Kesibukan yang Menipu Prioritas: Terjerat Aktivitas, Terlupa Kewajiban

Daftar Isi ToggleMenata prioritas dalam kehidupanAgar tidak tertipu kesibukanDalam hidup ini, semua orang pasti memiliki kesibukan. Namun, tidak semua kesibukan itu bernilai di sisi Allah Ta’ala. Seorang muslim memiliki ciri khas yang membedakannya. Ia tidak hanya sibuk, tetapi sibuk dengan arah, sibuk dengan panduan, serta sibuk dengan sesuatu yang bernilai untuk akhiratnya. Ia memahami bahwa hidup di dunia bukan sekadar aktivitas tanpa tujuan, tetapi perjalanan yang harus ditata prioritasnya.Allah Ta’ala mengingatkan dalam firman-Nya,ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ“Dia-lah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)Dari ayat di atas, dapat kita ketahui bahwa Allah itu tidak hanya meminta kita untuk beramal dan mencari kesibukan, namun juga beramal dengan amalan yang terbaik dan kesibukan yang terarah.Fudhail bin ’Iyadh rahimahullah mengatakan,أحسن عملا: أخلصه وأصوبه. العمل لا يقبل حتى يكون خالصًا صوابًا الخالص: إذا كان لله والصواب: إذا كان على السنة“Ahsanu ’amalan adalah yang paling ikhlas dan yang paling benar. Suatu amalan tidak akan diterima hingga amal itu ikhlas dan benar. Ikhlas jika amal itu ditujukan hanya untuk Allah, sedangkan benar jika amal itu sesuai dengan sunah (tuntutan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).” (Ma’aalim al-Tanziil, Tafsir al-Baghawi, 8: 176)Kesibukan seorang muslim harus senantiasa berpijak pada dua pilar ini: ikhlas dan ittiba’ (mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).Baca juga: Jangan Salah Prioritas dalam Menuntut IlmuMenata prioritas dalam kehidupanUntuk meraih amalan terbaik, seorang muslim harus mengetahui apa yang paling Allah Ta’ala prioritaskan. Dalam Islam, susunan prioritas itu sangat jelas, yaitu dengan mendahulukan yang wajib sebelum yang sunah, mendahulukan yang utama sebelum yang sekadar baik.Allah Ta’ala berfirman dalam hadis qudsi,مَا تَقَرَّبَ إِلِيَّ عَبْدِيْ بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلِيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ. ولايَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ“Tidaklah seorang hamba–Ku mendekatkan diri kepada–Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal–hal yang telah Aku wajibkan baginya. Dan hamba–Ku senantiasa mendekatkan diri kepada–Ku dengan amalan–amalan nafilah (sunah) hingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari)Hadis ini mengajarkan bahwa tidak ada amalan sunah yang bisa menyaingi kemuliaan amalan wajib. Salat sunah tidak akan mengalahkan salat wajib, sedekah sunah tidak mendahului zakat, dan aktivitas kebaikan apa pun tidak boleh membuat kita mengabaikan kewajiban utama yang telah Allah Ta’ala tentukan dan perintahkan.Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah memberikan nasihat berharga,أن النافلة لا تقدم على الفريضة لأن النافلة انما سميت نافلة لأنها تأتي زائدة على الفريضة. قال بعض الأكابر: من شغله الفرض عن النفل فهو معذور، ومن شغله النفل عن الفرض فهو مغرور“Sesungguhnya amalan sunah tidak boleh didahulukan di atas amalan yang wajib, karena amalan sunah itu posisinya hanyalah tambahan untuk amalan yang wajib. Sebagian ulama besar berkata, ‘Barang siapa yang sibuk mengerjakan amalan yang wajib, lalu tidak sempat mengerjakan amalan yang sunah, maka dia dimaafkan (dimaklumi). Tapi siapa yang sibuk dengan amalan yang sunah, lalu melalaikan amalan yang wajib, maka dia telah tertipu (terperdaya oleh setan)’.” (Fathul Baari, 11: 343)Betapa banyak orang yang sibuk dalam amalan sunah, bahkan perkara yang mubah, namun lupa kewajiban utamanya, salatnya terabaikan, keluarganya terbengkalai dan kurang diperhatikan, serta amanah yang tidak tertunaikan. Ia tampak sibuk beramal, padahal ia sedang tertipu.Agar tidak tertipu kesibukanKesibukan yang benar adalah kesibukan yang Allah ridai. Ia bukan sekadar padatnya agenda, tetapi benarnya arah. Bukan sekadar banyaknya aktivitas, tetapi tepatnya prioritas. Sebab, tidak semua yang tampak produktif itu benar-benar mendekatkan kepada akhirat. Banyak orang yang terlihat sibuk bekerja, sibuk mengejar target, sibuk membangun usaha, namun lupa bahwa kesibukan terbesar adalah mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah mati.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْ تِ وَالْعَا جِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَا هَا وَتَمَنَّى عَلَى اللّٰهِ اْلأَ مَا نِيَّ“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan (mengoreksi) dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kosong (berlebihan) kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)Seorang muslim yang cerdas akan selalu bertanya pada dirinya:Apakah kesibukanku hari ini mendekatkan diriku kepada Allah atau justru menjauhkanku dari-Nya?Apakah yang aku dahulukan adalah yang Allah dahulukan?Apakah kesibukan ini benar-benar kebutuhan, atau hanya dorongan nafsu dan ambisi yang membungkus diri dengan alasan kebaikan?Karena sejatinya, setiap kesibukan yang tidak membawa kita mendekat kepada Allah Ta’ala adalah kesibukan yang kosong, melelahkan, dan tak bernilai.Semoga Allah Ta’ala menata prioritas kita, membersihkan niat kita, dan menjadikan kesibukan kita sebagai kesibukan yang benar dan bernilai di sisi-Nya. Aamiin.Baca juga: Pentingnya Memahami Skala Prioritas dalam Beramal***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id

Kesibukan yang Menipu Prioritas: Terjerat Aktivitas, Terlupa Kewajiban

Daftar Isi ToggleMenata prioritas dalam kehidupanAgar tidak tertipu kesibukanDalam hidup ini, semua orang pasti memiliki kesibukan. Namun, tidak semua kesibukan itu bernilai di sisi Allah Ta’ala. Seorang muslim memiliki ciri khas yang membedakannya. Ia tidak hanya sibuk, tetapi sibuk dengan arah, sibuk dengan panduan, serta sibuk dengan sesuatu yang bernilai untuk akhiratnya. Ia memahami bahwa hidup di dunia bukan sekadar aktivitas tanpa tujuan, tetapi perjalanan yang harus ditata prioritasnya.Allah Ta’ala mengingatkan dalam firman-Nya,ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ“Dia-lah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)Dari ayat di atas, dapat kita ketahui bahwa Allah itu tidak hanya meminta kita untuk beramal dan mencari kesibukan, namun juga beramal dengan amalan yang terbaik dan kesibukan yang terarah.Fudhail bin ’Iyadh rahimahullah mengatakan,أحسن عملا: أخلصه وأصوبه. العمل لا يقبل حتى يكون خالصًا صوابًا الخالص: إذا كان لله والصواب: إذا كان على السنة“Ahsanu ’amalan adalah yang paling ikhlas dan yang paling benar. Suatu amalan tidak akan diterima hingga amal itu ikhlas dan benar. Ikhlas jika amal itu ditujukan hanya untuk Allah, sedangkan benar jika amal itu sesuai dengan sunah (tuntutan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).” (Ma’aalim al-Tanziil, Tafsir al-Baghawi, 8: 176)Kesibukan seorang muslim harus senantiasa berpijak pada dua pilar ini: ikhlas dan ittiba’ (mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).Baca juga: Jangan Salah Prioritas dalam Menuntut IlmuMenata prioritas dalam kehidupanUntuk meraih amalan terbaik, seorang muslim harus mengetahui apa yang paling Allah Ta’ala prioritaskan. Dalam Islam, susunan prioritas itu sangat jelas, yaitu dengan mendahulukan yang wajib sebelum yang sunah, mendahulukan yang utama sebelum yang sekadar baik.Allah Ta’ala berfirman dalam hadis qudsi,مَا تَقَرَّبَ إِلِيَّ عَبْدِيْ بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلِيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ. ولايَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ“Tidaklah seorang hamba–Ku mendekatkan diri kepada–Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal–hal yang telah Aku wajibkan baginya. Dan hamba–Ku senantiasa mendekatkan diri kepada–Ku dengan amalan–amalan nafilah (sunah) hingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari)Hadis ini mengajarkan bahwa tidak ada amalan sunah yang bisa menyaingi kemuliaan amalan wajib. Salat sunah tidak akan mengalahkan salat wajib, sedekah sunah tidak mendahului zakat, dan aktivitas kebaikan apa pun tidak boleh membuat kita mengabaikan kewajiban utama yang telah Allah Ta’ala tentukan dan perintahkan.Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah memberikan nasihat berharga,أن النافلة لا تقدم على الفريضة لأن النافلة انما سميت نافلة لأنها تأتي زائدة على الفريضة. قال بعض الأكابر: من شغله الفرض عن النفل فهو معذور، ومن شغله النفل عن الفرض فهو مغرور“Sesungguhnya amalan sunah tidak boleh didahulukan di atas amalan yang wajib, karena amalan sunah itu posisinya hanyalah tambahan untuk amalan yang wajib. Sebagian ulama besar berkata, ‘Barang siapa yang sibuk mengerjakan amalan yang wajib, lalu tidak sempat mengerjakan amalan yang sunah, maka dia dimaafkan (dimaklumi). Tapi siapa yang sibuk dengan amalan yang sunah, lalu melalaikan amalan yang wajib, maka dia telah tertipu (terperdaya oleh setan)’.” (Fathul Baari, 11: 343)Betapa banyak orang yang sibuk dalam amalan sunah, bahkan perkara yang mubah, namun lupa kewajiban utamanya, salatnya terabaikan, keluarganya terbengkalai dan kurang diperhatikan, serta amanah yang tidak tertunaikan. Ia tampak sibuk beramal, padahal ia sedang tertipu.Agar tidak tertipu kesibukanKesibukan yang benar adalah kesibukan yang Allah ridai. Ia bukan sekadar padatnya agenda, tetapi benarnya arah. Bukan sekadar banyaknya aktivitas, tetapi tepatnya prioritas. Sebab, tidak semua yang tampak produktif itu benar-benar mendekatkan kepada akhirat. Banyak orang yang terlihat sibuk bekerja, sibuk mengejar target, sibuk membangun usaha, namun lupa bahwa kesibukan terbesar adalah mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah mati.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْ تِ وَالْعَا جِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَا هَا وَتَمَنَّى عَلَى اللّٰهِ اْلأَ مَا نِيَّ“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan (mengoreksi) dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kosong (berlebihan) kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)Seorang muslim yang cerdas akan selalu bertanya pada dirinya:Apakah kesibukanku hari ini mendekatkan diriku kepada Allah atau justru menjauhkanku dari-Nya?Apakah yang aku dahulukan adalah yang Allah dahulukan?Apakah kesibukan ini benar-benar kebutuhan, atau hanya dorongan nafsu dan ambisi yang membungkus diri dengan alasan kebaikan?Karena sejatinya, setiap kesibukan yang tidak membawa kita mendekat kepada Allah Ta’ala adalah kesibukan yang kosong, melelahkan, dan tak bernilai.Semoga Allah Ta’ala menata prioritas kita, membersihkan niat kita, dan menjadikan kesibukan kita sebagai kesibukan yang benar dan bernilai di sisi-Nya. Aamiin.Baca juga: Pentingnya Memahami Skala Prioritas dalam Beramal***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleMenata prioritas dalam kehidupanAgar tidak tertipu kesibukanDalam hidup ini, semua orang pasti memiliki kesibukan. Namun, tidak semua kesibukan itu bernilai di sisi Allah Ta’ala. Seorang muslim memiliki ciri khas yang membedakannya. Ia tidak hanya sibuk, tetapi sibuk dengan arah, sibuk dengan panduan, serta sibuk dengan sesuatu yang bernilai untuk akhiratnya. Ia memahami bahwa hidup di dunia bukan sekadar aktivitas tanpa tujuan, tetapi perjalanan yang harus ditata prioritasnya.Allah Ta’ala mengingatkan dalam firman-Nya,ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ“Dia-lah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)Dari ayat di atas, dapat kita ketahui bahwa Allah itu tidak hanya meminta kita untuk beramal dan mencari kesibukan, namun juga beramal dengan amalan yang terbaik dan kesibukan yang terarah.Fudhail bin ’Iyadh rahimahullah mengatakan,أحسن عملا: أخلصه وأصوبه. العمل لا يقبل حتى يكون خالصًا صوابًا الخالص: إذا كان لله والصواب: إذا كان على السنة“Ahsanu ’amalan adalah yang paling ikhlas dan yang paling benar. Suatu amalan tidak akan diterima hingga amal itu ikhlas dan benar. Ikhlas jika amal itu ditujukan hanya untuk Allah, sedangkan benar jika amal itu sesuai dengan sunah (tuntutan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).” (Ma’aalim al-Tanziil, Tafsir al-Baghawi, 8: 176)Kesibukan seorang muslim harus senantiasa berpijak pada dua pilar ini: ikhlas dan ittiba’ (mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).Baca juga: Jangan Salah Prioritas dalam Menuntut IlmuMenata prioritas dalam kehidupanUntuk meraih amalan terbaik, seorang muslim harus mengetahui apa yang paling Allah Ta’ala prioritaskan. Dalam Islam, susunan prioritas itu sangat jelas, yaitu dengan mendahulukan yang wajib sebelum yang sunah, mendahulukan yang utama sebelum yang sekadar baik.Allah Ta’ala berfirman dalam hadis qudsi,مَا تَقَرَّبَ إِلِيَّ عَبْدِيْ بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلِيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ. ولايَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ“Tidaklah seorang hamba–Ku mendekatkan diri kepada–Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal–hal yang telah Aku wajibkan baginya. Dan hamba–Ku senantiasa mendekatkan diri kepada–Ku dengan amalan–amalan nafilah (sunah) hingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari)Hadis ini mengajarkan bahwa tidak ada amalan sunah yang bisa menyaingi kemuliaan amalan wajib. Salat sunah tidak akan mengalahkan salat wajib, sedekah sunah tidak mendahului zakat, dan aktivitas kebaikan apa pun tidak boleh membuat kita mengabaikan kewajiban utama yang telah Allah Ta’ala tentukan dan perintahkan.Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah memberikan nasihat berharga,أن النافلة لا تقدم على الفريضة لأن النافلة انما سميت نافلة لأنها تأتي زائدة على الفريضة. قال بعض الأكابر: من شغله الفرض عن النفل فهو معذور، ومن شغله النفل عن الفرض فهو مغرور“Sesungguhnya amalan sunah tidak boleh didahulukan di atas amalan yang wajib, karena amalan sunah itu posisinya hanyalah tambahan untuk amalan yang wajib. Sebagian ulama besar berkata, ‘Barang siapa yang sibuk mengerjakan amalan yang wajib, lalu tidak sempat mengerjakan amalan yang sunah, maka dia dimaafkan (dimaklumi). Tapi siapa yang sibuk dengan amalan yang sunah, lalu melalaikan amalan yang wajib, maka dia telah tertipu (terperdaya oleh setan)’.” (Fathul Baari, 11: 343)Betapa banyak orang yang sibuk dalam amalan sunah, bahkan perkara yang mubah, namun lupa kewajiban utamanya, salatnya terabaikan, keluarganya terbengkalai dan kurang diperhatikan, serta amanah yang tidak tertunaikan. Ia tampak sibuk beramal, padahal ia sedang tertipu.Agar tidak tertipu kesibukanKesibukan yang benar adalah kesibukan yang Allah ridai. Ia bukan sekadar padatnya agenda, tetapi benarnya arah. Bukan sekadar banyaknya aktivitas, tetapi tepatnya prioritas. Sebab, tidak semua yang tampak produktif itu benar-benar mendekatkan kepada akhirat. Banyak orang yang terlihat sibuk bekerja, sibuk mengejar target, sibuk membangun usaha, namun lupa bahwa kesibukan terbesar adalah mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah mati.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْ تِ وَالْعَا جِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَا هَا وَتَمَنَّى عَلَى اللّٰهِ اْلأَ مَا نِيَّ“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan (mengoreksi) dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kosong (berlebihan) kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)Seorang muslim yang cerdas akan selalu bertanya pada dirinya:Apakah kesibukanku hari ini mendekatkan diriku kepada Allah atau justru menjauhkanku dari-Nya?Apakah yang aku dahulukan adalah yang Allah dahulukan?Apakah kesibukan ini benar-benar kebutuhan, atau hanya dorongan nafsu dan ambisi yang membungkus diri dengan alasan kebaikan?Karena sejatinya, setiap kesibukan yang tidak membawa kita mendekat kepada Allah Ta’ala adalah kesibukan yang kosong, melelahkan, dan tak bernilai.Semoga Allah Ta’ala menata prioritas kita, membersihkan niat kita, dan menjadikan kesibukan kita sebagai kesibukan yang benar dan bernilai di sisi-Nya. Aamiin.Baca juga: Pentingnya Memahami Skala Prioritas dalam Beramal***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleMenata prioritas dalam kehidupanAgar tidak tertipu kesibukanDalam hidup ini, semua orang pasti memiliki kesibukan. Namun, tidak semua kesibukan itu bernilai di sisi Allah Ta’ala. Seorang muslim memiliki ciri khas yang membedakannya. Ia tidak hanya sibuk, tetapi sibuk dengan arah, sibuk dengan panduan, serta sibuk dengan sesuatu yang bernilai untuk akhiratnya. Ia memahami bahwa hidup di dunia bukan sekadar aktivitas tanpa tujuan, tetapi perjalanan yang harus ditata prioritasnya.Allah Ta’ala mengingatkan dalam firman-Nya,ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ“Dia-lah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)Dari ayat di atas, dapat kita ketahui bahwa Allah itu tidak hanya meminta kita untuk beramal dan mencari kesibukan, namun juga beramal dengan amalan yang terbaik dan kesibukan yang terarah.Fudhail bin ’Iyadh rahimahullah mengatakan,أحسن عملا: أخلصه وأصوبه. العمل لا يقبل حتى يكون خالصًا صوابًا الخالص: إذا كان لله والصواب: إذا كان على السنة“Ahsanu ’amalan adalah yang paling ikhlas dan yang paling benar. Suatu amalan tidak akan diterima hingga amal itu ikhlas dan benar. Ikhlas jika amal itu ditujukan hanya untuk Allah, sedangkan benar jika amal itu sesuai dengan sunah (tuntutan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).” (Ma’aalim al-Tanziil, Tafsir al-Baghawi, 8: 176)Kesibukan seorang muslim harus senantiasa berpijak pada dua pilar ini: ikhlas dan ittiba’ (mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).Baca juga: Jangan Salah Prioritas dalam Menuntut IlmuMenata prioritas dalam kehidupanUntuk meraih amalan terbaik, seorang muslim harus mengetahui apa yang paling Allah Ta’ala prioritaskan. Dalam Islam, susunan prioritas itu sangat jelas, yaitu dengan mendahulukan yang wajib sebelum yang sunah, mendahulukan yang utama sebelum yang sekadar baik.Allah Ta’ala berfirman dalam hadis qudsi,مَا تَقَرَّبَ إِلِيَّ عَبْدِيْ بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلِيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ. ولايَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ“Tidaklah seorang hamba–Ku mendekatkan diri kepada–Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal–hal yang telah Aku wajibkan baginya. Dan hamba–Ku senantiasa mendekatkan diri kepada–Ku dengan amalan–amalan nafilah (sunah) hingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari)Hadis ini mengajarkan bahwa tidak ada amalan sunah yang bisa menyaingi kemuliaan amalan wajib. Salat sunah tidak akan mengalahkan salat wajib, sedekah sunah tidak mendahului zakat, dan aktivitas kebaikan apa pun tidak boleh membuat kita mengabaikan kewajiban utama yang telah Allah Ta’ala tentukan dan perintahkan.Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah memberikan nasihat berharga,أن النافلة لا تقدم على الفريضة لأن النافلة انما سميت نافلة لأنها تأتي زائدة على الفريضة. قال بعض الأكابر: من شغله الفرض عن النفل فهو معذور، ومن شغله النفل عن الفرض فهو مغرور“Sesungguhnya amalan sunah tidak boleh didahulukan di atas amalan yang wajib, karena amalan sunah itu posisinya hanyalah tambahan untuk amalan yang wajib. Sebagian ulama besar berkata, ‘Barang siapa yang sibuk mengerjakan amalan yang wajib, lalu tidak sempat mengerjakan amalan yang sunah, maka dia dimaafkan (dimaklumi). Tapi siapa yang sibuk dengan amalan yang sunah, lalu melalaikan amalan yang wajib, maka dia telah tertipu (terperdaya oleh setan)’.” (Fathul Baari, 11: 343)Betapa banyak orang yang sibuk dalam amalan sunah, bahkan perkara yang mubah, namun lupa kewajiban utamanya, salatnya terabaikan, keluarganya terbengkalai dan kurang diperhatikan, serta amanah yang tidak tertunaikan. Ia tampak sibuk beramal, padahal ia sedang tertipu.Agar tidak tertipu kesibukanKesibukan yang benar adalah kesibukan yang Allah ridai. Ia bukan sekadar padatnya agenda, tetapi benarnya arah. Bukan sekadar banyaknya aktivitas, tetapi tepatnya prioritas. Sebab, tidak semua yang tampak produktif itu benar-benar mendekatkan kepada akhirat. Banyak orang yang terlihat sibuk bekerja, sibuk mengejar target, sibuk membangun usaha, namun lupa bahwa kesibukan terbesar adalah mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah mati.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْ تِ وَالْعَا جِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَا هَا وَتَمَنَّى عَلَى اللّٰهِ اْلأَ مَا نِيَّ“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan (mengoreksi) dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kosong (berlebihan) kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)Seorang muslim yang cerdas akan selalu bertanya pada dirinya:Apakah kesibukanku hari ini mendekatkan diriku kepada Allah atau justru menjauhkanku dari-Nya?Apakah yang aku dahulukan adalah yang Allah dahulukan?Apakah kesibukan ini benar-benar kebutuhan, atau hanya dorongan nafsu dan ambisi yang membungkus diri dengan alasan kebaikan?Karena sejatinya, setiap kesibukan yang tidak membawa kita mendekat kepada Allah Ta’ala adalah kesibukan yang kosong, melelahkan, dan tak bernilai.Semoga Allah Ta’ala menata prioritas kita, membersihkan niat kita, dan menjadikan kesibukan kita sebagai kesibukan yang benar dan bernilai di sisi-Nya. Aamiin.Baca juga: Pentingnya Memahami Skala Prioritas dalam Beramal***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id

Kembalinya Wahyu dan Awal Dakwah Sembunyi-Sembunyi

Daftar Isi ToggleMasa terhentinya wahyuKembalinya wahyu dan turunnya surah al-MuddatstsirKondisi Makkah dan strategi dakwah sembunyi-sembunyiGenerasi pertama pemeluk IslamKarakteristik wahyu pada masa awal IslamPengangkatan Rasulullah ﷺ sebagai seorang Nabi dan Rasul merupakan peristiwa agung dalam sejarah manusia. Setelah wahyu pertama turun di Gua Hira’ (حراء), yaitu permulaan surah al-’Alaq, wahyu sempat terhenti untuk beberapa waktu sehingga membuat beliau ﷺ risau. Pada artikel ini, kita akan membahas kembalinya wahyu, turunnya surah al-Muddatstsir, dan awal dakwah Islam secara sembunyi-sembunyi.Masa terhentinya wahyuSetelah Rasulullah ﷺ menerima wahyu yang pertama ketika menyendiri di Gua Hira’, yaitu surah al-’Alaq ayat 1-5, turunnya wahyu sempat terhenti setelahnya. Para ulama berbeda pendapat mengenai durasi wahyu tidak turun. Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, penulis ar-Rahiq al-Makhtum, menguatkan pendapat bahwa wahyu terhenti selama beberapa hari. Adapun Syekh Muhammad al-Khudhari, penulis Nurul Yaqin, menguatkan pendapat bahwa wahyu terhenti selama 40 hari.Hikmah dari terhentinya wahyu selama beberapa waktu disebutkan oleh para ulama adalah agar rasa takut yang dialami Rasulullah ﷺ hilang dan muncul kerinduan dalam diri beliau untuk kembali menerima wahyu.Kembalinya wahyu dan turunnya surah al-MuddatstsirKetika bayang-bayang kebingungan mulai menghilang, tanda-tanda kebenaran semakin kokoh, dan Rasulullah ﷺ mengetahui dengan keyakinan penuh bahwa beliau telah menjadi Nabi bagi Allah Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi, serta bahwa yang datang kepada beliau adalah utusan wahyu yang membawa berita dari langit, maka kerinduan dan penantian beliau terhadap datangnya wahyu menjadi sebab keteguhan dan kesiapan beliau saat wahyu itu kembali datang.Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ menceritakan tentang masa terhentinya wahyu. Beliau ﷺ bersabda,فبينا أنا أمشي سمعت صوتا من السماء، فرفعت بصري قبل السماء، فإذا الملك الذي جاءني بحراء قاعد على كرسي بين السماء والأرض، فجثثت منه حتى هويت إلى الأرض، فجئت أهلي فقلت: زملوني زملوني، فزملوني، فأنزل الله تعالى: يا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ إلى قوله: فَاهْجُرْ، ثم حمي الوحي وتتابع“Ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit. Aku pun mengangkat pandanganku ke arah langit. Ternyata malaikat yang dahulu datang kepadaku di Gua Hira’ sedang duduk di atas kursi di antara langit dan bumi. Aku pun merasa sangat takut kepadanya hingga jatuh ke tanah. Lalu aku mendatangi keluargaku dan berkata, ‘Selimutilah aku, selimutilah aku.’ Mereka pun menyelimutiku. Allah pun menurunkan,يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ ۝١ قُمْ فَأَنْذِرْ ۝٢ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ ۝٣ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ ۝٤ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ ۝٥“Wahai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan, dan agungkanlah Tuhanmu, dan bersihkanlah pakaianmu, dan tinggalkanlah segala perbuatan dosa (berhala).” (QS. al-Muddatstsir: 1-5)Setelah itu, wahyu menjadi kuat dan turun secara berturut-turut.”Ibnu Katsir rahimahullah menutup pembahasan turunnya kembali wahyu dalam al-Bidayah wan Nihayah dengan berkata,وَقَامَ حِينَئِذٍ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي الرِّسَالَةِ أَتَمَّ الْقِيَامَ، وَشَمَّرَ عَنْ سَاقِ الْعَزْمِ، وَدَعَا إِلَى اللَّهِ الْقَرِيبَ وَالْبَعِيدَ، وَالْأَحْرَارَ وَالْعَبِيدَ، فَآمَنَ بِهِ حِينَئِذٍ كُلُّ لَبِيبٍ نَجِيبٍ سَعِيدٍ، وَاسْتَمَرَّ عَلَى مُخَالَفَتِهِ وَعِصْيَانِهِ كُلُّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ“Pada saat itulah Rasulullah ﷺ melaksanakan tugas risalah dengan pelaksanaan yang paling sempurna. Beliau menyingsingkan lengan tekadnya, lalu menyeru kepada Allah, baik kepada orang yang dekat maupun yang jauh, orang merdeka maupun budak. Pada saat itu, setiap orang yang berakal, mulia, dan bahagia segera beriman kepada beliau. Sebaliknya, orang yang sombong lagi keras kepala terus berada dalam penentangan dan kedurhakaan kepada beliau.”Kondisi Makkah dan strategi dakwah sembunyi-sembunyiTelah diketahui bahwa Makkah pada saat itu adalah pusat agama bangsa Arab. Di dalamnya terdapat para penjaga Ka’bah dan para pengurus berhala-berhala serta patung-patung yang dianggap suci oleh seluruh bangsa Arab.Melihat realita yang demikian, tentu lebih sulit dan berat untuk bisa mencapai tujuan perbaikan di Makkah dibandingkan jika dakwah dimulai di tempat yang jauh. Perkara ini membutuhkan tekad kuat yang tidak mudah tergoyahkan dengan banyaknya musibah dan bencana. Oleh karena itu, merupakan bagian dari hikmah bahwa dakwah pada permulaannya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Tujuannya agar penduduk Makkah tidak dikejutkan dengan sesuatu yang langsung membangkitkan kemarahan mereka.Generasi pertama pemeluk IslamMerupakan hal yang wajar bahwa Rasulullah ﷺ menawarkan Islam pertama kali kepada orang-orang terdekat, keluarga, dan sahabat-sahabat dekat beliau. Rasulullah ﷺ juga mengajak orang-orang yang beliau lihat memiliki kebaikan dari kalangan orang-orang yang beliau kenal dan mengenal beliau. Rasulullah ﷺ mendakwahkan Islam kepada orang-orang yang dikenal mencintai Allah, kebenaran, dan kebaikan. Orang-orang tersebut juga mengenal beliau ﷺ sebagai sosok yang jujur dan saleh. Dengan demikian, ada orang-orang yang memenuhi seruan beliau. Mereka dikenal dengan sebutan as-sabiqunal awwalun (السابقون الأولون), yaitu orang-orang terdepan yang pertama masuk Islam.Di antara yang terdahulu masuk Islam adalah istri Rasulullah ﷺ Ummul Mukminin, Khadijah binti Khuwailid (خديجة بنت خويلد), mantan budak beliau, Zaid bin Haritsah (زيد بن حارثة), sepupu beliau, Ali bin Abi Thalib (علي بن أبي طالب), dan sahabat dekat beliau, Abu Bakar ash-Shiddiq (أبو بكر الصديق). Ali saat itu masih kecil dan berada dalam tanggungan Rasulullah ﷺ. Mereka itulah orang-orang yang masuk Islam pada hari-hari pertama dakwah.Mengapa Ali bin Abi Thalib bisa berada dalam tanggungan Rasulullah ﷺ? Hal ini dikarenakan Quraisy pernah ditimpa paceklik, sedangkan Abu Thalib adalah orang yang kekurangan harta dan memiliki banyak anak. Melihat kondisi tersebut, Rasulullah ﷺ mengajak al-’Abbas bin Abdul Muththalib (العباس بن عبد المطلب) untuk meringankan beban Abu Thalib dengan membantu mengasuh satu anaknya. Rasulullah ﷺ mengasuh Ali bin Abi Thalib, sedangkan al-’Abbas mengasuh Ja’far bin Abi Thalib (جعفر بن أبي طالب). Dengan demikian, Ali menjadi tanggungan Rasulullah ﷺ seperti anak sendiri sampai datangnya masa kenabian. Ali mengikuti Rasulullah ﷺ dalam semua urusan beliau dan tidak ternodai oleh kotoran jahiliah berupa penyembahan berhala dan mengikuti hawa nafsu.Kemudian Abu Bakar aktif mendakwahkan Islam. Melalui dakwahnya, masuk Islamlah Utsman bin Affan (عثمان بن عفان), az-Zubair bin al-’Awwam (الزبير بن العوام), Abdurrahman bin ‘Auf (عبد الرحمن بن عوف), Sa’ad bin Abi Waqqash (سعد بن أبي وقاص), dan Thalhah bin ‘Ubaidillah (طلحة بن عبيد الله).Di antara orang-orang yang pertama masuk Islam juga adalah Bilal bin Rabah (بلال بن رباح), Abu ‘Ubaidah ‘Amir bin al-Jarrah (أبو عبيدة عامر بن الجراح), Abu Salamah bin Abdul Asad (أبو سلمة بن عبد الأسد), al-Arqam bin Abil Arqam (الأرقم بن أبي الأرقم), Utsman bin Mazh’un (عثمان بن مظعون), Sa’id bin Zaid (سعيد بن زيد) beserta istrinya, Fathimah binti al-Khaththab (فاطمة بنت الخطاب), Khabbab bin al-Aratt (خباب بن الأرت), dan Abdullah bin Mas’ud (عبد الله بن مسعود).Setelah itu orang-orang mulai masuk Islam secara bertahap, baik laki-laki maupun perempuan, sampai berita tentang Islam tersebar di Makkah dan menjadi bahan pembicaraan.Mereka semua masuk Islam secara sembunyi-sembunyi. Rasulullah ﷺ berkumpul bersama mereka dan membimbing mereka secara tersembunyi karena dakwah masih bersifat perorangan dan rahasia.Karakteristik wahyu pada masa awal IslamWahyu terus turun berturut-turut setelah surah al-Muddatstsir dan semakin kuat. Ayat-ayat dan potongan surah yang turun pada masa itu berupa ayat-ayat pendek dengan penutup-penutup ayat yang indah dan kuat, serta irama tenang dan memikat, sesuai dengan suasana dakwah yang masih lembut dan tersembunyi.Ayat-ayat tersebut memuat dorongan untuk menyucikan jiwa, sekaligus celaan terhadap pengotoran jiwa dengan kotoran-kotoran dunia. Ayat-ayat tersebut juga menggambarkan surga dan neraka seakan-akan keduanya tampak di depan mata, serta membawa kaum mukminin berjalan dalam suasana lain, berbeda dengan suasana masyarakat manusia saat itu.Demikianlah awal dakwah Rasulullah ﷺ di Makkah. Dakwah dimulai secara tenang dan tersembunyi, dari orang-orang terdekat yang mengenal kejujuran dan kemuliaan akhlak beliau. Dari lingkaran kecil inilah Allah menumbuhkan generasi pertama Islam, generasi yang kelak memikul beban dakwah bersama Rasulullah ﷺ. Kisah dakwah secara rahasia ini belum berakhir.***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Syekh Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri.Nūr al-Yaqīn fi Sīrah Sayyid al-Mursalīn, karya Muhammad al-Khudhari.al-Bidāyah wa an-Nihāyah, karya Ibnu Katsīr. Artikel terkait:Turunnya Wahyu Pertama Kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi WasallamBagaimanakah Al-Quran Turun kepada Nabi Muhammad?

Kembalinya Wahyu dan Awal Dakwah Sembunyi-Sembunyi

Daftar Isi ToggleMasa terhentinya wahyuKembalinya wahyu dan turunnya surah al-MuddatstsirKondisi Makkah dan strategi dakwah sembunyi-sembunyiGenerasi pertama pemeluk IslamKarakteristik wahyu pada masa awal IslamPengangkatan Rasulullah ﷺ sebagai seorang Nabi dan Rasul merupakan peristiwa agung dalam sejarah manusia. Setelah wahyu pertama turun di Gua Hira’ (حراء), yaitu permulaan surah al-’Alaq, wahyu sempat terhenti untuk beberapa waktu sehingga membuat beliau ﷺ risau. Pada artikel ini, kita akan membahas kembalinya wahyu, turunnya surah al-Muddatstsir, dan awal dakwah Islam secara sembunyi-sembunyi.Masa terhentinya wahyuSetelah Rasulullah ﷺ menerima wahyu yang pertama ketika menyendiri di Gua Hira’, yaitu surah al-’Alaq ayat 1-5, turunnya wahyu sempat terhenti setelahnya. Para ulama berbeda pendapat mengenai durasi wahyu tidak turun. Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, penulis ar-Rahiq al-Makhtum, menguatkan pendapat bahwa wahyu terhenti selama beberapa hari. Adapun Syekh Muhammad al-Khudhari, penulis Nurul Yaqin, menguatkan pendapat bahwa wahyu terhenti selama 40 hari.Hikmah dari terhentinya wahyu selama beberapa waktu disebutkan oleh para ulama adalah agar rasa takut yang dialami Rasulullah ﷺ hilang dan muncul kerinduan dalam diri beliau untuk kembali menerima wahyu.Kembalinya wahyu dan turunnya surah al-MuddatstsirKetika bayang-bayang kebingungan mulai menghilang, tanda-tanda kebenaran semakin kokoh, dan Rasulullah ﷺ mengetahui dengan keyakinan penuh bahwa beliau telah menjadi Nabi bagi Allah Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi, serta bahwa yang datang kepada beliau adalah utusan wahyu yang membawa berita dari langit, maka kerinduan dan penantian beliau terhadap datangnya wahyu menjadi sebab keteguhan dan kesiapan beliau saat wahyu itu kembali datang.Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ menceritakan tentang masa terhentinya wahyu. Beliau ﷺ bersabda,فبينا أنا أمشي سمعت صوتا من السماء، فرفعت بصري قبل السماء، فإذا الملك الذي جاءني بحراء قاعد على كرسي بين السماء والأرض، فجثثت منه حتى هويت إلى الأرض، فجئت أهلي فقلت: زملوني زملوني، فزملوني، فأنزل الله تعالى: يا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ إلى قوله: فَاهْجُرْ، ثم حمي الوحي وتتابع“Ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit. Aku pun mengangkat pandanganku ke arah langit. Ternyata malaikat yang dahulu datang kepadaku di Gua Hira’ sedang duduk di atas kursi di antara langit dan bumi. Aku pun merasa sangat takut kepadanya hingga jatuh ke tanah. Lalu aku mendatangi keluargaku dan berkata, ‘Selimutilah aku, selimutilah aku.’ Mereka pun menyelimutiku. Allah pun menurunkan,يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ ۝١ قُمْ فَأَنْذِرْ ۝٢ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ ۝٣ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ ۝٤ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ ۝٥“Wahai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan, dan agungkanlah Tuhanmu, dan bersihkanlah pakaianmu, dan tinggalkanlah segala perbuatan dosa (berhala).” (QS. al-Muddatstsir: 1-5)Setelah itu, wahyu menjadi kuat dan turun secara berturut-turut.”Ibnu Katsir rahimahullah menutup pembahasan turunnya kembali wahyu dalam al-Bidayah wan Nihayah dengan berkata,وَقَامَ حِينَئِذٍ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي الرِّسَالَةِ أَتَمَّ الْقِيَامَ، وَشَمَّرَ عَنْ سَاقِ الْعَزْمِ، وَدَعَا إِلَى اللَّهِ الْقَرِيبَ وَالْبَعِيدَ، وَالْأَحْرَارَ وَالْعَبِيدَ، فَآمَنَ بِهِ حِينَئِذٍ كُلُّ لَبِيبٍ نَجِيبٍ سَعِيدٍ، وَاسْتَمَرَّ عَلَى مُخَالَفَتِهِ وَعِصْيَانِهِ كُلُّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ“Pada saat itulah Rasulullah ﷺ melaksanakan tugas risalah dengan pelaksanaan yang paling sempurna. Beliau menyingsingkan lengan tekadnya, lalu menyeru kepada Allah, baik kepada orang yang dekat maupun yang jauh, orang merdeka maupun budak. Pada saat itu, setiap orang yang berakal, mulia, dan bahagia segera beriman kepada beliau. Sebaliknya, orang yang sombong lagi keras kepala terus berada dalam penentangan dan kedurhakaan kepada beliau.”Kondisi Makkah dan strategi dakwah sembunyi-sembunyiTelah diketahui bahwa Makkah pada saat itu adalah pusat agama bangsa Arab. Di dalamnya terdapat para penjaga Ka’bah dan para pengurus berhala-berhala serta patung-patung yang dianggap suci oleh seluruh bangsa Arab.Melihat realita yang demikian, tentu lebih sulit dan berat untuk bisa mencapai tujuan perbaikan di Makkah dibandingkan jika dakwah dimulai di tempat yang jauh. Perkara ini membutuhkan tekad kuat yang tidak mudah tergoyahkan dengan banyaknya musibah dan bencana. Oleh karena itu, merupakan bagian dari hikmah bahwa dakwah pada permulaannya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Tujuannya agar penduduk Makkah tidak dikejutkan dengan sesuatu yang langsung membangkitkan kemarahan mereka.Generasi pertama pemeluk IslamMerupakan hal yang wajar bahwa Rasulullah ﷺ menawarkan Islam pertama kali kepada orang-orang terdekat, keluarga, dan sahabat-sahabat dekat beliau. Rasulullah ﷺ juga mengajak orang-orang yang beliau lihat memiliki kebaikan dari kalangan orang-orang yang beliau kenal dan mengenal beliau. Rasulullah ﷺ mendakwahkan Islam kepada orang-orang yang dikenal mencintai Allah, kebenaran, dan kebaikan. Orang-orang tersebut juga mengenal beliau ﷺ sebagai sosok yang jujur dan saleh. Dengan demikian, ada orang-orang yang memenuhi seruan beliau. Mereka dikenal dengan sebutan as-sabiqunal awwalun (السابقون الأولون), yaitu orang-orang terdepan yang pertama masuk Islam.Di antara yang terdahulu masuk Islam adalah istri Rasulullah ﷺ Ummul Mukminin, Khadijah binti Khuwailid (خديجة بنت خويلد), mantan budak beliau, Zaid bin Haritsah (زيد بن حارثة), sepupu beliau, Ali bin Abi Thalib (علي بن أبي طالب), dan sahabat dekat beliau, Abu Bakar ash-Shiddiq (أبو بكر الصديق). Ali saat itu masih kecil dan berada dalam tanggungan Rasulullah ﷺ. Mereka itulah orang-orang yang masuk Islam pada hari-hari pertama dakwah.Mengapa Ali bin Abi Thalib bisa berada dalam tanggungan Rasulullah ﷺ? Hal ini dikarenakan Quraisy pernah ditimpa paceklik, sedangkan Abu Thalib adalah orang yang kekurangan harta dan memiliki banyak anak. Melihat kondisi tersebut, Rasulullah ﷺ mengajak al-’Abbas bin Abdul Muththalib (العباس بن عبد المطلب) untuk meringankan beban Abu Thalib dengan membantu mengasuh satu anaknya. Rasulullah ﷺ mengasuh Ali bin Abi Thalib, sedangkan al-’Abbas mengasuh Ja’far bin Abi Thalib (جعفر بن أبي طالب). Dengan demikian, Ali menjadi tanggungan Rasulullah ﷺ seperti anak sendiri sampai datangnya masa kenabian. Ali mengikuti Rasulullah ﷺ dalam semua urusan beliau dan tidak ternodai oleh kotoran jahiliah berupa penyembahan berhala dan mengikuti hawa nafsu.Kemudian Abu Bakar aktif mendakwahkan Islam. Melalui dakwahnya, masuk Islamlah Utsman bin Affan (عثمان بن عفان), az-Zubair bin al-’Awwam (الزبير بن العوام), Abdurrahman bin ‘Auf (عبد الرحمن بن عوف), Sa’ad bin Abi Waqqash (سعد بن أبي وقاص), dan Thalhah bin ‘Ubaidillah (طلحة بن عبيد الله).Di antara orang-orang yang pertama masuk Islam juga adalah Bilal bin Rabah (بلال بن رباح), Abu ‘Ubaidah ‘Amir bin al-Jarrah (أبو عبيدة عامر بن الجراح), Abu Salamah bin Abdul Asad (أبو سلمة بن عبد الأسد), al-Arqam bin Abil Arqam (الأرقم بن أبي الأرقم), Utsman bin Mazh’un (عثمان بن مظعون), Sa’id bin Zaid (سعيد بن زيد) beserta istrinya, Fathimah binti al-Khaththab (فاطمة بنت الخطاب), Khabbab bin al-Aratt (خباب بن الأرت), dan Abdullah bin Mas’ud (عبد الله بن مسعود).Setelah itu orang-orang mulai masuk Islam secara bertahap, baik laki-laki maupun perempuan, sampai berita tentang Islam tersebar di Makkah dan menjadi bahan pembicaraan.Mereka semua masuk Islam secara sembunyi-sembunyi. Rasulullah ﷺ berkumpul bersama mereka dan membimbing mereka secara tersembunyi karena dakwah masih bersifat perorangan dan rahasia.Karakteristik wahyu pada masa awal IslamWahyu terus turun berturut-turut setelah surah al-Muddatstsir dan semakin kuat. Ayat-ayat dan potongan surah yang turun pada masa itu berupa ayat-ayat pendek dengan penutup-penutup ayat yang indah dan kuat, serta irama tenang dan memikat, sesuai dengan suasana dakwah yang masih lembut dan tersembunyi.Ayat-ayat tersebut memuat dorongan untuk menyucikan jiwa, sekaligus celaan terhadap pengotoran jiwa dengan kotoran-kotoran dunia. Ayat-ayat tersebut juga menggambarkan surga dan neraka seakan-akan keduanya tampak di depan mata, serta membawa kaum mukminin berjalan dalam suasana lain, berbeda dengan suasana masyarakat manusia saat itu.Demikianlah awal dakwah Rasulullah ﷺ di Makkah. Dakwah dimulai secara tenang dan tersembunyi, dari orang-orang terdekat yang mengenal kejujuran dan kemuliaan akhlak beliau. Dari lingkaran kecil inilah Allah menumbuhkan generasi pertama Islam, generasi yang kelak memikul beban dakwah bersama Rasulullah ﷺ. Kisah dakwah secara rahasia ini belum berakhir.***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Syekh Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri.Nūr al-Yaqīn fi Sīrah Sayyid al-Mursalīn, karya Muhammad al-Khudhari.al-Bidāyah wa an-Nihāyah, karya Ibnu Katsīr. Artikel terkait:Turunnya Wahyu Pertama Kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi WasallamBagaimanakah Al-Quran Turun kepada Nabi Muhammad?
Daftar Isi ToggleMasa terhentinya wahyuKembalinya wahyu dan turunnya surah al-MuddatstsirKondisi Makkah dan strategi dakwah sembunyi-sembunyiGenerasi pertama pemeluk IslamKarakteristik wahyu pada masa awal IslamPengangkatan Rasulullah ﷺ sebagai seorang Nabi dan Rasul merupakan peristiwa agung dalam sejarah manusia. Setelah wahyu pertama turun di Gua Hira’ (حراء), yaitu permulaan surah al-’Alaq, wahyu sempat terhenti untuk beberapa waktu sehingga membuat beliau ﷺ risau. Pada artikel ini, kita akan membahas kembalinya wahyu, turunnya surah al-Muddatstsir, dan awal dakwah Islam secara sembunyi-sembunyi.Masa terhentinya wahyuSetelah Rasulullah ﷺ menerima wahyu yang pertama ketika menyendiri di Gua Hira’, yaitu surah al-’Alaq ayat 1-5, turunnya wahyu sempat terhenti setelahnya. Para ulama berbeda pendapat mengenai durasi wahyu tidak turun. Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, penulis ar-Rahiq al-Makhtum, menguatkan pendapat bahwa wahyu terhenti selama beberapa hari. Adapun Syekh Muhammad al-Khudhari, penulis Nurul Yaqin, menguatkan pendapat bahwa wahyu terhenti selama 40 hari.Hikmah dari terhentinya wahyu selama beberapa waktu disebutkan oleh para ulama adalah agar rasa takut yang dialami Rasulullah ﷺ hilang dan muncul kerinduan dalam diri beliau untuk kembali menerima wahyu.Kembalinya wahyu dan turunnya surah al-MuddatstsirKetika bayang-bayang kebingungan mulai menghilang, tanda-tanda kebenaran semakin kokoh, dan Rasulullah ﷺ mengetahui dengan keyakinan penuh bahwa beliau telah menjadi Nabi bagi Allah Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi, serta bahwa yang datang kepada beliau adalah utusan wahyu yang membawa berita dari langit, maka kerinduan dan penantian beliau terhadap datangnya wahyu menjadi sebab keteguhan dan kesiapan beliau saat wahyu itu kembali datang.Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ menceritakan tentang masa terhentinya wahyu. Beliau ﷺ bersabda,فبينا أنا أمشي سمعت صوتا من السماء، فرفعت بصري قبل السماء، فإذا الملك الذي جاءني بحراء قاعد على كرسي بين السماء والأرض، فجثثت منه حتى هويت إلى الأرض، فجئت أهلي فقلت: زملوني زملوني، فزملوني، فأنزل الله تعالى: يا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ إلى قوله: فَاهْجُرْ، ثم حمي الوحي وتتابع“Ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit. Aku pun mengangkat pandanganku ke arah langit. Ternyata malaikat yang dahulu datang kepadaku di Gua Hira’ sedang duduk di atas kursi di antara langit dan bumi. Aku pun merasa sangat takut kepadanya hingga jatuh ke tanah. Lalu aku mendatangi keluargaku dan berkata, ‘Selimutilah aku, selimutilah aku.’ Mereka pun menyelimutiku. Allah pun menurunkan,يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ ۝١ قُمْ فَأَنْذِرْ ۝٢ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ ۝٣ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ ۝٤ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ ۝٥“Wahai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan, dan agungkanlah Tuhanmu, dan bersihkanlah pakaianmu, dan tinggalkanlah segala perbuatan dosa (berhala).” (QS. al-Muddatstsir: 1-5)Setelah itu, wahyu menjadi kuat dan turun secara berturut-turut.”Ibnu Katsir rahimahullah menutup pembahasan turunnya kembali wahyu dalam al-Bidayah wan Nihayah dengan berkata,وَقَامَ حِينَئِذٍ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي الرِّسَالَةِ أَتَمَّ الْقِيَامَ، وَشَمَّرَ عَنْ سَاقِ الْعَزْمِ، وَدَعَا إِلَى اللَّهِ الْقَرِيبَ وَالْبَعِيدَ، وَالْأَحْرَارَ وَالْعَبِيدَ، فَآمَنَ بِهِ حِينَئِذٍ كُلُّ لَبِيبٍ نَجِيبٍ سَعِيدٍ، وَاسْتَمَرَّ عَلَى مُخَالَفَتِهِ وَعِصْيَانِهِ كُلُّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ“Pada saat itulah Rasulullah ﷺ melaksanakan tugas risalah dengan pelaksanaan yang paling sempurna. Beliau menyingsingkan lengan tekadnya, lalu menyeru kepada Allah, baik kepada orang yang dekat maupun yang jauh, orang merdeka maupun budak. Pada saat itu, setiap orang yang berakal, mulia, dan bahagia segera beriman kepada beliau. Sebaliknya, orang yang sombong lagi keras kepala terus berada dalam penentangan dan kedurhakaan kepada beliau.”Kondisi Makkah dan strategi dakwah sembunyi-sembunyiTelah diketahui bahwa Makkah pada saat itu adalah pusat agama bangsa Arab. Di dalamnya terdapat para penjaga Ka’bah dan para pengurus berhala-berhala serta patung-patung yang dianggap suci oleh seluruh bangsa Arab.Melihat realita yang demikian, tentu lebih sulit dan berat untuk bisa mencapai tujuan perbaikan di Makkah dibandingkan jika dakwah dimulai di tempat yang jauh. Perkara ini membutuhkan tekad kuat yang tidak mudah tergoyahkan dengan banyaknya musibah dan bencana. Oleh karena itu, merupakan bagian dari hikmah bahwa dakwah pada permulaannya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Tujuannya agar penduduk Makkah tidak dikejutkan dengan sesuatu yang langsung membangkitkan kemarahan mereka.Generasi pertama pemeluk IslamMerupakan hal yang wajar bahwa Rasulullah ﷺ menawarkan Islam pertama kali kepada orang-orang terdekat, keluarga, dan sahabat-sahabat dekat beliau. Rasulullah ﷺ juga mengajak orang-orang yang beliau lihat memiliki kebaikan dari kalangan orang-orang yang beliau kenal dan mengenal beliau. Rasulullah ﷺ mendakwahkan Islam kepada orang-orang yang dikenal mencintai Allah, kebenaran, dan kebaikan. Orang-orang tersebut juga mengenal beliau ﷺ sebagai sosok yang jujur dan saleh. Dengan demikian, ada orang-orang yang memenuhi seruan beliau. Mereka dikenal dengan sebutan as-sabiqunal awwalun (السابقون الأولون), yaitu orang-orang terdepan yang pertama masuk Islam.Di antara yang terdahulu masuk Islam adalah istri Rasulullah ﷺ Ummul Mukminin, Khadijah binti Khuwailid (خديجة بنت خويلد), mantan budak beliau, Zaid bin Haritsah (زيد بن حارثة), sepupu beliau, Ali bin Abi Thalib (علي بن أبي طالب), dan sahabat dekat beliau, Abu Bakar ash-Shiddiq (أبو بكر الصديق). Ali saat itu masih kecil dan berada dalam tanggungan Rasulullah ﷺ. Mereka itulah orang-orang yang masuk Islam pada hari-hari pertama dakwah.Mengapa Ali bin Abi Thalib bisa berada dalam tanggungan Rasulullah ﷺ? Hal ini dikarenakan Quraisy pernah ditimpa paceklik, sedangkan Abu Thalib adalah orang yang kekurangan harta dan memiliki banyak anak. Melihat kondisi tersebut, Rasulullah ﷺ mengajak al-’Abbas bin Abdul Muththalib (العباس بن عبد المطلب) untuk meringankan beban Abu Thalib dengan membantu mengasuh satu anaknya. Rasulullah ﷺ mengasuh Ali bin Abi Thalib, sedangkan al-’Abbas mengasuh Ja’far bin Abi Thalib (جعفر بن أبي طالب). Dengan demikian, Ali menjadi tanggungan Rasulullah ﷺ seperti anak sendiri sampai datangnya masa kenabian. Ali mengikuti Rasulullah ﷺ dalam semua urusan beliau dan tidak ternodai oleh kotoran jahiliah berupa penyembahan berhala dan mengikuti hawa nafsu.Kemudian Abu Bakar aktif mendakwahkan Islam. Melalui dakwahnya, masuk Islamlah Utsman bin Affan (عثمان بن عفان), az-Zubair bin al-’Awwam (الزبير بن العوام), Abdurrahman bin ‘Auf (عبد الرحمن بن عوف), Sa’ad bin Abi Waqqash (سعد بن أبي وقاص), dan Thalhah bin ‘Ubaidillah (طلحة بن عبيد الله).Di antara orang-orang yang pertama masuk Islam juga adalah Bilal bin Rabah (بلال بن رباح), Abu ‘Ubaidah ‘Amir bin al-Jarrah (أبو عبيدة عامر بن الجراح), Abu Salamah bin Abdul Asad (أبو سلمة بن عبد الأسد), al-Arqam bin Abil Arqam (الأرقم بن أبي الأرقم), Utsman bin Mazh’un (عثمان بن مظعون), Sa’id bin Zaid (سعيد بن زيد) beserta istrinya, Fathimah binti al-Khaththab (فاطمة بنت الخطاب), Khabbab bin al-Aratt (خباب بن الأرت), dan Abdullah bin Mas’ud (عبد الله بن مسعود).Setelah itu orang-orang mulai masuk Islam secara bertahap, baik laki-laki maupun perempuan, sampai berita tentang Islam tersebar di Makkah dan menjadi bahan pembicaraan.Mereka semua masuk Islam secara sembunyi-sembunyi. Rasulullah ﷺ berkumpul bersama mereka dan membimbing mereka secara tersembunyi karena dakwah masih bersifat perorangan dan rahasia.Karakteristik wahyu pada masa awal IslamWahyu terus turun berturut-turut setelah surah al-Muddatstsir dan semakin kuat. Ayat-ayat dan potongan surah yang turun pada masa itu berupa ayat-ayat pendek dengan penutup-penutup ayat yang indah dan kuat, serta irama tenang dan memikat, sesuai dengan suasana dakwah yang masih lembut dan tersembunyi.Ayat-ayat tersebut memuat dorongan untuk menyucikan jiwa, sekaligus celaan terhadap pengotoran jiwa dengan kotoran-kotoran dunia. Ayat-ayat tersebut juga menggambarkan surga dan neraka seakan-akan keduanya tampak di depan mata, serta membawa kaum mukminin berjalan dalam suasana lain, berbeda dengan suasana masyarakat manusia saat itu.Demikianlah awal dakwah Rasulullah ﷺ di Makkah. Dakwah dimulai secara tenang dan tersembunyi, dari orang-orang terdekat yang mengenal kejujuran dan kemuliaan akhlak beliau. Dari lingkaran kecil inilah Allah menumbuhkan generasi pertama Islam, generasi yang kelak memikul beban dakwah bersama Rasulullah ﷺ. Kisah dakwah secara rahasia ini belum berakhir.***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Syekh Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri.Nūr al-Yaqīn fi Sīrah Sayyid al-Mursalīn, karya Muhammad al-Khudhari.al-Bidāyah wa an-Nihāyah, karya Ibnu Katsīr. Artikel terkait:Turunnya Wahyu Pertama Kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi WasallamBagaimanakah Al-Quran Turun kepada Nabi Muhammad?


