Ternyata Maksiat Ini Tetap Mengurangi Pahala Puasa Meski Puasa Anda Sah – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa orang yang berpuasa, sebagaimana ia wajib menahan diri dari makan, minum, berhubungan suami istri, dan segala pembatal puasa lainnya, maka ia pun wajib menjauhi segala kemaksiatan, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan. Nabi menyebutkan kemaksiatan lisan dengan sabda beliau: “Perkataan dusta.” Dan beliau menyebutkan kemaksiatan perbuatan dengan sabda beliau: “Serta mengamalkannya.” Maknanya, anggota tubuh orang yang berpuasa pun harus ikut berpuasa dari segala maksiat. Apabila anggota tubuhnya tidak ikut berpuasa dari kemaksiatan, maka setiap kemaksiatan yang ia lakukan akan mencederai puasanya dan mengurangi pahalanya. Jika kemaksiatan yang dilakukan semakin banyak, ia bisa sampai pada tingkatan yang disebutkan dalam hadis ini, yaitu: “…Allah tidak memerlukan usahanya dalam meninggalkan makan dan minum.” Yakni, ia tidak mendapatkan pahala atas puasanya tersebut. Meskipun secara hukum puasanya telah menggugurkan kewajiban, karena rukun dan syarat-syaratnya telah terpenuhi, tapi ia tidak mendapat pahala atas puasa itu. Ini serupa dengan shalat yang ia kerjakan, tapi pikirannya melantur ke mana-mana sejak takbiratul ihram hingga salam. Shalat itu sah dan telah menggugurkan kewajiban, karena terpenuhi rukun, syarat, dan wajib-wajibnya. Akan tetapi, ia tidak mendapatkan pahala kecuali sesuai dengan kadar kekhusyukannya. Begitu pula dengan puasa, ia dianggap sah dan menggugurkan kewajiban selama ia menjauhi pembatal-pembatal puasa yang bersifat fisik. Namun jika maksiatnya terlalu banyak, ia bisa sampai pada kondisi tidak mendapatkan pahala sama sekali. Jadi, setiap maksiat yang dilakukan akan terus mengurangi pahala orang yang berpuasa. Oleh sebab itu, banyak dari generasi salaf yang memilih berdiam di masjid saat berpuasa. Mereka berkata: “Kami ingin menjaga puasa kami dan tidak menggunjing siapa pun.” Jadi, puasa adalah madrasah bagi seorang muslim untuk mendidik diri agar memperbanyak ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Hendaknya setiap orang yang berpuasa meresapi makna ini. Jika ia meresapinya, maka saat hendak terjerumus ke dalam gibah, ia akan segera tersadar bahwa ia sedang berpuasa, dan ia sadar bahwa gibah akan menggerus pahalanya. Begitu pula ucapan kotor dan keji akan mengurangi pahalanya. Mencaci maki juga akan mengurangi pahalanya. Menghina dan merendahkan orang lain dapat mengurangi pahalanya. Bahkan mendengarkan musik akan mengurangi pahala puasanya. Melihat hal yang haram mengurangi pahala puasanya, dan seterusnya. Maka hadis ini merupakan hadis yang agung, “…Allah tidak memerlukan usahanya dalam meninggalkan makan dan minum.” Maksudnya, puasa yang pelakunya tidak menjaga adab dengan menjauhi maksiat, Allah tidak memerlukan puasa yang seperti itu. Puasa bukan sekadar menahan lapar, dahaga, dan syahwat belaka. Melainkan juga menahan diri dari segala kemaksiatan dan menghiasi diri dengan adab-adab puasa. ===== وَهَذَا الْحَدِيثُ يُبَيِّنُ فِيهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الصَّائِمَ أَنَّ الصَّائِمَ كَمَا يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَجْتَنِبَ الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ وَالْجِمَاعَ وَمَا كَانَ فِي مَعْنَاهَا فَيَجِبُ عَلَيْهِ كَذَلِكَ أَنْ يَجْتَنِبَ الْمَعَاصِيَ الْقَوْلِيَّةَ وَالْفِعْلِيَّةَ وَعَبَّرَ عَنِ الْمَعَاصِي الْقَوْلِيَّةِ بِقَوْلِهِ قَوْلَ الزُّورِ وَعَبَّرَ عَنِ الْمَعَاصِي الْفِعْلِيَّةِ بِقَوْلِهِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَمَعْنَى ذَلِكَ أَنَّ الصَّائِمَ تَصُومُ مَعَهُ جَوَارِحُهُ عَنِ الْمَعَاصِي وَإِلَّا إِذَا لَمْ تَصُمْ جَوَارِحُهُ عَنِ الْمَعَاصِي فَإِنَّ كُلَّ مَعْصِيَةٍ تَقَعُ مِنْهُ تَخْدِشُ فِي صِيَامِهِ وَتُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ فَإِذَا كَثُرَتِ الْمَعَاصِي مِنَ الصَّائِمِ فَقَدْ يَصِلُ لِلْمَرْحَلَةِ الَّتِي ذُكِرَتْ فِي هَذَا الْحَدِيثِ وَهِيَ لَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ أَيْ أَنَّهُ لَا يُؤْجَرُ وَلَا يُثَابُ عَلَى هَذَا الصِّيَامِ وَإِنْ كَانَ الصِّيَامُ تَقَعُ بِهِ بَرَاءَةُ الذِّمَّةِ لِأَنَّهُ قَدْ تَحَقَّقَتْ أَرْكَانُهُ وَشُرُوطُهُ لَكِنَّهُ لَا يُؤْجَرُ عَلَيْهِ وَنَظِيرُ ذَلِكَ الصَّلَاةُ الَّتِي يُصَلِّيهَا وَهُوَ فِي هَوَاجِيسَ وَوَسَاوِسَ مِنْ تَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ إِلَى أَنْ يُسَلِّمَ هَذِهِ الصَّلَاةُ صَحِيحَةٌ مُبْرِئَةٌ لِلذِّمَّةِ لِأَنَّهَا مُكْتَمِلَةُ الْأَرْكَانِ وَالشُّرُوطِ وَالْوَاجِبَاتِ لَكِنَّهُ لَيْسَ لَهُ مِنْ أَجْرِ صَلَاتِهِ إِلَّا بِمِقْدَارِ مَا عَقَلَ مِنْهَا هُنَا أَيْضًا الصِّيَامُ هُوَ صَحِيحٌ مُبْرِئٌ لِلذِّمَّةِ لِكَوْنِهِ الْتَزَمَ بِالِاجْتِنَابِ لِلْمُفَطِّرَاتِ الْحِسِّيَّةِ لَكِنْ إِذَا كَثُرَتِ الْمَعَاصِي مِنْهُ فَقَدْ يَصِلُ إِلَى هَذِهِ الْمَرْحَلَةِ أَنَّهُ لَا يُثَابُ عَلَى الصِّيَامِ إِذًا كُلُّ مَعْصِيَةٍ تَقَعُ مِنَ الصَّائِمِ تُنْقِصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ وَلِهَذَا كَانَ كَثِيرٌ مِنَ السَّلَفِ إِذَا صَامُوا جَلَسُوا فِي الْمَسْجِدِ وَقَالُوا نَحْفَظُ صَوْمَنَا وَلَا نَغْتَابُ أَحَدًا فَالصِّيَامُ مَدْرَسَةٌ لِلْمُسْلِمِ يَتَرَبَّى فِيهَا عَلَى أَنْ يُكْثِرَ مِنَ الطَّاعَاتِ وَأَنْ يَجْتَنِبَ الْمَعَاصِيَ فَلْيَسْتَحْضِرِ الصَّائِمُ هَذَا الْمَعْنَى لِأَنَّهُ إِنْ اسْتَحْضَرَ هَذَا الْمَعْنَى إِذَا أَرَادَ أَنْ يَقَعَ فِي غِيبَةٍ تَذَكَّرَ أَنَّهُ صَائِمٌ وَأَنَّ الْغِيبَةَ تُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ أَيْضًا الْكَلَامَ السَّيِّءَ وَالْفُحْشَ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ السَّبَّ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ الْهَمْزَ وَاللَّمْزَ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ الِاسْتِمَاعَ لِلْمَعَازِفِ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ النَّظَرَ الْمُحَرَّمَ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَهَكَذَا فَيَعْنِي هَذَا الْحَدِيثُ حَدِيثٌ عَظِيمٌ لَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ يَعْنِي هَذَا الصَّوْمُ الَّذِي لَمْ يَتَأَدَّبْ فِيهِ الصَّائِمُ بِاجْتِنَابِ مَعَاصٍ لَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي هَذَا الصَّوْمِ الصَّوْمُ لَيْسَ فَقَطْ إِمْسَاكًا عَنِ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالشَّهْوةِ إِنَّمَا هُوَ أَيْضًا إِمْسَاكٌ عَنِ الْمَعَاصِي وَتَأَدُّبٌ بِآدَابِ الصِّيَامِ

Ternyata Maksiat Ini Tetap Mengurangi Pahala Puasa Meski Puasa Anda Sah – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa orang yang berpuasa, sebagaimana ia wajib menahan diri dari makan, minum, berhubungan suami istri, dan segala pembatal puasa lainnya, maka ia pun wajib menjauhi segala kemaksiatan, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan. Nabi menyebutkan kemaksiatan lisan dengan sabda beliau: “Perkataan dusta.” Dan beliau menyebutkan kemaksiatan perbuatan dengan sabda beliau: “Serta mengamalkannya.” Maknanya, anggota tubuh orang yang berpuasa pun harus ikut berpuasa dari segala maksiat. Apabila anggota tubuhnya tidak ikut berpuasa dari kemaksiatan, maka setiap kemaksiatan yang ia lakukan akan mencederai puasanya dan mengurangi pahalanya. Jika kemaksiatan yang dilakukan semakin banyak, ia bisa sampai pada tingkatan yang disebutkan dalam hadis ini, yaitu: “…Allah tidak memerlukan usahanya dalam meninggalkan makan dan minum.” Yakni, ia tidak mendapatkan pahala atas puasanya tersebut. Meskipun secara hukum puasanya telah menggugurkan kewajiban, karena rukun dan syarat-syaratnya telah terpenuhi, tapi ia tidak mendapat pahala atas puasa itu. Ini serupa dengan shalat yang ia kerjakan, tapi pikirannya melantur ke mana-mana sejak takbiratul ihram hingga salam. Shalat itu sah dan telah menggugurkan kewajiban, karena terpenuhi rukun, syarat, dan wajib-wajibnya. Akan tetapi, ia tidak mendapatkan pahala kecuali sesuai dengan kadar kekhusyukannya. Begitu pula dengan puasa, ia dianggap sah dan menggugurkan kewajiban selama ia menjauhi pembatal-pembatal puasa yang bersifat fisik. Namun jika maksiatnya terlalu banyak, ia bisa sampai pada kondisi tidak mendapatkan pahala sama sekali. Jadi, setiap maksiat yang dilakukan akan terus mengurangi pahala orang yang berpuasa. Oleh sebab itu, banyak dari generasi salaf yang memilih berdiam di masjid saat berpuasa. Mereka berkata: “Kami ingin menjaga puasa kami dan tidak menggunjing siapa pun.” Jadi, puasa adalah madrasah bagi seorang muslim untuk mendidik diri agar memperbanyak ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Hendaknya setiap orang yang berpuasa meresapi makna ini. Jika ia meresapinya, maka saat hendak terjerumus ke dalam gibah, ia akan segera tersadar bahwa ia sedang berpuasa, dan ia sadar bahwa gibah akan menggerus pahalanya. Begitu pula ucapan kotor dan keji akan mengurangi pahalanya. Mencaci maki juga akan mengurangi pahalanya. Menghina dan merendahkan orang lain dapat mengurangi pahalanya. Bahkan mendengarkan musik akan mengurangi pahala puasanya. Melihat hal yang haram mengurangi pahala puasanya, dan seterusnya. Maka hadis ini merupakan hadis yang agung, “…Allah tidak memerlukan usahanya dalam meninggalkan makan dan minum.” Maksudnya, puasa yang pelakunya tidak menjaga adab dengan menjauhi maksiat, Allah tidak memerlukan puasa yang seperti itu. Puasa bukan sekadar menahan lapar, dahaga, dan syahwat belaka. Melainkan juga menahan diri dari segala kemaksiatan dan menghiasi diri dengan adab-adab puasa. ===== وَهَذَا الْحَدِيثُ يُبَيِّنُ فِيهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الصَّائِمَ أَنَّ الصَّائِمَ كَمَا يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَجْتَنِبَ الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ وَالْجِمَاعَ وَمَا كَانَ فِي مَعْنَاهَا فَيَجِبُ عَلَيْهِ كَذَلِكَ أَنْ يَجْتَنِبَ الْمَعَاصِيَ الْقَوْلِيَّةَ وَالْفِعْلِيَّةَ وَعَبَّرَ عَنِ الْمَعَاصِي الْقَوْلِيَّةِ بِقَوْلِهِ قَوْلَ الزُّورِ وَعَبَّرَ عَنِ الْمَعَاصِي الْفِعْلِيَّةِ بِقَوْلِهِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَمَعْنَى ذَلِكَ أَنَّ الصَّائِمَ تَصُومُ مَعَهُ جَوَارِحُهُ عَنِ الْمَعَاصِي وَإِلَّا إِذَا لَمْ تَصُمْ جَوَارِحُهُ عَنِ الْمَعَاصِي فَإِنَّ كُلَّ مَعْصِيَةٍ تَقَعُ مِنْهُ تَخْدِشُ فِي صِيَامِهِ وَتُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ فَإِذَا كَثُرَتِ الْمَعَاصِي مِنَ الصَّائِمِ فَقَدْ يَصِلُ لِلْمَرْحَلَةِ الَّتِي ذُكِرَتْ فِي هَذَا الْحَدِيثِ وَهِيَ لَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ أَيْ أَنَّهُ لَا يُؤْجَرُ وَلَا يُثَابُ عَلَى هَذَا الصِّيَامِ وَإِنْ كَانَ الصِّيَامُ تَقَعُ بِهِ بَرَاءَةُ الذِّمَّةِ لِأَنَّهُ قَدْ تَحَقَّقَتْ أَرْكَانُهُ وَشُرُوطُهُ لَكِنَّهُ لَا يُؤْجَرُ عَلَيْهِ وَنَظِيرُ ذَلِكَ الصَّلَاةُ الَّتِي يُصَلِّيهَا وَهُوَ فِي هَوَاجِيسَ وَوَسَاوِسَ مِنْ تَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ إِلَى أَنْ يُسَلِّمَ هَذِهِ الصَّلَاةُ صَحِيحَةٌ مُبْرِئَةٌ لِلذِّمَّةِ لِأَنَّهَا مُكْتَمِلَةُ الْأَرْكَانِ وَالشُّرُوطِ وَالْوَاجِبَاتِ لَكِنَّهُ لَيْسَ لَهُ مِنْ أَجْرِ صَلَاتِهِ إِلَّا بِمِقْدَارِ مَا عَقَلَ مِنْهَا هُنَا أَيْضًا الصِّيَامُ هُوَ صَحِيحٌ مُبْرِئٌ لِلذِّمَّةِ لِكَوْنِهِ الْتَزَمَ بِالِاجْتِنَابِ لِلْمُفَطِّرَاتِ الْحِسِّيَّةِ لَكِنْ إِذَا كَثُرَتِ الْمَعَاصِي مِنْهُ فَقَدْ يَصِلُ إِلَى هَذِهِ الْمَرْحَلَةِ أَنَّهُ لَا يُثَابُ عَلَى الصِّيَامِ إِذًا كُلُّ مَعْصِيَةٍ تَقَعُ مِنَ الصَّائِمِ تُنْقِصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ وَلِهَذَا كَانَ كَثِيرٌ مِنَ السَّلَفِ إِذَا صَامُوا جَلَسُوا فِي الْمَسْجِدِ وَقَالُوا نَحْفَظُ صَوْمَنَا وَلَا نَغْتَابُ أَحَدًا فَالصِّيَامُ مَدْرَسَةٌ لِلْمُسْلِمِ يَتَرَبَّى فِيهَا عَلَى أَنْ يُكْثِرَ مِنَ الطَّاعَاتِ وَأَنْ يَجْتَنِبَ الْمَعَاصِيَ فَلْيَسْتَحْضِرِ الصَّائِمُ هَذَا الْمَعْنَى لِأَنَّهُ إِنْ اسْتَحْضَرَ هَذَا الْمَعْنَى إِذَا أَرَادَ أَنْ يَقَعَ فِي غِيبَةٍ تَذَكَّرَ أَنَّهُ صَائِمٌ وَأَنَّ الْغِيبَةَ تُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ أَيْضًا الْكَلَامَ السَّيِّءَ وَالْفُحْشَ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ السَّبَّ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ الْهَمْزَ وَاللَّمْزَ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ الِاسْتِمَاعَ لِلْمَعَازِفِ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ النَّظَرَ الْمُحَرَّمَ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَهَكَذَا فَيَعْنِي هَذَا الْحَدِيثُ حَدِيثٌ عَظِيمٌ لَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ يَعْنِي هَذَا الصَّوْمُ الَّذِي لَمْ يَتَأَدَّبْ فِيهِ الصَّائِمُ بِاجْتِنَابِ مَعَاصٍ لَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي هَذَا الصَّوْمِ الصَّوْمُ لَيْسَ فَقَطْ إِمْسَاكًا عَنِ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالشَّهْوةِ إِنَّمَا هُوَ أَيْضًا إِمْسَاكٌ عَنِ الْمَعَاصِي وَتَأَدُّبٌ بِآدَابِ الصِّيَامِ
Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa orang yang berpuasa, sebagaimana ia wajib menahan diri dari makan, minum, berhubungan suami istri, dan segala pembatal puasa lainnya, maka ia pun wajib menjauhi segala kemaksiatan, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan. Nabi menyebutkan kemaksiatan lisan dengan sabda beliau: “Perkataan dusta.” Dan beliau menyebutkan kemaksiatan perbuatan dengan sabda beliau: “Serta mengamalkannya.” Maknanya, anggota tubuh orang yang berpuasa pun harus ikut berpuasa dari segala maksiat. Apabila anggota tubuhnya tidak ikut berpuasa dari kemaksiatan, maka setiap kemaksiatan yang ia lakukan akan mencederai puasanya dan mengurangi pahalanya. Jika kemaksiatan yang dilakukan semakin banyak, ia bisa sampai pada tingkatan yang disebutkan dalam hadis ini, yaitu: “…Allah tidak memerlukan usahanya dalam meninggalkan makan dan minum.” Yakni, ia tidak mendapatkan pahala atas puasanya tersebut. Meskipun secara hukum puasanya telah menggugurkan kewajiban, karena rukun dan syarat-syaratnya telah terpenuhi, tapi ia tidak mendapat pahala atas puasa itu. Ini serupa dengan shalat yang ia kerjakan, tapi pikirannya melantur ke mana-mana sejak takbiratul ihram hingga salam. Shalat itu sah dan telah menggugurkan kewajiban, karena terpenuhi rukun, syarat, dan wajib-wajibnya. Akan tetapi, ia tidak mendapatkan pahala kecuali sesuai dengan kadar kekhusyukannya. Begitu pula dengan puasa, ia dianggap sah dan menggugurkan kewajiban selama ia menjauhi pembatal-pembatal puasa yang bersifat fisik. Namun jika maksiatnya terlalu banyak, ia bisa sampai pada kondisi tidak mendapatkan pahala sama sekali. Jadi, setiap maksiat yang dilakukan akan terus mengurangi pahala orang yang berpuasa. Oleh sebab itu, banyak dari generasi salaf yang memilih berdiam di masjid saat berpuasa. Mereka berkata: “Kami ingin menjaga puasa kami dan tidak menggunjing siapa pun.” Jadi, puasa adalah madrasah bagi seorang muslim untuk mendidik diri agar memperbanyak ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Hendaknya setiap orang yang berpuasa meresapi makna ini. Jika ia meresapinya, maka saat hendak terjerumus ke dalam gibah, ia akan segera tersadar bahwa ia sedang berpuasa, dan ia sadar bahwa gibah akan menggerus pahalanya. Begitu pula ucapan kotor dan keji akan mengurangi pahalanya. Mencaci maki juga akan mengurangi pahalanya. Menghina dan merendahkan orang lain dapat mengurangi pahalanya. Bahkan mendengarkan musik akan mengurangi pahala puasanya. Melihat hal yang haram mengurangi pahala puasanya, dan seterusnya. Maka hadis ini merupakan hadis yang agung, “…Allah tidak memerlukan usahanya dalam meninggalkan makan dan minum.” Maksudnya, puasa yang pelakunya tidak menjaga adab dengan menjauhi maksiat, Allah tidak memerlukan puasa yang seperti itu. Puasa bukan sekadar menahan lapar, dahaga, dan syahwat belaka. Melainkan juga menahan diri dari segala kemaksiatan dan menghiasi diri dengan adab-adab puasa. ===== وَهَذَا الْحَدِيثُ يُبَيِّنُ فِيهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الصَّائِمَ أَنَّ الصَّائِمَ كَمَا يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَجْتَنِبَ الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ وَالْجِمَاعَ وَمَا كَانَ فِي مَعْنَاهَا فَيَجِبُ عَلَيْهِ كَذَلِكَ أَنْ يَجْتَنِبَ الْمَعَاصِيَ الْقَوْلِيَّةَ وَالْفِعْلِيَّةَ وَعَبَّرَ عَنِ الْمَعَاصِي الْقَوْلِيَّةِ بِقَوْلِهِ قَوْلَ الزُّورِ وَعَبَّرَ عَنِ الْمَعَاصِي الْفِعْلِيَّةِ بِقَوْلِهِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَمَعْنَى ذَلِكَ أَنَّ الصَّائِمَ تَصُومُ مَعَهُ جَوَارِحُهُ عَنِ الْمَعَاصِي وَإِلَّا إِذَا لَمْ تَصُمْ جَوَارِحُهُ عَنِ الْمَعَاصِي فَإِنَّ كُلَّ مَعْصِيَةٍ تَقَعُ مِنْهُ تَخْدِشُ فِي صِيَامِهِ وَتُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ فَإِذَا كَثُرَتِ الْمَعَاصِي مِنَ الصَّائِمِ فَقَدْ يَصِلُ لِلْمَرْحَلَةِ الَّتِي ذُكِرَتْ فِي هَذَا الْحَدِيثِ وَهِيَ لَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ أَيْ أَنَّهُ لَا يُؤْجَرُ وَلَا يُثَابُ عَلَى هَذَا الصِّيَامِ وَإِنْ كَانَ الصِّيَامُ تَقَعُ بِهِ بَرَاءَةُ الذِّمَّةِ لِأَنَّهُ قَدْ تَحَقَّقَتْ أَرْكَانُهُ وَشُرُوطُهُ لَكِنَّهُ لَا يُؤْجَرُ عَلَيْهِ وَنَظِيرُ ذَلِكَ الصَّلَاةُ الَّتِي يُصَلِّيهَا وَهُوَ فِي هَوَاجِيسَ وَوَسَاوِسَ مِنْ تَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ إِلَى أَنْ يُسَلِّمَ هَذِهِ الصَّلَاةُ صَحِيحَةٌ مُبْرِئَةٌ لِلذِّمَّةِ لِأَنَّهَا مُكْتَمِلَةُ الْأَرْكَانِ وَالشُّرُوطِ وَالْوَاجِبَاتِ لَكِنَّهُ لَيْسَ لَهُ مِنْ أَجْرِ صَلَاتِهِ إِلَّا بِمِقْدَارِ مَا عَقَلَ مِنْهَا هُنَا أَيْضًا الصِّيَامُ هُوَ صَحِيحٌ مُبْرِئٌ لِلذِّمَّةِ لِكَوْنِهِ الْتَزَمَ بِالِاجْتِنَابِ لِلْمُفَطِّرَاتِ الْحِسِّيَّةِ لَكِنْ إِذَا كَثُرَتِ الْمَعَاصِي مِنْهُ فَقَدْ يَصِلُ إِلَى هَذِهِ الْمَرْحَلَةِ أَنَّهُ لَا يُثَابُ عَلَى الصِّيَامِ إِذًا كُلُّ مَعْصِيَةٍ تَقَعُ مِنَ الصَّائِمِ تُنْقِصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ وَلِهَذَا كَانَ كَثِيرٌ مِنَ السَّلَفِ إِذَا صَامُوا جَلَسُوا فِي الْمَسْجِدِ وَقَالُوا نَحْفَظُ صَوْمَنَا وَلَا نَغْتَابُ أَحَدًا فَالصِّيَامُ مَدْرَسَةٌ لِلْمُسْلِمِ يَتَرَبَّى فِيهَا عَلَى أَنْ يُكْثِرَ مِنَ الطَّاعَاتِ وَأَنْ يَجْتَنِبَ الْمَعَاصِيَ فَلْيَسْتَحْضِرِ الصَّائِمُ هَذَا الْمَعْنَى لِأَنَّهُ إِنْ اسْتَحْضَرَ هَذَا الْمَعْنَى إِذَا أَرَادَ أَنْ يَقَعَ فِي غِيبَةٍ تَذَكَّرَ أَنَّهُ صَائِمٌ وَأَنَّ الْغِيبَةَ تُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ أَيْضًا الْكَلَامَ السَّيِّءَ وَالْفُحْشَ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ السَّبَّ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ الْهَمْزَ وَاللَّمْزَ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ الِاسْتِمَاعَ لِلْمَعَازِفِ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ النَّظَرَ الْمُحَرَّمَ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَهَكَذَا فَيَعْنِي هَذَا الْحَدِيثُ حَدِيثٌ عَظِيمٌ لَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ يَعْنِي هَذَا الصَّوْمُ الَّذِي لَمْ يَتَأَدَّبْ فِيهِ الصَّائِمُ بِاجْتِنَابِ مَعَاصٍ لَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي هَذَا الصَّوْمِ الصَّوْمُ لَيْسَ فَقَطْ إِمْسَاكًا عَنِ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالشَّهْوةِ إِنَّمَا هُوَ أَيْضًا إِمْسَاكٌ عَنِ الْمَعَاصِي وَتَأَدُّبٌ بِآدَابِ الصِّيَامِ


Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa orang yang berpuasa, sebagaimana ia wajib menahan diri dari makan, minum, berhubungan suami istri, dan segala pembatal puasa lainnya, maka ia pun wajib menjauhi segala kemaksiatan, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan. Nabi menyebutkan kemaksiatan lisan dengan sabda beliau: “Perkataan dusta.” Dan beliau menyebutkan kemaksiatan perbuatan dengan sabda beliau: “Serta mengamalkannya.” Maknanya, anggota tubuh orang yang berpuasa pun harus ikut berpuasa dari segala maksiat. Apabila anggota tubuhnya tidak ikut berpuasa dari kemaksiatan, maka setiap kemaksiatan yang ia lakukan akan mencederai puasanya dan mengurangi pahalanya. Jika kemaksiatan yang dilakukan semakin banyak, ia bisa sampai pada tingkatan yang disebutkan dalam hadis ini, yaitu: “…Allah tidak memerlukan usahanya dalam meninggalkan makan dan minum.” Yakni, ia tidak mendapatkan pahala atas puasanya tersebut. Meskipun secara hukum puasanya telah menggugurkan kewajiban, karena rukun dan syarat-syaratnya telah terpenuhi, tapi ia tidak mendapat pahala atas puasa itu. Ini serupa dengan shalat yang ia kerjakan, tapi pikirannya melantur ke mana-mana sejak takbiratul ihram hingga salam. Shalat itu sah dan telah menggugurkan kewajiban, karena terpenuhi rukun, syarat, dan wajib-wajibnya. Akan tetapi, ia tidak mendapatkan pahala kecuali sesuai dengan kadar kekhusyukannya. Begitu pula dengan puasa, ia dianggap sah dan menggugurkan kewajiban selama ia menjauhi pembatal-pembatal puasa yang bersifat fisik. Namun jika maksiatnya terlalu banyak, ia bisa sampai pada kondisi tidak mendapatkan pahala sama sekali. Jadi, setiap maksiat yang dilakukan akan terus mengurangi pahala orang yang berpuasa. Oleh sebab itu, banyak dari generasi salaf yang memilih berdiam di masjid saat berpuasa. Mereka berkata: “Kami ingin menjaga puasa kami dan tidak menggunjing siapa pun.” Jadi, puasa adalah madrasah bagi seorang muslim untuk mendidik diri agar memperbanyak ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Hendaknya setiap orang yang berpuasa meresapi makna ini. Jika ia meresapinya, maka saat hendak terjerumus ke dalam gibah, ia akan segera tersadar bahwa ia sedang berpuasa, dan ia sadar bahwa gibah akan menggerus pahalanya. Begitu pula ucapan kotor dan keji akan mengurangi pahalanya. Mencaci maki juga akan mengurangi pahalanya. Menghina dan merendahkan orang lain dapat mengurangi pahalanya. Bahkan mendengarkan musik akan mengurangi pahala puasanya. Melihat hal yang haram mengurangi pahala puasanya, dan seterusnya. Maka hadis ini merupakan hadis yang agung, “…Allah tidak memerlukan usahanya dalam meninggalkan makan dan minum.” Maksudnya, puasa yang pelakunya tidak menjaga adab dengan menjauhi maksiat, Allah tidak memerlukan puasa yang seperti itu. Puasa bukan sekadar menahan lapar, dahaga, dan syahwat belaka. Melainkan juga menahan diri dari segala kemaksiatan dan menghiasi diri dengan adab-adab puasa. ===== وَهَذَا الْحَدِيثُ يُبَيِّنُ فِيهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الصَّائِمَ أَنَّ الصَّائِمَ كَمَا يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَجْتَنِبَ الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ وَالْجِمَاعَ وَمَا كَانَ فِي مَعْنَاهَا فَيَجِبُ عَلَيْهِ كَذَلِكَ أَنْ يَجْتَنِبَ الْمَعَاصِيَ الْقَوْلِيَّةَ وَالْفِعْلِيَّةَ وَعَبَّرَ عَنِ الْمَعَاصِي الْقَوْلِيَّةِ بِقَوْلِهِ قَوْلَ الزُّورِ وَعَبَّرَ عَنِ الْمَعَاصِي الْفِعْلِيَّةِ بِقَوْلِهِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَمَعْنَى ذَلِكَ أَنَّ الصَّائِمَ تَصُومُ مَعَهُ جَوَارِحُهُ عَنِ الْمَعَاصِي وَإِلَّا إِذَا لَمْ تَصُمْ جَوَارِحُهُ عَنِ الْمَعَاصِي فَإِنَّ كُلَّ مَعْصِيَةٍ تَقَعُ مِنْهُ تَخْدِشُ فِي صِيَامِهِ وَتُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ فَإِذَا كَثُرَتِ الْمَعَاصِي مِنَ الصَّائِمِ فَقَدْ يَصِلُ لِلْمَرْحَلَةِ الَّتِي ذُكِرَتْ فِي هَذَا الْحَدِيثِ وَهِيَ لَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ أَيْ أَنَّهُ لَا يُؤْجَرُ وَلَا يُثَابُ عَلَى هَذَا الصِّيَامِ وَإِنْ كَانَ الصِّيَامُ تَقَعُ بِهِ بَرَاءَةُ الذِّمَّةِ لِأَنَّهُ قَدْ تَحَقَّقَتْ أَرْكَانُهُ وَشُرُوطُهُ لَكِنَّهُ لَا يُؤْجَرُ عَلَيْهِ وَنَظِيرُ ذَلِكَ الصَّلَاةُ الَّتِي يُصَلِّيهَا وَهُوَ فِي هَوَاجِيسَ وَوَسَاوِسَ مِنْ تَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ إِلَى أَنْ يُسَلِّمَ هَذِهِ الصَّلَاةُ صَحِيحَةٌ مُبْرِئَةٌ لِلذِّمَّةِ لِأَنَّهَا مُكْتَمِلَةُ الْأَرْكَانِ وَالشُّرُوطِ وَالْوَاجِبَاتِ لَكِنَّهُ لَيْسَ لَهُ مِنْ أَجْرِ صَلَاتِهِ إِلَّا بِمِقْدَارِ مَا عَقَلَ مِنْهَا هُنَا أَيْضًا الصِّيَامُ هُوَ صَحِيحٌ مُبْرِئٌ لِلذِّمَّةِ لِكَوْنِهِ الْتَزَمَ بِالِاجْتِنَابِ لِلْمُفَطِّرَاتِ الْحِسِّيَّةِ لَكِنْ إِذَا كَثُرَتِ الْمَعَاصِي مِنْهُ فَقَدْ يَصِلُ إِلَى هَذِهِ الْمَرْحَلَةِ أَنَّهُ لَا يُثَابُ عَلَى الصِّيَامِ إِذًا كُلُّ مَعْصِيَةٍ تَقَعُ مِنَ الصَّائِمِ تُنْقِصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ وَلِهَذَا كَانَ كَثِيرٌ مِنَ السَّلَفِ إِذَا صَامُوا جَلَسُوا فِي الْمَسْجِدِ وَقَالُوا نَحْفَظُ صَوْمَنَا وَلَا نَغْتَابُ أَحَدًا فَالصِّيَامُ مَدْرَسَةٌ لِلْمُسْلِمِ يَتَرَبَّى فِيهَا عَلَى أَنْ يُكْثِرَ مِنَ الطَّاعَاتِ وَأَنْ يَجْتَنِبَ الْمَعَاصِيَ فَلْيَسْتَحْضِرِ الصَّائِمُ هَذَا الْمَعْنَى لِأَنَّهُ إِنْ اسْتَحْضَرَ هَذَا الْمَعْنَى إِذَا أَرَادَ أَنْ يَقَعَ فِي غِيبَةٍ تَذَكَّرَ أَنَّهُ صَائِمٌ وَأَنَّ الْغِيبَةَ تُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ أَيْضًا الْكَلَامَ السَّيِّءَ وَالْفُحْشَ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ السَّبَّ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ الْهَمْزَ وَاللَّمْزَ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ الِاسْتِمَاعَ لِلْمَعَازِفِ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ النَّظَرَ الْمُحَرَّمَ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَهَكَذَا فَيَعْنِي هَذَا الْحَدِيثُ حَدِيثٌ عَظِيمٌ لَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ يَعْنِي هَذَا الصَّوْمُ الَّذِي لَمْ يَتَأَدَّبْ فِيهِ الصَّائِمُ بِاجْتِنَابِ مَعَاصٍ لَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي هَذَا الصَّوْمِ الصَّوْمُ لَيْسَ فَقَطْ إِمْسَاكًا عَنِ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالشَّهْوةِ إِنَّمَا هُوَ أَيْضًا إِمْسَاكٌ عَنِ الْمَعَاصِي وَتَأَدُّبٌ بِآدَابِ الصِّيَامِ

Tarawih Kilat atau Panjang? Simak Aturan Sunnah yang Jarang Disadari Para Imam

Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada Anda. Penanya bertanya: “Manakah yang sesuai sunnah, memanjangkan atau memendekkan Shalat Tarawih?” Hal ini tergantung pada kondisi jemaah, yakni menyesuaikan dengan keadaan para jemaah. Imam Ahmad rahimahullah, ketika ditanya mengenai hal tersebut, mengisyaratkan jawaban yang semakna dengan ini. Maka hendaknya seorang imam memperhatikan kondisi jemaahnya, lalu shalat sesuai dengan kemampuan dan apa yang mudah bagi mereka. Jika memungkinkan untuk mengkhatamkan Al-Qur’an bersama mereka dalam sebulan, dengan membaca satu juz setiap malam hingga khatam, maka hal itu lebih utama (afdal), agar dalam Shalat Tarawih mereka bisa menuntaskan mendengarkan seluruh Al-Qur’an dari awal sampai akhir, dalam keadaan berdiri shalat karena Allah ‘Azza wa Jalla. Tentu ini merupakan sebuah keberuntungan yang sangat besar dan agung. Namun jika tidak memungkinkan, hendaknya ia membaca setengah Al-Qur’an, atau lebih atau kurang dari itu, dengan tetap bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan melakukan amalan tersebut semampunya, sesuai dengan situasi dan tetap mempertimbangkan kondisi para jemaah. ===== أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ، يَقُولُ السَّائِلُ هَلِ السُّنَّةُ فِي صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ الإِطَالَةُ أَوِ التَّقْصِيرُ؟ هَذَا بِحَسَبِ حَالِ النَّاسِ بِحَسَبِ حَالِ النَّاسِ وَالإِمَامُ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللَّهُ لَمَّا سُئِلَ عَنْ ذَلِكَ أَشَارَ إِلَى هَذَا الْمَعْنَى فَالإِمَامُ يَنْظُرُ فِي حَالِ النَّاسِ وَيُصَلِّي مَا تَيَسَّرَ، يُصَلِّي مَا تَيَسَّرَ إِنْ أَمْكَنَ أَنْ يَخْتِمَ بِهِمْ فِي الشَّهْرِ يَقْرَأُ كُلَّ لَيْلَةٍ جُزْءًا بِحَيْثُ يَخْتِمُونَ فَهَذَا أَفْضَلُ حَتَّى يَمُرَّ عَلَيْهِمْ فِي التَّرَاوِيحِ سَمَاعُ الْقُرْآنِ كُلَّهُ مِنْ أَوَّلِهِ إِلَى آخِرِهِ وَهُمْ قِيَامٌ يُصَلُّونَ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهَذِهِ غَنِيمَةٌ عَظِيمَةٌ وَكَبِيرَةٌ وَإِنْ لَمْ يَتَيَسَّرْ، وَقَرَأَ نِصْفَ الْقُرْآنِ أَوْ أَكْثَرَ أَوْ أَقَلَّ، يَتَّقِ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَيَفْعَلُ مِنْ ذَلِكَ مَا تَيَسَّرَ لَهُ بِحَسَبِ الْحَالِ وَمُرَاعَاةِ أَيْضًا الْجَمَاعَةِ

Tarawih Kilat atau Panjang? Simak Aturan Sunnah yang Jarang Disadari Para Imam

Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada Anda. Penanya bertanya: “Manakah yang sesuai sunnah, memanjangkan atau memendekkan Shalat Tarawih?” Hal ini tergantung pada kondisi jemaah, yakni menyesuaikan dengan keadaan para jemaah. Imam Ahmad rahimahullah, ketika ditanya mengenai hal tersebut, mengisyaratkan jawaban yang semakna dengan ini. Maka hendaknya seorang imam memperhatikan kondisi jemaahnya, lalu shalat sesuai dengan kemampuan dan apa yang mudah bagi mereka. Jika memungkinkan untuk mengkhatamkan Al-Qur’an bersama mereka dalam sebulan, dengan membaca satu juz setiap malam hingga khatam, maka hal itu lebih utama (afdal), agar dalam Shalat Tarawih mereka bisa menuntaskan mendengarkan seluruh Al-Qur’an dari awal sampai akhir, dalam keadaan berdiri shalat karena Allah ‘Azza wa Jalla. Tentu ini merupakan sebuah keberuntungan yang sangat besar dan agung. Namun jika tidak memungkinkan, hendaknya ia membaca setengah Al-Qur’an, atau lebih atau kurang dari itu, dengan tetap bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan melakukan amalan tersebut semampunya, sesuai dengan situasi dan tetap mempertimbangkan kondisi para jemaah. ===== أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ، يَقُولُ السَّائِلُ هَلِ السُّنَّةُ فِي صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ الإِطَالَةُ أَوِ التَّقْصِيرُ؟ هَذَا بِحَسَبِ حَالِ النَّاسِ بِحَسَبِ حَالِ النَّاسِ وَالإِمَامُ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللَّهُ لَمَّا سُئِلَ عَنْ ذَلِكَ أَشَارَ إِلَى هَذَا الْمَعْنَى فَالإِمَامُ يَنْظُرُ فِي حَالِ النَّاسِ وَيُصَلِّي مَا تَيَسَّرَ، يُصَلِّي مَا تَيَسَّرَ إِنْ أَمْكَنَ أَنْ يَخْتِمَ بِهِمْ فِي الشَّهْرِ يَقْرَأُ كُلَّ لَيْلَةٍ جُزْءًا بِحَيْثُ يَخْتِمُونَ فَهَذَا أَفْضَلُ حَتَّى يَمُرَّ عَلَيْهِمْ فِي التَّرَاوِيحِ سَمَاعُ الْقُرْآنِ كُلَّهُ مِنْ أَوَّلِهِ إِلَى آخِرِهِ وَهُمْ قِيَامٌ يُصَلُّونَ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهَذِهِ غَنِيمَةٌ عَظِيمَةٌ وَكَبِيرَةٌ وَإِنْ لَمْ يَتَيَسَّرْ، وَقَرَأَ نِصْفَ الْقُرْآنِ أَوْ أَكْثَرَ أَوْ أَقَلَّ، يَتَّقِ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَيَفْعَلُ مِنْ ذَلِكَ مَا تَيَسَّرَ لَهُ بِحَسَبِ الْحَالِ وَمُرَاعَاةِ أَيْضًا الْجَمَاعَةِ
Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada Anda. Penanya bertanya: “Manakah yang sesuai sunnah, memanjangkan atau memendekkan Shalat Tarawih?” Hal ini tergantung pada kondisi jemaah, yakni menyesuaikan dengan keadaan para jemaah. Imam Ahmad rahimahullah, ketika ditanya mengenai hal tersebut, mengisyaratkan jawaban yang semakna dengan ini. Maka hendaknya seorang imam memperhatikan kondisi jemaahnya, lalu shalat sesuai dengan kemampuan dan apa yang mudah bagi mereka. Jika memungkinkan untuk mengkhatamkan Al-Qur’an bersama mereka dalam sebulan, dengan membaca satu juz setiap malam hingga khatam, maka hal itu lebih utama (afdal), agar dalam Shalat Tarawih mereka bisa menuntaskan mendengarkan seluruh Al-Qur’an dari awal sampai akhir, dalam keadaan berdiri shalat karena Allah ‘Azza wa Jalla. Tentu ini merupakan sebuah keberuntungan yang sangat besar dan agung. Namun jika tidak memungkinkan, hendaknya ia membaca setengah Al-Qur’an, atau lebih atau kurang dari itu, dengan tetap bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan melakukan amalan tersebut semampunya, sesuai dengan situasi dan tetap mempertimbangkan kondisi para jemaah. ===== أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ، يَقُولُ السَّائِلُ هَلِ السُّنَّةُ فِي صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ الإِطَالَةُ أَوِ التَّقْصِيرُ؟ هَذَا بِحَسَبِ حَالِ النَّاسِ بِحَسَبِ حَالِ النَّاسِ وَالإِمَامُ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللَّهُ لَمَّا سُئِلَ عَنْ ذَلِكَ أَشَارَ إِلَى هَذَا الْمَعْنَى فَالإِمَامُ يَنْظُرُ فِي حَالِ النَّاسِ وَيُصَلِّي مَا تَيَسَّرَ، يُصَلِّي مَا تَيَسَّرَ إِنْ أَمْكَنَ أَنْ يَخْتِمَ بِهِمْ فِي الشَّهْرِ يَقْرَأُ كُلَّ لَيْلَةٍ جُزْءًا بِحَيْثُ يَخْتِمُونَ فَهَذَا أَفْضَلُ حَتَّى يَمُرَّ عَلَيْهِمْ فِي التَّرَاوِيحِ سَمَاعُ الْقُرْآنِ كُلَّهُ مِنْ أَوَّلِهِ إِلَى آخِرِهِ وَهُمْ قِيَامٌ يُصَلُّونَ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهَذِهِ غَنِيمَةٌ عَظِيمَةٌ وَكَبِيرَةٌ وَإِنْ لَمْ يَتَيَسَّرْ، وَقَرَأَ نِصْفَ الْقُرْآنِ أَوْ أَكْثَرَ أَوْ أَقَلَّ، يَتَّقِ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَيَفْعَلُ مِنْ ذَلِكَ مَا تَيَسَّرَ لَهُ بِحَسَبِ الْحَالِ وَمُرَاعَاةِ أَيْضًا الْجَمَاعَةِ


Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada Anda. Penanya bertanya: “Manakah yang sesuai sunnah, memanjangkan atau memendekkan Shalat Tarawih?” Hal ini tergantung pada kondisi jemaah, yakni menyesuaikan dengan keadaan para jemaah. Imam Ahmad rahimahullah, ketika ditanya mengenai hal tersebut, mengisyaratkan jawaban yang semakna dengan ini. Maka hendaknya seorang imam memperhatikan kondisi jemaahnya, lalu shalat sesuai dengan kemampuan dan apa yang mudah bagi mereka. Jika memungkinkan untuk mengkhatamkan Al-Qur’an bersama mereka dalam sebulan, dengan membaca satu juz setiap malam hingga khatam, maka hal itu lebih utama (afdal), agar dalam Shalat Tarawih mereka bisa menuntaskan mendengarkan seluruh Al-Qur’an dari awal sampai akhir, dalam keadaan berdiri shalat karena Allah ‘Azza wa Jalla. Tentu ini merupakan sebuah keberuntungan yang sangat besar dan agung. Namun jika tidak memungkinkan, hendaknya ia membaca setengah Al-Qur’an, atau lebih atau kurang dari itu, dengan tetap bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan melakukan amalan tersebut semampunya, sesuai dengan situasi dan tetap mempertimbangkan kondisi para jemaah. ===== أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ، يَقُولُ السَّائِلُ هَلِ السُّنَّةُ فِي صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ الإِطَالَةُ أَوِ التَّقْصِيرُ؟ هَذَا بِحَسَبِ حَالِ النَّاسِ بِحَسَبِ حَالِ النَّاسِ وَالإِمَامُ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللَّهُ لَمَّا سُئِلَ عَنْ ذَلِكَ أَشَارَ إِلَى هَذَا الْمَعْنَى فَالإِمَامُ يَنْظُرُ فِي حَالِ النَّاسِ وَيُصَلِّي مَا تَيَسَّرَ، يُصَلِّي مَا تَيَسَّرَ إِنْ أَمْكَنَ أَنْ يَخْتِمَ بِهِمْ فِي الشَّهْرِ يَقْرَأُ كُلَّ لَيْلَةٍ جُزْءًا بِحَيْثُ يَخْتِمُونَ فَهَذَا أَفْضَلُ حَتَّى يَمُرَّ عَلَيْهِمْ فِي التَّرَاوِيحِ سَمَاعُ الْقُرْآنِ كُلَّهُ مِنْ أَوَّلِهِ إِلَى آخِرِهِ وَهُمْ قِيَامٌ يُصَلُّونَ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهَذِهِ غَنِيمَةٌ عَظِيمَةٌ وَكَبِيرَةٌ وَإِنْ لَمْ يَتَيَسَّرْ، وَقَرَأَ نِصْفَ الْقُرْآنِ أَوْ أَكْثَرَ أَوْ أَقَلَّ، يَتَّقِ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَيَفْعَلُ مِنْ ذَلِكَ مَا تَيَسَّرَ لَهُ بِحَسَبِ الْحَالِ وَمُرَاعَاةِ أَيْضًا الْجَمَاعَةِ

Rahmat yang Paling Cepat Turun! Rahasia Besar di Balik Menyimak Al-Qur’an

Pahala menyimak bacaan Al-Qur’an sangatlah besar. Bahkan, sebagian ulama pensyarah hadits menyatakan bahwa pahala orang yang menyimak bacaan Al-Qur’an setara dengan pahala orang yang membacanya. Ibnu Baththal menyebutkan dalam Syarh Shahih Al-Bukhari, beliau berkata: “Tidak ada rahmat yang turunnya lebih cepat daripada rahmat yang turun kepada orang yang menyimak bacaan Al-Qur’an.” Sebab Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka simaklah dan diamlah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raf: 204). Kata “agar” (la’alla) dalam Al-Qur’an mengandung makna kepastian. Maka, Allah ‘Azza wa Jalla pasti akan merahmati orang yang menyimak Al-Qur’an. Makna “menyimak” adalah memfokuskan pendengaran dengan saksama, sedangkan makna “diam” adalah anggota badan tidak disibukkan dengan aktivitas lain. Tangannya tidak sibuk menulis atau mengerjakan suatu pekerjaan tertentu. Ia tidak sibuk dengan hal lain, tapi benar-benar memfokuskan pendengarannya dan menenangkan seluruh anggota badannya. Dengan menjadi penyimak yang diam dan khusyuk, pahalanya akan semakin agung dengan izin Allah. ===== وَأَجْرُ سَمَاعِ الْقُرْآنِ عَظِيمٌ جِدًّا حَتَّى قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ وَشُرَّاحِ الْحَدِيثِ أَنَّ أَجْرَ الْمُسْتَمِعِ لِلْقُرْآنِ كَأَجْرِ قَارِئِهِ وَقَدْ ذَكَرَ ابْنُ بَطَّالٍ فِي شَرْحِ الْبُخَارِيِّ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ: مَا مِنْ شَيْءٍ، مَا مِنْ رَحْمَةٍ أَسْرَعَ نُزُولاً مِنَ الرَّحْمَةِ الَّتِي تَنْزِلُ عَلَى مُسْتَمِعِ الْقُرْآنِ لِأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ: وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ وَ”لَعَلَّ” فِي الْقُرْآنِ لِلْوُجُوبِ فَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَرْحَمُ الْمُسْتَمِعَ لِلْقُرْآنِ وَمَعْنَى الِاسْتِمَاعِ هُوَ إِرْخَاءُ السَّمْعِ وَالْإِنْصَاتُ عَدَمُ انْشِغَالِ الْجَوَارِحِ فَلَا يَنْشَغِلُ بِيَدَيْهِ بِكِتَابَةٍ وَلَا مِهْنَةٍ وَلَا يَنْشَغِلُ بِشَيْءٍ آخَرَ وَإِنَّمَا يُرْخِي سَمْعَهُ وَيُصْغِي بِجَوَارِحِهِ فَيَكُونُ مُسْتَمِعاً وَمُنْصِتاً لِيَعْظُمَ أَجْرُهُ بِإِذْنِ اللهِ

Rahmat yang Paling Cepat Turun! Rahasia Besar di Balik Menyimak Al-Qur’an

Pahala menyimak bacaan Al-Qur’an sangatlah besar. Bahkan, sebagian ulama pensyarah hadits menyatakan bahwa pahala orang yang menyimak bacaan Al-Qur’an setara dengan pahala orang yang membacanya. Ibnu Baththal menyebutkan dalam Syarh Shahih Al-Bukhari, beliau berkata: “Tidak ada rahmat yang turunnya lebih cepat daripada rahmat yang turun kepada orang yang menyimak bacaan Al-Qur’an.” Sebab Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka simaklah dan diamlah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raf: 204). Kata “agar” (la’alla) dalam Al-Qur’an mengandung makna kepastian. Maka, Allah ‘Azza wa Jalla pasti akan merahmati orang yang menyimak Al-Qur’an. Makna “menyimak” adalah memfokuskan pendengaran dengan saksama, sedangkan makna “diam” adalah anggota badan tidak disibukkan dengan aktivitas lain. Tangannya tidak sibuk menulis atau mengerjakan suatu pekerjaan tertentu. Ia tidak sibuk dengan hal lain, tapi benar-benar memfokuskan pendengarannya dan menenangkan seluruh anggota badannya. Dengan menjadi penyimak yang diam dan khusyuk, pahalanya akan semakin agung dengan izin Allah. ===== وَأَجْرُ سَمَاعِ الْقُرْآنِ عَظِيمٌ جِدًّا حَتَّى قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ وَشُرَّاحِ الْحَدِيثِ أَنَّ أَجْرَ الْمُسْتَمِعِ لِلْقُرْآنِ كَأَجْرِ قَارِئِهِ وَقَدْ ذَكَرَ ابْنُ بَطَّالٍ فِي شَرْحِ الْبُخَارِيِّ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ: مَا مِنْ شَيْءٍ، مَا مِنْ رَحْمَةٍ أَسْرَعَ نُزُولاً مِنَ الرَّحْمَةِ الَّتِي تَنْزِلُ عَلَى مُسْتَمِعِ الْقُرْآنِ لِأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ: وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ وَ”لَعَلَّ” فِي الْقُرْآنِ لِلْوُجُوبِ فَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَرْحَمُ الْمُسْتَمِعَ لِلْقُرْآنِ وَمَعْنَى الِاسْتِمَاعِ هُوَ إِرْخَاءُ السَّمْعِ وَالْإِنْصَاتُ عَدَمُ انْشِغَالِ الْجَوَارِحِ فَلَا يَنْشَغِلُ بِيَدَيْهِ بِكِتَابَةٍ وَلَا مِهْنَةٍ وَلَا يَنْشَغِلُ بِشَيْءٍ آخَرَ وَإِنَّمَا يُرْخِي سَمْعَهُ وَيُصْغِي بِجَوَارِحِهِ فَيَكُونُ مُسْتَمِعاً وَمُنْصِتاً لِيَعْظُمَ أَجْرُهُ بِإِذْنِ اللهِ
Pahala menyimak bacaan Al-Qur’an sangatlah besar. Bahkan, sebagian ulama pensyarah hadits menyatakan bahwa pahala orang yang menyimak bacaan Al-Qur’an setara dengan pahala orang yang membacanya. Ibnu Baththal menyebutkan dalam Syarh Shahih Al-Bukhari, beliau berkata: “Tidak ada rahmat yang turunnya lebih cepat daripada rahmat yang turun kepada orang yang menyimak bacaan Al-Qur’an.” Sebab Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka simaklah dan diamlah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raf: 204). Kata “agar” (la’alla) dalam Al-Qur’an mengandung makna kepastian. Maka, Allah ‘Azza wa Jalla pasti akan merahmati orang yang menyimak Al-Qur’an. Makna “menyimak” adalah memfokuskan pendengaran dengan saksama, sedangkan makna “diam” adalah anggota badan tidak disibukkan dengan aktivitas lain. Tangannya tidak sibuk menulis atau mengerjakan suatu pekerjaan tertentu. Ia tidak sibuk dengan hal lain, tapi benar-benar memfokuskan pendengarannya dan menenangkan seluruh anggota badannya. Dengan menjadi penyimak yang diam dan khusyuk, pahalanya akan semakin agung dengan izin Allah. ===== وَأَجْرُ سَمَاعِ الْقُرْآنِ عَظِيمٌ جِدًّا حَتَّى قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ وَشُرَّاحِ الْحَدِيثِ أَنَّ أَجْرَ الْمُسْتَمِعِ لِلْقُرْآنِ كَأَجْرِ قَارِئِهِ وَقَدْ ذَكَرَ ابْنُ بَطَّالٍ فِي شَرْحِ الْبُخَارِيِّ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ: مَا مِنْ شَيْءٍ، مَا مِنْ رَحْمَةٍ أَسْرَعَ نُزُولاً مِنَ الرَّحْمَةِ الَّتِي تَنْزِلُ عَلَى مُسْتَمِعِ الْقُرْآنِ لِأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ: وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ وَ”لَعَلَّ” فِي الْقُرْآنِ لِلْوُجُوبِ فَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَرْحَمُ الْمُسْتَمِعَ لِلْقُرْآنِ وَمَعْنَى الِاسْتِمَاعِ هُوَ إِرْخَاءُ السَّمْعِ وَالْإِنْصَاتُ عَدَمُ انْشِغَالِ الْجَوَارِحِ فَلَا يَنْشَغِلُ بِيَدَيْهِ بِكِتَابَةٍ وَلَا مِهْنَةٍ وَلَا يَنْشَغِلُ بِشَيْءٍ آخَرَ وَإِنَّمَا يُرْخِي سَمْعَهُ وَيُصْغِي بِجَوَارِحِهِ فَيَكُونُ مُسْتَمِعاً وَمُنْصِتاً لِيَعْظُمَ أَجْرُهُ بِإِذْنِ اللهِ


Pahala menyimak bacaan Al-Qur’an sangatlah besar. Bahkan, sebagian ulama pensyarah hadits menyatakan bahwa pahala orang yang menyimak bacaan Al-Qur’an setara dengan pahala orang yang membacanya. Ibnu Baththal menyebutkan dalam Syarh Shahih Al-Bukhari, beliau berkata: “Tidak ada rahmat yang turunnya lebih cepat daripada rahmat yang turun kepada orang yang menyimak bacaan Al-Qur’an.” Sebab Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka simaklah dan diamlah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raf: 204). Kata “agar” (la’alla) dalam Al-Qur’an mengandung makna kepastian. Maka, Allah ‘Azza wa Jalla pasti akan merahmati orang yang menyimak Al-Qur’an. Makna “menyimak” adalah memfokuskan pendengaran dengan saksama, sedangkan makna “diam” adalah anggota badan tidak disibukkan dengan aktivitas lain. Tangannya tidak sibuk menulis atau mengerjakan suatu pekerjaan tertentu. Ia tidak sibuk dengan hal lain, tapi benar-benar memfokuskan pendengarannya dan menenangkan seluruh anggota badannya. Dengan menjadi penyimak yang diam dan khusyuk, pahalanya akan semakin agung dengan izin Allah. ===== وَأَجْرُ سَمَاعِ الْقُرْآنِ عَظِيمٌ جِدًّا حَتَّى قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ وَشُرَّاحِ الْحَدِيثِ أَنَّ أَجْرَ الْمُسْتَمِعِ لِلْقُرْآنِ كَأَجْرِ قَارِئِهِ وَقَدْ ذَكَرَ ابْنُ بَطَّالٍ فِي شَرْحِ الْبُخَارِيِّ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ: مَا مِنْ شَيْءٍ، مَا مِنْ رَحْمَةٍ أَسْرَعَ نُزُولاً مِنَ الرَّحْمَةِ الَّتِي تَنْزِلُ عَلَى مُسْتَمِعِ الْقُرْآنِ لِأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ: وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ وَ”لَعَلَّ” فِي الْقُرْآنِ لِلْوُجُوبِ فَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَرْحَمُ الْمُسْتَمِعَ لِلْقُرْآنِ وَمَعْنَى الِاسْتِمَاعِ هُوَ إِرْخَاءُ السَّمْعِ وَالْإِنْصَاتُ عَدَمُ انْشِغَالِ الْجَوَارِحِ فَلَا يَنْشَغِلُ بِيَدَيْهِ بِكِتَابَةٍ وَلَا مِهْنَةٍ وَلَا يَنْشَغِلُ بِشَيْءٍ آخَرَ وَإِنَّمَا يُرْخِي سَمْعَهُ وَيُصْغِي بِجَوَارِحِهِ فَيَكُونُ مُسْتَمِعاً وَمُنْصِتاً لِيَعْظُمَ أَجْرُهُ بِإِذْنِ اللهِ

Kaidah Fikih: Mengutamakan Maksud dan Makna di Atas Lafaz

Daftar Isi ToggleKaidah tentang akadLafaz kaidahMakna kaidahContoh penerapan kaidahKaitan kaidah ini dengan kaidah kubraTelah tuntas pada pembahasan sebelumnya tentang salah satu kaidah kubra yang berbunyi,الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهِا“Segala sesuatu tergantung niat (tujuan)nya.” Secara garis besar, kaidah tersebut membahas tentang niat dan pentingnya niat dalam segala hal. Baik dalam masalah ibadah maupun masalah muamalah sehari-hari.Tentunya di setiap kaidah kubra terdapat furu’ (cabang) dari setiap kaidah kubra itu sendiri. Dari kaidah kubra di atas yang berbicara tentang niat, terdapat pembahasan cabang dari kaidah tersebut yang berkaitan dengan akad, atau berkaitan dengan sumpah, dan lainnya. Hal ini mengingat berbicara tentang akad tidak lepas dari pembahasan tentang niat.Kaidah tentang akadPembahasan kali ini mengangkat salah satu furu’ dari kaidah kubra yang berkaitan tentang akad [1]. Yaitu kaidah yang berbunyi,العِبْرَةُ فِي العُقُوْدِ بالمَقَاصِدِ وَالمَعَانِي لَا بِالأَلْفَاظِ وَالمَبَانِي“Yang menjadi standar dalam (masalah) akad adalah tujuan dan makna (hakikat)nya, bukan dari lafaz (kata-kata) maupun struktur (kata)nya.” Artinya, setiap akad yang ada tidak lepas dari kaidah ini. Yaitu, yang menjadi utama dalam sebuah akad adalah tujuan dan makna hakikatnya, bukan dari lafaz maupun struktur katanya. Karena sering kali akad-akad yang ada sifatnya “menipu” dan “bias”. Sehingga dapat mengelabui salah satu pihak yang berakad jika memang tidak benar-benar ditelisik bagaimana akad yang sesungguhnya.Berangkat dari permainan kata-kata, yang tadinya haram menjadi halal dan yang makruh menjadi mubah. Sehingga kaidah ini penting untuk diketahui agar tidak mudah terkelabui dengan akad-akad batil yang disarungi oleh istilah-istilah Islami agar terlihat menjadi halal.Baca juga: Mengenal Istilah “Akad” dan Perspektif Islam TerhadapnyaLafaz kaidahLafaz kaidah yang disebutkan di atas, adalah lafaz yang disampaikan oleh mazhab Hanafi. Adapun mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali, mereka membawakan kaidah ini dengan lafaz yang bentuknya pertanyaan.Menurut Prof. Dr. Musallam bin Muhammad Ad-Dusary, hal ini menunjukkan adanya perbedaan pendapat tentang kaidah ini dalam lingkup internal ahli fikih di kalangan mereka. Berikut ini merupakan lafaz-lafaz kaidah dari setiap mazhab yang intinya adalah satu tujuan,– Mazhab Syafi’i yang dibawakan oleh Al-Imam As-Suyuthi rahimahullah,هَلْ العِبْرَةُ بِصِيَغِ العُقُوْدِ أَوْ بِمَعَانِيْهَا“Apakah yang menjadi standar adalah bentuk akad (secara zahir) atau dari makna (hakikat)nya?”– Mazhab Hanbali yang dibawakan oleh Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah,إِذَا وُصِلَ بِأَلْفَاظِ الْعُقُودِ مَا يُخْرِجُهَا عَنْ مَوْضُوعِهَا، فَهَلْ يَفْسُدُ الْعَقْدُ بِذَلِكَ، أَوْ يُجْعَلُ كِنَايَةً عَمَّا يُمْكِنُ صِحَّتُهُ عَلَى ذَلِكَ الْوَجْهِ؟ فِيهِ خِلَافٌ يُلْتَفَتُ إِلَى أَنَّ الْمُغَلَّبَ هَلْ هُوَ اللَّفْظُ أَوْ الْمَعْنَى؟“Jika lafaz-lafaz (kata-kata) akad disambung dengan sesuatu yang dapat mengeluarkannya dari tujuan asalnya, apakah akad tersebut menjadi batal (rusak) karenanya, ataukah ia dijadikan sebagai kinayah (kiasan) bagi sesuatu yang memungkinkan untuk sah dengan cara tersebut? Dalam masalah ini terdapat perselisihan (di kalangan ulama), yang berakar pada pertanyaan: ‘Manakah yang lebih dapat dijadikan standar utama, lafaz ataukah maknanya?” – Mazhab Mailiki yang dibawakan oleh Al-Imam Ahmad bin Yahya Al-Wansyurisi Al-Maliki rahimahullah,إِذَا تَعَارَضَ القَصْدَ وَاللَّفْظُ أَيُّهُمَا يُقَدَّم؟“Jika bersinggungan antara al-qashdu (tujuan atau niat) dengan al-lafzu (kata), manakah di antara keduanya yang didahulukan?” Jika dilihat konteks dari ketiga mazhab di atas, hal itu menunjukkan adanya perselisihan dalam menentukan kepastian sebuah akad. Apakah dilihat dari lafaznya, ataukah makna hakikatnya.Adapun para ulama dari kalangan mazhab Hanafi memberikan lafaz yang bentuknya jazm (pasti), bukan dalam bentuk pertanyaan. Sebagaimana yang telah disebutkan lafaznya di atas.Makna kaidahSejatinya, hukum-hukum yang berkaitan dengan akad, jika terdapat perbedaan antara lafaz dan niat dari yang mengucapkannya, maka hukum tidak dilihat dan tidak ditentukan dari lafaznya. Namun, hukum tersebut dilihat dan ditentukan dari niat dan tujuannya.Contoh penerapan kaidah – A berkata kepada B, “Mobil ini saya hibahkan untukmu, dengan syarat engkau memberikan mobilmu kepadaku.”Jika dilihat pada contoh di atas, secara lafaz atau perkataan adalah hibah. Namun, hakikatnya bukanlah hibah, melainkan jual beli. Sehingga hukum yang diambil dari ucapan di atas bukanlah hukum hibah, namun hukum jual beli. Karena yang dilihat adalah hakikatnya dan bukan lafaz semata.– A membeli barang berupa jam kepada B secara tunai, kemudian B berkata, “Ambillah jam ini sebagai amanah untukmu, sampai nanti pada waktunya saya akan berikan uang senilai dengan harga jam tersebut untuk engkau mengembalikannya kepadaku.”Pada contoh ini, sejatinya bukanlah jual beli atau mengamanahkan suatu barang. Namun hakikatnya adalah gadai, sehingga hukum gadai berlaku pada akad ini. Karena sejatinya A bukanlah membeli barang, namun memberikan pinjaman kepada B. B kemudian memberikan jamnya sebagai amanah yang akan dicicilnya sampai tuntas hutangnya, kemudian jamnya akan diberikan kembali oleh A.Dan contoh-contoh lainnya, yang tentunya hal ini banyak terjadi dalam muamalah sehari-hari.Perlu diketahui dari kedua contoh di atas, telah disebutkan bahwa para ulama dari kalangan mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali memandang bahwasanya akad itu terletak pada lafaznya, bukan pada hakikat maknanya. Sehingga konsekuensi dari pendapat tersebut adalah, contoh yang pertama dihukumi sebagai akad hibah dan contoh kedua dihukumi sebagai akad jual beli.Kaitan kaidah ini dengan kaidah kubraKaidah ini memiliki kaitan yang erat dengan kaidah kubra yang telah dibahas. Yaitu, hukum-hukum yang berkaitan dengan akad dikembalikan hukumnya kepada niat dan tujuan orang yang melaksanakan akad tersebut, bukan dikembalikan kepada lafaznya. Sebagaimana hal ini pun ada pada kaidah kubra, yaitu perbuatan seorang mukallaf berbeda hukumnya disebabkan karena adanya perbedaan niat dan tujuannya.Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Mengenal Fungsi Niat***Depok, 8 Ramadan 1447/ 25 Februari 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Pembahasan ini bisa dilihat di kitab Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah, hal. 78-81.Referensi:Ad-Dusary, Musallam bin Muhammad. Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah. Riyadh: Maktabah al-Malik Fahd, 1441 H/2020 M.

Kaidah Fikih: Mengutamakan Maksud dan Makna di Atas Lafaz

Daftar Isi ToggleKaidah tentang akadLafaz kaidahMakna kaidahContoh penerapan kaidahKaitan kaidah ini dengan kaidah kubraTelah tuntas pada pembahasan sebelumnya tentang salah satu kaidah kubra yang berbunyi,الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهِا“Segala sesuatu tergantung niat (tujuan)nya.” Secara garis besar, kaidah tersebut membahas tentang niat dan pentingnya niat dalam segala hal. Baik dalam masalah ibadah maupun masalah muamalah sehari-hari.Tentunya di setiap kaidah kubra terdapat furu’ (cabang) dari setiap kaidah kubra itu sendiri. Dari kaidah kubra di atas yang berbicara tentang niat, terdapat pembahasan cabang dari kaidah tersebut yang berkaitan dengan akad, atau berkaitan dengan sumpah, dan lainnya. Hal ini mengingat berbicara tentang akad tidak lepas dari pembahasan tentang niat.Kaidah tentang akadPembahasan kali ini mengangkat salah satu furu’ dari kaidah kubra yang berkaitan tentang akad [1]. Yaitu kaidah yang berbunyi,العِبْرَةُ فِي العُقُوْدِ بالمَقَاصِدِ وَالمَعَانِي لَا بِالأَلْفَاظِ وَالمَبَانِي“Yang menjadi standar dalam (masalah) akad adalah tujuan dan makna (hakikat)nya, bukan dari lafaz (kata-kata) maupun struktur (kata)nya.” Artinya, setiap akad yang ada tidak lepas dari kaidah ini. Yaitu, yang menjadi utama dalam sebuah akad adalah tujuan dan makna hakikatnya, bukan dari lafaz maupun struktur katanya. Karena sering kali akad-akad yang ada sifatnya “menipu” dan “bias”. Sehingga dapat mengelabui salah satu pihak yang berakad jika memang tidak benar-benar ditelisik bagaimana akad yang sesungguhnya.Berangkat dari permainan kata-kata, yang tadinya haram menjadi halal dan yang makruh menjadi mubah. Sehingga kaidah ini penting untuk diketahui agar tidak mudah terkelabui dengan akad-akad batil yang disarungi oleh istilah-istilah Islami agar terlihat menjadi halal.Baca juga: Mengenal Istilah “Akad” dan Perspektif Islam TerhadapnyaLafaz kaidahLafaz kaidah yang disebutkan di atas, adalah lafaz yang disampaikan oleh mazhab Hanafi. Adapun mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali, mereka membawakan kaidah ini dengan lafaz yang bentuknya pertanyaan.Menurut Prof. Dr. Musallam bin Muhammad Ad-Dusary, hal ini menunjukkan adanya perbedaan pendapat tentang kaidah ini dalam lingkup internal ahli fikih di kalangan mereka. Berikut ini merupakan lafaz-lafaz kaidah dari setiap mazhab yang intinya adalah satu tujuan,– Mazhab Syafi’i yang dibawakan oleh Al-Imam As-Suyuthi rahimahullah,هَلْ العِبْرَةُ بِصِيَغِ العُقُوْدِ أَوْ بِمَعَانِيْهَا“Apakah yang menjadi standar adalah bentuk akad (secara zahir) atau dari makna (hakikat)nya?”– Mazhab Hanbali yang dibawakan oleh Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah,إِذَا وُصِلَ بِأَلْفَاظِ الْعُقُودِ مَا يُخْرِجُهَا عَنْ مَوْضُوعِهَا، فَهَلْ يَفْسُدُ الْعَقْدُ بِذَلِكَ، أَوْ يُجْعَلُ كِنَايَةً عَمَّا يُمْكِنُ صِحَّتُهُ عَلَى ذَلِكَ الْوَجْهِ؟ فِيهِ خِلَافٌ يُلْتَفَتُ إِلَى أَنَّ الْمُغَلَّبَ هَلْ هُوَ اللَّفْظُ أَوْ الْمَعْنَى؟“Jika lafaz-lafaz (kata-kata) akad disambung dengan sesuatu yang dapat mengeluarkannya dari tujuan asalnya, apakah akad tersebut menjadi batal (rusak) karenanya, ataukah ia dijadikan sebagai kinayah (kiasan) bagi sesuatu yang memungkinkan untuk sah dengan cara tersebut? Dalam masalah ini terdapat perselisihan (di kalangan ulama), yang berakar pada pertanyaan: ‘Manakah yang lebih dapat dijadikan standar utama, lafaz ataukah maknanya?” – Mazhab Mailiki yang dibawakan oleh Al-Imam Ahmad bin Yahya Al-Wansyurisi Al-Maliki rahimahullah,إِذَا تَعَارَضَ القَصْدَ وَاللَّفْظُ أَيُّهُمَا يُقَدَّم؟“Jika bersinggungan antara al-qashdu (tujuan atau niat) dengan al-lafzu (kata), manakah di antara keduanya yang didahulukan?” Jika dilihat konteks dari ketiga mazhab di atas, hal itu menunjukkan adanya perselisihan dalam menentukan kepastian sebuah akad. Apakah dilihat dari lafaznya, ataukah makna hakikatnya.Adapun para ulama dari kalangan mazhab Hanafi memberikan lafaz yang bentuknya jazm (pasti), bukan dalam bentuk pertanyaan. Sebagaimana yang telah disebutkan lafaznya di atas.Makna kaidahSejatinya, hukum-hukum yang berkaitan dengan akad, jika terdapat perbedaan antara lafaz dan niat dari yang mengucapkannya, maka hukum tidak dilihat dan tidak ditentukan dari lafaznya. Namun, hukum tersebut dilihat dan ditentukan dari niat dan tujuannya.Contoh penerapan kaidah – A berkata kepada B, “Mobil ini saya hibahkan untukmu, dengan syarat engkau memberikan mobilmu kepadaku.”Jika dilihat pada contoh di atas, secara lafaz atau perkataan adalah hibah. Namun, hakikatnya bukanlah hibah, melainkan jual beli. Sehingga hukum yang diambil dari ucapan di atas bukanlah hukum hibah, namun hukum jual beli. Karena yang dilihat adalah hakikatnya dan bukan lafaz semata.– A membeli barang berupa jam kepada B secara tunai, kemudian B berkata, “Ambillah jam ini sebagai amanah untukmu, sampai nanti pada waktunya saya akan berikan uang senilai dengan harga jam tersebut untuk engkau mengembalikannya kepadaku.”Pada contoh ini, sejatinya bukanlah jual beli atau mengamanahkan suatu barang. Namun hakikatnya adalah gadai, sehingga hukum gadai berlaku pada akad ini. Karena sejatinya A bukanlah membeli barang, namun memberikan pinjaman kepada B. B kemudian memberikan jamnya sebagai amanah yang akan dicicilnya sampai tuntas hutangnya, kemudian jamnya akan diberikan kembali oleh A.Dan contoh-contoh lainnya, yang tentunya hal ini banyak terjadi dalam muamalah sehari-hari.Perlu diketahui dari kedua contoh di atas, telah disebutkan bahwa para ulama dari kalangan mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali memandang bahwasanya akad itu terletak pada lafaznya, bukan pada hakikat maknanya. Sehingga konsekuensi dari pendapat tersebut adalah, contoh yang pertama dihukumi sebagai akad hibah dan contoh kedua dihukumi sebagai akad jual beli.Kaitan kaidah ini dengan kaidah kubraKaidah ini memiliki kaitan yang erat dengan kaidah kubra yang telah dibahas. Yaitu, hukum-hukum yang berkaitan dengan akad dikembalikan hukumnya kepada niat dan tujuan orang yang melaksanakan akad tersebut, bukan dikembalikan kepada lafaznya. Sebagaimana hal ini pun ada pada kaidah kubra, yaitu perbuatan seorang mukallaf berbeda hukumnya disebabkan karena adanya perbedaan niat dan tujuannya.Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Mengenal Fungsi Niat***Depok, 8 Ramadan 1447/ 25 Februari 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Pembahasan ini bisa dilihat di kitab Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah, hal. 78-81.Referensi:Ad-Dusary, Musallam bin Muhammad. Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah. Riyadh: Maktabah al-Malik Fahd, 1441 H/2020 M.
Daftar Isi ToggleKaidah tentang akadLafaz kaidahMakna kaidahContoh penerapan kaidahKaitan kaidah ini dengan kaidah kubraTelah tuntas pada pembahasan sebelumnya tentang salah satu kaidah kubra yang berbunyi,الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهِا“Segala sesuatu tergantung niat (tujuan)nya.” Secara garis besar, kaidah tersebut membahas tentang niat dan pentingnya niat dalam segala hal. Baik dalam masalah ibadah maupun masalah muamalah sehari-hari.Tentunya di setiap kaidah kubra terdapat furu’ (cabang) dari setiap kaidah kubra itu sendiri. Dari kaidah kubra di atas yang berbicara tentang niat, terdapat pembahasan cabang dari kaidah tersebut yang berkaitan dengan akad, atau berkaitan dengan sumpah, dan lainnya. Hal ini mengingat berbicara tentang akad tidak lepas dari pembahasan tentang niat.Kaidah tentang akadPembahasan kali ini mengangkat salah satu furu’ dari kaidah kubra yang berkaitan tentang akad [1]. Yaitu kaidah yang berbunyi,العِبْرَةُ فِي العُقُوْدِ بالمَقَاصِدِ وَالمَعَانِي لَا بِالأَلْفَاظِ وَالمَبَانِي“Yang menjadi standar dalam (masalah) akad adalah tujuan dan makna (hakikat)nya, bukan dari lafaz (kata-kata) maupun struktur (kata)nya.” Artinya, setiap akad yang ada tidak lepas dari kaidah ini. Yaitu, yang menjadi utama dalam sebuah akad adalah tujuan dan makna hakikatnya, bukan dari lafaz maupun struktur katanya. Karena sering kali akad-akad yang ada sifatnya “menipu” dan “bias”. Sehingga dapat mengelabui salah satu pihak yang berakad jika memang tidak benar-benar ditelisik bagaimana akad yang sesungguhnya.Berangkat dari permainan kata-kata, yang tadinya haram menjadi halal dan yang makruh menjadi mubah. Sehingga kaidah ini penting untuk diketahui agar tidak mudah terkelabui dengan akad-akad batil yang disarungi oleh istilah-istilah Islami agar terlihat menjadi halal.Baca juga: Mengenal Istilah “Akad” dan Perspektif Islam TerhadapnyaLafaz kaidahLafaz kaidah yang disebutkan di atas, adalah lafaz yang disampaikan oleh mazhab Hanafi. Adapun mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali, mereka membawakan kaidah ini dengan lafaz yang bentuknya pertanyaan.Menurut Prof. Dr. Musallam bin Muhammad Ad-Dusary, hal ini menunjukkan adanya perbedaan pendapat tentang kaidah ini dalam lingkup internal ahli fikih di kalangan mereka. Berikut ini merupakan lafaz-lafaz kaidah dari setiap mazhab yang intinya adalah satu tujuan,– Mazhab Syafi’i yang dibawakan oleh Al-Imam As-Suyuthi rahimahullah,هَلْ العِبْرَةُ بِصِيَغِ العُقُوْدِ أَوْ بِمَعَانِيْهَا“Apakah yang menjadi standar adalah bentuk akad (secara zahir) atau dari makna (hakikat)nya?”– Mazhab Hanbali yang dibawakan oleh Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah,إِذَا وُصِلَ بِأَلْفَاظِ الْعُقُودِ مَا يُخْرِجُهَا عَنْ مَوْضُوعِهَا، فَهَلْ يَفْسُدُ الْعَقْدُ بِذَلِكَ، أَوْ يُجْعَلُ كِنَايَةً عَمَّا يُمْكِنُ صِحَّتُهُ عَلَى ذَلِكَ الْوَجْهِ؟ فِيهِ خِلَافٌ يُلْتَفَتُ إِلَى أَنَّ الْمُغَلَّبَ هَلْ هُوَ اللَّفْظُ أَوْ الْمَعْنَى؟“Jika lafaz-lafaz (kata-kata) akad disambung dengan sesuatu yang dapat mengeluarkannya dari tujuan asalnya, apakah akad tersebut menjadi batal (rusak) karenanya, ataukah ia dijadikan sebagai kinayah (kiasan) bagi sesuatu yang memungkinkan untuk sah dengan cara tersebut? Dalam masalah ini terdapat perselisihan (di kalangan ulama), yang berakar pada pertanyaan: ‘Manakah yang lebih dapat dijadikan standar utama, lafaz ataukah maknanya?” – Mazhab Mailiki yang dibawakan oleh Al-Imam Ahmad bin Yahya Al-Wansyurisi Al-Maliki rahimahullah,إِذَا تَعَارَضَ القَصْدَ وَاللَّفْظُ أَيُّهُمَا يُقَدَّم؟“Jika bersinggungan antara al-qashdu (tujuan atau niat) dengan al-lafzu (kata), manakah di antara keduanya yang didahulukan?” Jika dilihat konteks dari ketiga mazhab di atas, hal itu menunjukkan adanya perselisihan dalam menentukan kepastian sebuah akad. Apakah dilihat dari lafaznya, ataukah makna hakikatnya.Adapun para ulama dari kalangan mazhab Hanafi memberikan lafaz yang bentuknya jazm (pasti), bukan dalam bentuk pertanyaan. Sebagaimana yang telah disebutkan lafaznya di atas.Makna kaidahSejatinya, hukum-hukum yang berkaitan dengan akad, jika terdapat perbedaan antara lafaz dan niat dari yang mengucapkannya, maka hukum tidak dilihat dan tidak ditentukan dari lafaznya. Namun, hukum tersebut dilihat dan ditentukan dari niat dan tujuannya.Contoh penerapan kaidah – A berkata kepada B, “Mobil ini saya hibahkan untukmu, dengan syarat engkau memberikan mobilmu kepadaku.”Jika dilihat pada contoh di atas, secara lafaz atau perkataan adalah hibah. Namun, hakikatnya bukanlah hibah, melainkan jual beli. Sehingga hukum yang diambil dari ucapan di atas bukanlah hukum hibah, namun hukum jual beli. Karena yang dilihat adalah hakikatnya dan bukan lafaz semata.– A membeli barang berupa jam kepada B secara tunai, kemudian B berkata, “Ambillah jam ini sebagai amanah untukmu, sampai nanti pada waktunya saya akan berikan uang senilai dengan harga jam tersebut untuk engkau mengembalikannya kepadaku.”Pada contoh ini, sejatinya bukanlah jual beli atau mengamanahkan suatu barang. Namun hakikatnya adalah gadai, sehingga hukum gadai berlaku pada akad ini. Karena sejatinya A bukanlah membeli barang, namun memberikan pinjaman kepada B. B kemudian memberikan jamnya sebagai amanah yang akan dicicilnya sampai tuntas hutangnya, kemudian jamnya akan diberikan kembali oleh A.Dan contoh-contoh lainnya, yang tentunya hal ini banyak terjadi dalam muamalah sehari-hari.Perlu diketahui dari kedua contoh di atas, telah disebutkan bahwa para ulama dari kalangan mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali memandang bahwasanya akad itu terletak pada lafaznya, bukan pada hakikat maknanya. Sehingga konsekuensi dari pendapat tersebut adalah, contoh yang pertama dihukumi sebagai akad hibah dan contoh kedua dihukumi sebagai akad jual beli.Kaitan kaidah ini dengan kaidah kubraKaidah ini memiliki kaitan yang erat dengan kaidah kubra yang telah dibahas. Yaitu, hukum-hukum yang berkaitan dengan akad dikembalikan hukumnya kepada niat dan tujuan orang yang melaksanakan akad tersebut, bukan dikembalikan kepada lafaznya. Sebagaimana hal ini pun ada pada kaidah kubra, yaitu perbuatan seorang mukallaf berbeda hukumnya disebabkan karena adanya perbedaan niat dan tujuannya.Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Mengenal Fungsi Niat***Depok, 8 Ramadan 1447/ 25 Februari 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Pembahasan ini bisa dilihat di kitab Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah, hal. 78-81.Referensi:Ad-Dusary, Musallam bin Muhammad. Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah. Riyadh: Maktabah al-Malik Fahd, 1441 H/2020 M.


Daftar Isi ToggleKaidah tentang akadLafaz kaidahMakna kaidahContoh penerapan kaidahKaitan kaidah ini dengan kaidah kubraTelah tuntas pada pembahasan sebelumnya tentang salah satu kaidah kubra yang berbunyi,الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهِا“Segala sesuatu tergantung niat (tujuan)nya.” Secara garis besar, kaidah tersebut membahas tentang niat dan pentingnya niat dalam segala hal. Baik dalam masalah ibadah maupun masalah muamalah sehari-hari.Tentunya di setiap kaidah kubra terdapat furu’ (cabang) dari setiap kaidah kubra itu sendiri. Dari kaidah kubra di atas yang berbicara tentang niat, terdapat pembahasan cabang dari kaidah tersebut yang berkaitan dengan akad, atau berkaitan dengan sumpah, dan lainnya. Hal ini mengingat berbicara tentang akad tidak lepas dari pembahasan tentang niat.Kaidah tentang akadPembahasan kali ini mengangkat salah satu furu’ dari kaidah kubra yang berkaitan tentang akad [1]. Yaitu kaidah yang berbunyi,العِبْرَةُ فِي العُقُوْدِ بالمَقَاصِدِ وَالمَعَانِي لَا بِالأَلْفَاظِ وَالمَبَانِي“Yang menjadi standar dalam (masalah) akad adalah tujuan dan makna (hakikat)nya, bukan dari lafaz (kata-kata) maupun struktur (kata)nya.” Artinya, setiap akad yang ada tidak lepas dari kaidah ini. Yaitu, yang menjadi utama dalam sebuah akad adalah tujuan dan makna hakikatnya, bukan dari lafaz maupun struktur katanya. Karena sering kali akad-akad yang ada sifatnya “menipu” dan “bias”. Sehingga dapat mengelabui salah satu pihak yang berakad jika memang tidak benar-benar ditelisik bagaimana akad yang sesungguhnya.Berangkat dari permainan kata-kata, yang tadinya haram menjadi halal dan yang makruh menjadi mubah. Sehingga kaidah ini penting untuk diketahui agar tidak mudah terkelabui dengan akad-akad batil yang disarungi oleh istilah-istilah Islami agar terlihat menjadi halal.Baca juga: Mengenal Istilah “Akad” dan Perspektif Islam TerhadapnyaLafaz kaidahLafaz kaidah yang disebutkan di atas, adalah lafaz yang disampaikan oleh mazhab Hanafi. Adapun mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali, mereka membawakan kaidah ini dengan lafaz yang bentuknya pertanyaan.Menurut Prof. Dr. Musallam bin Muhammad Ad-Dusary, hal ini menunjukkan adanya perbedaan pendapat tentang kaidah ini dalam lingkup internal ahli fikih di kalangan mereka. Berikut ini merupakan lafaz-lafaz kaidah dari setiap mazhab yang intinya adalah satu tujuan,– Mazhab Syafi’i yang dibawakan oleh Al-Imam As-Suyuthi rahimahullah,هَلْ العِبْرَةُ بِصِيَغِ العُقُوْدِ أَوْ بِمَعَانِيْهَا“Apakah yang menjadi standar adalah bentuk akad (secara zahir) atau dari makna (hakikat)nya?”– Mazhab Hanbali yang dibawakan oleh Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah,إِذَا وُصِلَ بِأَلْفَاظِ الْعُقُودِ مَا يُخْرِجُهَا عَنْ مَوْضُوعِهَا، فَهَلْ يَفْسُدُ الْعَقْدُ بِذَلِكَ، أَوْ يُجْعَلُ كِنَايَةً عَمَّا يُمْكِنُ صِحَّتُهُ عَلَى ذَلِكَ الْوَجْهِ؟ فِيهِ خِلَافٌ يُلْتَفَتُ إِلَى أَنَّ الْمُغَلَّبَ هَلْ هُوَ اللَّفْظُ أَوْ الْمَعْنَى؟“Jika lafaz-lafaz (kata-kata) akad disambung dengan sesuatu yang dapat mengeluarkannya dari tujuan asalnya, apakah akad tersebut menjadi batal (rusak) karenanya, ataukah ia dijadikan sebagai kinayah (kiasan) bagi sesuatu yang memungkinkan untuk sah dengan cara tersebut? Dalam masalah ini terdapat perselisihan (di kalangan ulama), yang berakar pada pertanyaan: ‘Manakah yang lebih dapat dijadikan standar utama, lafaz ataukah maknanya?” – Mazhab Mailiki yang dibawakan oleh Al-Imam Ahmad bin Yahya Al-Wansyurisi Al-Maliki rahimahullah,إِذَا تَعَارَضَ القَصْدَ وَاللَّفْظُ أَيُّهُمَا يُقَدَّم؟“Jika bersinggungan antara al-qashdu (tujuan atau niat) dengan al-lafzu (kata), manakah di antara keduanya yang didahulukan?” Jika dilihat konteks dari ketiga mazhab di atas, hal itu menunjukkan adanya perselisihan dalam menentukan kepastian sebuah akad. Apakah dilihat dari lafaznya, ataukah makna hakikatnya.Adapun para ulama dari kalangan mazhab Hanafi memberikan lafaz yang bentuknya jazm (pasti), bukan dalam bentuk pertanyaan. Sebagaimana yang telah disebutkan lafaznya di atas.Makna kaidahSejatinya, hukum-hukum yang berkaitan dengan akad, jika terdapat perbedaan antara lafaz dan niat dari yang mengucapkannya, maka hukum tidak dilihat dan tidak ditentukan dari lafaznya. Namun, hukum tersebut dilihat dan ditentukan dari niat dan tujuannya.Contoh penerapan kaidah – A berkata kepada B, “Mobil ini saya hibahkan untukmu, dengan syarat engkau memberikan mobilmu kepadaku.”Jika dilihat pada contoh di atas, secara lafaz atau perkataan adalah hibah. Namun, hakikatnya bukanlah hibah, melainkan jual beli. Sehingga hukum yang diambil dari ucapan di atas bukanlah hukum hibah, namun hukum jual beli. Karena yang dilihat adalah hakikatnya dan bukan lafaz semata.– A membeli barang berupa jam kepada B secara tunai, kemudian B berkata, “Ambillah jam ini sebagai amanah untukmu, sampai nanti pada waktunya saya akan berikan uang senilai dengan harga jam tersebut untuk engkau mengembalikannya kepadaku.”Pada contoh ini, sejatinya bukanlah jual beli atau mengamanahkan suatu barang. Namun hakikatnya adalah gadai, sehingga hukum gadai berlaku pada akad ini. Karena sejatinya A bukanlah membeli barang, namun memberikan pinjaman kepada B. B kemudian memberikan jamnya sebagai amanah yang akan dicicilnya sampai tuntas hutangnya, kemudian jamnya akan diberikan kembali oleh A.Dan contoh-contoh lainnya, yang tentunya hal ini banyak terjadi dalam muamalah sehari-hari.Perlu diketahui dari kedua contoh di atas, telah disebutkan bahwa para ulama dari kalangan mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali memandang bahwasanya akad itu terletak pada lafaznya, bukan pada hakikat maknanya. Sehingga konsekuensi dari pendapat tersebut adalah, contoh yang pertama dihukumi sebagai akad hibah dan contoh kedua dihukumi sebagai akad jual beli.Kaitan kaidah ini dengan kaidah kubraKaidah ini memiliki kaitan yang erat dengan kaidah kubra yang telah dibahas. Yaitu, hukum-hukum yang berkaitan dengan akad dikembalikan hukumnya kepada niat dan tujuan orang yang melaksanakan akad tersebut, bukan dikembalikan kepada lafaznya. Sebagaimana hal ini pun ada pada kaidah kubra, yaitu perbuatan seorang mukallaf berbeda hukumnya disebabkan karena adanya perbedaan niat dan tujuannya.Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Mengenal Fungsi Niat***Depok, 8 Ramadan 1447/ 25 Februari 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Pembahasan ini bisa dilihat di kitab Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah, hal. 78-81.Referensi:Ad-Dusary, Musallam bin Muhammad. Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah. Riyadh: Maktabah al-Malik Fahd, 1441 H/2020 M.

