Allah Mengganti yang Hilang

Daftar Isi ToggleJanji Allah dalam Al-Qur’anApakah kehilangan bisa tergantikan?Luka yang mengantarkan kepada AllahAllah tidak pernah mengambil tanpa memberiHarapanKehilangan adalah salah satu ujian paling berat dalam hidup manusia. Tidak ada yang benar-benar siap apabila diuji dengan musibah kehilangan sosok yang dicintai—ayah, ibu, saudara, pasangan, atau bahkan anak. Luka itu nyata, sunyi itu terasa, dan rindu itu tidak pernah benar-benar pergi.Mungkin seringkali kita mendengar berbagai kalimat nasihat untuk menenangkan hati yang dilanda duka, “Allah akan mengganti dengan yang lebih baik.” Namun, jujur saja, kalimat ini terasa ringan di lisan yang menasihati, tetapi berat di hati orang yang sedang merasakan kehilangan. Bahkan, tidak sedikit yang merasa bahwa nasihat seperti ini hanya mudah diucapkan oleh mereka yang belum pernah kehilangan.Saudaraku, tulisan ini adalah refleksi dari seseorang yang juga telah merasakan kehilangan, kehilangan seorang ayah dan adik kandung. Luka itu nyata. Namun, di balik luka itu, ada janji Allah yang perlahan-lahan mulai terasa kebenarannya.Janji Allah dalam Al-Qur’anAllah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّمَن فِىٓ أَيْدِيكُم مِّنَ ٱلْأَسْرَىٰٓ إِن يَعْلَمِ ٱللَّهُ فِى قُلُوبِكُمْ خَيْرًا يُؤْتِكُمْ خَيْرًا مِّمَّآ أُخِذَ مِنكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Wahai Nabi, katakanlah kepada para tawanan yang ada di tanganmu: jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil darimu dan Dia akan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Anfal: 70)Ayat ini turun dalam konteks tawanan perang. Mereka (para tawanan) telah kehilangan harta, kebebasan, bahkan keluarga. Namun, Allah memberikan prinsip yang sangat agung dalam ayat ini, yaitu “Jika ada kebaikan dalam hati, Allah akan mengganti dengan yang lebih baik dari apa yang hilang.”Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “kebaikan” dalam ayat ini adalah iman dan niat yang tulus dalam hati. Jika hal tersebut ada pada diri seseorang, maka Allah akan memberikan kepadanya pengganti yang lebih baik dari apa yang telah diambil darinya, serta mengampuni dosa-dosanya. Pengganti tersebut bisa berupa kebaikan di dunia, maupun balasan di akhirat. [1]Baca juga: Mengokohkan Iman dengan Mengingat Janji-Janji AllahApakah kehilangan bisa tergantikan?Secara manusiawi, kita merasa bahwa ada kehilangan yang tidak tergantikan. Bagaimana mungkin seorang ayah bisa tergantikan? Bagaimana mungkin sosok adik yang penuh kenangan bisa diganti? Jawabannya: tentu tidak tergantikan secara bentuk, tetapi diganti dalam makna.Tentu, Allah Ta’ala tidak selalu mengganti dengan hal yang sama. Namun, Allah Ta’ala mengganti dengan sesuatu yang lebih menguatkan hati, lebih mendekatkan kepada-Nya, dan lebih bernilai dalam kehidupan kita.Ibn al-Qayyim rahihamullah mengatakan bahwa siapa saja yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya. Ini merupakan kaidah agung dalam kehidupan seorang mukmin, bahwa setiap pengorbanan yang dilakukan karena Allah itu tidak akan sia-sia, bahkan akan diganti dengan kebaikan yang lebih besar. [2]Saudaraku, kehilangan itu kadang, kalau kita coba merenungi, bisa menjadi anugerah dari Allah Ta’ala dalam bentuk dan makna yang bermanfaat bagi kehidupan duniawi dan ukhrawi kita. Seperti kedewasaan yang tidak pernah kita miliki sebelumnya. Karena dengan kehilangan orang yang kita cintai, kita belajar bagaimana menerima dan ikhlas dengan ketetapan Allah Ta’ala sehingga iman kita pun bertambah.Pun, dari sisi kedekatan dengan Allah yang tidak pernah kita rasakan sebelumnya. Bagaimana seseorang mengadu kepada Allah Ta’ala atas perihnya rindu kepada orang yang ia cintai. Akhirnya, ia pun rutin untuk selalu beribadah dan ber-taqarrub kepada Allah, karena ia tahu bahwa setiap doa yang ia panjatkan, khususnya kepada orang tua yang telah tiada, pahalanya akan sampai.Begitu pula dapat berupa hati yang lebih lembut dan penuh empati. Saat melihat orang yang sedang ditimpa cobaan yang sama (kehilangan), maka timbul rasa empati yang tinggi. Sehingga ia pun dengan mudah membantu saudaranya yang sedang dilanda duka, baik dari sisi materi maupun immateri.Luka yang mengantarkan kepada AllahKehilangan seringkali menjadi titik balik kehidupan seseorang. Saat semua sandaran dunia hilang, ayah atau ibu pergi selamanya, tak ada lagi tempat untuk mencurahkan kasih sayang, barulah kita benar-benar bersandar kepada Allah Ta’ala. Andai di balik kembali, misalnya, sebelum musibah terjadi, bisa saja kita cenderung tak peduli dengan kewajiban kita sebagai hamba.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada diri seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999 dari Shuhaib radhiyallahu ‘anhu)Ketika mendapatkan nikmat, ia bersyukur. Ketika ditimpa musibah, ia bersabar. Dan keduanya adalah kebaikan. Inilah ciri khas dan keutamaan seorang mukmin, apabila ia benar-benar menyadari dan mengilmuinya.Ketika kita tengah menghadapi musibah kehilangan, maka ingatlah bahwa kesabaran bukan berarti tidak menangis. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menangis saat kehilangan putranya, Ibrahim. Namun, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ العَيْنَ تَدْمَعُ، وَالقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلاَ نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا، وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ“Kedua mata boleh mencucurkan air mata, hati boleh bersedih, hanya kita tidaklah mengatakan kecuali apa yang diridai oleh Rabb kita. Dan kami dengan perpisahan ini, wahai Ibrahim, pastilah bersedih.” (HR. Bukhari no. 1303 dan Muslim no. 62)Ini adalah bentuk kesedihan yang benar—sedih, tetapi tetap dalam iman. Sebab dengan ilmu yang benar, maka kita dapat menempatkan sisi fitrah kemanusiaan kita dengan benar pula sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa melanggar batasan yang telah Allah tetapkan.Allah tidak pernah mengambil tanpa memberiSalah satu keyakinan terindah dalam Islam adalah bahwasanya Allah Ta’ala tidak mengambil sesuatu kecuali Dia akan memberi yang lebih baik. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَجَرَهُ اللَّهُ فِى مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا“Siapa saja dari hamba yang tertimpa suatu musibah, lalu ia mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un. Allahumma’jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa [Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah ang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik].” (HR. Sahih Muslim no. 918)Saudaraku, perhatikanlah! Ini adalah janji mulia Allah Ta’ala untuk kita hamba-hamba-Nya. Namun, pengganti itu tidak selalu cepat, tidak selalu terlihat, dan tidak selalu dalam bentuk yang kita harapkan. Tetapi pastikan, ganti itu pasti ada.HarapanBagi siapa pun yang sedang kehilangan, ketahuilah bahwa luka ini bukan akhir dari segalanya. Ini adalah bagian dari perjalanan menuju Allah.Dan bagi yang mungkin masih sulit menerima nasihat seperti ini, itu wajar. Karena kehilangan tidak bisa disembuhkan dengan kata-kata, tetapi dengan waktu, doa, dan kedekatan kepada Allah. Namun percayalah, suatu hari nanti kita akan memahami bahwa apa yang telah Allah ambil, bukan untuk menyakiti kita. Akan tetapi, itu untuk mengganti dengan sesuatu yang lebih baik. Mungkin bukan di dunia… tetapi pasti di akhirat.Memang, kehilangan seseorang yang kita cintai adalah luka yang sangat menyakitkan. Namun dalam Islam, luka itu tidak sia-sia. Setiap air mata, setiap rasa rindu, setiap kesabaran, semuanya bernilai di sisi Allah Ta’ala, asalkan kita benar-benar memahami konsepnya. Paham dan yakin akan takdir atau ketetapan Allah Ta’ala. Kemudian berikhtiar semaksimal mungkin untuk bersabar dalam menghadapinya.Jika hari ini kita merasa kehilangan, maka ingatlah janji-Nya, Allah akan mengganti. Dan ketika saat itu tiba, kita akan sadar bahwa Allah tidak pernah salah dalam mengambil sesuatu dari hidup kita.Wallahu a’lam.Baca juga: Bersabar atas Musibah Kehilangan Anak***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Tahqiq: Sami bin Muhammad Salamah. Riyadh: Dar Thayyibah, 1999. Jilid 4, hal. 40–41 (tafsir QS. Al-Anfal: 70).[2] Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Madarij as-Salikin baina Manazil Iyyaka Na‘budu wa Iyyaka Nasta‘in. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003. Jilid 2, hal. 273.

Allah Mengganti yang Hilang

Daftar Isi ToggleJanji Allah dalam Al-Qur’anApakah kehilangan bisa tergantikan?Luka yang mengantarkan kepada AllahAllah tidak pernah mengambil tanpa memberiHarapanKehilangan adalah salah satu ujian paling berat dalam hidup manusia. Tidak ada yang benar-benar siap apabila diuji dengan musibah kehilangan sosok yang dicintai—ayah, ibu, saudara, pasangan, atau bahkan anak. Luka itu nyata, sunyi itu terasa, dan rindu itu tidak pernah benar-benar pergi.Mungkin seringkali kita mendengar berbagai kalimat nasihat untuk menenangkan hati yang dilanda duka, “Allah akan mengganti dengan yang lebih baik.” Namun, jujur saja, kalimat ini terasa ringan di lisan yang menasihati, tetapi berat di hati orang yang sedang merasakan kehilangan. Bahkan, tidak sedikit yang merasa bahwa nasihat seperti ini hanya mudah diucapkan oleh mereka yang belum pernah kehilangan.Saudaraku, tulisan ini adalah refleksi dari seseorang yang juga telah merasakan kehilangan, kehilangan seorang ayah dan adik kandung. Luka itu nyata. Namun, di balik luka itu, ada janji Allah yang perlahan-lahan mulai terasa kebenarannya.Janji Allah dalam Al-Qur’anAllah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّمَن فِىٓ أَيْدِيكُم مِّنَ ٱلْأَسْرَىٰٓ إِن يَعْلَمِ ٱللَّهُ فِى قُلُوبِكُمْ خَيْرًا يُؤْتِكُمْ خَيْرًا مِّمَّآ أُخِذَ مِنكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Wahai Nabi, katakanlah kepada para tawanan yang ada di tanganmu: jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil darimu dan Dia akan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Anfal: 70)Ayat ini turun dalam konteks tawanan perang. Mereka (para tawanan) telah kehilangan harta, kebebasan, bahkan keluarga. Namun, Allah memberikan prinsip yang sangat agung dalam ayat ini, yaitu “Jika ada kebaikan dalam hati, Allah akan mengganti dengan yang lebih baik dari apa yang hilang.”Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “kebaikan” dalam ayat ini adalah iman dan niat yang tulus dalam hati. Jika hal tersebut ada pada diri seseorang, maka Allah akan memberikan kepadanya pengganti yang lebih baik dari apa yang telah diambil darinya, serta mengampuni dosa-dosanya. Pengganti tersebut bisa berupa kebaikan di dunia, maupun balasan di akhirat. [1]Baca juga: Mengokohkan Iman dengan Mengingat Janji-Janji AllahApakah kehilangan bisa tergantikan?Secara manusiawi, kita merasa bahwa ada kehilangan yang tidak tergantikan. Bagaimana mungkin seorang ayah bisa tergantikan? Bagaimana mungkin sosok adik yang penuh kenangan bisa diganti? Jawabannya: tentu tidak tergantikan secara bentuk, tetapi diganti dalam makna.Tentu, Allah Ta’ala tidak selalu mengganti dengan hal yang sama. Namun, Allah Ta’ala mengganti dengan sesuatu yang lebih menguatkan hati, lebih mendekatkan kepada-Nya, dan lebih bernilai dalam kehidupan kita.Ibn al-Qayyim rahihamullah mengatakan bahwa siapa saja yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya. Ini merupakan kaidah agung dalam kehidupan seorang mukmin, bahwa setiap pengorbanan yang dilakukan karena Allah itu tidak akan sia-sia, bahkan akan diganti dengan kebaikan yang lebih besar. [2]Saudaraku, kehilangan itu kadang, kalau kita coba merenungi, bisa menjadi anugerah dari Allah Ta’ala dalam bentuk dan makna yang bermanfaat bagi kehidupan duniawi dan ukhrawi kita. Seperti kedewasaan yang tidak pernah kita miliki sebelumnya. Karena dengan kehilangan orang yang kita cintai, kita belajar bagaimana menerima dan ikhlas dengan ketetapan Allah Ta’ala sehingga iman kita pun bertambah.Pun, dari sisi kedekatan dengan Allah yang tidak pernah kita rasakan sebelumnya. Bagaimana seseorang mengadu kepada Allah Ta’ala atas perihnya rindu kepada orang yang ia cintai. Akhirnya, ia pun rutin untuk selalu beribadah dan ber-taqarrub kepada Allah, karena ia tahu bahwa setiap doa yang ia panjatkan, khususnya kepada orang tua yang telah tiada, pahalanya akan sampai.Begitu pula dapat berupa hati yang lebih lembut dan penuh empati. Saat melihat orang yang sedang ditimpa cobaan yang sama (kehilangan), maka timbul rasa empati yang tinggi. Sehingga ia pun dengan mudah membantu saudaranya yang sedang dilanda duka, baik dari sisi materi maupun immateri.Luka yang mengantarkan kepada AllahKehilangan seringkali menjadi titik balik kehidupan seseorang. Saat semua sandaran dunia hilang, ayah atau ibu pergi selamanya, tak ada lagi tempat untuk mencurahkan kasih sayang, barulah kita benar-benar bersandar kepada Allah Ta’ala. Andai di balik kembali, misalnya, sebelum musibah terjadi, bisa saja kita cenderung tak peduli dengan kewajiban kita sebagai hamba.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada diri seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999 dari Shuhaib radhiyallahu ‘anhu)Ketika mendapatkan nikmat, ia bersyukur. Ketika ditimpa musibah, ia bersabar. Dan keduanya adalah kebaikan. Inilah ciri khas dan keutamaan seorang mukmin, apabila ia benar-benar menyadari dan mengilmuinya.Ketika kita tengah menghadapi musibah kehilangan, maka ingatlah bahwa kesabaran bukan berarti tidak menangis. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menangis saat kehilangan putranya, Ibrahim. Namun, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ العَيْنَ تَدْمَعُ، وَالقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلاَ نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا، وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ“Kedua mata boleh mencucurkan air mata, hati boleh bersedih, hanya kita tidaklah mengatakan kecuali apa yang diridai oleh Rabb kita. Dan kami dengan perpisahan ini, wahai Ibrahim, pastilah bersedih.” (HR. Bukhari no. 1303 dan Muslim no. 62)Ini adalah bentuk kesedihan yang benar—sedih, tetapi tetap dalam iman. Sebab dengan ilmu yang benar, maka kita dapat menempatkan sisi fitrah kemanusiaan kita dengan benar pula sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa melanggar batasan yang telah Allah tetapkan.Allah tidak pernah mengambil tanpa memberiSalah satu keyakinan terindah dalam Islam adalah bahwasanya Allah Ta’ala tidak mengambil sesuatu kecuali Dia akan memberi yang lebih baik. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَجَرَهُ اللَّهُ فِى مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا“Siapa saja dari hamba yang tertimpa suatu musibah, lalu ia mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un. Allahumma’jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa [Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah ang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik].” (HR. Sahih Muslim no. 918)Saudaraku, perhatikanlah! Ini adalah janji mulia Allah Ta’ala untuk kita hamba-hamba-Nya. Namun, pengganti itu tidak selalu cepat, tidak selalu terlihat, dan tidak selalu dalam bentuk yang kita harapkan. Tetapi pastikan, ganti itu pasti ada.HarapanBagi siapa pun yang sedang kehilangan, ketahuilah bahwa luka ini bukan akhir dari segalanya. Ini adalah bagian dari perjalanan menuju Allah.Dan bagi yang mungkin masih sulit menerima nasihat seperti ini, itu wajar. Karena kehilangan tidak bisa disembuhkan dengan kata-kata, tetapi dengan waktu, doa, dan kedekatan kepada Allah. Namun percayalah, suatu hari nanti kita akan memahami bahwa apa yang telah Allah ambil, bukan untuk menyakiti kita. Akan tetapi, itu untuk mengganti dengan sesuatu yang lebih baik. Mungkin bukan di dunia… tetapi pasti di akhirat.Memang, kehilangan seseorang yang kita cintai adalah luka yang sangat menyakitkan. Namun dalam Islam, luka itu tidak sia-sia. Setiap air mata, setiap rasa rindu, setiap kesabaran, semuanya bernilai di sisi Allah Ta’ala, asalkan kita benar-benar memahami konsepnya. Paham dan yakin akan takdir atau ketetapan Allah Ta’ala. Kemudian berikhtiar semaksimal mungkin untuk bersabar dalam menghadapinya.Jika hari ini kita merasa kehilangan, maka ingatlah janji-Nya, Allah akan mengganti. Dan ketika saat itu tiba, kita akan sadar bahwa Allah tidak pernah salah dalam mengambil sesuatu dari hidup kita.Wallahu a’lam.Baca juga: Bersabar atas Musibah Kehilangan Anak***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Tahqiq: Sami bin Muhammad Salamah. Riyadh: Dar Thayyibah, 1999. Jilid 4, hal. 40–41 (tafsir QS. Al-Anfal: 70).[2] Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Madarij as-Salikin baina Manazil Iyyaka Na‘budu wa Iyyaka Nasta‘in. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003. Jilid 2, hal. 273.
Daftar Isi ToggleJanji Allah dalam Al-Qur’anApakah kehilangan bisa tergantikan?Luka yang mengantarkan kepada AllahAllah tidak pernah mengambil tanpa memberiHarapanKehilangan adalah salah satu ujian paling berat dalam hidup manusia. Tidak ada yang benar-benar siap apabila diuji dengan musibah kehilangan sosok yang dicintai—ayah, ibu, saudara, pasangan, atau bahkan anak. Luka itu nyata, sunyi itu terasa, dan rindu itu tidak pernah benar-benar pergi.Mungkin seringkali kita mendengar berbagai kalimat nasihat untuk menenangkan hati yang dilanda duka, “Allah akan mengganti dengan yang lebih baik.” Namun, jujur saja, kalimat ini terasa ringan di lisan yang menasihati, tetapi berat di hati orang yang sedang merasakan kehilangan. Bahkan, tidak sedikit yang merasa bahwa nasihat seperti ini hanya mudah diucapkan oleh mereka yang belum pernah kehilangan.Saudaraku, tulisan ini adalah refleksi dari seseorang yang juga telah merasakan kehilangan, kehilangan seorang ayah dan adik kandung. Luka itu nyata. Namun, di balik luka itu, ada janji Allah yang perlahan-lahan mulai terasa kebenarannya.Janji Allah dalam Al-Qur’anAllah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّمَن فِىٓ أَيْدِيكُم مِّنَ ٱلْأَسْرَىٰٓ إِن يَعْلَمِ ٱللَّهُ فِى قُلُوبِكُمْ خَيْرًا يُؤْتِكُمْ خَيْرًا مِّمَّآ أُخِذَ مِنكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Wahai Nabi, katakanlah kepada para tawanan yang ada di tanganmu: jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil darimu dan Dia akan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Anfal: 70)Ayat ini turun dalam konteks tawanan perang. Mereka (para tawanan) telah kehilangan harta, kebebasan, bahkan keluarga. Namun, Allah memberikan prinsip yang sangat agung dalam ayat ini, yaitu “Jika ada kebaikan dalam hati, Allah akan mengganti dengan yang lebih baik dari apa yang hilang.”Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “kebaikan” dalam ayat ini adalah iman dan niat yang tulus dalam hati. Jika hal tersebut ada pada diri seseorang, maka Allah akan memberikan kepadanya pengganti yang lebih baik dari apa yang telah diambil darinya, serta mengampuni dosa-dosanya. Pengganti tersebut bisa berupa kebaikan di dunia, maupun balasan di akhirat. [1]Baca juga: Mengokohkan Iman dengan Mengingat Janji-Janji AllahApakah kehilangan bisa tergantikan?Secara manusiawi, kita merasa bahwa ada kehilangan yang tidak tergantikan. Bagaimana mungkin seorang ayah bisa tergantikan? Bagaimana mungkin sosok adik yang penuh kenangan bisa diganti? Jawabannya: tentu tidak tergantikan secara bentuk, tetapi diganti dalam makna.Tentu, Allah Ta’ala tidak selalu mengganti dengan hal yang sama. Namun, Allah Ta’ala mengganti dengan sesuatu yang lebih menguatkan hati, lebih mendekatkan kepada-Nya, dan lebih bernilai dalam kehidupan kita.Ibn al-Qayyim rahihamullah mengatakan bahwa siapa saja yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya. Ini merupakan kaidah agung dalam kehidupan seorang mukmin, bahwa setiap pengorbanan yang dilakukan karena Allah itu tidak akan sia-sia, bahkan akan diganti dengan kebaikan yang lebih besar. [2]Saudaraku, kehilangan itu kadang, kalau kita coba merenungi, bisa menjadi anugerah dari Allah Ta’ala dalam bentuk dan makna yang bermanfaat bagi kehidupan duniawi dan ukhrawi kita. Seperti kedewasaan yang tidak pernah kita miliki sebelumnya. Karena dengan kehilangan orang yang kita cintai, kita belajar bagaimana menerima dan ikhlas dengan ketetapan Allah Ta’ala sehingga iman kita pun bertambah.Pun, dari sisi kedekatan dengan Allah yang tidak pernah kita rasakan sebelumnya. Bagaimana seseorang mengadu kepada Allah Ta’ala atas perihnya rindu kepada orang yang ia cintai. Akhirnya, ia pun rutin untuk selalu beribadah dan ber-taqarrub kepada Allah, karena ia tahu bahwa setiap doa yang ia panjatkan, khususnya kepada orang tua yang telah tiada, pahalanya akan sampai.Begitu pula dapat berupa hati yang lebih lembut dan penuh empati. Saat melihat orang yang sedang ditimpa cobaan yang sama (kehilangan), maka timbul rasa empati yang tinggi. Sehingga ia pun dengan mudah membantu saudaranya yang sedang dilanda duka, baik dari sisi materi maupun immateri.Luka yang mengantarkan kepada AllahKehilangan seringkali menjadi titik balik kehidupan seseorang. Saat semua sandaran dunia hilang, ayah atau ibu pergi selamanya, tak ada lagi tempat untuk mencurahkan kasih sayang, barulah kita benar-benar bersandar kepada Allah Ta’ala. Andai di balik kembali, misalnya, sebelum musibah terjadi, bisa saja kita cenderung tak peduli dengan kewajiban kita sebagai hamba.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada diri seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999 dari Shuhaib radhiyallahu ‘anhu)Ketika mendapatkan nikmat, ia bersyukur. Ketika ditimpa musibah, ia bersabar. Dan keduanya adalah kebaikan. Inilah ciri khas dan keutamaan seorang mukmin, apabila ia benar-benar menyadari dan mengilmuinya.Ketika kita tengah menghadapi musibah kehilangan, maka ingatlah bahwa kesabaran bukan berarti tidak menangis. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menangis saat kehilangan putranya, Ibrahim. Namun, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ العَيْنَ تَدْمَعُ، وَالقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلاَ نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا، وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ“Kedua mata boleh mencucurkan air mata, hati boleh bersedih, hanya kita tidaklah mengatakan kecuali apa yang diridai oleh Rabb kita. Dan kami dengan perpisahan ini, wahai Ibrahim, pastilah bersedih.” (HR. Bukhari no. 1303 dan Muslim no. 62)Ini adalah bentuk kesedihan yang benar—sedih, tetapi tetap dalam iman. Sebab dengan ilmu yang benar, maka kita dapat menempatkan sisi fitrah kemanusiaan kita dengan benar pula sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa melanggar batasan yang telah Allah tetapkan.Allah tidak pernah mengambil tanpa memberiSalah satu keyakinan terindah dalam Islam adalah bahwasanya Allah Ta’ala tidak mengambil sesuatu kecuali Dia akan memberi yang lebih baik. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَجَرَهُ اللَّهُ فِى مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا“Siapa saja dari hamba yang tertimpa suatu musibah, lalu ia mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un. Allahumma’jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa [Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah ang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik].” (HR. Sahih Muslim no. 918)Saudaraku, perhatikanlah! Ini adalah janji mulia Allah Ta’ala untuk kita hamba-hamba-Nya. Namun, pengganti itu tidak selalu cepat, tidak selalu terlihat, dan tidak selalu dalam bentuk yang kita harapkan. Tetapi pastikan, ganti itu pasti ada.HarapanBagi siapa pun yang sedang kehilangan, ketahuilah bahwa luka ini bukan akhir dari segalanya. Ini adalah bagian dari perjalanan menuju Allah.Dan bagi yang mungkin masih sulit menerima nasihat seperti ini, itu wajar. Karena kehilangan tidak bisa disembuhkan dengan kata-kata, tetapi dengan waktu, doa, dan kedekatan kepada Allah. Namun percayalah, suatu hari nanti kita akan memahami bahwa apa yang telah Allah ambil, bukan untuk menyakiti kita. Akan tetapi, itu untuk mengganti dengan sesuatu yang lebih baik. Mungkin bukan di dunia… tetapi pasti di akhirat.Memang, kehilangan seseorang yang kita cintai adalah luka yang sangat menyakitkan. Namun dalam Islam, luka itu tidak sia-sia. Setiap air mata, setiap rasa rindu, setiap kesabaran, semuanya bernilai di sisi Allah Ta’ala, asalkan kita benar-benar memahami konsepnya. Paham dan yakin akan takdir atau ketetapan Allah Ta’ala. Kemudian berikhtiar semaksimal mungkin untuk bersabar dalam menghadapinya.Jika hari ini kita merasa kehilangan, maka ingatlah janji-Nya, Allah akan mengganti. Dan ketika saat itu tiba, kita akan sadar bahwa Allah tidak pernah salah dalam mengambil sesuatu dari hidup kita.Wallahu a’lam.Baca juga: Bersabar atas Musibah Kehilangan Anak***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Tahqiq: Sami bin Muhammad Salamah. Riyadh: Dar Thayyibah, 1999. Jilid 4, hal. 40–41 (tafsir QS. Al-Anfal: 70).[2] Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Madarij as-Salikin baina Manazil Iyyaka Na‘budu wa Iyyaka Nasta‘in. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003. Jilid 2, hal. 273.


Daftar Isi ToggleJanji Allah dalam Al-Qur’anApakah kehilangan bisa tergantikan?Luka yang mengantarkan kepada AllahAllah tidak pernah mengambil tanpa memberiHarapanKehilangan adalah salah satu ujian paling berat dalam hidup manusia. Tidak ada yang benar-benar siap apabila diuji dengan musibah kehilangan sosok yang dicintai—ayah, ibu, saudara, pasangan, atau bahkan anak. Luka itu nyata, sunyi itu terasa, dan rindu itu tidak pernah benar-benar pergi.Mungkin seringkali kita mendengar berbagai kalimat nasihat untuk menenangkan hati yang dilanda duka, “Allah akan mengganti dengan yang lebih baik.” Namun, jujur saja, kalimat ini terasa ringan di lisan yang menasihati, tetapi berat di hati orang yang sedang merasakan kehilangan. Bahkan, tidak sedikit yang merasa bahwa nasihat seperti ini hanya mudah diucapkan oleh mereka yang belum pernah kehilangan.Saudaraku, tulisan ini adalah refleksi dari seseorang yang juga telah merasakan kehilangan, kehilangan seorang ayah dan adik kandung. Luka itu nyata. Namun, di balik luka itu, ada janji Allah yang perlahan-lahan mulai terasa kebenarannya.Janji Allah dalam Al-Qur’anAllah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّمَن فِىٓ أَيْدِيكُم مِّنَ ٱلْأَسْرَىٰٓ إِن يَعْلَمِ ٱللَّهُ فِى قُلُوبِكُمْ خَيْرًا يُؤْتِكُمْ خَيْرًا مِّمَّآ أُخِذَ مِنكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Wahai Nabi, katakanlah kepada para tawanan yang ada di tanganmu: jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil darimu dan Dia akan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Anfal: 70)Ayat ini turun dalam konteks tawanan perang. Mereka (para tawanan) telah kehilangan harta, kebebasan, bahkan keluarga. Namun, Allah memberikan prinsip yang sangat agung dalam ayat ini, yaitu “Jika ada kebaikan dalam hati, Allah akan mengganti dengan yang lebih baik dari apa yang hilang.”Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “kebaikan” dalam ayat ini adalah iman dan niat yang tulus dalam hati. Jika hal tersebut ada pada diri seseorang, maka Allah akan memberikan kepadanya pengganti yang lebih baik dari apa yang telah diambil darinya, serta mengampuni dosa-dosanya. Pengganti tersebut bisa berupa kebaikan di dunia, maupun balasan di akhirat. [1]Baca juga: Mengokohkan Iman dengan Mengingat Janji-Janji AllahApakah kehilangan bisa tergantikan?Secara manusiawi, kita merasa bahwa ada kehilangan yang tidak tergantikan. Bagaimana mungkin seorang ayah bisa tergantikan? Bagaimana mungkin sosok adik yang penuh kenangan bisa diganti? Jawabannya: tentu tidak tergantikan secara bentuk, tetapi diganti dalam makna.Tentu, Allah Ta’ala tidak selalu mengganti dengan hal yang sama. Namun, Allah Ta’ala mengganti dengan sesuatu yang lebih menguatkan hati, lebih mendekatkan kepada-Nya, dan lebih bernilai dalam kehidupan kita.Ibn al-Qayyim rahihamullah mengatakan bahwa siapa saja yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya. Ini merupakan kaidah agung dalam kehidupan seorang mukmin, bahwa setiap pengorbanan yang dilakukan karena Allah itu tidak akan sia-sia, bahkan akan diganti dengan kebaikan yang lebih besar. [2]Saudaraku, kehilangan itu kadang, kalau kita coba merenungi, bisa menjadi anugerah dari Allah Ta’ala dalam bentuk dan makna yang bermanfaat bagi kehidupan duniawi dan ukhrawi kita. Seperti kedewasaan yang tidak pernah kita miliki sebelumnya. Karena dengan kehilangan orang yang kita cintai, kita belajar bagaimana menerima dan ikhlas dengan ketetapan Allah Ta’ala sehingga iman kita pun bertambah.Pun, dari sisi kedekatan dengan Allah yang tidak pernah kita rasakan sebelumnya. Bagaimana seseorang mengadu kepada Allah Ta’ala atas perihnya rindu kepada orang yang ia cintai. Akhirnya, ia pun rutin untuk selalu beribadah dan ber-taqarrub kepada Allah, karena ia tahu bahwa setiap doa yang ia panjatkan, khususnya kepada orang tua yang telah tiada, pahalanya akan sampai.Begitu pula dapat berupa hati yang lebih lembut dan penuh empati. Saat melihat orang yang sedang ditimpa cobaan yang sama (kehilangan), maka timbul rasa empati yang tinggi. Sehingga ia pun dengan mudah membantu saudaranya yang sedang dilanda duka, baik dari sisi materi maupun immateri.Luka yang mengantarkan kepada AllahKehilangan seringkali menjadi titik balik kehidupan seseorang. Saat semua sandaran dunia hilang, ayah atau ibu pergi selamanya, tak ada lagi tempat untuk mencurahkan kasih sayang, barulah kita benar-benar bersandar kepada Allah Ta’ala. Andai di balik kembali, misalnya, sebelum musibah terjadi, bisa saja kita cenderung tak peduli dengan kewajiban kita sebagai hamba.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada diri seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999 dari Shuhaib radhiyallahu ‘anhu)Ketika mendapatkan nikmat, ia bersyukur. Ketika ditimpa musibah, ia bersabar. Dan keduanya adalah kebaikan. Inilah ciri khas dan keutamaan seorang mukmin, apabila ia benar-benar menyadari dan mengilmuinya.Ketika kita tengah menghadapi musibah kehilangan, maka ingatlah bahwa kesabaran bukan berarti tidak menangis. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menangis saat kehilangan putranya, Ibrahim. Namun, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ العَيْنَ تَدْمَعُ، وَالقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلاَ نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا، وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ“Kedua mata boleh mencucurkan air mata, hati boleh bersedih, hanya kita tidaklah mengatakan kecuali apa yang diridai oleh Rabb kita. Dan kami dengan perpisahan ini, wahai Ibrahim, pastilah bersedih.” (HR. Bukhari no. 1303 dan Muslim no. 62)Ini adalah bentuk kesedihan yang benar—sedih, tetapi tetap dalam iman. Sebab dengan ilmu yang benar, maka kita dapat menempatkan sisi fitrah kemanusiaan kita dengan benar pula sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa melanggar batasan yang telah Allah tetapkan.Allah tidak pernah mengambil tanpa memberiSalah satu keyakinan terindah dalam Islam adalah bahwasanya Allah Ta’ala tidak mengambil sesuatu kecuali Dia akan memberi yang lebih baik. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَجَرَهُ اللَّهُ فِى مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا“Siapa saja dari hamba yang tertimpa suatu musibah, lalu ia mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un. Allahumma’jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa [Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah ang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik].” (HR. Sahih Muslim no. 918)Saudaraku, perhatikanlah! Ini adalah janji mulia Allah Ta’ala untuk kita hamba-hamba-Nya. Namun, pengganti itu tidak selalu cepat, tidak selalu terlihat, dan tidak selalu dalam bentuk yang kita harapkan. Tetapi pastikan, ganti itu pasti ada.HarapanBagi siapa pun yang sedang kehilangan, ketahuilah bahwa luka ini bukan akhir dari segalanya. Ini adalah bagian dari perjalanan menuju Allah.Dan bagi yang mungkin masih sulit menerima nasihat seperti ini, itu wajar. Karena kehilangan tidak bisa disembuhkan dengan kata-kata, tetapi dengan waktu, doa, dan kedekatan kepada Allah. Namun percayalah, suatu hari nanti kita akan memahami bahwa apa yang telah Allah ambil, bukan untuk menyakiti kita. Akan tetapi, itu untuk mengganti dengan sesuatu yang lebih baik. Mungkin bukan di dunia… tetapi pasti di akhirat.Memang, kehilangan seseorang yang kita cintai adalah luka yang sangat menyakitkan. Namun dalam Islam, luka itu tidak sia-sia. Setiap air mata, setiap rasa rindu, setiap kesabaran, semuanya bernilai di sisi Allah Ta’ala, asalkan kita benar-benar memahami konsepnya. Paham dan yakin akan takdir atau ketetapan Allah Ta’ala. Kemudian berikhtiar semaksimal mungkin untuk bersabar dalam menghadapinya.Jika hari ini kita merasa kehilangan, maka ingatlah janji-Nya, Allah akan mengganti. Dan ketika saat itu tiba, kita akan sadar bahwa Allah tidak pernah salah dalam mengambil sesuatu dari hidup kita.Wallahu a’lam.Baca juga: Bersabar atas Musibah Kehilangan Anak***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Tahqiq: Sami bin Muhammad Salamah. Riyadh: Dar Thayyibah, 1999. Jilid 4, hal. 40–41 (tafsir QS. Al-Anfal: 70).[2] Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Madarij as-Salikin baina Manazil Iyyaka Na‘budu wa Iyyaka Nasta‘in. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003. Jilid 2, hal. 273.

Sepuluh Langkah untuk Mengubah Kebiasaan

Oleh: Ahmad Nashib Ali Husain Apakah engkau mengetahui bahwa salah satu hal yang paling banyak mempengaruhi pekerjaan, hubungan, prestasi, dan tujuan kita adalah kebiasaan-kebiasaan kita yang telah kita bawa sejak kecil? Sehingga apabila engkau menginginkan keberhasilan di dalam hidupmu dalam semua aspek, maka engkau harus berlepas diri dari kebiasaan-kebiasaan yang dapat menghalangimu dari kesuksesan dan keberhasilan. Berikut ini adalah sepuluh langkah yang dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membantumu dalam merealisasikan tujuan tersebut: Langkah Pertama: Kenali Kebiasaanmu Engkau harus menentukan kebiasaan terpentingmu yang sangat berpengaruh terhadap kehidupanmu, baik itu kebiasaan dalam bekerja, dalam menjalin hubungan dengan orang lain, dengan keluarga, atau dengan diri sendiri. Segala hal yang selalu kamu ulang-ulangi lalu kamu sesali karena telah melakukannya, atau ada orang yang merasa terganggu setelah engkau melakukannya, maka ketahuilah bahwa itu merupakan kebiasaan yang harus kamu tinggalkan. Langkah Kedua: Fokus pada Satu Kebiasaan Terlebih Dulu Saya pernah membaca di majalah An-Nafs Al-Muthmainnah bahwa siapa yang mengejar dua kelinci, maka ia tidak akan dapat menangkap satu pun darinya! Maka siapa yang ingin berlepas diri dari seluruh kebiasaannya sekaligus, pasti ia akan gagal melakukannya. Oleh sebab itu, caranya adalah dengan fokus pada satu kebiasaan dulu dan menjadikannya sebagai permulaan, apabila berhasil, engkau bisa melanjutkannya ke kebiasaan lainnya. Langkah Ketiga: Jangan Menyerah di Awal Apabila engkau telah bertekad untuk mengubah kebiasaan, maka pada mulanya berusahalah untuk melawan hawa nafsumu. Jangan katakan: “Hari ini libur dulu sehari!” Sebagai contoh, engkau telah bertekad untuk tidak lagi tidur setelah shalat Subuh, lalu pada hari ketiga jangan ucapkan: “Hanya hari ini saja aku akan tidur!” Tapi berusahalah sekuat tenaga untuk tetap bangun —meskipun engkau sedang sangat letih— agar kebiasaan barumu tertanam kokoh. Langkah Keempat: Mulailah dengan Kadar yang Sangat Sedikit Yang terpenting bukanlah kadarnya, tapi konsistensinya. Mulailah dengan perubahan kecil yang mampu kamu lakukan dengan konsisten. Sebagai contoh, pada dasarnya engkau tidak dapat menikmati kebiasaan membaca, maka carilah dulu buku yang ringan, bacalah buku itu sepuluh menit saja setiap hari, tidak ada lagi tawar menawar pada durasi sepuluh menit ini. Langkah Kelima: Sampaikan Keputusanmu untuk Merubah Kebiasaan Ini kepada Orang Lain Sampaikan di hadapan orang yang engkau cintai —seperti sahabat atau teman karibmu— tentang keputusanmu untuk merubah kebiasaan ini, karena pengumuman ini akan membuatmu punya keharusan untuk konsisten, menjadikanmu merasa segan jika harus berhenti di tengah jalan. Sebagai contoh, katakanlah kepada mereka: “Aku sudah bertekad untuk membiasakan olahraga setiap hari selama dua puluh menit.” Langkah Keenam: Jangan Menyerah Semua orang berusaha, tapi mayoritas orang terjatuh dan gagal saat berusaha dan terus mengeluh. Namun, hanya orang sukses yang ketika terjatuh akan kembali berdiri, apabila gagal akan kembali bangkit. Ia mengetahui bahwa nikmatnya kesuksesan lebih besar daripada nikmatnya berpangku tangan dan bermalas-malasan. Ia tidak menyerah, tapi justru terus berusaha hingga sampai ke tujuannya, karena ia mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan bagi orang-orang yang berusaha keras bahwa mereka akan mendapatkan petunjuk-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh berjuang di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sungguh, Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-Ankabut: 69). Langkah Ketujuh: Kenalilah Kemampuanmu Jangan membebani dirimu di atas kemampuannya. Ini merupakan prinsip syariat yang mendasar. Apabila engkau ingin mengubah kebiasaanmu, maka perlakukanlah dirimu dengan lembut, jangan membebaninya dengan kadar yang tidak mampu ia pikul. Apabila engkau ingin ditaati, maka berilah perintah yang mampu dilakukan. Jangan mengira bahwa perubahan dapat terwujud dengan membebani dirimu di atas kemampuannya, karena siapa yang belum terbiasa memperhatikan etika dalam berbicara, ia tidak akan mampu mengubah kebiasaan itu dalam sehari semalam. Sebab, kebiasaan buruk telah tertanam bertahun-tahun, sehingga kebiasaan yang baru juga membutuhkan waktu bertahun-tahun seperti itu sampai ia tertanam dan mudah dilakukan seperti makan dan minum.  Langkah Kedelapan: Semangati Dirimu Sering-seringlah baca tentang kebiasaan orang-orang sukses, sebab-sebab kesuksesan, metode-metode keberhasilan, kondisi orang-orang sabar dan sejarah hidup mereka yang harum semerbak. Semua itu dapat membantumu untuk memantik kembali semangatmu dan menguatkan tekadmu agar konsisten dalam mengubah kebiasaan-kebiasaanmu. Langkah Kesembilan: Beri Dirimu Penghargaan Buatlah tahapan-tahapan dalam proses menuju kebiasaan yang baru. Pada setiap tahapan ada hadiahnya tertentu. Misalnya membaca satu jam setiap hari selama satu minggu penuh ada hadiahnya membeli minuman, membaca satu jam setiap hari selama dua minggu penuh ada hadiahnya membeli makanan di tempat makan tertentu, dan begitu seterusnya. Tentukanlah pada setiap kadar keberhasilan ada hadiahnya yang sesuai. Ini merupakan salah satu metode yang dilakukan oleh beberapa orang. Langkah Kesepuluh: Berdoa Ini merupakan langkah terpenting yang diperlukan, mintalah selalu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Allahlah Yang Maha Menolong, Dia Maha Kuasa atas segalanya dan Dia telah berjanji untuk mengabulkan doa. Oleh sebab itu, sungguh-sungguhlah berdoa dan amalkanlah adab-adab dalam berdoa serta hindarilah hal-hal yang dapat menjadi penghalang dikabulkannya doa, seperti memakan makanan haram. Ini merupakan langkah yang sangat penting, apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menolongmu, maka tidak akan ada gunanya seluruh langkah yang telah disebutkan sebelumnya, karena itu semua hanya sekedar sebab, tidak akan berguna bagimu kecuali dengan izin Sang Pembuat Sebab, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Benarlah yang dikatakan penyair: إِذَا لَمْ يَكُنْ عَوْنٌ مِنَ اللَّهِ لِلْفَتَى فَأَوَّلُ مَا يَقْضِي عَلَيْهِ اجْتِهَادُهُ Apabila seorang pemuda tidak memperoleh pertolongan dari Allah, maka hal pertama yang justru menghancurkannya adalah kesungguhan usahanya sendiri. Sumber: https://www.alukah.net/social/0/39727/عشر-خطوات-لتغيير-العادات/ Sumber artikel PDF 🔍 Berdoa Saat Haid, Bacaan Niat Puasa Mulud, Surat Yang Pertama Kali Diturunkan, Pendeta Kalah Debat Masuk Islam, Doa Diberikan Jodoh Visited 436 times, 4 visit(s) today Post Views: 27

Sepuluh Langkah untuk Mengubah Kebiasaan

Oleh: Ahmad Nashib Ali Husain Apakah engkau mengetahui bahwa salah satu hal yang paling banyak mempengaruhi pekerjaan, hubungan, prestasi, dan tujuan kita adalah kebiasaan-kebiasaan kita yang telah kita bawa sejak kecil? Sehingga apabila engkau menginginkan keberhasilan di dalam hidupmu dalam semua aspek, maka engkau harus berlepas diri dari kebiasaan-kebiasaan yang dapat menghalangimu dari kesuksesan dan keberhasilan. Berikut ini adalah sepuluh langkah yang dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membantumu dalam merealisasikan tujuan tersebut: Langkah Pertama: Kenali Kebiasaanmu Engkau harus menentukan kebiasaan terpentingmu yang sangat berpengaruh terhadap kehidupanmu, baik itu kebiasaan dalam bekerja, dalam menjalin hubungan dengan orang lain, dengan keluarga, atau dengan diri sendiri. Segala hal yang selalu kamu ulang-ulangi lalu kamu sesali karena telah melakukannya, atau ada orang yang merasa terganggu setelah engkau melakukannya, maka ketahuilah bahwa itu merupakan kebiasaan yang harus kamu tinggalkan. Langkah Kedua: Fokus pada Satu Kebiasaan Terlebih Dulu Saya pernah membaca di majalah An-Nafs Al-Muthmainnah bahwa siapa yang mengejar dua kelinci, maka ia tidak akan dapat menangkap satu pun darinya! Maka siapa yang ingin berlepas diri dari seluruh kebiasaannya sekaligus, pasti ia akan gagal melakukannya. Oleh sebab itu, caranya adalah dengan fokus pada satu kebiasaan dulu dan menjadikannya sebagai permulaan, apabila berhasil, engkau bisa melanjutkannya ke kebiasaan lainnya. Langkah Ketiga: Jangan Menyerah di Awal Apabila engkau telah bertekad untuk mengubah kebiasaan, maka pada mulanya berusahalah untuk melawan hawa nafsumu. Jangan katakan: “Hari ini libur dulu sehari!” Sebagai contoh, engkau telah bertekad untuk tidak lagi tidur setelah shalat Subuh, lalu pada hari ketiga jangan ucapkan: “Hanya hari ini saja aku akan tidur!” Tapi berusahalah sekuat tenaga untuk tetap bangun —meskipun engkau sedang sangat letih— agar kebiasaan barumu tertanam kokoh. Langkah Keempat: Mulailah dengan Kadar yang Sangat Sedikit Yang terpenting bukanlah kadarnya, tapi konsistensinya. Mulailah dengan perubahan kecil yang mampu kamu lakukan dengan konsisten. Sebagai contoh, pada dasarnya engkau tidak dapat menikmati kebiasaan membaca, maka carilah dulu buku yang ringan, bacalah buku itu sepuluh menit saja setiap hari, tidak ada lagi tawar menawar pada durasi sepuluh menit ini. Langkah Kelima: Sampaikan Keputusanmu untuk Merubah Kebiasaan Ini kepada Orang Lain Sampaikan di hadapan orang yang engkau cintai —seperti sahabat atau teman karibmu— tentang keputusanmu untuk merubah kebiasaan ini, karena pengumuman ini akan membuatmu punya keharusan untuk konsisten, menjadikanmu merasa segan jika harus berhenti di tengah jalan. Sebagai contoh, katakanlah kepada mereka: “Aku sudah bertekad untuk membiasakan olahraga setiap hari selama dua puluh menit.” Langkah Keenam: Jangan Menyerah Semua orang berusaha, tapi mayoritas orang terjatuh dan gagal saat berusaha dan terus mengeluh. Namun, hanya orang sukses yang ketika terjatuh akan kembali berdiri, apabila gagal akan kembali bangkit. Ia mengetahui bahwa nikmatnya kesuksesan lebih besar daripada nikmatnya berpangku tangan dan bermalas-malasan. Ia tidak menyerah, tapi justru terus berusaha hingga sampai ke tujuannya, karena ia mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan bagi orang-orang yang berusaha keras bahwa mereka akan mendapatkan petunjuk-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh berjuang di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sungguh, Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-Ankabut: 69). Langkah Ketujuh: Kenalilah Kemampuanmu Jangan membebani dirimu di atas kemampuannya. Ini merupakan prinsip syariat yang mendasar. Apabila engkau ingin mengubah kebiasaanmu, maka perlakukanlah dirimu dengan lembut, jangan membebaninya dengan kadar yang tidak mampu ia pikul. Apabila engkau ingin ditaati, maka berilah perintah yang mampu dilakukan. Jangan mengira bahwa perubahan dapat terwujud dengan membebani dirimu di atas kemampuannya, karena siapa yang belum terbiasa memperhatikan etika dalam berbicara, ia tidak akan mampu mengubah kebiasaan itu dalam sehari semalam. Sebab, kebiasaan buruk telah tertanam bertahun-tahun, sehingga kebiasaan yang baru juga membutuhkan waktu bertahun-tahun seperti itu sampai ia tertanam dan mudah dilakukan seperti makan dan minum.  Langkah Kedelapan: Semangati Dirimu Sering-seringlah baca tentang kebiasaan orang-orang sukses, sebab-sebab kesuksesan, metode-metode keberhasilan, kondisi orang-orang sabar dan sejarah hidup mereka yang harum semerbak. Semua itu dapat membantumu untuk memantik kembali semangatmu dan menguatkan tekadmu agar konsisten dalam mengubah kebiasaan-kebiasaanmu. Langkah Kesembilan: Beri Dirimu Penghargaan Buatlah tahapan-tahapan dalam proses menuju kebiasaan yang baru. Pada setiap tahapan ada hadiahnya tertentu. Misalnya membaca satu jam setiap hari selama satu minggu penuh ada hadiahnya membeli minuman, membaca satu jam setiap hari selama dua minggu penuh ada hadiahnya membeli makanan di tempat makan tertentu, dan begitu seterusnya. Tentukanlah pada setiap kadar keberhasilan ada hadiahnya yang sesuai. Ini merupakan salah satu metode yang dilakukan oleh beberapa orang. Langkah Kesepuluh: Berdoa Ini merupakan langkah terpenting yang diperlukan, mintalah selalu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Allahlah Yang Maha Menolong, Dia Maha Kuasa atas segalanya dan Dia telah berjanji untuk mengabulkan doa. Oleh sebab itu, sungguh-sungguhlah berdoa dan amalkanlah adab-adab dalam berdoa serta hindarilah hal-hal yang dapat menjadi penghalang dikabulkannya doa, seperti memakan makanan haram. Ini merupakan langkah yang sangat penting, apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menolongmu, maka tidak akan ada gunanya seluruh langkah yang telah disebutkan sebelumnya, karena itu semua hanya sekedar sebab, tidak akan berguna bagimu kecuali dengan izin Sang Pembuat Sebab, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Benarlah yang dikatakan penyair: إِذَا لَمْ يَكُنْ عَوْنٌ مِنَ اللَّهِ لِلْفَتَى فَأَوَّلُ مَا يَقْضِي عَلَيْهِ اجْتِهَادُهُ Apabila seorang pemuda tidak memperoleh pertolongan dari Allah, maka hal pertama yang justru menghancurkannya adalah kesungguhan usahanya sendiri. Sumber: https://www.alukah.net/social/0/39727/عشر-خطوات-لتغيير-العادات/ Sumber artikel PDF 🔍 Berdoa Saat Haid, Bacaan Niat Puasa Mulud, Surat Yang Pertama Kali Diturunkan, Pendeta Kalah Debat Masuk Islam, Doa Diberikan Jodoh Visited 436 times, 4 visit(s) today Post Views: 27
Oleh: Ahmad Nashib Ali Husain Apakah engkau mengetahui bahwa salah satu hal yang paling banyak mempengaruhi pekerjaan, hubungan, prestasi, dan tujuan kita adalah kebiasaan-kebiasaan kita yang telah kita bawa sejak kecil? Sehingga apabila engkau menginginkan keberhasilan di dalam hidupmu dalam semua aspek, maka engkau harus berlepas diri dari kebiasaan-kebiasaan yang dapat menghalangimu dari kesuksesan dan keberhasilan. Berikut ini adalah sepuluh langkah yang dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membantumu dalam merealisasikan tujuan tersebut: Langkah Pertama: Kenali Kebiasaanmu Engkau harus menentukan kebiasaan terpentingmu yang sangat berpengaruh terhadap kehidupanmu, baik itu kebiasaan dalam bekerja, dalam menjalin hubungan dengan orang lain, dengan keluarga, atau dengan diri sendiri. Segala hal yang selalu kamu ulang-ulangi lalu kamu sesali karena telah melakukannya, atau ada orang yang merasa terganggu setelah engkau melakukannya, maka ketahuilah bahwa itu merupakan kebiasaan yang harus kamu tinggalkan. Langkah Kedua: Fokus pada Satu Kebiasaan Terlebih Dulu Saya pernah membaca di majalah An-Nafs Al-Muthmainnah bahwa siapa yang mengejar dua kelinci, maka ia tidak akan dapat menangkap satu pun darinya! Maka siapa yang ingin berlepas diri dari seluruh kebiasaannya sekaligus, pasti ia akan gagal melakukannya. Oleh sebab itu, caranya adalah dengan fokus pada satu kebiasaan dulu dan menjadikannya sebagai permulaan, apabila berhasil, engkau bisa melanjutkannya ke kebiasaan lainnya. Langkah Ketiga: Jangan Menyerah di Awal Apabila engkau telah bertekad untuk mengubah kebiasaan, maka pada mulanya berusahalah untuk melawan hawa nafsumu. Jangan katakan: “Hari ini libur dulu sehari!” Sebagai contoh, engkau telah bertekad untuk tidak lagi tidur setelah shalat Subuh, lalu pada hari ketiga jangan ucapkan: “Hanya hari ini saja aku akan tidur!” Tapi berusahalah sekuat tenaga untuk tetap bangun —meskipun engkau sedang sangat letih— agar kebiasaan barumu tertanam kokoh. Langkah Keempat: Mulailah dengan Kadar yang Sangat Sedikit Yang terpenting bukanlah kadarnya, tapi konsistensinya. Mulailah dengan perubahan kecil yang mampu kamu lakukan dengan konsisten. Sebagai contoh, pada dasarnya engkau tidak dapat menikmati kebiasaan membaca, maka carilah dulu buku yang ringan, bacalah buku itu sepuluh menit saja setiap hari, tidak ada lagi tawar menawar pada durasi sepuluh menit ini. Langkah Kelima: Sampaikan Keputusanmu untuk Merubah Kebiasaan Ini kepada Orang Lain Sampaikan di hadapan orang yang engkau cintai —seperti sahabat atau teman karibmu— tentang keputusanmu untuk merubah kebiasaan ini, karena pengumuman ini akan membuatmu punya keharusan untuk konsisten, menjadikanmu merasa segan jika harus berhenti di tengah jalan. Sebagai contoh, katakanlah kepada mereka: “Aku sudah bertekad untuk membiasakan olahraga setiap hari selama dua puluh menit.” Langkah Keenam: Jangan Menyerah Semua orang berusaha, tapi mayoritas orang terjatuh dan gagal saat berusaha dan terus mengeluh. Namun, hanya orang sukses yang ketika terjatuh akan kembali berdiri, apabila gagal akan kembali bangkit. Ia mengetahui bahwa nikmatnya kesuksesan lebih besar daripada nikmatnya berpangku tangan dan bermalas-malasan. Ia tidak menyerah, tapi justru terus berusaha hingga sampai ke tujuannya, karena ia mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan bagi orang-orang yang berusaha keras bahwa mereka akan mendapatkan petunjuk-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh berjuang di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sungguh, Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-Ankabut: 69). Langkah Ketujuh: Kenalilah Kemampuanmu Jangan membebani dirimu di atas kemampuannya. Ini merupakan prinsip syariat yang mendasar. Apabila engkau ingin mengubah kebiasaanmu, maka perlakukanlah dirimu dengan lembut, jangan membebaninya dengan kadar yang tidak mampu ia pikul. Apabila engkau ingin ditaati, maka berilah perintah yang mampu dilakukan. Jangan mengira bahwa perubahan dapat terwujud dengan membebani dirimu di atas kemampuannya, karena siapa yang belum terbiasa memperhatikan etika dalam berbicara, ia tidak akan mampu mengubah kebiasaan itu dalam sehari semalam. Sebab, kebiasaan buruk telah tertanam bertahun-tahun, sehingga kebiasaan yang baru juga membutuhkan waktu bertahun-tahun seperti itu sampai ia tertanam dan mudah dilakukan seperti makan dan minum.  Langkah Kedelapan: Semangati Dirimu Sering-seringlah baca tentang kebiasaan orang-orang sukses, sebab-sebab kesuksesan, metode-metode keberhasilan, kondisi orang-orang sabar dan sejarah hidup mereka yang harum semerbak. Semua itu dapat membantumu untuk memantik kembali semangatmu dan menguatkan tekadmu agar konsisten dalam mengubah kebiasaan-kebiasaanmu. Langkah Kesembilan: Beri Dirimu Penghargaan Buatlah tahapan-tahapan dalam proses menuju kebiasaan yang baru. Pada setiap tahapan ada hadiahnya tertentu. Misalnya membaca satu jam setiap hari selama satu minggu penuh ada hadiahnya membeli minuman, membaca satu jam setiap hari selama dua minggu penuh ada hadiahnya membeli makanan di tempat makan tertentu, dan begitu seterusnya. Tentukanlah pada setiap kadar keberhasilan ada hadiahnya yang sesuai. Ini merupakan salah satu metode yang dilakukan oleh beberapa orang. Langkah Kesepuluh: Berdoa Ini merupakan langkah terpenting yang diperlukan, mintalah selalu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Allahlah Yang Maha Menolong, Dia Maha Kuasa atas segalanya dan Dia telah berjanji untuk mengabulkan doa. Oleh sebab itu, sungguh-sungguhlah berdoa dan amalkanlah adab-adab dalam berdoa serta hindarilah hal-hal yang dapat menjadi penghalang dikabulkannya doa, seperti memakan makanan haram. Ini merupakan langkah yang sangat penting, apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menolongmu, maka tidak akan ada gunanya seluruh langkah yang telah disebutkan sebelumnya, karena itu semua hanya sekedar sebab, tidak akan berguna bagimu kecuali dengan izin Sang Pembuat Sebab, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Benarlah yang dikatakan penyair: إِذَا لَمْ يَكُنْ عَوْنٌ مِنَ اللَّهِ لِلْفَتَى فَأَوَّلُ مَا يَقْضِي عَلَيْهِ اجْتِهَادُهُ Apabila seorang pemuda tidak memperoleh pertolongan dari Allah, maka hal pertama yang justru menghancurkannya adalah kesungguhan usahanya sendiri. Sumber: https://www.alukah.net/social/0/39727/عشر-خطوات-لتغيير-العادات/ Sumber artikel PDF 🔍 Berdoa Saat Haid, Bacaan Niat Puasa Mulud, Surat Yang Pertama Kali Diturunkan, Pendeta Kalah Debat Masuk Islam, Doa Diberikan Jodoh Visited 436 times, 4 visit(s) today Post Views: 27


Oleh: Ahmad Nashib Ali Husain Apakah engkau mengetahui bahwa salah satu hal yang paling banyak mempengaruhi pekerjaan, hubungan, prestasi, dan tujuan kita adalah kebiasaan-kebiasaan kita yang telah kita bawa sejak kecil? Sehingga apabila engkau menginginkan keberhasilan di dalam hidupmu dalam semua aspek, maka engkau harus berlepas diri dari kebiasaan-kebiasaan yang dapat menghalangimu dari kesuksesan dan keberhasilan. Berikut ini adalah sepuluh langkah yang dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membantumu dalam merealisasikan tujuan tersebut: Langkah Pertama: Kenali Kebiasaanmu Engkau harus menentukan kebiasaan terpentingmu yang sangat berpengaruh terhadap kehidupanmu, baik itu kebiasaan dalam bekerja, dalam menjalin hubungan dengan orang lain, dengan keluarga, atau dengan diri sendiri. Segala hal yang selalu kamu ulang-ulangi lalu kamu sesali karena telah melakukannya, atau ada orang yang merasa terganggu setelah engkau melakukannya, maka ketahuilah bahwa itu merupakan kebiasaan yang harus kamu tinggalkan. Langkah Kedua: Fokus pada Satu Kebiasaan Terlebih Dulu Saya pernah membaca di majalah An-Nafs Al-Muthmainnah bahwa siapa yang mengejar dua kelinci, maka ia tidak akan dapat menangkap satu pun darinya! Maka siapa yang ingin berlepas diri dari seluruh kebiasaannya sekaligus, pasti ia akan gagal melakukannya. Oleh sebab itu, caranya adalah dengan fokus pada satu kebiasaan dulu dan menjadikannya sebagai permulaan, apabila berhasil, engkau bisa melanjutkannya ke kebiasaan lainnya. Langkah Ketiga: Jangan Menyerah di Awal Apabila engkau telah bertekad untuk mengubah kebiasaan, maka pada mulanya berusahalah untuk melawan hawa nafsumu. Jangan katakan: “Hari ini libur dulu sehari!” Sebagai contoh, engkau telah bertekad untuk tidak lagi tidur setelah shalat Subuh, lalu pada hari ketiga jangan ucapkan: “Hanya hari ini saja aku akan tidur!” Tapi berusahalah sekuat tenaga untuk tetap bangun —meskipun engkau sedang sangat letih— agar kebiasaan barumu tertanam kokoh. Langkah Keempat: Mulailah dengan Kadar yang Sangat Sedikit Yang terpenting bukanlah kadarnya, tapi konsistensinya. Mulailah dengan perubahan kecil yang mampu kamu lakukan dengan konsisten. Sebagai contoh, pada dasarnya engkau tidak dapat menikmati kebiasaan membaca, maka carilah dulu buku yang ringan, bacalah buku itu sepuluh menit saja setiap hari, tidak ada lagi tawar menawar pada durasi sepuluh menit ini. Langkah Kelima: Sampaikan Keputusanmu untuk Merubah Kebiasaan Ini kepada Orang Lain Sampaikan di hadapan orang yang engkau cintai —seperti sahabat atau teman karibmu— tentang keputusanmu untuk merubah kebiasaan ini, karena pengumuman ini akan membuatmu punya keharusan untuk konsisten, menjadikanmu merasa segan jika harus berhenti di tengah jalan. Sebagai contoh, katakanlah kepada mereka: “Aku sudah bertekad untuk membiasakan olahraga setiap hari selama dua puluh menit.” Langkah Keenam: Jangan Menyerah Semua orang berusaha, tapi mayoritas orang terjatuh dan gagal saat berusaha dan terus mengeluh. Namun, hanya orang sukses yang ketika terjatuh akan kembali berdiri, apabila gagal akan kembali bangkit. Ia mengetahui bahwa nikmatnya kesuksesan lebih besar daripada nikmatnya berpangku tangan dan bermalas-malasan. Ia tidak menyerah, tapi justru terus berusaha hingga sampai ke tujuannya, karena ia mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan bagi orang-orang yang berusaha keras bahwa mereka akan mendapatkan petunjuk-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh berjuang di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sungguh, Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-Ankabut: 69). Langkah Ketujuh: Kenalilah Kemampuanmu Jangan membebani dirimu di atas kemampuannya. Ini merupakan prinsip syariat yang mendasar. Apabila engkau ingin mengubah kebiasaanmu, maka perlakukanlah dirimu dengan lembut, jangan membebaninya dengan kadar yang tidak mampu ia pikul. Apabila engkau ingin ditaati, maka berilah perintah yang mampu dilakukan. Jangan mengira bahwa perubahan dapat terwujud dengan membebani dirimu di atas kemampuannya, karena siapa yang belum terbiasa memperhatikan etika dalam berbicara, ia tidak akan mampu mengubah kebiasaan itu dalam sehari semalam. Sebab, kebiasaan buruk telah tertanam bertahun-tahun, sehingga kebiasaan yang baru juga membutuhkan waktu bertahun-tahun seperti itu sampai ia tertanam dan mudah dilakukan seperti makan dan minum.  Langkah Kedelapan: Semangati Dirimu Sering-seringlah baca tentang kebiasaan orang-orang sukses, sebab-sebab kesuksesan, metode-metode keberhasilan, kondisi orang-orang sabar dan sejarah hidup mereka yang harum semerbak. Semua itu dapat membantumu untuk memantik kembali semangatmu dan menguatkan tekadmu agar konsisten dalam mengubah kebiasaan-kebiasaanmu. Langkah Kesembilan: Beri Dirimu Penghargaan Buatlah tahapan-tahapan dalam proses menuju kebiasaan yang baru. Pada setiap tahapan ada hadiahnya tertentu. Misalnya membaca satu jam setiap hari selama satu minggu penuh ada hadiahnya membeli minuman, membaca satu jam setiap hari selama dua minggu penuh ada hadiahnya membeli makanan di tempat makan tertentu, dan begitu seterusnya. Tentukanlah pada setiap kadar keberhasilan ada hadiahnya yang sesuai. Ini merupakan salah satu metode yang dilakukan oleh beberapa orang. Langkah Kesepuluh: Berdoa Ini merupakan langkah terpenting yang diperlukan, mintalah selalu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Allahlah Yang Maha Menolong, Dia Maha Kuasa atas segalanya dan Dia telah berjanji untuk mengabulkan doa. Oleh sebab itu, sungguh-sungguhlah berdoa dan amalkanlah adab-adab dalam berdoa serta hindarilah hal-hal yang dapat menjadi penghalang dikabulkannya doa, seperti memakan makanan haram. Ini merupakan langkah yang sangat penting, apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menolongmu, maka tidak akan ada gunanya seluruh langkah yang telah disebutkan sebelumnya, karena itu semua hanya sekedar sebab, tidak akan berguna bagimu kecuali dengan izin Sang Pembuat Sebab, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Benarlah yang dikatakan penyair: إِذَا لَمْ يَكُنْ عَوْنٌ مِنَ اللَّهِ لِلْفَتَى فَأَوَّلُ مَا يَقْضِي عَلَيْهِ اجْتِهَادُهُ Apabila seorang pemuda tidak memperoleh pertolongan dari Allah, maka hal pertama yang justru menghancurkannya adalah kesungguhan usahanya sendiri. Sumber: https://www.alukah.net/social/0/39727/عشر-خطوات-لتغيير-العادات/ Sumber artikel PDF 🔍 Berdoa Saat Haid, Bacaan Niat Puasa Mulud, Surat Yang Pertama Kali Diturunkan, Pendeta Kalah Debat Masuk Islam, Doa Diberikan Jodoh Visited 436 times, 4 visit(s) today Post Views: 27

Perbedaan Makna Tobat dan Istigfar

Daftar Isi ToggleJika tobat dan istigfar disebutkan bersendirian (disebutkan secara terpisah)Makna tobat dan istigfar jika disebutkan bersamaanAsal makna tobat dan istigfarPerbedaan tobat dan istigfarDalam banyak ayat, Allah ﷻ mengabarkan bahwa seorang hamba dapat diampuni dosa-dosanya dengan sebab tobat dan istigfar. Setelah menjelaskan ancaman bagi pelaku dosa dan maksiat, lantas ancaman itu dikecualikan bagi orang yang bertobat dan beristigfar.Allah ﷻ berfirman,إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحًا فَأُو۟لَٰٓئِكَ يَدْخُلُونَ ٱلْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْـًٔا“Kecuali orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun.” (QS. Maryam: 60)وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka beristigfar.” (QS. Al-Anfal: 33)Kita pun sebagai seorang muslim umumnya sangat mengenal istilah tobat dan istigfar. Namun, apakah yang dimaksud dengan istigfar dan tobat? Adakah keduanya istilah yang bermakna sama ataukah ada perbedaannya?Jika tobat dan istigfar disebutkan bersendirian (disebutkan secara terpisah)Imam Ibnu Abil Izz Al-Hanafi rahimahullah, penulis Syarah Aqidah Thahawiyah yang paling masyhur, menjelaskan hal tersebut. Setelah menukilkan ayat-ayat tentang tobat dan istigfar, beliau rahimahullah menjelaskan, “Terkadang istigfar disebutkan sendiri, tetapi adakalanya disebutkan pula bersama kata tobat.فَإِنْ ذُكِرَ وَحْدَهُ دَخَلَ مَعَهُ التَّوْبَةُ، كَمَا إِذَا ذُكِرَتِ التَّوْبَةُ وَحْدَهَا شَمَلَتْ الِاسْتِغْفَارَJika kata istigfar disebutkan secara terpisah, maka tobat termasuk di dalam makna istigfar. Sama seperti jika kata tobat disebutkan sendirian, maka itu mengandung makna istigfar.” (Syarah Aqidah Thahawiyah, 2: 452; cet. Muasasah Risalah)Kata tobat mencakup makna istigfar, dan kata istigfar mencakup makna tobat, dan masing-masing termasuk dalam makna yang lain ketika digunakan secara mutlak.Makna tobat dan istigfar jika disebutkan bersamaanKata tobat dan istigfar disebutkan bersamaan sebagaimana dalam ayat,وَأَنْ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya.” (QS. Hud: 3)Imam Ibnu Abil Izz rahimahullah menjelaskan,أَمَّا عِنْدُ اقْتِرَانِ إِحْدَى اللَّفْظَتَيْنِ بِالْأُخْرَى، فَالِاسْتِغْفَارُ: طَلَبُ وِقَايَةِ شَرِّ مَا مَضَى، وَالتَّوْبَةُ: الرُّجُوعُ وَطَلَبُ وِقَايَةِ شَرِّ مَا يَخَافُهُ فِي الْمُسْتَقْبَلِ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِهِ“Adapun jika masing-masing kata disandingkan dalam satu pembahasan, maka masing-masing memiliki arti sendiri. Istigfar artinya adalah memohon perlindungan dari keburukan yang telah lalu. Sedangkan tobat artinya adalah kembali dan memohon perlindungan dari keburukan di masa depan atas sebab perbuatan keburukan yang dilakukannya.”Syekh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd menjelaskan makna lain,يكون الاستغفار عبارةً عن طلب المغفرة باللسان، والتوبة عبارة عن الإقلاع عن الذنوب بالقلب، والجوارح“Istigfar bisa dimaknai sebagai memohon ampunan dengan lisan, sedangkan tobat adalah meninggalkan dosa maksiat dengan hati dan anggota badan.” (Musthalahat fi Kutubil Aqaid, hal. 187)Hal ini sebagaimana kaidah,‌إِذَا اجْتَمَعَا افْتَرَقَا، وَإِذَا افْتَرَقَا اجْتَمَعَا“Apabila berkumpul (disebutkan bersamaan), maka maknanya berbeda. Jika berpisah, maka maknanya sama.”Contoh semisal adalah istilah-istilah seperti: islam dan iman; fakir dan miskin; itsm dan udwan; birr dan takwa; atau fusuq dan ‘ishyan.Baca juga: Cara Tobat NasuhaAsal makna tobat dan istigfarMenurut Ibnu Faris dan Mu’jam Maqayis Lughah (1: 357), setiap kata yang tersusun dari huruf ت – و – ب, seperti tobat, maknanya selalu seputar rujuk atau kembali (الرجوع). Kata yang semisal adalah:العودة (pulang)الإنابة (kembali)الندم (menyesal)Semuanya kembali kepada makna rujuk atau kembali.Adapun Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Madarij (1: 198) menjelaskan,فحقيقة التوبة هي الندم على ما سلف منه في الماضي، والإقلاع عنه في الحال، والعزم على ألا يعاوده في المستقبل“Hakikat tobat adalah penyesalan atas dosa-dosa masa lalu, penghentian segera dosa-dosa tersebut, dan tekad yang teguh untuk tidak mengulanginya di masa depan.”Artinya, tobat lebih luas dari sekadar menyesal atas dosa masa lalu, tetapi juga ada upaya menghentikannya langsung sekarang, dan bertekad untuk tidak mengulanginya di masa yang akan datang.Sedangkan makna istigfar ialah,طلب المغفرة وهي وقاية شر الذنوب مع سترها“Upaya untuk mencari ampunan, yakni perlindungan dari keburukan dosa serta berharap agar dosanya ditutupi.” (Musthalahat fi Kutubil Aqaid, hal. 187)Perbedaan tobat dan istigfarTerdapat beberapa perbedaan tobat dan istigfar yang kami nukil dari kitab Musthalahat fi Kutubil Aqaid karya Syekh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd sebagai berikut:1) Asal katanya berbeda, yakni: kata tobat berasal dari kata طوب (kembali) dan istigfar berasal dari kata غفر (ampunan).2) Tobat bermakna usaha meliputi penyesalan atas masa lalu, menghentikannya sekarang, dan upaya tidak mengulanginya di masa depan. Sedangkan istigfar bermakna memohon ampunan dan penutupan dosa.3) Istigfar bisa dilakukan meski dosanya terus berlangsung. Sedangkan tobat menuntut orangnya untuk berhenti dari perbuatannya.4) Tobat yang memenuhi syarat pasti diterima, dan dengan itu akan menghapuskan dosa dan menambahkan kebaikan jika tobatnya baik dan tulus (tobat nasuha). Sedangkan istigfar, sebagaimana doa lainnya, bisa diterima maupun ditolak.5) Istigfar bisa dimohonkan untuk diri sendiri, maupun untuk orang lain. Sebagaimana Allah ﷻ berfirman,وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ“Dan memohon ampunlah untuk dosa kalian dan bagi orang beriman laki-laki maupun perempuan.” (QS. Muhammad: 19)Seseorang mendapatkan pahala dengan memohonkan istigfar bagi orang lain. Sedangkan pertobatan hanya bisa dilakukan oleh diri sendiri dan bahkan dilarang untuk dilakukannya atas nama orang lain.6) Malaikat bisa beristigfar untuk orang beriman; sedangkan untuk bertobat atas nama orang beriman, tidak bisa.7) Tobat berlaku sampai sebelum nafas mencapai kerongkongan (ghargarah) ketika sekarat atau sebelum matahari terbit dari barat. Sedangkan istigfar bisa berlaku, baik masih hidup, saat sekarat, maupun setelah meninggal.7) Istigfar boleh dilakukan kapan saja, dan dianjurkan pada waktu tertentu, seperti saat duduk di antara dua sujud, setelah salam salat, setelah melakukan ifadhah saat haji, dan di waktu sahur. Adapun tobat disyariatkan sesegera mungkin.8) Istigfar adalah dengan ucapan lisan, sedangkan tobat adalah meninggalkan dengan hati dan anggota badan.9) Tobat diwajibkan bagi muslim maupun kafir, sedangkan istigfar hanya kaum muslimin saja.10) Tobat mesti disebabkan kembali dari dosa dan maksiat maupun kemakruhan, serta meninggalkan kewajiban maupun kesunahan. Adapun istigfar bisa oleh sebab tersebut, ataupun hanya sekadar bentuk mengingat saja dan bernilai pahala.Semoga dengan membaca keterangan ini, kita bisa menjadi semakin bersemangat dalam bertobat dan beristigfar kepada Allah ﷻ. Karena banyaknya dosa dan ketidaksempurnaan dalam amalan kita, sangat pantas bagi kita untuk menjadi hamba yang istikamah dalam tobat dan permohonan ampunan.Baca juga: Doa “Sayyidul Istigfar”***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Referensi:Musthalahat fi Kutubil Aqaid: https://shamela.ws/book/12070/191Madarijus Salikin: https://www.islamweb.netSyarah Aqidah Thahawiyah li Ibni Abil Izz Al-Hanafi, cet. Muasasah Ar-Risalah.

