Curang dalam takaran dan timbangan mungkin terlihat sepele di mata manusia, tetapi sangat besar dosanya di sisi Allah. Surah Al-Muthaffifin dibuka dengan ancaman keras bagi orang-orang yang mengambil haknya secara penuh, namun mengurangi hak orang lain. Ayat-ayat ini mengajarkan keadilan, kejujuran, dan sikap adil bukan hanya dalam muamalah, tetapi juga dalam setiap urusan kehidupan. Daftar Isi tutup 1. Ayat Pertama – Ketiga 1.1. Contoh praktik kecurangan dalam bisnis saat ini 2. Ayat Keempat – Keenam 2.1. Beratnya Hari Kiamat 2.2. Doa yang Patut Dihafalkan agar Selamat dari Sempitnya Dunia dan Hari Kiamat 3. Ayat Ketujuh – Kedua Belas 4. Al-Fujjar dan Sijjin 5. Ayat Ketiga Belas – Kelima Belas 5.1. Raan yang Menutupi Hati 6. Ayat Keenam Belas – Ketujuh Belas 7. Melihat Allah di Akhirat adalah Nikmat paling Tinggi 8. Ayat Kedelapan Belas – Kedua Puluh Delapan 9. Al-Abrar dan ‘Illiyyin 10. Ayat Kedua Puluh Sembilan – Ketiga Puluh Dua 11. Ayat Ketiga Puluh Tiga – Ketiga Puluh Enam 12. Catatan: Perbedaan antara ‘Iliyyin dan Sijjin Ayat Pertama – KetigaAllah Ta’ala berfirman,وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang.” (QS. Al-Muthaffifin: 1)ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكْتَالُوا۟ عَلَى ٱلنَّاسِ يَسْتَوْفُونَ“(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi.” (QS. Al-Muthaffifin: 2) وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ“dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al-Muthaffifin: 3)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:“Wailun” adalah kata yang menunjukkan azab dan ancaman keras.“Lil muthoffifin” yaitu bagi orang-orang yang berbuat curang dalam takaran dan timbangan.“(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi.”Allah menjelaskan siapa yang dimaksud dengan orang-orang yang curang itu melalui firman-Nya:yaitu orang-orang yang apabila mereka mengambil takaran dari orang lain untuk hak yang menjadi milik mereka minta dipenuhi, mereka meminta dan mengambilnya secara penuh tanpa ada kekurangan sedikit pun.Sedangkan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, yakni ketika mereka harus memberikan hak orang lain yang menjadi tanggungan mereka melalui takaran atau timbangan, mereka mengurangi hak tersebut. Pengurangan itu bisa dengan menggunakan takaran atau timbangan yang kurang, atau tidak memenuhi takaran dan timbangan sebagaimana mestinya, atau dengan cara lain yang serupa.Perbuatan seperti ini termasuk mencuri harta orang lain dan tidak berlaku adil terhadap mereka.Apabila ancaman ini ditujukan kepada orang-orang yang mengurangi hak orang lain dalam takaran dan timbangan, maka orang yang merampas harta orang lain dengan paksa atau mencurinya secara terang-terangan, lebih pantas lagi mendapatkan ancaman tersebut daripada sekadar orang yang curang dalam takaran.Ayat yang mulia ini juga menunjukkan bahwa sebagaimana seseorang berhak mengambil dari orang lain apa yang menjadi haknya, maka ia juga wajib memberikan kepada orang lain seluruh hak mereka, baik dalam harta maupun dalam berbagai bentuk muamalah. Bahkan makna ini mencakup pula dalam perdebatan dan penyampaian pendapat. Sebagaimana lazimnya dua orang yang berdebat masing-masing berusaha mempertahankan dalil yang menguntungkan dirinya, maka ia juga wajib menjelaskan dalil yang menjadi hak lawannya yang mungkin belum diketahui. Ia harus menimbang dan memperhatikan dalil lawannya sebagaimana ia menimbang dalilnya sendiri. Pada titik inilah akan tampak apakah seseorang itu adil atau fanatik dan memaksakan diri, apakah ia rendah hati atau sombong, serta apakah ia berakal atau bodoh. Kita memohon kepada Allah taufik untuk meraih segala kebaikan. Contoh praktik kecurangan dalam bisnis saat ini1. Spesifikasi Tidak Sesuai IklanMenjual produk dengan klaim kualitas tertentu (misalnya bahan premium, asli, organik), padahal kenyataannya kualitas di bawah standar yang dijanjikan.2. Manipulasi Berat Bersih (Netto)Mencantumkan berat bersih 1 kg, tetapi setelah ditimbang ulang ternyata kurang dari itu. Ini termasuk bentuk pengurangan takaran modern.3. Mengurangi Kualitas JasaDalam bisnis jasa, menerima pembayaran penuh tetapi layanan tidak diberikan sesuai kesepakatan, misalnya jam kerja dikurangi atau hasil kerja tidak sesuai kontrak.4. Markup Biaya Tanpa TransparansiMenambahkan biaya tersembunyi saat pembayaran (admin fee, service charge, biaya tambahan yang tidak dijelaskan di awal).5. Memanfaatkan Ketidaktahuan KonsumenMenjual barang dengan harga jauh di atas standar pasar kepada orang yang tidak memahami harga sebenarnya.6. Kecurangan dalam Laporan KeuanganMengurangi hak mitra, investor, atau karyawan dengan memanipulasi data laba dan pembagian hasil.7. Mengurangi Hak KaryawanMeminta kinerja penuh, tetapi gaji atau hak lembur tidak dibayarkan sesuai kesepakatan. Ayat Keempat – KeenamAllah Ta’ala berfirman,أَلَا يَظُنُّ أُو۟لَٰٓئِكَ أَنَّهُم مَّبْعُوثُونَ“Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan.” (QS. Al-Muthaffifin: 4)لِيَوْمٍ عَظِيمٍ“pada suatu hari yang besar.” (QS. Al-Muthaffifin: 5)يَوْمَ يَقُومُ ٱلنَّاسُ لِرَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ“(yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?” (QS. Al-Muthaffifin: 6)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Kemudian Allah Ta’ala mengancam orang-orang yang curang dalam takaran dan timbangan. Allah juga menunjukkan keheranan terhadap keadaan mereka yang terus-menerus melakukan perbuatan itu. Allah berfirman dengan nada peringatan, “Tidakkah mereka menyangka bahwa mereka akan dibangkitkan pada hari yang sangat besar, yaitu hari ketika seluruh manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam?”Yang membuat mereka berani berbuat curang adalah karena mereka tidak beriman kepada hari akhir. Seandainya mereka benar-benar beriman dan menyadari bahwa kelak mereka akan berdiri di hadapan Allah, lalu dihisab atas segala sesuatu—baik yang kecil maupun yang besar—tentu mereka akan berhenti dari perbuatan tersebut dan segera bertobat darinya. Beratnya Hari KiamatImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam kitab tafsirnya mengenai surah Al-Muthaffifin ayat keenam.Maksudnya, pada hari itu manusia berdiri dalam keadaan tanpa alas kaki, tanpa pakaian, dan belum dikhitan, di suatu tempat yang sangat sulit, sempit, dan penuh kesusahan. Tempat itu terasa sangat berat bagi orang-orang yang berdosa. Mereka diliputi oleh kedahsyatan urusan Allah yang tidak sanggup ditanggung oleh kekuatan dan pancaindra manusia.Imam Malik meriwayatkan dari Nafi’, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang firman Allah: (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?“Hingga salah seorang dari mereka tenggelam dalam keringatnya sampai setengah telinganya.”Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari melalui jalur Malik dan Abdullah bin ‘Aun, keduanya dari Nafi’. Juga diriwayatkan oleh Muslim melalui dua jalur tersebut. Demikian pula diriwayatkan oleh Shalih, Tsabit bin Kaisan, Ayyub bin Yahya, Abdullah dan Ubaidullah—keduanya putra Umar—serta Muhammad bin Ishaq, semuanya dari Nafi’, dari Ibnu Umar.Dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan: Yazid menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Ishaq mengabarkan kepada kami dari Nafi’, dari Ibnu Umar, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang firman Allah: (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?“Karena keagungan Ar-Rahman ‘Azza wa Jalla pada hari Kiamat, hingga keringat benar-benar mengekang manusia sampai setengah telinga mereka.”Dalam hadis lain, Imam Ahmad meriwayatkan: Ibrahim bin Ishaq menceritakan kepada kami, Ibnu Al-Mubarak menceritakan kepada kami dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir, ia berkata: Sulaim bin ‘Amir menceritakan kepadaku, Al-Miqdad—yakni Ibnu Al-Aswad Al-Kindi—berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Apabila hari Kiamat terjadi, matahari didekatkan kepada para hamba hingga jaraknya sekitar satu mil atau dua mil.”Beliau bersabda, “Maka matahari itu membakar mereka, sehingga mereka tenggelam dalam keringat sesuai dengan kadar amal mereka. Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kaki, ada yang sampai kedua lutut, ada yang sampai pinggangnya, dan ada yang benar-benar dikekang oleh keringatnya.”Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim melalui jalur Al-Hakam bin Musa dari Yahya bin Hamzah, dan oleh At-Tirmidzi melalui Suwaid dari Ibnu Al-Mubarak, keduanya dari Ibnu Jabir.Dalam hadis lain, Imam Ahmad meriwayatkan dari Hasan bin Sawwar, dari Al-Laits bin Sa’d, dari Mu’awiyah bin Shalih, bahwa Abu Abdurrahman menceritakan kepadanya dari Abu Umamah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Matahari didekatkan pada hari Kiamat sejauh satu mil, dan panasnya ditambah sekian dan sekian. Binatang-binatang kecil pun mendidih karenanya sebagaimana air dalam kuali mendidih. Manusia berkeringat sesuai dengan kadar dosa mereka. Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kaki, ada yang sampai betis, ada yang sampai pertengahan tubuhnya, dan ada yang benar-benar dikekang oleh keringat.”Hadis ini diriwayatkan secara tersendiri oleh Imam Ahmad.Dalam hadis lain, Imam Ahmad meriwayatkan dari Hasan, dari Ibnu Lahi’ah, dari Abu ‘Asyanah Hayy bin Yu’min, bahwa ia mendengar ‘Uqbah bin ‘Amir berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Matahari didekatkan ke bumi, lalu manusia berkeringat. Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kaki, ada yang sampai pertengahan betis, ada yang sampai kedua lutut, ada yang sampai pantat, ada yang sampai pinggang, ada yang sampai kedua bahu, ada yang sampai pertengahan mulutnya.”Beliau memberi isyarat dengan tangannya seakan-akan menutup mulutnya. Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi isyarat seperti itu. “Dan ada pula yang keringatnya menutupi seluruh tubuhnya.” Beliau memberi isyarat dengan tangannya. Hadis ini juga diriwayatkan secara tersendiri oleh Imam Ahmad.Disebutkan pula dalam sebuah hadis bahwa mereka berdiri selama tujuh puluh tahun tanpa berbicara. Ada yang mengatakan mereka berdiri selama tiga ratus tahun. Ada pula yang mengatakan empat puluh ribu tahun. Dan diputuskan perkara di antara mereka dalam kadar sepuluh ribu tahun, sebagaimana disebutkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah secara marfu’:“Pada suatu hari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.”Ibnu Abi Hatim meriwayatkan: Ayahku menceritakan kepada kami, Abu ‘Aun Az-Ziyadi mengabarkan kepada kami, Abdur Salam bin ‘Ajlan berkata: Aku mendengar Abu Yazid Al-Madani dari Abu Hurairah berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Basyir Al-Ghifari,“Bagaimana keadaanmu pada hari ketika manusia berdiri selama tiga ratus tahun untuk Rabb seluruh alam—menurut hitungan hari dunia—tanpa datang kepada mereka kabar dari langit dan tanpa diperintahkan suatu perintah?”Basyir berkata, “Hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan.”Beliau bersabda,فَإِذَا أَوَيْتَ إِلَىٰ فِرَاشِكَ فَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ كَرْبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَسُوءِ الْحِسَابِ.“Jika engkau berbaring di tempat tidurmu, maka berlindunglah kepada Allah dari kesusahan hari Kiamat dan dari buruknya hisab.”Ibnu Jarir meriwayatkannya melalui jalur Abdur Salam.Dalam Sunan Abu Dawud disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berlindung kepada Allah dari sempitnya tempat berdiri pada hari Kiamat.Dari Ibnu Mas’ud disebutkan bahwa mereka berdiri selama empat puluh tahun dengan kepala terangkat ke langit, tidak seorang pun berbicara kepada mereka, dan keringat telah mengekang orang baik maupun orang jahat.Dari Ibnu Umar disebutkan bahwa mereka berdiri selama seratus tahun. Keduanya diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.Dalam Sunan Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah, melalui hadis Zaid bin Al-Hubab dari Mu’awiyah bin Shalih, dari Azhar bin Sa’id Al-Hawari, dari ‘Ashim bin Humaid, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka qiyamullail dengan bertakbir sepuluh kali, memuji sepuluh kali, bertasbih sepuluh kali, dan beristighfar sepuluh kali. Beliau juga berdoa,اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَاهْدِنِي، وَارْزُقْنِي، وَعَافِنِي، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ ضِيقِ الْمَقَامِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.ALLĀHUMMAGHFIR LĪ, WAHDINĪ, WARZUQNĪ, WA ‘ĀFINĪ, WA A‘ŪDZU BIKA MIN ḌHĪQIL-MAQĀMI YAUMAL-QIYĀMAH.