku sudah pikun.” (QS. Yusuf: 94)Artinya: “Seandainya kalian tidak menganggapku telah pikun dan berkata bahwa aku sudah lemah akal karena usia.”Dalam hadis juga disebutkan:مَا يَنْتَظِرُ أَحَدُكُمْ إِلَّا هَرَمًا مُفَنِّدًا“Tidaklah salah seorang di antara kalian menunggu kecuali usia tua yang melemahkan akal.”Dalam riwayat lain berbunyi:وَلَا مُعْتَدٍ“Dan beliau bukan orang yang melampaui batas.”Kata tersebut berasal dari:الِاعْتِدَاءُyang berarti kezaliman dan tindakan melampaui batas. Ringkasan Deskripsi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Ummu Ma’bad BagianLafaz HadisGambaran Rasulullah ﷺWajahأَبْلَجَ الْوَجْهِWajah beliau cerah, berseri, dan bercahaya.Postur tubuhلَمْ تَعِبْهُ نَحْلَةٌTubuh beliau tidak terlalu kurus sehingga mengurangi keelokannya.Keserasian tubuhوَلَمْ تُزْرِ بِهِ صَقْلَةٌTubuh beliau proporsional; tidak terlalu kurus dan tidak pula membesar secara tidak serasi.Riwayat lain tentang perutثُجْلَةٌBeliau tidak memiliki perut yang terlalu besar sehingga merusak keserasian tubuh.Riwayat lain tentang kepalaصَعْلَةٌKepala beliau tidak terlalu kecil sehingga mengurangi keelokan penampilan.Ketampananوَسِيمٌ قَسِيمٌBeliau rupawan, tampan, elok, dan serasi penampilannya.Mataفِي عَيْنِهِ دَعَجٌBagian hitam mata beliau hitam pekat dan indah.Bulu mataوَفِي أَشْفَارِهِ وَطَفٌBulu mata beliau panjang.Suaraوَفِي صَوْتِهِ صَهَلٌSuara beliau memiliki kekuatan dan ketegasan.Riwayat lain tentang suaraصَحَلٌSuara beliau memiliki sedikit kesan serak yang lembut, tidak melengking tajam.Leherوَفِي عُنُقِهِ سَطَعٌLeher beliau jenjang dan tegak.Janggutوَفِي لِحْيَتِهِ كَثَاثَةٌJanggut beliau lebat.Alisأَزَجُّ أَقْرَنُAlis beliau panjang, melengkung indah, dan dalam riwayat ini disebut bertemu/bersambung. Ada riwayat lain yang menyebut tidak bersambung.Ketika diamإِنْ صَمَتَ فَعَلَيْهِ الْوَقَارُKetika diam, terpancar ketenangan dan kewibawaan.Ketika berbicaraوَإِنْ تَكَلَّمَ سَمَا وَعَلَاهُ الْبَهَاءُKetika berbicara, beliau tampak semakin luhur, berwibawa, dan memesona.Dilihat dari jauhأَجْمَلُ النَّاسِ وَأَبْهَاهُ مِنْ بَعِيدٍDari kejauhan, beliau tampak sangat indah dan berwibawa.Dilihat dari dekatوَأَجْلَاهُ وَأَحْسَنُهُ مِنْ قَرِيبٍDari dekat, keelokan beliau semakin jelas dan semakin menawan.Tutur kataحُلْوُ الْمَنْطِقِTutur kata beliau indah dan menyenangkan didengar.Cara berbicaraفَصْلٌUcapan beliau jelas, teratur, dan mudah dipahami.Tidak bertele-teleلَا نَزْرٌ وَلَا هَذَرٌTidak terlalu sedikit hingga sulit dipahami dan tidak berlebihan atau bertele-tele.Susunan perkataanكَأَنَّ مَنْطِقَهُ خَرَزَاتُ نَظْمٍ يَتَحَدَّرْنَKata-kata beliau tersusun rapi, seakan-akan untaian mutiara yang bergulir satu demi satu.Tinggi badanرَبْعَةٌTinggi beliau sedang dan proporsional, cenderung tinggi tetapi tidak berlebihan.Tidak terlalu pendekوَلَا تَقْتَحِمُهُ عَيْنٌ مِنْ قِصَرٍBeliau tidak pendek sehingga orang memandang remeh kepadanya.Di tengah sahabatغُصْنٌ بَيْنَ غُصْنَيْنِDi antara dua sahabatnya, beliau bagaikan dahan paling indah di antara dua dahan.Penampilan di antara tiga orangأَنْضَرُ الثَّلَاثَةِ مَنْظَرًاBeliau yang paling segar dan indah dipandang di antara ketiganya.Wibawaوَأَحْسَنُهُمْ قَدْرًاBeliau tampak paling tinggi kedudukan dan wibawanya.Dicintai sahabatلَهُ رُفَقَاءُ يَحُفُّونَ بِهِPara sahabat senang berada dan berkumpul di sekeliling beliau.Saat berbicaraإِنْ قَالَ أَنْصَتُوا لِقَوْلِهِKetika beliau berbicara, para sahabat diam dan menyimak dengan penuh perhatian.Saat memerintahوَإِنْ أَمَرَ تَبَادَرُوا لِأَمْرِهِKetika beliau memerintah, mereka segera berlomba melaksanakannya.Hubungan dengan sahabatمَحْشُودٌ مَحْفُودٌPara sahabat berkumpul, membantu, melayani, dan sigap menaati beliau.Ekspresi wajahلَا عَابِسٌBeliau bukan orang yang suka bermuka masam.Kejernihan perkataanوَلَا مُفَنَّدٌBeliau bukan orang yang ucapannya kacau, lemah, atau tidak bernilai. Dalam riwayat lain: وَلَا مُعْتَدٍ, bukan orang yang melampaui batas. Kesimpulan Deskripsi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamIndah fisiknya: wajah berseri, rupawan, mata indah, bulu mata panjang, janggut lebat, dan tubuh proporsional.Berwibawa kepribadiannya: ketika diam beliau berwibawa; ketika berbicara semakin tampak kemuliaannya.Indah komunikasinya: tutur katanya menyenangkan, jelas, tidak terlalu sedikit, dan tidak bertele-tele.Dicintai pengikutnya: sahabat mengelilingi beliau, serius mendengarkan, dan bersegera menjalankan perintahnya.Mulia akhlaknya: tidak bermuka masam, tidak kasar, dan perkataannya bernilai. Pertemuan Singkat, tetapi Membekas Begitu DalamUmmu Ma‘bad bukanlah orang yang bertahun-tahun membersamai Rasulullah ﷺ. Pertemuannya dengan beliau sangat singkat, hanya ketika Rasulullah ﷺ singgah di kemahnya dalam perjalanan hijrah. Namun lihatlah bagaimana ia mampu menceritakan Rasulullah ﷺ dengan begitu detail.Ia mengingat wajah beliau, mata, bulu mata, suara, janggut, postur tubuh, cara diam, cara berbicara, pilihan kata, kewibawaan, bahkan bagaimana para sahabat bersikap ketika Rasulullah ﷺ berbicara dan memberikan perintah.Dari sini ada beberapa pelajaran menarik:1. Pribadi yang agung tidak membutuhkan waktu lama untuk meninggalkan kesan.Ummu Ma‘bad hanya bertemu sebentar, tetapi perjumpaan itu begitu kuat membekas dalam ingatannya.2. Dakwah Rasulullah ﷺ bukan hanya melalui kata-kata.Sebelum seseorang memahami panjang lebar ajaran beliau, ia bisa terlebih dahulu tersentuh oleh akhlak, ketenangan, keramahan, kewibawaan, dan cara beliau memperlakukan manusia.3. Yang diperhatikan Ummu Ma‘bad bukan hanya fisik.Deskripsinya bergerak dari penampilan menuju kepribadian:إِنْ صَمَتَ فَعَلَيْهِ الْوَقَارُ“Ketika beliau diam, tampak kewibawaan pada dirinya.”Lalu menuju cara berkomunikasi:حُلْوُ الْمَنْطِقِ، فَصْلٌ، لَا نَزْرٌ وَلَا هَذَرٌ“Tutur katanya indah dan jelas; tidak terlalu sedikit dan tidak pula berlebihan.”Bahkan sampai kepada kepemimpinan beliau:إِنْ قَالَ أَنْصَتُوا لِقَوْلِهِ، وَإِنْ أَمَرَ تَبَادَرُوا لِأَمْرِهِ“Jika beliau berbicara, para sahabat menyimaknya. Jika beliau memerintah, mereka segera melaksanakannya.”4. Orang lain sering mengenal agama kita melalui perilaku kita terlebih dahulu.Seseorang mungkin belum sempat mendengar kajian kita, membaca tulisan kita, atau mengetahui dalil yang kita sampaikan. Namun ia sudah bisa menilai Islam dari wajah, ucapan, keramahan, kejujuran, adab, dan cara kita memperlakukannya.5. Pertemuan singkat bisa menjadi dakwah yang sangat panjang pengaruhnya.Rasulullah ﷺ hanya singgah. Tetapi setelah beliau pergi, Ummu Ma‘bad masih menceritakan beliau kepada suaminya. Bahkan Abu Ma‘bad sampai mengatakan:وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَصْحَبَهُ، وَلَأَفْعَلَنَّ إِنْ وَجَدْتُ إِلَى ذَلِكَ سَبِيلًا“Sungguh aku ingin menyertainya, dan sungguh aku benar-benar akan melakukannya jika aku mendapatkan jalan untuk itu.”Rasulullah ﷺ hanya singgah sebentar di kemah Ummu Ma‘bad, tetapi akhlaknya tinggal lama dalam ingatannya. Referensi: Al-Mu’jam Al-Kabir Ath-Thabrani Islamweb, Syarhus Sunnah Al-Baghawi Islamweb —- Diselesaikan Selasa pagi @ Pondok Pesantren Darush Sholihin, 6 Rabiul Awwal 1448 H, 18 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak mulia akhlak Nabi akhlak Rasulullah cinta Rasulullah hijrah nabi keteladanan Nabi nabi muhammad rasulullah sifat fisik nabi muhammad sifat Nabi sirah nabi sunnah nabi teladan Rasulullah Ummu Ma‘bad
Salah satu cara kita mengenal bagaimana penampilan Rasulullah ﷺ adalah melalui riwayat orang-orang yang pernah melihat beliau secara langsung. Di antara gambaran paling detail dan indah datang dari Ummu Ma‘bad, seorang wanita yang justru hanya bertemu Rasulullah ﷺ dalam waktu singkat ketika beliau sedang berhijrah menuju Madinah.  Daftar Isi tutup 1. Rasulullah ﷺ Singgah di Kemah Ummu Ma‘bad 2. Suami Ummu Ma‘bad Pulang dan Terkejut 3. Gambaran Rasulullah ﷺ Menurut Ummu Ma‘bad 4. Abu Ma‘bad Mengenali Siapa Orang Itu 5. Suara Misterius Terdengar di Makkah 6. Penjelasan Deskripsi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Hadits Ummu Ma’bad 6.1. Wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Berseri 6.2. Tubuh Nabi ﷺ Tidak Terlalu Kurus 7. Tidak Terlalu Kurus dan Tidak Pula Membuncit 7.1. “Wasīm Qasīm” 7.2. “Da‘aj” pada Kedua Mata 7.3. Bulu Mata yang Panjang 7.4. Suara Nabi ﷺ 7.5. Leher Nabi ﷺ 7.6. Alis Rasulullah ﷺ 7.7. Ketika Berbicara, Nabi ﷺ Tampak Semakin Luhur 7.8. Penjelasan Cara Bicara Rasulullah ﷺ 7.9. Tidak Terlalu Sedikit dan Tidak Berlebihan 7.10. Tinggi Badan Rasulullah ﷺ 7.11. Tidak Pendek sehingga Dipandang Remeh 7.12. Hubungan Rasulullah ﷺ dengan Para Sahabat 7.13. Nabi ﷺ Tidak Bermuka Masam 7.14. Makna “Wa Lā Mufannad” 8. Ringkasan Deskripsi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Ummu Ma’bad 9. Kesimpulan Deskripsi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam 10. Pertemuan Singkat, tetapi Membekas Begitu Dalam  Rasulullah ﷺ Singgah di Kemah Ummu Ma‘badKetika Rasulullah ﷺ keluar dari Makkah dalam perjalanan hijrah menuju Madinah, beliau ditemani oleh Abu Bakar, mantan budak Abu Bakar yaitu ‘Amir bin Fuhairah, dan seorang penunjuk jalan dari Bani Laits bernama ‘Abdullah bin Uraiqith.Dalam perjalanan, mereka melewati dua kemah milik Ummu Ma‘bad Al-Khuza‘iyyah.Ummu Ma‘bad adalah seorang wanita yang tangguh dan terbuka dalam berinteraksi. Ia biasa duduk di halaman kemahnya, memberi minum dan makanan kepada siapa saja yang singgah.Rombongan Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya apakah ia memiliki daging atau kurma yang bisa mereka beli. Namun, mereka tidak mendapatkan apa pun darinya. Saat itu mereka memang sedang mengalami kesulitan bekal, sedangkan daerah tersebut pun sedang dilanda musim paceklik.Rasulullah ﷺ kemudian melihat seekor kambing di salah satu sudut kemah.Beliau bertanya,مَا هَذِهِ الشَّاةُ يَا أُمَّ مَعْبَدٍ؟“Wahai Ummu Ma‘bad, kambing apakah ini?”Ummu Ma‘bad menjawab, “Ini kambing yang tertinggal dari kawanan karena sudah terlalu lemah.”Rasulullah ﷺ bertanya,هَلْ بِهَا مِنْ لَبَنٍ؟“Apakah kambing ini masih memiliki susu?”Ummu Ma‘bad menjawab, “Keadaannya bahkan lebih lemah daripada sekadar bisa menghasilkan susu.”Rasulullah ﷺ kemudian bertanya,أَتَأْذَنِينَ لِي أَنْ أَحْلُبَهَا؟“Apakah engkau mengizinkanku untuk memerahnya?”Ummu Ma‘bad menjawab, “Ya. Ayah dan ibuku sebagai tebusan bagimu. Jika engkau memang melihat ada susu padanya, maka perahlah.”Lalu kambing itu dibawa kepada Rasulullah ﷺ.Beliau mengusap ambingnya dengan tangan beliau, menyebut nama Allah Ta‘ala, lalu berdoa memohon keberkahan untuk kambing Ummu Ma‘bad tersebut.Tiba-tiba kambing itu merenggangkan kedua kakinya, ambingnya pun penuh dan susu mengalir deras. Kambing itu bahkan mulai memamah kembali makanannya dengan tenang.Rasulullah ﷺ kemudian meminta sebuah wadah yang cukup besar untuk membuat satu rombongan kenyang apabila meminumnya.Beliau memerah kambing tersebut.Susu mengalir begitu deras memenuhi wadah hingga muncul buih di atasnya.Kemudian Rasulullah ﷺ memberikan susu itu terlebih dahulu kepada Ummu Ma‘bad hingga ia minum sampai puas. Setelah itu, beliau memberikan minum kepada para sahabatnya hingga mereka semua merasa puas. Dan Rasulullah ﷺ menjadi orang terakhir yang minum.Setelah itu mereka beristirahat sejenak.Kemudian Rasulullah ﷺ kembali memerah kambing tersebut untuk kedua kalinya hingga memenuhi wadah.Beliau meninggalkan susu itu untuk Ummu Ma‘bad.Setelah melakukan transaksi dengannya, rombongan Rasulullah ﷺ pun melanjutkan perjalanan. Suami Ummu Ma‘bad Pulang dan TerkejutTidak lama setelah rombongan itu pergi, suami Ummu Ma‘bad, yaitu Abu Ma‘bad, pulang.Ia sedang menggiring beberapa ekor kambing yang kurus kering. Karena begitu kurusnya, kambing-kambing itu berjalan dengan sangat lemah. Saking buruk kondisi dan kurangnya makanan, sumsum pada tulang kambing-kambing itu pun tinggal sedikit.Ketika Abu Ma‘bad melihat adanya susu, ia terkejut.Ia berkata, “Dari mana engkau mendapatkan susu ini, wahai Ummu Ma‘bad? Padahal kambing-kambing sedang jauh dari tempat kita, tidak ada kambing yang baru melahirkan, dan di rumah pun tidak ada kambing yang bisa diperah.”Ummu Ma‘bad menjawab,لَا وَاللَّهِ، إِلَّا أَنَّهُ مَرَّ بِنَا رَجُلٌ مُبَارَكٌ، مِنْ حَالِهِ كَذَا وَكَذَا.“Tidak, demi Allah. Hanya saja, tadi ada seorang lelaki yang penuh keberkahan melewati tempat kita. Keadaannya begini dan begini.”Abu Ma‘bad berkata,صِفِيهِ لِي يَا أُمَّ مَعْبَدٍ“Coba gambarkan orang itu kepadaku, wahai Ummu Ma‘bad.” Gambaran Rasulullah ﷺ Menurut Ummu Ma‘badUmmu Ma‘bad menjelaskan rinci,رَأَيْتُ رَجُلًا ظَاهِرَ الْوَضَاءَةِ، أَبْلَجَ الْوَجْهِ، لَمْ تَعِبْهُ نَحْلَةٌ، وَلَمْ تُزْرِ بِهِ صَقْلَةٌ، وَسِيمٌ قَسِيمٌ، فِي عَيْنِهِ دَعَجٌ، وَفِي أَشْفَارِهِ وَطَفٌ، وَفِي صَوْتِهِ صَهَلٌ، وَفِي عُنُقِهِ سَطَعٌ، وَفِي لِحْيَتِهِ كَثَاثَةٌ، أَزَجُّ أَقْرَنُ. “Aku melihat seorang lelaki yang sangat nyata keelokan dan kecerahan penampilannya. Wajahnya berseri dan bercahaya. Tubuhnya tidak terlalu kurus sehingga mengurangi keelokannya, dan tidak pula bentuk pinggang atau sisi tubuhnya mengurangi keserasian penampilannya. Ia seorang yang rupawan, tampan, dan serasi. Pada matanya terdapat warna hitam yang pekat dan indah. Bulu matanya panjang. Pada suaranya terdapat ketegasan dan kekuatan. Lehernya jenjang dan tegak. Janggutnya lebat. Alisnya panjang, melengkung indah, dan kedua alisnya bertemu.إِنْ صَمَتَ فَعَلَيْهِ الْوَقَارُ، وَإِنْ تَكَلَّمَ سَمَا وَعَلَاهُ الْبَهَاءُ، أَجْمَلُ النَّاسِ وَأَبْهَاهُ مِنْ بَعِيدٍ، وَأَجْلَاهُ وَأَحْسَنُهُ مِنْ قَرِيبٍ. Apabila ia diam, tampak kewibawaan pada dirinya. Apabila berbicara, ia tampak semakin luhur dan kemuliaan serta keelokannya semakin terpancar. Dari kejauhan, ia adalah manusia yang paling indah dan paling memesona; ketika dilihat dari dekat, ia tampak semakin jelas keelokannya dan semakin indah.حُلْوُ الْمَنْطِقِ، فَصْلٌ، لَا نَزْرٌ وَلَا هَذَرٌ، كَأَنَّ مَنْطِقَهُ خَرَزَاتُ نَظْمٍ يَتَحَدَّرْنَ. Tutur katanya manis dan menyenangkan. Ucapannya jelas dan terpilah; tidak terlalu sedikit dan tidak pula berlebihan atau bertele-tele. Seakan-akan kata-katanya adalah butiran-butiran mutiara yang tersusun rapi lalu bergulir satu demi satu.رَبْعَةٌ، لَا يَأْسَ مِنْ طُولٍ، وَلَا تَقْتَحِمُهُ عَيْنٌ مِنْ قِصَرٍ، غُصْنٌ بَيْنَ غُصْنَيْنِ، فَهُوَ أَنْضَرُ الثَّلَاثَةِ مَنْظَرًا، وَأَحْسَنُهُمْ قَدْرًا. Tinggi badannya sedang, cenderung kepada tinggi tetapi tidak berlebihan, dan ia tidak pendek sehingga mata memandangnya rendah atau meremehkannya. Di antara dua orang yang menyertainya, ia bagaikan sebuah dahan yang indah di antara dua dahan lainnya. Dialah yang paling segar dan elok dipandang di antara ketiganya serta yang paling tinggi kedudukan dan wibawanya.لَهُ رُفَقَاءُ يَحُفُّونَ بِهِ، إِنْ قَالَ أَنْصَتُوا لِقَوْلِهِ، وَإِنْ أَمَرَ تَبَادَرُوا لِأَمْرِهِ، مَحْشُودٌ مَحْفُودٌ، لَا عَابِسٌ وَلَا مُفَنَّدٌ.Ia mempunyai para sahabat yang mengelilinginya. Jika ia berbicara, mereka diam dan menyimak perkataannya. Jika ia memberi perintah, mereka segera berlomba melaksanakan perintahnya. Orang-orang berkumpul di sekelilingnya, melayani dan sigap membantunya. Ia bukan orang yang bermuka masam dan bukan pula orang yang perkataannya tidak bernilai atau kehilangan kejernihan pikiran.” Abu Ma‘bad Mengenali Siapa Orang ItuSetelah mendengar penjelasan istrinya, Abu Ma‘bad berkata,هُوَ وَاللَّهِ صَاحِبُ قُرَيْشٍ الَّذِي ذُكِرَ لَنَا مِنْ أَمْرِهِ مَا ذُكِرَ بِمَكَّةَ، وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَصْحَبَهُ، وَلَأَفْعَلَنَّ إِنْ وَجَدْتُ إِلَى ذَلِكَ سَبِيلًا. “Demi Allah, orang itu pasti orang Quraisy yang selama ini telah kita dengar berita tentang dirinya di Makkah. Sungguh, sebelumnya aku sudah berkeinginan untuk menjadi sahabat dan mengikutinya. Dan sungguh aku benar-benar akan melakukannya apabila aku mendapatkan jalan untuk itu.” Suara Misterius Terdengar di Makkahوَأَصْبَحَ صَوْتٌ بِمَكَّةَ عَالِيًا، يَسْمَعُونَ الصَّوْتَ، وَلَا يَدْرُونَ مَنْ صَاحِبُهُ، وَهُوَ يَقُولُ: جَزَى اللَّهُ رَبُّ النَّاسِ خَيْرَ جَزَائِهِ رَفِيقَيْنِ قَالَا خَيْمَتَيْ أُمِّ مَعْبَدِ هُمَا نَزَلَاهَا بِالْهُدَى وَاهْتَدَتْ بِهِ فَقَدْ فَازَ مَنْ أَمْسَى رَفِيقَ مُحَمَّدِ فَيَا لِقُصَيٍّ مَا زَوَى اللَّهُ عَنْكُمْ بِهِ مِنْ فَعَالٍ لَا يُجَازَى وَسُؤْدُدِ لِيَهْنِ بَنِي كَعْبٍ مَقَامُ فَتَاتِهِمْ وَمَقْعَدُهَا لِلْمُؤْمِنِينَ بِمَرْصَدِ سَلُوا أُخْتَكُمْ عَنْ شَاتِهَا وَإِنَائِهَا فَإِنَّكُمْ إِنْ تَسْأَلُوا الشَّاةَ تَشْهَدِ دَعَاهَا بِشَاةٍ حَائِلٍ فَتَحَلَّبَتْ عَلَيْهِ صَرِيحًا ضَرَّةُ الشَّاةِ مُزْبِدِ فَغَادَرَهَا رَهْنًا لَدَيْهَا لِحَالِبٍ يُرَدِّدُهَا فِي مَصْدَرٍ ثُمَّ مَوْرِدِKemudian pada pagi harinya terdengar sebuah suara keras di Makkah. Mereka mendengar suara itu, tetapi tidak mengetahui siapa pemiliknya. Suara itu berkata:“Semoga Allah, Rabb seluruh manusia, memberikan sebaik-baik balasan-Nya kepada dua orang sahabat yang singgah di kemah Ummu Ma‘bad.Keduanya singgah di sana dengan membawa petunjuk, dan dengannya ia memperoleh petunjuk. Sungguh beruntung orang yang pada petang hari menjadi sahabat Muhammad.Wahai keturunan Qushay, betapa banyak kebaikan yang Allah jauhkan dari kalian melalui dirinya, berupa berbagai perbuatan mulia yang tak tertandingi dan kemuliaan yang tinggi.Berbahagialah Bani Ka‘b karena tempat tinggal wanita mereka, dan tempat duduknya yang menjadi tempat singgah dan pengamatan bagi kaum beriman.Tanyakanlah kepada saudari kalian tentang kambingnya dan wadahnya. Jika kalian bertanya kepada kambing itu, niscaya kambing itu akan menjadi saksi.Beliau mendatangi seekor kambing betina yang tidak sedang bunting, lalu kambing itu mengeluarkan susu untuk beliau. Ambing kambing itu mengalirkan susu murni yang berbuih.Lalu beliau meninggalkannya di tempat wanita itu sebagai jaminan bagi orang yang memerahnya, yang akan terus memerahnya berulang kali, pada waktu pergi maupun kembali.” Penjelasan Deskripsi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Hadits Ummu Ma’badWajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam BerseriPerkataan Ummu Ma‘bad:أَبْلَجَ الْوَجْهِMaksudnya, wajah Rasulullah ﷺ berseri-seri dan bercahaya.Dalam bahasa Arab dikatakan:تَبَلَّجَ الصُّبْحُ وَانْبَلَجَketika cahaya pagi mulai terang.Ummu Ma‘bad tidak bermaksud dengan kata balaj bahwa kedua alis Nabi ﷺ terpisah. Hal itu terlihat karena setelahnya ia justru menggambarkan beliau dengan sifat:أَقْرَنُyakni kedua alis beliau bertemu atau hampir bersambung. Tubuh Nabi ﷺ Tidak Terlalu KurusDalam satu riwayat disebutkan:لَمْ تَعِبْهُ نَحْلَةٌArtinya, beliau tidak memiliki tubuh yang terlalu kurus sehingga mengurangi keelokannya.النَّحْلَةُ di sini berarti kekurusan atau kecilnya tubuh.Namun terdapat riwayat lain:ثُجْلَةٌdengan huruf tsa dan jim.Kata tersebut berarti perut yang besar.Dikatakan:رَجُلٌ أَثْجَلُyakni seorang lelaki yang berperut besar.Demikian pula kata العَثْجَل memiliki makna serupa. Tidak Terlalu Kurus dan Tidak Pula MembuncitPerkataan:وَلَمْ تُزْرِ بِهِ صَقْلَةٌMaksudnya adalah tubuh yang terlalu kecil atau terlalu ramping.Ada yang menjelaskan bahwa maksud Ummu Ma‘bad ialah:Rasulullah ﷺ tidak mempunyai pinggang yang sangat membesar, dan tidak pula terlalu kurus. Tubuh beliau berada dalam keadaan yang kuat dan serasi.الصَّقْلَةُ berarti bagian pinggang atau sisi tubuh.Dikatakan:فَرَسٌ صَقِلٌuntuk kuda yang bagian tersebut terlalu panjang, dan ini dianggap sebagai suatu kekurangan.Jadi Ummu Ma‘bad ingin menjelaskan bahwa Nabi ﷺ tidak kurus berlebihan dan tidak pula terlalu membesar tubuhnya.Dalam riwayat lain berbunyi:لَمْ تُزْرِ بِهِ صَعْلَةٌdengan huruf ‘ain.الصَّعْلَةُ berarti kepala yang kecil.Burung unta jantan disebut:صَعْلٌkarena kepalanya kecil. “Wasīm Qasīm”Perkataannya:وَسِيمٌ قَسِيمٌالْوَسِيمُ berarti orang yang bagus, rupawan, dan bercahaya wajahnya.Dikatakan:وَسِيمٌ بَيِّنُ الْوَسَامَةِyakni seseorang yang jelas ketampanannya.Sedangkan:الْقَسِيمُjuga berarti orang yang elok atau tampan.الْقَسَامَةُ berarti keelokan dan ketampanan.Jadi ungkapan ini menggambarkan Nabi ﷺ sebagai seorang yang rupawan, elok, dan serasi penampilannya. “Da‘aj” pada Kedua Mataالدَّعَجُberarti warna hitam yang pekat pada mata atau pada sesuatu yang lain.Dalam konteks ini, maksudnya adalah bagian hitam kedua mata Nabi ﷺ tampak hitam pekat, yang merupakan salah satu sifat keelokan mata. Bulu Mata yang PanjangPerkataan:وَفِي أَشْفَارِهِ وَطَفٌArtinya, bulu mata beliau panjang.Dikatakan:وَطِفَ فَهُوَ أَوْطَفُapabila bulu mata seseorang panjang.Ada pula riwayat dengan kata:عَطَفٌatau:غَطَفٌKeduanya juga dimaksudkan untuk menggambarkan panjangnya bulu mata. Suara Nabi ﷺDalam satu riwayat disebutkan:وَفِي صَوْتِهِ صَهَلٌArtinya, pada suara beliau terdapat kekuatan dan ketegasan.Kata tersebut berkaitan dengan:صَهِيلُ الْخَيْلِyaitu ringkikan kuda.Dalam riwayat lain disebutkan:صَحَلٌArtinya, terdapat sedikit kesan serak pada suara.Maksudnya, suara beliau tidak terlalu tinggi dan tajam.Suara seperti ini dianggap indah selama kesan seraknya tidak berlebihan. Leher Nabi ﷺPerkataan:وَفِي عُنُقِهِ سَطَعٌArtinya, leher beliau panjang dan jenjang.Dikatakan:رَجُلٌ أَسْطَعُyaitu lelaki yang berleher jenjang.Dan:عُنُقٌ سَطْعَاءُyaitu leher yang tegak.Dari akar kata inilah digunakan ungkapan untuk fajar ketika pertama kali cahayanya muncul memanjang:سَطَعَ يَسْطَعُ Alis Rasulullah ﷺPerkataan:أَزَجُّ أَقْرَنُالزَّجَجُ pada alis berarti alis yang melengkung dengan indah, panjang pada ujung-ujungnya, dan sempurna pertumbuhannya.Sedangkan:الْقَرَنُberarti bertemunya kedua alis.Namun terdapat riwayat lain mengenai sifat Rasulullah ﷺ dari Hind bin Abi Halah yang menyebutkan:أَزَجُّ الْحَوَاجِبِ، سَوَابِغُ مِنْ غَيْرِ قَرَنٍ“Alis beliau melengkung dan panjang sempurna, tetapi tidak bersambung.”Jadi, memang terdapat perbedaan lafaz riwayat mengenai apakah kedua alis beliau bersambung atau tidak. Ketika Berbicara, Nabi ﷺ Tampak Semakin LuhurPerkataan:إِنْ تَكَلَّمَ سَمَاMaksudnya, ketika Rasulullah ﷺ berbicara, beliau mengangkat kepalanya dan tampak semakin luhur di antara orang-orang yang duduk bersama beliau. Penjelasan Cara Bicara Rasulullah ﷺPerkataan Ummu Ma‘bad mengenai cara bicara beliau:فَصْلٌArtinya:بَيِّنٌyakni jelas dan mudah dibedakan maksudnya.Ucapan Rasulullah ﷺ tidak rancu dan tidak bercampur-aduk. Tidak Terlalu Sedikit dan Tidak BerlebihanPerkataan:لَا نَزْرٌ وَلَا هَذَرٌMaksudnya, perkataan Rasulullah ﷺ berada di tengah: tidak terlalu sedikit dan tidak pula terlalu banyak.النَّزْرُberarti sedikit.Sedangkan:الْهَذَرُberarti terlalu banyak berbicara.Inilah makna yang juga terdapat dalam hadis Hind bin Abi Halah:يَتَكَلَّمُ بِجَوَامِعِ الْكَلِمِ، فَصْلٌ، لَا فُضُولٌ وَلَا تَقْصِيرٌ“Beliau berbicara dengan kalimat-kalimat yang ringkas namun sarat makna. Ucapannya jelas; tidak berlebihan dan tidak pula kurang.” Tinggi Badan Rasulullah ﷺPerkataan Ummu Ma‘bad:لَا بَأْسَ مِنْ طُولٍMaksudnya, postur tubuh beliau tidak membuat orang merasa bahwa beliau terlalu tinggi. Sebab Rasulullah ﷺ memang lebih mendekati postur tinggi. Namun beliau bukanlah orang yang sangat tinggi sehingga orang lain seakan tidak mungkin menyamai tinggi beliau karena tinggi yang berlebihan.Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas:لَيْسَ بِالطَّوِيلِ الْبَائِنِ وَلَا بِالْقَصِيرِ“Beliau bukan orang yang sangat tinggi menjulang dan bukan pula orang yang pendek.” Tidak Pendek sehingga Dipandang RemehPerkataan:وَلَا تَقْتَحِمُهُ عَيْنٌ مِنْ قِصَرٍArtinya, beliau tidak pendek sehingga mata orang meremehkan atau memandang rendah beliau lalu beralih melihat orang lain.Dalam bahasa Arab dikatakan:اقْتَحَمَتْ فُلَانًا عَيْنِيyakni: “Mataku memandang orang itu rendah dan kecil.”Jadi maksudnya, tidak ada kekurangan pada tinggi badan Nabi ﷺ yang membuat orang menganggap beliau remeh. Hubungan Rasulullah ﷺ dengan Para SahabatPerkataan:مَحْشُودٌ مَحْفُودٌMaksudnya, para sahabat berkumpul mengelilingi beliau, melayani beliau, dan segera menaati beliau.Dikatakan:رَجُلٌ مَحْشُودٌyakni seseorang yang banyak manusia berkumpul di sekelilingnya.الْمَحْفُودُartinya orang yang dilayani.Sedangkan:الْحَفَدَةُberarti para pelayan.Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman,وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً“Dan Dia menjadikan untuk kalian dari pasangan-pasangan kalian anak-anak dan cucu-cucu/para pembantu.”(QS. An-Nahl: 72)Maksudnya, mereka adalah anak-anak sekaligus orang-orang yang membantu.Ada pula yang mengatakan bahwa:الْحَفَدَةُberarti para penolong.Asal katanya dari:حَفَدَ يَحْفِدُyakni bersegera dalam berjalan atau bergerak. Nabi ﷺ Tidak Bermuka MasamPerkataan:لَا عَابِسٌArtinya: Beliau bukan orang yang bermuka masam. Makna “Wa Lā Mufannad”Perkataan:وَلَا مُفَنَّدٌMufannad adalah orang yang perkataannya tidak lagi mempunyai banyak manfaat karena telah terkena kelemahan akal akibat usia lanjut.Allah Subhanahu wa Ta‘ala menceritakan perkataan Nabi Ya‘qub ‘alaihis salam:لَوْلَا أَنْ تُفَنِّدُونِ“Sekiranya kalian tidak menuduhku sudah pikun.” (QS. Yusuf: 94)Artinya: “Seandainya kalian tidak menganggapku telah pikun dan berkata bahwa aku sudah lemah akal karena usia.”Dalam hadis juga disebutkan:مَا يَنْتَظِرُ أَحَدُكُمْ إِلَّا هَرَمًا مُفَنِّدًا“Tidaklah salah seorang di antara kalian menunggu kecuali usia tua yang melemahkan akal.”Dalam riwayat lain berbunyi:وَلَا مُعْتَدٍ“Dan beliau bukan orang yang melampaui batas.”Kata tersebut berasal dari:الِاعْتِدَاءُyang berarti kezaliman dan tindakan melampaui batas. Ringkasan Deskripsi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Ummu Ma’bad BagianLafaz HadisGambaran Rasulullah ﷺWajahأَبْلَجَ الْوَجْهِWajah beliau cerah, berseri, dan bercahaya.Postur tubuhلَمْ تَعِبْهُ نَحْلَةٌTubuh beliau tidak terlalu kurus sehingga mengurangi keelokannya.Keserasian tubuhوَلَمْ تُزْرِ بِهِ صَقْلَةٌTubuh beliau proporsional; tidak terlalu kurus dan tidak pula membesar secara tidak serasi.Riwayat lain tentang perutثُجْلَةٌBeliau tidak memiliki perut yang terlalu besar sehingga merusak keserasian tubuh.Riwayat lain tentang kepalaصَعْلَةٌKepala beliau tidak terlalu kecil sehingga mengurangi keelokan penampilan.Ketampananوَسِيمٌ قَسِيمٌBeliau rupawan, tampan, elok, dan serasi penampilannya.Mataفِي عَيْنِهِ دَعَجٌBagian hitam mata beliau hitam pekat dan indah.Bulu mataوَفِي أَشْفَارِهِ وَطَفٌBulu mata beliau panjang.Suaraوَفِي صَوْتِهِ صَهَلٌSuara beliau memiliki kekuatan dan ketegasan.Riwayat lain tentang suaraصَحَلٌSuara beliau memiliki sedikit kesan serak yang lembut, tidak melengking tajam.Leherوَفِي عُنُقِهِ سَطَعٌLeher beliau jenjang dan tegak.Janggutوَفِي لِحْيَتِهِ كَثَاثَةٌJanggut beliau lebat.Alisأَزَجُّ أَقْرَنُAlis beliau panjang, melengkung indah, dan dalam riwayat ini disebut bertemu/bersambung. Ada riwayat lain yang menyebut tidak bersambung.Ketika diamإِنْ صَمَتَ فَعَلَيْهِ الْوَقَارُKetika diam, terpancar ketenangan dan kewibawaan.Ketika berbicaraوَإِنْ تَكَلَّمَ سَمَا وَعَلَاهُ الْبَهَاءُKetika berbicara, beliau tampak semakin luhur, berwibawa, dan memesona.Dilihat dari jauhأَجْمَلُ النَّاسِ وَأَبْهَاهُ مِنْ بَعِيدٍDari kejauhan, beliau tampak sangat indah dan berwibawa.Dilihat dari dekatوَأَجْلَاهُ وَأَحْسَنُهُ مِنْ قَرِيبٍDari dekat, keelokan beliau semakin jelas dan semakin menawan.Tutur kataحُلْوُ الْمَنْطِقِTutur kata beliau indah dan menyenangkan didengar.Cara berbicaraفَصْلٌUcapan beliau jelas, teratur, dan mudah dipahami.Tidak bertele-teleلَا نَزْرٌ وَلَا هَذَرٌTidak terlalu sedikit hingga sulit dipahami dan tidak berlebihan atau bertele-tele.Susunan perkataanكَأَنَّ مَنْطِقَهُ خَرَزَاتُ نَظْمٍ يَتَحَدَّرْنَKata-kata beliau tersusun rapi, seakan-akan untaian mutiara yang bergulir satu demi satu.Tinggi badanرَبْعَةٌTinggi beliau sedang dan proporsional, cenderung tinggi tetapi tidak berlebihan.Tidak terlalu pendekوَلَا تَقْتَحِمُهُ عَيْنٌ مِنْ قِصَرٍBeliau tidak pendek sehingga orang memandang remeh kepadanya.Di tengah sahabatغُصْنٌ بَيْنَ غُصْنَيْنِDi antara dua sahabatnya, beliau bagaikan dahan paling indah di antara dua dahan.Penampilan di antara tiga orangأَنْضَرُ الثَّلَاثَةِ مَنْظَرًاBeliau yang paling segar dan indah dipandang di antara ketiganya.Wibawaوَأَحْسَنُهُمْ قَدْرًاBeliau tampak paling tinggi kedudukan dan wibawanya.Dicintai sahabatلَهُ رُفَقَاءُ يَحُفُّونَ بِهِPara sahabat senang berada dan berkumpul di sekeliling beliau.Saat berbicaraإِنْ قَالَ أَنْصَتُوا لِقَوْلِهِKetika beliau berbicara, para sahabat diam dan menyimak dengan penuh perhatian.Saat memerintahوَإِنْ أَمَرَ تَبَادَرُوا لِأَمْرِهِKetika beliau memerintah, mereka segera berlomba melaksanakannya.Hubungan dengan sahabatمَحْشُودٌ مَحْفُودٌPara sahabat berkumpul, membantu, melayani, dan sigap menaati beliau.Ekspresi wajahلَا عَابِسٌBeliau bukan orang yang suka bermuka masam.Kejernihan perkataanوَلَا مُفَنَّدٌBeliau bukan orang yang ucapannya kacau, lemah, atau tidak bernilai. Dalam riwayat lain: وَلَا مُعْتَدٍ, bukan orang yang melampaui batas. Kesimpulan Deskripsi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamIndah fisiknya: wajah berseri, rupawan, mata indah, bulu mata panjang, janggut lebat, dan tubuh proporsional.Berwibawa kepribadiannya: ketika diam beliau berwibawa; ketika berbicara semakin tampak kemuliaannya.Indah komunikasinya: tutur katanya menyenangkan, jelas, tidak terlalu sedikit, dan tidak bertele-tele.Dicintai pengikutnya: sahabat mengelilingi beliau, serius mendengarkan, dan bersegera menjalankan perintahnya.Mulia akhlaknya: tidak bermuka masam, tidak kasar, dan perkataannya bernilai. Pertemuan Singkat, tetapi Membekas Begitu DalamUmmu Ma‘bad bukanlah orang yang bertahun-tahun membersamai Rasulullah ﷺ. Pertemuannya dengan beliau sangat singkat, hanya ketika Rasulullah ﷺ singgah di kemahnya dalam perjalanan hijrah. Namun lihatlah bagaimana ia mampu menceritakan Rasulullah ﷺ dengan begitu detail.Ia mengingat wajah beliau, mata, bulu mata, suara, janggut, postur tubuh, cara diam, cara berbicara, pilihan kata, kewibawaan, bahkan bagaimana para sahabat bersikap ketika Rasulullah ﷺ berbicara dan memberikan perintah.Dari sini ada beberapa pelajaran menarik:1. Pribadi yang agung tidak membutuhkan waktu lama untuk meninggalkan kesan.Ummu Ma‘bad hanya bertemu sebentar, tetapi perjumpaan itu begitu kuat membekas dalam ingatannya.2. Dakwah Rasulullah ﷺ bukan hanya melalui kata-kata.Sebelum seseorang memahami panjang lebar ajaran beliau, ia bisa terlebih dahulu tersentuh oleh akhlak, ketenangan, keramahan, kewibawaan, dan cara beliau memperlakukan manusia.3. Yang diperhatikan Ummu Ma‘bad bukan hanya fisik.Deskripsinya bergerak dari penampilan menuju kepribadian:إِنْ صَمَتَ فَعَلَيْهِ الْوَقَارُ“Ketika beliau diam, tampak kewibawaan pada dirinya.”Lalu menuju cara berkomunikasi:حُلْوُ الْمَنْطِقِ، فَصْلٌ، لَا نَزْرٌ وَلَا هَذَرٌ“Tutur katanya indah dan jelas; tidak terlalu sedikit dan tidak pula berlebihan.”Bahkan sampai kepada kepemimpinan beliau:إِنْ قَالَ أَنْصَتُوا لِقَوْلِهِ، وَإِنْ أَمَرَ تَبَادَرُوا لِأَمْرِهِ“Jika beliau berbicara, para sahabat menyimaknya. Jika beliau memerintah, mereka segera melaksanakannya.”4. Orang lain sering mengenal agama kita melalui perilaku kita terlebih dahulu.Seseorang mungkin belum sempat mendengar kajian kita, membaca tulisan kita, atau mengetahui dalil yang kita sampaikan. Namun ia sudah bisa menilai Islam dari wajah, ucapan, keramahan, kejujuran, adab, dan cara kita memperlakukannya.5. Pertemuan singkat bisa menjadi dakwah yang sangat panjang pengaruhnya.Rasulullah ﷺ hanya singgah. Tetapi setelah beliau pergi, Ummu Ma‘bad masih menceritakan beliau kepada suaminya. Bahkan Abu Ma‘bad sampai mengatakan:وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَصْحَبَهُ، وَلَأَفْعَلَنَّ إِنْ وَجَدْتُ إِلَى ذَلِكَ سَبِيلًا“Sungguh aku ingin menyertainya, dan sungguh aku benar-benar akan melakukannya jika aku mendapatkan jalan untuk itu.”Rasulullah ﷺ hanya singgah sebentar di kemah Ummu Ma‘bad, tetapi akhlaknya tinggal lama dalam ingatannya. Referensi: Al-Mu’jam Al-Kabir Ath-Thabrani Islamweb, Syarhus Sunnah Al-Baghawi Islamweb —- Diselesaikan Selasa pagi @ Pondok Pesantren Darush Sholihin, 6 Rabiul Awwal 1448 H, 18 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak mulia akhlak Nabi akhlak Rasulullah cinta Rasulullah hijrah nabi keteladanan Nabi nabi muhammad rasulullah sifat fisik nabi muhammad sifat Nabi sirah nabi sunnah nabi teladan Rasulullah Ummu Ma‘bad