Perbedaan Makna Tobat dan Istigfar

Daftar Isi ToggleJika tobat dan istigfar disebutkan bersendirian (disebutkan secara terpisah)Makna tobat dan istigfar jika disebutkan bersamaanAsal makna tobat dan istigfarPerbedaan tobat dan istigfarDalam banyak ayat, Allah ﷻ mengabarkan bahwa seorang hamba dapat diampuni dosa-dosanya dengan sebab tobat dan istigfar. Setelah menjelaskan ancaman bagi pelaku dosa dan maksiat, lantas ancaman itu dikecualikan bagi orang yang bertobat dan beristigfar.Allah ﷻ berfirman,إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحًا فَأُو۟لَٰٓئِكَ يَدْخُلُونَ ٱلْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْـًٔا“Kecuali orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun.” (QS. Maryam: 60)وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka beristigfar.” (QS. Al-Anfal: 33)Kita pun sebagai seorang muslim umumnya sangat mengenal istilah tobat dan istigfar. Namun, apakah yang dimaksud dengan istigfar dan tobat? Adakah keduanya istilah yang bermakna sama ataukah ada perbedaannya?Jika tobat dan istigfar disebutkan bersendirian (disebutkan secara terpisah)Imam Ibnu Abil Izz Al-Hanafi rahimahullah, penulis Syarah Aqidah Thahawiyah yang paling masyhur, menjelaskan hal tersebut. Setelah menukilkan ayat-ayat tentang tobat dan istigfar, beliau rahimahullah menjelaskan, “Terkadang istigfar disebutkan sendiri, tetapi adakalanya disebutkan pula bersama kata tobat.فَإِنْ ذُكِرَ وَحْدَهُ دَخَلَ مَعَهُ التَّوْبَةُ، كَمَا إِذَا ذُكِرَتِ التَّوْبَةُ وَحْدَهَا شَمَلَتْ الِاسْتِغْفَارَJika kata istigfar disebutkan secara terpisah, maka tobat termasuk di dalam makna istigfar. Sama seperti jika kata tobat disebutkan sendirian, maka itu mengandung makna istigfar.” (Syarah Aqidah Thahawiyah, 2: 452; cet. Muasasah Risalah)Kata tobat mencakup makna istigfar, dan kata istigfar mencakup makna tobat, dan masing-masing termasuk dalam makna yang lain ketika digunakan secara mutlak.Makna tobat dan istigfar jika disebutkan bersamaanKata tobat dan istigfar disebutkan bersamaan sebagaimana dalam ayat,وَأَنْ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya.” (QS. Hud: 3)Imam Ibnu Abil Izz rahimahullah menjelaskan,أَمَّا عِنْدُ اقْتِرَانِ إِحْدَى اللَّفْظَتَيْنِ بِالْأُخْرَى، فَالِاسْتِغْفَارُ: طَلَبُ وِقَايَةِ شَرِّ مَا مَضَى، وَالتَّوْبَةُ: الرُّجُوعُ وَطَلَبُ وِقَايَةِ شَرِّ مَا يَخَافُهُ فِي الْمُسْتَقْبَلِ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِهِ“Adapun jika masing-masing kata disandingkan dalam satu pembahasan, maka masing-masing memiliki arti sendiri. Istigfar artinya adalah memohon perlindungan dari keburukan yang telah lalu. Sedangkan tobat artinya adalah kembali dan memohon perlindungan dari keburukan di masa depan atas sebab perbuatan keburukan yang dilakukannya.”Syekh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd menjelaskan makna lain,يكون الاستغفار عبارةً عن طلب المغفرة باللسان، والتوبة عبارة عن الإقلاع عن الذنوب بالقلب، والجوارح“Istigfar bisa dimaknai sebagai memohon ampunan dengan lisan, sedangkan tobat adalah meninggalkan dosa maksiat dengan hati dan anggota badan.” (Musthalahat fi Kutubil Aqaid, hal. 187)Hal ini sebagaimana kaidah,‌إِذَا اجْتَمَعَا افْتَرَقَا، وَإِذَا افْتَرَقَا اجْتَمَعَا“Apabila berkumpul (disebutkan bersamaan), maka maknanya berbeda. Jika berpisah, maka maknanya sama.”Contoh semisal adalah istilah-istilah seperti: islam dan iman; fakir dan miskin; itsm dan udwan; birr dan takwa; atau fusuq dan ‘ishyan.Baca juga: Cara Tobat NasuhaAsal makna tobat dan istigfarMenurut Ibnu Faris dan Mu’jam Maqayis Lughah (1: 357), setiap kata yang tersusun dari huruf ت – و – ب, seperti tobat, maknanya selalu seputar rujuk atau kembali (الرجوع). Kata yang semisal adalah:العودة (pulang)الإنابة (kembali)الندم (menyesal)Semuanya kembali kepada makna rujuk atau kembali.Adapun Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Madarij (1: 198) menjelaskan,فحقيقة التوبة هي الندم على ما سلف منه في الماضي، والإقلاع عنه في الحال، والعزم على ألا يعاوده في المستقبل“Hakikat tobat adalah penyesalan atas dosa-dosa masa lalu, penghentian segera dosa-dosa tersebut, dan tekad yang teguh untuk tidak mengulanginya di masa depan.”Artinya, tobat lebih luas dari sekadar menyesal atas dosa masa lalu, tetapi juga ada upaya menghentikannya langsung sekarang, dan bertekad untuk tidak mengulanginya di masa yang akan datang.Sedangkan makna istigfar ialah,طلب المغفرة وهي وقاية شر الذنوب مع سترها“Upaya untuk mencari ampunan, yakni perlindungan dari keburukan dosa serta berharap agar dosanya ditutupi.” (Musthalahat fi Kutubil Aqaid, hal. 187)Perbedaan tobat dan istigfarTerdapat beberapa perbedaan tobat dan istigfar yang kami nukil dari kitab Musthalahat fi Kutubil Aqaid karya Syekh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd sebagai berikut:1) Asal katanya berbeda, yakni: kata tobat berasal dari kata طوب (kembali) dan istigfar berasal dari kata غفر (ampunan).2) Tobat bermakna usaha meliputi penyesalan atas masa lalu, menghentikannya sekarang, dan upaya tidak mengulanginya di masa depan. Sedangkan istigfar bermakna memohon ampunan dan penutupan dosa.3) Istigfar bisa dilakukan meski dosanya terus berlangsung. Sedangkan tobat menuntut orangnya untuk berhenti dari perbuatannya.4) Tobat yang memenuhi syarat pasti diterima, dan dengan itu akan menghapuskan dosa dan menambahkan kebaikan jika tobatnya baik dan tulus (tobat nasuha). Sedangkan istigfar, sebagaimana doa lainnya, bisa diterima maupun ditolak.5) Istigfar bisa dimohonkan untuk diri sendiri, maupun untuk orang lain. Sebagaimana Allah ﷻ berfirman,وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ“Dan memohon ampunlah untuk dosa kalian dan bagi orang beriman laki-laki maupun perempuan.” (QS. Muhammad: 19)Seseorang mendapatkan pahala dengan memohonkan istigfar bagi orang lain. Sedangkan pertobatan hanya bisa dilakukan oleh diri sendiri dan bahkan dilarang untuk dilakukannya atas nama orang lain.6) Malaikat bisa beristigfar untuk orang beriman; sedangkan untuk bertobat atas nama orang beriman, tidak bisa.7) Tobat berlaku sampai sebelum nafas mencapai kerongkongan (ghargarah) ketika sekarat atau sebelum matahari terbit dari barat. Sedangkan istigfar bisa berlaku, baik masih hidup, saat sekarat, maupun setelah meninggal.7) Istigfar boleh dilakukan kapan saja, dan dianjurkan pada waktu tertentu, seperti saat duduk di antara dua sujud, setelah salam salat, setelah melakukan ifadhah saat haji, dan di waktu sahur. Adapun tobat disyariatkan sesegera mungkin.8) Istigfar adalah dengan ucapan lisan, sedangkan tobat adalah meninggalkan dengan hati dan anggota badan.9) Tobat diwajibkan bagi muslim maupun kafir, sedangkan istigfar hanya kaum muslimin saja.10) Tobat mesti disebabkan kembali dari dosa dan maksiat maupun kemakruhan, serta meninggalkan kewajiban maupun kesunahan. Adapun istigfar bisa oleh sebab tersebut, ataupun hanya sekadar bentuk mengingat saja dan bernilai pahala.Semoga dengan membaca keterangan ini, kita bisa menjadi semakin bersemangat dalam bertobat dan beristigfar kepada Allah ﷻ. Karena banyaknya dosa dan ketidaksempurnaan dalam amalan kita, sangat pantas bagi kita untuk menjadi hamba yang istikamah dalam tobat dan permohonan ampunan.Baca juga: Doa “Sayyidul Istigfar”***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Referensi:Musthalahat fi Kutubil Aqaid: https://shamela.ws/book/12070/191Madarijus Salikin: https://www.islamweb.netSyarah Aqidah Thahawiyah li Ibni Abil Izz Al-Hanafi, cet. Muasasah Ar-Risalah.
Daftar Isi ToggleJika tobat dan istigfar disebutkan bersendirian (disebutkan secara terpisah)Makna tobat dan istigfar jika disebutkan bersamaanAsal makna tobat dan istigfarPerbedaan tobat dan istigfarDalam banyak ayat, Allah ﷻ mengabarkan bahwa seorang hamba dapat diampuni dosa-dosanya dengan sebab tobat dan istigfar. Setelah menjelaskan ancaman bagi pelaku dosa dan maksiat, lantas ancaman itu dikecualikan bagi orang yang bertobat dan beristigfar.Allah ﷻ berfirman,إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحًا فَأُو۟لَٰٓئِكَ يَدْخُلُونَ ٱلْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْـًٔا“Kecuali orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun.” (QS. Maryam: 60)وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka beristigfar.” (QS. Al-Anfal: 33)Kita pun sebagai seorang muslim umumnya sangat mengenal istilah tobat dan istigfar. Namun, apakah yang dimaksud dengan istigfar dan tobat? Adakah keduanya istilah yang bermakna sama ataukah ada perbedaannya?Jika tobat dan istigfar disebutkan bersendirian (disebutkan secara terpisah)Imam Ibnu Abil Izz Al-Hanafi rahimahullah, penulis Syarah Aqidah Thahawiyah yang paling masyhur, menjelaskan hal tersebut. Setelah menukilkan ayat-ayat tentang tobat dan istigfar, beliau rahimahullah menjelaskan, “Terkadang istigfar disebutkan sendiri, tetapi adakalanya disebutkan pula bersama kata tobat.فَإِنْ ذُكِرَ وَحْدَهُ دَخَلَ مَعَهُ التَّوْبَةُ، كَمَا إِذَا ذُكِرَتِ التَّوْبَةُ وَحْدَهَا شَمَلَتْ الِاسْتِغْفَارَJika kata istigfar disebutkan secara terpisah, maka tobat termasuk di dalam makna istigfar. Sama seperti jika kata tobat disebutkan sendirian, maka itu mengandung makna istigfar.” (Syarah Aqidah Thahawiyah, 2: 452; cet. Muasasah Risalah)Kata tobat mencakup makna istigfar, dan kata istigfar mencakup makna tobat, dan masing-masing termasuk dalam makna yang lain ketika digunakan secara mutlak.Makna tobat dan istigfar jika disebutkan bersamaanKata tobat dan istigfar disebutkan bersamaan sebagaimana dalam ayat,وَأَنْ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya.” (QS. Hud: 3)Imam Ibnu Abil Izz rahimahullah menjelaskan,أَمَّا عِنْدُ اقْتِرَانِ إِحْدَى اللَّفْظَتَيْنِ بِالْأُخْرَى، فَالِاسْتِغْفَارُ: طَلَبُ وِقَايَةِ شَرِّ مَا مَضَى، وَالتَّوْبَةُ: الرُّجُوعُ وَطَلَبُ وِقَايَةِ شَرِّ مَا يَخَافُهُ فِي الْمُسْتَقْبَلِ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِهِ“Adapun jika masing-masing kata disandingkan dalam satu pembahasan, maka masing-masing memiliki arti sendiri. Istigfar artinya adalah memohon perlindungan dari keburukan yang telah lalu. Sedangkan tobat artinya adalah kembali dan memohon perlindungan dari keburukan di masa depan atas sebab perbuatan keburukan yang dilakukannya.”Syekh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd menjelaskan makna lain,يكون الاستغفار عبارةً عن طلب المغفرة باللسان، والتوبة عبارة عن الإقلاع عن الذنوب بالقلب، والجوارح“Istigfar bisa dimaknai sebagai memohon ampunan dengan lisan, sedangkan tobat adalah meninggalkan dosa maksiat dengan hati dan anggota badan.” (Musthalahat fi Kutubil Aqaid, hal. 187)Hal ini sebagaimana kaidah,‌إِذَا اجْتَمَعَا افْتَرَقَا، وَإِذَا افْتَرَقَا اجْتَمَعَا“Apabila berkumpul (disebutkan bersamaan), maka maknanya berbeda. Jika berpisah, maka maknanya sama.”Contoh semisal adalah istilah-istilah seperti: islam dan iman; fakir dan miskin; itsm dan udwan; birr dan takwa; atau fusuq dan ‘ishyan.Baca juga: Cara Tobat NasuhaAsal makna tobat dan istigfarMenurut Ibnu Faris dan Mu’jam Maqayis Lughah (1: 357), setiap kata yang tersusun dari huruf ت – و – ب, seperti tobat, maknanya selalu seputar rujuk atau kembali (الرجوع). Kata yang semisal adalah:العودة (pulang)الإنابة (kembali)الندم (menyesal)Semuanya kembali kepada makna rujuk atau kembali.Adapun Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Madarij (1: 198) menjelaskan,فحقيقة التوبة هي الندم على ما سلف منه في الماضي، والإقلاع عنه في الحال، والعزم على ألا يعاوده في المستقبل“Hakikat tobat adalah penyesalan atas dosa-dosa masa lalu, penghentian segera dosa-dosa tersebut, dan tekad yang teguh untuk tidak mengulanginya di masa depan.”Artinya, tobat lebih luas dari sekadar menyesal atas dosa masa lalu, tetapi juga ada upaya menghentikannya langsung sekarang, dan bertekad untuk tidak mengulanginya di masa yang akan datang.Sedangkan makna istigfar ialah,طلب المغفرة وهي وقاية شر الذنوب مع سترها“Upaya untuk mencari ampunan, yakni perlindungan dari keburukan dosa serta berharap agar dosanya ditutupi.” (Musthalahat fi Kutubil Aqaid, hal. 187)Perbedaan tobat dan istigfarTerdapat beberapa perbedaan tobat dan istigfar yang kami nukil dari kitab Musthalahat fi Kutubil Aqaid karya Syekh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd sebagai berikut:1) Asal katanya berbeda, yakni: kata tobat berasal dari kata طوب (kembali) dan istigfar berasal dari kata غفر (ampunan).2) Tobat bermakna usaha meliputi penyesalan atas masa lalu, menghentikannya sekarang, dan upaya tidak mengulanginya di masa depan. Sedangkan istigfar bermakna memohon ampunan dan penutupan dosa.3) Istigfar bisa dilakukan meski dosanya terus berlangsung. Sedangkan tobat menuntut orangnya untuk berhenti dari perbuatannya.4) Tobat yang memenuhi syarat pasti diterima, dan dengan itu akan menghapuskan dosa dan menambahkan kebaikan jika tobatnya baik dan tulus (tobat nasuha). Sedangkan istigfar, sebagaimana doa lainnya, bisa diterima maupun ditolak.5) Istigfar bisa dimohonkan untuk diri sendiri, maupun untuk orang lain. Sebagaimana Allah ﷻ berfirman,وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ“Dan memohon ampunlah untuk dosa kalian dan bagi orang beriman laki-laki maupun perempuan.” (QS. Muhammad: 19)Seseorang mendapatkan pahala dengan memohonkan istigfar bagi orang lain. Sedangkan pertobatan hanya bisa dilakukan oleh diri sendiri dan bahkan dilarang untuk dilakukannya atas nama orang lain.6) Malaikat bisa beristigfar untuk orang beriman; sedangkan untuk bertobat atas nama orang beriman, tidak bisa.7) Tobat berlaku sampai sebelum nafas mencapai kerongkongan (ghargarah) ketika sekarat atau sebelum matahari terbit dari barat. Sedangkan istigfar bisa berlaku, baik masih hidup, saat sekarat, maupun setelah meninggal.7) Istigfar boleh dilakukan kapan saja, dan dianjurkan pada waktu tertentu, seperti saat duduk di antara dua sujud, setelah salam salat, setelah melakukan ifadhah saat haji, dan di waktu sahur. Adapun tobat disyariatkan sesegera mungkin.8) Istigfar adalah dengan ucapan lisan, sedangkan tobat adalah meninggalkan dengan hati dan anggota badan.9) Tobat diwajibkan bagi muslim maupun kafir, sedangkan istigfar hanya kaum muslimin saja.10) Tobat mesti disebabkan kembali dari dosa dan maksiat maupun kemakruhan, serta meninggalkan kewajiban maupun kesunahan. Adapun istigfar bisa oleh sebab tersebut, ataupun hanya sekadar bentuk mengingat saja dan bernilai pahala.Semoga dengan membaca keterangan ini, kita bisa menjadi semakin bersemangat dalam bertobat dan beristigfar kepada Allah ﷻ. Karena banyaknya dosa dan ketidaksempurnaan dalam amalan kita, sangat pantas bagi kita untuk menjadi hamba yang istikamah dalam tobat dan permohonan ampunan.Baca juga: Doa “Sayyidul Istigfar”***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Referensi:Musthalahat fi Kutubil Aqaid: https://shamela.ws/book/12070/191Madarijus Salikin: https://www.islamweb.netSyarah Aqidah Thahawiyah li Ibni Abil Izz Al-Hanafi, cet. Muasasah Ar-Risalah.


Daftar Isi ToggleJika tobat dan istigfar disebutkan bersendirian (disebutkan secara terpisah)Makna tobat dan istigfar jika disebutkan bersamaanAsal makna tobat dan istigfarPerbedaan tobat dan istigfarDalam banyak ayat, Allah ﷻ mengabarkan bahwa seorang hamba dapat diampuni dosa-dosanya dengan sebab tobat dan istigfar. Setelah menjelaskan ancaman bagi pelaku dosa dan maksiat, lantas ancaman itu dikecualikan bagi orang yang bertobat dan beristigfar.Allah ﷻ berfirman,إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحًا فَأُو۟لَٰٓئِكَ يَدْخُلُونَ ٱلْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْـًٔا“Kecuali orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun.” (QS. Maryam: 60)وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka beristigfar.” (QS. Al-Anfal: 33)Kita pun sebagai seorang muslim umumnya sangat mengenal istilah tobat dan istigfar. Namun, apakah yang dimaksud dengan istigfar dan tobat? Adakah keduanya istilah yang bermakna sama ataukah ada perbedaannya?Jika tobat dan istigfar disebutkan bersendirian (disebutkan secara terpisah)Imam Ibnu Abil Izz Al-Hanafi rahimahullah, penulis Syarah Aqidah Thahawiyah yang paling masyhur, menjelaskan hal tersebut. Setelah menukilkan ayat-ayat tentang tobat dan istigfar, beliau rahimahullah menjelaskan, “Terkadang istigfar disebutkan sendiri, tetapi adakalanya disebutkan pula bersama kata tobat.فَإِنْ ذُكِرَ وَحْدَهُ دَخَلَ مَعَهُ التَّوْبَةُ، كَمَا إِذَا ذُكِرَتِ التَّوْبَةُ وَحْدَهَا شَمَلَتْ الِاسْتِغْفَارَJika kata istigfar disebutkan secara terpisah, maka tobat termasuk di dalam makna istigfar. Sama seperti jika kata tobat disebutkan sendirian, maka itu mengandung makna istigfar.” (Syarah Aqidah Thahawiyah, 2: 452; cet. Muasasah Risalah)Kata tobat mencakup makna istigfar, dan kata istigfar mencakup makna tobat, dan masing-masing termasuk dalam makna yang lain ketika digunakan secara mutlak.Makna tobat dan istigfar jika disebutkan bersamaanKata tobat dan istigfar disebutkan bersamaan sebagaimana dalam ayat,وَأَنْ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya.” (QS. Hud: 3)Imam Ibnu Abil Izz rahimahullah menjelaskan,أَمَّا عِنْدُ اقْتِرَانِ إِحْدَى اللَّفْظَتَيْنِ بِالْأُخْرَى، فَالِاسْتِغْفَارُ: طَلَبُ وِقَايَةِ شَرِّ مَا مَضَى، وَالتَّوْبَةُ: الرُّجُوعُ وَطَلَبُ وِقَايَةِ شَرِّ مَا يَخَافُهُ فِي الْمُسْتَقْبَلِ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِهِ“Adapun jika masing-masing kata disandingkan dalam satu pembahasan, maka masing-masing memiliki arti sendiri. Istigfar artinya adalah memohon perlindungan dari keburukan yang telah lalu. Sedangkan tobat artinya adalah kembali dan memohon perlindungan dari keburukan di masa depan atas sebab perbuatan keburukan yang dilakukannya.”Syekh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd menjelaskan makna lain,يكون الاستغفار عبارةً عن طلب المغفرة باللسان، والتوبة عبارة عن الإقلاع عن الذنوب بالقلب، والجوارح“Istigfar bisa dimaknai sebagai memohon ampunan dengan lisan, sedangkan tobat adalah meninggalkan dosa maksiat dengan hati dan anggota badan.” (Musthalahat fi Kutubil Aqaid, hal. 187)Hal ini sebagaimana kaidah,‌إِذَا اجْتَمَعَا افْتَرَقَا، وَإِذَا افْتَرَقَا اجْتَمَعَا“Apabila berkumpul (disebutkan bersamaan), maka maknanya berbeda. Jika berpisah, maka maknanya sama.”Contoh semisal adalah istilah-istilah seperti: islam dan iman; fakir dan miskin; itsm dan udwan; birr dan takwa; atau fusuq dan ‘ishyan.Baca juga: Cara Tobat NasuhaAsal makna tobat dan istigfarMenurut Ibnu Faris dan Mu’jam Maqayis Lughah (1: 357), setiap kata yang tersusun dari huruf ت – و – ب, seperti tobat, maknanya selalu seputar rujuk atau kembali (الرجوع). Kata yang semisal adalah:العودة (pulang)الإنابة (kembali)الندم (menyesal)Semuanya kembali kepada makna rujuk atau kembali.Adapun Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Madarij (1: 198) menjelaskan,فحقيقة التوبة هي الندم على ما سلف منه في الماضي، والإقلاع عنه في الحال، والعزم على ألا يعاوده في المستقبل“Hakikat tobat adalah penyesalan atas dosa-dosa masa lalu, penghentian segera dosa-dosa tersebut, dan tekad yang teguh untuk tidak mengulanginya di masa depan.”Artinya, tobat lebih luas dari sekadar menyesal atas dosa masa lalu, tetapi juga ada upaya menghentikannya langsung sekarang, dan bertekad untuk tidak mengulanginya di masa yang akan datang.Sedangkan makna istigfar ialah,طلب المغفرة وهي وقاية شر الذنوب مع سترها“Upaya untuk mencari ampunan, yakni perlindungan dari keburukan dosa serta berharap agar dosanya ditutupi.” (Musthalahat fi Kutubil Aqaid, hal. 187)Perbedaan tobat dan istigfarTerdapat beberapa perbedaan tobat dan istigfar yang kami nukil dari kitab Musthalahat fi Kutubil Aqaid karya Syekh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd sebagai berikut:1) Asal katanya berbeda, yakni: kata tobat berasal dari kata طوب (kembali) dan istigfar berasal dari kata غفر (ampunan).2) Tobat bermakna usaha meliputi penyesalan atas masa lalu, menghentikannya sekarang, dan upaya tidak mengulanginya di masa depan. Sedangkan istigfar bermakna memohon ampunan dan penutupan dosa.3) Istigfar bisa dilakukan meski dosanya terus berlangsung. Sedangkan tobat menuntut orangnya untuk berhenti dari perbuatannya.4) Tobat yang memenuhi syarat pasti diterima, dan dengan itu akan menghapuskan dosa dan menambahkan kebaikan jika tobatnya baik dan tulus (tobat nasuha). Sedangkan istigfar, sebagaimana doa lainnya, bisa diterima maupun ditolak.5) Istigfar bisa dimohonkan untuk diri sendiri, maupun untuk orang lain. Sebagaimana Allah ﷻ berfirman,وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ“Dan memohon ampunlah untuk dosa kalian dan bagi orang beriman laki-laki maupun perempuan.” (QS. Muhammad: 19)Seseorang mendapatkan pahala dengan memohonkan istigfar bagi orang lain. Sedangkan pertobatan hanya bisa dilakukan oleh diri sendiri dan bahkan dilarang untuk dilakukannya atas nama orang lain.6) Malaikat bisa beristigfar untuk orang beriman; sedangkan untuk bertobat atas nama orang beriman, tidak bisa.7) Tobat berlaku sampai sebelum nafas mencapai kerongkongan (ghargarah) ketika sekarat atau sebelum matahari terbit dari barat. Sedangkan istigfar bisa berlaku, baik masih hidup, saat sekarat, maupun setelah meninggal.7) Istigfar boleh dilakukan kapan saja, dan dianjurkan pada waktu tertentu, seperti saat duduk di antara dua sujud, setelah salam salat, setelah melakukan ifadhah saat haji, dan di waktu sahur. Adapun tobat disyariatkan sesegera mungkin.8) Istigfar adalah dengan ucapan lisan, sedangkan tobat adalah meninggalkan dengan hati dan anggota badan.9) Tobat diwajibkan bagi muslim maupun kafir, sedangkan istigfar hanya kaum muslimin saja.10) Tobat mesti disebabkan kembali dari dosa dan maksiat maupun kemakruhan, serta meninggalkan kewajiban maupun kesunahan. Adapun istigfar bisa oleh sebab tersebut, ataupun hanya sekadar bentuk mengingat saja dan bernilai pahala.Semoga dengan membaca keterangan ini, kita bisa menjadi semakin bersemangat dalam bertobat dan beristigfar kepada Allah ﷻ. Karena banyaknya dosa dan ketidaksempurnaan dalam amalan kita, sangat pantas bagi kita untuk menjadi hamba yang istikamah dalam tobat dan permohonan ampunan.Baca juga: Doa “Sayyidul Istigfar”***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Referensi:Musthalahat fi Kutubil Aqaid: https://shamela.ws/book/12070/191Madarijus Salikin: https://www.islamweb.netSyarah Aqidah Thahawiyah li Ibni Abil Izz Al-Hanafi, cet. Muasasah Ar-Risalah.

Dua Tuduhan Keji Pelaku Bid’ah kepada Nabi – Syaikh Shalih As-Sindi #NasehatUlama

Wahai hamba Allah, intinya bukanlah engkau beribadah kepada Allah dengan apa yang engkau sukai, melainkan intinya adalah engkau beribadah kepada Allah dengan apa yang Allah cintai. Jadikanlah ini sebagai kaidah dalam hidupmu. Bid’ah adalah keburukan, kerusakan, kegelapan bagi hati, dan penyakit di dalamnya, wahai hamba-hamba Allah. Bid’ah adalah sikap mengikuti hawa nafsu. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Maka jika mereka tidak menjawab tantanganmu, ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka.” (QS. Al-Qashas: 50) Hanya ada dua jalan, tidak ada jalan ketiga: mengikuti Sunnah atau melakukan bid’ah. Maksudnya, mengikuti hawa nafsu, dan mengikuti hawa nafsu adalah kesesatan yang besar. “Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun?” (QS. Al-Qashas: 50) Maka, bid’ah itu pertama-tama adalah bentuk mengikuti hawa nafsu. Yang kedua, bid’ah adalah tuduhan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tuduhan bahwa Nabi belum menyampaikan agama ini dengan penjelasan yang nyata. Artinya, ia meyakini bahwa dalam perkara baru yang diada-adakan ini, baik berupa zikir, salat, maulid, maupun perayaan, terdapat kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah, padahal beliau ‘alaihish shalatu was salam mendiamkannya, menyembunyikannya, dan tidak menjelaskannya.Ini adalah tuduhan pengkhianatan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapakah dari kalangan muslimin yang berani melakukan hal ini? Perkara yang ketiga, dalam bid’ah terdapat tuduhan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau tidak mengetahui agama Allah, sedangkan pelaku perkara baru (pelaku bid’ah) itu mengetahuinya. Ini tidak akan berani dilakukan oleh seorang muslim. Bagaimana mungkin, sedangkan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana dalam Shahih Al-Bukhari dan selainnya, “Aku adalah orang yang paling mengetahui Allah di antara kalian dan paling takut kepada-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim, dengan lafal yang semakna) Yang paling mengetahui agama Allah adalah Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sementara pembuat perkara baru yang berbuat bid’ah ini seakan berkata, “Tidak. Aku mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kita mendekatkan diri kepada Allah dengan sesuatu yang tidak pernah beliau ajarkan.” Waspadalah, wahai hamba Allah! Demi Allah, hatimu tidak akan selamat jika amal-amalmu tegak di atas bid’ah, bukan di atas Sunnah. Sebelum engkau melakukan perkara apa pun yang dengannya engkau ingin mendekatkan diri kepada Allah, berhentilah sejenak dan bertanyalah, “Apakah Rasulullah pernah melakukan hal ini?” Jika beliau melakukannya, maka katakanlah, “Aku junjung di atas kepala dan di atas mata.” Jika engkau mendapati stempel kenabian, yakni amal ini distempel dengan stempel kenabian, maka kerjakanlah tanpa ragu. Adapun jika tidak ada stempel ini padanya, jika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukannya atau tidak pernah membimbing kepadanya, maka berhati-hatilah darinya. Karena demi Allah, hal itu tidak akan menambahkan bagimu apa pun kecuali semakin jauh dari Allah. ===== عَبْدَ اللهِ، لَيْسَ الشَّأْنُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ بِمَا تُحِبُّ إِنَّمَا الشَّأْنُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ بِمَا يُحِبُّ اجْعَلْ هَذِهِ قَاعِدَةً فِي حَيَاتِكَ الْبِدْعَةُ شَرٌّ وَفَسَادٌ وَظَلَامٌ لِلْقَلْبِ وَمَرَضٌ فِيهِ يَا عِبَادَ اللهِ الْبِدْعَةُ اتِّبَاعٌ لِلْهَوَى قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ طَرِيقَانِ لَيْسَ لَهُمَا ثَالِثٌ، إِمَّا اتِّبَاعُ السُّنَّةِ أَوِ الْبِدْعَةُ يَعْنِي اتِّبَاعَ الْهَوَى، وَاتِّبَاعُ الْهَوَى ضَلَالٌ عَظِيمٌ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللَّهِ إِذًا الْبِدْعَةُ أَوَّلًا اتِّبَاعٌ لِلْهَوَى الْبِدْعَةُ ثَانِيًا اتِّهَامٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَنَّهُ مَا بَلَّغَ الْبَلَاغَ الْمُبِينَ يَعْنِي عَلِمَ أَنَّ فِي هَذَا الْأَمْرِ الْمُحْدَثِ سَوَاءً كَانَ ذِكْرًا، صَلَاةً، مَوْلِدًا، احْتِفَالًا أَنَّ فِيهِ خَيْرًا يُقَرِّبُ إِلَى اللهِ وَسَكَتَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَكَتَمَ وَمَا بَيَّنَ وَهَذَا اتِّهَامٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْخِيَانَةِ مَنْ يَجْرُؤُ عَلَى هَذَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ؟ الْأَمْرُ الثَّالِثُ أَنَّ فِي الْبِدْعَةِ اتِّهَامًا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ جَهِلَ دِينَ اللهِ وَعَلِمَهُ الْمُحْدِثُ وَهَذَا لَا يَجْرُؤُ عَلَيْهِ مُسْلِمٌ كَيْفَ وَنَبِيُّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كَمَا فِي الصَّحِيحِ فِي الْبُخَارِيِّ وَغَيْرِهِ أَنَا أَعْلَمُكُمْ بِاللهِ وَأَشَدُّكُمْ لَهُ خَشْيَةً أَعْلَمُ النَّاسِ بِدِينِ اللهِ، اللهُ وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَذَا الْمُحْدِثُ الْمُبْتَدِعُ يَقُولُ لَا، أَنَا أَعْلَمُ شَيْئًا مَا عَلِمَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَتَقَرَّبُ إِلَى اللهِ بِمَا لَمْ يُحْدِثْ حَذَارِ يَا عَبْدَ اللهِ وَاللهِ إِنَّ قَلْبَكَ لَا يَكُونُ سَلِيمًا لَوْ كَانَتْ أَعْمَالُكَ عَلَى الْبِدْعَةِ لَا عَلَى السُّنَّةِ قَبْلَ أَنْ تَفْعَلَ أَيَّ شَيْءٍ تُرِيدُ أَنْ تَتَقَرَّبَ بِهِ إِلَى اللهِ قِفْ لَحْظَةً وَاسْأَلْ هَلْ فَعَلَ هَذَا رَسُولُ اللهِ؟ إِنْ فَعَلَ، فَقُلْ: عَلَى الرَّأْسِ وَعَلَى الْعَيْنِ إِنْ وَجَدْتَ خَاتَمَ النُّبُوَّةِ، هَذَا الْعَمَلُ مَخْتُومٌ بِخَاتَمِ النُّبُوَّةِ فَأَقْبِلْ عَلَيْهِ بِدُونِ تَرَدُّدٍ أَمَّا إِنْ لَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ هَذَا الْخَاتَمُ إِنْ لَمْ يَكُنْ فَعَلَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ أَرْشَدَ إِلَيْهِ فَإِيَّاكَ وَإِيَّاهُ فَإِنَّهُ وَاللهِ لَا يَزِيدُكَ مِنَ اللهِ إِلَّا بُعْدًا

Dua Tuduhan Keji Pelaku Bid’ah kepada Nabi – Syaikh Shalih As-Sindi #NasehatUlama

Wahai hamba Allah, intinya bukanlah engkau beribadah kepada Allah dengan apa yang engkau sukai, melainkan intinya adalah engkau beribadah kepada Allah dengan apa yang Allah cintai. Jadikanlah ini sebagai kaidah dalam hidupmu. Bid’ah adalah keburukan, kerusakan, kegelapan bagi hati, dan penyakit di dalamnya, wahai hamba-hamba Allah. Bid’ah adalah sikap mengikuti hawa nafsu. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Maka jika mereka tidak menjawab tantanganmu, ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka.” (QS. Al-Qashas: 50) Hanya ada dua jalan, tidak ada jalan ketiga: mengikuti Sunnah atau melakukan bid’ah. Maksudnya, mengikuti hawa nafsu, dan mengikuti hawa nafsu adalah kesesatan yang besar. “Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun?” (QS. Al-Qashas: 50) Maka, bid’ah itu pertama-tama adalah bentuk mengikuti hawa nafsu. Yang kedua, bid’ah adalah tuduhan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tuduhan bahwa Nabi belum menyampaikan agama ini dengan penjelasan yang nyata. Artinya, ia meyakini bahwa dalam perkara baru yang diada-adakan ini, baik berupa zikir, salat, maulid, maupun perayaan, terdapat kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah, padahal beliau ‘alaihish shalatu was salam mendiamkannya, menyembunyikannya, dan tidak menjelaskannya.Ini adalah tuduhan pengkhianatan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapakah dari kalangan muslimin yang berani melakukan hal ini? Perkara yang ketiga, dalam bid’ah terdapat tuduhan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau tidak mengetahui agama Allah, sedangkan pelaku perkara baru (pelaku bid’ah) itu mengetahuinya. Ini tidak akan berani dilakukan oleh seorang muslim. Bagaimana mungkin, sedangkan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana dalam Shahih Al-Bukhari dan selainnya, “Aku adalah orang yang paling mengetahui Allah di antara kalian dan paling takut kepada-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim, dengan lafal yang semakna) Yang paling mengetahui agama Allah adalah Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sementara pembuat perkara baru yang berbuat bid’ah ini seakan berkata, “Tidak. Aku mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kita mendekatkan diri kepada Allah dengan sesuatu yang tidak pernah beliau ajarkan.” Waspadalah, wahai hamba Allah! Demi Allah, hatimu tidak akan selamat jika amal-amalmu tegak di atas bid’ah, bukan di atas Sunnah. Sebelum engkau melakukan perkara apa pun yang dengannya engkau ingin mendekatkan diri kepada Allah, berhentilah sejenak dan bertanyalah, “Apakah Rasulullah pernah melakukan hal ini?” Jika beliau melakukannya, maka katakanlah, “Aku junjung di atas kepala dan di atas mata.” Jika engkau mendapati stempel kenabian, yakni amal ini distempel dengan stempel kenabian, maka kerjakanlah tanpa ragu. Adapun jika tidak ada stempel ini padanya, jika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukannya atau tidak pernah membimbing kepadanya, maka berhati-hatilah darinya. Karena demi Allah, hal itu tidak akan menambahkan bagimu apa pun kecuali semakin jauh dari Allah. ===== عَبْدَ اللهِ، لَيْسَ الشَّأْنُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ بِمَا تُحِبُّ إِنَّمَا الشَّأْنُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ بِمَا يُحِبُّ اجْعَلْ هَذِهِ قَاعِدَةً فِي حَيَاتِكَ الْبِدْعَةُ شَرٌّ وَفَسَادٌ وَظَلَامٌ لِلْقَلْبِ وَمَرَضٌ فِيهِ يَا عِبَادَ اللهِ الْبِدْعَةُ اتِّبَاعٌ لِلْهَوَى قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ طَرِيقَانِ لَيْسَ لَهُمَا ثَالِثٌ، إِمَّا اتِّبَاعُ السُّنَّةِ أَوِ الْبِدْعَةُ يَعْنِي اتِّبَاعَ الْهَوَى، وَاتِّبَاعُ الْهَوَى ضَلَالٌ عَظِيمٌ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللَّهِ إِذًا الْبِدْعَةُ أَوَّلًا اتِّبَاعٌ لِلْهَوَى الْبِدْعَةُ ثَانِيًا اتِّهَامٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَنَّهُ مَا بَلَّغَ الْبَلَاغَ الْمُبِينَ يَعْنِي عَلِمَ أَنَّ فِي هَذَا الْأَمْرِ الْمُحْدَثِ سَوَاءً كَانَ ذِكْرًا، صَلَاةً، مَوْلِدًا، احْتِفَالًا أَنَّ فِيهِ خَيْرًا يُقَرِّبُ إِلَى اللهِ وَسَكَتَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَكَتَمَ وَمَا بَيَّنَ وَهَذَا اتِّهَامٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْخِيَانَةِ مَنْ يَجْرُؤُ عَلَى هَذَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ؟ الْأَمْرُ الثَّالِثُ أَنَّ فِي الْبِدْعَةِ اتِّهَامًا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ جَهِلَ دِينَ اللهِ وَعَلِمَهُ الْمُحْدِثُ وَهَذَا لَا يَجْرُؤُ عَلَيْهِ مُسْلِمٌ كَيْفَ وَنَبِيُّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كَمَا فِي الصَّحِيحِ فِي الْبُخَارِيِّ وَغَيْرِهِ أَنَا أَعْلَمُكُمْ بِاللهِ وَأَشَدُّكُمْ لَهُ خَشْيَةً أَعْلَمُ النَّاسِ بِدِينِ اللهِ، اللهُ وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَذَا الْمُحْدِثُ الْمُبْتَدِعُ يَقُولُ لَا، أَنَا أَعْلَمُ شَيْئًا مَا عَلِمَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَتَقَرَّبُ إِلَى اللهِ بِمَا لَمْ يُحْدِثْ حَذَارِ يَا عَبْدَ اللهِ وَاللهِ إِنَّ قَلْبَكَ لَا يَكُونُ سَلِيمًا لَوْ كَانَتْ أَعْمَالُكَ عَلَى الْبِدْعَةِ لَا عَلَى السُّنَّةِ قَبْلَ أَنْ تَفْعَلَ أَيَّ شَيْءٍ تُرِيدُ أَنْ تَتَقَرَّبَ بِهِ إِلَى اللهِ قِفْ لَحْظَةً وَاسْأَلْ هَلْ فَعَلَ هَذَا رَسُولُ اللهِ؟ إِنْ فَعَلَ، فَقُلْ: عَلَى الرَّأْسِ وَعَلَى الْعَيْنِ إِنْ وَجَدْتَ خَاتَمَ النُّبُوَّةِ، هَذَا الْعَمَلُ مَخْتُومٌ بِخَاتَمِ النُّبُوَّةِ فَأَقْبِلْ عَلَيْهِ بِدُونِ تَرَدُّدٍ أَمَّا إِنْ لَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ هَذَا الْخَاتَمُ إِنْ لَمْ يَكُنْ فَعَلَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ أَرْشَدَ إِلَيْهِ فَإِيَّاكَ وَإِيَّاهُ فَإِنَّهُ وَاللهِ لَا يَزِيدُكَ مِنَ اللهِ إِلَّا بُعْدًا
Wahai hamba Allah, intinya bukanlah engkau beribadah kepada Allah dengan apa yang engkau sukai, melainkan intinya adalah engkau beribadah kepada Allah dengan apa yang Allah cintai. Jadikanlah ini sebagai kaidah dalam hidupmu. Bid’ah adalah keburukan, kerusakan, kegelapan bagi hati, dan penyakit di dalamnya, wahai hamba-hamba Allah. Bid’ah adalah sikap mengikuti hawa nafsu. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Maka jika mereka tidak menjawab tantanganmu, ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka.” (QS. Al-Qashas: 50) Hanya ada dua jalan, tidak ada jalan ketiga: mengikuti Sunnah atau melakukan bid’ah. Maksudnya, mengikuti hawa nafsu, dan mengikuti hawa nafsu adalah kesesatan yang besar. “Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun?” (QS. Al-Qashas: 50) Maka, bid’ah itu pertama-tama adalah bentuk mengikuti hawa nafsu. Yang kedua, bid’ah adalah tuduhan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tuduhan bahwa Nabi belum menyampaikan agama ini dengan penjelasan yang nyata. Artinya, ia meyakini bahwa dalam perkara baru yang diada-adakan ini, baik berupa zikir, salat, maulid, maupun perayaan, terdapat kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah, padahal beliau ‘alaihish shalatu was salam mendiamkannya, menyembunyikannya, dan tidak menjelaskannya.Ini adalah tuduhan pengkhianatan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapakah dari kalangan muslimin yang berani melakukan hal ini? Perkara yang ketiga, dalam bid’ah terdapat tuduhan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau tidak mengetahui agama Allah, sedangkan pelaku perkara baru (pelaku bid’ah) itu mengetahuinya. Ini tidak akan berani dilakukan oleh seorang muslim. Bagaimana mungkin, sedangkan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana dalam Shahih Al-Bukhari dan selainnya, “Aku adalah orang yang paling mengetahui Allah di antara kalian dan paling takut kepada-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim, dengan lafal yang semakna) Yang paling mengetahui agama Allah adalah Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sementara pembuat perkara baru yang berbuat bid’ah ini seakan berkata, “Tidak. Aku mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kita mendekatkan diri kepada Allah dengan sesuatu yang tidak pernah beliau ajarkan.” Waspadalah, wahai hamba Allah! Demi Allah, hatimu tidak akan selamat jika amal-amalmu tegak di atas bid’ah, bukan di atas Sunnah. Sebelum engkau melakukan perkara apa pun yang dengannya engkau ingin mendekatkan diri kepada Allah, berhentilah sejenak dan bertanyalah, “Apakah Rasulullah pernah melakukan hal ini?” Jika beliau melakukannya, maka katakanlah, “Aku junjung di atas kepala dan di atas mata.” Jika engkau mendapati stempel kenabian, yakni amal ini distempel dengan stempel kenabian, maka kerjakanlah tanpa ragu. Adapun jika tidak ada stempel ini padanya, jika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukannya atau tidak pernah membimbing kepadanya, maka berhati-hatilah darinya. Karena demi Allah, hal itu tidak akan menambahkan bagimu apa pun kecuali semakin jauh dari Allah. ===== عَبْدَ اللهِ، لَيْسَ الشَّأْنُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ بِمَا تُحِبُّ إِنَّمَا الشَّأْنُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ بِمَا يُحِبُّ اجْعَلْ هَذِهِ قَاعِدَةً فِي حَيَاتِكَ الْبِدْعَةُ شَرٌّ وَفَسَادٌ وَظَلَامٌ لِلْقَلْبِ وَمَرَضٌ فِيهِ يَا عِبَادَ اللهِ الْبِدْعَةُ اتِّبَاعٌ لِلْهَوَى قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ طَرِيقَانِ لَيْسَ لَهُمَا ثَالِثٌ، إِمَّا اتِّبَاعُ السُّنَّةِ أَوِ الْبِدْعَةُ يَعْنِي اتِّبَاعَ الْهَوَى، وَاتِّبَاعُ الْهَوَى ضَلَالٌ عَظِيمٌ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللَّهِ إِذًا الْبِدْعَةُ أَوَّلًا اتِّبَاعٌ لِلْهَوَى الْبِدْعَةُ ثَانِيًا اتِّهَامٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَنَّهُ مَا بَلَّغَ الْبَلَاغَ الْمُبِينَ يَعْنِي عَلِمَ أَنَّ فِي هَذَا الْأَمْرِ الْمُحْدَثِ سَوَاءً كَانَ ذِكْرًا، صَلَاةً، مَوْلِدًا، احْتِفَالًا أَنَّ فِيهِ خَيْرًا يُقَرِّبُ إِلَى اللهِ وَسَكَتَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَكَتَمَ وَمَا بَيَّنَ وَهَذَا اتِّهَامٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْخِيَانَةِ مَنْ يَجْرُؤُ عَلَى هَذَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ؟ الْأَمْرُ الثَّالِثُ أَنَّ فِي الْبِدْعَةِ اتِّهَامًا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ جَهِلَ دِينَ اللهِ وَعَلِمَهُ الْمُحْدِثُ وَهَذَا لَا يَجْرُؤُ عَلَيْهِ مُسْلِمٌ كَيْفَ وَنَبِيُّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كَمَا فِي الصَّحِيحِ فِي الْبُخَارِيِّ وَغَيْرِهِ أَنَا أَعْلَمُكُمْ بِاللهِ وَأَشَدُّكُمْ لَهُ خَشْيَةً أَعْلَمُ النَّاسِ بِدِينِ اللهِ، اللهُ وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَذَا الْمُحْدِثُ الْمُبْتَدِعُ يَقُولُ لَا، أَنَا أَعْلَمُ شَيْئًا مَا عَلِمَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَتَقَرَّبُ إِلَى اللهِ بِمَا لَمْ يُحْدِثْ حَذَارِ يَا عَبْدَ اللهِ وَاللهِ إِنَّ قَلْبَكَ لَا يَكُونُ سَلِيمًا لَوْ كَانَتْ أَعْمَالُكَ عَلَى الْبِدْعَةِ لَا عَلَى السُّنَّةِ قَبْلَ أَنْ تَفْعَلَ أَيَّ شَيْءٍ تُرِيدُ أَنْ تَتَقَرَّبَ بِهِ إِلَى اللهِ قِفْ لَحْظَةً وَاسْأَلْ هَلْ فَعَلَ هَذَا رَسُولُ اللهِ؟ إِنْ فَعَلَ، فَقُلْ: عَلَى الرَّأْسِ وَعَلَى الْعَيْنِ إِنْ وَجَدْتَ خَاتَمَ النُّبُوَّةِ، هَذَا الْعَمَلُ مَخْتُومٌ بِخَاتَمِ النُّبُوَّةِ فَأَقْبِلْ عَلَيْهِ بِدُونِ تَرَدُّدٍ أَمَّا إِنْ لَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ هَذَا الْخَاتَمُ إِنْ لَمْ يَكُنْ فَعَلَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ أَرْشَدَ إِلَيْهِ فَإِيَّاكَ وَإِيَّاهُ فَإِنَّهُ وَاللهِ لَا يَزِيدُكَ مِنَ اللهِ إِلَّا بُعْدًا


Wahai hamba Allah, intinya bukanlah engkau beribadah kepada Allah dengan apa yang engkau sukai, melainkan intinya adalah engkau beribadah kepada Allah dengan apa yang Allah cintai. Jadikanlah ini sebagai kaidah dalam hidupmu. Bid’ah adalah keburukan, kerusakan, kegelapan bagi hati, dan penyakit di dalamnya, wahai hamba-hamba Allah. Bid’ah adalah sikap mengikuti hawa nafsu. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Maka jika mereka tidak menjawab tantanganmu, ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka.” (QS. Al-Qashas: 50) Hanya ada dua jalan, tidak ada jalan ketiga: mengikuti Sunnah atau melakukan bid’ah. Maksudnya, mengikuti hawa nafsu, dan mengikuti hawa nafsu adalah kesesatan yang besar. “Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun?” (QS. Al-Qashas: 50) Maka, bid’ah itu pertama-tama adalah bentuk mengikuti hawa nafsu. Yang kedua, bid’ah adalah tuduhan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tuduhan bahwa Nabi belum menyampaikan agama ini dengan penjelasan yang nyata. Artinya, ia meyakini bahwa dalam perkara baru yang diada-adakan ini, baik berupa zikir, salat, maulid, maupun perayaan, terdapat kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah, padahal beliau ‘alaihish shalatu was salam mendiamkannya, menyembunyikannya, dan tidak menjelaskannya.Ini adalah tuduhan pengkhianatan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapakah dari kalangan muslimin yang berani melakukan hal ini? Perkara yang ketiga, dalam bid’ah terdapat tuduhan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau tidak mengetahui agama Allah, sedangkan pelaku perkara baru (pelaku bid’ah) itu mengetahuinya. Ini tidak akan berani dilakukan oleh seorang muslim. Bagaimana mungkin, sedangkan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana dalam Shahih Al-Bukhari dan selainnya, “Aku adalah orang yang paling mengetahui Allah di antara kalian dan paling takut kepada-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim, dengan lafal yang semakna) Yang paling mengetahui agama Allah adalah Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sementara pembuat perkara baru yang berbuat bid’ah ini seakan berkata, “Tidak. Aku mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kita mendekatkan diri kepada Allah dengan sesuatu yang tidak pernah beliau ajarkan.” Waspadalah, wahai hamba Allah! Demi Allah, hatimu tidak akan selamat jika amal-amalmu tegak di atas bid’ah, bukan di atas Sunnah. Sebelum engkau melakukan perkara apa pun yang dengannya engkau ingin mendekatkan diri kepada Allah, berhentilah sejenak dan bertanyalah, “Apakah Rasulullah pernah melakukan hal ini?” Jika beliau melakukannya, maka katakanlah, “Aku junjung di atas kepala dan di atas mata.” Jika engkau mendapati stempel kenabian, yakni amal ini distempel dengan stempel kenabian, maka kerjakanlah tanpa ragu. Adapun jika tidak ada stempel ini padanya, jika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukannya atau tidak pernah membimbing kepadanya, maka berhati-hatilah darinya. Karena demi Allah, hal itu tidak akan menambahkan bagimu apa pun kecuali semakin jauh dari Allah. ===== عَبْدَ اللهِ، لَيْسَ الشَّأْنُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ بِمَا تُحِبُّ إِنَّمَا الشَّأْنُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ بِمَا يُحِبُّ اجْعَلْ هَذِهِ قَاعِدَةً فِي حَيَاتِكَ الْبِدْعَةُ شَرٌّ وَفَسَادٌ وَظَلَامٌ لِلْقَلْبِ وَمَرَضٌ فِيهِ يَا عِبَادَ اللهِ الْبِدْعَةُ اتِّبَاعٌ لِلْهَوَى قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ طَرِيقَانِ لَيْسَ لَهُمَا ثَالِثٌ، إِمَّا اتِّبَاعُ السُّنَّةِ أَوِ الْبِدْعَةُ يَعْنِي اتِّبَاعَ الْهَوَى، وَاتِّبَاعُ الْهَوَى ضَلَالٌ عَظِيمٌ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللَّهِ إِذًا الْبِدْعَةُ أَوَّلًا اتِّبَاعٌ لِلْهَوَى الْبِدْعَةُ ثَانِيًا اتِّهَامٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَنَّهُ مَا بَلَّغَ الْبَلَاغَ الْمُبِينَ يَعْنِي عَلِمَ أَنَّ فِي هَذَا الْأَمْرِ الْمُحْدَثِ سَوَاءً كَانَ ذِكْرًا، صَلَاةً، مَوْلِدًا، احْتِفَالًا أَنَّ فِيهِ خَيْرًا يُقَرِّبُ إِلَى اللهِ وَسَكَتَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَكَتَمَ وَمَا بَيَّنَ وَهَذَا اتِّهَامٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْخِيَانَةِ مَنْ يَجْرُؤُ عَلَى هَذَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ؟ الْأَمْرُ الثَّالِثُ أَنَّ فِي الْبِدْعَةِ اتِّهَامًا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ جَهِلَ دِينَ اللهِ وَعَلِمَهُ الْمُحْدِثُ وَهَذَا لَا يَجْرُؤُ عَلَيْهِ مُسْلِمٌ كَيْفَ وَنَبِيُّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كَمَا فِي الصَّحِيحِ فِي الْبُخَارِيِّ وَغَيْرِهِ أَنَا أَعْلَمُكُمْ بِاللهِ وَأَشَدُّكُمْ لَهُ خَشْيَةً أَعْلَمُ النَّاسِ بِدِينِ اللهِ، اللهُ وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَذَا الْمُحْدِثُ الْمُبْتَدِعُ يَقُولُ لَا، أَنَا أَعْلَمُ شَيْئًا مَا عَلِمَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَتَقَرَّبُ إِلَى اللهِ بِمَا لَمْ يُحْدِثْ حَذَارِ يَا عَبْدَ اللهِ وَاللهِ إِنَّ قَلْبَكَ لَا يَكُونُ سَلِيمًا لَوْ كَانَتْ أَعْمَالُكَ عَلَى الْبِدْعَةِ لَا عَلَى السُّنَّةِ قَبْلَ أَنْ تَفْعَلَ أَيَّ شَيْءٍ تُرِيدُ أَنْ تَتَقَرَّبَ بِهِ إِلَى اللهِ قِفْ لَحْظَةً وَاسْأَلْ هَلْ فَعَلَ هَذَا رَسُولُ اللهِ؟ إِنْ فَعَلَ، فَقُلْ: عَلَى الرَّأْسِ وَعَلَى الْعَيْنِ إِنْ وَجَدْتَ خَاتَمَ النُّبُوَّةِ، هَذَا الْعَمَلُ مَخْتُومٌ بِخَاتَمِ النُّبُوَّةِ فَأَقْبِلْ عَلَيْهِ بِدُونِ تَرَدُّدٍ أَمَّا إِنْ لَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ هَذَا الْخَاتَمُ إِنْ لَمْ يَكُنْ فَعَلَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ أَرْشَدَ إِلَيْهِ فَإِيَّاكَ وَإِيَّاهُ فَإِنَّهُ وَاللهِ لَا يَزِيدُكَ مِنَ اللهِ إِلَّا بُعْدًا

Saya Lelah dengan Beban-Beban Hidup

Oleh: Syaikh Khalid bin Abdul Mun’im Ar-Rifa’i Ringkasan Pertanyaan: Ada pemuda yang terhimpit oleh urusan dunia, tidak punya harta atau pekerjaan, ia bertanya, “Apa yang harus saya lakukan?” Pertanyaan Lengkap: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Saya pemuda berusia 20 tahun. Saya hidup dalam keadaan yang sulit sekali, dengan masalah-masalah mental, keluarga, dan finansial. Saya tidak ingat pernah mendapatkan apa yang saya inginkan, baik itu dari sisi materi, mental, dan perasaan. Ayahku tidak peduli dengan kami, tidak memberi bantuan apa pun kepada kami. Dia ada tapi seperti tidak ada. Masa remaja dan masa mudaku penuh kegagalan. Saya tidak bisa sukses karena kondisi finansial dan mentalku. Saya orang yang pemalu, tidak bisa menghadapi kenyataan dan tidak puas dengannya. Saya selalu melihat diriku lebih rendah dari orang lain. Faktor terpenting yang menyebabkan hal ini adalah karena mataku juling. Namun sekarang, Alhamdulillah setelah semakin dewasa, saya sudah tidak peduli lagi dengan apa pun, meskipun saya masih merasa frustrasi dan putus asa akibat mata juling serta kemiskinan parah ini. Sekarang saya tinggal bersama salah satu teman, tapi saya tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok untuk kehidupanku, bahkan dokter telah menyuruhku membeli kacamata medis, tapi saya tidak mampu membelinya karena tidak punya uang. Saya sudah mencari pekerjaan ke mana-mana, dan saya sudah berpikir untuk menyerah saja, karena saya hanya pemuda yang tidak punya uang dan ketampanan, tidak berhasil dalam pekerjaan dan pendidikan, dan hidupku tersia-siakan di hadapanku. Semua temanku mendapatkan bantuan dan dukungan dari keluarga mereka, sedangkan saya sendiri yang semua pintu tertutup di depanku! Kehidupan telah membuatku hancur lebur. Saya memandang bahwa umur dan harta adalah asas kesuksesan dalam hidup ini. Saya punya keinginan besar untuk belajar, tekad yang kuat, dan kesungguhan. Namun, urusan uang menghalangiku. Apakah saya masih bisa sukses? Apakah menerima bantuan finansial bagi pelajar adalah aib? Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, juga kepada keluarga, para sahabat, dan para pengikut beliau. Amma ba’du: Tenangkan dirimu, wahai anakku tercinta! Meskipun rezekimu sempit. Jangan sedih dan putus asa! Jangan menyerah pada kelemahan, serta bisikan dirimu dan setan! Lawanlah kesedihan dan kesempitan dada dengan yakin kepada keadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala! Bersandarlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata! Bersabarlah sekuat tenaga! Tingkatkanlah ketakwaanmu, perbaiki amalanmu, dan berikhtiarlah! Jangan sampai menyerah dengan godaan dan tipu daya setan! Jauhkan dari dirimu perasaan gagal! Bersungguh-sungguhlah, karena kesungguhan adalah salah satu jalan terbesar untuk meraih kebaikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sungguh, Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. Al-Ankabut: 69). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَإِنَّمَا الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ، وَمَنْ يَتَحَرَّ الْخَيْرَ يُعْطَهُ، وَمَنْ يَتَّقِ الشَّرَّ يُوقَهُ. “Sesungguhnya ilmu diperoleh dengan belajar, dan sikap santun diperoleh dengan melatih diri untuk bersikap santun. Barang siapa berusaha mencari kebaikan, niscaya ia akan diberinya. Dan barang siapa berusaha menghindari keburukan, niscaya ia akan dilindungi darinya.” (HR. Ad-Daruquthni. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami). Wahai anakku! Buanglah jauh-jauh pandangan pesimis dan minder dengan melakukan interaksi positif dengan orang-orang di sekitarmu, mendekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tulus, dan berbaik sangka kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا دَعَانِي “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia berdoa kepada-Ku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dan dalam riwayat lain disebutkan:  إِنْ ظَنَّ خَيْرًا فَخَيْرٌ، وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَشَرٌّ “Jika ia berprasangka baik, maka baginya kebaikan. Dan jika ia berprasangka buruk, maka baginya keburukan.”  Laksanakanlah salatmu dengan sepenuh hati, menghayati Al-Qur’an dan zikir-zikir yang engkau baca, menghadirkan dalam hati keagungan Tuhanmu, berpaling dari dunia dan segala hiruk-pikuknya, penuh keyakinan bahwa seorang hamba tidak punya kuasa apa pun terhadap dirinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menetapkan segala sesuatu dengan kebijaksanaan dan rahmat-Nya, baik itu kesehatan, rezeki, kenikmatan, kebaikan, musibah, atau kesempitan rezeki. Namun, pahala akan semakin besar jika diiringi kesabaran. Ketahuilah —semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberimu keselamatan dan melapangkan dadamu— bahwa salah satu hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah menjadikan hari-hari silih berganti dan keadaan selalu berubah. Kesulitan akan disusul kemudahan, kemiskinan akan diganti kekayaan, dan begitu seterusnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia.” (QS. Ali Imran: 140). Dan jiwa yang beriman adalah yang bersabar atas kesulitan dan tidak terbuai oleh kesenangan. Ia tetap menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam dua kondisi itu, yakin bahwa kebaikan dan keburukan yang menimpanya adalah dengan izin Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ “Setiap waktu Dia berada dalam kesibukan (mengatur urusan makhluk-Nya).” (QS. Ar-Rahman: 29).  Allahlah yang membuat orang miskin menjadi kaya, memulihkan hati yang terluka, melimpahkan karunia kepada suatu kaum dan menahannya dari kaum yang lain, serta yang memuliakan dan menghinakan. Maha Suci Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Pemberi. Dia memberi jalan keluar setelah kesempitan, kemudahan setelah kesulitan, keluasan setelah keterbatasan. Wahai anakku! Berusahalah agar pintu-pintu harapan akan berubahnya keadaan selalu terbuka, agar jiwamu tetap tergerak oleh harapan itu, tetap basah oleh asa. Percayalah dengan rahmat, keadilan, hikmah, dan ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Dialah satu-satunya tempat berlindung yang aman. Janganlah engkau menutup setiap pintu atau mengurung dirimu dalam penjara masa sekarang, karena kondisi masa depan bisa jadi membawa hal yang di luar perkiraanmu. “Engkau tidak mengetahui, boleh jadi setelah itu Allah mengadakan suatu ketentuan yang baru.” (QS. At-Talaq: 29). “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216). Wahai anakku! Janganlah engkau memandang orang yang kedudukannya lebih di atasmu, tapi lihatlah yang ada di bawahmu, niscaya engkau akan memahami bagaimana nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala terlimpah kepadamu. Engkau pasti menemukan orang yang lebih buruk kondisinya daripada dirimu. Ada orang yang lebih miskin dan terlilit banyak utang. Meskipun harta yang ada di tanganmu itu sedikit, tapi ada orang lain yang kehilangan harta, kesehatan, dan anak sekaligus. Bahkan ada orang yang tidak punya lagi Tanah Air, maka serahkanlah urusanmu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya engkau akan selamat. Tidak diragukan bahwa habisnya kesabaran dan lemahnya diri dalam memikul beratnya kemiskinan adalah kondisi yang menunjukkan kelemahan manusia, tapi janganlah itu menyeretmu kepada keluh kesah, sehingga timbangan nilai-nilai diri menjadi runtuh, dan ini tentu menjadi musibah yang besar, semakin seret rezeki, semakin besar juga ujiannya. Apabila kondisi sudah sangat menghimpitmu dan berbagai usaha tidak memberi hasil dengan semestinya, maka sebenarnya masih ada tempat berlindung yang terkuat, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka berlarilah kepada-Nya dengan ketaatan, taubat, dan banyak istighfar, karena ini dapat mendatangkan rezeki, disertai dengan menghindari segala hal yang menghalangi terkabulnya doa. Tuluslah dalam menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan doa dan ketundukan pada waktu-waktu yang mustajab, seperti pada sepertiga terakhir malam ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala turun ke langit dunia dan berfirman: “Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya. Dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya.” Tumpahkanlah segala masalahmu di hadapan-Nya, mintalah keluasan rezeki yang halal. Tidak akan kecewa, orang yang berdoa kepada-Nya, Tangan-Nya selalu penuh dengan karunia, tidak pernah berkurang karena memberi. Dia selalu melimpahkan karunia siang dan malam. Sebagaimana yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِي يَدِهِ “Tidakkah kalian memperhatikan berapa banyak yang telah Dia nafkahkan sejak Dia menciptakan langit dan bumi? Sungguh, semua itu tidaklah mengurangi sedikit pun apa yang ada di tangan-Nya.” (HR. Al-Bukhari). Selalu baca doa yang dulu dibaca Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam ketika hendak berbaring di tempat tidurnya: اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ، وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ “Ya Allah, Tuhan langit dan Tuhan bumi, Tuhan ‘Arsy yang agung, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu, Yang membelah biji-bijian dan biji kurma, Yang menurunkan Taurat, Injil, dan Al-Furqan (Al-Qur’an). Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu yang ubun-ubunnya berada dalam kekuasaan-Mu. Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Awal, tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu. Engkaulah Yang Maha Akhir, tidak ada sesuatu pun sesudah-Mu. Engkaulah Yang Maha Zhahir, tidak ada sesuatu pun di atas-Mu. Engkaulah Yang Maha Batin, tidak ada sesuatu pun yang lebih dekat daripada-Mu. Lunasilah utang kami dan cukupkanlah kami sehingga terhindar dari kefakiran.” Adapun menerima bantuan finansial, baik itu berupa hibah atau sedekah, itu tentu dibolehkan. Bahkan ada dari imam empat mazhab dan ulama lainnya yang membolehkan penyaluran zakat kepada penuntut ilmu, dan ini tentu sah. Dengan demikian, engkau boleh menerima sedekah atau zakat jika engkau tidak punya harta yang mencukupi kebutuhanmu —sebagaimana yang telah engkau sebutkan— meskipun engkau mampu untuk bekerja. Pendapat ini disebutkan oleh Imam Ibnu Al-Abidin dalam kitab Ad-Durr Al-Mukhtar dan Hasyiyah Ibnu Abidin atau Radd al-Muhtar jilid 2 hlm. 340: “Tidak boleh membayar zakat kepada orang yang punya harta yang mencapai nisab, kecuali kepada penuntut ilmu, mujahid di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan haji.”  Imam an-Nawawi juga berkata dalam Al-Majmu Syarh Al-Muhadzdzab jilid 6 hlm. 190: “Adapun tentang penghasilan, maka para ulama mazhab kami berkata bahwa disyaratkan agar seseorang berhak menerima bagian zakat golongan orang miskin adalah ia tidak memiliki penghasilan yang mencukupi kebutuhan hidupnya, sebagaimana yang telah kami jelaskan terkait harta. Namun tidak disyaratkan ketidakmampuan dalam mencari penghasilan sama sekali. Mereka mengatakan bahwa yang menjadi patokan adalah penghasilan yang sesuai dengan keadaan dan martabatnya. Adapun jika pekerjaannya tidak sesuai dengan keadaan dan martabatnya, maka dianggap seolah-olah tidak punya pekerjaan. Mereka juga berkata bahwa seandainya ia mampu memperoleh pekerjaan yang sesuai keadaannya, tapi ia sibuk menuntut ilmu syariat, sehingga jika ia bekerja maka ia harus berhenti menuntut ilmu, maka halal baginya menerima zakat, karena menuntut ilmu adalah fardhu kifayah.” Saya memohon kepada Allah Yang Maha Pemurah, Maha Mulia, lagi Maha Pemberi karunia, agar menghilangkan kesusahanmu, mencukupkanmu dari kefakiran, dan memulihkan segala kepedihan. Sumber: https://www.alukah.net/fatawa_counsels/0/129553/أرهقتني-متاعب-الحياة/ Sumber artikel PDF 🔍 Berdoa Saat Haid, Bacaan Niat Puasa Mulud, Surat Yang Pertama Kali Diturunkan, Pendeta Kalah Debat Masuk Islam, Doa Diberikan Jodoh Visited 506 times, 4 visit(s) today Post Views: 34

Saya Lelah dengan Beban-Beban Hidup

Oleh: Syaikh Khalid bin Abdul Mun’im Ar-Rifa’i Ringkasan Pertanyaan: Ada pemuda yang terhimpit oleh urusan dunia, tidak punya harta atau pekerjaan, ia bertanya, “Apa yang harus saya lakukan?” Pertanyaan Lengkap: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Saya pemuda berusia 20 tahun. Saya hidup dalam keadaan yang sulit sekali, dengan masalah-masalah mental, keluarga, dan finansial. Saya tidak ingat pernah mendapatkan apa yang saya inginkan, baik itu dari sisi materi, mental, dan perasaan. Ayahku tidak peduli dengan kami, tidak memberi bantuan apa pun kepada kami. Dia ada tapi seperti tidak ada. Masa remaja dan masa mudaku penuh kegagalan. Saya tidak bisa sukses karena kondisi finansial dan mentalku. Saya orang yang pemalu, tidak bisa menghadapi kenyataan dan tidak puas dengannya. Saya selalu melihat diriku lebih rendah dari orang lain. Faktor terpenting yang menyebabkan hal ini adalah karena mataku juling. Namun sekarang, Alhamdulillah setelah semakin dewasa, saya sudah tidak peduli lagi dengan apa pun, meskipun saya masih merasa frustrasi dan putus asa akibat mata juling serta kemiskinan parah ini. Sekarang saya tinggal bersama salah satu teman, tapi saya tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok untuk kehidupanku, bahkan dokter telah menyuruhku membeli kacamata medis, tapi saya tidak mampu membelinya karena tidak punya uang. Saya sudah mencari pekerjaan ke mana-mana, dan saya sudah berpikir untuk menyerah saja, karena saya hanya pemuda yang tidak punya uang dan ketampanan, tidak berhasil dalam pekerjaan dan pendidikan, dan hidupku tersia-siakan di hadapanku. Semua temanku mendapatkan bantuan dan dukungan dari keluarga mereka, sedangkan saya sendiri yang semua pintu tertutup di depanku! Kehidupan telah membuatku hancur lebur. Saya memandang bahwa umur dan harta adalah asas kesuksesan dalam hidup ini. Saya punya keinginan besar untuk belajar, tekad yang kuat, dan kesungguhan. Namun, urusan uang menghalangiku. Apakah saya masih bisa sukses? Apakah menerima bantuan finansial bagi pelajar adalah aib? Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, juga kepada keluarga, para sahabat, dan para pengikut beliau. Amma ba’du: Tenangkan dirimu, wahai anakku tercinta! Meskipun rezekimu sempit. Jangan sedih dan putus asa! Jangan menyerah pada kelemahan, serta bisikan dirimu dan setan! Lawanlah kesedihan dan kesempitan dada dengan yakin kepada keadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala! Bersandarlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata! Bersabarlah sekuat tenaga! Tingkatkanlah ketakwaanmu, perbaiki amalanmu, dan berikhtiarlah! Jangan sampai menyerah dengan godaan dan tipu daya setan! Jauhkan dari dirimu perasaan gagal! Bersungguh-sungguhlah, karena kesungguhan adalah salah satu jalan terbesar untuk meraih kebaikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sungguh, Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. Al-Ankabut: 69). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَإِنَّمَا الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ، وَمَنْ يَتَحَرَّ الْخَيْرَ يُعْطَهُ، وَمَنْ يَتَّقِ الشَّرَّ يُوقَهُ. “Sesungguhnya ilmu diperoleh dengan belajar, dan sikap santun diperoleh dengan melatih diri untuk bersikap santun. Barang siapa berusaha mencari kebaikan, niscaya ia akan diberinya. Dan barang siapa berusaha menghindari keburukan, niscaya ia akan dilindungi darinya.” (HR. Ad-Daruquthni. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami). Wahai anakku! Buanglah jauh-jauh pandangan pesimis dan minder dengan melakukan interaksi positif dengan orang-orang di sekitarmu, mendekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tulus, dan berbaik sangka kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا دَعَانِي “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia berdoa kepada-Ku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dan dalam riwayat lain disebutkan:  إِنْ ظَنَّ خَيْرًا فَخَيْرٌ، وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَشَرٌّ “Jika ia berprasangka baik, maka baginya kebaikan. Dan jika ia berprasangka buruk, maka baginya keburukan.”  Laksanakanlah salatmu dengan sepenuh hati, menghayati Al-Qur’an dan zikir-zikir yang engkau baca, menghadirkan dalam hati keagungan Tuhanmu, berpaling dari dunia dan segala hiruk-pikuknya, penuh keyakinan bahwa seorang hamba tidak punya kuasa apa pun terhadap dirinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menetapkan segala sesuatu dengan kebijaksanaan dan rahmat-Nya, baik itu kesehatan, rezeki, kenikmatan, kebaikan, musibah, atau kesempitan rezeki. Namun, pahala akan semakin besar jika diiringi kesabaran. Ketahuilah —semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberimu keselamatan dan melapangkan dadamu— bahwa salah satu hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah menjadikan hari-hari silih berganti dan keadaan selalu berubah. Kesulitan akan disusul kemudahan, kemiskinan akan diganti kekayaan, dan begitu seterusnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia.” (QS. Ali Imran: 140). Dan jiwa yang beriman adalah yang bersabar atas kesulitan dan tidak terbuai oleh kesenangan. Ia tetap menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam dua kondisi itu, yakin bahwa kebaikan dan keburukan yang menimpanya adalah dengan izin Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ “Setiap waktu Dia berada dalam kesibukan (mengatur urusan makhluk-Nya).” (QS. Ar-Rahman: 29).  Allahlah yang membuat orang miskin menjadi kaya, memulihkan hati yang terluka, melimpahkan karunia kepada suatu kaum dan menahannya dari kaum yang lain, serta yang memuliakan dan menghinakan. Maha Suci Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Pemberi. Dia memberi jalan keluar setelah kesempitan, kemudahan setelah kesulitan, keluasan setelah keterbatasan. Wahai anakku! Berusahalah agar pintu-pintu harapan akan berubahnya keadaan selalu terbuka, agar jiwamu tetap tergerak oleh harapan itu, tetap basah oleh asa. Percayalah dengan rahmat, keadilan, hikmah, dan ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Dialah satu-satunya tempat berlindung yang aman. Janganlah engkau menutup setiap pintu atau mengurung dirimu dalam penjara masa sekarang, karena kondisi masa depan bisa jadi membawa hal yang di luar perkiraanmu. “Engkau tidak mengetahui, boleh jadi setelah itu Allah mengadakan suatu ketentuan yang baru.” (QS. At-Talaq: 29). “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216). Wahai anakku! Janganlah engkau memandang orang yang kedudukannya lebih di atasmu, tapi lihatlah yang ada di bawahmu, niscaya engkau akan memahami bagaimana nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala terlimpah kepadamu. Engkau pasti menemukan orang yang lebih buruk kondisinya daripada dirimu. Ada orang yang lebih miskin dan terlilit banyak utang. Meskipun harta yang ada di tanganmu itu sedikit, tapi ada orang lain yang kehilangan harta, kesehatan, dan anak sekaligus. Bahkan ada orang yang tidak punya lagi Tanah Air, maka serahkanlah urusanmu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya engkau akan selamat. Tidak diragukan bahwa habisnya kesabaran dan lemahnya diri dalam memikul beratnya kemiskinan adalah kondisi yang menunjukkan kelemahan manusia, tapi janganlah itu menyeretmu kepada keluh kesah, sehingga timbangan nilai-nilai diri menjadi runtuh, dan ini tentu menjadi musibah yang besar, semakin seret rezeki, semakin besar juga ujiannya. Apabila kondisi sudah sangat menghimpitmu dan berbagai usaha tidak memberi hasil dengan semestinya, maka sebenarnya masih ada tempat berlindung yang terkuat, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka berlarilah kepada-Nya dengan ketaatan, taubat, dan banyak istighfar, karena ini dapat mendatangkan rezeki, disertai dengan menghindari segala hal yang menghalangi terkabulnya doa. Tuluslah dalam menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan doa dan ketundukan pada waktu-waktu yang mustajab, seperti pada sepertiga terakhir malam ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala turun ke langit dunia dan berfirman: “Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya. Dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya.” Tumpahkanlah segala masalahmu di hadapan-Nya, mintalah keluasan rezeki yang halal. Tidak akan kecewa, orang yang berdoa kepada-Nya, Tangan-Nya selalu penuh dengan karunia, tidak pernah berkurang karena memberi. Dia selalu melimpahkan karunia siang dan malam. Sebagaimana yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِي يَدِهِ “Tidakkah kalian memperhatikan berapa banyak yang telah Dia nafkahkan sejak Dia menciptakan langit dan bumi? Sungguh, semua itu tidaklah mengurangi sedikit pun apa yang ada di tangan-Nya.” (HR. Al-Bukhari). Selalu baca doa yang dulu dibaca Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam ketika hendak berbaring di tempat tidurnya: اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ، وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ “Ya Allah, Tuhan langit dan Tuhan bumi, Tuhan ‘Arsy yang agung, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu, Yang membelah biji-bijian dan biji kurma, Yang menurunkan Taurat, Injil, dan Al-Furqan (Al-Qur’an). Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu yang ubun-ubunnya berada dalam kekuasaan-Mu. Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Awal, tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu. Engkaulah Yang Maha Akhir, tidak ada sesuatu pun sesudah-Mu. Engkaulah Yang Maha Zhahir, tidak ada sesuatu pun di atas-Mu. Engkaulah Yang Maha Batin, tidak ada sesuatu pun yang lebih dekat daripada-Mu. Lunasilah utang kami dan cukupkanlah kami sehingga terhindar dari kefakiran.” Adapun menerima bantuan finansial, baik itu berupa hibah atau sedekah, itu tentu dibolehkan. Bahkan ada dari imam empat mazhab dan ulama lainnya yang membolehkan penyaluran zakat kepada penuntut ilmu, dan ini tentu sah. Dengan demikian, engkau boleh menerima sedekah atau zakat jika engkau tidak punya harta yang mencukupi kebutuhanmu —sebagaimana yang telah engkau sebutkan— meskipun engkau mampu untuk bekerja. Pendapat ini disebutkan oleh Imam Ibnu Al-Abidin dalam kitab Ad-Durr Al-Mukhtar dan Hasyiyah Ibnu Abidin atau Radd al-Muhtar jilid 2 hlm. 340: “Tidak boleh membayar zakat kepada orang yang punya harta yang mencapai nisab, kecuali kepada penuntut ilmu, mujahid di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan haji.”  Imam an-Nawawi juga berkata dalam Al-Majmu Syarh Al-Muhadzdzab jilid 6 hlm. 190: “Adapun tentang penghasilan, maka para ulama mazhab kami berkata bahwa disyaratkan agar seseorang berhak menerima bagian zakat golongan orang miskin adalah ia tidak memiliki penghasilan yang mencukupi kebutuhan hidupnya, sebagaimana yang telah kami jelaskan terkait harta. Namun tidak disyaratkan ketidakmampuan dalam mencari penghasilan sama sekali. Mereka mengatakan bahwa yang menjadi patokan adalah penghasilan yang sesuai dengan keadaan dan martabatnya. Adapun jika pekerjaannya tidak sesuai dengan keadaan dan martabatnya, maka dianggap seolah-olah tidak punya pekerjaan. Mereka juga berkata bahwa seandainya ia mampu memperoleh pekerjaan yang sesuai keadaannya, tapi ia sibuk menuntut ilmu syariat, sehingga jika ia bekerja maka ia harus berhenti menuntut ilmu, maka halal baginya menerima zakat, karena menuntut ilmu adalah fardhu kifayah.” Saya memohon kepada Allah Yang Maha Pemurah, Maha Mulia, lagi Maha Pemberi karunia, agar menghilangkan kesusahanmu, mencukupkanmu dari kefakiran, dan memulihkan segala kepedihan. Sumber: https://www.alukah.net/fatawa_counsels/0/129553/أرهقتني-متاعب-الحياة/ Sumber artikel PDF 🔍 Berdoa Saat Haid, Bacaan Niat Puasa Mulud, Surat Yang Pertama Kali Diturunkan, Pendeta Kalah Debat Masuk Islam, Doa Diberikan Jodoh Visited 506 times, 4 visit(s) today Post Views: 34
Oleh: Syaikh Khalid bin Abdul Mun’im Ar-Rifa’i Ringkasan Pertanyaan: Ada pemuda yang terhimpit oleh urusan dunia, tidak punya harta atau pekerjaan, ia bertanya, “Apa yang harus saya lakukan?” Pertanyaan Lengkap: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Saya pemuda berusia 20 tahun. Saya hidup dalam keadaan yang sulit sekali, dengan masalah-masalah mental, keluarga, dan finansial. Saya tidak ingat pernah mendapatkan apa yang saya inginkan, baik itu dari sisi materi, mental, dan perasaan. Ayahku tidak peduli dengan kami, tidak memberi bantuan apa pun kepada kami. Dia ada tapi seperti tidak ada. Masa remaja dan masa mudaku penuh kegagalan. Saya tidak bisa sukses karena kondisi finansial dan mentalku. Saya orang yang pemalu, tidak bisa menghadapi kenyataan dan tidak puas dengannya. Saya selalu melihat diriku lebih rendah dari orang lain. Faktor terpenting yang menyebabkan hal ini adalah karena mataku juling. Namun sekarang, Alhamdulillah setelah semakin dewasa, saya sudah tidak peduli lagi dengan apa pun, meskipun saya masih merasa frustrasi dan putus asa akibat mata juling serta kemiskinan parah ini. Sekarang saya tinggal bersama salah satu teman, tapi saya tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok untuk kehidupanku, bahkan dokter telah menyuruhku membeli kacamata medis, tapi saya tidak mampu membelinya karena tidak punya uang. Saya sudah mencari pekerjaan ke mana-mana, dan saya sudah berpikir untuk menyerah saja, karena saya hanya pemuda yang tidak punya uang dan ketampanan, tidak berhasil dalam pekerjaan dan pendidikan, dan hidupku tersia-siakan di hadapanku. Semua temanku mendapatkan bantuan dan dukungan dari keluarga mereka, sedangkan saya sendiri yang semua pintu tertutup di depanku! Kehidupan telah membuatku hancur lebur. Saya memandang bahwa umur dan harta adalah asas kesuksesan dalam hidup ini. Saya punya keinginan besar untuk belajar, tekad yang kuat, dan kesungguhan. Namun, urusan uang menghalangiku. Apakah saya masih bisa sukses? Apakah menerima bantuan finansial bagi pelajar adalah aib? Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, juga kepada keluarga, para sahabat, dan para pengikut beliau. Amma ba’du: Tenangkan dirimu, wahai anakku tercinta! Meskipun rezekimu sempit. Jangan sedih dan putus asa! Jangan menyerah pada kelemahan, serta bisikan dirimu dan setan! Lawanlah kesedihan dan kesempitan dada dengan yakin kepada keadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala! Bersandarlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata! Bersabarlah sekuat tenaga! Tingkatkanlah ketakwaanmu, perbaiki amalanmu, dan berikhtiarlah! Jangan sampai menyerah dengan godaan dan tipu daya setan! Jauhkan dari dirimu perasaan gagal! Bersungguh-sungguhlah, karena kesungguhan adalah salah satu jalan terbesar untuk meraih kebaikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sungguh, Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. Al-Ankabut: 69). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَإِنَّمَا الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ، وَمَنْ يَتَحَرَّ الْخَيْرَ يُعْطَهُ، وَمَنْ يَتَّقِ الشَّرَّ يُوقَهُ. “Sesungguhnya ilmu diperoleh dengan belajar, dan sikap santun diperoleh dengan melatih diri untuk bersikap santun. Barang siapa berusaha mencari kebaikan, niscaya ia akan diberinya. Dan barang siapa berusaha menghindari keburukan, niscaya ia akan dilindungi darinya.” (HR. Ad-Daruquthni. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami). Wahai anakku! Buanglah jauh-jauh pandangan pesimis dan minder dengan melakukan interaksi positif dengan orang-orang di sekitarmu, mendekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tulus, dan berbaik sangka kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا دَعَانِي “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia berdoa kepada-Ku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dan dalam riwayat lain disebutkan:  إِنْ ظَنَّ خَيْرًا فَخَيْرٌ، وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَشَرٌّ “Jika ia berprasangka baik, maka baginya kebaikan. Dan jika ia berprasangka buruk, maka baginya keburukan.”  Laksanakanlah salatmu dengan sepenuh hati, menghayati Al-Qur’an dan zikir-zikir yang engkau baca, menghadirkan dalam hati keagungan Tuhanmu, berpaling dari dunia dan segala hiruk-pikuknya, penuh keyakinan bahwa seorang hamba tidak punya kuasa apa pun terhadap dirinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menetapkan segala sesuatu dengan kebijaksanaan dan rahmat-Nya, baik itu kesehatan, rezeki, kenikmatan, kebaikan, musibah, atau kesempitan rezeki. Namun, pahala akan semakin besar jika diiringi kesabaran. Ketahuilah —semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberimu keselamatan dan melapangkan dadamu— bahwa salah satu hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah menjadikan hari-hari silih berganti dan keadaan selalu berubah. Kesulitan akan disusul kemudahan, kemiskinan akan diganti kekayaan, dan begitu seterusnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia.” (QS. Ali Imran: 140). Dan jiwa yang beriman adalah yang bersabar atas kesulitan dan tidak terbuai oleh kesenangan. Ia tetap menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam dua kondisi itu, yakin bahwa kebaikan dan keburukan yang menimpanya adalah dengan izin Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ “Setiap waktu Dia berada dalam kesibukan (mengatur urusan makhluk-Nya).” (QS. Ar-Rahman: 29).  Allahlah yang membuat orang miskin menjadi kaya, memulihkan hati yang terluka, melimpahkan karunia kepada suatu kaum dan menahannya dari kaum yang lain, serta yang memuliakan dan menghinakan. Maha Suci Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Pemberi. Dia memberi jalan keluar setelah kesempitan, kemudahan setelah kesulitan, keluasan setelah keterbatasan. Wahai anakku! Berusahalah agar pintu-pintu harapan akan berubahnya keadaan selalu terbuka, agar jiwamu tetap tergerak oleh harapan itu, tetap basah oleh asa. Percayalah dengan rahmat, keadilan, hikmah, dan ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Dialah satu-satunya tempat berlindung yang aman. Janganlah engkau menutup setiap pintu atau mengurung dirimu dalam penjara masa sekarang, karena kondisi masa depan bisa jadi membawa hal yang di luar perkiraanmu. “Engkau tidak mengetahui, boleh jadi setelah itu Allah mengadakan suatu ketentuan yang baru.” (QS. At-Talaq: 29). “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216). Wahai anakku! Janganlah engkau memandang orang yang kedudukannya lebih di atasmu, tapi lihatlah yang ada di bawahmu, niscaya engkau akan memahami bagaimana nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala terlimpah kepadamu. Engkau pasti menemukan orang yang lebih buruk kondisinya daripada dirimu. Ada orang yang lebih miskin dan terlilit banyak utang. Meskipun harta yang ada di tanganmu itu sedikit, tapi ada orang lain yang kehilangan harta, kesehatan, dan anak sekaligus. Bahkan ada orang yang tidak punya lagi Tanah Air, maka serahkanlah urusanmu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya engkau akan selamat. Tidak diragukan bahwa habisnya kesabaran dan lemahnya diri dalam memikul beratnya kemiskinan adalah kondisi yang menunjukkan kelemahan manusia, tapi janganlah itu menyeretmu kepada keluh kesah, sehingga timbangan nilai-nilai diri menjadi runtuh, dan ini tentu menjadi musibah yang besar, semakin seret rezeki, semakin besar juga ujiannya. Apabila kondisi sudah sangat menghimpitmu dan berbagai usaha tidak memberi hasil dengan semestinya, maka sebenarnya masih ada tempat berlindung yang terkuat, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka berlarilah kepada-Nya dengan ketaatan, taubat, dan banyak istighfar, karena ini dapat mendatangkan rezeki, disertai dengan menghindari segala hal yang menghalangi terkabulnya doa. Tuluslah dalam menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan doa dan ketundukan pada waktu-waktu yang mustajab, seperti pada sepertiga terakhir malam ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala turun ke langit dunia dan berfirman: “Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya. Dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya.” Tumpahkanlah segala masalahmu di hadapan-Nya, mintalah keluasan rezeki yang halal. Tidak akan kecewa, orang yang berdoa kepada-Nya, Tangan-Nya selalu penuh dengan karunia, tidak pernah berkurang karena memberi. Dia selalu melimpahkan karunia siang dan malam. Sebagaimana yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِي يَدِهِ “Tidakkah kalian memperhatikan berapa banyak yang telah Dia nafkahkan sejak Dia menciptakan langit dan bumi? Sungguh, semua itu tidaklah mengurangi sedikit pun apa yang ada di tangan-Nya.” (HR. Al-Bukhari). Selalu baca doa yang dulu dibaca Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam ketika hendak berbaring di tempat tidurnya: اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ، وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ “Ya Allah, Tuhan langit dan Tuhan bumi, Tuhan ‘Arsy yang agung, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu, Yang membelah biji-bijian dan biji kurma, Yang menurunkan Taurat, Injil, dan Al-Furqan (Al-Qur’an). Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu yang ubun-ubunnya berada dalam kekuasaan-Mu. Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Awal, tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu. Engkaulah Yang Maha Akhir, tidak ada sesuatu pun sesudah-Mu. Engkaulah Yang Maha Zhahir, tidak ada sesuatu pun di atas-Mu. Engkaulah Yang Maha Batin, tidak ada sesuatu pun yang lebih dekat daripada-Mu. Lunasilah utang kami dan cukupkanlah kami sehingga terhindar dari kefakiran.” Adapun menerima bantuan finansial, baik itu berupa hibah atau sedekah, itu tentu dibolehkan. Bahkan ada dari imam empat mazhab dan ulama lainnya yang membolehkan penyaluran zakat kepada penuntut ilmu, dan ini tentu sah. Dengan demikian, engkau boleh menerima sedekah atau zakat jika engkau tidak punya harta yang mencukupi kebutuhanmu —sebagaimana yang telah engkau sebutkan— meskipun engkau mampu untuk bekerja. Pendapat ini disebutkan oleh Imam Ibnu Al-Abidin dalam kitab Ad-Durr Al-Mukhtar dan Hasyiyah Ibnu Abidin atau Radd al-Muhtar jilid 2 hlm. 340: “Tidak boleh membayar zakat kepada orang yang punya harta yang mencapai nisab, kecuali kepada penuntut ilmu, mujahid di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan haji.”  Imam an-Nawawi juga berkata dalam Al-Majmu Syarh Al-Muhadzdzab jilid 6 hlm. 190: “Adapun tentang penghasilan, maka para ulama mazhab kami berkata bahwa disyaratkan agar seseorang berhak menerima bagian zakat golongan orang miskin adalah ia tidak memiliki penghasilan yang mencukupi kebutuhan hidupnya, sebagaimana yang telah kami jelaskan terkait harta. Namun tidak disyaratkan ketidakmampuan dalam mencari penghasilan sama sekali. Mereka mengatakan bahwa yang menjadi patokan adalah penghasilan yang sesuai dengan keadaan dan martabatnya. Adapun jika pekerjaannya tidak sesuai dengan keadaan dan martabatnya, maka dianggap seolah-olah tidak punya pekerjaan. Mereka juga berkata bahwa seandainya ia mampu memperoleh pekerjaan yang sesuai keadaannya, tapi ia sibuk menuntut ilmu syariat, sehingga jika ia bekerja maka ia harus berhenti menuntut ilmu, maka halal baginya menerima zakat, karena menuntut ilmu adalah fardhu kifayah.” Saya memohon kepada Allah Yang Maha Pemurah, Maha Mulia, lagi Maha Pemberi karunia, agar menghilangkan kesusahanmu, mencukupkanmu dari kefakiran, dan memulihkan segala kepedihan. Sumber: https://www.alukah.net/fatawa_counsels/0/129553/أرهقتني-متاعب-الحياة/ Sumber artikel PDF 🔍 Berdoa Saat Haid, Bacaan Niat Puasa Mulud, Surat Yang Pertama Kali Diturunkan, Pendeta Kalah Debat Masuk Islam, Doa Diberikan Jodoh Visited 506 times, 4 visit(s) today Post Views: 34