Daftar Isi ToggleMasa terhentinya wahyuKembalinya wahyu dan turunnya surah al-MuddatstsirKondisi Makkah dan strategi dakwah sembunyi-sembunyiGenerasi pertama pemeluk IslamKarakteristik wahyu pada masa awal IslamPengangkatan Rasulullah ﷺ sebagai seorang Nabi dan Rasul merupakan peristiwa agung dalam sejarah manusia. Setelah wahyu pertama turun di Gua Hira’ (حراء), yaitu permulaan surah al-’Alaq, wahyu sempat terhenti untuk beberapa waktu sehingga membuat beliau ﷺ risau. Pada artikel ini, kita akan membahas kembalinya wahyu, turunnya surah al-Muddatstsir, dan awal dakwah Islam secara sembunyi-sembunyi.Masa terhentinya wahyuSetelah Rasulullah ﷺ menerima wahyu yang pertama ketika menyendiri di Gua Hira’, yaitu surah al-’Alaq ayat 1-5, turunnya wahyu sempat terhenti setelahnya. Para ulama berbeda pendapat mengenai durasi wahyu tidak turun. Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, penulis ar-Rahiq al-Makhtum, menguatkan pendapat bahwa wahyu terhenti selama beberapa hari. Adapun Syekh Muhammad al-Khudhari, penulis Nurul Yaqin, menguatkan pendapat bahwa wahyu terhenti selama 40 hari.Hikmah dari terhentinya wahyu selama beberapa waktu disebutkan oleh para ulama adalah agar rasa takut yang dialami Rasulullah ﷺ hilang dan muncul kerinduan dalam diri beliau untuk kembali menerima wahyu.Kembalinya wahyu dan turunnya surah al-MuddatstsirKetika bayang-bayang kebingungan mulai menghilang, tanda-tanda kebenaran semakin kokoh, dan Rasulullah ﷺ mengetahui dengan keyakinan penuh bahwa beliau telah menjadi Nabi bagi Allah Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi, serta bahwa yang datang kepada beliau adalah utusan wahyu yang membawa berita dari langit, maka kerinduan dan penantian beliau terhadap datangnya wahyu menjadi sebab keteguhan dan kesiapan beliau saat wahyu itu kembali datang.Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ menceritakan tentang masa terhentinya wahyu. Beliau ﷺ bersabda,فبينا أنا أمشي سمعت صوتا من السماء، فرفعت بصري قبل السماء، فإذا الملك الذي جاءني بحراء قاعد على كرسي بين السماء والأرض، فجثثت منه حتى هويت إلى الأرض، فجئت أهلي فقلت: زملوني زملوني، فزملوني، فأنزل الله تعالى: يا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ إلى قوله: فَاهْجُرْ، ثم حمي الوحي وتتابع“Ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit. Aku pun mengangkat pandanganku ke arah langit. Ternyata malaikat yang dahulu datang kepadaku di Gua Hira’ sedang duduk di atas kursi di antara langit dan bumi. Aku pun merasa sangat takut kepadanya hingga jatuh ke tanah. Lalu aku mendatangi keluargaku dan berkata, ‘Selimutilah aku, selimutilah aku.’ Mereka pun menyelimutiku. Allah pun menurunkan,يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ ۝١ قُمْ فَأَنْذِرْ ۝٢ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ ۝٣ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ ۝٤ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ ۝٥“Wahai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan, dan agungkanlah Tuhanmu, dan bersihkanlah pakaianmu, dan tinggalkanlah segala perbuatan dosa (berhala).” (QS. al-Muddatstsir: 1-5)Setelah itu, wahyu menjadi kuat dan turun secara berturut-turut.”Ibnu Katsir rahimahullah menutup pembahasan turunnya kembali wahyu dalam al-Bidayah wan Nihayah dengan berkata,وَقَامَ حِينَئِذٍ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي الرِّسَالَةِ أَتَمَّ الْقِيَامَ، وَشَمَّرَ عَنْ سَاقِ الْعَزْمِ، وَدَعَا إِلَى اللَّهِ الْقَرِيبَ وَالْبَعِيدَ، وَالْأَحْرَارَ وَالْعَبِيدَ، فَآمَنَ بِهِ حِينَئِذٍ كُلُّ لَبِيبٍ نَجِيبٍ سَعِيدٍ، وَاسْتَمَرَّ عَلَى مُخَالَفَتِهِ وَعِصْيَانِهِ كُلُّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ“Pada saat itulah Rasulullah ﷺ melaksanakan tugas risalah dengan pelaksanaan yang paling sempurna. Beliau menyingsingkan lengan tekadnya, lalu menyeru kepada Allah, baik kepada orang yang dekat maupun yang jauh, orang merdeka maupun budak. Pada saat itu, setiap orang yang berakal, mulia, dan bahagia segera beriman kepada beliau. Sebaliknya, orang yang sombong lagi keras kepala terus berada dalam penentangan dan kedurhakaan kepada beliau.”Kondisi Makkah dan strategi dakwah sembunyi-sembunyiTelah diketahui bahwa Makkah pada saat itu adalah pusat agama bangsa Arab. Di dalamnya terdapat para penjaga Ka’bah dan para pengurus berhala-berhala serta patung-patung yang dianggap suci oleh seluruh bangsa Arab.Melihat realita yang demikian, tentu lebih sulit dan berat untuk bisa mencapai tujuan perbaikan di Makkah dibandingkan jika dakwah dimulai di tempat yang jauh. Perkara ini membutuhkan tekad kuat yang tidak mudah tergoyahkan dengan banyaknya musibah dan bencana. Oleh karena itu, merupakan bagian dari hikmah bahwa dakwah pada permulaannya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Tujuannya agar penduduk Makkah tidak dikejutkan dengan sesuatu yang langsung membangkitkan kemarahan mereka.Generasi pertama pemeluk IslamMerupakan hal yang wajar bahwa Rasulullah ﷺ menawarkan Islam pertama kali kepada orang-orang terdekat, keluarga, dan sahabat-sahabat dekat beliau. Rasulullah ﷺ juga mengajak orang-orang yang beliau lihat memiliki kebaikan dari kalangan orang-orang yang beliau kenal dan mengenal beliau. Rasulullah ﷺ mendakwahkan Islam kepada orang-orang yang dikenal mencintai Allah, kebenaran, dan kebaikan. Orang-orang tersebut juga mengenal beliau ﷺ sebagai sosok yang jujur dan saleh. Dengan demikian, ada orang-orang yang memenuhi seruan beliau. Mereka dikenal dengan sebutan as-sabiqunal awwalun (السابقون الأولون), yaitu orang-orang terdepan yang pertama masuk Islam.Di antara yang terdahulu masuk Islam adalah istri Rasulullah ﷺ Ummul Mukminin, Khadijah binti Khuwailid (خديجة بنت خويلد), mantan budak beliau, Zaid bin Haritsah (زيد بن حارثة), sepupu beliau, Ali bin Abi Thalib (علي بن أبي طالب), dan sahabat dekat beliau, Abu Bakar ash-Shiddiq (أبو بكر الصديق). Ali saat itu masih kecil dan berada dalam tanggungan Rasulullah ﷺ. Mereka itulah orang-orang yang masuk Islam pada hari-hari pertama dakwah.Mengapa Ali bin Abi Thalib bisa berada dalam tanggungan Rasulullah ﷺ? Hal ini dikarenakan Quraisy pernah ditimpa paceklik, sedangkan Abu Thalib adalah orang yang kekurangan harta dan memiliki banyak anak. Melihat kondisi tersebut, Rasulullah ﷺ mengajak al-’Abbas bin Abdul Muththalib (العباس بن عبد المطلب) untuk meringankan beban Abu Thalib dengan membantu mengasuh satu anaknya. Rasulullah ﷺ mengasuh Ali bin Abi Thalib, sedangkan al-’Abbas mengasuh Ja’far bin Abi Thalib (جعفر بن أبي طالب). Dengan demikian, Ali menjadi tanggungan Rasulullah ﷺ seperti anak sendiri sampai datangnya masa kenabian. Ali mengikuti Rasulullah ﷺ dalam semua urusan beliau dan tidak ternodai oleh kotoran jahiliah berupa penyembahan berhala dan mengikuti hawa nafsu.Kemudian Abu Bakar aktif mendakwahkan Islam. Melalui dakwahnya, masuk Islamlah Utsman bin Affan (عثمان بن عفان), az-Zubair bin al-’Awwam (الزبير بن العوام), Abdurrahman bin ‘Auf (عبد الرحمن بن عوف), Sa’ad bin Abi Waqqash (سعد بن أبي وقاص), dan Thalhah bin ‘Ubaidillah (طلحة بن عبيد الله).Di antara orang-orang yang pertama masuk Islam juga adalah Bilal bin Rabah (بلال بن رباح), Abu ‘Ubaidah ‘Amir bin al-Jarrah (أبو عبيدة عامر بن الجراح), Abu Salamah bin Abdul Asad (أبو سلمة بن عبد الأسد), al-Arqam bin Abil Arqam (الأرقم بن أبي الأرقم), Utsman bin Mazh’un (عثمان بن مظعون), Sa’id bin Zaid (سعيد بن زيد) beserta istrinya, Fathimah binti al-Khaththab (فاطمة بنت الخطاب), Khabbab bin al-Aratt (خباب بن الأرت), dan Abdullah bin Mas’ud (عبد الله بن مسعود).Setelah itu orang-orang mulai masuk Islam secara bertahap, baik laki-laki maupun perempuan, sampai berita tentang Islam tersebar di Makkah dan menjadi bahan pembicaraan.Mereka semua masuk Islam secara sembunyi-sembunyi. Rasulullah ﷺ berkumpul bersama mereka dan membimbing mereka secara tersembunyi karena dakwah masih bersifat perorangan dan rahasia.Karakteristik wahyu pada masa awal IslamWahyu terus turun berturut-turut setelah surah al-Muddatstsir dan semakin kuat. Ayat-ayat dan potongan surah yang turun pada masa itu berupa ayat-ayat pendek dengan penutup-penutup ayat yang indah dan kuat, serta irama tenang dan memikat, sesuai dengan suasana dakwah yang masih lembut dan tersembunyi.Ayat-ayat tersebut memuat dorongan untuk menyucikan jiwa, sekaligus celaan terhadap pengotoran jiwa dengan kotoran-kotoran dunia. Ayat-ayat tersebut juga menggambarkan surga dan neraka seakan-akan keduanya tampak di depan mata, serta membawa kaum mukminin berjalan dalam suasana lain, berbeda dengan suasana masyarakat manusia saat itu.Demikianlah awal dakwah Rasulullah ﷺ di Makkah. Dakwah dimulai secara tenang dan tersembunyi, dari orang-orang terdekat yang mengenal kejujuran dan kemuliaan akhlak beliau. Dari lingkaran kecil inilah Allah menumbuhkan generasi pertama Islam, generasi yang kelak memikul beban dakwah bersama Rasulullah ﷺ. Kisah dakwah secara rahasia ini belum berakhir.***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Syekh Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri.Nūr al-Yaqīn fi Sīrah Sayyid al-Mursalīn, karya Muhammad al-Khudhari.al-Bidāyah wa an-Nihāyah, karya Ibnu Katsīr. Artikel terkait:Turunnya Wahyu Pertama Kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam<iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" style="position: absolute; visibility: hidden;" title="&#8220;Turunnya Wahyu Pertama Kepada Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam&#8221; &#8212; Muslim.or.id" src="https://muslim.or.id/43060-turunnya-wahyu-pertama-kepada-rasulullah-shallallahualaihi-wasallam.html/embed#?secret=3enyZJ2V1N#?secret=1kt06RzEI4" data-secret="1kt06RzEI4" width="500" height="282" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>Bagaimanakah Al-Quran Turun kepada Nabi Muhammad?<iframe loading="lazy" class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" style="position: absolute; visibility: hidden;" title="&#8220;Bagaimanakah Al-Quran Turun kepada Nabi Muhammad?&#8221; &#8212; Muslim.or.id" src="https://muslim.or.id/74827-bagaimanakah-al-quran-turun-kepada-nabi-muhammad.html/embed#?secret=NzgaWaw1Ai#?secret=nPWp5ofVil" data-secret="nPWp5ofVil" width="500" height="282" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>

Hukum Affiliate di Marketplace dengan Komisi yang Tidak Jelas (Majhul)

Daftar Isi ToggleAkad apa yang mendasari affiliate?Masalah utama: Komisi yang tidak jelas (majhul)Gharar: Mana yang dimaafkan, mana yang tidak?Jika pelaku affiliate rida dengan ketidakjelasan ituKesimpulan akad:Panduan praktis: Agar affiliate menjadi halalKesimpulanBisnis affiliate marketing kini menjadi salah satu model penghasilan digital yang paling diminati. Cara kerjanya sederhana: seseorang mempromosikan produk melalui tautan khusus, dan bila ada pembeli yang bertransaksi melalui tautan tersebut, ia mendapat komisi. Namun di balik kemudahannya, muncul pertanyaan serius dari sisi fikih: bagaimana jika besaran komisi tidak jelas, tidak pasti, bahkan terkadang tidak diterima sama sekali meski promosi telah berhasil?Akad apa yang mendasari affiliate?Dalam fikih muamalah, praktik affiliate paling dekat dengan dua akad: ji’ālah dan samsarah.Ji’ālah (الجعالة) adalah akad di mana seseorang menjanjikan imbalan kepada siapa saja yang berhasil menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu. Contoh klasiknya adalah: “Siapa yang menemukan barangku yang hilang, ia mendapat sekian dirham.” Dalam konteks affiliate, merchant (pemilik produk) berkata, “Siapa yang berhasil menjualkan produkku, ia mendapat komisi.” Ini adalah bentuk ji’ālah.Samsarah (السمسرة) adalah akad perantara atau makelar — seseorang yang menjadi penghubung antara penjual dan pembeli dan mendapat upah atas jasanya. Affiliate juga memiliki unsur ini.Ibnu Qudamah rahimahullāh dalam Al-Mughni (6: 339) menjelaskan ji’ālah sebagai akad yang sah meski objek pekerjaannya tidak sepenuhnya terukur sebelumnya, karena hasilnyalah yang menjadi penentu upah. Ini memberikan kelenturan dibanding akad ijārah (upah kerja biasa) yang mensyaratkan pekerjaan dan upah harus jelas sejak awal.Masalah utama: Komisi yang tidak jelas (majhul)Syariat Islam sangat ketat soal kejelasan dalam akad. Ketidakjelasan yang berpotensi menimbulkan perselisihan disebut gharar (غَرَر) — dan ini terlarang. Rasulullah ﷺ bersabda,نَهَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ“Rasulullah ﷺ melarang jual beli yang mengandung gharar (ketidakpastian).” (HR. Muslim no. 1513)Dalam affiliate, bentuk ketidakjelasan (majhul) yang sering terjadi antara lain: persentase komisi berubah-ubah tanpa pemberitahuan, sistem tracking yang tidak transparan sehingga penjualan tidak terhitung, atau ketentuan komisi yang bergantung pada syarat-syarat tersembunyi dalam kebijakan platform yang rumit dan mudah berubah. Semua ini mengandung unsur gharar yang perlu dikaji lebih dalam.Gharar: Mana yang dimaafkan, mana yang tidak?Para ulama membedakan gharar menjadi dua: gharar fahish (ketidakjelasan besar yang merusak akad) dan gharar yasir (ketidakjelasan kecil yang dimaafkan). Syekh Wahbah az-Zuhaili rahimahullāh dalam Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu (4: 450) menjelaskan bahwa gharar yang diharamkan adalah yang bersifat dominan dalam akad dan berpotensi melahirkan perselisihan. Adapun gharar ringan yang sulit dihindari dalam suatu transaksi adalah dimaafkan.Dalam konteks affiliate: jika persentase komisi sudah jelas sejak awal (misalnya 5% dari harga produk), dan ketidakpastiannya hanya pada apakah ada pembeli atau tidak — maka ini adalah gharar yasir yang wajar dalam ji’ālah dan dimaafkan. Namun jika komisinya sendiri tidak jelas nominalnya, berubah sepihak, atau sistem tracking-nya tidak dapat dipercaya — ini sudah masuk kategori gharar fahish yang bermasalah.Jika pelaku affiliate rida dengan ketidakjelasan ituIni adalah bagian yang paling menarik untuk dikaji. Sebagian pelaku affiliate menerima saja kondisi ini: “Dapat komisi alhamdulillah, tidak dapat pun tidak apa-apa.” Apakah keridaan ini menyelesaikan masalah syar’i-nya?Dalam fikih, ada kaidah terkenal:الأُمُورُ بِمَقَاصِدِهَا“Segala perkara tergantung pada tujuan/niatnya.”Namun dalam muamalah, keridaan saja tidak cukup untuk menghalalkan akad yang cacat. Al-Qur’an memang menegaskan,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَأْكُلُوٓا۟ أَمْوَٰلَكُم بَيْنَكُم بِٱلْبَٰطِلِ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَٰرَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara yang batil, kecuali melalui perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu.” (QS. An-Nisa’ [4]: 29)Ayat ini memang menyebut taradhin (saling rida) sebagai syarat. Namun, para ulama menegaskan bahwa taradhin adalah syarat perlu, bukan syarat cukup. Keridaan tidak menghalalkan riba, tidak menghalalkan judi, dan tidak serta-merta menghalalkan gharar fahish. Ibnu Taimiyah rahimahullāh dalam Majmu’ al-Fatawa (29: 148) berkata, “Ini adalah perkara yang tidak boleh dilakukan tanpa syarat sekalipun; maka syarat tidak dapat menjadikan sesuatu yang haram menjadi halal.”Akan tetapi, jika kita membaca situasi ini dari sudut akad ji’ālah secara khusus, terdapat kelenturan. Dalam ji’ālah, pihak yang bekerja (amil) boleh saja tidak mendapat upah jika pekerjaannya tidak berhasil — itu sudah menjadi kesepakatan dari awal. Jika seorang affiliator memahami dan menerima bahwa: komisi hanya diperoleh jika penjualan terverifikasi oleh sistem platform, dan ia menerima risiko itu dengan sadar, maka ini lebih mendekati ji’ālah yang sah — asalkan besaran komisi saat berhasil tetap jelas.Kesimpulan akad:Jika komisi sudah jelas persentasenya sejak awal, namun ada risiko tidak terhitung karena faktor teknis → ini adalah ji’ālah dengan gharar yasir yang dimaafkan, dan affiliator yang rida menanggung risiko ini hukumnya dibolehkan.Jika komisi tidak jelas nominalnya, berubah sepihak tanpa pemberitahuan, atau ada penipuan sistemik dalam tracking → ini adalah gharar fahish dan akadnya bermasalah, meski affiliator rida sekalipun.Panduan praktis: Agar affiliate menjadi halalDari seluruh tinjauan di atas, agar praktik affiliate di marketplace menjadi akad yang bersih secara syariat, beberapa hal perlu dipastikan. Pertama, besaran komisi harus jelas sejak awal — baik dalam nominal maupun persentase yang tidak berubah sepihak. Kedua, mekanisme verifikasi penjualan harus transparan dan dapat dipercaya. Ketiga, kebijakan komisi tidak boleh berubah tanpa pemberitahuan yang layak kepada affiliator. Keempat, tidak ada penipuan dalam sistem tracking yang menyebabkan hak affiliator hilang secara sepihak.KesimpulanAffiliate marketing pada dasarnya adalah akad ji’ālah atau samsarah yang dibolehkan dalam Islam. Persoalan muncul ketika komisi bersifat majhul (tidak jelas) secara esensial — bukan sekadar tidak pasti hasilnya, melainkan tidak jelas besarannya. Keridaan affiliator tidak otomatis menyembuhkan cacat akad yang timbul dari gharar fahish. Namun jika komisi jelas, affiliator hanya menanggung risiko wajar bahwa tidak semua promosi berbuah komisi, maka keridaannya itu justru menjadi bagian yang sah dari akad ji’alah. Kuncinya satu: kejelasan sejak awal.Wallahu Ta’ala a’lam. Semoga bermanfaat…Baca juga: Praktek Riba dalam Transaksi Online***Penulis: Junaidi Abu IsaArtikel Muslim.or.id

Hukum Affiliate di Marketplace dengan Komisi yang Tidak Jelas (Majhul)

Daftar Isi ToggleAkad apa yang mendasari affiliate?Masalah utama: Komisi yang tidak jelas (majhul)Gharar: Mana yang dimaafkan, mana yang tidak?Jika pelaku affiliate rida dengan ketidakjelasan ituKesimpulan akad:Panduan praktis: Agar affiliate menjadi halalKesimpulanBisnis affiliate marketing kini menjadi salah satu model penghasilan digital yang paling diminati. Cara kerjanya sederhana: seseorang mempromosikan produk melalui tautan khusus, dan bila ada pembeli yang bertransaksi melalui tautan tersebut, ia mendapat komisi. Namun di balik kemudahannya, muncul pertanyaan serius dari sisi fikih: bagaimana jika besaran komisi tidak jelas, tidak pasti, bahkan terkadang tidak diterima sama sekali meski promosi telah berhasil?Akad apa yang mendasari affiliate?Dalam fikih muamalah, praktik affiliate paling dekat dengan dua akad: ji’ālah dan samsarah.Ji’ālah (الجعالة) adalah akad di mana seseorang menjanjikan imbalan kepada siapa saja yang berhasil menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu. Contoh klasiknya adalah: “Siapa yang menemukan barangku yang hilang, ia mendapat sekian dirham.” Dalam konteks affiliate, merchant (pemilik produk) berkata, “Siapa yang berhasil menjualkan produkku, ia mendapat komisi.” Ini adalah bentuk ji’ālah.Samsarah (السمسرة) adalah akad perantara atau makelar — seseorang yang menjadi penghubung antara penjual dan pembeli dan mendapat upah atas jasanya. Affiliate juga memiliki unsur ini.Ibnu Qudamah rahimahullāh dalam Al-Mughni (6: 339) menjelaskan ji’ālah sebagai akad yang sah meski objek pekerjaannya tidak sepenuhnya terukur sebelumnya, karena hasilnyalah yang menjadi penentu upah. Ini memberikan kelenturan dibanding akad ijārah (upah kerja biasa) yang mensyaratkan pekerjaan dan upah harus jelas sejak awal.Masalah utama: Komisi yang tidak jelas (majhul)Syariat Islam sangat ketat soal kejelasan dalam akad. Ketidakjelasan yang berpotensi menimbulkan perselisihan disebut gharar (غَرَر) — dan ini terlarang. Rasulullah ﷺ bersabda,نَهَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ“Rasulullah ﷺ melarang jual beli yang mengandung gharar (ketidakpastian).” (HR. Muslim no. 1513)Dalam affiliate, bentuk ketidakjelasan (majhul) yang sering terjadi antara lain: persentase komisi berubah-ubah tanpa pemberitahuan, sistem tracking yang tidak transparan sehingga penjualan tidak terhitung, atau ketentuan komisi yang bergantung pada syarat-syarat tersembunyi dalam kebijakan platform yang rumit dan mudah berubah. Semua ini mengandung unsur gharar yang perlu dikaji lebih dalam.Gharar: Mana yang dimaafkan, mana yang tidak?Para ulama membedakan gharar menjadi dua: gharar fahish (ketidakjelasan besar yang merusak akad) dan gharar yasir (ketidakjelasan kecil yang dimaafkan). Syekh Wahbah az-Zuhaili rahimahullāh dalam Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu (4: 450) menjelaskan bahwa gharar yang diharamkan adalah yang bersifat dominan dalam akad dan berpotensi melahirkan perselisihan. Adapun gharar ringan yang sulit dihindari dalam suatu transaksi adalah dimaafkan.Dalam konteks affiliate: jika persentase komisi sudah jelas sejak awal (misalnya 5% dari harga produk), dan ketidakpastiannya hanya pada apakah ada pembeli atau tidak — maka ini adalah gharar yasir yang wajar dalam ji’ālah dan dimaafkan. Namun jika komisinya sendiri tidak jelas nominalnya, berubah sepihak, atau sistem tracking-nya tidak dapat dipercaya — ini sudah masuk kategori gharar fahish yang bermasalah.Jika pelaku affiliate rida dengan ketidakjelasan ituIni adalah bagian yang paling menarik untuk dikaji. Sebagian pelaku affiliate menerima saja kondisi ini: “Dapat komisi alhamdulillah, tidak dapat pun tidak apa-apa.” Apakah keridaan ini menyelesaikan masalah syar’i-nya?Dalam fikih, ada kaidah terkenal:الأُمُورُ بِمَقَاصِدِهَا“Segala perkara tergantung pada tujuan/niatnya.”Namun dalam muamalah, keridaan saja tidak cukup untuk menghalalkan akad yang cacat. Al-Qur’an memang menegaskan,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَأْكُلُوٓا۟ أَمْوَٰلَكُم بَيْنَكُم بِٱلْبَٰطِلِ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَٰرَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara yang batil, kecuali melalui perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu.” (QS. An-Nisa’ [4]: 29)Ayat ini memang menyebut taradhin (saling rida) sebagai syarat. Namun, para ulama menegaskan bahwa taradhin adalah syarat perlu, bukan syarat cukup. Keridaan tidak menghalalkan riba, tidak menghalalkan judi, dan tidak serta-merta menghalalkan gharar fahish. Ibnu Taimiyah rahimahullāh dalam Majmu’ al-Fatawa (29: 148) berkata, “Ini adalah perkara yang tidak boleh dilakukan tanpa syarat sekalipun; maka syarat tidak dapat menjadikan sesuatu yang haram menjadi halal.”Akan tetapi, jika kita membaca situasi ini dari sudut akad ji’ālah secara khusus, terdapat kelenturan. Dalam ji’ālah, pihak yang bekerja (amil) boleh saja tidak mendapat upah jika pekerjaannya tidak berhasil — itu sudah menjadi kesepakatan dari awal. Jika seorang affiliator memahami dan menerima bahwa: komisi hanya diperoleh jika penjualan terverifikasi oleh sistem platform, dan ia menerima risiko itu dengan sadar, maka ini lebih mendekati ji’ālah yang sah — asalkan besaran komisi saat berhasil tetap jelas.Kesimpulan akad:Jika komisi sudah jelas persentasenya sejak awal, namun ada risiko tidak terhitung karena faktor teknis → ini adalah ji’ālah dengan gharar yasir yang dimaafkan, dan affiliator yang rida menanggung risiko ini hukumnya dibolehkan.Jika komisi tidak jelas nominalnya, berubah sepihak tanpa pemberitahuan, atau ada penipuan sistemik dalam tracking → ini adalah gharar fahish dan akadnya bermasalah, meski affiliator rida sekalipun.Panduan praktis: Agar affiliate menjadi halalDari seluruh tinjauan di atas, agar praktik affiliate di marketplace menjadi akad yang bersih secara syariat, beberapa hal perlu dipastikan. Pertama, besaran komisi harus jelas sejak awal — baik dalam nominal maupun persentase yang tidak berubah sepihak. Kedua, mekanisme verifikasi penjualan harus transparan dan dapat dipercaya. Ketiga, kebijakan komisi tidak boleh berubah tanpa pemberitahuan yang layak kepada affiliator. Keempat, tidak ada penipuan dalam sistem tracking yang menyebabkan hak affiliator hilang secara sepihak.KesimpulanAffiliate marketing pada dasarnya adalah akad ji’ālah atau samsarah yang dibolehkan dalam Islam. Persoalan muncul ketika komisi bersifat majhul (tidak jelas) secara esensial — bukan sekadar tidak pasti hasilnya, melainkan tidak jelas besarannya. Keridaan affiliator tidak otomatis menyembuhkan cacat akad yang timbul dari gharar fahish. Namun jika komisi jelas, affiliator hanya menanggung risiko wajar bahwa tidak semua promosi berbuah komisi, maka keridaannya itu justru menjadi bagian yang sah dari akad ji’alah. Kuncinya satu: kejelasan sejak awal.Wallahu Ta’ala a’lam. Semoga bermanfaat…Baca juga: Praktek Riba dalam Transaksi Online***Penulis: Junaidi Abu IsaArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleAkad apa yang mendasari affiliate?Masalah utama: Komisi yang tidak jelas (majhul)Gharar: Mana yang dimaafkan, mana yang tidak?Jika pelaku affiliate rida dengan ketidakjelasan ituKesimpulan akad:Panduan praktis: Agar affiliate menjadi halalKesimpulanBisnis affiliate marketing kini menjadi salah satu model penghasilan digital yang paling diminati. Cara kerjanya sederhana: seseorang mempromosikan produk melalui tautan khusus, dan bila ada pembeli yang bertransaksi melalui tautan tersebut, ia mendapat komisi. Namun di balik kemudahannya, muncul pertanyaan serius dari sisi fikih: bagaimana jika besaran komisi tidak jelas, tidak pasti, bahkan terkadang tidak diterima sama sekali meski promosi telah berhasil?Akad apa yang mendasari affiliate?Dalam fikih muamalah, praktik affiliate paling dekat dengan dua akad: ji’ālah dan samsarah.Ji’ālah (الجعالة) adalah akad di mana seseorang menjanjikan imbalan kepada siapa saja yang berhasil menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu. Contoh klasiknya adalah: “Siapa yang menemukan barangku yang hilang, ia mendapat sekian dirham.” Dalam konteks affiliate, merchant (pemilik produk) berkata, “Siapa yang berhasil menjualkan produkku, ia mendapat komisi.” Ini adalah bentuk ji’ālah.Samsarah (السمسرة) adalah akad perantara atau makelar — seseorang yang menjadi penghubung antara penjual dan pembeli dan mendapat upah atas jasanya. Affiliate juga memiliki unsur ini.Ibnu Qudamah rahimahullāh dalam Al-Mughni (6: 339) menjelaskan ji’ālah sebagai akad yang sah meski objek pekerjaannya tidak sepenuhnya terukur sebelumnya, karena hasilnyalah yang menjadi penentu upah. Ini memberikan kelenturan dibanding akad ijārah (upah kerja biasa) yang mensyaratkan pekerjaan dan upah harus jelas sejak awal.Masalah utama: Komisi yang tidak jelas (majhul)Syariat Islam sangat ketat soal kejelasan dalam akad. Ketidakjelasan yang berpotensi menimbulkan perselisihan disebut gharar (غَرَر) — dan ini terlarang. Rasulullah ﷺ bersabda,نَهَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ“Rasulullah ﷺ melarang jual beli yang mengandung gharar (ketidakpastian).” (HR. Muslim no. 1513)Dalam affiliate, bentuk ketidakjelasan (majhul) yang sering terjadi antara lain: persentase komisi berubah-ubah tanpa pemberitahuan, sistem tracking yang tidak transparan sehingga penjualan tidak terhitung, atau ketentuan komisi yang bergantung pada syarat-syarat tersembunyi dalam kebijakan platform yang rumit dan mudah berubah. Semua ini mengandung unsur gharar yang perlu dikaji lebih dalam.Gharar: Mana yang dimaafkan, mana yang tidak?Para ulama membedakan gharar menjadi dua: gharar fahish (ketidakjelasan besar yang merusak akad) dan gharar yasir (ketidakjelasan kecil yang dimaafkan). Syekh Wahbah az-Zuhaili rahimahullāh dalam Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu (4: 450) menjelaskan bahwa gharar yang diharamkan adalah yang bersifat dominan dalam akad dan berpotensi melahirkan perselisihan. Adapun gharar ringan yang sulit dihindari dalam suatu transaksi adalah dimaafkan.Dalam konteks affiliate: jika persentase komisi sudah jelas sejak awal (misalnya 5% dari harga produk), dan ketidakpastiannya hanya pada apakah ada pembeli atau tidak — maka ini adalah gharar yasir yang wajar dalam ji’ālah dan dimaafkan. Namun jika komisinya sendiri tidak jelas nominalnya, berubah sepihak, atau sistem tracking-nya tidak dapat dipercaya — ini sudah masuk kategori gharar fahish yang bermasalah.Jika pelaku affiliate rida dengan ketidakjelasan ituIni adalah bagian yang paling menarik untuk dikaji. Sebagian pelaku affiliate menerima saja kondisi ini: “Dapat komisi alhamdulillah, tidak dapat pun tidak apa-apa.” Apakah keridaan ini menyelesaikan masalah syar’i-nya?Dalam fikih, ada kaidah terkenal:الأُمُورُ بِمَقَاصِدِهَا“Segala perkara tergantung pada tujuan/niatnya.”Namun dalam muamalah, keridaan saja tidak cukup untuk menghalalkan akad yang cacat. Al-Qur’an memang menegaskan,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَأْكُلُوٓا۟ أَمْوَٰلَكُم بَيْنَكُم بِٱلْبَٰطِلِ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَٰرَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara yang batil, kecuali melalui perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu.” (QS. An-Nisa’ [4]: 29)Ayat ini memang menyebut taradhin (saling rida) sebagai syarat. Namun, para ulama menegaskan bahwa taradhin adalah syarat perlu, bukan syarat cukup. Keridaan tidak menghalalkan riba, tidak menghalalkan judi, dan tidak serta-merta menghalalkan gharar fahish. Ibnu Taimiyah rahimahullāh dalam Majmu’ al-Fatawa (29: 148) berkata, “Ini adalah perkara yang tidak boleh dilakukan tanpa syarat sekalipun; maka syarat tidak dapat menjadikan sesuatu yang haram menjadi halal.”Akan tetapi, jika kita membaca situasi ini dari sudut akad ji’ālah secara khusus, terdapat kelenturan. Dalam ji’ālah, pihak yang bekerja (amil) boleh saja tidak mendapat upah jika pekerjaannya tidak berhasil — itu sudah menjadi kesepakatan dari awal. Jika seorang affiliator memahami dan menerima bahwa: komisi hanya diperoleh jika penjualan terverifikasi oleh sistem platform, dan ia menerima risiko itu dengan sadar, maka ini lebih mendekati ji’ālah yang sah — asalkan besaran komisi saat berhasil tetap jelas.Kesimpulan akad:Jika komisi sudah jelas persentasenya sejak awal, namun ada risiko tidak terhitung karena faktor teknis → ini adalah ji’ālah dengan gharar yasir yang dimaafkan, dan affiliator yang rida menanggung risiko ini hukumnya dibolehkan.Jika komisi tidak jelas nominalnya, berubah sepihak tanpa pemberitahuan, atau ada penipuan sistemik dalam tracking → ini adalah gharar fahish dan akadnya bermasalah, meski affiliator rida sekalipun.Panduan praktis: Agar affiliate menjadi halalDari seluruh tinjauan di atas, agar praktik affiliate di marketplace menjadi akad yang bersih secara syariat, beberapa hal perlu dipastikan. Pertama, besaran komisi harus jelas sejak awal — baik dalam nominal maupun persentase yang tidak berubah sepihak. Kedua, mekanisme verifikasi penjualan harus transparan dan dapat dipercaya. Ketiga, kebijakan komisi tidak boleh berubah tanpa pemberitahuan yang layak kepada affiliator. Keempat, tidak ada penipuan dalam sistem tracking yang menyebabkan hak affiliator hilang secara sepihak.KesimpulanAffiliate marketing pada dasarnya adalah akad ji’ālah atau samsarah yang dibolehkan dalam Islam. Persoalan muncul ketika komisi bersifat majhul (tidak jelas) secara esensial — bukan sekadar tidak pasti hasilnya, melainkan tidak jelas besarannya. Keridaan affiliator tidak otomatis menyembuhkan cacat akad yang timbul dari gharar fahish. Namun jika komisi jelas, affiliator hanya menanggung risiko wajar bahwa tidak semua promosi berbuah komisi, maka keridaannya itu justru menjadi bagian yang sah dari akad ji’alah. Kuncinya satu: kejelasan sejak awal.Wallahu Ta’ala a’lam. Semoga bermanfaat…Baca juga: Praktek Riba dalam Transaksi Online***Penulis: Junaidi Abu IsaArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleAkad apa yang mendasari affiliate?Masalah utama: Komisi yang tidak jelas (majhul)Gharar: Mana yang dimaafkan, mana yang tidak?Jika pelaku affiliate rida dengan ketidakjelasan ituKesimpulan akad:Panduan praktis: Agar affiliate menjadi halalKesimpulanBisnis affiliate marketing kini menjadi salah satu model penghasilan digital yang paling diminati. Cara kerjanya sederhana: seseorang mempromosikan produk melalui tautan khusus, dan bila ada pembeli yang bertransaksi melalui tautan tersebut, ia mendapat komisi. Namun di balik kemudahannya, muncul pertanyaan serius dari sisi fikih: bagaimana jika besaran komisi tidak jelas, tidak pasti, bahkan terkadang tidak diterima sama sekali meski promosi telah berhasil?Akad apa yang mendasari affiliate?Dalam fikih muamalah, praktik affiliate paling dekat dengan dua akad: ji’ālah dan samsarah.Ji’ālah (الجعالة) adalah akad di mana seseorang menjanjikan imbalan kepada siapa saja yang berhasil menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu. Contoh klasiknya adalah: “Siapa yang menemukan barangku yang hilang, ia mendapat sekian dirham.” Dalam konteks affiliate, merchant (pemilik produk) berkata, “Siapa yang berhasil menjualkan produkku, ia mendapat komisi.” Ini adalah bentuk ji’ālah.Samsarah (السمسرة) adalah akad perantara atau makelar — seseorang yang menjadi penghubung antara penjual dan pembeli dan mendapat upah atas jasanya. Affiliate juga memiliki unsur ini.Ibnu Qudamah rahimahullāh dalam Al-Mughni (6: 339) menjelaskan ji’ālah sebagai akad yang sah meski objek pekerjaannya tidak sepenuhnya terukur sebelumnya, karena hasilnyalah yang menjadi penentu upah. Ini memberikan kelenturan dibanding akad ijārah (upah kerja biasa) yang mensyaratkan pekerjaan dan upah harus jelas sejak awal.Masalah utama: Komisi yang tidak jelas (majhul)Syariat Islam sangat ketat soal kejelasan dalam akad. Ketidakjelasan yang berpotensi menimbulkan perselisihan disebut gharar (غَرَر) — dan ini terlarang. Rasulullah ﷺ bersabda,نَهَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ“Rasulullah ﷺ melarang jual beli yang mengandung gharar (ketidakpastian).” (HR. Muslim no. 1513)Dalam affiliate, bentuk ketidakjelasan (majhul) yang sering terjadi antara lain: persentase komisi berubah-ubah tanpa pemberitahuan, sistem tracking yang tidak transparan sehingga penjualan tidak terhitung, atau ketentuan komisi yang bergantung pada syarat-syarat tersembunyi dalam kebijakan platform yang rumit dan mudah berubah. Semua ini mengandung unsur gharar yang perlu dikaji lebih dalam.Gharar: Mana yang dimaafkan, mana yang tidak?Para ulama membedakan gharar menjadi dua: gharar fahish (ketidakjelasan besar yang merusak akad) dan gharar yasir (ketidakjelasan kecil yang dimaafkan). Syekh Wahbah az-Zuhaili rahimahullāh dalam Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu (4: 450) menjelaskan bahwa gharar yang diharamkan adalah yang bersifat dominan dalam akad dan berpotensi melahirkan perselisihan. Adapun gharar ringan yang sulit dihindari dalam suatu transaksi adalah dimaafkan.Dalam konteks affiliate: jika persentase komisi sudah jelas sejak awal (misalnya 5% dari harga produk), dan ketidakpastiannya hanya pada apakah ada pembeli atau tidak — maka ini adalah gharar yasir yang wajar dalam ji’ālah dan dimaafkan. Namun jika komisinya sendiri tidak jelas nominalnya, berubah sepihak, atau sistem tracking-nya tidak dapat dipercaya — ini sudah masuk kategori gharar fahish yang bermasalah.Jika pelaku affiliate rida dengan ketidakjelasan ituIni adalah bagian yang paling menarik untuk dikaji. Sebagian pelaku affiliate menerima saja kondisi ini: “Dapat komisi alhamdulillah, tidak dapat pun tidak apa-apa.” Apakah keridaan ini menyelesaikan masalah syar’i-nya?Dalam fikih, ada kaidah terkenal:الأُمُورُ بِمَقَاصِدِهَا“Segala perkara tergantung pada tujuan/niatnya.”Namun dalam muamalah, keridaan saja tidak cukup untuk menghalalkan akad yang cacat. Al-Qur’an memang menegaskan,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَأْكُلُوٓا۟ أَمْوَٰلَكُم بَيْنَكُم بِٱلْبَٰطِلِ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَٰرَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara yang batil, kecuali melalui perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu.” (QS. An-Nisa’ [4]: 29)Ayat ini memang menyebut taradhin (saling rida) sebagai syarat. Namun, para ulama menegaskan bahwa taradhin adalah syarat perlu, bukan syarat cukup. Keridaan tidak menghalalkan riba, tidak menghalalkan judi, dan tidak serta-merta menghalalkan gharar fahish. Ibnu Taimiyah rahimahullāh dalam Majmu’ al-Fatawa (29: 148) berkata, “Ini adalah perkara yang tidak boleh dilakukan tanpa syarat sekalipun; maka syarat tidak dapat menjadikan sesuatu yang haram menjadi halal.”Akan tetapi, jika kita membaca situasi ini dari sudut akad ji’ālah secara khusus, terdapat kelenturan. Dalam ji’ālah, pihak yang bekerja (amil) boleh saja tidak mendapat upah jika pekerjaannya tidak berhasil — itu sudah menjadi kesepakatan dari awal. Jika seorang affiliator memahami dan menerima bahwa: komisi hanya diperoleh jika penjualan terverifikasi oleh sistem platform, dan ia menerima risiko itu dengan sadar, maka ini lebih mendekati ji’ālah yang sah — asalkan besaran komisi saat berhasil tetap jelas.Kesimpulan akad:Jika komisi sudah jelas persentasenya sejak awal, namun ada risiko tidak terhitung karena faktor teknis → ini adalah ji’ālah dengan gharar yasir yang dimaafkan, dan affiliator yang rida menanggung risiko ini hukumnya dibolehkan.Jika komisi tidak jelas nominalnya, berubah sepihak tanpa pemberitahuan, atau ada penipuan sistemik dalam tracking → ini adalah gharar fahish dan akadnya bermasalah, meski affiliator rida sekalipun.Panduan praktis: Agar affiliate menjadi halalDari seluruh tinjauan di atas, agar praktik affiliate di marketplace menjadi akad yang bersih secara syariat, beberapa hal perlu dipastikan. Pertama, besaran komisi harus jelas sejak awal — baik dalam nominal maupun persentase yang tidak berubah sepihak. Kedua, mekanisme verifikasi penjualan harus transparan dan dapat dipercaya. Ketiga, kebijakan komisi tidak boleh berubah tanpa pemberitahuan yang layak kepada affiliator. Keempat, tidak ada penipuan dalam sistem tracking yang menyebabkan hak affiliator hilang secara sepihak.KesimpulanAffiliate marketing pada dasarnya adalah akad ji’ālah atau samsarah yang dibolehkan dalam Islam. Persoalan muncul ketika komisi bersifat majhul (tidak jelas) secara esensial — bukan sekadar tidak pasti hasilnya, melainkan tidak jelas besarannya. Keridaan affiliator tidak otomatis menyembuhkan cacat akad yang timbul dari gharar fahish. Namun jika komisi jelas, affiliator hanya menanggung risiko wajar bahwa tidak semua promosi berbuah komisi, maka keridaannya itu justru menjadi bagian yang sah dari akad ji’alah. Kuncinya satu: kejelasan sejak awal.Wallahu Ta’ala a’lam. Semoga bermanfaat…Baca juga: Praktek Riba dalam Transaksi Online***Penulis: Junaidi Abu IsaArtikel Muslim.or.id