Salah satu cara kita mengenal bagaimana penampilan Rasulullah ﷺ adalah melalui riwayat orang-orang yang pernah melihat beliau secara langsung. Di antara gambaran paling detail dan indah datang dari Ummu Ma‘bad, seorang wanita yang justru hanya bertemu Rasulullah ﷺ dalam waktu singkat ketika beliau sedang berhijrah menuju Madinah.  Daftar Isi tutup 1. Rasulullah ﷺ Singgah di Kemah Ummu Ma‘bad 2. Suami Ummu Ma‘bad Pulang dan Terkejut 3. Gambaran Rasulullah ﷺ Menurut Ummu Ma‘bad 4. Abu Ma‘bad Mengenali Siapa Orang Itu 5. Suara Misterius Terdengar di Makkah 6. Penjelasan Deskripsi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Hadits Ummu Ma’bad 6.1. Wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Berseri 6.2. Tubuh Nabi ﷺ Tidak Terlalu Kurus 7. Tidak Terlalu Kurus dan Tidak Pula Membuncit 7.1. “Wasīm Qasīm” 7.2. “Da‘aj” pada Kedua Mata 7.3. Bulu Mata yang Panjang 7.4. Suara Nabi ﷺ 7.5. Leher Nabi ﷺ 7.6. Alis Rasulullah ﷺ 7.7. Ketika Berbicara, Nabi ﷺ Tampak Semakin Luhur 7.8. Penjelasan Cara Bicara Rasulullah ﷺ 7.9. Tidak Terlalu Sedikit dan Tidak Berlebihan 7.10. Tinggi Badan Rasulullah ﷺ 7.11. Tidak Pendek sehingga Dipandang Remeh 7.12. Hubungan Rasulullah ﷺ dengan Para Sahabat 7.13. Nabi ﷺ Tidak Bermuka Masam 7.14. Makna “Wa Lā Mufannad” 8. Ringkasan Deskripsi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Ummu Ma’bad 9. Kesimpulan Deskripsi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam 10. Pertemuan Singkat, tetapi Membekas Begitu Dalam  Rasulullah ﷺ Singgah di Kemah Ummu Ma‘badKetika Rasulullah ﷺ keluar dari Makkah dalam perjalanan hijrah menuju Madinah, beliau ditemani oleh Abu Bakar, mantan budak Abu Bakar yaitu ‘Amir bin Fuhairah, dan seorang penunjuk jalan dari Bani Laits bernama ‘Abdullah bin Uraiqith.Dalam perjalanan, mereka melewati dua kemah milik Ummu Ma‘bad Al-Khuza‘iyyah.Ummu Ma‘bad adalah seorang wanita yang tangguh dan terbuka dalam berinteraksi. Ia biasa duduk di halaman kemahnya, memberi minum dan makanan kepada siapa saja yang singgah.Rombongan Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya apakah ia memiliki daging atau kurma yang bisa mereka beli. Namun, mereka tidak mendapatkan apa pun darinya. Saat itu mereka memang sedang mengalami kesulitan bekal, sedangkan daerah tersebut pun sedang dilanda musim paceklik.Rasulullah ﷺ kemudian melihat seekor kambing di salah satu sudut kemah.Beliau bertanya,مَا هَذِهِ الشَّاةُ يَا أُمَّ مَعْبَدٍ؟“Wahai Ummu Ma‘bad, kambing apakah ini?”Ummu Ma‘bad menjawab, “Ini kambing yang tertinggal dari kawanan karena sudah terlalu lemah.”Rasulullah ﷺ bertanya,هَلْ بِهَا مِنْ لَبَنٍ؟“Apakah kambing ini masih memiliki susu?”Ummu Ma‘bad menjawab, “Keadaannya bahkan lebih lemah daripada sekadar bisa menghasilkan susu.”Rasulullah ﷺ kemudian bertanya,أَتَأْذَنِينَ لِي أَنْ أَحْلُبَهَا؟“Apakah engkau mengizinkanku untuk memerahnya?”Ummu Ma‘bad menjawab, “Ya. Ayah dan ibuku sebagai tebusan bagimu. Jika engkau memang melihat ada susu padanya, maka perahlah.”Lalu kambing itu dibawa kepada Rasulullah ﷺ.Beliau mengusap ambingnya dengan tangan beliau, menyebut nama Allah Ta‘ala, lalu berdoa memohon keberkahan untuk kambing Ummu Ma‘bad tersebut.Tiba-tiba kambing itu merenggangkan kedua kakinya, ambingnya pun penuh dan susu mengalir deras. Kambing itu bahkan mulai memamah kembali makanannya dengan tenang.Rasulullah ﷺ kemudian meminta sebuah wadah yang cukup besar untuk membuat satu rombongan kenyang apabila meminumnya.Beliau memerah kambing tersebut.Susu mengalir begitu deras memenuhi wadah hingga muncul buih di atasnya.Kemudian Rasulullah ﷺ memberikan susu itu terlebih dahulu kepada Ummu Ma‘bad hingga ia minum sampai puas. Setelah itu, beliau memberikan minum kepada para sahabatnya hingga mereka semua merasa puas. Dan Rasulullah ﷺ menjadi orang terakhir yang minum.Setelah itu mereka beristirahat sejenak.Kemudian Rasulullah ﷺ kembali memerah kambing tersebut untuk kedua kalinya hingga memenuhi wadah.Beliau meninggalkan susu itu untuk Ummu Ma‘bad.Setelah melakukan transaksi dengannya, rombongan Rasulullah ﷺ pun melanjutkan perjalanan. Suami Ummu Ma‘bad Pulang dan TerkejutTidak lama setelah rombongan itu pergi, suami Ummu Ma‘bad, yaitu Abu Ma‘bad, pulang.Ia sedang menggiring beberapa ekor kambing yang kurus kering. Karena begitu kurusnya, kambing-kambing itu berjalan dengan sangat lemah. Saking buruk kondisi dan kurangnya makanan, sumsum pada tulang kambing-kambing itu pun tinggal sedikit.Ketika Abu Ma‘bad melihat adanya susu, ia terkejut.Ia berkata, “Dari mana engkau mendapatkan susu ini, wahai Ummu Ma‘bad? Padahal kambing-kambing sedang jauh dari tempat kita, tidak ada kambing yang baru melahirkan, dan di rumah pun tidak ada kambing yang bisa diperah.”Ummu Ma‘bad menjawab,لَا وَاللَّهِ، إِلَّا أَنَّهُ مَرَّ بِنَا رَجُلٌ مُبَارَكٌ، مِنْ حَالِهِ كَذَا وَكَذَا.“Tidak, demi Allah. Hanya saja, tadi ada seorang lelaki yang penuh keberkahan melewati tempat kita. Keadaannya begini dan begini.”Abu Ma‘bad berkata,صِفِيهِ لِي يَا أُمَّ مَعْبَدٍ“Coba gambarkan orang itu kepadaku, wahai Ummu Ma‘bad.” Gambaran Rasulullah ﷺ Menurut Ummu Ma‘badUmmu Ma‘bad menjelaskan rinci,رَأَيْتُ رَجُلًا ظَاهِرَ الْوَضَاءَةِ، أَبْلَجَ الْوَجْهِ، لَمْ تَعِبْهُ نَحْلَةٌ، وَلَمْ تُزْرِ بِهِ صَقْلَةٌ، وَسِيمٌ قَسِيمٌ، فِي عَيْنِهِ دَعَجٌ، وَفِي أَشْفَارِهِ وَطَفٌ، وَفِي صَوْتِهِ صَهَلٌ، وَفِي عُنُقِهِ سَطَعٌ، وَفِي لِحْيَتِهِ كَثَاثَةٌ، أَزَجُّ أَقْرَنُ. “Aku melihat seorang lelaki yang sangat nyata keelokan dan kecerahan penampilannya. Wajahnya berseri dan bercahaya. Tubuhnya tidak terlalu kurus sehingga mengurangi keelokannya, dan tidak pula bentuk pinggang atau sisi tubuhnya mengurangi keserasian penampilannya. Ia seorang yang rupawan, tampan, dan serasi. Pada matanya terdapat warna hitam yang pekat dan indah. Bulu matanya panjang. Pada suaranya terdapat ketegasan dan kekuatan. Lehernya jenjang dan tegak. Janggutnya lebat. Alisnya panjang, melengkung indah, dan kedua alisnya bertemu.إِنْ صَمَتَ فَعَلَيْهِ الْوَقَارُ، وَإِنْ تَكَلَّمَ سَمَا وَعَلَاهُ الْبَهَاءُ، أَجْمَلُ النَّاسِ وَأَبْهَاهُ مِنْ بَعِيدٍ، وَأَجْلَاهُ وَأَحْسَنُهُ مِنْ قَرِيبٍ. Apabila ia diam, tampak kewibawaan pada dirinya. Apabila berbicara, ia tampak semakin luhur dan kemuliaan serta keelokannya semakin terpancar. Dari kejauhan, ia adalah manusia yang paling indah dan paling memesona; ketika dilihat dari dekat, ia tampak semakin jelas keelokannya dan semakin indah.حُلْوُ الْمَنْطِقِ، فَصْلٌ، لَا نَزْرٌ وَلَا هَذَرٌ، كَأَنَّ مَنْطِقَهُ خَرَزَاتُ نَظْمٍ يَتَحَدَّرْنَ. Tutur katanya manis dan menyenangkan. Ucapannya jelas dan terpilah; tidak terlalu sedikit dan tidak pula berlebihan atau bertele-tele. Seakan-akan kata-katanya adalah butiran-butiran mutiara yang tersusun rapi lalu bergulir satu demi satu.رَبْعَةٌ، لَا يَأْسَ مِنْ طُولٍ، وَلَا تَقْتَحِمُهُ عَيْنٌ مِنْ قِصَرٍ، غُصْنٌ بَيْنَ غُصْنَيْنِ، فَهُوَ أَنْضَرُ الثَّلَاثَةِ مَنْظَرًا، وَأَحْسَنُهُمْ قَدْرًا. Tinggi badannya sedang, cenderung kepada tinggi tetapi tidak berlebihan, dan ia tidak pendek sehingga mata memandangnya rendah atau meremehkannya. Di antara dua orang yang menyertainya, ia bagaikan sebuah dahan yang indah di antara dua dahan lainnya. Dialah yang paling segar dan elok dipandang di antara ketiganya serta yang paling tinggi kedudukan dan wibawanya.لَهُ رُفَقَاءُ يَحُفُّونَ بِهِ، إِنْ قَالَ أَنْصَتُوا لِقَوْلِهِ، وَإِنْ أَمَرَ تَبَادَرُوا لِأَمْرِهِ، مَحْشُودٌ مَحْفُودٌ، لَا عَابِسٌ وَلَا مُفَنَّدٌ.Ia mempunyai para sahabat yang mengelilinginya. Jika ia berbicara, mereka diam dan menyimak perkataannya. Jika ia memberi perintah, mereka segera berlomba melaksanakan perintahnya. Orang-orang berkumpul di sekelilingnya, melayani dan sigap membantunya. Ia bukan orang yang bermuka masam dan bukan pula orang yang perkataannya tidak bernilai atau kehilangan kejernihan pikiran.” Abu Ma‘bad Mengenali Siapa Orang ItuSetelah mendengar penjelasan istrinya, Abu Ma‘bad berkata,هُوَ وَاللَّهِ صَاحِبُ قُرَيْشٍ الَّذِي ذُكِرَ لَنَا مِنْ أَمْرِهِ مَا ذُكِرَ بِمَكَّةَ، وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَصْحَبَهُ، وَلَأَفْعَلَنَّ إِنْ وَجَدْتُ إِلَى ذَلِكَ سَبِيلًا. “Demi Allah, orang itu pasti orang Quraisy yang selama ini telah kita dengar berita tentang dirinya di Makkah. Sungguh, sebelumnya aku sudah berkeinginan untuk menjadi sahabat dan mengikutinya. Dan sungguh aku benar-benar akan melakukannya apabila aku mendapatkan jalan untuk itu.” Suara Misterius Terdengar di Makkahوَأَصْبَحَ صَوْتٌ بِمَكَّةَ عَالِيًا، يَسْمَعُونَ الصَّوْتَ، وَلَا يَدْرُونَ مَنْ صَاحِبُهُ، وَهُوَ يَقُولُ: جَزَى اللَّهُ رَبُّ النَّاسِ خَيْرَ جَزَائِهِ رَفِيقَيْنِ قَالَا خَيْمَتَيْ أُمِّ مَعْبَدِ هُمَا نَزَلَاهَا بِالْهُدَى وَاهْتَدَتْ بِهِ فَقَدْ فَازَ مَنْ أَمْسَى رَفِيقَ مُحَمَّدِ فَيَا لِقُصَيٍّ مَا زَوَى اللَّهُ عَنْكُمْ بِهِ مِنْ فَعَالٍ لَا يُجَازَى وَسُؤْدُدِ لِيَهْنِ بَنِي كَعْبٍ مَقَامُ فَتَاتِهِمْ وَمَقْعَدُهَا لِلْمُؤْمِنِينَ بِمَرْصَدِ سَلُوا أُخْتَكُمْ عَنْ شَاتِهَا وَإِنَائِهَا فَإِنَّكُمْ إِنْ تَسْأَلُوا الشَّاةَ تَشْهَدِ دَعَاهَا بِشَاةٍ حَائِلٍ فَتَحَلَّبَتْ عَلَيْهِ صَرِيحًا ضَرَّةُ الشَّاةِ مُزْبِدِ فَغَادَرَهَا رَهْنًا لَدَيْهَا لِحَالِبٍ يُرَدِّدُهَا فِي مَصْدَرٍ ثُمَّ مَوْرِدِKemudian pada pagi harinya terdengar sebuah suara keras di Makkah. Mereka mendengar suara itu, tetapi tidak mengetahui siapa pemiliknya. Suara itu berkata:“Semoga Allah, Rabb seluruh manusia, memberikan sebaik-baik balasan-Nya kepada dua orang sahabat yang singgah di kemah Ummu Ma‘bad.Keduanya singgah di sana dengan membawa petunjuk, dan dengannya ia memperoleh petunjuk. Sungguh beruntung orang yang pada petang hari menjadi sahabat Muhammad.Wahai keturunan Qushay, betapa banyak kebaikan yang Allah jauhkan dari kalian melalui dirinya, berupa berbagai perbuatan mulia yang tak tertandingi dan kemuliaan yang tinggi.Berbahagialah Bani Ka‘b karena tempat tinggal wanita mereka, dan tempat duduknya yang menjadi tempat singgah dan pengamatan bagi kaum beriman.Tanyakanlah kepada saudari kalian tentang kambingnya dan wadahnya. Jika kalian bertanya kepada kambing itu, niscaya kambing itu akan menjadi saksi.Beliau mendatangi seekor kambing betina yang tidak sedang bunting, lalu kambing itu mengeluarkan susu untuk beliau. Ambing kambing itu mengalirkan susu murni yang berbuih.Lalu beliau meninggalkannya di tempat wanita itu sebagai jaminan bagi orang yang memerahnya, yang akan terus memerahnya berulang kali, pada waktu pergi maupun kembali.” Penjelasan Deskripsi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Hadits Ummu Ma’badWajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam BerseriPerkataan Ummu Ma‘bad:أَبْلَجَ الْوَجْهِMaksudnya, wajah Rasulullah ﷺ berseri-seri dan bercahaya.Dalam bahasa Arab dikatakan:تَبَلَّجَ الصُّبْحُ وَانْبَلَجَketika cahaya pagi mulai terang.Ummu Ma‘bad tidak bermaksud dengan kata balaj bahwa kedua alis Nabi ﷺ terpisah. Hal itu terlihat karena setelahnya ia justru menggambarkan beliau dengan sifat:أَقْرَنُyakni kedua alis beliau bertemu atau hampir bersambung. Tubuh Nabi ﷺ Tidak Terlalu KurusDalam satu riwayat disebutkan:لَمْ تَعِبْهُ نَحْلَةٌArtinya, beliau tidak memiliki tubuh yang terlalu kurus sehingga mengurangi keelokannya.النَّحْلَةُ di sini berarti kekurusan atau kecilnya tubuh.Namun terdapat riwayat lain:ثُجْلَةٌdengan huruf tsa dan jim.Kata tersebut berarti perut yang besar.Dikatakan:رَجُلٌ أَثْجَلُyakni seorang lelaki yang berperut besar.Demikian pula kata العَثْجَل memiliki makna serupa. Tidak Terlalu Kurus dan Tidak Pula MembuncitPerkataan:وَلَمْ تُزْرِ بِهِ صَقْلَةٌMaksudnya adalah tubuh yang terlalu kecil atau terlalu ramping.Ada yang menjelaskan bahwa maksud Ummu Ma‘bad ialah:Rasulullah ﷺ tidak mempunyai pinggang yang sangat membesar, dan tidak pula terlalu kurus. Tubuh beliau berada dalam keadaan yang kuat dan serasi.الصَّقْلَةُ berarti bagian pinggang atau sisi tubuh.Dikatakan:فَرَسٌ صَقِلٌuntuk kuda yang bagian tersebut terlalu panjang, dan ini dianggap sebagai suatu kekurangan.Jadi Ummu Ma‘bad ingin menjelaskan bahwa Nabi ﷺ tidak kurus berlebihan dan tidak pula terlalu membesar tubuhnya.Dalam riwayat lain berbunyi:لَمْ تُزْرِ بِهِ صَعْلَةٌdengan huruf ‘ain.الصَّعْلَةُ berarti kepala yang kecil.Burung unta jantan disebut:صَعْلٌkarena kepalanya kecil. “Wasīm Qasīm”Perkataannya:وَسِيمٌ قَسِيمٌالْوَسِيمُ berarti orang yang bagus, rupawan, dan bercahaya wajahnya.Dikatakan:وَسِيمٌ بَيِّنُ الْوَسَامَةِyakni seseorang yang jelas ketampanannya.Sedangkan:الْقَسِيمُjuga berarti orang yang elok atau tampan.الْقَسَامَةُ berarti keelokan dan ketampanan.Jadi ungkapan ini menggambarkan Nabi ﷺ sebagai seorang yang rupawan, elok, dan serasi penampilannya. “Da‘aj” pada Kedua Mataالدَّعَجُberarti warna hitam yang pekat pada mata atau pada sesuatu yang lain.Dalam konteks ini, maksudnya adalah bagian hitam kedua mata Nabi ﷺ tampak hitam pekat, yang merupakan salah satu sifat keelokan mata. Bulu Mata yang PanjangPerkataan:وَفِي أَشْفَارِهِ وَطَفٌArtinya, bulu mata beliau panjang.Dikatakan:وَطِفَ فَهُوَ أَوْطَفُapabila bulu mata seseorang panjang.Ada pula riwayat dengan kata:عَطَفٌatau:غَطَفٌKeduanya juga dimaksudkan untuk menggambarkan panjangnya bulu mata. Suara Nabi ﷺDalam satu riwayat disebutkan:وَفِي صَوْتِهِ صَهَلٌArtinya, pada suara beliau terdapat kekuatan dan ketegasan.Kata tersebut berkaitan dengan:صَهِيلُ الْخَيْلِyaitu ringkikan kuda.Dalam riwayat lain disebutkan:صَحَلٌArtinya, terdapat sedikit kesan serak pada suara.Maksudnya, suara beliau tidak terlalu tinggi dan tajam.Suara seperti ini dianggap indah selama kesan seraknya tidak berlebihan. Leher Nabi ﷺPerkataan:وَفِي عُنُقِهِ سَطَعٌArtinya, leher beliau panjang dan jenjang.Dikatakan:رَجُلٌ أَسْطَعُyaitu lelaki yang berleher jenjang.Dan:عُنُقٌ سَطْعَاءُyaitu leher yang tegak.Dari akar kata inilah digunakan ungkapan untuk fajar ketika pertama kali cahayanya muncul memanjang:سَطَعَ يَسْطَعُ Alis Rasulullah ﷺPerkataan:أَزَجُّ أَقْرَنُالزَّجَجُ pada alis berarti alis yang melengkung dengan indah, panjang pada ujung-ujungnya, dan sempurna pertumbuhannya.Sedangkan:الْقَرَنُberarti bertemunya kedua alis.Namun terdapat riwayat lain mengenai sifat Rasulullah ﷺ dari Hind bin Abi Halah yang menyebutkan:أَزَجُّ الْحَوَاجِبِ، سَوَابِغُ مِنْ غَيْرِ قَرَنٍ“Alis beliau melengkung dan panjang sempurna, tetapi tidak bersambung.”Jadi, memang terdapat perbedaan lafaz riwayat mengenai apakah kedua alis beliau bersambung atau tidak. Ketika Berbicara, Nabi ﷺ Tampak Semakin LuhurPerkataan:إِنْ تَكَلَّمَ سَمَاMaksudnya, ketika Rasulullah ﷺ berbicara, beliau mengangkat kepalanya dan tampak semakin luhur di antara orang-orang yang duduk bersama beliau. Penjelasan Cara Bicara Rasulullah ﷺPerkataan Ummu Ma‘bad mengenai cara bicara beliau:فَصْلٌArtinya:بَيِّنٌyakni jelas dan mudah dibedakan maksudnya.Ucapan Rasulullah ﷺ tidak rancu dan tidak bercampur-aduk. Tidak Terlalu Sedikit dan Tidak BerlebihanPerkataan:لَا نَزْرٌ وَلَا هَذَرٌMaksudnya, perkataan Rasulullah ﷺ berada di tengah: tidak terlalu sedikit dan tidak pula terlalu banyak.النَّزْرُberarti sedikit.Sedangkan:الْهَذَرُberarti terlalu banyak berbicara.Inilah makna yang juga terdapat dalam hadis Hind bin Abi Halah:يَتَكَلَّمُ بِجَوَامِعِ الْكَلِمِ، فَصْلٌ، لَا فُضُولٌ وَلَا تَقْصِيرٌ“Beliau berbicara dengan kalimat-kalimat yang ringkas namun sarat makna. Ucapannya jelas; tidak berlebihan dan tidak pula kurang.” Tinggi Badan Rasulullah ﷺPerkataan Ummu Ma‘bad:لَا بَأْسَ مِنْ طُولٍMaksudnya, postur tubuh beliau tidak membuat orang merasa bahwa beliau terlalu tinggi. Sebab Rasulullah ﷺ memang lebih mendekati postur tinggi. Namun beliau bukanlah orang yang sangat tinggi sehingga orang lain seakan tidak mungkin menyamai tinggi beliau karena tinggi yang berlebihan.Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas:لَيْسَ بِالطَّوِيلِ الْبَائِنِ وَلَا بِالْقَصِيرِ“Beliau bukan orang yang sangat tinggi menjulang dan bukan pula orang yang pendek.” Tidak Pendek sehingga Dipandang RemehPerkataan:وَلَا تَقْتَحِمُهُ عَيْنٌ مِنْ قِصَرٍArtinya, beliau tidak pendek sehingga mata orang meremehkan atau memandang rendah beliau lalu beralih melihat orang lain.Dalam bahasa Arab dikatakan:اقْتَحَمَتْ فُلَانًا عَيْنِيyakni: “Mataku memandang orang itu rendah dan kecil.”Jadi maksudnya, tidak ada kekurangan pada tinggi badan Nabi ﷺ yang membuat orang menganggap beliau remeh. Hubungan Rasulullah ﷺ dengan Para SahabatPerkataan:مَحْشُودٌ مَحْفُودٌMaksudnya, para sahabat berkumpul mengelilingi beliau, melayani beliau, dan segera menaati beliau.Dikatakan:رَجُلٌ مَحْشُودٌyakni seseorang yang banyak manusia berkumpul di sekelilingnya.الْمَحْفُودُartinya orang yang dilayani.Sedangkan:الْحَفَدَةُberarti para pelayan.Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman,وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً“Dan Dia menjadikan untuk kalian dari pasangan-pasangan kalian anak-anak dan cucu-cucu/para pembantu.”(QS. An-Nahl: 72)Maksudnya, mereka adalah anak-anak sekaligus orang-orang yang membantu.Ada pula yang mengatakan bahwa:الْحَفَدَةُberarti para penolong.Asal katanya dari:حَفَدَ يَحْفِدُyakni bersegera dalam berjalan atau bergerak. Nabi ﷺ Tidak Bermuka MasamPerkataan:لَا عَابِسٌArtinya: Beliau bukan orang yang bermuka masam. Makna “Wa Lā Mufannad”Perkataan:وَلَا مُفَنَّدٌMufannad adalah orang yang perkataannya tidak lagi mempunyai banyak manfaat karena telah terkena kelemahan akal akibat usia lanjut.Allah Subhanahu wa Ta‘ala menceritakan perkataan Nabi Ya‘qub ‘alaihis salam:لَوْلَا أَنْ تُفَنِّدُونِ“Sekiranya kalian tidak menuduhku sudah pikun.” (QS. Yusuf: 94)Artinya: “Seandainya kalian tidak menganggapku telah pikun dan berkata bahwa aku sudah lemah akal karena usia.”Dalam hadis juga disebutkan:مَا يَنْتَظِرُ أَحَدُكُمْ إِلَّا هَرَمًا مُفَنِّدًا“Tidaklah salah seorang di antara kalian menunggu kecuali usia tua yang melemahkan akal.”Dalam riwayat lain berbunyi:وَلَا مُعْتَدٍ“Dan beliau bukan orang yang melampaui batas.”Kata tersebut berasal dari:الِاعْتِدَاءُyang berarti kezaliman dan tindakan melampaui batas. Ringkasan Deskripsi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Ummu Ma’bad BagianLafaz HadisGambaran Rasulullah ﷺWajahأَبْلَجَ الْوَجْهِWajah beliau cerah, berseri, dan bercahaya.Postur tubuhلَمْ تَعِبْهُ نَحْلَةٌTubuh beliau tidak terlalu kurus sehingga mengurangi keelokannya.Keserasian tubuhوَلَمْ تُزْرِ بِهِ صَقْلَةٌTubuh beliau proporsional; tidak terlalu kurus dan tidak pula membesar secara tidak serasi.Riwayat lain tentang perutثُجْلَةٌBeliau tidak memiliki perut yang terlalu besar sehingga merusak keserasian tubuh.Riwayat lain tentang kepalaصَعْلَةٌKepala beliau tidak terlalu kecil sehingga mengurangi keelokan penampilan.Ketampananوَسِيمٌ قَسِيمٌBeliau rupawan, tampan, elok, dan serasi penampilannya.Mataفِي عَيْنِهِ دَعَجٌBagian hitam mata beliau hitam pekat dan indah.Bulu mataوَفِي أَشْفَارِهِ وَطَفٌBulu mata beliau panjang.Suaraوَفِي صَوْتِهِ صَهَلٌSuara beliau memiliki kekuatan dan ketegasan.Riwayat lain tentang suaraصَحَلٌSuara beliau memiliki sedikit kesan serak yang lembut, tidak melengking tajam.Leherوَفِي عُنُقِهِ سَطَعٌLeher beliau jenjang dan tegak.Janggutوَفِي لِحْيَتِهِ كَثَاثَةٌJanggut beliau lebat.Alisأَزَجُّ أَقْرَنُAlis beliau panjang, melengkung indah, dan dalam riwayat ini disebut bertemu/bersambung. Ada riwayat lain yang menyebut tidak bersambung.Ketika diamإِنْ صَمَتَ فَعَلَيْهِ الْوَقَارُKetika diam, terpancar ketenangan dan kewibawaan.Ketika berbicaraوَإِنْ تَكَلَّمَ سَمَا وَعَلَاهُ الْبَهَاءُKetika berbicara, beliau tampak semakin luhur, berwibawa, dan memesona.Dilihat dari jauhأَجْمَلُ النَّاسِ وَأَبْهَاهُ مِنْ بَعِيدٍDari kejauhan, beliau tampak sangat indah dan berwibawa.Dilihat dari dekatوَأَجْلَاهُ وَأَحْسَنُهُ مِنْ قَرِيبٍDari dekat, keelokan beliau semakin jelas dan semakin menawan.Tutur kataحُلْوُ الْمَنْطِقِTutur kata beliau indah dan menyenangkan didengar.Cara berbicaraفَصْلٌUcapan beliau jelas, teratur, dan mudah dipahami.Tidak bertele-teleلَا نَزْرٌ وَلَا هَذَرٌTidak terlalu sedikit hingga sulit dipahami dan tidak berlebihan atau bertele-tele.Susunan perkataanكَأَنَّ مَنْطِقَهُ خَرَزَاتُ نَظْمٍ يَتَحَدَّرْنَKata-kata beliau tersusun rapi, seakan-akan untaian mutiara yang bergulir satu demi satu.Tinggi badanرَبْعَةٌTinggi beliau sedang dan proporsional, cenderung tinggi tetapi tidak berlebihan.Tidak terlalu pendekوَلَا تَقْتَحِمُهُ عَيْنٌ مِنْ قِصَرٍBeliau tidak pendek sehingga orang memandang remeh kepadanya.Di tengah sahabatغُصْنٌ بَيْنَ غُصْنَيْنِDi antara dua sahabatnya, beliau bagaikan dahan paling indah di antara dua dahan.Penampilan di antara tiga orangأَنْضَرُ الثَّلَاثَةِ مَنْظَرًاBeliau yang paling segar dan indah dipandang di antara ketiganya.Wibawaوَأَحْسَنُهُمْ قَدْرًاBeliau tampak paling tinggi kedudukan dan wibawanya.Dicintai sahabatلَهُ رُفَقَاءُ يَحُفُّونَ بِهِPara sahabat senang berada dan berkumpul di sekeliling beliau.Saat berbicaraإِنْ قَالَ أَنْصَتُوا لِقَوْلِهِKetika beliau berbicara, para sahabat diam dan menyimak dengan penuh perhatian.Saat memerintahوَإِنْ أَمَرَ تَبَادَرُوا لِأَمْرِهِKetika beliau memerintah, mereka segera berlomba melaksanakannya.Hubungan dengan sahabatمَحْشُودٌ مَحْفُودٌPara sahabat berkumpul, membantu, melayani, dan sigap menaati beliau.Ekspresi wajahلَا عَابِسٌBeliau bukan orang yang suka bermuka masam.Kejernihan perkataanوَلَا مُفَنَّدٌBeliau bukan orang yang ucapannya kacau, lemah, atau tidak bernilai. Dalam riwayat lain: وَلَا مُعْتَدٍ, bukan orang yang melampaui batas. Kesimpulan Deskripsi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamIndah fisiknya: wajah berseri, rupawan, mata indah, bulu mata panjang, janggut lebat, dan tubuh proporsional.Berwibawa kepribadiannya: ketika diam beliau berwibawa; ketika berbicara semakin tampak kemuliaannya.Indah komunikasinya: tutur katanya menyenangkan, jelas, tidak terlalu sedikit, dan tidak bertele-tele.Dicintai pengikutnya: sahabat mengelilingi beliau, serius mendengarkan, dan bersegera menjalankan perintahnya.Mulia akhlaknya: tidak bermuka masam, tidak kasar, dan perkataannya bernilai. Pertemuan Singkat, tetapi Membekas Begitu DalamUmmu Ma‘bad bukanlah orang yang bertahun-tahun membersamai Rasulullah ﷺ. Pertemuannya dengan beliau sangat singkat, hanya ketika Rasulullah ﷺ singgah di kemahnya dalam perjalanan hijrah. Namun lihatlah bagaimana ia mampu menceritakan Rasulullah ﷺ dengan begitu detail.Ia mengingat wajah beliau, mata, bulu mata, suara, janggut, postur tubuh, cara diam, cara berbicara, pilihan kata, kewibawaan, bahkan bagaimana para sahabat bersikap ketika Rasulullah ﷺ berbicara dan memberikan perintah.Dari sini ada beberapa pelajaran menarik:1. Pribadi yang agung tidak membutuhkan waktu lama untuk meninggalkan kesan.Ummu Ma‘bad hanya bertemu sebentar, tetapi perjumpaan itu begitu kuat membekas dalam ingatannya.2. Dakwah Rasulullah ﷺ bukan hanya melalui kata-kata.Sebelum seseorang memahami panjang lebar ajaran beliau, ia bisa terlebih dahulu tersentuh oleh akhlak, ketenangan, keramahan, kewibawaan, dan cara beliau memperlakukan manusia.3. Yang diperhatikan Ummu Ma‘bad bukan hanya fisik.Deskripsinya bergerak dari penampilan menuju kepribadian:إِنْ صَمَتَ فَعَلَيْهِ الْوَقَارُ“Ketika beliau diam, tampak kewibawaan pada dirinya.”Lalu menuju cara berkomunikasi:حُلْوُ الْمَنْطِقِ، فَصْلٌ، لَا نَزْرٌ وَلَا هَذَرٌ“Tutur katanya indah dan jelas; tidak terlalu sedikit dan tidak pula berlebihan.”Bahkan sampai kepada kepemimpinan beliau:إِنْ قَالَ أَنْصَتُوا لِقَوْلِهِ، وَإِنْ أَمَرَ تَبَادَرُوا لِأَمْرِهِ“Jika beliau berbicara, para sahabat menyimaknya. Jika beliau memerintah, mereka segera melaksanakannya.”4. Orang lain sering mengenal agama kita melalui perilaku kita terlebih dahulu.Seseorang mungkin belum sempat mendengar kajian kita, membaca tulisan kita, atau mengetahui dalil yang kita sampaikan. Namun ia sudah bisa menilai Islam dari wajah, ucapan, keramahan, kejujuran, adab, dan cara kita memperlakukannya.5. Pertemuan singkat bisa menjadi dakwah yang sangat panjang pengaruhnya.Rasulullah ﷺ hanya singgah. Tetapi setelah beliau pergi, Ummu Ma‘bad masih menceritakan beliau kepada suaminya. Bahkan Abu Ma‘bad sampai mengatakan:وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَصْحَبَهُ، وَلَأَفْعَلَنَّ إِنْ وَجَدْتُ إِلَى ذَلِكَ سَبِيلًا“Sungguh aku ingin menyertainya, dan sungguh aku benar-benar akan melakukannya jika aku mendapatkan jalan untuk itu.”Rasulullah ﷺ hanya singgah sebentar di kemah Ummu Ma‘bad, tetapi akhlaknya tinggal lama dalam ingatannya. Referensi: Al-Mu’jam Al-Kabir Ath-Thabrani Islamweb, Syarhus Sunnah Al-Baghawi Islamweb —- Diselesaikan Selasa pagi @ Pondok Pesantren Darush Sholihin, 6 Rabiul Awwal 1448 H, 18 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak mulia akhlak Nabi akhlak Rasulullah cinta Rasulullah hijrah nabi keteladanan Nabi nabi muhammad rasulullah sifat fisik nabi muhammad sifat Nabi sirah nabi sunnah nabi teladan Rasulullah Ummu Ma‘bad

