Rahasia dan Keistimewaan Surat Al-Ikhlas – Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Abbad Al-Badr

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Qul huwallahu ahad (Surat Al-Ikhlas) setara dengan sepertiga Al-Qur’an.” (HR. Muslim). Penyusun rahimahullah Ta’ala, membawakan hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ini tentang keutamaan Surat Al-Ikhlas, “Qul huwallahu ahad.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Qul huwallahu ahad setara dengan sepertiga Al-Qur’an.” Ini merupakan keutamaan yang sangat agung dan mulia yang dikhususkan bagi surat ini, yaitu bahwa Surat Al-Ikhlas setara dengan sepertiga Al-Qur’an. Telah diriwayatkan dari Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak hadis yang menyebutkan bahwa Surat Al-Ikhlas setara dengan sepertiga Al-Qur’an. Dalam hadis-hadis tersebut, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa surat yang agung dan penuh keberkahan ini setara dengan sepertiga Al-Qur’an. Disebutkan dalam Sahih Muslim, dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berkumpullah!” Maksudnya, berkumpullah kalian! Beliau memerintahkan para sahabat untuk berkumpul. “Berkumpullah, karena sesungguhnya aku akan membacakan kepada kalian sepertiga Al-Qur’an.” Para sahabat radhiyallahu ‘anhum pun berkumpul. Maka berkumpullah siapa saja yang dapat berkumpul. Setelah para sahabat berkumpul, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemui mereka dan membaca, “Qul huwallahu ahad.” Kemudian beliau ‘alaihish shalatu was salam masuk ke rumahnya. Nabi berkata kepada para sahabat, bahwa beliau akan membacakan kepada mereka sepertiga Al-Qur’an.Namun beliau hanya membaca “Qul huwallahu ahad”, kemudian masuk ke rumahnya. Maka sebagian sahabat berkata kepada sebagian yang lain, “Sepertinya ada berita dari langit yang datang kepada beliau.” Mereka mengira beliau ‘alaihish shalatu was salam masuk ke rumah karena berita tersebut,sementara mereka masih menunggu beliau membacakan sepertiga Al-Qur’an. Semoga selawat, keselamatan, dan keberkahan Allah tercurah kepada beliau. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemui mereka, dan bersabda: “Sesungguhnya aku tadi berkata kepada kalian bahwa aku akan membacakan sepertiga Al-Qur’an. Ketahuilah, sesungguhnya Surat Al-Ikhlas itu setara dengan sepertiga Al-Qur’an. Diriwayatkan pula dalam Sahih Muslim, dari hadis Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah salah seorang di antara kalian tidak sanggup membaca sepertiga Al-Qur’an dalam semalam?” Para sahabat bertanya, “Bagaimana seseorang dapat membaca sepertiga Al-Qur’an dalam semalam?” Beliau ‘alaihish shalatu was salam menjawab, “Qul huwallahu ahad setara dengan sepertiga Al-Qur’an.” (HR. Muslim). Diriwayatkan pula dalam Sahih Al-Bukhari, dari hadis Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu,bahwa seorang lelaki mendengar lelaki lain membaca “Qul huwallahu ahad” berulang-ulang, pada malam hari, yakni dalam Salat Malam. Ia tidak membaca selain “Qul huwallahu ahad”, ia terus mengulang-ulangnya. Keesokan harinya, lelaki tersebut mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan hal itu, seakan-akan ia menganggap bacaan tersebut terlalu sedikit. Ia menganggap bacaan itu terlalu sedikit, sebab orang tersebut hanya membaca “Qul huwallahu ahad” dan mengulang-ulangnya dalam Salat Malamnya. Lelaki itu lalu mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan hal tersebut,seakan-akan ia menganggap bacaan tersebut terlalu sedikit.Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya Surat Al-Ikhlas itu benar-benar setara dengan sepertiga Al-Qur’an.” (HR. Bukhari). Berkaitan dengan hadis ini, yaitu hadis Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu, aku ingin menceritakan kepada kalian sebuah kisah yang berfaedah. Pernah, bertahun-tahun yang lalu, seusai salah satu kajian ini, datang kepadaku seorang pengunjung yang sudah lanjut usia dari salah satu negara Arab. Ia mengucapkan salam kepadaku, ketika itu para penuntut ilmu berada di sekelilingku, lalu ia berkata: “Wahai Syaikh, aku tidak hafal kecuali Surat Al-Fatihah dan Qul huwallahu ahad…Demi Allah, aku tidak menghafal selain keduanya,” ucapnya sambil menangis.Ia kembali berkata, “Demi Allah, aku tidak menghafal selain keduanya.”Lalu ia melanjutkan, “Setiap malam aku mengerjakan Salat Malam selama dua jam… Aku Salat Malam selama dua jam dengan membaca Al-Fatihah dan mengulang-ulang Qul huwallahu ahad. Aku tidak hafal surat yang lain,” ucapnya sambil menangis. Maka aku menyebutkan hadis ini kepadanya dan berkata:“Sungguh beruntung Anda dengan kebaikan ini!”Aku berkata kepadanya, “Ada orang pada zaman kita yang hafal Al-Qur’an seluruhnya,tetapi ia justru bermasalah dengan Salat Subuh. Ia bermasalah dengan Salat Subuh, sering kali Salat Subuh terlewat olehnya. Sedangkan Anda berada dalam kebaikan yang sangat besar.Anda berada dalam kebaikan yang sangat besar. Allah telah memuliakan Anda dengan kemuliaan yang besar, dan Allah menganugerahkan kepada Anda karunia yang agung: Dia mengaruniakan surat ini kepada Anda, yaitu surat yang sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an, dan dengannya Anda mengerjakan Salat Malam selama dua jam setiap malam. Sungguh beruntung Anda dengan kebaikan ini, yang dengannya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuliakan Anda.” Di antara hadis tentang keutamaan surat ini adalah hadis yang terdapat dalam Ash-Shahihain, dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus seorang lelaki dalam sebuah ekspedisi militer, dan lelaki itu menjadi imam salat bagi rekan-rekannya. Setelah membaca Al-Fatihah, ia membaca ayat atau surat yang mudah baginya dari Al-Qur’an, kemudian selalu menutup bacaannya dengan “Qul huwallahu ahad” pada setiap rakaat. Ia selalu menutup bacaannya dengan “Qul huwallahu ahad”. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan bagi para sahabat yang bersamanya, karena mereka pernah salat di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi tidak pernah melihat Nabi melakukan hal tersebut. Ketika mereka kembali kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menceritakan kepada beliau perihal lelaki tersebut. Mereka berkata, “Ia membaca surat, kemudian pada setiap rakaat selalu menutup bacaannya dengan Qul huwallahu ahad.” Nabi bersabda, “Tanyakanlah kepadanya, mengapa ia melakukan hal itu? Apa sebabnya?” Lelaki itu menjawab, “Karena di dalam surat tersebut terdapat sifat Ar-Rahman, dan aku mencintai Ar-Rahman.” Nabi ‘alaihish shalatu was salam bersabda, “Kabarkanlah kepadanya bahwa Allah mencintainya.” (HR. An-Nasa’i). Ia mencintai Surat Al-Ikhlas karena di dalamnya terdapat sifat Ar-Rahman. Nabi bersabda, “Kabarkanlah kepadanya bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintainya.” Dalam lafaz riwayat yang lain disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kabarkanlah kepadanya, ‘Kecintaanmu kepada surat tersebut telah memasukkanmu ke dalam surga.’” (HR. Bukhari). Kecintaannya kepada Surat Al-Ikhlas menjadi sebab ia masuk surga. Kecintaannya kepada Surat Al-Ikhlas juga menjadi sebab Allah, Rabb semesta alam, mencintainya. Banyak sekali hadis yang menyebutkan keutamaan surat ini. Karena itu pula, di antara keutamaannya adalah disyariatkannya membaca surat ini berulang kali dalam sehari semalam. Termasuk sunah adalah membacanya pada salat sunah dua rakaat sebelum Subuh, yaitu pada rakaat kedua, juga pada salat sunah setelah Magrib, Salat Witir, serta seusai salat-salat fardu, dan dalam zikir pagi dan petang: tiga kali pada pagi hari dan tiga kali pada petang hari. Surat ini juga dibaca dalam zikir sebelum tidur. Dengan demikian, seorang muslim membacanya berulang kali dalam sehari. Zikir-zikir yang tadi aku sebutkan, apakah jumlahnya melebihi sepuluh kali atau tidak? Apakah jumlahnya melebihi sepuluh kali? Ya, jumlahnya melebihi sepuluh kali. Disebutkan dalam sebuah hadis yang dinilai hasan oleh sebagian ulama bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa membaca ‘Qul huwallahu ahad’ sepuluh kali dalam sehari, Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga.” Seseorang yang membacanya seusai salat-salat fardu, itu sudah lima kali. Juga membacanya pada zikir petang tiga kali, dan pada zikir pagi tiga kali. Berapa jumlahnya? Sebelas kali. Ditambah lagi dalam zikir sebelum tidur dan dalam salat sunah. Jadi, surat ini disyariatkan untuk dibaca di dalam salat, dan setelah salat, dibaca juga pada pagi dan petang, serta ketika hendak tidur. Artinya, surat ini dibaca berulang kali. Ini termasuk keutamaannya. Surat Al-Ikhlas adalah surat yang agung dan memiliki kedudukan yang sangat agung. Banyak keutamaan besar pada Surat Al-Ikhlas. Karena itu, seorang muslim hendaknya memberikan perhatian yang besar kepada surat ini dan juga bersungguh-sungguh memahaminya. Perhatikan apa yang dikatakan oleh sahabat tadi, “Karena di dalam Surat Al-Ikhlas terdapat sifat Ar-Rahman.” “Karena di dalam Surat Al-Ikhlas terdapat sifat Ar-Rahman.” Surat ini dinamakan Surat Al-Ikhlas karena seluruh isinya memperkenalkan Ar-Rahman. Jika seseorang bertanya, “Siapakah Allah? Siapakah Allah?” maka bacakanlah kepadanya Surat Al-Ikhlas. “Katakanlah, ‘Dialah Allah Yang Maha Esa.Allah adalah Ash-Shamad, tempat seluruh makhluk bergantung.Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.’” (QS. Al-Ikhlas: 1–4) Inilah Allah, Rabb semesta alam. Surat ini sepenuhnya berisi penjelasan tentang sifat Rabb, untuk memperkenalkan siapa Rabb itu, siapa Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena itu, di dalam surat ini disebutkan nama-nama dan sifat-sifat Allah yang menunjukkan keagungan, kemuliaan, dan kesempurnaan Rabb Subhanahu wa Ta’ala. ===== عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ أَوْرَدَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِي فَضْلِ سُورَةِ الْإِخْلَاصِ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ وَهَذِهِ فَضِيلَةٌ عَظِيمَةٌ جَلِيلَةٌ اخْتُصَّتْ بِهَا هَذِهِ السُّورَةُ أَنَّهَا تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ وَقَدْ وَرَدَ فِي ذِكْرِ أَنَّهَا تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ عَنْ نَبِيِّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ يُخْبِرُ فِيهَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَنَّ هَذِهِ السُّورَةَ الْعَظِيمَةَ الْمُبَارَكَةَ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ احْشُدُوا أَيْ: تَجَمَّعُوا أَمَرَ الصَّحَابَةَ أَنْ يَتَجَمَّعُوا احْشُدُوا فَإِنِّي سَأَقْرَأُ عَلَيْكُمْ ثُلُثَ الْقُرْآنِ تَجَمَّعَ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ فَحَشَدَ مَنْ حَشَدَ ثُمَّ لَمَّا تَجَمَّعُوا خَرَجَ عَلَيْهِمْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَرَأَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ثُمَّ دَخَلَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِلَى بَيْتِهِ قَالَ لَهُمْ سَيَقْرَأُ عَلَيْهِمْ ثُلُثَ الْقُرْآنِ وَقَرَأَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ فَقَطْ، وَدَخَلَ إِلَى بَيْتِهِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ قَالَ بَعْضُ الصَّحَابَةِ لِبَعْضٍ: هَذَا خَبَرٌ جَاءَ مِنَ السَّمَاءِ فَدَخَلَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، يَعْنِي بِسَبَبِ هَذَا الْخَبَرِ فَكَانُوا يَنْتَظِرُونَ أَنْ يَقْرَأَ عَلَيْهِمْ ثُلُثَ الْقُرْآنِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ وَبَرَاكَاتُهُ عَلَيْهِ فَخَرَجَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ لَهُمْ إِنِّي قُلْتُ لَكُمْ: سَأَقْرَأُ عَلَيْكُمْ ثُلُثَ الْقُرْآنِ أَلَا إِنَّهَا تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ وَجَاءَ أَيْضًا فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ مِنْ حَدِيثِ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ ثُلُثَ الْقُرْآنِ فِي لَيْلَةٍ؟ قَالُوا: وَكَيْفَ يَقْرَأُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ فِي لَيْلَةٍ؟ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ وَجَاءَ فِي صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ مِنْ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا سَمِعَ رَجُلًا يَقْرَأُ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ يُرَدِّدُهَا يَعْنِي فِي اللَّيْلِ فِي صَلَاةِ اللَّيْلِ لَا يَقْرَأُ إِلَّا قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ يُرَدِّدُهَا فَلَمَّا أَصْبَحَ جَاءَ ذَلِكَ الرَّجُلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ لَهُ ذَلِكَ كَأَنَّهُ يَتَقَالُّهَا يَرَاهَا شَيْئًا قَلِيلًا وَذَاكَ إِنَّمَا كَانَ يَقْرَأُ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ يُرَدِّدُهَا فِي صَلَاتِهِ مِنَ اللَّيْلِ فَجَاءَ ذَلِكَ الرَّجُلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ لَهُ ذَلِكَ كَأَنَّهُ يَتَقَالُّهَا فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ بِمُنَاسَبَةِ هَذَا الْحَدِيثِ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَرْوِي لَكُمْ قِصَّةً مُفِيدَةً مَرَّةً مِنْ سَنَوَاتٍ طَوِيلَةٍ، عَلَى أَثَرِ أَحَدِ هَذِهِ الدُّرُوسِ جَاءَنِي رَجُلٌ مِنَ الزُّوَّارِ كَبِيرُ السِّنِّ مِنْ إِحْدَى الدُّوَلِ الْعَرَبِيَّةِ وَسَلَّمَ عَلَيَّ وَحَوْلِي الطُّلَّابُ، وَقَالَ لِي يَا شَيْخُ، أَنَا مَا أَحْفَظُ إِلَّا الْفَاتِحَةَ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ وَاللهِ مَا أَحْفَظُ غَيْرَهَا وَيَبْكِي قَالَ: وَاللهِ مَا أَحْفَظُ غَيْرَهَا قَالَ: وَأَنَا أُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ سَاعَتَيْنِ كُلَّ لَيْلَةٍ أُصَلِّي سَاعَتَيْنِ، أَقْرَأُ بِالْفَاتِحَةِ وَأُكَرِّرُ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، مَا عِنْدِي غَيْرُهَا، وَيَبْكِي فَذَكَرْتُ لَهُ هَذَا الْحَدِيثَ وَقُلْتُ لَهُ هَنِيئًا لَكَ هَذَا الْخَيْرُ قُلْتُ لَهُ: بَعْضُ النَّاسِ فِي زَمَانِنَا يَحْفَظُ الْقُرْآنَ كَامِلًا وَعِنْدَهُ مُشْكِلَةٌ مَعَ صَلَاةِ الْفَجْرِ عِنْدَهُ مُشْكِلَةٌ مَعَ صَلَاةِ الْفَجْرِ، يُغْلَبُ عَلَيْهَا أَنْتَ فِي خَيْرٍ عَظِيمٍ أَنْتَ فِي خَيْرٍ عَظِيمٍ أَكْرَمَكَ اللهُ بِكَرَامَةٍ عَظِيمَةٍ وَمَنَّ عَلَيْكَ بِمِنَّةٍ عَظِيمَةٍ، أَنْ أَعْطَاكَ هَذِهِ السُّورَةَ الَّتِي تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ وَتَقُومُ بِهَا كُلَّ لَيْلَةٍ سَاعَتَيْنِ هَنِيئًا لَكَ هَذَا الْخَيْرُ الَّذِي أَكْرَمَكَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِهِ وَمِمَّا جَاءَ فِي فَضْلِ هَذِهِ السُّورَةِ مَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحَيْنِ عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ رَجُلًا فِي سَرِيَّةٍ وَكَانَ يُصَلِّي بِهِمْ وَيَقْرَأُ بَعْدَ الْفَاتِحَةِ مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ ثُمَّ يَخْتِمُ بِقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ يَخْتِمُ بِقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ فَالَّذِينَ مَعَهُ مِنَ الصَّحَابَةِ اسْتَشْكَلُوا ذَلِكَ لِأَنَّهُمْ صَلَّوْا وَرَاءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا رَأَوْهُ يَفْعَلُ ذَلِكَ فَلَمَّا رَجَعُوا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرُوا لَهُ خَبَرَ هَذَا الرَّجُلِ قَالُوا: يَقْرَأُ وَفِي كُلِّ رَكْعَةٍ يَخْتِمُ بِقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ قَالَ: اسْأَلُوْهُ لِأَيِّ شَيْءٍ يَفْعَلُ ذَلِكَ؟ مَا السَّبَبُ؟ قَالَ ذَلِكَ الرَّجُلُ: لِأَنَّ فِيهَا صِفَةَ الرَّحْمَنِ، وَأَنَا أُحِبُّ الرَّحْمَنَ قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللهَ يُحِبُّهُ يُحِبُّ سُورَةَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ لِأَنَّ فِيهَا صِفَةَ الرَّحْمَنِ قَالَ: أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللهَ يُحِبُّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَجَاءَ فِي لَفْظٍ آخَرَ لِلْحَدِيثِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَخْبِرُوهُ أَنَّ حُبَّكَ إِيَّاهَا أَدْخَلَكَ الْجَنَّةَ، أَنَّ حُبَّكَ إِيَّاهَا أَدْخَلَكَ الْجَنَّةَ حُبُّهُ لِسُورَةِ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ أَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ حُبُّهُ لِسُورَةِ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ كَانَ سَبَبًا لِحُبِّ اللهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَجَاءَ فِي فَضْلِ هَذِهِ السُّورَةِ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ جِدًّا وَلِهَذَا أَيْضًا جَاءَ فِي فَضَائِلِهَا مَشْرُوعِيَّةُ قِرَاءَتِهَا فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ مَرَّاتٍ يَعْنِي مِنَ السُّنَّةِ أَنْ تَقْرَأَهَا فِي رَكْعَتَيِ النَّافِلَةِ فِي الْفَجْرِ، الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ وَأَيْضًا فِي نَافِلَةِ الْمَغْرِبِ، فِي صَلَاةِ الْوِتْرِ، وَأَدْبَارِ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَةِ وَفِي أَذْكَارِ الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فِي الصَّبَاحِ وَثَلَاثَ مَرَّاتٍ فِي الْمَسَاءِ وَجَاءَتْ أَيْضًا فِي أَذْكَارِ النَّوْمِ فَهِيَ تَتَكَرَّرُ مَعَ الْمُسْلِمِ فِي الْيَوْمِ مَرَّاتٍ هَذِهِ الْأَذْكَارُ الَّتِي أَشَرْتُ إِلَيْهَا تَزِيدُ عَلَى عَشَرَةٍ أَوْ لَا تَزِيدُ؟ تَزِيدُ عَلَى عَشَرَةِ مَرَّاتٍ أَوْ لَا تَزِيدُ؟ نَعَمْ، تَزِيدُ عَلَى عَشْرِ مَرَّاتٍ وَجَاءَ فِي حَدِيثٍ حَسَّنَهُ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَرَأَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ فِي يَوْمٍ عَشْرَ مَرَّاتٍ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ هَذَا الَّذِي يَقْرَؤُهَا أَدْبَارَ الصَّلَوَاتِ، هَذِهِ خَمْسٌ وَفِي أَذْكَارِ الْمَسَاءِ ثَلَاثٌ، وَالصَّبَاحِ ثَلَاثٌ هَذِهِ كَمْ؟ إِحْدَى عَشْرَةَ وَفِي أَذْكَارِ النَّوْمِ، وَفِي صَلَاةِ النَّافِلَةِ فَهِيَ مَشْرُوعَةٌ فِي الصَّلَاةِ، وَبَعْدَ الصَّلَاةِ وَفِي الصَّبَاحِ وَفِي الْمَسَاءِ، وَعِنْدَ النَّوْمِ يَعْنِي تُقْرَأُ قِرَاءَةً مُتَكَرِّرَةً وَهَذَا مِنْ فَضَائِلِهَا فَهِيَ سُورَةٌ عَظِيمَةٌ، عَظِيمَةُ الشَّأْنِ وَرَدَ فِيهَا فَضَائِلُ عَظِيمَةٌ كَثِيرَةٌ فَيَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ تَعْظُمَ عِنَايَتُهُ بِهَذِهِ السُّورَةِ وَأَنْ أَيْضًا يَعْتَنِيَ بِفَهْمِهَا لَاحِظِ الصَّحَابِيَّ مَاذَا قَالَ: لِأَنَّ فِيهَا صِفَةَ الرَّحْمَنِ لِأَنَّ فِيهَا صِفَةَ الرَّحْمَنِ هَذِهِ السُّورَةُ تُسَمَّى سُورَةَ الْإِخْلَاصِ لِأَنَّهُ لَا شَيْءَ فِيهَا إِلَّا التَّعْرِيفُ بِالرَّحْمَنِ لَوْ قَالَ قَائِلٌ: مَنْ هُوَ اللهُ؟ مَنْ هُوَ اللهُ؟ اقْرَأْ لَهُ سُورَةَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ اللهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ هَذَا هُوَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ أُخْلِصَتْ لِصِفَةِ الرَّبِّ لِلتَّعْرِيفِ بِالرَّبِّ مَنْ هُوَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَجَاءَ فِيهَا ذِكْرُ أَسْمَاءٍ لَهُ وَصِفَاتٍ تَدُلُّ عَلَى عَظَمَةِ الرَّبِّ وَجَلَالِهِ وَكَمَالِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Rahasia dan Keistimewaan Surat Al-Ikhlas – Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Abbad Al-Badr

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Qul huwallahu ahad (Surat Al-Ikhlas) setara dengan sepertiga Al-Qur’an.” (HR. Muslim). Penyusun rahimahullah Ta’ala, membawakan hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ini tentang keutamaan Surat Al-Ikhlas, “Qul huwallahu ahad.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Qul huwallahu ahad setara dengan sepertiga Al-Qur’an.” Ini merupakan keutamaan yang sangat agung dan mulia yang dikhususkan bagi surat ini, yaitu bahwa Surat Al-Ikhlas setara dengan sepertiga Al-Qur’an. Telah diriwayatkan dari Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak hadis yang menyebutkan bahwa Surat Al-Ikhlas setara dengan sepertiga Al-Qur’an. Dalam hadis-hadis tersebut, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa surat yang agung dan penuh keberkahan ini setara dengan sepertiga Al-Qur’an. Disebutkan dalam Sahih Muslim, dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berkumpullah!” Maksudnya, berkumpullah kalian! Beliau memerintahkan para sahabat untuk berkumpul. “Berkumpullah, karena sesungguhnya aku akan membacakan kepada kalian sepertiga Al-Qur’an.” Para sahabat radhiyallahu ‘anhum pun berkumpul. Maka berkumpullah siapa saja yang dapat berkumpul. Setelah para sahabat berkumpul, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemui mereka dan membaca, “Qul huwallahu ahad.” Kemudian beliau ‘alaihish shalatu was salam masuk ke rumahnya. Nabi berkata kepada para sahabat, bahwa beliau akan membacakan kepada mereka sepertiga Al-Qur’an.Namun beliau hanya membaca “Qul huwallahu ahad”, kemudian masuk ke rumahnya. Maka sebagian sahabat berkata kepada sebagian yang lain, “Sepertinya ada berita dari langit yang datang kepada beliau.” Mereka mengira beliau ‘alaihish shalatu was salam masuk ke rumah karena berita tersebut,sementara mereka masih menunggu beliau membacakan sepertiga Al-Qur’an. Semoga selawat, keselamatan, dan keberkahan Allah tercurah kepada beliau. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemui mereka, dan bersabda: “Sesungguhnya aku tadi berkata kepada kalian bahwa aku akan membacakan sepertiga Al-Qur’an. Ketahuilah, sesungguhnya Surat Al-Ikhlas itu setara dengan sepertiga Al-Qur’an. Diriwayatkan pula dalam Sahih Muslim, dari hadis Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah salah seorang di antara kalian tidak sanggup membaca sepertiga Al-Qur’an dalam semalam?” Para sahabat bertanya, “Bagaimana seseorang dapat membaca sepertiga Al-Qur’an dalam semalam?” Beliau ‘alaihish shalatu was salam menjawab, “Qul huwallahu ahad setara dengan sepertiga Al-Qur’an.” (HR. Muslim). Diriwayatkan pula dalam Sahih Al-Bukhari, dari hadis Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu,bahwa seorang lelaki mendengar lelaki lain membaca “Qul huwallahu ahad” berulang-ulang, pada malam hari, yakni dalam Salat Malam. Ia tidak membaca selain “Qul huwallahu ahad”, ia terus mengulang-ulangnya. Keesokan harinya, lelaki tersebut mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan hal itu, seakan-akan ia menganggap bacaan tersebut terlalu sedikit. Ia menganggap bacaan itu terlalu sedikit, sebab orang tersebut hanya membaca “Qul huwallahu ahad” dan mengulang-ulangnya dalam Salat Malamnya. Lelaki itu lalu mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan hal tersebut,seakan-akan ia menganggap bacaan tersebut terlalu sedikit.Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya Surat Al-Ikhlas itu benar-benar setara dengan sepertiga Al-Qur’an.” (HR. Bukhari). Berkaitan dengan hadis ini, yaitu hadis Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu, aku ingin menceritakan kepada kalian sebuah kisah yang berfaedah. Pernah, bertahun-tahun yang lalu, seusai salah satu kajian ini, datang kepadaku seorang pengunjung yang sudah lanjut usia dari salah satu negara Arab. Ia mengucapkan salam kepadaku, ketika itu para penuntut ilmu berada di sekelilingku, lalu ia berkata: “Wahai Syaikh, aku tidak hafal kecuali Surat Al-Fatihah dan Qul huwallahu ahad…Demi Allah, aku tidak menghafal selain keduanya,” ucapnya sambil menangis.Ia kembali berkata, “Demi Allah, aku tidak menghafal selain keduanya.”Lalu ia melanjutkan, “Setiap malam aku mengerjakan Salat Malam selama dua jam… Aku Salat Malam selama dua jam dengan membaca Al-Fatihah dan mengulang-ulang Qul huwallahu ahad. Aku tidak hafal surat yang lain,” ucapnya sambil menangis. Maka aku menyebutkan hadis ini kepadanya dan berkata:“Sungguh beruntung Anda dengan kebaikan ini!”Aku berkata kepadanya, “Ada orang pada zaman kita yang hafal Al-Qur’an seluruhnya,tetapi ia justru bermasalah dengan Salat Subuh. Ia bermasalah dengan Salat Subuh, sering kali Salat Subuh terlewat olehnya. Sedangkan Anda berada dalam kebaikan yang sangat besar.Anda berada dalam kebaikan yang sangat besar. Allah telah memuliakan Anda dengan kemuliaan yang besar, dan Allah menganugerahkan kepada Anda karunia yang agung: Dia mengaruniakan surat ini kepada Anda, yaitu surat yang sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an, dan dengannya Anda mengerjakan Salat Malam selama dua jam setiap malam. Sungguh beruntung Anda dengan kebaikan ini, yang dengannya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuliakan Anda.” Di antara hadis tentang keutamaan surat ini adalah hadis yang terdapat dalam Ash-Shahihain, dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus seorang lelaki dalam sebuah ekspedisi militer, dan lelaki itu menjadi imam salat bagi rekan-rekannya. Setelah membaca Al-Fatihah, ia membaca ayat atau surat yang mudah baginya dari Al-Qur’an, kemudian selalu menutup bacaannya dengan “Qul huwallahu ahad” pada setiap rakaat. Ia selalu menutup bacaannya dengan “Qul huwallahu ahad”. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan bagi para sahabat yang bersamanya, karena mereka pernah salat di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi tidak pernah melihat Nabi melakukan hal tersebut. Ketika mereka kembali kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menceritakan kepada beliau perihal lelaki tersebut. Mereka berkata, “Ia membaca surat, kemudian pada setiap rakaat selalu menutup bacaannya dengan Qul huwallahu ahad.” Nabi bersabda, “Tanyakanlah kepadanya, mengapa ia melakukan hal itu? Apa sebabnya?” Lelaki itu menjawab, “Karena di dalam surat tersebut terdapat sifat Ar-Rahman, dan aku mencintai Ar-Rahman.” Nabi ‘alaihish shalatu was salam bersabda, “Kabarkanlah kepadanya bahwa Allah mencintainya.” (HR. An-Nasa’i). Ia mencintai Surat Al-Ikhlas karena di dalamnya terdapat sifat Ar-Rahman. Nabi bersabda, “Kabarkanlah kepadanya bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintainya.” Dalam lafaz riwayat yang lain disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kabarkanlah kepadanya, ‘Kecintaanmu kepada surat tersebut telah memasukkanmu ke dalam surga.’” (HR. Bukhari). Kecintaannya kepada Surat Al-Ikhlas menjadi sebab ia masuk surga. Kecintaannya kepada Surat Al-Ikhlas juga menjadi sebab Allah, Rabb semesta alam, mencintainya. Banyak sekali hadis yang menyebutkan keutamaan surat ini. Karena itu pula, di antara keutamaannya adalah disyariatkannya membaca surat ini berulang kali dalam sehari semalam. Termasuk sunah adalah membacanya pada salat sunah dua rakaat sebelum Subuh, yaitu pada rakaat kedua, juga pada salat sunah setelah Magrib, Salat Witir, serta seusai salat-salat fardu, dan dalam zikir pagi dan petang: tiga kali pada pagi hari dan tiga kali pada petang hari. Surat ini juga dibaca dalam zikir sebelum tidur. Dengan demikian, seorang muslim membacanya berulang kali dalam sehari. Zikir-zikir yang tadi aku sebutkan, apakah jumlahnya melebihi sepuluh kali atau tidak? Apakah jumlahnya melebihi sepuluh kali? Ya, jumlahnya melebihi sepuluh kali. Disebutkan dalam sebuah hadis yang dinilai hasan oleh sebagian ulama bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa membaca ‘Qul huwallahu ahad’ sepuluh kali dalam sehari, Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga.” Seseorang yang membacanya seusai salat-salat fardu, itu sudah lima kali. Juga membacanya pada zikir petang tiga kali, dan pada zikir pagi tiga kali. Berapa jumlahnya? Sebelas kali. Ditambah lagi dalam zikir sebelum tidur dan dalam salat sunah. Jadi, surat ini disyariatkan untuk dibaca di dalam salat, dan setelah salat, dibaca juga pada pagi dan petang, serta ketika hendak tidur. Artinya, surat ini dibaca berulang kali. Ini termasuk keutamaannya. Surat Al-Ikhlas adalah surat yang agung dan memiliki kedudukan yang sangat agung. Banyak keutamaan besar pada Surat Al-Ikhlas. Karena itu, seorang muslim hendaknya memberikan perhatian yang besar kepada surat ini dan juga bersungguh-sungguh memahaminya. Perhatikan apa yang dikatakan oleh sahabat tadi, “Karena di dalam Surat Al-Ikhlas terdapat sifat Ar-Rahman.” “Karena di dalam Surat Al-Ikhlas terdapat sifat Ar-Rahman.” Surat ini dinamakan Surat Al-Ikhlas karena seluruh isinya memperkenalkan Ar-Rahman. Jika seseorang bertanya, “Siapakah Allah? Siapakah Allah?” maka bacakanlah kepadanya Surat Al-Ikhlas. “Katakanlah, ‘Dialah Allah Yang Maha Esa.Allah adalah Ash-Shamad, tempat seluruh makhluk bergantung.Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.’” (QS. Al-Ikhlas: 1–4) Inilah Allah, Rabb semesta alam. Surat ini sepenuhnya berisi penjelasan tentang sifat Rabb, untuk memperkenalkan siapa Rabb itu, siapa Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena itu, di dalam surat ini disebutkan nama-nama dan sifat-sifat Allah yang menunjukkan keagungan, kemuliaan, dan kesempurnaan Rabb Subhanahu wa Ta’ala. ===== عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ أَوْرَدَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِي فَضْلِ سُورَةِ الْإِخْلَاصِ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ وَهَذِهِ فَضِيلَةٌ عَظِيمَةٌ جَلِيلَةٌ اخْتُصَّتْ بِهَا هَذِهِ السُّورَةُ أَنَّهَا تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ وَقَدْ وَرَدَ فِي ذِكْرِ أَنَّهَا تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ عَنْ نَبِيِّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ يُخْبِرُ فِيهَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَنَّ هَذِهِ السُّورَةَ الْعَظِيمَةَ الْمُبَارَكَةَ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ احْشُدُوا أَيْ: تَجَمَّعُوا أَمَرَ الصَّحَابَةَ أَنْ يَتَجَمَّعُوا احْشُدُوا فَإِنِّي سَأَقْرَأُ عَلَيْكُمْ ثُلُثَ الْقُرْآنِ تَجَمَّعَ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ فَحَشَدَ مَنْ حَشَدَ ثُمَّ لَمَّا تَجَمَّعُوا خَرَجَ عَلَيْهِمْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَرَأَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ثُمَّ دَخَلَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِلَى بَيْتِهِ قَالَ لَهُمْ سَيَقْرَأُ عَلَيْهِمْ ثُلُثَ الْقُرْآنِ وَقَرَأَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ فَقَطْ، وَدَخَلَ إِلَى بَيْتِهِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ قَالَ بَعْضُ الصَّحَابَةِ لِبَعْضٍ: هَذَا خَبَرٌ جَاءَ مِنَ السَّمَاءِ فَدَخَلَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، يَعْنِي بِسَبَبِ هَذَا الْخَبَرِ فَكَانُوا يَنْتَظِرُونَ أَنْ يَقْرَأَ عَلَيْهِمْ ثُلُثَ الْقُرْآنِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ وَبَرَاكَاتُهُ عَلَيْهِ فَخَرَجَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ لَهُمْ إِنِّي قُلْتُ لَكُمْ: سَأَقْرَأُ عَلَيْكُمْ ثُلُثَ الْقُرْآنِ أَلَا إِنَّهَا تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ وَجَاءَ أَيْضًا فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ مِنْ حَدِيثِ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ ثُلُثَ الْقُرْآنِ فِي لَيْلَةٍ؟ قَالُوا: وَكَيْفَ يَقْرَأُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ فِي لَيْلَةٍ؟ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ وَجَاءَ فِي صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ مِنْ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا سَمِعَ رَجُلًا يَقْرَأُ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ يُرَدِّدُهَا يَعْنِي فِي اللَّيْلِ فِي صَلَاةِ اللَّيْلِ لَا يَقْرَأُ إِلَّا قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ يُرَدِّدُهَا فَلَمَّا أَصْبَحَ جَاءَ ذَلِكَ الرَّجُلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ لَهُ ذَلِكَ كَأَنَّهُ يَتَقَالُّهَا يَرَاهَا شَيْئًا قَلِيلًا وَذَاكَ إِنَّمَا كَانَ يَقْرَأُ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ يُرَدِّدُهَا فِي صَلَاتِهِ مِنَ اللَّيْلِ فَجَاءَ ذَلِكَ الرَّجُلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ لَهُ ذَلِكَ كَأَنَّهُ يَتَقَالُّهَا فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ بِمُنَاسَبَةِ هَذَا الْحَدِيثِ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَرْوِي لَكُمْ قِصَّةً مُفِيدَةً مَرَّةً مِنْ سَنَوَاتٍ طَوِيلَةٍ، عَلَى أَثَرِ أَحَدِ هَذِهِ الدُّرُوسِ جَاءَنِي رَجُلٌ مِنَ الزُّوَّارِ كَبِيرُ السِّنِّ مِنْ إِحْدَى الدُّوَلِ الْعَرَبِيَّةِ وَسَلَّمَ عَلَيَّ وَحَوْلِي الطُّلَّابُ، وَقَالَ لِي يَا شَيْخُ، أَنَا مَا أَحْفَظُ إِلَّا الْفَاتِحَةَ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ وَاللهِ مَا أَحْفَظُ غَيْرَهَا وَيَبْكِي قَالَ: وَاللهِ مَا أَحْفَظُ غَيْرَهَا قَالَ: وَأَنَا أُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ سَاعَتَيْنِ كُلَّ لَيْلَةٍ أُصَلِّي سَاعَتَيْنِ، أَقْرَأُ بِالْفَاتِحَةِ وَأُكَرِّرُ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، مَا عِنْدِي غَيْرُهَا، وَيَبْكِي فَذَكَرْتُ لَهُ هَذَا الْحَدِيثَ وَقُلْتُ لَهُ هَنِيئًا لَكَ هَذَا الْخَيْرُ قُلْتُ لَهُ: بَعْضُ النَّاسِ فِي زَمَانِنَا يَحْفَظُ الْقُرْآنَ كَامِلًا وَعِنْدَهُ مُشْكِلَةٌ مَعَ صَلَاةِ الْفَجْرِ عِنْدَهُ مُشْكِلَةٌ مَعَ صَلَاةِ الْفَجْرِ، يُغْلَبُ عَلَيْهَا أَنْتَ فِي خَيْرٍ عَظِيمٍ أَنْتَ فِي خَيْرٍ عَظِيمٍ أَكْرَمَكَ اللهُ بِكَرَامَةٍ عَظِيمَةٍ وَمَنَّ عَلَيْكَ بِمِنَّةٍ عَظِيمَةٍ، أَنْ أَعْطَاكَ هَذِهِ السُّورَةَ الَّتِي تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ وَتَقُومُ بِهَا كُلَّ لَيْلَةٍ سَاعَتَيْنِ هَنِيئًا لَكَ هَذَا الْخَيْرُ الَّذِي أَكْرَمَكَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِهِ وَمِمَّا جَاءَ فِي فَضْلِ هَذِهِ السُّورَةِ مَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحَيْنِ عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ رَجُلًا فِي سَرِيَّةٍ وَكَانَ يُصَلِّي بِهِمْ وَيَقْرَأُ بَعْدَ الْفَاتِحَةِ مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ ثُمَّ يَخْتِمُ بِقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ يَخْتِمُ بِقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ فَالَّذِينَ مَعَهُ مِنَ الصَّحَابَةِ اسْتَشْكَلُوا ذَلِكَ لِأَنَّهُمْ صَلَّوْا وَرَاءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا رَأَوْهُ يَفْعَلُ ذَلِكَ فَلَمَّا رَجَعُوا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرُوا لَهُ خَبَرَ هَذَا الرَّجُلِ قَالُوا: يَقْرَأُ وَفِي كُلِّ رَكْعَةٍ يَخْتِمُ بِقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ قَالَ: اسْأَلُوْهُ لِأَيِّ شَيْءٍ يَفْعَلُ ذَلِكَ؟ مَا السَّبَبُ؟ قَالَ ذَلِكَ الرَّجُلُ: لِأَنَّ فِيهَا صِفَةَ الرَّحْمَنِ، وَأَنَا أُحِبُّ الرَّحْمَنَ قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللهَ يُحِبُّهُ يُحِبُّ سُورَةَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ لِأَنَّ فِيهَا صِفَةَ الرَّحْمَنِ قَالَ: أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللهَ يُحِبُّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَجَاءَ فِي لَفْظٍ آخَرَ لِلْحَدِيثِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَخْبِرُوهُ أَنَّ حُبَّكَ إِيَّاهَا أَدْخَلَكَ الْجَنَّةَ، أَنَّ حُبَّكَ إِيَّاهَا أَدْخَلَكَ الْجَنَّةَ حُبُّهُ لِسُورَةِ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ أَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ حُبُّهُ لِسُورَةِ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ كَانَ سَبَبًا لِحُبِّ اللهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَجَاءَ فِي فَضْلِ هَذِهِ السُّورَةِ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ جِدًّا وَلِهَذَا أَيْضًا جَاءَ فِي فَضَائِلِهَا مَشْرُوعِيَّةُ قِرَاءَتِهَا فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ مَرَّاتٍ يَعْنِي مِنَ السُّنَّةِ أَنْ تَقْرَأَهَا فِي رَكْعَتَيِ النَّافِلَةِ فِي الْفَجْرِ، الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ وَأَيْضًا فِي نَافِلَةِ الْمَغْرِبِ، فِي صَلَاةِ الْوِتْرِ، وَأَدْبَارِ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَةِ وَفِي أَذْكَارِ الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فِي الصَّبَاحِ وَثَلَاثَ مَرَّاتٍ فِي الْمَسَاءِ وَجَاءَتْ أَيْضًا فِي أَذْكَارِ النَّوْمِ فَهِيَ تَتَكَرَّرُ مَعَ الْمُسْلِمِ فِي الْيَوْمِ مَرَّاتٍ هَذِهِ الْأَذْكَارُ الَّتِي أَشَرْتُ إِلَيْهَا تَزِيدُ عَلَى عَشَرَةٍ أَوْ لَا تَزِيدُ؟ تَزِيدُ عَلَى عَشَرَةِ مَرَّاتٍ أَوْ لَا تَزِيدُ؟ نَعَمْ، تَزِيدُ عَلَى عَشْرِ مَرَّاتٍ وَجَاءَ فِي حَدِيثٍ حَسَّنَهُ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَرَأَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ فِي يَوْمٍ عَشْرَ مَرَّاتٍ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ هَذَا الَّذِي يَقْرَؤُهَا أَدْبَارَ الصَّلَوَاتِ، هَذِهِ خَمْسٌ وَفِي أَذْكَارِ الْمَسَاءِ ثَلَاثٌ، وَالصَّبَاحِ ثَلَاثٌ هَذِهِ كَمْ؟ إِحْدَى عَشْرَةَ وَفِي أَذْكَارِ النَّوْمِ، وَفِي صَلَاةِ النَّافِلَةِ فَهِيَ مَشْرُوعَةٌ فِي الصَّلَاةِ، وَبَعْدَ الصَّلَاةِ وَفِي الصَّبَاحِ وَفِي الْمَسَاءِ، وَعِنْدَ النَّوْمِ يَعْنِي تُقْرَأُ قِرَاءَةً مُتَكَرِّرَةً وَهَذَا مِنْ فَضَائِلِهَا فَهِيَ سُورَةٌ عَظِيمَةٌ، عَظِيمَةُ الشَّأْنِ وَرَدَ فِيهَا فَضَائِلُ عَظِيمَةٌ كَثِيرَةٌ فَيَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ تَعْظُمَ عِنَايَتُهُ بِهَذِهِ السُّورَةِ وَأَنْ أَيْضًا يَعْتَنِيَ بِفَهْمِهَا لَاحِظِ الصَّحَابِيَّ مَاذَا قَالَ: لِأَنَّ فِيهَا صِفَةَ الرَّحْمَنِ لِأَنَّ فِيهَا صِفَةَ الرَّحْمَنِ هَذِهِ السُّورَةُ تُسَمَّى سُورَةَ الْإِخْلَاصِ لِأَنَّهُ لَا شَيْءَ فِيهَا إِلَّا التَّعْرِيفُ بِالرَّحْمَنِ لَوْ قَالَ قَائِلٌ: مَنْ هُوَ اللهُ؟ مَنْ هُوَ اللهُ؟ اقْرَأْ لَهُ سُورَةَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ اللهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ هَذَا هُوَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ أُخْلِصَتْ لِصِفَةِ الرَّبِّ لِلتَّعْرِيفِ بِالرَّبِّ مَنْ هُوَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَجَاءَ فِيهَا ذِكْرُ أَسْمَاءٍ لَهُ وَصِفَاتٍ تَدُلُّ عَلَى عَظَمَةِ الرَّبِّ وَجَلَالِهِ وَكَمَالِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Qul huwallahu ahad (Surat Al-Ikhlas) setara dengan sepertiga Al-Qur’an.” (HR. Muslim). Penyusun rahimahullah Ta’ala, membawakan hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ini tentang keutamaan Surat Al-Ikhlas, “Qul huwallahu ahad.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Qul huwallahu ahad setara dengan sepertiga Al-Qur’an.” Ini merupakan keutamaan yang sangat agung dan mulia yang dikhususkan bagi surat ini, yaitu bahwa Surat Al-Ikhlas setara dengan sepertiga Al-Qur’an. Telah diriwayatkan dari Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak hadis yang menyebutkan bahwa Surat Al-Ikhlas setara dengan sepertiga Al-Qur’an. Dalam hadis-hadis tersebut, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa surat yang agung dan penuh keberkahan ini setara dengan sepertiga Al-Qur’an. Disebutkan dalam Sahih Muslim, dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berkumpullah!” Maksudnya, berkumpullah kalian! Beliau memerintahkan para sahabat untuk berkumpul. “Berkumpullah, karena sesungguhnya aku akan membacakan kepada kalian sepertiga Al-Qur’an.” Para sahabat radhiyallahu ‘anhum pun berkumpul. Maka berkumpullah siapa saja yang dapat berkumpul. Setelah para sahabat berkumpul, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemui mereka dan membaca, “Qul huwallahu ahad.” Kemudian beliau ‘alaihish shalatu was salam masuk ke rumahnya. Nabi berkata kepada para sahabat, bahwa beliau akan membacakan kepada mereka sepertiga Al-Qur’an.Namun beliau hanya membaca “Qul huwallahu ahad”, kemudian masuk ke rumahnya. Maka sebagian sahabat berkata kepada sebagian yang lain, “Sepertinya ada berita dari langit yang datang kepada beliau.” Mereka mengira beliau ‘alaihish shalatu was salam masuk ke rumah karena berita tersebut,sementara mereka masih menunggu beliau membacakan sepertiga Al-Qur’an. Semoga selawat, keselamatan, dan keberkahan Allah tercurah kepada beliau. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemui mereka, dan bersabda: “Sesungguhnya aku tadi berkata kepada kalian bahwa aku akan membacakan sepertiga Al-Qur’an. Ketahuilah, sesungguhnya Surat Al-Ikhlas itu setara dengan sepertiga Al-Qur’an. Diriwayatkan pula dalam Sahih Muslim, dari hadis Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah salah seorang di antara kalian tidak sanggup membaca sepertiga Al-Qur’an dalam semalam?” Para sahabat bertanya, “Bagaimana seseorang dapat membaca sepertiga Al-Qur’an dalam semalam?” Beliau ‘alaihish shalatu was salam menjawab, “Qul huwallahu ahad setara dengan sepertiga Al-Qur’an.” (HR. Muslim). Diriwayatkan pula dalam Sahih Al-Bukhari, dari hadis Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu,bahwa seorang lelaki mendengar lelaki lain membaca “Qul huwallahu ahad” berulang-ulang, pada malam hari, yakni dalam Salat Malam. Ia tidak membaca selain “Qul huwallahu ahad”, ia terus mengulang-ulangnya. Keesokan harinya, lelaki tersebut mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan hal itu, seakan-akan ia menganggap bacaan tersebut terlalu sedikit. Ia menganggap bacaan itu terlalu sedikit, sebab orang tersebut hanya membaca “Qul huwallahu ahad” dan mengulang-ulangnya dalam Salat Malamnya. Lelaki itu lalu mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan hal tersebut,seakan-akan ia menganggap bacaan tersebut terlalu sedikit.Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya Surat Al-Ikhlas itu benar-benar setara dengan sepertiga Al-Qur’an.” (HR. Bukhari). Berkaitan dengan hadis ini, yaitu hadis Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu, aku ingin menceritakan kepada kalian sebuah kisah yang berfaedah. Pernah, bertahun-tahun yang lalu, seusai salah satu kajian ini, datang kepadaku seorang pengunjung yang sudah lanjut usia dari salah satu negara Arab. Ia mengucapkan salam kepadaku, ketika itu para penuntut ilmu berada di sekelilingku, lalu ia berkata: “Wahai Syaikh, aku tidak hafal kecuali Surat Al-Fatihah dan Qul huwallahu ahad…Demi Allah, aku tidak menghafal selain keduanya,” ucapnya sambil menangis.Ia kembali berkata, “Demi Allah, aku tidak menghafal selain keduanya.”Lalu ia melanjutkan, “Setiap malam aku mengerjakan Salat Malam selama dua jam… Aku Salat Malam selama dua jam dengan membaca Al-Fatihah dan mengulang-ulang Qul huwallahu ahad. Aku tidak hafal surat yang lain,” ucapnya sambil menangis. Maka aku menyebutkan hadis ini kepadanya dan berkata:“Sungguh beruntung Anda dengan kebaikan ini!”Aku berkata kepadanya, “Ada orang pada zaman kita yang hafal Al-Qur’an seluruhnya,tetapi ia justru bermasalah dengan Salat Subuh. Ia bermasalah dengan Salat Subuh, sering kali Salat Subuh terlewat olehnya. Sedangkan Anda berada dalam kebaikan yang sangat besar.Anda berada dalam kebaikan yang sangat besar. Allah telah memuliakan Anda dengan kemuliaan yang besar, dan Allah menganugerahkan kepada Anda karunia yang agung: Dia mengaruniakan surat ini kepada Anda, yaitu surat yang sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an, dan dengannya Anda mengerjakan Salat Malam selama dua jam setiap malam. Sungguh beruntung Anda dengan kebaikan ini, yang dengannya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuliakan Anda.” Di antara hadis tentang keutamaan surat ini adalah hadis yang terdapat dalam Ash-Shahihain, dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus seorang lelaki dalam sebuah ekspedisi militer, dan lelaki itu menjadi imam salat bagi rekan-rekannya. Setelah membaca Al-Fatihah, ia membaca ayat atau surat yang mudah baginya dari Al-Qur’an, kemudian selalu menutup bacaannya dengan “Qul huwallahu ahad” pada setiap rakaat. Ia selalu menutup bacaannya dengan “Qul huwallahu ahad”. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan bagi para sahabat yang bersamanya, karena mereka pernah salat di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi tidak pernah melihat Nabi melakukan hal tersebut. Ketika mereka kembali kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menceritakan kepada beliau perihal lelaki tersebut. Mereka berkata, “Ia membaca surat, kemudian pada setiap rakaat selalu menutup bacaannya dengan Qul huwallahu ahad.” Nabi bersabda, “Tanyakanlah kepadanya, mengapa ia melakukan hal itu? Apa sebabnya?” Lelaki itu menjawab, “Karena di dalam surat tersebut terdapat sifat Ar-Rahman, dan aku mencintai Ar-Rahman.” Nabi ‘alaihish shalatu was salam bersabda, “Kabarkanlah kepadanya bahwa Allah mencintainya.” (HR. An-Nasa’i). Ia mencintai Surat Al-Ikhlas karena di dalamnya terdapat sifat Ar-Rahman. Nabi bersabda, “Kabarkanlah kepadanya bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintainya.” Dalam lafaz riwayat yang lain disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kabarkanlah kepadanya, ‘Kecintaanmu kepada surat tersebut telah memasukkanmu ke dalam surga.’” (HR. Bukhari). Kecintaannya kepada Surat Al-Ikhlas menjadi sebab ia masuk surga. Kecintaannya kepada Surat Al-Ikhlas juga menjadi sebab Allah, Rabb semesta alam, mencintainya. Banyak sekali hadis yang menyebutkan keutamaan surat ini. Karena itu pula, di antara keutamaannya adalah disyariatkannya membaca surat ini berulang kali dalam sehari semalam. Termasuk sunah adalah membacanya pada salat sunah dua rakaat sebelum Subuh, yaitu pada rakaat kedua, juga pada salat sunah setelah Magrib, Salat Witir, serta seusai salat-salat fardu, dan dalam zikir pagi dan petang: tiga kali pada pagi hari dan tiga kali pada petang hari. Surat ini juga dibaca dalam zikir sebelum tidur. Dengan demikian, seorang muslim membacanya berulang kali dalam sehari. Zikir-zikir yang tadi aku sebutkan, apakah jumlahnya melebihi sepuluh kali atau tidak? Apakah jumlahnya melebihi sepuluh kali? Ya, jumlahnya melebihi sepuluh kali. Disebutkan dalam sebuah hadis yang dinilai hasan oleh sebagian ulama bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa membaca ‘Qul huwallahu ahad’ sepuluh kali dalam sehari, Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga.” Seseorang yang membacanya seusai salat-salat fardu, itu sudah lima kali. Juga membacanya pada zikir petang tiga kali, dan pada zikir pagi tiga kali. Berapa jumlahnya? Sebelas kali. Ditambah lagi dalam zikir sebelum tidur dan dalam salat sunah. Jadi, surat ini disyariatkan untuk dibaca di dalam salat, dan setelah salat, dibaca juga pada pagi dan petang, serta ketika hendak tidur. Artinya, surat ini dibaca berulang kali. Ini termasuk keutamaannya. Surat Al-Ikhlas adalah surat yang agung dan memiliki kedudukan yang sangat agung. Banyak keutamaan besar pada Surat Al-Ikhlas. Karena itu, seorang muslim hendaknya memberikan perhatian yang besar kepada surat ini dan juga bersungguh-sungguh memahaminya. Perhatikan apa yang dikatakan oleh sahabat tadi, “Karena di dalam Surat Al-Ikhlas terdapat sifat Ar-Rahman.” “Karena di dalam Surat Al-Ikhlas terdapat sifat Ar-Rahman.” Surat ini dinamakan Surat Al-Ikhlas karena seluruh isinya memperkenalkan Ar-Rahman. Jika seseorang bertanya, “Siapakah Allah? Siapakah Allah?” maka bacakanlah kepadanya Surat Al-Ikhlas. “Katakanlah, ‘Dialah Allah Yang Maha Esa.Allah adalah Ash-Shamad, tempat seluruh makhluk bergantung.Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.’” (QS. Al-Ikhlas: 1–4) Inilah Allah, Rabb semesta alam. Surat ini sepenuhnya berisi penjelasan tentang sifat Rabb, untuk memperkenalkan siapa Rabb itu, siapa Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena itu, di dalam surat ini disebutkan nama-nama dan sifat-sifat Allah yang menunjukkan keagungan, kemuliaan, dan kesempurnaan Rabb Subhanahu wa Ta’ala. ===== عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ أَوْرَدَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِي فَضْلِ سُورَةِ الْإِخْلَاصِ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ وَهَذِهِ فَضِيلَةٌ عَظِيمَةٌ جَلِيلَةٌ اخْتُصَّتْ بِهَا هَذِهِ السُّورَةُ أَنَّهَا تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ وَقَدْ وَرَدَ فِي ذِكْرِ أَنَّهَا تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ عَنْ نَبِيِّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ يُخْبِرُ فِيهَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَنَّ هَذِهِ السُّورَةَ الْعَظِيمَةَ الْمُبَارَكَةَ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ احْشُدُوا أَيْ: تَجَمَّعُوا أَمَرَ الصَّحَابَةَ أَنْ يَتَجَمَّعُوا احْشُدُوا فَإِنِّي سَأَقْرَأُ عَلَيْكُمْ ثُلُثَ الْقُرْآنِ تَجَمَّعَ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ فَحَشَدَ مَنْ حَشَدَ ثُمَّ لَمَّا تَجَمَّعُوا خَرَجَ عَلَيْهِمْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَرَأَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ثُمَّ دَخَلَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِلَى بَيْتِهِ قَالَ لَهُمْ سَيَقْرَأُ عَلَيْهِمْ ثُلُثَ الْقُرْآنِ وَقَرَأَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ فَقَطْ، وَدَخَلَ إِلَى بَيْتِهِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ قَالَ بَعْضُ الصَّحَابَةِ لِبَعْضٍ: هَذَا خَبَرٌ جَاءَ مِنَ السَّمَاءِ فَدَخَلَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، يَعْنِي بِسَبَبِ هَذَا الْخَبَرِ فَكَانُوا يَنْتَظِرُونَ أَنْ يَقْرَأَ عَلَيْهِمْ ثُلُثَ الْقُرْآنِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ وَبَرَاكَاتُهُ عَلَيْهِ فَخَرَجَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ لَهُمْ إِنِّي قُلْتُ لَكُمْ: سَأَقْرَأُ عَلَيْكُمْ ثُلُثَ الْقُرْآنِ أَلَا إِنَّهَا تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ وَجَاءَ أَيْضًا فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ مِنْ حَدِيثِ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ ثُلُثَ الْقُرْآنِ فِي لَيْلَةٍ؟ قَالُوا: وَكَيْفَ يَقْرَأُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ فِي لَيْلَةٍ؟ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ وَجَاءَ فِي صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ مِنْ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا سَمِعَ رَجُلًا يَقْرَأُ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ يُرَدِّدُهَا يَعْنِي فِي اللَّيْلِ فِي صَلَاةِ اللَّيْلِ لَا يَقْرَأُ إِلَّا قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ يُرَدِّدُهَا فَلَمَّا أَصْبَحَ جَاءَ ذَلِكَ الرَّجُلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ لَهُ ذَلِكَ كَأَنَّهُ يَتَقَالُّهَا يَرَاهَا شَيْئًا قَلِيلًا وَذَاكَ إِنَّمَا كَانَ يَقْرَأُ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ يُرَدِّدُهَا فِي صَلَاتِهِ مِنَ اللَّيْلِ فَجَاءَ ذَلِكَ الرَّجُلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ لَهُ ذَلِكَ كَأَنَّهُ يَتَقَالُّهَا فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ بِمُنَاسَبَةِ هَذَا الْحَدِيثِ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَرْوِي لَكُمْ قِصَّةً مُفِيدَةً مَرَّةً مِنْ سَنَوَاتٍ طَوِيلَةٍ، عَلَى أَثَرِ أَحَدِ هَذِهِ الدُّرُوسِ جَاءَنِي رَجُلٌ مِنَ الزُّوَّارِ كَبِيرُ السِّنِّ مِنْ إِحْدَى الدُّوَلِ الْعَرَبِيَّةِ وَسَلَّمَ عَلَيَّ وَحَوْلِي الطُّلَّابُ، وَقَالَ لِي يَا شَيْخُ، أَنَا مَا أَحْفَظُ إِلَّا الْفَاتِحَةَ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ وَاللهِ مَا أَحْفَظُ غَيْرَهَا وَيَبْكِي قَالَ: وَاللهِ مَا أَحْفَظُ غَيْرَهَا قَالَ: وَأَنَا أُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ سَاعَتَيْنِ كُلَّ لَيْلَةٍ أُصَلِّي سَاعَتَيْنِ، أَقْرَأُ بِالْفَاتِحَةِ وَأُكَرِّرُ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، مَا عِنْدِي غَيْرُهَا، وَيَبْكِي فَذَكَرْتُ لَهُ هَذَا الْحَدِيثَ وَقُلْتُ لَهُ هَنِيئًا لَكَ هَذَا الْخَيْرُ قُلْتُ لَهُ: بَعْضُ النَّاسِ فِي زَمَانِنَا يَحْفَظُ الْقُرْآنَ كَامِلًا وَعِنْدَهُ مُشْكِلَةٌ مَعَ صَلَاةِ الْفَجْرِ عِنْدَهُ مُشْكِلَةٌ مَعَ صَلَاةِ الْفَجْرِ، يُغْلَبُ عَلَيْهَا أَنْتَ فِي خَيْرٍ عَظِيمٍ أَنْتَ فِي خَيْرٍ عَظِيمٍ أَكْرَمَكَ اللهُ بِكَرَامَةٍ عَظِيمَةٍ وَمَنَّ عَلَيْكَ بِمِنَّةٍ عَظِيمَةٍ، أَنْ أَعْطَاكَ هَذِهِ السُّورَةَ الَّتِي تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ وَتَقُومُ بِهَا كُلَّ لَيْلَةٍ سَاعَتَيْنِ هَنِيئًا لَكَ هَذَا الْخَيْرُ الَّذِي أَكْرَمَكَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِهِ وَمِمَّا جَاءَ فِي فَضْلِ هَذِهِ السُّورَةِ مَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحَيْنِ عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ رَجُلًا فِي سَرِيَّةٍ وَكَانَ يُصَلِّي بِهِمْ وَيَقْرَأُ بَعْدَ الْفَاتِحَةِ مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ ثُمَّ يَخْتِمُ بِقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ يَخْتِمُ بِقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ فَالَّذِينَ مَعَهُ مِنَ الصَّحَابَةِ اسْتَشْكَلُوا ذَلِكَ لِأَنَّهُمْ صَلَّوْا وَرَاءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا رَأَوْهُ يَفْعَلُ ذَلِكَ فَلَمَّا رَجَعُوا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرُوا لَهُ خَبَرَ هَذَا الرَّجُلِ قَالُوا: يَقْرَأُ وَفِي كُلِّ رَكْعَةٍ يَخْتِمُ بِقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ قَالَ: اسْأَلُوْهُ لِأَيِّ شَيْءٍ يَفْعَلُ ذَلِكَ؟ مَا السَّبَبُ؟ قَالَ ذَلِكَ الرَّجُلُ: لِأَنَّ فِيهَا صِفَةَ الرَّحْمَنِ، وَأَنَا أُحِبُّ الرَّحْمَنَ قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللهَ يُحِبُّهُ يُحِبُّ سُورَةَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ لِأَنَّ فِيهَا صِفَةَ الرَّحْمَنِ قَالَ: أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللهَ يُحِبُّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَجَاءَ فِي لَفْظٍ آخَرَ لِلْحَدِيثِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَخْبِرُوهُ أَنَّ حُبَّكَ إِيَّاهَا أَدْخَلَكَ الْجَنَّةَ، أَنَّ حُبَّكَ إِيَّاهَا أَدْخَلَكَ الْجَنَّةَ حُبُّهُ لِسُورَةِ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ أَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ حُبُّهُ لِسُورَةِ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ كَانَ سَبَبًا لِحُبِّ اللهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَجَاءَ فِي فَضْلِ هَذِهِ السُّورَةِ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ جِدًّا وَلِهَذَا أَيْضًا جَاءَ فِي فَضَائِلِهَا مَشْرُوعِيَّةُ قِرَاءَتِهَا فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ مَرَّاتٍ يَعْنِي مِنَ السُّنَّةِ أَنْ تَقْرَأَهَا فِي رَكْعَتَيِ النَّافِلَةِ فِي الْفَجْرِ، الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ وَأَيْضًا فِي نَافِلَةِ الْمَغْرِبِ، فِي صَلَاةِ الْوِتْرِ، وَأَدْبَارِ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَةِ وَفِي أَذْكَارِ الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فِي الصَّبَاحِ وَثَلَاثَ مَرَّاتٍ فِي الْمَسَاءِ وَجَاءَتْ أَيْضًا فِي أَذْكَارِ النَّوْمِ فَهِيَ تَتَكَرَّرُ مَعَ الْمُسْلِمِ فِي الْيَوْمِ مَرَّاتٍ هَذِهِ الْأَذْكَارُ الَّتِي أَشَرْتُ إِلَيْهَا تَزِيدُ عَلَى عَشَرَةٍ أَوْ لَا تَزِيدُ؟ تَزِيدُ عَلَى عَشَرَةِ مَرَّاتٍ أَوْ لَا تَزِيدُ؟ نَعَمْ، تَزِيدُ عَلَى عَشْرِ مَرَّاتٍ وَجَاءَ فِي حَدِيثٍ حَسَّنَهُ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَرَأَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ فِي يَوْمٍ عَشْرَ مَرَّاتٍ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ هَذَا الَّذِي يَقْرَؤُهَا أَدْبَارَ الصَّلَوَاتِ، هَذِهِ خَمْسٌ وَفِي أَذْكَارِ الْمَسَاءِ ثَلَاثٌ، وَالصَّبَاحِ ثَلَاثٌ هَذِهِ كَمْ؟ إِحْدَى عَشْرَةَ وَفِي أَذْكَارِ النَّوْمِ، وَفِي صَلَاةِ النَّافِلَةِ فَهِيَ مَشْرُوعَةٌ فِي الصَّلَاةِ، وَبَعْدَ الصَّلَاةِ وَفِي الصَّبَاحِ وَفِي الْمَسَاءِ، وَعِنْدَ النَّوْمِ يَعْنِي تُقْرَأُ قِرَاءَةً مُتَكَرِّرَةً وَهَذَا مِنْ فَضَائِلِهَا فَهِيَ سُورَةٌ عَظِيمَةٌ، عَظِيمَةُ الشَّأْنِ وَرَدَ فِيهَا فَضَائِلُ عَظِيمَةٌ كَثِيرَةٌ فَيَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ تَعْظُمَ عِنَايَتُهُ بِهَذِهِ السُّورَةِ وَأَنْ أَيْضًا يَعْتَنِيَ بِفَهْمِهَا لَاحِظِ الصَّحَابِيَّ مَاذَا قَالَ: لِأَنَّ فِيهَا صِفَةَ الرَّحْمَنِ لِأَنَّ فِيهَا صِفَةَ الرَّحْمَنِ هَذِهِ السُّورَةُ تُسَمَّى سُورَةَ الْإِخْلَاصِ لِأَنَّهُ لَا شَيْءَ فِيهَا إِلَّا التَّعْرِيفُ بِالرَّحْمَنِ لَوْ قَالَ قَائِلٌ: مَنْ هُوَ اللهُ؟ مَنْ هُوَ اللهُ؟ اقْرَأْ لَهُ سُورَةَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ اللهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ هَذَا هُوَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ أُخْلِصَتْ لِصِفَةِ الرَّبِّ لِلتَّعْرِيفِ بِالرَّبِّ مَنْ هُوَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَجَاءَ فِيهَا ذِكْرُ أَسْمَاءٍ لَهُ وَصِفَاتٍ تَدُلُّ عَلَى عَظَمَةِ الرَّبِّ وَجَلَالِهِ وَكَمَالِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Qul huwallahu ahad (Surat Al-Ikhlas) setara dengan sepertiga Al-Qur’an.” (HR. Muslim). Penyusun rahimahullah Ta’ala, membawakan hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ini tentang keutamaan Surat Al-Ikhlas, “Qul huwallahu ahad.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Qul huwallahu ahad setara dengan sepertiga Al-Qur’an.” Ini merupakan keutamaan yang sangat agung dan mulia yang dikhususkan bagi surat ini, yaitu bahwa Surat Al-Ikhlas setara dengan sepertiga Al-Qur’an. Telah diriwayatkan dari Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak hadis yang menyebutkan bahwa Surat Al-Ikhlas setara dengan sepertiga Al-Qur’an. Dalam hadis-hadis tersebut, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa surat yang agung dan penuh keberkahan ini setara dengan sepertiga Al-Qur’an. Disebutkan dalam Sahih Muslim, dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berkumpullah!” Maksudnya, berkumpullah kalian! Beliau memerintahkan para sahabat untuk berkumpul. “Berkumpullah, karena sesungguhnya aku akan membacakan kepada kalian sepertiga Al-Qur’an.” Para sahabat radhiyallahu ‘anhum pun berkumpul. Maka berkumpullah siapa saja yang dapat berkumpul. Setelah para sahabat berkumpul, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemui mereka dan membaca, “Qul huwallahu ahad.” Kemudian beliau ‘alaihish shalatu was salam masuk ke rumahnya. Nabi berkata kepada para sahabat, bahwa beliau akan membacakan kepada mereka sepertiga Al-Qur’an.Namun beliau hanya membaca “Qul huwallahu ahad”, kemudian masuk ke rumahnya. Maka sebagian sahabat berkata kepada sebagian yang lain, “Sepertinya ada berita dari langit yang datang kepada beliau.” Mereka mengira beliau ‘alaihish shalatu was salam masuk ke rumah karena berita tersebut,sementara mereka masih menunggu beliau membacakan sepertiga Al-Qur’an. Semoga selawat, keselamatan, dan keberkahan Allah tercurah kepada beliau. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemui mereka, dan bersabda: “Sesungguhnya aku tadi berkata kepada kalian bahwa aku akan membacakan sepertiga Al-Qur’an. Ketahuilah, sesungguhnya Surat Al-Ikhlas itu setara dengan sepertiga Al-Qur’an. Diriwayatkan pula dalam Sahih Muslim, dari hadis Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah salah seorang di antara kalian tidak sanggup membaca sepertiga Al-Qur’an dalam semalam?” Para sahabat bertanya, “Bagaimana seseorang dapat membaca sepertiga Al-Qur’an dalam semalam?” Beliau ‘alaihish shalatu was salam menjawab, “Qul huwallahu ahad setara dengan sepertiga Al-Qur’an.” (HR. Muslim). Diriwayatkan pula dalam Sahih Al-Bukhari, dari hadis Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu,bahwa seorang lelaki mendengar lelaki lain membaca “Qul huwallahu ahad” berulang-ulang, pada malam hari, yakni dalam Salat Malam. Ia tidak membaca selain “Qul huwallahu ahad”, ia terus mengulang-ulangnya. Keesokan harinya, lelaki tersebut mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan hal itu, seakan-akan ia menganggap bacaan tersebut terlalu sedikit. Ia menganggap bacaan itu terlalu sedikit, sebab orang tersebut hanya membaca “Qul huwallahu ahad” dan mengulang-ulangnya dalam Salat Malamnya. Lelaki itu lalu mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan hal tersebut,seakan-akan ia menganggap bacaan tersebut terlalu sedikit.Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya Surat Al-Ikhlas itu benar-benar setara dengan sepertiga Al-Qur’an.” (HR. Bukhari). Berkaitan dengan hadis ini, yaitu hadis Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu, aku ingin menceritakan kepada kalian sebuah kisah yang berfaedah. Pernah, bertahun-tahun yang lalu, seusai salah satu kajian ini, datang kepadaku seorang pengunjung yang sudah lanjut usia dari salah satu negara Arab. Ia mengucapkan salam kepadaku, ketika itu para penuntut ilmu berada di sekelilingku, lalu ia berkata: “Wahai Syaikh, aku tidak hafal kecuali Surat Al-Fatihah dan Qul huwallahu ahad…Demi Allah, aku tidak menghafal selain keduanya,” ucapnya sambil menangis.Ia kembali berkata, “Demi Allah, aku tidak menghafal selain keduanya.”Lalu ia melanjutkan, “Setiap malam aku mengerjakan Salat Malam selama dua jam… Aku Salat Malam selama dua jam dengan membaca Al-Fatihah dan mengulang-ulang Qul huwallahu ahad. Aku tidak hafal surat yang lain,” ucapnya sambil menangis. Maka aku menyebutkan hadis ini kepadanya dan berkata:“Sungguh beruntung Anda dengan kebaikan ini!”Aku berkata kepadanya, “Ada orang pada zaman kita yang hafal Al-Qur’an seluruhnya,tetapi ia justru bermasalah dengan Salat Subuh. Ia bermasalah dengan Salat Subuh, sering kali Salat Subuh terlewat olehnya. Sedangkan Anda berada dalam kebaikan yang sangat besar.Anda berada dalam kebaikan yang sangat besar. Allah telah memuliakan Anda dengan kemuliaan yang besar, dan Allah menganugerahkan kepada Anda karunia yang agung: Dia mengaruniakan surat ini kepada Anda, yaitu surat yang sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an, dan dengannya Anda mengerjakan Salat Malam selama dua jam setiap malam. Sungguh beruntung Anda dengan kebaikan ini, yang dengannya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuliakan Anda.” Di antara hadis tentang keutamaan surat ini adalah hadis yang terdapat dalam Ash-Shahihain, dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus seorang lelaki dalam sebuah ekspedisi militer, dan lelaki itu menjadi imam salat bagi rekan-rekannya. Setelah membaca Al-Fatihah, ia membaca ayat atau surat yang mudah baginya dari Al-Qur’an, kemudian selalu menutup bacaannya dengan “Qul huwallahu ahad” pada setiap rakaat. Ia selalu menutup bacaannya dengan “Qul huwallahu ahad”. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan bagi para sahabat yang bersamanya, karena mereka pernah salat di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi tidak pernah melihat Nabi melakukan hal tersebut. Ketika mereka kembali kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menceritakan kepada beliau perihal lelaki tersebut. Mereka berkata, “Ia membaca surat, kemudian pada setiap rakaat selalu menutup bacaannya dengan Qul huwallahu ahad.” Nabi bersabda, “Tanyakanlah kepadanya, mengapa ia melakukan hal itu? Apa sebabnya?” Lelaki itu menjawab, “Karena di dalam surat tersebut terdapat sifat Ar-Rahman, dan aku mencintai Ar-Rahman.” Nabi ‘alaihish shalatu was salam bersabda, “Kabarkanlah kepadanya bahwa Allah mencintainya.” (HR. An-Nasa’i). Ia mencintai Surat Al-Ikhlas karena di dalamnya terdapat sifat Ar-Rahman. Nabi bersabda, “Kabarkanlah kepadanya bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintainya.” Dalam lafaz riwayat yang lain disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kabarkanlah kepadanya, ‘Kecintaanmu kepada surat tersebut telah memasukkanmu ke dalam surga.’” (HR. Bukhari). Kecintaannya kepada Surat Al-Ikhlas menjadi sebab ia masuk surga. Kecintaannya kepada Surat Al-Ikhlas juga menjadi sebab Allah, Rabb semesta alam, mencintainya. Banyak sekali hadis yang menyebutkan keutamaan surat ini. Karena itu pula, di antara keutamaannya adalah disyariatkannya membaca surat ini berulang kali dalam sehari semalam. Termasuk sunah adalah membacanya pada salat sunah dua rakaat sebelum Subuh, yaitu pada rakaat kedua, juga pada salat sunah setelah Magrib, Salat Witir, serta seusai salat-salat fardu, dan dalam zikir pagi dan petang: tiga kali pada pagi hari dan tiga kali pada petang hari. Surat ini juga dibaca dalam zikir sebelum tidur. Dengan demikian, seorang muslim membacanya berulang kali dalam sehari. Zikir-zikir yang tadi aku sebutkan, apakah jumlahnya melebihi sepuluh kali atau tidak? Apakah jumlahnya melebihi sepuluh kali? Ya, jumlahnya melebihi sepuluh kali. Disebutkan dalam sebuah hadis yang dinilai hasan oleh sebagian ulama bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa membaca ‘Qul huwallahu ahad’ sepuluh kali dalam sehari, Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga.” Seseorang yang membacanya seusai salat-salat fardu, itu sudah lima kali. Juga membacanya pada zikir petang tiga kali, dan pada zikir pagi tiga kali. Berapa jumlahnya? Sebelas kali. Ditambah lagi dalam zikir sebelum tidur dan dalam salat sunah. Jadi, surat ini disyariatkan untuk dibaca di dalam salat, dan setelah salat, dibaca juga pada pagi dan petang, serta ketika hendak tidur. Artinya, surat ini dibaca berulang kali. Ini termasuk keutamaannya. Surat Al-Ikhlas adalah surat yang agung dan memiliki kedudukan yang sangat agung. Banyak keutamaan besar pada Surat Al-Ikhlas. Karena itu, seorang muslim hendaknya memberikan perhatian yang besar kepada surat ini dan juga bersungguh-sungguh memahaminya. Perhatikan apa yang dikatakan oleh sahabat tadi, “Karena di dalam Surat Al-Ikhlas terdapat sifat Ar-Rahman.” “Karena di dalam Surat Al-Ikhlas terdapat sifat Ar-Rahman.” Surat ini dinamakan Surat Al-Ikhlas karena seluruh isinya memperkenalkan Ar-Rahman. Jika seseorang bertanya, “Siapakah Allah? Siapakah Allah?” maka bacakanlah kepadanya Surat Al-Ikhlas. “Katakanlah, ‘Dialah Allah Yang Maha Esa.Allah adalah Ash-Shamad, tempat seluruh makhluk bergantung.Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.’” (QS. Al-Ikhlas: 1–4) Inilah Allah, Rabb semesta alam. Surat ini sepenuhnya berisi penjelasan tentang sifat Rabb, untuk memperkenalkan siapa Rabb itu, siapa Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena itu, di dalam surat ini disebutkan nama-nama dan sifat-sifat Allah yang menunjukkan keagungan, kemuliaan, dan kesempurnaan Rabb Subhanahu wa Ta’ala. ===== عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ أَوْرَدَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِي فَضْلِ سُورَةِ الْإِخْلَاصِ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ وَهَذِهِ فَضِيلَةٌ عَظِيمَةٌ جَلِيلَةٌ اخْتُصَّتْ بِهَا هَذِهِ السُّورَةُ أَنَّهَا تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ وَقَدْ وَرَدَ فِي ذِكْرِ أَنَّهَا تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ عَنْ نَبِيِّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ يُخْبِرُ فِيهَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَنَّ هَذِهِ السُّورَةَ الْعَظِيمَةَ الْمُبَارَكَةَ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ احْشُدُوا أَيْ: تَجَمَّعُوا أَمَرَ الصَّحَابَةَ أَنْ يَتَجَمَّعُوا احْشُدُوا فَإِنِّي سَأَقْرَأُ عَلَيْكُمْ ثُلُثَ الْقُرْآنِ تَجَمَّعَ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ فَحَشَدَ مَنْ حَشَدَ ثُمَّ لَمَّا تَجَمَّعُوا خَرَجَ عَلَيْهِمْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَرَأَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ثُمَّ دَخَلَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِلَى بَيْتِهِ قَالَ لَهُمْ سَيَقْرَأُ عَلَيْهِمْ ثُلُثَ الْقُرْآنِ وَقَرَأَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ فَقَطْ، وَدَخَلَ إِلَى بَيْتِهِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ قَالَ بَعْضُ الصَّحَابَةِ لِبَعْضٍ: هَذَا خَبَرٌ جَاءَ مِنَ السَّمَاءِ فَدَخَلَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، يَعْنِي بِسَبَبِ هَذَا الْخَبَرِ فَكَانُوا يَنْتَظِرُونَ أَنْ يَقْرَأَ عَلَيْهِمْ ثُلُثَ الْقُرْآنِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ وَبَرَاكَاتُهُ عَلَيْهِ فَخَرَجَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ لَهُمْ إِنِّي قُلْتُ لَكُمْ: سَأَقْرَأُ عَلَيْكُمْ ثُلُثَ الْقُرْآنِ أَلَا إِنَّهَا تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ وَجَاءَ أَيْضًا فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ مِنْ حَدِيثِ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ ثُلُثَ الْقُرْآنِ فِي لَيْلَةٍ؟ قَالُوا: وَكَيْفَ يَقْرَأُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ فِي لَيْلَةٍ؟ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ وَجَاءَ فِي صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ مِنْ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا سَمِعَ رَجُلًا يَقْرَأُ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ يُرَدِّدُهَا يَعْنِي فِي اللَّيْلِ فِي صَلَاةِ اللَّيْلِ لَا يَقْرَأُ إِلَّا قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ يُرَدِّدُهَا فَلَمَّا أَصْبَحَ جَاءَ ذَلِكَ الرَّجُلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ لَهُ ذَلِكَ كَأَنَّهُ يَتَقَالُّهَا يَرَاهَا شَيْئًا قَلِيلًا وَذَاكَ إِنَّمَا كَانَ يَقْرَأُ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ يُرَدِّدُهَا فِي صَلَاتِهِ مِنَ اللَّيْلِ فَجَاءَ ذَلِكَ الرَّجُلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ لَهُ ذَلِكَ كَأَنَّهُ يَتَقَالُّهَا فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ بِمُنَاسَبَةِ هَذَا الْحَدِيثِ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَرْوِي لَكُمْ قِصَّةً مُفِيدَةً مَرَّةً مِنْ سَنَوَاتٍ طَوِيلَةٍ، عَلَى أَثَرِ أَحَدِ هَذِهِ الدُّرُوسِ جَاءَنِي رَجُلٌ مِنَ الزُّوَّارِ كَبِيرُ السِّنِّ مِنْ إِحْدَى الدُّوَلِ الْعَرَبِيَّةِ وَسَلَّمَ عَلَيَّ وَحَوْلِي الطُّلَّابُ، وَقَالَ لِي يَا شَيْخُ، أَنَا مَا أَحْفَظُ إِلَّا الْفَاتِحَةَ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ وَاللهِ مَا أَحْفَظُ غَيْرَهَا وَيَبْكِي قَالَ: وَاللهِ مَا أَحْفَظُ غَيْرَهَا قَالَ: وَأَنَا أُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ سَاعَتَيْنِ كُلَّ لَيْلَةٍ أُصَلِّي سَاعَتَيْنِ، أَقْرَأُ بِالْفَاتِحَةِ وَأُكَرِّرُ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، مَا عِنْدِي غَيْرُهَا، وَيَبْكِي فَذَكَرْتُ لَهُ هَذَا الْحَدِيثَ وَقُلْتُ لَهُ هَنِيئًا لَكَ هَذَا الْخَيْرُ قُلْتُ لَهُ: بَعْضُ النَّاسِ فِي زَمَانِنَا يَحْفَظُ الْقُرْآنَ كَامِلًا وَعِنْدَهُ مُشْكِلَةٌ مَعَ صَلَاةِ الْفَجْرِ عِنْدَهُ مُشْكِلَةٌ مَعَ صَلَاةِ الْفَجْرِ، يُغْلَبُ عَلَيْهَا أَنْتَ فِي خَيْرٍ عَظِيمٍ أَنْتَ فِي خَيْرٍ عَظِيمٍ أَكْرَمَكَ اللهُ بِكَرَامَةٍ عَظِيمَةٍ وَمَنَّ عَلَيْكَ بِمِنَّةٍ عَظِيمَةٍ، أَنْ أَعْطَاكَ هَذِهِ السُّورَةَ الَّتِي تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ وَتَقُومُ بِهَا كُلَّ لَيْلَةٍ سَاعَتَيْنِ هَنِيئًا لَكَ هَذَا الْخَيْرُ الَّذِي أَكْرَمَكَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِهِ وَمِمَّا جَاءَ فِي فَضْلِ هَذِهِ السُّورَةِ مَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحَيْنِ عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ رَجُلًا فِي سَرِيَّةٍ وَكَانَ يُصَلِّي بِهِمْ وَيَقْرَأُ بَعْدَ الْفَاتِحَةِ مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ ثُمَّ يَخْتِمُ بِقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ يَخْتِمُ بِقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ فَالَّذِينَ مَعَهُ مِنَ الصَّحَابَةِ اسْتَشْكَلُوا ذَلِكَ لِأَنَّهُمْ صَلَّوْا وَرَاءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا رَأَوْهُ يَفْعَلُ ذَلِكَ فَلَمَّا رَجَعُوا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرُوا لَهُ خَبَرَ هَذَا الرَّجُلِ قَالُوا: يَقْرَأُ وَفِي كُلِّ رَكْعَةٍ يَخْتِمُ بِقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ قَالَ: اسْأَلُوْهُ لِأَيِّ شَيْءٍ يَفْعَلُ ذَلِكَ؟ مَا السَّبَبُ؟ قَالَ ذَلِكَ الرَّجُلُ: لِأَنَّ فِيهَا صِفَةَ الرَّحْمَنِ، وَأَنَا أُحِبُّ الرَّحْمَنَ قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللهَ يُحِبُّهُ يُحِبُّ سُورَةَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ لِأَنَّ فِيهَا صِفَةَ الرَّحْمَنِ قَالَ: أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللهَ يُحِبُّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَجَاءَ فِي لَفْظٍ آخَرَ لِلْحَدِيثِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَخْبِرُوهُ أَنَّ حُبَّكَ إِيَّاهَا أَدْخَلَكَ الْجَنَّةَ، أَنَّ حُبَّكَ إِيَّاهَا أَدْخَلَكَ الْجَنَّةَ حُبُّهُ لِسُورَةِ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ أَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ حُبُّهُ لِسُورَةِ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ كَانَ سَبَبًا لِحُبِّ اللهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَجَاءَ فِي فَضْلِ هَذِهِ السُّورَةِ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ جِدًّا وَلِهَذَا أَيْضًا جَاءَ فِي فَضَائِلِهَا مَشْرُوعِيَّةُ قِرَاءَتِهَا فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ مَرَّاتٍ يَعْنِي مِنَ السُّنَّةِ أَنْ تَقْرَأَهَا فِي رَكْعَتَيِ النَّافِلَةِ فِي الْفَجْرِ، الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ وَأَيْضًا فِي نَافِلَةِ الْمَغْرِبِ، فِي صَلَاةِ الْوِتْرِ، وَأَدْبَارِ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَةِ وَفِي أَذْكَارِ الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فِي الصَّبَاحِ وَثَلَاثَ مَرَّاتٍ فِي الْمَسَاءِ وَجَاءَتْ أَيْضًا فِي أَذْكَارِ النَّوْمِ فَهِيَ تَتَكَرَّرُ مَعَ الْمُسْلِمِ فِي الْيَوْمِ مَرَّاتٍ هَذِهِ الْأَذْكَارُ الَّتِي أَشَرْتُ إِلَيْهَا تَزِيدُ عَلَى عَشَرَةٍ أَوْ لَا تَزِيدُ؟ تَزِيدُ عَلَى عَشَرَةِ مَرَّاتٍ أَوْ لَا تَزِيدُ؟ نَعَمْ، تَزِيدُ عَلَى عَشْرِ مَرَّاتٍ وَجَاءَ فِي حَدِيثٍ حَسَّنَهُ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَرَأَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ فِي يَوْمٍ عَشْرَ مَرَّاتٍ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ هَذَا الَّذِي يَقْرَؤُهَا أَدْبَارَ الصَّلَوَاتِ، هَذِهِ خَمْسٌ وَفِي أَذْكَارِ الْمَسَاءِ ثَلَاثٌ، وَالصَّبَاحِ ثَلَاثٌ هَذِهِ كَمْ؟ إِحْدَى عَشْرَةَ وَفِي أَذْكَارِ النَّوْمِ، وَفِي صَلَاةِ النَّافِلَةِ فَهِيَ مَشْرُوعَةٌ فِي الصَّلَاةِ، وَبَعْدَ الصَّلَاةِ وَفِي الصَّبَاحِ وَفِي الْمَسَاءِ، وَعِنْدَ النَّوْمِ يَعْنِي تُقْرَأُ قِرَاءَةً مُتَكَرِّرَةً وَهَذَا مِنْ فَضَائِلِهَا فَهِيَ سُورَةٌ عَظِيمَةٌ، عَظِيمَةُ الشَّأْنِ وَرَدَ فِيهَا فَضَائِلُ عَظِيمَةٌ كَثِيرَةٌ فَيَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ تَعْظُمَ عِنَايَتُهُ بِهَذِهِ السُّورَةِ وَأَنْ أَيْضًا يَعْتَنِيَ بِفَهْمِهَا لَاحِظِ الصَّحَابِيَّ مَاذَا قَالَ: لِأَنَّ فِيهَا صِفَةَ الرَّحْمَنِ لِأَنَّ فِيهَا صِفَةَ الرَّحْمَنِ هَذِهِ السُّورَةُ تُسَمَّى سُورَةَ الْإِخْلَاصِ لِأَنَّهُ لَا شَيْءَ فِيهَا إِلَّا التَّعْرِيفُ بِالرَّحْمَنِ لَوْ قَالَ قَائِلٌ: مَنْ هُوَ اللهُ؟ مَنْ هُوَ اللهُ؟ اقْرَأْ لَهُ سُورَةَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ اللهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ هَذَا هُوَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ أُخْلِصَتْ لِصِفَةِ الرَّبِّ لِلتَّعْرِيفِ بِالرَّبِّ مَنْ هُوَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَجَاءَ فِيهَا ذِكْرُ أَسْمَاءٍ لَهُ وَصِفَاتٍ تَدُلُّ عَلَى عَظَمَةِ الرَّبِّ وَجَلَالِهِ وَكَمَالِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Allah Memasukkan Manusia ke Surga dan Neraka dengan Keadilan-Nya (Bag. 3)

Daftar Isi ToggleMemasukkan surga dan neraka adalah hak prerogatif Allah ﷻKasus ahli ibadah yang masuk neraka dan ahli maksiat yang masuk surgaPertama: Ketika akhir hayat seseorang berkebalikan dengan riwayat hidupnyaKedua: Ahli maksiat masuk surga karena masih ada iman di hatinyaKetiga: Ahli maksiat masuk surga sebab syafaat dari Nabi ﷺ untuk umatnyaKeempat: Ahli ibadah masuk neraka karena niatnya tidak murni untuk Allah ﷻKelima: Ahli ibadah yang bermaksiat di kala sepiSiapa yang boleh dipersaksikan masuk surga atau neraka?Kita tidak dituntut untuk menelisik hati manusiaJawaban syubhat Islam tidak memberi jaminan surga bagi pemeluknyaKesimpulanMemasukkan surga dan neraka adalah hak prerogatif Allah ﷻMemasukkan surga dan neraka adalah hak prerogatif Allah ﷻ. Tidak ada yang bisa mengintervensi keputusan ini. Namun, Allah ﷻ memberikan ketetapan bahwa siapa saja yang kafir akan masuk neraka, dan siapa saja yang beriman akan masuk surga. Sehingga siapapun yang beriman, meskipun banyak maksiatnya, bisa saja Allah ﷻ masukkan ke surga tanpa azab. Begitupun sebaliknya, seseorang yang banyak melakukan kebaikan, tetapi ia pada akhirnya mati dalam kekafiran, maka tempatnya di neraka.Kepastian secara umum ini disandarkan kepada firman Allah ﷻ dalam surah Al-Bayyinah,إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنْ أَهْلِ ٱلْكِتَٰبِ وَٱلْمُشْرِكِينَ فِى نَارِ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمْ شَرُّ ٱلْبَرِيَّةِ“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dari ahli kitab dan orang-orang yang musyrik itu di neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6)إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمْ خَيْرُ ٱلْبَرِيَّةِ جَزَآؤُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّٰتُ عَدْنٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۖ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِىَ رَبَّهُۥ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Rabb mereka adalah surga ‘Adn yang sungai-sungai mengalir di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Yang demikian itu adalah balasan bagi orang yang takut kepada Rabb-nya.” (QS. Al-Bayyinah: 7-8)Dan masih banyak ayat yang semisal demikian.Kasus ahli ibadah yang masuk neraka dan ahli maksiat yang masuk surgaKeadaan seorang ahli ibadah berakhir di neraka sebagaimana ahli maksiat masuk surga adalah sebuah kenyataan yang ditegaskan oleh Nabi ﷺ. Namun, hal ini tidak terjadi semata-mata tanpa alasan. Berikut ini beberapa riwayat yang mengabarkan hal demikian dan beragam sebabnya:Pertama: Ketika akhir hayat seseorang berkebalikan dengan riwayat hidupnyaفَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا“Demi Allah yang tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia, sesungguhnya di antara kamu ada orang yang melakukan perbuatan ahli surga, sehingga jarak antara dirinya dengan surga hanya tinggal sehasta. Akan tetapi, catatan mendahuluinya, sehingga dia akhirnya melakukan perbuatan ahli neraka, ia pun masuk ke neraka. Sesungguhnya di antara kamu ada orang yang melakukan perbuatan ahli neraka sehingga jarak antara dirinya dengan neraka hanya tinggal sehasta. Akan tetapi, catatan mendahuluinya, akhirnya dia melakukan perbuatan ahli surga, ia pun masuk ke surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)Apa yang terjadi pada orang ini sangat menunjukkan bahwasanya memasukkan orang ke surga atau neraka adalah hak prerogatif Allah ﷻ. Hal ini oleh sebagian orang dijadikan sebagai bahan untuk menyerang bahwa Allah ﷻ telah bersikap tidak adil kepada ahli ibadah tersebut. Padahal, justru ini adalah bentuk keadilan Allah ﷻ. Diterangkan oleh para ulama bahwasanya ahli ibadah semacam ini tidak serta-merta masuk ke neraka hanya karena satu perbuatan, melainkan ia menyimpan kemunafikan berupa:1) Ahli ibadah tersebut beribadah dengan niat yang tidak murni untuk Allah, alias riya. Akan datang keterangan hadis untuk membahas kemungkinan ini pada subpoin keempat.2) Ahli ibadah tersebut menyimpan maksiat tersembunyi seakan-akan ia tidak takut kepada Allah ﷻ dalam melakukan hal tersebut. Keterangan hadis ini akan dijabarkan pada subpoin kelima.Kedua: Ahli maksiat masuk surga karena masih ada iman di hatinyaNabi ﷺ bersabda,يَخْرُحُ مِنَ النَّارِ مَنْ كَانَ فِيْ قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنَ اْلإِيْمَانِ“Akan keluar dari neraka orang yang di dalam hatinya masih ada iman seberat dzarrah.” (HR. Tirmidzi,  dinilai hasan sahih)Ketiga: Ahli maksiat masuk surga sebab syafaat dari Nabi ﷺ untuk umatnyaNabi ﷺ bersabda,لَيَخْرُجَنَّ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِيْ مِنَ النَّارِ بِشَفَاعَتِيْ يُسَمَّوْنَ الْجَهَنَّمِيُّوْنَ“Sungguh satu kaum dari umatku akan keluar dari neraka dengan sebab syafaatku, mereka disebut jahannamiyyun (para mantan penghuni neraka Jahanam).” (HR. Tirmidzi, dinilai hasan sahih)Keempat: Ahli ibadah masuk neraka karena niatnya tidak murni untuk Allah ﷻإِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ ِلأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ, فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ“Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan yang diberikan di dunia, lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab, ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman, ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan sebagai seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan tentang dirimu.’ Kemudian diperintahkan malaikat agar menyeret orang itu di atas mukanya, lalu dilemparkan ke dalam neraka …”Dalam hadis yang panjang ini, disebutkan ada tiga orang yang pertama kali masuk neraka. Hal yang mengherankan adalah justru yang masuk neraka pertama kali tersebut ialah para ahli ibadah di dunia, yakni:1) ahli perang membela agama;2) ahli ilmu yang semangat belajar dan mengajarkan ilmu, khususnya Al-Quran;3) ahli sedekah yang berkorban bagi umat.Namun, karena ia tidak melakukannya karena Allah ﷻ, melainkan hanya untuk mendapatkan pujian manusia atau setidaknya tidak menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan, maka ia mendapatkan ganjaran berupa dimasukkan ke dalam neraka. Padahal, secara zahirnya, mereka ini adalah seorang mukmin dan dihukumi di dunia sebagai orang taat.Kelima: Ahli ibadah yang bermaksiat di kala sepiDari Tsauban, dari Nabi ﷺ, ia berkata,لأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا“Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan banyak kebaikan semisal Gunung Tihamah. Namun, Allah menjadikan kebaikan tersebut menjadi debu yang bertebaran.”Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, coba sebutkan sifat-sifat mereka kepada kami supaya kami tidak menjadi seperti mereka, sedangkan kami tidak mengetahuinya.”قَالَ :  أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَاRasulullah ﷺ bersabda, “Adapun mereka adalah saudara kalian. Kulit mereka sama dengan kulit kalian. Mereka menghidupkan malam (dengan ibadah) seperti kalian. Akan tetapi, mereka adalah kaum yang jika sedang bersendirian, mereka merobek tirai untuk bisa bermaksiat kepada Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 4245)Ini adalah bentuk kemunafikan dan ketidakjujuran dalam amal. Seseorang yang menampakkan keimanan di tengah manusia, tetapi ketika berduaan kepada Allah ﷻ, hilanglah rasa takutnya. Seakan-akan mata manusia lebih ia takuti daripada Allah ﷻ. Berhati-hatilah siapapun di antara kita dari ancaman Rasulullah ﷺ kepada ahli ibadah yang masih gemar bermaksiat di kala sepinya.Dari kasus yang disebutkan di atas, kita dapat simpulkan bahwasanya kejadian ahli ibadah masuk neraka dan sebaliknya itu didasarkan pada alasan yang jelas. Semua penjelasan tersebut justru menunjukkan keadilan dan kebijaksanaan Allah ﷻ.Siapa yang boleh dipersaksikan masuk surga atau neraka?Kita tidak bisa memastikan person siapapun masuk surga dan neraka karena perkara ini adalah perkara gaib. Sehingga, hanya wahyu atau khabar shadiq yang bisa menjadi sumber relevan di sini. Ini adalah pendapat umumnya para ulama.Sebagian pendapat menyebutkan bahwa ada sumber lain yang menjadikan kita boleh mempersaksikan seseorang masuk surga atau neraka. Keadaan itu adalah jika kaum mukminin memberikan persaksian semisal, sebagaimana yang disebutkan dalam Ash-Shahihain,مُرَّ بِجِنَازَةٍ، فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا بِخَيْرٍ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: وَجَبَتْ، وَمُرَّ بِأُخْرَى، فَأُثْنِيَ عَلَيْهَا بِشَرٍّ، فَقَالَ: وَجَبَتْ. وَفِي رِوَايَةٍ كَرَّرَ: وَجَبَتْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، فَقَالَ عُمَرُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا وَجَبَتْ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ، وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا وَجَبَتْ لَهُ النَّارُ، أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ“Dilewatkan jenazah lalu mereka memujinya dengan kebaikan, maka Nabi mengatakan, ‘Wajib.’ Kemudian dilewatkan jenazah lainnya, maka ia dicela dengan keburukan, maka Nabi mengatakan, ‘Wajib.’ Umar bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah yang wajib?” Beliau menjawab, ‘Orang ini kalian puji dengan kebaikan, maka wajib baginya surga. Sedangkan orang ini kalian cela dengan keburukan, maka wajib baginya neraka. Kalian adalah para saksi Allah di muka bumi.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ bersabda,تُوشِكُونَ أَنْ تَعْلَمُوا أَهْلَ الْجَنَّةِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، قَالُوا: بِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: بِالثَّنَاءِ الْحَسَنِ وَالثَّنَاءِ السَّيِّئِ“Hampir saja kalian akan mengetahui siapa ahli surga dan ahli neraka. Mereka berkata, “Dengan cara apa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Dengan pujian dan celaan.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad, dinilai hasan oleh Syekh Syuaib Al-Arnauth.)Ada keterangan dari Ibnu Abil Izz rahimahullah yang cukup menghimpun segala permasalahan tentang vonis surga dan neraka bagi seseorang,إِنَّهُ لَا بُدَّ أَنْ يَدْخُلَ النَّارَ مِنْ أَهْلِ الْكَبَائِرِ مَنْ يَشَاءُ اللَّهُ إِدْخَالَهُ النَّارَ، ثُمَّ يَخْرُجُ مِنْهَا بِشَفَاعَةِ الشَّافِعِينَ، وَلَكِنَّا نَقِفُ فِي الشَّخْصِ الْمُعَيَّنِ، فَلَا نَشْهَدُ لَهُ بِجَنَّةٍ وَلَا نَارٍ إِلَّا عَنْ عِلْمٍ، لِأَنَّ حَقِيقَتَهُ بَاطِنَةٌ، وَمَا مَاتَ عَلَيْهِ لَا نُحِيطُ بِهِ“Sungguh sudah pasti akan masuk neraka di antara para pelaku dosa besar, siapa saja yang dikehendaki Allah untuk dimasukkan ke dalam neraka, kemudian ia keluar darinya dengan syafaat para pemberi syafaat. Namun, kita tidak berkomentar berkenaan dengan orang tertentu. Kita tidak bersaksi untuknya dengan surga atau neraka kecuali berdasarkan ilmu, karena hakikat batinnya dan atas perkara apa ia mati, kita tidak mengetahuinya.” (Syarah Aqidah Thahawiyah, 2: 537)لَكِنْ نَرْجُو لِلْمُحْسِنِ، وَنَخَافُ عَلَى الْمُسِيءِ“Namun, kita berharap (surga) untuk orang-orang yang berbuat kebajikan; dan kami mengkhawatirkan (neraka) untuk orang yang berbuat keburukan.”Sebagaimana Allah ﷻ berfirman,إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ“Sesungguhnya rahmat Allah ﷻ amatlah dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-A’raf: 56)Kita tidak dituntut untuk menelisik hati manusiaPembahasan panjang ini seharusnya tidak menjadikan kita sebagai orang yang sibuk mengejar kondisi hati manusia. Justru dengan adanya pembahasan ini, kita hendaknya menjadi orang yang paling merasa tidak tahu dengan keadaan hati manusia. Mungkin inilah di antara hikmah pembahasan ini dimasukkan dalam kitab akidah. Karena keadaan hati manusia adalah perkara gaib, Allah ﷻ semata yang mengetahuinya secara pasti. Adapun kita, hanya melihat refleksinya dalam amal perbuatan dan tidak dapat memastikannya. Ingatlah wasiat Rasulullah ﷺ kepada kita semua,إِنِّيْ لَمْ أُوْمَرْ ، أَنْ أُنَقِّبَ عَلَى قُلُوْبِ النَّاسِ ، وَلاَ أَشُقَّ بُطُوْنَهُم“Sesungguhnya aku tidak diperintah untuk menyelidiki (memeriksa) hati mereka dan tidak pula untuk membedah perut mereka.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad)Janganlah kita menjadi hakim bagi hati orang lain. Janganlah pula kita menjadi jumawa dengan amalan kita. Bisa jadi amalan yang kita tumpuk hari ini, Allah ﷻ sia-siakan karena maksiat kita yang melampaui batas. Inilah model kehidupan seorang ahlussunnah, ia hidup dalam keseimbangan rasa takut dan harap. Takut amalannya tertolak, tetapi penuh harap agar amalannya diterima.Jawaban syubhat Islam tidak memberi jaminan surga bagi pemeluknyaHal ini juga menjadi bantahan bagi orang yang membawa syubhat bahwa muslim tidak yakin masuk surga. Syubhat ini dihembuskan oleh banyak orang kafir seperti para penginjil yang mengatakan, “Masuklah agama kami, karena surga telah dijamin bagi orang yang percaya kepada Kristus. Sedangkan Muhammad tidak memberikan jaminan bagi pengikutnya.”Perkataan ini sangat dusta. Mengapa? Karena Nabi ﷺ, baik melalui hadis maupun Kalamullah, semuanya memberikan kepastian bahwa siapa saja yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, pastilah masuk surga. Bahkan, Nabi diberikan hak syafaat khusus untuk umatnya, suatu keistimewaan yang tidak dimiliki umat yang lain.Hanya saja, kitalah umatnya yang dituntut untuk memenuhi standar orang beriman yang telah disebutkan. Justru ini adalah konsep yang paling adil dan masuk akal, sebab orang yang berusaha akan mendapatkan apa yang diusahakannya. Sedangkan mereka yang bermaksiat, selagi masih memiliki iman, tetap mendapatkan harapan masuk ke dalam surga Allah ﷻ.KesimpulanKetentuan ini bagi orang beriman tidak menjadikan ia merasa aman untuk melakukan maksiat. Namun, justru menjadikan diri seorang mukmin terus semangat beramal dan khawatir dengan ancaman neraka dengan berimbang. Keimanan yang dilandasi ilmu yang benar akan mendatangkan ketenangan.Muthar Al-Warraq rahimahullah berkata,تنجزوا موعود الله بطاعته ، فإنه قضى أن رحمته قريب من المحسنين“Raihlah janji Allah dengan menaati-Nya, karena Dia telah menetapkan bahwa rahmat-Nya dekat dengan orang-orang yang berbuat ihsan.” (HR. Ibnu Abi Hatim)Semoga jawaban para ulama yang diambil dari firman Allah ﷻ ini dapat mencegah masuknya keyakinan-keyakinan yang salah seputar hikmah dan keadilan Allah ﷻ.سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَMaha Suci Tuhanmu, Yang Mempunyai Keperkasaan dari apa yang mereka sifatkan.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 2***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Referensi:Syarah Aqidah Thahawiyah, karya Ibnu Abil Izz Al-Hanafi rahimahullah, cet. Ar-Risalah.Tafsir Al-Quran Al-Azhim, karya Ibnu Katsir rahimahullah, via tafsir.app.Catatan hadis berdasarkan takhrij Syekh Syuaib Al-Arnauth rahimahullah.