Oleh: Syaikh Khalid bin Abdul Mun’im Ar-Rifa’i Ringkasan Pertanyaan: Ada pemuda yang terhimpit oleh urusan dunia, tidak punya harta atau pekerjaan, ia bertanya, “Apa yang harus saya lakukan?” Pertanyaan Lengkap: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Saya pemuda berusia 20 tahun. Saya hidup dalam keadaan yang sulit sekali, dengan masalah-masalah mental, keluarga, dan finansial. Saya tidak ingat pernah mendapatkan apa yang saya inginkan, baik itu dari sisi materi, mental, dan perasaan. Ayahku tidak peduli dengan kami, tidak memberi bantuan apa pun kepada kami. Dia ada tapi seperti tidak ada. Masa remaja dan masa mudaku penuh kegagalan. Saya tidak bisa sukses karena kondisi finansial dan mentalku. Saya orang yang pemalu, tidak bisa menghadapi kenyataan dan tidak puas dengannya. Saya selalu melihat diriku lebih rendah dari orang lain. Faktor terpenting yang menyebabkan hal ini adalah karena mataku juling. Namun sekarang, Alhamdulillah setelah semakin dewasa, saya sudah tidak peduli lagi dengan apa pun, meskipun saya masih merasa frustrasi dan putus asa akibat mata juling serta kemiskinan parah ini. Sekarang saya tinggal bersama salah satu teman, tapi saya tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok untuk kehidupanku, bahkan dokter telah menyuruhku membeli kacamata medis, tapi saya tidak mampu membelinya karena tidak punya uang. Saya sudah mencari pekerjaan ke mana-mana, dan saya sudah berpikir untuk menyerah saja, karena saya hanya pemuda yang tidak punya uang dan ketampanan, tidak berhasil dalam pekerjaan dan pendidikan, dan hidupku tersia-siakan di hadapanku. Semua temanku mendapatkan bantuan dan dukungan dari keluarga mereka, sedangkan saya sendiri yang semua pintu tertutup di depanku! Kehidupan telah membuatku hancur lebur. Saya memandang bahwa umur dan harta adalah asas kesuksesan dalam hidup ini. Saya punya keinginan besar untuk belajar, tekad yang kuat, dan kesungguhan. Namun, urusan uang menghalangiku. Apakah saya masih bisa sukses? Apakah menerima bantuan finansial bagi pelajar adalah aib? Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, juga kepada keluarga, para sahabat, dan para pengikut beliau. Amma ba’du: Tenangkan dirimu, wahai anakku tercinta! Meskipun rezekimu sempit. Jangan sedih dan putus asa! Jangan menyerah pada kelemahan, serta bisikan dirimu dan setan! Lawanlah kesedihan dan kesempitan dada dengan yakin kepada keadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala! Bersandarlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata! Bersabarlah sekuat tenaga! Tingkatkanlah ketakwaanmu, perbaiki amalanmu, dan berikhtiarlah! Jangan sampai menyerah dengan godaan dan tipu daya setan! Jauhkan dari dirimu perasaan gagal! Bersungguh-sungguhlah, karena kesungguhan adalah salah satu jalan terbesar untuk meraih kebaikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sungguh, Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. Al-Ankabut: 69). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَإِنَّمَا الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ، وَمَنْ يَتَحَرَّ الْخَيْرَ يُعْطَهُ، وَمَنْ يَتَّقِ الشَّرَّ يُوقَهُ. “Sesungguhnya ilmu diperoleh dengan belajar, dan sikap santun diperoleh dengan melatih diri untuk bersikap santun. Barang siapa berusaha mencari kebaikan, niscaya ia akan diberinya. Dan barang siapa berusaha menghindari keburukan, niscaya ia akan dilindungi darinya.” (HR. Ad-Daruquthni. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami). Wahai anakku! Buanglah jauh-jauh pandangan pesimis dan minder dengan melakukan interaksi positif dengan orang-orang di sekitarmu, mendekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tulus, dan berbaik sangka kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا دَعَانِي “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia berdoa kepada-Ku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dan dalam riwayat lain disebutkan:  إِنْ ظَنَّ خَيْرًا فَخَيْرٌ، وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَشَرٌّ “Jika ia berprasangka baik, maka baginya kebaikan. Dan jika ia berprasangka buruk, maka baginya keburukan.”  Laksanakanlah salatmu dengan sepenuh hati, menghayati Al-Qur’an dan zikir-zikir yang engkau baca, menghadirkan dalam hati keagungan Tuhanmu, berpaling dari dunia dan segala hiruk-pikuknya, penuh keyakinan bahwa seorang hamba tidak punya kuasa apa pun terhadap dirinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menetapkan segala sesuatu dengan kebijaksanaan dan rahmat-Nya, baik itu kesehatan, rezeki, kenikmatan, kebaikan, musibah, atau kesempitan rezeki. Namun, pahala akan semakin besar jika diiringi kesabaran. Ketahuilah —semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberimu keselamatan dan melapangkan dadamu— bahwa salah satu hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah menjadikan hari-hari silih berganti dan keadaan selalu berubah. Kesulitan akan disusul kemudahan, kemiskinan akan diganti kekayaan, dan begitu seterusnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia.” (QS. Ali Imran: 140). Dan jiwa yang beriman adalah yang bersabar atas kesulitan dan tidak terbuai oleh kesenangan. Ia tetap menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam dua kondisi itu, yakin bahwa kebaikan dan keburukan yang menimpanya adalah dengan izin Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ “Setiap waktu Dia berada dalam kesibukan (mengatur urusan makhluk-Nya).” (QS. Ar-Rahman: 29).  Allahlah yang membuat orang miskin menjadi kaya, memulihkan hati yang terluka, melimpahkan karunia kepada suatu kaum dan menahannya dari kaum yang lain, serta yang memuliakan dan menghinakan. Maha Suci Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Pemberi. Dia memberi jalan keluar setelah kesempitan, kemudahan setelah kesulitan, keluasan setelah keterbatasan. Wahai anakku! Berusahalah agar pintu-pintu harapan akan berubahnya keadaan selalu terbuka, agar jiwamu tetap tergerak oleh harapan itu, tetap basah oleh asa. Percayalah dengan rahmat, keadilan, hikmah, dan ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Dialah satu-satunya tempat berlindung yang aman. Janganlah engkau menutup setiap pintu atau mengurung dirimu dalam penjara masa sekarang, karena kondisi masa depan bisa jadi membawa hal yang di luar perkiraanmu. “Engkau tidak mengetahui, boleh jadi setelah itu Allah mengadakan suatu ketentuan yang baru.” (QS. At-Talaq: 29). “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216). Wahai anakku! Janganlah engkau memandang orang yang kedudukannya lebih di atasmu, tapi lihatlah yang ada di bawahmu, niscaya engkau akan memahami bagaimana nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala terlimpah kepadamu. Engkau pasti menemukan orang yang lebih buruk kondisinya daripada dirimu. Ada orang yang lebih miskin dan terlilit banyak utang. Meskipun harta yang ada di tanganmu itu sedikit, tapi ada orang lain yang kehilangan harta, kesehatan, dan anak sekaligus. Bahkan ada orang yang tidak punya lagi Tanah Air, maka serahkanlah urusanmu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya engkau akan selamat. Tidak diragukan bahwa habisnya kesabaran dan lemahnya diri dalam memikul beratnya kemiskinan adalah kondisi yang menunjukkan kelemahan manusia, tapi janganlah itu menyeretmu kepada keluh kesah, sehingga timbangan nilai-nilai diri menjadi runtuh, dan ini tentu menjadi musibah yang besar, semakin seret rezeki, semakin besar juga ujiannya. Apabila kondisi sudah sangat menghimpitmu dan berbagai usaha tidak memberi hasil dengan semestinya, maka sebenarnya masih ada tempat berlindung yang terkuat, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka berlarilah kepada-Nya dengan ketaatan, taubat, dan banyak istighfar, karena ini dapat mendatangkan rezeki, disertai dengan menghindari segala hal yang menghalangi terkabulnya doa. Tuluslah dalam menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan doa dan ketundukan pada waktu-waktu yang mustajab, seperti pada sepertiga terakhir malam ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala turun ke langit dunia dan berfirman: “Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya. Dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya.” Tumpahkanlah segala masalahmu di hadapan-Nya, mintalah keluasan rezeki yang halal. Tidak akan kecewa, orang yang berdoa kepada-Nya, Tangan-Nya selalu penuh dengan karunia, tidak pernah berkurang karena memberi. Dia selalu melimpahkan karunia siang dan malam. Sebagaimana yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِي يَدِهِ “Tidakkah kalian memperhatikan berapa banyak yang telah Dia nafkahkan sejak Dia menciptakan langit dan bumi? Sungguh, semua itu tidaklah mengurangi sedikit pun apa yang ada di tangan-Nya.” (HR. Al-Bukhari). Selalu baca doa yang dulu dibaca Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam ketika hendak berbaring di tempat tidurnya: اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ، وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ “Ya Allah, Tuhan langit dan Tuhan bumi, Tuhan ‘Arsy yang agung, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu, Yang membelah biji-bijian dan biji kurma, Yang menurunkan Taurat, Injil, dan Al-Furqan (Al-Qur’an). Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu yang ubun-ubunnya berada dalam kekuasaan-Mu. Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Awal, tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu. Engkaulah Yang Maha Akhir, tidak ada sesuatu pun sesudah-Mu. Engkaulah Yang Maha Zhahir, tidak ada sesuatu pun di atas-Mu. Engkaulah Yang Maha Batin, tidak ada sesuatu pun yang lebih dekat daripada-Mu. Lunasilah utang kami dan cukupkanlah kami sehingga terhindar dari kefakiran.” Adapun menerima bantuan finansial, baik itu berupa hibah atau sedekah, itu tentu dibolehkan. Bahkan ada dari imam empat mazhab dan ulama lainnya yang membolehkan penyaluran zakat kepada penuntut ilmu, dan ini tentu sah. Dengan demikian, engkau boleh menerima sedekah atau zakat jika engkau tidak punya harta yang mencukupi kebutuhanmu —sebagaimana yang telah engkau sebutkan— meskipun engkau mampu untuk bekerja. Pendapat ini disebutkan oleh Imam Ibnu Al-Abidin dalam kitab Ad-Durr Al-Mukhtar dan Hasyiyah Ibnu Abidin atau Radd al-Muhtar jilid 2 hlm. 340: “Tidak boleh membayar zakat kepada orang yang punya harta yang mencapai nisab, kecuali kepada penuntut ilmu, mujahid di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan haji.”  Imam an-Nawawi juga berkata dalam Al-Majmu Syarh Al-Muhadzdzab jilid 6 hlm. 190: “Adapun tentang penghasilan, maka para ulama mazhab kami berkata bahwa disyaratkan agar seseorang berhak menerima bagian zakat golongan orang miskin adalah ia tidak memiliki penghasilan yang mencukupi kebutuhan hidupnya, sebagaimana yang telah kami jelaskan terkait harta. Namun tidak disyaratkan ketidakmampuan dalam mencari penghasilan sama sekali. Mereka mengatakan bahwa yang menjadi patokan adalah penghasilan yang sesuai dengan keadaan dan martabatnya. Adapun jika pekerjaannya tidak sesuai dengan keadaan dan martabatnya, maka dianggap seolah-olah tidak punya pekerjaan. Mereka juga berkata bahwa seandainya ia mampu memperoleh pekerjaan yang sesuai keadaannya, tapi ia sibuk menuntut ilmu syariat, sehingga jika ia bekerja maka ia harus berhenti menuntut ilmu, maka halal baginya menerima zakat, karena menuntut ilmu adalah fardhu kifayah.” Saya memohon kepada Allah Yang Maha Pemurah, Maha Mulia, lagi Maha Pemberi karunia, agar menghilangkan kesusahanmu, mencukupkanmu dari kefakiran, dan memulihkan segala kepedihan. Sumber: https://www.alukah.net/fatawa_counsels/0/129553/أرهقتني-متاعب-الحياة/ Sumber artikel PDF 🔍 Berdoa Saat Haid, Bacaan Niat Puasa Mulud, Surat Yang Pertama Kali Diturunkan, Pendeta Kalah Debat Masuk Islam, Doa Diberikan Jodoh Visited 506 times, 4 visit(s) today Post Views: 34

Biografi Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleAkidah beliauJabatan dan tugas yang pernah diemban di negerinyaPerjalanan haji dan tinggal di Madinah, serta pengaruhnya terhadap ilmunyaKegiatan dan tugas beliau setelah tinggal di Tanah HaramMengajar tafsir di Masjid NabawiMengajar di Darul Ulum (Madinah)Mengajar di RiyadhMengajar di Universitas Islam MadinahSafari dakwah ke AfrikaMengajar di Ma’had ‘Aly Peradilan (Riyadh)Anggota Hai’ah Kibaril UlamaAnggota pendiri Rabithah ‘Alam IslamiKezuhudan dan sikap wara’-nyaKarya-karyaWafatAkidah beliauSalah satu hal yang sangat menonjol dari pelajaran Syekh (rahimahullah), baik yang didengar langsung maupun yang dibaca dari tulisan-tulisannya, adalah seringnya beliau menegaskan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam seluruh pembahasan akidah, terutama yang berkaitan dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah.Beliau menjelaskan masalah-masalah tersebut dengan bahasa yang jelas, berdasarkan kaidah yang kuat, serta didukung banyak dalil, baik dari Al-Qur’an dan hadis maupun dalil akal. Bahkan, orang yang mendengar atau membaca penjelasannya bisa mengira bahwa beliau hanya mendalami bidang akidah saja, karena begitu kuat dan luas pembahasannya.Walaupun beliau menjelaskan masalah akidah dengan sangat rinci dan panjang, beliau tidak pernah bosan untuk mengulanginya dalam berbagai kesempatan. Misalnya, dalam pelajaran-pelajaran yang sampai kepada kita, beliau menjelaskan tiga landasan utama dalam memahami sifat-sifat Allah di delapan tempat yang berbeda.Demikian juga ketika membahas tentang hukum dan berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan, atau ketika menjelaskan bahwa hanya Allah yang mengetahui perkara gaib. Beliau juga membantah paham Qadariyah di tujuh tempat, menyebutkan dialog perdebatan antara Al-Isfarayini dan Qadhi Abdul Jabbar tentang takdir, serta menjelaskan sifat istiwa’ (Allah tinggi di atas Arsy) di enam tempat. Begitu pula beliau mengulang kisah dialog antara seorang Arab Badui dan Amr bin Ubaid tentang masalah takdir, dan berbagai pembahasan akidah lainnya yang sering beliau ulang dalam pelajaran-pelajarannya.Penjelasan tentang masalah akidah ini tidak hanya terdapat dalam pelajaran tafsir yang beliau sampaikan di Masjid Nabawi, tetapi juga banyak tersebar dalam kitab-kitab beliau, terutama dalam kitab Adhwa’ul Bayan.Kemampuan Syekh (rahimahullah) tidak hanya terbatas pada penguasaan akidah Ahlus Sunnah saja. Beliau juga sangat memahami berbagai mazhab ahli ilmu kalam (teologi) serta mengetahui letak kesalahan dan kelemahannya. Hal ini tampak jelas dalam pelajaran-pelajarannya maupun dalam kitab-kitab yang beliau tulis.Ketika menafsirkan ayat ke-54 dari surah Al-A‘raf, yaitu firman Allah,إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ“Sesungguhnya Tuhan kalian adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia beristiwa di atas Arsy.”Setelah menjelaskan akidah yang benar dalam masalah sifat-sifat Allah dan menerangkan kesalahan mazhab ahli kalam, beliau berkata,ونحنُ نقولُ لكم هذا وَنُقَرِّرُ لكم مذهبَ السلفِ على ضوءِ القرآنِ العظيمِ مع أنَّا ما دَرَسْنَا دراسةً شديدةً مثل علومِ الكلامِ والمنطقِ، وما تَنْفِي به كُلُّ طائفةٍ بَعْضًا من صفاتِ اللَّهِ، ونحن مُطَّلِعُونَ على جميعِ الأدلةِ وعلى تَرْكِيبِهَا التي نُفِيَ بها بعضُ الصفاتِ، عارفونَ كيف جاءَ البُطْلاَنُ، ومن الوجهِ الذي جاءَ البُطْلاَنُ، واسمُ الدليلِ الذي تُرِدُ به، ولكن ذلك لا يَلِيقُ في هذا المجلسِ الحافلِ؛ لأنه لا يَعْرِفُهُ إلا خَوَاصُّ الناسِ، فبعدَ النظرِ العامِّ الطويلِ في علمِ الكلامِ وما يستدلُّ به طوائفُ المتكلمين، وما تَرُدُّ به كُلُّ طائفةٍ على الأخرى، والأقيسةِ المنطقيةِ التي رَتَّبُوهَا وَنَفَوْا بها بعضَ الصفاتِ، ومعرفتنا من الوحيِ ومن نَفْسِ الكلامِ والبحوثِ والمناظراتِ كيف يَبْطُلُ ذلك الدليل، ومن أين جاء الخطأُ، وَتَحَقَّقْنَا من هذا كُلِّهِ، بعد ذلك كُلِّهِ تَحَقَّقْنَا كُلَّ التحققِ أن السلامةَ كُلَّ السلامةِ، والخيرَ كُلَّ الخيرِ في اتباعِ نورِ هذا القرآنِ العظيمِ، والاهتداءِ بِهَدْيِ هذا النبيِّ الكريمِ“Kami menyampaikan kepada kalian dan menjelaskan mazhab para salaf berdasarkan cahaya Al-Qur’an yang agung. Padahal, kami juga mempelajari secara mendalam ilmu kalam dan logika, serta berbagai cara yang digunakan oleh masing-masing kelompok untuk menolak sebagian sifat Allah. Kami mengetahui seluruh dalil yang mereka gunakan dan susunan argumennya untuk menolak sifat-sifat tersebut. Kami tahu di mana letak kesalahannya, dari sisi mana kebatilannya muncul, dan apa nama dalil yang mereka pakai untuk membantah.Namun, pembahasan seperti itu tidak cocok disampaikan di majelis umum seperti ini, karena hanya dipahami oleh kalangan tertentu saja. Setelah pengkajian panjang terhadap ilmu kalam, dalil-dalil yang digunakan oleh berbagai kelompok, bantahan mereka satu sama lain, serta logika yang mereka susun untuk menolak sebagian sifat Allah dan setelah kami mengetahui dari wahyu, dari ilmu kalam itu sendiri, dari penelitian dan perdebatan, bagaimana dalil-dalil itu sebenarnya batal dan dari mana kesalahannya berasal, setelah semua itu kami sampai pada keyakinan yang sangat pasti bahwa keselamatan sepenuhnya dan kebaikan sepenuhnya hanyalah dengan mengikuti cahaya Al-Qur’an yang agung ini dan berpegang pada petunjuk Nabi yang mulia ini …”Jabatan dan tugas yang pernah diemban di negerinyaSyekh (rahimahullah) mengajar dan memberikan fatwa. Beliau juga dikenal sebagai seorang hakim (qadhi).Dalam menangani perkara, beliau memiliki cara yang tertib. Beliau terlebih dahulu meminta kedua pihak yang berselisih untuk menulis bahwa mereka sepakat menjadikan beliau sebagai hakim dan bersedia menerima keputusan yang beliau tetapkan. Setelah itu, penggugat diminta menuliskan tuntutannya, lalu jawaban dari pihak tergugat ditulis di bawahnya. Kemudian beliau menuliskan keputusan hukumnya bersama dengan isi gugatan dan jawabannya. Setelah itu, kedua pihak dipersilakan membawa keputusan tersebut kepada ulama atau hakim lain yang mereka kehendaki untuk disahkan dan dilaksanakan.Beliau menangani hampir semua jenis perkara, kecuali perkara darah (kasus pembunuhan) dan hudud (hukuman pidana tertentu dalam syariat). Untuk kasus pembunuhan ada peradilan khusus. Saat itu, hakim dari pihak pemerintahan Prancis (karena Mauritania berada di bawah penjajahan Prancis) yang memutuskan hukuman qishash setelah proses pengadilan dan pemeriksaan selesai. Setelah putusan keluar, keputusan tersebut harus diserahkan kepada dua orang ulama negeri untuk disahkan. Dua ulama ini disebut Lajnatu Ad-Dam, dan Syekh (rahimahullah) adalah salah satu dari dua anggota Lajnah tersebut.Sebelum beliau keluar dari negerinya, kedudukannya sudah sangat tinggi. Nama beliau sudah terkenal luas, dan beliau memiliki kedudukan terhormat di kalangan masyarakat, baik orang khusus maupun umum, yang dekat maupun yang jauh. Beliau menjadi salah satu tokoh besar negeri itu dan dipercaya oleh semua kalangan.Perjalanan haji dan tinggal di Madinah, serta pengaruhnya terhadap ilmunyaSyekh (rahimahullah) berangkat dari negerinya pada tanggal 7 Jumadil akhir tahun 1367 H untuk menunaikan ibadah haji melalui jalur darat. Awalnya, beliau berniat kembali ke negerinya setelah selesai berhaji.Perjalanan itu penuh dengan manfaat dan diskusi ilmiah yang berharga. Hal ini menunjukkan kedalaman ilmu dan luasnya wawasan beliau. Siapa saja yang membaca catatan perjalanan beliau yang berjudul “Ar-Rihlah ila Baitillah al-Haram” (Perjalanan ke Baitullah) akan mengetahui hal tersebut.Setelah menyelesaikan manasik haji, beliau pergi ke Madinah. Kemudian beliau memutuskan untuk tinggal dan menetap di sana. Beliau pernah berkata,لَيْسَ مِنْ عَمَلٍ أعظمَ من تفسيرِ كتابِ اللَّهِ في مسجدِ رسولِ اللِّهِ- صلى الله عليه وسلم-“Tidak ada amalan yang lebih besar daripada menafsirkan Kitab Allah di Masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Tinggalnya beliau di Madinah membawa pengaruh besar terhadap perkembangan ilmunya. Di negerinya dahulu, pendidikan lebih terfokus pada fikih mazhab Imam Malik saja, ditambah ilmu bahasa Arab, ushul fikih, sirah, tafsir, dan manthiq. Ilmu hadis tidak dipelajari sedalam cabang ilmu lainnya, karena masyarakat umumnya berpegang pada mazhab Maliki.Ketika beliau mulai mengajar di Masjid Nabawi dan berinteraksi dengan berbagai kalangan, beliau bertemu dengan orang-orang dari empat mazhab fikih, yang berdiskusi dan menuntut dalil dalam setiap masalah. Di Masjid Nabawi, pembelajaran tidak terbatas pada satu mazhab saja.Oleh karena itu, siapa pun yang mengajar di lingkungan seperti itu harus memahami seluruh mazhab yang diakui, mengetahui pendapat para ulama dalam setiap masalah, serta memiliki penguasaan yang kuat terhadap Al-Qur’an dan As-Sunah. Maka Syekh (rahimahullah) pun bersungguh-sungguh memperluas ilmunya dalam bidang tersebut. Kemampuannya yang kuat dalam ilmu-ilmu alat (seperti bahasa Arab dan ushul fikih) sangat membantunya dalam memperluas wawasan ini.Pengaruh perluasan ilmu ini tampak jelas dalam kitab beliau “Adhwa’ul Bayan”, terutama ketika membahas masalah-masalah fikih.Kegiatan dan tugas beliau setelah tinggal di Tanah HaramSetelah menetap di Makkah dan Madinah, Syekh (rahimahullah) melakukan banyak kegiatan ilmiah dan dakwah, di antaranya:Mengajar tafsir di Masjid NabawiBeliau mengajar tafsir Al-Qur’an di Masjid Nabawi dan berhasil menafsirkan seluruh Al-Qur’an. Setelah selesai, beliau memulai kembali dari awal untuk kedua kalinya. Namun sebelum menyelesaikannya, beliau wafat. Pada putaran kedua itu, beliau belum melewati Surah At-Taubah.Mengajar di Darul Ulum (Madinah)Sejak tahun 1369 H, beliau mengajar tafsir di Darul Ulum di Madinah, hingga tahun 1371 H sebelum pindah ke Riyadh.Mengajar di RiyadhPada tahun 1371 H, ketika dibuka lembaga pendidikan seperti ma’had dan perguruan tinggi di Riyadh, beliau dipilih menjadi pengajar di sana. Beliau mengajar tafsir dan ushul fikih sampai kemudian kembali ke Madinah.Selain itu, di Riyadh beliau juga:Mengajar kitab-kitab Syekhul Islam Ibnu Taimiyah kepada para pengajar ma’had, diadakan antara waktu maghrib dan isya.Mengajar ushul fikih di Masjid Syekh Muhammad bin Ibrahim untuk para penuntut ilmu tingkat lanjut.Mengajar murid-murid khusus di rumahnya setelah asar, bahkan mendiktekan penjelasan kitab Maraqi as-Su‘ud kepada salah seorang muridnya.Mengajar di Universitas Islam MadinahPada tahun 1381 H, ketika Universitas Islam Madinah didirikan, beliau pindah untuk mengajar di sana. Beliau juga menjadi anggota dewan universitas. Di sana, beliau mengajar tafsir, ushul fikih, serta adab penelitian dan debat ilmiah, hingga wafat.Safari dakwah ke AfrikaPada tahun 1385 H, beliau memimpin rombongan dari Universitas Islam untuk berdakwah ke sepuluh negara di Afrika, dimulai dari Sudan dan berakhir di Mauritania. Perjalanan ini berlangsung lebih dari dua bulan dan dipenuhi ceramah, pelajaran, diskusi ilmiah, dan pertemuan bermanfaat. Ceramah-ceramah tersebut direkam, ditulis ulang, dan diterbitkan dengan judul “Ar-Rihlah ila Afriqiya” (Perjalanan ke Afrika).Mengajar di Ma’had ‘Aly Peradilan (Riyadh)Sejak dibuka tahun 1386 H, beliau juga mengajar di Ma’had ‘Aly Peradilan di Riyadh sebagai dosen tamu, memberikan kuliah tafsir dan ushul fikih.Anggota Hai’ah Kibaril UlamaPada 8 Rajab 1391 H, dibentuk Dewan Ulama Senior yang beranggotakan 17 orang, dan beliau termasuk salah satu anggotanya.Anggota pendiri Rabithah ‘Alam IslamiBeliau juga termasuk anggota dewan pendiri Rabithah ‘Alam Islami.Kezuhudan dan sikap wara’-nyaSyekh (rahimahullah) dikenal sebagai pribadi yang zuhud dan sangat menjaga diri (wara’). Ilmu yang beliau miliki benar-benar mendorongnya untuk takut kepada Allah dan menjauhi sikap berlebihan terhadap dunia. Kehidupan beliau membuat orang teringat kepada para ulama salaf terdahulu dalam kesederhanaan dan ketakwaan.Beliau pernah berkata,الَّذِي يُفْرِحُنَا أنه لو كانت الدنيا مَيْتَةً لأباحَ اللَّهُ منها سَدَّ الخَلَّةِ“Yang membuat kami tenang adalah bahwa seandainya dunia itu seperti bangkai, Allah tetap membolehkan kita mengambil darinya sekadar untuk menutup kebutuhan.”Beliau juga memperingatkan anaknya agar tidak sibuk mengumpulkan harta dan terlalu berambisi terhadapnya dengan alasan ingin bersedekah atau membangun sekolah dan tempat ibadah. Beliau mengatakan bahwa dunia itu seperti air laut yang asin (semakin diminum semakin membuat haus). Allah tidak mewajibkan seorang hamba mengumpulkan harta hanya untuk disedekahkan, apalagi kenyataannya sering kali orang yang sudah mengumpulkan harta justru tidak memberikannya kepada orang lain.Beliau juga berkata,وأنا أَقْدَرُ الناسِ على أن أكونَ أَغْنَى الناسِ، وَتَرَكْتُ الدنيا لأني أعلمُ أنه إذا تلطخَ بها العبدُ لا يَنْجُو منها، إلا مَنْ عَصَمَهُ اللَّهُ“Sebenarnya aku mampu menjadi orang yang paling kaya, tetapi aku meninggalkan dunia, karena aku tahu bahwa jika seseorang sudah terjerat olehnya, ia tidak akan selamat darinya kecuali orang yang Allah lindungi.”Karya-karyaSyekh (rahimahullah) meninggalkan banyak karya ilmiah yang ditulis dalam tiga masa: di Mauritania, saat perjalanan haji, dan setelah menetap di Saudi Arabia.Di masa mudanya beliau menulis syair tentang nasab Arab, fikih Maliki, manthiq, dan faraidh (sebagian masih manuskrip). Saat perjalanan haji, beliau menulis syarah dalam manthiq dan catatan perjalanan haji.Adapun setelah tinggal di Saudi, lahirlah karya-karya terpentingnya, seperti Adhwa’ul Bayan (tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an), Daf‘u Iham al-Idhthirab, Man‘u Jawaz al-Majaz, kitab tentang ushul fikih, adab debat, serta syarah Maraqi as-Su‘ud. Beliau juga menulis berbagai fatwa dan risalah, serta menyampaikan banyak ceramah yang kemudian dibukukan.Karya-karya ini menunjukkan keluasan dan kedalaman ilmunya dalam tafsir, akidah, ushul fikih, dan berbagai cabang ilmu Islam.WafatSyekh (rahimahullah) wafat pada hari Kamis pagi, 17 Zulhijah 1393 H, di rumahnya di Makkah Al-Mukarramah. Jenazah beliau disalatkan oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz setelah salat Zuhur pada hari itu. Kemudian, beliau dimakamkan di pemakaman Ma‘la, di daerah Ri‘al-Hajun.Semoga Allah merahmatinya dengan rahmat yang luas.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dan diringkas oleh penulis dari: https://www.alukah.net

Biografi Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleAkidah beliauJabatan dan tugas yang pernah diemban di negerinyaPerjalanan haji dan tinggal di Madinah, serta pengaruhnya terhadap ilmunyaKegiatan dan tugas beliau setelah tinggal di Tanah HaramMengajar tafsir di Masjid NabawiMengajar di Darul Ulum (Madinah)Mengajar di RiyadhMengajar di Universitas Islam MadinahSafari dakwah ke AfrikaMengajar di Ma’had ‘Aly Peradilan (Riyadh)Anggota Hai’ah Kibaril UlamaAnggota pendiri Rabithah ‘Alam IslamiKezuhudan dan sikap wara’-nyaKarya-karyaWafatAkidah beliauSalah satu hal yang sangat menonjol dari pelajaran Syekh (rahimahullah), baik yang didengar langsung maupun yang dibaca dari tulisan-tulisannya, adalah seringnya beliau menegaskan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam seluruh pembahasan akidah, terutama yang berkaitan dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah.Beliau menjelaskan masalah-masalah tersebut dengan bahasa yang jelas, berdasarkan kaidah yang kuat, serta didukung banyak dalil, baik dari Al-Qur’an dan hadis maupun dalil akal. Bahkan, orang yang mendengar atau membaca penjelasannya bisa mengira bahwa beliau hanya mendalami bidang akidah saja, karena begitu kuat dan luas pembahasannya.Walaupun beliau menjelaskan masalah akidah dengan sangat rinci dan panjang, beliau tidak pernah bosan untuk mengulanginya dalam berbagai kesempatan. Misalnya, dalam pelajaran-pelajaran yang sampai kepada kita, beliau menjelaskan tiga landasan utama dalam memahami sifat-sifat Allah di delapan tempat yang berbeda.Demikian juga ketika membahas tentang hukum dan berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan, atau ketika menjelaskan bahwa hanya Allah yang mengetahui perkara gaib. Beliau juga membantah paham Qadariyah di tujuh tempat, menyebutkan dialog perdebatan antara Al-Isfarayini dan Qadhi Abdul Jabbar tentang takdir, serta menjelaskan sifat istiwa’ (Allah tinggi di atas Arsy) di enam tempat. Begitu pula beliau mengulang kisah dialog antara seorang Arab Badui dan Amr bin Ubaid tentang masalah takdir, dan berbagai pembahasan akidah lainnya yang sering beliau ulang dalam pelajaran-pelajarannya.Penjelasan tentang masalah akidah ini tidak hanya terdapat dalam pelajaran tafsir yang beliau sampaikan di Masjid Nabawi, tetapi juga banyak tersebar dalam kitab-kitab beliau, terutama dalam kitab Adhwa’ul Bayan.Kemampuan Syekh (rahimahullah) tidak hanya terbatas pada penguasaan akidah Ahlus Sunnah saja. Beliau juga sangat memahami berbagai mazhab ahli ilmu kalam (teologi) serta mengetahui letak kesalahan dan kelemahannya. Hal ini tampak jelas dalam pelajaran-pelajarannya maupun dalam kitab-kitab yang beliau tulis.Ketika menafsirkan ayat ke-54 dari surah Al-A‘raf, yaitu firman Allah,إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ“Sesungguhnya Tuhan kalian adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia beristiwa di atas Arsy.”Setelah menjelaskan akidah yang benar dalam masalah sifat-sifat Allah dan menerangkan kesalahan mazhab ahli kalam, beliau berkata,ونحنُ نقولُ لكم هذا وَنُقَرِّرُ لكم مذهبَ السلفِ على ضوءِ القرآنِ العظيمِ مع أنَّا ما دَرَسْنَا دراسةً شديدةً مثل علومِ الكلامِ والمنطقِ، وما تَنْفِي به كُلُّ طائفةٍ بَعْضًا من صفاتِ اللَّهِ، ونحن مُطَّلِعُونَ على جميعِ الأدلةِ وعلى تَرْكِيبِهَا التي نُفِيَ بها بعضُ الصفاتِ، عارفونَ كيف جاءَ البُطْلاَنُ، ومن الوجهِ الذي جاءَ البُطْلاَنُ، واسمُ الدليلِ الذي تُرِدُ به، ولكن ذلك لا يَلِيقُ في هذا المجلسِ الحافلِ؛ لأنه لا يَعْرِفُهُ إلا خَوَاصُّ الناسِ، فبعدَ النظرِ العامِّ الطويلِ في علمِ الكلامِ وما يستدلُّ به طوائفُ المتكلمين، وما تَرُدُّ به كُلُّ طائفةٍ على الأخرى، والأقيسةِ المنطقيةِ التي رَتَّبُوهَا وَنَفَوْا بها بعضَ الصفاتِ، ومعرفتنا من الوحيِ ومن نَفْسِ الكلامِ والبحوثِ والمناظراتِ كيف يَبْطُلُ ذلك الدليل، ومن أين جاء الخطأُ، وَتَحَقَّقْنَا من هذا كُلِّهِ، بعد ذلك كُلِّهِ تَحَقَّقْنَا كُلَّ التحققِ أن السلامةَ كُلَّ السلامةِ، والخيرَ كُلَّ الخيرِ في اتباعِ نورِ هذا القرآنِ العظيمِ، والاهتداءِ بِهَدْيِ هذا النبيِّ الكريمِ“Kami menyampaikan kepada kalian dan menjelaskan mazhab para salaf berdasarkan cahaya Al-Qur’an yang agung. Padahal, kami juga mempelajari secara mendalam ilmu kalam dan logika, serta berbagai cara yang digunakan oleh masing-masing kelompok untuk menolak sebagian sifat Allah. Kami mengetahui seluruh dalil yang mereka gunakan dan susunan argumennya untuk menolak sifat-sifat tersebut. Kami tahu di mana letak kesalahannya, dari sisi mana kebatilannya muncul, dan apa nama dalil yang mereka pakai untuk membantah.Namun, pembahasan seperti itu tidak cocok disampaikan di majelis umum seperti ini, karena hanya dipahami oleh kalangan tertentu saja. Setelah pengkajian panjang terhadap ilmu kalam, dalil-dalil yang digunakan oleh berbagai kelompok, bantahan mereka satu sama lain, serta logika yang mereka susun untuk menolak sebagian sifat Allah dan setelah kami mengetahui dari wahyu, dari ilmu kalam itu sendiri, dari penelitian dan perdebatan, bagaimana dalil-dalil itu sebenarnya batal dan dari mana kesalahannya berasal, setelah semua itu kami sampai pada keyakinan yang sangat pasti bahwa keselamatan sepenuhnya dan kebaikan sepenuhnya hanyalah dengan mengikuti cahaya Al-Qur’an yang agung ini dan berpegang pada petunjuk Nabi yang mulia ini …”Jabatan dan tugas yang pernah diemban di negerinyaSyekh (rahimahullah) mengajar dan memberikan fatwa. Beliau juga dikenal sebagai seorang hakim (qadhi).Dalam menangani perkara, beliau memiliki cara yang tertib. Beliau terlebih dahulu meminta kedua pihak yang berselisih untuk menulis bahwa mereka sepakat menjadikan beliau sebagai hakim dan bersedia menerima keputusan yang beliau tetapkan. Setelah itu, penggugat diminta menuliskan tuntutannya, lalu jawaban dari pihak tergugat ditulis di bawahnya. Kemudian beliau menuliskan keputusan hukumnya bersama dengan isi gugatan dan jawabannya. Setelah itu, kedua pihak dipersilakan membawa keputusan tersebut kepada ulama atau hakim lain yang mereka kehendaki untuk disahkan dan dilaksanakan.Beliau menangani hampir semua jenis perkara, kecuali perkara darah (kasus pembunuhan) dan hudud (hukuman pidana tertentu dalam syariat). Untuk kasus pembunuhan ada peradilan khusus. Saat itu, hakim dari pihak pemerintahan Prancis (karena Mauritania berada di bawah penjajahan Prancis) yang memutuskan hukuman qishash setelah proses pengadilan dan pemeriksaan selesai. Setelah putusan keluar, keputusan tersebut harus diserahkan kepada dua orang ulama negeri untuk disahkan. Dua ulama ini disebut Lajnatu Ad-Dam, dan Syekh (rahimahullah) adalah salah satu dari dua anggota Lajnah tersebut.Sebelum beliau keluar dari negerinya, kedudukannya sudah sangat tinggi. Nama beliau sudah terkenal luas, dan beliau memiliki kedudukan terhormat di kalangan masyarakat, baik orang khusus maupun umum, yang dekat maupun yang jauh. Beliau menjadi salah satu tokoh besar negeri itu dan dipercaya oleh semua kalangan.Perjalanan haji dan tinggal di Madinah, serta pengaruhnya terhadap ilmunyaSyekh (rahimahullah) berangkat dari negerinya pada tanggal 7 Jumadil akhir tahun 1367 H untuk menunaikan ibadah haji melalui jalur darat. Awalnya, beliau berniat kembali ke negerinya setelah selesai berhaji.Perjalanan itu penuh dengan manfaat dan diskusi ilmiah yang berharga. Hal ini menunjukkan kedalaman ilmu dan luasnya wawasan beliau. Siapa saja yang membaca catatan perjalanan beliau yang berjudul “Ar-Rihlah ila Baitillah al-Haram” (Perjalanan ke Baitullah) akan mengetahui hal tersebut.Setelah menyelesaikan manasik haji, beliau pergi ke Madinah. Kemudian beliau memutuskan untuk tinggal dan menetap di sana. Beliau pernah berkata,لَيْسَ مِنْ عَمَلٍ أعظمَ من تفسيرِ كتابِ اللَّهِ في مسجدِ رسولِ اللِّهِ- صلى الله عليه وسلم-“Tidak ada amalan yang lebih besar daripada menafsirkan Kitab Allah di Masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Tinggalnya beliau di Madinah membawa pengaruh besar terhadap perkembangan ilmunya. Di negerinya dahulu, pendidikan lebih terfokus pada fikih mazhab Imam Malik saja, ditambah ilmu bahasa Arab, ushul fikih, sirah, tafsir, dan manthiq. Ilmu hadis tidak dipelajari sedalam cabang ilmu lainnya, karena masyarakat umumnya berpegang pada mazhab Maliki.Ketika beliau mulai mengajar di Masjid Nabawi dan berinteraksi dengan berbagai kalangan, beliau bertemu dengan orang-orang dari empat mazhab fikih, yang berdiskusi dan menuntut dalil dalam setiap masalah. Di Masjid Nabawi, pembelajaran tidak terbatas pada satu mazhab saja.Oleh karena itu, siapa pun yang mengajar di lingkungan seperti itu harus memahami seluruh mazhab yang diakui, mengetahui pendapat para ulama dalam setiap masalah, serta memiliki penguasaan yang kuat terhadap Al-Qur’an dan As-Sunah. Maka Syekh (rahimahullah) pun bersungguh-sungguh memperluas ilmunya dalam bidang tersebut. Kemampuannya yang kuat dalam ilmu-ilmu alat (seperti bahasa Arab dan ushul fikih) sangat membantunya dalam memperluas wawasan ini.Pengaruh perluasan ilmu ini tampak jelas dalam kitab beliau “Adhwa’ul Bayan”, terutama ketika membahas masalah-masalah fikih.Kegiatan dan tugas beliau setelah tinggal di Tanah HaramSetelah menetap di Makkah dan Madinah, Syekh (rahimahullah) melakukan banyak kegiatan ilmiah dan dakwah, di antaranya:Mengajar tafsir di Masjid NabawiBeliau mengajar tafsir Al-Qur’an di Masjid Nabawi dan berhasil menafsirkan seluruh Al-Qur’an. Setelah selesai, beliau memulai kembali dari awal untuk kedua kalinya. Namun sebelum menyelesaikannya, beliau wafat. Pada putaran kedua itu, beliau belum melewati Surah At-Taubah.Mengajar di Darul Ulum (Madinah)Sejak tahun 1369 H, beliau mengajar tafsir di Darul Ulum di Madinah, hingga tahun 1371 H sebelum pindah ke Riyadh.Mengajar di RiyadhPada tahun 1371 H, ketika dibuka lembaga pendidikan seperti ma’had dan perguruan tinggi di Riyadh, beliau dipilih menjadi pengajar di sana. Beliau mengajar tafsir dan ushul fikih sampai kemudian kembali ke Madinah.Selain itu, di Riyadh beliau juga:Mengajar kitab-kitab Syekhul Islam Ibnu Taimiyah kepada para pengajar ma’had, diadakan antara waktu maghrib dan isya.Mengajar ushul fikih di Masjid Syekh Muhammad bin Ibrahim untuk para penuntut ilmu tingkat lanjut.Mengajar murid-murid khusus di rumahnya setelah asar, bahkan mendiktekan penjelasan kitab Maraqi as-Su‘ud kepada salah seorang muridnya.Mengajar di Universitas Islam MadinahPada tahun 1381 H, ketika Universitas Islam Madinah didirikan, beliau pindah untuk mengajar di sana. Beliau juga menjadi anggota dewan universitas. Di sana, beliau mengajar tafsir, ushul fikih, serta adab penelitian dan debat ilmiah, hingga wafat.Safari dakwah ke AfrikaPada tahun 1385 H, beliau memimpin rombongan dari Universitas Islam untuk berdakwah ke sepuluh negara di Afrika, dimulai dari Sudan dan berakhir di Mauritania. Perjalanan ini berlangsung lebih dari dua bulan dan dipenuhi ceramah, pelajaran, diskusi ilmiah, dan pertemuan bermanfaat. Ceramah-ceramah tersebut direkam, ditulis ulang, dan diterbitkan dengan judul “Ar-Rihlah ila Afriqiya” (Perjalanan ke Afrika).Mengajar di Ma’had ‘Aly Peradilan (Riyadh)Sejak dibuka tahun 1386 H, beliau juga mengajar di Ma’had ‘Aly Peradilan di Riyadh sebagai dosen tamu, memberikan kuliah tafsir dan ushul fikih.Anggota Hai’ah Kibaril UlamaPada 8 Rajab 1391 H, dibentuk Dewan Ulama Senior yang beranggotakan 17 orang, dan beliau termasuk salah satu anggotanya.Anggota pendiri Rabithah ‘Alam IslamiBeliau juga termasuk anggota dewan pendiri Rabithah ‘Alam Islami.Kezuhudan dan sikap wara’-nyaSyekh (rahimahullah) dikenal sebagai pribadi yang zuhud dan sangat menjaga diri (wara’). Ilmu yang beliau miliki benar-benar mendorongnya untuk takut kepada Allah dan menjauhi sikap berlebihan terhadap dunia. Kehidupan beliau membuat orang teringat kepada para ulama salaf terdahulu dalam kesederhanaan dan ketakwaan.Beliau pernah berkata,الَّذِي يُفْرِحُنَا أنه لو كانت الدنيا مَيْتَةً لأباحَ اللَّهُ منها سَدَّ الخَلَّةِ“Yang membuat kami tenang adalah bahwa seandainya dunia itu seperti bangkai, Allah tetap membolehkan kita mengambil darinya sekadar untuk menutup kebutuhan.”Beliau juga memperingatkan anaknya agar tidak sibuk mengumpulkan harta dan terlalu berambisi terhadapnya dengan alasan ingin bersedekah atau membangun sekolah dan tempat ibadah. Beliau mengatakan bahwa dunia itu seperti air laut yang asin (semakin diminum semakin membuat haus). Allah tidak mewajibkan seorang hamba mengumpulkan harta hanya untuk disedekahkan, apalagi kenyataannya sering kali orang yang sudah mengumpulkan harta justru tidak memberikannya kepada orang lain.Beliau juga berkata,وأنا أَقْدَرُ الناسِ على أن أكونَ أَغْنَى الناسِ، وَتَرَكْتُ الدنيا لأني أعلمُ أنه إذا تلطخَ بها العبدُ لا يَنْجُو منها، إلا مَنْ عَصَمَهُ اللَّهُ“Sebenarnya aku mampu menjadi orang yang paling kaya, tetapi aku meninggalkan dunia, karena aku tahu bahwa jika seseorang sudah terjerat olehnya, ia tidak akan selamat darinya kecuali orang yang Allah lindungi.”Karya-karyaSyekh (rahimahullah) meninggalkan banyak karya ilmiah yang ditulis dalam tiga masa: di Mauritania, saat perjalanan haji, dan setelah menetap di Saudi Arabia.Di masa mudanya beliau menulis syair tentang nasab Arab, fikih Maliki, manthiq, dan faraidh (sebagian masih manuskrip). Saat perjalanan haji, beliau menulis syarah dalam manthiq dan catatan perjalanan haji.Adapun setelah tinggal di Saudi, lahirlah karya-karya terpentingnya, seperti Adhwa’ul Bayan (tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an), Daf‘u Iham al-Idhthirab, Man‘u Jawaz al-Majaz, kitab tentang ushul fikih, adab debat, serta syarah Maraqi as-Su‘ud. Beliau juga menulis berbagai fatwa dan risalah, serta menyampaikan banyak ceramah yang kemudian dibukukan.Karya-karya ini menunjukkan keluasan dan kedalaman ilmunya dalam tafsir, akidah, ushul fikih, dan berbagai cabang ilmu Islam.WafatSyekh (rahimahullah) wafat pada hari Kamis pagi, 17 Zulhijah 1393 H, di rumahnya di Makkah Al-Mukarramah. Jenazah beliau disalatkan oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz setelah salat Zuhur pada hari itu. Kemudian, beliau dimakamkan di pemakaman Ma‘la, di daerah Ri‘al-Hajun.Semoga Allah merahmatinya dengan rahmat yang luas.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dan diringkas oleh penulis dari: https://www.alukah.net
Daftar Isi ToggleAkidah beliauJabatan dan tugas yang pernah diemban di negerinyaPerjalanan haji dan tinggal di Madinah, serta pengaruhnya terhadap ilmunyaKegiatan dan tugas beliau setelah tinggal di Tanah HaramMengajar tafsir di Masjid NabawiMengajar di Darul Ulum (Madinah)Mengajar di RiyadhMengajar di Universitas Islam MadinahSafari dakwah ke AfrikaMengajar di Ma’had ‘Aly Peradilan (Riyadh)Anggota Hai’ah Kibaril UlamaAnggota pendiri Rabithah ‘Alam IslamiKezuhudan dan sikap wara’-nyaKarya-karyaWafatAkidah beliauSalah satu hal yang sangat menonjol dari pelajaran Syekh (rahimahullah), baik yang didengar langsung maupun yang dibaca dari tulisan-tulisannya, adalah seringnya beliau menegaskan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam seluruh pembahasan akidah, terutama yang berkaitan dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah.Beliau menjelaskan masalah-masalah tersebut dengan bahasa yang jelas, berdasarkan kaidah yang kuat, serta didukung banyak dalil, baik dari Al-Qur’an dan hadis maupun dalil akal. Bahkan, orang yang mendengar atau membaca penjelasannya bisa mengira bahwa beliau hanya mendalami bidang akidah saja, karena begitu kuat dan luas pembahasannya.Walaupun beliau menjelaskan masalah akidah dengan sangat rinci dan panjang, beliau tidak pernah bosan untuk mengulanginya dalam berbagai kesempatan. Misalnya, dalam pelajaran-pelajaran yang sampai kepada kita, beliau menjelaskan tiga landasan utama dalam memahami sifat-sifat Allah di delapan tempat yang berbeda.Demikian juga ketika membahas tentang hukum dan berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan, atau ketika menjelaskan bahwa hanya Allah yang mengetahui perkara gaib. Beliau juga membantah paham Qadariyah di tujuh tempat, menyebutkan dialog perdebatan antara Al-Isfarayini dan Qadhi Abdul Jabbar tentang takdir, serta menjelaskan sifat istiwa’ (Allah tinggi di atas Arsy) di enam tempat. Begitu pula beliau mengulang kisah dialog antara seorang Arab Badui dan Amr bin Ubaid tentang masalah takdir, dan berbagai pembahasan akidah lainnya yang sering beliau ulang dalam pelajaran-pelajarannya.Penjelasan tentang masalah akidah ini tidak hanya terdapat dalam pelajaran tafsir yang beliau sampaikan di Masjid Nabawi, tetapi juga banyak tersebar dalam kitab-kitab beliau, terutama dalam kitab Adhwa’ul Bayan.Kemampuan Syekh (rahimahullah) tidak hanya terbatas pada penguasaan akidah Ahlus Sunnah saja. Beliau juga sangat memahami berbagai mazhab ahli ilmu kalam (teologi) serta mengetahui letak kesalahan dan kelemahannya. Hal ini tampak jelas dalam pelajaran-pelajarannya maupun dalam kitab-kitab yang beliau tulis.Ketika menafsirkan ayat ke-54 dari surah Al-A‘raf, yaitu firman Allah,إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ“Sesungguhnya Tuhan kalian adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia beristiwa di atas Arsy.”Setelah menjelaskan akidah yang benar dalam masalah sifat-sifat Allah dan menerangkan kesalahan mazhab ahli kalam, beliau berkata,ونحنُ نقولُ لكم هذا وَنُقَرِّرُ لكم مذهبَ السلفِ على ضوءِ القرآنِ العظيمِ مع أنَّا ما دَرَسْنَا دراسةً شديدةً مثل علومِ الكلامِ والمنطقِ، وما تَنْفِي به كُلُّ طائفةٍ بَعْضًا من صفاتِ اللَّهِ، ونحن مُطَّلِعُونَ على جميعِ الأدلةِ وعلى تَرْكِيبِهَا التي نُفِيَ بها بعضُ الصفاتِ، عارفونَ كيف جاءَ البُطْلاَنُ، ومن الوجهِ الذي جاءَ البُطْلاَنُ، واسمُ الدليلِ الذي تُرِدُ به، ولكن ذلك لا يَلِيقُ في هذا المجلسِ الحافلِ؛ لأنه لا يَعْرِفُهُ إلا خَوَاصُّ الناسِ، فبعدَ النظرِ العامِّ الطويلِ في علمِ الكلامِ وما يستدلُّ به طوائفُ المتكلمين، وما تَرُدُّ به كُلُّ طائفةٍ على الأخرى، والأقيسةِ المنطقيةِ التي رَتَّبُوهَا وَنَفَوْا بها بعضَ الصفاتِ، ومعرفتنا من الوحيِ ومن نَفْسِ الكلامِ والبحوثِ والمناظراتِ كيف يَبْطُلُ ذلك الدليل، ومن أين جاء الخطأُ، وَتَحَقَّقْنَا من هذا كُلِّهِ، بعد ذلك كُلِّهِ تَحَقَّقْنَا كُلَّ التحققِ أن السلامةَ كُلَّ السلامةِ، والخيرَ كُلَّ الخيرِ في اتباعِ نورِ هذا القرآنِ العظيمِ، والاهتداءِ بِهَدْيِ هذا النبيِّ الكريمِ“Kami menyampaikan kepada kalian dan menjelaskan mazhab para salaf berdasarkan cahaya Al-Qur’an yang agung. Padahal, kami juga mempelajari secara mendalam ilmu kalam dan logika, serta berbagai cara yang digunakan oleh masing-masing kelompok untuk menolak sebagian sifat Allah. Kami mengetahui seluruh dalil yang mereka gunakan dan susunan argumennya untuk menolak sifat-sifat tersebut. Kami tahu di mana letak kesalahannya, dari sisi mana kebatilannya muncul, dan apa nama dalil yang mereka pakai untuk membantah.Namun, pembahasan seperti itu tidak cocok disampaikan di majelis umum seperti ini, karena hanya dipahami oleh kalangan tertentu saja. Setelah pengkajian panjang terhadap ilmu kalam, dalil-dalil yang digunakan oleh berbagai kelompok, bantahan mereka satu sama lain, serta logika yang mereka susun untuk menolak sebagian sifat Allah dan setelah kami mengetahui dari wahyu, dari ilmu kalam itu sendiri, dari penelitian dan perdebatan, bagaimana dalil-dalil itu sebenarnya batal dan dari mana kesalahannya berasal, setelah semua itu kami sampai pada keyakinan yang sangat pasti bahwa keselamatan sepenuhnya dan kebaikan sepenuhnya hanyalah dengan mengikuti cahaya Al-Qur’an yang agung ini dan berpegang pada petunjuk Nabi yang mulia ini …”Jabatan dan tugas yang pernah diemban di negerinyaSyekh (rahimahullah) mengajar dan memberikan fatwa. Beliau juga dikenal sebagai seorang hakim (qadhi).Dalam menangani perkara, beliau memiliki cara yang tertib. Beliau terlebih dahulu meminta kedua pihak yang berselisih untuk menulis bahwa mereka sepakat menjadikan beliau sebagai hakim dan bersedia menerima keputusan yang beliau tetapkan. Setelah itu, penggugat diminta menuliskan tuntutannya, lalu jawaban dari pihak tergugat ditulis di bawahnya. Kemudian beliau menuliskan keputusan hukumnya bersama dengan isi gugatan dan jawabannya. Setelah itu, kedua pihak dipersilakan membawa keputusan tersebut kepada ulama atau hakim lain yang mereka kehendaki untuk disahkan dan dilaksanakan.Beliau menangani hampir semua jenis perkara, kecuali perkara darah (kasus pembunuhan) dan hudud (hukuman pidana tertentu dalam syariat). Untuk kasus pembunuhan ada peradilan khusus. Saat itu, hakim dari pihak pemerintahan Prancis (karena Mauritania berada di bawah penjajahan Prancis) yang memutuskan hukuman qishash setelah proses pengadilan dan pemeriksaan selesai. Setelah putusan keluar, keputusan tersebut harus diserahkan kepada dua orang ulama negeri untuk disahkan. Dua ulama ini disebut Lajnatu Ad-Dam, dan Syekh (rahimahullah) adalah salah satu dari dua anggota Lajnah tersebut.Sebelum beliau keluar dari negerinya, kedudukannya sudah sangat tinggi. Nama beliau sudah terkenal luas, dan beliau memiliki kedudukan terhormat di kalangan masyarakat, baik orang khusus maupun umum, yang dekat maupun yang jauh. Beliau menjadi salah satu tokoh besar negeri itu dan dipercaya oleh semua kalangan.Perjalanan haji dan tinggal di Madinah, serta pengaruhnya terhadap ilmunyaSyekh (rahimahullah) berangkat dari negerinya pada tanggal 7 Jumadil akhir tahun 1367 H untuk menunaikan ibadah haji melalui jalur darat. Awalnya, beliau berniat kembali ke negerinya setelah selesai berhaji.Perjalanan itu penuh dengan manfaat dan diskusi ilmiah yang berharga. Hal ini menunjukkan kedalaman ilmu dan luasnya wawasan beliau. Siapa saja yang membaca catatan perjalanan beliau yang berjudul “Ar-Rihlah ila Baitillah al-Haram” (Perjalanan ke Baitullah) akan mengetahui hal tersebut.Setelah menyelesaikan manasik haji, beliau pergi ke Madinah. Kemudian beliau memutuskan untuk tinggal dan menetap di sana. Beliau pernah berkata,لَيْسَ مِنْ عَمَلٍ أعظمَ من تفسيرِ كتابِ اللَّهِ في مسجدِ رسولِ اللِّهِ- صلى الله عليه وسلم-“Tidak ada amalan yang lebih besar daripada menafsirkan Kitab Allah di Masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Tinggalnya beliau di Madinah membawa pengaruh besar terhadap perkembangan ilmunya. Di negerinya dahulu, pendidikan lebih terfokus pada fikih mazhab Imam Malik saja, ditambah ilmu bahasa Arab, ushul fikih, sirah, tafsir, dan manthiq. Ilmu hadis tidak dipelajari sedalam cabang ilmu lainnya, karena masyarakat umumnya berpegang pada mazhab Maliki.Ketika beliau mulai mengajar di Masjid Nabawi dan berinteraksi dengan berbagai kalangan, beliau bertemu dengan orang-orang dari empat mazhab fikih, yang berdiskusi dan menuntut dalil dalam setiap masalah. Di Masjid Nabawi, pembelajaran tidak terbatas pada satu mazhab saja.Oleh karena itu, siapa pun yang mengajar di lingkungan seperti itu harus memahami seluruh mazhab yang diakui, mengetahui pendapat para ulama dalam setiap masalah, serta memiliki penguasaan yang kuat terhadap Al-Qur’an dan As-Sunah. Maka Syekh (rahimahullah) pun bersungguh-sungguh memperluas ilmunya dalam bidang tersebut. Kemampuannya yang kuat dalam ilmu-ilmu alat (seperti bahasa Arab dan ushul fikih) sangat membantunya dalam memperluas wawasan ini.Pengaruh perluasan ilmu ini tampak jelas dalam kitab beliau “Adhwa’ul Bayan”, terutama ketika membahas masalah-masalah fikih.Kegiatan dan tugas beliau setelah tinggal di Tanah HaramSetelah menetap di Makkah dan Madinah, Syekh (rahimahullah) melakukan banyak kegiatan ilmiah dan dakwah, di antaranya:Mengajar tafsir di Masjid NabawiBeliau mengajar tafsir Al-Qur’an di Masjid Nabawi dan berhasil menafsirkan seluruh Al-Qur’an. Setelah selesai, beliau memulai kembali dari awal untuk kedua kalinya. Namun sebelum menyelesaikannya, beliau wafat. Pada putaran kedua itu, beliau belum melewati Surah At-Taubah.Mengajar di Darul Ulum (Madinah)Sejak tahun 1369 H, beliau mengajar tafsir di Darul Ulum di Madinah, hingga tahun 1371 H sebelum pindah ke Riyadh.Mengajar di RiyadhPada tahun 1371 H, ketika dibuka lembaga pendidikan seperti ma’had dan perguruan tinggi di Riyadh, beliau dipilih menjadi pengajar di sana. Beliau mengajar tafsir dan ushul fikih sampai kemudian kembali ke Madinah.Selain itu, di Riyadh beliau juga:Mengajar kitab-kitab Syekhul Islam Ibnu Taimiyah kepada para pengajar ma’had, diadakan antara waktu maghrib dan isya.Mengajar ushul fikih di Masjid Syekh Muhammad bin Ibrahim untuk para penuntut ilmu tingkat lanjut.Mengajar murid-murid khusus di rumahnya setelah asar, bahkan mendiktekan penjelasan kitab Maraqi as-Su‘ud kepada salah seorang muridnya.Mengajar di Universitas Islam MadinahPada tahun 1381 H, ketika Universitas Islam Madinah didirikan, beliau pindah untuk mengajar di sana. Beliau juga menjadi anggota dewan universitas. Di sana, beliau mengajar tafsir, ushul fikih, serta adab penelitian dan debat ilmiah, hingga wafat.Safari dakwah ke AfrikaPada tahun 1385 H, beliau memimpin rombongan dari Universitas Islam untuk berdakwah ke sepuluh negara di Afrika, dimulai dari Sudan dan berakhir di Mauritania. Perjalanan ini berlangsung lebih dari dua bulan dan dipenuhi ceramah, pelajaran, diskusi ilmiah, dan pertemuan bermanfaat. Ceramah-ceramah tersebut direkam, ditulis ulang, dan diterbitkan dengan judul “Ar-Rihlah ila Afriqiya” (Perjalanan ke Afrika).Mengajar di Ma’had ‘Aly Peradilan (Riyadh)Sejak dibuka tahun 1386 H, beliau juga mengajar di Ma’had ‘Aly Peradilan di Riyadh sebagai dosen tamu, memberikan kuliah tafsir dan ushul fikih.Anggota Hai’ah Kibaril UlamaPada 8 Rajab 1391 H, dibentuk Dewan Ulama Senior yang beranggotakan 17 orang, dan beliau termasuk salah satu anggotanya.Anggota pendiri Rabithah ‘Alam IslamiBeliau juga termasuk anggota dewan pendiri Rabithah ‘Alam Islami.Kezuhudan dan sikap wara’-nyaSyekh (rahimahullah) dikenal sebagai pribadi yang zuhud dan sangat menjaga diri (wara’). Ilmu yang beliau miliki benar-benar mendorongnya untuk takut kepada Allah dan menjauhi sikap berlebihan terhadap dunia. Kehidupan beliau membuat orang teringat kepada para ulama salaf terdahulu dalam kesederhanaan dan ketakwaan.Beliau pernah berkata,الَّذِي يُفْرِحُنَا أنه لو كانت الدنيا مَيْتَةً لأباحَ اللَّهُ منها سَدَّ الخَلَّةِ“Yang membuat kami tenang adalah bahwa seandainya dunia itu seperti bangkai, Allah tetap membolehkan kita mengambil darinya sekadar untuk menutup kebutuhan.”Beliau juga memperingatkan anaknya agar tidak sibuk mengumpulkan harta dan terlalu berambisi terhadapnya dengan alasan ingin bersedekah atau membangun sekolah dan tempat ibadah. Beliau mengatakan bahwa dunia itu seperti air laut yang asin (semakin diminum semakin membuat haus). Allah tidak mewajibkan seorang hamba mengumpulkan harta hanya untuk disedekahkan, apalagi kenyataannya sering kali orang yang sudah mengumpulkan harta justru tidak memberikannya kepada orang lain.Beliau juga berkata,وأنا أَقْدَرُ الناسِ على أن أكونَ أَغْنَى الناسِ، وَتَرَكْتُ الدنيا لأني أعلمُ أنه إذا تلطخَ بها العبدُ لا يَنْجُو منها، إلا مَنْ عَصَمَهُ اللَّهُ“Sebenarnya aku mampu menjadi orang yang paling kaya, tetapi aku meninggalkan dunia, karena aku tahu bahwa jika seseorang sudah terjerat olehnya, ia tidak akan selamat darinya kecuali orang yang Allah lindungi.”Karya-karyaSyekh (rahimahullah) meninggalkan banyak karya ilmiah yang ditulis dalam tiga masa: di Mauritania, saat perjalanan haji, dan setelah menetap di Saudi Arabia.Di masa mudanya beliau menulis syair tentang nasab Arab, fikih Maliki, manthiq, dan faraidh (sebagian masih manuskrip). Saat perjalanan haji, beliau menulis syarah dalam manthiq dan catatan perjalanan haji.Adapun setelah tinggal di Saudi, lahirlah karya-karya terpentingnya, seperti Adhwa’ul Bayan (tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an), Daf‘u Iham al-Idhthirab, Man‘u Jawaz al-Majaz, kitab tentang ushul fikih, adab debat, serta syarah Maraqi as-Su‘ud. Beliau juga menulis berbagai fatwa dan risalah, serta menyampaikan banyak ceramah yang kemudian dibukukan.Karya-karya ini menunjukkan keluasan dan kedalaman ilmunya dalam tafsir, akidah, ushul fikih, dan berbagai cabang ilmu Islam.WafatSyekh (rahimahullah) wafat pada hari Kamis pagi, 17 Zulhijah 1393 H, di rumahnya di Makkah Al-Mukarramah. Jenazah beliau disalatkan oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz setelah salat Zuhur pada hari itu. Kemudian, beliau dimakamkan di pemakaman Ma‘la, di daerah Ri‘al-Hajun.Semoga Allah merahmatinya dengan rahmat yang luas.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dan diringkas oleh penulis dari: https://www.alukah.net


Daftar Isi ToggleAkidah beliauJabatan dan tugas yang pernah diemban di negerinyaPerjalanan haji dan tinggal di Madinah, serta pengaruhnya terhadap ilmunyaKegiatan dan tugas beliau setelah tinggal di Tanah HaramMengajar tafsir di Masjid NabawiMengajar di Darul Ulum (Madinah)Mengajar di RiyadhMengajar di Universitas Islam MadinahSafari dakwah ke AfrikaMengajar di Ma’had ‘Aly Peradilan (Riyadh)Anggota Hai’ah Kibaril UlamaAnggota pendiri Rabithah ‘Alam IslamiKezuhudan dan sikap wara’-nyaKarya-karyaWafatAkidah beliauSalah satu hal yang sangat menonjol dari pelajaran Syekh (rahimahullah), baik yang didengar langsung maupun yang dibaca dari tulisan-tulisannya, adalah seringnya beliau menegaskan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam seluruh pembahasan akidah, terutama yang berkaitan dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah.Beliau menjelaskan masalah-masalah tersebut dengan bahasa yang jelas, berdasarkan kaidah yang kuat, serta didukung banyak dalil, baik dari Al-Qur’an dan hadis maupun dalil akal. Bahkan, orang yang mendengar atau membaca penjelasannya bisa mengira bahwa beliau hanya mendalami bidang akidah saja, karena begitu kuat dan luas pembahasannya.Walaupun beliau menjelaskan masalah akidah dengan sangat rinci dan panjang, beliau tidak pernah bosan untuk mengulanginya dalam berbagai kesempatan. Misalnya, dalam pelajaran-pelajaran yang sampai kepada kita, beliau menjelaskan tiga landasan utama dalam memahami sifat-sifat Allah di delapan tempat yang berbeda.Demikian juga ketika membahas tentang hukum dan berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan, atau ketika menjelaskan bahwa hanya Allah yang mengetahui perkara gaib. Beliau juga membantah paham Qadariyah di tujuh tempat, menyebutkan dialog perdebatan antara Al-Isfarayini dan Qadhi Abdul Jabbar tentang takdir, serta menjelaskan sifat istiwa’ (Allah tinggi di atas Arsy) di enam tempat. Begitu pula beliau mengulang kisah dialog antara seorang Arab Badui dan Amr bin Ubaid tentang masalah takdir, dan berbagai pembahasan akidah lainnya yang sering beliau ulang dalam pelajaran-pelajarannya.Penjelasan tentang masalah akidah ini tidak hanya terdapat dalam pelajaran tafsir yang beliau sampaikan di Masjid Nabawi, tetapi juga banyak tersebar dalam kitab-kitab beliau, terutama dalam kitab Adhwa’ul Bayan.Kemampuan Syekh (rahimahullah) tidak hanya terbatas pada penguasaan akidah Ahlus Sunnah saja. Beliau juga sangat memahami berbagai mazhab ahli ilmu kalam (teologi) serta mengetahui letak kesalahan dan kelemahannya. Hal ini tampak jelas dalam pelajaran-pelajarannya maupun dalam kitab-kitab yang beliau tulis.Ketika menafsirkan ayat ke-54 dari surah Al-A‘raf, yaitu firman Allah,إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ“Sesungguhnya Tuhan kalian adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia beristiwa di atas Arsy.”Setelah menjelaskan akidah yang benar dalam masalah sifat-sifat Allah dan menerangkan kesalahan mazhab ahli kalam, beliau berkata,ونحنُ نقولُ لكم هذا وَنُقَرِّرُ لكم مذهبَ السلفِ على ضوءِ القرآنِ العظيمِ مع أنَّا ما دَرَسْنَا دراسةً شديدةً مثل علومِ الكلامِ والمنطقِ، وما تَنْفِي به كُلُّ طائفةٍ بَعْضًا من صفاتِ اللَّهِ، ونحن مُطَّلِعُونَ على جميعِ الأدلةِ وعلى تَرْكِيبِهَا التي نُفِيَ بها بعضُ الصفاتِ، عارفونَ كيف جاءَ البُطْلاَنُ، ومن الوجهِ الذي جاءَ البُطْلاَنُ، واسمُ الدليلِ الذي تُرِدُ به، ولكن ذلك لا يَلِيقُ في هذا المجلسِ الحافلِ؛ لأنه لا يَعْرِفُهُ إلا خَوَاصُّ الناسِ، فبعدَ النظرِ العامِّ الطويلِ في علمِ الكلامِ وما يستدلُّ به طوائفُ المتكلمين، وما تَرُدُّ به كُلُّ طائفةٍ على الأخرى، والأقيسةِ المنطقيةِ التي رَتَّبُوهَا وَنَفَوْا بها بعضَ الصفاتِ، ومعرفتنا من الوحيِ ومن نَفْسِ الكلامِ والبحوثِ والمناظراتِ كيف يَبْطُلُ ذلك الدليل، ومن أين جاء الخطأُ، وَتَحَقَّقْنَا من هذا كُلِّهِ، بعد ذلك كُلِّهِ تَحَقَّقْنَا كُلَّ التحققِ أن السلامةَ كُلَّ السلامةِ، والخيرَ كُلَّ الخيرِ في اتباعِ نورِ هذا القرآنِ العظيمِ، والاهتداءِ بِهَدْيِ هذا النبيِّ الكريمِ“Kami menyampaikan kepada kalian dan menjelaskan mazhab para salaf berdasarkan cahaya Al-Qur’an yang agung. Padahal, kami juga mempelajari secara mendalam ilmu kalam dan logika, serta berbagai cara yang digunakan oleh masing-masing kelompok untuk menolak sebagian sifat Allah. Kami mengetahui seluruh dalil yang mereka gunakan dan susunan argumennya untuk menolak sifat-sifat tersebut. Kami tahu di mana letak kesalahannya, dari sisi mana kebatilannya muncul, dan apa nama dalil yang mereka pakai untuk membantah.Namun, pembahasan seperti itu tidak cocok disampaikan di majelis umum seperti ini, karena hanya dipahami oleh kalangan tertentu saja. Setelah pengkajian panjang terhadap ilmu kalam, dalil-dalil yang digunakan oleh berbagai kelompok, bantahan mereka satu sama lain, serta logika yang mereka susun untuk menolak sebagian sifat Allah dan setelah kami mengetahui dari wahyu, dari ilmu kalam itu sendiri, dari penelitian dan perdebatan, bagaimana dalil-dalil itu sebenarnya batal dan dari mana kesalahannya berasal, setelah semua itu kami sampai pada keyakinan yang sangat pasti bahwa keselamatan sepenuhnya dan kebaikan sepenuhnya hanyalah dengan mengikuti cahaya Al-Qur’an yang agung ini dan berpegang pada petunjuk Nabi yang mulia ini …”Jabatan dan tugas yang pernah diemban di negerinyaSyekh (rahimahullah) mengajar dan memberikan fatwa. Beliau juga dikenal sebagai seorang hakim (qadhi).Dalam menangani perkara, beliau memiliki cara yang tertib. Beliau terlebih dahulu meminta kedua pihak yang berselisih untuk menulis bahwa mereka sepakat menjadikan beliau sebagai hakim dan bersedia menerima keputusan yang beliau tetapkan. Setelah itu, penggugat diminta menuliskan tuntutannya, lalu jawaban dari pihak tergugat ditulis di bawahnya. Kemudian beliau menuliskan keputusan hukumnya bersama dengan isi gugatan dan jawabannya. Setelah itu, kedua pihak dipersilakan membawa keputusan tersebut kepada ulama atau hakim lain yang mereka kehendaki untuk disahkan dan dilaksanakan.Beliau menangani hampir semua jenis perkara, kecuali perkara darah (kasus pembunuhan) dan hudud (hukuman pidana tertentu dalam syariat). Untuk kasus pembunuhan ada peradilan khusus. Saat itu, hakim dari pihak pemerintahan Prancis (karena Mauritania berada di bawah penjajahan Prancis) yang memutuskan hukuman qishash setelah proses pengadilan dan pemeriksaan selesai. Setelah putusan keluar, keputusan tersebut harus diserahkan kepada dua orang ulama negeri untuk disahkan. Dua ulama ini disebut Lajnatu Ad-Dam, dan Syekh (rahimahullah) adalah salah satu dari dua anggota Lajnah tersebut.Sebelum beliau keluar dari negerinya, kedudukannya sudah sangat tinggi. Nama beliau sudah terkenal luas, dan beliau memiliki kedudukan terhormat di kalangan masyarakat, baik orang khusus maupun umum, yang dekat maupun yang jauh. Beliau menjadi salah satu tokoh besar negeri itu dan dipercaya oleh semua kalangan.Perjalanan haji dan tinggal di Madinah, serta pengaruhnya terhadap ilmunyaSyekh (rahimahullah) berangkat dari negerinya pada tanggal 7 Jumadil akhir tahun 1367 H untuk menunaikan ibadah haji melalui jalur darat. Awalnya, beliau berniat kembali ke negerinya setelah selesai berhaji.Perjalanan itu penuh dengan manfaat dan diskusi ilmiah yang berharga. Hal ini menunjukkan kedalaman ilmu dan luasnya wawasan beliau. Siapa saja yang membaca catatan perjalanan beliau yang berjudul “Ar-Rihlah ila Baitillah al-Haram” (Perjalanan ke Baitullah) akan mengetahui hal tersebut.Setelah menyelesaikan manasik haji, beliau pergi ke Madinah. Kemudian beliau memutuskan untuk tinggal dan menetap di sana. Beliau pernah berkata,لَيْسَ مِنْ عَمَلٍ أعظمَ من تفسيرِ كتابِ اللَّهِ في مسجدِ رسولِ اللِّهِ- صلى الله عليه وسلم-“Tidak ada amalan yang lebih besar daripada menafsirkan Kitab Allah di Masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Tinggalnya beliau di Madinah membawa pengaruh besar terhadap perkembangan ilmunya. Di negerinya dahulu, pendidikan lebih terfokus pada fikih mazhab Imam Malik saja, ditambah ilmu bahasa Arab, ushul fikih, sirah, tafsir, dan manthiq. Ilmu hadis tidak dipelajari sedalam cabang ilmu lainnya, karena masyarakat umumnya berpegang pada mazhab Maliki.Ketika beliau mulai mengajar di Masjid Nabawi dan berinteraksi dengan berbagai kalangan, beliau bertemu dengan orang-orang dari empat mazhab fikih, yang berdiskusi dan menuntut dalil dalam setiap masalah. Di Masjid Nabawi, pembelajaran tidak terbatas pada satu mazhab saja.Oleh karena itu, siapa pun yang mengajar di lingkungan seperti itu harus memahami seluruh mazhab yang diakui, mengetahui pendapat para ulama dalam setiap masalah, serta memiliki penguasaan yang kuat terhadap Al-Qur’an dan As-Sunah. Maka Syekh (rahimahullah) pun bersungguh-sungguh memperluas ilmunya dalam bidang tersebut. Kemampuannya yang kuat dalam ilmu-ilmu alat (seperti bahasa Arab dan ushul fikih) sangat membantunya dalam memperluas wawasan ini.Pengaruh perluasan ilmu ini tampak jelas dalam kitab beliau “Adhwa’ul Bayan”, terutama ketika membahas masalah-masalah fikih.Kegiatan dan tugas beliau setelah tinggal di Tanah HaramSetelah menetap di Makkah dan Madinah, Syekh (rahimahullah) melakukan banyak kegiatan ilmiah dan dakwah, di antaranya:Mengajar tafsir di Masjid NabawiBeliau mengajar tafsir Al-Qur’an di Masjid Nabawi dan berhasil menafsirkan seluruh Al-Qur’an. Setelah selesai, beliau memulai kembali dari awal untuk kedua kalinya. Namun sebelum menyelesaikannya, beliau wafat. Pada putaran kedua itu, beliau belum melewati Surah At-Taubah.Mengajar di Darul Ulum (Madinah)Sejak tahun 1369 H, beliau mengajar tafsir di Darul Ulum di Madinah, hingga tahun 1371 H sebelum pindah ke Riyadh.Mengajar di RiyadhPada tahun 1371 H, ketika dibuka lembaga pendidikan seperti ma’had dan perguruan tinggi di Riyadh, beliau dipilih menjadi pengajar di sana. Beliau mengajar tafsir dan ushul fikih sampai kemudian kembali ke Madinah.Selain itu, di Riyadh beliau juga:Mengajar kitab-kitab Syekhul Islam Ibnu Taimiyah kepada para pengajar ma’had, diadakan antara waktu maghrib dan isya.Mengajar ushul fikih di Masjid Syekh Muhammad bin Ibrahim untuk para penuntut ilmu tingkat lanjut.Mengajar murid-murid khusus di rumahnya setelah asar, bahkan mendiktekan penjelasan kitab Maraqi as-Su‘ud kepada salah seorang muridnya.Mengajar di Universitas Islam MadinahPada tahun 1381 H, ketika Universitas Islam Madinah didirikan, beliau pindah untuk mengajar di sana. Beliau juga menjadi anggota dewan universitas. Di sana, beliau mengajar tafsir, ushul fikih, serta adab penelitian dan debat ilmiah, hingga wafat.Safari dakwah ke AfrikaPada tahun 1385 H, beliau memimpin rombongan dari Universitas Islam untuk berdakwah ke sepuluh negara di Afrika, dimulai dari Sudan dan berakhir di Mauritania. Perjalanan ini berlangsung lebih dari dua bulan dan dipenuhi ceramah, pelajaran, diskusi ilmiah, dan pertemuan bermanfaat. Ceramah-ceramah tersebut direkam, ditulis ulang, dan diterbitkan dengan judul “Ar-Rihlah ila Afriqiya” (Perjalanan ke Afrika).Mengajar di Ma’had ‘Aly Peradilan (Riyadh)Sejak dibuka tahun 1386 H, beliau juga mengajar di Ma’had ‘Aly Peradilan di Riyadh sebagai dosen tamu, memberikan kuliah tafsir dan ushul fikih.Anggota Hai’ah Kibaril UlamaPada 8 Rajab 1391 H, dibentuk Dewan Ulama Senior yang beranggotakan 17 orang, dan beliau termasuk salah satu anggotanya.Anggota pendiri Rabithah ‘Alam IslamiBeliau juga termasuk anggota dewan pendiri Rabithah ‘Alam Islami.Kezuhudan dan sikap wara’-nyaSyekh (rahimahullah) dikenal sebagai pribadi yang zuhud dan sangat menjaga diri (wara’). Ilmu yang beliau miliki benar-benar mendorongnya untuk takut kepada Allah dan menjauhi sikap berlebihan terhadap dunia. Kehidupan beliau membuat orang teringat kepada para ulama salaf terdahulu dalam kesederhanaan dan ketakwaan.Beliau pernah berkata,الَّذِي يُفْرِحُنَا أنه لو كانت الدنيا مَيْتَةً لأباحَ اللَّهُ منها سَدَّ الخَلَّةِ“Yang membuat kami tenang adalah bahwa seandainya dunia itu seperti bangkai, Allah tetap membolehkan kita mengambil darinya sekadar untuk menutup kebutuhan.”Beliau juga memperingatkan anaknya agar tidak sibuk mengumpulkan harta dan terlalu berambisi terhadapnya dengan alasan ingin bersedekah atau membangun sekolah dan tempat ibadah. Beliau mengatakan bahwa dunia itu seperti air laut yang asin (semakin diminum semakin membuat haus). Allah tidak mewajibkan seorang hamba mengumpulkan harta hanya untuk disedekahkan, apalagi kenyataannya sering kali orang yang sudah mengumpulkan harta justru tidak memberikannya kepada orang lain.Beliau juga berkata,وأنا أَقْدَرُ الناسِ على أن أكونَ أَغْنَى الناسِ، وَتَرَكْتُ الدنيا لأني أعلمُ أنه إذا تلطخَ بها العبدُ لا يَنْجُو منها، إلا مَنْ عَصَمَهُ اللَّهُ“Sebenarnya aku mampu menjadi orang yang paling kaya, tetapi aku meninggalkan dunia, karena aku tahu bahwa jika seseorang sudah terjerat olehnya, ia tidak akan selamat darinya kecuali orang yang Allah lindungi.”Karya-karyaSyekh (rahimahullah) meninggalkan banyak karya ilmiah yang ditulis dalam tiga masa: di Mauritania, saat perjalanan haji, dan setelah menetap di Saudi Arabia.Di masa mudanya beliau menulis syair tentang nasab Arab, fikih Maliki, manthiq, dan faraidh (sebagian masih manuskrip). Saat perjalanan haji, beliau menulis syarah dalam manthiq dan catatan perjalanan haji.Adapun setelah tinggal di Saudi, lahirlah karya-karya terpentingnya, seperti Adhwa’ul Bayan (tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an), Daf‘u Iham al-Idhthirab, Man‘u Jawaz al-Majaz, kitab tentang ushul fikih, adab debat, serta syarah Maraqi as-Su‘ud. Beliau juga menulis berbagai fatwa dan risalah, serta menyampaikan banyak ceramah yang kemudian dibukukan.Karya-karya ini menunjukkan keluasan dan kedalaman ilmunya dalam tafsir, akidah, ushul fikih, dan berbagai cabang ilmu Islam.WafatSyekh (rahimahullah) wafat pada hari Kamis pagi, 17 Zulhijah 1393 H, di rumahnya di Makkah Al-Mukarramah. Jenazah beliau disalatkan oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz setelah salat Zuhur pada hari itu. Kemudian, beliau dimakamkan di pemakaman Ma‘la, di daerah Ri‘al-Hajun.Semoga Allah merahmatinya dengan rahmat yang luas.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dan diringkas oleh penulis dari: https://www.alukah.net