Kepedulian Islam Terhadap Hak-Hak Orang Sakit dan Berkebutuhan Khusus

Oleh: Syaikh Nida Abu Ahmad Agama Islam punya prinsip istimewa dalam memberi perhatian bagi orang-orang sakit dan berkebutuhan khusus. Prinsip yang dimulai dengan memberi kemudahan bagi mereka dalam beberapa ketentuan syariat. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَىٰ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ “Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak ada halangan bagi orang pincang, tidak ada halangan bagi orang sakit.” (QS. An-Nur: 61). Dan prinsip ini sampai pada pemberian harapan ke dalam jiwa mereka, juga menjaga hak-hak jiwa dan raga mereka. Inilah Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, apabila mendengar ada orang yang sakit, beliau segera menjenguknya di rumahnya, meski dengan banyaknya tugas dan kesibukan beliau. Penjengukan beliau ini bukan karena memaksakan diri atau rasa terpaksa, tapi karena kesadaran akan kewajiban beliau terhadap orang sakit tersebut. Bagaimana tidak, sedangkan beliaulah yang menjadikan penjengukan orang sakit adalah salah satu hak orang sakit itu?! Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Hak seorang muslim yang harus ditunaikan muslim lainnya ada lima” Lalu beliau menyebutkan di antaranya: “Menjenguk orang yang sakit.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu). Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam —yang merupakan pendidik dan teladan— menghibur orang yang sedang sakit atas kesulitan dan sakitnya. Beliau menampakkan —tanpa sikap yang dibuat-buat— kepedulian, perhatian, dan cinta beliau kepadanya. Hal ini sebagaimana yang dikisahkan Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma: “Saad bin Ubadah pernah mengadukan keluhan sakit kepadanya, lalu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menjenguknya bersama Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqash, dan Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhum. Ketika beliau masuk ke rumahnya, ternyata beliau mendapatinya dikelilingi orang-orang dari keluarganya. Beliau lalu bertanya: ‘Apakah ia telah wafat?’ Mereka menjawab: ‘Belum, wahai Rasulullah!’ Kemudian beliau menangis. Ketika orang-orang melihat Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menangis, orang-orang pun ikut menangis. Beliau lalu bersabda: ‘Tidakkah kalian mendengar? Sesungguhnya Allah tidak menyiksa karena tetesan air mata atau kesedihan hati, tapi Dia menyiksa karena ini —beliau menunjuk ke arah lisannya— atau merahmati karenanya pula.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dulu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga senantiasa mendoakan orang yang sedang sakit, memberinya kabar gembira berupa ganjaran pahala atas sakit yang menimpanya, menghiburnya atas musibahnya, dan membuatnya ridha dengan keadaannya. Ummu Al-Ala’ menceritakan: “Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam pernah menjengukku ketika sakit, lalu beliau bersabda: ‘Bergembiralah wahai Ummu Al-Ala’, karena penyakit seorang muslim akan menjadi sebab Allah menghapus dosa-dosanya, sebagaimana api menghilangkan kotoran emas dan perak.’” (HR. Abu Dawud. Disebutkan juga dalam Shahih Al-Jami no. 7851). Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam senantiasa memberi kemudahan bagi orang yang sakit dan tidak memberatkannya. Hal ini seperti yang diriwayatkan Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ‘anhuma: “Kami pernah pergi bersafar, lalu salah satu dari kami terkena batu hingga melukai kepalanya. Kemudian ia mengalami junub, lalu bertanya kepada para sahabatnya: ‘Apakah menurut kalian aku mendapat keringanan untuk bertayamum (untuk mandi wajib)?’ Mereka menjawab: ‘Kami tidak menganggap engkau mendapat keringanan karena engkau masih mampu memakai air.’ Akhirnya ia mandi dan akhirnya meninggal dunia. Setelah kami sampai kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, beliau diberitahu kejadian tersebut. Beliau lalu bersabda: ‘Mereka telah membunuhnya! Semoga Allah membalas mereka. Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak mengetahui, karena sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya. Sebenarnya ia cukup untuk bertayamum lalu mengikat atau membalut —perawi ragu kata pastinya— lukanya dengan sehelai kain, kemudian mengusap atasnya, dan mencuci (dengan air) anggota badannya yang lain.’” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah. Disebutkan juga dalam Shahih Al-Jami no. 4362). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga memenuhi kebutuhan orang yang sakit, dan berjalan bersamanya hingga dapat menyelesaikan kebutuhannya. Suatu ketika datang kepada beliau seorang wanita yang punya gangguan mental, lalu ia berkata: “Wahai Rasulullah, aku punya suatu keperluan dengan engkau.” Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Wahai ibu fulan, engkau mau kita bicara di gang yang mana, agar aku bisa memenuhi keperluanmu?” Beliau lalu berbicara dengan wanita itu di salah satu gang hingga ia mengungkapkan keperluannya. (HR. Muslim dari riwayat Anas Radhiyallahu ‘anhu). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga menetapkan hak bagi orang sakit dan berkebutuhan khusus untuk berobat, karena kesehatan badan lahir dan batin adalah salah satu tujuan agama Islam. Oleh sebab itu, Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda kepada orang-orang Arab Badui ketika mereka bertanya tentang berobat: تَدَاوَوْا عِبَادَ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً إِلَّا الْهَرَمَ “Berobatlah wahai hamba-hamba Allah, karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga menurunkan obatnya, kecuali penuaan.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Dishahihkan Al-Albani dalam Ghayah al-Maram no. 292). Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam juga tidak melarang wanita muslim untuk mengobati laki-laki muslim. Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam pernah menetapkan Rafidah —seorang wanita dari kabilah Aslam— untuk mengobati Saad bin Muadz Radhiyallahu ‘anhu saat terkena anak panah pada perang Khandaq. Rafidah Radhiyallahu ‘anha mengobati orang-orang yang terluka dan mendedikasikan dirinya secara sukarela untuk melayani siapa saja kaum Muslimin yang terlantar. (Diriwayatkan Imam Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad dan Ibnu Hisyam dalam As-Sirah an-Nabawiyah jilid 2 hlm. 239. Juga dalam Ash-Shahihah no. 1158). Dalam implementasinya, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam memperlakukan Amru bin Al-Jamuh Radhiyallahu ‘anhu dengan perlakuan yang penuh penghormatan, meskipun Amru bin Al-Jamuh adalah seorang penyandang disabilitas, yaitu kakinya mengalami pincang yang parah. Amru bin Al-Jamuh menceritakan bahwa empat anaknya yang pernah mengikuti banyak peperangan bersama Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam ingin melarangnya ikut berperang pada perang Uhud. Amru bin Al-Jamuh lalu mendatangi Rasul Shalallahu Alaihi Wassalam dan berkata: “Anak-anakku ingin mencegahku dari jalan ini dan pergi bersama engkau. Demi Allah, sungguh aku ingin menapaki surga dengan kaki pincangku ini!” Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bersabda kepada Amru: “Adapun engkau telah diberi uzur oleh Allah, sehingga engkau tidak lagi wajib berjihad.” Lalu bersabda kepada anak-anaknya: “Kalian tidak berhak melarangnya, semoga Allah mengaruniakan kesyahidan.” Akhirnya Amru bin Al-Jamuh pergi bersama Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pada perang Uhud, sehingga ia terbunuh. Kemudian Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda tentangnya: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya! Sungguh di antara kalian ada orang yang jika ia bersumpah atas nama Allah, maka Dia akan memenuhi sumpahnya, di antara mereka adalah Amru bin Al-Jamuh, sungguh aku telah melihatnya menapakkan kaki di surga dengan kaki pincangnya.” (HR. Ibnu Hibban dari riwayat Jabir Radhiyallahu ‘anhu). Demikianlah keadaan orang-orang sakit dan berkebutuhan khusus dalam Islam dan di bawah naungan peradaban Islam. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/1001/173888/الإسلام-يراعي-حقوق-المرضى-وذوي-الاحتياجات-الخاصة/ Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 77 times, 1 visit(s) today Post Views: 82

Kepedulian Islam Terhadap Hak-Hak Orang Sakit dan Berkebutuhan Khusus

Oleh: Syaikh Nida Abu Ahmad Agama Islam punya prinsip istimewa dalam memberi perhatian bagi orang-orang sakit dan berkebutuhan khusus. Prinsip yang dimulai dengan memberi kemudahan bagi mereka dalam beberapa ketentuan syariat. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَىٰ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ “Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak ada halangan bagi orang pincang, tidak ada halangan bagi orang sakit.” (QS. An-Nur: 61). Dan prinsip ini sampai pada pemberian harapan ke dalam jiwa mereka, juga menjaga hak-hak jiwa dan raga mereka. Inilah Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, apabila mendengar ada orang yang sakit, beliau segera menjenguknya di rumahnya, meski dengan banyaknya tugas dan kesibukan beliau. Penjengukan beliau ini bukan karena memaksakan diri atau rasa terpaksa, tapi karena kesadaran akan kewajiban beliau terhadap orang sakit tersebut. Bagaimana tidak, sedangkan beliaulah yang menjadikan penjengukan orang sakit adalah salah satu hak orang sakit itu?! Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Hak seorang muslim yang harus ditunaikan muslim lainnya ada lima” Lalu beliau menyebutkan di antaranya: “Menjenguk orang yang sakit.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu). Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam —yang merupakan pendidik dan teladan— menghibur orang yang sedang sakit atas kesulitan dan sakitnya. Beliau menampakkan —tanpa sikap yang dibuat-buat— kepedulian, perhatian, dan cinta beliau kepadanya. Hal ini sebagaimana yang dikisahkan Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma: “Saad bin Ubadah pernah mengadukan keluhan sakit kepadanya, lalu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menjenguknya bersama Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqash, dan Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhum. Ketika beliau masuk ke rumahnya, ternyata beliau mendapatinya dikelilingi orang-orang dari keluarganya. Beliau lalu bertanya: ‘Apakah ia telah wafat?’ Mereka menjawab: ‘Belum, wahai Rasulullah!’ Kemudian beliau menangis. Ketika orang-orang melihat Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menangis, orang-orang pun ikut menangis. Beliau lalu bersabda: ‘Tidakkah kalian mendengar? Sesungguhnya Allah tidak menyiksa karena tetesan air mata atau kesedihan hati, tapi Dia menyiksa karena ini —beliau menunjuk ke arah lisannya— atau merahmati karenanya pula.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dulu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga senantiasa mendoakan orang yang sedang sakit, memberinya kabar gembira berupa ganjaran pahala atas sakit yang menimpanya, menghiburnya atas musibahnya, dan membuatnya ridha dengan keadaannya. Ummu Al-Ala’ menceritakan: “Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam pernah menjengukku ketika sakit, lalu beliau bersabda: ‘Bergembiralah wahai Ummu Al-Ala’, karena penyakit seorang muslim akan menjadi sebab Allah menghapus dosa-dosanya, sebagaimana api menghilangkan kotoran emas dan perak.’” (HR. Abu Dawud. Disebutkan juga dalam Shahih Al-Jami no. 7851). Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam senantiasa memberi kemudahan bagi orang yang sakit dan tidak memberatkannya. Hal ini seperti yang diriwayatkan Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ‘anhuma: “Kami pernah pergi bersafar, lalu salah satu dari kami terkena batu hingga melukai kepalanya. Kemudian ia mengalami junub, lalu bertanya kepada para sahabatnya: ‘Apakah menurut kalian aku mendapat keringanan untuk bertayamum (untuk mandi wajib)?’ Mereka menjawab: ‘Kami tidak menganggap engkau mendapat keringanan karena engkau masih mampu memakai air.’ Akhirnya ia mandi dan akhirnya meninggal dunia. Setelah kami sampai kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, beliau diberitahu kejadian tersebut. Beliau lalu bersabda: ‘Mereka telah membunuhnya! Semoga Allah membalas mereka. Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak mengetahui, karena sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya. Sebenarnya ia cukup untuk bertayamum lalu mengikat atau membalut —perawi ragu kata pastinya— lukanya dengan sehelai kain, kemudian mengusap atasnya, dan mencuci (dengan air) anggota badannya yang lain.’” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah. Disebutkan juga dalam Shahih Al-Jami no. 4362). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga memenuhi kebutuhan orang yang sakit, dan berjalan bersamanya hingga dapat menyelesaikan kebutuhannya. Suatu ketika datang kepada beliau seorang wanita yang punya gangguan mental, lalu ia berkata: “Wahai Rasulullah, aku punya suatu keperluan dengan engkau.” Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Wahai ibu fulan, engkau mau kita bicara di gang yang mana, agar aku bisa memenuhi keperluanmu?” Beliau lalu berbicara dengan wanita itu di salah satu gang hingga ia mengungkapkan keperluannya. (HR. Muslim dari riwayat Anas Radhiyallahu ‘anhu). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga menetapkan hak bagi orang sakit dan berkebutuhan khusus untuk berobat, karena kesehatan badan lahir dan batin adalah salah satu tujuan agama Islam. Oleh sebab itu, Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda kepada orang-orang Arab Badui ketika mereka bertanya tentang berobat: تَدَاوَوْا عِبَادَ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً إِلَّا الْهَرَمَ “Berobatlah wahai hamba-hamba Allah, karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga menurunkan obatnya, kecuali penuaan.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Dishahihkan Al-Albani dalam Ghayah al-Maram no. 292). Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam juga tidak melarang wanita muslim untuk mengobati laki-laki muslim. Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam pernah menetapkan Rafidah —seorang wanita dari kabilah Aslam— untuk mengobati Saad bin Muadz Radhiyallahu ‘anhu saat terkena anak panah pada perang Khandaq. Rafidah Radhiyallahu ‘anha mengobati orang-orang yang terluka dan mendedikasikan dirinya secara sukarela untuk melayani siapa saja kaum Muslimin yang terlantar. (Diriwayatkan Imam Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad dan Ibnu Hisyam dalam As-Sirah an-Nabawiyah jilid 2 hlm. 239. Juga dalam Ash-Shahihah no. 1158). Dalam implementasinya, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam memperlakukan Amru bin Al-Jamuh Radhiyallahu ‘anhu dengan perlakuan yang penuh penghormatan, meskipun Amru bin Al-Jamuh adalah seorang penyandang disabilitas, yaitu kakinya mengalami pincang yang parah. Amru bin Al-Jamuh menceritakan bahwa empat anaknya yang pernah mengikuti banyak peperangan bersama Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam ingin melarangnya ikut berperang pada perang Uhud. Amru bin Al-Jamuh lalu mendatangi Rasul Shalallahu Alaihi Wassalam dan berkata: “Anak-anakku ingin mencegahku dari jalan ini dan pergi bersama engkau. Demi Allah, sungguh aku ingin menapaki surga dengan kaki pincangku ini!” Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bersabda kepada Amru: “Adapun engkau telah diberi uzur oleh Allah, sehingga engkau tidak lagi wajib berjihad.” Lalu bersabda kepada anak-anaknya: “Kalian tidak berhak melarangnya, semoga Allah mengaruniakan kesyahidan.” Akhirnya Amru bin Al-Jamuh pergi bersama Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pada perang Uhud, sehingga ia terbunuh. Kemudian Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda tentangnya: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya! Sungguh di antara kalian ada orang yang jika ia bersumpah atas nama Allah, maka Dia akan memenuhi sumpahnya, di antara mereka adalah Amru bin Al-Jamuh, sungguh aku telah melihatnya menapakkan kaki di surga dengan kaki pincangnya.” (HR. Ibnu Hibban dari riwayat Jabir Radhiyallahu ‘anhu). Demikianlah keadaan orang-orang sakit dan berkebutuhan khusus dalam Islam dan di bawah naungan peradaban Islam. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/1001/173888/الإسلام-يراعي-حقوق-المرضى-وذوي-الاحتياجات-الخاصة/ Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 77 times, 1 visit(s) today Post Views: 82
Oleh: Syaikh Nida Abu Ahmad Agama Islam punya prinsip istimewa dalam memberi perhatian bagi orang-orang sakit dan berkebutuhan khusus. Prinsip yang dimulai dengan memberi kemudahan bagi mereka dalam beberapa ketentuan syariat. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَىٰ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ “Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak ada halangan bagi orang pincang, tidak ada halangan bagi orang sakit.” (QS. An-Nur: 61). Dan prinsip ini sampai pada pemberian harapan ke dalam jiwa mereka, juga menjaga hak-hak jiwa dan raga mereka. Inilah Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, apabila mendengar ada orang yang sakit, beliau segera menjenguknya di rumahnya, meski dengan banyaknya tugas dan kesibukan beliau. Penjengukan beliau ini bukan karena memaksakan diri atau rasa terpaksa, tapi karena kesadaran akan kewajiban beliau terhadap orang sakit tersebut. Bagaimana tidak, sedangkan beliaulah yang menjadikan penjengukan orang sakit adalah salah satu hak orang sakit itu?! Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Hak seorang muslim yang harus ditunaikan muslim lainnya ada lima” Lalu beliau menyebutkan di antaranya: “Menjenguk orang yang sakit.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu). Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam —yang merupakan pendidik dan teladan— menghibur orang yang sedang sakit atas kesulitan dan sakitnya. Beliau menampakkan —tanpa sikap yang dibuat-buat— kepedulian, perhatian, dan cinta beliau kepadanya. Hal ini sebagaimana yang dikisahkan Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma: “Saad bin Ubadah pernah mengadukan keluhan sakit kepadanya, lalu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menjenguknya bersama Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqash, dan Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhum. Ketika beliau masuk ke rumahnya, ternyata beliau mendapatinya dikelilingi orang-orang dari keluarganya. Beliau lalu bertanya: ‘Apakah ia telah wafat?’ Mereka menjawab: ‘Belum, wahai Rasulullah!’ Kemudian beliau menangis. Ketika orang-orang melihat Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menangis, orang-orang pun ikut menangis. Beliau lalu bersabda: ‘Tidakkah kalian mendengar? Sesungguhnya Allah tidak menyiksa karena tetesan air mata atau kesedihan hati, tapi Dia menyiksa karena ini —beliau menunjuk ke arah lisannya— atau merahmati karenanya pula.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dulu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga senantiasa mendoakan orang yang sedang sakit, memberinya kabar gembira berupa ganjaran pahala atas sakit yang menimpanya, menghiburnya atas musibahnya, dan membuatnya ridha dengan keadaannya. Ummu Al-Ala’ menceritakan: “Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam pernah menjengukku ketika sakit, lalu beliau bersabda: ‘Bergembiralah wahai Ummu Al-Ala’, karena penyakit seorang muslim akan menjadi sebab Allah menghapus dosa-dosanya, sebagaimana api menghilangkan kotoran emas dan perak.’” (HR. Abu Dawud. Disebutkan juga dalam Shahih Al-Jami no. 7851). Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam senantiasa memberi kemudahan bagi orang yang sakit dan tidak memberatkannya. Hal ini seperti yang diriwayatkan Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ‘anhuma: “Kami pernah pergi bersafar, lalu salah satu dari kami terkena batu hingga melukai kepalanya. Kemudian ia mengalami junub, lalu bertanya kepada para sahabatnya: ‘Apakah menurut kalian aku mendapat keringanan untuk bertayamum (untuk mandi wajib)?’ Mereka menjawab: ‘Kami tidak menganggap engkau mendapat keringanan karena engkau masih mampu memakai air.’ Akhirnya ia mandi dan akhirnya meninggal dunia. Setelah kami sampai kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, beliau diberitahu kejadian tersebut. Beliau lalu bersabda: ‘Mereka telah membunuhnya! Semoga Allah membalas mereka. Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak mengetahui, karena sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya. Sebenarnya ia cukup untuk bertayamum lalu mengikat atau membalut —perawi ragu kata pastinya— lukanya dengan sehelai kain, kemudian mengusap atasnya, dan mencuci (dengan air) anggota badannya yang lain.’” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah. Disebutkan juga dalam Shahih Al-Jami no. 4362). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga memenuhi kebutuhan orang yang sakit, dan berjalan bersamanya hingga dapat menyelesaikan kebutuhannya. Suatu ketika datang kepada beliau seorang wanita yang punya gangguan mental, lalu ia berkata: “Wahai Rasulullah, aku punya suatu keperluan dengan engkau.” Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Wahai ibu fulan, engkau mau kita bicara di gang yang mana, agar aku bisa memenuhi keperluanmu?” Beliau lalu berbicara dengan wanita itu di salah satu gang hingga ia mengungkapkan keperluannya. (HR. Muslim dari riwayat Anas Radhiyallahu ‘anhu). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga menetapkan hak bagi orang sakit dan berkebutuhan khusus untuk berobat, karena kesehatan badan lahir dan batin adalah salah satu tujuan agama Islam. Oleh sebab itu, Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda kepada orang-orang Arab Badui ketika mereka bertanya tentang berobat: تَدَاوَوْا عِبَادَ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً إِلَّا الْهَرَمَ “Berobatlah wahai hamba-hamba Allah, karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga menurunkan obatnya, kecuali penuaan.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Dishahihkan Al-Albani dalam Ghayah al-Maram no. 292). Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam juga tidak melarang wanita muslim untuk mengobati laki-laki muslim. Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam pernah menetapkan Rafidah —seorang wanita dari kabilah Aslam— untuk mengobati Saad bin Muadz Radhiyallahu ‘anhu saat terkena anak panah pada perang Khandaq. Rafidah Radhiyallahu ‘anha mengobati orang-orang yang terluka dan mendedikasikan dirinya secara sukarela untuk melayani siapa saja kaum Muslimin yang terlantar. (Diriwayatkan Imam Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad dan Ibnu Hisyam dalam As-Sirah an-Nabawiyah jilid 2 hlm. 239. Juga dalam Ash-Shahihah no. 1158). Dalam implementasinya, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam memperlakukan Amru bin Al-Jamuh Radhiyallahu ‘anhu dengan perlakuan yang penuh penghormatan, meskipun Amru bin Al-Jamuh adalah seorang penyandang disabilitas, yaitu kakinya mengalami pincang yang parah. Amru bin Al-Jamuh menceritakan bahwa empat anaknya yang pernah mengikuti banyak peperangan bersama Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam ingin melarangnya ikut berperang pada perang Uhud. Amru bin Al-Jamuh lalu mendatangi Rasul Shalallahu Alaihi Wassalam dan berkata: “Anak-anakku ingin mencegahku dari jalan ini dan pergi bersama engkau. Demi Allah, sungguh aku ingin menapaki surga dengan kaki pincangku ini!” Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bersabda kepada Amru: “Adapun engkau telah diberi uzur oleh Allah, sehingga engkau tidak lagi wajib berjihad.” Lalu bersabda kepada anak-anaknya: “Kalian tidak berhak melarangnya, semoga Allah mengaruniakan kesyahidan.” Akhirnya Amru bin Al-Jamuh pergi bersama Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pada perang Uhud, sehingga ia terbunuh. Kemudian Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda tentangnya: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya! Sungguh di antara kalian ada orang yang jika ia bersumpah atas nama Allah, maka Dia akan memenuhi sumpahnya, di antara mereka adalah Amru bin Al-Jamuh, sungguh aku telah melihatnya menapakkan kaki di surga dengan kaki pincangnya.” (HR. Ibnu Hibban dari riwayat Jabir Radhiyallahu ‘anhu). Demikianlah keadaan orang-orang sakit dan berkebutuhan khusus dalam Islam dan di bawah naungan peradaban Islam. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/1001/173888/الإسلام-يراعي-حقوق-المرضى-وذوي-الاحتياجات-الخاصة/ Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 77 times, 1 visit(s) today Post Views: 82


Oleh: Syaikh Nida Abu Ahmad Agama Islam punya prinsip istimewa dalam memberi perhatian bagi orang-orang sakit dan berkebutuhan khusus. Prinsip yang dimulai dengan memberi kemudahan bagi mereka dalam beberapa ketentuan syariat. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَىٰ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ “Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak ada halangan bagi orang pincang, tidak ada halangan bagi orang sakit.” (QS. An-Nur: 61). Dan prinsip ini sampai pada pemberian harapan ke dalam jiwa mereka, juga menjaga hak-hak jiwa dan raga mereka. Inilah Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, apabila mendengar ada orang yang sakit, beliau segera menjenguknya di rumahnya, meski dengan banyaknya tugas dan kesibukan beliau. Penjengukan beliau ini bukan karena memaksakan diri atau rasa terpaksa, tapi karena kesadaran akan kewajiban beliau terhadap orang sakit tersebut. Bagaimana tidak, sedangkan beliaulah yang menjadikan penjengukan orang sakit adalah salah satu hak orang sakit itu?! Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Hak seorang muslim yang harus ditunaikan muslim lainnya ada lima” Lalu beliau menyebutkan di antaranya: “Menjenguk orang yang sakit.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu). Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam —yang merupakan pendidik dan teladan— menghibur orang yang sedang sakit atas kesulitan dan sakitnya. Beliau menampakkan —tanpa sikap yang dibuat-buat— kepedulian, perhatian, dan cinta beliau kepadanya. Hal ini sebagaimana yang dikisahkan Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma: “Saad bin Ubadah pernah mengadukan keluhan sakit kepadanya, lalu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menjenguknya bersama Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqash, dan Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhum. Ketika beliau masuk ke rumahnya, ternyata beliau mendapatinya dikelilingi orang-orang dari keluarganya. Beliau lalu bertanya: ‘Apakah ia telah wafat?’ Mereka menjawab: ‘Belum, wahai Rasulullah!’ Kemudian beliau menangis. Ketika orang-orang melihat Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menangis, orang-orang pun ikut menangis. Beliau lalu bersabda: ‘Tidakkah kalian mendengar? Sesungguhnya Allah tidak menyiksa karena tetesan air mata atau kesedihan hati, tapi Dia menyiksa karena ini —beliau menunjuk ke arah lisannya— atau merahmati karenanya pula.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dulu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga senantiasa mendoakan orang yang sedang sakit, memberinya kabar gembira berupa ganjaran pahala atas sakit yang menimpanya, menghiburnya atas musibahnya, dan membuatnya ridha dengan keadaannya. Ummu Al-Ala’ menceritakan: “Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam pernah menjengukku ketika sakit, lalu beliau bersabda: ‘Bergembiralah wahai Ummu Al-Ala’, karena penyakit seorang muslim akan menjadi sebab Allah menghapus dosa-dosanya, sebagaimana api menghilangkan kotoran emas dan perak.’” (HR. Abu Dawud. Disebutkan juga dalam Shahih Al-Jami no. 7851). Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam senantiasa memberi kemudahan bagi orang yang sakit dan tidak memberatkannya. Hal ini seperti yang diriwayatkan Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ‘anhuma: “Kami pernah pergi bersafar, lalu salah satu dari kami terkena batu hingga melukai kepalanya. Kemudian ia mengalami junub, lalu bertanya kepada para sahabatnya: ‘Apakah menurut kalian aku mendapat keringanan untuk bertayamum (untuk mandi wajib)?’ Mereka menjawab: ‘Kami tidak menganggap engkau mendapat keringanan karena engkau masih mampu memakai air.’ Akhirnya ia mandi dan akhirnya meninggal dunia. Setelah kami sampai kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, beliau diberitahu kejadian tersebut. Beliau lalu bersabda: ‘Mereka telah membunuhnya! Semoga Allah membalas mereka. Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak mengetahui, karena sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya. Sebenarnya ia cukup untuk bertayamum lalu mengikat atau membalut —perawi ragu kata pastinya— lukanya dengan sehelai kain, kemudian mengusap atasnya, dan mencuci (dengan air) anggota badannya yang lain.’” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah. Disebutkan juga dalam Shahih Al-Jami no. 4362). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga memenuhi kebutuhan orang yang sakit, dan berjalan bersamanya hingga dapat menyelesaikan kebutuhannya. Suatu ketika datang kepada beliau seorang wanita yang punya gangguan mental, lalu ia berkata: “Wahai Rasulullah, aku punya suatu keperluan dengan engkau.” Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Wahai ibu fulan, engkau mau kita bicara di gang yang mana, agar aku bisa memenuhi keperluanmu?” Beliau lalu berbicara dengan wanita itu di salah satu gang hingga ia mengungkapkan keperluannya. (HR. Muslim dari riwayat Anas Radhiyallahu ‘anhu). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga menetapkan hak bagi orang sakit dan berkebutuhan khusus untuk berobat, karena kesehatan badan lahir dan batin adalah salah satu tujuan agama Islam. Oleh sebab itu, Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda kepada orang-orang Arab Badui ketika mereka bertanya tentang berobat: تَدَاوَوْا عِبَادَ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً إِلَّا الْهَرَمَ “Berobatlah wahai hamba-hamba Allah, karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga menurunkan obatnya, kecuali penuaan.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Dishahihkan Al-Albani dalam Ghayah al-Maram no. 292). Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam juga tidak melarang wanita muslim untuk mengobati laki-laki muslim. Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam pernah menetapkan Rafidah —seorang wanita dari kabilah Aslam— untuk mengobati Saad bin Muadz Radhiyallahu ‘anhu saat terkena anak panah pada perang Khandaq. Rafidah Radhiyallahu ‘anha mengobati orang-orang yang terluka dan mendedikasikan dirinya secara sukarela untuk melayani siapa saja kaum Muslimin yang terlantar. (Diriwayatkan Imam Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad dan Ibnu Hisyam dalam As-Sirah an-Nabawiyah jilid 2 hlm. 239. Juga dalam Ash-Shahihah no. 1158). Dalam implementasinya, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam memperlakukan Amru bin Al-Jamuh Radhiyallahu ‘anhu dengan perlakuan yang penuh penghormatan, meskipun Amru bin Al-Jamuh adalah seorang penyandang disabilitas, yaitu kakinya mengalami pincang yang parah. Amru bin Al-Jamuh menceritakan bahwa empat anaknya yang pernah mengikuti banyak peperangan bersama Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam ingin melarangnya ikut berperang pada perang Uhud. Amru bin Al-Jamuh lalu mendatangi Rasul Shalallahu Alaihi Wassalam dan berkata: “Anak-anakku ingin mencegahku dari jalan ini dan pergi bersama engkau. Demi Allah, sungguh aku ingin menapaki surga dengan kaki pincangku ini!” Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bersabda kepada Amru: “Adapun engkau telah diberi uzur oleh Allah, sehingga engkau tidak lagi wajib berjihad.” Lalu bersabda kepada anak-anaknya: “Kalian tidak berhak melarangnya, semoga Allah mengaruniakan kesyahidan.” Akhirnya Amru bin Al-Jamuh pergi bersama Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pada perang Uhud, sehingga ia terbunuh. Kemudian Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda tentangnya: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya! Sungguh di antara kalian ada orang yang jika ia bersumpah atas nama Allah, maka Dia akan memenuhi sumpahnya, di antara mereka adalah Amru bin Al-Jamuh, sungguh aku telah melihatnya menapakkan kaki di surga dengan kaki pincangnya.” (HR. Ibnu Hibban dari riwayat Jabir Radhiyallahu ‘anhu). Demikianlah keadaan orang-orang sakit dan berkebutuhan khusus dalam Islam dan di bawah naungan peradaban Islam. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/1001/173888/الإسلام-يراعي-حقوق-المرضى-وذوي-الاحتياجات-الخاصة/ Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 77 times, 1 visit(s) today Post Views: 82

Teks Khotbah Jumat: Obat Penenang Tatkala Harga Menjulang

Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaUjian kehidupan dan permasalahan kerakyatanNaiknya harga ini semua adalah ketetapan dari Allah ﷻKenaikan harga barang tidak mempengaruhi rezeki seseorangTujuan kita diciptakan adalah beribadah, terlepas kondisinyaKhotbah keduaLangkah taktis menghadapi harga naikKhotbah pertamaبسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاتهإِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ  وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ له وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ المُصْطَفَى وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِيْنِقال الله تعالى فى كتابه الكريميا ايها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمون.يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبايا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيماأما بعدPara jemaah rahimakumullah!Bersyukurlah atas nikmat hirupan nafas dan tegukan air, sehingga kita dapat menegakkan tulang punggung kita untuk beribadah kepada Allah ﷻ. Patutlah kita mensyukuri nikmat itu dengan meniti jalan ketakwaan sehingga kita mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Jalan itu tiadalah dapat kita tempuh kecuali karena Allah ﷻ telah mengutus Nabi Muhammad ﷺ sebagai Rasulun Amin. Maka berselawatlah kepadanya, niscaya Allah ﷻ akan balaskan kepada kita sepuluh kali lipat.Ujian kehidupan dan permasalahan kerakyatanRealita hari ini yang tak terelakkan adalah keadaan ekonomi yang kian sulit. Harga bahan pokok meningkat, menggerus pemasukan kaum muslimin. Para jemaah, ketahuilah! Tentu di antara sebab dari kesulitan ini adalah sebagian dosa kita. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an surah As-Syura ayat 30,وَمَاۤ اَصَابَكُمۡ مِّنۡ مُّصِيۡبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتۡ اَيۡدِيۡكُمۡ وَيَعۡفُوۡا عَنۡ كَثِيۡرٍؕ“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)Artinya, kesulitan ini hanyalah secuil dampak dari kezaliman diri kita. Masih banyak kezaliman yang Allah ﷻ maafkan dan tak wujudkan dalam bentuk musibah. Andai pun ini tak benar, tentulah keadaan ini merupakan jalan untuk kita naik level keimanan.Naiknya harga ini semua adalah ketetapan dari Allah ﷻKenaikan harga barang adalah takdir Allah ﷻ; meskipun bisa saja ada sebab-sebab perbuatan masyarakat maupun pemerintah, tetapi hal ini sangatlah kompleks sehingga tidak bisa kita sepenuhnya menyalahkan siapapun. Bahkan hal semacam ini pun pernah terjadi di masa Nabi ﷺ masih memimpin kaum muslimin secara langsung.Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Harga (barang-barang) di zaman Rasulullah ﷺ pernah naik. Orang-orang berkata, “Ya Rasulullah, harga telah naik. Oleh karena itu, tetapkanlah harga bagi kami.”Lalu Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّزَّاقُ وَإِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَلْقَى رَبِّي وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْكُمْ يَطْلُبُنِي بِمَظْلِمَةٍ فِي دَمٍ وَلَا مَالٍ“Sesungguhnya Allah, Dia-lah al-Musa’ir (Yang menetapkan harga), al-Qaabidh (Yang menyempitkan rezeki), al-Baasith (Yang melapangkan rezeki), ar-Razzaaq (Yang Maha memberi rezeki) dan sesungguhnya aku harap bertemu Allah dalam keadaan tidak seorang pun dari kamu menuntut aku lantaran menzalimi dalam darah dan harta.” (HR. Ahmad no. 12591, Abu Daud no. 3451, Tirmidzi no. 1314, dan Ibnu Majah no. 2200; dan disahihkan oleh Al-Albani)Nabi ﷺ memberikan kabar bahwa Allah ﷻ ialah yang berhak menentukan harga. Allah ﷻ jugalah Al-Qabidh dan Al-Basith, Yang Maha menyempitkan dan melapangkan rezeki. Namun, beliau ﷺ tidak hanya menyebutkan kabar bahwa Allah ﷻ yang seakan-akan seperti lepas tangan, tetapi beliau juga memberi kabar bahwa Allah ﷻ adalah Ar-Razzaq, Maha pemberi rezeki, sehingga jangan khawatir dengan keadaan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwasanya pemimpin terbaik sekalipun tak mampu dan tak berhak menetapkan harga komoditas. Sehingga Nabi ﷺ berharap agar tidak ada yang menuntut kezaliman ini kepadanya.Kenaikan harga barang tidak mempengaruhi rezeki seseorangBagian penting yang patut kita yakini bahwa rezeki kita telah ditentukan oleh Allah. Jatah rezeki yang Allah tetapkan tidak akan bertambah maupun berkurang. Meskipun masyarakat Indonesia diguncang dengan kenaikan harga barang, itu sama sekali tidak akan menggeser jatah rezeki kita.Allah ﷻ berfirman,وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ“Andaikan Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi.”Allah ﷻ Maha mengetahui bahwa jika hamba-Nya diberi rezeki lebih, niscaya mereka akan melampaui batas.وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ“Tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 27)Allah ﷻ menetapkan rezeki dengan keadaan ialah Al-Khabir, Yang Maha mengetahui perkara detail, lagi Al-Bashir, melihat kenyataan yang ada. Tentulah Allah Al-Hakim, Yang Maha bijaksana, tidak akan menzalimi hamba-Nya dengan memberikan rezeki kurang dari hak-Nya. Padahal, Allah ﷻ mampu melakukannya.Tujuan kita diciptakan adalah beribadah, terlepas kondisinyaSejatinya tidak ada kewajiban untuk Allah ﷻ memberikan rezeki melimpah kepada kita semua. Karena Allah ﷻ adalah Penguasa yang tidak dituntut akan perbuatan-Nya. Namun, Allah ﷻ tetap memberikan kenikmatan dunia kepada hamba-Nya, padahal yang tertuntut adalah sang hamba. Hamba -yakni kita semua- tertuntut suatu perkara, yakni beribadah kepada Allah ﷻ, dan itulah satu-satunya tujuan. Dalam ayat yang masyhur, Allah ﷻ berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ – إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ“Tidaklah kami ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah. Tidaklah aku menghendaki rezeki dan pemberian makan dari mereka. Sesungguhnya Allah ﷻ adalah Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki) dan Pemilik Kekuatan Mutlak serta Kekuatan Yang Maha Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-58)Allah ﷻ tak butuh kepada ibadah kita, tidak pula menuntut untuk kita memberi rezeki dan makanan kepada Allah ﷻ. Malah justru Allah ﷻ yang menjamin rezeki kita, dan tidak ada yang mampu mencegah pemberian Allah ﷻ. Maka, pertanyakan kepada diri kita, “Sudahkah kita maksimal menghamba kepada Allah ﷻ?”بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمKhotbah keduaالحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى على محمد وعلى آله وأصحابه وأخوانهLangkah taktis menghadapi harga naikMaka solusinya para hadirin adalah:Pertama: Kuatkan tekad kita beribadah dan jadikan ini fokus utama kita saat ini.Kedua: Bekerjalah sebaik mungkin, karena ikhtiar kita bekerja adalah bagian dari ibadah yang dimaksud. Dan khotbah ini tidak menyuruh anda sekalian untuk menyerah, tetapi justru mengajak anda sekalian bersemangat mengejar rezeki yang sudah ditakdirkan Allah ﷻ.Ketiga: Bersyukurlah bahwa kita punya Allah ﷻ Ar-Razzaq, sehingga pikiran kita bisa fokus kepada pekerjaan, dan tidak tersibukkan dengan takaran rezeki. Kita serahkan seluruhnya kepada Allah ﷻ.Nabi ﷺ bersabda,أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَنْ يَمُوتَ حَتَّى يَسْتَكْمِلَ رِزْقَهُ“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mati sampai sempurna jatah rezekinya.فَلا تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ ، اتَّقُوا اللَّهَ أَيُّهَا النَّاسُOleh karena itu, jangan kalian merasa rezeki kalian terhambat dan bertakwalah kepada Allah, wahai sekalian manusia.وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ ، خُذُوا مَا حَلَّ ، وَدَعُوا مَا حَرُمَCarilah rezeki dengan baik, ambil yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra no. 9640, disahihkan oleh Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi)إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأمواتاللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا – مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا – وَلَا يَرْحَمُنَاربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاباللهم ارنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وارنا الباطل باطل وارزقنا اجتنابهرَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ الْمُسلِمِيناللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَاننَاَ الْمُسلِمِين وَ المُجَاهِدِينَ فِي فِلِسْطِيناللَّهُمَّ ثَبِّتْ إِيمَانَهُمْ وَ أَنْزِلِ السَّكِينَةَ عَلَى قُلُوبِهِم وَ وَحِّدْ صُفُوفَهُمْاللَّهُمَّ أَهْلِكِ الكُفّار وَالمُشْرِكِينَرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِWa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajmain. Akhirud da’wa ‘anilhamdulillahi rabbil ‘alamin.***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id