“Ya Allah, ampunilah aku, berilah aku petunjuk, berilah aku rezeki, dan sehatkanlah aku.” Doa yang Patut Dihafalkan agar Selamat dari Sempitnya Dunia dan Hari KiamatAisyah radhiyallahu ‘anha mengabarkan tentang qiyamullail Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan doa pembuka shalat beliau (doa iftitah) dengan doa dan zikir tersebut. Ia berkata:“Beliau bertakbir sepuluh kali, bertasbih sepuluh kali, dan beristighfar sepuluh kali.”Kemudian ia menyebutkan doa tersebut.Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau berdoa:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ ضِيقِ الدُّنْيَا، وَضِيقِ الْقِيَامَةِALLĀHUMMA INNII A‘ŪDZU BIKA MIN DHIIQID-DUNYĀ, WA DHIIQIL-QIYĀMAH.“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesempitan dunia dan kesempitan pada hari Kiamat.”(Diriwayatkan oleh Abu Dauud dalam Sunan-nya, Kitab Al-Adab, Bab “Doa yang Dibaca Ketika Pagi Hari”, no. 5087; An-Nasa’i dalam Al-Kubra, Kitab Shalat ‘Idain, Bab Khutbah Hari Raya, no. 10623; juga dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah karya Ibnu As-Sunni, no. 759. Hadis ini dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah, no. 1356). Ayat Ketujuh – Kedua BelasAllah Ta’ala berfirman,كَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلْفُجَّارِ لَفِى سِجِّينٍ“Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin.” (QS. Al-Muthaffifin: 7)وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا سِجِّينٌ“Tahukah kamu apakah sijjin itu?” (QS. Al-Muthaffifin: 8)كِتَٰبٌ مَّرْقُومٌ“(Ialah) kitab yang bertulis.” (QS. Al-Muthaffifin: 9)وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِّلْمُكَذِّبِينَ“Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” (QS. Al-Muthaffifin: 10)ٱلَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوْمِ ٱلدِّينِ“(yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.” (QS. Al-Muthaffifin: 11)وَمَا يُكَذِّبُ بِهِۦٓ إِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ“Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa.” (QS. Al-Muthaffifin: 12)Syaikh As-Sa’di menjelaskan:Maksudnya, kitab yang di dalamnya tertulis seluruh amal buruk mereka. Sijjīn adalah tempat yang sempit lagi menghimpit. Sijjīn merupakan kebalikan dari ‘Illiyyīn, yaitu tempat catatan amal orang-orang yang berbakti, sebagaimana akan dijelaskan nanti.Sebagian ulama mengatakan bahwa Sijjīn adalah lapisan bumi yang paling bawah, tempat tinggal orang-orang durhaka dan tempat menetap mereka kelak di akhirat.(Yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.Kemudian Allah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan para pendusta itu adalah orang-orang yang mendustakan hari pembalasan, yaitu hari ketika Allah membalas manusia atas seluruh amal perbuatan mereka.“Dan tidak ada yang mendustakannya kecuali setiap orang yang melampaui batas lagi banyak berbuat dosa.”Yakni orang yang melanggar batas-batas yang telah ditetapkan Allah, berpindah dari yang halal kepada yang haram. Ia adalah orang yang banyak berbuat dosa. Sikap melampaui batas itulah yang mendorongnya untuk mendustakan, dan kesombongannya membuatnya menolak kebenaran.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat kedua belas:Maksudnya, ia adalah orang yang melampaui batas dalam perbuatannya: berani melakukan yang haram dan berlebihan dalam menikmati hal-hal yang sebenarnya mubah.Ia juga seorang yang banyak berdosa dalam ucapannya. Jika berbicara, ia berdusta. Jika berjanji, ia mengingkari. Dan jika berselisih atau bertengkar, ia berlaku curang dan melampaui batas. Al-Fujjar dan SijjinImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai Fujjar (Fajir) dan Sijjin sebagai berikut.Allah Ta’ala menegaskan dengan sebenar-benarnya bahwa catatan amal orang-orang durhaka berada di dalam Sijjīn, yaitu tempat yang menjadi tujuan dan tempat kembali mereka. Kata Sijjīn berasal dari kata sijn yang berarti penjara atau tempat yang sempit. Bentuk katanya menunjukkan makna yang sangat kuat, sebagaimana ungkapan dalam bahasa Arab seperti fasiq, syarīb, khamīr, atau sakīr yang menunjukkan sifat yang sangat melekat.Allah kemudian membesarkan perkara ini dengan firman-Nya: “Tahukah kamu apakah Sijjīn itu?” Maksudnya, Sijjīn adalah perkara yang sangat besar, sebuah penjara yang terus-menerus dan azab yang sangat pedih.Sebagian ulama mengatakan bahwa Sijjīn berada di bawah bumi yang ketujuh. Hal ini disebutkan dalam hadis panjang dari Al-Bara’ bin ‘Azib tentang keadaan ruh orang kafir. Dalam hadis itu Allah berfirman tentang ruh orang kafir:“Catatlah kitabnya di dalam Sijjīn.”Disebutkan pula bahwa Sijjīn berada di bawah bumi yang ketujuh. Ada pula yang mengatakan bahwa Sijjīn adalah sebuah batu besar di bawah bumi ketujuh, ada juga yang mengatakan bahwa ia adalah sebuah sumur di dalam neraka Jahannam.Ibnu Jarir meriwayatkan sebuah hadis tentang hal ini, namun hadis tersebut dinilai gharib dan munkar serta tidak sahih. Dalam riwayat itu disebutkan:“Al-Falaq adalah sebuah sumur di neraka Jahannam yang tertutup, sedangkan Sijjīn adalah sumur yang terbuka.”Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa Sijjīn berasal dari kata penjara yang berarti sempit. Hal ini karena semua makhluk yang berada di tempat yang lebih rendah akan semakin sempit ruangnya, sedangkan yang berada di tempat yang lebih tinggi akan semakin luas.Langit yang tujuh masing-masing lebih luas dan lebih tinggi daripada yang di bawahnya. Demikian pula bumi yang berlapis-lapis, setiap lapisan lebih luas daripada yang berada di bawahnya, hingga akhirnya mencapai tempat yang paling rendah dan paling sempit, yaitu pusat bumi di lapisan bumi yang ketujuh.Karena tempat kembali orang-orang durhaka adalah neraka Jahannam yang berada pada tingkatan paling rendah, sebagaimana firman Allah:ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ • إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh.” (QS. At-Tin: 5–6)Maka Allah berfirman di sini:كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ • وَمَا أَدْرَاكَ مَا سِجِّينٌSijjīn mengandung makna kesempitan dan kerendahan, sebagaimana firman Allah:وَإِذَا أُلْقُوا مِنْهَا مَكَانًا ضَيِّقًا مُقَرَّنِينَ دَعَوْا هُنَالِكَ ثُبُورًا“Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan tangan terbelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan.” (QS. Al-Furqan: 13)“(Yaitu) kitab yang tertulis.” (QS. Al-Muthaffifin: 9)Firman Allah “kitab yang tertulis” bukanlah penjelasan dari ayat “Tahukah kamu apakah Sijjīn itu?”, melainkan penjelasan tentang catatan amal mereka yang telah ditetapkan menuju Sijjīn.Artinya, catatan itu telah tertulis dan ditetapkan dengan pasti, tidak akan bertambah dan tidak pula berkurang. Demikian penjelasan dari Muhammad bin Ka‘b Al-Qurazhi.“Maka kecelakaan besar pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” (QS. Al-Muthaffifin: 10)Artinya, kebinasaan dan kehancuran pada hari kiamat bagi orang-orang yang mendustakan, ketika mereka benar-benar sampai kepada ancaman Allah berupa penjara dan azab yang menghinakan.Makna kata “wail” sebelumnya telah dijelaskan sebagai kebinasaan dan kehancuran, sebagaimana dalam ungkapan bahasa Arab: “Celaka bagi si fulan.”Demikian pula disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan dalam Musnad dan Sunan, dari Bahz bin Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ النَّاسَ، وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ“Celakalah orang yang berbicara lalu berdusta agar membuat manusia tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” Ayat Ketiga Belas – Kelima BelasAllah Ta’ala berfirman,إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ ءَايَٰتُنَا قَالَ أَسَٰطِيرُ ٱلْأَوَّلِينَ“yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu.” (QS. Al-Muthaffifin: 13)كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14)كَلَّآ إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari Tuhan mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 15)Syaikh As-Sa’di menjelaskan:Karena itulah, ketika “yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami”, — yakni ayat-ayat Kami yang menunjukkan kebenaran dan membuktikan kejujuran ajaran yang dibawa para rasul — dibacakan kepadanya, ia justru mendustakannya dan bersikap keras kepala.Ia berkata, itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu yakni ini hanyalah dongeng dan omong kosong orang-orang terdahulu, sekadar cerita umat-umat masa lampau. Ia menganggapnya bukan berasal dari Allah, semua itu diucapkannya karena kesombongan dan sikap membangkang terhadap kebenaran.Adapun orang yang bersikap adil dan jujur dalam menilai, serta tujuannya benar-benar mencari kebenaran yang nyata, maka ia tidak akan mendustakan Hari Pembalasan. Sebab Allah telah menegakkan baginya dalil-dalil yang tegas dan bukti-bukti yang terang, yang menjadikan kebenaran itu sebagai sesuatu yang pasti tanpa keraguan.Kebenaran itu bagi hati mereka laksana matahari bagi penglihatan: begitu jelas dan tak terbantahkan.Berbeda dengan orang yang hatinya telah tertutup oleh dosa-dosa yang ia lakukan, dan kemaksiatan telah menyelimutinya, sehingga kebenaran pun tidak lagi tampak jelas baginya.Karena itu, ia terhalang dari kebenaran. Sebagai balasan atas keadaan tersebut, ia pun dihalangi dari (melihat) Allah. Hal itu sebagaimana dahulu hatinya di dunia telah terhalang dari ayat-ayat Allah. Raan yang Menutupi HatiImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, apabila orang tersebut mendengar firman Allah yang disampaikan oleh Rasul, ia justru mendustakannya. Ia berprasangka buruk terhadap Al-Qur’an dan meyakini bahwa kitab itu hanyalah karangan yang dibuat-buat, yang dikumpulkan dari kisah-kisah dan catatan orang-orang zaman dahulu.Sebagaimana firman Allah Ta’ala:﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ قَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ﴾“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhan kalian?’ Mereka menjawab, ‘Dongeng orang-orang terdahulu.’” (QS. An-Nahl: 24)Dan firman-Nya:﴿وَقَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلَىٰ عَلَيْهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا﴾“Dan mereka berkata, ‘(Al-Qur’an itu hanyalah) dongeng orang-orang terdahulu yang dimintanya untuk dituliskan, lalu dibacakan kepadanya setiap pagi dan petang.’” (QS. Al-Furqan: 5)Demikianlah sikap orang-orang kafir: ketika kebenaran dibacakan kepada mereka, mereka menolaknya dan menuduhnya sebagai cerita rekaan dari masa lampau.Firman Allah Ta’ala:﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾Artinya: “Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”Maksudnya, tidaklah benar seperti yang mereka sangkakan dan ucapkan, bahwa Al-Qur’an itu hanyalah dongeng orang-orang terdahulu. Bahkan Al-Qur’an adalah firman Allah, wahyu-Nya, dan kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya ﷺ.Akan tetapi, yang menghalangi hati mereka untuk beriman kepadanya adalah ran (karat/penutup) yang menyelimuti hati mereka akibat banyaknya dosa dan kesalahan yang mereka lakukan. Karena itulah Allah berfirman: Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.Adapun ran itu menimpa hati orang-orang kafir. Sedangkan bagi orang-orang saleh (al-abrar) ada ghaim (awan tipis), dan bagi orang-orang yang didekatkan kepada Allah (al-muqarrabin) ada ghain (selubung yang lebih ringan lagi).Telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari, Imam Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah melalui beberapa jalur, dari Muhammad bin ‘Ajlan, dari Al-Qa‘qa‘ bin Hakim, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:«إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَذْنَبَ ذَنْبًا كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ مِنْهَا صُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ زَادَ زَادَتْ، فَذَلِكَ قَوْلُ اللَّهِ: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾»Artinya: “Sesungguhnya seorang hamba apabila berbuat dosa, akan muncul satu titik hitam di dalam hatinya. Jika ia bertobat darinya, maka hatinya akan dibersihkan. Namun jika ia menambah (dosa), maka titik itu pun bertambah. Itulah yang dimaksud dengan firman Allah: ‘Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.’”Imam Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan sahih.”Dalam riwayat An-Nasa’i disebutkan:«إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ، فَإِنْ هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ صُقِلَ قَلْبُهُ، فَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، فَهُوَ الرَّانُ الَّذِي قَالَ اللَّهُ: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾»Artinya: “Sesungguhnya seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, akan ditorehkan satu titik pada hatinya. Jika ia berhenti, memohon ampun, dan bertobat, maka hatinya akan dibersihkan. Namun jika ia kembali (berbuat dosa), maka titik itu akan ditambah hingga menutupi hatinya. Itulah ran yang disebutkan Allah dalam firman-Nya.”Demikian pula diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dengan lafaz:«إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ، فَإِنْ زَادَ زَادَتْ حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَذَاكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ فِي الْقُرْآنِ: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾»Artinya: “Sesungguhnya seorang mukmin apabila berbuat dosa, akan muncul satu titik hitam di dalam hatinya. Jika ia bertobat, berhenti, dan memohon ampun, maka hatinya akan dibersihkan. Namun jika ia menambah (dosa), maka titik itu bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah ran yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an.”Hasan al-Basri berkata, “Ia adalah dosa di atas dosa, hingga hati menjadi buta lalu mati.”Demikian pula dikatakan oleh Mujahid bin Jabr, Qatadah ibn Di’ama, Ibnu Zaid, dan selain mereka. Ayat Keenam Belas – Ketujuh BelasAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ إِنَّهُمْ لَصَالُوا۟ ٱلْجَحِيمِ“Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka.” (QS. Al-Muthaffifin: 16)ثُمَّ يُقَالُ هَٰذَا ٱلَّذِى كُنتُم بِهِۦ تُكَذِّبُونَ“Kemudian, dikatakan (kepada mereka): “Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan”.” (QS. Al-Muthaffifin: 17) Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Kemudian Allah berfirman,“Kemudian sesungguhnya mereka benar-benar akan masuk ke dalam neraka yang menyala-nyala.”Lalu dikatakan kepada mereka sebagai bentuk celaan dan teguran keras,“Inilah (azab) yang dahulu kalian dustakan.”Dalam ayat ini disebutkan tiga macam azab bagi mereka:Azab neraka Jahim.Azab berupa celaan dan teguran keras.Azab berupa terhalangnya mereka dari (melihat) Rabb semesta alam.Azab berupa terhalang dari Allah ini mengandung makna kemurkaan dan kemarahan-Nya kepada mereka. Azab ini bahkan lebih berat bagi mereka daripada azab api neraka.Sebaliknya, mafhum dari ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang beriman akan melihat Rabb mereka pada hari kiamat dan di surga. Mereka akan merasakan kenikmatan memandang-Nya yang jauh lebih agung daripada seluruh kenikmatan lainnya. Mereka bergembira dengan pembicaraan-Nya dan bersuka cita karena kedekatan dengan-Nya. Hal ini telah disebutkan oleh Allah dalam banyak ayat Al-Qur’an dan diriwayatkan secara mutawatir dari Rasulullah ﷺ.Dalam ayat-ayat ini juga terdapat peringatan keras agar menjauhi dosa. Sebab dosa-dosa itu menimbulkan karat pada hati dan menutupinya sedikit demi sedikit, hingga cahaya hati itu padam dan penglihatannya mati. Akibatnya, hakikat menjadi terbalik: kebatilan terlihat sebagai kebenaran, dan kebenaran tampak sebagai kebatilan. Ini merupakan salah satu bentuk hukuman akibat dosa.Baca juga: Syarhus Sunnah: Terhalang dari Melihat Wajah Allah Melihat Allah di Akhirat adalah Nikmat paling TinggiAllah Ta’ala juga berfirman:لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ“Bagi orang-orang yang berbuat baik, mereka mendapatkan kebaikan (surga) dan tambahan.” (QS. Yunus: 26)Yang dimaksud al-ḥusnā adalah surga, sedangkan tambahan adalah melihat wajah Allah Yang Mahamulia. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Nabi ﷺ dalam sabdanya:“Apabila penghuni surga telah masuk ke dalam surga, Allah Tabāraka wa Ta‘ālā berfirman:‘Apakah kalian menginginkan sesuatu lagi agar Aku tambahkan kepada kalian?’Mereka menjawab:‘Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami, memasukkan kami ke dalam surga, dan menyelamatkan kami dari neraka?’Kemudian Allah membuka hijab-Nya. Maka tidak ada sesuatu yang diberikan kepada mereka yang lebih mereka cintai daripada memandang Rabb mereka ‘Azza wa Jalla.”Kemudian Rasulullah ﷺ membaca ayat:لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ“Bagi orang-orang yang berbuat baik, mereka mendapatkan kebaikan (surga) dan tambahan.”Dalam riwayat Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari Jarīr bin ‘Abdillāh Al-Bajalī radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:“Kami pernah duduk bersama Nabi ﷺ. Beliau melihat bulan pada malam keempat belas (bulan purnama), lalu beliau bersabda:‘Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian dengan jelas sebagaimana kalian melihat bulan ini. Kalian tidak akan saling berdesakan dalam melihat-Nya.’”Dalam Shahih Bukhari dan Muslim juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu bahwa beberapa orang bertanya kepada Rasulullah ﷺ:“Wahai Rasulullah, apakah kami akan melihat Rabb kami pada hari kiamat?”Beliau menjawab:“Apakah kalian saling berdesakan ketika melihat bulan pada malam purnama?”Mereka menjawab:“Tidak, wahai Rasulullah.”Beliau bertanya lagi:“Apakah kalian saling berdesakan ketika melihat matahari yang tidak tertutup awan?”Mereka menjawab:“Tidak, wahai Rasulullah.”Beliau bersabda:“Demikian pula kalian akan melihat-Nya.”Maksudnya, kalian akan melihat-Nya dengan penglihatan yang nyata tanpa kesulitan dan tanpa saling berdesakan.Selain itu masih banyak lagi hadits-hadits sahih tentang hal ini yang diriwayatkan oleh lebih dari dua puluh orang sahabat. Hadits-hadits tersebut mencapai derajat mutawatir, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama.Adapun melihat Allah di dunia, maka secara akal hal itu mungkin saja terjadi, tetapi secara syariat tidak terjadi. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ ketika memperingatkan tentang Dajjal:“Ketahuilah bahwa tidak seorang pun dari kalian akan melihat Rabbnya hingga ia meninggal dunia. Dan di antara kedua mata Dajjal tertulis huruf ك ف ر yang dapat dibaca oleh setiap orang yang membenci amalnya.” (HR. Tirmidzi, dan beliau berkata: hadits ini hasan sahih)Dalam masalah ini tidak ada perselisihan di kalangan Ahlus Sunnah, kecuali riwayat dari Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhumā yang menyatakan bahwa Nabi ﷺ melihat Rabbnya pada malam Mi‘raj. Namun pendapat yang lebih kuat adalah bahwa Nabi ﷺ melihat cahaya, yaitu hijab-Nya.Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dari Abu Dzarr radhiyallāhu ‘anhu. Ia berkata:“Aku pernah bertanya kepada Nabi ﷺ tentang apakah beliau melihat Rabbnya. Beliau menjawab:‘Aku melihat cahaya.’”Dalam riwayat lain dalam Shahih Muslim, Abu Dzarr berkata:“Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ: ‘Apakah engkau melihat Rabbmu?’Beliau menjawab:‘Cahaya, bagaimana mungkin aku dapat melihat-Nya!’”Bahwa cahaya itu merupakan hijab juga dijelaskan dalam sabda Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:“Sesungguhnya Allah tidak tidur dan tidak pantas bagi-Nya untuk tidur. Dia menurunkan timbangan dan mengangkatnya. Amal malam diangkat kepada-Nya sebelum amal siang, dan amal siang sebelum amal malam. Hijab-Nya adalah cahaya. Seandainya hijab itu dibuka, niscaya sinar wajah-Nya akan membakar segala sesuatu yang dijangkau oleh pandangan-Nya dari makhluk-Nya.”Yang dimaksud subuḥāt wajah-Nya adalah cahaya, keagungan, dan keindahan-Nya.Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam syarahnya atas Shahih Muslim:“Ketahuilah bahwa mazhab Ahlus Sunnah secara keseluruhan menyatakan bahwa melihat Allah Ta’ala itu mungkin dan tidak mustahil secara akal. Mereka juga sepakat bahwa hal itu benar-benar terjadi di akhirat, dan bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah Ta’ala, sedangkan orang-orang kafir tidak.Sebaliknya, sebagian kelompok ahli bid‘ah seperti Mu‘tazilah, Khawarij, dan sebagian Murji’ah berpendapat bahwa tidak seorang pun dari makhluk dapat melihat Allah, dan bahwa melihat-Nya mustahil secara akal. Pendapat mereka ini merupakan kesalahan yang nyata dan kebodohan yang buruk.Dalil-dalil dari Al-Qur’an, Sunnah, serta ijmak para sahabat dan generasi setelah mereka dari kalangan salaf umat ini telah sangat jelas menunjukkan bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah Ta’ala di akhirat. Riwayat tentang hal ini datang dari sekitar dua puluh sahabat Nabi ﷺ, dan ayat-ayat Al-Qur’an tentangnya juga sangat terkenal.Adapun berbagai keberatan yang diajukan oleh kelompok ahli bid‘ah, semuanya telah dijawab secara jelas dalam kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah.Adapun melihat Allah Ta’ala di dunia, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, hal itu secara akal mungkin, tetapi mayoritas ulama salaf dan khalaf berpendapat bahwa hal tersebut tidak terjadi di dunia.”Selesai perkataan Imam An-Nawawi rahimahullah.Referensi: Fatwa Islamweb Ayat Kedelapan Belas – Kedua Puluh DelapanAllah Ta’ala berfirman,كَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلْأَبْرَارِ لَفِى عِلِّيِّينَ“Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam ‘Illiyyin.” (QS. Al-Muthaffifin: 18)وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا عِلِّيُّونَ“Tahukah kamu apakah ‘Illiyyin itu?” (QS. Al-Muthaffifin: 19)كِتَٰبٌ مَّرْقُومٌ“(Yaitu) kitab yang bertulis.” (QS. Al-Muthaffifin: 20)يَشْهَدُهُ ٱلْمُقَرَّبُونَ“yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan (kepada Allah).” (QS. Al-Muthaffifin: 21)إِنَّ ٱلْأَبْرَارَ لَفِى نَعِيمٍ“Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (surga).” (QS. Al-Muthaffifin: 22)عَلَى ٱلْأَرَآئِكِ يَنظُرُونَ“mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang.” (QS. Al-Muthaffifin: 23)تَعْرِفُ فِى وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ ٱلنَّعِيمِ“Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh kenikmatan.” (QS. Al-Muthaffifin: 24)يُسْقَوْنَ مِن رَّحِيقٍ مَّخْتُومٍ“Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya).” (QS. Al-Muthaffifin: 25)خِتَٰمُهُۥ مِسْكٌ ۚ وَفِى ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ ٱلْمُتَنَٰفِسُونَ“laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin: 26)وَمِزَاجُهُۥ مِن تَسْنِيمٍ“Dan campuran khamar murni itu adalah dari tasnim.” (QS. Al-Muthaffifin: 27)عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا ٱلْمُقَرَّبُونَ“(yaitu) mata air yang minum daripadanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah.” (QS. Al-Muthaffifin: 28) Al-Abrar dan ‘IlliyyinImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Yang dimaksud al-abrār adalah orang-orang yang saleh, yang keadaannya berbeda dengan orang-orang yang durhaka (fujjar). Catatan amal mereka berada di ‘Illiyyīn, sebagai kebalikan dari Sijjīn yang menjadi tempat bagi orang-orang durhaka.Al-A‘masy meriwayatkan dari Syamr bin ‘Athiyyah, dari Hilal bin Yasaf, ia berkata:Ibnu ‘Abbas pernah bertanya kepada Ka‘b, sementara aku hadir di situ, tentang Sijjīn. Ka‘b menjawab:“Sijjīn adalah bumi ketujuh, dan di dalamnya terdapat ruh orang-orang kafir.”Ibnu ‘Abbas juga bertanya kepadanya tentang ‘Illiyyīn. Ia menjawab:“‘Illiyyīn adalah langit ketujuh, dan di dalamnya terdapat ruh orang-orang beriman.”Demikian pula dikatakan oleh sejumlah ulama lainnya bahwa ‘Illiyyīn berada di langit ketujuh.Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah:Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam ‘IlliyyinBeliau berkata:“Maksudnya adalah surga.”Dalam riwayat Al-‘Aufi dari Ibnu ‘Abbas disebutkan bahwa maksudnya adalah amal-amal mereka berada di langit di sisi Allah. Demikian pula pendapat yang disampaikan oleh Adh-Dhahhak.Qatadah berkata:“‘Illiyyūn adalah sisi kanan ‘Arsy.”Sementara ulama lain mengatakan bahwa ‘Illiyyūn berada di dekat Sidhratul Muntaha.Pendapat yang paling jelas adalah bahwa kata ‘Illiyyīn berasal dari kata al-‘uluww (ketinggian). Setiap sesuatu yang semakin tinggi dan semakin terangkat, maka semakin besar dan semakin luas kedudukannya. Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Ketika Allah menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang durhaka (al-fujjār) berada di tempat yang paling bawah, paling sempit, dan paling rendah, maka Allah juga menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang yang berbakti (al-abrār) berada di tempat yang paling tinggi, paling luas, dan paling lapang.Dan catatan amal mereka yang tertulis itu disaksikan oleh orang-orang yang didekatkan kepada Allah (al-muqorrobun). Yang dimaksud dengan mereka adalah para malaikat yang mulia, serta ruh para nabi, orang-orang yang sangat jujur dalam iman (ṣiddīqīn), dan para syuhada. Allah menyebut dan memuliakan mereka di hadapan penduduk langit yang tinggi.Adapun ‘Illiyyūn adalah nama bagi tingkatan surga yang paling tinggi.Setelah Allah menyebutkan catatan amal mereka, Allah kemudian menjelaskan bahwa mereka berada dalam kenikmatan. Kata ini merupakan istilah yang mencakup seluruh kenikmatan hati, ruh, dan tubuh.Mereka berada di atas dipan-dipan yang indah.عَلَى الْأَرَائِكِYaitu di atas tempat duduk atau dipan yang dihiasi dengan hamparan dan perhiasan yang indah.يُنْظَرُونَMereka memandang berbagai kenikmatan yang telah Allah siapkan untuk mereka, dan mereka juga memandang wajah Rabb mereka Yang Mahamulia.Allah berfirman:تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ“Engkau dapat melihat pada wajah mereka cahaya kenikmatan.”Artinya, tampak pada wajah mereka keindahan, kesegaran, dan kemilau kenikmatan. Sebab kenikmatan dan kegembiraan yang terus-menerus akan memancarkan cahaya, keindahan, dan keceriaan pada wajah mereka.Mereka diberi minum dari minuman yang sangat murni.يُسْقَوْنَ مِنْ رَحِيقٍ مَخْتُومٍYaitu minuman yang termasuk yang paling baik dan paling lezat di antara berbagai minuman.Minuman itu tertutup rapat.خِتَامُهُ مِسْكٌPenutupnya adalah kasturi. Maksudnya bisa dua kemungkinan:Pertama, minuman itu tertutup rapat sehingga tidak tercampuri sesuatu pun yang dapat mengurangi kenikmatannya atau merusak rasanya. Penutup yang digunakan untuk menutupnya adalah kasturi.Kedua, maksudnya adalah bahwa bagian terakhir dari minuman dalam bejana yang mereka minum memiliki endapan berupa kasturi yang sangat harum. Padahal biasanya dalam kebiasaan di dunia, endapan seperti itu dibuang. Namun di surga justru menjadi sesuatu yang sangat berharga.Tentang kenikmatan yang agung ini Allah berfirman:وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang-orang berlomba-lomba.”Artinya, hendaklah manusia berlomba-lomba untuk meraihnya dengan amal-amal yang dapat mengantarkan kepada kenikmatan tersebut. Inilah sesuatu yang paling pantas diperebutkan oleh jiwa-jiwa yang mulia dan paling layak menjadi tujuan perlombaan orang-orang yang bersungguh-sungguh.Campuran minuman tersebut berasal dari Tasnīm.Tasnīm adalah sebuah mata air di surga.عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُونَ“Mata air yang darinya diminum oleh orang-orang yang didekatkan kepada Allah.”Minuman dari Tasnīm ini diminum secara murni oleh orang-orang yang didekatkan kepada Allah (al-muqorrobun). Ia merupakan minuman paling tinggi dan paling mulia di surga. Karena itu minuman ini khusus bagi mereka yang memiliki kedudukan tertinggi di antara makhluk.Adapun bagi ashḥābul yamīn (golongan kanan), minuman tersebut diberikan dalam keadaan dicampur dengan rahiq dan minuman-minuman lezat lainnya. Ayat Kedua Puluh Sembilan – Ketiga Puluh DuaAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱلَّذِينَ أَجْرَمُوا۟ كَانُوا۟ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ يَضْحَكُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Muthaffifin: 29)وَإِذَا مَرُّوا۟ بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ“Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya.” (QS. Al-Muthaffifin: 30)وَإِذَا ٱنقَلَبُوٓا۟ إِلَىٰٓ أَهْلِهِمُ ٱنقَلَبُوا۟ فَكِهِينَ“Dan apabila orang-orang yang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira.” (QS. Al-Muthaffifin: 31)وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوٓا۟ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ لَضَآلُّونَ“Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”.” (QS. Al-Muthaffifin: 32)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:Ketika Allah menyebutkan balasan bagi orang-orang berdosa dan balasan bagi orang-orang beriman, serta menjelaskan perbedaan yang sangat besar di antara keduanya, Allah juga mengabarkan bahwa dahulu di dunia orang-orang berdosa selalu memperolok kaum mukmin. Mereka mengejek, menghina, dan menertawakan orang-orang beriman.Mereka saling memberi isyarat dengan mata ketika melewati kaum mukmin, sebagai bentuk penghinaan dan pelecehan terhadap mereka. Namun anehnya, meskipun berbuat demikian, mereka hidup dengan perasaan aman dan tenang, seakan-akan tidak ada sedikit pun rasa takut dalam hati mereka.Apabila mereka pulang kepada keluarga mereka—baik pada pagi maupun petang—mereka pulang dalam keadaan senang, gembira, dan merasa bangga dengan perbuatan mereka.Inilah salah satu bentuk kesombongan dan tipu daya yang paling besar. Mereka melakukan keburukan yang sangat parah, tetapi pada saat yang sama merasa aman dan tenteram di dunia. Seolah-olah mereka telah mendapatkan jaminan dan janji dari Allah bahwa mereka termasuk orang-orang yang berbahagia.Bahkan mereka berani memutuskan bahwa diri mereka berada di atas petunjuk, sementara orang-orang beriman dianggap sebagai orang-orang yang sesat. Ini merupakan kedustaan terhadap Allah dan keberanian berbicara tentang-Nya tanpa ilmu. Ayat Ketiga Puluh Tiga – Ketiga Puluh EnamAllah Ta’ala berfirman,وَمَآ أُرْسِلُوا۟ عَلَيْهِمْ حَٰفِظِينَ“padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin.” (QS. Al-Muthaffifin: 33)فَٱلْيَوْمَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنَ ٱلْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ“Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir.” (QS. Al-Muthaffifin: 34)عَلَى ٱلْأَرَآئِكِ يَنظُرُونَ“mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang.” (QS. Al-Muthaffifin: 35)هَلْ ثُوِّبَ ٱلْكُفَّارُ مَا كَانُوا۟ يَفْعَلُونَ“Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Al-Muthaffifin: 36)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:“Padahal mereka tidak diutus sebagai penjaga atas orang-orang beriman.” Maksudnya, orang-orang kafir itu tidak diutus sebagai pengawas bagi kaum mukmin dan tidak pula ditugaskan untuk menjaga atau mencatat amal mereka. Lalu mengapa mereka begitu sibuk menuduh orang-orang beriman sebagai orang yang sesat? Sikap mereka itu hanyalah bentuk keras kepala, permusuhan, dan permainan yang tidak memiliki dasar ataupun bukti.“Maka pada hari ini orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir.” Karena itu, balasan mereka di akhirat sesuai dengan perbuatan mereka di dunia. Allah berfirman: “Pada hari ini”, yaitu pada hari kiamat, orang-orang beriman akan menertawakan orang-orang kafir ketika melihat mereka tenggelam dalam berbagai azab. Semua kedustaan dan anggapan yang dahulu mereka buat pun lenyap, sementara orang-orang beriman berada dalam ketenangan dan kebahagiaan yang sempurna.“Mereka duduk di atas dipan-dipan sambil memandang.”Mereka berada di atas dipan-dipan yang dihiasi dengan indah, menikmati berbagai kenikmatan yang telah Allah siapkan untuk mereka. Mereka juga memandang kepada Rabb mereka Yang Maha Mulia.“Bukankah orang-orang kafir telah diberi balasan terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan?”Artinya, apakah mereka telah dibalas sesuai dengan perbuatan mereka? Ya, mereka telah dibalas dengan balasan yang setimpal. Dahulu di dunia mereka menertawakan orang-orang beriman dan menuduh mereka sesat. Maka di akhirat orang-orang beriman menertawakan mereka dan menyaksikan mereka berada dalam azab dan hukuman sebagai akibat dari kesesatan dan penyimpangan mereka.Itulah balasan yang adil dari Allah dan merupakan bagian dari hikmah-Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Catatan: Perbedaan antara ‘Iliyyin dan SijjinAspek‘IlliyyīnSijjīnPenyebutan dalam surahQS. Al-Muthaffifin: 18–21QS. Al-Muthaffifin: 7–9Siapa yang dicatat di sanaKitab al-abrār: catatan amal orang-orang yang berbakti, saleh, dan taatKitab al-fujjār: catatan amal orang-orang durhaka, fajir, dan banyak dosaKelompok yang terkaitAl-abrār, al-muqarrabūn, orang-orang berimanAl-fujjār, al-mukadzdzibūn, orang-orang yang melampaui batas dan berdosaMakna umumTempat yang tinggi, mulia, lapang, dan agungTempat yang rendah, sempit, menghimpit, dan menghinakanAsal makna kataDari kata al-‘uluww: tinggi, luhur, terangkatDari kata as-sijn / sijn: penjara, kurungan, tempat sempitNuansa maknaKemuliaan, ketinggian derajat, keluasan, kehormatanKehinaan, keterbatasan, kesempitan, hukumanPosisi secara maknawiTempat paling tinggi bagi catatan amal orang salehTempat paling rendah bagi catatan amal orang durhakaPenjelasan As-Sa‘diTempat catatan amal orang-orang berbakti di posisi paling tinggi, luas, dan lapangTempat catatan amal orang-orang durhaka di posisi paling bawah, sempit, dan rendahPenjelasan Ibnu KatsirKebalikan dari Sijjīn; menunjukkan ketinggian dan kemuliaanTempat kembali orang durhaka; menunjukkan penjara dan kesempitanLetak menurut sebagian ulamaDisebut berada di langit ketujuh, atau dekat tempat yang sangat tinggiDisebut berada di bawah bumi ketujuh, atau tempat paling rendahRiwayat dari Ka‘b yang dinukilRuh orang-orang beriman berada di ‘IlliyyīnRuh orang-orang kafir berada di SijjīnPendapat lain ulamaAda yang menafsirkan sebagai surga, atau tempat amal di sisi AllahAda yang menafsirkan sebagai sumur di Jahannam, batu besar, atau tempat sempit di bawahHubungannya dengan catatan amalCatatan amal orang saleh tersimpan dan dimuliakanCatatan amal orang durhaka tersimpan dan menjadi bukti keburukan merekaStatus kitabnyaKitābun marqūm: kitab yang tertulis, tercatat, terjagaKitābun marqūm: kitab yang tertulis, tercatat, dan telah ditetapkanSiapa yang menyaksikanYasyhaduhul muqarrabūn: disaksikan malaikat dan makhluk yang didekatkan kepada AllahTidak disebut disaksikan al-muqarrabūn; konteksnya lebih kepada ancaman dan kebinasaanArah balasanMengarah kepada na‘īm: kenikmatan, wajah berseri, dipan-dipan, minuman surgaMengarah kepada jahīm: neraka, celaan, kehinaan, dan tertutup dari RabbDampak akhir bagi pemilik kitabKemuliaan di akhirat, kedekatan dengan Allah, surga yang tinggiKehinaan di akhirat, azab, keterasingan, dan hukumanKeterkaitan dengan surga/nerakaSangat dekat maknanya dengan tingkatan surga tertinggiSangat dekat maknanya dengan dasar kehinaan dan tempat azabSifat ruangLuas, lapang, tinggi, muliaSempit, rendah, menghimpit, menekanSimbol ruhaniKebersihan amal, kejujuran, ketaatan, kemuliaan jiwaKedurhakaan, kefajiran, kecurangan, pengingkaran hari pembalasanHubungan dengan imanBuah dari iman, amal saleh, dan birr (kebajikan)Buah dari maksiat, kedustaan, melampaui batas, dan dosaHubungan dengan Hari AkhirMenunjukkan keselamatan dan keberuntungan pada hari pembalasanMenunjukkan kecelakaan dan kebinasaan pada hari pembalasanKontras utamanya dalam surahPuncak kemuliaan bagi orang baikPuncak kehinaan bagi orang jahatLawan maknaLawannya adalah SijjīnLawannya adalah ‘IlliyyīnPesan pendidikan imanBeramal saleh akan mengangkat derajat seseorangDosa dan kefajiran akan menjatuhkan seseorang ke derajat paling rendah Walhamdulilah,selesai sudah bahasan tafsir Surah Al-Muthaffifin. Semoga bermanfaat. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic —– Senin, 20 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagstafsir al muthaffifin tafsir juz amma timbangan