Hijrah Nabi dan Cinta Tanah Air: Pelajaran Berharga bagi Setiap Muslim

Daftar Isi ToggleHijrah Nabi menunjukkan kecintaan Nabi terhadap tanah kelahirannyaPara sahabat pun mencintai MakkahHijrah tetap dipilih walaupun beratHikmah hijrah Nabi dan cinta tanah airBersyukur bisa tinggal di tanah airAgama jadi prioritas utamaBerdakwah dan memperbaiki masyarakatMendoakan kebaikan untuk negeriPeristiwa hijrah ke Madinah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat merupakan peristiwa bersejarah yang di dalamnya terdapat banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Salah satunya adalah tentang cinta tanah air. Pada artikel ini, akan kami bahas tentang hijrah Nabi dan tanah air.Peristiwa hijrah ke Madinah ini merupakan peristiwa yang menunjukkan besarnya rasa cinta Nabi Muhammad terhadap tanah kelahiran beliau, Makkah Al-Mukarramah. Akan tetapi, besarnya rasa cinta beliau tidaklah mencegah beliau untuk tetap berhijrah agar agama Islam tetap tegak.Dari peristiwa hijrah ini, bisa kita pelajari bahwa Islam sangat mengakui naluri manusia yang mencintai tanah airnya, tanah kelahirannya, tanah tempat ia tumbuh dan menghabiskan waktu bersama keluarganya. Akan tetapi, rasa cinta tersebut tetap ada batasannya ketika bertentangan dengan syariat.Hijrah Nabi menunjukkan kecintaan Nabi terhadap tanah kelahirannyaHijrah merupakan hal yang berat bagi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengapa demikian? Tentu karena beliau mencintai Makkah, tanah kelahirannya. Peristiwa hijrah sudah dikabarkan kepada Nabi sejak awal-awal beliau diutus menjadi Rasul. Peristiwa tersebut terjadi ketika beliau bersama istri tercintanya, Khadijah, bertemu dengan Waraqah bin Naufal. Hal tersebut dikisahkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari,قال ليتني أكون حيا إذ يخرجك قومك، فقال رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم – أَو مُخْرِجِيَّ هم؟!، قال نعم، لم يأت رجل قط بمثل ما جئت به إلا عودي، وإن يدركني يومك أنصرك نصرًا مؤزرًا(Waraqah) berkata, “Seandainya saya masih hidup tatkala kaummu mengursirmu (dari Makkah).”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Apakah mereka benar-benar mengusirku?”Waraqah bin Naufal Menjawab, “Benar, Tidak ada seorang pun yang membawa risalah sebagaimana engkau, kecuali ia akan dimusuhi. Jika aku masih hidup di hari tersebut, sungguh aku akan menolongmu dengan sekuat tenaga.” (HR. Bukhari)Perhatikanlah pada hadis di atas ketika beliau mendengar kabar dari Waraqah bin Naufal, beliau berkata,أَو مُخْرِجِيَّ هم؟yang artinya, “Apakah mereka benar benar mengusirku?” Perkataan tersebut bukan meragukan kabar dari Waraqah, tetapi menggambarkan betapa berat dan menyedihkannya bagi Nabi untuk meninggalkan Makkah.Ketika Nabi hijrah, beliau pun berkata,وَاللَّهِ إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ، وَأَحَبُّ أَرْضِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ، وَلَوْلَا أَنِّي أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ“Demi Allah, sesunguhnya engkau (Makkah) merupakan tanah di bumi Allah yang paling baik dan negeri yang paling dicintai Allah. Jika saja aku tidak diusir darimu, niscaya aku tidak akan pergi.” (HR. Tirmidzi)Dalam riwayat lain juga disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلَدٍ! وَمَا أَحَبَّكِ إِلَيَّ! وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُونِي مِنْكِ مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ“Sungguh engkau (Makkah) adalah negeri yang paling baik! Betapa cintanya aku kepadamu! Jika saja kaumku tidak mengusirku, aku tidak akan tinggal di tempat lain.” (HR. Tirmidzi)Itulah di antara hadis yang menunjukkan besarnya rasa cinta Nabi terhadap tanah kelahirannya ketika beliau hijrah ke Madinah. Ketika tiba di Madinah, Nabi melihat kondisi Abu Bakar dan Bilal sakit. Beliau pun berdoa,اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ“Ya Allah, jadikanlah Madinah kami cintai sebagaimana kami mencintai Makkah, bahkan lebih dari itu.” (HR. Bukhari)Seindah-indahnya tanah perantauan, tanah air tetap tidak tergantikan. Oleh karena itu, Rasulullah pun berdoa agar beliau dan para sahabat bisa mencintai Madinah seperti mencintai Makkah, bahkan lebih dari itu.Para sahabat pun mencintai MakkahSelain Rasulullah, para sahabat pun tentunya memiliki rasa cinta yang sama terhadap tanah kelahirannya. Hal tersebut tercermin dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ’anha, ia berkata kepada Abu Bakar radhiyallahu ’anhu, يا أبت كيف تجدك؟ فقال كل امرئ مصبَّح في أهله والموت أدنى من شِراك نعله قالت: فقلت: والله ما يدري أبي ما يقول، ثم دنوت من عامر بن فهيرة فقلت: كيف تجدك يا عامر؟ فقال لقد وجدت الموت قبل ذوقه إن الجبان حتفُه من فوقه كل امرئ مجاهد بطَوقه كالثور يحمي جلده بِرَوقه قالت: فقلت: والله ما يدري عامر ما يقول، قلت وكان بلال إذا أقلع عنه الحمى اضطجع بفناء البيت، ثم يرفع عقيرته صوته ويقول ألا ليت شعري هل أبيتن ليلة بواد وحولي إذخر وجليل وهل أَرِدَنْ يومًا مياه مجنة وهل يَبْدُوَنْ لي شامة وطفيل“Wahai Ayah, bagaimana keadaanmu?”Beliau menjawab dengan syair, “Setiap orang masih berada di tengah keluarganya pada pagi hari, padahal kematian lebih dekat kepadanya daripada tali sandalnya.”Aku berkata, “Demi Allah, ayahku tidak mengetahui apa yang sedang diucapkannya.”Kemudian aku mendekati Amir bin Fuhairah dan bertanya, “Bagaimana keadaanmu, wahai Amir?”Ia menjawab dengan syair,“Sungguh aku telah merasakan bayangan kematian sebelum benar-benar mengalaminya.Orang yang pengecut, kematiannya pasti akan menjemputnya.Setiap orang berjuang sesuai dengan kemampuannya,sebagaimana seekor banteng melindungi tubuhnya dengan tanduknya.”Aku berkata, “Demi Allah, Amir pun tidak mengetahui apa yang sedang diucapkannya.”Kemudian Aisyah berkata, “Apabila demam Bilal mulai mereda, ia berbaring di halaman rumah, lalu mengangkat suaranya seraya bersyair,‘Ah, seandainya aku tahu, apakah suatu malam nanti aku dapat bermalam kembali di sebuah lembah, sementara di sekelilingku tumbuh tanaman idzkhir dan jalil.Akankah suatu hari nanti aku dapat mendatangi mata air Majannah? Akankah Gunung Syamah serta Gunung Tufail kembali tampak di hadapanku?’” (HR. Bukhari)Hadis di atas menggambarkan betapa sulitnya para sahabat yang harus berhijrah menuju Madinah.Hijrah tetap dipilih walaupun beratDari hadis-hadis yang disebutkan sebelumnya, bisa kita simpulkan bahwa hijrah ke Madinah merupakan hal yang berat bagi Nabi dan para sahabat. Akan tetapi, mereka tetap melakukannya. Mengapa demikian? Tentu karena mereka lebih mencintai Allah dan mengutamakan agama di atas rasa cinta mereka terhadap tanah air.Hal tersebut dikarenakan tidak mungkin mereka menegakkan agama Islam tanpa berhijrah karena tekanan dari penduduk Makkah ketika itu. Akhirnya, mereka pun harus memilih berhijrah. Allah Ta’ala juga berfirman tentang keutamaan berhijrah,وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya dia akan mendapati di muka bumi ini banyak tempat hijrah dan rezeki yang luas. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menjemputnya, maka sungguh pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 100)Hikmah hijrah Nabi dan cinta tanah airDari kisah hijrah Nabi, kita bisa mengambil beberapa hikmah yang bisa kita pelajari tentang cinta tanah air. Di antara hikmah hijrah Nabi dan cinta tanah air tersebut adalah:Bersyukur bisa tinggal di tanah airSalah satu hal yang patut kita syukuri saat ini adalah nikmat bisa tinggal di tanah air yang tercinta, dan tidak ada pilihan yang harus memaksa kita untuk memilih salah satu, agama atau tanah air. Tidak seperti Nabi dan para sahabat yang lahir di tanah yang memusuhi dakwah Islam ketika itu, sekarang ini kita hidup di negara dengan mayoritas penduduknya adalah muslim.Agama jadi prioritas utamaKetika dalam kehidupan kita harus memilih salah satu antara agama atau selainnya, tentu kita utamakan agama. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi dan para sahabat ketika hijrah. Mereka meninggalkan tanah kelahiran yang mereka cintai demi tegaknya agama Islam.Berdakwah dan memperbaiki masyarakatSalah satu bukti nyata kita mencintai negeri kita adalah dengan berdakwah dan memperbaiki masyarakat. Ketika kita melihat negeri kita mulai rusak dan keburukan mulai bertambah, tugas kita adalah berdakwah dan berusaha memperbaiki masyarakat sebagaimana yang Rasulullah lakukan. Beliau tidak langsung diperintahkan untuk berhijrah ketika mendapatkan gangguan dari para penduduk Makkah.Mari kita berusaha sesuai dengan kadar kita untuk memperbaiki negeri kita tercinta sesuai dengan kemampuan dan peran kita masing-masing. Mari kita perbaiki masyarakat, sebarkan ilmu, berdakwah dengan hikmah, dan sabar dalam berdakwah. Rasulullah berdakwah di Makkah dengan penuh permusuhan dari kaum Quraisy selama 13 tahun sebelum akhirnya berhijrah.Mendoakan kebaikan untuk negeriJangan lupa untuk selalu mendoakan kebaikan untuk negeri. Ingat, ketika para sahabat mengalami rasa berat ketika berhijrah ke Madinah, Rasulullah berdoa,اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ“Ya Allah, jadikanlah Madinah kami cintai sebagaimana kami mencintai Makkah, bahkan lebih dari itu.” (HR. Bukhari)Lalu apa yang terjadi? Allah kabulkan doa Rasulullah, Allah jadikan Madinah tanah air kedua bagi Nabi dan para sahabat, Allah buat mereka mencintai Madinah dan jadilah Madinah Al-Munawwaroh kota yang merka cintai. Oleh karena itu, jangan lupa bagi kita untuk mendoakan kebaikan bagi negeri kita yang tercinta.***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Sumber: Islamweb.net