Teks Khotbah Jumat: Obat Penenang Tatkala Harga Menjulang

Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaUjian kehidupan dan permasalahan kerakyatanNaiknya harga ini semua adalah ketetapan dari Allah ﷻKenaikan harga barang tidak mempengaruhi rezeki seseorangTujuan kita diciptakan adalah beribadah, terlepas kondisinyaKhotbah keduaLangkah taktis menghadapi harga naikKhotbah pertamaبسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاتهإِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ  وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ له وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ المُصْطَفَى وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِيْنِقال الله تعالى فى كتابه الكريميا ايها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمون.يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبايا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيماأما بعدPara jemaah rahimakumullah!Bersyukurlah atas nikmat hirupan nafas dan tegukan air, sehingga kita dapat menegakkan tulang punggung kita untuk beribadah kepada Allah ﷻ. Patutlah kita mensyukuri nikmat itu dengan meniti jalan ketakwaan sehingga kita mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Jalan itu tiadalah dapat kita tempuh kecuali karena Allah ﷻ telah mengutus Nabi Muhammad ﷺ sebagai Rasulun Amin. Maka berselawatlah kepadanya, niscaya Allah ﷻ akan balaskan kepada kita sepuluh kali lipat.Ujian kehidupan dan permasalahan kerakyatanRealita hari ini yang tak terelakkan adalah keadaan ekonomi yang kian sulit. Harga bahan pokok meningkat, menggerus pemasukan kaum muslimin. Para jemaah, ketahuilah! Tentu di antara sebab dari kesulitan ini adalah sebagian dosa kita. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an surah As-Syura ayat 30,وَمَاۤ اَصَابَكُمۡ مِّنۡ مُّصِيۡبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتۡ اَيۡدِيۡكُمۡ وَيَعۡفُوۡا عَنۡ كَثِيۡرٍؕ“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)Artinya, kesulitan ini hanyalah secuil dampak dari kezaliman diri kita. Masih banyak kezaliman yang Allah ﷻ maafkan dan tak wujudkan dalam bentuk musibah. Andai pun ini tak benar, tentulah keadaan ini merupakan jalan untuk kita naik level keimanan.Naiknya harga ini semua adalah ketetapan dari Allah ﷻKenaikan harga barang adalah takdir Allah ﷻ; meskipun bisa saja ada sebab-sebab perbuatan masyarakat maupun pemerintah, tetapi hal ini sangatlah kompleks sehingga tidak bisa kita sepenuhnya menyalahkan siapapun. Bahkan hal semacam ini pun pernah terjadi di masa Nabi ﷺ masih memimpin kaum muslimin secara langsung.Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Harga (barang-barang) di zaman Rasulullah ﷺ pernah naik. Orang-orang berkata, “Ya Rasulullah, harga telah naik. Oleh karena itu, tetapkanlah harga bagi kami.”Lalu Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّزَّاقُ وَإِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَلْقَى رَبِّي وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْكُمْ يَطْلُبُنِي بِمَظْلِمَةٍ فِي دَمٍ وَلَا مَالٍ“Sesungguhnya Allah, Dia-lah al-Musa’ir (Yang menetapkan harga), al-Qaabidh (Yang menyempitkan rezeki), al-Baasith (Yang melapangkan rezeki), ar-Razzaaq (Yang Maha memberi rezeki) dan sesungguhnya aku harap bertemu Allah dalam keadaan tidak seorang pun dari kamu menuntut aku lantaran menzalimi dalam darah dan harta.” (HR. Ahmad no. 12591, Abu Daud no. 3451, Tirmidzi no. 1314, dan Ibnu Majah no. 2200; dan disahihkan oleh Al-Albani)Nabi ﷺ memberikan kabar bahwa Allah ﷻ ialah yang berhak menentukan harga. Allah ﷻ jugalah Al-Qabidh dan Al-Basith, Yang Maha menyempitkan dan melapangkan rezeki. Namun, beliau ﷺ tidak hanya menyebutkan kabar bahwa Allah ﷻ yang seakan-akan seperti lepas tangan, tetapi beliau juga memberi kabar bahwa Allah ﷻ adalah Ar-Razzaq, Maha pemberi rezeki, sehingga jangan khawatir dengan keadaan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwasanya pemimpin terbaik sekalipun tak mampu dan tak berhak menetapkan harga komoditas. Sehingga Nabi ﷺ berharap agar tidak ada yang menuntut kezaliman ini kepadanya.Kenaikan harga barang tidak mempengaruhi rezeki seseorangBagian penting yang patut kita yakini bahwa rezeki kita telah ditentukan oleh Allah. Jatah rezeki yang Allah tetapkan tidak akan bertambah maupun berkurang. Meskipun masyarakat Indonesia diguncang dengan kenaikan harga barang, itu sama sekali tidak akan menggeser jatah rezeki kita.Allah ﷻ berfirman,وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ“Andaikan Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi.”Allah ﷻ Maha mengetahui bahwa jika hamba-Nya diberi rezeki lebih, niscaya mereka akan melampaui batas.وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ“Tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 27)Allah ﷻ menetapkan rezeki dengan keadaan ialah Al-Khabir, Yang Maha mengetahui perkara detail, lagi Al-Bashir, melihat kenyataan yang ada. Tentulah Allah Al-Hakim, Yang Maha bijaksana, tidak akan menzalimi hamba-Nya dengan memberikan rezeki kurang dari hak-Nya. Padahal, Allah ﷻ mampu melakukannya.Tujuan kita diciptakan adalah beribadah, terlepas kondisinyaSejatinya tidak ada kewajiban untuk Allah ﷻ memberikan rezeki melimpah kepada kita semua. Karena Allah ﷻ adalah Penguasa yang tidak dituntut akan perbuatan-Nya. Namun, Allah ﷻ tetap memberikan kenikmatan dunia kepada hamba-Nya, padahal yang tertuntut adalah sang hamba. Hamba -yakni kita semua- tertuntut suatu perkara, yakni beribadah kepada Allah ﷻ, dan itulah satu-satunya tujuan. Dalam ayat yang masyhur, Allah ﷻ berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ – إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ“Tidaklah kami ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah. Tidaklah aku menghendaki rezeki dan pemberian makan dari mereka. Sesungguhnya Allah ﷻ adalah Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki) dan Pemilik Kekuatan Mutlak serta Kekuatan Yang Maha Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-58)Allah ﷻ tak butuh kepada ibadah kita, tidak pula menuntut untuk kita memberi rezeki dan makanan kepada Allah ﷻ. Malah justru Allah ﷻ yang menjamin rezeki kita, dan tidak ada yang mampu mencegah pemberian Allah ﷻ. Maka, pertanyakan kepada diri kita, “Sudahkah kita maksimal menghamba kepada Allah ﷻ?”بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمKhotbah keduaالحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى على محمد وعلى آله وأصحابه وأخوانهLangkah taktis menghadapi harga naikMaka solusinya para hadirin adalah:Pertama: Kuatkan tekad kita beribadah dan jadikan ini fokus utama kita saat ini.Kedua: Bekerjalah sebaik mungkin, karena ikhtiar kita bekerja adalah bagian dari ibadah yang dimaksud. Dan khotbah ini tidak menyuruh anda sekalian untuk menyerah, tetapi justru mengajak anda sekalian bersemangat mengejar rezeki yang sudah ditakdirkan Allah ﷻ.Ketiga: Bersyukurlah bahwa kita punya Allah ﷻ Ar-Razzaq, sehingga pikiran kita bisa fokus kepada pekerjaan, dan tidak tersibukkan dengan takaran rezeki. Kita serahkan seluruhnya kepada Allah ﷻ.Nabi ﷺ bersabda,أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَنْ يَمُوتَ حَتَّى يَسْتَكْمِلَ رِزْقَهُ“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mati sampai sempurna jatah rezekinya.فَلا تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ ، اتَّقُوا اللَّهَ أَيُّهَا النَّاسُOleh karena itu, jangan kalian merasa rezeki kalian terhambat dan bertakwalah kepada Allah, wahai sekalian manusia.وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ ، خُذُوا مَا حَلَّ ، وَدَعُوا مَا حَرُمَCarilah rezeki dengan baik, ambil yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra no. 9640, disahihkan oleh Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi)إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأمواتاللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا – مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا – وَلَا يَرْحَمُنَاربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاباللهم ارنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وارنا الباطل باطل وارزقنا اجتنابهرَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ الْمُسلِمِيناللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَاننَاَ الْمُسلِمِين وَ المُجَاهِدِينَ فِي فِلِسْطِيناللَّهُمَّ ثَبِّتْ إِيمَانَهُمْ وَ أَنْزِلِ السَّكِينَةَ عَلَى قُلُوبِهِم وَ وَحِّدْ صُفُوفَهُمْاللَّهُمَّ أَهْلِكِ الكُفّار وَالمُشْرِكِينَرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِWa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajmain. Akhirud da’wa ‘anilhamdulillahi rabbil ‘alamin.***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaUjian kehidupan dan permasalahan kerakyatanNaiknya harga ini semua adalah ketetapan dari Allah ﷻKenaikan harga barang tidak mempengaruhi rezeki seseorangTujuan kita diciptakan adalah beribadah, terlepas kondisinyaKhotbah keduaLangkah taktis menghadapi harga naikKhotbah pertamaبسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاتهإِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ  وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ له وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ المُصْطَفَى وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِيْنِقال الله تعالى فى كتابه الكريميا ايها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمون.يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبايا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيماأما بعدPara jemaah rahimakumullah!Bersyukurlah atas nikmat hirupan nafas dan tegukan air, sehingga kita dapat menegakkan tulang punggung kita untuk beribadah kepada Allah ﷻ. Patutlah kita mensyukuri nikmat itu dengan meniti jalan ketakwaan sehingga kita mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Jalan itu tiadalah dapat kita tempuh kecuali karena Allah ﷻ telah mengutus Nabi Muhammad ﷺ sebagai Rasulun Amin. Maka berselawatlah kepadanya, niscaya Allah ﷻ akan balaskan kepada kita sepuluh kali lipat.Ujian kehidupan dan permasalahan kerakyatanRealita hari ini yang tak terelakkan adalah keadaan ekonomi yang kian sulit. Harga bahan pokok meningkat, menggerus pemasukan kaum muslimin. Para jemaah, ketahuilah! Tentu di antara sebab dari kesulitan ini adalah sebagian dosa kita. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an surah As-Syura ayat 30,وَمَاۤ اَصَابَكُمۡ مِّنۡ مُّصِيۡبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتۡ اَيۡدِيۡكُمۡ وَيَعۡفُوۡا عَنۡ كَثِيۡرٍؕ“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)Artinya, kesulitan ini hanyalah secuil dampak dari kezaliman diri kita. Masih banyak kezaliman yang Allah ﷻ maafkan dan tak wujudkan dalam bentuk musibah. Andai pun ini tak benar, tentulah keadaan ini merupakan jalan untuk kita naik level keimanan.Naiknya harga ini semua adalah ketetapan dari Allah ﷻKenaikan harga barang adalah takdir Allah ﷻ; meskipun bisa saja ada sebab-sebab perbuatan masyarakat maupun pemerintah, tetapi hal ini sangatlah kompleks sehingga tidak bisa kita sepenuhnya menyalahkan siapapun. Bahkan hal semacam ini pun pernah terjadi di masa Nabi ﷺ masih memimpin kaum muslimin secara langsung.Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Harga (barang-barang) di zaman Rasulullah ﷺ pernah naik. Orang-orang berkata, “Ya Rasulullah, harga telah naik. Oleh karena itu, tetapkanlah harga bagi kami.”Lalu Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّزَّاقُ وَإِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَلْقَى رَبِّي وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْكُمْ يَطْلُبُنِي بِمَظْلِمَةٍ فِي دَمٍ وَلَا مَالٍ“Sesungguhnya Allah, Dia-lah al-Musa’ir (Yang menetapkan harga), al-Qaabidh (Yang menyempitkan rezeki), al-Baasith (Yang melapangkan rezeki), ar-Razzaaq (Yang Maha memberi rezeki) dan sesungguhnya aku harap bertemu Allah dalam keadaan tidak seorang pun dari kamu menuntut aku lantaran menzalimi dalam darah dan harta.” (HR. Ahmad no. 12591, Abu Daud no. 3451, Tirmidzi no. 1314, dan Ibnu Majah no. 2200; dan disahihkan oleh Al-Albani)Nabi ﷺ memberikan kabar bahwa Allah ﷻ ialah yang berhak menentukan harga. Allah ﷻ jugalah Al-Qabidh dan Al-Basith, Yang Maha menyempitkan dan melapangkan rezeki. Namun, beliau ﷺ tidak hanya menyebutkan kabar bahwa Allah ﷻ yang seakan-akan seperti lepas tangan, tetapi beliau juga memberi kabar bahwa Allah ﷻ adalah Ar-Razzaq, Maha pemberi rezeki, sehingga jangan khawatir dengan keadaan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwasanya pemimpin terbaik sekalipun tak mampu dan tak berhak menetapkan harga komoditas. Sehingga Nabi ﷺ berharap agar tidak ada yang menuntut kezaliman ini kepadanya.Kenaikan harga barang tidak mempengaruhi rezeki seseorangBagian penting yang patut kita yakini bahwa rezeki kita telah ditentukan oleh Allah. Jatah rezeki yang Allah tetapkan tidak akan bertambah maupun berkurang. Meskipun masyarakat Indonesia diguncang dengan kenaikan harga barang, itu sama sekali tidak akan menggeser jatah rezeki kita.Allah ﷻ berfirman,وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ“Andaikan Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi.”Allah ﷻ Maha mengetahui bahwa jika hamba-Nya diberi rezeki lebih, niscaya mereka akan melampaui batas.وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ“Tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 27)Allah ﷻ menetapkan rezeki dengan keadaan ialah Al-Khabir, Yang Maha mengetahui perkara detail, lagi Al-Bashir, melihat kenyataan yang ada. Tentulah Allah Al-Hakim, Yang Maha bijaksana, tidak akan menzalimi hamba-Nya dengan memberikan rezeki kurang dari hak-Nya. Padahal, Allah ﷻ mampu melakukannya.Tujuan kita diciptakan adalah beribadah, terlepas kondisinyaSejatinya tidak ada kewajiban untuk Allah ﷻ memberikan rezeki melimpah kepada kita semua. Karena Allah ﷻ adalah Penguasa yang tidak dituntut akan perbuatan-Nya. Namun, Allah ﷻ tetap memberikan kenikmatan dunia kepada hamba-Nya, padahal yang tertuntut adalah sang hamba. Hamba -yakni kita semua- tertuntut suatu perkara, yakni beribadah kepada Allah ﷻ, dan itulah satu-satunya tujuan. Dalam ayat yang masyhur, Allah ﷻ berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ – إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ“Tidaklah kami ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah. Tidaklah aku menghendaki rezeki dan pemberian makan dari mereka. Sesungguhnya Allah ﷻ adalah Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki) dan Pemilik Kekuatan Mutlak serta Kekuatan Yang Maha Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-58)Allah ﷻ tak butuh kepada ibadah kita, tidak pula menuntut untuk kita memberi rezeki dan makanan kepada Allah ﷻ. Malah justru Allah ﷻ yang menjamin rezeki kita, dan tidak ada yang mampu mencegah pemberian Allah ﷻ. Maka, pertanyakan kepada diri kita, “Sudahkah kita maksimal menghamba kepada Allah ﷻ?”بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمKhotbah keduaالحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى على محمد وعلى آله وأصحابه وأخوانهLangkah taktis menghadapi harga naikMaka solusinya para hadirin adalah:Pertama: Kuatkan tekad kita beribadah dan jadikan ini fokus utama kita saat ini.Kedua: Bekerjalah sebaik mungkin, karena ikhtiar kita bekerja adalah bagian dari ibadah yang dimaksud. Dan khotbah ini tidak menyuruh anda sekalian untuk menyerah, tetapi justru mengajak anda sekalian bersemangat mengejar rezeki yang sudah ditakdirkan Allah ﷻ.Ketiga: Bersyukurlah bahwa kita punya Allah ﷻ Ar-Razzaq, sehingga pikiran kita bisa fokus kepada pekerjaan, dan tidak tersibukkan dengan takaran rezeki. Kita serahkan seluruhnya kepada Allah ﷻ.Nabi ﷺ bersabda,أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَنْ يَمُوتَ حَتَّى يَسْتَكْمِلَ رِزْقَهُ“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mati sampai sempurna jatah rezekinya.فَلا تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ ، اتَّقُوا اللَّهَ أَيُّهَا النَّاسُOleh karena itu, jangan kalian merasa rezeki kalian terhambat dan bertakwalah kepada Allah, wahai sekalian manusia.وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ ، خُذُوا مَا حَلَّ ، وَدَعُوا مَا حَرُمَCarilah rezeki dengan baik, ambil yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra no. 9640, disahihkan oleh Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi)إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأمواتاللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا – مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا – وَلَا يَرْحَمُنَاربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاباللهم ارنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وارنا الباطل باطل وارزقنا اجتنابهرَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ الْمُسلِمِيناللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَاننَاَ الْمُسلِمِين وَ المُجَاهِدِينَ فِي فِلِسْطِيناللَّهُمَّ ثَبِّتْ إِيمَانَهُمْ وَ أَنْزِلِ السَّكِينَةَ عَلَى قُلُوبِهِم وَ وَحِّدْ صُفُوفَهُمْاللَّهُمَّ أَهْلِكِ الكُفّار وَالمُشْرِكِينَرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِWa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajmain. Akhirud da’wa ‘anilhamdulillahi rabbil ‘alamin.***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaUjian kehidupan dan permasalahan kerakyatanNaiknya harga ini semua adalah ketetapan dari Allah ﷻKenaikan harga barang tidak mempengaruhi rezeki seseorangTujuan kita diciptakan adalah beribadah, terlepas kondisinyaKhotbah keduaLangkah taktis menghadapi harga naikKhotbah pertamaبسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاتهإِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ  وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ له وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ المُصْطَفَى وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِيْنِقال الله تعالى فى كتابه الكريميا ايها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمون.يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبايا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيماأما بعدPara jemaah rahimakumullah!Bersyukurlah atas nikmat hirupan nafas dan tegukan air, sehingga kita dapat menegakkan tulang punggung kita untuk beribadah kepada Allah ﷻ. Patutlah kita mensyukuri nikmat itu dengan meniti jalan ketakwaan sehingga kita mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Jalan itu tiadalah dapat kita tempuh kecuali karena Allah ﷻ telah mengutus Nabi Muhammad ﷺ sebagai Rasulun Amin. Maka berselawatlah kepadanya, niscaya Allah ﷻ akan balaskan kepada kita sepuluh kali lipat.Ujian kehidupan dan permasalahan kerakyatanRealita hari ini yang tak terelakkan adalah keadaan ekonomi yang kian sulit. Harga bahan pokok meningkat, menggerus pemasukan kaum muslimin. Para jemaah, ketahuilah! Tentu di antara sebab dari kesulitan ini adalah sebagian dosa kita. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an surah As-Syura ayat 30,وَمَاۤ اَصَابَكُمۡ مِّنۡ مُّصِيۡبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتۡ اَيۡدِيۡكُمۡ وَيَعۡفُوۡا عَنۡ كَثِيۡرٍؕ“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)Artinya, kesulitan ini hanyalah secuil dampak dari kezaliman diri kita. Masih banyak kezaliman yang Allah ﷻ maafkan dan tak wujudkan dalam bentuk musibah. Andai pun ini tak benar, tentulah keadaan ini merupakan jalan untuk kita naik level keimanan.Naiknya harga ini semua adalah ketetapan dari Allah ﷻKenaikan harga barang adalah takdir Allah ﷻ; meskipun bisa saja ada sebab-sebab perbuatan masyarakat maupun pemerintah, tetapi hal ini sangatlah kompleks sehingga tidak bisa kita sepenuhnya menyalahkan siapapun. Bahkan hal semacam ini pun pernah terjadi di masa Nabi ﷺ masih memimpin kaum muslimin secara langsung.Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Harga (barang-barang) di zaman Rasulullah ﷺ pernah naik. Orang-orang berkata, “Ya Rasulullah, harga telah naik. Oleh karena itu, tetapkanlah harga bagi kami.”Lalu Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّزَّاقُ وَإِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَلْقَى رَبِّي وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْكُمْ يَطْلُبُنِي بِمَظْلِمَةٍ فِي دَمٍ وَلَا مَالٍ“Sesungguhnya Allah, Dia-lah al-Musa’ir (Yang menetapkan harga), al-Qaabidh (Yang menyempitkan rezeki), al-Baasith (Yang melapangkan rezeki), ar-Razzaaq (Yang Maha memberi rezeki) dan sesungguhnya aku harap bertemu Allah dalam keadaan tidak seorang pun dari kamu menuntut aku lantaran menzalimi dalam darah dan harta.” (HR. Ahmad no. 12591, Abu Daud no. 3451, Tirmidzi no. 1314, dan Ibnu Majah no. 2200; dan disahihkan oleh Al-Albani)Nabi ﷺ memberikan kabar bahwa Allah ﷻ ialah yang berhak menentukan harga. Allah ﷻ jugalah Al-Qabidh dan Al-Basith, Yang Maha menyempitkan dan melapangkan rezeki. Namun, beliau ﷺ tidak hanya menyebutkan kabar bahwa Allah ﷻ yang seakan-akan seperti lepas tangan, tetapi beliau juga memberi kabar bahwa Allah ﷻ adalah Ar-Razzaq, Maha pemberi rezeki, sehingga jangan khawatir dengan keadaan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwasanya pemimpin terbaik sekalipun tak mampu dan tak berhak menetapkan harga komoditas. Sehingga Nabi ﷺ berharap agar tidak ada yang menuntut kezaliman ini kepadanya.Kenaikan harga barang tidak mempengaruhi rezeki seseorangBagian penting yang patut kita yakini bahwa rezeki kita telah ditentukan oleh Allah. Jatah rezeki yang Allah tetapkan tidak akan bertambah maupun berkurang. Meskipun masyarakat Indonesia diguncang dengan kenaikan harga barang, itu sama sekali tidak akan menggeser jatah rezeki kita.Allah ﷻ berfirman,وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ“Andaikan Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi.”Allah ﷻ Maha mengetahui bahwa jika hamba-Nya diberi rezeki lebih, niscaya mereka akan melampaui batas.وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ“Tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 27)Allah ﷻ menetapkan rezeki dengan keadaan ialah Al-Khabir, Yang Maha mengetahui perkara detail, lagi Al-Bashir, melihat kenyataan yang ada. Tentulah Allah Al-Hakim, Yang Maha bijaksana, tidak akan menzalimi hamba-Nya dengan memberikan rezeki kurang dari hak-Nya. Padahal, Allah ﷻ mampu melakukannya.Tujuan kita diciptakan adalah beribadah, terlepas kondisinyaSejatinya tidak ada kewajiban untuk Allah ﷻ memberikan rezeki melimpah kepada kita semua. Karena Allah ﷻ adalah Penguasa yang tidak dituntut akan perbuatan-Nya. Namun, Allah ﷻ tetap memberikan kenikmatan dunia kepada hamba-Nya, padahal yang tertuntut adalah sang hamba. Hamba -yakni kita semua- tertuntut suatu perkara, yakni beribadah kepada Allah ﷻ, dan itulah satu-satunya tujuan. Dalam ayat yang masyhur, Allah ﷻ berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ – إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ“Tidaklah kami ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah. Tidaklah aku menghendaki rezeki dan pemberian makan dari mereka. Sesungguhnya Allah ﷻ adalah Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki) dan Pemilik Kekuatan Mutlak serta Kekuatan Yang Maha Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-58)Allah ﷻ tak butuh kepada ibadah kita, tidak pula menuntut untuk kita memberi rezeki dan makanan kepada Allah ﷻ. Malah justru Allah ﷻ yang menjamin rezeki kita, dan tidak ada yang mampu mencegah pemberian Allah ﷻ. Maka, pertanyakan kepada diri kita, “Sudahkah kita maksimal menghamba kepada Allah ﷻ?”بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمKhotbah keduaالحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى على محمد وعلى آله وأصحابه وأخوانهLangkah taktis menghadapi harga naikMaka solusinya para hadirin adalah:Pertama: Kuatkan tekad kita beribadah dan jadikan ini fokus utama kita saat ini.Kedua: Bekerjalah sebaik mungkin, karena ikhtiar kita bekerja adalah bagian dari ibadah yang dimaksud. Dan khotbah ini tidak menyuruh anda sekalian untuk menyerah, tetapi justru mengajak anda sekalian bersemangat mengejar rezeki yang sudah ditakdirkan Allah ﷻ.Ketiga: Bersyukurlah bahwa kita punya Allah ﷻ Ar-Razzaq, sehingga pikiran kita bisa fokus kepada pekerjaan, dan tidak tersibukkan dengan takaran rezeki. Kita serahkan seluruhnya kepada Allah ﷻ.Nabi ﷺ bersabda,أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَنْ يَمُوتَ حَتَّى يَسْتَكْمِلَ رِزْقَهُ“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mati sampai sempurna jatah rezekinya.فَلا تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ ، اتَّقُوا اللَّهَ أَيُّهَا النَّاسُOleh karena itu, jangan kalian merasa rezeki kalian terhambat dan bertakwalah kepada Allah, wahai sekalian manusia.وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ ، خُذُوا مَا حَلَّ ، وَدَعُوا مَا حَرُمَCarilah rezeki dengan baik, ambil yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra no. 9640, disahihkan oleh Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi)إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأمواتاللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا – مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا – وَلَا يَرْحَمُنَاربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاباللهم ارنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وارنا الباطل باطل وارزقنا اجتنابهرَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ الْمُسلِمِيناللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَاننَاَ الْمُسلِمِين وَ المُجَاهِدِينَ فِي فِلِسْطِيناللَّهُمَّ ثَبِّتْ إِيمَانَهُمْ وَ أَنْزِلِ السَّكِينَةَ عَلَى قُلُوبِهِم وَ وَحِّدْ صُفُوفَهُمْاللَّهُمَّ أَهْلِكِ الكُفّار وَالمُشْرِكِينَرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِWa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajmain. Akhirud da’wa ‘anilhamdulillahi rabbil ‘alamin.***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id

Doa Terbaik: Doa Memohon Afiyat

Oleh: Dr. Muhammad Jum’ah al-Halbusi Wahai muslim yang mulia! Tidak diragukan bahwa nikmat afiyat adalah salah satu nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang terbesar. Dulu Nabi kita Shalallahu Alaihi Wassalam senantiasa memohon kepada Tuhannya afiyat, dan mewasiatkan kepada para sahabat beliau yang mulia untuk memohon afiyat. Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: اسْأَلُوا اللَّهَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ، فَإِنَّ أَحَدًا لَمْ يُعْطَ بَعْدَ اليَقِينِ خَيْرًا مِنَ العَافِيَةِ “Mohonlah kepada Allah ampunan dan afiyat, karena tidak ada seorang pun yang diberi sesuatu yang lebih baik – setelah keyakinan (keimanan) – daripada afiyat.” (HR. At-Tirmidzi no. 3558. Beliau berkata bahwa hadis ini hasan gharib). Bagaimana menurutmu, apakah seorang insan bisa merasa bahagia tanpa afiyat? Apakah ia dapat menikmati harta tanpa afiyat? Apakah ia akan merasa senang dengan kedudukan dan jabatan tanpa afiyat? Demi Allah! Tidak akan ada yang menandingi nikmat afiyat. Afiyat adalah pakaian termewah yang dipakai manusia, makanan terlezat yang ia nikmati, dan tidur ternyenyak yang ia rasakan. Inilah Abbas bin Abdul Muthalib Radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan: Aku pernah berkata kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam: “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk aku minta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Beliau menjawab: “Mintalah kepada Allah afiyat!” Selang beberapa hari, aku datang kembali dan berkata: “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk aku minta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Beliau lalu bersabda kepadaku: “Wahai Abbas! Wahai paman Rasulullah! Mintalah kepada Allah afiyat di dunia dan akhirat!” (HR. At-Tirmidzi no. 3514. Beliau berkata bahwa hadits ini shahih). Al-Mubarakfuri Rahimahullah berkata tentang makna afiyat: “Ia adalah pertolongan Allah bagi hamba-Nya. Orang yang berdoa memohon afiyat adalah yang memohon pertolongan Tuhannya atas segala hal yang ia niatkan. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam mengkhususkan anjuran doa ini kepada pamannya, Abbas dan mencukupkan dengan doa afiyat merupakan bentuk penggugah semangat para pendoa untuk senantiasa mengucapkannya dan menjadikannya sebagai salah satu wasilah terbesar untuk mendekat kepada Tuhan mereka dan untuk memohon pertolongan kepada-Nya atas segala yang mereka inginkan. Kemudian Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda kepadanya: ‘Mintalah kepada Allah afiyat di dunia dan akhirat!’ seakan-akan doa ini dengan redaksi seperti ini menjadi bekal untuk menghindari segala mudharat dan mengundang segala kebaikan.” (Kitab Tuhfah Al-Ahwadzi karya Al-Mubarakfuri jilid 9 hlm. 348). Dan inilah Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu menceritakan: Pernah ada seorang lelaki yang datang kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu berkata: “Wahai Rasulullah! Doa apa yang paling afdal?” Beliau menjawab: “Mintalah kepada Tuhanmu afiyat dan mu’afat di dunia dan akhirat.” Kemudian lelaki itu datang lagi kepada beliau pada hari kedua, dan berkata: “Wahai Rasulullah! Doa apa yang paling afdal?” Lalu beliau menjawab seperti itu juga. Kemudian lelaki itu datang lagi kepada beliau pada hari ketiga, dan bertanya seperti sebelumnya, dan beliau juga menjawab dengan jawaban yang sama, lalu beliau menambahkan: “Apabila engkau telah diberi afiyat di dunia dan diberi afiyat di akhirat juga, maka sungguh engkau telah beruntung.” (HR. At-Tirmidzi no. 3512. Beliau berkata: Hadis ini hasan gharib). Ibnu Al-Atsir mengatakan dalam An-Nihayah bahwa perbedaan antara afiyat dan mu’afat adalah afiyat itu engkau selamat dari penyakit-penyakit dan musibah-musibah, ia adalah kesehatan yang merupakan kebalikan dari penyakit. Sedangkan mu’afat adalah Allah menyelamatkanmu dari (keburukan) manusia dan menyelamatkan mereka dari keburukanmu, yakni mencukupkanmu dari mereka dan mencukupkan mereka darimu, serta menghindarkan gangguan mereka darimu dan gangguanmu dari mereka. (Kitab An-Nihayah fi Gharib Al-Hadits wa Al-Atsar karya Ibnu Atsir jilid 3 hlm. 265). Oleh sebab itu, seorang muslim tidak boleh berharap mendapat ujian atau terburu-buru menanggung azab akhirat. Anas Radhiyallahu ‘anhu menceritakan: “Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pernah menjenguk seseorang dari kaum Muslimin yang sudah lemah sekali hingga menjadi seperti anak burung. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bertanya kepadanya: ‘Apakah engkau pernah berdoa atau meminta sesuatu kepada Allah?’ Ia menjawab: ‘Ya. Dulu aku pernah mengucapkan: Ya Allah siksaan yang hendak Engkau timpakan kepadaku di akhirat, segerakanlah siksaan itu bagiku di dunia.’ Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bersabda: ‘Subhanallah! Engkau tidak akan mampu menanggungnya. Mengapa engkau tidak mengucapkan: Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.’ Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu berdoa kepada Allah untuknya, sehingga Allah menyembuhkannya.” (HR. Muslim no. 2688). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menegurnya karena terburu-buru menanggung azab dan musibah, dan mengabarkan kepadanya bahwa seharusnya ia mengucapkan doa: اللهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”  Hatim Al-Asham Rahimahullah berkata: “Ada empat perkara yang tidak akan diketahui nilainya kecuali oleh empat golongan: Nilai masa muda yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang sudah tua, nilai afiyat yang tidak diketahui kecuali orang yang tertimpa musibah, nilai kesehatan yang tidak diketahui kecuali oleh orang sakit, nilai kehidupan yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang telah mati.” (Kitab Tanbih Al-Ghafilin Bi-Ahadits Sayyid Al-Anbiya wa Al-Mursalin karya As-Samarqandi hlm. 39). Bakar bin Abdullah Al-Muzani Rahimahullah berkata: “Barang siapa yang seorang muslim dan badannya sehat, maka sungguh telah terhimpun padanya puncak nikmat dunia dan puncak nikmat akhirat, karena puncak nikmat dunia adalah afiyat dan puncak nikmat akhirat adalah Islam.” (Kitab Tanbih Al-Ghafilin Bi-Ahadits Sayyid Al-Anbiya wa al-Mursalin karya As-Samarqandi hlm. 445). Mohonlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ampunan dan afiyat dalam sujud kalian, saat hendak berbuka puasa, dan di waktu antara azan dan iqamah, karena tidak ada seorang pun yang dikaruniai sesuatu —setelah keimanan— yang lebih baik daripada afiyat. Perbanyaklah membaca doa: Ya Allah, kami memohon kepada Engkau ampunan, afiyat, dan mu’afat yang langgeng dalam urusan agama, dunia, dan akhirat. Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi kita semua penjagaan, keselamatan, afiyat dari segala penyakit, dan husnul khatimah. Semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi Muhammad, juga kepada keluarga dan para sahabat beliau seluruhnya. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/153974/الدعاء-بالعافية-من-أفضل-الأدعية/ Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 170 times, 1 visit(s) today Post Views: 95

Doa Terbaik: Doa Memohon Afiyat

Oleh: Dr. Muhammad Jum’ah al-Halbusi Wahai muslim yang mulia! Tidak diragukan bahwa nikmat afiyat adalah salah satu nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang terbesar. Dulu Nabi kita Shalallahu Alaihi Wassalam senantiasa memohon kepada Tuhannya afiyat, dan mewasiatkan kepada para sahabat beliau yang mulia untuk memohon afiyat. Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: اسْأَلُوا اللَّهَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ، فَإِنَّ أَحَدًا لَمْ يُعْطَ بَعْدَ اليَقِينِ خَيْرًا مِنَ العَافِيَةِ “Mohonlah kepada Allah ampunan dan afiyat, karena tidak ada seorang pun yang diberi sesuatu yang lebih baik – setelah keyakinan (keimanan) – daripada afiyat.” (HR. At-Tirmidzi no. 3558. Beliau berkata bahwa hadis ini hasan gharib). Bagaimana menurutmu, apakah seorang insan bisa merasa bahagia tanpa afiyat? Apakah ia dapat menikmati harta tanpa afiyat? Apakah ia akan merasa senang dengan kedudukan dan jabatan tanpa afiyat? Demi Allah! Tidak akan ada yang menandingi nikmat afiyat. Afiyat adalah pakaian termewah yang dipakai manusia, makanan terlezat yang ia nikmati, dan tidur ternyenyak yang ia rasakan. Inilah Abbas bin Abdul Muthalib Radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan: Aku pernah berkata kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam: “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk aku minta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Beliau menjawab: “Mintalah kepada Allah afiyat!” Selang beberapa hari, aku datang kembali dan berkata: “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk aku minta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Beliau lalu bersabda kepadaku: “Wahai Abbas! Wahai paman Rasulullah! Mintalah kepada Allah afiyat di dunia dan akhirat!” (HR. At-Tirmidzi no. 3514. Beliau berkata bahwa hadits ini shahih). Al-Mubarakfuri Rahimahullah berkata tentang makna afiyat: “Ia adalah pertolongan Allah bagi hamba-Nya. Orang yang berdoa memohon afiyat adalah yang memohon pertolongan Tuhannya atas segala hal yang ia niatkan. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam mengkhususkan anjuran doa ini kepada pamannya, Abbas dan mencukupkan dengan doa afiyat merupakan bentuk penggugah semangat para pendoa untuk senantiasa mengucapkannya dan menjadikannya sebagai salah satu wasilah terbesar untuk mendekat kepada Tuhan mereka dan untuk memohon pertolongan kepada-Nya atas segala yang mereka inginkan. Kemudian Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda kepadanya: ‘Mintalah kepada Allah afiyat di dunia dan akhirat!’ seakan-akan doa ini dengan redaksi seperti ini menjadi bekal untuk menghindari segala mudharat dan mengundang segala kebaikan.” (Kitab Tuhfah Al-Ahwadzi karya Al-Mubarakfuri jilid 9 hlm. 348). Dan inilah Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu menceritakan: Pernah ada seorang lelaki yang datang kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu berkata: “Wahai Rasulullah! Doa apa yang paling afdal?” Beliau menjawab: “Mintalah kepada Tuhanmu afiyat dan mu’afat di dunia dan akhirat.” Kemudian lelaki itu datang lagi kepada beliau pada hari kedua, dan berkata: “Wahai Rasulullah! Doa apa yang paling afdal?” Lalu beliau menjawab seperti itu juga. Kemudian lelaki itu datang lagi kepada beliau pada hari ketiga, dan bertanya seperti sebelumnya, dan beliau juga menjawab dengan jawaban yang sama, lalu beliau menambahkan: “Apabila engkau telah diberi afiyat di dunia dan diberi afiyat di akhirat juga, maka sungguh engkau telah beruntung.” (HR. At-Tirmidzi no. 3512. Beliau berkata: Hadis ini hasan gharib). Ibnu Al-Atsir mengatakan dalam An-Nihayah bahwa perbedaan antara afiyat dan mu’afat adalah afiyat itu engkau selamat dari penyakit-penyakit dan musibah-musibah, ia adalah kesehatan yang merupakan kebalikan dari penyakit. Sedangkan mu’afat adalah Allah menyelamatkanmu dari (keburukan) manusia dan menyelamatkan mereka dari keburukanmu, yakni mencukupkanmu dari mereka dan mencukupkan mereka darimu, serta menghindarkan gangguan mereka darimu dan gangguanmu dari mereka. (Kitab An-Nihayah fi Gharib Al-Hadits wa Al-Atsar karya Ibnu Atsir jilid 3 hlm. 265). Oleh sebab itu, seorang muslim tidak boleh berharap mendapat ujian atau terburu-buru menanggung azab akhirat. Anas Radhiyallahu ‘anhu menceritakan: “Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pernah menjenguk seseorang dari kaum Muslimin yang sudah lemah sekali hingga menjadi seperti anak burung. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bertanya kepadanya: ‘Apakah engkau pernah berdoa atau meminta sesuatu kepada Allah?’ Ia menjawab: ‘Ya. Dulu aku pernah mengucapkan: Ya Allah siksaan yang hendak Engkau timpakan kepadaku di akhirat, segerakanlah siksaan itu bagiku di dunia.’ Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bersabda: ‘Subhanallah! Engkau tidak akan mampu menanggungnya. Mengapa engkau tidak mengucapkan: Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.’ Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu berdoa kepada Allah untuknya, sehingga Allah menyembuhkannya.” (HR. Muslim no. 2688). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menegurnya karena terburu-buru menanggung azab dan musibah, dan mengabarkan kepadanya bahwa seharusnya ia mengucapkan doa: اللهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”  Hatim Al-Asham Rahimahullah berkata: “Ada empat perkara yang tidak akan diketahui nilainya kecuali oleh empat golongan: Nilai masa muda yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang sudah tua, nilai afiyat yang tidak diketahui kecuali orang yang tertimpa musibah, nilai kesehatan yang tidak diketahui kecuali oleh orang sakit, nilai kehidupan yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang telah mati.” (Kitab Tanbih Al-Ghafilin Bi-Ahadits Sayyid Al-Anbiya wa Al-Mursalin karya As-Samarqandi hlm. 39). Bakar bin Abdullah Al-Muzani Rahimahullah berkata: “Barang siapa yang seorang muslim dan badannya sehat, maka sungguh telah terhimpun padanya puncak nikmat dunia dan puncak nikmat akhirat, karena puncak nikmat dunia adalah afiyat dan puncak nikmat akhirat adalah Islam.” (Kitab Tanbih Al-Ghafilin Bi-Ahadits Sayyid Al-Anbiya wa al-Mursalin karya As-Samarqandi hlm. 445). Mohonlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ampunan dan afiyat dalam sujud kalian, saat hendak berbuka puasa, dan di waktu antara azan dan iqamah, karena tidak ada seorang pun yang dikaruniai sesuatu —setelah keimanan— yang lebih baik daripada afiyat. Perbanyaklah membaca doa: Ya Allah, kami memohon kepada Engkau ampunan, afiyat, dan mu’afat yang langgeng dalam urusan agama, dunia, dan akhirat. Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi kita semua penjagaan, keselamatan, afiyat dari segala penyakit, dan husnul khatimah. Semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi Muhammad, juga kepada keluarga dan para sahabat beliau seluruhnya. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/153974/الدعاء-بالعافية-من-أفضل-الأدعية/ Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 170 times, 1 visit(s) today Post Views: 95
Oleh: Dr. Muhammad Jum’ah al-Halbusi Wahai muslim yang mulia! Tidak diragukan bahwa nikmat afiyat adalah salah satu nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang terbesar. Dulu Nabi kita Shalallahu Alaihi Wassalam senantiasa memohon kepada Tuhannya afiyat, dan mewasiatkan kepada para sahabat beliau yang mulia untuk memohon afiyat. Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: اسْأَلُوا اللَّهَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ، فَإِنَّ أَحَدًا لَمْ يُعْطَ بَعْدَ اليَقِينِ خَيْرًا مِنَ العَافِيَةِ “Mohonlah kepada Allah ampunan dan afiyat, karena tidak ada seorang pun yang diberi sesuatu yang lebih baik – setelah keyakinan (keimanan) – daripada afiyat.” (HR. At-Tirmidzi no. 3558. Beliau berkata bahwa hadis ini hasan gharib). Bagaimana menurutmu, apakah seorang insan bisa merasa bahagia tanpa afiyat? Apakah ia dapat menikmati harta tanpa afiyat? Apakah ia akan merasa senang dengan kedudukan dan jabatan tanpa afiyat? Demi Allah! Tidak akan ada yang menandingi nikmat afiyat. Afiyat adalah pakaian termewah yang dipakai manusia, makanan terlezat yang ia nikmati, dan tidur ternyenyak yang ia rasakan. Inilah Abbas bin Abdul Muthalib Radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan: Aku pernah berkata kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam: “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk aku minta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Beliau menjawab: “Mintalah kepada Allah afiyat!” Selang beberapa hari, aku datang kembali dan berkata: “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk aku minta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Beliau lalu bersabda kepadaku: “Wahai Abbas! Wahai paman Rasulullah! Mintalah kepada Allah afiyat di dunia dan akhirat!” (HR. At-Tirmidzi no. 3514. Beliau berkata bahwa hadits ini shahih). Al-Mubarakfuri Rahimahullah berkata tentang makna afiyat: “Ia adalah pertolongan Allah bagi hamba-Nya. Orang yang berdoa memohon afiyat adalah yang memohon pertolongan Tuhannya atas segala hal yang ia niatkan. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam mengkhususkan anjuran doa ini kepada pamannya, Abbas dan mencukupkan dengan doa afiyat merupakan bentuk penggugah semangat para pendoa untuk senantiasa mengucapkannya dan menjadikannya sebagai salah satu wasilah terbesar untuk mendekat kepada Tuhan mereka dan untuk memohon pertolongan kepada-Nya atas segala yang mereka inginkan. Kemudian Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda kepadanya: ‘Mintalah kepada Allah afiyat di dunia dan akhirat!’ seakan-akan doa ini dengan redaksi seperti ini menjadi bekal untuk menghindari segala mudharat dan mengundang segala kebaikan.” (Kitab Tuhfah Al-Ahwadzi karya Al-Mubarakfuri jilid 9 hlm. 348). Dan inilah Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu menceritakan: Pernah ada seorang lelaki yang datang kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu berkata: “Wahai Rasulullah! Doa apa yang paling afdal?” Beliau menjawab: “Mintalah kepada Tuhanmu afiyat dan mu’afat di dunia dan akhirat.” Kemudian lelaki itu datang lagi kepada beliau pada hari kedua, dan berkata: “Wahai Rasulullah! Doa apa yang paling afdal?” Lalu beliau menjawab seperti itu juga. Kemudian lelaki itu datang lagi kepada beliau pada hari ketiga, dan bertanya seperti sebelumnya, dan beliau juga menjawab dengan jawaban yang sama, lalu beliau menambahkan: “Apabila engkau telah diberi afiyat di dunia dan diberi afiyat di akhirat juga, maka sungguh engkau telah beruntung.” (HR. At-Tirmidzi no. 3512. Beliau berkata: Hadis ini hasan gharib). Ibnu Al-Atsir mengatakan dalam An-Nihayah bahwa perbedaan antara afiyat dan mu’afat adalah afiyat itu engkau selamat dari penyakit-penyakit dan musibah-musibah, ia adalah kesehatan yang merupakan kebalikan dari penyakit. Sedangkan mu’afat adalah Allah menyelamatkanmu dari (keburukan) manusia dan menyelamatkan mereka dari keburukanmu, yakni mencukupkanmu dari mereka dan mencukupkan mereka darimu, serta menghindarkan gangguan mereka darimu dan gangguanmu dari mereka. (Kitab An-Nihayah fi Gharib Al-Hadits wa Al-Atsar karya Ibnu Atsir jilid 3 hlm. 265). Oleh sebab itu, seorang muslim tidak boleh berharap mendapat ujian atau terburu-buru menanggung azab akhirat. Anas Radhiyallahu ‘anhu menceritakan: “Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pernah menjenguk seseorang dari kaum Muslimin yang sudah lemah sekali hingga menjadi seperti anak burung. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bertanya kepadanya: ‘Apakah engkau pernah berdoa atau meminta sesuatu kepada Allah?’ Ia menjawab: ‘Ya. Dulu aku pernah mengucapkan: Ya Allah siksaan yang hendak Engkau timpakan kepadaku di akhirat, segerakanlah siksaan itu bagiku di dunia.’ Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bersabda: ‘Subhanallah! Engkau tidak akan mampu menanggungnya. Mengapa engkau tidak mengucapkan: Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.’ Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu berdoa kepada Allah untuknya, sehingga Allah menyembuhkannya.” (HR. Muslim no. 2688). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menegurnya karena terburu-buru menanggung azab dan musibah, dan mengabarkan kepadanya bahwa seharusnya ia mengucapkan doa: اللهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”  Hatim Al-Asham Rahimahullah berkata: “Ada empat perkara yang tidak akan diketahui nilainya kecuali oleh empat golongan: Nilai masa muda yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang sudah tua, nilai afiyat yang tidak diketahui kecuali orang yang tertimpa musibah, nilai kesehatan yang tidak diketahui kecuali oleh orang sakit, nilai kehidupan yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang telah mati.” (Kitab Tanbih Al-Ghafilin Bi-Ahadits Sayyid Al-Anbiya wa Al-Mursalin karya As-Samarqandi hlm. 39). Bakar bin Abdullah Al-Muzani Rahimahullah berkata: “Barang siapa yang seorang muslim dan badannya sehat, maka sungguh telah terhimpun padanya puncak nikmat dunia dan puncak nikmat akhirat, karena puncak nikmat dunia adalah afiyat dan puncak nikmat akhirat adalah Islam.” (Kitab Tanbih Al-Ghafilin Bi-Ahadits Sayyid Al-Anbiya wa al-Mursalin karya As-Samarqandi hlm. 445). Mohonlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ampunan dan afiyat dalam sujud kalian, saat hendak berbuka puasa, dan di waktu antara azan dan iqamah, karena tidak ada seorang pun yang dikaruniai sesuatu —setelah keimanan— yang lebih baik daripada afiyat. Perbanyaklah membaca doa: Ya Allah, kami memohon kepada Engkau ampunan, afiyat, dan mu’afat yang langgeng dalam urusan agama, dunia, dan akhirat. Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi kita semua penjagaan, keselamatan, afiyat dari segala penyakit, dan husnul khatimah. Semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi Muhammad, juga kepada keluarga dan para sahabat beliau seluruhnya. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/153974/الدعاء-بالعافية-من-أفضل-الأدعية/ Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 170 times, 1 visit(s) today Post Views: 95