Curang dalam takaran dan timbangan mungkin terlihat sepele di mata manusia, tetapi sangat besar dosanya di sisi Allah. Surah Al-Muthaffifin dibuka dengan ancaman keras bagi orang-orang yang mengambil haknya secara penuh, namun mengurangi hak orang lain. Ayat-ayat ini mengajarkan keadilan, kejujuran, dan sikap adil bukan hanya dalam muamalah, tetapi juga dalam setiap urusan kehidupan. Daftar Isi tutup 1. Ayat Pertama – Ketiga 1.1. Contoh praktik kecurangan dalam bisnis saat ini 2. Ayat Keempat – Keenam 2.1. Beratnya Hari Kiamat 2.2. Doa yang Patut Dihafalkan agar Selamat dari Sempitnya Dunia dan Hari Kiamat 3. Ayat Ketujuh – Kedua Belas 4. Al-Fujjar dan Sijjin 5. Ayat Ketiga Belas – Kelima Belas 5.1. Raan yang Menutupi Hati 6. Ayat Keenam Belas – Ketujuh Belas 7. Melihat Allah di Akhirat adalah Nikmat paling Tinggi 8. Ayat Kedelapan Belas – Kedua Puluh Delapan 9. Al-Abrar dan ‘Illiyyin 10. Ayat Kedua Puluh Sembilan – Ketiga Puluh Dua 11. Ayat Ketiga Puluh Tiga – Ketiga Puluh Enam 12. Catatan: Perbedaan antara ‘Iliyyin dan Sijjin Ayat Pertama – KetigaAllah Ta’ala berfirman,وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang.” (QS. Al-Muthaffifin: 1)ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكْتَالُوا۟ عَلَى ٱلنَّاسِ يَسْتَوْفُونَ“(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi.” (QS. Al-Muthaffifin: 2) وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ“dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al-Muthaffifin: 3)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:“Wailun” adalah kata yang menunjukkan azab dan ancaman keras.“Lil muthoffifin” yaitu bagi orang-orang yang berbuat curang dalam takaran dan timbangan.“(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi.”Allah menjelaskan siapa yang dimaksud dengan orang-orang yang curang itu melalui firman-Nya:yaitu orang-orang yang apabila mereka mengambil takaran dari orang lain untuk hak yang menjadi milik mereka minta dipenuhi, mereka meminta dan mengambilnya secara penuh tanpa ada kekurangan sedikit pun.Sedangkan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, yakni ketika mereka harus memberikan hak orang lain yang menjadi tanggungan mereka melalui takaran atau timbangan, mereka mengurangi hak tersebut. Pengurangan itu bisa dengan menggunakan takaran atau timbangan yang kurang, atau tidak memenuhi takaran dan timbangan sebagaimana mestinya, atau dengan cara lain yang serupa.Perbuatan seperti ini termasuk mencuri harta orang lain dan tidak berlaku adil terhadap mereka.Apabila ancaman ini ditujukan kepada orang-orang yang mengurangi hak orang lain dalam takaran dan timbangan, maka orang yang merampas harta orang lain dengan paksa atau mencurinya secara terang-terangan, lebih pantas lagi mendapatkan ancaman tersebut daripada sekadar orang yang curang dalam takaran.Ayat yang mulia ini juga menunjukkan bahwa sebagaimana seseorang berhak mengambil dari orang lain apa yang menjadi haknya, maka ia juga wajib memberikan kepada orang lain seluruh hak mereka, baik dalam harta maupun dalam berbagai bentuk muamalah. Bahkan makna ini mencakup pula dalam perdebatan dan penyampaian pendapat. Sebagaimana lazimnya dua orang yang berdebat masing-masing berusaha mempertahankan dalil yang menguntungkan dirinya, maka ia juga wajib menjelaskan dalil yang menjadi hak lawannya yang mungkin belum diketahui. Ia harus menimbang dan memperhatikan dalil lawannya sebagaimana ia menimbang dalilnya sendiri. Pada titik inilah akan tampak apakah seseorang itu adil atau fanatik dan memaksakan diri, apakah ia rendah hati atau sombong, serta apakah ia berakal atau bodoh. Kita memohon kepada Allah taufik untuk meraih segala kebaikan. Contoh praktik kecurangan dalam bisnis saat ini1. Spesifikasi Tidak Sesuai IklanMenjual produk dengan klaim kualitas tertentu (misalnya bahan premium, asli, organik), padahal kenyataannya kualitas di bawah standar yang dijanjikan.2. Manipulasi Berat Bersih (Netto)Mencantumkan berat bersih 1 kg, tetapi setelah ditimbang ulang ternyata kurang dari itu. Ini termasuk bentuk pengurangan takaran modern.3. Mengurangi Kualitas JasaDalam bisnis jasa, menerima pembayaran penuh tetapi layanan tidak diberikan sesuai kesepakatan, misalnya jam kerja dikurangi atau hasil kerja tidak sesuai kontrak.4. Markup Biaya Tanpa TransparansiMenambahkan biaya tersembunyi saat pembayaran (admin fee, service charge, biaya tambahan yang tidak dijelaskan di awal).5. Memanfaatkan Ketidaktahuan KonsumenMenjual barang dengan harga jauh di atas standar pasar kepada orang yang tidak memahami harga sebenarnya.6. Kecurangan dalam Laporan KeuanganMengurangi hak mitra, investor, atau karyawan dengan memanipulasi data laba dan pembagian hasil.7. Mengurangi Hak KaryawanMeminta kinerja penuh, tetapi gaji atau hak lembur tidak dibayarkan sesuai kesepakatan. Ayat Keempat – KeenamAllah Ta’ala berfirman,أَلَا يَظُنُّ أُو۟لَٰٓئِكَ أَنَّهُم مَّبْعُوثُونَ“Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan.” (QS. Al-Muthaffifin: 4)لِيَوْمٍ عَظِيمٍ“pada suatu hari yang besar.” (QS. Al-Muthaffifin: 5)يَوْمَ يَقُومُ ٱلنَّاسُ لِرَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ“(yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?” (QS. Al-Muthaffifin: 6)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Kemudian Allah Ta’ala mengancam orang-orang yang curang dalam takaran dan timbangan. Allah juga menunjukkan keheranan terhadap keadaan mereka yang terus-menerus melakukan perbuatan itu. Allah berfirman dengan nada peringatan, “Tidakkah mereka menyangka bahwa mereka akan dibangkitkan pada hari yang sangat besar, yaitu hari ketika seluruh manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam?”Yang membuat mereka berani berbuat curang adalah karena mereka tidak beriman kepada hari akhir. Seandainya mereka benar-benar beriman dan menyadari bahwa kelak mereka akan berdiri di hadapan Allah, lalu dihisab atas segala sesuatu—baik yang kecil maupun yang besar—tentu mereka akan berhenti dari perbuatan tersebut dan segera bertobat darinya. Beratnya Hari KiamatImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam kitab tafsirnya mengenai surah Al-Muthaffifin ayat keenam.Maksudnya, pada hari itu manusia berdiri dalam keadaan tanpa alas kaki, tanpa pakaian, dan belum dikhitan, di suatu tempat yang sangat sulit, sempit, dan penuh kesusahan. Tempat itu terasa sangat berat bagi orang-orang yang berdosa. Mereka diliputi oleh kedahsyatan urusan Allah yang tidak sanggup ditanggung oleh kekuatan dan pancaindra manusia.Imam Malik meriwayatkan dari Nafi’, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang firman Allah: (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?“Hingga salah seorang dari mereka tenggelam dalam keringatnya sampai setengah telinganya.”Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari melalui jalur Malik dan Abdullah bin ‘Aun, keduanya dari Nafi’. Juga diriwayatkan oleh Muslim melalui dua jalur tersebut. Demikian pula diriwayatkan oleh Shalih, Tsabit bin Kaisan, Ayyub bin Yahya, Abdullah dan Ubaidullah—keduanya putra Umar—serta Muhammad bin Ishaq, semuanya dari Nafi’, dari Ibnu Umar.Dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan: Yazid menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Ishaq mengabarkan kepada kami dari Nafi’, dari Ibnu Umar, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang firman Allah: (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?“Karena keagungan Ar-Rahman ‘Azza wa Jalla pada hari Kiamat, hingga keringat benar-benar mengekang manusia sampai setengah telinga mereka.”Dalam hadis lain, Imam Ahmad meriwayatkan: Ibrahim bin Ishaq menceritakan kepada kami, Ibnu Al-Mubarak menceritakan kepada kami dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir, ia berkata: Sulaim bin ‘Amir menceritakan kepadaku, Al-Miqdad—yakni Ibnu Al-Aswad Al-Kindi—berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Apabila hari Kiamat terjadi, matahari didekatkan kepada para hamba hingga jaraknya sekitar satu mil atau dua mil.”Beliau bersabda, “Maka matahari itu membakar mereka, sehingga mereka tenggelam dalam keringat sesuai dengan kadar amal mereka. Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kaki, ada yang sampai kedua lutut, ada yang sampai pinggangnya, dan ada yang benar-benar dikekang oleh keringatnya.”Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim melalui jalur Al-Hakam bin Musa dari Yahya bin Hamzah, dan oleh At-Tirmidzi melalui Suwaid dari Ibnu Al-Mubarak, keduanya dari Ibnu Jabir.Dalam hadis lain, Imam Ahmad meriwayatkan dari Hasan bin Sawwar, dari Al-Laits bin Sa’d, dari Mu’awiyah bin Shalih, bahwa Abu Abdurrahman menceritakan kepadanya dari Abu Umamah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Matahari didekatkan pada hari Kiamat sejauh satu mil, dan panasnya ditambah sekian dan sekian. Binatang-binatang kecil pun mendidih karenanya sebagaimana air dalam kuali mendidih. Manusia berkeringat sesuai dengan kadar dosa mereka. Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kaki, ada yang sampai betis, ada yang sampai pertengahan tubuhnya, dan ada yang benar-benar dikekang oleh keringat.”Hadis ini diriwayatkan secara tersendiri oleh Imam Ahmad.Dalam hadis lain, Imam Ahmad meriwayatkan dari Hasan, dari Ibnu Lahi’ah, dari Abu ‘Asyanah Hayy bin Yu’min, bahwa ia mendengar ‘Uqbah bin ‘Amir berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Matahari didekatkan ke bumi, lalu manusia berkeringat. Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kaki, ada yang sampai pertengahan betis, ada yang sampai kedua lutut, ada yang sampai pantat, ada yang sampai pinggang, ada yang sampai kedua bahu, ada yang sampai pertengahan mulutnya.”Beliau memberi isyarat dengan tangannya seakan-akan menutup mulutnya. Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi isyarat seperti itu. “Dan ada pula yang keringatnya menutupi seluruh tubuhnya.” Beliau memberi isyarat dengan tangannya. Hadis ini juga diriwayatkan secara tersendiri oleh Imam Ahmad.Disebutkan pula dalam sebuah hadis bahwa mereka berdiri selama tujuh puluh tahun tanpa berbicara. Ada yang mengatakan mereka berdiri selama tiga ratus tahun. Ada pula yang mengatakan empat puluh ribu tahun. Dan diputuskan perkara di antara mereka dalam kadar sepuluh ribu tahun, sebagaimana disebutkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah secara marfu’:“Pada suatu hari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.”Ibnu Abi Hatim meriwayatkan: Ayahku menceritakan kepada kami, Abu ‘Aun Az-Ziyadi mengabarkan kepada kami, Abdur Salam bin ‘Ajlan berkata: Aku mendengar Abu Yazid Al-Madani dari Abu Hurairah berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Basyir Al-Ghifari,“Bagaimana keadaanmu pada hari ketika manusia berdiri selama tiga ratus tahun untuk Rabb seluruh alam—menurut hitungan hari dunia—tanpa datang kepada mereka kabar dari langit dan tanpa diperintahkan suatu perintah?”Basyir berkata, “Hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan.”Beliau bersabda,فَإِذَا أَوَيْتَ إِلَىٰ فِرَاشِكَ فَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ كَرْبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَسُوءِ الْحِسَابِ.“Jika engkau berbaring di tempat tidurmu, maka berlindunglah kepada Allah dari kesusahan hari Kiamat dan dari buruknya hisab.”Ibnu Jarir meriwayatkannya melalui jalur Abdur Salam.Dalam Sunan Abu Dawud disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berlindung kepada Allah dari sempitnya tempat berdiri pada hari Kiamat.Dari Ibnu Mas’ud disebutkan bahwa mereka berdiri selama empat puluh tahun dengan kepala terangkat ke langit, tidak seorang pun berbicara kepada mereka, dan keringat telah mengekang orang baik maupun orang jahat.Dari Ibnu Umar disebutkan bahwa mereka berdiri selama seratus tahun. Keduanya diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.Dalam Sunan Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah, melalui hadis Zaid bin Al-Hubab dari Mu’awiyah bin Shalih, dari Azhar bin Sa’id Al-Hawari, dari ‘Ashim bin Humaid, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka qiyamullail dengan bertakbir sepuluh kali, memuji sepuluh kali, bertasbih sepuluh kali, dan beristighfar sepuluh kali. Beliau juga berdoa,اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَاهْدِنِي، وَارْزُقْنِي، وَعَافِنِي، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ ضِيقِ الْمَقَامِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.ALLĀHUMMAGHFIR LĪ, WAHDINĪ, WARZUQNĪ, WA ‘ĀFINĪ, WA A‘ŪDZU BIKA MIN ḌHĪQIL-MAQĀMI YAUMAL-QIYĀMAH.