Hukum Menikah Tanpa Wali Nikah

Oleh: Syaikh Khalid bin Abdul Mun’im ar-Rifa’i Ringkasan Pertanyaan: Ada pemuda yang menikah dengan perempuan yang lebih tua umurnya tanpa sepengetahuan keluarga dan wali perempuan itu. Lalu pemuda itu bertanya kepada temannya tentang keabsahan pernikahan ini. Pertanyaan Lengkap: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Saya punya teman yang menikah dengan perempuan janda yang sudah agak berumur, karena ia butuh untuk menikah sedangkan kondisi finansialnya lemah. Pernikahan ini dilangsungkan di hadapan penghulu dan disaksikan para saksi. Akad nikah ini juga terdaftar secara resmi di pengadilan. Hanya saja, tidak ada seorangpun dari keluarga mempelai laki-laki dan perempuan yang mengetahui pernikahan ini. Masalahnya sekarang adalah laki-laki ini sekarang sedang melamar seorang gadis, dan tidak ada yang mengetahui kalau dia sudah menikah. Proses lamaran sudah selesai dilangsungkan. Perlu diketahui juga, seandainya ada orang yang mengetahui kalau dia sudah menikah, mungkin akan timbul banyak masalah yang besar sekali. Lalu bagaimana solusinya? Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberkahi Anda. Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, juga kepada keluarga, para sahabat, dan para pengikut beliau. Amma ba’du: Tidak diragukan lagi bahwa temanmu telah melakukan kesalahan besar terhadap hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala serta hak dirinya dan keluarganya, karena ia telah melakukan pernikahan rahasia yang hukumnya tidak sah secara syariat, meskipun ia telah mencatat pernikahan itu secara resmi di pengadilan. Hal ini karena pernikahan itu tidak memenuhi syarat terpenting dari pernikahan syar’i yang sah, yaitu adanya wali mempelai perempuan. Meskipun wanita itu sudah berumur atau janda, ia tetap tidak punya wewenang untuk melakukan akad nikah sendiri, karena itu adalah wewenang para walinya. Apabila ia menyelisihi apa yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala syariatkan ini dan menikah tanpa wali, maka nikahnya batal, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam:  لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ “Tidak ada pernikahan (yang sah) kecuali dengan adanya wali.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud). Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam juga bersabda: أَيُّمَا امْرَأَةٍ نُكِحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ “Perempuan mana saja yang menikah tanpa izin walinya, maka pernikahannya batal, pernikahannya batal, pernikahannya batal.” (Diriwayatkan dalam kitab Al-Mustadrak dan Shahih Ibnu Hibban dan dishahihkan Adz-Dzahabi).  Wali seorang perempuan adalah ayahnya, kakeknya, dan seluruh leluhurnya laki-laki dari jalur ayah. Kemudian anak laki-lakinya dan seluruh keturunannya dari jalur anak laki-lakinya. Kemudian saudara laki-laki kandungnya dan saudara laki-laki seayah, dan anak-anak laki-laki mereka. Kemudian paman dari jalur ayah. Kemudian keluarganya yang laki-laki yang paling dekat dengannya menurut kedekatan dalam pembagian warisan. Anda menyebutkan – semoga Allah memberimu keselamatan – bahwa dua keluarga dari masing-masing pihak mempelai tidak mengetahui pernikahan itu. Ini menjadikan pernikahan itu pernikahan siri, meskipun dengan disaksikan oleh para saksi. Perhatikanlah apa yang dikatakan Imam Ibnu Al-Qayyim dalam bukunya Ighatsah al-Lahfan: “Dan Syariat Islam mensyaratkan dalam pernikahan beberapa syarat tambahan selain sekedar akad, sehingga dengan syarat-syarat ini, syariat Islam memutus kemiripan pernikahan dengan beberapa bentuk perzinaan, seperti syarat mengumumkan pernikahan – baik itu dengan persaksian, tidak merahasiakan, atau dengan persaksian dan pengumuman sekaligus – dan pensyaratan adanya wali. Syariat Islam melarang wanita untuk melakukan sendiri akad nikahnya, dan menganjurkan agar pernikahan diumumkan, sampai-sampai disunnahkan adanya rebana, pengumuman, dan walimah. Syariat Islam juga mewajibkan adanya mahar.” Beberapa hal yang kami jelaskan kepadamu ini sebenarnya diketahui oleh temanmu – Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberinya petunjuk – dan hubungannya dengan wanita tersebut tidak lebih sekedar tipu daya yang diharamkan, sehingga ketika ada kesempatan untuk menikah yang benar, ia segera menyambutnya. Apabila ini telah jelas, maka wajib bagi temanmu untuk bertaubat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya, dan memutus hubungan apa pun dengan wanita itu. Namun, jika ia ingin melanjutkan pernikahan dengannya, maka hendaklah ia melakukan akad baru yang sesuai syariat dengan perantara walinya. Sedangkan masalah dia ingin memberitahu keluarganya atau keluarga wanita yang baru dilamarnya, maka tidak diragukan bahwa itu adalah bentuk mengumbar kemaksiatan yang sangat dilarang, sehingga wajib baginya untuk menutup aibnya sendiri, alih-alih menyingkap rahasia yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala tutupi. Ia tidak perlu memberitahu siapa pun tentang hubungannya dengan wanita yang ia nikahi itu, dan hendaklah ia banyak bertaubat dan menyesali apa yang telah diperbuat. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: مَنْ ابْتُلِيَ بِشَيْءٍ مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ “Barang siapa diuji dengan melakukan sesuatu dari perbuatan-perbuatan kotor (dosa) ini, hendaklah ia menutupi dirinya dengan penutup dari Allah. (HR. Malik dalam Al-Muwaththa dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak. Imam al-Hakim berkata: “Hadis ini sahih sesuai syarat Al-Bukhari dan Muslim, tapi keduanya tidak meriwayatkannya”). Saya memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menutupi aib-aib kita di dunia dan akhirat. Sumber: https://www.alukah.net/fatawa_counsels/0/129237/الزواج-بدون-ولي/ Sumber artikel PDF 🔍 Berdoa Saat Haid, Bacaan Niat Puasa Mulud, Surat Yang Pertama Kali Diturunkan, Pendeta Kalah Debat Masuk Islam, Doa Diberikan Jodoh Visited 261 times, 3 visit(s) today Post Views: 33

Hukum Menikah Tanpa Wali Nikah

Oleh: Syaikh Khalid bin Abdul Mun’im ar-Rifa’i Ringkasan Pertanyaan: Ada pemuda yang menikah dengan perempuan yang lebih tua umurnya tanpa sepengetahuan keluarga dan wali perempuan itu. Lalu pemuda itu bertanya kepada temannya tentang keabsahan pernikahan ini. Pertanyaan Lengkap: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Saya punya teman yang menikah dengan perempuan janda yang sudah agak berumur, karena ia butuh untuk menikah sedangkan kondisi finansialnya lemah. Pernikahan ini dilangsungkan di hadapan penghulu dan disaksikan para saksi. Akad nikah ini juga terdaftar secara resmi di pengadilan. Hanya saja, tidak ada seorangpun dari keluarga mempelai laki-laki dan perempuan yang mengetahui pernikahan ini. Masalahnya sekarang adalah laki-laki ini sekarang sedang melamar seorang gadis, dan tidak ada yang mengetahui kalau dia sudah menikah. Proses lamaran sudah selesai dilangsungkan. Perlu diketahui juga, seandainya ada orang yang mengetahui kalau dia sudah menikah, mungkin akan timbul banyak masalah yang besar sekali. Lalu bagaimana solusinya? Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberkahi Anda. Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, juga kepada keluarga, para sahabat, dan para pengikut beliau. Amma ba’du: Tidak diragukan lagi bahwa temanmu telah melakukan kesalahan besar terhadap hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala serta hak dirinya dan keluarganya, karena ia telah melakukan pernikahan rahasia yang hukumnya tidak sah secara syariat, meskipun ia telah mencatat pernikahan itu secara resmi di pengadilan. Hal ini karena pernikahan itu tidak memenuhi syarat terpenting dari pernikahan syar’i yang sah, yaitu adanya wali mempelai perempuan. Meskipun wanita itu sudah berumur atau janda, ia tetap tidak punya wewenang untuk melakukan akad nikah sendiri, karena itu adalah wewenang para walinya. Apabila ia menyelisihi apa yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala syariatkan ini dan menikah tanpa wali, maka nikahnya batal, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam:  لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ “Tidak ada pernikahan (yang sah) kecuali dengan adanya wali.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud). Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam juga bersabda: أَيُّمَا امْرَأَةٍ نُكِحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ “Perempuan mana saja yang menikah tanpa izin walinya, maka pernikahannya batal, pernikahannya batal, pernikahannya batal.” (Diriwayatkan dalam kitab Al-Mustadrak dan Shahih Ibnu Hibban dan dishahihkan Adz-Dzahabi).  Wali seorang perempuan adalah ayahnya, kakeknya, dan seluruh leluhurnya laki-laki dari jalur ayah. Kemudian anak laki-lakinya dan seluruh keturunannya dari jalur anak laki-lakinya. Kemudian saudara laki-laki kandungnya dan saudara laki-laki seayah, dan anak-anak laki-laki mereka. Kemudian paman dari jalur ayah. Kemudian keluarganya yang laki-laki yang paling dekat dengannya menurut kedekatan dalam pembagian warisan. Anda menyebutkan – semoga Allah memberimu keselamatan – bahwa dua keluarga dari masing-masing pihak mempelai tidak mengetahui pernikahan itu. Ini menjadikan pernikahan itu pernikahan siri, meskipun dengan disaksikan oleh para saksi. Perhatikanlah apa yang dikatakan Imam Ibnu Al-Qayyim dalam bukunya Ighatsah al-Lahfan: “Dan Syariat Islam mensyaratkan dalam pernikahan beberapa syarat tambahan selain sekedar akad, sehingga dengan syarat-syarat ini, syariat Islam memutus kemiripan pernikahan dengan beberapa bentuk perzinaan, seperti syarat mengumumkan pernikahan – baik itu dengan persaksian, tidak merahasiakan, atau dengan persaksian dan pengumuman sekaligus – dan pensyaratan adanya wali. Syariat Islam melarang wanita untuk melakukan sendiri akad nikahnya, dan menganjurkan agar pernikahan diumumkan, sampai-sampai disunnahkan adanya rebana, pengumuman, dan walimah. Syariat Islam juga mewajibkan adanya mahar.” Beberapa hal yang kami jelaskan kepadamu ini sebenarnya diketahui oleh temanmu – Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberinya petunjuk – dan hubungannya dengan wanita tersebut tidak lebih sekedar tipu daya yang diharamkan, sehingga ketika ada kesempatan untuk menikah yang benar, ia segera menyambutnya. Apabila ini telah jelas, maka wajib bagi temanmu untuk bertaubat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya, dan memutus hubungan apa pun dengan wanita itu. Namun, jika ia ingin melanjutkan pernikahan dengannya, maka hendaklah ia melakukan akad baru yang sesuai syariat dengan perantara walinya. Sedangkan masalah dia ingin memberitahu keluarganya atau keluarga wanita yang baru dilamarnya, maka tidak diragukan bahwa itu adalah bentuk mengumbar kemaksiatan yang sangat dilarang, sehingga wajib baginya untuk menutup aibnya sendiri, alih-alih menyingkap rahasia yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala tutupi. Ia tidak perlu memberitahu siapa pun tentang hubungannya dengan wanita yang ia nikahi itu, dan hendaklah ia banyak bertaubat dan menyesali apa yang telah diperbuat. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: مَنْ ابْتُلِيَ بِشَيْءٍ مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ “Barang siapa diuji dengan melakukan sesuatu dari perbuatan-perbuatan kotor (dosa) ini, hendaklah ia menutupi dirinya dengan penutup dari Allah. (HR. Malik dalam Al-Muwaththa dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak. Imam al-Hakim berkata: “Hadis ini sahih sesuai syarat Al-Bukhari dan Muslim, tapi keduanya tidak meriwayatkannya”). Saya memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menutupi aib-aib kita di dunia dan akhirat. Sumber: https://www.alukah.net/fatawa_counsels/0/129237/الزواج-بدون-ولي/ Sumber artikel PDF 🔍 Berdoa Saat Haid, Bacaan Niat Puasa Mulud, Surat Yang Pertama Kali Diturunkan, Pendeta Kalah Debat Masuk Islam, Doa Diberikan Jodoh Visited 261 times, 3 visit(s) today Post Views: 33
Oleh: Syaikh Khalid bin Abdul Mun’im ar-Rifa’i Ringkasan Pertanyaan: Ada pemuda yang menikah dengan perempuan yang lebih tua umurnya tanpa sepengetahuan keluarga dan wali perempuan itu. Lalu pemuda itu bertanya kepada temannya tentang keabsahan pernikahan ini. Pertanyaan Lengkap: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Saya punya teman yang menikah dengan perempuan janda yang sudah agak berumur, karena ia butuh untuk menikah sedangkan kondisi finansialnya lemah. Pernikahan ini dilangsungkan di hadapan penghulu dan disaksikan para saksi. Akad nikah ini juga terdaftar secara resmi di pengadilan. Hanya saja, tidak ada seorangpun dari keluarga mempelai laki-laki dan perempuan yang mengetahui pernikahan ini. Masalahnya sekarang adalah laki-laki ini sekarang sedang melamar seorang gadis, dan tidak ada yang mengetahui kalau dia sudah menikah. Proses lamaran sudah selesai dilangsungkan. Perlu diketahui juga, seandainya ada orang yang mengetahui kalau dia sudah menikah, mungkin akan timbul banyak masalah yang besar sekali. Lalu bagaimana solusinya? Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberkahi Anda. Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, juga kepada keluarga, para sahabat, dan para pengikut beliau. Amma ba’du: Tidak diragukan lagi bahwa temanmu telah melakukan kesalahan besar terhadap hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala serta hak dirinya dan keluarganya, karena ia telah melakukan pernikahan rahasia yang hukumnya tidak sah secara syariat, meskipun ia telah mencatat pernikahan itu secara resmi di pengadilan. Hal ini karena pernikahan itu tidak memenuhi syarat terpenting dari pernikahan syar’i yang sah, yaitu adanya wali mempelai perempuan. Meskipun wanita itu sudah berumur atau janda, ia tetap tidak punya wewenang untuk melakukan akad nikah sendiri, karena itu adalah wewenang para walinya. Apabila ia menyelisihi apa yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala syariatkan ini dan menikah tanpa wali, maka nikahnya batal, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam:  لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ “Tidak ada pernikahan (yang sah) kecuali dengan adanya wali.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud). Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam juga bersabda: أَيُّمَا امْرَأَةٍ نُكِحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ “Perempuan mana saja yang menikah tanpa izin walinya, maka pernikahannya batal, pernikahannya batal, pernikahannya batal.” (Diriwayatkan dalam kitab Al-Mustadrak dan Shahih Ibnu Hibban dan dishahihkan Adz-Dzahabi).  Wali seorang perempuan adalah ayahnya, kakeknya, dan seluruh leluhurnya laki-laki dari jalur ayah. Kemudian anak laki-lakinya dan seluruh keturunannya dari jalur anak laki-lakinya. Kemudian saudara laki-laki kandungnya dan saudara laki-laki seayah, dan anak-anak laki-laki mereka. Kemudian paman dari jalur ayah. Kemudian keluarganya yang laki-laki yang paling dekat dengannya menurut kedekatan dalam pembagian warisan. Anda menyebutkan – semoga Allah memberimu keselamatan – bahwa dua keluarga dari masing-masing pihak mempelai tidak mengetahui pernikahan itu. Ini menjadikan pernikahan itu pernikahan siri, meskipun dengan disaksikan oleh para saksi. Perhatikanlah apa yang dikatakan Imam Ibnu Al-Qayyim dalam bukunya Ighatsah al-Lahfan: “Dan Syariat Islam mensyaratkan dalam pernikahan beberapa syarat tambahan selain sekedar akad, sehingga dengan syarat-syarat ini, syariat Islam memutus kemiripan pernikahan dengan beberapa bentuk perzinaan, seperti syarat mengumumkan pernikahan – baik itu dengan persaksian, tidak merahasiakan, atau dengan persaksian dan pengumuman sekaligus – dan pensyaratan adanya wali. Syariat Islam melarang wanita untuk melakukan sendiri akad nikahnya, dan menganjurkan agar pernikahan diumumkan, sampai-sampai disunnahkan adanya rebana, pengumuman, dan walimah. Syariat Islam juga mewajibkan adanya mahar.” Beberapa hal yang kami jelaskan kepadamu ini sebenarnya diketahui oleh temanmu – Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberinya petunjuk – dan hubungannya dengan wanita tersebut tidak lebih sekedar tipu daya yang diharamkan, sehingga ketika ada kesempatan untuk menikah yang benar, ia segera menyambutnya. Apabila ini telah jelas, maka wajib bagi temanmu untuk bertaubat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya, dan memutus hubungan apa pun dengan wanita itu. Namun, jika ia ingin melanjutkan pernikahan dengannya, maka hendaklah ia melakukan akad baru yang sesuai syariat dengan perantara walinya. Sedangkan masalah dia ingin memberitahu keluarganya atau keluarga wanita yang baru dilamarnya, maka tidak diragukan bahwa itu adalah bentuk mengumbar kemaksiatan yang sangat dilarang, sehingga wajib baginya untuk menutup aibnya sendiri, alih-alih menyingkap rahasia yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala tutupi. Ia tidak perlu memberitahu siapa pun tentang hubungannya dengan wanita yang ia nikahi itu, dan hendaklah ia banyak bertaubat dan menyesali apa yang telah diperbuat. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: مَنْ ابْتُلِيَ بِشَيْءٍ مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ “Barang siapa diuji dengan melakukan sesuatu dari perbuatan-perbuatan kotor (dosa) ini, hendaklah ia menutupi dirinya dengan penutup dari Allah. (HR. Malik dalam Al-Muwaththa dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak. Imam al-Hakim berkata: “Hadis ini sahih sesuai syarat Al-Bukhari dan Muslim, tapi keduanya tidak meriwayatkannya”). Saya memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menutupi aib-aib kita di dunia dan akhirat. Sumber: https://www.alukah.net/fatawa_counsels/0/129237/الزواج-بدون-ولي/ Sumber artikel PDF 🔍 Berdoa Saat Haid, Bacaan Niat Puasa Mulud, Surat Yang Pertama Kali Diturunkan, Pendeta Kalah Debat Masuk Islam, Doa Diberikan Jodoh Visited 261 times, 3 visit(s) today Post Views: 33


Oleh: Syaikh Khalid bin Abdul Mun’im ar-Rifa’i Ringkasan Pertanyaan: Ada pemuda yang menikah dengan perempuan yang lebih tua umurnya tanpa sepengetahuan keluarga dan wali perempuan itu. Lalu pemuda itu bertanya kepada temannya tentang keabsahan pernikahan ini. Pertanyaan Lengkap: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Saya punya teman yang menikah dengan perempuan janda yang sudah agak berumur, karena ia butuh untuk menikah sedangkan kondisi finansialnya lemah. Pernikahan ini dilangsungkan di hadapan penghulu dan disaksikan para saksi. Akad nikah ini juga terdaftar secara resmi di pengadilan. Hanya saja, tidak ada seorangpun dari keluarga mempelai laki-laki dan perempuan yang mengetahui pernikahan ini. Masalahnya sekarang adalah laki-laki ini sekarang sedang melamar seorang gadis, dan tidak ada yang mengetahui kalau dia sudah menikah. Proses lamaran sudah selesai dilangsungkan. Perlu diketahui juga, seandainya ada orang yang mengetahui kalau dia sudah menikah, mungkin akan timbul banyak masalah yang besar sekali. Lalu bagaimana solusinya? Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberkahi Anda. Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, juga kepada keluarga, para sahabat, dan para pengikut beliau. Amma ba’du: Tidak diragukan lagi bahwa temanmu telah melakukan kesalahan besar terhadap hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala serta hak dirinya dan keluarganya, karena ia telah melakukan pernikahan rahasia yang hukumnya tidak sah secara syariat, meskipun ia telah mencatat pernikahan itu secara resmi di pengadilan. Hal ini karena pernikahan itu tidak memenuhi syarat terpenting dari pernikahan syar’i yang sah, yaitu adanya wali mempelai perempuan. Meskipun wanita itu sudah berumur atau janda, ia tetap tidak punya wewenang untuk melakukan akad nikah sendiri, karena itu adalah wewenang para walinya. Apabila ia menyelisihi apa yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala syariatkan ini dan menikah tanpa wali, maka nikahnya batal, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam:  لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ “Tidak ada pernikahan (yang sah) kecuali dengan adanya wali.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud). Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam juga bersabda: أَيُّمَا امْرَأَةٍ نُكِحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ “Perempuan mana saja yang menikah tanpa izin walinya, maka pernikahannya batal, pernikahannya batal, pernikahannya batal.” (Diriwayatkan dalam kitab Al-Mustadrak dan Shahih Ibnu Hibban dan dishahihkan Adz-Dzahabi).  Wali seorang perempuan adalah ayahnya, kakeknya, dan seluruh leluhurnya laki-laki dari jalur ayah. Kemudian anak laki-lakinya dan seluruh keturunannya dari jalur anak laki-lakinya. Kemudian saudara laki-laki kandungnya dan saudara laki-laki seayah, dan anak-anak laki-laki mereka. Kemudian paman dari jalur ayah. Kemudian keluarganya yang laki-laki yang paling dekat dengannya menurut kedekatan dalam pembagian warisan. Anda menyebutkan – semoga Allah memberimu keselamatan – bahwa dua keluarga dari masing-masing pihak mempelai tidak mengetahui pernikahan itu. Ini menjadikan pernikahan itu pernikahan siri, meskipun dengan disaksikan oleh para saksi. Perhatikanlah apa yang dikatakan Imam Ibnu Al-Qayyim dalam bukunya Ighatsah al-Lahfan: “Dan Syariat Islam mensyaratkan dalam pernikahan beberapa syarat tambahan selain sekedar akad, sehingga dengan syarat-syarat ini, syariat Islam memutus kemiripan pernikahan dengan beberapa bentuk perzinaan, seperti syarat mengumumkan pernikahan – baik itu dengan persaksian, tidak merahasiakan, atau dengan persaksian dan pengumuman sekaligus – dan pensyaratan adanya wali. Syariat Islam melarang wanita untuk melakukan sendiri akad nikahnya, dan menganjurkan agar pernikahan diumumkan, sampai-sampai disunnahkan adanya rebana, pengumuman, dan walimah. Syariat Islam juga mewajibkan adanya mahar.” Beberapa hal yang kami jelaskan kepadamu ini sebenarnya diketahui oleh temanmu – Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberinya petunjuk – dan hubungannya dengan wanita tersebut tidak lebih sekedar tipu daya yang diharamkan, sehingga ketika ada kesempatan untuk menikah yang benar, ia segera menyambutnya. Apabila ini telah jelas, maka wajib bagi temanmu untuk bertaubat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya, dan memutus hubungan apa pun dengan wanita itu. Namun, jika ia ingin melanjutkan pernikahan dengannya, maka hendaklah ia melakukan akad baru yang sesuai syariat dengan perantara walinya. Sedangkan masalah dia ingin memberitahu keluarganya atau keluarga wanita yang baru dilamarnya, maka tidak diragukan bahwa itu adalah bentuk mengumbar kemaksiatan yang sangat dilarang, sehingga wajib baginya untuk menutup aibnya sendiri, alih-alih menyingkap rahasia yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala tutupi. Ia tidak perlu memberitahu siapa pun tentang hubungannya dengan wanita yang ia nikahi itu, dan hendaklah ia banyak bertaubat dan menyesali apa yang telah diperbuat. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: مَنْ ابْتُلِيَ بِشَيْءٍ مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ “Barang siapa diuji dengan melakukan sesuatu dari perbuatan-perbuatan kotor (dosa) ini, hendaklah ia menutupi dirinya dengan penutup dari Allah. (HR. Malik dalam Al-Muwaththa dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak. Imam al-Hakim berkata: “Hadis ini sahih sesuai syarat Al-Bukhari dan Muslim, tapi keduanya tidak meriwayatkannya”). Saya memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menutupi aib-aib kita di dunia dan akhirat. Sumber: https://www.alukah.net/fatawa_counsels/0/129237/الزواج-بدون-ولي/ Sumber artikel PDF 🔍 Berdoa Saat Haid, Bacaan Niat Puasa Mulud, Surat Yang Pertama Kali Diturunkan, Pendeta Kalah Debat Masuk Islam, Doa Diberikan Jodoh Visited 261 times, 3 visit(s) today Post Views: 33

Mengenal Nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”

Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Kandungan makna nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Makna bahasa dari “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Perbedaan antara “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Makna “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh” ketika menjadi sifat AllahPertama: Penjagaan dengan ilmu-NyaKedua: Penjagaan terhadap makhluk-NyaPenjagaan Allah terhadap hamba-Nya: Penjagaan umum dan khususPenjagaan yang umumPenjagaan yang khususKonsekuensi dari keimanan terhadap nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh” bagi seorang hambaPertama, menjaga perintah Allah agar dijaga oleh AllahKedua, berdoa kepada Allah agar dijaga dari segala keburukanKetiga, meyakini bahwa tidak ada penjaga bagi hamba kecuali AllahDi antara hal yang menenangkan hati seorang hamba di tengah berbagai ujian kehidupan adalah mengetahui bahwa Allah Ta’ala tidak pernah lalai menjaga makhluk-Nya. Langit dan bumi berdiri kokoh karena Dia yang menjaganya. Amalan manusia tidak ada yang hilang karena Dia yang mencatatnya. Para wali-Nya selamat dari tipu daya musuh karena Dia yang memelihara mereka. Semua itu kembali kepada satu sifat yang sangat agung, yaitu sifat al-hifzh, yang terkandung dalam dua nama Allah: Al-Hafiizh dan Al-Haafizh.Seorang mukmin yang mengenal dua nama ini akan merasakan dua hal sekaligus: rasa aman dan rasa waspada. Aman, karena ia tahu bahwa Allah menjaga dirinya, agamanya, dan segala urusannya. Waspada, karena ia sadar bahwa Allah tidak pernah lalai dari mencatat amalannya, yang kecil maupun yang besar. Dalam tulisan ini, kita akan melihat dalil-dalil penetapan dua nama ini, maknanya secara bahasa dan dalam konteks sebagai nama Allah, serta konsekuensi beriman kepadanya. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua. Aamiin.Dalil nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Nama Allah Al-Hafiizh disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak tiga kali. Di antaranya firman Allah Ta’ala,إِنَّ رَبِّي عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ“Sesungguhnya Rabbku Maha Memelihara segala sesuatu.” (QS. Huud: 57)Dan firman-Nya,وَرَبُّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ“Dan Rabbmu Maha Memelihara segala sesuatu.” (QS. Saba’: 21)Dan firman-Nya,وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ اللَّهُ حَفِيظٌ عَلَيْهِمْ وَمَا أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِوَكِيلٍ“Dan orang-orang yang menjadikan pelindung selain-Nya, Allah-lah yang memelihara mereka, dan engkau bukanlah wakil atas mereka.” (QS. Asy-Syuuraa: 6) [1]Adapun nama Allah Al-Haafizh disebutkan satu kali dalam firman-Nya,فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ“Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga, dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS. Yuusuf: 64) [2]Dan disebutkan dengan bentuk jamak di dua tempat. Firman-Nya,إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikr (Al-Qur’an) dan sesungguhnya Kami-lah yang menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)Dan firman-Nya,وَكُنَّا لَهُمْ حَافِظِينَ“Dan Kami-lah yang menjaga mereka.” (QS. Al-Anbiyaa’: 82) [3]Kandungan makna nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Untuk mengetahui kandungan makna dua nama ini, perlu dipahami terlebih dahulu makna katanya secara bahasa, lalu perbedaan antara dua bentuk nama ini, kemudian maknanya ketika disandarkan kepada Allah Ta’ala.Makna bahasa dari “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Al-Hafiizh dan Al-Haafizh keduanya kembali kepada satu akar kata, yaitu حَفِظَ – يَحْفَظُ – حِفْظًا. Ibn Faaris menjelaskan akar kata ini,الحاء والفاء والظاء أصل واحد يدل على مراعاة الشيء، يقال: حفظت الشيء حفظًا … والحفاظ: المحافظة أي المواظبة على الأمور“Huruf haa’, faa’, dan zhaa’ merupakan satu asal makna yang menunjukkan makna memelihara dan mengawasi sesuatu. Dikatakan: hafizhtush-syai’a hifzhan (aku menjaga sesuatu). Dan al-hifaazh bermakna al-muhaafazhah, yaitu menjaga dan memelihara urusan secara terus-menerus.” [4]Al-Jauhari juga menjelaskan,حفظت الشيء حفظًا، أي: حرسته، وحفظته أيضًا بمعنى: استظهرته … والمحافظة: المراقبة … والحفيظ: المحافظ … والتحفظ: التيقظ وقلة الغفلة“Hafizhtush-syai’a hifzhan bermakna aku menjaganya. Juga bermakna aku menghafalnya. Al-Muhaafazhah bermakna pengawasan. Al-Hafiizh bermakna yang senantiasa menjaga. At-Tahaffuzh bermakna kewaspadaan dan sedikitnya kelalaian.” [5]Makna lain dari al-hifzh yang juga disebutkan para ulama adalah: lawan dari lupa (an-nisyaan). Maka, yang menjaga sesuatu berarti tidak melupakannya, tidak mengabaikannya, dan tidak membiarkannya lepas dari perhatiannya. [6]Perbedaan antara “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Secara asal makna, dua nama ini kembali kepada satu pokok, yaitu penjagaan dan pemeliharaan. Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa Al-Hafiizh dan Al-Haafizh sama-sama menunjukkan bahwa Allah menjaga makhluk-Nya, menjaga amal hamba-hamba-Nya, dan tidak ada sesuatu pun yang luput dari penjagaan-Nya.Al-Khaththabi menjelaskan,الحفيظ هو الحافظ، فعيل بمعنى فاعل؛ كالقدير والعليم“Al-Hafiizh adalah Al-Haafizh. Wazan fa’iil di sini bermakna faa’il, sebagaimana Al-Qadiir dan Al-‘Aliim.” [7]Jadi, keduanya tidak saling bertentangan dan tidak pula menunjukkan dua sifat yang berbeda. Keduanya bertemu pada satu pokok: Allah adalah Dzat Yang Menjaga.Akan tetapi, dari sisi bentuk lafaz, para ulama umumnya menjelaskan bahwa wazan fa’iil (seperti Al-Hafiizh) lebih kuat dalam menunjukkan keluasan, kesempurnaan, dan tetapnya suatu sifat pada pemiliknya. Ia menunjukkan bahwa sifat itu bukan sesuatu yang sesekali ada dan sesekali tidak, melainkan tetap dan melekat. Adapun wazan faa’il (seperti Al-Haafizh) menunjukkan adanya sifat itu pada pelakunya.Kalau diringkas, Al-Haafizh menunjukkan bahwa Allah adalah Dzat Yang Menjaga. Adapun, Al-Hafiizh menunjukkan bahwa penjagaan-Nya sempurna, luas, dan tidak pernah putus.Ini juga sejalan dengan konteks ayat-ayatnya. Nama Al-Hafiizh disebut pada ayat-ayat yang menunjukkan keluasan penjagaan Allah atas segala sesuatu, seperti:إِنَّ رَبِّي عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌdan,وَرَبُّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌAdapun Al-Haafizh disebut dalam konteks فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا. Keduanya menunjukkan kesempurnaan penjagaan Allah, namun bentuk fa’iil menekankan keluasan dan kekokohan sifat itu. [8]Maka, ketika dua nama ini dibahas bersama, bukan untuk memisahkan dua makna yang bertentangan, tetapi justru untuk menunjukkan bahwa seluruh bentuk penjagaan yang sempurna hanyalah milik Allah. Dia adalah Al-Haafizh, Yang Menjaga, dan Dia adalah Al-Hafiizh, Yang sempurna penjagaan-Nya, luas pemeliharaan-Nya, dan tidak pernah lalai dari segala yang Dia jaga.Makna “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh” ketika menjadi sifat AllahDua nama ini menunjukkan bahwa Allah disifati dengan al-hifzh (penjagaan). Syekh Abdurrazzaq al-Badr menjelaskan bahwa sifat ini mencakup dua perkara besar. [9]Pertama: Penjagaan dengan ilmu-NyaAllah menjaga dengan ilmu-Nya seluruh yang diketahui. Tidak ada sesuatu pun yang luput dari ilmu-Nya. Dia menjaga amalan hamba-Nya, menghitung perkataan mereka, mengetahui niat mereka, dan tidak ada yang tersembunyi dari-Nya. Lawan dari sifat ini adalah lupa, dan Allah telah menyucikan diri-Nya dari sifat tersebut. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا“Dan tidaklah Rabbmu lupa.” (QS. Maryam: 64)Dan firman-Nya,قَالَ عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي فِي كِتَابٍ لَا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنْسَى“Dia berkata: ilmunya ada di sisi Rabbku, dalam sebuah kitab. Rabbku tidak sesat dan tidak lupa.” (QS. Thaahaa: 52)Allah juga berfirman,أَحْصَاهُ اللَّهُ وَنَسُوهُ“Allah menghitungnya, sedangkan mereka melupakannya.” (QS. Al-Mujaadilah: 6)Makna ini mencakup bahwa Allah menghitung seluruh amalan hamba, yang besar dan yang kecil. Dia menulis semuanya di Lauh Mahfuzh. Dan Dia mewakilkan para malaikat yang mulia untuk mencatatnya. Allah berfirman,وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوهُ فِي الزُّبُرِ. وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُسْتَطَرٌ“Dan segala sesuatu yang mereka kerjakan tercatat dalam catatan-catatan. Dan segala yang kecil maupun yang besar tertulis.” (QS. Al-Qamar: 52-53)Dan firman-Nya,وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ. كِرَامًا كَاتِبِينَ. يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ“Dan sesungguhnya ada para penjaga atas kalian, yang mulia lagi mencatat, mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Infithaar: 10-12) [10]Kedua: Penjagaan terhadap makhluk-NyaAllah menjaga seluruh makhluk-Nya dari langit dan bumi serta apa yang ada di dalamnya, agar ia tetap ada selama masa yang Allah tentukan. Tidak runtuh, tidak rusak, tidak saling bertabrakan, dan tidak ada yang memberatkan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا“Dan tidaklah memberatkan-Nya memelihara keduanya (langit dan bumi).” (QS. Al-Baqarah: 255)Allah juga menjaga langit agar tidak jatuh ke bumi,وَيُمْسِكُ السَّمَاءَ أَنْ تَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ إِلَّا بِإِذْنِهِ“Dan Dia menahan langit agar tidak jatuh ke bumi kecuali dengan izin-Nya.” (QS. Al-Hajj: 65)Dan firman-Nya,إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi agar tidak lenyap.” (QS. Faathir: 41)Dan termasuk di dalamnya, Allah menjaga Kitab-Nya dari segala bentuk perubahan dan pemalsuan,إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikr dan Kami-lah yang menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)Al-Qur’an tetap terjaga sebagaimana ia diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada huruf yang berubah dan tidak ada ayat yang terdistorsi, meskipun zaman terus berganti. Semua itu karena penjagaan Allah yang sempurna. [11]Baca juga: Jagalah Allah, Ia Akan MenjagamuPenjagaan Allah terhadap hamba-Nya: Penjagaan umum dan khususSyekh Abdurrazzaq al-Badr juga menjelaskan bahwa penjagaan Allah terhadap hamba-Nya terbagi menjadi dua macam. [12]Penjagaan yang umumPenjagaan ini mencakup seluruh makhluk, baik yang taat maupun yang durhaka, bahkan mencakup hewan dan selainnya. Allah memudahkan bagi mereka makanan, minuman, udara, dan menunjukkan mereka kepada apa yang menjadi kemaslahatannya. Ini termasuk dalam hidayah umum yang Allah sebutkan,الَّذِي أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى“(Allah) yang memberi segala sesuatu bentuk penciptaannya kemudian memberinya petunjuk.” (QS. Thaahaa: 50)Allah juga menolak dari mereka berbagai bahaya dan kerusakan, serta mewakilkan para malaikat untuk menjaga mereka,لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ“Baginya ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya, dari depan dan belakangnya, yang menjaganya atas perintah Allah.” (QS. Ar-Ra’d: 11)Penjagaan yang khususPenjagaan ini diperuntukkan bagi para wali Allah. Selain penjagaan umum, Allah juga menjaga iman mereka dari syubhat yang menyesatkan, fitnah yang merusak, dan syahwat yang membinasakan. Allah melindungi mereka dari musuh-musuh mereka, baik dari kalangan jin maupun manusia, menolong mereka, dan menolak tipu daya musuh dari mereka. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Hajj: 38)Seberapa besar keimanan seorang hamba, sebesar itulah pembelaan Allah untuknya. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam wasiatnya kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhumaa,احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ“Jagalah (perintah-perintah) Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi. At-Tirmidzi berkata: hasan shahih) [13]Maknanya sangat jelas, siapa yang menjaga perintah-perintah Allah dengan mengamalkannya, menjaga larangan-Nya dengan menjauhinya, dan menjaga batasan-Nya dengan tidak melanggarnya, maka Allah akan menjaganya dalam diri, agama, harta, anak, dan dalam seluruh karunia yang Allah berikan kepadanya.Konsekuensi dari keimanan terhadap nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh” bagi seorang hambaPertama, menjaga perintah Allah agar dijaga oleh AllahKonsekuensi terbesar dari iman kepada dua nama ini adalah seorang hamba berusaha menjaga apa yang Allah perintahkan untuk dijaga. Allah memuji hamba-hamba-Nya yang menjaga hak-hak-Nya dan batasan-batasan-Nya,وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ“Dan orang-orang yang menjaga batasan-batasan Allah, dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman.” (QS. At-Taubah: 112)Termasuk di dalamnya menjaga tauhid dari hal-hal yang merusaknya. Karena tauhid adalah perkara paling agung yang harus dijaga dan dipelihara oleh seorang hamba. Juga menjaga salat, sebagaimana firman-Nya,حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ‘Peliharalah salat-salat dan salat wustha, dan berdirilah untuk Allah dengan khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 238)Dan menjaga pendengaran, penglihatan, dan hati dari hal-hal yang diharamkan,إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Israa’: 36) [14]Kedua, berdoa kepada Allah agar dijaga dari segala keburukanDi antara buah iman kepada nama Al-Hafiizh dan Al-Haafizh adalah seorang hamba senantiasa berdoa memohon penjagaan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan doa ini setiap pagi dan petang, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhumaa,لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَعُ هَؤُلاَءِ الدَّعَوَاتِ حِينَ يُمْسِي وَحِينَ يُصْبِحُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي، وَآمِنْ رَوْعَاتِي، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan doa-doa ini ketika sore dan ketika pagi, ‘Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku. Ya Allah, tutupilah aib-aibku dan amankanlah ketakutan-ketakutanku. Ya Allah, jagalah aku dari depanku, dari belakangku, dari kananku, dari kiriku, dan dari atasku, dan aku berlindung dengan keagungan-Mu dari ditenggelamkan dari bawahku.’” (HR. Ahmad, dan sanadnya shahih) [15]Ketiga, meyakini bahwa tidak ada penjaga bagi hamba kecuali AllahDi atas semua itu, seorang hamba meyakini bahwa tidak ada yang mampu menjaganya dalam urusan agama dan dunianya kecuali Allah Ta’ala. Maka, ia menggantungkan rasa amannya kepada Allah, bukan kepada makhluk, bukan kepada kekuatannya sendiri, dan bukan kepada sebab-sebab duniawi semata. Allah Ta’ala berfirman,فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ“Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga, dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS. Yuusuf: 64) [16]Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa dijaga, dipelihara, dan dilindungi dari segala keburukan, serta menjadikan kita termasuk orang-orang yang menjaga perintah-perintah-Nya sehingga Dia menjaga kita. Aamiin.Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Ghaniy”***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 191; Nauwal binti Abdul Aziz al-‘Ied, Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 3: 64; Alawi bin Abdul Qadir as-Saqqaf, Shifaat Allah ‘Azza wa Jalla al-Waaridah fil Kitaab was Sunnah, hal. 133.[2] Nauwal binti Abdul Aziz al-‘Ied, Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 3: 64.[3] Nauwal binti Abdul Aziz al-‘Ied, Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 3: 64.[4] Ibn Faaris, Mu’jam Maqaayiis al-Lughah, 1: 87.[5] Al-Jauhari, dinukil dalam: Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 3: 64.[6] Hashah binti Abdul Aziz ash-Shaghir, Ifraad Ahaadits Asmaa’ Allah wa Shifaatih, 1: 75.[7] Nauwal binti Abdul Aziz al-‘Ied, Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 3: 64-66.[8] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 191.[9] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 191-192.[10] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 191-192.[11] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 192.[12] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 193. Lihat juga: Hashah binti Abdul Aziz ash-Shaghir, Ifraad Ahaadits Asmaa’ Allah wa Shifaatih, 1: 75.[13] HR. Ahmad (1: 293) dan at-Tirmidzi no. 2516. At-Tirmidzi mengatakan: hasan shahih.[14] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 193-194.[15] HR. Ahmad (2: 25), sanadnya sahih. Dikutip oleh: Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 194.[16] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 194. Referensi utamaAl-Badr, Abdurrazzaq. Fiqhul Asmaa’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah, 2015.Al-‘Ied, Nauwal binti Abdul Aziz. Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna. Cet. ke-1. 1441 H.Ash-Shaghir, Hashah binti Abdul Aziz. Ifraad Ahaadits Asmaa’ Allah wa Shifaatih. Risalah Doktorah. Makkah: 1417 H.As-Saqqaf, Alawi bin Abdul Qadir. Shifaat Allah ‘Azza wa Jalla al-Waaridah fil Kitaab was Sunnah. Cet. ke-3. Dar al-Hijrah, 1426 H.Ibn Faaris, Ahmad bin Zakariya. Mu’jam Maqaayiis al-Lughah.

Mengenal Nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”

Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Kandungan makna nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Makna bahasa dari “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Perbedaan antara “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Makna “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh” ketika menjadi sifat AllahPertama: Penjagaan dengan ilmu-NyaKedua: Penjagaan terhadap makhluk-NyaPenjagaan Allah terhadap hamba-Nya: Penjagaan umum dan khususPenjagaan yang umumPenjagaan yang khususKonsekuensi dari keimanan terhadap nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh” bagi seorang hambaPertama, menjaga perintah Allah agar dijaga oleh AllahKedua, berdoa kepada Allah agar dijaga dari segala keburukanKetiga, meyakini bahwa tidak ada penjaga bagi hamba kecuali AllahDi antara hal yang menenangkan hati seorang hamba di tengah berbagai ujian kehidupan adalah mengetahui bahwa Allah Ta’ala tidak pernah lalai menjaga makhluk-Nya. Langit dan bumi berdiri kokoh karena Dia yang menjaganya. Amalan manusia tidak ada yang hilang karena Dia yang mencatatnya. Para wali-Nya selamat dari tipu daya musuh karena Dia yang memelihara mereka. Semua itu kembali kepada satu sifat yang sangat agung, yaitu sifat al-hifzh, yang terkandung dalam dua nama Allah: Al-Hafiizh dan Al-Haafizh.Seorang mukmin yang mengenal dua nama ini akan merasakan dua hal sekaligus: rasa aman dan rasa waspada. Aman, karena ia tahu bahwa Allah menjaga dirinya, agamanya, dan segala urusannya. Waspada, karena ia sadar bahwa Allah tidak pernah lalai dari mencatat amalannya, yang kecil maupun yang besar. Dalam tulisan ini, kita akan melihat dalil-dalil penetapan dua nama ini, maknanya secara bahasa dan dalam konteks sebagai nama Allah, serta konsekuensi beriman kepadanya. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua. Aamiin.Dalil nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Nama Allah Al-Hafiizh disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak tiga kali. Di antaranya firman Allah Ta’ala,إِنَّ رَبِّي عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ“Sesungguhnya Rabbku Maha Memelihara segala sesuatu.” (QS. Huud: 57)Dan firman-Nya,وَرَبُّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ“Dan Rabbmu Maha Memelihara segala sesuatu.” (QS. Saba’: 21)Dan firman-Nya,وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ اللَّهُ حَفِيظٌ عَلَيْهِمْ وَمَا أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِوَكِيلٍ“Dan orang-orang yang menjadikan pelindung selain-Nya, Allah-lah yang memelihara mereka, dan engkau bukanlah wakil atas mereka.” (QS. Asy-Syuuraa: 6) [1]Adapun nama Allah Al-Haafizh disebutkan satu kali dalam firman-Nya,فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ“Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga, dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS. Yuusuf: 64) [2]Dan disebutkan dengan bentuk jamak di dua tempat. Firman-Nya,إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikr (Al-Qur’an) dan sesungguhnya Kami-lah yang menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)Dan firman-Nya,وَكُنَّا لَهُمْ حَافِظِينَ“Dan Kami-lah yang menjaga mereka.” (QS. Al-Anbiyaa’: 82) [3]Kandungan makna nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Untuk mengetahui kandungan makna dua nama ini, perlu dipahami terlebih dahulu makna katanya secara bahasa, lalu perbedaan antara dua bentuk nama ini, kemudian maknanya ketika disandarkan kepada Allah Ta’ala.Makna bahasa dari “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Al-Hafiizh dan Al-Haafizh keduanya kembali kepada satu akar kata, yaitu حَفِظَ – يَحْفَظُ – حِفْظًا. Ibn Faaris menjelaskan akar kata ini,الحاء والفاء والظاء أصل واحد يدل على مراعاة الشيء، يقال: حفظت الشيء حفظًا … والحفاظ: المحافظة أي المواظبة على الأمور“Huruf haa’, faa’, dan zhaa’ merupakan satu asal makna yang menunjukkan makna memelihara dan mengawasi sesuatu. Dikatakan: hafizhtush-syai’a hifzhan (aku menjaga sesuatu). Dan al-hifaazh bermakna al-muhaafazhah, yaitu menjaga dan memelihara urusan secara terus-menerus.” [4]Al-Jauhari juga menjelaskan,حفظت الشيء حفظًا، أي: حرسته، وحفظته أيضًا بمعنى: استظهرته … والمحافظة: المراقبة … والحفيظ: المحافظ … والتحفظ: التيقظ وقلة الغفلة“Hafizhtush-syai’a hifzhan bermakna aku menjaganya. Juga bermakna aku menghafalnya. Al-Muhaafazhah bermakna pengawasan. Al-Hafiizh bermakna yang senantiasa menjaga. At-Tahaffuzh bermakna kewaspadaan dan sedikitnya kelalaian.” [5]Makna lain dari al-hifzh yang juga disebutkan para ulama adalah: lawan dari lupa (an-nisyaan). Maka, yang menjaga sesuatu berarti tidak melupakannya, tidak mengabaikannya, dan tidak membiarkannya lepas dari perhatiannya. [6]Perbedaan antara “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Secara asal makna, dua nama ini kembali kepada satu pokok, yaitu penjagaan dan pemeliharaan. Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa Al-Hafiizh dan Al-Haafizh sama-sama menunjukkan bahwa Allah menjaga makhluk-Nya, menjaga amal hamba-hamba-Nya, dan tidak ada sesuatu pun yang luput dari penjagaan-Nya.Al-Khaththabi menjelaskan,الحفيظ هو الحافظ، فعيل بمعنى فاعل؛ كالقدير والعليم“Al-Hafiizh adalah Al-Haafizh. Wazan fa’iil di sini bermakna faa’il, sebagaimana Al-Qadiir dan Al-‘Aliim.” [7]Jadi, keduanya tidak saling bertentangan dan tidak pula menunjukkan dua sifat yang berbeda. Keduanya bertemu pada satu pokok: Allah adalah Dzat Yang Menjaga.Akan tetapi, dari sisi bentuk lafaz, para ulama umumnya menjelaskan bahwa wazan fa’iil (seperti Al-Hafiizh) lebih kuat dalam menunjukkan keluasan, kesempurnaan, dan tetapnya suatu sifat pada pemiliknya. Ia menunjukkan bahwa sifat itu bukan sesuatu yang sesekali ada dan sesekali tidak, melainkan tetap dan melekat. Adapun wazan faa’il (seperti Al-Haafizh) menunjukkan adanya sifat itu pada pelakunya.Kalau diringkas, Al-Haafizh menunjukkan bahwa Allah adalah Dzat Yang Menjaga. Adapun, Al-Hafiizh menunjukkan bahwa penjagaan-Nya sempurna, luas, dan tidak pernah putus.Ini juga sejalan dengan konteks ayat-ayatnya. Nama Al-Hafiizh disebut pada ayat-ayat yang menunjukkan keluasan penjagaan Allah atas segala sesuatu, seperti:إِنَّ رَبِّي عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌdan,وَرَبُّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌAdapun Al-Haafizh disebut dalam konteks فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا. Keduanya menunjukkan kesempurnaan penjagaan Allah, namun bentuk fa’iil menekankan keluasan dan kekokohan sifat itu. [8]Maka, ketika dua nama ini dibahas bersama, bukan untuk memisahkan dua makna yang bertentangan, tetapi justru untuk menunjukkan bahwa seluruh bentuk penjagaan yang sempurna hanyalah milik Allah. Dia adalah Al-Haafizh, Yang Menjaga, dan Dia adalah Al-Hafiizh, Yang sempurna penjagaan-Nya, luas pemeliharaan-Nya, dan tidak pernah lalai dari segala yang Dia jaga.Makna “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh” ketika menjadi sifat AllahDua nama ini menunjukkan bahwa Allah disifati dengan al-hifzh (penjagaan). Syekh Abdurrazzaq al-Badr menjelaskan bahwa sifat ini mencakup dua perkara besar. [9]Pertama: Penjagaan dengan ilmu-NyaAllah menjaga dengan ilmu-Nya seluruh yang diketahui. Tidak ada sesuatu pun yang luput dari ilmu-Nya. Dia menjaga amalan hamba-Nya, menghitung perkataan mereka, mengetahui niat mereka, dan tidak ada yang tersembunyi dari-Nya. Lawan dari sifat ini adalah lupa, dan Allah telah menyucikan diri-Nya dari sifat tersebut. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا“Dan tidaklah Rabbmu lupa.” (QS. Maryam: 64)Dan firman-Nya,قَالَ عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي فِي كِتَابٍ لَا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنْسَى“Dia berkata: ilmunya ada di sisi Rabbku, dalam sebuah kitab. Rabbku tidak sesat dan tidak lupa.” (QS. Thaahaa: 52)Allah juga berfirman,أَحْصَاهُ اللَّهُ وَنَسُوهُ“Allah menghitungnya, sedangkan mereka melupakannya.” (QS. Al-Mujaadilah: 6)Makna ini mencakup bahwa Allah menghitung seluruh amalan hamba, yang besar dan yang kecil. Dia menulis semuanya di Lauh Mahfuzh. Dan Dia mewakilkan para malaikat yang mulia untuk mencatatnya. Allah berfirman,وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوهُ فِي الزُّبُرِ. وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُسْتَطَرٌ“Dan segala sesuatu yang mereka kerjakan tercatat dalam catatan-catatan. Dan segala yang kecil maupun yang besar tertulis.” (QS. Al-Qamar: 52-53)Dan firman-Nya,وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ. كِرَامًا كَاتِبِينَ. يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ“Dan sesungguhnya ada para penjaga atas kalian, yang mulia lagi mencatat, mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Infithaar: 10-12) [10]Kedua: Penjagaan terhadap makhluk-NyaAllah menjaga seluruh makhluk-Nya dari langit dan bumi serta apa yang ada di dalamnya, agar ia tetap ada selama masa yang Allah tentukan. Tidak runtuh, tidak rusak, tidak saling bertabrakan, dan tidak ada yang memberatkan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا“Dan tidaklah memberatkan-Nya memelihara keduanya (langit dan bumi).” (QS. Al-Baqarah: 255)Allah juga menjaga langit agar tidak jatuh ke bumi,وَيُمْسِكُ السَّمَاءَ أَنْ تَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ إِلَّا بِإِذْنِهِ“Dan Dia menahan langit agar tidak jatuh ke bumi kecuali dengan izin-Nya.” (QS. Al-Hajj: 65)Dan firman-Nya,إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi agar tidak lenyap.” (QS. Faathir: 41)Dan termasuk di dalamnya, Allah menjaga Kitab-Nya dari segala bentuk perubahan dan pemalsuan,إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikr dan Kami-lah yang menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)Al-Qur’an tetap terjaga sebagaimana ia diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada huruf yang berubah dan tidak ada ayat yang terdistorsi, meskipun zaman terus berganti. Semua itu karena penjagaan Allah yang sempurna. [11]Baca juga: Jagalah Allah, Ia Akan MenjagamuPenjagaan Allah terhadap hamba-Nya: Penjagaan umum dan khususSyekh Abdurrazzaq al-Badr juga menjelaskan bahwa penjagaan Allah terhadap hamba-Nya terbagi menjadi dua macam. [12]Penjagaan yang umumPenjagaan ini mencakup seluruh makhluk, baik yang taat maupun yang durhaka, bahkan mencakup hewan dan selainnya. Allah memudahkan bagi mereka makanan, minuman, udara, dan menunjukkan mereka kepada apa yang menjadi kemaslahatannya. Ini termasuk dalam hidayah umum yang Allah sebutkan,الَّذِي أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى“(Allah) yang memberi segala sesuatu bentuk penciptaannya kemudian memberinya petunjuk.” (QS. Thaahaa: 50)Allah juga menolak dari mereka berbagai bahaya dan kerusakan, serta mewakilkan para malaikat untuk menjaga mereka,لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ“Baginya ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya, dari depan dan belakangnya, yang menjaganya atas perintah Allah.” (QS. Ar-Ra’d: 11)Penjagaan yang khususPenjagaan ini diperuntukkan bagi para wali Allah. Selain penjagaan umum, Allah juga menjaga iman mereka dari syubhat yang menyesatkan, fitnah yang merusak, dan syahwat yang membinasakan. Allah melindungi mereka dari musuh-musuh mereka, baik dari kalangan jin maupun manusia, menolong mereka, dan menolak tipu daya musuh dari mereka. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Hajj: 38)Seberapa besar keimanan seorang hamba, sebesar itulah pembelaan Allah untuknya. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam wasiatnya kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhumaa,احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ“Jagalah (perintah-perintah) Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi. At-Tirmidzi berkata: hasan shahih) [13]Maknanya sangat jelas, siapa yang menjaga perintah-perintah Allah dengan mengamalkannya, menjaga larangan-Nya dengan menjauhinya, dan menjaga batasan-Nya dengan tidak melanggarnya, maka Allah akan menjaganya dalam diri, agama, harta, anak, dan dalam seluruh karunia yang Allah berikan kepadanya.Konsekuensi dari keimanan terhadap nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh” bagi seorang hambaPertama, menjaga perintah Allah agar dijaga oleh AllahKonsekuensi terbesar dari iman kepada dua nama ini adalah seorang hamba berusaha menjaga apa yang Allah perintahkan untuk dijaga. Allah memuji hamba-hamba-Nya yang menjaga hak-hak-Nya dan batasan-batasan-Nya,وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ“Dan orang-orang yang menjaga batasan-batasan Allah, dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman.” (QS. At-Taubah: 112)Termasuk di dalamnya menjaga tauhid dari hal-hal yang merusaknya. Karena tauhid adalah perkara paling agung yang harus dijaga dan dipelihara oleh seorang hamba. Juga menjaga salat, sebagaimana firman-Nya,حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ‘Peliharalah salat-salat dan salat wustha, dan berdirilah untuk Allah dengan khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 238)Dan menjaga pendengaran, penglihatan, dan hati dari hal-hal yang diharamkan,إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Israa’: 36) [14]Kedua, berdoa kepada Allah agar dijaga dari segala keburukanDi antara buah iman kepada nama Al-Hafiizh dan Al-Haafizh adalah seorang hamba senantiasa berdoa memohon penjagaan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan doa ini setiap pagi dan petang, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhumaa,لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَعُ هَؤُلاَءِ الدَّعَوَاتِ حِينَ يُمْسِي وَحِينَ يُصْبِحُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي، وَآمِنْ رَوْعَاتِي، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan doa-doa ini ketika sore dan ketika pagi, ‘Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku. Ya Allah, tutupilah aib-aibku dan amankanlah ketakutan-ketakutanku. Ya Allah, jagalah aku dari depanku, dari belakangku, dari kananku, dari kiriku, dan dari atasku, dan aku berlindung dengan keagungan-Mu dari ditenggelamkan dari bawahku.’” (HR. Ahmad, dan sanadnya shahih) [15]Ketiga, meyakini bahwa tidak ada penjaga bagi hamba kecuali AllahDi atas semua itu, seorang hamba meyakini bahwa tidak ada yang mampu menjaganya dalam urusan agama dan dunianya kecuali Allah Ta’ala. Maka, ia menggantungkan rasa amannya kepada Allah, bukan kepada makhluk, bukan kepada kekuatannya sendiri, dan bukan kepada sebab-sebab duniawi semata. Allah Ta’ala berfirman,فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ“Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga, dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS. Yuusuf: 64) [16]Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa dijaga, dipelihara, dan dilindungi dari segala keburukan, serta menjadikan kita termasuk orang-orang yang menjaga perintah-perintah-Nya sehingga Dia menjaga kita. Aamiin.Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Ghaniy”***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 191; Nauwal binti Abdul Aziz al-‘Ied, Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 3: 64; Alawi bin Abdul Qadir as-Saqqaf, Shifaat Allah ‘Azza wa Jalla al-Waaridah fil Kitaab was Sunnah, hal. 133.[2] Nauwal binti Abdul Aziz al-‘Ied, Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 3: 64.[3] Nauwal binti Abdul Aziz al-‘Ied, Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 3: 64.[4] Ibn Faaris, Mu’jam Maqaayiis al-Lughah, 1: 87.[5] Al-Jauhari, dinukil dalam: Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 3: 64.[6] Hashah binti Abdul Aziz ash-Shaghir, Ifraad Ahaadits Asmaa’ Allah wa Shifaatih, 1: 75.[7] Nauwal binti Abdul Aziz al-‘Ied, Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 3: 64-66.[8] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 191.[9] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 191-192.[10] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 191-192.[11] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 192.[12] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 193. Lihat juga: Hashah binti Abdul Aziz ash-Shaghir, Ifraad Ahaadits Asmaa’ Allah wa Shifaatih, 1: 75.[13] HR. Ahmad (1: 293) dan at-Tirmidzi no. 2516. At-Tirmidzi mengatakan: hasan shahih.[14] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 193-194.[15] HR. Ahmad (2: 25), sanadnya sahih. Dikutip oleh: Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 194.[16] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 194. Referensi utamaAl-Badr, Abdurrazzaq. Fiqhul Asmaa’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah, 2015.Al-‘Ied, Nauwal binti Abdul Aziz. Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna. Cet. ke-1. 1441 H.Ash-Shaghir, Hashah binti Abdul Aziz. Ifraad Ahaadits Asmaa’ Allah wa Shifaatih. Risalah Doktorah. Makkah: 1417 H.As-Saqqaf, Alawi bin Abdul Qadir. Shifaat Allah ‘Azza wa Jalla al-Waaridah fil Kitaab was Sunnah. Cet. ke-3. Dar al-Hijrah, 1426 H.Ibn Faaris, Ahmad bin Zakariya. Mu’jam Maqaayiis al-Lughah.
Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Kandungan makna nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Makna bahasa dari “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Perbedaan antara “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Makna “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh” ketika menjadi sifat AllahPertama: Penjagaan dengan ilmu-NyaKedua: Penjagaan terhadap makhluk-NyaPenjagaan Allah terhadap hamba-Nya: Penjagaan umum dan khususPenjagaan yang umumPenjagaan yang khususKonsekuensi dari keimanan terhadap nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh” bagi seorang hambaPertama, menjaga perintah Allah agar dijaga oleh AllahKedua, berdoa kepada Allah agar dijaga dari segala keburukanKetiga, meyakini bahwa tidak ada penjaga bagi hamba kecuali AllahDi antara hal yang menenangkan hati seorang hamba di tengah berbagai ujian kehidupan adalah mengetahui bahwa Allah Ta’ala tidak pernah lalai menjaga makhluk-Nya. Langit dan bumi berdiri kokoh karena Dia yang menjaganya. Amalan manusia tidak ada yang hilang karena Dia yang mencatatnya. Para wali-Nya selamat dari tipu daya musuh karena Dia yang memelihara mereka. Semua itu kembali kepada satu sifat yang sangat agung, yaitu sifat al-hifzh, yang terkandung dalam dua nama Allah: Al-Hafiizh dan Al-Haafizh.Seorang mukmin yang mengenal dua nama ini akan merasakan dua hal sekaligus: rasa aman dan rasa waspada. Aman, karena ia tahu bahwa Allah menjaga dirinya, agamanya, dan segala urusannya. Waspada, karena ia sadar bahwa Allah tidak pernah lalai dari mencatat amalannya, yang kecil maupun yang besar. Dalam tulisan ini, kita akan melihat dalil-dalil penetapan dua nama ini, maknanya secara bahasa dan dalam konteks sebagai nama Allah, serta konsekuensi beriman kepadanya. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua. Aamiin.Dalil nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Nama Allah Al-Hafiizh disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak tiga kali. Di antaranya firman Allah Ta’ala,إِنَّ رَبِّي عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ“Sesungguhnya Rabbku Maha Memelihara segala sesuatu.” (QS. Huud: 57)Dan firman-Nya,وَرَبُّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ“Dan Rabbmu Maha Memelihara segala sesuatu.” (QS. Saba’: 21)Dan firman-Nya,وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ اللَّهُ حَفِيظٌ عَلَيْهِمْ وَمَا أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِوَكِيلٍ“Dan orang-orang yang menjadikan pelindung selain-Nya, Allah-lah yang memelihara mereka, dan engkau bukanlah wakil atas mereka.” (QS. Asy-Syuuraa: 6) [1]Adapun nama Allah Al-Haafizh disebutkan satu kali dalam firman-Nya,فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ“Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga, dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS. Yuusuf: 64) [2]Dan disebutkan dengan bentuk jamak di dua tempat. Firman-Nya,إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikr (Al-Qur’an) dan sesungguhnya Kami-lah yang menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)Dan firman-Nya,وَكُنَّا لَهُمْ حَافِظِينَ“Dan Kami-lah yang menjaga mereka.” (QS. Al-Anbiyaa’: 82) [3]Kandungan makna nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Untuk mengetahui kandungan makna dua nama ini, perlu dipahami terlebih dahulu makna katanya secara bahasa, lalu perbedaan antara dua bentuk nama ini, kemudian maknanya ketika disandarkan kepada Allah Ta’ala.Makna bahasa dari “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Al-Hafiizh dan Al-Haafizh keduanya kembali kepada satu akar kata, yaitu حَفِظَ – يَحْفَظُ – حِفْظًا. Ibn Faaris menjelaskan akar kata ini,الحاء والفاء والظاء أصل واحد يدل على مراعاة الشيء، يقال: حفظت الشيء حفظًا … والحفاظ: المحافظة أي المواظبة على الأمور“Huruf haa’, faa’, dan zhaa’ merupakan satu asal makna yang menunjukkan makna memelihara dan mengawasi sesuatu. Dikatakan: hafizhtush-syai’a hifzhan (aku menjaga sesuatu). Dan al-hifaazh bermakna al-muhaafazhah, yaitu menjaga dan memelihara urusan secara terus-menerus.” [4]Al-Jauhari juga menjelaskan,حفظت الشيء حفظًا، أي: حرسته، وحفظته أيضًا بمعنى: استظهرته … والمحافظة: المراقبة … والحفيظ: المحافظ … والتحفظ: التيقظ وقلة الغفلة“Hafizhtush-syai’a hifzhan bermakna aku menjaganya. Juga bermakna aku menghafalnya. Al-Muhaafazhah bermakna pengawasan. Al-Hafiizh bermakna yang senantiasa menjaga. At-Tahaffuzh bermakna kewaspadaan dan sedikitnya kelalaian.” [5]Makna lain dari al-hifzh yang juga disebutkan para ulama adalah: lawan dari lupa (an-nisyaan). Maka, yang menjaga sesuatu berarti tidak melupakannya, tidak mengabaikannya, dan tidak membiarkannya lepas dari perhatiannya. [6]Perbedaan antara “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Secara asal makna, dua nama ini kembali kepada satu pokok, yaitu penjagaan dan pemeliharaan. Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa Al-Hafiizh dan Al-Haafizh sama-sama menunjukkan bahwa Allah menjaga makhluk-Nya, menjaga amal hamba-hamba-Nya, dan tidak ada sesuatu pun yang luput dari penjagaan-Nya.Al-Khaththabi menjelaskan,الحفيظ هو الحافظ، فعيل بمعنى فاعل؛ كالقدير والعليم“Al-Hafiizh adalah Al-Haafizh. Wazan fa’iil di sini bermakna faa’il, sebagaimana Al-Qadiir dan Al-‘Aliim.” [7]Jadi, keduanya tidak saling bertentangan dan tidak pula menunjukkan dua sifat yang berbeda. Keduanya bertemu pada satu pokok: Allah adalah Dzat Yang Menjaga.Akan tetapi, dari sisi bentuk lafaz, para ulama umumnya menjelaskan bahwa wazan fa’iil (seperti Al-Hafiizh) lebih kuat dalam menunjukkan keluasan, kesempurnaan, dan tetapnya suatu sifat pada pemiliknya. Ia menunjukkan bahwa sifat itu bukan sesuatu yang sesekali ada dan sesekali tidak, melainkan tetap dan melekat. Adapun wazan faa’il (seperti Al-Haafizh) menunjukkan adanya sifat itu pada pelakunya.Kalau diringkas, Al-Haafizh menunjukkan bahwa Allah adalah Dzat Yang Menjaga. Adapun, Al-Hafiizh menunjukkan bahwa penjagaan-Nya sempurna, luas, dan tidak pernah putus.Ini juga sejalan dengan konteks ayat-ayatnya. Nama Al-Hafiizh disebut pada ayat-ayat yang menunjukkan keluasan penjagaan Allah atas segala sesuatu, seperti:إِنَّ رَبِّي عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌdan,وَرَبُّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌAdapun Al-Haafizh disebut dalam konteks فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا. Keduanya menunjukkan kesempurnaan penjagaan Allah, namun bentuk fa’iil menekankan keluasan dan kekokohan sifat itu. [8]Maka, ketika dua nama ini dibahas bersama, bukan untuk memisahkan dua makna yang bertentangan, tetapi justru untuk menunjukkan bahwa seluruh bentuk penjagaan yang sempurna hanyalah milik Allah. Dia adalah Al-Haafizh, Yang Menjaga, dan Dia adalah Al-Hafiizh, Yang sempurna penjagaan-Nya, luas pemeliharaan-Nya, dan tidak pernah lalai dari segala yang Dia jaga.Makna “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh” ketika menjadi sifat AllahDua nama ini menunjukkan bahwa Allah disifati dengan al-hifzh (penjagaan). Syekh Abdurrazzaq al-Badr menjelaskan bahwa sifat ini mencakup dua perkara besar. [9]Pertama: Penjagaan dengan ilmu-NyaAllah menjaga dengan ilmu-Nya seluruh yang diketahui. Tidak ada sesuatu pun yang luput dari ilmu-Nya. Dia menjaga amalan hamba-Nya, menghitung perkataan mereka, mengetahui niat mereka, dan tidak ada yang tersembunyi dari-Nya. Lawan dari sifat ini adalah lupa, dan Allah telah menyucikan diri-Nya dari sifat tersebut. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا“Dan tidaklah Rabbmu lupa.” (QS. Maryam: 64)Dan firman-Nya,قَالَ عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي فِي كِتَابٍ لَا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنْسَى“Dia berkata: ilmunya ada di sisi Rabbku, dalam sebuah kitab. Rabbku tidak sesat dan tidak lupa.” (QS. Thaahaa: 52)Allah juga berfirman,أَحْصَاهُ اللَّهُ وَنَسُوهُ“Allah menghitungnya, sedangkan mereka melupakannya.” (QS. Al-Mujaadilah: 6)Makna ini mencakup bahwa Allah menghitung seluruh amalan hamba, yang besar dan yang kecil. Dia menulis semuanya di Lauh Mahfuzh. Dan Dia mewakilkan para malaikat yang mulia untuk mencatatnya. Allah berfirman,وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوهُ فِي الزُّبُرِ. وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُسْتَطَرٌ“Dan segala sesuatu yang mereka kerjakan tercatat dalam catatan-catatan. Dan segala yang kecil maupun yang besar tertulis.” (QS. Al-Qamar: 52-53)Dan firman-Nya,وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ. كِرَامًا كَاتِبِينَ. يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ“Dan sesungguhnya ada para penjaga atas kalian, yang mulia lagi mencatat, mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Infithaar: 10-12) [10]Kedua: Penjagaan terhadap makhluk-NyaAllah menjaga seluruh makhluk-Nya dari langit dan bumi serta apa yang ada di dalamnya, agar ia tetap ada selama masa yang Allah tentukan. Tidak runtuh, tidak rusak, tidak saling bertabrakan, dan tidak ada yang memberatkan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا“Dan tidaklah memberatkan-Nya memelihara keduanya (langit dan bumi).” (QS. Al-Baqarah: 255)Allah juga menjaga langit agar tidak jatuh ke bumi,وَيُمْسِكُ السَّمَاءَ أَنْ تَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ إِلَّا بِإِذْنِهِ“Dan Dia menahan langit agar tidak jatuh ke bumi kecuali dengan izin-Nya.” (QS. Al-Hajj: 65)Dan firman-Nya,إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi agar tidak lenyap.” (QS. Faathir: 41)Dan termasuk di dalamnya, Allah menjaga Kitab-Nya dari segala bentuk perubahan dan pemalsuan,إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikr dan Kami-lah yang menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)Al-Qur’an tetap terjaga sebagaimana ia diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada huruf yang berubah dan tidak ada ayat yang terdistorsi, meskipun zaman terus berganti. Semua itu karena penjagaan Allah yang sempurna. [11]Baca juga: Jagalah Allah, Ia Akan MenjagamuPenjagaan Allah terhadap hamba-Nya: Penjagaan umum dan khususSyekh Abdurrazzaq al-Badr juga menjelaskan bahwa penjagaan Allah terhadap hamba-Nya terbagi menjadi dua macam. [12]Penjagaan yang umumPenjagaan ini mencakup seluruh makhluk, baik yang taat maupun yang durhaka, bahkan mencakup hewan dan selainnya. Allah memudahkan bagi mereka makanan, minuman, udara, dan menunjukkan mereka kepada apa yang menjadi kemaslahatannya. Ini termasuk dalam hidayah umum yang Allah sebutkan,الَّذِي أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى“(Allah) yang memberi segala sesuatu bentuk penciptaannya kemudian memberinya petunjuk.” (QS. Thaahaa: 50)Allah juga menolak dari mereka berbagai bahaya dan kerusakan, serta mewakilkan para malaikat untuk menjaga mereka,لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ“Baginya ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya, dari depan dan belakangnya, yang menjaganya atas perintah Allah.” (QS. Ar-Ra’d: 11)Penjagaan yang khususPenjagaan ini diperuntukkan bagi para wali Allah. Selain penjagaan umum, Allah juga menjaga iman mereka dari syubhat yang menyesatkan, fitnah yang merusak, dan syahwat yang membinasakan. Allah melindungi mereka dari musuh-musuh mereka, baik dari kalangan jin maupun manusia, menolong mereka, dan menolak tipu daya musuh dari mereka. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Hajj: 38)Seberapa besar keimanan seorang hamba, sebesar itulah pembelaan Allah untuknya. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam wasiatnya kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhumaa,احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ“Jagalah (perintah-perintah) Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi. At-Tirmidzi berkata: hasan shahih) [13]Maknanya sangat jelas, siapa yang menjaga perintah-perintah Allah dengan mengamalkannya, menjaga larangan-Nya dengan menjauhinya, dan menjaga batasan-Nya dengan tidak melanggarnya, maka Allah akan menjaganya dalam diri, agama, harta, anak, dan dalam seluruh karunia yang Allah berikan kepadanya.Konsekuensi dari keimanan terhadap nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh” bagi seorang hambaPertama, menjaga perintah Allah agar dijaga oleh AllahKonsekuensi terbesar dari iman kepada dua nama ini adalah seorang hamba berusaha menjaga apa yang Allah perintahkan untuk dijaga. Allah memuji hamba-hamba-Nya yang menjaga hak-hak-Nya dan batasan-batasan-Nya,وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ“Dan orang-orang yang menjaga batasan-batasan Allah, dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman.” (QS. At-Taubah: 112)Termasuk di dalamnya menjaga tauhid dari hal-hal yang merusaknya. Karena tauhid adalah perkara paling agung yang harus dijaga dan dipelihara oleh seorang hamba. Juga menjaga salat, sebagaimana firman-Nya,حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ‘Peliharalah salat-salat dan salat wustha, dan berdirilah untuk Allah dengan khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 238)Dan menjaga pendengaran, penglihatan, dan hati dari hal-hal yang diharamkan,إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Israa’: 36) [14]Kedua, berdoa kepada Allah agar dijaga dari segala keburukanDi antara buah iman kepada nama Al-Hafiizh dan Al-Haafizh adalah seorang hamba senantiasa berdoa memohon penjagaan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan doa ini setiap pagi dan petang, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhumaa,لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَعُ هَؤُلاَءِ الدَّعَوَاتِ حِينَ يُمْسِي وَحِينَ يُصْبِحُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي، وَآمِنْ رَوْعَاتِي، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan doa-doa ini ketika sore dan ketika pagi, ‘Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku. Ya Allah, tutupilah aib-aibku dan amankanlah ketakutan-ketakutanku. Ya Allah, jagalah aku dari depanku, dari belakangku, dari kananku, dari kiriku, dan dari atasku, dan aku berlindung dengan keagungan-Mu dari ditenggelamkan dari bawahku.’” (HR. Ahmad, dan sanadnya shahih) [15]Ketiga, meyakini bahwa tidak ada penjaga bagi hamba kecuali AllahDi atas semua itu, seorang hamba meyakini bahwa tidak ada yang mampu menjaganya dalam urusan agama dan dunianya kecuali Allah Ta’ala. Maka, ia menggantungkan rasa amannya kepada Allah, bukan kepada makhluk, bukan kepada kekuatannya sendiri, dan bukan kepada sebab-sebab duniawi semata. Allah Ta’ala berfirman,فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ“Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga, dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS. Yuusuf: 64) [16]Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa dijaga, dipelihara, dan dilindungi dari segala keburukan, serta menjadikan kita termasuk orang-orang yang menjaga perintah-perintah-Nya sehingga Dia menjaga kita. Aamiin.Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Ghaniy”***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 191; Nauwal binti Abdul Aziz al-‘Ied, Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 3: 64; Alawi bin Abdul Qadir as-Saqqaf, Shifaat Allah ‘Azza wa Jalla al-Waaridah fil Kitaab was Sunnah, hal. 133.[2] Nauwal binti Abdul Aziz al-‘Ied, Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 3: 64.[3] Nauwal binti Abdul Aziz al-‘Ied, Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 3: 64.[4] Ibn Faaris, Mu’jam Maqaayiis al-Lughah, 1: 87.[5] Al-Jauhari, dinukil dalam: Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 3: 64.[6] Hashah binti Abdul Aziz ash-Shaghir, Ifraad Ahaadits Asmaa’ Allah wa Shifaatih, 1: 75.[7] Nauwal binti Abdul Aziz al-‘Ied, Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 3: 64-66.[8] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 191.[9] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 191-192.[10] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 191-192.[11] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 192.[12] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 193. Lihat juga: Hashah binti Abdul Aziz ash-Shaghir, Ifraad Ahaadits Asmaa’ Allah wa Shifaatih, 1: 75.[13] HR. Ahmad (1: 293) dan at-Tirmidzi no. 2516. At-Tirmidzi mengatakan: hasan shahih.[14] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 193-194.[15] HR. Ahmad (2: 25), sanadnya sahih. Dikutip oleh: Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 194.[16] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 194. Referensi utamaAl-Badr, Abdurrazzaq. Fiqhul Asmaa’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah, 2015.Al-‘Ied, Nauwal binti Abdul Aziz. Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna. Cet. ke-1. 1441 H.Ash-Shaghir, Hashah binti Abdul Aziz. Ifraad Ahaadits Asmaa’ Allah wa Shifaatih. Risalah Doktorah. Makkah: 1417 H.As-Saqqaf, Alawi bin Abdul Qadir. Shifaat Allah ‘Azza wa Jalla al-Waaridah fil Kitaab was Sunnah. Cet. ke-3. Dar al-Hijrah, 1426 H.Ibn Faaris, Ahmad bin Zakariya. Mu’jam Maqaayiis al-Lughah.


Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Kandungan makna nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Makna bahasa dari “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Perbedaan antara “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Makna “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh” ketika menjadi sifat AllahPertama: Penjagaan dengan ilmu-NyaKedua: Penjagaan terhadap makhluk-NyaPenjagaan Allah terhadap hamba-Nya: Penjagaan umum dan khususPenjagaan yang umumPenjagaan yang khususKonsekuensi dari keimanan terhadap nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh” bagi seorang hambaPertama, menjaga perintah Allah agar dijaga oleh AllahKedua, berdoa kepada Allah agar dijaga dari segala keburukanKetiga, meyakini bahwa tidak ada penjaga bagi hamba kecuali AllahDi antara hal yang menenangkan hati seorang hamba di tengah berbagai ujian kehidupan adalah mengetahui bahwa Allah Ta’ala tidak pernah lalai menjaga makhluk-Nya. Langit dan bumi berdiri kokoh karena Dia yang menjaganya. Amalan manusia tidak ada yang hilang karena Dia yang mencatatnya. Para wali-Nya selamat dari tipu daya musuh karena Dia yang memelihara mereka. Semua itu kembali kepada satu sifat yang sangat agung, yaitu sifat al-hifzh, yang terkandung dalam dua nama Allah: Al-Hafiizh dan Al-Haafizh.Seorang mukmin yang mengenal dua nama ini akan merasakan dua hal sekaligus: rasa aman dan rasa waspada. Aman, karena ia tahu bahwa Allah menjaga dirinya, agamanya, dan segala urusannya. Waspada, karena ia sadar bahwa Allah tidak pernah lalai dari mencatat amalannya, yang kecil maupun yang besar. Dalam tulisan ini, kita akan melihat dalil-dalil penetapan dua nama ini, maknanya secara bahasa dan dalam konteks sebagai nama Allah, serta konsekuensi beriman kepadanya. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua. Aamiin.Dalil nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Nama Allah Al-Hafiizh disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak tiga kali. Di antaranya firman Allah Ta’ala,إِنَّ رَبِّي عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ“Sesungguhnya Rabbku Maha Memelihara segala sesuatu.” (QS. Huud: 57)Dan firman-Nya,وَرَبُّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ“Dan Rabbmu Maha Memelihara segala sesuatu.” (QS. Saba’: 21)Dan firman-Nya,وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ اللَّهُ حَفِيظٌ عَلَيْهِمْ وَمَا أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِوَكِيلٍ“Dan orang-orang yang menjadikan pelindung selain-Nya, Allah-lah yang memelihara mereka, dan engkau bukanlah wakil atas mereka.” (QS. Asy-Syuuraa: 6) [1]Adapun nama Allah Al-Haafizh disebutkan satu kali dalam firman-Nya,فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ“Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga, dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS. Yuusuf: 64) [2]Dan disebutkan dengan bentuk jamak di dua tempat. Firman-Nya,إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikr (Al-Qur’an) dan sesungguhnya Kami-lah yang menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)Dan firman-Nya,وَكُنَّا لَهُمْ حَافِظِينَ“Dan Kami-lah yang menjaga mereka.” (QS. Al-Anbiyaa’: 82) [3]Kandungan makna nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Untuk mengetahui kandungan makna dua nama ini, perlu dipahami terlebih dahulu makna katanya secara bahasa, lalu perbedaan antara dua bentuk nama ini, kemudian maknanya ketika disandarkan kepada Allah Ta’ala.Makna bahasa dari “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Al-Hafiizh dan Al-Haafizh keduanya kembali kepada satu akar kata, yaitu حَفِظَ – يَحْفَظُ – حِفْظًا. Ibn Faaris menjelaskan akar kata ini,الحاء والفاء والظاء أصل واحد يدل على مراعاة الشيء، يقال: حفظت الشيء حفظًا … والحفاظ: المحافظة أي المواظبة على الأمور“Huruf haa’, faa’, dan zhaa’ merupakan satu asal makna yang menunjukkan makna memelihara dan mengawasi sesuatu. Dikatakan: hafizhtush-syai’a hifzhan (aku menjaga sesuatu). Dan al-hifaazh bermakna al-muhaafazhah, yaitu menjaga dan memelihara urusan secara terus-menerus.” [4]Al-Jauhari juga menjelaskan,حفظت الشيء حفظًا، أي: حرسته، وحفظته أيضًا بمعنى: استظهرته … والمحافظة: المراقبة … والحفيظ: المحافظ … والتحفظ: التيقظ وقلة الغفلة“Hafizhtush-syai’a hifzhan bermakna aku menjaganya. Juga bermakna aku menghafalnya. Al-Muhaafazhah bermakna pengawasan. Al-Hafiizh bermakna yang senantiasa menjaga. At-Tahaffuzh bermakna kewaspadaan dan sedikitnya kelalaian.” [5]Makna lain dari al-hifzh yang juga disebutkan para ulama adalah: lawan dari lupa (an-nisyaan). Maka, yang menjaga sesuatu berarti tidak melupakannya, tidak mengabaikannya, dan tidak membiarkannya lepas dari perhatiannya. [6]Perbedaan antara “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Secara asal makna, dua nama ini kembali kepada satu pokok, yaitu penjagaan dan pemeliharaan. Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa Al-Hafiizh dan Al-Haafizh sama-sama menunjukkan bahwa Allah menjaga makhluk-Nya, menjaga amal hamba-hamba-Nya, dan tidak ada sesuatu pun yang luput dari penjagaan-Nya.Al-Khaththabi menjelaskan,الحفيظ هو الحافظ، فعيل بمعنى فاعل؛ كالقدير والعليم“Al-Hafiizh adalah Al-Haafizh. Wazan fa’iil di sini bermakna faa’il, sebagaimana Al-Qadiir dan Al-‘Aliim.” [7]Jadi, keduanya tidak saling bertentangan dan tidak pula menunjukkan dua sifat yang berbeda. Keduanya bertemu pada satu pokok: Allah adalah Dzat Yang Menjaga.Akan tetapi, dari sisi bentuk lafaz, para ulama umumnya menjelaskan bahwa wazan fa’iil (seperti Al-Hafiizh) lebih kuat dalam menunjukkan keluasan, kesempurnaan, dan tetapnya suatu sifat pada pemiliknya. Ia menunjukkan bahwa sifat itu bukan sesuatu yang sesekali ada dan sesekali tidak, melainkan tetap dan melekat. Adapun wazan faa’il (seperti Al-Haafizh) menunjukkan adanya sifat itu pada pelakunya.Kalau diringkas, Al-Haafizh menunjukkan bahwa Allah adalah Dzat Yang Menjaga. Adapun, Al-Hafiizh menunjukkan bahwa penjagaan-Nya sempurna, luas, dan tidak pernah putus.Ini juga sejalan dengan konteks ayat-ayatnya. Nama Al-Hafiizh disebut pada ayat-ayat yang menunjukkan keluasan penjagaan Allah atas segala sesuatu, seperti:إِنَّ رَبِّي عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌdan,وَرَبُّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌAdapun Al-Haafizh disebut dalam konteks فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا. Keduanya menunjukkan kesempurnaan penjagaan Allah, namun bentuk fa’iil menekankan keluasan dan kekokohan sifat itu. [8]Maka, ketika dua nama ini dibahas bersama, bukan untuk memisahkan dua makna yang bertentangan, tetapi justru untuk menunjukkan bahwa seluruh bentuk penjagaan yang sempurna hanyalah milik Allah. Dia adalah Al-Haafizh, Yang Menjaga, dan Dia adalah Al-Hafiizh, Yang sempurna penjagaan-Nya, luas pemeliharaan-Nya, dan tidak pernah lalai dari segala yang Dia jaga.Makna “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh” ketika menjadi sifat AllahDua nama ini menunjukkan bahwa Allah disifati dengan al-hifzh (penjagaan). Syekh Abdurrazzaq al-Badr menjelaskan bahwa sifat ini mencakup dua perkara besar. [9]Pertama: Penjagaan dengan ilmu-NyaAllah menjaga dengan ilmu-Nya seluruh yang diketahui. Tidak ada sesuatu pun yang luput dari ilmu-Nya. Dia menjaga amalan hamba-Nya, menghitung perkataan mereka, mengetahui niat mereka, dan tidak ada yang tersembunyi dari-Nya. Lawan dari sifat ini adalah lupa, dan Allah telah menyucikan diri-Nya dari sifat tersebut. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا“Dan tidaklah Rabbmu lupa.” (QS. Maryam: 64)Dan firman-Nya,قَالَ عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي فِي كِتَابٍ لَا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنْسَى“Dia berkata: ilmunya ada di sisi Rabbku, dalam sebuah kitab. Rabbku tidak sesat dan tidak lupa.” (QS. Thaahaa: 52)Allah juga berfirman,أَحْصَاهُ اللَّهُ وَنَسُوهُ“Allah menghitungnya, sedangkan mereka melupakannya.” (QS. Al-Mujaadilah: 6)Makna ini mencakup bahwa Allah menghitung seluruh amalan hamba, yang besar dan yang kecil. Dia menulis semuanya di Lauh Mahfuzh. Dan Dia mewakilkan para malaikat yang mulia untuk mencatatnya. Allah berfirman,وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوهُ فِي الزُّبُرِ. وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُسْتَطَرٌ“Dan segala sesuatu yang mereka kerjakan tercatat dalam catatan-catatan. Dan segala yang kecil maupun yang besar tertulis.” (QS. Al-Qamar: 52-53)Dan firman-Nya,وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ. كِرَامًا كَاتِبِينَ. يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ“Dan sesungguhnya ada para penjaga atas kalian, yang mulia lagi mencatat, mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Infithaar: 10-12) [10]Kedua: Penjagaan terhadap makhluk-NyaAllah menjaga seluruh makhluk-Nya dari langit dan bumi serta apa yang ada di dalamnya, agar ia tetap ada selama masa yang Allah tentukan. Tidak runtuh, tidak rusak, tidak saling bertabrakan, dan tidak ada yang memberatkan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا“Dan tidaklah memberatkan-Nya memelihara keduanya (langit dan bumi).” (QS. Al-Baqarah: 255)Allah juga menjaga langit agar tidak jatuh ke bumi,وَيُمْسِكُ السَّمَاءَ أَنْ تَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ إِلَّا بِإِذْنِهِ“Dan Dia menahan langit agar tidak jatuh ke bumi kecuali dengan izin-Nya.” (QS. Al-Hajj: 65)Dan firman-Nya,إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi agar tidak lenyap.” (QS. Faathir: 41)Dan termasuk di dalamnya, Allah menjaga Kitab-Nya dari segala bentuk perubahan dan pemalsuan,إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikr dan Kami-lah yang menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)Al-Qur’an tetap terjaga sebagaimana ia diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada huruf yang berubah dan tidak ada ayat yang terdistorsi, meskipun zaman terus berganti. Semua itu karena penjagaan Allah yang sempurna. [11]Baca juga: Jagalah Allah, Ia Akan MenjagamuPenjagaan Allah terhadap hamba-Nya: Penjagaan umum dan khususSyekh Abdurrazzaq al-Badr juga menjelaskan bahwa penjagaan Allah terhadap hamba-Nya terbagi menjadi dua macam. [12]Penjagaan yang umumPenjagaan ini mencakup seluruh makhluk, baik yang taat maupun yang durhaka, bahkan mencakup hewan dan selainnya. Allah memudahkan bagi mereka makanan, minuman, udara, dan menunjukkan mereka kepada apa yang menjadi kemaslahatannya. Ini termasuk dalam hidayah umum yang Allah sebutkan,الَّذِي أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى“(Allah) yang memberi segala sesuatu bentuk penciptaannya kemudian memberinya petunjuk.” (QS. Thaahaa: 50)Allah juga menolak dari mereka berbagai bahaya dan kerusakan, serta mewakilkan para malaikat untuk menjaga mereka,لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ“Baginya ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya, dari depan dan belakangnya, yang menjaganya atas perintah Allah.” (QS. Ar-Ra’d: 11)Penjagaan yang khususPenjagaan ini diperuntukkan bagi para wali Allah. Selain penjagaan umum, Allah juga menjaga iman mereka dari syubhat yang menyesatkan, fitnah yang merusak, dan syahwat yang membinasakan. Allah melindungi mereka dari musuh-musuh mereka, baik dari kalangan jin maupun manusia, menolong mereka, dan menolak tipu daya musuh dari mereka. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Hajj: 38)Seberapa besar keimanan seorang hamba, sebesar itulah pembelaan Allah untuknya. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam wasiatnya kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhumaa,احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ“Jagalah (perintah-perintah) Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi. At-Tirmidzi berkata: hasan shahih) [13]Maknanya sangat jelas, siapa yang menjaga perintah-perintah Allah dengan mengamalkannya, menjaga larangan-Nya dengan menjauhinya, dan menjaga batasan-Nya dengan tidak melanggarnya, maka Allah akan menjaganya dalam diri, agama, harta, anak, dan dalam seluruh karunia yang Allah berikan kepadanya.Konsekuensi dari keimanan terhadap nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh” bagi seorang hambaPertama, menjaga perintah Allah agar dijaga oleh AllahKonsekuensi terbesar dari iman kepada dua nama ini adalah seorang hamba berusaha menjaga apa yang Allah perintahkan untuk dijaga. Allah memuji hamba-hamba-Nya yang menjaga hak-hak-Nya dan batasan-batasan-Nya,وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ“Dan orang-orang yang menjaga batasan-batasan Allah, dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman.” (QS. At-Taubah: 112)Termasuk di dalamnya menjaga tauhid dari hal-hal yang merusaknya. Karena tauhid adalah perkara paling agung yang harus dijaga dan dipelihara oleh seorang hamba. Juga menjaga salat, sebagaimana firman-Nya,حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ‘Peliharalah salat-salat dan salat wustha, dan berdirilah untuk Allah dengan khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 238)Dan menjaga pendengaran, penglihatan, dan hati dari hal-hal yang diharamkan,إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Israa’: 36) [14]Kedua, berdoa kepada Allah agar dijaga dari segala keburukanDi antara buah iman kepada nama Al-Hafiizh dan Al-Haafizh adalah seorang hamba senantiasa berdoa memohon penjagaan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan doa ini setiap pagi dan petang, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhumaa,لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَعُ هَؤُلاَءِ الدَّعَوَاتِ حِينَ يُمْسِي وَحِينَ يُصْبِحُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي، وَآمِنْ رَوْعَاتِي، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan doa-doa ini ketika sore dan ketika pagi, ‘Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku. Ya Allah, tutupilah aib-aibku dan amankanlah ketakutan-ketakutanku. Ya Allah, jagalah aku dari depanku, dari belakangku, dari kananku, dari kiriku, dan dari atasku, dan aku berlindung dengan keagungan-Mu dari ditenggelamkan dari bawahku.’” (HR. Ahmad, dan sanadnya shahih) [15]Ketiga, meyakini bahwa tidak ada penjaga bagi hamba kecuali AllahDi atas semua itu, seorang hamba meyakini bahwa tidak ada yang mampu menjaganya dalam urusan agama dan dunianya kecuali Allah Ta’ala. Maka, ia menggantungkan rasa amannya kepada Allah, bukan kepada makhluk, bukan kepada kekuatannya sendiri, dan bukan kepada sebab-sebab duniawi semata. Allah Ta’ala berfirman,فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ“Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga, dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS. Yuusuf: 64) [16]Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa dijaga, dipelihara, dan dilindungi dari segala keburukan, serta menjadikan kita termasuk orang-orang yang menjaga perintah-perintah-Nya sehingga Dia menjaga kita. Aamiin.Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Ghaniy”***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 191; Nauwal binti Abdul Aziz al-‘Ied, Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 3: 64; Alawi bin Abdul Qadir as-Saqqaf, Shifaat Allah ‘Azza wa Jalla al-Waaridah fil Kitaab was Sunnah, hal. 133.[2] Nauwal binti Abdul Aziz al-‘Ied, Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 3: 64.[3] Nauwal binti Abdul Aziz al-‘Ied, Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 3: 64.[4] Ibn Faaris, Mu’jam Maqaayiis al-Lughah, 1: 87.[5] Al-Jauhari, dinukil dalam: Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 3: 64.[6] Hashah binti Abdul Aziz ash-Shaghir, Ifraad Ahaadits Asmaa’ Allah wa Shifaatih, 1: 75.[7] Nauwal binti Abdul Aziz al-‘Ied, Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 3: 64-66.[8] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 191.[9] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 191-192.[10] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 191-192.[11] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 192.[12] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 193. Lihat juga: Hashah binti Abdul Aziz ash-Shaghir, Ifraad Ahaadits Asmaa’ Allah wa Shifaatih, 1: 75.[13] HR. Ahmad (1: 293) dan at-Tirmidzi no. 2516. At-Tirmidzi mengatakan: hasan shahih.[14] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 193-194.[15] HR. Ahmad (2: 25), sanadnya sahih. Dikutip oleh: Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 194.[16] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 194. Referensi utamaAl-Badr, Abdurrazzaq. Fiqhul Asmaa’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah, 2015.Al-‘Ied, Nauwal binti Abdul Aziz. Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna. Cet. ke-1. 1441 H.Ash-Shaghir, Hashah binti Abdul Aziz. Ifraad Ahaadits Asmaa’ Allah wa Shifaatih. Risalah Doktorah. Makkah: 1417 H.As-Saqqaf, Alawi bin Abdul Qadir. Shifaat Allah ‘Azza wa Jalla al-Waaridah fil Kitaab was Sunnah. Cet. ke-3. Dar al-Hijrah, 1426 H.Ibn Faaris, Ahmad bin Zakariya. Mu’jam Maqaayiis al-Lughah.

Bolehkah Wanita Muslimah Menikahi Pria Kristen?

Oleh: Syaikh Khalid bin Abdul Mun’im ar-Rifa’i Ringkasan Pertanyaan: Ada seorang gadis yang hidup di Amerika. Berkenalan dengan pemuda Kristen yang bukan keturunan Arab, ia terafiliasi ke salah satu sekte agama Kristen dan ingin menikah dengan gadis tersebut. Namun keluarga si gadis menolak sehingga gadis itu ingin kabur bersama lelaki itu dan menikah secara resmi. Pertanyaan Lengkap: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Saya adalah wanita berusia 25 tahun yang hidup di Amerika. Saya berkenalan dengan lelaki kristen yang bukan keturunan Arab, ia terafiliasi ke salah satu sekte agama Kristen yang punya keyakinan-keyakinan yang sangat dekat dengan agama Islam, yaitu mengimani keesaan Tuhan, tidak minum minuman keras, dan tidak menjalin hubungan-hubungan yang diharamkan. Ia terlebih dulu mengungkapkan kekaguman dan perasaannya kepadaku, dan ingin meminangku. Terus terang saja, saya juga sangat mencintainya. Namun, masalahnya adalah keluargaku cukup kuat berpegang pada agama, sehingga mereka menolak pemuda itu karena bukan keturunan Arab dan saya wanita yang berhijab serta berpegang pada agama. Saya sudah memintanya untuk masuk Islam, tapi ia menolak dengan berkata bahwa ia tidak punya alasan untuk mengubah keyakinannya dan sangat mencintai agamanya, tapi di sisi lain dia juga sangat mencintaiku dan saya pun mencintainya. Saya sudah hampir setuju untuk menikah secara resmi sesuai hukum sipil negara. Namun, saya merasa sedang berada di antara dua api, pertama, api cintaku kepada pemuda ini dan perasaanku bahwa dia adalah lelaki terbaik untukku dan untuk membangun rumah tangga. Perlu diketahui bahwa ia sangat menghormatiku dan tidak menolak jika kelak anak-anakku nanti beragama Islam sepertiku. Kedua, api keluargaku yang masih terkekang oleh adat-adat dan budaya-budaya Arab. Saya mohon agar kalian memberi solusinya, dan saya sudah hampir kabur dari keluargaku serta setuju menikah secara resmi sesuai hukum sipil negara. Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, juga kepada keluarga, para sahabat, dan para pengikut beliau. Amma ba’du: Saya benar-benar mengingatkan kepadamu, wahai saudariku yang mulia untuk tidak melanjutkan pernikahan dengan pria Kristen itu. Jangan jual agamamu dengan kenikmatan dunia yang sedikit ini. Jangan mengira bahwa pernikahanmu dengannya hanya sekedar zina, perbuatan keji yang besar yang dilarang oleh Allah, dan akad nikah itu tidak sah berdasarkan Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijmak (konsensus para ulama), dan akal sehat semata, tapi lebih dari itu, pernikahanmu dengan pria kristen itu bisa menjadi kemurtadan dari Islam, karena itu merupakan bentuk sikap menghalalkan apa yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala haramkan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آَيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ “Janganlah kalian menikahkan (wanita-wanita mukmin) dengan laki-laki musyrik sebelum mereka beriman. Sungguh, seorang hamba sahaya yang beriman lebih baik daripada seorang musyrik, meskipun dia menarik hati kalian. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dia menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran.” (QS. Al-Baqarah: 221). Imam para ahli tafsir, Imam Abu Ja’far Ath-Thabari menjelaskan: “Sungguh Allah telah mengharamkan wanita-wanita beriman untuk menikah dengan orang musyrik, siapa pun itu dan seperti apa pun bentuk kemusyrikannya, maka janganlah kalian – wahai orang-orang beriman – menikahkan mereka dengan wanita-wanita beriman, karena itu adalah hal yang haram bagi kalian. Kalian menikahkan wanita-wanita beriman itu dengan seorang budak beriman yang membenarkan Allah, Rasulullah, dan risalah yang beliau bawa dari Allah itu lebih baik bagi kalian daripada menikahkan mereka dengan lelaki merdeka tapi musyrik, meskipun nasabnya mulia, asal usulnya terpandang, serta kedudukan dan nasabnya membuat kalian takjub.” Sedangkan Imam Al-Qurthubi menjelaskan: “Yakni janganlah kalian menikahkan wanita muslimah dengan lelaki musyrik. Umat ini telah sepakat bahwa orang musyrik tidak boleh menggauli wanita beriman dengan cara apa pun, karena itu termasuk bentuk pelecehan yang merendahkan martabat Islam.” Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ “Maka apabila kalian telah mengetahui bahwa mereka benar-benar wanita-wanita yang beriman, janganlah kalian mengembalikan mereka kepada orang-orang kafir. Mereka (wanita-wanita mukmin) tidak halal bagi orang-orang kafir itu, dan orang-orang kafir itu pun tidak halal bagi mereka.” (QS. Al-Mumtahanah: 10). Pengulangan firman Allah: “Mereka (wanita-wanita mukmin) tidak halal bagi orang-orang kafir itu, dan orang-orang kafir itu pun tidak halal bagi mereka” merupakan penegasan dan penguatan terhadap keharaman tersebut, sekaligus memutuskan hubungan pernikahan antara wanita beriman dengan laki-laki musyrik. Banyak sekali dalil yang menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam memisahkan (memutus hubungan pernikahan) antara seluruh wanita yang telah masuk Islam dengan suami mereka yang belum masuk Islam. Di antara mereka adalah putri beliau sendiri, Zainab dengan suaminya, Abu Al-Ash bin Ar-Rabi. Ketika ia menjadi tawanan pada perang Badar, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam membebaskannya dengan syarat mengirim Zainab kepada beliau. Abu Al-Ash pun memenuhi syarat itu. Kemudian ia masuk Islam, dan mengembalikan putri beliau kepadanya (sebagai istri). Imam Al-Bukhari dan lainnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia menceritakan: “Apabila seorang wanita dari orang-orang kafir yang memerangi Islam pergi berhijrah (dan masuk Islam), maka ia tidak boleh dilamar hingga haid dan selesai haidnya. Apabila telah suci, ia halal untuk dinikahi. Apabila suaminya juga berhijrah sebelum wanita itu menikah, maka ia dikembalikan kepada suaminya tersebut.” Imam Malik meriwayatkan dalam Al-Muwaththa dan Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqat dari Ibnu Syihab, ia berkata: “Tidak ada riwayat yang sampai kepada kita kecuali bahwa wanita yang berhijrah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sedangkan suaminya kafir dan tinggal di negeri kafir, maka hijrahnya itu otomatis memisahkannya (memutus pernikahannya) dengan suaminya, kecuali jika suaminya juga berhijrah sebelum masa iddahnya selesai.” Sudah terdapat ijma (konsensus) umat ini bahwa pernikahan orang kafir dengan wanita muslimah itu batal, dan pada dasarnya tidak sah akadnya, karena menyelisihi dalil yang jelas dalam Al-Qur’an. Ijma ini diriwayatkan oleh Ibnu Al-Mundzir, Abu Umar ibn Abdul Barr, Ibnu Qudamah, Asy-Syaukani, dan para ulama lainnya. Adapun hukum bahwa pernikahanmu dengan lelaki kristen itu menjadi kemurtadan dari Islam, maka itu berdasarkan ijma para ulama atas kekafiran orang yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan kekafiran orang yang tidak meyakini keharaman sesuatu yang haram. Sedangkan menikah dengan lelaki kristen secara otomatis mengharuskan adanya keyakinan bahwa pernikahan tersebut halal serta tidak meyakini pernikahan itu diharamkan. Kedua hal itu adalah murni bentuk kekafiran.  Lain halnya dengan perbuatan zina dengan lelaki kristen tanpa ikatan pernikahan, di dalamnya hanya ada satu perbuatan terlarang. Sedangkan dalam pernikahan dengan lelaki kristen, maka ada dua perbuatan terlarang, yaitu zina sekaligus meyakini kehalalan sesuatu yang diharamkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan ini bentuk kekafiran yang jelas. Ini juga yang menjadi hikmah di balik perintah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam membunuh orang yang menikah dengan wanita yang telah dinikahi ayahnya dan menyita seperlima hartanya, sebagaimana yang diriwayatkan Al-Barra, ia berkata: “Aku pernah berjumpa dengan pamanku yang sedang membawa bendera. Aku pun bertanya: ‘Ke mana engkau akan pergi?’ Ia menjawab: ‘Rasulullah mengutusku menuju seorang lelaki yang menikahi bekas istri ayahnya. Beliau memerintahkanku untuk memenggal lehernya dan mengambil hartanya.’” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi – dan beliau menghasankannya –, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Irwa Al-Ghalil no. 2351). Syaikh Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu al-Fatawa jilid 20 hlm. 90-92 menyebutkan: “Sudah menjadi hal yang ditetapkan dalam mazhab Ahlussunnah wal Jamaah yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah bahwa para penganut Ahlussunnah wal Jamaah tidak mengafirkan seorang pun dari ahlul qiblah (orang yang shalatnya masih menghadap kiblat) karena suatu dosa, dan tidak mengeluarkan seorang pun dari cakupan Islam akibat suatu perbuatan yang dilarang, seperti zina, mencuri, dan meminum minuman keras, selagi perbuatan itu tidak mengandung unsur meninggalkan keimanan. Adapun jika amalan itu mengandung penolakan terhadap sesuatu yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala perintahkan untuk diimani, seperti beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, para Malaikat, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kebangkitan setelah mati, maka perbuatan itu menjadikan pelakunya kafir. Menjadi kafir juga orang yang tidak meyakini wajibnya kewajiban-kewajiban yang telah diketahui secara jelas dan mutawatir dalam agama, atau tidak meyakini haramnya hal-hal yang keharamannya sudah diketahui secara jelas dan mutawatir.” Kemudian Ibnu Taimiyah menyebutkan hadits Al-Barra yang telah disebutkan sebelumnya lalu berkata: “Penyitaan seperlima harta menunjukkan bahwa orang tersebut adalah kafir, bukan sekadar fasik. Kekafirannya disebabkan karena ia tidak mengharamkan apa yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya haramkan.” Oleh sebab itu, janganlah engkau melangkah ke arah itu. Jangan jual akhiratmu dengan cinta yang ujungnya hanya berakhir kekal di neraka Jahanam. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyelamatkan kita semua darinya. Janganlah menipu diri sendiri karena pemuda itu berasal dari sekte Kristen yang keyakinan-keyakinannya dekat sekali dengan Islam, ia orang yang mengesakan Tuhan, dan lain sebagainya. Sebab, semua orang yang tidak beriman kepada risalah Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dan tidak masuk Islam, maka ia termasuk orang kafir dunia akhirat. Sejak Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam lalu ada orang yang tidak beriman kepada beliau, maka ia termasuk penghuni neraka, sebagaimana yang diriwayatkan Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ؛ يَهُودِيٌّ، وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang pun dari umat ini, baik itu Yahudi maupun Nasrani yang mendengar tentangku, kemudian ia meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman kepada ajaran yang aku bawa, melainkan ia termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim). Hadits ini dibenarkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan firman-Nya – sebagaimana yang dikatakan Said bin Jubair tentang firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Dan barang siapa mengingkarinya dari golongan-golongan manusia, maka nerakalah tempat yang dijanjikan baginya.” (QS. Hud: 17). Said bin Jubair mengatakan: “Yang dimaksud dengan golongan-golongan manusia adalah seluruh agama.” Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan menerima agama dari seorang manusia kecuali Islam. Siapa yang mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima dan di akhirat ia akan termasuk orang-orang yang merugi.  Saya memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar mengilhamkan kepadamu kesadaran dan melindungimu dari keburukan hawa nafsumu. Sumber: https://www.alukah.net/fatawa_counsels/0/96062/هل-تتزوج-المسلمة-من-النصراني؟/ Sumber artikel PDF 🔍 Berdoa Saat Haid, Bacaan Niat Puasa Mulud, Surat Yang Pertama Kali Diturunkan, Pendeta Kalah Debat Masuk Islam, Doa Diberikan Jodoh Visited 625 times, 4 visit(s) today Post Views: 39

Bolehkah Wanita Muslimah Menikahi Pria Kristen?

Oleh: Syaikh Khalid bin Abdul Mun’im ar-Rifa’i Ringkasan Pertanyaan: Ada seorang gadis yang hidup di Amerika. Berkenalan dengan pemuda Kristen yang bukan keturunan Arab, ia terafiliasi ke salah satu sekte agama Kristen dan ingin menikah dengan gadis tersebut. Namun keluarga si gadis menolak sehingga gadis itu ingin kabur bersama lelaki itu dan menikah secara resmi. Pertanyaan Lengkap: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Saya adalah wanita berusia 25 tahun yang hidup di Amerika. Saya berkenalan dengan lelaki kristen yang bukan keturunan Arab, ia terafiliasi ke salah satu sekte agama Kristen yang punya keyakinan-keyakinan yang sangat dekat dengan agama Islam, yaitu mengimani keesaan Tuhan, tidak minum minuman keras, dan tidak menjalin hubungan-hubungan yang diharamkan. Ia terlebih dulu mengungkapkan kekaguman dan perasaannya kepadaku, dan ingin meminangku. Terus terang saja, saya juga sangat mencintainya. Namun, masalahnya adalah keluargaku cukup kuat berpegang pada agama, sehingga mereka menolak pemuda itu karena bukan keturunan Arab dan saya wanita yang berhijab serta berpegang pada agama. Saya sudah memintanya untuk masuk Islam, tapi ia menolak dengan berkata bahwa ia tidak punya alasan untuk mengubah keyakinannya dan sangat mencintai agamanya, tapi di sisi lain dia juga sangat mencintaiku dan saya pun mencintainya. Saya sudah hampir setuju untuk menikah secara resmi sesuai hukum sipil negara. Namun, saya merasa sedang berada di antara dua api, pertama, api cintaku kepada pemuda ini dan perasaanku bahwa dia adalah lelaki terbaik untukku dan untuk membangun rumah tangga. Perlu diketahui bahwa ia sangat menghormatiku dan tidak menolak jika kelak anak-anakku nanti beragama Islam sepertiku. Kedua, api keluargaku yang masih terkekang oleh adat-adat dan budaya-budaya Arab. Saya mohon agar kalian memberi solusinya, dan saya sudah hampir kabur dari keluargaku serta setuju menikah secara resmi sesuai hukum sipil negara. Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, juga kepada keluarga, para sahabat, dan para pengikut beliau. Amma ba’du: Saya benar-benar mengingatkan kepadamu, wahai saudariku yang mulia untuk tidak melanjutkan pernikahan dengan pria Kristen itu. Jangan jual agamamu dengan kenikmatan dunia yang sedikit ini. Jangan mengira bahwa pernikahanmu dengannya hanya sekedar zina, perbuatan keji yang besar yang dilarang oleh Allah, dan akad nikah itu tidak sah berdasarkan Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijmak (konsensus para ulama), dan akal sehat semata, tapi lebih dari itu, pernikahanmu dengan pria kristen itu bisa menjadi kemurtadan dari Islam, karena itu merupakan bentuk sikap menghalalkan apa yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala haramkan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آَيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ “Janganlah kalian menikahkan (wanita-wanita mukmin) dengan laki-laki musyrik sebelum mereka beriman. Sungguh, seorang hamba sahaya yang beriman lebih baik daripada seorang musyrik, meskipun dia menarik hati kalian. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dia menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran.” (QS. Al-Baqarah: 221). Imam para ahli tafsir, Imam Abu Ja’far Ath-Thabari menjelaskan: “Sungguh Allah telah mengharamkan wanita-wanita beriman untuk menikah dengan orang musyrik, siapa pun itu dan seperti apa pun bentuk kemusyrikannya, maka janganlah kalian – wahai orang-orang beriman – menikahkan mereka dengan wanita-wanita beriman, karena itu adalah hal yang haram bagi kalian. Kalian menikahkan wanita-wanita beriman itu dengan seorang budak beriman yang membenarkan Allah, Rasulullah, dan risalah yang beliau bawa dari Allah itu lebih baik bagi kalian daripada menikahkan mereka dengan lelaki merdeka tapi musyrik, meskipun nasabnya mulia, asal usulnya terpandang, serta kedudukan dan nasabnya membuat kalian takjub.” Sedangkan Imam Al-Qurthubi menjelaskan: “Yakni janganlah kalian menikahkan wanita muslimah dengan lelaki musyrik. Umat ini telah sepakat bahwa orang musyrik tidak boleh menggauli wanita beriman dengan cara apa pun, karena itu termasuk bentuk pelecehan yang merendahkan martabat Islam.” Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ “Maka apabila kalian telah mengetahui bahwa mereka benar-benar wanita-wanita yang beriman, janganlah kalian mengembalikan mereka kepada orang-orang kafir. Mereka (wanita-wanita mukmin) tidak halal bagi orang-orang kafir itu, dan orang-orang kafir itu pun tidak halal bagi mereka.” (QS. Al-Mumtahanah: 10). Pengulangan firman Allah: “Mereka (wanita-wanita mukmin) tidak halal bagi orang-orang kafir itu, dan orang-orang kafir itu pun tidak halal bagi mereka” merupakan penegasan dan penguatan terhadap keharaman tersebut, sekaligus memutuskan hubungan pernikahan antara wanita beriman dengan laki-laki musyrik. Banyak sekali dalil yang menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam memisahkan (memutus hubungan pernikahan) antara seluruh wanita yang telah masuk Islam dengan suami mereka yang belum masuk Islam. Di antara mereka adalah putri beliau sendiri, Zainab dengan suaminya, Abu Al-Ash bin Ar-Rabi. Ketika ia menjadi tawanan pada perang Badar, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam membebaskannya dengan syarat mengirim Zainab kepada beliau. Abu Al-Ash pun memenuhi syarat itu. Kemudian ia masuk Islam, dan mengembalikan putri beliau kepadanya (sebagai istri). Imam Al-Bukhari dan lainnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia menceritakan: “Apabila seorang wanita dari orang-orang kafir yang memerangi Islam pergi berhijrah (dan masuk Islam), maka ia tidak boleh dilamar hingga haid dan selesai haidnya. Apabila telah suci, ia halal untuk dinikahi. Apabila suaminya juga berhijrah sebelum wanita itu menikah, maka ia dikembalikan kepada suaminya tersebut.” Imam Malik meriwayatkan dalam Al-Muwaththa dan Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqat dari Ibnu Syihab, ia berkata: “Tidak ada riwayat yang sampai kepada kita kecuali bahwa wanita yang berhijrah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sedangkan suaminya kafir dan tinggal di negeri kafir, maka hijrahnya itu otomatis memisahkannya (memutus pernikahannya) dengan suaminya, kecuali jika suaminya juga berhijrah sebelum masa iddahnya selesai.” Sudah terdapat ijma (konsensus) umat ini bahwa pernikahan orang kafir dengan wanita muslimah itu batal, dan pada dasarnya tidak sah akadnya, karena menyelisihi dalil yang jelas dalam Al-Qur’an. Ijma ini diriwayatkan oleh Ibnu Al-Mundzir, Abu Umar ibn Abdul Barr, Ibnu Qudamah, Asy-Syaukani, dan para ulama lainnya. Adapun hukum bahwa pernikahanmu dengan lelaki kristen itu menjadi kemurtadan dari Islam, maka itu berdasarkan ijma para ulama atas kekafiran orang yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan kekafiran orang yang tidak meyakini keharaman sesuatu yang haram. Sedangkan menikah dengan lelaki kristen secara otomatis mengharuskan adanya keyakinan bahwa pernikahan tersebut halal serta tidak meyakini pernikahan itu diharamkan. Kedua hal itu adalah murni bentuk kekafiran.  Lain halnya dengan perbuatan zina dengan lelaki kristen tanpa ikatan pernikahan, di dalamnya hanya ada satu perbuatan terlarang. Sedangkan dalam pernikahan dengan lelaki kristen, maka ada dua perbuatan terlarang, yaitu zina sekaligus meyakini kehalalan sesuatu yang diharamkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan ini bentuk kekafiran yang jelas. Ini juga yang menjadi hikmah di balik perintah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam membunuh orang yang menikah dengan wanita yang telah dinikahi ayahnya dan menyita seperlima hartanya, sebagaimana yang diriwayatkan Al-Barra, ia berkata: “Aku pernah berjumpa dengan pamanku yang sedang membawa bendera. Aku pun bertanya: ‘Ke mana engkau akan pergi?’ Ia menjawab: ‘Rasulullah mengutusku menuju seorang lelaki yang menikahi bekas istri ayahnya. Beliau memerintahkanku untuk memenggal lehernya dan mengambil hartanya.’” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi – dan beliau menghasankannya –, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Irwa Al-Ghalil no. 2351). Syaikh Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu al-Fatawa jilid 20 hlm. 90-92 menyebutkan: “Sudah menjadi hal yang ditetapkan dalam mazhab Ahlussunnah wal Jamaah yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah bahwa para penganut Ahlussunnah wal Jamaah tidak mengafirkan seorang pun dari ahlul qiblah (orang yang shalatnya masih menghadap kiblat) karena suatu dosa, dan tidak mengeluarkan seorang pun dari cakupan Islam akibat suatu perbuatan yang dilarang, seperti zina, mencuri, dan meminum minuman keras, selagi perbuatan itu tidak mengandung unsur meninggalkan keimanan. Adapun jika amalan itu mengandung penolakan terhadap sesuatu yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala perintahkan untuk diimani, seperti beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, para Malaikat, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kebangkitan setelah mati, maka perbuatan itu menjadikan pelakunya kafir. Menjadi kafir juga orang yang tidak meyakini wajibnya kewajiban-kewajiban yang telah diketahui secara jelas dan mutawatir dalam agama, atau tidak meyakini haramnya hal-hal yang keharamannya sudah diketahui secara jelas dan mutawatir.” Kemudian Ibnu Taimiyah menyebutkan hadits Al-Barra yang telah disebutkan sebelumnya lalu berkata: “Penyitaan seperlima harta menunjukkan bahwa orang tersebut adalah kafir, bukan sekadar fasik. Kekafirannya disebabkan karena ia tidak mengharamkan apa yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya haramkan.” Oleh sebab itu, janganlah engkau melangkah ke arah itu. Jangan jual akhiratmu dengan cinta yang ujungnya hanya berakhir kekal di neraka Jahanam. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyelamatkan kita semua darinya. Janganlah menipu diri sendiri karena pemuda itu berasal dari sekte Kristen yang keyakinan-keyakinannya dekat sekali dengan Islam, ia orang yang mengesakan Tuhan, dan lain sebagainya. Sebab, semua orang yang tidak beriman kepada risalah Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dan tidak masuk Islam, maka ia termasuk orang kafir dunia akhirat. Sejak Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam lalu ada orang yang tidak beriman kepada beliau, maka ia termasuk penghuni neraka, sebagaimana yang diriwayatkan Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ؛ يَهُودِيٌّ، وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang pun dari umat ini, baik itu Yahudi maupun Nasrani yang mendengar tentangku, kemudian ia meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman kepada ajaran yang aku bawa, melainkan ia termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim). Hadits ini dibenarkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan firman-Nya – sebagaimana yang dikatakan Said bin Jubair tentang firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Dan barang siapa mengingkarinya dari golongan-golongan manusia, maka nerakalah tempat yang dijanjikan baginya.” (QS. Hud: 17). Said bin Jubair mengatakan: “Yang dimaksud dengan golongan-golongan manusia adalah seluruh agama.” Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan menerima agama dari seorang manusia kecuali Islam. Siapa yang mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima dan di akhirat ia akan termasuk orang-orang yang merugi.  Saya memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar mengilhamkan kepadamu kesadaran dan melindungimu dari keburukan hawa nafsumu. Sumber: https://www.alukah.net/fatawa_counsels/0/96062/هل-تتزوج-المسلمة-من-النصراني؟/ Sumber artikel PDF 🔍 Berdoa Saat Haid, Bacaan Niat Puasa Mulud, Surat Yang Pertama Kali Diturunkan, Pendeta Kalah Debat Masuk Islam, Doa Diberikan Jodoh Visited 625 times, 4 visit(s) today Post Views: 39
Oleh: Syaikh Khalid bin Abdul Mun’im ar-Rifa’i Ringkasan Pertanyaan: Ada seorang gadis yang hidup di Amerika. Berkenalan dengan pemuda Kristen yang bukan keturunan Arab, ia terafiliasi ke salah satu sekte agama Kristen dan ingin menikah dengan gadis tersebut. Namun keluarga si gadis menolak sehingga gadis itu ingin kabur bersama lelaki itu dan menikah secara resmi. Pertanyaan Lengkap: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Saya adalah wanita berusia 25 tahun yang hidup di Amerika. Saya berkenalan dengan lelaki kristen yang bukan keturunan Arab, ia terafiliasi ke salah satu sekte agama Kristen yang punya keyakinan-keyakinan yang sangat dekat dengan agama Islam, yaitu mengimani keesaan Tuhan, tidak minum minuman keras, dan tidak menjalin hubungan-hubungan yang diharamkan. Ia terlebih dulu mengungkapkan kekaguman dan perasaannya kepadaku, dan ingin meminangku. Terus terang saja, saya juga sangat mencintainya. Namun, masalahnya adalah keluargaku cukup kuat berpegang pada agama, sehingga mereka menolak pemuda itu karena bukan keturunan Arab dan saya wanita yang berhijab serta berpegang pada agama. Saya sudah memintanya untuk masuk Islam, tapi ia menolak dengan berkata bahwa ia tidak punya alasan untuk mengubah keyakinannya dan sangat mencintai agamanya, tapi di sisi lain dia juga sangat mencintaiku dan saya pun mencintainya. Saya sudah hampir setuju untuk menikah secara resmi sesuai hukum sipil negara. Namun, saya merasa sedang berada di antara dua api, pertama, api cintaku kepada pemuda ini dan perasaanku bahwa dia adalah lelaki terbaik untukku dan untuk membangun rumah tangga. Perlu diketahui bahwa ia sangat menghormatiku dan tidak menolak jika kelak anak-anakku nanti beragama Islam sepertiku. Kedua, api keluargaku yang masih terkekang oleh adat-adat dan budaya-budaya Arab. Saya mohon agar kalian memberi solusinya, dan saya sudah hampir kabur dari keluargaku serta setuju menikah secara resmi sesuai hukum sipil negara. Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, juga kepada keluarga, para sahabat, dan para pengikut beliau. Amma ba’du: Saya benar-benar mengingatkan kepadamu, wahai saudariku yang mulia untuk tidak melanjutkan pernikahan dengan pria Kristen itu. Jangan jual agamamu dengan kenikmatan dunia yang sedikit ini. Jangan mengira bahwa pernikahanmu dengannya hanya sekedar zina, perbuatan keji yang besar yang dilarang oleh Allah, dan akad nikah itu tidak sah berdasarkan Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijmak (konsensus para ulama), dan akal sehat semata, tapi lebih dari itu, pernikahanmu dengan pria kristen itu bisa menjadi kemurtadan dari Islam, karena itu merupakan bentuk sikap menghalalkan apa yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala haramkan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آَيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ “Janganlah kalian menikahkan (wanita-wanita mukmin) dengan laki-laki musyrik sebelum mereka beriman. Sungguh, seorang hamba sahaya yang beriman lebih baik daripada seorang musyrik, meskipun dia menarik hati kalian. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dia menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran.” (QS. Al-Baqarah: 221). Imam para ahli tafsir, Imam Abu Ja’far Ath-Thabari menjelaskan: “Sungguh Allah telah mengharamkan wanita-wanita beriman untuk menikah dengan orang musyrik, siapa pun itu dan seperti apa pun bentuk kemusyrikannya, maka janganlah kalian – wahai orang-orang beriman – menikahkan mereka dengan wanita-wanita beriman, karena itu adalah hal yang haram bagi kalian. Kalian menikahkan wanita-wanita beriman itu dengan seorang budak beriman yang membenarkan Allah, Rasulullah, dan risalah yang beliau bawa dari Allah itu lebih baik bagi kalian daripada menikahkan mereka dengan lelaki merdeka tapi musyrik, meskipun nasabnya mulia, asal usulnya terpandang, serta kedudukan dan nasabnya membuat kalian takjub.” Sedangkan Imam Al-Qurthubi menjelaskan: “Yakni janganlah kalian menikahkan wanita muslimah dengan lelaki musyrik. Umat ini telah sepakat bahwa orang musyrik tidak boleh menggauli wanita beriman dengan cara apa pun, karena itu termasuk bentuk pelecehan yang merendahkan martabat Islam.” Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ “Maka apabila kalian telah mengetahui bahwa mereka benar-benar wanita-wanita yang beriman, janganlah kalian mengembalikan mereka kepada orang-orang kafir. Mereka (wanita-wanita mukmin) tidak halal bagi orang-orang kafir itu, dan orang-orang kafir itu pun tidak halal bagi mereka.” (QS. Al-Mumtahanah: 10). Pengulangan firman Allah: “Mereka (wanita-wanita mukmin) tidak halal bagi orang-orang kafir itu, dan orang-orang kafir itu pun tidak halal bagi mereka” merupakan penegasan dan penguatan terhadap keharaman tersebut, sekaligus memutuskan hubungan pernikahan antara wanita beriman dengan laki-laki musyrik. Banyak sekali dalil yang menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam memisahkan (memutus hubungan pernikahan) antara seluruh wanita yang telah masuk Islam dengan suami mereka yang belum masuk Islam. Di antara mereka adalah putri beliau sendiri, Zainab dengan suaminya, Abu Al-Ash bin Ar-Rabi. Ketika ia menjadi tawanan pada perang Badar, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam membebaskannya dengan syarat mengirim Zainab kepada beliau. Abu Al-Ash pun memenuhi syarat itu. Kemudian ia masuk Islam, dan mengembalikan putri beliau kepadanya (sebagai istri). Imam Al-Bukhari dan lainnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia menceritakan: “Apabila seorang wanita dari orang-orang kafir yang memerangi Islam pergi berhijrah (dan masuk Islam), maka ia tidak boleh dilamar hingga haid dan selesai haidnya. Apabila telah suci, ia halal untuk dinikahi. Apabila suaminya juga berhijrah sebelum wanita itu menikah, maka ia dikembalikan kepada suaminya tersebut.” Imam Malik meriwayatkan dalam Al-Muwaththa dan Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqat dari Ibnu Syihab, ia berkata: “Tidak ada riwayat yang sampai kepada kita kecuali bahwa wanita yang berhijrah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sedangkan suaminya kafir dan tinggal di negeri kafir, maka hijrahnya itu otomatis memisahkannya (memutus pernikahannya) dengan suaminya, kecuali jika suaminya juga berhijrah sebelum masa iddahnya selesai.” Sudah terdapat ijma (konsensus) umat ini bahwa pernikahan orang kafir dengan wanita muslimah itu batal, dan pada dasarnya tidak sah akadnya, karena menyelisihi dalil yang jelas dalam Al-Qur’an. Ijma ini diriwayatkan oleh Ibnu Al-Mundzir, Abu Umar ibn Abdul Barr, Ibnu Qudamah, Asy-Syaukani, dan para ulama lainnya. Adapun hukum bahwa pernikahanmu dengan lelaki kristen itu menjadi kemurtadan dari Islam, maka itu berdasarkan ijma para ulama atas kekafiran orang yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan kekafiran orang yang tidak meyakini keharaman sesuatu yang haram. Sedangkan menikah dengan lelaki kristen secara otomatis mengharuskan adanya keyakinan bahwa pernikahan tersebut halal serta tidak meyakini pernikahan itu diharamkan. Kedua hal itu adalah murni bentuk kekafiran.  Lain halnya dengan perbuatan zina dengan lelaki kristen tanpa ikatan pernikahan, di dalamnya hanya ada satu perbuatan terlarang. Sedangkan dalam pernikahan dengan lelaki kristen, maka ada dua perbuatan terlarang, yaitu zina sekaligus meyakini kehalalan sesuatu yang diharamkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan ini bentuk kekafiran yang jelas. Ini juga yang menjadi hikmah di balik perintah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam membunuh orang yang menikah dengan wanita yang telah dinikahi ayahnya dan menyita seperlima hartanya, sebagaimana yang diriwayatkan Al-Barra, ia berkata: “Aku pernah berjumpa dengan pamanku yang sedang membawa bendera. Aku pun bertanya: ‘Ke mana engkau akan pergi?’ Ia menjawab: ‘Rasulullah mengutusku menuju seorang lelaki yang menikahi bekas istri ayahnya. Beliau memerintahkanku untuk memenggal lehernya dan mengambil hartanya.’” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi – dan beliau menghasankannya –, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Irwa Al-Ghalil no. 2351). Syaikh Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu al-Fatawa jilid 20 hlm. 90-92 menyebutkan: “Sudah menjadi hal yang ditetapkan dalam mazhab Ahlussunnah wal Jamaah yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah bahwa para penganut Ahlussunnah wal Jamaah tidak mengafirkan seorang pun dari ahlul qiblah (orang yang shalatnya masih menghadap kiblat) karena suatu dosa, dan tidak mengeluarkan seorang pun dari cakupan Islam akibat suatu perbuatan yang dilarang, seperti zina, mencuri, dan meminum minuman keras, selagi perbuatan itu tidak mengandung unsur meninggalkan keimanan. Adapun jika amalan itu mengandung penolakan terhadap sesuatu yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala perintahkan untuk diimani, seperti beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, para Malaikat, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kebangkitan setelah mati, maka perbuatan itu menjadikan pelakunya kafir. Menjadi kafir juga orang yang tidak meyakini wajibnya kewajiban-kewajiban yang telah diketahui secara jelas dan mutawatir dalam agama, atau tidak meyakini haramnya hal-hal yang keharamannya sudah diketahui secara jelas dan mutawatir.” Kemudian Ibnu Taimiyah menyebutkan hadits Al-Barra yang telah disebutkan sebelumnya lalu berkata: “Penyitaan seperlima harta menunjukkan bahwa orang tersebut adalah kafir, bukan sekadar fasik. Kekafirannya disebabkan karena ia tidak mengharamkan apa yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya haramkan.” Oleh sebab itu, janganlah engkau melangkah ke arah itu. Jangan jual akhiratmu dengan cinta yang ujungnya hanya berakhir kekal di neraka Jahanam. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyelamatkan kita semua darinya. Janganlah menipu diri sendiri karena pemuda itu berasal dari sekte Kristen yang keyakinan-keyakinannya dekat sekali dengan Islam, ia orang yang mengesakan Tuhan, dan lain sebagainya. Sebab, semua orang yang tidak beriman kepada risalah Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dan tidak masuk Islam, maka ia termasuk orang kafir dunia akhirat. Sejak Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam lalu ada orang yang tidak beriman kepada beliau, maka ia termasuk penghuni neraka, sebagaimana yang diriwayatkan Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ؛ يَهُودِيٌّ، وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang pun dari umat ini, baik itu Yahudi maupun Nasrani yang mendengar tentangku, kemudian ia meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman kepada ajaran yang aku bawa, melainkan ia termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim). Hadits ini dibenarkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan firman-Nya – sebagaimana yang dikatakan Said bin Jubair tentang firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Dan barang siapa mengingkarinya dari golongan-golongan manusia, maka nerakalah tempat yang dijanjikan baginya.” (QS. Hud: 17). Said bin Jubair mengatakan: “Yang dimaksud dengan golongan-golongan manusia adalah seluruh agama.” Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan menerima agama dari seorang manusia kecuali Islam. Siapa yang mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima dan di akhirat ia akan termasuk orang-orang yang merugi.  Saya memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar mengilhamkan kepadamu kesadaran dan melindungimu dari keburukan hawa nafsumu. Sumber: https://www.alukah.net/fatawa_counsels/0/96062/هل-تتزوج-المسلمة-من-النصراني؟/ Sumber artikel PDF 🔍 Berdoa Saat Haid, Bacaan Niat Puasa Mulud, Surat Yang Pertama Kali Diturunkan, Pendeta Kalah Debat Masuk Islam, Doa Diberikan Jodoh Visited 625 times, 4 visit(s) today Post Views: 39


Oleh: Syaikh Khalid bin Abdul Mun’im ar-Rifa’i Ringkasan Pertanyaan: Ada seorang gadis yang hidup di Amerika. Berkenalan dengan pemuda Kristen yang bukan keturunan Arab, ia terafiliasi ke salah satu sekte agama Kristen dan ingin menikah dengan gadis tersebut. Namun keluarga si gadis menolak sehingga gadis itu ingin kabur bersama lelaki itu dan menikah secara resmi. Pertanyaan Lengkap: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Saya adalah wanita berusia 25 tahun yang hidup di Amerika. Saya berkenalan dengan lelaki kristen yang bukan keturunan Arab, ia terafiliasi ke salah satu sekte agama Kristen yang punya keyakinan-keyakinan yang sangat dekat dengan agama Islam, yaitu mengimani keesaan Tuhan, tidak minum minuman keras, dan tidak menjalin hubungan-hubungan yang diharamkan. Ia terlebih dulu mengungkapkan kekaguman dan perasaannya kepadaku, dan ingin meminangku. Terus terang saja, saya juga sangat mencintainya. Namun, masalahnya adalah keluargaku cukup kuat berpegang pada agama, sehingga mereka menolak pemuda itu karena bukan keturunan Arab dan saya wanita yang berhijab serta berpegang pada agama. Saya sudah memintanya untuk masuk Islam, tapi ia menolak dengan berkata bahwa ia tidak punya alasan untuk mengubah keyakinannya dan sangat mencintai agamanya, tapi di sisi lain dia juga sangat mencintaiku dan saya pun mencintainya. Saya sudah hampir setuju untuk menikah secara resmi sesuai hukum sipil negara. Namun, saya merasa sedang berada di antara dua api, pertama, api cintaku kepada pemuda ini dan perasaanku bahwa dia adalah lelaki terbaik untukku dan untuk membangun rumah tangga. Perlu diketahui bahwa ia sangat menghormatiku dan tidak menolak jika kelak anak-anakku nanti beragama Islam sepertiku. Kedua, api keluargaku yang masih terkekang oleh adat-adat dan budaya-budaya Arab. Saya mohon agar kalian memberi solusinya, dan saya sudah hampir kabur dari keluargaku serta setuju menikah secara resmi sesuai hukum sipil negara. Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, juga kepada keluarga, para sahabat, dan para pengikut beliau. Amma ba’du: Saya benar-benar mengingatkan kepadamu, wahai saudariku yang mulia untuk tidak melanjutkan pernikahan dengan pria Kristen itu. Jangan jual agamamu dengan kenikmatan dunia yang sedikit ini. Jangan mengira bahwa pernikahanmu dengannya hanya sekedar zina, perbuatan keji yang besar yang dilarang oleh Allah, dan akad nikah itu tidak sah berdasarkan Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijmak (konsensus para ulama), dan akal sehat semata, tapi lebih dari itu, pernikahanmu dengan pria kristen itu bisa menjadi kemurtadan dari Islam, karena itu merupakan bentuk sikap menghalalkan apa yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala haramkan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آَيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ “Janganlah kalian menikahkan (wanita-wanita mukmin) dengan laki-laki musyrik sebelum mereka beriman. Sungguh, seorang hamba sahaya yang beriman lebih baik daripada seorang musyrik, meskipun dia menarik hati kalian. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dia menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran.” (QS. Al-Baqarah: 221). Imam para ahli tafsir, Imam Abu Ja’far Ath-Thabari menjelaskan: “Sungguh Allah telah mengharamkan wanita-wanita beriman untuk menikah dengan orang musyrik, siapa pun itu dan seperti apa pun bentuk kemusyrikannya, maka janganlah kalian – wahai orang-orang beriman – menikahkan mereka dengan wanita-wanita beriman, karena itu adalah hal yang haram bagi kalian. Kalian menikahkan wanita-wanita beriman itu dengan seorang budak beriman yang membenarkan Allah, Rasulullah, dan risalah yang beliau bawa dari Allah itu lebih baik bagi kalian daripada menikahkan mereka dengan lelaki merdeka tapi musyrik, meskipun nasabnya mulia, asal usulnya terpandang, serta kedudukan dan nasabnya membuat kalian takjub.” Sedangkan Imam Al-Qurthubi menjelaskan: “Yakni janganlah kalian menikahkan wanita muslimah dengan lelaki musyrik. Umat ini telah sepakat bahwa orang musyrik tidak boleh menggauli wanita beriman dengan cara apa pun, karena itu termasuk bentuk pelecehan yang merendahkan martabat Islam.” Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ “Maka apabila kalian telah mengetahui bahwa mereka benar-benar wanita-wanita yang beriman, janganlah kalian mengembalikan mereka kepada orang-orang kafir. Mereka (wanita-wanita mukmin) tidak halal bagi orang-orang kafir itu, dan orang-orang kafir itu pun tidak halal bagi mereka.” (QS. Al-Mumtahanah: 10). Pengulangan firman Allah: “Mereka (wanita-wanita mukmin) tidak halal bagi orang-orang kafir itu, dan orang-orang kafir itu pun tidak halal bagi mereka” merupakan penegasan dan penguatan terhadap keharaman tersebut, sekaligus memutuskan hubungan pernikahan antara wanita beriman dengan laki-laki musyrik. Banyak sekali dalil yang menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam memisahkan (memutus hubungan pernikahan) antara seluruh wanita yang telah masuk Islam dengan suami mereka yang belum masuk Islam. Di antara mereka adalah putri beliau sendiri, Zainab dengan suaminya, Abu Al-Ash bin Ar-Rabi. Ketika ia menjadi tawanan pada perang Badar, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam membebaskannya dengan syarat mengirim Zainab kepada beliau. Abu Al-Ash pun memenuhi syarat itu. Kemudian ia masuk Islam, dan mengembalikan putri beliau kepadanya (sebagai istri). Imam Al-Bukhari dan lainnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia menceritakan: “Apabila seorang wanita dari orang-orang kafir yang memerangi Islam pergi berhijrah (dan masuk Islam), maka ia tidak boleh dilamar hingga haid dan selesai haidnya. Apabila telah suci, ia halal untuk dinikahi. Apabila suaminya juga berhijrah sebelum wanita itu menikah, maka ia dikembalikan kepada suaminya tersebut.” Imam Malik meriwayatkan dalam Al-Muwaththa dan Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqat dari Ibnu Syihab, ia berkata: “Tidak ada riwayat yang sampai kepada kita kecuali bahwa wanita yang berhijrah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sedangkan suaminya kafir dan tinggal di negeri kafir, maka hijrahnya itu otomatis memisahkannya (memutus pernikahannya) dengan suaminya, kecuali jika suaminya juga berhijrah sebelum masa iddahnya selesai.” Sudah terdapat ijma (konsensus) umat ini bahwa pernikahan orang kafir dengan wanita muslimah itu batal, dan pada dasarnya tidak sah akadnya, karena menyelisihi dalil yang jelas dalam Al-Qur’an. Ijma ini diriwayatkan oleh Ibnu Al-Mundzir, Abu Umar ibn Abdul Barr, Ibnu Qudamah, Asy-Syaukani, dan para ulama lainnya. Adapun hukum bahwa pernikahanmu dengan lelaki kristen itu menjadi kemurtadan dari Islam, maka itu berdasarkan ijma para ulama atas kekafiran orang yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan kekafiran orang yang tidak meyakini keharaman sesuatu yang haram. Sedangkan menikah dengan lelaki kristen secara otomatis mengharuskan adanya keyakinan bahwa pernikahan tersebut halal serta tidak meyakini pernikahan itu diharamkan. Kedua hal itu adalah murni bentuk kekafiran.  Lain halnya dengan perbuatan zina dengan lelaki kristen tanpa ikatan pernikahan, di dalamnya hanya ada satu perbuatan terlarang. Sedangkan dalam pernikahan dengan lelaki kristen, maka ada dua perbuatan terlarang, yaitu zina sekaligus meyakini kehalalan sesuatu yang diharamkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan ini bentuk kekafiran yang jelas. Ini juga yang menjadi hikmah di balik perintah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam membunuh orang yang menikah dengan wanita yang telah dinikahi ayahnya dan menyita seperlima hartanya, sebagaimana yang diriwayatkan Al-Barra, ia berkata: “Aku pernah berjumpa dengan pamanku yang sedang membawa bendera. Aku pun bertanya: ‘Ke mana engkau akan pergi?’ Ia menjawab: ‘Rasulullah mengutusku menuju seorang lelaki yang menikahi bekas istri ayahnya. Beliau memerintahkanku untuk memenggal lehernya dan mengambil hartanya.’” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi – dan beliau menghasankannya –, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Irwa Al-Ghalil no. 2351). Syaikh Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu al-Fatawa jilid 20 hlm. 90-92 menyebutkan: “Sudah menjadi hal yang ditetapkan dalam mazhab Ahlussunnah wal Jamaah yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah bahwa para penganut Ahlussunnah wal Jamaah tidak mengafirkan seorang pun dari ahlul qiblah (orang yang shalatnya masih menghadap kiblat) karena suatu dosa, dan tidak mengeluarkan seorang pun dari cakupan Islam akibat suatu perbuatan yang dilarang, seperti zina, mencuri, dan meminum minuman keras, selagi perbuatan itu tidak mengandung unsur meninggalkan keimanan. Adapun jika amalan itu mengandung penolakan terhadap sesuatu yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala perintahkan untuk diimani, seperti beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, para Malaikat, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kebangkitan setelah mati, maka perbuatan itu menjadikan pelakunya kafir. Menjadi kafir juga orang yang tidak meyakini wajibnya kewajiban-kewajiban yang telah diketahui secara jelas dan mutawatir dalam agama, atau tidak meyakini haramnya hal-hal yang keharamannya sudah diketahui secara jelas dan mutawatir.” Kemudian Ibnu Taimiyah menyebutkan hadits Al-Barra yang telah disebutkan sebelumnya lalu berkata: “Penyitaan seperlima harta menunjukkan bahwa orang tersebut adalah kafir, bukan sekadar fasik. Kekafirannya disebabkan karena ia tidak mengharamkan apa yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya haramkan.” Oleh sebab itu, janganlah engkau melangkah ke arah itu. Jangan jual akhiratmu dengan cinta yang ujungnya hanya berakhir kekal di neraka Jahanam. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyelamatkan kita semua darinya. Janganlah menipu diri sendiri karena pemuda itu berasal dari sekte Kristen yang keyakinan-keyakinannya dekat sekali dengan Islam, ia orang yang mengesakan Tuhan, dan lain sebagainya. Sebab, semua orang yang tidak beriman kepada risalah Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dan tidak masuk Islam, maka ia termasuk orang kafir dunia akhirat. Sejak Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam lalu ada orang yang tidak beriman kepada beliau, maka ia termasuk penghuni neraka, sebagaimana yang diriwayatkan Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ؛ يَهُودِيٌّ، وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang pun dari umat ini, baik itu Yahudi maupun Nasrani yang mendengar tentangku, kemudian ia meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman kepada ajaran yang aku bawa, melainkan ia termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim). Hadits ini dibenarkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan firman-Nya – sebagaimana yang dikatakan Said bin Jubair tentang firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Dan barang siapa mengingkarinya dari golongan-golongan manusia, maka nerakalah tempat yang dijanjikan baginya.” (QS. Hud: 17). Said bin Jubair mengatakan: “Yang dimaksud dengan golongan-golongan manusia adalah seluruh agama.” Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan menerima agama dari seorang manusia kecuali Islam. Siapa yang mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima dan di akhirat ia akan termasuk orang-orang yang merugi.  Saya memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar mengilhamkan kepadamu kesadaran dan melindungimu dari keburukan hawa nafsumu. Sumber: https://www.alukah.net/fatawa_counsels/0/96062/هل-تتزوج-المسلمة-من-النصراني؟/ Sumber artikel PDF 🔍 Berdoa Saat Haid, Bacaan Niat Puasa Mulud, Surat Yang Pertama Kali Diturunkan, Pendeta Kalah Debat Masuk Islam, Doa Diberikan Jodoh Visited 625 times, 4 visit(s) today Post Views: 39

Inilah Puncak Kelezatan Iman yang Semoga Allah Berikan Pada Kita – Syaikh Shalih As -Sindi

Karena itu, perkara terbesar yang bergejolak di dalam hati orang-orang beriman yang jujur dalam kehidupan dunia mereka adalah rasa rindu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Alangkah indahnya ucapan Ibnul Qayyim rahimahullah, “Demi Allah, tidak ada di dunia ini yang lebih lezat daripada kerinduan seorang hamba kepada Ar-Rahman. Demikian pula melihat wajah-Nya Subhanahu wa Ta’ala, itulah kelezatan yang paling sempurna bagi manusia.” (Al-Qashidah An-Nuniyyah) Di dunia, nikmat terbesar dan kelezatan paling sempurna adalah engkau mengenal Allah, mencintai-Nya, dan merindukan-Nya. Sebagaimana nikmat terbesar di akhirat adalah engkau melihat-Nya, mendengar firman-Nya, dan mendapatkan keridaan-Nya. Itulah kelezatan terbesar di akhirat, sebagaimana nikmat terbesar di dunia adalah engkau dianugerahi kerinduan kepada Allah. Siapa yang mendapatkan karunia ini, sungguh ia telah mendapatkan bagian yang besar. Karena itu, di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dalam hadis ‘Ammar radhiyallahu ‘anhu, riwayat An-Nasa’i dan selainnya: “Aku memohon kepada-Mu kelezatan memandang wajah-Mu, dan kerinduan untuk bertemu dengan-Mu.” (HR. An-Nasa’i) Jadi, rindu bertemu Allah ‘Azza wa Jalla adalah perkara yang agung. Sangat layak bagimu untuk terus-menerus memohon hal itu kepada Rabbmu Jalla wa ‘Ala. Orang-orang beriman yang jujur merindukan pertemuan dengan Rabb mereka. Orang-orang beriman yang jujur berharap bertemu Rabb mereka. “Barang siapa mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah pasti datang.” (QS. Al-Ankabut: 5). Alangkah agungnya pengaruh ayat ini pada jiwa-jiwa yang beriman. Seakan-akan di dalamnya ada penenang bagi mereka, sementara hati mereka telah terbang karena rindu kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Jika kalian mengharapkan pertemuan dengan Allah, maka bersabarlah dan tetaplah teguh. Sebab, ketetapan waktu dari Allah itu dekat. Pertemuan dengan Allah ‘Azza wa Jalla yang kalian dambakan itu dekat. Tidak ada jarak antara kalian dan pertemuan itu, selain berlalunya detik-detik kehidupan ini. Kemudian kalian akan beruntung dengan bertemu Zat yang paling dicintai, Subhanahu wa Ta’ala. Orang-orang beriman yang jujur mencintai pertemuan dengan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mencintai pertemuan dengan Allah, Allah pun mencintai pertemuan dengannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Karena itu, dalam jiwa orang-orang beriman ada keinginan yang sangat kuat untuk melihat Allah Jalla wa ‘Ala. Inilah Nabi Musa ‘alaihis salam. Ketika beliau mendengar firman Allah, jiwanya sangat ingin melihat-Nya, lalu berkata, “Wahai Rabbku, tampakkanlah diri-Mu kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.” (QS. Al-A’raf: 143) Para sahabat radhiyallahu ‘anhum dahulu bersama Nabi ‘alaihis shalatu was salam, sebagaimana disebutkan dalam Ash-Shahihain dari hadis Abu Hurairah dan Abu Sa’id. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami akan melihat Rabb kami pada hari kiamat?” (HR. Bukhari dan Muslim). Seakan-akan aku melihat mereka sedang mencari jawaban yang dapat menenangkan kerinduan yang bergolak di dalam hati mereka. Karena sesungguhnya kerinduan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah kerinduan yang sangat besar. Rindu adalah hajat hati untuk bertemu dengan yang dicintai, dan perjalanan hati untuk mencarinya. Semakin besar iman seseorang, semakin besar pula rindunya untuk bertemu Allah dan melihat-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Kerinduan ini lahir dari dua perkara. Pertama, mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Semakin engkau mengenal Allah, semakin kuat kerinduan kepada-Nya. Kedua, kokohnya rasa cinta kepada Allah di dalam hatimu. Semakin besar cintamu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, semakin besar pula kerinduanmu kepada-Nya. Karena itu, diriwayatkan dari Abud Darda’ radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata, “Aku mencintai kematian karena rindu kepada Rabbku.” (Dikeluarkan oleh Abu Daud dalam kitab Az-Zuhd). Subhanallah. Keadaan mereka menakjubkan. Mereka merasa kematian begitu lambat datang, dan merasa kehidupan ini terlalu panjang. Sebab, kehidupan dunia inilah penghalang antara mereka dan sampainya mereka kepada kelezatan terbesar serta tujuan agung yang mereka damba-dambakan. Bahwasanya tidak ada kesempatan melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali di negeri akhirat. Karena itulah kerinduan mereka kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala begitu besar. Ibnul Jauzi menukil dalam kitab Shifatush Shafwah, dari sebagian ahli ibadah, bahwasanya ia menangis selama 60 tahun karena rindu kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ibnu Rajab juga menukil dari Abu ‘Inabah Al-Khaulani bahwa ia berkata, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian lebih mencintai pertemuan dengan Allah daripada madu.” (Majmu’ Rasa’il Ibnu Rajab; Al-Jihad Ibnul Mubarak, no. 128) Demikianlah jiwa-jiwa yang beriman, mereka rindu bertemu Allah Subhanahu wa Ta’ala, bersungguh-sungguh dalam upayanya menempuh jalan yang mengantarkan kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Adapun orang yang keadaannya berbeda dari itu, maka sungguh ia berada di lembah yang lain. “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, merasa puas dengan kehidupan dunia, dan merasa tenteram dengannya…” (QS. Yunus: 7). Inilah keadaan orang yang berpaling dari Allah, berpaling dari ketaatan kepada-Nya, dan berpaling dari mencintai-Nya. Ia kembali dengan membawa kerugian. Adapun orang-orang yang berharap bertemu Allah, mereka memperoleh keberuntungan yang besar. Nikmat yang agung pun telah menanti mereka. Maka, buah dari kerinduan ini adalah mereka akan meraih apa yang mereka harapkan dan apa yang mereka rindukan. Yaitu Allah Yang Maha Agung Subhanahu wa Ta’ala memberikan karunia-Nya dan mengizinkan orang-orang beriman, yang mencintai-Nya lagi jujur ini, untuk melihat-Nya. Bagaimanapun, wahai muslim, pembahasan ini sangat layak untuk engkau renungkan. Sebab, pembahasan ini bisa menjadi timbangan untuk menilai sehat atau sakitnya hatimu. Semakin sehat hatimu, semakin besar kerinduanmu kepada Rabbmu. Sebaliknya pun demikian. Maka berbahagialah orang yang berusaha, bersungguh-sungguh, mengawasi dirinya, dan menghisab dirinya hingga ia sampai pada perkara agung ini. Jadikan salah satu tujuan besarmu dalam hidup ini adalah mencapai kedudukan yang agung ini, yaitu engkau rindu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menjadi orang yang berharap bertemu dengan-Nya, dan mencintai pertemuan dengan-Nya. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. ===== وَلِذَلِكَ الْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ أَعْظَمُ شَيْءٍ يَهِيجُ فِي قُلُوبِهِم فِي دُنْيَاهُمْ هُوَ الشَّوْقُ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمَا أَحْسَنَ مَا قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ وَاللهِ مَا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا أَلَذُّ مِنِ اشْتِيَاقِ الْعَبْدِ لِلرَّحْمَنِ وَكَذَاكَ رُؤْيَةُ وَجْهِهِ سُبْحَانَهُ هِيَ أَكْمَلُ اللَّذَّاتِ لِلْإِنْسَانِ فِي الدُّنْيَا أَعْظَمُ نَعِيمٍ وَأَكْمَلُ لَذَّةٍ هِيَ أَنْ تَعْرِفَ اللهَ وَتُحِبَّهُ وَتَشْتَاقَ إِلَيْهِ كَمَا أَنَّ أَعْظَمَ نِعْمَةٍ فِي الْآخِرَةِ هِيَ أَنْ تَرَاهُ وَتَسْمَعَ كَلَامَهُ، وَأَنْ يَحِلَّ عَلَيْكَ رِضْوَانُهُ فَهَذِهِ أَعْظَمُ اللَّذَّاتِ فِي الْآخِرَةِ، كَمَا أَنَّ أَعْظَمَ نِعْمَةٍ فِي الدُّنْيَا هِيَ أَنْ تُرْزَقَ الشَّوْقَ إِلَى اللهِ مَنْ فَازَ بِهَذَا فَازَ بِحَظٍّ عَظِيمٍ، وَلِذَا كَانَ مِنْ دُعَائِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا فِي حَدِيثِ عَمَّارٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عِنْدَ النَّسَائِيِّ وَغَيْرِهِ وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ إِذًا الشَّوْقُ إِلَى لِقَاءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ شَيْءٌ عَظِيمٌ، يَسْتَحِقُّ أَنْ تُلِحَّ عَلَى رَبِّكَ جَلَّ وَعَلَا فِي طَلَبِهِ الْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ يَشْتَاقُونَ إِلَى لِقَاءِ رَبِّهِمْ، وَالْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ يَرْجُونَ لِقَاءَ رَبِّهِمْ مَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ مَا أَعْظَمَ وَقْعَ هَذِهِ الْآيَةِ عَلَى النُّفُوسِ الْمُؤْمِنَةِ كَأَنَّ فِيهَا تَسْكِينًا لَهُمْ، وَقَدْ طَارَتْ قُلُوبُهُمْ شَوْقًا إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِنْ كُنْتُمْ تَرْجُونَ لِقَاءَ اللهِ فَاصْبِرُوا وَاثْبُتُوا، فَإِنَّ أَجَلَ اللهِ قَرِيبٌ لِقَاءُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ الَّذِي تَطْمَحُونَ إِلَيْهِ قَرِيبٌ لَيْسَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ إِلَّا أَنْ تَنْقَضِيَ لَحَظَاتُ هَذِهِ الْحَيَاةِ ثُمَّ تَفُوزُونَ بِلِقَاءِ الْمَحْبُوبِ الْأَعْظَمِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ يُحِبُّونَ لِقَاءَ اللهِ، قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ وَلِذَلِكَ كَانَ هُنَاكَ رَغْبَةٌ جَامِحَةٌ فِي نُفُوسِ أَهْلِ الْإِيمَانِ لِرُؤْيَةِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا فَهَذَا مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ سَمِعَ كَلَامَ اللهِ، فَتَاقَتْ نَفْسُهُ إِلَى رُؤْيَتِهِ رَبِّ أَرِنِي أَنظُرْ إِلَيْكَ وَالصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ كَانُوا مَعَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَمِنْ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ كَأَنِّي بِهِمْ يَبْحَثُونَ عَنْ جَوَابٍ يُسَكِّنُ هَذَا الشَّوْقَ الَّذِي يَعْتَلِجُ فِي قُلُوبِهِمْ فَإِنَّ شَوْقَهُمْ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى شَوْقٌ عَظِيمٌ الشَّوْقُ احْتِيَاجُ الْقَلْبِ إِلَى لِقَاءِ الْمَحْبُوبِ وَسَفَرُهُ فِي طَلَبِهِ وَكُلَّمَا كَانَ الْإِنْسَانُ أَعْظَمَ إِيمَانًا كُلَّمَا كَانَ أَكْثَرَ شَوْقًا إِلَى لِقَاءِ اللهِ وَرُؤْيَتِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَهَذَا الشَّوْقُ يَنْتُجُ عَنْ أَمْرَيْنِ: عَنْ مَعْرِفَةٍ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ كُلَّمَا كُنْتَ بِاللهِ أَعْرَفَ كُنْتَ أَشَدَّ اشْتِيَاقًا إِلَيْه وَالْأَمْرُ الثَّانِي: تَمَكُّنُ مَحَبَّتِهِ فِي قَلْبِكَ كُـلَّمَا كُنْتَ أَعْظَمَ مَحَبَّةً لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى كُـلَّمَا كَانَ شَوْقُكَ إِلَيْهِ أَعْظَمَ وَلِذَلِكَ جَاءَ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: أُحِبُّ الْمَوْتَ اشْتِيَاقًا إِلَى رَبِّي سُبْحَانَ اللهِ! شَأْنُهُمْ عَجِيبٌ، يَسْتَبْطِئُونَ الْمَوْتَ وَيَسْتَطِيلُونَ الْحَيَاةَ لِأَنَّهَا هِيَ الْحَائِلُ، هِيَ الْمَانِعُ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْوُصُولِ إِلَى اللَّذَّةِ الْعُظْمَى وَالْغَايَةِ الْكُبْرَى الَّتِي يَطْمَحُونَ إِلَيْهَا إِنَّهُ لَا رُؤْيَةَ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِلَّا فِي دَارِ الْآخِرَةِ وَلِذَلِكَ هُمْ أَعْظَمُ شَوْقًا إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَدْ نَقَلَ ابْنُ الْجَوْزِيِّ فِي صِفَةِ الصَّفْوَةِ عَنْ بَعْضِ الْعَابِدِينَ أَنَّهُ بَكَى سِتِّينَ سَنَةً شَوْقًا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَنَقَلَ ابْنُ رَجَبٍ عَنْ أَبِي عَنْبَسَةَ الْخَوْلَانِيِّ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ لِقَاءُ اللهِ أَحَبُّ إِلَيْهِمْ مِنَ الشَّهْدِ هَكَذَا النُّفُوسُ الْمُؤْمِنَةُ مُشْتَاقَةٌ إِلَى لِقَاءِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، مُجْتَهِدَةٌ فِي السَّعْيِ إِلَى مَا يُوْصِلُ إِلَيْهِ جَلَّ وَعَلَا وَأَمَّا مَنْ كَانَ عَلَى خِلَافِ ذَلِكَ فَإِنَّهُ فِي وَادٍ آخَرَ إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا هَذِهِ حَالُ مَنْ كَانَ مُعْرِضًا عَنِ اللهِ، مُعْرِضًا عَنْ طَاعَتِهِ، مُعْرِضًا عَنْ مَحَبَّتِهِ، يَبُوءُ بِالْخُسْرَانِ لَكِنَّ الَّذِينَ يَرْجُونَ لِقَاءَ اللهِ فَازُوا فَوْزًا عَظِيمًا، وَيَنْتَظِرُهُم نِعْمَةٌ كُبْرَى فَثَمْرَةُ هَذَا الشَّوْقِ أَنْ يَنَالُوا مَا تَمَنَّوْا وَمَا اشْتَاقُوا إِلَيْهِ وَهُوَ أَنْ يَمُنَّ اللهُ الْعَظِيمُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَيَأْذَنَ أَنْ يَرَاهُ هَؤُلَاءِ الْمُؤْمِنُونَ الْمُحِبُّونَ الصَّادِقُونَ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ، هَذَا الْمَوْضُوعُ حَرِيٌّ بِكَ يَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُ أَنْ تَتَأَمَّلَهُ فَإِنَّ هَذَا الْمَوْضُوعَ يُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ مِيزَانًا تَزِنُ بِهِ صَلَاحَ قَلْبِكَ مِنْ مَرَضِ قَلْبِكَ فَكُلَّمَا كَانَ قَلْبُكَ أَصَحَّ كَانَ الشَّوْقُ إِلَى رَبِّكَ أَعْظَمَ، وَالْعَكْسُ بِالْعَكْسِ فَهَنِيئًا لِمَنْ سَعَى وَاجْتَهَدَ وَرَاقَبَ نَفْسَهُ وَحَاسَبَهَا حَتَّى يَصِلَ إِلَى هَذَا الْأَمْرِ الْعَظِيمِ اجْعَلْ مِنْ أَهْدَافِكَ الْكُبْرَى فِي الْحَيَاةِ أَنْ تَصِلَ إِلَى هَذِهِ الرُّتْبَةِ الْعَظِيمَةِ وَهِيَ أَنْ تَشْتَاقَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَتَكُونَ مِمَّنْ يَرْجُو لِقَاءَهُ، وَمَنْ يُحِبُّ لِقَاءَهُ وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ

Inilah Puncak Kelezatan Iman yang Semoga Allah Berikan Pada Kita – Syaikh Shalih As -Sindi