Allah Memasukkan Manusia ke Surga dan Neraka dengan Keadilan-Nya (Bag. 3)

Daftar Isi ToggleMemasukkan surga dan neraka adalah hak prerogatif Allah ﷻKasus ahli ibadah yang masuk neraka dan ahli maksiat yang masuk surgaPertama: Ketika akhir hayat seseorang berkebalikan dengan riwayat hidupnyaKedua: Ahli maksiat masuk surga karena masih ada iman di hatinyaKetiga: Ahli maksiat masuk surga sebab syafaat dari Nabi ﷺ untuk umatnyaKeempat: Ahli ibadah masuk neraka karena niatnya tidak murni untuk Allah ﷻKelima: Ahli ibadah yang bermaksiat di kala sepiSiapa yang boleh dipersaksikan masuk surga atau neraka?Kita tidak dituntut untuk menelisik hati manusiaJawaban syubhat Islam tidak memberi jaminan surga bagi pemeluknyaKesimpulanMemasukkan surga dan neraka adalah hak prerogatif Allah ﷻMemasukkan surga dan neraka adalah hak prerogatif Allah ﷻ. Tidak ada yang bisa mengintervensi keputusan ini. Namun, Allah ﷻ memberikan ketetapan bahwa siapa saja yang kafir akan masuk neraka, dan siapa saja yang beriman akan masuk surga. Sehingga siapapun yang beriman, meskipun banyak maksiatnya, bisa saja Allah ﷻ masukkan ke surga tanpa azab. Begitupun sebaliknya, seseorang yang banyak melakukan kebaikan, tetapi ia pada akhirnya mati dalam kekafiran, maka tempatnya di neraka.Kepastian secara umum ini disandarkan kepada firman Allah ﷻ dalam surah Al-Bayyinah,إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنْ أَهْلِ ٱلْكِتَٰبِ وَٱلْمُشْرِكِينَ فِى نَارِ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمْ شَرُّ ٱلْبَرِيَّةِ“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dari ahli kitab dan orang-orang yang musyrik itu di neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6)إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمْ خَيْرُ ٱلْبَرِيَّةِ جَزَآؤُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّٰتُ عَدْنٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۖ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِىَ رَبَّهُۥ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Rabb mereka adalah surga ‘Adn yang sungai-sungai mengalir di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Yang demikian itu adalah balasan bagi orang yang takut kepada Rabb-nya.” (QS. Al-Bayyinah: 7-8)Dan masih banyak ayat yang semisal demikian.Kasus ahli ibadah yang masuk neraka dan ahli maksiat yang masuk surgaKeadaan seorang ahli ibadah berakhir di neraka sebagaimana ahli maksiat masuk surga adalah sebuah kenyataan yang ditegaskan oleh Nabi ﷺ. Namun, hal ini tidak terjadi semata-mata tanpa alasan. Berikut ini beberapa riwayat yang mengabarkan hal demikian dan beragam sebabnya:Pertama: Ketika akhir hayat seseorang berkebalikan dengan riwayat hidupnyaفَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا“Demi Allah yang tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia, sesungguhnya di antara kamu ada orang yang melakukan perbuatan ahli surga, sehingga jarak antara dirinya dengan surga hanya tinggal sehasta. Akan tetapi, catatan mendahuluinya, sehingga dia akhirnya melakukan perbuatan ahli neraka, ia pun masuk ke neraka. Sesungguhnya di antara kamu ada orang yang melakukan perbuatan ahli neraka sehingga jarak antara dirinya dengan neraka hanya tinggal sehasta. Akan tetapi, catatan mendahuluinya, akhirnya dia melakukan perbuatan ahli surga, ia pun masuk ke surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)Apa yang terjadi pada orang ini sangat menunjukkan bahwasanya memasukkan orang ke surga atau neraka adalah hak prerogatif Allah ﷻ. Hal ini oleh sebagian orang dijadikan sebagai bahan untuk menyerang bahwa Allah ﷻ telah bersikap tidak adil kepada ahli ibadah tersebut. Padahal, justru ini adalah bentuk keadilan Allah ﷻ. Diterangkan oleh para ulama bahwasanya ahli ibadah semacam ini tidak serta-merta masuk ke neraka hanya karena satu perbuatan, melainkan ia menyimpan kemunafikan berupa:1) Ahli ibadah tersebut beribadah dengan niat yang tidak murni untuk Allah, alias riya. Akan datang keterangan hadis untuk membahas kemungkinan ini pada subpoin keempat.2) Ahli ibadah tersebut menyimpan maksiat tersembunyi seakan-akan ia tidak takut kepada Allah ﷻ dalam melakukan hal tersebut. Keterangan hadis ini akan dijabarkan pada subpoin kelima.Kedua: Ahli maksiat masuk surga karena masih ada iman di hatinyaNabi ﷺ bersabda,يَخْرُحُ مِنَ النَّارِ مَنْ كَانَ فِيْ قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنَ اْلإِيْمَانِ“Akan keluar dari neraka orang yang di dalam hatinya masih ada iman seberat dzarrah.” (HR. Tirmidzi,  dinilai hasan sahih)Ketiga: Ahli maksiat masuk surga sebab syafaat dari Nabi ﷺ untuk umatnyaNabi ﷺ bersabda,لَيَخْرُجَنَّ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِيْ مِنَ النَّارِ بِشَفَاعَتِيْ يُسَمَّوْنَ الْجَهَنَّمِيُّوْنَ“Sungguh satu kaum dari umatku akan keluar dari neraka dengan sebab syafaatku, mereka disebut jahannamiyyun (para mantan penghuni neraka Jahanam).” (HR. Tirmidzi, dinilai hasan sahih)Keempat: Ahli ibadah masuk neraka karena niatnya tidak murni untuk Allah ﷻإِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ ِلأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ, فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ“Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan yang diberikan di dunia, lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab, ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman, ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan sebagai seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan tentang dirimu.’ Kemudian diperintahkan malaikat agar menyeret orang itu di atas mukanya, lalu dilemparkan ke dalam neraka …”Dalam hadis yang panjang ini, disebutkan ada tiga orang yang pertama kali masuk neraka. Hal yang mengherankan adalah justru yang masuk neraka pertama kali tersebut ialah para ahli ibadah di dunia, yakni:1) ahli perang membela agama;2) ahli ilmu yang semangat belajar dan mengajarkan ilmu, khususnya Al-Quran;3) ahli sedekah yang berkorban bagi umat.Namun, karena ia tidak melakukannya karena Allah ﷻ, melainkan hanya untuk mendapatkan pujian manusia atau setidaknya tidak menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan, maka ia mendapatkan ganjaran berupa dimasukkan ke dalam neraka. Padahal, secara zahirnya, mereka ini adalah seorang mukmin dan dihukumi di dunia sebagai orang taat.Kelima: Ahli ibadah yang bermaksiat di kala sepiDari Tsauban, dari Nabi ﷺ, ia berkata,لأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا“Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan banyak kebaikan semisal Gunung Tihamah. Namun, Allah menjadikan kebaikan tersebut menjadi debu yang bertebaran.”Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, coba sebutkan sifat-sifat mereka kepada kami supaya kami tidak menjadi seperti mereka, sedangkan kami tidak mengetahuinya.”قَالَ :  أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَاRasulullah ﷺ bersabda, “Adapun mereka adalah saudara kalian. Kulit mereka sama dengan kulit kalian. Mereka menghidupkan malam (dengan ibadah) seperti kalian. Akan tetapi, mereka adalah kaum yang jika sedang bersendirian, mereka merobek tirai untuk bisa bermaksiat kepada Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 4245)Ini adalah bentuk kemunafikan dan ketidakjujuran dalam amal. Seseorang yang menampakkan keimanan di tengah manusia, tetapi ketika berduaan kepada Allah ﷻ, hilanglah rasa takutnya. Seakan-akan mata manusia lebih ia takuti daripada Allah ﷻ. Berhati-hatilah siapapun di antara kita dari ancaman Rasulullah ﷺ kepada ahli ibadah yang masih gemar bermaksiat di kala sepinya.Dari kasus yang disebutkan di atas, kita dapat simpulkan bahwasanya kejadian ahli ibadah masuk neraka dan sebaliknya itu didasarkan pada alasan yang jelas. Semua penjelasan tersebut justru menunjukkan keadilan dan kebijaksanaan Allah ﷻ.Siapa yang boleh dipersaksikan masuk surga atau neraka?Kita tidak bisa memastikan person siapapun masuk surga dan neraka karena perkara ini adalah perkara gaib. Sehingga, hanya wahyu atau khabar shadiq yang bisa menjadi sumber relevan di sini. Ini adalah pendapat umumnya para ulama.Sebagian pendapat menyebutkan bahwa ada sumber lain yang menjadikan kita boleh mempersaksikan seseorang masuk surga atau neraka. Keadaan itu adalah jika kaum mukminin memberikan persaksian semisal, sebagaimana yang disebutkan dalam Ash-Shahihain,مُرَّ بِجِنَازَةٍ، فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا بِخَيْرٍ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: وَجَبَتْ، وَمُرَّ بِأُخْرَى، فَأُثْنِيَ عَلَيْهَا بِشَرٍّ، فَقَالَ: وَجَبَتْ. وَفِي رِوَايَةٍ كَرَّرَ: وَجَبَتْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، فَقَالَ عُمَرُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا وَجَبَتْ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ، وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا وَجَبَتْ لَهُ النَّارُ، أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ“Dilewatkan jenazah lalu mereka memujinya dengan kebaikan, maka Nabi mengatakan, ‘Wajib.’ Kemudian dilewatkan jenazah lainnya, maka ia dicela dengan keburukan, maka Nabi mengatakan, ‘Wajib.’ Umar bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah yang wajib?” Beliau menjawab, ‘Orang ini kalian puji dengan kebaikan, maka wajib baginya surga. Sedangkan orang ini kalian cela dengan keburukan, maka wajib baginya neraka. Kalian adalah para saksi Allah di muka bumi.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ bersabda,تُوشِكُونَ أَنْ تَعْلَمُوا أَهْلَ الْجَنَّةِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، قَالُوا: بِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: بِالثَّنَاءِ الْحَسَنِ وَالثَّنَاءِ السَّيِّئِ“Hampir saja kalian akan mengetahui siapa ahli surga dan ahli neraka. Mereka berkata, “Dengan cara apa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Dengan pujian dan celaan.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad, dinilai hasan oleh Syekh Syuaib Al-Arnauth.)Ada keterangan dari Ibnu Abil Izz rahimahullah yang cukup menghimpun segala permasalahan tentang vonis surga dan neraka bagi seseorang,إِنَّهُ لَا بُدَّ أَنْ يَدْخُلَ النَّارَ مِنْ أَهْلِ الْكَبَائِرِ مَنْ يَشَاءُ اللَّهُ إِدْخَالَهُ النَّارَ، ثُمَّ يَخْرُجُ مِنْهَا بِشَفَاعَةِ الشَّافِعِينَ، وَلَكِنَّا نَقِفُ فِي الشَّخْصِ الْمُعَيَّنِ، فَلَا نَشْهَدُ لَهُ بِجَنَّةٍ وَلَا نَارٍ إِلَّا عَنْ عِلْمٍ، لِأَنَّ حَقِيقَتَهُ بَاطِنَةٌ، وَمَا مَاتَ عَلَيْهِ لَا نُحِيطُ بِهِ“Sungguh sudah pasti akan masuk neraka di antara para pelaku dosa besar, siapa saja yang dikehendaki Allah untuk dimasukkan ke dalam neraka, kemudian ia keluar darinya dengan syafaat para pemberi syafaat. Namun, kita tidak berkomentar berkenaan dengan orang tertentu. Kita tidak bersaksi untuknya dengan surga atau neraka kecuali berdasarkan ilmu, karena hakikat batinnya dan atas perkara apa ia mati, kita tidak mengetahuinya.” (Syarah Aqidah Thahawiyah, 2: 537)لَكِنْ نَرْجُو لِلْمُحْسِنِ، وَنَخَافُ عَلَى الْمُسِيءِ“Namun, kita berharap (surga) untuk orang-orang yang berbuat kebajikan; dan kami mengkhawatirkan (neraka) untuk orang yang berbuat keburukan.”Sebagaimana Allah ﷻ berfirman,إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ“Sesungguhnya rahmat Allah ﷻ amatlah dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-A’raf: 56)Kita tidak dituntut untuk menelisik hati manusiaPembahasan panjang ini seharusnya tidak menjadikan kita sebagai orang yang sibuk mengejar kondisi hati manusia. Justru dengan adanya pembahasan ini, kita hendaknya menjadi orang yang paling merasa tidak tahu dengan keadaan hati manusia. Mungkin inilah di antara hikmah pembahasan ini dimasukkan dalam kitab akidah. Karena keadaan hati manusia adalah perkara gaib, Allah ﷻ semata yang mengetahuinya secara pasti. Adapun kita, hanya melihat refleksinya dalam amal perbuatan dan tidak dapat memastikannya. Ingatlah wasiat Rasulullah ﷺ kepada kita semua,إِنِّيْ لَمْ أُوْمَرْ ، أَنْ أُنَقِّبَ عَلَى قُلُوْبِ النَّاسِ ، وَلاَ أَشُقَّ بُطُوْنَهُم“Sesungguhnya aku tidak diperintah untuk menyelidiki (memeriksa) hati mereka dan tidak pula untuk membedah perut mereka.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad)Janganlah kita menjadi hakim bagi hati orang lain. Janganlah pula kita menjadi jumawa dengan amalan kita. Bisa jadi amalan yang kita tumpuk hari ini, Allah ﷻ sia-siakan karena maksiat kita yang melampaui batas. Inilah model kehidupan seorang ahlussunnah, ia hidup dalam keseimbangan rasa takut dan harap. Takut amalannya tertolak, tetapi penuh harap agar amalannya diterima.Jawaban syubhat Islam tidak memberi jaminan surga bagi pemeluknyaHal ini juga menjadi bantahan bagi orang yang membawa syubhat bahwa muslim tidak yakin masuk surga. Syubhat ini dihembuskan oleh banyak orang kafir seperti para penginjil yang mengatakan, “Masuklah agama kami, karena surga telah dijamin bagi orang yang percaya kepada Kristus. Sedangkan Muhammad tidak memberikan jaminan bagi pengikutnya.”Perkataan ini sangat dusta. Mengapa? Karena Nabi ﷺ, baik melalui hadis maupun Kalamullah, semuanya memberikan kepastian bahwa siapa saja yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, pastilah masuk surga. Bahkan, Nabi diberikan hak syafaat khusus untuk umatnya, suatu keistimewaan yang tidak dimiliki umat yang lain.Hanya saja, kitalah umatnya yang dituntut untuk memenuhi standar orang beriman yang telah disebutkan. Justru ini adalah konsep yang paling adil dan masuk akal, sebab orang yang berusaha akan mendapatkan apa yang diusahakannya. Sedangkan mereka yang bermaksiat, selagi masih memiliki iman, tetap mendapatkan harapan masuk ke dalam surga Allah ﷻ.KesimpulanKetentuan ini bagi orang beriman tidak menjadikan ia merasa aman untuk melakukan maksiat. Namun, justru menjadikan diri seorang mukmin terus semangat beramal dan khawatir dengan ancaman neraka dengan berimbang. Keimanan yang dilandasi ilmu yang benar akan mendatangkan ketenangan.Muthar Al-Warraq rahimahullah berkata,تنجزوا موعود الله بطاعته ، فإنه قضى أن رحمته قريب من المحسنين“Raihlah janji Allah dengan menaati-Nya, karena Dia telah menetapkan bahwa rahmat-Nya dekat dengan orang-orang yang berbuat ihsan.” (HR. Ibnu Abi Hatim)Semoga jawaban para ulama yang diambil dari firman Allah ﷻ ini dapat mencegah masuknya keyakinan-keyakinan yang salah seputar hikmah dan keadilan Allah ﷻ.سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَMaha Suci Tuhanmu, Yang Mempunyai Keperkasaan dari apa yang mereka sifatkan.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 2***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Referensi:Syarah Aqidah Thahawiyah, karya Ibnu Abil Izz Al-Hanafi rahimahullah, cet. Ar-Risalah.Tafsir Al-Quran Al-Azhim, karya Ibnu Katsir rahimahullah, via tafsir.app.Catatan hadis berdasarkan takhrij Syekh Syuaib Al-Arnauth rahimahullah.
Daftar Isi ToggleMemasukkan surga dan neraka adalah hak prerogatif Allah ﷻKasus ahli ibadah yang masuk neraka dan ahli maksiat yang masuk surgaPertama: Ketika akhir hayat seseorang berkebalikan dengan riwayat hidupnyaKedua: Ahli maksiat masuk surga karena masih ada iman di hatinyaKetiga: Ahli maksiat masuk surga sebab syafaat dari Nabi ﷺ untuk umatnyaKeempat: Ahli ibadah masuk neraka karena niatnya tidak murni untuk Allah ﷻKelima: Ahli ibadah yang bermaksiat di kala sepiSiapa yang boleh dipersaksikan masuk surga atau neraka?Kita tidak dituntut untuk menelisik hati manusiaJawaban syubhat Islam tidak memberi jaminan surga bagi pemeluknyaKesimpulanMemasukkan surga dan neraka adalah hak prerogatif Allah ﷻMemasukkan surga dan neraka adalah hak prerogatif Allah ﷻ. Tidak ada yang bisa mengintervensi keputusan ini. Namun, Allah ﷻ memberikan ketetapan bahwa siapa saja yang kafir akan masuk neraka, dan siapa saja yang beriman akan masuk surga. Sehingga siapapun yang beriman, meskipun banyak maksiatnya, bisa saja Allah ﷻ masukkan ke surga tanpa azab. Begitupun sebaliknya, seseorang yang banyak melakukan kebaikan, tetapi ia pada akhirnya mati dalam kekafiran, maka tempatnya di neraka.Kepastian secara umum ini disandarkan kepada firman Allah ﷻ dalam surah Al-Bayyinah,إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنْ أَهْلِ ٱلْكِتَٰبِ وَٱلْمُشْرِكِينَ فِى نَارِ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمْ شَرُّ ٱلْبَرِيَّةِ“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dari ahli kitab dan orang-orang yang musyrik itu di neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6)إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمْ خَيْرُ ٱلْبَرِيَّةِ جَزَآؤُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّٰتُ عَدْنٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۖ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِىَ رَبَّهُۥ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Rabb mereka adalah surga ‘Adn yang sungai-sungai mengalir di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Yang demikian itu adalah balasan bagi orang yang takut kepada Rabb-nya.” (QS. Al-Bayyinah: 7-8)Dan masih banyak ayat yang semisal demikian.Kasus ahli ibadah yang masuk neraka dan ahli maksiat yang masuk surgaKeadaan seorang ahli ibadah berakhir di neraka sebagaimana ahli maksiat masuk surga adalah sebuah kenyataan yang ditegaskan oleh Nabi ﷺ. Namun, hal ini tidak terjadi semata-mata tanpa alasan. Berikut ini beberapa riwayat yang mengabarkan hal demikian dan beragam sebabnya:Pertama: Ketika akhir hayat seseorang berkebalikan dengan riwayat hidupnyaفَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا“Demi Allah yang tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia, sesungguhnya di antara kamu ada orang yang melakukan perbuatan ahli surga, sehingga jarak antara dirinya dengan surga hanya tinggal sehasta. Akan tetapi, catatan mendahuluinya, sehingga dia akhirnya melakukan perbuatan ahli neraka, ia pun masuk ke neraka. Sesungguhnya di antara kamu ada orang yang melakukan perbuatan ahli neraka sehingga jarak antara dirinya dengan neraka hanya tinggal sehasta. Akan tetapi, catatan mendahuluinya, akhirnya dia melakukan perbuatan ahli surga, ia pun masuk ke surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)Apa yang terjadi pada orang ini sangat menunjukkan bahwasanya memasukkan orang ke surga atau neraka adalah hak prerogatif Allah ﷻ. Hal ini oleh sebagian orang dijadikan sebagai bahan untuk menyerang bahwa Allah ﷻ telah bersikap tidak adil kepada ahli ibadah tersebut. Padahal, justru ini adalah bentuk keadilan Allah ﷻ. Diterangkan oleh para ulama bahwasanya ahli ibadah semacam ini tidak serta-merta masuk ke neraka hanya karena satu perbuatan, melainkan ia menyimpan kemunafikan berupa:1) Ahli ibadah tersebut beribadah dengan niat yang tidak murni untuk Allah, alias riya. Akan datang keterangan hadis untuk membahas kemungkinan ini pada subpoin keempat.2) Ahli ibadah tersebut menyimpan maksiat tersembunyi seakan-akan ia tidak takut kepada Allah ﷻ dalam melakukan hal tersebut. Keterangan hadis ini akan dijabarkan pada subpoin kelima.Kedua: Ahli maksiat masuk surga karena masih ada iman di hatinyaNabi ﷺ bersabda,يَخْرُحُ مِنَ النَّارِ مَنْ كَانَ فِيْ قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنَ اْلإِيْمَانِ“Akan keluar dari neraka orang yang di dalam hatinya masih ada iman seberat dzarrah.” (HR. Tirmidzi,  dinilai hasan sahih)Ketiga: Ahli maksiat masuk surga sebab syafaat dari Nabi ﷺ untuk umatnyaNabi ﷺ bersabda,لَيَخْرُجَنَّ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِيْ مِنَ النَّارِ بِشَفَاعَتِيْ يُسَمَّوْنَ الْجَهَنَّمِيُّوْنَ“Sungguh satu kaum dari umatku akan keluar dari neraka dengan sebab syafaatku, mereka disebut jahannamiyyun (para mantan penghuni neraka Jahanam).” (HR. Tirmidzi, dinilai hasan sahih)Keempat: Ahli ibadah masuk neraka karena niatnya tidak murni untuk Allah ﷻإِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ ِلأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ, فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ“Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan yang diberikan di dunia, lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab, ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman, ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan sebagai seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan tentang dirimu.’ Kemudian diperintahkan malaikat agar menyeret orang itu di atas mukanya, lalu dilemparkan ke dalam neraka …”Dalam hadis yang panjang ini, disebutkan ada tiga orang yang pertama kali masuk neraka. Hal yang mengherankan adalah justru yang masuk neraka pertama kali tersebut ialah para ahli ibadah di dunia, yakni:1) ahli perang membela agama;2) ahli ilmu yang semangat belajar dan mengajarkan ilmu, khususnya Al-Quran;3) ahli sedekah yang berkorban bagi umat.Namun, karena ia tidak melakukannya karena Allah ﷻ, melainkan hanya untuk mendapatkan pujian manusia atau setidaknya tidak menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan, maka ia mendapatkan ganjaran berupa dimasukkan ke dalam neraka. Padahal, secara zahirnya, mereka ini adalah seorang mukmin dan dihukumi di dunia sebagai orang taat.Kelima: Ahli ibadah yang bermaksiat di kala sepiDari Tsauban, dari Nabi ﷺ, ia berkata,لأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا“Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan banyak kebaikan semisal Gunung Tihamah. Namun, Allah menjadikan kebaikan tersebut menjadi debu yang bertebaran.”Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, coba sebutkan sifat-sifat mereka kepada kami supaya kami tidak menjadi seperti mereka, sedangkan kami tidak mengetahuinya.”قَالَ :  أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَاRasulullah ﷺ bersabda, “Adapun mereka adalah saudara kalian. Kulit mereka sama dengan kulit kalian. Mereka menghidupkan malam (dengan ibadah) seperti kalian. Akan tetapi, mereka adalah kaum yang jika sedang bersendirian, mereka merobek tirai untuk bisa bermaksiat kepada Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 4245)Ini adalah bentuk kemunafikan dan ketidakjujuran dalam amal. Seseorang yang menampakkan keimanan di tengah manusia, tetapi ketika berduaan kepada Allah ﷻ, hilanglah rasa takutnya. Seakan-akan mata manusia lebih ia takuti daripada Allah ﷻ. Berhati-hatilah siapapun di antara kita dari ancaman Rasulullah ﷺ kepada ahli ibadah yang masih gemar bermaksiat di kala sepinya.Dari kasus yang disebutkan di atas, kita dapat simpulkan bahwasanya kejadian ahli ibadah masuk neraka dan sebaliknya itu didasarkan pada alasan yang jelas. Semua penjelasan tersebut justru menunjukkan keadilan dan kebijaksanaan Allah ﷻ.Siapa yang boleh dipersaksikan masuk surga atau neraka?Kita tidak bisa memastikan person siapapun masuk surga dan neraka karena perkara ini adalah perkara gaib. Sehingga, hanya wahyu atau khabar shadiq yang bisa menjadi sumber relevan di sini. Ini adalah pendapat umumnya para ulama.Sebagian pendapat menyebutkan bahwa ada sumber lain yang menjadikan kita boleh mempersaksikan seseorang masuk surga atau neraka. Keadaan itu adalah jika kaum mukminin memberikan persaksian semisal, sebagaimana yang disebutkan dalam Ash-Shahihain,مُرَّ بِجِنَازَةٍ، فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا بِخَيْرٍ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: وَجَبَتْ، وَمُرَّ بِأُخْرَى، فَأُثْنِيَ عَلَيْهَا بِشَرٍّ، فَقَالَ: وَجَبَتْ. وَفِي رِوَايَةٍ كَرَّرَ: وَجَبَتْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، فَقَالَ عُمَرُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا وَجَبَتْ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ، وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا وَجَبَتْ لَهُ النَّارُ، أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ“Dilewatkan jenazah lalu mereka memujinya dengan kebaikan, maka Nabi mengatakan, ‘Wajib.’ Kemudian dilewatkan jenazah lainnya, maka ia dicela dengan keburukan, maka Nabi mengatakan, ‘Wajib.’ Umar bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah yang wajib?” Beliau menjawab, ‘Orang ini kalian puji dengan kebaikan, maka wajib baginya surga. Sedangkan orang ini kalian cela dengan keburukan, maka wajib baginya neraka. Kalian adalah para saksi Allah di muka bumi.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ bersabda,تُوشِكُونَ أَنْ تَعْلَمُوا أَهْلَ الْجَنَّةِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، قَالُوا: بِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: بِالثَّنَاءِ الْحَسَنِ وَالثَّنَاءِ السَّيِّئِ“Hampir saja kalian akan mengetahui siapa ahli surga dan ahli neraka. Mereka berkata, “Dengan cara apa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Dengan pujian dan celaan.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad, dinilai hasan oleh Syekh Syuaib Al-Arnauth.)Ada keterangan dari Ibnu Abil Izz rahimahullah yang cukup menghimpun segala permasalahan tentang vonis surga dan neraka bagi seseorang,إِنَّهُ لَا بُدَّ أَنْ يَدْخُلَ النَّارَ مِنْ أَهْلِ الْكَبَائِرِ مَنْ يَشَاءُ اللَّهُ إِدْخَالَهُ النَّارَ، ثُمَّ يَخْرُجُ مِنْهَا بِشَفَاعَةِ الشَّافِعِينَ، وَلَكِنَّا نَقِفُ فِي الشَّخْصِ الْمُعَيَّنِ، فَلَا نَشْهَدُ لَهُ بِجَنَّةٍ وَلَا نَارٍ إِلَّا عَنْ عِلْمٍ، لِأَنَّ حَقِيقَتَهُ بَاطِنَةٌ، وَمَا مَاتَ عَلَيْهِ لَا نُحِيطُ بِهِ“Sungguh sudah pasti akan masuk neraka di antara para pelaku dosa besar, siapa saja yang dikehendaki Allah untuk dimasukkan ke dalam neraka, kemudian ia keluar darinya dengan syafaat para pemberi syafaat. Namun, kita tidak berkomentar berkenaan dengan orang tertentu. Kita tidak bersaksi untuknya dengan surga atau neraka kecuali berdasarkan ilmu, karena hakikat batinnya dan atas perkara apa ia mati, kita tidak mengetahuinya.” (Syarah Aqidah Thahawiyah, 2: 537)لَكِنْ نَرْجُو لِلْمُحْسِنِ، وَنَخَافُ عَلَى الْمُسِيءِ“Namun, kita berharap (surga) untuk orang-orang yang berbuat kebajikan; dan kami mengkhawatirkan (neraka) untuk orang yang berbuat keburukan.”Sebagaimana Allah ﷻ berfirman,إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ“Sesungguhnya rahmat Allah ﷻ amatlah dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-A’raf: 56)Kita tidak dituntut untuk menelisik hati manusiaPembahasan panjang ini seharusnya tidak menjadikan kita sebagai orang yang sibuk mengejar kondisi hati manusia. Justru dengan adanya pembahasan ini, kita hendaknya menjadi orang yang paling merasa tidak tahu dengan keadaan hati manusia. Mungkin inilah di antara hikmah pembahasan ini dimasukkan dalam kitab akidah. Karena keadaan hati manusia adalah perkara gaib, Allah ﷻ semata yang mengetahuinya secara pasti. Adapun kita, hanya melihat refleksinya dalam amal perbuatan dan tidak dapat memastikannya. Ingatlah wasiat Rasulullah ﷺ kepada kita semua,إِنِّيْ لَمْ أُوْمَرْ ، أَنْ أُنَقِّبَ عَلَى قُلُوْبِ النَّاسِ ، وَلاَ أَشُقَّ بُطُوْنَهُم“Sesungguhnya aku tidak diperintah untuk menyelidiki (memeriksa) hati mereka dan tidak pula untuk membedah perut mereka.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad)Janganlah kita menjadi hakim bagi hati orang lain. Janganlah pula kita menjadi jumawa dengan amalan kita. Bisa jadi amalan yang kita tumpuk hari ini, Allah ﷻ sia-siakan karena maksiat kita yang melampaui batas. Inilah model kehidupan seorang ahlussunnah, ia hidup dalam keseimbangan rasa takut dan harap. Takut amalannya tertolak, tetapi penuh harap agar amalannya diterima.Jawaban syubhat Islam tidak memberi jaminan surga bagi pemeluknyaHal ini juga menjadi bantahan bagi orang yang membawa syubhat bahwa muslim tidak yakin masuk surga. Syubhat ini dihembuskan oleh banyak orang kafir seperti para penginjil yang mengatakan, “Masuklah agama kami, karena surga telah dijamin bagi orang yang percaya kepada Kristus. Sedangkan Muhammad tidak memberikan jaminan bagi pengikutnya.”Perkataan ini sangat dusta. Mengapa? Karena Nabi ﷺ, baik melalui hadis maupun Kalamullah, semuanya memberikan kepastian bahwa siapa saja yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, pastilah masuk surga. Bahkan, Nabi diberikan hak syafaat khusus untuk umatnya, suatu keistimewaan yang tidak dimiliki umat yang lain.Hanya saja, kitalah umatnya yang dituntut untuk memenuhi standar orang beriman yang telah disebutkan. Justru ini adalah konsep yang paling adil dan masuk akal, sebab orang yang berusaha akan mendapatkan apa yang diusahakannya. Sedangkan mereka yang bermaksiat, selagi masih memiliki iman, tetap mendapatkan harapan masuk ke dalam surga Allah ﷻ.KesimpulanKetentuan ini bagi orang beriman tidak menjadikan ia merasa aman untuk melakukan maksiat. Namun, justru menjadikan diri seorang mukmin terus semangat beramal dan khawatir dengan ancaman neraka dengan berimbang. Keimanan yang dilandasi ilmu yang benar akan mendatangkan ketenangan.Muthar Al-Warraq rahimahullah berkata,تنجزوا موعود الله بطاعته ، فإنه قضى أن رحمته قريب من المحسنين“Raihlah janji Allah dengan menaati-Nya, karena Dia telah menetapkan bahwa rahmat-Nya dekat dengan orang-orang yang berbuat ihsan.” (HR. Ibnu Abi Hatim)Semoga jawaban para ulama yang diambil dari firman Allah ﷻ ini dapat mencegah masuknya keyakinan-keyakinan yang salah seputar hikmah dan keadilan Allah ﷻ.سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَMaha Suci Tuhanmu, Yang Mempunyai Keperkasaan dari apa yang mereka sifatkan.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 2***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Referensi:Syarah Aqidah Thahawiyah, karya Ibnu Abil Izz Al-Hanafi rahimahullah, cet. Ar-Risalah.Tafsir Al-Quran Al-Azhim, karya Ibnu Katsir rahimahullah, via tafsir.app.Catatan hadis berdasarkan takhrij Syekh Syuaib Al-Arnauth rahimahullah.


Daftar Isi ToggleMemasukkan surga dan neraka adalah hak prerogatif Allah ﷻKasus ahli ibadah yang masuk neraka dan ahli maksiat yang masuk surgaPertama: Ketika akhir hayat seseorang berkebalikan dengan riwayat hidupnyaKedua: Ahli maksiat masuk surga karena masih ada iman di hatinyaKetiga: Ahli maksiat masuk surga sebab syafaat dari Nabi ﷺ untuk umatnyaKeempat: Ahli ibadah masuk neraka karena niatnya tidak murni untuk Allah ﷻKelima: Ahli ibadah yang bermaksiat di kala sepiSiapa yang boleh dipersaksikan masuk surga atau neraka?Kita tidak dituntut untuk menelisik hati manusiaJawaban syubhat Islam tidak memberi jaminan surga bagi pemeluknyaKesimpulanMemasukkan surga dan neraka adalah hak prerogatif Allah ﷻMemasukkan surga dan neraka adalah hak prerogatif Allah ﷻ. Tidak ada yang bisa mengintervensi keputusan ini. Namun, Allah ﷻ memberikan ketetapan bahwa siapa saja yang kafir akan masuk neraka, dan siapa saja yang beriman akan masuk surga. Sehingga siapapun yang beriman, meskipun banyak maksiatnya, bisa saja Allah ﷻ masukkan ke surga tanpa azab. Begitupun sebaliknya, seseorang yang banyak melakukan kebaikan, tetapi ia pada akhirnya mati dalam kekafiran, maka tempatnya di neraka.Kepastian secara umum ini disandarkan kepada firman Allah ﷻ dalam surah Al-Bayyinah,إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنْ أَهْلِ ٱلْكِتَٰبِ وَٱلْمُشْرِكِينَ فِى نَارِ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمْ شَرُّ ٱلْبَرِيَّةِ“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dari ahli kitab dan orang-orang yang musyrik itu di neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6)إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمْ خَيْرُ ٱلْبَرِيَّةِ جَزَآؤُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّٰتُ عَدْنٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۖ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِىَ رَبَّهُۥ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Rabb mereka adalah surga ‘Adn yang sungai-sungai mengalir di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Yang demikian itu adalah balasan bagi orang yang takut kepada Rabb-nya.” (QS. Al-Bayyinah: 7-8)Dan masih banyak ayat yang semisal demikian.Kasus ahli ibadah yang masuk neraka dan ahli maksiat yang masuk surgaKeadaan seorang ahli ibadah berakhir di neraka sebagaimana ahli maksiat masuk surga adalah sebuah kenyataan yang ditegaskan oleh Nabi ﷺ. Namun, hal ini tidak terjadi semata-mata tanpa alasan. Berikut ini beberapa riwayat yang mengabarkan hal demikian dan beragam sebabnya:Pertama: Ketika akhir hayat seseorang berkebalikan dengan riwayat hidupnyaفَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا“Demi Allah yang tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia, sesungguhnya di antara kamu ada orang yang melakukan perbuatan ahli surga, sehingga jarak antara dirinya dengan surga hanya tinggal sehasta. Akan tetapi, catatan mendahuluinya, sehingga dia akhirnya melakukan perbuatan ahli neraka, ia pun masuk ke neraka. Sesungguhnya di antara kamu ada orang yang melakukan perbuatan ahli neraka sehingga jarak antara dirinya dengan neraka hanya tinggal sehasta. Akan tetapi, catatan mendahuluinya, akhirnya dia melakukan perbuatan ahli surga, ia pun masuk ke surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)Apa yang terjadi pada orang ini sangat menunjukkan bahwasanya memasukkan orang ke surga atau neraka adalah hak prerogatif Allah ﷻ. Hal ini oleh sebagian orang dijadikan sebagai bahan untuk menyerang bahwa Allah ﷻ telah bersikap tidak adil kepada ahli ibadah tersebut. Padahal, justru ini adalah bentuk keadilan Allah ﷻ. Diterangkan oleh para ulama bahwasanya ahli ibadah semacam ini tidak serta-merta masuk ke neraka hanya karena satu perbuatan, melainkan ia menyimpan kemunafikan berupa:1) Ahli ibadah tersebut beribadah dengan niat yang tidak murni untuk Allah, alias riya. Akan datang keterangan hadis untuk membahas kemungkinan ini pada subpoin keempat.2) Ahli ibadah tersebut menyimpan maksiat tersembunyi seakan-akan ia tidak takut kepada Allah ﷻ dalam melakukan hal tersebut. Keterangan hadis ini akan dijabarkan pada subpoin kelima.Kedua: Ahli maksiat masuk surga karena masih ada iman di hatinyaNabi ﷺ bersabda,يَخْرُحُ مِنَ النَّارِ مَنْ كَانَ فِيْ قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنَ اْلإِيْمَانِ“Akan keluar dari neraka orang yang di dalam hatinya masih ada iman seberat dzarrah.” (HR. Tirmidzi,  dinilai hasan sahih)Ketiga: Ahli maksiat masuk surga sebab syafaat dari Nabi ﷺ untuk umatnyaNabi ﷺ bersabda,لَيَخْرُجَنَّ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِيْ مِنَ النَّارِ بِشَفَاعَتِيْ يُسَمَّوْنَ الْجَهَنَّمِيُّوْنَ“Sungguh satu kaum dari umatku akan keluar dari neraka dengan sebab syafaatku, mereka disebut jahannamiyyun (para mantan penghuni neraka Jahanam).” (HR. Tirmidzi, dinilai hasan sahih)Keempat: Ahli ibadah masuk neraka karena niatnya tidak murni untuk Allah ﷻإِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ ِلأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ, فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ“Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan yang diberikan di dunia, lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab, ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman, ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan sebagai seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan tentang dirimu.’ Kemudian diperintahkan malaikat agar menyeret orang itu di atas mukanya, lalu dilemparkan ke dalam neraka …”Dalam hadis yang panjang ini, disebutkan ada tiga orang yang pertama kali masuk neraka. Hal yang mengherankan adalah justru yang masuk neraka pertama kali tersebut ialah para ahli ibadah di dunia, yakni:1) ahli perang membela agama;2) ahli ilmu yang semangat belajar dan mengajarkan ilmu, khususnya Al-Quran;3) ahli sedekah yang berkorban bagi umat.Namun, karena ia tidak melakukannya karena Allah ﷻ, melainkan hanya untuk mendapatkan pujian manusia atau setidaknya tidak menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan, maka ia mendapatkan ganjaran berupa dimasukkan ke dalam neraka. Padahal, secara zahirnya, mereka ini adalah seorang mukmin dan dihukumi di dunia sebagai orang taat.Kelima: Ahli ibadah yang bermaksiat di kala sepiDari Tsauban, dari Nabi ﷺ, ia berkata,لأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا“Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan banyak kebaikan semisal Gunung Tihamah. Namun, Allah menjadikan kebaikan tersebut menjadi debu yang bertebaran.”Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, coba sebutkan sifat-sifat mereka kepada kami supaya kami tidak menjadi seperti mereka, sedangkan kami tidak mengetahuinya.”قَالَ :  أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَاRasulullah ﷺ bersabda, “Adapun mereka adalah saudara kalian. Kulit mereka sama dengan kulit kalian. Mereka menghidupkan malam (dengan ibadah) seperti kalian. Akan tetapi, mereka adalah kaum yang jika sedang bersendirian, mereka merobek tirai untuk bisa bermaksiat kepada Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 4245)Ini adalah bentuk kemunafikan dan ketidakjujuran dalam amal. Seseorang yang menampakkan keimanan di tengah manusia, tetapi ketika berduaan kepada Allah ﷻ, hilanglah rasa takutnya. Seakan-akan mata manusia lebih ia takuti daripada Allah ﷻ. Berhati-hatilah siapapun di antara kita dari ancaman Rasulullah ﷺ kepada ahli ibadah yang masih gemar bermaksiat di kala sepinya.Dari kasus yang disebutkan di atas, kita dapat simpulkan bahwasanya kejadian ahli ibadah masuk neraka dan sebaliknya itu didasarkan pada alasan yang jelas. Semua penjelasan tersebut justru menunjukkan keadilan dan kebijaksanaan Allah ﷻ.Siapa yang boleh dipersaksikan masuk surga atau neraka?Kita tidak bisa memastikan person siapapun masuk surga dan neraka karena perkara ini adalah perkara gaib. Sehingga, hanya wahyu atau khabar shadiq yang bisa menjadi sumber relevan di sini. Ini adalah pendapat umumnya para ulama.Sebagian pendapat menyebutkan bahwa ada sumber lain yang menjadikan kita boleh mempersaksikan seseorang masuk surga atau neraka. Keadaan itu adalah jika kaum mukminin memberikan persaksian semisal, sebagaimana yang disebutkan dalam Ash-Shahihain,مُرَّ بِجِنَازَةٍ، فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا بِخَيْرٍ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: وَجَبَتْ، وَمُرَّ بِأُخْرَى، فَأُثْنِيَ عَلَيْهَا بِشَرٍّ، فَقَالَ: وَجَبَتْ. وَفِي رِوَايَةٍ كَرَّرَ: وَجَبَتْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، فَقَالَ عُمَرُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا وَجَبَتْ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ، وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا وَجَبَتْ لَهُ النَّارُ، أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ“Dilewatkan jenazah lalu mereka memujinya dengan kebaikan, maka Nabi mengatakan, ‘Wajib.’ Kemudian dilewatkan jenazah lainnya, maka ia dicela dengan keburukan, maka Nabi mengatakan, ‘Wajib.’ Umar bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah yang wajib?” Beliau menjawab, ‘Orang ini kalian puji dengan kebaikan, maka wajib baginya surga. Sedangkan orang ini kalian cela dengan keburukan, maka wajib baginya neraka. Kalian adalah para saksi Allah di muka bumi.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ bersabda,تُوشِكُونَ أَنْ تَعْلَمُوا أَهْلَ الْجَنَّةِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، قَالُوا: بِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: بِالثَّنَاءِ الْحَسَنِ وَالثَّنَاءِ السَّيِّئِ“Hampir saja kalian akan mengetahui siapa ahli surga dan ahli neraka. Mereka berkata, “Dengan cara apa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Dengan pujian dan celaan.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad, dinilai hasan oleh Syekh Syuaib Al-Arnauth.)Ada keterangan dari Ibnu Abil Izz rahimahullah yang cukup menghimpun segala permasalahan tentang vonis surga dan neraka bagi seseorang,إِنَّهُ لَا بُدَّ أَنْ يَدْخُلَ النَّارَ مِنْ أَهْلِ الْكَبَائِرِ مَنْ يَشَاءُ اللَّهُ إِدْخَالَهُ النَّارَ، ثُمَّ يَخْرُجُ مِنْهَا بِشَفَاعَةِ الشَّافِعِينَ، وَلَكِنَّا نَقِفُ فِي الشَّخْصِ الْمُعَيَّنِ، فَلَا نَشْهَدُ لَهُ بِجَنَّةٍ وَلَا نَارٍ إِلَّا عَنْ عِلْمٍ، لِأَنَّ حَقِيقَتَهُ بَاطِنَةٌ، وَمَا مَاتَ عَلَيْهِ لَا نُحِيطُ بِهِ“Sungguh sudah pasti akan masuk neraka di antara para pelaku dosa besar, siapa saja yang dikehendaki Allah untuk dimasukkan ke dalam neraka, kemudian ia keluar darinya dengan syafaat para pemberi syafaat. Namun, kita tidak berkomentar berkenaan dengan orang tertentu. Kita tidak bersaksi untuknya dengan surga atau neraka kecuali berdasarkan ilmu, karena hakikat batinnya dan atas perkara apa ia mati, kita tidak mengetahuinya.” (Syarah Aqidah Thahawiyah, 2: 537)لَكِنْ نَرْجُو لِلْمُحْسِنِ، وَنَخَافُ عَلَى الْمُسِيءِ“Namun, kita berharap (surga) untuk orang-orang yang berbuat kebajikan; dan kami mengkhawatirkan (neraka) untuk orang yang berbuat keburukan.”Sebagaimana Allah ﷻ berfirman,إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ“Sesungguhnya rahmat Allah ﷻ amatlah dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-A’raf: 56)Kita tidak dituntut untuk menelisik hati manusiaPembahasan panjang ini seharusnya tidak menjadikan kita sebagai orang yang sibuk mengejar kondisi hati manusia. Justru dengan adanya pembahasan ini, kita hendaknya menjadi orang yang paling merasa tidak tahu dengan keadaan hati manusia. Mungkin inilah di antara hikmah pembahasan ini dimasukkan dalam kitab akidah. Karena keadaan hati manusia adalah perkara gaib, Allah ﷻ semata yang mengetahuinya secara pasti. Adapun kita, hanya melihat refleksinya dalam amal perbuatan dan tidak dapat memastikannya. Ingatlah wasiat Rasulullah ﷺ kepada kita semua,إِنِّيْ لَمْ أُوْمَرْ ، أَنْ أُنَقِّبَ عَلَى قُلُوْبِ النَّاسِ ، وَلاَ أَشُقَّ بُطُوْنَهُم“Sesungguhnya aku tidak diperintah untuk menyelidiki (memeriksa) hati mereka dan tidak pula untuk membedah perut mereka.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad)Janganlah kita menjadi hakim bagi hati orang lain. Janganlah pula kita menjadi jumawa dengan amalan kita. Bisa jadi amalan yang kita tumpuk hari ini, Allah ﷻ sia-siakan karena maksiat kita yang melampaui batas. Inilah model kehidupan seorang ahlussunnah, ia hidup dalam keseimbangan rasa takut dan harap. Takut amalannya tertolak, tetapi penuh harap agar amalannya diterima.Jawaban syubhat Islam tidak memberi jaminan surga bagi pemeluknyaHal ini juga menjadi bantahan bagi orang yang membawa syubhat bahwa muslim tidak yakin masuk surga. Syubhat ini dihembuskan oleh banyak orang kafir seperti para penginjil yang mengatakan, “Masuklah agama kami, karena surga telah dijamin bagi orang yang percaya kepada Kristus. Sedangkan Muhammad tidak memberikan jaminan bagi pengikutnya.”Perkataan ini sangat dusta. Mengapa? Karena Nabi ﷺ, baik melalui hadis maupun Kalamullah, semuanya memberikan kepastian bahwa siapa saja yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, pastilah masuk surga. Bahkan, Nabi diberikan hak syafaat khusus untuk umatnya, suatu keistimewaan yang tidak dimiliki umat yang lain.Hanya saja, kitalah umatnya yang dituntut untuk memenuhi standar orang beriman yang telah disebutkan. Justru ini adalah konsep yang paling adil dan masuk akal, sebab orang yang berusaha akan mendapatkan apa yang diusahakannya. Sedangkan mereka yang bermaksiat, selagi masih memiliki iman, tetap mendapatkan harapan masuk ke dalam surga Allah ﷻ.KesimpulanKetentuan ini bagi orang beriman tidak menjadikan ia merasa aman untuk melakukan maksiat. Namun, justru menjadikan diri seorang mukmin terus semangat beramal dan khawatir dengan ancaman neraka dengan berimbang. Keimanan yang dilandasi ilmu yang benar akan mendatangkan ketenangan.Muthar Al-Warraq rahimahullah berkata,تنجزوا موعود الله بطاعته ، فإنه قضى أن رحمته قريب من المحسنين“Raihlah janji Allah dengan menaati-Nya, karena Dia telah menetapkan bahwa rahmat-Nya dekat dengan orang-orang yang berbuat ihsan.” (HR. Ibnu Abi Hatim)Semoga jawaban para ulama yang diambil dari firman Allah ﷻ ini dapat mencegah masuknya keyakinan-keyakinan yang salah seputar hikmah dan keadilan Allah ﷻ.سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَMaha Suci Tuhanmu, Yang Mempunyai Keperkasaan dari apa yang mereka sifatkan.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 2***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Referensi:Syarah Aqidah Thahawiyah, karya Ibnu Abil Izz Al-Hanafi rahimahullah, cet. Ar-Risalah.Tafsir Al-Quran Al-Azhim, karya Ibnu Katsir rahimahullah, via tafsir.app.Catatan hadis berdasarkan takhrij Syekh Syuaib Al-Arnauth rahimahullah.

Bahaya Membuka Aib Dosa Sendiri

Ada dosa yang awalnya dilakukan sembunyi-sembunyi, tetapi karena terus diulang, rasa malu perlahan menghilang. Lebih berbahaya lagi ketika dosa yang telah Allah tutupi justru diceritakan, dipamerkan, bahkan dibanggakan kepada orang lain. Ibnul Qayyim rahimahullah mengingatkan bahwa salah satu dampak maksiat adalah hilangnya rasa jijik terhadap dosa hingga maksiat menjadi kebiasaan.  Daftar Isi tutup 1. Maksiat Bisa Menghilangkan Rasa Jijik terhadap Dosa 2. Allah Sudah Menutupi Dosa, Mengapa Kita Membukanya? 3. Membuka Aib Sendiri adalah Tidak Mensyukuri Nikmat Allah 4. Dosa yang Diceritakan Bisa Terasa Biasa 5. Jangan Bangga dengan Masa Lalu yang Penuh Maksiat 6. Media Sosial Jangan Menjadi Tempat Membuka Aib 7. Apakah Sama Sekali Tidak Boleh Menceritakan Dosa? 8. Jangan Pula Senang Membuka Aib Orang Lain 9. Kenapa Tidak Boleh Membuka Aib Dosa Sendiri? 10. Lalu Bagaimana Cara Bertaubat dari Maksiat? 11. Waspadai Tahapan Dosa yang Merusak Hati 12. Nasihat Terakhir  Maksiat Bisa Menghilangkan Rasa Jijik terhadap DosaIbnul Qayyim rahimahullah berkata,وَمِنْهَا: أَنَّهُ يَنْسَلِخُ مِنَ الْقَلْبِ اسْتِقْبَاحُهَا، فَتَصِيرُ لَهُ عَادَةً، فَلَا يَسْتَقْبِحُ مِنْ نَفْسِهِ رُؤْيَةَ النَّاسِ لَهُ، وَلَا كَلَامَهُمْ فِيهِ. وَهَذَا عِنْدَ أَرْبَابِ الْفُسُوقِ هُوَ غَايَةُ التَّهَتُّكِ وَتَمَامُ اللَّذَّةِ، حَتَّى يَفْتَخِرَ أَحَدُهُمْ بِالْمَعْصِيَةِ، وَيُحَدِّثَ بِهَا مَنْ لَمْ يَعْلَمْ أَنَّهُ عَمِلَهَا، فَيَقُولُ: يَا فُلَانُ، عَمِلْتُ كَذَا وَكَذَا. وَهَذَا الضَّرْبُ مِنَ النَّاسِ لَا يُعَافَوْنَ، وَتُسَدُّ عَلَيْهِمْ طَرِيقُ التَّوْبَةِ، وَتُغْلَقُ عَنْهُمْ أَبْوَابُهَا فِي الْغَالِبِ.“Di antara dampak buruk dosa adalah hilangnya rasa jijik terhadap perbuatan maksiat dalam hati. Akibatnya, dosa tersebut menjadi kebiasaan. Orang yang terjerumus dalam kebiasaan maksiat tidak lagi merasa malu meskipun orang lain melihat atau membicarakan perbuatannya.Bagi sebagian pelaku maksiat, kondisi ini dianggap sebagai puncak keberanian dan kenikmatan. Bahkan, mereka tidak segan-segan membanggakan dosa-dosanya. Mereka menceritakan keburukan yang telah dilakukan kepada orang lain yang mungkin sebelumnya tidak tahu. Misalnya, seseorang berkata, ‘Hai Fulan, aku pernah melakukan ini dan itu.’Orang seperti ini sering kali sulit untuk disembuhkan dari penyakitnya. Jalan taubat tertutup bagi mereka dalam banyak kasus, dan pintu-pintunya menjadi sulit dimasuki.”Kemudian Ibnul Qayyim rahimahullah membawakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَيَقُولَ: يَا فُلَانُ، عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ.“Setiap umatku mendapatkan ampunan kecuali orang-orang yang terang-terangan melakukan dosa. Termasuk bentuk terang-terangan adalah seseorang melakukan suatu perbuatan pada malam hari, kemudian pagi harinya Allah telah menutupi perbuatannya, tetapi ia berkata, ‘Wahai Fulan, tadi malam aku melakukan ini dan itu.’ Padahal malam harinya Rabbnya telah menutupi dosanya, tetapi pada pagi harinya ia justru menyingkap penutup Allah dari dirinya.” (HR. Bukhari, no. 6069 dan Muslim, no. 2990) (Lihat Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’, hlm. 89–90) Allah Sudah Menutupi Dosa, Mengapa Kita Membukanya?Hadits di atas menunjukkan besarnya nikmat sitr, yaitu Allah menutupi keburukan seorang hamba sehingga tidak diketahui manusia.Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,وَالْحَدِيثُ مُصَرِّحٌ بِذَمِّ مَنْ جَاهَرَ بِالْمَعْصِيَةِ، فَيَسْتَلْزِمُ مَدْحَ مَنْ يَسْتَتِرُ، وَأَيْضًا فَإِنَّ سَتْرَ اللَّهِ مُسْتَلْزِمٌ لِسَتْرِ الْمُؤْمِنِ عَلَى نَفْسِهِ.“Hadits ini secara tegas mencela orang yang terang-terangan melakukan maksiat. Hal itu sekaligus menunjukkan terpujinya orang yang menutupi maksiatnya. Demikian pula, ketika Allah telah menutupi aib seseorang, seorang mukmin hendaknya menutupi aib dirinya sendiri.” (Lihat Fath Al-Bārī, 10:487–488)Karena itu, ketika Allah telah menutupi dosa kita dari manusia, janganlah kita sendiri yang membuka penutup tersebut.Namun, menutup dosa bukan berarti merasa aman untuk terus bermaksiat. Yang benar adalah menutup dosa dari manusia, lalu membukanya di hadapan Allah dengan penyesalan, istighfar, dan taubat yang sungguh-sungguh. Membuka Aib Sendiri adalah Tidak Mensyukuri Nikmat AllahAl-Munawi rahimahullah berkata,وَهَذَا لِأَنَّ مِنْ صِفَاتِ اللَّهِ وَنِعَمِهِ إِظْهَارَ الْجَمِيلِ وَسَتْرَ الْقَبِيحِ، فَالْإِظْهَارُ كُفْرَانٌ لِهَذِهِ النِّعْمَةِ، وَتَهَاوُنٌ بِسَتْرِ اللَّهِ.“Hal itu karena di antara sifat Allah dan nikmat-Nya adalah menampakkan yang baik dan menutupi yang buruk. Maka menampakkan kembali keburukan tersebut merupakan bentuk tidak mensyukuri nikmat ini dan meremehkan penutup yang telah Allah berikan.”Allah telah memberi kesempatan kepada seorang hamba untuk memperbaiki dirinya tanpa mempermalukannya di hadapan manusia. Maka, sungguh tidak pantas jika seorang hamba justru dengan bangga menyingkap sendiri aib yang telah Allah tutupi. Dosa yang Diceritakan Bisa Terasa BiasaBahaya mujāharah tidak berhenti pada pelakunya. Ketika dosa diceritakan dan dipertontonkan berulang kali, orang lain dapat menganggap dosa tersebut sebagai sesuatu yang biasa.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan,لِأَنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْهُ قَدْ عَمِلَ الْمَعْصِيَةَ، هَانَتْ فِي نُفُوسِهِمْ، وَفَعَلُوا مِثْلَهُ.“Karena apabila manusia melihatnya melakukan maksiat, maksiat itu menjadi terasa ringan dalam jiwa mereka, lalu mereka pun melakukan seperti yang ia lakukan.”Inilah salah satu bahaya menampakkan maksiat. Dosa yang dahulu dianggap memalukan, karena terus diperlihatkan dan dibicarakan, akhirnya dianggap lumrah. Jangan Bangga dengan Masa Lalu yang Penuh MaksiatSalah satu tanda berbahaya yang disebutkan Ibnul Qayyim adalah ketika seseorang mulai bangga dengan maksiatnya.Dahulu ia malu jika diketahui orang. Setelah hatinya terbiasa dengan dosa, justru ia sendiri yang menceritakannya.Ada yang menceritakan pengalaman pacaran dan pergaulan bebasnya. Ada yang membanggakan masa lalu ketika mabuk, berjudi, atau melakukan berbagai kenakalan. Ada pula yang menjadikan pengalaman maksiat sebagai bahan hiburan dan konten media sosial.Padahal seorang yang benar-benar bertaubat semestinya sedih mengingat dosa masa lalunya, bukan bangga dengannya. Media Sosial Jangan Menjadi Tempat Membuka AibPada zaman media sosial, mujāharah semakin mudah dilakukan.Seseorang dapat mengunggah dosa dalam hitungan detik. Maksiat tersebut kemudian dilihat ribuan bahkan jutaan orang, disimpan, dibagikan, dan mungkin tetap beredar meskipun pelakunya kelak telah bertaubat.Karena itu, berhati-hatilah sebelum mengunggah sesuatu. Jangan sampai dosa yang seharusnya cukup diketahui antara kita dengan Allah malah menjadi jejak digital yang mengundang orang lain ikut meremehkan maksiat. Apakah Sama Sekali Tidak Boleh Menceritakan Dosa?Pada asalnya, dosa yang telah Allah tutupi tidak perlu diceritakan kepada orang lain.Namun, ada keadaan ketika seseorang perlu menjelaskan masalahnya karena adanya kebutuhan atau maslahat yang dibenarkan syariat, misalnya meminta fatwa, berkonsultasi untuk mendapatkan solusi, mencari pertolongan agar dapat meninggalkan maksiat, menjalani pengobatan, menyelesaikan hak orang lain, atau memberikan keterangan dalam perkara hukum.Dalam kondisi semacam itu, ceritakan sebatas yang dibutuhkan. Tujuannya bukan membanggakan maksiat, bukan pula menikmati cerita dosa masa lalu, tetapi mencari jalan keluar dan memperbaiki keadaan. Jangan Pula Senang Membuka Aib Orang LainJika kita diperintahkan menutupi aib sendiri yang telah Allah tutupi, kita pun hendaknya tidak gemar mencari dan menyebarkan aib saudara kita.Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,الْمُؤْمِنُ يَسْتُرُ وَيَنْصَحُ، وَالْفَاجِرُ يَهْتِكُ وَيُعَيِّرُ.“Seorang mukmin itu menutupi aib dan memberikan nasihat. Adapun orang fajir, ia membuka aib dan mencela.” (Lihat Jāmi‘ Al-‘Ulūm wa Al-Hikam, 1:225)Nasihat diberikan untuk memperbaiki, bukan mempermalukan. Mengetahui kesalahan saudara seharusnya membuat kita ingin menyelamatkannya, bukan menjadikannya bahan cerita. Kenapa Tidak Boleh Membuka Aib Dosa Sendiri?Ada beberapa alasan penting:Allah sudah memberikan nikmat dengan menutupi dosa tersebut. Membukanya kembali berarti tidak menjaga nikmat sitr (penutupan aib) dari Allah.Membuka dosa dapat menghilangkan rasa malu. Awalnya seseorang malu berbuat dosa. Ketika dosa mulai diceritakan, lama-kelamaan ia bisa merasa biasa, bahkan bangga dengannya. Inilah yang diperingatkan Ibnul Qayyim rahimahullah.Dosa bisa dianggap ringan oleh orang lain. Ketika maksiat diceritakan atau ditampilkan, orang lain dapat berpikir, “Ternyata hal seperti ini biasa.” Akhirnya batas antara yang halal dan haram semakin kabur.Bisa menjadi contoh buruk. Apalagi pada zaman media sosial. Satu unggahan maksiat dapat dilihat, disimpan, dan ditiru banyak orang. Dosa pribadi akhirnya mempunyai dampak sosial.Membuka aib dapat merusak kehormatan diri sendiri. Syariat menjaga kehormatan seorang muslim. Tidak selayaknya seseorang merobohkan kehormatan yang telah Allah jaga dengan tangannya sendiri.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara khusus mencela mujāharah. Beliau menyebut orang yang malam harinya ditutupi Allah, tetapi pagi harinya justru menceritakan maksiatnya sendiri. (HR. Bukhari, no. 6069 dan Muslim, no. 2990)Namun, menutup aib bukan berarti menyembunyikan dosa agar bebas melanjutkannya. Dosa ditutupi dari manusia, tetapi pelakunya segera kembali kepada Allah. Lalu Bagaimana Cara Bertaubat dari Maksiat?Allah Ta‘ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya.” (QS. At-Tahrim: 8)Taubat yang benar memiliki beberapa syarat:Pertama, berhenti dari maksiat tersebut. Tidak disebut taubat jika seseorang masih sengaja mempertahankan dosa yang sedang ia lakukan.Kedua, benar-benar menyesal. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,النَّدَمُ تَوْبَةٌ“Penyesalan adalah taubat.” (HR. Ibnu Majah, no. 4252; Ahmad, 6:264. Dinilai sahih oleh Al-Albani)Ketiga, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya. Boleh jadi manusia kemudian tergelincir lagi karena kelemahannya. Namun, ketika bertaubat, hatinya harus benar-benar bertekad meninggalkan dosa tersebut.Keempat, jika berkaitan dengan hak manusia, hak tersebut harus diselesaikan. Harta yang diambil dikembalikan, utang dibayar, dan kezaliman diselesaikan sesuai tuntunan syariat. Adapun jika berkaitan dengan kehormatan orang lain, cara menyelesaikannya perlu melihat maslahat dan mafsadat, tidak selalu dengan menceritakan seluruh kesalahan kepadanya.Kelima, taubat dilakukan sebelum waktunya tertutup. Taubat diterima selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan sebelum matahari terbit dari barat.Setelah itu, iringilah keburukan dengan kebaikan. Allah Ta‘ala berfirman,إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Hud: 114)Maka, setelah bertaubat, perbanyak shalat, sedekah, membaca Al-Qur’an, berdzikir, menuntut ilmu, dan amal saleh lainnya.Yang juga penting: tidak perlu menceritakan detail maksiat kepada orang lain agar taubat diterima. Tidak ada syarat taubat berupa pengakuan dosa kepada ustadz, teman, keluarga, atau publik. Jika Allah sudah menutupi dosa itu, bertaubatlah langsung kepada Allah. Waspadai Tahapan Dosa yang Merusak HatiDari penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullah, kita dapat melihat sebuah tahapan yang sangat berbahaya:Melakukan maksiat → mengulangi maksiat → hilang rasa jijik → berkurang rasa malu → dosa menjadi kebiasaan → dosa mulai diceritakan → dosa dibanggakan → orang lain menganggap dosa itu biasa.Karena itu, jangan meremehkan rasa bersalah setelah melakukan dosa. Rasa malu dan penyesalan justru dapat menjadi pintu menuju taubat jika segera diikuti dengan kembali kepada Allah.Tutupi dosa dari manusia, tetapi bukalah dosa itu di hadapan Allah dengan taubat dan penyesalan. Nasihat TerakhirDi zaman media sosial, tidak semua pengalaman masa lalu layak dijadikan cerita dan konten. Jika Allah telah menutupi dosa kita, jangan kita sendiri yang menyingkap tirainya hanya demi perhatian manusia. Hapus jejak maksiat yang masih mampu kita hapus, tinggalkan lingkungan yang menyeret kepada dosa, dan gantilah keburukan dengan amal saleh. Yang kita butuhkan bukan manusia mengetahui masa lalu kita, tetapi Allah menerima taubat dan memperbaiki masa depan kita.Semoga Allah senantiasa menutupi aib kita, mengampuni dosa kita, dan menganugerahkan taubat yang tulus.اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِنَا، وَآمِنْ رَوْعَاتِنَا، وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَارْزُقْنَا تَوْبَةً نَصُوحًا.Allāhumma-stur ‘aurātinā, wa āmin rau‘ātinā, waghfir lanā dzunūbanā, warzuqnā taubatan naṣūḥā.“Ya Allah, tutupilah aib-aib kami, berilah rasa aman dari ketakutan kami, ampunilah dosa-dosa kami, dan karuniakanlah kepada kami taubat yang tulus.”Wallahu waliyyut taufiq. ReferensiIbnul Qayyim Al-Jauziyyah, Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’.Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Fath Al-Bārī.Ibnu Rajab Al-Hambali, Jāmi‘ Al-‘Ulūm wa Al-Hikam.IslamQA, pembahasan tentang al-mujāharah bil-ma‘ṣiyah.Islamweb, pembahasan tentang batasan terang-terangan dalam maksiat.Rumaysho.Com, pembahasan tentang menutup aib, taubat, dan bahaya dosa karena lisan.  —- @ Kotagede Jogja, 13 Rabiul Awal 1448 H, 26 Agustus 2026Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsaib sendiri dosa ibnul qayyim istighfar maksiat media sosial membuka aib mujaharah nasihat islam taubat

Bahaya Membuka Aib Dosa Sendiri

Ada dosa yang awalnya dilakukan sembunyi-sembunyi, tetapi karena terus diulang, rasa malu perlahan menghilang. Lebih berbahaya lagi ketika dosa yang telah Allah tutupi justru diceritakan, dipamerkan, bahkan dibanggakan kepada orang lain. Ibnul Qayyim rahimahullah mengingatkan bahwa salah satu dampak maksiat adalah hilangnya rasa jijik terhadap dosa hingga maksiat menjadi kebiasaan.  Daftar Isi tutup 1. Maksiat Bisa Menghilangkan Rasa Jijik terhadap Dosa 2. Allah Sudah Menutupi Dosa, Mengapa Kita Membukanya? 3. Membuka Aib Sendiri adalah Tidak Mensyukuri Nikmat Allah 4. Dosa yang Diceritakan Bisa Terasa Biasa 5. Jangan Bangga dengan Masa Lalu yang Penuh Maksiat 6. Media Sosial Jangan Menjadi Tempat Membuka Aib 7. Apakah Sama Sekali Tidak Boleh Menceritakan Dosa? 8. Jangan Pula Senang Membuka Aib Orang Lain 9. Kenapa Tidak Boleh Membuka Aib Dosa Sendiri? 10. Lalu Bagaimana Cara Bertaubat dari Maksiat? 11. Waspadai Tahapan Dosa yang Merusak Hati 12. Nasihat Terakhir  Maksiat Bisa Menghilangkan Rasa Jijik terhadap DosaIbnul Qayyim rahimahullah berkata,وَمِنْهَا: أَنَّهُ يَنْسَلِخُ مِنَ الْقَلْبِ اسْتِقْبَاحُهَا، فَتَصِيرُ لَهُ عَادَةً، فَلَا يَسْتَقْبِحُ مِنْ نَفْسِهِ رُؤْيَةَ النَّاسِ لَهُ، وَلَا كَلَامَهُمْ فِيهِ. وَهَذَا عِنْدَ أَرْبَابِ الْفُسُوقِ هُوَ غَايَةُ التَّهَتُّكِ وَتَمَامُ اللَّذَّةِ، حَتَّى يَفْتَخِرَ أَحَدُهُمْ بِالْمَعْصِيَةِ، وَيُحَدِّثَ بِهَا مَنْ لَمْ يَعْلَمْ أَنَّهُ عَمِلَهَا، فَيَقُولُ: يَا فُلَانُ، عَمِلْتُ كَذَا وَكَذَا. وَهَذَا الضَّرْبُ مِنَ النَّاسِ لَا يُعَافَوْنَ، وَتُسَدُّ عَلَيْهِمْ طَرِيقُ التَّوْبَةِ، وَتُغْلَقُ عَنْهُمْ أَبْوَابُهَا فِي الْغَالِبِ.“Di antara dampak buruk dosa adalah hilangnya rasa jijik terhadap perbuatan maksiat dalam hati. Akibatnya, dosa tersebut menjadi kebiasaan. Orang yang terjerumus dalam kebiasaan maksiat tidak lagi merasa malu meskipun orang lain melihat atau membicarakan perbuatannya.Bagi sebagian pelaku maksiat, kondisi ini dianggap sebagai puncak keberanian dan kenikmatan. Bahkan, mereka tidak segan-segan membanggakan dosa-dosanya. Mereka menceritakan keburukan yang telah dilakukan kepada orang lain yang mungkin sebelumnya tidak tahu. Misalnya, seseorang berkata, ‘Hai Fulan, aku pernah melakukan ini dan itu.’Orang seperti ini sering kali sulit untuk disembuhkan dari penyakitnya. Jalan taubat tertutup bagi mereka dalam banyak kasus, dan pintu-pintunya menjadi sulit dimasuki.”Kemudian Ibnul Qayyim rahimahullah membawakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَيَقُولَ: يَا فُلَانُ، عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ.“Setiap umatku mendapatkan ampunan kecuali orang-orang yang terang-terangan melakukan dosa. Termasuk bentuk terang-terangan adalah seseorang melakukan suatu perbuatan pada malam hari, kemudian pagi harinya Allah telah menutupi perbuatannya, tetapi ia berkata, ‘Wahai Fulan, tadi malam aku melakukan ini dan itu.’ Padahal malam harinya Rabbnya telah menutupi dosanya, tetapi pada pagi harinya ia justru menyingkap penutup Allah dari dirinya.” (HR. Bukhari, no. 6069 dan Muslim, no. 2990) (Lihat Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’, hlm. 89–90) Allah Sudah Menutupi Dosa, Mengapa Kita Membukanya?Hadits di atas menunjukkan besarnya nikmat sitr, yaitu Allah menutupi keburukan seorang hamba sehingga tidak diketahui manusia.Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,وَالْحَدِيثُ مُصَرِّحٌ بِذَمِّ مَنْ جَاهَرَ بِالْمَعْصِيَةِ، فَيَسْتَلْزِمُ مَدْحَ مَنْ يَسْتَتِرُ، وَأَيْضًا فَإِنَّ سَتْرَ اللَّهِ مُسْتَلْزِمٌ لِسَتْرِ الْمُؤْمِنِ عَلَى نَفْسِهِ.“Hadits ini secara tegas mencela orang yang terang-terangan melakukan maksiat. Hal itu sekaligus menunjukkan terpujinya orang yang menutupi maksiatnya. Demikian pula, ketika Allah telah menutupi aib seseorang, seorang mukmin hendaknya menutupi aib dirinya sendiri.” (Lihat Fath Al-Bārī, 10:487–488)Karena itu, ketika Allah telah menutupi dosa kita dari manusia, janganlah kita sendiri yang membuka penutup tersebut.Namun, menutup dosa bukan berarti merasa aman untuk terus bermaksiat. Yang benar adalah menutup dosa dari manusia, lalu membukanya di hadapan Allah dengan penyesalan, istighfar, dan taubat yang sungguh-sungguh. Membuka Aib Sendiri adalah Tidak Mensyukuri Nikmat AllahAl-Munawi rahimahullah berkata,وَهَذَا لِأَنَّ مِنْ صِفَاتِ اللَّهِ وَنِعَمِهِ إِظْهَارَ الْجَمِيلِ وَسَتْرَ الْقَبِيحِ، فَالْإِظْهَارُ كُفْرَانٌ لِهَذِهِ النِّعْمَةِ، وَتَهَاوُنٌ بِسَتْرِ اللَّهِ.“Hal itu karena di antara sifat Allah dan nikmat-Nya adalah menampakkan yang baik dan menutupi yang buruk. Maka menampakkan kembali keburukan tersebut merupakan bentuk tidak mensyukuri nikmat ini dan meremehkan penutup yang telah Allah berikan.”Allah telah memberi kesempatan kepada seorang hamba untuk memperbaiki dirinya tanpa mempermalukannya di hadapan manusia. Maka, sungguh tidak pantas jika seorang hamba justru dengan bangga menyingkap sendiri aib yang telah Allah tutupi. Dosa yang Diceritakan Bisa Terasa BiasaBahaya mujāharah tidak berhenti pada pelakunya. Ketika dosa diceritakan dan dipertontonkan berulang kali, orang lain dapat menganggap dosa tersebut sebagai sesuatu yang biasa.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan,لِأَنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْهُ قَدْ عَمِلَ الْمَعْصِيَةَ، هَانَتْ فِي نُفُوسِهِمْ، وَفَعَلُوا مِثْلَهُ.“Karena apabila manusia melihatnya melakukan maksiat, maksiat itu menjadi terasa ringan dalam jiwa mereka, lalu mereka pun melakukan seperti yang ia lakukan.”Inilah salah satu bahaya menampakkan maksiat. Dosa yang dahulu dianggap memalukan, karena terus diperlihatkan dan dibicarakan, akhirnya dianggap lumrah. Jangan Bangga dengan Masa Lalu yang Penuh MaksiatSalah satu tanda berbahaya yang disebutkan Ibnul Qayyim adalah ketika seseorang mulai bangga dengan maksiatnya.Dahulu ia malu jika diketahui orang. Setelah hatinya terbiasa dengan dosa, justru ia sendiri yang menceritakannya.Ada yang menceritakan pengalaman pacaran dan pergaulan bebasnya. Ada yang membanggakan masa lalu ketika mabuk, berjudi, atau melakukan berbagai kenakalan. Ada pula yang menjadikan pengalaman maksiat sebagai bahan hiburan dan konten media sosial.Padahal seorang yang benar-benar bertaubat semestinya sedih mengingat dosa masa lalunya, bukan bangga dengannya. Media Sosial Jangan Menjadi Tempat Membuka AibPada zaman media sosial, mujāharah semakin mudah dilakukan.Seseorang dapat mengunggah dosa dalam hitungan detik. Maksiat tersebut kemudian dilihat ribuan bahkan jutaan orang, disimpan, dibagikan, dan mungkin tetap beredar meskipun pelakunya kelak telah bertaubat.Karena itu, berhati-hatilah sebelum mengunggah sesuatu. Jangan sampai dosa yang seharusnya cukup diketahui antara kita dengan Allah malah menjadi jejak digital yang mengundang orang lain ikut meremehkan maksiat. Apakah Sama Sekali Tidak Boleh Menceritakan Dosa?Pada asalnya, dosa yang telah Allah tutupi tidak perlu diceritakan kepada orang lain.Namun, ada keadaan ketika seseorang perlu menjelaskan masalahnya karena adanya kebutuhan atau maslahat yang dibenarkan syariat, misalnya meminta fatwa, berkonsultasi untuk mendapatkan solusi, mencari pertolongan agar dapat meninggalkan maksiat, menjalani pengobatan, menyelesaikan hak orang lain, atau memberikan keterangan dalam perkara hukum.Dalam kondisi semacam itu, ceritakan sebatas yang dibutuhkan. Tujuannya bukan membanggakan maksiat, bukan pula menikmati cerita dosa masa lalu, tetapi mencari jalan keluar dan memperbaiki keadaan. Jangan Pula Senang Membuka Aib Orang LainJika kita diperintahkan menutupi aib sendiri yang telah Allah tutupi, kita pun hendaknya tidak gemar mencari dan menyebarkan aib saudara kita.Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,الْمُؤْمِنُ يَسْتُرُ وَيَنْصَحُ، وَالْفَاجِرُ يَهْتِكُ وَيُعَيِّرُ.“Seorang mukmin itu menutupi aib dan memberikan nasihat. Adapun orang fajir, ia membuka aib dan mencela.” (Lihat Jāmi‘ Al-‘Ulūm wa Al-Hikam, 1:225)Nasihat diberikan untuk memperbaiki, bukan mempermalukan. Mengetahui kesalahan saudara seharusnya membuat kita ingin menyelamatkannya, bukan menjadikannya bahan cerita. Kenapa Tidak Boleh Membuka Aib Dosa Sendiri?Ada beberapa alasan penting:Allah sudah memberikan nikmat dengan menutupi dosa tersebut. Membukanya kembali berarti tidak menjaga nikmat sitr (penutupan aib) dari Allah.Membuka dosa dapat menghilangkan rasa malu. Awalnya seseorang malu berbuat dosa. Ketika dosa mulai diceritakan, lama-kelamaan ia bisa merasa biasa, bahkan bangga dengannya. Inilah yang diperingatkan Ibnul Qayyim rahimahullah.Dosa bisa dianggap ringan oleh orang lain. Ketika maksiat diceritakan atau ditampilkan, orang lain dapat berpikir, “Ternyata hal seperti ini biasa.” Akhirnya batas antara yang halal dan haram semakin kabur.Bisa menjadi contoh buruk. Apalagi pada zaman media sosial. Satu unggahan maksiat dapat dilihat, disimpan, dan ditiru banyak orang. Dosa pribadi akhirnya mempunyai dampak sosial.Membuka aib dapat merusak kehormatan diri sendiri. Syariat menjaga kehormatan seorang muslim. Tidak selayaknya seseorang merobohkan kehormatan yang telah Allah jaga dengan tangannya sendiri.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara khusus mencela mujāharah. Beliau menyebut orang yang malam harinya ditutupi Allah, tetapi pagi harinya justru menceritakan maksiatnya sendiri. (HR. Bukhari, no. 6069 dan Muslim, no. 2990)Namun, menutup aib bukan berarti menyembunyikan dosa agar bebas melanjutkannya. Dosa ditutupi dari manusia, tetapi pelakunya segera kembali kepada Allah. Lalu Bagaimana Cara Bertaubat dari Maksiat?Allah Ta‘ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya.” (QS. At-Tahrim: 8)Taubat yang benar memiliki beberapa syarat:Pertama, berhenti dari maksiat tersebut. Tidak disebut taubat jika seseorang masih sengaja mempertahankan dosa yang sedang ia lakukan.Kedua, benar-benar menyesal. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,النَّدَمُ تَوْبَةٌ“Penyesalan adalah taubat.” (HR. Ibnu Majah, no. 4252; Ahmad, 6:264. Dinilai sahih oleh Al-Albani)Ketiga, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya. Boleh jadi manusia kemudian tergelincir lagi karena kelemahannya. Namun, ketika bertaubat, hatinya harus benar-benar bertekad meninggalkan dosa tersebut.Keempat, jika berkaitan dengan hak manusia, hak tersebut harus diselesaikan. Harta yang diambil dikembalikan, utang dibayar, dan kezaliman diselesaikan sesuai tuntunan syariat. Adapun jika berkaitan dengan kehormatan orang lain, cara menyelesaikannya perlu melihat maslahat dan mafsadat, tidak selalu dengan menceritakan seluruh kesalahan kepadanya.Kelima, taubat dilakukan sebelum waktunya tertutup. Taubat diterima selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan sebelum matahari terbit dari barat.Setelah itu, iringilah keburukan dengan kebaikan. Allah Ta‘ala berfirman,إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Hud: 114)Maka, setelah bertaubat, perbanyak shalat, sedekah, membaca Al-Qur’an, berdzikir, menuntut ilmu, dan amal saleh lainnya.Yang juga penting: tidak perlu menceritakan detail maksiat kepada orang lain agar taubat diterima. Tidak ada syarat taubat berupa pengakuan dosa kepada ustadz, teman, keluarga, atau publik. Jika Allah sudah menutupi dosa itu, bertaubatlah langsung kepada Allah. Waspadai Tahapan Dosa yang Merusak HatiDari penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullah, kita dapat melihat sebuah tahapan yang sangat berbahaya:Melakukan maksiat → mengulangi maksiat → hilang rasa jijik → berkurang rasa malu → dosa menjadi kebiasaan → dosa mulai diceritakan → dosa dibanggakan → orang lain menganggap dosa itu biasa.Karena itu, jangan meremehkan rasa bersalah setelah melakukan dosa. Rasa malu dan penyesalan justru dapat menjadi pintu menuju taubat jika segera diikuti dengan kembali kepada Allah.Tutupi dosa dari manusia, tetapi bukalah dosa itu di hadapan Allah dengan taubat dan penyesalan. Nasihat TerakhirDi zaman media sosial, tidak semua pengalaman masa lalu layak dijadikan cerita dan konten. Jika Allah telah menutupi dosa kita, jangan kita sendiri yang menyingkap tirainya hanya demi perhatian manusia. Hapus jejak maksiat yang masih mampu kita hapus, tinggalkan lingkungan yang menyeret kepada dosa, dan gantilah keburukan dengan amal saleh. Yang kita butuhkan bukan manusia mengetahui masa lalu kita, tetapi Allah menerima taubat dan memperbaiki masa depan kita.Semoga Allah senantiasa menutupi aib kita, mengampuni dosa kita, dan menganugerahkan taubat yang tulus.اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِنَا، وَآمِنْ رَوْعَاتِنَا، وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَارْزُقْنَا تَوْبَةً نَصُوحًا.Allāhumma-stur ‘aurātinā, wa āmin rau‘ātinā, waghfir lanā dzunūbanā, warzuqnā taubatan naṣūḥā.“Ya Allah, tutupilah aib-aib kami, berilah rasa aman dari ketakutan kami, ampunilah dosa-dosa kami, dan karuniakanlah kepada kami taubat yang tulus.”Wallahu waliyyut taufiq. ReferensiIbnul Qayyim Al-Jauziyyah, Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’.Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Fath Al-Bārī.Ibnu Rajab Al-Hambali, Jāmi‘ Al-‘Ulūm wa Al-Hikam.IslamQA, pembahasan tentang al-mujāharah bil-ma‘ṣiyah.Islamweb, pembahasan tentang batasan terang-terangan dalam maksiat.Rumaysho.Com, pembahasan tentang menutup aib, taubat, dan bahaya dosa karena lisan.  —- @ Kotagede Jogja, 13 Rabiul Awal 1448 H, 26 Agustus 2026Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsaib sendiri dosa ibnul qayyim istighfar maksiat media sosial membuka aib mujaharah nasihat islam taubat
Ada dosa yang awalnya dilakukan sembunyi-sembunyi, tetapi karena terus diulang, rasa malu perlahan menghilang. Lebih berbahaya lagi ketika dosa yang telah Allah tutupi justru diceritakan, dipamerkan, bahkan dibanggakan kepada orang lain. Ibnul Qayyim rahimahullah mengingatkan bahwa salah satu dampak maksiat adalah hilangnya rasa jijik terhadap dosa hingga maksiat menjadi kebiasaan.  Daftar Isi tutup 1. Maksiat Bisa Menghilangkan Rasa Jijik terhadap Dosa 2. Allah Sudah Menutupi Dosa, Mengapa Kita Membukanya? 3. Membuka Aib Sendiri adalah Tidak Mensyukuri Nikmat Allah 4. Dosa yang Diceritakan Bisa Terasa Biasa 5. Jangan Bangga dengan Masa Lalu yang Penuh Maksiat 6. Media Sosial Jangan Menjadi Tempat Membuka Aib 7. Apakah Sama Sekali Tidak Boleh Menceritakan Dosa? 8. Jangan Pula Senang Membuka Aib Orang Lain 9. Kenapa Tidak Boleh Membuka Aib Dosa Sendiri? 10. Lalu Bagaimana Cara Bertaubat dari Maksiat? 11. Waspadai Tahapan Dosa yang Merusak Hati 12. Nasihat Terakhir  Maksiat Bisa Menghilangkan Rasa Jijik terhadap DosaIbnul Qayyim rahimahullah berkata,وَمِنْهَا: أَنَّهُ يَنْسَلِخُ مِنَ الْقَلْبِ اسْتِقْبَاحُهَا، فَتَصِيرُ لَهُ عَادَةً، فَلَا يَسْتَقْبِحُ مِنْ نَفْسِهِ رُؤْيَةَ النَّاسِ لَهُ، وَلَا كَلَامَهُمْ فِيهِ. وَهَذَا عِنْدَ أَرْبَابِ الْفُسُوقِ هُوَ غَايَةُ التَّهَتُّكِ وَتَمَامُ اللَّذَّةِ، حَتَّى يَفْتَخِرَ أَحَدُهُمْ بِالْمَعْصِيَةِ، وَيُحَدِّثَ بِهَا مَنْ لَمْ يَعْلَمْ أَنَّهُ عَمِلَهَا، فَيَقُولُ: يَا فُلَانُ، عَمِلْتُ كَذَا وَكَذَا. وَهَذَا الضَّرْبُ مِنَ النَّاسِ لَا يُعَافَوْنَ، وَتُسَدُّ عَلَيْهِمْ طَرِيقُ التَّوْبَةِ، وَتُغْلَقُ عَنْهُمْ أَبْوَابُهَا فِي الْغَالِبِ.“Di antara dampak buruk dosa adalah hilangnya rasa jijik terhadap perbuatan maksiat dalam hati. Akibatnya, dosa tersebut menjadi kebiasaan. Orang yang terjerumus dalam kebiasaan maksiat tidak lagi merasa malu meskipun orang lain melihat atau membicarakan perbuatannya.Bagi sebagian pelaku maksiat, kondisi ini dianggap sebagai puncak keberanian dan kenikmatan. Bahkan, mereka tidak segan-segan membanggakan dosa-dosanya. Mereka menceritakan keburukan yang telah dilakukan kepada orang lain yang mungkin sebelumnya tidak tahu. Misalnya, seseorang berkata, ‘Hai Fulan, aku pernah melakukan ini dan itu.’Orang seperti ini sering kali sulit untuk disembuhkan dari penyakitnya. Jalan taubat tertutup bagi mereka dalam banyak kasus, dan pintu-pintunya menjadi sulit dimasuki.”Kemudian Ibnul Qayyim rahimahullah membawakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَيَقُولَ: يَا فُلَانُ، عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ.“Setiap umatku mendapatkan ampunan kecuali orang-orang yang terang-terangan melakukan dosa. Termasuk bentuk terang-terangan adalah seseorang melakukan suatu perbuatan pada malam hari, kemudian pagi harinya Allah telah menutupi perbuatannya, tetapi ia berkata, ‘Wahai Fulan, tadi malam aku melakukan ini dan itu.’ Padahal malam harinya Rabbnya telah menutupi dosanya, tetapi pada pagi harinya ia justru menyingkap penutup Allah dari dirinya.” (HR. Bukhari, no. 6069 dan Muslim, no. 2990) (Lihat Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’, hlm. 89–90) Allah Sudah Menutupi Dosa, Mengapa Kita Membukanya?Hadits di atas menunjukkan besarnya nikmat sitr, yaitu Allah menutupi keburukan seorang hamba sehingga tidak diketahui manusia.Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,وَالْحَدِيثُ مُصَرِّحٌ بِذَمِّ مَنْ جَاهَرَ بِالْمَعْصِيَةِ، فَيَسْتَلْزِمُ مَدْحَ مَنْ يَسْتَتِرُ، وَأَيْضًا فَإِنَّ سَتْرَ اللَّهِ مُسْتَلْزِمٌ لِسَتْرِ الْمُؤْمِنِ عَلَى نَفْسِهِ.“Hadits ini secara tegas mencela orang yang terang-terangan melakukan maksiat. Hal itu sekaligus menunjukkan terpujinya orang yang menutupi maksiatnya. Demikian pula, ketika Allah telah menutupi aib seseorang, seorang mukmin hendaknya menutupi aib dirinya sendiri.” (Lihat Fath Al-Bārī, 10:487–488)Karena itu, ketika Allah telah menutupi dosa kita dari manusia, janganlah kita sendiri yang membuka penutup tersebut.Namun, menutup dosa bukan berarti merasa aman untuk terus bermaksiat. Yang benar adalah menutup dosa dari manusia, lalu membukanya di hadapan Allah dengan penyesalan, istighfar, dan taubat yang sungguh-sungguh. Membuka Aib Sendiri adalah Tidak Mensyukuri Nikmat AllahAl-Munawi rahimahullah berkata,وَهَذَا لِأَنَّ مِنْ صِفَاتِ اللَّهِ وَنِعَمِهِ إِظْهَارَ الْجَمِيلِ وَسَتْرَ الْقَبِيحِ، فَالْإِظْهَارُ كُفْرَانٌ لِهَذِهِ النِّعْمَةِ، وَتَهَاوُنٌ بِسَتْرِ اللَّهِ.“Hal itu karena di antara sifat Allah dan nikmat-Nya adalah menampakkan yang baik dan menutupi yang buruk. Maka menampakkan kembali keburukan tersebut merupakan bentuk tidak mensyukuri nikmat ini dan meremehkan penutup yang telah Allah berikan.”Allah telah memberi kesempatan kepada seorang hamba untuk memperbaiki dirinya tanpa mempermalukannya di hadapan manusia. Maka, sungguh tidak pantas jika seorang hamba justru dengan bangga menyingkap sendiri aib yang telah Allah tutupi. Dosa yang Diceritakan Bisa Terasa BiasaBahaya mujāharah tidak berhenti pada pelakunya. Ketika dosa diceritakan dan dipertontonkan berulang kali, orang lain dapat menganggap dosa tersebut sebagai sesuatu yang biasa.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan,لِأَنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْهُ قَدْ عَمِلَ الْمَعْصِيَةَ، هَانَتْ فِي نُفُوسِهِمْ، وَفَعَلُوا مِثْلَهُ.“Karena apabila manusia melihatnya melakukan maksiat, maksiat itu menjadi terasa ringan dalam jiwa mereka, lalu mereka pun melakukan seperti yang ia lakukan.”Inilah salah satu bahaya menampakkan maksiat. Dosa yang dahulu dianggap memalukan, karena terus diperlihatkan dan dibicarakan, akhirnya dianggap lumrah. Jangan Bangga dengan Masa Lalu yang Penuh MaksiatSalah satu tanda berbahaya yang disebutkan Ibnul Qayyim adalah ketika seseorang mulai bangga dengan maksiatnya.Dahulu ia malu jika diketahui orang. Setelah hatinya terbiasa dengan dosa, justru ia sendiri yang menceritakannya.Ada yang menceritakan pengalaman pacaran dan pergaulan bebasnya. Ada yang membanggakan masa lalu ketika mabuk, berjudi, atau melakukan berbagai kenakalan. Ada pula yang menjadikan pengalaman maksiat sebagai bahan hiburan dan konten media sosial.Padahal seorang yang benar-benar bertaubat semestinya sedih mengingat dosa masa lalunya, bukan bangga dengannya. Media Sosial Jangan Menjadi Tempat Membuka AibPada zaman media sosial, mujāharah semakin mudah dilakukan.Seseorang dapat mengunggah dosa dalam hitungan detik. Maksiat tersebut kemudian dilihat ribuan bahkan jutaan orang, disimpan, dibagikan, dan mungkin tetap beredar meskipun pelakunya kelak telah bertaubat.Karena itu, berhati-hatilah sebelum mengunggah sesuatu. Jangan sampai dosa yang seharusnya cukup diketahui antara kita dengan Allah malah menjadi jejak digital yang mengundang orang lain ikut meremehkan maksiat. Apakah Sama Sekali Tidak Boleh Menceritakan Dosa?Pada asalnya, dosa yang telah Allah tutupi tidak perlu diceritakan kepada orang lain.Namun, ada keadaan ketika seseorang perlu menjelaskan masalahnya karena adanya kebutuhan atau maslahat yang dibenarkan syariat, misalnya meminta fatwa, berkonsultasi untuk mendapatkan solusi, mencari pertolongan agar dapat meninggalkan maksiat, menjalani pengobatan, menyelesaikan hak orang lain, atau memberikan keterangan dalam perkara hukum.Dalam kondisi semacam itu, ceritakan sebatas yang dibutuhkan. Tujuannya bukan membanggakan maksiat, bukan pula menikmati cerita dosa masa lalu, tetapi mencari jalan keluar dan memperbaiki keadaan. Jangan Pula Senang Membuka Aib Orang LainJika kita diperintahkan menutupi aib sendiri yang telah Allah tutupi, kita pun hendaknya tidak gemar mencari dan menyebarkan aib saudara kita.Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,الْمُؤْمِنُ يَسْتُرُ وَيَنْصَحُ، وَالْفَاجِرُ يَهْتِكُ وَيُعَيِّرُ.“Seorang mukmin itu menutupi aib dan memberikan nasihat. Adapun orang fajir, ia membuka aib dan mencela.” (Lihat Jāmi‘ Al-‘Ulūm wa Al-Hikam, 1:225)Nasihat diberikan untuk memperbaiki, bukan mempermalukan. Mengetahui kesalahan saudara seharusnya membuat kita ingin menyelamatkannya, bukan menjadikannya bahan cerita. Kenapa Tidak Boleh Membuka Aib Dosa Sendiri?Ada beberapa alasan penting:Allah sudah memberikan nikmat dengan menutupi dosa tersebut. Membukanya kembali berarti tidak menjaga nikmat sitr (penutupan aib) dari Allah.Membuka dosa dapat menghilangkan rasa malu. Awalnya seseorang malu berbuat dosa. Ketika dosa mulai diceritakan, lama-kelamaan ia bisa merasa biasa, bahkan bangga dengannya. Inilah yang diperingatkan Ibnul Qayyim rahimahullah.Dosa bisa dianggap ringan oleh orang lain. Ketika maksiat diceritakan atau ditampilkan, orang lain dapat berpikir, “Ternyata hal seperti ini biasa.” Akhirnya batas antara yang halal dan haram semakin kabur.Bisa menjadi contoh buruk. Apalagi pada zaman media sosial. Satu unggahan maksiat dapat dilihat, disimpan, dan ditiru banyak orang. Dosa pribadi akhirnya mempunyai dampak sosial.Membuka aib dapat merusak kehormatan diri sendiri. Syariat menjaga kehormatan seorang muslim. Tidak selayaknya seseorang merobohkan kehormatan yang telah Allah jaga dengan tangannya sendiri.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara khusus mencela mujāharah. Beliau menyebut orang yang malam harinya ditutupi Allah, tetapi pagi harinya justru menceritakan maksiatnya sendiri. (HR. Bukhari, no. 6069 dan Muslim, no. 2990)Namun, menutup aib bukan berarti menyembunyikan dosa agar bebas melanjutkannya. Dosa ditutupi dari manusia, tetapi pelakunya segera kembali kepada Allah. Lalu Bagaimana Cara Bertaubat dari Maksiat?Allah Ta‘ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya.” (QS. At-Tahrim: 8)Taubat yang benar memiliki beberapa syarat:Pertama, berhenti dari maksiat tersebut. Tidak disebut taubat jika seseorang masih sengaja mempertahankan dosa yang sedang ia lakukan.Kedua, benar-benar menyesal. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,النَّدَمُ تَوْبَةٌ“Penyesalan adalah taubat.” (HR. Ibnu Majah, no. 4252; Ahmad, 6:264. Dinilai sahih oleh Al-Albani)Ketiga, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya. Boleh jadi manusia kemudian tergelincir lagi karena kelemahannya. Namun, ketika bertaubat, hatinya harus benar-benar bertekad meninggalkan dosa tersebut.Keempat, jika berkaitan dengan hak manusia, hak tersebut harus diselesaikan. Harta yang diambil dikembalikan, utang dibayar, dan kezaliman diselesaikan sesuai tuntunan syariat. Adapun jika berkaitan dengan kehormatan orang lain, cara menyelesaikannya perlu melihat maslahat dan mafsadat, tidak selalu dengan menceritakan seluruh kesalahan kepadanya.Kelima, taubat dilakukan sebelum waktunya tertutup. Taubat diterima selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan sebelum matahari terbit dari barat.Setelah itu, iringilah keburukan dengan kebaikan. Allah Ta‘ala berfirman,إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Hud: 114)Maka, setelah bertaubat, perbanyak shalat, sedekah, membaca Al-Qur’an, berdzikir, menuntut ilmu, dan amal saleh lainnya.Yang juga penting: tidak perlu menceritakan detail maksiat kepada orang lain agar taubat diterima. Tidak ada syarat taubat berupa pengakuan dosa kepada ustadz, teman, keluarga, atau publik. Jika Allah sudah menutupi dosa itu, bertaubatlah langsung kepada Allah. Waspadai Tahapan Dosa yang Merusak HatiDari penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullah, kita dapat melihat sebuah tahapan yang sangat berbahaya:Melakukan maksiat → mengulangi maksiat → hilang rasa jijik → berkurang rasa malu → dosa menjadi kebiasaan → dosa mulai diceritakan → dosa dibanggakan → orang lain menganggap dosa itu biasa.Karena itu, jangan meremehkan rasa bersalah setelah melakukan dosa. Rasa malu dan penyesalan justru dapat menjadi pintu menuju taubat jika segera diikuti dengan kembali kepada Allah.Tutupi dosa dari manusia, tetapi bukalah dosa itu di hadapan Allah dengan taubat dan penyesalan. Nasihat TerakhirDi zaman media sosial, tidak semua pengalaman masa lalu layak dijadikan cerita dan konten. Jika Allah telah menutupi dosa kita, jangan kita sendiri yang menyingkap tirainya hanya demi perhatian manusia. Hapus jejak maksiat yang masih mampu kita hapus, tinggalkan lingkungan yang menyeret kepada dosa, dan gantilah keburukan dengan amal saleh. Yang kita butuhkan bukan manusia mengetahui masa lalu kita, tetapi Allah menerima taubat dan memperbaiki masa depan kita.Semoga Allah senantiasa menutupi aib kita, mengampuni dosa kita, dan menganugerahkan taubat yang tulus.اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِنَا، وَآمِنْ رَوْعَاتِنَا، وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَارْزُقْنَا تَوْبَةً نَصُوحًا.Allāhumma-stur ‘aurātinā, wa āmin rau‘ātinā, waghfir lanā dzunūbanā, warzuqnā taubatan naṣūḥā.“Ya Allah, tutupilah aib-aib kami, berilah rasa aman dari ketakutan kami, ampunilah dosa-dosa kami, dan karuniakanlah kepada kami taubat yang tulus.”Wallahu waliyyut taufiq. ReferensiIbnul Qayyim Al-Jauziyyah, Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’.Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Fath Al-Bārī.Ibnu Rajab Al-Hambali, Jāmi‘ Al-‘Ulūm wa Al-Hikam.IslamQA, pembahasan tentang al-mujāharah bil-ma‘ṣiyah.Islamweb, pembahasan tentang batasan terang-terangan dalam maksiat.Rumaysho.Com, pembahasan tentang menutup aib, taubat, dan bahaya dosa karena lisan.  —- @ Kotagede Jogja, 13 Rabiul Awal 1448 H, 26 Agustus 2026Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsaib sendiri dosa ibnul qayyim istighfar maksiat media sosial membuka aib mujaharah nasihat islam taubat