Puasa Sah Tapi Tak Bernilai? Inilah Hakikat Puasa yang Sebenarnya! – Syaikh Utsaimin #NasehatUlama

https://youtu.be/PAOkZ3FgzSw Seseorang harus puasa dari apa? Mungkin Anda heran jika saya katakan bahwa hal yang harus dipuasai adalah kemaksiatan. Setiap orang wajib berpuasa dari kemaksiatan, karena inilah tujuan utama dalam ibadah puasa. Berdasarkan firman Allah Tabaraka wa Ta’ala: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183). Allah tidak berfirman: “…agar kamu lapar”, atau “…agar kamu dahaga,” bukan pula “…agar kamu menahan diri dari hubungan biologis.” Tidak. Namun Allah berfirman: “…agar kamu bertakwa.” Inilah maksud dan tujuan utama dari puasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan hal ini melalui sabda beliau: “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, perbuatan buruk, serta kebodohan, maka Allah tidak memerlukan upayanya dalam meninggalkan makan dan minum.” (HR. Bukhari). Jadi, puasa yang hakiki adalah ketika seseorang menahan diri dari kemaksiatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Inilah esensi puasa yang sebenarnya. Adapun puasa lahiriah adalah sekadar menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa. Menahan diri dari segala pembatal puasa dengan tujuan ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Berdasarkan firman Allah Ta’ala: “…Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu perbedaan antara benang putih dan benang hitam, yaitu waktu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.” (QS. Al-Baqarah: 187). Puasa seperti ini kita sebut dengan puasa lahiriah, puasa jasmaninya saja. Sedangkan puasa hati yang menjadi tujuan utama berpuasa adalah berpuasa dari segala kemaksiatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dengan demikian, barang siapa yang hanya berpuasa lahiriah atau fisiknya saja, tapi ia tidak puasa dengan hatinya, maka nilai puasanya sangatlah kurang. Kami tidak mengatakan puasa itu batal, tapi sangat kurang. Sama halnya dengan shalat. Tujuan utama shalat adalah kekhusyukan dan ketundukan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Shalat hati lebih utama daripada shalat anggota badan saja. Jika seseorang shalat hanya dengan fisiknya tanpa menghadirkan hatinya, seperti pikirannya melantur ke mana-mana, maka shalatnya sangat kurang nilainya, meskipun tetap sah. Berdasarkan bentuk lahiriahnya, shalat itu sah, tapi sangat kurang nilainya. Begitu pula dengan ibadah puasa. Puasa sangat kurang nilainya jika seseorang tidak berpuasa dari kemaksiatan kepada Allah. Meskipun secara lahiriah puasa tersebut tetap dianggap sah, karena penilaian ibadah di dunia didasarkan pada hal-hal yang tampak secara lahiriah. ===== مَا الَّذِي يَجِبُ عَنْهُ الصَّوْمُ؟ فَلَعَلَّكُمْ تَسْتَغْرِبُونَ إِذَا قُلْتُ إِنَّ الَّذِي يَجِبُ عَنْهُ الصَّوْمُ هُوَ الْمَعَاصِي يَجِبُ أَنْ يَصُومَ الْإِنْسَانُ عَنِ الْمَعَاصِي لِأَنَّ هَذَا هُوَ الْمَقْصُودُ الْأَوَّلُ فِي الصَّوْمِ لِقَوْلِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ لَمْ يَقُلْ لَعَلَّكُمْ تَجُوعُونَ، لَعَلَّكُمْ تَعْطِشُونَ لَعَلَّكُمْ تُمْسِكُونَ عَنِ الْأَهْلِ لَا قَالَ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ، هَذَا هُوَ الْغَرَضُ، هَذَا هُوَ الْمَقْصُودُ الْأَوَّلُ مِنَ الصَّوْمِ وَحَقَّقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَلِكَ وَأَكَّدَهُ فِي قَوْلِهِ مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ إِذاً الصَّوْمُ حَقِيقَةً أَنْ يَصُومَ الْإِنْسَانُ عَنْ مَعَاصِي اللهِ عَزَّ وَجَلَّ هَذَا هُوَ الصَّوْمُ الْحَقِيقِيُّ أَمَّا الصَّوْمُ الظَّاهِرِيُّ فَهُوَ الصِّيَامُ عَنِ الْمُفَطِّرَاتِ الْإِمْسَاكُ عَنِ الْمُفَطِّرَاتِ تَعَبُّداً لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ هَذَا صَوْمٌ نُسَمِّيهِ صَوْمَ الظَّاهِرِ، صَوْمَ الْبَدَنِ فَقَطْ أَمَّا صَوْمُ الْقَلْبِ الَّذِي هُوَ الْمَقْصُودُ الْأَوَّلُ فَهُوَ الصَّوْمُ عَنْ مَعَاصِي اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَلَى هَذَا فَمَنْ صَامَ صَوْماً ظَاهِرِيّاً جَسَدِيّاً وَلَكِنَّهُ لَمْ يَصُمْ صَوْماً قَلْبِيّاً فَإِنَّ صَوْمَهُ نَاقِصٌ جِدّاً جِدّاً لَا نَقُولُ إِنَّهُ بَاطِلٌ لَكِنْ نَقُولُ إِنَّهُ نَاقِصٌ كَمَا نَقُولُ فِي الصَّلَاةِ: الْمَقْصُودُ مِنَ الصَّلَاةِ هُوَ الْخُشُوعُ وَالتَّذَلُّلُ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَصَلَاةُ الْقَلْبِ قَبْلَ صَلَاةِ الْجَوَارِحِ لَكِنْ لَوْ أَنَّ الْإِنْسَانَ صَلَّى بِجَوَارِحِهِ وَلَمْ يُصَلِّ بِقَلْبِهِ، بِأَنْ كَانَ قَلْبُهُ فِي كُلِّ وَادٍ فَصَلَاتُهُ نَاقِصَةٌ جِدّاً لَكِنَّهَا مُجْزِئَةٌ حَسَبَ الرَّسْمِ الظَّاهِرِ مُجْزِئَةٌ لَكِنَّهَا نَاقِصَةٌ جِدّاً كَذَلِكَ الصَّوْمُ الصَّوْمُ نَاقِصٌ جِدّاً إِذَا لَمْ يَصُمِ الْإِنْسَانُ عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ لَكِنَّهُ مُجْزِئٌ فِي الرَّسْمِ الظَّاهِرِ لِأَنَّ الْعِبَادَاتِ فِي الدُّنْيَا إِنَّمَا تَكُونُ عَلَى الظَّاهِرِ

Puasa Sah Tapi Tak Bernilai? Inilah Hakikat Puasa yang Sebenarnya! – Syaikh Utsaimin #NasehatUlama

https://youtu.be/PAOkZ3FgzSw Seseorang harus puasa dari apa? Mungkin Anda heran jika saya katakan bahwa hal yang harus dipuasai adalah kemaksiatan. Setiap orang wajib berpuasa dari kemaksiatan, karena inilah tujuan utama dalam ibadah puasa. Berdasarkan firman Allah Tabaraka wa Ta’ala: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183). Allah tidak berfirman: “…agar kamu lapar”, atau “…agar kamu dahaga,” bukan pula “…agar kamu menahan diri dari hubungan biologis.” Tidak. Namun Allah berfirman: “…agar kamu bertakwa.” Inilah maksud dan tujuan utama dari puasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan hal ini melalui sabda beliau: “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, perbuatan buruk, serta kebodohan, maka Allah tidak memerlukan upayanya dalam meninggalkan makan dan minum.” (HR. Bukhari). Jadi, puasa yang hakiki adalah ketika seseorang menahan diri dari kemaksiatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Inilah esensi puasa yang sebenarnya. Adapun puasa lahiriah adalah sekadar menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa. Menahan diri dari segala pembatal puasa dengan tujuan ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Berdasarkan firman Allah Ta’ala: “…Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu perbedaan antara benang putih dan benang hitam, yaitu waktu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.” (QS. Al-Baqarah: 187). Puasa seperti ini kita sebut dengan puasa lahiriah, puasa jasmaninya saja. Sedangkan puasa hati yang menjadi tujuan utama berpuasa adalah berpuasa dari segala kemaksiatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dengan demikian, barang siapa yang hanya berpuasa lahiriah atau fisiknya saja, tapi ia tidak puasa dengan hatinya, maka nilai puasanya sangatlah kurang. Kami tidak mengatakan puasa itu batal, tapi sangat kurang. Sama halnya dengan shalat. Tujuan utama shalat adalah kekhusyukan dan ketundukan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Shalat hati lebih utama daripada shalat anggota badan saja. Jika seseorang shalat hanya dengan fisiknya tanpa menghadirkan hatinya, seperti pikirannya melantur ke mana-mana, maka shalatnya sangat kurang nilainya, meskipun tetap sah. Berdasarkan bentuk lahiriahnya, shalat itu sah, tapi sangat kurang nilainya. Begitu pula dengan ibadah puasa. Puasa sangat kurang nilainya jika seseorang tidak berpuasa dari kemaksiatan kepada Allah. Meskipun secara lahiriah puasa tersebut tetap dianggap sah, karena penilaian ibadah di dunia didasarkan pada hal-hal yang tampak secara lahiriah. ===== مَا الَّذِي يَجِبُ عَنْهُ الصَّوْمُ؟ فَلَعَلَّكُمْ تَسْتَغْرِبُونَ إِذَا قُلْتُ إِنَّ الَّذِي يَجِبُ عَنْهُ الصَّوْمُ هُوَ الْمَعَاصِي يَجِبُ أَنْ يَصُومَ الْإِنْسَانُ عَنِ الْمَعَاصِي لِأَنَّ هَذَا هُوَ الْمَقْصُودُ الْأَوَّلُ فِي الصَّوْمِ لِقَوْلِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ لَمْ يَقُلْ لَعَلَّكُمْ تَجُوعُونَ، لَعَلَّكُمْ تَعْطِشُونَ لَعَلَّكُمْ تُمْسِكُونَ عَنِ الْأَهْلِ لَا قَالَ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ، هَذَا هُوَ الْغَرَضُ، هَذَا هُوَ الْمَقْصُودُ الْأَوَّلُ مِنَ الصَّوْمِ وَحَقَّقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَلِكَ وَأَكَّدَهُ فِي قَوْلِهِ مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ إِذاً الصَّوْمُ حَقِيقَةً أَنْ يَصُومَ الْإِنْسَانُ عَنْ مَعَاصِي اللهِ عَزَّ وَجَلَّ هَذَا هُوَ الصَّوْمُ الْحَقِيقِيُّ أَمَّا الصَّوْمُ الظَّاهِرِيُّ فَهُوَ الصِّيَامُ عَنِ الْمُفَطِّرَاتِ الْإِمْسَاكُ عَنِ الْمُفَطِّرَاتِ تَعَبُّداً لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ هَذَا صَوْمٌ نُسَمِّيهِ صَوْمَ الظَّاهِرِ، صَوْمَ الْبَدَنِ فَقَطْ أَمَّا صَوْمُ الْقَلْبِ الَّذِي هُوَ الْمَقْصُودُ الْأَوَّلُ فَهُوَ الصَّوْمُ عَنْ مَعَاصِي اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَلَى هَذَا فَمَنْ صَامَ صَوْماً ظَاهِرِيّاً جَسَدِيّاً وَلَكِنَّهُ لَمْ يَصُمْ صَوْماً قَلْبِيّاً فَإِنَّ صَوْمَهُ نَاقِصٌ جِدّاً جِدّاً لَا نَقُولُ إِنَّهُ بَاطِلٌ لَكِنْ نَقُولُ إِنَّهُ نَاقِصٌ كَمَا نَقُولُ فِي الصَّلَاةِ: الْمَقْصُودُ مِنَ الصَّلَاةِ هُوَ الْخُشُوعُ وَالتَّذَلُّلُ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَصَلَاةُ الْقَلْبِ قَبْلَ صَلَاةِ الْجَوَارِحِ لَكِنْ لَوْ أَنَّ الْإِنْسَانَ صَلَّى بِجَوَارِحِهِ وَلَمْ يُصَلِّ بِقَلْبِهِ، بِأَنْ كَانَ قَلْبُهُ فِي كُلِّ وَادٍ فَصَلَاتُهُ نَاقِصَةٌ جِدّاً لَكِنَّهَا مُجْزِئَةٌ حَسَبَ الرَّسْمِ الظَّاهِرِ مُجْزِئَةٌ لَكِنَّهَا نَاقِصَةٌ جِدّاً كَذَلِكَ الصَّوْمُ الصَّوْمُ نَاقِصٌ جِدّاً إِذَا لَمْ يَصُمِ الْإِنْسَانُ عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ لَكِنَّهُ مُجْزِئٌ فِي الرَّسْمِ الظَّاهِرِ لِأَنَّ الْعِبَادَاتِ فِي الدُّنْيَا إِنَّمَا تَكُونُ عَلَى الظَّاهِرِ
https://youtu.be/PAOkZ3FgzSw Seseorang harus puasa dari apa? Mungkin Anda heran jika saya katakan bahwa hal yang harus dipuasai adalah kemaksiatan. Setiap orang wajib berpuasa dari kemaksiatan, karena inilah tujuan utama dalam ibadah puasa. Berdasarkan firman Allah Tabaraka wa Ta’ala: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183). Allah tidak berfirman: “…agar kamu lapar”, atau “…agar kamu dahaga,” bukan pula “…agar kamu menahan diri dari hubungan biologis.” Tidak. Namun Allah berfirman: “…agar kamu bertakwa.” Inilah maksud dan tujuan utama dari puasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan hal ini melalui sabda beliau: “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, perbuatan buruk, serta kebodohan, maka Allah tidak memerlukan upayanya dalam meninggalkan makan dan minum.” (HR. Bukhari). Jadi, puasa yang hakiki adalah ketika seseorang menahan diri dari kemaksiatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Inilah esensi puasa yang sebenarnya. Adapun puasa lahiriah adalah sekadar menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa. Menahan diri dari segala pembatal puasa dengan tujuan ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Berdasarkan firman Allah Ta’ala: “…Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu perbedaan antara benang putih dan benang hitam, yaitu waktu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.” (QS. Al-Baqarah: 187). Puasa seperti ini kita sebut dengan puasa lahiriah, puasa jasmaninya saja. Sedangkan puasa hati yang menjadi tujuan utama berpuasa adalah berpuasa dari segala kemaksiatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dengan demikian, barang siapa yang hanya berpuasa lahiriah atau fisiknya saja, tapi ia tidak puasa dengan hatinya, maka nilai puasanya sangatlah kurang. Kami tidak mengatakan puasa itu batal, tapi sangat kurang. Sama halnya dengan shalat. Tujuan utama shalat adalah kekhusyukan dan ketundukan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Shalat hati lebih utama daripada shalat anggota badan saja. Jika seseorang shalat hanya dengan fisiknya tanpa menghadirkan hatinya, seperti pikirannya melantur ke mana-mana, maka shalatnya sangat kurang nilainya, meskipun tetap sah. Berdasarkan bentuk lahiriahnya, shalat itu sah, tapi sangat kurang nilainya. Begitu pula dengan ibadah puasa. Puasa sangat kurang nilainya jika seseorang tidak berpuasa dari kemaksiatan kepada Allah. Meskipun secara lahiriah puasa tersebut tetap dianggap sah, karena penilaian ibadah di dunia didasarkan pada hal-hal yang tampak secara lahiriah. ===== مَا الَّذِي يَجِبُ عَنْهُ الصَّوْمُ؟ فَلَعَلَّكُمْ تَسْتَغْرِبُونَ إِذَا قُلْتُ إِنَّ الَّذِي يَجِبُ عَنْهُ الصَّوْمُ هُوَ الْمَعَاصِي يَجِبُ أَنْ يَصُومَ الْإِنْسَانُ عَنِ الْمَعَاصِي لِأَنَّ هَذَا هُوَ الْمَقْصُودُ الْأَوَّلُ فِي الصَّوْمِ لِقَوْلِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ لَمْ يَقُلْ لَعَلَّكُمْ تَجُوعُونَ، لَعَلَّكُمْ تَعْطِشُونَ لَعَلَّكُمْ تُمْسِكُونَ عَنِ الْأَهْلِ لَا قَالَ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ، هَذَا هُوَ الْغَرَضُ، هَذَا هُوَ الْمَقْصُودُ الْأَوَّلُ مِنَ الصَّوْمِ وَحَقَّقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَلِكَ وَأَكَّدَهُ فِي قَوْلِهِ مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ إِذاً الصَّوْمُ حَقِيقَةً أَنْ يَصُومَ الْإِنْسَانُ عَنْ مَعَاصِي اللهِ عَزَّ وَجَلَّ هَذَا هُوَ الصَّوْمُ الْحَقِيقِيُّ أَمَّا الصَّوْمُ الظَّاهِرِيُّ فَهُوَ الصِّيَامُ عَنِ الْمُفَطِّرَاتِ الْإِمْسَاكُ عَنِ الْمُفَطِّرَاتِ تَعَبُّداً لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ هَذَا صَوْمٌ نُسَمِّيهِ صَوْمَ الظَّاهِرِ، صَوْمَ الْبَدَنِ فَقَطْ أَمَّا صَوْمُ الْقَلْبِ الَّذِي هُوَ الْمَقْصُودُ الْأَوَّلُ فَهُوَ الصَّوْمُ عَنْ مَعَاصِي اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَلَى هَذَا فَمَنْ صَامَ صَوْماً ظَاهِرِيّاً جَسَدِيّاً وَلَكِنَّهُ لَمْ يَصُمْ صَوْماً قَلْبِيّاً فَإِنَّ صَوْمَهُ نَاقِصٌ جِدّاً جِدّاً لَا نَقُولُ إِنَّهُ بَاطِلٌ لَكِنْ نَقُولُ إِنَّهُ نَاقِصٌ كَمَا نَقُولُ فِي الصَّلَاةِ: الْمَقْصُودُ مِنَ الصَّلَاةِ هُوَ الْخُشُوعُ وَالتَّذَلُّلُ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَصَلَاةُ الْقَلْبِ قَبْلَ صَلَاةِ الْجَوَارِحِ لَكِنْ لَوْ أَنَّ الْإِنْسَانَ صَلَّى بِجَوَارِحِهِ وَلَمْ يُصَلِّ بِقَلْبِهِ، بِأَنْ كَانَ قَلْبُهُ فِي كُلِّ وَادٍ فَصَلَاتُهُ نَاقِصَةٌ جِدّاً لَكِنَّهَا مُجْزِئَةٌ حَسَبَ الرَّسْمِ الظَّاهِرِ مُجْزِئَةٌ لَكِنَّهَا نَاقِصَةٌ جِدّاً كَذَلِكَ الصَّوْمُ الصَّوْمُ نَاقِصٌ جِدّاً إِذَا لَمْ يَصُمِ الْإِنْسَانُ عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ لَكِنَّهُ مُجْزِئٌ فِي الرَّسْمِ الظَّاهِرِ لِأَنَّ الْعِبَادَاتِ فِي الدُّنْيَا إِنَّمَا تَكُونُ عَلَى الظَّاهِرِ


https://youtu.be/PAOkZ3FgzSw Seseorang harus puasa dari apa? Mungkin Anda heran jika saya katakan bahwa hal yang harus dipuasai adalah kemaksiatan. Setiap orang wajib berpuasa dari kemaksiatan, karena inilah tujuan utama dalam ibadah puasa. Berdasarkan firman Allah Tabaraka wa Ta’ala: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183). Allah tidak berfirman: “…agar kamu lapar”, atau “…agar kamu dahaga,” bukan pula “…agar kamu menahan diri dari hubungan biologis.” Tidak. Namun Allah berfirman: “…agar kamu bertakwa.” Inilah maksud dan tujuan utama dari puasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan hal ini melalui sabda beliau: “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, perbuatan buruk, serta kebodohan, maka Allah tidak memerlukan upayanya dalam meninggalkan makan dan minum.” (HR. Bukhari). Jadi, puasa yang hakiki adalah ketika seseorang menahan diri dari kemaksiatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Inilah esensi puasa yang sebenarnya. Adapun puasa lahiriah adalah sekadar menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa. Menahan diri dari segala pembatal puasa dengan tujuan ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Berdasarkan firman Allah Ta’ala: “…Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu perbedaan antara benang putih dan benang hitam, yaitu waktu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.” (QS. Al-Baqarah: 187). Puasa seperti ini kita sebut dengan puasa lahiriah, puasa jasmaninya saja. Sedangkan puasa hati yang menjadi tujuan utama berpuasa adalah berpuasa dari segala kemaksiatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dengan demikian, barang siapa yang hanya berpuasa lahiriah atau fisiknya saja, tapi ia tidak puasa dengan hatinya, maka nilai puasanya sangatlah kurang. Kami tidak mengatakan puasa itu batal, tapi sangat kurang. Sama halnya dengan shalat. Tujuan utama shalat adalah kekhusyukan dan ketundukan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Shalat hati lebih utama daripada shalat anggota badan saja. Jika seseorang shalat hanya dengan fisiknya tanpa menghadirkan hatinya, seperti pikirannya melantur ke mana-mana, maka shalatnya sangat kurang nilainya, meskipun tetap sah. Berdasarkan bentuk lahiriahnya, shalat itu sah, tapi sangat kurang nilainya. Begitu pula dengan ibadah puasa. Puasa sangat kurang nilainya jika seseorang tidak berpuasa dari kemaksiatan kepada Allah. Meskipun secara lahiriah puasa tersebut tetap dianggap sah, karena penilaian ibadah di dunia didasarkan pada hal-hal yang tampak secara lahiriah. ===== مَا الَّذِي يَجِبُ عَنْهُ الصَّوْمُ؟ فَلَعَلَّكُمْ تَسْتَغْرِبُونَ إِذَا قُلْتُ إِنَّ الَّذِي يَجِبُ عَنْهُ الصَّوْمُ هُوَ الْمَعَاصِي يَجِبُ أَنْ يَصُومَ الْإِنْسَانُ عَنِ الْمَعَاصِي لِأَنَّ هَذَا هُوَ الْمَقْصُودُ الْأَوَّلُ فِي الصَّوْمِ لِقَوْلِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ لَمْ يَقُلْ لَعَلَّكُمْ تَجُوعُونَ، لَعَلَّكُمْ تَعْطِشُونَ لَعَلَّكُمْ تُمْسِكُونَ عَنِ الْأَهْلِ لَا قَالَ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ، هَذَا هُوَ الْغَرَضُ، هَذَا هُوَ الْمَقْصُودُ الْأَوَّلُ مِنَ الصَّوْمِ وَحَقَّقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَلِكَ وَأَكَّدَهُ فِي قَوْلِهِ مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ إِذاً الصَّوْمُ حَقِيقَةً أَنْ يَصُومَ الْإِنْسَانُ عَنْ مَعَاصِي اللهِ عَزَّ وَجَلَّ هَذَا هُوَ الصَّوْمُ الْحَقِيقِيُّ أَمَّا الصَّوْمُ الظَّاهِرِيُّ فَهُوَ الصِّيَامُ عَنِ الْمُفَطِّرَاتِ الْإِمْسَاكُ عَنِ الْمُفَطِّرَاتِ تَعَبُّداً لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ هَذَا صَوْمٌ نُسَمِّيهِ صَوْمَ الظَّاهِرِ، صَوْمَ الْبَدَنِ فَقَطْ أَمَّا صَوْمُ الْقَلْبِ الَّذِي هُوَ الْمَقْصُودُ الْأَوَّلُ فَهُوَ الصَّوْمُ عَنْ مَعَاصِي اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَلَى هَذَا فَمَنْ صَامَ صَوْماً ظَاهِرِيّاً جَسَدِيّاً وَلَكِنَّهُ لَمْ يَصُمْ صَوْماً قَلْبِيّاً فَإِنَّ صَوْمَهُ نَاقِصٌ جِدّاً جِدّاً لَا نَقُولُ إِنَّهُ بَاطِلٌ لَكِنْ نَقُولُ إِنَّهُ نَاقِصٌ كَمَا نَقُولُ فِي الصَّلَاةِ: الْمَقْصُودُ مِنَ الصَّلَاةِ هُوَ الْخُشُوعُ وَالتَّذَلُّلُ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَصَلَاةُ الْقَلْبِ قَبْلَ صَلَاةِ الْجَوَارِحِ لَكِنْ لَوْ أَنَّ الْإِنْسَانَ صَلَّى بِجَوَارِحِهِ وَلَمْ يُصَلِّ بِقَلْبِهِ، بِأَنْ كَانَ قَلْبُهُ فِي كُلِّ وَادٍ فَصَلَاتُهُ نَاقِصَةٌ جِدّاً لَكِنَّهَا مُجْزِئَةٌ حَسَبَ الرَّسْمِ الظَّاهِرِ مُجْزِئَةٌ لَكِنَّهَا نَاقِصَةٌ جِدّاً كَذَلِكَ الصَّوْمُ الصَّوْمُ نَاقِصٌ جِدّاً إِذَا لَمْ يَصُمِ الْإِنْسَانُ عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ لَكِنَّهُ مُجْزِئٌ فِي الرَّسْمِ الظَّاهِرِ لِأَنَّ الْعِبَادَاتِ فِي الدُّنْيَا إِنَّمَا تَكُونُ عَلَى الظَّاهِرِ

Kapan Malam Lailatul Qadar Tahun Ini?

Daftar Isi ToggleMalam potensial berdasarkan waktuPenutupMalam potensial berdasarkan waktuPotensi lailatul qadar lebih besar lagi terjadi pada 10 malam terakhir Ramadan, utamanya pada malam ganjilnya, dan bertepatan dengan malam Jumat. Konteks ini didapatkan dari pendapat para ulama terdahulu.Berkaitan dengan malam ganjil diutamakan, berdasarkan riwayat Bukhari berikut,في الوتر من العشر الأواخر من رمضان“Lailatul qadar terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadan.” (HR. Bukhari no. 2017)Dalam riwayat Bukhari dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhum,التمسوا ليلة القدر في العشر الأواخر من رمضان في تاسعة تبقى في سابعة تبقى في خامسة تبقى“Carilah malam lailatul qadar di sepuluh malam terakhir Ramadan, pada malam kesembilan yang tersisa, pada malam ketujuh yang tersisa, pada malam kelima yang tersisa.” (HR. Bukhari no. 2021)Dari hadis tersebut, terdapat isyarat di mana malam-malam khusus tersebut dan bagaimana cara menentukannya. Hadis ini mengisyaratkan perhitungannya dari hari yang tersisa. Ulama berbeda pendapat tentang yang mana menjadi patokan antara menghitung malam ganjil, apakah dari depan atau dari ujung Ramadan.وعلى قياس من حسب الليالي الباقية من الشهر على تقدير نقصان الشهر فينبغي أن يكون عنده أول العشر الأواخر ليلة العشرين لاحتمال أن يكون الشهر ناقصا فلا يتحقق كونها عشر ليال بدون إدخال ليلة العشرين فيها“Berdasarkan perhitungan sisa malam dalam bulan tersebut, dengan asumsi bulan tersebut tidak lengkap, maka malam pertama dari sepuluh malam terakhir seharusnya adalah malam kedua puluh, karena kemungkinan bulan tersebut tidak lengkap. Oleh karena itu, sepuluh malam tersebut tidak dapat dipastikan tanpa memasukkan malam kedua puluh.” (Lathaiful Maarif, hal. 357)Syekh As-Sa’di rahimahullah menerangkan dalam tafsirnya,وقد تواترت الأحاديث في فضلها، وأنها في رمضان، وفي العشر الأواخر منه، خصوصًا في أوتاره، وهي باقية في كل سنة إلى قيام الساعة.“Inilah yang dikuatkan dalam syariat bahwasanya malam lailatul qadar terjadi dengan potensi besar di sepuluh malam terakhir. Sebabnya adalah adanya hadis Nabi ﷺ yang khusus memerintahkan kaum muslimin untuk menghidupkannya. Selain itu, adanya perbuatan Nabi ﷺ yang lebih bersemangat lagi beramal setelah masuk fase ketiga ini. Tidak hanya bersemangat sendiri, tetapi mengajak keluarganya demikian juga.” (Tafsir As-Sa’di QS. Al-Qadr: 5)Kemudian terdapat riwayat yang lebih menekankan malam ganjil dibandingkan malam genap. Namun, ingat dalam hal ini terjadi perbedaan para ulama dalam metode menghitungnya, apakah dari depan atau dari akhir? Semua ini menunjukkan ketidaktahuan kita secara pasti akan adanya lailatul qadar di hari apa.Adapula malam-malam yang lebih dikuatkan oleh sebagian para sahabat dan ulama terdahulu, di antaranya:1) Malam ke-21: Disebutkan riwayatnya dari Abu Sa’id Al-Khudri. Ini juga yang dikuatkan oleh Imam Syafii.2) Malam ke-23: Pendapat Ahli Madinah, Sufyan Ats-Tsauri, dan Abdullah bin Unais. Dalam Shahih Bukhari dan juga Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, diriwayatkan bahwa Bilal menguatkan malam ke-23.إنها أَوَّل السَّبْع من العشر الأواخر“Sungguh ia terjadi pada tujuh hari tersisa di sepuluh malam terakhir.” (HR. Bukhari no. 4470)Ini pendapat Malik juga yang menghitung tujuh malam terakhir jika jumlah malam Ramadan adalah 29 saja. Menurut Abdul Malik bin Habib, ini dengan asumsi Ramadan tak sempurna/genap.وتأوَّله عبدُ الملك بنُ حَبيبٍ على أنَّه إنما يُحسَبُ كذلك إذا كان الشهر ناقصًا“Pemaknaan dari Abdul Malik bin Habib dibangun di atas perkiraan perhitungan hari yang kurang, yakni 29 hari/malam.” (Lathaiful Maarif, hal. 355)Perhitungan dari belakang dengan asumsi 29 hari/malam ini dinilai tidak beralasan menurut Ibnu Rajab. Karena Nabi ﷺ memerintahkan perhitungannya dengan hitungan standar. Sedangkan penanggalan Ramadan tidak kita ketahui apakah 29 atau 30 di tahun tersebut.وليس هذا بشيء؛ فإنَّه إنَّما أمر بالاجتهاد في هذه الليالي على هذا الحساب، وهذا لا يمكن أن يكونَ مراعىً بنقصان الشهرِ في آخره“Adapun pendapat ini tidaklah berdasar, karena perintah Nabi ﷺ adalah mencarinya berdasarkan perhitungan standar. Tentu cara seperti itu tidak bisa digunakan karena utuh atau tidaknya bulan tidak diketahui kecuali di akhir waktu.” (Lathaiful Maarif, hal. 355)3) Malam ke-24: Berdasarkan perselisihan di atas, maka lahirlah pendapat yang menguatkan malam ke-24 sebagai malam lailatul qadar seperti Ayub As-Sikhtiyani, Ahli Bashrah, juga Anas dan Hasan, Abu Said Al-Khudri dan Abu Dzar. Bahkan Hasan Al-Bashri mengatakan,رَقَبْتُ الشَّمسَ عشرين سنة، ليلَة أربع وعشرين، فكانت تطلعُ لا شُعاعَ لها“Aku memperhatikan matahari selama dua puluh tahun. Pada malam ke-24 esok harinya, matahari terbit tidak bersinar tajam.” (ibid)Artinya, pendapat ini datang dari penelitian yang dilakukan oleh beliau selama 20 tahun. Pendapat ini dikuatkan Ibnu Abdul Barr dan Ibnu Rajab sendiri sebagai perwakilan Hanabilah.4) Malam ke-25: Berdasarkan keumuman hadis berikut,Nabi ﷺ bersabda,اِلْتَمِسُوْهَا فِيْ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ, فِيْ تَاسِعَةٍ تَبْقَى, فِيْ سَابِعَةٍ تَبْقَى, فِيْ خَامِسَةٍ تَبْقَى“Carilah lailatul qadar di bulan Ramadan, pada sembilan malam yang tersisa, tujuh malam yang tersisa, lima malam yang tersisa.” (HR. Bukhari no. 1917)5) Malam ke-27: Ini adalah pendapat Ubay bin Kaab dengan kalimat yang sangat tegas, serta Zir bin Hubays dan Abdah bin Abi Lubabah. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Bulughul Maram hadis no. 705 menyebutkan hadis Mu’awiyah,عَنْ اَلنَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ: – لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَالرَّاجِحُ وَقْفُهُ. وَقَدْ اِخْتُلِفَ فِي تَعْيِينِهَا عَلَى أَرْبَعِينَ قَوْلًا أَوْرَدْتُهَا فِي فَتْحِ اَلْبَارِي“Dari Mu’awiyah bin Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata mengenai lailatul qadar itu terjadi pada malam ke-27.” (Nukilan dari Bulughul Maram)Namun pendapat yang kuat, hadis ini mauquf, yaitu hanya perkataan sahabat. Para ulama berselisih mengenai tanggal pasti lailatul qadar. Ada 24 pendapat dalam masalah ini yang dibawakan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.Umar, Hudzaifah, dan beberapa sahabat menguatkan malam ini.6) Malam ke-29: sebagaimana hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda tentang malam lailatul qadar,إِنَّهَا لَيْلَةُ سَابِعَةٍ أَوْ تَاسِعَةٍ وَعِشْرِيْنَ, إِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تِلْكَ اللَّيْلَةَ فِيْ الأَرْضِ أَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ الْحَصَى“Sesungguhnya malam itu malam yang ke(dua puluh) tujuh atau kedua puluh sembilan. Sesungguhnya, malaikat pada malam itu, lebih banyak dari jumlah butiran kerikil (pasir).” (HR. Ahmad, disahihkan Al-Albani)7) Malam ke-30 pun mungkin: Dalam riwayat Abu Bakrah,عَنْ عُيَيْنَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ: حَدَّثَنيِ أبِيْ قَالَ: ذَكَرْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ عِنْدَ أَبِيْ بَكْرَةَ فَقَالَ: مَا أناَ مُلْتَمِسُهَا لِشَيْءٍ سَمِعْتهُ مِنْ رَسُوْلِ الله صَلىَّ الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلاَّ فِيْ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَإِنِّيْ سَمِعْتُهُ يَقُوْلُ: ((اِلْتَمِسُوْهَا فَيْ تِسْعٍ يَبْقَيْنَ, أَوْ فِيْ سَبْعٍ يَبْقَيْنَ, أَوْ فِيْ خَمْسٍ يَبْقَيْنَ, أَوْ فِيْ ثَلاَثٍ, أَوْ آخِرِ لَيْلَةٍ)), قَالَ: وَكَانَ أَبُوْ بَكْرَةَ يُصَلِّيْ فِيْ الْعِشْرِيْنَ مِنْ رَمَضَانَ كَصَلاَتِهِ فِيْ سَائِرِ السَّنَةِ, فَإذا دَخَلَ الْعَشْرَ اِجْتَهَدَ“Dari Uyainah bin Abdurrahman, ia berkata, “Ayahku telah mengabarkan kepadaku, (ia) berkata, aku menyebutkan tentang lailatul qadar kepada Abu Bakrah, maka beliau berkata, tidaklah aku mencari malam lailatul qadqr dengan suatu apapun yang aku dengarkan dari Rasulullah, melainkan pada sepuluh malam terakhir; karena sesungguhnya aku mendengarkan beliau berkata, ‘Carilah malam itu pada sembilan malam yang tersisa (di bulan Ramadan), atau tujuh malam yang tersisa, atau lima malam yang tersisa, atau tiga malam yang tersisa, atau pada malam terakhir’.” Abdurrahman berkata, “Dan Abu Bakrah salat pada dua puluh hari pertama di bulan Ramadan seperti salat-salat beliau pada waktu-waktu lain dalam setahun; tapi apabila masuk pada sepuluh malam terakhir, beliau bersungguh-sungguh.” (HR. Tirmidzi, disahihkan Al-Albani) [1]PenutupTujuan dari artikel ini ditulis adalah mengajak kita semua untuk memaksimalkan apapun yang tersisa, dan memulai perburuan lailatul qadar sesegera mungkin. Perdebatan tentang kapannya malam lailatul qadar yang sering menghiasi timeline Ramadan kita sejatinya tidaklah produktif. Mari kita salurkan energi Ramadan kita untuk memaksimalkan amalan dan melakukan perburuan lailatul qadar dengan menyalakan mesin amal kita. [2]Baca juga: Tanda Lailatul Qadar dan Kapan Lailatul Qadar Terjadi?Fatwa Ulama: Kapan Mulai waktu I’tikaf***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] almanhaj.or.id[2] Seluruh catatan ini mengacu kepada kitab Lathaiful Maarif karya Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah dengan muhaqqiq Asy-Syaikh Yasin Muhammad As-Sawas. Umumnya penilaian hadis ini berdasarkan catatan muhaqqiq.

Kapan Malam Lailatul Qadar Tahun Ini?

Daftar Isi ToggleMalam potensial berdasarkan waktuPenutupMalam potensial berdasarkan waktuPotensi lailatul qadar lebih besar lagi terjadi pada 10 malam terakhir Ramadan, utamanya pada malam ganjilnya, dan bertepatan dengan malam Jumat. Konteks ini didapatkan dari pendapat para ulama terdahulu.Berkaitan dengan malam ganjil diutamakan, berdasarkan riwayat Bukhari berikut,في الوتر من العشر الأواخر من رمضان“Lailatul qadar terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadan.” (HR. Bukhari no. 2017)Dalam riwayat Bukhari dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhum,التمسوا ليلة القدر في العشر الأواخر من رمضان في تاسعة تبقى في سابعة تبقى في خامسة تبقى“Carilah malam lailatul qadar di sepuluh malam terakhir Ramadan, pada malam kesembilan yang tersisa, pada malam ketujuh yang tersisa, pada malam kelima yang tersisa.” (HR. Bukhari no. 2021)Dari hadis tersebut, terdapat isyarat di mana malam-malam khusus tersebut dan bagaimana cara menentukannya. Hadis ini mengisyaratkan perhitungannya dari hari yang tersisa. Ulama berbeda pendapat tentang yang mana menjadi patokan antara menghitung malam ganjil, apakah dari depan atau dari ujung Ramadan.وعلى قياس من حسب الليالي الباقية من الشهر على تقدير نقصان الشهر فينبغي أن يكون عنده أول العشر الأواخر ليلة العشرين لاحتمال أن يكون الشهر ناقصا فلا يتحقق كونها عشر ليال بدون إدخال ليلة العشرين فيها“Berdasarkan perhitungan sisa malam dalam bulan tersebut, dengan asumsi bulan tersebut tidak lengkap, maka malam pertama dari sepuluh malam terakhir seharusnya adalah malam kedua puluh, karena kemungkinan bulan tersebut tidak lengkap. Oleh karena itu, sepuluh malam tersebut tidak dapat dipastikan tanpa memasukkan malam kedua puluh.” (Lathaiful Maarif, hal. 357)Syekh As-Sa’di rahimahullah menerangkan dalam tafsirnya,وقد تواترت الأحاديث في فضلها، وأنها في رمضان، وفي العشر الأواخر منه، خصوصًا في أوتاره، وهي باقية في كل سنة إلى قيام الساعة.“Inilah yang dikuatkan dalam syariat bahwasanya malam lailatul qadar terjadi dengan potensi besar di sepuluh malam terakhir. Sebabnya adalah adanya hadis Nabi ﷺ yang khusus memerintahkan kaum muslimin untuk menghidupkannya. Selain itu, adanya perbuatan Nabi ﷺ yang lebih bersemangat lagi beramal setelah masuk fase ketiga ini. Tidak hanya bersemangat sendiri, tetapi mengajak keluarganya demikian juga.” (Tafsir As-Sa’di QS. Al-Qadr: 5)Kemudian terdapat riwayat yang lebih menekankan malam ganjil dibandingkan malam genap. Namun, ingat dalam hal ini terjadi perbedaan para ulama dalam metode menghitungnya, apakah dari depan atau dari akhir? Semua ini menunjukkan ketidaktahuan kita secara pasti akan adanya lailatul qadar di hari apa.Adapula malam-malam yang lebih dikuatkan oleh sebagian para sahabat dan ulama terdahulu, di antaranya:1) Malam ke-21: Disebutkan riwayatnya dari Abu Sa’id Al-Khudri. Ini juga yang dikuatkan oleh Imam Syafii.2) Malam ke-23: Pendapat Ahli Madinah, Sufyan Ats-Tsauri, dan Abdullah bin Unais. Dalam Shahih Bukhari dan juga Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, diriwayatkan bahwa Bilal menguatkan malam ke-23.إنها أَوَّل السَّبْع من العشر الأواخر“Sungguh ia terjadi pada tujuh hari tersisa di sepuluh malam terakhir.” (HR. Bukhari no. 4470)Ini pendapat Malik juga yang menghitung tujuh malam terakhir jika jumlah malam Ramadan adalah 29 saja. Menurut Abdul Malik bin Habib, ini dengan asumsi Ramadan tak sempurna/genap.وتأوَّله عبدُ الملك بنُ حَبيبٍ على أنَّه إنما يُحسَبُ كذلك إذا كان الشهر ناقصًا“Pemaknaan dari Abdul Malik bin Habib dibangun di atas perkiraan perhitungan hari yang kurang, yakni 29 hari/malam.” (Lathaiful Maarif, hal. 355)Perhitungan dari belakang dengan asumsi 29 hari/malam ini dinilai tidak beralasan menurut Ibnu Rajab. Karena Nabi ﷺ memerintahkan perhitungannya dengan hitungan standar. Sedangkan penanggalan Ramadan tidak kita ketahui apakah 29 atau 30 di tahun tersebut.وليس هذا بشيء؛ فإنَّه إنَّما أمر بالاجتهاد في هذه الليالي على هذا الحساب، وهذا لا يمكن أن يكونَ مراعىً بنقصان الشهرِ في آخره“Adapun pendapat ini tidaklah berdasar, karena perintah Nabi ﷺ adalah mencarinya berdasarkan perhitungan standar. Tentu cara seperti itu tidak bisa digunakan karena utuh atau tidaknya bulan tidak diketahui kecuali di akhir waktu.” (Lathaiful Maarif, hal. 355)3) Malam ke-24: Berdasarkan perselisihan di atas, maka lahirlah pendapat yang menguatkan malam ke-24 sebagai malam lailatul qadar seperti Ayub As-Sikhtiyani, Ahli Bashrah, juga Anas dan Hasan, Abu Said Al-Khudri dan Abu Dzar. Bahkan Hasan Al-Bashri mengatakan,رَقَبْتُ الشَّمسَ عشرين سنة، ليلَة أربع وعشرين، فكانت تطلعُ لا شُعاعَ لها“Aku memperhatikan matahari selama dua puluh tahun. Pada malam ke-24 esok harinya, matahari terbit tidak bersinar tajam.” (ibid)Artinya, pendapat ini datang dari penelitian yang dilakukan oleh beliau selama 20 tahun. Pendapat ini dikuatkan Ibnu Abdul Barr dan Ibnu Rajab sendiri sebagai perwakilan Hanabilah.4) Malam ke-25: Berdasarkan keumuman hadis berikut,Nabi ﷺ bersabda,اِلْتَمِسُوْهَا فِيْ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ, فِيْ تَاسِعَةٍ تَبْقَى, فِيْ سَابِعَةٍ تَبْقَى, فِيْ خَامِسَةٍ تَبْقَى“Carilah lailatul qadar di bulan Ramadan, pada sembilan malam yang tersisa, tujuh malam yang tersisa, lima malam yang tersisa.” (HR. Bukhari no. 1917)5) Malam ke-27: Ini adalah pendapat Ubay bin Kaab dengan kalimat yang sangat tegas, serta Zir bin Hubays dan Abdah bin Abi Lubabah. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Bulughul Maram hadis no. 705 menyebutkan hadis Mu’awiyah,عَنْ اَلنَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ: – لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَالرَّاجِحُ وَقْفُهُ. وَقَدْ اِخْتُلِفَ فِي تَعْيِينِهَا عَلَى أَرْبَعِينَ قَوْلًا أَوْرَدْتُهَا فِي فَتْحِ اَلْبَارِي“Dari Mu’awiyah bin Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata mengenai lailatul qadar itu terjadi pada malam ke-27.” (Nukilan dari Bulughul Maram)Namun pendapat yang kuat, hadis ini mauquf, yaitu hanya perkataan sahabat. Para ulama berselisih mengenai tanggal pasti lailatul qadar. Ada 24 pendapat dalam masalah ini yang dibawakan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.Umar, Hudzaifah, dan beberapa sahabat menguatkan malam ini.6) Malam ke-29: sebagaimana hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda tentang malam lailatul qadar,إِنَّهَا لَيْلَةُ سَابِعَةٍ أَوْ تَاسِعَةٍ وَعِشْرِيْنَ, إِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تِلْكَ اللَّيْلَةَ فِيْ الأَرْضِ أَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ الْحَصَى“Sesungguhnya malam itu malam yang ke(dua puluh) tujuh atau kedua puluh sembilan. Sesungguhnya, malaikat pada malam itu, lebih banyak dari jumlah butiran kerikil (pasir).” (HR. Ahmad, disahihkan Al-Albani)7) Malam ke-30 pun mungkin: Dalam riwayat Abu Bakrah,عَنْ عُيَيْنَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ: حَدَّثَنيِ أبِيْ قَالَ: ذَكَرْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ عِنْدَ أَبِيْ بَكْرَةَ فَقَالَ: مَا أناَ مُلْتَمِسُهَا لِشَيْءٍ سَمِعْتهُ مِنْ رَسُوْلِ الله صَلىَّ الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلاَّ فِيْ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَإِنِّيْ سَمِعْتُهُ يَقُوْلُ: ((اِلْتَمِسُوْهَا فَيْ تِسْعٍ يَبْقَيْنَ, أَوْ فِيْ سَبْعٍ يَبْقَيْنَ, أَوْ فِيْ خَمْسٍ يَبْقَيْنَ, أَوْ فِيْ ثَلاَثٍ, أَوْ آخِرِ لَيْلَةٍ)), قَالَ: وَكَانَ أَبُوْ بَكْرَةَ يُصَلِّيْ فِيْ الْعِشْرِيْنَ مِنْ رَمَضَانَ كَصَلاَتِهِ فِيْ سَائِرِ السَّنَةِ, فَإذا دَخَلَ الْعَشْرَ اِجْتَهَدَ“Dari Uyainah bin Abdurrahman, ia berkata, “Ayahku telah mengabarkan kepadaku, (ia) berkata, aku menyebutkan tentang lailatul qadar kepada Abu Bakrah, maka beliau berkata, tidaklah aku mencari malam lailatul qadqr dengan suatu apapun yang aku dengarkan dari Rasulullah, melainkan pada sepuluh malam terakhir; karena sesungguhnya aku mendengarkan beliau berkata, ‘Carilah malam itu pada sembilan malam yang tersisa (di bulan Ramadan), atau tujuh malam yang tersisa, atau lima malam yang tersisa, atau tiga malam yang tersisa, atau pada malam terakhir’.” Abdurrahman berkata, “Dan Abu Bakrah salat pada dua puluh hari pertama di bulan Ramadan seperti salat-salat beliau pada waktu-waktu lain dalam setahun; tapi apabila masuk pada sepuluh malam terakhir, beliau bersungguh-sungguh.” (HR. Tirmidzi, disahihkan Al-Albani) [1]PenutupTujuan dari artikel ini ditulis adalah mengajak kita semua untuk memaksimalkan apapun yang tersisa, dan memulai perburuan lailatul qadar sesegera mungkin. Perdebatan tentang kapannya malam lailatul qadar yang sering menghiasi timeline Ramadan kita sejatinya tidaklah produktif. Mari kita salurkan energi Ramadan kita untuk memaksimalkan amalan dan melakukan perburuan lailatul qadar dengan menyalakan mesin amal kita. [2]Baca juga: Tanda Lailatul Qadar dan Kapan Lailatul Qadar Terjadi?Fatwa Ulama: Kapan Mulai waktu I’tikaf***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] almanhaj.or.id[2] Seluruh catatan ini mengacu kepada kitab Lathaiful Maarif karya Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah dengan muhaqqiq Asy-Syaikh Yasin Muhammad As-Sawas. Umumnya penilaian hadis ini berdasarkan catatan muhaqqiq.
Daftar Isi ToggleMalam potensial berdasarkan waktuPenutupMalam potensial berdasarkan waktuPotensi lailatul qadar lebih besar lagi terjadi pada 10 malam terakhir Ramadan, utamanya pada malam ganjilnya, dan bertepatan dengan malam Jumat. Konteks ini didapatkan dari pendapat para ulama terdahulu.Berkaitan dengan malam ganjil diutamakan, berdasarkan riwayat Bukhari berikut,في الوتر من العشر الأواخر من رمضان“Lailatul qadar terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadan.” (HR. Bukhari no. 2017)Dalam riwayat Bukhari dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhum,التمسوا ليلة القدر في العشر الأواخر من رمضان في تاسعة تبقى في سابعة تبقى في خامسة تبقى“Carilah malam lailatul qadar di sepuluh malam terakhir Ramadan, pada malam kesembilan yang tersisa, pada malam ketujuh yang tersisa, pada malam kelima yang tersisa.” (HR. Bukhari no. 2021)Dari hadis tersebut, terdapat isyarat di mana malam-malam khusus tersebut dan bagaimana cara menentukannya. Hadis ini mengisyaratkan perhitungannya dari hari yang tersisa. Ulama berbeda pendapat tentang yang mana menjadi patokan antara menghitung malam ganjil, apakah dari depan atau dari ujung Ramadan.وعلى قياس من حسب الليالي الباقية من الشهر على تقدير نقصان الشهر فينبغي أن يكون عنده أول العشر الأواخر ليلة العشرين لاحتمال أن يكون الشهر ناقصا فلا يتحقق كونها عشر ليال بدون إدخال ليلة العشرين فيها“Berdasarkan perhitungan sisa malam dalam bulan tersebut, dengan asumsi bulan tersebut tidak lengkap, maka malam pertama dari sepuluh malam terakhir seharusnya adalah malam kedua puluh, karena kemungkinan bulan tersebut tidak lengkap. Oleh karena itu, sepuluh malam tersebut tidak dapat dipastikan tanpa memasukkan malam kedua puluh.” (Lathaiful Maarif, hal. 357)Syekh As-Sa’di rahimahullah menerangkan dalam tafsirnya,وقد تواترت الأحاديث في فضلها، وأنها في رمضان، وفي العشر الأواخر منه، خصوصًا في أوتاره، وهي باقية في كل سنة إلى قيام الساعة.“Inilah yang dikuatkan dalam syariat bahwasanya malam lailatul qadar terjadi dengan potensi besar di sepuluh malam terakhir. Sebabnya adalah adanya hadis Nabi ﷺ yang khusus memerintahkan kaum muslimin untuk menghidupkannya. Selain itu, adanya perbuatan Nabi ﷺ yang lebih bersemangat lagi beramal setelah masuk fase ketiga ini. Tidak hanya bersemangat sendiri, tetapi mengajak keluarganya demikian juga.” (Tafsir As-Sa’di QS. Al-Qadr: 5)Kemudian terdapat riwayat yang lebih menekankan malam ganjil dibandingkan malam genap. Namun, ingat dalam hal ini terjadi perbedaan para ulama dalam metode menghitungnya, apakah dari depan atau dari akhir? Semua ini menunjukkan ketidaktahuan kita secara pasti akan adanya lailatul qadar di hari apa.Adapula malam-malam yang lebih dikuatkan oleh sebagian para sahabat dan ulama terdahulu, di antaranya:1) Malam ke-21: Disebutkan riwayatnya dari Abu Sa’id Al-Khudri. Ini juga yang dikuatkan oleh Imam Syafii.2) Malam ke-23: Pendapat Ahli Madinah, Sufyan Ats-Tsauri, dan Abdullah bin Unais. Dalam Shahih Bukhari dan juga Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, diriwayatkan bahwa Bilal menguatkan malam ke-23.إنها أَوَّل السَّبْع من العشر الأواخر“Sungguh ia terjadi pada tujuh hari tersisa di sepuluh malam terakhir.” (HR. Bukhari no. 4470)Ini pendapat Malik juga yang menghitung tujuh malam terakhir jika jumlah malam Ramadan adalah 29 saja. Menurut Abdul Malik bin Habib, ini dengan asumsi Ramadan tak sempurna/genap.وتأوَّله عبدُ الملك بنُ حَبيبٍ على أنَّه إنما يُحسَبُ كذلك إذا كان الشهر ناقصًا“Pemaknaan dari Abdul Malik bin Habib dibangun di atas perkiraan perhitungan hari yang kurang, yakni 29 hari/malam.” (Lathaiful Maarif, hal. 355)Perhitungan dari belakang dengan asumsi 29 hari/malam ini dinilai tidak beralasan menurut Ibnu Rajab. Karena Nabi ﷺ memerintahkan perhitungannya dengan hitungan standar. Sedangkan penanggalan Ramadan tidak kita ketahui apakah 29 atau 30 di tahun tersebut.وليس هذا بشيء؛ فإنَّه إنَّما أمر بالاجتهاد في هذه الليالي على هذا الحساب، وهذا لا يمكن أن يكونَ مراعىً بنقصان الشهرِ في آخره“Adapun pendapat ini tidaklah berdasar, karena perintah Nabi ﷺ adalah mencarinya berdasarkan perhitungan standar. Tentu cara seperti itu tidak bisa digunakan karena utuh atau tidaknya bulan tidak diketahui kecuali di akhir waktu.” (Lathaiful Maarif, hal. 355)3) Malam ke-24: Berdasarkan perselisihan di atas, maka lahirlah pendapat yang menguatkan malam ke-24 sebagai malam lailatul qadar seperti Ayub As-Sikhtiyani, Ahli Bashrah, juga Anas dan Hasan, Abu Said Al-Khudri dan Abu Dzar. Bahkan Hasan Al-Bashri mengatakan,رَقَبْتُ الشَّمسَ عشرين سنة، ليلَة أربع وعشرين، فكانت تطلعُ لا شُعاعَ لها“Aku memperhatikan matahari selama dua puluh tahun. Pada malam ke-24 esok harinya, matahari terbit tidak bersinar tajam.” (ibid)Artinya, pendapat ini datang dari penelitian yang dilakukan oleh beliau selama 20 tahun. Pendapat ini dikuatkan Ibnu Abdul Barr dan Ibnu Rajab sendiri sebagai perwakilan Hanabilah.4) Malam ke-25: Berdasarkan keumuman hadis berikut,Nabi ﷺ bersabda,اِلْتَمِسُوْهَا فِيْ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ, فِيْ تَاسِعَةٍ تَبْقَى, فِيْ سَابِعَةٍ تَبْقَى, فِيْ خَامِسَةٍ تَبْقَى“Carilah lailatul qadar di bulan Ramadan, pada sembilan malam yang tersisa, tujuh malam yang tersisa, lima malam yang tersisa.” (HR. Bukhari no. 1917)5) Malam ke-27: Ini adalah pendapat Ubay bin Kaab dengan kalimat yang sangat tegas, serta Zir bin Hubays dan Abdah bin Abi Lubabah. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Bulughul Maram hadis no. 705 menyebutkan hadis Mu’awiyah,عَنْ اَلنَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ: – لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَالرَّاجِحُ وَقْفُهُ. وَقَدْ اِخْتُلِفَ فِي تَعْيِينِهَا عَلَى أَرْبَعِينَ قَوْلًا أَوْرَدْتُهَا فِي فَتْحِ اَلْبَارِي“Dari Mu’awiyah bin Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata mengenai lailatul qadar itu terjadi pada malam ke-27.” (Nukilan dari Bulughul Maram)Namun pendapat yang kuat, hadis ini mauquf, yaitu hanya perkataan sahabat. Para ulama berselisih mengenai tanggal pasti lailatul qadar. Ada 24 pendapat dalam masalah ini yang dibawakan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.Umar, Hudzaifah, dan beberapa sahabat menguatkan malam ini.6) Malam ke-29: sebagaimana hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda tentang malam lailatul qadar,إِنَّهَا لَيْلَةُ سَابِعَةٍ أَوْ تَاسِعَةٍ وَعِشْرِيْنَ, إِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تِلْكَ اللَّيْلَةَ فِيْ الأَرْضِ أَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ الْحَصَى“Sesungguhnya malam itu malam yang ke(dua puluh) tujuh atau kedua puluh sembilan. Sesungguhnya, malaikat pada malam itu, lebih banyak dari jumlah butiran kerikil (pasir).” (HR. Ahmad, disahihkan Al-Albani)7) Malam ke-30 pun mungkin: Dalam riwayat Abu Bakrah,عَنْ عُيَيْنَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ: حَدَّثَنيِ أبِيْ قَالَ: ذَكَرْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ عِنْدَ أَبِيْ بَكْرَةَ فَقَالَ: مَا أناَ مُلْتَمِسُهَا لِشَيْءٍ سَمِعْتهُ مِنْ رَسُوْلِ الله صَلىَّ الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلاَّ فِيْ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَإِنِّيْ سَمِعْتُهُ يَقُوْلُ: ((اِلْتَمِسُوْهَا فَيْ تِسْعٍ يَبْقَيْنَ, أَوْ فِيْ سَبْعٍ يَبْقَيْنَ, أَوْ فِيْ خَمْسٍ يَبْقَيْنَ, أَوْ فِيْ ثَلاَثٍ, أَوْ آخِرِ لَيْلَةٍ)), قَالَ: وَكَانَ أَبُوْ بَكْرَةَ يُصَلِّيْ فِيْ الْعِشْرِيْنَ مِنْ رَمَضَانَ كَصَلاَتِهِ فِيْ سَائِرِ السَّنَةِ, فَإذا دَخَلَ الْعَشْرَ اِجْتَهَدَ“Dari Uyainah bin Abdurrahman, ia berkata, “Ayahku telah mengabarkan kepadaku, (ia) berkata, aku menyebutkan tentang lailatul qadar kepada Abu Bakrah, maka beliau berkata, tidaklah aku mencari malam lailatul qadqr dengan suatu apapun yang aku dengarkan dari Rasulullah, melainkan pada sepuluh malam terakhir; karena sesungguhnya aku mendengarkan beliau berkata, ‘Carilah malam itu pada sembilan malam yang tersisa (di bulan Ramadan), atau tujuh malam yang tersisa, atau lima malam yang tersisa, atau tiga malam yang tersisa, atau pada malam terakhir’.” Abdurrahman berkata, “Dan Abu Bakrah salat pada dua puluh hari pertama di bulan Ramadan seperti salat-salat beliau pada waktu-waktu lain dalam setahun; tapi apabila masuk pada sepuluh malam terakhir, beliau bersungguh-sungguh.” (HR. Tirmidzi, disahihkan Al-Albani) [1]PenutupTujuan dari artikel ini ditulis adalah mengajak kita semua untuk memaksimalkan apapun yang tersisa, dan memulai perburuan lailatul qadar sesegera mungkin. Perdebatan tentang kapannya malam lailatul qadar yang sering menghiasi timeline Ramadan kita sejatinya tidaklah produktif. Mari kita salurkan energi Ramadan kita untuk memaksimalkan amalan dan melakukan perburuan lailatul qadar dengan menyalakan mesin amal kita. [2]Baca juga: Tanda Lailatul Qadar dan Kapan Lailatul Qadar Terjadi?Fatwa Ulama: Kapan Mulai waktu I’tikaf***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] almanhaj.or.id[2] Seluruh catatan ini mengacu kepada kitab Lathaiful Maarif karya Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah dengan muhaqqiq Asy-Syaikh Yasin Muhammad As-Sawas. Umumnya penilaian hadis ini berdasarkan catatan muhaqqiq.


Daftar Isi ToggleMalam potensial berdasarkan waktuPenutupMalam potensial berdasarkan waktuPotensi lailatul qadar lebih besar lagi terjadi pada 10 malam terakhir Ramadan, utamanya pada malam ganjilnya, dan bertepatan dengan malam Jumat. Konteks ini didapatkan dari pendapat para ulama terdahulu.Berkaitan dengan malam ganjil diutamakan, berdasarkan riwayat Bukhari berikut,في الوتر من العشر الأواخر من رمضان“Lailatul qadar terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadan.” (HR. Bukhari no. 2017)Dalam riwayat Bukhari dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhum,التمسوا ليلة القدر في العشر الأواخر من رمضان في تاسعة تبقى في سابعة تبقى في خامسة تبقى“Carilah malam lailatul qadar di sepuluh malam terakhir Ramadan, pada malam kesembilan yang tersisa, pada malam ketujuh yang tersisa, pada malam kelima yang tersisa.” (HR. Bukhari no. 2021)Dari hadis tersebut, terdapat isyarat di mana malam-malam khusus tersebut dan bagaimana cara menentukannya. Hadis ini mengisyaratkan perhitungannya dari hari yang tersisa. Ulama berbeda pendapat tentang yang mana menjadi patokan antara menghitung malam ganjil, apakah dari depan atau dari ujung Ramadan.وعلى قياس من حسب الليالي الباقية من الشهر على تقدير نقصان الشهر فينبغي أن يكون عنده أول العشر الأواخر ليلة العشرين لاحتمال أن يكون الشهر ناقصا فلا يتحقق كونها عشر ليال بدون إدخال ليلة العشرين فيها“Berdasarkan perhitungan sisa malam dalam bulan tersebut, dengan asumsi bulan tersebut tidak lengkap, maka malam pertama dari sepuluh malam terakhir seharusnya adalah malam kedua puluh, karena kemungkinan bulan tersebut tidak lengkap. Oleh karena itu, sepuluh malam tersebut tidak dapat dipastikan tanpa memasukkan malam kedua puluh.” (Lathaiful Maarif, hal. 357)Syekh As-Sa’di rahimahullah menerangkan dalam tafsirnya,وقد تواترت الأحاديث في فضلها، وأنها في رمضان، وفي العشر الأواخر منه، خصوصًا في أوتاره، وهي باقية في كل سنة إلى قيام الساعة.“Inilah yang dikuatkan dalam syariat bahwasanya malam lailatul qadar terjadi dengan potensi besar di sepuluh malam terakhir. Sebabnya adalah adanya hadis Nabi ﷺ yang khusus memerintahkan kaum muslimin untuk menghidupkannya. Selain itu, adanya perbuatan Nabi ﷺ yang lebih bersemangat lagi beramal setelah masuk fase ketiga ini. Tidak hanya bersemangat sendiri, tetapi mengajak keluarganya demikian juga.” (Tafsir As-Sa’di QS. Al-Qadr: 5)Kemudian terdapat riwayat yang lebih menekankan malam ganjil dibandingkan malam genap. Namun, ingat dalam hal ini terjadi perbedaan para ulama dalam metode menghitungnya, apakah dari depan atau dari akhir? Semua ini menunjukkan ketidaktahuan kita secara pasti akan adanya lailatul qadar di hari apa.Adapula malam-malam yang lebih dikuatkan oleh sebagian para sahabat dan ulama terdahulu, di antaranya:1) Malam ke-21: Disebutkan riwayatnya dari Abu Sa’id Al-Khudri. Ini juga yang dikuatkan oleh Imam Syafii.2) Malam ke-23: Pendapat Ahli Madinah, Sufyan Ats-Tsauri, dan Abdullah bin Unais. Dalam Shahih Bukhari dan juga Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, diriwayatkan bahwa Bilal menguatkan malam ke-23.إنها أَوَّل السَّبْع من العشر الأواخر“Sungguh ia terjadi pada tujuh hari tersisa di sepuluh malam terakhir.” (HR. Bukhari no. 4470)Ini pendapat Malik juga yang menghitung tujuh malam terakhir jika jumlah malam Ramadan adalah 29 saja. Menurut Abdul Malik bin Habib, ini dengan asumsi Ramadan tak sempurna/genap.وتأوَّله عبدُ الملك بنُ حَبيبٍ على أنَّه إنما يُحسَبُ كذلك إذا كان الشهر ناقصًا“Pemaknaan dari Abdul Malik bin Habib dibangun di atas perkiraan perhitungan hari yang kurang, yakni 29 hari/malam.” (Lathaiful Maarif, hal. 355)Perhitungan dari belakang dengan asumsi 29 hari/malam ini dinilai tidak beralasan menurut Ibnu Rajab. Karena Nabi ﷺ memerintahkan perhitungannya dengan hitungan standar. Sedangkan penanggalan Ramadan tidak kita ketahui apakah 29 atau 30 di tahun tersebut.وليس هذا بشيء؛ فإنَّه إنَّما أمر بالاجتهاد في هذه الليالي على هذا الحساب، وهذا لا يمكن أن يكونَ مراعىً بنقصان الشهرِ في آخره“Adapun pendapat ini tidaklah berdasar, karena perintah Nabi ﷺ adalah mencarinya berdasarkan perhitungan standar. Tentu cara seperti itu tidak bisa digunakan karena utuh atau tidaknya bulan tidak diketahui kecuali di akhir waktu.” (Lathaiful Maarif, hal. 355)3) Malam ke-24: Berdasarkan perselisihan di atas, maka lahirlah pendapat yang menguatkan malam ke-24 sebagai malam lailatul qadar seperti Ayub As-Sikhtiyani, Ahli Bashrah, juga Anas dan Hasan, Abu Said Al-Khudri dan Abu Dzar. Bahkan Hasan Al-Bashri mengatakan,رَقَبْتُ الشَّمسَ عشرين سنة، ليلَة أربع وعشرين، فكانت تطلعُ لا شُعاعَ لها“Aku memperhatikan matahari selama dua puluh tahun. Pada malam ke-24 esok harinya, matahari terbit tidak bersinar tajam.” (ibid)Artinya, pendapat ini datang dari penelitian yang dilakukan oleh beliau selama 20 tahun. Pendapat ini dikuatkan Ibnu Abdul Barr dan Ibnu Rajab sendiri sebagai perwakilan Hanabilah.4) Malam ke-25: Berdasarkan keumuman hadis berikut,Nabi ﷺ bersabda,اِلْتَمِسُوْهَا فِيْ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ, فِيْ تَاسِعَةٍ تَبْقَى, فِيْ سَابِعَةٍ تَبْقَى, فِيْ خَامِسَةٍ تَبْقَى“Carilah lailatul qadar di bulan Ramadan, pada sembilan malam yang tersisa, tujuh malam yang tersisa, lima malam yang tersisa.” (HR. Bukhari no. 1917)5) Malam ke-27: Ini adalah pendapat Ubay bin Kaab dengan kalimat yang sangat tegas, serta Zir bin Hubays dan Abdah bin Abi Lubabah. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Bulughul Maram hadis no. 705 menyebutkan hadis Mu’awiyah,عَنْ اَلنَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ: – لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَالرَّاجِحُ وَقْفُهُ. وَقَدْ اِخْتُلِفَ فِي تَعْيِينِهَا عَلَى أَرْبَعِينَ قَوْلًا أَوْرَدْتُهَا فِي فَتْحِ اَلْبَارِي“Dari Mu’awiyah bin Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata mengenai lailatul qadar itu terjadi pada malam ke-27.” (Nukilan dari Bulughul Maram)Namun pendapat yang kuat, hadis ini mauquf, yaitu hanya perkataan sahabat. Para ulama berselisih mengenai tanggal pasti lailatul qadar. Ada 24 pendapat dalam masalah ini yang dibawakan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.Umar, Hudzaifah, dan beberapa sahabat menguatkan malam ini.6) Malam ke-29: sebagaimana hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda tentang malam lailatul qadar,إِنَّهَا لَيْلَةُ سَابِعَةٍ أَوْ تَاسِعَةٍ وَعِشْرِيْنَ, إِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تِلْكَ اللَّيْلَةَ فِيْ الأَرْضِ أَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ الْحَصَى“Sesungguhnya malam itu malam yang ke(dua puluh) tujuh atau kedua puluh sembilan. Sesungguhnya, malaikat pada malam itu, lebih banyak dari jumlah butiran kerikil (pasir).” (HR. Ahmad, disahihkan Al-Albani)7) Malam ke-30 pun mungkin: Dalam riwayat Abu Bakrah,عَنْ عُيَيْنَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ: حَدَّثَنيِ أبِيْ قَالَ: ذَكَرْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ عِنْدَ أَبِيْ بَكْرَةَ فَقَالَ: مَا أناَ مُلْتَمِسُهَا لِشَيْءٍ سَمِعْتهُ مِنْ رَسُوْلِ الله صَلىَّ الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلاَّ فِيْ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَإِنِّيْ سَمِعْتُهُ يَقُوْلُ: ((اِلْتَمِسُوْهَا فَيْ تِسْعٍ يَبْقَيْنَ, أَوْ فِيْ سَبْعٍ يَبْقَيْنَ, أَوْ فِيْ خَمْسٍ يَبْقَيْنَ, أَوْ فِيْ ثَلاَثٍ, أَوْ آخِرِ لَيْلَةٍ)), قَالَ: وَكَانَ أَبُوْ بَكْرَةَ يُصَلِّيْ فِيْ الْعِشْرِيْنَ مِنْ رَمَضَانَ كَصَلاَتِهِ فِيْ سَائِرِ السَّنَةِ, فَإذا دَخَلَ الْعَشْرَ اِجْتَهَدَ“Dari Uyainah bin Abdurrahman, ia berkata, “Ayahku telah mengabarkan kepadaku, (ia) berkata, aku menyebutkan tentang lailatul qadar kepada Abu Bakrah, maka beliau berkata, tidaklah aku mencari malam lailatul qadqr dengan suatu apapun yang aku dengarkan dari Rasulullah, melainkan pada sepuluh malam terakhir; karena sesungguhnya aku mendengarkan beliau berkata, ‘Carilah malam itu pada sembilan malam yang tersisa (di bulan Ramadan), atau tujuh malam yang tersisa, atau lima malam yang tersisa, atau tiga malam yang tersisa, atau pada malam terakhir’.” Abdurrahman berkata, “Dan Abu Bakrah salat pada dua puluh hari pertama di bulan Ramadan seperti salat-salat beliau pada waktu-waktu lain dalam setahun; tapi apabila masuk pada sepuluh malam terakhir, beliau bersungguh-sungguh.” (HR. Tirmidzi, disahihkan Al-Albani) [1]PenutupTujuan dari artikel ini ditulis adalah mengajak kita semua untuk memaksimalkan apapun yang tersisa, dan memulai perburuan lailatul qadar sesegera mungkin. Perdebatan tentang kapannya malam lailatul qadar yang sering menghiasi timeline Ramadan kita sejatinya tidaklah produktif. Mari kita salurkan energi Ramadan kita untuk memaksimalkan amalan dan melakukan perburuan lailatul qadar dengan menyalakan mesin amal kita. [2]Baca juga: Tanda Lailatul Qadar dan Kapan Lailatul Qadar Terjadi?Fatwa Ulama: Kapan Mulai waktu I’tikaf***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] almanhaj.or.id[2] Seluruh catatan ini mengacu kepada kitab Lathaiful Maarif karya Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah dengan muhaqqiq Asy-Syaikh Yasin Muhammad As-Sawas. Umumnya penilaian hadis ini berdasarkan catatan muhaqqiq.

Dampak Buruk Fitnah (Bag. 7): Sangat Masifnya Kesesatan Menyebar dan Melemahnya Kondisi Kaum Muslimin

Dampak buruk fitnah lainnya adalah ia akan membuka berbagai pintu kesesatan terhadap manusia, baik dari segi akidah maupun akhlak. Orang-orang yang menyimpang dan sesat akan semakin berani untuk menyebarkan kebatilan dan keburukan mereka, dikarenakan orang-orang yang berada di atas kebenaran tersibukkan dengan fitnah di antara mereka. Waktu mereka habis karenanya, dan perhatian mereka teralihkan dari menebarkan manfaat, menyebarkan ilmu, serta mengambil manfaat dari kebaikan.Maka, orang-orang yang menyimpang dan sesat akan memanfaatkan keadaan tersebut. Mereka mulai berani dan terang-terangan dalam menampakkan dan menyebarkan kebatilan, menyiarkan kejahatan, mengajak kepada akhlak yang buruk dan kerusakan, atau menyeru kepada penyimpangan akidah serta pemikiran-pemikiran sesat yang menyimpang. Mereka mendapatkan kesempatan itu ketika manusia dan orang-orang baik tersibukkan oleh fitnah di antara mereka.Hal ini menegaskan bahwa setiap Muslim wajib selalu meningkatkan kewaspadaan yang tinggi terhadap fitnah yang muncul dan akibat-akibatnya.Di antara dampaknya pula, fitnah akan menyebabkan musuh-musuh dengan mudah menguasai orang-orang beriman. Hal itu terjadi ketika para pembela kebenaran saling berselisih, pertumpahan darah meluas, urusan mereka kacau, dan persatuan mereka tercerai-berai. Musuh pun memanfaatkan peluang tersebut untuk menekan orang-orang beriman dengan berbagai bentuk tekanan.Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ“Dan janganlah kalian berselisih, yang menyebabkan kalian menjadi lemah dan hilang kekuatan kalian.” (QS. Al-Anfal: 46)Wajib bagi orang-orang beriman untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap fitnah yang bergejolak dan berbagai bentuk bahayanya, serta senantiasa menjaga diri dan berhati-hati darinya. Hendaknya mereka menghadap kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala dengan penuh kejujuran dan ketulusan, memohon agar Allah melindungi mereka dari fitnah yang tampak jelas maupun yang tersembunyi, memperbaiki keadaan mereka, serta mempersatukan mereka di atas kebenaran dan petunjuk.Kita memohon kepada Allah Yang Maha Mulia, Rabb Pemilik ‘Arsy yang agung, dengan nama-nama-Nya yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang paling mulia, Dia-lah Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia,Yang rahmat dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, agar Dia melindungi kita dari fitnah-fitnah yang bergejolak, yang tampak maupun yang tersembunyi; menyelamatkan kita dari bahayanya, menjaga kita dengan penjagaan-Nya. Sesungguhnya Dia-lah Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.Semoga selawat, salam, keberkahan, dan anugerah senantiasa tercurah kepada hamba Allah dan Rasul-Nya, Nabi kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 6***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Referensi:Kitab Atsarul Fitan, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 51–54.

Dampak Buruk Fitnah (Bag. 7): Sangat Masifnya Kesesatan Menyebar dan Melemahnya Kondisi Kaum Muslimin

Dampak buruk fitnah lainnya adalah ia akan membuka berbagai pintu kesesatan terhadap manusia, baik dari segi akidah maupun akhlak. Orang-orang yang menyimpang dan sesat akan semakin berani untuk menyebarkan kebatilan dan keburukan mereka, dikarenakan orang-orang yang berada di atas kebenaran tersibukkan dengan fitnah di antara mereka. Waktu mereka habis karenanya, dan perhatian mereka teralihkan dari menebarkan manfaat, menyebarkan ilmu, serta mengambil manfaat dari kebaikan.Maka, orang-orang yang menyimpang dan sesat akan memanfaatkan keadaan tersebut. Mereka mulai berani dan terang-terangan dalam menampakkan dan menyebarkan kebatilan, menyiarkan kejahatan, mengajak kepada akhlak yang buruk dan kerusakan, atau menyeru kepada penyimpangan akidah serta pemikiran-pemikiran sesat yang menyimpang. Mereka mendapatkan kesempatan itu ketika manusia dan orang-orang baik tersibukkan oleh fitnah di antara mereka.Hal ini menegaskan bahwa setiap Muslim wajib selalu meningkatkan kewaspadaan yang tinggi terhadap fitnah yang muncul dan akibat-akibatnya.Di antara dampaknya pula, fitnah akan menyebabkan musuh-musuh dengan mudah menguasai orang-orang beriman. Hal itu terjadi ketika para pembela kebenaran saling berselisih, pertumpahan darah meluas, urusan mereka kacau, dan persatuan mereka tercerai-berai. Musuh pun memanfaatkan peluang tersebut untuk menekan orang-orang beriman dengan berbagai bentuk tekanan.Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ“Dan janganlah kalian berselisih, yang menyebabkan kalian menjadi lemah dan hilang kekuatan kalian.” (QS. Al-Anfal: 46)Wajib bagi orang-orang beriman untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap fitnah yang bergejolak dan berbagai bentuk bahayanya, serta senantiasa menjaga diri dan berhati-hati darinya. Hendaknya mereka menghadap kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala dengan penuh kejujuran dan ketulusan, memohon agar Allah melindungi mereka dari fitnah yang tampak jelas maupun yang tersembunyi, memperbaiki keadaan mereka, serta mempersatukan mereka di atas kebenaran dan petunjuk.Kita memohon kepada Allah Yang Maha Mulia, Rabb Pemilik ‘Arsy yang agung, dengan nama-nama-Nya yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang paling mulia, Dia-lah Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia,Yang rahmat dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, agar Dia melindungi kita dari fitnah-fitnah yang bergejolak, yang tampak maupun yang tersembunyi; menyelamatkan kita dari bahayanya, menjaga kita dengan penjagaan-Nya. Sesungguhnya Dia-lah Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.Semoga selawat, salam, keberkahan, dan anugerah senantiasa tercurah kepada hamba Allah dan Rasul-Nya, Nabi kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 6***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Referensi:Kitab Atsarul Fitan, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 51–54.
Dampak buruk fitnah lainnya adalah ia akan membuka berbagai pintu kesesatan terhadap manusia, baik dari segi akidah maupun akhlak. Orang-orang yang menyimpang dan sesat akan semakin berani untuk menyebarkan kebatilan dan keburukan mereka, dikarenakan orang-orang yang berada di atas kebenaran tersibukkan dengan fitnah di antara mereka. Waktu mereka habis karenanya, dan perhatian mereka teralihkan dari menebarkan manfaat, menyebarkan ilmu, serta mengambil manfaat dari kebaikan.Maka, orang-orang yang menyimpang dan sesat akan memanfaatkan keadaan tersebut. Mereka mulai berani dan terang-terangan dalam menampakkan dan menyebarkan kebatilan, menyiarkan kejahatan, mengajak kepada akhlak yang buruk dan kerusakan, atau menyeru kepada penyimpangan akidah serta pemikiran-pemikiran sesat yang menyimpang. Mereka mendapatkan kesempatan itu ketika manusia dan orang-orang baik tersibukkan oleh fitnah di antara mereka.Hal ini menegaskan bahwa setiap Muslim wajib selalu meningkatkan kewaspadaan yang tinggi terhadap fitnah yang muncul dan akibat-akibatnya.Di antara dampaknya pula, fitnah akan menyebabkan musuh-musuh dengan mudah menguasai orang-orang beriman. Hal itu terjadi ketika para pembela kebenaran saling berselisih, pertumpahan darah meluas, urusan mereka kacau, dan persatuan mereka tercerai-berai. Musuh pun memanfaatkan peluang tersebut untuk menekan orang-orang beriman dengan berbagai bentuk tekanan.Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ“Dan janganlah kalian berselisih, yang menyebabkan kalian menjadi lemah dan hilang kekuatan kalian.” (QS. Al-Anfal: 46)Wajib bagi orang-orang beriman untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap fitnah yang bergejolak dan berbagai bentuk bahayanya, serta senantiasa menjaga diri dan berhati-hati darinya. Hendaknya mereka menghadap kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala dengan penuh kejujuran dan ketulusan, memohon agar Allah melindungi mereka dari fitnah yang tampak jelas maupun yang tersembunyi, memperbaiki keadaan mereka, serta mempersatukan mereka di atas kebenaran dan petunjuk.Kita memohon kepada Allah Yang Maha Mulia, Rabb Pemilik ‘Arsy yang agung, dengan nama-nama-Nya yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang paling mulia, Dia-lah Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia,Yang rahmat dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, agar Dia melindungi kita dari fitnah-fitnah yang bergejolak, yang tampak maupun yang tersembunyi; menyelamatkan kita dari bahayanya, menjaga kita dengan penjagaan-Nya. Sesungguhnya Dia-lah Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.Semoga selawat, salam, keberkahan, dan anugerah senantiasa tercurah kepada hamba Allah dan Rasul-Nya, Nabi kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 6***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Referensi:Kitab Atsarul Fitan, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 51–54.


Dampak buruk fitnah lainnya adalah ia akan membuka berbagai pintu kesesatan terhadap manusia, baik dari segi akidah maupun akhlak. Orang-orang yang menyimpang dan sesat akan semakin berani untuk menyebarkan kebatilan dan keburukan mereka, dikarenakan orang-orang yang berada di atas kebenaran tersibukkan dengan fitnah di antara mereka. Waktu mereka habis karenanya, dan perhatian mereka teralihkan dari menebarkan manfaat, menyebarkan ilmu, serta mengambil manfaat dari kebaikan.Maka, orang-orang yang menyimpang dan sesat akan memanfaatkan keadaan tersebut. Mereka mulai berani dan terang-terangan dalam menampakkan dan menyebarkan kebatilan, menyiarkan kejahatan, mengajak kepada akhlak yang buruk dan kerusakan, atau menyeru kepada penyimpangan akidah serta pemikiran-pemikiran sesat yang menyimpang. Mereka mendapatkan kesempatan itu ketika manusia dan orang-orang baik tersibukkan oleh fitnah di antara mereka.Hal ini menegaskan bahwa setiap Muslim wajib selalu meningkatkan kewaspadaan yang tinggi terhadap fitnah yang muncul dan akibat-akibatnya.Di antara dampaknya pula, fitnah akan menyebabkan musuh-musuh dengan mudah menguasai orang-orang beriman. Hal itu terjadi ketika para pembela kebenaran saling berselisih, pertumpahan darah meluas, urusan mereka kacau, dan persatuan mereka tercerai-berai. Musuh pun memanfaatkan peluang tersebut untuk menekan orang-orang beriman dengan berbagai bentuk tekanan.Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ“Dan janganlah kalian berselisih, yang menyebabkan kalian menjadi lemah dan hilang kekuatan kalian.” (QS. Al-Anfal: 46)Wajib bagi orang-orang beriman untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap fitnah yang bergejolak dan berbagai bentuk bahayanya, serta senantiasa menjaga diri dan berhati-hati darinya. Hendaknya mereka menghadap kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala dengan penuh kejujuran dan ketulusan, memohon agar Allah melindungi mereka dari fitnah yang tampak jelas maupun yang tersembunyi, memperbaiki keadaan mereka, serta mempersatukan mereka di atas kebenaran dan petunjuk.Kita memohon kepada Allah Yang Maha Mulia, Rabb Pemilik ‘Arsy yang agung, dengan nama-nama-Nya yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang paling mulia, Dia-lah Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia,Yang rahmat dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, agar Dia melindungi kita dari fitnah-fitnah yang bergejolak, yang tampak maupun yang tersembunyi; menyelamatkan kita dari bahayanya, menjaga kita dengan penjagaan-Nya. Sesungguhnya Dia-lah Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.Semoga selawat, salam, keberkahan, dan anugerah senantiasa tercurah kepada hamba Allah dan Rasul-Nya, Nabi kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 6***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Referensi:Kitab Atsarul Fitan, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 51–54.

Jangan Terkecoh Malam ke-27! Ini 4 Amalan Utama di Malam Lailatul Qadar

Lailatul Qadar adalah salah satu karunia yang hanya Allah ‘Azza wa Jalla berikan kepada umat ini, umat lain tidak. Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Terkait Lailatul Qadar, kita memiliki beberapa pembahasan. Pembahasan pertama: Kapan waktu terjadinya? Sebagian ulama seperti Ibnu Mas’ud berpendapat bahwa ia ada di sepanjang tahun; siapa yang Shalat Malam sepanjang tahun, ia akan mendapati Lailatul Qadar. Namun, terdapat banyak hadits yang menegaskan bahwa ia ada di bulan Ramadan. Jadi, ia adalah salah satu malam di bulan Ramadan. Terdapat pula banyak riwayat lainnya—meskipun tidak sebanyak riwayat yang menyebut Ramadan secara umum—bahwa Lailatul Qadar berada di sepuluh malam terakhir. Ada riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membatasi waktunya hanya pada 10 malam terakhir, bukan pada malam-malam lainnya. Namun, kapan tepatnya di 10 malam terakhir itu? Ada hadits yang menyebutkan malam ke-21. Ada pula yang menyebutkan malam ke-22. Riwayat lain menyebutkan malam ke-23. Ada yang menyebutkan malam ke-24. Ada pula malam ke-25. Bahkan ada yang menyebutkan malam ke-26, 27, hingga malam terakhir. Mengapa bisa berbeda-beda? Karena perhitungan malamnya bisa jadi dari malam ganjil. Saat Nabi bersabda: “Carilah ia pada malam-malam ganjil,” maka malam ganjil ini bisa dihitung dari awal bulan, bisa pula dihitung dari akhir bulan. Jika bulan berjumlah 30 hari, maka ganjil dari awal bulan adalah malam ke-21, 23, 25, 27, (dan 29). Namun, jika dihitung dari akhir bulan, maka ganjilnya bisa jatuh pada malam ke-30, 28, dan seterusnya. Jadi, setiap malam di 10 malam terakhir berpotensi menjadi Lailatul Qadar. Allah telah menyembunyikan waktu pastinya dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Waktu tepatnya tidak diketahui oleh Nabi. Nabi sempat mengetahuinya, tapi lalu dibuat lupa oleh Allah. Maka, bagaimana mungkin ada orang yang bisa memastikan waktunya jika Nabi saja tidak tahu? Memang ada sahabat seperti Ubay bin Ka’ab yang sangat yakin pada malam ke-27 karena tanda tertentu. Kita katakan bahwa itu adalah kemungkinan terbesarnya. Oleh karena itu, lebih baik bagi seorang muslim untuk mencarinya di 10 malam terakhir. Apa yang bisa dilakukan pada malam tersebut? Ada 2 yang sahih dari Nabi mengenai keutamaan Lailatul Qadar. Pertama, dilipatgandakannya nilai ibadah. Kedua, “Barang siapa Shalat Malam pada Lailatul Qadar atas dasar iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari & Muslim). Inilah dua keutamaannya. Lalu amalan apa saja yang dapat dikerjakan? Yaitu amalan yang telah diajarkan oleh Nabi. Amalan pertama adalah Shalat Malam. “Barang siapa Shalat Malam pada Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala…”Sangat disunahkan Shalat Malam pada Lailatul Qadar atau di 10 malam terakhir. Bahkan para ulama berkata untuk meneladani para sahabat: Dianjurkan bagi orang yang ingin tidur di masjid pada 10 malam terakhir, agar tidurnya dalam posisi duduk bersila. Tujuannya agar ia tidak tidur terlalu nyenyak dan bisa menghabiskan malam dengan banyak shalat. Jadi, hendaknya mengurangi tidur. Dulu, Nabi mengencangkan sarungnya dan menghidupkan 10 malam terakhir, serta membangunkan keluarganya. Ini amalan pertama, yaitu shalat. Amalan kedua, disunahkan menetap di masjid, yakni beriktikaf. Haditsnya telah kalian ketahui sendiri, hadits Abu Said: Nabi beriktikaf di awal bulan pertengahan, dan akhir. Namun, amalan terakhir yang Nabi rutinkan adalah iktikaf pada 10 malam terakhir Ramadan. Amalan ketiga adalah berdoa. Aisyah bertanya: “Wahai Rasulullah, jika aku mendapati Lailatul Qadar, apa yang harus aku ucapkan?” Nabi menjawab: “Ucapkanlah: ALLAAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU ‘ANNIIYYa Allah, Engkau Maha Pemaaf, mencintai maaf, maka maafkanlah aku.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad). Amalan keempat adalah tilawah Al-Qur’an secara khusus. Karena pada malam-malam Ramadan ini, sangat dianjurkan secara khusus untuk memperbanyak bacaan Al-Qur’an. Fokuslah pada 4 amalan ini dan kerjakanlah dengan maksimal. 4 amalan ini lebih utama dari amalan lain, karena adanya dalil yang mengkhususkannya. Sesuai kaidah yang kita pelajari bahwa waktu-waktu yang utama dianjurkan mengerjakan amalan yang ada dalil khususnya terkait waktu itu, kecuali pada waktu tertentu yang anjurannya bersifat umum, seperti 10 hari pertama bulan Zulhijah. Dengan demikian, kita telah mengetahui tentang Lailatul Qadar dan hukum-hukum yang berkaitan dengannya. ===== لَيْلَةُ الْقَدْرِ مِمَّا امْتَنَّ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ عَلَى هَذِهِ الْأُمَّةِ دُونَ مَا عَدَاهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ عِنْدَنَا فِيهَا عَدَدٌ مِنَ الْمَسَائِلِ أَوَّلُ هَذِهِ الْمَسَائِلِ مَتَى وَقْتُهَا؟ كَانَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ كَابْنِ مَسْعُودٍ يَقُولُ هِيَ فِي السَّنَةِ كُلِّهَا مَنْ قَامَ السَّنَةَ كُلَّهَا أَدْرَكَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ وَلَكِنْ جَاءَتْ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ أَنَّهَا فِي شَهْرِ رَمَضَانَ فَهِيَ لَيْلَةٌ مِنْ لَيَالِي رَمَضَانَ وَجَاءَتْ أَخْبَارٌ يَعْنِي كَثِيرَةٌ لَكِنَّهَا دُونَ الْأُولَى أَنَّهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَجَاءَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَصْرُهَا عَلَى الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ دُونَ مَا عَدَاهَا وَلَكِنْ أَيْنَ هِيَ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ؟ جَاءَ حَدِيثٌ أَنَّهَا فِي الْحَادِي وَالْعِشْرِينَ وَجَاءَ فِي الثَّانِي وَالْعِشْرِينَ وَجَاءَ فِي الثَّالِثِ وَالْعِشْرِينَ وَجَاءَ فِي الرَّابِعِ وَالْعِشْرِينَ وَجَاءَ فِي الْخَامِسِ وَالْعِشْرِينَ وَجَاءَ فِي السَّادِسِ وَالسَّابِعِ وَجَاءَ آخِرُ لَيْلَةٍ كَيْفَ ذَاكَ؟ لِأَنَّ حِسَابَ اللَّيَالِي قَدْ يَكُونُ بِاعْتِبَارِ الْأَوْتَارِ لَمَّا قَالَ: تَحَرَّوْهَا فِي الْأَوْتَارِ الْأَوْتَارُ قَدْ تَكُونُ بِاعْتِبَارِ أَوَّلِ الشَّهْرِ، وَقَدْ تَكُونُ بِاعْتِبَارِ آخِرِهِ فَلَوْ كَانَ الشَّهْرُ تَامّاً فَالْأَوْتَارُ بِاعْتِبَارِ أَوَّلِهِ وَاحِدٌ وَعِشْرُونَ وَثَلَاثَةٌ وَعِشْرُونَ وَخَمْسَةٌ وَعِشْرُونَ وَسَبْعَةٌ وَعِشْرُونَ وَإِنْ كَانَ تَامّاً وَأَرَدْتَ الْأَوْتَارَ بِآخِرِهِ فَهِيَ ثَلَاثُونَ وَثَمَانِيَةٌ وَعِشْرُونَ وَهَكَذَا إِذاً كُلُّ لَيْلَةٍ مِنْ لَيَالِي الْعَشْرِ قَدْ تَكُونُ لَيْلَةً مِنْ لَيَالِي الْقَدْرِ وَقَدْ أَخْفَى اللهُ ذَلِكَ عَنْ نَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَفِيَتْ عَنْهُ فَإِنَّهُ قَدْ عَلِمَهَا ثُمَّ نُسِّيَهَا فَكَيْفَ لِامْرِئٍ أَنْ يَجْزِمَ بَعْدَ ذَلِكَ بِأَيِّ طَرِيقَةٍ أُخْرَى؟ نَعَمْ مِنَ الصَّحَابَةِ كَأُبَيٍّ كَانَ يَجْزِمُ لِأَمْرٍ مُعَيَّنٍ أَنَّهَا لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ فَنَقُولُ هِيَ الْأَحْرَى وَلِذَا فَالْأَوْلَى بِالْمُسْلِمِ أَنْ يَتَحَرَّى هَذِهِ اللَّيْلَةَ فِي الْعَشْرِ كُلِّهَا مَا الَّذِي يُفْعَلُ فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ؟ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي فَضْلِهَا أَمْرَانِ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ مُضَاعَفَةُ الْعِبَادَةِ وَالْأَمْرُ الثَّانِي أَنَّهُ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ هَذَانِ فَضْلَانِ مَا الَّذِي يُفْعَلُ فِيهَا؟ يُفْعَلُ فِيهَا عِبَادَاتٌ وَرَدَتْ عَنِ النَّبِيِّ أَوَّلُهَا قِيَامُهَا: مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَاناً وَاحْتِسَاباً فَيُسْتَحَبُّ الصَّلَاةُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ أَوْ لَيَالِي الْعَشْرِ حَتَّى قَالَ الْعُلَمَاءُ اسْتِنَانًا بِالصَّحَابَةِ أَوِ اتِّبَاعاً بِالصَّحَابَةِ أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَنَامَ فِي الْعَشْرِ فِي الْمَسْجِدِ أَنْ يَنَامَ مُتَرَبِّعاً لِكَيْ لَا يَنْهَارَ وَلَا يَنَامَ فِي اللَّيْلِ لِكَثْرَةِ صَلَاتِهِ إِذاً يُقْلِلُ النَّوْمَ، النَّبِيُّ كَانَ يَشُدُّ الْمِئْزَرَ وَيُحْيِي لَيْلَهُ إِذَا جَاءَتِ الْعَشْرُ وَيُوقِظُ أَهْلَهُ هَذَا الْأَمْرُ الْأَوَّلُ وَهُوَ الصَّلَاةُ الْأَمْرُ الثَّانِي أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ لُزُومُ الْمَسَاجِدِ الِاعْتِكَافُ الْأَمْرُ الثَّالثُ وَالْحَدِيثُ تَعْرِفُونَهُ فِي الِاعْتِكَافِ حَدِيثُ أَبِي سَعِيدٍ اعْتَكَفَ مِنْ أَوَّلِ الشَّهْرِ وَوَسَطِهِ وَآخِرِهِ ثُمَّ كَانَ آخِرُ أَمْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الِاعْتِكَافَ فِي آخِرِ الشَّهْرِ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْهُ الْأَمْرُ الثَّالِثُ الدُّعَاءُ قَالَتْ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللهِ أَرَأَيْتَ إِنْ أَدْرَكْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ مَاذَا أَقُولُ؟ قَالَ قُولِي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي الرَّابِعَةُ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ خَاصَّةً وَلِذَلِكَ كَانَ هَذِهِ اللَّيَالِي مِنْ رَمَضَانَ يُسْتَحَبُّ فِيهَا قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ عَلَى سَبِيلِ الْخُصُوصِ هَذِهِ الْأَرْبَعُ انْشَغِلْ بِهَا وَتَأَكَّدْ عَلَيْهَا وَهِيَ أَفْضَلُ مِنْ غَيْرِهَا مِنَ الْأَعْمَالِ هِيَ الَّتِي وَرَدَ فِيهَا اخْتِصَاصٌ وَقَدْ مَرَّ مَعَنَا الْقَاعِدَةُ أَنَّ الْأَزْمِنَةَ الْفَاضِلَةَ إِنَّمَا يُسْتَحَبُّ فِيهَا مَا وَرَدَ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا أَزْمِنَةً مُعَيَّنَةً جَاءَ مُطْلَقُ الْعَمَلِ كَالْعَشْرِ الْأَوَائِلِ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ إِذاً عَرَفْنَا لَيْلَةَ الْقَدْرِ وَمَا يَتَعَلَّقُ بِأَحْكَامِهَا