Hijrah Nabi dan Cinta Tanah Air: Pelajaran Berharga bagi Setiap Muslim

Daftar Isi ToggleHijrah Nabi menunjukkan kecintaan Nabi terhadap tanah kelahirannyaPara sahabat pun mencintai MakkahHijrah tetap dipilih walaupun beratHikmah hijrah Nabi dan cinta tanah airBersyukur bisa tinggal di tanah airAgama jadi prioritas utamaBerdakwah dan memperbaiki masyarakatMendoakan kebaikan untuk negeriPeristiwa hijrah ke Madinah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat merupakan peristiwa bersejarah yang di dalamnya terdapat banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Salah satunya adalah tentang cinta tanah air. Pada artikel ini, akan kami bahas tentang hijrah Nabi dan tanah air.Peristiwa hijrah ke Madinah ini merupakan peristiwa yang menunjukkan besarnya rasa cinta Nabi Muhammad terhadap tanah kelahiran beliau, Makkah Al-Mukarramah. Akan tetapi, besarnya rasa cinta beliau tidaklah mencegah beliau untuk tetap berhijrah agar agama Islam tetap tegak.Dari peristiwa hijrah ini, bisa kita pelajari bahwa Islam sangat mengakui naluri manusia yang mencintai tanah airnya, tanah kelahirannya, tanah tempat ia tumbuh dan menghabiskan waktu bersama keluarganya. Akan tetapi, rasa cinta tersebut tetap ada batasannya ketika bertentangan dengan syariat.Hijrah Nabi menunjukkan kecintaan Nabi terhadap tanah kelahirannyaHijrah merupakan hal yang berat bagi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengapa demikian? Tentu karena beliau mencintai Makkah, tanah kelahirannya. Peristiwa hijrah sudah dikabarkan kepada Nabi sejak awal-awal beliau diutus menjadi Rasul. Peristiwa tersebut terjadi ketika beliau bersama istri tercintanya, Khadijah, bertemu dengan Waraqah bin Naufal. Hal tersebut dikisahkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari,قال ليتني أكون حيا إذ يخرجك قومك، فقال رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم – أَو مُخْرِجِيَّ هم؟!، قال نعم، لم يأت رجل قط بمثل ما جئت به إلا عودي، وإن يدركني يومك أنصرك نصرًا مؤزرًا(Waraqah) berkata, “Seandainya saya masih hidup tatkala kaummu mengursirmu (dari Makkah).”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Apakah mereka benar-benar mengusirku?”Waraqah bin Naufal Menjawab, “Benar, Tidak ada seorang pun yang membawa risalah sebagaimana engkau, kecuali ia akan dimusuhi. Jika aku masih hidup di hari tersebut, sungguh aku akan menolongmu dengan sekuat tenaga.” (HR. Bukhari)Perhatikanlah pada hadis di atas ketika beliau mendengar kabar dari Waraqah bin Naufal, beliau berkata,أَو مُخْرِجِيَّ هم؟yang artinya, “Apakah mereka benar benar mengusirku?” Perkataan tersebut bukan meragukan kabar dari Waraqah, tetapi menggambarkan betapa berat dan menyedihkannya bagi Nabi untuk meninggalkan Makkah.Ketika Nabi hijrah, beliau pun berkata,وَاللَّهِ إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ، وَأَحَبُّ أَرْضِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ، وَلَوْلَا أَنِّي أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ“Demi Allah, sesunguhnya engkau (Makkah) merupakan tanah di bumi Allah yang paling baik dan negeri yang paling dicintai Allah. Jika saja aku tidak diusir darimu, niscaya aku tidak akan pergi.” (HR. Tirmidzi)Dalam riwayat lain juga disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلَدٍ! وَمَا أَحَبَّكِ إِلَيَّ! وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُونِي مِنْكِ مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ“Sungguh engkau (Makkah) adalah negeri yang paling baik! Betapa cintanya aku kepadamu! Jika saja kaumku tidak mengusirku, aku tidak akan tinggal di tempat lain.” (HR. Tirmidzi)Itulah di antara hadis yang menunjukkan besarnya rasa cinta Nabi terhadap tanah kelahirannya ketika beliau hijrah ke Madinah. Ketika tiba di Madinah, Nabi melihat kondisi Abu Bakar dan Bilal sakit. Beliau pun berdoa,اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ“Ya Allah, jadikanlah Madinah kami cintai sebagaimana kami mencintai Makkah, bahkan lebih dari itu.” (HR. Bukhari)Seindah-indahnya tanah perantauan, tanah air tetap tidak tergantikan. Oleh karena itu, Rasulullah pun berdoa agar beliau dan para sahabat bisa mencintai Madinah seperti mencintai Makkah, bahkan lebih dari itu.Para sahabat pun mencintai MakkahSelain Rasulullah, para sahabat pun tentunya memiliki rasa cinta yang sama terhadap tanah kelahirannya. Hal tersebut tercermin dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ’anha, ia berkata kepada Abu Bakar radhiyallahu ’anhu, يا أبت كيف تجدك؟ فقال كل امرئ مصبَّح في أهله والموت أدنى من شِراك نعله قالت: فقلت: والله ما يدري أبي ما يقول، ثم دنوت من عامر بن فهيرة فقلت: كيف تجدك يا عامر؟ فقال لقد وجدت الموت قبل ذوقه إن الجبان حتفُه من فوقه كل امرئ مجاهد بطَوقه كالثور يحمي جلده بِرَوقه قالت: فقلت: والله ما يدري عامر ما يقول، قلت وكان بلال إذا أقلع عنه الحمى اضطجع بفناء البيت، ثم يرفع عقيرته صوته ويقول ألا ليت شعري هل أبيتن ليلة بواد وحولي إذخر وجليل وهل أَرِدَنْ يومًا مياه مجنة وهل يَبْدُوَنْ لي شامة وطفيل“Wahai Ayah, bagaimana keadaanmu?”Beliau menjawab dengan syair, “Setiap orang masih berada di tengah keluarganya pada pagi hari, padahal kematian lebih dekat kepadanya daripada tali sandalnya.”Aku berkata, “Demi Allah, ayahku tidak mengetahui apa yang sedang diucapkannya.”Kemudian aku mendekati Amir bin Fuhairah dan bertanya, “Bagaimana keadaanmu, wahai Amir?”Ia menjawab dengan syair,“Sungguh aku telah merasakan bayangan kematian sebelum benar-benar mengalaminya.Orang yang pengecut, kematiannya pasti akan menjemputnya.Setiap orang berjuang sesuai dengan kemampuannya,sebagaimana seekor banteng melindungi tubuhnya dengan tanduknya.”Aku berkata, “Demi Allah, Amir pun tidak mengetahui apa yang sedang diucapkannya.”Kemudian Aisyah berkata, “Apabila demam Bilal mulai mereda, ia berbaring di halaman rumah, lalu mengangkat suaranya seraya bersyair,‘Ah, seandainya aku tahu, apakah suatu malam nanti aku dapat bermalam kembali di sebuah lembah, sementara di sekelilingku tumbuh tanaman idzkhir dan jalil.Akankah suatu hari nanti aku dapat mendatangi mata air Majannah? Akankah Gunung Syamah serta Gunung Tufail kembali tampak di hadapanku?’” (HR. Bukhari)Hadis di atas menggambarkan betapa sulitnya para sahabat yang harus berhijrah menuju Madinah.Hijrah tetap dipilih walaupun beratDari hadis-hadis yang disebutkan sebelumnya, bisa kita simpulkan bahwa hijrah ke Madinah merupakan hal yang berat bagi Nabi dan para sahabat. Akan tetapi, mereka tetap melakukannya. Mengapa demikian? Tentu karena mereka lebih mencintai Allah dan mengutamakan agama di atas rasa cinta mereka terhadap tanah air.Hal tersebut dikarenakan tidak mungkin mereka menegakkan agama Islam tanpa berhijrah karena tekanan dari penduduk Makkah ketika itu. Akhirnya, mereka pun harus memilih berhijrah. Allah Ta’ala juga berfirman tentang keutamaan berhijrah,وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya dia akan mendapati di muka bumi ini banyak tempat hijrah dan rezeki yang luas. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menjemputnya, maka sungguh pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 100)Hikmah hijrah Nabi dan cinta tanah airDari kisah hijrah Nabi, kita bisa mengambil beberapa hikmah yang bisa kita pelajari tentang cinta tanah air. Di antara hikmah hijrah Nabi dan cinta tanah air tersebut adalah:Bersyukur bisa tinggal di tanah airSalah satu hal yang patut kita syukuri saat ini adalah nikmat bisa tinggal di tanah air yang tercinta, dan tidak ada pilihan yang harus memaksa kita untuk memilih salah satu, agama atau tanah air. Tidak seperti Nabi dan para sahabat yang lahir di tanah yang memusuhi dakwah Islam ketika itu, sekarang ini kita hidup di negara dengan mayoritas penduduknya adalah muslim.Agama jadi prioritas utamaKetika dalam kehidupan kita harus memilih salah satu antara agama atau selainnya, tentu kita utamakan agama. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi dan para sahabat ketika hijrah. Mereka meninggalkan tanah kelahiran yang mereka cintai demi tegaknya agama Islam.Berdakwah dan memperbaiki masyarakatSalah satu bukti nyata kita mencintai negeri kita adalah dengan berdakwah dan memperbaiki masyarakat. Ketika kita melihat negeri kita mulai rusak dan keburukan mulai bertambah, tugas kita adalah berdakwah dan berusaha memperbaiki masyarakat sebagaimana yang Rasulullah lakukan. Beliau tidak langsung diperintahkan untuk berhijrah ketika mendapatkan gangguan dari para penduduk Makkah.Mari kita berusaha sesuai dengan kadar kita untuk memperbaiki negeri kita tercinta sesuai dengan kemampuan dan peran kita masing-masing. Mari kita perbaiki masyarakat, sebarkan ilmu, berdakwah dengan hikmah, dan sabar dalam berdakwah. Rasulullah berdakwah di Makkah dengan penuh permusuhan dari kaum Quraisy selama 13 tahun sebelum akhirnya berhijrah.Mendoakan kebaikan untuk negeriJangan lupa untuk selalu mendoakan kebaikan untuk negeri. Ingat, ketika para sahabat mengalami rasa berat ketika berhijrah ke Madinah, Rasulullah berdoa,اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ“Ya Allah, jadikanlah Madinah kami cintai sebagaimana kami mencintai Makkah, bahkan lebih dari itu.” (HR. Bukhari)Lalu apa yang terjadi? Allah kabulkan doa Rasulullah, Allah jadikan Madinah tanah air kedua bagi Nabi dan para sahabat, Allah buat mereka mencintai Madinah dan jadilah Madinah Al-Munawwaroh kota yang merka cintai. Oleh karena itu, jangan lupa bagi kita untuk mendoakan kebaikan bagi negeri kita yang tercinta.***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Sumber: Islamweb.net
Daftar Isi ToggleHijrah Nabi menunjukkan kecintaan Nabi terhadap tanah kelahirannyaPara sahabat pun mencintai MakkahHijrah tetap dipilih walaupun beratHikmah hijrah Nabi dan cinta tanah airBersyukur bisa tinggal di tanah airAgama jadi prioritas utamaBerdakwah dan memperbaiki masyarakatMendoakan kebaikan untuk negeriPeristiwa hijrah ke Madinah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat merupakan peristiwa bersejarah yang di dalamnya terdapat banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Salah satunya adalah tentang cinta tanah air. Pada artikel ini, akan kami bahas tentang hijrah Nabi dan tanah air.Peristiwa hijrah ke Madinah ini merupakan peristiwa yang menunjukkan besarnya rasa cinta Nabi Muhammad terhadap tanah kelahiran beliau, Makkah Al-Mukarramah. Akan tetapi, besarnya rasa cinta beliau tidaklah mencegah beliau untuk tetap berhijrah agar agama Islam tetap tegak.Dari peristiwa hijrah ini, bisa kita pelajari bahwa Islam sangat mengakui naluri manusia yang mencintai tanah airnya, tanah kelahirannya, tanah tempat ia tumbuh dan menghabiskan waktu bersama keluarganya. Akan tetapi, rasa cinta tersebut tetap ada batasannya ketika bertentangan dengan syariat.Hijrah Nabi menunjukkan kecintaan Nabi terhadap tanah kelahirannyaHijrah merupakan hal yang berat bagi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengapa demikian? Tentu karena beliau mencintai Makkah, tanah kelahirannya. Peristiwa hijrah sudah dikabarkan kepada Nabi sejak awal-awal beliau diutus menjadi Rasul. Peristiwa tersebut terjadi ketika beliau bersama istri tercintanya, Khadijah, bertemu dengan Waraqah bin Naufal. Hal tersebut dikisahkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari,قال ليتني أكون حيا إذ يخرجك قومك، فقال رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم – أَو مُخْرِجِيَّ هم؟!، قال نعم، لم يأت رجل قط بمثل ما جئت به إلا عودي، وإن يدركني يومك أنصرك نصرًا مؤزرًا(Waraqah) berkata, “Seandainya saya masih hidup tatkala kaummu mengursirmu (dari Makkah).”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Apakah mereka benar-benar mengusirku?”Waraqah bin Naufal Menjawab, “Benar, Tidak ada seorang pun yang membawa risalah sebagaimana engkau, kecuali ia akan dimusuhi. Jika aku masih hidup di hari tersebut, sungguh aku akan menolongmu dengan sekuat tenaga.” (HR. Bukhari)Perhatikanlah pada hadis di atas ketika beliau mendengar kabar dari Waraqah bin Naufal, beliau berkata,أَو مُخْرِجِيَّ هم؟yang artinya, “Apakah mereka benar benar mengusirku?” Perkataan tersebut bukan meragukan kabar dari Waraqah, tetapi menggambarkan betapa berat dan menyedihkannya bagi Nabi untuk meninggalkan Makkah.Ketika Nabi hijrah, beliau pun berkata,وَاللَّهِ إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ، وَأَحَبُّ أَرْضِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ، وَلَوْلَا أَنِّي أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ“Demi Allah, sesunguhnya engkau (Makkah) merupakan tanah di bumi Allah yang paling baik dan negeri yang paling dicintai Allah. Jika saja aku tidak diusir darimu, niscaya aku tidak akan pergi.” (HR. Tirmidzi)Dalam riwayat lain juga disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلَدٍ! وَمَا أَحَبَّكِ إِلَيَّ! وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُونِي مِنْكِ مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ“Sungguh engkau (Makkah) adalah negeri yang paling baik! Betapa cintanya aku kepadamu! Jika saja kaumku tidak mengusirku, aku tidak akan tinggal di tempat lain.” (HR. Tirmidzi)Itulah di antara hadis yang menunjukkan besarnya rasa cinta Nabi terhadap tanah kelahirannya ketika beliau hijrah ke Madinah. Ketika tiba di Madinah, Nabi melihat kondisi Abu Bakar dan Bilal sakit. Beliau pun berdoa,اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ“Ya Allah, jadikanlah Madinah kami cintai sebagaimana kami mencintai Makkah, bahkan lebih dari itu.” (HR. Bukhari)Seindah-indahnya tanah perantauan, tanah air tetap tidak tergantikan. Oleh karena itu, Rasulullah pun berdoa agar beliau dan para sahabat bisa mencintai Madinah seperti mencintai Makkah, bahkan lebih dari itu.Para sahabat pun mencintai MakkahSelain Rasulullah, para sahabat pun tentunya memiliki rasa cinta yang sama terhadap tanah kelahirannya. Hal tersebut tercermin dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ’anha, ia berkata kepada Abu Bakar radhiyallahu ’anhu, يا أبت كيف تجدك؟ فقال كل امرئ مصبَّح في أهله والموت أدنى من شِراك نعله قالت: فقلت: والله ما يدري أبي ما يقول، ثم دنوت من عامر بن فهيرة فقلت: كيف تجدك يا عامر؟ فقال لقد وجدت الموت قبل ذوقه إن الجبان حتفُه من فوقه كل امرئ مجاهد بطَوقه كالثور يحمي جلده بِرَوقه قالت: فقلت: والله ما يدري عامر ما يقول، قلت وكان بلال إذا أقلع عنه الحمى اضطجع بفناء البيت، ثم يرفع عقيرته صوته ويقول ألا ليت شعري هل أبيتن ليلة بواد وحولي إذخر وجليل وهل أَرِدَنْ يومًا مياه مجنة وهل يَبْدُوَنْ لي شامة وطفيل“Wahai Ayah, bagaimana keadaanmu?”Beliau menjawab dengan syair, “Setiap orang masih berada di tengah keluarganya pada pagi hari, padahal kematian lebih dekat kepadanya daripada tali sandalnya.”Aku berkata, “Demi Allah, ayahku tidak mengetahui apa yang sedang diucapkannya.”Kemudian aku mendekati Amir bin Fuhairah dan bertanya, “Bagaimana keadaanmu, wahai Amir?”Ia menjawab dengan syair,“Sungguh aku telah merasakan bayangan kematian sebelum benar-benar mengalaminya.Orang yang pengecut, kematiannya pasti akan menjemputnya.Setiap orang berjuang sesuai dengan kemampuannya,sebagaimana seekor banteng melindungi tubuhnya dengan tanduknya.”Aku berkata, “Demi Allah, Amir pun tidak mengetahui apa yang sedang diucapkannya.”Kemudian Aisyah berkata, “Apabila demam Bilal mulai mereda, ia berbaring di halaman rumah, lalu mengangkat suaranya seraya bersyair,‘Ah, seandainya aku tahu, apakah suatu malam nanti aku dapat bermalam kembali di sebuah lembah, sementara di sekelilingku tumbuh tanaman idzkhir dan jalil.Akankah suatu hari nanti aku dapat mendatangi mata air Majannah? Akankah Gunung Syamah serta Gunung Tufail kembali tampak di hadapanku?’” (HR. Bukhari)Hadis di atas menggambarkan betapa sulitnya para sahabat yang harus berhijrah menuju Madinah.Hijrah tetap dipilih walaupun beratDari hadis-hadis yang disebutkan sebelumnya, bisa kita simpulkan bahwa hijrah ke Madinah merupakan hal yang berat bagi Nabi dan para sahabat. Akan tetapi, mereka tetap melakukannya. Mengapa demikian? Tentu karena mereka lebih mencintai Allah dan mengutamakan agama di atas rasa cinta mereka terhadap tanah air.Hal tersebut dikarenakan tidak mungkin mereka menegakkan agama Islam tanpa berhijrah karena tekanan dari penduduk Makkah ketika itu. Akhirnya, mereka pun harus memilih berhijrah. Allah Ta’ala juga berfirman tentang keutamaan berhijrah,وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya dia akan mendapati di muka bumi ini banyak tempat hijrah dan rezeki yang luas. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menjemputnya, maka sungguh pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 100)Hikmah hijrah Nabi dan cinta tanah airDari kisah hijrah Nabi, kita bisa mengambil beberapa hikmah yang bisa kita pelajari tentang cinta tanah air. Di antara hikmah hijrah Nabi dan cinta tanah air tersebut adalah:Bersyukur bisa tinggal di tanah airSalah satu hal yang patut kita syukuri saat ini adalah nikmat bisa tinggal di tanah air yang tercinta, dan tidak ada pilihan yang harus memaksa kita untuk memilih salah satu, agama atau tanah air. Tidak seperti Nabi dan para sahabat yang lahir di tanah yang memusuhi dakwah Islam ketika itu, sekarang ini kita hidup di negara dengan mayoritas penduduknya adalah muslim.Agama jadi prioritas utamaKetika dalam kehidupan kita harus memilih salah satu antara agama atau selainnya, tentu kita utamakan agama. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi dan para sahabat ketika hijrah. Mereka meninggalkan tanah kelahiran yang mereka cintai demi tegaknya agama Islam.Berdakwah dan memperbaiki masyarakatSalah satu bukti nyata kita mencintai negeri kita adalah dengan berdakwah dan memperbaiki masyarakat. Ketika kita melihat negeri kita mulai rusak dan keburukan mulai bertambah, tugas kita adalah berdakwah dan berusaha memperbaiki masyarakat sebagaimana yang Rasulullah lakukan. Beliau tidak langsung diperintahkan untuk berhijrah ketika mendapatkan gangguan dari para penduduk Makkah.Mari kita berusaha sesuai dengan kadar kita untuk memperbaiki negeri kita tercinta sesuai dengan kemampuan dan peran kita masing-masing. Mari kita perbaiki masyarakat, sebarkan ilmu, berdakwah dengan hikmah, dan sabar dalam berdakwah. Rasulullah berdakwah di Makkah dengan penuh permusuhan dari kaum Quraisy selama 13 tahun sebelum akhirnya berhijrah.Mendoakan kebaikan untuk negeriJangan lupa untuk selalu mendoakan kebaikan untuk negeri. Ingat, ketika para sahabat mengalami rasa berat ketika berhijrah ke Madinah, Rasulullah berdoa,اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ“Ya Allah, jadikanlah Madinah kami cintai sebagaimana kami mencintai Makkah, bahkan lebih dari itu.” (HR. Bukhari)Lalu apa yang terjadi? Allah kabulkan doa Rasulullah, Allah jadikan Madinah tanah air kedua bagi Nabi dan para sahabat, Allah buat mereka mencintai Madinah dan jadilah Madinah Al-Munawwaroh kota yang merka cintai. Oleh karena itu, jangan lupa bagi kita untuk mendoakan kebaikan bagi negeri kita yang tercinta.***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Sumber: Islamweb.net


Daftar Isi ToggleHijrah Nabi menunjukkan kecintaan Nabi terhadap tanah kelahirannyaPara sahabat pun mencintai MakkahHijrah tetap dipilih walaupun beratHikmah hijrah Nabi dan cinta tanah airBersyukur bisa tinggal di tanah airAgama jadi prioritas utamaBerdakwah dan memperbaiki masyarakatMendoakan kebaikan untuk negeriPeristiwa hijrah ke Madinah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat merupakan peristiwa bersejarah yang di dalamnya terdapat banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Salah satunya adalah tentang cinta tanah air. Pada artikel ini, akan kami bahas tentang hijrah Nabi dan tanah air.Peristiwa hijrah ke Madinah ini merupakan peristiwa yang menunjukkan besarnya rasa cinta Nabi Muhammad terhadap tanah kelahiran beliau, Makkah Al-Mukarramah. Akan tetapi, besarnya rasa cinta beliau tidaklah mencegah beliau untuk tetap berhijrah agar agama Islam tetap tegak.Dari peristiwa hijrah ini, bisa kita pelajari bahwa Islam sangat mengakui naluri manusia yang mencintai tanah airnya, tanah kelahirannya, tanah tempat ia tumbuh dan menghabiskan waktu bersama keluarganya. Akan tetapi, rasa cinta tersebut tetap ada batasannya ketika bertentangan dengan syariat.Hijrah Nabi menunjukkan kecintaan Nabi terhadap tanah kelahirannyaHijrah merupakan hal yang berat bagi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengapa demikian? Tentu karena beliau mencintai Makkah, tanah kelahirannya. Peristiwa hijrah sudah dikabarkan kepada Nabi sejak awal-awal beliau diutus menjadi Rasul. Peristiwa tersebut terjadi ketika beliau bersama istri tercintanya, Khadijah, bertemu dengan Waraqah bin Naufal. Hal tersebut dikisahkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari,قال ليتني أكون حيا إذ يخرجك قومك، فقال رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم – أَو مُخْرِجِيَّ هم؟!، قال نعم، لم يأت رجل قط بمثل ما جئت به إلا عودي، وإن يدركني يومك أنصرك نصرًا مؤزرًا(Waraqah) berkata, “Seandainya saya masih hidup tatkala kaummu mengursirmu (dari Makkah).”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Apakah mereka benar-benar mengusirku?”Waraqah bin Naufal Menjawab, “Benar, Tidak ada seorang pun yang membawa risalah sebagaimana engkau, kecuali ia akan dimusuhi. Jika aku masih hidup di hari tersebut, sungguh aku akan menolongmu dengan sekuat tenaga.” (HR. Bukhari)Perhatikanlah pada hadis di atas ketika beliau mendengar kabar dari Waraqah bin Naufal, beliau berkata,أَو مُخْرِجِيَّ هم؟yang artinya, “Apakah mereka benar benar mengusirku?” Perkataan tersebut bukan meragukan kabar dari Waraqah, tetapi menggambarkan betapa berat dan menyedihkannya bagi Nabi untuk meninggalkan Makkah.Ketika Nabi hijrah, beliau pun berkata,وَاللَّهِ إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ، وَأَحَبُّ أَرْضِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ، وَلَوْلَا أَنِّي أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ“Demi Allah, sesunguhnya engkau (Makkah) merupakan tanah di bumi Allah yang paling baik dan negeri yang paling dicintai Allah. Jika saja aku tidak diusir darimu, niscaya aku tidak akan pergi.” (HR. Tirmidzi)Dalam riwayat lain juga disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلَدٍ! وَمَا أَحَبَّكِ إِلَيَّ! وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُونِي مِنْكِ مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ“Sungguh engkau (Makkah) adalah negeri yang paling baik! Betapa cintanya aku kepadamu! Jika saja kaumku tidak mengusirku, aku tidak akan tinggal di tempat lain.” (HR. Tirmidzi)Itulah di antara hadis yang menunjukkan besarnya rasa cinta Nabi terhadap tanah kelahirannya ketika beliau hijrah ke Madinah. Ketika tiba di Madinah, Nabi melihat kondisi Abu Bakar dan Bilal sakit. Beliau pun berdoa,اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ“Ya Allah, jadikanlah Madinah kami cintai sebagaimana kami mencintai Makkah, bahkan lebih dari itu.” (HR. Bukhari)Seindah-indahnya tanah perantauan, tanah air tetap tidak tergantikan. Oleh karena itu, Rasulullah pun berdoa agar beliau dan para sahabat bisa mencintai Madinah seperti mencintai Makkah, bahkan lebih dari itu.Para sahabat pun mencintai MakkahSelain Rasulullah, para sahabat pun tentunya memiliki rasa cinta yang sama terhadap tanah kelahirannya. Hal tersebut tercermin dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ’anha, ia berkata kepada Abu Bakar radhiyallahu ’anhu, يا أبت كيف تجدك؟ فقال كل امرئ مصبَّح في أهله والموت أدنى من شِراك نعله قالت: فقلت: والله ما يدري أبي ما يقول، ثم دنوت من عامر بن فهيرة فقلت: كيف تجدك يا عامر؟ فقال لقد وجدت الموت قبل ذوقه إن الجبان حتفُه من فوقه كل امرئ مجاهد بطَوقه كالثور يحمي جلده بِرَوقه قالت: فقلت: والله ما يدري عامر ما يقول، قلت وكان بلال إذا أقلع عنه الحمى اضطجع بفناء البيت، ثم يرفع عقيرته صوته ويقول ألا ليت شعري هل أبيتن ليلة بواد وحولي إذخر وجليل وهل أَرِدَنْ يومًا مياه مجنة وهل يَبْدُوَنْ لي شامة وطفيل“Wahai Ayah, bagaimana keadaanmu?”Beliau menjawab dengan syair, “Setiap orang masih berada di tengah keluarganya pada pagi hari, padahal kematian lebih dekat kepadanya daripada tali sandalnya.”Aku berkata, “Demi Allah, ayahku tidak mengetahui apa yang sedang diucapkannya.”Kemudian aku mendekati Amir bin Fuhairah dan bertanya, “Bagaimana keadaanmu, wahai Amir?”Ia menjawab dengan syair,“Sungguh aku telah merasakan bayangan kematian sebelum benar-benar mengalaminya.Orang yang pengecut, kematiannya pasti akan menjemputnya.Setiap orang berjuang sesuai dengan kemampuannya,sebagaimana seekor banteng melindungi tubuhnya dengan tanduknya.”Aku berkata, “Demi Allah, Amir pun tidak mengetahui apa yang sedang diucapkannya.”Kemudian Aisyah berkata, “Apabila demam Bilal mulai mereda, ia berbaring di halaman rumah, lalu mengangkat suaranya seraya bersyair,‘Ah, seandainya aku tahu, apakah suatu malam nanti aku dapat bermalam kembali di sebuah lembah, sementara di sekelilingku tumbuh tanaman idzkhir dan jalil.Akankah suatu hari nanti aku dapat mendatangi mata air Majannah? Akankah Gunung Syamah serta Gunung Tufail kembali tampak di hadapanku?’” (HR. Bukhari)Hadis di atas menggambarkan betapa sulitnya para sahabat yang harus berhijrah menuju Madinah.Hijrah tetap dipilih walaupun beratDari hadis-hadis yang disebutkan sebelumnya, bisa kita simpulkan bahwa hijrah ke Madinah merupakan hal yang berat bagi Nabi dan para sahabat. Akan tetapi, mereka tetap melakukannya. Mengapa demikian? Tentu karena mereka lebih mencintai Allah dan mengutamakan agama di atas rasa cinta mereka terhadap tanah air.Hal tersebut dikarenakan tidak mungkin mereka menegakkan agama Islam tanpa berhijrah karena tekanan dari penduduk Makkah ketika itu. Akhirnya, mereka pun harus memilih berhijrah. Allah Ta’ala juga berfirman tentang keutamaan berhijrah,وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya dia akan mendapati di muka bumi ini banyak tempat hijrah dan rezeki yang luas. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menjemputnya, maka sungguh pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 100)Hikmah hijrah Nabi dan cinta tanah airDari kisah hijrah Nabi, kita bisa mengambil beberapa hikmah yang bisa kita pelajari tentang cinta tanah air. Di antara hikmah hijrah Nabi dan cinta tanah air tersebut adalah:Bersyukur bisa tinggal di tanah airSalah satu hal yang patut kita syukuri saat ini adalah nikmat bisa tinggal di tanah air yang tercinta, dan tidak ada pilihan yang harus memaksa kita untuk memilih salah satu, agama atau tanah air. Tidak seperti Nabi dan para sahabat yang lahir di tanah yang memusuhi dakwah Islam ketika itu, sekarang ini kita hidup di negara dengan mayoritas penduduknya adalah muslim.Agama jadi prioritas utamaKetika dalam kehidupan kita harus memilih salah satu antara agama atau selainnya, tentu kita utamakan agama. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi dan para sahabat ketika hijrah. Mereka meninggalkan tanah kelahiran yang mereka cintai demi tegaknya agama Islam.Berdakwah dan memperbaiki masyarakatSalah satu bukti nyata kita mencintai negeri kita adalah dengan berdakwah dan memperbaiki masyarakat. Ketika kita melihat negeri kita mulai rusak dan keburukan mulai bertambah, tugas kita adalah berdakwah dan berusaha memperbaiki masyarakat sebagaimana yang Rasulullah lakukan. Beliau tidak langsung diperintahkan untuk berhijrah ketika mendapatkan gangguan dari para penduduk Makkah.Mari kita berusaha sesuai dengan kadar kita untuk memperbaiki negeri kita tercinta sesuai dengan kemampuan dan peran kita masing-masing. Mari kita perbaiki masyarakat, sebarkan ilmu, berdakwah dengan hikmah, dan sabar dalam berdakwah. Rasulullah berdakwah di Makkah dengan penuh permusuhan dari kaum Quraisy selama 13 tahun sebelum akhirnya berhijrah.Mendoakan kebaikan untuk negeriJangan lupa untuk selalu mendoakan kebaikan untuk negeri. Ingat, ketika para sahabat mengalami rasa berat ketika berhijrah ke Madinah, Rasulullah berdoa,اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ“Ya Allah, jadikanlah Madinah kami cintai sebagaimana kami mencintai Makkah, bahkan lebih dari itu.” (HR. Bukhari)Lalu apa yang terjadi? Allah kabulkan doa Rasulullah, Allah jadikan Madinah tanah air kedua bagi Nabi dan para sahabat, Allah buat mereka mencintai Madinah dan jadilah Madinah Al-Munawwaroh kota yang merka cintai. Oleh karena itu, jangan lupa bagi kita untuk mendoakan kebaikan bagi negeri kita yang tercinta.***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Sumber: Islamweb.net

Apakah Kaum Muslimin Mungkin Bersatu Meskipun Mereka Memiliki Perbedaan dalam Akidah dan Manhaj?

Daftar Isi TogglePerbedaan di antara manusia merupakan sunnatullahBagaimana mungkin kaum Muslimin dapat bersatu dalam perkara apa pun jika bukan di atas tauhid dan akidah yang benar?Sebab pokok perpecahan kaum musliminPertama: Kebodohan (al-jahl)Kedua: Mengikuti hawa nafsu (al-hawa)Ketiga: Taklid buta kepada tradisi dan para pendahulu (at-taqlid al-a’ma)Perbedaan di antara manusia merupakan sunnatullahAdanya perbedaan di antara manusia dalam masalah akidah dan manhaj merupakan sesuatu yang bersifat sunnatullah (ketetapan Allah pada alam semesta). Allah Ta’ala telah mengabarkan kepada kita bahwa hal itu memang akan terjadi di tengah-tengah manusia. Allah juga mengabarkan bahwa Dia Mahakuasa untuk menjadikan seluruh manusia berada di atas satu agama. Akan tetapi, terdapat hikmah yang sangat agung ketika hal itu tidak terjadi. Hal itu agar Allah memberikan pahala kepada orang-orang yang taat dan mentauhidkan-Nya, serta mengazab orang-orang yang bermaksiat dan mempersekutukan-Nya.Seandainya Allah Ta’ala menjadikan seluruh manusia sebagai satu umat, tentu tidak akan tampak keutamaan tauhid dan para pelakunya, serta tidak akan tampak pula buruknya kesyirikan dan para pelakunya. Allah memiliki kebijaksanaan yang menghendaki adanya perbedaan-perbedaan tersebut, sehingga melalui nama-nama dan sifat-sifat Allah tampak nyata pada makhluk-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ ٱلنَّاسَ أُمَّةًۭ وَٰحِدَةًۭ ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَإِلَّا مَن رَّحِمَ رَبُّكَ ۚ وَلِذَٰلِكَ خَلَقَهُمْ ۗ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ ٱلْجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ أَجْمَعِينَ“Seandainya Rabb-mu menghendaki, niscaya Dia jadikan umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabb-mu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Rabb-mu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.” (QS. Hud: 118-119)Ibnu Jarir at-Tabari rahimahullah berkata, “Jika Rabb-mu berkehendak, wahai Muhammad, Dia akan jadikan seluruh manusia menjadi satu kelompok yang mengikuti satu jalan dan satu agama.” [1]Al-Hafiz Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala dalam ayat ini mengabarkan bahwa Dia Mahakuasa untuk menjadikan seluruh manusia sebagai satu umat, baik seluruhnya beriman maupun seluruhnya kafir. Sebagaimana firman-Nya,وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لَـَٔامَنَ مَن فِى ٱلْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنتَ تُكْرِهُ ٱلنَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا۟ مُؤْمِنِينَ“Dan sekiranya Rabbmu menghendaki, tentulah semua orang yang ada di bumi akan beriman seluruhnya. Apakah kamu kemudian akan memaksa orang untuk menjadi orang beriman?” (QS. Yunus: 99)Dan firman-Nya pada surah Hud ayat 119-119.Maksudnya, manusia akan terus-menerus berselisih dalam agama mereka, dalam akidah yang mereka yakini, dalam berbagai firqah (golongan), mazhab, dan pandangan yang mereka anut.” [2]Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata, “Dalam ayat ini, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa seandainya Dia menghendaki, niscaya Dia akan menjadikan seluruh manusia sebagai satu umat yang mengikuti agama Islam. Hal itu sama sekali tidak sulit bagi-Nya, karena tidak ada sesuatu pun yang berada di luar kehendak dan kekuasaan-Nya.Akan tetapi, hikmah-Nya menghendaki agar manusia tetap berselisih dan menyimpang dari jalan yang lurus, menempuh berbagai jalan yang mengantarkan ke neraka. Masing-masing mengira bahwa jalan yang ditempuhnya adalah jalan yang benar, sedangkan kesesatan menurutnya berada pada jalan yang ditempuh oleh orang lain.“Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu” (QS. Hud: 119), yakni orang-orang yang Allah beri taufik untuk mengenal kebenaran, kemudian mengamalkannya, serta bersatu di atasnya. Mereka itulah orang-orang yang ditetapkan memperoleh kebahagiaan, yang mendapatkan perhatian, pertolongan, dan rahmat Allah.Adapun selain mereka, maka Allah membiarkan mereka dengan pilihan mereka sendiri dan tidak memberikan taufik kepada mereka.Firman-Nya, “Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka” (QS. Hud: 119), maksudnya, hikmah Allah menghendaki penciptaan manusia dalam keadaan demikian, sehingga di antara mereka ada orang-orang yang berbahagia (penghuni surga) dan ada orang-orang yang celaka (penghuni neraka), ada yang bersatu di atas kebenaran dan ada yang berselisih, ada golongan yang mendapat petunjuk dari Allah dan ada pula golongan yang layak mendapatkan kesesatan.Semua itu agar keadilan dan hikmah Allah tampak nyata di hadapan hamba-hamba-Nya, serta agar terlihat apa yang tersembunyi dalam diri manusia berupa kebaikan dan keburukan. Dengan demikian, terwujudlah berbagai keadaan yang menuntut adanya jihad di jalan Allah dan berbagai bentuk ibadah yang tidak akan sempurna pelaksanaannya kecuali melalui ujian dan cobaan.” [3]Bagaimana mungkin kaum Muslimin dapat bersatu dalam perkara apa pun jika bukan di atas tauhid dan akidah yang benar?Barang siapa mencermati kondisi kaum Muslimin, niscaya ia akan mendapati bahwa mereka telah terpecah menjadi berbagai mazhab pemikiran, kelompok, golongan, dan ideologi. Masing-masing merasa puas dengan cara mereka sendiri dalam memahami dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunah serta metode yang mereka tempuh dalam mendakwahkan Islam.Oleh karena itu, terjadilah perbedaan, perpecahan, dan tercerai-berainya umat. Seandainya mereka semua berpegang teguh pada satu jalan, satu manhaj, dan satu akidah, niscaya mereka akan bersatu dan menjadi satu umat.Akan tetapi, kebanyakan mereka, terutama para pemimpin kelompok dan golongan, tidak memandang bahwa akidah yang benar merupakan jalan untuk mempersatukan umat. Bahkan mereka beranggapan bahwa pembahasan akidah justru menjadi penyebab perpecahan di tengah kaum Muslimin, sebagaimana dinyatakan oleh sebagian tokoh mereka.Pandangan semacam ini merupakan pandangan yang keliru dan tercela. Selama di tengah kaum Muslimin masih ada orang-orang yang meyakini pemikiran seperti itu, maka persatuan yang hakiki tidak akan pernah terwujud.Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada manusia ketika mereka berada dalam keadaan tercerai-berai menjadi berbagai golongan, kelompok, bangsa, ideologi, dan agama. Di antara mereka ada yang berkulit hitam dan ada yang berkulit putih, ada laki-laki dan perempuan, ada yang buta huruf dan berilmu, ada yang kaya dan miskin, ada pula orang-orang terpandang dan orang-orang biasa.Beliau tidak berusaha mempersatukan mereka di atas dasar bahasa, tanah air, atau pemikiran manusia. Akan tetapi, beliau mempersatukan mereka di atas sesuatu yang ma‘shum (terpelihara dari kesalahan), yang tidak akan dapat didatangi kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yaitu Al-Qur’an dan tauhid.Inilah satu-satunya jalan untuk mempersatukan seluruh manusia, meskipun mereka berbeda dalam cara berpikir, identitas, bahasa, dan negeri tempat tinggal mereka. Manusia tidak akan pernah menemukan sesuatu yang lebih baik daripada landasan ini untuk mempersatukan, menghimpun, dan menumbuhkan persaudaraan di antara mereka.Adapun jika tujuan mempersatukan manusia dibangun di atas pemikiran manusia yang dapat dibantah, ditolak, diubah, dan dikurangi, maka hal itu tidak akan pernah menjadi sarana untuk mewujudkan persatuan kaum Muslimin.Demikian pula jika persatuan dibangun di atas suatu isu politik, maka hal itu tidak akan mampu menyatukan manusia, karena mereka memiliki pemahaman dan pandangan yang berbeda-beda mengenai persoalan tersebut.Begitu juga, tanah air atau kebangsaan tidak dapat menjadi dasar pemersatu kaum Muslimin, karena setiap orang secara fitrah memiliki keterikatan dengan negeri dan tanah air tempat ia berada.Oleh karena itu, kaum Muslimin tidak memiliki pilihan dan tidak memiliki jalan untuk meraih persatuan selain dengan berpegang teguh kepada akidah yang benar, yang landasannya adalah nash-nash wahyu yang ma‘shum. Karena keadaan generasi akhir umat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan sesuatu yang dahulu telah memperbaiki keadaan generasi awal umat ini.Sebab pokok perpecahan kaum musliminSelama faktor-faktor yang menjadi penyebab perpecahan kaum Muslimin masih tetap ada, maka perpecahan akan senantiasa menjadi akibat atau konsekuensi yang tidak dapat dihindari.Para ulama telah menjelaskan berbagai sebab yang melatarbelakangi perpecahan tersebut. Imam Asy-Syathibi rahimahullah merangkum semuanya ke dalam tiga sebab pokok, yaitu: kebodohan (al-jahl), mengikuti hawa nafsu (al-hawa), dan taklid buta kepada nenek moyang dan para tokoh (at-taqlid al-a’ma).Asy-Syathibi rahimahullah mengatakan, “Setiap pendapat yang menyelisihi jalan yang telah disebutkan sebelumnya, yang muncul setelah itu, pada hakikatnya berpangkal pada tiga sebab. Terkadang ketiga sebab itu berkumpul sekaligus, dan terkadang hanya sebagian darinya.”Pertama: Kebodohan (al-jahl)Seseorang mengira, atau orang lain menganggap, bahwa dirinya telah menjadi seorang alim yang layak berbicara dan berijtihad dalam berbagai persoalan agama, padahal ia belum mencapai derajat ilmu yang memungkinkannya untuk itu. Akibatnya, ia berbicara seolah-olah seorang ulama, menganggap pendapatnya benar, dan memandang pendapat yang menyelisihinya sebagai kesalahan.Terkadang ia berbicara mengenai persoalan-persoalan cabang agama, dan terkadang ia berbicara mengenai perkara-perkara pokok Islam, baik yang berkaitan dengan akidah maupun prinsip-prinsip ibadah dan fikih.Bahkan, tidak jarang ia menjadikan sebagian persoalan cabang sebagai alasan untuk meruntuhkan prinsip-prinsip besar dalam agama, hingga prinsip tersebut berubah sesuai dengan pemahamannya sendiri, padahal ia belum benar-benar memahami makna dan tujuan syariat.Inilah keadaan seorang pelaku bid’ah. Tentang orang semacam ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺍﻧْﺘِﺰَﺍﻋَﺎً ﻳَﻨْﺘَﺰِﻋُﻪُ ﻣﻦ ﺍﻟﻌِﺒﺎﺩِ ﻭﻟَﻜِﻦْ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺑِﻘَﺒْﺾِ ﺍﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺣﺘَّﻰ ﺇﺫﺍ ﻟَﻢْ ﻳُﺒْﻖِ ﻋَﺎﻟِﻢٌ ﺍﺗَّﺨَﺬَ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺭﺅﺳَﺎً ﺟُﻬَّﺎﻻً ، ﻓَﺴُﺌِﻠﻮﺍ ﻓَﺄَﻓْﺘَﻮْﺍ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻠْﻢٍ ﻓَﻀَﻠُّﻮﺍ ﻭَﺃَﺿَﻠُّﻮﺍ“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya langsung dari dada manusia. Akan tetapi, Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga ketika tidak ada lagi seorang alim, manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka ditanya, lalu berfatwa tanpa ilmu. Akhirnya, mereka sesat dan menyesatkan orang lain.” (Muttafaqun alaihi) [4]Kedua: Mengikuti hawa nafsu (al-hawa)Sebab lain yang melahirkan perpecahan adalah mengikuti hawa nafsu. Oleh karena itu, para pelaku bid’ah sering disebut sebagai ahlul ahwa’ (pengikut hawa nafsu), karena mereka mengikuti keinginan mereka tanpa merujuk kepada dalil-dalil syariat sebagaimana mestinya.Mereka tidak memandang bahwa pendapat mereka harus dibangun di atas dalil syariat. Sebaliknya, mereka lebih mengutamakan hawa nafsu dan pendapat pribadi, kemudian baru mencari-cari dalil untuk mendukung apa yang telah mereka yakini sebelumnya.Kebanyakan mereka adalah orang-orang yang menjadikan akal semata sebagai ukuran benar dan salah, para pengagum filsafat, dan orang-orang yang mengikuti jalan serupa.Termasuk dalam kelompok ini adalah orang-orang yang mencari kedudukan di sisi para penguasa, mengharapkan keuntungan dunia dari mereka, atau ingin diakui sebagai pemimpin. Oleh karena itu, mereka mengikuti keinginan manusia dan mencari berbagai celah agar dapat memberikan fatwa yang sesuai dengan hawa nafsu mereka. Para ulama telah banyak meriwayatkan kisah-kisah tentang orang-orang yang bergaul dengan para penguasa demi kepentingan dunia.Kelompok pertama, yang lebih mengutamakan akal daripada wahyu, menolak banyak hadis sahih hanya karena bertentangan dengan logika mereka. Mereka juga berburuk sangka terhadap sebagian riwayat yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu lebih memilih pendapat mereka sendiri yang dibangun di atas argumentasi yang rusak.Bahkan mereka mengingkari banyak perkara gaib yang berkaitan dengan akhirat, seperti shirath, mizan, kebangkitan jasad, nikmat dan azab secara nyata, serta mengingkari bahwa kaum mukminin akan melihat Rabb mereka pada hari kiamat, dan berbagai persoalan lainnya.Pada hakikatnya, mereka menjadikan akal sebagai sumber penetapan hukum. Mereka beranggapan bahwa hukum dan perundang-undangan dapat disusun hanya berdasarkan akal, baik ada syariat maupun tidak. Kalaupun mereka menemukan dalil syariat yang sesuai dengan kesimpulan mereka, maka dalil itu hanya dianggap sebagai penguat terhadap pendapat yang telah mereka tetapkan sebelumnya. Selain itu, mereka juga memiliki berbagai penyimpangan lainnya.Ketiga: Taklid buta kepada tradisi dan para pendahulu (at-taqlid al-a’ma)Sebab ketiga yang melahirkan perpecahan adalah fanatik terhadap adat istiadat dan tradisi, sekalipun tradisi tersebut buruk atau bertentangan dengan kebenaran. Bentuknya adalah mengikuti jejak nenek moyang, para tokoh, dan orang-orang terdahulu tanpa dasar ilmu.Inilah taklid yang tercela, yang telah Allah cela dalam Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman,بَلْ قَالُوٓا۟ إِنَّا وَجَدْنَآ ءَابَآءَنَا عَلَىٰٓ أُمَّةٍۢ وَإِنَّا عَلَىٰٓ ءَاثَـٰرِهِم مُّهْتَدُونَ“Bahkan mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan kami hanya mengikuti jejak mereka.'” (QS. Az-Zukhruf: 22)Kemudian Allah berfirman,قَـٰلَ أَوَلَوْ جِئْتُكُم بِأَهْدَىٰ مِمَّا وَجَدتُّمْ عَلَيْهِ ءَابَآءَكُمْ ۖ قَالُوٓا۟ إِنَّا بِمَآ أُرْسِلْتُم بِهِۦ كَـٰفِرُونَ“(Pemberi peringatan itu) berkata, ‘Apakah (kalian tetap mengikutinya) sekalipun aku membawa petunjuk yang lebih benar daripada apa yang kalian dapati pada nenek moyang kalian?’ Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami mengingkari apa yang engkau diutus untuk membawanya.'” (QS. Az-Zukhruf: 24)Allah Ta’ala juga berfirman tentang Nabi Ibrahim ‘alaihis salam,قَالَ هَلْ يَسْمَعُونَكُمْ إِذْ تَدْعُونَ ٧٢ أَوْ يَنفَعُونَكُمْ أَوْ يَضُرُّونَ“Ibrahim berkata, ‘Apakah berhala-berhala itu mendengar ketika kalian berdoa kepadanya? Atau dapatkah mereka memberi manfaat atau mendatangkan mudarat kepada kalian?'” (QS. Asy-Syu’ara’: 72–73)Nabi Ibrahim telah menjelaskan kepada mereka agar mengikuti bukti yang nyata. Akan tetapi, mereka tetap bersikeras bertaklid kepada nenek moyang mereka seraya berkata,قَالُوا۟ بَلْ وَجَدْنَآ ءَابَآءَنَا كَذَٰلِكَ يَفْعَلُونَ“Tidak, tetapi kami hanya mendapati nenek moyang kami melakukan demikian.” (QS. Asy-Syu’ara’: 74)Makna inilah yang juga ditunjukkan oleh hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah disebutkan sebelumnya, “… lalu manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin …” menunjukkan bahaya mengikuti pendapat manusia secara membabi buta tanpa landasan ilmu dan dalil. [5]Berdasarkan penjelasan di atas, tidak mungkin kaum Muslimin dapat bersatu dan bersepakat kecuali di atas tauhid dan akidah yang benar.Dalam Islam, terdapat banyak syiar dan simbol persatuan yang tidak dimiliki oleh agama-agama lain. Di antaranya adalah satu kiblat, satu Al-Qur’an, ibadah haji, serta syiar-syiar Islam lainnya yang menjadi pemersatu kaum Muslimin.Oleh karena itu, kita berharap kaum Muslimin dapat bersatu di atas satu akidah dan satu manhaj dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunah. Adapun perbedaan pendapat yang mungkin muncul setelah itu, maka hal tersebut termasuk perkara yang dapat ditoleransi dan tidak sampai merusak persatuan umat.Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah pernah ditanya, “Apa saja perkara yang diperbolehkan untuk diperselisihkan? Dan perkara apa saja yang tidak boleh diperselisihkan? Apa yang wajib dilakukan oleh kaum Muslimin agar mereka tetap berpegang teguh pada agama mereka?”Beliau menjawab,“Perbedaan pendapat terbagi menjadi dua macam:Pertama, perbedaan dalam masalah akidah. Perbedaan dalam masalah ini tidak diperbolehkan, karena yang wajib bagi kaum Muslimin adalah menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai landasan akidah mereka. Akidah tidak boleh dibangun di atas akal, logika, atau pendapat pribadi. Akidah hanya boleh bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunah, sehingga tidak ada ruang bagi pendapat-pendapat pribadi maupun perselisihan dalam perkara tersebut.Kedua, perbedaan dalam masalah fikih yang didasarkan pada ijtihad dalam memahami dalil-dalil syariat. Perbedaan semacam ini merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari, karena kemampuan manusia dalam memahami dalil tidaklah sama. Namun demikian, yang wajib adalah mengikuti pendapat yang didukung oleh dalil yang paling kuat. Inilah sikap yang harus ditempuh ketika terdapat perbedaan pendapat.Seorang Muslim hendaknya memberikan perhatian besar terhadap urusan agamanya, melaksanakan apa yang Allah wajibkan kepadanya, serta menjauhi apa yang Allah haramkan baginya. Ia juga harus berusaha menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia terhadap saudara-saudaranya sesama Muslim, bersikap jujur dalam muamalah, menunaikan amanah, serta menjadi teladan yang baik bagi orang lain.Kaum Muslimin juga wajib mendidik diri mereka agar senantiasa berpegang teguh kepada agama, menghiasi diri dengan akhlak dan adab yang mulia, serta menjauhi akhlak yang buruk dan teman-teman yang jelek. Mereka hendaknya memperhatikan segala sesuatu yang bermanfaat bagi urusan agama maupun dunia mereka, serta menjadi pembela agama Islam dan kaum Muslimin.” [6]Wallahu a’lam.***Penulis: Luqman Hasan NahariArtikel Muslim.or.id Sumber: Diterjemahkan dari islamqa.info pada pertanyaan No. 108581. Catatan kaki:[1] Tafsir at-Thabari, 15: 531.[2] Tafsir Ibnu Katsir, 4: 361.[3] Tafsir as-Sa’di, hal. 392.[4] Diriwayatkan oleh Bukhari (no. 100) dan Muslim (no. 2673).[5] Al-I’tisham, 1: 421-423.[6] Al-Muntaqa min Fatawa al-Fawzan, 1: 407, 408, pertanyaan no. 241.