Oleh: Dr. Muhammad Jum’ah al-Halbusi Wahai muslim yang mulia! Tidak diragukan bahwa nikmat afiyat adalah salah satu nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang terbesar. Dulu Nabi kita Shalallahu Alaihi Wassalam senantiasa memohon kepada Tuhannya afiyat, dan mewasiatkan kepada para sahabat beliau yang mulia untuk memohon afiyat. Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: اسْأَلُوا اللَّهَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ، فَإِنَّ أَحَدًا لَمْ يُعْطَ بَعْدَ اليَقِينِ خَيْرًا مِنَ العَافِيَةِ “Mohonlah kepada Allah ampunan dan afiyat, karena tidak ada seorang pun yang diberi sesuatu yang lebih baik – setelah keyakinan (keimanan) – daripada afiyat.” (HR. At-Tirmidzi no. 3558. Beliau berkata bahwa hadis ini hasan gharib). Bagaimana menurutmu, apakah seorang insan bisa merasa bahagia tanpa afiyat? Apakah ia dapat menikmati harta tanpa afiyat? Apakah ia akan merasa senang dengan kedudukan dan jabatan tanpa afiyat? Demi Allah! Tidak akan ada yang menandingi nikmat afiyat. Afiyat adalah pakaian termewah yang dipakai manusia, makanan terlezat yang ia nikmati, dan tidur ternyenyak yang ia rasakan. Inilah Abbas bin Abdul Muthalib Radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan: Aku pernah berkata kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam: “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk aku minta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Beliau menjawab: “Mintalah kepada Allah afiyat!” Selang beberapa hari, aku datang kembali dan berkata: “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk aku minta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Beliau lalu bersabda kepadaku: “Wahai Abbas! Wahai paman Rasulullah! Mintalah kepada Allah afiyat di dunia dan akhirat!” (HR. At-Tirmidzi no. 3514. Beliau berkata bahwa hadits ini shahih). Al-Mubarakfuri Rahimahullah berkata tentang makna afiyat: “Ia adalah pertolongan Allah bagi hamba-Nya. Orang yang berdoa memohon afiyat adalah yang memohon pertolongan Tuhannya atas segala hal yang ia niatkan. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam mengkhususkan anjuran doa ini kepada pamannya, Abbas dan mencukupkan dengan doa afiyat merupakan bentuk penggugah semangat para pendoa untuk senantiasa mengucapkannya dan menjadikannya sebagai salah satu wasilah terbesar untuk mendekat kepada Tuhan mereka dan untuk memohon pertolongan kepada-Nya atas segala yang mereka inginkan. Kemudian Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda kepadanya: ‘Mintalah kepada Allah afiyat di dunia dan akhirat!’ seakan-akan doa ini dengan redaksi seperti ini menjadi bekal untuk menghindari segala mudharat dan mengundang segala kebaikan.” (Kitab Tuhfah Al-Ahwadzi karya Al-Mubarakfuri jilid 9 hlm. 348). Dan inilah Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu menceritakan: Pernah ada seorang lelaki yang datang kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu berkata: “Wahai Rasulullah! Doa apa yang paling afdal?” Beliau menjawab: “Mintalah kepada Tuhanmu afiyat dan mu’afat di dunia dan akhirat.” Kemudian lelaki itu datang lagi kepada beliau pada hari kedua, dan berkata: “Wahai Rasulullah! Doa apa yang paling afdal?” Lalu beliau menjawab seperti itu juga. Kemudian lelaki itu datang lagi kepada beliau pada hari ketiga, dan bertanya seperti sebelumnya, dan beliau juga menjawab dengan jawaban yang sama, lalu beliau menambahkan: “Apabila engkau telah diberi afiyat di dunia dan diberi afiyat di akhirat juga, maka sungguh engkau telah beruntung.” (HR. At-Tirmidzi no. 3512. Beliau berkata: Hadis ini hasan gharib). Ibnu Al-Atsir mengatakan dalam An-Nihayah bahwa perbedaan antara afiyat dan mu’afat adalah afiyat itu engkau selamat dari penyakit-penyakit dan musibah-musibah, ia adalah kesehatan yang merupakan kebalikan dari penyakit. Sedangkan mu’afat adalah Allah menyelamatkanmu dari (keburukan) manusia dan menyelamatkan mereka dari keburukanmu, yakni mencukupkanmu dari mereka dan mencukupkan mereka darimu, serta menghindarkan gangguan mereka darimu dan gangguanmu dari mereka. (Kitab An-Nihayah fi Gharib Al-Hadits wa Al-Atsar karya Ibnu Atsir jilid 3 hlm. 265). Oleh sebab itu, seorang muslim tidak boleh berharap mendapat ujian atau terburu-buru menanggung azab akhirat. Anas Radhiyallahu ‘anhu menceritakan: “Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pernah menjenguk seseorang dari kaum Muslimin yang sudah lemah sekali hingga menjadi seperti anak burung. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bertanya kepadanya: ‘Apakah engkau pernah berdoa atau meminta sesuatu kepada Allah?’ Ia menjawab: ‘Ya. Dulu aku pernah mengucapkan: Ya Allah siksaan yang hendak Engkau timpakan kepadaku di akhirat, segerakanlah siksaan itu bagiku di dunia.’ Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bersabda: ‘Subhanallah! Engkau tidak akan mampu menanggungnya. Mengapa engkau tidak mengucapkan: Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.’ Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu berdoa kepada Allah untuknya, sehingga Allah menyembuhkannya.” (HR. Muslim no. 2688). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menegurnya karena terburu-buru menanggung azab dan musibah, dan mengabarkan kepadanya bahwa seharusnya ia mengucapkan doa: اللهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”  Hatim Al-Asham Rahimahullah berkata: “Ada empat perkara yang tidak akan diketahui nilainya kecuali oleh empat golongan: Nilai masa muda yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang sudah tua, nilai afiyat yang tidak diketahui kecuali orang yang tertimpa musibah, nilai kesehatan yang tidak diketahui kecuali oleh orang sakit, nilai kehidupan yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang telah mati.” (Kitab Tanbih Al-Ghafilin Bi-Ahadits Sayyid Al-Anbiya wa Al-Mursalin karya As-Samarqandi hlm. 39). Bakar bin Abdullah Al-Muzani Rahimahullah berkata: “Barang siapa yang seorang muslim dan badannya sehat, maka sungguh telah terhimpun padanya puncak nikmat dunia dan puncak nikmat akhirat, karena puncak nikmat dunia adalah afiyat dan puncak nikmat akhirat adalah Islam.” (Kitab Tanbih Al-Ghafilin Bi-Ahadits Sayyid Al-Anbiya wa al-Mursalin karya As-Samarqandi hlm. 445). Mohonlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ampunan dan afiyat dalam sujud kalian, saat hendak berbuka puasa, dan di waktu antara azan dan iqamah, karena tidak ada seorang pun yang dikaruniai sesuatu —setelah keimanan— yang lebih baik daripada afiyat. Perbanyaklah membaca doa: Ya Allah, kami memohon kepada Engkau ampunan, afiyat, dan mu’afat yang langgeng dalam urusan agama, dunia, dan akhirat. Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi kita semua penjagaan, keselamatan, afiyat dari segala penyakit, dan husnul khatimah. Semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi Muhammad, juga kepada keluarga dan para sahabat beliau seluruhnya. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/153974/الدعاء-بالعافية-من-أفضل-الأدعية/ Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 170 times, 1 visit(s) today Post Views: 95

Sepuluh Wasiat Agung dari Surah Al-An’am (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleWasiat keenam, menjaga harta anak yatimWasiat ketujuh, menyempurnakan takaran atau timbanganWasiat kedelapan, adil dalam setiap perkataan dan keputusanWasiat kesembilan, menunaikan janji dan amanah kepada AllahWasiat kesepuluh, berpegang teguh pada jalan yang lurusWasiat keenam, menjaga harta anak yatimKemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan wasiat yang keenam, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَلَا تَقْرَبُوا۟ مَالَ ٱلْيَتِيمِ إِلَّا بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ حَتَّىٰ يَبْلُغَ أَشُدَّهُۥ ۖ“Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa.” (QS. Al-An’am: 152)Ayat ini mengajarkan kepada kaum muslimin untuk menjaga dan mengelola harta anak yatim dengan cara yang baik dan aman. Ketika mereka telah dewasa dan mampu mengelolanya, maka hak mereka wajib diserahkan secara utuh tanpa dikurangi sedikit pun, serta dilarang berbuat curang atau memakan harta mereka secara batil.Allah  ‘Azza wa Jalla memperingatkan dengan sangat keras bagi mereka yang memakan harta anak yatim demgan api neraka. Allah  ‘Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ ٱلَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَٰلَ ٱلْيَتَٰمَىٰ ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِى بُطُونِهِمْ نَارًا ۖ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. An-Nisa: 10)Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang hamba-Nya memakan harta anak yatim secara zalim dan tanpa hak. Allah Ta’ala mengancam pelakunya dengan ancaman yang sangat keras, yaitu seakan-akan mereka sedang memakan api ke dalam perut mereka, dan kelak akan dimasukkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Ayat ini menunjukkan besarnya dosa menzalimi anak yatim serta kewajiban menjaga, melindungi, dan memberikan hak mereka dengan jujur dan amanah.Wasiat ketujuh, menyempurnakan takaran atau timbanganAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَأَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ وَٱلْمِيزَانَ بِٱلْقِسْطِ ۖ“Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil.” (QS. Al-An’am: 152)Menyempurnakan timbangan dan takaran bukan sekadar masalah jual beli semata, tetapi merupakan bagian dari wujud ketakwaan dan akhlak mulia seorang muslim. Orang yang jujur dalam jual beli sejatinya sedang menjalankan perintah Allah ‘Azza wa Jalla dan menjaga hak-hak manusia.Di sisi lain, Allah  ‘Azza wa Jalla justru memberikan ancaman keras kepada orang-orang yang curang dalam timbangan dan takaran. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ، الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ، وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ“Celakalah bagi orang-orang yang curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi. Namun apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al-Muṭaffifīn: 1–3)Kecurangan dalam jual beli termasuk dosa dan perbuatan keji karena mengandung kezaliman. Pelaku mengurangi hak orang lain demi keuntungan pribadi. Mungkin nominalnya terlihat kecil; namun di sisi Allah, perkara itu sangatlah besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan umatnya agar menjauhi penipuan dalam masalah ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا“Barang siapa yang menipu, maka ia bukan dari golongan kami.” (HR. Muslim)Maka hendaknya seorang muslim selalu bersikap jujur dan amanah dalam setiap transaksi jual beli. Keberkahan harta tidak terletak pada banyaknya keuntungan, tetapi pada kehalalan dan kejujuran dalam mencarinya. Kecurangan mungkin menguntungkan sesaat, namun akan mendatangkan dosa dan hilangnya keberkahan. Oleh karena itu, jagalah hak orang lain dan bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap muamalah.Wasiat kedelapan, adil dalam setiap perkataan dan keputusanDalam wasiat kedelapan ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajarkan tentang pentingnya menegakkan keadilan dalam setiap ucapan dan keputusan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى“Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, sekalipun terhadap kerabat(mu).” (QS. Al-An’am: 152)Ayat ini mengajarkan agar seorang muslim selalu jujur dan adil dalam ucapan maupun keputusan. Islam melarang sikap memihak karena hubungan keluarga, kedekatan, atau kepentingan pribadi. Kebenaran harus tetap ditegakkan, walaupun terhadap orang yang paling dekat dengan kita.Allah ‘Azza wa Jalla juga menegaskan perintah ini dalam firman-Nya di ayat yang lain,يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri, ibu bapak, dan kaum kerabatmu.” (QS. An-Nisa: 135)Ayat ini menunjukkan bahwa keadilan dalam Islam tidak boleh dipengaruhi hawa nafsu atau kepentingan individu. Seorang muslim harus tetap berkata benar dan berdiri di atas kebenaran, meskipun terhadap orang yang dicintainya.Wasiat kesembilan, menunaikan janji dan amanah kepada AllahPada wasiat kesembilan ini, Allah Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk memenuhi janji dan amanah kepada-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَبِعَهْدِ ٱللَّهِ أَوْفُوا۟ ۚ“Dan penuhilah janji Allah.” (QS. Al-An’am: 152)Yang dimaksud janji kepada Allah Ta’ala adalah melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Seluruh ibadah dan amanah dalam hidup ini wajib dijaga dan ditunaikan dengan baik. Termasuk di dalamnya menepati sumpah dan nazar, serta tidak meremehkan kewajiban yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan.Allah Ta’ala juga menegaskan,وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا“Dan penuhilah janji, karena sesungguhnya janji itu pasti akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’: 34)Ayat ini menjadi pengingat bahwa setiap janji dan amanah akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla pada hari kiamat. Oleh sebab itu, seorang muslim harus menjaga komitmennya dalam urusan agama maupun dalam hubungan dengan sesama manusia. Jangan sampai seseorang dikenal mudah mengingkari janji, berkhianat, atau meremehkan amanah, karena sifat tersebut termasuk ciri orang munafik.Wasiat kesepuluh, berpegang teguh pada jalan yang lurusWasiat kesepuluh dan yang terakhir ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِى مُسْتَقِيمًا فَٱتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am: 153)Ayat ini menjadi penutup dari sepuluh wasiat Allah, yang menegaskan bahwa jalan keselamatan hanyalah mengikuti jalan Allah yang lurus, yaitu agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Yang dimaksud dengan jalan yang lurus adalah beragama berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah sesuai pemahaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya rahdhiyallahu ‘anhum. Oleh karena itu, seorang muslim diperintahkan untuk istikamah di atas petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjauhi segala bentuk penyimpangan dalam agama.Allah Subhanahu wa Ta’ala juga melarang mengikuti jalan-jalan lain yang menyimpang dari kebenaran, seperti melakukan bid‘ah, mengedepankan hawa nafsu, dan menyebarkan syubhat. Sebab kebenaran itu satu, sedangkan jalan kesesatan sangat banyak.Kemudian Allah Ta’ala menutup seluruh wasiat ini dengan firman-Nya,ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am: 153)Artinya, seluruh wasiat ini adalah jalan menuju ketakwaan. Siapa saja yang ingin menjadi hamba yang bertakwa, haruslah berusaha meniti jalan Allah yang lurus tersebut, menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan istikamah di atas Sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Jalan yang lurus ini adalah jalan para Nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Jalan inilah yang setiap hari kita minta kepada Allah  ‘Azza wa Jalla dalam setiap salat kita,اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6)Doa ini bukan sekadar bacaan, tetapi permohonan agar Allah Ta’ala senantiasa membimbing hati kita untuk tetap istikamah di atas agama Islam yang hak ini, menjauhkan kita dari segala bentuk kesesatan dan pelakunya, serta mewafatkan kita dalam keadaan berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunah.Wallahu a’lam bisshawab.[Selesai]***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id

Sepuluh Wasiat Agung dari Surah Al-An’am (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleWasiat keenam, menjaga harta anak yatimWasiat ketujuh, menyempurnakan takaran atau timbanganWasiat kedelapan, adil dalam setiap perkataan dan keputusanWasiat kesembilan, menunaikan janji dan amanah kepada AllahWasiat kesepuluh, berpegang teguh pada jalan yang lurusWasiat keenam, menjaga harta anak yatimKemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan wasiat yang keenam, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَلَا تَقْرَبُوا۟ مَالَ ٱلْيَتِيمِ إِلَّا بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ حَتَّىٰ يَبْلُغَ أَشُدَّهُۥ ۖ“Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa.” (QS. Al-An’am: 152)Ayat ini mengajarkan kepada kaum muslimin untuk menjaga dan mengelola harta anak yatim dengan cara yang baik dan aman. Ketika mereka telah dewasa dan mampu mengelolanya, maka hak mereka wajib diserahkan secara utuh tanpa dikurangi sedikit pun, serta dilarang berbuat curang atau memakan harta mereka secara batil.Allah  ‘Azza wa Jalla memperingatkan dengan sangat keras bagi mereka yang memakan harta anak yatim demgan api neraka. Allah  ‘Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ ٱلَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَٰلَ ٱلْيَتَٰمَىٰ ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِى بُطُونِهِمْ نَارًا ۖ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. An-Nisa: 10)Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang hamba-Nya memakan harta anak yatim secara zalim dan tanpa hak. Allah Ta’ala mengancam pelakunya dengan ancaman yang sangat keras, yaitu seakan-akan mereka sedang memakan api ke dalam perut mereka, dan kelak akan dimasukkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Ayat ini menunjukkan besarnya dosa menzalimi anak yatim serta kewajiban menjaga, melindungi, dan memberikan hak mereka dengan jujur dan amanah.Wasiat ketujuh, menyempurnakan takaran atau timbanganAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَأَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ وَٱلْمِيزَانَ بِٱلْقِسْطِ ۖ“Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil.” (QS. Al-An’am: 152)Menyempurnakan timbangan dan takaran bukan sekadar masalah jual beli semata, tetapi merupakan bagian dari wujud ketakwaan dan akhlak mulia seorang muslim. Orang yang jujur dalam jual beli sejatinya sedang menjalankan perintah Allah ‘Azza wa Jalla dan menjaga hak-hak manusia.Di sisi lain, Allah  ‘Azza wa Jalla justru memberikan ancaman keras kepada orang-orang yang curang dalam timbangan dan takaran. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ، الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ، وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ“Celakalah bagi orang-orang yang curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi. Namun apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al-Muṭaffifīn: 1–3)Kecurangan dalam jual beli termasuk dosa dan perbuatan keji karena mengandung kezaliman. Pelaku mengurangi hak orang lain demi keuntungan pribadi. Mungkin nominalnya terlihat kecil; namun di sisi Allah, perkara itu sangatlah besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan umatnya agar menjauhi penipuan dalam masalah ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا“Barang siapa yang menipu, maka ia bukan dari golongan kami.” (HR. Muslim)Maka hendaknya seorang muslim selalu bersikap jujur dan amanah dalam setiap transaksi jual beli. Keberkahan harta tidak terletak pada banyaknya keuntungan, tetapi pada kehalalan dan kejujuran dalam mencarinya. Kecurangan mungkin menguntungkan sesaat, namun akan mendatangkan dosa dan hilangnya keberkahan. Oleh karena itu, jagalah hak orang lain dan bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap muamalah.Wasiat kedelapan, adil dalam setiap perkataan dan keputusanDalam wasiat kedelapan ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajarkan tentang pentingnya menegakkan keadilan dalam setiap ucapan dan keputusan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى“Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, sekalipun terhadap kerabat(mu).” (QS. Al-An’am: 152)Ayat ini mengajarkan agar seorang muslim selalu jujur dan adil dalam ucapan maupun keputusan. Islam melarang sikap memihak karena hubungan keluarga, kedekatan, atau kepentingan pribadi. Kebenaran harus tetap ditegakkan, walaupun terhadap orang yang paling dekat dengan kita.Allah ‘Azza wa Jalla juga menegaskan perintah ini dalam firman-Nya di ayat yang lain,يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri, ibu bapak, dan kaum kerabatmu.” (QS. An-Nisa: 135)Ayat ini menunjukkan bahwa keadilan dalam Islam tidak boleh dipengaruhi hawa nafsu atau kepentingan individu. Seorang muslim harus tetap berkata benar dan berdiri di atas kebenaran, meskipun terhadap orang yang dicintainya.Wasiat kesembilan, menunaikan janji dan amanah kepada AllahPada wasiat kesembilan ini, Allah Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk memenuhi janji dan amanah kepada-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَبِعَهْدِ ٱللَّهِ أَوْفُوا۟ ۚ“Dan penuhilah janji Allah.” (QS. Al-An’am: 152)Yang dimaksud janji kepada Allah Ta’ala adalah melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Seluruh ibadah dan amanah dalam hidup ini wajib dijaga dan ditunaikan dengan baik. Termasuk di dalamnya menepati sumpah dan nazar, serta tidak meremehkan kewajiban yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan.Allah Ta’ala juga menegaskan,وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا“Dan penuhilah janji, karena sesungguhnya janji itu pasti akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’: 34)Ayat ini menjadi pengingat bahwa setiap janji dan amanah akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla pada hari kiamat. Oleh sebab itu, seorang muslim harus menjaga komitmennya dalam urusan agama maupun dalam hubungan dengan sesama manusia. Jangan sampai seseorang dikenal mudah mengingkari janji, berkhianat, atau meremehkan amanah, karena sifat tersebut termasuk ciri orang munafik.Wasiat kesepuluh, berpegang teguh pada jalan yang lurusWasiat kesepuluh dan yang terakhir ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِى مُسْتَقِيمًا فَٱتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am: 153)Ayat ini menjadi penutup dari sepuluh wasiat Allah, yang menegaskan bahwa jalan keselamatan hanyalah mengikuti jalan Allah yang lurus, yaitu agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Yang dimaksud dengan jalan yang lurus adalah beragama berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah sesuai pemahaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya rahdhiyallahu ‘anhum. Oleh karena itu, seorang muslim diperintahkan untuk istikamah di atas petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjauhi segala bentuk penyimpangan dalam agama.Allah Subhanahu wa Ta’ala juga melarang mengikuti jalan-jalan lain yang menyimpang dari kebenaran, seperti melakukan bid‘ah, mengedepankan hawa nafsu, dan menyebarkan syubhat. Sebab kebenaran itu satu, sedangkan jalan kesesatan sangat banyak.Kemudian Allah Ta’ala menutup seluruh wasiat ini dengan firman-Nya,ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am: 153)Artinya, seluruh wasiat ini adalah jalan menuju ketakwaan. Siapa saja yang ingin menjadi hamba yang bertakwa, haruslah berusaha meniti jalan Allah yang lurus tersebut, menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan istikamah di atas Sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Jalan yang lurus ini adalah jalan para Nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Jalan inilah yang setiap hari kita minta kepada Allah  ‘Azza wa Jalla dalam setiap salat kita,اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6)Doa ini bukan sekadar bacaan, tetapi permohonan agar Allah Ta’ala senantiasa membimbing hati kita untuk tetap istikamah di atas agama Islam yang hak ini, menjauhkan kita dari segala bentuk kesesatan dan pelakunya, serta mewafatkan kita dalam keadaan berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunah.Wallahu a’lam bisshawab.[Selesai]***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleWasiat keenam, menjaga harta anak yatimWasiat ketujuh, menyempurnakan takaran atau timbanganWasiat kedelapan, adil dalam setiap perkataan dan keputusanWasiat kesembilan, menunaikan janji dan amanah kepada AllahWasiat kesepuluh, berpegang teguh pada jalan yang lurusWasiat keenam, menjaga harta anak yatimKemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan wasiat yang keenam, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَلَا تَقْرَبُوا۟ مَالَ ٱلْيَتِيمِ إِلَّا بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ حَتَّىٰ يَبْلُغَ أَشُدَّهُۥ ۖ“Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa.” (QS. Al-An’am: 152)Ayat ini mengajarkan kepada kaum muslimin untuk menjaga dan mengelola harta anak yatim dengan cara yang baik dan aman. Ketika mereka telah dewasa dan mampu mengelolanya, maka hak mereka wajib diserahkan secara utuh tanpa dikurangi sedikit pun, serta dilarang berbuat curang atau memakan harta mereka secara batil.Allah  ‘Azza wa Jalla memperingatkan dengan sangat keras bagi mereka yang memakan harta anak yatim demgan api neraka. Allah  ‘Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ ٱلَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَٰلَ ٱلْيَتَٰمَىٰ ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِى بُطُونِهِمْ نَارًا ۖ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. An-Nisa: 10)Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang hamba-Nya memakan harta anak yatim secara zalim dan tanpa hak. Allah Ta’ala mengancam pelakunya dengan ancaman yang sangat keras, yaitu seakan-akan mereka sedang memakan api ke dalam perut mereka, dan kelak akan dimasukkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Ayat ini menunjukkan besarnya dosa menzalimi anak yatim serta kewajiban menjaga, melindungi, dan memberikan hak mereka dengan jujur dan amanah.Wasiat ketujuh, menyempurnakan takaran atau timbanganAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَأَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ وَٱلْمِيزَانَ بِٱلْقِسْطِ ۖ“Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil.” (QS. Al-An’am: 152)Menyempurnakan timbangan dan takaran bukan sekadar masalah jual beli semata, tetapi merupakan bagian dari wujud ketakwaan dan akhlak mulia seorang muslim. Orang yang jujur dalam jual beli sejatinya sedang menjalankan perintah Allah ‘Azza wa Jalla dan menjaga hak-hak manusia.Di sisi lain, Allah  ‘Azza wa Jalla justru memberikan ancaman keras kepada orang-orang yang curang dalam timbangan dan takaran. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ، الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ، وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ“Celakalah bagi orang-orang yang curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi. Namun apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al-Muṭaffifīn: 1–3)Kecurangan dalam jual beli termasuk dosa dan perbuatan keji karena mengandung kezaliman. Pelaku mengurangi hak orang lain demi keuntungan pribadi. Mungkin nominalnya terlihat kecil; namun di sisi Allah, perkara itu sangatlah besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan umatnya agar menjauhi penipuan dalam masalah ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا“Barang siapa yang menipu, maka ia bukan dari golongan kami.” (HR. Muslim)Maka hendaknya seorang muslim selalu bersikap jujur dan amanah dalam setiap transaksi jual beli. Keberkahan harta tidak terletak pada banyaknya keuntungan, tetapi pada kehalalan dan kejujuran dalam mencarinya. Kecurangan mungkin menguntungkan sesaat, namun akan mendatangkan dosa dan hilangnya keberkahan. Oleh karena itu, jagalah hak orang lain dan bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap muamalah.Wasiat kedelapan, adil dalam setiap perkataan dan keputusanDalam wasiat kedelapan ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajarkan tentang pentingnya menegakkan keadilan dalam setiap ucapan dan keputusan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى“Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, sekalipun terhadap kerabat(mu).” (QS. Al-An’am: 152)Ayat ini mengajarkan agar seorang muslim selalu jujur dan adil dalam ucapan maupun keputusan. Islam melarang sikap memihak karena hubungan keluarga, kedekatan, atau kepentingan pribadi. Kebenaran harus tetap ditegakkan, walaupun terhadap orang yang paling dekat dengan kita.Allah ‘Azza wa Jalla juga menegaskan perintah ini dalam firman-Nya di ayat yang lain,يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri, ibu bapak, dan kaum kerabatmu.” (QS. An-Nisa: 135)Ayat ini menunjukkan bahwa keadilan dalam Islam tidak boleh dipengaruhi hawa nafsu atau kepentingan individu. Seorang muslim harus tetap berkata benar dan berdiri di atas kebenaran, meskipun terhadap orang yang dicintainya.Wasiat kesembilan, menunaikan janji dan amanah kepada AllahPada wasiat kesembilan ini, Allah Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk memenuhi janji dan amanah kepada-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَبِعَهْدِ ٱللَّهِ أَوْفُوا۟ ۚ“Dan penuhilah janji Allah.” (QS. Al-An’am: 152)Yang dimaksud janji kepada Allah Ta’ala adalah melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Seluruh ibadah dan amanah dalam hidup ini wajib dijaga dan ditunaikan dengan baik. Termasuk di dalamnya menepati sumpah dan nazar, serta tidak meremehkan kewajiban yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan.Allah Ta’ala juga menegaskan,وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا“Dan penuhilah janji, karena sesungguhnya janji itu pasti akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’: 34)Ayat ini menjadi pengingat bahwa setiap janji dan amanah akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla pada hari kiamat. Oleh sebab itu, seorang muslim harus menjaga komitmennya dalam urusan agama maupun dalam hubungan dengan sesama manusia. Jangan sampai seseorang dikenal mudah mengingkari janji, berkhianat, atau meremehkan amanah, karena sifat tersebut termasuk ciri orang munafik.Wasiat kesepuluh, berpegang teguh pada jalan yang lurusWasiat kesepuluh dan yang terakhir ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِى مُسْتَقِيمًا فَٱتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am: 153)Ayat ini menjadi penutup dari sepuluh wasiat Allah, yang menegaskan bahwa jalan keselamatan hanyalah mengikuti jalan Allah yang lurus, yaitu agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Yang dimaksud dengan jalan yang lurus adalah beragama berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah sesuai pemahaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya rahdhiyallahu ‘anhum. Oleh karena itu, seorang muslim diperintahkan untuk istikamah di atas petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjauhi segala bentuk penyimpangan dalam agama.Allah Subhanahu wa Ta’ala juga melarang mengikuti jalan-jalan lain yang menyimpang dari kebenaran, seperti melakukan bid‘ah, mengedepankan hawa nafsu, dan menyebarkan syubhat. Sebab kebenaran itu satu, sedangkan jalan kesesatan sangat banyak.Kemudian Allah Ta’ala menutup seluruh wasiat ini dengan firman-Nya,ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am: 153)Artinya, seluruh wasiat ini adalah jalan menuju ketakwaan. Siapa saja yang ingin menjadi hamba yang bertakwa, haruslah berusaha meniti jalan Allah yang lurus tersebut, menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan istikamah di atas Sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Jalan yang lurus ini adalah jalan para Nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Jalan inilah yang setiap hari kita minta kepada Allah  ‘Azza wa Jalla dalam setiap salat kita,اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6)Doa ini bukan sekadar bacaan, tetapi permohonan agar Allah Ta’ala senantiasa membimbing hati kita untuk tetap istikamah di atas agama Islam yang hak ini, menjauhkan kita dari segala bentuk kesesatan dan pelakunya, serta mewafatkan kita dalam keadaan berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunah.Wallahu a’lam bisshawab.[Selesai]***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleWasiat keenam, menjaga harta anak yatimWasiat ketujuh, menyempurnakan takaran atau timbanganWasiat kedelapan, adil dalam setiap perkataan dan keputusanWasiat kesembilan, menunaikan janji dan amanah kepada AllahWasiat kesepuluh, berpegang teguh pada jalan yang lurusWasiat keenam, menjaga harta anak yatimKemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan wasiat yang keenam, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَلَا تَقْرَبُوا۟ مَالَ ٱلْيَتِيمِ إِلَّا بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ حَتَّىٰ يَبْلُغَ أَشُدَّهُۥ ۖ“Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa.” (QS. Al-An’am: 152)Ayat ini mengajarkan kepada kaum muslimin untuk menjaga dan mengelola harta anak yatim dengan cara yang baik dan aman. Ketika mereka telah dewasa dan mampu mengelolanya, maka hak mereka wajib diserahkan secara utuh tanpa dikurangi sedikit pun, serta dilarang berbuat curang atau memakan harta mereka secara batil.Allah  ‘Azza wa Jalla memperingatkan dengan sangat keras bagi mereka yang memakan harta anak yatim demgan api neraka. Allah  ‘Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ ٱلَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَٰلَ ٱلْيَتَٰمَىٰ ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِى بُطُونِهِمْ نَارًا ۖ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. An-Nisa: 10)Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang hamba-Nya memakan harta anak yatim secara zalim dan tanpa hak. Allah Ta’ala mengancam pelakunya dengan ancaman yang sangat keras, yaitu seakan-akan mereka sedang memakan api ke dalam perut mereka, dan kelak akan dimasukkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Ayat ini menunjukkan besarnya dosa menzalimi anak yatim serta kewajiban menjaga, melindungi, dan memberikan hak mereka dengan jujur dan amanah.Wasiat ketujuh, menyempurnakan takaran atau timbanganAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَأَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ وَٱلْمِيزَانَ بِٱلْقِسْطِ ۖ“Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil.” (QS. Al-An’am: 152)Menyempurnakan timbangan dan takaran bukan sekadar masalah jual beli semata, tetapi merupakan bagian dari wujud ketakwaan dan akhlak mulia seorang muslim. Orang yang jujur dalam jual beli sejatinya sedang menjalankan perintah Allah ‘Azza wa Jalla dan menjaga hak-hak manusia.Di sisi lain, Allah  ‘Azza wa Jalla justru memberikan ancaman keras kepada orang-orang yang curang dalam timbangan dan takaran. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ، الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ، وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ“Celakalah bagi orang-orang yang curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi. Namun apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al-Muṭaffifīn: 1–3)Kecurangan dalam jual beli termasuk dosa dan perbuatan keji karena mengandung kezaliman. Pelaku mengurangi hak orang lain demi keuntungan pribadi. Mungkin nominalnya terlihat kecil; namun di sisi Allah, perkara itu sangatlah besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan umatnya agar menjauhi penipuan dalam masalah ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا“Barang siapa yang menipu, maka ia bukan dari golongan kami.” (HR. Muslim)Maka hendaknya seorang muslim selalu bersikap jujur dan amanah dalam setiap transaksi jual beli. Keberkahan harta tidak terletak pada banyaknya keuntungan, tetapi pada kehalalan dan kejujuran dalam mencarinya. Kecurangan mungkin menguntungkan sesaat, namun akan mendatangkan dosa dan hilangnya keberkahan. Oleh karena itu, jagalah hak orang lain dan bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap muamalah.Wasiat kedelapan, adil dalam setiap perkataan dan keputusanDalam wasiat kedelapan ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajarkan tentang pentingnya menegakkan keadilan dalam setiap ucapan dan keputusan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى“Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, sekalipun terhadap kerabat(mu).” (QS. Al-An’am: 152)Ayat ini mengajarkan agar seorang muslim selalu jujur dan adil dalam ucapan maupun keputusan. Islam melarang sikap memihak karena hubungan keluarga, kedekatan, atau kepentingan pribadi. Kebenaran harus tetap ditegakkan, walaupun terhadap orang yang paling dekat dengan kita.Allah ‘Azza wa Jalla juga menegaskan perintah ini dalam firman-Nya di ayat yang lain,يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri, ibu bapak, dan kaum kerabatmu.” (QS. An-Nisa: 135)Ayat ini menunjukkan bahwa keadilan dalam Islam tidak boleh dipengaruhi hawa nafsu atau kepentingan individu. Seorang muslim harus tetap berkata benar dan berdiri di atas kebenaran, meskipun terhadap orang yang dicintainya.Wasiat kesembilan, menunaikan janji dan amanah kepada AllahPada wasiat kesembilan ini, Allah Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk memenuhi janji dan amanah kepada-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَبِعَهْدِ ٱللَّهِ أَوْفُوا۟ ۚ“Dan penuhilah janji Allah.” (QS. Al-An’am: 152)Yang dimaksud janji kepada Allah Ta’ala adalah melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Seluruh ibadah dan amanah dalam hidup ini wajib dijaga dan ditunaikan dengan baik. Termasuk di dalamnya menepati sumpah dan nazar, serta tidak meremehkan kewajiban yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan.Allah Ta’ala juga menegaskan,وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا“Dan penuhilah janji, karena sesungguhnya janji itu pasti akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’: 34)Ayat ini menjadi pengingat bahwa setiap janji dan amanah akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla pada hari kiamat. Oleh sebab itu, seorang muslim harus menjaga komitmennya dalam urusan agama maupun dalam hubungan dengan sesama manusia. Jangan sampai seseorang dikenal mudah mengingkari janji, berkhianat, atau meremehkan amanah, karena sifat tersebut termasuk ciri orang munafik.Wasiat kesepuluh, berpegang teguh pada jalan yang lurusWasiat kesepuluh dan yang terakhir ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِى مُسْتَقِيمًا فَٱتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am: 153)Ayat ini menjadi penutup dari sepuluh wasiat Allah, yang menegaskan bahwa jalan keselamatan hanyalah mengikuti jalan Allah yang lurus, yaitu agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Yang dimaksud dengan jalan yang lurus adalah beragama berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah sesuai pemahaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya rahdhiyallahu ‘anhum. Oleh karena itu, seorang muslim diperintahkan untuk istikamah di atas petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjauhi segala bentuk penyimpangan dalam agama.Allah Subhanahu wa Ta’ala juga melarang mengikuti jalan-jalan lain yang menyimpang dari kebenaran, seperti melakukan bid‘ah, mengedepankan hawa nafsu, dan menyebarkan syubhat. Sebab kebenaran itu satu, sedangkan jalan kesesatan sangat banyak.Kemudian Allah Ta’ala menutup seluruh wasiat ini dengan firman-Nya,ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am: 153)Artinya, seluruh wasiat ini adalah jalan menuju ketakwaan. Siapa saja yang ingin menjadi hamba yang bertakwa, haruslah berusaha meniti jalan Allah yang lurus tersebut, menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan istikamah di atas Sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Jalan yang lurus ini adalah jalan para Nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Jalan inilah yang setiap hari kita minta kepada Allah  ‘Azza wa Jalla dalam setiap salat kita,اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6)Doa ini bukan sekadar bacaan, tetapi permohonan agar Allah Ta’ala senantiasa membimbing hati kita untuk tetap istikamah di atas agama Islam yang hak ini, menjauhkan kita dari segala bentuk kesesatan dan pelakunya, serta mewafatkan kita dalam keadaan berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunah.Wallahu a’lam bisshawab.[Selesai]***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id

Takut Rezeki Habis? Takut Anak Terlantar? Cemas Masa Depan? Dengarkan Ini!