Jangan Terkecoh Malam ke-27! Ini 4 Amalan Utama di Malam Lailatul Qadar

Lailatul Qadar adalah salah satu karunia yang hanya Allah ‘Azza wa Jalla berikan kepada umat ini, umat lain tidak. Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Terkait Lailatul Qadar, kita memiliki beberapa pembahasan. Pembahasan pertama: Kapan waktu terjadinya? Sebagian ulama seperti Ibnu Mas’ud berpendapat bahwa ia ada di sepanjang tahun; siapa yang Shalat Malam sepanjang tahun, ia akan mendapati Lailatul Qadar. Namun, terdapat banyak hadits yang menegaskan bahwa ia ada di bulan Ramadan. Jadi, ia adalah salah satu malam di bulan Ramadan. Terdapat pula banyak riwayat lainnya—meskipun tidak sebanyak riwayat yang menyebut Ramadan secara umum—bahwa Lailatul Qadar berada di sepuluh malam terakhir. Ada riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membatasi waktunya hanya pada 10 malam terakhir, bukan pada malam-malam lainnya. Namun, kapan tepatnya di 10 malam terakhir itu? Ada hadits yang menyebutkan malam ke-21. Ada pula yang menyebutkan malam ke-22. Riwayat lain menyebutkan malam ke-23. Ada yang menyebutkan malam ke-24. Ada pula malam ke-25. Bahkan ada yang menyebutkan malam ke-26, 27, hingga malam terakhir. Mengapa bisa berbeda-beda? Karena perhitungan malamnya bisa jadi dari malam ganjil. Saat Nabi bersabda: “Carilah ia pada malam-malam ganjil,” maka malam ganjil ini bisa dihitung dari awal bulan, bisa pula dihitung dari akhir bulan. Jika bulan berjumlah 30 hari, maka ganjil dari awal bulan adalah malam ke-21, 23, 25, 27, (dan 29). Namun, jika dihitung dari akhir bulan, maka ganjilnya bisa jatuh pada malam ke-30, 28, dan seterusnya. Jadi, setiap malam di 10 malam terakhir berpotensi menjadi Lailatul Qadar. Allah telah menyembunyikan waktu pastinya dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Waktu tepatnya tidak diketahui oleh Nabi. Nabi sempat mengetahuinya, tapi lalu dibuat lupa oleh Allah. Maka, bagaimana mungkin ada orang yang bisa memastikan waktunya jika Nabi saja tidak tahu? Memang ada sahabat seperti Ubay bin Ka’ab yang sangat yakin pada malam ke-27 karena tanda tertentu. Kita katakan bahwa itu adalah kemungkinan terbesarnya. Oleh karena itu, lebih baik bagi seorang muslim untuk mencarinya di 10 malam terakhir. Apa yang bisa dilakukan pada malam tersebut? Ada 2 yang sahih dari Nabi mengenai keutamaan Lailatul Qadar. Pertama, dilipatgandakannya nilai ibadah. Kedua, “Barang siapa Shalat Malam pada Lailatul Qadar atas dasar iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari & Muslim). Inilah dua keutamaannya. Lalu amalan apa saja yang dapat dikerjakan? Yaitu amalan yang telah diajarkan oleh Nabi. Amalan pertama adalah Shalat Malam. “Barang siapa Shalat Malam pada Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala…”Sangat disunahkan Shalat Malam pada Lailatul Qadar atau di 10 malam terakhir. Bahkan para ulama berkata untuk meneladani para sahabat: Dianjurkan bagi orang yang ingin tidur di masjid pada 10 malam terakhir, agar tidurnya dalam posisi duduk bersila. Tujuannya agar ia tidak tidur terlalu nyenyak dan bisa menghabiskan malam dengan banyak shalat. Jadi, hendaknya mengurangi tidur. Dulu, Nabi mengencangkan sarungnya dan menghidupkan 10 malam terakhir, serta membangunkan keluarganya. Ini amalan pertama, yaitu shalat. Amalan kedua, disunahkan menetap di masjid, yakni beriktikaf. Haditsnya telah kalian ketahui sendiri, hadits Abu Said: Nabi beriktikaf di awal bulan pertengahan, dan akhir. Namun, amalan terakhir yang Nabi rutinkan adalah iktikaf pada 10 malam terakhir Ramadan. Amalan ketiga adalah berdoa. Aisyah bertanya: “Wahai Rasulullah, jika aku mendapati Lailatul Qadar, apa yang harus aku ucapkan?” Nabi menjawab: “Ucapkanlah: ALLAAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU ‘ANNIIYYa Allah, Engkau Maha Pemaaf, mencintai maaf, maka maafkanlah aku.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad). Amalan keempat adalah tilawah Al-Qur’an secara khusus. Karena pada malam-malam Ramadan ini, sangat dianjurkan secara khusus untuk memperbanyak bacaan Al-Qur’an. Fokuslah pada 4 amalan ini dan kerjakanlah dengan maksimal. 4 amalan ini lebih utama dari amalan lain, karena adanya dalil yang mengkhususkannya. Sesuai kaidah yang kita pelajari bahwa waktu-waktu yang utama dianjurkan mengerjakan amalan yang ada dalil khususnya terkait waktu itu, kecuali pada waktu tertentu yang anjurannya bersifat umum, seperti 10 hari pertama bulan Zulhijah. Dengan demikian, kita telah mengetahui tentang Lailatul Qadar dan hukum-hukum yang berkaitan dengannya. ===== لَيْلَةُ الْقَدْرِ مِمَّا امْتَنَّ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ عَلَى هَذِهِ الْأُمَّةِ دُونَ مَا عَدَاهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ عِنْدَنَا فِيهَا عَدَدٌ مِنَ الْمَسَائِلِ أَوَّلُ هَذِهِ الْمَسَائِلِ مَتَى وَقْتُهَا؟ كَانَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ كَابْنِ مَسْعُودٍ يَقُولُ هِيَ فِي السَّنَةِ كُلِّهَا مَنْ قَامَ السَّنَةَ كُلَّهَا أَدْرَكَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ وَلَكِنْ جَاءَتْ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ أَنَّهَا فِي شَهْرِ رَمَضَانَ فَهِيَ لَيْلَةٌ مِنْ لَيَالِي رَمَضَانَ وَجَاءَتْ أَخْبَارٌ يَعْنِي كَثِيرَةٌ لَكِنَّهَا دُونَ الْأُولَى أَنَّهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَجَاءَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَصْرُهَا عَلَى الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ دُونَ مَا عَدَاهَا وَلَكِنْ أَيْنَ هِيَ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ؟ جَاءَ حَدِيثٌ أَنَّهَا فِي الْحَادِي وَالْعِشْرِينَ وَجَاءَ فِي الثَّانِي وَالْعِشْرِينَ وَجَاءَ فِي الثَّالِثِ وَالْعِشْرِينَ وَجَاءَ فِي الرَّابِعِ وَالْعِشْرِينَ وَجَاءَ فِي الْخَامِسِ وَالْعِشْرِينَ وَجَاءَ فِي السَّادِسِ وَالسَّابِعِ وَجَاءَ آخِرُ لَيْلَةٍ كَيْفَ ذَاكَ؟ لِأَنَّ حِسَابَ اللَّيَالِي قَدْ يَكُونُ بِاعْتِبَارِ الْأَوْتَارِ لَمَّا قَالَ: تَحَرَّوْهَا فِي الْأَوْتَارِ الْأَوْتَارُ قَدْ تَكُونُ بِاعْتِبَارِ أَوَّلِ الشَّهْرِ، وَقَدْ تَكُونُ بِاعْتِبَارِ آخِرِهِ فَلَوْ كَانَ الشَّهْرُ تَامّاً فَالْأَوْتَارُ بِاعْتِبَارِ أَوَّلِهِ وَاحِدٌ وَعِشْرُونَ وَثَلَاثَةٌ وَعِشْرُونَ وَخَمْسَةٌ وَعِشْرُونَ وَسَبْعَةٌ وَعِشْرُونَ وَإِنْ كَانَ تَامّاً وَأَرَدْتَ الْأَوْتَارَ بِآخِرِهِ فَهِيَ ثَلَاثُونَ وَثَمَانِيَةٌ وَعِشْرُونَ وَهَكَذَا إِذاً كُلُّ لَيْلَةٍ مِنْ لَيَالِي الْعَشْرِ قَدْ تَكُونُ لَيْلَةً مِنْ لَيَالِي الْقَدْرِ وَقَدْ أَخْفَى اللهُ ذَلِكَ عَنْ نَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَفِيَتْ عَنْهُ فَإِنَّهُ قَدْ عَلِمَهَا ثُمَّ نُسِّيَهَا فَكَيْفَ لِامْرِئٍ أَنْ يَجْزِمَ بَعْدَ ذَلِكَ بِأَيِّ طَرِيقَةٍ أُخْرَى؟ نَعَمْ مِنَ الصَّحَابَةِ كَأُبَيٍّ كَانَ يَجْزِمُ لِأَمْرٍ مُعَيَّنٍ أَنَّهَا لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ فَنَقُولُ هِيَ الْأَحْرَى وَلِذَا فَالْأَوْلَى بِالْمُسْلِمِ أَنْ يَتَحَرَّى هَذِهِ اللَّيْلَةَ فِي الْعَشْرِ كُلِّهَا مَا الَّذِي يُفْعَلُ فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ؟ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي فَضْلِهَا أَمْرَانِ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ مُضَاعَفَةُ الْعِبَادَةِ وَالْأَمْرُ الثَّانِي أَنَّهُ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ هَذَانِ فَضْلَانِ مَا الَّذِي يُفْعَلُ فِيهَا؟ يُفْعَلُ فِيهَا عِبَادَاتٌ وَرَدَتْ عَنِ النَّبِيِّ أَوَّلُهَا قِيَامُهَا: مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَاناً وَاحْتِسَاباً فَيُسْتَحَبُّ الصَّلَاةُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ أَوْ لَيَالِي الْعَشْرِ حَتَّى قَالَ الْعُلَمَاءُ اسْتِنَانًا بِالصَّحَابَةِ أَوِ اتِّبَاعاً بِالصَّحَابَةِ أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَنَامَ فِي الْعَشْرِ فِي الْمَسْجِدِ أَنْ يَنَامَ مُتَرَبِّعاً لِكَيْ لَا يَنْهَارَ وَلَا يَنَامَ فِي اللَّيْلِ لِكَثْرَةِ صَلَاتِهِ إِذاً يُقْلِلُ النَّوْمَ، النَّبِيُّ كَانَ يَشُدُّ الْمِئْزَرَ وَيُحْيِي لَيْلَهُ إِذَا جَاءَتِ الْعَشْرُ وَيُوقِظُ أَهْلَهُ هَذَا الْأَمْرُ الْأَوَّلُ وَهُوَ الصَّلَاةُ الْأَمْرُ الثَّانِي أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ لُزُومُ الْمَسَاجِدِ الِاعْتِكَافُ الْأَمْرُ الثَّالثُ وَالْحَدِيثُ تَعْرِفُونَهُ فِي الِاعْتِكَافِ حَدِيثُ أَبِي سَعِيدٍ اعْتَكَفَ مِنْ أَوَّلِ الشَّهْرِ وَوَسَطِهِ وَآخِرِهِ ثُمَّ كَانَ آخِرُ أَمْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الِاعْتِكَافَ فِي آخِرِ الشَّهْرِ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْهُ الْأَمْرُ الثَّالِثُ الدُّعَاءُ قَالَتْ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللهِ أَرَأَيْتَ إِنْ أَدْرَكْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ مَاذَا أَقُولُ؟ قَالَ قُولِي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي الرَّابِعَةُ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ خَاصَّةً وَلِذَلِكَ كَانَ هَذِهِ اللَّيَالِي مِنْ رَمَضَانَ يُسْتَحَبُّ فِيهَا قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ عَلَى سَبِيلِ الْخُصُوصِ هَذِهِ الْأَرْبَعُ انْشَغِلْ بِهَا وَتَأَكَّدْ عَلَيْهَا وَهِيَ أَفْضَلُ مِنْ غَيْرِهَا مِنَ الْأَعْمَالِ هِيَ الَّتِي وَرَدَ فِيهَا اخْتِصَاصٌ وَقَدْ مَرَّ مَعَنَا الْقَاعِدَةُ أَنَّ الْأَزْمِنَةَ الْفَاضِلَةَ إِنَّمَا يُسْتَحَبُّ فِيهَا مَا وَرَدَ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا أَزْمِنَةً مُعَيَّنَةً جَاءَ مُطْلَقُ الْعَمَلِ كَالْعَشْرِ الْأَوَائِلِ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ إِذاً عَرَفْنَا لَيْلَةَ الْقَدْرِ وَمَا يَتَعَلَّقُ بِأَحْكَامِهَا
Lailatul Qadar adalah salah satu karunia yang hanya Allah ‘Azza wa Jalla berikan kepada umat ini, umat lain tidak. Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Terkait Lailatul Qadar, kita memiliki beberapa pembahasan. Pembahasan pertama: Kapan waktu terjadinya? Sebagian ulama seperti Ibnu Mas’ud berpendapat bahwa ia ada di sepanjang tahun; siapa yang Shalat Malam sepanjang tahun, ia akan mendapati Lailatul Qadar. Namun, terdapat banyak hadits yang menegaskan bahwa ia ada di bulan Ramadan. Jadi, ia adalah salah satu malam di bulan Ramadan. Terdapat pula banyak riwayat lainnya—meskipun tidak sebanyak riwayat yang menyebut Ramadan secara umum—bahwa Lailatul Qadar berada di sepuluh malam terakhir. Ada riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membatasi waktunya hanya pada 10 malam terakhir, bukan pada malam-malam lainnya. Namun, kapan tepatnya di 10 malam terakhir itu? Ada hadits yang menyebutkan malam ke-21. Ada pula yang menyebutkan malam ke-22. Riwayat lain menyebutkan malam ke-23. Ada yang menyebutkan malam ke-24. Ada pula malam ke-25. Bahkan ada yang menyebutkan malam ke-26, 27, hingga malam terakhir. Mengapa bisa berbeda-beda? Karena perhitungan malamnya bisa jadi dari malam ganjil. Saat Nabi bersabda: “Carilah ia pada malam-malam ganjil,” maka malam ganjil ini bisa dihitung dari awal bulan, bisa pula dihitung dari akhir bulan. Jika bulan berjumlah 30 hari, maka ganjil dari awal bulan adalah malam ke-21, 23, 25, 27, (dan 29). Namun, jika dihitung dari akhir bulan, maka ganjilnya bisa jatuh pada malam ke-30, 28, dan seterusnya. Jadi, setiap malam di 10 malam terakhir berpotensi menjadi Lailatul Qadar. Allah telah menyembunyikan waktu pastinya dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Waktu tepatnya tidak diketahui oleh Nabi. Nabi sempat mengetahuinya, tapi lalu dibuat lupa oleh Allah. Maka, bagaimana mungkin ada orang yang bisa memastikan waktunya jika Nabi saja tidak tahu? Memang ada sahabat seperti Ubay bin Ka’ab yang sangat yakin pada malam ke-27 karena tanda tertentu. Kita katakan bahwa itu adalah kemungkinan terbesarnya. Oleh karena itu, lebih baik bagi seorang muslim untuk mencarinya di 10 malam terakhir. Apa yang bisa dilakukan pada malam tersebut? Ada 2 yang sahih dari Nabi mengenai keutamaan Lailatul Qadar. Pertama, dilipatgandakannya nilai ibadah. Kedua, “Barang siapa Shalat Malam pada Lailatul Qadar atas dasar iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari & Muslim). Inilah dua keutamaannya. Lalu amalan apa saja yang dapat dikerjakan? Yaitu amalan yang telah diajarkan oleh Nabi. Amalan pertama adalah Shalat Malam. “Barang siapa Shalat Malam pada Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala…”Sangat disunahkan Shalat Malam pada Lailatul Qadar atau di 10 malam terakhir. Bahkan para ulama berkata untuk meneladani para sahabat: Dianjurkan bagi orang yang ingin tidur di masjid pada 10 malam terakhir, agar tidurnya dalam posisi duduk bersila. Tujuannya agar ia tidak tidur terlalu nyenyak dan bisa menghabiskan malam dengan banyak shalat. Jadi, hendaknya mengurangi tidur. Dulu, Nabi mengencangkan sarungnya dan menghidupkan 10 malam terakhir, serta membangunkan keluarganya. Ini amalan pertama, yaitu shalat. Amalan kedua, disunahkan menetap di masjid, yakni beriktikaf. Haditsnya telah kalian ketahui sendiri, hadits Abu Said: Nabi beriktikaf di awal bulan pertengahan, dan akhir. Namun, amalan terakhir yang Nabi rutinkan adalah iktikaf pada 10 malam terakhir Ramadan. Amalan ketiga adalah berdoa. Aisyah bertanya: “Wahai Rasulullah, jika aku mendapati Lailatul Qadar, apa yang harus aku ucapkan?” Nabi menjawab: “Ucapkanlah: ALLAAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU ‘ANNIIYYa Allah, Engkau Maha Pemaaf, mencintai maaf, maka maafkanlah aku.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad). Amalan keempat adalah tilawah Al-Qur’an secara khusus. Karena pada malam-malam Ramadan ini, sangat dianjurkan secara khusus untuk memperbanyak bacaan Al-Qur’an. Fokuslah pada 4 amalan ini dan kerjakanlah dengan maksimal. 4 amalan ini lebih utama dari amalan lain, karena adanya dalil yang mengkhususkannya. Sesuai kaidah yang kita pelajari bahwa waktu-waktu yang utama dianjurkan mengerjakan amalan yang ada dalil khususnya terkait waktu itu, kecuali pada waktu tertentu yang anjurannya bersifat umum, seperti 10 hari pertama bulan Zulhijah. Dengan demikian, kita telah mengetahui tentang Lailatul Qadar dan hukum-hukum yang berkaitan dengannya. ===== لَيْلَةُ الْقَدْرِ مِمَّا امْتَنَّ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ عَلَى هَذِهِ الْأُمَّةِ دُونَ مَا عَدَاهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ عِنْدَنَا فِيهَا عَدَدٌ مِنَ الْمَسَائِلِ أَوَّلُ هَذِهِ الْمَسَائِلِ مَتَى وَقْتُهَا؟ كَانَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ كَابْنِ مَسْعُودٍ يَقُولُ هِيَ فِي السَّنَةِ كُلِّهَا مَنْ قَامَ السَّنَةَ كُلَّهَا أَدْرَكَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ وَلَكِنْ جَاءَتْ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ أَنَّهَا فِي شَهْرِ رَمَضَانَ فَهِيَ لَيْلَةٌ مِنْ لَيَالِي رَمَضَانَ وَجَاءَتْ أَخْبَارٌ يَعْنِي كَثِيرَةٌ لَكِنَّهَا دُونَ الْأُولَى أَنَّهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَجَاءَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَصْرُهَا عَلَى الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ دُونَ مَا عَدَاهَا وَلَكِنْ أَيْنَ هِيَ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ؟ جَاءَ حَدِيثٌ أَنَّهَا فِي الْحَادِي وَالْعِشْرِينَ وَجَاءَ فِي الثَّانِي وَالْعِشْرِينَ وَجَاءَ فِي الثَّالِثِ وَالْعِشْرِينَ وَجَاءَ فِي الرَّابِعِ وَالْعِشْرِينَ وَجَاءَ فِي الْخَامِسِ وَالْعِشْرِينَ وَجَاءَ فِي السَّادِسِ وَالسَّابِعِ وَجَاءَ آخِرُ لَيْلَةٍ كَيْفَ ذَاكَ؟ لِأَنَّ حِسَابَ اللَّيَالِي قَدْ يَكُونُ بِاعْتِبَارِ الْأَوْتَارِ لَمَّا قَالَ: تَحَرَّوْهَا فِي الْأَوْتَارِ الْأَوْتَارُ قَدْ تَكُونُ بِاعْتِبَارِ أَوَّلِ الشَّهْرِ، وَقَدْ تَكُونُ بِاعْتِبَارِ آخِرِهِ فَلَوْ كَانَ الشَّهْرُ تَامّاً فَالْأَوْتَارُ بِاعْتِبَارِ أَوَّلِهِ وَاحِدٌ وَعِشْرُونَ وَثَلَاثَةٌ وَعِشْرُونَ وَخَمْسَةٌ وَعِشْرُونَ وَسَبْعَةٌ وَعِشْرُونَ وَإِنْ كَانَ تَامّاً وَأَرَدْتَ الْأَوْتَارَ بِآخِرِهِ فَهِيَ ثَلَاثُونَ وَثَمَانِيَةٌ وَعِشْرُونَ وَهَكَذَا إِذاً كُلُّ لَيْلَةٍ مِنْ لَيَالِي الْعَشْرِ قَدْ تَكُونُ لَيْلَةً مِنْ لَيَالِي الْقَدْرِ وَقَدْ أَخْفَى اللهُ ذَلِكَ عَنْ نَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَفِيَتْ عَنْهُ فَإِنَّهُ قَدْ عَلِمَهَا ثُمَّ نُسِّيَهَا فَكَيْفَ لِامْرِئٍ أَنْ يَجْزِمَ بَعْدَ ذَلِكَ بِأَيِّ طَرِيقَةٍ أُخْرَى؟ نَعَمْ مِنَ الصَّحَابَةِ كَأُبَيٍّ كَانَ يَجْزِمُ لِأَمْرٍ مُعَيَّنٍ أَنَّهَا لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ فَنَقُولُ هِيَ الْأَحْرَى وَلِذَا فَالْأَوْلَى بِالْمُسْلِمِ أَنْ يَتَحَرَّى هَذِهِ اللَّيْلَةَ فِي الْعَشْرِ كُلِّهَا مَا الَّذِي يُفْعَلُ فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ؟ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي فَضْلِهَا أَمْرَانِ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ مُضَاعَفَةُ الْعِبَادَةِ وَالْأَمْرُ الثَّانِي أَنَّهُ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ هَذَانِ فَضْلَانِ مَا الَّذِي يُفْعَلُ فِيهَا؟ يُفْعَلُ فِيهَا عِبَادَاتٌ وَرَدَتْ عَنِ النَّبِيِّ أَوَّلُهَا قِيَامُهَا: مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَاناً وَاحْتِسَاباً فَيُسْتَحَبُّ الصَّلَاةُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ أَوْ لَيَالِي الْعَشْرِ حَتَّى قَالَ الْعُلَمَاءُ اسْتِنَانًا بِالصَّحَابَةِ أَوِ اتِّبَاعاً بِالصَّحَابَةِ أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَنَامَ فِي الْعَشْرِ فِي الْمَسْجِدِ أَنْ يَنَامَ مُتَرَبِّعاً لِكَيْ لَا يَنْهَارَ وَلَا يَنَامَ فِي اللَّيْلِ لِكَثْرَةِ صَلَاتِهِ إِذاً يُقْلِلُ النَّوْمَ، النَّبِيُّ كَانَ يَشُدُّ الْمِئْزَرَ وَيُحْيِي لَيْلَهُ إِذَا جَاءَتِ الْعَشْرُ وَيُوقِظُ أَهْلَهُ هَذَا الْأَمْرُ الْأَوَّلُ وَهُوَ الصَّلَاةُ الْأَمْرُ الثَّانِي أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ لُزُومُ الْمَسَاجِدِ الِاعْتِكَافُ الْأَمْرُ الثَّالثُ وَالْحَدِيثُ تَعْرِفُونَهُ فِي الِاعْتِكَافِ حَدِيثُ أَبِي سَعِيدٍ اعْتَكَفَ مِنْ أَوَّلِ الشَّهْرِ وَوَسَطِهِ وَآخِرِهِ ثُمَّ كَانَ آخِرُ أَمْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الِاعْتِكَافَ فِي آخِرِ الشَّهْرِ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْهُ الْأَمْرُ الثَّالِثُ الدُّعَاءُ قَالَتْ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللهِ أَرَأَيْتَ إِنْ أَدْرَكْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ مَاذَا أَقُولُ؟ قَالَ قُولِي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي الرَّابِعَةُ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ خَاصَّةً وَلِذَلِكَ كَانَ هَذِهِ اللَّيَالِي مِنْ رَمَضَانَ يُسْتَحَبُّ فِيهَا قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ عَلَى سَبِيلِ الْخُصُوصِ هَذِهِ الْأَرْبَعُ انْشَغِلْ بِهَا وَتَأَكَّدْ عَلَيْهَا وَهِيَ أَفْضَلُ مِنْ غَيْرِهَا مِنَ الْأَعْمَالِ هِيَ الَّتِي وَرَدَ فِيهَا اخْتِصَاصٌ وَقَدْ مَرَّ مَعَنَا الْقَاعِدَةُ أَنَّ الْأَزْمِنَةَ الْفَاضِلَةَ إِنَّمَا يُسْتَحَبُّ فِيهَا مَا وَرَدَ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا أَزْمِنَةً مُعَيَّنَةً جَاءَ مُطْلَقُ الْعَمَلِ كَالْعَشْرِ الْأَوَائِلِ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ إِذاً عَرَفْنَا لَيْلَةَ الْقَدْرِ وَمَا يَتَعَلَّقُ بِأَحْكَامِهَا


Lailatul Qadar adalah salah satu karunia yang hanya Allah ‘Azza wa Jalla berikan kepada umat ini, umat lain tidak. Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Terkait Lailatul Qadar, kita memiliki beberapa pembahasan. Pembahasan pertama: Kapan waktu terjadinya? Sebagian ulama seperti Ibnu Mas’ud berpendapat bahwa ia ada di sepanjang tahun; siapa yang Shalat Malam sepanjang tahun, ia akan mendapati Lailatul Qadar. Namun, terdapat banyak hadits yang menegaskan bahwa ia ada di bulan Ramadan. Jadi, ia adalah salah satu malam di bulan Ramadan. Terdapat pula banyak riwayat lainnya—meskipun tidak sebanyak riwayat yang menyebut Ramadan secara umum—bahwa Lailatul Qadar berada di sepuluh malam terakhir. Ada riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membatasi waktunya hanya pada 10 malam terakhir, bukan pada malam-malam lainnya. Namun, kapan tepatnya di 10 malam terakhir itu? Ada hadits yang menyebutkan malam ke-21. Ada pula yang menyebutkan malam ke-22. Riwayat lain menyebutkan malam ke-23. Ada yang menyebutkan malam ke-24. Ada pula malam ke-25. Bahkan ada yang menyebutkan malam ke-26, 27, hingga malam terakhir. Mengapa bisa berbeda-beda? Karena perhitungan malamnya bisa jadi dari malam ganjil. Saat Nabi bersabda: “Carilah ia pada malam-malam ganjil,” maka malam ganjil ini bisa dihitung dari awal bulan, bisa pula dihitung dari akhir bulan. Jika bulan berjumlah 30 hari, maka ganjil dari awal bulan adalah malam ke-21, 23, 25, 27, (dan 29). Namun, jika dihitung dari akhir bulan, maka ganjilnya bisa jatuh pada malam ke-30, 28, dan seterusnya. Jadi, setiap malam di 10 malam terakhir berpotensi menjadi Lailatul Qadar. Allah telah menyembunyikan waktu pastinya dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Waktu tepatnya tidak diketahui oleh Nabi. Nabi sempat mengetahuinya, tapi lalu dibuat lupa oleh Allah. Maka, bagaimana mungkin ada orang yang bisa memastikan waktunya jika Nabi saja tidak tahu? Memang ada sahabat seperti Ubay bin Ka’ab yang sangat yakin pada malam ke-27 karena tanda tertentu. Kita katakan bahwa itu adalah kemungkinan terbesarnya. Oleh karena itu, lebih baik bagi seorang muslim untuk mencarinya di 10 malam terakhir. Apa yang bisa dilakukan pada malam tersebut? Ada 2 yang sahih dari Nabi mengenai keutamaan Lailatul Qadar. Pertama, dilipatgandakannya nilai ibadah. Kedua, “Barang siapa Shalat Malam pada Lailatul Qadar atas dasar iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari & Muslim). Inilah dua keutamaannya. Lalu amalan apa saja yang dapat dikerjakan? Yaitu amalan yang telah diajarkan oleh Nabi. Amalan pertama adalah Shalat Malam. “Barang siapa Shalat Malam pada Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala…”Sangat disunahkan Shalat Malam pada Lailatul Qadar atau di 10 malam terakhir. Bahkan para ulama berkata untuk meneladani para sahabat: Dianjurkan bagi orang yang ingin tidur di masjid pada 10 malam terakhir, agar tidurnya dalam posisi duduk bersila. Tujuannya agar ia tidak tidur terlalu nyenyak dan bisa menghabiskan malam dengan banyak shalat. Jadi, hendaknya mengurangi tidur. Dulu, Nabi mengencangkan sarungnya dan menghidupkan 10 malam terakhir, serta membangunkan keluarganya. Ini amalan pertama, yaitu shalat. Amalan kedua, disunahkan menetap di masjid, yakni beriktikaf. Haditsnya telah kalian ketahui sendiri, hadits Abu Said: Nabi beriktikaf di awal bulan pertengahan, dan akhir. Namun, amalan terakhir yang Nabi rutinkan adalah iktikaf pada 10 malam terakhir Ramadan. Amalan ketiga adalah berdoa. Aisyah bertanya: “Wahai Rasulullah, jika aku mendapati Lailatul Qadar, apa yang harus aku ucapkan?” Nabi menjawab: “Ucapkanlah: ALLAAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU ‘ANNIIYYa Allah, Engkau Maha Pemaaf, mencintai maaf, maka maafkanlah aku.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad). Amalan keempat adalah tilawah Al-Qur’an secara khusus. Karena pada malam-malam Ramadan ini, sangat dianjurkan secara khusus untuk memperbanyak bacaan Al-Qur’an. Fokuslah pada 4 amalan ini dan kerjakanlah dengan maksimal. 4 amalan ini lebih utama dari amalan lain, karena adanya dalil yang mengkhususkannya. Sesuai kaidah yang kita pelajari bahwa waktu-waktu yang utama dianjurkan mengerjakan amalan yang ada dalil khususnya terkait waktu itu, kecuali pada waktu tertentu yang anjurannya bersifat umum, seperti 10 hari pertama bulan Zulhijah. Dengan demikian, kita telah mengetahui tentang Lailatul Qadar dan hukum-hukum yang berkaitan dengannya. ===== لَيْلَةُ الْقَدْرِ مِمَّا امْتَنَّ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ عَلَى هَذِهِ الْأُمَّةِ دُونَ مَا عَدَاهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ عِنْدَنَا فِيهَا عَدَدٌ مِنَ الْمَسَائِلِ أَوَّلُ هَذِهِ الْمَسَائِلِ مَتَى وَقْتُهَا؟ كَانَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ كَابْنِ مَسْعُودٍ يَقُولُ هِيَ فِي السَّنَةِ كُلِّهَا مَنْ قَامَ السَّنَةَ كُلَّهَا أَدْرَكَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ وَلَكِنْ جَاءَتْ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ أَنَّهَا فِي شَهْرِ رَمَضَانَ فَهِيَ لَيْلَةٌ مِنْ لَيَالِي رَمَضَانَ وَجَاءَتْ أَخْبَارٌ يَعْنِي كَثِيرَةٌ لَكِنَّهَا دُونَ الْأُولَى أَنَّهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَجَاءَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَصْرُهَا عَلَى الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ دُونَ مَا عَدَاهَا وَلَكِنْ أَيْنَ هِيَ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ؟ جَاءَ حَدِيثٌ أَنَّهَا فِي الْحَادِي وَالْعِشْرِينَ وَجَاءَ فِي الثَّانِي وَالْعِشْرِينَ وَجَاءَ فِي الثَّالِثِ وَالْعِشْرِينَ وَجَاءَ فِي الرَّابِعِ وَالْعِشْرِينَ وَجَاءَ فِي الْخَامِسِ وَالْعِشْرِينَ وَجَاءَ فِي السَّادِسِ وَالسَّابِعِ وَجَاءَ آخِرُ لَيْلَةٍ كَيْفَ ذَاكَ؟ لِأَنَّ حِسَابَ اللَّيَالِي قَدْ يَكُونُ بِاعْتِبَارِ الْأَوْتَارِ لَمَّا قَالَ: تَحَرَّوْهَا فِي الْأَوْتَارِ الْأَوْتَارُ قَدْ تَكُونُ بِاعْتِبَارِ أَوَّلِ الشَّهْرِ، وَقَدْ تَكُونُ بِاعْتِبَارِ آخِرِهِ فَلَوْ كَانَ الشَّهْرُ تَامّاً فَالْأَوْتَارُ بِاعْتِبَارِ أَوَّلِهِ وَاحِدٌ وَعِشْرُونَ وَثَلَاثَةٌ وَعِشْرُونَ وَخَمْسَةٌ وَعِشْرُونَ وَسَبْعَةٌ وَعِشْرُونَ وَإِنْ كَانَ تَامّاً وَأَرَدْتَ الْأَوْتَارَ بِآخِرِهِ فَهِيَ ثَلَاثُونَ وَثَمَانِيَةٌ وَعِشْرُونَ وَهَكَذَا إِذاً كُلُّ لَيْلَةٍ مِنْ لَيَالِي الْعَشْرِ قَدْ تَكُونُ لَيْلَةً مِنْ لَيَالِي الْقَدْرِ وَقَدْ أَخْفَى اللهُ ذَلِكَ عَنْ نَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَفِيَتْ عَنْهُ فَإِنَّهُ قَدْ عَلِمَهَا ثُمَّ نُسِّيَهَا فَكَيْفَ لِامْرِئٍ أَنْ يَجْزِمَ بَعْدَ ذَلِكَ بِأَيِّ طَرِيقَةٍ أُخْرَى؟ نَعَمْ مِنَ الصَّحَابَةِ كَأُبَيٍّ كَانَ يَجْزِمُ لِأَمْرٍ مُعَيَّنٍ أَنَّهَا لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ فَنَقُولُ هِيَ الْأَحْرَى وَلِذَا فَالْأَوْلَى بِالْمُسْلِمِ أَنْ يَتَحَرَّى هَذِهِ اللَّيْلَةَ فِي الْعَشْرِ كُلِّهَا مَا الَّذِي يُفْعَلُ فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ؟ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي فَضْلِهَا أَمْرَانِ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ مُضَاعَفَةُ الْعِبَادَةِ وَالْأَمْرُ الثَّانِي أَنَّهُ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ هَذَانِ فَضْلَانِ مَا الَّذِي يُفْعَلُ فِيهَا؟ يُفْعَلُ فِيهَا عِبَادَاتٌ وَرَدَتْ عَنِ النَّبِيِّ أَوَّلُهَا قِيَامُهَا: مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَاناً وَاحْتِسَاباً فَيُسْتَحَبُّ الصَّلَاةُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ أَوْ لَيَالِي الْعَشْرِ حَتَّى قَالَ الْعُلَمَاءُ اسْتِنَانًا بِالصَّحَابَةِ أَوِ اتِّبَاعاً بِالصَّحَابَةِ أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَنَامَ فِي الْعَشْرِ فِي الْمَسْجِدِ أَنْ يَنَامَ مُتَرَبِّعاً لِكَيْ لَا يَنْهَارَ وَلَا يَنَامَ فِي اللَّيْلِ لِكَثْرَةِ صَلَاتِهِ إِذاً يُقْلِلُ النَّوْمَ، النَّبِيُّ كَانَ يَشُدُّ الْمِئْزَرَ وَيُحْيِي لَيْلَهُ إِذَا جَاءَتِ الْعَشْرُ وَيُوقِظُ أَهْلَهُ هَذَا الْأَمْرُ الْأَوَّلُ وَهُوَ الصَّلَاةُ الْأَمْرُ الثَّانِي أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ لُزُومُ الْمَسَاجِدِ الِاعْتِكَافُ الْأَمْرُ الثَّالثُ وَالْحَدِيثُ تَعْرِفُونَهُ فِي الِاعْتِكَافِ حَدِيثُ أَبِي سَعِيدٍ اعْتَكَفَ مِنْ أَوَّلِ الشَّهْرِ وَوَسَطِهِ وَآخِرِهِ ثُمَّ كَانَ آخِرُ أَمْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الِاعْتِكَافَ فِي آخِرِ الشَّهْرِ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْهُ الْأَمْرُ الثَّالِثُ الدُّعَاءُ قَالَتْ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللهِ أَرَأَيْتَ إِنْ أَدْرَكْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ مَاذَا أَقُولُ؟ قَالَ قُولِي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي الرَّابِعَةُ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ خَاصَّةً وَلِذَلِكَ كَانَ هَذِهِ اللَّيَالِي مِنْ رَمَضَانَ يُسْتَحَبُّ فِيهَا قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ عَلَى سَبِيلِ الْخُصُوصِ هَذِهِ الْأَرْبَعُ انْشَغِلْ بِهَا وَتَأَكَّدْ عَلَيْهَا وَهِيَ أَفْضَلُ مِنْ غَيْرِهَا مِنَ الْأَعْمَالِ هِيَ الَّتِي وَرَدَ فِيهَا اخْتِصَاصٌ وَقَدْ مَرَّ مَعَنَا الْقَاعِدَةُ أَنَّ الْأَزْمِنَةَ الْفَاضِلَةَ إِنَّمَا يُسْتَحَبُّ فِيهَا مَا وَرَدَ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا أَزْمِنَةً مُعَيَّنَةً جَاءَ مُطْلَقُ الْعَمَلِ كَالْعَشْرِ الْأَوَائِلِ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ إِذاً عَرَفْنَا لَيْلَةَ الْقَدْرِ وَمَا يَتَعَلَّقُ بِأَحْكَامِهَا

Salah Memilih Teman Berujung Penyesalan di Hari Kiamat

Salah satu sebab besar seseorang tersesat adalah karena salah memilih teman dekat. Al-Qur’an menggambarkan penyesalan mendalam orang-orang yang dahulu mengikuti ajakan teman yang menyesatkan. Ayat-ayat ini menjadi peringatan agar seorang Muslim berhati-hati dalam memilih sahabat yang akan mempengaruhi jalan hidupnya. Allah Ta’ala berfirman,وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰى يَدَيْهِ يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِى اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُوْلِ سَبِيْلًا “Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”.” (QS. Al-Furqan: 27)يَٰوَيْلَتَىٰ لَيْتَنِى لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا“Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku).” (QS. Al-Furqan: 28)لَّقَدْ أَضَلَّنِى عَنِ ٱلذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَآءَنِى ۗ وَكَانَ ٱلشَّيْطَٰنُ لِلْإِنسَٰنِ خَذُولًا “Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.” (QS. Al-Furqan: 29)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:“Dan pada hari ketika orang yang zalim menggigit kedua tangannya,” yaitu orang yang menzalimi dirinya dengan kesyirikan, kekufuran, dan mendustakan para rasul. Ia menggigit kedua tangannya karena penyesalan, kesedihan, dan rasa duka yang sangat mendalam.Ia berkata, “Wahai, sekiranya dahulu aku mengambil jalan bersama Rasul.” Maksudnya, sekiranya dahulu ia menempuh jalan bersama Rasul, yaitu dengan beriman kepadanya, membenarkannya, dan mengikuti ajarannya.Kemudian ia berkata, “Celakalah aku! Sekiranya dahulu aku tidak menjadikan si fulan sebagai teman akrab.” Yang dimaksud dengan “si fulan” adalah setan, baik dari kalangan manusia maupun jin. Ia menjadikannya sebagai teman dekat dan sahabat yang sangat dicintai, sehingga ia memusuhi orang-orang yang sebenarnya paling tulus menasihatinya, paling baik kepadanya, dan paling sayang kepadanya. Sebaliknya, ia justru berloyalitas kepada musuh terbesarnya, yaitu setan, yang kedekatannya tidak memberinya apa pun selain kesengsaraan, kerugian, kehinaan, dan kebinasaan.Ia berkata, “Sungguh ia telah menyesatkanku dari peringatan (Al-Qur’an) setelah peringatan itu datang kepadaku.” Maksudnya, setan menghiasinya dengan tipu daya dan bujuk rayunya sehingga ia tetap berada dalam kesesatan.“Dan setan itu selalu menjadi pengkhianat bagi manusia.” Ia menghiasi kebatilan agar tampak indah dan membuat kebenaran terlihat buruk. Ia menjanjikan berbagai angan-angan, tetapi kemudian meninggalkan manusia dan berlepas diri darinya. Hal itu sebagaimana perkataan setan kepada para pengikutnya ketika perkara telah diputuskan dan Allah telah selesai menghisab seluruh makhluk.Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِي عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِنْ قَبْلُ“Dan setan berkata ketika perkara telah diputuskan: ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar, sedangkan aku menjanjikan kepada kalian tetapi aku menyalahinya. Aku tidak memiliki kekuasaan sedikit pun atas kalian, selain hanya mengajak kalian lalu kalian memenuhi ajakanku. Maka janganlah kalian mencelaku, tetapi celalah diri kalian sendiri. Aku tidak dapat menolong kalian dan kalian pun tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang dahulu kalian persekutukan denganku.’” (QS. Ibrahim: 22)Karena itu, hendaknya setiap hamba memperhatikan dirinya selama masih ada kesempatan, dan bersegera memperbaiki keadaan sebelum datang waktu ketika kesempatan itu sudah tidak ada lagi. Hendaknya ia menjalin loyalitas dengan orang-orang yang dengan loyalitas itu ia akan memperoleh kebahagiaan, dan memusuhi orang-orang yang permusuhannya justru bermanfaat baginya, sementara persahabatannya hanya membawa kerugian.Dan Allah-lah yang memberi taufik. Nasihat: Kiat Memilih Teman di Zaman SekarangAyat-ayat ini memberikan pelajaran besar bahwa teman dekat sangat menentukan arah hidup seseorang. Banyak orang tersesat bukan karena tidak mengetahui kebenaran, tetapi karena mengikuti lingkungan dan pergaulan yang salah.Beberapa kiat yang bisa dilakukan agar tidak menyesal seperti gambaran dalam ayat di atas:Pilih teman yang mendekatkan kepada Allah, bukan yang menjauhkan dari ibadah.Lihat kebiasaan ibadahnya, karena seseorang biasanya mengikuti kebiasaan teman dekatnya.Utamakan teman yang jujur menasihati, bukan yang selalu membenarkan kesalahan kita.Batasi pergaulan dengan orang yang meremehkan agama, walaupun mereka tampak menyenangkan.Cari lingkungan majelis ilmu, karena di sana biasanya kita mendapatkan sahabat yang saleh.Realitas hari ini menunjukkan bahwa pengaruh teman tidak hanya datang dari pertemuan langsung, tetapi juga dari media sosial, komunitas digital, dan figur yang kita ikuti. Jika seseorang terus mengikuti orang-orang yang meremehkan agama, lambat laun hatinya akan terpengaruh.Karena itu, seorang Muslim hendaknya memilih sahabat yang membantunya menuju kebaikan, agar kelak di hari kiamat tidak menyesal sambil berkata: “Seandainya dahulu aku tidak menjadikan dia sebagai teman dekat.”Baca juga: Manfaat Teman yang Baik —– Ahad, 19 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsayat tentang teman Hikmah Al-Qur’an memilih teman nasihat islam pengaruh pergaulan peringatan hari kiamat pertemanan renungan ayat renungan quran tafsir al quran tafsir as-sa'di teman teman bergaul teman dalam islam teman dekat teman menyesatkan

Salah Memilih Teman Berujung Penyesalan di Hari Kiamat

Salah satu sebab besar seseorang tersesat adalah karena salah memilih teman dekat. Al-Qur’an menggambarkan penyesalan mendalam orang-orang yang dahulu mengikuti ajakan teman yang menyesatkan. Ayat-ayat ini menjadi peringatan agar seorang Muslim berhati-hati dalam memilih sahabat yang akan mempengaruhi jalan hidupnya. Allah Ta’ala berfirman,وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰى يَدَيْهِ يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِى اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُوْلِ سَبِيْلًا “Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”.” (QS. Al-Furqan: 27)يَٰوَيْلَتَىٰ لَيْتَنِى لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا“Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku).” (QS. Al-Furqan: 28)لَّقَدْ أَضَلَّنِى عَنِ ٱلذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَآءَنِى ۗ وَكَانَ ٱلشَّيْطَٰنُ لِلْإِنسَٰنِ خَذُولًا “Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.” (QS. Al-Furqan: 29)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:“Dan pada hari ketika orang yang zalim menggigit kedua tangannya,” yaitu orang yang menzalimi dirinya dengan kesyirikan, kekufuran, dan mendustakan para rasul. Ia menggigit kedua tangannya karena penyesalan, kesedihan, dan rasa duka yang sangat mendalam.Ia berkata, “Wahai, sekiranya dahulu aku mengambil jalan bersama Rasul.” Maksudnya, sekiranya dahulu ia menempuh jalan bersama Rasul, yaitu dengan beriman kepadanya, membenarkannya, dan mengikuti ajarannya.Kemudian ia berkata, “Celakalah aku! Sekiranya dahulu aku tidak menjadikan si fulan sebagai teman akrab.” Yang dimaksud dengan “si fulan” adalah setan, baik dari kalangan manusia maupun jin. Ia menjadikannya sebagai teman dekat dan sahabat yang sangat dicintai, sehingga ia memusuhi orang-orang yang sebenarnya paling tulus menasihatinya, paling baik kepadanya, dan paling sayang kepadanya. Sebaliknya, ia justru berloyalitas kepada musuh terbesarnya, yaitu setan, yang kedekatannya tidak memberinya apa pun selain kesengsaraan, kerugian, kehinaan, dan kebinasaan.Ia berkata, “Sungguh ia telah menyesatkanku dari peringatan (Al-Qur’an) setelah peringatan itu datang kepadaku.” Maksudnya, setan menghiasinya dengan tipu daya dan bujuk rayunya sehingga ia tetap berada dalam kesesatan.“Dan setan itu selalu menjadi pengkhianat bagi manusia.” Ia menghiasi kebatilan agar tampak indah dan membuat kebenaran terlihat buruk. Ia menjanjikan berbagai angan-angan, tetapi kemudian meninggalkan manusia dan berlepas diri darinya. Hal itu sebagaimana perkataan setan kepada para pengikutnya ketika perkara telah diputuskan dan Allah telah selesai menghisab seluruh makhluk.Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِي عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِنْ قَبْلُ“Dan setan berkata ketika perkara telah diputuskan: ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar, sedangkan aku menjanjikan kepada kalian tetapi aku menyalahinya. Aku tidak memiliki kekuasaan sedikit pun atas kalian, selain hanya mengajak kalian lalu kalian memenuhi ajakanku. Maka janganlah kalian mencelaku, tetapi celalah diri kalian sendiri. Aku tidak dapat menolong kalian dan kalian pun tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang dahulu kalian persekutukan denganku.’” (QS. Ibrahim: 22)Karena itu, hendaknya setiap hamba memperhatikan dirinya selama masih ada kesempatan, dan bersegera memperbaiki keadaan sebelum datang waktu ketika kesempatan itu sudah tidak ada lagi. Hendaknya ia menjalin loyalitas dengan orang-orang yang dengan loyalitas itu ia akan memperoleh kebahagiaan, dan memusuhi orang-orang yang permusuhannya justru bermanfaat baginya, sementara persahabatannya hanya membawa kerugian.Dan Allah-lah yang memberi taufik. Nasihat: Kiat Memilih Teman di Zaman SekarangAyat-ayat ini memberikan pelajaran besar bahwa teman dekat sangat menentukan arah hidup seseorang. Banyak orang tersesat bukan karena tidak mengetahui kebenaran, tetapi karena mengikuti lingkungan dan pergaulan yang salah.Beberapa kiat yang bisa dilakukan agar tidak menyesal seperti gambaran dalam ayat di atas:Pilih teman yang mendekatkan kepada Allah, bukan yang menjauhkan dari ibadah.Lihat kebiasaan ibadahnya, karena seseorang biasanya mengikuti kebiasaan teman dekatnya.Utamakan teman yang jujur menasihati, bukan yang selalu membenarkan kesalahan kita.Batasi pergaulan dengan orang yang meremehkan agama, walaupun mereka tampak menyenangkan.Cari lingkungan majelis ilmu, karena di sana biasanya kita mendapatkan sahabat yang saleh.Realitas hari ini menunjukkan bahwa pengaruh teman tidak hanya datang dari pertemuan langsung, tetapi juga dari media sosial, komunitas digital, dan figur yang kita ikuti. Jika seseorang terus mengikuti orang-orang yang meremehkan agama, lambat laun hatinya akan terpengaruh.Karena itu, seorang Muslim hendaknya memilih sahabat yang membantunya menuju kebaikan, agar kelak di hari kiamat tidak menyesal sambil berkata: “Seandainya dahulu aku tidak menjadikan dia sebagai teman dekat.”Baca juga: Manfaat Teman yang Baik —– Ahad, 19 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsayat tentang teman Hikmah Al-Qur’an memilih teman nasihat islam pengaruh pergaulan peringatan hari kiamat pertemanan renungan ayat renungan quran tafsir al quran tafsir as-sa'di teman teman bergaul teman dalam islam teman dekat teman menyesatkan
Salah satu sebab besar seseorang tersesat adalah karena salah memilih teman dekat. Al-Qur’an menggambarkan penyesalan mendalam orang-orang yang dahulu mengikuti ajakan teman yang menyesatkan. Ayat-ayat ini menjadi peringatan agar seorang Muslim berhati-hati dalam memilih sahabat yang akan mempengaruhi jalan hidupnya. Allah Ta’ala berfirman,وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰى يَدَيْهِ يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِى اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُوْلِ سَبِيْلًا “Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”.” (QS. Al-Furqan: 27)يَٰوَيْلَتَىٰ لَيْتَنِى لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا“Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku).” (QS. Al-Furqan: 28)لَّقَدْ أَضَلَّنِى عَنِ ٱلذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَآءَنِى ۗ وَكَانَ ٱلشَّيْطَٰنُ لِلْإِنسَٰنِ خَذُولًا “Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.” (QS. Al-Furqan: 29)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:“Dan pada hari ketika orang yang zalim menggigit kedua tangannya,” yaitu orang yang menzalimi dirinya dengan kesyirikan, kekufuran, dan mendustakan para rasul. Ia menggigit kedua tangannya karena penyesalan, kesedihan, dan rasa duka yang sangat mendalam.Ia berkata, “Wahai, sekiranya dahulu aku mengambil jalan bersama Rasul.” Maksudnya, sekiranya dahulu ia menempuh jalan bersama Rasul, yaitu dengan beriman kepadanya, membenarkannya, dan mengikuti ajarannya.Kemudian ia berkata, “Celakalah aku! Sekiranya dahulu aku tidak menjadikan si fulan sebagai teman akrab.” Yang dimaksud dengan “si fulan” adalah setan, baik dari kalangan manusia maupun jin. Ia menjadikannya sebagai teman dekat dan sahabat yang sangat dicintai, sehingga ia memusuhi orang-orang yang sebenarnya paling tulus menasihatinya, paling baik kepadanya, dan paling sayang kepadanya. Sebaliknya, ia justru berloyalitas kepada musuh terbesarnya, yaitu setan, yang kedekatannya tidak memberinya apa pun selain kesengsaraan, kerugian, kehinaan, dan kebinasaan.Ia berkata, “Sungguh ia telah menyesatkanku dari peringatan (Al-Qur’an) setelah peringatan itu datang kepadaku.” Maksudnya, setan menghiasinya dengan tipu daya dan bujuk rayunya sehingga ia tetap berada dalam kesesatan.“Dan setan itu selalu menjadi pengkhianat bagi manusia.” Ia menghiasi kebatilan agar tampak indah dan membuat kebenaran terlihat buruk. Ia menjanjikan berbagai angan-angan, tetapi kemudian meninggalkan manusia dan berlepas diri darinya. Hal itu sebagaimana perkataan setan kepada para pengikutnya ketika perkara telah diputuskan dan Allah telah selesai menghisab seluruh makhluk.Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِي عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِنْ قَبْلُ“Dan setan berkata ketika perkara telah diputuskan: ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar, sedangkan aku menjanjikan kepada kalian tetapi aku menyalahinya. Aku tidak memiliki kekuasaan sedikit pun atas kalian, selain hanya mengajak kalian lalu kalian memenuhi ajakanku. Maka janganlah kalian mencelaku, tetapi celalah diri kalian sendiri. Aku tidak dapat menolong kalian dan kalian pun tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang dahulu kalian persekutukan denganku.’” (QS. Ibrahim: 22)Karena itu, hendaknya setiap hamba memperhatikan dirinya selama masih ada kesempatan, dan bersegera memperbaiki keadaan sebelum datang waktu ketika kesempatan itu sudah tidak ada lagi. Hendaknya ia menjalin loyalitas dengan orang-orang yang dengan loyalitas itu ia akan memperoleh kebahagiaan, dan memusuhi orang-orang yang permusuhannya justru bermanfaat baginya, sementara persahabatannya hanya membawa kerugian.Dan Allah-lah yang memberi taufik. Nasihat: Kiat Memilih Teman di Zaman SekarangAyat-ayat ini memberikan pelajaran besar bahwa teman dekat sangat menentukan arah hidup seseorang. Banyak orang tersesat bukan karena tidak mengetahui kebenaran, tetapi karena mengikuti lingkungan dan pergaulan yang salah.Beberapa kiat yang bisa dilakukan agar tidak menyesal seperti gambaran dalam ayat di atas:Pilih teman yang mendekatkan kepada Allah, bukan yang menjauhkan dari ibadah.Lihat kebiasaan ibadahnya, karena seseorang biasanya mengikuti kebiasaan teman dekatnya.Utamakan teman yang jujur menasihati, bukan yang selalu membenarkan kesalahan kita.Batasi pergaulan dengan orang yang meremehkan agama, walaupun mereka tampak menyenangkan.Cari lingkungan majelis ilmu, karena di sana biasanya kita mendapatkan sahabat yang saleh.Realitas hari ini menunjukkan bahwa pengaruh teman tidak hanya datang dari pertemuan langsung, tetapi juga dari media sosial, komunitas digital, dan figur yang kita ikuti. Jika seseorang terus mengikuti orang-orang yang meremehkan agama, lambat laun hatinya akan terpengaruh.Karena itu, seorang Muslim hendaknya memilih sahabat yang membantunya menuju kebaikan, agar kelak di hari kiamat tidak menyesal sambil berkata: “Seandainya dahulu aku tidak menjadikan dia sebagai teman dekat.”Baca juga: Manfaat Teman yang Baik —– Ahad, 19 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsayat tentang teman Hikmah Al-Qur’an memilih teman nasihat islam pengaruh pergaulan peringatan hari kiamat pertemanan renungan ayat renungan quran tafsir al quran tafsir as-sa'di teman teman bergaul teman dalam islam teman dekat teman menyesatkan


Salah satu sebab besar seseorang tersesat adalah karena salah memilih teman dekat. Al-Qur’an menggambarkan penyesalan mendalam orang-orang yang dahulu mengikuti ajakan teman yang menyesatkan. Ayat-ayat ini menjadi peringatan agar seorang Muslim berhati-hati dalam memilih sahabat yang akan mempengaruhi jalan hidupnya. Allah Ta’ala berfirman,وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰى يَدَيْهِ يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِى اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُوْلِ سَبِيْلًا “Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”.” (QS. Al-Furqan: 27)يَٰوَيْلَتَىٰ لَيْتَنِى لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا“Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku).” (QS. Al-Furqan: 28)لَّقَدْ أَضَلَّنِى عَنِ ٱلذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَآءَنِى ۗ وَكَانَ ٱلشَّيْطَٰنُ لِلْإِنسَٰنِ خَذُولًا “Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.” (QS. Al-Furqan: 29)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:“Dan pada hari ketika orang yang zalim menggigit kedua tangannya,” yaitu orang yang menzalimi dirinya dengan kesyirikan, kekufuran, dan mendustakan para rasul. Ia menggigit kedua tangannya karena penyesalan, kesedihan, dan rasa duka yang sangat mendalam.Ia berkata, “Wahai, sekiranya dahulu aku mengambil jalan bersama Rasul.” Maksudnya, sekiranya dahulu ia menempuh jalan bersama Rasul, yaitu dengan beriman kepadanya, membenarkannya, dan mengikuti ajarannya.Kemudian ia berkata, “Celakalah aku! Sekiranya dahulu aku tidak menjadikan si fulan sebagai teman akrab.” Yang dimaksud dengan “si fulan” adalah setan, baik dari kalangan manusia maupun jin. Ia menjadikannya sebagai teman dekat dan sahabat yang sangat dicintai, sehingga ia memusuhi orang-orang yang sebenarnya paling tulus menasihatinya, paling baik kepadanya, dan paling sayang kepadanya. Sebaliknya, ia justru berloyalitas kepada musuh terbesarnya, yaitu setan, yang kedekatannya tidak memberinya apa pun selain kesengsaraan, kerugian, kehinaan, dan kebinasaan.Ia berkata, “Sungguh ia telah menyesatkanku dari peringatan (Al-Qur’an) setelah peringatan itu datang kepadaku.” Maksudnya, setan menghiasinya dengan tipu daya dan bujuk rayunya sehingga ia tetap berada dalam kesesatan.“Dan setan itu selalu menjadi pengkhianat bagi manusia.” Ia menghiasi kebatilan agar tampak indah dan membuat kebenaran terlihat buruk. Ia menjanjikan berbagai angan-angan, tetapi kemudian meninggalkan manusia dan berlepas diri darinya. Hal itu sebagaimana perkataan setan kepada para pengikutnya ketika perkara telah diputuskan dan Allah telah selesai menghisab seluruh makhluk.Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِي عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِنْ قَبْلُ“Dan setan berkata ketika perkara telah diputuskan: ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar, sedangkan aku menjanjikan kepada kalian tetapi aku menyalahinya. Aku tidak memiliki kekuasaan sedikit pun atas kalian, selain hanya mengajak kalian lalu kalian memenuhi ajakanku. Maka janganlah kalian mencelaku, tetapi celalah diri kalian sendiri. Aku tidak dapat menolong kalian dan kalian pun tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang dahulu kalian persekutukan denganku.’” (QS. Ibrahim: 22)Karena itu, hendaknya setiap hamba memperhatikan dirinya selama masih ada kesempatan, dan bersegera memperbaiki keadaan sebelum datang waktu ketika kesempatan itu sudah tidak ada lagi. Hendaknya ia menjalin loyalitas dengan orang-orang yang dengan loyalitas itu ia akan memperoleh kebahagiaan, dan memusuhi orang-orang yang permusuhannya justru bermanfaat baginya, sementara persahabatannya hanya membawa kerugian.Dan Allah-lah yang memberi taufik. Nasihat: Kiat Memilih Teman di Zaman SekarangAyat-ayat ini memberikan pelajaran besar bahwa teman dekat sangat menentukan arah hidup seseorang. Banyak orang tersesat bukan karena tidak mengetahui kebenaran, tetapi karena mengikuti lingkungan dan pergaulan yang salah.Beberapa kiat yang bisa dilakukan agar tidak menyesal seperti gambaran dalam ayat di atas:Pilih teman yang mendekatkan kepada Allah, bukan yang menjauhkan dari ibadah.Lihat kebiasaan ibadahnya, karena seseorang biasanya mengikuti kebiasaan teman dekatnya.Utamakan teman yang jujur menasihati, bukan yang selalu membenarkan kesalahan kita.Batasi pergaulan dengan orang yang meremehkan agama, walaupun mereka tampak menyenangkan.Cari lingkungan majelis ilmu, karena di sana biasanya kita mendapatkan sahabat yang saleh.Realitas hari ini menunjukkan bahwa pengaruh teman tidak hanya datang dari pertemuan langsung, tetapi juga dari media sosial, komunitas digital, dan figur yang kita ikuti. Jika seseorang terus mengikuti orang-orang yang meremehkan agama, lambat laun hatinya akan terpengaruh.Karena itu, seorang Muslim hendaknya memilih sahabat yang membantunya menuju kebaikan, agar kelak di hari kiamat tidak menyesal sambil berkata: “Seandainya dahulu aku tidak menjadikan dia sebagai teman dekat.”Baca juga: Manfaat Teman yang Baik —– Ahad, 19 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsayat tentang teman Hikmah Al-Qur’an memilih teman nasihat islam pengaruh pergaulan peringatan hari kiamat pertemanan renungan ayat renungan quran tafsir al quran tafsir as-sa'di teman teman bergaul teman dalam islam teman dekat teman menyesatkan

7 Sebab Manusia Menolak Dakwah Para Nabi (Tadabbur Surah Asy-Syu’ara Juz 19)

Surah Asy-Syu’ara dalam Juz 19 menghadirkan kisah para nabi dengan pola yang hampir sama: dakwah tauhid disampaikan, namun ditolak oleh kaumnya dengan alasan yang berulang. Penolakan itu ternyata bukan karena kurangnya bukti atau mukjizat, tetapi karena penyakit hati yang menghalangi manusia menerima kebenaran. Dengan mempelajari alasan-alasan penolakan tersebut, kita bisa bercermin agar tidak terjatuh pada kesalahan yang sama di zaman modern ini. Berikut adalah 7 sebab utama penolakan dakwah para Nabi yang diabadikan dalam Juz 19, surah Asy-Syu’ara’: 1. Kisah Nabi Musa: Penolakan karena Senioritas (Ayat 18)Seringkali kebenaran ditolak hanya karena pembawanya dianggap “orang baru” atau dianggap memiliki utang budi di masa lalu. Firaun mencoba menjatuhkan mental Nabi Musa dengan mengungkit jasa pengasuhannya agar Musa merasa rendah diri.Allah Ta’ala berfirman,قَالَ أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا وَلَبِثْتَ فِينَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِينَ“Fir’aun menjawab: “Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu.” (QS. Asy-Syu’ara’: 18) Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Ketika Nabi Musa dan saudaranya datang kepada Fir‘aun lalu menyampaikan apa yang Allah perintahkan kepada mereka berdua, Fir‘aun tidak beriman dan tidak pula menjadi lunak hatinya. Bahkan ia justru menentang Musa.Ia berkata, “Bukankah kami telah memeliharamu di tengah-tengah kami sejak engkau masih bayi?” Maksudnya, bukankah kami telah memberikan berbagai kenikmatan kepadamu dan mengasuhmu sejak engkau masih bayi di dalam buaian, dan engkau terus berada dalam pemeliharaan kami.“Dan engkau tinggal bersama kami selama beberapa tahun dari umurmu.” Artinya, engkau hidup di tengah-tengah kami dalam waktu yang cukup lama dari masa hidupmu.Ibrah: Seringkali seseorang menolak kebenaran atau nasihat hanya karena merasa “lebih senior”, lebih tinggi jabatan, atau merasa telah berjasa kepada si pemberi nasihat. Mentalitas “Saya makan asam garam lebih dulu” atau “Kamu itu dulu saya yang bantu” sering menjadi penghalang masuknya hidayah dan kebenaran ke dalam hati. 2. Kisah Nabi Ibrahim: Belenggu Tradisi Nenek Moyang (Ayat 74)Penghalang hidayah yang paling klasik adalah fanatisme terhadap tradisi nenek moyang. Ketika akal sehat telah lumpuh oleh kebiasaan lama, dalil sekuat apa pun akan mental karena dianggap menyalahi “warisan leluhur”.Allah Ta’ala berfirman,قَالُوا۟ بَلْ وَجَدْنَآ ءَابَآءَنَا كَذَٰلِكَ يَفْعَلُونَ“Mereka menjawab: “(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 74)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Mereka pun berlindung dengan alasan mengikuti tradisi nenek moyang mereka yang sesat. Mereka berkata, “Kami mendapati nenek moyang kami melakukan hal seperti ini.” Maka kami pun mengikuti mereka dalam hal tersebut, menempuh jalan mereka, serta menjaga dan melestarikan kebiasaan mereka.Lalu Nabi Ibrahim berkata kepada mereka bahwa kalian dan nenek moyang kalian semuanya sama-sama menjadi pihak yang dipersalahkan dalam perkara ini. Pembicaraan dan bantahan yang beliau sampaikan berlaku untuk semuanya sekaligus.Ibrah: Masih banyak umat yang beragama hanya berdasarkan warisan luhur tanpa mau memeriksa dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah. Kalimat “Ini sudah tradisi kami” atau “Guru kami tidak pernah bilang begitu” seringkali menutup pintu diskusi ilmiah. Padahal, beragama yang selamat adalah yang berlandaskan argumen yang kuat, bukan sekadar ikut-ikutan mayoritas. 3. Kisah Nabi Nuh: Memandang Rendah Status Sosial (Ayat 111)Kesombongan sosial membuat banyak orang enggan menerima kebenaran jika pengikut dakwah tersebut adalah orang-orang miskin atau rakyat jelata. Mereka merasa harga dirinya jatuh jika harus duduk sejajar dengan orang yang dianggap “hina”.Allah Ta’ala berfirman,۞ قَالُوٓا۟ أَنُؤْمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلْأَرْذَلُونَ“Mereka berkata: “Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?“.” (QS. Asy-Syu’ara’: 111)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Mereka mengatakan hal itu sebagai penolakan terhadap dakwah Nabi Nuh dan sebagai bentuk bantahan yang sebenarnya tidak layak dijadikan alasan untuk menolak kebenaran. Mereka berkata, “Apakah kami akan beriman kepadamu, sementara yang mengikuti engkau hanyalah orang-orang yang rendah?” Maksudnya, bagaimana mungkin kami mengikuti engkau, sedangkan para pengikutmu hanyalah orang-orang dari kalangan bawah, yang mereka anggap sebagai orang-orang hina dan tidak terpandang.Dari ucapan ini tampak jelas kesombongan mereka terhadap kebenaran serta kebodohan mereka terhadap hakikat yang sebenarnya. Seandainya tujuan mereka benar-benar mencari kebenaran, tentu mereka akan berkata—jika memang memiliki keraguan terhadap dakwah Nabi Nuh—“Jelaskanlah kepada kami bukti kebenaran yang engkau bawa dengan cara-cara yang dapat menunjukkan kebenaran itu.”Jika mereka benar-benar mau merenung dengan sungguh-sungguh, niscaya mereka akan mengetahui bahwa para pengikut Nabi Nuh justru merupakan orang-orang yang mulia: manusia terbaik, yang memiliki akal yang lurus dan akhlak yang mulia. Sedangkan orang yang sebenarnya hina adalah orang yang kehilangan fungsi akalnya, lalu menganggap baik menyembah batu-batu, rela bersujud kepadanya, berdoa kepadanya, namun menolak untuk tunduk kepada dakwah para rasul yang sempurna.Sebenarnya, hanya dengan memperhatikan ucapan batil dari salah satu pihak yang berselisih, seseorang sudah dapat mengetahui rusaknya argumen yang mereka miliki, tanpa harus terlebih dahulu menilai kebenaran pihak lawannya. Maka ketika kita mendengar bahwa kaum Nabi Nuh berkata dalam menolak dakwah beliau, “Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikutimu hanyalah orang-orang yang rendah?”, dan mereka menjadikan alasan yang jelas-jelas rusak ini sebagai dasar penolakan mereka terhadap dakwah beliau, kita pun mengetahui bahwa mereka adalah kaum yang sesat dan keliru.Hal itu tetap jelas, sekalipun kita belum melihat berbagai mukjizat Nabi Nuh dan dakwah besar beliau yang menunjukkan dengan pasti kebenaran dan kejujuran beliau dalam menyampaikan risalah.Ibrah: Fenomena mengukur kebenaran dari “siapa pengikutnya” masih kental. Ada kecenderungan orang enggan mengaji atau bergabung dalam majelis ilmu tertentu hanya karena jamaahnya dianggap orang-orang kelas bawah, tidak modis, atau kurang bergengsi secara sosial. Kebenaran dinilai dari strata ekonomi, bukan dari substansi pesan yang disampaikan. 4. Kisah Nabi Hud: Tertipu oleh Kemewahan Fasilitas (Ayat 129)Kaum ‘Ad merasa bahwa kekuatan ekonomi dan kemegahan infrastruktur adalah bukti kesuksesan mutlak. Mereka merasa tidak butuh Tuhan karena merasa sudah bisa “menciptakan surga” sendiri di dunia dengan bangunan-bangunan mereka.Allah Ta’ala berfirman,وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُونَ“Dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)?” (QS. Asy-Syu’ara’: 129)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Artinya, kalian membuat berbagai bangunan besar, seperti kolam-kolam penampungan air dan tempat-tempat penyimpanan untuk kebutuhan hidup.“agar kalian dapat hidup kekal“, maksudnya, seakan-akan dengan semua itu kalian berharap dapat hidup kekal di dunia ini, padahal tidak ada seorang pun yang memiliki jalan untuk hidup kekal selamanya.Ibrah: Di era kapitalisme ini, banyak yang merasa bahwa kesuksesan finansial dan pembangunan fisik (rumah mewah, kendaraan, teknologi) adalah tanda bahwa gaya hidup mereka sudah benar. Mereka merasa “aman” dan tidak butuh peringatan agama karena merasa dunia sudah berada di genggaman mereka, persis seperti kaum ‘Ad yang merasa kekal dengan bangunan-bangunannya. 5. Kisah Nabi Shalih: Fanatik kepada Pemimpin yang Salah (Ayat 151-152)Banyak kaum yang binasa bukan karena mereka tidak tahu kebenaran, tapi karena mereka lebih memilih loyal kepada pemimpin atau tokoh masyarakat yang mengajak pada kerusakan (maksiat) daripada mengikuti ajakan perbaikan.Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُطِيعُوٓا۟ أَمْرَ ٱلْمُسْرِفِينَٱلَّذِينَ يُفْسِدُونَ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ“Dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas, yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 151-152)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.“Dan janganlah kalian menaati perintah orang-orang yang melampaui batas.”Maksudnya, janganlah kalian mengikuti perintah orang-orang yang melampaui batas, yaitu mereka yang telah melewati batas yang benar.“(Yaitu) orang-orang yang membuat kerusakan di bumi dan tidak melakukan perbaikan.”Maksudnya, mereka adalah orang-orang yang sifat dan kebiasaannya membuat kerusakan di bumi dengan melakukan berbagai kemaksiatan serta mengajak orang lain kepada kemaksiatan tersebut. Kerusakan yang mereka lakukan sama sekali tidak mengandung unsur perbaikan.Inilah bentuk kerusakan yang paling berbahaya, karena merupakan keburukan yang murni. Seolah-olah ada sekelompok orang yang siap menentang nabi mereka dan ditempatkan untuk mengajak manusia kepada jalan kesesatan. Oleh karena itu, Nabi Shalih melarang kaumnya agar tidak tertipu oleh mereka.Kemungkinan mereka adalah orang-orang yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya:وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ“Dan di kota itu ada sembilan orang yang membuat kerusakan di bumi dan tidak melakukan perbaikan.” (QS. An-Naml: 48)Namun, nasihat dan larangan ini ternyata tidak memberikan pengaruh apa pun kepada mereka.Ibrah: Kita sering melihat masyarakat yang lebih patuh kepada tokoh publik atau influencer yang gaya hidupnya merusak moral (maksiat) daripada kepada nasihat ulama. Narasi yang dibawa para perusak ini sering dianggap lebih “keren” atau “modern”, sehingga banyak orang terjerumus dalam kerusakan kolektif karena mengikuti figur yang salah. 6. Kisah Nabi Luth: Pembelaan atas Nama Kebebasan Syahwat (Ayat 165-166)Ketika nafsu sudah menjadi tuhan, maka ajakan untuk kembali kepada fitrah akan dianggap sebagai ancaman. Kaum Nabi Luth menolak kebenaran karena mereka tidak ingin kesenangan menyimpangnya diganggu oleh aturan agama.Allah Ta’ala berfirman,أَتَأْتُونَ ٱلذُّكْرَانَ مِنَ ٱلْعَٰلَمِينَوَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُم مِّنْ أَزْوَٰجِكُم ۚ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ“Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 165-166)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Nabi Luth berkata kepada kaumnya, sementara mereka menjawab dengan perkataan yang sama seperti orang-orang sebelum mereka. Hati mereka serupa dalam kekafiran, sehingga ucapan mereka pun serupa.Selain melakukan kesyirikan, mereka juga melakukan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh siapa pun sebelumnya di antara manusia. Mereka memilih berhubungan dengan sesama laki-laki—perbuatan yang kotor dan sangat tercela—serta berpaling dari pasangan yang Allah ciptakan untuk mereka dari kalangan wanita. Hal itu terjadi karena sikap berlebih-lebihan dan permusuhan mereka.Nabi Luth terus-menerus melarang mereka dari perbuatan tersebut, hingga mereka berkata:قَالُوا۟ لَئِن لَّمْ تَنتَهِ يَٰلُوطُ لَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْمُخْرَجِينَ“Mereka menjawab: “Hai Luth, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, benar-benar kamu termasuk orang-orang yang diusir.” (QS. Asy-Syu’ara’: 167)Maksudnya, mereka mengancam akan mengusir Nabi Luth dari negeri mereka.Ketika Nabi Luth melihat mereka terus-menerus melakukan perbuatan itu, beliau berkata:قَالَ إِنِّى لِعَمَلِكُم مِّنَ ٱلْقَالِينَ“Luth berkata: “Sesungguhnya aku sangat benci kepada perbuatanmu”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 168)Artinya, beliau sangat membenci perbuatan tersebut, melarangnya, dan memperingatkan manusia darinya.Ibrah: Tantangan ini sangat nyata dengan maraknya gerakan yang melegalkan penyimpangan seksual atas nama hak asasi atau kebebasan berekspresi. Dakwah yang mengajak pada fitrah dan kesucian sering dianggap kolot, “homofobik”, atau melanggar privasi, karena nafsu telah dijadikan standar kebenaran utama di atas syariat. 7. Kisah Nabi Syu’aib: Kerakusan dalam Bisnis dan Ekonomi (Ayat 181)Penyakit ekonomi berupa kecurangan dalam timbangan dan takaran menjadi sebab utama penolakan dakwah Nabi Syu’aib. Bagi mereka, kejujuran dalam berbisnis dianggap sebagai penghalang untuk meraih keuntungan maksimal.Allah Ta’ala berfirman,۞ أَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ وَلَا تَكُونُوا۟ مِنَ ٱلْمُخْسِرِينَ“Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan.” (QS. Asy-Syu’ara’: 181)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Kaum tersebut—di samping melakukan kesyirikan—juga mengurangi takaran dan timbangan. Oleh karena itu Nabi Syu‘aib berkata kepada mereka: sempurnakanlah takaran itu, penuhilah dan lengkapilah sebagaimana mestinya.Janganlah kalian menjadi orang-orang yang merugikan orang lain, yaitu mereka yang mengurangi harta manusia dan merampasnya dengan cara mengurangi takaran dan timbangan.Ibrah: Dalam dunia bisnis modern, praktik curang seperti manipulasi timbangan digital, penipuan deskripsi produk di toko online, hingga skema investasi bodong masih merajalela. Ajakan untuk berbisnis secara syar’i sering ditolak dengan alasan “Kalau jujur, nanti tidak untung” atau “Semua orang juga melakukan cara yang sama”. Mengapa Hidayah Terhalang?Inti dari pembahasan ini adalah bahwa penolakan dakwah bukan karena kurangnya bukti (karena mukjizat selalu ada), melainkan karena penyakit-penyakit hati berikut ini:Kesombongan: Merasa lebih tinggi status sosial, jabatan, atau lebih senior sehingga enggan merunduk di hadapan kebenaran.Taklid Buta: Fanatik buta terhadap kelompok, tokoh, atau tradisi nenek moyang tanpa mau menimbang dalil Al-Qur’an dan Sunnah.Cinta Dunia & Syahwat: Takut kehilangan kenyamanan dalam bermaksiat, kekuasaan, atau harta benda yang selama ini digenggam.Di akhir setiap kisah para Nabi dalam surat ini, Allah menyisipkan sebuah “kalimat kunci” yang sama sebagai peringatan bahwa bukti kekuasaan Allah sudah sangat nyata, namun hati yang tertutup tetap tidak akan melihatnya.Allah Ta’ala berfirman:إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً ۖ وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُم مُّؤْمِنِينَ“Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.”Ayat ini diulang-ulang oleh Allah setelah menceritakan kisah:Nabi Musa (QS. Asy-Syu’ara: 67)Nabi Ibrahim (QS. Asy-Syu’ara: 103)Nabi Nuh (QS. Asy-Syu’ara: 121)Nabi Hud (QS. Asy-Syu’ara: 139)Nabi Shalih (QS. Asy-Syu’ara: 158)Nabi Luth (QS. Asy-Syu’ara: 174)Nabi Syu’aib (QS. Asy-Syu’ara: 190)Ini menunjukkan bahwa sejarah akan selalu berulang. Tugas kita sebagai hamba adalah terus menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik, sembari memohon kepada Allah agar hati kita dijauhkan dari sifat-sifat kaum yang binasa tersebut. Nasihat PenutupPelajaran dari Surah Asy-Syu’ara menunjukkan bahwa penghalang terbesar hidayah bukanlah kurangnya dalil, tetapi hati yang tertutup oleh kesombongan, fanatisme, dan kecintaan berlebihan pada dunia. Sejarah umat terdahulu memperlihatkan bahwa manusia sering menolak kebenaran bukan karena tidak memahami, tetapi karena enggan meninggalkan kenyamanan yang sudah melekat dalam hidup mereka.Di zaman sekarang, bentuknya mungkin berbeda: ada yang menolak nasihat agama karena gengsi sosial, karena mengikuti tokoh populer, karena fanatik pada tradisi, atau karena takut kehilangan keuntungan dunia. Karena itu, setiap muslim perlu terus memeriksa hatinya agar tidak terjangkit penyakit yang sama seperti kaum-kaum terdahulu yang telah dibinasakan.Semoga Allah melembutkan hati kita untuk menerima kebenaran, meskipun datang dari orang yang lebih muda, lebih sederhana, atau dari arah yang tidak kita duga. Baca juga: Doa Meminta Hidayah dan Istiqamah di Atas Kebenaran Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Malam Senin, 20 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdakwah para nabi ibrah al quran juz 19 kisah nabi dalam quran pelajaran al-quran penyakit hati renungan ayat renungan quran sebab menolak kebenaran surah asy syuara tadabbur quran tafsir quran

7 Sebab Manusia Menolak Dakwah Para Nabi (Tadabbur Surah Asy-Syu’ara Juz 19)

Surah Asy-Syu’ara dalam Juz 19 menghadirkan kisah para nabi dengan pola yang hampir sama: dakwah tauhid disampaikan, namun ditolak oleh kaumnya dengan alasan yang berulang. Penolakan itu ternyata bukan karena kurangnya bukti atau mukjizat, tetapi karena penyakit hati yang menghalangi manusia menerima kebenaran. Dengan mempelajari alasan-alasan penolakan tersebut, kita bisa bercermin agar tidak terjatuh pada kesalahan yang sama di zaman modern ini. Berikut adalah 7 sebab utama penolakan dakwah para Nabi yang diabadikan dalam Juz 19, surah Asy-Syu’ara’: 1. Kisah Nabi Musa: Penolakan karena Senioritas (Ayat 18)Seringkali kebenaran ditolak hanya karena pembawanya dianggap “orang baru” atau dianggap memiliki utang budi di masa lalu. Firaun mencoba menjatuhkan mental Nabi Musa dengan mengungkit jasa pengasuhannya agar Musa merasa rendah diri.Allah Ta’ala berfirman,قَالَ أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا وَلَبِثْتَ فِينَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِينَ“Fir’aun menjawab: “Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu.” (QS. Asy-Syu’ara’: 18) Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Ketika Nabi Musa dan saudaranya datang kepada Fir‘aun lalu menyampaikan apa yang Allah perintahkan kepada mereka berdua, Fir‘aun tidak beriman dan tidak pula menjadi lunak hatinya. Bahkan ia justru menentang Musa.Ia berkata, “Bukankah kami telah memeliharamu di tengah-tengah kami sejak engkau masih bayi?” Maksudnya, bukankah kami telah memberikan berbagai kenikmatan kepadamu dan mengasuhmu sejak engkau masih bayi di dalam buaian, dan engkau terus berada dalam pemeliharaan kami.“Dan engkau tinggal bersama kami selama beberapa tahun dari umurmu.” Artinya, engkau hidup di tengah-tengah kami dalam waktu yang cukup lama dari masa hidupmu.Ibrah: Seringkali seseorang menolak kebenaran atau nasihat hanya karena merasa “lebih senior”, lebih tinggi jabatan, atau merasa telah berjasa kepada si pemberi nasihat. Mentalitas “Saya makan asam garam lebih dulu” atau “Kamu itu dulu saya yang bantu” sering menjadi penghalang masuknya hidayah dan kebenaran ke dalam hati. 2. Kisah Nabi Ibrahim: Belenggu Tradisi Nenek Moyang (Ayat 74)Penghalang hidayah yang paling klasik adalah fanatisme terhadap tradisi nenek moyang. Ketika akal sehat telah lumpuh oleh kebiasaan lama, dalil sekuat apa pun akan mental karena dianggap menyalahi “warisan leluhur”.Allah Ta’ala berfirman,قَالُوا۟ بَلْ وَجَدْنَآ ءَابَآءَنَا كَذَٰلِكَ يَفْعَلُونَ“Mereka menjawab: “(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 74)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Mereka pun berlindung dengan alasan mengikuti tradisi nenek moyang mereka yang sesat. Mereka berkata, “Kami mendapati nenek moyang kami melakukan hal seperti ini.” Maka kami pun mengikuti mereka dalam hal tersebut, menempuh jalan mereka, serta menjaga dan melestarikan kebiasaan mereka.Lalu Nabi Ibrahim berkata kepada mereka bahwa kalian dan nenek moyang kalian semuanya sama-sama menjadi pihak yang dipersalahkan dalam perkara ini. Pembicaraan dan bantahan yang beliau sampaikan berlaku untuk semuanya sekaligus.Ibrah: Masih banyak umat yang beragama hanya berdasarkan warisan luhur tanpa mau memeriksa dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah. Kalimat “Ini sudah tradisi kami” atau “Guru kami tidak pernah bilang begitu” seringkali menutup pintu diskusi ilmiah. Padahal, beragama yang selamat adalah yang berlandaskan argumen yang kuat, bukan sekadar ikut-ikutan mayoritas. 3. Kisah Nabi Nuh: Memandang Rendah Status Sosial (Ayat 111)Kesombongan sosial membuat banyak orang enggan menerima kebenaran jika pengikut dakwah tersebut adalah orang-orang miskin atau rakyat jelata. Mereka merasa harga dirinya jatuh jika harus duduk sejajar dengan orang yang dianggap “hina”.Allah Ta’ala berfirman,۞ قَالُوٓا۟ أَنُؤْمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلْأَرْذَلُونَ“Mereka berkata: “Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?“.” (QS. Asy-Syu’ara’: 111)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Mereka mengatakan hal itu sebagai penolakan terhadap dakwah Nabi Nuh dan sebagai bentuk bantahan yang sebenarnya tidak layak dijadikan alasan untuk menolak kebenaran. Mereka berkata, “Apakah kami akan beriman kepadamu, sementara yang mengikuti engkau hanyalah orang-orang yang rendah?” Maksudnya, bagaimana mungkin kami mengikuti engkau, sedangkan para pengikutmu hanyalah orang-orang dari kalangan bawah, yang mereka anggap sebagai orang-orang hina dan tidak terpandang.Dari ucapan ini tampak jelas kesombongan mereka terhadap kebenaran serta kebodohan mereka terhadap hakikat yang sebenarnya. Seandainya tujuan mereka benar-benar mencari kebenaran, tentu mereka akan berkata—jika memang memiliki keraguan terhadap dakwah Nabi Nuh—“Jelaskanlah kepada kami bukti kebenaran yang engkau bawa dengan cara-cara yang dapat menunjukkan kebenaran itu.”Jika mereka benar-benar mau merenung dengan sungguh-sungguh, niscaya mereka akan mengetahui bahwa para pengikut Nabi Nuh justru merupakan orang-orang yang mulia: manusia terbaik, yang memiliki akal yang lurus dan akhlak yang mulia. Sedangkan orang yang sebenarnya hina adalah orang yang kehilangan fungsi akalnya, lalu menganggap baik menyembah batu-batu, rela bersujud kepadanya, berdoa kepadanya, namun menolak untuk tunduk kepada dakwah para rasul yang sempurna.Sebenarnya, hanya dengan memperhatikan ucapan batil dari salah satu pihak yang berselisih, seseorang sudah dapat mengetahui rusaknya argumen yang mereka miliki, tanpa harus terlebih dahulu menilai kebenaran pihak lawannya. Maka ketika kita mendengar bahwa kaum Nabi Nuh berkata dalam menolak dakwah beliau, “Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikutimu hanyalah orang-orang yang rendah?”, dan mereka menjadikan alasan yang jelas-jelas rusak ini sebagai dasar penolakan mereka terhadap dakwah beliau, kita pun mengetahui bahwa mereka adalah kaum yang sesat dan keliru.Hal itu tetap jelas, sekalipun kita belum melihat berbagai mukjizat Nabi Nuh dan dakwah besar beliau yang menunjukkan dengan pasti kebenaran dan kejujuran beliau dalam menyampaikan risalah.Ibrah: Fenomena mengukur kebenaran dari “siapa pengikutnya” masih kental. Ada kecenderungan orang enggan mengaji atau bergabung dalam majelis ilmu tertentu hanya karena jamaahnya dianggap orang-orang kelas bawah, tidak modis, atau kurang bergengsi secara sosial. Kebenaran dinilai dari strata ekonomi, bukan dari substansi pesan yang disampaikan. 4. Kisah Nabi Hud: Tertipu oleh Kemewahan Fasilitas (Ayat 129)Kaum ‘Ad merasa bahwa kekuatan ekonomi dan kemegahan infrastruktur adalah bukti kesuksesan mutlak. Mereka merasa tidak butuh Tuhan karena merasa sudah bisa “menciptakan surga” sendiri di dunia dengan bangunan-bangunan mereka.Allah Ta’ala berfirman,وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُونَ“Dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)?” (QS. Asy-Syu’ara’: 129)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Artinya, kalian membuat berbagai bangunan besar, seperti kolam-kolam penampungan air dan tempat-tempat penyimpanan untuk kebutuhan hidup.“agar kalian dapat hidup kekal“, maksudnya, seakan-akan dengan semua itu kalian berharap dapat hidup kekal di dunia ini, padahal tidak ada seorang pun yang memiliki jalan untuk hidup kekal selamanya.Ibrah: Di era kapitalisme ini, banyak yang merasa bahwa kesuksesan finansial dan pembangunan fisik (rumah mewah, kendaraan, teknologi) adalah tanda bahwa gaya hidup mereka sudah benar. Mereka merasa “aman” dan tidak butuh peringatan agama karena merasa dunia sudah berada di genggaman mereka, persis seperti kaum ‘Ad yang merasa kekal dengan bangunan-bangunannya. 5. Kisah Nabi Shalih: Fanatik kepada Pemimpin yang Salah (Ayat 151-152)Banyak kaum yang binasa bukan karena mereka tidak tahu kebenaran, tapi karena mereka lebih memilih loyal kepada pemimpin atau tokoh masyarakat yang mengajak pada kerusakan (maksiat) daripada mengikuti ajakan perbaikan.Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُطِيعُوٓا۟ أَمْرَ ٱلْمُسْرِفِينَٱلَّذِينَ يُفْسِدُونَ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ“Dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas, yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 151-152)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.“Dan janganlah kalian menaati perintah orang-orang yang melampaui batas.”Maksudnya, janganlah kalian mengikuti perintah orang-orang yang melampaui batas, yaitu mereka yang telah melewati batas yang benar.“(Yaitu) orang-orang yang membuat kerusakan di bumi dan tidak melakukan perbaikan.”Maksudnya, mereka adalah orang-orang yang sifat dan kebiasaannya membuat kerusakan di bumi dengan melakukan berbagai kemaksiatan serta mengajak orang lain kepada kemaksiatan tersebut. Kerusakan yang mereka lakukan sama sekali tidak mengandung unsur perbaikan.Inilah bentuk kerusakan yang paling berbahaya, karena merupakan keburukan yang murni. Seolah-olah ada sekelompok orang yang siap menentang nabi mereka dan ditempatkan untuk mengajak manusia kepada jalan kesesatan. Oleh karena itu, Nabi Shalih melarang kaumnya agar tidak tertipu oleh mereka.Kemungkinan mereka adalah orang-orang yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya:وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ“Dan di kota itu ada sembilan orang yang membuat kerusakan di bumi dan tidak melakukan perbaikan.” (QS. An-Naml: 48)Namun, nasihat dan larangan ini ternyata tidak memberikan pengaruh apa pun kepada mereka.Ibrah: Kita sering melihat masyarakat yang lebih patuh kepada tokoh publik atau influencer yang gaya hidupnya merusak moral (maksiat) daripada kepada nasihat ulama. Narasi yang dibawa para perusak ini sering dianggap lebih “keren” atau “modern”, sehingga banyak orang terjerumus dalam kerusakan kolektif karena mengikuti figur yang salah. 6. Kisah Nabi Luth: Pembelaan atas Nama Kebebasan Syahwat (Ayat 165-166)Ketika nafsu sudah menjadi tuhan, maka ajakan untuk kembali kepada fitrah akan dianggap sebagai ancaman. Kaum Nabi Luth menolak kebenaran karena mereka tidak ingin kesenangan menyimpangnya diganggu oleh aturan agama.Allah Ta’ala berfirman,أَتَأْتُونَ ٱلذُّكْرَانَ مِنَ ٱلْعَٰلَمِينَوَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُم مِّنْ أَزْوَٰجِكُم ۚ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ“Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 165-166)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Nabi Luth berkata kepada kaumnya, sementara mereka menjawab dengan perkataan yang sama seperti orang-orang sebelum mereka. Hati mereka serupa dalam kekafiran, sehingga ucapan mereka pun serupa.Selain melakukan kesyirikan, mereka juga melakukan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh siapa pun sebelumnya di antara manusia. Mereka memilih berhubungan dengan sesama laki-laki—perbuatan yang kotor dan sangat tercela—serta berpaling dari pasangan yang Allah ciptakan untuk mereka dari kalangan wanita. Hal itu terjadi karena sikap berlebih-lebihan dan permusuhan mereka.Nabi Luth terus-menerus melarang mereka dari perbuatan tersebut, hingga mereka berkata:قَالُوا۟ لَئِن لَّمْ تَنتَهِ يَٰلُوطُ لَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْمُخْرَجِينَ“Mereka menjawab: “Hai Luth, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, benar-benar kamu termasuk orang-orang yang diusir.” (QS. Asy-Syu’ara’: 167)Maksudnya, mereka mengancam akan mengusir Nabi Luth dari negeri mereka.Ketika Nabi Luth melihat mereka terus-menerus melakukan perbuatan itu, beliau berkata:قَالَ إِنِّى لِعَمَلِكُم مِّنَ ٱلْقَالِينَ“Luth berkata: “Sesungguhnya aku sangat benci kepada perbuatanmu”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 168)Artinya, beliau sangat membenci perbuatan tersebut, melarangnya, dan memperingatkan manusia darinya.Ibrah: Tantangan ini sangat nyata dengan maraknya gerakan yang melegalkan penyimpangan seksual atas nama hak asasi atau kebebasan berekspresi. Dakwah yang mengajak pada fitrah dan kesucian sering dianggap kolot, “homofobik”, atau melanggar privasi, karena nafsu telah dijadikan standar kebenaran utama di atas syariat. 7. Kisah Nabi Syu’aib: Kerakusan dalam Bisnis dan Ekonomi (Ayat 181)Penyakit ekonomi berupa kecurangan dalam timbangan dan takaran menjadi sebab utama penolakan dakwah Nabi Syu’aib. Bagi mereka, kejujuran dalam berbisnis dianggap sebagai penghalang untuk meraih keuntungan maksimal.Allah Ta’ala berfirman,۞ أَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ وَلَا تَكُونُوا۟ مِنَ ٱلْمُخْسِرِينَ“Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan.” (QS. Asy-Syu’ara’: 181)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Kaum tersebut—di samping melakukan kesyirikan—juga mengurangi takaran dan timbangan. Oleh karena itu Nabi Syu‘aib berkata kepada mereka: sempurnakanlah takaran itu, penuhilah dan lengkapilah sebagaimana mestinya.Janganlah kalian menjadi orang-orang yang merugikan orang lain, yaitu mereka yang mengurangi harta manusia dan merampasnya dengan cara mengurangi takaran dan timbangan.Ibrah: Dalam dunia bisnis modern, praktik curang seperti manipulasi timbangan digital, penipuan deskripsi produk di toko online, hingga skema investasi bodong masih merajalela. Ajakan untuk berbisnis secara syar’i sering ditolak dengan alasan “Kalau jujur, nanti tidak untung” atau “Semua orang juga melakukan cara yang sama”. Mengapa Hidayah Terhalang?Inti dari pembahasan ini adalah bahwa penolakan dakwah bukan karena kurangnya bukti (karena mukjizat selalu ada), melainkan karena penyakit-penyakit hati berikut ini:Kesombongan: Merasa lebih tinggi status sosial, jabatan, atau lebih senior sehingga enggan merunduk di hadapan kebenaran.Taklid Buta: Fanatik buta terhadap kelompok, tokoh, atau tradisi nenek moyang tanpa mau menimbang dalil Al-Qur’an dan Sunnah.Cinta Dunia & Syahwat: Takut kehilangan kenyamanan dalam bermaksiat, kekuasaan, atau harta benda yang selama ini digenggam.Di akhir setiap kisah para Nabi dalam surat ini, Allah menyisipkan sebuah “kalimat kunci” yang sama sebagai peringatan bahwa bukti kekuasaan Allah sudah sangat nyata, namun hati yang tertutup tetap tidak akan melihatnya.Allah Ta’ala berfirman:إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً ۖ وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُم مُّؤْمِنِينَ“Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.”Ayat ini diulang-ulang oleh Allah setelah menceritakan kisah:Nabi Musa (QS. Asy-Syu’ara: 67)Nabi Ibrahim (QS. Asy-Syu’ara: 103)Nabi Nuh (QS. Asy-Syu’ara: 121)Nabi Hud (QS. Asy-Syu’ara: 139)Nabi Shalih (QS. Asy-Syu’ara: 158)Nabi Luth (QS. Asy-Syu’ara: 174)Nabi Syu’aib (QS. Asy-Syu’ara: 190)Ini menunjukkan bahwa sejarah akan selalu berulang. Tugas kita sebagai hamba adalah terus menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik, sembari memohon kepada Allah agar hati kita dijauhkan dari sifat-sifat kaum yang binasa tersebut. Nasihat PenutupPelajaran dari Surah Asy-Syu’ara menunjukkan bahwa penghalang terbesar hidayah bukanlah kurangnya dalil, tetapi hati yang tertutup oleh kesombongan, fanatisme, dan kecintaan berlebihan pada dunia. Sejarah umat terdahulu memperlihatkan bahwa manusia sering menolak kebenaran bukan karena tidak memahami, tetapi karena enggan meninggalkan kenyamanan yang sudah melekat dalam hidup mereka.Di zaman sekarang, bentuknya mungkin berbeda: ada yang menolak nasihat agama karena gengsi sosial, karena mengikuti tokoh populer, karena fanatik pada tradisi, atau karena takut kehilangan keuntungan dunia. Karena itu, setiap muslim perlu terus memeriksa hatinya agar tidak terjangkit penyakit yang sama seperti kaum-kaum terdahulu yang telah dibinasakan.Semoga Allah melembutkan hati kita untuk menerima kebenaran, meskipun datang dari orang yang lebih muda, lebih sederhana, atau dari arah yang tidak kita duga. Baca juga: Doa Meminta Hidayah dan Istiqamah di Atas Kebenaran Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Malam Senin, 20 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdakwah para nabi ibrah al quran juz 19 kisah nabi dalam quran pelajaran al-quran penyakit hati renungan ayat renungan quran sebab menolak kebenaran surah asy syuara tadabbur quran tafsir quran
Surah Asy-Syu’ara dalam Juz 19 menghadirkan kisah para nabi dengan pola yang hampir sama: dakwah tauhid disampaikan, namun ditolak oleh kaumnya dengan alasan yang berulang. Penolakan itu ternyata bukan karena kurangnya bukti atau mukjizat, tetapi karena penyakit hati yang menghalangi manusia menerima kebenaran. Dengan mempelajari alasan-alasan penolakan tersebut, kita bisa bercermin agar tidak terjatuh pada kesalahan yang sama di zaman modern ini. Berikut adalah 7 sebab utama penolakan dakwah para Nabi yang diabadikan dalam Juz 19, surah Asy-Syu’ara’: 1. Kisah Nabi Musa: Penolakan karena Senioritas (Ayat 18)Seringkali kebenaran ditolak hanya karena pembawanya dianggap “orang baru” atau dianggap memiliki utang budi di masa lalu. Firaun mencoba menjatuhkan mental Nabi Musa dengan mengungkit jasa pengasuhannya agar Musa merasa rendah diri.Allah Ta’ala berfirman,قَالَ أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا وَلَبِثْتَ فِينَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِينَ“Fir’aun menjawab: “Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu.” (QS. Asy-Syu’ara’: 18) Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Ketika Nabi Musa dan saudaranya datang kepada Fir‘aun lalu menyampaikan apa yang Allah perintahkan kepada mereka berdua, Fir‘aun tidak beriman dan tidak pula menjadi lunak hatinya. Bahkan ia justru menentang Musa.Ia berkata, “Bukankah kami telah memeliharamu di tengah-tengah kami sejak engkau masih bayi?” Maksudnya, bukankah kami telah memberikan berbagai kenikmatan kepadamu dan mengasuhmu sejak engkau masih bayi di dalam buaian, dan engkau terus berada dalam pemeliharaan kami.“Dan engkau tinggal bersama kami selama beberapa tahun dari umurmu.” Artinya, engkau hidup di tengah-tengah kami dalam waktu yang cukup lama dari masa hidupmu.Ibrah: Seringkali seseorang menolak kebenaran atau nasihat hanya karena merasa “lebih senior”, lebih tinggi jabatan, atau merasa telah berjasa kepada si pemberi nasihat. Mentalitas “Saya makan asam garam lebih dulu” atau “Kamu itu dulu saya yang bantu” sering menjadi penghalang masuknya hidayah dan kebenaran ke dalam hati. 2. Kisah Nabi Ibrahim: Belenggu Tradisi Nenek Moyang (Ayat 74)Penghalang hidayah yang paling klasik adalah fanatisme terhadap tradisi nenek moyang. Ketika akal sehat telah lumpuh oleh kebiasaan lama, dalil sekuat apa pun akan mental karena dianggap menyalahi “warisan leluhur”.Allah Ta’ala berfirman,قَالُوا۟ بَلْ وَجَدْنَآ ءَابَآءَنَا كَذَٰلِكَ يَفْعَلُونَ“Mereka menjawab: “(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 74)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Mereka pun berlindung dengan alasan mengikuti tradisi nenek moyang mereka yang sesat. Mereka berkata, “Kami mendapati nenek moyang kami melakukan hal seperti ini.” Maka kami pun mengikuti mereka dalam hal tersebut, menempuh jalan mereka, serta menjaga dan melestarikan kebiasaan mereka.Lalu Nabi Ibrahim berkata kepada mereka bahwa kalian dan nenek moyang kalian semuanya sama-sama menjadi pihak yang dipersalahkan dalam perkara ini. Pembicaraan dan bantahan yang beliau sampaikan berlaku untuk semuanya sekaligus.Ibrah: Masih banyak umat yang beragama hanya berdasarkan warisan luhur tanpa mau memeriksa dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah. Kalimat “Ini sudah tradisi kami” atau “Guru kami tidak pernah bilang begitu” seringkali menutup pintu diskusi ilmiah. Padahal, beragama yang selamat adalah yang berlandaskan argumen yang kuat, bukan sekadar ikut-ikutan mayoritas. 3. Kisah Nabi Nuh: Memandang Rendah Status Sosial (Ayat 111)Kesombongan sosial membuat banyak orang enggan menerima kebenaran jika pengikut dakwah tersebut adalah orang-orang miskin atau rakyat jelata. Mereka merasa harga dirinya jatuh jika harus duduk sejajar dengan orang yang dianggap “hina”.Allah Ta’ala berfirman,۞ قَالُوٓا۟ أَنُؤْمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلْأَرْذَلُونَ“Mereka berkata: “Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?“.” (QS. Asy-Syu’ara’: 111)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Mereka mengatakan hal itu sebagai penolakan terhadap dakwah Nabi Nuh dan sebagai bentuk bantahan yang sebenarnya tidak layak dijadikan alasan untuk menolak kebenaran. Mereka berkata, “Apakah kami akan beriman kepadamu, sementara yang mengikuti engkau hanyalah orang-orang yang rendah?” Maksudnya, bagaimana mungkin kami mengikuti engkau, sedangkan para pengikutmu hanyalah orang-orang dari kalangan bawah, yang mereka anggap sebagai orang-orang hina dan tidak terpandang.Dari ucapan ini tampak jelas kesombongan mereka terhadap kebenaran serta kebodohan mereka terhadap hakikat yang sebenarnya. Seandainya tujuan mereka benar-benar mencari kebenaran, tentu mereka akan berkata—jika memang memiliki keraguan terhadap dakwah Nabi Nuh—“Jelaskanlah kepada kami bukti kebenaran yang engkau bawa dengan cara-cara yang dapat menunjukkan kebenaran itu.”Jika mereka benar-benar mau merenung dengan sungguh-sungguh, niscaya mereka akan mengetahui bahwa para pengikut Nabi Nuh justru merupakan orang-orang yang mulia: manusia terbaik, yang memiliki akal yang lurus dan akhlak yang mulia. Sedangkan orang yang sebenarnya hina adalah orang yang kehilangan fungsi akalnya, lalu menganggap baik menyembah batu-batu, rela bersujud kepadanya, berdoa kepadanya, namun menolak untuk tunduk kepada dakwah para rasul yang sempurna.Sebenarnya, hanya dengan memperhatikan ucapan batil dari salah satu pihak yang berselisih, seseorang sudah dapat mengetahui rusaknya argumen yang mereka miliki, tanpa harus terlebih dahulu menilai kebenaran pihak lawannya. Maka ketika kita mendengar bahwa kaum Nabi Nuh berkata dalam menolak dakwah beliau, “Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikutimu hanyalah orang-orang yang rendah?”, dan mereka menjadikan alasan yang jelas-jelas rusak ini sebagai dasar penolakan mereka terhadap dakwah beliau, kita pun mengetahui bahwa mereka adalah kaum yang sesat dan keliru.Hal itu tetap jelas, sekalipun kita belum melihat berbagai mukjizat Nabi Nuh dan dakwah besar beliau yang menunjukkan dengan pasti kebenaran dan kejujuran beliau dalam menyampaikan risalah.Ibrah: Fenomena mengukur kebenaran dari “siapa pengikutnya” masih kental. Ada kecenderungan orang enggan mengaji atau bergabung dalam majelis ilmu tertentu hanya karena jamaahnya dianggap orang-orang kelas bawah, tidak modis, atau kurang bergengsi secara sosial. Kebenaran dinilai dari strata ekonomi, bukan dari substansi pesan yang disampaikan. 4. Kisah Nabi Hud: Tertipu oleh Kemewahan Fasilitas (Ayat 129)Kaum ‘Ad merasa bahwa kekuatan ekonomi dan kemegahan infrastruktur adalah bukti kesuksesan mutlak. Mereka merasa tidak butuh Tuhan karena merasa sudah bisa “menciptakan surga” sendiri di dunia dengan bangunan-bangunan mereka.Allah Ta’ala berfirman,وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُونَ“Dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)?” (QS. Asy-Syu’ara’: 129)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Artinya, kalian membuat berbagai bangunan besar, seperti kolam-kolam penampungan air dan tempat-tempat penyimpanan untuk kebutuhan hidup.“agar kalian dapat hidup kekal“, maksudnya, seakan-akan dengan semua itu kalian berharap dapat hidup kekal di dunia ini, padahal tidak ada seorang pun yang memiliki jalan untuk hidup kekal selamanya.Ibrah: Di era kapitalisme ini, banyak yang merasa bahwa kesuksesan finansial dan pembangunan fisik (rumah mewah, kendaraan, teknologi) adalah tanda bahwa gaya hidup mereka sudah benar. Mereka merasa “aman” dan tidak butuh peringatan agama karena merasa dunia sudah berada di genggaman mereka, persis seperti kaum ‘Ad yang merasa kekal dengan bangunan-bangunannya. 5. Kisah Nabi Shalih: Fanatik kepada Pemimpin yang Salah (Ayat 151-152)Banyak kaum yang binasa bukan karena mereka tidak tahu kebenaran, tapi karena mereka lebih memilih loyal kepada pemimpin atau tokoh masyarakat yang mengajak pada kerusakan (maksiat) daripada mengikuti ajakan perbaikan.Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُطِيعُوٓا۟ أَمْرَ ٱلْمُسْرِفِينَٱلَّذِينَ يُفْسِدُونَ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ“Dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas, yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 151-152)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.“Dan janganlah kalian menaati perintah orang-orang yang melampaui batas.”Maksudnya, janganlah kalian mengikuti perintah orang-orang yang melampaui batas, yaitu mereka yang telah melewati batas yang benar.“(Yaitu) orang-orang yang membuat kerusakan di bumi dan tidak melakukan perbaikan.”Maksudnya, mereka adalah orang-orang yang sifat dan kebiasaannya membuat kerusakan di bumi dengan melakukan berbagai kemaksiatan serta mengajak orang lain kepada kemaksiatan tersebut. Kerusakan yang mereka lakukan sama sekali tidak mengandung unsur perbaikan.Inilah bentuk kerusakan yang paling berbahaya, karena merupakan keburukan yang murni. Seolah-olah ada sekelompok orang yang siap menentang nabi mereka dan ditempatkan untuk mengajak manusia kepada jalan kesesatan. Oleh karena itu, Nabi Shalih melarang kaumnya agar tidak tertipu oleh mereka.Kemungkinan mereka adalah orang-orang yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya:وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ“Dan di kota itu ada sembilan orang yang membuat kerusakan di bumi dan tidak melakukan perbaikan.” (QS. An-Naml: 48)Namun, nasihat dan larangan ini ternyata tidak memberikan pengaruh apa pun kepada mereka.Ibrah: Kita sering melihat masyarakat yang lebih patuh kepada tokoh publik atau influencer yang gaya hidupnya merusak moral (maksiat) daripada kepada nasihat ulama. Narasi yang dibawa para perusak ini sering dianggap lebih “keren” atau “modern”, sehingga banyak orang terjerumus dalam kerusakan kolektif karena mengikuti figur yang salah. 6. Kisah Nabi Luth: Pembelaan atas Nama Kebebasan Syahwat (Ayat 165-166)Ketika nafsu sudah menjadi tuhan, maka ajakan untuk kembali kepada fitrah akan dianggap sebagai ancaman. Kaum Nabi Luth menolak kebenaran karena mereka tidak ingin kesenangan menyimpangnya diganggu oleh aturan agama.Allah Ta’ala berfirman,أَتَأْتُونَ ٱلذُّكْرَانَ مِنَ ٱلْعَٰلَمِينَوَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُم مِّنْ أَزْوَٰجِكُم ۚ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ“Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 165-166)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Nabi Luth berkata kepada kaumnya, sementara mereka menjawab dengan perkataan yang sama seperti orang-orang sebelum mereka. Hati mereka serupa dalam kekafiran, sehingga ucapan mereka pun serupa.Selain melakukan kesyirikan, mereka juga melakukan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh siapa pun sebelumnya di antara manusia. Mereka memilih berhubungan dengan sesama laki-laki—perbuatan yang kotor dan sangat tercela—serta berpaling dari pasangan yang Allah ciptakan untuk mereka dari kalangan wanita. Hal itu terjadi karena sikap berlebih-lebihan dan permusuhan mereka.Nabi Luth terus-menerus melarang mereka dari perbuatan tersebut, hingga mereka berkata:قَالُوا۟ لَئِن لَّمْ تَنتَهِ يَٰلُوطُ لَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْمُخْرَجِينَ“Mereka menjawab: “Hai Luth, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, benar-benar kamu termasuk orang-orang yang diusir.” (QS. Asy-Syu’ara’: 167)Maksudnya, mereka mengancam akan mengusir Nabi Luth dari negeri mereka.Ketika Nabi Luth melihat mereka terus-menerus melakukan perbuatan itu, beliau berkata:قَالَ إِنِّى لِعَمَلِكُم مِّنَ ٱلْقَالِينَ“Luth berkata: “Sesungguhnya aku sangat benci kepada perbuatanmu”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 168)Artinya, beliau sangat membenci perbuatan tersebut, melarangnya, dan memperingatkan manusia darinya.Ibrah: Tantangan ini sangat nyata dengan maraknya gerakan yang melegalkan penyimpangan seksual atas nama hak asasi atau kebebasan berekspresi. Dakwah yang mengajak pada fitrah dan kesucian sering dianggap kolot, “homofobik”, atau melanggar privasi, karena nafsu telah dijadikan standar kebenaran utama di atas syariat. 7. Kisah Nabi Syu’aib: Kerakusan dalam Bisnis dan Ekonomi (Ayat 181)Penyakit ekonomi berupa kecurangan dalam timbangan dan takaran menjadi sebab utama penolakan dakwah Nabi Syu’aib. Bagi mereka, kejujuran dalam berbisnis dianggap sebagai penghalang untuk meraih keuntungan maksimal.Allah Ta’ala berfirman,۞ أَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ وَلَا تَكُونُوا۟ مِنَ ٱلْمُخْسِرِينَ“Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan.” (QS. Asy-Syu’ara’: 181)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Kaum tersebut—di samping melakukan kesyirikan—juga mengurangi takaran dan timbangan. Oleh karena itu Nabi Syu‘aib berkata kepada mereka: sempurnakanlah takaran itu, penuhilah dan lengkapilah sebagaimana mestinya.Janganlah kalian menjadi orang-orang yang merugikan orang lain, yaitu mereka yang mengurangi harta manusia dan merampasnya dengan cara mengurangi takaran dan timbangan.Ibrah: Dalam dunia bisnis modern, praktik curang seperti manipulasi timbangan digital, penipuan deskripsi produk di toko online, hingga skema investasi bodong masih merajalela. Ajakan untuk berbisnis secara syar’i sering ditolak dengan alasan “Kalau jujur, nanti tidak untung” atau “Semua orang juga melakukan cara yang sama”. Mengapa Hidayah Terhalang?Inti dari pembahasan ini adalah bahwa penolakan dakwah bukan karena kurangnya bukti (karena mukjizat selalu ada), melainkan karena penyakit-penyakit hati berikut ini:Kesombongan: Merasa lebih tinggi status sosial, jabatan, atau lebih senior sehingga enggan merunduk di hadapan kebenaran.Taklid Buta: Fanatik buta terhadap kelompok, tokoh, atau tradisi nenek moyang tanpa mau menimbang dalil Al-Qur’an dan Sunnah.Cinta Dunia & Syahwat: Takut kehilangan kenyamanan dalam bermaksiat, kekuasaan, atau harta benda yang selama ini digenggam.Di akhir setiap kisah para Nabi dalam surat ini, Allah menyisipkan sebuah “kalimat kunci” yang sama sebagai peringatan bahwa bukti kekuasaan Allah sudah sangat nyata, namun hati yang tertutup tetap tidak akan melihatnya.Allah Ta’ala berfirman:إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً ۖ وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُم مُّؤْمِنِينَ“Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.”Ayat ini diulang-ulang oleh Allah setelah menceritakan kisah:Nabi Musa (QS. Asy-Syu’ara: 67)Nabi Ibrahim (QS. Asy-Syu’ara: 103)Nabi Nuh (QS. Asy-Syu’ara: 121)Nabi Hud (QS. Asy-Syu’ara: 139)Nabi Shalih (QS. Asy-Syu’ara: 158)Nabi Luth (QS. Asy-Syu’ara: 174)Nabi Syu’aib (QS. Asy-Syu’ara: 190)Ini menunjukkan bahwa sejarah akan selalu berulang. Tugas kita sebagai hamba adalah terus menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik, sembari memohon kepada Allah agar hati kita dijauhkan dari sifat-sifat kaum yang binasa tersebut. Nasihat PenutupPelajaran dari Surah Asy-Syu’ara menunjukkan bahwa penghalang terbesar hidayah bukanlah kurangnya dalil, tetapi hati yang tertutup oleh kesombongan, fanatisme, dan kecintaan berlebihan pada dunia. Sejarah umat terdahulu memperlihatkan bahwa manusia sering menolak kebenaran bukan karena tidak memahami, tetapi karena enggan meninggalkan kenyamanan yang sudah melekat dalam hidup mereka.Di zaman sekarang, bentuknya mungkin berbeda: ada yang menolak nasihat agama karena gengsi sosial, karena mengikuti tokoh populer, karena fanatik pada tradisi, atau karena takut kehilangan keuntungan dunia. Karena itu, setiap muslim perlu terus memeriksa hatinya agar tidak terjangkit penyakit yang sama seperti kaum-kaum terdahulu yang telah dibinasakan.Semoga Allah melembutkan hati kita untuk menerima kebenaran, meskipun datang dari orang yang lebih muda, lebih sederhana, atau dari arah yang tidak kita duga. Baca juga: Doa Meminta Hidayah dan Istiqamah di Atas Kebenaran Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Malam Senin, 20 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdakwah para nabi ibrah al quran juz 19 kisah nabi dalam quran pelajaran al-quran penyakit hati renungan ayat renungan quran sebab menolak kebenaran surah asy syuara tadabbur quran tafsir quran