Apakah Kaum Muslimin Mungkin Bersatu Meskipun Mereka Memiliki Perbedaan dalam Akidah dan Manhaj?

Daftar Isi TogglePerbedaan di antara manusia merupakan sunnatullahBagaimana mungkin kaum Muslimin dapat bersatu dalam perkara apa pun jika bukan di atas tauhid dan akidah yang benar?Sebab pokok perpecahan kaum musliminPertama: Kebodohan (al-jahl)Kedua: Mengikuti hawa nafsu (al-hawa)Ketiga: Taklid buta kepada tradisi dan para pendahulu (at-taqlid al-a’ma)Perbedaan di antara manusia merupakan sunnatullahAdanya perbedaan di antara manusia dalam masalah akidah dan manhaj merupakan sesuatu yang bersifat sunnatullah (ketetapan Allah pada alam semesta). Allah Ta’ala telah mengabarkan kepada kita bahwa hal itu memang akan terjadi di tengah-tengah manusia. Allah juga mengabarkan bahwa Dia Mahakuasa untuk menjadikan seluruh manusia berada di atas satu agama. Akan tetapi, terdapat hikmah yang sangat agung ketika hal itu tidak terjadi. Hal itu agar Allah memberikan pahala kepada orang-orang yang taat dan mentauhidkan-Nya, serta mengazab orang-orang yang bermaksiat dan mempersekutukan-Nya.Seandainya Allah Ta’ala menjadikan seluruh manusia sebagai satu umat, tentu tidak akan tampak keutamaan tauhid dan para pelakunya, serta tidak akan tampak pula buruknya kesyirikan dan para pelakunya. Allah memiliki kebijaksanaan yang menghendaki adanya perbedaan-perbedaan tersebut, sehingga melalui nama-nama dan sifat-sifat Allah tampak nyata pada makhluk-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ ٱلنَّاسَ أُمَّةًۭ وَٰحِدَةًۭ ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَإِلَّا مَن رَّحِمَ رَبُّكَ ۚ وَلِذَٰلِكَ خَلَقَهُمْ ۗ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ ٱلْجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ أَجْمَعِينَ“Seandainya Rabb-mu menghendaki, niscaya Dia jadikan umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabb-mu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Rabb-mu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.” (QS. Hud: 118-119)Ibnu Jarir at-Tabari rahimahullah berkata, “Jika Rabb-mu berkehendak, wahai Muhammad, Dia akan jadikan seluruh manusia menjadi satu kelompok yang mengikuti satu jalan dan satu agama.” [1]Al-Hafiz Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala dalam ayat ini mengabarkan bahwa Dia Mahakuasa untuk menjadikan seluruh manusia sebagai satu umat, baik seluruhnya beriman maupun seluruhnya kafir. Sebagaimana firman-Nya,وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لَـَٔامَنَ مَن فِى ٱلْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنتَ تُكْرِهُ ٱلنَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا۟ مُؤْمِنِينَ“Dan sekiranya Rabbmu menghendaki, tentulah semua orang yang ada di bumi akan beriman seluruhnya. Apakah kamu kemudian akan memaksa orang untuk menjadi orang beriman?” (QS. Yunus: 99)Dan firman-Nya pada surah Hud ayat 119-119.Maksudnya, manusia akan terus-menerus berselisih dalam agama mereka, dalam akidah yang mereka yakini, dalam berbagai firqah (golongan), mazhab, dan pandangan yang mereka anut.” [2]Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata, “Dalam ayat ini, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa seandainya Dia menghendaki, niscaya Dia akan menjadikan seluruh manusia sebagai satu umat yang mengikuti agama Islam. Hal itu sama sekali tidak sulit bagi-Nya, karena tidak ada sesuatu pun yang berada di luar kehendak dan kekuasaan-Nya.Akan tetapi, hikmah-Nya menghendaki agar manusia tetap berselisih dan menyimpang dari jalan yang lurus, menempuh berbagai jalan yang mengantarkan ke neraka. Masing-masing mengira bahwa jalan yang ditempuhnya adalah jalan yang benar, sedangkan kesesatan menurutnya berada pada jalan yang ditempuh oleh orang lain.“Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu” (QS. Hud: 119), yakni orang-orang yang Allah beri taufik untuk mengenal kebenaran, kemudian mengamalkannya, serta bersatu di atasnya. Mereka itulah orang-orang yang ditetapkan memperoleh kebahagiaan, yang mendapatkan perhatian, pertolongan, dan rahmat Allah.Adapun selain mereka, maka Allah membiarkan mereka dengan pilihan mereka sendiri dan tidak memberikan taufik kepada mereka.Firman-Nya, “Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka” (QS. Hud: 119), maksudnya, hikmah Allah menghendaki penciptaan manusia dalam keadaan demikian, sehingga di antara mereka ada orang-orang yang berbahagia (penghuni surga) dan ada orang-orang yang celaka (penghuni neraka), ada yang bersatu di atas kebenaran dan ada yang berselisih, ada golongan yang mendapat petunjuk dari Allah dan ada pula golongan yang layak mendapatkan kesesatan.Semua itu agar keadilan dan hikmah Allah tampak nyata di hadapan hamba-hamba-Nya, serta agar terlihat apa yang tersembunyi dalam diri manusia berupa kebaikan dan keburukan. Dengan demikian, terwujudlah berbagai keadaan yang menuntut adanya jihad di jalan Allah dan berbagai bentuk ibadah yang tidak akan sempurna pelaksanaannya kecuali melalui ujian dan cobaan.” [3]Bagaimana mungkin kaum Muslimin dapat bersatu dalam perkara apa pun jika bukan di atas tauhid dan akidah yang benar?Barang siapa mencermati kondisi kaum Muslimin, niscaya ia akan mendapati bahwa mereka telah terpecah menjadi berbagai mazhab pemikiran, kelompok, golongan, dan ideologi. Masing-masing merasa puas dengan cara mereka sendiri dalam memahami dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunah serta metode yang mereka tempuh dalam mendakwahkan Islam.Oleh karena itu, terjadilah perbedaan, perpecahan, dan tercerai-berainya umat. Seandainya mereka semua berpegang teguh pada satu jalan, satu manhaj, dan satu akidah, niscaya mereka akan bersatu dan menjadi satu umat.Akan tetapi, kebanyakan mereka, terutama para pemimpin kelompok dan golongan, tidak memandang bahwa akidah yang benar merupakan jalan untuk mempersatukan umat. Bahkan mereka beranggapan bahwa pembahasan akidah justru menjadi penyebab perpecahan di tengah kaum Muslimin, sebagaimana dinyatakan oleh sebagian tokoh mereka.Pandangan semacam ini merupakan pandangan yang keliru dan tercela. Selama di tengah kaum Muslimin masih ada orang-orang yang meyakini pemikiran seperti itu, maka persatuan yang hakiki tidak akan pernah terwujud.Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada manusia ketika mereka berada dalam keadaan tercerai-berai menjadi berbagai golongan, kelompok, bangsa, ideologi, dan agama. Di antara mereka ada yang berkulit hitam dan ada yang berkulit putih, ada laki-laki dan perempuan, ada yang buta huruf dan berilmu, ada yang kaya dan miskin, ada pula orang-orang terpandang dan orang-orang biasa.Beliau tidak berusaha mempersatukan mereka di atas dasar bahasa, tanah air, atau pemikiran manusia. Akan tetapi, beliau mempersatukan mereka di atas sesuatu yang ma‘shum (terpelihara dari kesalahan), yang tidak akan dapat didatangi kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yaitu Al-Qur’an dan tauhid.Inilah satu-satunya jalan untuk mempersatukan seluruh manusia, meskipun mereka berbeda dalam cara berpikir, identitas, bahasa, dan negeri tempat tinggal mereka. Manusia tidak akan pernah menemukan sesuatu yang lebih baik daripada landasan ini untuk mempersatukan, menghimpun, dan menumbuhkan persaudaraan di antara mereka.Adapun jika tujuan mempersatukan manusia dibangun di atas pemikiran manusia yang dapat dibantah, ditolak, diubah, dan dikurangi, maka hal itu tidak akan pernah menjadi sarana untuk mewujudkan persatuan kaum Muslimin.Demikian pula jika persatuan dibangun di atas suatu isu politik, maka hal itu tidak akan mampu menyatukan manusia, karena mereka memiliki pemahaman dan pandangan yang berbeda-beda mengenai persoalan tersebut.Begitu juga, tanah air atau kebangsaan tidak dapat menjadi dasar pemersatu kaum Muslimin, karena setiap orang secara fitrah memiliki keterikatan dengan negeri dan tanah air tempat ia berada.Oleh karena itu, kaum Muslimin tidak memiliki pilihan dan tidak memiliki jalan untuk meraih persatuan selain dengan berpegang teguh kepada akidah yang benar, yang landasannya adalah nash-nash wahyu yang ma‘shum. Karena keadaan generasi akhir umat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan sesuatu yang dahulu telah memperbaiki keadaan generasi awal umat ini.Sebab pokok perpecahan kaum musliminSelama faktor-faktor yang menjadi penyebab perpecahan kaum Muslimin masih tetap ada, maka perpecahan akan senantiasa menjadi akibat atau konsekuensi yang tidak dapat dihindari.Para ulama telah menjelaskan berbagai sebab yang melatarbelakangi perpecahan tersebut. Imam Asy-Syathibi rahimahullah merangkum semuanya ke dalam tiga sebab pokok, yaitu: kebodohan (al-jahl), mengikuti hawa nafsu (al-hawa), dan taklid buta kepada nenek moyang dan para tokoh (at-taqlid al-a’ma).Asy-Syathibi rahimahullah mengatakan, “Setiap pendapat yang menyelisihi jalan yang telah disebutkan sebelumnya, yang muncul setelah itu, pada hakikatnya berpangkal pada tiga sebab. Terkadang ketiga sebab itu berkumpul sekaligus, dan terkadang hanya sebagian darinya.”Pertama: Kebodohan (al-jahl)Seseorang mengira, atau orang lain menganggap, bahwa dirinya telah menjadi seorang alim yang layak berbicara dan berijtihad dalam berbagai persoalan agama, padahal ia belum mencapai derajat ilmu yang memungkinkannya untuk itu. Akibatnya, ia berbicara seolah-olah seorang ulama, menganggap pendapatnya benar, dan memandang pendapat yang menyelisihinya sebagai kesalahan.Terkadang ia berbicara mengenai persoalan-persoalan cabang agama, dan terkadang ia berbicara mengenai perkara-perkara pokok Islam, baik yang berkaitan dengan akidah maupun prinsip-prinsip ibadah dan fikih.Bahkan, tidak jarang ia menjadikan sebagian persoalan cabang sebagai alasan untuk meruntuhkan prinsip-prinsip besar dalam agama, hingga prinsip tersebut berubah sesuai dengan pemahamannya sendiri, padahal ia belum benar-benar memahami makna dan tujuan syariat.Inilah keadaan seorang pelaku bid’ah. Tentang orang semacam ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺍﻧْﺘِﺰَﺍﻋَﺎً ﻳَﻨْﺘَﺰِﻋُﻪُ ﻣﻦ ﺍﻟﻌِﺒﺎﺩِ ﻭﻟَﻜِﻦْ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺑِﻘَﺒْﺾِ ﺍﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺣﺘَّﻰ ﺇﺫﺍ ﻟَﻢْ ﻳُﺒْﻖِ ﻋَﺎﻟِﻢٌ ﺍﺗَّﺨَﺬَ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺭﺅﺳَﺎً ﺟُﻬَّﺎﻻً ، ﻓَﺴُﺌِﻠﻮﺍ ﻓَﺄَﻓْﺘَﻮْﺍ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻠْﻢٍ ﻓَﻀَﻠُّﻮﺍ ﻭَﺃَﺿَﻠُّﻮﺍ“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya langsung dari dada manusia. Akan tetapi, Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga ketika tidak ada lagi seorang alim, manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka ditanya, lalu berfatwa tanpa ilmu. Akhirnya, mereka sesat dan menyesatkan orang lain.” (Muttafaqun alaihi) [4]Kedua: Mengikuti hawa nafsu (al-hawa)Sebab lain yang melahirkan perpecahan adalah mengikuti hawa nafsu. Oleh karena itu, para pelaku bid’ah sering disebut sebagai ahlul ahwa’ (pengikut hawa nafsu), karena mereka mengikuti keinginan mereka tanpa merujuk kepada dalil-dalil syariat sebagaimana mestinya.Mereka tidak memandang bahwa pendapat mereka harus dibangun di atas dalil syariat. Sebaliknya, mereka lebih mengutamakan hawa nafsu dan pendapat pribadi, kemudian baru mencari-cari dalil untuk mendukung apa yang telah mereka yakini sebelumnya.Kebanyakan mereka adalah orang-orang yang menjadikan akal semata sebagai ukuran benar dan salah, para pengagum filsafat, dan orang-orang yang mengikuti jalan serupa.Termasuk dalam kelompok ini adalah orang-orang yang mencari kedudukan di sisi para penguasa, mengharapkan keuntungan dunia dari mereka, atau ingin diakui sebagai pemimpin. Oleh karena itu, mereka mengikuti keinginan manusia dan mencari berbagai celah agar dapat memberikan fatwa yang sesuai dengan hawa nafsu mereka. Para ulama telah banyak meriwayatkan kisah-kisah tentang orang-orang yang bergaul dengan para penguasa demi kepentingan dunia.Kelompok pertama, yang lebih mengutamakan akal daripada wahyu, menolak banyak hadis sahih hanya karena bertentangan dengan logika mereka. Mereka juga berburuk sangka terhadap sebagian riwayat yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu lebih memilih pendapat mereka sendiri yang dibangun di atas argumentasi yang rusak.Bahkan mereka mengingkari banyak perkara gaib yang berkaitan dengan akhirat, seperti shirath, mizan, kebangkitan jasad, nikmat dan azab secara nyata, serta mengingkari bahwa kaum mukminin akan melihat Rabb mereka pada hari kiamat, dan berbagai persoalan lainnya.Pada hakikatnya, mereka menjadikan akal sebagai sumber penetapan hukum. Mereka beranggapan bahwa hukum dan perundang-undangan dapat disusun hanya berdasarkan akal, baik ada syariat maupun tidak. Kalaupun mereka menemukan dalil syariat yang sesuai dengan kesimpulan mereka, maka dalil itu hanya dianggap sebagai penguat terhadap pendapat yang telah mereka tetapkan sebelumnya. Selain itu, mereka juga memiliki berbagai penyimpangan lainnya.Ketiga: Taklid buta kepada tradisi dan para pendahulu (at-taqlid al-a’ma)Sebab ketiga yang melahirkan perpecahan adalah fanatik terhadap adat istiadat dan tradisi, sekalipun tradisi tersebut buruk atau bertentangan dengan kebenaran. Bentuknya adalah mengikuti jejak nenek moyang, para tokoh, dan orang-orang terdahulu tanpa dasar ilmu.Inilah taklid yang tercela, yang telah Allah cela dalam Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman,بَلْ قَالُوٓا۟ إِنَّا وَجَدْنَآ ءَابَآءَنَا عَلَىٰٓ أُمَّةٍۢ وَإِنَّا عَلَىٰٓ ءَاثَـٰرِهِم مُّهْتَدُونَ“Bahkan mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan kami hanya mengikuti jejak mereka.'” (QS. Az-Zukhruf: 22)Kemudian Allah berfirman,قَـٰلَ أَوَلَوْ جِئْتُكُم بِأَهْدَىٰ مِمَّا وَجَدتُّمْ عَلَيْهِ ءَابَآءَكُمْ ۖ قَالُوٓا۟ إِنَّا بِمَآ أُرْسِلْتُم بِهِۦ كَـٰفِرُونَ“(Pemberi peringatan itu) berkata, ‘Apakah (kalian tetap mengikutinya) sekalipun aku membawa petunjuk yang lebih benar daripada apa yang kalian dapati pada nenek moyang kalian?’ Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami mengingkari apa yang engkau diutus untuk membawanya.'” (QS. Az-Zukhruf: 24)Allah Ta’ala juga berfirman tentang Nabi Ibrahim ‘alaihis salam,قَالَ هَلْ يَسْمَعُونَكُمْ إِذْ تَدْعُونَ ٧٢ أَوْ يَنفَعُونَكُمْ أَوْ يَضُرُّونَ“Ibrahim berkata, ‘Apakah berhala-berhala itu mendengar ketika kalian berdoa kepadanya? Atau dapatkah mereka memberi manfaat atau mendatangkan mudarat kepada kalian?'” (QS. Asy-Syu’ara’: 72–73)Nabi Ibrahim telah menjelaskan kepada mereka agar mengikuti bukti yang nyata. Akan tetapi, mereka tetap bersikeras bertaklid kepada nenek moyang mereka seraya berkata,قَالُوا۟ بَلْ وَجَدْنَآ ءَابَآءَنَا كَذَٰلِكَ يَفْعَلُونَ“Tidak, tetapi kami hanya mendapati nenek moyang kami melakukan demikian.” (QS. Asy-Syu’ara’: 74)Makna inilah yang juga ditunjukkan oleh hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah disebutkan sebelumnya, “… lalu manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin …” menunjukkan bahaya mengikuti pendapat manusia secara membabi buta tanpa landasan ilmu dan dalil. [5]Berdasarkan penjelasan di atas, tidak mungkin kaum Muslimin dapat bersatu dan bersepakat kecuali di atas tauhid dan akidah yang benar.Dalam Islam, terdapat banyak syiar dan simbol persatuan yang tidak dimiliki oleh agama-agama lain. Di antaranya adalah satu kiblat, satu Al-Qur’an, ibadah haji, serta syiar-syiar Islam lainnya yang menjadi pemersatu kaum Muslimin.Oleh karena itu, kita berharap kaum Muslimin dapat bersatu di atas satu akidah dan satu manhaj dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunah. Adapun perbedaan pendapat yang mungkin muncul setelah itu, maka hal tersebut termasuk perkara yang dapat ditoleransi dan tidak sampai merusak persatuan umat.Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah pernah ditanya, “Apa saja perkara yang diperbolehkan untuk diperselisihkan? Dan perkara apa saja yang tidak boleh diperselisihkan? Apa yang wajib dilakukan oleh kaum Muslimin agar mereka tetap berpegang teguh pada agama mereka?”Beliau menjawab,“Perbedaan pendapat terbagi menjadi dua macam:Pertama, perbedaan dalam masalah akidah. Perbedaan dalam masalah ini tidak diperbolehkan, karena yang wajib bagi kaum Muslimin adalah menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai landasan akidah mereka. Akidah tidak boleh dibangun di atas akal, logika, atau pendapat pribadi. Akidah hanya boleh bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunah, sehingga tidak ada ruang bagi pendapat-pendapat pribadi maupun perselisihan dalam perkara tersebut.Kedua, perbedaan dalam masalah fikih yang didasarkan pada ijtihad dalam memahami dalil-dalil syariat. Perbedaan semacam ini merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari, karena kemampuan manusia dalam memahami dalil tidaklah sama. Namun demikian, yang wajib adalah mengikuti pendapat yang didukung oleh dalil yang paling kuat. Inilah sikap yang harus ditempuh ketika terdapat perbedaan pendapat.Seorang Muslim hendaknya memberikan perhatian besar terhadap urusan agamanya, melaksanakan apa yang Allah wajibkan kepadanya, serta menjauhi apa yang Allah haramkan baginya. Ia juga harus berusaha menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia terhadap saudara-saudaranya sesama Muslim, bersikap jujur dalam muamalah, menunaikan amanah, serta menjadi teladan yang baik bagi orang lain.Kaum Muslimin juga wajib mendidik diri mereka agar senantiasa berpegang teguh kepada agama, menghiasi diri dengan akhlak dan adab yang mulia, serta menjauhi akhlak yang buruk dan teman-teman yang jelek. Mereka hendaknya memperhatikan segala sesuatu yang bermanfaat bagi urusan agama maupun dunia mereka, serta menjadi pembela agama Islam dan kaum Muslimin.” [6]Wallahu a’lam.***Penulis: Luqman Hasan NahariArtikel Muslim.or.id Sumber: Diterjemahkan dari islamqa.info pada pertanyaan No. 108581. Catatan kaki:[1] Tafsir at-Thabari, 15: 531.[2] Tafsir Ibnu Katsir, 4: 361.[3] Tafsir as-Sa’di, hal. 392.[4] Diriwayatkan oleh Bukhari (no. 100) dan Muslim (no. 2673).[5] Al-I’tisham, 1: 421-423.[6] Al-Muntaqa min Fatawa al-Fawzan, 1: 407, 408, pertanyaan no. 241.
Daftar Isi TogglePerbedaan di antara manusia merupakan sunnatullahBagaimana mungkin kaum Muslimin dapat bersatu dalam perkara apa pun jika bukan di atas tauhid dan akidah yang benar?Sebab pokok perpecahan kaum musliminPertama: Kebodohan (al-jahl)Kedua: Mengikuti hawa nafsu (al-hawa)Ketiga: Taklid buta kepada tradisi dan para pendahulu (at-taqlid al-a’ma)Perbedaan di antara manusia merupakan sunnatullahAdanya perbedaan di antara manusia dalam masalah akidah dan manhaj merupakan sesuatu yang bersifat sunnatullah (ketetapan Allah pada alam semesta). Allah Ta’ala telah mengabarkan kepada kita bahwa hal itu memang akan terjadi di tengah-tengah manusia. Allah juga mengabarkan bahwa Dia Mahakuasa untuk menjadikan seluruh manusia berada di atas satu agama. Akan tetapi, terdapat hikmah yang sangat agung ketika hal itu tidak terjadi. Hal itu agar Allah memberikan pahala kepada orang-orang yang taat dan mentauhidkan-Nya, serta mengazab orang-orang yang bermaksiat dan mempersekutukan-Nya.Seandainya Allah Ta’ala menjadikan seluruh manusia sebagai satu umat, tentu tidak akan tampak keutamaan tauhid dan para pelakunya, serta tidak akan tampak pula buruknya kesyirikan dan para pelakunya. Allah memiliki kebijaksanaan yang menghendaki adanya perbedaan-perbedaan tersebut, sehingga melalui nama-nama dan sifat-sifat Allah tampak nyata pada makhluk-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ ٱلنَّاسَ أُمَّةًۭ وَٰحِدَةًۭ ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَإِلَّا مَن رَّحِمَ رَبُّكَ ۚ وَلِذَٰلِكَ خَلَقَهُمْ ۗ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ ٱلْجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ أَجْمَعِينَ“Seandainya Rabb-mu menghendaki, niscaya Dia jadikan umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabb-mu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Rabb-mu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.” (QS. Hud: 118-119)Ibnu Jarir at-Tabari rahimahullah berkata, “Jika Rabb-mu berkehendak, wahai Muhammad, Dia akan jadikan seluruh manusia menjadi satu kelompok yang mengikuti satu jalan dan satu agama.” [1]Al-Hafiz Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala dalam ayat ini mengabarkan bahwa Dia Mahakuasa untuk menjadikan seluruh manusia sebagai satu umat, baik seluruhnya beriman maupun seluruhnya kafir. Sebagaimana firman-Nya,وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لَـَٔامَنَ مَن فِى ٱلْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنتَ تُكْرِهُ ٱلنَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا۟ مُؤْمِنِينَ“Dan sekiranya Rabbmu menghendaki, tentulah semua orang yang ada di bumi akan beriman seluruhnya. Apakah kamu kemudian akan memaksa orang untuk menjadi orang beriman?” (QS. Yunus: 99)Dan firman-Nya pada surah Hud ayat 119-119.Maksudnya, manusia akan terus-menerus berselisih dalam agama mereka, dalam akidah yang mereka yakini, dalam berbagai firqah (golongan), mazhab, dan pandangan yang mereka anut.” [2]Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata, “Dalam ayat ini, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa seandainya Dia menghendaki, niscaya Dia akan menjadikan seluruh manusia sebagai satu umat yang mengikuti agama Islam. Hal itu sama sekali tidak sulit bagi-Nya, karena tidak ada sesuatu pun yang berada di luar kehendak dan kekuasaan-Nya.Akan tetapi, hikmah-Nya menghendaki agar manusia tetap berselisih dan menyimpang dari jalan yang lurus, menempuh berbagai jalan yang mengantarkan ke neraka. Masing-masing mengira bahwa jalan yang ditempuhnya adalah jalan yang benar, sedangkan kesesatan menurutnya berada pada jalan yang ditempuh oleh orang lain.“Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu” (QS. Hud: 119), yakni orang-orang yang Allah beri taufik untuk mengenal kebenaran, kemudian mengamalkannya, serta bersatu di atasnya. Mereka itulah orang-orang yang ditetapkan memperoleh kebahagiaan, yang mendapatkan perhatian, pertolongan, dan rahmat Allah.Adapun selain mereka, maka Allah membiarkan mereka dengan pilihan mereka sendiri dan tidak memberikan taufik kepada mereka.Firman-Nya, “Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka” (QS. Hud: 119), maksudnya, hikmah Allah menghendaki penciptaan manusia dalam keadaan demikian, sehingga di antara mereka ada orang-orang yang berbahagia (penghuni surga) dan ada orang-orang yang celaka (penghuni neraka), ada yang bersatu di atas kebenaran dan ada yang berselisih, ada golongan yang mendapat petunjuk dari Allah dan ada pula golongan yang layak mendapatkan kesesatan.Semua itu agar keadilan dan hikmah Allah tampak nyata di hadapan hamba-hamba-Nya, serta agar terlihat apa yang tersembunyi dalam diri manusia berupa kebaikan dan keburukan. Dengan demikian, terwujudlah berbagai keadaan yang menuntut adanya jihad di jalan Allah dan berbagai bentuk ibadah yang tidak akan sempurna pelaksanaannya kecuali melalui ujian dan cobaan.” [3]Bagaimana mungkin kaum Muslimin dapat bersatu dalam perkara apa pun jika bukan di atas tauhid dan akidah yang benar?Barang siapa mencermati kondisi kaum Muslimin, niscaya ia akan mendapati bahwa mereka telah terpecah menjadi berbagai mazhab pemikiran, kelompok, golongan, dan ideologi. Masing-masing merasa puas dengan cara mereka sendiri dalam memahami dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunah serta metode yang mereka tempuh dalam mendakwahkan Islam.Oleh karena itu, terjadilah perbedaan, perpecahan, dan tercerai-berainya umat. Seandainya mereka semua berpegang teguh pada satu jalan, satu manhaj, dan satu akidah, niscaya mereka akan bersatu dan menjadi satu umat.Akan tetapi, kebanyakan mereka, terutama para pemimpin kelompok dan golongan, tidak memandang bahwa akidah yang benar merupakan jalan untuk mempersatukan umat. Bahkan mereka beranggapan bahwa pembahasan akidah justru menjadi penyebab perpecahan di tengah kaum Muslimin, sebagaimana dinyatakan oleh sebagian tokoh mereka.Pandangan semacam ini merupakan pandangan yang keliru dan tercela. Selama di tengah kaum Muslimin masih ada orang-orang yang meyakini pemikiran seperti itu, maka persatuan yang hakiki tidak akan pernah terwujud.Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada manusia ketika mereka berada dalam keadaan tercerai-berai menjadi berbagai golongan, kelompok, bangsa, ideologi, dan agama. Di antara mereka ada yang berkulit hitam dan ada yang berkulit putih, ada laki-laki dan perempuan, ada yang buta huruf dan berilmu, ada yang kaya dan miskin, ada pula orang-orang terpandang dan orang-orang biasa.Beliau tidak berusaha mempersatukan mereka di atas dasar bahasa, tanah air, atau pemikiran manusia. Akan tetapi, beliau mempersatukan mereka di atas sesuatu yang ma‘shum (terpelihara dari kesalahan), yang tidak akan dapat didatangi kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yaitu Al-Qur’an dan tauhid.Inilah satu-satunya jalan untuk mempersatukan seluruh manusia, meskipun mereka berbeda dalam cara berpikir, identitas, bahasa, dan negeri tempat tinggal mereka. Manusia tidak akan pernah menemukan sesuatu yang lebih baik daripada landasan ini untuk mempersatukan, menghimpun, dan menumbuhkan persaudaraan di antara mereka.Adapun jika tujuan mempersatukan manusia dibangun di atas pemikiran manusia yang dapat dibantah, ditolak, diubah, dan dikurangi, maka hal itu tidak akan pernah menjadi sarana untuk mewujudkan persatuan kaum Muslimin.Demikian pula jika persatuan dibangun di atas suatu isu politik, maka hal itu tidak akan mampu menyatukan manusia, karena mereka memiliki pemahaman dan pandangan yang berbeda-beda mengenai persoalan tersebut.Begitu juga, tanah air atau kebangsaan tidak dapat menjadi dasar pemersatu kaum Muslimin, karena setiap orang secara fitrah memiliki keterikatan dengan negeri dan tanah air tempat ia berada.Oleh karena itu, kaum Muslimin tidak memiliki pilihan dan tidak memiliki jalan untuk meraih persatuan selain dengan berpegang teguh kepada akidah yang benar, yang landasannya adalah nash-nash wahyu yang ma‘shum. Karena keadaan generasi akhir umat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan sesuatu yang dahulu telah memperbaiki keadaan generasi awal umat ini.Sebab pokok perpecahan kaum musliminSelama faktor-faktor yang menjadi penyebab perpecahan kaum Muslimin masih tetap ada, maka perpecahan akan senantiasa menjadi akibat atau konsekuensi yang tidak dapat dihindari.Para ulama telah menjelaskan berbagai sebab yang melatarbelakangi perpecahan tersebut. Imam Asy-Syathibi rahimahullah merangkum semuanya ke dalam tiga sebab pokok, yaitu: kebodohan (al-jahl), mengikuti hawa nafsu (al-hawa), dan taklid buta kepada nenek moyang dan para tokoh (at-taqlid al-a’ma).Asy-Syathibi rahimahullah mengatakan, “Setiap pendapat yang menyelisihi jalan yang telah disebutkan sebelumnya, yang muncul setelah itu, pada hakikatnya berpangkal pada tiga sebab. Terkadang ketiga sebab itu berkumpul sekaligus, dan terkadang hanya sebagian darinya.”Pertama: Kebodohan (al-jahl)Seseorang mengira, atau orang lain menganggap, bahwa dirinya telah menjadi seorang alim yang layak berbicara dan berijtihad dalam berbagai persoalan agama, padahal ia belum mencapai derajat ilmu yang memungkinkannya untuk itu. Akibatnya, ia berbicara seolah-olah seorang ulama, menganggap pendapatnya benar, dan memandang pendapat yang menyelisihinya sebagai kesalahan.Terkadang ia berbicara mengenai persoalan-persoalan cabang agama, dan terkadang ia berbicara mengenai perkara-perkara pokok Islam, baik yang berkaitan dengan akidah maupun prinsip-prinsip ibadah dan fikih.Bahkan, tidak jarang ia menjadikan sebagian persoalan cabang sebagai alasan untuk meruntuhkan prinsip-prinsip besar dalam agama, hingga prinsip tersebut berubah sesuai dengan pemahamannya sendiri, padahal ia belum benar-benar memahami makna dan tujuan syariat.Inilah keadaan seorang pelaku bid’ah. Tentang orang semacam ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺍﻧْﺘِﺰَﺍﻋَﺎً ﻳَﻨْﺘَﺰِﻋُﻪُ ﻣﻦ ﺍﻟﻌِﺒﺎﺩِ ﻭﻟَﻜِﻦْ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺑِﻘَﺒْﺾِ ﺍﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺣﺘَّﻰ ﺇﺫﺍ ﻟَﻢْ ﻳُﺒْﻖِ ﻋَﺎﻟِﻢٌ ﺍﺗَّﺨَﺬَ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺭﺅﺳَﺎً ﺟُﻬَّﺎﻻً ، ﻓَﺴُﺌِﻠﻮﺍ ﻓَﺄَﻓْﺘَﻮْﺍ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻠْﻢٍ ﻓَﻀَﻠُّﻮﺍ ﻭَﺃَﺿَﻠُّﻮﺍ“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya langsung dari dada manusia. Akan tetapi, Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga ketika tidak ada lagi seorang alim, manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka ditanya, lalu berfatwa tanpa ilmu. Akhirnya, mereka sesat dan menyesatkan orang lain.” (Muttafaqun alaihi) [4]Kedua: Mengikuti hawa nafsu (al-hawa)Sebab lain yang melahirkan perpecahan adalah mengikuti hawa nafsu. Oleh karena itu, para pelaku bid’ah sering disebut sebagai ahlul ahwa’ (pengikut hawa nafsu), karena mereka mengikuti keinginan mereka tanpa merujuk kepada dalil-dalil syariat sebagaimana mestinya.Mereka tidak memandang bahwa pendapat mereka harus dibangun di atas dalil syariat. Sebaliknya, mereka lebih mengutamakan hawa nafsu dan pendapat pribadi, kemudian baru mencari-cari dalil untuk mendukung apa yang telah mereka yakini sebelumnya.Kebanyakan mereka adalah orang-orang yang menjadikan akal semata sebagai ukuran benar dan salah, para pengagum filsafat, dan orang-orang yang mengikuti jalan serupa.Termasuk dalam kelompok ini adalah orang-orang yang mencari kedudukan di sisi para penguasa, mengharapkan keuntungan dunia dari mereka, atau ingin diakui sebagai pemimpin. Oleh karena itu, mereka mengikuti keinginan manusia dan mencari berbagai celah agar dapat memberikan fatwa yang sesuai dengan hawa nafsu mereka. Para ulama telah banyak meriwayatkan kisah-kisah tentang orang-orang yang bergaul dengan para penguasa demi kepentingan dunia.Kelompok pertama, yang lebih mengutamakan akal daripada wahyu, menolak banyak hadis sahih hanya karena bertentangan dengan logika mereka. Mereka juga berburuk sangka terhadap sebagian riwayat yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu lebih memilih pendapat mereka sendiri yang dibangun di atas argumentasi yang rusak.Bahkan mereka mengingkari banyak perkara gaib yang berkaitan dengan akhirat, seperti shirath, mizan, kebangkitan jasad, nikmat dan azab secara nyata, serta mengingkari bahwa kaum mukminin akan melihat Rabb mereka pada hari kiamat, dan berbagai persoalan lainnya.Pada hakikatnya, mereka menjadikan akal sebagai sumber penetapan hukum. Mereka beranggapan bahwa hukum dan perundang-undangan dapat disusun hanya berdasarkan akal, baik ada syariat maupun tidak. Kalaupun mereka menemukan dalil syariat yang sesuai dengan kesimpulan mereka, maka dalil itu hanya dianggap sebagai penguat terhadap pendapat yang telah mereka tetapkan sebelumnya. Selain itu, mereka juga memiliki berbagai penyimpangan lainnya.Ketiga: Taklid buta kepada tradisi dan para pendahulu (at-taqlid al-a’ma)Sebab ketiga yang melahirkan perpecahan adalah fanatik terhadap adat istiadat dan tradisi, sekalipun tradisi tersebut buruk atau bertentangan dengan kebenaran. Bentuknya adalah mengikuti jejak nenek moyang, para tokoh, dan orang-orang terdahulu tanpa dasar ilmu.Inilah taklid yang tercela, yang telah Allah cela dalam Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman,بَلْ قَالُوٓا۟ إِنَّا وَجَدْنَآ ءَابَآءَنَا عَلَىٰٓ أُمَّةٍۢ وَإِنَّا عَلَىٰٓ ءَاثَـٰرِهِم مُّهْتَدُونَ“Bahkan mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan kami hanya mengikuti jejak mereka.'” (QS. Az-Zukhruf: 22)Kemudian Allah berfirman,قَـٰلَ أَوَلَوْ جِئْتُكُم بِأَهْدَىٰ مِمَّا وَجَدتُّمْ عَلَيْهِ ءَابَآءَكُمْ ۖ قَالُوٓا۟ إِنَّا بِمَآ أُرْسِلْتُم بِهِۦ كَـٰفِرُونَ“(Pemberi peringatan itu) berkata, ‘Apakah (kalian tetap mengikutinya) sekalipun aku membawa petunjuk yang lebih benar daripada apa yang kalian dapati pada nenek moyang kalian?’ Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami mengingkari apa yang engkau diutus untuk membawanya.'” (QS. Az-Zukhruf: 24)Allah Ta’ala juga berfirman tentang Nabi Ibrahim ‘alaihis salam,قَالَ هَلْ يَسْمَعُونَكُمْ إِذْ تَدْعُونَ ٧٢ أَوْ يَنفَعُونَكُمْ أَوْ يَضُرُّونَ“Ibrahim berkata, ‘Apakah berhala-berhala itu mendengar ketika kalian berdoa kepadanya? Atau dapatkah mereka memberi manfaat atau mendatangkan mudarat kepada kalian?'” (QS. Asy-Syu’ara’: 72–73)Nabi Ibrahim telah menjelaskan kepada mereka agar mengikuti bukti yang nyata. Akan tetapi, mereka tetap bersikeras bertaklid kepada nenek moyang mereka seraya berkata,قَالُوا۟ بَلْ وَجَدْنَآ ءَابَآءَنَا كَذَٰلِكَ يَفْعَلُونَ“Tidak, tetapi kami hanya mendapati nenek moyang kami melakukan demikian.” (QS. Asy-Syu’ara’: 74)Makna inilah yang juga ditunjukkan oleh hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah disebutkan sebelumnya, “… lalu manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin …” menunjukkan bahaya mengikuti pendapat manusia secara membabi buta tanpa landasan ilmu dan dalil. [5]Berdasarkan penjelasan di atas, tidak mungkin kaum Muslimin dapat bersatu dan bersepakat kecuali di atas tauhid dan akidah yang benar.Dalam Islam, terdapat banyak syiar dan simbol persatuan yang tidak dimiliki oleh agama-agama lain. Di antaranya adalah satu kiblat, satu Al-Qur’an, ibadah haji, serta syiar-syiar Islam lainnya yang menjadi pemersatu kaum Muslimin.Oleh karena itu, kita berharap kaum Muslimin dapat bersatu di atas satu akidah dan satu manhaj dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunah. Adapun perbedaan pendapat yang mungkin muncul setelah itu, maka hal tersebut termasuk perkara yang dapat ditoleransi dan tidak sampai merusak persatuan umat.Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah pernah ditanya, “Apa saja perkara yang diperbolehkan untuk diperselisihkan? Dan perkara apa saja yang tidak boleh diperselisihkan? Apa yang wajib dilakukan oleh kaum Muslimin agar mereka tetap berpegang teguh pada agama mereka?”Beliau menjawab,“Perbedaan pendapat terbagi menjadi dua macam:Pertama, perbedaan dalam masalah akidah. Perbedaan dalam masalah ini tidak diperbolehkan, karena yang wajib bagi kaum Muslimin adalah menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai landasan akidah mereka. Akidah tidak boleh dibangun di atas akal, logika, atau pendapat pribadi. Akidah hanya boleh bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunah, sehingga tidak ada ruang bagi pendapat-pendapat pribadi maupun perselisihan dalam perkara tersebut.Kedua, perbedaan dalam masalah fikih yang didasarkan pada ijtihad dalam memahami dalil-dalil syariat. Perbedaan semacam ini merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari, karena kemampuan manusia dalam memahami dalil tidaklah sama. Namun demikian, yang wajib adalah mengikuti pendapat yang didukung oleh dalil yang paling kuat. Inilah sikap yang harus ditempuh ketika terdapat perbedaan pendapat.Seorang Muslim hendaknya memberikan perhatian besar terhadap urusan agamanya, melaksanakan apa yang Allah wajibkan kepadanya, serta menjauhi apa yang Allah haramkan baginya. Ia juga harus berusaha menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia terhadap saudara-saudaranya sesama Muslim, bersikap jujur dalam muamalah, menunaikan amanah, serta menjadi teladan yang baik bagi orang lain.Kaum Muslimin juga wajib mendidik diri mereka agar senantiasa berpegang teguh kepada agama, menghiasi diri dengan akhlak dan adab yang mulia, serta menjauhi akhlak yang buruk dan teman-teman yang jelek. Mereka hendaknya memperhatikan segala sesuatu yang bermanfaat bagi urusan agama maupun dunia mereka, serta menjadi pembela agama Islam dan kaum Muslimin.” [6]Wallahu a’lam.***Penulis: Luqman Hasan NahariArtikel Muslim.or.id Sumber: Diterjemahkan dari islamqa.info pada pertanyaan No. 108581. Catatan kaki:[1] Tafsir at-Thabari, 15: 531.[2] Tafsir Ibnu Katsir, 4: 361.[3] Tafsir as-Sa’di, hal. 392.[4] Diriwayatkan oleh Bukhari (no. 100) dan Muslim (no. 2673).[5] Al-I’tisham, 1: 421-423.[6] Al-Muntaqa min Fatawa al-Fawzan, 1: 407, 408, pertanyaan no. 241.