Ada dosa yang awalnya dilakukan sembunyi-sembunyi, tetapi karena terus diulang, rasa malu perlahan menghilang. Lebih berbahaya lagi ketika dosa yang telah Allah tutupi justru diceritakan, dipamerkan, bahkan dibanggakan kepada orang lain. Ibnul Qayyim rahimahullah mengingatkan bahwa salah satu dampak maksiat adalah hilangnya rasa jijik terhadap dosa hingga maksiat menjadi kebiasaan.  Daftar Isi tutup 1. Maksiat Bisa Menghilangkan Rasa Jijik terhadap Dosa 2. Allah Sudah Menutupi Dosa, Mengapa Kita Membukanya? 3. Membuka Aib Sendiri adalah Tidak Mensyukuri Nikmat Allah 4. Dosa yang Diceritakan Bisa Terasa Biasa 5. Jangan Bangga dengan Masa Lalu yang Penuh Maksiat 6. Media Sosial Jangan Menjadi Tempat Membuka Aib 7. Apakah Sama Sekali Tidak Boleh Menceritakan Dosa? 8. Jangan Pula Senang Membuka Aib Orang Lain 9. Kenapa Tidak Boleh Membuka Aib Dosa Sendiri? 10. Lalu Bagaimana Cara Bertaubat dari Maksiat? 11. Waspadai Tahapan Dosa yang Merusak Hati 12. Nasihat Terakhir  Maksiat Bisa Menghilangkan Rasa Jijik terhadap DosaIbnul Qayyim rahimahullah berkata,وَمِنْهَا: أَنَّهُ يَنْسَلِخُ مِنَ الْقَلْبِ اسْتِقْبَاحُهَا، فَتَصِيرُ لَهُ عَادَةً، فَلَا يَسْتَقْبِحُ مِنْ نَفْسِهِ رُؤْيَةَ النَّاسِ لَهُ، وَلَا كَلَامَهُمْ فِيهِ. وَهَذَا عِنْدَ أَرْبَابِ الْفُسُوقِ هُوَ غَايَةُ التَّهَتُّكِ وَتَمَامُ اللَّذَّةِ، حَتَّى يَفْتَخِرَ أَحَدُهُمْ بِالْمَعْصِيَةِ، وَيُحَدِّثَ بِهَا مَنْ لَمْ يَعْلَمْ أَنَّهُ عَمِلَهَا، فَيَقُولُ: يَا فُلَانُ، عَمِلْتُ كَذَا وَكَذَا. وَهَذَا الضَّرْبُ مِنَ النَّاسِ لَا يُعَافَوْنَ، وَتُسَدُّ عَلَيْهِمْ طَرِيقُ التَّوْبَةِ، وَتُغْلَقُ عَنْهُمْ أَبْوَابُهَا فِي الْغَالِبِ.“Di antara dampak buruk dosa adalah hilangnya rasa jijik terhadap perbuatan maksiat dalam hati. Akibatnya, dosa tersebut menjadi kebiasaan. Orang yang terjerumus dalam kebiasaan maksiat tidak lagi merasa malu meskipun orang lain melihat atau membicarakan perbuatannya.Bagi sebagian pelaku maksiat, kondisi ini dianggap sebagai puncak keberanian dan kenikmatan. Bahkan, mereka tidak segan-segan membanggakan dosa-dosanya. Mereka menceritakan keburukan yang telah dilakukan kepada orang lain yang mungkin sebelumnya tidak tahu. Misalnya, seseorang berkata, ‘Hai Fulan, aku pernah melakukan ini dan itu.’Orang seperti ini sering kali sulit untuk disembuhkan dari penyakitnya. Jalan taubat tertutup bagi mereka dalam banyak kasus, dan pintu-pintunya menjadi sulit dimasuki.”Kemudian Ibnul Qayyim rahimahullah membawakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَيَقُولَ: يَا فُلَانُ، عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ.“Setiap umatku mendapatkan ampunan kecuali orang-orang yang terang-terangan melakukan dosa. Termasuk bentuk terang-terangan adalah seseorang melakukan suatu perbuatan pada malam hari, kemudian pagi harinya Allah telah menutupi perbuatannya, tetapi ia berkata, ‘Wahai Fulan, tadi malam aku melakukan ini dan itu.’ Padahal malam harinya Rabbnya telah menutupi dosanya, tetapi pada pagi harinya ia justru menyingkap penutup Allah dari dirinya.” (HR. Bukhari, no. 6069 dan Muslim, no. 2990) (Lihat Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’, hlm. 89–90) Allah Sudah Menutupi Dosa, Mengapa Kita Membukanya?Hadits di atas menunjukkan besarnya nikmat sitr, yaitu Allah menutupi keburukan seorang hamba sehingga tidak diketahui manusia.Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,وَالْحَدِيثُ مُصَرِّحٌ بِذَمِّ مَنْ جَاهَرَ بِالْمَعْصِيَةِ، فَيَسْتَلْزِمُ مَدْحَ مَنْ يَسْتَتِرُ، وَأَيْضًا فَإِنَّ سَتْرَ اللَّهِ مُسْتَلْزِمٌ لِسَتْرِ الْمُؤْمِنِ عَلَى نَفْسِهِ.“Hadits ini secara tegas mencela orang yang terang-terangan melakukan maksiat. Hal itu sekaligus menunjukkan terpujinya orang yang menutupi maksiatnya. Demikian pula, ketika Allah telah menutupi aib seseorang, seorang mukmin hendaknya menutupi aib dirinya sendiri.” (Lihat Fath Al-Bārī, 10:487–488)Karena itu, ketika Allah telah menutupi dosa kita dari manusia, janganlah kita sendiri yang membuka penutup tersebut.Namun, menutup dosa bukan berarti merasa aman untuk terus bermaksiat. Yang benar adalah menutup dosa dari manusia, lalu membukanya di hadapan Allah dengan penyesalan, istighfar, dan taubat yang sungguh-sungguh. Membuka Aib Sendiri adalah Tidak Mensyukuri Nikmat AllahAl-Munawi rahimahullah berkata,وَهَذَا لِأَنَّ مِنْ صِفَاتِ اللَّهِ وَنِعَمِهِ إِظْهَارَ الْجَمِيلِ وَسَتْرَ الْقَبِيحِ، فَالْإِظْهَارُ كُفْرَانٌ لِهَذِهِ النِّعْمَةِ، وَتَهَاوُنٌ بِسَتْرِ اللَّهِ.“Hal itu karena di antara sifat Allah dan nikmat-Nya adalah menampakkan yang baik dan menutupi yang buruk. Maka menampakkan kembali keburukan tersebut merupakan bentuk tidak mensyukuri nikmat ini dan meremehkan penutup yang telah Allah berikan.”Allah telah memberi kesempatan kepada seorang hamba untuk memperbaiki dirinya tanpa mempermalukannya di hadapan manusia. Maka, sungguh tidak pantas jika seorang hamba justru dengan bangga menyingkap sendiri aib yang telah Allah tutupi. Dosa yang Diceritakan Bisa Terasa BiasaBahaya mujāharah tidak berhenti pada pelakunya. Ketika dosa diceritakan dan dipertontonkan berulang kali, orang lain dapat menganggap dosa tersebut sebagai sesuatu yang biasa.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan,لِأَنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْهُ قَدْ عَمِلَ الْمَعْصِيَةَ، هَانَتْ فِي نُفُوسِهِمْ، وَفَعَلُوا مِثْلَهُ.“Karena apabila manusia melihatnya melakukan maksiat, maksiat itu menjadi terasa ringan dalam jiwa mereka, lalu mereka pun melakukan seperti yang ia lakukan.”Inilah salah satu bahaya menampakkan maksiat. Dosa yang dahulu dianggap memalukan, karena terus diperlihatkan dan dibicarakan, akhirnya dianggap lumrah. Jangan Bangga dengan Masa Lalu yang Penuh MaksiatSalah satu tanda berbahaya yang disebutkan Ibnul Qayyim adalah ketika seseorang mulai bangga dengan maksiatnya.Dahulu ia malu jika diketahui orang. Setelah hatinya terbiasa dengan dosa, justru ia sendiri yang menceritakannya.Ada yang menceritakan pengalaman pacaran dan pergaulan bebasnya. Ada yang membanggakan masa lalu ketika mabuk, berjudi, atau melakukan berbagai kenakalan. Ada pula yang menjadikan pengalaman maksiat sebagai bahan hiburan dan konten media sosial.Padahal seorang yang benar-benar bertaubat semestinya sedih mengingat dosa masa lalunya, bukan bangga dengannya. Media Sosial Jangan Menjadi Tempat Membuka AibPada zaman media sosial, mujāharah semakin mudah dilakukan.Seseorang dapat mengunggah dosa dalam hitungan detik. Maksiat tersebut kemudian dilihat ribuan bahkan jutaan orang, disimpan, dibagikan, dan mungkin tetap beredar meskipun pelakunya kelak telah bertaubat.Karena itu, berhati-hatilah sebelum mengunggah sesuatu. Jangan sampai dosa yang seharusnya cukup diketahui antara kita dengan Allah malah menjadi jejak digital yang mengundang orang lain ikut meremehkan maksiat. Apakah Sama Sekali Tidak Boleh Menceritakan Dosa?Pada asalnya, dosa yang telah Allah tutupi tidak perlu diceritakan kepada orang lain.Namun, ada keadaan ketika seseorang perlu menjelaskan masalahnya karena adanya kebutuhan atau maslahat yang dibenarkan syariat, misalnya meminta fatwa, berkonsultasi untuk mendapatkan solusi, mencari pertolongan agar dapat meninggalkan maksiat, menjalani pengobatan, menyelesaikan hak orang lain, atau memberikan keterangan dalam perkara hukum.Dalam kondisi semacam itu, ceritakan sebatas yang dibutuhkan. Tujuannya bukan membanggakan maksiat, bukan pula menikmati cerita dosa masa lalu, tetapi mencari jalan keluar dan memperbaiki keadaan. Jangan Pula Senang Membuka Aib Orang LainJika kita diperintahkan menutupi aib sendiri yang telah Allah tutupi, kita pun hendaknya tidak gemar mencari dan menyebarkan aib saudara kita.Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,الْمُؤْمِنُ يَسْتُرُ وَيَنْصَحُ، وَالْفَاجِرُ يَهْتِكُ وَيُعَيِّرُ.“Seorang mukmin itu menutupi aib dan memberikan nasihat. Adapun orang fajir, ia membuka aib dan mencela.” (Lihat Jāmi‘ Al-‘Ulūm wa Al-Hikam, 1:225)Nasihat diberikan untuk memperbaiki, bukan mempermalukan. Mengetahui kesalahan saudara seharusnya membuat kita ingin menyelamatkannya, bukan menjadikannya bahan cerita. Kenapa Tidak Boleh Membuka Aib Dosa Sendiri?Ada beberapa alasan penting:Allah sudah memberikan nikmat dengan menutupi dosa tersebut. Membukanya kembali berarti tidak menjaga nikmat sitr (penutupan aib) dari Allah.Membuka dosa dapat menghilangkan rasa malu. Awalnya seseorang malu berbuat dosa. Ketika dosa mulai diceritakan, lama-kelamaan ia bisa merasa biasa, bahkan bangga dengannya. Inilah yang diperingatkan Ibnul Qayyim rahimahullah.Dosa bisa dianggap ringan oleh orang lain. Ketika maksiat diceritakan atau ditampilkan, orang lain dapat berpikir, “Ternyata hal seperti ini biasa.” Akhirnya batas antara yang halal dan haram semakin kabur.Bisa menjadi contoh buruk. Apalagi pada zaman media sosial. Satu unggahan maksiat dapat dilihat, disimpan, dan ditiru banyak orang. Dosa pribadi akhirnya mempunyai dampak sosial.Membuka aib dapat merusak kehormatan diri sendiri. Syariat menjaga kehormatan seorang muslim. Tidak selayaknya seseorang merobohkan kehormatan yang telah Allah jaga dengan tangannya sendiri.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara khusus mencela mujāharah. Beliau menyebut orang yang malam harinya ditutupi Allah, tetapi pagi harinya justru menceritakan maksiatnya sendiri. (HR. Bukhari, no. 6069 dan Muslim, no. 2990)Namun, menutup aib bukan berarti menyembunyikan dosa agar bebas melanjutkannya. Dosa ditutupi dari manusia, tetapi pelakunya segera kembali kepada Allah. Lalu Bagaimana Cara Bertaubat dari Maksiat?Allah Ta‘ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya.” (QS. At-Tahrim: 8)Taubat yang benar memiliki beberapa syarat:Pertama, berhenti dari maksiat tersebut. Tidak disebut taubat jika seseorang masih sengaja mempertahankan dosa yang sedang ia lakukan.Kedua, benar-benar menyesal. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,النَّدَمُ تَوْبَةٌ“Penyesalan adalah taubat.” (HR. Ibnu Majah, no. 4252; Ahmad, 6:264. Dinilai sahih oleh Al-Albani)Ketiga, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya. Boleh jadi manusia kemudian tergelincir lagi karena kelemahannya. Namun, ketika bertaubat, hatinya harus benar-benar bertekad meninggalkan dosa tersebut.Keempat, jika berkaitan dengan hak manusia, hak tersebut harus diselesaikan. Harta yang diambil dikembalikan, utang dibayar, dan kezaliman diselesaikan sesuai tuntunan syariat. Adapun jika berkaitan dengan kehormatan orang lain, cara menyelesaikannya perlu melihat maslahat dan mafsadat, tidak selalu dengan menceritakan seluruh kesalahan kepadanya.Kelima, taubat dilakukan sebelum waktunya tertutup. Taubat diterima selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan sebelum matahari terbit dari barat.Setelah itu, iringilah keburukan dengan kebaikan. Allah Ta‘ala berfirman,إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Hud: 114)Maka, setelah bertaubat, perbanyak shalat, sedekah, membaca Al-Qur’an, berdzikir, menuntut ilmu, dan amal saleh lainnya.Yang juga penting: tidak perlu menceritakan detail maksiat kepada orang lain agar taubat diterima. Tidak ada syarat taubat berupa pengakuan dosa kepada ustadz, teman, keluarga, atau publik. Jika Allah sudah menutupi dosa itu, bertaubatlah langsung kepada Allah. Waspadai Tahapan Dosa yang Merusak HatiDari penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullah, kita dapat melihat sebuah tahapan yang sangat berbahaya:Melakukan maksiat → mengulangi maksiat → hilang rasa jijik → berkurang rasa malu → dosa menjadi kebiasaan → dosa mulai diceritakan → dosa dibanggakan → orang lain menganggap dosa itu biasa.Karena itu, jangan meremehkan rasa bersalah setelah melakukan dosa. Rasa malu dan penyesalan justru dapat menjadi pintu menuju taubat jika segera diikuti dengan kembali kepada Allah.Tutupi dosa dari manusia, tetapi bukalah dosa itu di hadapan Allah dengan taubat dan penyesalan. Nasihat TerakhirDi zaman media sosial, tidak semua pengalaman masa lalu layak dijadikan cerita dan konten. Jika Allah telah menutupi dosa kita, jangan kita sendiri yang menyingkap tirainya hanya demi perhatian manusia. Hapus jejak maksiat yang masih mampu kita hapus, tinggalkan lingkungan yang menyeret kepada dosa, dan gantilah keburukan dengan amal saleh. Yang kita butuhkan bukan manusia mengetahui masa lalu kita, tetapi Allah menerima taubat dan memperbaiki masa depan kita.Semoga Allah senantiasa menutupi aib kita, mengampuni dosa kita, dan menganugerahkan taubat yang tulus.اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِنَا، وَآمِنْ رَوْعَاتِنَا، وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَارْزُقْنَا تَوْبَةً نَصُوحًا.Allāhumma-stur ‘aurātinā, wa āmin rau‘ātinā, waghfir lanā dzunūbanā, warzuqnā taubatan naṣūḥā.“Ya Allah, tutupilah aib-aib kami, berilah rasa aman dari ketakutan kami, ampunilah dosa-dosa kami, dan karuniakanlah kepada kami taubat yang tulus.”Wallahu waliyyut taufiq. ReferensiIbnul Qayyim Al-Jauziyyah, Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’.Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Fath Al-Bārī.Ibnu Rajab Al-Hambali, Jāmi‘ Al-‘Ulūm wa Al-Hikam.IslamQA, pembahasan tentang al-mujāharah bil-ma‘ṣiyah.Islamweb, pembahasan tentang batasan terang-terangan dalam maksiat.Rumaysho.Com, pembahasan tentang menutup aib, taubat, dan bahaya dosa karena lisan.  —- @ Kotagede Jogja, 13 Rabiul Awal 1448 H, 26 Agustus 2026Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsaib sendiri dosa ibnul qayyim istighfar maksiat media sosial membuka aib mujaharah nasihat islam taubat

Prinsip-Prinsip Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (Bag. 4): Mengikuti Rasulullah dan Meninggalkan Bid’ah

Kedua, mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meninggalkan bid’ah (perkara-perkara baru dalam agama)Di antara prisnsip manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah berikutnya adalah beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mencintai beliau melebihi kecintaan kepada dirinya sendiri, kedua orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia, serta mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu dengan mengikuti (ittiba’) sunah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, meninggalkan seluruh perkara bid’ah, perkara-perkara baru dalam agama, dan khurafat. Hal ini berdasarkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan ajaran kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ“Jauhilah perkara-perkara baru dalam agama. Sesungguhnya setiap perkara baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Abu Dawud no. 4607)Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan umatnya agar berhati-hati terhadap segala bentuk bid’ah dalam agama. Sebab, bid’ah bukan sekadar amalan baru, tetapi merupakan penyimpangan dari ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Ahlus Sunnah wal Jama’ah senantiasa berusaha berpegang teguh kepada sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Dengan berpegang teguh kepada sunah dan menjauhi bid’ah, seorang muslim akan tetap berada di atas jalan yang lurus.Di sisi lain, Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak bersikap berlebihan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka tidak berlebihan terhadap kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mereka tidak menjadikan beliau sebagai sekutu bagi Allah dalam ibadah.Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang ghuluw dan orang-orang musyrik. Mereka mempersekutukan Allah ‘Azza wa Jalla dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam ibadah, memohon pertolongan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berdoa kepadanya ketika menghadapi kesulitan, dan berharap agar beliau memenuhi kebutuhan mereka setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang seperti ini banyak di tengah manusia hingga hari ini, bahkan jauh lebih parah.Ahlus Sunnah wal Jama’ah menempatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai dengan kedudukannya. Hal ini berdasarkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا: عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ“Janganlah kalian berlebihan memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebihan ketika memuji Isa putra Maryam. Aku hanyalah hamba Allah. Oleh karena itu, katakanlah, ‘Hamba Allah dan Rasul-Nya’.” (HR. Al-Bukhari no. 3445)Ucapan (عَبْدُ اللَّهِ) merupakan bantahan terhadap orang-orang yang mengangkat beliau melebihi kedudukannya sebagai hamba (al-‘ubudiyyah) kepada kedudukan ketuhanan (al-uluhiyyah).Penyebutan beliau sebagai hamba Allah selain membantah keyakinan orang-orang yang berlebih-lebihan (ghuluw) terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menegaskan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia dan hamba Allah. Di antara bentuk berlebih-lebihan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti meyakini bahwa beliau mengetahui seluruh perkara gaib secara mutlak, mampu mengabulkan doa, mampu mendatangkan manfaat dan mudarat, atau memiliki sifat-sifat yang hanya menjadi kekhususan bagi Allah ‘Azza wa Jalla.Sementara itu, ucapan (رَسُولُهُ) merupakan bantahan terhadap orang-orang yang meremehkan kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak mengikuti sunahnya, dan lebih memilih mengikuti hawa nafsu mereka.Penyandaran beliau sebagai utusan-Nya menunjukkan bahwa seluruh ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berasal dari wahyu Allah ‘Azza wa Jalla. Beliau tidak menyampaikan Islam berdasarkan hawa nafsunya, tetapi menyampaikan apa yang diwahyukan Allah ‘Azza wa Jalla kepadanya. Oleh sebab itu, menaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hakikatnya adalah menaati Allah ‘Azza wa Jalla, sedangkan mendurhakai beliau berarti mendurhakai Allah ‘‘Azza wa Jalla. Inilah konsekuensi keimanan kepada kerasulan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ucapan ini juga menjadi bantahan terhadap berbagai kelompok yang mengaku mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi enggan menjadikan sunah beliau sebagai pedoman hidup. Mereka lebih mendahulukan logika, filsafat, tradisi, pendapat tokoh, atau perasaan daripada nash Al-Qur’an dan Sunah yang sahih. Padahal, kecintaan yang benar kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam harus diwujudkan dengan ittiba’ (mengikuti) sunah beliau, bukan sekadar pengakuan di lisan semata.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ“Jika mereka tidak memenuhi seruanmu, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah? Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Qashash: 50)Maka, manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mengagungkan beliau, menghormati beliau, memuliakan beliau, mencintai beliau, dan mengikuti beliau. Akan tetapi, mereka tidak berlebihan dalam memuliakan beliau sebagaimana orang-orang Nasrani berlebihan terhadap Isa putra Maryam ‘alaihis salam.Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah manhaj pertengahan dan adil terhadap hak-hak dan kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka tidak meremehkan hak beliau, tidak merendahkan beliau, dan tidak pula berlebihan terhadap beliau. Beliau adalah makhluk yang paling mulia, pemimpin seluruh anak Adam, penutup para Nabi, dan memiliki kedudukan yang sangat tinggi yang tidak dapat dicapai oleh siapa pun. Akan tetapi, beliau tetap merupakan hamba Allah ‘Azza wa Jalla, dan tidak memiliki sedikit pun sifat rububiyyah maupun uluhiyyah.Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dibangun di atas dua landasan yang agung, yaitu ittiba’ tanpa meremehkan dan mahabbah tanpa berlebih-lebihan. Mereka mengimani bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba Allah dan utusan-Nya, sehingga seluruh hak beliau ditunaikan sebagaimana yang telah Allah tetapkan. Mereka mencintai beliau melebihi kecintaan kepada diri sendiri dan seluruh manusia, memuliakan beliau, membela kehormatan beliau, membenarkan seluruh berita yang beliau sampaikan, menaati seluruh perintah beliau, menjauhi seluruh larangan beliau, serta tidak beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla kecuali dengan syariat yang beliau bawa.Namun, pada saat yang sama mereka tidak mengangkat beliau berada pada kedudukan yang menjadi kekhususan Allah ‘Azza wa Jalla dan tidak memberikan kepada beliau sedikit pun hak rububiyyah maupun uluhiyyah. Inilah jalan pertengahan yang ditempuh Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu berada di antara sikap ghuluw yang mengangkat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi kedudukan sebagai seorang hamba dan sikap jafa’ yang meremehkan beliau dengan meninggalkan sunahnya. Dengan manhaj inilah, seorang muslim dapat merealisasikan kecintaan yang benar kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu kecintaan yang dibangun di atas ilmu, ittiba’, dan tauhid yang murni.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 3 LANJUT KE BAGIAN 4*** Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Sumber:Disarikan dari kitab Ma’alim Manhaj Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah karya Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 20–22.

Prinsip-Prinsip Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (Bag. 4): Mengikuti Rasulullah dan Meninggalkan Bid’ah

Kedua, mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meninggalkan bid’ah (perkara-perkara baru dalam agama)Di antara prisnsip manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah berikutnya adalah beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mencintai beliau melebihi kecintaan kepada dirinya sendiri, kedua orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia, serta mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu dengan mengikuti (ittiba’) sunah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, meninggalkan seluruh perkara bid’ah, perkara-perkara baru dalam agama, dan khurafat. Hal ini berdasarkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan ajaran kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ“Jauhilah perkara-perkara baru dalam agama. Sesungguhnya setiap perkara baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Abu Dawud no. 4607)Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan umatnya agar berhati-hati terhadap segala bentuk bid’ah dalam agama. Sebab, bid’ah bukan sekadar amalan baru, tetapi merupakan penyimpangan dari ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Ahlus Sunnah wal Jama’ah senantiasa berusaha berpegang teguh kepada sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Dengan berpegang teguh kepada sunah dan menjauhi bid’ah, seorang muslim akan tetap berada di atas jalan yang lurus.Di sisi lain, Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak bersikap berlebihan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka tidak berlebihan terhadap kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mereka tidak menjadikan beliau sebagai sekutu bagi Allah dalam ibadah.Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang ghuluw dan orang-orang musyrik. Mereka mempersekutukan Allah ‘Azza wa Jalla dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam ibadah, memohon pertolongan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berdoa kepadanya ketika menghadapi kesulitan, dan berharap agar beliau memenuhi kebutuhan mereka setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang seperti ini banyak di tengah manusia hingga hari ini, bahkan jauh lebih parah.Ahlus Sunnah wal Jama’ah menempatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai dengan kedudukannya. Hal ini berdasarkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا: عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ“Janganlah kalian berlebihan memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebihan ketika memuji Isa putra Maryam. Aku hanyalah hamba Allah. Oleh karena itu, katakanlah, ‘Hamba Allah dan Rasul-Nya’.” (HR. Al-Bukhari no. 3445)Ucapan (عَبْدُ اللَّهِ) merupakan bantahan terhadap orang-orang yang mengangkat beliau melebihi kedudukannya sebagai hamba (al-‘ubudiyyah) kepada kedudukan ketuhanan (al-uluhiyyah).Penyebutan beliau sebagai hamba Allah selain membantah keyakinan orang-orang yang berlebih-lebihan (ghuluw) terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menegaskan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia dan hamba Allah. Di antara bentuk berlebih-lebihan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti meyakini bahwa beliau mengetahui seluruh perkara gaib secara mutlak, mampu mengabulkan doa, mampu mendatangkan manfaat dan mudarat, atau memiliki sifat-sifat yang hanya menjadi kekhususan bagi Allah ‘Azza wa Jalla.Sementara itu, ucapan (رَسُولُهُ) merupakan bantahan terhadap orang-orang yang meremehkan kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak mengikuti sunahnya, dan lebih memilih mengikuti hawa nafsu mereka.Penyandaran beliau sebagai utusan-Nya menunjukkan bahwa seluruh ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berasal dari wahyu Allah ‘Azza wa Jalla. Beliau tidak menyampaikan Islam berdasarkan hawa nafsunya, tetapi menyampaikan apa yang diwahyukan Allah ‘Azza wa Jalla kepadanya. Oleh sebab itu, menaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hakikatnya adalah menaati Allah ‘Azza wa Jalla, sedangkan mendurhakai beliau berarti mendurhakai Allah ‘‘Azza wa Jalla. Inilah konsekuensi keimanan kepada kerasulan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ucapan ini juga menjadi bantahan terhadap berbagai kelompok yang mengaku mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi enggan menjadikan sunah beliau sebagai pedoman hidup. Mereka lebih mendahulukan logika, filsafat, tradisi, pendapat tokoh, atau perasaan daripada nash Al-Qur’an dan Sunah yang sahih. Padahal, kecintaan yang benar kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam harus diwujudkan dengan ittiba’ (mengikuti) sunah beliau, bukan sekadar pengakuan di lisan semata.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ“Jika mereka tidak memenuhi seruanmu, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah? Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Qashash: 50)Maka, manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mengagungkan beliau, menghormati beliau, memuliakan beliau, mencintai beliau, dan mengikuti beliau. Akan tetapi, mereka tidak berlebihan dalam memuliakan beliau sebagaimana orang-orang Nasrani berlebihan terhadap Isa putra Maryam ‘alaihis salam.Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah manhaj pertengahan dan adil terhadap hak-hak dan kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka tidak meremehkan hak beliau, tidak merendahkan beliau, dan tidak pula berlebihan terhadap beliau. Beliau adalah makhluk yang paling mulia, pemimpin seluruh anak Adam, penutup para Nabi, dan memiliki kedudukan yang sangat tinggi yang tidak dapat dicapai oleh siapa pun. Akan tetapi, beliau tetap merupakan hamba Allah ‘Azza wa Jalla, dan tidak memiliki sedikit pun sifat rububiyyah maupun uluhiyyah.Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dibangun di atas dua landasan yang agung, yaitu ittiba’ tanpa meremehkan dan mahabbah tanpa berlebih-lebihan. Mereka mengimani bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba Allah dan utusan-Nya, sehingga seluruh hak beliau ditunaikan sebagaimana yang telah Allah tetapkan. Mereka mencintai beliau melebihi kecintaan kepada diri sendiri dan seluruh manusia, memuliakan beliau, membela kehormatan beliau, membenarkan seluruh berita yang beliau sampaikan, menaati seluruh perintah beliau, menjauhi seluruh larangan beliau, serta tidak beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla kecuali dengan syariat yang beliau bawa.Namun, pada saat yang sama mereka tidak mengangkat beliau berada pada kedudukan yang menjadi kekhususan Allah ‘Azza wa Jalla dan tidak memberikan kepada beliau sedikit pun hak rububiyyah maupun uluhiyyah. Inilah jalan pertengahan yang ditempuh Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu berada di antara sikap ghuluw yang mengangkat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi kedudukan sebagai seorang hamba dan sikap jafa’ yang meremehkan beliau dengan meninggalkan sunahnya. Dengan manhaj inilah, seorang muslim dapat merealisasikan kecintaan yang benar kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu kecintaan yang dibangun di atas ilmu, ittiba’, dan tauhid yang murni.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 3 LANJUT KE BAGIAN 4*** Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Sumber:Disarikan dari kitab Ma’alim Manhaj Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah karya Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 20–22.
Kedua, mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meninggalkan bid’ah (perkara-perkara baru dalam agama)Di antara prisnsip manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah berikutnya adalah beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mencintai beliau melebihi kecintaan kepada dirinya sendiri, kedua orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia, serta mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu dengan mengikuti (ittiba’) sunah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, meninggalkan seluruh perkara bid’ah, perkara-perkara baru dalam agama, dan khurafat. Hal ini berdasarkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan ajaran kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ“Jauhilah perkara-perkara baru dalam agama. Sesungguhnya setiap perkara baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Abu Dawud no. 4607)Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan umatnya agar berhati-hati terhadap segala bentuk bid’ah dalam agama. Sebab, bid’ah bukan sekadar amalan baru, tetapi merupakan penyimpangan dari ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Ahlus Sunnah wal Jama’ah senantiasa berusaha berpegang teguh kepada sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Dengan berpegang teguh kepada sunah dan menjauhi bid’ah, seorang muslim akan tetap berada di atas jalan yang lurus.Di sisi lain, Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak bersikap berlebihan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka tidak berlebihan terhadap kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mereka tidak menjadikan beliau sebagai sekutu bagi Allah dalam ibadah.Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang ghuluw dan orang-orang musyrik. Mereka mempersekutukan Allah ‘Azza wa Jalla dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam ibadah, memohon pertolongan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berdoa kepadanya ketika menghadapi kesulitan, dan berharap agar beliau memenuhi kebutuhan mereka setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang seperti ini banyak di tengah manusia hingga hari ini, bahkan jauh lebih parah.Ahlus Sunnah wal Jama’ah menempatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai dengan kedudukannya. Hal ini berdasarkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا: عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ“Janganlah kalian berlebihan memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebihan ketika memuji Isa putra Maryam. Aku hanyalah hamba Allah. Oleh karena itu, katakanlah, ‘Hamba Allah dan Rasul-Nya’.” (HR. Al-Bukhari no. 3445)Ucapan (عَبْدُ اللَّهِ) merupakan bantahan terhadap orang-orang yang mengangkat beliau melebihi kedudukannya sebagai hamba (al-‘ubudiyyah) kepada kedudukan ketuhanan (al-uluhiyyah).Penyebutan beliau sebagai hamba Allah selain membantah keyakinan orang-orang yang berlebih-lebihan (ghuluw) terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menegaskan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia dan hamba Allah. Di antara bentuk berlebih-lebihan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti meyakini bahwa beliau mengetahui seluruh perkara gaib secara mutlak, mampu mengabulkan doa, mampu mendatangkan manfaat dan mudarat, atau memiliki sifat-sifat yang hanya menjadi kekhususan bagi Allah ‘Azza wa Jalla.Sementara itu, ucapan (رَسُولُهُ) merupakan bantahan terhadap orang-orang yang meremehkan kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak mengikuti sunahnya, dan lebih memilih mengikuti hawa nafsu mereka.Penyandaran beliau sebagai utusan-Nya menunjukkan bahwa seluruh ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berasal dari wahyu Allah ‘Azza wa Jalla. Beliau tidak menyampaikan Islam berdasarkan hawa nafsunya, tetapi menyampaikan apa yang diwahyukan Allah ‘Azza wa Jalla kepadanya. Oleh sebab itu, menaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hakikatnya adalah menaati Allah ‘Azza wa Jalla, sedangkan mendurhakai beliau berarti mendurhakai Allah ‘‘Azza wa Jalla. Inilah konsekuensi keimanan kepada kerasulan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ucapan ini juga menjadi bantahan terhadap berbagai kelompok yang mengaku mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi enggan menjadikan sunah beliau sebagai pedoman hidup. Mereka lebih mendahulukan logika, filsafat, tradisi, pendapat tokoh, atau perasaan daripada nash Al-Qur’an dan Sunah yang sahih. Padahal, kecintaan yang benar kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam harus diwujudkan dengan ittiba’ (mengikuti) sunah beliau, bukan sekadar pengakuan di lisan semata.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ“Jika mereka tidak memenuhi seruanmu, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah? Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Qashash: 50)Maka, manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mengagungkan beliau, menghormati beliau, memuliakan beliau, mencintai beliau, dan mengikuti beliau. Akan tetapi, mereka tidak berlebihan dalam memuliakan beliau sebagaimana orang-orang Nasrani berlebihan terhadap Isa putra Maryam ‘alaihis salam.Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah manhaj pertengahan dan adil terhadap hak-hak dan kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka tidak meremehkan hak beliau, tidak merendahkan beliau, dan tidak pula berlebihan terhadap beliau. Beliau adalah makhluk yang paling mulia, pemimpin seluruh anak Adam, penutup para Nabi, dan memiliki kedudukan yang sangat tinggi yang tidak dapat dicapai oleh siapa pun. Akan tetapi, beliau tetap merupakan hamba Allah ‘Azza wa Jalla, dan tidak memiliki sedikit pun sifat rububiyyah maupun uluhiyyah.Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dibangun di atas dua landasan yang agung, yaitu ittiba’ tanpa meremehkan dan mahabbah tanpa berlebih-lebihan. Mereka mengimani bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba Allah dan utusan-Nya, sehingga seluruh hak beliau ditunaikan sebagaimana yang telah Allah tetapkan. Mereka mencintai beliau melebihi kecintaan kepada diri sendiri dan seluruh manusia, memuliakan beliau, membela kehormatan beliau, membenarkan seluruh berita yang beliau sampaikan, menaati seluruh perintah beliau, menjauhi seluruh larangan beliau, serta tidak beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla kecuali dengan syariat yang beliau bawa.Namun, pada saat yang sama mereka tidak mengangkat beliau berada pada kedudukan yang menjadi kekhususan Allah ‘Azza wa Jalla dan tidak memberikan kepada beliau sedikit pun hak rububiyyah maupun uluhiyyah. Inilah jalan pertengahan yang ditempuh Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu berada di antara sikap ghuluw yang mengangkat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi kedudukan sebagai seorang hamba dan sikap jafa’ yang meremehkan beliau dengan meninggalkan sunahnya. Dengan manhaj inilah, seorang muslim dapat merealisasikan kecintaan yang benar kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu kecintaan yang dibangun di atas ilmu, ittiba’, dan tauhid yang murni.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 3 LANJUT KE BAGIAN 4*** Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Sumber:Disarikan dari kitab Ma’alim Manhaj Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah karya Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 20–22.


Kedua, mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meninggalkan bid’ah (perkara-perkara baru dalam agama)Di antara prisnsip manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah berikutnya adalah beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mencintai beliau melebihi kecintaan kepada dirinya sendiri, kedua orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia, serta mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu dengan mengikuti (ittiba’) sunah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, meninggalkan seluruh perkara bid’ah, perkara-perkara baru dalam agama, dan khurafat. Hal ini berdasarkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan ajaran kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ“Jauhilah perkara-perkara baru dalam agama. Sesungguhnya setiap perkara baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Abu Dawud no. 4607)Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan umatnya agar berhati-hati terhadap segala bentuk bid’ah dalam agama. Sebab, bid’ah bukan sekadar amalan baru, tetapi merupakan penyimpangan dari ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Ahlus Sunnah wal Jama’ah senantiasa berusaha berpegang teguh kepada sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Dengan berpegang teguh kepada sunah dan menjauhi bid’ah, seorang muslim akan tetap berada di atas jalan yang lurus.Di sisi lain, Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak bersikap berlebihan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka tidak berlebihan terhadap kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mereka tidak menjadikan beliau sebagai sekutu bagi Allah dalam ibadah.Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang ghuluw dan orang-orang musyrik. Mereka mempersekutukan Allah ‘Azza wa Jalla dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam ibadah, memohon pertolongan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berdoa kepadanya ketika menghadapi kesulitan, dan berharap agar beliau memenuhi kebutuhan mereka setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang seperti ini banyak di tengah manusia hingga hari ini, bahkan jauh lebih parah.Ahlus Sunnah wal Jama’ah menempatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai dengan kedudukannya. Hal ini berdasarkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا: عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ“Janganlah kalian berlebihan memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebihan ketika memuji Isa putra Maryam. Aku hanyalah hamba Allah. Oleh karena itu, katakanlah, ‘Hamba Allah dan Rasul-Nya’.” (HR. Al-Bukhari no. 3445)Ucapan (عَبْدُ اللَّهِ) merupakan bantahan terhadap orang-orang yang mengangkat beliau melebihi kedudukannya sebagai hamba (al-‘ubudiyyah) kepada kedudukan ketuhanan (al-uluhiyyah).Penyebutan beliau sebagai hamba Allah selain membantah keyakinan orang-orang yang berlebih-lebihan (ghuluw) terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menegaskan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia dan hamba Allah. Di antara bentuk berlebih-lebihan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti meyakini bahwa beliau mengetahui seluruh perkara gaib secara mutlak, mampu mengabulkan doa, mampu mendatangkan manfaat dan mudarat, atau memiliki sifat-sifat yang hanya menjadi kekhususan bagi Allah ‘Azza wa Jalla.Sementara itu, ucapan (رَسُولُهُ) merupakan bantahan terhadap orang-orang yang meremehkan kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak mengikuti sunahnya, dan lebih memilih mengikuti hawa nafsu mereka.Penyandaran beliau sebagai utusan-Nya menunjukkan bahwa seluruh ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berasal dari wahyu Allah ‘Azza wa Jalla. Beliau tidak menyampaikan Islam berdasarkan hawa nafsunya, tetapi menyampaikan apa yang diwahyukan Allah ‘Azza wa Jalla kepadanya. Oleh sebab itu, menaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hakikatnya adalah menaati Allah ‘Azza wa Jalla, sedangkan mendurhakai beliau berarti mendurhakai Allah ‘‘Azza wa Jalla. Inilah konsekuensi keimanan kepada kerasulan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ucapan ini juga menjadi bantahan terhadap berbagai kelompok yang mengaku mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi enggan menjadikan sunah beliau sebagai pedoman hidup. Mereka lebih mendahulukan logika, filsafat, tradisi, pendapat tokoh, atau perasaan daripada nash Al-Qur’an dan Sunah yang sahih. Padahal, kecintaan yang benar kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam harus diwujudkan dengan ittiba’ (mengikuti) sunah beliau, bukan sekadar pengakuan di lisan semata.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ“Jika mereka tidak memenuhi seruanmu, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah? Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Qashash: 50)Maka, manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mengagungkan beliau, menghormati beliau, memuliakan beliau, mencintai beliau, dan mengikuti beliau. Akan tetapi, mereka tidak berlebihan dalam memuliakan beliau sebagaimana orang-orang Nasrani berlebihan terhadap Isa putra Maryam ‘alaihis salam.Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah manhaj pertengahan dan adil terhadap hak-hak dan kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka tidak meremehkan hak beliau, tidak merendahkan beliau, dan tidak pula berlebihan terhadap beliau. Beliau adalah makhluk yang paling mulia, pemimpin seluruh anak Adam, penutup para Nabi, dan memiliki kedudukan yang sangat tinggi yang tidak dapat dicapai oleh siapa pun. Akan tetapi, beliau tetap merupakan hamba Allah ‘Azza wa Jalla, dan tidak memiliki sedikit pun sifat rububiyyah maupun uluhiyyah.Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dibangun di atas dua landasan yang agung, yaitu ittiba’ tanpa meremehkan dan mahabbah tanpa berlebih-lebihan. Mereka mengimani bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba Allah dan utusan-Nya, sehingga seluruh hak beliau ditunaikan sebagaimana yang telah Allah tetapkan. Mereka mencintai beliau melebihi kecintaan kepada diri sendiri dan seluruh manusia, memuliakan beliau, membela kehormatan beliau, membenarkan seluruh berita yang beliau sampaikan, menaati seluruh perintah beliau, menjauhi seluruh larangan beliau, serta tidak beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla kecuali dengan syariat yang beliau bawa.Namun, pada saat yang sama mereka tidak mengangkat beliau berada pada kedudukan yang menjadi kekhususan Allah ‘Azza wa Jalla dan tidak memberikan kepada beliau sedikit pun hak rububiyyah maupun uluhiyyah. Inilah jalan pertengahan yang ditempuh Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu berada di antara sikap ghuluw yang mengangkat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi kedudukan sebagai seorang hamba dan sikap jafa’ yang meremehkan beliau dengan meninggalkan sunahnya. Dengan manhaj inilah, seorang muslim dapat merealisasikan kecintaan yang benar kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu kecintaan yang dibangun di atas ilmu, ittiba’, dan tauhid yang murni.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 3 LANJUT KE BAGIAN 4*** Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Sumber:Disarikan dari kitab Ma’alim Manhaj Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah karya Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 20–22.

Hidup Terasing: Tetap Teguh Saat Ketaatan Dianggap Aneh

Tidak semua keterasingan adalah kesepian; terkadang seseorang justru menjadi asing karena memilih tetap taat ketika banyak manusia meninggalkan ketaatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang tetap teguh ketika Islam kembali terasa asing. Lalu bagaimana agar hati tetap kuat ketika menjalankan syariat terasa seperti menggenggam bara api, terutama bagi muslimah yang berusaha menjaga hijab dan kehormatannya?  Daftar Isi tutup 1. Mencintai kesendirian bersama Allah 2. Ibnu Taimiyyah menikmati waktu menyendiri 3. Islam akan kembali terasa asing 4. Siapakah orang-orang yang terasing? 5. Jangan takut sedikit teman di jalan kebenaran 6. Berpegang pada agama seperti menggenggam bara api 7. Orang yang beramal pada masa penuh fitnah mendapat pahala besar 8. Keterasingan yang terpuji adalah asing karena Sunnah 9. Muslimah juga dapat merasakan keterasingan 10. Hijab bukan sekadar budaya, tetapi ketaatan 11. Cara teguh di tengah keterasingan 11.1. Pertama: Jadikan wahyu sebagai standar, bukan tren 11.2. Kedua: Jangan menunggu semua orang mendukung untuk mulai taat 11.3. Ketiga: Cari teman yang menguatkan agama 11.4. Keempat: Jaga juga lingkungan digital 11.5. Kelima: Jangan merasa rendah karena menjaga diri 11.6. Keenam: Perbanyak ilmu 11.7. Ketujuh: Miliki ibadah rahasia 12. Bentuk kesendirian bersama Allah 12.1. 1. Shalat malam 12.2. 2. Membaca Al-Qur’an dalam kesunyian sambil tadabbur 12.3. 3. Berdzikir dan beristighfar 12.4. 4. Berdoa 12.5. 5. I‘tikaf dan mengurangi kesibukan dunia 13. Kesendirian bukan berarti membenci manusia 14. Ketika terasa asing, lihatlah siapa teman seperjalanan kita 15. Baca juga: Tips Bergaul 15.1. Jangan merasa aman dengan hati kita 15.2. Kesimpulan: Beruntunglah orang-orang yang terasing 15.3. Nasihat terakhir 15.4. Referensi  Mencintai kesendirian bersama AllahIbnul Qayyim rahimahullah berkata,وَمِنْهَا: حُبُّ الْوَحْدَةِ، وَالْأُنْسُ بِالْخَلْوَةِ، وَالتَّفَرُّدُ عَنِ النَّاسِ، وَكَأَنَّ الْمَحَبَّةَ قَدْ ثَبَتَتْ عَلَى ذَلِكَ، فَلَا شَيْءَ أَحْلَى لِلْمُحِبِّ الصَّادِقِ مِنْ خَلْوَتِهِ، وَتَفَرُّدِهِ، فَإِنَّهُ إِنْ ظَفِرَ بِمَحْبُوبِهِ أَحَبَّ خَلْوَتَهُ بِهِ، وَكَرِهَ مَنْ يَدْخُلُ بَيْنَهُمَا غَايَةَ الْكَرَاهَةِ.“Di antara tanda cinta adalah mencintai kesendirian, merasa nyaman dalam kesunyian, dan menikmati saat menjauh sejenak dari manusia. Seolah-olah cinta itu sendiri membuat hatinya demikian. Tidak ada sesuatu yang lebih manis bagi seorang pecinta sejati daripada saat ia menyendiri bersama yang dicintainya. Jika ia dapat bersama kekasihnya, ia mencintai kesempatan berdua tersebut dan sangat tidak menyukai sesuatu yang mengganggu kebersamaan itu.”Ibnul Qayyim kemudian menjelaskan,وَلِهَذَا السِّرِّ ـ وَاللَّهُ أَعْلَمُ ـ أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَدِّ الْمَارِّ بَيْنَ يَدَيِ الْمُصَلِّي حَتَّى أَمَرَ بِقِتَالِهِ، وَأَخْبَرَ أَنَّهُ لَوْ يَدْرِي مَا عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ؛ لَكَانَ وُقُوفُهُ أَرْبَعِينَ خَيْرًا لَهُ مِنْ مُرُورِهِ بَيْنَ يَدَيْهِ.“Karena rahasia inilah—dan Allah lebih mengetahui—Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar orang yang hendak melintas di depan orang yang sedang shalat dicegah. Beliau juga mengabarkan bahwa seandainya orang yang melintas mengetahui besarnya dosa perbuatannya, berdiri menunggu selama empat puluh lebih baik baginya daripada melintas di hadapan orang yang sedang shalat.”Kemudian beliau berkata,وَلَا يَجِدُ أَلَمَ الْمُرُورِ وَشِدَّتَهُ إِلَّا قَلْبٌ حَاضِرٌ بَيْنَ يَدَيْ مَحْبُوبِهِ، مُقْبِلٌ عَلَيْهِ، قَدِ ارْتَفَعَتِ الْأَغْيَارُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ، فَمُرُورُ الْمَارِّ بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ بِمَنْزِلَةِ دُخُولِ الْبَغِيضِ بَيْنَ الْمُحِبِّ وَمَحْبُوبِهِ.“Hanya hati yang benar-benar hadir di hadapan Allah, menghadap kepada-Nya, dan tidak tersibukkan oleh selain-Nya yang dapat merasakan beratnya gangguan tersebut. Orang yang melintas di antara dirinya dan Rabbnya bagaikan seseorang yang tidak disukai masuk mengganggu antara seorang pecinta dan yang dicintainya.”Ibnul Qayyim kemudian mengatakan,وَأَيْضًا فَإِنَّ الْمُحِبَّ يَسْتَأْنِسُ بِذِكْرِ مَحْبُوبِهِ، وَكَوْنِهِ فِي قَلْبِهِ لَا يُفَارِقُهُ، فَهُوَ أَنِيسُهُ، وَجَلِيسُهُ، لَا يَسْتَأْنِسُ بِسِوَاهُ، فَهُوَ مُسْتَوْحِشٌ مِمَّنْ يَشْغَلُهُ عَنْهُ.“Seorang pecinta merasakan ketenteraman ketika mengingat yang dicintainya. Ingatan itu selalu hadir di hatinya. Ia menjadi teman dekatnya. Karena itu, ia merasa tidak nyaman terhadap segala sesuatu yang membuat hatinya teralihkan dari yang dicintainya.” (Raudhah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin, hlm. 393–394).Kesendirian yang dimaksud bukanlah membenci manusia atau meninggalkan kewajiban bermasyarakat. Seorang mukmin tetap menghadiri shalat berjamaah, menuntut ilmu, berdakwah, bersilaturahmi, mendidik keluarga, dan memberikan manfaat kepada orang lain.Namun, hati juga membutuhkan saat ketika ia lepas dari kebisingan dunia dan benar-benar menghadap Allah.Ada saatnya kita bersama manusia untuk memberi manfaat. Ada saatnya kita menyendiri untuk memperbaiki hati. Ibnu Taimiyyah menikmati waktu menyendiriIbnul Qayyim menceritakan dari Taqiyuddin bin Syuqair bahwa suatu hari ia mengikuti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah. Ketika beliau telah sampai ke tempat terbuka dan jauh dari manusia, terdengar beliau melantunkan syair,وَأَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الْبُيُوتِ لَعَلَّنِي أُحَدِّثُ عَنْكَ الْقَلْبَ بِالسِّرِّ خَالِيًا“Aku keluar meninggalkan rumah-rumah, dengan harapan aku dapat berbicara tentang-Mu kepada hatiku dalam kesendirian.”Kemudian Ibnul Qayyim berkata,فَخَلْوَةُ الْمُحِبِّ بِمَحْبُوبِهِ هِيَ غَايَةُ أُمْنِيَّتِهِ، فَإِنْ ظَفِرَ بِهَا؛ وَإِلَّا خَلَا بِهِ فِي سِرِّهِ.“Kesendirian seorang pecinta bersama yang dicintainya adalah puncak harapannya. Jika ia mendapat kesempatan tersebut, itulah yang ia inginkan. Jika tidak, ia menyendiri bersamanya di dalam rahasia hatinya.”Orang yang belajar menikmati kesendirian bersama Allah tidak akan terlalu takut ketika suatu hari harus sendirian bersama kebenaran. Islam akan kembali terasa asingDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ.“Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana awal mulanya. Maka, beruntunglah orang-orang yang terasing.” (HR. Muslim, no. 145)Baca juga: Siapakah yang Terasing dari Umat Islam yang Banyak?Hadis ini sahih. Islamweb menjelaskan bahwa Islam pada awalnya hanya diikuti sejumlah kecil manusia, kemudian tersebar dan kuat. Kelak dapat terjadi suatu keadaan ketika orang yang benar-benar memegang ajarannya kembali menjadi sedikit.Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah menjelaskan maknanya,أَنَّ الْإِسْلَامَ بَدَأَ فِي آحَادٍ مِنَ النَّاسِ وَقِلَّةٍ، ثُمَّ انْتَشَرَ وَظَهَرَ، ثُمَّ سَيَلْحَقُهُ النَّقْصُ وَالْإِخْلَالُ، حَتَّى لَا يَبْقَى إِلَّا فِي آحَادٍ وَقِلَّةٍ أَيْضًا كَمَا بَدَأَ.“Islam pada mulanya berada pada segelintir manusia dan jumlah yang sedikit. Kemudian Islam menyebar dan tampak. Setelah itu akan datang kekurangan dalam pengamalannya hingga kembali hanya dipegang oleh segelintir manusia sebagaimana awal mulanya.”Yang dimaksud asing bukanlah sengaja membuat diri berbeda agar diperhatikan.Keterasingan yang terpuji adalah ketika seseorang menjadi berbeda karena berpegang pada kebenaran. Siapakah orang-orang yang terasing?Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa orang-orang terasing adalah mereka yang tetap baik ketika manusia banyak yang rusak.Di antara riwayat yang disebutkan,الَّذِينَ يَصْلُحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ.“Mereka adalah orang-orang yang tetap melakukan perbaikan ketika manusia telah rusak.”Dalam riwayat lain disebutkan,أُنَاسٌ صَالِحُونَ فِي أُنَاسِ سَوْءٍ كَثِيرٍ، مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ.“Mereka adalah orang-orang shalih yang berada di tengah banyaknya manusia yang buruk. Orang yang tidak mengikuti mereka lebih banyak daripada yang mengikuti mereka.”Islamweb menyebut hadis ini sebagai kabar gembira bagi orang-orang yang tetap berpegang teguh pada Islam pada masa keterasingan agama.Karena itu, orang asing bukan sekadar orang yang berbeda.Ia tetap jujur ketika dusta dianggap biasa.Ia menjaga shalat ketika kesibukan membuat manusia meremehkannya.Ia menjaga transaksi halal ketika riba dianggap lumrah.Ia menjaga pandangan ketika kemaksiatan dapat dilihat hanya melalui layar di tangan.Ia menjaga aurat ketika mempertontonkan tubuh dianggap kebebasan.Ia mengikuti Sunnah ketika Sunnah dianggap aneh.Baca juga: Berbahagialah Orang yang TerasingJangan takut sedikit teman di jalan kebenaranIbnul Qayyim rahimahullah menukil perkataan sebagian salaf,عَلَيْكَ بِطَرِيقِ الْحَقِّ، وَلَا تَسْتَوْحِشْ لِقِلَّةِ السَّالِكِينَ، وَإِيَّاكَ وَطَرِيقَ الْبَاطِلِ، وَلَا تَغْتَرَّ بِكَثْرَةِ الْهَالِكِينَ.“Tempuhlah jalan kebenaran dan jangan merasa kesepian karena sedikitnya orang yang menempuhnya. Jauhilah jalan kebatilan dan jangan tertipu karena banyaknya orang yang berjalan menuju kebinasaan.”Kemudian Ibnul Qayyim mengatakan,وَكُلَّمَا اسْتَوْحَشْتَ فِي تَفَرُّدِكَ فَانْظُرْ إِلَى الرَّفِيقِ السَّابِقِ، وَاحْرِصْ عَلَى اللَّحَاقِ بِهِمْ، وَغُضَّ الطَّرْفَ عَمَّنْ سِوَاهُمْ.“Setiap kali engkau merasa sepi karena sendirian, lihatlah para pendahulu yang telah menempuh jalan tersebut. Berusahalah menyusul mereka dan jangan sibukkan pandanganmu dengan selain mereka.” (Madarij As-Salikin, 1:46).Allah Ta‘ala berfirman,وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ.“Jika engkau mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An‘am: 116)Kebenaran tidak berubah menjadi salah hanya karena sedikit yang mengikutinya. Kebatilan pun tidak berubah menjadi benar hanya karena banyak pendukungnya.Berpegang pada agama seperti menggenggam bara apiRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ، الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ.“Akan datang suatu masa kepada manusia, orang yang bersabar mempertahankan agamanya pada masa tersebut seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2260; dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani)Islamweb menjelaskan bahwa keadaan ini terjadi karena semakin banyaknya kerusakan, fitnah, serta berbagai godaan, sementara orang yang membantu seseorang untuk tetap berada dalam ketaatan semakin sedikit. Karena itulah, memegang agama dan mengikuti Sunnah ketika itu terasa seperti menggenggam bara atau duri.Mengapa diibaratkan bara?Karena bara terasa panas.Tangan secara naluri ingin segera melepaskannya.Begitu pula seseorang yang berada dalam lingkungan penuh fitnah. Ia terus mendapat tekanan agar sedikit demi sedikit melepaskan prinsip agamanya.Hari ini mungkin diminta melonggarkan hijab.Besok mulai meremehkan batas pergaulan.Kemudian mulai meninggalkan shalat karena pekerjaan.Lalu transaksi haram dianggap tidak masalah karena semua orang melakukannya.Jangan melepaskan agama hanya karena menggenggamnya terasa berat.Yang sedang dipertahankan bukan sekadar kebiasaan. Yang dipertahankan adalah keselamatan agama dan akhirat.Orang yang beramal pada masa penuh fitnah mendapat pahala besar“Sesungguhnya setelah kalian akan datang hari-hari yang membutuhkan kesabaran. Bersabar pada masa itu seperti menggenggam bara api. Orang yang beramal pada masa tersebut akan mendapatkan pahala seperti pahala lima puluh orang.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, pahala lima puluh orang dari mereka atau lima puluh orang dari kami?”Beliau menjawab, “Pahala lima puluh orang dari kalian.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu‘jam Al-Kabir, no. 10394, dan lafaz di atas adalah lafaz beliau. Diriwayatkan pula oleh Al-Bazzar dalam Al-Bahr Az-Zakhkhar, no. 1776, dengan lafaz yang semakna).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada kita bahwa pada akhir zaman agama akan semakin sedikit dipegang teguh oleh manusia. Beliau juga mengabarkan besarnya pahala bagi orang yang tetap berpegang teguh pada agamanya pada masa-masa tersebut. Hal ini merupakan dorongan agar kita bersabar sembari mengharapkan pahala dari Allah.Dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ“Sesungguhnya setelah kalian ….”Maksudnya adalah masa-masa yang akan datang setelah kalian, atau berbagai keadaan berat yang akan terjadi sepeninggal kalian.Beliau bersabda,زَمَانَ صَبْرٍ“Suatu masa yang membutuhkan kesabaran.”Maksudnya adalah hari-hari ketika tidak ada jalan untuk dapat bertahan kecuali dengan kesabaran. Bisa pula bermakna hari-hari ketika kesabaran sangat terpuji.Yang dimaksud dengan masa tersebut adalah masa ketika berbagai fitnah merajalela dan kekuatan kaum muslimin melemah.Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لِلْمُتَمَسِّكِ فِيهِ“Bagi orang yang tetap berpegang teguh pada masa tersebut.”Maksudnya adalah orang yang bersabar dalam memegang teguh agamanya dan tetap berlindung serta berpegang kokoh dengannya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda,أَجْرُ خَمْسِينَ شَهِيدًا مِنْكُمْ“Baginya pahala lima puluh orang syahid dari kalian.”Maksudnya, pahalanya dilipatgandakan hingga seperti pahala lima puluh orang yang mati syahid dari kalangan sahabat.Besarnya pahala tersebut disebabkan begitu beratnya ujian pada masa itu. Seorang muslim yang tetap teguh memegang agamanya menghadapi keadaan yang begitu sulit hingga diibaratkan seperti orang yang menggenggam bara api.Besarnya pahala ini menunjukkan besarnya tantangan dalam mempertahankan agama. Namun, ini tidak berarti generasi setelah sahabat lebih utama daripada para sahabat secara mutlak.Penjelasan hadits di atas dari dorar.net.Keterasingan yang terpuji adalah asing karena SunnahIbnul Qayyim rahimahullah menerangkan bahwa di antara sifat orang-orang terasing adalah,وَمِنْ صِفَاتِ هَؤُلَاءِ الْغُرَبَاءِ الَّذِينَ غَبَطَهُمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: التَّمَسُّكُ بِالسُّنَّةِ إِذَا رَغِبَ عَنْهَا النَّاسُ، وَتَرْكُ مَا أَحْدَثُوهُ، وَإِنْ كَانَ هُوَ الْمَعْرُوفَ عِنْدَهُمْ.“Di antara sifat orang-orang terasing yang dipuji oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tetap berpegang kepada Sunnah ketika manusia meninggalkannya dan meninggalkan perkara-perkara baru yang mereka ada-adakan, sekalipun perkara tersebut telah dianggap lumrah oleh mereka.”Ibnul Qayyim kemudian menjelaskan keadaan orang-orang terasing,فَهَؤُلَاءِ هُمُ الْغُرَبَاءُ الْمَمْدُوحُونَ الْمَغْبُوطُونَ.“Mereka itulah orang-orang terasing yang dipuji dan pantas mendapatkan kabar gembira.”Beliau menjelaskan bahwa orang Islam dapat terasa asing di tengah manusia, orang beriman terasa asing di tengah kaum muslimin, ahli ilmu terasa asing di tengah kaum beriman, dan orang yang benar-benar menjaga Sunnah dapat semakin terasa asing.Maka, jangan salah memahami keterasingan.Tidak setiap orang yang berbeda berarti berada di atas kebenaran.Ukuran kita tetap Al-Qur’an dan Sunnah, bukan sekadar berbeda dengan kebanyakan manusia.Muslimah juga dapat merasakan keterasinganKeterasingan agama sangat mungkin dirasakan seorang muslimah pada zaman sekarang.Ia ingin memperbaiki hijab, lalu dikatakan terlalu tertutup.Ia berusaha tidak tabarruj, tetapi lingkungan menganggap penampilan harus selalu menarik perhatian.Ia menjaga pergaulan dengan lawan jenis, lalu dianggap tidak luwes.Ia tidak ingin mempertontonkan kecantikannya di media sosial, tetapi justru dianggap kurang percaya diri.Ia memilih tidak mengikuti tren tertentu karena pertimbangan agama, lalu disebut ketinggalan zaman.Di sinilah seorang muslimah membutuhkan kekuatan hati.Hijab bukan sekadar budaya, tetapi ketaatanAllah Ta‘ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ.“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan perempuan-perempuan kaum mukminin agar mereka mengulurkan jilbab mereka.” (QS. Al-Ahzab: 59)Allah Ta‘ala juga berfirman,وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ.“Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung mereka ke dada mereka.” (QS. An-Nur: 31)Karena itu, hijab bukan sekadar identitas sosial.Hijab adalah ibadah.Ketika seorang muslimah menanamkan dalam hatinya, “Aku berhijab karena ingin menaati Allah,”maka komentar manusia akan menjadi lebih ringan.Sebaliknya, jika hijab hanya dibangun karena lingkungan, ketika lingkungan berubah, mudah sekali seseorang ikut berubah.Cara teguh di tengah keterasinganPertama: Jadikan wahyu sebagai standar, bukan trenAllah Ta‘ala berfirman,وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ.“Tidak pantas bagi laki-laki mukmin dan perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara, masih ada pilihan lain bagi mereka dalam urusan tersebut.” (QS. Al-Ahzab: 36)Tren berubah.Standar manusia berubah.Apa yang hari ini dianggap indah, beberapa tahun kemudian dapat dianggap usang.Namun, ketentuan Allah tidak mengikuti tren.Jangan mengukur syariat dengan tren. Ukurlah tren dengan syariat. Kedua: Jangan menunggu semua orang mendukung untuk mulai taatKetaatan tidak harus dimulai bersama-sama.Jangan menunggu,“Nanti kalau teman saya sudah berhijab, saya ikut.”“Nanti kalau sudah menikah, saya akan memperbaiki pakaian.”“Nanti kalau lingkungan kerja mendukung, saya akan berubah.”Boleh jadi salah satu bentuk ujian adalah Allah ingin melihat apakah kita tetap memilih-Nya ketika pilihan tersebut belum mendapatkan tepuk tangan manusia.Tidak mengapa memulai ketaatan sendirian selama kita berjalan bersama dalil.Ketiga: Cari teman yang menguatkan agamaAllah Ta‘ala berfirman,وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ.“Bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Rabb mereka pada pagi dan petang dengan mengharap wajah-Nya.” (QS. Al-Kahfi: 28)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ.“Seseorang berada di atas agama sahabat dekatnya. Karena itu, hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan siapa yang dijadikan sahabat dekat.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi)Teman shalih tidak memberikan hidayah, tetapi ia dapat menjadi sebab kita lebih mudah menjaga hidayah.Carilah teman yang tidak hanya memuji penampilan kita, tetapi berani mengingatkan agama kita.Carilah teman yang bahagia ketika hijab kita semakin baik.Carilah teman yang mengajak ke majelis ilmu.Carilah teman yang ketika kita hampir melemah berkata,“Jangan menyerah. Kita ingin sampai ke surga bersama.”Keempat: Jaga juga lingkungan digitalTeman hari ini bukan hanya orang yang duduk di samping kita.Akun yang setiap hari kita lihat juga dapat membentuk cara berpikir.Jika setiap hari seseorang melihat konten yang mempertontonkan kecantikan, gaya hidup berlebihan, kebebasan tanpa batas, atau standar tubuh yang tidak realistis, sedikit demi sedikit hatinya dapat berubah.Ia mulai mempertanyakan hijabnya.Ia mulai merasa pakaiannya kurang menarik.Ia mulai membutuhkan validasi dari pandangan manusia.Karena itu, salah satu bentuk menjaga iman adalah berani menekan tombol unfollow terhadap sesuatu yang terus-menerus melemahkan hati.Tidak semua yang menarik mata baik untuk hati.Kelima: Jangan merasa rendah karena menjaga diriDunia sering mengajarkan bahwa kecantikan perlu ditampakkan agar mendapatkan pengakuan.Syariat justru mengajarkan bahwa tidak semua keindahan harus diperlihatkan.Allah Ta‘ala berfirman,وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا.“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa tampak darinya.” (QS. An-Nur: 31)Muslimah tidak kehilangan harga dirinya hanya karena tidak menjadi pusat perhatian.Nilai seorang perempuan bukan ditentukan oleh banyaknya mata yang memandangnya, tetapi oleh kedudukannya di sisi Allah.Keenam: Perbanyak ilmuOrang yang hanya mengikuti aturan tanpa memahami dalilnya lebih mudah goyah ketika ditanya.Sedangkan orang yang mengetahui mengapa Allah memerintahkan sesuatu akan lebih kokoh.Karena itu, pelajari tauhid.Pelajari fikih ibadah.Pelajari hukum hijab.Pelajari batas pergaulan.Pelajari bagaimana para sahabat dan salaf menjaga agama mereka.Ilmu menjadikan ketaatan bukan sekadar kebiasaan, tetapi keyakinan.Ketujuh: Miliki ibadah rahasiaDi antara cara paling kuat menjaga istiqamah adalah memiliki hubungan dengan Allah yang tidak diketahui manusia.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut salah satu dari tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah,وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ.“Dan seseorang yang mengingat Allah ketika sendirian, lalu kedua matanya berlinang.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ada orang yang terlihat kuat di hadapan manusia karena ia memiliki tangisan yang tidak pernah manusia lihat.Ada orang yang sanggup menghadapi berbagai komentar karena pada malam hari ia telah mengadukan semuanya kepada Allah.Kekuatan di hadapan manusia sering kali dibangun dari sujud yang tidak diketahui manusia.Bentuk kesendirian bersama Allah1. Shalat malamRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، فَيَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، وَمَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ.“Rabb kita Tabaraka wa Ta‘ala turun ke langit dunia setiap malam ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, Aku akan mengabulkannya. Siapa yang meminta kepada-Ku, Aku akan memberinya. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, Aku akan mengampuninya.’” (HR. Bukhari dan Muslim)Saat manusia tidur, seorang mukmin bangun.Tidak ada tepuk tangan.Tidak ada kamera.Tidak ada komentar.Hanya seorang hamba dengan Rabbnya.2. Membaca Al-Qur’an dalam kesunyian sambil tadabburCarilah waktu tanpa gangguan.Baca ayat Allah perlahan.Renungkan.Bukan hanya mengejar berapa halaman yang selesai, tetapi biarkan Al-Qur’an berbicara kepada hati.3. Berdzikir dan beristighfarAda dzikir yang dibaca bersama manusia.Namun, ada pula kenikmatan ketika lidah mengingat Allah sementara tidak ada seorang pun yang mengetahui.Inilah salah satu bentuk hubungan rahasia seorang hamba dengan Rabbnya.4. BerdoaKesendirian adalah waktu yang sangat baik untuk mengadukan kelemahan.Kita boleh terlihat kuat di depan manusia.Namun, di hadapan Allah kita dapat berkata bahwa kita lemah.Kita dapat mengadu tentang beratnya menjaga agama.Tentang komentar manusia.Tentang hati yang mudah berubah.Tentang kekhawatiran menghadapi fitnah zaman.5. I‘tikaf dan mengurangi kesibukan duniaIslam juga mengenal i‘tikaf, yaitu memberikan waktu khusus untuk beribadah kepada Allah dengan menetap di masjid.Ini mengajarkan bahwa hati terkadang membutuhkan jarak sementara dari berbagai kesibukan agar dapat kembali fokus kepada Allah.Namun, kesendirian bukan tujuan mutlak. Islam tetap mendorong seorang mukmin memberikan manfaat kepada manusia.Kesendirian bukan berarti membenci manusiaAda dua kesalahan yang perlu dihindari.Pertama, terlalu tenggelam dalam keramaian sampai tidak memiliki waktu bersama Allah.Kedua, memakai alasan “ingin dekat dengan Allah” untuk meninggalkan kewajiban kepada keluarga dan masyarakat.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dekat kepada Allah, tetapi beliau berdakwah, mengajar, menerima tamu, memimpin umat, mengurus keluarga, berjihad, dan berinteraksi dengan manusia.Baca juga: Benarkah Banyak Bergaul dan Bermedsos, Makin Banyak Dosa?Maka, keseimbangannya adalah:Bersama manusia ketika ada maslahat, menyendiri ketika hati membutuhkan perbaikan.Ketika terasa asing, lihatlah siapa teman seperjalanan kitaIbnul Qayyim menjelaskan bahwa Allah menyebut para pendahulu yang berjalan di atas jalan lurus agar orang beriman tidak merasa benar-benar sendirian.Allah Ta‘ala berfirman,وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا.“Barang siapa menaati Allah dan Rasul, mereka akan bersama orang-orang yang telah Allah beri nikmat, yaitu para nabi, orang-orang yang sangat membenarkan, para syuhada, dan orang-orang shalih. Mereka itulah sebaik-baik teman.” (QS. An-Nisa’: 69)Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa Allah menyebut teman-teman perjalanan ini agar orang yang menempuh jalan hidayah tidak terlalu merasakan kesendirian ketika berbeda dengan manusia pada zamannya.Jika hari ini kita merasa asing karena taat, ingatlah:Jalan ini pernah ditempuh para nabi.Jalan ini pernah ditempuh para sahabat.Jalan ini pernah ditempuh orang-orang shalih.Kita mungkin sedikit pada suatu tempat dan suatu masa.Namun, kita tidak sendirian dalam sejarah panjang orang-orang yang berjalan menuju Allah.Baca juga: Tips Bergaul Jangan merasa aman dengan hati kitaIstiqamah bukan kemampuan pribadi.Orang yang hari ini taat bisa berubah.Orang yang hari ini menjaga hijab bisa melepasnya.Orang yang hari ini rajin shalat bisa meninggalkannya.Karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak berdoa,يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.Yā Muqallibal-qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik.“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. At-Tirmidzi)Jangan hanya mengatakan,“Alhamdulillah, saya sudah istiqamah.”Lebih baik katakan,“Ya Allah, jangan biarkan hati ini berubah setelah Engkau memberi petunjuk.”Baca juga: Ini Ceritanya, Kenapa Nabi Terus Berdoa Meminta IstiqamahKesimpulan: Beruntunglah orang-orang yang terasingTidak semua kesendirian adalah kesepian.Tidak semua keterasingan adalah kehinaan.Boleh jadi seseorang sendirian secara fisik, tetapi hatinya dipenuhi kedekatan kepada Allah.Boleh jadi seseorang dianggap asing oleh manusia karena menjaga hijab, Sunnah, shalat, kehormatan, dan prinsip agamanya, tetapi justru ia sedang berjalan bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shalih.Karena itu, jangan sengaja mencari keterasingan. Namun, jangan pula meninggalkan kebenaran hanya agar diterima oleh manusia.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan kabar gembira,فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ.“Maka, beruntunglah orang-orang yang terasing.”Nasihat terakhirZaman boleh berubah, tetapi jangan biarkan perubahan zaman mengubah prinsip agama kita. Media sosial boleh membuat maksiat tampak normal dan ketaatan terasa asing, tetapi ukuran keselamatan tetaplah wahyu Allah. Muslimah jangan merasa rendah ketika menjaga hijab dan kehormatannya, dan setiap muslim jangan takut dianggap berbeda ketika berusaha mengikuti Sunnah. Jika jalan kebenaran terasa sepi, dekatkanlah diri kepada Allah karena orang yang memiliki Allah sebagai penolong tidak pernah benar-benar sendirian.Mari memohon,يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَأَعِنَّا عَلَى طَاعَتِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْغُرَبَاءِ الَّذِينَ يَصْلُحُونَ عِنْدَ فَسَادِ النَّاسِ، وَتَوَفَّنَا وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا.Yā Muqallibal-qulūb, tsabbit qulūbanā ‘alā dīnik, wa a‘innā ‘alā thā‘atik, waj‘alnā minal-ghurabā’ alladzīna yashluhūna ‘inda fasādin-nās, wa tawaffanā wa anta rāḍin ‘annā.“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu. Bantulah kami untuk selalu taat kepada-Mu. Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang tetap memperbaiki diri dan keadaan ketika manusia banyak yang rusak. Wafatkanlah kami dalam keadaan Engkau meridhai kami.”Aamiin.ReferensiShahih Muslim, hadis no. 145 tentang Islam bermula dalam keadaan asing. Islamweb menegaskan kesahihan hadis dan menjelaskan maknanya.Islamweb, Al-Ghuraba’ Al-Mamdūhūn Al-Maghbūthūn, tentang ciri dan keutamaan orang-orang terasing.Islamweb, Ka Al-Qābidh ‘ala Al-Jamr, penjelasan hadis orang yang mempertahankan agama seperti menggenggam bara.Ibnul Qayyim, Raudhah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin, hlm. 393–394, tentang mencintai kesendirian bersama Allah.Ibnul Qayyim, Madarij As-Salikin, tentang tidak merasa sepi karena sedikitnya orang yang menempuh jalan kebenaran.Islamweb, pembahasan ghurbah dan keteguhan mengikuti Sunnah ketika sedikit pengikutnya. —- @ Jogja, 12 Rabiul Awal 1448 H, 25 Agustus 2026Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfitnah akhir zaman ghuraba hidup terasing hijab muslimah ibnul qayyim istiqamah memegang bara api menjaga agama sunnah nabi teman shalih