Surah Asy-Syu’ara dalam Juz 19 menghadirkan kisah para nabi dengan pola yang hampir sama: dakwah tauhid disampaikan, namun ditolak oleh kaumnya dengan alasan yang berulang. Penolakan itu ternyata bukan karena kurangnya bukti atau mukjizat, tetapi karena penyakit hati yang menghalangi manusia menerima kebenaran. Dengan mempelajari alasan-alasan penolakan tersebut, kita bisa bercermin agar tidak terjatuh pada kesalahan yang sama di zaman modern ini. Berikut adalah 7 sebab utama penolakan dakwah para Nabi yang diabadikan dalam Juz 19, surah Asy-Syu’ara’: 1. Kisah Nabi Musa: Penolakan karena Senioritas (Ayat 18)Seringkali kebenaran ditolak hanya karena pembawanya dianggap “orang baru” atau dianggap memiliki utang budi di masa lalu. Firaun mencoba menjatuhkan mental Nabi Musa dengan mengungkit jasa pengasuhannya agar Musa merasa rendah diri.Allah Ta’ala berfirman,قَالَ أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا وَلَبِثْتَ فِينَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِينَ“Fir’aun menjawab: “Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu.” (QS. Asy-Syu’ara’: 18) Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Ketika Nabi Musa dan saudaranya datang kepada Fir‘aun lalu menyampaikan apa yang Allah perintahkan kepada mereka berdua, Fir‘aun tidak beriman dan tidak pula menjadi lunak hatinya. Bahkan ia justru menentang Musa.Ia berkata, “Bukankah kami telah memeliharamu di tengah-tengah kami sejak engkau masih bayi?” Maksudnya, bukankah kami telah memberikan berbagai kenikmatan kepadamu dan mengasuhmu sejak engkau masih bayi di dalam buaian, dan engkau terus berada dalam pemeliharaan kami.“Dan engkau tinggal bersama kami selama beberapa tahun dari umurmu.” Artinya, engkau hidup di tengah-tengah kami dalam waktu yang cukup lama dari masa hidupmu.Ibrah: Seringkali seseorang menolak kebenaran atau nasihat hanya karena merasa “lebih senior”, lebih tinggi jabatan, atau merasa telah berjasa kepada si pemberi nasihat. Mentalitas “Saya makan asam garam lebih dulu” atau “Kamu itu dulu saya yang bantu” sering menjadi penghalang masuknya hidayah dan kebenaran ke dalam hati. 2. Kisah Nabi Ibrahim: Belenggu Tradisi Nenek Moyang (Ayat 74)Penghalang hidayah yang paling klasik adalah fanatisme terhadap tradisi nenek moyang. Ketika akal sehat telah lumpuh oleh kebiasaan lama, dalil sekuat apa pun akan mental karena dianggap menyalahi “warisan leluhur”.Allah Ta’ala berfirman,قَالُوا۟ بَلْ وَجَدْنَآ ءَابَآءَنَا كَذَٰلِكَ يَفْعَلُونَ“Mereka menjawab: “(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 74)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Mereka pun berlindung dengan alasan mengikuti tradisi nenek moyang mereka yang sesat. Mereka berkata, “Kami mendapati nenek moyang kami melakukan hal seperti ini.” Maka kami pun mengikuti mereka dalam hal tersebut, menempuh jalan mereka, serta menjaga dan melestarikan kebiasaan mereka.Lalu Nabi Ibrahim berkata kepada mereka bahwa kalian dan nenek moyang kalian semuanya sama-sama menjadi pihak yang dipersalahkan dalam perkara ini. Pembicaraan dan bantahan yang beliau sampaikan berlaku untuk semuanya sekaligus.Ibrah: Masih banyak umat yang beragama hanya berdasarkan warisan luhur tanpa mau memeriksa dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah. Kalimat “Ini sudah tradisi kami” atau “Guru kami tidak pernah bilang begitu” seringkali menutup pintu diskusi ilmiah. Padahal, beragama yang selamat adalah yang berlandaskan argumen yang kuat, bukan sekadar ikut-ikutan mayoritas. 3. Kisah Nabi Nuh: Memandang Rendah Status Sosial (Ayat 111)Kesombongan sosial membuat banyak orang enggan menerima kebenaran jika pengikut dakwah tersebut adalah orang-orang miskin atau rakyat jelata. Mereka merasa harga dirinya jatuh jika harus duduk sejajar dengan orang yang dianggap “hina”.Allah Ta’ala berfirman,۞ قَالُوٓا۟ أَنُؤْمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلْأَرْذَلُونَ“Mereka berkata: “Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?“.” (QS. Asy-Syu’ara’: 111)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Mereka mengatakan hal itu sebagai penolakan terhadap dakwah Nabi Nuh dan sebagai bentuk bantahan yang sebenarnya tidak layak dijadikan alasan untuk menolak kebenaran. Mereka berkata, “Apakah kami akan beriman kepadamu, sementara yang mengikuti engkau hanyalah orang-orang yang rendah?” Maksudnya, bagaimana mungkin kami mengikuti engkau, sedangkan para pengikutmu hanyalah orang-orang dari kalangan bawah, yang mereka anggap sebagai orang-orang hina dan tidak terpandang.Dari ucapan ini tampak jelas kesombongan mereka terhadap kebenaran serta kebodohan mereka terhadap hakikat yang sebenarnya. Seandainya tujuan mereka benar-benar mencari kebenaran, tentu mereka akan berkata—jika memang memiliki keraguan terhadap dakwah Nabi Nuh—“Jelaskanlah kepada kami bukti kebenaran yang engkau bawa dengan cara-cara yang dapat menunjukkan kebenaran itu.”Jika mereka benar-benar mau merenung dengan sungguh-sungguh, niscaya mereka akan mengetahui bahwa para pengikut Nabi Nuh justru merupakan orang-orang yang mulia: manusia terbaik, yang memiliki akal yang lurus dan akhlak yang mulia. Sedangkan orang yang sebenarnya hina adalah orang yang kehilangan fungsi akalnya, lalu menganggap baik menyembah batu-batu, rela bersujud kepadanya, berdoa kepadanya, namun menolak untuk tunduk kepada dakwah para rasul yang sempurna.Sebenarnya, hanya dengan memperhatikan ucapan batil dari salah satu pihak yang berselisih, seseorang sudah dapat mengetahui rusaknya argumen yang mereka miliki, tanpa harus terlebih dahulu menilai kebenaran pihak lawannya. Maka ketika kita mendengar bahwa kaum Nabi Nuh berkata dalam menolak dakwah beliau, “Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikutimu hanyalah orang-orang yang rendah?”, dan mereka menjadikan alasan yang jelas-jelas rusak ini sebagai dasar penolakan mereka terhadap dakwah beliau, kita pun mengetahui bahwa mereka adalah kaum yang sesat dan keliru.Hal itu tetap jelas, sekalipun kita belum melihat berbagai mukjizat Nabi Nuh dan dakwah besar beliau yang menunjukkan dengan pasti kebenaran dan kejujuran beliau dalam menyampaikan risalah.Ibrah: Fenomena mengukur kebenaran dari “siapa pengikutnya” masih kental. Ada kecenderungan orang enggan mengaji atau bergabung dalam majelis ilmu tertentu hanya karena jamaahnya dianggap orang-orang kelas bawah, tidak modis, atau kurang bergengsi secara sosial. Kebenaran dinilai dari strata ekonomi, bukan dari substansi pesan yang disampaikan. 4. Kisah Nabi Hud: Tertipu oleh Kemewahan Fasilitas (Ayat 129)Kaum ‘Ad merasa bahwa kekuatan ekonomi dan kemegahan infrastruktur adalah bukti kesuksesan mutlak. Mereka merasa tidak butuh Tuhan karena merasa sudah bisa “menciptakan surga” sendiri di dunia dengan bangunan-bangunan mereka.Allah Ta’ala berfirman,وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُونَ“Dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)?” (QS. Asy-Syu’ara’: 129)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Artinya, kalian membuat berbagai bangunan besar, seperti kolam-kolam penampungan air dan tempat-tempat penyimpanan untuk kebutuhan hidup.“agar kalian dapat hidup kekal“, maksudnya, seakan-akan dengan semua itu kalian berharap dapat hidup kekal di dunia ini, padahal tidak ada seorang pun yang memiliki jalan untuk hidup kekal selamanya.Ibrah: Di era kapitalisme ini, banyak yang merasa bahwa kesuksesan finansial dan pembangunan fisik (rumah mewah, kendaraan, teknologi) adalah tanda bahwa gaya hidup mereka sudah benar. Mereka merasa “aman” dan tidak butuh peringatan agama karena merasa dunia sudah berada di genggaman mereka, persis seperti kaum ‘Ad yang merasa kekal dengan bangunan-bangunannya. 5. Kisah Nabi Shalih: Fanatik kepada Pemimpin yang Salah (Ayat 151-152)Banyak kaum yang binasa bukan karena mereka tidak tahu kebenaran, tapi karena mereka lebih memilih loyal kepada pemimpin atau tokoh masyarakat yang mengajak pada kerusakan (maksiat) daripada mengikuti ajakan perbaikan.Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُطِيعُوٓا۟ أَمْرَ ٱلْمُسْرِفِينَٱلَّذِينَ يُفْسِدُونَ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ“Dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas, yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 151-152)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.“Dan janganlah kalian menaati perintah orang-orang yang melampaui batas.”Maksudnya, janganlah kalian mengikuti perintah orang-orang yang melampaui batas, yaitu mereka yang telah melewati batas yang benar.“(Yaitu) orang-orang yang membuat kerusakan di bumi dan tidak melakukan perbaikan.”Maksudnya, mereka adalah orang-orang yang sifat dan kebiasaannya membuat kerusakan di bumi dengan melakukan berbagai kemaksiatan serta mengajak orang lain kepada kemaksiatan tersebut. Kerusakan yang mereka lakukan sama sekali tidak mengandung unsur perbaikan.Inilah bentuk kerusakan yang paling berbahaya, karena merupakan keburukan yang murni. Seolah-olah ada sekelompok orang yang siap menentang nabi mereka dan ditempatkan untuk mengajak manusia kepada jalan kesesatan. Oleh karena itu, Nabi Shalih melarang kaumnya agar tidak tertipu oleh mereka.Kemungkinan mereka adalah orang-orang yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya:وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ“Dan di kota itu ada sembilan orang yang membuat kerusakan di bumi dan tidak melakukan perbaikan.” (QS. An-Naml: 48)Namun, nasihat dan larangan ini ternyata tidak memberikan pengaruh apa pun kepada mereka.Ibrah: Kita sering melihat masyarakat yang lebih patuh kepada tokoh publik atau influencer yang gaya hidupnya merusak moral (maksiat) daripada kepada nasihat ulama. Narasi yang dibawa para perusak ini sering dianggap lebih “keren” atau “modern”, sehingga banyak orang terjerumus dalam kerusakan kolektif karena mengikuti figur yang salah. 6. Kisah Nabi Luth: Pembelaan atas Nama Kebebasan Syahwat (Ayat 165-166)Ketika nafsu sudah menjadi tuhan, maka ajakan untuk kembali kepada fitrah akan dianggap sebagai ancaman. Kaum Nabi Luth menolak kebenaran karena mereka tidak ingin kesenangan menyimpangnya diganggu oleh aturan agama.Allah Ta’ala berfirman,أَتَأْتُونَ ٱلذُّكْرَانَ مِنَ ٱلْعَٰلَمِينَوَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُم مِّنْ أَزْوَٰجِكُم ۚ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ“Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 165-166)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Nabi Luth berkata kepada kaumnya, sementara mereka menjawab dengan perkataan yang sama seperti orang-orang sebelum mereka. Hati mereka serupa dalam kekafiran, sehingga ucapan mereka pun serupa.Selain melakukan kesyirikan, mereka juga melakukan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh siapa pun sebelumnya di antara manusia. Mereka memilih berhubungan dengan sesama laki-laki—perbuatan yang kotor dan sangat tercela—serta berpaling dari pasangan yang Allah ciptakan untuk mereka dari kalangan wanita. Hal itu terjadi karena sikap berlebih-lebihan dan permusuhan mereka.Nabi Luth terus-menerus melarang mereka dari perbuatan tersebut, hingga mereka berkata:قَالُوا۟ لَئِن لَّمْ تَنتَهِ يَٰلُوطُ لَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْمُخْرَجِينَ“Mereka menjawab: “Hai Luth, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, benar-benar kamu termasuk orang-orang yang diusir.” (QS. Asy-Syu’ara’: 167)Maksudnya, mereka mengancam akan mengusir Nabi Luth dari negeri mereka.Ketika Nabi Luth melihat mereka terus-menerus melakukan perbuatan itu, beliau berkata:قَالَ إِنِّى لِعَمَلِكُم مِّنَ ٱلْقَالِينَ“Luth berkata: “Sesungguhnya aku sangat benci kepada perbuatanmu”.” (QS. Asy-Syu’ara’: 168)Artinya, beliau sangat membenci perbuatan tersebut, melarangnya, dan memperingatkan manusia darinya.Ibrah: Tantangan ini sangat nyata dengan maraknya gerakan yang melegalkan penyimpangan seksual atas nama hak asasi atau kebebasan berekspresi. Dakwah yang mengajak pada fitrah dan kesucian sering dianggap kolot, “homofobik”, atau melanggar privasi, karena nafsu telah dijadikan standar kebenaran utama di atas syariat. 7. Kisah Nabi Syu’aib: Kerakusan dalam Bisnis dan Ekonomi (Ayat 181)Penyakit ekonomi berupa kecurangan dalam timbangan dan takaran menjadi sebab utama penolakan dakwah Nabi Syu’aib. Bagi mereka, kejujuran dalam berbisnis dianggap sebagai penghalang untuk meraih keuntungan maksimal.Allah Ta’ala berfirman,۞ أَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ وَلَا تَكُونُوا۟ مِنَ ٱلْمُخْسِرِينَ“Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan.” (QS. Asy-Syu’ara’: 181)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Kaum tersebut—di samping melakukan kesyirikan—juga mengurangi takaran dan timbangan. Oleh karena itu Nabi Syu‘aib berkata kepada mereka: sempurnakanlah takaran itu, penuhilah dan lengkapilah sebagaimana mestinya.Janganlah kalian menjadi orang-orang yang merugikan orang lain, yaitu mereka yang mengurangi harta manusia dan merampasnya dengan cara mengurangi takaran dan timbangan.Ibrah: Dalam dunia bisnis modern, praktik curang seperti manipulasi timbangan digital, penipuan deskripsi produk di toko online, hingga skema investasi bodong masih merajalela. Ajakan untuk berbisnis secara syar’i sering ditolak dengan alasan “Kalau jujur, nanti tidak untung” atau “Semua orang juga melakukan cara yang sama”. Mengapa Hidayah Terhalang?Inti dari pembahasan ini adalah bahwa penolakan dakwah bukan karena kurangnya bukti (karena mukjizat selalu ada), melainkan karena penyakit-penyakit hati berikut ini:Kesombongan: Merasa lebih tinggi status sosial, jabatan, atau lebih senior sehingga enggan merunduk di hadapan kebenaran.Taklid Buta: Fanatik buta terhadap kelompok, tokoh, atau tradisi nenek moyang tanpa mau menimbang dalil Al-Qur’an dan Sunnah.Cinta Dunia & Syahwat: Takut kehilangan kenyamanan dalam bermaksiat, kekuasaan, atau harta benda yang selama ini digenggam.Di akhir setiap kisah para Nabi dalam surat ini, Allah menyisipkan sebuah “kalimat kunci” yang sama sebagai peringatan bahwa bukti kekuasaan Allah sudah sangat nyata, namun hati yang tertutup tetap tidak akan melihatnya.Allah Ta’ala berfirman:إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً ۖ وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُم مُّؤْمِنِينَ“Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.”Ayat ini diulang-ulang oleh Allah setelah menceritakan kisah:Nabi Musa (QS. Asy-Syu’ara: 67)Nabi Ibrahim (QS. Asy-Syu’ara: 103)Nabi Nuh (QS. Asy-Syu’ara: 121)Nabi Hud (QS. Asy-Syu’ara: 139)Nabi Shalih (QS. Asy-Syu’ara: 158)Nabi Luth (QS. Asy-Syu’ara: 174)Nabi Syu’aib (QS. Asy-Syu’ara: 190)Ini menunjukkan bahwa sejarah akan selalu berulang. Tugas kita sebagai hamba adalah terus menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik, sembari memohon kepada Allah agar hati kita dijauhkan dari sifat-sifat kaum yang binasa tersebut. Nasihat PenutupPelajaran dari Surah Asy-Syu’ara menunjukkan bahwa penghalang terbesar hidayah bukanlah kurangnya dalil, tetapi hati yang tertutup oleh kesombongan, fanatisme, dan kecintaan berlebihan pada dunia. Sejarah umat terdahulu memperlihatkan bahwa manusia sering menolak kebenaran bukan karena tidak memahami, tetapi karena enggan meninggalkan kenyamanan yang sudah melekat dalam hidup mereka.Di zaman sekarang, bentuknya mungkin berbeda: ada yang menolak nasihat agama karena gengsi sosial, karena mengikuti tokoh populer, karena fanatik pada tradisi, atau karena takut kehilangan keuntungan dunia. Karena itu, setiap muslim perlu terus memeriksa hatinya agar tidak terjangkit penyakit yang sama seperti kaum-kaum terdahulu yang telah dibinasakan.Semoga Allah melembutkan hati kita untuk menerima kebenaran, meskipun datang dari orang yang lebih muda, lebih sederhana, atau dari arah yang tidak kita duga. Baca juga: Doa Meminta Hidayah dan Istiqamah di Atas Kebenaran Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Malam Senin, 20 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdakwah para nabi ibrah al quran juz 19 kisah nabi dalam quran pelajaran al-quran penyakit hati renungan ayat renungan quran sebab menolak kebenaran surah asy syuara tadabbur quran tafsir quran

Tafsir Surah Al-Muthaffifin: Ancaman Keras bagi Orang yang Curang dalam Timbangan

Curang dalam takaran dan timbangan mungkin terlihat sepele di mata manusia, tetapi sangat besar dosanya di sisi Allah. Surah Al-Muthaffifin dibuka dengan ancaman keras bagi orang-orang yang mengambil haknya secara penuh, namun mengurangi hak orang lain. Ayat-ayat ini mengajarkan keadilan, kejujuran, dan sikap adil bukan hanya dalam muamalah, tetapi juga dalam setiap urusan kehidupan.  Daftar Isi tutup 1. Ayat Pertama – Ketiga 1.1. Contoh praktik kecurangan dalam bisnis saat ini 2. Ayat Keempat – Keenam 2.1. Beratnya Hari Kiamat 2.2. Doa yang Patut Dihafalkan agar Selamat dari Sempitnya Dunia dan Hari Kiamat 3. Ayat Ketujuh – Kedua Belas 4. Al-Fujjar dan Sijjin 5. Ayat Ketiga Belas – Kelima Belas 5.1. Raan yang Menutupi Hati 6. Ayat Keenam Belas – Ketujuh Belas 7. Melihat Allah di Akhirat adalah Nikmat paling Tinggi 8. Ayat Kedelapan Belas – Kedua Puluh Delapan 9. Al-Abrar dan ‘Illiyyin 10. Ayat Kedua Puluh Sembilan – Ketiga Puluh Dua 11. Ayat Ketiga Puluh Tiga – Ketiga Puluh Enam 12. Catatan: Perbedaan antara ‘Iliyyin dan Sijjin  Ayat Pertama – KetigaAllah Ta’ala berfirman,وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang.” (QS. Al-Muthaffifin: 1)ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكْتَالُوا۟ عَلَى ٱلنَّاسِ يَسْتَوْفُونَ“(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi.” (QS. Al-Muthaffifin: 2) وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ“dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al-Muthaffifin: 3)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:“Wailun” adalah kata yang menunjukkan azab dan ancaman keras.“Lil muthoffifin” yaitu bagi orang-orang yang berbuat curang dalam takaran dan timbangan.“(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi.”Allah menjelaskan siapa yang dimaksud dengan orang-orang yang curang itu melalui firman-Nya:yaitu orang-orang yang apabila mereka mengambil takaran dari orang lain untuk hak yang menjadi milik mereka minta dipenuhi, mereka meminta dan mengambilnya secara penuh tanpa ada kekurangan sedikit pun.Sedangkan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, yakni ketika mereka harus memberikan hak orang lain yang menjadi tanggungan mereka melalui takaran atau timbangan, mereka mengurangi hak tersebut. Pengurangan itu bisa dengan menggunakan takaran atau timbangan yang kurang, atau tidak memenuhi takaran dan timbangan sebagaimana mestinya, atau dengan cara lain yang serupa.Perbuatan seperti ini termasuk mencuri harta orang lain dan tidak berlaku adil terhadap mereka.Apabila ancaman ini ditujukan kepada orang-orang yang mengurangi hak orang lain dalam takaran dan timbangan, maka orang yang merampas harta orang lain dengan paksa atau mencurinya secara terang-terangan, lebih pantas lagi mendapatkan ancaman tersebut daripada sekadar orang yang curang dalam takaran.Ayat yang mulia ini juga menunjukkan bahwa sebagaimana seseorang berhak mengambil dari orang lain apa yang menjadi haknya, maka ia juga wajib memberikan kepada orang lain seluruh hak mereka, baik dalam harta maupun dalam berbagai bentuk muamalah. Bahkan makna ini mencakup pula dalam perdebatan dan penyampaian pendapat. Sebagaimana lazimnya dua orang yang berdebat masing-masing berusaha mempertahankan dalil yang menguntungkan dirinya, maka ia juga wajib menjelaskan dalil yang menjadi hak lawannya yang mungkin belum diketahui. Ia harus menimbang dan memperhatikan dalil lawannya sebagaimana ia menimbang dalilnya sendiri. Pada titik inilah akan tampak apakah seseorang itu adil atau fanatik dan memaksakan diri, apakah ia rendah hati atau sombong, serta apakah ia berakal atau bodoh. Kita memohon kepada Allah taufik untuk meraih segala kebaikan. Contoh praktik kecurangan dalam bisnis saat ini1. Spesifikasi Tidak Sesuai IklanMenjual produk dengan klaim kualitas tertentu (misalnya bahan premium, asli, organik), padahal kenyataannya kualitas di bawah standar yang dijanjikan.2. Manipulasi Berat Bersih (Netto)Mencantumkan berat bersih 1 kg, tetapi setelah ditimbang ulang ternyata kurang dari itu. Ini termasuk bentuk pengurangan takaran modern.3. Mengurangi Kualitas JasaDalam bisnis jasa, menerima pembayaran penuh tetapi layanan tidak diberikan sesuai kesepakatan, misalnya jam kerja dikurangi atau hasil kerja tidak sesuai kontrak.4. Markup Biaya Tanpa TransparansiMenambahkan biaya tersembunyi saat pembayaran (admin fee, service charge, biaya tambahan yang tidak dijelaskan di awal).5. Memanfaatkan Ketidaktahuan KonsumenMenjual barang dengan harga jauh di atas standar pasar kepada orang yang tidak memahami harga sebenarnya.6. Kecurangan dalam Laporan KeuanganMengurangi hak mitra, investor, atau karyawan dengan memanipulasi data laba dan pembagian hasil.7. Mengurangi Hak KaryawanMeminta kinerja penuh, tetapi gaji atau hak lembur tidak dibayarkan sesuai kesepakatan. Ayat Keempat – KeenamAllah Ta’ala berfirman,أَلَا يَظُنُّ أُو۟لَٰٓئِكَ أَنَّهُم مَّبْعُوثُونَ“Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan.” (QS. Al-Muthaffifin: 4)لِيَوْمٍ عَظِيمٍ“pada suatu hari yang besar.” (QS. Al-Muthaffifin: 5)يَوْمَ يَقُومُ ٱلنَّاسُ لِرَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ“(yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?” (QS. Al-Muthaffifin: 6)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Kemudian Allah Ta’ala mengancam orang-orang yang curang dalam takaran dan timbangan. Allah juga menunjukkan keheranan terhadap keadaan mereka yang terus-menerus melakukan perbuatan itu. Allah berfirman dengan nada peringatan, “Tidakkah mereka menyangka bahwa mereka akan dibangkitkan pada hari yang sangat besar, yaitu hari ketika seluruh manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam?”Yang membuat mereka berani berbuat curang adalah karena mereka tidak beriman kepada hari akhir. Seandainya mereka benar-benar beriman dan menyadari bahwa kelak mereka akan berdiri di hadapan Allah, lalu dihisab atas segala sesuatu—baik yang kecil maupun yang besar—tentu mereka akan berhenti dari perbuatan tersebut dan segera bertobat darinya. Beratnya Hari KiamatImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam kitab tafsirnya mengenai surah Al-Muthaffifin ayat keenam.Maksudnya, pada hari itu manusia berdiri dalam keadaan tanpa alas kaki, tanpa pakaian, dan belum dikhitan, di suatu tempat yang sangat sulit, sempit, dan penuh kesusahan. Tempat itu terasa sangat berat bagi orang-orang yang berdosa. Mereka diliputi oleh kedahsyatan urusan Allah yang tidak sanggup ditanggung oleh kekuatan dan pancaindra manusia.Imam Malik meriwayatkan dari Nafi’, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang firman Allah: (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?“Hingga salah seorang dari mereka tenggelam dalam keringatnya sampai setengah telinganya.”Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari melalui jalur Malik dan Abdullah bin ‘Aun, keduanya dari Nafi’. Juga diriwayatkan oleh Muslim melalui dua jalur tersebut. Demikian pula diriwayatkan oleh Shalih, Tsabit bin Kaisan, Ayyub bin Yahya, Abdullah dan Ubaidullah—keduanya putra Umar—serta Muhammad bin Ishaq, semuanya dari Nafi’, dari Ibnu Umar.Dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan: Yazid menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Ishaq mengabarkan kepada kami dari Nafi’, dari Ibnu Umar, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang firman Allah: (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?“Karena keagungan Ar-Rahman ‘Azza wa Jalla pada hari Kiamat, hingga keringat benar-benar mengekang manusia sampai setengah telinga mereka.”Dalam hadis lain, Imam Ahmad meriwayatkan: Ibrahim bin Ishaq menceritakan kepada kami, Ibnu Al-Mubarak menceritakan kepada kami dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir, ia berkata: Sulaim bin ‘Amir menceritakan kepadaku, Al-Miqdad—yakni Ibnu Al-Aswad Al-Kindi—berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Apabila hari Kiamat terjadi, matahari didekatkan kepada para hamba hingga jaraknya sekitar satu mil atau dua mil.”Beliau bersabda, “Maka matahari itu membakar mereka, sehingga mereka tenggelam dalam keringat sesuai dengan kadar amal mereka. Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kaki, ada yang sampai kedua lutut, ada yang sampai pinggangnya, dan ada yang benar-benar dikekang oleh keringatnya.”Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim melalui jalur Al-Hakam bin Musa dari Yahya bin Hamzah, dan oleh At-Tirmidzi melalui Suwaid dari Ibnu Al-Mubarak, keduanya dari Ibnu Jabir.Dalam hadis lain, Imam Ahmad meriwayatkan dari Hasan bin Sawwar, dari Al-Laits bin Sa’d, dari Mu’awiyah bin Shalih, bahwa Abu Abdurrahman menceritakan kepadanya dari Abu Umamah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Matahari didekatkan pada hari Kiamat sejauh satu mil, dan panasnya ditambah sekian dan sekian. Binatang-binatang kecil pun mendidih karenanya sebagaimana air dalam kuali mendidih. Manusia berkeringat sesuai dengan kadar dosa mereka. Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kaki, ada yang sampai betis, ada yang sampai pertengahan tubuhnya, dan ada yang benar-benar dikekang oleh keringat.”Hadis ini diriwayatkan secara tersendiri oleh Imam Ahmad.Dalam hadis lain, Imam Ahmad meriwayatkan dari Hasan, dari Ibnu Lahi’ah, dari Abu ‘Asyanah Hayy bin Yu’min, bahwa ia mendengar ‘Uqbah bin ‘Amir berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Matahari didekatkan ke bumi, lalu manusia berkeringat. Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kaki, ada yang sampai pertengahan betis, ada yang sampai kedua lutut, ada yang sampai pantat, ada yang sampai pinggang, ada yang sampai kedua bahu, ada yang sampai pertengahan mulutnya.”Beliau memberi isyarat dengan tangannya seakan-akan menutup mulutnya. Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi isyarat seperti itu. “Dan ada pula yang keringatnya menutupi seluruh tubuhnya.” Beliau memberi isyarat dengan tangannya. Hadis ini juga diriwayatkan secara tersendiri oleh Imam Ahmad.Disebutkan pula dalam sebuah hadis bahwa mereka berdiri selama tujuh puluh tahun tanpa berbicara. Ada yang mengatakan mereka berdiri selama tiga ratus tahun. Ada pula yang mengatakan empat puluh ribu tahun. Dan diputuskan perkara di antara mereka dalam kadar sepuluh ribu tahun, sebagaimana disebutkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah secara marfu’:“Pada suatu hari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.”Ibnu Abi Hatim meriwayatkan: Ayahku menceritakan kepada kami, Abu ‘Aun Az-Ziyadi mengabarkan kepada kami, Abdur Salam bin ‘Ajlan berkata: Aku mendengar Abu Yazid Al-Madani dari Abu Hurairah berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Basyir Al-Ghifari,“Bagaimana keadaanmu pada hari ketika manusia berdiri selama tiga ratus tahun untuk Rabb seluruh alam—menurut hitungan hari dunia—tanpa datang kepada mereka kabar dari langit dan tanpa diperintahkan suatu perintah?”Basyir berkata, “Hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan.”Beliau bersabda,فَإِذَا أَوَيْتَ إِلَىٰ فِرَاشِكَ فَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ كَرْبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَسُوءِ الْحِسَابِ.“Jika engkau berbaring di tempat tidurmu, maka berlindunglah kepada Allah dari kesusahan hari Kiamat dan dari buruknya hisab.”Ibnu Jarir meriwayatkannya melalui jalur Abdur Salam.Dalam Sunan Abu Dawud disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berlindung kepada Allah dari sempitnya tempat berdiri pada hari Kiamat.Dari Ibnu Mas’ud disebutkan bahwa mereka berdiri selama empat puluh tahun dengan kepala terangkat ke langit, tidak seorang pun berbicara kepada mereka, dan keringat telah mengekang orang baik maupun orang jahat.Dari Ibnu Umar disebutkan bahwa mereka berdiri selama seratus tahun. Keduanya diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.Dalam Sunan Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah, melalui hadis Zaid bin Al-Hubab dari Mu’awiyah bin Shalih, dari Azhar bin Sa’id Al-Hawari, dari ‘Ashim bin Humaid, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka qiyamullail dengan bertakbir sepuluh kali, memuji sepuluh kali, bertasbih sepuluh kali, dan beristighfar sepuluh kali. Beliau juga berdoa,اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَاهْدِنِي، وَارْزُقْنِي، وَعَافِنِي، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ ضِيقِ الْمَقَامِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.ALLĀHUMMAGHFIR LĪ, WAHDINĪ, WARZUQNĪ, WA ‘ĀFINĪ, WA A‘ŪDZU BIKA MIN ḌHĪQIL-MAQĀMI YAUMAL-QIYĀMAH.“Ya Allah, ampunilah aku, berilah aku petunjuk, berilah aku rezeki, dan sehatkanlah aku.” Doa yang Patut Dihafalkan agar Selamat dari Sempitnya Dunia dan Hari KiamatAisyah radhiyallahu ‘anha mengabarkan tentang qiyamullail Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan doa pembuka shalat beliau (doa iftitah) dengan doa dan zikir tersebut. Ia berkata:“Beliau bertakbir sepuluh kali, bertasbih sepuluh kali, dan beristighfar sepuluh kali.”Kemudian ia menyebutkan doa tersebut.Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau berdoa:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ ضِيقِ الدُّنْيَا، وَضِيقِ الْقِيَامَةِALLĀHUMMA INNII A‘ŪDZU BIKA MIN DHIIQID-DUNYĀ, WA DHIIQIL-QIYĀMAH.“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesempitan dunia dan kesempitan pada hari Kiamat.”(Diriwayatkan oleh Abu Dauud dalam Sunan-nya, Kitab Al-Adab, Bab “Doa yang Dibaca Ketika Pagi Hari”, no. 5087; An-Nasa’i dalam Al-Kubra, Kitab Shalat ‘Idain, Bab Khutbah Hari Raya, no. 10623; juga dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah karya Ibnu As-Sunni, no. 759. Hadis ini dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah, no. 1356). Ayat Ketujuh – Kedua BelasAllah Ta’ala berfirman,كَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلْفُجَّارِ لَفِى سِجِّينٍ“Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin.” (QS. Al-Muthaffifin: 7)وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا سِجِّينٌ“Tahukah kamu apakah sijjin itu?” (QS. Al-Muthaffifin: 8)كِتَٰبٌ مَّرْقُومٌ“(Ialah) kitab yang bertulis.” (QS. Al-Muthaffifin: 9)وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِّلْمُكَذِّبِينَ“Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” (QS. Al-Muthaffifin: 10)ٱلَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوْمِ ٱلدِّينِ“(yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.” (QS. Al-Muthaffifin: 11)وَمَا يُكَذِّبُ بِهِۦٓ إِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ“Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa.” (QS. Al-Muthaffifin: 12)Syaikh As-Sa’di menjelaskan:Maksudnya, kitab yang di dalamnya tertulis seluruh amal buruk mereka. Sijjīn adalah tempat yang sempit lagi menghimpit. Sijjīn merupakan kebalikan dari ‘Illiyyīn, yaitu tempat catatan amal orang-orang yang berbakti, sebagaimana akan dijelaskan nanti.Sebagian ulama mengatakan bahwa Sijjīn adalah lapisan bumi yang paling bawah, tempat tinggal orang-orang durhaka dan tempat menetap mereka kelak di akhirat.(Yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.Kemudian Allah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan para pendusta itu adalah orang-orang yang mendustakan hari pembalasan, yaitu hari ketika Allah membalas manusia atas seluruh amal perbuatan mereka.“Dan tidak ada yang mendustakannya kecuali setiap orang yang melampaui batas lagi banyak berbuat dosa.”Yakni orang yang melanggar batas-batas yang telah ditetapkan Allah, berpindah dari yang halal kepada yang haram. Ia adalah orang yang banyak berbuat dosa. Sikap melampaui batas itulah yang mendorongnya untuk mendustakan, dan kesombongannya membuatnya menolak kebenaran.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat kedua belas:Maksudnya, ia adalah orang yang melampaui batas dalam perbuatannya: berani melakukan yang haram dan berlebihan dalam menikmati hal-hal yang sebenarnya mubah.Ia juga seorang yang banyak berdosa dalam ucapannya. Jika berbicara, ia berdusta. Jika berjanji, ia mengingkari. Dan jika berselisih atau bertengkar, ia berlaku curang dan melampaui batas. Al-Fujjar dan SijjinImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai Fujjar (Fajir) dan Sijjin sebagai berikut.Allah Ta’ala menegaskan dengan sebenar-benarnya bahwa catatan amal orang-orang durhaka berada di dalam Sijjīn, yaitu tempat yang menjadi tujuan dan tempat kembali mereka. Kata Sijjīn berasal dari kata sijn yang berarti penjara atau tempat yang sempit. Bentuk katanya menunjukkan makna yang sangat kuat, sebagaimana ungkapan dalam bahasa Arab seperti fasiq, syarīb, khamīr, atau sakīr yang menunjukkan sifat yang sangat melekat.Allah kemudian membesarkan perkara ini dengan firman-Nya: “Tahukah kamu apakah Sijjīn itu?” Maksudnya, Sijjīn adalah perkara yang sangat besar, sebuah penjara yang terus-menerus dan azab yang sangat pedih.Sebagian ulama mengatakan bahwa Sijjīn berada di bawah bumi yang ketujuh. Hal ini disebutkan dalam hadis panjang dari Al-Bara’ bin ‘Azib tentang keadaan ruh orang kafir. Dalam hadis itu Allah berfirman tentang ruh orang kafir:“Catatlah kitabnya di dalam Sijjīn.”Disebutkan pula bahwa Sijjīn berada di bawah bumi yang ketujuh. Ada pula yang mengatakan bahwa Sijjīn adalah sebuah batu besar di bawah bumi ketujuh, ada juga yang mengatakan bahwa ia adalah sebuah sumur di dalam neraka Jahannam.Ibnu Jarir meriwayatkan sebuah hadis tentang hal ini, namun hadis tersebut dinilai gharib dan munkar serta tidak sahih. Dalam riwayat itu disebutkan:“Al-Falaq adalah sebuah sumur di neraka Jahannam yang tertutup, sedangkan Sijjīn adalah sumur yang terbuka.”Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa Sijjīn berasal dari kata penjara yang berarti sempit. Hal ini karena semua makhluk yang berada di tempat yang lebih rendah akan semakin sempit ruangnya, sedangkan yang berada di tempat yang lebih tinggi akan semakin luas.Langit yang tujuh masing-masing lebih luas dan lebih tinggi daripada yang di bawahnya. Demikian pula bumi yang berlapis-lapis, setiap lapisan lebih luas daripada yang berada di bawahnya, hingga akhirnya mencapai tempat yang paling rendah dan paling sempit, yaitu pusat bumi di lapisan bumi yang ketujuh.Karena tempat kembali orang-orang durhaka adalah neraka Jahannam yang berada pada tingkatan paling rendah, sebagaimana firman Allah:ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ • إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh.” (QS. At-Tin: 5–6)Maka Allah berfirman di sini:كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ • وَمَا أَدْرَاكَ مَا سِجِّينٌSijjīn mengandung makna kesempitan dan kerendahan, sebagaimana firman Allah:وَإِذَا أُلْقُوا مِنْهَا مَكَانًا ضَيِّقًا مُقَرَّنِينَ دَعَوْا هُنَالِكَ ثُبُورًا“Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan tangan terbelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan.” (QS. Al-Furqan: 13)“(Yaitu) kitab yang tertulis.” (QS. Al-Muthaffifin: 9)Firman Allah “kitab yang tertulis” bukanlah penjelasan dari ayat “Tahukah kamu apakah Sijjīn itu?”, melainkan penjelasan tentang catatan amal mereka yang telah ditetapkan menuju Sijjīn.Artinya, catatan itu telah tertulis dan ditetapkan dengan pasti, tidak akan bertambah dan tidak pula berkurang. Demikian penjelasan dari Muhammad bin Ka‘b Al-Qurazhi.“Maka kecelakaan besar pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” (QS. Al-Muthaffifin: 10)Artinya, kebinasaan dan kehancuran pada hari kiamat bagi orang-orang yang mendustakan, ketika mereka benar-benar sampai kepada ancaman Allah berupa penjara dan azab yang menghinakan.Makna kata “wail” sebelumnya telah dijelaskan sebagai kebinasaan dan kehancuran, sebagaimana dalam ungkapan bahasa Arab: “Celaka bagi si fulan.”Demikian pula disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan dalam Musnad dan Sunan, dari Bahz bin Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ النَّاسَ، وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ“Celakalah orang yang berbicara lalu berdusta agar membuat manusia tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” Ayat Ketiga Belas – Kelima BelasAllah Ta’ala berfirman,إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ ءَايَٰتُنَا قَالَ أَسَٰطِيرُ ٱلْأَوَّلِينَ“yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu.” (QS. Al-Muthaffifin: 13)كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14)كَلَّآ إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari Tuhan mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 15)Syaikh As-Sa’di menjelaskan:Karena itulah, ketika “yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami”, — yakni ayat-ayat Kami yang menunjukkan kebenaran dan membuktikan kejujuran ajaran yang dibawa para rasul — dibacakan kepadanya, ia justru mendustakannya dan bersikap keras kepala.Ia berkata, itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu yakni ini hanyalah dongeng dan omong kosong orang-orang terdahulu, sekadar cerita umat-umat masa lampau. Ia menganggapnya bukan berasal dari Allah, semua itu diucapkannya karena kesombongan dan sikap membangkang terhadap kebenaran.Adapun orang yang bersikap adil dan jujur dalam menilai, serta tujuannya benar-benar mencari kebenaran yang nyata, maka ia tidak akan mendustakan Hari Pembalasan. Sebab Allah telah menegakkan baginya dalil-dalil yang tegas dan bukti-bukti yang terang, yang menjadikan kebenaran itu sebagai sesuatu yang pasti tanpa keraguan.Kebenaran itu bagi hati mereka laksana matahari bagi penglihatan: begitu jelas dan tak terbantahkan.Berbeda dengan orang yang hatinya telah tertutup oleh dosa-dosa yang ia lakukan, dan kemaksiatan telah menyelimutinya, sehingga kebenaran pun tidak lagi tampak jelas baginya.Karena itu, ia terhalang dari kebenaran. Sebagai balasan atas keadaan tersebut, ia pun dihalangi dari (melihat) Allah. Hal itu sebagaimana dahulu hatinya di dunia telah terhalang dari ayat-ayat Allah. Raan yang Menutupi HatiImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, apabila orang tersebut mendengar firman Allah yang disampaikan oleh Rasul, ia justru mendustakannya. Ia berprasangka buruk terhadap Al-Qur’an dan meyakini bahwa kitab itu hanyalah karangan yang dibuat-buat, yang dikumpulkan dari kisah-kisah dan catatan orang-orang zaman dahulu.Sebagaimana firman Allah Ta’ala:﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ قَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ﴾“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhan kalian?’ Mereka menjawab, ‘Dongeng orang-orang terdahulu.’” (QS. An-Nahl: 24)Dan firman-Nya:﴿وَقَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلَىٰ عَلَيْهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا﴾“Dan mereka berkata, ‘(Al-Qur’an itu hanyalah) dongeng orang-orang terdahulu yang dimintanya untuk dituliskan, lalu dibacakan kepadanya setiap pagi dan petang.’” (QS. Al-Furqan: 5)Demikianlah sikap orang-orang kafir: ketika kebenaran dibacakan kepada mereka, mereka menolaknya dan menuduhnya sebagai cerita rekaan dari masa lampau.Firman Allah Ta’ala:﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾Artinya: “Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”Maksudnya, tidaklah benar seperti yang mereka sangkakan dan ucapkan, bahwa Al-Qur’an itu hanyalah dongeng orang-orang terdahulu. Bahkan Al-Qur’an adalah firman Allah, wahyu-Nya, dan kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya ﷺ.Akan tetapi, yang menghalangi hati mereka untuk beriman kepadanya adalah ran (karat/penutup) yang menyelimuti hati mereka akibat banyaknya dosa dan kesalahan yang mereka lakukan. Karena itulah Allah berfirman: Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.Adapun ran itu menimpa hati orang-orang kafir. Sedangkan bagi orang-orang saleh (al-abrar) ada ghaim (awan tipis), dan bagi orang-orang yang didekatkan kepada Allah (al-muqarrabin) ada ghain (selubung yang lebih ringan lagi).Telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari, Imam Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah melalui beberapa jalur, dari Muhammad bin ‘Ajlan, dari Al-Qa‘qa‘ bin Hakim, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:«إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَذْنَبَ ذَنْبًا كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ مِنْهَا صُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ زَادَ زَادَتْ، فَذَلِكَ قَوْلُ اللَّهِ: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾»Artinya: “Sesungguhnya seorang hamba apabila berbuat dosa, akan muncul satu titik hitam di dalam hatinya. Jika ia bertobat darinya, maka hatinya akan dibersihkan. Namun jika ia menambah (dosa), maka titik itu pun bertambah. Itulah yang dimaksud dengan firman Allah: ‘Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.’”Imam Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan sahih.”Dalam riwayat An-Nasa’i disebutkan:«إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ، فَإِنْ هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ صُقِلَ قَلْبُهُ، فَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، فَهُوَ الرَّانُ الَّذِي قَالَ اللَّهُ: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾»Artinya: “Sesungguhnya seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, akan ditorehkan satu titik pada hatinya. Jika ia berhenti, memohon ampun, dan bertobat, maka hatinya akan dibersihkan. Namun jika ia kembali (berbuat dosa), maka titik itu akan ditambah hingga menutupi hatinya. Itulah ran yang disebutkan Allah dalam firman-Nya.”Demikian pula diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dengan lafaz:«إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ، فَإِنْ زَادَ زَادَتْ حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَذَاكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ فِي الْقُرْآنِ: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾»Artinya: “Sesungguhnya seorang mukmin apabila berbuat dosa, akan muncul satu titik hitam di dalam hatinya. Jika ia bertobat, berhenti, dan memohon ampun, maka hatinya akan dibersihkan. Namun jika ia menambah (dosa), maka titik itu bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah ran yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an.”Hasan al-Basri berkata, “Ia adalah dosa di atas dosa, hingga hati menjadi buta lalu mati.”Demikian pula dikatakan oleh Mujahid bin Jabr, Qatadah ibn Di’ama, Ibnu Zaid, dan selain mereka. Ayat Keenam Belas – Ketujuh BelasAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ إِنَّهُمْ لَصَالُوا۟ ٱلْجَحِيمِ“Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka.” (QS. Al-Muthaffifin: 16)ثُمَّ يُقَالُ هَٰذَا ٱلَّذِى كُنتُم بِهِۦ تُكَذِّبُونَ“Kemudian, dikatakan (kepada mereka): “Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan”.” (QS. Al-Muthaffifin: 17) Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Kemudian Allah berfirman,“Kemudian sesungguhnya mereka benar-benar akan masuk ke dalam neraka yang menyala-nyala.”Lalu dikatakan kepada mereka sebagai bentuk celaan dan teguran keras,“Inilah (azab) yang dahulu kalian dustakan.”Dalam ayat ini disebutkan tiga macam azab bagi mereka:Azab neraka Jahim.Azab berupa celaan dan teguran keras.Azab berupa terhalangnya mereka dari (melihat) Rabb semesta alam.Azab berupa terhalang dari Allah ini mengandung makna kemurkaan dan kemarahan-Nya kepada mereka. Azab ini bahkan lebih berat bagi mereka daripada azab api neraka.Sebaliknya, mafhum dari ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang beriman akan melihat Rabb mereka pada hari kiamat dan di surga. Mereka akan merasakan kenikmatan memandang-Nya yang jauh lebih agung daripada seluruh kenikmatan lainnya. Mereka bergembira dengan pembicaraan-Nya dan bersuka cita karena kedekatan dengan-Nya. Hal ini telah disebutkan oleh Allah dalam banyak ayat Al-Qur’an dan diriwayatkan secara mutawatir dari Rasulullah ﷺ.Dalam ayat-ayat ini juga terdapat peringatan keras agar menjauhi dosa. Sebab dosa-dosa itu menimbulkan karat pada hati dan menutupinya sedikit demi sedikit, hingga cahaya hati itu padam dan penglihatannya mati. Akibatnya, hakikat menjadi terbalik: kebatilan terlihat sebagai kebenaran, dan kebenaran tampak sebagai kebatilan. Ini merupakan salah satu bentuk hukuman akibat dosa.Baca juga: Syarhus Sunnah: Terhalang dari Melihat Wajah Allah Melihat Allah di Akhirat adalah Nikmat paling TinggiAllah Ta’ala juga berfirman:لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ“Bagi orang-orang yang berbuat baik, mereka mendapatkan kebaikan (surga) dan tambahan.” (QS. Yunus: 26)Yang dimaksud al-ḥusnā adalah surga, sedangkan tambahan adalah melihat wajah Allah Yang Mahamulia. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Nabi ﷺ dalam sabdanya:“Apabila penghuni surga telah masuk ke dalam surga, Allah Tabāraka wa Ta‘ālā berfirman:‘Apakah kalian menginginkan sesuatu lagi agar Aku tambahkan kepada kalian?’Mereka menjawab:‘Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami, memasukkan kami ke dalam surga, dan menyelamatkan kami dari neraka?’Kemudian Allah membuka hijab-Nya. Maka tidak ada sesuatu yang diberikan kepada mereka yang lebih mereka cintai daripada memandang Rabb mereka ‘Azza wa Jalla.”Kemudian Rasulullah ﷺ membaca ayat:لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ“Bagi orang-orang yang berbuat baik, mereka mendapatkan kebaikan (surga) dan tambahan.”Dalam riwayat Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari Jarīr bin ‘Abdillāh Al-Bajalī radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:“Kami pernah duduk bersama Nabi ﷺ. Beliau melihat bulan pada malam keempat belas (bulan purnama), lalu beliau bersabda:‘Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian dengan jelas sebagaimana kalian melihat bulan ini. Kalian tidak akan saling berdesakan dalam melihat-Nya.’”Dalam Shahih Bukhari dan Muslim juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu bahwa beberapa orang bertanya kepada Rasulullah ﷺ:“Wahai Rasulullah, apakah kami akan melihat Rabb kami pada hari kiamat?”Beliau menjawab:“Apakah kalian saling berdesakan ketika melihat bulan pada malam purnama?”Mereka menjawab:“Tidak, wahai Rasulullah.”Beliau bertanya lagi:“Apakah kalian saling berdesakan ketika melihat matahari yang tidak tertutup awan?”Mereka menjawab:“Tidak, wahai Rasulullah.”Beliau bersabda:“Demikian pula kalian akan melihat-Nya.”Maksudnya, kalian akan melihat-Nya dengan penglihatan yang nyata tanpa kesulitan dan tanpa saling berdesakan.Selain itu masih banyak lagi hadits-hadits sahih tentang hal ini yang diriwayatkan oleh lebih dari dua puluh orang sahabat. Hadits-hadits tersebut mencapai derajat mutawatir, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama.Adapun melihat Allah di dunia, maka secara akal hal itu mungkin saja terjadi, tetapi secara syariat tidak terjadi. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ ketika memperingatkan tentang Dajjal:“Ketahuilah bahwa tidak seorang pun dari kalian akan melihat Rabbnya hingga ia meninggal dunia. Dan di antara kedua mata Dajjal tertulis huruf ك ف ر yang dapat dibaca oleh setiap orang yang membenci amalnya.” (HR. Tirmidzi, dan beliau berkata: hadits ini hasan sahih)Dalam masalah ini tidak ada perselisihan di kalangan Ahlus Sunnah, kecuali riwayat dari Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhumā yang menyatakan bahwa Nabi ﷺ melihat Rabbnya pada malam Mi‘raj. Namun pendapat yang lebih kuat adalah bahwa Nabi ﷺ melihat cahaya, yaitu hijab-Nya.Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dari Abu Dzarr radhiyallāhu ‘anhu. Ia berkata:“Aku pernah bertanya kepada Nabi ﷺ tentang apakah beliau melihat Rabbnya. Beliau menjawab:‘Aku melihat cahaya.’”Dalam riwayat lain dalam Shahih Muslim, Abu Dzarr berkata:“Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ: ‘Apakah engkau melihat Rabbmu?’Beliau menjawab:‘Cahaya, bagaimana mungkin aku dapat melihat-Nya!’”Bahwa cahaya itu merupakan hijab juga dijelaskan dalam sabda Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:“Sesungguhnya Allah tidak tidur dan tidak pantas bagi-Nya untuk tidur. Dia menurunkan timbangan dan mengangkatnya. Amal malam diangkat kepada-Nya sebelum amal siang, dan amal siang sebelum amal malam. Hijab-Nya adalah cahaya. Seandainya hijab itu dibuka, niscaya sinar wajah-Nya akan membakar segala sesuatu yang dijangkau oleh pandangan-Nya dari makhluk-Nya.”Yang dimaksud subuḥāt wajah-Nya adalah cahaya, keagungan, dan keindahan-Nya.Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam syarahnya atas Shahih Muslim:“Ketahuilah bahwa mazhab Ahlus Sunnah secara keseluruhan menyatakan bahwa melihat Allah Ta’ala itu mungkin dan tidak mustahil secara akal. Mereka juga sepakat bahwa hal itu benar-benar terjadi di akhirat, dan bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah Ta’ala, sedangkan orang-orang kafir tidak.Sebaliknya, sebagian kelompok ahli bid‘ah seperti Mu‘tazilah, Khawarij, dan sebagian Murji’ah berpendapat bahwa tidak seorang pun dari makhluk dapat melihat Allah, dan bahwa melihat-Nya mustahil secara akal. Pendapat mereka ini merupakan kesalahan yang nyata dan kebodohan yang buruk.Dalil-dalil dari Al-Qur’an, Sunnah, serta ijmak para sahabat dan generasi setelah mereka dari kalangan salaf umat ini telah sangat jelas menunjukkan bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah Ta’ala di akhirat. Riwayat tentang hal ini datang dari sekitar dua puluh sahabat Nabi ﷺ, dan ayat-ayat Al-Qur’an tentangnya juga sangat terkenal.Adapun berbagai keberatan yang diajukan oleh kelompok ahli bid‘ah, semuanya telah dijawab secara jelas dalam kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah.Adapun melihat Allah Ta’ala di dunia, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, hal itu secara akal mungkin, tetapi mayoritas ulama salaf dan khalaf berpendapat bahwa hal tersebut tidak terjadi di dunia.”Selesai perkataan Imam An-Nawawi rahimahullah.Referensi: Fatwa Islamweb Ayat Kedelapan Belas – Kedua Puluh DelapanAllah Ta’ala berfirman,كَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلْأَبْرَارِ لَفِى عِلِّيِّينَ“Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam ‘Illiyyin.” (QS. Al-Muthaffifin: 18)وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا عِلِّيُّونَ“Tahukah kamu apakah ‘Illiyyin itu?” (QS. Al-Muthaffifin: 19)كِتَٰبٌ مَّرْقُومٌ“(Yaitu) kitab yang bertulis.” (QS. Al-Muthaffifin: 20)يَشْهَدُهُ ٱلْمُقَرَّبُونَ“yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan (kepada Allah).” (QS. Al-Muthaffifin: 21)إِنَّ ٱلْأَبْرَارَ لَفِى نَعِيمٍ“Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (surga).” (QS. Al-Muthaffifin: 22)عَلَى ٱلْأَرَآئِكِ يَنظُرُونَ“mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang.” (QS. Al-Muthaffifin: 23)تَعْرِفُ فِى وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ ٱلنَّعِيمِ“Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh kenikmatan.” (QS. Al-Muthaffifin: 24)يُسْقَوْنَ مِن رَّحِيقٍ مَّخْتُومٍ“Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya).” (QS. Al-Muthaffifin: 25)خِتَٰمُهُۥ مِسْكٌ ۚ وَفِى ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ ٱلْمُتَنَٰفِسُونَ“laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin: 26)وَمِزَاجُهُۥ مِن تَسْنِيمٍ“Dan campuran khamar murni itu adalah dari tasnim.” (QS. Al-Muthaffifin: 27)عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا ٱلْمُقَرَّبُونَ“(yaitu) mata air yang minum daripadanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah.” (QS. Al-Muthaffifin: 28) Al-Abrar dan ‘IlliyyinImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Yang dimaksud al-abrār adalah orang-orang yang saleh, yang keadaannya berbeda dengan orang-orang yang durhaka (fujjar). Catatan amal mereka berada di ‘Illiyyīn, sebagai kebalikan dari Sijjīn yang menjadi tempat bagi orang-orang durhaka.Al-A‘masy meriwayatkan dari Syamr bin ‘Athiyyah, dari Hilal bin Yasaf, ia berkata:Ibnu ‘Abbas pernah bertanya kepada Ka‘b, sementara aku hadir di situ, tentang Sijjīn. Ka‘b menjawab:“Sijjīn adalah bumi ketujuh, dan di dalamnya terdapat ruh orang-orang kafir.”Ibnu ‘Abbas juga bertanya kepadanya tentang ‘Illiyyīn. Ia menjawab:“‘Illiyyīn adalah langit ketujuh, dan di dalamnya terdapat ruh orang-orang beriman.”Demikian pula dikatakan oleh sejumlah ulama lainnya bahwa ‘Illiyyīn berada di langit ketujuh.Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah:Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam ‘IlliyyinBeliau berkata:“Maksudnya adalah surga.”Dalam riwayat Al-‘Aufi dari Ibnu ‘Abbas disebutkan bahwa maksudnya adalah amal-amal mereka berada di langit di sisi Allah. Demikian pula pendapat yang disampaikan oleh Adh-Dhahhak.Qatadah berkata:“‘Illiyyūn adalah sisi kanan ‘Arsy.”Sementara ulama lain mengatakan bahwa ‘Illiyyūn berada di dekat Sidhratul Muntaha.Pendapat yang paling jelas adalah bahwa kata ‘Illiyyīn berasal dari kata al-‘uluww (ketinggian). Setiap sesuatu yang semakin tinggi dan semakin terangkat, maka semakin besar dan semakin luas kedudukannya. Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Ketika Allah menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang durhaka (al-fujjār) berada di tempat yang paling bawah, paling sempit, dan paling rendah, maka Allah juga menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang yang berbakti (al-abrār) berada di tempat yang paling tinggi, paling luas, dan paling lapang.Dan catatan amal mereka yang tertulis itu disaksikan oleh orang-orang yang didekatkan kepada Allah (al-muqorrobun). Yang dimaksud dengan mereka adalah para malaikat yang mulia, serta ruh para nabi, orang-orang yang sangat jujur dalam iman (ṣiddīqīn), dan para syuhada. Allah menyebut dan memuliakan mereka di hadapan penduduk langit yang tinggi.Adapun ‘Illiyyūn adalah nama bagi tingkatan surga yang paling tinggi.Setelah Allah menyebutkan catatan amal mereka, Allah kemudian menjelaskan bahwa mereka berada dalam kenikmatan. Kata ini merupakan istilah yang mencakup seluruh kenikmatan hati, ruh, dan tubuh.Mereka berada di atas dipan-dipan yang indah.عَلَى الْأَرَائِكِYaitu di atas tempat duduk atau dipan yang dihiasi dengan hamparan dan perhiasan yang indah.يُنْظَرُونَMereka memandang berbagai kenikmatan yang telah Allah siapkan untuk mereka, dan mereka juga memandang wajah Rabb mereka Yang Mahamulia.Allah berfirman:تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ“Engkau dapat melihat pada wajah mereka cahaya kenikmatan.”Artinya, tampak pada wajah mereka keindahan, kesegaran, dan kemilau kenikmatan. Sebab kenikmatan dan kegembiraan yang terus-menerus akan memancarkan cahaya, keindahan, dan keceriaan pada wajah mereka.Mereka diberi minum dari minuman yang sangat murni.يُسْقَوْنَ مِنْ رَحِيقٍ مَخْتُومٍYaitu minuman yang termasuk yang paling baik dan paling lezat di antara berbagai minuman.Minuman itu tertutup rapat.خِتَامُهُ مِسْكٌPenutupnya adalah kasturi. Maksudnya bisa dua kemungkinan:Pertama, minuman itu tertutup rapat sehingga tidak tercampuri sesuatu pun yang dapat mengurangi kenikmatannya atau merusak rasanya. Penutup yang digunakan untuk menutupnya adalah kasturi.Kedua, maksudnya adalah bahwa bagian terakhir dari minuman dalam bejana yang mereka minum memiliki endapan berupa kasturi yang sangat harum. Padahal biasanya dalam kebiasaan di dunia, endapan seperti itu dibuang. Namun di surga justru menjadi sesuatu yang sangat berharga.Tentang kenikmatan yang agung ini Allah berfirman:وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang-orang berlomba-lomba.”Artinya, hendaklah manusia berlomba-lomba untuk meraihnya dengan amal-amal yang dapat mengantarkan kepada kenikmatan tersebut. Inilah sesuatu yang paling pantas diperebutkan oleh jiwa-jiwa yang mulia dan paling layak menjadi tujuan perlombaan orang-orang yang bersungguh-sungguh.Campuran minuman tersebut berasal dari Tasnīm.Tasnīm adalah sebuah mata air di surga.عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُونَ“Mata air yang darinya diminum oleh orang-orang yang didekatkan kepada Allah.”Minuman dari Tasnīm ini diminum secara murni oleh orang-orang yang didekatkan kepada Allah (al-muqorrobun). Ia merupakan minuman paling tinggi dan paling mulia di surga. Karena itu minuman ini khusus bagi mereka yang memiliki kedudukan tertinggi di antara makhluk.Adapun bagi ashḥābul yamīn (golongan kanan), minuman tersebut diberikan dalam keadaan dicampur dengan rahiq dan minuman-minuman lezat lainnya. Ayat Kedua Puluh Sembilan – Ketiga Puluh DuaAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱلَّذِينَ أَجْرَمُوا۟ كَانُوا۟ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ يَضْحَكُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Muthaffifin: 29)وَإِذَا مَرُّوا۟ بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ“Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya.” (QS. Al-Muthaffifin: 30)وَإِذَا ٱنقَلَبُوٓا۟ إِلَىٰٓ أَهْلِهِمُ ٱنقَلَبُوا۟ فَكِهِينَ“Dan apabila orang-orang yang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira.” (QS. Al-Muthaffifin: 31)وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوٓا۟ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ لَضَآلُّونَ“Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”.” (QS. Al-Muthaffifin: 32)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:Ketika Allah menyebutkan balasan bagi orang-orang berdosa dan balasan bagi orang-orang beriman, serta menjelaskan perbedaan yang sangat besar di antara keduanya, Allah juga mengabarkan bahwa dahulu di dunia orang-orang berdosa selalu memperolok kaum mukmin. Mereka mengejek, menghina, dan menertawakan orang-orang beriman.Mereka saling memberi isyarat dengan mata ketika melewati kaum mukmin, sebagai bentuk penghinaan dan pelecehan terhadap mereka. Namun anehnya, meskipun berbuat demikian, mereka hidup dengan perasaan aman dan tenang, seakan-akan tidak ada sedikit pun rasa takut dalam hati mereka.Apabila mereka pulang kepada keluarga mereka—baik pada pagi maupun petang—mereka pulang dalam keadaan senang, gembira, dan merasa bangga dengan perbuatan mereka.Inilah salah satu bentuk kesombongan dan tipu daya yang paling besar. Mereka melakukan keburukan yang sangat parah, tetapi pada saat yang sama merasa aman dan tenteram di dunia. Seolah-olah mereka telah mendapatkan jaminan dan janji dari Allah bahwa mereka termasuk orang-orang yang berbahagia.Bahkan mereka berani memutuskan bahwa diri mereka berada di atas petunjuk, sementara orang-orang beriman dianggap sebagai orang-orang yang sesat. Ini merupakan kedustaan terhadap Allah dan keberanian berbicara tentang-Nya tanpa ilmu. Ayat Ketiga Puluh Tiga – Ketiga Puluh EnamAllah Ta’ala berfirman,وَمَآ أُرْسِلُوا۟ عَلَيْهِمْ حَٰفِظِينَ“padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin.” (QS. Al-Muthaffifin: 33)فَٱلْيَوْمَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنَ ٱلْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ“Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir.” (QS. Al-Muthaffifin: 34)عَلَى ٱلْأَرَآئِكِ يَنظُرُونَ“mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang.” (QS. Al-Muthaffifin: 35)هَلْ ثُوِّبَ ٱلْكُفَّارُ مَا كَانُوا۟ يَفْعَلُونَ“Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Al-Muthaffifin: 36)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:“Padahal mereka tidak diutus sebagai penjaga atas orang-orang beriman.” Maksudnya, orang-orang kafir itu tidak diutus sebagai pengawas bagi kaum mukmin dan tidak pula ditugaskan untuk menjaga atau mencatat amal mereka. Lalu mengapa mereka begitu sibuk menuduh orang-orang beriman sebagai orang yang sesat? Sikap mereka itu hanyalah bentuk keras kepala, permusuhan, dan permainan yang tidak memiliki dasar ataupun bukti.“Maka pada hari ini orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir.” Karena itu, balasan mereka di akhirat sesuai dengan perbuatan mereka di dunia. Allah berfirman: “Pada hari ini”, yaitu pada hari kiamat, orang-orang beriman akan menertawakan orang-orang kafir ketika melihat mereka tenggelam dalam berbagai azab. Semua kedustaan dan anggapan yang dahulu mereka buat pun lenyap, sementara orang-orang beriman berada dalam ketenangan dan kebahagiaan yang sempurna.“Mereka duduk di atas dipan-dipan sambil memandang.”Mereka berada di atas dipan-dipan yang dihiasi dengan indah, menikmati berbagai kenikmatan yang telah Allah siapkan untuk mereka. Mereka juga memandang kepada Rabb mereka Yang Maha Mulia.“Bukankah orang-orang kafir telah diberi balasan terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan?”Artinya, apakah mereka telah dibalas sesuai dengan perbuatan mereka? Ya, mereka telah dibalas dengan balasan yang setimpal. Dahulu di dunia mereka menertawakan orang-orang beriman dan menuduh mereka sesat. Maka di akhirat orang-orang beriman menertawakan mereka dan menyaksikan mereka berada dalam azab dan hukuman sebagai akibat dari kesesatan dan penyimpangan mereka.Itulah balasan yang adil dari Allah dan merupakan bagian dari hikmah-Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Catatan: Perbedaan antara ‘Iliyyin dan SijjinAspek‘IlliyyīnSijjīnPenyebutan dalam surahQS. Al-Muthaffifin: 18–21QS. Al-Muthaffifin: 7–9Siapa yang dicatat di sanaKitab al-abrār: catatan amal orang-orang yang berbakti, saleh, dan taatKitab al-fujjār: catatan amal orang-orang durhaka, fajir, dan banyak dosaKelompok yang terkaitAl-abrār, al-muqarrabūn, orang-orang berimanAl-fujjār, al-mukadzdzibūn, orang-orang yang melampaui batas dan berdosaMakna umumTempat yang tinggi, mulia, lapang, dan agungTempat yang rendah, sempit, menghimpit, dan menghinakanAsal makna kataDari kata al-‘uluww: tinggi, luhur, terangkatDari kata as-sijn / sijn: penjara, kurungan, tempat sempitNuansa maknaKemuliaan, ketinggian derajat, keluasan, kehormatanKehinaan, keterbatasan, kesempitan, hukumanPosisi secara maknawiTempat paling tinggi bagi catatan amal orang salehTempat paling rendah bagi catatan amal orang durhakaPenjelasan As-Sa‘diTempat catatan amal orang-orang berbakti di posisi paling tinggi, luas, dan lapangTempat catatan amal orang-orang durhaka di posisi paling bawah, sempit, dan rendahPenjelasan Ibnu KatsirKebalikan dari Sijjīn; menunjukkan ketinggian dan kemuliaanTempat kembali orang durhaka; menunjukkan penjara dan kesempitanLetak menurut sebagian ulamaDisebut berada di langit ketujuh, atau dekat tempat yang sangat tinggiDisebut berada di bawah bumi ketujuh, atau tempat paling rendahRiwayat dari Ka‘b yang dinukilRuh orang-orang beriman berada di ‘IlliyyīnRuh orang-orang kafir berada di SijjīnPendapat lain ulamaAda yang menafsirkan sebagai surga, atau tempat amal di sisi AllahAda yang menafsirkan sebagai sumur di Jahannam, batu besar, atau tempat sempit di bawahHubungannya dengan catatan amalCatatan amal orang saleh tersimpan dan dimuliakanCatatan amal orang durhaka tersimpan dan menjadi bukti keburukan merekaStatus kitabnyaKitābun marqūm: kitab yang tertulis, tercatat, terjagaKitābun marqūm: kitab yang tertulis, tercatat, dan telah ditetapkanSiapa yang menyaksikanYasyhaduhul muqarrabūn: disaksikan malaikat dan makhluk yang didekatkan kepada AllahTidak disebut disaksikan al-muqarrabūn; konteksnya lebih kepada ancaman dan kebinasaanArah balasanMengarah kepada na‘īm: kenikmatan, wajah berseri, dipan-dipan, minuman surgaMengarah kepada jahīm: neraka, celaan, kehinaan, dan tertutup dari RabbDampak akhir bagi pemilik kitabKemuliaan di akhirat, kedekatan dengan Allah, surga yang tinggiKehinaan di akhirat, azab, keterasingan, dan hukumanKeterkaitan dengan surga/nerakaSangat dekat maknanya dengan tingkatan surga tertinggiSangat dekat maknanya dengan dasar kehinaan dan tempat azabSifat ruangLuas, lapang, tinggi, muliaSempit, rendah, menghimpit, menekanSimbol ruhaniKebersihan amal, kejujuran, ketaatan, kemuliaan jiwaKedurhakaan, kefajiran, kecurangan, pengingkaran hari pembalasanHubungan dengan imanBuah dari iman, amal saleh, dan birr (kebajikan)Buah dari maksiat, kedustaan, melampaui batas, dan dosaHubungan dengan Hari AkhirMenunjukkan keselamatan dan keberuntungan pada hari pembalasanMenunjukkan kecelakaan dan kebinasaan pada hari pembalasanKontras utamanya dalam surahPuncak kemuliaan bagi orang baikPuncak kehinaan bagi orang jahatLawan maknaLawannya adalah SijjīnLawannya adalah ‘IlliyyīnPesan pendidikan imanBeramal saleh akan mengangkat derajat seseorangDosa dan kefajiran akan menjatuhkan seseorang ke derajat paling rendah Walhamdulilah,selesai sudah bahasan tafsir Surah Al-Muthaffifin. Semoga bermanfaat.  Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Senin, 20 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagstafsir al muthaffifin tafsir juz amma timbangan

Tafsir Surah Al-Muthaffifin: Ancaman Keras bagi Orang yang Curang dalam Timbangan