Mengapa kamu takut? Mengapa kamu takut? Mengapa kamu takut pada masa depan? Kenapa kamu takut? Anda berada dalam pengaturan Allah. Mengapa takut? Rezekimu ada di tangan-Nya. “Tidaklah satu jiwa akan meninggal dunia hingga seluruh rezekinya telah sempurna.” (HR. Al-Bazzar). “Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat: 22). Mengapa kamu takut? Takdirmu ada di tangan-Nya, perlindunganmu ada di tangan-Nya, keselamatanmu ada di tangan-Nya. Tempuhlah sebab-sebabnya! Doa-doa syar’i itu membentengi, dan kamu berada dalam pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Jangan takut! Bukan kamu yang bisa mencegah takdir menimpa dirimu, karena takdir-takdir Allah tetap berlaku. Pesawat-pesawat yang terbang, kereta-kereta yang melintas, kapal-kapal yang membelah laut, dan mobil-mobil yang berlalu-lalang, semuanya berjalan dalam pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Allah yang menjaga, akan tetapi jagalah (aturan-aturan) Allah, niscaya kamu akan dijaga. Mengapa takut? Mengapa takut akan masa depan anak-anak? Siapa yang mengurusmu dahulu? Siapa yang mencukupimu? Siapa yang memberimu hingga menjadikanmu memiliki keluarga? Setelah dulunya kamu seorang anak kecil yang lemah, yang tidak mampu membersihkan kotoranmu sendiri, lalu ibumu yang merawatmu. Yang mana Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentang kedua orang tua: “Dan katakanlah, ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil.’” (QS. Al-Isra: 24). Fase yang paling lama dalam ketidakmampuan untuk mengandalkan diri sendiri dalam bertindak adalah fase kehidupan manusia. Hewan-hewan, kuda misalnya, ketika dilahirkan induknya, ia langsung berdiri tegak di sampingnya, lalu tiba-tiba sudah bisa menyusu. Demikian pula dengan seluruh hewan berkaki empat. Penyu-penyu yang keluar dari telurnya langsung berjalan menuju laut. Sungguh telah dikabarkan oleh Allah tentang hal itu: “Dia yang menentukan takdir, lalu memberi petunjuk.” (QS. Al-A’la: 3). “Dia yang menciptakan lalu menyempurnakan, dan Dia yang menentukan takdir lalu memberi petunjuk.” (QS Al-A’la: 2–3). Sedangkan manusia, fasenya paling lama. Umur satu tahun belum bisa apa-apa, tidak bisa menyuapi dirinya sendiri, tidak bisa membersihkan dirinya sendiri, dan tidak bisa berpakaian. Umur dua tahun pun sama saja. Umur tiga tahun baru mulai sedikit-sedikit, dan seterusnya sampai…Lalu ia melupakan semua hal ini. Lantas mengapa kamu takut akan masa depan anak-anakmu? Allah yang mengurus mereka. “Apakah artinya aku harus meninggalkan segala hal?” Tidak, tempuhlah sebab-sebabnya dengan apa yang menjamin kehidupan yang layak bagi mereka. Namun, ketahuilah bahwa Allah-lah yang mengurusmu dan mengurus mereka. Akan tetapi, jangan sampai ada di dalam dirimu atau di dalam hatimu rasa takut pada masa depan, seperti: “Bagaimana nanti? Apa yang akan terjadi?” Ridha pada ketetapan Allah. Apa pun yang terjadi, insya Allah itu adalah kebaikan, Allah menuliskan kebaikan. Mobilnya mogok, dia berkata, “Ini yang terbaik.” Terjadi sesuatu pada dirinya, dia berkata, “Allah memilihkan yang terbaik untukku di dalam kejadian ini.” Ini adalah bentuk keterikatan hati, ini adalah tawakal. Ketika seseorang selalu mengaitkan segala sesuatu kepada Allah, dan meyakini bahwa apa yang Allah pilihkan ini, baik maupun buruknya, adalah kebaikan baginya. Bisa jadi Allah menghindarkan darimu musibah besar yang seharusnya menimpamu, lalu yang datang menimpamu hanyalah sesuatu yang ringan. Bisa jadi takdir awal menetapkan ada batu besar yang akan jatuh menimpamu, batu itu tetap jatuh, tapi Allah mengubahnya menjadi debu sehingga yang jatuh menimpamu hanyalah debu. Oleh karena itu, kita berdoa kepada Allah agar memalingkan keburukan dari kita. Oleh sebab itu, keliru jika seseorang mengucapkan kalimat yang tersebar luas di tengah masyarakat, padahal kalimat ini memiliki catatan kritis dari sisi akidah. Sebagian orang berkata: “Ya Allah, aku tidak meminta kepada-Mu untuk menolak takdir, akan tetapi aku meminta kepada-Mu kelembutan di dalam takdir tersebut.” Ini keliru. Doa ini keliru! Guru kami, Syaikh Bin Baz rahimahullah pernah ditanya—dan saya mendengarnya sendiri dengan telinga saya ketika beliau ditanya tentang hal ini—mereka berkata: “Ini doa yang lumrah dipakai.” Beliau menjawab, “Keliru, keliru!” Justru kita meminta kepada Allah agar memalingkan dari kita keburukan takdir yang telah ditetapkan. Bukankah di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah: “Dan palingkanlah dari kami keburukan apa yang telah Engkau takdirkan.” (HR. Ahmad). Kamu berdoa kepada Allah agar memalingkan keburukan dari kita. Oleh karena itu, bagaimana hubungan doa dan takdir? Doa itu naik, lalu berjumpa dengan takdir, kemudian keduanya saling beradu. Terkadang doa yang menang, atau takdir tetap berlaku. Jika takdir tetap berlaku, doa telah terjaga, maka doa itu dijadikan sebagai simpanan dan pahala yang kekal di sisi Allah, sehingga Allah memberinya manfaat lewat doa tersebut. Maka orang yang berdoa itu pasti beruntung, adakalanya Allah mengabulkan doanya di dunia, atau doanya disimpan untuknya pada hari kiamat. Sampai-sampai kelak dia dapati di sisi Allah pada hari kiamat, lalu dia bertanya, “Wahai Tuhanku, apa pahala yang besar ini?” Allah menjawab, “Ini adalah doa-doa yang disimpan untukmu.” Maka saat itu ia berharap andai saja dahulu tidak ada satu pun doanya yang dikabulkan di dunia, dan berharap semua doanya dahulu benar-benar disimpan untuknya. ===== أَنْتَ ليْشْ خَائِفٌ؟ أَنْتَ ليْشْ تَخَافُ؟ ليْشْ تَخَافُ مِنَ الْمُسْتَقْبَلِ؟ أَنْتَ خَائِفٌ لِيهْ؟ أَنْتَ فِي أَمْرِ الله؟ خَائِفٌ ليْشْ؟ رِزْقُكَ بِيَدِهِ وَلَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا (إِنَّهُ لَا تَمُوتُ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا) وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ أَنْتَ خَائِفٌ ليْشْ؟ قَدَرُكَ بِيَدِهِ، حِفْظُكَ بِيَدِهِ، سَلَامَتُكَ بِيَدِهِ، خُذْ بِالْأَسْبَابِ الْأَدْعِيَةُ الشَّرْعِيَّةُ تُحَصِّنُ، وَأَنْتَ فِي تَدْبِيرِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ لَا تَخَفْ لَسْتَ أَنْتَ الَّذِي تَمْنَعُ الْأَقْدَارَ عَنْ نَفْسِكَ، فَأَقْدَارُ اللهِ جَارِيَةٌ الطَّائِرَاتُ الطَّائِرَةُ وَالْقِطَارَاتُ الْعَابِرَةُ وَالسُّفُنُ الْمَاخِرَةُ وَالسَّيَّارَاتُ الْعَابِرَةُ كُلُّهَا بِأَمْرِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ هُوَ الَّذِي يَحْفَظُ، لَكِنْ أَنْتَ احْفَظِ اللهَ حَتَّى تُحْفَظَ ليْشْ خَائِفٌ؟ ليْشْ خَائِفٌ عَلَى الْأَوْلَادِ؟ مَنِ الَّذِي تَوَلَّاكَ أَنْتَ؟ مَنِ الَّذِي كَفَاكَ؟ مَنِ الَّذِي أَعْطَاكَ فَجَعَلَكَ ذَا عِيَالٍ؟ بَعْدَ أَنْ كُنْتَ طِفْلًا صَغِيرًا عَاجِزًا عَنْ تَنْظِيفِ نَجَاسَةِ نَفْسِكَ تَهْتَمُّ بِكَ أُمُّكَ الَّذِي قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْوَالِدَيْنِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا أَطْوَلُ مَرْحَلَةٍ فِي عَدَمِ الْقُدْرَةِ عَلَى الْاِعْتِمَادِ فِي الْأَفْعَالِ بِنَفْسِهِ، مَرْحَلَةُ الْإِنْسَانِ الْحَيَوَانَاتُ، الْحِصَانُ تَلِدُهُ أُمُّهُ، يَنْتَفِضُ بِجِوَارِهَا، وَإِذَا بِهِ يَلْقَمُ ثَدْيًا وَكَذَا كُلُّ ذَوَاتِ الْأَرْبَعِ السَّلَاحِفُ مِنْ بَيْضِهَا، تَذْهَبُ إِلَى الْبَحْرِ قَدْ أَخْبَرَ اللهُ عَنْهَا: قَدَّرَ فَهَدَى الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى، وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى الْإِنْسَانُ أَطْوَلُ مَرْحَلَةٍ سَنَةٌ مَا يَقْدِرُ، لَا يُطْعِمُ نَفْسَهُ، وَلَا يُنَظِّفُ نَفْسَهُ، وَلَا يَلْبَسُ بَسْ سَنَتَيْنِ نَفْسُ الشَّيْءِ، ثَلَاثٌ يَبْدَأُ هَا وَهَكَذَا حَتَّى وَيَنْسَى هَذِهِ الْأَشْيَاءَ، ليْشْ خَائِفٌ عَلَى عِيَالِكَ؟ اللهُ يَتَوَلَّاهُمْ يَعْنِي مَعْنَاهُ ذَلِكَ أَتْرُكُ كُلَّ شَيْءٍ؟ لَا، مَارِسْ بِالْأَسْبَابِ بِمَا يَكْفُلُ لَهُمْ حَيَاةً كَرِيمَةً وَلَكِن اعْلَمْ أَنَّ اللهَ هُوَ الَّذِي يَتَوَلَّاكَ وَيَتَوَلَّاهُمْ لَكِنْ لَا يَكُونُ فِي نَفْسِكَ أَوْ فِي قَلْبِكَ الْخَوْفُ مِنَ الْمُسْتَقْبَلِ، شْ بِيصِير؟ شْ بِيحصَل؟ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ، حَصَلَ إِنْ شَاءَ اللهُ الْخَيْرُ، يَكْتُبُ الْخَيْرَ تَعَطَّلَتْ سَيَّارَتُهُ قَالَ: خَيْرَةٌ صَارَ لَهُ شَيْءٌ قَالَ: اللهُ يَخْتَارُ لِي فِيهِ الْخَيْرَ، هَذَا تَعَلُّقٌ، هَذَا تَوَكُّلٌ عِنْدَمَا دَائِمًا يَرْبِطُ كُلَّ شَيْءٍ بِاللهِ وَأَنَّ هَذَا الَّذِي اخْتَارَهُ اللهُ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ شَرٌّ، يُمْكِنُ اللهُ دَفَعَ عَنْكَ شَيْئًا يَحِلُّ عَلَيْكَ فَأَصَابَكَ شَيْءٌ يُمْكِنُ يُقَدَّرُ لَكَ صَخْرَةٌ تَنْزِلُ عَلَيْكَ فَتَنْزِلُ الصَّخْرَةُ لَكِنْ يَجْعَلُهَا اللهُ تُرَابًا فَتَنْزِلُ عَلَيْكَ فَلِذَلِكَ نَدْعُو اللهَ أَنْ يَصْرِفَ عَنَّا الشَّرَّ وَلِذَلِكَ خَطَأٌ أَنْ يَقُولَ الْإِنْسَانُ عِبَارَةً مُنْتَشِرَةً عِنْدَ النَّاسِ وَهِيَ عَلَيْهَا مَلْحَظٌ عَقَدِيٌّ فَيَقُولُ بَعْضُهُمْ: اللَّهُمَّ لَا أَسْأَلُكَ رَدَّ الْقَضَاءِ وَلَكِنْ أَسْأَلُكَ اللُّطْفَ فِيهِ هَذَا غَلَطٌ، الدُّعَاءُ هَذَا غَلَطٌ سُئِلَ شَيْخُنَا الشَّيْخُ بْنُ بَازٍ رَحِمَهُ اللهُ وَسَمِعْتُهُ بِنَفْسِي لَمَّا سُئِلَ هَذَا قَالُوا: هَذَا دُعَاءٌ جَارِيٌّ، قَالَ: غَلَطٌ غَلَطٌ بَلْ نَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَصْرِفَ عَنَّا شَرَّ مَا قَضَى أَلَيْسَ مِنْ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاصْرِفْ عَنَّا شَرَّ مَا قَضَيْتَ (وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ)؟ تَدْعُو اللهُ يَصْرِفُ عَنَّا شَرَّ مَا وَلِذَلِكَ الدُّعَاءُ وَالْقَضَاءُ فِي إيه؟ يَرْتَفِعُ الدُّعَاءُ وَيُقَابِلُ الْقَضَاءَ فَيَتَصَارَعَانِ أَوْ يَغْلِبُ الدُّعَاءُ أَوْ يَنْفُذُ الْقَضَاءُ، فَإِذَا نَفَذَ الْقَضَاءُ وَحُفِظَ الدُّعَاءُ جُعِلَ لَهُ عِنْدَ اللهِ ذُخْرًا وَبَقَاءً، فَنَفَعَهُ اللهُ بِهِفَصَ احِبُ الدُّعَاءِ مُفْلِحٌ، إِمَّا اسْتَجَابَ اللهُ لَهُ أَوْ أَنْ يُحْفَظَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَجِدَ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَقُولُ: رَبِّي أَيْ مَا هَذِهِ؟ قَالَ: دَعَوَاتٌ اُدُّخِرَتْ لَكَ فَيَتَمَنَّى أَنْ لَمْ يُسْتَجَبْ لَهُ فِي الدُّنْيَا شَيْءٌ وَأَنَّهَا كُلَّهَا قَدِ ادُّخَرَتْ لَهُ

Takut Rezeki Habis? Takut Anak Terlantar? Cemas Masa Depan? Dengarkan Ini!

Mengapa kamu takut? Mengapa kamu takut? Mengapa kamu takut pada masa depan? Kenapa kamu takut? Anda berada dalam pengaturan Allah. Mengapa takut? Rezekimu ada di tangan-Nya. “Tidaklah satu jiwa akan meninggal dunia hingga seluruh rezekinya telah sempurna.” (HR. Al-Bazzar). “Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat: 22). Mengapa kamu takut? Takdirmu ada di tangan-Nya, perlindunganmu ada di tangan-Nya, keselamatanmu ada di tangan-Nya. Tempuhlah sebab-sebabnya! Doa-doa syar’i itu membentengi, dan kamu berada dalam pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Jangan takut! Bukan kamu yang bisa mencegah takdir menimpa dirimu, karena takdir-takdir Allah tetap berlaku. Pesawat-pesawat yang terbang, kereta-kereta yang melintas, kapal-kapal yang membelah laut, dan mobil-mobil yang berlalu-lalang, semuanya berjalan dalam pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Allah yang menjaga, akan tetapi jagalah (aturan-aturan) Allah, niscaya kamu akan dijaga. Mengapa takut? Mengapa takut akan masa depan anak-anak? Siapa yang mengurusmu dahulu? Siapa yang mencukupimu? Siapa yang memberimu hingga menjadikanmu memiliki keluarga? Setelah dulunya kamu seorang anak kecil yang lemah, yang tidak mampu membersihkan kotoranmu sendiri, lalu ibumu yang merawatmu. Yang mana Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentang kedua orang tua: “Dan katakanlah, ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil.’” (QS. Al-Isra: 24). Fase yang paling lama dalam ketidakmampuan untuk mengandalkan diri sendiri dalam bertindak adalah fase kehidupan manusia. Hewan-hewan, kuda misalnya, ketika dilahirkan induknya, ia langsung berdiri tegak di sampingnya, lalu tiba-tiba sudah bisa menyusu. Demikian pula dengan seluruh hewan berkaki empat. Penyu-penyu yang keluar dari telurnya langsung berjalan menuju laut. Sungguh telah dikabarkan oleh Allah tentang hal itu: “Dia yang menentukan takdir, lalu memberi petunjuk.” (QS. Al-A’la: 3). “Dia yang menciptakan lalu menyempurnakan, dan Dia yang menentukan takdir lalu memberi petunjuk.” (QS Al-A’la: 2–3). Sedangkan manusia, fasenya paling lama. Umur satu tahun belum bisa apa-apa, tidak bisa menyuapi dirinya sendiri, tidak bisa membersihkan dirinya sendiri, dan tidak bisa berpakaian. Umur dua tahun pun sama saja. Umur tiga tahun baru mulai sedikit-sedikit, dan seterusnya sampai…Lalu ia melupakan semua hal ini. Lantas mengapa kamu takut akan masa depan anak-anakmu? Allah yang mengurus mereka. “Apakah artinya aku harus meninggalkan segala hal?” Tidak, tempuhlah sebab-sebabnya dengan apa yang menjamin kehidupan yang layak bagi mereka. Namun, ketahuilah bahwa Allah-lah yang mengurusmu dan mengurus mereka. Akan tetapi, jangan sampai ada di dalam dirimu atau di dalam hatimu rasa takut pada masa depan, seperti: “Bagaimana nanti? Apa yang akan terjadi?” Ridha pada ketetapan Allah. Apa pun yang terjadi, insya Allah itu adalah kebaikan, Allah menuliskan kebaikan. Mobilnya mogok, dia berkata, “Ini yang terbaik.” Terjadi sesuatu pada dirinya, dia berkata, “Allah memilihkan yang terbaik untukku di dalam kejadian ini.” Ini adalah bentuk keterikatan hati, ini adalah tawakal. Ketika seseorang selalu mengaitkan segala sesuatu kepada Allah, dan meyakini bahwa apa yang Allah pilihkan ini, baik maupun buruknya, adalah kebaikan baginya. Bisa jadi Allah menghindarkan darimu musibah besar yang seharusnya menimpamu, lalu yang datang menimpamu hanyalah sesuatu yang ringan. Bisa jadi takdir awal menetapkan ada batu besar yang akan jatuh menimpamu, batu itu tetap jatuh, tapi Allah mengubahnya menjadi debu sehingga yang jatuh menimpamu hanyalah debu. Oleh karena itu, kita berdoa kepada Allah agar memalingkan keburukan dari kita. Oleh sebab itu, keliru jika seseorang mengucapkan kalimat yang tersebar luas di tengah masyarakat, padahal kalimat ini memiliki catatan kritis dari sisi akidah. Sebagian orang berkata: “Ya Allah, aku tidak meminta kepada-Mu untuk menolak takdir, akan tetapi aku meminta kepada-Mu kelembutan di dalam takdir tersebut.” Ini keliru. Doa ini keliru! Guru kami, Syaikh Bin Baz rahimahullah pernah ditanya—dan saya mendengarnya sendiri dengan telinga saya ketika beliau ditanya tentang hal ini—mereka berkata: “Ini doa yang lumrah dipakai.” Beliau menjawab, “Keliru, keliru!” Justru kita meminta kepada Allah agar memalingkan dari kita keburukan takdir yang telah ditetapkan. Bukankah di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah: “Dan palingkanlah dari kami keburukan apa yang telah Engkau takdirkan.” (HR. Ahmad). Kamu berdoa kepada Allah agar memalingkan keburukan dari kita. Oleh karena itu, bagaimana hubungan doa dan takdir? Doa itu naik, lalu berjumpa dengan takdir, kemudian keduanya saling beradu. Terkadang doa yang menang, atau takdir tetap berlaku. Jika takdir tetap berlaku, doa telah terjaga, maka doa itu dijadikan sebagai simpanan dan pahala yang kekal di sisi Allah, sehingga Allah memberinya manfaat lewat doa tersebut. Maka orang yang berdoa itu pasti beruntung, adakalanya Allah mengabulkan doanya di dunia, atau doanya disimpan untuknya pada hari kiamat. Sampai-sampai kelak dia dapati di sisi Allah pada hari kiamat, lalu dia bertanya, “Wahai Tuhanku, apa pahala yang besar ini?” Allah menjawab, “Ini adalah doa-doa yang disimpan untukmu.” Maka saat itu ia berharap andai saja dahulu tidak ada satu pun doanya yang dikabulkan di dunia, dan berharap semua doanya dahulu benar-benar disimpan untuknya. ===== أَنْتَ ليْشْ خَائِفٌ؟ أَنْتَ ليْشْ تَخَافُ؟ ليْشْ تَخَافُ مِنَ الْمُسْتَقْبَلِ؟ أَنْتَ خَائِفٌ لِيهْ؟ أَنْتَ فِي أَمْرِ الله؟ خَائِفٌ ليْشْ؟ رِزْقُكَ بِيَدِهِ وَلَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا (إِنَّهُ لَا تَمُوتُ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا) وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ أَنْتَ خَائِفٌ ليْشْ؟ قَدَرُكَ بِيَدِهِ، حِفْظُكَ بِيَدِهِ، سَلَامَتُكَ بِيَدِهِ، خُذْ بِالْأَسْبَابِ الْأَدْعِيَةُ الشَّرْعِيَّةُ تُحَصِّنُ، وَأَنْتَ فِي تَدْبِيرِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ لَا تَخَفْ لَسْتَ أَنْتَ الَّذِي تَمْنَعُ الْأَقْدَارَ عَنْ نَفْسِكَ، فَأَقْدَارُ اللهِ جَارِيَةٌ الطَّائِرَاتُ الطَّائِرَةُ وَالْقِطَارَاتُ الْعَابِرَةُ وَالسُّفُنُ الْمَاخِرَةُ وَالسَّيَّارَاتُ الْعَابِرَةُ كُلُّهَا بِأَمْرِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ هُوَ الَّذِي يَحْفَظُ، لَكِنْ أَنْتَ احْفَظِ اللهَ حَتَّى تُحْفَظَ ليْشْ خَائِفٌ؟ ليْشْ خَائِفٌ عَلَى الْأَوْلَادِ؟ مَنِ الَّذِي تَوَلَّاكَ أَنْتَ؟ مَنِ الَّذِي كَفَاكَ؟ مَنِ الَّذِي أَعْطَاكَ فَجَعَلَكَ ذَا عِيَالٍ؟ بَعْدَ أَنْ كُنْتَ طِفْلًا صَغِيرًا عَاجِزًا عَنْ تَنْظِيفِ نَجَاسَةِ نَفْسِكَ تَهْتَمُّ بِكَ أُمُّكَ الَّذِي قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْوَالِدَيْنِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا أَطْوَلُ مَرْحَلَةٍ فِي عَدَمِ الْقُدْرَةِ عَلَى الْاِعْتِمَادِ فِي الْأَفْعَالِ بِنَفْسِهِ، مَرْحَلَةُ الْإِنْسَانِ الْحَيَوَانَاتُ، الْحِصَانُ تَلِدُهُ أُمُّهُ، يَنْتَفِضُ بِجِوَارِهَا، وَإِذَا بِهِ يَلْقَمُ ثَدْيًا وَكَذَا كُلُّ ذَوَاتِ الْأَرْبَعِ السَّلَاحِفُ مِنْ بَيْضِهَا، تَذْهَبُ إِلَى الْبَحْرِ قَدْ أَخْبَرَ اللهُ عَنْهَا: قَدَّرَ فَهَدَى الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى، وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى الْإِنْسَانُ أَطْوَلُ مَرْحَلَةٍ سَنَةٌ مَا يَقْدِرُ، لَا يُطْعِمُ نَفْسَهُ، وَلَا يُنَظِّفُ نَفْسَهُ، وَلَا يَلْبَسُ بَسْ سَنَتَيْنِ نَفْسُ الشَّيْءِ، ثَلَاثٌ يَبْدَأُ هَا وَهَكَذَا حَتَّى وَيَنْسَى هَذِهِ الْأَشْيَاءَ، ليْشْ خَائِفٌ عَلَى عِيَالِكَ؟ اللهُ يَتَوَلَّاهُمْ يَعْنِي مَعْنَاهُ ذَلِكَ أَتْرُكُ كُلَّ شَيْءٍ؟ لَا، مَارِسْ بِالْأَسْبَابِ بِمَا يَكْفُلُ لَهُمْ حَيَاةً كَرِيمَةً وَلَكِن اعْلَمْ أَنَّ اللهَ هُوَ الَّذِي يَتَوَلَّاكَ وَيَتَوَلَّاهُمْ لَكِنْ لَا يَكُونُ فِي نَفْسِكَ أَوْ فِي قَلْبِكَ الْخَوْفُ مِنَ الْمُسْتَقْبَلِ، شْ بِيصِير؟ شْ بِيحصَل؟ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ، حَصَلَ إِنْ شَاءَ اللهُ الْخَيْرُ، يَكْتُبُ الْخَيْرَ تَعَطَّلَتْ سَيَّارَتُهُ قَالَ: خَيْرَةٌ صَارَ لَهُ شَيْءٌ قَالَ: اللهُ يَخْتَارُ لِي فِيهِ الْخَيْرَ، هَذَا تَعَلُّقٌ، هَذَا تَوَكُّلٌ عِنْدَمَا دَائِمًا يَرْبِطُ كُلَّ شَيْءٍ بِاللهِ وَأَنَّ هَذَا الَّذِي اخْتَارَهُ اللهُ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ شَرٌّ، يُمْكِنُ اللهُ دَفَعَ عَنْكَ شَيْئًا يَحِلُّ عَلَيْكَ فَأَصَابَكَ شَيْءٌ يُمْكِنُ يُقَدَّرُ لَكَ صَخْرَةٌ تَنْزِلُ عَلَيْكَ فَتَنْزِلُ الصَّخْرَةُ لَكِنْ يَجْعَلُهَا اللهُ تُرَابًا فَتَنْزِلُ عَلَيْكَ فَلِذَلِكَ نَدْعُو اللهَ أَنْ يَصْرِفَ عَنَّا الشَّرَّ وَلِذَلِكَ خَطَأٌ أَنْ يَقُولَ الْإِنْسَانُ عِبَارَةً مُنْتَشِرَةً عِنْدَ النَّاسِ وَهِيَ عَلَيْهَا مَلْحَظٌ عَقَدِيٌّ فَيَقُولُ بَعْضُهُمْ: اللَّهُمَّ لَا أَسْأَلُكَ رَدَّ الْقَضَاءِ وَلَكِنْ أَسْأَلُكَ اللُّطْفَ فِيهِ هَذَا غَلَطٌ، الدُّعَاءُ هَذَا غَلَطٌ سُئِلَ شَيْخُنَا الشَّيْخُ بْنُ بَازٍ رَحِمَهُ اللهُ وَسَمِعْتُهُ بِنَفْسِي لَمَّا سُئِلَ هَذَا قَالُوا: هَذَا دُعَاءٌ جَارِيٌّ، قَالَ: غَلَطٌ غَلَطٌ بَلْ نَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَصْرِفَ عَنَّا شَرَّ مَا قَضَى أَلَيْسَ مِنْ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاصْرِفْ عَنَّا شَرَّ مَا قَضَيْتَ (وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ)؟ تَدْعُو اللهُ يَصْرِفُ عَنَّا شَرَّ مَا وَلِذَلِكَ الدُّعَاءُ وَالْقَضَاءُ فِي إيه؟ يَرْتَفِعُ الدُّعَاءُ وَيُقَابِلُ الْقَضَاءَ فَيَتَصَارَعَانِ أَوْ يَغْلِبُ الدُّعَاءُ أَوْ يَنْفُذُ الْقَضَاءُ، فَإِذَا نَفَذَ الْقَضَاءُ وَحُفِظَ الدُّعَاءُ جُعِلَ لَهُ عِنْدَ اللهِ ذُخْرًا وَبَقَاءً، فَنَفَعَهُ اللهُ بِهِفَصَ احِبُ الدُّعَاءِ مُفْلِحٌ، إِمَّا اسْتَجَابَ اللهُ لَهُ أَوْ أَنْ يُحْفَظَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَجِدَ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَقُولُ: رَبِّي أَيْ مَا هَذِهِ؟ قَالَ: دَعَوَاتٌ اُدُّخِرَتْ لَكَ فَيَتَمَنَّى أَنْ لَمْ يُسْتَجَبْ لَهُ فِي الدُّنْيَا شَيْءٌ وَأَنَّهَا كُلَّهَا قَدِ ادُّخَرَتْ لَهُ
Mengapa kamu takut? Mengapa kamu takut? Mengapa kamu takut pada masa depan? Kenapa kamu takut? Anda berada dalam pengaturan Allah. Mengapa takut? Rezekimu ada di tangan-Nya. “Tidaklah satu jiwa akan meninggal dunia hingga seluruh rezekinya telah sempurna.” (HR. Al-Bazzar). “Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat: 22). Mengapa kamu takut? Takdirmu ada di tangan-Nya, perlindunganmu ada di tangan-Nya, keselamatanmu ada di tangan-Nya. Tempuhlah sebab-sebabnya! Doa-doa syar’i itu membentengi, dan kamu berada dalam pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Jangan takut! Bukan kamu yang bisa mencegah takdir menimpa dirimu, karena takdir-takdir Allah tetap berlaku. Pesawat-pesawat yang terbang, kereta-kereta yang melintas, kapal-kapal yang membelah laut, dan mobil-mobil yang berlalu-lalang, semuanya berjalan dalam pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Allah yang menjaga, akan tetapi jagalah (aturan-aturan) Allah, niscaya kamu akan dijaga. Mengapa takut? Mengapa takut akan masa depan anak-anak? Siapa yang mengurusmu dahulu? Siapa yang mencukupimu? Siapa yang memberimu hingga menjadikanmu memiliki keluarga? Setelah dulunya kamu seorang anak kecil yang lemah, yang tidak mampu membersihkan kotoranmu sendiri, lalu ibumu yang merawatmu. Yang mana Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentang kedua orang tua: “Dan katakanlah, ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil.’” (QS. Al-Isra: 24). Fase yang paling lama dalam ketidakmampuan untuk mengandalkan diri sendiri dalam bertindak adalah fase kehidupan manusia. Hewan-hewan, kuda misalnya, ketika dilahirkan induknya, ia langsung berdiri tegak di sampingnya, lalu tiba-tiba sudah bisa menyusu. Demikian pula dengan seluruh hewan berkaki empat. Penyu-penyu yang keluar dari telurnya langsung berjalan menuju laut. Sungguh telah dikabarkan oleh Allah tentang hal itu: “Dia yang menentukan takdir, lalu memberi petunjuk.” (QS. Al-A’la: 3). “Dia yang menciptakan lalu menyempurnakan, dan Dia yang menentukan takdir lalu memberi petunjuk.” (QS Al-A’la: 2–3). Sedangkan manusia, fasenya paling lama. Umur satu tahun belum bisa apa-apa, tidak bisa menyuapi dirinya sendiri, tidak bisa membersihkan dirinya sendiri, dan tidak bisa berpakaian. Umur dua tahun pun sama saja. Umur tiga tahun baru mulai sedikit-sedikit, dan seterusnya sampai…Lalu ia melupakan semua hal ini. Lantas mengapa kamu takut akan masa depan anak-anakmu? Allah yang mengurus mereka. “Apakah artinya aku harus meninggalkan segala hal?” Tidak, tempuhlah sebab-sebabnya dengan apa yang menjamin kehidupan yang layak bagi mereka. Namun, ketahuilah bahwa Allah-lah yang mengurusmu dan mengurus mereka. Akan tetapi, jangan sampai ada di dalam dirimu atau di dalam hatimu rasa takut pada masa depan, seperti: “Bagaimana nanti? Apa yang akan terjadi?” Ridha pada ketetapan Allah. Apa pun yang terjadi, insya Allah itu adalah kebaikan, Allah menuliskan kebaikan. Mobilnya mogok, dia berkata, “Ini yang terbaik.” Terjadi sesuatu pada dirinya, dia berkata, “Allah memilihkan yang terbaik untukku di dalam kejadian ini.” Ini adalah bentuk keterikatan hati, ini adalah tawakal. Ketika seseorang selalu mengaitkan segala sesuatu kepada Allah, dan meyakini bahwa apa yang Allah pilihkan ini, baik maupun buruknya, adalah kebaikan baginya. Bisa jadi Allah menghindarkan darimu musibah besar yang seharusnya menimpamu, lalu yang datang menimpamu hanyalah sesuatu yang ringan. Bisa jadi takdir awal menetapkan ada batu besar yang akan jatuh menimpamu, batu itu tetap jatuh, tapi Allah mengubahnya menjadi debu sehingga yang jatuh menimpamu hanyalah debu. Oleh karena itu, kita berdoa kepada Allah agar memalingkan keburukan dari kita. Oleh sebab itu, keliru jika seseorang mengucapkan kalimat yang tersebar luas di tengah masyarakat, padahal kalimat ini memiliki catatan kritis dari sisi akidah. Sebagian orang berkata: “Ya Allah, aku tidak meminta kepada-Mu untuk menolak takdir, akan tetapi aku meminta kepada-Mu kelembutan di dalam takdir tersebut.” Ini keliru. Doa ini keliru! Guru kami, Syaikh Bin Baz rahimahullah pernah ditanya—dan saya mendengarnya sendiri dengan telinga saya ketika beliau ditanya tentang hal ini—mereka berkata: “Ini doa yang lumrah dipakai.” Beliau menjawab, “Keliru, keliru!” Justru kita meminta kepada Allah agar memalingkan dari kita keburukan takdir yang telah ditetapkan. Bukankah di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah: “Dan palingkanlah dari kami keburukan apa yang telah Engkau takdirkan.” (HR. Ahmad). Kamu berdoa kepada Allah agar memalingkan keburukan dari kita. Oleh karena itu, bagaimana hubungan doa dan takdir? Doa itu naik, lalu berjumpa dengan takdir, kemudian keduanya saling beradu. Terkadang doa yang menang, atau takdir tetap berlaku. Jika takdir tetap berlaku, doa telah terjaga, maka doa itu dijadikan sebagai simpanan dan pahala yang kekal di sisi Allah, sehingga Allah memberinya manfaat lewat doa tersebut. Maka orang yang berdoa itu pasti beruntung, adakalanya Allah mengabulkan doanya di dunia, atau doanya disimpan untuknya pada hari kiamat. Sampai-sampai kelak dia dapati di sisi Allah pada hari kiamat, lalu dia bertanya, “Wahai Tuhanku, apa pahala yang besar ini?” Allah menjawab, “Ini adalah doa-doa yang disimpan untukmu.” Maka saat itu ia berharap andai saja dahulu tidak ada satu pun doanya yang dikabulkan di dunia, dan berharap semua doanya dahulu benar-benar disimpan untuknya. ===== أَنْتَ ليْشْ خَائِفٌ؟ أَنْتَ ليْشْ تَخَافُ؟ ليْشْ تَخَافُ مِنَ الْمُسْتَقْبَلِ؟ أَنْتَ خَائِفٌ لِيهْ؟ أَنْتَ فِي أَمْرِ الله؟ خَائِفٌ ليْشْ؟ رِزْقُكَ بِيَدِهِ وَلَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا (إِنَّهُ لَا تَمُوتُ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا) وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ أَنْتَ خَائِفٌ ليْشْ؟ قَدَرُكَ بِيَدِهِ، حِفْظُكَ بِيَدِهِ، سَلَامَتُكَ بِيَدِهِ، خُذْ بِالْأَسْبَابِ الْأَدْعِيَةُ الشَّرْعِيَّةُ تُحَصِّنُ، وَأَنْتَ فِي تَدْبِيرِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ لَا تَخَفْ لَسْتَ أَنْتَ الَّذِي تَمْنَعُ الْأَقْدَارَ عَنْ نَفْسِكَ، فَأَقْدَارُ اللهِ جَارِيَةٌ الطَّائِرَاتُ الطَّائِرَةُ وَالْقِطَارَاتُ الْعَابِرَةُ وَالسُّفُنُ الْمَاخِرَةُ وَالسَّيَّارَاتُ الْعَابِرَةُ كُلُّهَا بِأَمْرِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ هُوَ الَّذِي يَحْفَظُ، لَكِنْ أَنْتَ احْفَظِ اللهَ حَتَّى تُحْفَظَ ليْشْ خَائِفٌ؟ ليْشْ خَائِفٌ عَلَى الْأَوْلَادِ؟ مَنِ الَّذِي تَوَلَّاكَ أَنْتَ؟ مَنِ الَّذِي كَفَاكَ؟ مَنِ الَّذِي أَعْطَاكَ فَجَعَلَكَ ذَا عِيَالٍ؟ بَعْدَ أَنْ كُنْتَ طِفْلًا صَغِيرًا عَاجِزًا عَنْ تَنْظِيفِ نَجَاسَةِ نَفْسِكَ تَهْتَمُّ بِكَ أُمُّكَ الَّذِي قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْوَالِدَيْنِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا أَطْوَلُ مَرْحَلَةٍ فِي عَدَمِ الْقُدْرَةِ عَلَى الْاِعْتِمَادِ فِي الْأَفْعَالِ بِنَفْسِهِ، مَرْحَلَةُ الْإِنْسَانِ الْحَيَوَانَاتُ، الْحِصَانُ تَلِدُهُ أُمُّهُ، يَنْتَفِضُ بِجِوَارِهَا، وَإِذَا بِهِ يَلْقَمُ ثَدْيًا وَكَذَا كُلُّ ذَوَاتِ الْأَرْبَعِ السَّلَاحِفُ مِنْ بَيْضِهَا، تَذْهَبُ إِلَى الْبَحْرِ قَدْ أَخْبَرَ اللهُ عَنْهَا: قَدَّرَ فَهَدَى الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى، وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى الْإِنْسَانُ أَطْوَلُ مَرْحَلَةٍ سَنَةٌ مَا يَقْدِرُ، لَا يُطْعِمُ نَفْسَهُ، وَلَا يُنَظِّفُ نَفْسَهُ، وَلَا يَلْبَسُ بَسْ سَنَتَيْنِ نَفْسُ الشَّيْءِ، ثَلَاثٌ يَبْدَأُ هَا وَهَكَذَا حَتَّى وَيَنْسَى هَذِهِ الْأَشْيَاءَ، ليْشْ خَائِفٌ عَلَى عِيَالِكَ؟ اللهُ يَتَوَلَّاهُمْ يَعْنِي مَعْنَاهُ ذَلِكَ أَتْرُكُ كُلَّ شَيْءٍ؟ لَا، مَارِسْ بِالْأَسْبَابِ بِمَا يَكْفُلُ لَهُمْ حَيَاةً كَرِيمَةً وَلَكِن اعْلَمْ أَنَّ اللهَ هُوَ الَّذِي يَتَوَلَّاكَ وَيَتَوَلَّاهُمْ لَكِنْ لَا يَكُونُ فِي نَفْسِكَ أَوْ فِي قَلْبِكَ الْخَوْفُ مِنَ الْمُسْتَقْبَلِ، شْ بِيصِير؟ شْ بِيحصَل؟ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ، حَصَلَ إِنْ شَاءَ اللهُ الْخَيْرُ، يَكْتُبُ الْخَيْرَ تَعَطَّلَتْ سَيَّارَتُهُ قَالَ: خَيْرَةٌ صَارَ لَهُ شَيْءٌ قَالَ: اللهُ يَخْتَارُ لِي فِيهِ الْخَيْرَ، هَذَا تَعَلُّقٌ، هَذَا تَوَكُّلٌ عِنْدَمَا دَائِمًا يَرْبِطُ كُلَّ شَيْءٍ بِاللهِ وَأَنَّ هَذَا الَّذِي اخْتَارَهُ اللهُ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ شَرٌّ، يُمْكِنُ اللهُ دَفَعَ عَنْكَ شَيْئًا يَحِلُّ عَلَيْكَ فَأَصَابَكَ شَيْءٌ يُمْكِنُ يُقَدَّرُ لَكَ صَخْرَةٌ تَنْزِلُ عَلَيْكَ فَتَنْزِلُ الصَّخْرَةُ لَكِنْ يَجْعَلُهَا اللهُ تُرَابًا فَتَنْزِلُ عَلَيْكَ فَلِذَلِكَ نَدْعُو اللهَ أَنْ يَصْرِفَ عَنَّا الشَّرَّ وَلِذَلِكَ خَطَأٌ أَنْ يَقُولَ الْإِنْسَانُ عِبَارَةً مُنْتَشِرَةً عِنْدَ النَّاسِ وَهِيَ عَلَيْهَا مَلْحَظٌ عَقَدِيٌّ فَيَقُولُ بَعْضُهُمْ: اللَّهُمَّ لَا أَسْأَلُكَ رَدَّ الْقَضَاءِ وَلَكِنْ أَسْأَلُكَ اللُّطْفَ فِيهِ هَذَا غَلَطٌ، الدُّعَاءُ هَذَا غَلَطٌ سُئِلَ شَيْخُنَا الشَّيْخُ بْنُ بَازٍ رَحِمَهُ اللهُ وَسَمِعْتُهُ بِنَفْسِي لَمَّا سُئِلَ هَذَا قَالُوا: هَذَا دُعَاءٌ جَارِيٌّ، قَالَ: غَلَطٌ غَلَطٌ بَلْ نَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَصْرِفَ عَنَّا شَرَّ مَا قَضَى أَلَيْسَ مِنْ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاصْرِفْ عَنَّا شَرَّ مَا قَضَيْتَ (وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ)؟ تَدْعُو اللهُ يَصْرِفُ عَنَّا شَرَّ مَا وَلِذَلِكَ الدُّعَاءُ وَالْقَضَاءُ فِي إيه؟ يَرْتَفِعُ الدُّعَاءُ وَيُقَابِلُ الْقَضَاءَ فَيَتَصَارَعَانِ أَوْ يَغْلِبُ الدُّعَاءُ أَوْ يَنْفُذُ الْقَضَاءُ، فَإِذَا نَفَذَ الْقَضَاءُ وَحُفِظَ الدُّعَاءُ جُعِلَ لَهُ عِنْدَ اللهِ ذُخْرًا وَبَقَاءً، فَنَفَعَهُ اللهُ بِهِفَصَ احِبُ الدُّعَاءِ مُفْلِحٌ، إِمَّا اسْتَجَابَ اللهُ لَهُ أَوْ أَنْ يُحْفَظَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَجِدَ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَقُولُ: رَبِّي أَيْ مَا هَذِهِ؟ قَالَ: دَعَوَاتٌ اُدُّخِرَتْ لَكَ فَيَتَمَنَّى أَنْ لَمْ يُسْتَجَبْ لَهُ فِي الدُّنْيَا شَيْءٌ وَأَنَّهَا كُلَّهَا قَدِ ادُّخَرَتْ لَهُ


Mengapa kamu takut? Mengapa kamu takut? Mengapa kamu takut pada masa depan? Kenapa kamu takut? Anda berada dalam pengaturan Allah. Mengapa takut? Rezekimu ada di tangan-Nya. “Tidaklah satu jiwa akan meninggal dunia hingga seluruh rezekinya telah sempurna.” (HR. Al-Bazzar). “Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat: 22). Mengapa kamu takut? Takdirmu ada di tangan-Nya, perlindunganmu ada di tangan-Nya, keselamatanmu ada di tangan-Nya. Tempuhlah sebab-sebabnya! Doa-doa syar’i itu membentengi, dan kamu berada dalam pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Jangan takut! Bukan kamu yang bisa mencegah takdir menimpa dirimu, karena takdir-takdir Allah tetap berlaku. Pesawat-pesawat yang terbang, kereta-kereta yang melintas, kapal-kapal yang membelah laut, dan mobil-mobil yang berlalu-lalang, semuanya berjalan dalam pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Allah yang menjaga, akan tetapi jagalah (aturan-aturan) Allah, niscaya kamu akan dijaga. Mengapa takut? Mengapa takut akan masa depan anak-anak? Siapa yang mengurusmu dahulu? Siapa yang mencukupimu? Siapa yang memberimu hingga menjadikanmu memiliki keluarga? Setelah dulunya kamu seorang anak kecil yang lemah, yang tidak mampu membersihkan kotoranmu sendiri, lalu ibumu yang merawatmu. Yang mana Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentang kedua orang tua: “Dan katakanlah, ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil.’” (QS. Al-Isra: 24). Fase yang paling lama dalam ketidakmampuan untuk mengandalkan diri sendiri dalam bertindak adalah fase kehidupan manusia. Hewan-hewan, kuda misalnya, ketika dilahirkan induknya, ia langsung berdiri tegak di sampingnya, lalu tiba-tiba sudah bisa menyusu. Demikian pula dengan seluruh hewan berkaki empat. Penyu-penyu yang keluar dari telurnya langsung berjalan menuju laut. Sungguh telah dikabarkan oleh Allah tentang hal itu: “Dia yang menentukan takdir, lalu memberi petunjuk.” (QS. Al-A’la: 3). “Dia yang menciptakan lalu menyempurnakan, dan Dia yang menentukan takdir lalu memberi petunjuk.” (QS Al-A’la: 2–3). Sedangkan manusia, fasenya paling lama. Umur satu tahun belum bisa apa-apa, tidak bisa menyuapi dirinya sendiri, tidak bisa membersihkan dirinya sendiri, dan tidak bisa berpakaian. Umur dua tahun pun sama saja. Umur tiga tahun baru mulai sedikit-sedikit, dan seterusnya sampai…Lalu ia melupakan semua hal ini. Lantas mengapa kamu takut akan masa depan anak-anakmu? Allah yang mengurus mereka. “Apakah artinya aku harus meninggalkan segala hal?” Tidak, tempuhlah sebab-sebabnya dengan apa yang menjamin kehidupan yang layak bagi mereka. Namun, ketahuilah bahwa Allah-lah yang mengurusmu dan mengurus mereka. Akan tetapi, jangan sampai ada di dalam dirimu atau di dalam hatimu rasa takut pada masa depan, seperti: “Bagaimana nanti? Apa yang akan terjadi?” Ridha pada ketetapan Allah. Apa pun yang terjadi, insya Allah itu adalah kebaikan, Allah menuliskan kebaikan. Mobilnya mogok, dia berkata, “Ini yang terbaik.” Terjadi sesuatu pada dirinya, dia berkata, “Allah memilihkan yang terbaik untukku di dalam kejadian ini.” Ini adalah bentuk keterikatan hati, ini adalah tawakal. Ketika seseorang selalu mengaitkan segala sesuatu kepada Allah, dan meyakini bahwa apa yang Allah pilihkan ini, baik maupun buruknya, adalah kebaikan baginya. Bisa jadi Allah menghindarkan darimu musibah besar yang seharusnya menimpamu, lalu yang datang menimpamu hanyalah sesuatu yang ringan. Bisa jadi takdir awal menetapkan ada batu besar yang akan jatuh menimpamu, batu itu tetap jatuh, tapi Allah mengubahnya menjadi debu sehingga yang jatuh menimpamu hanyalah debu. Oleh karena itu, kita berdoa kepada Allah agar memalingkan keburukan dari kita. Oleh sebab itu, keliru jika seseorang mengucapkan kalimat yang tersebar luas di tengah masyarakat, padahal kalimat ini memiliki catatan kritis dari sisi akidah. Sebagian orang berkata: “Ya Allah, aku tidak meminta kepada-Mu untuk menolak takdir, akan tetapi aku meminta kepada-Mu kelembutan di dalam takdir tersebut.” Ini keliru. Doa ini keliru! Guru kami, Syaikh Bin Baz rahimahullah pernah ditanya—dan saya mendengarnya sendiri dengan telinga saya ketika beliau ditanya tentang hal ini—mereka berkata: “Ini doa yang lumrah dipakai.” Beliau menjawab, “Keliru, keliru!” Justru kita meminta kepada Allah agar memalingkan dari kita keburukan takdir yang telah ditetapkan. Bukankah di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah: “Dan palingkanlah dari kami keburukan apa yang telah Engkau takdirkan.” (HR. Ahmad). Kamu berdoa kepada Allah agar memalingkan keburukan dari kita. Oleh karena itu, bagaimana hubungan doa dan takdir? Doa itu naik, lalu berjumpa dengan takdir, kemudian keduanya saling beradu. Terkadang doa yang menang, atau takdir tetap berlaku. Jika takdir tetap berlaku, doa telah terjaga, maka doa itu dijadikan sebagai simpanan dan pahala yang kekal di sisi Allah, sehingga Allah memberinya manfaat lewat doa tersebut. Maka orang yang berdoa itu pasti beruntung, adakalanya Allah mengabulkan doanya di dunia, atau doanya disimpan untuknya pada hari kiamat. Sampai-sampai kelak dia dapati di sisi Allah pada hari kiamat, lalu dia bertanya, “Wahai Tuhanku, apa pahala yang besar ini?” Allah menjawab, “Ini adalah doa-doa yang disimpan untukmu.” Maka saat itu ia berharap andai saja dahulu tidak ada satu pun doanya yang dikabulkan di dunia, dan berharap semua doanya dahulu benar-benar disimpan untuknya. ===== أَنْتَ ليْشْ خَائِفٌ؟ أَنْتَ ليْشْ تَخَافُ؟ ليْشْ تَخَافُ مِنَ الْمُسْتَقْبَلِ؟ أَنْتَ خَائِفٌ لِيهْ؟ أَنْتَ فِي أَمْرِ الله؟ خَائِفٌ ليْشْ؟ رِزْقُكَ بِيَدِهِ وَلَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا (إِنَّهُ لَا تَمُوتُ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا) وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ أَنْتَ خَائِفٌ ليْشْ؟ قَدَرُكَ بِيَدِهِ، حِفْظُكَ بِيَدِهِ، سَلَامَتُكَ بِيَدِهِ، خُذْ بِالْأَسْبَابِ الْأَدْعِيَةُ الشَّرْعِيَّةُ تُحَصِّنُ، وَأَنْتَ فِي تَدْبِيرِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ لَا تَخَفْ لَسْتَ أَنْتَ الَّذِي تَمْنَعُ الْأَقْدَارَ عَنْ نَفْسِكَ، فَأَقْدَارُ اللهِ جَارِيَةٌ الطَّائِرَاتُ الطَّائِرَةُ وَالْقِطَارَاتُ الْعَابِرَةُ وَالسُّفُنُ الْمَاخِرَةُ وَالسَّيَّارَاتُ الْعَابِرَةُ كُلُّهَا بِأَمْرِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ هُوَ الَّذِي يَحْفَظُ، لَكِنْ أَنْتَ احْفَظِ اللهَ حَتَّى تُحْفَظَ ليْشْ خَائِفٌ؟ ليْشْ خَائِفٌ عَلَى الْأَوْلَادِ؟ مَنِ الَّذِي تَوَلَّاكَ أَنْتَ؟ مَنِ الَّذِي كَفَاكَ؟ مَنِ الَّذِي أَعْطَاكَ فَجَعَلَكَ ذَا عِيَالٍ؟ بَعْدَ أَنْ كُنْتَ طِفْلًا صَغِيرًا عَاجِزًا عَنْ تَنْظِيفِ نَجَاسَةِ نَفْسِكَ تَهْتَمُّ بِكَ أُمُّكَ الَّذِي قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْوَالِدَيْنِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا أَطْوَلُ مَرْحَلَةٍ فِي عَدَمِ الْقُدْرَةِ عَلَى الْاِعْتِمَادِ فِي الْأَفْعَالِ بِنَفْسِهِ، مَرْحَلَةُ الْإِنْسَانِ الْحَيَوَانَاتُ، الْحِصَانُ تَلِدُهُ أُمُّهُ، يَنْتَفِضُ بِجِوَارِهَا، وَإِذَا بِهِ يَلْقَمُ ثَدْيًا وَكَذَا كُلُّ ذَوَاتِ الْأَرْبَعِ السَّلَاحِفُ مِنْ بَيْضِهَا، تَذْهَبُ إِلَى الْبَحْرِ قَدْ أَخْبَرَ اللهُ عَنْهَا: قَدَّرَ فَهَدَى الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى، وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى الْإِنْسَانُ أَطْوَلُ مَرْحَلَةٍ سَنَةٌ مَا يَقْدِرُ، لَا يُطْعِمُ نَفْسَهُ، وَلَا يُنَظِّفُ نَفْسَهُ، وَلَا يَلْبَسُ بَسْ سَنَتَيْنِ نَفْسُ الشَّيْءِ، ثَلَاثٌ يَبْدَأُ هَا وَهَكَذَا حَتَّى وَيَنْسَى هَذِهِ الْأَشْيَاءَ، ليْشْ خَائِفٌ عَلَى عِيَالِكَ؟ اللهُ يَتَوَلَّاهُمْ يَعْنِي مَعْنَاهُ ذَلِكَ أَتْرُكُ كُلَّ شَيْءٍ؟ لَا، مَارِسْ بِالْأَسْبَابِ بِمَا يَكْفُلُ لَهُمْ حَيَاةً كَرِيمَةً وَلَكِن اعْلَمْ أَنَّ اللهَ هُوَ الَّذِي يَتَوَلَّاكَ وَيَتَوَلَّاهُمْ لَكِنْ لَا يَكُونُ فِي نَفْسِكَ أَوْ فِي قَلْبِكَ الْخَوْفُ مِنَ الْمُسْتَقْبَلِ، شْ بِيصِير؟ شْ بِيحصَل؟ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ، حَصَلَ إِنْ شَاءَ اللهُ الْخَيْرُ، يَكْتُبُ الْخَيْرَ تَعَطَّلَتْ سَيَّارَتُهُ قَالَ: خَيْرَةٌ صَارَ لَهُ شَيْءٌ قَالَ: اللهُ يَخْتَارُ لِي فِيهِ الْخَيْرَ، هَذَا تَعَلُّقٌ، هَذَا تَوَكُّلٌ عِنْدَمَا دَائِمًا يَرْبِطُ كُلَّ شَيْءٍ بِاللهِ وَأَنَّ هَذَا الَّذِي اخْتَارَهُ اللهُ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ شَرٌّ، يُمْكِنُ اللهُ دَفَعَ عَنْكَ شَيْئًا يَحِلُّ عَلَيْكَ فَأَصَابَكَ شَيْءٌ يُمْكِنُ يُقَدَّرُ لَكَ صَخْرَةٌ تَنْزِلُ عَلَيْكَ فَتَنْزِلُ الصَّخْرَةُ لَكِنْ يَجْعَلُهَا اللهُ تُرَابًا فَتَنْزِلُ عَلَيْكَ فَلِذَلِكَ نَدْعُو اللهَ أَنْ يَصْرِفَ عَنَّا الشَّرَّ وَلِذَلِكَ خَطَأٌ أَنْ يَقُولَ الْإِنْسَانُ عِبَارَةً مُنْتَشِرَةً عِنْدَ النَّاسِ وَهِيَ عَلَيْهَا مَلْحَظٌ عَقَدِيٌّ فَيَقُولُ بَعْضُهُمْ: اللَّهُمَّ لَا أَسْأَلُكَ رَدَّ الْقَضَاءِ وَلَكِنْ أَسْأَلُكَ اللُّطْفَ فِيهِ هَذَا غَلَطٌ، الدُّعَاءُ هَذَا غَلَطٌ سُئِلَ شَيْخُنَا الشَّيْخُ بْنُ بَازٍ رَحِمَهُ اللهُ وَسَمِعْتُهُ بِنَفْسِي لَمَّا سُئِلَ هَذَا قَالُوا: هَذَا دُعَاءٌ جَارِيٌّ، قَالَ: غَلَطٌ غَلَطٌ بَلْ نَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَصْرِفَ عَنَّا شَرَّ مَا قَضَى أَلَيْسَ مِنْ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاصْرِفْ عَنَّا شَرَّ مَا قَضَيْتَ (وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ)؟ تَدْعُو اللهُ يَصْرِفُ عَنَّا شَرَّ مَا وَلِذَلِكَ الدُّعَاءُ وَالْقَضَاءُ فِي إيه؟ يَرْتَفِعُ الدُّعَاءُ وَيُقَابِلُ الْقَضَاءَ فَيَتَصَارَعَانِ أَوْ يَغْلِبُ الدُّعَاءُ أَوْ يَنْفُذُ الْقَضَاءُ، فَإِذَا نَفَذَ الْقَضَاءُ وَحُفِظَ الدُّعَاءُ جُعِلَ لَهُ عِنْدَ اللهِ ذُخْرًا وَبَقَاءً، فَنَفَعَهُ اللهُ بِهِفَصَ احِبُ الدُّعَاءِ مُفْلِحٌ، إِمَّا اسْتَجَابَ اللهُ لَهُ أَوْ أَنْ يُحْفَظَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَجِدَ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَقُولُ: رَبِّي أَيْ مَا هَذِهِ؟ قَالَ: دَعَوَاتٌ اُدُّخِرَتْ لَكَ فَيَتَمَنَّى أَنْ لَمْ يُسْتَجَبْ لَهُ فِي الدُّنْيَا شَيْءٌ وَأَنَّهَا كُلَّهَا قَدِ ادُّخَرَتْ لَهُ