Karena itu, perkara terbesar yang bergejolak di dalam hati orang-orang beriman yang jujur dalam kehidupan dunia mereka adalah rasa rindu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Alangkah indahnya ucapan Ibnul Qayyim rahimahullah, “Demi Allah, tidak ada di dunia ini yang lebih lezat daripada kerinduan seorang hamba kepada Ar-Rahman. Demikian pula melihat wajah-Nya Subhanahu wa Ta’ala, itulah kelezatan yang paling sempurna bagi manusia.” (Al-Qashidah An-Nuniyyah) Di dunia, nikmat terbesar dan kelezatan paling sempurna adalah engkau mengenal Allah, mencintai-Nya, dan merindukan-Nya. Sebagaimana nikmat terbesar di akhirat adalah engkau melihat-Nya, mendengar firman-Nya, dan mendapatkan keridaan-Nya. Itulah kelezatan terbesar di akhirat, sebagaimana nikmat terbesar di dunia adalah engkau dianugerahi kerinduan kepada Allah. Siapa yang mendapatkan karunia ini, sungguh ia telah mendapatkan bagian yang besar. Karena itu, di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dalam hadis ‘Ammar radhiyallahu ‘anhu, riwayat An-Nasa’i dan selainnya: “Aku memohon kepada-Mu kelezatan memandang wajah-Mu, dan kerinduan untuk bertemu dengan-Mu.” (HR. An-Nasa’i) Jadi, rindu bertemu Allah ‘Azza wa Jalla adalah perkara yang agung. Sangat layak bagimu untuk terus-menerus memohon hal itu kepada Rabbmu Jalla wa ‘Ala. Orang-orang beriman yang jujur merindukan pertemuan dengan Rabb mereka. Orang-orang beriman yang jujur berharap bertemu Rabb mereka. “Barang siapa mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah pasti datang.” (QS. Al-Ankabut: 5). Alangkah agungnya pengaruh ayat ini pada jiwa-jiwa yang beriman. Seakan-akan di dalamnya ada penenang bagi mereka, sementara hati mereka telah terbang karena rindu kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Jika kalian mengharapkan pertemuan dengan Allah, maka bersabarlah dan tetaplah teguh. Sebab, ketetapan waktu dari Allah itu dekat. Pertemuan dengan Allah ‘Azza wa Jalla yang kalian dambakan itu dekat. Tidak ada jarak antara kalian dan pertemuan itu, selain berlalunya detik-detik kehidupan ini. Kemudian kalian akan beruntung dengan bertemu Zat yang paling dicintai, Subhanahu wa Ta’ala. Orang-orang beriman yang jujur mencintai pertemuan dengan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mencintai pertemuan dengan Allah, Allah pun mencintai pertemuan dengannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Karena itu, dalam jiwa orang-orang beriman ada keinginan yang sangat kuat untuk melihat Allah Jalla wa ‘Ala. Inilah Nabi Musa ‘alaihis salam. Ketika beliau mendengar firman Allah, jiwanya sangat ingin melihat-Nya, lalu berkata, “Wahai Rabbku, tampakkanlah diri-Mu kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.” (QS. Al-A’raf: 143) Para sahabat radhiyallahu ‘anhum dahulu bersama Nabi ‘alaihis shalatu was salam, sebagaimana disebutkan dalam Ash-Shahihain dari hadis Abu Hurairah dan Abu Sa’id. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami akan melihat Rabb kami pada hari kiamat?” (HR. Bukhari dan Muslim). Seakan-akan aku melihat mereka sedang mencari jawaban yang dapat menenangkan kerinduan yang bergolak di dalam hati mereka. Karena sesungguhnya kerinduan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah kerinduan yang sangat besar. Rindu adalah hajat hati untuk bertemu dengan yang dicintai, dan perjalanan hati untuk mencarinya. Semakin besar iman seseorang, semakin besar pula rindunya untuk bertemu Allah dan melihat-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Kerinduan ini lahir dari dua perkara. Pertama, mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Semakin engkau mengenal Allah, semakin kuat kerinduan kepada-Nya. Kedua, kokohnya rasa cinta kepada Allah di dalam hatimu. Semakin besar cintamu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, semakin besar pula kerinduanmu kepada-Nya. Karena itu, diriwayatkan dari Abud Darda’ radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata, “Aku mencintai kematian karena rindu kepada Rabbku.” (Dikeluarkan oleh Abu Daud dalam kitab Az-Zuhd). Subhanallah. Keadaan mereka menakjubkan. Mereka merasa kematian begitu lambat datang, dan merasa kehidupan ini terlalu panjang. Sebab, kehidupan dunia inilah penghalang antara mereka dan sampainya mereka kepada kelezatan terbesar serta tujuan agung yang mereka damba-dambakan. Bahwasanya tidak ada kesempatan melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali di negeri akhirat. Karena itulah kerinduan mereka kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala begitu besar. Ibnul Jauzi menukil dalam kitab Shifatush Shafwah, dari sebagian ahli ibadah, bahwasanya ia menangis selama 60 tahun karena rindu kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ibnu Rajab juga menukil dari Abu ‘Inabah Al-Khaulani bahwa ia berkata, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian lebih mencintai pertemuan dengan Allah daripada madu.” (Majmu’ Rasa’il Ibnu Rajab; Al-Jihad Ibnul Mubarak, no. 128) Demikianlah jiwa-jiwa yang beriman, mereka rindu bertemu Allah Subhanahu wa Ta’ala, bersungguh-sungguh dalam upayanya menempuh jalan yang mengantarkan kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Adapun orang yang keadaannya berbeda dari itu, maka sungguh ia berada di lembah yang lain. “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, merasa puas dengan kehidupan dunia, dan merasa tenteram dengannya…” (QS. Yunus: 7). Inilah keadaan orang yang berpaling dari Allah, berpaling dari ketaatan kepada-Nya, dan berpaling dari mencintai-Nya. Ia kembali dengan membawa kerugian. Adapun orang-orang yang berharap bertemu Allah, mereka memperoleh keberuntungan yang besar. Nikmat yang agung pun telah menanti mereka. Maka, buah dari kerinduan ini adalah mereka akan meraih apa yang mereka harapkan dan apa yang mereka rindukan. Yaitu Allah Yang Maha Agung Subhanahu wa Ta’ala memberikan karunia-Nya dan mengizinkan orang-orang beriman, yang mencintai-Nya lagi jujur ini, untuk melihat-Nya. Bagaimanapun, wahai muslim, pembahasan ini sangat layak untuk engkau renungkan. Sebab, pembahasan ini bisa menjadi timbangan untuk menilai sehat atau sakitnya hatimu. Semakin sehat hatimu, semakin besar kerinduanmu kepada Rabbmu. Sebaliknya pun demikian. Maka berbahagialah orang yang berusaha, bersungguh-sungguh, mengawasi dirinya, dan menghisab dirinya hingga ia sampai pada perkara agung ini. Jadikan salah satu tujuan besarmu dalam hidup ini adalah mencapai kedudukan yang agung ini, yaitu engkau rindu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menjadi orang yang berharap bertemu dengan-Nya, dan mencintai pertemuan dengan-Nya. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. ===== وَلِذَلِكَ الْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ أَعْظَمُ شَيْءٍ يَهِيجُ فِي قُلُوبِهِم فِي دُنْيَاهُمْ هُوَ الشَّوْقُ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمَا أَحْسَنَ مَا قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ وَاللهِ مَا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا أَلَذُّ مِنِ اشْتِيَاقِ الْعَبْدِ لِلرَّحْمَنِ وَكَذَاكَ رُؤْيَةُ وَجْهِهِ سُبْحَانَهُ هِيَ أَكْمَلُ اللَّذَّاتِ لِلْإِنْسَانِ فِي الدُّنْيَا أَعْظَمُ نَعِيمٍ وَأَكْمَلُ لَذَّةٍ هِيَ أَنْ تَعْرِفَ اللهَ وَتُحِبَّهُ وَتَشْتَاقَ إِلَيْهِ كَمَا أَنَّ أَعْظَمَ نِعْمَةٍ فِي الْآخِرَةِ هِيَ أَنْ تَرَاهُ وَتَسْمَعَ كَلَامَهُ، وَأَنْ يَحِلَّ عَلَيْكَ رِضْوَانُهُ فَهَذِهِ أَعْظَمُ اللَّذَّاتِ فِي الْآخِرَةِ، كَمَا أَنَّ أَعْظَمَ نِعْمَةٍ فِي الدُّنْيَا هِيَ أَنْ تُرْزَقَ الشَّوْقَ إِلَى اللهِ مَنْ فَازَ بِهَذَا فَازَ بِحَظٍّ عَظِيمٍ، وَلِذَا كَانَ مِنْ دُعَائِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا فِي حَدِيثِ عَمَّارٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عِنْدَ النَّسَائِيِّ وَغَيْرِهِ وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ إِذًا الشَّوْقُ إِلَى لِقَاءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ شَيْءٌ عَظِيمٌ، يَسْتَحِقُّ أَنْ تُلِحَّ عَلَى رَبِّكَ جَلَّ وَعَلَا فِي طَلَبِهِ الْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ يَشْتَاقُونَ إِلَى لِقَاءِ رَبِّهِمْ، وَالْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ يَرْجُونَ لِقَاءَ رَبِّهِمْ مَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ مَا أَعْظَمَ وَقْعَ هَذِهِ الْآيَةِ عَلَى النُّفُوسِ الْمُؤْمِنَةِ كَأَنَّ فِيهَا تَسْكِينًا لَهُمْ، وَقَدْ طَارَتْ قُلُوبُهُمْ شَوْقًا إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِنْ كُنْتُمْ تَرْجُونَ لِقَاءَ اللهِ فَاصْبِرُوا وَاثْبُتُوا، فَإِنَّ أَجَلَ اللهِ قَرِيبٌ لِقَاءُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ الَّذِي تَطْمَحُونَ إِلَيْهِ قَرِيبٌ لَيْسَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ إِلَّا أَنْ تَنْقَضِيَ لَحَظَاتُ هَذِهِ الْحَيَاةِ ثُمَّ تَفُوزُونَ بِلِقَاءِ الْمَحْبُوبِ الْأَعْظَمِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ يُحِبُّونَ لِقَاءَ اللهِ، قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ وَلِذَلِكَ كَانَ هُنَاكَ رَغْبَةٌ جَامِحَةٌ فِي نُفُوسِ أَهْلِ الْإِيمَانِ لِرُؤْيَةِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا فَهَذَا مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ سَمِعَ كَلَامَ اللهِ، فَتَاقَتْ نَفْسُهُ إِلَى رُؤْيَتِهِ رَبِّ أَرِنِي أَنظُرْ إِلَيْكَ وَالصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ كَانُوا مَعَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَمِنْ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ كَأَنِّي بِهِمْ يَبْحَثُونَ عَنْ جَوَابٍ يُسَكِّنُ هَذَا الشَّوْقَ الَّذِي يَعْتَلِجُ فِي قُلُوبِهِمْ فَإِنَّ شَوْقَهُمْ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى شَوْقٌ عَظِيمٌ الشَّوْقُ احْتِيَاجُ الْقَلْبِ إِلَى لِقَاءِ الْمَحْبُوبِ وَسَفَرُهُ فِي طَلَبِهِ وَكُلَّمَا كَانَ الْإِنْسَانُ أَعْظَمَ إِيمَانًا كُلَّمَا كَانَ أَكْثَرَ شَوْقًا إِلَى لِقَاءِ اللهِ وَرُؤْيَتِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَهَذَا الشَّوْقُ يَنْتُجُ عَنْ أَمْرَيْنِ: عَنْ مَعْرِفَةٍ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ كُلَّمَا كُنْتَ بِاللهِ أَعْرَفَ كُنْتَ أَشَدَّ اشْتِيَاقًا إِلَيْه وَالْأَمْرُ الثَّانِي: تَمَكُّنُ مَحَبَّتِهِ فِي قَلْبِكَ كُـلَّمَا كُنْتَ أَعْظَمَ مَحَبَّةً لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى كُـلَّمَا كَانَ شَوْقُكَ إِلَيْهِ أَعْظَمَ وَلِذَلِكَ جَاءَ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: أُحِبُّ الْمَوْتَ اشْتِيَاقًا إِلَى رَبِّي سُبْحَانَ اللهِ! شَأْنُهُمْ عَجِيبٌ، يَسْتَبْطِئُونَ الْمَوْتَ وَيَسْتَطِيلُونَ الْحَيَاةَ لِأَنَّهَا هِيَ الْحَائِلُ، هِيَ الْمَانِعُ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْوُصُولِ إِلَى اللَّذَّةِ الْعُظْمَى وَالْغَايَةِ الْكُبْرَى الَّتِي يَطْمَحُونَ إِلَيْهَا إِنَّهُ لَا رُؤْيَةَ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِلَّا فِي دَارِ الْآخِرَةِ وَلِذَلِكَ هُمْ أَعْظَمُ شَوْقًا إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَدْ نَقَلَ ابْنُ الْجَوْزِيِّ فِي صِفَةِ الصَّفْوَةِ عَنْ بَعْضِ الْعَابِدِينَ أَنَّهُ بَكَى سِتِّينَ سَنَةً شَوْقًا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَنَقَلَ ابْنُ رَجَبٍ عَنْ أَبِي عَنْبَسَةَ الْخَوْلَانِيِّ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ لِقَاءُ اللهِ أَحَبُّ إِلَيْهِمْ مِنَ الشَّهْدِ هَكَذَا النُّفُوسُ الْمُؤْمِنَةُ مُشْتَاقَةٌ إِلَى لِقَاءِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، مُجْتَهِدَةٌ فِي السَّعْيِ إِلَى مَا يُوْصِلُ إِلَيْهِ جَلَّ وَعَلَا وَأَمَّا مَنْ كَانَ عَلَى خِلَافِ ذَلِكَ فَإِنَّهُ فِي وَادٍ آخَرَ إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا هَذِهِ حَالُ مَنْ كَانَ مُعْرِضًا عَنِ اللهِ، مُعْرِضًا عَنْ طَاعَتِهِ، مُعْرِضًا عَنْ مَحَبَّتِهِ، يَبُوءُ بِالْخُسْرَانِ لَكِنَّ الَّذِينَ يَرْجُونَ لِقَاءَ اللهِ فَازُوا فَوْزًا عَظِيمًا، وَيَنْتَظِرُهُم نِعْمَةٌ كُبْرَى فَثَمْرَةُ هَذَا الشَّوْقِ أَنْ يَنَالُوا مَا تَمَنَّوْا وَمَا اشْتَاقُوا إِلَيْهِ وَهُوَ أَنْ يَمُنَّ اللهُ الْعَظِيمُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَيَأْذَنَ أَنْ يَرَاهُ هَؤُلَاءِ الْمُؤْمِنُونَ الْمُحِبُّونَ الصَّادِقُونَ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ، هَذَا الْمَوْضُوعُ حَرِيٌّ بِكَ يَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُ أَنْ تَتَأَمَّلَهُ فَإِنَّ هَذَا الْمَوْضُوعَ يُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ مِيزَانًا تَزِنُ بِهِ صَلَاحَ قَلْبِكَ مِنْ مَرَضِ قَلْبِكَ فَكُلَّمَا كَانَ قَلْبُكَ أَصَحَّ كَانَ الشَّوْقُ إِلَى رَبِّكَ أَعْظَمَ، وَالْعَكْسُ بِالْعَكْسِ فَهَنِيئًا لِمَنْ سَعَى وَاجْتَهَدَ وَرَاقَبَ نَفْسَهُ وَحَاسَبَهَا حَتَّى يَصِلَ إِلَى هَذَا الْأَمْرِ الْعَظِيمِ اجْعَلْ مِنْ أَهْدَافِكَ الْكُبْرَى فِي الْحَيَاةِ أَنْ تَصِلَ إِلَى هَذِهِ الرُّتْبَةِ الْعَظِيمَةِ وَهِيَ أَنْ تَشْتَاقَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَتَكُونَ مِمَّنْ يَرْجُو لِقَاءَهُ، وَمَنْ يُحِبُّ لِقَاءَهُ وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ
Karena itu, perkara terbesar yang bergejolak di dalam hati orang-orang beriman yang jujur dalam kehidupan dunia mereka adalah rasa rindu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Alangkah indahnya ucapan Ibnul Qayyim rahimahullah, “Demi Allah, tidak ada di dunia ini yang lebih lezat daripada kerinduan seorang hamba kepada Ar-Rahman. Demikian pula melihat wajah-Nya Subhanahu wa Ta’ala, itulah kelezatan yang paling sempurna bagi manusia.” (Al-Qashidah An-Nuniyyah) Di dunia, nikmat terbesar dan kelezatan paling sempurna adalah engkau mengenal Allah, mencintai-Nya, dan merindukan-Nya. Sebagaimana nikmat terbesar di akhirat adalah engkau melihat-Nya, mendengar firman-Nya, dan mendapatkan keridaan-Nya. Itulah kelezatan terbesar di akhirat, sebagaimana nikmat terbesar di dunia adalah engkau dianugerahi kerinduan kepada Allah. Siapa yang mendapatkan karunia ini, sungguh ia telah mendapatkan bagian yang besar. Karena itu, di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dalam hadis ‘Ammar radhiyallahu ‘anhu, riwayat An-Nasa’i dan selainnya: “Aku memohon kepada-Mu kelezatan memandang wajah-Mu, dan kerinduan untuk bertemu dengan-Mu.” (HR. An-Nasa’i) Jadi, rindu bertemu Allah ‘Azza wa Jalla adalah perkara yang agung. Sangat layak bagimu untuk terus-menerus memohon hal itu kepada Rabbmu Jalla wa ‘Ala. Orang-orang beriman yang jujur merindukan pertemuan dengan Rabb mereka. Orang-orang beriman yang jujur berharap bertemu Rabb mereka. “Barang siapa mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah pasti datang.” (QS. Al-Ankabut: 5). Alangkah agungnya pengaruh ayat ini pada jiwa-jiwa yang beriman. Seakan-akan di dalamnya ada penenang bagi mereka, sementara hati mereka telah terbang karena rindu kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Jika kalian mengharapkan pertemuan dengan Allah, maka bersabarlah dan tetaplah teguh. Sebab, ketetapan waktu dari Allah itu dekat. Pertemuan dengan Allah ‘Azza wa Jalla yang kalian dambakan itu dekat. Tidak ada jarak antara kalian dan pertemuan itu, selain berlalunya detik-detik kehidupan ini. Kemudian kalian akan beruntung dengan bertemu Zat yang paling dicintai, Subhanahu wa Ta’ala. Orang-orang beriman yang jujur mencintai pertemuan dengan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mencintai pertemuan dengan Allah, Allah pun mencintai pertemuan dengannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Karena itu, dalam jiwa orang-orang beriman ada keinginan yang sangat kuat untuk melihat Allah Jalla wa ‘Ala. Inilah Nabi Musa ‘alaihis salam. Ketika beliau mendengar firman Allah, jiwanya sangat ingin melihat-Nya, lalu berkata, “Wahai Rabbku, tampakkanlah diri-Mu kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.” (QS. Al-A’raf: 143) Para sahabat radhiyallahu ‘anhum dahulu bersama Nabi ‘alaihis shalatu was salam, sebagaimana disebutkan dalam Ash-Shahihain dari hadis Abu Hurairah dan Abu Sa’id. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami akan melihat Rabb kami pada hari kiamat?” (HR. Bukhari dan Muslim). Seakan-akan aku melihat mereka sedang mencari jawaban yang dapat menenangkan kerinduan yang bergolak di dalam hati mereka. Karena sesungguhnya kerinduan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah kerinduan yang sangat besar. Rindu adalah hajat hati untuk bertemu dengan yang dicintai, dan perjalanan hati untuk mencarinya. Semakin besar iman seseorang, semakin besar pula rindunya untuk bertemu Allah dan melihat-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Kerinduan ini lahir dari dua perkara. Pertama, mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Semakin engkau mengenal Allah, semakin kuat kerinduan kepada-Nya. Kedua, kokohnya rasa cinta kepada Allah di dalam hatimu. Semakin besar cintamu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, semakin besar pula kerinduanmu kepada-Nya. Karena itu, diriwayatkan dari Abud Darda’ radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata, “Aku mencintai kematian karena rindu kepada Rabbku.” (Dikeluarkan oleh Abu Daud dalam kitab Az-Zuhd). Subhanallah. Keadaan mereka menakjubkan. Mereka merasa kematian begitu lambat datang, dan merasa kehidupan ini terlalu panjang. Sebab, kehidupan dunia inilah penghalang antara mereka dan sampainya mereka kepada kelezatan terbesar serta tujuan agung yang mereka damba-dambakan. Bahwasanya tidak ada kesempatan melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali di negeri akhirat. Karena itulah kerinduan mereka kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala begitu besar. Ibnul Jauzi menukil dalam kitab Shifatush Shafwah, dari sebagian ahli ibadah, bahwasanya ia menangis selama 60 tahun karena rindu kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ibnu Rajab juga menukil dari Abu ‘Inabah Al-Khaulani bahwa ia berkata, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian lebih mencintai pertemuan dengan Allah daripada madu.” (Majmu’ Rasa’il Ibnu Rajab; Al-Jihad Ibnul Mubarak, no. 128) Demikianlah jiwa-jiwa yang beriman, mereka rindu bertemu Allah Subhanahu wa Ta’ala, bersungguh-sungguh dalam upayanya menempuh jalan yang mengantarkan kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Adapun orang yang keadaannya berbeda dari itu, maka sungguh ia berada di lembah yang lain. “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, merasa puas dengan kehidupan dunia, dan merasa tenteram dengannya…” (QS. Yunus: 7). Inilah keadaan orang yang berpaling dari Allah, berpaling dari ketaatan kepada-Nya, dan berpaling dari mencintai-Nya. Ia kembali dengan membawa kerugian. Adapun orang-orang yang berharap bertemu Allah, mereka memperoleh keberuntungan yang besar. Nikmat yang agung pun telah menanti mereka. Maka, buah dari kerinduan ini adalah mereka akan meraih apa yang mereka harapkan dan apa yang mereka rindukan. Yaitu Allah Yang Maha Agung Subhanahu wa Ta’ala memberikan karunia-Nya dan mengizinkan orang-orang beriman, yang mencintai-Nya lagi jujur ini, untuk melihat-Nya. Bagaimanapun, wahai muslim, pembahasan ini sangat layak untuk engkau renungkan. Sebab, pembahasan ini bisa menjadi timbangan untuk menilai sehat atau sakitnya hatimu. Semakin sehat hatimu, semakin besar kerinduanmu kepada Rabbmu. Sebaliknya pun demikian. Maka berbahagialah orang yang berusaha, bersungguh-sungguh, mengawasi dirinya, dan menghisab dirinya hingga ia sampai pada perkara agung ini. Jadikan salah satu tujuan besarmu dalam hidup ini adalah mencapai kedudukan yang agung ini, yaitu engkau rindu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menjadi orang yang berharap bertemu dengan-Nya, dan mencintai pertemuan dengan-Nya. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. ===== وَلِذَلِكَ الْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ أَعْظَمُ شَيْءٍ يَهِيجُ فِي قُلُوبِهِم فِي دُنْيَاهُمْ هُوَ الشَّوْقُ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمَا أَحْسَنَ مَا قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ وَاللهِ مَا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا أَلَذُّ مِنِ اشْتِيَاقِ الْعَبْدِ لِلرَّحْمَنِ وَكَذَاكَ رُؤْيَةُ وَجْهِهِ سُبْحَانَهُ هِيَ أَكْمَلُ اللَّذَّاتِ لِلْإِنْسَانِ فِي الدُّنْيَا أَعْظَمُ نَعِيمٍ وَأَكْمَلُ لَذَّةٍ هِيَ أَنْ تَعْرِفَ اللهَ وَتُحِبَّهُ وَتَشْتَاقَ إِلَيْهِ كَمَا أَنَّ أَعْظَمَ نِعْمَةٍ فِي الْآخِرَةِ هِيَ أَنْ تَرَاهُ وَتَسْمَعَ كَلَامَهُ، وَأَنْ يَحِلَّ عَلَيْكَ رِضْوَانُهُ فَهَذِهِ أَعْظَمُ اللَّذَّاتِ فِي الْآخِرَةِ، كَمَا أَنَّ أَعْظَمَ نِعْمَةٍ فِي الدُّنْيَا هِيَ أَنْ تُرْزَقَ الشَّوْقَ إِلَى اللهِ مَنْ فَازَ بِهَذَا فَازَ بِحَظٍّ عَظِيمٍ، وَلِذَا كَانَ مِنْ دُعَائِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا فِي حَدِيثِ عَمَّارٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عِنْدَ النَّسَائِيِّ وَغَيْرِهِ وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ إِذًا الشَّوْقُ إِلَى لِقَاءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ شَيْءٌ عَظِيمٌ، يَسْتَحِقُّ أَنْ تُلِحَّ عَلَى رَبِّكَ جَلَّ وَعَلَا فِي طَلَبِهِ الْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ يَشْتَاقُونَ إِلَى لِقَاءِ رَبِّهِمْ، وَالْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ يَرْجُونَ لِقَاءَ رَبِّهِمْ مَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ مَا أَعْظَمَ وَقْعَ هَذِهِ الْآيَةِ عَلَى النُّفُوسِ الْمُؤْمِنَةِ كَأَنَّ فِيهَا تَسْكِينًا لَهُمْ، وَقَدْ طَارَتْ قُلُوبُهُمْ شَوْقًا إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِنْ كُنْتُمْ تَرْجُونَ لِقَاءَ اللهِ فَاصْبِرُوا وَاثْبُتُوا، فَإِنَّ أَجَلَ اللهِ قَرِيبٌ لِقَاءُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ الَّذِي تَطْمَحُونَ إِلَيْهِ قَرِيبٌ لَيْسَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ إِلَّا أَنْ تَنْقَضِيَ لَحَظَاتُ هَذِهِ الْحَيَاةِ ثُمَّ تَفُوزُونَ بِلِقَاءِ الْمَحْبُوبِ الْأَعْظَمِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ يُحِبُّونَ لِقَاءَ اللهِ، قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ وَلِذَلِكَ كَانَ هُنَاكَ رَغْبَةٌ جَامِحَةٌ فِي نُفُوسِ أَهْلِ الْإِيمَانِ لِرُؤْيَةِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا فَهَذَا مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ سَمِعَ كَلَامَ اللهِ، فَتَاقَتْ نَفْسُهُ إِلَى رُؤْيَتِهِ رَبِّ أَرِنِي أَنظُرْ إِلَيْكَ وَالصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ كَانُوا مَعَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَمِنْ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ كَأَنِّي بِهِمْ يَبْحَثُونَ عَنْ جَوَابٍ يُسَكِّنُ هَذَا الشَّوْقَ الَّذِي يَعْتَلِجُ فِي قُلُوبِهِمْ فَإِنَّ شَوْقَهُمْ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى شَوْقٌ عَظِيمٌ الشَّوْقُ احْتِيَاجُ الْقَلْبِ إِلَى لِقَاءِ الْمَحْبُوبِ وَسَفَرُهُ فِي طَلَبِهِ وَكُلَّمَا كَانَ الْإِنْسَانُ أَعْظَمَ إِيمَانًا كُلَّمَا كَانَ أَكْثَرَ شَوْقًا إِلَى لِقَاءِ اللهِ وَرُؤْيَتِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَهَذَا الشَّوْقُ يَنْتُجُ عَنْ أَمْرَيْنِ: عَنْ مَعْرِفَةٍ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ كُلَّمَا كُنْتَ بِاللهِ أَعْرَفَ كُنْتَ أَشَدَّ اشْتِيَاقًا إِلَيْه وَالْأَمْرُ الثَّانِي: تَمَكُّنُ مَحَبَّتِهِ فِي قَلْبِكَ كُـلَّمَا كُنْتَ أَعْظَمَ مَحَبَّةً لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى كُـلَّمَا كَانَ شَوْقُكَ إِلَيْهِ أَعْظَمَ وَلِذَلِكَ جَاءَ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: أُحِبُّ الْمَوْتَ اشْتِيَاقًا إِلَى رَبِّي سُبْحَانَ اللهِ! شَأْنُهُمْ عَجِيبٌ، يَسْتَبْطِئُونَ الْمَوْتَ وَيَسْتَطِيلُونَ الْحَيَاةَ لِأَنَّهَا هِيَ الْحَائِلُ، هِيَ الْمَانِعُ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْوُصُولِ إِلَى اللَّذَّةِ الْعُظْمَى وَالْغَايَةِ الْكُبْرَى الَّتِي يَطْمَحُونَ إِلَيْهَا إِنَّهُ لَا رُؤْيَةَ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِلَّا فِي دَارِ الْآخِرَةِ وَلِذَلِكَ هُمْ أَعْظَمُ شَوْقًا إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَدْ نَقَلَ ابْنُ الْجَوْزِيِّ فِي صِفَةِ الصَّفْوَةِ عَنْ بَعْضِ الْعَابِدِينَ أَنَّهُ بَكَى سِتِّينَ سَنَةً شَوْقًا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَنَقَلَ ابْنُ رَجَبٍ عَنْ أَبِي عَنْبَسَةَ الْخَوْلَانِيِّ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ لِقَاءُ اللهِ أَحَبُّ إِلَيْهِمْ مِنَ الشَّهْدِ هَكَذَا النُّفُوسُ الْمُؤْمِنَةُ مُشْتَاقَةٌ إِلَى لِقَاءِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، مُجْتَهِدَةٌ فِي السَّعْيِ إِلَى مَا يُوْصِلُ إِلَيْهِ جَلَّ وَعَلَا وَأَمَّا مَنْ كَانَ عَلَى خِلَافِ ذَلِكَ فَإِنَّهُ فِي وَادٍ آخَرَ إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا هَذِهِ حَالُ مَنْ كَانَ مُعْرِضًا عَنِ اللهِ، مُعْرِضًا عَنْ طَاعَتِهِ، مُعْرِضًا عَنْ مَحَبَّتِهِ، يَبُوءُ بِالْخُسْرَانِ لَكِنَّ الَّذِينَ يَرْجُونَ لِقَاءَ اللهِ فَازُوا فَوْزًا عَظِيمًا، وَيَنْتَظِرُهُم نِعْمَةٌ كُبْرَى فَثَمْرَةُ هَذَا الشَّوْقِ أَنْ يَنَالُوا مَا تَمَنَّوْا وَمَا اشْتَاقُوا إِلَيْهِ وَهُوَ أَنْ يَمُنَّ اللهُ الْعَظِيمُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَيَأْذَنَ أَنْ يَرَاهُ هَؤُلَاءِ الْمُؤْمِنُونَ الْمُحِبُّونَ الصَّادِقُونَ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ، هَذَا الْمَوْضُوعُ حَرِيٌّ بِكَ يَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُ أَنْ تَتَأَمَّلَهُ فَإِنَّ هَذَا الْمَوْضُوعَ يُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ مِيزَانًا تَزِنُ بِهِ صَلَاحَ قَلْبِكَ مِنْ مَرَضِ قَلْبِكَ فَكُلَّمَا كَانَ قَلْبُكَ أَصَحَّ كَانَ الشَّوْقُ إِلَى رَبِّكَ أَعْظَمَ، وَالْعَكْسُ بِالْعَكْسِ فَهَنِيئًا لِمَنْ سَعَى وَاجْتَهَدَ وَرَاقَبَ نَفْسَهُ وَحَاسَبَهَا حَتَّى يَصِلَ إِلَى هَذَا الْأَمْرِ الْعَظِيمِ اجْعَلْ مِنْ أَهْدَافِكَ الْكُبْرَى فِي الْحَيَاةِ أَنْ تَصِلَ إِلَى هَذِهِ الرُّتْبَةِ الْعَظِيمَةِ وَهِيَ أَنْ تَشْتَاقَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَتَكُونَ مِمَّنْ يَرْجُو لِقَاءَهُ، وَمَنْ يُحِبُّ لِقَاءَهُ وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ


Karena itu, perkara terbesar yang bergejolak di dalam hati orang-orang beriman yang jujur dalam kehidupan dunia mereka adalah rasa rindu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Alangkah indahnya ucapan Ibnul Qayyim rahimahullah, “Demi Allah, tidak ada di dunia ini yang lebih lezat daripada kerinduan seorang hamba kepada Ar-Rahman. Demikian pula melihat wajah-Nya Subhanahu wa Ta’ala, itulah kelezatan yang paling sempurna bagi manusia.” (Al-Qashidah An-Nuniyyah) Di dunia, nikmat terbesar dan kelezatan paling sempurna adalah engkau mengenal Allah, mencintai-Nya, dan merindukan-Nya. Sebagaimana nikmat terbesar di akhirat adalah engkau melihat-Nya, mendengar firman-Nya, dan mendapatkan keridaan-Nya. Itulah kelezatan terbesar di akhirat, sebagaimana nikmat terbesar di dunia adalah engkau dianugerahi kerinduan kepada Allah. Siapa yang mendapatkan karunia ini, sungguh ia telah mendapatkan bagian yang besar. Karena itu, di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dalam hadis ‘Ammar radhiyallahu ‘anhu, riwayat An-Nasa’i dan selainnya: “Aku memohon kepada-Mu kelezatan memandang wajah-Mu, dan kerinduan untuk bertemu dengan-Mu.” (HR. An-Nasa’i) Jadi, rindu bertemu Allah ‘Azza wa Jalla adalah perkara yang agung. Sangat layak bagimu untuk terus-menerus memohon hal itu kepada Rabbmu Jalla wa ‘Ala. Orang-orang beriman yang jujur merindukan pertemuan dengan Rabb mereka. Orang-orang beriman yang jujur berharap bertemu Rabb mereka. “Barang siapa mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah pasti datang.” (QS. Al-Ankabut: 5). Alangkah agungnya pengaruh ayat ini pada jiwa-jiwa yang beriman. Seakan-akan di dalamnya ada penenang bagi mereka, sementara hati mereka telah terbang karena rindu kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Jika kalian mengharapkan pertemuan dengan Allah, maka bersabarlah dan tetaplah teguh. Sebab, ketetapan waktu dari Allah itu dekat. Pertemuan dengan Allah ‘Azza wa Jalla yang kalian dambakan itu dekat. Tidak ada jarak antara kalian dan pertemuan itu, selain berlalunya detik-detik kehidupan ini. Kemudian kalian akan beruntung dengan bertemu Zat yang paling dicintai, Subhanahu wa Ta’ala. Orang-orang beriman yang jujur mencintai pertemuan dengan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mencintai pertemuan dengan Allah, Allah pun mencintai pertemuan dengannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Karena itu, dalam jiwa orang-orang beriman ada keinginan yang sangat kuat untuk melihat Allah Jalla wa ‘Ala. Inilah Nabi Musa ‘alaihis salam. Ketika beliau mendengar firman Allah, jiwanya sangat ingin melihat-Nya, lalu berkata, “Wahai Rabbku, tampakkanlah diri-Mu kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.” (QS. Al-A’raf: 143) Para sahabat radhiyallahu ‘anhum dahulu bersama Nabi ‘alaihis shalatu was salam, sebagaimana disebutkan dalam Ash-Shahihain dari hadis Abu Hurairah dan Abu Sa’id. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami akan melihat Rabb kami pada hari kiamat?” (HR. Bukhari dan Muslim). Seakan-akan aku melihat mereka sedang mencari jawaban yang dapat menenangkan kerinduan yang bergolak di dalam hati mereka. Karena sesungguhnya kerinduan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah kerinduan yang sangat besar. Rindu adalah hajat hati untuk bertemu dengan yang dicintai, dan perjalanan hati untuk mencarinya. Semakin besar iman seseorang, semakin besar pula rindunya untuk bertemu Allah dan melihat-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Kerinduan ini lahir dari dua perkara. Pertama, mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Semakin engkau mengenal Allah, semakin kuat kerinduan kepada-Nya. Kedua, kokohnya rasa cinta kepada Allah di dalam hatimu. Semakin besar cintamu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, semakin besar pula kerinduanmu kepada-Nya. Karena itu, diriwayatkan dari Abud Darda’ radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata, “Aku mencintai kematian karena rindu kepada Rabbku.” (Dikeluarkan oleh Abu Daud dalam kitab Az-Zuhd). Subhanallah. Keadaan mereka menakjubkan. Mereka merasa kematian begitu lambat datang, dan merasa kehidupan ini terlalu panjang. Sebab, kehidupan dunia inilah penghalang antara mereka dan sampainya mereka kepada kelezatan terbesar serta tujuan agung yang mereka damba-dambakan. Bahwasanya tidak ada kesempatan melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali di negeri akhirat. Karena itulah kerinduan mereka kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala begitu besar. Ibnul Jauzi menukil dalam kitab Shifatush Shafwah, dari sebagian ahli ibadah, bahwasanya ia menangis selama 60 tahun karena rindu kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ibnu Rajab juga menukil dari Abu ‘Inabah Al-Khaulani bahwa ia berkata, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian lebih mencintai pertemuan dengan Allah daripada madu.” (Majmu’ Rasa’il Ibnu Rajab; Al-Jihad Ibnul Mubarak, no. 128) Demikianlah jiwa-jiwa yang beriman, mereka rindu bertemu Allah Subhanahu wa Ta’ala, bersungguh-sungguh dalam upayanya menempuh jalan yang mengantarkan kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Adapun orang yang keadaannya berbeda dari itu, maka sungguh ia berada di lembah yang lain. “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, merasa puas dengan kehidupan dunia, dan merasa tenteram dengannya…” (QS. Yunus: 7). Inilah keadaan orang yang berpaling dari Allah, berpaling dari ketaatan kepada-Nya, dan berpaling dari mencintai-Nya. Ia kembali dengan membawa kerugian. Adapun orang-orang yang berharap bertemu Allah, mereka memperoleh keberuntungan yang besar. Nikmat yang agung pun telah menanti mereka. Maka, buah dari kerinduan ini adalah mereka akan meraih apa yang mereka harapkan dan apa yang mereka rindukan. Yaitu Allah Yang Maha Agung Subhanahu wa Ta’ala memberikan karunia-Nya dan mengizinkan orang-orang beriman, yang mencintai-Nya lagi jujur ini, untuk melihat-Nya. Bagaimanapun, wahai muslim, pembahasan ini sangat layak untuk engkau renungkan. Sebab, pembahasan ini bisa menjadi timbangan untuk menilai sehat atau sakitnya hatimu. Semakin sehat hatimu, semakin besar kerinduanmu kepada Rabbmu. Sebaliknya pun demikian. Maka berbahagialah orang yang berusaha, bersungguh-sungguh, mengawasi dirinya, dan menghisab dirinya hingga ia sampai pada perkara agung ini. Jadikan salah satu tujuan besarmu dalam hidup ini adalah mencapai kedudukan yang agung ini, yaitu engkau rindu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menjadi orang yang berharap bertemu dengan-Nya, dan mencintai pertemuan dengan-Nya. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. ===== وَلِذَلِكَ الْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ أَعْظَمُ شَيْءٍ يَهِيجُ فِي قُلُوبِهِم فِي دُنْيَاهُمْ هُوَ الشَّوْقُ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمَا أَحْسَنَ مَا قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ وَاللهِ مَا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا أَلَذُّ مِنِ اشْتِيَاقِ الْعَبْدِ لِلرَّحْمَنِ وَكَذَاكَ رُؤْيَةُ وَجْهِهِ سُبْحَانَهُ هِيَ أَكْمَلُ اللَّذَّاتِ لِلْإِنْسَانِ فِي الدُّنْيَا أَعْظَمُ نَعِيمٍ وَأَكْمَلُ لَذَّةٍ هِيَ أَنْ تَعْرِفَ اللهَ وَتُحِبَّهُ وَتَشْتَاقَ إِلَيْهِ كَمَا أَنَّ أَعْظَمَ نِعْمَةٍ فِي الْآخِرَةِ هِيَ أَنْ تَرَاهُ وَتَسْمَعَ كَلَامَهُ، وَأَنْ يَحِلَّ عَلَيْكَ رِضْوَانُهُ فَهَذِهِ أَعْظَمُ اللَّذَّاتِ فِي الْآخِرَةِ، كَمَا أَنَّ أَعْظَمَ نِعْمَةٍ فِي الدُّنْيَا هِيَ أَنْ تُرْزَقَ الشَّوْقَ إِلَى اللهِ مَنْ فَازَ بِهَذَا فَازَ بِحَظٍّ عَظِيمٍ، وَلِذَا كَانَ مِنْ دُعَائِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا فِي حَدِيثِ عَمَّارٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عِنْدَ النَّسَائِيِّ وَغَيْرِهِ وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ إِذًا الشَّوْقُ إِلَى لِقَاءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ شَيْءٌ عَظِيمٌ، يَسْتَحِقُّ أَنْ تُلِحَّ عَلَى رَبِّكَ جَلَّ وَعَلَا فِي طَلَبِهِ الْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ يَشْتَاقُونَ إِلَى لِقَاءِ رَبِّهِمْ، وَالْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ يَرْجُونَ لِقَاءَ رَبِّهِمْ مَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ مَا أَعْظَمَ وَقْعَ هَذِهِ الْآيَةِ عَلَى النُّفُوسِ الْمُؤْمِنَةِ كَأَنَّ فِيهَا تَسْكِينًا لَهُمْ، وَقَدْ طَارَتْ قُلُوبُهُمْ شَوْقًا إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِنْ كُنْتُمْ تَرْجُونَ لِقَاءَ اللهِ فَاصْبِرُوا وَاثْبُتُوا، فَإِنَّ أَجَلَ اللهِ قَرِيبٌ لِقَاءُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ الَّذِي تَطْمَحُونَ إِلَيْهِ قَرِيبٌ لَيْسَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ إِلَّا أَنْ تَنْقَضِيَ لَحَظَاتُ هَذِهِ الْحَيَاةِ ثُمَّ تَفُوزُونَ بِلِقَاءِ الْمَحْبُوبِ الْأَعْظَمِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ يُحِبُّونَ لِقَاءَ اللهِ، قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ وَلِذَلِكَ كَانَ هُنَاكَ رَغْبَةٌ جَامِحَةٌ فِي نُفُوسِ أَهْلِ الْإِيمَانِ لِرُؤْيَةِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا فَهَذَا مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ سَمِعَ كَلَامَ اللهِ، فَتَاقَتْ نَفْسُهُ إِلَى رُؤْيَتِهِ رَبِّ أَرِنِي أَنظُرْ إِلَيْكَ وَالصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ كَانُوا مَعَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَمِنْ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ كَأَنِّي بِهِمْ يَبْحَثُونَ عَنْ جَوَابٍ يُسَكِّنُ هَذَا الشَّوْقَ الَّذِي يَعْتَلِجُ فِي قُلُوبِهِمْ فَإِنَّ شَوْقَهُمْ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى شَوْقٌ عَظِيمٌ الشَّوْقُ احْتِيَاجُ الْقَلْبِ إِلَى لِقَاءِ الْمَحْبُوبِ وَسَفَرُهُ فِي طَلَبِهِ وَكُلَّمَا كَانَ الْإِنْسَانُ أَعْظَمَ إِيمَانًا كُلَّمَا كَانَ أَكْثَرَ شَوْقًا إِلَى لِقَاءِ اللهِ وَرُؤْيَتِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَهَذَا الشَّوْقُ يَنْتُجُ عَنْ أَمْرَيْنِ: عَنْ مَعْرِفَةٍ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ كُلَّمَا كُنْتَ بِاللهِ أَعْرَفَ كُنْتَ أَشَدَّ اشْتِيَاقًا إِلَيْه وَالْأَمْرُ الثَّانِي: تَمَكُّنُ مَحَبَّتِهِ فِي قَلْبِكَ كُـلَّمَا كُنْتَ أَعْظَمَ مَحَبَّةً لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى كُـلَّمَا كَانَ شَوْقُكَ إِلَيْهِ أَعْظَمَ وَلِذَلِكَ جَاءَ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: أُحِبُّ الْمَوْتَ اشْتِيَاقًا إِلَى رَبِّي سُبْحَانَ اللهِ! شَأْنُهُمْ عَجِيبٌ، يَسْتَبْطِئُونَ الْمَوْتَ وَيَسْتَطِيلُونَ الْحَيَاةَ لِأَنَّهَا هِيَ الْحَائِلُ، هِيَ الْمَانِعُ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْوُصُولِ إِلَى اللَّذَّةِ الْعُظْمَى وَالْغَايَةِ الْكُبْرَى الَّتِي يَطْمَحُونَ إِلَيْهَا إِنَّهُ لَا رُؤْيَةَ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِلَّا فِي دَارِ الْآخِرَةِ وَلِذَلِكَ هُمْ أَعْظَمُ شَوْقًا إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَدْ نَقَلَ ابْنُ الْجَوْزِيِّ فِي صِفَةِ الصَّفْوَةِ عَنْ بَعْضِ الْعَابِدِينَ أَنَّهُ بَكَى سِتِّينَ سَنَةً شَوْقًا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَنَقَلَ ابْنُ رَجَبٍ عَنْ أَبِي عَنْبَسَةَ الْخَوْلَانِيِّ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ لِقَاءُ اللهِ أَحَبُّ إِلَيْهِمْ مِنَ الشَّهْدِ هَكَذَا النُّفُوسُ الْمُؤْمِنَةُ مُشْتَاقَةٌ إِلَى لِقَاءِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، مُجْتَهِدَةٌ فِي السَّعْيِ إِلَى مَا يُوْصِلُ إِلَيْهِ جَلَّ وَعَلَا وَأَمَّا مَنْ كَانَ عَلَى خِلَافِ ذَلِكَ فَإِنَّهُ فِي وَادٍ آخَرَ إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا هَذِهِ حَالُ مَنْ كَانَ مُعْرِضًا عَنِ اللهِ، مُعْرِضًا عَنْ طَاعَتِهِ، مُعْرِضًا عَنْ مَحَبَّتِهِ، يَبُوءُ بِالْخُسْرَانِ لَكِنَّ الَّذِينَ يَرْجُونَ لِقَاءَ اللهِ فَازُوا فَوْزًا عَظِيمًا، وَيَنْتَظِرُهُم نِعْمَةٌ كُبْرَى فَثَمْرَةُ هَذَا الشَّوْقِ أَنْ يَنَالُوا مَا تَمَنَّوْا وَمَا اشْتَاقُوا إِلَيْهِ وَهُوَ أَنْ يَمُنَّ اللهُ الْعَظِيمُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَيَأْذَنَ أَنْ يَرَاهُ هَؤُلَاءِ الْمُؤْمِنُونَ الْمُحِبُّونَ الصَّادِقُونَ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ، هَذَا الْمَوْضُوعُ حَرِيٌّ بِكَ يَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُ أَنْ تَتَأَمَّلَهُ فَإِنَّ هَذَا الْمَوْضُوعَ يُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ مِيزَانًا تَزِنُ بِهِ صَلَاحَ قَلْبِكَ مِنْ مَرَضِ قَلْبِكَ فَكُلَّمَا كَانَ قَلْبُكَ أَصَحَّ كَانَ الشَّوْقُ إِلَى رَبِّكَ أَعْظَمَ، وَالْعَكْسُ بِالْعَكْسِ فَهَنِيئًا لِمَنْ سَعَى وَاجْتَهَدَ وَرَاقَبَ نَفْسَهُ وَحَاسَبَهَا حَتَّى يَصِلَ إِلَى هَذَا الْأَمْرِ الْعَظِيمِ اجْعَلْ مِنْ أَهْدَافِكَ الْكُبْرَى فِي الْحَيَاةِ أَنْ تَصِلَ إِلَى هَذِهِ الرُّتْبَةِ الْعَظِيمَةِ وَهِيَ أَنْ تَشْتَاقَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَتَكُونَ مِمَّنْ يَرْجُو لِقَاءَهُ، وَمَنْ يُحِبُّ لِقَاءَهُ وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ

Apa Obat-Obat Terbesar untuk Hati yang Sakit – Syaikh Shalih As-Sindi #NasehatUlama

Ini pertanyaan yang agung. Pembahasannya memerlukan waktu yang panjang, yaitu: bagaimana aku bisa menjadi pemilik hati yang selamat (Qalbun Salim)? Perkara ini, tidak diragukan lagi, memerlukan perjuangan (mujahadah) yang besar. Tidak ada yang lebih berat untuk diobati oleh manusia daripada hatinya, karena hati itu sangat sering berbolak-balik. Karena hati juga sangat mudah terpengaruh, sementara faktor-faktor yang memengaruhi manusia di sekitarnya sangatlah banyak. Maka perkara ini memerlukan mujahadah (perjuangan). Bahkan, terkadang manusia memerlukan waktu yang panjang untuk mengobati hatinya yang sakit. Dan kita semua demikian, kecuali orang yang dirahmati Allah ‘Azza wa Jalla. Di antara sarana terbesar untuk mengobati hatimu adalah: berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menelaah ilmu yang bermanfaat, dan bersungguh-sungguh dalam meraihnya. Tidak ada cara untuk mengobati dirimu yang sebanding dengan ini: perbanyaklah berzikir kepada Allah, perbanyaklah pula membaca Al-Qur’an. Jadikan untuk dirimu wirid harian dari Al-Qur’an. Janganlah lalai dari Kitabullah, karena ia mampu melembutkan hati yang beku seperti batu, melembutkan hati yang keras seperti batu cadas. Maka bersungguh-sungguhlah membaca Al-Qur’an dan merenungkannya. Bersungguh-sungguhlah pula mempelajari ilmu yang bermanfaat. Di antara ilmu yang paling agung adalah tauhid. Jadikan hatimu terikat dengan ilmu ini. Banyaklah membaca tentang tauhid: ayat-ayatnya, hadis-hadisnya, dan penjelasan para ulama dalam menetapkannya. Sebab, hal itu akan membantumu meraih hati yang selamat (Qalbun Salim), insya Allah. Fokuslah kepada para ulama, yang mereka termasuk dokter-dokter hati, yaitu para ulama yang mengobati penyakit-penyakit hati. Maka para ulama, menelaah ucapan-ucapan mereka mengandung obat bagimu, insya Allah. Di antara ulama yang paling utama dalam hal ini adalah Ibnul Qayyim rahimahullah, dan siapa saja yang menempuh jalan ini, seperti Ibnu Rajab, Ibnu Sa’di, dan ulama semisal mereka. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga memiliki beberapa risalah yang bermanfaat dalam pembahasan perkara hati. Beliau memiliki kitab Amradhul Qulub, At-Tuhfah Al-‘Iraqiyyah, Qa’idah fil Mahabbah, dan beberapa risalah lainnya. Begitu pula kitab Al-Istiqamah. Kitab-kitab semacam ini, jika engkau memiliki hubungan dengannya, sering membacanya, dan sering menelaahnya, saya kira hal ini akan bermanfaat, insya Allah. Akan tetapi, sarana terbesar untuk mengobati dirimu adalah Kitabullah. Sarana terbesar untuk mengobati dirimu adalah Kitabullah ‘Azza wa Jalla. Maka bersungguh-sungguhlah terhadapnya. Renungkan pula Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kitab-kitab hadis, terutama yang berkaitan dengan hadis-hadis pelembut hati dan adab, tidaklah disusun hanya untuk orang awam saja, sebagaimana disangka oleh sebagian penuntut ilmu. Kitab-kitab itu bukan hanya untuk orang awam, dan bukan hanya untuk dibacakan kepada masyarakat umum setelah Salat Ashar. Justru orang yang paling layak memperhatikan kitab-kitab seperti ini adalah para penuntut ilmu. Hendaknya mereka membaca kitab-kitab tersebut. Dalam Riyadhush Shalihin, apa isi Riyadhush Shalihin? Tiada di dalamnya selain sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penulisnya telah menyusunnya dalam bab-bab yang rapi untukmu, dan sangat memperhatikan hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sahih, kecuali sedikit saja. Adapun secara umum, isi kitab Riyadhush Shalihin adalah hadis-hadis sahih. Maka kitab semacam ini seharusnya memiliki hubungan denganmu. Bacalah dan renungkanlah isinya. Saya teringat guru kami, Syaikh Rabi’ bin Hadi, semoga Allah memberinya taufik. Saya pernah mendengar beliau berkata dalam sebuah majelis, Di awal masa aku mulai istiqamah,” saat itu beliau masih pemuda belia, beliau berkata, “Dahulu aku membaca kitab Riyadhush Shalihin dan Al-Adzkar.” Beliau berkata, “Aku belum fokus membaca kitab-kitab Ibnul Qayyim atau yang lainnya. Aku hanya membaca dua kitab ini. Aku membacanya sambil menangis.” Beliau berkata, “Aku membaca seraya menangis.” Itu terjadi di awal masa meniti jalan ilmu, saat masih pemuda belia. Beliau berkata, “Aku membaca dua kitab ini dan menangis karena tersentuh oleh hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Maka jadikanlah dirimu memiliki hubungan dengan kitab-kitab semacam ini, terutama pada bab-bab tentang rasa takut kepada Allah (khauf), harapan kepada-Nya (raja’), dan pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semua ini adalah sebab-sebab yang akan membantumu, dengan taufik Allah Subhanahu wa Ta’ala, untuk memperbaiki hatimu. Juga dengan memperbanyak ketaatan, karena iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Kenalilah celah-celah yang dilalui setan untuk masuk kepadamu, lalu berusahalah menutupnya. Itu adalah pintu-pintu yang menjerumuskan menuju Jahanam. Kita berlindung kepada Allah darinya. Jadikan hidupmu sebagai perjuangan dan upaya untuk menutup pintu-pintu itu, mendaki tingkatan-tingkatan iman, dan berpindah dari keadaan yang baik menuju keadaan yang lebih baik. Perhatikanlah di mana posisimu dalam tingkatan-tingkatan agama. Jika engkau baru berada pada tingkatan Islam, mintalah kepada Allah untuk naik tingkatan agar menjadi golongan ahli iman. Kemudian bersungguh-sungguhlah lebih kuat lagi. Semoga Allah memberimu taufik untuk naik menuju tingkatan ihsan. Ini perkara-perkara besar yang seharusnya diperhatikan oleh manusia. Inilah hakikat hidupmu. Inilah tujuan hidupmu. Engkau tidaklah diciptakan sekadar untuk makan, minum, meraih ijazah, belajar, bekerja, menikah, atau perkara-perkara semacam itu. Hidup bagimu adalah ajang perjuangan (mujahadah). Engkau terus mendaki tingkatan-tingkatan kebaikan, keimanan, dan tauhid hingga detik terakhir dalam hidupmu. Saat itulah engkau akan menjumpai apa yang telah engkau amalkan. Engkau akan mendapati amalmu di hadapanmu, di negeri akhirat sana. Saya memohon kepada Allah agar memperbaiki hati-hati kita. “Wahai Rabb kami, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan orang-orang beriman, pada hari terjadinya hisab (Hari Kiamat).” (QS. Ibrahim: 41). ===== هَذَا سُؤَالٌ عَظِيمٌ، وَالْكَلَامُ فِيهِ يَحْتَاجُ إِلَى وَقْتٍ طَوِيلٍ وَهُوَ: كَيْفَ أَكُونُ صَاحِبَ قَلْبٍ سَلِيمٍ؟ الْأَمْرُ لَا شَكَّ يَحْتَاجُ إِلَى قَدْرٍ كَبِيرٍ مِنَ الْمُجَاهَدَةِ وَمَا عَالَجَ الْإِنْسَانُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيْهِ مِنْ قَلْبِهِ لِأَنَّهُ كَثِيرُ التَّقَلُّبِ وَلِأَنَّهُ كَثِيرُ التَّأَثُّرِ، وَلِأَنَّ الْمُؤَثِّرَاتِ فِيمَا حَوْلَ الْإِنْسَانِ كَثِيرَةٌ جِدًّا فَالْمَقَامُ يَحْتَاجُ إِلَى مُجَاهَدَةٍ وَرُبَّمَا يَحْتَاجُ أَيْضًا إِلَى وَقْتٍ طَوِيلٍ يُعَالِجُ الْإِنْسَانُ هَذَا الْقَلْبَ الْمَرِيضَ وَكُلُّنَا ذَلِكَ إِلَّا مَنْ رَحِمَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَمِنْ أَعْظَمِ مَا تُعَالِجُ بِهِ قَلْبَكَ ذِكْرُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَمُطَالَعَةُ الْعِلْمِ النَّافِعِ وَالِاجْتِهَادُ فِي تَحْصِيلِهِ فَمَا عَالَجْتَ نَفْسَكَ بِمِثْلِ هَذَا: أَكْثِرْ مِنْ ذِكْرِ اللهِ، مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ اجْعَلْ لِنَفْسِكَ وِرْدًا مِنَ الْقُرْآنِ لَا تُهْمِلْ كِتَابَ اللهِ، فَإِنَّهُ يُرَقِّقُ قَلْبًا جَامِدًا مِثْلَ الْجَلْمَدِ، يُرَقِّقُ قَلْبًا قَاسِيًا مِثْلَ الْجَلْمَدِ فَاجْتَهِدْ فِي تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَالتَّأَمُّلِ فِيهِ، وَاجْتَهِدْ فِي تَعَلُّمِ الْعِلْمِ النَّافِعِ وَمِنْ أَعْظَمِ ذَلِكَ: التَّوْحِيدُ اجْعَلْ قَلْبَكَ مُعَلَّقًا بِهَذَا الْعِلْمِ وَاقْرَأْ فِيهِ كَثِيرًا فِي آيَاتِهِ، فِي أَحَادِيثِهِ، فِي كَلَامِ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي تَقْرِيرِهِ فَإِنَّ هَذَا يُكْسِبُكَ ذَلِكَ إِنْ شَاءَ اللهُ وَرَكِّزْ عَلَى الْعُلَمَاءِ الَّذِينَ هُمْ مِنْ أَطِبَّاءِ الْقُلُوبِ الَّذِينَ يُعَالِجُونَ عِلَلَ الْقُلُوبِ فَهَؤُلَاءِ النَّظَرُ فِي كَلَامِهِمْ فِيهِ دَوَاءٌ لَكَ إِنْ شَاءَ اللهُ وَعَلَى رَأْسِ أُولَئِكَ: ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ، وَمَنْ سَارَ عَلَى هَذَا الطَّرِيقِ كَابْنِ رَجَبٍ، وَابْنِ سَعْدِيٍّ، وَأَمْثَالِ هَؤُلَاءِ شَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ لَهُ عِدَّةُ رَسَائِلَ نَافِعَةٍ فِي مَسْأَلَةِ الْقُلُوبِ عِنْدَهُ أَمْرَاضُ الْقُلُوبِ، وَعِنْدَهُ التُّحْفَةُ الْعِرَاقِيَّةُ، وَعِنْدَهُ قَاعِدَةٌ فِي الْمَحَبَّةِ، وَعِنْدَهُ عِدَّةُ رَسَائِلَ، كِتَابُ الِاسْتِقَامَةِ أَيْضًا مِثْلُ هَذِهِ الْكُتُبِ لَوْ كَانَ لَكَ بِهَا صِلَةٌ وَقِرَاءَاتٌ وَجَوْلَاتٌ، أَظُنُّ أَنَّ هَذَا سَيَنْفَعُ إِنْ شَاءَ اللهُ لَكِنْ أَعْظَمُ مَا تُعَالِجُ بِهِ نَفْسَكَ كِتَابُ اللهِ أَعْظَمُ مَا تُعَالِجُ بِهِ نَفْسَكَ كِتَابُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَاحْرِصْ عَلَيْهِ وَتَأَمَّلْ أَيْضًا فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَذِهِ الْكُتُبُ الْمُصَنَّفَةُ فِي الْحَدِيثِ، لَا سِيَّمَا الَّتِي تَتَعَلَّقُ بِأَحَادِيثِ الرَّقَائِقِ وَالْآدَابِ، هَذِهِ لَيْسَتْ مُصَنَّفَةً لِلْعَوَامِّ فَحَسْبُ كَمَا يَظُنُّ ذَلِكَ مَنْ يَظُنُّهُ مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ هَذِهِ لَيْسَتْ لِلْعَوَامِّ، وَلَيْسَتْ لِلْقِرَاءَةِ بَعْدَ صَلَاةِ الْعَصْرِ لِلْعَامَّةِ فَقَطْ بَلْ أَوْلَى النَّاسِ الَّذِينَ يَنْبَغِي أَنْ يَعْتَنُوا بِهَذِهِ الْكُتُبِ طَلَبَةُ الْعِلْمِ، أَنْ يَقْرَؤُوا فِيهَا فِي رِيَاضِ الصَّالِحِينَ، مَاذَا فِي رِيَاضِ الصَّالِحِينَ؟ لَيْسَ فِيهِ إِلَّا كَلَامُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَوَّبَهُ لَكَ تَبْوِيبًا، وَاعْتَنَى بِصَحِيحِ حَدِيثِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا نَزْرًا يَسِيرًا وَإِلَّا عَامَّةُ مَا فِيهِ فَأَحَادِيثُ صَحِيحَةٌ فَمِثْلُ هَذَا الْكِتَابِ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ لَكَ بِهِ صِلَةٌ، اقْرَأْ فِيهِ وَتَأَمَّلْ وَأَذْكُرُ أَنَّ شَيْخَنَا الشَّيْخَ رَبِيعَ بْنَ هَادِي وَفَّقَهُ اللهُ يَقُولُ، سَمِعْتُهُ مَرَّةً فِي مَجْلِسٍ يَقُولُ أَوَّلُ مَا اسْتَقَمْتُ، وَكَانَ شَابًّا صَغِيرًا، يَقُولُ: كُنْتُ أَقْرَأُ فِي رِيَاضِ الصَّالِحِينَ وَفِي الْأَذْكَارِ يَقُولُ: مَا اعْتَنَيْتُ بِقِرَاءَةِ كُتُبِ ابْنِ الْقَيِّمِ أَوْ غَيْرِهِ، إِنَّمَا كُنْتُ أَقْرَأُ فِي هَذَيْنِ الْكِتَابَيْنِ، وَكُنْتُ أَقْرَأُ وَأَبْكِي يَقُولُ: كُنْتُ أَقْرَأُ وَأَبْكِي أَوَّلَ مَا تَنَسَّبَ، وَهُوَ شَابٌّ صَغِيرٌ يَقُولُ: أَقْرَأُ فِي هَذَيْنِ الْكِتَابَيْنِ وَأَبْكِي تَأَثُّرًا بِأَحَادِيثِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاجْعَلْ لَكَ صِلَةً بِمِثْلِ هَذِهِ الْكُتُبِ فِي أَبْوَابِ الْخَوْفِ وَأَبْوَابِ الرَّجَاءِ وَتَعْظِيمِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَهَذِهِ أَسْبَابٌ تُعِينُكَ بِتَوْفِيقِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى صَلَاحِ قَلْبِكَ وَالْإِكْثَارُ مِنَ الطَّاعَاتِ الْإِيمَانُ يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ اعْرَفِ الثُّغْرَاتِ الَّتِي يَدْخُلُ الشَّيْطَانُ إِلَيْكَ مِنْ خِلَالِهَا، وَاسْعَ فِي إِغْلَاقِهَا هَذِهِ أَبْوَابٌ تُؤَدِّي إِلَى جَهَنَّمَ نَعُوذُ بِاللهِ مِنْهَا فَاجْعَلْ حَيَاتَكَ جِهَادًا وَسَعْيًا فِي إِغْلَاقِ هَذِهِ الْأَبْوَابِ، وَالتَّرَقِّي فِي مَدَارِجِ الْإِيمَانِ وَالانْتِقَالِ مِنْ حَسَنٍ إِلَى أَحْسَنَ انْظُرْ أَيْنَ أَنْتَ فِي مَرَاتِبِ الدِّينِ إِذَا كُنْتَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ فَاسْأَلْ أَنْ تَرْتَقِيَ لِتَكُونَ مِنْ أَهْلِ الْإِيمَانِ ثُمَّ اجْتَهِدْ أَكْثَرَ لَعَلَّ اللهَ أَنْ يُوَفِّقَكَ لِتَرْتَقِيَ إِلَى مَرْتَبَةِ الْإِحْسَانِ هَذِهِ أُمُورٌ عَظِيمَةٌ يَنْبَغِي أَنْ يَعْتَنِيَ بِهَا الْإِنْسَانُ، هَذِهِ حَقِيقَةُ حَيَاتِكَ، هَذِهِ هِيَ الْغَايَةُ مِنْ حَيَاتِكَ مَا خُلِقْتَ لَا لِطَعَامٍ، وَلَا لِشَرَابٍ، وَلَا لِشَهَادَةٍ، وَلَا لِدِرَاسَةٍ، وَلَا لِوَظِيفَةٍ، وَلَا لِزَوَاجٍ، وَلَا لِشَيْءٍ مِنْ هَذَا الْحَيَاةُ بِالنِّسْبَةِ لَكَ مُجَاهَدَةٌ تَتَرَقَّى فِي مَدَارِجِ الْخَيْرِ وَالْإِيمَانِ وَالتَّوْحِيدِ إِلَى اللَّحْظَةِ الْأَخِيرَةِ فِي حَيَاتِكَ وَعِنْدَهَا سَتُلَاقِي مَا عَمِلْتَ سَوْفَ تَجِدُ مَا عَمِلْتَ أَمَامَكَ هُنَاكَ فِي تِلْكَ الدَّارِ الْآخِرَةِ أَسْأَلُ اللهَ أَنْ يُصْلِحَ قُلُوبَنَا رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

Apa Obat-Obat Terbesar untuk Hati yang Sakit – Syaikh Shalih As-Sindi #NasehatUlama

Ini pertanyaan yang agung. Pembahasannya memerlukan waktu yang panjang, yaitu: bagaimana aku bisa menjadi pemilik hati yang selamat (Qalbun Salim)? Perkara ini, tidak diragukan lagi, memerlukan perjuangan (mujahadah) yang besar. Tidak ada yang lebih berat untuk diobati oleh manusia daripada hatinya, karena hati itu sangat sering berbolak-balik. Karena hati juga sangat mudah terpengaruh, sementara faktor-faktor yang memengaruhi manusia di sekitarnya sangatlah banyak. Maka perkara ini memerlukan mujahadah (perjuangan). Bahkan, terkadang manusia memerlukan waktu yang panjang untuk mengobati hatinya yang sakit. Dan kita semua demikian, kecuali orang yang dirahmati Allah ‘Azza wa Jalla. Di antara sarana terbesar untuk mengobati hatimu adalah: berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menelaah ilmu yang bermanfaat, dan bersungguh-sungguh dalam meraihnya. Tidak ada cara untuk mengobati dirimu yang sebanding dengan ini: perbanyaklah berzikir kepada Allah, perbanyaklah pula membaca Al-Qur’an. Jadikan untuk dirimu wirid harian dari Al-Qur’an. Janganlah lalai dari Kitabullah, karena ia mampu melembutkan hati yang beku seperti batu, melembutkan hati yang keras seperti batu cadas. Maka bersungguh-sungguhlah membaca Al-Qur’an dan merenungkannya. Bersungguh-sungguhlah pula mempelajari ilmu yang bermanfaat. Di antara ilmu yang paling agung adalah tauhid. Jadikan hatimu terikat dengan ilmu ini. Banyaklah membaca tentang tauhid: ayat-ayatnya, hadis-hadisnya, dan penjelasan para ulama dalam menetapkannya. Sebab, hal itu akan membantumu meraih hati yang selamat (Qalbun Salim), insya Allah. Fokuslah kepada para ulama, yang mereka termasuk dokter-dokter hati, yaitu para ulama yang mengobati penyakit-penyakit hati. Maka para ulama, menelaah ucapan-ucapan mereka mengandung obat bagimu, insya Allah. Di antara ulama yang paling utama dalam hal ini adalah Ibnul Qayyim rahimahullah, dan siapa saja yang menempuh jalan ini, seperti Ibnu Rajab, Ibnu Sa’di, dan ulama semisal mereka. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga memiliki beberapa risalah yang bermanfaat dalam pembahasan perkara hati. Beliau memiliki kitab Amradhul Qulub, At-Tuhfah Al-‘Iraqiyyah, Qa’idah fil Mahabbah, dan beberapa risalah lainnya. Begitu pula kitab Al-Istiqamah. Kitab-kitab semacam ini, jika engkau memiliki hubungan dengannya, sering membacanya, dan sering menelaahnya, saya kira hal ini akan bermanfaat, insya Allah. Akan tetapi, sarana terbesar untuk mengobati dirimu adalah Kitabullah. Sarana terbesar untuk mengobati dirimu adalah Kitabullah ‘Azza wa Jalla. Maka bersungguh-sungguhlah terhadapnya. Renungkan pula Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kitab-kitab hadis, terutama yang berkaitan dengan hadis-hadis pelembut hati dan adab, tidaklah disusun hanya untuk orang awam saja, sebagaimana disangka oleh sebagian penuntut ilmu. Kitab-kitab itu bukan hanya untuk orang awam, dan bukan hanya untuk dibacakan kepada masyarakat umum setelah Salat Ashar. Justru orang yang paling layak memperhatikan kitab-kitab seperti ini adalah para penuntut ilmu. Hendaknya mereka membaca kitab-kitab tersebut. Dalam Riyadhush Shalihin, apa isi Riyadhush Shalihin? Tiada di dalamnya selain sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penulisnya telah menyusunnya dalam bab-bab yang rapi untukmu, dan sangat memperhatikan hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sahih, kecuali sedikit saja. Adapun secara umum, isi kitab Riyadhush Shalihin adalah hadis-hadis sahih. Maka kitab semacam ini seharusnya memiliki hubungan denganmu. Bacalah dan renungkanlah isinya. Saya teringat guru kami, Syaikh Rabi’ bin Hadi, semoga Allah memberinya taufik. Saya pernah mendengar beliau berkata dalam sebuah majelis, Di awal masa aku mulai istiqamah,” saat itu beliau masih pemuda belia, beliau berkata, “Dahulu aku membaca kitab Riyadhush Shalihin dan Al-Adzkar.” Beliau berkata, “Aku belum fokus membaca kitab-kitab Ibnul Qayyim atau yang lainnya. Aku hanya membaca dua kitab ini. Aku membacanya sambil menangis.” Beliau berkata, “Aku membaca seraya menangis.” Itu terjadi di awal masa meniti jalan ilmu, saat masih pemuda belia. Beliau berkata, “Aku membaca dua kitab ini dan menangis karena tersentuh oleh hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Maka jadikanlah dirimu memiliki hubungan dengan kitab-kitab semacam ini, terutama pada bab-bab tentang rasa takut kepada Allah (khauf), harapan kepada-Nya (raja’), dan pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semua ini adalah sebab-sebab yang akan membantumu, dengan taufik Allah Subhanahu wa Ta’ala, untuk memperbaiki hatimu. Juga dengan memperbanyak ketaatan, karena iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Kenalilah celah-celah yang dilalui setan untuk masuk kepadamu, lalu berusahalah menutupnya. Itu adalah pintu-pintu yang menjerumuskan menuju Jahanam. Kita berlindung kepada Allah darinya. Jadikan hidupmu sebagai perjuangan dan upaya untuk menutup pintu-pintu itu, mendaki tingkatan-tingkatan iman, dan berpindah dari keadaan yang baik menuju keadaan yang lebih baik. Perhatikanlah di mana posisimu dalam tingkatan-tingkatan agama. Jika engkau baru berada pada tingkatan Islam, mintalah kepada Allah untuk naik tingkatan agar menjadi golongan ahli iman. Kemudian bersungguh-sungguhlah lebih kuat lagi. Semoga Allah memberimu taufik untuk naik menuju tingkatan ihsan. Ini perkara-perkara besar yang seharusnya diperhatikan oleh manusia. Inilah hakikat hidupmu. Inilah tujuan hidupmu. Engkau tidaklah diciptakan sekadar untuk makan, minum, meraih ijazah, belajar, bekerja, menikah, atau perkara-perkara semacam itu. Hidup bagimu adalah ajang perjuangan (mujahadah). Engkau terus mendaki tingkatan-tingkatan kebaikan, keimanan, dan tauhid hingga detik terakhir dalam hidupmu. Saat itulah engkau akan menjumpai apa yang telah engkau amalkan. Engkau akan mendapati amalmu di hadapanmu, di negeri akhirat sana. Saya memohon kepada Allah agar memperbaiki hati-hati kita. “Wahai Rabb kami, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan orang-orang beriman, pada hari terjadinya hisab (Hari Kiamat).” (QS. Ibrahim: 41). ===== هَذَا سُؤَالٌ عَظِيمٌ، وَالْكَلَامُ فِيهِ يَحْتَاجُ إِلَى وَقْتٍ طَوِيلٍ وَهُوَ: كَيْفَ أَكُونُ صَاحِبَ قَلْبٍ سَلِيمٍ؟ الْأَمْرُ لَا شَكَّ يَحْتَاجُ إِلَى قَدْرٍ كَبِيرٍ مِنَ الْمُجَاهَدَةِ وَمَا عَالَجَ الْإِنْسَانُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيْهِ مِنْ قَلْبِهِ لِأَنَّهُ كَثِيرُ التَّقَلُّبِ وَلِأَنَّهُ كَثِيرُ التَّأَثُّرِ، وَلِأَنَّ الْمُؤَثِّرَاتِ فِيمَا حَوْلَ الْإِنْسَانِ كَثِيرَةٌ جِدًّا فَالْمَقَامُ يَحْتَاجُ إِلَى مُجَاهَدَةٍ وَرُبَّمَا يَحْتَاجُ أَيْضًا إِلَى وَقْتٍ طَوِيلٍ يُعَالِجُ الْإِنْسَانُ هَذَا الْقَلْبَ الْمَرِيضَ وَكُلُّنَا ذَلِكَ إِلَّا مَنْ رَحِمَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَمِنْ أَعْظَمِ مَا تُعَالِجُ بِهِ قَلْبَكَ ذِكْرُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَمُطَالَعَةُ الْعِلْمِ النَّافِعِ وَالِاجْتِهَادُ فِي تَحْصِيلِهِ فَمَا عَالَجْتَ نَفْسَكَ بِمِثْلِ هَذَا: أَكْثِرْ مِنْ ذِكْرِ اللهِ، مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ اجْعَلْ لِنَفْسِكَ وِرْدًا مِنَ الْقُرْآنِ لَا تُهْمِلْ كِتَابَ اللهِ، فَإِنَّهُ يُرَقِّقُ قَلْبًا جَامِدًا مِثْلَ الْجَلْمَدِ، يُرَقِّقُ قَلْبًا قَاسِيًا مِثْلَ الْجَلْمَدِ فَاجْتَهِدْ فِي تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَالتَّأَمُّلِ فِيهِ، وَاجْتَهِدْ فِي تَعَلُّمِ الْعِلْمِ النَّافِعِ وَمِنْ أَعْظَمِ ذَلِكَ: التَّوْحِيدُ اجْعَلْ قَلْبَكَ مُعَلَّقًا بِهَذَا الْعِلْمِ وَاقْرَأْ فِيهِ كَثِيرًا فِي آيَاتِهِ، فِي أَحَادِيثِهِ، فِي كَلَامِ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي تَقْرِيرِهِ فَإِنَّ هَذَا يُكْسِبُكَ ذَلِكَ إِنْ شَاءَ اللهُ وَرَكِّزْ عَلَى الْعُلَمَاءِ الَّذِينَ هُمْ مِنْ أَطِبَّاءِ الْقُلُوبِ الَّذِينَ يُعَالِجُونَ عِلَلَ الْقُلُوبِ فَهَؤُلَاءِ النَّظَرُ فِي كَلَامِهِمْ فِيهِ دَوَاءٌ لَكَ إِنْ شَاءَ اللهُ وَعَلَى رَأْسِ أُولَئِكَ: ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ، وَمَنْ سَارَ عَلَى هَذَا الطَّرِيقِ كَابْنِ رَجَبٍ، وَابْنِ سَعْدِيٍّ، وَأَمْثَالِ هَؤُلَاءِ شَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ لَهُ عِدَّةُ رَسَائِلَ نَافِعَةٍ فِي مَسْأَلَةِ الْقُلُوبِ عِنْدَهُ أَمْرَاضُ الْقُلُوبِ، وَعِنْدَهُ التُّحْفَةُ الْعِرَاقِيَّةُ، وَعِنْدَهُ قَاعِدَةٌ فِي الْمَحَبَّةِ، وَعِنْدَهُ عِدَّةُ رَسَائِلَ، كِتَابُ الِاسْتِقَامَةِ أَيْضًا مِثْلُ هَذِهِ الْكُتُبِ لَوْ كَانَ لَكَ بِهَا صِلَةٌ وَقِرَاءَاتٌ وَجَوْلَاتٌ، أَظُنُّ أَنَّ هَذَا سَيَنْفَعُ إِنْ شَاءَ اللهُ لَكِنْ أَعْظَمُ مَا تُعَالِجُ بِهِ نَفْسَكَ كِتَابُ اللهِ أَعْظَمُ مَا تُعَالِجُ بِهِ نَفْسَكَ كِتَابُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَاحْرِصْ عَلَيْهِ وَتَأَمَّلْ أَيْضًا فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَذِهِ الْكُتُبُ الْمُصَنَّفَةُ فِي الْحَدِيثِ، لَا سِيَّمَا الَّتِي تَتَعَلَّقُ بِأَحَادِيثِ الرَّقَائِقِ وَالْآدَابِ، هَذِهِ لَيْسَتْ مُصَنَّفَةً لِلْعَوَامِّ فَحَسْبُ كَمَا يَظُنُّ ذَلِكَ مَنْ يَظُنُّهُ مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ هَذِهِ لَيْسَتْ لِلْعَوَامِّ، وَلَيْسَتْ لِلْقِرَاءَةِ بَعْدَ صَلَاةِ الْعَصْرِ لِلْعَامَّةِ فَقَطْ بَلْ أَوْلَى النَّاسِ الَّذِينَ يَنْبَغِي أَنْ يَعْتَنُوا بِهَذِهِ الْكُتُبِ طَلَبَةُ الْعِلْمِ، أَنْ يَقْرَؤُوا فِيهَا فِي رِيَاضِ الصَّالِحِينَ، مَاذَا فِي رِيَاضِ الصَّالِحِينَ؟ لَيْسَ فِيهِ إِلَّا كَلَامُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَوَّبَهُ لَكَ تَبْوِيبًا، وَاعْتَنَى بِصَحِيحِ حَدِيثِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا نَزْرًا يَسِيرًا وَإِلَّا عَامَّةُ مَا فِيهِ فَأَحَادِيثُ صَحِيحَةٌ فَمِثْلُ هَذَا الْكِتَابِ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ لَكَ بِهِ صِلَةٌ، اقْرَأْ فِيهِ وَتَأَمَّلْ وَأَذْكُرُ أَنَّ شَيْخَنَا الشَّيْخَ رَبِيعَ بْنَ هَادِي وَفَّقَهُ اللهُ يَقُولُ، سَمِعْتُهُ مَرَّةً فِي مَجْلِسٍ يَقُولُ أَوَّلُ مَا اسْتَقَمْتُ، وَكَانَ شَابًّا صَغِيرًا، يَقُولُ: كُنْتُ أَقْرَأُ فِي رِيَاضِ الصَّالِحِينَ وَفِي الْأَذْكَارِ يَقُولُ: مَا اعْتَنَيْتُ بِقِرَاءَةِ كُتُبِ ابْنِ الْقَيِّمِ أَوْ غَيْرِهِ، إِنَّمَا كُنْتُ أَقْرَأُ فِي هَذَيْنِ الْكِتَابَيْنِ، وَكُنْتُ أَقْرَأُ وَأَبْكِي يَقُولُ: كُنْتُ أَقْرَأُ وَأَبْكِي أَوَّلَ مَا تَنَسَّبَ، وَهُوَ شَابٌّ صَغِيرٌ يَقُولُ: أَقْرَأُ فِي هَذَيْنِ الْكِتَابَيْنِ وَأَبْكِي تَأَثُّرًا بِأَحَادِيثِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاجْعَلْ لَكَ صِلَةً بِمِثْلِ هَذِهِ الْكُتُبِ فِي أَبْوَابِ الْخَوْفِ وَأَبْوَابِ الرَّجَاءِ وَتَعْظِيمِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَهَذِهِ أَسْبَابٌ تُعِينُكَ بِتَوْفِيقِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى صَلَاحِ قَلْبِكَ وَالْإِكْثَارُ مِنَ الطَّاعَاتِ الْإِيمَانُ يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ اعْرَفِ الثُّغْرَاتِ الَّتِي يَدْخُلُ الشَّيْطَانُ إِلَيْكَ مِنْ خِلَالِهَا، وَاسْعَ فِي إِغْلَاقِهَا هَذِهِ أَبْوَابٌ تُؤَدِّي إِلَى جَهَنَّمَ نَعُوذُ بِاللهِ مِنْهَا فَاجْعَلْ حَيَاتَكَ جِهَادًا وَسَعْيًا فِي إِغْلَاقِ هَذِهِ الْأَبْوَابِ، وَالتَّرَقِّي فِي مَدَارِجِ الْإِيمَانِ وَالانْتِقَالِ مِنْ حَسَنٍ إِلَى أَحْسَنَ انْظُرْ أَيْنَ أَنْتَ فِي مَرَاتِبِ الدِّينِ إِذَا كُنْتَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ فَاسْأَلْ أَنْ تَرْتَقِيَ لِتَكُونَ مِنْ أَهْلِ الْإِيمَانِ ثُمَّ اجْتَهِدْ أَكْثَرَ لَعَلَّ اللهَ أَنْ يُوَفِّقَكَ لِتَرْتَقِيَ إِلَى مَرْتَبَةِ الْإِحْسَانِ هَذِهِ أُمُورٌ عَظِيمَةٌ يَنْبَغِي أَنْ يَعْتَنِيَ بِهَا الْإِنْسَانُ، هَذِهِ حَقِيقَةُ حَيَاتِكَ، هَذِهِ هِيَ الْغَايَةُ مِنْ حَيَاتِكَ مَا خُلِقْتَ لَا لِطَعَامٍ، وَلَا لِشَرَابٍ، وَلَا لِشَهَادَةٍ، وَلَا لِدِرَاسَةٍ، وَلَا لِوَظِيفَةٍ، وَلَا لِزَوَاجٍ، وَلَا لِشَيْءٍ مِنْ هَذَا الْحَيَاةُ بِالنِّسْبَةِ لَكَ مُجَاهَدَةٌ تَتَرَقَّى فِي مَدَارِجِ الْخَيْرِ وَالْإِيمَانِ وَالتَّوْحِيدِ إِلَى اللَّحْظَةِ الْأَخِيرَةِ فِي حَيَاتِكَ وَعِنْدَهَا سَتُلَاقِي مَا عَمِلْتَ سَوْفَ تَجِدُ مَا عَمِلْتَ أَمَامَكَ هُنَاكَ فِي تِلْكَ الدَّارِ الْآخِرَةِ أَسْأَلُ اللهَ أَنْ يُصْلِحَ قُلُوبَنَا رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
Ini pertanyaan yang agung. Pembahasannya memerlukan waktu yang panjang, yaitu: bagaimana aku bisa menjadi pemilik hati yang selamat (Qalbun Salim)? Perkara ini, tidak diragukan lagi, memerlukan perjuangan (mujahadah) yang besar. Tidak ada yang lebih berat untuk diobati oleh manusia daripada hatinya, karena hati itu sangat sering berbolak-balik. Karena hati juga sangat mudah terpengaruh, sementara faktor-faktor yang memengaruhi manusia di sekitarnya sangatlah banyak. Maka perkara ini memerlukan mujahadah (perjuangan). Bahkan, terkadang manusia memerlukan waktu yang panjang untuk mengobati hatinya yang sakit. Dan kita semua demikian, kecuali orang yang dirahmati Allah ‘Azza wa Jalla. Di antara sarana terbesar untuk mengobati hatimu adalah: berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menelaah ilmu yang bermanfaat, dan bersungguh-sungguh dalam meraihnya. Tidak ada cara untuk mengobati dirimu yang sebanding dengan ini: perbanyaklah berzikir kepada Allah, perbanyaklah pula membaca Al-Qur’an. Jadikan untuk dirimu wirid harian dari Al-Qur’an. Janganlah lalai dari Kitabullah, karena ia mampu melembutkan hati yang beku seperti batu, melembutkan hati yang keras seperti batu cadas. Maka bersungguh-sungguhlah membaca Al-Qur’an dan merenungkannya. Bersungguh-sungguhlah pula mempelajari ilmu yang bermanfaat. Di antara ilmu yang paling agung adalah tauhid. Jadikan hatimu terikat dengan ilmu ini. Banyaklah membaca tentang tauhid: ayat-ayatnya, hadis-hadisnya, dan penjelasan para ulama dalam menetapkannya. Sebab, hal itu akan membantumu meraih hati yang selamat (Qalbun Salim), insya Allah. Fokuslah kepada para ulama, yang mereka termasuk dokter-dokter hati, yaitu para ulama yang mengobati penyakit-penyakit hati. Maka para ulama, menelaah ucapan-ucapan mereka mengandung obat bagimu, insya Allah. Di antara ulama yang paling utama dalam hal ini adalah Ibnul Qayyim rahimahullah, dan siapa saja yang menempuh jalan ini, seperti Ibnu Rajab, Ibnu Sa’di, dan ulama semisal mereka. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga memiliki beberapa risalah yang bermanfaat dalam pembahasan perkara hati. Beliau memiliki kitab Amradhul Qulub, At-Tuhfah Al-‘Iraqiyyah, Qa’idah fil Mahabbah, dan beberapa risalah lainnya. Begitu pula kitab Al-Istiqamah. Kitab-kitab semacam ini, jika engkau memiliki hubungan dengannya, sering membacanya, dan sering menelaahnya, saya kira hal ini akan bermanfaat, insya Allah. Akan tetapi, sarana terbesar untuk mengobati dirimu adalah Kitabullah. Sarana terbesar untuk mengobati dirimu adalah Kitabullah ‘Azza wa Jalla. Maka bersungguh-sungguhlah terhadapnya. Renungkan pula Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kitab-kitab hadis, terutama yang berkaitan dengan hadis-hadis pelembut hati dan adab, tidaklah disusun hanya untuk orang awam saja, sebagaimana disangka oleh sebagian penuntut ilmu. Kitab-kitab itu bukan hanya untuk orang awam, dan bukan hanya untuk dibacakan kepada masyarakat umum setelah Salat Ashar. Justru orang yang paling layak memperhatikan kitab-kitab seperti ini adalah para penuntut ilmu. Hendaknya mereka membaca kitab-kitab tersebut. Dalam Riyadhush Shalihin, apa isi Riyadhush Shalihin? Tiada di dalamnya selain sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penulisnya telah menyusunnya dalam bab-bab yang rapi untukmu, dan sangat memperhatikan hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sahih, kecuali sedikit saja. Adapun secara umum, isi kitab Riyadhush Shalihin adalah hadis-hadis sahih. Maka kitab semacam ini seharusnya memiliki hubungan denganmu. Bacalah dan renungkanlah isinya. Saya teringat guru kami, Syaikh Rabi’ bin Hadi, semoga Allah memberinya taufik. Saya pernah mendengar beliau berkata dalam sebuah majelis, Di awal masa aku mulai istiqamah,” saat itu beliau masih pemuda belia, beliau berkata, “Dahulu aku membaca kitab Riyadhush Shalihin dan Al-Adzkar.” Beliau berkata, “Aku belum fokus membaca kitab-kitab Ibnul Qayyim atau yang lainnya. Aku hanya membaca dua kitab ini. Aku membacanya sambil menangis.” Beliau berkata, “Aku membaca seraya menangis.” Itu terjadi di awal masa meniti jalan ilmu, saat masih pemuda belia. Beliau berkata, “Aku membaca dua kitab ini dan menangis karena tersentuh oleh hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Maka jadikanlah dirimu memiliki hubungan dengan kitab-kitab semacam ini, terutama pada bab-bab tentang rasa takut kepada Allah (khauf), harapan kepada-Nya (raja’), dan pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semua ini adalah sebab-sebab yang akan membantumu, dengan taufik Allah Subhanahu wa Ta’ala, untuk memperbaiki hatimu. Juga dengan memperbanyak ketaatan, karena iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Kenalilah celah-celah yang dilalui setan untuk masuk kepadamu, lalu berusahalah menutupnya. Itu adalah pintu-pintu yang menjerumuskan menuju Jahanam. Kita berlindung kepada Allah darinya. Jadikan hidupmu sebagai perjuangan dan upaya untuk menutup pintu-pintu itu, mendaki tingkatan-tingkatan iman, dan berpindah dari keadaan yang baik menuju keadaan yang lebih baik. Perhatikanlah di mana posisimu dalam tingkatan-tingkatan agama. Jika engkau baru berada pada tingkatan Islam, mintalah kepada Allah untuk naik tingkatan agar menjadi golongan ahli iman. Kemudian bersungguh-sungguhlah lebih kuat lagi. Semoga Allah memberimu taufik untuk naik menuju tingkatan ihsan. Ini perkara-perkara besar yang seharusnya diperhatikan oleh manusia. Inilah hakikat hidupmu. Inilah tujuan hidupmu. Engkau tidaklah diciptakan sekadar untuk makan, minum, meraih ijazah, belajar, bekerja, menikah, atau perkara-perkara semacam itu. Hidup bagimu adalah ajang perjuangan (mujahadah). Engkau terus mendaki tingkatan-tingkatan kebaikan, keimanan, dan tauhid hingga detik terakhir dalam hidupmu. Saat itulah engkau akan menjumpai apa yang telah engkau amalkan. Engkau akan mendapati amalmu di hadapanmu, di negeri akhirat sana. Saya memohon kepada Allah agar memperbaiki hati-hati kita. “Wahai Rabb kami, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan orang-orang beriman, pada hari terjadinya hisab (Hari Kiamat).” (QS. Ibrahim: 41). ===== هَذَا سُؤَالٌ عَظِيمٌ، وَالْكَلَامُ فِيهِ يَحْتَاجُ إِلَى وَقْتٍ طَوِيلٍ وَهُوَ: كَيْفَ أَكُونُ صَاحِبَ قَلْبٍ سَلِيمٍ؟ الْأَمْرُ لَا شَكَّ يَحْتَاجُ إِلَى قَدْرٍ كَبِيرٍ مِنَ الْمُجَاهَدَةِ وَمَا عَالَجَ الْإِنْسَانُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيْهِ مِنْ قَلْبِهِ لِأَنَّهُ كَثِيرُ التَّقَلُّبِ وَلِأَنَّهُ كَثِيرُ التَّأَثُّرِ، وَلِأَنَّ الْمُؤَثِّرَاتِ فِيمَا حَوْلَ الْإِنْسَانِ كَثِيرَةٌ جِدًّا فَالْمَقَامُ يَحْتَاجُ إِلَى مُجَاهَدَةٍ وَرُبَّمَا يَحْتَاجُ أَيْضًا إِلَى وَقْتٍ طَوِيلٍ يُعَالِجُ الْإِنْسَانُ هَذَا الْقَلْبَ الْمَرِيضَ وَكُلُّنَا ذَلِكَ إِلَّا مَنْ رَحِمَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَمِنْ أَعْظَمِ مَا تُعَالِجُ بِهِ قَلْبَكَ ذِكْرُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَمُطَالَعَةُ الْعِلْمِ النَّافِعِ وَالِاجْتِهَادُ فِي تَحْصِيلِهِ فَمَا عَالَجْتَ نَفْسَكَ بِمِثْلِ هَذَا: أَكْثِرْ مِنْ ذِكْرِ اللهِ، مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ اجْعَلْ لِنَفْسِكَ وِرْدًا مِنَ الْقُرْآنِ لَا تُهْمِلْ كِتَابَ اللهِ، فَإِنَّهُ يُرَقِّقُ قَلْبًا جَامِدًا مِثْلَ الْجَلْمَدِ، يُرَقِّقُ قَلْبًا قَاسِيًا مِثْلَ الْجَلْمَدِ فَاجْتَهِدْ فِي تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَالتَّأَمُّلِ فِيهِ، وَاجْتَهِدْ فِي تَعَلُّمِ الْعِلْمِ النَّافِعِ وَمِنْ أَعْظَمِ ذَلِكَ: التَّوْحِيدُ اجْعَلْ قَلْبَكَ مُعَلَّقًا بِهَذَا الْعِلْمِ وَاقْرَأْ فِيهِ كَثِيرًا فِي آيَاتِهِ، فِي أَحَادِيثِهِ، فِي كَلَامِ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي تَقْرِيرِهِ فَإِنَّ هَذَا يُكْسِبُكَ ذَلِكَ إِنْ شَاءَ اللهُ وَرَكِّزْ عَلَى الْعُلَمَاءِ الَّذِينَ هُمْ مِنْ أَطِبَّاءِ الْقُلُوبِ الَّذِينَ يُعَالِجُونَ عِلَلَ الْقُلُوبِ فَهَؤُلَاءِ النَّظَرُ فِي كَلَامِهِمْ فِيهِ دَوَاءٌ لَكَ إِنْ شَاءَ اللهُ وَعَلَى رَأْسِ أُولَئِكَ: ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ، وَمَنْ سَارَ عَلَى هَذَا الطَّرِيقِ كَابْنِ رَجَبٍ، وَابْنِ سَعْدِيٍّ، وَأَمْثَالِ هَؤُلَاءِ شَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ لَهُ عِدَّةُ رَسَائِلَ نَافِعَةٍ فِي مَسْأَلَةِ الْقُلُوبِ عِنْدَهُ أَمْرَاضُ الْقُلُوبِ، وَعِنْدَهُ التُّحْفَةُ الْعِرَاقِيَّةُ، وَعِنْدَهُ قَاعِدَةٌ فِي الْمَحَبَّةِ، وَعِنْدَهُ عِدَّةُ رَسَائِلَ، كِتَابُ الِاسْتِقَامَةِ أَيْضًا مِثْلُ هَذِهِ الْكُتُبِ لَوْ كَانَ لَكَ بِهَا صِلَةٌ وَقِرَاءَاتٌ وَجَوْلَاتٌ، أَظُنُّ أَنَّ هَذَا سَيَنْفَعُ إِنْ شَاءَ اللهُ لَكِنْ أَعْظَمُ مَا تُعَالِجُ بِهِ نَفْسَكَ كِتَابُ اللهِ أَعْظَمُ مَا تُعَالِجُ بِهِ نَفْسَكَ كِتَابُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَاحْرِصْ عَلَيْهِ وَتَأَمَّلْ أَيْضًا فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَذِهِ الْكُتُبُ الْمُصَنَّفَةُ فِي الْحَدِيثِ، لَا سِيَّمَا الَّتِي تَتَعَلَّقُ بِأَحَادِيثِ الرَّقَائِقِ وَالْآدَابِ، هَذِهِ لَيْسَتْ مُصَنَّفَةً لِلْعَوَامِّ فَحَسْبُ كَمَا يَظُنُّ ذَلِكَ مَنْ يَظُنُّهُ مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ هَذِهِ لَيْسَتْ لِلْعَوَامِّ، وَلَيْسَتْ لِلْقِرَاءَةِ بَعْدَ صَلَاةِ الْعَصْرِ لِلْعَامَّةِ فَقَطْ بَلْ أَوْلَى النَّاسِ الَّذِينَ يَنْبَغِي أَنْ يَعْتَنُوا بِهَذِهِ الْكُتُبِ طَلَبَةُ الْعِلْمِ، أَنْ يَقْرَؤُوا فِيهَا فِي رِيَاضِ الصَّالِحِينَ، مَاذَا فِي رِيَاضِ الصَّالِحِينَ؟ لَيْسَ فِيهِ إِلَّا كَلَامُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَوَّبَهُ لَكَ تَبْوِيبًا، وَاعْتَنَى بِصَحِيحِ حَدِيثِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا نَزْرًا يَسِيرًا وَإِلَّا عَامَّةُ مَا فِيهِ فَأَحَادِيثُ صَحِيحَةٌ فَمِثْلُ هَذَا الْكِتَابِ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ لَكَ بِهِ صِلَةٌ، اقْرَأْ فِيهِ وَتَأَمَّلْ وَأَذْكُرُ أَنَّ شَيْخَنَا الشَّيْخَ رَبِيعَ بْنَ هَادِي وَفَّقَهُ اللهُ يَقُولُ، سَمِعْتُهُ مَرَّةً فِي مَجْلِسٍ يَقُولُ أَوَّلُ مَا اسْتَقَمْتُ، وَكَانَ شَابًّا صَغِيرًا، يَقُولُ: كُنْتُ أَقْرَأُ فِي رِيَاضِ الصَّالِحِينَ وَفِي الْأَذْكَارِ يَقُولُ: مَا اعْتَنَيْتُ بِقِرَاءَةِ كُتُبِ ابْنِ الْقَيِّمِ أَوْ غَيْرِهِ، إِنَّمَا كُنْتُ أَقْرَأُ فِي هَذَيْنِ الْكِتَابَيْنِ، وَكُنْتُ أَقْرَأُ وَأَبْكِي يَقُولُ: كُنْتُ أَقْرَأُ وَأَبْكِي أَوَّلَ مَا تَنَسَّبَ، وَهُوَ شَابٌّ صَغِيرٌ يَقُولُ: أَقْرَأُ فِي هَذَيْنِ الْكِتَابَيْنِ وَأَبْكِي تَأَثُّرًا بِأَحَادِيثِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاجْعَلْ لَكَ صِلَةً بِمِثْلِ هَذِهِ الْكُتُبِ فِي أَبْوَابِ الْخَوْفِ وَأَبْوَابِ الرَّجَاءِ وَتَعْظِيمِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَهَذِهِ أَسْبَابٌ تُعِينُكَ بِتَوْفِيقِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى صَلَاحِ قَلْبِكَ وَالْإِكْثَارُ مِنَ الطَّاعَاتِ الْإِيمَانُ يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ اعْرَفِ الثُّغْرَاتِ الَّتِي يَدْخُلُ الشَّيْطَانُ إِلَيْكَ مِنْ خِلَالِهَا، وَاسْعَ فِي إِغْلَاقِهَا هَذِهِ أَبْوَابٌ تُؤَدِّي إِلَى جَهَنَّمَ نَعُوذُ بِاللهِ مِنْهَا فَاجْعَلْ حَيَاتَكَ جِهَادًا وَسَعْيًا فِي إِغْلَاقِ هَذِهِ الْأَبْوَابِ، وَالتَّرَقِّي فِي مَدَارِجِ الْإِيمَانِ وَالانْتِقَالِ مِنْ حَسَنٍ إِلَى أَحْسَنَ انْظُرْ أَيْنَ أَنْتَ فِي مَرَاتِبِ الدِّينِ إِذَا كُنْتَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ فَاسْأَلْ أَنْ تَرْتَقِيَ لِتَكُونَ مِنْ أَهْلِ الْإِيمَانِ ثُمَّ اجْتَهِدْ أَكْثَرَ لَعَلَّ اللهَ أَنْ يُوَفِّقَكَ لِتَرْتَقِيَ إِلَى مَرْتَبَةِ الْإِحْسَانِ هَذِهِ أُمُورٌ عَظِيمَةٌ يَنْبَغِي أَنْ يَعْتَنِيَ بِهَا الْإِنْسَانُ، هَذِهِ حَقِيقَةُ حَيَاتِكَ، هَذِهِ هِيَ الْغَايَةُ مِنْ حَيَاتِكَ مَا خُلِقْتَ لَا لِطَعَامٍ، وَلَا لِشَرَابٍ، وَلَا لِشَهَادَةٍ، وَلَا لِدِرَاسَةٍ، وَلَا لِوَظِيفَةٍ، وَلَا لِزَوَاجٍ، وَلَا لِشَيْءٍ مِنْ هَذَا الْحَيَاةُ بِالنِّسْبَةِ لَكَ مُجَاهَدَةٌ تَتَرَقَّى فِي مَدَارِجِ الْخَيْرِ وَالْإِيمَانِ وَالتَّوْحِيدِ إِلَى اللَّحْظَةِ الْأَخِيرَةِ فِي حَيَاتِكَ وَعِنْدَهَا سَتُلَاقِي مَا عَمِلْتَ سَوْفَ تَجِدُ مَا عَمِلْتَ أَمَامَكَ هُنَاكَ فِي تِلْكَ الدَّارِ الْآخِرَةِ أَسْأَلُ اللهَ أَنْ يُصْلِحَ قُلُوبَنَا رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ


Ini pertanyaan yang agung. Pembahasannya memerlukan waktu yang panjang, yaitu: bagaimana aku bisa menjadi pemilik hati yang selamat (Qalbun Salim)? Perkara ini, tidak diragukan lagi, memerlukan perjuangan (mujahadah) yang besar. Tidak ada yang lebih berat untuk diobati oleh manusia daripada hatinya, karena hati itu sangat sering berbolak-balik. Karena hati juga sangat mudah terpengaruh, sementara faktor-faktor yang memengaruhi manusia di sekitarnya sangatlah banyak. Maka perkara ini memerlukan mujahadah (perjuangan). Bahkan, terkadang manusia memerlukan waktu yang panjang untuk mengobati hatinya yang sakit. Dan kita semua demikian, kecuali orang yang dirahmati Allah ‘Azza wa Jalla. Di antara sarana terbesar untuk mengobati hatimu adalah: berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menelaah ilmu yang bermanfaat, dan bersungguh-sungguh dalam meraihnya. Tidak ada cara untuk mengobati dirimu yang sebanding dengan ini: perbanyaklah berzikir kepada Allah, perbanyaklah pula membaca Al-Qur’an. Jadikan untuk dirimu wirid harian dari Al-Qur’an. Janganlah lalai dari Kitabullah, karena ia mampu melembutkan hati yang beku seperti batu, melembutkan hati yang keras seperti batu cadas. Maka bersungguh-sungguhlah membaca Al-Qur’an dan merenungkannya. Bersungguh-sungguhlah pula mempelajari ilmu yang bermanfaat. Di antara ilmu yang paling agung adalah tauhid. Jadikan hatimu terikat dengan ilmu ini. Banyaklah membaca tentang tauhid: ayat-ayatnya, hadis-hadisnya, dan penjelasan para ulama dalam menetapkannya. Sebab, hal itu akan membantumu meraih hati yang selamat (Qalbun Salim), insya Allah. Fokuslah kepada para ulama, yang mereka termasuk dokter-dokter hati, yaitu para ulama yang mengobati penyakit-penyakit hati. Maka para ulama, menelaah ucapan-ucapan mereka mengandung obat bagimu, insya Allah. Di antara ulama yang paling utama dalam hal ini adalah Ibnul Qayyim rahimahullah, dan siapa saja yang menempuh jalan ini, seperti Ibnu Rajab, Ibnu Sa’di, dan ulama semisal mereka. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga memiliki beberapa risalah yang bermanfaat dalam pembahasan perkara hati. Beliau memiliki kitab Amradhul Qulub, At-Tuhfah Al-‘Iraqiyyah, Qa’idah fil Mahabbah, dan beberapa risalah lainnya. Begitu pula kitab Al-Istiqamah. Kitab-kitab semacam ini, jika engkau memiliki hubungan dengannya, sering membacanya, dan sering menelaahnya, saya kira hal ini akan bermanfaat, insya Allah. Akan tetapi, sarana terbesar untuk mengobati dirimu adalah Kitabullah. Sarana terbesar untuk mengobati dirimu adalah Kitabullah ‘Azza wa Jalla. Maka bersungguh-sungguhlah terhadapnya. Renungkan pula Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kitab-kitab hadis, terutama yang berkaitan dengan hadis-hadis pelembut hati dan adab, tidaklah disusun hanya untuk orang awam saja, sebagaimana disangka oleh sebagian penuntut ilmu. Kitab-kitab itu bukan hanya untuk orang awam, dan bukan hanya untuk dibacakan kepada masyarakat umum setelah Salat Ashar. Justru orang yang paling layak memperhatikan kitab-kitab seperti ini adalah para penuntut ilmu. Hendaknya mereka membaca kitab-kitab tersebut. Dalam Riyadhush Shalihin, apa isi Riyadhush Shalihin? Tiada di dalamnya selain sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penulisnya telah menyusunnya dalam bab-bab yang rapi untukmu, dan sangat memperhatikan hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sahih, kecuali sedikit saja. Adapun secara umum, isi kitab Riyadhush Shalihin adalah hadis-hadis sahih. Maka kitab semacam ini seharusnya memiliki hubungan denganmu. Bacalah dan renungkanlah isinya. Saya teringat guru kami, Syaikh Rabi’ bin Hadi, semoga Allah memberinya taufik. Saya pernah mendengar beliau berkata dalam sebuah majelis, Di awal masa aku mulai istiqamah,” saat itu beliau masih pemuda belia, beliau berkata, “Dahulu aku membaca kitab Riyadhush Shalihin dan Al-Adzkar.” Beliau berkata, “Aku belum fokus membaca kitab-kitab Ibnul Qayyim atau yang lainnya. Aku hanya membaca dua kitab ini. Aku membacanya sambil menangis.” Beliau berkata, “Aku membaca seraya menangis.” Itu terjadi di awal masa meniti jalan ilmu, saat masih pemuda belia. Beliau berkata, “Aku membaca dua kitab ini dan menangis karena tersentuh oleh hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Maka jadikanlah dirimu memiliki hubungan dengan kitab-kitab semacam ini, terutama pada bab-bab tentang rasa takut kepada Allah (khauf), harapan kepada-Nya (raja’), dan pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semua ini adalah sebab-sebab yang akan membantumu, dengan taufik Allah Subhanahu wa Ta’ala, untuk memperbaiki hatimu. Juga dengan memperbanyak ketaatan, karena iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Kenalilah celah-celah yang dilalui setan untuk masuk kepadamu, lalu berusahalah menutupnya. Itu adalah pintu-pintu yang menjerumuskan menuju Jahanam. Kita berlindung kepada Allah darinya. Jadikan hidupmu sebagai perjuangan dan upaya untuk menutup pintu-pintu itu, mendaki tingkatan-tingkatan iman, dan berpindah dari keadaan yang baik menuju keadaan yang lebih baik. Perhatikanlah di mana posisimu dalam tingkatan-tingkatan agama. Jika engkau baru berada pada tingkatan Islam, mintalah kepada Allah untuk naik tingkatan agar menjadi golongan ahli iman. Kemudian bersungguh-sungguhlah lebih kuat lagi. Semoga Allah memberimu taufik untuk naik menuju tingkatan ihsan. Ini perkara-perkara besar yang seharusnya diperhatikan oleh manusia. Inilah hakikat hidupmu. Inilah tujuan hidupmu. Engkau tidaklah diciptakan sekadar untuk makan, minum, meraih ijazah, belajar, bekerja, menikah, atau perkara-perkara semacam itu. Hidup bagimu adalah ajang perjuangan (mujahadah). Engkau terus mendaki tingkatan-tingkatan kebaikan, keimanan, dan tauhid hingga detik terakhir dalam hidupmu. Saat itulah engkau akan menjumpai apa yang telah engkau amalkan. Engkau akan mendapati amalmu di hadapanmu, di negeri akhirat sana. Saya memohon kepada Allah agar memperbaiki hati-hati kita. “Wahai Rabb kami, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan orang-orang beriman, pada hari terjadinya hisab (Hari Kiamat).” (QS. Ibrahim: 41). ===== هَذَا سُؤَالٌ عَظِيمٌ، وَالْكَلَامُ فِيهِ يَحْتَاجُ إِلَى وَقْتٍ طَوِيلٍ وَهُوَ: كَيْفَ أَكُونُ صَاحِبَ قَلْبٍ سَلِيمٍ؟ الْأَمْرُ لَا شَكَّ يَحْتَاجُ إِلَى قَدْرٍ كَبِيرٍ مِنَ الْمُجَاهَدَةِ وَمَا عَالَجَ الْإِنْسَانُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيْهِ مِنْ قَلْبِهِ لِأَنَّهُ كَثِيرُ التَّقَلُّبِ وَلِأَنَّهُ كَثِيرُ التَّأَثُّرِ، وَلِأَنَّ الْمُؤَثِّرَاتِ فِيمَا حَوْلَ الْإِنْسَانِ كَثِيرَةٌ جِدًّا فَالْمَقَامُ يَحْتَاجُ إِلَى مُجَاهَدَةٍ وَرُبَّمَا يَحْتَاجُ أَيْضًا إِلَى وَقْتٍ طَوِيلٍ يُعَالِجُ الْإِنْسَانُ هَذَا الْقَلْبَ الْمَرِيضَ وَكُلُّنَا ذَلِكَ إِلَّا مَنْ رَحِمَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَمِنْ أَعْظَمِ مَا تُعَالِجُ بِهِ قَلْبَكَ ذِكْرُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَمُطَالَعَةُ الْعِلْمِ النَّافِعِ وَالِاجْتِهَادُ فِي تَحْصِيلِهِ فَمَا عَالَجْتَ نَفْسَكَ بِمِثْلِ هَذَا: أَكْثِرْ مِنْ ذِكْرِ اللهِ، مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ اجْعَلْ لِنَفْسِكَ وِرْدًا مِنَ الْقُرْآنِ لَا تُهْمِلْ كِتَابَ اللهِ، فَإِنَّهُ يُرَقِّقُ قَلْبًا جَامِدًا مِثْلَ الْجَلْمَدِ، يُرَقِّقُ قَلْبًا قَاسِيًا مِثْلَ الْجَلْمَدِ فَاجْتَهِدْ فِي تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَالتَّأَمُّلِ فِيهِ، وَاجْتَهِدْ فِي تَعَلُّمِ الْعِلْمِ النَّافِعِ وَمِنْ أَعْظَمِ ذَلِكَ: التَّوْحِيدُ اجْعَلْ قَلْبَكَ مُعَلَّقًا بِهَذَا الْعِلْمِ وَاقْرَأْ فِيهِ كَثِيرًا فِي آيَاتِهِ، فِي أَحَادِيثِهِ، فِي كَلَامِ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي تَقْرِيرِهِ فَإِنَّ هَذَا يُكْسِبُكَ ذَلِكَ إِنْ شَاءَ اللهُ وَرَكِّزْ عَلَى الْعُلَمَاءِ الَّذِينَ هُمْ مِنْ أَطِبَّاءِ الْقُلُوبِ الَّذِينَ يُعَالِجُونَ عِلَلَ الْقُلُوبِ فَهَؤُلَاءِ النَّظَرُ فِي كَلَامِهِمْ فِيهِ دَوَاءٌ لَكَ إِنْ شَاءَ اللهُ وَعَلَى رَأْسِ أُولَئِكَ: ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ، وَمَنْ سَارَ عَلَى هَذَا الطَّرِيقِ كَابْنِ رَجَبٍ، وَابْنِ سَعْدِيٍّ، وَأَمْثَالِ هَؤُلَاءِ شَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ لَهُ عِدَّةُ رَسَائِلَ نَافِعَةٍ فِي مَسْأَلَةِ الْقُلُوبِ عِنْدَهُ أَمْرَاضُ الْقُلُوبِ، وَعِنْدَهُ التُّحْفَةُ الْعِرَاقِيَّةُ، وَعِنْدَهُ قَاعِدَةٌ فِي الْمَحَبَّةِ، وَعِنْدَهُ عِدَّةُ رَسَائِلَ، كِتَابُ الِاسْتِقَامَةِ أَيْضًا مِثْلُ هَذِهِ الْكُتُبِ لَوْ كَانَ لَكَ بِهَا صِلَةٌ وَقِرَاءَاتٌ وَجَوْلَاتٌ، أَظُنُّ أَنَّ هَذَا سَيَنْفَعُ إِنْ شَاءَ اللهُ لَكِنْ أَعْظَمُ مَا تُعَالِجُ بِهِ نَفْسَكَ كِتَابُ اللهِ أَعْظَمُ مَا تُعَالِجُ بِهِ نَفْسَكَ كِتَابُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَاحْرِصْ عَلَيْهِ وَتَأَمَّلْ أَيْضًا فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَذِهِ الْكُتُبُ الْمُصَنَّفَةُ فِي الْحَدِيثِ، لَا سِيَّمَا الَّتِي تَتَعَلَّقُ بِأَحَادِيثِ الرَّقَائِقِ وَالْآدَابِ، هَذِهِ لَيْسَتْ مُصَنَّفَةً لِلْعَوَامِّ فَحَسْبُ كَمَا يَظُنُّ ذَلِكَ مَنْ يَظُنُّهُ مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ هَذِهِ لَيْسَتْ لِلْعَوَامِّ، وَلَيْسَتْ لِلْقِرَاءَةِ بَعْدَ صَلَاةِ الْعَصْرِ لِلْعَامَّةِ فَقَطْ بَلْ أَوْلَى النَّاسِ الَّذِينَ يَنْبَغِي أَنْ يَعْتَنُوا بِهَذِهِ الْكُتُبِ طَلَبَةُ الْعِلْمِ، أَنْ يَقْرَؤُوا فِيهَا فِي رِيَاضِ الصَّالِحِينَ، مَاذَا فِي رِيَاضِ الصَّالِحِينَ؟ لَيْسَ فِيهِ إِلَّا كَلَامُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَوَّبَهُ لَكَ تَبْوِيبًا، وَاعْتَنَى بِصَحِيحِ حَدِيثِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا نَزْرًا يَسِيرًا وَإِلَّا عَامَّةُ مَا فِيهِ فَأَحَادِيثُ صَحِيحَةٌ فَمِثْلُ هَذَا الْكِتَابِ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ لَكَ بِهِ صِلَةٌ، اقْرَأْ فِيهِ وَتَأَمَّلْ وَأَذْكُرُ أَنَّ شَيْخَنَا الشَّيْخَ رَبِيعَ بْنَ هَادِي وَفَّقَهُ اللهُ يَقُولُ، سَمِعْتُهُ مَرَّةً فِي مَجْلِسٍ يَقُولُ أَوَّلُ مَا اسْتَقَمْتُ، وَكَانَ شَابًّا صَغِيرًا، يَقُولُ: كُنْتُ أَقْرَأُ فِي رِيَاضِ الصَّالِحِينَ وَفِي الْأَذْكَارِ يَقُولُ: مَا اعْتَنَيْتُ بِقِرَاءَةِ كُتُبِ ابْنِ الْقَيِّمِ أَوْ غَيْرِهِ، إِنَّمَا كُنْتُ أَقْرَأُ فِي هَذَيْنِ الْكِتَابَيْنِ، وَكُنْتُ أَقْرَأُ وَأَبْكِي يَقُولُ: كُنْتُ أَقْرَأُ وَأَبْكِي أَوَّلَ مَا تَنَسَّبَ، وَهُوَ شَابٌّ صَغِيرٌ يَقُولُ: أَقْرَأُ فِي هَذَيْنِ الْكِتَابَيْنِ وَأَبْكِي تَأَثُّرًا بِأَحَادِيثِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاجْعَلْ لَكَ صِلَةً بِمِثْلِ هَذِهِ الْكُتُبِ فِي أَبْوَابِ الْخَوْفِ وَأَبْوَابِ الرَّجَاءِ وَتَعْظِيمِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَهَذِهِ أَسْبَابٌ تُعِينُكَ بِتَوْفِيقِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى صَلَاحِ قَلْبِكَ وَالْإِكْثَارُ مِنَ الطَّاعَاتِ الْإِيمَانُ يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ اعْرَفِ الثُّغْرَاتِ الَّتِي يَدْخُلُ الشَّيْطَانُ إِلَيْكَ مِنْ خِلَالِهَا، وَاسْعَ فِي إِغْلَاقِهَا هَذِهِ أَبْوَابٌ تُؤَدِّي إِلَى جَهَنَّمَ نَعُوذُ بِاللهِ مِنْهَا فَاجْعَلْ حَيَاتَكَ جِهَادًا وَسَعْيًا فِي إِغْلَاقِ هَذِهِ الْأَبْوَابِ، وَالتَّرَقِّي فِي مَدَارِجِ الْإِيمَانِ وَالانْتِقَالِ مِنْ حَسَنٍ إِلَى أَحْسَنَ انْظُرْ أَيْنَ أَنْتَ فِي مَرَاتِبِ الدِّينِ إِذَا كُنْتَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ فَاسْأَلْ أَنْ تَرْتَقِيَ لِتَكُونَ مِنْ أَهْلِ الْإِيمَانِ ثُمَّ اجْتَهِدْ أَكْثَرَ لَعَلَّ اللهَ أَنْ يُوَفِّقَكَ لِتَرْتَقِيَ إِلَى مَرْتَبَةِ الْإِحْسَانِ هَذِهِ أُمُورٌ عَظِيمَةٌ يَنْبَغِي أَنْ يَعْتَنِيَ بِهَا الْإِنْسَانُ، هَذِهِ حَقِيقَةُ حَيَاتِكَ، هَذِهِ هِيَ الْغَايَةُ مِنْ حَيَاتِكَ مَا خُلِقْتَ لَا لِطَعَامٍ، وَلَا لِشَرَابٍ، وَلَا لِشَهَادَةٍ، وَلَا لِدِرَاسَةٍ، وَلَا لِوَظِيفَةٍ، وَلَا لِزَوَاجٍ، وَلَا لِشَيْءٍ مِنْ هَذَا الْحَيَاةُ بِالنِّسْبَةِ لَكَ مُجَاهَدَةٌ تَتَرَقَّى فِي مَدَارِجِ الْخَيْرِ وَالْإِيمَانِ وَالتَّوْحِيدِ إِلَى اللَّحْظَةِ الْأَخِيرَةِ فِي حَيَاتِكَ وَعِنْدَهَا سَتُلَاقِي مَا عَمِلْتَ سَوْفَ تَجِدُ مَا عَمِلْتَ أَمَامَكَ هُنَاكَ فِي تِلْكَ الدَّارِ الْآخِرَةِ أَسْأَلُ اللهَ أَنْ يُصْلِحَ قُلُوبَنَا رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

Biografi Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi (Bag. 1)

Daftar Isi ToggleNama dan nasabnyaKelahiran dan masa pertumbuhannyaPerjalanan menuntut ilmuSemangat beliau dalam menuntut ilmuKeluasan ilmu dan wawasannyaNama dan nasabnyaBeliau bernama Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar bin Abdul Qadir bin Muhammad bin Ahmad Nuh bin Muhammad bin Sayyidi Ahmad bin al-Mukhtar.Beliau termasuk keturunan Ath-Thalib Aubak, yang berasal dari keturunan Karir bin Al-Muwafi bin Ya‘qub bin Jakin Al-Abar. Jakin Al-Abar adalah leluhur kabilah yang dikenal dengan nama Al-Jakniyyin (kabilah) Jakni. Kabilah tersebut nasabnya bersambung hingga kepada Himyar.Kelahiran dan masa pertumbuhannyaSyekh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi (rahimahullah) lahir pada tahun 1325 H di sebuah tempat bernama Tanbah, yang termasuk wilayah Kifa di Mauritania.Beliau tumbuh dalam keadaan yatim, karena ayahnya wafat ketika beliau masih kecil dan masih membaca Juz ‘Amma dari Al-Qur’an. Sejak itu, beliau dibesarkan di rumah keluarga dari pihak ibu (para paman dan kerabatnya), yang sebenarnya masih keluarga dekat juga, karena ibunya adalah sepupu ayahnya.Rumah tempat beliau dibesarkan adalah lingkungan yang penuh dengan ilmu. Selain itu, daerah Syinqith (Mauritania) pada masa itu memang dikenal sebagai negeri yang banyak ulama, ahli sastra, dan para ksatria.Ayah beliau meninggalkan harta yang cukup banyak berupa uang dan hewan ternak, dan beliau adalah satu-satunya anak yang ditinggalkan.Syekh (rahimahullah) pernah menceritakan masa kecilnya,كنتُ أَمِيلُ إلى اللَّعِبِ أكثرَ من الدراسةِ، حتى حفظتُ الحروفَ الهجائيةَ، وبدؤوا يُقْرِئُونَنِي إياها بالحركاتِ (ب فتحة بَا، ب كسرة بِي، ب ضمة بُو) وهكذا.. فقلتُ لهم: أَوَكُلُّ الحروفِ هكذا؟ قالوا: نَعَمْ، فقلتُ: كفى، إني أستطيعُ قِرَاءَتَهَا كُلَّهَا على هذه الطريقةِ؛ كي يتركوني، فقالوا: اقْرَأْهَا. فقرأتُ بثلاثةِ حروفٍ أو أربعةٍ، وتنقَّلْتُ إلى آخِرِهَا بهذه الطريقةِ، فعرفوا أني فهمتُ قَاعِدَتَها، واكتفوا مني بذلك، وتركوني، ومن ثم حُبِّبَتْ إِلَيَّ القراءةُ“Aku dulu lebih suka bermain daripada belajar. Sampai akhirnya aku hafal huruf-huruf hijaiyah. Lalu mereka mulai mengajariku huruf dengan harakat (ba fathah: ba, ba kasrah: bi, ba dhammah: bu), dan seterusnya.Aku lalu bertanya kepada mereka, ‘Apakah semua huruf seperti ini?’Mereka menjawab, ‘Ya.’Aku berkata, ‘Kalau begitu cukup, aku bisa membacanya semua dengan cara ini,’ supaya mereka membiarkanku.Mereka berkata, ‘Coba baca.’Lalu aku membaca tiga atau empat huruf, kemudian meneruskannya sampai akhir dengan cara yang sama. Mereka pun tahu bahwa aku sudah memahami kaidahnya. Maka mereka merasa cukup dengan itu dan membiarkanku. Sejak saat itu, membaca menjadi sesuatu yang aku sukai.”Ketika beliau berusia sepuluh tahun, beliau telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an di bawah bimbingan pamannya, Abdullah bin Muhammad al-Mukhtar bin Ibrahim bin Ahmad Nuh.Perjalanan menuntut ilmuSetelah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an pada usia sepuluh tahun, Syekh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi belajar cara penulisan Mushaf Utsmani kepada sepupunya, yaitu Sidi Muhammad bin Ahmad bin Muhammad al-Mukhtar. Beliau juga mempelajari ilmu tajwid dan qira’ah Imam Nafi’, melalui riwayat Warsh (jalur Abu Ya‘qub al-Azraq) dan riwayat Qalun (jalur Abu Nasyith). Pada usia sekitar enam belas tahun, beliau telah memperoleh sanad bacaan Al-Qur’an yang bersambung sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Selain belajar qira’ah, beliau juga mempelajari beberapa kitab ringkas dalam fikih mazhab Maliki, seperti nazham Ibnu ‘Asyir. Beliau turut belajar ilmu sastra dan dasar-dasar tata bahasa Arab kepada istri pamannya, termasuk kitab Al-Ajurumiyah dan latihan-latihannya. Dari beliau juga, ia mempelajari nasab bangsa Arab, sejarah mereka, sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta berbagai nazham tentang peperangan Nabi dan silsilah keturunan Arab beserta penjelasannya. Semua ilmu itu beliau peroleh ketika masih tinggal di rumah keluarga dari pihak ibunya.Setelah itu, beliau memperdalam ilmu kepada guru-guru lain, seperti fikih dari Mukhtashar Khalil, nahwu dari Alfiyah Ibnu Malik, serta mempelajari sharaf, ushul fikih, balaghah, hadis, dan tafsir. Adapun ilmu manthiq (logika) serta adab penelitian dan perdebatan, beliau pelajari sendiri melalui banyak membaca dan belajar secara mandiri.Syekh Syekh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi (rahimahullah) menceritakan tentang awal perjalanannya menuntut ilmu. Beliau berkata,وَلَمَّا حَفِظْتُ القرآنَ، وأخذتُ الرسمَ العثمانيَّ، وتفوَّقْتُ فيه على الأقرانِ، عُنِيَتْ بي والدتي وأخوالي أَشَدَّ عنايةٍ، وعزموا على توجيهي للدراسةِ في بقيةِ الفنونِ، فجهَّزَتْنِي والدتي بِجَمَلَيْنِ، أحدهما عليه مَرْكَبِي وَكُتُبِي، والآخَرُ عليه نَفَقَتِي وَزَادِي، وصحبني خادمٌ ومعه عدةُ بقراتٍ، وقد هَيَّأَتْ لي مركبي كأحسنِ ما يكونُ من مركبٍ، وملابسَ كأحسنِ ما تكونُ، فَرَحًا بي، وَتَرْغِيبًا لي في طلبِ العلمِ، وهكذا سَلَكْتُ سبيلَ الطلبِ والتحصيلِ“Ketika aku sudah hafal Al-Qur’an, mempelajari tulisan Utsmani, dan lebih unggul dari teman-teman sebayaku, ibuku dan para pamanku sangat memperhatikanku. Mereka bertekad untuk mengarahkanku agar melanjutkan belajar dalam berbagai bidang ilmu lainnya.Ibuku menyiapkanku dengan dua ekor unta. Satu unta membawa tungganganku dan kitab-kitabku, dan satu lagi membawa bekal dan perbekalanku. Seorang pembantu ikut bersamaku, dengan beberapa ekor sapi. Ibuku juga menyiapkan tungganganku sebaik mungkin, dan memberiku pakaian yang bagus, karena ia senang kepadaku dan ingin mendorongku agar semangat menuntut ilmu. Demikianlah aku mulai menempuh jalan menuntut dan mencari ilmu.”Baca juga: Biografi Abdullah bin Al-MubarakSemangat beliau dalam menuntut ilmuSyekh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi (rahimahullah) memiliki semangat yang sangat tinggi dalam menuntut ilmu. Beliau tidak pernah membiarkan satu masalah pelajaran berlalu begitu saja tanpa benar-benar memahaminya secara mendalam, meskipun harus menghabiskan tenaga dan waktu yang lama.Beliau menceritakan sebuah pengalaman,جِئْتُ للشيخِ في قراءتِي عليه، فَشَرَحَ لي كما كان يشرحُ، ولكنه لم يَشْفِ ما في نفسي على ما تَعَوَّدْتُ، ولم يَرْوِ لي ظَمَئِي، وقمتُ من عنده وأنا أَجِدُنِي في حاجةٍ إلى إزالةِ بعضِ اللبسِ، وإيضاحِ بعضِ المُشْكِلِ، وكان الوقتُ ظُهْرًا، فأخذتُ الكتبَ والمراجعَ، فَطَالَعْتُ حتى العصرِ، فلم أَفْرَغْ من حاجتِي، فعاودتُ حتى المغربِ، فلم أَنْتَهِ أيضًا، فَأَوْقَدَ لِي خَادِمي أعوادًا من الحطبِ أقرأُ على ضَوْئِهَا، كعادةِ الطلابِ، وواصلتُ المطالعةَ، وأتناولُ الشاي الأخضرَ كُلَّمَا مَلِلْتُ أو كَسِلْتُ، والخادمُ بجواري يوقدُ الضوءَ، حتى انبثقَ الفجرُ وأنا في مجلسي لم أَقُمْ إلا لصلاةِ فرضٍ أو تناولِ طعامٍ، وإلى أن ارتفعَ النهارُ وقد فَرَغْتُ من درسي وزالَ عني لَبْسِي، ووجدتُ هذا المحلَّ من الدرسِ كغيره في الوضوحِ والفَهْمِ“Aku datang kepada guruku untuk belajar seperti biasa. Beliau menjelaskan pelajaran sebagaimana biasanya, tetapi kali ini penjelasannya belum benar-benar membuat hatiku puas seperti yang aku harapkan. Aku merasa masih ada bagian yang belum jelas dan belum sepenuhnya kupahami.Aku pulang pada waktu zuhur dalam keadaan masih merasa perlu meluruskan beberapa hal yang belum jelas. Lalu aku mengambil kitab-kitab dan buku rujukan, kemudian membaca dan meneliti sampai waktu asar, tetapi belum juga selesai. Aku lanjutkan lagi sampai magrib, namun masih belum tuntas.Kemudian pembantuku menyalakan kayu bakar agar aku bisa membaca dengan cahayanya, sebagaimana kebiasaan para pelajar saat itu. Aku terus belajar, dan setiap kali merasa lelah atau mengantuk, aku minum teh hijau. Pembantuku tetap di sampingku menyalakan api sebagai penerangan.Aku terus belajar hingga fajar menyingsing. Aku tidak bangkit dari tempat dudukku kecuali untuk salat wajib atau makan. Hingga pagi hari benar-benar terang, akhirnya aku selesai mempelajari bagian tersebut. Semua kebingungan hilang, dan bagian pelajaran itu menjadi jelas bagiku sebagaimana pelajaran lainnya.”Keluasan ilmu dan wawasannyaAllah menganugerahkan kepada Syekh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi (rahimahullah) kecerdasan yang luar biasa, daya hafal yang sangat kuat, dan semangat yang tinggi. Semua itu beliau gunakan untuk menuntut dan mengumpulkan ilmu dalam berbagai bidang, seperti akidah, tafsir, hadits, ushul fikih, dan bahasa Arab.Ketika beliau berbicara tentang suatu bidang ilmu, penjelasannya begitu kuat dan mendalam sehingga orang yang mendengarnya bisa menyangka bahwa beliau telah menghabiskan seluruh hidupnya hanya untuk mendalami bidang itu saja, dan tidak menguasai bidang lainnya.Ini bukanlah suatu bentuk berlebihan. Siapa saja yang membaca kitab beliau berjudul “Ar-Rihlah”, atau mendengarkan ceramah dan perdebatan ilmiahnya, baik ketika beliau di Madinah maupun rekaman saat beliau mengunjungi sepuluh negara di Afrika sebagai ketua delegasi dari universitas, mereka akan mengetahui kebenaran hal tersebut. Begitu pula pelajaran tafsir beliau yang direkam, menjadi bukti nyata keluasan ilmunya.Beliau pernah berkata dengan jujur,لاَ توجدُ آيةٌ في القرآنِ إلا دَرَسْتُهَا عَلَى حِدَةٍ“Tidak ada satu ayat pun dalam Al-Qur’an kecuali aku telah mempelajarinya secara khusus (mendalam).”Beliau juga berkata,كُلُّ آيَةٍ قال فيها الأَقْدَمُونَ شيئًا فهو عِنْدِي“Setiap ayat yang para ulama terdahulu telah berbicara tentangnya, maka pembahasan itu ada padaku (aku mengetahuinya).”Suatu ketika ada seseorang berkata kepada beliau, “Sesungguhnya Sulaiman al-Jamal (penulis Hasyiyah al-Jamal atas Tafsir al-Jalalain) tidak mengatakan hal itu.”Beliau menjawab,أَحْلِفُ لكَ باللَّهِ أني أعلمُ بكتابِ اللَّهِ من سليمانَ الجملِ بكذا؛ لأني أخذتُ المصحفَ من أَوَّلِهِ إلى آخِره، ولم تَبْقَ آيةٌ إلا تَتَبَّعْتُ أقوالَ العلماءِ فيها، وعرفتُ ما قالوا“Aku bersumpah demi Allah, aku lebih mengetahui tentang Kitab Allah daripada Sulaiman al-Jamal dalam hal ini. Karena aku telah menelaah mushaf dari awal sampai akhir. Tidak ada satu ayat pun kecuali aku telah menelusuri pendapat para ulama tentangnya dan mengetahui apa yang mereka katakan.”Beliau (rahimahullah) juga hafal ribuan bait syair Arab dan contoh-contoh bahasa Arab. Beliau hafal sebagian besar hadis dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, hafal Alfiyah Ibnu Malik (tentang nahwu), Maraqi as-Su‘ud (ushul fikih), Alfiyah al-‘Iraqi (ilmu hadis), serta berbagai nazham tentang sirah Nabi, peperangan, nasab, ayat-ayat yang lafaznya mirip dalam Al-Qur’an, dan juga beberapa matan fikih, baik dalam bentuk prosa maupun syair.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Biografi Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi (Bag. 1)

Daftar Isi ToggleNama dan nasabnyaKelahiran dan masa pertumbuhannyaPerjalanan menuntut ilmuSemangat beliau dalam menuntut ilmuKeluasan ilmu dan wawasannyaNama dan nasabnyaBeliau bernama Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar bin Abdul Qadir bin Muhammad bin Ahmad Nuh bin Muhammad bin Sayyidi Ahmad bin al-Mukhtar.Beliau termasuk keturunan Ath-Thalib Aubak, yang berasal dari keturunan Karir bin Al-Muwafi bin Ya‘qub bin Jakin Al-Abar. Jakin Al-Abar adalah leluhur kabilah yang dikenal dengan nama Al-Jakniyyin (kabilah) Jakni. Kabilah tersebut nasabnya bersambung hingga kepada Himyar.Kelahiran dan masa pertumbuhannyaSyekh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi (rahimahullah) lahir pada tahun 1325 H di sebuah tempat bernama Tanbah, yang termasuk wilayah Kifa di Mauritania.Beliau tumbuh dalam keadaan yatim, karena ayahnya wafat ketika beliau masih kecil dan masih membaca Juz ‘Amma dari Al-Qur’an. Sejak itu, beliau dibesarkan di rumah keluarga dari pihak ibu (para paman dan kerabatnya), yang sebenarnya masih keluarga dekat juga, karena ibunya adalah sepupu ayahnya.Rumah tempat beliau dibesarkan adalah lingkungan yang penuh dengan ilmu. Selain itu, daerah Syinqith (Mauritania) pada masa itu memang dikenal sebagai negeri yang banyak ulama, ahli sastra, dan para ksatria.Ayah beliau meninggalkan harta yang cukup banyak berupa uang dan hewan ternak, dan beliau adalah satu-satunya anak yang ditinggalkan.Syekh (rahimahullah) pernah menceritakan masa kecilnya,كنتُ أَمِيلُ إلى اللَّعِبِ أكثرَ من الدراسةِ، حتى حفظتُ الحروفَ الهجائيةَ، وبدؤوا يُقْرِئُونَنِي إياها بالحركاتِ (ب فتحة بَا، ب كسرة بِي، ب ضمة بُو) وهكذا.. فقلتُ لهم: أَوَكُلُّ الحروفِ هكذا؟ قالوا: نَعَمْ، فقلتُ: كفى، إني أستطيعُ قِرَاءَتَهَا كُلَّهَا على هذه الطريقةِ؛ كي يتركوني، فقالوا: اقْرَأْهَا. فقرأتُ بثلاثةِ حروفٍ أو أربعةٍ، وتنقَّلْتُ إلى آخِرِهَا بهذه الطريقةِ، فعرفوا أني فهمتُ قَاعِدَتَها، واكتفوا مني بذلك، وتركوني، ومن ثم حُبِّبَتْ إِلَيَّ القراءةُ“Aku dulu lebih suka bermain daripada belajar. Sampai akhirnya aku hafal huruf-huruf hijaiyah. Lalu mereka mulai mengajariku huruf dengan harakat (ba fathah: ba, ba kasrah: bi, ba dhammah: bu), dan seterusnya.Aku lalu bertanya kepada mereka, ‘Apakah semua huruf seperti ini?’Mereka menjawab, ‘Ya.’Aku berkata, ‘Kalau begitu cukup, aku bisa membacanya semua dengan cara ini,’ supaya mereka membiarkanku.Mereka berkata, ‘Coba baca.’Lalu aku membaca tiga atau empat huruf, kemudian meneruskannya sampai akhir dengan cara yang sama. Mereka pun tahu bahwa aku sudah memahami kaidahnya. Maka mereka merasa cukup dengan itu dan membiarkanku. Sejak saat itu, membaca menjadi sesuatu yang aku sukai.”Ketika beliau berusia sepuluh tahun, beliau telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an di bawah bimbingan pamannya, Abdullah bin Muhammad al-Mukhtar bin Ibrahim bin Ahmad Nuh.Perjalanan menuntut ilmuSetelah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an pada usia sepuluh tahun, Syekh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi belajar cara penulisan Mushaf Utsmani kepada sepupunya, yaitu Sidi Muhammad bin Ahmad bin Muhammad al-Mukhtar. Beliau juga mempelajari ilmu tajwid dan qira’ah Imam Nafi’, melalui riwayat Warsh (jalur Abu Ya‘qub al-Azraq) dan riwayat Qalun (jalur Abu Nasyith). Pada usia sekitar enam belas tahun, beliau telah memperoleh sanad bacaan Al-Qur’an yang bersambung sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Selain belajar qira’ah, beliau juga mempelajari beberapa kitab ringkas dalam fikih mazhab Maliki, seperti nazham Ibnu ‘Asyir. Beliau turut belajar ilmu sastra dan dasar-dasar tata bahasa Arab kepada istri pamannya, termasuk kitab Al-Ajurumiyah dan latihan-latihannya. Dari beliau juga, ia mempelajari nasab bangsa Arab, sejarah mereka, sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta berbagai nazham tentang peperangan Nabi dan silsilah keturunan Arab beserta penjelasannya. Semua ilmu itu beliau peroleh ketika masih tinggal di rumah keluarga dari pihak ibunya.Setelah itu, beliau memperdalam ilmu kepada guru-guru lain, seperti fikih dari Mukhtashar Khalil, nahwu dari Alfiyah Ibnu Malik, serta mempelajari sharaf, ushul fikih, balaghah, hadis, dan tafsir. Adapun ilmu manthiq (logika) serta adab penelitian dan perdebatan, beliau pelajari sendiri melalui banyak membaca dan belajar secara mandiri.Syekh Syekh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi (rahimahullah) menceritakan tentang awal perjalanannya menuntut ilmu. Beliau berkata,وَلَمَّا حَفِظْتُ القرآنَ، وأخذتُ الرسمَ العثمانيَّ، وتفوَّقْتُ فيه على الأقرانِ، عُنِيَتْ بي والدتي وأخوالي أَشَدَّ عنايةٍ، وعزموا على توجيهي للدراسةِ في بقيةِ الفنونِ، فجهَّزَتْنِي والدتي بِجَمَلَيْنِ، أحدهما عليه مَرْكَبِي وَكُتُبِي، والآخَرُ عليه نَفَقَتِي وَزَادِي، وصحبني خادمٌ ومعه عدةُ بقراتٍ، وقد هَيَّأَتْ لي مركبي كأحسنِ ما يكونُ من مركبٍ، وملابسَ كأحسنِ ما تكونُ، فَرَحًا بي، وَتَرْغِيبًا لي في طلبِ العلمِ، وهكذا سَلَكْتُ سبيلَ الطلبِ والتحصيلِ“Ketika aku sudah hafal Al-Qur’an, mempelajari tulisan Utsmani, dan lebih unggul dari teman-teman sebayaku, ibuku dan para pamanku sangat memperhatikanku. Mereka bertekad untuk mengarahkanku agar melanjutkan belajar dalam berbagai bidang ilmu lainnya.Ibuku menyiapkanku dengan dua ekor unta. Satu unta membawa tungganganku dan kitab-kitabku, dan satu lagi membawa bekal dan perbekalanku. Seorang pembantu ikut bersamaku, dengan beberapa ekor sapi. Ibuku juga menyiapkan tungganganku sebaik mungkin, dan memberiku pakaian yang bagus, karena ia senang kepadaku dan ingin mendorongku agar semangat menuntut ilmu. Demikianlah aku mulai menempuh jalan menuntut dan mencari ilmu.”Baca juga: Biografi Abdullah bin Al-MubarakSemangat beliau dalam menuntut ilmuSyekh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi (rahimahullah) memiliki semangat yang sangat tinggi dalam menuntut ilmu. Beliau tidak pernah membiarkan satu masalah pelajaran berlalu begitu saja tanpa benar-benar memahaminya secara mendalam, meskipun harus menghabiskan tenaga dan waktu yang lama.Beliau menceritakan sebuah pengalaman,جِئْتُ للشيخِ في قراءتِي عليه، فَشَرَحَ لي كما كان يشرحُ، ولكنه لم يَشْفِ ما في نفسي على ما تَعَوَّدْتُ، ولم يَرْوِ لي ظَمَئِي، وقمتُ من عنده وأنا أَجِدُنِي في حاجةٍ إلى إزالةِ بعضِ اللبسِ، وإيضاحِ بعضِ المُشْكِلِ، وكان الوقتُ ظُهْرًا، فأخذتُ الكتبَ والمراجعَ، فَطَالَعْتُ حتى العصرِ، فلم أَفْرَغْ من حاجتِي، فعاودتُ حتى المغربِ، فلم أَنْتَهِ أيضًا، فَأَوْقَدَ لِي خَادِمي أعوادًا من الحطبِ أقرأُ على ضَوْئِهَا، كعادةِ الطلابِ، وواصلتُ المطالعةَ، وأتناولُ الشاي الأخضرَ كُلَّمَا مَلِلْتُ أو كَسِلْتُ، والخادمُ بجواري يوقدُ الضوءَ، حتى انبثقَ الفجرُ وأنا في مجلسي لم أَقُمْ إلا لصلاةِ فرضٍ أو تناولِ طعامٍ، وإلى أن ارتفعَ النهارُ وقد فَرَغْتُ من درسي وزالَ عني لَبْسِي، ووجدتُ هذا المحلَّ من الدرسِ كغيره في الوضوحِ والفَهْمِ“Aku datang kepada guruku untuk belajar seperti biasa. Beliau menjelaskan pelajaran sebagaimana biasanya, tetapi kali ini penjelasannya belum benar-benar membuat hatiku puas seperti yang aku harapkan. Aku merasa masih ada bagian yang belum jelas dan belum sepenuhnya kupahami.Aku pulang pada waktu zuhur dalam keadaan masih merasa perlu meluruskan beberapa hal yang belum jelas. Lalu aku mengambil kitab-kitab dan buku rujukan, kemudian membaca dan meneliti sampai waktu asar, tetapi belum juga selesai. Aku lanjutkan lagi sampai magrib, namun masih belum tuntas.Kemudian pembantuku menyalakan kayu bakar agar aku bisa membaca dengan cahayanya, sebagaimana kebiasaan para pelajar saat itu. Aku terus belajar, dan setiap kali merasa lelah atau mengantuk, aku minum teh hijau. Pembantuku tetap di sampingku menyalakan api sebagai penerangan.Aku terus belajar hingga fajar menyingsing. Aku tidak bangkit dari tempat dudukku kecuali untuk salat wajib atau makan. Hingga pagi hari benar-benar terang, akhirnya aku selesai mempelajari bagian tersebut. Semua kebingungan hilang, dan bagian pelajaran itu menjadi jelas bagiku sebagaimana pelajaran lainnya.”Keluasan ilmu dan wawasannyaAllah menganugerahkan kepada Syekh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi (rahimahullah) kecerdasan yang luar biasa, daya hafal yang sangat kuat, dan semangat yang tinggi. Semua itu beliau gunakan untuk menuntut dan mengumpulkan ilmu dalam berbagai bidang, seperti akidah, tafsir, hadits, ushul fikih, dan bahasa Arab.Ketika beliau berbicara tentang suatu bidang ilmu, penjelasannya begitu kuat dan mendalam sehingga orang yang mendengarnya bisa menyangka bahwa beliau telah menghabiskan seluruh hidupnya hanya untuk mendalami bidang itu saja, dan tidak menguasai bidang lainnya.Ini bukanlah suatu bentuk berlebihan. Siapa saja yang membaca kitab beliau berjudul “Ar-Rihlah”, atau mendengarkan ceramah dan perdebatan ilmiahnya, baik ketika beliau di Madinah maupun rekaman saat beliau mengunjungi sepuluh negara di Afrika sebagai ketua delegasi dari universitas, mereka akan mengetahui kebenaran hal tersebut. Begitu pula pelajaran tafsir beliau yang direkam, menjadi bukti nyata keluasan ilmunya.Beliau pernah berkata dengan jujur,لاَ توجدُ آيةٌ في القرآنِ إلا دَرَسْتُهَا عَلَى حِدَةٍ“Tidak ada satu ayat pun dalam Al-Qur’an kecuali aku telah mempelajarinya secara khusus (mendalam).”Beliau juga berkata,كُلُّ آيَةٍ قال فيها الأَقْدَمُونَ شيئًا فهو عِنْدِي“Setiap ayat yang para ulama terdahulu telah berbicara tentangnya, maka pembahasan itu ada padaku (aku mengetahuinya).”Suatu ketika ada seseorang berkata kepada beliau, “Sesungguhnya Sulaiman al-Jamal (penulis Hasyiyah al-Jamal atas Tafsir al-Jalalain) tidak mengatakan hal itu.”Beliau menjawab,أَحْلِفُ لكَ باللَّهِ أني أعلمُ بكتابِ اللَّهِ من سليمانَ الجملِ بكذا؛ لأني أخذتُ المصحفَ من أَوَّلِهِ إلى آخِره، ولم تَبْقَ آيةٌ إلا تَتَبَّعْتُ أقوالَ العلماءِ فيها، وعرفتُ ما قالوا“Aku bersumpah demi Allah, aku lebih mengetahui tentang Kitab Allah daripada Sulaiman al-Jamal dalam hal ini. Karena aku telah menelaah mushaf dari awal sampai akhir. Tidak ada satu ayat pun kecuali aku telah menelusuri pendapat para ulama tentangnya dan mengetahui apa yang mereka katakan.”Beliau (rahimahullah) juga hafal ribuan bait syair Arab dan contoh-contoh bahasa Arab. Beliau hafal sebagian besar hadis dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, hafal Alfiyah Ibnu Malik (tentang nahwu), Maraqi as-Su‘ud (ushul fikih), Alfiyah al-‘Iraqi (ilmu hadis), serta berbagai nazham tentang sirah Nabi, peperangan, nasab, ayat-ayat yang lafaznya mirip dalam Al-Qur’an, dan juga beberapa matan fikih, baik dalam bentuk prosa maupun syair.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleNama dan nasabnyaKelahiran dan masa pertumbuhannyaPerjalanan menuntut ilmuSemangat beliau dalam menuntut ilmuKeluasan ilmu dan wawasannyaNama dan nasabnyaBeliau bernama Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar bin Abdul Qadir bin Muhammad bin Ahmad Nuh bin Muhammad bin Sayyidi Ahmad bin al-Mukhtar.Beliau termasuk keturunan Ath-Thalib Aubak, yang berasal dari keturunan Karir bin Al-Muwafi bin Ya‘qub bin Jakin Al-Abar. Jakin Al-Abar adalah leluhur kabilah yang dikenal dengan nama Al-Jakniyyin (kabilah) Jakni. Kabilah tersebut nasabnya bersambung hingga kepada Himyar.Kelahiran dan masa pertumbuhannyaSyekh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi (rahimahullah) lahir pada tahun 1325 H di sebuah tempat bernama Tanbah, yang termasuk wilayah Kifa di Mauritania.Beliau tumbuh dalam keadaan yatim, karena ayahnya wafat ketika beliau masih kecil dan masih membaca Juz ‘Amma dari Al-Qur’an. Sejak itu, beliau dibesarkan di rumah keluarga dari pihak ibu (para paman dan kerabatnya), yang sebenarnya masih keluarga dekat juga, karena ibunya adalah sepupu ayahnya.Rumah tempat beliau dibesarkan adalah lingkungan yang penuh dengan ilmu. Selain itu, daerah Syinqith (Mauritania) pada masa itu memang dikenal sebagai negeri yang banyak ulama, ahli sastra, dan para ksatria.Ayah beliau meninggalkan harta yang cukup banyak berupa uang dan hewan ternak, dan beliau adalah satu-satunya anak yang ditinggalkan.Syekh (rahimahullah) pernah menceritakan masa kecilnya,كنتُ أَمِيلُ إلى اللَّعِبِ أكثرَ من الدراسةِ، حتى حفظتُ الحروفَ الهجائيةَ، وبدؤوا يُقْرِئُونَنِي إياها بالحركاتِ (ب فتحة بَا، ب كسرة بِي، ب ضمة بُو) وهكذا.. فقلتُ لهم: أَوَكُلُّ الحروفِ هكذا؟ قالوا: نَعَمْ، فقلتُ: كفى، إني أستطيعُ قِرَاءَتَهَا كُلَّهَا على هذه الطريقةِ؛ كي يتركوني، فقالوا: اقْرَأْهَا. فقرأتُ بثلاثةِ حروفٍ أو أربعةٍ، وتنقَّلْتُ إلى آخِرِهَا بهذه الطريقةِ، فعرفوا أني فهمتُ قَاعِدَتَها، واكتفوا مني بذلك، وتركوني، ومن ثم حُبِّبَتْ إِلَيَّ القراءةُ“Aku dulu lebih suka bermain daripada belajar. Sampai akhirnya aku hafal huruf-huruf hijaiyah. Lalu mereka mulai mengajariku huruf dengan harakat (ba fathah: ba, ba kasrah: bi, ba dhammah: bu), dan seterusnya.Aku lalu bertanya kepada mereka, ‘Apakah semua huruf seperti ini?’Mereka menjawab, ‘Ya.’Aku berkata, ‘Kalau begitu cukup, aku bisa membacanya semua dengan cara ini,’ supaya mereka membiarkanku.Mereka berkata, ‘Coba baca.’Lalu aku membaca tiga atau empat huruf, kemudian meneruskannya sampai akhir dengan cara yang sama. Mereka pun tahu bahwa aku sudah memahami kaidahnya. Maka mereka merasa cukup dengan itu dan membiarkanku. Sejak saat itu, membaca menjadi sesuatu yang aku sukai.”Ketika beliau berusia sepuluh tahun, beliau telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an di bawah bimbingan pamannya, Abdullah bin Muhammad al-Mukhtar bin Ibrahim bin Ahmad Nuh.Perjalanan menuntut ilmuSetelah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an pada usia sepuluh tahun, Syekh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi belajar cara penulisan Mushaf Utsmani kepada sepupunya, yaitu Sidi Muhammad bin Ahmad bin Muhammad al-Mukhtar. Beliau juga mempelajari ilmu tajwid dan qira’ah Imam Nafi’, melalui riwayat Warsh (jalur Abu Ya‘qub al-Azraq) dan riwayat Qalun (jalur Abu Nasyith). Pada usia sekitar enam belas tahun, beliau telah memperoleh sanad bacaan Al-Qur’an yang bersambung sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Selain belajar qira’ah, beliau juga mempelajari beberapa kitab ringkas dalam fikih mazhab Maliki, seperti nazham Ibnu ‘Asyir. Beliau turut belajar ilmu sastra dan dasar-dasar tata bahasa Arab kepada istri pamannya, termasuk kitab Al-Ajurumiyah dan latihan-latihannya. Dari beliau juga, ia mempelajari nasab bangsa Arab, sejarah mereka, sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta berbagai nazham tentang peperangan Nabi dan silsilah keturunan Arab beserta penjelasannya. Semua ilmu itu beliau peroleh ketika masih tinggal di rumah keluarga dari pihak ibunya.Setelah itu, beliau memperdalam ilmu kepada guru-guru lain, seperti fikih dari Mukhtashar Khalil, nahwu dari Alfiyah Ibnu Malik, serta mempelajari sharaf, ushul fikih, balaghah, hadis, dan tafsir. Adapun ilmu manthiq (logika) serta adab penelitian dan perdebatan, beliau pelajari sendiri melalui banyak membaca dan belajar secara mandiri.Syekh Syekh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi (rahimahullah) menceritakan tentang awal perjalanannya menuntut ilmu. Beliau berkata,وَلَمَّا حَفِظْتُ القرآنَ، وأخذتُ الرسمَ العثمانيَّ، وتفوَّقْتُ فيه على الأقرانِ، عُنِيَتْ بي والدتي وأخوالي أَشَدَّ عنايةٍ، وعزموا على توجيهي للدراسةِ في بقيةِ الفنونِ، فجهَّزَتْنِي والدتي بِجَمَلَيْنِ، أحدهما عليه مَرْكَبِي وَكُتُبِي، والآخَرُ عليه نَفَقَتِي وَزَادِي، وصحبني خادمٌ ومعه عدةُ بقراتٍ، وقد هَيَّأَتْ لي مركبي كأحسنِ ما يكونُ من مركبٍ، وملابسَ كأحسنِ ما تكونُ، فَرَحًا بي، وَتَرْغِيبًا لي في طلبِ العلمِ، وهكذا سَلَكْتُ سبيلَ الطلبِ والتحصيلِ“Ketika aku sudah hafal Al-Qur’an, mempelajari tulisan Utsmani, dan lebih unggul dari teman-teman sebayaku, ibuku dan para pamanku sangat memperhatikanku. Mereka bertekad untuk mengarahkanku agar melanjutkan belajar dalam berbagai bidang ilmu lainnya.Ibuku menyiapkanku dengan dua ekor unta. Satu unta membawa tungganganku dan kitab-kitabku, dan satu lagi membawa bekal dan perbekalanku. Seorang pembantu ikut bersamaku, dengan beberapa ekor sapi. Ibuku juga menyiapkan tungganganku sebaik mungkin, dan memberiku pakaian yang bagus, karena ia senang kepadaku dan ingin mendorongku agar semangat menuntut ilmu. Demikianlah aku mulai menempuh jalan menuntut dan mencari ilmu.”Baca juga: Biografi Abdullah bin Al-MubarakSemangat beliau dalam menuntut ilmuSyekh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi (rahimahullah) memiliki semangat yang sangat tinggi dalam menuntut ilmu. Beliau tidak pernah membiarkan satu masalah pelajaran berlalu begitu saja tanpa benar-benar memahaminya secara mendalam, meskipun harus menghabiskan tenaga dan waktu yang lama.Beliau menceritakan sebuah pengalaman,جِئْتُ للشيخِ في قراءتِي عليه، فَشَرَحَ لي كما كان يشرحُ، ولكنه لم يَشْفِ ما في نفسي على ما تَعَوَّدْتُ، ولم يَرْوِ لي ظَمَئِي، وقمتُ من عنده وأنا أَجِدُنِي في حاجةٍ إلى إزالةِ بعضِ اللبسِ، وإيضاحِ بعضِ المُشْكِلِ، وكان الوقتُ ظُهْرًا، فأخذتُ الكتبَ والمراجعَ، فَطَالَعْتُ حتى العصرِ، فلم أَفْرَغْ من حاجتِي، فعاودتُ حتى المغربِ، فلم أَنْتَهِ أيضًا، فَأَوْقَدَ لِي خَادِمي أعوادًا من الحطبِ أقرأُ على ضَوْئِهَا، كعادةِ الطلابِ، وواصلتُ المطالعةَ، وأتناولُ الشاي الأخضرَ كُلَّمَا مَلِلْتُ أو كَسِلْتُ، والخادمُ بجواري يوقدُ الضوءَ، حتى انبثقَ الفجرُ وأنا في مجلسي لم أَقُمْ إلا لصلاةِ فرضٍ أو تناولِ طعامٍ، وإلى أن ارتفعَ النهارُ وقد فَرَغْتُ من درسي وزالَ عني لَبْسِي، ووجدتُ هذا المحلَّ من الدرسِ كغيره في الوضوحِ والفَهْمِ“Aku datang kepada guruku untuk belajar seperti biasa. Beliau menjelaskan pelajaran sebagaimana biasanya, tetapi kali ini penjelasannya belum benar-benar membuat hatiku puas seperti yang aku harapkan. Aku merasa masih ada bagian yang belum jelas dan belum sepenuhnya kupahami.Aku pulang pada waktu zuhur dalam keadaan masih merasa perlu meluruskan beberapa hal yang belum jelas. Lalu aku mengambil kitab-kitab dan buku rujukan, kemudian membaca dan meneliti sampai waktu asar, tetapi belum juga selesai. Aku lanjutkan lagi sampai magrib, namun masih belum tuntas.Kemudian pembantuku menyalakan kayu bakar agar aku bisa membaca dengan cahayanya, sebagaimana kebiasaan para pelajar saat itu. Aku terus belajar, dan setiap kali merasa lelah atau mengantuk, aku minum teh hijau. Pembantuku tetap di sampingku menyalakan api sebagai penerangan.Aku terus belajar hingga fajar menyingsing. Aku tidak bangkit dari tempat dudukku kecuali untuk salat wajib atau makan. Hingga pagi hari benar-benar terang, akhirnya aku selesai mempelajari bagian tersebut. Semua kebingungan hilang, dan bagian pelajaran itu menjadi jelas bagiku sebagaimana pelajaran lainnya.”Keluasan ilmu dan wawasannyaAllah menganugerahkan kepada Syekh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi (rahimahullah) kecerdasan yang luar biasa, daya hafal yang sangat kuat, dan semangat yang tinggi. Semua itu beliau gunakan untuk menuntut dan mengumpulkan ilmu dalam berbagai bidang, seperti akidah, tafsir, hadits, ushul fikih, dan bahasa Arab.Ketika beliau berbicara tentang suatu bidang ilmu, penjelasannya begitu kuat dan mendalam sehingga orang yang mendengarnya bisa menyangka bahwa beliau telah menghabiskan seluruh hidupnya hanya untuk mendalami bidang itu saja, dan tidak menguasai bidang lainnya.Ini bukanlah suatu bentuk berlebihan. Siapa saja yang membaca kitab beliau berjudul “Ar-Rihlah”, atau mendengarkan ceramah dan perdebatan ilmiahnya, baik ketika beliau di Madinah maupun rekaman saat beliau mengunjungi sepuluh negara di Afrika sebagai ketua delegasi dari universitas, mereka akan mengetahui kebenaran hal tersebut. Begitu pula pelajaran tafsir beliau yang direkam, menjadi bukti nyata keluasan ilmunya.Beliau pernah berkata dengan jujur,لاَ توجدُ آيةٌ في القرآنِ إلا دَرَسْتُهَا عَلَى حِدَةٍ“Tidak ada satu ayat pun dalam Al-Qur’an kecuali aku telah mempelajarinya secara khusus (mendalam).”Beliau juga berkata,كُلُّ آيَةٍ قال فيها الأَقْدَمُونَ شيئًا فهو عِنْدِي“Setiap ayat yang para ulama terdahulu telah berbicara tentangnya, maka pembahasan itu ada padaku (aku mengetahuinya).”Suatu ketika ada seseorang berkata kepada beliau, “Sesungguhnya Sulaiman al-Jamal (penulis Hasyiyah al-Jamal atas Tafsir al-Jalalain) tidak mengatakan hal itu.”Beliau menjawab,أَحْلِفُ لكَ باللَّهِ أني أعلمُ بكتابِ اللَّهِ من سليمانَ الجملِ بكذا؛ لأني أخذتُ المصحفَ من أَوَّلِهِ إلى آخِره، ولم تَبْقَ آيةٌ إلا تَتَبَّعْتُ أقوالَ العلماءِ فيها، وعرفتُ ما قالوا“Aku bersumpah demi Allah, aku lebih mengetahui tentang Kitab Allah daripada Sulaiman al-Jamal dalam hal ini. Karena aku telah menelaah mushaf dari awal sampai akhir. Tidak ada satu ayat pun kecuali aku telah menelusuri pendapat para ulama tentangnya dan mengetahui apa yang mereka katakan.”Beliau (rahimahullah) juga hafal ribuan bait syair Arab dan contoh-contoh bahasa Arab. Beliau hafal sebagian besar hadis dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, hafal Alfiyah Ibnu Malik (tentang nahwu), Maraqi as-Su‘ud (ushul fikih), Alfiyah al-‘Iraqi (ilmu hadis), serta berbagai nazham tentang sirah Nabi, peperangan, nasab, ayat-ayat yang lafaznya mirip dalam Al-Qur’an, dan juga beberapa matan fikih, baik dalam bentuk prosa maupun syair.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleNama dan nasabnyaKelahiran dan masa pertumbuhannyaPerjalanan menuntut ilmuSemangat beliau dalam menuntut ilmuKeluasan ilmu dan wawasannyaNama dan nasabnyaBeliau bernama Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar bin Abdul Qadir bin Muhammad bin Ahmad Nuh bin Muhammad bin Sayyidi Ahmad bin al-Mukhtar.Beliau termasuk keturunan Ath-Thalib Aubak, yang berasal dari keturunan Karir bin Al-Muwafi bin Ya‘qub bin Jakin Al-Abar. Jakin Al-Abar adalah leluhur kabilah yang dikenal dengan nama Al-Jakniyyin (kabilah) Jakni. Kabilah tersebut nasabnya bersambung hingga kepada Himyar.Kelahiran dan masa pertumbuhannyaSyekh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi (rahimahullah) lahir pada tahun 1325 H di sebuah tempat bernama Tanbah, yang termasuk wilayah Kifa di Mauritania.Beliau tumbuh dalam keadaan yatim, karena ayahnya wafat ketika beliau masih kecil dan masih membaca Juz ‘Amma dari Al-Qur’an. Sejak itu, beliau dibesarkan di rumah keluarga dari pihak ibu (para paman dan kerabatnya), yang sebenarnya masih keluarga dekat juga, karena ibunya adalah sepupu ayahnya.Rumah tempat beliau dibesarkan adalah lingkungan yang penuh dengan ilmu. Selain itu, daerah Syinqith (Mauritania) pada masa itu memang dikenal sebagai negeri yang banyak ulama, ahli sastra, dan para ksatria.Ayah beliau meninggalkan harta yang cukup banyak berupa uang dan hewan ternak, dan beliau adalah satu-satunya anak yang ditinggalkan.Syekh (rahimahullah) pernah menceritakan masa kecilnya,كنتُ أَمِيلُ إلى اللَّعِبِ أكثرَ من الدراسةِ، حتى حفظتُ الحروفَ الهجائيةَ، وبدؤوا يُقْرِئُونَنِي إياها بالحركاتِ (ب فتحة بَا، ب كسرة بِي، ب ضمة بُو) وهكذا.. فقلتُ لهم: أَوَكُلُّ الحروفِ هكذا؟ قالوا: نَعَمْ، فقلتُ: كفى، إني أستطيعُ قِرَاءَتَهَا كُلَّهَا على هذه الطريقةِ؛ كي يتركوني، فقالوا: اقْرَأْهَا. فقرأتُ بثلاثةِ حروفٍ أو أربعةٍ، وتنقَّلْتُ إلى آخِرِهَا بهذه الطريقةِ، فعرفوا أني فهمتُ قَاعِدَتَها، واكتفوا مني بذلك، وتركوني، ومن ثم حُبِّبَتْ إِلَيَّ القراءةُ“Aku dulu lebih suka bermain daripada belajar. Sampai akhirnya aku hafal huruf-huruf hijaiyah. Lalu mereka mulai mengajariku huruf dengan harakat (ba fathah: ba, ba kasrah: bi, ba dhammah: bu), dan seterusnya.Aku lalu bertanya kepada mereka, ‘Apakah semua huruf seperti ini?’Mereka menjawab, ‘Ya.’Aku berkata, ‘Kalau begitu cukup, aku bisa membacanya semua dengan cara ini,’ supaya mereka membiarkanku.Mereka berkata, ‘Coba baca.’Lalu aku membaca tiga atau empat huruf, kemudian meneruskannya sampai akhir dengan cara yang sama. Mereka pun tahu bahwa aku sudah memahami kaidahnya. Maka mereka merasa cukup dengan itu dan membiarkanku. Sejak saat itu, membaca menjadi sesuatu yang aku sukai.”Ketika beliau berusia sepuluh tahun, beliau telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an di bawah bimbingan pamannya, Abdullah bin Muhammad al-Mukhtar bin Ibrahim bin Ahmad Nuh.Perjalanan menuntut ilmuSetelah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an pada usia sepuluh tahun, Syekh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi belajar cara penulisan Mushaf Utsmani kepada sepupunya, yaitu Sidi Muhammad bin Ahmad bin Muhammad al-Mukhtar. Beliau juga mempelajari ilmu tajwid dan qira’ah Imam Nafi’, melalui riwayat Warsh (jalur Abu Ya‘qub al-Azraq) dan riwayat Qalun (jalur Abu Nasyith). Pada usia sekitar enam belas tahun, beliau telah memperoleh sanad bacaan Al-Qur’an yang bersambung sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Selain belajar qira’ah, beliau juga mempelajari beberapa kitab ringkas dalam fikih mazhab Maliki, seperti nazham Ibnu ‘Asyir. Beliau turut belajar ilmu sastra dan dasar-dasar tata bahasa Arab kepada istri pamannya, termasuk kitab Al-Ajurumiyah dan latihan-latihannya. Dari beliau juga, ia mempelajari nasab bangsa Arab, sejarah mereka, sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta berbagai nazham tentang peperangan Nabi dan silsilah keturunan Arab beserta penjelasannya. Semua ilmu itu beliau peroleh ketika masih tinggal di rumah keluarga dari pihak ibunya.Setelah itu, beliau memperdalam ilmu kepada guru-guru lain, seperti fikih dari Mukhtashar Khalil, nahwu dari Alfiyah Ibnu Malik, serta mempelajari sharaf, ushul fikih, balaghah, hadis, dan tafsir. Adapun ilmu manthiq (logika) serta adab penelitian dan perdebatan, beliau pelajari sendiri melalui banyak membaca dan belajar secara mandiri.Syekh Syekh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi (rahimahullah) menceritakan tentang awal perjalanannya menuntut ilmu. Beliau berkata,وَلَمَّا حَفِظْتُ القرآنَ، وأخذتُ الرسمَ العثمانيَّ، وتفوَّقْتُ فيه على الأقرانِ، عُنِيَتْ بي والدتي وأخوالي أَشَدَّ عنايةٍ، وعزموا على توجيهي للدراسةِ في بقيةِ الفنونِ، فجهَّزَتْنِي والدتي بِجَمَلَيْنِ، أحدهما عليه مَرْكَبِي وَكُتُبِي، والآخَرُ عليه نَفَقَتِي وَزَادِي، وصحبني خادمٌ ومعه عدةُ بقراتٍ، وقد هَيَّأَتْ لي مركبي كأحسنِ ما يكونُ من مركبٍ، وملابسَ كأحسنِ ما تكونُ، فَرَحًا بي، وَتَرْغِيبًا لي في طلبِ العلمِ، وهكذا سَلَكْتُ سبيلَ الطلبِ والتحصيلِ“Ketika aku sudah hafal Al-Qur’an, mempelajari tulisan Utsmani, dan lebih unggul dari teman-teman sebayaku, ibuku dan para pamanku sangat memperhatikanku. Mereka bertekad untuk mengarahkanku agar melanjutkan belajar dalam berbagai bidang ilmu lainnya.Ibuku menyiapkanku dengan dua ekor unta. Satu unta membawa tungganganku dan kitab-kitabku, dan satu lagi membawa bekal dan perbekalanku. Seorang pembantu ikut bersamaku, dengan beberapa ekor sapi. Ibuku juga menyiapkan tungganganku sebaik mungkin, dan memberiku pakaian yang bagus, karena ia senang kepadaku dan ingin mendorongku agar semangat menuntut ilmu. Demikianlah aku mulai menempuh jalan menuntut dan mencari ilmu.”Baca juga: Biografi Abdullah bin Al-MubarakSemangat beliau dalam menuntut ilmuSyekh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi (rahimahullah) memiliki semangat yang sangat tinggi dalam menuntut ilmu. Beliau tidak pernah membiarkan satu masalah pelajaran berlalu begitu saja tanpa benar-benar memahaminya secara mendalam, meskipun harus menghabiskan tenaga dan waktu yang lama.Beliau menceritakan sebuah pengalaman,جِئْتُ للشيخِ في قراءتِي عليه، فَشَرَحَ لي كما كان يشرحُ، ولكنه لم يَشْفِ ما في نفسي على ما تَعَوَّدْتُ، ولم يَرْوِ لي ظَمَئِي، وقمتُ من عنده وأنا أَجِدُنِي في حاجةٍ إلى إزالةِ بعضِ اللبسِ، وإيضاحِ بعضِ المُشْكِلِ، وكان الوقتُ ظُهْرًا، فأخذتُ الكتبَ والمراجعَ، فَطَالَعْتُ حتى العصرِ، فلم أَفْرَغْ من حاجتِي، فعاودتُ حتى المغربِ، فلم أَنْتَهِ أيضًا، فَأَوْقَدَ لِي خَادِمي أعوادًا من الحطبِ أقرأُ على ضَوْئِهَا، كعادةِ الطلابِ، وواصلتُ المطالعةَ، وأتناولُ الشاي الأخضرَ كُلَّمَا مَلِلْتُ أو كَسِلْتُ، والخادمُ بجواري يوقدُ الضوءَ، حتى انبثقَ الفجرُ وأنا في مجلسي لم أَقُمْ إلا لصلاةِ فرضٍ أو تناولِ طعامٍ، وإلى أن ارتفعَ النهارُ وقد فَرَغْتُ من درسي وزالَ عني لَبْسِي، ووجدتُ هذا المحلَّ من الدرسِ كغيره في الوضوحِ والفَهْمِ“Aku datang kepada guruku untuk belajar seperti biasa. Beliau menjelaskan pelajaran sebagaimana biasanya, tetapi kali ini penjelasannya belum benar-benar membuat hatiku puas seperti yang aku harapkan. Aku merasa masih ada bagian yang belum jelas dan belum sepenuhnya kupahami.Aku pulang pada waktu zuhur dalam keadaan masih merasa perlu meluruskan beberapa hal yang belum jelas. Lalu aku mengambil kitab-kitab dan buku rujukan, kemudian membaca dan meneliti sampai waktu asar, tetapi belum juga selesai. Aku lanjutkan lagi sampai magrib, namun masih belum tuntas.Kemudian pembantuku menyalakan kayu bakar agar aku bisa membaca dengan cahayanya, sebagaimana kebiasaan para pelajar saat itu. Aku terus belajar, dan setiap kali merasa lelah atau mengantuk, aku minum teh hijau. Pembantuku tetap di sampingku menyalakan api sebagai penerangan.Aku terus belajar hingga fajar menyingsing. Aku tidak bangkit dari tempat dudukku kecuali untuk salat wajib atau makan. Hingga pagi hari benar-benar terang, akhirnya aku selesai mempelajari bagian tersebut. Semua kebingungan hilang, dan bagian pelajaran itu menjadi jelas bagiku sebagaimana pelajaran lainnya.”Keluasan ilmu dan wawasannyaAllah menganugerahkan kepada Syekh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi (rahimahullah) kecerdasan yang luar biasa, daya hafal yang sangat kuat, dan semangat yang tinggi. Semua itu beliau gunakan untuk menuntut dan mengumpulkan ilmu dalam berbagai bidang, seperti akidah, tafsir, hadits, ushul fikih, dan bahasa Arab.Ketika beliau berbicara tentang suatu bidang ilmu, penjelasannya begitu kuat dan mendalam sehingga orang yang mendengarnya bisa menyangka bahwa beliau telah menghabiskan seluruh hidupnya hanya untuk mendalami bidang itu saja, dan tidak menguasai bidang lainnya.Ini bukanlah suatu bentuk berlebihan. Siapa saja yang membaca kitab beliau berjudul “Ar-Rihlah”, atau mendengarkan ceramah dan perdebatan ilmiahnya, baik ketika beliau di Madinah maupun rekaman saat beliau mengunjungi sepuluh negara di Afrika sebagai ketua delegasi dari universitas, mereka akan mengetahui kebenaran hal tersebut. Begitu pula pelajaran tafsir beliau yang direkam, menjadi bukti nyata keluasan ilmunya.Beliau pernah berkata dengan jujur,لاَ توجدُ آيةٌ في القرآنِ إلا دَرَسْتُهَا عَلَى حِدَةٍ“Tidak ada satu ayat pun dalam Al-Qur’an kecuali aku telah mempelajarinya secara khusus (mendalam).”Beliau juga berkata,كُلُّ آيَةٍ قال فيها الأَقْدَمُونَ شيئًا فهو عِنْدِي“Setiap ayat yang para ulama terdahulu telah berbicara tentangnya, maka pembahasan itu ada padaku (aku mengetahuinya).”Suatu ketika ada seseorang berkata kepada beliau, “Sesungguhnya Sulaiman al-Jamal (penulis Hasyiyah al-Jamal atas Tafsir al-Jalalain) tidak mengatakan hal itu.”Beliau menjawab,أَحْلِفُ لكَ باللَّهِ أني أعلمُ بكتابِ اللَّهِ من سليمانَ الجملِ بكذا؛ لأني أخذتُ المصحفَ من أَوَّلِهِ إلى آخِره، ولم تَبْقَ آيةٌ إلا تَتَبَّعْتُ أقوالَ العلماءِ فيها، وعرفتُ ما قالوا“Aku bersumpah demi Allah, aku lebih mengetahui tentang Kitab Allah daripada Sulaiman al-Jamal dalam hal ini. Karena aku telah menelaah mushaf dari awal sampai akhir. Tidak ada satu ayat pun kecuali aku telah menelusuri pendapat para ulama tentangnya dan mengetahui apa yang mereka katakan.”Beliau (rahimahullah) juga hafal ribuan bait syair Arab dan contoh-contoh bahasa Arab. Beliau hafal sebagian besar hadis dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, hafal Alfiyah Ibnu Malik (tentang nahwu), Maraqi as-Su‘ud (ushul fikih), Alfiyah al-‘Iraqi (ilmu hadis), serta berbagai nazham tentang sirah Nabi, peperangan, nasab, ayat-ayat yang lafaznya mirip dalam Al-Qur’an, dan juga beberapa matan fikih, baik dalam bentuk prosa maupun syair.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Tujuh Kebiasaan Orang-Orang Gagal