Hidup Terasing: Tetap Teguh Saat Ketaatan Dianggap Aneh

Tidak semua keterasingan adalah kesepian; terkadang seseorang justru menjadi asing karena memilih tetap taat ketika banyak manusia meninggalkan ketaatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang tetap teguh ketika Islam kembali terasa asing. Lalu bagaimana agar hati tetap kuat ketika menjalankan syariat terasa seperti menggenggam bara api, terutama bagi muslimah yang berusaha menjaga hijab dan kehormatannya?  Daftar Isi tutup 1. Mencintai kesendirian bersama Allah 2. Ibnu Taimiyyah menikmati waktu menyendiri 3. Islam akan kembali terasa asing 4. Siapakah orang-orang yang terasing? 5. Jangan takut sedikit teman di jalan kebenaran 6. Berpegang pada agama seperti menggenggam bara api 7. Orang yang beramal pada masa penuh fitnah mendapat pahala besar 8. Keterasingan yang terpuji adalah asing karena Sunnah 9. Muslimah juga dapat merasakan keterasingan 10. Hijab bukan sekadar budaya, tetapi ketaatan 11. Cara teguh di tengah keterasingan 11.1. Pertama: Jadikan wahyu sebagai standar, bukan tren 11.2. Kedua: Jangan menunggu semua orang mendukung untuk mulai taat 11.3. Ketiga: Cari teman yang menguatkan agama 11.4. Keempat: Jaga juga lingkungan digital 11.5. Kelima: Jangan merasa rendah karena menjaga diri 11.6. Keenam: Perbanyak ilmu 11.7. Ketujuh: Miliki ibadah rahasia 12. Bentuk kesendirian bersama Allah 12.1. 1. Shalat malam 12.2. 2. Membaca Al-Qur’an dalam kesunyian sambil tadabbur 12.3. 3. Berdzikir dan beristighfar 12.4. 4. Berdoa 12.5. 5. I‘tikaf dan mengurangi kesibukan dunia 13. Kesendirian bukan berarti membenci manusia 14. Ketika terasa asing, lihatlah siapa teman seperjalanan kita 15. Baca juga: Tips Bergaul 15.1. Jangan merasa aman dengan hati kita 15.2. Kesimpulan: Beruntunglah orang-orang yang terasing 15.3. Nasihat terakhir 15.4. Referensi  Mencintai kesendirian bersama AllahIbnul Qayyim rahimahullah berkata,وَمِنْهَا: حُبُّ الْوَحْدَةِ، وَالْأُنْسُ بِالْخَلْوَةِ، وَالتَّفَرُّدُ عَنِ النَّاسِ، وَكَأَنَّ الْمَحَبَّةَ قَدْ ثَبَتَتْ عَلَى ذَلِكَ، فَلَا شَيْءَ أَحْلَى لِلْمُحِبِّ الصَّادِقِ مِنْ خَلْوَتِهِ، وَتَفَرُّدِهِ، فَإِنَّهُ إِنْ ظَفِرَ بِمَحْبُوبِهِ أَحَبَّ خَلْوَتَهُ بِهِ، وَكَرِهَ مَنْ يَدْخُلُ بَيْنَهُمَا غَايَةَ الْكَرَاهَةِ.“Di antara tanda cinta adalah mencintai kesendirian, merasa nyaman dalam kesunyian, dan menikmati saat menjauh sejenak dari manusia. Seolah-olah cinta itu sendiri membuat hatinya demikian. Tidak ada sesuatu yang lebih manis bagi seorang pecinta sejati daripada saat ia menyendiri bersama yang dicintainya. Jika ia dapat bersama kekasihnya, ia mencintai kesempatan berdua tersebut dan sangat tidak menyukai sesuatu yang mengganggu kebersamaan itu.”Ibnul Qayyim kemudian menjelaskan,وَلِهَذَا السِّرِّ ـ وَاللَّهُ أَعْلَمُ ـ أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَدِّ الْمَارِّ بَيْنَ يَدَيِ الْمُصَلِّي حَتَّى أَمَرَ بِقِتَالِهِ، وَأَخْبَرَ أَنَّهُ لَوْ يَدْرِي مَا عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ؛ لَكَانَ وُقُوفُهُ أَرْبَعِينَ خَيْرًا لَهُ مِنْ مُرُورِهِ بَيْنَ يَدَيْهِ.“Karena rahasia inilah—dan Allah lebih mengetahui—Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar orang yang hendak melintas di depan orang yang sedang shalat dicegah. Beliau juga mengabarkan bahwa seandainya orang yang melintas mengetahui besarnya dosa perbuatannya, berdiri menunggu selama empat puluh lebih baik baginya daripada melintas di hadapan orang yang sedang shalat.”Kemudian beliau berkata,وَلَا يَجِدُ أَلَمَ الْمُرُورِ وَشِدَّتَهُ إِلَّا قَلْبٌ حَاضِرٌ بَيْنَ يَدَيْ مَحْبُوبِهِ، مُقْبِلٌ عَلَيْهِ، قَدِ ارْتَفَعَتِ الْأَغْيَارُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ، فَمُرُورُ الْمَارِّ بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ بِمَنْزِلَةِ دُخُولِ الْبَغِيضِ بَيْنَ الْمُحِبِّ وَمَحْبُوبِهِ.“Hanya hati yang benar-benar hadir di hadapan Allah, menghadap kepada-Nya, dan tidak tersibukkan oleh selain-Nya yang dapat merasakan beratnya gangguan tersebut. Orang yang melintas di antara dirinya dan Rabbnya bagaikan seseorang yang tidak disukai masuk mengganggu antara seorang pecinta dan yang dicintainya.”Ibnul Qayyim kemudian mengatakan,وَأَيْضًا فَإِنَّ الْمُحِبَّ يَسْتَأْنِسُ بِذِكْرِ مَحْبُوبِهِ، وَكَوْنِهِ فِي قَلْبِهِ لَا يُفَارِقُهُ، فَهُوَ أَنِيسُهُ، وَجَلِيسُهُ، لَا يَسْتَأْنِسُ بِسِوَاهُ، فَهُوَ مُسْتَوْحِشٌ مِمَّنْ يَشْغَلُهُ عَنْهُ.“Seorang pecinta merasakan ketenteraman ketika mengingat yang dicintainya. Ingatan itu selalu hadir di hatinya. Ia menjadi teman dekatnya. Karena itu, ia merasa tidak nyaman terhadap segala sesuatu yang membuat hatinya teralihkan dari yang dicintainya.” (Raudhah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin, hlm. 393–394).Kesendirian yang dimaksud bukanlah membenci manusia atau meninggalkan kewajiban bermasyarakat. Seorang mukmin tetap menghadiri shalat berjamaah, menuntut ilmu, berdakwah, bersilaturahmi, mendidik keluarga, dan memberikan manfaat kepada orang lain.Namun, hati juga membutuhkan saat ketika ia lepas dari kebisingan dunia dan benar-benar menghadap Allah.Ada saatnya kita bersama manusia untuk memberi manfaat. Ada saatnya kita menyendiri untuk memperbaiki hati. Ibnu Taimiyyah menikmati waktu menyendiriIbnul Qayyim menceritakan dari Taqiyuddin bin Syuqair bahwa suatu hari ia mengikuti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah. Ketika beliau telah sampai ke tempat terbuka dan jauh dari manusia, terdengar beliau melantunkan syair,وَأَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الْبُيُوتِ لَعَلَّنِي أُحَدِّثُ عَنْكَ الْقَلْبَ بِالسِّرِّ خَالِيًا“Aku keluar meninggalkan rumah-rumah, dengan harapan aku dapat berbicara tentang-Mu kepada hatiku dalam kesendirian.”Kemudian Ibnul Qayyim berkata,فَخَلْوَةُ الْمُحِبِّ بِمَحْبُوبِهِ هِيَ غَايَةُ أُمْنِيَّتِهِ، فَإِنْ ظَفِرَ بِهَا؛ وَإِلَّا خَلَا بِهِ فِي سِرِّهِ.“Kesendirian seorang pecinta bersama yang dicintainya adalah puncak harapannya. Jika ia mendapat kesempatan tersebut, itulah yang ia inginkan. Jika tidak, ia menyendiri bersamanya di dalam rahasia hatinya.”Orang yang belajar menikmati kesendirian bersama Allah tidak akan terlalu takut ketika suatu hari harus sendirian bersama kebenaran. Islam akan kembali terasa asingDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ.“Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana awal mulanya. Maka, beruntunglah orang-orang yang terasing.” (HR. Muslim, no. 145)Baca juga: Siapakah yang Terasing dari Umat Islam yang Banyak?Hadis ini sahih. Islamweb menjelaskan bahwa Islam pada awalnya hanya diikuti sejumlah kecil manusia, kemudian tersebar dan kuat. Kelak dapat terjadi suatu keadaan ketika orang yang benar-benar memegang ajarannya kembali menjadi sedikit.Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah menjelaskan maknanya,أَنَّ الْإِسْلَامَ بَدَأَ فِي آحَادٍ مِنَ النَّاسِ وَقِلَّةٍ، ثُمَّ انْتَشَرَ وَظَهَرَ، ثُمَّ سَيَلْحَقُهُ النَّقْصُ وَالْإِخْلَالُ، حَتَّى لَا يَبْقَى إِلَّا فِي آحَادٍ وَقِلَّةٍ أَيْضًا كَمَا بَدَأَ.“Islam pada mulanya berada pada segelintir manusia dan jumlah yang sedikit. Kemudian Islam menyebar dan tampak. Setelah itu akan datang kekurangan dalam pengamalannya hingga kembali hanya dipegang oleh segelintir manusia sebagaimana awal mulanya.”Yang dimaksud asing bukanlah sengaja membuat diri berbeda agar diperhatikan.Keterasingan yang terpuji adalah ketika seseorang menjadi berbeda karena berpegang pada kebenaran. Siapakah orang-orang yang terasing?Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa orang-orang terasing adalah mereka yang tetap baik ketika manusia banyak yang rusak.Di antara riwayat yang disebutkan,الَّذِينَ يَصْلُحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ.“Mereka adalah orang-orang yang tetap melakukan perbaikan ketika manusia telah rusak.”Dalam riwayat lain disebutkan,أُنَاسٌ صَالِحُونَ فِي أُنَاسِ سَوْءٍ كَثِيرٍ، مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ.“Mereka adalah orang-orang shalih yang berada di tengah banyaknya manusia yang buruk. Orang yang tidak mengikuti mereka lebih banyak daripada yang mengikuti mereka.”Islamweb menyebut hadis ini sebagai kabar gembira bagi orang-orang yang tetap berpegang teguh pada Islam pada masa keterasingan agama.Karena itu, orang asing bukan sekadar orang yang berbeda.Ia tetap jujur ketika dusta dianggap biasa.Ia menjaga shalat ketika kesibukan membuat manusia meremehkannya.Ia menjaga transaksi halal ketika riba dianggap lumrah.Ia menjaga pandangan ketika kemaksiatan dapat dilihat hanya melalui layar di tangan.Ia menjaga aurat ketika mempertontonkan tubuh dianggap kebebasan.Ia mengikuti Sunnah ketika Sunnah dianggap aneh.Baca juga: Berbahagialah Orang yang TerasingJangan takut sedikit teman di jalan kebenaranIbnul Qayyim rahimahullah menukil perkataan sebagian salaf,عَلَيْكَ بِطَرِيقِ الْحَقِّ، وَلَا تَسْتَوْحِشْ لِقِلَّةِ السَّالِكِينَ، وَإِيَّاكَ وَطَرِيقَ الْبَاطِلِ، وَلَا تَغْتَرَّ بِكَثْرَةِ الْهَالِكِينَ.“Tempuhlah jalan kebenaran dan jangan merasa kesepian karena sedikitnya orang yang menempuhnya. Jauhilah jalan kebatilan dan jangan tertipu karena banyaknya orang yang berjalan menuju kebinasaan.”Kemudian Ibnul Qayyim mengatakan,وَكُلَّمَا اسْتَوْحَشْتَ فِي تَفَرُّدِكَ فَانْظُرْ إِلَى الرَّفِيقِ السَّابِقِ، وَاحْرِصْ عَلَى اللَّحَاقِ بِهِمْ، وَغُضَّ الطَّرْفَ عَمَّنْ سِوَاهُمْ.“Setiap kali engkau merasa sepi karena sendirian, lihatlah para pendahulu yang telah menempuh jalan tersebut. Berusahalah menyusul mereka dan jangan sibukkan pandanganmu dengan selain mereka.” (Madarij As-Salikin, 1:46).Allah Ta‘ala berfirman,وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ.“Jika engkau mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An‘am: 116)Kebenaran tidak berubah menjadi salah hanya karena sedikit yang mengikutinya. Kebatilan pun tidak berubah menjadi benar hanya karena banyak pendukungnya.Berpegang pada agama seperti menggenggam bara apiRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ، الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ.“Akan datang suatu masa kepada manusia, orang yang bersabar mempertahankan agamanya pada masa tersebut seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2260; dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani)Islamweb menjelaskan bahwa keadaan ini terjadi karena semakin banyaknya kerusakan, fitnah, serta berbagai godaan, sementara orang yang membantu seseorang untuk tetap berada dalam ketaatan semakin sedikit. Karena itulah, memegang agama dan mengikuti Sunnah ketika itu terasa seperti menggenggam bara atau duri.Mengapa diibaratkan bara?Karena bara terasa panas.Tangan secara naluri ingin segera melepaskannya.Begitu pula seseorang yang berada dalam lingkungan penuh fitnah. Ia terus mendapat tekanan agar sedikit demi sedikit melepaskan prinsip agamanya.Hari ini mungkin diminta melonggarkan hijab.Besok mulai meremehkan batas pergaulan.Kemudian mulai meninggalkan shalat karena pekerjaan.Lalu transaksi haram dianggap tidak masalah karena semua orang melakukannya.Jangan melepaskan agama hanya karena menggenggamnya terasa berat.Yang sedang dipertahankan bukan sekadar kebiasaan. Yang dipertahankan adalah keselamatan agama dan akhirat.Orang yang beramal pada masa penuh fitnah mendapat pahala besar“Sesungguhnya setelah kalian akan datang hari-hari yang membutuhkan kesabaran. Bersabar pada masa itu seperti menggenggam bara api. Orang yang beramal pada masa tersebut akan mendapatkan pahala seperti pahala lima puluh orang.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, pahala lima puluh orang dari mereka atau lima puluh orang dari kami?”Beliau menjawab, “Pahala lima puluh orang dari kalian.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu‘jam Al-Kabir, no. 10394, dan lafaz di atas adalah lafaz beliau. Diriwayatkan pula oleh Al-Bazzar dalam Al-Bahr Az-Zakhkhar, no. 1776, dengan lafaz yang semakna).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada kita bahwa pada akhir zaman agama akan semakin sedikit dipegang teguh oleh manusia. Beliau juga mengabarkan besarnya pahala bagi orang yang tetap berpegang teguh pada agamanya pada masa-masa tersebut. Hal ini merupakan dorongan agar kita bersabar sembari mengharapkan pahala dari Allah.Dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ“Sesungguhnya setelah kalian ….”Maksudnya adalah masa-masa yang akan datang setelah kalian, atau berbagai keadaan berat yang akan terjadi sepeninggal kalian.Beliau bersabda,زَمَانَ صَبْرٍ“Suatu masa yang membutuhkan kesabaran.”Maksudnya adalah hari-hari ketika tidak ada jalan untuk dapat bertahan kecuali dengan kesabaran. Bisa pula bermakna hari-hari ketika kesabaran sangat terpuji.Yang dimaksud dengan masa tersebut adalah masa ketika berbagai fitnah merajalela dan kekuatan kaum muslimin melemah.Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لِلْمُتَمَسِّكِ فِيهِ“Bagi orang yang tetap berpegang teguh pada masa tersebut.”Maksudnya adalah orang yang bersabar dalam memegang teguh agamanya dan tetap berlindung serta berpegang kokoh dengannya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda,أَجْرُ خَمْسِينَ شَهِيدًا مِنْكُمْ“Baginya pahala lima puluh orang syahid dari kalian.”Maksudnya, pahalanya dilipatgandakan hingga seperti pahala lima puluh orang yang mati syahid dari kalangan sahabat.Besarnya pahala tersebut disebabkan begitu beratnya ujian pada masa itu. Seorang muslim yang tetap teguh memegang agamanya menghadapi keadaan yang begitu sulit hingga diibaratkan seperti orang yang menggenggam bara api.Besarnya pahala ini menunjukkan besarnya tantangan dalam mempertahankan agama. Namun, ini tidak berarti generasi setelah sahabat lebih utama daripada para sahabat secara mutlak.Penjelasan hadits di atas dari dorar.net.Keterasingan yang terpuji adalah asing karena SunnahIbnul Qayyim rahimahullah menerangkan bahwa di antara sifat orang-orang terasing adalah,وَمِنْ صِفَاتِ هَؤُلَاءِ الْغُرَبَاءِ الَّذِينَ غَبَطَهُمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: التَّمَسُّكُ بِالسُّنَّةِ إِذَا رَغِبَ عَنْهَا النَّاسُ، وَتَرْكُ مَا أَحْدَثُوهُ، وَإِنْ كَانَ هُوَ الْمَعْرُوفَ عِنْدَهُمْ.“Di antara sifat orang-orang terasing yang dipuji oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tetap berpegang kepada Sunnah ketika manusia meninggalkannya dan meninggalkan perkara-perkara baru yang mereka ada-adakan, sekalipun perkara tersebut telah dianggap lumrah oleh mereka.”Ibnul Qayyim kemudian menjelaskan keadaan orang-orang terasing,فَهَؤُلَاءِ هُمُ الْغُرَبَاءُ الْمَمْدُوحُونَ الْمَغْبُوطُونَ.“Mereka itulah orang-orang terasing yang dipuji dan pantas mendapatkan kabar gembira.”Beliau menjelaskan bahwa orang Islam dapat terasa asing di tengah manusia, orang beriman terasa asing di tengah kaum muslimin, ahli ilmu terasa asing di tengah kaum beriman, dan orang yang benar-benar menjaga Sunnah dapat semakin terasa asing.Maka, jangan salah memahami keterasingan.Tidak setiap orang yang berbeda berarti berada di atas kebenaran.Ukuran kita tetap Al-Qur’an dan Sunnah, bukan sekadar berbeda dengan kebanyakan manusia.Muslimah juga dapat merasakan keterasinganKeterasingan agama sangat mungkin dirasakan seorang muslimah pada zaman sekarang.Ia ingin memperbaiki hijab, lalu dikatakan terlalu tertutup.Ia berusaha tidak tabarruj, tetapi lingkungan menganggap penampilan harus selalu menarik perhatian.Ia menjaga pergaulan dengan lawan jenis, lalu dianggap tidak luwes.Ia tidak ingin mempertontonkan kecantikannya di media sosial, tetapi justru dianggap kurang percaya diri.Ia memilih tidak mengikuti tren tertentu karena pertimbangan agama, lalu disebut ketinggalan zaman.Di sinilah seorang muslimah membutuhkan kekuatan hati.Hijab bukan sekadar budaya, tetapi ketaatanAllah Ta‘ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ.“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan perempuan-perempuan kaum mukminin agar mereka mengulurkan jilbab mereka.” (QS. Al-Ahzab: 59)Allah Ta‘ala juga berfirman,وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ.“Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung mereka ke dada mereka.” (QS. An-Nur: 31)Karena itu, hijab bukan sekadar identitas sosial.Hijab adalah ibadah.Ketika seorang muslimah menanamkan dalam hatinya, “Aku berhijab karena ingin menaati Allah,”maka komentar manusia akan menjadi lebih ringan.Sebaliknya, jika hijab hanya dibangun karena lingkungan, ketika lingkungan berubah, mudah sekali seseorang ikut berubah.Cara teguh di tengah keterasinganPertama: Jadikan wahyu sebagai standar, bukan trenAllah Ta‘ala berfirman,وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ.“Tidak pantas bagi laki-laki mukmin dan perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara, masih ada pilihan lain bagi mereka dalam urusan tersebut.” (QS. Al-Ahzab: 36)Tren berubah.Standar manusia berubah.Apa yang hari ini dianggap indah, beberapa tahun kemudian dapat dianggap usang.Namun, ketentuan Allah tidak mengikuti tren.Jangan mengukur syariat dengan tren. Ukurlah tren dengan syariat. Kedua: Jangan menunggu semua orang mendukung untuk mulai taatKetaatan tidak harus dimulai bersama-sama.Jangan menunggu,“Nanti kalau teman saya sudah berhijab, saya ikut.”“Nanti kalau sudah menikah, saya akan memperbaiki pakaian.”“Nanti kalau lingkungan kerja mendukung, saya akan berubah.”Boleh jadi salah satu bentuk ujian adalah Allah ingin melihat apakah kita tetap memilih-Nya ketika pilihan tersebut belum mendapatkan tepuk tangan manusia.Tidak mengapa memulai ketaatan sendirian selama kita berjalan bersama dalil.Ketiga: Cari teman yang menguatkan agamaAllah Ta‘ala berfirman,وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ.“Bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Rabb mereka pada pagi dan petang dengan mengharap wajah-Nya.” (QS. Al-Kahfi: 28)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ.“Seseorang berada di atas agama sahabat dekatnya. Karena itu, hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan siapa yang dijadikan sahabat dekat.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi)Teman shalih tidak memberikan hidayah, tetapi ia dapat menjadi sebab kita lebih mudah menjaga hidayah.Carilah teman yang tidak hanya memuji penampilan kita, tetapi berani mengingatkan agama kita.Carilah teman yang bahagia ketika hijab kita semakin baik.Carilah teman yang mengajak ke majelis ilmu.Carilah teman yang ketika kita hampir melemah berkata,“Jangan menyerah. Kita ingin sampai ke surga bersama.”Keempat: Jaga juga lingkungan digitalTeman hari ini bukan hanya orang yang duduk di samping kita.Akun yang setiap hari kita lihat juga dapat membentuk cara berpikir.Jika setiap hari seseorang melihat konten yang mempertontonkan kecantikan, gaya hidup berlebihan, kebebasan tanpa batas, atau standar tubuh yang tidak realistis, sedikit demi sedikit hatinya dapat berubah.Ia mulai mempertanyakan hijabnya.Ia mulai merasa pakaiannya kurang menarik.Ia mulai membutuhkan validasi dari pandangan manusia.Karena itu, salah satu bentuk menjaga iman adalah berani menekan tombol unfollow terhadap sesuatu yang terus-menerus melemahkan hati.Tidak semua yang menarik mata baik untuk hati.Kelima: Jangan merasa rendah karena menjaga diriDunia sering mengajarkan bahwa kecantikan perlu ditampakkan agar mendapatkan pengakuan.Syariat justru mengajarkan bahwa tidak semua keindahan harus diperlihatkan.Allah Ta‘ala berfirman,وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا.“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa tampak darinya.” (QS. An-Nur: 31)Muslimah tidak kehilangan harga dirinya hanya karena tidak menjadi pusat perhatian.Nilai seorang perempuan bukan ditentukan oleh banyaknya mata yang memandangnya, tetapi oleh kedudukannya di sisi Allah.Keenam: Perbanyak ilmuOrang yang hanya mengikuti aturan tanpa memahami dalilnya lebih mudah goyah ketika ditanya.Sedangkan orang yang mengetahui mengapa Allah memerintahkan sesuatu akan lebih kokoh.Karena itu, pelajari tauhid.Pelajari fikih ibadah.Pelajari hukum hijab.Pelajari batas pergaulan.Pelajari bagaimana para sahabat dan salaf menjaga agama mereka.Ilmu menjadikan ketaatan bukan sekadar kebiasaan, tetapi keyakinan.Ketujuh: Miliki ibadah rahasiaDi antara cara paling kuat menjaga istiqamah adalah memiliki hubungan dengan Allah yang tidak diketahui manusia.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut salah satu dari tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah,وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ.“Dan seseorang yang mengingat Allah ketika sendirian, lalu kedua matanya berlinang.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ada orang yang terlihat kuat di hadapan manusia karena ia memiliki tangisan yang tidak pernah manusia lihat.Ada orang yang sanggup menghadapi berbagai komentar karena pada malam hari ia telah mengadukan semuanya kepada Allah.Kekuatan di hadapan manusia sering kali dibangun dari sujud yang tidak diketahui manusia.Bentuk kesendirian bersama Allah1. Shalat malamRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، فَيَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، وَمَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ.“Rabb kita Tabaraka wa Ta‘ala turun ke langit dunia setiap malam ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, Aku akan mengabulkannya. Siapa yang meminta kepada-Ku, Aku akan memberinya. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, Aku akan mengampuninya.’” (HR. Bukhari dan Muslim)Saat manusia tidur, seorang mukmin bangun.Tidak ada tepuk tangan.Tidak ada kamera.Tidak ada komentar.Hanya seorang hamba dengan Rabbnya.2. Membaca Al-Qur’an dalam kesunyian sambil tadabburCarilah waktu tanpa gangguan.Baca ayat Allah perlahan.Renungkan.Bukan hanya mengejar berapa halaman yang selesai, tetapi biarkan Al-Qur’an berbicara kepada hati.3. Berdzikir dan beristighfarAda dzikir yang dibaca bersama manusia.Namun, ada pula kenikmatan ketika lidah mengingat Allah sementara tidak ada seorang pun yang mengetahui.Inilah salah satu bentuk hubungan rahasia seorang hamba dengan Rabbnya.4. BerdoaKesendirian adalah waktu yang sangat baik untuk mengadukan kelemahan.Kita boleh terlihat kuat di depan manusia.Namun, di hadapan Allah kita dapat berkata bahwa kita lemah.Kita dapat mengadu tentang beratnya menjaga agama.Tentang komentar manusia.Tentang hati yang mudah berubah.Tentang kekhawatiran menghadapi fitnah zaman.5. I‘tikaf dan mengurangi kesibukan duniaIslam juga mengenal i‘tikaf, yaitu memberikan waktu khusus untuk beribadah kepada Allah dengan menetap di masjid.Ini mengajarkan bahwa hati terkadang membutuhkan jarak sementara dari berbagai kesibukan agar dapat kembali fokus kepada Allah.Namun, kesendirian bukan tujuan mutlak. Islam tetap mendorong seorang mukmin memberikan manfaat kepada manusia.Kesendirian bukan berarti membenci manusiaAda dua kesalahan yang perlu dihindari.Pertama, terlalu tenggelam dalam keramaian sampai tidak memiliki waktu bersama Allah.Kedua, memakai alasan “ingin dekat dengan Allah” untuk meninggalkan kewajiban kepada keluarga dan masyarakat.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dekat kepada Allah, tetapi beliau berdakwah, mengajar, menerima tamu, memimpin umat, mengurus keluarga, berjihad, dan berinteraksi dengan manusia.Baca juga: Benarkah Banyak Bergaul dan Bermedsos, Makin Banyak Dosa?Maka, keseimbangannya adalah:Bersama manusia ketika ada maslahat, menyendiri ketika hati membutuhkan perbaikan.Ketika terasa asing, lihatlah siapa teman seperjalanan kitaIbnul Qayyim menjelaskan bahwa Allah menyebut para pendahulu yang berjalan di atas jalan lurus agar orang beriman tidak merasa benar-benar sendirian.Allah Ta‘ala berfirman,وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا.“Barang siapa menaati Allah dan Rasul, mereka akan bersama orang-orang yang telah Allah beri nikmat, yaitu para nabi, orang-orang yang sangat membenarkan, para syuhada, dan orang-orang shalih. Mereka itulah sebaik-baik teman.” (QS. An-Nisa’: 69)Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa Allah menyebut teman-teman perjalanan ini agar orang yang menempuh jalan hidayah tidak terlalu merasakan kesendirian ketika berbeda dengan manusia pada zamannya.Jika hari ini kita merasa asing karena taat, ingatlah:Jalan ini pernah ditempuh para nabi.Jalan ini pernah ditempuh para sahabat.Jalan ini pernah ditempuh orang-orang shalih.Kita mungkin sedikit pada suatu tempat dan suatu masa.Namun, kita tidak sendirian dalam sejarah panjang orang-orang yang berjalan menuju Allah.Baca juga: Tips Bergaul Jangan merasa aman dengan hati kitaIstiqamah bukan kemampuan pribadi.Orang yang hari ini taat bisa berubah.Orang yang hari ini menjaga hijab bisa melepasnya.Orang yang hari ini rajin shalat bisa meninggalkannya.Karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak berdoa,يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.Yā Muqallibal-qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik.“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. At-Tirmidzi)Jangan hanya mengatakan,“Alhamdulillah, saya sudah istiqamah.”Lebih baik katakan,“Ya Allah, jangan biarkan hati ini berubah setelah Engkau memberi petunjuk.”Baca juga: Ini Ceritanya, Kenapa Nabi Terus Berdoa Meminta IstiqamahKesimpulan: Beruntunglah orang-orang yang terasingTidak semua kesendirian adalah kesepian.Tidak semua keterasingan adalah kehinaan.Boleh jadi seseorang sendirian secara fisik, tetapi hatinya dipenuhi kedekatan kepada Allah.Boleh jadi seseorang dianggap asing oleh manusia karena menjaga hijab, Sunnah, shalat, kehormatan, dan prinsip agamanya, tetapi justru ia sedang berjalan bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shalih.Karena itu, jangan sengaja mencari keterasingan. Namun, jangan pula meninggalkan kebenaran hanya agar diterima oleh manusia.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan kabar gembira,فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ.“Maka, beruntunglah orang-orang yang terasing.”Nasihat terakhirZaman boleh berubah, tetapi jangan biarkan perubahan zaman mengubah prinsip agama kita. Media sosial boleh membuat maksiat tampak normal dan ketaatan terasa asing, tetapi ukuran keselamatan tetaplah wahyu Allah. Muslimah jangan merasa rendah ketika menjaga hijab dan kehormatannya, dan setiap muslim jangan takut dianggap berbeda ketika berusaha mengikuti Sunnah. Jika jalan kebenaran terasa sepi, dekatkanlah diri kepada Allah karena orang yang memiliki Allah sebagai penolong tidak pernah benar-benar sendirian.Mari memohon,يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَأَعِنَّا عَلَى طَاعَتِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْغُرَبَاءِ الَّذِينَ يَصْلُحُونَ عِنْدَ فَسَادِ النَّاسِ، وَتَوَفَّنَا وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا.Yā Muqallibal-qulūb, tsabbit qulūbanā ‘alā dīnik, wa a‘innā ‘alā thā‘atik, waj‘alnā minal-ghurabā’ alladzīna yashluhūna ‘inda fasādin-nās, wa tawaffanā wa anta rāḍin ‘annā.“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu. Bantulah kami untuk selalu taat kepada-Mu. Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang tetap memperbaiki diri dan keadaan ketika manusia banyak yang rusak. Wafatkanlah kami dalam keadaan Engkau meridhai kami.”Aamiin.ReferensiShahih Muslim, hadis no. 145 tentang Islam bermula dalam keadaan asing. Islamweb menegaskan kesahihan hadis dan menjelaskan maknanya.Islamweb, Al-Ghuraba’ Al-Mamdūhūn Al-Maghbūthūn, tentang ciri dan keutamaan orang-orang terasing.Islamweb, Ka Al-Qābidh ‘ala Al-Jamr, penjelasan hadis orang yang mempertahankan agama seperti menggenggam bara.Ibnul Qayyim, Raudhah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin, hlm. 393–394, tentang mencintai kesendirian bersama Allah.Ibnul Qayyim, Madarij As-Salikin, tentang tidak merasa sepi karena sedikitnya orang yang menempuh jalan kebenaran.Islamweb, pembahasan ghurbah dan keteguhan mengikuti Sunnah ketika sedikit pengikutnya. —- @ Jogja, 12 Rabiul Awal 1448 H, 25 Agustus 2026Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfitnah akhir zaman ghuraba hidup terasing hijab muslimah ibnul qayyim istiqamah memegang bara api menjaga agama sunnah nabi teman shalih
Tidak semua keterasingan adalah kesepian; terkadang seseorang justru menjadi asing karena memilih tetap taat ketika banyak manusia meninggalkan ketaatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang tetap teguh ketika Islam kembali terasa asing. Lalu bagaimana agar hati tetap kuat ketika menjalankan syariat terasa seperti menggenggam bara api, terutama bagi muslimah yang berusaha menjaga hijab dan kehormatannya?  Daftar Isi tutup 1. Mencintai kesendirian bersama Allah 2. Ibnu Taimiyyah menikmati waktu menyendiri 3. Islam akan kembali terasa asing 4. Siapakah orang-orang yang terasing? 5. Jangan takut sedikit teman di jalan kebenaran 6. Berpegang pada agama seperti menggenggam bara api 7. Orang yang beramal pada masa penuh fitnah mendapat pahala besar 8. Keterasingan yang terpuji adalah asing karena Sunnah 9. Muslimah juga dapat merasakan keterasingan 10. Hijab bukan sekadar budaya, tetapi ketaatan 11. Cara teguh di tengah keterasingan 11.1. Pertama: Jadikan wahyu sebagai standar, bukan tren 11.2. Kedua: Jangan menunggu semua orang mendukung untuk mulai taat 11.3. Ketiga: Cari teman yang menguatkan agama 11.4. Keempat: Jaga juga lingkungan digital 11.5. Kelima: Jangan merasa rendah karena menjaga diri 11.6. Keenam: Perbanyak ilmu 11.7. Ketujuh: Miliki ibadah rahasia 12. Bentuk kesendirian bersama Allah 12.1. 1. Shalat malam 12.2. 2. Membaca Al-Qur’an dalam kesunyian sambil tadabbur 12.3. 3. Berdzikir dan beristighfar 12.4. 4. Berdoa 12.5. 5. I‘tikaf dan mengurangi kesibukan dunia 13. Kesendirian bukan berarti membenci manusia 14. Ketika terasa asing, lihatlah siapa teman seperjalanan kita 15. Baca juga: Tips Bergaul 15.1. Jangan merasa aman dengan hati kita 15.2. Kesimpulan: Beruntunglah orang-orang yang terasing 15.3. Nasihat terakhir 15.4. Referensi  Mencintai kesendirian bersama AllahIbnul Qayyim rahimahullah berkata,وَمِنْهَا: حُبُّ الْوَحْدَةِ، وَالْأُنْسُ بِالْخَلْوَةِ، وَالتَّفَرُّدُ عَنِ النَّاسِ، وَكَأَنَّ الْمَحَبَّةَ قَدْ ثَبَتَتْ عَلَى ذَلِكَ، فَلَا شَيْءَ أَحْلَى لِلْمُحِبِّ الصَّادِقِ مِنْ خَلْوَتِهِ، وَتَفَرُّدِهِ، فَإِنَّهُ إِنْ ظَفِرَ بِمَحْبُوبِهِ أَحَبَّ خَلْوَتَهُ بِهِ، وَكَرِهَ مَنْ يَدْخُلُ بَيْنَهُمَا غَايَةَ الْكَرَاهَةِ.“Di antara tanda cinta adalah mencintai kesendirian, merasa nyaman dalam kesunyian, dan menikmati saat menjauh sejenak dari manusia. Seolah-olah cinta itu sendiri membuat hatinya demikian. Tidak ada sesuatu yang lebih manis bagi seorang pecinta sejati daripada saat ia menyendiri bersama yang dicintainya. Jika ia dapat bersama kekasihnya, ia mencintai kesempatan berdua tersebut dan sangat tidak menyukai sesuatu yang mengganggu kebersamaan itu.”Ibnul Qayyim kemudian menjelaskan,وَلِهَذَا السِّرِّ ـ وَاللَّهُ أَعْلَمُ ـ أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَدِّ الْمَارِّ بَيْنَ يَدَيِ الْمُصَلِّي حَتَّى أَمَرَ بِقِتَالِهِ، وَأَخْبَرَ أَنَّهُ لَوْ يَدْرِي مَا عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ؛ لَكَانَ وُقُوفُهُ أَرْبَعِينَ خَيْرًا لَهُ مِنْ مُرُورِهِ بَيْنَ يَدَيْهِ.“Karena rahasia inilah—dan Allah lebih mengetahui—Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar orang yang hendak melintas di depan orang yang sedang shalat dicegah. Beliau juga mengabarkan bahwa seandainya orang yang melintas mengetahui besarnya dosa perbuatannya, berdiri menunggu selama empat puluh lebih baik baginya daripada melintas di hadapan orang yang sedang shalat.”Kemudian beliau berkata,وَلَا يَجِدُ أَلَمَ الْمُرُورِ وَشِدَّتَهُ إِلَّا قَلْبٌ حَاضِرٌ بَيْنَ يَدَيْ مَحْبُوبِهِ، مُقْبِلٌ عَلَيْهِ، قَدِ ارْتَفَعَتِ الْأَغْيَارُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ، فَمُرُورُ الْمَارِّ بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ بِمَنْزِلَةِ دُخُولِ الْبَغِيضِ بَيْنَ الْمُحِبِّ وَمَحْبُوبِهِ.“Hanya hati yang benar-benar hadir di hadapan Allah, menghadap kepada-Nya, dan tidak tersibukkan oleh selain-Nya yang dapat merasakan beratnya gangguan tersebut. Orang yang melintas di antara dirinya dan Rabbnya bagaikan seseorang yang tidak disukai masuk mengganggu antara seorang pecinta dan yang dicintainya.”Ibnul Qayyim kemudian mengatakan,وَأَيْضًا فَإِنَّ الْمُحِبَّ يَسْتَأْنِسُ بِذِكْرِ مَحْبُوبِهِ، وَكَوْنِهِ فِي قَلْبِهِ لَا يُفَارِقُهُ، فَهُوَ أَنِيسُهُ، وَجَلِيسُهُ، لَا يَسْتَأْنِسُ بِسِوَاهُ، فَهُوَ مُسْتَوْحِشٌ مِمَّنْ يَشْغَلُهُ عَنْهُ.“Seorang pecinta merasakan ketenteraman ketika mengingat yang dicintainya. Ingatan itu selalu hadir di hatinya. Ia menjadi teman dekatnya. Karena itu, ia merasa tidak nyaman terhadap segala sesuatu yang membuat hatinya teralihkan dari yang dicintainya.” (Raudhah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin, hlm. 393–394).Kesendirian yang dimaksud bukanlah membenci manusia atau meninggalkan kewajiban bermasyarakat. Seorang mukmin tetap menghadiri shalat berjamaah, menuntut ilmu, berdakwah, bersilaturahmi, mendidik keluarga, dan memberikan manfaat kepada orang lain.Namun, hati juga membutuhkan saat ketika ia lepas dari kebisingan dunia dan benar-benar menghadap Allah.Ada saatnya kita bersama manusia untuk memberi manfaat. Ada saatnya kita menyendiri untuk memperbaiki hati. Ibnu Taimiyyah menikmati waktu menyendiriIbnul Qayyim menceritakan dari Taqiyuddin bin Syuqair bahwa suatu hari ia mengikuti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah. Ketika beliau telah sampai ke tempat terbuka dan jauh dari manusia, terdengar beliau melantunkan syair,وَأَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الْبُيُوتِ لَعَلَّنِي أُحَدِّثُ عَنْكَ الْقَلْبَ بِالسِّرِّ خَالِيًا“Aku keluar meninggalkan rumah-rumah, dengan harapan aku dapat berbicara tentang-Mu kepada hatiku dalam kesendirian.”Kemudian Ibnul Qayyim berkata,فَخَلْوَةُ الْمُحِبِّ بِمَحْبُوبِهِ هِيَ غَايَةُ أُمْنِيَّتِهِ، فَإِنْ ظَفِرَ بِهَا؛ وَإِلَّا خَلَا بِهِ فِي سِرِّهِ.“Kesendirian seorang pecinta bersama yang dicintainya adalah puncak harapannya. Jika ia mendapat kesempatan tersebut, itulah yang ia inginkan. Jika tidak, ia menyendiri bersamanya di dalam rahasia hatinya.”Orang yang belajar menikmati kesendirian bersama Allah tidak akan terlalu takut ketika suatu hari harus sendirian bersama kebenaran. Islam akan kembali terasa asingDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ.“Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana awal mulanya. Maka, beruntunglah orang-orang yang terasing.” (HR. Muslim, no. 145)Baca juga: Siapakah yang Terasing dari Umat Islam yang Banyak?Hadis ini sahih. Islamweb menjelaskan bahwa Islam pada awalnya hanya diikuti sejumlah kecil manusia, kemudian tersebar dan kuat. Kelak dapat terjadi suatu keadaan ketika orang yang benar-benar memegang ajarannya kembali menjadi sedikit.Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah menjelaskan maknanya,أَنَّ الْإِسْلَامَ بَدَأَ فِي آحَادٍ مِنَ النَّاسِ وَقِلَّةٍ، ثُمَّ انْتَشَرَ وَظَهَرَ، ثُمَّ سَيَلْحَقُهُ النَّقْصُ وَالْإِخْلَالُ، حَتَّى لَا يَبْقَى إِلَّا فِي آحَادٍ وَقِلَّةٍ أَيْضًا كَمَا بَدَأَ.“Islam pada mulanya berada pada segelintir manusia dan jumlah yang sedikit. Kemudian Islam menyebar dan tampak. Setelah itu akan datang kekurangan dalam pengamalannya hingga kembali hanya dipegang oleh segelintir manusia sebagaimana awal mulanya.”Yang dimaksud asing bukanlah sengaja membuat diri berbeda agar diperhatikan.Keterasingan yang terpuji adalah ketika seseorang menjadi berbeda karena berpegang pada kebenaran. Siapakah orang-orang yang terasing?Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa orang-orang terasing adalah mereka yang tetap baik ketika manusia banyak yang rusak.Di antara riwayat yang disebutkan,الَّذِينَ يَصْلُحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ.“Mereka adalah orang-orang yang tetap melakukan perbaikan ketika manusia telah rusak.”Dalam riwayat lain disebutkan,أُنَاسٌ صَالِحُونَ فِي أُنَاسِ سَوْءٍ كَثِيرٍ، مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ.“Mereka adalah orang-orang shalih yang berada di tengah banyaknya manusia yang buruk. Orang yang tidak mengikuti mereka lebih banyak daripada yang mengikuti mereka.”Islamweb menyebut hadis ini sebagai kabar gembira bagi orang-orang yang tetap berpegang teguh pada Islam pada masa keterasingan agama.Karena itu, orang asing bukan sekadar orang yang berbeda.Ia tetap jujur ketika dusta dianggap biasa.Ia menjaga shalat ketika kesibukan membuat manusia meremehkannya.Ia menjaga transaksi halal ketika riba dianggap lumrah.Ia menjaga pandangan ketika kemaksiatan dapat dilihat hanya melalui layar di tangan.Ia menjaga aurat ketika mempertontonkan tubuh dianggap kebebasan.Ia mengikuti Sunnah ketika Sunnah dianggap aneh.Baca juga: Berbahagialah Orang yang TerasingJangan takut sedikit teman di jalan kebenaranIbnul Qayyim rahimahullah menukil perkataan sebagian salaf,عَلَيْكَ بِطَرِيقِ الْحَقِّ، وَلَا تَسْتَوْحِشْ لِقِلَّةِ السَّالِكِينَ، وَإِيَّاكَ وَطَرِيقَ الْبَاطِلِ، وَلَا تَغْتَرَّ بِكَثْرَةِ الْهَالِكِينَ.“Tempuhlah jalan kebenaran dan jangan merasa kesepian karena sedikitnya orang yang menempuhnya. Jauhilah jalan kebatilan dan jangan tertipu karena banyaknya orang yang berjalan menuju kebinasaan.”Kemudian Ibnul Qayyim mengatakan,وَكُلَّمَا اسْتَوْحَشْتَ فِي تَفَرُّدِكَ فَانْظُرْ إِلَى الرَّفِيقِ السَّابِقِ، وَاحْرِصْ عَلَى اللَّحَاقِ بِهِمْ، وَغُضَّ الطَّرْفَ عَمَّنْ سِوَاهُمْ.“Setiap kali engkau merasa sepi karena sendirian, lihatlah para pendahulu yang telah menempuh jalan tersebut. Berusahalah menyusul mereka dan jangan sibukkan pandanganmu dengan selain mereka.” (Madarij As-Salikin, 1:46).Allah Ta‘ala berfirman,وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ.“Jika engkau mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An‘am: 116)Kebenaran tidak berubah menjadi salah hanya karena sedikit yang mengikutinya. Kebatilan pun tidak berubah menjadi benar hanya karena banyak pendukungnya.Berpegang pada agama seperti menggenggam bara apiRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ، الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ.“Akan datang suatu masa kepada manusia, orang yang bersabar mempertahankan agamanya pada masa tersebut seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2260; dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani)Islamweb menjelaskan bahwa keadaan ini terjadi karena semakin banyaknya kerusakan, fitnah, serta berbagai godaan, sementara orang yang membantu seseorang untuk tetap berada dalam ketaatan semakin sedikit. Karena itulah, memegang agama dan mengikuti Sunnah ketika itu terasa seperti menggenggam bara atau duri.Mengapa diibaratkan bara?Karena bara terasa panas.Tangan secara naluri ingin segera melepaskannya.Begitu pula seseorang yang berada dalam lingkungan penuh fitnah. Ia terus mendapat tekanan agar sedikit demi sedikit melepaskan prinsip agamanya.Hari ini mungkin diminta melonggarkan hijab.Besok mulai meremehkan batas pergaulan.Kemudian mulai meninggalkan shalat karena pekerjaan.Lalu transaksi haram dianggap tidak masalah karena semua orang melakukannya.Jangan melepaskan agama hanya karena menggenggamnya terasa berat.Yang sedang dipertahankan bukan sekadar kebiasaan. Yang dipertahankan adalah keselamatan agama dan akhirat.Orang yang beramal pada masa penuh fitnah mendapat pahala besar“Sesungguhnya setelah kalian akan datang hari-hari yang membutuhkan kesabaran. Bersabar pada masa itu seperti menggenggam bara api. Orang yang beramal pada masa tersebut akan mendapatkan pahala seperti pahala lima puluh orang.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, pahala lima puluh orang dari mereka atau lima puluh orang dari kami?”Beliau menjawab, “Pahala lima puluh orang dari kalian.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu‘jam Al-Kabir, no. 10394, dan lafaz di atas adalah lafaz beliau. Diriwayatkan pula oleh Al-Bazzar dalam Al-Bahr Az-Zakhkhar, no. 1776, dengan lafaz yang semakna).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada kita bahwa pada akhir zaman agama akan semakin sedikit dipegang teguh oleh manusia. Beliau juga mengabarkan besarnya pahala bagi orang yang tetap berpegang teguh pada agamanya pada masa-masa tersebut. Hal ini merupakan dorongan agar kita bersabar sembari mengharapkan pahala dari Allah.Dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ“Sesungguhnya setelah kalian ….”Maksudnya adalah masa-masa yang akan datang setelah kalian, atau berbagai keadaan berat yang akan terjadi sepeninggal kalian.Beliau bersabda,زَمَانَ صَبْرٍ“Suatu masa yang membutuhkan kesabaran.”Maksudnya adalah hari-hari ketika tidak ada jalan untuk dapat bertahan kecuali dengan kesabaran. Bisa pula bermakna hari-hari ketika kesabaran sangat terpuji.Yang dimaksud dengan masa tersebut adalah masa ketika berbagai fitnah merajalela dan kekuatan kaum muslimin melemah.Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لِلْمُتَمَسِّكِ فِيهِ“Bagi orang yang tetap berpegang teguh pada masa tersebut.”Maksudnya adalah orang yang bersabar dalam memegang teguh agamanya dan tetap berlindung serta berpegang kokoh dengannya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda,أَجْرُ خَمْسِينَ شَهِيدًا مِنْكُمْ“Baginya pahala lima puluh orang syahid dari kalian.”Maksudnya, pahalanya dilipatgandakan hingga seperti pahala lima puluh orang yang mati syahid dari kalangan sahabat.Besarnya pahala tersebut disebabkan begitu beratnya ujian pada masa itu. Seorang muslim yang tetap teguh memegang agamanya menghadapi keadaan yang begitu sulit hingga diibaratkan seperti orang yang menggenggam bara api.Besarnya pahala ini menunjukkan besarnya tantangan dalam mempertahankan agama. Namun, ini tidak berarti generasi setelah sahabat lebih utama daripada para sahabat secara mutlak.Penjelasan hadits di atas dari dorar.net.Keterasingan yang terpuji adalah asing karena SunnahIbnul Qayyim rahimahullah menerangkan bahwa di antara sifat orang-orang terasing adalah,وَمِنْ صِفَاتِ هَؤُلَاءِ الْغُرَبَاءِ الَّذِينَ غَبَطَهُمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: التَّمَسُّكُ بِالسُّنَّةِ إِذَا رَغِبَ عَنْهَا النَّاسُ، وَتَرْكُ مَا أَحْدَثُوهُ، وَإِنْ كَانَ هُوَ الْمَعْرُوفَ عِنْدَهُمْ.“Di antara sifat orang-orang terasing yang dipuji oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tetap berpegang kepada Sunnah ketika manusia meninggalkannya dan meninggalkan perkara-perkara baru yang mereka ada-adakan, sekalipun perkara tersebut telah dianggap lumrah oleh mereka.”Ibnul Qayyim kemudian menjelaskan keadaan orang-orang terasing,فَهَؤُلَاءِ هُمُ الْغُرَبَاءُ الْمَمْدُوحُونَ الْمَغْبُوطُونَ.“Mereka itulah orang-orang terasing yang dipuji dan pantas mendapatkan kabar gembira.”Beliau menjelaskan bahwa orang Islam dapat terasa asing di tengah manusia, orang beriman terasa asing di tengah kaum muslimin, ahli ilmu terasa asing di tengah kaum beriman, dan orang yang benar-benar menjaga Sunnah dapat semakin terasa asing.Maka, jangan salah memahami keterasingan.Tidak setiap orang yang berbeda berarti berada di atas kebenaran.Ukuran kita tetap Al-Qur’an dan Sunnah, bukan sekadar berbeda dengan kebanyakan manusia.Muslimah juga dapat merasakan keterasinganKeterasingan agama sangat mungkin dirasakan seorang muslimah pada zaman sekarang.Ia ingin memperbaiki hijab, lalu dikatakan terlalu tertutup.Ia berusaha tidak tabarruj, tetapi lingkungan menganggap penampilan harus selalu menarik perhatian.Ia menjaga pergaulan dengan lawan jenis, lalu dianggap tidak luwes.Ia tidak ingin mempertontonkan kecantikannya di media sosial, tetapi justru dianggap kurang percaya diri.Ia memilih tidak mengikuti tren tertentu karena pertimbangan agama, lalu disebut ketinggalan zaman.Di sinilah seorang muslimah membutuhkan kekuatan hati.Hijab bukan sekadar budaya, tetapi ketaatanAllah Ta‘ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ.“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan perempuan-perempuan kaum mukminin agar mereka mengulurkan jilbab mereka.” (QS. Al-Ahzab: 59)Allah Ta‘ala juga berfirman,وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ.“Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung mereka ke dada mereka.” (QS. An-Nur: 31)Karena itu, hijab bukan sekadar identitas sosial.Hijab adalah ibadah.Ketika seorang muslimah menanamkan dalam hatinya, “Aku berhijab karena ingin menaati Allah,”maka komentar manusia akan menjadi lebih ringan.Sebaliknya, jika hijab hanya dibangun karena lingkungan, ketika lingkungan berubah, mudah sekali seseorang ikut berubah.Cara teguh di tengah keterasinganPertama: Jadikan wahyu sebagai standar, bukan trenAllah Ta‘ala berfirman,وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ.“Tidak pantas bagi laki-laki mukmin dan perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara, masih ada pilihan lain bagi mereka dalam urusan tersebut.” (QS. Al-Ahzab: 36)Tren berubah.Standar manusia berubah.Apa yang hari ini dianggap indah, beberapa tahun kemudian dapat dianggap usang.Namun, ketentuan Allah tidak mengikuti tren.Jangan mengukur syariat dengan tren. Ukurlah tren dengan syariat. Kedua: Jangan menunggu semua orang mendukung untuk mulai taatKetaatan tidak harus dimulai bersama-sama.Jangan menunggu,“Nanti kalau teman saya sudah berhijab, saya ikut.”“Nanti kalau sudah menikah, saya akan memperbaiki pakaian.”“Nanti kalau lingkungan kerja mendukung, saya akan berubah.”Boleh jadi salah satu bentuk ujian adalah Allah ingin melihat apakah kita tetap memilih-Nya ketika pilihan tersebut belum mendapatkan tepuk tangan manusia.Tidak mengapa memulai ketaatan sendirian selama kita berjalan bersama dalil.Ketiga: Cari teman yang menguatkan agamaAllah Ta‘ala berfirman,وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ.“Bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Rabb mereka pada pagi dan petang dengan mengharap wajah-Nya.” (QS. Al-Kahfi: 28)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ.“Seseorang berada di atas agama sahabat dekatnya. Karena itu, hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan siapa yang dijadikan sahabat dekat.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi)Teman shalih tidak memberikan hidayah, tetapi ia dapat menjadi sebab kita lebih mudah menjaga hidayah.Carilah teman yang tidak hanya memuji penampilan kita, tetapi berani mengingatkan agama kita.Carilah teman yang bahagia ketika hijab kita semakin baik.Carilah teman yang mengajak ke majelis ilmu.Carilah teman yang ketika kita hampir melemah berkata,“Jangan menyerah. Kita ingin sampai ke surga bersama.”Keempat: Jaga juga lingkungan digitalTeman hari ini bukan hanya orang yang duduk di samping kita.Akun yang setiap hari kita lihat juga dapat membentuk cara berpikir.Jika setiap hari seseorang melihat konten yang mempertontonkan kecantikan, gaya hidup berlebihan, kebebasan tanpa batas, atau standar tubuh yang tidak realistis, sedikit demi sedikit hatinya dapat berubah.Ia mulai mempertanyakan hijabnya.Ia mulai merasa pakaiannya kurang menarik.Ia mulai membutuhkan validasi dari pandangan manusia.Karena itu, salah satu bentuk menjaga iman adalah berani menekan tombol unfollow terhadap sesuatu yang terus-menerus melemahkan hati.Tidak semua yang menarik mata baik untuk hati.Kelima: Jangan merasa rendah karena menjaga diriDunia sering mengajarkan bahwa kecantikan perlu ditampakkan agar mendapatkan pengakuan.Syariat justru mengajarkan bahwa tidak semua keindahan harus diperlihatkan.Allah Ta‘ala berfirman,وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا.“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa tampak darinya.” (QS. An-Nur: 31)Muslimah tidak kehilangan harga dirinya hanya karena tidak menjadi pusat perhatian.Nilai seorang perempuan bukan ditentukan oleh banyaknya mata yang memandangnya, tetapi oleh kedudukannya di sisi Allah.Keenam: Perbanyak ilmuOrang yang hanya mengikuti aturan tanpa memahami dalilnya lebih mudah goyah ketika ditanya.Sedangkan orang yang mengetahui mengapa Allah memerintahkan sesuatu akan lebih kokoh.Karena itu, pelajari tauhid.Pelajari fikih ibadah.Pelajari hukum hijab.Pelajari batas pergaulan.Pelajari bagaimana para sahabat dan salaf menjaga agama mereka.Ilmu menjadikan ketaatan bukan sekadar kebiasaan, tetapi keyakinan.Ketujuh: Miliki ibadah rahasiaDi antara cara paling kuat menjaga istiqamah adalah memiliki hubungan dengan Allah yang tidak diketahui manusia.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut salah satu dari tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah,وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ.“Dan seseorang yang mengingat Allah ketika sendirian, lalu kedua matanya berlinang.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ada orang yang terlihat kuat di hadapan manusia karena ia memiliki tangisan yang tidak pernah manusia lihat.Ada orang yang sanggup menghadapi berbagai komentar karena pada malam hari ia telah mengadukan semuanya kepada Allah.Kekuatan di hadapan manusia sering kali dibangun dari sujud yang tidak diketahui manusia.Bentuk kesendirian bersama Allah1. Shalat malamRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، فَيَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، وَمَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ.“Rabb kita Tabaraka wa Ta‘ala turun ke langit dunia setiap malam ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, Aku akan mengabulkannya. Siapa yang meminta kepada-Ku, Aku akan memberinya. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, Aku akan mengampuninya.’” (HR. Bukhari dan Muslim)Saat manusia tidur, seorang mukmin bangun.Tidak ada tepuk tangan.Tidak ada kamera.Tidak ada komentar.Hanya seorang hamba dengan Rabbnya.2. Membaca Al-Qur’an dalam kesunyian sambil tadabburCarilah waktu tanpa gangguan.Baca ayat Allah perlahan.Renungkan.Bukan hanya mengejar berapa halaman yang selesai, tetapi biarkan Al-Qur’an berbicara kepada hati.3. Berdzikir dan beristighfarAda dzikir yang dibaca bersama manusia.Namun, ada pula kenikmatan ketika lidah mengingat Allah sementara tidak ada seorang pun yang mengetahui.Inilah salah satu bentuk hubungan rahasia seorang hamba dengan Rabbnya.4. BerdoaKesendirian adalah waktu yang sangat baik untuk mengadukan kelemahan.Kita boleh terlihat kuat di depan manusia.Namun, di hadapan Allah kita dapat berkata bahwa kita lemah.Kita dapat mengadu tentang beratnya menjaga agama.Tentang komentar manusia.Tentang hati yang mudah berubah.Tentang kekhawatiran menghadapi fitnah zaman.5. I‘tikaf dan mengurangi kesibukan duniaIslam juga mengenal i‘tikaf, yaitu memberikan waktu khusus untuk beribadah kepada Allah dengan menetap di masjid.Ini mengajarkan bahwa hati terkadang membutuhkan jarak sementara dari berbagai kesibukan agar dapat kembali fokus kepada Allah.Namun, kesendirian bukan tujuan mutlak. Islam tetap mendorong seorang mukmin memberikan manfaat kepada manusia.Kesendirian bukan berarti membenci manusiaAda dua kesalahan yang perlu dihindari.Pertama, terlalu tenggelam dalam keramaian sampai tidak memiliki waktu bersama Allah.Kedua, memakai alasan “ingin dekat dengan Allah” untuk meninggalkan kewajiban kepada keluarga dan masyarakat.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dekat kepada Allah, tetapi beliau berdakwah, mengajar, menerima tamu, memimpin umat, mengurus keluarga, berjihad, dan berinteraksi dengan manusia.Baca juga: Benarkah Banyak Bergaul dan Bermedsos, Makin Banyak Dosa?Maka, keseimbangannya adalah:Bersama manusia ketika ada maslahat, menyendiri ketika hati membutuhkan perbaikan.Ketika terasa asing, lihatlah siapa teman seperjalanan kitaIbnul Qayyim menjelaskan bahwa Allah menyebut para pendahulu yang berjalan di atas jalan lurus agar orang beriman tidak merasa benar-benar sendirian.Allah Ta‘ala berfirman,وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا.“Barang siapa menaati Allah dan Rasul, mereka akan bersama orang-orang yang telah Allah beri nikmat, yaitu para nabi, orang-orang yang sangat membenarkan, para syuhada, dan orang-orang shalih. Mereka itulah sebaik-baik teman.” (QS. An-Nisa’: 69)Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa Allah menyebut teman-teman perjalanan ini agar orang yang menempuh jalan hidayah tidak terlalu merasakan kesendirian ketika berbeda dengan manusia pada zamannya.Jika hari ini kita merasa asing karena taat, ingatlah:Jalan ini pernah ditempuh para nabi.Jalan ini pernah ditempuh para sahabat.Jalan ini pernah ditempuh orang-orang shalih.Kita mungkin sedikit pada suatu tempat dan suatu masa.Namun, kita tidak sendirian dalam sejarah panjang orang-orang yang berjalan menuju Allah.Baca juga: Tips Bergaul Jangan merasa aman dengan hati kitaIstiqamah bukan kemampuan pribadi.Orang yang hari ini taat bisa berubah.Orang yang hari ini menjaga hijab bisa melepasnya.Orang yang hari ini rajin shalat bisa meninggalkannya.Karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak berdoa,يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.Yā Muqallibal-qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik.“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. At-Tirmidzi)Jangan hanya mengatakan,“Alhamdulillah, saya sudah istiqamah.”Lebih baik katakan,“Ya Allah, jangan biarkan hati ini berubah setelah Engkau memberi petunjuk.”Baca juga: Ini Ceritanya, Kenapa Nabi Terus Berdoa Meminta IstiqamahKesimpulan: Beruntunglah orang-orang yang terasingTidak semua kesendirian adalah kesepian.Tidak semua keterasingan adalah kehinaan.Boleh jadi seseorang sendirian secara fisik, tetapi hatinya dipenuhi kedekatan kepada Allah.Boleh jadi seseorang dianggap asing oleh manusia karena menjaga hijab, Sunnah, shalat, kehormatan, dan prinsip agamanya, tetapi justru ia sedang berjalan bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shalih.Karena itu, jangan sengaja mencari keterasingan. Namun, jangan pula meninggalkan kebenaran hanya agar diterima oleh manusia.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan kabar gembira,فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ.“Maka, beruntunglah orang-orang yang terasing.”Nasihat terakhirZaman boleh berubah, tetapi jangan biarkan perubahan zaman mengubah prinsip agama kita. Media sosial boleh membuat maksiat tampak normal dan ketaatan terasa asing, tetapi ukuran keselamatan tetaplah wahyu Allah. Muslimah jangan merasa rendah ketika menjaga hijab dan kehormatannya, dan setiap muslim jangan takut dianggap berbeda ketika berusaha mengikuti Sunnah. Jika jalan kebenaran terasa sepi, dekatkanlah diri kepada Allah karena orang yang memiliki Allah sebagai penolong tidak pernah benar-benar sendirian.Mari memohon,يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَأَعِنَّا عَلَى طَاعَتِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْغُرَبَاءِ الَّذِينَ يَصْلُحُونَ عِنْدَ فَسَادِ النَّاسِ، وَتَوَفَّنَا وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا.Yā Muqallibal-qulūb, tsabbit qulūbanā ‘alā dīnik, wa a‘innā ‘alā thā‘atik, waj‘alnā minal-ghurabā’ alladzīna yashluhūna ‘inda fasādin-nās, wa tawaffanā wa anta rāḍin ‘annā.“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu. Bantulah kami untuk selalu taat kepada-Mu. Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang tetap memperbaiki diri dan keadaan ketika manusia banyak yang rusak. Wafatkanlah kami dalam keadaan Engkau meridhai kami.”Aamiin.ReferensiShahih Muslim, hadis no. 145 tentang Islam bermula dalam keadaan asing. Islamweb menegaskan kesahihan hadis dan menjelaskan maknanya.Islamweb, Al-Ghuraba’ Al-Mamdūhūn Al-Maghbūthūn, tentang ciri dan keutamaan orang-orang terasing.Islamweb, Ka Al-Qābidh ‘ala Al-Jamr, penjelasan hadis orang yang mempertahankan agama seperti menggenggam bara.Ibnul Qayyim, Raudhah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin, hlm. 393–394, tentang mencintai kesendirian bersama Allah.Ibnul Qayyim, Madarij As-Salikin, tentang tidak merasa sepi karena sedikitnya orang yang menempuh jalan kebenaran.Islamweb, pembahasan ghurbah dan keteguhan mengikuti Sunnah ketika sedikit pengikutnya. —- @ Jogja, 12 Rabiul Awal 1448 H, 25 Agustus 2026Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfitnah akhir zaman ghuraba hidup terasing hijab muslimah ibnul qayyim istiqamah memegang bara api menjaga agama sunnah nabi teman shalih


Tidak semua keterasingan adalah kesepian; terkadang seseorang justru menjadi asing karena memilih tetap taat ketika banyak manusia meninggalkan ketaatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang tetap teguh ketika Islam kembali terasa asing. Lalu bagaimana agar hati tetap kuat ketika menjalankan syariat terasa seperti menggenggam bara api, terutama bagi muslimah yang berusaha menjaga hijab dan kehormatannya?  Daftar Isi tutup 1. Mencintai kesendirian bersama Allah 2. Ibnu Taimiyyah menikmati waktu menyendiri 3. Islam akan kembali terasa asing 4. Siapakah orang-orang yang terasing? 5. Jangan takut sedikit teman di jalan kebenaran 6. Berpegang pada agama seperti menggenggam bara api 7. Orang yang beramal pada masa penuh fitnah mendapat pahala besar 8. Keterasingan yang terpuji adalah asing karena Sunnah 9. Muslimah juga dapat merasakan keterasingan 10. Hijab bukan sekadar budaya, tetapi ketaatan 11. Cara teguh di tengah keterasingan 11.1. Pertama: Jadikan wahyu sebagai standar, bukan tren 11.2. Kedua: Jangan menunggu semua orang mendukung untuk mulai taat 11.3. Ketiga: Cari teman yang menguatkan agama 11.4. Keempat: Jaga juga lingkungan digital 11.5. Kelima: Jangan merasa rendah karena menjaga diri 11.6. Keenam: Perbanyak ilmu 11.7. Ketujuh: Miliki ibadah rahasia 12. Bentuk kesendirian bersama Allah 12.1. 1. Shalat malam 12.2. 2. Membaca Al-Qur’an dalam kesunyian sambil tadabbur 12.3. 3. Berdzikir dan beristighfar 12.4. 4. Berdoa 12.5. 5. I‘tikaf dan mengurangi kesibukan dunia 13. Kesendirian bukan berarti membenci manusia 14. Ketika terasa asing, lihatlah siapa teman seperjalanan kita 15. Baca juga: Tips Bergaul 15.1. Jangan merasa aman dengan hati kita 15.2. Kesimpulan: Beruntunglah orang-orang yang terasing 15.3. Nasihat terakhir 15.4. Referensi  Mencintai kesendirian bersama AllahIbnul Qayyim rahimahullah berkata,وَمِنْهَا: حُبُّ الْوَحْدَةِ، وَالْأُنْسُ بِالْخَلْوَةِ، وَالتَّفَرُّدُ عَنِ النَّاسِ، وَكَأَنَّ الْمَحَبَّةَ قَدْ ثَبَتَتْ عَلَى ذَلِكَ، فَلَا شَيْءَ أَحْلَى لِلْمُحِبِّ الصَّادِقِ مِنْ خَلْوَتِهِ، وَتَفَرُّدِهِ، فَإِنَّهُ إِنْ ظَفِرَ بِمَحْبُوبِهِ أَحَبَّ خَلْوَتَهُ بِهِ، وَكَرِهَ مَنْ يَدْخُلُ بَيْنَهُمَا غَايَةَ الْكَرَاهَةِ.“Di antara tanda cinta adalah mencintai kesendirian, merasa nyaman dalam kesunyian, dan menikmati saat menjauh sejenak dari manusia. Seolah-olah cinta itu sendiri membuat hatinya demikian. Tidak ada sesuatu yang lebih manis bagi seorang pecinta sejati daripada saat ia menyendiri bersama yang dicintainya. Jika ia dapat bersama kekasihnya, ia mencintai kesempatan berdua tersebut dan sangat tidak menyukai sesuatu yang mengganggu kebersamaan itu.”Ibnul Qayyim kemudian menjelaskan,وَلِهَذَا السِّرِّ ـ وَاللَّهُ أَعْلَمُ ـ أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَدِّ الْمَارِّ بَيْنَ يَدَيِ الْمُصَلِّي حَتَّى أَمَرَ بِقِتَالِهِ، وَأَخْبَرَ أَنَّهُ لَوْ يَدْرِي مَا عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ؛ لَكَانَ وُقُوفُهُ أَرْبَعِينَ خَيْرًا لَهُ مِنْ مُرُورِهِ بَيْنَ يَدَيْهِ.“Karena rahasia inilah—dan Allah lebih mengetahui—Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar orang yang hendak melintas di depan orang yang sedang shalat dicegah. Beliau juga mengabarkan bahwa seandainya orang yang melintas mengetahui besarnya dosa perbuatannya, berdiri menunggu selama empat puluh lebih baik baginya daripada melintas di hadapan orang yang sedang shalat.”Kemudian beliau berkata,وَلَا يَجِدُ أَلَمَ الْمُرُورِ وَشِدَّتَهُ إِلَّا قَلْبٌ حَاضِرٌ بَيْنَ يَدَيْ مَحْبُوبِهِ، مُقْبِلٌ عَلَيْهِ، قَدِ ارْتَفَعَتِ الْأَغْيَارُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ، فَمُرُورُ الْمَارِّ بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ بِمَنْزِلَةِ دُخُولِ الْبَغِيضِ بَيْنَ الْمُحِبِّ وَمَحْبُوبِهِ.“Hanya hati yang benar-benar hadir di hadapan Allah, menghadap kepada-Nya, dan tidak tersibukkan oleh selain-Nya yang dapat merasakan beratnya gangguan tersebut. Orang yang melintas di antara dirinya dan Rabbnya bagaikan seseorang yang tidak disukai masuk mengganggu antara seorang pecinta dan yang dicintainya.”Ibnul Qayyim kemudian mengatakan,وَأَيْضًا فَإِنَّ الْمُحِبَّ يَسْتَأْنِسُ بِذِكْرِ مَحْبُوبِهِ، وَكَوْنِهِ فِي قَلْبِهِ لَا يُفَارِقُهُ، فَهُوَ أَنِيسُهُ، وَجَلِيسُهُ، لَا يَسْتَأْنِسُ بِسِوَاهُ، فَهُوَ مُسْتَوْحِشٌ مِمَّنْ يَشْغَلُهُ عَنْهُ.“Seorang pecinta merasakan ketenteraman ketika mengingat yang dicintainya. Ingatan itu selalu hadir di hatinya. Ia menjadi teman dekatnya. Karena itu, ia merasa tidak nyaman terhadap segala sesuatu yang membuat hatinya teralihkan dari yang dicintainya.” (Raudhah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin, hlm. 393–394).Kesendirian yang dimaksud bukanlah membenci manusia atau meninggalkan kewajiban bermasyarakat. Seorang mukmin tetap menghadiri shalat berjamaah, menuntut ilmu, berdakwah, bersilaturahmi, mendidik keluarga, dan memberikan manfaat kepada orang lain.Namun, hati juga membutuhkan saat ketika ia lepas dari kebisingan dunia dan benar-benar menghadap Allah.Ada saatnya kita bersama manusia untuk memberi manfaat. Ada saatnya kita menyendiri untuk memperbaiki hati. Ibnu Taimiyyah menikmati waktu menyendiriIbnul Qayyim menceritakan dari Taqiyuddin bin Syuqair bahwa suatu hari ia mengikuti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah. Ketika beliau telah sampai ke tempat terbuka dan jauh dari manusia, terdengar beliau melantunkan syair,وَأَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الْبُيُوتِ لَعَلَّنِي أُحَدِّثُ عَنْكَ الْقَلْبَ بِالسِّرِّ خَالِيًا“Aku keluar meninggalkan rumah-rumah, dengan harapan aku dapat berbicara tentang-Mu kepada hatiku dalam kesendirian.”Kemudian Ibnul Qayyim berkata,فَخَلْوَةُ الْمُحِبِّ بِمَحْبُوبِهِ هِيَ غَايَةُ أُمْنِيَّتِهِ، فَإِنْ ظَفِرَ بِهَا؛ وَإِلَّا خَلَا بِهِ فِي سِرِّهِ.“Kesendirian seorang pecinta bersama yang dicintainya adalah puncak harapannya. Jika ia mendapat kesempatan tersebut, itulah yang ia inginkan. Jika tidak, ia menyendiri bersamanya di dalam rahasia hatinya.”Orang yang belajar menikmati kesendirian bersama Allah tidak akan terlalu takut ketika suatu hari harus sendirian bersama kebenaran. Islam akan kembali terasa asingDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ.“Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana awal mulanya. Maka, beruntunglah orang-orang yang terasing.” (HR. Muslim, no. 145)Baca juga: Siapakah yang Terasing dari Umat Islam yang Banyak?Hadis ini sahih. Islamweb menjelaskan bahwa Islam pada awalnya hanya diikuti sejumlah kecil manusia, kemudian tersebar dan kuat. Kelak dapat terjadi suatu keadaan ketika orang yang benar-benar memegang ajarannya kembali menjadi sedikit.Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah menjelaskan maknanya,أَنَّ الْإِسْلَامَ بَدَأَ فِي آحَادٍ مِنَ النَّاسِ وَقِلَّةٍ، ثُمَّ انْتَشَرَ وَظَهَرَ، ثُمَّ سَيَلْحَقُهُ النَّقْصُ وَالْإِخْلَالُ، حَتَّى لَا يَبْقَى إِلَّا فِي آحَادٍ وَقِلَّةٍ أَيْضًا كَمَا بَدَأَ.“Islam pada mulanya berada pada segelintir manusia dan jumlah yang sedikit. Kemudian Islam menyebar dan tampak. Setelah itu akan datang kekurangan dalam pengamalannya hingga kembali hanya dipegang oleh segelintir manusia sebagaimana awal mulanya.”Yang dimaksud asing bukanlah sengaja membuat diri berbeda agar diperhatikan.Keterasingan yang terpuji adalah ketika seseorang menjadi berbeda karena berpegang pada kebenaran. Siapakah orang-orang yang terasing?Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa orang-orang terasing adalah mereka yang tetap baik ketika manusia banyak yang rusak.Di antara riwayat yang disebutkan,الَّذِينَ يَصْلُحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ.“Mereka adalah orang-orang yang tetap melakukan perbaikan ketika manusia telah rusak.”Dalam riwayat lain disebutkan,أُنَاسٌ صَالِحُونَ فِي أُنَاسِ سَوْءٍ كَثِيرٍ، مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ.“Mereka adalah orang-orang shalih yang berada di tengah banyaknya manusia yang buruk. Orang yang tidak mengikuti mereka lebih banyak daripada yang mengikuti mereka.”Islamweb menyebut hadis ini sebagai kabar gembira bagi orang-orang yang tetap berpegang teguh pada Islam pada masa keterasingan agama.Karena itu, orang asing bukan sekadar orang yang berbeda.Ia tetap jujur ketika dusta dianggap biasa.Ia menjaga shalat ketika kesibukan membuat manusia meremehkannya.Ia menjaga transaksi halal ketika riba dianggap lumrah.Ia menjaga pandangan ketika kemaksiatan dapat dilihat hanya melalui layar di tangan.Ia menjaga aurat ketika mempertontonkan tubuh dianggap kebebasan.Ia mengikuti Sunnah ketika Sunnah dianggap aneh.Baca juga: Berbahagialah Orang yang TerasingJangan takut sedikit teman di jalan kebenaranIbnul Qayyim rahimahullah menukil perkataan sebagian salaf,عَلَيْكَ بِطَرِيقِ الْحَقِّ، وَلَا تَسْتَوْحِشْ لِقِلَّةِ السَّالِكِينَ، وَإِيَّاكَ وَطَرِيقَ الْبَاطِلِ، وَلَا تَغْتَرَّ بِكَثْرَةِ الْهَالِكِينَ.“Tempuhlah jalan kebenaran dan jangan merasa kesepian karena sedikitnya orang yang menempuhnya. Jauhilah jalan kebatilan dan jangan tertipu karena banyaknya orang yang berjalan menuju kebinasaan.”Kemudian Ibnul Qayyim mengatakan,وَكُلَّمَا اسْتَوْحَشْتَ فِي تَفَرُّدِكَ فَانْظُرْ إِلَى الرَّفِيقِ السَّابِقِ، وَاحْرِصْ عَلَى اللَّحَاقِ بِهِمْ، وَغُضَّ الطَّرْفَ عَمَّنْ سِوَاهُمْ.“Setiap kali engkau merasa sepi karena sendirian, lihatlah para pendahulu yang telah menempuh jalan tersebut. Berusahalah menyusul mereka dan jangan sibukkan pandanganmu dengan selain mereka.” (Madarij As-Salikin, 1:46).Allah Ta‘ala berfirman,وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ.“Jika engkau mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An‘am: 116)Kebenaran tidak berubah menjadi salah hanya karena sedikit yang mengikutinya. Kebatilan pun tidak berubah menjadi benar hanya karena banyak pendukungnya.Berpegang pada agama seperti menggenggam bara apiRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ، الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ.“Akan datang suatu masa kepada manusia, orang yang bersabar mempertahankan agamanya pada masa tersebut seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2260; dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani)Islamweb menjelaskan bahwa keadaan ini terjadi karena semakin banyaknya kerusakan, fitnah, serta berbagai godaan, sementara orang yang membantu seseorang untuk tetap berada dalam ketaatan semakin sedikit. Karena itulah, memegang agama dan mengikuti Sunnah ketika itu terasa seperti menggenggam bara atau duri.Mengapa diibaratkan bara?Karena bara terasa panas.Tangan secara naluri ingin segera melepaskannya.Begitu pula seseorang yang berada dalam lingkungan penuh fitnah. Ia terus mendapat tekanan agar sedikit demi sedikit melepaskan prinsip agamanya.Hari ini mungkin diminta melonggarkan hijab.Besok mulai meremehkan batas pergaulan.Kemudian mulai meninggalkan shalat karena pekerjaan.Lalu transaksi haram dianggap tidak masalah karena semua orang melakukannya.Jangan melepaskan agama hanya karena menggenggamnya terasa berat.Yang sedang dipertahankan bukan sekadar kebiasaan. Yang dipertahankan adalah keselamatan agama dan akhirat.Orang yang beramal pada masa penuh fitnah mendapat pahala besar“Sesungguhnya setelah kalian akan datang hari-hari yang membutuhkan kesabaran. Bersabar pada masa itu seperti menggenggam bara api. Orang yang beramal pada masa tersebut akan mendapatkan pahala seperti pahala lima puluh orang.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, pahala lima puluh orang dari mereka atau lima puluh orang dari kami?”Beliau menjawab, “Pahala lima puluh orang dari kalian.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu‘jam Al-Kabir, no. 10394, dan lafaz di atas adalah lafaz beliau. Diriwayatkan pula oleh Al-Bazzar dalam Al-Bahr Az-Zakhkhar, no. 1776, dengan lafaz yang semakna).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada kita bahwa pada akhir zaman agama akan semakin sedikit dipegang teguh oleh manusia. Beliau juga mengabarkan besarnya pahala bagi orang yang tetap berpegang teguh pada agamanya pada masa-masa tersebut. Hal ini merupakan dorongan agar kita bersabar sembari mengharapkan pahala dari Allah.Dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ“Sesungguhnya setelah kalian ….”Maksudnya adalah masa-masa yang akan datang setelah kalian, atau berbagai keadaan berat yang akan terjadi sepeninggal kalian.Beliau bersabda,زَمَانَ صَبْرٍ“Suatu masa yang membutuhkan kesabaran.”Maksudnya adalah hari-hari ketika tidak ada jalan untuk dapat bertahan kecuali dengan kesabaran. Bisa pula bermakna hari-hari ketika kesabaran sangat terpuji.Yang dimaksud dengan masa tersebut adalah masa ketika berbagai fitnah merajalela dan kekuatan kaum muslimin melemah.Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لِلْمُتَمَسِّكِ فِيهِ“Bagi orang yang tetap berpegang teguh pada masa tersebut.”Maksudnya adalah orang yang bersabar dalam memegang teguh agamanya dan tetap berlindung serta berpegang kokoh dengannya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda,أَجْرُ خَمْسِينَ شَهِيدًا مِنْكُمْ“Baginya pahala lima puluh orang syahid dari kalian.”Maksudnya, pahalanya dilipatgandakan hingga seperti pahala lima puluh orang yang mati syahid dari kalangan sahabat.Besarnya pahala tersebut disebabkan begitu beratnya ujian pada masa itu. Seorang muslim yang tetap teguh memegang agamanya menghadapi keadaan yang begitu sulit hingga diibaratkan seperti orang yang menggenggam bara api.Besarnya pahala ini menunjukkan besarnya tantangan dalam mempertahankan agama. Namun, ini tidak berarti generasi setelah sahabat lebih utama daripada para sahabat secara mutlak.Penjelasan hadits di atas dari dorar.net.Keterasingan yang terpuji adalah asing karena SunnahIbnul Qayyim rahimahullah menerangkan bahwa di antara sifat orang-orang terasing adalah,وَمِنْ صِفَاتِ هَؤُلَاءِ الْغُرَبَاءِ الَّذِينَ غَبَطَهُمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: التَّمَسُّكُ بِالسُّنَّةِ إِذَا رَغِبَ عَنْهَا النَّاسُ، وَتَرْكُ مَا أَحْدَثُوهُ، وَإِنْ كَانَ هُوَ الْمَعْرُوفَ عِنْدَهُمْ.“Di antara sifat orang-orang terasing yang dipuji oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tetap berpegang kepada Sunnah ketika manusia meninggalkannya dan meninggalkan perkara-perkara baru yang mereka ada-adakan, sekalipun perkara tersebut telah dianggap lumrah oleh mereka.”Ibnul Qayyim kemudian menjelaskan keadaan orang-orang terasing,فَهَؤُلَاءِ هُمُ الْغُرَبَاءُ الْمَمْدُوحُونَ الْمَغْبُوطُونَ.“Mereka itulah orang-orang terasing yang dipuji dan pantas mendapatkan kabar gembira.”Beliau menjelaskan bahwa orang Islam dapat terasa asing di tengah manusia, orang beriman terasa asing di tengah kaum muslimin, ahli ilmu terasa asing di tengah kaum beriman, dan orang yang benar-benar menjaga Sunnah dapat semakin terasa asing.Maka, jangan salah memahami keterasingan.Tidak setiap orang yang berbeda berarti berada di atas kebenaran.Ukuran kita tetap Al-Qur’an dan Sunnah, bukan sekadar berbeda dengan kebanyakan manusia.Muslimah juga dapat merasakan keterasinganKeterasingan agama sangat mungkin dirasakan seorang muslimah pada zaman sekarang.Ia ingin memperbaiki hijab, lalu dikatakan terlalu tertutup.Ia berusaha tidak tabarruj, tetapi lingkungan menganggap penampilan harus selalu menarik perhatian.Ia menjaga pergaulan dengan lawan jenis, lalu dianggap tidak luwes.Ia tidak ingin mempertontonkan kecantikannya di media sosial, tetapi justru dianggap kurang percaya diri.Ia memilih tidak mengikuti tren tertentu karena pertimbangan agama, lalu disebut ketinggalan zaman.Di sinilah seorang muslimah membutuhkan kekuatan hati.Hijab bukan sekadar budaya, tetapi ketaatanAllah Ta‘ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ.“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan perempuan-perempuan kaum mukminin agar mereka mengulurkan jilbab mereka.” (QS. Al-Ahzab: 59)Allah Ta‘ala juga berfirman,وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ.“Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung mereka ke dada mereka.” (QS. An-Nur: 31)Karena itu, hijab bukan sekadar identitas sosial.Hijab adalah ibadah.Ketika seorang muslimah menanamkan dalam hatinya, “Aku berhijab karena ingin menaati Allah,”maka komentar manusia akan menjadi lebih ringan.Sebaliknya, jika hijab hanya dibangun karena lingkungan, ketika lingkungan berubah, mudah sekali seseorang ikut berubah.Cara teguh di tengah keterasinganPertama: Jadikan wahyu sebagai standar, bukan trenAllah Ta‘ala berfirman,وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ.“Tidak pantas bagi laki-laki mukmin dan perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara, masih ada pilihan lain bagi mereka dalam urusan tersebut.” (QS. Al-Ahzab: 36)Tren berubah.Standar manusia berubah.Apa yang hari ini dianggap indah, beberapa tahun kemudian dapat dianggap usang.Namun, ketentuan Allah tidak mengikuti tren.Jangan mengukur syariat dengan tren. Ukurlah tren dengan syariat. Kedua: Jangan menunggu semua orang mendukung untuk mulai taatKetaatan tidak harus dimulai bersama-sama.Jangan menunggu,“Nanti kalau teman saya sudah berhijab, saya ikut.”“Nanti kalau sudah menikah, saya akan memperbaiki pakaian.”“Nanti kalau lingkungan kerja mendukung, saya akan berubah.”Boleh jadi salah satu bentuk ujian adalah Allah ingin melihat apakah kita tetap memilih-Nya ketika pilihan tersebut belum mendapatkan tepuk tangan manusia.Tidak mengapa memulai ketaatan sendirian selama kita berjalan bersama dalil.Ketiga: Cari teman yang menguatkan agamaAllah Ta‘ala berfirman,وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ.“Bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Rabb mereka pada pagi dan petang dengan mengharap wajah-Nya.” (QS. Al-Kahfi: 28)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ.“Seseorang berada di atas agama sahabat dekatnya. Karena itu, hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan siapa yang dijadikan sahabat dekat.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi)Teman shalih tidak memberikan hidayah, tetapi ia dapat menjadi sebab kita lebih mudah menjaga hidayah.Carilah teman yang tidak hanya memuji penampilan kita, tetapi berani mengingatkan agama kita.Carilah teman yang bahagia ketika hijab kita semakin baik.Carilah teman yang mengajak ke majelis ilmu.Carilah teman yang ketika kita hampir melemah berkata,“Jangan menyerah. Kita ingin sampai ke surga bersama.”Keempat: Jaga juga lingkungan digitalTeman hari ini bukan hanya orang yang duduk di samping kita.Akun yang setiap hari kita lihat juga dapat membentuk cara berpikir.Jika setiap hari seseorang melihat konten yang mempertontonkan kecantikan, gaya hidup berlebihan, kebebasan tanpa batas, atau standar tubuh yang tidak realistis, sedikit demi sedikit hatinya dapat berubah.Ia mulai mempertanyakan hijabnya.Ia mulai merasa pakaiannya kurang menarik.Ia mulai membutuhkan validasi dari pandangan manusia.Karena itu, salah satu bentuk menjaga iman adalah berani menekan tombol unfollow terhadap sesuatu yang terus-menerus melemahkan hati.Tidak semua yang menarik mata baik untuk hati.Kelima: Jangan merasa rendah karena menjaga diriDunia sering mengajarkan bahwa kecantikan perlu ditampakkan agar mendapatkan pengakuan.Syariat justru mengajarkan bahwa tidak semua keindahan harus diperlihatkan.Allah Ta‘ala berfirman,وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا.“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa tampak darinya.” (QS. An-Nur: 31)Muslimah tidak kehilangan harga dirinya hanya karena tidak menjadi pusat perhatian.Nilai seorang perempuan bukan ditentukan oleh banyaknya mata yang memandangnya, tetapi oleh kedudukannya di sisi Allah.Keenam: Perbanyak ilmuOrang yang hanya mengikuti aturan tanpa memahami dalilnya lebih mudah goyah ketika ditanya.Sedangkan orang yang mengetahui mengapa Allah memerintahkan sesuatu akan lebih kokoh.Karena itu, pelajari tauhid.Pelajari fikih ibadah.Pelajari hukum hijab.Pelajari batas pergaulan.Pelajari bagaimana para sahabat dan salaf menjaga agama mereka.Ilmu menjadikan ketaatan bukan sekadar kebiasaan, tetapi keyakinan.Ketujuh: Miliki ibadah rahasiaDi antara cara paling kuat menjaga istiqamah adalah memiliki hubungan dengan Allah yang tidak diketahui manusia.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut salah satu dari tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah,وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ.“Dan seseorang yang mengingat Allah ketika sendirian, lalu kedua matanya berlinang.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ada orang yang terlihat kuat di hadapan manusia karena ia memiliki tangisan yang tidak pernah manusia lihat.Ada orang yang sanggup menghadapi berbagai komentar karena pada malam hari ia telah mengadukan semuanya kepada Allah.Kekuatan di hadapan manusia sering kali dibangun dari sujud yang tidak diketahui manusia.Bentuk kesendirian bersama Allah1. Shalat malamRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، فَيَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، وَمَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ.“Rabb kita Tabaraka wa Ta‘ala turun ke langit dunia setiap malam ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, Aku akan mengabulkannya. Siapa yang meminta kepada-Ku, Aku akan memberinya. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, Aku akan mengampuninya.’” (HR. Bukhari dan Muslim)Saat manusia tidur, seorang mukmin bangun.Tidak ada tepuk tangan.Tidak ada kamera.Tidak ada komentar.Hanya seorang hamba dengan Rabbnya.2. Membaca Al-Qur’an dalam kesunyian sambil tadabburCarilah waktu tanpa gangguan.Baca ayat Allah perlahan.Renungkan.Bukan hanya mengejar berapa halaman yang selesai, tetapi biarkan Al-Qur’an berbicara kepada hati.3. Berdzikir dan beristighfarAda dzikir yang dibaca bersama manusia.Namun, ada pula kenikmatan ketika lidah mengingat Allah sementara tidak ada seorang pun yang mengetahui.Inilah salah satu bentuk hubungan rahasia seorang hamba dengan Rabbnya.4. BerdoaKesendirian adalah waktu yang sangat baik untuk mengadukan kelemahan.Kita boleh terlihat kuat di depan manusia.Namun, di hadapan Allah kita dapat berkata bahwa kita lemah.Kita dapat mengadu tentang beratnya menjaga agama.Tentang komentar manusia.Tentang hati yang mudah berubah.Tentang kekhawatiran menghadapi fitnah zaman.5. I‘tikaf dan mengurangi kesibukan duniaIslam juga mengenal i‘tikaf, yaitu memberikan waktu khusus untuk beribadah kepada Allah dengan menetap di masjid.Ini mengajarkan bahwa hati terkadang membutuhkan jarak sementara dari berbagai kesibukan agar dapat kembali fokus kepada Allah.Namun, kesendirian bukan tujuan mutlak. Islam tetap mendorong seorang mukmin memberikan manfaat kepada manusia.Kesendirian bukan berarti membenci manusiaAda dua kesalahan yang perlu dihindari.Pertama, terlalu tenggelam dalam keramaian sampai tidak memiliki waktu bersama Allah.Kedua, memakai alasan “ingin dekat dengan Allah” untuk meninggalkan kewajiban kepada keluarga dan masyarakat.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dekat kepada Allah, tetapi beliau berdakwah, mengajar, menerima tamu, memimpin umat, mengurus keluarga, berjihad, dan berinteraksi dengan manusia.Baca juga: Benarkah Banyak Bergaul dan Bermedsos, Makin Banyak Dosa?Maka, keseimbangannya adalah:Bersama manusia ketika ada maslahat, menyendiri ketika hati membutuhkan perbaikan.Ketika terasa asing, lihatlah siapa teman seperjalanan kitaIbnul Qayyim menjelaskan bahwa Allah menyebut para pendahulu yang berjalan di atas jalan lurus agar orang beriman tidak merasa benar-benar sendirian.Allah Ta‘ala berfirman,وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا.“Barang siapa menaati Allah dan Rasul, mereka akan bersama orang-orang yang telah Allah beri nikmat, yaitu para nabi, orang-orang yang sangat membenarkan, para syuhada, dan orang-orang shalih. Mereka itulah sebaik-baik teman.” (QS. An-Nisa’: 69)Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa Allah menyebut teman-teman perjalanan ini agar orang yang menempuh jalan hidayah tidak terlalu merasakan kesendirian ketika berbeda dengan manusia pada zamannya.Jika hari ini kita merasa asing karena taat, ingatlah:Jalan ini pernah ditempuh para nabi.Jalan ini pernah ditempuh para sahabat.Jalan ini pernah ditempuh orang-orang shalih.Kita mungkin sedikit pada suatu tempat dan suatu masa.Namun, kita tidak sendirian dalam sejarah panjang orang-orang yang berjalan menuju Allah.Baca juga: Tips Bergaul Jangan merasa aman dengan hati kitaIstiqamah bukan kemampuan pribadi.Orang yang hari ini taat bisa berubah.Orang yang hari ini menjaga hijab bisa melepasnya.Orang yang hari ini rajin shalat bisa meninggalkannya.Karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak berdoa,يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.Yā Muqallibal-qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik.“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. At-Tirmidzi)Jangan hanya mengatakan,“Alhamdulillah, saya sudah istiqamah.”Lebih baik katakan,“Ya Allah, jangan biarkan hati ini berubah setelah Engkau memberi petunjuk.”Baca juga: Ini Ceritanya, Kenapa Nabi Terus Berdoa Meminta IstiqamahKesimpulan: Beruntunglah orang-orang yang terasingTidak semua kesendirian adalah kesepian.Tidak semua keterasingan adalah kehinaan.Boleh jadi seseorang sendirian secara fisik, tetapi hatinya dipenuhi kedekatan kepada Allah.Boleh jadi seseorang dianggap asing oleh manusia karena menjaga hijab, Sunnah, shalat, kehormatan, dan prinsip agamanya, tetapi justru ia sedang berjalan bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shalih.Karena itu, jangan sengaja mencari keterasingan. Namun, jangan pula meninggalkan kebenaran hanya agar diterima oleh manusia.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan kabar gembira,فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ.“Maka, beruntunglah orang-orang yang terasing.”Nasihat terakhirZaman boleh berubah, tetapi jangan biarkan perubahan zaman mengubah prinsip agama kita. Media sosial boleh membuat maksiat tampak normal dan ketaatan terasa asing, tetapi ukuran keselamatan tetaplah wahyu Allah. Muslimah jangan merasa rendah ketika menjaga hijab dan kehormatannya, dan setiap muslim jangan takut dianggap berbeda ketika berusaha mengikuti Sunnah. Jika jalan kebenaran terasa sepi, dekatkanlah diri kepada Allah karena orang yang memiliki Allah sebagai penolong tidak pernah benar-benar sendirian.Mari memohon,يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَأَعِنَّا عَلَى طَاعَتِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْغُرَبَاءِ الَّذِينَ يَصْلُحُونَ عِنْدَ فَسَادِ النَّاسِ، وَتَوَفَّنَا وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا.Yā Muqallibal-qulūb, tsabbit qulūbanā ‘alā dīnik, wa a‘innā ‘alā thā‘atik, waj‘alnā minal-ghurabā’ alladzīna yashluhūna ‘inda fasādin-nās, wa tawaffanā wa anta rāḍin ‘annā.“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu. Bantulah kami untuk selalu taat kepada-Mu. Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang tetap memperbaiki diri dan keadaan ketika manusia banyak yang rusak. Wafatkanlah kami dalam keadaan Engkau meridhai kami.”Aamiin.ReferensiShahih Muslim, hadis no. 145 tentang Islam bermula dalam keadaan asing. Islamweb menegaskan kesahihan hadis dan menjelaskan maknanya.Islamweb, Al-Ghuraba’ Al-Mamdūhūn Al-Maghbūthūn, tentang ciri dan keutamaan orang-orang terasing.Islamweb, Ka Al-Qābidh ‘ala Al-Jamr, penjelasan hadis orang yang mempertahankan agama seperti menggenggam bara.Ibnul Qayyim, Raudhah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin, hlm. 393–394, tentang mencintai kesendirian bersama Allah.Ibnul Qayyim, Madarij As-Salikin, tentang tidak merasa sepi karena sedikitnya orang yang menempuh jalan kebenaran.Islamweb, pembahasan ghurbah dan keteguhan mengikuti Sunnah ketika sedikit pengikutnya. —- @ Jogja, 12 Rabiul Awal 1448 H, 25 Agustus 2026Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfitnah akhir zaman ghuraba hidup terasing hijab muslimah ibnul qayyim istiqamah memegang bara api menjaga agama sunnah nabi teman shalih

Memberi Syarat Tidak Mau Punya Anak (Childfree) saat Menikah

Oleh: Syaikh Khalid Abdul Mun’im ar-Rifa’i Pertanyaan: Assalamu’alaikum warahmatullah Saya seorang suami, sejak pertama menikah, istri saya sudah memberi syarat untuk tidak melahirkan, karena pada dasarnya ia tidak ingin menikah. Kami lalu menikah, tetapi akhirnya ia hamil sehingga ia ingin menggugurkan bayinya. Ia mengonsumsi obat-obat yang dapat menimbulkan pendarahan, sehingga janinnya meninggal dunia tanpa memberitahuku. Istriku memohon ampun kepada Allah dan hendak menunaikan haji agar dapat menggugurkan dosanya. Ia berkata kepadaku, “Jika ingin menikah lagi, ceraikan saya dulu.” Perlu diketahui bahwa ia juga telah mensyaratkan hal ini saat akad nikah.  Apa yang harus saya lakukan terhadapnya? Apakah syarat ini dibolehkan, karena itu juga tercantum dalam akad? Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah. Selawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, juga kepada keluarga, para sahabat, dan para pengikut beliau. Amma ba’du: Ketahuilah wahai saudaraku yang terhormat, bahwa melahirkan keturunan merupakan salah satu tujuan terpenting dari pernikahan, paling agung manfaatnya, dan paling besar faedahnya. Dengan melahirkan keturunan, keberlangsungan spesies manusia akan tetap terjaga dan umat Nabi Muhammad akan semakin banyak. Akan keluar dari tulang sulbi kaum beriman orang-orang yang menyembah kepada Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan apa pun. Diriwayatkan dalam hadis sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ؛ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ “Nikahilah wanita yang penuh kasih sayang dan subur (banyak melahirkan), karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat-umat yang lain.” (HR. Abu Dawud). Menolak melahirkan juga bertentangan dengan fitrah yang telah Allah tetapkan pada diri manusia. Karena itulah, syariat Islam hadir sesuai dengan garis fitrah yang telah Allah tetapkan tersebut, sehingga syariat yang bijaksana ini mendorong untuk menikahi wanita yang subur, dan menganjurkan untuk tidak menikahi wanita yang tidak bisa melahirkan. Dalam “Sunan Abi Dawud” dan lainnya diriwayatkan dari Ma’qil bin Yasar bahwa pernah ada lelaki yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, aku mendapati seorang wanita yang memiliki kecantikan, keelokan, keturunan yang baik, kedudukan, dan harta. Hanya saja ia tidak dapat melahirkan anak. Apakah aku boleh menikahinya?” Nabi pun melarangnya. Kemudian orang itu datang sekali lagi dan menyampaikan hal yang sama, sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Nikahilah wanita yang penuh kasih sayang dan subur (banyak melahirkan), karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat-umat yang lain.” (HR. Abu Dawud). Dengan demikian —semoga Allah melimpahkan keselamatan kepadamu— engkau jadi paham bahwa syarat istrimu kepadamu pada saat akad nikah untuk tidak memiliki anak adalah syarat yang tidak diperbolehkan, karena menyelisihi konsekuensi dari akad nikah itu sendiri. Bahkan ada sebagian ulama yang menilai akad dan syarat itu batal sekaligus, dan ini adalah pendapat dalam mazhab Syafi’i, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Al-Hawi karya Imam al-Mawardi asy-Syafi’i, juga pendapat dalam mazhab Maliki, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Mukhtashar Khalil dan kitab-kitab penjelasannya. Namun mereka membuat perincian bahwa akadnya menjadi batal jika suami belum menggauli istrinya, dan istri berhak mendapatkan mahar mitsil (mahar yang nilainya disesuaikan dengan mahar yang lazim diterima oleh perempuan-perempuan yang setara dengannya). Namun, jika suami telah menggaulinya, maka akad nikah tetap sah, sedangkan syarat tersebut menjadi gugur.  Ada juga ulama yang berpendapat bahwa akadnya sah, tapi syaratnya batal dan tidak boleh dijalankan. Ini adalah pendapat dalam mazhab Hanafi, sebagaimana disebutkan dalam kitab Ad-Durr al-Mukhtar dan Hasyiyah Ibn Abidin atau dikenal juga dengan kitab Radd al-Muhtar jilid 1 hlm. 131. Juga menjadi pendapat dalam mazhab Hambali, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Al-Mughni karya Ibnu Qudamah, jilid 7 hlm. 94. Dalam pembahasan beliau tentang syarat yang sah dan yang tidak, beliau menjelaskan:  “Hal yang membatalkan syarat tetapi mengesahkan akad, seperti mensyaratkan agar istri tidak mendapat mahar, suami tidak perlu memberi nafkah kepada istri, jika suami memberi mahar maka harus dikembalikan kepadanya, istri mensyaratkan agar suami tidak menggaulinya atau harus melakukan ‘azl (mengeluarkan mani di luar rahim), suami membagi giliran bermalam untuknya lebih sedikit atau lebih banyak daripada giliran istri yang lain, suami hanya bermalam di rumahnya satu malam dalam satu pekan, mensyaratkan hanya bersama istri pada siang hari tanpa malam hari, atau mensyaratkan agar istri menafkahinya memberinya sesuatu.  Semua syarat tersebut batal dengan sendirinya, karena bertentangan dengan konsekuensi akad nikah dan mengandung pengguguran hak yang sebenarnya menjadi wajib saat terjadi akad sebelum hak-hak itu benar-benar ada. Oleh sebab itu, syarat-syarat tersebut tidak sah. Hal ini sapa seperti orang yang punya hak syuf’ah lalu menggugurkan hak syuf’ahnya sebelum terjadi transaksi jugal beli. Sedangkan akad nikahnya sendiri tetap sah, karena syarat-syarat tersebut berkaitan dengan hal-hal tambahan di luar akad dasarnya, yang penyebutannya tidak menjadi syarat sahnya akad dan jika tidak diketahui juga tidak mempengaruhi keabsahan akad. Oleh sebab itu, syarat-syarat tersebut tidak membatalkan akad nikah.” Sebagai penutup, saya memberi nasihat kepadamu —wahai saudaraku yang terhormat— untuk menyampaikan penjelasan yang telah disebutkan ini, bahwa menolak hamil adalah perbuatan yang bertentangan fitrah yang telah Allah tetapkan pada manusia dan menyelisihi syariat Islam, dan suami istri sama sekali tidak boleh sepakat untuk melakukan itu. Namun yang diperbolehkan adalah menunda kehamilan sementara dan mengatur perencanaannya. Lalu jika istrimu tetap bersikukuh dengan pendiriannya, maka apabila engkau mampu menikah dengan wanita lain maka menikahlah dengan wanita lain tanpa menceraikan istri pertama ini. Selain itu, perlakukanlah ia dengan baik, karena bisa jadi sikapnya terhadap kehamilan akibat masalah-masalah psikologis yang mungkin dapat diselesaikan melalui perlakuan yang baik dan interaksi yang intens dengannya. Saya memohon kepada Allah agar memperbaiki istrimu bagimu dan mengaruniakan kepadamu keturunan yang saleh. Sumber: https://www.alukah.net/fatawa_counsels/0/126756/اشتراط-عدم-الإنجاب-في-الزواج/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 266 times, 3 visit(s) today Post Views: 95