Daftar Isi TogglePerbedaan di antara manusia merupakan sunnatullahBagaimana mungkin kaum Muslimin dapat bersatu dalam perkara apa pun jika bukan di atas tauhid dan akidah yang benar?Sebab pokok perpecahan kaum musliminPertama: Kebodohan (al-jahl)Kedua: Mengikuti hawa nafsu (al-hawa)Ketiga: Taklid buta kepada tradisi dan para pendahulu (at-taqlid al-a’ma)Perbedaan di antara manusia merupakan sunnatullahAdanya perbedaan di antara manusia dalam masalah akidah dan manhaj merupakan sesuatu yang bersifat sunnatullah (ketetapan Allah pada alam semesta). Allah Ta’ala telah mengabarkan kepada kita bahwa hal itu memang akan terjadi di tengah-tengah manusia. Allah juga mengabarkan bahwa Dia Mahakuasa untuk menjadikan seluruh manusia berada di atas satu agama. Akan tetapi, terdapat hikmah yang sangat agung ketika hal itu tidak terjadi. Hal itu agar Allah memberikan pahala kepada orang-orang yang taat dan mentauhidkan-Nya, serta mengazab orang-orang yang bermaksiat dan mempersekutukan-Nya.Seandainya Allah Ta’ala menjadikan seluruh manusia sebagai satu umat, tentu tidak akan tampak keutamaan tauhid dan para pelakunya, serta tidak akan tampak pula buruknya kesyirikan dan para pelakunya. Allah memiliki kebijaksanaan yang menghendaki adanya perbedaan-perbedaan tersebut, sehingga melalui nama-nama dan sifat-sifat Allah tampak nyata pada makhluk-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ ٱلنَّاسَ أُمَّةًۭ وَٰحِدَةًۭ ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَإِلَّا مَن رَّحِمَ رَبُّكَ ۚ وَلِذَٰلِكَ خَلَقَهُمْ ۗ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ ٱلْجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ أَجْمَعِينَ“Seandainya Rabb-mu menghendaki, niscaya Dia jadikan umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabb-mu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Rabb-mu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.” (QS. Hud: 118-119)Ibnu Jarir at-Tabari rahimahullah berkata, “Jika Rabb-mu berkehendak, wahai Muhammad, Dia akan jadikan seluruh manusia menjadi satu kelompok yang mengikuti satu jalan dan satu agama.” [1]Al-Hafiz Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala dalam ayat ini mengabarkan bahwa Dia Mahakuasa untuk menjadikan seluruh manusia sebagai satu umat, baik seluruhnya beriman maupun seluruhnya kafir. Sebagaimana firman-Nya,وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لَـَٔامَنَ مَن فِى ٱلْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنتَ تُكْرِهُ ٱلنَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا۟ مُؤْمِنِينَ“Dan sekiranya Rabbmu menghendaki, tentulah semua orang yang ada di bumi akan beriman seluruhnya. Apakah kamu kemudian akan memaksa orang untuk menjadi orang beriman?” (QS. Yunus: 99)Dan firman-Nya pada surah Hud ayat 119-119.Maksudnya, manusia akan terus-menerus berselisih dalam agama mereka, dalam akidah yang mereka yakini, dalam berbagai firqah (golongan), mazhab, dan pandangan yang mereka anut.” [2]Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata, “Dalam ayat ini, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa seandainya Dia menghendaki, niscaya Dia akan menjadikan seluruh manusia sebagai satu umat yang mengikuti agama Islam. Hal itu sama sekali tidak sulit bagi-Nya, karena tidak ada sesuatu pun yang berada di luar kehendak dan kekuasaan-Nya.Akan tetapi, hikmah-Nya menghendaki agar manusia tetap berselisih dan menyimpang dari jalan yang lurus, menempuh berbagai jalan yang mengantarkan ke neraka. Masing-masing mengira bahwa jalan yang ditempuhnya adalah jalan yang benar, sedangkan kesesatan menurutnya berada pada jalan yang ditempuh oleh orang lain.“Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu” (QS. Hud: 119), yakni orang-orang yang Allah beri taufik untuk mengenal kebenaran, kemudian mengamalkannya, serta bersatu di atasnya. Mereka itulah orang-orang yang ditetapkan memperoleh kebahagiaan, yang mendapatkan perhatian, pertolongan, dan rahmat Allah.Adapun selain mereka, maka Allah membiarkan mereka dengan pilihan mereka sendiri dan tidak memberikan taufik kepada mereka.Firman-Nya, “Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka” (QS. Hud: 119), maksudnya, hikmah Allah menghendaki penciptaan manusia dalam keadaan demikian, sehingga di antara mereka ada orang-orang yang berbahagia (penghuni surga) dan ada orang-orang yang celaka (penghuni neraka), ada yang bersatu di atas kebenaran dan ada yang berselisih, ada golongan yang mendapat petunjuk dari Allah dan ada pula golongan yang layak mendapatkan kesesatan.Semua itu agar keadilan dan hikmah Allah tampak nyata di hadapan hamba-hamba-Nya, serta agar terlihat apa yang tersembunyi dalam diri manusia berupa kebaikan dan keburukan. Dengan demikian, terwujudlah berbagai keadaan yang menuntut adanya jihad di jalan Allah dan berbagai bentuk ibadah yang tidak akan sempurna pelaksanaannya kecuali melalui ujian dan cobaan.” [3]Bagaimana mungkin kaum Muslimin dapat bersatu dalam perkara apa pun jika bukan di atas tauhid dan akidah yang benar?Barang siapa mencermati kondisi kaum Muslimin, niscaya ia akan mendapati bahwa mereka telah terpecah menjadi berbagai mazhab pemikiran, kelompok, golongan, dan ideologi. Masing-masing merasa puas dengan cara mereka sendiri dalam memahami dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunah serta metode yang mereka tempuh dalam mendakwahkan Islam.Oleh karena itu, terjadilah perbedaan, perpecahan, dan tercerai-berainya umat. Seandainya mereka semua berpegang teguh pada satu jalan, satu manhaj, dan satu akidah, niscaya mereka akan bersatu dan menjadi satu umat.Akan tetapi, kebanyakan mereka, terutama para pemimpin kelompok dan golongan, tidak memandang bahwa akidah yang benar merupakan jalan untuk mempersatukan umat. Bahkan mereka beranggapan bahwa pembahasan akidah justru menjadi penyebab perpecahan di tengah kaum Muslimin, sebagaimana dinyatakan oleh sebagian tokoh mereka.Pandangan semacam ini merupakan pandangan yang keliru dan tercela. Selama di tengah kaum Muslimin masih ada orang-orang yang meyakini pemikiran seperti itu, maka persatuan yang hakiki tidak akan pernah terwujud.Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada manusia ketika mereka berada dalam keadaan tercerai-berai menjadi berbagai golongan, kelompok, bangsa, ideologi, dan agama. Di antara mereka ada yang berkulit hitam dan ada yang berkulit putih, ada laki-laki dan perempuan, ada yang buta huruf dan berilmu, ada yang kaya dan miskin, ada pula orang-orang terpandang dan orang-orang biasa.Beliau tidak berusaha mempersatukan mereka di atas dasar bahasa, tanah air, atau pemikiran manusia. Akan tetapi, beliau mempersatukan mereka di atas sesuatu yang ma‘shum (terpelihara dari kesalahan), yang tidak akan dapat didatangi kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yaitu Al-Qur’an dan tauhid.Inilah satu-satunya jalan untuk mempersatukan seluruh manusia, meskipun mereka berbeda dalam cara berpikir, identitas, bahasa, dan negeri tempat tinggal mereka. Manusia tidak akan pernah menemukan sesuatu yang lebih baik daripada landasan ini untuk mempersatukan, menghimpun, dan menumbuhkan persaudaraan di antara mereka.Adapun jika tujuan mempersatukan manusia dibangun di atas pemikiran manusia yang dapat dibantah, ditolak, diubah, dan dikurangi, maka hal itu tidak akan pernah menjadi sarana untuk mewujudkan persatuan kaum Muslimin.Demikian pula jika persatuan dibangun di atas suatu isu politik, maka hal itu tidak akan mampu menyatukan manusia, karena mereka memiliki pemahaman dan pandangan yang berbeda-beda mengenai persoalan tersebut.Begitu juga, tanah air atau kebangsaan tidak dapat menjadi dasar pemersatu kaum Muslimin, karena setiap orang secara fitrah memiliki keterikatan dengan negeri dan tanah air tempat ia berada.Oleh karena itu, kaum Muslimin tidak memiliki pilihan dan tidak memiliki jalan untuk meraih persatuan selain dengan berpegang teguh kepada akidah yang benar, yang landasannya adalah nash-nash wahyu yang ma‘shum. Karena keadaan generasi akhir umat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan sesuatu yang dahulu telah memperbaiki keadaan generasi awal umat ini.Sebab pokok perpecahan kaum musliminSelama faktor-faktor yang menjadi penyebab perpecahan kaum Muslimin masih tetap ada, maka perpecahan akan senantiasa menjadi akibat atau konsekuensi yang tidak dapat dihindari.Para ulama telah menjelaskan berbagai sebab yang melatarbelakangi perpecahan tersebut. Imam Asy-Syathibi rahimahullah merangkum semuanya ke dalam tiga sebab pokok, yaitu: kebodohan (al-jahl), mengikuti hawa nafsu (al-hawa), dan taklid buta kepada nenek moyang dan para tokoh (at-taqlid al-a’ma).Asy-Syathibi rahimahullah mengatakan, “Setiap pendapat yang menyelisihi jalan yang telah disebutkan sebelumnya, yang muncul setelah itu, pada hakikatnya berpangkal pada tiga sebab. Terkadang ketiga sebab itu berkumpul sekaligus, dan terkadang hanya sebagian darinya.”Pertama: Kebodohan (al-jahl)Seseorang mengira, atau orang lain menganggap, bahwa dirinya telah menjadi seorang alim yang layak berbicara dan berijtihad dalam berbagai persoalan agama, padahal ia belum mencapai derajat ilmu yang memungkinkannya untuk itu. Akibatnya, ia berbicara seolah-olah seorang ulama, menganggap pendapatnya benar, dan memandang pendapat yang menyelisihinya sebagai kesalahan.Terkadang ia berbicara mengenai persoalan-persoalan cabang agama, dan terkadang ia berbicara mengenai perkara-perkara pokok Islam, baik yang berkaitan dengan akidah maupun prinsip-prinsip ibadah dan fikih.Bahkan, tidak jarang ia menjadikan sebagian persoalan cabang sebagai alasan untuk meruntuhkan prinsip-prinsip besar dalam agama, hingga prinsip tersebut berubah sesuai dengan pemahamannya sendiri, padahal ia belum benar-benar memahami makna dan tujuan syariat.Inilah keadaan seorang pelaku bid’ah. Tentang orang semacam ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺍﻧْﺘِﺰَﺍﻋَﺎً ﻳَﻨْﺘَﺰِﻋُﻪُ ﻣﻦ ﺍﻟﻌِﺒﺎﺩِ ﻭﻟَﻜِﻦْ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺑِﻘَﺒْﺾِ ﺍﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺣﺘَّﻰ ﺇﺫﺍ ﻟَﻢْ ﻳُﺒْﻖِ ﻋَﺎﻟِﻢٌ ﺍﺗَّﺨَﺬَ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺭﺅﺳَﺎً ﺟُﻬَّﺎﻻً ، ﻓَﺴُﺌِﻠﻮﺍ ﻓَﺄَﻓْﺘَﻮْﺍ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻠْﻢٍ ﻓَﻀَﻠُّﻮﺍ ﻭَﺃَﺿَﻠُّﻮﺍ“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya langsung dari dada manusia. Akan tetapi, Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga ketika tidak ada lagi seorang alim, manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka ditanya, lalu berfatwa tanpa ilmu. Akhirnya, mereka sesat dan menyesatkan orang lain.” (Muttafaqun alaihi) [4]Kedua: Mengikuti hawa nafsu (al-hawa)Sebab lain yang melahirkan perpecahan adalah mengikuti hawa nafsu. Oleh karena itu, para pelaku bid’ah sering disebut sebagai ahlul ahwa’ (pengikut hawa nafsu), karena mereka mengikuti keinginan mereka tanpa merujuk kepada dalil-dalil syariat sebagaimana mestinya.Mereka tidak memandang bahwa pendapat mereka harus dibangun di atas dalil syariat. Sebaliknya, mereka lebih mengutamakan hawa nafsu dan pendapat pribadi, kemudian baru mencari-cari dalil untuk mendukung apa yang telah mereka yakini sebelumnya.Kebanyakan mereka adalah orang-orang yang menjadikan akal semata sebagai ukuran benar dan salah, para pengagum filsafat, dan orang-orang yang mengikuti jalan serupa.Termasuk dalam kelompok ini adalah orang-orang yang mencari kedudukan di sisi para penguasa, mengharapkan keuntungan dunia dari mereka, atau ingin diakui sebagai pemimpin. Oleh karena itu, mereka mengikuti keinginan manusia dan mencari berbagai celah agar dapat memberikan fatwa yang sesuai dengan hawa nafsu mereka. Para ulama telah banyak meriwayatkan kisah-kisah tentang orang-orang yang bergaul dengan para penguasa demi kepentingan dunia.Kelompok pertama, yang lebih mengutamakan akal daripada wahyu, menolak banyak hadis sahih hanya karena bertentangan dengan logika mereka. Mereka juga berburuk sangka terhadap sebagian riwayat yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu lebih memilih pendapat mereka sendiri yang dibangun di atas argumentasi yang rusak.Bahkan mereka mengingkari banyak perkara gaib yang berkaitan dengan akhirat, seperti shirath, mizan, kebangkitan jasad, nikmat dan azab secara nyata, serta mengingkari bahwa kaum mukminin akan melihat Rabb mereka pada hari kiamat, dan berbagai persoalan lainnya.Pada hakikatnya, mereka menjadikan akal sebagai sumber penetapan hukum. Mereka beranggapan bahwa hukum dan perundang-undangan dapat disusun hanya berdasarkan akal, baik ada syariat maupun tidak. Kalaupun mereka menemukan dalil syariat yang sesuai dengan kesimpulan mereka, maka dalil itu hanya dianggap sebagai penguat terhadap pendapat yang telah mereka tetapkan sebelumnya. Selain itu, mereka juga memiliki berbagai penyimpangan lainnya.Ketiga: Taklid buta kepada tradisi dan para pendahulu (at-taqlid al-a’ma)Sebab ketiga yang melahirkan perpecahan adalah fanatik terhadap adat istiadat dan tradisi, sekalipun tradisi tersebut buruk atau bertentangan dengan kebenaran. Bentuknya adalah mengikuti jejak nenek moyang, para tokoh, dan orang-orang terdahulu tanpa dasar ilmu.Inilah taklid yang tercela, yang telah Allah cela dalam Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman,بَلْ قَالُوٓا۟ إِنَّا وَجَدْنَآ ءَابَآءَنَا عَلَىٰٓ أُمَّةٍۢ وَإِنَّا عَلَىٰٓ ءَاثَـٰرِهِم مُّهْتَدُونَ“Bahkan mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan kami hanya mengikuti jejak mereka.'” (QS. Az-Zukhruf: 22)Kemudian Allah berfirman,قَـٰلَ أَوَلَوْ جِئْتُكُم بِأَهْدَىٰ مِمَّا وَجَدتُّمْ عَلَيْهِ ءَابَآءَكُمْ ۖ قَالُوٓا۟ إِنَّا بِمَآ أُرْسِلْتُم بِهِۦ كَـٰفِرُونَ“(Pemberi peringatan itu) berkata, ‘Apakah (kalian tetap mengikutinya) sekalipun aku membawa petunjuk yang lebih benar daripada apa yang kalian dapati pada nenek moyang kalian?’ Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami mengingkari apa yang engkau diutus untuk membawanya.'” (QS. Az-Zukhruf: 24)Allah Ta’ala juga berfirman tentang Nabi Ibrahim ‘alaihis salam,قَالَ هَلْ يَسْمَعُونَكُمْ إِذْ تَدْعُونَ ٧٢ أَوْ يَنفَعُونَكُمْ أَوْ يَضُرُّونَ“Ibrahim berkata, ‘Apakah berhala-berhala itu mendengar ketika kalian berdoa kepadanya? Atau dapatkah mereka memberi manfaat atau mendatangkan mudarat kepada kalian?'” (QS. Asy-Syu’ara’: 72–73)Nabi Ibrahim telah menjelaskan kepada mereka agar mengikuti bukti yang nyata. Akan tetapi, mereka tetap bersikeras bertaklid kepada nenek moyang mereka seraya berkata,قَالُوا۟ بَلْ وَجَدْنَآ ءَابَآءَنَا كَذَٰلِكَ يَفْعَلُونَ“Tidak, tetapi kami hanya mendapati nenek moyang kami melakukan demikian.” (QS. Asy-Syu’ara’: 74)Makna inilah yang juga ditunjukkan oleh hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah disebutkan sebelumnya, “… lalu manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin …” menunjukkan bahaya mengikuti pendapat manusia secara membabi buta tanpa landasan ilmu dan dalil. [5]Berdasarkan penjelasan di atas, tidak mungkin kaum Muslimin dapat bersatu dan bersepakat kecuali di atas tauhid dan akidah yang benar.Dalam Islam, terdapat banyak syiar dan simbol persatuan yang tidak dimiliki oleh agama-agama lain. Di antaranya adalah satu kiblat, satu Al-Qur’an, ibadah haji, serta syiar-syiar Islam lainnya yang menjadi pemersatu kaum Muslimin.Oleh karena itu, kita berharap kaum Muslimin dapat bersatu di atas satu akidah dan satu manhaj dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunah. Adapun perbedaan pendapat yang mungkin muncul setelah itu, maka hal tersebut termasuk perkara yang dapat ditoleransi dan tidak sampai merusak persatuan umat.Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah pernah ditanya, “Apa saja perkara yang diperbolehkan untuk diperselisihkan? Dan perkara apa saja yang tidak boleh diperselisihkan? Apa yang wajib dilakukan oleh kaum Muslimin agar mereka tetap berpegang teguh pada agama mereka?”Beliau menjawab,“Perbedaan pendapat terbagi menjadi dua macam:Pertama, perbedaan dalam masalah akidah. Perbedaan dalam masalah ini tidak diperbolehkan, karena yang wajib bagi kaum Muslimin adalah menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai landasan akidah mereka. Akidah tidak boleh dibangun di atas akal, logika, atau pendapat pribadi. Akidah hanya boleh bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunah, sehingga tidak ada ruang bagi pendapat-pendapat pribadi maupun perselisihan dalam perkara tersebut.Kedua, perbedaan dalam masalah fikih yang didasarkan pada ijtihad dalam memahami dalil-dalil syariat. Perbedaan semacam ini merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari, karena kemampuan manusia dalam memahami dalil tidaklah sama. Namun demikian, yang wajib adalah mengikuti pendapat yang didukung oleh dalil yang paling kuat. Inilah sikap yang harus ditempuh ketika terdapat perbedaan pendapat.Seorang Muslim hendaknya memberikan perhatian besar terhadap urusan agamanya, melaksanakan apa yang Allah wajibkan kepadanya, serta menjauhi apa yang Allah haramkan baginya. Ia juga harus berusaha menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia terhadap saudara-saudaranya sesama Muslim, bersikap jujur dalam muamalah, menunaikan amanah, serta menjadi teladan yang baik bagi orang lain.Kaum Muslimin juga wajib mendidik diri mereka agar senantiasa berpegang teguh kepada agama, menghiasi diri dengan akhlak dan adab yang mulia, serta menjauhi akhlak yang buruk dan teman-teman yang jelek. Mereka hendaknya memperhatikan segala sesuatu yang bermanfaat bagi urusan agama maupun dunia mereka, serta menjadi pembela agama Islam dan kaum Muslimin.” [6]Wallahu a’lam.***Penulis: Luqman Hasan NahariArtikel Muslim.or.id Sumber: Diterjemahkan dari islamqa.info pada pertanyaan No. 108581. Catatan kaki:[1] Tafsir at-Thabari, 15: 531.[2] Tafsir Ibnu Katsir, 4: 361.[3] Tafsir as-Sa’di, hal. 392.[4] Diriwayatkan oleh Bukhari (no. 100) dan Muslim (no. 2673).[5] Al-I’tisham, 1: 421-423.[6] Al-Muntaqa min Fatawa al-Fawzan, 1: 407, 408, pertanyaan no. 241.