Oleh: Ahmad Nashib Ali Husain Tanpa saya sembunyikan darimu bahwa judul ini disadur dari judul buku karya Stephen Covey yang berjudul The 7 Habits of Highly Effective People (Tujuh Kebiasaan Orang-Orang yang Sangat Efektif). Sebagaimana orang-orang sukses punya kebiasaan-kebiasaan yang berpengaruh, demikian pula orang-orang gagal juga punya kebiasaan-kebiasaan yang membuat runtuh. Banyak sekali kebiasaan yang seperti ini, tapi saya memilih yang paling penting dan paling banyak menjangkiti orang. Kebiasaan Pertama: Menunda-nunda Ini merupakan salah satu kebiasaan paling menonjol dari orang-orang gagal yang berpengaruh dalam hidup mereka. Kebiasaan ini juga berperan besar dalam kemunduran kontribusi mereka dan banyaknya kegagalan mereka. Mereka suka menunda pekerjaan sebisa mungkin, jargon mereka adalah “Tunda pekerjaan hari ini ke hari esok!” Mereka selalu berusaha menunda pekerjaan yang penting atau tidak penting hingga tempo yang tidak ditentukan. Bahkan ketika mereka mengerjakannya pun, mereka baru menyelesaikannya di detik-detik akhir atau setelah waktu berakhir. Kebiasaan Kedua: Mengeluh Mereka tidak mampu beradaptasi dengan kondisi-kondisi lingkungan mereka. Mereka selalu mengambil jalan keluh kesah. Segala hal yang terasa menyakitkan, segera mereka ungkapkan dengan keluhan. Mereka mengeluhkan situasi-situasi buruk, tidak ada bantuan dari orang lain, kurangnya kesempatan yang tersedia, atau kesulitan hidup. Kalaulah saja keluhan itu dapat mendorong mereka untuk bekerja dan memperbaiki kondisi mereka, tapi mereka justru menjadikannya sebagai uzur atas kemalasan mereka dan sebab kelambatan mereka dalam mengejar rombongan orang-orang sukses dan merealisasikan kesuksesan. Kebiasaan Ketiga: Lari dari Tanggung Jawab Mereka tidak pernah mengakui tanggung jawab atas perbuatan dan kehidupan mereka. Selalu melempar tanggung jawab kepada orang lain. Mereka selalu mencari kambing hitam yang bisa mengganti mereka dalam memikul tanggung jawab. Kambing hitam ini berbeda-beda dari waktu ke waktu, terkadang kambing hitam ini berwujud penjajahan, terkadang para pelaku konspirasi dari luar, terkadang kedengkian orang lain, dan terkadang tidak adanya kondisi yang mendukung. Dengan demikian, mereka selalu hidup dengan berperan sebagai korban. Kebiasaan Keempat: Ketidakjelasan Tujuan Ini adalah kebiasaan yang sangat penting dalam menentukan tipe hidup mereka. Mereka selalu membicarakan tujuan-tujuan yang samar, atau tujuan-tujuan yang orang lain yang harus mewujudkannya. Mereka membentuk tujuan-tujuan di alam khayalan, tidak punya batas atau petunjuk yang jelas di alam realitas. Tujuan-tujuan ini masih abu-abu, ciri-cirinya belum jelas dan dimensi-dimensinya belum ditentukan secara pasti. Mereka berceloteh: “Kita ingin memperbaiki umat kita, membangkitkan masyarakat kita, dan memajukan negara kita!” Namun mereka tidak mengetahui dari mana harus memulai? Bagaimana mengawali? Dan aspek apa yang akan mereka bereskan? Kebiasaan Kelima: Malas Ini merupakan kebiasaan buruk yang membuat pelakunya suka membuang-buang waktu yang mahal dan menyia-nyiakan kesempatan berharga. Kebiasaan ini akan menggiringnya kepada penyesalan dan kerugian. Pelakunya hanya suka berangan-angan tanpa bekerja, menetapkan banyak rencana kerja tanpa mengusahakannya. Mereka lebih suka duduk-duduk daripada bangkit berdiri, lebih suka rebahan daripada duduk-duduk. Saat bekerja, mereka merindukan waktu ketika mereka bisa terbebas dari pekerjaan, selalu cenderung kepada kenyamanan dan waktu kosong. Jiwa mereka selalu terasa sempit saat bekerja, padahal waktu luang bukan selalu menjadi obat penawar yang mujarab. Kebiasaan Keenam: Menyia-nyiakan waktu Bagi mereka, waktu adalah musuh utama. Mereka menghambur-hamburkan waktu tanpa peduli, dan memperlakukannya dengan cara yang paling buruk, tanpa punya perencanaan, pengaturan, atau penertiban. Mereka sangat kreatif dalam mencari cara membuang-buang waktu. Jadwal harian mereka penuh dengan obrolan telepon panjang, perdebatan kosong yang membosankan, diskusi yang tidak membuahkan apa pun, angan-angan di siang bolong, menonton acara televisi yang tidak berkualitas, dan mengikuti berita-berita dengan penuh ketelitian. Kebiasaan Ketujuh: Menyia-nyiakan Kesempatan Kesempatan merupakan sesuatu yang berharga yang kadang hanya datang satu kali tanpa pernah terulang kembali, sehingga pemanfaatan kesempatan merupakan sisi pembeda penting antara orang-orang gagal dan orang-orang sukses. Oleh sebab itu, bagi orang-orang sukses, mereka harus segera mengambilnya. Sedangkan orang-orang gagal akan memperlakukan kesempatan yang terbuka sebagai hal yang mungkin datang berulang kali, sehingga tidak mengapa untuk dibiarkan pergi begitu saja dan disia-siakan, dengan harapan kesempatan itu datang lagi dan lagi. Ketika datang kepada salah satu dari mereka kesempatan kecil untuk suatu perkara, engkau akan mendapatinya penuh keraguan dalam mengambilnya, seakan-akan ia disuruh untuk memindahkan gunung. Sumber: https://www.alukah.net/social/0/78272/العادات-السبع-للمخفقين/ Sumber artikel PDF 🔍 Berdoa Saat Haid, Bacaan Niat Puasa Mulud, Surat Yang Pertama Kali Diturunkan, Pendeta Kalah Debat Masuk Islam, Doa Diberikan Jodoh Visited 412 times, 5 visit(s) today Post Views: 32

Tujuh Kebiasaan Orang-Orang Gagal

Oleh: Ahmad Nashib Ali Husain Tanpa saya sembunyikan darimu bahwa judul ini disadur dari judul buku karya Stephen Covey yang berjudul The 7 Habits of Highly Effective People (Tujuh Kebiasaan Orang-Orang yang Sangat Efektif). Sebagaimana orang-orang sukses punya kebiasaan-kebiasaan yang berpengaruh, demikian pula orang-orang gagal juga punya kebiasaan-kebiasaan yang membuat runtuh. Banyak sekali kebiasaan yang seperti ini, tapi saya memilih yang paling penting dan paling banyak menjangkiti orang. Kebiasaan Pertama: Menunda-nunda Ini merupakan salah satu kebiasaan paling menonjol dari orang-orang gagal yang berpengaruh dalam hidup mereka. Kebiasaan ini juga berperan besar dalam kemunduran kontribusi mereka dan banyaknya kegagalan mereka. Mereka suka menunda pekerjaan sebisa mungkin, jargon mereka adalah “Tunda pekerjaan hari ini ke hari esok!” Mereka selalu berusaha menunda pekerjaan yang penting atau tidak penting hingga tempo yang tidak ditentukan. Bahkan ketika mereka mengerjakannya pun, mereka baru menyelesaikannya di detik-detik akhir atau setelah waktu berakhir. Kebiasaan Kedua: Mengeluh Mereka tidak mampu beradaptasi dengan kondisi-kondisi lingkungan mereka. Mereka selalu mengambil jalan keluh kesah. Segala hal yang terasa menyakitkan, segera mereka ungkapkan dengan keluhan. Mereka mengeluhkan situasi-situasi buruk, tidak ada bantuan dari orang lain, kurangnya kesempatan yang tersedia, atau kesulitan hidup. Kalaulah saja keluhan itu dapat mendorong mereka untuk bekerja dan memperbaiki kondisi mereka, tapi mereka justru menjadikannya sebagai uzur atas kemalasan mereka dan sebab kelambatan mereka dalam mengejar rombongan orang-orang sukses dan merealisasikan kesuksesan. Kebiasaan Ketiga: Lari dari Tanggung Jawab Mereka tidak pernah mengakui tanggung jawab atas perbuatan dan kehidupan mereka. Selalu melempar tanggung jawab kepada orang lain. Mereka selalu mencari kambing hitam yang bisa mengganti mereka dalam memikul tanggung jawab. Kambing hitam ini berbeda-beda dari waktu ke waktu, terkadang kambing hitam ini berwujud penjajahan, terkadang para pelaku konspirasi dari luar, terkadang kedengkian orang lain, dan terkadang tidak adanya kondisi yang mendukung. Dengan demikian, mereka selalu hidup dengan berperan sebagai korban. Kebiasaan Keempat: Ketidakjelasan Tujuan Ini adalah kebiasaan yang sangat penting dalam menentukan tipe hidup mereka. Mereka selalu membicarakan tujuan-tujuan yang samar, atau tujuan-tujuan yang orang lain yang harus mewujudkannya. Mereka membentuk tujuan-tujuan di alam khayalan, tidak punya batas atau petunjuk yang jelas di alam realitas. Tujuan-tujuan ini masih abu-abu, ciri-cirinya belum jelas dan dimensi-dimensinya belum ditentukan secara pasti. Mereka berceloteh: “Kita ingin memperbaiki umat kita, membangkitkan masyarakat kita, dan memajukan negara kita!” Namun mereka tidak mengetahui dari mana harus memulai? Bagaimana mengawali? Dan aspek apa yang akan mereka bereskan? Kebiasaan Kelima: Malas Ini merupakan kebiasaan buruk yang membuat pelakunya suka membuang-buang waktu yang mahal dan menyia-nyiakan kesempatan berharga. Kebiasaan ini akan menggiringnya kepada penyesalan dan kerugian. Pelakunya hanya suka berangan-angan tanpa bekerja, menetapkan banyak rencana kerja tanpa mengusahakannya. Mereka lebih suka duduk-duduk daripada bangkit berdiri, lebih suka rebahan daripada duduk-duduk. Saat bekerja, mereka merindukan waktu ketika mereka bisa terbebas dari pekerjaan, selalu cenderung kepada kenyamanan dan waktu kosong. Jiwa mereka selalu terasa sempit saat bekerja, padahal waktu luang bukan selalu menjadi obat penawar yang mujarab. Kebiasaan Keenam: Menyia-nyiakan waktu Bagi mereka, waktu adalah musuh utama. Mereka menghambur-hamburkan waktu tanpa peduli, dan memperlakukannya dengan cara yang paling buruk, tanpa punya perencanaan, pengaturan, atau penertiban. Mereka sangat kreatif dalam mencari cara membuang-buang waktu. Jadwal harian mereka penuh dengan obrolan telepon panjang, perdebatan kosong yang membosankan, diskusi yang tidak membuahkan apa pun, angan-angan di siang bolong, menonton acara televisi yang tidak berkualitas, dan mengikuti berita-berita dengan penuh ketelitian. Kebiasaan Ketujuh: Menyia-nyiakan Kesempatan Kesempatan merupakan sesuatu yang berharga yang kadang hanya datang satu kali tanpa pernah terulang kembali, sehingga pemanfaatan kesempatan merupakan sisi pembeda penting antara orang-orang gagal dan orang-orang sukses. Oleh sebab itu, bagi orang-orang sukses, mereka harus segera mengambilnya. Sedangkan orang-orang gagal akan memperlakukan kesempatan yang terbuka sebagai hal yang mungkin datang berulang kali, sehingga tidak mengapa untuk dibiarkan pergi begitu saja dan disia-siakan, dengan harapan kesempatan itu datang lagi dan lagi. Ketika datang kepada salah satu dari mereka kesempatan kecil untuk suatu perkara, engkau akan mendapatinya penuh keraguan dalam mengambilnya, seakan-akan ia disuruh untuk memindahkan gunung. Sumber: https://www.alukah.net/social/0/78272/العادات-السبع-للمخفقين/ Sumber artikel PDF 🔍 Berdoa Saat Haid, Bacaan Niat Puasa Mulud, Surat Yang Pertama Kali Diturunkan, Pendeta Kalah Debat Masuk Islam, Doa Diberikan Jodoh Visited 412 times, 5 visit(s) today Post Views: 32
Oleh: Ahmad Nashib Ali Husain Tanpa saya sembunyikan darimu bahwa judul ini disadur dari judul buku karya Stephen Covey yang berjudul The 7 Habits of Highly Effective People (Tujuh Kebiasaan Orang-Orang yang Sangat Efektif). Sebagaimana orang-orang sukses punya kebiasaan-kebiasaan yang berpengaruh, demikian pula orang-orang gagal juga punya kebiasaan-kebiasaan yang membuat runtuh. Banyak sekali kebiasaan yang seperti ini, tapi saya memilih yang paling penting dan paling banyak menjangkiti orang. Kebiasaan Pertama: Menunda-nunda Ini merupakan salah satu kebiasaan paling menonjol dari orang-orang gagal yang berpengaruh dalam hidup mereka. Kebiasaan ini juga berperan besar dalam kemunduran kontribusi mereka dan banyaknya kegagalan mereka. Mereka suka menunda pekerjaan sebisa mungkin, jargon mereka adalah “Tunda pekerjaan hari ini ke hari esok!” Mereka selalu berusaha menunda pekerjaan yang penting atau tidak penting hingga tempo yang tidak ditentukan. Bahkan ketika mereka mengerjakannya pun, mereka baru menyelesaikannya di detik-detik akhir atau setelah waktu berakhir. Kebiasaan Kedua: Mengeluh Mereka tidak mampu beradaptasi dengan kondisi-kondisi lingkungan mereka. Mereka selalu mengambil jalan keluh kesah. Segala hal yang terasa menyakitkan, segera mereka ungkapkan dengan keluhan. Mereka mengeluhkan situasi-situasi buruk, tidak ada bantuan dari orang lain, kurangnya kesempatan yang tersedia, atau kesulitan hidup. Kalaulah saja keluhan itu dapat mendorong mereka untuk bekerja dan memperbaiki kondisi mereka, tapi mereka justru menjadikannya sebagai uzur atas kemalasan mereka dan sebab kelambatan mereka dalam mengejar rombongan orang-orang sukses dan merealisasikan kesuksesan. Kebiasaan Ketiga: Lari dari Tanggung Jawab Mereka tidak pernah mengakui tanggung jawab atas perbuatan dan kehidupan mereka. Selalu melempar tanggung jawab kepada orang lain. Mereka selalu mencari kambing hitam yang bisa mengganti mereka dalam memikul tanggung jawab. Kambing hitam ini berbeda-beda dari waktu ke waktu, terkadang kambing hitam ini berwujud penjajahan, terkadang para pelaku konspirasi dari luar, terkadang kedengkian orang lain, dan terkadang tidak adanya kondisi yang mendukung. Dengan demikian, mereka selalu hidup dengan berperan sebagai korban. Kebiasaan Keempat: Ketidakjelasan Tujuan Ini adalah kebiasaan yang sangat penting dalam menentukan tipe hidup mereka. Mereka selalu membicarakan tujuan-tujuan yang samar, atau tujuan-tujuan yang orang lain yang harus mewujudkannya. Mereka membentuk tujuan-tujuan di alam khayalan, tidak punya batas atau petunjuk yang jelas di alam realitas. Tujuan-tujuan ini masih abu-abu, ciri-cirinya belum jelas dan dimensi-dimensinya belum ditentukan secara pasti. Mereka berceloteh: “Kita ingin memperbaiki umat kita, membangkitkan masyarakat kita, dan memajukan negara kita!” Namun mereka tidak mengetahui dari mana harus memulai? Bagaimana mengawali? Dan aspek apa yang akan mereka bereskan? Kebiasaan Kelima: Malas Ini merupakan kebiasaan buruk yang membuat pelakunya suka membuang-buang waktu yang mahal dan menyia-nyiakan kesempatan berharga. Kebiasaan ini akan menggiringnya kepada penyesalan dan kerugian. Pelakunya hanya suka berangan-angan tanpa bekerja, menetapkan banyak rencana kerja tanpa mengusahakannya. Mereka lebih suka duduk-duduk daripada bangkit berdiri, lebih suka rebahan daripada duduk-duduk. Saat bekerja, mereka merindukan waktu ketika mereka bisa terbebas dari pekerjaan, selalu cenderung kepada kenyamanan dan waktu kosong. Jiwa mereka selalu terasa sempit saat bekerja, padahal waktu luang bukan selalu menjadi obat penawar yang mujarab. Kebiasaan Keenam: Menyia-nyiakan waktu Bagi mereka, waktu adalah musuh utama. Mereka menghambur-hamburkan waktu tanpa peduli, dan memperlakukannya dengan cara yang paling buruk, tanpa punya perencanaan, pengaturan, atau penertiban. Mereka sangat kreatif dalam mencari cara membuang-buang waktu. Jadwal harian mereka penuh dengan obrolan telepon panjang, perdebatan kosong yang membosankan, diskusi yang tidak membuahkan apa pun, angan-angan di siang bolong, menonton acara televisi yang tidak berkualitas, dan mengikuti berita-berita dengan penuh ketelitian. Kebiasaan Ketujuh: Menyia-nyiakan Kesempatan Kesempatan merupakan sesuatu yang berharga yang kadang hanya datang satu kali tanpa pernah terulang kembali, sehingga pemanfaatan kesempatan merupakan sisi pembeda penting antara orang-orang gagal dan orang-orang sukses. Oleh sebab itu, bagi orang-orang sukses, mereka harus segera mengambilnya. Sedangkan orang-orang gagal akan memperlakukan kesempatan yang terbuka sebagai hal yang mungkin datang berulang kali, sehingga tidak mengapa untuk dibiarkan pergi begitu saja dan disia-siakan, dengan harapan kesempatan itu datang lagi dan lagi. Ketika datang kepada salah satu dari mereka kesempatan kecil untuk suatu perkara, engkau akan mendapatinya penuh keraguan dalam mengambilnya, seakan-akan ia disuruh untuk memindahkan gunung. Sumber: https://www.alukah.net/social/0/78272/العادات-السبع-للمخفقين/ Sumber artikel PDF 🔍 Berdoa Saat Haid, Bacaan Niat Puasa Mulud, Surat Yang Pertama Kali Diturunkan, Pendeta Kalah Debat Masuk Islam, Doa Diberikan Jodoh Visited 412 times, 5 visit(s) today Post Views: 32


Oleh: Ahmad Nashib Ali Husain Tanpa saya sembunyikan darimu bahwa judul ini disadur dari judul buku karya Stephen Covey yang berjudul The 7 Habits of Highly Effective People (Tujuh Kebiasaan Orang-Orang yang Sangat Efektif). Sebagaimana orang-orang sukses punya kebiasaan-kebiasaan yang berpengaruh, demikian pula orang-orang gagal juga punya kebiasaan-kebiasaan yang membuat runtuh. Banyak sekali kebiasaan yang seperti ini, tapi saya memilih yang paling penting dan paling banyak menjangkiti orang. Kebiasaan Pertama: Menunda-nunda Ini merupakan salah satu kebiasaan paling menonjol dari orang-orang gagal yang berpengaruh dalam hidup mereka. Kebiasaan ini juga berperan besar dalam kemunduran kontribusi mereka dan banyaknya kegagalan mereka. Mereka suka menunda pekerjaan sebisa mungkin, jargon mereka adalah “Tunda pekerjaan hari ini ke hari esok!” Mereka selalu berusaha menunda pekerjaan yang penting atau tidak penting hingga tempo yang tidak ditentukan. Bahkan ketika mereka mengerjakannya pun, mereka baru menyelesaikannya di detik-detik akhir atau setelah waktu berakhir. Kebiasaan Kedua: Mengeluh Mereka tidak mampu beradaptasi dengan kondisi-kondisi lingkungan mereka. Mereka selalu mengambil jalan keluh kesah. Segala hal yang terasa menyakitkan, segera mereka ungkapkan dengan keluhan. Mereka mengeluhkan situasi-situasi buruk, tidak ada bantuan dari orang lain, kurangnya kesempatan yang tersedia, atau kesulitan hidup. Kalaulah saja keluhan itu dapat mendorong mereka untuk bekerja dan memperbaiki kondisi mereka, tapi mereka justru menjadikannya sebagai uzur atas kemalasan mereka dan sebab kelambatan mereka dalam mengejar rombongan orang-orang sukses dan merealisasikan kesuksesan. Kebiasaan Ketiga: Lari dari Tanggung Jawab Mereka tidak pernah mengakui tanggung jawab atas perbuatan dan kehidupan mereka. Selalu melempar tanggung jawab kepada orang lain. Mereka selalu mencari kambing hitam yang bisa mengganti mereka dalam memikul tanggung jawab. Kambing hitam ini berbeda-beda dari waktu ke waktu, terkadang kambing hitam ini berwujud penjajahan, terkadang para pelaku konspirasi dari luar, terkadang kedengkian orang lain, dan terkadang tidak adanya kondisi yang mendukung. Dengan demikian, mereka selalu hidup dengan berperan sebagai korban. Kebiasaan Keempat: Ketidakjelasan Tujuan Ini adalah kebiasaan yang sangat penting dalam menentukan tipe hidup mereka. Mereka selalu membicarakan tujuan-tujuan yang samar, atau tujuan-tujuan yang orang lain yang harus mewujudkannya. Mereka membentuk tujuan-tujuan di alam khayalan, tidak punya batas atau petunjuk yang jelas di alam realitas. Tujuan-tujuan ini masih abu-abu, ciri-cirinya belum jelas dan dimensi-dimensinya belum ditentukan secara pasti. Mereka berceloteh: “Kita ingin memperbaiki umat kita, membangkitkan masyarakat kita, dan memajukan negara kita!” Namun mereka tidak mengetahui dari mana harus memulai? Bagaimana mengawali? Dan aspek apa yang akan mereka bereskan? Kebiasaan Kelima: Malas Ini merupakan kebiasaan buruk yang membuat pelakunya suka membuang-buang waktu yang mahal dan menyia-nyiakan kesempatan berharga. Kebiasaan ini akan menggiringnya kepada penyesalan dan kerugian. Pelakunya hanya suka berangan-angan tanpa bekerja, menetapkan banyak rencana kerja tanpa mengusahakannya. Mereka lebih suka duduk-duduk daripada bangkit berdiri, lebih suka rebahan daripada duduk-duduk. Saat bekerja, mereka merindukan waktu ketika mereka bisa terbebas dari pekerjaan, selalu cenderung kepada kenyamanan dan waktu kosong. Jiwa mereka selalu terasa sempit saat bekerja, padahal waktu luang bukan selalu menjadi obat penawar yang mujarab. Kebiasaan Keenam: Menyia-nyiakan waktu Bagi mereka, waktu adalah musuh utama. Mereka menghambur-hamburkan waktu tanpa peduli, dan memperlakukannya dengan cara yang paling buruk, tanpa punya perencanaan, pengaturan, atau penertiban. Mereka sangat kreatif dalam mencari cara membuang-buang waktu. Jadwal harian mereka penuh dengan obrolan telepon panjang, perdebatan kosong yang membosankan, diskusi yang tidak membuahkan apa pun, angan-angan di siang bolong, menonton acara televisi yang tidak berkualitas, dan mengikuti berita-berita dengan penuh ketelitian. Kebiasaan Ketujuh: Menyia-nyiakan Kesempatan Kesempatan merupakan sesuatu yang berharga yang kadang hanya datang satu kali tanpa pernah terulang kembali, sehingga pemanfaatan kesempatan merupakan sisi pembeda penting antara orang-orang gagal dan orang-orang sukses. Oleh sebab itu, bagi orang-orang sukses, mereka harus segera mengambilnya. Sedangkan orang-orang gagal akan memperlakukan kesempatan yang terbuka sebagai hal yang mungkin datang berulang kali, sehingga tidak mengapa untuk dibiarkan pergi begitu saja dan disia-siakan, dengan harapan kesempatan itu datang lagi dan lagi. Ketika datang kepada salah satu dari mereka kesempatan kecil untuk suatu perkara, engkau akan mendapatinya penuh keraguan dalam mengambilnya, seakan-akan ia disuruh untuk memindahkan gunung. Sumber: https://www.alukah.net/social/0/78272/العادات-السبع-للمخفقين/ Sumber artikel PDF 🔍 Berdoa Saat Haid, Bacaan Niat Puasa Mulud, Surat Yang Pertama Kali Diturunkan, Pendeta Kalah Debat Masuk Islam, Doa Diberikan Jodoh Visited 412 times, 5 visit(s) today Post Views: 32

Khutbah Jumat: Jangan Takut Masa Depan, Bertakwalah kepada Allah

Setiap orang pernah khawatir tentang masa depan: pekerjaan, rezeki, jodoh, pendidikan, hingga kehidupan keluarga. Namun, apakah semua kekhawatiran itu benar-benar membantu kita, atau justru menjauhkan hati dari Allah? Islam mengajarkan bahwa masa depan dipersiapkan dengan ikhtiar terbaik, tetapi ditenangkan dengan takwa dan tawakal kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaالْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ.فَقَالَ تَعَالَى يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَأَمَّا بَعْدُ،Jamaah Jumat rahimakumullah,Segala puji kepada Allah, shalawat serta salam kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara kegelisahan terbesar manusia hari ini adalah khawatir dengan masa depan. Kekhawatiran itu hadir di ruang kelas, ruang dosen, ruang kerja, ruang riset, kamar kos, rumah tangga muda, bahkan di balik layar ponsel yang tampak ramai.Ada mahasiswa yang khawatir, “Nanti setelah lulus saya jadi apa?”Ada yang takut gagal, takut salah jurusan, takut tidak diterima kerja, takut kalah bersaing.Ada yang khawatir belum menikah, belum mapan, belum bisa membahagiakan orang tua.Ada dosen dan pendidik yang memikirkan amanah besar: kualitas generasi, riset, pengabdian, karier akademik, dan masa depan bangsa.Kampus melahirkan orang-orang cerdas. Namun, kecerdasan saja tidak selalu cukup untuk menenangkan hati. Ilmu membuat seseorang mampu membaca data, tetapi iman membuat seseorang mampu membaca takdir dengan tenang. Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,Islam tidak melarang kita memikirkan masa depan. Islam tidak memusuhi perencanaan. Islam tidak mengajarkan kita hidup asal jalan tanpa target.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا“Tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui apa yang akan ia usahakan besok.” (QS. Luqman: 34)Ayat ini bukan mengajarkan kemalasan. Ayat ini mengajarkan kerendahan hati. Kita boleh menyusun rencana, tetapi jangan merasa menguasai semua hasil. Kita boleh membuat target, tetapi jangan sombong seakan masa depan berada penuh di tangan kita.Masa depan adalah wilayah ilmu Allah. Tugas kita bukan menguasai masa depan, tetapi menyiapkan diri dengan iman, ilmu, amal, doa, dan ikhtiar terbaik. Jamaah Jumat rahimakumullah,Ada perbedaan besar antara perencanaan dan kecemasan berlebihan.Perencanaan membuat kita bergerak.Kecemasan berlebihan membuat kita lumpuh.Perencanaan membuat kita belajar, bekerja, menulis, meneliti, memperbaiki diri.Kecemasan berlebihan membuat kita sulit tidur, sulit fokus, mudah putus asa, dan buruk sangka kepada Allah.Perencanaan adalah bagian dari ikhtiar.Namun, overthinking terhadap masa depan adalah ketika pikiran terus tinggal di hari esok, sementara hati kehilangan ketenangan hari ini. Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,Bekal pertama menghadapi masa depan adalah takwa.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar baginya. Dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)Ayat ini adalah obat bagi hati yang takut masa depan. Allah tidak mengatakan, “Barang siapa paling kuat koneksinya, pasti selamat.” Allah tidak mengatakan, “Barang siapa paling tinggi IPK-nya, pasti tenang.” Allah tidak mengatakan, “Barang siapa paling banyak pengikutnya, pasti sukses.”Namun Allah berfirman: barang siapa bertakwa kepada Allah, Allah akan berikan jalan keluar.Bukan berarti IPK tidak penting. Bukan berarti kompetensi tidak penting. Bukan berarti jaringan, riset, pengalaman, dan strategi tidak penting. Semua itu bagian dari sebab. Namun, jangan lupa sebab terbesar datangnya jalan keluar adalah takwa kepada Allah.Takwa di lingkungan kampus berarti jujur saat ujian.Takwa berarti amanah dalam penelitian.Takwa berarti tidak memalsukan data.Takwa berarti tidak menghalalkan segala cara demi jabatan.Takwa berarti menjaga pandangan, menjaga pergaulan, menjaga lisan, menjaga shalat, dan menjaga hati.Masa depan tidak selalu dibuka oleh kecerdasan yang tampak. Sering kali masa depan dibuka oleh takwa yang tersembunyi. Jamaah Jumat rahimakumullah,Bekal kedua adalah tawakal.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Tawakal bukan berarti mahasiswa tidak belajar.Tawakal bukan berarti dosen tidak meneliti.Tawakal bukan berarti pencari kerja tidak menyiapkan kemampuan.Tawakal bukan berarti pemuda tidak membangun masa depan.Tawakal adalah bekerja maksimal, tetapi hati tidak bergantung kepada hasil. Tawakal adalah mengambil sebab, tetapi sadar bahwa sebab tidak memberi manfaat kecuali dengan izin Allah.Karena itu, siapa yang meninggalkan sebab dengan alasan tawakal, ia belum memahami tawakal dengan benar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia paling bertawakal, tetapi beliau tetap memakai strategi, bermusyawarah, mempersiapkan pasukan, mencari perlindungan, dan mengambil sebab.Maka kalimat ini perlu kita bawa pulang:Orang beriman bekerja seperti semua menuntut ikhtiar terbaik, tetapi hatinya tenang karena semua hasil berada di tangan Allah. Jamaah Jumat rahimakumullah,Bekal ketiga adalah imani takdir. Orang yang terlalu khawatir dengan masa depan sering terjebak dalam pertanyaan:“Bagaimana kalau nanti saya gagal?”“Bagaimana kalau rezeki saya sempit?”“Bagaimana kalau saya tidak seperti orang lain yang sudah sukses di usia 30?”Pertanyaan seperti ini, jika hanya sebatas lintasan manusiawi, masih wajar. Namun jika terus didalami, diputar-putar, sampai menjadi waswas, buruk sangka, putus asa, dan menggugat ketentuan Allah, maka inilah yang diperingatkan dalam perkataan Ath-Thahawi rahimahullah.Beliau berkata:وَأَصْلُ القَدَرِ سِرُّ اللهِ تَعَالَى فِي خَلْقِهِ، لَمْ يُطَلِّعْ عَلَى ذَلِكَ مَلَكٌ مُقَرَّبٌ، وَلاَ نَبِيٌّ مُرْسَلٌ، وَالتَّعَمُّقُ وَالنَّظَرُ فِي ذَلِكَ ذَرِيْعَةُ الخِذْلاَنِ، وسُلَّمُ الحِرْمَانِ، وَدَرَجَةُ الطُّغْيَانِ، فَالْحَذْرَ كُلَّ الحَذْرِ مِنْ ذَلِكَ نَظَرًا وَفِكْرًا وَوَسْوَسَةًAsal pembahasan takdir adalah rahasia Allah Ta’ala pada makhluk-Nya. Tidak ada malaikat yang dekat dengan Allah yang diberi tahu tentang hakikatnya, dan tidak pula ada nabi yang diutus yang mengetahuinya secara rinci.Terlalu mendalam membahas dan menyelidiki perkara takdir adalah jalan menuju tidak mendapat taufik, tangga menuju terhalangnya seseorang dari kebaikan, dan tingkatan orang yang melampaui batas.Karena itu, berhati-hatilah, benar-benar berhati-hatilah dari menyelami perkara takdir, baik dalam bentuk kajian yang berlebihan, pemikiran yang terlalu jauh, maupun waswas yang terus-menerus.Maka masa depan kita termasuk bagian dari rahasia takdir itu. Kita tidak tahu apa yang Allah siapkan besok. Kita tidak tahu pintu mana yang akan Allah buka. Kita tidak tahu musibah mana yang Allah tahan. Kita tidak tahu kebaikan mana yang Allah sembunyikan di balik keterlambatan, kegagalan, atau penundaan.Karena itu, orang beriman tidak menyiksa dirinya dengan membongkar sesuatu yang memang Allah tutup. Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,Di antara penyakit generasi hari ini adalah membandingkan masa depan.Dahulu manusia cemas karena kurang informasi. Hari ini manusia cemas karena terlalu banyak melihat pencapaian orang lain. Di media sosial, kita melihat teman sudah lulus, sudah kerja, sudah menikah, sudah lanjut studi, sudah punya rumah, sudah punya bisnis, sudah keliling dunia.Akhirnya muncul perasaan: “Mengapa saya tertinggal?”Padahal jamaah sekalian, takdir manusia tidak berjalan dengan jadwal yang sama. Ada yang Allah cepatkan. Ada yang Allah tahan dulu. Ada yang Allah beri jalan lewat pintu yang mudah. Ada yang Allah kuatkan lewat jalan yang panjang.Jangan ukur hidup kita dengan garis takdir orang lain.Terlambat menurut manusia belum tentu terlambat menurut Allah.Belum berhasil hari ini bukan berarti gagal selamanya.Belum dibuka pintunya bukan berarti Allah tidak sayang.Kadang Allah menunda sesuatu bukan karena ingin menghukum, tetapi karena ingin mematangkan. Kadang Allah belum memberi, karena jika diberi sekarang, kita justru rusak. Kadang Allah menutup satu pintu, agar kita tidak masuk ke jalan yang membahayakan agama dan akhirat kita. Jamaah Jumat rahimakumullah,Khawatir masa depan yang wajar adalah tabiat manusia. Namun, jika kekhawatiran itu sampai membuat kita putus asa, buruk sangka kepada Allah, meninggalkan shalat, malas berusaha, atau kehilangan harapan, maka kita harus segera kembali kepada Allah. Jamaah Jumat rahimakumullah,Setelah kita berbicara tentang masa depan dunia, jangan lupa bahwa ada masa depan yang lebih pasti: akhirat.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18)Hari esok terbesar bukan sekadar hari setelah wisuda.Hari esok terbesar bukan sekadar hari setelah diterima kerja.Hari esok terbesar bukan sekadar hari setelah menikah.Hari esok terbesar adalah hari ketika kita dibangkitkan, dihisab, dan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.Maka jangan sampai kecemasan terhadap masa depan dunia membuat kita lupa menyiapkan masa depan akhirat. Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,Ada empat bekal ringkas menghadapi masa depan.Pertama, perbaiki shalat.Hati yang jauh dari shalat akan mudah rapuh menghadapi tekanan hidup. Shalat bukan hanya kewajiban, tetapi sumber kekuatan. Orang yang menjaga shalat sedang menjaga hubungan dengan Dzat yang menggenggam masa depan.Kedua, bangun kompetensi.Mahasiswa harus belajar sungguh-sungguh. Dosen harus terus berkarya dan membimbing. Generasi muda harus punya adab, ilmu, keterampilan, dan daya juang. Tawakal tidak membenarkan kemalasan.Ketiga, jaga lingkungan.Teman yang baik membuat masa depan terasa lebih ringan. Lingkungan yang buruk membuat kecemasan makin gelap. Bertemanlah dengan orang yang mengingatkan kepada Allah, bukan yang terus membuat kita membandingkan diri dan lupa bersyukur.Keempat, perbanyak doa.Karena ada pintu-pintu masa depan yang tidak bisa dibuka oleh kecerdasan, tetapi dibuka oleh pertolongan Allah. Ada jalan keluar yang tidak terlihat oleh analisis manusia, tetapi sangat mudah bagi Allah.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa yang sangat cocok untuk hati yang gelisah, takut masa depan, lemah, malas, terbebani utang, dan merasa kalah oleh tekanan manusia:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِAllahumma innī a‘ūdzu bika minal-hammi wal-ḥazan, wal-‘ajzi wal-kasal, wal-jubni wal-bukhl, wa ḍala‘id-dain, wa ghalabatir-rijāl.“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan bakhil, dari beratnya utang, dan dari tekanan manusia.” Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,Siapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah, Allah akan memperbaiki jalan hidupnya.Dari Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah, ia berkata:كَانَ الْعُلَمَاءُ فِيمَا مَضَى يَكْتُبُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ بِهَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ: مَنْ أَصْلَحَ سَرِيرَتَهُ، أَصْلَحَ اللهُ عَلَانِيَتَهُ، وَمَنْ أَصْلَحَ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ، أَصْلَحَ اللهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَمَنْ عَمِلَ لِآخِرَتِهِ، كَفَاهُ اللهُ أَمْرَ دُنْيَاهُ.“Dahulu para ulama saling menulis nasihat dengan kalimat-kalimat ini:Siapa yang memperbaiki batinnya, Allah akan memperbaiki lahiriahnya.Siapa yang memperbaiki hubungan antara dirinya dengan Allah, Allah akan memperbaiki hubungan antara dirinya dengan manusia.Siapa yang beramal untuk akhiratnya, Allah akan mencukupkan urusan dunianya.” (Riwayat ini disebutkan bersumber dari Ibn Abi Ad-Dunya dalam Al-Ikhlash wa An-Niyyah).Sesungguhnya rasa takut yang berlebihan terhadap masa depan dapat melemahkan tawakal kepada Allah. Karena itu, hendaknya engkau mempercayai Allah dan bertawakal hanya kepada-Nya.Dalam Nuniyyah karya Al-Qahtani disebutkan:بِاللَّهِ ثِقْ وَلَهُ أَنِبْ وَبِهِ اسْتَعِنْ فَإِذَا فَعَلْتَ فَأَنْتَ خَيْرُ مُعَانِ“Percayalah kepada Allah, kembalilah kepada-Nya dengan penuh taubat, dan mintalah pertolongan hanya kepada-Nya. Jika engkau melakukannya, niscaya engkau akan memperoleh sebaik-baik pertolongan.”Demikian nasihat pada Khutbah kali ini. Semoga Allah mendatangkan kita kebaikan, menjauhkan kita dari keburukan, dan menjauhkan kita dari sifat HAMM (kecemasan berlebihan) terkait masa depan. Teruslah berusaha dalam kebaikan. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. Khutbah Keduaالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَاللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِاللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِاللَّهُمَّ إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لَنَا مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.  —- Naskah Khutbah Jumat di Masjid Kampus UGM, 10 Juli 2026, 23 Muharram 1448 H, ditulis di perjalanan dari BantulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagskecemasan khawatir khutbah jumat masa depan motivasi Islam nasihat Jumat overthinking QS Ath-Thalaq rezeki rumaysho takwa tawakal

Khutbah Jumat: Jangan Takut Masa Depan, Bertakwalah kepada Allah

Setiap orang pernah khawatir tentang masa depan: pekerjaan, rezeki, jodoh, pendidikan, hingga kehidupan keluarga. Namun, apakah semua kekhawatiran itu benar-benar membantu kita, atau justru menjauhkan hati dari Allah? Islam mengajarkan bahwa masa depan dipersiapkan dengan ikhtiar terbaik, tetapi ditenangkan dengan takwa dan tawakal kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaالْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ.فَقَالَ تَعَالَى يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَأَمَّا بَعْدُ،Jamaah Jumat rahimakumullah,Segala puji kepada Allah, shalawat serta salam kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara kegelisahan terbesar manusia hari ini adalah khawatir dengan masa depan. Kekhawatiran itu hadir di ruang kelas, ruang dosen, ruang kerja, ruang riset, kamar kos, rumah tangga muda, bahkan di balik layar ponsel yang tampak ramai.Ada mahasiswa yang khawatir, “Nanti setelah lulus saya jadi apa?”Ada yang takut gagal, takut salah jurusan, takut tidak diterima kerja, takut kalah bersaing.Ada yang khawatir belum menikah, belum mapan, belum bisa membahagiakan orang tua.Ada dosen dan pendidik yang memikirkan amanah besar: kualitas generasi, riset, pengabdian, karier akademik, dan masa depan bangsa.Kampus melahirkan orang-orang cerdas. Namun, kecerdasan saja tidak selalu cukup untuk menenangkan hati. Ilmu membuat seseorang mampu membaca data, tetapi iman membuat seseorang mampu membaca takdir dengan tenang. Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,Islam tidak melarang kita memikirkan masa depan. Islam tidak memusuhi perencanaan. Islam tidak mengajarkan kita hidup asal jalan tanpa target.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا“Tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui apa yang akan ia usahakan besok.” (QS. Luqman: 34)Ayat ini bukan mengajarkan kemalasan. Ayat ini mengajarkan kerendahan hati. Kita boleh menyusun rencana, tetapi jangan merasa menguasai semua hasil. Kita boleh membuat target, tetapi jangan sombong seakan masa depan berada penuh di tangan kita.Masa depan adalah wilayah ilmu Allah. Tugas kita bukan menguasai masa depan, tetapi menyiapkan diri dengan iman, ilmu, amal, doa, dan ikhtiar terbaik. Jamaah Jumat rahimakumullah,Ada perbedaan besar antara perencanaan dan kecemasan berlebihan.Perencanaan membuat kita bergerak.Kecemasan berlebihan membuat kita lumpuh.Perencanaan membuat kita belajar, bekerja, menulis, meneliti, memperbaiki diri.Kecemasan berlebihan membuat kita sulit tidur, sulit fokus, mudah putus asa, dan buruk sangka kepada Allah.Perencanaan adalah bagian dari ikhtiar.Namun, overthinking terhadap masa depan adalah ketika pikiran terus tinggal di hari esok, sementara hati kehilangan ketenangan hari ini. Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,Bekal pertama menghadapi masa depan adalah takwa.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar baginya. Dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)Ayat ini adalah obat bagi hati yang takut masa depan. Allah tidak mengatakan, “Barang siapa paling kuat koneksinya, pasti selamat.” Allah tidak mengatakan, “Barang siapa paling tinggi IPK-nya, pasti tenang.” Allah tidak mengatakan, “Barang siapa paling banyak pengikutnya, pasti sukses.”Namun Allah berfirman: barang siapa bertakwa kepada Allah, Allah akan berikan jalan keluar.Bukan berarti IPK tidak penting. Bukan berarti kompetensi tidak penting. Bukan berarti jaringan, riset, pengalaman, dan strategi tidak penting. Semua itu bagian dari sebab. Namun, jangan lupa sebab terbesar datangnya jalan keluar adalah takwa kepada Allah.Takwa di lingkungan kampus berarti jujur saat ujian.Takwa berarti amanah dalam penelitian.Takwa berarti tidak memalsukan data.Takwa berarti tidak menghalalkan segala cara demi jabatan.Takwa berarti menjaga pandangan, menjaga pergaulan, menjaga lisan, menjaga shalat, dan menjaga hati.Masa depan tidak selalu dibuka oleh kecerdasan yang tampak. Sering kali masa depan dibuka oleh takwa yang tersembunyi. Jamaah Jumat rahimakumullah,Bekal kedua adalah tawakal.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Tawakal bukan berarti mahasiswa tidak belajar.Tawakal bukan berarti dosen tidak meneliti.Tawakal bukan berarti pencari kerja tidak menyiapkan kemampuan.Tawakal bukan berarti pemuda tidak membangun masa depan.Tawakal adalah bekerja maksimal, tetapi hati tidak bergantung kepada hasil. Tawakal adalah mengambil sebab, tetapi sadar bahwa sebab tidak memberi manfaat kecuali dengan izin Allah.Karena itu, siapa yang meninggalkan sebab dengan alasan tawakal, ia belum memahami tawakal dengan benar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia paling bertawakal, tetapi beliau tetap memakai strategi, bermusyawarah, mempersiapkan pasukan, mencari perlindungan, dan mengambil sebab.Maka kalimat ini perlu kita bawa pulang:Orang beriman bekerja seperti semua menuntut ikhtiar terbaik, tetapi hatinya tenang karena semua hasil berada di tangan Allah. Jamaah Jumat rahimakumullah,Bekal ketiga adalah imani takdir. Orang yang terlalu khawatir dengan masa depan sering terjebak dalam pertanyaan:“Bagaimana kalau nanti saya gagal?”“Bagaimana kalau rezeki saya sempit?”“Bagaimana kalau saya tidak seperti orang lain yang sudah sukses di usia 30?”Pertanyaan seperti ini, jika hanya sebatas lintasan manusiawi, masih wajar. Namun jika terus didalami, diputar-putar, sampai menjadi waswas, buruk sangka, putus asa, dan menggugat ketentuan Allah, maka inilah yang diperingatkan dalam perkataan Ath-Thahawi rahimahullah.Beliau berkata:وَأَصْلُ القَدَرِ سِرُّ اللهِ تَعَالَى فِي خَلْقِهِ، لَمْ يُطَلِّعْ عَلَى ذَلِكَ مَلَكٌ مُقَرَّبٌ، وَلاَ نَبِيٌّ مُرْسَلٌ، وَالتَّعَمُّقُ وَالنَّظَرُ فِي ذَلِكَ ذَرِيْعَةُ الخِذْلاَنِ، وسُلَّمُ الحِرْمَانِ، وَدَرَجَةُ الطُّغْيَانِ، فَالْحَذْرَ كُلَّ الحَذْرِ مِنْ ذَلِكَ نَظَرًا وَفِكْرًا وَوَسْوَسَةًAsal pembahasan takdir adalah rahasia Allah Ta’ala pada makhluk-Nya. Tidak ada malaikat yang dekat dengan Allah yang diberi tahu tentang hakikatnya, dan tidak pula ada nabi yang diutus yang mengetahuinya secara rinci.Terlalu mendalam membahas dan menyelidiki perkara takdir adalah jalan menuju tidak mendapat taufik, tangga menuju terhalangnya seseorang dari kebaikan, dan tingkatan orang yang melampaui batas.Karena itu, berhati-hatilah, benar-benar berhati-hatilah dari menyelami perkara takdir, baik dalam bentuk kajian yang berlebihan, pemikiran yang terlalu jauh, maupun waswas yang terus-menerus.Maka masa depan kita termasuk bagian dari rahasia takdir itu. Kita tidak tahu apa yang Allah siapkan besok. Kita tidak tahu pintu mana yang akan Allah buka. Kita tidak tahu musibah mana yang Allah tahan. Kita tidak tahu kebaikan mana yang Allah sembunyikan di balik keterlambatan, kegagalan, atau penundaan.Karena itu, orang beriman tidak menyiksa dirinya dengan membongkar sesuatu yang memang Allah tutup. Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,Di antara penyakit generasi hari ini adalah membandingkan masa depan.Dahulu manusia cemas karena kurang informasi. Hari ini manusia cemas karena terlalu banyak melihat pencapaian orang lain. Di media sosial, kita melihat teman sudah lulus, sudah kerja, sudah menikah, sudah lanjut studi, sudah punya rumah, sudah punya bisnis, sudah keliling dunia.Akhirnya muncul perasaan: “Mengapa saya tertinggal?”Padahal jamaah sekalian, takdir manusia tidak berjalan dengan jadwal yang sama. Ada yang Allah cepatkan. Ada yang Allah tahan dulu. Ada yang Allah beri jalan lewat pintu yang mudah. Ada yang Allah kuatkan lewat jalan yang panjang.Jangan ukur hidup kita dengan garis takdir orang lain.Terlambat menurut manusia belum tentu terlambat menurut Allah.Belum berhasil hari ini bukan berarti gagal selamanya.Belum dibuka pintunya bukan berarti Allah tidak sayang.Kadang Allah menunda sesuatu bukan karena ingin menghukum, tetapi karena ingin mematangkan. Kadang Allah belum memberi, karena jika diberi sekarang, kita justru rusak. Kadang Allah menutup satu pintu, agar kita tidak masuk ke jalan yang membahayakan agama dan akhirat kita. Jamaah Jumat rahimakumullah,Khawatir masa depan yang wajar adalah tabiat manusia. Namun, jika kekhawatiran itu sampai membuat kita putus asa, buruk sangka kepada Allah, meninggalkan shalat, malas berusaha, atau kehilangan harapan, maka kita harus segera kembali kepada Allah. Jamaah Jumat rahimakumullah,Setelah kita berbicara tentang masa depan dunia, jangan lupa bahwa ada masa depan yang lebih pasti: akhirat.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18)Hari esok terbesar bukan sekadar hari setelah wisuda.Hari esok terbesar bukan sekadar hari setelah diterima kerja.Hari esok terbesar bukan sekadar hari setelah menikah.Hari esok terbesar adalah hari ketika kita dibangkitkan, dihisab, dan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.Maka jangan sampai kecemasan terhadap masa depan dunia membuat kita lupa menyiapkan masa depan akhirat. Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,Ada empat bekal ringkas menghadapi masa depan.Pertama, perbaiki shalat.Hati yang jauh dari shalat akan mudah rapuh menghadapi tekanan hidup. Shalat bukan hanya kewajiban, tetapi sumber kekuatan. Orang yang menjaga shalat sedang menjaga hubungan dengan Dzat yang menggenggam masa depan.Kedua, bangun kompetensi.Mahasiswa harus belajar sungguh-sungguh. Dosen harus terus berkarya dan membimbing. Generasi muda harus punya adab, ilmu, keterampilan, dan daya juang. Tawakal tidak membenarkan kemalasan.Ketiga, jaga lingkungan.Teman yang baik membuat masa depan terasa lebih ringan. Lingkungan yang buruk membuat kecemasan makin gelap. Bertemanlah dengan orang yang mengingatkan kepada Allah, bukan yang terus membuat kita membandingkan diri dan lupa bersyukur.Keempat, perbanyak doa.Karena ada pintu-pintu masa depan yang tidak bisa dibuka oleh kecerdasan, tetapi dibuka oleh pertolongan Allah. Ada jalan keluar yang tidak terlihat oleh analisis manusia, tetapi sangat mudah bagi Allah.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa yang sangat cocok untuk hati yang gelisah, takut masa depan, lemah, malas, terbebani utang, dan merasa kalah oleh tekanan manusia:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِAllahumma innī a‘ūdzu bika minal-hammi wal-ḥazan, wal-‘ajzi wal-kasal, wal-jubni wal-bukhl, wa ḍala‘id-dain, wa ghalabatir-rijāl.“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan bakhil, dari beratnya utang, dan dari tekanan manusia.” Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,Siapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah, Allah akan memperbaiki jalan hidupnya.Dari Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah, ia berkata:كَانَ الْعُلَمَاءُ فِيمَا مَضَى يَكْتُبُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ بِهَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ: مَنْ أَصْلَحَ سَرِيرَتَهُ، أَصْلَحَ اللهُ عَلَانِيَتَهُ، وَمَنْ أَصْلَحَ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ، أَصْلَحَ اللهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَمَنْ عَمِلَ لِآخِرَتِهِ، كَفَاهُ اللهُ أَمْرَ دُنْيَاهُ.“Dahulu para ulama saling menulis nasihat dengan kalimat-kalimat ini:Siapa yang memperbaiki batinnya, Allah akan memperbaiki lahiriahnya.Siapa yang memperbaiki hubungan antara dirinya dengan Allah, Allah akan memperbaiki hubungan antara dirinya dengan manusia.Siapa yang beramal untuk akhiratnya, Allah akan mencukupkan urusan dunianya.” (Riwayat ini disebutkan bersumber dari Ibn Abi Ad-Dunya dalam Al-Ikhlash wa An-Niyyah).Sesungguhnya rasa takut yang berlebihan terhadap masa depan dapat melemahkan tawakal kepada Allah. Karena itu, hendaknya engkau mempercayai Allah dan bertawakal hanya kepada-Nya.Dalam Nuniyyah karya Al-Qahtani disebutkan:بِاللَّهِ ثِقْ وَلَهُ أَنِبْ وَبِهِ اسْتَعِنْ فَإِذَا فَعَلْتَ فَأَنْتَ خَيْرُ مُعَانِ“Percayalah kepada Allah, kembalilah kepada-Nya dengan penuh taubat, dan mintalah pertolongan hanya kepada-Nya. Jika engkau melakukannya, niscaya engkau akan memperoleh sebaik-baik pertolongan.”Demikian nasihat pada Khutbah kali ini. Semoga Allah mendatangkan kita kebaikan, menjauhkan kita dari keburukan, dan menjauhkan kita dari sifat HAMM (kecemasan berlebihan) terkait masa depan. Teruslah berusaha dalam kebaikan. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. Khutbah Keduaالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَاللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِاللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِاللَّهُمَّ إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لَنَا مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.  —- Naskah Khutbah Jumat di Masjid Kampus UGM, 10 Juli 2026, 23 Muharram 1448 H, ditulis di perjalanan dari BantulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagskecemasan khawatir khutbah jumat masa depan motivasi Islam nasihat Jumat overthinking QS Ath-Thalaq rezeki rumaysho takwa tawakal
Setiap orang pernah khawatir tentang masa depan: pekerjaan, rezeki, jodoh, pendidikan, hingga kehidupan keluarga. Namun, apakah semua kekhawatiran itu benar-benar membantu kita, atau justru menjauhkan hati dari Allah? Islam mengajarkan bahwa masa depan dipersiapkan dengan ikhtiar terbaik, tetapi ditenangkan dengan takwa dan tawakal kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaالْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ.فَقَالَ تَعَالَى يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَأَمَّا بَعْدُ،Jamaah Jumat rahimakumullah,Segala puji kepada Allah, shalawat serta salam kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara kegelisahan terbesar manusia hari ini adalah khawatir dengan masa depan. Kekhawatiran itu hadir di ruang kelas, ruang dosen, ruang kerja, ruang riset, kamar kos, rumah tangga muda, bahkan di balik layar ponsel yang tampak ramai.Ada mahasiswa yang khawatir, “Nanti setelah lulus saya jadi apa?”Ada yang takut gagal, takut salah jurusan, takut tidak diterima kerja, takut kalah bersaing.Ada yang khawatir belum menikah, belum mapan, belum bisa membahagiakan orang tua.Ada dosen dan pendidik yang memikirkan amanah besar: kualitas generasi, riset, pengabdian, karier akademik, dan masa depan bangsa.Kampus melahirkan orang-orang cerdas. Namun, kecerdasan saja tidak selalu cukup untuk menenangkan hati. Ilmu membuat seseorang mampu membaca data, tetapi iman membuat seseorang mampu membaca takdir dengan tenang. Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,Islam tidak melarang kita memikirkan masa depan. Islam tidak memusuhi perencanaan. Islam tidak mengajarkan kita hidup asal jalan tanpa target.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا“Tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui apa yang akan ia usahakan besok.” (QS. Luqman: 34)Ayat ini bukan mengajarkan kemalasan. Ayat ini mengajarkan kerendahan hati. Kita boleh menyusun rencana, tetapi jangan merasa menguasai semua hasil. Kita boleh membuat target, tetapi jangan sombong seakan masa depan berada penuh di tangan kita.Masa depan adalah wilayah ilmu Allah. Tugas kita bukan menguasai masa depan, tetapi menyiapkan diri dengan iman, ilmu, amal, doa, dan ikhtiar terbaik. Jamaah Jumat rahimakumullah,Ada perbedaan besar antara perencanaan dan kecemasan berlebihan.Perencanaan membuat kita bergerak.Kecemasan berlebihan membuat kita lumpuh.Perencanaan membuat kita belajar, bekerja, menulis, meneliti, memperbaiki diri.Kecemasan berlebihan membuat kita sulit tidur, sulit fokus, mudah putus asa, dan buruk sangka kepada Allah.Perencanaan adalah bagian dari ikhtiar.Namun, overthinking terhadap masa depan adalah ketika pikiran terus tinggal di hari esok, sementara hati kehilangan ketenangan hari ini. Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,Bekal pertama menghadapi masa depan adalah takwa.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar baginya. Dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)Ayat ini adalah obat bagi hati yang takut masa depan. Allah tidak mengatakan, “Barang siapa paling kuat koneksinya, pasti selamat.” Allah tidak mengatakan, “Barang siapa paling tinggi IPK-nya, pasti tenang.” Allah tidak mengatakan, “Barang siapa paling banyak pengikutnya, pasti sukses.”Namun Allah berfirman: barang siapa bertakwa kepada Allah, Allah akan berikan jalan keluar.Bukan berarti IPK tidak penting. Bukan berarti kompetensi tidak penting. Bukan berarti jaringan, riset, pengalaman, dan strategi tidak penting. Semua itu bagian dari sebab. Namun, jangan lupa sebab terbesar datangnya jalan keluar adalah takwa kepada Allah.Takwa di lingkungan kampus berarti jujur saat ujian.Takwa berarti amanah dalam penelitian.Takwa berarti tidak memalsukan data.Takwa berarti tidak menghalalkan segala cara demi jabatan.Takwa berarti menjaga pandangan, menjaga pergaulan, menjaga lisan, menjaga shalat, dan menjaga hati.Masa depan tidak selalu dibuka oleh kecerdasan yang tampak. Sering kali masa depan dibuka oleh takwa yang tersembunyi. Jamaah Jumat rahimakumullah,Bekal kedua adalah tawakal.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Tawakal bukan berarti mahasiswa tidak belajar.Tawakal bukan berarti dosen tidak meneliti.Tawakal bukan berarti pencari kerja tidak menyiapkan kemampuan.Tawakal bukan berarti pemuda tidak membangun masa depan.Tawakal adalah bekerja maksimal, tetapi hati tidak bergantung kepada hasil. Tawakal adalah mengambil sebab, tetapi sadar bahwa sebab tidak memberi manfaat kecuali dengan izin Allah.Karena itu, siapa yang meninggalkan sebab dengan alasan tawakal, ia belum memahami tawakal dengan benar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia paling bertawakal, tetapi beliau tetap memakai strategi, bermusyawarah, mempersiapkan pasukan, mencari perlindungan, dan mengambil sebab.Maka kalimat ini perlu kita bawa pulang:Orang beriman bekerja seperti semua menuntut ikhtiar terbaik, tetapi hatinya tenang karena semua hasil berada di tangan Allah. Jamaah Jumat rahimakumullah,Bekal ketiga adalah imani takdir. Orang yang terlalu khawatir dengan masa depan sering terjebak dalam pertanyaan:“Bagaimana kalau nanti saya gagal?”“Bagaimana kalau rezeki saya sempit?”“Bagaimana kalau saya tidak seperti orang lain yang sudah sukses di usia 30?”Pertanyaan seperti ini, jika hanya sebatas lintasan manusiawi, masih wajar. Namun jika terus didalami, diputar-putar, sampai menjadi waswas, buruk sangka, putus asa, dan menggugat ketentuan Allah, maka inilah yang diperingatkan dalam perkataan Ath-Thahawi rahimahullah.Beliau berkata:وَأَصْلُ القَدَرِ سِرُّ اللهِ تَعَالَى فِي خَلْقِهِ، لَمْ يُطَلِّعْ عَلَى ذَلِكَ مَلَكٌ مُقَرَّبٌ، وَلاَ نَبِيٌّ مُرْسَلٌ، وَالتَّعَمُّقُ وَالنَّظَرُ فِي ذَلِكَ ذَرِيْعَةُ الخِذْلاَنِ، وسُلَّمُ الحِرْمَانِ، وَدَرَجَةُ الطُّغْيَانِ، فَالْحَذْرَ كُلَّ الحَذْرِ مِنْ ذَلِكَ نَظَرًا وَفِكْرًا وَوَسْوَسَةًAsal pembahasan takdir adalah rahasia Allah Ta’ala pada makhluk-Nya. Tidak ada malaikat yang dekat dengan Allah yang diberi tahu tentang hakikatnya, dan tidak pula ada nabi yang diutus yang mengetahuinya secara rinci.Terlalu mendalam membahas dan menyelidiki perkara takdir adalah jalan menuju tidak mendapat taufik, tangga menuju terhalangnya seseorang dari kebaikan, dan tingkatan orang yang melampaui batas.Karena itu, berhati-hatilah, benar-benar berhati-hatilah dari menyelami perkara takdir, baik dalam bentuk kajian yang berlebihan, pemikiran yang terlalu jauh, maupun waswas yang terus-menerus.Maka masa depan kita termasuk bagian dari rahasia takdir itu. Kita tidak tahu apa yang Allah siapkan besok. Kita tidak tahu pintu mana yang akan Allah buka. Kita tidak tahu musibah mana yang Allah tahan. Kita tidak tahu kebaikan mana yang Allah sembunyikan di balik keterlambatan, kegagalan, atau penundaan.Karena itu, orang beriman tidak menyiksa dirinya dengan membongkar sesuatu yang memang Allah tutup. Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,Di antara penyakit generasi hari ini adalah membandingkan masa depan.Dahulu manusia cemas karena kurang informasi. Hari ini manusia cemas karena terlalu banyak melihat pencapaian orang lain. Di media sosial, kita melihat teman sudah lulus, sudah kerja, sudah menikah, sudah lanjut studi, sudah punya rumah, sudah punya bisnis, sudah keliling dunia.Akhirnya muncul perasaan: “Mengapa saya tertinggal?”Padahal jamaah sekalian, takdir manusia tidak berjalan dengan jadwal yang sama. Ada yang Allah cepatkan. Ada yang Allah tahan dulu. Ada yang Allah beri jalan lewat pintu yang mudah. Ada yang Allah kuatkan lewat jalan yang panjang.Jangan ukur hidup kita dengan garis takdir orang lain.Terlambat menurut manusia belum tentu terlambat menurut Allah.Belum berhasil hari ini bukan berarti gagal selamanya.Belum dibuka pintunya bukan berarti Allah tidak sayang.Kadang Allah menunda sesuatu bukan karena ingin menghukum, tetapi karena ingin mematangkan. Kadang Allah belum memberi, karena jika diberi sekarang, kita justru rusak. Kadang Allah menutup satu pintu, agar kita tidak masuk ke jalan yang membahayakan agama dan akhirat kita. Jamaah Jumat rahimakumullah,Khawatir masa depan yang wajar adalah tabiat manusia. Namun, jika kekhawatiran itu sampai membuat kita putus asa, buruk sangka kepada Allah, meninggalkan shalat, malas berusaha, atau kehilangan harapan, maka kita harus segera kembali kepada Allah. Jamaah Jumat rahimakumullah,Setelah kita berbicara tentang masa depan dunia, jangan lupa bahwa ada masa depan yang lebih pasti: akhirat.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18)Hari esok terbesar bukan sekadar hari setelah wisuda.Hari esok terbesar bukan sekadar hari setelah diterima kerja.Hari esok terbesar bukan sekadar hari setelah menikah.Hari esok terbesar adalah hari ketika kita dibangkitkan, dihisab, dan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.Maka jangan sampai kecemasan terhadap masa depan dunia membuat kita lupa menyiapkan masa depan akhirat. Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,Ada empat bekal ringkas menghadapi masa depan.Pertama, perbaiki shalat.Hati yang jauh dari shalat akan mudah rapuh menghadapi tekanan hidup. Shalat bukan hanya kewajiban, tetapi sumber kekuatan. Orang yang menjaga shalat sedang menjaga hubungan dengan Dzat yang menggenggam masa depan.Kedua, bangun kompetensi.Mahasiswa harus belajar sungguh-sungguh. Dosen harus terus berkarya dan membimbing. Generasi muda harus punya adab, ilmu, keterampilan, dan daya juang. Tawakal tidak membenarkan kemalasan.Ketiga, jaga lingkungan.Teman yang baik membuat masa depan terasa lebih ringan. Lingkungan yang buruk membuat kecemasan makin gelap. Bertemanlah dengan orang yang mengingatkan kepada Allah, bukan yang terus membuat kita membandingkan diri dan lupa bersyukur.Keempat, perbanyak doa.Karena ada pintu-pintu masa depan yang tidak bisa dibuka oleh kecerdasan, tetapi dibuka oleh pertolongan Allah. Ada jalan keluar yang tidak terlihat oleh analisis manusia, tetapi sangat mudah bagi Allah.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa yang sangat cocok untuk hati yang gelisah, takut masa depan, lemah, malas, terbebani utang, dan merasa kalah oleh tekanan manusia:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِAllahumma innī a‘ūdzu bika minal-hammi wal-ḥazan, wal-‘ajzi wal-kasal, wal-jubni wal-bukhl, wa ḍala‘id-dain, wa ghalabatir-rijāl.“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan bakhil, dari beratnya utang, dan dari tekanan manusia.” Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,Siapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah, Allah akan memperbaiki jalan hidupnya.Dari Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah, ia berkata:كَانَ الْعُلَمَاءُ فِيمَا مَضَى يَكْتُبُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ بِهَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ: مَنْ أَصْلَحَ سَرِيرَتَهُ، أَصْلَحَ اللهُ عَلَانِيَتَهُ، وَمَنْ أَصْلَحَ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ، أَصْلَحَ اللهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَمَنْ عَمِلَ لِآخِرَتِهِ، كَفَاهُ اللهُ أَمْرَ دُنْيَاهُ.“Dahulu para ulama saling menulis nasihat dengan kalimat-kalimat ini:Siapa yang memperbaiki batinnya, Allah akan memperbaiki lahiriahnya.Siapa yang memperbaiki hubungan antara dirinya dengan Allah, Allah akan memperbaiki hubungan antara dirinya dengan manusia.Siapa yang beramal untuk akhiratnya, Allah akan mencukupkan urusan dunianya.” (Riwayat ini disebutkan bersumber dari Ibn Abi Ad-Dunya dalam Al-Ikhlash wa An-Niyyah).Sesungguhnya rasa takut yang berlebihan terhadap masa depan dapat melemahkan tawakal kepada Allah. Karena itu, hendaknya engkau mempercayai Allah dan bertawakal hanya kepada-Nya.Dalam Nuniyyah karya Al-Qahtani disebutkan:بِاللَّهِ ثِقْ وَلَهُ أَنِبْ وَبِهِ اسْتَعِنْ فَإِذَا فَعَلْتَ فَأَنْتَ خَيْرُ مُعَانِ“Percayalah kepada Allah, kembalilah kepada-Nya dengan penuh taubat, dan mintalah pertolongan hanya kepada-Nya. Jika engkau melakukannya, niscaya engkau akan memperoleh sebaik-baik pertolongan.”Demikian nasihat pada Khutbah kali ini. Semoga Allah mendatangkan kita kebaikan, menjauhkan kita dari keburukan, dan menjauhkan kita dari sifat HAMM (kecemasan berlebihan) terkait masa depan. Teruslah berusaha dalam kebaikan. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. Khutbah Keduaالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَاللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِاللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِاللَّهُمَّ إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لَنَا مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.  —- Naskah Khutbah Jumat di Masjid Kampus UGM, 10 Juli 2026, 23 Muharram 1448 H, ditulis di perjalanan dari BantulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagskecemasan khawatir khutbah jumat masa depan motivasi Islam nasihat Jumat overthinking QS Ath-Thalaq rezeki rumaysho takwa tawakal


Setiap orang pernah khawatir tentang masa depan: pekerjaan, rezeki, jodoh, pendidikan, hingga kehidupan keluarga. Namun, apakah semua kekhawatiran itu benar-benar membantu kita, atau justru menjauhkan hati dari Allah? Islam mengajarkan bahwa masa depan dipersiapkan dengan ikhtiar terbaik, tetapi ditenangkan dengan takwa dan tawakal kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaالْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ.فَقَالَ تَعَالَى يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَأَمَّا بَعْدُ،Jamaah Jumat rahimakumullah,Segala puji kepada Allah, shalawat serta salam kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara kegelisahan terbesar manusia hari ini adalah khawatir dengan masa depan. Kekhawatiran itu hadir di ruang kelas, ruang dosen, ruang kerja, ruang riset, kamar kos, rumah tangga muda, bahkan di balik layar ponsel yang tampak ramai.Ada mahasiswa yang khawatir, “Nanti setelah lulus saya jadi apa?”Ada yang takut gagal, takut salah jurusan, takut tidak diterima kerja, takut kalah bersaing.Ada yang khawatir belum menikah, belum mapan, belum bisa membahagiakan orang tua.Ada dosen dan pendidik yang memikirkan amanah besar: kualitas generasi, riset, pengabdian, karier akademik, dan masa depan bangsa.Kampus melahirkan orang-orang cerdas. Namun, kecerdasan saja tidak selalu cukup untuk menenangkan hati. Ilmu membuat seseorang mampu membaca data, tetapi iman membuat seseorang mampu membaca takdir dengan tenang. Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,Islam tidak melarang kita memikirkan masa depan. Islam tidak memusuhi perencanaan. Islam tidak mengajarkan kita hidup asal jalan tanpa target.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا“Tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui apa yang akan ia usahakan besok.” (QS. Luqman: 34)Ayat ini bukan mengajarkan kemalasan. Ayat ini mengajarkan kerendahan hati. Kita boleh menyusun rencana, tetapi jangan merasa menguasai semua hasil. Kita boleh membuat target, tetapi jangan sombong seakan masa depan berada penuh di tangan kita.Masa depan adalah wilayah ilmu Allah. Tugas kita bukan menguasai masa depan, tetapi menyiapkan diri dengan iman, ilmu, amal, doa, dan ikhtiar terbaik. Jamaah Jumat rahimakumullah,Ada perbedaan besar antara perencanaan dan kecemasan berlebihan.Perencanaan membuat kita bergerak.Kecemasan berlebihan membuat kita lumpuh.Perencanaan membuat kita belajar, bekerja, menulis, meneliti, memperbaiki diri.Kecemasan berlebihan membuat kita sulit tidur, sulit fokus, mudah putus asa, dan buruk sangka kepada Allah.Perencanaan adalah bagian dari ikhtiar.Namun, overthinking terhadap masa depan adalah ketika pikiran terus tinggal di hari esok, sementara hati kehilangan ketenangan hari ini. Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,Bekal pertama menghadapi masa depan adalah takwa.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar baginya. Dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)Ayat ini adalah obat bagi hati yang takut masa depan. Allah tidak mengatakan, “Barang siapa paling kuat koneksinya, pasti selamat.” Allah tidak mengatakan, “Barang siapa paling tinggi IPK-nya, pasti tenang.” Allah tidak mengatakan, “Barang siapa paling banyak pengikutnya, pasti sukses.”Namun Allah berfirman: barang siapa bertakwa kepada Allah, Allah akan berikan jalan keluar.Bukan berarti IPK tidak penting. Bukan berarti kompetensi tidak penting. Bukan berarti jaringan, riset, pengalaman, dan strategi tidak penting. Semua itu bagian dari sebab. Namun, jangan lupa sebab terbesar datangnya jalan keluar adalah takwa kepada Allah.Takwa di lingkungan kampus berarti jujur saat ujian.Takwa berarti amanah dalam penelitian.Takwa berarti tidak memalsukan data.Takwa berarti tidak menghalalkan segala cara demi jabatan.Takwa berarti menjaga pandangan, menjaga pergaulan, menjaga lisan, menjaga shalat, dan menjaga hati.Masa depan tidak selalu dibuka oleh kecerdasan yang tampak. Sering kali masa depan dibuka oleh takwa yang tersembunyi. Jamaah Jumat rahimakumullah,Bekal kedua adalah tawakal.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Tawakal bukan berarti mahasiswa tidak belajar.Tawakal bukan berarti dosen tidak meneliti.Tawakal bukan berarti pencari kerja tidak menyiapkan kemampuan.Tawakal bukan berarti pemuda tidak membangun masa depan.Tawakal adalah bekerja maksimal, tetapi hati tidak bergantung kepada hasil. Tawakal adalah mengambil sebab, tetapi sadar bahwa sebab tidak memberi manfaat kecuali dengan izin Allah.Karena itu, siapa yang meninggalkan sebab dengan alasan tawakal, ia belum memahami tawakal dengan benar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia paling bertawakal, tetapi beliau tetap memakai strategi, bermusyawarah, mempersiapkan pasukan, mencari perlindungan, dan mengambil sebab.Maka kalimat ini perlu kita bawa pulang:Orang beriman bekerja seperti semua menuntut ikhtiar terbaik, tetapi hatinya tenang karena semua hasil berada di tangan Allah. Jamaah Jumat rahimakumullah,Bekal ketiga adalah imani takdir. Orang yang terlalu khawatir dengan masa depan sering terjebak dalam pertanyaan:“Bagaimana kalau nanti saya gagal?”“Bagaimana kalau rezeki saya sempit?”“Bagaimana kalau saya tidak seperti orang lain yang sudah sukses di usia 30?”Pertanyaan seperti ini, jika hanya sebatas lintasan manusiawi, masih wajar. Namun jika terus didalami, diputar-putar, sampai menjadi waswas, buruk sangka, putus asa, dan menggugat ketentuan Allah, maka inilah yang diperingatkan dalam perkataan Ath-Thahawi rahimahullah.Beliau berkata:وَأَصْلُ القَدَرِ سِرُّ اللهِ تَعَالَى فِي خَلْقِهِ، لَمْ يُطَلِّعْ عَلَى ذَلِكَ مَلَكٌ مُقَرَّبٌ، وَلاَ نَبِيٌّ مُرْسَلٌ، وَالتَّعَمُّقُ وَالنَّظَرُ فِي ذَلِكَ ذَرِيْعَةُ الخِذْلاَنِ، وسُلَّمُ الحِرْمَانِ، وَدَرَجَةُ الطُّغْيَانِ، فَالْحَذْرَ كُلَّ الحَذْرِ مِنْ ذَلِكَ نَظَرًا وَفِكْرًا وَوَسْوَسَةًAsal pembahasan takdir adalah rahasia Allah Ta’ala pada makhluk-Nya. Tidak ada malaikat yang dekat dengan Allah yang diberi tahu tentang hakikatnya, dan tidak pula ada nabi yang diutus yang mengetahuinya secara rinci.Terlalu mendalam membahas dan menyelidiki perkara takdir adalah jalan menuju tidak mendapat taufik, tangga menuju terhalangnya seseorang dari kebaikan, dan tingkatan orang yang melampaui batas.Karena itu, berhati-hatilah, benar-benar berhati-hatilah dari menyelami perkara takdir, baik dalam bentuk kajian yang berlebihan, pemikiran yang terlalu jauh, maupun waswas yang terus-menerus.Maka masa depan kita termasuk bagian dari rahasia takdir itu. Kita tidak tahu apa yang Allah siapkan besok. Kita tidak tahu pintu mana yang akan Allah buka. Kita tidak tahu musibah mana yang Allah tahan. Kita tidak tahu kebaikan mana yang Allah sembunyikan di balik keterlambatan, kegagalan, atau penundaan.Karena itu, orang beriman tidak menyiksa dirinya dengan membongkar sesuatu yang memang Allah tutup. Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,Di antara penyakit generasi hari ini adalah membandingkan masa depan.Dahulu manusia cemas karena kurang informasi. Hari ini manusia cemas karena terlalu banyak melihat pencapaian orang lain. Di media sosial, kita melihat teman sudah lulus, sudah kerja, sudah menikah, sudah lanjut studi, sudah punya rumah, sudah punya bisnis, sudah keliling dunia.Akhirnya muncul perasaan: “Mengapa saya tertinggal?”Padahal jamaah sekalian, takdir manusia tidak berjalan dengan jadwal yang sama. Ada yang Allah cepatkan. Ada yang Allah tahan dulu. Ada yang Allah beri jalan lewat pintu yang mudah. Ada yang Allah kuatkan lewat jalan yang panjang.Jangan ukur hidup kita dengan garis takdir orang lain.Terlambat menurut manusia belum tentu terlambat menurut Allah.Belum berhasil hari ini bukan berarti gagal selamanya.Belum dibuka pintunya bukan berarti Allah tidak sayang.Kadang Allah menunda sesuatu bukan karena ingin menghukum, tetapi karena ingin mematangkan. Kadang Allah belum memberi, karena jika diberi sekarang, kita justru rusak. Kadang Allah menutup satu pintu, agar kita tidak masuk ke jalan yang membahayakan agama dan akhirat kita. Jamaah Jumat rahimakumullah,Khawatir masa depan yang wajar adalah tabiat manusia. Namun, jika kekhawatiran itu sampai membuat kita putus asa, buruk sangka kepada Allah, meninggalkan shalat, malas berusaha, atau kehilangan harapan, maka kita harus segera kembali kepada Allah. Jamaah Jumat rahimakumullah,Setelah kita berbicara tentang masa depan dunia, jangan lupa bahwa ada masa depan yang lebih pasti: akhirat.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18)Hari esok terbesar bukan sekadar hari setelah wisuda.Hari esok terbesar bukan sekadar hari setelah diterima kerja.Hari esok terbesar bukan sekadar hari setelah menikah.Hari esok terbesar adalah hari ketika kita dibangkitkan, dihisab, dan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.Maka jangan sampai kecemasan terhadap masa depan dunia membuat kita lupa menyiapkan masa depan akhirat. Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,Ada empat bekal ringkas menghadapi masa depan.Pertama, perbaiki shalat.Hati yang jauh dari shalat akan mudah rapuh menghadapi tekanan hidup. Shalat bukan hanya kewajiban, tetapi sumber kekuatan. Orang yang menjaga shalat sedang menjaga hubungan dengan Dzat yang menggenggam masa depan.Kedua, bangun kompetensi.Mahasiswa harus belajar sungguh-sungguh. Dosen harus terus berkarya dan membimbing. Generasi muda harus punya adab, ilmu, keterampilan, dan daya juang. Tawakal tidak membenarkan kemalasan.Ketiga, jaga lingkungan.Teman yang baik membuat masa depan terasa lebih ringan. Lingkungan yang buruk membuat kecemasan makin gelap. Bertemanlah dengan orang yang mengingatkan kepada Allah, bukan yang terus membuat kita membandingkan diri dan lupa bersyukur.Keempat, perbanyak doa.Karena ada pintu-pintu masa depan yang tidak bisa dibuka oleh kecerdasan, tetapi dibuka oleh pertolongan Allah. Ada jalan keluar yang tidak terlihat oleh analisis manusia, tetapi sangat mudah bagi Allah.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa yang sangat cocok untuk hati yang gelisah, takut masa depan, lemah, malas, terbebani utang, dan merasa kalah oleh tekanan manusia:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِAllahumma innī a‘ūdzu bika minal-hammi wal-ḥazan, wal-‘ajzi wal-kasal, wal-jubni wal-bukhl, wa ḍala‘id-dain, wa ghalabatir-rijāl.“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan bakhil, dari beratnya utang, dan dari tekanan manusia.” Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,Siapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah, Allah akan memperbaiki jalan hidupnya.Dari Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah, ia berkata:كَانَ الْعُلَمَاءُ فِيمَا مَضَى يَكْتُبُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ بِهَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ: مَنْ أَصْلَحَ سَرِيرَتَهُ، أَصْلَحَ اللهُ عَلَانِيَتَهُ، وَمَنْ أَصْلَحَ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ، أَصْلَحَ اللهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَمَنْ عَمِلَ لِآخِرَتِهِ، كَفَاهُ اللهُ أَمْرَ دُنْيَاهُ.“Dahulu para ulama saling menulis nasihat dengan kalimat-kalimat ini:Siapa yang memperbaiki batinnya, Allah akan memperbaiki lahiriahnya.Siapa yang memperbaiki hubungan antara dirinya dengan Allah, Allah akan memperbaiki hubungan antara dirinya dengan manusia.Siapa yang beramal untuk akhiratnya, Allah akan mencukupkan urusan dunianya.” (Riwayat ini disebutkan bersumber dari Ibn Abi Ad-Dunya dalam Al-Ikhlash wa An-Niyyah).Sesungguhnya rasa takut yang berlebihan terhadap masa depan dapat melemahkan tawakal kepada Allah. Karena itu, hendaknya engkau mempercayai Allah dan bertawakal hanya kepada-Nya.Dalam Nuniyyah karya Al-Qahtani disebutkan:بِاللَّهِ ثِقْ وَلَهُ أَنِبْ وَبِهِ اسْتَعِنْ فَإِذَا فَعَلْتَ فَأَنْتَ خَيْرُ مُعَانِ“Percayalah kepada Allah, kembalilah kepada-Nya dengan penuh taubat, dan mintalah pertolongan hanya kepada-Nya. Jika engkau melakukannya, niscaya engkau akan memperoleh sebaik-baik pertolongan.”Demikian nasihat pada Khutbah kali ini. Semoga Allah mendatangkan kita kebaikan, menjauhkan kita dari keburukan, dan menjauhkan kita dari sifat HAMM (kecemasan berlebihan) terkait masa depan. Teruslah berusaha dalam kebaikan. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. Khutbah Keduaالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَاللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِاللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِاللَّهُمَّ إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لَنَا مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.  —- Naskah Khutbah Jumat di Masjid Kampus UGM, 10 Juli 2026, 23 Muharram 1448 H, ditulis di perjalanan dari BantulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagskecemasan khawatir khutbah jumat masa depan motivasi Islam nasihat Jumat overthinking QS Ath-Thalaq rezeki rumaysho takwa tawakal
Prev     Next