Memberi Syarat Tidak Mau Punya Anak (Childfree) saat Menikah

Oleh: Syaikh Khalid Abdul Mun’im ar-Rifa’i Pertanyaan: Assalamu’alaikum warahmatullah Saya seorang suami, sejak pertama menikah, istri saya sudah memberi syarat untuk tidak melahirkan, karena pada dasarnya ia tidak ingin menikah. Kami lalu menikah, tetapi akhirnya ia hamil sehingga ia ingin menggugurkan bayinya. Ia mengonsumsi obat-obat yang dapat menimbulkan pendarahan, sehingga janinnya meninggal dunia tanpa memberitahuku. Istriku memohon ampun kepada Allah dan hendak menunaikan haji agar dapat menggugurkan dosanya. Ia berkata kepadaku, “Jika ingin menikah lagi, ceraikan saya dulu.” Perlu diketahui bahwa ia juga telah mensyaratkan hal ini saat akad nikah.  Apa yang harus saya lakukan terhadapnya? Apakah syarat ini dibolehkan, karena itu juga tercantum dalam akad? Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah. Selawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, juga kepada keluarga, para sahabat, dan para pengikut beliau. Amma ba’du: Ketahuilah wahai saudaraku yang terhormat, bahwa melahirkan keturunan merupakan salah satu tujuan terpenting dari pernikahan, paling agung manfaatnya, dan paling besar faedahnya. Dengan melahirkan keturunan, keberlangsungan spesies manusia akan tetap terjaga dan umat Nabi Muhammad akan semakin banyak. Akan keluar dari tulang sulbi kaum beriman orang-orang yang menyembah kepada Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan apa pun. Diriwayatkan dalam hadis sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ؛ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ “Nikahilah wanita yang penuh kasih sayang dan subur (banyak melahirkan), karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat-umat yang lain.” (HR. Abu Dawud). Menolak melahirkan juga bertentangan dengan fitrah yang telah Allah tetapkan pada diri manusia. Karena itulah, syariat Islam hadir sesuai dengan garis fitrah yang telah Allah tetapkan tersebut, sehingga syariat yang bijaksana ini mendorong untuk menikahi wanita yang subur, dan menganjurkan untuk tidak menikahi wanita yang tidak bisa melahirkan. Dalam “Sunan Abi Dawud” dan lainnya diriwayatkan dari Ma’qil bin Yasar bahwa pernah ada lelaki yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, aku mendapati seorang wanita yang memiliki kecantikan, keelokan, keturunan yang baik, kedudukan, dan harta. Hanya saja ia tidak dapat melahirkan anak. Apakah aku boleh menikahinya?” Nabi pun melarangnya. Kemudian orang itu datang sekali lagi dan menyampaikan hal yang sama, sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Nikahilah wanita yang penuh kasih sayang dan subur (banyak melahirkan), karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat-umat yang lain.” (HR. Abu Dawud). Dengan demikian —semoga Allah melimpahkan keselamatan kepadamu— engkau jadi paham bahwa syarat istrimu kepadamu pada saat akad nikah untuk tidak memiliki anak adalah syarat yang tidak diperbolehkan, karena menyelisihi konsekuensi dari akad nikah itu sendiri. Bahkan ada sebagian ulama yang menilai akad dan syarat itu batal sekaligus, dan ini adalah pendapat dalam mazhab Syafi’i, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Al-Hawi karya Imam al-Mawardi asy-Syafi’i, juga pendapat dalam mazhab Maliki, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Mukhtashar Khalil dan kitab-kitab penjelasannya. Namun mereka membuat perincian bahwa akadnya menjadi batal jika suami belum menggauli istrinya, dan istri berhak mendapatkan mahar mitsil (mahar yang nilainya disesuaikan dengan mahar yang lazim diterima oleh perempuan-perempuan yang setara dengannya). Namun, jika suami telah menggaulinya, maka akad nikah tetap sah, sedangkan syarat tersebut menjadi gugur.  Ada juga ulama yang berpendapat bahwa akadnya sah, tapi syaratnya batal dan tidak boleh dijalankan. Ini adalah pendapat dalam mazhab Hanafi, sebagaimana disebutkan dalam kitab Ad-Durr al-Mukhtar dan Hasyiyah Ibn Abidin atau dikenal juga dengan kitab Radd al-Muhtar jilid 1 hlm. 131. Juga menjadi pendapat dalam mazhab Hambali, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Al-Mughni karya Ibnu Qudamah, jilid 7 hlm. 94. Dalam pembahasan beliau tentang syarat yang sah dan yang tidak, beliau menjelaskan:  “Hal yang membatalkan syarat tetapi mengesahkan akad, seperti mensyaratkan agar istri tidak mendapat mahar, suami tidak perlu memberi nafkah kepada istri, jika suami memberi mahar maka harus dikembalikan kepadanya, istri mensyaratkan agar suami tidak menggaulinya atau harus melakukan ‘azl (mengeluarkan mani di luar rahim), suami membagi giliran bermalam untuknya lebih sedikit atau lebih banyak daripada giliran istri yang lain, suami hanya bermalam di rumahnya satu malam dalam satu pekan, mensyaratkan hanya bersama istri pada siang hari tanpa malam hari, atau mensyaratkan agar istri menafkahinya memberinya sesuatu.  Semua syarat tersebut batal dengan sendirinya, karena bertentangan dengan konsekuensi akad nikah dan mengandung pengguguran hak yang sebenarnya menjadi wajib saat terjadi akad sebelum hak-hak itu benar-benar ada. Oleh sebab itu, syarat-syarat tersebut tidak sah. Hal ini sapa seperti orang yang punya hak syuf’ah lalu menggugurkan hak syuf’ahnya sebelum terjadi transaksi jugal beli. Sedangkan akad nikahnya sendiri tetap sah, karena syarat-syarat tersebut berkaitan dengan hal-hal tambahan di luar akad dasarnya, yang penyebutannya tidak menjadi syarat sahnya akad dan jika tidak diketahui juga tidak mempengaruhi keabsahan akad. Oleh sebab itu, syarat-syarat tersebut tidak membatalkan akad nikah.” Sebagai penutup, saya memberi nasihat kepadamu —wahai saudaraku yang terhormat— untuk menyampaikan penjelasan yang telah disebutkan ini, bahwa menolak hamil adalah perbuatan yang bertentangan fitrah yang telah Allah tetapkan pada manusia dan menyelisihi syariat Islam, dan suami istri sama sekali tidak boleh sepakat untuk melakukan itu. Namun yang diperbolehkan adalah menunda kehamilan sementara dan mengatur perencanaannya. Lalu jika istrimu tetap bersikukuh dengan pendiriannya, maka apabila engkau mampu menikah dengan wanita lain maka menikahlah dengan wanita lain tanpa menceraikan istri pertama ini. Selain itu, perlakukanlah ia dengan baik, karena bisa jadi sikapnya terhadap kehamilan akibat masalah-masalah psikologis yang mungkin dapat diselesaikan melalui perlakuan yang baik dan interaksi yang intens dengannya. Saya memohon kepada Allah agar memperbaiki istrimu bagimu dan mengaruniakan kepadamu keturunan yang saleh. Sumber: https://www.alukah.net/fatawa_counsels/0/126756/اشتراط-عدم-الإنجاب-في-الزواج/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 266 times, 3 visit(s) today Post Views: 95
Oleh: Syaikh Khalid Abdul Mun’im ar-Rifa’i Pertanyaan: Assalamu’alaikum warahmatullah Saya seorang suami, sejak pertama menikah, istri saya sudah memberi syarat untuk tidak melahirkan, karena pada dasarnya ia tidak ingin menikah. Kami lalu menikah, tetapi akhirnya ia hamil sehingga ia ingin menggugurkan bayinya. Ia mengonsumsi obat-obat yang dapat menimbulkan pendarahan, sehingga janinnya meninggal dunia tanpa memberitahuku. Istriku memohon ampun kepada Allah dan hendak menunaikan haji agar dapat menggugurkan dosanya. Ia berkata kepadaku, “Jika ingin menikah lagi, ceraikan saya dulu.” Perlu diketahui bahwa ia juga telah mensyaratkan hal ini saat akad nikah.  Apa yang harus saya lakukan terhadapnya? Apakah syarat ini dibolehkan, karena itu juga tercantum dalam akad? Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah. Selawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, juga kepada keluarga, para sahabat, dan para pengikut beliau. Amma ba’du: Ketahuilah wahai saudaraku yang terhormat, bahwa melahirkan keturunan merupakan salah satu tujuan terpenting dari pernikahan, paling agung manfaatnya, dan paling besar faedahnya. Dengan melahirkan keturunan, keberlangsungan spesies manusia akan tetap terjaga dan umat Nabi Muhammad akan semakin banyak. Akan keluar dari tulang sulbi kaum beriman orang-orang yang menyembah kepada Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan apa pun. Diriwayatkan dalam hadis sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ؛ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ “Nikahilah wanita yang penuh kasih sayang dan subur (banyak melahirkan), karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat-umat yang lain.” (HR. Abu Dawud). Menolak melahirkan juga bertentangan dengan fitrah yang telah Allah tetapkan pada diri manusia. Karena itulah, syariat Islam hadir sesuai dengan garis fitrah yang telah Allah tetapkan tersebut, sehingga syariat yang bijaksana ini mendorong untuk menikahi wanita yang subur, dan menganjurkan untuk tidak menikahi wanita yang tidak bisa melahirkan. Dalam “Sunan Abi Dawud” dan lainnya diriwayatkan dari Ma’qil bin Yasar bahwa pernah ada lelaki yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, aku mendapati seorang wanita yang memiliki kecantikan, keelokan, keturunan yang baik, kedudukan, dan harta. Hanya saja ia tidak dapat melahirkan anak. Apakah aku boleh menikahinya?” Nabi pun melarangnya. Kemudian orang itu datang sekali lagi dan menyampaikan hal yang sama, sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Nikahilah wanita yang penuh kasih sayang dan subur (banyak melahirkan), karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat-umat yang lain.” (HR. Abu Dawud). Dengan demikian —semoga Allah melimpahkan keselamatan kepadamu— engkau jadi paham bahwa syarat istrimu kepadamu pada saat akad nikah untuk tidak memiliki anak adalah syarat yang tidak diperbolehkan, karena menyelisihi konsekuensi dari akad nikah itu sendiri. Bahkan ada sebagian ulama yang menilai akad dan syarat itu batal sekaligus, dan ini adalah pendapat dalam mazhab Syafi’i, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Al-Hawi karya Imam al-Mawardi asy-Syafi’i, juga pendapat dalam mazhab Maliki, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Mukhtashar Khalil dan kitab-kitab penjelasannya. Namun mereka membuat perincian bahwa akadnya menjadi batal jika suami belum menggauli istrinya, dan istri berhak mendapatkan mahar mitsil (mahar yang nilainya disesuaikan dengan mahar yang lazim diterima oleh perempuan-perempuan yang setara dengannya). Namun, jika suami telah menggaulinya, maka akad nikah tetap sah, sedangkan syarat tersebut menjadi gugur.  Ada juga ulama yang berpendapat bahwa akadnya sah, tapi syaratnya batal dan tidak boleh dijalankan. Ini adalah pendapat dalam mazhab Hanafi, sebagaimana disebutkan dalam kitab Ad-Durr al-Mukhtar dan Hasyiyah Ibn Abidin atau dikenal juga dengan kitab Radd al-Muhtar jilid 1 hlm. 131. Juga menjadi pendapat dalam mazhab Hambali, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Al-Mughni karya Ibnu Qudamah, jilid 7 hlm. 94. Dalam pembahasan beliau tentang syarat yang sah dan yang tidak, beliau menjelaskan:  “Hal yang membatalkan syarat tetapi mengesahkan akad, seperti mensyaratkan agar istri tidak mendapat mahar, suami tidak perlu memberi nafkah kepada istri, jika suami memberi mahar maka harus dikembalikan kepadanya, istri mensyaratkan agar suami tidak menggaulinya atau harus melakukan ‘azl (mengeluarkan mani di luar rahim), suami membagi giliran bermalam untuknya lebih sedikit atau lebih banyak daripada giliran istri yang lain, suami hanya bermalam di rumahnya satu malam dalam satu pekan, mensyaratkan hanya bersama istri pada siang hari tanpa malam hari, atau mensyaratkan agar istri menafkahinya memberinya sesuatu.  Semua syarat tersebut batal dengan sendirinya, karena bertentangan dengan konsekuensi akad nikah dan mengandung pengguguran hak yang sebenarnya menjadi wajib saat terjadi akad sebelum hak-hak itu benar-benar ada. Oleh sebab itu, syarat-syarat tersebut tidak sah. Hal ini sapa seperti orang yang punya hak syuf’ah lalu menggugurkan hak syuf’ahnya sebelum terjadi transaksi jugal beli. Sedangkan akad nikahnya sendiri tetap sah, karena syarat-syarat tersebut berkaitan dengan hal-hal tambahan di luar akad dasarnya, yang penyebutannya tidak menjadi syarat sahnya akad dan jika tidak diketahui juga tidak mempengaruhi keabsahan akad. Oleh sebab itu, syarat-syarat tersebut tidak membatalkan akad nikah.” Sebagai penutup, saya memberi nasihat kepadamu —wahai saudaraku yang terhormat— untuk menyampaikan penjelasan yang telah disebutkan ini, bahwa menolak hamil adalah perbuatan yang bertentangan fitrah yang telah Allah tetapkan pada manusia dan menyelisihi syariat Islam, dan suami istri sama sekali tidak boleh sepakat untuk melakukan itu. Namun yang diperbolehkan adalah menunda kehamilan sementara dan mengatur perencanaannya. Lalu jika istrimu tetap bersikukuh dengan pendiriannya, maka apabila engkau mampu menikah dengan wanita lain maka menikahlah dengan wanita lain tanpa menceraikan istri pertama ini. Selain itu, perlakukanlah ia dengan baik, karena bisa jadi sikapnya terhadap kehamilan akibat masalah-masalah psikologis yang mungkin dapat diselesaikan melalui perlakuan yang baik dan interaksi yang intens dengannya. Saya memohon kepada Allah agar memperbaiki istrimu bagimu dan mengaruniakan kepadamu keturunan yang saleh. Sumber: https://www.alukah.net/fatawa_counsels/0/126756/اشتراط-عدم-الإنجاب-في-الزواج/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 266 times, 3 visit(s) today Post Views: 95


Oleh: Syaikh Khalid Abdul Mun’im ar-Rifa’i Pertanyaan: Assalamu’alaikum warahmatullah Saya seorang suami, sejak pertama menikah, istri saya sudah memberi syarat untuk tidak melahirkan, karena pada dasarnya ia tidak ingin menikah. Kami lalu menikah, tetapi akhirnya ia hamil sehingga ia ingin menggugurkan bayinya. Ia mengonsumsi obat-obat yang dapat menimbulkan pendarahan, sehingga janinnya meninggal dunia tanpa memberitahuku. Istriku memohon ampun kepada Allah dan hendak menunaikan haji agar dapat menggugurkan dosanya. Ia berkata kepadaku, “Jika ingin menikah lagi, ceraikan saya dulu.” Perlu diketahui bahwa ia juga telah mensyaratkan hal ini saat akad nikah.  Apa yang harus saya lakukan terhadapnya? Apakah syarat ini dibolehkan, karena itu juga tercantum dalam akad? Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah. Selawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, juga kepada keluarga, para sahabat, dan para pengikut beliau. Amma ba’du: Ketahuilah wahai saudaraku yang terhormat, bahwa melahirkan keturunan merupakan salah satu tujuan terpenting dari pernikahan, paling agung manfaatnya, dan paling besar faedahnya. Dengan melahirkan keturunan, keberlangsungan spesies manusia akan tetap terjaga dan umat Nabi Muhammad akan semakin banyak. Akan keluar dari tulang sulbi kaum beriman orang-orang yang menyembah kepada Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan apa pun. Diriwayatkan dalam hadis sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ؛ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ “Nikahilah wanita yang penuh kasih sayang dan subur (banyak melahirkan), karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat-umat yang lain.” (HR. Abu Dawud). Menolak melahirkan juga bertentangan dengan fitrah yang telah Allah tetapkan pada diri manusia. Karena itulah, syariat Islam hadir sesuai dengan garis fitrah yang telah Allah tetapkan tersebut, sehingga syariat yang bijaksana ini mendorong untuk menikahi wanita yang subur, dan menganjurkan untuk tidak menikahi wanita yang tidak bisa melahirkan. Dalam “Sunan Abi Dawud” dan lainnya diriwayatkan dari Ma’qil bin Yasar bahwa pernah ada lelaki yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, aku mendapati seorang wanita yang memiliki kecantikan, keelokan, keturunan yang baik, kedudukan, dan harta. Hanya saja ia tidak dapat melahirkan anak. Apakah aku boleh menikahinya?” Nabi pun melarangnya. Kemudian orang itu datang sekali lagi dan menyampaikan hal yang sama, sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Nikahilah wanita yang penuh kasih sayang dan subur (banyak melahirkan), karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat-umat yang lain.” (HR. Abu Dawud). Dengan demikian —semoga Allah melimpahkan keselamatan kepadamu— engkau jadi paham bahwa syarat istrimu kepadamu pada saat akad nikah untuk tidak memiliki anak adalah syarat yang tidak diperbolehkan, karena menyelisihi konsekuensi dari akad nikah itu sendiri. Bahkan ada sebagian ulama yang menilai akad dan syarat itu batal sekaligus, dan ini adalah pendapat dalam mazhab Syafi’i, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Al-Hawi karya Imam al-Mawardi asy-Syafi’i, juga pendapat dalam mazhab Maliki, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Mukhtashar Khalil dan kitab-kitab penjelasannya. Namun mereka membuat perincian bahwa akadnya menjadi batal jika suami belum menggauli istrinya, dan istri berhak mendapatkan mahar mitsil (mahar yang nilainya disesuaikan dengan mahar yang lazim diterima oleh perempuan-perempuan yang setara dengannya). Namun, jika suami telah menggaulinya, maka akad nikah tetap sah, sedangkan syarat tersebut menjadi gugur.  Ada juga ulama yang berpendapat bahwa akadnya sah, tapi syaratnya batal dan tidak boleh dijalankan. Ini adalah pendapat dalam mazhab Hanafi, sebagaimana disebutkan dalam kitab Ad-Durr al-Mukhtar dan Hasyiyah Ibn Abidin atau dikenal juga dengan kitab Radd al-Muhtar jilid 1 hlm. 131. Juga menjadi pendapat dalam mazhab Hambali, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Al-Mughni karya Ibnu Qudamah, jilid 7 hlm. 94. Dalam pembahasan beliau tentang syarat yang sah dan yang tidak, beliau menjelaskan:  “Hal yang membatalkan syarat tetapi mengesahkan akad, seperti mensyaratkan agar istri tidak mendapat mahar, suami tidak perlu memberi nafkah kepada istri, jika suami memberi mahar maka harus dikembalikan kepadanya, istri mensyaratkan agar suami tidak menggaulinya atau harus melakukan ‘azl (mengeluarkan mani di luar rahim), suami membagi giliran bermalam untuknya lebih sedikit atau lebih banyak daripada giliran istri yang lain, suami hanya bermalam di rumahnya satu malam dalam satu pekan, mensyaratkan hanya bersama istri pada siang hari tanpa malam hari, atau mensyaratkan agar istri menafkahinya memberinya sesuatu.  Semua syarat tersebut batal dengan sendirinya, karena bertentangan dengan konsekuensi akad nikah dan mengandung pengguguran hak yang sebenarnya menjadi wajib saat terjadi akad sebelum hak-hak itu benar-benar ada. Oleh sebab itu, syarat-syarat tersebut tidak sah. Hal ini sapa seperti orang yang punya hak syuf’ah lalu menggugurkan hak syuf’ahnya sebelum terjadi transaksi jugal beli. Sedangkan akad nikahnya sendiri tetap sah, karena syarat-syarat tersebut berkaitan dengan hal-hal tambahan di luar akad dasarnya, yang penyebutannya tidak menjadi syarat sahnya akad dan jika tidak diketahui juga tidak mempengaruhi keabsahan akad. Oleh sebab itu, syarat-syarat tersebut tidak membatalkan akad nikah.” Sebagai penutup, saya memberi nasihat kepadamu —wahai saudaraku yang terhormat— untuk menyampaikan penjelasan yang telah disebutkan ini, bahwa menolak hamil adalah perbuatan yang bertentangan fitrah yang telah Allah tetapkan pada manusia dan menyelisihi syariat Islam, dan suami istri sama sekali tidak boleh sepakat untuk melakukan itu. Namun yang diperbolehkan adalah menunda kehamilan sementara dan mengatur perencanaannya. Lalu jika istrimu tetap bersikukuh dengan pendiriannya, maka apabila engkau mampu menikah dengan wanita lain maka menikahlah dengan wanita lain tanpa menceraikan istri pertama ini. Selain itu, perlakukanlah ia dengan baik, karena bisa jadi sikapnya terhadap kehamilan akibat masalah-masalah psikologis yang mungkin dapat diselesaikan melalui perlakuan yang baik dan interaksi yang intens dengannya. Saya memohon kepada Allah agar memperbaiki istrimu bagimu dan mengaruniakan kepadamu keturunan yang saleh. Sumber: https://www.alukah.net/fatawa_counsels/0/126756/اشتراط-عدم-الإنجاب-في-الزواج/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 266 times, 3 visit(s) today Post Views: 95

Saya Punya Orientasi Seksual Menyimpang, Sudah Berusaha Melawan tapi Tidak Bisa

Oleh: Ridha al-Junaidi Ringkasan Pertanyaan: Ada pemuda yang pernah punya penyimpangan seksual, kemudian bertobat. Namun sekarang kembali melakukannya lagi dan tidak mampu melawan dorongannya. Masalah ini memberi pengaruh buruk pada agama dan pendidikannya. Dia bertanya apa solusinya? Pertanyaan Lengkap: Saya laki-laki yang punya orientasi seksual yang menyimpang dan kecenderungan suka sesama laki-laki. Masalah ini membuatku hancur. Saya selalu berusaha bertaubat dan merasa takut, tetapi kemudian merasa gelisah ketika teringat bahwa saya orang yang menyimpang. Selain itu, saya juga punya masalah lain, yaitu saya punya seorang sahabat dan sebelumnya saya orang yang banyak menyendiri. Kami kemudian menjadi teman dekat, sehingga saya merasa ketergantungan dengannya. Namun, saya sama sekali tidak punya kecenderungan seksual kepadanya, karena ketika itu telah bertaubat dan membenci perbuatan tersebut. Hanya saja saya merasa sangat sedih saat ia tidak bersamaku dan ketika ia ada di dekatku, saya merasa sangat senang. Saya ingin tahu masalah mana yang paling berbahaya dari dua hal tersebut? Mana yang harus saya beri fokus lebih banyak, apakah fokus agar sembuh dari ketergantungan dengan teman itu atau dari penyimpangan seksual? Lalu apakah jika saya melihat seseorang dengan syahwat, saya telah berbuat zalim kepadanya? Apakah saya boleh mengonsumsi obat untuk meredam syahwatku selamanya, sehingga saya dapat hidup dengan selamat? Saya sangat benci terhadap diri sendiri akibat dosa-dosa ini. Bahkan mentalku sakit karenanya dan merasa jijik terhadap diriku sendiri. Setiap kali berbuat suatu dosa, saya merasa sangat sedih. Setiap kali saya mengingatnya, saya juga sedih. Masalah ini sangat mengganggu hidup dan pendidikanku, bahkan urusan agamaku, karena saya menjadi malas menjalankan kewajiban-kewajiban. Mohon penjelasannya. Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan. Jawaban: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Selamat datang wahai anakku di kolom konsultasi website al-Alukah. Saya memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menjadikan kami mampu memberi bantuan bagimu untuk memperbaiki keadaanmu. Saya juga memohon kepada-Nya agar menguatkanmu untuk terus bertaubat dan teguh dalam ketaatan. Wahai anakku, engkau masih berusia 17 tahun —seperti yang engkau sebutkan kepada kam— maka di usia ini, engkau masih mungkin —dengan memohon pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla— untuk menjadi golongan yang Allah naungi pada hari Kiamat di bawah naungan-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ فِي خَلَاءٍ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسْجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ إِلَى نَفْسِهَا، فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا، حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا صَنَعَتْ يَمِينُهُ. “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah pada hari Kiamat di bawah naungan-Nya, pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya, yaitu: pemimpin yang adil, seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, seseorang yang mengingat Allah ketika sendirian lalu kedua matanya bercucuran air mata, seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, seseorang yang diajak berbuat maksiat oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu ia berkata, Aku sungguh takut kepada Allah, dan seseorang yang bersedekah lalu menyembunyikan sedekahnya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh tangan kanannya.” (HR. al-Bukhari). Wahai anakku, engkau telah melakukan hal yang benar dengan bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan konsisten, dan membenci perbuatan yang sangat keji itu, serta memiliki jiwa yang banyak mencerca diri sendiri ketika terjerumus ke dalam perbuatan tersebut, maka lanjutkanlah kebaikan yang telah Allah ‘Azza wa Jalla titipkan dalam dirimu ini, yaitu dengan terus berusaha keras dan berkelanjutan, hingga engkau dapat terlepas sepenuhnya dari dosa yang besar itu, melawan hawa nafsu setelah bertaubat, dan terus istiqamah di atas jalan yang benar. Faktor yang dapat mendukungmu untuk itu —dengan izin Allah— adalah dengan mengetahui betapa kejinya dosa itu. Allah ‘Azza wa Jalla menyebut orang-orang yang melakukannya dengan kaum yang jahat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: وَلُوطًا آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ تَعْمَلُ الْخَبَائِثَ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمَ سَوْءٍ فَاسِقِينَ “Dan kepada Luth Kami berikan hikmah dan ilmu, serta Kami selamatkan dia dari negeri yang penduduknya melakukan perbuatan-perbuatan keji. Sungguh, mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik.” (QS. Al-Anbiya: 74). Allah juga menyebut mereka sebagai orang-orang pendosa melalui firman-Nya: فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ “Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.” (QS. Al-A’raf: 84). Ketika engkau teringat dengan sifat-sifat ini, jiwamu akan merasa muak dan fitrahmu yang masih lurus akan menolak menjadi seperti orang-orang fasik dan pendosa tersebut. Nuranimu yang hidup akan mengingatkanmu bahwa engkau seorang muslim, dan muslim harus menjaga kesucian jiwa, hati, dan anggota badannya. Engkau tidak sepatutnya mencontoh orang-orang fasik tersebut, tapi mencontoh orang-orang beriman dan berusaha menjadi seperti para sahabat muda yang mengemban di pundak mereka tugas menyebarkan Islam saat mereka masih seusiamu, seperti Usamah bin Zaid dan Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhum. Faktor pendukung lain yang membantumu untuk menjauhi dosa besar ini adalah menyibukkan diri dengan urusan-urusan yang penting, karena dirimu, waktumu, akalmu, dan hatimu bagaikan wadah yang tidak bisa kosong, jika engkau tidak mengisinya dengan hal yang bermanfaat, maka engkau akan mengisinya dengan hal-hal remeh atau bahkan hal-hal buruk, maka jagalah wadahmu ini, niscaya hidupmu akan menjadi lurus. Berusahalah untuk menghadiri majelis-majelis ilmu, serta halaqah-halaqah Al-Qur’an dan zikir, karena ini termasuk hal yang dapat membenahi hati, meluruskan jiwa, dan menjadi batas penghalang antara dirimu dan dosa-dosa besar dengan izin Allah. Berusahalah juga untuk melakukan puasa, karena dapat meringankan dan menurunkan gejolak syahwat. Padamkanlah juga syahwatmu dengan rutin berolahraga dan meningkatkan prestasi belajarmu serta segala hal yang dapat membawa kebaikan bagi masa depanmu. Jauhilah segala hal yang membuatmu ingat dengan kemaksiatan ini atau mendekatkanmu kepadanya, karena setiap kali engkau menjauhi hal-hal yang memicu kemaksiatan, maka dengan izin Allah, itu akan semakin memudahkanmu untuk tidak terjerumus lagi ke dalamnya. Salah satunya adalah dengan menjauhi setiap laki-laki yang kamu merasa punya kecondongan yang tidak normal terhadapnya. Jagalah pandanganmu dari melihat hal-hal yang diharamkan Allah ‘Azza wa Jalla, karena pandangan merupakan pembangkit utama bagi syahwat dan kezaliman yang besar bagi jiwa karena ia membuka pintu yang menjerumuskan kepada kemaksiatan.  Jagalah pikiranmu agar tidak memikirkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah, karena ketika kita melepas tali kendali dari pikiran kita, bisa jadi itu akan berubah menjadi keinginan, kemudian keinginan itu seiring berjalannya waktu bisa menjadi perbuatan. Oleh sebab itu, tutuplah pintu-pintu ini dari awal. Lalu seiring dengan berjalannya waktu, engkau akan mendapati dirimu sudah menjadi orang yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah, dan mendapati dosa itu tidak lagi punya tempat di hidupmu, dengan izin Allah. Lalu hubunganmu dengan laki-laki akan menjadi hubungan yang normal dan biasa. Adapun ketergantunganmu dengan teman laki-lakimu itu, maka kita akui saja bahwa engkau sedang berada dalam kondisi yang lemah, sedangkan ketergantunganmu dengan temanmu itu bisa membuatmu semakin lemah di hadapan kemaksiatanmu. Jadikanlah hubunganmu dengannya sebagai hubungan pertemanan biasa yang seimbang, tidak terlalu dekat sehingga membuatmu semakin tergantung kepadanya. Hendaklah kalian berdua saling membantu untuk mendekat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan menjalankan ketaatan-Nya. Latihlah dirimu untuk agar hatimu tidak terpaut dengan siapa pun selain Allah, dan hubunganmu dengan orang-orang di sekitarmu adalah hubungan yang berimbang, tidak terlalu dekat dan tidak pula terlalu jauh. Setiap kali engkau merasa ketergantungan dengan seseorang atau sesuatu, maka berusahalah untuk menyibukkan diri darinya dengan hal-hal yang bermanfaat bagi akhiratmu, agar perasaanmu terhadapnya menjadi perasaan yang normal. Perbanyaklah berdoa agar kecintaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah kecintaan yang terbesar dalam hatimu. Terakhir, percayalah bahwa terlepas dari dosa ini bukanlah hal yang mustahil. Jangan beri kesempatan bagi setan untuk menimpakanmu ke dalam kegelisahan, kesedihan, dan kegalauan hati serta menjadikanmu putus asa terhadap dirimu sendiri, yang pada akhirnya membuatmu menjauh dari Allah ‘Azza wa Jalla, lalai terhadap hak-hak diri sendiri, dan tak acuh terhadap ibadah dan pendidikanmu. Berhati-hatilah dari segala tipu daya setan, ingatkanlah dirimu bahwa Allah Maha Menerima taubat, Maha Penyayang, Maha Pengampun, dan Maha Pengasih. Sebesar apa pun dosa yang telah engkau perbuat, Allah ‘Azza wa Jalla tetap memberimu kesempatan untuk bertaubat. Yang penting, engkau memanfaatkan kesempatan ini untuk menjadi golongan orang-orang yang bertaubat dan terus teguh di atas jalan yang lurus, meskipun jiwa sedang lemah dan godaan di sekeliling kita sedang begitu masif. Wahai anakku, mendekatlah kepada Tuhanmu, mintalah kepada-Nya agar memberi pertolongan dalam melawan hawa nafsu, serta melindungimu dari keburukan nafsu dan keburukan setan. Janganlah berputus asa terhadap dirimu sendiri, karena Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan menolak orang yang datang kepada-Nya dalam keadaan bertaubat. Sebaliknya, Dia senang dengan taubatnya dan menolongnya untuk memperbaiki diri. Saya memohon kepada Allah agar menjadikanmu mencintai keimanan dan menghiasinya di dalam hatimu, serta menjadikanmu membenci kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan, juga menjadikanmu termasuk pemuda-pemuda terbaik di kalangan kaum Muslimin. Sumber: https://www.alukah.net/fatawa_counsels/0/181026/أقاوم-الشذوذ-لكن-لا-أستطيع/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 311 times, 1 visit(s) today Post Views: 101

Saya Punya Orientasi Seksual Menyimpang, Sudah Berusaha Melawan tapi Tidak Bisa

Oleh: Ridha al-Junaidi Ringkasan Pertanyaan: Ada pemuda yang pernah punya penyimpangan seksual, kemudian bertobat. Namun sekarang kembali melakukannya lagi dan tidak mampu melawan dorongannya. Masalah ini memberi pengaruh buruk pada agama dan pendidikannya. Dia bertanya apa solusinya? Pertanyaan Lengkap: Saya laki-laki yang punya orientasi seksual yang menyimpang dan kecenderungan suka sesama laki-laki. Masalah ini membuatku hancur. Saya selalu berusaha bertaubat dan merasa takut, tetapi kemudian merasa gelisah ketika teringat bahwa saya orang yang menyimpang. Selain itu, saya juga punya masalah lain, yaitu saya punya seorang sahabat dan sebelumnya saya orang yang banyak menyendiri. Kami kemudian menjadi teman dekat, sehingga saya merasa ketergantungan dengannya. Namun, saya sama sekali tidak punya kecenderungan seksual kepadanya, karena ketika itu telah bertaubat dan membenci perbuatan tersebut. Hanya saja saya merasa sangat sedih saat ia tidak bersamaku dan ketika ia ada di dekatku, saya merasa sangat senang. Saya ingin tahu masalah mana yang paling berbahaya dari dua hal tersebut? Mana yang harus saya beri fokus lebih banyak, apakah fokus agar sembuh dari ketergantungan dengan teman itu atau dari penyimpangan seksual? Lalu apakah jika saya melihat seseorang dengan syahwat, saya telah berbuat zalim kepadanya? Apakah saya boleh mengonsumsi obat untuk meredam syahwatku selamanya, sehingga saya dapat hidup dengan selamat? Saya sangat benci terhadap diri sendiri akibat dosa-dosa ini. Bahkan mentalku sakit karenanya dan merasa jijik terhadap diriku sendiri. Setiap kali berbuat suatu dosa, saya merasa sangat sedih. Setiap kali saya mengingatnya, saya juga sedih. Masalah ini sangat mengganggu hidup dan pendidikanku, bahkan urusan agamaku, karena saya menjadi malas menjalankan kewajiban-kewajiban. Mohon penjelasannya. Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan. Jawaban: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Selamat datang wahai anakku di kolom konsultasi website al-Alukah. Saya memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menjadikan kami mampu memberi bantuan bagimu untuk memperbaiki keadaanmu. Saya juga memohon kepada-Nya agar menguatkanmu untuk terus bertaubat dan teguh dalam ketaatan. Wahai anakku, engkau masih berusia 17 tahun —seperti yang engkau sebutkan kepada kam— maka di usia ini, engkau masih mungkin —dengan memohon pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla— untuk menjadi golongan yang Allah naungi pada hari Kiamat di bawah naungan-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ فِي خَلَاءٍ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسْجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ إِلَى نَفْسِهَا، فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا، حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا صَنَعَتْ يَمِينُهُ. “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah pada hari Kiamat di bawah naungan-Nya, pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya, yaitu: pemimpin yang adil, seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, seseorang yang mengingat Allah ketika sendirian lalu kedua matanya bercucuran air mata, seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, seseorang yang diajak berbuat maksiat oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu ia berkata, Aku sungguh takut kepada Allah, dan seseorang yang bersedekah lalu menyembunyikan sedekahnya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh tangan kanannya.” (HR. al-Bukhari). Wahai anakku, engkau telah melakukan hal yang benar dengan bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan konsisten, dan membenci perbuatan yang sangat keji itu, serta memiliki jiwa yang banyak mencerca diri sendiri ketika terjerumus ke dalam perbuatan tersebut, maka lanjutkanlah kebaikan yang telah Allah ‘Azza wa Jalla titipkan dalam dirimu ini, yaitu dengan terus berusaha keras dan berkelanjutan, hingga engkau dapat terlepas sepenuhnya dari dosa yang besar itu, melawan hawa nafsu setelah bertaubat, dan terus istiqamah di atas jalan yang benar. Faktor yang dapat mendukungmu untuk itu —dengan izin Allah— adalah dengan mengetahui betapa kejinya dosa itu. Allah ‘Azza wa Jalla menyebut orang-orang yang melakukannya dengan kaum yang jahat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: وَلُوطًا آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ تَعْمَلُ الْخَبَائِثَ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمَ سَوْءٍ فَاسِقِينَ “Dan kepada Luth Kami berikan hikmah dan ilmu, serta Kami selamatkan dia dari negeri yang penduduknya melakukan perbuatan-perbuatan keji. Sungguh, mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik.” (QS. Al-Anbiya: 74). Allah juga menyebut mereka sebagai orang-orang pendosa melalui firman-Nya: فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ “Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.” (QS. Al-A’raf: 84). Ketika engkau teringat dengan sifat-sifat ini, jiwamu akan merasa muak dan fitrahmu yang masih lurus akan menolak menjadi seperti orang-orang fasik dan pendosa tersebut. Nuranimu yang hidup akan mengingatkanmu bahwa engkau seorang muslim, dan muslim harus menjaga kesucian jiwa, hati, dan anggota badannya. Engkau tidak sepatutnya mencontoh orang-orang fasik tersebut, tapi mencontoh orang-orang beriman dan berusaha menjadi seperti para sahabat muda yang mengemban di pundak mereka tugas menyebarkan Islam saat mereka masih seusiamu, seperti Usamah bin Zaid dan Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhum. Faktor pendukung lain yang membantumu untuk menjauhi dosa besar ini adalah menyibukkan diri dengan urusan-urusan yang penting, karena dirimu, waktumu, akalmu, dan hatimu bagaikan wadah yang tidak bisa kosong, jika engkau tidak mengisinya dengan hal yang bermanfaat, maka engkau akan mengisinya dengan hal-hal remeh atau bahkan hal-hal buruk, maka jagalah wadahmu ini, niscaya hidupmu akan menjadi lurus. Berusahalah untuk menghadiri majelis-majelis ilmu, serta halaqah-halaqah Al-Qur’an dan zikir, karena ini termasuk hal yang dapat membenahi hati, meluruskan jiwa, dan menjadi batas penghalang antara dirimu dan dosa-dosa besar dengan izin Allah. Berusahalah juga untuk melakukan puasa, karena dapat meringankan dan menurunkan gejolak syahwat. Padamkanlah juga syahwatmu dengan rutin berolahraga dan meningkatkan prestasi belajarmu serta segala hal yang dapat membawa kebaikan bagi masa depanmu. Jauhilah segala hal yang membuatmu ingat dengan kemaksiatan ini atau mendekatkanmu kepadanya, karena setiap kali engkau menjauhi hal-hal yang memicu kemaksiatan, maka dengan izin Allah, itu akan semakin memudahkanmu untuk tidak terjerumus lagi ke dalamnya. Salah satunya adalah dengan menjauhi setiap laki-laki yang kamu merasa punya kecondongan yang tidak normal terhadapnya. Jagalah pandanganmu dari melihat hal-hal yang diharamkan Allah ‘Azza wa Jalla, karena pandangan merupakan pembangkit utama bagi syahwat dan kezaliman yang besar bagi jiwa karena ia membuka pintu yang menjerumuskan kepada kemaksiatan.  Jagalah pikiranmu agar tidak memikirkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah, karena ketika kita melepas tali kendali dari pikiran kita, bisa jadi itu akan berubah menjadi keinginan, kemudian keinginan itu seiring berjalannya waktu bisa menjadi perbuatan. Oleh sebab itu, tutuplah pintu-pintu ini dari awal. Lalu seiring dengan berjalannya waktu, engkau akan mendapati dirimu sudah menjadi orang yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah, dan mendapati dosa itu tidak lagi punya tempat di hidupmu, dengan izin Allah. Lalu hubunganmu dengan laki-laki akan menjadi hubungan yang normal dan biasa. Adapun ketergantunganmu dengan teman laki-lakimu itu, maka kita akui saja bahwa engkau sedang berada dalam kondisi yang lemah, sedangkan ketergantunganmu dengan temanmu itu bisa membuatmu semakin lemah di hadapan kemaksiatanmu. Jadikanlah hubunganmu dengannya sebagai hubungan pertemanan biasa yang seimbang, tidak terlalu dekat sehingga membuatmu semakin tergantung kepadanya. Hendaklah kalian berdua saling membantu untuk mendekat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan menjalankan ketaatan-Nya. Latihlah dirimu untuk agar hatimu tidak terpaut dengan siapa pun selain Allah, dan hubunganmu dengan orang-orang di sekitarmu adalah hubungan yang berimbang, tidak terlalu dekat dan tidak pula terlalu jauh. Setiap kali engkau merasa ketergantungan dengan seseorang atau sesuatu, maka berusahalah untuk menyibukkan diri darinya dengan hal-hal yang bermanfaat bagi akhiratmu, agar perasaanmu terhadapnya menjadi perasaan yang normal. Perbanyaklah berdoa agar kecintaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah kecintaan yang terbesar dalam hatimu. Terakhir, percayalah bahwa terlepas dari dosa ini bukanlah hal yang mustahil. Jangan beri kesempatan bagi setan untuk menimpakanmu ke dalam kegelisahan, kesedihan, dan kegalauan hati serta menjadikanmu putus asa terhadap dirimu sendiri, yang pada akhirnya membuatmu menjauh dari Allah ‘Azza wa Jalla, lalai terhadap hak-hak diri sendiri, dan tak acuh terhadap ibadah dan pendidikanmu. Berhati-hatilah dari segala tipu daya setan, ingatkanlah dirimu bahwa Allah Maha Menerima taubat, Maha Penyayang, Maha Pengampun, dan Maha Pengasih. Sebesar apa pun dosa yang telah engkau perbuat, Allah ‘Azza wa Jalla tetap memberimu kesempatan untuk bertaubat. Yang penting, engkau memanfaatkan kesempatan ini untuk menjadi golongan orang-orang yang bertaubat dan terus teguh di atas jalan yang lurus, meskipun jiwa sedang lemah dan godaan di sekeliling kita sedang begitu masif. Wahai anakku, mendekatlah kepada Tuhanmu, mintalah kepada-Nya agar memberi pertolongan dalam melawan hawa nafsu, serta melindungimu dari keburukan nafsu dan keburukan setan. Janganlah berputus asa terhadap dirimu sendiri, karena Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan menolak orang yang datang kepada-Nya dalam keadaan bertaubat. Sebaliknya, Dia senang dengan taubatnya dan menolongnya untuk memperbaiki diri. Saya memohon kepada Allah agar menjadikanmu mencintai keimanan dan menghiasinya di dalam hatimu, serta menjadikanmu membenci kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan, juga menjadikanmu termasuk pemuda-pemuda terbaik di kalangan kaum Muslimin. Sumber: https://www.alukah.net/fatawa_counsels/0/181026/أقاوم-الشذوذ-لكن-لا-أستطيع/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 311 times, 1 visit(s) today Post Views: 101
Oleh: Ridha al-Junaidi Ringkasan Pertanyaan: Ada pemuda yang pernah punya penyimpangan seksual, kemudian bertobat. Namun sekarang kembali melakukannya lagi dan tidak mampu melawan dorongannya. Masalah ini memberi pengaruh buruk pada agama dan pendidikannya. Dia bertanya apa solusinya? Pertanyaan Lengkap: Saya laki-laki yang punya orientasi seksual yang menyimpang dan kecenderungan suka sesama laki-laki. Masalah ini membuatku hancur. Saya selalu berusaha bertaubat dan merasa takut, tetapi kemudian merasa gelisah ketika teringat bahwa saya orang yang menyimpang. Selain itu, saya juga punya masalah lain, yaitu saya punya seorang sahabat dan sebelumnya saya orang yang banyak menyendiri. Kami kemudian menjadi teman dekat, sehingga saya merasa ketergantungan dengannya. Namun, saya sama sekali tidak punya kecenderungan seksual kepadanya, karena ketika itu telah bertaubat dan membenci perbuatan tersebut. Hanya saja saya merasa sangat sedih saat ia tidak bersamaku dan ketika ia ada di dekatku, saya merasa sangat senang. Saya ingin tahu masalah mana yang paling berbahaya dari dua hal tersebut? Mana yang harus saya beri fokus lebih banyak, apakah fokus agar sembuh dari ketergantungan dengan teman itu atau dari penyimpangan seksual? Lalu apakah jika saya melihat seseorang dengan syahwat, saya telah berbuat zalim kepadanya? Apakah saya boleh mengonsumsi obat untuk meredam syahwatku selamanya, sehingga saya dapat hidup dengan selamat? Saya sangat benci terhadap diri sendiri akibat dosa-dosa ini. Bahkan mentalku sakit karenanya dan merasa jijik terhadap diriku sendiri. Setiap kali berbuat suatu dosa, saya merasa sangat sedih. Setiap kali saya mengingatnya, saya juga sedih. Masalah ini sangat mengganggu hidup dan pendidikanku, bahkan urusan agamaku, karena saya menjadi malas menjalankan kewajiban-kewajiban. Mohon penjelasannya. Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan. Jawaban: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Selamat datang wahai anakku di kolom konsultasi website al-Alukah. Saya memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menjadikan kami mampu memberi bantuan bagimu untuk memperbaiki keadaanmu. Saya juga memohon kepada-Nya agar menguatkanmu untuk terus bertaubat dan teguh dalam ketaatan. Wahai anakku, engkau masih berusia 17 tahun —seperti yang engkau sebutkan kepada kam— maka di usia ini, engkau masih mungkin —dengan memohon pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla— untuk menjadi golongan yang Allah naungi pada hari Kiamat di bawah naungan-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ فِي خَلَاءٍ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسْجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ إِلَى نَفْسِهَا، فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا، حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا صَنَعَتْ يَمِينُهُ. “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah pada hari Kiamat di bawah naungan-Nya, pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya, yaitu: pemimpin yang adil, seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, seseorang yang mengingat Allah ketika sendirian lalu kedua matanya bercucuran air mata, seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, seseorang yang diajak berbuat maksiat oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu ia berkata, Aku sungguh takut kepada Allah, dan seseorang yang bersedekah lalu menyembunyikan sedekahnya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh tangan kanannya.” (HR. al-Bukhari). Wahai anakku, engkau telah melakukan hal yang benar dengan bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan konsisten, dan membenci perbuatan yang sangat keji itu, serta memiliki jiwa yang banyak mencerca diri sendiri ketika terjerumus ke dalam perbuatan tersebut, maka lanjutkanlah kebaikan yang telah Allah ‘Azza wa Jalla titipkan dalam dirimu ini, yaitu dengan terus berusaha keras dan berkelanjutan, hingga engkau dapat terlepas sepenuhnya dari dosa yang besar itu, melawan hawa nafsu setelah bertaubat, dan terus istiqamah di atas jalan yang benar. Faktor yang dapat mendukungmu untuk itu —dengan izin Allah— adalah dengan mengetahui betapa kejinya dosa itu. Allah ‘Azza wa Jalla menyebut orang-orang yang melakukannya dengan kaum yang jahat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: وَلُوطًا آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ تَعْمَلُ الْخَبَائِثَ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمَ سَوْءٍ فَاسِقِينَ “Dan kepada Luth Kami berikan hikmah dan ilmu, serta Kami selamatkan dia dari negeri yang penduduknya melakukan perbuatan-perbuatan keji. Sungguh, mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik.” (QS. Al-Anbiya: 74). Allah juga menyebut mereka sebagai orang-orang pendosa melalui firman-Nya: فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ “Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.” (QS. Al-A’raf: 84). Ketika engkau teringat dengan sifat-sifat ini, jiwamu akan merasa muak dan fitrahmu yang masih lurus akan menolak menjadi seperti orang-orang fasik dan pendosa tersebut. Nuranimu yang hidup akan mengingatkanmu bahwa engkau seorang muslim, dan muslim harus menjaga kesucian jiwa, hati, dan anggota badannya. Engkau tidak sepatutnya mencontoh orang-orang fasik tersebut, tapi mencontoh orang-orang beriman dan berusaha menjadi seperti para sahabat muda yang mengemban di pundak mereka tugas menyebarkan Islam saat mereka masih seusiamu, seperti Usamah bin Zaid dan Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhum. Faktor pendukung lain yang membantumu untuk menjauhi dosa besar ini adalah menyibukkan diri dengan urusan-urusan yang penting, karena dirimu, waktumu, akalmu, dan hatimu bagaikan wadah yang tidak bisa kosong, jika engkau tidak mengisinya dengan hal yang bermanfaat, maka engkau akan mengisinya dengan hal-hal remeh atau bahkan hal-hal buruk, maka jagalah wadahmu ini, niscaya hidupmu akan menjadi lurus. Berusahalah untuk menghadiri majelis-majelis ilmu, serta halaqah-halaqah Al-Qur’an dan zikir, karena ini termasuk hal yang dapat membenahi hati, meluruskan jiwa, dan menjadi batas penghalang antara dirimu dan dosa-dosa besar dengan izin Allah. Berusahalah juga untuk melakukan puasa, karena dapat meringankan dan menurunkan gejolak syahwat. Padamkanlah juga syahwatmu dengan rutin berolahraga dan meningkatkan prestasi belajarmu serta segala hal yang dapat membawa kebaikan bagi masa depanmu. Jauhilah segala hal yang membuatmu ingat dengan kemaksiatan ini atau mendekatkanmu kepadanya, karena setiap kali engkau menjauhi hal-hal yang memicu kemaksiatan, maka dengan izin Allah, itu akan semakin memudahkanmu untuk tidak terjerumus lagi ke dalamnya. Salah satunya adalah dengan menjauhi setiap laki-laki yang kamu merasa punya kecondongan yang tidak normal terhadapnya. Jagalah pandanganmu dari melihat hal-hal yang diharamkan Allah ‘Azza wa Jalla, karena pandangan merupakan pembangkit utama bagi syahwat dan kezaliman yang besar bagi jiwa karena ia membuka pintu yang menjerumuskan kepada kemaksiatan.  Jagalah pikiranmu agar tidak memikirkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah, karena ketika kita melepas tali kendali dari pikiran kita, bisa jadi itu akan berubah menjadi keinginan, kemudian keinginan itu seiring berjalannya waktu bisa menjadi perbuatan. Oleh sebab itu, tutuplah pintu-pintu ini dari awal. Lalu seiring dengan berjalannya waktu, engkau akan mendapati dirimu sudah menjadi orang yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah, dan mendapati dosa itu tidak lagi punya tempat di hidupmu, dengan izin Allah. Lalu hubunganmu dengan laki-laki akan menjadi hubungan yang normal dan biasa. Adapun ketergantunganmu dengan teman laki-lakimu itu, maka kita akui saja bahwa engkau sedang berada dalam kondisi yang lemah, sedangkan ketergantunganmu dengan temanmu itu bisa membuatmu semakin lemah di hadapan kemaksiatanmu. Jadikanlah hubunganmu dengannya sebagai hubungan pertemanan biasa yang seimbang, tidak terlalu dekat sehingga membuatmu semakin tergantung kepadanya. Hendaklah kalian berdua saling membantu untuk mendekat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan menjalankan ketaatan-Nya. Latihlah dirimu untuk agar hatimu tidak terpaut dengan siapa pun selain Allah, dan hubunganmu dengan orang-orang di sekitarmu adalah hubungan yang berimbang, tidak terlalu dekat dan tidak pula terlalu jauh. Setiap kali engkau merasa ketergantungan dengan seseorang atau sesuatu, maka berusahalah untuk menyibukkan diri darinya dengan hal-hal yang bermanfaat bagi akhiratmu, agar perasaanmu terhadapnya menjadi perasaan yang normal. Perbanyaklah berdoa agar kecintaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah kecintaan yang terbesar dalam hatimu. Terakhir, percayalah bahwa terlepas dari dosa ini bukanlah hal yang mustahil. Jangan beri kesempatan bagi setan untuk menimpakanmu ke dalam kegelisahan, kesedihan, dan kegalauan hati serta menjadikanmu putus asa terhadap dirimu sendiri, yang pada akhirnya membuatmu menjauh dari Allah ‘Azza wa Jalla, lalai terhadap hak-hak diri sendiri, dan tak acuh terhadap ibadah dan pendidikanmu. Berhati-hatilah dari segala tipu daya setan, ingatkanlah dirimu bahwa Allah Maha Menerima taubat, Maha Penyayang, Maha Pengampun, dan Maha Pengasih. Sebesar apa pun dosa yang telah engkau perbuat, Allah ‘Azza wa Jalla tetap memberimu kesempatan untuk bertaubat. Yang penting, engkau memanfaatkan kesempatan ini untuk menjadi golongan orang-orang yang bertaubat dan terus teguh di atas jalan yang lurus, meskipun jiwa sedang lemah dan godaan di sekeliling kita sedang begitu masif. Wahai anakku, mendekatlah kepada Tuhanmu, mintalah kepada-Nya agar memberi pertolongan dalam melawan hawa nafsu, serta melindungimu dari keburukan nafsu dan keburukan setan. Janganlah berputus asa terhadap dirimu sendiri, karena Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan menolak orang yang datang kepada-Nya dalam keadaan bertaubat. Sebaliknya, Dia senang dengan taubatnya dan menolongnya untuk memperbaiki diri. Saya memohon kepada Allah agar menjadikanmu mencintai keimanan dan menghiasinya di dalam hatimu, serta menjadikanmu membenci kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan, juga menjadikanmu termasuk pemuda-pemuda terbaik di kalangan kaum Muslimin. Sumber: https://www.alukah.net/fatawa_counsels/0/181026/أقاوم-الشذوذ-لكن-لا-أستطيع/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 311 times, 1 visit(s) today Post Views: 101


Oleh: Ridha al-Junaidi Ringkasan Pertanyaan: Ada pemuda yang pernah punya penyimpangan seksual, kemudian bertobat. Namun sekarang kembali melakukannya lagi dan tidak mampu melawan dorongannya. Masalah ini memberi pengaruh buruk pada agama dan pendidikannya. Dia bertanya apa solusinya? Pertanyaan Lengkap: Saya laki-laki yang punya orientasi seksual yang menyimpang dan kecenderungan suka sesama laki-laki. Masalah ini membuatku hancur. Saya selalu berusaha bertaubat dan merasa takut, tetapi kemudian merasa gelisah ketika teringat bahwa saya orang yang menyimpang. Selain itu, saya juga punya masalah lain, yaitu saya punya seorang sahabat dan sebelumnya saya orang yang banyak menyendiri. Kami kemudian menjadi teman dekat, sehingga saya merasa ketergantungan dengannya. Namun, saya sama sekali tidak punya kecenderungan seksual kepadanya, karena ketika itu telah bertaubat dan membenci perbuatan tersebut. Hanya saja saya merasa sangat sedih saat ia tidak bersamaku dan ketika ia ada di dekatku, saya merasa sangat senang. Saya ingin tahu masalah mana yang paling berbahaya dari dua hal tersebut? Mana yang harus saya beri fokus lebih banyak, apakah fokus agar sembuh dari ketergantungan dengan teman itu atau dari penyimpangan seksual? Lalu apakah jika saya melihat seseorang dengan syahwat, saya telah berbuat zalim kepadanya? Apakah saya boleh mengonsumsi obat untuk meredam syahwatku selamanya, sehingga saya dapat hidup dengan selamat? Saya sangat benci terhadap diri sendiri akibat dosa-dosa ini. Bahkan mentalku sakit karenanya dan merasa jijik terhadap diriku sendiri. Setiap kali berbuat suatu dosa, saya merasa sangat sedih. Setiap kali saya mengingatnya, saya juga sedih. Masalah ini sangat mengganggu hidup dan pendidikanku, bahkan urusan agamaku, karena saya menjadi malas menjalankan kewajiban-kewajiban. Mohon penjelasannya. Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan. Jawaban: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Selamat datang wahai anakku di kolom konsultasi website al-Alukah. Saya memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menjadikan kami mampu memberi bantuan bagimu untuk memperbaiki keadaanmu. Saya juga memohon kepada-Nya agar menguatkanmu untuk terus bertaubat dan teguh dalam ketaatan. Wahai anakku, engkau masih berusia 17 tahun —seperti yang engkau sebutkan kepada kam— maka di usia ini, engkau masih mungkin —dengan memohon pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla— untuk menjadi golongan yang Allah naungi pada hari Kiamat di bawah naungan-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ فِي خَلَاءٍ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسْجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ إِلَى نَفْسِهَا، فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا، حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا صَنَعَتْ يَمِينُهُ. “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah pada hari Kiamat di bawah naungan-Nya, pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya, yaitu: pemimpin yang adil, seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, seseorang yang mengingat Allah ketika sendirian lalu kedua matanya bercucuran air mata, seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, seseorang yang diajak berbuat maksiat oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu ia berkata, Aku sungguh takut kepada Allah, dan seseorang yang bersedekah lalu menyembunyikan sedekahnya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh tangan kanannya.” (HR. al-Bukhari). Wahai anakku, engkau telah melakukan hal yang benar dengan bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan konsisten, dan membenci perbuatan yang sangat keji itu, serta memiliki jiwa yang banyak mencerca diri sendiri ketika terjerumus ke dalam perbuatan tersebut, maka lanjutkanlah kebaikan yang telah Allah ‘Azza wa Jalla titipkan dalam dirimu ini, yaitu dengan terus berusaha keras dan berkelanjutan, hingga engkau dapat terlepas sepenuhnya dari dosa yang besar itu, melawan hawa nafsu setelah bertaubat, dan terus istiqamah di atas jalan yang benar. Faktor yang dapat mendukungmu untuk itu —dengan izin Allah— adalah dengan mengetahui betapa kejinya dosa itu. Allah ‘Azza wa Jalla menyebut orang-orang yang melakukannya dengan kaum yang jahat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: وَلُوطًا آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ تَعْمَلُ الْخَبَائِثَ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمَ سَوْءٍ فَاسِقِينَ “Dan kepada Luth Kami berikan hikmah dan ilmu, serta Kami selamatkan dia dari negeri yang penduduknya melakukan perbuatan-perbuatan keji. Sungguh, mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik.” (QS. Al-Anbiya: 74). Allah juga menyebut mereka sebagai orang-orang pendosa melalui firman-Nya: فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ “Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.” (QS. Al-A’raf: 84). Ketika engkau teringat dengan sifat-sifat ini, jiwamu akan merasa muak dan fitrahmu yang masih lurus akan menolak menjadi seperti orang-orang fasik dan pendosa tersebut. Nuranimu yang hidup akan mengingatkanmu bahwa engkau seorang muslim, dan muslim harus menjaga kesucian jiwa, hati, dan anggota badannya. Engkau tidak sepatutnya mencontoh orang-orang fasik tersebut, tapi mencontoh orang-orang beriman dan berusaha menjadi seperti para sahabat muda yang mengemban di pundak mereka tugas menyebarkan Islam saat mereka masih seusiamu, seperti Usamah bin Zaid dan Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhum. Faktor pendukung lain yang membantumu untuk menjauhi dosa besar ini adalah menyibukkan diri dengan urusan-urusan yang penting, karena dirimu, waktumu, akalmu, dan hatimu bagaikan wadah yang tidak bisa kosong, jika engkau tidak mengisinya dengan hal yang bermanfaat, maka engkau akan mengisinya dengan hal-hal remeh atau bahkan hal-hal buruk, maka jagalah wadahmu ini, niscaya hidupmu akan menjadi lurus. Berusahalah untuk menghadiri majelis-majelis ilmu, serta halaqah-halaqah Al-Qur’an dan zikir, karena ini termasuk hal yang dapat membenahi hati, meluruskan jiwa, dan menjadi batas penghalang antara dirimu dan dosa-dosa besar dengan izin Allah. Berusahalah juga untuk melakukan puasa, karena dapat meringankan dan menurunkan gejolak syahwat. Padamkanlah juga syahwatmu dengan rutin berolahraga dan meningkatkan prestasi belajarmu serta segala hal yang dapat membawa kebaikan bagi masa depanmu. Jauhilah segala hal yang membuatmu ingat dengan kemaksiatan ini atau mendekatkanmu kepadanya, karena setiap kali engkau menjauhi hal-hal yang memicu kemaksiatan, maka dengan izin Allah, itu akan semakin memudahkanmu untuk tidak terjerumus lagi ke dalamnya. Salah satunya adalah dengan menjauhi setiap laki-laki yang kamu merasa punya kecondongan yang tidak normal terhadapnya. Jagalah pandanganmu dari melihat hal-hal yang diharamkan Allah ‘Azza wa Jalla, karena pandangan merupakan pembangkit utama bagi syahwat dan kezaliman yang besar bagi jiwa karena ia membuka pintu yang menjerumuskan kepada kemaksiatan.  Jagalah pikiranmu agar tidak memikirkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah, karena ketika kita melepas tali kendali dari pikiran kita, bisa jadi itu akan berubah menjadi keinginan, kemudian keinginan itu seiring berjalannya waktu bisa menjadi perbuatan. Oleh sebab itu, tutuplah pintu-pintu ini dari awal. Lalu seiring dengan berjalannya waktu, engkau akan mendapati dirimu sudah menjadi orang yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah, dan mendapati dosa itu tidak lagi punya tempat di hidupmu, dengan izin Allah. Lalu hubunganmu dengan laki-laki akan menjadi hubungan yang normal dan biasa. Adapun ketergantunganmu dengan teman laki-lakimu itu, maka kita akui saja bahwa engkau sedang berada dalam kondisi yang lemah, sedangkan ketergantunganmu dengan temanmu itu bisa membuatmu semakin lemah di hadapan kemaksiatanmu. Jadikanlah hubunganmu dengannya sebagai hubungan pertemanan biasa yang seimbang, tidak terlalu dekat sehingga membuatmu semakin tergantung kepadanya. Hendaklah kalian berdua saling membantu untuk mendekat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan menjalankan ketaatan-Nya. Latihlah dirimu untuk agar hatimu tidak terpaut dengan siapa pun selain Allah, dan hubunganmu dengan orang-orang di sekitarmu adalah hubungan yang berimbang, tidak terlalu dekat dan tidak pula terlalu jauh. Setiap kali engkau merasa ketergantungan dengan seseorang atau sesuatu, maka berusahalah untuk menyibukkan diri darinya dengan hal-hal yang bermanfaat bagi akhiratmu, agar perasaanmu terhadapnya menjadi perasaan yang normal. Perbanyaklah berdoa agar kecintaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah kecintaan yang terbesar dalam hatimu. Terakhir, percayalah bahwa terlepas dari dosa ini bukanlah hal yang mustahil. Jangan beri kesempatan bagi setan untuk menimpakanmu ke dalam kegelisahan, kesedihan, dan kegalauan hati serta menjadikanmu putus asa terhadap dirimu sendiri, yang pada akhirnya membuatmu menjauh dari Allah ‘Azza wa Jalla, lalai terhadap hak-hak diri sendiri, dan tak acuh terhadap ibadah dan pendidikanmu. Berhati-hatilah dari segala tipu daya setan, ingatkanlah dirimu bahwa Allah Maha Menerima taubat, Maha Penyayang, Maha Pengampun, dan Maha Pengasih. Sebesar apa pun dosa yang telah engkau perbuat, Allah ‘Azza wa Jalla tetap memberimu kesempatan untuk bertaubat. Yang penting, engkau memanfaatkan kesempatan ini untuk menjadi golongan orang-orang yang bertaubat dan terus teguh di atas jalan yang lurus, meskipun jiwa sedang lemah dan godaan di sekeliling kita sedang begitu masif. Wahai anakku, mendekatlah kepada Tuhanmu, mintalah kepada-Nya agar memberi pertolongan dalam melawan hawa nafsu, serta melindungimu dari keburukan nafsu dan keburukan setan. Janganlah berputus asa terhadap dirimu sendiri, karena Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan menolak orang yang datang kepada-Nya dalam keadaan bertaubat. Sebaliknya, Dia senang dengan taubatnya dan menolongnya untuk memperbaiki diri. Saya memohon kepada Allah agar menjadikanmu mencintai keimanan dan menghiasinya di dalam hatimu, serta menjadikanmu membenci kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan, juga menjadikanmu termasuk pemuda-pemuda terbaik di kalangan kaum Muslimin. Sumber: https://www.alukah.net/fatawa_counsels/0/181026/أقاوم-الشذوذ-لكن-لا-أستطيع/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 311 times, 1 visit(s) today Post Views: 101

Mengenal Akidah Maturidiyyah (Bag. 1): Pendiri, Perkembangan, dan Penyebaran

Daftar Isi TogglePengertian Maturidiyyah dan penisbatan namanyaAbu Manshur al-Maturidi: Nasab dan kehidupannyaHubungan Maturidiyyah dengan Kullabiyyah dan Asy’ariyyahKemunculan dan perkembangan MaturidiyyahWilayah penyebaran Maturidiyyah dan Asy’ariyyahSebab-sebab penyebaran MaturidiyyahPertama: Dukungan kekuasaan politikKedua: Jaringan madrasah dan pendidikanKetiga: Aktivitas penulisanKeempat: Faktor-faktor pendukung lainnyaPenutupDalam sejarah pemikiran Islam, tidak sedikit aliran teologi yang muncul sebagai respons terhadap pergolakan intelektual di masanya. Sebagian dari aliran itu berkembang menjadi arus besar yang mempengaruhi cara beragama banyak orang hingga hari ini. Maturidiyyah adalah salah satunya. Aliran ini sering disebut beriringan dengan Asy’ariyyah, bahkan keduanya kerap diklaim sebagai representasi Ahlussunnah oleh para pengikutnya. Namun, bagi penuntut ilmu yang ingin memahami duduk perkara secara jernih, penting untuk menelusuri terlebih dahulu: siapa pendiri aliran ini, bagaimana ia muncul, apa saja pokok-pokok keyakinannya, dan mengapa ia bisa tersebar begitu luas.Pengertian Maturidiyyah dan penisbatan namanyaMaturidiyyah adalah sebuah aliran kalam yang dinisbatkan kepada Abu Manshur al-Maturidi. Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan mendefinisikan,الماتريدية: فرقة كلامية بدعية، تنسب إلى أبي منصور الماتريدي، قامت على استخدام البراهين والدلائل العقلية والكلامية في محاججة خصومها، من المعتزلة والجهمية وغيرهم، لإثبات حقائق الدين والعقيدة الإسلامية“Maturidiyyah adalah aliran kalam (filsafat) yang bid’ah, dinisbatkan kepada Abu Manshur al-Maturidi, yang dibangun di atas penggunaan argumen rasional dan kalam dalam berdebat melawan lawan-lawannya dari kalangan Mu’tazilah, Jahmiyyah, dan lainnya, dengan tujuan menetapkan kebenaran agama dan akidah Islam.” [1]Nama “Maturidiyyah” diambil langsung dari nama tokoh pendirinya. Meskipun al-Maturidi berasal dari daerah Maturid di wilayah Samarkand, para ulama sepakat bahwa aliran ini dinisbatkan kepadanya sebagai sosok yang merumuskan pokok-pokok teologisnya.Abu Manshur al-Maturidi: Nasab dan kehidupannyaNama lengkapnya adalah Abu Manshur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud bin Muhammad al-Maturidi as-Samarqandi al-Hanafi. Sumber-sumber klasik tidak menyebutkan dengan pasti tahun kelahirannya. Sebagian peneliti kontemporer menyebut sekitar tahun 238 H, dan sebagian lainnya menyebut 258 H. Adapun wafatnya, para penulis biografi sepakat bahwa ia wafat pada tahun 333 H. [2]Al-Maturidi menimba ilmu fikih Hanafi dan ilmu kalam dari para ulama di masanya. Di antaranya adalah Nashr bin Yahya al-Balkhi (w. 268 H), Abu Nashr al-‘Iyadhi, Abu Bakr Ahmad al-Juzjani, dan Abu Sulaiman al-Juzjani. Dari para guru inilah ia membentuk corak pemikirannya, hingga ia menjadi salah satu tokoh besar di kalangan Hanafiyyah. [3]Satu hal yang perlu dicatat tentang al-Maturidi adalah latar belakang keilmuannya. Ia dikenal sebagai seorang yang banyak berdebat dan mendalami ilmu kalam, namun tidak memiliki kedalaman dalam bidang Sunah dan atsar. Sebagaimana disebutkan,كان معدوداً في فقهاء الحنفية، وكان صاحب جدل وكلام ولم يكن له دراية بالسنن والآثار“Ia tergolong dalam jajaran fuqaha Hanafiyyah, ia dikenal sebagai ahli perdebatan dan kalam, namun tidak memiliki pengetahuan mendalam dalam bidang Sunah dan atsar.” [4]Keterangan ini penting untuk dipahami. Latar belakang keilmuan seorang tokoh sangat mempengaruhi corak pemikiran yang ia hasilkan. Ketika seseorang lebih banyak berkutat dengan ilmu kalam dibanding hadis dan atsar, maka wajar jika produk pemikirannya lebih banyak dibangun di atas kerangka rasional ketimbang kerangka naqliy.Hubungan Maturidiyyah dengan Kullabiyyah dan Asy’ariyyahSatu hal yang jarang diperhatikan adalah bahwa Maturidiyyah dan Asy’ariyyah sebenarnya bukan dua aliran yang muncul terpisah tanpa akar yang sama. Keduanya bertemu di satu titik, yaitu aliran Kullabiyyah. Ketika menjelaskan posisi al-Maturidi dalam peta aliran kalam, Ibnu Taimiyah menyebutkan,وقد نهج منهجاً كلامياً في تقرير العقيدة يشابه إلى حد كبير منهج متأخري الأشاعرة، وعداده في أهل الكلام من الصفاتية من أمثال ابن كلاب وأبي الحسن الأشعري وأمثالهما. وقد تابع الماتريدي ابن كلاب في مسائل متعددة من مسائل الصفات وما يتعلق بها“Ia menempuh metode kalam dalam menetapkan akidah yang sangat menyerupai metode mutaakhkhirin (generasi belakangan) Asy’ariyyah. Ia tergolong dalam ahli kalam dari kalangan Shifatiyyah seperti Ibn Kullab, Abu al-Hasan al-Asy’ari, dan yang semisalnya. Al-Maturidi mengikuti Ibn Kullab dalam sejumlah masalah sifat dan hal-hal yang berkaitan dengannya.” [5]Bahkan akar hubungan ini bisa ditelusuri lebih jauh. Al-Maturidi bukanlah orang pertama dari kalangan Hanafiyyah yang terpengaruh ilmu kalam. Imam Ahmad bin Hanbal sendiri telah mengingatkan hal ini sejak masa yang lebih awal. Beliau berkata,وتبعه على قوله رجال من أصحاب أبي حنيفة وأصحاب عمرو بن عبيد بالبصرة“Telah mengikuti perkataannya (Jahm) sekelompok orang dari kalangan pengikut Abu Hanifah dan pengikut ‘Amr bin ‘Ubaid di Bashrah.” [6]Maka tidaklah mengherankan jika al-Maturidi, yang berasal dari lingkungan Hanafiyyah di wilayah Transoksiana, juga terpengaruh oleh metode kalam yang sudah lebih dahulu berkembang di kalangan sebagian Hanafiyyah. Disebutkan,فالماتريدي لا يبعد كثيراً عن أبي الحسن الأشعري (في طوره الثاني) فهو خصم لدود للمعتزلة، إلا أنه كان متأثراً بالمنهج الكلامي على طريقة ابن كلاب من الاعتماد على المناهج الكلامية في تقرير المسائل الاعتقادية شأنه في ذلك شأن أبي الحسن الأشعري، فكلاهما يعتبر امتداداً لمدرسة ابن كلاب“Al-Maturidi tidak jauh berbeda dari Abu al-Hasan al-Asy’ari (pada fase keduanya). Ia adalah musuh bebuyutan Mu’tazilah, namun ia tetap terpengaruh oleh metode kalam ala Ibn Kullab dalam menetapkan masalah-masalah akidah, sama halnya dengan Abu al-Hasan al-Asy’ari. Keduanya dianggap sebagai kelanjutan dari madrasah Ibn Kullab.” [7]Kedekatan inilah yang membuat sebagian tokoh menyebut Maturidiyyah sebagai “saudara kembar” Asy’ariyyah. Disebutkan,تعد الماتريدية شقيقة الأشعرية، وذلك لما بينهما من الائتلاف والاتفاق حتى لكأنهما فرقة واحدة، ويصعب التفريق بينهما. ولذلك يصرح كل من الأشاعرة والماتريدية بأن كلاً من أبي الحسن الأشعري وأبي منصور الماتريدي هما إماما أهل السنة على حد تعبيرهم“Maturidiyyah dianggap sebagai saudara kembar Asy’ariyyah, karena begitu banyaknya keselarasan dan kesepakatan di antara keduanya, seolah-olah keduanya adalah satu aliran dan sulit untuk dibedakan. Oleh karena itu, baik Asy’ariyyah maupun Maturidiyyah sama-sama menyatakan bahwa Abu al-Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi adalah dua imam Ahlussunnah (menurut istilah mereka).” [8]Tentu, klaim ini perlu ditimbang. Kalau tolak ukurnya adalah manhaj salaf yang murni, berpegang pada Al-Qur’an, Sunah, dan pemahaman sahabat tanpa mencampurnya dengan ilmu kalam, maka kedua aliran ini punya jarak yang cukup jelas dari manhaj tersebut.Kemunculan dan perkembangan MaturidiyyahMaturidiyyah mulai muncul pada penghujung abad ketiga Hijriah. Al-Maturidi dan al-Asy’ari hidup pada masa yang berdekatan, dan keduanya sama-sama membantah Mu’tazilah, namun dengan metode yang berbeda, meskipun banyak bertemu pada kesimpulan yang sama. Sumber-sumber sejarah tidak mencatat adanya pertemuan langsung, surat-menyurat, atau saling membaca karya di antara keduanya. [9]Sepeninggal al-Maturidi, murid-muridnya bekerja keras menyebarkan pemikiran gurunya. Mereka menyusun berbagai karya tulis yang mengikuti mazhab Abu Hanifah dalam fikih, dan di saat yang sama membawa akidah Maturidiyyah. Inilah yang menjadikan Maturidiyyah menyebar luas, terutama di wilayah Samarkand dan sekitarnya. [10]Di antara tokoh-tokoh penting Maturidiyyah setelah pendirinya adalah Abu al-Mu’in an-Nasafi (438-508 H), yaitu Maimun bin Muhammad bin Mu’tamad an-Nasafi al-Makhuli. Ia dianggap sebagai salah satu tokoh terbesar Maturidiyyah dan termasuk orang yang paling berjasa dalam membela dan menyebarkan mazhab al-Maturidi. Kedudukannya di kalangan Maturidiyyah serupa dengan kedudukan al-Baqillani dan al-Ghazali di kalangan Asy’ariyyah. Di antara karya pentingnya adalah Tabshirat al-Adillah, yang merupakan rujukan terluas dalam akidah Maturidiyyah setelah kitab at-Tauhid karya al-Maturidi sendiri. [11]Tokoh penting lainnya adalah Najm ad-Din ‘Umar an-Nasafi (462-537 H). Di antara karya-karyanya yang paling masyhur adalah al-‘Aqaa’id an-Nasafiyyah, sebuah matan ringkas dalam akidah Maturidiyyah yang merupakan ringkasan dari Tabshirat al-Adillah karya Abu al-Mu’in an-Nasafi. Matan ini kemudian menjadi salah satu matan akidah yang paling banyak disyarah dan dikaji di kalangan Maturidiyyah. [12]Setelah itu, tradisi penulisan di kalangan Maturidiyyah terus berkembang. Muncul berbagai matan, syarah, syarah atas syarah, dan hasyiyah atas syarah. Pola ini berlangsung selama berabad-abad hingga akidah Maturidiyyah memiliki khazanah literatur kalam yang sangat besar.Wilayah penyebaran Maturidiyyah dan Asy’ariyyahSatu hal yang menarik dari sejarah penyebaran kedua aliran ini adalah bahwa Maturidiyyah dan Asy’ariyyah hampir tidak saling berebut wilayah. Masing-masing menguasai kawasan tertentu tanpa banyak persaingan satu sama lain. Disebutkan,فالماتريدية انتشرت بين الأحناف الذين كانوا متواجدين في شرق العالم الإسلامي وشماله فقل أن تجد حنفياً على عقيدة الأشاعرة … بينما نجد الأشعرية قد انتشرت بين الشافعية والمالكية وهم اليوم يتواجدون في وسط وغرب وجنوب وجنوب شرق العالم الإسلامي، فجل الشافعية والمالكية على الأشعرية“Maturidiyyah tersebar di kalangan Hanafiyyah yang berada di timur dan utara dunia Islam. Jarang ditemukan seorang Hanafi yang berakidah Asy’ariyyah. Sementara itu, Asy’ariyyah tersebar di kalangan Syafi’iyyah dan Malikiyyah yang berada di tengah, barat, selatan, dan tenggara dunia Islam. Kebanyakan Syafi’iyyah dan Malikiyyah berpegang pada akidah Asy’ariyyah.” [13]Pola ini menunjukkan bahwa penyebaran kedua aliran ini sangat terkait dengan mazhab fikih. Maturidiyyah berjalan bersama Hanafiyyah, dan Asy’ariyyah berjalan bersama Syafi’iyyah dan Malikiyyah.Sebab-sebab penyebaran MaturidiyyahMaturidiyyah tersebar luas bukan tanpa sebab. Ada beberapa faktor yang sangat berpengaruh.Pertama: Dukungan kekuasaan politikIni adalah sebab yang paling utama. Ketika para sultan dan penguasa memeluk mazhab Hanafi, dengan sendirinya mazhab Hanafi tersebar di banyak wilayah. Dan karena Maturidiyyah berjalan bersama Hanafiyyah dalam fikih, maka dengan tersebarnya Hanafiyyah, tersebar pula Maturidiyyah.Hal ini sangat tampak pada masa Daulah ‘Utsmaniyyah. Para qadhi, mufti, khatib masjid, dan pimpinan madrasah pada umumnya bermazhab Hanafi dalam fikih dan Maturidi dalam akidah. Semakin luas wilayah kekuasaan ‘Utsmaniyyah, semakin luas pula penyebaran akidah Maturidiyyah. [14]Kedua: Jaringan madrasah dan pendidikanMadrasah-madrasah Maturidiyyah memainkan peran besar dalam menyebarkan akidah mereka. Termasuk di dalamnya madrasah-madrasah di wilayah Asia Selatan seperti Madrasah Deobandiyyah dan Madrasah Bareilwiyyah yang turut menjadi saluran penyebaran akidah Maturidiyyah. [15]Ketiga: Aktivitas penulisanMaturidiyyah sangat aktif dalam menyusun karya-karya ilmu kalam. Buku-buku mereka tersebar luas, dikaji, diajarkan, dan dijadikan kurikulum di banyak lembaga pendidikan. [16]Keempat: Faktor-faktor pendukung lainnyaDi samping tiga faktor utama di atas, ada beberapa hal lain yang secara kumulatif turut memperkuat penyebaran Maturidiyyah. Di antaranya: mereka menampilkan diri sebagai Ahlussunnah, menuduh ahlul hadis dengan tajsim dan tasybih, menyandarkan diri kepada para imam besar terutama Abu Hanifah, banyaknya kebenaran yang ada pada mereka dibanding kelompok bid’ah lainnya, aktifnya mereka membantah Jahmiyyah dan Mu’tazilah, serta lemahnya sebagian Ahlussunnah dalam menyebarkan akidah salaf dan membantah yang menyimpang. [17]PenutupMaturidiyyah adalah sebuah aliran kalam yang lahir di penghujung abad ketiga Hijriah di tangan Abu Manshur al-Maturidi. Ia muncul dalam konteks perdebatan dengan Mu’tazilah, namun metode yang dipakai bukanlah metode para imam salaf, melainkan metode ilmu kalam yang berakar dari tradisi Kullabiyyah. Oleh karena itu, meskipun Maturidiyyah membantah Mu’tazilah, ia tetap memiliki jarak dari manhaj salaf dalam banyak persoalan akidah.Penyebarannya yang luas tidak bisa dilepaskan dari faktor politik, jaringan madrasah, dan tradisi penulisan yang sangat aktif. Ia berjalan beriringan dengan mazhab Hanafi dalam fikih, sehingga di mana Hanafiyyah tumbuh, di situ Maturidiyyah biasanya juga hadir.Pada tulisan berikutnya, akan dibahas lebih rinci tentang perbedaan antara Maturidiyyah dan Asy’ariyyah, serta bagaimana para ulama Ahlussunnah membantah kekeliruan-kekeliruan yang ada pada kedua aliran ini. Wallahu a’lam bish-shawab.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 4.[2] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 4. Lihat juga: Dr. Syamsuddin al-Afghani, al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum min Tauhid al-Asmaa’ wash-Shifaat, 1: 209.[3] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 4-5.[4] Abdullah bin Yusuf al-Jadi’, al-‘Aqidah as-Salafiyyah fi Kalaam Rabb al-Bariyyah, hal. 279.[5] Ibn Taimiyyah, Majmu’ al-Fataawa, juz 7, hlm. 433. Juga: Minhaaj as-Sunnah, 2: 362.[6] Imam Ahmad bin Hanbal, ar-Radd ‘ala al-Jahmiyyah, hal. 103-105.[7] Dirangkum dari pembahasan hubungan Maturidiyyah dengan Kullabiyyah dan Asy’ariyyah. Lihat bahasan al-Wa’lan serta nukilan dari Ibn Taimiyyah dalam catatan kaki [5] dan [6].[8] Thaasy Kubra Zaadeh, Miftaah as-Sa’aadah, 2: 151-152.[9] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 5.[10] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 5-6.[11] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 6.[12] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 6.[13] Imam adz-Dzahabi, al-‘Arsy, tahqiq Muhammad bin Khalifah at-Tamimi, 1: 168-170.[14] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 7. Dengan merujuk kepada: an-Naafi’ al-Kabiir Muqaddimah al-Jaami’ ash-Shaghiir karya Imam Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani, hal. 7; ar-Raudhah al-Bahiyyah, hal. 4.[15] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 6-7.[16] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 7-8. Dengan merujuk kepada: ‘Aqidah al-Islam wa al-Imam al-Maaturidi, hal. 480.[17] Dr. Syamsuddin al-Afghani, al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum min Tauhid al-Asmaa’ wash-Shifaat, 1: 294-301. Daftar PustakaAl-Afghani, Syamsuddin bin Muhammad. Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum min Tauhid al-Asmaa’ wash-Shifaat. 3 jilid.Al-Jadi’, Abdullah bin Yusuf. Al-‘Aqidah as-Salafiyyah fi Kalaam Rabb al-Bariyyah.Ibnu Taimiyah, Taqiyyuddin Ahmad bin Abdul Halim. Majmu’ al-Fataawa. Ed. Abdurrahman bin Muhammad bin Qasim. Madinah: Majma’ al-Malik Fahd li Thibaa’at al-Mushaf asy-Syarif, 1425 H.Ibnu Taimiyah, Taqiyyuddin Ahmad bin Abdul Halim. Minhaaj as-Sunnah an-Nabawiyyah. Maktabah Syamilah.Imam Ahmad bin Hanbal. Ar-Radd ‘alal Jahmiyyah. Maktabah Syamilah.Al-Wa’lan, Abdul Majid bin Muhammad. Al-Maaturidiyyah. Maktabah Syamilah.Thaasy Kubra Zaadeh. Miftaah as-Sa’aadah wa Mishbaah as-Siyaadah. Maktabah Syamilah.