Enam Dosa yang Dianggap Biasa Saat Perayaan Kemerdekaan

Daftar Isi ToggleCampur baur laki-laki dan perempuan (ikhtilat) tanpa batasMusik dan hiburan yang melalaikanMelupakan syukur kepada AllahMenyerupai lawan jenis (tasyabbuh)Tabarruj dan membuka auratMelalaikan salatKemerdekaan yang hakikiSetiap tanggal 17 Agustus, negeri ini dipenuhi warna dan kegembiraan. Warna merah putih menghiasi jalanan. Lomba-lomba digelar. Panggung hiburan berdiri. Tawa dan sorak sorai terdengar di berbagai sudut kampung dan kota.Tidak ada yang salah dengan bergembira. Islam bukan agama yang mematikan rasa cinta tanah air atau melarang kegembiraan. Namun, kegembiraan dalam Islam memiliki adab. Ia tidak boleh melampaui batas. Ia tidak boleh menjelma menjadi kelalaian. Ia tidak boleh menjadi pintu kemaksiatan. Dan di sinilah ujian itu muncul: ketika kegembiraan berubah menjadi kelalaian, ketika nasionalisme menggeser ketaatan, ketika perayaan menjadi pembenaran atas kemaksiatan.Masalahnya bukan pada perayaannya. Masalahnya adalah ketika batas syariat dihapus atas nama budaya. Ketika dosa dinormalisasi karena “ini kan cuma setahun sekali”. Ketika pelanggaran dianggap kecil karena dilakukan bersama-sama.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan,إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ، لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ“Sesungguhnya seseorang mengucapkan satu kata yang dimurkai Allah, ia tidak menganggapnya penting, namun dengannya ia terjerumus ke dalam neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadis ini menunjukkan bahwa dosa sering kali datang dari hal yang dianggap sepele. Dalam konteks perayaan kemerdekaan, ada beberapa bentuk pelanggaran yang kerap dinormalisasi, bahkan dianggap bagian dari budaya.Berikut ini adalah dosa-dosa yang kerap terjadi saat perayaan kemerdekaan dan sayangnya, dianggap wajar.Campur baur laki-laki dan perempuan (ikhtilat) tanpa batasDalam banyak kegiatan 17-an, kita menyaksikan lomba dan hiburan yang mempertemukan laki-laki dan perempuan. Lomba-lomba dilakukan bercampur baur. Penonton saling berdesakan. Aurat terbuka. Pandangan tidak terjaga. Canda dan tawa menjadi tanpa batas.Padahal Allah Azza wa Jalla telah memerintahkan dengan sangat jelas,قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan mereka.” (QS. An-Nur: 30)Dan kepada para wanita,وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ“Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya…’” (QS. An-Nur: 31)Ikhtilat membuka pintu fitnah. Fitnah membuka pintu zina. Dan zina tidak selalu dimulai dengan perbuatan, tetapi dengan pandangan. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ“Janganlah kalian mendekati zina.” (QS. Al-Isra: 32)Allah tidak berkata “jangan berzina”, tetapi “jangan mendekati”. Dan percampuran bebas adalah salah satu jalannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللّٰـهَ كَـتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنَ الزِّنَا ، أَدْرَكَ ذَلِكَ لَا مَـحَالَـةَ: فَزِنَا الْعَيـْنِ: النَّظَرُ ، وَزِنَا اللّـِسَانِ: الْـمَنْطِـقُ ، وَالنَّـفْسُ تَـمَنَّى وَتَشْتَهِيْ ، وَالْفَـرْجُ يُصَدِّقُ ذلِكَ كُلَّـهُ وَيُـكَذِّبُـهُ“Allah telah menulis atas anak Adam bagiannya dari zina, maka pasti dia menemuinya. Zina kedua matanya adalah memandang, zina lisannya adalah perkataan, zina hatinya adalah berharap dan berangan-angan. Dan itu semua dibenarkan dan didustakan oleh kemaluannya.” (Muttafaqun ‘alaihi)Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabdaمَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ“Aku tidak meninggalkan fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki setelahku selain wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim)Apakah layak kita rayakan kemerdekaan dengan membuka pintu fitnah?Musik dan hiburan yang melalaikanTidak sedikit perayaan kemerdekaan diisi dengan konser, dangdut malam, joget massal, hingga pesta yang jauh dari nilai norma dan kesopanan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ“Akan ada dari umatku orang-orang yang menghalalkan zina, sutra (bagi laki-laki), khamr, dan alat musik.” (HR. Bukhari)Allah Azza wa Jalla juga berfirman,وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ“Dan di antara manusia ada yang membeli perkataan yang melalaikan untuk menyesatkan dari jalan Allah.” (QS. Luqman: 6)Hiburan yang melalaikan menjauhkan hati dari zikir. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَٰلُكُمْ وَلَآ أَوْلَٰدُكُمْ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْخَٰسِرُونَ“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Munafiqun: 9)Jika harta dan anak saja bisa melalaikan, apalagi hiburan yang memang dirancang untuk membuat lupa. Sejatinya, musik menjauhkan hati dari zikir. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Apakah hati akan tenang dengan kebisingan yang menjauhkan dari Allah?Melupakan syukur kepada AllahNikmat kemerdekaan adalah karunia besar dari Allah. Namun, sering kali ia dirayakan tanpa sedikit pun rasa syukur. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ“Segala nikmat yang ada pada kalian berasal dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)Dan Allah Azza wa Jalla memperingatkan,وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)Syukur bukan hanya ucapan “Alhamdulillah”. Syukur adalah menggunakan nikmat dalam ketaatan.Bagaimana mungkin kita bersyukur atas kemerdekaan jika ia digunakan untuk melanggar perintah Allah?Menyerupai lawan jenis (tasyabbuh)Dalam beberapa lomba atau panggung hiburan, sering kali laki-laki berdandan seperti perempuan, memakai pakaian wanita, bersuara lembut menirukan wanita, atau sebaliknya, wanita menyerupai laki-laki. Semua dianggap lucu dan menghibur.Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَعَنَ اللَّهُ الرِّجَالَ الْمُتَشَبِّهِينَ بِالنِّسَاءِ وَالنِّسَاءَ الْمُتَشَبِّهَاتِ بِالرِّجَالِ“Allah melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki.” (HR. Bukhari)Allah Ta’ala juga berfirman,فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 30)Menyerupai lawan jenis adalah bentuk penyimpangan dari fitrah. Dan ketika ia dinormalisasi dalam perayaan, generasi muda akan menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Merayakan kemerdekaan dengan merusak fitrah bukanlah kebebasan. Itu adalah penyimpangan.Tabarruj dan membuka auratPerayaan sering menjadi ajang berhias berlebihan. Pakaian ketat. Aurat terbuka. Riasan mencolok. Semua dianggap bagian dari kemeriahan. Padahal Allah Subhanhu wa Ta’ala berfirman,وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ“Janganlah kalian ber-tabarruj seperti tabarruj jahiliyah dahulu.” (QS. Al-Ahzab: 33)عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا: قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُؤُوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيْحَهَا، وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذَا وَكَذَاDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ada dua golongan penghuni neraka, yang belum pernah aku lihat, yaitu suatu kaum yang memegang cambuk seperti ekor sapi. Mereka mencambuk manusia dengannya. Dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, ia berjalan berlenggak-lenggok menggoyangkan (bahu dan punggungnya) dan rambutnya (disasak) seperti punuk unta yang condong. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium aroma surga, padahal sesungguhnya aroma surga itu tercium sejauh perjalanan sekian dan sekian.’” (HR. Muslim)Kemerdekaan tidak pernah berarti bebas membuka aurat.Kebebasan tidak pernah berarti bebas melanggar perintah Allah.Melalaikan salatBanyak acara berlangsung hingga magrib dan isya terlewat. Salat ditunda. Bahkan ada yang sengaja tidak berjemaah demi mengikuti lomba. Padahal, Allah Ta’ala berfirman,فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ”Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4–5)Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,العهدُ الذي بينَنا وبينَهم الصلاةُ، فمَن تركَها فقد كفرَ“Perjanjian antara kami dan mereka adalah salat. Barang siapa meninggalkannya, maka ia telah kafir.” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)Apakah pantas kemerdekaan dirayakan dengan mengabaikan perintah paling agung dalam Islam?Kemerdekaan yang hakikiKemerdekaan sejati bukan bebas melakukan apa saja. Kemerdekaan sejati adalah ketika hati bebas dari perbudakan hawa nafsu. Allah Azza wa Jalla berfirman,أَفَرَءَيْتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِۦ وَقَلْبِهِۦ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَٰوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِنۢ بَعْدِ ٱللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jatsiyah: 23)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ “Mujahid adalah orang yang berjihad melawan dirinya dalam ketaatan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)Maka, jika kita benar-benar ingin merdeka, merdekalah dari dosa terutama kesyirikan.Merdekalah dari kelalaian.Merdekalah dari budaya yang bertentangan dengan syariat.Rayakan kemerdekaan dengan doa.Dengan syukur dan sedekah.Dengan menjaga adab.Dengan menanamkan iman.Karena pada akhirnya, kemerdekaan terbesar adalah ketika kita berdiri di hadapan Allah dalam keadaan selamat.Wallāhu Ta‘ala a‘lam.***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Enam Dosa yang Dianggap Biasa Saat Perayaan Kemerdekaan

Daftar Isi ToggleCampur baur laki-laki dan perempuan (ikhtilat) tanpa batasMusik dan hiburan yang melalaikanMelupakan syukur kepada AllahMenyerupai lawan jenis (tasyabbuh)Tabarruj dan membuka auratMelalaikan salatKemerdekaan yang hakikiSetiap tanggal 17 Agustus, negeri ini dipenuhi warna dan kegembiraan. Warna merah putih menghiasi jalanan. Lomba-lomba digelar. Panggung hiburan berdiri. Tawa dan sorak sorai terdengar di berbagai sudut kampung dan kota.Tidak ada yang salah dengan bergembira. Islam bukan agama yang mematikan rasa cinta tanah air atau melarang kegembiraan. Namun, kegembiraan dalam Islam memiliki adab. Ia tidak boleh melampaui batas. Ia tidak boleh menjelma menjadi kelalaian. Ia tidak boleh menjadi pintu kemaksiatan. Dan di sinilah ujian itu muncul: ketika kegembiraan berubah menjadi kelalaian, ketika nasionalisme menggeser ketaatan, ketika perayaan menjadi pembenaran atas kemaksiatan.Masalahnya bukan pada perayaannya. Masalahnya adalah ketika batas syariat dihapus atas nama budaya. Ketika dosa dinormalisasi karena “ini kan cuma setahun sekali”. Ketika pelanggaran dianggap kecil karena dilakukan bersama-sama.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan,إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ، لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ“Sesungguhnya seseorang mengucapkan satu kata yang dimurkai Allah, ia tidak menganggapnya penting, namun dengannya ia terjerumus ke dalam neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadis ini menunjukkan bahwa dosa sering kali datang dari hal yang dianggap sepele. Dalam konteks perayaan kemerdekaan, ada beberapa bentuk pelanggaran yang kerap dinormalisasi, bahkan dianggap bagian dari budaya.Berikut ini adalah dosa-dosa yang kerap terjadi saat perayaan kemerdekaan dan sayangnya, dianggap wajar.Campur baur laki-laki dan perempuan (ikhtilat) tanpa batasDalam banyak kegiatan 17-an, kita menyaksikan lomba dan hiburan yang mempertemukan laki-laki dan perempuan. Lomba-lomba dilakukan bercampur baur. Penonton saling berdesakan. Aurat terbuka. Pandangan tidak terjaga. Canda dan tawa menjadi tanpa batas.Padahal Allah Azza wa Jalla telah memerintahkan dengan sangat jelas,قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan mereka.” (QS. An-Nur: 30)Dan kepada para wanita,وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ“Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya…’” (QS. An-Nur: 31)Ikhtilat membuka pintu fitnah. Fitnah membuka pintu zina. Dan zina tidak selalu dimulai dengan perbuatan, tetapi dengan pandangan. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ“Janganlah kalian mendekati zina.” (QS. Al-Isra: 32)Allah tidak berkata “jangan berzina”, tetapi “jangan mendekati”. Dan percampuran bebas adalah salah satu jalannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللّٰـهَ كَـتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنَ الزِّنَا ، أَدْرَكَ ذَلِكَ لَا مَـحَالَـةَ: فَزِنَا الْعَيـْنِ: النَّظَرُ ، وَزِنَا اللّـِسَانِ: الْـمَنْطِـقُ ، وَالنَّـفْسُ تَـمَنَّى وَتَشْتَهِيْ ، وَالْفَـرْجُ يُصَدِّقُ ذلِكَ كُلَّـهُ وَيُـكَذِّبُـهُ“Allah telah menulis atas anak Adam bagiannya dari zina, maka pasti dia menemuinya. Zina kedua matanya adalah memandang, zina lisannya adalah perkataan, zina hatinya adalah berharap dan berangan-angan. Dan itu semua dibenarkan dan didustakan oleh kemaluannya.” (Muttafaqun ‘alaihi)Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabdaمَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ“Aku tidak meninggalkan fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki setelahku selain wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim)Apakah layak kita rayakan kemerdekaan dengan membuka pintu fitnah?Musik dan hiburan yang melalaikanTidak sedikit perayaan kemerdekaan diisi dengan konser, dangdut malam, joget massal, hingga pesta yang jauh dari nilai norma dan kesopanan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ“Akan ada dari umatku orang-orang yang menghalalkan zina, sutra (bagi laki-laki), khamr, dan alat musik.” (HR. Bukhari)Allah Azza wa Jalla juga berfirman,وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ“Dan di antara manusia ada yang membeli perkataan yang melalaikan untuk menyesatkan dari jalan Allah.” (QS. Luqman: 6)Hiburan yang melalaikan menjauhkan hati dari zikir. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَٰلُكُمْ وَلَآ أَوْلَٰدُكُمْ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْخَٰسِرُونَ“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Munafiqun: 9)Jika harta dan anak saja bisa melalaikan, apalagi hiburan yang memang dirancang untuk membuat lupa. Sejatinya, musik menjauhkan hati dari zikir. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Apakah hati akan tenang dengan kebisingan yang menjauhkan dari Allah?Melupakan syukur kepada AllahNikmat kemerdekaan adalah karunia besar dari Allah. Namun, sering kali ia dirayakan tanpa sedikit pun rasa syukur. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ“Segala nikmat yang ada pada kalian berasal dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)Dan Allah Azza wa Jalla memperingatkan,وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)Syukur bukan hanya ucapan “Alhamdulillah”. Syukur adalah menggunakan nikmat dalam ketaatan.Bagaimana mungkin kita bersyukur atas kemerdekaan jika ia digunakan untuk melanggar perintah Allah?Menyerupai lawan jenis (tasyabbuh)Dalam beberapa lomba atau panggung hiburan, sering kali laki-laki berdandan seperti perempuan, memakai pakaian wanita, bersuara lembut menirukan wanita, atau sebaliknya, wanita menyerupai laki-laki. Semua dianggap lucu dan menghibur.Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَعَنَ اللَّهُ الرِّجَالَ الْمُتَشَبِّهِينَ بِالنِّسَاءِ وَالنِّسَاءَ الْمُتَشَبِّهَاتِ بِالرِّجَالِ“Allah melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki.” (HR. Bukhari)Allah Ta’ala juga berfirman,فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 30)Menyerupai lawan jenis adalah bentuk penyimpangan dari fitrah. Dan ketika ia dinormalisasi dalam perayaan, generasi muda akan menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Merayakan kemerdekaan dengan merusak fitrah bukanlah kebebasan. Itu adalah penyimpangan.Tabarruj dan membuka auratPerayaan sering menjadi ajang berhias berlebihan. Pakaian ketat. Aurat terbuka. Riasan mencolok. Semua dianggap bagian dari kemeriahan. Padahal Allah Subhanhu wa Ta’ala berfirman,وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ“Janganlah kalian ber-tabarruj seperti tabarruj jahiliyah dahulu.” (QS. Al-Ahzab: 33)عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا: قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُؤُوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيْحَهَا، وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذَا وَكَذَاDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ada dua golongan penghuni neraka, yang belum pernah aku lihat, yaitu suatu kaum yang memegang cambuk seperti ekor sapi. Mereka mencambuk manusia dengannya. Dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, ia berjalan berlenggak-lenggok menggoyangkan (bahu dan punggungnya) dan rambutnya (disasak) seperti punuk unta yang condong. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium aroma surga, padahal sesungguhnya aroma surga itu tercium sejauh perjalanan sekian dan sekian.’” (HR. Muslim)Kemerdekaan tidak pernah berarti bebas membuka aurat.Kebebasan tidak pernah berarti bebas melanggar perintah Allah.Melalaikan salatBanyak acara berlangsung hingga magrib dan isya terlewat. Salat ditunda. Bahkan ada yang sengaja tidak berjemaah demi mengikuti lomba. Padahal, Allah Ta’ala berfirman,فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ”Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4–5)Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,العهدُ الذي بينَنا وبينَهم الصلاةُ، فمَن تركَها فقد كفرَ“Perjanjian antara kami dan mereka adalah salat. Barang siapa meninggalkannya, maka ia telah kafir.” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)Apakah pantas kemerdekaan dirayakan dengan mengabaikan perintah paling agung dalam Islam?Kemerdekaan yang hakikiKemerdekaan sejati bukan bebas melakukan apa saja. Kemerdekaan sejati adalah ketika hati bebas dari perbudakan hawa nafsu. Allah Azza wa Jalla berfirman,أَفَرَءَيْتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِۦ وَقَلْبِهِۦ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَٰوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِنۢ بَعْدِ ٱللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jatsiyah: 23)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ “Mujahid adalah orang yang berjihad melawan dirinya dalam ketaatan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)Maka, jika kita benar-benar ingin merdeka, merdekalah dari dosa terutama kesyirikan.Merdekalah dari kelalaian.Merdekalah dari budaya yang bertentangan dengan syariat.Rayakan kemerdekaan dengan doa.Dengan syukur dan sedekah.Dengan menjaga adab.Dengan menanamkan iman.Karena pada akhirnya, kemerdekaan terbesar adalah ketika kita berdiri di hadapan Allah dalam keadaan selamat.Wallāhu Ta‘ala a‘lam.***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleCampur baur laki-laki dan perempuan (ikhtilat) tanpa batasMusik dan hiburan yang melalaikanMelupakan syukur kepada AllahMenyerupai lawan jenis (tasyabbuh)Tabarruj dan membuka auratMelalaikan salatKemerdekaan yang hakikiSetiap tanggal 17 Agustus, negeri ini dipenuhi warna dan kegembiraan. Warna merah putih menghiasi jalanan. Lomba-lomba digelar. Panggung hiburan berdiri. Tawa dan sorak sorai terdengar di berbagai sudut kampung dan kota.Tidak ada yang salah dengan bergembira. Islam bukan agama yang mematikan rasa cinta tanah air atau melarang kegembiraan. Namun, kegembiraan dalam Islam memiliki adab. Ia tidak boleh melampaui batas. Ia tidak boleh menjelma menjadi kelalaian. Ia tidak boleh menjadi pintu kemaksiatan. Dan di sinilah ujian itu muncul: ketika kegembiraan berubah menjadi kelalaian, ketika nasionalisme menggeser ketaatan, ketika perayaan menjadi pembenaran atas kemaksiatan.Masalahnya bukan pada perayaannya. Masalahnya adalah ketika batas syariat dihapus atas nama budaya. Ketika dosa dinormalisasi karena “ini kan cuma setahun sekali”. Ketika pelanggaran dianggap kecil karena dilakukan bersama-sama.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan,إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ، لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ“Sesungguhnya seseorang mengucapkan satu kata yang dimurkai Allah, ia tidak menganggapnya penting, namun dengannya ia terjerumus ke dalam neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadis ini menunjukkan bahwa dosa sering kali datang dari hal yang dianggap sepele. Dalam konteks perayaan kemerdekaan, ada beberapa bentuk pelanggaran yang kerap dinormalisasi, bahkan dianggap bagian dari budaya.Berikut ini adalah dosa-dosa yang kerap terjadi saat perayaan kemerdekaan dan sayangnya, dianggap wajar.Campur baur laki-laki dan perempuan (ikhtilat) tanpa batasDalam banyak kegiatan 17-an, kita menyaksikan lomba dan hiburan yang mempertemukan laki-laki dan perempuan. Lomba-lomba dilakukan bercampur baur. Penonton saling berdesakan. Aurat terbuka. Pandangan tidak terjaga. Canda dan tawa menjadi tanpa batas.Padahal Allah Azza wa Jalla telah memerintahkan dengan sangat jelas,قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan mereka.” (QS. An-Nur: 30)Dan kepada para wanita,وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ“Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya…’” (QS. An-Nur: 31)Ikhtilat membuka pintu fitnah. Fitnah membuka pintu zina. Dan zina tidak selalu dimulai dengan perbuatan, tetapi dengan pandangan. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ“Janganlah kalian mendekati zina.” (QS. Al-Isra: 32)Allah tidak berkata “jangan berzina”, tetapi “jangan mendekati”. Dan percampuran bebas adalah salah satu jalannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللّٰـهَ كَـتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنَ الزِّنَا ، أَدْرَكَ ذَلِكَ لَا مَـحَالَـةَ: فَزِنَا الْعَيـْنِ: النَّظَرُ ، وَزِنَا اللّـِسَانِ: الْـمَنْطِـقُ ، وَالنَّـفْسُ تَـمَنَّى وَتَشْتَهِيْ ، وَالْفَـرْجُ يُصَدِّقُ ذلِكَ كُلَّـهُ وَيُـكَذِّبُـهُ“Allah telah menulis atas anak Adam bagiannya dari zina, maka pasti dia menemuinya. Zina kedua matanya adalah memandang, zina lisannya adalah perkataan, zina hatinya adalah berharap dan berangan-angan. Dan itu semua dibenarkan dan didustakan oleh kemaluannya.” (Muttafaqun ‘alaihi)Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabdaمَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ“Aku tidak meninggalkan fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki setelahku selain wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim)Apakah layak kita rayakan kemerdekaan dengan membuka pintu fitnah?Musik dan hiburan yang melalaikanTidak sedikit perayaan kemerdekaan diisi dengan konser, dangdut malam, joget massal, hingga pesta yang jauh dari nilai norma dan kesopanan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ“Akan ada dari umatku orang-orang yang menghalalkan zina, sutra (bagi laki-laki), khamr, dan alat musik.” (HR. Bukhari)Allah Azza wa Jalla juga berfirman,وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ“Dan di antara manusia ada yang membeli perkataan yang melalaikan untuk menyesatkan dari jalan Allah.” (QS. Luqman: 6)Hiburan yang melalaikan menjauhkan hati dari zikir. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَٰلُكُمْ وَلَآ أَوْلَٰدُكُمْ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْخَٰسِرُونَ“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Munafiqun: 9)Jika harta dan anak saja bisa melalaikan, apalagi hiburan yang memang dirancang untuk membuat lupa. Sejatinya, musik menjauhkan hati dari zikir. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Apakah hati akan tenang dengan kebisingan yang menjauhkan dari Allah?Melupakan syukur kepada AllahNikmat kemerdekaan adalah karunia besar dari Allah. Namun, sering kali ia dirayakan tanpa sedikit pun rasa syukur. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ“Segala nikmat yang ada pada kalian berasal dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)Dan Allah Azza wa Jalla memperingatkan,وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)Syukur bukan hanya ucapan “Alhamdulillah”. Syukur adalah menggunakan nikmat dalam ketaatan.Bagaimana mungkin kita bersyukur atas kemerdekaan jika ia digunakan untuk melanggar perintah Allah?Menyerupai lawan jenis (tasyabbuh)Dalam beberapa lomba atau panggung hiburan, sering kali laki-laki berdandan seperti perempuan, memakai pakaian wanita, bersuara lembut menirukan wanita, atau sebaliknya, wanita menyerupai laki-laki. Semua dianggap lucu dan menghibur.Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَعَنَ اللَّهُ الرِّجَالَ الْمُتَشَبِّهِينَ بِالنِّسَاءِ وَالنِّسَاءَ الْمُتَشَبِّهَاتِ بِالرِّجَالِ“Allah melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki.” (HR. Bukhari)Allah Ta’ala juga berfirman,فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 30)Menyerupai lawan jenis adalah bentuk penyimpangan dari fitrah. Dan ketika ia dinormalisasi dalam perayaan, generasi muda akan menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Merayakan kemerdekaan dengan merusak fitrah bukanlah kebebasan. Itu adalah penyimpangan.Tabarruj dan membuka auratPerayaan sering menjadi ajang berhias berlebihan. Pakaian ketat. Aurat terbuka. Riasan mencolok. Semua dianggap bagian dari kemeriahan. Padahal Allah Subhanhu wa Ta’ala berfirman,وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ“Janganlah kalian ber-tabarruj seperti tabarruj jahiliyah dahulu.” (QS. Al-Ahzab: 33)عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا: قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُؤُوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيْحَهَا، وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذَا وَكَذَاDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ada dua golongan penghuni neraka, yang belum pernah aku lihat, yaitu suatu kaum yang memegang cambuk seperti ekor sapi. Mereka mencambuk manusia dengannya. Dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, ia berjalan berlenggak-lenggok menggoyangkan (bahu dan punggungnya) dan rambutnya (disasak) seperti punuk unta yang condong. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium aroma surga, padahal sesungguhnya aroma surga itu tercium sejauh perjalanan sekian dan sekian.’” (HR. Muslim)Kemerdekaan tidak pernah berarti bebas membuka aurat.Kebebasan tidak pernah berarti bebas melanggar perintah Allah.Melalaikan salatBanyak acara berlangsung hingga magrib dan isya terlewat. Salat ditunda. Bahkan ada yang sengaja tidak berjemaah demi mengikuti lomba. Padahal, Allah Ta’ala berfirman,فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ”Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4–5)Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,العهدُ الذي بينَنا وبينَهم الصلاةُ، فمَن تركَها فقد كفرَ“Perjanjian antara kami dan mereka adalah salat. Barang siapa meninggalkannya, maka ia telah kafir.” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)Apakah pantas kemerdekaan dirayakan dengan mengabaikan perintah paling agung dalam Islam?Kemerdekaan yang hakikiKemerdekaan sejati bukan bebas melakukan apa saja. Kemerdekaan sejati adalah ketika hati bebas dari perbudakan hawa nafsu. Allah Azza wa Jalla berfirman,أَفَرَءَيْتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِۦ وَقَلْبِهِۦ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَٰوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِنۢ بَعْدِ ٱللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jatsiyah: 23)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ “Mujahid adalah orang yang berjihad melawan dirinya dalam ketaatan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)Maka, jika kita benar-benar ingin merdeka, merdekalah dari dosa terutama kesyirikan.Merdekalah dari kelalaian.Merdekalah dari budaya yang bertentangan dengan syariat.Rayakan kemerdekaan dengan doa.Dengan syukur dan sedekah.Dengan menjaga adab.Dengan menanamkan iman.Karena pada akhirnya, kemerdekaan terbesar adalah ketika kita berdiri di hadapan Allah dalam keadaan selamat.Wallāhu Ta‘ala a‘lam.***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleCampur baur laki-laki dan perempuan (ikhtilat) tanpa batasMusik dan hiburan yang melalaikanMelupakan syukur kepada AllahMenyerupai lawan jenis (tasyabbuh)Tabarruj dan membuka auratMelalaikan salatKemerdekaan yang hakikiSetiap tanggal 17 Agustus, negeri ini dipenuhi warna dan kegembiraan. Warna merah putih menghiasi jalanan. Lomba-lomba digelar. Panggung hiburan berdiri. Tawa dan sorak sorai terdengar di berbagai sudut kampung dan kota.Tidak ada yang salah dengan bergembira. Islam bukan agama yang mematikan rasa cinta tanah air atau melarang kegembiraan. Namun, kegembiraan dalam Islam memiliki adab. Ia tidak boleh melampaui batas. Ia tidak boleh menjelma menjadi kelalaian. Ia tidak boleh menjadi pintu kemaksiatan. Dan di sinilah ujian itu muncul: ketika kegembiraan berubah menjadi kelalaian, ketika nasionalisme menggeser ketaatan, ketika perayaan menjadi pembenaran atas kemaksiatan.Masalahnya bukan pada perayaannya. Masalahnya adalah ketika batas syariat dihapus atas nama budaya. Ketika dosa dinormalisasi karena “ini kan cuma setahun sekali”. Ketika pelanggaran dianggap kecil karena dilakukan bersama-sama.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan,إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ، لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ“Sesungguhnya seseorang mengucapkan satu kata yang dimurkai Allah, ia tidak menganggapnya penting, namun dengannya ia terjerumus ke dalam neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadis ini menunjukkan bahwa dosa sering kali datang dari hal yang dianggap sepele. Dalam konteks perayaan kemerdekaan, ada beberapa bentuk pelanggaran yang kerap dinormalisasi, bahkan dianggap bagian dari budaya.Berikut ini adalah dosa-dosa yang kerap terjadi saat perayaan kemerdekaan dan sayangnya, dianggap wajar.Campur baur laki-laki dan perempuan (ikhtilat) tanpa batasDalam banyak kegiatan 17-an, kita menyaksikan lomba dan hiburan yang mempertemukan laki-laki dan perempuan. Lomba-lomba dilakukan bercampur baur. Penonton saling berdesakan. Aurat terbuka. Pandangan tidak terjaga. Canda dan tawa menjadi tanpa batas.Padahal Allah Azza wa Jalla telah memerintahkan dengan sangat jelas,قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan mereka.” (QS. An-Nur: 30)Dan kepada para wanita,وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ“Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya…’” (QS. An-Nur: 31)Ikhtilat membuka pintu fitnah. Fitnah membuka pintu zina. Dan zina tidak selalu dimulai dengan perbuatan, tetapi dengan pandangan. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ“Janganlah kalian mendekati zina.” (QS. Al-Isra: 32)Allah tidak berkata “jangan berzina”, tetapi “jangan mendekati”. Dan percampuran bebas adalah salah satu jalannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللّٰـهَ كَـتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنَ الزِّنَا ، أَدْرَكَ ذَلِكَ لَا مَـحَالَـةَ: فَزِنَا الْعَيـْنِ: النَّظَرُ ، وَزِنَا اللّـِسَانِ: الْـمَنْطِـقُ ، وَالنَّـفْسُ تَـمَنَّى وَتَشْتَهِيْ ، وَالْفَـرْجُ يُصَدِّقُ ذلِكَ كُلَّـهُ وَيُـكَذِّبُـهُ“Allah telah menulis atas anak Adam bagiannya dari zina, maka pasti dia menemuinya. Zina kedua matanya adalah memandang, zina lisannya adalah perkataan, zina hatinya adalah berharap dan berangan-angan. Dan itu semua dibenarkan dan didustakan oleh kemaluannya.” (Muttafaqun ‘alaihi)Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabdaمَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ“Aku tidak meninggalkan fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki setelahku selain wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim)Apakah layak kita rayakan kemerdekaan dengan membuka pintu fitnah?Musik dan hiburan yang melalaikanTidak sedikit perayaan kemerdekaan diisi dengan konser, dangdut malam, joget massal, hingga pesta yang jauh dari nilai norma dan kesopanan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ“Akan ada dari umatku orang-orang yang menghalalkan zina, sutra (bagi laki-laki), khamr, dan alat musik.” (HR. Bukhari)Allah Azza wa Jalla juga berfirman,وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ“Dan di antara manusia ada yang membeli perkataan yang melalaikan untuk menyesatkan dari jalan Allah.” (QS. Luqman: 6)Hiburan yang melalaikan menjauhkan hati dari zikir. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَٰلُكُمْ وَلَآ أَوْلَٰدُكُمْ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْخَٰسِرُونَ“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Munafiqun: 9)Jika harta dan anak saja bisa melalaikan, apalagi hiburan yang memang dirancang untuk membuat lupa. Sejatinya, musik menjauhkan hati dari zikir. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Apakah hati akan tenang dengan kebisingan yang menjauhkan dari Allah?Melupakan syukur kepada AllahNikmat kemerdekaan adalah karunia besar dari Allah. Namun, sering kali ia dirayakan tanpa sedikit pun rasa syukur. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ“Segala nikmat yang ada pada kalian berasal dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)Dan Allah Azza wa Jalla memperingatkan,وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)Syukur bukan hanya ucapan “Alhamdulillah”. Syukur adalah menggunakan nikmat dalam ketaatan.Bagaimana mungkin kita bersyukur atas kemerdekaan jika ia digunakan untuk melanggar perintah Allah?Menyerupai lawan jenis (tasyabbuh)Dalam beberapa lomba atau panggung hiburan, sering kali laki-laki berdandan seperti perempuan, memakai pakaian wanita, bersuara lembut menirukan wanita, atau sebaliknya, wanita menyerupai laki-laki. Semua dianggap lucu dan menghibur.Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَعَنَ اللَّهُ الرِّجَالَ الْمُتَشَبِّهِينَ بِالنِّسَاءِ وَالنِّسَاءَ الْمُتَشَبِّهَاتِ بِالرِّجَالِ“Allah melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki.” (HR. Bukhari)Allah Ta’ala juga berfirman,فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 30)Menyerupai lawan jenis adalah bentuk penyimpangan dari fitrah. Dan ketika ia dinormalisasi dalam perayaan, generasi muda akan menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Merayakan kemerdekaan dengan merusak fitrah bukanlah kebebasan. Itu adalah penyimpangan.Tabarruj dan membuka auratPerayaan sering menjadi ajang berhias berlebihan. Pakaian ketat. Aurat terbuka. Riasan mencolok. Semua dianggap bagian dari kemeriahan. Padahal Allah Subhanhu wa Ta’ala berfirman,وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ“Janganlah kalian ber-tabarruj seperti tabarruj jahiliyah dahulu.” (QS. Al-Ahzab: 33)عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا: قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُؤُوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيْحَهَا، وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذَا وَكَذَاDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ada dua golongan penghuni neraka, yang belum pernah aku lihat, yaitu suatu kaum yang memegang cambuk seperti ekor sapi. Mereka mencambuk manusia dengannya. Dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, ia berjalan berlenggak-lenggok menggoyangkan (bahu dan punggungnya) dan rambutnya (disasak) seperti punuk unta yang condong. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium aroma surga, padahal sesungguhnya aroma surga itu tercium sejauh perjalanan sekian dan sekian.’” (HR. Muslim)Kemerdekaan tidak pernah berarti bebas membuka aurat.Kebebasan tidak pernah berarti bebas melanggar perintah Allah.Melalaikan salatBanyak acara berlangsung hingga magrib dan isya terlewat. Salat ditunda. Bahkan ada yang sengaja tidak berjemaah demi mengikuti lomba. Padahal, Allah Ta’ala berfirman,فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ”Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4–5)Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,العهدُ الذي بينَنا وبينَهم الصلاةُ، فمَن تركَها فقد كفرَ“Perjanjian antara kami dan mereka adalah salat. Barang siapa meninggalkannya, maka ia telah kafir.” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)Apakah pantas kemerdekaan dirayakan dengan mengabaikan perintah paling agung dalam Islam?Kemerdekaan yang hakikiKemerdekaan sejati bukan bebas melakukan apa saja. Kemerdekaan sejati adalah ketika hati bebas dari perbudakan hawa nafsu. Allah Azza wa Jalla berfirman,أَفَرَءَيْتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِۦ وَقَلْبِهِۦ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَٰوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِنۢ بَعْدِ ٱللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jatsiyah: 23)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ “Mujahid adalah orang yang berjihad melawan dirinya dalam ketaatan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)Maka, jika kita benar-benar ingin merdeka, merdekalah dari dosa terutama kesyirikan.Merdekalah dari kelalaian.Merdekalah dari budaya yang bertentangan dengan syariat.Rayakan kemerdekaan dengan doa.Dengan syukur dan sedekah.Dengan menjaga adab.Dengan menanamkan iman.Karena pada akhirnya, kemerdekaan terbesar adalah ketika kita berdiri di hadapan Allah dalam keadaan selamat.Wallāhu Ta‘ala a‘lam.***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Sering Cemas Berlebihan? Coba Cara Ibnul Qayyim Mengobati Hati dengan Al-Qur’an