Bulan-Bulan Haram dan Ladang Amal

Daftar Isi ToggleMakna bulan haramKeutamaan dan ancaman di bulan haramBulan istimewaRelevansi bulan haram di era digitalNabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut, yaitu Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharam. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679, dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu)Berakhirnya bulan Syawal adalah gerbang menuju fase untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan berikutnya. Tentunya, seorang mukmin tidak menjadikan ibadah sebagai musiman, tetapi sebagai napas kehidupan yang terus berlanjut. Di hadapan kita kini terbentang bulan-bulan yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala, yang memiliki nilai lebih dibanding bulan lainnya.Allah Ta’ala telah menetapkan dalam syariat-Nya adanya empat bulan haram (Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab) yang memiliki kedudukan istimewa. Dalam bulan-bulan ini, kita dituntut untuk lebih menjaga diri dari maksiat dan lebih giat dalam ketaatan dan ketakwaan. Kita pun mestinya menyadari bahwa ini merupakan momentum berikutnya untuk meraih pahala yang berlipat ganda setelah berlalunya bulan suci Ramadan.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu. Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah: 36)Makna bulan haram Istilah “haram” dalam konteks bulan tidak sekadar berarti larangan, tetapi menunjukkan kemuliaan dan kehormatan waktu tersebut. Sama seperti Tanah Haram di Makkah, bulan haram adalah waktu yang diagungkan dalam syariat Islam.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa penyebutan “bulan haram” menunjukkan adanya pengagungan dan pemuliaan khusus, sehingga dosa di dalamnya lebih berat dan amal saleh lebih ditekankan. [1]Apabila kita telusuri sejarah Islam lebih dalam, kita akan mendapati fenomena unik bahwa pada masa jahiliyah, bangsa Arab pun telah mengenal kemuliaan bulan-bulan ini. Mereka menghentikan peperangan sebagai bentuk penghormatan terhadap waktu yang suci. Para ulama menyebut bahwa praktik penghormatan ini sudah dikenal bahkan sebelum Islam, namun Islam datang untuk menetapkannya secara syar’i dan meluruskannya dari penyimpangan.Bangsa Arab pada masa jahiliyah juga melakukan penyimpangan melalui praktik nasi’, yaitu mengubah-ubah urutan bulan demi kepentingan perang. Allah Ta’ala mengecam praktik ini,إِنَّمَا ٱلنَّسِىٓءُ زِيَادَةٌ فِى ٱلْكُفْرِ ۖ يُضَلُّ بِهِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ يُحِلُّونَهُۥ عَامًا وَيُحَرِّمُونَهُۥ عَامًا لِّيُوَاطِـُٔوا۟ عِدَّةَ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ فَيُحِلُّوا۟ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ ۚ زُيِّنَ لَهُمْ سُوٓءُ أَعْمَٰلِهِمْ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْكَٰفِرِينَ“Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran. Disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Setan) menjadikan mereka memandang indah perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 37)Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimaullah menjelaskan bahwa nasi’ adalah bentuk manipulasi waktu untuk menghalalkan yang diharamkan Allah, dan ini termasuk penyimpangan besar dalam agama. [2] Oleh karenanya, penting untuk kita pahami bahwa bulan haram adalah momentum untuk menahan diri dari segala bentuk kezaliman, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Al-Qurthubi rahimahullah menegaskan bahwa larangan menzalimi diri pada ayat tersebut mencakup seluruh waktu, namun penekanannya lebih kuat pada bulan haram karena kemuliaannya. [3]Keutamaan dan ancaman di bulan haramAllah memperingatkan secara khusus agar tidak menzalimi diri sendiri di bulan-bulan haram. Para ulama menjelaskan bahwa larangan ini berlaku sepanjang waktu, namun memiliki penekanan khusus pada bulan haram karena kemuliaannya. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan bahwa ayat ini menunjukkan larangan berbuat zalim secara umum, namun pengkhususan pada bulan haram menunjukkan besarnya kehormatan waktu tersebut, sehingga dosa di dalamnya lebih berat.Meskipun secara jumlah dosa itu tetap satu, namun dari sisi kualitas dan beratnya, dosa tersebut menjadi lebih besar. Al-Qurthubi rahimahullah menegaskan bahwa kezaliman pada waktu yang mulia lebih besar dosanya dibanding waktu lainnya, sebagaimana kemuliaan tempat dan waktu berpengaruh pada bobot amal. [4] Ibarat perbedaan antara luka ringan dan luka berat—keduanya sama-sama luka, tetapi dampaknya berbeda.Sebaliknya, ketaatan di bulan haram juga memiliki nilai lebih tinggi. Meskipun tidak terdapat dalil eksplisit yang menyebut pelipatgandaan pahala secara angka khusus untuk bulan haram, namun para ulama menetapkan kaidah bahwa amal saleh di waktu dan tempat yang mulia itu menjadi lebih utama, sebagaimana kaidah:الأعمال الصالحة تتفاضل بحسب شرف الزمان والمكان“(Pahala) amal-amal saleh itu belipat-lipat sesuai dengan kemuliaan waktu dan tempat.”Hal ini diisyaratkan dalam banyak dalil umum tentang keutamaan waktu, di antaranya sabda Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam,أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadan adalah puasa pada bulan Allah – Muharam. Sementara salat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam.” (HR. Muslim no. 1163, dari Abu Hurairah)Jadi, ada keutamaan khusus amal di bulan yang dimuliakan. Seorang muslim hendaknya menjadikan bulan-bulan haram sebagai kesempatan emas untuk meningkatkan kualitas ibadah dan meninggalkan kebiasaan buruk. Momentum ini adalah waktu terbaik untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, serta menahan diri dari berbagai bentuk maksiat, baik yang tampak maupun tersembunyi.Bulan istimewa Di antara bulan haram, Muharam memiliki keistimewaan tersendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai Syahrullah (bulan Allah), sebuah penyandaran yang menunjukkan kemuliaan yang agung sebagaimana dijelaskan dalam hadis di atas.Amalan utama di bulan ini adalah puasa. Hadis di atas secara tegas menunjukkan bahwa puasa sunah terbaik setelah Ramadan adalah puasa di bulan Muharam. Lihatlah, betapa besar peluang pahala yang tersedia bagi seorang muslim yang ingin meningkatkan amal ibadahnya.Secara khusus, terdapat puasa Asyura (10 Muharam) yang memiliki keutamaan besar. Dari Abu Qatadah Al-Anshariy radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)Selain itu, dianjurkan pula untuk berpuasa pada hari sebelumnya, yaitu Tasu’a (9 Muharam), dalam rangka menyelisihi kaum Yahudi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لأَصُومَنَّ التَّاسِعَ“Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim, 2: 798)Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menjelaskan bahwa tujuan puasa Tasu’a adalah menyelisihi Ahlul Kitab yang hanya berpuasa pada hari ke-10 saja. [5] Namun demikian, umat Islam juga perlu berhati-hati terhadap hadis-hadis palsu yang beredar tentang keutamaan tertentu di bulan ini. Tidak semua yang populer memiliki dasar yang sahih. Para ulama hadis seperti Ibn al-Jawzi rahimahullah dan Al-Albani rahimahullah telah mengingatkan tentang banyaknya riwayat lemah bahkan palsu terkait keutamaan bulan Muharam, seperti klaim puasa tertentu yang menghapus dosa puluhan tahun tanpa dasar yang valid. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya berhati-hati dalam beramal, memastikan bahwa ibadah yang dilakukan memiliki landasan dalil yang sahih, agar amal tersebut benar-benar diterima di sisi Allah Ta’ala.Relevansi bulan haram di era digitalDewasa ini, bentuk kezaliman tidak selalu berupa fisik. Justru, banyak dosa yang terjadi melalui lisan dan jari—seperti gibah, fitnah, dan penyebaran hoaks di media sosial. Allah Ta’ala telah mengingatkan,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12)Ayat ini menunjukkan bahwa dosa lisan—yang kini meluas dalam bentuk tulisan digital—tetap termasuk dalam kategori kezaliman yang harus dihindari.Karenanya, pada bulan haram, dosa-dosa ini menjadi lebih berat. Maka, seorang muslim harus lebih waspada dalam menggunakan teknologi dan menjaga etika komunikasi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberikan peringatan tegas tentang bahaya lisan,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ، فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47)Saudaraku, mari kita jadikan bulan haram sebagai momentum untuk membersihkan diri dari kebiasaan buruk di dunia maya. Baik dalam bentuk menahan diri dari komentar negatif, tidak menyebarkan berita tanpa tabayyun, maupun dengan memperbanyak konten yang bermanfaat. Allah Ta’ala berfirman,مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ“Tidaklah suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)Jika seseorang mampu menjaga diri di bulan yang mulia ini, maka itu menjadi indikator kuat meningkatnya kualitas iman dalam dirinya. Sebab, keberhasilan seorang muslim bukan hanya diukur dari banyaknya ibadah, tetapi juga dari kemampuannya meninggalkan maksiat, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi.Wallahu a’lam.***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim. Dar Thayyibah, 1999. Jilid 4, hal. 148-149.[2] Al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān. Kairo: Dār al-Kutub al-Miṣriyyah, 1964. Jilid 8, hal. 134–136.[3] Ibid.[4] Ibid.[5] Fathul Bari, 4: 245–246

Bulan-Bulan Haram dan Ladang Amal

Daftar Isi ToggleMakna bulan haramKeutamaan dan ancaman di bulan haramBulan istimewaRelevansi bulan haram di era digitalNabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut, yaitu Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharam. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679, dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu)Berakhirnya bulan Syawal adalah gerbang menuju fase untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan berikutnya. Tentunya, seorang mukmin tidak menjadikan ibadah sebagai musiman, tetapi sebagai napas kehidupan yang terus berlanjut. Di hadapan kita kini terbentang bulan-bulan yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala, yang memiliki nilai lebih dibanding bulan lainnya.Allah Ta’ala telah menetapkan dalam syariat-Nya adanya empat bulan haram (Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab) yang memiliki kedudukan istimewa. Dalam bulan-bulan ini, kita dituntut untuk lebih menjaga diri dari maksiat dan lebih giat dalam ketaatan dan ketakwaan. Kita pun mestinya menyadari bahwa ini merupakan momentum berikutnya untuk meraih pahala yang berlipat ganda setelah berlalunya bulan suci Ramadan.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu. Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah: 36)Makna bulan haram Istilah “haram” dalam konteks bulan tidak sekadar berarti larangan, tetapi menunjukkan kemuliaan dan kehormatan waktu tersebut. Sama seperti Tanah Haram di Makkah, bulan haram adalah waktu yang diagungkan dalam syariat Islam.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa penyebutan “bulan haram” menunjukkan adanya pengagungan dan pemuliaan khusus, sehingga dosa di dalamnya lebih berat dan amal saleh lebih ditekankan. [1]Apabila kita telusuri sejarah Islam lebih dalam, kita akan mendapati fenomena unik bahwa pada masa jahiliyah, bangsa Arab pun telah mengenal kemuliaan bulan-bulan ini. Mereka menghentikan peperangan sebagai bentuk penghormatan terhadap waktu yang suci. Para ulama menyebut bahwa praktik penghormatan ini sudah dikenal bahkan sebelum Islam, namun Islam datang untuk menetapkannya secara syar’i dan meluruskannya dari penyimpangan.Bangsa Arab pada masa jahiliyah juga melakukan penyimpangan melalui praktik nasi’, yaitu mengubah-ubah urutan bulan demi kepentingan perang. Allah Ta’ala mengecam praktik ini,إِنَّمَا ٱلنَّسِىٓءُ زِيَادَةٌ فِى ٱلْكُفْرِ ۖ يُضَلُّ بِهِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ يُحِلُّونَهُۥ عَامًا وَيُحَرِّمُونَهُۥ عَامًا لِّيُوَاطِـُٔوا۟ عِدَّةَ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ فَيُحِلُّوا۟ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ ۚ زُيِّنَ لَهُمْ سُوٓءُ أَعْمَٰلِهِمْ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْكَٰفِرِينَ“Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran. Disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Setan) menjadikan mereka memandang indah perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 37)Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimaullah menjelaskan bahwa nasi’ adalah bentuk manipulasi waktu untuk menghalalkan yang diharamkan Allah, dan ini termasuk penyimpangan besar dalam agama. [2] Oleh karenanya, penting untuk kita pahami bahwa bulan haram adalah momentum untuk menahan diri dari segala bentuk kezaliman, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Al-Qurthubi rahimahullah menegaskan bahwa larangan menzalimi diri pada ayat tersebut mencakup seluruh waktu, namun penekanannya lebih kuat pada bulan haram karena kemuliaannya. [3]Keutamaan dan ancaman di bulan haramAllah memperingatkan secara khusus agar tidak menzalimi diri sendiri di bulan-bulan haram. Para ulama menjelaskan bahwa larangan ini berlaku sepanjang waktu, namun memiliki penekanan khusus pada bulan haram karena kemuliaannya. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan bahwa ayat ini menunjukkan larangan berbuat zalim secara umum, namun pengkhususan pada bulan haram menunjukkan besarnya kehormatan waktu tersebut, sehingga dosa di dalamnya lebih berat.Meskipun secara jumlah dosa itu tetap satu, namun dari sisi kualitas dan beratnya, dosa tersebut menjadi lebih besar. Al-Qurthubi rahimahullah menegaskan bahwa kezaliman pada waktu yang mulia lebih besar dosanya dibanding waktu lainnya, sebagaimana kemuliaan tempat dan waktu berpengaruh pada bobot amal. [4] Ibarat perbedaan antara luka ringan dan luka berat—keduanya sama-sama luka, tetapi dampaknya berbeda.Sebaliknya, ketaatan di bulan haram juga memiliki nilai lebih tinggi. Meskipun tidak terdapat dalil eksplisit yang menyebut pelipatgandaan pahala secara angka khusus untuk bulan haram, namun para ulama menetapkan kaidah bahwa amal saleh di waktu dan tempat yang mulia itu menjadi lebih utama, sebagaimana kaidah:الأعمال الصالحة تتفاضل بحسب شرف الزمان والمكان“(Pahala) amal-amal saleh itu belipat-lipat sesuai dengan kemuliaan waktu dan tempat.”Hal ini diisyaratkan dalam banyak dalil umum tentang keutamaan waktu, di antaranya sabda Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam,أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadan adalah puasa pada bulan Allah – Muharam. Sementara salat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam.” (HR. Muslim no. 1163, dari Abu Hurairah)Jadi, ada keutamaan khusus amal di bulan yang dimuliakan. Seorang muslim hendaknya menjadikan bulan-bulan haram sebagai kesempatan emas untuk meningkatkan kualitas ibadah dan meninggalkan kebiasaan buruk. Momentum ini adalah waktu terbaik untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, serta menahan diri dari berbagai bentuk maksiat, baik yang tampak maupun tersembunyi.Bulan istimewa Di antara bulan haram, Muharam memiliki keistimewaan tersendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai Syahrullah (bulan Allah), sebuah penyandaran yang menunjukkan kemuliaan yang agung sebagaimana dijelaskan dalam hadis di atas.Amalan utama di bulan ini adalah puasa. Hadis di atas secara tegas menunjukkan bahwa puasa sunah terbaik setelah Ramadan adalah puasa di bulan Muharam. Lihatlah, betapa besar peluang pahala yang tersedia bagi seorang muslim yang ingin meningkatkan amal ibadahnya.Secara khusus, terdapat puasa Asyura (10 Muharam) yang memiliki keutamaan besar. Dari Abu Qatadah Al-Anshariy radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)Selain itu, dianjurkan pula untuk berpuasa pada hari sebelumnya, yaitu Tasu’a (9 Muharam), dalam rangka menyelisihi kaum Yahudi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لأَصُومَنَّ التَّاسِعَ“Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim, 2: 798)Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menjelaskan bahwa tujuan puasa Tasu’a adalah menyelisihi Ahlul Kitab yang hanya berpuasa pada hari ke-10 saja. [5] Namun demikian, umat Islam juga perlu berhati-hati terhadap hadis-hadis palsu yang beredar tentang keutamaan tertentu di bulan ini. Tidak semua yang populer memiliki dasar yang sahih. Para ulama hadis seperti Ibn al-Jawzi rahimahullah dan Al-Albani rahimahullah telah mengingatkan tentang banyaknya riwayat lemah bahkan palsu terkait keutamaan bulan Muharam, seperti klaim puasa tertentu yang menghapus dosa puluhan tahun tanpa dasar yang valid. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya berhati-hati dalam beramal, memastikan bahwa ibadah yang dilakukan memiliki landasan dalil yang sahih, agar amal tersebut benar-benar diterima di sisi Allah Ta’ala.Relevansi bulan haram di era digitalDewasa ini, bentuk kezaliman tidak selalu berupa fisik. Justru, banyak dosa yang terjadi melalui lisan dan jari—seperti gibah, fitnah, dan penyebaran hoaks di media sosial. Allah Ta’ala telah mengingatkan,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12)Ayat ini menunjukkan bahwa dosa lisan—yang kini meluas dalam bentuk tulisan digital—tetap termasuk dalam kategori kezaliman yang harus dihindari.Karenanya, pada bulan haram, dosa-dosa ini menjadi lebih berat. Maka, seorang muslim harus lebih waspada dalam menggunakan teknologi dan menjaga etika komunikasi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberikan peringatan tegas tentang bahaya lisan,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ، فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47)Saudaraku, mari kita jadikan bulan haram sebagai momentum untuk membersihkan diri dari kebiasaan buruk di dunia maya. Baik dalam bentuk menahan diri dari komentar negatif, tidak menyebarkan berita tanpa tabayyun, maupun dengan memperbanyak konten yang bermanfaat. Allah Ta’ala berfirman,مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ“Tidaklah suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)Jika seseorang mampu menjaga diri di bulan yang mulia ini, maka itu menjadi indikator kuat meningkatnya kualitas iman dalam dirinya. Sebab, keberhasilan seorang muslim bukan hanya diukur dari banyaknya ibadah, tetapi juga dari kemampuannya meninggalkan maksiat, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi.Wallahu a’lam.***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim. Dar Thayyibah, 1999. Jilid 4, hal. 148-149.[2] Al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān. Kairo: Dār al-Kutub al-Miṣriyyah, 1964. Jilid 8, hal. 134–136.[3] Ibid.[4] Ibid.[5] Fathul Bari, 4: 245–246
Daftar Isi ToggleMakna bulan haramKeutamaan dan ancaman di bulan haramBulan istimewaRelevansi bulan haram di era digitalNabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut, yaitu Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharam. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679, dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu)Berakhirnya bulan Syawal adalah gerbang menuju fase untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan berikutnya. Tentunya, seorang mukmin tidak menjadikan ibadah sebagai musiman, tetapi sebagai napas kehidupan yang terus berlanjut. Di hadapan kita kini terbentang bulan-bulan yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala, yang memiliki nilai lebih dibanding bulan lainnya.Allah Ta’ala telah menetapkan dalam syariat-Nya adanya empat bulan haram (Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab) yang memiliki kedudukan istimewa. Dalam bulan-bulan ini, kita dituntut untuk lebih menjaga diri dari maksiat dan lebih giat dalam ketaatan dan ketakwaan. Kita pun mestinya menyadari bahwa ini merupakan momentum berikutnya untuk meraih pahala yang berlipat ganda setelah berlalunya bulan suci Ramadan.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu. Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah: 36)Makna bulan haram Istilah “haram” dalam konteks bulan tidak sekadar berarti larangan, tetapi menunjukkan kemuliaan dan kehormatan waktu tersebut. Sama seperti Tanah Haram di Makkah, bulan haram adalah waktu yang diagungkan dalam syariat Islam.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa penyebutan “bulan haram” menunjukkan adanya pengagungan dan pemuliaan khusus, sehingga dosa di dalamnya lebih berat dan amal saleh lebih ditekankan. [1]Apabila kita telusuri sejarah Islam lebih dalam, kita akan mendapati fenomena unik bahwa pada masa jahiliyah, bangsa Arab pun telah mengenal kemuliaan bulan-bulan ini. Mereka menghentikan peperangan sebagai bentuk penghormatan terhadap waktu yang suci. Para ulama menyebut bahwa praktik penghormatan ini sudah dikenal bahkan sebelum Islam, namun Islam datang untuk menetapkannya secara syar’i dan meluruskannya dari penyimpangan.Bangsa Arab pada masa jahiliyah juga melakukan penyimpangan melalui praktik nasi’, yaitu mengubah-ubah urutan bulan demi kepentingan perang. Allah Ta’ala mengecam praktik ini,إِنَّمَا ٱلنَّسِىٓءُ زِيَادَةٌ فِى ٱلْكُفْرِ ۖ يُضَلُّ بِهِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ يُحِلُّونَهُۥ عَامًا وَيُحَرِّمُونَهُۥ عَامًا لِّيُوَاطِـُٔوا۟ عِدَّةَ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ فَيُحِلُّوا۟ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ ۚ زُيِّنَ لَهُمْ سُوٓءُ أَعْمَٰلِهِمْ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْكَٰفِرِينَ“Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran. Disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Setan) menjadikan mereka memandang indah perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 37)Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimaullah menjelaskan bahwa nasi’ adalah bentuk manipulasi waktu untuk menghalalkan yang diharamkan Allah, dan ini termasuk penyimpangan besar dalam agama. [2] Oleh karenanya, penting untuk kita pahami bahwa bulan haram adalah momentum untuk menahan diri dari segala bentuk kezaliman, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Al-Qurthubi rahimahullah menegaskan bahwa larangan menzalimi diri pada ayat tersebut mencakup seluruh waktu, namun penekanannya lebih kuat pada bulan haram karena kemuliaannya. [3]Keutamaan dan ancaman di bulan haramAllah memperingatkan secara khusus agar tidak menzalimi diri sendiri di bulan-bulan haram. Para ulama menjelaskan bahwa larangan ini berlaku sepanjang waktu, namun memiliki penekanan khusus pada bulan haram karena kemuliaannya. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan bahwa ayat ini menunjukkan larangan berbuat zalim secara umum, namun pengkhususan pada bulan haram menunjukkan besarnya kehormatan waktu tersebut, sehingga dosa di dalamnya lebih berat.Meskipun secara jumlah dosa itu tetap satu, namun dari sisi kualitas dan beratnya, dosa tersebut menjadi lebih besar. Al-Qurthubi rahimahullah menegaskan bahwa kezaliman pada waktu yang mulia lebih besar dosanya dibanding waktu lainnya, sebagaimana kemuliaan tempat dan waktu berpengaruh pada bobot amal. [4] Ibarat perbedaan antara luka ringan dan luka berat—keduanya sama-sama luka, tetapi dampaknya berbeda.Sebaliknya, ketaatan di bulan haram juga memiliki nilai lebih tinggi. Meskipun tidak terdapat dalil eksplisit yang menyebut pelipatgandaan pahala secara angka khusus untuk bulan haram, namun para ulama menetapkan kaidah bahwa amal saleh di waktu dan tempat yang mulia itu menjadi lebih utama, sebagaimana kaidah:الأعمال الصالحة تتفاضل بحسب شرف الزمان والمكان“(Pahala) amal-amal saleh itu belipat-lipat sesuai dengan kemuliaan waktu dan tempat.”Hal ini diisyaratkan dalam banyak dalil umum tentang keutamaan waktu, di antaranya sabda Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam,أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadan adalah puasa pada bulan Allah – Muharam. Sementara salat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam.” (HR. Muslim no. 1163, dari Abu Hurairah)Jadi, ada keutamaan khusus amal di bulan yang dimuliakan. Seorang muslim hendaknya menjadikan bulan-bulan haram sebagai kesempatan emas untuk meningkatkan kualitas ibadah dan meninggalkan kebiasaan buruk. Momentum ini adalah waktu terbaik untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, serta menahan diri dari berbagai bentuk maksiat, baik yang tampak maupun tersembunyi.Bulan istimewa Di antara bulan haram, Muharam memiliki keistimewaan tersendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai Syahrullah (bulan Allah), sebuah penyandaran yang menunjukkan kemuliaan yang agung sebagaimana dijelaskan dalam hadis di atas.Amalan utama di bulan ini adalah puasa. Hadis di atas secara tegas menunjukkan bahwa puasa sunah terbaik setelah Ramadan adalah puasa di bulan Muharam. Lihatlah, betapa besar peluang pahala yang tersedia bagi seorang muslim yang ingin meningkatkan amal ibadahnya.Secara khusus, terdapat puasa Asyura (10 Muharam) yang memiliki keutamaan besar. Dari Abu Qatadah Al-Anshariy radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)Selain itu, dianjurkan pula untuk berpuasa pada hari sebelumnya, yaitu Tasu’a (9 Muharam), dalam rangka menyelisihi kaum Yahudi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لأَصُومَنَّ التَّاسِعَ“Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim, 2: 798)Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menjelaskan bahwa tujuan puasa Tasu’a adalah menyelisihi Ahlul Kitab yang hanya berpuasa pada hari ke-10 saja. [5] Namun demikian, umat Islam juga perlu berhati-hati terhadap hadis-hadis palsu yang beredar tentang keutamaan tertentu di bulan ini. Tidak semua yang populer memiliki dasar yang sahih. Para ulama hadis seperti Ibn al-Jawzi rahimahullah dan Al-Albani rahimahullah telah mengingatkan tentang banyaknya riwayat lemah bahkan palsu terkait keutamaan bulan Muharam, seperti klaim puasa tertentu yang menghapus dosa puluhan tahun tanpa dasar yang valid. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya berhati-hati dalam beramal, memastikan bahwa ibadah yang dilakukan memiliki landasan dalil yang sahih, agar amal tersebut benar-benar diterima di sisi Allah Ta’ala.Relevansi bulan haram di era digitalDewasa ini, bentuk kezaliman tidak selalu berupa fisik. Justru, banyak dosa yang terjadi melalui lisan dan jari—seperti gibah, fitnah, dan penyebaran hoaks di media sosial. Allah Ta’ala telah mengingatkan,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12)Ayat ini menunjukkan bahwa dosa lisan—yang kini meluas dalam bentuk tulisan digital—tetap termasuk dalam kategori kezaliman yang harus dihindari.Karenanya, pada bulan haram, dosa-dosa ini menjadi lebih berat. Maka, seorang muslim harus lebih waspada dalam menggunakan teknologi dan menjaga etika komunikasi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberikan peringatan tegas tentang bahaya lisan,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ، فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47)Saudaraku, mari kita jadikan bulan haram sebagai momentum untuk membersihkan diri dari kebiasaan buruk di dunia maya. Baik dalam bentuk menahan diri dari komentar negatif, tidak menyebarkan berita tanpa tabayyun, maupun dengan memperbanyak konten yang bermanfaat. Allah Ta’ala berfirman,مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ“Tidaklah suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)Jika seseorang mampu menjaga diri di bulan yang mulia ini, maka itu menjadi indikator kuat meningkatnya kualitas iman dalam dirinya. Sebab, keberhasilan seorang muslim bukan hanya diukur dari banyaknya ibadah, tetapi juga dari kemampuannya meninggalkan maksiat, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi.Wallahu a’lam.***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim. Dar Thayyibah, 1999. Jilid 4, hal. 148-149.[2] Al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān. Kairo: Dār al-Kutub al-Miṣriyyah, 1964. Jilid 8, hal. 134–136.[3] Ibid.[4] Ibid.[5] Fathul Bari, 4: 245–246


Daftar Isi ToggleMakna bulan haramKeutamaan dan ancaman di bulan haramBulan istimewaRelevansi bulan haram di era digitalNabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut, yaitu Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharam. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679, dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu)Berakhirnya bulan Syawal adalah gerbang menuju fase untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan berikutnya. Tentunya, seorang mukmin tidak menjadikan ibadah sebagai musiman, tetapi sebagai napas kehidupan yang terus berlanjut. Di hadapan kita kini terbentang bulan-bulan yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala, yang memiliki nilai lebih dibanding bulan lainnya.Allah Ta’ala telah menetapkan dalam syariat-Nya adanya empat bulan haram (Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab) yang memiliki kedudukan istimewa. Dalam bulan-bulan ini, kita dituntut untuk lebih menjaga diri dari maksiat dan lebih giat dalam ketaatan dan ketakwaan. Kita pun mestinya menyadari bahwa ini merupakan momentum berikutnya untuk meraih pahala yang berlipat ganda setelah berlalunya bulan suci Ramadan.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu. Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah: 36)Makna bulan haram Istilah “haram” dalam konteks bulan tidak sekadar berarti larangan, tetapi menunjukkan kemuliaan dan kehormatan waktu tersebut. Sama seperti Tanah Haram di Makkah, bulan haram adalah waktu yang diagungkan dalam syariat Islam.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa penyebutan “bulan haram” menunjukkan adanya pengagungan dan pemuliaan khusus, sehingga dosa di dalamnya lebih berat dan amal saleh lebih ditekankan. [1]Apabila kita telusuri sejarah Islam lebih dalam, kita akan mendapati fenomena unik bahwa pada masa jahiliyah, bangsa Arab pun telah mengenal kemuliaan bulan-bulan ini. Mereka menghentikan peperangan sebagai bentuk penghormatan terhadap waktu yang suci. Para ulama menyebut bahwa praktik penghormatan ini sudah dikenal bahkan sebelum Islam, namun Islam datang untuk menetapkannya secara syar’i dan meluruskannya dari penyimpangan.Bangsa Arab pada masa jahiliyah juga melakukan penyimpangan melalui praktik nasi’, yaitu mengubah-ubah urutan bulan demi kepentingan perang. Allah Ta’ala mengecam praktik ini,إِنَّمَا ٱلنَّسِىٓءُ زِيَادَةٌ فِى ٱلْكُفْرِ ۖ يُضَلُّ بِهِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ يُحِلُّونَهُۥ عَامًا وَيُحَرِّمُونَهُۥ عَامًا لِّيُوَاطِـُٔوا۟ عِدَّةَ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ فَيُحِلُّوا۟ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ ۚ زُيِّنَ لَهُمْ سُوٓءُ أَعْمَٰلِهِمْ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْكَٰفِرِينَ“Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran. Disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Setan) menjadikan mereka memandang indah perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 37)Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimaullah menjelaskan bahwa nasi’ adalah bentuk manipulasi waktu untuk menghalalkan yang diharamkan Allah, dan ini termasuk penyimpangan besar dalam agama. [2] Oleh karenanya, penting untuk kita pahami bahwa bulan haram adalah momentum untuk menahan diri dari segala bentuk kezaliman, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Al-Qurthubi rahimahullah menegaskan bahwa larangan menzalimi diri pada ayat tersebut mencakup seluruh waktu, namun penekanannya lebih kuat pada bulan haram karena kemuliaannya. [3]Keutamaan dan ancaman di bulan haramAllah memperingatkan secara khusus agar tidak menzalimi diri sendiri di bulan-bulan haram. Para ulama menjelaskan bahwa larangan ini berlaku sepanjang waktu, namun memiliki penekanan khusus pada bulan haram karena kemuliaannya. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan bahwa ayat ini menunjukkan larangan berbuat zalim secara umum, namun pengkhususan pada bulan haram menunjukkan besarnya kehormatan waktu tersebut, sehingga dosa di dalamnya lebih berat.Meskipun secara jumlah dosa itu tetap satu, namun dari sisi kualitas dan beratnya, dosa tersebut menjadi lebih besar. Al-Qurthubi rahimahullah menegaskan bahwa kezaliman pada waktu yang mulia lebih besar dosanya dibanding waktu lainnya, sebagaimana kemuliaan tempat dan waktu berpengaruh pada bobot amal. [4] Ibarat perbedaan antara luka ringan dan luka berat—keduanya sama-sama luka, tetapi dampaknya berbeda.Sebaliknya, ketaatan di bulan haram juga memiliki nilai lebih tinggi. Meskipun tidak terdapat dalil eksplisit yang menyebut pelipatgandaan pahala secara angka khusus untuk bulan haram, namun para ulama menetapkan kaidah bahwa amal saleh di waktu dan tempat yang mulia itu menjadi lebih utama, sebagaimana kaidah:الأعمال الصالحة تتفاضل بحسب شرف الزمان والمكان“(Pahala) amal-amal saleh itu belipat-lipat sesuai dengan kemuliaan waktu dan tempat.”Hal ini diisyaratkan dalam banyak dalil umum tentang keutamaan waktu, di antaranya sabda Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam,أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadan adalah puasa pada bulan Allah – Muharam. Sementara salat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam.” (HR. Muslim no. 1163, dari Abu Hurairah)Jadi, ada keutamaan khusus amal di bulan yang dimuliakan. Seorang muslim hendaknya menjadikan bulan-bulan haram sebagai kesempatan emas untuk meningkatkan kualitas ibadah dan meninggalkan kebiasaan buruk. Momentum ini adalah waktu terbaik untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, serta menahan diri dari berbagai bentuk maksiat, baik yang tampak maupun tersembunyi.Bulan istimewa Di antara bulan haram, Muharam memiliki keistimewaan tersendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai Syahrullah (bulan Allah), sebuah penyandaran yang menunjukkan kemuliaan yang agung sebagaimana dijelaskan dalam hadis di atas.Amalan utama di bulan ini adalah puasa. Hadis di atas secara tegas menunjukkan bahwa puasa sunah terbaik setelah Ramadan adalah puasa di bulan Muharam. Lihatlah, betapa besar peluang pahala yang tersedia bagi seorang muslim yang ingin meningkatkan amal ibadahnya.Secara khusus, terdapat puasa Asyura (10 Muharam) yang memiliki keutamaan besar. Dari Abu Qatadah Al-Anshariy radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)Selain itu, dianjurkan pula untuk berpuasa pada hari sebelumnya, yaitu Tasu’a (9 Muharam), dalam rangka menyelisihi kaum Yahudi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لأَصُومَنَّ التَّاسِعَ“Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim, 2: 798)Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menjelaskan bahwa tujuan puasa Tasu’a adalah menyelisihi Ahlul Kitab yang hanya berpuasa pada hari ke-10 saja. [5] Namun demikian, umat Islam juga perlu berhati-hati terhadap hadis-hadis palsu yang beredar tentang keutamaan tertentu di bulan ini. Tidak semua yang populer memiliki dasar yang sahih. Para ulama hadis seperti Ibn al-Jawzi rahimahullah dan Al-Albani rahimahullah telah mengingatkan tentang banyaknya riwayat lemah bahkan palsu terkait keutamaan bulan Muharam, seperti klaim puasa tertentu yang menghapus dosa puluhan tahun tanpa dasar yang valid. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya berhati-hati dalam beramal, memastikan bahwa ibadah yang dilakukan memiliki landasan dalil yang sahih, agar amal tersebut benar-benar diterima di sisi Allah Ta’ala.Relevansi bulan haram di era digitalDewasa ini, bentuk kezaliman tidak selalu berupa fisik. Justru, banyak dosa yang terjadi melalui lisan dan jari—seperti gibah, fitnah, dan penyebaran hoaks di media sosial. Allah Ta’ala telah mengingatkan,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12)Ayat ini menunjukkan bahwa dosa lisan—yang kini meluas dalam bentuk tulisan digital—tetap termasuk dalam kategori kezaliman yang harus dihindari.Karenanya, pada bulan haram, dosa-dosa ini menjadi lebih berat. Maka, seorang muslim harus lebih waspada dalam menggunakan teknologi dan menjaga etika komunikasi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberikan peringatan tegas tentang bahaya lisan,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ، فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47)Saudaraku, mari kita jadikan bulan haram sebagai momentum untuk membersihkan diri dari kebiasaan buruk di dunia maya. Baik dalam bentuk menahan diri dari komentar negatif, tidak menyebarkan berita tanpa tabayyun, maupun dengan memperbanyak konten yang bermanfaat. Allah Ta’ala berfirman,مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ“Tidaklah suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)Jika seseorang mampu menjaga diri di bulan yang mulia ini, maka itu menjadi indikator kuat meningkatnya kualitas iman dalam dirinya. Sebab, keberhasilan seorang muslim bukan hanya diukur dari banyaknya ibadah, tetapi juga dari kemampuannya meninggalkan maksiat, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi.Wallahu a’lam.***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim. Dar Thayyibah, 1999. Jilid 4, hal. 148-149.[2] Al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān. Kairo: Dār al-Kutub al-Miṣriyyah, 1964. Jilid 8, hal. 134–136.[3] Ibid.[4] Ibid.[5] Fathul Bari, 4: 245–246

Seandainya Hati Kita Masih Sehat…Niscaya Akan Hancur karena Sedih Saat Terhalang dari Allah

Engkau saat ini masih diberi kesempatan. Maka manfaatkanlah waktumu! Tetapkan pada dirimu untuk membaca Al-Qur’an setiap hari. Sediakan waktu untuk dirimu beramal saleh. Bangunlah di akhir malam, meskipun hanya setengah jam sebelum Subuh. Bermunajatlah kepada Rabbmu, berdoalah kepada-Nya. Karena Allah Ta’ala turun ke langit dunia, lalu berfirman, “Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan?” “Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri? Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni?” (HR. Bukhari dan Muslim). Siapakah yang tidak mampu bangun setengah jam sebelum Subuh? Ini perkara yang sangat mudah. Kita memohon kepada Allah agar merahmati kita dengan rahmat-Nya. Mungkin kita belum mampu bangun pada sepertiga atau pertengahan malam. Namun, tidak mungkinkah kita bangun setengah jam saja? Untuk berzikir kepada Allah di waktu itu. Kita berwudu, salat semampu yang Allah mudahkan, lalu menutupnya dengan witir. Saya rasa ini perkara yang sangat mudah. Demikian pula, kita jadikan seluruh hidup kita dipenuhi dengan zikir kepada Allah. Karena seorang mukmin, yang cerdas, adalah orang yang menjadikan seluruh hidupnya sebagai zikir kepada Allah. Sebab, dalam segala sesuatu yang ada di hadapan kita, terdapat tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah.Ia adalah salah satu tanda kekuasaan Allah. Apabila kita menyadari bahwa apa yang ada di hadapan kita termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah, maka hal itu akan mengingatkan kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Kita pun mengingat Allah. Dengan demikian, seseorang akan senantiasa mengingat Allah ‘Azza wa Jalla, melalui tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta yang ia saksikan. Bahkan melalui apa yang ia saksikan pada dirinya sendiri dan keadaannya yang silih berganti. Sekarang, saya bertanya kepada kalian, apakah hati kalian selalu berada dalam keadaan yang sama? Tidak! Terkadang lalai. Terkadang bertaubat kepada Allah. Terkadang ingat kepada Allah. Terkadang dalam keadaan penuh kehidupan. Terkadang hatimu benar-benar hidup, dan kenikmatannya masih engkau rasakan serta kenang dalam waktu yang panjang. Mungkin engkau teringat saat berdiri di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla dalam shalat dan sujudmu, meskipun itu telah berlalu tiga puluh tahun atau lebih, sesuai umur seseorang. Sebab momen itu membekas dalam hatinya. Hal-hal seperti inilah yang seharusnya kita manfaatkan. Kita harus memanfaatkannya dan tidak lalai, karena kelalaian adalah kematian. Kelalaian adalah kerasnya dan matinya hati. Ibnul Qayyim berkata, “Demi Allah, seandainya hati ini masih bersih, niscaya ia akan tercabik-cabik karena sedih akibat terhalang dari kebaikan.” Hati tercabik-cabik karena sedih akibat terhalang dari kebaikan. “Namun, hati ini sedang mabuk oleh cinta kepada kehidupan dunia.” ===== أَنْتَ الْآنَ فِي مُهْلَةٍ اِغْتَنِمِ الْوَقْتَ اجْعَلْ لِنَفْسِكَ حِزْبًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ اجْعَلْ لِنَفْسِكَ وَقْتًا لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ قُمْ فِي آخِرِ اللَّيْلِ وَلَوْ نِصْفَ سَاعَةٍ قَبْلَ الْفَجْرِ نَاجِ رَبَّكَ ادْعُهُ فَإِنَّهُ تَعَالَى يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ مَنِ الَّذِي لَا يَقْدِرُ أَنْ يَقُومَ قَبْلَ الْفَجْرِ بِنِصْفِ سَاعَةٍ أَمْرٌ بَسِيطٌ جِدًّا نَحْنُ نَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَرْحَمَنَا بِرَحْمَتِهِ لَا نَقُومُ فِي ثُلُثِ اللَّيْلِ وَنِصْفِ اللَّيْلِ لَكِنْ أَفَلَا يُمْكِنُ أَنْ نَقُومَ نِصْفَ سَاعَةٍ فَقَطْ نَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا نَتَوَضَّأُ نُصَلِّي مَا شَاءَ اللَّهُ نُوتِرُ هَذَا أَمْرٌ أَظُنُّهُ بَسِيطًا جِدًّا كَذَلِكَ أَيْضًا نَجْعَلُ حَيَاتَنَا كُلَّهَا ذِكْرًا لِلَّهِ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ الْكَيِّسَ هُوَ الَّذِي يَجْعَلُ حَيَاتَهُ كُلَّهَا ذِكْرًا لِلَّهِ لِأَنَّ فِي كُلِّ شَيْءٍ أَمَامَنَا آيَةً مِنْ آيَاتِ اللَّهِ آيَةً مِنْ آيَاتِ اللَّهِ فَإِذَا ذَكَرْنَا هَذَا الشَّيْءَ الَّذِي أَمَامَنَا مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ذَكَرْنَا بِذَلِكَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ ذَكَرْنَا اللَّهَ فَيَكُونُ الْإِنْسَانُ دَائِمًا يَذْكُرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا يُشَاهِدُ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ الْكَوْنِيَّةِ بَلْ بِمَا يُشَاهِدُ مِنْ نَفْسِهِ وَتَقَلُّبَاتِهِ الْقَلْبُ الْآنَ أَنَا أَسْأَلُكُمْ هَلْ قُلُوبُكُمْ عَلَى وَتِيرَةٍ وَاحِدَةٍ دَائِمًا لَا فِي غَفْلَةٍ أَحْيَانًا فِي إِنَابَةٍ أَحْيَانًا فِي تَذَكُّرٍ أَحْيَانًا فِي حَيَاةٍ بَيِّنَةٍ أَحْيَانًا أَحْيَانًا يَحْيَا قَلْبُكَ حَيَاةً تَتَمَتَّعُ بِهَا مُدَّةً مِنَ الزَّمَنِ تَتَذَكَّرُهَا رُبَّمَا تَتَذَكَّرُ حَالَةً وَقَفْتَ فِيهَا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مُصَلِّيًا سَاجِدًا وَلَوْ قَبْلَ ثَلَاثِينَ سَنَةً أَوْ أَكْثَرَ حَسَبَ عُمُرِ الْإِنْسَانِ لِأَنَّهَا أَثَّرَتْ فِي قَلْبِهِ فَمِثْلُ هَذِهِ الْأَشْيَاءِ يَنْبَغِي أَنْ نَسْتَغِلَّهَا يَنْبَغِي أَنْ نَسْتَغِلَّهَا وَأَنْ لَا نَغْفَلَ فَالْغَفْلَةُ مَوْتٌ قَسْوَةٌ لِلْقَلْبِ وَمَوْتٌ لِلْقَلْبِ يَقُولُ وَاللَّهِ لَوْ أَنَّ الْقُلُوبَ سَلِيمَةٌ لَتَقَطَّعَتْ أَسَفًا مِنَ الْحِرْمَانِ حُزْنًا تَتَقَطَّعُ مِنْ حِرْمَانِهَا لَكِنَّهَا سَكْرَى لِحُبِّ حَيَاتِهَا الدُّنْيَا