Mengenal Akidah Maturidiyyah (Bag. 1): Pendiri, Perkembangan, dan Penyebaran

Daftar Isi TogglePengertian Maturidiyyah dan penisbatan namanyaAbu Manshur al-Maturidi: Nasab dan kehidupannyaHubungan Maturidiyyah dengan Kullabiyyah dan Asy’ariyyahKemunculan dan perkembangan MaturidiyyahWilayah penyebaran Maturidiyyah dan Asy’ariyyahSebab-sebab penyebaran MaturidiyyahPertama: Dukungan kekuasaan politikKedua: Jaringan madrasah dan pendidikanKetiga: Aktivitas penulisanKeempat: Faktor-faktor pendukung lainnyaPenutupDalam sejarah pemikiran Islam, tidak sedikit aliran teologi yang muncul sebagai respons terhadap pergolakan intelektual di masanya. Sebagian dari aliran itu berkembang menjadi arus besar yang mempengaruhi cara beragama banyak orang hingga hari ini. Maturidiyyah adalah salah satunya. Aliran ini sering disebut beriringan dengan Asy’ariyyah, bahkan keduanya kerap diklaim sebagai representasi Ahlussunnah oleh para pengikutnya. Namun, bagi penuntut ilmu yang ingin memahami duduk perkara secara jernih, penting untuk menelusuri terlebih dahulu: siapa pendiri aliran ini, bagaimana ia muncul, apa saja pokok-pokok keyakinannya, dan mengapa ia bisa tersebar begitu luas.Pengertian Maturidiyyah dan penisbatan namanyaMaturidiyyah adalah sebuah aliran kalam yang dinisbatkan kepada Abu Manshur al-Maturidi. Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan mendefinisikan,الماتريدية: فرقة كلامية بدعية، تنسب إلى أبي منصور الماتريدي، قامت على استخدام البراهين والدلائل العقلية والكلامية في محاججة خصومها، من المعتزلة والجهمية وغيرهم، لإثبات حقائق الدين والعقيدة الإسلامية“Maturidiyyah adalah aliran kalam (filsafat) yang bid’ah, dinisbatkan kepada Abu Manshur al-Maturidi, yang dibangun di atas penggunaan argumen rasional dan kalam dalam berdebat melawan lawan-lawannya dari kalangan Mu’tazilah, Jahmiyyah, dan lainnya, dengan tujuan menetapkan kebenaran agama dan akidah Islam.” [1]Nama “Maturidiyyah” diambil langsung dari nama tokoh pendirinya. Meskipun al-Maturidi berasal dari daerah Maturid di wilayah Samarkand, para ulama sepakat bahwa aliran ini dinisbatkan kepadanya sebagai sosok yang merumuskan pokok-pokok teologisnya.Abu Manshur al-Maturidi: Nasab dan kehidupannyaNama lengkapnya adalah Abu Manshur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud bin Muhammad al-Maturidi as-Samarqandi al-Hanafi. Sumber-sumber klasik tidak menyebutkan dengan pasti tahun kelahirannya. Sebagian peneliti kontemporer menyebut sekitar tahun 238 H, dan sebagian lainnya menyebut 258 H. Adapun wafatnya, para penulis biografi sepakat bahwa ia wafat pada tahun 333 H. [2]Al-Maturidi menimba ilmu fikih Hanafi dan ilmu kalam dari para ulama di masanya. Di antaranya adalah Nashr bin Yahya al-Balkhi (w. 268 H), Abu Nashr al-‘Iyadhi, Abu Bakr Ahmad al-Juzjani, dan Abu Sulaiman al-Juzjani. Dari para guru inilah ia membentuk corak pemikirannya, hingga ia menjadi salah satu tokoh besar di kalangan Hanafiyyah. [3]Satu hal yang perlu dicatat tentang al-Maturidi adalah latar belakang keilmuannya. Ia dikenal sebagai seorang yang banyak berdebat dan mendalami ilmu kalam, namun tidak memiliki kedalaman dalam bidang Sunah dan atsar. Sebagaimana disebutkan,كان معدوداً في فقهاء الحنفية، وكان صاحب جدل وكلام ولم يكن له دراية بالسنن والآثار“Ia tergolong dalam jajaran fuqaha Hanafiyyah, ia dikenal sebagai ahli perdebatan dan kalam, namun tidak memiliki pengetahuan mendalam dalam bidang Sunah dan atsar.” [4]Keterangan ini penting untuk dipahami. Latar belakang keilmuan seorang tokoh sangat mempengaruhi corak pemikiran yang ia hasilkan. Ketika seseorang lebih banyak berkutat dengan ilmu kalam dibanding hadis dan atsar, maka wajar jika produk pemikirannya lebih banyak dibangun di atas kerangka rasional ketimbang kerangka naqliy.Hubungan Maturidiyyah dengan Kullabiyyah dan Asy’ariyyahSatu hal yang jarang diperhatikan adalah bahwa Maturidiyyah dan Asy’ariyyah sebenarnya bukan dua aliran yang muncul terpisah tanpa akar yang sama. Keduanya bertemu di satu titik, yaitu aliran Kullabiyyah. Ketika menjelaskan posisi al-Maturidi dalam peta aliran kalam, Ibnu Taimiyah menyebutkan,وقد نهج منهجاً كلامياً في تقرير العقيدة يشابه إلى حد كبير منهج متأخري الأشاعرة، وعداده في أهل الكلام من الصفاتية من أمثال ابن كلاب وأبي الحسن الأشعري وأمثالهما. وقد تابع الماتريدي ابن كلاب في مسائل متعددة من مسائل الصفات وما يتعلق بها“Ia menempuh metode kalam dalam menetapkan akidah yang sangat menyerupai metode mutaakhkhirin (generasi belakangan) Asy’ariyyah. Ia tergolong dalam ahli kalam dari kalangan Shifatiyyah seperti Ibn Kullab, Abu al-Hasan al-Asy’ari, dan yang semisalnya. Al-Maturidi mengikuti Ibn Kullab dalam sejumlah masalah sifat dan hal-hal yang berkaitan dengannya.” [5]Bahkan akar hubungan ini bisa ditelusuri lebih jauh. Al-Maturidi bukanlah orang pertama dari kalangan Hanafiyyah yang terpengaruh ilmu kalam. Imam Ahmad bin Hanbal sendiri telah mengingatkan hal ini sejak masa yang lebih awal. Beliau berkata,وتبعه على قوله رجال من أصحاب أبي حنيفة وأصحاب عمرو بن عبيد بالبصرة“Telah mengikuti perkataannya (Jahm) sekelompok orang dari kalangan pengikut Abu Hanifah dan pengikut ‘Amr bin ‘Ubaid di Bashrah.” [6]Maka tidaklah mengherankan jika al-Maturidi, yang berasal dari lingkungan Hanafiyyah di wilayah Transoksiana, juga terpengaruh oleh metode kalam yang sudah lebih dahulu berkembang di kalangan sebagian Hanafiyyah. Disebutkan,فالماتريدي لا يبعد كثيراً عن أبي الحسن الأشعري (في طوره الثاني) فهو خصم لدود للمعتزلة، إلا أنه كان متأثراً بالمنهج الكلامي على طريقة ابن كلاب من الاعتماد على المناهج الكلامية في تقرير المسائل الاعتقادية شأنه في ذلك شأن أبي الحسن الأشعري، فكلاهما يعتبر امتداداً لمدرسة ابن كلاب“Al-Maturidi tidak jauh berbeda dari Abu al-Hasan al-Asy’ari (pada fase keduanya). Ia adalah musuh bebuyutan Mu’tazilah, namun ia tetap terpengaruh oleh metode kalam ala Ibn Kullab dalam menetapkan masalah-masalah akidah, sama halnya dengan Abu al-Hasan al-Asy’ari. Keduanya dianggap sebagai kelanjutan dari madrasah Ibn Kullab.” [7]Kedekatan inilah yang membuat sebagian tokoh menyebut Maturidiyyah sebagai “saudara kembar” Asy’ariyyah. Disebutkan,تعد الماتريدية شقيقة الأشعرية، وذلك لما بينهما من الائتلاف والاتفاق حتى لكأنهما فرقة واحدة، ويصعب التفريق بينهما. ولذلك يصرح كل من الأشاعرة والماتريدية بأن كلاً من أبي الحسن الأشعري وأبي منصور الماتريدي هما إماما أهل السنة على حد تعبيرهم“Maturidiyyah dianggap sebagai saudara kembar Asy’ariyyah, karena begitu banyaknya keselarasan dan kesepakatan di antara keduanya, seolah-olah keduanya adalah satu aliran dan sulit untuk dibedakan. Oleh karena itu, baik Asy’ariyyah maupun Maturidiyyah sama-sama menyatakan bahwa Abu al-Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi adalah dua imam Ahlussunnah (menurut istilah mereka).” [8]Tentu, klaim ini perlu ditimbang. Kalau tolak ukurnya adalah manhaj salaf yang murni, berpegang pada Al-Qur’an, Sunah, dan pemahaman sahabat tanpa mencampurnya dengan ilmu kalam, maka kedua aliran ini punya jarak yang cukup jelas dari manhaj tersebut.Kemunculan dan perkembangan MaturidiyyahMaturidiyyah mulai muncul pada penghujung abad ketiga Hijriah. Al-Maturidi dan al-Asy’ari hidup pada masa yang berdekatan, dan keduanya sama-sama membantah Mu’tazilah, namun dengan metode yang berbeda, meskipun banyak bertemu pada kesimpulan yang sama. Sumber-sumber sejarah tidak mencatat adanya pertemuan langsung, surat-menyurat, atau saling membaca karya di antara keduanya. [9]Sepeninggal al-Maturidi, murid-muridnya bekerja keras menyebarkan pemikiran gurunya. Mereka menyusun berbagai karya tulis yang mengikuti mazhab Abu Hanifah dalam fikih, dan di saat yang sama membawa akidah Maturidiyyah. Inilah yang menjadikan Maturidiyyah menyebar luas, terutama di wilayah Samarkand dan sekitarnya. [10]Di antara tokoh-tokoh penting Maturidiyyah setelah pendirinya adalah Abu al-Mu’in an-Nasafi (438-508 H), yaitu Maimun bin Muhammad bin Mu’tamad an-Nasafi al-Makhuli. Ia dianggap sebagai salah satu tokoh terbesar Maturidiyyah dan termasuk orang yang paling berjasa dalam membela dan menyebarkan mazhab al-Maturidi. Kedudukannya di kalangan Maturidiyyah serupa dengan kedudukan al-Baqillani dan al-Ghazali di kalangan Asy’ariyyah. Di antara karya pentingnya adalah Tabshirat al-Adillah, yang merupakan rujukan terluas dalam akidah Maturidiyyah setelah kitab at-Tauhid karya al-Maturidi sendiri. [11]Tokoh penting lainnya adalah Najm ad-Din ‘Umar an-Nasafi (462-537 H). Di antara karya-karyanya yang paling masyhur adalah al-‘Aqaa’id an-Nasafiyyah, sebuah matan ringkas dalam akidah Maturidiyyah yang merupakan ringkasan dari Tabshirat al-Adillah karya Abu al-Mu’in an-Nasafi. Matan ini kemudian menjadi salah satu matan akidah yang paling banyak disyarah dan dikaji di kalangan Maturidiyyah. [12]Setelah itu, tradisi penulisan di kalangan Maturidiyyah terus berkembang. Muncul berbagai matan, syarah, syarah atas syarah, dan hasyiyah atas syarah. Pola ini berlangsung selama berabad-abad hingga akidah Maturidiyyah memiliki khazanah literatur kalam yang sangat besar.Wilayah penyebaran Maturidiyyah dan Asy’ariyyahSatu hal yang menarik dari sejarah penyebaran kedua aliran ini adalah bahwa Maturidiyyah dan Asy’ariyyah hampir tidak saling berebut wilayah. Masing-masing menguasai kawasan tertentu tanpa banyak persaingan satu sama lain. Disebutkan,فالماتريدية انتشرت بين الأحناف الذين كانوا متواجدين في شرق العالم الإسلامي وشماله فقل أن تجد حنفياً على عقيدة الأشاعرة … بينما نجد الأشعرية قد انتشرت بين الشافعية والمالكية وهم اليوم يتواجدون في وسط وغرب وجنوب وجنوب شرق العالم الإسلامي، فجل الشافعية والمالكية على الأشعرية“Maturidiyyah tersebar di kalangan Hanafiyyah yang berada di timur dan utara dunia Islam. Jarang ditemukan seorang Hanafi yang berakidah Asy’ariyyah. Sementara itu, Asy’ariyyah tersebar di kalangan Syafi’iyyah dan Malikiyyah yang berada di tengah, barat, selatan, dan tenggara dunia Islam. Kebanyakan Syafi’iyyah dan Malikiyyah berpegang pada akidah Asy’ariyyah.” [13]Pola ini menunjukkan bahwa penyebaran kedua aliran ini sangat terkait dengan mazhab fikih. Maturidiyyah berjalan bersama Hanafiyyah, dan Asy’ariyyah berjalan bersama Syafi’iyyah dan Malikiyyah.Sebab-sebab penyebaran MaturidiyyahMaturidiyyah tersebar luas bukan tanpa sebab. Ada beberapa faktor yang sangat berpengaruh.Pertama: Dukungan kekuasaan politikIni adalah sebab yang paling utama. Ketika para sultan dan penguasa memeluk mazhab Hanafi, dengan sendirinya mazhab Hanafi tersebar di banyak wilayah. Dan karena Maturidiyyah berjalan bersama Hanafiyyah dalam fikih, maka dengan tersebarnya Hanafiyyah, tersebar pula Maturidiyyah.Hal ini sangat tampak pada masa Daulah ‘Utsmaniyyah. Para qadhi, mufti, khatib masjid, dan pimpinan madrasah pada umumnya bermazhab Hanafi dalam fikih dan Maturidi dalam akidah. Semakin luas wilayah kekuasaan ‘Utsmaniyyah, semakin luas pula penyebaran akidah Maturidiyyah. [14]Kedua: Jaringan madrasah dan pendidikanMadrasah-madrasah Maturidiyyah memainkan peran besar dalam menyebarkan akidah mereka. Termasuk di dalamnya madrasah-madrasah di wilayah Asia Selatan seperti Madrasah Deobandiyyah dan Madrasah Bareilwiyyah yang turut menjadi saluran penyebaran akidah Maturidiyyah. [15]Ketiga: Aktivitas penulisanMaturidiyyah sangat aktif dalam menyusun karya-karya ilmu kalam. Buku-buku mereka tersebar luas, dikaji, diajarkan, dan dijadikan kurikulum di banyak lembaga pendidikan. [16]Keempat: Faktor-faktor pendukung lainnyaDi samping tiga faktor utama di atas, ada beberapa hal lain yang secara kumulatif turut memperkuat penyebaran Maturidiyyah. Di antaranya: mereka menampilkan diri sebagai Ahlussunnah, menuduh ahlul hadis dengan tajsim dan tasybih, menyandarkan diri kepada para imam besar terutama Abu Hanifah, banyaknya kebenaran yang ada pada mereka dibanding kelompok bid’ah lainnya, aktifnya mereka membantah Jahmiyyah dan Mu’tazilah, serta lemahnya sebagian Ahlussunnah dalam menyebarkan akidah salaf dan membantah yang menyimpang. [17]PenutupMaturidiyyah adalah sebuah aliran kalam yang lahir di penghujung abad ketiga Hijriah di tangan Abu Manshur al-Maturidi. Ia muncul dalam konteks perdebatan dengan Mu’tazilah, namun metode yang dipakai bukanlah metode para imam salaf, melainkan metode ilmu kalam yang berakar dari tradisi Kullabiyyah. Oleh karena itu, meskipun Maturidiyyah membantah Mu’tazilah, ia tetap memiliki jarak dari manhaj salaf dalam banyak persoalan akidah.Penyebarannya yang luas tidak bisa dilepaskan dari faktor politik, jaringan madrasah, dan tradisi penulisan yang sangat aktif. Ia berjalan beriringan dengan mazhab Hanafi dalam fikih, sehingga di mana Hanafiyyah tumbuh, di situ Maturidiyyah biasanya juga hadir.Pada tulisan berikutnya, akan dibahas lebih rinci tentang perbedaan antara Maturidiyyah dan Asy’ariyyah, serta bagaimana para ulama Ahlussunnah membantah kekeliruan-kekeliruan yang ada pada kedua aliran ini. Wallahu a’lam bish-shawab.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 4.[2] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 4. Lihat juga: Dr. Syamsuddin al-Afghani, al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum min Tauhid al-Asmaa’ wash-Shifaat, 1: 209.[3] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 4-5.[4] Abdullah bin Yusuf al-Jadi’, al-‘Aqidah as-Salafiyyah fi Kalaam Rabb al-Bariyyah, hal. 279.[5] Ibn Taimiyyah, Majmu’ al-Fataawa, juz 7, hlm. 433. Juga: Minhaaj as-Sunnah, 2: 362.[6] Imam Ahmad bin Hanbal, ar-Radd ‘ala al-Jahmiyyah, hal. 103-105.[7] Dirangkum dari pembahasan hubungan Maturidiyyah dengan Kullabiyyah dan Asy’ariyyah. Lihat bahasan al-Wa’lan serta nukilan dari Ibn Taimiyyah dalam catatan kaki [5] dan [6].[8] Thaasy Kubra Zaadeh, Miftaah as-Sa’aadah, 2: 151-152.[9] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 5.[10] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 5-6.[11] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 6.[12] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 6.[13] Imam adz-Dzahabi, al-‘Arsy, tahqiq Muhammad bin Khalifah at-Tamimi, 1: 168-170.[14] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 7. Dengan merujuk kepada: an-Naafi’ al-Kabiir Muqaddimah al-Jaami’ ash-Shaghiir karya Imam Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani, hal. 7; ar-Raudhah al-Bahiyyah, hal. 4.[15] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 6-7.[16] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 7-8. Dengan merujuk kepada: ‘Aqidah al-Islam wa al-Imam al-Maaturidi, hal. 480.[17] Dr. Syamsuddin al-Afghani, al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum min Tauhid al-Asmaa’ wash-Shifaat, 1: 294-301. Daftar PustakaAl-Afghani, Syamsuddin bin Muhammad. Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum min Tauhid al-Asmaa’ wash-Shifaat. 3 jilid.Al-Jadi’, Abdullah bin Yusuf. Al-‘Aqidah as-Salafiyyah fi Kalaam Rabb al-Bariyyah.Ibnu Taimiyah, Taqiyyuddin Ahmad bin Abdul Halim. Majmu’ al-Fataawa. Ed. Abdurrahman bin Muhammad bin Qasim. Madinah: Majma’ al-Malik Fahd li Thibaa’at al-Mushaf asy-Syarif, 1425 H.Ibnu Taimiyah, Taqiyyuddin Ahmad bin Abdul Halim. Minhaaj as-Sunnah an-Nabawiyyah. Maktabah Syamilah.Imam Ahmad bin Hanbal. Ar-Radd ‘alal Jahmiyyah. Maktabah Syamilah.Al-Wa’lan, Abdul Majid bin Muhammad. Al-Maaturidiyyah. Maktabah Syamilah.Thaasy Kubra Zaadeh. Miftaah as-Sa’aadah wa Mishbaah as-Siyaadah. Maktabah Syamilah.
Daftar Isi TogglePengertian Maturidiyyah dan penisbatan namanyaAbu Manshur al-Maturidi: Nasab dan kehidupannyaHubungan Maturidiyyah dengan Kullabiyyah dan Asy’ariyyahKemunculan dan perkembangan MaturidiyyahWilayah penyebaran Maturidiyyah dan Asy’ariyyahSebab-sebab penyebaran MaturidiyyahPertama: Dukungan kekuasaan politikKedua: Jaringan madrasah dan pendidikanKetiga: Aktivitas penulisanKeempat: Faktor-faktor pendukung lainnyaPenutupDalam sejarah pemikiran Islam, tidak sedikit aliran teologi yang muncul sebagai respons terhadap pergolakan intelektual di masanya. Sebagian dari aliran itu berkembang menjadi arus besar yang mempengaruhi cara beragama banyak orang hingga hari ini. Maturidiyyah adalah salah satunya. Aliran ini sering disebut beriringan dengan Asy’ariyyah, bahkan keduanya kerap diklaim sebagai representasi Ahlussunnah oleh para pengikutnya. Namun, bagi penuntut ilmu yang ingin memahami duduk perkara secara jernih, penting untuk menelusuri terlebih dahulu: siapa pendiri aliran ini, bagaimana ia muncul, apa saja pokok-pokok keyakinannya, dan mengapa ia bisa tersebar begitu luas.Pengertian Maturidiyyah dan penisbatan namanyaMaturidiyyah adalah sebuah aliran kalam yang dinisbatkan kepada Abu Manshur al-Maturidi. Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan mendefinisikan,الماتريدية: فرقة كلامية بدعية، تنسب إلى أبي منصور الماتريدي، قامت على استخدام البراهين والدلائل العقلية والكلامية في محاججة خصومها، من المعتزلة والجهمية وغيرهم، لإثبات حقائق الدين والعقيدة الإسلامية“Maturidiyyah adalah aliran kalam (filsafat) yang bid’ah, dinisbatkan kepada Abu Manshur al-Maturidi, yang dibangun di atas penggunaan argumen rasional dan kalam dalam berdebat melawan lawan-lawannya dari kalangan Mu’tazilah, Jahmiyyah, dan lainnya, dengan tujuan menetapkan kebenaran agama dan akidah Islam.” [1]Nama “Maturidiyyah” diambil langsung dari nama tokoh pendirinya. Meskipun al-Maturidi berasal dari daerah Maturid di wilayah Samarkand, para ulama sepakat bahwa aliran ini dinisbatkan kepadanya sebagai sosok yang merumuskan pokok-pokok teologisnya.Abu Manshur al-Maturidi: Nasab dan kehidupannyaNama lengkapnya adalah Abu Manshur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud bin Muhammad al-Maturidi as-Samarqandi al-Hanafi. Sumber-sumber klasik tidak menyebutkan dengan pasti tahun kelahirannya. Sebagian peneliti kontemporer menyebut sekitar tahun 238 H, dan sebagian lainnya menyebut 258 H. Adapun wafatnya, para penulis biografi sepakat bahwa ia wafat pada tahun 333 H. [2]Al-Maturidi menimba ilmu fikih Hanafi dan ilmu kalam dari para ulama di masanya. Di antaranya adalah Nashr bin Yahya al-Balkhi (w. 268 H), Abu Nashr al-‘Iyadhi, Abu Bakr Ahmad al-Juzjani, dan Abu Sulaiman al-Juzjani. Dari para guru inilah ia membentuk corak pemikirannya, hingga ia menjadi salah satu tokoh besar di kalangan Hanafiyyah. [3]Satu hal yang perlu dicatat tentang al-Maturidi adalah latar belakang keilmuannya. Ia dikenal sebagai seorang yang banyak berdebat dan mendalami ilmu kalam, namun tidak memiliki kedalaman dalam bidang Sunah dan atsar. Sebagaimana disebutkan,كان معدوداً في فقهاء الحنفية، وكان صاحب جدل وكلام ولم يكن له دراية بالسنن والآثار“Ia tergolong dalam jajaran fuqaha Hanafiyyah, ia dikenal sebagai ahli perdebatan dan kalam, namun tidak memiliki pengetahuan mendalam dalam bidang Sunah dan atsar.” [4]Keterangan ini penting untuk dipahami. Latar belakang keilmuan seorang tokoh sangat mempengaruhi corak pemikiran yang ia hasilkan. Ketika seseorang lebih banyak berkutat dengan ilmu kalam dibanding hadis dan atsar, maka wajar jika produk pemikirannya lebih banyak dibangun di atas kerangka rasional ketimbang kerangka naqliy.Hubungan Maturidiyyah dengan Kullabiyyah dan Asy’ariyyahSatu hal yang jarang diperhatikan adalah bahwa Maturidiyyah dan Asy’ariyyah sebenarnya bukan dua aliran yang muncul terpisah tanpa akar yang sama. Keduanya bertemu di satu titik, yaitu aliran Kullabiyyah. Ketika menjelaskan posisi al-Maturidi dalam peta aliran kalam, Ibnu Taimiyah menyebutkan,وقد نهج منهجاً كلامياً في تقرير العقيدة يشابه إلى حد كبير منهج متأخري الأشاعرة، وعداده في أهل الكلام من الصفاتية من أمثال ابن كلاب وأبي الحسن الأشعري وأمثالهما. وقد تابع الماتريدي ابن كلاب في مسائل متعددة من مسائل الصفات وما يتعلق بها“Ia menempuh metode kalam dalam menetapkan akidah yang sangat menyerupai metode mutaakhkhirin (generasi belakangan) Asy’ariyyah. Ia tergolong dalam ahli kalam dari kalangan Shifatiyyah seperti Ibn Kullab, Abu al-Hasan al-Asy’ari, dan yang semisalnya. Al-Maturidi mengikuti Ibn Kullab dalam sejumlah masalah sifat dan hal-hal yang berkaitan dengannya.” [5]Bahkan akar hubungan ini bisa ditelusuri lebih jauh. Al-Maturidi bukanlah orang pertama dari kalangan Hanafiyyah yang terpengaruh ilmu kalam. Imam Ahmad bin Hanbal sendiri telah mengingatkan hal ini sejak masa yang lebih awal. Beliau berkata,وتبعه على قوله رجال من أصحاب أبي حنيفة وأصحاب عمرو بن عبيد بالبصرة“Telah mengikuti perkataannya (Jahm) sekelompok orang dari kalangan pengikut Abu Hanifah dan pengikut ‘Amr bin ‘Ubaid di Bashrah.” [6]Maka tidaklah mengherankan jika al-Maturidi, yang berasal dari lingkungan Hanafiyyah di wilayah Transoksiana, juga terpengaruh oleh metode kalam yang sudah lebih dahulu berkembang di kalangan sebagian Hanafiyyah. Disebutkan,فالماتريدي لا يبعد كثيراً عن أبي الحسن الأشعري (في طوره الثاني) فهو خصم لدود للمعتزلة، إلا أنه كان متأثراً بالمنهج الكلامي على طريقة ابن كلاب من الاعتماد على المناهج الكلامية في تقرير المسائل الاعتقادية شأنه في ذلك شأن أبي الحسن الأشعري، فكلاهما يعتبر امتداداً لمدرسة ابن كلاب“Al-Maturidi tidak jauh berbeda dari Abu al-Hasan al-Asy’ari (pada fase keduanya). Ia adalah musuh bebuyutan Mu’tazilah, namun ia tetap terpengaruh oleh metode kalam ala Ibn Kullab dalam menetapkan masalah-masalah akidah, sama halnya dengan Abu al-Hasan al-Asy’ari. Keduanya dianggap sebagai kelanjutan dari madrasah Ibn Kullab.” [7]Kedekatan inilah yang membuat sebagian tokoh menyebut Maturidiyyah sebagai “saudara kembar” Asy’ariyyah. Disebutkan,تعد الماتريدية شقيقة الأشعرية، وذلك لما بينهما من الائتلاف والاتفاق حتى لكأنهما فرقة واحدة، ويصعب التفريق بينهما. ولذلك يصرح كل من الأشاعرة والماتريدية بأن كلاً من أبي الحسن الأشعري وأبي منصور الماتريدي هما إماما أهل السنة على حد تعبيرهم“Maturidiyyah dianggap sebagai saudara kembar Asy’ariyyah, karena begitu banyaknya keselarasan dan kesepakatan di antara keduanya, seolah-olah keduanya adalah satu aliran dan sulit untuk dibedakan. Oleh karena itu, baik Asy’ariyyah maupun Maturidiyyah sama-sama menyatakan bahwa Abu al-Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi adalah dua imam Ahlussunnah (menurut istilah mereka).” [8]Tentu, klaim ini perlu ditimbang. Kalau tolak ukurnya adalah manhaj salaf yang murni, berpegang pada Al-Qur’an, Sunah, dan pemahaman sahabat tanpa mencampurnya dengan ilmu kalam, maka kedua aliran ini punya jarak yang cukup jelas dari manhaj tersebut.Kemunculan dan perkembangan MaturidiyyahMaturidiyyah mulai muncul pada penghujung abad ketiga Hijriah. Al-Maturidi dan al-Asy’ari hidup pada masa yang berdekatan, dan keduanya sama-sama membantah Mu’tazilah, namun dengan metode yang berbeda, meskipun banyak bertemu pada kesimpulan yang sama. Sumber-sumber sejarah tidak mencatat adanya pertemuan langsung, surat-menyurat, atau saling membaca karya di antara keduanya. [9]Sepeninggal al-Maturidi, murid-muridnya bekerja keras menyebarkan pemikiran gurunya. Mereka menyusun berbagai karya tulis yang mengikuti mazhab Abu Hanifah dalam fikih, dan di saat yang sama membawa akidah Maturidiyyah. Inilah yang menjadikan Maturidiyyah menyebar luas, terutama di wilayah Samarkand dan sekitarnya. [10]Di antara tokoh-tokoh penting Maturidiyyah setelah pendirinya adalah Abu al-Mu’in an-Nasafi (438-508 H), yaitu Maimun bin Muhammad bin Mu’tamad an-Nasafi al-Makhuli. Ia dianggap sebagai salah satu tokoh terbesar Maturidiyyah dan termasuk orang yang paling berjasa dalam membela dan menyebarkan mazhab al-Maturidi. Kedudukannya di kalangan Maturidiyyah serupa dengan kedudukan al-Baqillani dan al-Ghazali di kalangan Asy’ariyyah. Di antara karya pentingnya adalah Tabshirat al-Adillah, yang merupakan rujukan terluas dalam akidah Maturidiyyah setelah kitab at-Tauhid karya al-Maturidi sendiri. [11]Tokoh penting lainnya adalah Najm ad-Din ‘Umar an-Nasafi (462-537 H). Di antara karya-karyanya yang paling masyhur adalah al-‘Aqaa’id an-Nasafiyyah, sebuah matan ringkas dalam akidah Maturidiyyah yang merupakan ringkasan dari Tabshirat al-Adillah karya Abu al-Mu’in an-Nasafi. Matan ini kemudian menjadi salah satu matan akidah yang paling banyak disyarah dan dikaji di kalangan Maturidiyyah. [12]Setelah itu, tradisi penulisan di kalangan Maturidiyyah terus berkembang. Muncul berbagai matan, syarah, syarah atas syarah, dan hasyiyah atas syarah. Pola ini berlangsung selama berabad-abad hingga akidah Maturidiyyah memiliki khazanah literatur kalam yang sangat besar.Wilayah penyebaran Maturidiyyah dan Asy’ariyyahSatu hal yang menarik dari sejarah penyebaran kedua aliran ini adalah bahwa Maturidiyyah dan Asy’ariyyah hampir tidak saling berebut wilayah. Masing-masing menguasai kawasan tertentu tanpa banyak persaingan satu sama lain. Disebutkan,فالماتريدية انتشرت بين الأحناف الذين كانوا متواجدين في شرق العالم الإسلامي وشماله فقل أن تجد حنفياً على عقيدة الأشاعرة … بينما نجد الأشعرية قد انتشرت بين الشافعية والمالكية وهم اليوم يتواجدون في وسط وغرب وجنوب وجنوب شرق العالم الإسلامي، فجل الشافعية والمالكية على الأشعرية“Maturidiyyah tersebar di kalangan Hanafiyyah yang berada di timur dan utara dunia Islam. Jarang ditemukan seorang Hanafi yang berakidah Asy’ariyyah. Sementara itu, Asy’ariyyah tersebar di kalangan Syafi’iyyah dan Malikiyyah yang berada di tengah, barat, selatan, dan tenggara dunia Islam. Kebanyakan Syafi’iyyah dan Malikiyyah berpegang pada akidah Asy’ariyyah.” [13]Pola ini menunjukkan bahwa penyebaran kedua aliran ini sangat terkait dengan mazhab fikih. Maturidiyyah berjalan bersama Hanafiyyah, dan Asy’ariyyah berjalan bersama Syafi’iyyah dan Malikiyyah.Sebab-sebab penyebaran MaturidiyyahMaturidiyyah tersebar luas bukan tanpa sebab. Ada beberapa faktor yang sangat berpengaruh.Pertama: Dukungan kekuasaan politikIni adalah sebab yang paling utama. Ketika para sultan dan penguasa memeluk mazhab Hanafi, dengan sendirinya mazhab Hanafi tersebar di banyak wilayah. Dan karena Maturidiyyah berjalan bersama Hanafiyyah dalam fikih, maka dengan tersebarnya Hanafiyyah, tersebar pula Maturidiyyah.Hal ini sangat tampak pada masa Daulah ‘Utsmaniyyah. Para qadhi, mufti, khatib masjid, dan pimpinan madrasah pada umumnya bermazhab Hanafi dalam fikih dan Maturidi dalam akidah. Semakin luas wilayah kekuasaan ‘Utsmaniyyah, semakin luas pula penyebaran akidah Maturidiyyah. [14]Kedua: Jaringan madrasah dan pendidikanMadrasah-madrasah Maturidiyyah memainkan peran besar dalam menyebarkan akidah mereka. Termasuk di dalamnya madrasah-madrasah di wilayah Asia Selatan seperti Madrasah Deobandiyyah dan Madrasah Bareilwiyyah yang turut menjadi saluran penyebaran akidah Maturidiyyah. [15]Ketiga: Aktivitas penulisanMaturidiyyah sangat aktif dalam menyusun karya-karya ilmu kalam. Buku-buku mereka tersebar luas, dikaji, diajarkan, dan dijadikan kurikulum di banyak lembaga pendidikan. [16]Keempat: Faktor-faktor pendukung lainnyaDi samping tiga faktor utama di atas, ada beberapa hal lain yang secara kumulatif turut memperkuat penyebaran Maturidiyyah. Di antaranya: mereka menampilkan diri sebagai Ahlussunnah, menuduh ahlul hadis dengan tajsim dan tasybih, menyandarkan diri kepada para imam besar terutama Abu Hanifah, banyaknya kebenaran yang ada pada mereka dibanding kelompok bid’ah lainnya, aktifnya mereka membantah Jahmiyyah dan Mu’tazilah, serta lemahnya sebagian Ahlussunnah dalam menyebarkan akidah salaf dan membantah yang menyimpang. [17]PenutupMaturidiyyah adalah sebuah aliran kalam yang lahir di penghujung abad ketiga Hijriah di tangan Abu Manshur al-Maturidi. Ia muncul dalam konteks perdebatan dengan Mu’tazilah, namun metode yang dipakai bukanlah metode para imam salaf, melainkan metode ilmu kalam yang berakar dari tradisi Kullabiyyah. Oleh karena itu, meskipun Maturidiyyah membantah Mu’tazilah, ia tetap memiliki jarak dari manhaj salaf dalam banyak persoalan akidah.Penyebarannya yang luas tidak bisa dilepaskan dari faktor politik, jaringan madrasah, dan tradisi penulisan yang sangat aktif. Ia berjalan beriringan dengan mazhab Hanafi dalam fikih, sehingga di mana Hanafiyyah tumbuh, di situ Maturidiyyah biasanya juga hadir.Pada tulisan berikutnya, akan dibahas lebih rinci tentang perbedaan antara Maturidiyyah dan Asy’ariyyah, serta bagaimana para ulama Ahlussunnah membantah kekeliruan-kekeliruan yang ada pada kedua aliran ini. Wallahu a’lam bish-shawab.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 4.[2] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 4. Lihat juga: Dr. Syamsuddin al-Afghani, al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum min Tauhid al-Asmaa’ wash-Shifaat, 1: 209.[3] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 4-5.[4] Abdullah bin Yusuf al-Jadi’, al-‘Aqidah as-Salafiyyah fi Kalaam Rabb al-Bariyyah, hal. 279.[5] Ibn Taimiyyah, Majmu’ al-Fataawa, juz 7, hlm. 433. Juga: Minhaaj as-Sunnah, 2: 362.[6] Imam Ahmad bin Hanbal, ar-Radd ‘ala al-Jahmiyyah, hal. 103-105.[7] Dirangkum dari pembahasan hubungan Maturidiyyah dengan Kullabiyyah dan Asy’ariyyah. Lihat bahasan al-Wa’lan serta nukilan dari Ibn Taimiyyah dalam catatan kaki [5] dan [6].[8] Thaasy Kubra Zaadeh, Miftaah as-Sa’aadah, 2: 151-152.[9] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 5.[10] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 5-6.[11] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 6.[12] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 6.[13] Imam adz-Dzahabi, al-‘Arsy, tahqiq Muhammad bin Khalifah at-Tamimi, 1: 168-170.[14] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 7. Dengan merujuk kepada: an-Naafi’ al-Kabiir Muqaddimah al-Jaami’ ash-Shaghiir karya Imam Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani, hal. 7; ar-Raudhah al-Bahiyyah, hal. 4.[15] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 6-7.[16] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 7-8. Dengan merujuk kepada: ‘Aqidah al-Islam wa al-Imam al-Maaturidi, hal. 480.[17] Dr. Syamsuddin al-Afghani, al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum min Tauhid al-Asmaa’ wash-Shifaat, 1: 294-301. Daftar PustakaAl-Afghani, Syamsuddin bin Muhammad. Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum min Tauhid al-Asmaa’ wash-Shifaat. 3 jilid.Al-Jadi’, Abdullah bin Yusuf. Al-‘Aqidah as-Salafiyyah fi Kalaam Rabb al-Bariyyah.Ibnu Taimiyah, Taqiyyuddin Ahmad bin Abdul Halim. Majmu’ al-Fataawa. Ed. Abdurrahman bin Muhammad bin Qasim. Madinah: Majma’ al-Malik Fahd li Thibaa’at al-Mushaf asy-Syarif, 1425 H.Ibnu Taimiyah, Taqiyyuddin Ahmad bin Abdul Halim. Minhaaj as-Sunnah an-Nabawiyyah. Maktabah Syamilah.Imam Ahmad bin Hanbal. Ar-Radd ‘alal Jahmiyyah. Maktabah Syamilah.Al-Wa’lan, Abdul Majid bin Muhammad. Al-Maaturidiyyah. Maktabah Syamilah.Thaasy Kubra Zaadeh. Miftaah as-Sa’aadah wa Mishbaah as-Siyaadah. Maktabah Syamilah.


Daftar Isi TogglePengertian Maturidiyyah dan penisbatan namanyaAbu Manshur al-Maturidi: Nasab dan kehidupannyaHubungan Maturidiyyah dengan Kullabiyyah dan Asy’ariyyahKemunculan dan perkembangan MaturidiyyahWilayah penyebaran Maturidiyyah dan Asy’ariyyahSebab-sebab penyebaran MaturidiyyahPertama: Dukungan kekuasaan politikKedua: Jaringan madrasah dan pendidikanKetiga: Aktivitas penulisanKeempat: Faktor-faktor pendukung lainnyaPenutupDalam sejarah pemikiran Islam, tidak sedikit aliran teologi yang muncul sebagai respons terhadap pergolakan intelektual di masanya. Sebagian dari aliran itu berkembang menjadi arus besar yang mempengaruhi cara beragama banyak orang hingga hari ini. Maturidiyyah adalah salah satunya. Aliran ini sering disebut beriringan dengan Asy’ariyyah, bahkan keduanya kerap diklaim sebagai representasi Ahlussunnah oleh para pengikutnya. Namun, bagi penuntut ilmu yang ingin memahami duduk perkara secara jernih, penting untuk menelusuri terlebih dahulu: siapa pendiri aliran ini, bagaimana ia muncul, apa saja pokok-pokok keyakinannya, dan mengapa ia bisa tersebar begitu luas.Pengertian Maturidiyyah dan penisbatan namanyaMaturidiyyah adalah sebuah aliran kalam yang dinisbatkan kepada Abu Manshur al-Maturidi. Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan mendefinisikan,الماتريدية: فرقة كلامية بدعية، تنسب إلى أبي منصور الماتريدي، قامت على استخدام البراهين والدلائل العقلية والكلامية في محاججة خصومها، من المعتزلة والجهمية وغيرهم، لإثبات حقائق الدين والعقيدة الإسلامية“Maturidiyyah adalah aliran kalam (filsafat) yang bid’ah, dinisbatkan kepada Abu Manshur al-Maturidi, yang dibangun di atas penggunaan argumen rasional dan kalam dalam berdebat melawan lawan-lawannya dari kalangan Mu’tazilah, Jahmiyyah, dan lainnya, dengan tujuan menetapkan kebenaran agama dan akidah Islam.” [1]Nama “Maturidiyyah” diambil langsung dari nama tokoh pendirinya. Meskipun al-Maturidi berasal dari daerah Maturid di wilayah Samarkand, para ulama sepakat bahwa aliran ini dinisbatkan kepadanya sebagai sosok yang merumuskan pokok-pokok teologisnya.Abu Manshur al-Maturidi: Nasab dan kehidupannyaNama lengkapnya adalah Abu Manshur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud bin Muhammad al-Maturidi as-Samarqandi al-Hanafi. Sumber-sumber klasik tidak menyebutkan dengan pasti tahun kelahirannya. Sebagian peneliti kontemporer menyebut sekitar tahun 238 H, dan sebagian lainnya menyebut 258 H. Adapun wafatnya, para penulis biografi sepakat bahwa ia wafat pada tahun 333 H. [2]Al-Maturidi menimba ilmu fikih Hanafi dan ilmu kalam dari para ulama di masanya. Di antaranya adalah Nashr bin Yahya al-Balkhi (w. 268 H), Abu Nashr al-‘Iyadhi, Abu Bakr Ahmad al-Juzjani, dan Abu Sulaiman al-Juzjani. Dari para guru inilah ia membentuk corak pemikirannya, hingga ia menjadi salah satu tokoh besar di kalangan Hanafiyyah. [3]Satu hal yang perlu dicatat tentang al-Maturidi adalah latar belakang keilmuannya. Ia dikenal sebagai seorang yang banyak berdebat dan mendalami ilmu kalam, namun tidak memiliki kedalaman dalam bidang Sunah dan atsar. Sebagaimana disebutkan,كان معدوداً في فقهاء الحنفية، وكان صاحب جدل وكلام ولم يكن له دراية بالسنن والآثار“Ia tergolong dalam jajaran fuqaha Hanafiyyah, ia dikenal sebagai ahli perdebatan dan kalam, namun tidak memiliki pengetahuan mendalam dalam bidang Sunah dan atsar.” [4]Keterangan ini penting untuk dipahami. Latar belakang keilmuan seorang tokoh sangat mempengaruhi corak pemikiran yang ia hasilkan. Ketika seseorang lebih banyak berkutat dengan ilmu kalam dibanding hadis dan atsar, maka wajar jika produk pemikirannya lebih banyak dibangun di atas kerangka rasional ketimbang kerangka naqliy.Hubungan Maturidiyyah dengan Kullabiyyah dan Asy’ariyyahSatu hal yang jarang diperhatikan adalah bahwa Maturidiyyah dan Asy’ariyyah sebenarnya bukan dua aliran yang muncul terpisah tanpa akar yang sama. Keduanya bertemu di satu titik, yaitu aliran Kullabiyyah. Ketika menjelaskan posisi al-Maturidi dalam peta aliran kalam, Ibnu Taimiyah menyebutkan,وقد نهج منهجاً كلامياً في تقرير العقيدة يشابه إلى حد كبير منهج متأخري الأشاعرة، وعداده في أهل الكلام من الصفاتية من أمثال ابن كلاب وأبي الحسن الأشعري وأمثالهما. وقد تابع الماتريدي ابن كلاب في مسائل متعددة من مسائل الصفات وما يتعلق بها“Ia menempuh metode kalam dalam menetapkan akidah yang sangat menyerupai metode mutaakhkhirin (generasi belakangan) Asy’ariyyah. Ia tergolong dalam ahli kalam dari kalangan Shifatiyyah seperti Ibn Kullab, Abu al-Hasan al-Asy’ari, dan yang semisalnya. Al-Maturidi mengikuti Ibn Kullab dalam sejumlah masalah sifat dan hal-hal yang berkaitan dengannya.” [5]Bahkan akar hubungan ini bisa ditelusuri lebih jauh. Al-Maturidi bukanlah orang pertama dari kalangan Hanafiyyah yang terpengaruh ilmu kalam. Imam Ahmad bin Hanbal sendiri telah mengingatkan hal ini sejak masa yang lebih awal. Beliau berkata,وتبعه على قوله رجال من أصحاب أبي حنيفة وأصحاب عمرو بن عبيد بالبصرة“Telah mengikuti perkataannya (Jahm) sekelompok orang dari kalangan pengikut Abu Hanifah dan pengikut ‘Amr bin ‘Ubaid di Bashrah.” [6]Maka tidaklah mengherankan jika al-Maturidi, yang berasal dari lingkungan Hanafiyyah di wilayah Transoksiana, juga terpengaruh oleh metode kalam yang sudah lebih dahulu berkembang di kalangan sebagian Hanafiyyah. Disebutkan,فالماتريدي لا يبعد كثيراً عن أبي الحسن الأشعري (في طوره الثاني) فهو خصم لدود للمعتزلة، إلا أنه كان متأثراً بالمنهج الكلامي على طريقة ابن كلاب من الاعتماد على المناهج الكلامية في تقرير المسائل الاعتقادية شأنه في ذلك شأن أبي الحسن الأشعري، فكلاهما يعتبر امتداداً لمدرسة ابن كلاب“Al-Maturidi tidak jauh berbeda dari Abu al-Hasan al-Asy’ari (pada fase keduanya). Ia adalah musuh bebuyutan Mu’tazilah, namun ia tetap terpengaruh oleh metode kalam ala Ibn Kullab dalam menetapkan masalah-masalah akidah, sama halnya dengan Abu al-Hasan al-Asy’ari. Keduanya dianggap sebagai kelanjutan dari madrasah Ibn Kullab.” [7]Kedekatan inilah yang membuat sebagian tokoh menyebut Maturidiyyah sebagai “saudara kembar” Asy’ariyyah. Disebutkan,تعد الماتريدية شقيقة الأشعرية، وذلك لما بينهما من الائتلاف والاتفاق حتى لكأنهما فرقة واحدة، ويصعب التفريق بينهما. ولذلك يصرح كل من الأشاعرة والماتريدية بأن كلاً من أبي الحسن الأشعري وأبي منصور الماتريدي هما إماما أهل السنة على حد تعبيرهم“Maturidiyyah dianggap sebagai saudara kembar Asy’ariyyah, karena begitu banyaknya keselarasan dan kesepakatan di antara keduanya, seolah-olah keduanya adalah satu aliran dan sulit untuk dibedakan. Oleh karena itu, baik Asy’ariyyah maupun Maturidiyyah sama-sama menyatakan bahwa Abu al-Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi adalah dua imam Ahlussunnah (menurut istilah mereka).” [8]Tentu, klaim ini perlu ditimbang. Kalau tolak ukurnya adalah manhaj salaf yang murni, berpegang pada Al-Qur’an, Sunah, dan pemahaman sahabat tanpa mencampurnya dengan ilmu kalam, maka kedua aliran ini punya jarak yang cukup jelas dari manhaj tersebut.Kemunculan dan perkembangan MaturidiyyahMaturidiyyah mulai muncul pada penghujung abad ketiga Hijriah. Al-Maturidi dan al-Asy’ari hidup pada masa yang berdekatan, dan keduanya sama-sama membantah Mu’tazilah, namun dengan metode yang berbeda, meskipun banyak bertemu pada kesimpulan yang sama. Sumber-sumber sejarah tidak mencatat adanya pertemuan langsung, surat-menyurat, atau saling membaca karya di antara keduanya. [9]Sepeninggal al-Maturidi, murid-muridnya bekerja keras menyebarkan pemikiran gurunya. Mereka menyusun berbagai karya tulis yang mengikuti mazhab Abu Hanifah dalam fikih, dan di saat yang sama membawa akidah Maturidiyyah. Inilah yang menjadikan Maturidiyyah menyebar luas, terutama di wilayah Samarkand dan sekitarnya. [10]Di antara tokoh-tokoh penting Maturidiyyah setelah pendirinya adalah Abu al-Mu’in an-Nasafi (438-508 H), yaitu Maimun bin Muhammad bin Mu’tamad an-Nasafi al-Makhuli. Ia dianggap sebagai salah satu tokoh terbesar Maturidiyyah dan termasuk orang yang paling berjasa dalam membela dan menyebarkan mazhab al-Maturidi. Kedudukannya di kalangan Maturidiyyah serupa dengan kedudukan al-Baqillani dan al-Ghazali di kalangan Asy’ariyyah. Di antara karya pentingnya adalah Tabshirat al-Adillah, yang merupakan rujukan terluas dalam akidah Maturidiyyah setelah kitab at-Tauhid karya al-Maturidi sendiri. [11]Tokoh penting lainnya adalah Najm ad-Din ‘Umar an-Nasafi (462-537 H). Di antara karya-karyanya yang paling masyhur adalah al-‘Aqaa’id an-Nasafiyyah, sebuah matan ringkas dalam akidah Maturidiyyah yang merupakan ringkasan dari Tabshirat al-Adillah karya Abu al-Mu’in an-Nasafi. Matan ini kemudian menjadi salah satu matan akidah yang paling banyak disyarah dan dikaji di kalangan Maturidiyyah. [12]Setelah itu, tradisi penulisan di kalangan Maturidiyyah terus berkembang. Muncul berbagai matan, syarah, syarah atas syarah, dan hasyiyah atas syarah. Pola ini berlangsung selama berabad-abad hingga akidah Maturidiyyah memiliki khazanah literatur kalam yang sangat besar.Wilayah penyebaran Maturidiyyah dan Asy’ariyyahSatu hal yang menarik dari sejarah penyebaran kedua aliran ini adalah bahwa Maturidiyyah dan Asy’ariyyah hampir tidak saling berebut wilayah. Masing-masing menguasai kawasan tertentu tanpa banyak persaingan satu sama lain. Disebutkan,فالماتريدية انتشرت بين الأحناف الذين كانوا متواجدين في شرق العالم الإسلامي وشماله فقل أن تجد حنفياً على عقيدة الأشاعرة … بينما نجد الأشعرية قد انتشرت بين الشافعية والمالكية وهم اليوم يتواجدون في وسط وغرب وجنوب وجنوب شرق العالم الإسلامي، فجل الشافعية والمالكية على الأشعرية“Maturidiyyah tersebar di kalangan Hanafiyyah yang berada di timur dan utara dunia Islam. Jarang ditemukan seorang Hanafi yang berakidah Asy’ariyyah. Sementara itu, Asy’ariyyah tersebar di kalangan Syafi’iyyah dan Malikiyyah yang berada di tengah, barat, selatan, dan tenggara dunia Islam. Kebanyakan Syafi’iyyah dan Malikiyyah berpegang pada akidah Asy’ariyyah.” [13]Pola ini menunjukkan bahwa penyebaran kedua aliran ini sangat terkait dengan mazhab fikih. Maturidiyyah berjalan bersama Hanafiyyah, dan Asy’ariyyah berjalan bersama Syafi’iyyah dan Malikiyyah.Sebab-sebab penyebaran MaturidiyyahMaturidiyyah tersebar luas bukan tanpa sebab. Ada beberapa faktor yang sangat berpengaruh.Pertama: Dukungan kekuasaan politikIni adalah sebab yang paling utama. Ketika para sultan dan penguasa memeluk mazhab Hanafi, dengan sendirinya mazhab Hanafi tersebar di banyak wilayah. Dan karena Maturidiyyah berjalan bersama Hanafiyyah dalam fikih, maka dengan tersebarnya Hanafiyyah, tersebar pula Maturidiyyah.Hal ini sangat tampak pada masa Daulah ‘Utsmaniyyah. Para qadhi, mufti, khatib masjid, dan pimpinan madrasah pada umumnya bermazhab Hanafi dalam fikih dan Maturidi dalam akidah. Semakin luas wilayah kekuasaan ‘Utsmaniyyah, semakin luas pula penyebaran akidah Maturidiyyah. [14]Kedua: Jaringan madrasah dan pendidikanMadrasah-madrasah Maturidiyyah memainkan peran besar dalam menyebarkan akidah mereka. Termasuk di dalamnya madrasah-madrasah di wilayah Asia Selatan seperti Madrasah Deobandiyyah dan Madrasah Bareilwiyyah yang turut menjadi saluran penyebaran akidah Maturidiyyah. [15]Ketiga: Aktivitas penulisanMaturidiyyah sangat aktif dalam menyusun karya-karya ilmu kalam. Buku-buku mereka tersebar luas, dikaji, diajarkan, dan dijadikan kurikulum di banyak lembaga pendidikan. [16]Keempat: Faktor-faktor pendukung lainnyaDi samping tiga faktor utama di atas, ada beberapa hal lain yang secara kumulatif turut memperkuat penyebaran Maturidiyyah. Di antaranya: mereka menampilkan diri sebagai Ahlussunnah, menuduh ahlul hadis dengan tajsim dan tasybih, menyandarkan diri kepada para imam besar terutama Abu Hanifah, banyaknya kebenaran yang ada pada mereka dibanding kelompok bid’ah lainnya, aktifnya mereka membantah Jahmiyyah dan Mu’tazilah, serta lemahnya sebagian Ahlussunnah dalam menyebarkan akidah salaf dan membantah yang menyimpang. [17]PenutupMaturidiyyah adalah sebuah aliran kalam yang lahir di penghujung abad ketiga Hijriah di tangan Abu Manshur al-Maturidi. Ia muncul dalam konteks perdebatan dengan Mu’tazilah, namun metode yang dipakai bukanlah metode para imam salaf, melainkan metode ilmu kalam yang berakar dari tradisi Kullabiyyah. Oleh karena itu, meskipun Maturidiyyah membantah Mu’tazilah, ia tetap memiliki jarak dari manhaj salaf dalam banyak persoalan akidah.Penyebarannya yang luas tidak bisa dilepaskan dari faktor politik, jaringan madrasah, dan tradisi penulisan yang sangat aktif. Ia berjalan beriringan dengan mazhab Hanafi dalam fikih, sehingga di mana Hanafiyyah tumbuh, di situ Maturidiyyah biasanya juga hadir.Pada tulisan berikutnya, akan dibahas lebih rinci tentang perbedaan antara Maturidiyyah dan Asy’ariyyah, serta bagaimana para ulama Ahlussunnah membantah kekeliruan-kekeliruan yang ada pada kedua aliran ini. Wallahu a’lam bish-shawab.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 4.[2] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 4. Lihat juga: Dr. Syamsuddin al-Afghani, al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum min Tauhid al-Asmaa’ wash-Shifaat, 1: 209.[3] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 4-5.[4] Abdullah bin Yusuf al-Jadi’, al-‘Aqidah as-Salafiyyah fi Kalaam Rabb al-Bariyyah, hal. 279.[5] Ibn Taimiyyah, Majmu’ al-Fataawa, juz 7, hlm. 433. Juga: Minhaaj as-Sunnah, 2: 362.[6] Imam Ahmad bin Hanbal, ar-Radd ‘ala al-Jahmiyyah, hal. 103-105.[7] Dirangkum dari pembahasan hubungan Maturidiyyah dengan Kullabiyyah dan Asy’ariyyah. Lihat bahasan al-Wa’lan serta nukilan dari Ibn Taimiyyah dalam catatan kaki [5] dan [6].[8] Thaasy Kubra Zaadeh, Miftaah as-Sa’aadah, 2: 151-152.[9] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 5.[10] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 5-6.[11] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 6.[12] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 6.[13] Imam adz-Dzahabi, al-‘Arsy, tahqiq Muhammad bin Khalifah at-Tamimi, 1: 168-170.[14] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 7. Dengan merujuk kepada: an-Naafi’ al-Kabiir Muqaddimah al-Jaami’ ash-Shaghiir karya Imam Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani, hal. 7; ar-Raudhah al-Bahiyyah, hal. 4.[15] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 6-7.[16] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 7-8. Dengan merujuk kepada: ‘Aqidah al-Islam wa al-Imam al-Maaturidi, hal. 480.[17] Dr. Syamsuddin al-Afghani, al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum min Tauhid al-Asmaa’ wash-Shifaat, 1: 294-301. Daftar PustakaAl-Afghani, Syamsuddin bin Muhammad. Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum min Tauhid al-Asmaa’ wash-Shifaat. 3 jilid.Al-Jadi’, Abdullah bin Yusuf. Al-‘Aqidah as-Salafiyyah fi Kalaam Rabb al-Bariyyah.Ibnu Taimiyah, Taqiyyuddin Ahmad bin Abdul Halim. Majmu’ al-Fataawa. Ed. Abdurrahman bin Muhammad bin Qasim. Madinah: Majma’ al-Malik Fahd li Thibaa’at al-Mushaf asy-Syarif, 1425 H.Ibnu Taimiyah, Taqiyyuddin Ahmad bin Abdul Halim. Minhaaj as-Sunnah an-Nabawiyyah. Maktabah Syamilah.Imam Ahmad bin Hanbal. Ar-Radd ‘alal Jahmiyyah. Maktabah Syamilah.Al-Wa’lan, Abdul Majid bin Muhammad. Al-Maaturidiyyah. Maktabah Syamilah.Thaasy Kubra Zaadeh. Miftaah as-Sa’aadah wa Mishbaah as-Siyaadah. Maktabah Syamilah.

Penjelasan Kitab Ta’jilun Nada (Bag. 34): Pengecualian dalam Kaidah أن Mudmarah Setelah Lam

Adapun maksud Ibnu Hisyam,مَسْبُوقٍ بِاسْمٍ خَالِصٍ“Bisa didahului oleh isim murni (isim khalish)” ini merupakan batasan untuk mengecualikan isim yang tidak murni, yaitu isim yang mengandung makna fi’il, seperti isim fa’il. Contohnya adalah:الْمُتَكَلِّمُ فَيَسْتَفِيدُ الطَّالِبُ، هُوَ الْمُحَاضِرُ“Pembicaranya adalah dosen, sehingga mahasiswa memperoleh manfaat.”Kata الْمُتَكَلِّمُ merupakan shigoh isim fa’il. Pada isim fa’il tersebut terdapat makna fi’il, dan dia menggantikan fi’il. Kata الْمُتَكَلِّمُ merupakan isim fa’il (kata benda pelaku) yang mengandung makna fi’il (kata kerja) dan menempati kedudukan fi’il tersebut. Hal itu karena ia menjadi silah (penghubung) bagi “al-” (أل). Padahal, asalnya silah itu berbentuk sebuah kalimat. Oleh karena itu, الْمُتَكَلِّمُ berkedudukan seperti يَتَكَلَّمُ (sedang berbicara). Maka perkiraan susunan kalimat tersebut asalnya adalah الَّذِي يَتَكَلَّمُ (orang yang berbicara). Kemudian ketika datang “al-” (أل), kata tersebut diubah menjadi isim fa’il dan sebagai penggati isim fa’il, karena fi’il tidak bisa menjadi silah (kalimat penghubung) bagi alif-lam tersebut. Oleh sebab itu, fi’il  يَسْتَفِيدُ wajib dibaca marfu’ (rafa’), karena dia di-athof-kan kepada isim yang tidak lepas dari makna fi’il (yakni isim fa’il).Kedua, boleh menampakkan atau menyembunyikan huruf أن apabila أن berada setelah lam al-jarr, kemudian langsung diikuti oleh fi’il mudhari’. Hal itu berlaku baik lam tersebut:Pertama, lam ta’lil, yaitu lam yang menunjukkan makna alasan (karena), yaitu bahwa apa yang datang setelahnya merupakan sebab atau tujuan dari kata yang terletak sebelumnya. Contohnya adalah:حَضَرْتُ لِأَسْتَفِيدَ“Aku hadir agar memperoleh manfaat.”Kata أستفيدَ adalah fi’il mudhari’ yang manshub karena adanya أن yang disembunyikan (mudmarah) secara boleh (jawazan) setelah lam ta’lil. Maka kalimat aslinya adalah حَضَرْتُ لِأَنْ أَسْتَفِيدَ. Allah Ta’ala berfirman,وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ“Dan Kami menurunkan kepadamu Adz-Dzikr (Al-Qur’an) agar engkau menjelaskan kepada manusia.” (QS. An-Nahl: 44)Kedua, lam bayan berfungsi untuk menjelaskan akibat (lam al-aqibah), yang juga disebut lam as–sairurah. Yaitu lam yang menunjukkan bahwa sesuatu yang terjadi setelahnya merupakan akibat atau hasil yang terjadi dari sesuatu sebelumnya. Contohnya adalah firman Allah Ta’ala,فَالْتَقَطَهُ آلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُونَ لَهُمْ عَدُوًّا وَحَزَنًا“Lalu keluarga Fir’aun memungut (Musa) agar dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka.” (QS. Al-Qashas: 8)Huruf lam pada ayat ini bukanlah lam yang menunjukkan sebab (lam at-ta’lil), karena keluarga Fir’aun tidak memungut Nabi Musa dengan tujuan agar ia menjadi musuh dan penyebab kesedihan bagi mereka. Mereka justru memungutnya agar menjadi penyejuk mata bagi mereka. Namun, akibat akhirnya justru ia menjadi musuh dan sumber kesedihan bagi mereka. Maka huruf لِ pada kata لِيَكُونَ tampak seperti lam ta’lil (lam yang berarti “agar/supaya”) maknanya bukan tujuan keluarga Fir’aun, akan tetapi itu adalah lam bayan al-aqibah yang menjadi akibat untuk Fir’aun. Maka pada ayat tersebut huruf أن disembunyikan.Ketiga, lam tersebut adalah lam tambahan (لَامٌ زَائِدَةٌ), yaitu lam yang terletak setelah fi’il muta’addi (kata kerja transitif / butuh objek). Fungsi lam ini adalah untuk memberikan penegasan (taukid). Contohnya adalah firman Allah Ta’ala,إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا“Sesungguhnya Allah hanya menghendaki untuk menghilangkan dosa (najis) dari kalian, wahai Ahlul Bait, dan menyucikan kalian sesuci-sucinya.” (QS. Al-Ahzab: 33)Kata kerja يُرِيدُ adalah fi’il mudhari muta’addi (memerlukan objek). Objeknya adalah mashdar yang terbentuk dari أن yang muqaddarah (diperkirakan / disembunyikan) secara boleh (جوازًا) setelah lam dan dari fi’il mudhari’ setelahnya. Lam ini merupakan lam tambahan (za’idah) yang berada di antara fi’il dan maf’ul-nya. Oleh karena itu, perkiraan (taqdirnya) ayat tersebut adalah:إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ إِذْهَابَ الرِّجْسِ عَنْكُمْ“Sesungguhnya Allah hanya menghendaki penghilangan dosa (najis) dari kalian.”Maka kata لِ pada  kata لِيُذْهِبَ disebut oleh ulama Nahwu adalah huruf لام زائدة (lam tambahan) karena fi’il يُرِيدُ sudah merupakan fi’il muta’addi yang langsung membutuhkan maf’ul, maf’ul-nya adalah masdhar muawwal dari أن يُذْهِبَ yang bisa di-takwil atau diubah menjadi masdhar shorih, yaitu إذهاب. Kehadiran lam di sini berfungsi sebagai التوكيد (penegasan). Kata أن يُذْهِبَ tersebut adalah maf’ul bih dari fi’il mudhari mutaaddi يُرِيدُ.Adapun maksud Ibnu Hisyam dari potongan berikut adalah:إِلَّا فِي نَحْوِ لِئَلَّا يَعْلَمَ [الحديد: ٢٩]، وَلِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ [النساء: ١٦٥]، فَتُظْهَرُ لَا غَيْرُ“Kecuali pada contoh firman Allah: لِئَلَّا يَعْلَمَ (QS. Al-hadid: 29) dan لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ (QS. An-Nisa’: 165), maka (أن) harus ditampakkan, tidak boleh selain itu.”Contoh La Nafi (penafian),أَحْضُرُ مُبَكِّرًا لِئَلَّا يَفُوتَنِي الدَّرْسُ“Aku datang lebih awal agar tidak ketinggalan pelajaran.”Contohnya dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman,لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ“Agar tidak ada bagi manusia alasan (untuk membantah) Allah.” (QS. An-Nisa’: 165)Huruf lam ل adalah huruf ta’lil (menyatakan sebab/tujuan) sekaligus huruf jer. Adapun أن adalah huruf mashdariyyah sekaligus huruf yang menashabkan fi’il mudhari’, sedangkan لا adalah huruf penafian.Hamzah pada kata لِئَلَّا adalah hamzah milik أن. Hanya saja, huruf tersebut ber-idgham (melebur) ke dalam لا, sehingga tidak tampak baik dalam pengucapan maupun dalam tulisan.Kata يَكُونَ adalah fi’il mudhari’ naqish (كان dan saudara-saudaranya) yang me-rafa’-kan isim dan me-nashab-kan khabar. Fi’il tersebut manshub karena didahului oleh أن. Adapun لِلنَّاسِ berkedudukan sebagai khabar muqaddam (yang didahulukan), sedangkan حُجَّةٌ adalah isim muakhor (yang diakhirkan).Contoh لا yang berstatus tambahan (زائدة) untuk menguatkan makna yang terdapat pada firman Allah Ta’ala,لِئَلَّا يَعْلَمَ أَهْلُ الْكِتَابِ أَلَّا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ“(Allah menganugerahkan itu) agar Ahlulkitab (yang tidak beriman kepada Nabi Muhammad) mengetahui bahwa mereka sedikit pun tidak akan mendapat karunia Allah.” (QS. Al-Ḥadid: 29)Pada ayat ini, لا dipandang sebagai huruf za’idah (tambahan) yang tidak berfungsi sebagai penafian, melainkan sebagai penguat makna (li at-ta’kid). Oleh karena itu, frasa لِئَلَّا يَعْلَمَ dipahami dengan makna لِيَعْلَمَ, yaitu “agar Ahli Kitab mengetahui”. Dengan demikian, keberadaan لا tidak mengubah makna menjadi penafian, tetapi hanya berfungsi sebagai unsur penegas dalam susunan kalimat. Apabila لا dipahami sebagai لا النافية, maka makna ayat akan berubah menjadi “agar Ahli Kitab tidak mengetahui,” yang bertentangan dengan konteks dan maksud ayat. Oleh karena itu, para ulama nahwu menggolongkan لا pada ayat tersebut sebagai لا الزائدة المؤكدة, yaitu huruf tambahan yang berfungsi memperkuat makna tanpa memberikan pengaruh terhadap i’rab.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 33 LANJUT KE BAGIAN 35***Penulis: Rafi NugrahaArtikel Muslim.or.id

Penjelasan Kitab Ta’jilun Nada (Bag. 34): Pengecualian dalam Kaidah أن Mudmarah Setelah Lam

Adapun maksud Ibnu Hisyam,مَسْبُوقٍ بِاسْمٍ خَالِصٍ“Bisa didahului oleh isim murni (isim khalish)” ini merupakan batasan untuk mengecualikan isim yang tidak murni, yaitu isim yang mengandung makna fi’il, seperti isim fa’il. Contohnya adalah:الْمُتَكَلِّمُ فَيَسْتَفِيدُ الطَّالِبُ، هُوَ الْمُحَاضِرُ“Pembicaranya adalah dosen, sehingga mahasiswa memperoleh manfaat.”Kata الْمُتَكَلِّمُ merupakan shigoh isim fa’il. Pada isim fa’il tersebut terdapat makna fi’il, dan dia menggantikan fi’il. Kata الْمُتَكَلِّمُ merupakan isim fa’il (kata benda pelaku) yang mengandung makna fi’il (kata kerja) dan menempati kedudukan fi’il tersebut. Hal itu karena ia menjadi silah (penghubung) bagi “al-” (أل). Padahal, asalnya silah itu berbentuk sebuah kalimat. Oleh karena itu, الْمُتَكَلِّمُ berkedudukan seperti يَتَكَلَّمُ (sedang berbicara). Maka perkiraan susunan kalimat tersebut asalnya adalah الَّذِي يَتَكَلَّمُ (orang yang berbicara). Kemudian ketika datang “al-” (أل), kata tersebut diubah menjadi isim fa’il dan sebagai penggati isim fa’il, karena fi’il tidak bisa menjadi silah (kalimat penghubung) bagi alif-lam tersebut. Oleh sebab itu, fi’il  يَسْتَفِيدُ wajib dibaca marfu’ (rafa’), karena dia di-athof-kan kepada isim yang tidak lepas dari makna fi’il (yakni isim fa’il).Kedua, boleh menampakkan atau menyembunyikan huruf أن apabila أن berada setelah lam al-jarr, kemudian langsung diikuti oleh fi’il mudhari’. Hal itu berlaku baik lam tersebut:Pertama, lam ta’lil, yaitu lam yang menunjukkan makna alasan (karena), yaitu bahwa apa yang datang setelahnya merupakan sebab atau tujuan dari kata yang terletak sebelumnya. Contohnya adalah:حَضَرْتُ لِأَسْتَفِيدَ“Aku hadir agar memperoleh manfaat.”Kata أستفيدَ adalah fi’il mudhari’ yang manshub karena adanya أن yang disembunyikan (mudmarah) secara boleh (jawazan) setelah lam ta’lil. Maka kalimat aslinya adalah حَضَرْتُ لِأَنْ أَسْتَفِيدَ. Allah Ta’ala berfirman,وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ“Dan Kami menurunkan kepadamu Adz-Dzikr (Al-Qur’an) agar engkau menjelaskan kepada manusia.” (QS. An-Nahl: 44)Kedua, lam bayan berfungsi untuk menjelaskan akibat (lam al-aqibah), yang juga disebut lam as–sairurah. Yaitu lam yang menunjukkan bahwa sesuatu yang terjadi setelahnya merupakan akibat atau hasil yang terjadi dari sesuatu sebelumnya. Contohnya adalah firman Allah Ta’ala,فَالْتَقَطَهُ آلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُونَ لَهُمْ عَدُوًّا وَحَزَنًا“Lalu keluarga Fir’aun memungut (Musa) agar dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka.” (QS. Al-Qashas: 8)Huruf lam pada ayat ini bukanlah lam yang menunjukkan sebab (lam at-ta’lil), karena keluarga Fir’aun tidak memungut Nabi Musa dengan tujuan agar ia menjadi musuh dan penyebab kesedihan bagi mereka. Mereka justru memungutnya agar menjadi penyejuk mata bagi mereka. Namun, akibat akhirnya justru ia menjadi musuh dan sumber kesedihan bagi mereka. Maka huruf لِ pada kata لِيَكُونَ tampak seperti lam ta’lil (lam yang berarti “agar/supaya”) maknanya bukan tujuan keluarga Fir’aun, akan tetapi itu adalah lam bayan al-aqibah yang menjadi akibat untuk Fir’aun. Maka pada ayat tersebut huruf أن disembunyikan.Ketiga, lam tersebut adalah lam tambahan (لَامٌ زَائِدَةٌ), yaitu lam yang terletak setelah fi’il muta’addi (kata kerja transitif / butuh objek). Fungsi lam ini adalah untuk memberikan penegasan (taukid). Contohnya adalah firman Allah Ta’ala,إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا“Sesungguhnya Allah hanya menghendaki untuk menghilangkan dosa (najis) dari kalian, wahai Ahlul Bait, dan menyucikan kalian sesuci-sucinya.” (QS. Al-Ahzab: 33)Kata kerja يُرِيدُ adalah fi’il mudhari muta’addi (memerlukan objek). Objeknya adalah mashdar yang terbentuk dari أن yang muqaddarah (diperkirakan / disembunyikan) secara boleh (جوازًا) setelah lam dan dari fi’il mudhari’ setelahnya. Lam ini merupakan lam tambahan (za’idah) yang berada di antara fi’il dan maf’ul-nya. Oleh karena itu, perkiraan (taqdirnya) ayat tersebut adalah:إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ إِذْهَابَ الرِّجْسِ عَنْكُمْ“Sesungguhnya Allah hanya menghendaki penghilangan dosa (najis) dari kalian.”Maka kata لِ pada  kata لِيُذْهِبَ disebut oleh ulama Nahwu adalah huruf لام زائدة (lam tambahan) karena fi’il يُرِيدُ sudah merupakan fi’il muta’addi yang langsung membutuhkan maf’ul, maf’ul-nya adalah masdhar muawwal dari أن يُذْهِبَ yang bisa di-takwil atau diubah menjadi masdhar shorih, yaitu إذهاب. Kehadiran lam di sini berfungsi sebagai التوكيد (penegasan). Kata أن يُذْهِبَ tersebut adalah maf’ul bih dari fi’il mudhari mutaaddi يُرِيدُ.Adapun maksud Ibnu Hisyam dari potongan berikut adalah:إِلَّا فِي نَحْوِ لِئَلَّا يَعْلَمَ [الحديد: ٢٩]، وَلِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ [النساء: ١٦٥]، فَتُظْهَرُ لَا غَيْرُ“Kecuali pada contoh firman Allah: لِئَلَّا يَعْلَمَ (QS. Al-hadid: 29) dan لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ (QS. An-Nisa’: 165), maka (أن) harus ditampakkan, tidak boleh selain itu.”Contoh La Nafi (penafian),أَحْضُرُ مُبَكِّرًا لِئَلَّا يَفُوتَنِي الدَّرْسُ“Aku datang lebih awal agar tidak ketinggalan pelajaran.”Contohnya dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman,لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ“Agar tidak ada bagi manusia alasan (untuk membantah) Allah.” (QS. An-Nisa’: 165)Huruf lam ل adalah huruf ta’lil (menyatakan sebab/tujuan) sekaligus huruf jer. Adapun أن adalah huruf mashdariyyah sekaligus huruf yang menashabkan fi’il mudhari’, sedangkan لا adalah huruf penafian.Hamzah pada kata لِئَلَّا adalah hamzah milik أن. Hanya saja, huruf tersebut ber-idgham (melebur) ke dalam لا, sehingga tidak tampak baik dalam pengucapan maupun dalam tulisan.Kata يَكُونَ adalah fi’il mudhari’ naqish (كان dan saudara-saudaranya) yang me-rafa’-kan isim dan me-nashab-kan khabar. Fi’il tersebut manshub karena didahului oleh أن. Adapun لِلنَّاسِ berkedudukan sebagai khabar muqaddam (yang didahulukan), sedangkan حُجَّةٌ adalah isim muakhor (yang diakhirkan).Contoh لا yang berstatus tambahan (زائدة) untuk menguatkan makna yang terdapat pada firman Allah Ta’ala,لِئَلَّا يَعْلَمَ أَهْلُ الْكِتَابِ أَلَّا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ“(Allah menganugerahkan itu) agar Ahlulkitab (yang tidak beriman kepada Nabi Muhammad) mengetahui bahwa mereka sedikit pun tidak akan mendapat karunia Allah.” (QS. Al-Ḥadid: 29)Pada ayat ini, لا dipandang sebagai huruf za’idah (tambahan) yang tidak berfungsi sebagai penafian, melainkan sebagai penguat makna (li at-ta’kid). Oleh karena itu, frasa لِئَلَّا يَعْلَمَ dipahami dengan makna لِيَعْلَمَ, yaitu “agar Ahli Kitab mengetahui”. Dengan demikian, keberadaan لا tidak mengubah makna menjadi penafian, tetapi hanya berfungsi sebagai unsur penegas dalam susunan kalimat. Apabila لا dipahami sebagai لا النافية, maka makna ayat akan berubah menjadi “agar Ahli Kitab tidak mengetahui,” yang bertentangan dengan konteks dan maksud ayat. Oleh karena itu, para ulama nahwu menggolongkan لا pada ayat tersebut sebagai لا الزائدة المؤكدة, yaitu huruf tambahan yang berfungsi memperkuat makna tanpa memberikan pengaruh terhadap i’rab.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 33 LANJUT KE BAGIAN 35***Penulis: Rafi NugrahaArtikel Muslim.or.id
Adapun maksud Ibnu Hisyam,مَسْبُوقٍ بِاسْمٍ خَالِصٍ“Bisa didahului oleh isim murni (isim khalish)” ini merupakan batasan untuk mengecualikan isim yang tidak murni, yaitu isim yang mengandung makna fi’il, seperti isim fa’il. Contohnya adalah:الْمُتَكَلِّمُ فَيَسْتَفِيدُ الطَّالِبُ، هُوَ الْمُحَاضِرُ“Pembicaranya adalah dosen, sehingga mahasiswa memperoleh manfaat.”Kata الْمُتَكَلِّمُ merupakan shigoh isim fa’il. Pada isim fa’il tersebut terdapat makna fi’il, dan dia menggantikan fi’il. Kata الْمُتَكَلِّمُ merupakan isim fa’il (kata benda pelaku) yang mengandung makna fi’il (kata kerja) dan menempati kedudukan fi’il tersebut. Hal itu karena ia menjadi silah (penghubung) bagi “al-” (أل). Padahal, asalnya silah itu berbentuk sebuah kalimat. Oleh karena itu, الْمُتَكَلِّمُ berkedudukan seperti يَتَكَلَّمُ (sedang berbicara). Maka perkiraan susunan kalimat tersebut asalnya adalah الَّذِي يَتَكَلَّمُ (orang yang berbicara). Kemudian ketika datang “al-” (أل), kata tersebut diubah menjadi isim fa’il dan sebagai penggati isim fa’il, karena fi’il tidak bisa menjadi silah (kalimat penghubung) bagi alif-lam tersebut. Oleh sebab itu, fi’il  يَسْتَفِيدُ wajib dibaca marfu’ (rafa’), karena dia di-athof-kan kepada isim yang tidak lepas dari makna fi’il (yakni isim fa’il).Kedua, boleh menampakkan atau menyembunyikan huruf أن apabila أن berada setelah lam al-jarr, kemudian langsung diikuti oleh fi’il mudhari’. Hal itu berlaku baik lam tersebut:Pertama, lam ta’lil, yaitu lam yang menunjukkan makna alasan (karena), yaitu bahwa apa yang datang setelahnya merupakan sebab atau tujuan dari kata yang terletak sebelumnya. Contohnya adalah:حَضَرْتُ لِأَسْتَفِيدَ“Aku hadir agar memperoleh manfaat.”Kata أستفيدَ adalah fi’il mudhari’ yang manshub karena adanya أن yang disembunyikan (mudmarah) secara boleh (jawazan) setelah lam ta’lil. Maka kalimat aslinya adalah حَضَرْتُ لِأَنْ أَسْتَفِيدَ. Allah Ta’ala berfirman,وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ“Dan Kami menurunkan kepadamu Adz-Dzikr (Al-Qur’an) agar engkau menjelaskan kepada manusia.” (QS. An-Nahl: 44)Kedua, lam bayan berfungsi untuk menjelaskan akibat (lam al-aqibah), yang juga disebut lam as–sairurah. Yaitu lam yang menunjukkan bahwa sesuatu yang terjadi setelahnya merupakan akibat atau hasil yang terjadi dari sesuatu sebelumnya. Contohnya adalah firman Allah Ta’ala,فَالْتَقَطَهُ آلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُونَ لَهُمْ عَدُوًّا وَحَزَنًا“Lalu keluarga Fir’aun memungut (Musa) agar dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka.” (QS. Al-Qashas: 8)Huruf lam pada ayat ini bukanlah lam yang menunjukkan sebab (lam at-ta’lil), karena keluarga Fir’aun tidak memungut Nabi Musa dengan tujuan agar ia menjadi musuh dan penyebab kesedihan bagi mereka. Mereka justru memungutnya agar menjadi penyejuk mata bagi mereka. Namun, akibat akhirnya justru ia menjadi musuh dan sumber kesedihan bagi mereka. Maka huruf لِ pada kata لِيَكُونَ tampak seperti lam ta’lil (lam yang berarti “agar/supaya”) maknanya bukan tujuan keluarga Fir’aun, akan tetapi itu adalah lam bayan al-aqibah yang menjadi akibat untuk Fir’aun. Maka pada ayat tersebut huruf أن disembunyikan.Ketiga, lam tersebut adalah lam tambahan (لَامٌ زَائِدَةٌ), yaitu lam yang terletak setelah fi’il muta’addi (kata kerja transitif / butuh objek). Fungsi lam ini adalah untuk memberikan penegasan (taukid). Contohnya adalah firman Allah Ta’ala,إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا“Sesungguhnya Allah hanya menghendaki untuk menghilangkan dosa (najis) dari kalian, wahai Ahlul Bait, dan menyucikan kalian sesuci-sucinya.” (QS. Al-Ahzab: 33)Kata kerja يُرِيدُ adalah fi’il mudhari muta’addi (memerlukan objek). Objeknya adalah mashdar yang terbentuk dari أن yang muqaddarah (diperkirakan / disembunyikan) secara boleh (جوازًا) setelah lam dan dari fi’il mudhari’ setelahnya. Lam ini merupakan lam tambahan (za’idah) yang berada di antara fi’il dan maf’ul-nya. Oleh karena itu, perkiraan (taqdirnya) ayat tersebut adalah:إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ إِذْهَابَ الرِّجْسِ عَنْكُمْ“Sesungguhnya Allah hanya menghendaki penghilangan dosa (najis) dari kalian.”Maka kata لِ pada  kata لِيُذْهِبَ disebut oleh ulama Nahwu adalah huruf لام زائدة (lam tambahan) karena fi’il يُرِيدُ sudah merupakan fi’il muta’addi yang langsung membutuhkan maf’ul, maf’ul-nya adalah masdhar muawwal dari أن يُذْهِبَ yang bisa di-takwil atau diubah menjadi masdhar shorih, yaitu إذهاب. Kehadiran lam di sini berfungsi sebagai التوكيد (penegasan). Kata أن يُذْهِبَ tersebut adalah maf’ul bih dari fi’il mudhari mutaaddi يُرِيدُ.Adapun maksud Ibnu Hisyam dari potongan berikut adalah:إِلَّا فِي نَحْوِ لِئَلَّا يَعْلَمَ [الحديد: ٢٩]، وَلِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ [النساء: ١٦٥]، فَتُظْهَرُ لَا غَيْرُ“Kecuali pada contoh firman Allah: لِئَلَّا يَعْلَمَ (QS. Al-hadid: 29) dan لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ (QS. An-Nisa’: 165), maka (أن) harus ditampakkan, tidak boleh selain itu.”Contoh La Nafi (penafian),أَحْضُرُ مُبَكِّرًا لِئَلَّا يَفُوتَنِي الدَّرْسُ“Aku datang lebih awal agar tidak ketinggalan pelajaran.”Contohnya dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman,لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ“Agar tidak ada bagi manusia alasan (untuk membantah) Allah.” (QS. An-Nisa’: 165)Huruf lam ل adalah huruf ta’lil (menyatakan sebab/tujuan) sekaligus huruf jer. Adapun أن adalah huruf mashdariyyah sekaligus huruf yang menashabkan fi’il mudhari’, sedangkan لا adalah huruf penafian.Hamzah pada kata لِئَلَّا adalah hamzah milik أن. Hanya saja, huruf tersebut ber-idgham (melebur) ke dalam لا, sehingga tidak tampak baik dalam pengucapan maupun dalam tulisan.Kata يَكُونَ adalah fi’il mudhari’ naqish (كان dan saudara-saudaranya) yang me-rafa’-kan isim dan me-nashab-kan khabar. Fi’il tersebut manshub karena didahului oleh أن. Adapun لِلنَّاسِ berkedudukan sebagai khabar muqaddam (yang didahulukan), sedangkan حُجَّةٌ adalah isim muakhor (yang diakhirkan).Contoh لا yang berstatus tambahan (زائدة) untuk menguatkan makna yang terdapat pada firman Allah Ta’ala,لِئَلَّا يَعْلَمَ أَهْلُ الْكِتَابِ أَلَّا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ“(Allah menganugerahkan itu) agar Ahlulkitab (yang tidak beriman kepada Nabi Muhammad) mengetahui bahwa mereka sedikit pun tidak akan mendapat karunia Allah.” (QS. Al-Ḥadid: 29)Pada ayat ini, لا dipandang sebagai huruf za’idah (tambahan) yang tidak berfungsi sebagai penafian, melainkan sebagai penguat makna (li at-ta’kid). Oleh karena itu, frasa لِئَلَّا يَعْلَمَ dipahami dengan makna لِيَعْلَمَ, yaitu “agar Ahli Kitab mengetahui”. Dengan demikian, keberadaan لا tidak mengubah makna menjadi penafian, tetapi hanya berfungsi sebagai unsur penegas dalam susunan kalimat. Apabila لا dipahami sebagai لا النافية, maka makna ayat akan berubah menjadi “agar Ahli Kitab tidak mengetahui,” yang bertentangan dengan konteks dan maksud ayat. Oleh karena itu, para ulama nahwu menggolongkan لا pada ayat tersebut sebagai لا الزائدة المؤكدة, yaitu huruf tambahan yang berfungsi memperkuat makna tanpa memberikan pengaruh terhadap i’rab.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 33 LANJUT KE BAGIAN 35***Penulis: Rafi NugrahaArtikel Muslim.or.id


Adapun maksud Ibnu Hisyam,مَسْبُوقٍ بِاسْمٍ خَالِصٍ“Bisa didahului oleh isim murni (isim khalish)” ini merupakan batasan untuk mengecualikan isim yang tidak murni, yaitu isim yang mengandung makna fi’il, seperti isim fa’il. Contohnya adalah:الْمُتَكَلِّمُ فَيَسْتَفِيدُ الطَّالِبُ، هُوَ الْمُحَاضِرُ“Pembicaranya adalah dosen, sehingga mahasiswa memperoleh manfaat.”Kata الْمُتَكَلِّمُ merupakan shigoh isim fa’il. Pada isim fa’il tersebut terdapat makna fi’il, dan dia menggantikan fi’il. Kata الْمُتَكَلِّمُ merupakan isim fa’il (kata benda pelaku) yang mengandung makna fi’il (kata kerja) dan menempati kedudukan fi’il tersebut. Hal itu karena ia menjadi silah (penghubung) bagi “al-” (أل). Padahal, asalnya silah itu berbentuk sebuah kalimat. Oleh karena itu, الْمُتَكَلِّمُ berkedudukan seperti يَتَكَلَّمُ (sedang berbicara). Maka perkiraan susunan kalimat tersebut asalnya adalah الَّذِي يَتَكَلَّمُ (orang yang berbicara). Kemudian ketika datang “al-” (أل), kata tersebut diubah menjadi isim fa’il dan sebagai penggati isim fa’il, karena fi’il tidak bisa menjadi silah (kalimat penghubung) bagi alif-lam tersebut. Oleh sebab itu, fi’il  يَسْتَفِيدُ wajib dibaca marfu’ (rafa’), karena dia di-athof-kan kepada isim yang tidak lepas dari makna fi’il (yakni isim fa’il).Kedua, boleh menampakkan atau menyembunyikan huruf أن apabila أن berada setelah lam al-jarr, kemudian langsung diikuti oleh fi’il mudhari’. Hal itu berlaku baik lam tersebut:Pertama, lam ta’lil, yaitu lam yang menunjukkan makna alasan (karena), yaitu bahwa apa yang datang setelahnya merupakan sebab atau tujuan dari kata yang terletak sebelumnya. Contohnya adalah:حَضَرْتُ لِأَسْتَفِيدَ“Aku hadir agar memperoleh manfaat.”Kata أستفيدَ adalah fi’il mudhari’ yang manshub karena adanya أن yang disembunyikan (mudmarah) secara boleh (jawazan) setelah lam ta’lil. Maka kalimat aslinya adalah حَضَرْتُ لِأَنْ أَسْتَفِيدَ. Allah Ta’ala berfirman,وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ“Dan Kami menurunkan kepadamu Adz-Dzikr (Al-Qur’an) agar engkau menjelaskan kepada manusia.” (QS. An-Nahl: 44)Kedua, lam bayan berfungsi untuk menjelaskan akibat (lam al-aqibah), yang juga disebut lam as–sairurah. Yaitu lam yang menunjukkan bahwa sesuatu yang terjadi setelahnya merupakan akibat atau hasil yang terjadi dari sesuatu sebelumnya. Contohnya adalah firman Allah Ta’ala,فَالْتَقَطَهُ آلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُونَ لَهُمْ عَدُوًّا وَحَزَنًا“Lalu keluarga Fir’aun memungut (Musa) agar dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka.” (QS. Al-Qashas: 8)Huruf lam pada ayat ini bukanlah lam yang menunjukkan sebab (lam at-ta’lil), karena keluarga Fir’aun tidak memungut Nabi Musa dengan tujuan agar ia menjadi musuh dan penyebab kesedihan bagi mereka. Mereka justru memungutnya agar menjadi penyejuk mata bagi mereka. Namun, akibat akhirnya justru ia menjadi musuh dan sumber kesedihan bagi mereka. Maka huruf لِ pada kata لِيَكُونَ tampak seperti lam ta’lil (lam yang berarti “agar/supaya”) maknanya bukan tujuan keluarga Fir’aun, akan tetapi itu adalah lam bayan al-aqibah yang menjadi akibat untuk Fir’aun. Maka pada ayat tersebut huruf أن disembunyikan.Ketiga, lam tersebut adalah lam tambahan (لَامٌ زَائِدَةٌ), yaitu lam yang terletak setelah fi’il muta’addi (kata kerja transitif / butuh objek). Fungsi lam ini adalah untuk memberikan penegasan (taukid). Contohnya adalah firman Allah Ta’ala,إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا“Sesungguhnya Allah hanya menghendaki untuk menghilangkan dosa (najis) dari kalian, wahai Ahlul Bait, dan menyucikan kalian sesuci-sucinya.” (QS. Al-Ahzab: 33)Kata kerja يُرِيدُ adalah fi’il mudhari muta’addi (memerlukan objek). Objeknya adalah mashdar yang terbentuk dari أن yang muqaddarah (diperkirakan / disembunyikan) secara boleh (جوازًا) setelah lam dan dari fi’il mudhari’ setelahnya. Lam ini merupakan lam tambahan (za’idah) yang berada di antara fi’il dan maf’ul-nya. Oleh karena itu, perkiraan (taqdirnya) ayat tersebut adalah:إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ إِذْهَابَ الرِّجْسِ عَنْكُمْ“Sesungguhnya Allah hanya menghendaki penghilangan dosa (najis) dari kalian.”Maka kata لِ pada  kata لِيُذْهِبَ disebut oleh ulama Nahwu adalah huruf لام زائدة (lam tambahan) karena fi’il يُرِيدُ sudah merupakan fi’il muta’addi yang langsung membutuhkan maf’ul, maf’ul-nya adalah masdhar muawwal dari أن يُذْهِبَ yang bisa di-takwil atau diubah menjadi masdhar shorih, yaitu إذهاب. Kehadiran lam di sini berfungsi sebagai التوكيد (penegasan). Kata أن يُذْهِبَ tersebut adalah maf’ul bih dari fi’il mudhari mutaaddi يُرِيدُ.Adapun maksud Ibnu Hisyam dari potongan berikut adalah:إِلَّا فِي نَحْوِ لِئَلَّا يَعْلَمَ [الحديد: ٢٩]، وَلِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ [النساء: ١٦٥]، فَتُظْهَرُ لَا غَيْرُ“Kecuali pada contoh firman Allah: لِئَلَّا يَعْلَمَ (QS. Al-hadid: 29) dan لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ (QS. An-Nisa’: 165), maka (أن) harus ditampakkan, tidak boleh selain itu.”Contoh La Nafi (penafian),أَحْضُرُ مُبَكِّرًا لِئَلَّا يَفُوتَنِي الدَّرْسُ“Aku datang lebih awal agar tidak ketinggalan pelajaran.”Contohnya dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman,لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ“Agar tidak ada bagi manusia alasan (untuk membantah) Allah.” (QS. An-Nisa’: 165)Huruf lam ل adalah huruf ta’lil (menyatakan sebab/tujuan) sekaligus huruf jer. Adapun أن adalah huruf mashdariyyah sekaligus huruf yang menashabkan fi’il mudhari’, sedangkan لا adalah huruf penafian.Hamzah pada kata لِئَلَّا adalah hamzah milik أن. Hanya saja, huruf tersebut ber-idgham (melebur) ke dalam لا, sehingga tidak tampak baik dalam pengucapan maupun dalam tulisan.Kata يَكُونَ adalah fi’il mudhari’ naqish (كان dan saudara-saudaranya) yang me-rafa’-kan isim dan me-nashab-kan khabar. Fi’il tersebut manshub karena didahului oleh أن. Adapun لِلنَّاسِ berkedudukan sebagai khabar muqaddam (yang didahulukan), sedangkan حُجَّةٌ adalah isim muakhor (yang diakhirkan).Contoh لا yang berstatus tambahan (زائدة) untuk menguatkan makna yang terdapat pada firman Allah Ta’ala,لِئَلَّا يَعْلَمَ أَهْلُ الْكِتَابِ أَلَّا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ“(Allah menganugerahkan itu) agar Ahlulkitab (yang tidak beriman kepada Nabi Muhammad) mengetahui bahwa mereka sedikit pun tidak akan mendapat karunia Allah.” (QS. Al-Ḥadid: 29)Pada ayat ini, لا dipandang sebagai huruf za’idah (tambahan) yang tidak berfungsi sebagai penafian, melainkan sebagai penguat makna (li at-ta’kid). Oleh karena itu, frasa لِئَلَّا يَعْلَمَ dipahami dengan makna لِيَعْلَمَ, yaitu “agar Ahli Kitab mengetahui”. Dengan demikian, keberadaan لا tidak mengubah makna menjadi penafian, tetapi hanya berfungsi sebagai unsur penegas dalam susunan kalimat. Apabila لا dipahami sebagai لا النافية, maka makna ayat akan berubah menjadi “agar Ahli Kitab tidak mengetahui,” yang bertentangan dengan konteks dan maksud ayat. Oleh karena itu, para ulama nahwu menggolongkan لا pada ayat tersebut sebagai لا الزائدة المؤكدة, yaitu huruf tambahan yang berfungsi memperkuat makna tanpa memberikan pengaruh terhadap i’rab.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 33 LANJUT KE BAGIAN 35***Penulis: Rafi NugrahaArtikel Muslim.or.id

Bagaimana Cara Menanamkan Kesadaran Beragama Pada Anak-Anakku

Oleh: Sahar Abdul Qadir al-Labban Pertanyaan: Saya wanita yang sudah bercerai dan punya beberapa anak, sedangkan mereka tinggal di tempat yang jauh dariku. Bagaimana cara menanamkan kesadaran beragama dalam diri anak-anakku? Bagaimana cara agar bisa membuat mereka saling mendukung dan mencintai? Bagaimana cara menanamkan kepercayaan diri pada mereka dan mengembangkan karakter mereka? Saya sangat mengkhawatirkan mereka dari pelecehan seksual. Bagaimana cara melindungi mereka dan membuat mereka dapat memilih orang yang dapat dipercaya? Selain itu, saya juga meminta penjelasan tentang metode-metode baru yang dapat saya pakai untuk mendidik anak-anakku. Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan. Jawaban: Bismillahirrahmanirrahim Saudariku yang mulia, terima kasih atas kepercayaanmu kepada kami dan selamat datang di kolom konsultasi. Pertama-tama, saya memohon kepada Allah Yang Maha Agung agar menjaga anak-anakmu dan menjadikan mereka penyejuk matamu. Wahai saudariku, anak-anak merupakan nikmat dari Allah Ta’ala. Mereka adalah tunas bangsa. Pada merekalah harapan umat tertuju. Oleh sebab itu, perhatian terhadap mereka dan pendidikan mereka merupakan salah satu amal terbaik. Agama Islam telah mendorong untuk mendidik anak dan berusaha melindungi mereka dari neraka. Allah Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6). Allah Ta’ala juga berfirman: وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا “Dan perintahkanlah keluargamu untuk melaksanakan salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha: 132). Allah Ta’ala juga berfirman: يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ “Allah mewasiatkan kepadamu tentang pembagian warisan untuk anak-anakmu.” (QS. An-Nisa: 11). Dan Allah memuji para hamba-Nya yang berdoa:  رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74).  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah bersabda: الرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْؤُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا. “Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” Juga bersabda: مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعٍ “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan salat ketika mereka berusia tujuh tahun.”  Para salaf memberi perhatian yang sangat besar terhadap pendidikan anak-anak mereka. Dulu mereka menghadirkan pendidik khusus bagi anak-anak mereka dan kisah mereka tentang ini sangat banyak. Tidak diragukan bahwa pendidikan punya pengaruh besar dalam kesalehan anak-anak, karena mereka dilahirkan di atas fitrah, kemudian di sinilah peran pendidikan dalam menjaga fitrah tersebut atau justru membuatnya menyimpang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ “Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” Anak akan menjadi sesuai dengan apa yang dibiasakan oleh kedua orang tuanya kepadanya, jika kedua orang tua membiasakan mereka untuk melakukan kebaikan, mereka akan terbiasa dengannya, dan jika kedua orang tua membiasakan mereka dengan keburukan, mereka juga akan terbiasa dengannya. Kita hidup di zaman kemajuan dan keterbukaan. Keterbukaan inilah yang memberi banyak batu sandungan di hadapan pendidikan, sehingga jalannya menjadi sulit. Sebaliknya, jalan yang menyimpang menjadi lancar dan dihiasi dengan ribuan hiasan dan warna. Inilah yang menjadikan tanggung jawab yang ada di pundak keluarga semakin berat dan susah. Keluarga adalah benteng kokoh yang harus melindungi anak-anak dari segala fitnah yang mengepung mereka dan kerusakan yang menutup masyarakat kita. Saudariku yang mulia, pendidikan merupakan pekerjaan berat dan usaha yang membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Apalagi dengan kondisimu saat ini, keadaannya menjadi semakin sulit. Anak-anak jauh darimu, perbedaan kota memisahkan kalian, sehingga susah untuk mengawasi mereka, tetapi ini tidak menjadi alasan. Alhamdulillah sekarang kita hidup di zaman yang penuh dengan kemudahan dalam berkoneksi, tidak hanya antar kota, tetapi antar bahkan antar benua. Alhamdulillah, sekarang sudah memungkinkan untuk mengikuti kabar terbaru mereka melalui gawai, internet, dan media-media sosial yang dapat menjamin koneksi terus-menerus dengan biaya yang ringan. Wahai saudariku yang mulia, maka dari itu hal terpenting yang bisa engkau lakukan adalah terus menjalin hubungan dengan anak-anakmu. Jadikan dirimu bagian dari kehidupan mereka. Biasakanlah mereka untuk berterus terang, menyampaikan kepadamu segala yang mereka lalui selama seharian, meskipun itu hanya hal yang remeh. Dengarkanlah perkataan mereka dan berdiskusilah dengan mereka tentangnya. Pujilah mereka atas hal yang baik dan terus semangati mereka. Berilah pencerahan kepada mereka atas hal yang buruk, nasihatilah mereka. Tanamkanlah mereka kesadaran beragama dengan mendorong mereka untuk melaksanakan semua kewajiban agama, seperti salat dan berhijab. Doronglah mereka untuk bersikap jujur dan menjauhi dosa-dosa. Buatlah mereka menyukai program-program menghafal Al-Qur’an dan pantaulah progres mereka dalam menghafal. Ajarkanlah kepada mereka pengorbanan. Latihlah mereka untuk saling mementingkan saudaranya dan saling melindungi. Sampaikan kepada mereka bahwa mereka akan kuat jika bersama, dan lemah saat tercerai berai. Tanyalah kepada anak laki-lakimu setiap Jum’at tentang isi khutbahnya dan peristiwa yang terjadi. Buatlah dia merasa bahwa engkau selalu menunggu mereka pulang agar ia dapat menceritakannya kepadamu.  Jelaskanlah kepada anak perempuanmu arti baligh dan datang bulan, obrolkanlah dengannya seputar makna pelecehan seksual dan sampaikanlah beberapa kisah kepadanya tentang tema ini. Peringatkanlah ia jangan sampai keluar sendirian hanya ditemani sopir, jangan bergaul dengan laki-laki yang bukan mahram, bahkan dengan sepupunya, dan jangan masuk ke tempat-tempat para pekerja laki-laki, seperti tukang, pembantu, atau tukang masak.  Sampaikanlah kepadanya tentang rasa malu dan pandangan mata yang halal. Doronglah anak-anakmu untuk tidak menonton saluran-saluran televisi yang menayangkan cuplikan-cuplikan yang cacat adab. Mintalah kepada anak perempuanmu untuk tidak memakai pakaian pendek atau setengah telanjang di rumah, bahkan saat di depan ayah atau saudaranya. Berilah ia pemahaman pentingnya menjauhi teman-teman di sekolah yang selalu berusaha menempel-nempelkan tubuh, memegang tangan, atau memeluk. Jelaskanlah padanya bahwa di antara sifat remaja muslimah yang punya akhlak mulia adalah tidak berbicara dengan pemuda yang tidak dikenal yang ingin berkenalan dengannya. Tanamkanlah pada diri anak-anakmu kepercayaan diri dan kemampuan mengambil keputusan. Latihlah mereka membuat keputusan sendiri dengan memberi mereka pilihan, berilah mereka kebebasan dalam memilih keputusan yang sesuai diri mereka.  Wahai saudariku, ada perkara yang sangat penting, yaitu teladan yang baik. Engkau bagi mereka adalah sosok yang paling dihormati, maka jadilah teladan yang baik bagi mereka. Jangan menyuruh mereka sesuatu yang engkau sendiri tidak melakukannya dan jangan larang mereka sesuatu yang engkau sendiri melakukannya. Sebagai penutup, saya nasihatkan kepadamu wahai saudari yang mulia, untuk membaca buku-buku tentang pendidikan yang benar dan metode-metodenya yang sudah terbukti berhasil. Saya memohon kepada Allah Yang Maha Agung agar menjaga anak-anakmu dan anak-anak kaum Muslimin. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sumber: https://www.alukah.net/fatawa_counsels/0/44946/كيف-أزرع-في-أبنائي-الوازع-الديني؟/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 285 times, 7 visit(s) today Post Views: 115