Curang dalam takaran dan timbangan mungkin terlihat sepele di mata manusia, tetapi sangat besar dosanya di sisi Allah. Surah Al-Muthaffifin dibuka dengan ancaman keras bagi orang-orang yang mengambil haknya secara penuh, namun mengurangi hak orang lain. Ayat-ayat ini mengajarkan keadilan, kejujuran, dan sikap adil bukan hanya dalam muamalah, tetapi juga dalam setiap urusan kehidupan.  Daftar Isi tutup 1. Ayat Pertama – Ketiga 1.1. Contoh praktik kecurangan dalam bisnis saat ini 2. Ayat Keempat – Keenam 2.1. Beratnya Hari Kiamat 2.2. Doa yang Patut Dihafalkan agar Selamat dari Sempitnya Dunia dan Hari Kiamat 3. Ayat Ketujuh – Kedua Belas 4. Al-Fujjar dan Sijjin 5. Ayat Ketiga Belas – Kelima Belas 5.1. Raan yang Menutupi Hati 6. Ayat Keenam Belas – Ketujuh Belas 7. Melihat Allah di Akhirat adalah Nikmat paling Tinggi 8. Ayat Kedelapan Belas – Kedua Puluh Delapan 9. Al-Abrar dan ‘Illiyyin 10. Ayat Kedua Puluh Sembilan – Ketiga Puluh Dua 11. Ayat Ketiga Puluh Tiga – Ketiga Puluh Enam 12. Catatan: Perbedaan antara ‘Iliyyin dan Sijjin  Ayat Pertama – KetigaAllah Ta’ala berfirman,وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang.” (QS. Al-Muthaffifin: 1)ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكْتَالُوا۟ عَلَى ٱلنَّاسِ يَسْتَوْفُونَ“(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi.” (QS. Al-Muthaffifin: 2) وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ“dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al-Muthaffifin: 3)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:“Wailun” adalah kata yang menunjukkan azab dan ancaman keras.“Lil muthoffifin” yaitu bagi orang-orang yang berbuat curang dalam takaran dan timbangan.“(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi.”Allah menjelaskan siapa yang dimaksud dengan orang-orang yang curang itu melalui firman-Nya:yaitu orang-orang yang apabila mereka mengambil takaran dari orang lain untuk hak yang menjadi milik mereka minta dipenuhi, mereka meminta dan mengambilnya secara penuh tanpa ada kekurangan sedikit pun.Sedangkan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, yakni ketika mereka harus memberikan hak orang lain yang menjadi tanggungan mereka melalui takaran atau timbangan, mereka mengurangi hak tersebut. Pengurangan itu bisa dengan menggunakan takaran atau timbangan yang kurang, atau tidak memenuhi takaran dan timbangan sebagaimana mestinya, atau dengan cara lain yang serupa.Perbuatan seperti ini termasuk mencuri harta orang lain dan tidak berlaku adil terhadap mereka.Apabila ancaman ini ditujukan kepada orang-orang yang mengurangi hak orang lain dalam takaran dan timbangan, maka orang yang merampas harta orang lain dengan paksa atau mencurinya secara terang-terangan, lebih pantas lagi mendapatkan ancaman tersebut daripada sekadar orang yang curang dalam takaran.Ayat yang mulia ini juga menunjukkan bahwa sebagaimana seseorang berhak mengambil dari orang lain apa yang menjadi haknya, maka ia juga wajib memberikan kepada orang lain seluruh hak mereka, baik dalam harta maupun dalam berbagai bentuk muamalah. Bahkan makna ini mencakup pula dalam perdebatan dan penyampaian pendapat. Sebagaimana lazimnya dua orang yang berdebat masing-masing berusaha mempertahankan dalil yang menguntungkan dirinya, maka ia juga wajib menjelaskan dalil yang menjadi hak lawannya yang mungkin belum diketahui. Ia harus menimbang dan memperhatikan dalil lawannya sebagaimana ia menimbang dalilnya sendiri. Pada titik inilah akan tampak apakah seseorang itu adil atau fanatik dan memaksakan diri, apakah ia rendah hati atau sombong, serta apakah ia berakal atau bodoh. Kita memohon kepada Allah taufik untuk meraih segala kebaikan. Contoh praktik kecurangan dalam bisnis saat ini1. Spesifikasi Tidak Sesuai IklanMenjual produk dengan klaim kualitas tertentu (misalnya bahan premium, asli, organik), padahal kenyataannya kualitas di bawah standar yang dijanjikan.2. Manipulasi Berat Bersih (Netto)Mencantumkan berat bersih 1 kg, tetapi setelah ditimbang ulang ternyata kurang dari itu. Ini termasuk bentuk pengurangan takaran modern.3. Mengurangi Kualitas JasaDalam bisnis jasa, menerima pembayaran penuh tetapi layanan tidak diberikan sesuai kesepakatan, misalnya jam kerja dikurangi atau hasil kerja tidak sesuai kontrak.4. Markup Biaya Tanpa TransparansiMenambahkan biaya tersembunyi saat pembayaran (admin fee, service charge, biaya tambahan yang tidak dijelaskan di awal).5. Memanfaatkan Ketidaktahuan KonsumenMenjual barang dengan harga jauh di atas standar pasar kepada orang yang tidak memahami harga sebenarnya.6. Kecurangan dalam Laporan KeuanganMengurangi hak mitra, investor, atau karyawan dengan memanipulasi data laba dan pembagian hasil.7. Mengurangi Hak KaryawanMeminta kinerja penuh, tetapi gaji atau hak lembur tidak dibayarkan sesuai kesepakatan. Ayat Keempat – KeenamAllah Ta’ala berfirman,أَلَا يَظُنُّ أُو۟لَٰٓئِكَ أَنَّهُم مَّبْعُوثُونَ“Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan.” (QS. Al-Muthaffifin: 4)لِيَوْمٍ عَظِيمٍ“pada suatu hari yang besar.” (QS. Al-Muthaffifin: 5)يَوْمَ يَقُومُ ٱلنَّاسُ لِرَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ“(yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?” (QS. Al-Muthaffifin: 6)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Kemudian Allah Ta’ala mengancam orang-orang yang curang dalam takaran dan timbangan. Allah juga menunjukkan keheranan terhadap keadaan mereka yang terus-menerus melakukan perbuatan itu. Allah berfirman dengan nada peringatan, “Tidakkah mereka menyangka bahwa mereka akan dibangkitkan pada hari yang sangat besar, yaitu hari ketika seluruh manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam?”Yang membuat mereka berani berbuat curang adalah karena mereka tidak beriman kepada hari akhir. Seandainya mereka benar-benar beriman dan menyadari bahwa kelak mereka akan berdiri di hadapan Allah, lalu dihisab atas segala sesuatu—baik yang kecil maupun yang besar—tentu mereka akan berhenti dari perbuatan tersebut dan segera bertobat darinya. Beratnya Hari KiamatImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam kitab tafsirnya mengenai surah Al-Muthaffifin ayat keenam.Maksudnya, pada hari itu manusia berdiri dalam keadaan tanpa alas kaki, tanpa pakaian, dan belum dikhitan, di suatu tempat yang sangat sulit, sempit, dan penuh kesusahan. Tempat itu terasa sangat berat bagi orang-orang yang berdosa. Mereka diliputi oleh kedahsyatan urusan Allah yang tidak sanggup ditanggung oleh kekuatan dan pancaindra manusia.Imam Malik meriwayatkan dari Nafi’, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang firman Allah: (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?“Hingga salah seorang dari mereka tenggelam dalam keringatnya sampai setengah telinganya.”Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari melalui jalur Malik dan Abdullah bin ‘Aun, keduanya dari Nafi’. Juga diriwayatkan oleh Muslim melalui dua jalur tersebut. Demikian pula diriwayatkan oleh Shalih, Tsabit bin Kaisan, Ayyub bin Yahya, Abdullah dan Ubaidullah—keduanya putra Umar—serta Muhammad bin Ishaq, semuanya dari Nafi’, dari Ibnu Umar.Dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan: Yazid menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Ishaq mengabarkan kepada kami dari Nafi’, dari Ibnu Umar, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang firman Allah: (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?“Karena keagungan Ar-Rahman ‘Azza wa Jalla pada hari Kiamat, hingga keringat benar-benar mengekang manusia sampai setengah telinga mereka.”Dalam hadis lain, Imam Ahmad meriwayatkan: Ibrahim bin Ishaq menceritakan kepada kami, Ibnu Al-Mubarak menceritakan kepada kami dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir, ia berkata: Sulaim bin ‘Amir menceritakan kepadaku, Al-Miqdad—yakni Ibnu Al-Aswad Al-Kindi—berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Apabila hari Kiamat terjadi, matahari didekatkan kepada para hamba hingga jaraknya sekitar satu mil atau dua mil.”Beliau bersabda, “Maka matahari itu membakar mereka, sehingga mereka tenggelam dalam keringat sesuai dengan kadar amal mereka. Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kaki, ada yang sampai kedua lutut, ada yang sampai pinggangnya, dan ada yang benar-benar dikekang oleh keringatnya.”Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim melalui jalur Al-Hakam bin Musa dari Yahya bin Hamzah, dan oleh At-Tirmidzi melalui Suwaid dari Ibnu Al-Mubarak, keduanya dari Ibnu Jabir.Dalam hadis lain, Imam Ahmad meriwayatkan dari Hasan bin Sawwar, dari Al-Laits bin Sa’d, dari Mu’awiyah bin Shalih, bahwa Abu Abdurrahman menceritakan kepadanya dari Abu Umamah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Matahari didekatkan pada hari Kiamat sejauh satu mil, dan panasnya ditambah sekian dan sekian. Binatang-binatang kecil pun mendidih karenanya sebagaimana air dalam kuali mendidih. Manusia berkeringat sesuai dengan kadar dosa mereka. Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kaki, ada yang sampai betis, ada yang sampai pertengahan tubuhnya, dan ada yang benar-benar dikekang oleh keringat.”Hadis ini diriwayatkan secara tersendiri oleh Imam Ahmad.Dalam hadis lain, Imam Ahmad meriwayatkan dari Hasan, dari Ibnu Lahi’ah, dari Abu ‘Asyanah Hayy bin Yu’min, bahwa ia mendengar ‘Uqbah bin ‘Amir berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Matahari didekatkan ke bumi, lalu manusia berkeringat. Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kaki, ada yang sampai pertengahan betis, ada yang sampai kedua lutut, ada yang sampai pantat, ada yang sampai pinggang, ada yang sampai kedua bahu, ada yang sampai pertengahan mulutnya.”Beliau memberi isyarat dengan tangannya seakan-akan menutup mulutnya. Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi isyarat seperti itu. “Dan ada pula yang keringatnya menutupi seluruh tubuhnya.” Beliau memberi isyarat dengan tangannya. Hadis ini juga diriwayatkan secara tersendiri oleh Imam Ahmad.Disebutkan pula dalam sebuah hadis bahwa mereka berdiri selama tujuh puluh tahun tanpa berbicara. Ada yang mengatakan mereka berdiri selama tiga ratus tahun. Ada pula yang mengatakan empat puluh ribu tahun. Dan diputuskan perkara di antara mereka dalam kadar sepuluh ribu tahun, sebagaimana disebutkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah secara marfu’:“Pada suatu hari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.”Ibnu Abi Hatim meriwayatkan: Ayahku menceritakan kepada kami, Abu ‘Aun Az-Ziyadi mengabarkan kepada kami, Abdur Salam bin ‘Ajlan berkata: Aku mendengar Abu Yazid Al-Madani dari Abu Hurairah berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Basyir Al-Ghifari,“Bagaimana keadaanmu pada hari ketika manusia berdiri selama tiga ratus tahun untuk Rabb seluruh alam—menurut hitungan hari dunia—tanpa datang kepada mereka kabar dari langit dan tanpa diperintahkan suatu perintah?”Basyir berkata, “Hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan.”Beliau bersabda,فَإِذَا أَوَيْتَ إِلَىٰ فِرَاشِكَ فَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ كَرْبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَسُوءِ الْحِسَابِ.“Jika engkau berbaring di tempat tidurmu, maka berlindunglah kepada Allah dari kesusahan hari Kiamat dan dari buruknya hisab.”Ibnu Jarir meriwayatkannya melalui jalur Abdur Salam.Dalam Sunan Abu Dawud disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berlindung kepada Allah dari sempitnya tempat berdiri pada hari Kiamat.Dari Ibnu Mas’ud disebutkan bahwa mereka berdiri selama empat puluh tahun dengan kepala terangkat ke langit, tidak seorang pun berbicara kepada mereka, dan keringat telah mengekang orang baik maupun orang jahat.Dari Ibnu Umar disebutkan bahwa mereka berdiri selama seratus tahun. Keduanya diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.Dalam Sunan Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah, melalui hadis Zaid bin Al-Hubab dari Mu’awiyah bin Shalih, dari Azhar bin Sa’id Al-Hawari, dari ‘Ashim bin Humaid, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka qiyamullail dengan bertakbir sepuluh kali, memuji sepuluh kali, bertasbih sepuluh kali, dan beristighfar sepuluh kali. Beliau juga berdoa,اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَاهْدِنِي، وَارْزُقْنِي، وَعَافِنِي، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ ضِيقِ الْمَقَامِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.ALLĀHUMMAGHFIR LĪ, WAHDINĪ, WARZUQNĪ, WA ‘ĀFINĪ, WA A‘ŪDZU BIKA MIN ḌHĪQIL-MAQĀMI YAUMAL-QIYĀMAH.“Ya Allah, ampunilah aku, berilah aku petunjuk, berilah aku rezeki, dan sehatkanlah aku.” Doa yang Patut Dihafalkan agar Selamat dari Sempitnya Dunia dan Hari KiamatAisyah radhiyallahu ‘anha mengabarkan tentang qiyamullail Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan doa pembuka shalat beliau (doa iftitah) dengan doa dan zikir tersebut. Ia berkata:“Beliau bertakbir sepuluh kali, bertasbih sepuluh kali, dan beristighfar sepuluh kali.”Kemudian ia menyebutkan doa tersebut.Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau berdoa:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ ضِيقِ الدُّنْيَا، وَضِيقِ الْقِيَامَةِALLĀHUMMA INNII A‘ŪDZU BIKA MIN DHIIQID-DUNYĀ, WA DHIIQIL-QIYĀMAH.“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesempitan dunia dan kesempitan pada hari Kiamat.”(Diriwayatkan oleh Abu Dauud dalam Sunan-nya, Kitab Al-Adab, Bab “Doa yang Dibaca Ketika Pagi Hari”, no. 5087; An-Nasa’i dalam Al-Kubra, Kitab Shalat ‘Idain, Bab Khutbah Hari Raya, no. 10623; juga dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah karya Ibnu As-Sunni, no. 759. Hadis ini dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah, no. 1356). Ayat Ketujuh – Kedua BelasAllah Ta’ala berfirman,كَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلْفُجَّارِ لَفِى سِجِّينٍ“Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin.” (QS. Al-Muthaffifin: 7)وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا سِجِّينٌ“Tahukah kamu apakah sijjin itu?” (QS. Al-Muthaffifin: 8)كِتَٰبٌ مَّرْقُومٌ“(Ialah) kitab yang bertulis.” (QS. Al-Muthaffifin: 9)وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِّلْمُكَذِّبِينَ“Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” (QS. Al-Muthaffifin: 10)ٱلَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوْمِ ٱلدِّينِ“(yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.” (QS. Al-Muthaffifin: 11)وَمَا يُكَذِّبُ بِهِۦٓ إِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ“Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa.” (QS. Al-Muthaffifin: 12)Syaikh As-Sa’di menjelaskan:Maksudnya, kitab yang di dalamnya tertulis seluruh amal buruk mereka. Sijjīn adalah tempat yang sempit lagi menghimpit. Sijjīn merupakan kebalikan dari ‘Illiyyīn, yaitu tempat catatan amal orang-orang yang berbakti, sebagaimana akan dijelaskan nanti.Sebagian ulama mengatakan bahwa Sijjīn adalah lapisan bumi yang paling bawah, tempat tinggal orang-orang durhaka dan tempat menetap mereka kelak di akhirat.(Yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.Kemudian Allah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan para pendusta itu adalah orang-orang yang mendustakan hari pembalasan, yaitu hari ketika Allah membalas manusia atas seluruh amal perbuatan mereka.“Dan tidak ada yang mendustakannya kecuali setiap orang yang melampaui batas lagi banyak berbuat dosa.”Yakni orang yang melanggar batas-batas yang telah ditetapkan Allah, berpindah dari yang halal kepada yang haram. Ia adalah orang yang banyak berbuat dosa. Sikap melampaui batas itulah yang mendorongnya untuk mendustakan, dan kesombongannya membuatnya menolak kebenaran.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat kedua belas:Maksudnya, ia adalah orang yang melampaui batas dalam perbuatannya: berani melakukan yang haram dan berlebihan dalam menikmati hal-hal yang sebenarnya mubah.Ia juga seorang yang banyak berdosa dalam ucapannya. Jika berbicara, ia berdusta. Jika berjanji, ia mengingkari. Dan jika berselisih atau bertengkar, ia berlaku curang dan melampaui batas. Al-Fujjar dan SijjinImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai Fujjar (Fajir) dan Sijjin sebagai berikut.Allah Ta’ala menegaskan dengan sebenar-benarnya bahwa catatan amal orang-orang durhaka berada di dalam Sijjīn, yaitu tempat yang menjadi tujuan dan tempat kembali mereka. Kata Sijjīn berasal dari kata sijn yang berarti penjara atau tempat yang sempit. Bentuk katanya menunjukkan makna yang sangat kuat, sebagaimana ungkapan dalam bahasa Arab seperti fasiq, syarīb, khamīr, atau sakīr yang menunjukkan sifat yang sangat melekat.Allah kemudian membesarkan perkara ini dengan firman-Nya: “Tahukah kamu apakah Sijjīn itu?” Maksudnya, Sijjīn adalah perkara yang sangat besar, sebuah penjara yang terus-menerus dan azab yang sangat pedih.Sebagian ulama mengatakan bahwa Sijjīn berada di bawah bumi yang ketujuh. Hal ini disebutkan dalam hadis panjang dari Al-Bara’ bin ‘Azib tentang keadaan ruh orang kafir. Dalam hadis itu Allah berfirman tentang ruh orang kafir:“Catatlah kitabnya di dalam Sijjīn.”Disebutkan pula bahwa Sijjīn berada di bawah bumi yang ketujuh. Ada pula yang mengatakan bahwa Sijjīn adalah sebuah batu besar di bawah bumi ketujuh, ada juga yang mengatakan bahwa ia adalah sebuah sumur di dalam neraka Jahannam.Ibnu Jarir meriwayatkan sebuah hadis tentang hal ini, namun hadis tersebut dinilai gharib dan munkar serta tidak sahih. Dalam riwayat itu disebutkan:“Al-Falaq adalah sebuah sumur di neraka Jahannam yang tertutup, sedangkan Sijjīn adalah sumur yang terbuka.”Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa Sijjīn berasal dari kata penjara yang berarti sempit. Hal ini karena semua makhluk yang berada di tempat yang lebih rendah akan semakin sempit ruangnya, sedangkan yang berada di tempat yang lebih tinggi akan semakin luas.Langit yang tujuh masing-masing lebih luas dan lebih tinggi daripada yang di bawahnya. Demikian pula bumi yang berlapis-lapis, setiap lapisan lebih luas daripada yang berada di bawahnya, hingga akhirnya mencapai tempat yang paling rendah dan paling sempit, yaitu pusat bumi di lapisan bumi yang ketujuh.Karena tempat kembali orang-orang durhaka adalah neraka Jahannam yang berada pada tingkatan paling rendah, sebagaimana firman Allah:ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ • إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh.” (QS. At-Tin: 5–6)Maka Allah berfirman di sini:كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ • وَمَا أَدْرَاكَ مَا سِجِّينٌSijjīn mengandung makna kesempitan dan kerendahan, sebagaimana firman Allah:وَإِذَا أُلْقُوا مِنْهَا مَكَانًا ضَيِّقًا مُقَرَّنِينَ دَعَوْا هُنَالِكَ ثُبُورًا“Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan tangan terbelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan.” (QS. Al-Furqan: 13)“(Yaitu) kitab yang tertulis.” (QS. Al-Muthaffifin: 9)Firman Allah “kitab yang tertulis” bukanlah penjelasan dari ayat “Tahukah kamu apakah Sijjīn itu?”, melainkan penjelasan tentang catatan amal mereka yang telah ditetapkan menuju Sijjīn.Artinya, catatan itu telah tertulis dan ditetapkan dengan pasti, tidak akan bertambah dan tidak pula berkurang. Demikian penjelasan dari Muhammad bin Ka‘b Al-Qurazhi.“Maka kecelakaan besar pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” (QS. Al-Muthaffifin: 10)Artinya, kebinasaan dan kehancuran pada hari kiamat bagi orang-orang yang mendustakan, ketika mereka benar-benar sampai kepada ancaman Allah berupa penjara dan azab yang menghinakan.Makna kata “wail” sebelumnya telah dijelaskan sebagai kebinasaan dan kehancuran, sebagaimana dalam ungkapan bahasa Arab: “Celaka bagi si fulan.”Demikian pula disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan dalam Musnad dan Sunan, dari Bahz bin Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ النَّاسَ، وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ“Celakalah orang yang berbicara lalu berdusta agar membuat manusia tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” Ayat Ketiga Belas – Kelima BelasAllah Ta’ala berfirman,إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ ءَايَٰتُنَا قَالَ أَسَٰطِيرُ ٱلْأَوَّلِينَ“yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu.” (QS. Al-Muthaffifin: 13)كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14)كَلَّآ إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari Tuhan mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 15)Syaikh As-Sa’di menjelaskan:Karena itulah, ketika “yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami”, — yakni ayat-ayat Kami yang menunjukkan kebenaran dan membuktikan kejujuran ajaran yang dibawa para rasul — dibacakan kepadanya, ia justru mendustakannya dan bersikap keras kepala.Ia berkata, itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu yakni ini hanyalah dongeng dan omong kosong orang-orang terdahulu, sekadar cerita umat-umat masa lampau. Ia menganggapnya bukan berasal dari Allah, semua itu diucapkannya karena kesombongan dan sikap membangkang terhadap kebenaran.Adapun orang yang bersikap adil dan jujur dalam menilai, serta tujuannya benar-benar mencari kebenaran yang nyata, maka ia tidak akan mendustakan Hari Pembalasan. Sebab Allah telah menegakkan baginya dalil-dalil yang tegas dan bukti-bukti yang terang, yang menjadikan kebenaran itu sebagai sesuatu yang pasti tanpa keraguan.Kebenaran itu bagi hati mereka laksana matahari bagi penglihatan: begitu jelas dan tak terbantahkan.Berbeda dengan orang yang hatinya telah tertutup oleh dosa-dosa yang ia lakukan, dan kemaksiatan telah menyelimutinya, sehingga kebenaran pun tidak lagi tampak jelas baginya.Karena itu, ia terhalang dari kebenaran. Sebagai balasan atas keadaan tersebut, ia pun dihalangi dari (melihat) Allah. Hal itu sebagaimana dahulu hatinya di dunia telah terhalang dari ayat-ayat Allah. Raan yang Menutupi HatiImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, apabila orang tersebut mendengar firman Allah yang disampaikan oleh Rasul, ia justru mendustakannya. Ia berprasangka buruk terhadap Al-Qur’an dan meyakini bahwa kitab itu hanyalah karangan yang dibuat-buat, yang dikumpulkan dari kisah-kisah dan catatan orang-orang zaman dahulu.Sebagaimana firman Allah Ta’ala:﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ قَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ﴾“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhan kalian?’ Mereka menjawab, ‘Dongeng orang-orang terdahulu.’” (QS. An-Nahl: 24)Dan firman-Nya:﴿وَقَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلَىٰ عَلَيْهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا﴾“Dan mereka berkata, ‘(Al-Qur’an itu hanyalah) dongeng orang-orang terdahulu yang dimintanya untuk dituliskan, lalu dibacakan kepadanya setiap pagi dan petang.’” (QS. Al-Furqan: 5)Demikianlah sikap orang-orang kafir: ketika kebenaran dibacakan kepada mereka, mereka menolaknya dan menuduhnya sebagai cerita rekaan dari masa lampau.Firman Allah Ta’ala:﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾Artinya: “Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”Maksudnya, tidaklah benar seperti yang mereka sangkakan dan ucapkan, bahwa Al-Qur’an itu hanyalah dongeng orang-orang terdahulu. Bahkan Al-Qur’an adalah firman Allah, wahyu-Nya, dan kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya ﷺ.Akan tetapi, yang menghalangi hati mereka untuk beriman kepadanya adalah ran (karat/penutup) yang menyelimuti hati mereka akibat banyaknya dosa dan kesalahan yang mereka lakukan. Karena itulah Allah berfirman: Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.Adapun ran itu menimpa hati orang-orang kafir. Sedangkan bagi orang-orang saleh (al-abrar) ada ghaim (awan tipis), dan bagi orang-orang yang didekatkan kepada Allah (al-muqarrabin) ada ghain (selubung yang lebih ringan lagi).Telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari, Imam Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah melalui beberapa jalur, dari Muhammad bin ‘Ajlan, dari Al-Qa‘qa‘ bin Hakim, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:«إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَذْنَبَ ذَنْبًا كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ مِنْهَا صُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ زَادَ زَادَتْ، فَذَلِكَ قَوْلُ اللَّهِ: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾»Artinya: “Sesungguhnya seorang hamba apabila berbuat dosa, akan muncul satu titik hitam di dalam hatinya. Jika ia bertobat darinya, maka hatinya akan dibersihkan. Namun jika ia menambah (dosa), maka titik itu pun bertambah. Itulah yang dimaksud dengan firman Allah: ‘Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.’”Imam Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan sahih.”Dalam riwayat An-Nasa’i disebutkan:«إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ، فَإِنْ هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ صُقِلَ قَلْبُهُ، فَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، فَهُوَ الرَّانُ الَّذِي قَالَ اللَّهُ: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾»Artinya: “Sesungguhnya seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, akan ditorehkan satu titik pada hatinya. Jika ia berhenti, memohon ampun, dan bertobat, maka hatinya akan dibersihkan. Namun jika ia kembali (berbuat dosa), maka titik itu akan ditambah hingga menutupi hatinya. Itulah ran yang disebutkan Allah dalam firman-Nya.”Demikian pula diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dengan lafaz:«إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ، فَإِنْ زَادَ زَادَتْ حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَذَاكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ فِي الْقُرْآنِ: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾»Artinya: “Sesungguhnya seorang mukmin apabila berbuat dosa, akan muncul satu titik hitam di dalam hatinya. Jika ia bertobat, berhenti, dan memohon ampun, maka hatinya akan dibersihkan. Namun jika ia menambah (dosa), maka titik itu bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah ran yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an.”Hasan al-Basri berkata, “Ia adalah dosa di atas dosa, hingga hati menjadi buta lalu mati.”Demikian pula dikatakan oleh Mujahid bin Jabr, Qatadah ibn Di’ama, Ibnu Zaid, dan selain mereka. Ayat Keenam Belas – Ketujuh BelasAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ إِنَّهُمْ لَصَالُوا۟ ٱلْجَحِيمِ“Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka.” (QS. Al-Muthaffifin: 16)ثُمَّ يُقَالُ هَٰذَا ٱلَّذِى كُنتُم بِهِۦ تُكَذِّبُونَ“Kemudian, dikatakan (kepada mereka): “Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan”.” (QS. Al-Muthaffifin: 17) Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Kemudian Allah berfirman,“Kemudian sesungguhnya mereka benar-benar akan masuk ke dalam neraka yang menyala-nyala.”Lalu dikatakan kepada mereka sebagai bentuk celaan dan teguran keras,“Inilah (azab) yang dahulu kalian dustakan.”Dalam ayat ini disebutkan tiga macam azab bagi mereka:Azab neraka Jahim.Azab berupa celaan dan teguran keras.Azab berupa terhalangnya mereka dari (melihat) Rabb semesta alam.Azab berupa terhalang dari Allah ini mengandung makna kemurkaan dan kemarahan-Nya kepada mereka. Azab ini bahkan lebih berat bagi mereka daripada azab api neraka.Sebaliknya, mafhum dari ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang beriman akan melihat Rabb mereka pada hari kiamat dan di surga. Mereka akan merasakan kenikmatan memandang-Nya yang jauh lebih agung daripada seluruh kenikmatan lainnya. Mereka bergembira dengan pembicaraan-Nya dan bersuka cita karena kedekatan dengan-Nya. Hal ini telah disebutkan oleh Allah dalam banyak ayat Al-Qur’an dan diriwayatkan secara mutawatir dari Rasulullah ﷺ.Dalam ayat-ayat ini juga terdapat peringatan keras agar menjauhi dosa. Sebab dosa-dosa itu menimbulkan karat pada hati dan menutupinya sedikit demi sedikit, hingga cahaya hati itu padam dan penglihatannya mati. Akibatnya, hakikat menjadi terbalik: kebatilan terlihat sebagai kebenaran, dan kebenaran tampak sebagai kebatilan. Ini merupakan salah satu bentuk hukuman akibat dosa.Baca juga: Syarhus Sunnah: Terhalang dari Melihat Wajah Allah Melihat Allah di Akhirat adalah Nikmat paling TinggiAllah Ta’ala juga berfirman:لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ“Bagi orang-orang yang berbuat baik, mereka mendapatkan kebaikan (surga) dan tambahan.” (QS. Yunus: 26)Yang dimaksud al-ḥusnā adalah surga, sedangkan tambahan adalah melihat wajah Allah Yang Mahamulia. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Nabi ﷺ dalam sabdanya:“Apabila penghuni surga telah masuk ke dalam surga, Allah Tabāraka wa Ta‘ālā berfirman:‘Apakah kalian menginginkan sesuatu lagi agar Aku tambahkan kepada kalian?’Mereka menjawab:‘Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami, memasukkan kami ke dalam surga, dan menyelamatkan kami dari neraka?’Kemudian Allah membuka hijab-Nya. Maka tidak ada sesuatu yang diberikan kepada mereka yang lebih mereka cintai daripada memandang Rabb mereka ‘Azza wa Jalla.”Kemudian Rasulullah ﷺ membaca ayat:لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ“Bagi orang-orang yang berbuat baik, mereka mendapatkan kebaikan (surga) dan tambahan.”Dalam riwayat Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari Jarīr bin ‘Abdillāh Al-Bajalī radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:“Kami pernah duduk bersama Nabi ﷺ. Beliau melihat bulan pada malam keempat belas (bulan purnama), lalu beliau bersabda:‘Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian dengan jelas sebagaimana kalian melihat bulan ini. Kalian tidak akan saling berdesakan dalam melihat-Nya.’”Dalam Shahih Bukhari dan Muslim juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu bahwa beberapa orang bertanya kepada Rasulullah ﷺ:“Wahai Rasulullah, apakah kami akan melihat Rabb kami pada hari kiamat?”Beliau menjawab:“Apakah kalian saling berdesakan ketika melihat bulan pada malam purnama?”Mereka menjawab:“Tidak, wahai Rasulullah.”Beliau bertanya lagi:“Apakah kalian saling berdesakan ketika melihat matahari yang tidak tertutup awan?”Mereka menjawab:“Tidak, wahai Rasulullah.”Beliau bersabda:“Demikian pula kalian akan melihat-Nya.”Maksudnya, kalian akan melihat-Nya dengan penglihatan yang nyata tanpa kesulitan dan tanpa saling berdesakan.Selain itu masih banyak lagi hadits-hadits sahih tentang hal ini yang diriwayatkan oleh lebih dari dua puluh orang sahabat. Hadits-hadits tersebut mencapai derajat mutawatir, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama.Adapun melihat Allah di dunia, maka secara akal hal itu mungkin saja terjadi, tetapi secara syariat tidak terjadi. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ ketika memperingatkan tentang Dajjal:“Ketahuilah bahwa tidak seorang pun dari kalian akan melihat Rabbnya hingga ia meninggal dunia. Dan di antara kedua mata Dajjal tertulis huruf ك ف ر yang dapat dibaca oleh setiap orang yang membenci amalnya.” (HR. Tirmidzi, dan beliau berkata: hadits ini hasan sahih)Dalam masalah ini tidak ada perselisihan di kalangan Ahlus Sunnah, kecuali riwayat dari Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhumā yang menyatakan bahwa Nabi ﷺ melihat Rabbnya pada malam Mi‘raj. Namun pendapat yang lebih kuat adalah bahwa Nabi ﷺ melihat cahaya, yaitu hijab-Nya.Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dari Abu Dzarr radhiyallāhu ‘anhu. Ia berkata:“Aku pernah bertanya kepada Nabi ﷺ tentang apakah beliau melihat Rabbnya. Beliau menjawab:‘Aku melihat cahaya.’”Dalam riwayat lain dalam Shahih Muslim, Abu Dzarr berkata:“Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ: ‘Apakah engkau melihat Rabbmu?’Beliau menjawab:‘Cahaya, bagaimana mungkin aku dapat melihat-Nya!’”Bahwa cahaya itu merupakan hijab juga dijelaskan dalam sabda Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:“Sesungguhnya Allah tidak tidur dan tidak pantas bagi-Nya untuk tidur. Dia menurunkan timbangan dan mengangkatnya. Amal malam diangkat kepada-Nya sebelum amal siang, dan amal siang sebelum amal malam. Hijab-Nya adalah cahaya. Seandainya hijab itu dibuka, niscaya sinar wajah-Nya akan membakar segala sesuatu yang dijangkau oleh pandangan-Nya dari makhluk-Nya.”Yang dimaksud subuḥāt wajah-Nya adalah cahaya, keagungan, dan keindahan-Nya.Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam syarahnya atas Shahih Muslim:“Ketahuilah bahwa mazhab Ahlus Sunnah secara keseluruhan menyatakan bahwa melihat Allah Ta’ala itu mungkin dan tidak mustahil secara akal. Mereka juga sepakat bahwa hal itu benar-benar terjadi di akhirat, dan bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah Ta’ala, sedangkan orang-orang kafir tidak.Sebaliknya, sebagian kelompok ahli bid‘ah seperti Mu‘tazilah, Khawarij, dan sebagian Murji’ah berpendapat bahwa tidak seorang pun dari makhluk dapat melihat Allah, dan bahwa melihat-Nya mustahil secara akal. Pendapat mereka ini merupakan kesalahan yang nyata dan kebodohan yang buruk.Dalil-dalil dari Al-Qur’an, Sunnah, serta ijmak para sahabat dan generasi setelah mereka dari kalangan salaf umat ini telah sangat jelas menunjukkan bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah Ta’ala di akhirat. Riwayat tentang hal ini datang dari sekitar dua puluh sahabat Nabi ﷺ, dan ayat-ayat Al-Qur’an tentangnya juga sangat terkenal.Adapun berbagai keberatan yang diajukan oleh kelompok ahli bid‘ah, semuanya telah dijawab secara jelas dalam kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah.Adapun melihat Allah Ta’ala di dunia, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, hal itu secara akal mungkin, tetapi mayoritas ulama salaf dan khalaf berpendapat bahwa hal tersebut tidak terjadi di dunia.”Selesai perkataan Imam An-Nawawi rahimahullah.Referensi: Fatwa Islamweb Ayat Kedelapan Belas – Kedua Puluh DelapanAllah Ta’ala berfirman,كَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلْأَبْرَارِ لَفِى عِلِّيِّينَ“Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam ‘Illiyyin.” (QS. Al-Muthaffifin: 18)وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا عِلِّيُّونَ“Tahukah kamu apakah ‘Illiyyin itu?” (QS. Al-Muthaffifin: 19)كِتَٰبٌ مَّرْقُومٌ“(Yaitu) kitab yang bertulis.” (QS. Al-Muthaffifin: 20)يَشْهَدُهُ ٱلْمُقَرَّبُونَ“yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan (kepada Allah).” (QS. Al-Muthaffifin: 21)إِنَّ ٱلْأَبْرَارَ لَفِى نَعِيمٍ“Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (surga).” (QS. Al-Muthaffifin: 22)عَلَى ٱلْأَرَآئِكِ يَنظُرُونَ“mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang.” (QS. Al-Muthaffifin: 23)تَعْرِفُ فِى وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ ٱلنَّعِيمِ“Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh kenikmatan.” (QS. Al-Muthaffifin: 24)يُسْقَوْنَ مِن رَّحِيقٍ مَّخْتُومٍ“Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya).” (QS. Al-Muthaffifin: 25)خِتَٰمُهُۥ مِسْكٌ ۚ وَفِى ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ ٱلْمُتَنَٰفِسُونَ“laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin: 26)وَمِزَاجُهُۥ مِن تَسْنِيمٍ“Dan campuran khamar murni itu adalah dari tasnim.” (QS. Al-Muthaffifin: 27)عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا ٱلْمُقَرَّبُونَ“(yaitu) mata air yang minum daripadanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah.” (QS. Al-Muthaffifin: 28) Al-Abrar dan ‘IlliyyinImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Yang dimaksud al-abrār adalah orang-orang yang saleh, yang keadaannya berbeda dengan orang-orang yang durhaka (fujjar). Catatan amal mereka berada di ‘Illiyyīn, sebagai kebalikan dari Sijjīn yang menjadi tempat bagi orang-orang durhaka.Al-A‘masy meriwayatkan dari Syamr bin ‘Athiyyah, dari Hilal bin Yasaf, ia berkata:Ibnu ‘Abbas pernah bertanya kepada Ka‘b, sementara aku hadir di situ, tentang Sijjīn. Ka‘b menjawab:“Sijjīn adalah bumi ketujuh, dan di dalamnya terdapat ruh orang-orang kafir.”Ibnu ‘Abbas juga bertanya kepadanya tentang ‘Illiyyīn. Ia menjawab:“‘Illiyyīn adalah langit ketujuh, dan di dalamnya terdapat ruh orang-orang beriman.”Demikian pula dikatakan oleh sejumlah ulama lainnya bahwa ‘Illiyyīn berada di langit ketujuh.Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah:Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam ‘IlliyyinBeliau berkata:“Maksudnya adalah surga.”Dalam riwayat Al-‘Aufi dari Ibnu ‘Abbas disebutkan bahwa maksudnya adalah amal-amal mereka berada di langit di sisi Allah. Demikian pula pendapat yang disampaikan oleh Adh-Dhahhak.Qatadah berkata:“‘Illiyyūn adalah sisi kanan ‘Arsy.”Sementara ulama lain mengatakan bahwa ‘Illiyyūn berada di dekat Sidhratul Muntaha.Pendapat yang paling jelas adalah bahwa kata ‘Illiyyīn berasal dari kata al-‘uluww (ketinggian). Setiap sesuatu yang semakin tinggi dan semakin terangkat, maka semakin besar dan semakin luas kedudukannya. Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Ketika Allah menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang durhaka (al-fujjār) berada di tempat yang paling bawah, paling sempit, dan paling rendah, maka Allah juga menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang yang berbakti (al-abrār) berada di tempat yang paling tinggi, paling luas, dan paling lapang.Dan catatan amal mereka yang tertulis itu disaksikan oleh orang-orang yang didekatkan kepada Allah (al-muqorrobun). Yang dimaksud dengan mereka adalah para malaikat yang mulia, serta ruh para nabi, orang-orang yang sangat jujur dalam iman (ṣiddīqīn), dan para syuhada. Allah menyebut dan memuliakan mereka di hadapan penduduk langit yang tinggi.Adapun ‘Illiyyūn adalah nama bagi tingkatan surga yang paling tinggi.Setelah Allah menyebutkan catatan amal mereka, Allah kemudian menjelaskan bahwa mereka berada dalam kenikmatan. Kata ini merupakan istilah yang mencakup seluruh kenikmatan hati, ruh, dan tubuh.Mereka berada di atas dipan-dipan yang indah.عَلَى الْأَرَائِكِYaitu di atas tempat duduk atau dipan yang dihiasi dengan hamparan dan perhiasan yang indah.يُنْظَرُونَMereka memandang berbagai kenikmatan yang telah Allah siapkan untuk mereka, dan mereka juga memandang wajah Rabb mereka Yang Mahamulia.Allah berfirman:تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ“Engkau dapat melihat pada wajah mereka cahaya kenikmatan.”Artinya, tampak pada wajah mereka keindahan, kesegaran, dan kemilau kenikmatan. Sebab kenikmatan dan kegembiraan yang terus-menerus akan memancarkan cahaya, keindahan, dan keceriaan pada wajah mereka.Mereka diberi minum dari minuman yang sangat murni.يُسْقَوْنَ مِنْ رَحِيقٍ مَخْتُومٍYaitu minuman yang termasuk yang paling baik dan paling lezat di antara berbagai minuman.Minuman itu tertutup rapat.خِتَامُهُ مِسْكٌPenutupnya adalah kasturi. Maksudnya bisa dua kemungkinan:Pertama, minuman itu tertutup rapat sehingga tidak tercampuri sesuatu pun yang dapat mengurangi kenikmatannya atau merusak rasanya. Penutup yang digunakan untuk menutupnya adalah kasturi.Kedua, maksudnya adalah bahwa bagian terakhir dari minuman dalam bejana yang mereka minum memiliki endapan berupa kasturi yang sangat harum. Padahal biasanya dalam kebiasaan di dunia, endapan seperti itu dibuang. Namun di surga justru menjadi sesuatu yang sangat berharga.Tentang kenikmatan yang agung ini Allah berfirman:وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang-orang berlomba-lomba.”Artinya, hendaklah manusia berlomba-lomba untuk meraihnya dengan amal-amal yang dapat mengantarkan kepada kenikmatan tersebut. Inilah sesuatu yang paling pantas diperebutkan oleh jiwa-jiwa yang mulia dan paling layak menjadi tujuan perlombaan orang-orang yang bersungguh-sungguh.Campuran minuman tersebut berasal dari Tasnīm.Tasnīm adalah sebuah mata air di surga.عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُونَ“Mata air yang darinya diminum oleh orang-orang yang didekatkan kepada Allah.”Minuman dari Tasnīm ini diminum secara murni oleh orang-orang yang didekatkan kepada Allah (al-muqorrobun). Ia merupakan minuman paling tinggi dan paling mulia di surga. Karena itu minuman ini khusus bagi mereka yang memiliki kedudukan tertinggi di antara makhluk.Adapun bagi ashḥābul yamīn (golongan kanan), minuman tersebut diberikan dalam keadaan dicampur dengan rahiq dan minuman-minuman lezat lainnya. Ayat Kedua Puluh Sembilan – Ketiga Puluh DuaAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱلَّذِينَ أَجْرَمُوا۟ كَانُوا۟ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ يَضْحَكُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Muthaffifin: 29)وَإِذَا مَرُّوا۟ بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ“Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya.” (QS. Al-Muthaffifin: 30)وَإِذَا ٱنقَلَبُوٓا۟ إِلَىٰٓ أَهْلِهِمُ ٱنقَلَبُوا۟ فَكِهِينَ“Dan apabila orang-orang yang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira.” (QS. Al-Muthaffifin: 31)وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوٓا۟ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ لَضَآلُّونَ“Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”.” (QS. Al-Muthaffifin: 32)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:Ketika Allah menyebutkan balasan bagi orang-orang berdosa dan balasan bagi orang-orang beriman, serta menjelaskan perbedaan yang sangat besar di antara keduanya, Allah juga mengabarkan bahwa dahulu di dunia orang-orang berdosa selalu memperolok kaum mukmin. Mereka mengejek, menghina, dan menertawakan orang-orang beriman.Mereka saling memberi isyarat dengan mata ketika melewati kaum mukmin, sebagai bentuk penghinaan dan pelecehan terhadap mereka. Namun anehnya, meskipun berbuat demikian, mereka hidup dengan perasaan aman dan tenang, seakan-akan tidak ada sedikit pun rasa takut dalam hati mereka.Apabila mereka pulang kepada keluarga mereka—baik pada pagi maupun petang—mereka pulang dalam keadaan senang, gembira, dan merasa bangga dengan perbuatan mereka.Inilah salah satu bentuk kesombongan dan tipu daya yang paling besar. Mereka melakukan keburukan yang sangat parah, tetapi pada saat yang sama merasa aman dan tenteram di dunia. Seolah-olah mereka telah mendapatkan jaminan dan janji dari Allah bahwa mereka termasuk orang-orang yang berbahagia.Bahkan mereka berani memutuskan bahwa diri mereka berada di atas petunjuk, sementara orang-orang beriman dianggap sebagai orang-orang yang sesat. Ini merupakan kedustaan terhadap Allah dan keberanian berbicara tentang-Nya tanpa ilmu. Ayat Ketiga Puluh Tiga – Ketiga Puluh EnamAllah Ta’ala berfirman,وَمَآ أُرْسِلُوا۟ عَلَيْهِمْ حَٰفِظِينَ“padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin.” (QS. Al-Muthaffifin: 33)فَٱلْيَوْمَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنَ ٱلْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ“Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir.” (QS. Al-Muthaffifin: 34)عَلَى ٱلْأَرَآئِكِ يَنظُرُونَ“mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang.” (QS. Al-Muthaffifin: 35)هَلْ ثُوِّبَ ٱلْكُفَّارُ مَا كَانُوا۟ يَفْعَلُونَ“Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Al-Muthaffifin: 36)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:“Padahal mereka tidak diutus sebagai penjaga atas orang-orang beriman.” Maksudnya, orang-orang kafir itu tidak diutus sebagai pengawas bagi kaum mukmin dan tidak pula ditugaskan untuk menjaga atau mencatat amal mereka. Lalu mengapa mereka begitu sibuk menuduh orang-orang beriman sebagai orang yang sesat? Sikap mereka itu hanyalah bentuk keras kepala, permusuhan, dan permainan yang tidak memiliki dasar ataupun bukti.“Maka pada hari ini orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir.” Karena itu, balasan mereka di akhirat sesuai dengan perbuatan mereka di dunia. Allah berfirman: “Pada hari ini”, yaitu pada hari kiamat, orang-orang beriman akan menertawakan orang-orang kafir ketika melihat mereka tenggelam dalam berbagai azab. Semua kedustaan dan anggapan yang dahulu mereka buat pun lenyap, sementara orang-orang beriman berada dalam ketenangan dan kebahagiaan yang sempurna.“Mereka duduk di atas dipan-dipan sambil memandang.”Mereka berada di atas dipan-dipan yang dihiasi dengan indah, menikmati berbagai kenikmatan yang telah Allah siapkan untuk mereka. Mereka juga memandang kepada Rabb mereka Yang Maha Mulia.“Bukankah orang-orang kafir telah diberi balasan terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan?”Artinya, apakah mereka telah dibalas sesuai dengan perbuatan mereka? Ya, mereka telah dibalas dengan balasan yang setimpal. Dahulu di dunia mereka menertawakan orang-orang beriman dan menuduh mereka sesat. Maka di akhirat orang-orang beriman menertawakan mereka dan menyaksikan mereka berada dalam azab dan hukuman sebagai akibat dari kesesatan dan penyimpangan mereka.Itulah balasan yang adil dari Allah dan merupakan bagian dari hikmah-Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Catatan: Perbedaan antara ‘Iliyyin dan SijjinAspek‘IlliyyīnSijjīnPenyebutan dalam surahQS. Al-Muthaffifin: 18–21QS. Al-Muthaffifin: 7–9Siapa yang dicatat di sanaKitab al-abrār: catatan amal orang-orang yang berbakti, saleh, dan taatKitab al-fujjār: catatan amal orang-orang durhaka, fajir, dan banyak dosaKelompok yang terkaitAl-abrār, al-muqarrabūn, orang-orang berimanAl-fujjār, al-mukadzdzibūn, orang-orang yang melampaui batas dan berdosaMakna umumTempat yang tinggi, mulia, lapang, dan agungTempat yang rendah, sempit, menghimpit, dan menghinakanAsal makna kataDari kata al-‘uluww: tinggi, luhur, terangkatDari kata as-sijn / sijn: penjara, kurungan, tempat sempitNuansa maknaKemuliaan, ketinggian derajat, keluasan, kehormatanKehinaan, keterbatasan, kesempitan, hukumanPosisi secara maknawiTempat paling tinggi bagi catatan amal orang salehTempat paling rendah bagi catatan amal orang durhakaPenjelasan As-Sa‘diTempat catatan amal orang-orang berbakti di posisi paling tinggi, luas, dan lapangTempat catatan amal orang-orang durhaka di posisi paling bawah, sempit, dan rendahPenjelasan Ibnu KatsirKebalikan dari Sijjīn; menunjukkan ketinggian dan kemuliaanTempat kembali orang durhaka; menunjukkan penjara dan kesempitanLetak menurut sebagian ulamaDisebut berada di langit ketujuh, atau dekat tempat yang sangat tinggiDisebut berada di bawah bumi ketujuh, atau tempat paling rendahRiwayat dari Ka‘b yang dinukilRuh orang-orang beriman berada di ‘IlliyyīnRuh orang-orang kafir berada di SijjīnPendapat lain ulamaAda yang menafsirkan sebagai surga, atau tempat amal di sisi AllahAda yang menafsirkan sebagai sumur di Jahannam, batu besar, atau tempat sempit di bawahHubungannya dengan catatan amalCatatan amal orang saleh tersimpan dan dimuliakanCatatan amal orang durhaka tersimpan dan menjadi bukti keburukan merekaStatus kitabnyaKitābun marqūm: kitab yang tertulis, tercatat, terjagaKitābun marqūm: kitab yang tertulis, tercatat, dan telah ditetapkanSiapa yang menyaksikanYasyhaduhul muqarrabūn: disaksikan malaikat dan makhluk yang didekatkan kepada AllahTidak disebut disaksikan al-muqarrabūn; konteksnya lebih kepada ancaman dan kebinasaanArah balasanMengarah kepada na‘īm: kenikmatan, wajah berseri, dipan-dipan, minuman surgaMengarah kepada jahīm: neraka, celaan, kehinaan, dan tertutup dari RabbDampak akhir bagi pemilik kitabKemuliaan di akhirat, kedekatan dengan Allah, surga yang tinggiKehinaan di akhirat, azab, keterasingan, dan hukumanKeterkaitan dengan surga/nerakaSangat dekat maknanya dengan tingkatan surga tertinggiSangat dekat maknanya dengan dasar kehinaan dan tempat azabSifat ruangLuas, lapang, tinggi, muliaSempit, rendah, menghimpit, menekanSimbol ruhaniKebersihan amal, kejujuran, ketaatan, kemuliaan jiwaKedurhakaan, kefajiran, kecurangan, pengingkaran hari pembalasanHubungan dengan imanBuah dari iman, amal saleh, dan birr (kebajikan)Buah dari maksiat, kedustaan, melampaui batas, dan dosaHubungan dengan Hari AkhirMenunjukkan keselamatan dan keberuntungan pada hari pembalasanMenunjukkan kecelakaan dan kebinasaan pada hari pembalasanKontras utamanya dalam surahPuncak kemuliaan bagi orang baikPuncak kehinaan bagi orang jahatLawan maknaLawannya adalah SijjīnLawannya adalah ‘IlliyyīnPesan pendidikan imanBeramal saleh akan mengangkat derajat seseorangDosa dan kefajiran akan menjatuhkan seseorang ke derajat paling rendah Walhamdulilah,selesai sudah bahasan tafsir Surah Al-Muthaffifin. Semoga bermanfaat.  Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Senin, 20 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagstafsir al muthaffifin tafsir juz amma timbangan
Curang dalam takaran dan timbangan mungkin terlihat sepele di mata manusia, tetapi sangat besar dosanya di sisi Allah. Surah Al-Muthaffifin dibuka dengan ancaman keras bagi orang-orang yang mengambil haknya secara penuh, namun mengurangi hak orang lain. Ayat-ayat ini mengajarkan keadilan, kejujuran, dan sikap adil bukan hanya dalam muamalah, tetapi juga dalam setiap urusan kehidupan.  Daftar Isi tutup 1. Ayat Pertama – Ketiga 1.1. Contoh praktik kecurangan dalam bisnis saat ini 2. Ayat Keempat – Keenam 2.1. Beratnya Hari Kiamat 2.2. Doa yang Patut Dihafalkan agar Selamat dari Sempitnya Dunia dan Hari Kiamat 3. Ayat Ketujuh – Kedua Belas 4. Al-Fujjar dan Sijjin 5. Ayat Ketiga Belas – Kelima Belas 5.1. Raan yang Menutupi Hati 6. Ayat Keenam Belas – Ketujuh Belas 7. Melihat Allah di Akhirat adalah Nikmat paling Tinggi 8. Ayat Kedelapan Belas – Kedua Puluh Delapan 9. Al-Abrar dan ‘Illiyyin 10. Ayat Kedua Puluh Sembilan – Ketiga Puluh Dua 11. Ayat Ketiga Puluh Tiga – Ketiga Puluh Enam 12. Catatan: Perbedaan antara ‘Iliyyin dan Sijjin  Ayat Pertama – KetigaAllah Ta’ala berfirman,وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang.” (QS. Al-Muthaffifin: 1)ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكْتَالُوا۟ عَلَى ٱلنَّاسِ يَسْتَوْفُونَ“(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi.” (QS. Al-Muthaffifin: 2) وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ“dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al-Muthaffifin: 3)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:“Wailun” adalah kata yang menunjukkan azab dan ancaman keras.“Lil muthoffifin” yaitu bagi orang-orang yang berbuat curang dalam takaran dan timbangan.“(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi.”Allah menjelaskan siapa yang dimaksud dengan orang-orang yang curang itu melalui firman-Nya:yaitu orang-orang yang apabila mereka mengambil takaran dari orang lain untuk hak yang menjadi milik mereka minta dipenuhi, mereka meminta dan mengambilnya secara penuh tanpa ada kekurangan sedikit pun.Sedangkan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, yakni ketika mereka harus memberikan hak orang lain yang menjadi tanggungan mereka melalui takaran atau timbangan, mereka mengurangi hak tersebut. Pengurangan itu bisa dengan menggunakan takaran atau timbangan yang kurang, atau tidak memenuhi takaran dan timbangan sebagaimana mestinya, atau dengan cara lain yang serupa.Perbuatan seperti ini termasuk mencuri harta orang lain dan tidak berlaku adil terhadap mereka.Apabila ancaman ini ditujukan kepada orang-orang yang mengurangi hak orang lain dalam takaran dan timbangan, maka orang yang merampas harta orang lain dengan paksa atau mencurinya secara terang-terangan, lebih pantas lagi mendapatkan ancaman tersebut daripada sekadar orang yang curang dalam takaran.Ayat yang mulia ini juga menunjukkan bahwa sebagaimana seseorang berhak mengambil dari orang lain apa yang menjadi haknya, maka ia juga wajib memberikan kepada orang lain seluruh hak mereka, baik dalam harta maupun dalam berbagai bentuk muamalah. Bahkan makna ini mencakup pula dalam perdebatan dan penyampaian pendapat. Sebagaimana lazimnya dua orang yang berdebat masing-masing berusaha mempertahankan dalil yang menguntungkan dirinya, maka ia juga wajib menjelaskan dalil yang menjadi hak lawannya yang mungkin belum diketahui. Ia harus menimbang dan memperhatikan dalil lawannya sebagaimana ia menimbang dalilnya sendiri. Pada titik inilah akan tampak apakah seseorang itu adil atau fanatik dan memaksakan diri, apakah ia rendah hati atau sombong, serta apakah ia berakal atau bodoh. Kita memohon kepada Allah taufik untuk meraih segala kebaikan. Contoh praktik kecurangan dalam bisnis saat ini1. Spesifikasi Tidak Sesuai IklanMenjual produk dengan klaim kualitas tertentu (misalnya bahan premium, asli, organik), padahal kenyataannya kualitas di bawah standar yang dijanjikan.2. Manipulasi Berat Bersih (Netto)Mencantumkan berat bersih 1 kg, tetapi setelah ditimbang ulang ternyata kurang dari itu. Ini termasuk bentuk pengurangan takaran modern.3. Mengurangi Kualitas JasaDalam bisnis jasa, menerima pembayaran penuh tetapi layanan tidak diberikan sesuai kesepakatan, misalnya jam kerja dikurangi atau hasil kerja tidak sesuai kontrak.4. Markup Biaya Tanpa TransparansiMenambahkan biaya tersembunyi saat pembayaran (admin fee, service charge, biaya tambahan yang tidak dijelaskan di awal).5. Memanfaatkan Ketidaktahuan KonsumenMenjual barang dengan harga jauh di atas standar pasar kepada orang yang tidak memahami harga sebenarnya.6. Kecurangan dalam Laporan KeuanganMengurangi hak mitra, investor, atau karyawan dengan memanipulasi data laba dan pembagian hasil.7. Mengurangi Hak KaryawanMeminta kinerja penuh, tetapi gaji atau hak lembur tidak dibayarkan sesuai kesepakatan. Ayat Keempat – KeenamAllah Ta’ala berfirman,أَلَا يَظُنُّ أُو۟لَٰٓئِكَ أَنَّهُم مَّبْعُوثُونَ“Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan.” (QS. Al-Muthaffifin: 4)لِيَوْمٍ عَظِيمٍ“pada suatu hari yang besar.” (QS. Al-Muthaffifin: 5)يَوْمَ يَقُومُ ٱلنَّاسُ لِرَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ“(yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?” (QS. Al-Muthaffifin: 6)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Kemudian Allah Ta’ala mengancam orang-orang yang curang dalam takaran dan timbangan. Allah juga menunjukkan keheranan terhadap keadaan mereka yang terus-menerus melakukan perbuatan itu. Allah berfirman dengan nada peringatan, “Tidakkah mereka menyangka bahwa mereka akan dibangkitkan pada hari yang sangat besar, yaitu hari ketika seluruh manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam?”Yang membuat mereka berani berbuat curang adalah karena mereka tidak beriman kepada hari akhir. Seandainya mereka benar-benar beriman dan menyadari bahwa kelak mereka akan berdiri di hadapan Allah, lalu dihisab atas segala sesuatu—baik yang kecil maupun yang besar—tentu mereka akan berhenti dari perbuatan tersebut dan segera bertobat darinya. Beratnya Hari KiamatImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam kitab tafsirnya mengenai surah Al-Muthaffifin ayat keenam.Maksudnya, pada hari itu manusia berdiri dalam keadaan tanpa alas kaki, tanpa pakaian, dan belum dikhitan, di suatu tempat yang sangat sulit, sempit, dan penuh kesusahan. Tempat itu terasa sangat berat bagi orang-orang yang berdosa. Mereka diliputi oleh kedahsyatan urusan Allah yang tidak sanggup ditanggung oleh kekuatan dan pancaindra manusia.Imam Malik meriwayatkan dari Nafi’, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang firman Allah: (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?“Hingga salah seorang dari mereka tenggelam dalam keringatnya sampai setengah telinganya.”Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari melalui jalur Malik dan Abdullah bin ‘Aun, keduanya dari Nafi’. Juga diriwayatkan oleh Muslim melalui dua jalur tersebut. Demikian pula diriwayatkan oleh Shalih, Tsabit bin Kaisan, Ayyub bin Yahya, Abdullah dan Ubaidullah—keduanya putra Umar—serta Muhammad bin Ishaq, semuanya dari Nafi’, dari Ibnu Umar.Dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan: Yazid menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Ishaq mengabarkan kepada kami dari Nafi’, dari Ibnu Umar, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang firman Allah: (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?“Karena keagungan Ar-Rahman ‘Azza wa Jalla pada hari Kiamat, hingga keringat benar-benar mengekang manusia sampai setengah telinga mereka.”Dalam hadis lain, Imam Ahmad meriwayatkan: Ibrahim bin Ishaq menceritakan kepada kami, Ibnu Al-Mubarak menceritakan kepada kami dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir, ia berkata: Sulaim bin ‘Amir menceritakan kepadaku, Al-Miqdad—yakni Ibnu Al-Aswad Al-Kindi—berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Apabila hari Kiamat terjadi, matahari didekatkan kepada para hamba hingga jaraknya sekitar satu mil atau dua mil.”Beliau bersabda, “Maka matahari itu membakar mereka, sehingga mereka tenggelam dalam keringat sesuai dengan kadar amal mereka. Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kaki, ada yang sampai kedua lutut, ada yang sampai pinggangnya, dan ada yang benar-benar dikekang oleh keringatnya.”Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim melalui jalur Al-Hakam bin Musa dari Yahya bin Hamzah, dan oleh At-Tirmidzi melalui Suwaid dari Ibnu Al-Mubarak, keduanya dari Ibnu Jabir.Dalam hadis lain, Imam Ahmad meriwayatkan dari Hasan bin Sawwar, dari Al-Laits bin Sa’d, dari Mu’awiyah bin Shalih, bahwa Abu Abdurrahman menceritakan kepadanya dari Abu Umamah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Matahari didekatkan pada hari Kiamat sejauh satu mil, dan panasnya ditambah sekian dan sekian. Binatang-binatang kecil pun mendidih karenanya sebagaimana air dalam kuali mendidih. Manusia berkeringat sesuai dengan kadar dosa mereka. Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kaki, ada yang sampai betis, ada yang sampai pertengahan tubuhnya, dan ada yang benar-benar dikekang oleh keringat.”Hadis ini diriwayatkan secara tersendiri oleh Imam Ahmad.Dalam hadis lain, Imam Ahmad meriwayatkan dari Hasan, dari Ibnu Lahi’ah, dari Abu ‘Asyanah Hayy bin Yu’min, bahwa ia mendengar ‘Uqbah bin ‘Amir berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Matahari didekatkan ke bumi, lalu manusia berkeringat. Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kaki, ada yang sampai pertengahan betis, ada yang sampai kedua lutut, ada yang sampai pantat, ada yang sampai pinggang, ada yang sampai kedua bahu, ada yang sampai pertengahan mulutnya.”Beliau memberi isyarat dengan tangannya seakan-akan menutup mulutnya. Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi isyarat seperti itu. “Dan ada pula yang keringatnya menutupi seluruh tubuhnya.” Beliau memberi isyarat dengan tangannya. Hadis ini juga diriwayatkan secara tersendiri oleh Imam Ahmad.Disebutkan pula dalam sebuah hadis bahwa mereka berdiri selama tujuh puluh tahun tanpa berbicara. Ada yang mengatakan mereka berdiri selama tiga ratus tahun. Ada pula yang mengatakan empat puluh ribu tahun. Dan diputuskan perkara di antara mereka dalam kadar sepuluh ribu tahun, sebagaimana disebutkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah secara marfu’:“Pada suatu hari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.”Ibnu Abi Hatim meriwayatkan: Ayahku menceritakan kepada kami, Abu ‘Aun Az-Ziyadi mengabarkan kepada kami, Abdur Salam bin ‘Ajlan berkata: Aku mendengar Abu Yazid Al-Madani dari Abu Hurairah berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Basyir Al-Ghifari,“Bagaimana keadaanmu pada hari ketika manusia berdiri selama tiga ratus tahun untuk Rabb seluruh alam—menurut hitungan hari dunia—tanpa datang kepada mereka kabar dari langit dan tanpa diperintahkan suatu perintah?”Basyir berkata, “Hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan.”Beliau bersabda,فَإِذَا أَوَيْتَ إِلَىٰ فِرَاشِكَ فَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ كَرْبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَسُوءِ الْحِسَابِ.“Jika engkau berbaring di tempat tidurmu, maka berlindunglah kepada Allah dari kesusahan hari Kiamat dan dari buruknya hisab.”Ibnu Jarir meriwayatkannya melalui jalur Abdur Salam.Dalam Sunan Abu Dawud disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berlindung kepada Allah dari sempitnya tempat berdiri pada hari Kiamat.Dari Ibnu Mas’ud disebutkan bahwa mereka berdiri selama empat puluh tahun dengan kepala terangkat ke langit, tidak seorang pun berbicara kepada mereka, dan keringat telah mengekang orang baik maupun orang jahat.Dari Ibnu Umar disebutkan bahwa mereka berdiri selama seratus tahun. Keduanya diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.Dalam Sunan Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah, melalui hadis Zaid bin Al-Hubab dari Mu’awiyah bin Shalih, dari Azhar bin Sa’id Al-Hawari, dari ‘Ashim bin Humaid, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka qiyamullail dengan bertakbir sepuluh kali, memuji sepuluh kali, bertasbih sepuluh kali, dan beristighfar sepuluh kali. Beliau juga berdoa,اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَاهْدِنِي، وَارْزُقْنِي، وَعَافِنِي، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ ضِيقِ الْمَقَامِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.ALLĀHUMMAGHFIR LĪ, WAHDINĪ, WARZUQNĪ, WA ‘ĀFINĪ, WA A‘ŪDZU BIKA MIN ḌHĪQIL-MAQĀMI YAUMAL-QIYĀMAH.“Ya Allah, ampunilah aku, berilah aku petunjuk, berilah aku rezeki, dan sehatkanlah aku.” Doa yang Patut Dihafalkan agar Selamat dari Sempitnya Dunia dan Hari KiamatAisyah radhiyallahu ‘anha mengabarkan tentang qiyamullail Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan doa pembuka shalat beliau (doa iftitah) dengan doa dan zikir tersebut. Ia berkata:“Beliau bertakbir sepuluh kali, bertasbih sepuluh kali, dan beristighfar sepuluh kali.”Kemudian ia menyebutkan doa tersebut.Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau berdoa:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ ضِيقِ الدُّنْيَا، وَضِيقِ الْقِيَامَةِALLĀHUMMA INNII A‘ŪDZU BIKA MIN DHIIQID-DUNYĀ, WA DHIIQIL-QIYĀMAH.“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesempitan dunia dan kesempitan pada hari Kiamat.”(Diriwayatkan oleh Abu Dauud dalam Sunan-nya, Kitab Al-Adab, Bab “Doa yang Dibaca Ketika Pagi Hari”, no. 5087; An-Nasa’i dalam Al-Kubra, Kitab Shalat ‘Idain, Bab Khutbah Hari Raya, no. 10623; juga dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah karya Ibnu As-Sunni, no. 759. Hadis ini dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah, no. 1356). Ayat Ketujuh – Kedua BelasAllah Ta’ala berfirman,كَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلْفُجَّارِ لَفِى سِجِّينٍ“Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin.” (QS. Al-Muthaffifin: 7)وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا سِجِّينٌ“Tahukah kamu apakah sijjin itu?” (QS. Al-Muthaffifin: 8)كِتَٰبٌ مَّرْقُومٌ“(Ialah) kitab yang bertulis.” (QS. Al-Muthaffifin: 9)وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِّلْمُكَذِّبِينَ“Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” (QS. Al-Muthaffifin: 10)ٱلَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوْمِ ٱلدِّينِ“(yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.” (QS. Al-Muthaffifin: 11)وَمَا يُكَذِّبُ بِهِۦٓ إِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ“Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa.” (QS. Al-Muthaffifin: 12)Syaikh As-Sa’di menjelaskan:Maksudnya, kitab yang di dalamnya tertulis seluruh amal buruk mereka. Sijjīn adalah tempat yang sempit lagi menghimpit. Sijjīn merupakan kebalikan dari ‘Illiyyīn, yaitu tempat catatan amal orang-orang yang berbakti, sebagaimana akan dijelaskan nanti.Sebagian ulama mengatakan bahwa Sijjīn adalah lapisan bumi yang paling bawah, tempat tinggal orang-orang durhaka dan tempat menetap mereka kelak di akhirat.(Yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.Kemudian Allah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan para pendusta itu adalah orang-orang yang mendustakan hari pembalasan, yaitu hari ketika Allah membalas manusia atas seluruh amal perbuatan mereka.“Dan tidak ada yang mendustakannya kecuali setiap orang yang melampaui batas lagi banyak berbuat dosa.”Yakni orang yang melanggar batas-batas yang telah ditetapkan Allah, berpindah dari yang halal kepada yang haram. Ia adalah orang yang banyak berbuat dosa. Sikap melampaui batas itulah yang mendorongnya untuk mendustakan, dan kesombongannya membuatnya menolak kebenaran.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat kedua belas:Maksudnya, ia adalah orang yang melampaui batas dalam perbuatannya: berani melakukan yang haram dan berlebihan dalam menikmati hal-hal yang sebenarnya mubah.Ia juga seorang yang banyak berdosa dalam ucapannya. Jika berbicara, ia berdusta. Jika berjanji, ia mengingkari. Dan jika berselisih atau bertengkar, ia berlaku curang dan melampaui batas. Al-Fujjar dan SijjinImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai Fujjar (Fajir) dan Sijjin sebagai berikut.Allah Ta’ala menegaskan dengan sebenar-benarnya bahwa catatan amal orang-orang durhaka berada di dalam Sijjīn, yaitu tempat yang menjadi tujuan dan tempat kembali mereka. Kata Sijjīn berasal dari kata sijn yang berarti penjara atau tempat yang sempit. Bentuk katanya menunjukkan makna yang sangat kuat, sebagaimana ungkapan dalam bahasa Arab seperti fasiq, syarīb, khamīr, atau sakīr yang menunjukkan sifat yang sangat melekat.Allah kemudian membesarkan perkara ini dengan firman-Nya: “Tahukah kamu apakah Sijjīn itu?” Maksudnya, Sijjīn adalah perkara yang sangat besar, sebuah penjara yang terus-menerus dan azab yang sangat pedih.Sebagian ulama mengatakan bahwa Sijjīn berada di bawah bumi yang ketujuh. Hal ini disebutkan dalam hadis panjang dari Al-Bara’ bin ‘Azib tentang keadaan ruh orang kafir. Dalam hadis itu Allah berfirman tentang ruh orang kafir:“Catatlah kitabnya di dalam Sijjīn.”Disebutkan pula bahwa Sijjīn berada di bawah bumi yang ketujuh. Ada pula yang mengatakan bahwa Sijjīn adalah sebuah batu besar di bawah bumi ketujuh, ada juga yang mengatakan bahwa ia adalah sebuah sumur di dalam neraka Jahannam.Ibnu Jarir meriwayatkan sebuah hadis tentang hal ini, namun hadis tersebut dinilai gharib dan munkar serta tidak sahih. Dalam riwayat itu disebutkan:“Al-Falaq adalah sebuah sumur di neraka Jahannam yang tertutup, sedangkan Sijjīn adalah sumur yang terbuka.”Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa Sijjīn berasal dari kata penjara yang berarti sempit. Hal ini karena semua makhluk yang berada di tempat yang lebih rendah akan semakin sempit ruangnya, sedangkan yang berada di tempat yang lebih tinggi akan semakin luas.Langit yang tujuh masing-masing lebih luas dan lebih tinggi daripada yang di bawahnya. Demikian pula bumi yang berlapis-lapis, setiap lapisan lebih luas daripada yang berada di bawahnya, hingga akhirnya mencapai tempat yang paling rendah dan paling sempit, yaitu pusat bumi di lapisan bumi yang ketujuh.Karena tempat kembali orang-orang durhaka adalah neraka Jahannam yang berada pada tingkatan paling rendah, sebagaimana firman Allah:ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ • إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh.” (QS. At-Tin: 5–6)Maka Allah berfirman di sini:كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ • وَمَا أَدْرَاكَ مَا سِجِّينٌSijjīn mengandung makna kesempitan dan kerendahan, sebagaimana firman Allah:وَإِذَا أُلْقُوا مِنْهَا مَكَانًا ضَيِّقًا مُقَرَّنِينَ دَعَوْا هُنَالِكَ ثُبُورًا“Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan tangan terbelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan.” (QS. Al-Furqan: 13)“(Yaitu) kitab yang tertulis.” (QS. Al-Muthaffifin: 9)Firman Allah “kitab yang tertulis” bukanlah penjelasan dari ayat “Tahukah kamu apakah Sijjīn itu?”, melainkan penjelasan tentang catatan amal mereka yang telah ditetapkan menuju Sijjīn.Artinya, catatan itu telah tertulis dan ditetapkan dengan pasti, tidak akan bertambah dan tidak pula berkurang. Demikian penjelasan dari Muhammad bin Ka‘b Al-Qurazhi.“Maka kecelakaan besar pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” (QS. Al-Muthaffifin: 10)Artinya, kebinasaan dan kehancuran pada hari kiamat bagi orang-orang yang mendustakan, ketika mereka benar-benar sampai kepada ancaman Allah berupa penjara dan azab yang menghinakan.Makna kata “wail” sebelumnya telah dijelaskan sebagai kebinasaan dan kehancuran, sebagaimana dalam ungkapan bahasa Arab: “Celaka bagi si fulan.”Demikian pula disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan dalam Musnad dan Sunan, dari Bahz bin Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ النَّاسَ، وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ“Celakalah orang yang berbicara lalu berdusta agar membuat manusia tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” Ayat Ketiga Belas – Kelima BelasAllah Ta’ala berfirman,إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ ءَايَٰتُنَا قَالَ أَسَٰطِيرُ ٱلْأَوَّلِينَ“yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu.” (QS. Al-Muthaffifin: 13)كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14)كَلَّآ إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari Tuhan mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 15)Syaikh As-Sa’di menjelaskan:Karena itulah, ketika “yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami”, — yakni ayat-ayat Kami yang menunjukkan kebenaran dan membuktikan kejujuran ajaran yang dibawa para rasul — dibacakan kepadanya, ia justru mendustakannya dan bersikap keras kepala.Ia berkata, itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu yakni ini hanyalah dongeng dan omong kosong orang-orang terdahulu, sekadar cerita umat-umat masa lampau. Ia menganggapnya bukan berasal dari Allah, semua itu diucapkannya karena kesombongan dan sikap membangkang terhadap kebenaran.Adapun orang yang bersikap adil dan jujur dalam menilai, serta tujuannya benar-benar mencari kebenaran yang nyata, maka ia tidak akan mendustakan Hari Pembalasan. Sebab Allah telah menegakkan baginya dalil-dalil yang tegas dan bukti-bukti yang terang, yang menjadikan kebenaran itu sebagai sesuatu yang pasti tanpa keraguan.Kebenaran itu bagi hati mereka laksana matahari bagi penglihatan: begitu jelas dan tak terbantahkan.Berbeda dengan orang yang hatinya telah tertutup oleh dosa-dosa yang ia lakukan, dan kemaksiatan telah menyelimutinya, sehingga kebenaran pun tidak lagi tampak jelas baginya.Karena itu, ia terhalang dari kebenaran. Sebagai balasan atas keadaan tersebut, ia pun dihalangi dari (melihat) Allah. Hal itu sebagaimana dahulu hatinya di dunia telah terhalang dari ayat-ayat Allah. Raan yang Menutupi HatiImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, apabila orang tersebut mendengar firman Allah yang disampaikan oleh Rasul, ia justru mendustakannya. Ia berprasangka buruk terhadap Al-Qur’an dan meyakini bahwa kitab itu hanyalah karangan yang dibuat-buat, yang dikumpulkan dari kisah-kisah dan catatan orang-orang zaman dahulu.Sebagaimana firman Allah Ta’ala:﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ قَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ﴾“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhan kalian?’ Mereka menjawab, ‘Dongeng orang-orang terdahulu.’” (QS. An-Nahl: 24)Dan firman-Nya:﴿وَقَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلَىٰ عَلَيْهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا﴾“Dan mereka berkata, ‘(Al-Qur’an itu hanyalah) dongeng orang-orang terdahulu yang dimintanya untuk dituliskan, lalu dibacakan kepadanya setiap pagi dan petang.’” (QS. Al-Furqan: 5)Demikianlah sikap orang-orang kafir: ketika kebenaran dibacakan kepada mereka, mereka menolaknya dan menuduhnya sebagai cerita rekaan dari masa lampau.Firman Allah Ta’ala:﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾Artinya: “Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”Maksudnya, tidaklah benar seperti yang mereka sangkakan dan ucapkan, bahwa Al-Qur’an itu hanyalah dongeng orang-orang terdahulu. Bahkan Al-Qur’an adalah firman Allah, wahyu-Nya, dan kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya ﷺ.Akan tetapi, yang menghalangi hati mereka untuk beriman kepadanya adalah ran (karat/penutup) yang menyelimuti hati mereka akibat banyaknya dosa dan kesalahan yang mereka lakukan. Karena itulah Allah berfirman: Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.Adapun ran itu menimpa hati orang-orang kafir. Sedangkan bagi orang-orang saleh (al-abrar) ada ghaim (awan tipis), dan bagi orang-orang yang didekatkan kepada Allah (al-muqarrabin) ada ghain (selubung yang lebih ringan lagi).Telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari, Imam Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah melalui beberapa jalur, dari Muhammad bin ‘Ajlan, dari Al-Qa‘qa‘ bin Hakim, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:«إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَذْنَبَ ذَنْبًا كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ مِنْهَا صُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ زَادَ زَادَتْ، فَذَلِكَ قَوْلُ اللَّهِ: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾»Artinya: “Sesungguhnya seorang hamba apabila berbuat dosa, akan muncul satu titik hitam di dalam hatinya. Jika ia bertobat darinya, maka hatinya akan dibersihkan. Namun jika ia menambah (dosa), maka titik itu pun bertambah. Itulah yang dimaksud dengan firman Allah: ‘Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.’”Imam Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan sahih.”Dalam riwayat An-Nasa’i disebutkan:«إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ، فَإِنْ هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ صُقِلَ قَلْبُهُ، فَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، فَهُوَ الرَّانُ الَّذِي قَالَ اللَّهُ: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾»Artinya: “Sesungguhnya seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, akan ditorehkan satu titik pada hatinya. Jika ia berhenti, memohon ampun, dan bertobat, maka hatinya akan dibersihkan. Namun jika ia kembali (berbuat dosa), maka titik itu akan ditambah hingga menutupi hatinya. Itulah ran yang disebutkan Allah dalam firman-Nya.”Demikian pula diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dengan lafaz:«إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ، فَإِنْ زَادَ زَادَتْ حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَذَاكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ فِي الْقُرْآنِ: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾»Artinya: “Sesungguhnya seorang mukmin apabila berbuat dosa, akan muncul satu titik hitam di dalam hatinya. Jika ia bertobat, berhenti, dan memohon ampun, maka hatinya akan dibersihkan. Namun jika ia menambah (dosa), maka titik itu bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah ran yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an.”Hasan al-Basri berkata, “Ia adalah dosa di atas dosa, hingga hati menjadi buta lalu mati.”Demikian pula dikatakan oleh Mujahid bin Jabr, Qatadah ibn Di’ama, Ibnu Zaid, dan selain mereka. Ayat Keenam Belas – Ketujuh BelasAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ إِنَّهُمْ لَصَالُوا۟ ٱلْجَحِيمِ“Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka.” (QS. Al-Muthaffifin: 16)ثُمَّ يُقَالُ هَٰذَا ٱلَّذِى كُنتُم بِهِۦ تُكَذِّبُونَ“Kemudian, dikatakan (kepada mereka): “Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan”.” (QS. Al-Muthaffifin: 17) Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Kemudian Allah berfirman,“Kemudian sesungguhnya mereka benar-benar akan masuk ke dalam neraka yang menyala-nyala.”Lalu dikatakan kepada mereka sebagai bentuk celaan dan teguran keras,“Inilah (azab) yang dahulu kalian dustakan.”Dalam ayat ini disebutkan tiga macam azab bagi mereka:Azab neraka Jahim.Azab berupa celaan dan teguran keras.Azab berupa terhalangnya mereka dari (melihat) Rabb semesta alam.Azab berupa terhalang dari Allah ini mengandung makna kemurkaan dan kemarahan-Nya kepada mereka. Azab ini bahkan lebih berat bagi mereka daripada azab api neraka.Sebaliknya, mafhum dari ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang beriman akan melihat Rabb mereka pada hari kiamat dan di surga. Mereka akan merasakan kenikmatan memandang-Nya yang jauh lebih agung daripada seluruh kenikmatan lainnya. Mereka bergembira dengan pembicaraan-Nya dan bersuka cita karena kedekatan dengan-Nya. Hal ini telah disebutkan oleh Allah dalam banyak ayat Al-Qur’an dan diriwayatkan secara mutawatir dari Rasulullah ﷺ.Dalam ayat-ayat ini juga terdapat peringatan keras agar menjauhi dosa. Sebab dosa-dosa itu menimbulkan karat pada hati dan menutupinya sedikit demi sedikit, hingga cahaya hati itu padam dan penglihatannya mati. Akibatnya, hakikat menjadi terbalik: kebatilan terlihat sebagai kebenaran, dan kebenaran tampak sebagai kebatilan. Ini merupakan salah satu bentuk hukuman akibat dosa.Baca juga: Syarhus Sunnah: Terhalang dari Melihat Wajah Allah Melihat Allah di Akhirat adalah Nikmat paling TinggiAllah Ta’ala juga berfirman:لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ“Bagi orang-orang yang berbuat baik, mereka mendapatkan kebaikan (surga) dan tambahan.” (QS. Yunus: 26)Yang dimaksud al-ḥusnā adalah surga, sedangkan tambahan adalah melihat wajah Allah Yang Mahamulia. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Nabi ﷺ dalam sabdanya:“Apabila penghuni surga telah masuk ke dalam surga, Allah Tabāraka wa Ta‘ālā berfirman:‘Apakah kalian menginginkan sesuatu lagi agar Aku tambahkan kepada kalian?’Mereka menjawab:‘Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami, memasukkan kami ke dalam surga, dan menyelamatkan kami dari neraka?’Kemudian Allah membuka hijab-Nya. Maka tidak ada sesuatu yang diberikan kepada mereka yang lebih mereka cintai daripada memandang Rabb mereka ‘Azza wa Jalla.”Kemudian Rasulullah ﷺ membaca ayat:لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ“Bagi orang-orang yang berbuat baik, mereka mendapatkan kebaikan (surga) dan tambahan.”Dalam riwayat Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari Jarīr bin ‘Abdillāh Al-Bajalī radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:“Kami pernah duduk bersama Nabi ﷺ. Beliau melihat bulan pada malam keempat belas (bulan purnama), lalu beliau bersabda:‘Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian dengan jelas sebagaimana kalian melihat bulan ini. Kalian tidak akan saling berdesakan dalam melihat-Nya.’”Dalam Shahih Bukhari dan Muslim juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu bahwa beberapa orang bertanya kepada Rasulullah ﷺ:“Wahai Rasulullah, apakah kami akan melihat Rabb kami pada hari kiamat?”Beliau menjawab:“Apakah kalian saling berdesakan ketika melihat bulan pada malam purnama?”Mereka menjawab:“Tidak, wahai Rasulullah.”Beliau bertanya lagi:“Apakah kalian saling berdesakan ketika melihat matahari yang tidak tertutup awan?”Mereka menjawab:“Tidak, wahai Rasulullah.”Beliau bersabda:“Demikian pula kalian akan melihat-Nya.”Maksudnya, kalian akan melihat-Nya dengan penglihatan yang nyata tanpa kesulitan dan tanpa saling berdesakan.Selain itu masih banyak lagi hadits-hadits sahih tentang hal ini yang diriwayatkan oleh lebih dari dua puluh orang sahabat. Hadits-hadits tersebut mencapai derajat mutawatir, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama.Adapun melihat Allah di dunia, maka secara akal hal itu mungkin saja terjadi, tetapi secara syariat tidak terjadi. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ ketika memperingatkan tentang Dajjal:“Ketahuilah bahwa tidak seorang pun dari kalian akan melihat Rabbnya hingga ia meninggal dunia. Dan di antara kedua mata Dajjal tertulis huruf ك ف ر yang dapat dibaca oleh setiap orang yang membenci amalnya.” (HR. Tirmidzi, dan beliau berkata: hadits ini hasan sahih)Dalam masalah ini tidak ada perselisihan di kalangan Ahlus Sunnah, kecuali riwayat dari Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhumā yang menyatakan bahwa Nabi ﷺ melihat Rabbnya pada malam Mi‘raj. Namun pendapat yang lebih kuat adalah bahwa Nabi ﷺ melihat cahaya, yaitu hijab-Nya.Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dari Abu Dzarr radhiyallāhu ‘anhu. Ia berkata:“Aku pernah bertanya kepada Nabi ﷺ tentang apakah beliau melihat Rabbnya. Beliau menjawab:‘Aku melihat cahaya.’”Dalam riwayat lain dalam Shahih Muslim, Abu Dzarr berkata:“Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ: ‘Apakah engkau melihat Rabbmu?’Beliau menjawab:‘Cahaya, bagaimana mungkin aku dapat melihat-Nya!’”Bahwa cahaya itu merupakan hijab juga dijelaskan dalam sabda Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:“Sesungguhnya Allah tidak tidur dan tidak pantas bagi-Nya untuk tidur. Dia menurunkan timbangan dan mengangkatnya. Amal malam diangkat kepada-Nya sebelum amal siang, dan amal siang sebelum amal malam. Hijab-Nya adalah cahaya. Seandainya hijab itu dibuka, niscaya sinar wajah-Nya akan membakar segala sesuatu yang dijangkau oleh pandangan-Nya dari makhluk-Nya.”Yang dimaksud subuḥāt wajah-Nya adalah cahaya, keagungan, dan keindahan-Nya.Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam syarahnya atas Shahih Muslim:“Ketahuilah bahwa mazhab Ahlus Sunnah secara keseluruhan menyatakan bahwa melihat Allah Ta’ala itu mungkin dan tidak mustahil secara akal. Mereka juga sepakat bahwa hal itu benar-benar terjadi di akhirat, dan bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah Ta’ala, sedangkan orang-orang kafir tidak.Sebaliknya, sebagian kelompok ahli bid‘ah seperti Mu‘tazilah, Khawarij, dan sebagian Murji’ah berpendapat bahwa tidak seorang pun dari makhluk dapat melihat Allah, dan bahwa melihat-Nya mustahil secara akal. Pendapat mereka ini merupakan kesalahan yang nyata dan kebodohan yang buruk.Dalil-dalil dari Al-Qur’an, Sunnah, serta ijmak para sahabat dan generasi setelah mereka dari kalangan salaf umat ini telah sangat jelas menunjukkan bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah Ta’ala di akhirat. Riwayat tentang hal ini datang dari sekitar dua puluh sahabat Nabi ﷺ, dan ayat-ayat Al-Qur’an tentangnya juga sangat terkenal.Adapun berbagai keberatan yang diajukan oleh kelompok ahli bid‘ah, semuanya telah dijawab secara jelas dalam kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah.Adapun melihat Allah Ta’ala di dunia, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, hal itu secara akal mungkin, tetapi mayoritas ulama salaf dan khalaf berpendapat bahwa hal tersebut tidak terjadi di dunia.”Selesai perkataan Imam An-Nawawi rahimahullah.Referensi: Fatwa Islamweb Ayat Kedelapan Belas – Kedua Puluh DelapanAllah Ta’ala berfirman,كَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلْأَبْرَارِ لَفِى عِلِّيِّينَ“Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam ‘Illiyyin.” (QS. Al-Muthaffifin: 18)وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا عِلِّيُّونَ“Tahukah kamu apakah ‘Illiyyin itu?” (QS. Al-Muthaffifin: 19)كِتَٰبٌ مَّرْقُومٌ“(Yaitu) kitab yang bertulis.” (QS. Al-Muthaffifin: 20)يَشْهَدُهُ ٱلْمُقَرَّبُونَ“yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan (kepada Allah).” (QS. Al-Muthaffifin: 21)إِنَّ ٱلْأَبْرَارَ لَفِى نَعِيمٍ“Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (surga).” (QS. Al-Muthaffifin: 22)عَلَى ٱلْأَرَآئِكِ يَنظُرُونَ“mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang.” (QS. Al-Muthaffifin: 23)تَعْرِفُ فِى وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ ٱلنَّعِيمِ“Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh kenikmatan.” (QS. Al-Muthaffifin: 24)يُسْقَوْنَ مِن رَّحِيقٍ مَّخْتُومٍ“Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya).” (QS. Al-Muthaffifin: 25)خِتَٰمُهُۥ مِسْكٌ ۚ وَفِى ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ ٱلْمُتَنَٰفِسُونَ“laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin: 26)وَمِزَاجُهُۥ مِن تَسْنِيمٍ“Dan campuran khamar murni itu adalah dari tasnim.” (QS. Al-Muthaffifin: 27)عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا ٱلْمُقَرَّبُونَ“(yaitu) mata air yang minum daripadanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah.” (QS. Al-Muthaffifin: 28) Al-Abrar dan ‘IlliyyinImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Yang dimaksud al-abrār adalah orang-orang yang saleh, yang keadaannya berbeda dengan orang-orang yang durhaka (fujjar). Catatan amal mereka berada di ‘Illiyyīn, sebagai kebalikan dari Sijjīn yang menjadi tempat bagi orang-orang durhaka.Al-A‘masy meriwayatkan dari Syamr bin ‘Athiyyah, dari Hilal bin Yasaf, ia berkata:Ibnu ‘Abbas pernah bertanya kepada Ka‘b, sementara aku hadir di situ, tentang Sijjīn. Ka‘b menjawab:“Sijjīn adalah bumi ketujuh, dan di dalamnya terdapat ruh orang-orang kafir.”Ibnu ‘Abbas juga bertanya kepadanya tentang ‘Illiyyīn. Ia menjawab:“‘Illiyyīn adalah langit ketujuh, dan di dalamnya terdapat ruh orang-orang beriman.”Demikian pula dikatakan oleh sejumlah ulama lainnya bahwa ‘Illiyyīn berada di langit ketujuh.Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah:Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam ‘IlliyyinBeliau berkata:“Maksudnya adalah surga.”Dalam riwayat Al-‘Aufi dari Ibnu ‘Abbas disebutkan bahwa maksudnya adalah amal-amal mereka berada di langit di sisi Allah. Demikian pula pendapat yang disampaikan oleh Adh-Dhahhak.Qatadah berkata:“‘Illiyyūn adalah sisi kanan ‘Arsy.”Sementara ulama lain mengatakan bahwa ‘Illiyyūn berada di dekat Sidhratul Muntaha.Pendapat yang paling jelas adalah bahwa kata ‘Illiyyīn berasal dari kata al-‘uluww (ketinggian). Setiap sesuatu yang semakin tinggi dan semakin terangkat, maka semakin besar dan semakin luas kedudukannya. Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Ketika Allah menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang durhaka (al-fujjār) berada di tempat yang paling bawah, paling sempit, dan paling rendah, maka Allah juga menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang yang berbakti (al-abrār) berada di tempat yang paling tinggi, paling luas, dan paling lapang.Dan catatan amal mereka yang tertulis itu disaksikan oleh orang-orang yang didekatkan kepada Allah (al-muqorrobun). Yang dimaksud dengan mereka adalah para malaikat yang mulia, serta ruh para nabi, orang-orang yang sangat jujur dalam iman (ṣiddīqīn), dan para syuhada. Allah menyebut dan memuliakan mereka di hadapan penduduk langit yang tinggi.Adapun ‘Illiyyūn adalah nama bagi tingkatan surga yang paling tinggi.Setelah Allah menyebutkan catatan amal mereka, Allah kemudian menjelaskan bahwa mereka berada dalam kenikmatan. Kata ini merupakan istilah yang mencakup seluruh kenikmatan hati, ruh, dan tubuh.Mereka berada di atas dipan-dipan yang indah.عَلَى الْأَرَائِكِYaitu di atas tempat duduk atau dipan yang dihiasi dengan hamparan dan perhiasan yang indah.يُنْظَرُونَMereka memandang berbagai kenikmatan yang telah Allah siapkan untuk mereka, dan mereka juga memandang wajah Rabb mereka Yang Mahamulia.Allah berfirman:تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ“Engkau dapat melihat pada wajah mereka cahaya kenikmatan.”Artinya, tampak pada wajah mereka keindahan, kesegaran, dan kemilau kenikmatan. Sebab kenikmatan dan kegembiraan yang terus-menerus akan memancarkan cahaya, keindahan, dan keceriaan pada wajah mereka.Mereka diberi minum dari minuman yang sangat murni.يُسْقَوْنَ مِنْ رَحِيقٍ مَخْتُومٍYaitu minuman yang termasuk yang paling baik dan paling lezat di antara berbagai minuman.Minuman itu tertutup rapat.خِتَامُهُ مِسْكٌPenutupnya adalah kasturi. Maksudnya bisa dua kemungkinan:Pertama, minuman itu tertutup rapat sehingga tidak tercampuri sesuatu pun yang dapat mengurangi kenikmatannya atau merusak rasanya. Penutup yang digunakan untuk menutupnya adalah kasturi.Kedua, maksudnya adalah bahwa bagian terakhir dari minuman dalam bejana yang mereka minum memiliki endapan berupa kasturi yang sangat harum. Padahal biasanya dalam kebiasaan di dunia, endapan seperti itu dibuang. Namun di surga justru menjadi sesuatu yang sangat berharga.Tentang kenikmatan yang agung ini Allah berfirman:وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang-orang berlomba-lomba.”Artinya, hendaklah manusia berlomba-lomba untuk meraihnya dengan amal-amal yang dapat mengantarkan kepada kenikmatan tersebut. Inilah sesuatu yang paling pantas diperebutkan oleh jiwa-jiwa yang mulia dan paling layak menjadi tujuan perlombaan orang-orang yang bersungguh-sungguh.Campuran minuman tersebut berasal dari Tasnīm.Tasnīm adalah sebuah mata air di surga.عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُونَ“Mata air yang darinya diminum oleh orang-orang yang didekatkan kepada Allah.”Minuman dari Tasnīm ini diminum secara murni oleh orang-orang yang didekatkan kepada Allah (al-muqorrobun). Ia merupakan minuman paling tinggi dan paling mulia di surga. Karena itu minuman ini khusus bagi mereka yang memiliki kedudukan tertinggi di antara makhluk.Adapun bagi ashḥābul yamīn (golongan kanan), minuman tersebut diberikan dalam keadaan dicampur dengan rahiq dan minuman-minuman lezat lainnya. Ayat Kedua Puluh Sembilan – Ketiga Puluh DuaAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱلَّذِينَ أَجْرَمُوا۟ كَانُوا۟ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ يَضْحَكُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Muthaffifin: 29)وَإِذَا مَرُّوا۟ بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ“Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya.” (QS. Al-Muthaffifin: 30)وَإِذَا ٱنقَلَبُوٓا۟ إِلَىٰٓ أَهْلِهِمُ ٱنقَلَبُوا۟ فَكِهِينَ“Dan apabila orang-orang yang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira.” (QS. Al-Muthaffifin: 31)وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوٓا۟ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ لَضَآلُّونَ“Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”.” (QS. Al-Muthaffifin: 32)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:Ketika Allah menyebutkan balasan bagi orang-orang berdosa dan balasan bagi orang-orang beriman, serta menjelaskan perbedaan yang sangat besar di antara keduanya, Allah juga mengabarkan bahwa dahulu di dunia orang-orang berdosa selalu memperolok kaum mukmin. Mereka mengejek, menghina, dan menertawakan orang-orang beriman.Mereka saling memberi isyarat dengan mata ketika melewati kaum mukmin, sebagai bentuk penghinaan dan pelecehan terhadap mereka. Namun anehnya, meskipun berbuat demikian, mereka hidup dengan perasaan aman dan tenang, seakan-akan tidak ada sedikit pun rasa takut dalam hati mereka.Apabila mereka pulang kepada keluarga mereka—baik pada pagi maupun petang—mereka pulang dalam keadaan senang, gembira, dan merasa bangga dengan perbuatan mereka.Inilah salah satu bentuk kesombongan dan tipu daya yang paling besar. Mereka melakukan keburukan yang sangat parah, tetapi pada saat yang sama merasa aman dan tenteram di dunia. Seolah-olah mereka telah mendapatkan jaminan dan janji dari Allah bahwa mereka termasuk orang-orang yang berbahagia.Bahkan mereka berani memutuskan bahwa diri mereka berada di atas petunjuk, sementara orang-orang beriman dianggap sebagai orang-orang yang sesat. Ini merupakan kedustaan terhadap Allah dan keberanian berbicara tentang-Nya tanpa ilmu. Ayat Ketiga Puluh Tiga – Ketiga Puluh EnamAllah Ta’ala berfirman,وَمَآ أُرْسِلُوا۟ عَلَيْهِمْ حَٰفِظِينَ“padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin.” (QS. Al-Muthaffifin: 33)فَٱلْيَوْمَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنَ ٱلْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ“Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir.” (QS. Al-Muthaffifin: 34)عَلَى ٱلْأَرَآئِكِ يَنظُرُونَ“mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang.” (QS. Al-Muthaffifin: 35)هَلْ ثُوِّبَ ٱلْكُفَّارُ مَا كَانُوا۟ يَفْعَلُونَ“Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Al-Muthaffifin: 36)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:“Padahal mereka tidak diutus sebagai penjaga atas orang-orang beriman.” Maksudnya, orang-orang kafir itu tidak diutus sebagai pengawas bagi kaum mukmin dan tidak pula ditugaskan untuk menjaga atau mencatat amal mereka. Lalu mengapa mereka begitu sibuk menuduh orang-orang beriman sebagai orang yang sesat? Sikap mereka itu hanyalah bentuk keras kepala, permusuhan, dan permainan yang tidak memiliki dasar ataupun bukti.“Maka pada hari ini orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir.” Karena itu, balasan mereka di akhirat sesuai dengan perbuatan mereka di dunia. Allah berfirman: “Pada hari ini”, yaitu pada hari kiamat, orang-orang beriman akan menertawakan orang-orang kafir ketika melihat mereka tenggelam dalam berbagai azab. Semua kedustaan dan anggapan yang dahulu mereka buat pun lenyap, sementara orang-orang beriman berada dalam ketenangan dan kebahagiaan yang sempurna.“Mereka duduk di atas dipan-dipan sambil memandang.”Mereka berada di atas dipan-dipan yang dihiasi dengan indah, menikmati berbagai kenikmatan yang telah Allah siapkan untuk mereka. Mereka juga memandang kepada Rabb mereka Yang Maha Mulia.“Bukankah orang-orang kafir telah diberi balasan terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan?”Artinya, apakah mereka telah dibalas sesuai dengan perbuatan mereka? Ya, mereka telah dibalas dengan balasan yang setimpal. Dahulu di dunia mereka menertawakan orang-orang beriman dan menuduh mereka sesat. Maka di akhirat orang-orang beriman menertawakan mereka dan menyaksikan mereka berada dalam azab dan hukuman sebagai akibat dari kesesatan dan penyimpangan mereka.Itulah balasan yang adil dari Allah dan merupakan bagian dari hikmah-Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Catatan: Perbedaan antara ‘Iliyyin dan SijjinAspek‘IlliyyīnSijjīnPenyebutan dalam surahQS. Al-Muthaffifin: 18–21QS. Al-Muthaffifin: 7–9Siapa yang dicatat di sanaKitab al-abrār: catatan amal orang-orang yang berbakti, saleh, dan taatKitab al-fujjār: catatan amal orang-orang durhaka, fajir, dan banyak dosaKelompok yang terkaitAl-abrār, al-muqarrabūn, orang-orang berimanAl-fujjār, al-mukadzdzibūn, orang-orang yang melampaui batas dan berdosaMakna umumTempat yang tinggi, mulia, lapang, dan agungTempat yang rendah, sempit, menghimpit, dan menghinakanAsal makna kataDari kata al-‘uluww: tinggi, luhur, terangkatDari kata as-sijn / sijn: penjara, kurungan, tempat sempitNuansa maknaKemuliaan, ketinggian derajat, keluasan, kehormatanKehinaan, keterbatasan, kesempitan, hukumanPosisi secara maknawiTempat paling tinggi bagi catatan amal orang salehTempat paling rendah bagi catatan amal orang durhakaPenjelasan As-Sa‘diTempat catatan amal orang-orang berbakti di posisi paling tinggi, luas, dan lapangTempat catatan amal orang-orang durhaka di posisi paling bawah, sempit, dan rendahPenjelasan Ibnu KatsirKebalikan dari Sijjīn; menunjukkan ketinggian dan kemuliaanTempat kembali orang durhaka; menunjukkan penjara dan kesempitanLetak menurut sebagian ulamaDisebut berada di langit ketujuh, atau dekat tempat yang sangat tinggiDisebut berada di bawah bumi ketujuh, atau tempat paling rendahRiwayat dari Ka‘b yang dinukilRuh orang-orang beriman berada di ‘IlliyyīnRuh orang-orang kafir berada di SijjīnPendapat lain ulamaAda yang menafsirkan sebagai surga, atau tempat amal di sisi AllahAda yang menafsirkan sebagai sumur di Jahannam, batu besar, atau tempat sempit di bawahHubungannya dengan catatan amalCatatan amal orang saleh tersimpan dan dimuliakanCatatan amal orang durhaka tersimpan dan menjadi bukti keburukan merekaStatus kitabnyaKitābun marqūm: kitab yang tertulis, tercatat, terjagaKitābun marqūm: kitab yang tertulis, tercatat, dan telah ditetapkanSiapa yang menyaksikanYasyhaduhul muqarrabūn: disaksikan malaikat dan makhluk yang didekatkan kepada AllahTidak disebut disaksikan al-muqarrabūn; konteksnya lebih kepada ancaman dan kebinasaanArah balasanMengarah kepada na‘īm: kenikmatan, wajah berseri, dipan-dipan, minuman surgaMengarah kepada jahīm: neraka, celaan, kehinaan, dan tertutup dari RabbDampak akhir bagi pemilik kitabKemuliaan di akhirat, kedekatan dengan Allah, surga yang tinggiKehinaan di akhirat, azab, keterasingan, dan hukumanKeterkaitan dengan surga/nerakaSangat dekat maknanya dengan tingkatan surga tertinggiSangat dekat maknanya dengan dasar kehinaan dan tempat azabSifat ruangLuas, lapang, tinggi, muliaSempit, rendah, menghimpit, menekanSimbol ruhaniKebersihan amal, kejujuran, ketaatan, kemuliaan jiwaKedurhakaan, kefajiran, kecurangan, pengingkaran hari pembalasanHubungan dengan imanBuah dari iman, amal saleh, dan birr (kebajikan)Buah dari maksiat, kedustaan, melampaui batas, dan dosaHubungan dengan Hari AkhirMenunjukkan keselamatan dan keberuntungan pada hari pembalasanMenunjukkan kecelakaan dan kebinasaan pada hari pembalasanKontras utamanya dalam surahPuncak kemuliaan bagi orang baikPuncak kehinaan bagi orang jahatLawan maknaLawannya adalah SijjīnLawannya adalah ‘IlliyyīnPesan pendidikan imanBeramal saleh akan mengangkat derajat seseorangDosa dan kefajiran akan menjatuhkan seseorang ke derajat paling rendah Walhamdulilah,selesai sudah bahasan tafsir Surah Al-Muthaffifin. Semoga bermanfaat.  Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Senin, 20 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagstafsir al muthaffifin tafsir juz amma timbangan