Cara yang benar dalam mencari kesembuhan dengan Al-Qur’an. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Pelajaran dari Rabb kalian dan penyembuh bagi penyakit yang ada di dalam dada.” (QS. Yunus: 57) Kesembuhan yang terdapat dalam Al-Qur’an ini hanyalah dapat diperoleh dengan metode ini, yaitu metode yang disebutkan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. Adapun metode mengobati hati dengan Al-Qur’an adalah dengan tadabur. Apabila ia sampai pada suatu ayat dan mendapati dirinya sangat memerlukan ayat tersebut, misalnya terdapat kekurangan pada dirinya dalam sisi tertentu, atau ada sesuatu yang tidak beres pada sisi tertentu, atau terdapat kekurangan iman pada sisi tertentu, maka ia berhenti pada ayat yang memuat berbagai petunjuk tentang sisi yang masih kurang pada dirinya. Ia mengulang-ulang ayat tersebut dan mentadaburi makna-maknanya, petunjuk-petunjuknya, dan berbagai kandungan yang ditunjukkannya, hingga hatinya sembuh, hingga hatinya memperoleh kesembuhan. Misalnya, sebagian orang memiliki rasa takut, dan keadaan seperti ini banyak terjadi sekarang, yaitu rasa takut yang tidak wajar. Adapun rasa takut yang wajar, itu perkara yang ringan. Namun, orang ini memiliki rasa takut yang tidak wajar, yaitu ia takut terhadap hal-hal yang hanya ada dalam bayangannya. Ia takut terhadap berbagai waswas yang dibisikkan oleh setan, sehingga engkau mendapatinya berada dalam kegelisahan. Seandainya orang ini berhenti dan merenungi firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Sesungguhnya itu hanyalah setan yang menakut-nakuti kalian dengan para pengikutnya… Maka janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar beriman.”(QS. Ali ‘Imran: 175) Lalu ia terus mengulanginya, mengulanginya, mengulanginya, mengulanginya, dan merenungkannya, serta merujuk kitab-kitab tafsir para imam salaf untuk memahami berbagai petunjuk yang terkandung di dalamnya, niscaya ayat itu akan menumbuhkan iman di dalam hatinya. “Maka janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar beriman.”(QS. Ali ‘Imran: 175) Demikian pula dalam perkara tawakal, raja’ (berharap kepada Allah), memohon pertolongan kepada Allah, dan kesabaran. Misalnya ketika tertimpa musibah, ia membaca: “Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) Betapa besar pelipur lara yang terdapat dalam ayat ini bagi orang yang tertimpa musibah ketika ia mengulang-ulangnya: “Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun (sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali).’” (QS. Al-Baqarah: 155–156) Demikian pula terhadap ayat-ayat Al-Qur’an secara umum, ia menerapkan cara yang bermanfaat ini, sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim. Ibnul Qayyim berkata: “Membaca satu ayat dengan tadabur lebih baik daripada membaca satu kali khatam tanpa pemahaman dan tanpa tadabur.” ===== الطَّرِيقَةُ الصَّحِيحَةُ لِلِاسْتِشْفَاءِ بِالْقُرْآنِ قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ هَذَا الشِّفَاءُ الَّذِي فِي الْقُرْآنِ إِنَّمَا يُحَصَّلُ بِهَذِهِ الطَّرِيقَةِ هَذِهِ الطَّرِيقَةِ الَّتِي ذَكَرَهَا الْإِمَامُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ وَطَرِيقَةُ الْمُدَاوَاةِ لِلْقُرْآنِ بِالتَّدَبُّرِ وَإِذَا وَصَلَ إِلَى آيَةٍ وَجَدَ أَنَّهُ مُحْتَاجٌ إِلَيْهَا مِثْلَ أَنْ يَكُونَ عِنْدَهُ تَقْصِيرٌ فِي جَانِبٍ مُعَيَّنٍ أَوْ خَلَلٌ فِي جَانِبٍ مُعَيَّنٍ أَوْ نَقْصٌ فِي الْإِيمَانِ فِي جَانِبٍ مُعَيَّنٍ يَقِفُ عِنْدَ الْآيَةِ الْمُشْتَمِلَةِ عَلَى الْهِدَايَاتِ فِي هَذَا الْجَانِبِ الَّذِي هُوَ مُقَصِّرٌ فِيهِ وَيُكَرِّرُهَا، وَيَتَدَبَّرُ فِي مَعَانِيهَا وَهِدَايَاتِهَا وَدَلَالَاتِهَا حَتَّى يُشْفَى قَلْبُهُ حَتَّى يَحْصُلَ لِقَلْبِهِ الشِّفَاءُ يَعْنِي مَثَلًا بَعْضُ النَّاسِ عِنْدَهُ خَوْفٌ، وَهَذَا كَثِيرٌ الْآنَ خَوْفٌ غَيْرُ طَبِيعِيٍّ الْخَوْفُ الطَّبِيعِيُّ أَمْرُهُ سَهْلٌ لَكِنْ عِنْدَهُ خَوْفٌ غَيْرُ طَبِيعِيٍّ يَعْنِي يَخَافُ مِنْ أَوْهَامٍ، يَخَافُ مِنْ وَسَاوِسَ يُلْقِيهَا الشَّيْطَانُ فَتَجِدُهُ فِي قَلَقٍ لَوْ أَنَّ هَذَا وَقَفَ عِنْدَ قَوْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ وَأَخَذَ يُرَدِّدُهَا وَيُرَدِّدُهَا وَيُرَدِّدُهَا وَيُرَدِّدُهَا وَيَتَأَمَّلُ فِيهَا وَيَسْتَعِينُ بِكُتُبِ التَّفْسِيرِ لِأَئِمَّةِ السَّلَفِ فِي مَعْرِفَةِ هِدَايَاتِهَا، تُثْمِرُ فِي قَلْبِهِ إِيمَانًا فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ وَهَكَذَا فِي بَابِ التَّوَكُّلِ، فِي بَابِ الرَّجَاءِ، فِي بَابِ الِاسْتِعَانَةِ، فِي بَابِ الصَّبْرِ يَعْنِي فِي الْمَصَائِبِ مَثَلًا يَقْرَأُ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ كَمْ فِيهَا مِنْ تَسْلِيَةٍ لِلْمُصَابِ لَمَّا يُرَدِّدُهَا؟ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ وَهَكَذَا فِي عُمُومِ آيَاتِ الْقُرْآنِ يَفْعَلُ هَذِهِ الطَّرِيقَةَ النَّافِعَةَ الَّتِي ذَكَرَهَا ابْنُ الْقَيِّمِ يَقُولُ: قِرَاءَةُ آيَةٍ بِتَدَبُّرٍ خَيْرٌ مِنْ قِرَاءَةِ خَتْمَةٍ بِلَا تَفَهُّمٍ وَلَا تَدَبُّرٍ

Sering Cemas Berlebihan? Coba Cara Ibnul Qayyim Mengobati Hati dengan Al-Qur’an

Cara yang benar dalam mencari kesembuhan dengan Al-Qur’an. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Pelajaran dari Rabb kalian dan penyembuh bagi penyakit yang ada di dalam dada.” (QS. Yunus: 57) Kesembuhan yang terdapat dalam Al-Qur’an ini hanyalah dapat diperoleh dengan metode ini, yaitu metode yang disebutkan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. Adapun metode mengobati hati dengan Al-Qur’an adalah dengan tadabur. Apabila ia sampai pada suatu ayat dan mendapati dirinya sangat memerlukan ayat tersebut, misalnya terdapat kekurangan pada dirinya dalam sisi tertentu, atau ada sesuatu yang tidak beres pada sisi tertentu, atau terdapat kekurangan iman pada sisi tertentu, maka ia berhenti pada ayat yang memuat berbagai petunjuk tentang sisi yang masih kurang pada dirinya. Ia mengulang-ulang ayat tersebut dan mentadaburi makna-maknanya, petunjuk-petunjuknya, dan berbagai kandungan yang ditunjukkannya, hingga hatinya sembuh, hingga hatinya memperoleh kesembuhan. Misalnya, sebagian orang memiliki rasa takut, dan keadaan seperti ini banyak terjadi sekarang, yaitu rasa takut yang tidak wajar. Adapun rasa takut yang wajar, itu perkara yang ringan. Namun, orang ini memiliki rasa takut yang tidak wajar, yaitu ia takut terhadap hal-hal yang hanya ada dalam bayangannya. Ia takut terhadap berbagai waswas yang dibisikkan oleh setan, sehingga engkau mendapatinya berada dalam kegelisahan. Seandainya orang ini berhenti dan merenungi firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Sesungguhnya itu hanyalah setan yang menakut-nakuti kalian dengan para pengikutnya… Maka janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar beriman.”(QS. Ali ‘Imran: 175) Lalu ia terus mengulanginya, mengulanginya, mengulanginya, mengulanginya, dan merenungkannya, serta merujuk kitab-kitab tafsir para imam salaf untuk memahami berbagai petunjuk yang terkandung di dalamnya, niscaya ayat itu akan menumbuhkan iman di dalam hatinya. “Maka janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar beriman.”(QS. Ali ‘Imran: 175) Demikian pula dalam perkara tawakal, raja’ (berharap kepada Allah), memohon pertolongan kepada Allah, dan kesabaran. Misalnya ketika tertimpa musibah, ia membaca: “Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) Betapa besar pelipur lara yang terdapat dalam ayat ini bagi orang yang tertimpa musibah ketika ia mengulang-ulangnya: “Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun (sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali).’” (QS. Al-Baqarah: 155–156) Demikian pula terhadap ayat-ayat Al-Qur’an secara umum, ia menerapkan cara yang bermanfaat ini, sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim. Ibnul Qayyim berkata: “Membaca satu ayat dengan tadabur lebih baik daripada membaca satu kali khatam tanpa pemahaman dan tanpa tadabur.” ===== الطَّرِيقَةُ الصَّحِيحَةُ لِلِاسْتِشْفَاءِ بِالْقُرْآنِ قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ هَذَا الشِّفَاءُ الَّذِي فِي الْقُرْآنِ إِنَّمَا يُحَصَّلُ بِهَذِهِ الطَّرِيقَةِ هَذِهِ الطَّرِيقَةِ الَّتِي ذَكَرَهَا الْإِمَامُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ وَطَرِيقَةُ الْمُدَاوَاةِ لِلْقُرْآنِ بِالتَّدَبُّرِ وَإِذَا وَصَلَ إِلَى آيَةٍ وَجَدَ أَنَّهُ مُحْتَاجٌ إِلَيْهَا مِثْلَ أَنْ يَكُونَ عِنْدَهُ تَقْصِيرٌ فِي جَانِبٍ مُعَيَّنٍ أَوْ خَلَلٌ فِي جَانِبٍ مُعَيَّنٍ أَوْ نَقْصٌ فِي الْإِيمَانِ فِي جَانِبٍ مُعَيَّنٍ يَقِفُ عِنْدَ الْآيَةِ الْمُشْتَمِلَةِ عَلَى الْهِدَايَاتِ فِي هَذَا الْجَانِبِ الَّذِي هُوَ مُقَصِّرٌ فِيهِ وَيُكَرِّرُهَا، وَيَتَدَبَّرُ فِي مَعَانِيهَا وَهِدَايَاتِهَا وَدَلَالَاتِهَا حَتَّى يُشْفَى قَلْبُهُ حَتَّى يَحْصُلَ لِقَلْبِهِ الشِّفَاءُ يَعْنِي مَثَلًا بَعْضُ النَّاسِ عِنْدَهُ خَوْفٌ، وَهَذَا كَثِيرٌ الْآنَ خَوْفٌ غَيْرُ طَبِيعِيٍّ الْخَوْفُ الطَّبِيعِيُّ أَمْرُهُ سَهْلٌ لَكِنْ عِنْدَهُ خَوْفٌ غَيْرُ طَبِيعِيٍّ يَعْنِي يَخَافُ مِنْ أَوْهَامٍ، يَخَافُ مِنْ وَسَاوِسَ يُلْقِيهَا الشَّيْطَانُ فَتَجِدُهُ فِي قَلَقٍ لَوْ أَنَّ هَذَا وَقَفَ عِنْدَ قَوْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ وَأَخَذَ يُرَدِّدُهَا وَيُرَدِّدُهَا وَيُرَدِّدُهَا وَيُرَدِّدُهَا وَيَتَأَمَّلُ فِيهَا وَيَسْتَعِينُ بِكُتُبِ التَّفْسِيرِ لِأَئِمَّةِ السَّلَفِ فِي مَعْرِفَةِ هِدَايَاتِهَا، تُثْمِرُ فِي قَلْبِهِ إِيمَانًا فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ وَهَكَذَا فِي بَابِ التَّوَكُّلِ، فِي بَابِ الرَّجَاءِ، فِي بَابِ الِاسْتِعَانَةِ، فِي بَابِ الصَّبْرِ يَعْنِي فِي الْمَصَائِبِ مَثَلًا يَقْرَأُ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ كَمْ فِيهَا مِنْ تَسْلِيَةٍ لِلْمُصَابِ لَمَّا يُرَدِّدُهَا؟ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ وَهَكَذَا فِي عُمُومِ آيَاتِ الْقُرْآنِ يَفْعَلُ هَذِهِ الطَّرِيقَةَ النَّافِعَةَ الَّتِي ذَكَرَهَا ابْنُ الْقَيِّمِ يَقُولُ: قِرَاءَةُ آيَةٍ بِتَدَبُّرٍ خَيْرٌ مِنْ قِرَاءَةِ خَتْمَةٍ بِلَا تَفَهُّمٍ وَلَا تَدَبُّرٍ
Cara yang benar dalam mencari kesembuhan dengan Al-Qur’an. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Pelajaran dari Rabb kalian dan penyembuh bagi penyakit yang ada di dalam dada.” (QS. Yunus: 57) Kesembuhan yang terdapat dalam Al-Qur’an ini hanyalah dapat diperoleh dengan metode ini, yaitu metode yang disebutkan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. Adapun metode mengobati hati dengan Al-Qur’an adalah dengan tadabur. Apabila ia sampai pada suatu ayat dan mendapati dirinya sangat memerlukan ayat tersebut, misalnya terdapat kekurangan pada dirinya dalam sisi tertentu, atau ada sesuatu yang tidak beres pada sisi tertentu, atau terdapat kekurangan iman pada sisi tertentu, maka ia berhenti pada ayat yang memuat berbagai petunjuk tentang sisi yang masih kurang pada dirinya. Ia mengulang-ulang ayat tersebut dan mentadaburi makna-maknanya, petunjuk-petunjuknya, dan berbagai kandungan yang ditunjukkannya, hingga hatinya sembuh, hingga hatinya memperoleh kesembuhan. Misalnya, sebagian orang memiliki rasa takut, dan keadaan seperti ini banyak terjadi sekarang, yaitu rasa takut yang tidak wajar. Adapun rasa takut yang wajar, itu perkara yang ringan. Namun, orang ini memiliki rasa takut yang tidak wajar, yaitu ia takut terhadap hal-hal yang hanya ada dalam bayangannya. Ia takut terhadap berbagai waswas yang dibisikkan oleh setan, sehingga engkau mendapatinya berada dalam kegelisahan. Seandainya orang ini berhenti dan merenungi firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Sesungguhnya itu hanyalah setan yang menakut-nakuti kalian dengan para pengikutnya… Maka janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar beriman.”(QS. Ali ‘Imran: 175) Lalu ia terus mengulanginya, mengulanginya, mengulanginya, mengulanginya, dan merenungkannya, serta merujuk kitab-kitab tafsir para imam salaf untuk memahami berbagai petunjuk yang terkandung di dalamnya, niscaya ayat itu akan menumbuhkan iman di dalam hatinya. “Maka janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar beriman.”(QS. Ali ‘Imran: 175) Demikian pula dalam perkara tawakal, raja’ (berharap kepada Allah), memohon pertolongan kepada Allah, dan kesabaran. Misalnya ketika tertimpa musibah, ia membaca: “Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) Betapa besar pelipur lara yang terdapat dalam ayat ini bagi orang yang tertimpa musibah ketika ia mengulang-ulangnya: “Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun (sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali).’” (QS. Al-Baqarah: 155–156) Demikian pula terhadap ayat-ayat Al-Qur’an secara umum, ia menerapkan cara yang bermanfaat ini, sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim. Ibnul Qayyim berkata: “Membaca satu ayat dengan tadabur lebih baik daripada membaca satu kali khatam tanpa pemahaman dan tanpa tadabur.” ===== الطَّرِيقَةُ الصَّحِيحَةُ لِلِاسْتِشْفَاءِ بِالْقُرْآنِ قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ هَذَا الشِّفَاءُ الَّذِي فِي الْقُرْآنِ إِنَّمَا يُحَصَّلُ بِهَذِهِ الطَّرِيقَةِ هَذِهِ الطَّرِيقَةِ الَّتِي ذَكَرَهَا الْإِمَامُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ وَطَرِيقَةُ الْمُدَاوَاةِ لِلْقُرْآنِ بِالتَّدَبُّرِ وَإِذَا وَصَلَ إِلَى آيَةٍ وَجَدَ أَنَّهُ مُحْتَاجٌ إِلَيْهَا مِثْلَ أَنْ يَكُونَ عِنْدَهُ تَقْصِيرٌ فِي جَانِبٍ مُعَيَّنٍ أَوْ خَلَلٌ فِي جَانِبٍ مُعَيَّنٍ أَوْ نَقْصٌ فِي الْإِيمَانِ فِي جَانِبٍ مُعَيَّنٍ يَقِفُ عِنْدَ الْآيَةِ الْمُشْتَمِلَةِ عَلَى الْهِدَايَاتِ فِي هَذَا الْجَانِبِ الَّذِي هُوَ مُقَصِّرٌ فِيهِ وَيُكَرِّرُهَا، وَيَتَدَبَّرُ فِي مَعَانِيهَا وَهِدَايَاتِهَا وَدَلَالَاتِهَا حَتَّى يُشْفَى قَلْبُهُ حَتَّى يَحْصُلَ لِقَلْبِهِ الشِّفَاءُ يَعْنِي مَثَلًا بَعْضُ النَّاسِ عِنْدَهُ خَوْفٌ، وَهَذَا كَثِيرٌ الْآنَ خَوْفٌ غَيْرُ طَبِيعِيٍّ الْخَوْفُ الطَّبِيعِيُّ أَمْرُهُ سَهْلٌ لَكِنْ عِنْدَهُ خَوْفٌ غَيْرُ طَبِيعِيٍّ يَعْنِي يَخَافُ مِنْ أَوْهَامٍ، يَخَافُ مِنْ وَسَاوِسَ يُلْقِيهَا الشَّيْطَانُ فَتَجِدُهُ فِي قَلَقٍ لَوْ أَنَّ هَذَا وَقَفَ عِنْدَ قَوْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ وَأَخَذَ يُرَدِّدُهَا وَيُرَدِّدُهَا وَيُرَدِّدُهَا وَيُرَدِّدُهَا وَيَتَأَمَّلُ فِيهَا وَيَسْتَعِينُ بِكُتُبِ التَّفْسِيرِ لِأَئِمَّةِ السَّلَفِ فِي مَعْرِفَةِ هِدَايَاتِهَا، تُثْمِرُ فِي قَلْبِهِ إِيمَانًا فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ وَهَكَذَا فِي بَابِ التَّوَكُّلِ، فِي بَابِ الرَّجَاءِ، فِي بَابِ الِاسْتِعَانَةِ، فِي بَابِ الصَّبْرِ يَعْنِي فِي الْمَصَائِبِ مَثَلًا يَقْرَأُ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ كَمْ فِيهَا مِنْ تَسْلِيَةٍ لِلْمُصَابِ لَمَّا يُرَدِّدُهَا؟ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ وَهَكَذَا فِي عُمُومِ آيَاتِ الْقُرْآنِ يَفْعَلُ هَذِهِ الطَّرِيقَةَ النَّافِعَةَ الَّتِي ذَكَرَهَا ابْنُ الْقَيِّمِ يَقُولُ: قِرَاءَةُ آيَةٍ بِتَدَبُّرٍ خَيْرٌ مِنْ قِرَاءَةِ خَتْمَةٍ بِلَا تَفَهُّمٍ وَلَا تَدَبُّرٍ


Cara yang benar dalam mencari kesembuhan dengan Al-Qur’an. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Pelajaran dari Rabb kalian dan penyembuh bagi penyakit yang ada di dalam dada.” (QS. Yunus: 57) Kesembuhan yang terdapat dalam Al-Qur’an ini hanyalah dapat diperoleh dengan metode ini, yaitu metode yang disebutkan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. Adapun metode mengobati hati dengan Al-Qur’an adalah dengan tadabur. Apabila ia sampai pada suatu ayat dan mendapati dirinya sangat memerlukan ayat tersebut, misalnya terdapat kekurangan pada dirinya dalam sisi tertentu, atau ada sesuatu yang tidak beres pada sisi tertentu, atau terdapat kekurangan iman pada sisi tertentu, maka ia berhenti pada ayat yang memuat berbagai petunjuk tentang sisi yang masih kurang pada dirinya. Ia mengulang-ulang ayat tersebut dan mentadaburi makna-maknanya, petunjuk-petunjuknya, dan berbagai kandungan yang ditunjukkannya, hingga hatinya sembuh, hingga hatinya memperoleh kesembuhan. Misalnya, sebagian orang memiliki rasa takut, dan keadaan seperti ini banyak terjadi sekarang, yaitu rasa takut yang tidak wajar. Adapun rasa takut yang wajar, itu perkara yang ringan. Namun, orang ini memiliki rasa takut yang tidak wajar, yaitu ia takut terhadap hal-hal yang hanya ada dalam bayangannya. Ia takut terhadap berbagai waswas yang dibisikkan oleh setan, sehingga engkau mendapatinya berada dalam kegelisahan. Seandainya orang ini berhenti dan merenungi firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Sesungguhnya itu hanyalah setan yang menakut-nakuti kalian dengan para pengikutnya… Maka janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar beriman.”(QS. Ali ‘Imran: 175) Lalu ia terus mengulanginya, mengulanginya, mengulanginya, mengulanginya, dan merenungkannya, serta merujuk kitab-kitab tafsir para imam salaf untuk memahami berbagai petunjuk yang terkandung di dalamnya, niscaya ayat itu akan menumbuhkan iman di dalam hatinya. “Maka janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar beriman.”(QS. Ali ‘Imran: 175) Demikian pula dalam perkara tawakal, raja’ (berharap kepada Allah), memohon pertolongan kepada Allah, dan kesabaran. Misalnya ketika tertimpa musibah, ia membaca: “Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) Betapa besar pelipur lara yang terdapat dalam ayat ini bagi orang yang tertimpa musibah ketika ia mengulang-ulangnya: “Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun (sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali).’” (QS. Al-Baqarah: 155–156) Demikian pula terhadap ayat-ayat Al-Qur’an secara umum, ia menerapkan cara yang bermanfaat ini, sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim. Ibnul Qayyim berkata: “Membaca satu ayat dengan tadabur lebih baik daripada membaca satu kali khatam tanpa pemahaman dan tanpa tadabur.” ===== الطَّرِيقَةُ الصَّحِيحَةُ لِلِاسْتِشْفَاءِ بِالْقُرْآنِ قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ هَذَا الشِّفَاءُ الَّذِي فِي الْقُرْآنِ إِنَّمَا يُحَصَّلُ بِهَذِهِ الطَّرِيقَةِ هَذِهِ الطَّرِيقَةِ الَّتِي ذَكَرَهَا الْإِمَامُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ وَطَرِيقَةُ الْمُدَاوَاةِ لِلْقُرْآنِ بِالتَّدَبُّرِ وَإِذَا وَصَلَ إِلَى آيَةٍ وَجَدَ أَنَّهُ مُحْتَاجٌ إِلَيْهَا مِثْلَ أَنْ يَكُونَ عِنْدَهُ تَقْصِيرٌ فِي جَانِبٍ مُعَيَّنٍ أَوْ خَلَلٌ فِي جَانِبٍ مُعَيَّنٍ أَوْ نَقْصٌ فِي الْإِيمَانِ فِي جَانِبٍ مُعَيَّنٍ يَقِفُ عِنْدَ الْآيَةِ الْمُشْتَمِلَةِ عَلَى الْهِدَايَاتِ فِي هَذَا الْجَانِبِ الَّذِي هُوَ مُقَصِّرٌ فِيهِ وَيُكَرِّرُهَا، وَيَتَدَبَّرُ فِي مَعَانِيهَا وَهِدَايَاتِهَا وَدَلَالَاتِهَا حَتَّى يُشْفَى قَلْبُهُ حَتَّى يَحْصُلَ لِقَلْبِهِ الشِّفَاءُ يَعْنِي مَثَلًا بَعْضُ النَّاسِ عِنْدَهُ خَوْفٌ، وَهَذَا كَثِيرٌ الْآنَ خَوْفٌ غَيْرُ طَبِيعِيٍّ الْخَوْفُ الطَّبِيعِيُّ أَمْرُهُ سَهْلٌ لَكِنْ عِنْدَهُ خَوْفٌ غَيْرُ طَبِيعِيٍّ يَعْنِي يَخَافُ مِنْ أَوْهَامٍ، يَخَافُ مِنْ وَسَاوِسَ يُلْقِيهَا الشَّيْطَانُ فَتَجِدُهُ فِي قَلَقٍ لَوْ أَنَّ هَذَا وَقَفَ عِنْدَ قَوْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ وَأَخَذَ يُرَدِّدُهَا وَيُرَدِّدُهَا وَيُرَدِّدُهَا وَيُرَدِّدُهَا وَيَتَأَمَّلُ فِيهَا وَيَسْتَعِينُ بِكُتُبِ التَّفْسِيرِ لِأَئِمَّةِ السَّلَفِ فِي مَعْرِفَةِ هِدَايَاتِهَا، تُثْمِرُ فِي قَلْبِهِ إِيمَانًا فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ وَهَكَذَا فِي بَابِ التَّوَكُّلِ، فِي بَابِ الرَّجَاءِ، فِي بَابِ الِاسْتِعَانَةِ، فِي بَابِ الصَّبْرِ يَعْنِي فِي الْمَصَائِبِ مَثَلًا يَقْرَأُ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ كَمْ فِيهَا مِنْ تَسْلِيَةٍ لِلْمُصَابِ لَمَّا يُرَدِّدُهَا؟ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ وَهَكَذَا فِي عُمُومِ آيَاتِ الْقُرْآنِ يَفْعَلُ هَذِهِ الطَّرِيقَةَ النَّافِعَةَ الَّتِي ذَكَرَهَا ابْنُ الْقَيِّمِ يَقُولُ: قِرَاءَةُ آيَةٍ بِتَدَبُّرٍ خَيْرٌ مِنْ قِرَاءَةِ خَتْمَةٍ بِلَا تَفَهُّمٍ وَلَا تَدَبُّرٍ
Prev     Next