Bagaimana Cara Menanamkan Kesadaran Beragama Pada Anak-Anakku

Oleh: Sahar Abdul Qadir al-Labban Pertanyaan: Saya wanita yang sudah bercerai dan punya beberapa anak, sedangkan mereka tinggal di tempat yang jauh dariku. Bagaimana cara menanamkan kesadaran beragama dalam diri anak-anakku? Bagaimana cara agar bisa membuat mereka saling mendukung dan mencintai? Bagaimana cara menanamkan kepercayaan diri pada mereka dan mengembangkan karakter mereka? Saya sangat mengkhawatirkan mereka dari pelecehan seksual. Bagaimana cara melindungi mereka dan membuat mereka dapat memilih orang yang dapat dipercaya? Selain itu, saya juga meminta penjelasan tentang metode-metode baru yang dapat saya pakai untuk mendidik anak-anakku. Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan. Jawaban: Bismillahirrahmanirrahim Saudariku yang mulia, terima kasih atas kepercayaanmu kepada kami dan selamat datang di kolom konsultasi. Pertama-tama, saya memohon kepada Allah Yang Maha Agung agar menjaga anak-anakmu dan menjadikan mereka penyejuk matamu. Wahai saudariku, anak-anak merupakan nikmat dari Allah Ta’ala. Mereka adalah tunas bangsa. Pada merekalah harapan umat tertuju. Oleh sebab itu, perhatian terhadap mereka dan pendidikan mereka merupakan salah satu amal terbaik. Agama Islam telah mendorong untuk mendidik anak dan berusaha melindungi mereka dari neraka. Allah Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6). Allah Ta’ala juga berfirman: وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا “Dan perintahkanlah keluargamu untuk melaksanakan salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha: 132). Allah Ta’ala juga berfirman: يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ “Allah mewasiatkan kepadamu tentang pembagian warisan untuk anak-anakmu.” (QS. An-Nisa: 11). Dan Allah memuji para hamba-Nya yang berdoa:  رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74).  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah bersabda: الرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْؤُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا. “Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” Juga bersabda: مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعٍ “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan salat ketika mereka berusia tujuh tahun.”  Para salaf memberi perhatian yang sangat besar terhadap pendidikan anak-anak mereka. Dulu mereka menghadirkan pendidik khusus bagi anak-anak mereka dan kisah mereka tentang ini sangat banyak. Tidak diragukan bahwa pendidikan punya pengaruh besar dalam kesalehan anak-anak, karena mereka dilahirkan di atas fitrah, kemudian di sinilah peran pendidikan dalam menjaga fitrah tersebut atau justru membuatnya menyimpang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ “Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” Anak akan menjadi sesuai dengan apa yang dibiasakan oleh kedua orang tuanya kepadanya, jika kedua orang tua membiasakan mereka untuk melakukan kebaikan, mereka akan terbiasa dengannya, dan jika kedua orang tua membiasakan mereka dengan keburukan, mereka juga akan terbiasa dengannya. Kita hidup di zaman kemajuan dan keterbukaan. Keterbukaan inilah yang memberi banyak batu sandungan di hadapan pendidikan, sehingga jalannya menjadi sulit. Sebaliknya, jalan yang menyimpang menjadi lancar dan dihiasi dengan ribuan hiasan dan warna. Inilah yang menjadikan tanggung jawab yang ada di pundak keluarga semakin berat dan susah. Keluarga adalah benteng kokoh yang harus melindungi anak-anak dari segala fitnah yang mengepung mereka dan kerusakan yang menutup masyarakat kita. Saudariku yang mulia, pendidikan merupakan pekerjaan berat dan usaha yang membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Apalagi dengan kondisimu saat ini, keadaannya menjadi semakin sulit. Anak-anak jauh darimu, perbedaan kota memisahkan kalian, sehingga susah untuk mengawasi mereka, tetapi ini tidak menjadi alasan. Alhamdulillah sekarang kita hidup di zaman yang penuh dengan kemudahan dalam berkoneksi, tidak hanya antar kota, tetapi antar bahkan antar benua. Alhamdulillah, sekarang sudah memungkinkan untuk mengikuti kabar terbaru mereka melalui gawai, internet, dan media-media sosial yang dapat menjamin koneksi terus-menerus dengan biaya yang ringan. Wahai saudariku yang mulia, maka dari itu hal terpenting yang bisa engkau lakukan adalah terus menjalin hubungan dengan anak-anakmu. Jadikan dirimu bagian dari kehidupan mereka. Biasakanlah mereka untuk berterus terang, menyampaikan kepadamu segala yang mereka lalui selama seharian, meskipun itu hanya hal yang remeh. Dengarkanlah perkataan mereka dan berdiskusilah dengan mereka tentangnya. Pujilah mereka atas hal yang baik dan terus semangati mereka. Berilah pencerahan kepada mereka atas hal yang buruk, nasihatilah mereka. Tanamkanlah mereka kesadaran beragama dengan mendorong mereka untuk melaksanakan semua kewajiban agama, seperti salat dan berhijab. Doronglah mereka untuk bersikap jujur dan menjauhi dosa-dosa. Buatlah mereka menyukai program-program menghafal Al-Qur’an dan pantaulah progres mereka dalam menghafal. Ajarkanlah kepada mereka pengorbanan. Latihlah mereka untuk saling mementingkan saudaranya dan saling melindungi. Sampaikan kepada mereka bahwa mereka akan kuat jika bersama, dan lemah saat tercerai berai. Tanyalah kepada anak laki-lakimu setiap Jum’at tentang isi khutbahnya dan peristiwa yang terjadi. Buatlah dia merasa bahwa engkau selalu menunggu mereka pulang agar ia dapat menceritakannya kepadamu.  Jelaskanlah kepada anak perempuanmu arti baligh dan datang bulan, obrolkanlah dengannya seputar makna pelecehan seksual dan sampaikanlah beberapa kisah kepadanya tentang tema ini. Peringatkanlah ia jangan sampai keluar sendirian hanya ditemani sopir, jangan bergaul dengan laki-laki yang bukan mahram, bahkan dengan sepupunya, dan jangan masuk ke tempat-tempat para pekerja laki-laki, seperti tukang, pembantu, atau tukang masak.  Sampaikanlah kepadanya tentang rasa malu dan pandangan mata yang halal. Doronglah anak-anakmu untuk tidak menonton saluran-saluran televisi yang menayangkan cuplikan-cuplikan yang cacat adab. Mintalah kepada anak perempuanmu untuk tidak memakai pakaian pendek atau setengah telanjang di rumah, bahkan saat di depan ayah atau saudaranya. Berilah ia pemahaman pentingnya menjauhi teman-teman di sekolah yang selalu berusaha menempel-nempelkan tubuh, memegang tangan, atau memeluk. Jelaskanlah padanya bahwa di antara sifat remaja muslimah yang punya akhlak mulia adalah tidak berbicara dengan pemuda yang tidak dikenal yang ingin berkenalan dengannya. Tanamkanlah pada diri anak-anakmu kepercayaan diri dan kemampuan mengambil keputusan. Latihlah mereka membuat keputusan sendiri dengan memberi mereka pilihan, berilah mereka kebebasan dalam memilih keputusan yang sesuai diri mereka.  Wahai saudariku, ada perkara yang sangat penting, yaitu teladan yang baik. Engkau bagi mereka adalah sosok yang paling dihormati, maka jadilah teladan yang baik bagi mereka. Jangan menyuruh mereka sesuatu yang engkau sendiri tidak melakukannya dan jangan larang mereka sesuatu yang engkau sendiri melakukannya. Sebagai penutup, saya nasihatkan kepadamu wahai saudari yang mulia, untuk membaca buku-buku tentang pendidikan yang benar dan metode-metodenya yang sudah terbukti berhasil. Saya memohon kepada Allah Yang Maha Agung agar menjaga anak-anakmu dan anak-anak kaum Muslimin. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sumber: https://www.alukah.net/fatawa_counsels/0/44946/كيف-أزرع-في-أبنائي-الوازع-الديني؟/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 285 times, 7 visit(s) today Post Views: 115
Oleh: Sahar Abdul Qadir al-Labban Pertanyaan: Saya wanita yang sudah bercerai dan punya beberapa anak, sedangkan mereka tinggal di tempat yang jauh dariku. Bagaimana cara menanamkan kesadaran beragama dalam diri anak-anakku? Bagaimana cara agar bisa membuat mereka saling mendukung dan mencintai? Bagaimana cara menanamkan kepercayaan diri pada mereka dan mengembangkan karakter mereka? Saya sangat mengkhawatirkan mereka dari pelecehan seksual. Bagaimana cara melindungi mereka dan membuat mereka dapat memilih orang yang dapat dipercaya? Selain itu, saya juga meminta penjelasan tentang metode-metode baru yang dapat saya pakai untuk mendidik anak-anakku. Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan. Jawaban: Bismillahirrahmanirrahim Saudariku yang mulia, terima kasih atas kepercayaanmu kepada kami dan selamat datang di kolom konsultasi. Pertama-tama, saya memohon kepada Allah Yang Maha Agung agar menjaga anak-anakmu dan menjadikan mereka penyejuk matamu. Wahai saudariku, anak-anak merupakan nikmat dari Allah Ta’ala. Mereka adalah tunas bangsa. Pada merekalah harapan umat tertuju. Oleh sebab itu, perhatian terhadap mereka dan pendidikan mereka merupakan salah satu amal terbaik. Agama Islam telah mendorong untuk mendidik anak dan berusaha melindungi mereka dari neraka. Allah Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6). Allah Ta’ala juga berfirman: وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا “Dan perintahkanlah keluargamu untuk melaksanakan salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha: 132). Allah Ta’ala juga berfirman: يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ “Allah mewasiatkan kepadamu tentang pembagian warisan untuk anak-anakmu.” (QS. An-Nisa: 11). Dan Allah memuji para hamba-Nya yang berdoa:  رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74).  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah bersabda: الرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْؤُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا. “Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” Juga bersabda: مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعٍ “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan salat ketika mereka berusia tujuh tahun.”  Para salaf memberi perhatian yang sangat besar terhadap pendidikan anak-anak mereka. Dulu mereka menghadirkan pendidik khusus bagi anak-anak mereka dan kisah mereka tentang ini sangat banyak. Tidak diragukan bahwa pendidikan punya pengaruh besar dalam kesalehan anak-anak, karena mereka dilahirkan di atas fitrah, kemudian di sinilah peran pendidikan dalam menjaga fitrah tersebut atau justru membuatnya menyimpang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ “Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” Anak akan menjadi sesuai dengan apa yang dibiasakan oleh kedua orang tuanya kepadanya, jika kedua orang tua membiasakan mereka untuk melakukan kebaikan, mereka akan terbiasa dengannya, dan jika kedua orang tua membiasakan mereka dengan keburukan, mereka juga akan terbiasa dengannya. Kita hidup di zaman kemajuan dan keterbukaan. Keterbukaan inilah yang memberi banyak batu sandungan di hadapan pendidikan, sehingga jalannya menjadi sulit. Sebaliknya, jalan yang menyimpang menjadi lancar dan dihiasi dengan ribuan hiasan dan warna. Inilah yang menjadikan tanggung jawab yang ada di pundak keluarga semakin berat dan susah. Keluarga adalah benteng kokoh yang harus melindungi anak-anak dari segala fitnah yang mengepung mereka dan kerusakan yang menutup masyarakat kita. Saudariku yang mulia, pendidikan merupakan pekerjaan berat dan usaha yang membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Apalagi dengan kondisimu saat ini, keadaannya menjadi semakin sulit. Anak-anak jauh darimu, perbedaan kota memisahkan kalian, sehingga susah untuk mengawasi mereka, tetapi ini tidak menjadi alasan. Alhamdulillah sekarang kita hidup di zaman yang penuh dengan kemudahan dalam berkoneksi, tidak hanya antar kota, tetapi antar bahkan antar benua. Alhamdulillah, sekarang sudah memungkinkan untuk mengikuti kabar terbaru mereka melalui gawai, internet, dan media-media sosial yang dapat menjamin koneksi terus-menerus dengan biaya yang ringan. Wahai saudariku yang mulia, maka dari itu hal terpenting yang bisa engkau lakukan adalah terus menjalin hubungan dengan anak-anakmu. Jadikan dirimu bagian dari kehidupan mereka. Biasakanlah mereka untuk berterus terang, menyampaikan kepadamu segala yang mereka lalui selama seharian, meskipun itu hanya hal yang remeh. Dengarkanlah perkataan mereka dan berdiskusilah dengan mereka tentangnya. Pujilah mereka atas hal yang baik dan terus semangati mereka. Berilah pencerahan kepada mereka atas hal yang buruk, nasihatilah mereka. Tanamkanlah mereka kesadaran beragama dengan mendorong mereka untuk melaksanakan semua kewajiban agama, seperti salat dan berhijab. Doronglah mereka untuk bersikap jujur dan menjauhi dosa-dosa. Buatlah mereka menyukai program-program menghafal Al-Qur’an dan pantaulah progres mereka dalam menghafal. Ajarkanlah kepada mereka pengorbanan. Latihlah mereka untuk saling mementingkan saudaranya dan saling melindungi. Sampaikan kepada mereka bahwa mereka akan kuat jika bersama, dan lemah saat tercerai berai. Tanyalah kepada anak laki-lakimu setiap Jum’at tentang isi khutbahnya dan peristiwa yang terjadi. Buatlah dia merasa bahwa engkau selalu menunggu mereka pulang agar ia dapat menceritakannya kepadamu.  Jelaskanlah kepada anak perempuanmu arti baligh dan datang bulan, obrolkanlah dengannya seputar makna pelecehan seksual dan sampaikanlah beberapa kisah kepadanya tentang tema ini. Peringatkanlah ia jangan sampai keluar sendirian hanya ditemani sopir, jangan bergaul dengan laki-laki yang bukan mahram, bahkan dengan sepupunya, dan jangan masuk ke tempat-tempat para pekerja laki-laki, seperti tukang, pembantu, atau tukang masak.  Sampaikanlah kepadanya tentang rasa malu dan pandangan mata yang halal. Doronglah anak-anakmu untuk tidak menonton saluran-saluran televisi yang menayangkan cuplikan-cuplikan yang cacat adab. Mintalah kepada anak perempuanmu untuk tidak memakai pakaian pendek atau setengah telanjang di rumah, bahkan saat di depan ayah atau saudaranya. Berilah ia pemahaman pentingnya menjauhi teman-teman di sekolah yang selalu berusaha menempel-nempelkan tubuh, memegang tangan, atau memeluk. Jelaskanlah padanya bahwa di antara sifat remaja muslimah yang punya akhlak mulia adalah tidak berbicara dengan pemuda yang tidak dikenal yang ingin berkenalan dengannya. Tanamkanlah pada diri anak-anakmu kepercayaan diri dan kemampuan mengambil keputusan. Latihlah mereka membuat keputusan sendiri dengan memberi mereka pilihan, berilah mereka kebebasan dalam memilih keputusan yang sesuai diri mereka.  Wahai saudariku, ada perkara yang sangat penting, yaitu teladan yang baik. Engkau bagi mereka adalah sosok yang paling dihormati, maka jadilah teladan yang baik bagi mereka. Jangan menyuruh mereka sesuatu yang engkau sendiri tidak melakukannya dan jangan larang mereka sesuatu yang engkau sendiri melakukannya. Sebagai penutup, saya nasihatkan kepadamu wahai saudari yang mulia, untuk membaca buku-buku tentang pendidikan yang benar dan metode-metodenya yang sudah terbukti berhasil. Saya memohon kepada Allah Yang Maha Agung agar menjaga anak-anakmu dan anak-anak kaum Muslimin. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sumber: https://www.alukah.net/fatawa_counsels/0/44946/كيف-أزرع-في-أبنائي-الوازع-الديني؟/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 285 times, 7 visit(s) today Post Views: 115


Oleh: Sahar Abdul Qadir al-Labban Pertanyaan: Saya wanita yang sudah bercerai dan punya beberapa anak, sedangkan mereka tinggal di tempat yang jauh dariku. Bagaimana cara menanamkan kesadaran beragama dalam diri anak-anakku? Bagaimana cara agar bisa membuat mereka saling mendukung dan mencintai? Bagaimana cara menanamkan kepercayaan diri pada mereka dan mengembangkan karakter mereka? Saya sangat mengkhawatirkan mereka dari pelecehan seksual. Bagaimana cara melindungi mereka dan membuat mereka dapat memilih orang yang dapat dipercaya? Selain itu, saya juga meminta penjelasan tentang metode-metode baru yang dapat saya pakai untuk mendidik anak-anakku. Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan. Jawaban: Bismillahirrahmanirrahim Saudariku yang mulia, terima kasih atas kepercayaanmu kepada kami dan selamat datang di kolom konsultasi. Pertama-tama, saya memohon kepada Allah Yang Maha Agung agar menjaga anak-anakmu dan menjadikan mereka penyejuk matamu. Wahai saudariku, anak-anak merupakan nikmat dari Allah Ta’ala. Mereka adalah tunas bangsa. Pada merekalah harapan umat tertuju. Oleh sebab itu, perhatian terhadap mereka dan pendidikan mereka merupakan salah satu amal terbaik. Agama Islam telah mendorong untuk mendidik anak dan berusaha melindungi mereka dari neraka. Allah Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6). Allah Ta’ala juga berfirman: وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا “Dan perintahkanlah keluargamu untuk melaksanakan salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha: 132). Allah Ta’ala juga berfirman: يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ “Allah mewasiatkan kepadamu tentang pembagian warisan untuk anak-anakmu.” (QS. An-Nisa: 11). Dan Allah memuji para hamba-Nya yang berdoa:  رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74).  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah bersabda: الرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْؤُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا. “Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” Juga bersabda: مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعٍ “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan salat ketika mereka berusia tujuh tahun.”  Para salaf memberi perhatian yang sangat besar terhadap pendidikan anak-anak mereka. Dulu mereka menghadirkan pendidik khusus bagi anak-anak mereka dan kisah mereka tentang ini sangat banyak. Tidak diragukan bahwa pendidikan punya pengaruh besar dalam kesalehan anak-anak, karena mereka dilahirkan di atas fitrah, kemudian di sinilah peran pendidikan dalam menjaga fitrah tersebut atau justru membuatnya menyimpang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ “Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” Anak akan menjadi sesuai dengan apa yang dibiasakan oleh kedua orang tuanya kepadanya, jika kedua orang tua membiasakan mereka untuk melakukan kebaikan, mereka akan terbiasa dengannya, dan jika kedua orang tua membiasakan mereka dengan keburukan, mereka juga akan terbiasa dengannya. Kita hidup di zaman kemajuan dan keterbukaan. Keterbukaan inilah yang memberi banyak batu sandungan di hadapan pendidikan, sehingga jalannya menjadi sulit. Sebaliknya, jalan yang menyimpang menjadi lancar dan dihiasi dengan ribuan hiasan dan warna. Inilah yang menjadikan tanggung jawab yang ada di pundak keluarga semakin berat dan susah. Keluarga adalah benteng kokoh yang harus melindungi anak-anak dari segala fitnah yang mengepung mereka dan kerusakan yang menutup masyarakat kita. Saudariku yang mulia, pendidikan merupakan pekerjaan berat dan usaha yang membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Apalagi dengan kondisimu saat ini, keadaannya menjadi semakin sulit. Anak-anak jauh darimu, perbedaan kota memisahkan kalian, sehingga susah untuk mengawasi mereka, tetapi ini tidak menjadi alasan. Alhamdulillah sekarang kita hidup di zaman yang penuh dengan kemudahan dalam berkoneksi, tidak hanya antar kota, tetapi antar bahkan antar benua. Alhamdulillah, sekarang sudah memungkinkan untuk mengikuti kabar terbaru mereka melalui gawai, internet, dan media-media sosial yang dapat menjamin koneksi terus-menerus dengan biaya yang ringan. Wahai saudariku yang mulia, maka dari itu hal terpenting yang bisa engkau lakukan adalah terus menjalin hubungan dengan anak-anakmu. Jadikan dirimu bagian dari kehidupan mereka. Biasakanlah mereka untuk berterus terang, menyampaikan kepadamu segala yang mereka lalui selama seharian, meskipun itu hanya hal yang remeh. Dengarkanlah perkataan mereka dan berdiskusilah dengan mereka tentangnya. Pujilah mereka atas hal yang baik dan terus semangati mereka. Berilah pencerahan kepada mereka atas hal yang buruk, nasihatilah mereka. Tanamkanlah mereka kesadaran beragama dengan mendorong mereka untuk melaksanakan semua kewajiban agama, seperti salat dan berhijab. Doronglah mereka untuk bersikap jujur dan menjauhi dosa-dosa. Buatlah mereka menyukai program-program menghafal Al-Qur’an dan pantaulah progres mereka dalam menghafal. Ajarkanlah kepada mereka pengorbanan. Latihlah mereka untuk saling mementingkan saudaranya dan saling melindungi. Sampaikan kepada mereka bahwa mereka akan kuat jika bersama, dan lemah saat tercerai berai. Tanyalah kepada anak laki-lakimu setiap Jum’at tentang isi khutbahnya dan peristiwa yang terjadi. Buatlah dia merasa bahwa engkau selalu menunggu mereka pulang agar ia dapat menceritakannya kepadamu.  Jelaskanlah kepada anak perempuanmu arti baligh dan datang bulan, obrolkanlah dengannya seputar makna pelecehan seksual dan sampaikanlah beberapa kisah kepadanya tentang tema ini. Peringatkanlah ia jangan sampai keluar sendirian hanya ditemani sopir, jangan bergaul dengan laki-laki yang bukan mahram, bahkan dengan sepupunya, dan jangan masuk ke tempat-tempat para pekerja laki-laki, seperti tukang, pembantu, atau tukang masak.  Sampaikanlah kepadanya tentang rasa malu dan pandangan mata yang halal. Doronglah anak-anakmu untuk tidak menonton saluran-saluran televisi yang menayangkan cuplikan-cuplikan yang cacat adab. Mintalah kepada anak perempuanmu untuk tidak memakai pakaian pendek atau setengah telanjang di rumah, bahkan saat di depan ayah atau saudaranya. Berilah ia pemahaman pentingnya menjauhi teman-teman di sekolah yang selalu berusaha menempel-nempelkan tubuh, memegang tangan, atau memeluk. Jelaskanlah padanya bahwa di antara sifat remaja muslimah yang punya akhlak mulia adalah tidak berbicara dengan pemuda yang tidak dikenal yang ingin berkenalan dengannya. Tanamkanlah pada diri anak-anakmu kepercayaan diri dan kemampuan mengambil keputusan. Latihlah mereka membuat keputusan sendiri dengan memberi mereka pilihan, berilah mereka kebebasan dalam memilih keputusan yang sesuai diri mereka.  Wahai saudariku, ada perkara yang sangat penting, yaitu teladan yang baik. Engkau bagi mereka adalah sosok yang paling dihormati, maka jadilah teladan yang baik bagi mereka. Jangan menyuruh mereka sesuatu yang engkau sendiri tidak melakukannya dan jangan larang mereka sesuatu yang engkau sendiri melakukannya. Sebagai penutup, saya nasihatkan kepadamu wahai saudari yang mulia, untuk membaca buku-buku tentang pendidikan yang benar dan metode-metodenya yang sudah terbukti berhasil. Saya memohon kepada Allah Yang Maha Agung agar menjaga anak-anakmu dan anak-anak kaum Muslimin. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sumber: https://www.alukah.net/fatawa_counsels/0/44946/كيف-أزرع-في-أبنائي-الوازع-الديني؟/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 285 times, 7 visit(s) today Post Views: 115

Iman kepada Allah: Kepada Siapa Hati Bergantung?

Daftar Isi ToggleIman kepada Allah bukan sekadar mengakui keberadaan-NyaAllah adalah Pencipta, Pemilik, dan PengaturKita beribadah dan memohon pertolongan hanya kepada AllahMenempuh sebab tanpa diperbudak sebabMengenal Allah akan menghidupkan ibadah hatiPeriksa tempat berlarinya hatiTetap menempuh sebab (usaha) dengan sungguh-sungguh, tanpa menyerahkan hati kepada sebab (usaha kita sendiri).Manusia menyukai kepastian. Kita menyusun rencana, menyiapkan tabungan, menambah keterampilan, menjaga relasi, dan berusaha memperoleh kepercayaan orang lain. Semua itu dapat menjadi ikhtiar yang baik. Masalahnya muncul ketika sebab-sebab yang semula berada di tangan, perlahan-lahan mengambil tempat di hati.Selama pekerjaan aman, atasan puas, jaringan kuat, dan rencana berjalan, hati terasa tenang. Namun, ketika salah satunya goyah, seakan-akan seluruh masa depan ikut runtuh. Di sinilah iman kepada Allah perlu diperiksa: apakah kita benar-benar bersandar kepada Allah, atau hanya merasa tenang selama sebab-sebab dunia masih dapat kita kendalikan?Iman kepada Allah bukan sekadar mengakui keberadaan-NyaIman kepada Allah tentu mencakup keyakinan bahwa Allah benar-benar ada. Akan tetapi, maknanya tidak berhenti pada pengakuan tersebut. Secara ringkas, iman kepada Allah mencakup empat perkara:1) Meyakini keberadaan Allah;2) Mengesakan Allah dalam rububiyah-Nya, yaitu bahwa hanya Dia yang menciptakan, memiliki, dan mengatur seluruh alam;3) Mengesakan Allah dalam uluhiyah-Nya, yaitu bahwa hanya Dia yang berhak menerima seluruh bentuk ibadah; dan4) Mengimani nama dan sifat Allah sebagaimana yang ditetapkan dalam Al-Qur’an dan hadis sahih, tanpa mengubah makna, menolak, membayangkan hakikat, atau menyerupakan Allah dengan makhluk.Keyakinan tentang keberadaan Allah selaras dengan fitrah manusia dan diteguhkan oleh tanda-tanda kekuasaan-Nya pada diri serta alam semesta. Bahkan ketika berbagai sandaran dunia tidak lagi menolong, manusia sering menyadari betapa lemah dirinya dan membutuhkan Rabb yang Mahakuasa. Namun, iman tidak boleh hanya muncul pada saat terdesak. Pengakuan terhadap Allah harus membentuk seluruh arah hidup.Keempat perkara ini saling berkaitan. Pengakuan bahwa Allah adalah Pencipta belum cukup apabila doa, rasa takut, harapan, dan ketundukan justru diberikan kepada selain-Nya. Iman yang benar tidak hanya mengisi pikiran dengan pengetahuan tentang Allah, tetapi juga mengarahkan ibadah dan sandaran hati hanya kepada-Nya.Baca juga: Cara Mengimani Wujud Allah Ta’alaAllah adalah Pencipta, Pemilik, dan PengaturKetika seorang mukmin meyakini rububiyah Allah, ia mengetahui bahwa tidak ada sesuatu pun yang berdiri sendiri di luar kekuasaan-Nya. Pekerjaan, obat, keahlian, tabungan, pertolongan manusia, dan berbagai peluang hanyalah sebab. Semuanya diciptakan oleh Allah, berada dalam kepemilikan-Nya, dan bekerja di bawah pengaturan-Nya.Kesadaran ini mengubah cara seorang mukmin memandang rasa aman. Ia tidak mengukurnya semata-mata dari banyaknya simpanan, kuatnya kedudukan, atau dekatnya orang-orang yang dapat menolong. Semua itu patut dijaga dan dimanfaatkan, tetapi keamanan yang sejati lahir dari keyakinan bahwa urusannya berada di tangan Allah.أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.” (QS. Al-A‘raf: 54)Sebab dapat kuat, lemah, tersedia, atau terputus sesuai dengan ketetapan Allah. Oleh karena itu, seorang mukmin tidak meremehkan sebab, tetapi juga tidak menganggapnya sebagai penentu mutlak. Ia bekerja dengan serius, sekaligus menyadari bahwa hasil tidak pernah sepenuhnya berada dalam genggaman manusia.Kita beribadah dan memohon pertolongan hanya kepada Allah Rububiyah menuntun kepada uluhiyah. Karena Allah adalah satu-satunya Pencipta dan Pengatur, hanya Dia yang berhak menjadi tujuan seluruh ibadah. Allah mengajarkan kalimat yang setiap hari kita baca dalam salat,إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)Ibadah bukan hanya gerakan badan. Doa, takut, harap, cinta, dan tawakal adalah ibadah hati. Meminta bantuan kepada manusia dalam perkara yang mampu mereka lakukan bukanlah masalah. Namun, hati harus tetap mengetahui bahwa manusia hanyalah sebab. Mereka dapat membantu jika Allah mengizinkan dan dapat tidak berdaya meskipun telah berjanji.Demikian pula penilaian manusia. Menjaga kepercayaan, menerima nasihat, dan memperbaiki kekurangan adalah sikap terpuji. Akan tetapi, penerimaan manusia tidak boleh menjadi kiblat hati hingga seseorang berani meninggalkan ketaatan, menyembunyikan kebenaran, atau menempuh cara yang Allah haramkan.Menempuh sebab tanpa diperbudak sebabTawakal tidak berarti duduk tanpa usaha. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ“Bersemangatlah terhadap perkara yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah.” (HR. Muslim no. 2664)Hadis ini menggabungkan dua perkara: kesungguhan menempuh sesuatu yang bermanfaat dan permohonan pertolongan kepada Allah. Ikhtiar menggerakkan anggota badan, sedangkan tawakal mengarahkan hati. Keduanya tidak saling meniadakan.Seorang karyawan bekerja dengan amanah, tetapi tidak meyakini atasannya sebagai pemilik rezeki. Orang yang sakit mencari dokter dan meminum obat, tetapi tidak menganggap keduanya sebagai penyembuh yang bekerja sendiri. Seorang kepala keluarga menyusun keuangan dan memperluas jaringan, tetapi tidak menjadikan tabungan dan relasi sebagai jaminan mutlak masa depan. Ketika suatu sebab gagal, ia mencari sebab lain yang halal tanpa membiarkan harapannya kepada Allah ikut terputus.Ketika hasil sesuai rencana, ia bersyukur dan tidak merasa bahwa keberhasilan murni lahir dari kecerdasannya. Ketika hasil berbeda, ia tidak menuduh seluruh usahanya sia-sia. Ia menilai kembali langkahnya, memperbaiki kesalahan yang dapat diperbaiki, kemudian melanjutkan ikhtiar dengan hati yang lebih rendah di hadapan Allah.Sebaliknya, ketergantungan kepada sebab mudah dikenali dari keadaan hati. Seseorang merasa masa depannya tamat ketika kehilangan pekerjaan, rela melanggar syariat demi menjaga penerimaan orang, atau lebih takut kepada komentar manusia daripada kemurkaan Allah. Sebab yang semestinya digunakan akhirnya berubah menjadi sesuatu yang mengendalikan dirinya.Mengenal Allah akan menghidupkan ibadah hatiNama dan sifat Allah bukan sekadar bahan untuk diketahui. Ketika seorang hamba mengenal kesempurnaan ilmu, pendengaran, penglihatan, rahmat, kekuasaan, dan hikmah Allah, tumbuh dalam hatinya cinta dan pengagungan kepada-Nya. Cinta mendorongnya menjalankan perintah, sedangkan pengagungan menahannya dari larangan. Dari sinilah lahir kehidupan yang baik: bukan hidup tanpa kesulitan, melainkan hati yang tetap mengenal Rabb-nya ketika keadaan tidak berjalan sesuai keinginan.Apabila ia yakin Allah Maha Mendengar, ia tidak merasa doanya hilang hanya karena belum melihat jawaban. Apabila ia yakin Allah Mahabijaksana, ia tidak menganggap setiap hal yang berbeda dari rencananya sebagai keburukan. Pengetahuan tentang Allah seperti inilah yang menghidupkan sabar, harap, takut, dan keridaan.Periksa tempat berlarinya hatiIman kepada Allah seharusnya tampak pada arah hati. Oleh karena itu, tanyakan kepada diri sendiri:Ketika takut, kepada siapa hati pertama kali berlari?Ketika berhasil, siapa yang pertama kali diingat dan disyukuri?Ketika satu sebab terputus, apakah harapan kepada Allah ikut terputus?Apakah penilaian manusia lebih menentukan pilihan kita daripada keridaan Allah?Tempuhlah sebab terbaik yang dibenarkan, mintalah pertolongan Allah, lalu jangan serahkan ketenangan hati kepada hasil yang belum berada dalam kekuasaan kita. Allah-lah Pencipta, Pemilik, dan Pengatur seluruh urusan. Hanya kepada-Nya hati selayaknya bergantung.Baca juga: Memperkokoh Keimanan pada Allah ***Penulis: Mochammad WibisonoArtikel Muslim.or.id ReferensiDisarikan dari: Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syarh ‘Aqidah Ahl as-Sunnah wal Jama‘ah, Mu’assasah asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin al-Khairiyyah, cet. 1, 1427 H, hal. 47–51 dan 485–488.

Iman kepada Allah: Kepada Siapa Hati Bergantung?

Daftar Isi ToggleIman kepada Allah bukan sekadar mengakui keberadaan-NyaAllah adalah Pencipta, Pemilik, dan PengaturKita beribadah dan memohon pertolongan hanya kepada AllahMenempuh sebab tanpa diperbudak sebabMengenal Allah akan menghidupkan ibadah hatiPeriksa tempat berlarinya hatiTetap menempuh sebab (usaha) dengan sungguh-sungguh, tanpa menyerahkan hati kepada sebab (usaha kita sendiri).Manusia menyukai kepastian. Kita menyusun rencana, menyiapkan tabungan, menambah keterampilan, menjaga relasi, dan berusaha memperoleh kepercayaan orang lain. Semua itu dapat menjadi ikhtiar yang baik. Masalahnya muncul ketika sebab-sebab yang semula berada di tangan, perlahan-lahan mengambil tempat di hati.Selama pekerjaan aman, atasan puas, jaringan kuat, dan rencana berjalan, hati terasa tenang. Namun, ketika salah satunya goyah, seakan-akan seluruh masa depan ikut runtuh. Di sinilah iman kepada Allah perlu diperiksa: apakah kita benar-benar bersandar kepada Allah, atau hanya merasa tenang selama sebab-sebab dunia masih dapat kita kendalikan?Iman kepada Allah bukan sekadar mengakui keberadaan-NyaIman kepada Allah tentu mencakup keyakinan bahwa Allah benar-benar ada. Akan tetapi, maknanya tidak berhenti pada pengakuan tersebut. Secara ringkas, iman kepada Allah mencakup empat perkara:1) Meyakini keberadaan Allah;2) Mengesakan Allah dalam rububiyah-Nya, yaitu bahwa hanya Dia yang menciptakan, memiliki, dan mengatur seluruh alam;3) Mengesakan Allah dalam uluhiyah-Nya, yaitu bahwa hanya Dia yang berhak menerima seluruh bentuk ibadah; dan4) Mengimani nama dan sifat Allah sebagaimana yang ditetapkan dalam Al-Qur’an dan hadis sahih, tanpa mengubah makna, menolak, membayangkan hakikat, atau menyerupakan Allah dengan makhluk.Keyakinan tentang keberadaan Allah selaras dengan fitrah manusia dan diteguhkan oleh tanda-tanda kekuasaan-Nya pada diri serta alam semesta. Bahkan ketika berbagai sandaran dunia tidak lagi menolong, manusia sering menyadari betapa lemah dirinya dan membutuhkan Rabb yang Mahakuasa. Namun, iman tidak boleh hanya muncul pada saat terdesak. Pengakuan terhadap Allah harus membentuk seluruh arah hidup.Keempat perkara ini saling berkaitan. Pengakuan bahwa Allah adalah Pencipta belum cukup apabila doa, rasa takut, harapan, dan ketundukan justru diberikan kepada selain-Nya. Iman yang benar tidak hanya mengisi pikiran dengan pengetahuan tentang Allah, tetapi juga mengarahkan ibadah dan sandaran hati hanya kepada-Nya.Baca juga: Cara Mengimani Wujud Allah Ta’alaAllah adalah Pencipta, Pemilik, dan PengaturKetika seorang mukmin meyakini rububiyah Allah, ia mengetahui bahwa tidak ada sesuatu pun yang berdiri sendiri di luar kekuasaan-Nya. Pekerjaan, obat, keahlian, tabungan, pertolongan manusia, dan berbagai peluang hanyalah sebab. Semuanya diciptakan oleh Allah, berada dalam kepemilikan-Nya, dan bekerja di bawah pengaturan-Nya.Kesadaran ini mengubah cara seorang mukmin memandang rasa aman. Ia tidak mengukurnya semata-mata dari banyaknya simpanan, kuatnya kedudukan, atau dekatnya orang-orang yang dapat menolong. Semua itu patut dijaga dan dimanfaatkan, tetapi keamanan yang sejati lahir dari keyakinan bahwa urusannya berada di tangan Allah.أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.” (QS. Al-A‘raf: 54)Sebab dapat kuat, lemah, tersedia, atau terputus sesuai dengan ketetapan Allah. Oleh karena itu, seorang mukmin tidak meremehkan sebab, tetapi juga tidak menganggapnya sebagai penentu mutlak. Ia bekerja dengan serius, sekaligus menyadari bahwa hasil tidak pernah sepenuhnya berada dalam genggaman manusia.Kita beribadah dan memohon pertolongan hanya kepada Allah Rububiyah menuntun kepada uluhiyah. Karena Allah adalah satu-satunya Pencipta dan Pengatur, hanya Dia yang berhak menjadi tujuan seluruh ibadah. Allah mengajarkan kalimat yang setiap hari kita baca dalam salat,إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)Ibadah bukan hanya gerakan badan. Doa, takut, harap, cinta, dan tawakal adalah ibadah hati. Meminta bantuan kepada manusia dalam perkara yang mampu mereka lakukan bukanlah masalah. Namun, hati harus tetap mengetahui bahwa manusia hanyalah sebab. Mereka dapat membantu jika Allah mengizinkan dan dapat tidak berdaya meskipun telah berjanji.Demikian pula penilaian manusia. Menjaga kepercayaan, menerima nasihat, dan memperbaiki kekurangan adalah sikap terpuji. Akan tetapi, penerimaan manusia tidak boleh menjadi kiblat hati hingga seseorang berani meninggalkan ketaatan, menyembunyikan kebenaran, atau menempuh cara yang Allah haramkan.Menempuh sebab tanpa diperbudak sebabTawakal tidak berarti duduk tanpa usaha. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ“Bersemangatlah terhadap perkara yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah.” (HR. Muslim no. 2664)Hadis ini menggabungkan dua perkara: kesungguhan menempuh sesuatu yang bermanfaat dan permohonan pertolongan kepada Allah. Ikhtiar menggerakkan anggota badan, sedangkan tawakal mengarahkan hati. Keduanya tidak saling meniadakan.Seorang karyawan bekerja dengan amanah, tetapi tidak meyakini atasannya sebagai pemilik rezeki. Orang yang sakit mencari dokter dan meminum obat, tetapi tidak menganggap keduanya sebagai penyembuh yang bekerja sendiri. Seorang kepala keluarga menyusun keuangan dan memperluas jaringan, tetapi tidak menjadikan tabungan dan relasi sebagai jaminan mutlak masa depan. Ketika suatu sebab gagal, ia mencari sebab lain yang halal tanpa membiarkan harapannya kepada Allah ikut terputus.Ketika hasil sesuai rencana, ia bersyukur dan tidak merasa bahwa keberhasilan murni lahir dari kecerdasannya. Ketika hasil berbeda, ia tidak menuduh seluruh usahanya sia-sia. Ia menilai kembali langkahnya, memperbaiki kesalahan yang dapat diperbaiki, kemudian melanjutkan ikhtiar dengan hati yang lebih rendah di hadapan Allah.Sebaliknya, ketergantungan kepada sebab mudah dikenali dari keadaan hati. Seseorang merasa masa depannya tamat ketika kehilangan pekerjaan, rela melanggar syariat demi menjaga penerimaan orang, atau lebih takut kepada komentar manusia daripada kemurkaan Allah. Sebab yang semestinya digunakan akhirnya berubah menjadi sesuatu yang mengendalikan dirinya.Mengenal Allah akan menghidupkan ibadah hatiNama dan sifat Allah bukan sekadar bahan untuk diketahui. Ketika seorang hamba mengenal kesempurnaan ilmu, pendengaran, penglihatan, rahmat, kekuasaan, dan hikmah Allah, tumbuh dalam hatinya cinta dan pengagungan kepada-Nya. Cinta mendorongnya menjalankan perintah, sedangkan pengagungan menahannya dari larangan. Dari sinilah lahir kehidupan yang baik: bukan hidup tanpa kesulitan, melainkan hati yang tetap mengenal Rabb-nya ketika keadaan tidak berjalan sesuai keinginan.Apabila ia yakin Allah Maha Mendengar, ia tidak merasa doanya hilang hanya karena belum melihat jawaban. Apabila ia yakin Allah Mahabijaksana, ia tidak menganggap setiap hal yang berbeda dari rencananya sebagai keburukan. Pengetahuan tentang Allah seperti inilah yang menghidupkan sabar, harap, takut, dan keridaan.Periksa tempat berlarinya hatiIman kepada Allah seharusnya tampak pada arah hati. Oleh karena itu, tanyakan kepada diri sendiri:Ketika takut, kepada siapa hati pertama kali berlari?Ketika berhasil, siapa yang pertama kali diingat dan disyukuri?Ketika satu sebab terputus, apakah harapan kepada Allah ikut terputus?Apakah penilaian manusia lebih menentukan pilihan kita daripada keridaan Allah?Tempuhlah sebab terbaik yang dibenarkan, mintalah pertolongan Allah, lalu jangan serahkan ketenangan hati kepada hasil yang belum berada dalam kekuasaan kita. Allah-lah Pencipta, Pemilik, dan Pengatur seluruh urusan. Hanya kepada-Nya hati selayaknya bergantung.Baca juga: Memperkokoh Keimanan pada Allah ***Penulis: Mochammad WibisonoArtikel Muslim.or.id ReferensiDisarikan dari: Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syarh ‘Aqidah Ahl as-Sunnah wal Jama‘ah, Mu’assasah asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin al-Khairiyyah, cet. 1, 1427 H, hal. 47–51 dan 485–488.
Daftar Isi ToggleIman kepada Allah bukan sekadar mengakui keberadaan-NyaAllah adalah Pencipta, Pemilik, dan PengaturKita beribadah dan memohon pertolongan hanya kepada AllahMenempuh sebab tanpa diperbudak sebabMengenal Allah akan menghidupkan ibadah hatiPeriksa tempat berlarinya hatiTetap menempuh sebab (usaha) dengan sungguh-sungguh, tanpa menyerahkan hati kepada sebab (usaha kita sendiri).Manusia menyukai kepastian. Kita menyusun rencana, menyiapkan tabungan, menambah keterampilan, menjaga relasi, dan berusaha memperoleh kepercayaan orang lain. Semua itu dapat menjadi ikhtiar yang baik. Masalahnya muncul ketika sebab-sebab yang semula berada di tangan, perlahan-lahan mengambil tempat di hati.Selama pekerjaan aman, atasan puas, jaringan kuat, dan rencana berjalan, hati terasa tenang. Namun, ketika salah satunya goyah, seakan-akan seluruh masa depan ikut runtuh. Di sinilah iman kepada Allah perlu diperiksa: apakah kita benar-benar bersandar kepada Allah, atau hanya merasa tenang selama sebab-sebab dunia masih dapat kita kendalikan?Iman kepada Allah bukan sekadar mengakui keberadaan-NyaIman kepada Allah tentu mencakup keyakinan bahwa Allah benar-benar ada. Akan tetapi, maknanya tidak berhenti pada pengakuan tersebut. Secara ringkas, iman kepada Allah mencakup empat perkara:1) Meyakini keberadaan Allah;2) Mengesakan Allah dalam rububiyah-Nya, yaitu bahwa hanya Dia yang menciptakan, memiliki, dan mengatur seluruh alam;3) Mengesakan Allah dalam uluhiyah-Nya, yaitu bahwa hanya Dia yang berhak menerima seluruh bentuk ibadah; dan4) Mengimani nama dan sifat Allah sebagaimana yang ditetapkan dalam Al-Qur’an dan hadis sahih, tanpa mengubah makna, menolak, membayangkan hakikat, atau menyerupakan Allah dengan makhluk.Keyakinan tentang keberadaan Allah selaras dengan fitrah manusia dan diteguhkan oleh tanda-tanda kekuasaan-Nya pada diri serta alam semesta. Bahkan ketika berbagai sandaran dunia tidak lagi menolong, manusia sering menyadari betapa lemah dirinya dan membutuhkan Rabb yang Mahakuasa. Namun, iman tidak boleh hanya muncul pada saat terdesak. Pengakuan terhadap Allah harus membentuk seluruh arah hidup.Keempat perkara ini saling berkaitan. Pengakuan bahwa Allah adalah Pencipta belum cukup apabila doa, rasa takut, harapan, dan ketundukan justru diberikan kepada selain-Nya. Iman yang benar tidak hanya mengisi pikiran dengan pengetahuan tentang Allah, tetapi juga mengarahkan ibadah dan sandaran hati hanya kepada-Nya.Baca juga: Cara Mengimani Wujud Allah Ta’alaAllah adalah Pencipta, Pemilik, dan PengaturKetika seorang mukmin meyakini rububiyah Allah, ia mengetahui bahwa tidak ada sesuatu pun yang berdiri sendiri di luar kekuasaan-Nya. Pekerjaan, obat, keahlian, tabungan, pertolongan manusia, dan berbagai peluang hanyalah sebab. Semuanya diciptakan oleh Allah, berada dalam kepemilikan-Nya, dan bekerja di bawah pengaturan-Nya.Kesadaran ini mengubah cara seorang mukmin memandang rasa aman. Ia tidak mengukurnya semata-mata dari banyaknya simpanan, kuatnya kedudukan, atau dekatnya orang-orang yang dapat menolong. Semua itu patut dijaga dan dimanfaatkan, tetapi keamanan yang sejati lahir dari keyakinan bahwa urusannya berada di tangan Allah.أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.” (QS. Al-A‘raf: 54)Sebab dapat kuat, lemah, tersedia, atau terputus sesuai dengan ketetapan Allah. Oleh karena itu, seorang mukmin tidak meremehkan sebab, tetapi juga tidak menganggapnya sebagai penentu mutlak. Ia bekerja dengan serius, sekaligus menyadari bahwa hasil tidak pernah sepenuhnya berada dalam genggaman manusia.Kita beribadah dan memohon pertolongan hanya kepada Allah Rububiyah menuntun kepada uluhiyah. Karena Allah adalah satu-satunya Pencipta dan Pengatur, hanya Dia yang berhak menjadi tujuan seluruh ibadah. Allah mengajarkan kalimat yang setiap hari kita baca dalam salat,إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)Ibadah bukan hanya gerakan badan. Doa, takut, harap, cinta, dan tawakal adalah ibadah hati. Meminta bantuan kepada manusia dalam perkara yang mampu mereka lakukan bukanlah masalah. Namun, hati harus tetap mengetahui bahwa manusia hanyalah sebab. Mereka dapat membantu jika Allah mengizinkan dan dapat tidak berdaya meskipun telah berjanji.Demikian pula penilaian manusia. Menjaga kepercayaan, menerima nasihat, dan memperbaiki kekurangan adalah sikap terpuji. Akan tetapi, penerimaan manusia tidak boleh menjadi kiblat hati hingga seseorang berani meninggalkan ketaatan, menyembunyikan kebenaran, atau menempuh cara yang Allah haramkan.Menempuh sebab tanpa diperbudak sebabTawakal tidak berarti duduk tanpa usaha. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ“Bersemangatlah terhadap perkara yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah.” (HR. Muslim no. 2664)Hadis ini menggabungkan dua perkara: kesungguhan menempuh sesuatu yang bermanfaat dan permohonan pertolongan kepada Allah. Ikhtiar menggerakkan anggota badan, sedangkan tawakal mengarahkan hati. Keduanya tidak saling meniadakan.Seorang karyawan bekerja dengan amanah, tetapi tidak meyakini atasannya sebagai pemilik rezeki. Orang yang sakit mencari dokter dan meminum obat, tetapi tidak menganggap keduanya sebagai penyembuh yang bekerja sendiri. Seorang kepala keluarga menyusun keuangan dan memperluas jaringan, tetapi tidak menjadikan tabungan dan relasi sebagai jaminan mutlak masa depan. Ketika suatu sebab gagal, ia mencari sebab lain yang halal tanpa membiarkan harapannya kepada Allah ikut terputus.Ketika hasil sesuai rencana, ia bersyukur dan tidak merasa bahwa keberhasilan murni lahir dari kecerdasannya. Ketika hasil berbeda, ia tidak menuduh seluruh usahanya sia-sia. Ia menilai kembali langkahnya, memperbaiki kesalahan yang dapat diperbaiki, kemudian melanjutkan ikhtiar dengan hati yang lebih rendah di hadapan Allah.Sebaliknya, ketergantungan kepada sebab mudah dikenali dari keadaan hati. Seseorang merasa masa depannya tamat ketika kehilangan pekerjaan, rela melanggar syariat demi menjaga penerimaan orang, atau lebih takut kepada komentar manusia daripada kemurkaan Allah. Sebab yang semestinya digunakan akhirnya berubah menjadi sesuatu yang mengendalikan dirinya.Mengenal Allah akan menghidupkan ibadah hatiNama dan sifat Allah bukan sekadar bahan untuk diketahui. Ketika seorang hamba mengenal kesempurnaan ilmu, pendengaran, penglihatan, rahmat, kekuasaan, dan hikmah Allah, tumbuh dalam hatinya cinta dan pengagungan kepada-Nya. Cinta mendorongnya menjalankan perintah, sedangkan pengagungan menahannya dari larangan. Dari sinilah lahir kehidupan yang baik: bukan hidup tanpa kesulitan, melainkan hati yang tetap mengenal Rabb-nya ketika keadaan tidak berjalan sesuai keinginan.Apabila ia yakin Allah Maha Mendengar, ia tidak merasa doanya hilang hanya karena belum melihat jawaban. Apabila ia yakin Allah Mahabijaksana, ia tidak menganggap setiap hal yang berbeda dari rencananya sebagai keburukan. Pengetahuan tentang Allah seperti inilah yang menghidupkan sabar, harap, takut, dan keridaan.Periksa tempat berlarinya hatiIman kepada Allah seharusnya tampak pada arah hati. Oleh karena itu, tanyakan kepada diri sendiri:Ketika takut, kepada siapa hati pertama kali berlari?Ketika berhasil, siapa yang pertama kali diingat dan disyukuri?Ketika satu sebab terputus, apakah harapan kepada Allah ikut terputus?Apakah penilaian manusia lebih menentukan pilihan kita daripada keridaan Allah?Tempuhlah sebab terbaik yang dibenarkan, mintalah pertolongan Allah, lalu jangan serahkan ketenangan hati kepada hasil yang belum berada dalam kekuasaan kita. Allah-lah Pencipta, Pemilik, dan Pengatur seluruh urusan. Hanya kepada-Nya hati selayaknya bergantung.Baca juga: Memperkokoh Keimanan pada Allah ***Penulis: Mochammad WibisonoArtikel Muslim.or.id ReferensiDisarikan dari: Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syarh ‘Aqidah Ahl as-Sunnah wal Jama‘ah, Mu’assasah asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin al-Khairiyyah, cet. 1, 1427 H, hal. 47–51 dan 485–488.


Daftar Isi ToggleIman kepada Allah bukan sekadar mengakui keberadaan-NyaAllah adalah Pencipta, Pemilik, dan PengaturKita beribadah dan memohon pertolongan hanya kepada AllahMenempuh sebab tanpa diperbudak sebabMengenal Allah akan menghidupkan ibadah hatiPeriksa tempat berlarinya hatiTetap menempuh sebab (usaha) dengan sungguh-sungguh, tanpa menyerahkan hati kepada sebab (usaha kita sendiri).Manusia menyukai kepastian. Kita menyusun rencana, menyiapkan tabungan, menambah keterampilan, menjaga relasi, dan berusaha memperoleh kepercayaan orang lain. Semua itu dapat menjadi ikhtiar yang baik. Masalahnya muncul ketika sebab-sebab yang semula berada di tangan, perlahan-lahan mengambil tempat di hati.Selama pekerjaan aman, atasan puas, jaringan kuat, dan rencana berjalan, hati terasa tenang. Namun, ketika salah satunya goyah, seakan-akan seluruh masa depan ikut runtuh. Di sinilah iman kepada Allah perlu diperiksa: apakah kita benar-benar bersandar kepada Allah, atau hanya merasa tenang selama sebab-sebab dunia masih dapat kita kendalikan?Iman kepada Allah bukan sekadar mengakui keberadaan-NyaIman kepada Allah tentu mencakup keyakinan bahwa Allah benar-benar ada. Akan tetapi, maknanya tidak berhenti pada pengakuan tersebut. Secara ringkas, iman kepada Allah mencakup empat perkara:1) Meyakini keberadaan Allah;2) Mengesakan Allah dalam rububiyah-Nya, yaitu bahwa hanya Dia yang menciptakan, memiliki, dan mengatur seluruh alam;3) Mengesakan Allah dalam uluhiyah-Nya, yaitu bahwa hanya Dia yang berhak menerima seluruh bentuk ibadah; dan4) Mengimani nama dan sifat Allah sebagaimana yang ditetapkan dalam Al-Qur’an dan hadis sahih, tanpa mengubah makna, menolak, membayangkan hakikat, atau menyerupakan Allah dengan makhluk.Keyakinan tentang keberadaan Allah selaras dengan fitrah manusia dan diteguhkan oleh tanda-tanda kekuasaan-Nya pada diri serta alam semesta. Bahkan ketika berbagai sandaran dunia tidak lagi menolong, manusia sering menyadari betapa lemah dirinya dan membutuhkan Rabb yang Mahakuasa. Namun, iman tidak boleh hanya muncul pada saat terdesak. Pengakuan terhadap Allah harus membentuk seluruh arah hidup.Keempat perkara ini saling berkaitan. Pengakuan bahwa Allah adalah Pencipta belum cukup apabila doa, rasa takut, harapan, dan ketundukan justru diberikan kepada selain-Nya. Iman yang benar tidak hanya mengisi pikiran dengan pengetahuan tentang Allah, tetapi juga mengarahkan ibadah dan sandaran hati hanya kepada-Nya.Baca juga: Cara Mengimani Wujud Allah Ta’alaAllah adalah Pencipta, Pemilik, dan PengaturKetika seorang mukmin meyakini rububiyah Allah, ia mengetahui bahwa tidak ada sesuatu pun yang berdiri sendiri di luar kekuasaan-Nya. Pekerjaan, obat, keahlian, tabungan, pertolongan manusia, dan berbagai peluang hanyalah sebab. Semuanya diciptakan oleh Allah, berada dalam kepemilikan-Nya, dan bekerja di bawah pengaturan-Nya.Kesadaran ini mengubah cara seorang mukmin memandang rasa aman. Ia tidak mengukurnya semata-mata dari banyaknya simpanan, kuatnya kedudukan, atau dekatnya orang-orang yang dapat menolong. Semua itu patut dijaga dan dimanfaatkan, tetapi keamanan yang sejati lahir dari keyakinan bahwa urusannya berada di tangan Allah.أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.” (QS. Al-A‘raf: 54)Sebab dapat kuat, lemah, tersedia, atau terputus sesuai dengan ketetapan Allah. Oleh karena itu, seorang mukmin tidak meremehkan sebab, tetapi juga tidak menganggapnya sebagai penentu mutlak. Ia bekerja dengan serius, sekaligus menyadari bahwa hasil tidak pernah sepenuhnya berada dalam genggaman manusia.Kita beribadah dan memohon pertolongan hanya kepada Allah Rububiyah menuntun kepada uluhiyah. Karena Allah adalah satu-satunya Pencipta dan Pengatur, hanya Dia yang berhak menjadi tujuan seluruh ibadah. Allah mengajarkan kalimat yang setiap hari kita baca dalam salat,إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)Ibadah bukan hanya gerakan badan. Doa, takut, harap, cinta, dan tawakal adalah ibadah hati. Meminta bantuan kepada manusia dalam perkara yang mampu mereka lakukan bukanlah masalah. Namun, hati harus tetap mengetahui bahwa manusia hanyalah sebab. Mereka dapat membantu jika Allah mengizinkan dan dapat tidak berdaya meskipun telah berjanji.Demikian pula penilaian manusia. Menjaga kepercayaan, menerima nasihat, dan memperbaiki kekurangan adalah sikap terpuji. Akan tetapi, penerimaan manusia tidak boleh menjadi kiblat hati hingga seseorang berani meninggalkan ketaatan, menyembunyikan kebenaran, atau menempuh cara yang Allah haramkan.Menempuh sebab tanpa diperbudak sebabTawakal tidak berarti duduk tanpa usaha. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ“Bersemangatlah terhadap perkara yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah.” (HR. Muslim no. 2664)Hadis ini menggabungkan dua perkara: kesungguhan menempuh sesuatu yang bermanfaat dan permohonan pertolongan kepada Allah. Ikhtiar menggerakkan anggota badan, sedangkan tawakal mengarahkan hati. Keduanya tidak saling meniadakan.Seorang karyawan bekerja dengan amanah, tetapi tidak meyakini atasannya sebagai pemilik rezeki. Orang yang sakit mencari dokter dan meminum obat, tetapi tidak menganggap keduanya sebagai penyembuh yang bekerja sendiri. Seorang kepala keluarga menyusun keuangan dan memperluas jaringan, tetapi tidak menjadikan tabungan dan relasi sebagai jaminan mutlak masa depan. Ketika suatu sebab gagal, ia mencari sebab lain yang halal tanpa membiarkan harapannya kepada Allah ikut terputus.Ketika hasil sesuai rencana, ia bersyukur dan tidak merasa bahwa keberhasilan murni lahir dari kecerdasannya. Ketika hasil berbeda, ia tidak menuduh seluruh usahanya sia-sia. Ia menilai kembali langkahnya, memperbaiki kesalahan yang dapat diperbaiki, kemudian melanjutkan ikhtiar dengan hati yang lebih rendah di hadapan Allah.Sebaliknya, ketergantungan kepada sebab mudah dikenali dari keadaan hati. Seseorang merasa masa depannya tamat ketika kehilangan pekerjaan, rela melanggar syariat demi menjaga penerimaan orang, atau lebih takut kepada komentar manusia daripada kemurkaan Allah. Sebab yang semestinya digunakan akhirnya berubah menjadi sesuatu yang mengendalikan dirinya.Mengenal Allah akan menghidupkan ibadah hatiNama dan sifat Allah bukan sekadar bahan untuk diketahui. Ketika seorang hamba mengenal kesempurnaan ilmu, pendengaran, penglihatan, rahmat, kekuasaan, dan hikmah Allah, tumbuh dalam hatinya cinta dan pengagungan kepada-Nya. Cinta mendorongnya menjalankan perintah, sedangkan pengagungan menahannya dari larangan. Dari sinilah lahir kehidupan yang baik: bukan hidup tanpa kesulitan, melainkan hati yang tetap mengenal Rabb-nya ketika keadaan tidak berjalan sesuai keinginan.Apabila ia yakin Allah Maha Mendengar, ia tidak merasa doanya hilang hanya karena belum melihat jawaban. Apabila ia yakin Allah Mahabijaksana, ia tidak menganggap setiap hal yang berbeda dari rencananya sebagai keburukan. Pengetahuan tentang Allah seperti inilah yang menghidupkan sabar, harap, takut, dan keridaan.Periksa tempat berlarinya hatiIman kepada Allah seharusnya tampak pada arah hati. Oleh karena itu, tanyakan kepada diri sendiri:Ketika takut, kepada siapa hati pertama kali berlari?Ketika berhasil, siapa yang pertama kali diingat dan disyukuri?Ketika satu sebab terputus, apakah harapan kepada Allah ikut terputus?Apakah penilaian manusia lebih menentukan pilihan kita daripada keridaan Allah?Tempuhlah sebab terbaik yang dibenarkan, mintalah pertolongan Allah, lalu jangan serahkan ketenangan hati kepada hasil yang belum berada dalam kekuasaan kita. Allah-lah Pencipta, Pemilik, dan Pengatur seluruh urusan. Hanya kepada-Nya hati selayaknya bergantung.Baca juga: Memperkokoh Keimanan pada Allah ***Penulis: Mochammad WibisonoArtikel Muslim.or.id ReferensiDisarikan dari: Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syarh ‘Aqidah Ahl as-Sunnah wal Jama‘ah, Mu’assasah asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin al-Khairiyyah, cet. 1, 1427 H, hal. 47–51 dan 485–488.

Fatwa Ulama: Kapan dan Berapa Kali Disunahkan Membaca Tahlil?

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahPertanyaan:Jawaban: Catatan penerjemah:Fatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah Pertanyaan:Samahatus Syaikh, dalam kitab Anda, yaitu Tuhfatul Akhyar, Anda menyebutkan bahwa disyariatkan bagi setiap Muslim pada setiap pagi untuk mengucapkan,لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”sebanyak 100 kali dalam sehari. Pertanyaannya, apakah boleh mengucapkannya lebih dari 100 kali? Dan bolehkah mengucapkan zikir ini di waktu petang?Jawaban: Benar, disyariatkan untuk memperbanyak berzikir kepada Allah di setiap waktu, meskipun hingga ribuan kali. Akan tetapi, yang kami sebutkan dalam kitab tersebut adalah sabda Nabi ﷺ,مَن قال في يومٍ مئة مرة: لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك، وله الحمد، وهو على كل شيء قدير؛ كانت له عدل عشر رقاب – يعني: عدل عشر رقابٍ يعتقها- وكتب الله له مئة حسنة، ومحا عنه مئة سيئة، وكان في حرزٍ من الشيطان في يومه ذلك حتى يُمسي، ولم يأتِ أحدٌ بأفضل مما جاء به، إلَّا رجلٌ عمل أكثر من عمله“Barangsiapa yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir’ sebanyak seratus kali dalam sehari, maka baginya pahala seperti membebaskan sepuluh hamba sahaya, Allah mencatat seratus kebaikan untuknya, juga menghapus seratus kesalahannya, dan dia berada dalam perlindungan dari setan pada hari itu hingga petang, serta tidak ada seorang pun yang datang dengan amalan yang lebih utama dari apa yang dia bawa kecuali orang yang mengerjakan lebih banyak dari amalannya.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam Ash-Shahihain (Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim).*Ini adalah hadis yang agung. Apabila seseorang mengucapkannya di awal hari, maka lebih sempurna agar ia berada dalam perlindungan dari setan pada hari itu hingga petang. Meskipun ia mengucapkannya di waktu duha, zuhur, asar, maupun di malam hari, semuanya baik. Dan meskipun dia mengucapkannya ribuan kali, semua itu juga merupakan kebaikan. Allah Ta’ala berfirman, وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا“Dan berzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya..” (QS Al-Jumuah: 10) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ۝ وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang banyak. Dan bertasbihlah kepada-Nya baik di pagi hari maupun di sore hari.” (QS Al-Ahzab: 41–42) إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ … وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا“Sesungguhnya muslim dan muslimat, mukmin dan mukminat…” hingga firman-Nya, “dan laki-laki maupun perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyiapkan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS Al-Ahzab: 35)Dengan demikian, zikir itu memiliki kedudukan yang agung.– Fatwa Selesai [1] –Baca juga: Kalimat Lailahaillallah: Kalimat Zikir yang Paling UtamaCatatan penerjemah:Lafaz hadis yang dikutip oleh Syekh Ibnu Baz rahimahullah dalam fatwa di atas tidak sama persis dengan lafaz yang terdapat dalam riwayat Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, meskipun maknanya tetap sama. Adapun hasil telaah terhadap riwayat tersebut adalah sebagai berikut,مَن قال: لا إلَهَ إلَّا اللهُ وحدَه لا شَريك له، له المُلكُ وله الحَمدُ، وهو على كُلِّ شيءٍ قديرٌ. في يَومٍ مِئةَ مَرَّةٍ، كانَت له عَدلَ عَشرِ رِقابٍ، وكُتِبَ له مِئةُ حَسَنةٍ، ومُحيَت عنه مِئةُ سَيِّئةٍ، وكانَت له حِرزًا مِنَ الشَّيطانِ يَومَه ذلك حتَّى يُمسيَ، ولم يَأتِ أحَدٌ بأفضَلَ ممَّا جاءَ إلَّا رَجُلٌ عَمِلَ أكثَرَ منه“Barangsiapa yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir’ sebanyak seratus kali dalam sehari, maka baginya pahala seperti membebaskan sepuluh hamba sahaya, dicatat seratus kebaikan untuknya, dihapus seratus kesalahannya, dan dia berada dalam perlindungan dari setan pada hari itu hingga petang, serta tidak ada seorang pun yang datang dengan amalan yang lebih utama dari apa yang dia bawa kecuali orang yang mengamalkan lebih banyak darinya.” [2]أنَّ رَسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم قال: مَن قال: لا إلَهَ إلَّا اللهُ، وحدَه لا شَريكَ له، له المُلكُ وله الحَمدُ، وهو على كُلِّ شَيءٍ قديرٌ، في يَومٍ مِئةَ مَرَّةٍ؛ كانَت له عَدلَ عَشرِ رِقابٍ، وكُتِبَت له مِئةُ حَسَنةٍ، ومُحيَت عنه مِئةُ سَيِّئةٍ، وكانَت له حِرزًا مِنَ الشَّيطانِ يَومَه ذلك حتَّى يُمسيَ، ولم يَأتِ أحَدٌ بأفضَلَ ممَّا جاءَ به إلَّا أحَدٌ عَمِلَ أكثَرَ مِن ذلك“Barangsiapa yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir’ sebanyak seratus kali dalam sehari, maka baginya pahala seperti membebaskan sepuluh hamba sahaya, dicatat seratus kebaikan untuknya, dihapus seratus kesalahannya, dan dia berada dalam perlindungan dari setan pada hari itu hingga petang, serta tidak ada seorang pun yang datang dengan amalan yang lebih utama dari apa yang dia bawa kecuali orang yang mengamalkan lebih banyak dari itu.” [3]مَن قال: لا إلَهَ إلَّا اللهُ وحدَه لا شَريكَ له، له المُلكُ وله الحَمدُ، وهو على كُلِّ شيءٍ قديرٌ، في يَومٍ مِائةَ مَرَّةٍ؛ كانَت له عَدلَ عَشرِ رِقابٍ، وكُتِبَت له مِائةُ حَسَنةٍ، ومُحيَت عنه مِائةُ سَيِّئةٍ، وكانَت له حِرزًا مِنَ الشَّيطانِ يَومَه ذلك حتَّى يُمسيَ، ولم يَأتِ أحَدٌ أفضَلَ ممَّا جاءَ به، إلَّا أحَدٌ عَمِلَ أكثَرَ مِن ذلك، ومَن قال: سُبحانَ اللهِ وبحَمدِه في يَومٍ مِائةَ مَرَّةٍ، حُطَّت خَطاياه ولو كانَت مِثلَ زَبَدِ البَحرِ“Barangsiapa yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir’ sebanyak seratus kali dalam sehari, maka baginya pahala seperti membebaskan sepuluh hamba sahaya, dicatat seratus kebaikan untuknya, dihapus seratus kesalahannya, dan dia berada dalam perlindungan dari setan pada hari itu hingga petang, serta tidak ada seorang pun yang datang dengan amalan yang lebih utama dari apa yang dia bawa kecuali orang yang mengamalkan lebih banyak dari itu. Dan barangsiapa mengucapkan ‘Subhanallah wa bi hamdihi’ sebanyak seratus kali dalam sehari, dihapus dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di lautan.” [4]Sedangkan lafaz مِنْ عَمَلِهِ dijumpai pada hadis berikut,مَنْ قال في كلِّ يومٍ مئةَ مَرَّةٍ لا إلهَ إِلَّا اللهُ وحْدَهُ لا شريكَ لهُ لهُ الملكُ ولهُ الحمدُ وهوَ على كلِّ شيءٍ قديرٌ لمْ يَسْبِقْهُ أحدٌ كان قبلَهُ ولا يُدْرِكُهُ أحدٌ كان بعدَهُ إلَّا مَنْ عَمِلَ بِأفضلَ من عَمَلِه“Barangsiapa yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir’ sebanyak seratus kali dalam sehari, maka tidak ada seorang pun dari orang-orang sebelumnya yang mengunggulinya, dan tidak ada seorang pun dari orang-orang sesudahnya yang akan menyamainya, kecuali orang yang mengerjakan amalan yang lebih utama dari amalannya.” [5]Perbedaan redaksi seperti ini merupakan hal yang dikenal dalam periwayatan hadis dan tidak mempengaruhi makna maupun hukum yang dikandungnya. Seluruh riwayat tersebut menunjukkan keutamaan membaca tahlil seratus kali dalam sehari. Baca juga: Bacaan Tasbih, Tahmid, dan Takbir pada Zikir Setelah Salat***Penerjemah: Reza MahendraArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, 290: 34, https://binbaz.org.sa/fatwas/3714/ما-السنة-في-وقت-وعدد-ذكر-التهليل [2] HR. Al-Bukhari no. 6403.[3] HR. Al-Bukhari no. 3293.[4] HR. Muslim no. 2691.[5] Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra no. 10335 dan Ahmad no. 7005, sanadnya dinilai jayyid oleh Al-’Iraqi dalam Takhrij Al-Ihya’, 1: 395.

Fatwa Ulama: Kapan dan Berapa Kali Disunahkan Membaca Tahlil?

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahPertanyaan:Jawaban: Catatan penerjemah:Fatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah Pertanyaan:Samahatus Syaikh, dalam kitab Anda, yaitu Tuhfatul Akhyar, Anda menyebutkan bahwa disyariatkan bagi setiap Muslim pada setiap pagi untuk mengucapkan,لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”sebanyak 100 kali dalam sehari. Pertanyaannya, apakah boleh mengucapkannya lebih dari 100 kali? Dan bolehkah mengucapkan zikir ini di waktu petang?Jawaban: Benar, disyariatkan untuk memperbanyak berzikir kepada Allah di setiap waktu, meskipun hingga ribuan kali. Akan tetapi, yang kami sebutkan dalam kitab tersebut adalah sabda Nabi ﷺ,مَن قال في يومٍ مئة مرة: لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك، وله الحمد، وهو على كل شيء قدير؛ كانت له عدل عشر رقاب – يعني: عدل عشر رقابٍ يعتقها- وكتب الله له مئة حسنة، ومحا عنه مئة سيئة، وكان في حرزٍ من الشيطان في يومه ذلك حتى يُمسي، ولم يأتِ أحدٌ بأفضل مما جاء به، إلَّا رجلٌ عمل أكثر من عمله“Barangsiapa yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir’ sebanyak seratus kali dalam sehari, maka baginya pahala seperti membebaskan sepuluh hamba sahaya, Allah mencatat seratus kebaikan untuknya, juga menghapus seratus kesalahannya, dan dia berada dalam perlindungan dari setan pada hari itu hingga petang, serta tidak ada seorang pun yang datang dengan amalan yang lebih utama dari apa yang dia bawa kecuali orang yang mengerjakan lebih banyak dari amalannya.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam Ash-Shahihain (Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim).*Ini adalah hadis yang agung. Apabila seseorang mengucapkannya di awal hari, maka lebih sempurna agar ia berada dalam perlindungan dari setan pada hari itu hingga petang. Meskipun ia mengucapkannya di waktu duha, zuhur, asar, maupun di malam hari, semuanya baik. Dan meskipun dia mengucapkannya ribuan kali, semua itu juga merupakan kebaikan. Allah Ta’ala berfirman, وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا“Dan berzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya..” (QS Al-Jumuah: 10) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ۝ وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang banyak. Dan bertasbihlah kepada-Nya baik di pagi hari maupun di sore hari.” (QS Al-Ahzab: 41–42) إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ … وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا“Sesungguhnya muslim dan muslimat, mukmin dan mukminat…” hingga firman-Nya, “dan laki-laki maupun perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyiapkan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS Al-Ahzab: 35)Dengan demikian, zikir itu memiliki kedudukan yang agung.– Fatwa Selesai [1] –Baca juga: Kalimat Lailahaillallah: Kalimat Zikir yang Paling UtamaCatatan penerjemah:Lafaz hadis yang dikutip oleh Syekh Ibnu Baz rahimahullah dalam fatwa di atas tidak sama persis dengan lafaz yang terdapat dalam riwayat Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, meskipun maknanya tetap sama. Adapun hasil telaah terhadap riwayat tersebut adalah sebagai berikut,مَن قال: لا إلَهَ إلَّا اللهُ وحدَه لا شَريك له، له المُلكُ وله الحَمدُ، وهو على كُلِّ شيءٍ قديرٌ. في يَومٍ مِئةَ مَرَّةٍ، كانَت له عَدلَ عَشرِ رِقابٍ، وكُتِبَ له مِئةُ حَسَنةٍ، ومُحيَت عنه مِئةُ سَيِّئةٍ، وكانَت له حِرزًا مِنَ الشَّيطانِ يَومَه ذلك حتَّى يُمسيَ، ولم يَأتِ أحَدٌ بأفضَلَ ممَّا جاءَ إلَّا رَجُلٌ عَمِلَ أكثَرَ منه“Barangsiapa yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir’ sebanyak seratus kali dalam sehari, maka baginya pahala seperti membebaskan sepuluh hamba sahaya, dicatat seratus kebaikan untuknya, dihapus seratus kesalahannya, dan dia berada dalam perlindungan dari setan pada hari itu hingga petang, serta tidak ada seorang pun yang datang dengan amalan yang lebih utama dari apa yang dia bawa kecuali orang yang mengamalkan lebih banyak darinya.” [2]أنَّ رَسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم قال: مَن قال: لا إلَهَ إلَّا اللهُ، وحدَه لا شَريكَ له، له المُلكُ وله الحَمدُ، وهو على كُلِّ شَيءٍ قديرٌ، في يَومٍ مِئةَ مَرَّةٍ؛ كانَت له عَدلَ عَشرِ رِقابٍ، وكُتِبَت له مِئةُ حَسَنةٍ، ومُحيَت عنه مِئةُ سَيِّئةٍ، وكانَت له حِرزًا مِنَ الشَّيطانِ يَومَه ذلك حتَّى يُمسيَ، ولم يَأتِ أحَدٌ بأفضَلَ ممَّا جاءَ به إلَّا أحَدٌ عَمِلَ أكثَرَ مِن ذلك“Barangsiapa yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir’ sebanyak seratus kali dalam sehari, maka baginya pahala seperti membebaskan sepuluh hamba sahaya, dicatat seratus kebaikan untuknya, dihapus seratus kesalahannya, dan dia berada dalam perlindungan dari setan pada hari itu hingga petang, serta tidak ada seorang pun yang datang dengan amalan yang lebih utama dari apa yang dia bawa kecuali orang yang mengamalkan lebih banyak dari itu.” [3]مَن قال: لا إلَهَ إلَّا اللهُ وحدَه لا شَريكَ له، له المُلكُ وله الحَمدُ، وهو على كُلِّ شيءٍ قديرٌ، في يَومٍ مِائةَ مَرَّةٍ؛ كانَت له عَدلَ عَشرِ رِقابٍ، وكُتِبَت له مِائةُ حَسَنةٍ، ومُحيَت عنه مِائةُ سَيِّئةٍ، وكانَت له حِرزًا مِنَ الشَّيطانِ يَومَه ذلك حتَّى يُمسيَ، ولم يَأتِ أحَدٌ أفضَلَ ممَّا جاءَ به، إلَّا أحَدٌ عَمِلَ أكثَرَ مِن ذلك، ومَن قال: سُبحانَ اللهِ وبحَمدِه في يَومٍ مِائةَ مَرَّةٍ، حُطَّت خَطاياه ولو كانَت مِثلَ زَبَدِ البَحرِ“Barangsiapa yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir’ sebanyak seratus kali dalam sehari, maka baginya pahala seperti membebaskan sepuluh hamba sahaya, dicatat seratus kebaikan untuknya, dihapus seratus kesalahannya, dan dia berada dalam perlindungan dari setan pada hari itu hingga petang, serta tidak ada seorang pun yang datang dengan amalan yang lebih utama dari apa yang dia bawa kecuali orang yang mengamalkan lebih banyak dari itu. Dan barangsiapa mengucapkan ‘Subhanallah wa bi hamdihi’ sebanyak seratus kali dalam sehari, dihapus dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di lautan.” [4]Sedangkan lafaz مِنْ عَمَلِهِ dijumpai pada hadis berikut,مَنْ قال في كلِّ يومٍ مئةَ مَرَّةٍ لا إلهَ إِلَّا اللهُ وحْدَهُ لا شريكَ لهُ لهُ الملكُ ولهُ الحمدُ وهوَ على كلِّ شيءٍ قديرٌ لمْ يَسْبِقْهُ أحدٌ كان قبلَهُ ولا يُدْرِكُهُ أحدٌ كان بعدَهُ إلَّا مَنْ عَمِلَ بِأفضلَ من عَمَلِه“Barangsiapa yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir’ sebanyak seratus kali dalam sehari, maka tidak ada seorang pun dari orang-orang sebelumnya yang mengunggulinya, dan tidak ada seorang pun dari orang-orang sesudahnya yang akan menyamainya, kecuali orang yang mengerjakan amalan yang lebih utama dari amalannya.” [5]Perbedaan redaksi seperti ini merupakan hal yang dikenal dalam periwayatan hadis dan tidak mempengaruhi makna maupun hukum yang dikandungnya. Seluruh riwayat tersebut menunjukkan keutamaan membaca tahlil seratus kali dalam sehari. Baca juga: Bacaan Tasbih, Tahmid, dan Takbir pada Zikir Setelah Salat***Penerjemah: Reza MahendraArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, 290: 34, https://binbaz.org.sa/fatwas/3714/ما-السنة-في-وقت-وعدد-ذكر-التهليل [2] HR. Al-Bukhari no. 6403.[3] HR. Al-Bukhari no. 3293.[4] HR. Muslim no. 2691.[5] Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra no. 10335 dan Ahmad no. 7005, sanadnya dinilai jayyid oleh Al-’Iraqi dalam Takhrij Al-Ihya’, 1: 395.
Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahPertanyaan:Jawaban: Catatan penerjemah:Fatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah Pertanyaan:Samahatus Syaikh, dalam kitab Anda, yaitu Tuhfatul Akhyar, Anda menyebutkan bahwa disyariatkan bagi setiap Muslim pada setiap pagi untuk mengucapkan,لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”sebanyak 100 kali dalam sehari. Pertanyaannya, apakah boleh mengucapkannya lebih dari 100 kali? Dan bolehkah mengucapkan zikir ini di waktu petang?Jawaban: Benar, disyariatkan untuk memperbanyak berzikir kepada Allah di setiap waktu, meskipun hingga ribuan kali. Akan tetapi, yang kami sebutkan dalam kitab tersebut adalah sabda Nabi ﷺ,مَن قال في يومٍ مئة مرة: لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك، وله الحمد، وهو على كل شيء قدير؛ كانت له عدل عشر رقاب – يعني: عدل عشر رقابٍ يعتقها- وكتب الله له مئة حسنة، ومحا عنه مئة سيئة، وكان في حرزٍ من الشيطان في يومه ذلك حتى يُمسي، ولم يأتِ أحدٌ بأفضل مما جاء به، إلَّا رجلٌ عمل أكثر من عمله“Barangsiapa yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir’ sebanyak seratus kali dalam sehari, maka baginya pahala seperti membebaskan sepuluh hamba sahaya, Allah mencatat seratus kebaikan untuknya, juga menghapus seratus kesalahannya, dan dia berada dalam perlindungan dari setan pada hari itu hingga petang, serta tidak ada seorang pun yang datang dengan amalan yang lebih utama dari apa yang dia bawa kecuali orang yang mengerjakan lebih banyak dari amalannya.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam Ash-Shahihain (Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim).*Ini adalah hadis yang agung. Apabila seseorang mengucapkannya di awal hari, maka lebih sempurna agar ia berada dalam perlindungan dari setan pada hari itu hingga petang. Meskipun ia mengucapkannya di waktu duha, zuhur, asar, maupun di malam hari, semuanya baik. Dan meskipun dia mengucapkannya ribuan kali, semua itu juga merupakan kebaikan. Allah Ta’ala berfirman, وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا“Dan berzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya..” (QS Al-Jumuah: 10) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ۝ وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang banyak. Dan bertasbihlah kepada-Nya baik di pagi hari maupun di sore hari.” (QS Al-Ahzab: 41–42) إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ … وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا“Sesungguhnya muslim dan muslimat, mukmin dan mukminat…” hingga firman-Nya, “dan laki-laki maupun perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyiapkan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS Al-Ahzab: 35)Dengan demikian, zikir itu memiliki kedudukan yang agung.– Fatwa Selesai [1] –Baca juga: Kalimat Lailahaillallah: Kalimat Zikir yang Paling UtamaCatatan penerjemah:Lafaz hadis yang dikutip oleh Syekh Ibnu Baz rahimahullah dalam fatwa di atas tidak sama persis dengan lafaz yang terdapat dalam riwayat Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, meskipun maknanya tetap sama. Adapun hasil telaah terhadap riwayat tersebut adalah sebagai berikut,مَن قال: لا إلَهَ إلَّا اللهُ وحدَه لا شَريك له، له المُلكُ وله الحَمدُ، وهو على كُلِّ شيءٍ قديرٌ. في يَومٍ مِئةَ مَرَّةٍ، كانَت له عَدلَ عَشرِ رِقابٍ، وكُتِبَ له مِئةُ حَسَنةٍ، ومُحيَت عنه مِئةُ سَيِّئةٍ، وكانَت له حِرزًا مِنَ الشَّيطانِ يَومَه ذلك حتَّى يُمسيَ، ولم يَأتِ أحَدٌ بأفضَلَ ممَّا جاءَ إلَّا رَجُلٌ عَمِلَ أكثَرَ منه“Barangsiapa yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir’ sebanyak seratus kali dalam sehari, maka baginya pahala seperti membebaskan sepuluh hamba sahaya, dicatat seratus kebaikan untuknya, dihapus seratus kesalahannya, dan dia berada dalam perlindungan dari setan pada hari itu hingga petang, serta tidak ada seorang pun yang datang dengan amalan yang lebih utama dari apa yang dia bawa kecuali orang yang mengamalkan lebih banyak darinya.” [2]أنَّ رَسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم قال: مَن قال: لا إلَهَ إلَّا اللهُ، وحدَه لا شَريكَ له، له المُلكُ وله الحَمدُ، وهو على كُلِّ شَيءٍ قديرٌ، في يَومٍ مِئةَ مَرَّةٍ؛ كانَت له عَدلَ عَشرِ رِقابٍ، وكُتِبَت له مِئةُ حَسَنةٍ، ومُحيَت عنه مِئةُ سَيِّئةٍ، وكانَت له حِرزًا مِنَ الشَّيطانِ يَومَه ذلك حتَّى يُمسيَ، ولم يَأتِ أحَدٌ بأفضَلَ ممَّا جاءَ به إلَّا أحَدٌ عَمِلَ أكثَرَ مِن ذلك“Barangsiapa yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir’ sebanyak seratus kali dalam sehari, maka baginya pahala seperti membebaskan sepuluh hamba sahaya, dicatat seratus kebaikan untuknya, dihapus seratus kesalahannya, dan dia berada dalam perlindungan dari setan pada hari itu hingga petang, serta tidak ada seorang pun yang datang dengan amalan yang lebih utama dari apa yang dia bawa kecuali orang yang mengamalkan lebih banyak dari itu.” [3]مَن قال: لا إلَهَ إلَّا اللهُ وحدَه لا شَريكَ له، له المُلكُ وله الحَمدُ، وهو على كُلِّ شيءٍ قديرٌ، في يَومٍ مِائةَ مَرَّةٍ؛ كانَت له عَدلَ عَشرِ رِقابٍ، وكُتِبَت له مِائةُ حَسَنةٍ، ومُحيَت عنه مِائةُ سَيِّئةٍ، وكانَت له حِرزًا مِنَ الشَّيطانِ يَومَه ذلك حتَّى يُمسيَ، ولم يَأتِ أحَدٌ أفضَلَ ممَّا جاءَ به، إلَّا أحَدٌ عَمِلَ أكثَرَ مِن ذلك، ومَن قال: سُبحانَ اللهِ وبحَمدِه في يَومٍ مِائةَ مَرَّةٍ، حُطَّت خَطاياه ولو كانَت مِثلَ زَبَدِ البَحرِ“Barangsiapa yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir’ sebanyak seratus kali dalam sehari, maka baginya pahala seperti membebaskan sepuluh hamba sahaya, dicatat seratus kebaikan untuknya, dihapus seratus kesalahannya, dan dia berada dalam perlindungan dari setan pada hari itu hingga petang, serta tidak ada seorang pun yang datang dengan amalan yang lebih utama dari apa yang dia bawa kecuali orang yang mengamalkan lebih banyak dari itu. Dan barangsiapa mengucapkan ‘Subhanallah wa bi hamdihi’ sebanyak seratus kali dalam sehari, dihapus dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di lautan.” [4]Sedangkan lafaz مِنْ عَمَلِهِ dijumpai pada hadis berikut,مَنْ قال في كلِّ يومٍ مئةَ مَرَّةٍ لا إلهَ إِلَّا اللهُ وحْدَهُ لا شريكَ لهُ لهُ الملكُ ولهُ الحمدُ وهوَ على كلِّ شيءٍ قديرٌ لمْ يَسْبِقْهُ أحدٌ كان قبلَهُ ولا يُدْرِكُهُ أحدٌ كان بعدَهُ إلَّا مَنْ عَمِلَ بِأفضلَ من عَمَلِه“Barangsiapa yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir’ sebanyak seratus kali dalam sehari, maka tidak ada seorang pun dari orang-orang sebelumnya yang mengunggulinya, dan tidak ada seorang pun dari orang-orang sesudahnya yang akan menyamainya, kecuali orang yang mengerjakan amalan yang lebih utama dari amalannya.” [5]Perbedaan redaksi seperti ini merupakan hal yang dikenal dalam periwayatan hadis dan tidak mempengaruhi makna maupun hukum yang dikandungnya. Seluruh riwayat tersebut menunjukkan keutamaan membaca tahlil seratus kali dalam sehari. Baca juga: Bacaan Tasbih, Tahmid, dan Takbir pada Zikir Setelah Salat***Penerjemah: Reza MahendraArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, 290: 34, https://binbaz.org.sa/fatwas/3714/ما-السنة-في-وقت-وعدد-ذكر-التهليل [2] HR. Al-Bukhari no. 6403.[3] HR. Al-Bukhari no. 3293.[4] HR. Muslim no. 2691.[5] Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra no. 10335 dan Ahmad no. 7005, sanadnya dinilai jayyid oleh Al-’Iraqi dalam Takhrij Al-Ihya’, 1: 395.


Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahPertanyaan:Jawaban: Catatan penerjemah:Fatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah Pertanyaan:Samahatus Syaikh, dalam kitab Anda, yaitu Tuhfatul Akhyar, Anda menyebutkan bahwa disyariatkan bagi setiap Muslim pada setiap pagi untuk mengucapkan,لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”sebanyak 100 kali dalam sehari. Pertanyaannya, apakah boleh mengucapkannya lebih dari 100 kali? Dan bolehkah mengucapkan zikir ini di waktu petang?Jawaban: Benar, disyariatkan untuk memperbanyak berzikir kepada Allah di setiap waktu, meskipun hingga ribuan kali. Akan tetapi, yang kami sebutkan dalam kitab tersebut adalah sabda Nabi ﷺ,مَن قال في يومٍ مئة مرة: لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك، وله الحمد، وهو على كل شيء قدير؛ كانت له عدل عشر رقاب – يعني: عدل عشر رقابٍ يعتقها- وكتب الله له مئة حسنة، ومحا عنه مئة سيئة، وكان في حرزٍ من الشيطان في يومه ذلك حتى يُمسي، ولم يأتِ أحدٌ بأفضل مما جاء به، إلَّا رجلٌ عمل أكثر من عمله“Barangsiapa yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir’ sebanyak seratus kali dalam sehari, maka baginya pahala seperti membebaskan sepuluh hamba sahaya, Allah mencatat seratus kebaikan untuknya, juga menghapus seratus kesalahannya, dan dia berada dalam perlindungan dari setan pada hari itu hingga petang, serta tidak ada seorang pun yang datang dengan amalan yang lebih utama dari apa yang dia bawa kecuali orang yang mengerjakan lebih banyak dari amalannya.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam Ash-Shahihain (Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim).*Ini adalah hadis yang agung. Apabila seseorang mengucapkannya di awal hari, maka lebih sempurna agar ia berada dalam perlindungan dari setan pada hari itu hingga petang. Meskipun ia mengucapkannya di waktu duha, zuhur, asar, maupun di malam hari, semuanya baik. Dan meskipun dia mengucapkannya ribuan kali, semua itu juga merupakan kebaikan. Allah Ta’ala berfirman, وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا“Dan berzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya..” (QS Al-Jumuah: 10) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ۝ وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang banyak. Dan bertasbihlah kepada-Nya baik di pagi hari maupun di sore hari.” (QS Al-Ahzab: 41–42) إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ … وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا“Sesungguhnya muslim dan muslimat, mukmin dan mukminat…” hingga firman-Nya, “dan laki-laki maupun perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyiapkan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS Al-Ahzab: 35)Dengan demikian, zikir itu memiliki kedudukan yang agung.– Fatwa Selesai [1] –Baca juga: Kalimat Lailahaillallah: Kalimat Zikir yang Paling UtamaCatatan penerjemah:Lafaz hadis yang dikutip oleh Syekh Ibnu Baz rahimahullah dalam fatwa di atas tidak sama persis dengan lafaz yang terdapat dalam riwayat Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, meskipun maknanya tetap sama. Adapun hasil telaah terhadap riwayat tersebut adalah sebagai berikut,مَن قال: لا إلَهَ إلَّا اللهُ وحدَه لا شَريك له، له المُلكُ وله الحَمدُ، وهو على كُلِّ شيءٍ قديرٌ. في يَومٍ مِئةَ مَرَّةٍ، كانَت له عَدلَ عَشرِ رِقابٍ، وكُتِبَ له مِئةُ حَسَنةٍ، ومُحيَت عنه مِئةُ سَيِّئةٍ، وكانَت له حِرزًا مِنَ الشَّيطانِ يَومَه ذلك حتَّى يُمسيَ، ولم يَأتِ أحَدٌ بأفضَلَ ممَّا جاءَ إلَّا رَجُلٌ عَمِلَ أكثَرَ منه“Barangsiapa yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir’ sebanyak seratus kali dalam sehari, maka baginya pahala seperti membebaskan sepuluh hamba sahaya, dicatat seratus kebaikan untuknya, dihapus seratus kesalahannya, dan dia berada dalam perlindungan dari setan pada hari itu hingga petang, serta tidak ada seorang pun yang datang dengan amalan yang lebih utama dari apa yang dia bawa kecuali orang yang mengamalkan lebih banyak darinya.” [2]أنَّ رَسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم قال: مَن قال: لا إلَهَ إلَّا اللهُ، وحدَه لا شَريكَ له، له المُلكُ وله الحَمدُ، وهو على كُلِّ شَيءٍ قديرٌ، في يَومٍ مِئةَ مَرَّةٍ؛ كانَت له عَدلَ عَشرِ رِقابٍ، وكُتِبَت له مِئةُ حَسَنةٍ، ومُحيَت عنه مِئةُ سَيِّئةٍ، وكانَت له حِرزًا مِنَ الشَّيطانِ يَومَه ذلك حتَّى يُمسيَ، ولم يَأتِ أحَدٌ بأفضَلَ ممَّا جاءَ به إلَّا أحَدٌ عَمِلَ أكثَرَ مِن ذلك“Barangsiapa yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir’ sebanyak seratus kali dalam sehari, maka baginya pahala seperti membebaskan sepuluh hamba sahaya, dicatat seratus kebaikan untuknya, dihapus seratus kesalahannya, dan dia berada dalam perlindungan dari setan pada hari itu hingga petang, serta tidak ada seorang pun yang datang dengan amalan yang lebih utama dari apa yang dia bawa kecuali orang yang mengamalkan lebih banyak dari itu.” [3]مَن قال: لا إلَهَ إلَّا اللهُ وحدَه لا شَريكَ له، له المُلكُ وله الحَمدُ، وهو على كُلِّ شيءٍ قديرٌ، في يَومٍ مِائةَ مَرَّةٍ؛ كانَت له عَدلَ عَشرِ رِقابٍ، وكُتِبَت له مِائةُ حَسَنةٍ، ومُحيَت عنه مِائةُ سَيِّئةٍ، وكانَت له حِرزًا مِنَ الشَّيطانِ يَومَه ذلك حتَّى يُمسيَ، ولم يَأتِ أحَدٌ أفضَلَ ممَّا جاءَ به، إلَّا أحَدٌ عَمِلَ أكثَرَ مِن ذلك، ومَن قال: سُبحانَ اللهِ وبحَمدِه في يَومٍ مِائةَ مَرَّةٍ، حُطَّت خَطاياه ولو كانَت مِثلَ زَبَدِ البَحرِ“Barangsiapa yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir’ sebanyak seratus kali dalam sehari, maka baginya pahala seperti membebaskan sepuluh hamba sahaya, dicatat seratus kebaikan untuknya, dihapus seratus kesalahannya, dan dia berada dalam perlindungan dari setan pada hari itu hingga petang, serta tidak ada seorang pun yang datang dengan amalan yang lebih utama dari apa yang dia bawa kecuali orang yang mengamalkan lebih banyak dari itu. Dan barangsiapa mengucapkan ‘Subhanallah wa bi hamdihi’ sebanyak seratus kali dalam sehari, dihapus dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di lautan.” [4]Sedangkan lafaz مِنْ عَمَلِهِ dijumpai pada hadis berikut,مَنْ قال في كلِّ يومٍ مئةَ مَرَّةٍ لا إلهَ إِلَّا اللهُ وحْدَهُ لا شريكَ لهُ لهُ الملكُ ولهُ الحمدُ وهوَ على كلِّ شيءٍ قديرٌ لمْ يَسْبِقْهُ أحدٌ كان قبلَهُ ولا يُدْرِكُهُ أحدٌ كان بعدَهُ إلَّا مَنْ عَمِلَ بِأفضلَ من عَمَلِه“Barangsiapa yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir’ sebanyak seratus kali dalam sehari, maka tidak ada seorang pun dari orang-orang sebelumnya yang mengunggulinya, dan tidak ada seorang pun dari orang-orang sesudahnya yang akan menyamainya, kecuali orang yang mengerjakan amalan yang lebih utama dari amalannya.” [5]Perbedaan redaksi seperti ini merupakan hal yang dikenal dalam periwayatan hadis dan tidak mempengaruhi makna maupun hukum yang dikandungnya. Seluruh riwayat tersebut menunjukkan keutamaan membaca tahlil seratus kali dalam sehari. Baca juga: Bacaan Tasbih, Tahmid, dan Takbir pada Zikir Setelah Salat***Penerjemah: Reza MahendraArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, 290: 34, https://binbaz.org.sa/fatwas/3714/ما-السنة-في-وقت-وعدد-ذكر-التهليل [2] HR. Al-Bukhari no. 6403.[3] HR. Al-Bukhari no. 3293.[4] HR. Muslim no. 2691.[5] Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra no. 10335 dan Ahmad no. 7005, sanadnya dinilai jayyid oleh Al-’Iraqi dalam Takhrij Al-Ihya’, 1: 395.