Curang dalam takaran dan timbangan mungkin terlihat sepele di mata manusia, tetapi sangat besar dosanya di sisi Allah. Surah Al-Muthaffifin dibuka dengan ancaman keras bagi orang-orang yang mengambil haknya secara penuh, namun mengurangi hak orang lain. Ayat-ayat ini mengajarkan keadilan, kejujuran, dan sikap adil bukan hanya dalam muamalah, tetapi juga dalam setiap urusan kehidupan.  Daftar Isi tutup 1. Ayat Pertama – Ketiga 1.1. Contoh praktik kecurangan dalam bisnis saat ini 2. Ayat Keempat – Keenam 2.1. Beratnya Hari Kiamat 2.2. Doa yang Patut Dihafalkan agar Selamat dari Sempitnya Dunia dan Hari Kiamat 3. Ayat Ketujuh – Kedua Belas 4. Al-Fujjar dan Sijjin 5. Ayat Ketiga Belas – Kelima Belas 5.1. Raan yang Menutupi Hati 6. Ayat Keenam Belas – Ketujuh Belas 7. Melihat Allah di Akhirat adalah Nikmat paling Tinggi 8. Ayat Kedelapan Belas – Kedua Puluh Delapan 9. Al-Abrar dan ‘Illiyyin 10. Ayat Kedua Puluh Sembilan – Ketiga Puluh Dua 11. Ayat Ketiga Puluh Tiga – Ketiga Puluh Enam 12. Catatan: Perbedaan antara ‘Iliyyin dan Sijjin  Ayat Pertama – KetigaAllah Ta’ala berfirman,وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang.” (QS. Al-Muthaffifin: 1)ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكْتَالُوا۟ عَلَى ٱلنَّاسِ يَسْتَوْفُونَ“(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi.” (QS. Al-Muthaffifin: 2) وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ“dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al-Muthaffifin: 3)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:“Wailun” adalah kata yang menunjukkan azab dan ancaman keras.“Lil muthoffifin” yaitu bagi orang-orang yang berbuat curang dalam takaran dan timbangan.“(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi.”Allah menjelaskan siapa yang dimaksud dengan orang-orang yang curang itu melalui firman-Nya:yaitu orang-orang yang apabila mereka mengambil takaran dari orang lain untuk hak yang menjadi milik mereka minta dipenuhi, mereka meminta dan mengambilnya secara penuh tanpa ada kekurangan sedikit pun.Sedangkan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, yakni ketika mereka harus memberikan hak orang lain yang menjadi tanggungan mereka melalui takaran atau timbangan, mereka mengurangi hak tersebut. Pengurangan itu bisa dengan menggunakan takaran atau timbangan yang kurang, atau tidak memenuhi takaran dan timbangan sebagaimana mestinya, atau dengan cara lain yang serupa.Perbuatan seperti ini termasuk mencuri harta orang lain dan tidak berlaku adil terhadap mereka.Apabila ancaman ini ditujukan kepada orang-orang yang mengurangi hak orang lain dalam takaran dan timbangan, maka orang yang merampas harta orang lain dengan paksa atau mencurinya secara terang-terangan, lebih pantas lagi mendapatkan ancaman tersebut daripada sekadar orang yang curang dalam takaran.Ayat yang mulia ini juga menunjukkan bahwa sebagaimana seseorang berhak mengambil dari orang lain apa yang menjadi haknya, maka ia juga wajib memberikan kepada orang lain seluruh hak mereka, baik dalam harta maupun dalam berbagai bentuk muamalah. Bahkan makna ini mencakup pula dalam perdebatan dan penyampaian pendapat. Sebagaimana lazimnya dua orang yang berdebat masing-masing berusaha mempertahankan dalil yang menguntungkan dirinya, maka ia juga wajib menjelaskan dalil yang menjadi hak lawannya yang mungkin belum diketahui. Ia harus menimbang dan memperhatikan dalil lawannya sebagaimana ia menimbang dalilnya sendiri. Pada titik inilah akan tampak apakah seseorang itu adil atau fanatik dan memaksakan diri, apakah ia rendah hati atau sombong, serta apakah ia berakal atau bodoh. Kita memohon kepada Allah taufik untuk meraih segala kebaikan. Contoh praktik kecurangan dalam bisnis saat ini1. Spesifikasi Tidak Sesuai IklanMenjual produk dengan klaim kualitas tertentu (misalnya bahan premium, asli, organik), padahal kenyataannya kualitas di bawah standar yang dijanjikan.2. Manipulasi Berat Bersih (Netto)Mencantumkan berat bersih 1 kg, tetapi setelah ditimbang ulang ternyata kurang dari itu. Ini termasuk bentuk pengurangan takaran modern.3. Mengurangi Kualitas JasaDalam bisnis jasa, menerima pembayaran penuh tetapi layanan tidak diberikan sesuai kesepakatan, misalnya jam kerja dikurangi atau hasil kerja tidak sesuai kontrak.4. Markup Biaya Tanpa TransparansiMenambahkan biaya tersembunyi saat pembayaran (admin fee, service charge, biaya tambahan yang tidak dijelaskan di awal).5. Memanfaatkan Ketidaktahuan KonsumenMenjual barang dengan harga jauh di atas standar pasar kepada orang yang tidak memahami harga sebenarnya.6. Kecurangan dalam Laporan KeuanganMengurangi hak mitra, investor, atau karyawan dengan memanipulasi data laba dan pembagian hasil.7. Mengurangi Hak KaryawanMeminta kinerja penuh, tetapi gaji atau hak lembur tidak dibayarkan sesuai kesepakatan. Ayat Keempat – KeenamAllah Ta’ala berfirman,أَلَا يَظُنُّ أُو۟لَٰٓئِكَ أَنَّهُم مَّبْعُوثُونَ“Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan.” (QS. Al-Muthaffifin: 4)لِيَوْمٍ عَظِيمٍ“pada suatu hari yang besar.” (QS. Al-Muthaffifin: 5)يَوْمَ يَقُومُ ٱلنَّاسُ لِرَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ“(yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?” (QS. Al-Muthaffifin: 6)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Kemudian Allah Ta’ala mengancam orang-orang yang curang dalam takaran dan timbangan. Allah juga menunjukkan keheranan terhadap keadaan mereka yang terus-menerus melakukan perbuatan itu. Allah berfirman dengan nada peringatan, “Tidakkah mereka menyangka bahwa mereka akan dibangkitkan pada hari yang sangat besar, yaitu hari ketika seluruh manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam?”Yang membuat mereka berani berbuat curang adalah karena mereka tidak beriman kepada hari akhir. Seandainya mereka benar-benar beriman dan menyadari bahwa kelak mereka akan berdiri di hadapan Allah, lalu dihisab atas segala sesuatu—baik yang kecil maupun yang besar—tentu mereka akan berhenti dari perbuatan tersebut dan segera bertobat darinya. Beratnya Hari KiamatImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam kitab tafsirnya mengenai surah Al-Muthaffifin ayat keenam.Maksudnya, pada hari itu manusia berdiri dalam keadaan tanpa alas kaki, tanpa pakaian, dan belum dikhitan, di suatu tempat yang sangat sulit, sempit, dan penuh kesusahan. Tempat itu terasa sangat berat bagi orang-orang yang berdosa. Mereka diliputi oleh kedahsyatan urusan Allah yang tidak sanggup ditanggung oleh kekuatan dan pancaindra manusia.Imam Malik meriwayatkan dari Nafi’, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang firman Allah: (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?“Hingga salah seorang dari mereka tenggelam dalam keringatnya sampai setengah telinganya.”Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari melalui jalur Malik dan Abdullah bin ‘Aun, keduanya dari Nafi’. Juga diriwayatkan oleh Muslim melalui dua jalur tersebut. Demikian pula diriwayatkan oleh Shalih, Tsabit bin Kaisan, Ayyub bin Yahya, Abdullah dan Ubaidullah—keduanya putra Umar—serta Muhammad bin Ishaq, semuanya dari Nafi’, dari Ibnu Umar.Dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan: Yazid menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Ishaq mengabarkan kepada kami dari Nafi’, dari Ibnu Umar, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang firman Allah: (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?“Karena keagungan Ar-Rahman ‘Azza wa Jalla pada hari Kiamat, hingga keringat benar-benar mengekang manusia sampai setengah telinga mereka.”Dalam hadis lain, Imam Ahmad meriwayatkan: Ibrahim bin Ishaq menceritakan kepada kami, Ibnu Al-Mubarak menceritakan kepada kami dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir, ia berkata: Sulaim bin ‘Amir menceritakan kepadaku, Al-Miqdad—yakni Ibnu Al-Aswad Al-Kindi—berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Apabila hari Kiamat terjadi, matahari didekatkan kepada para hamba hingga jaraknya sekitar satu mil atau dua mil.”Beliau bersabda, “Maka matahari itu membakar mereka, sehingga mereka tenggelam dalam keringat sesuai dengan kadar amal mereka. Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kaki, ada yang sampai kedua lutut, ada yang sampai pinggangnya, dan ada yang benar-benar dikekang oleh keringatnya.”Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim melalui jalur Al-Hakam bin Musa dari Yahya bin Hamzah, dan oleh At-Tirmidzi melalui Suwaid dari Ibnu Al-Mubarak, keduanya dari Ibnu Jabir.Dalam hadis lain, Imam Ahmad meriwayatkan dari Hasan bin Sawwar, dari Al-Laits bin Sa’d, dari Mu’awiyah bin Shalih, bahwa Abu Abdurrahman menceritakan kepadanya dari Abu Umamah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Matahari didekatkan pada hari Kiamat sejauh satu mil, dan panasnya ditambah sekian dan sekian. Binatang-binatang kecil pun mendidih karenanya sebagaimana air dalam kuali mendidih. Manusia berkeringat sesuai dengan kadar dosa mereka. Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kaki, ada yang sampai betis, ada yang sampai pertengahan tubuhnya, dan ada yang benar-benar dikekang oleh keringat.”Hadis ini diriwayatkan secara tersendiri oleh Imam Ahmad.Dalam hadis lain, Imam Ahmad meriwayatkan dari Hasan, dari Ibnu Lahi’ah, dari Abu ‘Asyanah Hayy bin Yu’min, bahwa ia mendengar ‘Uqbah bin ‘Amir berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Matahari didekatkan ke bumi, lalu manusia berkeringat. Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kaki, ada yang sampai pertengahan betis, ada yang sampai kedua lutut, ada yang sampai pantat, ada yang sampai pinggang, ada yang sampai kedua bahu, ada yang sampai pertengahan mulutnya.”Beliau memberi isyarat dengan tangannya seakan-akan menutup mulutnya. Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi isyarat seperti itu. “Dan ada pula yang keringatnya menutupi seluruh tubuhnya.” Beliau memberi isyarat dengan tangannya. Hadis ini juga diriwayatkan secara tersendiri oleh Imam Ahmad.Disebutkan pula dalam sebuah hadis bahwa mereka berdiri selama tujuh puluh tahun tanpa berbicara. Ada yang mengatakan mereka berdiri selama tiga ratus tahun. Ada pula yang mengatakan empat puluh ribu tahun. Dan diputuskan perkara di antara mereka dalam kadar sepuluh ribu tahun, sebagaimana disebutkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah secara marfu’:“Pada suatu hari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.”Ibnu Abi Hatim meriwayatkan: Ayahku menceritakan kepada kami, Abu ‘Aun Az-Ziyadi mengabarkan kepada kami, Abdur Salam bin ‘Ajlan berkata: Aku mendengar Abu Yazid Al-Madani dari Abu Hurairah berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Basyir Al-Ghifari,“Bagaimana keadaanmu pada hari ketika manusia berdiri selama tiga ratus tahun untuk Rabb seluruh alam—menurut hitungan hari dunia—tanpa datang kepada mereka kabar dari langit dan tanpa diperintahkan suatu perintah?”Basyir berkata, “Hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan.”Beliau bersabda,فَإِذَا أَوَيْتَ إِلَىٰ فِرَاشِكَ فَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ كَرْبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَسُوءِ الْحِسَابِ.“Jika engkau berbaring di tempat tidurmu, maka berlindunglah kepada Allah dari kesusahan hari Kiamat dan dari buruknya hisab.”Ibnu Jarir meriwayatkannya melalui jalur Abdur Salam.Dalam Sunan Abu Dawud disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berlindung kepada Allah dari sempitnya tempat berdiri pada hari Kiamat.Dari Ibnu Mas’ud disebutkan bahwa mereka berdiri selama empat puluh tahun dengan kepala terangkat ke langit, tidak seorang pun berbicara kepada mereka, dan keringat telah mengekang orang baik maupun orang jahat.Dari Ibnu Umar disebutkan bahwa mereka berdiri selama seratus tahun. Keduanya diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.Dalam Sunan Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah, melalui hadis Zaid bin Al-Hubab dari Mu’awiyah bin Shalih, dari Azhar bin Sa’id Al-Hawari, dari ‘Ashim bin Humaid, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka qiyamullail dengan bertakbir sepuluh kali, memuji sepuluh kali, bertasbih sepuluh kali, dan beristighfar sepuluh kali. Beliau juga berdoa,اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَاهْدِنِي، وَارْزُقْنِي، وَعَافِنِي، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ ضِيقِ الْمَقَامِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.ALLĀHUMMAGHFIR LĪ, WAHDINĪ, WARZUQNĪ, WA ‘ĀFINĪ, WA A‘ŪDZU BIKA MIN ḌHĪQIL-MAQĀMI YAUMAL-QIYĀMAH.“Ya Allah, ampunilah aku, berilah aku petunjuk, berilah aku rezeki, dan sehatkanlah aku.” Doa yang Patut Dihafalkan agar Selamat dari Sempitnya Dunia dan Hari KiamatAisyah radhiyallahu ‘anha mengabarkan tentang qiyamullail Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan doa pembuka shalat beliau (doa iftitah) dengan doa dan zikir tersebut. Ia berkata:“Beliau bertakbir sepuluh kali, bertasbih sepuluh kali, dan beristighfar sepuluh kali.”Kemudian ia menyebutkan doa tersebut.Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau berdoa:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ ضِيقِ الدُّنْيَا، وَضِيقِ الْقِيَامَةِALLĀHUMMA INNII A‘ŪDZU BIKA MIN DHIIQID-DUNYĀ, WA DHIIQIL-QIYĀMAH.“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesempitan dunia dan kesempitan pada hari Kiamat.”(Diriwayatkan oleh Abu Dauud dalam Sunan-nya, Kitab Al-Adab, Bab “Doa yang Dibaca Ketika Pagi Hari”, no. 5087; An-Nasa’i dalam Al-Kubra, Kitab Shalat ‘Idain, Bab Khutbah Hari Raya, no. 10623; juga dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah karya Ibnu As-Sunni, no. 759. Hadis ini dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah, no. 1356). Ayat Ketujuh – Kedua BelasAllah Ta’ala berfirman,كَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلْفُجَّارِ لَفِى سِجِّينٍ“Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin.” (QS. Al-Muthaffifin: 7)وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا سِجِّينٌ“Tahukah kamu apakah sijjin itu?” (QS. Al-Muthaffifin: 8)كِتَٰبٌ مَّرْقُومٌ“(Ialah) kitab yang bertulis.” (QS. Al-Muthaffifin: 9)وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِّلْمُكَذِّبِينَ“Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” (QS. Al-Muthaffifin: 10)ٱلَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوْمِ ٱلدِّينِ“(yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.” (QS. Al-Muthaffifin: 11)وَمَا يُكَذِّبُ بِهِۦٓ إِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ“Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa.” (QS. Al-Muthaffifin: 12)Syaikh As-Sa’di menjelaskan:Maksudnya, kitab yang di dalamnya tertulis seluruh amal buruk mereka. Sijjīn adalah tempat yang sempit lagi menghimpit. Sijjīn merupakan kebalikan dari ‘Illiyyīn, yaitu tempat catatan amal orang-orang yang berbakti, sebagaimana akan dijelaskan nanti.Sebagian ulama mengatakan bahwa Sijjīn adalah lapisan bumi yang paling bawah, tempat tinggal orang-orang durhaka dan tempat menetap mereka kelak di akhirat.(Yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.Kemudian Allah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan para pendusta itu adalah orang-orang yang mendustakan hari pembalasan, yaitu hari ketika Allah membalas manusia atas seluruh amal perbuatan mereka.“Dan tidak ada yang mendustakannya kecuali setiap orang yang melampaui batas lagi banyak berbuat dosa.”Yakni orang yang melanggar batas-batas yang telah ditetapkan Allah, berpindah dari yang halal kepada yang haram. Ia adalah orang yang banyak berbuat dosa. Sikap melampaui batas itulah yang mendorongnya untuk mendustakan, dan kesombongannya membuatnya menolak kebenaran.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat kedua belas:Maksudnya, ia adalah orang yang melampaui batas dalam perbuatannya: berani melakukan yang haram dan berlebihan dalam menikmati hal-hal yang sebenarnya mubah.Ia juga seorang yang banyak berdosa dalam ucapannya. Jika berbicara, ia berdusta. Jika berjanji, ia mengingkari. Dan jika berselisih atau bertengkar, ia berlaku curang dan melampaui batas. Al-Fujjar dan SijjinImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai Fujjar (Fajir) dan Sijjin sebagai berikut.Allah Ta’ala menegaskan dengan sebenar-benarnya bahwa catatan amal orang-orang durhaka berada di dalam Sijjīn, yaitu tempat yang menjadi tujuan dan tempat kembali mereka. Kata Sijjīn berasal dari kata sijn yang berarti penjara atau tempat yang sempit. Bentuk katanya menunjukkan makna yang sangat kuat, sebagaimana ungkapan dalam bahasa Arab seperti fasiq, syarīb, khamīr, atau sakīr yang menunjukkan sifat yang sangat melekat.Allah kemudian membesarkan perkara ini dengan firman-Nya: “Tahukah kamu apakah Sijjīn itu?” Maksudnya, Sijjīn adalah perkara yang sangat besar, sebuah penjara yang terus-menerus dan azab yang sangat pedih.Sebagian ulama mengatakan bahwa Sijjīn berada di bawah bumi yang ketujuh. Hal ini disebutkan dalam hadis panjang dari Al-Bara’ bin ‘Azib tentang keadaan ruh orang kafir. Dalam hadis itu Allah berfirman tentang ruh orang kafir:“Catatlah kitabnya di dalam Sijjīn.”Disebutkan pula bahwa Sijjīn berada di bawah bumi yang ketujuh. Ada pula yang mengatakan bahwa Sijjīn adalah sebuah batu besar di bawah bumi ketujuh, ada juga yang mengatakan bahwa ia adalah sebuah sumur di dalam neraka Jahannam.Ibnu Jarir meriwayatkan sebuah hadis tentang hal ini, namun hadis tersebut dinilai gharib dan munkar serta tidak sahih. Dalam riwayat itu disebutkan:“Al-Falaq adalah sebuah sumur di neraka Jahannam yang tertutup, sedangkan Sijjīn adalah sumur yang terbuka.”Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa Sijjīn berasal dari kata penjara yang berarti sempit. Hal ini karena semua makhluk yang berada di tempat yang lebih rendah akan semakin sempit ruangnya, sedangkan yang berada di tempat yang lebih tinggi akan semakin luas.Langit yang tujuh masing-masing lebih luas dan lebih tinggi daripada yang di bawahnya. Demikian pula bumi yang berlapis-lapis, setiap lapisan lebih luas daripada yang berada di bawahnya, hingga akhirnya mencapai tempat yang paling rendah dan paling sempit, yaitu pusat bumi di lapisan bumi yang ketujuh.Karena tempat kembali orang-orang durhaka adalah neraka Jahannam yang berada pada tingkatan paling rendah, sebagaimana firman Allah:ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ • إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh.” (QS. At-Tin: 5–6)Maka Allah berfirman di sini:كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ • وَمَا أَدْرَاكَ مَا سِجِّينٌSijjīn mengandung makna kesempitan dan kerendahan, sebagaimana firman Allah:وَإِذَا أُلْقُوا مِنْهَا مَكَانًا ضَيِّقًا مُقَرَّنِينَ دَعَوْا هُنَالِكَ ثُبُورًا“Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan tangan terbelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan.” (QS. Al-Furqan: 13)“(Yaitu) kitab yang tertulis.” (QS. Al-Muthaffifin: 9)Firman Allah “kitab yang tertulis” bukanlah penjelasan dari ayat “Tahukah kamu apakah Sijjīn itu?”, melainkan penjelasan tentang catatan amal mereka yang telah ditetapkan menuju Sijjīn.Artinya, catatan itu telah tertulis dan ditetapkan dengan pasti, tidak akan bertambah dan tidak pula berkurang. Demikian penjelasan dari Muhammad bin Ka‘b Al-Qurazhi.“Maka kecelakaan besar pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” (QS. Al-Muthaffifin: 10)Artinya, kebinasaan dan kehancuran pada hari kiamat bagi orang-orang yang mendustakan, ketika mereka benar-benar sampai kepada ancaman Allah berupa penjara dan azab yang menghinakan.Makna kata “wail” sebelumnya telah dijelaskan sebagai kebinasaan dan kehancuran, sebagaimana dalam ungkapan bahasa Arab: “Celaka bagi si fulan.”Demikian pula disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan dalam Musnad dan Sunan, dari Bahz bin Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ النَّاسَ، وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ“Celakalah orang yang berbicara lalu berdusta agar membuat manusia tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” Ayat Ketiga Belas – Kelima BelasAllah Ta’ala berfirman,إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ ءَايَٰتُنَا قَالَ أَسَٰطِيرُ ٱلْأَوَّلِينَ“yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu.” (QS. Al-Muthaffifin: 13)كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14)كَلَّآ إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari Tuhan mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 15)Syaikh As-Sa’di menjelaskan:Karena itulah, ketika “yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami”, — yakni ayat-ayat Kami yang menunjukkan kebenaran dan membuktikan kejujuran ajaran yang dibawa para rasul — dibacakan kepadanya, ia justru mendustakannya dan bersikap keras kepala.Ia berkata, itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu yakni ini hanyalah dongeng dan omong kosong orang-orang terdahulu, sekadar cerita umat-umat masa lampau. Ia menganggapnya bukan berasal dari Allah, semua itu diucapkannya karena kesombongan dan sikap membangkang terhadap kebenaran.Adapun orang yang bersikap adil dan jujur dalam menilai, serta tujuannya benar-benar mencari kebenaran yang nyata, maka ia tidak akan mendustakan Hari Pembalasan. Sebab Allah telah menegakkan baginya dalil-dalil yang tegas dan bukti-bukti yang terang, yang menjadikan kebenaran itu sebagai sesuatu yang pasti tanpa keraguan.Kebenaran itu bagi hati mereka laksana matahari bagi penglihatan: begitu jelas dan tak terbantahkan.Berbeda dengan orang yang hatinya telah tertutup oleh dosa-dosa yang ia lakukan, dan kemaksiatan telah menyelimutinya, sehingga kebenaran pun tidak lagi tampak jelas baginya.Karena itu, ia terhalang dari kebenaran. Sebagai balasan atas keadaan tersebut, ia pun dihalangi dari (melihat) Allah. Hal itu sebagaimana dahulu hatinya di dunia telah terhalang dari ayat-ayat Allah. Raan yang Menutupi HatiImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, apabila orang tersebut mendengar firman Allah yang disampaikan oleh Rasul, ia justru mendustakannya. Ia berprasangka buruk terhadap Al-Qur’an dan meyakini bahwa kitab itu hanyalah karangan yang dibuat-buat, yang dikumpulkan dari kisah-kisah dan catatan orang-orang zaman dahulu.Sebagaimana firman Allah Ta’ala:﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ قَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ﴾“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhan kalian?’ Mereka menjawab, ‘Dongeng orang-orang terdahulu.’” (QS. An-Nahl: 24)Dan firman-Nya:﴿وَقَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلَىٰ عَلَيْهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا﴾“Dan mereka berkata, ‘(Al-Qur’an itu hanyalah) dongeng orang-orang terdahulu yang dimintanya untuk dituliskan, lalu dibacakan kepadanya setiap pagi dan petang.’” (QS. Al-Furqan: 5)Demikianlah sikap orang-orang kafir: ketika kebenaran dibacakan kepada mereka, mereka menolaknya dan menuduhnya sebagai cerita rekaan dari masa lampau.Firman Allah Ta’ala:﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾Artinya: “Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”Maksudnya, tidaklah benar seperti yang mereka sangkakan dan ucapkan, bahwa Al-Qur’an itu hanyalah dongeng orang-orang terdahulu. Bahkan Al-Qur’an adalah firman Allah, wahyu-Nya, dan kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya ﷺ.Akan tetapi, yang menghalangi hati mereka untuk beriman kepadanya adalah ran (karat/penutup) yang menyelimuti hati mereka akibat banyaknya dosa dan kesalahan yang mereka lakukan. Karena itulah Allah berfirman: Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.Adapun ran itu menimpa hati orang-orang kafir. Sedangkan bagi orang-orang saleh (al-abrar) ada ghaim (awan tipis), dan bagi orang-orang yang didekatkan kepada Allah (al-muqarrabin) ada ghain (selubung yang lebih ringan lagi).Telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari, Imam Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah melalui beberapa jalur, dari Muhammad bin ‘Ajlan, dari Al-Qa‘qa‘ bin Hakim, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:«إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَذْنَبَ ذَنْبًا كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ مِنْهَا صُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ زَادَ زَادَتْ، فَذَلِكَ قَوْلُ اللَّهِ: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾»Artinya: “Sesungguhnya seorang hamba apabila berbuat dosa, akan muncul satu titik hitam di dalam hatinya. Jika ia bertobat darinya, maka hatinya akan dibersihkan. Namun jika ia menambah (dosa), maka titik itu pun bertambah. Itulah yang dimaksud dengan firman Allah: ‘Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.’”Imam Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan sahih.”Dalam riwayat An-Nasa’i disebutkan:«إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ، فَإِنْ هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ صُقِلَ قَلْبُهُ، فَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، فَهُوَ الرَّانُ الَّذِي قَالَ اللَّهُ: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾»Artinya: “Sesungguhnya seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, akan ditorehkan satu titik pada hatinya. Jika ia berhenti, memohon ampun, dan bertobat, maka hatinya akan dibersihkan. Namun jika ia kembali (berbuat dosa), maka titik itu akan ditambah hingga menutupi hatinya. Itulah ran yang disebutkan Allah dalam firman-Nya.”Demikian pula diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dengan lafaz:«إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ، فَإِنْ زَادَ زَادَتْ حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَذَاكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ فِي الْقُرْآنِ: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾»Artinya: “Sesungguhnya seorang mukmin apabila berbuat dosa, akan muncul satu titik hitam di dalam hatinya. Jika ia bertobat, berhenti, dan memohon ampun, maka hatinya akan dibersihkan. Namun jika ia menambah (dosa), maka titik itu bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah ran yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an.”Hasan al-Basri berkata, “Ia adalah dosa di atas dosa, hingga hati menjadi buta lalu mati.”Demikian pula dikatakan oleh Mujahid bin Jabr, Qatadah ibn Di’ama, Ibnu Zaid, dan selain mereka. Ayat Keenam Belas – Ketujuh BelasAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ إِنَّهُمْ لَصَالُوا۟ ٱلْجَحِيمِ“Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka.” (QS. Al-Muthaffifin: 16)ثُمَّ يُقَالُ هَٰذَا ٱلَّذِى كُنتُم بِهِۦ تُكَذِّبُونَ“Kemudian, dikatakan (kepada mereka): “Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan”.” (QS. Al-Muthaffifin: 17) Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Kemudian Allah berfirman,“Kemudian sesungguhnya mereka benar-benar akan masuk ke dalam neraka yang menyala-nyala.”Lalu dikatakan kepada mereka sebagai bentuk celaan dan teguran keras,“Inilah (azab) yang dahulu kalian dustakan.”Dalam ayat ini disebutkan tiga macam azab bagi mereka:Azab neraka Jahim.Azab berupa celaan dan teguran keras.Azab berupa terhalangnya mereka dari (melihat) Rabb semesta alam.Azab berupa terhalang dari Allah ini mengandung makna kemurkaan dan kemarahan-Nya kepada mereka. Azab ini bahkan lebih berat bagi mereka daripada azab api neraka.Sebaliknya, mafhum dari ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang beriman akan melihat Rabb mereka pada hari kiamat dan di surga. Mereka akan merasakan kenikmatan memandang-Nya yang jauh lebih agung daripada seluruh kenikmatan lainnya. Mereka bergembira dengan pembicaraan-Nya dan bersuka cita karena kedekatan dengan-Nya. Hal ini telah disebutkan oleh Allah dalam banyak ayat Al-Qur’an dan diriwayatkan secara mutawatir dari Rasulullah ﷺ.Dalam ayat-ayat ini juga terdapat peringatan keras agar menjauhi dosa. Sebab dosa-dosa itu menimbulkan karat pada hati dan menutupinya sedikit demi sedikit, hingga cahaya hati itu padam dan penglihatannya mati. Akibatnya, hakikat menjadi terbalik: kebatilan terlihat sebagai kebenaran, dan kebenaran tampak sebagai kebatilan. Ini merupakan salah satu bentuk hukuman akibat dosa.Baca juga: Syarhus Sunnah: Terhalang dari Melihat Wajah Allah Melihat Allah di Akhirat adalah Nikmat paling TinggiAllah Ta’ala juga berfirman:لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ“Bagi orang-orang yang berbuat baik, mereka mendapatkan kebaikan (surga) dan tambahan.” (QS. Yunus: 26)Yang dimaksud al-ḥusnā adalah surga, sedangkan tambahan adalah melihat wajah Allah Yang Mahamulia. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Nabi ﷺ dalam sabdanya:“Apabila penghuni surga telah masuk ke dalam surga, Allah Tabāraka wa Ta‘ālā berfirman:‘Apakah kalian menginginkan sesuatu lagi agar Aku tambahkan kepada kalian?’Mereka menjawab:‘Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami, memasukkan kami ke dalam surga, dan menyelamatkan kami dari neraka?’Kemudian Allah membuka hijab-Nya. Maka tidak ada sesuatu yang diberikan kepada mereka yang lebih mereka cintai daripada memandang Rabb mereka ‘Azza wa Jalla.”Kemudian Rasulullah ﷺ membaca ayat:لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ“Bagi orang-orang yang berbuat baik, mereka mendapatkan kebaikan (surga) dan tambahan.”Dalam riwayat Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari Jarīr bin ‘Abdillāh Al-Bajalī radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:“Kami pernah duduk bersama Nabi ﷺ. Beliau melihat bulan pada malam keempat belas (bulan purnama), lalu beliau bersabda:‘Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian dengan jelas sebagaimana kalian melihat bulan ini. Kalian tidak akan saling berdesakan dalam melihat-Nya.’”Dalam Shahih Bukhari dan Muslim juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu bahwa beberapa orang bertanya kepada Rasulullah ﷺ:“Wahai Rasulullah, apakah kami akan melihat Rabb kami pada hari kiamat?”Beliau menjawab:“Apakah kalian saling berdesakan ketika melihat bulan pada malam purnama?”Mereka menjawab:“Tidak, wahai Rasulullah.”Beliau bertanya lagi:“Apakah kalian saling berdesakan ketika melihat matahari yang tidak tertutup awan?”Mereka menjawab:“Tidak, wahai Rasulullah.”Beliau bersabda:“Demikian pula kalian akan melihat-Nya.”Maksudnya, kalian akan melihat-Nya dengan penglihatan yang nyata tanpa kesulitan dan tanpa saling berdesakan.Selain itu masih banyak lagi hadits-hadits sahih tentang hal ini yang diriwayatkan oleh lebih dari dua puluh orang sahabat. Hadits-hadits tersebut mencapai derajat mutawatir, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama.Adapun melihat Allah di dunia, maka secara akal hal itu mungkin saja terjadi, tetapi secara syariat tidak terjadi. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ ketika memperingatkan tentang Dajjal:“Ketahuilah bahwa tidak seorang pun dari kalian akan melihat Rabbnya hingga ia meninggal dunia. Dan di antara kedua mata Dajjal tertulis huruf ك ف ر yang dapat dibaca oleh setiap orang yang membenci amalnya.” (HR. Tirmidzi, dan beliau berkata: hadits ini hasan sahih)Dalam masalah ini tidak ada perselisihan di kalangan Ahlus Sunnah, kecuali riwayat dari Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhumā yang menyatakan bahwa Nabi ﷺ melihat Rabbnya pada malam Mi‘raj. Namun pendapat yang lebih kuat adalah bahwa Nabi ﷺ melihat cahaya, yaitu hijab-Nya.Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dari Abu Dzarr radhiyallāhu ‘anhu. Ia berkata:“Aku pernah bertanya kepada Nabi ﷺ tentang apakah beliau melihat Rabbnya. Beliau menjawab:‘Aku melihat cahaya.’”Dalam riwayat lain dalam Shahih Muslim, Abu Dzarr berkata:“Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ: ‘Apakah engkau melihat Rabbmu?’Beliau menjawab:‘Cahaya, bagaimana mungkin aku dapat melihat-Nya!’”Bahwa cahaya itu merupakan hijab juga dijelaskan dalam sabda Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:“Sesungguhnya Allah tidak tidur dan tidak pantas bagi-Nya untuk tidur. Dia menurunkan timbangan dan mengangkatnya. Amal malam diangkat kepada-Nya sebelum amal siang, dan amal siang sebelum amal malam. Hijab-Nya adalah cahaya. Seandainya hijab itu dibuka, niscaya sinar wajah-Nya akan membakar segala sesuatu yang dijangkau oleh pandangan-Nya dari makhluk-Nya.”Yang dimaksud subuḥāt wajah-Nya adalah cahaya, keagungan, dan keindahan-Nya.Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam syarahnya atas Shahih Muslim:“Ketahuilah bahwa mazhab Ahlus Sunnah secara keseluruhan menyatakan bahwa melihat Allah Ta’ala itu mungkin dan tidak mustahil secara akal. Mereka juga sepakat bahwa hal itu benar-benar terjadi di akhirat, dan bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah Ta’ala, sedangkan orang-orang kafir tidak.Sebaliknya, sebagian kelompok ahli bid‘ah seperti Mu‘tazilah, Khawarij, dan sebagian Murji’ah berpendapat bahwa tidak seorang pun dari makhluk dapat melihat Allah, dan bahwa melihat-Nya mustahil secara akal. Pendapat mereka ini merupakan kesalahan yang nyata dan kebodohan yang buruk.Dalil-dalil dari Al-Qur’an, Sunnah, serta ijmak para sahabat dan generasi setelah mereka dari kalangan salaf umat ini telah sangat jelas menunjukkan bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah Ta’ala di akhirat. Riwayat tentang hal ini datang dari sekitar dua puluh sahabat Nabi ﷺ, dan ayat-ayat Al-Qur’an tentangnya juga sangat terkenal.Adapun berbagai keberatan yang diajukan oleh kelompok ahli bid‘ah, semuanya telah dijawab secara jelas dalam kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah.Adapun melihat Allah Ta’ala di dunia, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, hal itu secara akal mungkin, tetapi mayoritas ulama salaf dan khalaf berpendapat bahwa hal tersebut tidak terjadi di dunia.”Selesai perkataan Imam An-Nawawi rahimahullah.Referensi: Fatwa Islamweb Ayat Kedelapan Belas – Kedua Puluh DelapanAllah Ta’ala berfirman,كَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلْأَبْرَارِ لَفِى عِلِّيِّينَ“Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam ‘Illiyyin.” (QS. Al-Muthaffifin: 18)وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا عِلِّيُّونَ“Tahukah kamu apakah ‘Illiyyin itu?” (QS. Al-Muthaffifin: 19)كِتَٰبٌ مَّرْقُومٌ“(Yaitu) kitab yang bertulis.” (QS. Al-Muthaffifin: 20)يَشْهَدُهُ ٱلْمُقَرَّبُونَ“yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan (kepada Allah).” (QS. Al-Muthaffifin: 21)إِنَّ ٱلْأَبْرَارَ لَفِى نَعِيمٍ“Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (surga).” (QS. Al-Muthaffifin: 22)عَلَى ٱلْأَرَآئِكِ يَنظُرُونَ“mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang.” (QS. Al-Muthaffifin: 23)تَعْرِفُ فِى وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ ٱلنَّعِيمِ“Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh kenikmatan.” (QS. Al-Muthaffifin: 24)يُسْقَوْنَ مِن رَّحِيقٍ مَّخْتُومٍ“Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya).” (QS. Al-Muthaffifin: 25)خِتَٰمُهُۥ مِسْكٌ ۚ وَفِى ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ ٱلْمُتَنَٰفِسُونَ“laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin: 26)وَمِزَاجُهُۥ مِن تَسْنِيمٍ“Dan campuran khamar murni itu adalah dari tasnim.” (QS. Al-Muthaffifin: 27)عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا ٱلْمُقَرَّبُونَ“(yaitu) mata air yang minum daripadanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah.” (QS. Al-Muthaffifin: 28) Al-Abrar dan ‘IlliyyinImam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Yang dimaksud al-abrār adalah orang-orang yang saleh, yang keadaannya berbeda dengan orang-orang yang durhaka (fujjar). Catatan amal mereka berada di ‘Illiyyīn, sebagai kebalikan dari Sijjīn yang menjadi tempat bagi orang-orang durhaka.Al-A‘masy meriwayatkan dari Syamr bin ‘Athiyyah, dari Hilal bin Yasaf, ia berkata:Ibnu ‘Abbas pernah bertanya kepada Ka‘b, sementara aku hadir di situ, tentang Sijjīn. Ka‘b menjawab:“Sijjīn adalah bumi ketujuh, dan di dalamnya terdapat ruh orang-orang kafir.”Ibnu ‘Abbas juga bertanya kepadanya tentang ‘Illiyyīn. Ia menjawab:“‘Illiyyīn adalah langit ketujuh, dan di dalamnya terdapat ruh orang-orang beriman.”Demikian pula dikatakan oleh sejumlah ulama lainnya bahwa ‘Illiyyīn berada di langit ketujuh.Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah:Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam ‘IlliyyinBeliau berkata:“Maksudnya adalah surga.”Dalam riwayat Al-‘Aufi dari Ibnu ‘Abbas disebutkan bahwa maksudnya adalah amal-amal mereka berada di langit di sisi Allah. Demikian pula pendapat yang disampaikan oleh Adh-Dhahhak.Qatadah berkata:“‘Illiyyūn adalah sisi kanan ‘Arsy.”Sementara ulama lain mengatakan bahwa ‘Illiyyūn berada di dekat Sidhratul Muntaha.Pendapat yang paling jelas adalah bahwa kata ‘Illiyyīn berasal dari kata al-‘uluww (ketinggian). Setiap sesuatu yang semakin tinggi dan semakin terangkat, maka semakin besar dan semakin luas kedudukannya. Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Ketika Allah menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang durhaka (al-fujjār) berada di tempat yang paling bawah, paling sempit, dan paling rendah, maka Allah juga menyebutkan bahwa catatan amal orang-orang yang berbakti (al-abrār) berada di tempat yang paling tinggi, paling luas, dan paling lapang.Dan catatan amal mereka yang tertulis itu disaksikan oleh orang-orang yang didekatkan kepada Allah (al-muqorrobun). Yang dimaksud dengan mereka adalah para malaikat yang mulia, serta ruh para nabi, orang-orang yang sangat jujur dalam iman (ṣiddīqīn), dan para syuhada. Allah menyebut dan memuliakan mereka di hadapan penduduk langit yang tinggi.Adapun ‘Illiyyūn adalah nama bagi tingkatan surga yang paling tinggi.Setelah Allah menyebutkan catatan amal mereka, Allah kemudian menjelaskan bahwa mereka berada dalam kenikmatan. Kata ini merupakan istilah yang mencakup seluruh kenikmatan hati, ruh, dan tubuh.Mereka berada di atas dipan-dipan yang indah.عَلَى الْأَرَائِكِYaitu di atas tempat duduk atau dipan yang dihiasi dengan hamparan dan perhiasan yang indah.يُنْظَرُونَMereka memandang berbagai kenikmatan yang telah Allah siapkan untuk mereka, dan mereka juga memandang wajah Rabb mereka Yang Mahamulia.Allah berfirman:تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ“Engkau dapat melihat pada wajah mereka cahaya kenikmatan.”Artinya, tampak pada wajah mereka keindahan, kesegaran, dan kemilau kenikmatan. Sebab kenikmatan dan kegembiraan yang terus-menerus akan memancarkan cahaya, keindahan, dan keceriaan pada wajah mereka.Mereka diberi minum dari minuman yang sangat murni.يُسْقَوْنَ مِنْ رَحِيقٍ مَخْتُومٍYaitu minuman yang termasuk yang paling baik dan paling lezat di antara berbagai minuman.Minuman itu tertutup rapat.خِتَامُهُ مِسْكٌPenutupnya adalah kasturi. Maksudnya bisa dua kemungkinan:Pertama, minuman itu tertutup rapat sehingga tidak tercampuri sesuatu pun yang dapat mengurangi kenikmatannya atau merusak rasanya. Penutup yang digunakan untuk menutupnya adalah kasturi.Kedua, maksudnya adalah bahwa bagian terakhir dari minuman dalam bejana yang mereka minum memiliki endapan berupa kasturi yang sangat harum. Padahal biasanya dalam kebiasaan di dunia, endapan seperti itu dibuang. Namun di surga justru menjadi sesuatu yang sangat berharga.Tentang kenikmatan yang agung ini Allah berfirman:وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang-orang berlomba-lomba.”Artinya, hendaklah manusia berlomba-lomba untuk meraihnya dengan amal-amal yang dapat mengantarkan kepada kenikmatan tersebut. Inilah sesuatu yang paling pantas diperebutkan oleh jiwa-jiwa yang mulia dan paling layak menjadi tujuan perlombaan orang-orang yang bersungguh-sungguh.Campuran minuman tersebut berasal dari Tasnīm.Tasnīm adalah sebuah mata air di surga.عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُونَ“Mata air yang darinya diminum oleh orang-orang yang didekatkan kepada Allah.”Minuman dari Tasnīm ini diminum secara murni oleh orang-orang yang didekatkan kepada Allah (al-muqorrobun). Ia merupakan minuman paling tinggi dan paling mulia di surga. Karena itu minuman ini khusus bagi mereka yang memiliki kedudukan tertinggi di antara makhluk.Adapun bagi ashḥābul yamīn (golongan kanan), minuman tersebut diberikan dalam keadaan dicampur dengan rahiq dan minuman-minuman lezat lainnya. Ayat Kedua Puluh Sembilan – Ketiga Puluh DuaAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱلَّذِينَ أَجْرَمُوا۟ كَانُوا۟ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ يَضْحَكُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Muthaffifin: 29)وَإِذَا مَرُّوا۟ بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ“Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya.” (QS. Al-Muthaffifin: 30)وَإِذَا ٱنقَلَبُوٓا۟ إِلَىٰٓ أَهْلِهِمُ ٱنقَلَبُوا۟ فَكِهِينَ“Dan apabila orang-orang yang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira.” (QS. Al-Muthaffifin: 31)وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوٓا۟ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ لَضَآلُّونَ“Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”.” (QS. Al-Muthaffifin: 32)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:Ketika Allah menyebutkan balasan bagi orang-orang berdosa dan balasan bagi orang-orang beriman, serta menjelaskan perbedaan yang sangat besar di antara keduanya, Allah juga mengabarkan bahwa dahulu di dunia orang-orang berdosa selalu memperolok kaum mukmin. Mereka mengejek, menghina, dan menertawakan orang-orang beriman.Mereka saling memberi isyarat dengan mata ketika melewati kaum mukmin, sebagai bentuk penghinaan dan pelecehan terhadap mereka. Namun anehnya, meskipun berbuat demikian, mereka hidup dengan perasaan aman dan tenang, seakan-akan tidak ada sedikit pun rasa takut dalam hati mereka.Apabila mereka pulang kepada keluarga mereka—baik pada pagi maupun petang—mereka pulang dalam keadaan senang, gembira, dan merasa bangga dengan perbuatan mereka.Inilah salah satu bentuk kesombongan dan tipu daya yang paling besar. Mereka melakukan keburukan yang sangat parah, tetapi pada saat yang sama merasa aman dan tenteram di dunia. Seolah-olah mereka telah mendapatkan jaminan dan janji dari Allah bahwa mereka termasuk orang-orang yang berbahagia.Bahkan mereka berani memutuskan bahwa diri mereka berada di atas petunjuk, sementara orang-orang beriman dianggap sebagai orang-orang yang sesat. Ini merupakan kedustaan terhadap Allah dan keberanian berbicara tentang-Nya tanpa ilmu. Ayat Ketiga Puluh Tiga – Ketiga Puluh EnamAllah Ta’ala berfirman,وَمَآ أُرْسِلُوا۟ عَلَيْهِمْ حَٰفِظِينَ“padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin.” (QS. Al-Muthaffifin: 33)فَٱلْيَوْمَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنَ ٱلْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ“Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir.” (QS. Al-Muthaffifin: 34)عَلَى ٱلْأَرَآئِكِ يَنظُرُونَ“mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang.” (QS. Al-Muthaffifin: 35)هَلْ ثُوِّبَ ٱلْكُفَّارُ مَا كَانُوا۟ يَفْعَلُونَ“Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Al-Muthaffifin: 36)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:“Padahal mereka tidak diutus sebagai penjaga atas orang-orang beriman.” Maksudnya, orang-orang kafir itu tidak diutus sebagai pengawas bagi kaum mukmin dan tidak pula ditugaskan untuk menjaga atau mencatat amal mereka. Lalu mengapa mereka begitu sibuk menuduh orang-orang beriman sebagai orang yang sesat? Sikap mereka itu hanyalah bentuk keras kepala, permusuhan, dan permainan yang tidak memiliki dasar ataupun bukti.“Maka pada hari ini orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir.” Karena itu, balasan mereka di akhirat sesuai dengan perbuatan mereka di dunia. Allah berfirman: “Pada hari ini”, yaitu pada hari kiamat, orang-orang beriman akan menertawakan orang-orang kafir ketika melihat mereka tenggelam dalam berbagai azab. Semua kedustaan dan anggapan yang dahulu mereka buat pun lenyap, sementara orang-orang beriman berada dalam ketenangan dan kebahagiaan yang sempurna.“Mereka duduk di atas dipan-dipan sambil memandang.”Mereka berada di atas dipan-dipan yang dihiasi dengan indah, menikmati berbagai kenikmatan yang telah Allah siapkan untuk mereka. Mereka juga memandang kepada Rabb mereka Yang Maha Mulia.“Bukankah orang-orang kafir telah diberi balasan terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan?”Artinya, apakah mereka telah dibalas sesuai dengan perbuatan mereka? Ya, mereka telah dibalas dengan balasan yang setimpal. Dahulu di dunia mereka menertawakan orang-orang beriman dan menuduh mereka sesat. Maka di akhirat orang-orang beriman menertawakan mereka dan menyaksikan mereka berada dalam azab dan hukuman sebagai akibat dari kesesatan dan penyimpangan mereka.Itulah balasan yang adil dari Allah dan merupakan bagian dari hikmah-Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Catatan: Perbedaan antara ‘Iliyyin dan SijjinAspek‘IlliyyīnSijjīnPenyebutan dalam surahQS. Al-Muthaffifin: 18–21QS. Al-Muthaffifin: 7–9Siapa yang dicatat di sanaKitab al-abrār: catatan amal orang-orang yang berbakti, saleh, dan taatKitab al-fujjār: catatan amal orang-orang durhaka, fajir, dan banyak dosaKelompok yang terkaitAl-abrār, al-muqarrabūn, orang-orang berimanAl-fujjār, al-mukadzdzibūn, orang-orang yang melampaui batas dan berdosaMakna umumTempat yang tinggi, mulia, lapang, dan agungTempat yang rendah, sempit, menghimpit, dan menghinakanAsal makna kataDari kata al-‘uluww: tinggi, luhur, terangkatDari kata as-sijn / sijn: penjara, kurungan, tempat sempitNuansa maknaKemuliaan, ketinggian derajat, keluasan, kehormatanKehinaan, keterbatasan, kesempitan, hukumanPosisi secara maknawiTempat paling tinggi bagi catatan amal orang salehTempat paling rendah bagi catatan amal orang durhakaPenjelasan As-Sa‘diTempat catatan amal orang-orang berbakti di posisi paling tinggi, luas, dan lapangTempat catatan amal orang-orang durhaka di posisi paling bawah, sempit, dan rendahPenjelasan Ibnu KatsirKebalikan dari Sijjīn; menunjukkan ketinggian dan kemuliaanTempat kembali orang durhaka; menunjukkan penjara dan kesempitanLetak menurut sebagian ulamaDisebut berada di langit ketujuh, atau dekat tempat yang sangat tinggiDisebut berada di bawah bumi ketujuh, atau tempat paling rendahRiwayat dari Ka‘b yang dinukilRuh orang-orang beriman berada di ‘IlliyyīnRuh orang-orang kafir berada di SijjīnPendapat lain ulamaAda yang menafsirkan sebagai surga, atau tempat amal di sisi AllahAda yang menafsirkan sebagai sumur di Jahannam, batu besar, atau tempat sempit di bawahHubungannya dengan catatan amalCatatan amal orang saleh tersimpan dan dimuliakanCatatan amal orang durhaka tersimpan dan menjadi bukti keburukan merekaStatus kitabnyaKitābun marqūm: kitab yang tertulis, tercatat, terjagaKitābun marqūm: kitab yang tertulis, tercatat, dan telah ditetapkanSiapa yang menyaksikanYasyhaduhul muqarrabūn: disaksikan malaikat dan makhluk yang didekatkan kepada AllahTidak disebut disaksikan al-muqarrabūn; konteksnya lebih kepada ancaman dan kebinasaanArah balasanMengarah kepada na‘īm: kenikmatan, wajah berseri, dipan-dipan, minuman surgaMengarah kepada jahīm: neraka, celaan, kehinaan, dan tertutup dari RabbDampak akhir bagi pemilik kitabKemuliaan di akhirat, kedekatan dengan Allah, surga yang tinggiKehinaan di akhirat, azab, keterasingan, dan hukumanKeterkaitan dengan surga/nerakaSangat dekat maknanya dengan tingkatan surga tertinggiSangat dekat maknanya dengan dasar kehinaan dan tempat azabSifat ruangLuas, lapang, tinggi, muliaSempit, rendah, menghimpit, menekanSimbol ruhaniKebersihan amal, kejujuran, ketaatan, kemuliaan jiwaKedurhakaan, kefajiran, kecurangan, pengingkaran hari pembalasanHubungan dengan imanBuah dari iman, amal saleh, dan birr (kebajikan)Buah dari maksiat, kedustaan, melampaui batas, dan dosaHubungan dengan Hari AkhirMenunjukkan keselamatan dan keberuntungan pada hari pembalasanMenunjukkan kecelakaan dan kebinasaan pada hari pembalasanKontras utamanya dalam surahPuncak kemuliaan bagi orang baikPuncak kehinaan bagi orang jahatLawan maknaLawannya adalah SijjīnLawannya adalah ‘IlliyyīnPesan pendidikan imanBeramal saleh akan mengangkat derajat seseorangDosa dan kefajiran akan menjatuhkan seseorang ke derajat paling rendah Walhamdulilah,selesai sudah bahasan tafsir Surah Al-Muthaffifin. Semoga bermanfaat.  Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Senin, 20 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagstafsir al muthaffifin tafsir juz amma timbangan

Mengapa Orang Beriman Pasti Diuji? Tafsir QS. Al-‘Ankabut Ayat 2–3

Banyak orang mengira bahwa setelah beriman hidup akan selalu mudah dan tanpa ujian. Padahal, Allah justru menjadikan ujian sebagai tanda kejujuran iman seorang hamba. Melalui ujian itulah tampak siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang hanya sekadar mengaku beriman.  Allah Ta’ala berfirman,أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al-‘Ankabut: 2)Dalam ayat selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَلَيَعْلَمَنَّ ٱلْكَٰذِبِينَ “Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-‘Ankabut: 3)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam kitab tafsirnya menjelaskan tentang ayat di atas sebagai berikut.Allah Ta’ala memberitakan tentang kesempurnaan hikmah-Nya. Termasuk bagian dari hikmah tersebut adalah bahwa tidak setiap orang yang mengatakan, “Aku seorang mukmin” dan mengaku beriman, lalu dibiarkan begitu saja tanpa menghadapi berbagai ujian dan cobaan. Tidak mungkin mereka akan dibiarkan berada dalam keadaan yang aman dari fitnah dan musibah, tanpa menghadapi sesuatu yang dapat mengguncang keimanan mereka dan cabang-cabangnya.Seandainya perkara itu seperti demikian, tentu tidak akan tampak perbedaan antara orang yang jujur dan orang yang dusta, antara yang benar dan yang batil.Akan tetapi, sunnah Allah dan kebiasaan-Nya terhadap umat-umat terdahulu dan juga terhadap umat ini adalah bahwa Dia akan menguji mereka dengan berbagai keadaan:dengan kesenangan dan kesusahan,dengan kemudahan dan kesulitan,dengan hal-hal yang mereka sukai maupun yang mereka benci,dengan kekayaan dan kemiskinan,serta dengan memberikan kesempatan kepada musuh untuk menguasai mereka pada waktu-waktu tertentu.Termasuk pula di antara ujian itu adalah perjuangan menghadapi musuh dengan ucapan dan perbuatan, serta berbagai bentuk cobaan lainnya.Semua ujian tersebut pada hakikatnya kembali kepada dua jenis fitnah:Fitnah syubhat, yaitu keraguan yang menentang akidah dan keyakinan.Fitnah syahwat, yaitu dorongan hawa nafsu yang menentang kehendak untuk taat.Barang siapa ketika datang syubhat, imannya tetap kokoh dan tidak goyah, lalu ia menolaknya dengan kebenaran yang ia miliki; dan ketika datang syahwat yang mengajak kepada maksiat dan dosa, atau yang memalingkannya dari perintah Allah dan Rasul-Nya, ia tetap bertindak sesuai dengan tuntunan iman dan berjuang melawan hawa nafsunya—maka hal itu menunjukkan kejujuran dan kebenaran imannya.Sebaliknya, barang siapa ketika datang syubhat hatinya dipenuhi keraguan dan kebimbangan, dan ketika datang syahwat ia terjerumus dalam maksiat atau meninggalkan kewajiban, maka hal itu menunjukkan lemahnya keimanan dan ketidakjujuran dalam pengakuannya.Manusia dalam perkara ini memiliki tingkatan yang berbeda-beda, yang tidak dapat dihitung kecuali oleh Allah.Karena itu kita memohon kepada Allah Ta’ala agar meneguhkan kita dengan ucapan yang kokoh di kehidupan dunia dan di akhirat, serta meneguhkan hati kita di atas agama-Nya.Sesungguhnya ujian dan cobaan bagi jiwa manusia ibarat tungku api bagi logam, yang memisahkan antara kotoran dan kemurniannya, sehingga tampak mana yang buruk dan mana yang baik. Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam kitab tafsirnya sebagai berikut. Tentang firman Allah Ta’ala,أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sementara mereka tidak diuji?”Kalimat ini adalah pertanyaan dalam bentuk pengingkaran. Maksudnya, Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā pasti akan menguji hamba-hamba-Nya yang beriman sesuai dengan kadar keimanan yang ada pada mereka.Sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih:أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الصَّالِحُونَ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صَلَابَةٌ زِيدَ فِي الْبَلَاءِ“Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang saleh, kemudian yang paling baik setelah mereka. Seseorang diuji sesuai dengan kadar agamanya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya akan ditambah.”Ayat ini serupa dengan firman Allah:أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal Allah belum menampakkan siapa di antara kalian yang berjihad dan siapa yang bersabar?” (QS. Āli ‘Imrān: 142)Ayat yang semakna juga terdapat dalam Surah At-Taubah, dan dalam Surah Al-Baqarah Allah berfirman:أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian cobaan seperti yang dialami oleh orang-orang sebelum kalian? Mereka ditimpa kesengsaraan dan penderitaan, serta diguncang dengan berbagai ujian, sampai Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, ‘Kapankah datang pertolongan Allah?’ Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)Karena itulah Allah berfirman di sini:وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ“Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.”Maksudnya, agar tampak siapa yang jujur dalam pengakuan imannya, dan siapa yang sebenarnya dusta dalam perkataan dan pengakuannya.Padahal Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā telah mengetahui segala sesuatu: apa yang telah terjadi, apa yang akan terjadi, dan bahkan apa yang tidak terjadi—seandainya terjadi—bagaimana kejadiannya.Ini merupakan keyakinan yang disepakati oleh para imam Ahlus Sunnah wal Jamaah.Karena itu, Ibnu ‘Abbas dan ulama lainnya menjelaskan ayat seperti firman Allah:إِلَّا لِنَعْلَمَ“agar Kami mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 143)Maksudnya adalah “agar Kami melihatnya secara nyata.”Sebab penglihatan berkaitan dengan sesuatu yang telah terjadi dan tampak nyata, sedangkan ilmu Allah lebih luas daripada penglihatan, karena ilmu-Nya meliputi sesuatu yang ada maupun yang belum ada. Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang merasa heran ketika hidupnya dipenuhi ujian: masalah ekonomi, tekanan hidup, fitnah, atau kesulitan dalam berdakwah dan beragama. Padahal justru itulah tanda bahwa iman sedang ditempa dan diuji.Ujian bukanlah tanda bahwa Allah membenci seorang hamba. Justru sering kali ujian adalah cara Allah memurnikan iman, meninggikan derajat, dan membedakan antara iman yang jujur dan iman yang hanya di lisan.Karena itu, ketika ujian datang, jangan buru-buru berputus asa. Ingatlah bahwa ujian itu seperti tungku api yang memurnikan logam, sehingga tampak mana yang murni dan mana yang kotor. Semoga Allah meneguhkan hati kita di atas agama-Nya.اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَثَبِّتْنَا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الصَّادِقِينَ فِي الْإِيمَانِ.“Ya Allah, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu. Teguhkanlah kami dengan ucapan yang kokoh di dunia dan di akhirat, serta jadikan kami termasuk orang-orang yang jujur dalam iman.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Senin, 20 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfitnah syahwat fitnah syubhat hikmah ujian kejujuran iman nasihat islam renungan ayat renungan quran sabar dalam ujian tafsir al ankabut tafsir quran ujian hidup Ujian Iman

Mengapa Orang Beriman Pasti Diuji? Tafsir QS. Al-‘Ankabut Ayat 2–3

Banyak orang mengira bahwa setelah beriman hidup akan selalu mudah dan tanpa ujian. Padahal, Allah justru menjadikan ujian sebagai tanda kejujuran iman seorang hamba. Melalui ujian itulah tampak siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang hanya sekadar mengaku beriman.  Allah Ta’ala berfirman,أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al-‘Ankabut: 2)Dalam ayat selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَلَيَعْلَمَنَّ ٱلْكَٰذِبِينَ “Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-‘Ankabut: 3)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam kitab tafsirnya menjelaskan tentang ayat di atas sebagai berikut.Allah Ta’ala memberitakan tentang kesempurnaan hikmah-Nya. Termasuk bagian dari hikmah tersebut adalah bahwa tidak setiap orang yang mengatakan, “Aku seorang mukmin” dan mengaku beriman, lalu dibiarkan begitu saja tanpa menghadapi berbagai ujian dan cobaan. Tidak mungkin mereka akan dibiarkan berada dalam keadaan yang aman dari fitnah dan musibah, tanpa menghadapi sesuatu yang dapat mengguncang keimanan mereka dan cabang-cabangnya.Seandainya perkara itu seperti demikian, tentu tidak akan tampak perbedaan antara orang yang jujur dan orang yang dusta, antara yang benar dan yang batil.Akan tetapi, sunnah Allah dan kebiasaan-Nya terhadap umat-umat terdahulu dan juga terhadap umat ini adalah bahwa Dia akan menguji mereka dengan berbagai keadaan:dengan kesenangan dan kesusahan,dengan kemudahan dan kesulitan,dengan hal-hal yang mereka sukai maupun yang mereka benci,dengan kekayaan dan kemiskinan,serta dengan memberikan kesempatan kepada musuh untuk menguasai mereka pada waktu-waktu tertentu.Termasuk pula di antara ujian itu adalah perjuangan menghadapi musuh dengan ucapan dan perbuatan, serta berbagai bentuk cobaan lainnya.Semua ujian tersebut pada hakikatnya kembali kepada dua jenis fitnah:Fitnah syubhat, yaitu keraguan yang menentang akidah dan keyakinan.Fitnah syahwat, yaitu dorongan hawa nafsu yang menentang kehendak untuk taat.Barang siapa ketika datang syubhat, imannya tetap kokoh dan tidak goyah, lalu ia menolaknya dengan kebenaran yang ia miliki; dan ketika datang syahwat yang mengajak kepada maksiat dan dosa, atau yang memalingkannya dari perintah Allah dan Rasul-Nya, ia tetap bertindak sesuai dengan tuntunan iman dan berjuang melawan hawa nafsunya—maka hal itu menunjukkan kejujuran dan kebenaran imannya.Sebaliknya, barang siapa ketika datang syubhat hatinya dipenuhi keraguan dan kebimbangan, dan ketika datang syahwat ia terjerumus dalam maksiat atau meninggalkan kewajiban, maka hal itu menunjukkan lemahnya keimanan dan ketidakjujuran dalam pengakuannya.Manusia dalam perkara ini memiliki tingkatan yang berbeda-beda, yang tidak dapat dihitung kecuali oleh Allah.Karena itu kita memohon kepada Allah Ta’ala agar meneguhkan kita dengan ucapan yang kokoh di kehidupan dunia dan di akhirat, serta meneguhkan hati kita di atas agama-Nya.Sesungguhnya ujian dan cobaan bagi jiwa manusia ibarat tungku api bagi logam, yang memisahkan antara kotoran dan kemurniannya, sehingga tampak mana yang buruk dan mana yang baik. Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam kitab tafsirnya sebagai berikut. Tentang firman Allah Ta’ala,أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sementara mereka tidak diuji?”Kalimat ini adalah pertanyaan dalam bentuk pengingkaran. Maksudnya, Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā pasti akan menguji hamba-hamba-Nya yang beriman sesuai dengan kadar keimanan yang ada pada mereka.Sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih:أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الصَّالِحُونَ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صَلَابَةٌ زِيدَ فِي الْبَلَاءِ“Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang saleh, kemudian yang paling baik setelah mereka. Seseorang diuji sesuai dengan kadar agamanya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya akan ditambah.”Ayat ini serupa dengan firman Allah:أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal Allah belum menampakkan siapa di antara kalian yang berjihad dan siapa yang bersabar?” (QS. Āli ‘Imrān: 142)Ayat yang semakna juga terdapat dalam Surah At-Taubah, dan dalam Surah Al-Baqarah Allah berfirman:أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian cobaan seperti yang dialami oleh orang-orang sebelum kalian? Mereka ditimpa kesengsaraan dan penderitaan, serta diguncang dengan berbagai ujian, sampai Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, ‘Kapankah datang pertolongan Allah?’ Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)Karena itulah Allah berfirman di sini:وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ“Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.”Maksudnya, agar tampak siapa yang jujur dalam pengakuan imannya, dan siapa yang sebenarnya dusta dalam perkataan dan pengakuannya.Padahal Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā telah mengetahui segala sesuatu: apa yang telah terjadi, apa yang akan terjadi, dan bahkan apa yang tidak terjadi—seandainya terjadi—bagaimana kejadiannya.Ini merupakan keyakinan yang disepakati oleh para imam Ahlus Sunnah wal Jamaah.Karena itu, Ibnu ‘Abbas dan ulama lainnya menjelaskan ayat seperti firman Allah:إِلَّا لِنَعْلَمَ“agar Kami mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 143)Maksudnya adalah “agar Kami melihatnya secara nyata.”Sebab penglihatan berkaitan dengan sesuatu yang telah terjadi dan tampak nyata, sedangkan ilmu Allah lebih luas daripada penglihatan, karena ilmu-Nya meliputi sesuatu yang ada maupun yang belum ada. Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang merasa heran ketika hidupnya dipenuhi ujian: masalah ekonomi, tekanan hidup, fitnah, atau kesulitan dalam berdakwah dan beragama. Padahal justru itulah tanda bahwa iman sedang ditempa dan diuji.Ujian bukanlah tanda bahwa Allah membenci seorang hamba. Justru sering kali ujian adalah cara Allah memurnikan iman, meninggikan derajat, dan membedakan antara iman yang jujur dan iman yang hanya di lisan.Karena itu, ketika ujian datang, jangan buru-buru berputus asa. Ingatlah bahwa ujian itu seperti tungku api yang memurnikan logam, sehingga tampak mana yang murni dan mana yang kotor. Semoga Allah meneguhkan hati kita di atas agama-Nya.اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَثَبِّتْنَا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الصَّادِقِينَ فِي الْإِيمَانِ.“Ya Allah, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu. Teguhkanlah kami dengan ucapan yang kokoh di dunia dan di akhirat, serta jadikan kami termasuk orang-orang yang jujur dalam iman.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Senin, 20 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfitnah syahwat fitnah syubhat hikmah ujian kejujuran iman nasihat islam renungan ayat renungan quran sabar dalam ujian tafsir al ankabut tafsir quran ujian hidup Ujian Iman
Banyak orang mengira bahwa setelah beriman hidup akan selalu mudah dan tanpa ujian. Padahal, Allah justru menjadikan ujian sebagai tanda kejujuran iman seorang hamba. Melalui ujian itulah tampak siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang hanya sekadar mengaku beriman.  Allah Ta’ala berfirman,أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al-‘Ankabut: 2)Dalam ayat selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَلَيَعْلَمَنَّ ٱلْكَٰذِبِينَ “Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-‘Ankabut: 3)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam kitab tafsirnya menjelaskan tentang ayat di atas sebagai berikut.Allah Ta’ala memberitakan tentang kesempurnaan hikmah-Nya. Termasuk bagian dari hikmah tersebut adalah bahwa tidak setiap orang yang mengatakan, “Aku seorang mukmin” dan mengaku beriman, lalu dibiarkan begitu saja tanpa menghadapi berbagai ujian dan cobaan. Tidak mungkin mereka akan dibiarkan berada dalam keadaan yang aman dari fitnah dan musibah, tanpa menghadapi sesuatu yang dapat mengguncang keimanan mereka dan cabang-cabangnya.Seandainya perkara itu seperti demikian, tentu tidak akan tampak perbedaan antara orang yang jujur dan orang yang dusta, antara yang benar dan yang batil.Akan tetapi, sunnah Allah dan kebiasaan-Nya terhadap umat-umat terdahulu dan juga terhadap umat ini adalah bahwa Dia akan menguji mereka dengan berbagai keadaan:dengan kesenangan dan kesusahan,dengan kemudahan dan kesulitan,dengan hal-hal yang mereka sukai maupun yang mereka benci,dengan kekayaan dan kemiskinan,serta dengan memberikan kesempatan kepada musuh untuk menguasai mereka pada waktu-waktu tertentu.Termasuk pula di antara ujian itu adalah perjuangan menghadapi musuh dengan ucapan dan perbuatan, serta berbagai bentuk cobaan lainnya.Semua ujian tersebut pada hakikatnya kembali kepada dua jenis fitnah:Fitnah syubhat, yaitu keraguan yang menentang akidah dan keyakinan.Fitnah syahwat, yaitu dorongan hawa nafsu yang menentang kehendak untuk taat.Barang siapa ketika datang syubhat, imannya tetap kokoh dan tidak goyah, lalu ia menolaknya dengan kebenaran yang ia miliki; dan ketika datang syahwat yang mengajak kepada maksiat dan dosa, atau yang memalingkannya dari perintah Allah dan Rasul-Nya, ia tetap bertindak sesuai dengan tuntunan iman dan berjuang melawan hawa nafsunya—maka hal itu menunjukkan kejujuran dan kebenaran imannya.Sebaliknya, barang siapa ketika datang syubhat hatinya dipenuhi keraguan dan kebimbangan, dan ketika datang syahwat ia terjerumus dalam maksiat atau meninggalkan kewajiban, maka hal itu menunjukkan lemahnya keimanan dan ketidakjujuran dalam pengakuannya.Manusia dalam perkara ini memiliki tingkatan yang berbeda-beda, yang tidak dapat dihitung kecuali oleh Allah.Karena itu kita memohon kepada Allah Ta’ala agar meneguhkan kita dengan ucapan yang kokoh di kehidupan dunia dan di akhirat, serta meneguhkan hati kita di atas agama-Nya.Sesungguhnya ujian dan cobaan bagi jiwa manusia ibarat tungku api bagi logam, yang memisahkan antara kotoran dan kemurniannya, sehingga tampak mana yang buruk dan mana yang baik. Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam kitab tafsirnya sebagai berikut. Tentang firman Allah Ta’ala,أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sementara mereka tidak diuji?”Kalimat ini adalah pertanyaan dalam bentuk pengingkaran. Maksudnya, Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā pasti akan menguji hamba-hamba-Nya yang beriman sesuai dengan kadar keimanan yang ada pada mereka.Sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih:أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الصَّالِحُونَ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صَلَابَةٌ زِيدَ فِي الْبَلَاءِ“Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang saleh, kemudian yang paling baik setelah mereka. Seseorang diuji sesuai dengan kadar agamanya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya akan ditambah.”Ayat ini serupa dengan firman Allah:أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal Allah belum menampakkan siapa di antara kalian yang berjihad dan siapa yang bersabar?” (QS. Āli ‘Imrān: 142)Ayat yang semakna juga terdapat dalam Surah At-Taubah, dan dalam Surah Al-Baqarah Allah berfirman:أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian cobaan seperti yang dialami oleh orang-orang sebelum kalian? Mereka ditimpa kesengsaraan dan penderitaan, serta diguncang dengan berbagai ujian, sampai Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, ‘Kapankah datang pertolongan Allah?’ Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)Karena itulah Allah berfirman di sini:وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ“Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.”Maksudnya, agar tampak siapa yang jujur dalam pengakuan imannya, dan siapa yang sebenarnya dusta dalam perkataan dan pengakuannya.Padahal Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā telah mengetahui segala sesuatu: apa yang telah terjadi, apa yang akan terjadi, dan bahkan apa yang tidak terjadi—seandainya terjadi—bagaimana kejadiannya.Ini merupakan keyakinan yang disepakati oleh para imam Ahlus Sunnah wal Jamaah.Karena itu, Ibnu ‘Abbas dan ulama lainnya menjelaskan ayat seperti firman Allah:إِلَّا لِنَعْلَمَ“agar Kami mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 143)Maksudnya adalah “agar Kami melihatnya secara nyata.”Sebab penglihatan berkaitan dengan sesuatu yang telah terjadi dan tampak nyata, sedangkan ilmu Allah lebih luas daripada penglihatan, karena ilmu-Nya meliputi sesuatu yang ada maupun yang belum ada. Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang merasa heran ketika hidupnya dipenuhi ujian: masalah ekonomi, tekanan hidup, fitnah, atau kesulitan dalam berdakwah dan beragama. Padahal justru itulah tanda bahwa iman sedang ditempa dan diuji.Ujian bukanlah tanda bahwa Allah membenci seorang hamba. Justru sering kali ujian adalah cara Allah memurnikan iman, meninggikan derajat, dan membedakan antara iman yang jujur dan iman yang hanya di lisan.Karena itu, ketika ujian datang, jangan buru-buru berputus asa. Ingatlah bahwa ujian itu seperti tungku api yang memurnikan logam, sehingga tampak mana yang murni dan mana yang kotor. Semoga Allah meneguhkan hati kita di atas agama-Nya.اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَثَبِّتْنَا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الصَّادِقِينَ فِي الْإِيمَانِ.“Ya Allah, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu. Teguhkanlah kami dengan ucapan yang kokoh di dunia dan di akhirat, serta jadikan kami termasuk orang-orang yang jujur dalam iman.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Senin, 20 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfitnah syahwat fitnah syubhat hikmah ujian kejujuran iman nasihat islam renungan ayat renungan quran sabar dalam ujian tafsir al ankabut tafsir quran ujian hidup Ujian Iman


Banyak orang mengira bahwa setelah beriman hidup akan selalu mudah dan tanpa ujian. Padahal, Allah justru menjadikan ujian sebagai tanda kejujuran iman seorang hamba. Melalui ujian itulah tampak siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang hanya sekadar mengaku beriman.  Allah Ta’ala berfirman,أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al-‘Ankabut: 2)Dalam ayat selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَلَيَعْلَمَنَّ ٱلْكَٰذِبِينَ “Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-‘Ankabut: 3)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam kitab tafsirnya menjelaskan tentang ayat di atas sebagai berikut.Allah Ta’ala memberitakan tentang kesempurnaan hikmah-Nya. Termasuk bagian dari hikmah tersebut adalah bahwa tidak setiap orang yang mengatakan, “Aku seorang mukmin” dan mengaku beriman, lalu dibiarkan begitu saja tanpa menghadapi berbagai ujian dan cobaan. Tidak mungkin mereka akan dibiarkan berada dalam keadaan yang aman dari fitnah dan musibah, tanpa menghadapi sesuatu yang dapat mengguncang keimanan mereka dan cabang-cabangnya.Seandainya perkara itu seperti demikian, tentu tidak akan tampak perbedaan antara orang yang jujur dan orang yang dusta, antara yang benar dan yang batil.Akan tetapi, sunnah Allah dan kebiasaan-Nya terhadap umat-umat terdahulu dan juga terhadap umat ini adalah bahwa Dia akan menguji mereka dengan berbagai keadaan:dengan kesenangan dan kesusahan,dengan kemudahan dan kesulitan,dengan hal-hal yang mereka sukai maupun yang mereka benci,dengan kekayaan dan kemiskinan,serta dengan memberikan kesempatan kepada musuh untuk menguasai mereka pada waktu-waktu tertentu.Termasuk pula di antara ujian itu adalah perjuangan menghadapi musuh dengan ucapan dan perbuatan, serta berbagai bentuk cobaan lainnya.Semua ujian tersebut pada hakikatnya kembali kepada dua jenis fitnah:Fitnah syubhat, yaitu keraguan yang menentang akidah dan keyakinan.Fitnah syahwat, yaitu dorongan hawa nafsu yang menentang kehendak untuk taat.Barang siapa ketika datang syubhat, imannya tetap kokoh dan tidak goyah, lalu ia menolaknya dengan kebenaran yang ia miliki; dan ketika datang syahwat yang mengajak kepada maksiat dan dosa, atau yang memalingkannya dari perintah Allah dan Rasul-Nya, ia tetap bertindak sesuai dengan tuntunan iman dan berjuang melawan hawa nafsunya—maka hal itu menunjukkan kejujuran dan kebenaran imannya.Sebaliknya, barang siapa ketika datang syubhat hatinya dipenuhi keraguan dan kebimbangan, dan ketika datang syahwat ia terjerumus dalam maksiat atau meninggalkan kewajiban, maka hal itu menunjukkan lemahnya keimanan dan ketidakjujuran dalam pengakuannya.Manusia dalam perkara ini memiliki tingkatan yang berbeda-beda, yang tidak dapat dihitung kecuali oleh Allah.Karena itu kita memohon kepada Allah Ta’ala agar meneguhkan kita dengan ucapan yang kokoh di kehidupan dunia dan di akhirat, serta meneguhkan hati kita di atas agama-Nya.Sesungguhnya ujian dan cobaan bagi jiwa manusia ibarat tungku api bagi logam, yang memisahkan antara kotoran dan kemurniannya, sehingga tampak mana yang buruk dan mana yang baik. Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam kitab tafsirnya sebagai berikut. Tentang firman Allah Ta’ala,أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sementara mereka tidak diuji?”Kalimat ini adalah pertanyaan dalam bentuk pengingkaran. Maksudnya, Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā pasti akan menguji hamba-hamba-Nya yang beriman sesuai dengan kadar keimanan yang ada pada mereka.Sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih:أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الصَّالِحُونَ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صَلَابَةٌ زِيدَ فِي الْبَلَاءِ“Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang saleh, kemudian yang paling baik setelah mereka. Seseorang diuji sesuai dengan kadar agamanya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya akan ditambah.”Ayat ini serupa dengan firman Allah:أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal Allah belum menampakkan siapa di antara kalian yang berjihad dan siapa yang bersabar?” (QS. Āli ‘Imrān: 142)Ayat yang semakna juga terdapat dalam Surah At-Taubah, dan dalam Surah Al-Baqarah Allah berfirman:أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian cobaan seperti yang dialami oleh orang-orang sebelum kalian? Mereka ditimpa kesengsaraan dan penderitaan, serta diguncang dengan berbagai ujian, sampai Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, ‘Kapankah datang pertolongan Allah?’ Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)Karena itulah Allah berfirman di sini:وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ“Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.”Maksudnya, agar tampak siapa yang jujur dalam pengakuan imannya, dan siapa yang sebenarnya dusta dalam perkataan dan pengakuannya.Padahal Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā telah mengetahui segala sesuatu: apa yang telah terjadi, apa yang akan terjadi, dan bahkan apa yang tidak terjadi—seandainya terjadi—bagaimana kejadiannya.Ini merupakan keyakinan yang disepakati oleh para imam Ahlus Sunnah wal Jamaah.Karena itu, Ibnu ‘Abbas dan ulama lainnya menjelaskan ayat seperti firman Allah:إِلَّا لِنَعْلَمَ“agar Kami mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 143)Maksudnya adalah “agar Kami melihatnya secara nyata.”Sebab penglihatan berkaitan dengan sesuatu yang telah terjadi dan tampak nyata, sedangkan ilmu Allah lebih luas daripada penglihatan, karena ilmu-Nya meliputi sesuatu yang ada maupun yang belum ada. Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang merasa heran ketika hidupnya dipenuhi ujian: masalah ekonomi, tekanan hidup, fitnah, atau kesulitan dalam berdakwah dan beragama. Padahal justru itulah tanda bahwa iman sedang ditempa dan diuji.Ujian bukanlah tanda bahwa Allah membenci seorang hamba. Justru sering kali ujian adalah cara Allah memurnikan iman, meninggikan derajat, dan membedakan antara iman yang jujur dan iman yang hanya di lisan.Karena itu, ketika ujian datang, jangan buru-buru berputus asa. Ingatlah bahwa ujian itu seperti tungku api yang memurnikan logam, sehingga tampak mana yang murni dan mana yang kotor. Semoga Allah meneguhkan hati kita di atas agama-Nya.اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَثَبِّتْنَا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الصَّادِقِينَ فِي الْإِيمَانِ.“Ya Allah, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu. Teguhkanlah kami dengan ucapan yang kokoh di dunia dan di akhirat, serta jadikan kami termasuk orang-orang yang jujur dalam iman.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Senin, 20 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfitnah syahwat fitnah syubhat hikmah ujian kejujuran iman nasihat islam renungan ayat renungan quran sabar dalam ujian tafsir al ankabut tafsir quran ujian hidup Ujian Iman

Tafsir Surah Al-Infithar: Dahsyatnya Hari Kiamat dan Peringatan bagi Manusia

Surah Al-Infithar menggambarkan dengan sangat kuat peristiwa besar yang akan terjadi pada hari kiamat, ketika langit terbelah, bintang-bintang berserakan, lautan meluap, dan seluruh manusia dibangkitkan dari kuburnya. Pada saat itulah setiap jiwa mengetahui dengan jelas seluruh amal yang pernah ia lakukan, lalu manusia dihadapkan kepada perhitungan di hadapan Allah. Ayat-ayat ini juga menegur manusia yang tertipu oleh kehidupan dunia, mengingatkan bahwa setiap amal dicatat oleh para malaikat dan pada akhirnya manusia akan menerima balasan: kenikmatan bagi orang-orang yang berbakti dan azab bagi orang-orang yang durhaka.  Daftar Isi tutup 1. Ayat Pertama – Kelima 2. Ayat Keenam – Kedelapan 3. Ayat Kesembilan – Kedua Belas 4. Ayat Ketiga Belas – Kesembilan Belas  Ayat Pertama – KelimaAllah Ta’ala berfirman,إِذَا ٱلسَّمَآءُ ٱنفَطَرَتْ“Apabila langit terbelah.” (QS. Al-Infithar: 1)وَإِذَا ٱلْكَوَاكِبُ ٱنتَثَرَتْ“dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan.” (QS. Al-Infithar: 2) وَإِذَا ٱلْبِحَارُ فُجِّرَتْ“dan apabila lautan menjadikan meluap.” (QS. Al-Infithar: 3)وَإِذَا ٱلْقُبُورُ بُعْثِرَتْ“dan apabila kuburan-kuburan dibongkar.” (QS. Al-Infithar: 4)عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ“maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya.” (QS. Al-Infithar: 5)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.Apabila langit terbelah dan pecah,dan bintang-bintangnya berserakan serta hilang keindahannya.Apabila lautan diluapkan sehingga semuanya menyatu menjadi satu lautan besar.Dan apabila kubur-kubur dibongkar, yakni ketika semua yang ada di dalamnya berupa manusia yang telah mati dikeluarkan kembali.Pada saat itulah setiap jiwa mengetahui apa yang telah ia kerjakan sebelumnya dan apa yang ia tinggalkan.Semua manusia pun dikumpulkan di hadapan Allah untuk menjalani perhitungan atas amal perbuatan mereka. Pada saat itu, segala penutup tersingkap dan semua yang dahulu tersembunyi menjadi tampak. Setiap jiwa mengetahui dengan jelas apa yang ia bawa: apakah berupa keuntungan atau kerugian.Di saat itulah orang-orang zalim menggigit kedua tangannya karena penyesalan, ketika mereka melihat amal-amal mereka ternyata sia-sia, timbangan kebaikan mereka ringan, berbagai kezaliman yang pernah mereka lakukan menuntut balasan, dan dosa-dosa mereka telah hadir di hadapan mereka. Saat itu mereka benar-benar yakin akan kesengsaraan yang abadi dan azab yang tidak pernah berakhir.Sebaliknya, pada saat itu pula orang-orang yang bertakwa—yang dahulu mendahulukan amal-amal saleh—akan meraih kemenangan yang besar, memperoleh kenikmatan yang kekal, serta selamat dari azab neraka. Ayat Keenam – KedelapanAllah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلْإِنسَٰنُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ ٱلْكَرِيمِ“Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah.” (QS. Al-Infithar: 6)ٱلَّذِى خَلَقَكَ فَسَوَّىٰكَ فَعَدَلَكَ“Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang.” (QS. Al-Infithar: 7)فِىٓ أَىِّ صُورَةٍ مَّا شَآءَ رَكَّبَكَ“dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.” (QS. Al-Infithar: 8)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.Dalam ayat ini, Allah menegur manusia yang lalai terhadap kewajiban kepada Rabbnya dan yang berani melakukan hal-hal yang dimurkai-Nya. Allah berfirman:“Wahai manusia, apa yang membuatmu tertipu terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah?”Apakah karena engkau meremehkan hak-hak-Nya?Apakah karena engkau memandang ringan azab-Nya?Ataukah karena engkau tidak benar-benar beriman kepada balasan dari-Nya? Ayat ini merupakan teguran keras bagi manusia yang tertipu oleh kemurahan Allah. Allah Maha Pemurah, tetapi kemurahan itu bukan berarti manusia boleh berani bermaksiat atau meremehkan perintah-Nya. Justru kemurahan Allah seharusnya membuat manusia semakin malu untuk berbuat dosa dan semakin bersungguh-sungguh dalam menaati-Nya. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat selanjutnya sebagai berikut.Bukankah Dia yang telah menciptakanmu, lalu menyempurnakan bentukmu dalam keadaan yang paling baik?{فَسَوَّاكَ}Artinya, Allah menyempurnakan penciptaanmu dan menjadikanmu dalam bentuk yang paling sempurna.{فَعَدَلَكَ}Artinya, Allah menyusun tubuhmu dengan susunan yang seimbang, tegak, dan proporsional. Dia menjadikanmu dengan bentuk yang paling indah dan penampilan yang paling baik.Jika demikian, pantaskah seorang manusia mengingkari nikmat dari Dzat yang telah memberi nikmat, atau menyangkal kebaikan dari Dzat yang telah berbuat baik kepadanya? Ayat ini mengingatkan manusia agar merenungkan asal penciptaannya. Tubuh yang sempurna, bentuk yang indah, dan susunan yang seimbang adalah bukti besar dari karunia Allah. Karena itu, tidak pantas bagi manusia membalas nikmat tersebut dengan kekufuran atau kedurhakaan. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat selanjutnya sebagai berikut.“Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.” (QS. Al-Infithar: 8)Sikap manusia yang durhaka itu tidak lain muncul karena kebodohan, kezaliman, kedegilan, dan keras kepala.Karena itu, hendaknya manusia bersyukur kepada Allah. Sebab Allah tidak menjadikan dirinya dalam bentuk anjing, keledai, atau hewan lainnya.Allah-lah yang memilihkan baginya bentuk yang paling baik. Oleh karena itu Allah berfirman:{فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ}“Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.”Artinya, Allah menyusun dan membentuk manusia sesuai dengan kehendak-Nya, memberikan kepadanya bentuk yang sempurna, susunan anggota tubuh yang seimbang, dan rupa yang paling baik di antara makhluk.Maka seharusnya manusia menyadari besarnya nikmat tersebut, lalu membalasnya dengan syukur dan ketaatan, bukan dengan kekufuran dan kedurhakaan. Ayat Kesembilan – Kedua BelasAllah Ta’ala berfirman,كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِٱلدِّينِ“Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan.” (QS. Al-Infithar: 9)وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَٰفِظِينَ“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu).” (QS. Al-Infithar: 10)كِرَامًا كَٰتِبِينَ“yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu).” (QS. Al-Infithar: 11)يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ“mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Infithar: 12)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.Maksudnya, meskipun telah disampaikan berbagai nasihat dan peringatan, kalian tetap saja terus-menerus mendustakan hari pembalasan.Kalian pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas semua perbuatan yang telah kalian lakukan.Allah telah menugaskan atas kalian para malaikat yang mulia, yang mencatat setiap ucapan dan perbuatan kalian serta mengetahui apa yang kalian kerjakan. Termasuk dalam hal ini adalah amal-amal hati dan amal-amal anggota tubuh.Karena itu, sudah sepantasnya kalian memuliakan mereka, menghormati mereka, dan menjaga sikap di hadapan mereka.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat 9-12 sebagai berikut. Mereka adalah malaikat yang mulia. Karena itu, janganlah kalian membalasnya dengan perbuatan-perbuatan yang buruk, sebab mereka mencatat seluruh amal kalian.Ibnu Abi Hatim berkata: telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Muhammad Ath-Thanafisi, telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Sufyan dan Mis‘ar dari ‘Alqamah bin Martsad dari Mujahid, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:أَكْرِمُوا الْكِرَامَ الْكَاتِبِينَ الَّذِينَ لَا يُفَارِقُونَكُمْ إِلَّا عِنْدَ إِحْدَى حَالَتَيْنِ: الْجَنَابَةِ وَالْغَائِطِ، فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ بِحَرْمِ حَائِطٍ أَوْ بِبَعِيرِهِ أَوْ لِيَسْتُرْهُ أَخُوهُ“Muliakanlah para malaikat pencatat yang mulia, yang tidak berpisah dari kalian kecuali dalam dua keadaan: ketika junub dan ketika buang hajat. Jika salah seorang dari kalian mandi, hendaklah ia menutup dirinya dengan dinding, dengan untanya, atau hendaklah saudaranya menutupinya.”Hadis ini juga diriwayatkan oleh Al-Hafizh Abu Bakar Al-Bazzar dengan sanad yang bersambung, namun dengan lafaz yang lain. Ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Utsman bin Karamah, telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin Musa dari Hafsh bin Sulaiman dari ‘Alqamah bin Martsad dari Mujahid dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:إِنَّ اللَّهَ يَنْهَاكُمْ عَنِ التَّعَرِّي، فَاسْتَحْيُوا مِنْ مَلَائِكَةِ اللَّهِ الَّذِينَ مَعَكُمُ الْكِرَامِ الْكَاتِبِينَ، الَّذِينَ لَا يُفَارِقُونَكُمْ إِلَّا عِنْدَ إِحْدَى ثَلَاثِ حَالَاتٍ: الْغَائِطِ، وَالْجَنَابَةِ، وَالْغُسْلِ، فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ بِالْعَرَاءِ فَلْيَسْتَتِرْ بِثَوْبِهِ أَوْ بِحَرْمِ حَائِطٍ أَوْ بِبَعِيرِهِ“Sesungguhnya Allah melarang kalian untuk bertelanjang. Maka malulah kepada para malaikat Allah yang bersama kalian, yaitu para malaikat pencatat yang mulia, yang tidak berpisah dari kalian kecuali dalam tiga keadaan: ketika buang hajat, ketika junub, dan ketika mandi. Jika salah seorang dari kalian mandi di tempat terbuka, hendaklah ia menutup dirinya dengan pakaiannya, dengan dinding, atau dengan untanya.”Kemudian ia berkata: Hafsh bin Sulaiman adalah perawi yang hadisnya lemah. Namun hadisnya tetap diriwayatkan dan masih dapat dipertimbangkan.Al-Hafizh Abu Bakar Al-Bazzar juga berkata: telah menceritakan kepada kami Ziyad bin Ayyub, telah menceritakan kepada kami Mubasyir bin Isma‘il Al-Halabi, telah menceritakan kepada kami Tammam bin Najih dari Al-Hasan Al-Bashri dari Anas, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:مَا مِنْ حَافِظَيْنِ يَرْفَعَانِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَا حَفِظَا فِي يَوْمٍ، فَيَرَى فِي أَوَّلِ الصَّحِيفَةِ وَفِي آخِرِهَا اسْتِغْفَارًا، إِلَّا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: قَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِي مَا بَيْنَ طَرَفَيِ الصَّحِيفَةِ“Tidaklah ada dua malaikat penjaga yang mengangkat kepada Allah apa yang mereka catat dalam satu hari, lalu Allah melihat pada awal catatan dan pada akhirnya terdapat istigfar, melainkan Allah berfirman: ‘Aku telah mengampuni hamba-Ku atas apa yang berada di antara kedua bagian catatan itu.’”Kemudian ia berkata: hadis ini diriwayatkan secara tunggal oleh Tammam bin Najih, dan ia termasuk perawi yang hadisnya masih dapat diterima.Aku berkata: Ibnu Ma‘in menilainya tsiqah, namun Al-Bukhari, Abu Zur‘ah, Ibnu Abi Hatim, An-Nasa’i, dan Ibnu ‘Adi melemahkannya. Bahkan Ibnu Hibban menuduhnya sebagai pembuat hadis palsu. Imam Ahmad berkata: aku tidak mengetahui dengan pasti keadaan sebenarnya darinya.Al-Hafizh Abu Bakar Al-Bazzar juga berkata: telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Sulaiman Al-Baghdadi yang dikenal dengan Al-Qalusi, telah menceritakan kepada kami Bayan bin Himran, telah menceritakan kepada kami Salam dari Manshur bin Zadan dari Muhammad bin Sirin dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً يَعْرِفُونَ بَنِي آدَمَ، وَأَحْسَبُهُ قَالَ: وَيَعْرِفُونَ أَعْمَالَهُمْ، فَإِذَا نَظَرُوا إِلَى عَبْدٍ يَعْمَلُ بِطَاعَةِ اللَّهِ ذَكَرُوهُ بَيْنَهُمْ وَسَمَّوْهُ، وَقَالُوا: أَفْلَحَ اللَّيْلَةَ فُلَانٌ، نَجَا اللَّيْلَةَ فُلَانٌ، وَإِذَا نَظَرُوا إِلَى عَبْدٍ يَعْمَلُ بِمَعْصِيَةِ اللَّهِ ذَكَرُوهُ بَيْنَهُمْ وَسَمَّوْهُ، وَقَالُوا: هَلَكَ اللَّيْلَةَ فُلَانٌ“Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang mengenal anak Adam—dan aku kira beliau juga berkata: mereka mengenal amal-amal mereka. Jika mereka melihat seorang hamba melakukan ketaatan kepada Allah, mereka menyebutnya di antara mereka dan menyebut namanya seraya berkata: ‘Beruntunglah si fulan malam ini, selamatlah si fulan malam ini.’ Dan jika mereka melihat seorang hamba melakukan maksiat kepada Allah, mereka juga menyebutnya di antara mereka dan menyebut namanya seraya berkata: ‘Celakalah si fulan malam ini.’”Kemudian Al-Bazzar berkata: Salam ini, aku menduga ia adalah Salam Al-Madaini, dan ia termasuk perawi yang hadisnya lemah. Ayat Ketiga Belas – Kesembilan BelasAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱلْأَبْرَارَ لَفِى نَعِيمٍ“Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan.” (QS. Al-Infithar: 13)وَإِنَّ ٱلْفُجَّارَ لَفِى جَحِيمٍ“dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” (QS. Al-Infithar: 14)يَصْلَوْنَهَا يَوْمَ ٱلدِّينِ“Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan.” (QS. Al-Infithar: 15)وَمَا هُمْ عَنْهَا بِغَآئِبِينَ“Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu.” (QS. Al-Infithar: 16)وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا يَوْمُ ٱلدِّينِ“Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?” (QS. Al-Infithar: 17)ثُمَّ مَآ أَدْرَىٰكَ مَا يَوْمُ ٱلدِّينِ“Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?” (QS. Al-Infithar: 18)يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِّنَفْسٍ شَيْـًٔا ۖ وَٱلْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِّلَّهِ“(Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.” (QS. Al-Infithar: 19)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.“Sesungguhnya orang-orang yang berbakti (al-abrar) benar-benar berada dalam kenikmatan.” (QS. Al-Infithar: 13)Yang dimaksud dengan al-abrār adalah orang-orang yang menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak sesama manusia. Mereka senantiasa berpegang pada kebaikan, baik dalam amal-amal hati maupun amal-amal anggota tubuh. Bagi mereka, balasannya adalah kenikmatan pada hati, ruh, dan tubuh, baik di dunia, di alam barzakh, maupun di negeri tempat tinggal yang kekal (akhirat).“Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka (fujjar) benar-benar berada dalam neraka.” (QS. Al-Infithar: 14)Yang dimaksud dengan al-fujjār adalah orang-orang yang mengabaikan hak-hak Allah dan hak-hak sesama manusia. Hati mereka telah rusak, sehingga perbuatan mereka pun dipenuhi dengan kedurhakaan.Bagi mereka adalah azab yang pedih, baik di dunia, di alam barzakh, maupun di negeri tempat tinggal yang kekal (akhirat).“Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan.” (QS. Al-Infithar: 15)Artinya, mereka akan merasakan dan disiksa di dalamnya dengan azab yang sangat berat.Yaitu hari pembalasan atas semua amal perbuatan.“Dan mereka sekali-kali tidak dapat meninggalkannya.” (QS. Al-Infithar: 16)Artinya, mereka akan terus berada di dalamnya, tidak dapat keluar darinya.“Dan tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?”Dalam ungkapan ini terdapat penegasan tentang dahsyatnya hari tersebut, yaitu hari yang sangat berat sehingga membuat akal manusia menjadi bingung dan tak mampu membayangkannya.“Yaitu hari ketika seseorang tidak mampu memberi manfaat sedikit pun kepada orang lain.”Sekalipun orang itu adalah kerabat dekat atau orang yang sangat dicintainya, setiap orang akan sibuk dengan dirinya sendiri dan tidak berusaha menyelamatkan orang lain.“Dan segala urusan pada hari itu milik Allah.”Dialah yang akan memutuskan perkara di antara para hamba dan mengambilkan hak orang yang dizalimi dari orang yang menzaliminya. Wallahu a’lam.Walhamdulillah, selesai tafsir dari Surah Al-Muthaffifin. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Kamis, 23 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagshari kiamat tafsir juz amma