“Ya Allah, ampunilah aku, berilah aku petunjuk, berilah aku rezeki, dan sehatkanlah aku.” Doa yang Patut Dihafalkan agar Selamat dari Sempitnya Dunia dan Hari KiamatAisyah radhiyallahu ‘anha mengabarkan tentang qiyamullail Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan doa pembuka shalat beliau (doa iftitah) dengan doa dan zikir tersebut. Ia berkata:“Beliau bertakbir sepuluh kali, bertasbih sepuluh kali, dan beristighfar sepuluh kali.”Kemudian ia menyebutkan doa tersebut.Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau berdoa:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ ضِيقِ الدُّنْيَا، وَضِيقِ الْقِيَامَةِALLĀHUMMA INNII A‘ŪDZU BIKA MIN DHIIQID-DUNYĀ, WA DHIIQIL-QIYĀMAH.“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesempitan dunia dan kesempitan pada hari Kiamat.”(Diriwayatkan oleh Abu Dauud dalam Sunan-nya, Kitab Al-Adab, Bab “Doa yang Dibaca Ketika Pagi Hari”, no. 5087; An-Nasa’i dalam Al-Kubra, Kitab Shalat ‘Idain, Bab Khutbah Hari Raya, no. 10623; juga dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah karya Ibnu As-Sunni, no. 759. Hadis ini dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah, no. 1356). Ayat Ketujuh – Kedua BelasAllah Ta’ala berfirman,كَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلْفُجَّارِ لَفِى سِجِّينٍ“Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin.” (QS. Al-Muthaffifin: 7)وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا سِجِّينٌ“Tahukah kamu apakah sijjin itu?” (QS. Al-Muthaffifin: 8)كِتَٰبٌ مَّرْقُومٌ“(Ialah) kitab yang bertulis.” (QS. Al-Muthaffifin: 9)وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِّلْمُكَذِّبِينَ“Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” (QS. Al-Muthaffifin: 10)ٱلَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوْمِ ٱلدِّينِ“(yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.” (QS. Al-Muthaffifin: 11)وَمَا يُكَذِّبُ بِهِۦٓ إِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ“Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa.” (QS. Al-Muthaffifin: 12)Syaikh As-Sa’di menjelaskan:Maksudnya, kitab yang di dalamnya tertulis seluruh amal buruk mereka. Sijjīn adalah tempat yang sempit lagi menghimpit. Sijjīn merupakan kebalikan dari ‘Illiyyīn, yaitu tempat catatan amal orang-orang yang berbakti, sebagaimana akan dijelaskan nanti.Sebagian ulama mengatakan bahwa Sijjīn adalah lapisan bumi yang paling bawah, tempat tinggal orang-orang durhaka dan tempat menetap mereka kelak di akhirat.(Yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.Kemudian Allah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan para pendusta itu adalah orang-orang yang mendustakan hari pembalasan, yaitu hari ketika Allah membalas manusia atas seluruh amal perbuatan mereka.“Dan tidak ada yang mendustakannya kecuali setiap orang yang melampaui batas lagi banyak berbuat dosa.”Yakni orang yang melanggar batas-batas yang telah ditetapkan Allah, berpindah dari yang halal kepada yang haram. Ia adalah orang yang banyak berbuat dosa. Sikap melampaui batas itulah yang mendorongnya untuk mendustakan, dan kesombongannya membuatnya menolak kebenaran.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat kedua belas:Maksudnya, ia adalah orang yang melampaui batas dalam perbuatannya: berani melakukan yang haram dan berlebihan dalam menikmati hal-hal yang sebenarnya mubah.Ia juga seorang yang banyak berdosa dalam ucapannya. Jika berbicara, ia berdusta. Jika berjanji, ia mengingkari. Dan jika berselisih atau bertengkar, ia berlaku curang dan melampaui batas. Al-Fujjar dan SijjinImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai Fujjar (Fajir) dan Sijjin sebagai berikut.Allah Ta’ala menegaskan dengan sebenar-benarnya bahwa catatan amal orang-orang durhaka berada di dalam Sijjīn, yaitu tempat yang menjadi tujuan dan tempat kembali mereka. Kata Sijjīn berasal dari kata sijn yang berarti penjara atau tempat yang sempit. Bentuk katanya menunjukkan makna yang sangat kuat, sebagaimana ungkapan dalam bahasa Arab seperti fasiq, syarīb, khamīr, atau sakīr yang menunjukkan sifat yang sangat melekat.Allah kemudian membesarkan perkara ini dengan firman-Nya: “Tahukah kamu apakah Sijjīn itu?” Maksudnya, Sijjīn adalah perkara yang sangat besar, sebuah penjara yang terus-menerus dan azab yang sangat pedih.Sebagian ulama mengatakan bahwa Sijjīn berada di bawah bumi yang ketujuh. Hal ini disebutkan dalam hadis panjang dari Al-Bara’ bin ‘Azib tentang keadaan ruh orang kafir. Dalam hadis itu Allah berfirman tentang ruh orang kafir:“Catatlah kitabnya di dalam Sijjīn.”Disebutkan pula bahwa Sijjīn berada di bawah bumi yang ketujuh. Ada pula yang mengatakan bahwa Sijjīn adalah sebuah batu besar di bawah bumi ketujuh, ada juga yang mengatakan bahwa ia adalah sebuah sumur di dalam neraka Jahannam.Ibnu Jarir meriwayatkan sebuah hadis tentang hal ini, namun hadis tersebut dinilai gharib dan munkar serta tidak sahih. Dalam riwayat itu disebutkan:“Al-Falaq adalah sebuah sumur di neraka Jahannam yang tertutup, sedangkan Sijjīn adalah sumur yang terbuka.”Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa Sijjīn berasal dari kata penjara yang berarti sempit. Hal ini karena semua makhluk yang berada di tempat yang lebih rendah akan semakin sempit ruangnya, sedangkan yang berada di tempat yang lebih tinggi akan semakin luas.Langit yang tujuh masing-masing lebih luas dan lebih tinggi daripada yang di bawahnya. Demikian pula bumi yang berlapis-lapis, setiap lapisan lebih luas daripada yang berada di bawahnya, hingga akhirnya mencapai tempat yang paling rendah dan paling sempit, yaitu pusat bumi di lapisan bumi yang ketujuh.Karena tempat kembali orang-orang durhaka adalah neraka Jahannam yang berada pada tingkatan paling rendah, sebagaimana firman Allah:ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ • إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh.” (QS. At-Tin: 5–6)Maka Allah berfirman di sini:كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ • وَمَا أَدْرَاكَ مَا سِجِّينٌSijjīn mengandung makna kesempitan dan kerendahan, sebagaimana firman Allah:وَإِذَا أُلْقُوا مِنْهَا مَكَانًا ضَيِّقًا مُقَرَّنِينَ دَعَوْا هُنَالِكَ ثُبُورًا“Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan tangan terbelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan.” (QS. Al-Furqan: 13)“(Yaitu) kitab yang tertulis.” (QS. Al-Muthaffifin: 9)Firman Allah “kitab yang tertulis” bukanlah penjelasan dari ayat “Tahukah kamu apakah Sijjīn itu?”, melainkan penjelasan tentang catatan amal mereka yang telah ditetapkan menuju Sijjīn.Artinya, catatan itu telah tertulis dan ditetapkan dengan pasti, tidak akan bertambah dan tidak pula berkurang. Demikian penjelasan dari Muhammad bin Ka‘b Al-Qurazhi.“Maka kecelakaan besar pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” (QS. Al-Muthaffifin: 10)Artinya, kebinasaan dan kehancuran pada hari kiamat bagi orang-orang yang mendustakan, ketika mereka benar-benar sampai kepada ancaman Allah berupa penjara dan azab yang menghinakan.Makna kata “wail” sebelumnya telah dijelaskan sebagai kebinasaan dan kehancuran, sebagaimana dalam ungkapan bahasa Arab: “Celaka bagi si fulan.”Demikian pula disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan dalam Musnad dan Sunan, dari Bahz bin Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ النَّاسَ، وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ“Celakalah orang yang berbicara lalu berdusta agar membuat manusia tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” Ayat Ketiga Belas – Kelima BelasAllah Ta’ala berfirman,إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ ءَايَٰتُنَا قَالَ أَسَٰطِيرُ ٱلْأَوَّلِينَ“yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu.” (QS. Al-Muthaffifin: 13)كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14)كَلَّآ إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari Tuhan mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 15)Syaikh As-Sa’di menjelaskan:Karena itulah, ketika “yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami”, — yakni ayat-ayat Kami yang menunjukkan kebenaran dan membuktikan kejujuran ajaran yang dibawa para rasul — dibacakan kepadanya, ia justru mendustakannya dan bersikap keras kepala.Ia berkata, itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu yakni ini hanyalah dongeng dan omong kosong orang-orang terdahulu, sekadar cerita umat-umat masa lampau. Ia menganggapnya bukan berasal dari Allah, semua itu diucapkannya karena kesombongan dan sikap membangkang terhadap kebenaran.Adapun orang yang bersikap adil dan jujur dalam menilai, serta tujuannya benar-benar mencari kebenaran yang nyata, maka ia tidak akan mendustakan Hari Pembalasan. Sebab Allah telah menegakkan baginya dalil-dalil yang tegas dan bukti-bukti yang terang, yang menjadikan kebenaran itu sebagai sesuatu yang pasti tanpa keraguan.Kebenaran itu bagi hati mereka laksana matahari bagi penglihatan: begitu jelas dan tak terbantahkan.Berbeda dengan orang yang hatinya telah tertutup oleh dosa-dosa yang ia lakukan, dan kemaksiatan telah menyelimutinya, sehingga kebenaran pun tidak lagi tampak jelas baginya.Karena itu, ia terhalang dari kebenaran. Sebagai balasan atas keadaan tersebut, ia pun dihalangi dari (melihat) Allah. Hal itu sebagaimana dahulu hatinya di dunia telah terhalang dari ayat-ayat Allah. Raan yang Menutupi HatiImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, apabila orang tersebut mendengar firman Allah yang disampaikan oleh Rasul, ia justru mendustakannya. Ia berprasangka buruk terhadap Al-Qur’an dan meyakini bahwa kitab itu hanyalah karangan yang dibuat-buat, yang dikumpulkan dari kisah-kisah dan catatan orang-orang zaman dahulu.Sebagaimana firman Allah Ta’ala:﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ قَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ﴾“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhan kalian?’ Mereka menjawab, ‘Dongeng orang-orang terdahulu.’” (QS. An-Nahl: 24)Dan firman-Nya:﴿وَقَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلَىٰ عَلَيْهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا﴾“Dan mereka berkata, ‘(Al-Qur’an itu hanyalah) dongeng orang-orang terdahulu yang dimintanya untuk dituliskan, lalu dibacakan kepadanya setiap pagi dan petang.’” (QS. Al-Furqan: 5)Demikianlah sikap orang-orang kafir: ketika kebenaran dibacakan kepada mereka, mereka menolaknya dan menuduhnya sebagai cerita rekaan dari masa lampau.Firman Allah Ta’ala:﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾Artinya: “Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”Maksudnya, tidaklah benar seperti yang mereka sangkakan dan ucapkan, bahwa Al-Qur’an itu hanyalah dongeng orang-orang terdahulu. Bahkan Al-Qur’an adalah firman Allah, wahyu-Nya, dan kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya ﷺ.Akan tetapi, yang menghalangi hati mereka untuk beriman kepadanya adalah ran (karat/penutup) yang menyelimuti hati mereka akibat banyaknya dosa dan kesalahan yang mereka lakukan. Karena itulah Allah berfirman: Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.Adapun ran itu menimpa hati orang-orang kafir. Sedangkan bagi orang-orang saleh (al-abrar) ada ghaim (awan tipis), dan bagi orang-orang yang didekatkan kepada Allah (al-muqarrabin) ada ghain (selubung yang lebih ringan lagi).Telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari, Imam Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah melalui beberapa jalur, dari Muhammad bin ‘Ajlan, dari Al-Qa‘qa‘ bin Hakim, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:«إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَذْنَبَ ذَنْبًا كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ مِنْهَا صُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ زَادَ زَادَتْ، فَذَلِكَ قَوْلُ اللَّهِ: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾»Artinya: “Sesungguhnya seorang hamba apabila berbuat dosa, akan muncul satu titik hitam di dalam hatinya. Jika ia bertobat darinya, maka hatinya akan dibersihkan. Namun jika ia menambah (dosa), maka titik itu pun bertambah. Itulah yang dimaksud dengan firman Allah: ‘Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.’”Imam Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan sahih.”Dalam riwayat An-Nasa’i disebutkan:«إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ، فَإِنْ هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ صُقِلَ قَلْبُهُ، فَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، فَهُوَ الرَّانُ الَّذِي قَالَ اللَّهُ: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾»Artinya: “Sesungguhnya seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, akan ditorehkan satu titik pada hatinya. Jika ia berhenti, memohon ampun, dan bertobat, maka hatinya akan dibersihkan. Namun jika ia kembali (berbuat dosa), maka titik itu akan ditambah hingga menutupi hatinya. Itulah ran yang disebutkan Allah dalam firman-Nya.”Demikian pula diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dengan lafaz:«إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ، فَإِنْ زَادَ زَادَتْ حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَذَاكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ فِي الْقُرْآنِ: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾»Artinya: “Sesungguhnya seorang mukmin apabila berbuat dosa, akan muncul satu titik hitam di dalam hatinya. Jika ia bertobat, berhenti, dan memohon ampun, maka hatinya akan dibersihkan. Namun jika ia menambah (dosa), maka titik itu bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah ran yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an.”Hasan al-Basri berkata, “Ia adalah dosa di atas dosa, hingga hati menjadi buta lalu mati.”Demikian pula dikatakan oleh Mujahid bin Jabr, Qatadah ibn Di’ama, Ibnu Zaid, dan selain mereka. Ayat Keenam Belas – Ketujuh BelasAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ إِنَّهُمْ لَصَالُوا۟ ٱلْجَحِيمِ“Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka.” (QS. Al-Muthaffifin: 16)ثُمَّ يُقَالُ هَٰذَا ٱلَّذِى كُنتُم بِهِۦ تُكَذِّبُونَ“Kemudian, dikatakan (kepada mereka): “Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan”.” (QS. Al-Muthaffifin: 17) Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Kemudian Allah berfirman,“Kemudian sesungguhnya mereka benar-benar akan masuk ke dalam neraka yang menyala-nyala.”Lalu dikatakan kepada mereka sebagai bentuk celaan dan teguran keras,“Inilah (azab) yang dahulu kalian dustakan.”Dalam ayat ini disebutkan tiga macam azab bagi mereka:Azab neraka Jahim.Azab berupa celaan dan teguran keras.Azab berupa terhalangnya mereka dari (melihat) Rabb semesta alam.Azab berupa terhalang dari Allah ini mengandung makna kemurkaan dan kemarahan-Nya kepada mereka. Azab ini bahkan lebih berat bagi mereka daripada azab api neraka.Sebaliknya, mafhum dari ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang beriman akan melihat Rabb mereka pada hari kiamat dan di surga. Mereka akan merasakan kenikmatan memandang-Nya yang jauh lebih agung daripada seluruh kenikmatan lainnya. Mereka bergembira dengan pembicaraan-Nya dan bersuka cita karena kedekatan dengan-Nya. Hal ini telah disebutkan oleh Allah dalam banyak ayat Al-Qur’an dan diriwayatkan secara mutawatir dari Rasulullah ﷺ.Dalam ayat-ayat ini juga terdapat peringatan keras agar menjauhi dosa. Sebab dosa-dosa itu menimbulkan karat pada hati dan menutupinya sedikit demi sedikit, hingga cahaya hati itu padam dan penglihatannya mati. Akibatnya, hakikat menjadi terbalik: kebatilan terlihat sebagai kebenaran, dan kebenaran tampak sebagai kebatilan. Ini merupakan salah satu bentuk hukuman akibat dosa.Baca juga: Syarhus Sunnah: Terhalang dari Melihat Wajah Allah Melihat Allah di Akhirat adalah Nikmat paling TinggiAllah Ta’ala juga berfirman:لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ“Bagi orang-orang yang berbuat baik, mereka mendapatkan kebaikan (surga) dan tambahan.” (QS. Yunus: 26)Yang dimaksud al-ḥusnā adalah surga, sedangkan tambahan adalah melihat wajah Allah Yang Mahamulia. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Nabi ﷺ dalam sabdanya:“Apabila penghuni surga telah masuk ke dalam surga, Allah Tabāraka wa Ta‘ālā berfirman:‘Apakah kalian menginginkan sesuatu lagi agar Aku tambahkan kepada kalian?’Mereka menjawab:‘Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami, memasukkan kami ke dalam surga, dan menyelamatkan kami dari neraka?’Kemudian Allah membuka hijab-Nya. Maka tidak ada sesuatu yang diberikan kepada mereka yang lebih mereka cintai daripada memandang Rabb mereka ‘Azza wa Jalla.”Kemudian Rasulullah ﷺ membaca ayat:لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ“Bagi orang-orang yang berbuat baik, mereka mendapatkan kebaikan (surga) dan tambahan.”Dalam riwayat Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari Jarīr bin ‘Abdillāh Al-Bajalī radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:“Kami pernah duduk bersama Nabi ﷺ. Beliau melihat bulan pada malam keempat belas (bulan purnama), lalu beliau bersabda:‘Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian dengan jelas sebagaimana kalian melihat bulan ini. Kalian tidak akan saling berdesakan dalam melihat-Nya.’”Dalam Shahih Bukhari dan Muslim juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu bahwa beberapa orang bertanya kepada Rasulullah ﷺ:“Wahai Rasulullah, apakah kami akan melihat Rabb kami pada hari kiamat?”Beliau menjawab:“Apakah kalian saling berdesakan ketika melihat bulan pada malam purnama?”Mereka menjawab:“Tidak, wahai Rasulullah.”Beliau bertanya lagi:“Apakah kalian saling berdesakan ketika melihat matahari yang tidak tertutup awan?”Mereka menjawab:“Tidak, wahai Rasulullah.”Beliau bersabda:“Demikian pula kalian akan melihat-Nya.”Maksudnya, kalian akan melihat-Nya dengan penglihatan yang nyata tanpa kesulitan dan tanpa saling berdesakan.Selain itu masih banyak lagi hadits-hadits sahih tentang hal ini yang diriwayatkan oleh lebih dari dua puluh orang sahabat. Hadits-hadits tersebut mencapai derajat mutawatir, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama.Adapun melihat Allah di dunia, maka secara akal hal itu mungkin saja terjadi, tetapi secara syariat tidak terjadi. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ ketika memperingatkan tentang Dajjal:“Ketahuilah bahwa tidak seorang pun dari kalian akan melihat Rabbnya hingga ia meninggal dunia. Dan di antara kedua mata Dajjal tertulis huruf ك ف ر yang dapat dibaca oleh setiap orang yang membenci amalnya.” (HR. Tirmidzi, dan beliau berkata: hadits ini hasan sahih)Dalam masalah ini tidak ada perselisihan di kalangan Ahlus Sunnah, kecuali riwayat dari Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhumā yang menyatakan bahwa Nabi ﷺ melihat Rabbnya pada malam Mi‘raj. Namun pendapat yang lebih kuat adalah bahwa Nabi ﷺ melihat cahaya, yaitu hijab-Nya.Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dari Abu Dzarr radhiyallāhu ‘anhu. Ia berkata:“Aku pernah bertanya kepada Nabi ﷺ tentang apakah beliau melihat Rabbnya. Beliau menjawab:‘Aku melihat cahaya.’”Dalam riwayat lain dalam Shahih Muslim, Abu Dzarr berkata:“Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ: ‘Apakah engkau melihat Rabbmu?’Beliau menjawab:‘Cahaya, bagaimana mungkin aku dapat melihat-Nya!’”Bahwa cahaya itu merupakan hijab juga dijelaskan dalam sabda Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:“Sesungguhnya Allah tidak tidur dan tidak pantas bagi-Nya untuk tidur. Dia menurunkan timbangan dan mengangkatnya. Amal malam diangkat kepada-Nya sebelum amal siang, dan amal siang sebelum amal malam. Hijab-Nya adalah cahaya. Seandainya hijab itu dibuka, niscaya sinar wajah-Nya akan membakar segala sesuatu yang dijangkau oleh pandangan-Nya dari makhluk-Nya.”Yang dimaksud subuḥāt wajah-Nya adalah cahaya, keagungan, dan keindahan-Nya.Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam syarahnya atas Shahih Muslim:“Ketahuilah bahwa mazhab Ahlus Sunnah secara keseluruhan menyatakan bahwa melihat Allah Ta’ala itu mungkin dan tidak mustahil secara akal. Mereka juga sepakat bahwa hal itu benar-benar terjadi di akhirat, dan bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah Ta’ala, sedangkan orang-orang kafir tidak.Sebaliknya, sebagian kelompok ahli bid‘ah seperti Mu‘tazilah, Khawarij, dan sebagian Murji’ah berpendapat bahwa tidak seorang pun dari makhluk dapat melihat Allah, dan bahwa melihat-Nya mustahil secara akal. Pendapat mereka ini merupakan kesalahan yang nyata dan kebodohan yang buruk.Dalil-dalil dari Al-Qur’an, Sunnah, serta ijmak para sahabat dan generasi setelah mereka dari kalangan salaf umat ini telah sangat jelas menunjukkan bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah Ta’ala di akhirat. Riwayat tentang hal ini datang dari sekitar dua puluh sahabat Nabi ﷺ, dan ayat-ayat Al-Qur’an tentangnya juga sangat terkenal.Adapun berbagai keberatan yang diajukan oleh kelompok ahli bid‘ah, semuanya telah dijawab secara jelas dalam kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah.Adapun melihat Allah Ta’ala di dunia, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, hal itu secara akal mungkin, tetapi mayoritas ulama salaf dan khalaf berpendapat bahwa hal tersebut tidak terjadi di dunia.”Selesai perkataan Imam An-Nawawi rahimahullah.Referensi: Fatwa Islamweb Ayat Kedelapan Belas – Kedua Puluh DelapanAllah Ta’ala berfirman,كَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلْأَبْرَارِ لَفِى عِلِّيِّينَ“Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam ‘Illiyyin.” (QS. Al-Muthaffifin: 18)وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا عِلِّيُّونَ“Tahukah kamu apakah ‘Illiyyin itu?” (QS. Al-Muthaffifin: 19)كِتَٰبٌ مَّرْقُومٌ“(Yaitu) kitab yang bertulis.” (QS. Al-Muthaffifin: 20)يَشْهَدُهُ ٱلْمُقَرَّبُونَ“yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan (kepada Allah).” (QS. Al-Muthaffifin: 21)إِنَّ ٱلْأَبْرَارَ لَفِى نَعِيمٍ“Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (surga).” (QS. Al-Muthaffifin: 22)عَلَى ٱلْأَرَآئِكِ يَنظُرُونَ“mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang.” (QS. Al-Muthaffifin: 23)تَعْرِفُ فِى وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ ٱلنَّعِيمِ“Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh kenikmatan.” (QS. Al-Muthaffifin: 24)يُسْقَوْنَ مِن رَّحِيقٍ مَّخْتُومٍ“Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya).” (QS. Al-Muthaffifin: 25)خِتَٰمُهُۥ مِسْكٌ ۚ وَفِى ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ ٱلْمُتَنَٰفِسُونَ“laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin: 26)وَمِزَاجُهُۥ مِن تَسْنِيمٍ“Dan campuran khamar murni itu adalah dari tasnim.” (QS. Al-Muthaffifin: 27)عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا ٱلْمُقَرَّبُونَ“(yaitu) mata air yang minum daripadanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah.” (QS. Al-Muthaffifin: 28) Al-Abrar dan ‘IlliyyinImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Yang dimaksud al-abrār adalah orang-orang yang saleh, yang keadaannya berbeda dengan orang-orang yang durhaka (fujjar). Catatan amal mereka berada di ‘Illiyyīn, sebagai kebalikan dari Sijjīn yang menjadi tempat bagi orang-orang durhaka.Al-A‘masy meriwayatkan dari Syamr bin ‘Athiyyah, dari Hilal bin Yasaf, ia berkata:Ibnu ‘Abbas pernah bertanya kepada Ka‘b, sementara aku hadir di situ, tentang Sijjīn. Ka‘b menjawab:“Sijjīn adalah bumi ketujuh, dan di dalamnya terdapat ruh orang-orang kafir.”Ibnu ‘Abbas juga bertanya kepadanya tentang ‘Illiyyīn. Ia menjawab:“‘Illiyyīn adalah langit ketujuh, dan di dalamnya terdapat ruh orang-orang beriman.”Demikian pula dikatakan oleh sejumlah ulama lainnya bahwa ‘Illiyyīn berada di langit ketujuh.Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah:Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam ‘IlliyyinBeliau berkata:“Maksudnya adalah surga.”Dalam riwayat Al-‘Aufi dari Ibnu ‘Abbas disebutkan bahwa maksudnya adalah amal-amal mereka berada di langit di sisi Allah. Demikian pula pendapat yang disampaikan oleh Adh-Dhahhak.Qatadah berkata:“‘Illiyyūn adalah sisi kanan ‘Arsy.”Sementara ulama lain mengatakan bahwa ‘Illiyyūn berada di dekat Sidhratul Muntaha.Pendapat yang paling jelas adalah bahwa kata ‘Illiyyīn berasal dari kata al-‘uluww (ketinggian). Setiap sesuatu yang semakin tinggi dan semakin terangkat, maka semakin besar dan semakin luas kedudukannya. Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Ketika Allah menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang durhaka (al-fujjār) berada di tempat yang paling bawah, paling sempit, dan paling rendah, maka Allah juga menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang yang berbakti (al-abrār) berada di tempat yang paling tinggi, paling luas, dan paling lapang.Dan catatan amal mereka yang tertulis itu disaksikan oleh orang-orang yang didekatkan kepada Allah (al-muqorrobun). Yang dimaksud dengan mereka adalah para malaikat yang mulia, serta ruh para nabi, orang-orang yang sangat jujur dalam iman (ṣiddīqīn), dan para syuhada. Allah menyebut dan memuliakan mereka di hadapan penduduk langit yang tinggi.Adapun ‘Illiyyūn adalah nama bagi tingkatan surga yang paling tinggi.Setelah Allah menyebutkan catatan amal mereka, Allah kemudian menjelaskan bahwa mereka berada dalam kenikmatan. Kata ini merupakan istilah yang mencakup seluruh kenikmatan hati, ruh, dan tubuh.Mereka berada di atas dipan-dipan yang indah.عَلَى الْأَرَائِكِYaitu di atas tempat duduk atau dipan yang dihiasi dengan hamparan dan perhiasan yang indah.يُنْظَرُونَMereka memandang berbagai kenikmatan yang telah Allah siapkan untuk mereka, dan mereka juga memandang wajah Rabb mereka Yang Mahamulia.Allah berfirman:تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ“Engkau dapat melihat pada wajah mereka cahaya kenikmatan.”Artinya, tampak pada wajah mereka keindahan, kesegaran, dan kemilau kenikmatan. Sebab kenikmatan dan kegembiraan yang terus-menerus akan memancarkan cahaya, keindahan, dan keceriaan pada wajah mereka.Mereka diberi minum dari minuman yang sangat murni.يُسْقَوْنَ مِنْ رَحِيقٍ مَخْتُومٍYaitu minuman yang termasuk yang paling baik dan paling lezat di antara berbagai minuman.Minuman itu tertutup rapat.خِتَامُهُ مِسْكٌPenutupnya adalah kasturi. Maksudnya bisa dua kemungkinan:Pertama, minuman itu tertutup rapat sehingga tidak tercampuri sesuatu pun yang dapat mengurangi kenikmatannya atau merusak rasanya. Penutup yang digunakan untuk menutupnya adalah kasturi.Kedua, maksudnya adalah bahwa bagian terakhir dari minuman dalam bejana yang mereka minum memiliki endapan berupa kasturi yang sangat harum. Padahal biasanya dalam kebiasaan di dunia, endapan seperti itu dibuang. Namun di surga justru menjadi sesuatu yang sangat berharga.Tentang kenikmatan yang agung ini Allah berfirman:وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang-orang berlomba-lomba.”Artinya, hendaklah manusia berlomba-lomba untuk meraihnya dengan amal-amal yang dapat mengantarkan kepada kenikmatan tersebut. Inilah sesuatu yang paling pantas diperebutkan oleh jiwa-jiwa yang mulia dan paling layak menjadi tujuan perlombaan orang-orang yang bersungguh-sungguh.Campuran minuman tersebut berasal dari Tasnīm.Tasnīm adalah sebuah mata air di surga.عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُونَ“Mata air yang darinya diminum oleh orang-orang yang didekatkan kepada Allah.”Minuman dari Tasnīm ini diminum secara murni oleh orang-orang yang didekatkan kepada Allah (al-muqorrobun). Ia merupakan minuman paling tinggi dan paling mulia di surga. Karena itu minuman ini khusus bagi mereka yang memiliki kedudukan tertinggi di antara makhluk.Adapun bagi ashḥābul yamīn (golongan kanan), minuman tersebut diberikan dalam keadaan dicampur dengan rahiq dan minuman-minuman lezat lainnya. Ayat Kedua Puluh Sembilan – Ketiga Puluh DuaAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱلَّذِينَ أَجْرَمُوا۟ كَانُوا۟ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ يَضْحَكُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Muthaffifin: 29)وَإِذَا مَرُّوا۟ بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ“Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya.” (QS. Al-Muthaffifin: 30)وَإِذَا ٱنقَلَبُوٓا۟ إِلَىٰٓ أَهْلِهِمُ ٱنقَلَبُوا۟ فَكِهِينَ“Dan apabila orang-orang yang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira.” (QS. Al-Muthaffifin: 31)وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوٓا۟ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ لَضَآلُّونَ“Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”.” (QS. Al-Muthaffifin: 32)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:Ketika Allah menyebutkan balasan bagi orang-orang berdosa dan balasan bagi orang-orang beriman, serta menjelaskan perbedaan yang sangat besar di antara keduanya, Allah juga mengabarkan bahwa dahulu di dunia orang-orang berdosa selalu memperolok kaum mukmin. Mereka mengejek, menghina, dan menertawakan orang-orang beriman.Mereka saling memberi isyarat dengan mata ketika melewati kaum mukmin, sebagai bentuk penghinaan dan pelecehan terhadap mereka. Namun anehnya, meskipun berbuat demikian, mereka hidup dengan perasaan aman dan tenang, seakan-akan tidak ada sedikit pun rasa takut dalam hati mereka.Apabila mereka pulang kepada keluarga mereka—baik pada pagi maupun petang—mereka pulang dalam keadaan senang, gembira, dan merasa bangga dengan perbuatan mereka.Inilah salah satu bentuk kesombongan dan tipu daya yang paling besar. Mereka melakukan keburukan yang sangat parah, tetapi pada saat yang sama merasa aman dan tenteram di dunia. Seolah-olah mereka telah mendapatkan jaminan dan janji dari Allah bahwa mereka termasuk orang-orang yang berbahagia.Bahkan mereka berani memutuskan bahwa diri mereka berada di atas petunjuk, sementara orang-orang beriman dianggap sebagai orang-orang yang sesat. Ini merupakan kedustaan terhadap Allah dan keberanian berbicara tentang-Nya tanpa ilmu. Ayat Ketiga Puluh Tiga – Ketiga Puluh EnamAllah Ta’ala berfirman,وَمَآ أُرْسِلُوا۟ عَلَيْهِمْ حَٰفِظِينَ“padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin.” (QS. Al-Muthaffifin: 33)فَٱلْيَوْمَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنَ ٱلْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ“Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir.” (QS. Al-Muthaffifin: 34)عَلَى ٱلْأَرَآئِكِ يَنظُرُونَ“mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang.” (QS. Al-Muthaffifin: 35)هَلْ ثُوِّبَ ٱلْكُفَّارُ مَا كَانُوا۟ يَفْعَلُونَ“Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Al-Muthaffifin: 36)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:“Padahal mereka tidak diutus sebagai penjaga atas orang-orang beriman.” Maksudnya, orang-orang kafir itu tidak diutus sebagai pengawas bagi kaum mukmin dan tidak pula ditugaskan untuk menjaga atau mencatat amal mereka. Lalu mengapa mereka begitu sibuk menuduh orang-orang beriman sebagai orang yang sesat? Sikap mereka itu hanyalah bentuk keras kepala, permusuhan, dan permainan yang tidak memiliki dasar ataupun bukti.“Maka pada hari ini orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir.” Karena itu, balasan mereka di akhirat sesuai dengan perbuatan mereka di dunia. Allah berfirman: “Pada hari ini”, yaitu pada hari kiamat, orang-orang beriman akan menertawakan orang-orang kafir ketika melihat mereka tenggelam dalam berbagai azab. Semua kedustaan dan anggapan yang dahulu mereka buat pun lenyap, sementara orang-orang beriman berada dalam ketenangan dan kebahagiaan yang sempurna.“Mereka duduk di atas dipan-dipan sambil memandang.”Mereka berada di atas dipan-dipan yang dihiasi dengan indah, menikmati berbagai kenikmatan yang telah Allah siapkan untuk mereka. Mereka juga memandang kepada Rabb mereka Yang Maha Mulia.“Bukankah orang-orang kafir telah diberi balasan terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan?”Artinya, apakah mereka telah dibalas sesuai dengan perbuatan mereka? Ya, mereka telah dibalas dengan balasan yang setimpal. Dahulu di dunia mereka menertawakan orang-orang beriman dan menuduh mereka sesat. Maka di akhirat orang-orang beriman menertawakan mereka dan menyaksikan mereka berada dalam azab dan hukuman sebagai akibat dari kesesatan dan penyimpangan mereka.Itulah balasan yang adil dari Allah dan merupakan bagian dari hikmah-Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Catatan: Perbedaan antara ‘Iliyyin dan SijjinAspek‘IlliyyīnSijjīnPenyebutan dalam surahQS. Al-Muthaffifin: 18–21QS. Al-Muthaffifin: 7–9Siapa yang dicatat di sanaKitab al-abrār: catatan amal orang-orang yang berbakti, saleh, dan taatKitab al-fujjār: catatan amal orang-orang durhaka, fajir, dan banyak dosaKelompok yang terkaitAl-abrār, al-muqarrabūn, orang-orang berimanAl-fujjār, al-mukadzdzibūn, orang-orang yang melampaui batas dan berdosaMakna umumTempat yang tinggi, mulia, lapang, dan agungTempat yang rendah, sempit, menghimpit, dan menghinakanAsal makna kataDari kata al-‘uluww: tinggi, luhur, terangkatDari kata as-sijn / sijn: penjara, kurungan, tempat sempitNuansa maknaKemuliaan, ketinggian derajat, keluasan, kehormatanKehinaan, keterbatasan, kesempitan, hukumanPosisi secara maknawiTempat paling tinggi bagi catatan amal orang salehTempat paling rendah bagi catatan amal orang durhakaPenjelasan As-Sa‘diTempat catatan amal orang-orang berbakti di posisi paling tinggi, luas, dan lapangTempat catatan amal orang-orang durhaka di posisi paling bawah, sempit, dan rendahPenjelasan Ibnu KatsirKebalikan dari Sijjīn; menunjukkan ketinggian dan kemuliaanTempat kembali orang durhaka; menunjukkan penjara dan kesempitanLetak menurut sebagian ulamaDisebut berada di langit ketujuh, atau dekat tempat yang sangat tinggiDisebut berada di bawah bumi ketujuh, atau tempat paling rendahRiwayat dari Ka‘b yang dinukilRuh orang-orang beriman berada di ‘IlliyyīnRuh orang-orang kafir berada di SijjīnPendapat lain ulamaAda yang menafsirkan sebagai surga, atau tempat amal di sisi AllahAda yang menafsirkan sebagai sumur di Jahannam, batu besar, atau tempat sempit di bawahHubungannya dengan catatan amalCatatan amal orang saleh tersimpan dan dimuliakanCatatan amal orang durhaka tersimpan dan menjadi bukti keburukan merekaStatus kitabnyaKitābun marqūm: kitab yang tertulis, tercatat, terjagaKitābun marqūm: kitab yang tertulis, tercatat, dan telah ditetapkanSiapa yang menyaksikanYasyhaduhul muqarrabūn: disaksikan malaikat dan makhluk yang didekatkan kepada AllahTidak disebut disaksikan al-muqarrabūn; konteksnya lebih kepada ancaman dan kebinasaanArah balasanMengarah kepada na‘īm: kenikmatan, wajah berseri, dipan-dipan, minuman surgaMengarah kepada jahīm: neraka, celaan, kehinaan, dan tertutup dari RabbDampak akhir bagi pemilik kitabKemuliaan di akhirat, kedekatan dengan Allah, surga yang tinggiKehinaan di akhirat, azab, keterasingan, dan hukumanKeterkaitan dengan surga/nerakaSangat dekat maknanya dengan tingkatan surga tertinggiSangat dekat maknanya dengan dasar kehinaan dan tempat azabSifat ruangLuas, lapang, tinggi, muliaSempit, rendah, menghimpit, menekanSimbol ruhaniKebersihan amal, kejujuran, ketaatan, kemuliaan jiwaKedurhakaan, kefajiran, kecurangan, pengingkaran hari pembalasanHubungan dengan imanBuah dari iman, amal saleh, dan birr (kebajikan)Buah dari maksiat, kedustaan, melampaui batas, dan dosaHubungan dengan Hari AkhirMenunjukkan keselamatan dan keberuntungan pada hari pembalasanMenunjukkan kecelakaan dan kebinasaan pada hari pembalasanKontras utamanya dalam surahPuncak kemuliaan bagi orang baikPuncak kehinaan bagi orang jahatLawan maknaLawannya adalah SijjīnLawannya adalah ‘IlliyyīnPesan pendidikan imanBeramal saleh akan mengangkat derajat seseorangDosa dan kefajiran akan menjatuhkan seseorang ke derajat paling rendah Walhamdulilah,selesai sudah bahasan tafsir Surah Al-Muthaffifin. Semoga bermanfaat. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic —– Senin, 20 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagstafsir al muthaffifin tafsir juz amma timbangan