Hukum Laki-Laki Memakai Emas dan Sutra dalam Islam

Emas dan sutra termasuk perhiasan yang indah, tetapi syariat memberikan ketentuan khusus dalam penggunaannya. Rasulullah ﷺ mengharamkan keduanya bagi laki-laki dan membolehkannya bagi perempuan. Lalu, bagaimana hukum pakaian campuran sutra, penggunaan sutra karena kebutuhan, dan sutra yang dipakaikan kepada anak laki-laki?  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan 2. Hukum Asal Pakaian dan Perhiasan adalah Boleh 3. Emas dan Sutra Haram bagi Laki-Laki, Halal bagi Perempuan 4. Ancaman bagi Laki-Laki yang Memakai Sutra 5. Bukan Hanya Dipakai, Sutra Juga Tidak Boleh Dijadikan Alas 6. Kapan Laki-Laki Boleh Memakai Sutra? 7. Bagaimana dengan Pakaian Campuran Sutra? 8. Bolehkah Anak Laki-Laki Dipakaikan Sutra? 9. Perhiasan Seorang Muslim Bukan Sekadar yang Tampak  Al-Qadhi Abu Syuja rahimahullah berkata di Matan Taqrib: فَصْلٌ وَيَحْرُمُ عَلَى الرِّجَالِ لُبْسُ الْحَرِيرِ، وَالتَّخَتُّمُ بِالذَّهَبِ، وَيَحِلُّ لِلنِّسَاءِ، وَقَلِيلُ الذَّهَبِ وَكَثِيرُهُ فِي التَّحْرِيمِ سَوَاءٌ، وَإِذَا كَانَ بَعْضُ الثَّوْبِ إِبْرَيْسَمًا وَبَعْضُهُ قُطْنًا أَوْ كَتَّانًا، جَازَ لُبْسُهُ مَا لَمْ يَكُنِ الْإِبْرَيْسَمُ غَالِبًا.PasalHaram bagi laki-laki mengenakan pakaian dari sutra dan memakai cincin emas. Adapun bagi perempuan, keduanya diperbolehkan.Dalam hal keharaman bagi laki-laki, tidak ada perbedaan antara emas yang sedikit maupun yang banyak.Apabila suatu pakaian terbuat dari campuran sutra dan katun atau linen, maka pakaian tersebut boleh dikenakan selama bahan sutranya tidak lebih dominan. Penjelasan{Pasal} tentang pakaian. (Haram bagi laki-laki mengenakan sutra dan memakai cincin emas), demikian pula sutra mentah, dalam keadaan tidak ada kebutuhan darurat. Begitu pula, haram menggunakan benda-benda tersebut sebagai alas dan dalam bentuk penggunaan lainnya. Namun, laki-laki boleh mengenakan sutra karena keadaan darurat, seperti cuaca panas atau dingin yang dapat membahayakan jiwa. (Dan diperbolehkan bagi perempuan) mengenakan sutra dan menggunakannya sebagai alas. Wali juga diperbolehkan memakaikan sutra kepada anak laki-laki, baik sebelum maupun setelah berusia tujuh tahun.(Emas yang sedikit maupun yang banyak), maksudnya dalam penggunaannya, (sama-sama haram. Apabila sebagian bahan pakaian berupa ibrisam), yaitu sutra, (dan sebagian lainnya berupa katun atau linen), misalnya, maka (diperbolehkan) bagi laki-laki (mengenakannya selama ibrisam tidak lebih dominan) daripada bahan lainnya. Jika bahan selain ibrisam lebih dominan, maka boleh dikenakan. Demikian pula jika kadar keduanya sama, menurut pendapat yang lebih sahih. Hukum Asal Pakaian dan Perhiasan adalah BolehPada dasarnya, pakaian dan perhiasan termasuk perkara yang diperbolehkan. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan (dari) Allah yang telah Dia sediakan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik?’” (QS. Al-A’raf: 32)Allah Ta’ala juga menyebutkan bahwa sutra termasuk pakaian penghuni surga, وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ“Pakaian mereka di dalamnya adalah sutra.” (QS. Al-Hajj: 23)Namun, keumuman hukum boleh dalam masalah pakaian dan perhiasan dikhususkan oleh dalil-dalil dari Sunnah. Di antaranya adalah larangan memakai emas dan sutra bagi laki-laki. Emas dan Sutra Haram bagi Laki-Laki, Halal bagi PerempuanDi antara dalil yang paling jelas dalam masalah ini adalah hadis bahwa Rasulullah ﷺ mengambil sutra dengan tangan kirinya dan emas dengan tangan kanannya. Kemudian beliau mengangkat keduanya dan bersabda, إِنَّ هَذَيْنِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي، حِلٌّ لِإِنَاثِهِمْ“Sesungguhnya kedua benda ini haram bagi laki-laki dari umatku dan halal bagi perempuan mereka.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)Al-Mawardi Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan, لُبْسُ الْحَرِيرِ مُحَرَّمٌ عَلَى الرِّجَالِ مُبَاحٌ عَلَى النِّسَاءِ“Memakai sutra haram bagi laki-laki dan diperbolehkan bagi perempuan.”Hadis ini menjadi dasar yang sangat jelas bahwa hukum penggunaan emas dan sutra berbeda antara laki-laki dan perempuan. Perempuan diperbolehkan mengenakan keduanya, sedangkan laki-laki dilarang. Ancaman bagi Laki-Laki yang Memakai SutraLarangan memakai sutra bagi laki-laki juga ditegaskan dalam hadis Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah ﷺ bersabda, لَا تَلْبَسُوا الْحَرِيرَ، فَإِنَّ مَنْ لَبِسَهُ فِي الدُّنْيَا لَمْ يَلْبَسْهُ فِي الْآخِرَةِ“Janganlah kalian memakai sutra. Siapa yang memakainya di dunia, ia tidak akan memakainya di akhirat.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ancaman dalam hadis ini menunjukkan bahwa larangan memakai sutra bagi laki-laki bukan sekadar perkara makruh, tetapi termasuk larangan yang tegas. Bukan Hanya Dipakai, Sutra Juga Tidak Boleh Dijadikan AlasLarangan terhadap sutra bagi laki-laki tidak hanya berkaitan dengan pakaian yang dikenakan di badan. Dalam mazhab Syafi’i, larangan tersebut juga mencakup bentuk penggunaan lainnya.Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, نَهَانَا النَّبِيُّ ﷺ أَنْ نَشْرَبَ فِي آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ، وَأَنْ نَأْكُلَ فِيهَا، وَعَنْ لُبْسِ الْحَرِيرِ وَالدِّيبَاجِ، وَأَنْ نَجْلِسَ عَلَيْهِ“Nabi ﷺ melarang kami minum dari bejana emas dan perak, makan darinya, mengenakan sutra dan dibaj, serta duduk di atasnya.” (HR. Bukhari)Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab menjelaskan bahwa larangan tersebut mencakup mengenakan sutra, duduk di atasnya, bersandar padanya, berselimut dengannya, dan bentuk-bentuk penggunaan lainnya.Karena itu, dalam kitab fikih Syafi’i disebutkan, وَكَذَا يَحْرُمُ اسْتِعْمَالُ مَا ذُكِرَ عَلَى جِهَةِ الِافْتِرَاشِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ وُجُوهِ الِاسْتِعْمَالَاتِ“Demikian pula, haram menggunakan benda tersebut sebagai alas dan dalam bentuk penggunaan lainnya.”Dengan demikian, seorang laki-laki bukan hanya dilarang mengenakan pakaian sutra, tetapi juga dilarang menggunakannya sebagai alas dan penggunaan semisalnya. Kapan Laki-Laki Boleh Memakai Sutra?Syariat memberikan keringanan ketika terdapat kebutuhan yang dibenarkan. Hal ini berdasarkan hadis Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ رَخَّصَ لِعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ وَالزُّبَيْرِ بْنِ الْعَوَّامِ فِي الْقَمِيصِ الْحَرِيرِ فِي السَّفَرِ مِنْ حِكَّةٍ كَانَتْ بِهِمَا“Rasulullah ﷺ memberikan keringanan kepada Abdurrahman bin Auf dan Az-Zubair bin Al-‘Awwam untuk mengenakan baju sutra dalam perjalanan karena penyakit gatal yang mereka alami.” (HR. Bukhari dan Muslim)Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa hadis ini menjadi dalil bolehnya laki-laki mengenakan sutra karena penyakit dan kebutuhan semisalnya.Para ulama Syafi’iyyah juga membolehkan pemakaian sutra ketika dalam keadaan darurat, seperti menghadapi panas atau dingin yang dapat membahayakan.Dalam kitab fikih disebutkan, وَيَحِلُّ لِلرِّجَالِ لُبْسُهُ لِلضَّرُورَةِ، كَحَرٍّ وَبَرْدٍ مُهْلِكَيْنِ“Laki-laki boleh mengenakannya karena keadaan darurat, seperti panas atau dingin yang membahayakan.”Jadi, larangan memakai sutra tidak menutup adanya rukhsah ketika terdapat kebutuhan atau keadaan darurat yang dibenarkan syariat. Bagaimana dengan Pakaian Campuran Sutra?Pakaian pada zaman sekarang terkadang tidak terbuat dari satu jenis bahan. Ada pakaian yang mengandung sutra, tetapi dicampur dengan katun, linen, wol, atau bahan lainnya.Para ulama Syafi’iyyah memberikan rincian mengenai masalah ini.Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan dalam Raudhah Ath-Thalibin, وَفِي الْمُرَكَّبِ مِنَ الْحَرِيرِ وَغَيْرِهِ طَرِيقَانِ. الْمَذْهَبُ وَالَّذِي قَطَعَ بِهِ الْجُمْهُورُ: أَنَّهُ إِنْ كَانَ الْحَرِيرُ أَكْثَرَ وَزْنًا، حَرُمَ، وَإِنْ كَانَ غَيْرُهُ أَكْثَرَ، لَمْ يَحْرُمْ، وَإِنِ اسْتَوَيَا، لَمْ يَحْرُمْ عَلَى الْأَصَحِّ“Untuk pakaian yang tersusun dari campuran sutra dan bahan lainnya terdapat dua pendapat dalam mazhab. Pendapat mazhab dan yang ditegaskan oleh mayoritas ulama Syafi’iyyah adalah: jika sutranya lebih banyak berdasarkan beratnya, hukumnya haram. Jika bahan selain sutra lebih banyak, tidak haram. Jika keduanya sama, menurut pendapat yang lebih sahih, tidak haram.”Dengan demikian, yang menjadi pertimbangan adalah bahan yang lebih dominan berdasarkan beratnya. Jika sutra lebih dominan, pakaian tersebut haram dikenakan laki-laki. Jika bahan selain sutra lebih dominan, hukumnya boleh. Jika kadar keduanya sama, menurut pendapat yang lebih sahih dalam mazhab Syafi’i, hukumnya juga boleh.Inilah maksud perkataan, وَإِذَا كَانَ بَعْضُ الثَّوْبِ إِبْرَيْسَمًا وَبَعْضُهُ قُطْنًا أَوْ كَتَّانًا جَازَ لُبْسُهُ مَا لَمْ يَكُنِ الْإِبْرَيْسَمُ غَالِبًا“Apabila sebagian pakaian terbuat dari sutra dan sebagian lainnya dari katun atau linen, maka laki-laki boleh mengenakannya selama sutra tidak lebih dominan.” Bolehkah Anak Laki-Laki Dipakaikan Sutra?Dalam masalah anak laki-laki yang belum balig, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama Syafi’iyyah.Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Raudhah Ath-Thalibin menguatkan pendapat yang membolehkan. Beliau berkata, قُلْتُ: الْأَصَحُّ الْجَوَازُ مُطْلَقًا، كَذَا صَحَّحَهُ الْمُحَقِّقُونَ، مِنْهُمُ الرَّافِعِيُّ فِي «الْمُحَرَّرِ»، وَقَطَعَ بِهِ الْفُورَانِيُّ“Aku katakan: Pendapat yang lebih sahih adalah boleh secara mutlak. Demikianlah yang dinilai sahih oleh para ulama muhaqqiq, di antaranya Ar-Rafi’i dalam Al-Muharrar, dan Al-Furani menegaskannya.”Dalam Al-Majmu’, Imam An-Nawawi rahimahullah juga menyimpulkan, وَالْأَصَحُّ عَلَى الْجُمْلَةِ: أَنَّهُ لَيْسَ بِحَرَامٍ حَتَّى يَبْلُغَ“Pendapat yang lebih sahih secara umum adalah bahwa hal tersebut tidak haram sampai anak itu balig.”Oleh karena itu, berdasarkan pendapat yang lebih sahih dalam mazhab Syafi’i, wali diperbolehkan memakaikan sutra kepada anak laki-laki yang belum balig, baik sebelum maupun setelah berusia tujuh tahun. Perhiasan Seorang Muslim Bukan Sekadar yang TampakPada zaman ketika penampilan, merek, dan kemewahan mudah menjadi ukuran status seseorang, seorang muslim perlu mengingat bahwa tidak semua yang indah boleh digunakan. Syariat mengajarkan agar selera tetap berada di bawah aturan Allah dan Rasul-Nya. Karena itu, laki-laki hendaknya berhati-hati terhadap cincin, aksesori, pakaian, atau barang lain yang terbuat dari emas dan sutra yang dilarang baginya. Meninggalkan sesuatu karena Allah tidak akan merugikan seorang hamba, bahkan itulah salah satu bukti ketundukannya kepada syariat.Semoga Allah menjadikan kita hamba yang merasa cukup dengan yang halal dan dimudahkan menjauhi yang haram. اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.ALLOHUMMAKFINAA BIHALAALIKA ‘AN HARAAMIKA, WA AGHNINAA BIFADHLIKA ‘AMMAN SIWAAK.Artinya: “Ya Allah, cukupkanlah kami dengan yang halal sehingga kami tidak membutuhkan yang haram, dan cukupkanlah kami dengan karunia-Mu sehingga kami tidak membutuhkan selain-Mu.” —- Selesai ditulis di Jogja, Kamis, 6 Rabiul Awal 1448 H, 20 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com  Tagsemas fikih pakaian fikih syafi'i hukum emas hukum sutra matan taqrib matan taqrib kitab shalat matan taqrib shalat mazhab Syafi'i pakaian laki-laki pakaian muslim perhiasan pria sutra

Hukum Laki-Laki Memakai Emas dan Sutra dalam Islam

Emas dan sutra termasuk perhiasan yang indah, tetapi syariat memberikan ketentuan khusus dalam penggunaannya. Rasulullah ﷺ mengharamkan keduanya bagi laki-laki dan membolehkannya bagi perempuan. Lalu, bagaimana hukum pakaian campuran sutra, penggunaan sutra karena kebutuhan, dan sutra yang dipakaikan kepada anak laki-laki?  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan 2. Hukum Asal Pakaian dan Perhiasan adalah Boleh 3. Emas dan Sutra Haram bagi Laki-Laki, Halal bagi Perempuan 4. Ancaman bagi Laki-Laki yang Memakai Sutra 5. Bukan Hanya Dipakai, Sutra Juga Tidak Boleh Dijadikan Alas 6. Kapan Laki-Laki Boleh Memakai Sutra? 7. Bagaimana dengan Pakaian Campuran Sutra? 8. Bolehkah Anak Laki-Laki Dipakaikan Sutra? 9. Perhiasan Seorang Muslim Bukan Sekadar yang Tampak  Al-Qadhi Abu Syuja rahimahullah berkata di Matan Taqrib: فَصْلٌ وَيَحْرُمُ عَلَى الرِّجَالِ لُبْسُ الْحَرِيرِ، وَالتَّخَتُّمُ بِالذَّهَبِ، وَيَحِلُّ لِلنِّسَاءِ، وَقَلِيلُ الذَّهَبِ وَكَثِيرُهُ فِي التَّحْرِيمِ سَوَاءٌ، وَإِذَا كَانَ بَعْضُ الثَّوْبِ إِبْرَيْسَمًا وَبَعْضُهُ قُطْنًا أَوْ كَتَّانًا، جَازَ لُبْسُهُ مَا لَمْ يَكُنِ الْإِبْرَيْسَمُ غَالِبًا.PasalHaram bagi laki-laki mengenakan pakaian dari sutra dan memakai cincin emas. Adapun bagi perempuan, keduanya diperbolehkan.Dalam hal keharaman bagi laki-laki, tidak ada perbedaan antara emas yang sedikit maupun yang banyak.Apabila suatu pakaian terbuat dari campuran sutra dan katun atau linen, maka pakaian tersebut boleh dikenakan selama bahan sutranya tidak lebih dominan. Penjelasan{Pasal} tentang pakaian. (Haram bagi laki-laki mengenakan sutra dan memakai cincin emas), demikian pula sutra mentah, dalam keadaan tidak ada kebutuhan darurat. Begitu pula, haram menggunakan benda-benda tersebut sebagai alas dan dalam bentuk penggunaan lainnya. Namun, laki-laki boleh mengenakan sutra karena keadaan darurat, seperti cuaca panas atau dingin yang dapat membahayakan jiwa. (Dan diperbolehkan bagi perempuan) mengenakan sutra dan menggunakannya sebagai alas. Wali juga diperbolehkan memakaikan sutra kepada anak laki-laki, baik sebelum maupun setelah berusia tujuh tahun.(Emas yang sedikit maupun yang banyak), maksudnya dalam penggunaannya, (sama-sama haram. Apabila sebagian bahan pakaian berupa ibrisam), yaitu sutra, (dan sebagian lainnya berupa katun atau linen), misalnya, maka (diperbolehkan) bagi laki-laki (mengenakannya selama ibrisam tidak lebih dominan) daripada bahan lainnya. Jika bahan selain ibrisam lebih dominan, maka boleh dikenakan. Demikian pula jika kadar keduanya sama, menurut pendapat yang lebih sahih. Hukum Asal Pakaian dan Perhiasan adalah BolehPada dasarnya, pakaian dan perhiasan termasuk perkara yang diperbolehkan. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan (dari) Allah yang telah Dia sediakan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik?’” (QS. Al-A’raf: 32)Allah Ta’ala juga menyebutkan bahwa sutra termasuk pakaian penghuni surga, وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ“Pakaian mereka di dalamnya adalah sutra.” (QS. Al-Hajj: 23)Namun, keumuman hukum boleh dalam masalah pakaian dan perhiasan dikhususkan oleh dalil-dalil dari Sunnah. Di antaranya adalah larangan memakai emas dan sutra bagi laki-laki. Emas dan Sutra Haram bagi Laki-Laki, Halal bagi PerempuanDi antara dalil yang paling jelas dalam masalah ini adalah hadis bahwa Rasulullah ﷺ mengambil sutra dengan tangan kirinya dan emas dengan tangan kanannya. Kemudian beliau mengangkat keduanya dan bersabda, إِنَّ هَذَيْنِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي، حِلٌّ لِإِنَاثِهِمْ“Sesungguhnya kedua benda ini haram bagi laki-laki dari umatku dan halal bagi perempuan mereka.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)Al-Mawardi Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan, لُبْسُ الْحَرِيرِ مُحَرَّمٌ عَلَى الرِّجَالِ مُبَاحٌ عَلَى النِّسَاءِ“Memakai sutra haram bagi laki-laki dan diperbolehkan bagi perempuan.”Hadis ini menjadi dasar yang sangat jelas bahwa hukum penggunaan emas dan sutra berbeda antara laki-laki dan perempuan. Perempuan diperbolehkan mengenakan keduanya, sedangkan laki-laki dilarang. Ancaman bagi Laki-Laki yang Memakai SutraLarangan memakai sutra bagi laki-laki juga ditegaskan dalam hadis Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah ﷺ bersabda, لَا تَلْبَسُوا الْحَرِيرَ، فَإِنَّ مَنْ لَبِسَهُ فِي الدُّنْيَا لَمْ يَلْبَسْهُ فِي الْآخِرَةِ“Janganlah kalian memakai sutra. Siapa yang memakainya di dunia, ia tidak akan memakainya di akhirat.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ancaman dalam hadis ini menunjukkan bahwa larangan memakai sutra bagi laki-laki bukan sekadar perkara makruh, tetapi termasuk larangan yang tegas. Bukan Hanya Dipakai, Sutra Juga Tidak Boleh Dijadikan AlasLarangan terhadap sutra bagi laki-laki tidak hanya berkaitan dengan pakaian yang dikenakan di badan. Dalam mazhab Syafi’i, larangan tersebut juga mencakup bentuk penggunaan lainnya.Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, نَهَانَا النَّبِيُّ ﷺ أَنْ نَشْرَبَ فِي آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ، وَأَنْ نَأْكُلَ فِيهَا، وَعَنْ لُبْسِ الْحَرِيرِ وَالدِّيبَاجِ، وَأَنْ نَجْلِسَ عَلَيْهِ“Nabi ﷺ melarang kami minum dari bejana emas dan perak, makan darinya, mengenakan sutra dan dibaj, serta duduk di atasnya.” (HR. Bukhari)Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab menjelaskan bahwa larangan tersebut mencakup mengenakan sutra, duduk di atasnya, bersandar padanya, berselimut dengannya, dan bentuk-bentuk penggunaan lainnya.Karena itu, dalam kitab fikih Syafi’i disebutkan, وَكَذَا يَحْرُمُ اسْتِعْمَالُ مَا ذُكِرَ عَلَى جِهَةِ الِافْتِرَاشِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ وُجُوهِ الِاسْتِعْمَالَاتِ“Demikian pula, haram menggunakan benda tersebut sebagai alas dan dalam bentuk penggunaan lainnya.”Dengan demikian, seorang laki-laki bukan hanya dilarang mengenakan pakaian sutra, tetapi juga dilarang menggunakannya sebagai alas dan penggunaan semisalnya. Kapan Laki-Laki Boleh Memakai Sutra?Syariat memberikan keringanan ketika terdapat kebutuhan yang dibenarkan. Hal ini berdasarkan hadis Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ رَخَّصَ لِعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ وَالزُّبَيْرِ بْنِ الْعَوَّامِ فِي الْقَمِيصِ الْحَرِيرِ فِي السَّفَرِ مِنْ حِكَّةٍ كَانَتْ بِهِمَا“Rasulullah ﷺ memberikan keringanan kepada Abdurrahman bin Auf dan Az-Zubair bin Al-‘Awwam untuk mengenakan baju sutra dalam perjalanan karena penyakit gatal yang mereka alami.” (HR. Bukhari dan Muslim)Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa hadis ini menjadi dalil bolehnya laki-laki mengenakan sutra karena penyakit dan kebutuhan semisalnya.Para ulama Syafi’iyyah juga membolehkan pemakaian sutra ketika dalam keadaan darurat, seperti menghadapi panas atau dingin yang dapat membahayakan.Dalam kitab fikih disebutkan, وَيَحِلُّ لِلرِّجَالِ لُبْسُهُ لِلضَّرُورَةِ، كَحَرٍّ وَبَرْدٍ مُهْلِكَيْنِ“Laki-laki boleh mengenakannya karena keadaan darurat, seperti panas atau dingin yang membahayakan.”Jadi, larangan memakai sutra tidak menutup adanya rukhsah ketika terdapat kebutuhan atau keadaan darurat yang dibenarkan syariat. Bagaimana dengan Pakaian Campuran Sutra?Pakaian pada zaman sekarang terkadang tidak terbuat dari satu jenis bahan. Ada pakaian yang mengandung sutra, tetapi dicampur dengan katun, linen, wol, atau bahan lainnya.Para ulama Syafi’iyyah memberikan rincian mengenai masalah ini.Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan dalam Raudhah Ath-Thalibin, وَفِي الْمُرَكَّبِ مِنَ الْحَرِيرِ وَغَيْرِهِ طَرِيقَانِ. الْمَذْهَبُ وَالَّذِي قَطَعَ بِهِ الْجُمْهُورُ: أَنَّهُ إِنْ كَانَ الْحَرِيرُ أَكْثَرَ وَزْنًا، حَرُمَ، وَإِنْ كَانَ غَيْرُهُ أَكْثَرَ، لَمْ يَحْرُمْ، وَإِنِ اسْتَوَيَا، لَمْ يَحْرُمْ عَلَى الْأَصَحِّ“Untuk pakaian yang tersusun dari campuran sutra dan bahan lainnya terdapat dua pendapat dalam mazhab. Pendapat mazhab dan yang ditegaskan oleh mayoritas ulama Syafi’iyyah adalah: jika sutranya lebih banyak berdasarkan beratnya, hukumnya haram. Jika bahan selain sutra lebih banyak, tidak haram. Jika keduanya sama, menurut pendapat yang lebih sahih, tidak haram.”Dengan demikian, yang menjadi pertimbangan adalah bahan yang lebih dominan berdasarkan beratnya. Jika sutra lebih dominan, pakaian tersebut haram dikenakan laki-laki. Jika bahan selain sutra lebih dominan, hukumnya boleh. Jika kadar keduanya sama, menurut pendapat yang lebih sahih dalam mazhab Syafi’i, hukumnya juga boleh.Inilah maksud perkataan, وَإِذَا كَانَ بَعْضُ الثَّوْبِ إِبْرَيْسَمًا وَبَعْضُهُ قُطْنًا أَوْ كَتَّانًا جَازَ لُبْسُهُ مَا لَمْ يَكُنِ الْإِبْرَيْسَمُ غَالِبًا“Apabila sebagian pakaian terbuat dari sutra dan sebagian lainnya dari katun atau linen, maka laki-laki boleh mengenakannya selama sutra tidak lebih dominan.” Bolehkah Anak Laki-Laki Dipakaikan Sutra?Dalam masalah anak laki-laki yang belum balig, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama Syafi’iyyah.Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Raudhah Ath-Thalibin menguatkan pendapat yang membolehkan. Beliau berkata, قُلْتُ: الْأَصَحُّ الْجَوَازُ مُطْلَقًا، كَذَا صَحَّحَهُ الْمُحَقِّقُونَ، مِنْهُمُ الرَّافِعِيُّ فِي «الْمُحَرَّرِ»، وَقَطَعَ بِهِ الْفُورَانِيُّ“Aku katakan: Pendapat yang lebih sahih adalah boleh secara mutlak. Demikianlah yang dinilai sahih oleh para ulama muhaqqiq, di antaranya Ar-Rafi’i dalam Al-Muharrar, dan Al-Furani menegaskannya.”Dalam Al-Majmu’, Imam An-Nawawi rahimahullah juga menyimpulkan, وَالْأَصَحُّ عَلَى الْجُمْلَةِ: أَنَّهُ لَيْسَ بِحَرَامٍ حَتَّى يَبْلُغَ“Pendapat yang lebih sahih secara umum adalah bahwa hal tersebut tidak haram sampai anak itu balig.”Oleh karena itu, berdasarkan pendapat yang lebih sahih dalam mazhab Syafi’i, wali diperbolehkan memakaikan sutra kepada anak laki-laki yang belum balig, baik sebelum maupun setelah berusia tujuh tahun. Perhiasan Seorang Muslim Bukan Sekadar yang TampakPada zaman ketika penampilan, merek, dan kemewahan mudah menjadi ukuran status seseorang, seorang muslim perlu mengingat bahwa tidak semua yang indah boleh digunakan. Syariat mengajarkan agar selera tetap berada di bawah aturan Allah dan Rasul-Nya. Karena itu, laki-laki hendaknya berhati-hati terhadap cincin, aksesori, pakaian, atau barang lain yang terbuat dari emas dan sutra yang dilarang baginya. Meninggalkan sesuatu karena Allah tidak akan merugikan seorang hamba, bahkan itulah salah satu bukti ketundukannya kepada syariat.Semoga Allah menjadikan kita hamba yang merasa cukup dengan yang halal dan dimudahkan menjauhi yang haram. اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.ALLOHUMMAKFINAA BIHALAALIKA ‘AN HARAAMIKA, WA AGHNINAA BIFADHLIKA ‘AMMAN SIWAAK.Artinya: “Ya Allah, cukupkanlah kami dengan yang halal sehingga kami tidak membutuhkan yang haram, dan cukupkanlah kami dengan karunia-Mu sehingga kami tidak membutuhkan selain-Mu.” —- Selesai ditulis di Jogja, Kamis, 6 Rabiul Awal 1448 H, 20 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com  Tagsemas fikih pakaian fikih syafi'i hukum emas hukum sutra matan taqrib matan taqrib kitab shalat matan taqrib shalat mazhab Syafi'i pakaian laki-laki pakaian muslim perhiasan pria sutra
Emas dan sutra termasuk perhiasan yang indah, tetapi syariat memberikan ketentuan khusus dalam penggunaannya. Rasulullah ﷺ mengharamkan keduanya bagi laki-laki dan membolehkannya bagi perempuan. Lalu, bagaimana hukum pakaian campuran sutra, penggunaan sutra karena kebutuhan, dan sutra yang dipakaikan kepada anak laki-laki?  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan 2. Hukum Asal Pakaian dan Perhiasan adalah Boleh 3. Emas dan Sutra Haram bagi Laki-Laki, Halal bagi Perempuan 4. Ancaman bagi Laki-Laki yang Memakai Sutra 5. Bukan Hanya Dipakai, Sutra Juga Tidak Boleh Dijadikan Alas 6. Kapan Laki-Laki Boleh Memakai Sutra? 7. Bagaimana dengan Pakaian Campuran Sutra? 8. Bolehkah Anak Laki-Laki Dipakaikan Sutra? 9. Perhiasan Seorang Muslim Bukan Sekadar yang Tampak  Al-Qadhi Abu Syuja rahimahullah berkata di Matan Taqrib: فَصْلٌ وَيَحْرُمُ عَلَى الرِّجَالِ لُبْسُ الْحَرِيرِ، وَالتَّخَتُّمُ بِالذَّهَبِ، وَيَحِلُّ لِلنِّسَاءِ، وَقَلِيلُ الذَّهَبِ وَكَثِيرُهُ فِي التَّحْرِيمِ سَوَاءٌ، وَإِذَا كَانَ بَعْضُ الثَّوْبِ إِبْرَيْسَمًا وَبَعْضُهُ قُطْنًا أَوْ كَتَّانًا، جَازَ لُبْسُهُ مَا لَمْ يَكُنِ الْإِبْرَيْسَمُ غَالِبًا.PasalHaram bagi laki-laki mengenakan pakaian dari sutra dan memakai cincin emas. Adapun bagi perempuan, keduanya diperbolehkan.Dalam hal keharaman bagi laki-laki, tidak ada perbedaan antara emas yang sedikit maupun yang banyak.Apabila suatu pakaian terbuat dari campuran sutra dan katun atau linen, maka pakaian tersebut boleh dikenakan selama bahan sutranya tidak lebih dominan. Penjelasan{Pasal} tentang pakaian. (Haram bagi laki-laki mengenakan sutra dan memakai cincin emas), demikian pula sutra mentah, dalam keadaan tidak ada kebutuhan darurat. Begitu pula, haram menggunakan benda-benda tersebut sebagai alas dan dalam bentuk penggunaan lainnya. Namun, laki-laki boleh mengenakan sutra karena keadaan darurat, seperti cuaca panas atau dingin yang dapat membahayakan jiwa. (Dan diperbolehkan bagi perempuan) mengenakan sutra dan menggunakannya sebagai alas. Wali juga diperbolehkan memakaikan sutra kepada anak laki-laki, baik sebelum maupun setelah berusia tujuh tahun.(Emas yang sedikit maupun yang banyak), maksudnya dalam penggunaannya, (sama-sama haram. Apabila sebagian bahan pakaian berupa ibrisam), yaitu sutra, (dan sebagian lainnya berupa katun atau linen), misalnya, maka (diperbolehkan) bagi laki-laki (mengenakannya selama ibrisam tidak lebih dominan) daripada bahan lainnya. Jika bahan selain ibrisam lebih dominan, maka boleh dikenakan. Demikian pula jika kadar keduanya sama, menurut pendapat yang lebih sahih. Hukum Asal Pakaian dan Perhiasan adalah BolehPada dasarnya, pakaian dan perhiasan termasuk perkara yang diperbolehkan. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan (dari) Allah yang telah Dia sediakan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik?’” (QS. Al-A’raf: 32)Allah Ta’ala juga menyebutkan bahwa sutra termasuk pakaian penghuni surga, وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ“Pakaian mereka di dalamnya adalah sutra.” (QS. Al-Hajj: 23)Namun, keumuman hukum boleh dalam masalah pakaian dan perhiasan dikhususkan oleh dalil-dalil dari Sunnah. Di antaranya adalah larangan memakai emas dan sutra bagi laki-laki. Emas dan Sutra Haram bagi Laki-Laki, Halal bagi PerempuanDi antara dalil yang paling jelas dalam masalah ini adalah hadis bahwa Rasulullah ﷺ mengambil sutra dengan tangan kirinya dan emas dengan tangan kanannya. Kemudian beliau mengangkat keduanya dan bersabda, إِنَّ هَذَيْنِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي، حِلٌّ لِإِنَاثِهِمْ“Sesungguhnya kedua benda ini haram bagi laki-laki dari umatku dan halal bagi perempuan mereka.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)Al-Mawardi Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan, لُبْسُ الْحَرِيرِ مُحَرَّمٌ عَلَى الرِّجَالِ مُبَاحٌ عَلَى النِّسَاءِ“Memakai sutra haram bagi laki-laki dan diperbolehkan bagi perempuan.”Hadis ini menjadi dasar yang sangat jelas bahwa hukum penggunaan emas dan sutra berbeda antara laki-laki dan perempuan. Perempuan diperbolehkan mengenakan keduanya, sedangkan laki-laki dilarang. Ancaman bagi Laki-Laki yang Memakai SutraLarangan memakai sutra bagi laki-laki juga ditegaskan dalam hadis Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah ﷺ bersabda, لَا تَلْبَسُوا الْحَرِيرَ، فَإِنَّ مَنْ لَبِسَهُ فِي الدُّنْيَا لَمْ يَلْبَسْهُ فِي الْآخِرَةِ“Janganlah kalian memakai sutra. Siapa yang memakainya di dunia, ia tidak akan memakainya di akhirat.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ancaman dalam hadis ini menunjukkan bahwa larangan memakai sutra bagi laki-laki bukan sekadar perkara makruh, tetapi termasuk larangan yang tegas. Bukan Hanya Dipakai, Sutra Juga Tidak Boleh Dijadikan AlasLarangan terhadap sutra bagi laki-laki tidak hanya berkaitan dengan pakaian yang dikenakan di badan. Dalam mazhab Syafi’i, larangan tersebut juga mencakup bentuk penggunaan lainnya.Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, نَهَانَا النَّبِيُّ ﷺ أَنْ نَشْرَبَ فِي آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ، وَأَنْ نَأْكُلَ فِيهَا، وَعَنْ لُبْسِ الْحَرِيرِ وَالدِّيبَاجِ، وَأَنْ نَجْلِسَ عَلَيْهِ“Nabi ﷺ melarang kami minum dari bejana emas dan perak, makan darinya, mengenakan sutra dan dibaj, serta duduk di atasnya.” (HR. Bukhari)Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab menjelaskan bahwa larangan tersebut mencakup mengenakan sutra, duduk di atasnya, bersandar padanya, berselimut dengannya, dan bentuk-bentuk penggunaan lainnya.Karena itu, dalam kitab fikih Syafi’i disebutkan, وَكَذَا يَحْرُمُ اسْتِعْمَالُ مَا ذُكِرَ عَلَى جِهَةِ الِافْتِرَاشِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ وُجُوهِ الِاسْتِعْمَالَاتِ“Demikian pula, haram menggunakan benda tersebut sebagai alas dan dalam bentuk penggunaan lainnya.”Dengan demikian, seorang laki-laki bukan hanya dilarang mengenakan pakaian sutra, tetapi juga dilarang menggunakannya sebagai alas dan penggunaan semisalnya. Kapan Laki-Laki Boleh Memakai Sutra?Syariat memberikan keringanan ketika terdapat kebutuhan yang dibenarkan. Hal ini berdasarkan hadis Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ رَخَّصَ لِعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ وَالزُّبَيْرِ بْنِ الْعَوَّامِ فِي الْقَمِيصِ الْحَرِيرِ فِي السَّفَرِ مِنْ حِكَّةٍ كَانَتْ بِهِمَا“Rasulullah ﷺ memberikan keringanan kepada Abdurrahman bin Auf dan Az-Zubair bin Al-‘Awwam untuk mengenakan baju sutra dalam perjalanan karena penyakit gatal yang mereka alami.” (HR. Bukhari dan Muslim)Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa hadis ini menjadi dalil bolehnya laki-laki mengenakan sutra karena penyakit dan kebutuhan semisalnya.Para ulama Syafi’iyyah juga membolehkan pemakaian sutra ketika dalam keadaan darurat, seperti menghadapi panas atau dingin yang dapat membahayakan.Dalam kitab fikih disebutkan, وَيَحِلُّ لِلرِّجَالِ لُبْسُهُ لِلضَّرُورَةِ، كَحَرٍّ وَبَرْدٍ مُهْلِكَيْنِ“Laki-laki boleh mengenakannya karena keadaan darurat, seperti panas atau dingin yang membahayakan.”Jadi, larangan memakai sutra tidak menutup adanya rukhsah ketika terdapat kebutuhan atau keadaan darurat yang dibenarkan syariat. Bagaimana dengan Pakaian Campuran Sutra?Pakaian pada zaman sekarang terkadang tidak terbuat dari satu jenis bahan. Ada pakaian yang mengandung sutra, tetapi dicampur dengan katun, linen, wol, atau bahan lainnya.Para ulama Syafi’iyyah memberikan rincian mengenai masalah ini.Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan dalam Raudhah Ath-Thalibin, وَفِي الْمُرَكَّبِ مِنَ الْحَرِيرِ وَغَيْرِهِ طَرِيقَانِ. الْمَذْهَبُ وَالَّذِي قَطَعَ بِهِ الْجُمْهُورُ: أَنَّهُ إِنْ كَانَ الْحَرِيرُ أَكْثَرَ وَزْنًا، حَرُمَ، وَإِنْ كَانَ غَيْرُهُ أَكْثَرَ، لَمْ يَحْرُمْ، وَإِنِ اسْتَوَيَا، لَمْ يَحْرُمْ عَلَى الْأَصَحِّ“Untuk pakaian yang tersusun dari campuran sutra dan bahan lainnya terdapat dua pendapat dalam mazhab. Pendapat mazhab dan yang ditegaskan oleh mayoritas ulama Syafi’iyyah adalah: jika sutranya lebih banyak berdasarkan beratnya, hukumnya haram. Jika bahan selain sutra lebih banyak, tidak haram. Jika keduanya sama, menurut pendapat yang lebih sahih, tidak haram.”Dengan demikian, yang menjadi pertimbangan adalah bahan yang lebih dominan berdasarkan beratnya. Jika sutra lebih dominan, pakaian tersebut haram dikenakan laki-laki. Jika bahan selain sutra lebih dominan, hukumnya boleh. Jika kadar keduanya sama, menurut pendapat yang lebih sahih dalam mazhab Syafi’i, hukumnya juga boleh.Inilah maksud perkataan, وَإِذَا كَانَ بَعْضُ الثَّوْبِ إِبْرَيْسَمًا وَبَعْضُهُ قُطْنًا أَوْ كَتَّانًا جَازَ لُبْسُهُ مَا لَمْ يَكُنِ الْإِبْرَيْسَمُ غَالِبًا“Apabila sebagian pakaian terbuat dari sutra dan sebagian lainnya dari katun atau linen, maka laki-laki boleh mengenakannya selama sutra tidak lebih dominan.” Bolehkah Anak Laki-Laki Dipakaikan Sutra?Dalam masalah anak laki-laki yang belum balig, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama Syafi’iyyah.Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Raudhah Ath-Thalibin menguatkan pendapat yang membolehkan. Beliau berkata, قُلْتُ: الْأَصَحُّ الْجَوَازُ مُطْلَقًا، كَذَا صَحَّحَهُ الْمُحَقِّقُونَ، مِنْهُمُ الرَّافِعِيُّ فِي «الْمُحَرَّرِ»، وَقَطَعَ بِهِ الْفُورَانِيُّ“Aku katakan: Pendapat yang lebih sahih adalah boleh secara mutlak. Demikianlah yang dinilai sahih oleh para ulama muhaqqiq, di antaranya Ar-Rafi’i dalam Al-Muharrar, dan Al-Furani menegaskannya.”Dalam Al-Majmu’, Imam An-Nawawi rahimahullah juga menyimpulkan, وَالْأَصَحُّ عَلَى الْجُمْلَةِ: أَنَّهُ لَيْسَ بِحَرَامٍ حَتَّى يَبْلُغَ“Pendapat yang lebih sahih secara umum adalah bahwa hal tersebut tidak haram sampai anak itu balig.”Oleh karena itu, berdasarkan pendapat yang lebih sahih dalam mazhab Syafi’i, wali diperbolehkan memakaikan sutra kepada anak laki-laki yang belum balig, baik sebelum maupun setelah berusia tujuh tahun. Perhiasan Seorang Muslim Bukan Sekadar yang TampakPada zaman ketika penampilan, merek, dan kemewahan mudah menjadi ukuran status seseorang, seorang muslim perlu mengingat bahwa tidak semua yang indah boleh digunakan. Syariat mengajarkan agar selera tetap berada di bawah aturan Allah dan Rasul-Nya. Karena itu, laki-laki hendaknya berhati-hati terhadap cincin, aksesori, pakaian, atau barang lain yang terbuat dari emas dan sutra yang dilarang baginya. Meninggalkan sesuatu karena Allah tidak akan merugikan seorang hamba, bahkan itulah salah satu bukti ketundukannya kepada syariat.Semoga Allah menjadikan kita hamba yang merasa cukup dengan yang halal dan dimudahkan menjauhi yang haram. اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.ALLOHUMMAKFINAA BIHALAALIKA ‘AN HARAAMIKA, WA AGHNINAA BIFADHLIKA ‘AMMAN SIWAAK.Artinya: “Ya Allah, cukupkanlah kami dengan yang halal sehingga kami tidak membutuhkan yang haram, dan cukupkanlah kami dengan karunia-Mu sehingga kami tidak membutuhkan selain-Mu.” —- Selesai ditulis di Jogja, Kamis, 6 Rabiul Awal 1448 H, 20 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com  Tagsemas fikih pakaian fikih syafi'i hukum emas hukum sutra matan taqrib matan taqrib kitab shalat matan taqrib shalat mazhab Syafi'i pakaian laki-laki pakaian muslim perhiasan pria sutra


Emas dan sutra termasuk perhiasan yang indah, tetapi syariat memberikan ketentuan khusus dalam penggunaannya. Rasulullah ﷺ mengharamkan keduanya bagi laki-laki dan membolehkannya bagi perempuan. Lalu, bagaimana hukum pakaian campuran sutra, penggunaan sutra karena kebutuhan, dan sutra yang dipakaikan kepada anak laki-laki?  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan 2. Hukum Asal Pakaian dan Perhiasan adalah Boleh 3. Emas dan Sutra Haram bagi Laki-Laki, Halal bagi Perempuan 4. Ancaman bagi Laki-Laki yang Memakai Sutra 5. Bukan Hanya Dipakai, Sutra Juga Tidak Boleh Dijadikan Alas 6. Kapan Laki-Laki Boleh Memakai Sutra? 7. Bagaimana dengan Pakaian Campuran Sutra? 8. Bolehkah Anak Laki-Laki Dipakaikan Sutra? 9. Perhiasan Seorang Muslim Bukan Sekadar yang Tampak  Al-Qadhi Abu Syuja rahimahullah berkata di Matan Taqrib: فَصْلٌ وَيَحْرُمُ عَلَى الرِّجَالِ لُبْسُ الْحَرِيرِ، وَالتَّخَتُّمُ بِالذَّهَبِ، وَيَحِلُّ لِلنِّسَاءِ، وَقَلِيلُ الذَّهَبِ وَكَثِيرُهُ فِي التَّحْرِيمِ سَوَاءٌ، وَإِذَا كَانَ بَعْضُ الثَّوْبِ إِبْرَيْسَمًا وَبَعْضُهُ قُطْنًا أَوْ كَتَّانًا، جَازَ لُبْسُهُ مَا لَمْ يَكُنِ الْإِبْرَيْسَمُ غَالِبًا.PasalHaram bagi laki-laki mengenakan pakaian dari sutra dan memakai cincin emas. Adapun bagi perempuan, keduanya diperbolehkan.Dalam hal keharaman bagi laki-laki, tidak ada perbedaan antara emas yang sedikit maupun yang banyak.Apabila suatu pakaian terbuat dari campuran sutra dan katun atau linen, maka pakaian tersebut boleh dikenakan selama bahan sutranya tidak lebih dominan. Penjelasan{Pasal} tentang pakaian. (Haram bagi laki-laki mengenakan sutra dan memakai cincin emas), demikian pula sutra mentah, dalam keadaan tidak ada kebutuhan darurat. Begitu pula, haram menggunakan benda-benda tersebut sebagai alas dan dalam bentuk penggunaan lainnya. Namun, laki-laki boleh mengenakan sutra karena keadaan darurat, seperti cuaca panas atau dingin yang dapat membahayakan jiwa. (Dan diperbolehkan bagi perempuan) mengenakan sutra dan menggunakannya sebagai alas. Wali juga diperbolehkan memakaikan sutra kepada anak laki-laki, baik sebelum maupun setelah berusia tujuh tahun.(Emas yang sedikit maupun yang banyak), maksudnya dalam penggunaannya, (sama-sama haram. Apabila sebagian bahan pakaian berupa ibrisam), yaitu sutra, (dan sebagian lainnya berupa katun atau linen), misalnya, maka (diperbolehkan) bagi laki-laki (mengenakannya selama ibrisam tidak lebih dominan) daripada bahan lainnya. Jika bahan selain ibrisam lebih dominan, maka boleh dikenakan. Demikian pula jika kadar keduanya sama, menurut pendapat yang lebih sahih. Hukum Asal Pakaian dan Perhiasan adalah BolehPada dasarnya, pakaian dan perhiasan termasuk perkara yang diperbolehkan. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan (dari) Allah yang telah Dia sediakan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik?’” (QS. Al-A’raf: 32)Allah Ta’ala juga menyebutkan bahwa sutra termasuk pakaian penghuni surga, وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ“Pakaian mereka di dalamnya adalah sutra.” (QS. Al-Hajj: 23)Namun, keumuman hukum boleh dalam masalah pakaian dan perhiasan dikhususkan oleh dalil-dalil dari Sunnah. Di antaranya adalah larangan memakai emas dan sutra bagi laki-laki. Emas dan Sutra Haram bagi Laki-Laki, Halal bagi PerempuanDi antara dalil yang paling jelas dalam masalah ini adalah hadis bahwa Rasulullah ﷺ mengambil sutra dengan tangan kirinya dan emas dengan tangan kanannya. Kemudian beliau mengangkat keduanya dan bersabda, إِنَّ هَذَيْنِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي، حِلٌّ لِإِنَاثِهِمْ“Sesungguhnya kedua benda ini haram bagi laki-laki dari umatku dan halal bagi perempuan mereka.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)Al-Mawardi Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan, لُبْسُ الْحَرِيرِ مُحَرَّمٌ عَلَى الرِّجَالِ مُبَاحٌ عَلَى النِّسَاءِ“Memakai sutra haram bagi laki-laki dan diperbolehkan bagi perempuan.”Hadis ini menjadi dasar yang sangat jelas bahwa hukum penggunaan emas dan sutra berbeda antara laki-laki dan perempuan. Perempuan diperbolehkan mengenakan keduanya, sedangkan laki-laki dilarang. Ancaman bagi Laki-Laki yang Memakai SutraLarangan memakai sutra bagi laki-laki juga ditegaskan dalam hadis Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah ﷺ bersabda, لَا تَلْبَسُوا الْحَرِيرَ، فَإِنَّ مَنْ لَبِسَهُ فِي الدُّنْيَا لَمْ يَلْبَسْهُ فِي الْآخِرَةِ“Janganlah kalian memakai sutra. Siapa yang memakainya di dunia, ia tidak akan memakainya di akhirat.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ancaman dalam hadis ini menunjukkan bahwa larangan memakai sutra bagi laki-laki bukan sekadar perkara makruh, tetapi termasuk larangan yang tegas. Bukan Hanya Dipakai, Sutra Juga Tidak Boleh Dijadikan AlasLarangan terhadap sutra bagi laki-laki tidak hanya berkaitan dengan pakaian yang dikenakan di badan. Dalam mazhab Syafi’i, larangan tersebut juga mencakup bentuk penggunaan lainnya.Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, نَهَانَا النَّبِيُّ ﷺ أَنْ نَشْرَبَ فِي آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ، وَأَنْ نَأْكُلَ فِيهَا، وَعَنْ لُبْسِ الْحَرِيرِ وَالدِّيبَاجِ، وَأَنْ نَجْلِسَ عَلَيْهِ“Nabi ﷺ melarang kami minum dari bejana emas dan perak, makan darinya, mengenakan sutra dan dibaj, serta duduk di atasnya.” (HR. Bukhari)Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab menjelaskan bahwa larangan tersebut mencakup mengenakan sutra, duduk di atasnya, bersandar padanya, berselimut dengannya, dan bentuk-bentuk penggunaan lainnya.Karena itu, dalam kitab fikih Syafi’i disebutkan, وَكَذَا يَحْرُمُ اسْتِعْمَالُ مَا ذُكِرَ عَلَى جِهَةِ الِافْتِرَاشِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ وُجُوهِ الِاسْتِعْمَالَاتِ“Demikian pula, haram menggunakan benda tersebut sebagai alas dan dalam bentuk penggunaan lainnya.”Dengan demikian, seorang laki-laki bukan hanya dilarang mengenakan pakaian sutra, tetapi juga dilarang menggunakannya sebagai alas dan penggunaan semisalnya. Kapan Laki-Laki Boleh Memakai Sutra?Syariat memberikan keringanan ketika terdapat kebutuhan yang dibenarkan. Hal ini berdasarkan hadis Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ رَخَّصَ لِعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ وَالزُّبَيْرِ بْنِ الْعَوَّامِ فِي الْقَمِيصِ الْحَرِيرِ فِي السَّفَرِ مِنْ حِكَّةٍ كَانَتْ بِهِمَا“Rasulullah ﷺ memberikan keringanan kepada Abdurrahman bin Auf dan Az-Zubair bin Al-‘Awwam untuk mengenakan baju sutra dalam perjalanan karena penyakit gatal yang mereka alami.” (HR. Bukhari dan Muslim)Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa hadis ini menjadi dalil bolehnya laki-laki mengenakan sutra karena penyakit dan kebutuhan semisalnya.Para ulama Syafi’iyyah juga membolehkan pemakaian sutra ketika dalam keadaan darurat, seperti menghadapi panas atau dingin yang dapat membahayakan.Dalam kitab fikih disebutkan, وَيَحِلُّ لِلرِّجَالِ لُبْسُهُ لِلضَّرُورَةِ، كَحَرٍّ وَبَرْدٍ مُهْلِكَيْنِ“Laki-laki boleh mengenakannya karena keadaan darurat, seperti panas atau dingin yang membahayakan.”Jadi, larangan memakai sutra tidak menutup adanya rukhsah ketika terdapat kebutuhan atau keadaan darurat yang dibenarkan syariat. Bagaimana dengan Pakaian Campuran Sutra?Pakaian pada zaman sekarang terkadang tidak terbuat dari satu jenis bahan. Ada pakaian yang mengandung sutra, tetapi dicampur dengan katun, linen, wol, atau bahan lainnya.Para ulama Syafi’iyyah memberikan rincian mengenai masalah ini.Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan dalam Raudhah Ath-Thalibin, وَفِي الْمُرَكَّبِ مِنَ الْحَرِيرِ وَغَيْرِهِ طَرِيقَانِ. الْمَذْهَبُ وَالَّذِي قَطَعَ بِهِ الْجُمْهُورُ: أَنَّهُ إِنْ كَانَ الْحَرِيرُ أَكْثَرَ وَزْنًا، حَرُمَ، وَإِنْ كَانَ غَيْرُهُ أَكْثَرَ، لَمْ يَحْرُمْ، وَإِنِ اسْتَوَيَا، لَمْ يَحْرُمْ عَلَى الْأَصَحِّ“Untuk pakaian yang tersusun dari campuran sutra dan bahan lainnya terdapat dua pendapat dalam mazhab. Pendapat mazhab dan yang ditegaskan oleh mayoritas ulama Syafi’iyyah adalah: jika sutranya lebih banyak berdasarkan beratnya, hukumnya haram. Jika bahan selain sutra lebih banyak, tidak haram. Jika keduanya sama, menurut pendapat yang lebih sahih, tidak haram.”Dengan demikian, yang menjadi pertimbangan adalah bahan yang lebih dominan berdasarkan beratnya. Jika sutra lebih dominan, pakaian tersebut haram dikenakan laki-laki. Jika bahan selain sutra lebih dominan, hukumnya boleh. Jika kadar keduanya sama, menurut pendapat yang lebih sahih dalam mazhab Syafi’i, hukumnya juga boleh.Inilah maksud perkataan, وَإِذَا كَانَ بَعْضُ الثَّوْبِ إِبْرَيْسَمًا وَبَعْضُهُ قُطْنًا أَوْ كَتَّانًا جَازَ لُبْسُهُ مَا لَمْ يَكُنِ الْإِبْرَيْسَمُ غَالِبًا“Apabila sebagian pakaian terbuat dari sutra dan sebagian lainnya dari katun atau linen, maka laki-laki boleh mengenakannya selama sutra tidak lebih dominan.” Bolehkah Anak Laki-Laki Dipakaikan Sutra?Dalam masalah anak laki-laki yang belum balig, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama Syafi’iyyah.Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Raudhah Ath-Thalibin menguatkan pendapat yang membolehkan. Beliau berkata, قُلْتُ: الْأَصَحُّ الْجَوَازُ مُطْلَقًا، كَذَا صَحَّحَهُ الْمُحَقِّقُونَ، مِنْهُمُ الرَّافِعِيُّ فِي «الْمُحَرَّرِ»، وَقَطَعَ بِهِ الْفُورَانِيُّ“Aku katakan: Pendapat yang lebih sahih adalah boleh secara mutlak. Demikianlah yang dinilai sahih oleh para ulama muhaqqiq, di antaranya Ar-Rafi’i dalam Al-Muharrar, dan Al-Furani menegaskannya.”Dalam Al-Majmu’, Imam An-Nawawi rahimahullah juga menyimpulkan, وَالْأَصَحُّ عَلَى الْجُمْلَةِ: أَنَّهُ لَيْسَ بِحَرَامٍ حَتَّى يَبْلُغَ“Pendapat yang lebih sahih secara umum adalah bahwa hal tersebut tidak haram sampai anak itu balig.”Oleh karena itu, berdasarkan pendapat yang lebih sahih dalam mazhab Syafi’i, wali diperbolehkan memakaikan sutra kepada anak laki-laki yang belum balig, baik sebelum maupun setelah berusia tujuh tahun. Perhiasan Seorang Muslim Bukan Sekadar yang TampakPada zaman ketika penampilan, merek, dan kemewahan mudah menjadi ukuran status seseorang, seorang muslim perlu mengingat bahwa tidak semua yang indah boleh digunakan. Syariat mengajarkan agar selera tetap berada di bawah aturan Allah dan Rasul-Nya. Karena itu, laki-laki hendaknya berhati-hati terhadap cincin, aksesori, pakaian, atau barang lain yang terbuat dari emas dan sutra yang dilarang baginya. Meninggalkan sesuatu karena Allah tidak akan merugikan seorang hamba, bahkan itulah salah satu bukti ketundukannya kepada syariat.Semoga Allah menjadikan kita hamba yang merasa cukup dengan yang halal dan dimudahkan menjauhi yang haram. اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.ALLOHUMMAKFINAA BIHALAALIKA ‘AN HARAAMIKA, WA AGHNINAA BIFADHLIKA ‘AMMAN SIWAAK.Artinya: “Ya Allah, cukupkanlah kami dengan yang halal sehingga kami tidak membutuhkan yang haram, dan cukupkanlah kami dengan karunia-Mu sehingga kami tidak membutuhkan selain-Mu.” —- Selesai ditulis di Jogja, Kamis, 6 Rabiul Awal 1448 H, 20 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com  Tagsemas fikih pakaian fikih syafi'i hukum emas hukum sutra matan taqrib matan taqrib kitab shalat matan taqrib shalat mazhab Syafi'i pakaian laki-laki pakaian muslim perhiasan pria sutra

Keutamaan Shalat Shubuh dan Ashar: Jalan Menuju Surga

Shalat Shubuh dan Ashar sering kali terasa berat karena berada pada waktu manusia sedang beristirahat atau sibuk dengan aktivitasnya. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kabar gembira yang sangat besar bagi orang yang menjaganya: masuk surga dan selamat dari neraka. Bahkan, orang yang menjaga shalat Shubuh mendapatkan jaminan dan perlindungan dari Allah Ta’ala.  Daftar Isi tutup 1. Bab 188: Keutamaan Shalat Shubuh dan Ashar 2. Hadits #1047: Menjaga Shubuh dan Ashar Menjadi Sebab Masuk Surga 3. Hadits #1048: Menjaga Shubuh dan Ashar Menjadi Sebab Selamat dari Neraka 3.1. Faedah hadits 4. Hadits #1049: Orang yang Shalat Shubuh Berada dalam Jaminan Allah 4.1. Kosakata Hadits 4.2. Faedah hadits 5. Hadits #1050: Malaikat Berkumpul pada Waktu Shubuh dan Ashar 5.1. Faedah hadits 6. Hadits #1051: Melihat Allah di Surga dan Keutamaan Menjaga Shalat Subuh dan Ashar 6.1. Kosakata Hadits 6.2. Faedah hadits 7. Hadits #1052: Ancaman Keras bagi Orang yang Meninggalkan Shalat Ashar 7.1. Kosakata Hadits 7.2. Faedah hadits  Bab 188: Keutamaan Shalat Shubuh dan AsharHadits #1047: Menjaga Shubuh dan Ashar Menjadi Sebab Masuk Surga عَنْ أبي موسىٰ رضي الله عنه أنّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: «مَن صلَّىٰ البَرْدَيْنِ دَخَلَ الجَنَّةَ». متفق عليه.البردان: الصبح والعصر.Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mengerjakan dua shalat pada waktu dingin, ia akan masuk surga.” (Muttafaq ‘alaih)Al-Bardain (dua waktu dingin) adalah shalat Shubuh dan shalat Ashar. Hadits #1048: Menjaga Shubuh dan Ashar Menjadi Sebab Selamat dari Nerakaوعن أبي زهيْرٍ عُمارَةَ بنِ رُؤَيْبةَ رضي الله عنه قالَ: سمِعْتُ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم يقولُ: «لَنْ يَلجَ النَّارَ أَحَدٌ صلَّىٰ قَبْلَ طُلوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا» يَعْني الفَجْرَ وَالعَصْرَ. رواه مسلم.Dari Abu Zuhair ‘Umarah bin Ru’aibah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk neraka seseorang yang mengerjakan shalat sebelum matahari terbit dan sebelum matahari terbenam.” (HR. Muslim)Yang dimaksud adalah shalat Shubuh dan shalat Ashar. Faedah haditsPertama: Menjaga shalat Shubuh dan Ashar merupakan sebab masuk surga dan selamat dari azab neraka. Allah Ta’ala berfirman,فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ“Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan.” (QS. Ali ‘Imran: 185)Kedua: Shalat Shubuh memiliki keutamaan khusus karena bacaan Al-Qur’an pada waktu Shubuh disaksikan oleh para malaikat. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا“Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al-Isra’: 78)Ketiga: Shalat Ashar memiliki keutamaan khusus karena disebut secara khusus. Shalat Ashar adalah ash-shalah al-wustha (shalat pertengahan) dalam firman Allah Ta’ala,حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ“Peliharalah semua shalat (fardu) dan shalat Wustha.” (QS. Al-Baqarah: 238) Hadits #1049: Orang yang Shalat Shubuh Berada dalam Jaminan Allah وعن جُنْدُبِ بن سُفْيَانَ رضي الله عنه قالَ: قالَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: «مَنْ صَلَّىٰ الصُّبْحَ فَهُوَ في ذِمَّةِ الله، فَانْظُرْ يَا ابنَ آدَمَ لا يَطلُبــنَّكَ اللهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ». رواه مسلم.Dari Jundub bin Sufyan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mengerjakan shalat Shubuh, ia berada dalam jaminan Allah. Maka perhatikanlah, wahai anak Adam, jangan sampai Allah menuntutmu karena sesuatu yang berkaitan dengan jaminan-Nya.” (HR. Muslim) Kosakata Haditsذِمَّةُ اللهِ (dzimmatullah): perlindungan dan jaminan Allah.لَا يَطْلُبَنَّكَ اللهُ (la yathlubannakallah): janganlah kalian berkhianat dan jangan melakukan perbuatan buruk. Termasuk di dalamnya adalah meninggalkan shalat Shubuh berjamaah sehingga Allah menuntut kalian karena kewajiban yang telah Dia bebankan kepada kalian. Faedah haditsPertama: Shalat Shubuh ibarat kunci pembuka bagi shalat-shalat pada siang hari, bahkan menjadi pembuka bagi seluruh aktivitas sepanjang hari.Kedua: Shalat Shubuh memiliki keutamaan khusus. Siapa yang mengerjakannya akan berada dalam penjagaan dan perhatian Allah Ta’ala. Hadits #1050: Malaikat Berkumpul pada Waktu Shubuh dan Asharعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلَائِكَةٌ بِاللَّيْلِ، وَمَلَائِكَةٌ بِالنَّهَارِ، وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ وَصَلَاةِ الْعَصْرِ، ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ، فَيَسْأَلُهُمُ اللهُ، وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ: كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي؟ فَيَقُولُونَ: تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ، وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Para malaikat malam dan malaikat siang datang kepada kalian secara bergantian. Mereka berkumpul pada waktu shalat Shubuh dan shalat Ashar. Kemudian para malaikat yang bermalam bersama kalian naik ke langit. Allah bertanya kepada mereka—padahal Allah lebih mengetahui keadaan para hamba-Nya—, ‘Bagaimana keadaan hamba-hamba-Ku ketika kalian tinggalkan?’ Mereka menjawab, ‘Kami meninggalkan mereka dalam keadaan sedang shalat, dan ketika kami mendatangi mereka, mereka pun sedang shalat.’” (Muttafaqun ‘alaih, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).Kosakata Haditsيَتَعَاقَبُونَ: هَؤُلَاءِ يَنْزِلُونَ وَهَؤُلَاءِ يَصْعَدُونَ.Ya‘ni: Para malaikat datang secara bergantian; sekelompok malaikat turun, sedangkan kelompok lainnya naik. Faedah haditsPertama: Allah memuliakan orang-orang beriman. Di antara bentuk kemuliaan tersebut, Allah menugaskan para malaikat yang datang silih berganti menemui mereka pada awal dan akhir siang. Hal ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan hamba-hamba Allah yang beriman dan taat kepada-Nya.Kedua: Hadits ini menunjukkan keutamaan shalat Shubuh dan shalat Ashar. Kedua shalat ini memiliki keistimewaan karena menjadi waktu berkumpulnya malaikat malam dan malaikat siang. Hadits #1051: Melihat Allah di Surga dan Keutamaan Menjaga Shalat Subuh dan Ashar ــ وَعَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْبَجَلِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ، فَقَالَ: «إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ، لَا تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِ، فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لَا تُغْلَبُوا عَلَى صَلَاةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ، وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَةٍ: «فَنَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةَ أَرْبَعَ عَشْرَةَ».Dari Jarir bin ‘Abdillah Al-Bajali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami pernah berada bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau kemudian memandang bulan pada malam purnama, lalu bersabda, ‘Sungguh, kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini. Kalian tidak akan mengalami kesulitan untuk melihat-Nya. Karena itu, jika kalian mampu untuk tidak dikalahkan dalam menjaga shalat sebelum matahari terbit dan sebelum matahari terbenam, maka lakukanlah.’” (Muttafaq ‘alaih).Dalam riwayat lain disebutkan, “Beliau memandang bulan pada malam tanggal empat belas.” Kosakata Haditsلَا تُضَامُونَ: لَا يَلْحَقُكُمْ ضَيْمٌ، وَهُوَ الْمَشَقَّةُ وَالتَّعَبُ.Lā tudhāmmūn: Kalian tidak akan mengalami kesulitan. Maksud dhaim adalah kesulitan dan keletihan. Faedah haditsPertama: Hadits ini menetapkan bahwa orang-orang beriman akan melihat Rabb mereka secara langsung di surga. Inilah salah satu kenikmatan penghuni surga yang paling mulia dan paling agung.Kedua: Menjaga pelaksanaan shalat Subuh dan shalat Ashar termasuk sebab seseorang mendapatkan taufik untuk melihat Allah Ta‘ala di surga.Ketiga: Seorang mukmin membenarkan berita yang sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak menolaknya dengan akalnya sendiri dengan mengatakan, “Bagaimana mungkin kita dapat melihat Allah Ta‘ala?” Sikap menerima dan tunduk seperti inilah yang menjadi karakter seorang mukmin dalam menghadapi seluruh berita yang datang dari syariat. Hadits #1052: Ancaman Keras bagi Orang yang Meninggalkan Shalat Ashar ــ عَنْ بُرَيْدَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ». رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang meninggalkan shalat Ashar, sungguh amalnya telah gugur.” (HR. Bukhari). Kosakata Haditsحَبِطَ: بَطَلَ أَجْرُهُ.Habitha: Pahalanya menjadi batal. Faedah haditsPertama: Begitu agung kedudukan shalat Ashar. Shalat Ashar menjadi tolok ukur diterima atau ditolaknya suatu amal.Kedua: Siapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka pahalanya telah gugur. —- Selesai ditulis di Jogja, Kamis, 6 Rabiul Awal 1448 H, 20 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagskeutamaan shalat masuk surga menjaga shalat Riyadhus Shalihin riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail selamat dari neraka shalat ashar shalat berjamaah Shalat Lima Waktu shalat Subuh waktu shalat

Keutamaan Shalat Shubuh dan Ashar: Jalan Menuju Surga

Shalat Shubuh dan Ashar sering kali terasa berat karena berada pada waktu manusia sedang beristirahat atau sibuk dengan aktivitasnya. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kabar gembira yang sangat besar bagi orang yang menjaganya: masuk surga dan selamat dari neraka. Bahkan, orang yang menjaga shalat Shubuh mendapatkan jaminan dan perlindungan dari Allah Ta’ala.  Daftar Isi tutup 1. Bab 188: Keutamaan Shalat Shubuh dan Ashar 2. Hadits #1047: Menjaga Shubuh dan Ashar Menjadi Sebab Masuk Surga 3. Hadits #1048: Menjaga Shubuh dan Ashar Menjadi Sebab Selamat dari Neraka 3.1. Faedah hadits 4. Hadits #1049: Orang yang Shalat Shubuh Berada dalam Jaminan Allah 4.1. Kosakata Hadits 4.2. Faedah hadits 5. Hadits #1050: Malaikat Berkumpul pada Waktu Shubuh dan Ashar 5.1. Faedah hadits 6. Hadits #1051: Melihat Allah di Surga dan Keutamaan Menjaga Shalat Subuh dan Ashar 6.1. Kosakata Hadits 6.2. Faedah hadits 7. Hadits #1052: Ancaman Keras bagi Orang yang Meninggalkan Shalat Ashar 7.1. Kosakata Hadits 7.2. Faedah hadits  Bab 188: Keutamaan Shalat Shubuh dan AsharHadits #1047: Menjaga Shubuh dan Ashar Menjadi Sebab Masuk Surga عَنْ أبي موسىٰ رضي الله عنه أنّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: «مَن صلَّىٰ البَرْدَيْنِ دَخَلَ الجَنَّةَ». متفق عليه.البردان: الصبح والعصر.Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mengerjakan dua shalat pada waktu dingin, ia akan masuk surga.” (Muttafaq ‘alaih)Al-Bardain (dua waktu dingin) adalah shalat Shubuh dan shalat Ashar. Hadits #1048: Menjaga Shubuh dan Ashar Menjadi Sebab Selamat dari Nerakaوعن أبي زهيْرٍ عُمارَةَ بنِ رُؤَيْبةَ رضي الله عنه قالَ: سمِعْتُ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم يقولُ: «لَنْ يَلجَ النَّارَ أَحَدٌ صلَّىٰ قَبْلَ طُلوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا» يَعْني الفَجْرَ وَالعَصْرَ. رواه مسلم.Dari Abu Zuhair ‘Umarah bin Ru’aibah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk neraka seseorang yang mengerjakan shalat sebelum matahari terbit dan sebelum matahari terbenam.” (HR. Muslim)Yang dimaksud adalah shalat Shubuh dan shalat Ashar. Faedah haditsPertama: Menjaga shalat Shubuh dan Ashar merupakan sebab masuk surga dan selamat dari azab neraka. Allah Ta’ala berfirman,فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ“Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan.” (QS. Ali ‘Imran: 185)Kedua: Shalat Shubuh memiliki keutamaan khusus karena bacaan Al-Qur’an pada waktu Shubuh disaksikan oleh para malaikat. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا“Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al-Isra’: 78)Ketiga: Shalat Ashar memiliki keutamaan khusus karena disebut secara khusus. Shalat Ashar adalah ash-shalah al-wustha (shalat pertengahan) dalam firman Allah Ta’ala,حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ“Peliharalah semua shalat (fardu) dan shalat Wustha.” (QS. Al-Baqarah: 238) Hadits #1049: Orang yang Shalat Shubuh Berada dalam Jaminan Allah وعن جُنْدُبِ بن سُفْيَانَ رضي الله عنه قالَ: قالَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: «مَنْ صَلَّىٰ الصُّبْحَ فَهُوَ في ذِمَّةِ الله، فَانْظُرْ يَا ابنَ آدَمَ لا يَطلُبــنَّكَ اللهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ». رواه مسلم.Dari Jundub bin Sufyan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mengerjakan shalat Shubuh, ia berada dalam jaminan Allah. Maka perhatikanlah, wahai anak Adam, jangan sampai Allah menuntutmu karena sesuatu yang berkaitan dengan jaminan-Nya.” (HR. Muslim) Kosakata Haditsذِمَّةُ اللهِ (dzimmatullah): perlindungan dan jaminan Allah.لَا يَطْلُبَنَّكَ اللهُ (la yathlubannakallah): janganlah kalian berkhianat dan jangan melakukan perbuatan buruk. Termasuk di dalamnya adalah meninggalkan shalat Shubuh berjamaah sehingga Allah menuntut kalian karena kewajiban yang telah Dia bebankan kepada kalian. Faedah haditsPertama: Shalat Shubuh ibarat kunci pembuka bagi shalat-shalat pada siang hari, bahkan menjadi pembuka bagi seluruh aktivitas sepanjang hari.Kedua: Shalat Shubuh memiliki keutamaan khusus. Siapa yang mengerjakannya akan berada dalam penjagaan dan perhatian Allah Ta’ala. Hadits #1050: Malaikat Berkumpul pada Waktu Shubuh dan Asharعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلَائِكَةٌ بِاللَّيْلِ، وَمَلَائِكَةٌ بِالنَّهَارِ، وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ وَصَلَاةِ الْعَصْرِ، ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ، فَيَسْأَلُهُمُ اللهُ، وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ: كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي؟ فَيَقُولُونَ: تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ، وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Para malaikat malam dan malaikat siang datang kepada kalian secara bergantian. Mereka berkumpul pada waktu shalat Shubuh dan shalat Ashar. Kemudian para malaikat yang bermalam bersama kalian naik ke langit. Allah bertanya kepada mereka—padahal Allah lebih mengetahui keadaan para hamba-Nya—, ‘Bagaimana keadaan hamba-hamba-Ku ketika kalian tinggalkan?’ Mereka menjawab, ‘Kami meninggalkan mereka dalam keadaan sedang shalat, dan ketika kami mendatangi mereka, mereka pun sedang shalat.’” (Muttafaqun ‘alaih, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).Kosakata Haditsيَتَعَاقَبُونَ: هَؤُلَاءِ يَنْزِلُونَ وَهَؤُلَاءِ يَصْعَدُونَ.Ya‘ni: Para malaikat datang secara bergantian; sekelompok malaikat turun, sedangkan kelompok lainnya naik. Faedah haditsPertama: Allah memuliakan orang-orang beriman. Di antara bentuk kemuliaan tersebut, Allah menugaskan para malaikat yang datang silih berganti menemui mereka pada awal dan akhir siang. Hal ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan hamba-hamba Allah yang beriman dan taat kepada-Nya.Kedua: Hadits ini menunjukkan keutamaan shalat Shubuh dan shalat Ashar. Kedua shalat ini memiliki keistimewaan karena menjadi waktu berkumpulnya malaikat malam dan malaikat siang. Hadits #1051: Melihat Allah di Surga dan Keutamaan Menjaga Shalat Subuh dan Ashar ــ وَعَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْبَجَلِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ، فَقَالَ: «إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ، لَا تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِ، فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لَا تُغْلَبُوا عَلَى صَلَاةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ، وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَةٍ: «فَنَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةَ أَرْبَعَ عَشْرَةَ».Dari Jarir bin ‘Abdillah Al-Bajali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami pernah berada bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau kemudian memandang bulan pada malam purnama, lalu bersabda, ‘Sungguh, kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini. Kalian tidak akan mengalami kesulitan untuk melihat-Nya. Karena itu, jika kalian mampu untuk tidak dikalahkan dalam menjaga shalat sebelum matahari terbit dan sebelum matahari terbenam, maka lakukanlah.’” (Muttafaq ‘alaih).Dalam riwayat lain disebutkan, “Beliau memandang bulan pada malam tanggal empat belas.” Kosakata Haditsلَا تُضَامُونَ: لَا يَلْحَقُكُمْ ضَيْمٌ، وَهُوَ الْمَشَقَّةُ وَالتَّعَبُ.Lā tudhāmmūn: Kalian tidak akan mengalami kesulitan. Maksud dhaim adalah kesulitan dan keletihan. Faedah haditsPertama: Hadits ini menetapkan bahwa orang-orang beriman akan melihat Rabb mereka secara langsung di surga. Inilah salah satu kenikmatan penghuni surga yang paling mulia dan paling agung.Kedua: Menjaga pelaksanaan shalat Subuh dan shalat Ashar termasuk sebab seseorang mendapatkan taufik untuk melihat Allah Ta‘ala di surga.Ketiga: Seorang mukmin membenarkan berita yang sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak menolaknya dengan akalnya sendiri dengan mengatakan, “Bagaimana mungkin kita dapat melihat Allah Ta‘ala?” Sikap menerima dan tunduk seperti inilah yang menjadi karakter seorang mukmin dalam menghadapi seluruh berita yang datang dari syariat. Hadits #1052: Ancaman Keras bagi Orang yang Meninggalkan Shalat Ashar ــ عَنْ بُرَيْدَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ». رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang meninggalkan shalat Ashar, sungguh amalnya telah gugur.” (HR. Bukhari). Kosakata Haditsحَبِطَ: بَطَلَ أَجْرُهُ.Habitha: Pahalanya menjadi batal. Faedah haditsPertama: Begitu agung kedudukan shalat Ashar. Shalat Ashar menjadi tolok ukur diterima atau ditolaknya suatu amal.Kedua: Siapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka pahalanya telah gugur. —- Selesai ditulis di Jogja, Kamis, 6 Rabiul Awal 1448 H, 20 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagskeutamaan shalat masuk surga menjaga shalat Riyadhus Shalihin riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail selamat dari neraka shalat ashar shalat berjamaah Shalat Lima Waktu shalat Subuh waktu shalat
Shalat Shubuh dan Ashar sering kali terasa berat karena berada pada waktu manusia sedang beristirahat atau sibuk dengan aktivitasnya. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kabar gembira yang sangat besar bagi orang yang menjaganya: masuk surga dan selamat dari neraka. Bahkan, orang yang menjaga shalat Shubuh mendapatkan jaminan dan perlindungan dari Allah Ta’ala.  Daftar Isi tutup 1. Bab 188: Keutamaan Shalat Shubuh dan Ashar 2. Hadits #1047: Menjaga Shubuh dan Ashar Menjadi Sebab Masuk Surga 3. Hadits #1048: Menjaga Shubuh dan Ashar Menjadi Sebab Selamat dari Neraka 3.1. Faedah hadits 4. Hadits #1049: Orang yang Shalat Shubuh Berada dalam Jaminan Allah 4.1. Kosakata Hadits 4.2. Faedah hadits 5. Hadits #1050: Malaikat Berkumpul pada Waktu Shubuh dan Ashar 5.1. Faedah hadits 6. Hadits #1051: Melihat Allah di Surga dan Keutamaan Menjaga Shalat Subuh dan Ashar 6.1. Kosakata Hadits 6.2. Faedah hadits 7. Hadits #1052: Ancaman Keras bagi Orang yang Meninggalkan Shalat Ashar 7.1. Kosakata Hadits 7.2. Faedah hadits  Bab 188: Keutamaan Shalat Shubuh dan AsharHadits #1047: Menjaga Shubuh dan Ashar Menjadi Sebab Masuk Surga عَنْ أبي موسىٰ رضي الله عنه أنّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: «مَن صلَّىٰ البَرْدَيْنِ دَخَلَ الجَنَّةَ». متفق عليه.البردان: الصبح والعصر.Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mengerjakan dua shalat pada waktu dingin, ia akan masuk surga.” (Muttafaq ‘alaih)Al-Bardain (dua waktu dingin) adalah shalat Shubuh dan shalat Ashar. Hadits #1048: Menjaga Shubuh dan Ashar Menjadi Sebab Selamat dari Nerakaوعن أبي زهيْرٍ عُمارَةَ بنِ رُؤَيْبةَ رضي الله عنه قالَ: سمِعْتُ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم يقولُ: «لَنْ يَلجَ النَّارَ أَحَدٌ صلَّىٰ قَبْلَ طُلوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا» يَعْني الفَجْرَ وَالعَصْرَ. رواه مسلم.Dari Abu Zuhair ‘Umarah bin Ru’aibah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk neraka seseorang yang mengerjakan shalat sebelum matahari terbit dan sebelum matahari terbenam.” (HR. Muslim)Yang dimaksud adalah shalat Shubuh dan shalat Ashar. Faedah haditsPertama: Menjaga shalat Shubuh dan Ashar merupakan sebab masuk surga dan selamat dari azab neraka. Allah Ta’ala berfirman,فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ“Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan.” (QS. Ali ‘Imran: 185)Kedua: Shalat Shubuh memiliki keutamaan khusus karena bacaan Al-Qur’an pada waktu Shubuh disaksikan oleh para malaikat. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا“Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al-Isra’: 78)Ketiga: Shalat Ashar memiliki keutamaan khusus karena disebut secara khusus. Shalat Ashar adalah ash-shalah al-wustha (shalat pertengahan) dalam firman Allah Ta’ala,حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ“Peliharalah semua shalat (fardu) dan shalat Wustha.” (QS. Al-Baqarah: 238) Hadits #1049: Orang yang Shalat Shubuh Berada dalam Jaminan Allah وعن جُنْدُبِ بن سُفْيَانَ رضي الله عنه قالَ: قالَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: «مَنْ صَلَّىٰ الصُّبْحَ فَهُوَ في ذِمَّةِ الله، فَانْظُرْ يَا ابنَ آدَمَ لا يَطلُبــنَّكَ اللهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ». رواه مسلم.Dari Jundub bin Sufyan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mengerjakan shalat Shubuh, ia berada dalam jaminan Allah. Maka perhatikanlah, wahai anak Adam, jangan sampai Allah menuntutmu karena sesuatu yang berkaitan dengan jaminan-Nya.” (HR. Muslim) Kosakata Haditsذِمَّةُ اللهِ (dzimmatullah): perlindungan dan jaminan Allah.لَا يَطْلُبَنَّكَ اللهُ (la yathlubannakallah): janganlah kalian berkhianat dan jangan melakukan perbuatan buruk. Termasuk di dalamnya adalah meninggalkan shalat Shubuh berjamaah sehingga Allah menuntut kalian karena kewajiban yang telah Dia bebankan kepada kalian. Faedah haditsPertama: Shalat Shubuh ibarat kunci pembuka bagi shalat-shalat pada siang hari, bahkan menjadi pembuka bagi seluruh aktivitas sepanjang hari.Kedua: Shalat Shubuh memiliki keutamaan khusus. Siapa yang mengerjakannya akan berada dalam penjagaan dan perhatian Allah Ta’ala. Hadits #1050: Malaikat Berkumpul pada Waktu Shubuh dan Asharعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلَائِكَةٌ بِاللَّيْلِ، وَمَلَائِكَةٌ بِالنَّهَارِ، وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ وَصَلَاةِ الْعَصْرِ، ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ، فَيَسْأَلُهُمُ اللهُ، وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ: كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي؟ فَيَقُولُونَ: تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ، وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Para malaikat malam dan malaikat siang datang kepada kalian secara bergantian. Mereka berkumpul pada waktu shalat Shubuh dan shalat Ashar. Kemudian para malaikat yang bermalam bersama kalian naik ke langit. Allah bertanya kepada mereka—padahal Allah lebih mengetahui keadaan para hamba-Nya—, ‘Bagaimana keadaan hamba-hamba-Ku ketika kalian tinggalkan?’ Mereka menjawab, ‘Kami meninggalkan mereka dalam keadaan sedang shalat, dan ketika kami mendatangi mereka, mereka pun sedang shalat.’” (Muttafaqun ‘alaih, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).Kosakata Haditsيَتَعَاقَبُونَ: هَؤُلَاءِ يَنْزِلُونَ وَهَؤُلَاءِ يَصْعَدُونَ.Ya‘ni: Para malaikat datang secara bergantian; sekelompok malaikat turun, sedangkan kelompok lainnya naik. Faedah haditsPertama: Allah memuliakan orang-orang beriman. Di antara bentuk kemuliaan tersebut, Allah menugaskan para malaikat yang datang silih berganti menemui mereka pada awal dan akhir siang. Hal ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan hamba-hamba Allah yang beriman dan taat kepada-Nya.Kedua: Hadits ini menunjukkan keutamaan shalat Shubuh dan shalat Ashar. Kedua shalat ini memiliki keistimewaan karena menjadi waktu berkumpulnya malaikat malam dan malaikat siang. Hadits #1051: Melihat Allah di Surga dan Keutamaan Menjaga Shalat Subuh dan Ashar ــ وَعَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْبَجَلِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ، فَقَالَ: «إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ، لَا تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِ، فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لَا تُغْلَبُوا عَلَى صَلَاةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ، وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَةٍ: «فَنَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةَ أَرْبَعَ عَشْرَةَ».Dari Jarir bin ‘Abdillah Al-Bajali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami pernah berada bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau kemudian memandang bulan pada malam purnama, lalu bersabda, ‘Sungguh, kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini. Kalian tidak akan mengalami kesulitan untuk melihat-Nya. Karena itu, jika kalian mampu untuk tidak dikalahkan dalam menjaga shalat sebelum matahari terbit dan sebelum matahari terbenam, maka lakukanlah.’” (Muttafaq ‘alaih).Dalam riwayat lain disebutkan, “Beliau memandang bulan pada malam tanggal empat belas.” Kosakata Haditsلَا تُضَامُونَ: لَا يَلْحَقُكُمْ ضَيْمٌ، وَهُوَ الْمَشَقَّةُ وَالتَّعَبُ.Lā tudhāmmūn: Kalian tidak akan mengalami kesulitan. Maksud dhaim adalah kesulitan dan keletihan. Faedah haditsPertama: Hadits ini menetapkan bahwa orang-orang beriman akan melihat Rabb mereka secara langsung di surga. Inilah salah satu kenikmatan penghuni surga yang paling mulia dan paling agung.Kedua: Menjaga pelaksanaan shalat Subuh dan shalat Ashar termasuk sebab seseorang mendapatkan taufik untuk melihat Allah Ta‘ala di surga.Ketiga: Seorang mukmin membenarkan berita yang sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak menolaknya dengan akalnya sendiri dengan mengatakan, “Bagaimana mungkin kita dapat melihat Allah Ta‘ala?” Sikap menerima dan tunduk seperti inilah yang menjadi karakter seorang mukmin dalam menghadapi seluruh berita yang datang dari syariat. Hadits #1052: Ancaman Keras bagi Orang yang Meninggalkan Shalat Ashar ــ عَنْ بُرَيْدَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ». رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang meninggalkan shalat Ashar, sungguh amalnya telah gugur.” (HR. Bukhari). Kosakata Haditsحَبِطَ: بَطَلَ أَجْرُهُ.Habitha: Pahalanya menjadi batal. Faedah haditsPertama: Begitu agung kedudukan shalat Ashar. Shalat Ashar menjadi tolok ukur diterima atau ditolaknya suatu amal.Kedua: Siapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka pahalanya telah gugur. —- Selesai ditulis di Jogja, Kamis, 6 Rabiul Awal 1448 H, 20 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagskeutamaan shalat masuk surga menjaga shalat Riyadhus Shalihin riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail selamat dari neraka shalat ashar shalat berjamaah Shalat Lima Waktu shalat Subuh waktu shalat


Shalat Shubuh dan Ashar sering kali terasa berat karena berada pada waktu manusia sedang beristirahat atau sibuk dengan aktivitasnya. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kabar gembira yang sangat besar bagi orang yang menjaganya: masuk surga dan selamat dari neraka. Bahkan, orang yang menjaga shalat Shubuh mendapatkan jaminan dan perlindungan dari Allah Ta’ala.  Daftar Isi tutup 1. Bab 188: Keutamaan Shalat Shubuh dan Ashar 2. Hadits #1047: Menjaga Shubuh dan Ashar Menjadi Sebab Masuk Surga 3. Hadits #1048: Menjaga Shubuh dan Ashar Menjadi Sebab Selamat dari Neraka 3.1. Faedah hadits 4. Hadits #1049: Orang yang Shalat Shubuh Berada dalam Jaminan Allah 4.1. Kosakata Hadits 4.2. Faedah hadits 5. Hadits #1050: Malaikat Berkumpul pada Waktu Shubuh dan Ashar 5.1. Faedah hadits 6. Hadits #1051: Melihat Allah di Surga dan Keutamaan Menjaga Shalat Subuh dan Ashar 6.1. Kosakata Hadits 6.2. Faedah hadits 7. Hadits #1052: Ancaman Keras bagi Orang yang Meninggalkan Shalat Ashar 7.1. Kosakata Hadits 7.2. Faedah hadits  Bab 188: Keutamaan Shalat Shubuh dan AsharHadits #1047: Menjaga Shubuh dan Ashar Menjadi Sebab Masuk Surga عَنْ أبي موسىٰ رضي الله عنه أنّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: «مَن صلَّىٰ البَرْدَيْنِ دَخَلَ الجَنَّةَ». متفق عليه.البردان: الصبح والعصر.Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mengerjakan dua shalat pada waktu dingin, ia akan masuk surga.” (Muttafaq ‘alaih)Al-Bardain (dua waktu dingin) adalah shalat Shubuh dan shalat Ashar. Hadits #1048: Menjaga Shubuh dan Ashar Menjadi Sebab Selamat dari Nerakaوعن أبي زهيْرٍ عُمارَةَ بنِ رُؤَيْبةَ رضي الله عنه قالَ: سمِعْتُ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم يقولُ: «لَنْ يَلجَ النَّارَ أَحَدٌ صلَّىٰ قَبْلَ طُلوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا» يَعْني الفَجْرَ وَالعَصْرَ. رواه مسلم.Dari Abu Zuhair ‘Umarah bin Ru’aibah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk neraka seseorang yang mengerjakan shalat sebelum matahari terbit dan sebelum matahari terbenam.” (HR. Muslim)Yang dimaksud adalah shalat Shubuh dan shalat Ashar. Faedah haditsPertama: Menjaga shalat Shubuh dan Ashar merupakan sebab masuk surga dan selamat dari azab neraka. Allah Ta’ala berfirman,فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ“Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan.” (QS. Ali ‘Imran: 185)Kedua: Shalat Shubuh memiliki keutamaan khusus karena bacaan Al-Qur’an pada waktu Shubuh disaksikan oleh para malaikat. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا“Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al-Isra’: 78)Ketiga: Shalat Ashar memiliki keutamaan khusus karena disebut secara khusus. Shalat Ashar adalah ash-shalah al-wustha (shalat pertengahan) dalam firman Allah Ta’ala,حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ“Peliharalah semua shalat (fardu) dan shalat Wustha.” (QS. Al-Baqarah: 238) Hadits #1049: Orang yang Shalat Shubuh Berada dalam Jaminan Allah وعن جُنْدُبِ بن سُفْيَانَ رضي الله عنه قالَ: قالَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: «مَنْ صَلَّىٰ الصُّبْحَ فَهُوَ في ذِمَّةِ الله، فَانْظُرْ يَا ابنَ آدَمَ لا يَطلُبــنَّكَ اللهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ». رواه مسلم.Dari Jundub bin Sufyan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mengerjakan shalat Shubuh, ia berada dalam jaminan Allah. Maka perhatikanlah, wahai anak Adam, jangan sampai Allah menuntutmu karena sesuatu yang berkaitan dengan jaminan-Nya.” (HR. Muslim) Kosakata Haditsذِمَّةُ اللهِ (dzimmatullah): perlindungan dan jaminan Allah.لَا يَطْلُبَنَّكَ اللهُ (la yathlubannakallah): janganlah kalian berkhianat dan jangan melakukan perbuatan buruk. Termasuk di dalamnya adalah meninggalkan shalat Shubuh berjamaah sehingga Allah menuntut kalian karena kewajiban yang telah Dia bebankan kepada kalian. Faedah haditsPertama: Shalat Shubuh ibarat kunci pembuka bagi shalat-shalat pada siang hari, bahkan menjadi pembuka bagi seluruh aktivitas sepanjang hari.Kedua: Shalat Shubuh memiliki keutamaan khusus. Siapa yang mengerjakannya akan berada dalam penjagaan dan perhatian Allah Ta’ala. Hadits #1050: Malaikat Berkumpul pada Waktu Shubuh dan Asharعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلَائِكَةٌ بِاللَّيْلِ، وَمَلَائِكَةٌ بِالنَّهَارِ، وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ وَصَلَاةِ الْعَصْرِ، ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ، فَيَسْأَلُهُمُ اللهُ، وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ: كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي؟ فَيَقُولُونَ: تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ، وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Para malaikat malam dan malaikat siang datang kepada kalian secara bergantian. Mereka berkumpul pada waktu shalat Shubuh dan shalat Ashar. Kemudian para malaikat yang bermalam bersama kalian naik ke langit. Allah bertanya kepada mereka—padahal Allah lebih mengetahui keadaan para hamba-Nya—, ‘Bagaimana keadaan hamba-hamba-Ku ketika kalian tinggalkan?’ Mereka menjawab, ‘Kami meninggalkan mereka dalam keadaan sedang shalat, dan ketika kami mendatangi mereka, mereka pun sedang shalat.’” (Muttafaqun ‘alaih, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).Kosakata Haditsيَتَعَاقَبُونَ: هَؤُلَاءِ يَنْزِلُونَ وَهَؤُلَاءِ يَصْعَدُونَ.Ya‘ni: Para malaikat datang secara bergantian; sekelompok malaikat turun, sedangkan kelompok lainnya naik. Faedah haditsPertama: Allah memuliakan orang-orang beriman. Di antara bentuk kemuliaan tersebut, Allah menugaskan para malaikat yang datang silih berganti menemui mereka pada awal dan akhir siang. Hal ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan hamba-hamba Allah yang beriman dan taat kepada-Nya.Kedua: Hadits ini menunjukkan keutamaan shalat Shubuh dan shalat Ashar. Kedua shalat ini memiliki keistimewaan karena menjadi waktu berkumpulnya malaikat malam dan malaikat siang. Hadits #1051: Melihat Allah di Surga dan Keutamaan Menjaga Shalat Subuh dan Ashar ــ وَعَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْبَجَلِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ، فَقَالَ: «إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ، لَا تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِ، فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لَا تُغْلَبُوا عَلَى صَلَاةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ، وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَةٍ: «فَنَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةَ أَرْبَعَ عَشْرَةَ».Dari Jarir bin ‘Abdillah Al-Bajali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami pernah berada bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau kemudian memandang bulan pada malam purnama, lalu bersabda, ‘Sungguh, kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini. Kalian tidak akan mengalami kesulitan untuk melihat-Nya. Karena itu, jika kalian mampu untuk tidak dikalahkan dalam menjaga shalat sebelum matahari terbit dan sebelum matahari terbenam, maka lakukanlah.’” (Muttafaq ‘alaih).Dalam riwayat lain disebutkan, “Beliau memandang bulan pada malam tanggal empat belas.” Kosakata Haditsلَا تُضَامُونَ: لَا يَلْحَقُكُمْ ضَيْمٌ، وَهُوَ الْمَشَقَّةُ وَالتَّعَبُ.Lā tudhāmmūn: Kalian tidak akan mengalami kesulitan. Maksud dhaim adalah kesulitan dan keletihan. Faedah haditsPertama: Hadits ini menetapkan bahwa orang-orang beriman akan melihat Rabb mereka secara langsung di surga. Inilah salah satu kenikmatan penghuni surga yang paling mulia dan paling agung.Kedua: Menjaga pelaksanaan shalat Subuh dan shalat Ashar termasuk sebab seseorang mendapatkan taufik untuk melihat Allah Ta‘ala di surga.Ketiga: Seorang mukmin membenarkan berita yang sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak menolaknya dengan akalnya sendiri dengan mengatakan, “Bagaimana mungkin kita dapat melihat Allah Ta‘ala?” Sikap menerima dan tunduk seperti inilah yang menjadi karakter seorang mukmin dalam menghadapi seluruh berita yang datang dari syariat. Hadits #1052: Ancaman Keras bagi Orang yang Meninggalkan Shalat Ashar ــ عَنْ بُرَيْدَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ». رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang meninggalkan shalat Ashar, sungguh amalnya telah gugur.” (HR. Bukhari). Kosakata Haditsحَبِطَ: بَطَلَ أَجْرُهُ.Habitha: Pahalanya menjadi batal. Faedah haditsPertama: Begitu agung kedudukan shalat Ashar. Shalat Ashar menjadi tolok ukur diterima atau ditolaknya suatu amal.Kedua: Siapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka pahalanya telah gugur. —- Selesai ditulis di Jogja, Kamis, 6 Rabiul Awal 1448 H, 20 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagskeutamaan shalat masuk surga menjaga shalat Riyadhus Shalihin riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail selamat dari neraka shalat ashar shalat berjamaah Shalat Lima Waktu shalat Subuh waktu shalat
Prev     Next