Tafsir Surah Al-Infithar: Dahsyatnya Hari Kiamat dan Peringatan bagi Manusia

Surah Al-Infithar menggambarkan dengan sangat kuat peristiwa besar yang akan terjadi pada hari kiamat, ketika langit terbelah, bintang-bintang berserakan, lautan meluap, dan seluruh manusia dibangkitkan dari kuburnya. Pada saat itulah setiap jiwa mengetahui dengan jelas seluruh amal yang pernah ia lakukan, lalu manusia dihadapkan kepada perhitungan di hadapan Allah. Ayat-ayat ini juga menegur manusia yang tertipu oleh kehidupan dunia, mengingatkan bahwa setiap amal dicatat oleh para malaikat dan pada akhirnya manusia akan menerima balasan: kenikmatan bagi orang-orang yang berbakti dan azab bagi orang-orang yang durhaka.  Daftar Isi tutup 1. Ayat Pertama – Kelima 2. Ayat Keenam – Kedelapan 3. Ayat Kesembilan – Kedua Belas 4. Ayat Ketiga Belas – Kesembilan Belas  Ayat Pertama – KelimaAllah Ta’ala berfirman,إِذَا ٱلسَّمَآءُ ٱنفَطَرَتْ“Apabila langit terbelah.” (QS. Al-Infithar: 1)وَإِذَا ٱلْكَوَاكِبُ ٱنتَثَرَتْ“dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan.” (QS. Al-Infithar: 2) وَإِذَا ٱلْبِحَارُ فُجِّرَتْ“dan apabila lautan menjadikan meluap.” (QS. Al-Infithar: 3)وَإِذَا ٱلْقُبُورُ بُعْثِرَتْ“dan apabila kuburan-kuburan dibongkar.” (QS. Al-Infithar: 4)عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ“maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya.” (QS. Al-Infithar: 5)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.Apabila langit terbelah dan pecah,dan bintang-bintangnya berserakan serta hilang keindahannya.Apabila lautan diluapkan sehingga semuanya menyatu menjadi satu lautan besar.Dan apabila kubur-kubur dibongkar, yakni ketika semua yang ada di dalamnya berupa manusia yang telah mati dikeluarkan kembali.Pada saat itulah setiap jiwa mengetahui apa yang telah ia kerjakan sebelumnya dan apa yang ia tinggalkan.Semua manusia pun dikumpulkan di hadapan Allah untuk menjalani perhitungan atas amal perbuatan mereka. Pada saat itu, segala penutup tersingkap dan semua yang dahulu tersembunyi menjadi tampak. Setiap jiwa mengetahui dengan jelas apa yang ia bawa: apakah berupa keuntungan atau kerugian.Di saat itulah orang-orang zalim menggigit kedua tangannya karena penyesalan, ketika mereka melihat amal-amal mereka ternyata sia-sia, timbangan kebaikan mereka ringan, berbagai kezaliman yang pernah mereka lakukan menuntut balasan, dan dosa-dosa mereka telah hadir di hadapan mereka. Saat itu mereka benar-benar yakin akan kesengsaraan yang abadi dan azab yang tidak pernah berakhir.Sebaliknya, pada saat itu pula orang-orang yang bertakwa—yang dahulu mendahulukan amal-amal saleh—akan meraih kemenangan yang besar, memperoleh kenikmatan yang kekal, serta selamat dari azab neraka. Ayat Keenam – KedelapanAllah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلْإِنسَٰنُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ ٱلْكَرِيمِ“Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah.” (QS. Al-Infithar: 6)ٱلَّذِى خَلَقَكَ فَسَوَّىٰكَ فَعَدَلَكَ“Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang.” (QS. Al-Infithar: 7)فِىٓ أَىِّ صُورَةٍ مَّا شَآءَ رَكَّبَكَ“dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.” (QS. Al-Infithar: 8)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.Dalam ayat ini, Allah menegur manusia yang lalai terhadap kewajiban kepada Rabbnya dan yang berani melakukan hal-hal yang dimurkai-Nya. Allah berfirman:“Wahai manusia, apa yang membuatmu tertipu terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah?”Apakah karena engkau meremehkan hak-hak-Nya?Apakah karena engkau memandang ringan azab-Nya?Ataukah karena engkau tidak benar-benar beriman kepada balasan dari-Nya? Ayat ini merupakan teguran keras bagi manusia yang tertipu oleh kemurahan Allah. Allah Maha Pemurah, tetapi kemurahan itu bukan berarti manusia boleh berani bermaksiat atau meremehkan perintah-Nya. Justru kemurahan Allah seharusnya membuat manusia semakin malu untuk berbuat dosa dan semakin bersungguh-sungguh dalam menaati-Nya. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat selanjutnya sebagai berikut.Bukankah Dia yang telah menciptakanmu, lalu menyempurnakan bentukmu dalam keadaan yang paling baik?{فَسَوَّاكَ}Artinya, Allah menyempurnakan penciptaanmu dan menjadikanmu dalam bentuk yang paling sempurna.{فَعَدَلَكَ}Artinya, Allah menyusun tubuhmu dengan susunan yang seimbang, tegak, dan proporsional. Dia menjadikanmu dengan bentuk yang paling indah dan penampilan yang paling baik.Jika demikian, pantaskah seorang manusia mengingkari nikmat dari Dzat yang telah memberi nikmat, atau menyangkal kebaikan dari Dzat yang telah berbuat baik kepadanya? Ayat ini mengingatkan manusia agar merenungkan asal penciptaannya. Tubuh yang sempurna, bentuk yang indah, dan susunan yang seimbang adalah bukti besar dari karunia Allah. Karena itu, tidak pantas bagi manusia membalas nikmat tersebut dengan kekufuran atau kedurhakaan. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat selanjutnya sebagai berikut.“Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.” (QS. Al-Infithar: 8)Sikap manusia yang durhaka itu tidak lain muncul karena kebodohan, kezaliman, kedegilan, dan keras kepala.Karena itu, hendaknya manusia bersyukur kepada Allah. Sebab Allah tidak menjadikan dirinya dalam bentuk anjing, keledai, atau hewan lainnya.Allah-lah yang memilihkan baginya bentuk yang paling baik. Oleh karena itu Allah berfirman:{فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ}“Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.”Artinya, Allah menyusun dan membentuk manusia sesuai dengan kehendak-Nya, memberikan kepadanya bentuk yang sempurna, susunan anggota tubuh yang seimbang, dan rupa yang paling baik di antara makhluk.Maka seharusnya manusia menyadari besarnya nikmat tersebut, lalu membalasnya dengan syukur dan ketaatan, bukan dengan kekufuran dan kedurhakaan. Ayat Kesembilan – Kedua BelasAllah Ta’ala berfirman,كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِٱلدِّينِ“Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan.” (QS. Al-Infithar: 9)وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَٰفِظِينَ“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu).” (QS. Al-Infithar: 10)كِرَامًا كَٰتِبِينَ“yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu).” (QS. Al-Infithar: 11)يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ“mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Infithar: 12)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.Maksudnya, meskipun telah disampaikan berbagai nasihat dan peringatan, kalian tetap saja terus-menerus mendustakan hari pembalasan.Kalian pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas semua perbuatan yang telah kalian lakukan.Allah telah menugaskan atas kalian para malaikat yang mulia, yang mencatat setiap ucapan dan perbuatan kalian serta mengetahui apa yang kalian kerjakan. Termasuk dalam hal ini adalah amal-amal hati dan amal-amal anggota tubuh.Karena itu, sudah sepantasnya kalian memuliakan mereka, menghormati mereka, dan menjaga sikap di hadapan mereka.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat 9-12 sebagai berikut. Mereka adalah malaikat yang mulia. Karena itu, janganlah kalian membalasnya dengan perbuatan-perbuatan yang buruk, sebab mereka mencatat seluruh amal kalian.Ibnu Abi Hatim berkata: telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Muhammad Ath-Thanafisi, telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Sufyan dan Mis‘ar dari ‘Alqamah bin Martsad dari Mujahid, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:أَكْرِمُوا الْكِرَامَ الْكَاتِبِينَ الَّذِينَ لَا يُفَارِقُونَكُمْ إِلَّا عِنْدَ إِحْدَى حَالَتَيْنِ: الْجَنَابَةِ وَالْغَائِطِ، فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ بِحَرْمِ حَائِطٍ أَوْ بِبَعِيرِهِ أَوْ لِيَسْتُرْهُ أَخُوهُ“Muliakanlah para malaikat pencatat yang mulia, yang tidak berpisah dari kalian kecuali dalam dua keadaan: ketika junub dan ketika buang hajat. Jika salah seorang dari kalian mandi, hendaklah ia menutup dirinya dengan dinding, dengan untanya, atau hendaklah saudaranya menutupinya.”Hadis ini juga diriwayatkan oleh Al-Hafizh Abu Bakar Al-Bazzar dengan sanad yang bersambung, namun dengan lafaz yang lain. Ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Utsman bin Karamah, telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin Musa dari Hafsh bin Sulaiman dari ‘Alqamah bin Martsad dari Mujahid dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:إِنَّ اللَّهَ يَنْهَاكُمْ عَنِ التَّعَرِّي، فَاسْتَحْيُوا مِنْ مَلَائِكَةِ اللَّهِ الَّذِينَ مَعَكُمُ الْكِرَامِ الْكَاتِبِينَ، الَّذِينَ لَا يُفَارِقُونَكُمْ إِلَّا عِنْدَ إِحْدَى ثَلَاثِ حَالَاتٍ: الْغَائِطِ، وَالْجَنَابَةِ، وَالْغُسْلِ، فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ بِالْعَرَاءِ فَلْيَسْتَتِرْ بِثَوْبِهِ أَوْ بِحَرْمِ حَائِطٍ أَوْ بِبَعِيرِهِ“Sesungguhnya Allah melarang kalian untuk bertelanjang. Maka malulah kepada para malaikat Allah yang bersama kalian, yaitu para malaikat pencatat yang mulia, yang tidak berpisah dari kalian kecuali dalam tiga keadaan: ketika buang hajat, ketika junub, dan ketika mandi. Jika salah seorang dari kalian mandi di tempat terbuka, hendaklah ia menutup dirinya dengan pakaiannya, dengan dinding, atau dengan untanya.”Kemudian ia berkata: Hafsh bin Sulaiman adalah perawi yang hadisnya lemah. Namun hadisnya tetap diriwayatkan dan masih dapat dipertimbangkan.Al-Hafizh Abu Bakar Al-Bazzar juga berkata: telah menceritakan kepada kami Ziyad bin Ayyub, telah menceritakan kepada kami Mubasyir bin Isma‘il Al-Halabi, telah menceritakan kepada kami Tammam bin Najih dari Al-Hasan Al-Bashri dari Anas, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:مَا مِنْ حَافِظَيْنِ يَرْفَعَانِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَا حَفِظَا فِي يَوْمٍ، فَيَرَى فِي أَوَّلِ الصَّحِيفَةِ وَفِي آخِرِهَا اسْتِغْفَارًا، إِلَّا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: قَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِي مَا بَيْنَ طَرَفَيِ الصَّحِيفَةِ“Tidaklah ada dua malaikat penjaga yang mengangkat kepada Allah apa yang mereka catat dalam satu hari, lalu Allah melihat pada awal catatan dan pada akhirnya terdapat istigfar, melainkan Allah berfirman: ‘Aku telah mengampuni hamba-Ku atas apa yang berada di antara kedua bagian catatan itu.’”Kemudian ia berkata: hadis ini diriwayatkan secara tunggal oleh Tammam bin Najih, dan ia termasuk perawi yang hadisnya masih dapat diterima.Aku berkata: Ibnu Ma‘in menilainya tsiqah, namun Al-Bukhari, Abu Zur‘ah, Ibnu Abi Hatim, An-Nasa’i, dan Ibnu ‘Adi melemahkannya. Bahkan Ibnu Hibban menuduhnya sebagai pembuat hadis palsu. Imam Ahmad berkata: aku tidak mengetahui dengan pasti keadaan sebenarnya darinya.Al-Hafizh Abu Bakar Al-Bazzar juga berkata: telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Sulaiman Al-Baghdadi yang dikenal dengan Al-Qalusi, telah menceritakan kepada kami Bayan bin Himran, telah menceritakan kepada kami Salam dari Manshur bin Zadan dari Muhammad bin Sirin dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً يَعْرِفُونَ بَنِي آدَمَ، وَأَحْسَبُهُ قَالَ: وَيَعْرِفُونَ أَعْمَالَهُمْ، فَإِذَا نَظَرُوا إِلَى عَبْدٍ يَعْمَلُ بِطَاعَةِ اللَّهِ ذَكَرُوهُ بَيْنَهُمْ وَسَمَّوْهُ، وَقَالُوا: أَفْلَحَ اللَّيْلَةَ فُلَانٌ، نَجَا اللَّيْلَةَ فُلَانٌ، وَإِذَا نَظَرُوا إِلَى عَبْدٍ يَعْمَلُ بِمَعْصِيَةِ اللَّهِ ذَكَرُوهُ بَيْنَهُمْ وَسَمَّوْهُ، وَقَالُوا: هَلَكَ اللَّيْلَةَ فُلَانٌ“Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang mengenal anak Adam—dan aku kira beliau juga berkata: mereka mengenal amal-amal mereka. Jika mereka melihat seorang hamba melakukan ketaatan kepada Allah, mereka menyebutnya di antara mereka dan menyebut namanya seraya berkata: ‘Beruntunglah si fulan malam ini, selamatlah si fulan malam ini.’ Dan jika mereka melihat seorang hamba melakukan maksiat kepada Allah, mereka juga menyebutnya di antara mereka dan menyebut namanya seraya berkata: ‘Celakalah si fulan malam ini.’”Kemudian Al-Bazzar berkata: Salam ini, aku menduga ia adalah Salam Al-Madaini, dan ia termasuk perawi yang hadisnya lemah. Ayat Ketiga Belas – Kesembilan BelasAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱلْأَبْرَارَ لَفِى نَعِيمٍ“Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan.” (QS. Al-Infithar: 13)وَإِنَّ ٱلْفُجَّارَ لَفِى جَحِيمٍ“dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” (QS. Al-Infithar: 14)يَصْلَوْنَهَا يَوْمَ ٱلدِّينِ“Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan.” (QS. Al-Infithar: 15)وَمَا هُمْ عَنْهَا بِغَآئِبِينَ“Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu.” (QS. Al-Infithar: 16)وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا يَوْمُ ٱلدِّينِ“Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?” (QS. Al-Infithar: 17)ثُمَّ مَآ أَدْرَىٰكَ مَا يَوْمُ ٱلدِّينِ“Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?” (QS. Al-Infithar: 18)يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِّنَفْسٍ شَيْـًٔا ۖ وَٱلْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِّلَّهِ“(Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.” (QS. Al-Infithar: 19)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.“Sesungguhnya orang-orang yang berbakti (al-abrar) benar-benar berada dalam kenikmatan.” (QS. Al-Infithar: 13)Yang dimaksud dengan al-abrār adalah orang-orang yang menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak sesama manusia. Mereka senantiasa berpegang pada kebaikan, baik dalam amal-amal hati maupun amal-amal anggota tubuh. Bagi mereka, balasannya adalah kenikmatan pada hati, ruh, dan tubuh, baik di dunia, di alam barzakh, maupun di negeri tempat tinggal yang kekal (akhirat).“Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka (fujjar) benar-benar berada dalam neraka.” (QS. Al-Infithar: 14)Yang dimaksud dengan al-fujjār adalah orang-orang yang mengabaikan hak-hak Allah dan hak-hak sesama manusia. Hati mereka telah rusak, sehingga perbuatan mereka pun dipenuhi dengan kedurhakaan.Bagi mereka adalah azab yang pedih, baik di dunia, di alam barzakh, maupun di negeri tempat tinggal yang kekal (akhirat).“Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan.” (QS. Al-Infithar: 15)Artinya, mereka akan merasakan dan disiksa di dalamnya dengan azab yang sangat berat.Yaitu hari pembalasan atas semua amal perbuatan.“Dan mereka sekali-kali tidak dapat meninggalkannya.” (QS. Al-Infithar: 16)Artinya, mereka akan terus berada di dalamnya, tidak dapat keluar darinya.“Dan tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?”Dalam ungkapan ini terdapat penegasan tentang dahsyatnya hari tersebut, yaitu hari yang sangat berat sehingga membuat akal manusia menjadi bingung dan tak mampu membayangkannya.“Yaitu hari ketika seseorang tidak mampu memberi manfaat sedikit pun kepada orang lain.”Sekalipun orang itu adalah kerabat dekat atau orang yang sangat dicintainya, setiap orang akan sibuk dengan dirinya sendiri dan tidak berusaha menyelamatkan orang lain.“Dan segala urusan pada hari itu milik Allah.”Dialah yang akan memutuskan perkara di antara para hamba dan mengambilkan hak orang yang dizalimi dari orang yang menzaliminya. Wallahu a’lam.Walhamdulillah, selesai tafsir dari Surah Al-Muthaffifin. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Kamis, 23 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagshari kiamat tafsir juz amma
Surah Al-Infithar menggambarkan dengan sangat kuat peristiwa besar yang akan terjadi pada hari kiamat, ketika langit terbelah, bintang-bintang berserakan, lautan meluap, dan seluruh manusia dibangkitkan dari kuburnya. Pada saat itulah setiap jiwa mengetahui dengan jelas seluruh amal yang pernah ia lakukan, lalu manusia dihadapkan kepada perhitungan di hadapan Allah. Ayat-ayat ini juga menegur manusia yang tertipu oleh kehidupan dunia, mengingatkan bahwa setiap amal dicatat oleh para malaikat dan pada akhirnya manusia akan menerima balasan: kenikmatan bagi orang-orang yang berbakti dan azab bagi orang-orang yang durhaka.  Daftar Isi tutup 1. Ayat Pertama – Kelima 2. Ayat Keenam – Kedelapan 3. Ayat Kesembilan – Kedua Belas 4. Ayat Ketiga Belas – Kesembilan Belas  Ayat Pertama – KelimaAllah Ta’ala berfirman,إِذَا ٱلسَّمَآءُ ٱنفَطَرَتْ“Apabila langit terbelah.” (QS. Al-Infithar: 1)وَإِذَا ٱلْكَوَاكِبُ ٱنتَثَرَتْ“dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan.” (QS. Al-Infithar: 2) وَإِذَا ٱلْبِحَارُ فُجِّرَتْ“dan apabila lautan menjadikan meluap.” (QS. Al-Infithar: 3)وَإِذَا ٱلْقُبُورُ بُعْثِرَتْ“dan apabila kuburan-kuburan dibongkar.” (QS. Al-Infithar: 4)عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ“maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya.” (QS. Al-Infithar: 5)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.Apabila langit terbelah dan pecah,dan bintang-bintangnya berserakan serta hilang keindahannya.Apabila lautan diluapkan sehingga semuanya menyatu menjadi satu lautan besar.Dan apabila kubur-kubur dibongkar, yakni ketika semua yang ada di dalamnya berupa manusia yang telah mati dikeluarkan kembali.Pada saat itulah setiap jiwa mengetahui apa yang telah ia kerjakan sebelumnya dan apa yang ia tinggalkan.Semua manusia pun dikumpulkan di hadapan Allah untuk menjalani perhitungan atas amal perbuatan mereka. Pada saat itu, segala penutup tersingkap dan semua yang dahulu tersembunyi menjadi tampak. Setiap jiwa mengetahui dengan jelas apa yang ia bawa: apakah berupa keuntungan atau kerugian.Di saat itulah orang-orang zalim menggigit kedua tangannya karena penyesalan, ketika mereka melihat amal-amal mereka ternyata sia-sia, timbangan kebaikan mereka ringan, berbagai kezaliman yang pernah mereka lakukan menuntut balasan, dan dosa-dosa mereka telah hadir di hadapan mereka. Saat itu mereka benar-benar yakin akan kesengsaraan yang abadi dan azab yang tidak pernah berakhir.Sebaliknya, pada saat itu pula orang-orang yang bertakwa—yang dahulu mendahulukan amal-amal saleh—akan meraih kemenangan yang besar, memperoleh kenikmatan yang kekal, serta selamat dari azab neraka. Ayat Keenam – KedelapanAllah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلْإِنسَٰنُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ ٱلْكَرِيمِ“Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah.” (QS. Al-Infithar: 6)ٱلَّذِى خَلَقَكَ فَسَوَّىٰكَ فَعَدَلَكَ“Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang.” (QS. Al-Infithar: 7)فِىٓ أَىِّ صُورَةٍ مَّا شَآءَ رَكَّبَكَ“dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.” (QS. Al-Infithar: 8)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.Dalam ayat ini, Allah menegur manusia yang lalai terhadap kewajiban kepada Rabbnya dan yang berani melakukan hal-hal yang dimurkai-Nya. Allah berfirman:“Wahai manusia, apa yang membuatmu tertipu terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah?”Apakah karena engkau meremehkan hak-hak-Nya?Apakah karena engkau memandang ringan azab-Nya?Ataukah karena engkau tidak benar-benar beriman kepada balasan dari-Nya? Ayat ini merupakan teguran keras bagi manusia yang tertipu oleh kemurahan Allah. Allah Maha Pemurah, tetapi kemurahan itu bukan berarti manusia boleh berani bermaksiat atau meremehkan perintah-Nya. Justru kemurahan Allah seharusnya membuat manusia semakin malu untuk berbuat dosa dan semakin bersungguh-sungguh dalam menaati-Nya. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat selanjutnya sebagai berikut.Bukankah Dia yang telah menciptakanmu, lalu menyempurnakan bentukmu dalam keadaan yang paling baik?{فَسَوَّاكَ}Artinya, Allah menyempurnakan penciptaanmu dan menjadikanmu dalam bentuk yang paling sempurna.{فَعَدَلَكَ}Artinya, Allah menyusun tubuhmu dengan susunan yang seimbang, tegak, dan proporsional. Dia menjadikanmu dengan bentuk yang paling indah dan penampilan yang paling baik.Jika demikian, pantaskah seorang manusia mengingkari nikmat dari Dzat yang telah memberi nikmat, atau menyangkal kebaikan dari Dzat yang telah berbuat baik kepadanya? Ayat ini mengingatkan manusia agar merenungkan asal penciptaannya. Tubuh yang sempurna, bentuk yang indah, dan susunan yang seimbang adalah bukti besar dari karunia Allah. Karena itu, tidak pantas bagi manusia membalas nikmat tersebut dengan kekufuran atau kedurhakaan. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat selanjutnya sebagai berikut.“Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.” (QS. Al-Infithar: 8)Sikap manusia yang durhaka itu tidak lain muncul karena kebodohan, kezaliman, kedegilan, dan keras kepala.Karena itu, hendaknya manusia bersyukur kepada Allah. Sebab Allah tidak menjadikan dirinya dalam bentuk anjing, keledai, atau hewan lainnya.Allah-lah yang memilihkan baginya bentuk yang paling baik. Oleh karena itu Allah berfirman:{فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ}“Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.”Artinya, Allah menyusun dan membentuk manusia sesuai dengan kehendak-Nya, memberikan kepadanya bentuk yang sempurna, susunan anggota tubuh yang seimbang, dan rupa yang paling baik di antara makhluk.Maka seharusnya manusia menyadari besarnya nikmat tersebut, lalu membalasnya dengan syukur dan ketaatan, bukan dengan kekufuran dan kedurhakaan. Ayat Kesembilan – Kedua BelasAllah Ta’ala berfirman,كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِٱلدِّينِ“Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan.” (QS. Al-Infithar: 9)وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَٰفِظِينَ“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu).” (QS. Al-Infithar: 10)كِرَامًا كَٰتِبِينَ“yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu).” (QS. Al-Infithar: 11)يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ“mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Infithar: 12)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.Maksudnya, meskipun telah disampaikan berbagai nasihat dan peringatan, kalian tetap saja terus-menerus mendustakan hari pembalasan.Kalian pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas semua perbuatan yang telah kalian lakukan.Allah telah menugaskan atas kalian para malaikat yang mulia, yang mencatat setiap ucapan dan perbuatan kalian serta mengetahui apa yang kalian kerjakan. Termasuk dalam hal ini adalah amal-amal hati dan amal-amal anggota tubuh.Karena itu, sudah sepantasnya kalian memuliakan mereka, menghormati mereka, dan menjaga sikap di hadapan mereka.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat 9-12 sebagai berikut. Mereka adalah malaikat yang mulia. Karena itu, janganlah kalian membalasnya dengan perbuatan-perbuatan yang buruk, sebab mereka mencatat seluruh amal kalian.Ibnu Abi Hatim berkata: telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Muhammad Ath-Thanafisi, telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Sufyan dan Mis‘ar dari ‘Alqamah bin Martsad dari Mujahid, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:أَكْرِمُوا الْكِرَامَ الْكَاتِبِينَ الَّذِينَ لَا يُفَارِقُونَكُمْ إِلَّا عِنْدَ إِحْدَى حَالَتَيْنِ: الْجَنَابَةِ وَالْغَائِطِ، فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ بِحَرْمِ حَائِطٍ أَوْ بِبَعِيرِهِ أَوْ لِيَسْتُرْهُ أَخُوهُ“Muliakanlah para malaikat pencatat yang mulia, yang tidak berpisah dari kalian kecuali dalam dua keadaan: ketika junub dan ketika buang hajat. Jika salah seorang dari kalian mandi, hendaklah ia menutup dirinya dengan dinding, dengan untanya, atau hendaklah saudaranya menutupinya.”Hadis ini juga diriwayatkan oleh Al-Hafizh Abu Bakar Al-Bazzar dengan sanad yang bersambung, namun dengan lafaz yang lain. Ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Utsman bin Karamah, telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin Musa dari Hafsh bin Sulaiman dari ‘Alqamah bin Martsad dari Mujahid dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:إِنَّ اللَّهَ يَنْهَاكُمْ عَنِ التَّعَرِّي، فَاسْتَحْيُوا مِنْ مَلَائِكَةِ اللَّهِ الَّذِينَ مَعَكُمُ الْكِرَامِ الْكَاتِبِينَ، الَّذِينَ لَا يُفَارِقُونَكُمْ إِلَّا عِنْدَ إِحْدَى ثَلَاثِ حَالَاتٍ: الْغَائِطِ، وَالْجَنَابَةِ، وَالْغُسْلِ، فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ بِالْعَرَاءِ فَلْيَسْتَتِرْ بِثَوْبِهِ أَوْ بِحَرْمِ حَائِطٍ أَوْ بِبَعِيرِهِ“Sesungguhnya Allah melarang kalian untuk bertelanjang. Maka malulah kepada para malaikat Allah yang bersama kalian, yaitu para malaikat pencatat yang mulia, yang tidak berpisah dari kalian kecuali dalam tiga keadaan: ketika buang hajat, ketika junub, dan ketika mandi. Jika salah seorang dari kalian mandi di tempat terbuka, hendaklah ia menutup dirinya dengan pakaiannya, dengan dinding, atau dengan untanya.”Kemudian ia berkata: Hafsh bin Sulaiman adalah perawi yang hadisnya lemah. Namun hadisnya tetap diriwayatkan dan masih dapat dipertimbangkan.Al-Hafizh Abu Bakar Al-Bazzar juga berkata: telah menceritakan kepada kami Ziyad bin Ayyub, telah menceritakan kepada kami Mubasyir bin Isma‘il Al-Halabi, telah menceritakan kepada kami Tammam bin Najih dari Al-Hasan Al-Bashri dari Anas, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:مَا مِنْ حَافِظَيْنِ يَرْفَعَانِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَا حَفِظَا فِي يَوْمٍ، فَيَرَى فِي أَوَّلِ الصَّحِيفَةِ وَفِي آخِرِهَا اسْتِغْفَارًا، إِلَّا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: قَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِي مَا بَيْنَ طَرَفَيِ الصَّحِيفَةِ“Tidaklah ada dua malaikat penjaga yang mengangkat kepada Allah apa yang mereka catat dalam satu hari, lalu Allah melihat pada awal catatan dan pada akhirnya terdapat istigfar, melainkan Allah berfirman: ‘Aku telah mengampuni hamba-Ku atas apa yang berada di antara kedua bagian catatan itu.’”Kemudian ia berkata: hadis ini diriwayatkan secara tunggal oleh Tammam bin Najih, dan ia termasuk perawi yang hadisnya masih dapat diterima.Aku berkata: Ibnu Ma‘in menilainya tsiqah, namun Al-Bukhari, Abu Zur‘ah, Ibnu Abi Hatim, An-Nasa’i, dan Ibnu ‘Adi melemahkannya. Bahkan Ibnu Hibban menuduhnya sebagai pembuat hadis palsu. Imam Ahmad berkata: aku tidak mengetahui dengan pasti keadaan sebenarnya darinya.Al-Hafizh Abu Bakar Al-Bazzar juga berkata: telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Sulaiman Al-Baghdadi yang dikenal dengan Al-Qalusi, telah menceritakan kepada kami Bayan bin Himran, telah menceritakan kepada kami Salam dari Manshur bin Zadan dari Muhammad bin Sirin dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً يَعْرِفُونَ بَنِي آدَمَ، وَأَحْسَبُهُ قَالَ: وَيَعْرِفُونَ أَعْمَالَهُمْ، فَإِذَا نَظَرُوا إِلَى عَبْدٍ يَعْمَلُ بِطَاعَةِ اللَّهِ ذَكَرُوهُ بَيْنَهُمْ وَسَمَّوْهُ، وَقَالُوا: أَفْلَحَ اللَّيْلَةَ فُلَانٌ، نَجَا اللَّيْلَةَ فُلَانٌ، وَإِذَا نَظَرُوا إِلَى عَبْدٍ يَعْمَلُ بِمَعْصِيَةِ اللَّهِ ذَكَرُوهُ بَيْنَهُمْ وَسَمَّوْهُ، وَقَالُوا: هَلَكَ اللَّيْلَةَ فُلَانٌ“Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang mengenal anak Adam—dan aku kira beliau juga berkata: mereka mengenal amal-amal mereka. Jika mereka melihat seorang hamba melakukan ketaatan kepada Allah, mereka menyebutnya di antara mereka dan menyebut namanya seraya berkata: ‘Beruntunglah si fulan malam ini, selamatlah si fulan malam ini.’ Dan jika mereka melihat seorang hamba melakukan maksiat kepada Allah, mereka juga menyebutnya di antara mereka dan menyebut namanya seraya berkata: ‘Celakalah si fulan malam ini.’”Kemudian Al-Bazzar berkata: Salam ini, aku menduga ia adalah Salam Al-Madaini, dan ia termasuk perawi yang hadisnya lemah. Ayat Ketiga Belas – Kesembilan BelasAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱلْأَبْرَارَ لَفِى نَعِيمٍ“Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan.” (QS. Al-Infithar: 13)وَإِنَّ ٱلْفُجَّارَ لَفِى جَحِيمٍ“dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” (QS. Al-Infithar: 14)يَصْلَوْنَهَا يَوْمَ ٱلدِّينِ“Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan.” (QS. Al-Infithar: 15)وَمَا هُمْ عَنْهَا بِغَآئِبِينَ“Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu.” (QS. Al-Infithar: 16)وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا يَوْمُ ٱلدِّينِ“Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?” (QS. Al-Infithar: 17)ثُمَّ مَآ أَدْرَىٰكَ مَا يَوْمُ ٱلدِّينِ“Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?” (QS. Al-Infithar: 18)يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِّنَفْسٍ شَيْـًٔا ۖ وَٱلْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِّلَّهِ“(Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.” (QS. Al-Infithar: 19)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.“Sesungguhnya orang-orang yang berbakti (al-abrar) benar-benar berada dalam kenikmatan.” (QS. Al-Infithar: 13)Yang dimaksud dengan al-abrār adalah orang-orang yang menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak sesama manusia. Mereka senantiasa berpegang pada kebaikan, baik dalam amal-amal hati maupun amal-amal anggota tubuh. Bagi mereka, balasannya adalah kenikmatan pada hati, ruh, dan tubuh, baik di dunia, di alam barzakh, maupun di negeri tempat tinggal yang kekal (akhirat).“Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka (fujjar) benar-benar berada dalam neraka.” (QS. Al-Infithar: 14)Yang dimaksud dengan al-fujjār adalah orang-orang yang mengabaikan hak-hak Allah dan hak-hak sesama manusia. Hati mereka telah rusak, sehingga perbuatan mereka pun dipenuhi dengan kedurhakaan.Bagi mereka adalah azab yang pedih, baik di dunia, di alam barzakh, maupun di negeri tempat tinggal yang kekal (akhirat).“Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan.” (QS. Al-Infithar: 15)Artinya, mereka akan merasakan dan disiksa di dalamnya dengan azab yang sangat berat.Yaitu hari pembalasan atas semua amal perbuatan.“Dan mereka sekali-kali tidak dapat meninggalkannya.” (QS. Al-Infithar: 16)Artinya, mereka akan terus berada di dalamnya, tidak dapat keluar darinya.“Dan tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?”Dalam ungkapan ini terdapat penegasan tentang dahsyatnya hari tersebut, yaitu hari yang sangat berat sehingga membuat akal manusia menjadi bingung dan tak mampu membayangkannya.“Yaitu hari ketika seseorang tidak mampu memberi manfaat sedikit pun kepada orang lain.”Sekalipun orang itu adalah kerabat dekat atau orang yang sangat dicintainya, setiap orang akan sibuk dengan dirinya sendiri dan tidak berusaha menyelamatkan orang lain.“Dan segala urusan pada hari itu milik Allah.”Dialah yang akan memutuskan perkara di antara para hamba dan mengambilkan hak orang yang dizalimi dari orang yang menzaliminya. Wallahu a’lam.Walhamdulillah, selesai tafsir dari Surah Al-Muthaffifin. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Kamis, 23 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagshari kiamat tafsir juz amma


Surah Al-Infithar menggambarkan dengan sangat kuat peristiwa besar yang akan terjadi pada hari kiamat, ketika langit terbelah, bintang-bintang berserakan, lautan meluap, dan seluruh manusia dibangkitkan dari kuburnya. Pada saat itulah setiap jiwa mengetahui dengan jelas seluruh amal yang pernah ia lakukan, lalu manusia dihadapkan kepada perhitungan di hadapan Allah. Ayat-ayat ini juga menegur manusia yang tertipu oleh kehidupan dunia, mengingatkan bahwa setiap amal dicatat oleh para malaikat dan pada akhirnya manusia akan menerima balasan: kenikmatan bagi orang-orang yang berbakti dan azab bagi orang-orang yang durhaka.  Daftar Isi tutup 1. Ayat Pertama – Kelima 2. Ayat Keenam – Kedelapan 3. Ayat Kesembilan – Kedua Belas 4. Ayat Ketiga Belas – Kesembilan Belas  Ayat Pertama – KelimaAllah Ta’ala berfirman,إِذَا ٱلسَّمَآءُ ٱنفَطَرَتْ“Apabila langit terbelah.” (QS. Al-Infithar: 1)وَإِذَا ٱلْكَوَاكِبُ ٱنتَثَرَتْ“dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan.” (QS. Al-Infithar: 2) وَإِذَا ٱلْبِحَارُ فُجِّرَتْ“dan apabila lautan menjadikan meluap.” (QS. Al-Infithar: 3)وَإِذَا ٱلْقُبُورُ بُعْثِرَتْ“dan apabila kuburan-kuburan dibongkar.” (QS. Al-Infithar: 4)عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ“maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya.” (QS. Al-Infithar: 5)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.Apabila langit terbelah dan pecah,dan bintang-bintangnya berserakan serta hilang keindahannya.Apabila lautan diluapkan sehingga semuanya menyatu menjadi satu lautan besar.Dan apabila kubur-kubur dibongkar, yakni ketika semua yang ada di dalamnya berupa manusia yang telah mati dikeluarkan kembali.Pada saat itulah setiap jiwa mengetahui apa yang telah ia kerjakan sebelumnya dan apa yang ia tinggalkan.Semua manusia pun dikumpulkan di hadapan Allah untuk menjalani perhitungan atas amal perbuatan mereka. Pada saat itu, segala penutup tersingkap dan semua yang dahulu tersembunyi menjadi tampak. Setiap jiwa mengetahui dengan jelas apa yang ia bawa: apakah berupa keuntungan atau kerugian.Di saat itulah orang-orang zalim menggigit kedua tangannya karena penyesalan, ketika mereka melihat amal-amal mereka ternyata sia-sia, timbangan kebaikan mereka ringan, berbagai kezaliman yang pernah mereka lakukan menuntut balasan, dan dosa-dosa mereka telah hadir di hadapan mereka. Saat itu mereka benar-benar yakin akan kesengsaraan yang abadi dan azab yang tidak pernah berakhir.Sebaliknya, pada saat itu pula orang-orang yang bertakwa—yang dahulu mendahulukan amal-amal saleh—akan meraih kemenangan yang besar, memperoleh kenikmatan yang kekal, serta selamat dari azab neraka. Ayat Keenam – KedelapanAllah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلْإِنسَٰنُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ ٱلْكَرِيمِ“Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah.” (QS. Al-Infithar: 6)ٱلَّذِى خَلَقَكَ فَسَوَّىٰكَ فَعَدَلَكَ“Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang.” (QS. Al-Infithar: 7)فِىٓ أَىِّ صُورَةٍ مَّا شَآءَ رَكَّبَكَ“dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.” (QS. Al-Infithar: 8)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.Dalam ayat ini, Allah menegur manusia yang lalai terhadap kewajiban kepada Rabbnya dan yang berani melakukan hal-hal yang dimurkai-Nya. Allah berfirman:“Wahai manusia, apa yang membuatmu tertipu terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah?”Apakah karena engkau meremehkan hak-hak-Nya?Apakah karena engkau memandang ringan azab-Nya?Ataukah karena engkau tidak benar-benar beriman kepada balasan dari-Nya? Ayat ini merupakan teguran keras bagi manusia yang tertipu oleh kemurahan Allah. Allah Maha Pemurah, tetapi kemurahan itu bukan berarti manusia boleh berani bermaksiat atau meremehkan perintah-Nya. Justru kemurahan Allah seharusnya membuat manusia semakin malu untuk berbuat dosa dan semakin bersungguh-sungguh dalam menaati-Nya. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat selanjutnya sebagai berikut.Bukankah Dia yang telah menciptakanmu, lalu menyempurnakan bentukmu dalam keadaan yang paling baik?{فَسَوَّاكَ}Artinya, Allah menyempurnakan penciptaanmu dan menjadikanmu dalam bentuk yang paling sempurna.{فَعَدَلَكَ}Artinya, Allah menyusun tubuhmu dengan susunan yang seimbang, tegak, dan proporsional. Dia menjadikanmu dengan bentuk yang paling indah dan penampilan yang paling baik.Jika demikian, pantaskah seorang manusia mengingkari nikmat dari Dzat yang telah memberi nikmat, atau menyangkal kebaikan dari Dzat yang telah berbuat baik kepadanya? Ayat ini mengingatkan manusia agar merenungkan asal penciptaannya. Tubuh yang sempurna, bentuk yang indah, dan susunan yang seimbang adalah bukti besar dari karunia Allah. Karena itu, tidak pantas bagi manusia membalas nikmat tersebut dengan kekufuran atau kedurhakaan. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat selanjutnya sebagai berikut.“Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.” (QS. Al-Infithar: 8)Sikap manusia yang durhaka itu tidak lain muncul karena kebodohan, kezaliman, kedegilan, dan keras kepala.Karena itu, hendaknya manusia bersyukur kepada Allah. Sebab Allah tidak menjadikan dirinya dalam bentuk anjing, keledai, atau hewan lainnya.Allah-lah yang memilihkan baginya bentuk yang paling baik. Oleh karena itu Allah berfirman:{فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ}“Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.”Artinya, Allah menyusun dan membentuk manusia sesuai dengan kehendak-Nya, memberikan kepadanya bentuk yang sempurna, susunan anggota tubuh yang seimbang, dan rupa yang paling baik di antara makhluk.Maka seharusnya manusia menyadari besarnya nikmat tersebut, lalu membalasnya dengan syukur dan ketaatan, bukan dengan kekufuran dan kedurhakaan. Ayat Kesembilan – Kedua BelasAllah Ta’ala berfirman,كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِٱلدِّينِ“Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan.” (QS. Al-Infithar: 9)وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَٰفِظِينَ“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu).” (QS. Al-Infithar: 10)كِرَامًا كَٰتِبِينَ“yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu).” (QS. Al-Infithar: 11)يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ“mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Infithar: 12)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.Maksudnya, meskipun telah disampaikan berbagai nasihat dan peringatan, kalian tetap saja terus-menerus mendustakan hari pembalasan.Kalian pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas semua perbuatan yang telah kalian lakukan.Allah telah menugaskan atas kalian para malaikat yang mulia, yang mencatat setiap ucapan dan perbuatan kalian serta mengetahui apa yang kalian kerjakan. Termasuk dalam hal ini adalah amal-amal hati dan amal-amal anggota tubuh.Karena itu, sudah sepantasnya kalian memuliakan mereka, menghormati mereka, dan menjaga sikap di hadapan mereka.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat 9-12 sebagai berikut. Mereka adalah malaikat yang mulia. Karena itu, janganlah kalian membalasnya dengan perbuatan-perbuatan yang buruk, sebab mereka mencatat seluruh amal kalian.Ibnu Abi Hatim berkata: telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Muhammad Ath-Thanafisi, telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Sufyan dan Mis‘ar dari ‘Alqamah bin Martsad dari Mujahid, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:أَكْرِمُوا الْكِرَامَ الْكَاتِبِينَ الَّذِينَ لَا يُفَارِقُونَكُمْ إِلَّا عِنْدَ إِحْدَى حَالَتَيْنِ: الْجَنَابَةِ وَالْغَائِطِ، فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ بِحَرْمِ حَائِطٍ أَوْ بِبَعِيرِهِ أَوْ لِيَسْتُرْهُ أَخُوهُ“Muliakanlah para malaikat pencatat yang mulia, yang tidak berpisah dari kalian kecuali dalam dua keadaan: ketika junub dan ketika buang hajat. Jika salah seorang dari kalian mandi, hendaklah ia menutup dirinya dengan dinding, dengan untanya, atau hendaklah saudaranya menutupinya.”Hadis ini juga diriwayatkan oleh Al-Hafizh Abu Bakar Al-Bazzar dengan sanad yang bersambung, namun dengan lafaz yang lain. Ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Utsman bin Karamah, telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin Musa dari Hafsh bin Sulaiman dari ‘Alqamah bin Martsad dari Mujahid dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:إِنَّ اللَّهَ يَنْهَاكُمْ عَنِ التَّعَرِّي، فَاسْتَحْيُوا مِنْ مَلَائِكَةِ اللَّهِ الَّذِينَ مَعَكُمُ الْكِرَامِ الْكَاتِبِينَ، الَّذِينَ لَا يُفَارِقُونَكُمْ إِلَّا عِنْدَ إِحْدَى ثَلَاثِ حَالَاتٍ: الْغَائِطِ، وَالْجَنَابَةِ، وَالْغُسْلِ، فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ بِالْعَرَاءِ فَلْيَسْتَتِرْ بِثَوْبِهِ أَوْ بِحَرْمِ حَائِطٍ أَوْ بِبَعِيرِهِ“Sesungguhnya Allah melarang kalian untuk bertelanjang. Maka malulah kepada para malaikat Allah yang bersama kalian, yaitu para malaikat pencatat yang mulia, yang tidak berpisah dari kalian kecuali dalam tiga keadaan: ketika buang hajat, ketika junub, dan ketika mandi. Jika salah seorang dari kalian mandi di tempat terbuka, hendaklah ia menutup dirinya dengan pakaiannya, dengan dinding, atau dengan untanya.”Kemudian ia berkata: Hafsh bin Sulaiman adalah perawi yang hadisnya lemah. Namun hadisnya tetap diriwayatkan dan masih dapat dipertimbangkan.Al-Hafizh Abu Bakar Al-Bazzar juga berkata: telah menceritakan kepada kami Ziyad bin Ayyub, telah menceritakan kepada kami Mubasyir bin Isma‘il Al-Halabi, telah menceritakan kepada kami Tammam bin Najih dari Al-Hasan Al-Bashri dari Anas, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:مَا مِنْ حَافِظَيْنِ يَرْفَعَانِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَا حَفِظَا فِي يَوْمٍ، فَيَرَى فِي أَوَّلِ الصَّحِيفَةِ وَفِي آخِرِهَا اسْتِغْفَارًا، إِلَّا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: قَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِي مَا بَيْنَ طَرَفَيِ الصَّحِيفَةِ“Tidaklah ada dua malaikat penjaga yang mengangkat kepada Allah apa yang mereka catat dalam satu hari, lalu Allah melihat pada awal catatan dan pada akhirnya terdapat istigfar, melainkan Allah berfirman: ‘Aku telah mengampuni hamba-Ku atas apa yang berada di antara kedua bagian catatan itu.’”Kemudian ia berkata: hadis ini diriwayatkan secara tunggal oleh Tammam bin Najih, dan ia termasuk perawi yang hadisnya masih dapat diterima.Aku berkata: Ibnu Ma‘in menilainya tsiqah, namun Al-Bukhari, Abu Zur‘ah, Ibnu Abi Hatim, An-Nasa’i, dan Ibnu ‘Adi melemahkannya. Bahkan Ibnu Hibban menuduhnya sebagai pembuat hadis palsu. Imam Ahmad berkata: aku tidak mengetahui dengan pasti keadaan sebenarnya darinya.Al-Hafizh Abu Bakar Al-Bazzar juga berkata: telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Sulaiman Al-Baghdadi yang dikenal dengan Al-Qalusi, telah menceritakan kepada kami Bayan bin Himran, telah menceritakan kepada kami Salam dari Manshur bin Zadan dari Muhammad bin Sirin dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً يَعْرِفُونَ بَنِي آدَمَ، وَأَحْسَبُهُ قَالَ: وَيَعْرِفُونَ أَعْمَالَهُمْ، فَإِذَا نَظَرُوا إِلَى عَبْدٍ يَعْمَلُ بِطَاعَةِ اللَّهِ ذَكَرُوهُ بَيْنَهُمْ وَسَمَّوْهُ، وَقَالُوا: أَفْلَحَ اللَّيْلَةَ فُلَانٌ، نَجَا اللَّيْلَةَ فُلَانٌ، وَإِذَا نَظَرُوا إِلَى عَبْدٍ يَعْمَلُ بِمَعْصِيَةِ اللَّهِ ذَكَرُوهُ بَيْنَهُمْ وَسَمَّوْهُ، وَقَالُوا: هَلَكَ اللَّيْلَةَ فُلَانٌ“Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang mengenal anak Adam—dan aku kira beliau juga berkata: mereka mengenal amal-amal mereka. Jika mereka melihat seorang hamba melakukan ketaatan kepada Allah, mereka menyebutnya di antara mereka dan menyebut namanya seraya berkata: ‘Beruntunglah si fulan malam ini, selamatlah si fulan malam ini.’ Dan jika mereka melihat seorang hamba melakukan maksiat kepada Allah, mereka juga menyebutnya di antara mereka dan menyebut namanya seraya berkata: ‘Celakalah si fulan malam ini.’”Kemudian Al-Bazzar berkata: Salam ini, aku menduga ia adalah Salam Al-Madaini, dan ia termasuk perawi yang hadisnya lemah. Ayat Ketiga Belas – Kesembilan BelasAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱلْأَبْرَارَ لَفِى نَعِيمٍ“Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan.” (QS. Al-Infithar: 13)وَإِنَّ ٱلْفُجَّارَ لَفِى جَحِيمٍ“dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” (QS. Al-Infithar: 14)يَصْلَوْنَهَا يَوْمَ ٱلدِّينِ“Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan.” (QS. Al-Infithar: 15)وَمَا هُمْ عَنْهَا بِغَآئِبِينَ“Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu.” (QS. Al-Infithar: 16)وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا يَوْمُ ٱلدِّينِ“Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?” (QS. Al-Infithar: 17)ثُمَّ مَآ أَدْرَىٰكَ مَا يَوْمُ ٱلدِّينِ“Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?” (QS. Al-Infithar: 18)يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِّنَفْسٍ شَيْـًٔا ۖ وَٱلْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِّلَّهِ“(Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.” (QS. Al-Infithar: 19)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.“Sesungguhnya orang-orang yang berbakti (al-abrar) benar-benar berada dalam kenikmatan.” (QS. Al-Infithar: 13)Yang dimaksud dengan al-abrār adalah orang-orang yang menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak sesama manusia. Mereka senantiasa berpegang pada kebaikan, baik dalam amal-amal hati maupun amal-amal anggota tubuh. Bagi mereka, balasannya adalah kenikmatan pada hati, ruh, dan tubuh, baik di dunia, di alam barzakh, maupun di negeri tempat tinggal yang kekal (akhirat).“Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka (fujjar) benar-benar berada dalam neraka.” (QS. Al-Infithar: 14)Yang dimaksud dengan al-fujjār adalah orang-orang yang mengabaikan hak-hak Allah dan hak-hak sesama manusia. Hati mereka telah rusak, sehingga perbuatan mereka pun dipenuhi dengan kedurhakaan.Bagi mereka adalah azab yang pedih, baik di dunia, di alam barzakh, maupun di negeri tempat tinggal yang kekal (akhirat).“Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan.” (QS. Al-Infithar: 15)Artinya, mereka akan merasakan dan disiksa di dalamnya dengan azab yang sangat berat.Yaitu hari pembalasan atas semua amal perbuatan.“Dan mereka sekali-kali tidak dapat meninggalkannya.” (QS. Al-Infithar: 16)Artinya, mereka akan terus berada di dalamnya, tidak dapat keluar darinya.“Dan tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?”Dalam ungkapan ini terdapat penegasan tentang dahsyatnya hari tersebut, yaitu hari yang sangat berat sehingga membuat akal manusia menjadi bingung dan tak mampu membayangkannya.“Yaitu hari ketika seseorang tidak mampu memberi manfaat sedikit pun kepada orang lain.”Sekalipun orang itu adalah kerabat dekat atau orang yang sangat dicintainya, setiap orang akan sibuk dengan dirinya sendiri dan tidak berusaha menyelamatkan orang lain.“Dan segala urusan pada hari itu milik Allah.”Dialah yang akan memutuskan perkara di antara para hamba dan mengambilkan hak orang yang dizalimi dari orang yang menzaliminya. Wallahu a’lam.Walhamdulillah, selesai tafsir dari Surah Al-Muthaffifin. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Kamis, 23 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagshari kiamat tafsir juz amma

Kisah Perang Khandaq dalam Surah Al-Ahzab: Pelajaran Tentang Pertolongan Allah

Surah Al-Ahzab merupakan salah satu surah Madaniyah yang sarat dengan pelajaran tentang keteguhan iman dan ujian mental. Nama “Al-Ahzab” sendiri merujuk pada pasukan sekutu (koalisi) kafir Quraisy bersama kabilah-kabilah lain yang mengepung Madinah dalam Perang Khandaq.Baca juga: Faedah Sirah Nabi: Perang Ahzab (Perang Khandaq) dan Pelajaran di Dalamnya  Daftar Isi tutup 1. 1. Pertolongan Allah dan Goncangan Ujian bagi Orang Beriman (Ayat 9–11) 2. 2. Mentalitas Pecundang dan Siasat Orang Munafik (Ayat 12–20) 3. 3. Keteladanan Rasulullah dan Keteguhan Iman Kaum Mukminin (Ayat 21–24) 4. 4. Akhir Perjuangan dan Kemenangan bagi Orang Bertakwa (Ayat 25–27)  Berikut adalah pengembangan empat bagian utama kisah Perang Ahzab dalam surah ini sebagai bahan tadabbur kita:1. Pertolongan Allah dan Goncangan Ujian bagi Orang Beriman (Ayat 9–11)Pada bagian awal, Allah mengingatkan kaum mukminin tentang besarnya nikmat pertolongan-Nya. Saat itu, pasukan musuh datang dari “atas” dan “bawah” Madinah, hingga mata kaum Muslimin terbelalak ketakutan dan hati mereka seolah menyesak sampai ke tenggorokan.Allah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ نِعْمَةَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَآءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا “Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ahzab: 9)إِذْ جَآءُوكُم مِّن فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ ٱلْأَبْصَٰرُ وَبَلَغَتِ ٱلْقُلُوبُ ٱلْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِٱللَّهِ ٱلظُّنُونَا۠“(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka.” (QS. Al-Ahzab: 10)هُنَالِكَ ٱبْتُلِىَ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا۟ زِلْزَالًا شَدِيدًا“Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.” (QS. Al-Ahzab: 11)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas sebagai berikut.Allah mengingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman tentang nikmat-Nya kepada mereka dan mendorong mereka untuk mensyukurinya. Nikmat itu terjadi ketika pasukan-pasukan musuh datang menyerang mereka. Pasukan tersebut berasal dari penduduk Makkah dan wilayah Hijaz yang datang dari arah atas mereka, serta dari penduduk Najd yang datang dari arah bawah mereka. Mereka sepakat dan bersekutu untuk memusnahkan Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Peristiwa ini dikenal sebagai Perang Khandaq.Kaum Yahudi yang tinggal di sekitar Madinah juga turut membantu mereka. Mereka bergabung dan mengerahkan pasukan yang besar serta berbagai kelompok manusia yang banyak.Rasulullah ﷺ kemudian menggali parit (khandaq) di sekitar Madinah sebagai strategi pertahanan. Pasukan musuh pun mengepung kota Madinah. Keadaan menjadi sangat genting. Rasa takut semakin memuncak hingga hati terasa naik ke tenggorokan. Sebagian manusia bahkan mulai berprasangka yang bermacam-macam karena melihat sebab-sebab yang tampak begitu kuat dan berbagai kesulitan yang sangat berat.Pengepungan terhadap Madinah berlangsung cukup lama. Keadaan saat itu sebagaimana yang Allah gambarkan dalam firman-Nya:وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَ“Dan (ingatlah) ketika pandangan menjadi liar dan hati menyesak sampai ke tenggorokan, dan kalian berprasangka yang bermacam-macam terhadap Allah.” (QS. Al-Ahzab: 10)Maksudnya, muncul berbagai prasangka buruk pada sebagian orang, seolah-olah Allah tidak akan menolong agama-Nya dan tidak akan menyempurnakan kalimat-Nya (agama Islam).“Di sanalah orang-orang mukmin diuji dan diguncangkan dengan guncangan yang sangat dahsyat.” (QS. Al-Ahzab: 11)Di saat itulah orang-orang beriman diuji dengan ujian yang sangat besar. Mereka diguncang dengan guncangan yang dahsyat berupa rasa takut, kecemasan, dan kelaparan. Semua itu terjadi agar tampak jelas keimanan mereka dan agar keyakinan mereka semakin bertambah kuat.Dalam peristiwa itu tampak—segala puji bagi Allah—betapa kuat iman dan keyakinan mereka, hingga mereka mencapai derajat keimanan yang sangat tinggi.Ketika kesulitan semakin berat dan berbagai penderitaan semakin memuncak, keimanan mereka pun berubah menjadi keyakinan yang nyata. Allah menggambarkan sikap mereka dalam firman-Nya:وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا“Dan ketika orang-orang mukmin melihat pasukan-pasukan itu, mereka berkata, ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami. Benarlah Allah dan Rasul-Nya.’ Dan keadaan itu tidaklah menambah bagi mereka selain iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22)Pada saat yang sama, kemunafikan orang-orang munafik pun menjadi jelas. Apa yang selama ini mereka sembunyikan dalam hati akhirnya tampak nyata. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam ayat selanjutnya. Pelajaran Penting: Ujian berat adalah sunnatullah untuk menyaring siapa yang benar-benar beriman. Namun, bagi mereka yang bersabar, Allah mengirimkan “pasukan tak terlihat” berupa angin kencang dan malaikat untuk memukul mundur musuh.Pesan Utama: Jangan pernah meragukan pertolongan Allah saat kondisi terasa paling menghimpit sekalipun. 2. Mentalitas Pecundang dan Siasat Orang Munafik (Ayat 12–20)Al-Qur’an secara gamblang membongkar isi hati orang munafik saat krisis terjadi. Mereka berkata bahwa janji Allah dan Rasul-Nya hanyalah tipu daya. Mereka mencari-cari alasan (udzur) untuk meninggalkan medan perang dengan dalih “rumah kami tidak aman”, padahal mereka hanya ingin melarikan diri.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذْ يَقُولُ ٱلْمُنَٰفِقُونَ وَٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ مَّا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ إِلَّا غُرُورًا“Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya”.” (QS. Al-Ahzab: 12)وَإِذْ قَالَت طَّآئِفَةٌ مِّنْهُمْ يَٰٓأَهْلَ يَثْرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمْ فَٱرْجِعُوا۟ ۚ وَيَسْتَـْٔذِنُ فَرِيقٌ مِّنْهُمُ ٱلنَّبِىَّ يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوْرَةٌ وَمَا هِىَ بِعَوْرَةٍ ۖ إِن يُرِيدُونَ إِلَّا فِرَارًا“Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mreka berkata: “Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu”. Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata: “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)”. Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanya hendak lari.” (QS. Al-Ahzab: 13)وَلَوْ دُخِلَتْ عَلَيْهِم مِّنْ أَقْطَارِهَا ثُمَّ سُئِلُوا۟ ٱلْفِتْنَةَ لَءَاتَوْهَا وَمَا تَلَبَّثُوا۟ بِهَآ إِلَّا يَسِيرًا“Kalau (Yatsrib) diserang dari segala penjuru, kemudian diminta kepada mereka supaya murtad, niscaya mereka mengerjakannya; dan mereka tiada akan bertangguh untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat.” (QS. Al-Ahzab: 14)وَلَقَدْ كَانُوا۟ عَٰهَدُوا۟ ٱللَّهَ مِن قَبْلُ لَا يُوَلُّونَ ٱلْأَدْبَٰرَ ۚ وَكَانَ عَهْدُ ٱللَّهِ مَسْـُٔولًا“Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah: “Mereka tidak akan berbalik ke belakang (mundur)”. Dan adalah perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Ahzab: 15)قُل لَّن يَنفَعَكُمُ ٱلْفِرَارُ إِن فَرَرْتُم مِّنَ ٱلْمَوْتِ أَوِ ٱلْقَتْلِ وَإِذًا لَّا تُمَتَّعُونَ إِلَّا قَلِيلًا“Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja”. (QS. Al-Ahzab: 16)قُلْ مَن ذَا ٱلَّذِى يَعْصِمُكُم مِّنَ ٱللَّهِ إِنْ أَرَادَ بِكُمْ سُوٓءًا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ رَحْمَةً ۚ وَلَا يَجِدُونَ لَهُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا“Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.” (QS. Al-Ahzab: 17)۞ قَدْ يَعْلَمُ ٱللَّهُ ٱلْمُعَوِّقِينَ مِنكُمْ وَٱلْقَآئِلِينَ لِإِخْوَٰنِهِمْ هَلُمَّ إِلَيْنَا ۖ وَلَا يَأْتُونَ ٱلْبَأْسَ إِلَّا قَلِيلًا“Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya: “Marilah kepada kami”. Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar.” (QS. Al-Ahzab: 18)أَشِحَّةً عَلَيْكُمْ ۖ فَإِذَا جَآءَ ٱلْخَوْفُ رَأَيْتَهُمْ يَنظُرُونَ إِلَيْكَ تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ كَٱلَّذِى يُغْشَىٰ عَلَيْهِ مِنَ ٱلْمَوْتِ ۖ فَإِذَا ذَهَبَ ٱلْخَوْفُ سَلَقُوكُم بِأَلْسِنَةٍ حِدَادٍ أَشِحَّةً عَلَى ٱلْخَيْرِ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوا۟ فَأَحْبَطَ ٱللَّهُ أَعْمَٰلَهُمْ ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرًا“Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 19)يَحْسَبُونَ ٱلْأَحْزَابَ لَمْ يَذْهَبُوا۟ ۖ وَإِن يَأْتِ ٱلْأَحْزَابُ يَوَدُّوا۟ لَوْ أَنَّهُم بَادُونَ فِى ٱلْأَعْرَابِ يَسْـَٔلُونَ عَنْ أَنۢبَآئِكُمْ ۖ وَلَوْ كَانُوا۟ فِيكُم مَّا قَٰتَلُوٓا۟ إِلَّا قَلِيلًا“Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badwi, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu. Dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja.” (QS. Al-Ahzab: 20)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas sebagai berikut.“Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit berkata, ‘Tidaklah Allah dan Rasul-Nya menjanjikan kepada kami selain tipu daya belaka.’” (QS. Al-Ahzab: 12)Inilah kebiasaan orang munafik ketika menghadapi kesulitan dan ujian. Iman mereka tidak kokoh. Mereka menilai keadaan hanya dengan akal yang pendek dan pandangan yang sempit, lalu membenarkan prasangka buruk mereka sendiri.“Dan (ingatlah) ketika segolongan dari mereka berkata, ‘Wahai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagi kalian (untuk bertahan di sini), maka kembalilah kalian.’ Dan sebagian dari mereka meminta izin kepada Nabi dengan berkata, ‘Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak terjaga).’ Padahal rumah-rumah itu tidaklah terbuka; mereka tidak menghendaki selain melarikan diri.” (QS. Al-Ahzab: 13)Sebagian orang munafik, ketika rasa takut meliputi mereka dan kesabaran mereka melemah, menjadi orang-orang yang gagal dan putus asa. Mereka bukan hanya tidak mampu bersabar sendiri, tetapi juga berusaha melemahkan orang lain.Mereka berkata, “Wahai penduduk Yatsrib!” maksudnya adalah penduduk Madinah. Mereka menyebut kota itu dengan nama lamanya (Yatsrib berarti cercaan), seakan-akan mereka tidak mempedulikan persaudaraan iman dan agama. Yang mendorong mereka hanyalah kelemahan dan ketakutan.Mereka berkata, “Tidak ada tempat bagi kalian di sini, maka kembalilah!” Maksudnya, kembalilah ke kota Madinah. Dengan ucapan ini mereka melemahkan semangat kaum Muslimin untuk berjihad dan menyatakan bahwa mereka tidak memiliki kekuatan menghadapi musuh.Kelompok ini adalah kelompok yang paling buruk dan paling berbahaya. Ada pula kelompok lain yang lebih lemah dari mereka. Kelompok ini diliputi rasa takut dan ingin mundur dari barisan, sehingga mereka mencari-cari alasan yang tidak benar.Mereka berkata kepada Nabi ﷺ, “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka.” Maksudnya, rumah-rumah kami terancam bahaya dan kami khawatir musuh akan menyerangnya ketika kami tidak berada di sana, maka izinkanlah kami kembali untuk menjaganya.Padahal mereka berdusta. Allah menegaskan bahwa tujuan mereka hanyalah melarikan diri. Inilah keadaan orang-orang yang imannya lemah dan tidak kokoh ketika menghadapi ujian yang berat.Baca juga: Cinta Dunia dan Takut Mati“Seandainya kota itu diserang dari segala penjuru, kemudian mereka diminta untuk murtad (dari agama), niscaya mereka akan melakukannya, dan mereka tidak akan menundanya kecuali sebentar saja.” (QS. Al-Ahzab: 14)Artinya, seandainya musuh berhasil memasuki Madinah dari berbagai penjuru dan menguasainya, lalu mereka diminta meninggalkan agama mereka dan kembali kepada agama orang-orang yang menang, niscaya mereka akan segera melakukannya. Mereka tidak memiliki keteguhan dalam mempertahankan agama.Baca juga: Diancam Murtad“Padahal sebelumnya mereka telah berjanji kepada Allah bahwa mereka tidak akan berpaling ke belakang. Dan janji kepada Allah itu pasti akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Ahzab: 15)Padahal sebelumnya mereka telah berjanji kepada Allah untuk tidak mundur dari medan perjuangan. Janji kepada Allah pasti akan dimintai pertanggungjawaban. Mereka akan ditanya tentang janji tersebut, dan ternyata mereka telah melanggarnya.Baca juga: Bahaya Melanggar Perjanjian dengan Allah dan Dampaknya Bagi Hati“Katakanlah, ‘Melarikan diri tidak akan bermanfaat bagi kalian jika kalian lari dari kematian atau pembunuhan. Jika pun demikian, kalian hanya akan menikmati kehidupan sebentar saja.’” (QS. Al-Ahzab: 16)Katakanlah kepada mereka bahwa melarikan diri tidak akan memberi manfaat apa pun. Jika seseorang telah ditakdirkan mati atau terbunuh, maka hal itu pasti akan terjadi. Seandainya mereka tetap berada di rumah mereka, orang yang telah ditakdirkan mati tetap akan keluar menuju tempat kematiannya.Sebab-sebab memang dapat memberi manfaat selama tidak bertentangan dengan takdir Allah. Namun ketika takdir Allah telah datang, semua sebab akan hilang dan semua usaha manusia tidak lagi berguna.Kalaupun mereka melarikan diri untuk menikmati kehidupan dunia, kesenangan itu hanyalah sementara dan tidak sebanding dengan kenikmatan abadi yang mereka tinggalkan.Baca juga: Kematian yang Tidak Bisa Dihindari“Katakanlah, ‘Siapakah yang dapat melindungi kalian dari Allah jika Dia menghendaki keburukan bagi kalian atau menghendaki rahmat bagi kalian?’ Mereka tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah.” (QS. Al-Ahzab: 17)Ayat ini menjelaskan bahwa semua sebab tidak dapat menyelamatkan manusia jika Allah menghendaki keburukan baginya. Allah adalah Dzat yang memberi dan menahan, yang mendatangkan manfaat dan menolak mudarat. Tidak ada yang dapat mendatangkan kebaikan kecuali Dia, dan tidak ada yang dapat menolak keburukan kecuali Dia.Karena itu hendaknya manusia menaati Allah, Dzat yang mengatur seluruh urusan, yang kehendak-Nya pasti terlaksana dan takdir-Nya pasti terjadi.“Sungguh Allah mengetahui orang-orang di antara kalian yang menghalang-halangi (orang lain) dan yang berkata kepada saudara-saudaranya, ‘Marilah kepada kami.’ Dan mereka tidak datang ke medan perang kecuali sedikit saja.” (QS. Al-Ahzab: 18)Allah mengetahui orang-orang yang menghalangi manusia dari berjihad dan berkata kepada saudara-saudara mereka, “Kembalilah kepada kami,” sebagaimana ucapan mereka sebelumnya, “Wahai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagi kalian di sini, maka kembalilah.”Mereka sendiri hampir tidak pernah datang ke medan peperangan. Mereka sangat ingin tertinggal karena tidak ada dorongan iman dan kesabaran dalam diri mereka, sementara sebab-sebab yang mendorong rasa takut dan kemunafikan sangat kuat.“Mereka sangat kikir terhadap kalian. Ketika datang rasa takut, engkau melihat mereka memandang kepadamu dengan mata terbelalak seperti orang yang pingsan karena takut mati. Tetapi ketika rasa takut itu hilang, mereka mencela kalian dengan kata-kata yang tajam, dan mereka sangat kikir terhadap kebaikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak beriman, maka Allah menghapus amal-amal mereka. Dan yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 19)Mereka kikir dengan diri mereka dalam peperangan dan kikir dengan harta mereka untuk berinfak di jalan Allah. Ketika rasa takut datang, mereka memandang dengan mata yang berputar-putar seperti orang yang hampir mati karena ketakutan.Namun ketika keadaan kembali aman, mereka berbicara dengan kata-kata keras dan penuh klaim seolah-olah mereka adalah orang-orang yang berani.Sifat paling buruk dalam diri manusia adalah kikir terhadap kebaikan: kikir dengan hartanya untuk berinfak di jalan Allah, kikir dengan dirinya untuk berjihad dan berdakwah, kikir dengan kedudukannya, ilmunya, nasihatnya, dan pendapatnya.Orang-orang seperti ini tidak memiliki iman. Karena itu Allah menghapus amal-amal mereka, dan hal itu sangat mudah bagi Allah.Adapun orang-orang beriman, Allah menjaga mereka dari sifat kikir dan memberi taufik kepada mereka untuk mengorbankan diri, harta, kedudukan, dan ilmu mereka di jalan Allah.“Mereka mengira bahwa pasukan-pasukan sekutu itu belum pergi. Jika pasukan-pasukan itu datang lagi, mereka ingin berada di tengah orang-orang Badui di padang pasir sambil menanyakan kabar tentang kalian. Sekiranya mereka berada bersama kalian, mereka tidak akan berperang kecuali sedikit saja.” (QS. Al-Ahzab: 20)Orang-orang munafik itu mengira pasukan sekutu belum benar-benar pergi dan akan kembali menyerang hingga memusnahkan kaum Muslimin. Jika pasukan itu datang lagi, mereka berharap tidak berada di Madinah, tetapi tinggal bersama orang-orang Badui di padang pasir, hanya mendengar kabar dari jauh tentang apa yang terjadi pada kaum Muslimin.Walaupun mereka berada di tengah kaum Muslimin, mereka hampir tidak ikut berperang kecuali sedikit saja. Oleh karena itu, tidak perlu mempedulikan mereka dan tidak perlu bersedih atas ketidakhadiran mereka. Pelajaran Penting: Karakter orang munafik adalah bakhil (pelit) terhadap kebaikan dan sangat penakut. Ketika bahaya datang, mata mereka berputar-putar karena takut mati, namun ketika bahaya hilang, mereka mencela kaum mukminin dengan lisan yang tajam.Pesan Utama: Waspadai sifat mencari-cari alasan dalam beribadah atau berjihad, karena itu adalah salah satu ciri kemunafikan. 3. Keteladanan Rasulullah dan Keteguhan Iman Kaum Mukminin (Ayat 21–24)Di tengah kepungan musuh, Allah menetapkan Nabi Muhammad sebagai Uswatun Hasanah (suri teladan yang baik). Berbeda dengan orang munafik, kaum mukminin ketika melihat pasukan musuh justru berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.”Allah Ta’ala berfirman,لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)وَلَمَّا رَءَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلْأَحْزَابَ قَالُوا۟ هَٰذَا مَا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَصَدَقَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ ۚ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّآ إِيمَٰنًا وَتَسْلِيمًا“Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22)مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا۟ مَا عَٰهَدُوا۟ ٱللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُۥ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا۟ تَبْدِيلًا“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya).” (QS. Al-Ahzab: 23)لِّيَجْزِىَ ٱللَّهُ ٱلصَّٰدِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ ٱلْمُنَٰفِقِينَ إِن شَآءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا“supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 24)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas sebagai berikut.“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)Ayat ini menunjukkan bahwa pada diri Rasulullah ﷺ terdapat teladan yang sangat baik. Beliau sendiri hadir dalam medan peperangan, terjun langsung menghadapi pertempuran, padahal beliau adalah manusia yang paling mulia, paling sempurna, dan paling berani.Jika Rasulullah ﷺ yang memiliki kedudukan begitu tinggi saja turun langsung menghadapi kesulitan dan bahaya, lalu bagaimana mungkin seseorang merasa enggan mengorbankan dirinya dalam perkara yang Rasulullah ﷺ sendiri telah melakukannya?Karena itu, hendaknya kaum Muslimin meneladani beliau dalam perkara ini dan dalam seluruh urusan lainnya.Para ulama usul fikih juga menjadikan ayat ini sebagai dalil bahwa perbuatan Rasulullah ﷺ dapat dijadikan hujah (landasan hukum). Pada dasarnya, umat beliau diperintahkan meneladani beliau dalam hukum-hukum syariat, kecuali jika ada dalil khusus yang menunjukkan bahwa suatu perkara hanya berlaku bagi beliau.Teladan itu ada dua macam:Pertama, teladan yang baik (uswah hasanah).Teladan yang baik terdapat pada diri Rasulullah ﷺ. Orang yang meneladani beliau berarti sedang menempuh jalan yang mengantarkannya kepada kemuliaan di sisi Allah, yaitu jalan yang lurus.Kedua, teladan yang buruk.Yaitu meneladani selain Rasulullah ﷺ ketika mereka menyelisihi beliau. Inilah teladan yang buruk, sebagaimana perkataan orang-orang kafir ketika para rasul mengajak mereka mengikuti kebenaran:إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ“Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan kami hanya mengikuti jejak mereka.” (QS. Az-Zukhruf: 22)Teladan yang baik ini hanya akan ditempuh dan dimudahkan bagi orang yang benar-benar berharap kepada Allah dan hari akhir. Keimanan, rasa takut kepada Allah, harapan terhadap pahala-Nya, serta rasa takut terhadap azab-Nya akan mendorong seseorang untuk meneladani Rasulullah ﷺ dalam seluruh kehidupannya.“Dan ketika orang-orang mukmin melihat pasukan-pasukan itu, mereka berkata, ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami, dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.’ Keadaan itu tidak menambah bagi mereka selain iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22)Setelah Allah menyebutkan keadaan orang-orang munafik ketika diliputi rasa takut, Allah kemudian menjelaskan keadaan orang-orang beriman.Ketika orang-orang beriman melihat pasukan-pasukan sekutu yang berkumpul dan telah mengambil posisi untuk menyerang, rasa takut memang muncul. Namun mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami.”Maksudnya adalah janji yang disebutkan dalam firman Allah:أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian ujian seperti yang dialami orang-orang sebelum kalian? Mereka ditimpa kesengsaraan dan penderitaan serta diguncang dengan berbagai cobaan, sampai Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, ‘Kapankah datang pertolongan Allah?’ Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)Karena itu mereka berkata, “Benarlah Allah dan Rasul-Nya.” Mereka benar-benar menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri apa yang sebelumnya telah diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya.Peristiwa besar itu justru tidak menambah bagi mereka selain bertambahnya iman di dalam hati mereka dan ketundukan pada anggota tubuh mereka, yaitu kepatuhan dan ketaatan terhadap perintah Allah.“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang telah gugur (menunaikan janjinya), dan di antara mereka ada pula yang masih menunggu. Dan mereka tidak mengubah (janji mereka) sedikit pun.” (QS. Al-Ahzab: 23)Setelah Allah menyebutkan bahwa orang-orang munafik telah berjanji kepada Allah untuk tidak mundur dari medan perjuangan, tetapi kemudian mereka melanggar janji itu, Allah lalu menyebutkan keadaan orang-orang beriman yang justru menepati janji mereka.Di antara orang-orang beriman terdapat para lelaki sejati yang benar dalam janji mereka kepada Allah. Mereka menepati, menyempurnakan, dan melaksanakan janji itu dengan sepenuh hati. Mereka mengorbankan jiwa mereka demi keridaan Allah dan menyerahkan diri mereka untuk ketaatan kepada-Nya.Sebagian dari mereka telah menunaikan janjinya, yaitu mereka telah mencapai apa yang mereka inginkan dan memenuhi kewajiban yang ada pada diri mereka. Mereka gugur di jalan Allah atau wafat setelah menunaikan kewajiban mereka tanpa mengurangi sedikit pun.Sebagian yang lain masih menunggu, yaitu mereka masih melanjutkan perjuangan untuk menyempurnakan janji mereka. Mereka terus berusaha dan bersungguh-sungguh untuk menunaikan apa yang menjadi kewajiban mereka kepada Allah.Mereka tidak pernah mengubah janji mereka sedikit pun, berbeda dengan orang lain yang mengkhianatinya. Mereka tetap teguh pada janji tersebut, tidak menyimpang dan tidak berubah.فَهَؤُلَاءِ الرِّجَالُ عَلَى الْحَقِيقَةِ، وَمَنْ عَدَاهُمْ فَصُوَرُهُمْ صُوَرُ رِجَالٍ، وَأَمَّا الصِّفَاتُ فَقَدْ قَصُرَتْ عَنْ صِفَاتِ الرِّجَالِ.Merekalah para lelaki sejati dalam makna yang sebenarnya. Adapun selain mereka, mungkin hanya memiliki rupa seperti lelaki, tetapi sifat-sifat mereka jauh dari sifat para lelaki yang sebenarnya.“Agar Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang jujur karena kejujuran mereka dan mengazab orang-orang munafik jika Dia menghendaki, atau menerima tobat mereka. Sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 24) Maksudnya, Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang jujur karena kejujuran mereka dalam ucapan, keadaan, dan hubungan mereka dengan Allah. Lahir dan batin mereka selaras, tidak ada perbedaan antara yang tampak dan yang tersembunyi.Allah Ta’ala juga berfirman:هَٰذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ ۚ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا“Ini adalah hari ketika orang-orang yang jujur mendapatkan manfaat dari kejujuran mereka. Bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.” (QS. Al-Ma’idah: 119)Artinya, Allah menetapkan berbagai ujian, kesulitan, dan guncangan itu agar tampak jelas siapa yang jujur dan siapa yang dusta. Dengan demikian Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang jujur atas kejujuran mereka.Adapun orang-orang munafik, mereka disiksa karena hati dan perbuatan mereka berubah ketika datangnya ujian. Mereka tidak menepati janji yang telah mereka buat kepada Allah.Firman Allah “jika Dia menghendaki” maksudnya, jika Allah menghendaki untuk mengazab mereka, yaitu ketika Dia tidak menghendaki memberi mereka hidayah, karena Dia mengetahui bahwa tidak ada kebaikan pada diri mereka, sehingga mereka tidak diberi taufik.Atau Allah menerima tobat mereka, yaitu dengan memberi mereka taufik untuk bertobat dan kembali kepada-Nya. Inilah yang lebih sering terjadi karena keluasan kemurahan Allah.Karena itu ayat ini ditutup dengan dua nama Allah yang menunjukkan ampunan dan kasih sayang-Nya:إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًاAllah Maha Pengampun terhadap dosa orang-orang yang melampaui batas terhadap diri mereka, meskipun mereka banyak melakukan maksiat, selama mereka datang dengan tobat.Dan Allah Maha Penyayang kepada mereka, dengan memberi taufik untuk bertobat, kemudian menerima tobat tersebut, serta menutupi dosa-dosa yang pernah mereka lakukan. Pelajaran Penting: Ujian bagi orang mukmin tidak mengurangi iman, justru menambah ketundukan. Mereka adalah orang-orang yang menepati janji setianya kepada Allah; ada yang telah gugur dan ada yang masih menunggu gilirannya tanpa mengubah janji sedikit pun.Pesan Utama: Jadikan Rasulullah sebagai standar bersikap dalam menghadapi kesulitan hidup. 4. Akhir Perjuangan dan Kemenangan bagi Orang Bertakwa (Ayat 25–27)Bagian penutup menjelaskan hasil akhir dari peperangan. Allah memukul mundur pasukan kafir dengan kemarahan mereka sendiri tanpa membawa hasil (harta rampasan) sedikit pun. Allah juga memberikan hukuman bagi kaum Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang berkhianat dan membantu musuh dari dalam.Allah Ta’ala berfirman,وَرَدَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِغَيْظِهِمْ لَمْ يَنَالُوا۟ خَيْرًا ۚ وَكَفَى ٱللَّهُ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱلْقِتَالَ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزًا“Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al-Ahzab: 25)وَأَنزَلَ ٱلَّذِينَ ظَٰهَرُوهُم مِّنْ أَهْلِ ٱلْكِتَٰبِ مِن صَيَاصِيهِمْ وَقَذَفَ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعْبَ فَرِيقًا تَقْتُلُونَ وَتَأْسِرُونَ فَرِيقًا“Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan.” (QS. Al-Ahzab: 26)وَأَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَدِيَٰرَهُمْ وَأَمْوَٰلَهُمْ وَأَرْضًا لَّمْ تَطَـُٔوهَا ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرًا“Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. Dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 27)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas sebagai berikut.“Dan Allah mengembalikan orang-orang kafir itu dengan penuh kemarahan mereka, mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan Allah mencukupkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (QS. Al-Ahzab: 25)Allah mengembalikan orang-orang kafir itu dalam keadaan kecewa dan marah. Mereka tidak mendapatkan apa pun dari tujuan yang mereka inginkan. Mereka datang dengan kemarahan besar, penuh ambisi, dan yakin akan memperoleh kemenangan. Mereka tertipu oleh banyaknya pasukan yang mereka kumpulkan, bangga dengan persatuan mereka, serta merasa kuat karena jumlah dan perlengkapan mereka.Namun Allah mengirimkan kepada mereka angin yang sangat kencang, yaitu angin ash-shabā. Angin itu mengguncang posisi mereka, merobohkan tenda-tenda mereka, menumpahkan periuk-periuk mereka, dan membuat mereka gelisah. Allah juga menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka sehingga mereka pulang dalam keadaan marah dan kecewa. Inilah salah satu bentuk pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.Allah pun mencukupkan orang-orang beriman dari peperangan melalui sebab-sebab yang Allah tetapkan, baik sebab yang tampak maupun sebab yang ditakdirkan-Nya. Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa. Tidak ada yang mampu mengalahkan-Nya kecuali pasti akan dikalahkan. Tidak ada yang meminta pertolongan kepada-Nya kecuali pasti akan dimenangkan. Tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan-Nya jika Dia menghendakinya. Kekuatan dan kemuliaan manusia tidak akan berguna jika Allah tidak menolong mereka dengan kekuatan dan kemuliaan-Nya.“Dan Dia menurunkan orang-orang dari Ahli Kitab yang membantu mereka dari benteng-benteng mereka, serta menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebagian dari mereka kalian bunuh dan sebagian yang lain kalian tawan.” (QS. Al-Ahzab: 26)Allah juga menurunkan orang-orang dari Ahli Kitab yang membantu pasukan sekutu, yaitu kaum Yahudi, dari benteng-benteng mereka. Mereka diturunkan dari benteng itu dalam keadaan dikalahkan dan berada di bawah kekuasaan kaum Muslimin.Allah menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka sehingga mereka tidak mampu lagi melawan. Mereka menyerah, tunduk, dan terhina. Sebagian dari mereka dibunuh, yaitu para lelaki yang ikut berperang, sedangkan sebagian yang lain ditawan, yaitu perempuan dan anak-anak.وَأَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَدِيَارَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ وَأَرْضًا لَّمْ تَطَئُوهَا ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرًا“Dan Dia mewariskan kepada kalian tanah-tanah mereka, rumah-rumah mereka, harta-harta mereka, serta tanah yang belum pernah kalian injak. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 27)Allah memberikan kepada kalian tanah mereka, rumah-rumah mereka, harta-harta mereka, serta tanah yang sebelumnya tidak pernah kalian injak. Tanah itu dahulu begitu terhormat dan kuat di mata pemiliknya sehingga kalian tidak mampu menguasainya. Namun Allah memberi kalian kekuasaan atasnya, menghinakan mereka, dan menjadikan kalian memperoleh harta mereka. Kalian membunuh sebagian dari mereka dan menawan sebagian yang lain.Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan-Nya. Termasuk dalam kekuasaan-Nya adalah apa yang Dia tetapkan untuk kalian.Kelompok Ahli Kitab yang dimaksud dalam ayat ini adalah Bani Quraizhah, salah satu kaum Yahudi yang tinggal di sebuah perkampungan di luar Madinah yang tidak jauh jaraknya.Baca juga: Perang Bani Quraizhah dan Pelajaran di DalamnyaKetika Nabi ﷺ hijrah ke Madinah, beliau membuat perjanjian damai dengan mereka. Mereka hidup dengan agama mereka sendiri, dan Nabi ﷺ tidak memerangi mereka serta tidak pula mengganggu mereka.Namun ketika terjadi Perang Khandaq dan mereka melihat pasukan sekutu yang sangat banyak berkumpul untuk memerangi Rasulullah ﷺ, sementara jumlah kaum Muslimin sedikit, mereka mengira bahwa Rasulullah dan kaum beriman akan dimusnahkan. Hal ini juga dipengaruhi oleh tipu daya sebagian pemimpin mereka.Akhirnya mereka melanggar perjanjian yang telah mereka buat dengan Rasulullah ﷺ dan membantu kaum musyrikin untuk memerangi beliau.Ketika Allah mengalahkan pasukan musyrik, Rasulullah ﷺ kemudian menghadapi Bani Quraizhah. Beliau mengepung mereka di benteng mereka hingga akhirnya mereka menyerah dan menerima keputusan hukum dari Sa’d bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu.Sa’d memutuskan bahwa para lelaki yang ikut berperang dibunuh, sedangkan perempuan dan anak-anak mereka ditawan, serta harta mereka dijadikan rampasan perang.Dengan demikian Allah menyempurnakan nikmat-Nya kepada Rasul-Nya dan kaum beriman. Allah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka, menenangkan hati mereka dengan kekalahan musuh-musuh mereka, membunuh orang-orang yang terbunuh dari musuh itu, serta menawan orang-orang yang ditawan.Dan kelembutan serta pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman terus berlangsung. Pelajaran Penting: Kemenangan bukan semata karena strategi atau jumlah pasukan, melainkan karena Allah yang Mahakuat lagi Mahaperkasa. Pengkhianatan terhadap perjanjian (iman) akan berujung pada kehinaan di dunia dan akhirat.Pesan Utama: Istiqamah dalam kebenaran akan selalu berujung pada kemenangan yang manis, sementara pengkhianatan hanya akan membawa kerugian. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Rabu, 22 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsberperang hikmah perang peperangan dalam islam peperangan di masa Rasulullah perang ahzab perang khandaq renungan renungan ayat renungan quran

Kisah Perang Khandaq dalam Surah Al-Ahzab: Pelajaran Tentang Pertolongan Allah

Surah Al-Ahzab merupakan salah satu surah Madaniyah yang sarat dengan pelajaran tentang keteguhan iman dan ujian mental. Nama “Al-Ahzab” sendiri merujuk pada pasukan sekutu (koalisi) kafir Quraisy bersama kabilah-kabilah lain yang mengepung Madinah dalam Perang Khandaq.Baca juga: Faedah Sirah Nabi: Perang Ahzab (Perang Khandaq) dan Pelajaran di Dalamnya  Daftar Isi tutup 1. 1. Pertolongan Allah dan Goncangan Ujian bagi Orang Beriman (Ayat 9–11) 2. 2. Mentalitas Pecundang dan Siasat Orang Munafik (Ayat 12–20) 3. 3. Keteladanan Rasulullah dan Keteguhan Iman Kaum Mukminin (Ayat 21–24) 4. 4. Akhir Perjuangan dan Kemenangan bagi Orang Bertakwa (Ayat 25–27)  Berikut adalah pengembangan empat bagian utama kisah Perang Ahzab dalam surah ini sebagai bahan tadabbur kita:1. Pertolongan Allah dan Goncangan Ujian bagi Orang Beriman (Ayat 9–11)Pada bagian awal, Allah mengingatkan kaum mukminin tentang besarnya nikmat pertolongan-Nya. Saat itu, pasukan musuh datang dari “atas” dan “bawah” Madinah, hingga mata kaum Muslimin terbelalak ketakutan dan hati mereka seolah menyesak sampai ke tenggorokan.Allah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ نِعْمَةَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَآءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا “Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ahzab: 9)إِذْ جَآءُوكُم مِّن فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ ٱلْأَبْصَٰرُ وَبَلَغَتِ ٱلْقُلُوبُ ٱلْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِٱللَّهِ ٱلظُّنُونَا۠“(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka.” (QS. Al-Ahzab: 10)هُنَالِكَ ٱبْتُلِىَ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا۟ زِلْزَالًا شَدِيدًا“Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.” (QS. Al-Ahzab: 11)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas sebagai berikut.Allah mengingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman tentang nikmat-Nya kepada mereka dan mendorong mereka untuk mensyukurinya. Nikmat itu terjadi ketika pasukan-pasukan musuh datang menyerang mereka. Pasukan tersebut berasal dari penduduk Makkah dan wilayah Hijaz yang datang dari arah atas mereka, serta dari penduduk Najd yang datang dari arah bawah mereka. Mereka sepakat dan bersekutu untuk memusnahkan Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Peristiwa ini dikenal sebagai Perang Khandaq.Kaum Yahudi yang tinggal di sekitar Madinah juga turut membantu mereka. Mereka bergabung dan mengerahkan pasukan yang besar serta berbagai kelompok manusia yang banyak.Rasulullah ﷺ kemudian menggali parit (khandaq) di sekitar Madinah sebagai strategi pertahanan. Pasukan musuh pun mengepung kota Madinah. Keadaan menjadi sangat genting. Rasa takut semakin memuncak hingga hati terasa naik ke tenggorokan. Sebagian manusia bahkan mulai berprasangka yang bermacam-macam karena melihat sebab-sebab yang tampak begitu kuat dan berbagai kesulitan yang sangat berat.Pengepungan terhadap Madinah berlangsung cukup lama. Keadaan saat itu sebagaimana yang Allah gambarkan dalam firman-Nya:وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَ“Dan (ingatlah) ketika pandangan menjadi liar dan hati menyesak sampai ke tenggorokan, dan kalian berprasangka yang bermacam-macam terhadap Allah.” (QS. Al-Ahzab: 10)Maksudnya, muncul berbagai prasangka buruk pada sebagian orang, seolah-olah Allah tidak akan menolong agama-Nya dan tidak akan menyempurnakan kalimat-Nya (agama Islam).“Di sanalah orang-orang mukmin diuji dan diguncangkan dengan guncangan yang sangat dahsyat.” (QS. Al-Ahzab: 11)Di saat itulah orang-orang beriman diuji dengan ujian yang sangat besar. Mereka diguncang dengan guncangan yang dahsyat berupa rasa takut, kecemasan, dan kelaparan. Semua itu terjadi agar tampak jelas keimanan mereka dan agar keyakinan mereka semakin bertambah kuat.Dalam peristiwa itu tampak—segala puji bagi Allah—betapa kuat iman dan keyakinan mereka, hingga mereka mencapai derajat keimanan yang sangat tinggi.Ketika kesulitan semakin berat dan berbagai penderitaan semakin memuncak, keimanan mereka pun berubah menjadi keyakinan yang nyata. Allah menggambarkan sikap mereka dalam firman-Nya:وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا“Dan ketika orang-orang mukmin melihat pasukan-pasukan itu, mereka berkata, ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami. Benarlah Allah dan Rasul-Nya.’ Dan keadaan itu tidaklah menambah bagi mereka selain iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22)Pada saat yang sama, kemunafikan orang-orang munafik pun menjadi jelas. Apa yang selama ini mereka sembunyikan dalam hati akhirnya tampak nyata. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam ayat selanjutnya. Pelajaran Penting: Ujian berat adalah sunnatullah untuk menyaring siapa yang benar-benar beriman. Namun, bagi mereka yang bersabar, Allah mengirimkan “pasukan tak terlihat” berupa angin kencang dan malaikat untuk memukul mundur musuh.Pesan Utama: Jangan pernah meragukan pertolongan Allah saat kondisi terasa paling menghimpit sekalipun. 2. Mentalitas Pecundang dan Siasat Orang Munafik (Ayat 12–20)Al-Qur’an secara gamblang membongkar isi hati orang munafik saat krisis terjadi. Mereka berkata bahwa janji Allah dan Rasul-Nya hanyalah tipu daya. Mereka mencari-cari alasan (udzur) untuk meninggalkan medan perang dengan dalih “rumah kami tidak aman”, padahal mereka hanya ingin melarikan diri.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذْ يَقُولُ ٱلْمُنَٰفِقُونَ وَٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ مَّا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ إِلَّا غُرُورًا“Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya”.” (QS. Al-Ahzab: 12)وَإِذْ قَالَت طَّآئِفَةٌ مِّنْهُمْ يَٰٓأَهْلَ يَثْرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمْ فَٱرْجِعُوا۟ ۚ وَيَسْتَـْٔذِنُ فَرِيقٌ مِّنْهُمُ ٱلنَّبِىَّ يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوْرَةٌ وَمَا هِىَ بِعَوْرَةٍ ۖ إِن يُرِيدُونَ إِلَّا فِرَارًا“Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mreka berkata: “Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu”. Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata: “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)”. Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanya hendak lari.” (QS. Al-Ahzab: 13)وَلَوْ دُخِلَتْ عَلَيْهِم مِّنْ أَقْطَارِهَا ثُمَّ سُئِلُوا۟ ٱلْفِتْنَةَ لَءَاتَوْهَا وَمَا تَلَبَّثُوا۟ بِهَآ إِلَّا يَسِيرًا“Kalau (Yatsrib) diserang dari segala penjuru, kemudian diminta kepada mereka supaya murtad, niscaya mereka mengerjakannya; dan mereka tiada akan bertangguh untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat.” (QS. Al-Ahzab: 14)وَلَقَدْ كَانُوا۟ عَٰهَدُوا۟ ٱللَّهَ مِن قَبْلُ لَا يُوَلُّونَ ٱلْأَدْبَٰرَ ۚ وَكَانَ عَهْدُ ٱللَّهِ مَسْـُٔولًا“Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah: “Mereka tidak akan berbalik ke belakang (mundur)”. Dan adalah perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Ahzab: 15)قُل لَّن يَنفَعَكُمُ ٱلْفِرَارُ إِن فَرَرْتُم مِّنَ ٱلْمَوْتِ أَوِ ٱلْقَتْلِ وَإِذًا لَّا تُمَتَّعُونَ إِلَّا قَلِيلًا“Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja”. (QS. Al-Ahzab: 16)قُلْ مَن ذَا ٱلَّذِى يَعْصِمُكُم مِّنَ ٱللَّهِ إِنْ أَرَادَ بِكُمْ سُوٓءًا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ رَحْمَةً ۚ وَلَا يَجِدُونَ لَهُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا“Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.” (QS. Al-Ahzab: 17)۞ قَدْ يَعْلَمُ ٱللَّهُ ٱلْمُعَوِّقِينَ مِنكُمْ وَٱلْقَآئِلِينَ لِإِخْوَٰنِهِمْ هَلُمَّ إِلَيْنَا ۖ وَلَا يَأْتُونَ ٱلْبَأْسَ إِلَّا قَلِيلًا“Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya: “Marilah kepada kami”. Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar.” (QS. Al-Ahzab: 18)أَشِحَّةً عَلَيْكُمْ ۖ فَإِذَا جَآءَ ٱلْخَوْفُ رَأَيْتَهُمْ يَنظُرُونَ إِلَيْكَ تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ كَٱلَّذِى يُغْشَىٰ عَلَيْهِ مِنَ ٱلْمَوْتِ ۖ فَإِذَا ذَهَبَ ٱلْخَوْفُ سَلَقُوكُم بِأَلْسِنَةٍ حِدَادٍ أَشِحَّةً عَلَى ٱلْخَيْرِ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوا۟ فَأَحْبَطَ ٱللَّهُ أَعْمَٰلَهُمْ ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرًا“Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 19)يَحْسَبُونَ ٱلْأَحْزَابَ لَمْ يَذْهَبُوا۟ ۖ وَإِن يَأْتِ ٱلْأَحْزَابُ يَوَدُّوا۟ لَوْ أَنَّهُم بَادُونَ فِى ٱلْأَعْرَابِ يَسْـَٔلُونَ عَنْ أَنۢبَآئِكُمْ ۖ وَلَوْ كَانُوا۟ فِيكُم مَّا قَٰتَلُوٓا۟ إِلَّا قَلِيلًا“Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badwi, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu. Dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja.” (QS. Al-Ahzab: 20)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas sebagai berikut.“Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit berkata, ‘Tidaklah Allah dan Rasul-Nya menjanjikan kepada kami selain tipu daya belaka.’” (QS. Al-Ahzab: 12)Inilah kebiasaan orang munafik ketika menghadapi kesulitan dan ujian. Iman mereka tidak kokoh. Mereka menilai keadaan hanya dengan akal yang pendek dan pandangan yang sempit, lalu membenarkan prasangka buruk mereka sendiri.“Dan (ingatlah) ketika segolongan dari mereka berkata, ‘Wahai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagi kalian (untuk bertahan di sini), maka kembalilah kalian.’ Dan sebagian dari mereka meminta izin kepada Nabi dengan berkata, ‘Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak terjaga).’ Padahal rumah-rumah itu tidaklah terbuka; mereka tidak menghendaki selain melarikan diri.” (QS. Al-Ahzab: 13)Sebagian orang munafik, ketika rasa takut meliputi mereka dan kesabaran mereka melemah, menjadi orang-orang yang gagal dan putus asa. Mereka bukan hanya tidak mampu bersabar sendiri, tetapi juga berusaha melemahkan orang lain.Mereka berkata, “Wahai penduduk Yatsrib!” maksudnya adalah penduduk Madinah. Mereka menyebut kota itu dengan nama lamanya (Yatsrib berarti cercaan), seakan-akan mereka tidak mempedulikan persaudaraan iman dan agama. Yang mendorong mereka hanyalah kelemahan dan ketakutan.Mereka berkata, “Tidak ada tempat bagi kalian di sini, maka kembalilah!” Maksudnya, kembalilah ke kota Madinah. Dengan ucapan ini mereka melemahkan semangat kaum Muslimin untuk berjihad dan menyatakan bahwa mereka tidak memiliki kekuatan menghadapi musuh.Kelompok ini adalah kelompok yang paling buruk dan paling berbahaya. Ada pula kelompok lain yang lebih lemah dari mereka. Kelompok ini diliputi rasa takut dan ingin mundur dari barisan, sehingga mereka mencari-cari alasan yang tidak benar.Mereka berkata kepada Nabi ﷺ, “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka.” Maksudnya, rumah-rumah kami terancam bahaya dan kami khawatir musuh akan menyerangnya ketika kami tidak berada di sana, maka izinkanlah kami kembali untuk menjaganya.Padahal mereka berdusta. Allah menegaskan bahwa tujuan mereka hanyalah melarikan diri. Inilah keadaan orang-orang yang imannya lemah dan tidak kokoh ketika menghadapi ujian yang berat.Baca juga: Cinta Dunia dan Takut Mati“Seandainya kota itu diserang dari segala penjuru, kemudian mereka diminta untuk murtad (dari agama), niscaya mereka akan melakukannya, dan mereka tidak akan menundanya kecuali sebentar saja.” (QS. Al-Ahzab: 14)Artinya, seandainya musuh berhasil memasuki Madinah dari berbagai penjuru dan menguasainya, lalu mereka diminta meninggalkan agama mereka dan kembali kepada agama orang-orang yang menang, niscaya mereka akan segera melakukannya. Mereka tidak memiliki keteguhan dalam mempertahankan agama.Baca juga: Diancam Murtad“Padahal sebelumnya mereka telah berjanji kepada Allah bahwa mereka tidak akan berpaling ke belakang. Dan janji kepada Allah itu pasti akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Ahzab: 15)Padahal sebelumnya mereka telah berjanji kepada Allah untuk tidak mundur dari medan perjuangan. Janji kepada Allah pasti akan dimintai pertanggungjawaban. Mereka akan ditanya tentang janji tersebut, dan ternyata mereka telah melanggarnya.Baca juga: Bahaya Melanggar Perjanjian dengan Allah dan Dampaknya Bagi Hati“Katakanlah, ‘Melarikan diri tidak akan bermanfaat bagi kalian jika kalian lari dari kematian atau pembunuhan. Jika pun demikian, kalian hanya akan menikmati kehidupan sebentar saja.’” (QS. Al-Ahzab: 16)Katakanlah kepada mereka bahwa melarikan diri tidak akan memberi manfaat apa pun. Jika seseorang telah ditakdirkan mati atau terbunuh, maka hal itu pasti akan terjadi. Seandainya mereka tetap berada di rumah mereka, orang yang telah ditakdirkan mati tetap akan keluar menuju tempat kematiannya.Sebab-sebab memang dapat memberi manfaat selama tidak bertentangan dengan takdir Allah. Namun ketika takdir Allah telah datang, semua sebab akan hilang dan semua usaha manusia tidak lagi berguna.Kalaupun mereka melarikan diri untuk menikmati kehidupan dunia, kesenangan itu hanyalah sementara dan tidak sebanding dengan kenikmatan abadi yang mereka tinggalkan.Baca juga: Kematian yang Tidak Bisa Dihindari“Katakanlah, ‘Siapakah yang dapat melindungi kalian dari Allah jika Dia menghendaki keburukan bagi kalian atau menghendaki rahmat bagi kalian?’ Mereka tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah.” (QS. Al-Ahzab: 17)Ayat ini menjelaskan bahwa semua sebab tidak dapat menyelamatkan manusia jika Allah menghendaki keburukan baginya. Allah adalah Dzat yang memberi dan menahan, yang mendatangkan manfaat dan menolak mudarat. Tidak ada yang dapat mendatangkan kebaikan kecuali Dia, dan tidak ada yang dapat menolak keburukan kecuali Dia.Karena itu hendaknya manusia menaati Allah, Dzat yang mengatur seluruh urusan, yang kehendak-Nya pasti terlaksana dan takdir-Nya pasti terjadi.“Sungguh Allah mengetahui orang-orang di antara kalian yang menghalang-halangi (orang lain) dan yang berkata kepada saudara-saudaranya, ‘Marilah kepada kami.’ Dan mereka tidak datang ke medan perang kecuali sedikit saja.” (QS. Al-Ahzab: 18)Allah mengetahui orang-orang yang menghalangi manusia dari berjihad dan berkata kepada saudara-saudara mereka, “Kembalilah kepada kami,” sebagaimana ucapan mereka sebelumnya, “Wahai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagi kalian di sini, maka kembalilah.”Mereka sendiri hampir tidak pernah datang ke medan peperangan. Mereka sangat ingin tertinggal karena tidak ada dorongan iman dan kesabaran dalam diri mereka, sementara sebab-sebab yang mendorong rasa takut dan kemunafikan sangat kuat.“Mereka sangat kikir terhadap kalian. Ketika datang rasa takut, engkau melihat mereka memandang kepadamu dengan mata terbelalak seperti orang yang pingsan karena takut mati. Tetapi ketika rasa takut itu hilang, mereka mencela kalian dengan kata-kata yang tajam, dan mereka sangat kikir terhadap kebaikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak beriman, maka Allah menghapus amal-amal mereka. Dan yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 19)Mereka kikir dengan diri mereka dalam peperangan dan kikir dengan harta mereka untuk berinfak di jalan Allah. Ketika rasa takut datang, mereka memandang dengan mata yang berputar-putar seperti orang yang hampir mati karena ketakutan.Namun ketika keadaan kembali aman, mereka berbicara dengan kata-kata keras dan penuh klaim seolah-olah mereka adalah orang-orang yang berani.Sifat paling buruk dalam diri manusia adalah kikir terhadap kebaikan: kikir dengan hartanya untuk berinfak di jalan Allah, kikir dengan dirinya untuk berjihad dan berdakwah, kikir dengan kedudukannya, ilmunya, nasihatnya, dan pendapatnya.Orang-orang seperti ini tidak memiliki iman. Karena itu Allah menghapus amal-amal mereka, dan hal itu sangat mudah bagi Allah.Adapun orang-orang beriman, Allah menjaga mereka dari sifat kikir dan memberi taufik kepada mereka untuk mengorbankan diri, harta, kedudukan, dan ilmu mereka di jalan Allah.“Mereka mengira bahwa pasukan-pasukan sekutu itu belum pergi. Jika pasukan-pasukan itu datang lagi, mereka ingin berada di tengah orang-orang Badui di padang pasir sambil menanyakan kabar tentang kalian. Sekiranya mereka berada bersama kalian, mereka tidak akan berperang kecuali sedikit saja.” (QS. Al-Ahzab: 20)Orang-orang munafik itu mengira pasukan sekutu belum benar-benar pergi dan akan kembali menyerang hingga memusnahkan kaum Muslimin. Jika pasukan itu datang lagi, mereka berharap tidak berada di Madinah, tetapi tinggal bersama orang-orang Badui di padang pasir, hanya mendengar kabar dari jauh tentang apa yang terjadi pada kaum Muslimin.Walaupun mereka berada di tengah kaum Muslimin, mereka hampir tidak ikut berperang kecuali sedikit saja. Oleh karena itu, tidak perlu mempedulikan mereka dan tidak perlu bersedih atas ketidakhadiran mereka. Pelajaran Penting: Karakter orang munafik adalah bakhil (pelit) terhadap kebaikan dan sangat penakut. Ketika bahaya datang, mata mereka berputar-putar karena takut mati, namun ketika bahaya hilang, mereka mencela kaum mukminin dengan lisan yang tajam.Pesan Utama: Waspadai sifat mencari-cari alasan dalam beribadah atau berjihad, karena itu adalah salah satu ciri kemunafikan. 3. Keteladanan Rasulullah dan Keteguhan Iman Kaum Mukminin (Ayat 21–24)Di tengah kepungan musuh, Allah menetapkan Nabi Muhammad sebagai Uswatun Hasanah (suri teladan yang baik). Berbeda dengan orang munafik, kaum mukminin ketika melihat pasukan musuh justru berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.”Allah Ta’ala berfirman,لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)وَلَمَّا رَءَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلْأَحْزَابَ قَالُوا۟ هَٰذَا مَا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَصَدَقَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ ۚ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّآ إِيمَٰنًا وَتَسْلِيمًا“Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22)مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا۟ مَا عَٰهَدُوا۟ ٱللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُۥ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا۟ تَبْدِيلًا“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya).” (QS. Al-Ahzab: 23)لِّيَجْزِىَ ٱللَّهُ ٱلصَّٰدِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ ٱلْمُنَٰفِقِينَ إِن شَآءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا“supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 24)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas sebagai berikut.“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)Ayat ini menunjukkan bahwa pada diri Rasulullah ﷺ terdapat teladan yang sangat baik. Beliau sendiri hadir dalam medan peperangan, terjun langsung menghadapi pertempuran, padahal beliau adalah manusia yang paling mulia, paling sempurna, dan paling berani.Jika Rasulullah ﷺ yang memiliki kedudukan begitu tinggi saja turun langsung menghadapi kesulitan dan bahaya, lalu bagaimana mungkin seseorang merasa enggan mengorbankan dirinya dalam perkara yang Rasulullah ﷺ sendiri telah melakukannya?Karena itu, hendaknya kaum Muslimin meneladani beliau dalam perkara ini dan dalam seluruh urusan lainnya.Para ulama usul fikih juga menjadikan ayat ini sebagai dalil bahwa perbuatan Rasulullah ﷺ dapat dijadikan hujah (landasan hukum). Pada dasarnya, umat beliau diperintahkan meneladani beliau dalam hukum-hukum syariat, kecuali jika ada dalil khusus yang menunjukkan bahwa suatu perkara hanya berlaku bagi beliau.Teladan itu ada dua macam:Pertama, teladan yang baik (uswah hasanah).Teladan yang baik terdapat pada diri Rasulullah ﷺ. Orang yang meneladani beliau berarti sedang menempuh jalan yang mengantarkannya kepada kemuliaan di sisi Allah, yaitu jalan yang lurus.Kedua, teladan yang buruk.Yaitu meneladani selain Rasulullah ﷺ ketika mereka menyelisihi beliau. Inilah teladan yang buruk, sebagaimana perkataan orang-orang kafir ketika para rasul mengajak mereka mengikuti kebenaran:إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ“Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan kami hanya mengikuti jejak mereka.” (QS. Az-Zukhruf: 22)Teladan yang baik ini hanya akan ditempuh dan dimudahkan bagi orang yang benar-benar berharap kepada Allah dan hari akhir. Keimanan, rasa takut kepada Allah, harapan terhadap pahala-Nya, serta rasa takut terhadap azab-Nya akan mendorong seseorang untuk meneladani Rasulullah ﷺ dalam seluruh kehidupannya.“Dan ketika orang-orang mukmin melihat pasukan-pasukan itu, mereka berkata, ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami, dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.’ Keadaan itu tidak menambah bagi mereka selain iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22)Setelah Allah menyebutkan keadaan orang-orang munafik ketika diliputi rasa takut, Allah kemudian menjelaskan keadaan orang-orang beriman.Ketika orang-orang beriman melihat pasukan-pasukan sekutu yang berkumpul dan telah mengambil posisi untuk menyerang, rasa takut memang muncul. Namun mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami.”Maksudnya adalah janji yang disebutkan dalam firman Allah:أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian ujian seperti yang dialami orang-orang sebelum kalian? Mereka ditimpa kesengsaraan dan penderitaan serta diguncang dengan berbagai cobaan, sampai Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, ‘Kapankah datang pertolongan Allah?’ Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)Karena itu mereka berkata, “Benarlah Allah dan Rasul-Nya.” Mereka benar-benar menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri apa yang sebelumnya telah diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya.Peristiwa besar itu justru tidak menambah bagi mereka selain bertambahnya iman di dalam hati mereka dan ketundukan pada anggota tubuh mereka, yaitu kepatuhan dan ketaatan terhadap perintah Allah.“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang telah gugur (menunaikan janjinya), dan di antara mereka ada pula yang masih menunggu. Dan mereka tidak mengubah (janji mereka) sedikit pun.” (QS. Al-Ahzab: 23)Setelah Allah menyebutkan bahwa orang-orang munafik telah berjanji kepada Allah untuk tidak mundur dari medan perjuangan, tetapi kemudian mereka melanggar janji itu, Allah lalu menyebutkan keadaan orang-orang beriman yang justru menepati janji mereka.Di antara orang-orang beriman terdapat para lelaki sejati yang benar dalam janji mereka kepada Allah. Mereka menepati, menyempurnakan, dan melaksanakan janji itu dengan sepenuh hati. Mereka mengorbankan jiwa mereka demi keridaan Allah dan menyerahkan diri mereka untuk ketaatan kepada-Nya.Sebagian dari mereka telah menunaikan janjinya, yaitu mereka telah mencapai apa yang mereka inginkan dan memenuhi kewajiban yang ada pada diri mereka. Mereka gugur di jalan Allah atau wafat setelah menunaikan kewajiban mereka tanpa mengurangi sedikit pun.Sebagian yang lain masih menunggu, yaitu mereka masih melanjutkan perjuangan untuk menyempurnakan janji mereka. Mereka terus berusaha dan bersungguh-sungguh untuk menunaikan apa yang menjadi kewajiban mereka kepada Allah.Mereka tidak pernah mengubah janji mereka sedikit pun, berbeda dengan orang lain yang mengkhianatinya. Mereka tetap teguh pada janji tersebut, tidak menyimpang dan tidak berubah.فَهَؤُلَاءِ الرِّجَالُ عَلَى الْحَقِيقَةِ، وَمَنْ عَدَاهُمْ فَصُوَرُهُمْ صُوَرُ رِجَالٍ، وَأَمَّا الصِّفَاتُ فَقَدْ قَصُرَتْ عَنْ صِفَاتِ الرِّجَالِ.Merekalah para lelaki sejati dalam makna yang sebenarnya. Adapun selain mereka, mungkin hanya memiliki rupa seperti lelaki, tetapi sifat-sifat mereka jauh dari sifat para lelaki yang sebenarnya.“Agar Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang jujur karena kejujuran mereka dan mengazab orang-orang munafik jika Dia menghendaki, atau menerima tobat mereka. Sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 24) Maksudnya, Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang jujur karena kejujuran mereka dalam ucapan, keadaan, dan hubungan mereka dengan Allah. Lahir dan batin mereka selaras, tidak ada perbedaan antara yang tampak dan yang tersembunyi.Allah Ta’ala juga berfirman:هَٰذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ ۚ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا“Ini adalah hari ketika orang-orang yang jujur mendapatkan manfaat dari kejujuran mereka. Bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.” (QS. Al-Ma’idah: 119)Artinya, Allah menetapkan berbagai ujian, kesulitan, dan guncangan itu agar tampak jelas siapa yang jujur dan siapa yang dusta. Dengan demikian Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang jujur atas kejujuran mereka.Adapun orang-orang munafik, mereka disiksa karena hati dan perbuatan mereka berubah ketika datangnya ujian. Mereka tidak menepati janji yang telah mereka buat kepada Allah.Firman Allah “jika Dia menghendaki” maksudnya, jika Allah menghendaki untuk mengazab mereka, yaitu ketika Dia tidak menghendaki memberi mereka hidayah, karena Dia mengetahui bahwa tidak ada kebaikan pada diri mereka, sehingga mereka tidak diberi taufik.Atau Allah menerima tobat mereka, yaitu dengan memberi mereka taufik untuk bertobat dan kembali kepada-Nya. Inilah yang lebih sering terjadi karena keluasan kemurahan Allah.Karena itu ayat ini ditutup dengan dua nama Allah yang menunjukkan ampunan dan kasih sayang-Nya:إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًاAllah Maha Pengampun terhadap dosa orang-orang yang melampaui batas terhadap diri mereka, meskipun mereka banyak melakukan maksiat, selama mereka datang dengan tobat.Dan Allah Maha Penyayang kepada mereka, dengan memberi taufik untuk bertobat, kemudian menerima tobat tersebut, serta menutupi dosa-dosa yang pernah mereka lakukan. Pelajaran Penting: Ujian bagi orang mukmin tidak mengurangi iman, justru menambah ketundukan. Mereka adalah orang-orang yang menepati janji setianya kepada Allah; ada yang telah gugur dan ada yang masih menunggu gilirannya tanpa mengubah janji sedikit pun.Pesan Utama: Jadikan Rasulullah sebagai standar bersikap dalam menghadapi kesulitan hidup. 4. Akhir Perjuangan dan Kemenangan bagi Orang Bertakwa (Ayat 25–27)Bagian penutup menjelaskan hasil akhir dari peperangan. Allah memukul mundur pasukan kafir dengan kemarahan mereka sendiri tanpa membawa hasil (harta rampasan) sedikit pun. Allah juga memberikan hukuman bagi kaum Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang berkhianat dan membantu musuh dari dalam.Allah Ta’ala berfirman,وَرَدَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِغَيْظِهِمْ لَمْ يَنَالُوا۟ خَيْرًا ۚ وَكَفَى ٱللَّهُ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱلْقِتَالَ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزًا“Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al-Ahzab: 25)وَأَنزَلَ ٱلَّذِينَ ظَٰهَرُوهُم مِّنْ أَهْلِ ٱلْكِتَٰبِ مِن صَيَاصِيهِمْ وَقَذَفَ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعْبَ فَرِيقًا تَقْتُلُونَ وَتَأْسِرُونَ فَرِيقًا“Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan.” (QS. Al-Ahzab: 26)وَأَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَدِيَٰرَهُمْ وَأَمْوَٰلَهُمْ وَأَرْضًا لَّمْ تَطَـُٔوهَا ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرًا“Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. Dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 27)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas sebagai berikut.“Dan Allah mengembalikan orang-orang kafir itu dengan penuh kemarahan mereka, mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan Allah mencukupkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (QS. Al-Ahzab: 25)Allah mengembalikan orang-orang kafir itu dalam keadaan kecewa dan marah. Mereka tidak mendapatkan apa pun dari tujuan yang mereka inginkan. Mereka datang dengan kemarahan besar, penuh ambisi, dan yakin akan memperoleh kemenangan. Mereka tertipu oleh banyaknya pasukan yang mereka kumpulkan, bangga dengan persatuan mereka, serta merasa kuat karena jumlah dan perlengkapan mereka.Namun Allah mengirimkan kepada mereka angin yang sangat kencang, yaitu angin ash-shabā. Angin itu mengguncang posisi mereka, merobohkan tenda-tenda mereka, menumpahkan periuk-periuk mereka, dan membuat mereka gelisah. Allah juga menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka sehingga mereka pulang dalam keadaan marah dan kecewa. Inilah salah satu bentuk pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.Allah pun mencukupkan orang-orang beriman dari peperangan melalui sebab-sebab yang Allah tetapkan, baik sebab yang tampak maupun sebab yang ditakdirkan-Nya. Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa. Tidak ada yang mampu mengalahkan-Nya kecuali pasti akan dikalahkan. Tidak ada yang meminta pertolongan kepada-Nya kecuali pasti akan dimenangkan. Tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan-Nya jika Dia menghendakinya. Kekuatan dan kemuliaan manusia tidak akan berguna jika Allah tidak menolong mereka dengan kekuatan dan kemuliaan-Nya.“Dan Dia menurunkan orang-orang dari Ahli Kitab yang membantu mereka dari benteng-benteng mereka, serta menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebagian dari mereka kalian bunuh dan sebagian yang lain kalian tawan.” (QS. Al-Ahzab: 26)Allah juga menurunkan orang-orang dari Ahli Kitab yang membantu pasukan sekutu, yaitu kaum Yahudi, dari benteng-benteng mereka. Mereka diturunkan dari benteng itu dalam keadaan dikalahkan dan berada di bawah kekuasaan kaum Muslimin.Allah menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka sehingga mereka tidak mampu lagi melawan. Mereka menyerah, tunduk, dan terhina. Sebagian dari mereka dibunuh, yaitu para lelaki yang ikut berperang, sedangkan sebagian yang lain ditawan, yaitu perempuan dan anak-anak.وَأَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَدِيَارَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ وَأَرْضًا لَّمْ تَطَئُوهَا ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرًا“Dan Dia mewariskan kepada kalian tanah-tanah mereka, rumah-rumah mereka, harta-harta mereka, serta tanah yang belum pernah kalian injak. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 27)Allah memberikan kepada kalian tanah mereka, rumah-rumah mereka, harta-harta mereka, serta tanah yang sebelumnya tidak pernah kalian injak. Tanah itu dahulu begitu terhormat dan kuat di mata pemiliknya sehingga kalian tidak mampu menguasainya. Namun Allah memberi kalian kekuasaan atasnya, menghinakan mereka, dan menjadikan kalian memperoleh harta mereka. Kalian membunuh sebagian dari mereka dan menawan sebagian yang lain.Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan-Nya. Termasuk dalam kekuasaan-Nya adalah apa yang Dia tetapkan untuk kalian.Kelompok Ahli Kitab yang dimaksud dalam ayat ini adalah Bani Quraizhah, salah satu kaum Yahudi yang tinggal di sebuah perkampungan di luar Madinah yang tidak jauh jaraknya.Baca juga: Perang Bani Quraizhah dan Pelajaran di DalamnyaKetika Nabi ﷺ hijrah ke Madinah, beliau membuat perjanjian damai dengan mereka. Mereka hidup dengan agama mereka sendiri, dan Nabi ﷺ tidak memerangi mereka serta tidak pula mengganggu mereka.Namun ketika terjadi Perang Khandaq dan mereka melihat pasukan sekutu yang sangat banyak berkumpul untuk memerangi Rasulullah ﷺ, sementara jumlah kaum Muslimin sedikit, mereka mengira bahwa Rasulullah dan kaum beriman akan dimusnahkan. Hal ini juga dipengaruhi oleh tipu daya sebagian pemimpin mereka.Akhirnya mereka melanggar perjanjian yang telah mereka buat dengan Rasulullah ﷺ dan membantu kaum musyrikin untuk memerangi beliau.Ketika Allah mengalahkan pasukan musyrik, Rasulullah ﷺ kemudian menghadapi Bani Quraizhah. Beliau mengepung mereka di benteng mereka hingga akhirnya mereka menyerah dan menerima keputusan hukum dari Sa’d bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu.Sa’d memutuskan bahwa para lelaki yang ikut berperang dibunuh, sedangkan perempuan dan anak-anak mereka ditawan, serta harta mereka dijadikan rampasan perang.Dengan demikian Allah menyempurnakan nikmat-Nya kepada Rasul-Nya dan kaum beriman. Allah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka, menenangkan hati mereka dengan kekalahan musuh-musuh mereka, membunuh orang-orang yang terbunuh dari musuh itu, serta menawan orang-orang yang ditawan.Dan kelembutan serta pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman terus berlangsung. Pelajaran Penting: Kemenangan bukan semata karena strategi atau jumlah pasukan, melainkan karena Allah yang Mahakuat lagi Mahaperkasa. Pengkhianatan terhadap perjanjian (iman) akan berujung pada kehinaan di dunia dan akhirat.Pesan Utama: Istiqamah dalam kebenaran akan selalu berujung pada kemenangan yang manis, sementara pengkhianatan hanya akan membawa kerugian. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Rabu, 22 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsberperang hikmah perang peperangan dalam islam peperangan di masa Rasulullah perang ahzab perang khandaq renungan renungan ayat renungan quran
Surah Al-Ahzab merupakan salah satu surah Madaniyah yang sarat dengan pelajaran tentang keteguhan iman dan ujian mental. Nama “Al-Ahzab” sendiri merujuk pada pasukan sekutu (koalisi) kafir Quraisy bersama kabilah-kabilah lain yang mengepung Madinah dalam Perang Khandaq.Baca juga: Faedah Sirah Nabi: Perang Ahzab (Perang Khandaq) dan Pelajaran di Dalamnya  Daftar Isi tutup 1. 1. Pertolongan Allah dan Goncangan Ujian bagi Orang Beriman (Ayat 9–11) 2. 2. Mentalitas Pecundang dan Siasat Orang Munafik (Ayat 12–20) 3. 3. Keteladanan Rasulullah dan Keteguhan Iman Kaum Mukminin (Ayat 21–24) 4. 4. Akhir Perjuangan dan Kemenangan bagi Orang Bertakwa (Ayat 25–27)  Berikut adalah pengembangan empat bagian utama kisah Perang Ahzab dalam surah ini sebagai bahan tadabbur kita:1. Pertolongan Allah dan Goncangan Ujian bagi Orang Beriman (Ayat 9–11)Pada bagian awal, Allah mengingatkan kaum mukminin tentang besarnya nikmat pertolongan-Nya. Saat itu, pasukan musuh datang dari “atas” dan “bawah” Madinah, hingga mata kaum Muslimin terbelalak ketakutan dan hati mereka seolah menyesak sampai ke tenggorokan.Allah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ نِعْمَةَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَآءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا “Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ahzab: 9)إِذْ جَآءُوكُم مِّن فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ ٱلْأَبْصَٰرُ وَبَلَغَتِ ٱلْقُلُوبُ ٱلْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِٱللَّهِ ٱلظُّنُونَا۠“(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka.” (QS. Al-Ahzab: 10)هُنَالِكَ ٱبْتُلِىَ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا۟ زِلْزَالًا شَدِيدًا“Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.” (QS. Al-Ahzab: 11)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas sebagai berikut.Allah mengingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman tentang nikmat-Nya kepada mereka dan mendorong mereka untuk mensyukurinya. Nikmat itu terjadi ketika pasukan-pasukan musuh datang menyerang mereka. Pasukan tersebut berasal dari penduduk Makkah dan wilayah Hijaz yang datang dari arah atas mereka, serta dari penduduk Najd yang datang dari arah bawah mereka. Mereka sepakat dan bersekutu untuk memusnahkan Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Peristiwa ini dikenal sebagai Perang Khandaq.Kaum Yahudi yang tinggal di sekitar Madinah juga turut membantu mereka. Mereka bergabung dan mengerahkan pasukan yang besar serta berbagai kelompok manusia yang banyak.Rasulullah ﷺ kemudian menggali parit (khandaq) di sekitar Madinah sebagai strategi pertahanan. Pasukan musuh pun mengepung kota Madinah. Keadaan menjadi sangat genting. Rasa takut semakin memuncak hingga hati terasa naik ke tenggorokan. Sebagian manusia bahkan mulai berprasangka yang bermacam-macam karena melihat sebab-sebab yang tampak begitu kuat dan berbagai kesulitan yang sangat berat.Pengepungan terhadap Madinah berlangsung cukup lama. Keadaan saat itu sebagaimana yang Allah gambarkan dalam firman-Nya:وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَ“Dan (ingatlah) ketika pandangan menjadi liar dan hati menyesak sampai ke tenggorokan, dan kalian berprasangka yang bermacam-macam terhadap Allah.” (QS. Al-Ahzab: 10)Maksudnya, muncul berbagai prasangka buruk pada sebagian orang, seolah-olah Allah tidak akan menolong agama-Nya dan tidak akan menyempurnakan kalimat-Nya (agama Islam).“Di sanalah orang-orang mukmin diuji dan diguncangkan dengan guncangan yang sangat dahsyat.” (QS. Al-Ahzab: 11)Di saat itulah orang-orang beriman diuji dengan ujian yang sangat besar. Mereka diguncang dengan guncangan yang dahsyat berupa rasa takut, kecemasan, dan kelaparan. Semua itu terjadi agar tampak jelas keimanan mereka dan agar keyakinan mereka semakin bertambah kuat.Dalam peristiwa itu tampak—segala puji bagi Allah—betapa kuat iman dan keyakinan mereka, hingga mereka mencapai derajat keimanan yang sangat tinggi.Ketika kesulitan semakin berat dan berbagai penderitaan semakin memuncak, keimanan mereka pun berubah menjadi keyakinan yang nyata. Allah menggambarkan sikap mereka dalam firman-Nya:وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا“Dan ketika orang-orang mukmin melihat pasukan-pasukan itu, mereka berkata, ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami. Benarlah Allah dan Rasul-Nya.’ Dan keadaan itu tidaklah menambah bagi mereka selain iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22)Pada saat yang sama, kemunafikan orang-orang munafik pun menjadi jelas. Apa yang selama ini mereka sembunyikan dalam hati akhirnya tampak nyata. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam ayat selanjutnya. Pelajaran Penting: Ujian berat adalah sunnatullah untuk menyaring siapa yang benar-benar beriman. Namun, bagi mereka yang bersabar, Allah mengirimkan “pasukan tak terlihat” berupa angin kencang dan malaikat untuk memukul mundur musuh.Pesan Utama: Jangan pernah meragukan pertolongan Allah saat kondisi terasa paling menghimpit sekalipun. 2. Mentalitas Pecundang dan Siasat Orang Munafik (Ayat 12–20)Al-Qur’an secara gamblang membongkar isi hati orang munafik saat krisis terjadi. Mereka berkata bahwa janji Allah dan Rasul-Nya hanyalah tipu daya. Mereka mencari-cari alasan (udzur) untuk meninggalkan medan perang dengan dalih “rumah kami tidak aman”, padahal mereka hanya ingin melarikan diri.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذْ يَقُولُ ٱلْمُنَٰفِقُونَ وَٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ مَّا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ إِلَّا غُرُورًا“Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya”.” (QS. Al-Ahzab: 12)وَإِذْ قَالَت طَّآئِفَةٌ مِّنْهُمْ يَٰٓأَهْلَ يَثْرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمْ فَٱرْجِعُوا۟ ۚ وَيَسْتَـْٔذِنُ فَرِيقٌ مِّنْهُمُ ٱلنَّبِىَّ يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوْرَةٌ وَمَا هِىَ بِعَوْرَةٍ ۖ إِن يُرِيدُونَ إِلَّا فِرَارًا“Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mreka berkata: “Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu”. Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata: “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)”. Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanya hendak lari.” (QS. Al-Ahzab: 13)وَلَوْ دُخِلَتْ عَلَيْهِم مِّنْ أَقْطَارِهَا ثُمَّ سُئِلُوا۟ ٱلْفِتْنَةَ لَءَاتَوْهَا وَمَا تَلَبَّثُوا۟ بِهَآ إِلَّا يَسِيرًا“Kalau (Yatsrib) diserang dari segala penjuru, kemudian diminta kepada mereka supaya murtad, niscaya mereka mengerjakannya; dan mereka tiada akan bertangguh untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat.” (QS. Al-Ahzab: 14)وَلَقَدْ كَانُوا۟ عَٰهَدُوا۟ ٱللَّهَ مِن قَبْلُ لَا يُوَلُّونَ ٱلْأَدْبَٰرَ ۚ وَكَانَ عَهْدُ ٱللَّهِ مَسْـُٔولًا“Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah: “Mereka tidak akan berbalik ke belakang (mundur)”. Dan adalah perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Ahzab: 15)قُل لَّن يَنفَعَكُمُ ٱلْفِرَارُ إِن فَرَرْتُم مِّنَ ٱلْمَوْتِ أَوِ ٱلْقَتْلِ وَإِذًا لَّا تُمَتَّعُونَ إِلَّا قَلِيلًا“Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja”. (QS. Al-Ahzab: 16)قُلْ مَن ذَا ٱلَّذِى يَعْصِمُكُم مِّنَ ٱللَّهِ إِنْ أَرَادَ بِكُمْ سُوٓءًا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ رَحْمَةً ۚ وَلَا يَجِدُونَ لَهُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا“Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.” (QS. Al-Ahzab: 17)۞ قَدْ يَعْلَمُ ٱللَّهُ ٱلْمُعَوِّقِينَ مِنكُمْ وَٱلْقَآئِلِينَ لِإِخْوَٰنِهِمْ هَلُمَّ إِلَيْنَا ۖ وَلَا يَأْتُونَ ٱلْبَأْسَ إِلَّا قَلِيلًا“Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya: “Marilah kepada kami”. Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar.” (QS. Al-Ahzab: 18)أَشِحَّةً عَلَيْكُمْ ۖ فَإِذَا جَآءَ ٱلْخَوْفُ رَأَيْتَهُمْ يَنظُرُونَ إِلَيْكَ تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ كَٱلَّذِى يُغْشَىٰ عَلَيْهِ مِنَ ٱلْمَوْتِ ۖ فَإِذَا ذَهَبَ ٱلْخَوْفُ سَلَقُوكُم بِأَلْسِنَةٍ حِدَادٍ أَشِحَّةً عَلَى ٱلْخَيْرِ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوا۟ فَأَحْبَطَ ٱللَّهُ أَعْمَٰلَهُمْ ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرًا“Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 19)يَحْسَبُونَ ٱلْأَحْزَابَ لَمْ يَذْهَبُوا۟ ۖ وَإِن يَأْتِ ٱلْأَحْزَابُ يَوَدُّوا۟ لَوْ أَنَّهُم بَادُونَ فِى ٱلْأَعْرَابِ يَسْـَٔلُونَ عَنْ أَنۢبَآئِكُمْ ۖ وَلَوْ كَانُوا۟ فِيكُم مَّا قَٰتَلُوٓا۟ إِلَّا قَلِيلًا“Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badwi, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu. Dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja.” (QS. Al-Ahzab: 20)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas sebagai berikut.“Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit berkata, ‘Tidaklah Allah dan Rasul-Nya menjanjikan kepada kami selain tipu daya belaka.’” (QS. Al-Ahzab: 12)Inilah kebiasaan orang munafik ketika menghadapi kesulitan dan ujian. Iman mereka tidak kokoh. Mereka menilai keadaan hanya dengan akal yang pendek dan pandangan yang sempit, lalu membenarkan prasangka buruk mereka sendiri.“Dan (ingatlah) ketika segolongan dari mereka berkata, ‘Wahai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagi kalian (untuk bertahan di sini), maka kembalilah kalian.’ Dan sebagian dari mereka meminta izin kepada Nabi dengan berkata, ‘Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak terjaga).’ Padahal rumah-rumah itu tidaklah terbuka; mereka tidak menghendaki selain melarikan diri.” (QS. Al-Ahzab: 13)Sebagian orang munafik, ketika rasa takut meliputi mereka dan kesabaran mereka melemah, menjadi orang-orang yang gagal dan putus asa. Mereka bukan hanya tidak mampu bersabar sendiri, tetapi juga berusaha melemahkan orang lain.Mereka berkata, “Wahai penduduk Yatsrib!” maksudnya adalah penduduk Madinah. Mereka menyebut kota itu dengan nama lamanya (Yatsrib berarti cercaan), seakan-akan mereka tidak mempedulikan persaudaraan iman dan agama. Yang mendorong mereka hanyalah kelemahan dan ketakutan.Mereka berkata, “Tidak ada tempat bagi kalian di sini, maka kembalilah!” Maksudnya, kembalilah ke kota Madinah. Dengan ucapan ini mereka melemahkan semangat kaum Muslimin untuk berjihad dan menyatakan bahwa mereka tidak memiliki kekuatan menghadapi musuh.Kelompok ini adalah kelompok yang paling buruk dan paling berbahaya. Ada pula kelompok lain yang lebih lemah dari mereka. Kelompok ini diliputi rasa takut dan ingin mundur dari barisan, sehingga mereka mencari-cari alasan yang tidak benar.Mereka berkata kepada Nabi ﷺ, “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka.” Maksudnya, rumah-rumah kami terancam bahaya dan kami khawatir musuh akan menyerangnya ketika kami tidak berada di sana, maka izinkanlah kami kembali untuk menjaganya.Padahal mereka berdusta. Allah menegaskan bahwa tujuan mereka hanyalah melarikan diri. Inilah keadaan orang-orang yang imannya lemah dan tidak kokoh ketika menghadapi ujian yang berat.Baca juga: Cinta Dunia dan Takut Mati“Seandainya kota itu diserang dari segala penjuru, kemudian mereka diminta untuk murtad (dari agama), niscaya mereka akan melakukannya, dan mereka tidak akan menundanya kecuali sebentar saja.” (QS. Al-Ahzab: 14)Artinya, seandainya musuh berhasil memasuki Madinah dari berbagai penjuru dan menguasainya, lalu mereka diminta meninggalkan agama mereka dan kembali kepada agama orang-orang yang menang, niscaya mereka akan segera melakukannya. Mereka tidak memiliki keteguhan dalam mempertahankan agama.Baca juga: Diancam Murtad“Padahal sebelumnya mereka telah berjanji kepada Allah bahwa mereka tidak akan berpaling ke belakang. Dan janji kepada Allah itu pasti akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Ahzab: 15)Padahal sebelumnya mereka telah berjanji kepada Allah untuk tidak mundur dari medan perjuangan. Janji kepada Allah pasti akan dimintai pertanggungjawaban. Mereka akan ditanya tentang janji tersebut, dan ternyata mereka telah melanggarnya.Baca juga: Bahaya Melanggar Perjanjian dengan Allah dan Dampaknya Bagi Hati“Katakanlah, ‘Melarikan diri tidak akan bermanfaat bagi kalian jika kalian lari dari kematian atau pembunuhan. Jika pun demikian, kalian hanya akan menikmati kehidupan sebentar saja.’” (QS. Al-Ahzab: 16)Katakanlah kepada mereka bahwa melarikan diri tidak akan memberi manfaat apa pun. Jika seseorang telah ditakdirkan mati atau terbunuh, maka hal itu pasti akan terjadi. Seandainya mereka tetap berada di rumah mereka, orang yang telah ditakdirkan mati tetap akan keluar menuju tempat kematiannya.Sebab-sebab memang dapat memberi manfaat selama tidak bertentangan dengan takdir Allah. Namun ketika takdir Allah telah datang, semua sebab akan hilang dan semua usaha manusia tidak lagi berguna.Kalaupun mereka melarikan diri untuk menikmati kehidupan dunia, kesenangan itu hanyalah sementara dan tidak sebanding dengan kenikmatan abadi yang mereka tinggalkan.Baca juga: Kematian yang Tidak Bisa Dihindari“Katakanlah, ‘Siapakah yang dapat melindungi kalian dari Allah jika Dia menghendaki keburukan bagi kalian atau menghendaki rahmat bagi kalian?’ Mereka tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah.” (QS. Al-Ahzab: 17)Ayat ini menjelaskan bahwa semua sebab tidak dapat menyelamatkan manusia jika Allah menghendaki keburukan baginya. Allah adalah Dzat yang memberi dan menahan, yang mendatangkan manfaat dan menolak mudarat. Tidak ada yang dapat mendatangkan kebaikan kecuali Dia, dan tidak ada yang dapat menolak keburukan kecuali Dia.Karena itu hendaknya manusia menaati Allah, Dzat yang mengatur seluruh urusan, yang kehendak-Nya pasti terlaksana dan takdir-Nya pasti terjadi.“Sungguh Allah mengetahui orang-orang di antara kalian yang menghalang-halangi (orang lain) dan yang berkata kepada saudara-saudaranya, ‘Marilah kepada kami.’ Dan mereka tidak datang ke medan perang kecuali sedikit saja.” (QS. Al-Ahzab: 18)Allah mengetahui orang-orang yang menghalangi manusia dari berjihad dan berkata kepada saudara-saudara mereka, “Kembalilah kepada kami,” sebagaimana ucapan mereka sebelumnya, “Wahai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagi kalian di sini, maka kembalilah.”Mereka sendiri hampir tidak pernah datang ke medan peperangan. Mereka sangat ingin tertinggal karena tidak ada dorongan iman dan kesabaran dalam diri mereka, sementara sebab-sebab yang mendorong rasa takut dan kemunafikan sangat kuat.“Mereka sangat kikir terhadap kalian. Ketika datang rasa takut, engkau melihat mereka memandang kepadamu dengan mata terbelalak seperti orang yang pingsan karena takut mati. Tetapi ketika rasa takut itu hilang, mereka mencela kalian dengan kata-kata yang tajam, dan mereka sangat kikir terhadap kebaikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak beriman, maka Allah menghapus amal-amal mereka. Dan yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 19)Mereka kikir dengan diri mereka dalam peperangan dan kikir dengan harta mereka untuk berinfak di jalan Allah. Ketika rasa takut datang, mereka memandang dengan mata yang berputar-putar seperti orang yang hampir mati karena ketakutan.Namun ketika keadaan kembali aman, mereka berbicara dengan kata-kata keras dan penuh klaim seolah-olah mereka adalah orang-orang yang berani.Sifat paling buruk dalam diri manusia adalah kikir terhadap kebaikan: kikir dengan hartanya untuk berinfak di jalan Allah, kikir dengan dirinya untuk berjihad dan berdakwah, kikir dengan kedudukannya, ilmunya, nasihatnya, dan pendapatnya.Orang-orang seperti ini tidak memiliki iman. Karena itu Allah menghapus amal-amal mereka, dan hal itu sangat mudah bagi Allah.Adapun orang-orang beriman, Allah menjaga mereka dari sifat kikir dan memberi taufik kepada mereka untuk mengorbankan diri, harta, kedudukan, dan ilmu mereka di jalan Allah.“Mereka mengira bahwa pasukan-pasukan sekutu itu belum pergi. Jika pasukan-pasukan itu datang lagi, mereka ingin berada di tengah orang-orang Badui di padang pasir sambil menanyakan kabar tentang kalian. Sekiranya mereka berada bersama kalian, mereka tidak akan berperang kecuali sedikit saja.” (QS. Al-Ahzab: 20)Orang-orang munafik itu mengira pasukan sekutu belum benar-benar pergi dan akan kembali menyerang hingga memusnahkan kaum Muslimin. Jika pasukan itu datang lagi, mereka berharap tidak berada di Madinah, tetapi tinggal bersama orang-orang Badui di padang pasir, hanya mendengar kabar dari jauh tentang apa yang terjadi pada kaum Muslimin.Walaupun mereka berada di tengah kaum Muslimin, mereka hampir tidak ikut berperang kecuali sedikit saja. Oleh karena itu, tidak perlu mempedulikan mereka dan tidak perlu bersedih atas ketidakhadiran mereka. Pelajaran Penting: Karakter orang munafik adalah bakhil (pelit) terhadap kebaikan dan sangat penakut. Ketika bahaya datang, mata mereka berputar-putar karena takut mati, namun ketika bahaya hilang, mereka mencela kaum mukminin dengan lisan yang tajam.Pesan Utama: Waspadai sifat mencari-cari alasan dalam beribadah atau berjihad, karena itu adalah salah satu ciri kemunafikan. 3. Keteladanan Rasulullah dan Keteguhan Iman Kaum Mukminin (Ayat 21–24)Di tengah kepungan musuh, Allah menetapkan Nabi Muhammad sebagai Uswatun Hasanah (suri teladan yang baik). Berbeda dengan orang munafik, kaum mukminin ketika melihat pasukan musuh justru berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.”Allah Ta’ala berfirman,لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)وَلَمَّا رَءَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلْأَحْزَابَ قَالُوا۟ هَٰذَا مَا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَصَدَقَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ ۚ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّآ إِيمَٰنًا وَتَسْلِيمًا“Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22)مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا۟ مَا عَٰهَدُوا۟ ٱللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُۥ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا۟ تَبْدِيلًا“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya).” (QS. Al-Ahzab: 23)لِّيَجْزِىَ ٱللَّهُ ٱلصَّٰدِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ ٱلْمُنَٰفِقِينَ إِن شَآءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا“supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 24)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas sebagai berikut.“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)Ayat ini menunjukkan bahwa pada diri Rasulullah ﷺ terdapat teladan yang sangat baik. Beliau sendiri hadir dalam medan peperangan, terjun langsung menghadapi pertempuran, padahal beliau adalah manusia yang paling mulia, paling sempurna, dan paling berani.Jika Rasulullah ﷺ yang memiliki kedudukan begitu tinggi saja turun langsung menghadapi kesulitan dan bahaya, lalu bagaimana mungkin seseorang merasa enggan mengorbankan dirinya dalam perkara yang Rasulullah ﷺ sendiri telah melakukannya?Karena itu, hendaknya kaum Muslimin meneladani beliau dalam perkara ini dan dalam seluruh urusan lainnya.Para ulama usul fikih juga menjadikan ayat ini sebagai dalil bahwa perbuatan Rasulullah ﷺ dapat dijadikan hujah (landasan hukum). Pada dasarnya, umat beliau diperintahkan meneladani beliau dalam hukum-hukum syariat, kecuali jika ada dalil khusus yang menunjukkan bahwa suatu perkara hanya berlaku bagi beliau.Teladan itu ada dua macam:Pertama, teladan yang baik (uswah hasanah).Teladan yang baik terdapat pada diri Rasulullah ﷺ. Orang yang meneladani beliau berarti sedang menempuh jalan yang mengantarkannya kepada kemuliaan di sisi Allah, yaitu jalan yang lurus.Kedua, teladan yang buruk.Yaitu meneladani selain Rasulullah ﷺ ketika mereka menyelisihi beliau. Inilah teladan yang buruk, sebagaimana perkataan orang-orang kafir ketika para rasul mengajak mereka mengikuti kebenaran:إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ“Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan kami hanya mengikuti jejak mereka.” (QS. Az-Zukhruf: 22)Teladan yang baik ini hanya akan ditempuh dan dimudahkan bagi orang yang benar-benar berharap kepada Allah dan hari akhir. Keimanan, rasa takut kepada Allah, harapan terhadap pahala-Nya, serta rasa takut terhadap azab-Nya akan mendorong seseorang untuk meneladani Rasulullah ﷺ dalam seluruh kehidupannya.“Dan ketika orang-orang mukmin melihat pasukan-pasukan itu, mereka berkata, ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami, dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.’ Keadaan itu tidak menambah bagi mereka selain iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22)Setelah Allah menyebutkan keadaan orang-orang munafik ketika diliputi rasa takut, Allah kemudian menjelaskan keadaan orang-orang beriman.Ketika orang-orang beriman melihat pasukan-pasukan sekutu yang berkumpul dan telah mengambil posisi untuk menyerang, rasa takut memang muncul. Namun mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami.”Maksudnya adalah janji yang disebutkan dalam firman Allah:أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian ujian seperti yang dialami orang-orang sebelum kalian? Mereka ditimpa kesengsaraan dan penderitaan serta diguncang dengan berbagai cobaan, sampai Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, ‘Kapankah datang pertolongan Allah?’ Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)Karena itu mereka berkata, “Benarlah Allah dan Rasul-Nya.” Mereka benar-benar menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri apa yang sebelumnya telah diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya.Peristiwa besar itu justru tidak menambah bagi mereka selain bertambahnya iman di dalam hati mereka dan ketundukan pada anggota tubuh mereka, yaitu kepatuhan dan ketaatan terhadap perintah Allah.“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang telah gugur (menunaikan janjinya), dan di antara mereka ada pula yang masih menunggu. Dan mereka tidak mengubah (janji mereka) sedikit pun.” (QS. Al-Ahzab: 23)Setelah Allah menyebutkan bahwa orang-orang munafik telah berjanji kepada Allah untuk tidak mundur dari medan perjuangan, tetapi kemudian mereka melanggar janji itu, Allah lalu menyebutkan keadaan orang-orang beriman yang justru menepati janji mereka.Di antara orang-orang beriman terdapat para lelaki sejati yang benar dalam janji mereka kepada Allah. Mereka menepati, menyempurnakan, dan melaksanakan janji itu dengan sepenuh hati. Mereka mengorbankan jiwa mereka demi keridaan Allah dan menyerahkan diri mereka untuk ketaatan kepada-Nya.Sebagian dari mereka telah menunaikan janjinya, yaitu mereka telah mencapai apa yang mereka inginkan dan memenuhi kewajiban yang ada pada diri mereka. Mereka gugur di jalan Allah atau wafat setelah menunaikan kewajiban mereka tanpa mengurangi sedikit pun.Sebagian yang lain masih menunggu, yaitu mereka masih melanjutkan perjuangan untuk menyempurnakan janji mereka. Mereka terus berusaha dan bersungguh-sungguh untuk menunaikan apa yang menjadi kewajiban mereka kepada Allah.Mereka tidak pernah mengubah janji mereka sedikit pun, berbeda dengan orang lain yang mengkhianatinya. Mereka tetap teguh pada janji tersebut, tidak menyimpang dan tidak berubah.فَهَؤُلَاءِ الرِّجَالُ عَلَى الْحَقِيقَةِ، وَمَنْ عَدَاهُمْ فَصُوَرُهُمْ صُوَرُ رِجَالٍ، وَأَمَّا الصِّفَاتُ فَقَدْ قَصُرَتْ عَنْ صِفَاتِ الرِّجَالِ.Merekalah para lelaki sejati dalam makna yang sebenarnya. Adapun selain mereka, mungkin hanya memiliki rupa seperti lelaki, tetapi sifat-sifat mereka jauh dari sifat para lelaki yang sebenarnya.“Agar Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang jujur karena kejujuran mereka dan mengazab orang-orang munafik jika Dia menghendaki, atau menerima tobat mereka. Sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 24) Maksudnya, Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang jujur karena kejujuran mereka dalam ucapan, keadaan, dan hubungan mereka dengan Allah. Lahir dan batin mereka selaras, tidak ada perbedaan antara yang tampak dan yang tersembunyi.Allah Ta’ala juga berfirman:هَٰذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ ۚ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا“Ini adalah hari ketika orang-orang yang jujur mendapatkan manfaat dari kejujuran mereka. Bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.” (QS. Al-Ma’idah: 119)Artinya, Allah menetapkan berbagai ujian, kesulitan, dan guncangan itu agar tampak jelas siapa yang jujur dan siapa yang dusta. Dengan demikian Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang jujur atas kejujuran mereka.Adapun orang-orang munafik, mereka disiksa karena hati dan perbuatan mereka berubah ketika datangnya ujian. Mereka tidak menepati janji yang telah mereka buat kepada Allah.Firman Allah “jika Dia menghendaki” maksudnya, jika Allah menghendaki untuk mengazab mereka, yaitu ketika Dia tidak menghendaki memberi mereka hidayah, karena Dia mengetahui bahwa tidak ada kebaikan pada diri mereka, sehingga mereka tidak diberi taufik.Atau Allah menerima tobat mereka, yaitu dengan memberi mereka taufik untuk bertobat dan kembali kepada-Nya. Inilah yang lebih sering terjadi karena keluasan kemurahan Allah.Karena itu ayat ini ditutup dengan dua nama Allah yang menunjukkan ampunan dan kasih sayang-Nya:إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًاAllah Maha Pengampun terhadap dosa orang-orang yang melampaui batas terhadap diri mereka, meskipun mereka banyak melakukan maksiat, selama mereka datang dengan tobat.Dan Allah Maha Penyayang kepada mereka, dengan memberi taufik untuk bertobat, kemudian menerima tobat tersebut, serta menutupi dosa-dosa yang pernah mereka lakukan. Pelajaran Penting: Ujian bagi orang mukmin tidak mengurangi iman, justru menambah ketundukan. Mereka adalah orang-orang yang menepati janji setianya kepada Allah; ada yang telah gugur dan ada yang masih menunggu gilirannya tanpa mengubah janji sedikit pun.Pesan Utama: Jadikan Rasulullah sebagai standar bersikap dalam menghadapi kesulitan hidup. 4. Akhir Perjuangan dan Kemenangan bagi Orang Bertakwa (Ayat 25–27)Bagian penutup menjelaskan hasil akhir dari peperangan. Allah memukul mundur pasukan kafir dengan kemarahan mereka sendiri tanpa membawa hasil (harta rampasan) sedikit pun. Allah juga memberikan hukuman bagi kaum Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang berkhianat dan membantu musuh dari dalam.Allah Ta’ala berfirman,وَرَدَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِغَيْظِهِمْ لَمْ يَنَالُوا۟ خَيْرًا ۚ وَكَفَى ٱللَّهُ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱلْقِتَالَ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزًا“Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al-Ahzab: 25)وَأَنزَلَ ٱلَّذِينَ ظَٰهَرُوهُم مِّنْ أَهْلِ ٱلْكِتَٰبِ مِن صَيَاصِيهِمْ وَقَذَفَ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعْبَ فَرِيقًا تَقْتُلُونَ وَتَأْسِرُونَ فَرِيقًا“Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan.” (QS. Al-Ahzab: 26)وَأَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَدِيَٰرَهُمْ وَأَمْوَٰلَهُمْ وَأَرْضًا لَّمْ تَطَـُٔوهَا ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرًا“Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. Dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 27)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas sebagai berikut.“Dan Allah mengembalikan orang-orang kafir itu dengan penuh kemarahan mereka, mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan Allah mencukupkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (QS. Al-Ahzab: 25)Allah mengembalikan orang-orang kafir itu dalam keadaan kecewa dan marah. Mereka tidak mendapatkan apa pun dari tujuan yang mereka inginkan. Mereka datang dengan kemarahan besar, penuh ambisi, dan yakin akan memperoleh kemenangan. Mereka tertipu oleh banyaknya pasukan yang mereka kumpulkan, bangga dengan persatuan mereka, serta merasa kuat karena jumlah dan perlengkapan mereka.Namun Allah mengirimkan kepada mereka angin yang sangat kencang, yaitu angin ash-shabā. Angin itu mengguncang posisi mereka, merobohkan tenda-tenda mereka, menumpahkan periuk-periuk mereka, dan membuat mereka gelisah. Allah juga menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka sehingga mereka pulang dalam keadaan marah dan kecewa. Inilah salah satu bentuk pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.Allah pun mencukupkan orang-orang beriman dari peperangan melalui sebab-sebab yang Allah tetapkan, baik sebab yang tampak maupun sebab yang ditakdirkan-Nya. Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa. Tidak ada yang mampu mengalahkan-Nya kecuali pasti akan dikalahkan. Tidak ada yang meminta pertolongan kepada-Nya kecuali pasti akan dimenangkan. Tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan-Nya jika Dia menghendakinya. Kekuatan dan kemuliaan manusia tidak akan berguna jika Allah tidak menolong mereka dengan kekuatan dan kemuliaan-Nya.“Dan Dia menurunkan orang-orang dari Ahli Kitab yang membantu mereka dari benteng-benteng mereka, serta menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebagian dari mereka kalian bunuh dan sebagian yang lain kalian tawan.” (QS. Al-Ahzab: 26)Allah juga menurunkan orang-orang dari Ahli Kitab yang membantu pasukan sekutu, yaitu kaum Yahudi, dari benteng-benteng mereka. Mereka diturunkan dari benteng itu dalam keadaan dikalahkan dan berada di bawah kekuasaan kaum Muslimin.Allah menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka sehingga mereka tidak mampu lagi melawan. Mereka menyerah, tunduk, dan terhina. Sebagian dari mereka dibunuh, yaitu para lelaki yang ikut berperang, sedangkan sebagian yang lain ditawan, yaitu perempuan dan anak-anak.وَأَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَدِيَارَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ وَأَرْضًا لَّمْ تَطَئُوهَا ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرًا“Dan Dia mewariskan kepada kalian tanah-tanah mereka, rumah-rumah mereka, harta-harta mereka, serta tanah yang belum pernah kalian injak. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 27)Allah memberikan kepada kalian tanah mereka, rumah-rumah mereka, harta-harta mereka, serta tanah yang sebelumnya tidak pernah kalian injak. Tanah itu dahulu begitu terhormat dan kuat di mata pemiliknya sehingga kalian tidak mampu menguasainya. Namun Allah memberi kalian kekuasaan atasnya, menghinakan mereka, dan menjadikan kalian memperoleh harta mereka. Kalian membunuh sebagian dari mereka dan menawan sebagian yang lain.Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan-Nya. Termasuk dalam kekuasaan-Nya adalah apa yang Dia tetapkan untuk kalian.Kelompok Ahli Kitab yang dimaksud dalam ayat ini adalah Bani Quraizhah, salah satu kaum Yahudi yang tinggal di sebuah perkampungan di luar Madinah yang tidak jauh jaraknya.Baca juga: Perang Bani Quraizhah dan Pelajaran di DalamnyaKetika Nabi ﷺ hijrah ke Madinah, beliau membuat perjanjian damai dengan mereka. Mereka hidup dengan agama mereka sendiri, dan Nabi ﷺ tidak memerangi mereka serta tidak pula mengganggu mereka.Namun ketika terjadi Perang Khandaq dan mereka melihat pasukan sekutu yang sangat banyak berkumpul untuk memerangi Rasulullah ﷺ, sementara jumlah kaum Muslimin sedikit, mereka mengira bahwa Rasulullah dan kaum beriman akan dimusnahkan. Hal ini juga dipengaruhi oleh tipu daya sebagian pemimpin mereka.Akhirnya mereka melanggar perjanjian yang telah mereka buat dengan Rasulullah ﷺ dan membantu kaum musyrikin untuk memerangi beliau.Ketika Allah mengalahkan pasukan musyrik, Rasulullah ﷺ kemudian menghadapi Bani Quraizhah. Beliau mengepung mereka di benteng mereka hingga akhirnya mereka menyerah dan menerima keputusan hukum dari Sa’d bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu.Sa’d memutuskan bahwa para lelaki yang ikut berperang dibunuh, sedangkan perempuan dan anak-anak mereka ditawan, serta harta mereka dijadikan rampasan perang.Dengan demikian Allah menyempurnakan nikmat-Nya kepada Rasul-Nya dan kaum beriman. Allah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka, menenangkan hati mereka dengan kekalahan musuh-musuh mereka, membunuh orang-orang yang terbunuh dari musuh itu, serta menawan orang-orang yang ditawan.Dan kelembutan serta pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman terus berlangsung. Pelajaran Penting: Kemenangan bukan semata karena strategi atau jumlah pasukan, melainkan karena Allah yang Mahakuat lagi Mahaperkasa. Pengkhianatan terhadap perjanjian (iman) akan berujung pada kehinaan di dunia dan akhirat.Pesan Utama: Istiqamah dalam kebenaran akan selalu berujung pada kemenangan yang manis, sementara pengkhianatan hanya akan membawa kerugian. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Rabu, 22 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsberperang hikmah perang peperangan dalam islam peperangan di masa Rasulullah perang ahzab perang khandaq renungan renungan ayat renungan quran


Surah Al-Ahzab merupakan salah satu surah Madaniyah yang sarat dengan pelajaran tentang keteguhan iman dan ujian mental. Nama “Al-Ahzab” sendiri merujuk pada pasukan sekutu (koalisi) kafir Quraisy bersama kabilah-kabilah lain yang mengepung Madinah dalam Perang Khandaq.Baca juga: Faedah Sirah Nabi: Perang Ahzab (Perang Khandaq) dan Pelajaran di Dalamnya  Daftar Isi tutup 1. 1. Pertolongan Allah dan Goncangan Ujian bagi Orang Beriman (Ayat 9–11) 2. 2. Mentalitas Pecundang dan Siasat Orang Munafik (Ayat 12–20) 3. 3. Keteladanan Rasulullah dan Keteguhan Iman Kaum Mukminin (Ayat 21–24) 4. 4. Akhir Perjuangan dan Kemenangan bagi Orang Bertakwa (Ayat 25–27)  Berikut adalah pengembangan empat bagian utama kisah Perang Ahzab dalam surah ini sebagai bahan tadabbur kita:1. Pertolongan Allah dan Goncangan Ujian bagi Orang Beriman (Ayat 9–11)Pada bagian awal, Allah mengingatkan kaum mukminin tentang besarnya nikmat pertolongan-Nya. Saat itu, pasukan musuh datang dari “atas” dan “bawah” Madinah, hingga mata kaum Muslimin terbelalak ketakutan dan hati mereka seolah menyesak sampai ke tenggorokan.Allah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ نِعْمَةَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَآءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا “Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ahzab: 9)إِذْ جَآءُوكُم مِّن فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ ٱلْأَبْصَٰرُ وَبَلَغَتِ ٱلْقُلُوبُ ٱلْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِٱللَّهِ ٱلظُّنُونَا۠“(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka.” (QS. Al-Ahzab: 10)هُنَالِكَ ٱبْتُلِىَ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا۟ زِلْزَالًا شَدِيدًا“Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.” (QS. Al-Ahzab: 11)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas sebagai berikut.Allah mengingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman tentang nikmat-Nya kepada mereka dan mendorong mereka untuk mensyukurinya. Nikmat itu terjadi ketika pasukan-pasukan musuh datang menyerang mereka. Pasukan tersebut berasal dari penduduk Makkah dan wilayah Hijaz yang datang dari arah atas mereka, serta dari penduduk Najd yang datang dari arah bawah mereka. Mereka sepakat dan bersekutu untuk memusnahkan Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Peristiwa ini dikenal sebagai Perang Khandaq.Kaum Yahudi yang tinggal di sekitar Madinah juga turut membantu mereka. Mereka bergabung dan mengerahkan pasukan yang besar serta berbagai kelompok manusia yang banyak.Rasulullah ﷺ kemudian menggali parit (khandaq) di sekitar Madinah sebagai strategi pertahanan. Pasukan musuh pun mengepung kota Madinah. Keadaan menjadi sangat genting. Rasa takut semakin memuncak hingga hati terasa naik ke tenggorokan. Sebagian manusia bahkan mulai berprasangka yang bermacam-macam karena melihat sebab-sebab yang tampak begitu kuat dan berbagai kesulitan yang sangat berat.Pengepungan terhadap Madinah berlangsung cukup lama. Keadaan saat itu sebagaimana yang Allah gambarkan dalam firman-Nya:وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَ“Dan (ingatlah) ketika pandangan menjadi liar dan hati menyesak sampai ke tenggorokan, dan kalian berprasangka yang bermacam-macam terhadap Allah.” (QS. Al-Ahzab: 10)Maksudnya, muncul berbagai prasangka buruk pada sebagian orang, seolah-olah Allah tidak akan menolong agama-Nya dan tidak akan menyempurnakan kalimat-Nya (agama Islam).“Di sanalah orang-orang mukmin diuji dan diguncangkan dengan guncangan yang sangat dahsyat.” (QS. Al-Ahzab: 11)Di saat itulah orang-orang beriman diuji dengan ujian yang sangat besar. Mereka diguncang dengan guncangan yang dahsyat berupa rasa takut, kecemasan, dan kelaparan. Semua itu terjadi agar tampak jelas keimanan mereka dan agar keyakinan mereka semakin bertambah kuat.Dalam peristiwa itu tampak—segala puji bagi Allah—betapa kuat iman dan keyakinan mereka, hingga mereka mencapai derajat keimanan yang sangat tinggi.Ketika kesulitan semakin berat dan berbagai penderitaan semakin memuncak, keimanan mereka pun berubah menjadi keyakinan yang nyata. Allah menggambarkan sikap mereka dalam firman-Nya:وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا“Dan ketika orang-orang mukmin melihat pasukan-pasukan itu, mereka berkata, ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami. Benarlah Allah dan Rasul-Nya.’ Dan keadaan itu tidaklah menambah bagi mereka selain iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22)Pada saat yang sama, kemunafikan orang-orang munafik pun menjadi jelas. Apa yang selama ini mereka sembunyikan dalam hati akhirnya tampak nyata. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam ayat selanjutnya. Pelajaran Penting: Ujian berat adalah sunnatullah untuk menyaring siapa yang benar-benar beriman. Namun, bagi mereka yang bersabar, Allah mengirimkan “pasukan tak terlihat” berupa angin kencang dan malaikat untuk memukul mundur musuh.Pesan Utama: Jangan pernah meragukan pertolongan Allah saat kondisi terasa paling menghimpit sekalipun. 2. Mentalitas Pecundang dan Siasat Orang Munafik (Ayat 12–20)Al-Qur’an secara gamblang membongkar isi hati orang munafik saat krisis terjadi. Mereka berkata bahwa janji Allah dan Rasul-Nya hanyalah tipu daya. Mereka mencari-cari alasan (udzur) untuk meninggalkan medan perang dengan dalih “rumah kami tidak aman”, padahal mereka hanya ingin melarikan diri.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذْ يَقُولُ ٱلْمُنَٰفِقُونَ وَٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ مَّا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ إِلَّا غُرُورًا“Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya”.” (QS. Al-Ahzab: 12)وَإِذْ قَالَت طَّآئِفَةٌ مِّنْهُمْ يَٰٓأَهْلَ يَثْرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمْ فَٱرْجِعُوا۟ ۚ وَيَسْتَـْٔذِنُ فَرِيقٌ مِّنْهُمُ ٱلنَّبِىَّ يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوْرَةٌ وَمَا هِىَ بِعَوْرَةٍ ۖ إِن يُرِيدُونَ إِلَّا فِرَارًا“Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mreka berkata: “Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu”. Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata: “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)”. Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanya hendak lari.” (QS. Al-Ahzab: 13)وَلَوْ دُخِلَتْ عَلَيْهِم مِّنْ أَقْطَارِهَا ثُمَّ سُئِلُوا۟ ٱلْفِتْنَةَ لَءَاتَوْهَا وَمَا تَلَبَّثُوا۟ بِهَآ إِلَّا يَسِيرًا“Kalau (Yatsrib) diserang dari segala penjuru, kemudian diminta kepada mereka supaya murtad, niscaya mereka mengerjakannya; dan mereka tiada akan bertangguh untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat.” (QS. Al-Ahzab: 14)وَلَقَدْ كَانُوا۟ عَٰهَدُوا۟ ٱللَّهَ مِن قَبْلُ لَا يُوَلُّونَ ٱلْأَدْبَٰرَ ۚ وَكَانَ عَهْدُ ٱللَّهِ مَسْـُٔولًا“Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah: “Mereka tidak akan berbalik ke belakang (mundur)”. Dan adalah perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Ahzab: 15)قُل لَّن يَنفَعَكُمُ ٱلْفِرَارُ إِن فَرَرْتُم مِّنَ ٱلْمَوْتِ أَوِ ٱلْقَتْلِ وَإِذًا لَّا تُمَتَّعُونَ إِلَّا قَلِيلًا“Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja”. (QS. Al-Ahzab: 16)قُلْ مَن ذَا ٱلَّذِى يَعْصِمُكُم مِّنَ ٱللَّهِ إِنْ أَرَادَ بِكُمْ سُوٓءًا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ رَحْمَةً ۚ وَلَا يَجِدُونَ لَهُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا“Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.” (QS. Al-Ahzab: 17)۞ قَدْ يَعْلَمُ ٱللَّهُ ٱلْمُعَوِّقِينَ مِنكُمْ وَٱلْقَآئِلِينَ لِإِخْوَٰنِهِمْ هَلُمَّ إِلَيْنَا ۖ وَلَا يَأْتُونَ ٱلْبَأْسَ إِلَّا قَلِيلًا“Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya: “Marilah kepada kami”. Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar.” (QS. Al-Ahzab: 18)أَشِحَّةً عَلَيْكُمْ ۖ فَإِذَا جَآءَ ٱلْخَوْفُ رَأَيْتَهُمْ يَنظُرُونَ إِلَيْكَ تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ كَٱلَّذِى يُغْشَىٰ عَلَيْهِ مِنَ ٱلْمَوْتِ ۖ فَإِذَا ذَهَبَ ٱلْخَوْفُ سَلَقُوكُم بِأَلْسِنَةٍ حِدَادٍ أَشِحَّةً عَلَى ٱلْخَيْرِ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوا۟ فَأَحْبَطَ ٱللَّهُ أَعْمَٰلَهُمْ ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرًا“Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 19)يَحْسَبُونَ ٱلْأَحْزَابَ لَمْ يَذْهَبُوا۟ ۖ وَإِن يَأْتِ ٱلْأَحْزَابُ يَوَدُّوا۟ لَوْ أَنَّهُم بَادُونَ فِى ٱلْأَعْرَابِ يَسْـَٔلُونَ عَنْ أَنۢبَآئِكُمْ ۖ وَلَوْ كَانُوا۟ فِيكُم مَّا قَٰتَلُوٓا۟ إِلَّا قَلِيلًا“Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badwi, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu. Dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja.” (QS. Al-Ahzab: 20)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas sebagai berikut.“Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit berkata, ‘Tidaklah Allah dan Rasul-Nya menjanjikan kepada kami selain tipu daya belaka.’” (QS. Al-Ahzab: 12)Inilah kebiasaan orang munafik ketika menghadapi kesulitan dan ujian. Iman mereka tidak kokoh. Mereka menilai keadaan hanya dengan akal yang pendek dan pandangan yang sempit, lalu membenarkan prasangka buruk mereka sendiri.“Dan (ingatlah) ketika segolongan dari mereka berkata, ‘Wahai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagi kalian (untuk bertahan di sini), maka kembalilah kalian.’ Dan sebagian dari mereka meminta izin kepada Nabi dengan berkata, ‘Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak terjaga).’ Padahal rumah-rumah itu tidaklah terbuka; mereka tidak menghendaki selain melarikan diri.” (QS. Al-Ahzab: 13)Sebagian orang munafik, ketika rasa takut meliputi mereka dan kesabaran mereka melemah, menjadi orang-orang yang gagal dan putus asa. Mereka bukan hanya tidak mampu bersabar sendiri, tetapi juga berusaha melemahkan orang lain.Mereka berkata, “Wahai penduduk Yatsrib!” maksudnya adalah penduduk Madinah. Mereka menyebut kota itu dengan nama lamanya (Yatsrib berarti cercaan), seakan-akan mereka tidak mempedulikan persaudaraan iman dan agama. Yang mendorong mereka hanyalah kelemahan dan ketakutan.Mereka berkata, “Tidak ada tempat bagi kalian di sini, maka kembalilah!” Maksudnya, kembalilah ke kota Madinah. Dengan ucapan ini mereka melemahkan semangat kaum Muslimin untuk berjihad dan menyatakan bahwa mereka tidak memiliki kekuatan menghadapi musuh.Kelompok ini adalah kelompok yang paling buruk dan paling berbahaya. Ada pula kelompok lain yang lebih lemah dari mereka. Kelompok ini diliputi rasa takut dan ingin mundur dari barisan, sehingga mereka mencari-cari alasan yang tidak benar.Mereka berkata kepada Nabi ﷺ, “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka.” Maksudnya, rumah-rumah kami terancam bahaya dan kami khawatir musuh akan menyerangnya ketika kami tidak berada di sana, maka izinkanlah kami kembali untuk menjaganya.Padahal mereka berdusta. Allah menegaskan bahwa tujuan mereka hanyalah melarikan diri. Inilah keadaan orang-orang yang imannya lemah dan tidak kokoh ketika menghadapi ujian yang berat.Baca juga: Cinta Dunia dan Takut Mati“Seandainya kota itu diserang dari segala penjuru, kemudian mereka diminta untuk murtad (dari agama), niscaya mereka akan melakukannya, dan mereka tidak akan menundanya kecuali sebentar saja.” (QS. Al-Ahzab: 14)Artinya, seandainya musuh berhasil memasuki Madinah dari berbagai penjuru dan menguasainya, lalu mereka diminta meninggalkan agama mereka dan kembali kepada agama orang-orang yang menang, niscaya mereka akan segera melakukannya. Mereka tidak memiliki keteguhan dalam mempertahankan agama.Baca juga: Diancam Murtad“Padahal sebelumnya mereka telah berjanji kepada Allah bahwa mereka tidak akan berpaling ke belakang. Dan janji kepada Allah itu pasti akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Ahzab: 15)Padahal sebelumnya mereka telah berjanji kepada Allah untuk tidak mundur dari medan perjuangan. Janji kepada Allah pasti akan dimintai pertanggungjawaban. Mereka akan ditanya tentang janji tersebut, dan ternyata mereka telah melanggarnya.Baca juga: Bahaya Melanggar Perjanjian dengan Allah dan Dampaknya Bagi Hati“Katakanlah, ‘Melarikan diri tidak akan bermanfaat bagi kalian jika kalian lari dari kematian atau pembunuhan. Jika pun demikian, kalian hanya akan menikmati kehidupan sebentar saja.’” (QS. Al-Ahzab: 16)Katakanlah kepada mereka bahwa melarikan diri tidak akan memberi manfaat apa pun. Jika seseorang telah ditakdirkan mati atau terbunuh, maka hal itu pasti akan terjadi. Seandainya mereka tetap berada di rumah mereka, orang yang telah ditakdirkan mati tetap akan keluar menuju tempat kematiannya.Sebab-sebab memang dapat memberi manfaat selama tidak bertentangan dengan takdir Allah. Namun ketika takdir Allah telah datang, semua sebab akan hilang dan semua usaha manusia tidak lagi berguna.Kalaupun mereka melarikan diri untuk menikmati kehidupan dunia, kesenangan itu hanyalah sementara dan tidak sebanding dengan kenikmatan abadi yang mereka tinggalkan.Baca juga: Kematian yang Tidak Bisa Dihindari“Katakanlah, ‘Siapakah yang dapat melindungi kalian dari Allah jika Dia menghendaki keburukan bagi kalian atau menghendaki rahmat bagi kalian?’ Mereka tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah.” (QS. Al-Ahzab: 17)Ayat ini menjelaskan bahwa semua sebab tidak dapat menyelamatkan manusia jika Allah menghendaki keburukan baginya. Allah adalah Dzat yang memberi dan menahan, yang mendatangkan manfaat dan menolak mudarat. Tidak ada yang dapat mendatangkan kebaikan kecuali Dia, dan tidak ada yang dapat menolak keburukan kecuali Dia.Karena itu hendaknya manusia menaati Allah, Dzat yang mengatur seluruh urusan, yang kehendak-Nya pasti terlaksana dan takdir-Nya pasti terjadi.“Sungguh Allah mengetahui orang-orang di antara kalian yang menghalang-halangi (orang lain) dan yang berkata kepada saudara-saudaranya, ‘Marilah kepada kami.’ Dan mereka tidak datang ke medan perang kecuali sedikit saja.” (QS. Al-Ahzab: 18)Allah mengetahui orang-orang yang menghalangi manusia dari berjihad dan berkata kepada saudara-saudara mereka, “Kembalilah kepada kami,” sebagaimana ucapan mereka sebelumnya, “Wahai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagi kalian di sini, maka kembalilah.”Mereka sendiri hampir tidak pernah datang ke medan peperangan. Mereka sangat ingin tertinggal karena tidak ada dorongan iman dan kesabaran dalam diri mereka, sementara sebab-sebab yang mendorong rasa takut dan kemunafikan sangat kuat.“Mereka sangat kikir terhadap kalian. Ketika datang rasa takut, engkau melihat mereka memandang kepadamu dengan mata terbelalak seperti orang yang pingsan karena takut mati. Tetapi ketika rasa takut itu hilang, mereka mencela kalian dengan kata-kata yang tajam, dan mereka sangat kikir terhadap kebaikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak beriman, maka Allah menghapus amal-amal mereka. Dan yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 19)Mereka kikir dengan diri mereka dalam peperangan dan kikir dengan harta mereka untuk berinfak di jalan Allah. Ketika rasa takut datang, mereka memandang dengan mata yang berputar-putar seperti orang yang hampir mati karena ketakutan.Namun ketika keadaan kembali aman, mereka berbicara dengan kata-kata keras dan penuh klaim seolah-olah mereka adalah orang-orang yang berani.Sifat paling buruk dalam diri manusia adalah kikir terhadap kebaikan: kikir dengan hartanya untuk berinfak di jalan Allah, kikir dengan dirinya untuk berjihad dan berdakwah, kikir dengan kedudukannya, ilmunya, nasihatnya, dan pendapatnya.Orang-orang seperti ini tidak memiliki iman. Karena itu Allah menghapus amal-amal mereka, dan hal itu sangat mudah bagi Allah.Adapun orang-orang beriman, Allah menjaga mereka dari sifat kikir dan memberi taufik kepada mereka untuk mengorbankan diri, harta, kedudukan, dan ilmu mereka di jalan Allah.“Mereka mengira bahwa pasukan-pasukan sekutu itu belum pergi. Jika pasukan-pasukan itu datang lagi, mereka ingin berada di tengah orang-orang Badui di padang pasir sambil menanyakan kabar tentang kalian. Sekiranya mereka berada bersama kalian, mereka tidak akan berperang kecuali sedikit saja.” (QS. Al-Ahzab: 20)Orang-orang munafik itu mengira pasukan sekutu belum benar-benar pergi dan akan kembali menyerang hingga memusnahkan kaum Muslimin. Jika pasukan itu datang lagi, mereka berharap tidak berada di Madinah, tetapi tinggal bersama orang-orang Badui di padang pasir, hanya mendengar kabar dari jauh tentang apa yang terjadi pada kaum Muslimin.Walaupun mereka berada di tengah kaum Muslimin, mereka hampir tidak ikut berperang kecuali sedikit saja. Oleh karena itu, tidak perlu mempedulikan mereka dan tidak perlu bersedih atas ketidakhadiran mereka. Pelajaran Penting: Karakter orang munafik adalah bakhil (pelit) terhadap kebaikan dan sangat penakut. Ketika bahaya datang, mata mereka berputar-putar karena takut mati, namun ketika bahaya hilang, mereka mencela kaum mukminin dengan lisan yang tajam.Pesan Utama: Waspadai sifat mencari-cari alasan dalam beribadah atau berjihad, karena itu adalah salah satu ciri kemunafikan. 3. Keteladanan Rasulullah dan Keteguhan Iman Kaum Mukminin (Ayat 21–24)Di tengah kepungan musuh, Allah menetapkan Nabi Muhammad sebagai Uswatun Hasanah (suri teladan yang baik). Berbeda dengan orang munafik, kaum mukminin ketika melihat pasukan musuh justru berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.”Allah Ta’ala berfirman,لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)وَلَمَّا رَءَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلْأَحْزَابَ قَالُوا۟ هَٰذَا مَا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَصَدَقَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ ۚ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّآ إِيمَٰنًا وَتَسْلِيمًا“Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22)مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا۟ مَا عَٰهَدُوا۟ ٱللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُۥ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا۟ تَبْدِيلًا“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya).” (QS. Al-Ahzab: 23)لِّيَجْزِىَ ٱللَّهُ ٱلصَّٰدِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ ٱلْمُنَٰفِقِينَ إِن شَآءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا“supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 24)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas sebagai berikut.“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)Ayat ini menunjukkan bahwa pada diri Rasulullah ﷺ terdapat teladan yang sangat baik. Beliau sendiri hadir dalam medan peperangan, terjun langsung menghadapi pertempuran, padahal beliau adalah manusia yang paling mulia, paling sempurna, dan paling berani.Jika Rasulullah ﷺ yang memiliki kedudukan begitu tinggi saja turun langsung menghadapi kesulitan dan bahaya, lalu bagaimana mungkin seseorang merasa enggan mengorbankan dirinya dalam perkara yang Rasulullah ﷺ sendiri telah melakukannya?Karena itu, hendaknya kaum Muslimin meneladani beliau dalam perkara ini dan dalam seluruh urusan lainnya.Para ulama usul fikih juga menjadikan ayat ini sebagai dalil bahwa perbuatan Rasulullah ﷺ dapat dijadikan hujah (landasan hukum). Pada dasarnya, umat beliau diperintahkan meneladani beliau dalam hukum-hukum syariat, kecuali jika ada dalil khusus yang menunjukkan bahwa suatu perkara hanya berlaku bagi beliau.Teladan itu ada dua macam:Pertama, teladan yang baik (uswah hasanah).Teladan yang baik terdapat pada diri Rasulullah ﷺ. Orang yang meneladani beliau berarti sedang menempuh jalan yang mengantarkannya kepada kemuliaan di sisi Allah, yaitu jalan yang lurus.Kedua, teladan yang buruk.Yaitu meneladani selain Rasulullah ﷺ ketika mereka menyelisihi beliau. Inilah teladan yang buruk, sebagaimana perkataan orang-orang kafir ketika para rasul mengajak mereka mengikuti kebenaran:إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ“Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan kami hanya mengikuti jejak mereka.” (QS. Az-Zukhruf: 22)Teladan yang baik ini hanya akan ditempuh dan dimudahkan bagi orang yang benar-benar berharap kepada Allah dan hari akhir. Keimanan, rasa takut kepada Allah, harapan terhadap pahala-Nya, serta rasa takut terhadap azab-Nya akan mendorong seseorang untuk meneladani Rasulullah ﷺ dalam seluruh kehidupannya.“Dan ketika orang-orang mukmin melihat pasukan-pasukan itu, mereka berkata, ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami, dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.’ Keadaan itu tidak menambah bagi mereka selain iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22)Setelah Allah menyebutkan keadaan orang-orang munafik ketika diliputi rasa takut, Allah kemudian menjelaskan keadaan orang-orang beriman.Ketika orang-orang beriman melihat pasukan-pasukan sekutu yang berkumpul dan telah mengambil posisi untuk menyerang, rasa takut memang muncul. Namun mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami.”Maksudnya adalah janji yang disebutkan dalam firman Allah:أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian ujian seperti yang dialami orang-orang sebelum kalian? Mereka ditimpa kesengsaraan dan penderitaan serta diguncang dengan berbagai cobaan, sampai Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, ‘Kapankah datang pertolongan Allah?’ Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)Karena itu mereka berkata, “Benarlah Allah dan Rasul-Nya.” Mereka benar-benar menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri apa yang sebelumnya telah diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya.Peristiwa besar itu justru tidak menambah bagi mereka selain bertambahnya iman di dalam hati mereka dan ketundukan pada anggota tubuh mereka, yaitu kepatuhan dan ketaatan terhadap perintah Allah.“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang telah gugur (menunaikan janjinya), dan di antara mereka ada pula yang masih menunggu. Dan mereka tidak mengubah (janji mereka) sedikit pun.” (QS. Al-Ahzab: 23)Setelah Allah menyebutkan bahwa orang-orang munafik telah berjanji kepada Allah untuk tidak mundur dari medan perjuangan, tetapi kemudian mereka melanggar janji itu, Allah lalu menyebutkan keadaan orang-orang beriman yang justru menepati janji mereka.Di antara orang-orang beriman terdapat para lelaki sejati yang benar dalam janji mereka kepada Allah. Mereka menepati, menyempurnakan, dan melaksanakan janji itu dengan sepenuh hati. Mereka mengorbankan jiwa mereka demi keridaan Allah dan menyerahkan diri mereka untuk ketaatan kepada-Nya.Sebagian dari mereka telah menunaikan janjinya, yaitu mereka telah mencapai apa yang mereka inginkan dan memenuhi kewajiban yang ada pada diri mereka. Mereka gugur di jalan Allah atau wafat setelah menunaikan kewajiban mereka tanpa mengurangi sedikit pun.Sebagian yang lain masih menunggu, yaitu mereka masih melanjutkan perjuangan untuk menyempurnakan janji mereka. Mereka terus berusaha dan bersungguh-sungguh untuk menunaikan apa yang menjadi kewajiban mereka kepada Allah.Mereka tidak pernah mengubah janji mereka sedikit pun, berbeda dengan orang lain yang mengkhianatinya. Mereka tetap teguh pada janji tersebut, tidak menyimpang dan tidak berubah.فَهَؤُلَاءِ الرِّجَالُ عَلَى الْحَقِيقَةِ، وَمَنْ عَدَاهُمْ فَصُوَرُهُمْ صُوَرُ رِجَالٍ، وَأَمَّا الصِّفَاتُ فَقَدْ قَصُرَتْ عَنْ صِفَاتِ الرِّجَالِ.Merekalah para lelaki sejati dalam makna yang sebenarnya. Adapun selain mereka, mungkin hanya memiliki rupa seperti lelaki, tetapi sifat-sifat mereka jauh dari sifat para lelaki yang sebenarnya.“Agar Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang jujur karena kejujuran mereka dan mengazab orang-orang munafik jika Dia menghendaki, atau menerima tobat mereka. Sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 24) Maksudnya, Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang jujur karena kejujuran mereka dalam ucapan, keadaan, dan hubungan mereka dengan Allah. Lahir dan batin mereka selaras, tidak ada perbedaan antara yang tampak dan yang tersembunyi.Allah Ta’ala juga berfirman:هَٰذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ ۚ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا“Ini adalah hari ketika orang-orang yang jujur mendapatkan manfaat dari kejujuran mereka. Bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.” (QS. Al-Ma’idah: 119)Artinya, Allah menetapkan berbagai ujian, kesulitan, dan guncangan itu agar tampak jelas siapa yang jujur dan siapa yang dusta. Dengan demikian Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang jujur atas kejujuran mereka.Adapun orang-orang munafik, mereka disiksa karena hati dan perbuatan mereka berubah ketika datangnya ujian. Mereka tidak menepati janji yang telah mereka buat kepada Allah.Firman Allah “jika Dia menghendaki” maksudnya, jika Allah menghendaki untuk mengazab mereka, yaitu ketika Dia tidak menghendaki memberi mereka hidayah, karena Dia mengetahui bahwa tidak ada kebaikan pada diri mereka, sehingga mereka tidak diberi taufik.Atau Allah menerima tobat mereka, yaitu dengan memberi mereka taufik untuk bertobat dan kembali kepada-Nya. Inilah yang lebih sering terjadi karena keluasan kemurahan Allah.Karena itu ayat ini ditutup dengan dua nama Allah yang menunjukkan ampunan dan kasih sayang-Nya:إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًاAllah Maha Pengampun terhadap dosa orang-orang yang melampaui batas terhadap diri mereka, meskipun mereka banyak melakukan maksiat, selama mereka datang dengan tobat.Dan Allah Maha Penyayang kepada mereka, dengan memberi taufik untuk bertobat, kemudian menerima tobat tersebut, serta menutupi dosa-dosa yang pernah mereka lakukan. Pelajaran Penting: Ujian bagi orang mukmin tidak mengurangi iman, justru menambah ketundukan. Mereka adalah orang-orang yang menepati janji setianya kepada Allah; ada yang telah gugur dan ada yang masih menunggu gilirannya tanpa mengubah janji sedikit pun.Pesan Utama: Jadikan Rasulullah sebagai standar bersikap dalam menghadapi kesulitan hidup. 4. Akhir Perjuangan dan Kemenangan bagi Orang Bertakwa (Ayat 25–27)Bagian penutup menjelaskan hasil akhir dari peperangan. Allah memukul mundur pasukan kafir dengan kemarahan mereka sendiri tanpa membawa hasil (harta rampasan) sedikit pun. Allah juga memberikan hukuman bagi kaum Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang berkhianat dan membantu musuh dari dalam.Allah Ta’ala berfirman,وَرَدَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِغَيْظِهِمْ لَمْ يَنَالُوا۟ خَيْرًا ۚ وَكَفَى ٱللَّهُ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱلْقِتَالَ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزًا“Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al-Ahzab: 25)وَأَنزَلَ ٱلَّذِينَ ظَٰهَرُوهُم مِّنْ أَهْلِ ٱلْكِتَٰبِ مِن صَيَاصِيهِمْ وَقَذَفَ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعْبَ فَرِيقًا تَقْتُلُونَ وَتَأْسِرُونَ فَرِيقًا“Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan.” (QS. Al-Ahzab: 26)وَأَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَدِيَٰرَهُمْ وَأَمْوَٰلَهُمْ وَأَرْضًا لَّمْ تَطَـُٔوهَا ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرًا“Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. Dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 27)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas sebagai berikut.“Dan Allah mengembalikan orang-orang kafir itu dengan penuh kemarahan mereka, mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan Allah mencukupkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (QS. Al-Ahzab: 25)Allah mengembalikan orang-orang kafir itu dalam keadaan kecewa dan marah. Mereka tidak mendapatkan apa pun dari tujuan yang mereka inginkan. Mereka datang dengan kemarahan besar, penuh ambisi, dan yakin akan memperoleh kemenangan. Mereka tertipu oleh banyaknya pasukan yang mereka kumpulkan, bangga dengan persatuan mereka, serta merasa kuat karena jumlah dan perlengkapan mereka.Namun Allah mengirimkan kepada mereka angin yang sangat kencang, yaitu angin ash-shabā. Angin itu mengguncang posisi mereka, merobohkan tenda-tenda mereka, menumpahkan periuk-periuk mereka, dan membuat mereka gelisah. Allah juga menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka sehingga mereka pulang dalam keadaan marah dan kecewa. Inilah salah satu bentuk pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.Allah pun mencukupkan orang-orang beriman dari peperangan melalui sebab-sebab yang Allah tetapkan, baik sebab yang tampak maupun sebab yang ditakdirkan-Nya. Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa. Tidak ada yang mampu mengalahkan-Nya kecuali pasti akan dikalahkan. Tidak ada yang meminta pertolongan kepada-Nya kecuali pasti akan dimenangkan. Tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan-Nya jika Dia menghendakinya. Kekuatan dan kemuliaan manusia tidak akan berguna jika Allah tidak menolong mereka dengan kekuatan dan kemuliaan-Nya.“Dan Dia menurunkan orang-orang dari Ahli Kitab yang membantu mereka dari benteng-benteng mereka, serta menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebagian dari mereka kalian bunuh dan sebagian yang lain kalian tawan.” (QS. Al-Ahzab: 26)Allah juga menurunkan orang-orang dari Ahli Kitab yang membantu pasukan sekutu, yaitu kaum Yahudi, dari benteng-benteng mereka. Mereka diturunkan dari benteng itu dalam keadaan dikalahkan dan berada di bawah kekuasaan kaum Muslimin.Allah menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka sehingga mereka tidak mampu lagi melawan. Mereka menyerah, tunduk, dan terhina. Sebagian dari mereka dibunuh, yaitu para lelaki yang ikut berperang, sedangkan sebagian yang lain ditawan, yaitu perempuan dan anak-anak.وَأَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَدِيَارَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ وَأَرْضًا لَّمْ تَطَئُوهَا ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرًا“Dan Dia mewariskan kepada kalian tanah-tanah mereka, rumah-rumah mereka, harta-harta mereka, serta tanah yang belum pernah kalian injak. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 27)Allah memberikan kepada kalian tanah mereka, rumah-rumah mereka, harta-harta mereka, serta tanah yang sebelumnya tidak pernah kalian injak. Tanah itu dahulu begitu terhormat dan kuat di mata pemiliknya sehingga kalian tidak mampu menguasainya. Namun Allah memberi kalian kekuasaan atasnya, menghinakan mereka, dan menjadikan kalian memperoleh harta mereka. Kalian membunuh sebagian dari mereka dan menawan sebagian yang lain.Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan-Nya. Termasuk dalam kekuasaan-Nya adalah apa yang Dia tetapkan untuk kalian.Kelompok Ahli Kitab yang dimaksud dalam ayat ini adalah Bani Quraizhah, salah satu kaum Yahudi yang tinggal di sebuah perkampungan di luar Madinah yang tidak jauh jaraknya.Baca juga: Perang Bani Quraizhah dan Pelajaran di DalamnyaKetika Nabi ﷺ hijrah ke Madinah, beliau membuat perjanjian damai dengan mereka. Mereka hidup dengan agama mereka sendiri, dan Nabi ﷺ tidak memerangi mereka serta tidak pula mengganggu mereka.Namun ketika terjadi Perang Khandaq dan mereka melihat pasukan sekutu yang sangat banyak berkumpul untuk memerangi Rasulullah ﷺ, sementara jumlah kaum Muslimin sedikit, mereka mengira bahwa Rasulullah dan kaum beriman akan dimusnahkan. Hal ini juga dipengaruhi oleh tipu daya sebagian pemimpin mereka.Akhirnya mereka melanggar perjanjian yang telah mereka buat dengan Rasulullah ﷺ dan membantu kaum musyrikin untuk memerangi beliau.Ketika Allah mengalahkan pasukan musyrik, Rasulullah ﷺ kemudian menghadapi Bani Quraizhah. Beliau mengepung mereka di benteng mereka hingga akhirnya mereka menyerah dan menerima keputusan hukum dari Sa’d bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu.Sa’d memutuskan bahwa para lelaki yang ikut berperang dibunuh, sedangkan perempuan dan anak-anak mereka ditawan, serta harta mereka dijadikan rampasan perang.Dengan demikian Allah menyempurnakan nikmat-Nya kepada Rasul-Nya dan kaum beriman. Allah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka, menenangkan hati mereka dengan kekalahan musuh-musuh mereka, membunuh orang-orang yang terbunuh dari musuh itu, serta menawan orang-orang yang ditawan.Dan kelembutan serta pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman terus berlangsung. Pelajaran Penting: Kemenangan bukan semata karena strategi atau jumlah pasukan, melainkan karena Allah yang Mahakuat lagi Mahaperkasa. Pengkhianatan terhadap perjanjian (iman) akan berujung pada kehinaan di dunia dan akhirat.Pesan Utama: Istiqamah dalam kebenaran akan selalu berujung pada kemenangan yang manis, sementara pengkhianatan hanya akan membawa kerugian. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Rabu, 22 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsberperang hikmah perang peperangan dalam islam peperangan di masa Rasulullah perang ahzab perang khandaq renungan renungan ayat renungan quran
Prev     Next