Seandainya Hati Kita Masih Sehat…Niscaya Akan Hancur karena Sedih Saat Terhalang dari Allah

Engkau saat ini masih diberi kesempatan. Maka manfaatkanlah waktumu! Tetapkan pada dirimu untuk membaca Al-Qur’an setiap hari. Sediakan waktu untuk dirimu beramal saleh. Bangunlah di akhir malam, meskipun hanya setengah jam sebelum Subuh. Bermunajatlah kepada Rabbmu, berdoalah kepada-Nya. Karena Allah Ta’ala turun ke langit dunia, lalu berfirman, “Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan?” “Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri? Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni?” (HR. Bukhari dan Muslim). Siapakah yang tidak mampu bangun setengah jam sebelum Subuh? Ini perkara yang sangat mudah. Kita memohon kepada Allah agar merahmati kita dengan rahmat-Nya. Mungkin kita belum mampu bangun pada sepertiga atau pertengahan malam. Namun, tidak mungkinkah kita bangun setengah jam saja? Untuk berzikir kepada Allah di waktu itu. Kita berwudu, salat semampu yang Allah mudahkan, lalu menutupnya dengan witir. Saya rasa ini perkara yang sangat mudah. Demikian pula, kita jadikan seluruh hidup kita dipenuhi dengan zikir kepada Allah. Karena seorang mukmin, yang cerdas, adalah orang yang menjadikan seluruh hidupnya sebagai zikir kepada Allah. Sebab, dalam segala sesuatu yang ada di hadapan kita, terdapat tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah.Ia adalah salah satu tanda kekuasaan Allah. Apabila kita menyadari bahwa apa yang ada di hadapan kita termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah, maka hal itu akan mengingatkan kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Kita pun mengingat Allah. Dengan demikian, seseorang akan senantiasa mengingat Allah ‘Azza wa Jalla, melalui tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta yang ia saksikan. Bahkan melalui apa yang ia saksikan pada dirinya sendiri dan keadaannya yang silih berganti. Sekarang, saya bertanya kepada kalian, apakah hati kalian selalu berada dalam keadaan yang sama? Tidak! Terkadang lalai. Terkadang bertaubat kepada Allah. Terkadang ingat kepada Allah. Terkadang dalam keadaan penuh kehidupan. Terkadang hatimu benar-benar hidup, dan kenikmatannya masih engkau rasakan serta kenang dalam waktu yang panjang. Mungkin engkau teringat saat berdiri di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla dalam shalat dan sujudmu, meskipun itu telah berlalu tiga puluh tahun atau lebih, sesuai umur seseorang. Sebab momen itu membekas dalam hatinya. Hal-hal seperti inilah yang seharusnya kita manfaatkan. Kita harus memanfaatkannya dan tidak lalai, karena kelalaian adalah kematian. Kelalaian adalah kerasnya dan matinya hati. Ibnul Qayyim berkata, “Demi Allah, seandainya hati ini masih bersih, niscaya ia akan tercabik-cabik karena sedih akibat terhalang dari kebaikan.” Hati tercabik-cabik karena sedih akibat terhalang dari kebaikan. “Namun, hati ini sedang mabuk oleh cinta kepada kehidupan dunia.” ===== أَنْتَ الْآنَ فِي مُهْلَةٍ اِغْتَنِمِ الْوَقْتَ اجْعَلْ لِنَفْسِكَ حِزْبًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ اجْعَلْ لِنَفْسِكَ وَقْتًا لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ قُمْ فِي آخِرِ اللَّيْلِ وَلَوْ نِصْفَ سَاعَةٍ قَبْلَ الْفَجْرِ نَاجِ رَبَّكَ ادْعُهُ فَإِنَّهُ تَعَالَى يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ مَنِ الَّذِي لَا يَقْدِرُ أَنْ يَقُومَ قَبْلَ الْفَجْرِ بِنِصْفِ سَاعَةٍ أَمْرٌ بَسِيطٌ جِدًّا نَحْنُ نَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَرْحَمَنَا بِرَحْمَتِهِ لَا نَقُومُ فِي ثُلُثِ اللَّيْلِ وَنِصْفِ اللَّيْلِ لَكِنْ أَفَلَا يُمْكِنُ أَنْ نَقُومَ نِصْفَ سَاعَةٍ فَقَطْ نَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا نَتَوَضَّأُ نُصَلِّي مَا شَاءَ اللَّهُ نُوتِرُ هَذَا أَمْرٌ أَظُنُّهُ بَسِيطًا جِدًّا كَذَلِكَ أَيْضًا نَجْعَلُ حَيَاتَنَا كُلَّهَا ذِكْرًا لِلَّهِ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ الْكَيِّسَ هُوَ الَّذِي يَجْعَلُ حَيَاتَهُ كُلَّهَا ذِكْرًا لِلَّهِ لِأَنَّ فِي كُلِّ شَيْءٍ أَمَامَنَا آيَةً مِنْ آيَاتِ اللَّهِ آيَةً مِنْ آيَاتِ اللَّهِ فَإِذَا ذَكَرْنَا هَذَا الشَّيْءَ الَّذِي أَمَامَنَا مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ذَكَرْنَا بِذَلِكَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ ذَكَرْنَا اللَّهَ فَيَكُونُ الْإِنْسَانُ دَائِمًا يَذْكُرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا يُشَاهِدُ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ الْكَوْنِيَّةِ بَلْ بِمَا يُشَاهِدُ مِنْ نَفْسِهِ وَتَقَلُّبَاتِهِ الْقَلْبُ الْآنَ أَنَا أَسْأَلُكُمْ هَلْ قُلُوبُكُمْ عَلَى وَتِيرَةٍ وَاحِدَةٍ دَائِمًا لَا فِي غَفْلَةٍ أَحْيَانًا فِي إِنَابَةٍ أَحْيَانًا فِي تَذَكُّرٍ أَحْيَانًا فِي حَيَاةٍ بَيِّنَةٍ أَحْيَانًا أَحْيَانًا يَحْيَا قَلْبُكَ حَيَاةً تَتَمَتَّعُ بِهَا مُدَّةً مِنَ الزَّمَنِ تَتَذَكَّرُهَا رُبَّمَا تَتَذَكَّرُ حَالَةً وَقَفْتَ فِيهَا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مُصَلِّيًا سَاجِدًا وَلَوْ قَبْلَ ثَلَاثِينَ سَنَةً أَوْ أَكْثَرَ حَسَبَ عُمُرِ الْإِنْسَانِ لِأَنَّهَا أَثَّرَتْ فِي قَلْبِهِ فَمِثْلُ هَذِهِ الْأَشْيَاءِ يَنْبَغِي أَنْ نَسْتَغِلَّهَا يَنْبَغِي أَنْ نَسْتَغِلَّهَا وَأَنْ لَا نَغْفَلَ فَالْغَفْلَةُ مَوْتٌ قَسْوَةٌ لِلْقَلْبِ وَمَوْتٌ لِلْقَلْبِ يَقُولُ وَاللَّهِ لَوْ أَنَّ الْقُلُوبَ سَلِيمَةٌ لَتَقَطَّعَتْ أَسَفًا مِنَ الْحِرْمَانِ حُزْنًا تَتَقَطَّعُ مِنْ حِرْمَانِهَا لَكِنَّهَا سَكْرَى لِحُبِّ حَيَاتِهَا الدُّنْيَا
Engkau saat ini masih diberi kesempatan. Maka manfaatkanlah waktumu! Tetapkan pada dirimu untuk membaca Al-Qur’an setiap hari. Sediakan waktu untuk dirimu beramal saleh. Bangunlah di akhir malam, meskipun hanya setengah jam sebelum Subuh. Bermunajatlah kepada Rabbmu, berdoalah kepada-Nya. Karena Allah Ta’ala turun ke langit dunia, lalu berfirman, “Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan?” “Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri? Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni?” (HR. Bukhari dan Muslim). Siapakah yang tidak mampu bangun setengah jam sebelum Subuh? Ini perkara yang sangat mudah. Kita memohon kepada Allah agar merahmati kita dengan rahmat-Nya. Mungkin kita belum mampu bangun pada sepertiga atau pertengahan malam. Namun, tidak mungkinkah kita bangun setengah jam saja? Untuk berzikir kepada Allah di waktu itu. Kita berwudu, salat semampu yang Allah mudahkan, lalu menutupnya dengan witir. Saya rasa ini perkara yang sangat mudah. Demikian pula, kita jadikan seluruh hidup kita dipenuhi dengan zikir kepada Allah. Karena seorang mukmin, yang cerdas, adalah orang yang menjadikan seluruh hidupnya sebagai zikir kepada Allah. Sebab, dalam segala sesuatu yang ada di hadapan kita, terdapat tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah.Ia adalah salah satu tanda kekuasaan Allah. Apabila kita menyadari bahwa apa yang ada di hadapan kita termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah, maka hal itu akan mengingatkan kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Kita pun mengingat Allah. Dengan demikian, seseorang akan senantiasa mengingat Allah ‘Azza wa Jalla, melalui tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta yang ia saksikan. Bahkan melalui apa yang ia saksikan pada dirinya sendiri dan keadaannya yang silih berganti. Sekarang, saya bertanya kepada kalian, apakah hati kalian selalu berada dalam keadaan yang sama? Tidak! Terkadang lalai. Terkadang bertaubat kepada Allah. Terkadang ingat kepada Allah. Terkadang dalam keadaan penuh kehidupan. Terkadang hatimu benar-benar hidup, dan kenikmatannya masih engkau rasakan serta kenang dalam waktu yang panjang. Mungkin engkau teringat saat berdiri di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla dalam shalat dan sujudmu, meskipun itu telah berlalu tiga puluh tahun atau lebih, sesuai umur seseorang. Sebab momen itu membekas dalam hatinya. Hal-hal seperti inilah yang seharusnya kita manfaatkan. Kita harus memanfaatkannya dan tidak lalai, karena kelalaian adalah kematian. Kelalaian adalah kerasnya dan matinya hati. Ibnul Qayyim berkata, “Demi Allah, seandainya hati ini masih bersih, niscaya ia akan tercabik-cabik karena sedih akibat terhalang dari kebaikan.” Hati tercabik-cabik karena sedih akibat terhalang dari kebaikan. “Namun, hati ini sedang mabuk oleh cinta kepada kehidupan dunia.” ===== أَنْتَ الْآنَ فِي مُهْلَةٍ اِغْتَنِمِ الْوَقْتَ اجْعَلْ لِنَفْسِكَ حِزْبًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ اجْعَلْ لِنَفْسِكَ وَقْتًا لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ قُمْ فِي آخِرِ اللَّيْلِ وَلَوْ نِصْفَ سَاعَةٍ قَبْلَ الْفَجْرِ نَاجِ رَبَّكَ ادْعُهُ فَإِنَّهُ تَعَالَى يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ مَنِ الَّذِي لَا يَقْدِرُ أَنْ يَقُومَ قَبْلَ الْفَجْرِ بِنِصْفِ سَاعَةٍ أَمْرٌ بَسِيطٌ جِدًّا نَحْنُ نَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَرْحَمَنَا بِرَحْمَتِهِ لَا نَقُومُ فِي ثُلُثِ اللَّيْلِ وَنِصْفِ اللَّيْلِ لَكِنْ أَفَلَا يُمْكِنُ أَنْ نَقُومَ نِصْفَ سَاعَةٍ فَقَطْ نَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا نَتَوَضَّأُ نُصَلِّي مَا شَاءَ اللَّهُ نُوتِرُ هَذَا أَمْرٌ أَظُنُّهُ بَسِيطًا جِدًّا كَذَلِكَ أَيْضًا نَجْعَلُ حَيَاتَنَا كُلَّهَا ذِكْرًا لِلَّهِ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ الْكَيِّسَ هُوَ الَّذِي يَجْعَلُ حَيَاتَهُ كُلَّهَا ذِكْرًا لِلَّهِ لِأَنَّ فِي كُلِّ شَيْءٍ أَمَامَنَا آيَةً مِنْ آيَاتِ اللَّهِ آيَةً مِنْ آيَاتِ اللَّهِ فَإِذَا ذَكَرْنَا هَذَا الشَّيْءَ الَّذِي أَمَامَنَا مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ذَكَرْنَا بِذَلِكَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ ذَكَرْنَا اللَّهَ فَيَكُونُ الْإِنْسَانُ دَائِمًا يَذْكُرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا يُشَاهِدُ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ الْكَوْنِيَّةِ بَلْ بِمَا يُشَاهِدُ مِنْ نَفْسِهِ وَتَقَلُّبَاتِهِ الْقَلْبُ الْآنَ أَنَا أَسْأَلُكُمْ هَلْ قُلُوبُكُمْ عَلَى وَتِيرَةٍ وَاحِدَةٍ دَائِمًا لَا فِي غَفْلَةٍ أَحْيَانًا فِي إِنَابَةٍ أَحْيَانًا فِي تَذَكُّرٍ أَحْيَانًا فِي حَيَاةٍ بَيِّنَةٍ أَحْيَانًا أَحْيَانًا يَحْيَا قَلْبُكَ حَيَاةً تَتَمَتَّعُ بِهَا مُدَّةً مِنَ الزَّمَنِ تَتَذَكَّرُهَا رُبَّمَا تَتَذَكَّرُ حَالَةً وَقَفْتَ فِيهَا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مُصَلِّيًا سَاجِدًا وَلَوْ قَبْلَ ثَلَاثِينَ سَنَةً أَوْ أَكْثَرَ حَسَبَ عُمُرِ الْإِنْسَانِ لِأَنَّهَا أَثَّرَتْ فِي قَلْبِهِ فَمِثْلُ هَذِهِ الْأَشْيَاءِ يَنْبَغِي أَنْ نَسْتَغِلَّهَا يَنْبَغِي أَنْ نَسْتَغِلَّهَا وَأَنْ لَا نَغْفَلَ فَالْغَفْلَةُ مَوْتٌ قَسْوَةٌ لِلْقَلْبِ وَمَوْتٌ لِلْقَلْبِ يَقُولُ وَاللَّهِ لَوْ أَنَّ الْقُلُوبَ سَلِيمَةٌ لَتَقَطَّعَتْ أَسَفًا مِنَ الْحِرْمَانِ حُزْنًا تَتَقَطَّعُ مِنْ حِرْمَانِهَا لَكِنَّهَا سَكْرَى لِحُبِّ حَيَاتِهَا الدُّنْيَا


Engkau saat ini masih diberi kesempatan. Maka manfaatkanlah waktumu! Tetapkan pada dirimu untuk membaca Al-Qur’an setiap hari. Sediakan waktu untuk dirimu beramal saleh. Bangunlah di akhir malam, meskipun hanya setengah jam sebelum Subuh. Bermunajatlah kepada Rabbmu, berdoalah kepada-Nya. Karena Allah Ta’ala turun ke langit dunia, lalu berfirman, “Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan?” “Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri? Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni?” (HR. Bukhari dan Muslim). Siapakah yang tidak mampu bangun setengah jam sebelum Subuh? Ini perkara yang sangat mudah. Kita memohon kepada Allah agar merahmati kita dengan rahmat-Nya. Mungkin kita belum mampu bangun pada sepertiga atau pertengahan malam. Namun, tidak mungkinkah kita bangun setengah jam saja? Untuk berzikir kepada Allah di waktu itu. Kita berwudu, salat semampu yang Allah mudahkan, lalu menutupnya dengan witir. Saya rasa ini perkara yang sangat mudah. Demikian pula, kita jadikan seluruh hidup kita dipenuhi dengan zikir kepada Allah. Karena seorang mukmin, yang cerdas, adalah orang yang menjadikan seluruh hidupnya sebagai zikir kepada Allah. Sebab, dalam segala sesuatu yang ada di hadapan kita, terdapat tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah.Ia adalah salah satu tanda kekuasaan Allah. Apabila kita menyadari bahwa apa yang ada di hadapan kita termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah, maka hal itu akan mengingatkan kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Kita pun mengingat Allah. Dengan demikian, seseorang akan senantiasa mengingat Allah ‘Azza wa Jalla, melalui tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta yang ia saksikan. Bahkan melalui apa yang ia saksikan pada dirinya sendiri dan keadaannya yang silih berganti. Sekarang, saya bertanya kepada kalian, apakah hati kalian selalu berada dalam keadaan yang sama? Tidak! Terkadang lalai. Terkadang bertaubat kepada Allah. Terkadang ingat kepada Allah. Terkadang dalam keadaan penuh kehidupan. Terkadang hatimu benar-benar hidup, dan kenikmatannya masih engkau rasakan serta kenang dalam waktu yang panjang. Mungkin engkau teringat saat berdiri di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla dalam shalat dan sujudmu, meskipun itu telah berlalu tiga puluh tahun atau lebih, sesuai umur seseorang. Sebab momen itu membekas dalam hatinya. Hal-hal seperti inilah yang seharusnya kita manfaatkan. Kita harus memanfaatkannya dan tidak lalai, karena kelalaian adalah kematian. Kelalaian adalah kerasnya dan matinya hati. Ibnul Qayyim berkata, “Demi Allah, seandainya hati ini masih bersih, niscaya ia akan tercabik-cabik karena sedih akibat terhalang dari kebaikan.” Hati tercabik-cabik karena sedih akibat terhalang dari kebaikan. “Namun, hati ini sedang mabuk oleh cinta kepada kehidupan dunia.” ===== أَنْتَ الْآنَ فِي مُهْلَةٍ اِغْتَنِمِ الْوَقْتَ اجْعَلْ لِنَفْسِكَ حِزْبًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ اجْعَلْ لِنَفْسِكَ وَقْتًا لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ قُمْ فِي آخِرِ اللَّيْلِ وَلَوْ نِصْفَ سَاعَةٍ قَبْلَ الْفَجْرِ نَاجِ رَبَّكَ ادْعُهُ فَإِنَّهُ تَعَالَى يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ مَنِ الَّذِي لَا يَقْدِرُ أَنْ يَقُومَ قَبْلَ الْفَجْرِ بِنِصْفِ سَاعَةٍ أَمْرٌ بَسِيطٌ جِدًّا نَحْنُ نَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَرْحَمَنَا بِرَحْمَتِهِ لَا نَقُومُ فِي ثُلُثِ اللَّيْلِ وَنِصْفِ اللَّيْلِ لَكِنْ أَفَلَا يُمْكِنُ أَنْ نَقُومَ نِصْفَ سَاعَةٍ فَقَطْ نَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا نَتَوَضَّأُ نُصَلِّي مَا شَاءَ اللَّهُ نُوتِرُ هَذَا أَمْرٌ أَظُنُّهُ بَسِيطًا جِدًّا كَذَلِكَ أَيْضًا نَجْعَلُ حَيَاتَنَا كُلَّهَا ذِكْرًا لِلَّهِ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ الْكَيِّسَ هُوَ الَّذِي يَجْعَلُ حَيَاتَهُ كُلَّهَا ذِكْرًا لِلَّهِ لِأَنَّ فِي كُلِّ شَيْءٍ أَمَامَنَا آيَةً مِنْ آيَاتِ اللَّهِ آيَةً مِنْ آيَاتِ اللَّهِ فَإِذَا ذَكَرْنَا هَذَا الشَّيْءَ الَّذِي أَمَامَنَا مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ذَكَرْنَا بِذَلِكَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ ذَكَرْنَا اللَّهَ فَيَكُونُ الْإِنْسَانُ دَائِمًا يَذْكُرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا يُشَاهِدُ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ الْكَوْنِيَّةِ بَلْ بِمَا يُشَاهِدُ مِنْ نَفْسِهِ وَتَقَلُّبَاتِهِ الْقَلْبُ الْآنَ أَنَا أَسْأَلُكُمْ هَلْ قُلُوبُكُمْ عَلَى وَتِيرَةٍ وَاحِدَةٍ دَائِمًا لَا فِي غَفْلَةٍ أَحْيَانًا فِي إِنَابَةٍ أَحْيَانًا فِي تَذَكُّرٍ أَحْيَانًا فِي حَيَاةٍ بَيِّنَةٍ أَحْيَانًا أَحْيَانًا يَحْيَا قَلْبُكَ حَيَاةً تَتَمَتَّعُ بِهَا مُدَّةً مِنَ الزَّمَنِ تَتَذَكَّرُهَا رُبَّمَا تَتَذَكَّرُ حَالَةً وَقَفْتَ فِيهَا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مُصَلِّيًا سَاجِدًا وَلَوْ قَبْلَ ثَلَاثِينَ سَنَةً أَوْ أَكْثَرَ حَسَبَ عُمُرِ الْإِنْسَانِ لِأَنَّهَا أَثَّرَتْ فِي قَلْبِهِ فَمِثْلُ هَذِهِ الْأَشْيَاءِ يَنْبَغِي أَنْ نَسْتَغِلَّهَا يَنْبَغِي أَنْ نَسْتَغِلَّهَا وَأَنْ لَا نَغْفَلَ فَالْغَفْلَةُ مَوْتٌ قَسْوَةٌ لِلْقَلْبِ وَمَوْتٌ لِلْقَلْبِ يَقُولُ وَاللَّهِ لَوْ أَنَّ الْقُلُوبَ سَلِيمَةٌ لَتَقَطَّعَتْ أَسَفًا مِنَ الْحِرْمَانِ حُزْنًا تَتَقَطَّعُ مِنْ حِرْمَانِهَا لَكِنَّهَا سَكْرَى لِحُبِّ حَيَاتِهَا الدُّنْيَا

Setan Si Pemberi Nasihat

Oleh: Dr. Basyuni Nahila Mungkin ada sebagian orang yang heran terhadap setan yang menjadi pemberi nasihat, karena asal kata nasihat mengandung makna-makna ketulusan, kesucian, kejujuran, dan kebaikan. Dan ini menyelisihi tabiat setan dalam kelicikan, permainan, penipuan, dan godaannya. Dari sinilah urgensi artikel ini dalam menyingkap tipu daya setan dan bala tentaranya dalam menipu manusia dan menggiring mereka agar terjerumus ke dalam hal-hal terlarang dan membinasakan, melalui cara menyamar dalam peran-peran licik, menggunakan identitas-identitas palsu, dan menghiasi diri dengan ciri-ciri yang menipu. Kita dapat mencari tahu peran tercela setan ini melalui apa yang tertulis dalam Al-Qur’an Al-Karim tentang aksi pertama setan dalam menggoda bapak manusia, Adam Alaihissalam. Setelah setan mengancam Nabi Adam dan keturunannya dengan godaan dan penyesatan, ia menampakkan diri sebagai pemberi nasihat dan memakai istilah-istilah yang dipakai para pemberi nasihat, demi menjerumuskan Nabi Adam dan istrinya dari kubangan kemaksiatan dan keburukan dosa-dosa.  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua.’” (QS. Al-A‘raf: 21). Inilah momen pertama penggunaan kata nasihat dan turunannya dalam mengawali ucapan atau sebagai penutup dialog, dan ini tidak selalu menjadi tanda kebaikan, ketulusan, dan kebaikan batin, karena pemberi nasihat, rekam jejaknya, isi nasihat dan konteksnya, serta sebab dan tujuannya itulah yang menjadi tolok ukur apakah nasihat itu tulus dan suci, atau justru bersifat setan yang penuh kepura-puraan. Karena berbahayanya nasihat jenis kedua ini dalam mengaburkan kebenaran dan menyesatkan khalayak umum —terlebih lagi di kehidupan zaman modern yang mengalami perkembangan luar biasa dalam media-media sosial dan jenis-jenis media model lama dan baru yang banyak orang berusaha mencapai akal dan hati manusia, terkadang dengan tujuan mengelabuhi dan menghiasi yang buruk dan terkadang untuk mengaburkan dan memalsukan yang baik— maka hadirlah artikel ini untuk meletakkan beberapa kaidah yang dapat membantu membedakan nasihat setan dan mengenali pengaruhnya, bahkan ketika nasihat itu berasal dari manusia, alat, organisasi, komunitas, atau pertemanan. Ucapan yang paling sesuai dalam mencirikan setan yang memberi nasihat juga bala tentaranya adalah apa yang ditulis oleh Ahmad Syauqi dalam menyifati rubah yang suatu hari muncul dengan kostum pemberi nasihat, berpura-pura dengan segala tipu daya dan muslihat hingga mampu mewujudkan tujuan keji dan berhasil mendapat mangsa gemuknya. Di antara yang dikatakan Ahmad Syauqi adalah: بَرَزَ الثَّعْلَبُ يَوْمًا فِي شِعَارِ الْوَاعِظِينَ Suatu hari seekor rubah muncul. Dengan tampilan pakaian para pemberi nasihat. فَمَشَى فِي الْأَرْضِ يَهْذِي وَيَسُبُّ الْمَاكِرِينَ Ia berjalan di muka bumi sambil mengigau. Dan mencela orang-orang yang menipu. وَيَقُولُ الْحَمْدُ لِلْـ هِ إِلَهِ الْعَالَمِينَ Ia berkata: “Segala puji hanya bagi Allah. Tuhan semesta alam. يَا عِبَادَ اللَّهِ تُوبُوا فَهُوَ كَهْفُ التَّائِبِينَ Wahai para hamba Allah, bertaubatlah. Karena Dialah tempat berlindung orang-orang yang bertaubat. Ini juga yang dilakukan oleh Iblis ketika suatu hari muncul dengan tampilan pemberi nasihat dengan tujuan mengelabuhi Adam dan mengeluarkannya dari surga, agar ia menjadi pelaku maksiat dengan berbuat kemaksiatan terbesar dan pertama sepanjang sejarah.  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua.’” (QS. Al-A‘raf: 21). Contoh lainnya juga: godaan yang dimasukkan setan ke dalam hati saudara-saudara Nabi Yusuf Alaihissalam. Mereka menyusun tipu daya mereka dan bertekad untuk membuang saudara mereka, Yusuf ke dalam sumur akibat rasa dengki dari diri mereka. Demi mencapai apa yang mereka inginkan dan mencapai apa yang mereka cita-citakan, mereka menampakkan diri sebagai pemberi nasihat dan mengaku sebagai penjaga yang tulus. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: قَالُوا يَا أَبَانَا مَا لَكَ لَا تَأْمَنَّا عَلَى يُوسُفَ وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ “Mereka berkata: ‘Wahai ayah kami, mengapa engkau tidak mempercayakan Yusuf kepada kami, padahal sungguh kami benar-benar adalah orang-orang yang memberi nasihat kepadanya?’” (QS. Yusuf: 11). Dan yang mengherankan dari dua kisah ini adalah tipu daya setan sebagai pemberi nasihat Adam dan istrinya ini berhasil dan mencapai tujuannya, juga muslihat saudara-saudara Yusuf terhadap Nabi Ya’qub dan Yusuf dapat terlaksana dan mencapai targetnya, meskipun mereka sebagai Nabi-Nabi yang mulia, karena kata ‘penasihat’ dan metode nasihat tidak punya makna lain di dalam kamus para Nabi dan orang-orang saleh selain kehendak kebaikan yang tulus ikhlas, tapi pada hakikatnya terkadang menjadi racun mematikan, keburukan yang mengintai, dan kehancuran yang besar. Nasihat-nasihat setan dan bala tentaranya selalu memiliki ciri khas yang terkadang dapat dikenali dari ucapan manis, dan terkadang melalui silat lidah. Berikut ini kami sebutkan beberapa ciri khas tersebut, agar orang-orang yang punya niat baik dari golongan orang-orang yang baik, tulus, dan jujur selalu waspada dari jeratan muslihatnya dalam berbagai bentuk dan istilahnya: 1. Kedustaan yang terencana Setan pemberi nasihat dan bala tentaranya menyadari sepenuhnya hakikat keburukan dalam diri mereka, sehingga mereka berusaha membersihkan situasi di sekeliling mereka dari racun mereka. Itu mereka lakukan dengan cara mengulang-ulang penggunaan kata penegas yang berlapis, seperti dengan sumpah, dan huruf Nun dan Lam taukid (huruf yang digunakan sebagai penegas dalam bahasa Arab), seperti yang ada dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua.’” (QS. Al-A‘raf: 21). Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang ucapan saudara-saudara Yusuf:  وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ “Padahal sungguh kami benar-benar adalah orang-orang yang memberi nasihat kepadanya?” (QS. Yusuf: 11). 2. Membangun nasihatnya dengan kata-kata yang menyilaukan Juga dengan istilah-istilah yang menggiurkan, janji-janji yang melenakan, dan tawaran-tawaran yang menggoda. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَدَلَّاهُمَا بِغُرُورٍ “Maka ia (setan) menjerumuskan keduanya dengan tipu daya.” (QS. Al-A’raf: 22). Demikian juga dengan saudara-saudara Nabi Yusuf ketika mengemukakan nasihat mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang ucapan mereka: أَرْسِلْهُ مَعَنَا غَدًا يَرْتَعْ وَيَلْعَبْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ “Kirimlah dia (Yusuf) bersama kami besok agar ia bersenang-senang dan bermain, dan sesungguhnya kami benar-benar akan menjaganya.” (QS. Yusuf: 12). 3. Tipu daya terencana dan bujukan yang tersusun rapi Nasihat setan dan bala tentaranya tidak mengandung spontanitas dan keluguan, karena mereka menyampaikan nasihat dengan langkah-langkah yang terencana dan peran-peran yang telah tersusun. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ أَجْمَعُوا أَمْرَهُمْ وَهُمْ يَمْكُرُونَ “Dan engkau tidak berada bersama mereka ketika mereka merencanakan tipu daya mereka, sedangkan mereka sedang bersekongkol.” (QS. Yusuf: 102). Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang setan: قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ “Iblis berkata: ‘Demi kemuliaan-Mu, sungguh aku akan menyesatkan mereka semuanya.’” (QS. Shad: 82). Ini merupakan makar yang telah disusun siang dan malam, dan direncanakan secara sembunyi-sembunyi dan rahasia. 4. Mereka tidak dikenal sebagai pemberi nasihat kecuali melalui klaim mereka Dan mereka dikenal demikian oleh orang-orang yang lemah imannya, dan dangkal ilmu serta pengalamannya. Sedangkan bagi orang-orang beriman yang tulus keimanannya dan orang-orang yang punya pemahaman yang lurus, maka setan dan bala tentaranya hanyalah tukang tipu daya dan musuh yang hakiki. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَذَا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوْجِكَ “Maka Kami berfirman: ‘Wahai Adam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka jangan sampai ia mengeluarkan kalian berdua dari surga, sehingga engkau menjadi sengsara.’” (QS. Thaha: 117). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman tentang penyifatan Nabi Yusuf terhadap saudara-saudaranya ketika berjumpa dengan mereka: قَالَ أَنْتُمْ شَرٌّ مَكَانًا وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا تَصِفُونَ “Ia (Yusuf) berkata: ‘Kalian lebih buruk kedudukannya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian katakan.’” (QS. Yusuf: 77). 5. Terungkapnya hakikat mereka, hancurnya reputasi mereka, dan lenyapnya pengaruh mereka Hal ini sebagaimana yang terjadi pada saudara-saudara Nabi Yusuf yang pada awal cerita mereka menyatakan diri sebagai pemberi nasihat bagi Yusuf, tapi tidak berselang lama semua berubah, kisah ini tidak berakhir hingga mereka mengumumkan bahwa dulu mereka telah berbuat salah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: قَالُوا تَاللَّهِ لَقَدْ آثَرَكَ اللَّهُ عَلَيْنَا وَإِنْ كُنَّا لَخَاطِئِينَ “Mereka berkata: ‘Demi Allah, sungguh Allah telah melebihkan engkau atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.’” (QS. Yusuf: 91). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ “Mereka berkata: ‘Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.’” (QS. Yusuf: 97).  Demikian juga yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sampaikan kepada Nabi Adam tentang hakikat nasihat setan kepadanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ “Dan Tuhan mereka menyeru keduanya: ‘Bukankah Aku telah melarang kalian berdua dari pohon itu dan Aku telah mengatakan kepada kalian bahwa setan adalah musuh yang nyata bagi kalian berdua?’” (QS. Al-A’raf: 22). Tujuan Al-Qur’an Al-Karim memaparkan beberapa contoh nasihat-nasihat setan untuk melindungi umat dari terjerumus menjadi mangsa dalam tipu daya dan rekayasa mereka, atau menjadi korban dari kalimat-kalimat kosong dan ungkapan-ungkapan tipuan yang mengintai orang-orang yang lemah hati, terombang-ambing dalam gelapnya kebodohan dan fitnah godaan, dan mabuk dalam kenikmatan dan syahwat. Tidak ada yang dapat melindungi dari itu semua kecuali dengan kembalinya hati kepada penghayatan ayat-ayat ilahi, kesadaran akal dengan merenungi hikmah-hikmah Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ “Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (QS. Shad: 29). Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/122756/الشيطان-الناصح/ Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 161 times, 1 visit(s) today Post Views: 101

Setan Si Pemberi Nasihat

Oleh: Dr. Basyuni Nahila Mungkin ada sebagian orang yang heran terhadap setan yang menjadi pemberi nasihat, karena asal kata nasihat mengandung makna-makna ketulusan, kesucian, kejujuran, dan kebaikan. Dan ini menyelisihi tabiat setan dalam kelicikan, permainan, penipuan, dan godaannya. Dari sinilah urgensi artikel ini dalam menyingkap tipu daya setan dan bala tentaranya dalam menipu manusia dan menggiring mereka agar terjerumus ke dalam hal-hal terlarang dan membinasakan, melalui cara menyamar dalam peran-peran licik, menggunakan identitas-identitas palsu, dan menghiasi diri dengan ciri-ciri yang menipu. Kita dapat mencari tahu peran tercela setan ini melalui apa yang tertulis dalam Al-Qur’an Al-Karim tentang aksi pertama setan dalam menggoda bapak manusia, Adam Alaihissalam. Setelah setan mengancam Nabi Adam dan keturunannya dengan godaan dan penyesatan, ia menampakkan diri sebagai pemberi nasihat dan memakai istilah-istilah yang dipakai para pemberi nasihat, demi menjerumuskan Nabi Adam dan istrinya dari kubangan kemaksiatan dan keburukan dosa-dosa.  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua.’” (QS. Al-A‘raf: 21). Inilah momen pertama penggunaan kata nasihat dan turunannya dalam mengawali ucapan atau sebagai penutup dialog, dan ini tidak selalu menjadi tanda kebaikan, ketulusan, dan kebaikan batin, karena pemberi nasihat, rekam jejaknya, isi nasihat dan konteksnya, serta sebab dan tujuannya itulah yang menjadi tolok ukur apakah nasihat itu tulus dan suci, atau justru bersifat setan yang penuh kepura-puraan. Karena berbahayanya nasihat jenis kedua ini dalam mengaburkan kebenaran dan menyesatkan khalayak umum —terlebih lagi di kehidupan zaman modern yang mengalami perkembangan luar biasa dalam media-media sosial dan jenis-jenis media model lama dan baru yang banyak orang berusaha mencapai akal dan hati manusia, terkadang dengan tujuan mengelabuhi dan menghiasi yang buruk dan terkadang untuk mengaburkan dan memalsukan yang baik— maka hadirlah artikel ini untuk meletakkan beberapa kaidah yang dapat membantu membedakan nasihat setan dan mengenali pengaruhnya, bahkan ketika nasihat itu berasal dari manusia, alat, organisasi, komunitas, atau pertemanan. Ucapan yang paling sesuai dalam mencirikan setan yang memberi nasihat juga bala tentaranya adalah apa yang ditulis oleh Ahmad Syauqi dalam menyifati rubah yang suatu hari muncul dengan kostum pemberi nasihat, berpura-pura dengan segala tipu daya dan muslihat hingga mampu mewujudkan tujuan keji dan berhasil mendapat mangsa gemuknya. Di antara yang dikatakan Ahmad Syauqi adalah: بَرَزَ الثَّعْلَبُ يَوْمًا فِي شِعَارِ الْوَاعِظِينَ Suatu hari seekor rubah muncul. Dengan tampilan pakaian para pemberi nasihat. فَمَشَى فِي الْأَرْضِ يَهْذِي وَيَسُبُّ الْمَاكِرِينَ Ia berjalan di muka bumi sambil mengigau. Dan mencela orang-orang yang menipu. وَيَقُولُ الْحَمْدُ لِلْـ هِ إِلَهِ الْعَالَمِينَ Ia berkata: “Segala puji hanya bagi Allah. Tuhan semesta alam. يَا عِبَادَ اللَّهِ تُوبُوا فَهُوَ كَهْفُ التَّائِبِينَ Wahai para hamba Allah, bertaubatlah. Karena Dialah tempat berlindung orang-orang yang bertaubat. Ini juga yang dilakukan oleh Iblis ketika suatu hari muncul dengan tampilan pemberi nasihat dengan tujuan mengelabuhi Adam dan mengeluarkannya dari surga, agar ia menjadi pelaku maksiat dengan berbuat kemaksiatan terbesar dan pertama sepanjang sejarah.  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua.’” (QS. Al-A‘raf: 21). Contoh lainnya juga: godaan yang dimasukkan setan ke dalam hati saudara-saudara Nabi Yusuf Alaihissalam. Mereka menyusun tipu daya mereka dan bertekad untuk membuang saudara mereka, Yusuf ke dalam sumur akibat rasa dengki dari diri mereka. Demi mencapai apa yang mereka inginkan dan mencapai apa yang mereka cita-citakan, mereka menampakkan diri sebagai pemberi nasihat dan mengaku sebagai penjaga yang tulus. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: قَالُوا يَا أَبَانَا مَا لَكَ لَا تَأْمَنَّا عَلَى يُوسُفَ وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ “Mereka berkata: ‘Wahai ayah kami, mengapa engkau tidak mempercayakan Yusuf kepada kami, padahal sungguh kami benar-benar adalah orang-orang yang memberi nasihat kepadanya?’” (QS. Yusuf: 11). Dan yang mengherankan dari dua kisah ini adalah tipu daya setan sebagai pemberi nasihat Adam dan istrinya ini berhasil dan mencapai tujuannya, juga muslihat saudara-saudara Yusuf terhadap Nabi Ya’qub dan Yusuf dapat terlaksana dan mencapai targetnya, meskipun mereka sebagai Nabi-Nabi yang mulia, karena kata ‘penasihat’ dan metode nasihat tidak punya makna lain di dalam kamus para Nabi dan orang-orang saleh selain kehendak kebaikan yang tulus ikhlas, tapi pada hakikatnya terkadang menjadi racun mematikan, keburukan yang mengintai, dan kehancuran yang besar. Nasihat-nasihat setan dan bala tentaranya selalu memiliki ciri khas yang terkadang dapat dikenali dari ucapan manis, dan terkadang melalui silat lidah. Berikut ini kami sebutkan beberapa ciri khas tersebut, agar orang-orang yang punya niat baik dari golongan orang-orang yang baik, tulus, dan jujur selalu waspada dari jeratan muslihatnya dalam berbagai bentuk dan istilahnya: 1. Kedustaan yang terencana Setan pemberi nasihat dan bala tentaranya menyadari sepenuhnya hakikat keburukan dalam diri mereka, sehingga mereka berusaha membersihkan situasi di sekeliling mereka dari racun mereka. Itu mereka lakukan dengan cara mengulang-ulang penggunaan kata penegas yang berlapis, seperti dengan sumpah, dan huruf Nun dan Lam taukid (huruf yang digunakan sebagai penegas dalam bahasa Arab), seperti yang ada dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua.’” (QS. Al-A‘raf: 21). Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang ucapan saudara-saudara Yusuf:  وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ “Padahal sungguh kami benar-benar adalah orang-orang yang memberi nasihat kepadanya?” (QS. Yusuf: 11). 2. Membangun nasihatnya dengan kata-kata yang menyilaukan Juga dengan istilah-istilah yang menggiurkan, janji-janji yang melenakan, dan tawaran-tawaran yang menggoda. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَدَلَّاهُمَا بِغُرُورٍ “Maka ia (setan) menjerumuskan keduanya dengan tipu daya.” (QS. Al-A’raf: 22). Demikian juga dengan saudara-saudara Nabi Yusuf ketika mengemukakan nasihat mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang ucapan mereka: أَرْسِلْهُ مَعَنَا غَدًا يَرْتَعْ وَيَلْعَبْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ “Kirimlah dia (Yusuf) bersama kami besok agar ia bersenang-senang dan bermain, dan sesungguhnya kami benar-benar akan menjaganya.” (QS. Yusuf: 12). 3. Tipu daya terencana dan bujukan yang tersusun rapi Nasihat setan dan bala tentaranya tidak mengandung spontanitas dan keluguan, karena mereka menyampaikan nasihat dengan langkah-langkah yang terencana dan peran-peran yang telah tersusun. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ أَجْمَعُوا أَمْرَهُمْ وَهُمْ يَمْكُرُونَ “Dan engkau tidak berada bersama mereka ketika mereka merencanakan tipu daya mereka, sedangkan mereka sedang bersekongkol.” (QS. Yusuf: 102). Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang setan: قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ “Iblis berkata: ‘Demi kemuliaan-Mu, sungguh aku akan menyesatkan mereka semuanya.’” (QS. Shad: 82). Ini merupakan makar yang telah disusun siang dan malam, dan direncanakan secara sembunyi-sembunyi dan rahasia. 4. Mereka tidak dikenal sebagai pemberi nasihat kecuali melalui klaim mereka Dan mereka dikenal demikian oleh orang-orang yang lemah imannya, dan dangkal ilmu serta pengalamannya. Sedangkan bagi orang-orang beriman yang tulus keimanannya dan orang-orang yang punya pemahaman yang lurus, maka setan dan bala tentaranya hanyalah tukang tipu daya dan musuh yang hakiki. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَذَا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوْجِكَ “Maka Kami berfirman: ‘Wahai Adam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka jangan sampai ia mengeluarkan kalian berdua dari surga, sehingga engkau menjadi sengsara.’” (QS. Thaha: 117). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman tentang penyifatan Nabi Yusuf terhadap saudara-saudaranya ketika berjumpa dengan mereka: قَالَ أَنْتُمْ شَرٌّ مَكَانًا وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا تَصِفُونَ “Ia (Yusuf) berkata: ‘Kalian lebih buruk kedudukannya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian katakan.’” (QS. Yusuf: 77). 5. Terungkapnya hakikat mereka, hancurnya reputasi mereka, dan lenyapnya pengaruh mereka Hal ini sebagaimana yang terjadi pada saudara-saudara Nabi Yusuf yang pada awal cerita mereka menyatakan diri sebagai pemberi nasihat bagi Yusuf, tapi tidak berselang lama semua berubah, kisah ini tidak berakhir hingga mereka mengumumkan bahwa dulu mereka telah berbuat salah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: قَالُوا تَاللَّهِ لَقَدْ آثَرَكَ اللَّهُ عَلَيْنَا وَإِنْ كُنَّا لَخَاطِئِينَ “Mereka berkata: ‘Demi Allah, sungguh Allah telah melebihkan engkau atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.’” (QS. Yusuf: 91). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ “Mereka berkata: ‘Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.’” (QS. Yusuf: 97).  Demikian juga yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sampaikan kepada Nabi Adam tentang hakikat nasihat setan kepadanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ “Dan Tuhan mereka menyeru keduanya: ‘Bukankah Aku telah melarang kalian berdua dari pohon itu dan Aku telah mengatakan kepada kalian bahwa setan adalah musuh yang nyata bagi kalian berdua?’” (QS. Al-A’raf: 22). Tujuan Al-Qur’an Al-Karim memaparkan beberapa contoh nasihat-nasihat setan untuk melindungi umat dari terjerumus menjadi mangsa dalam tipu daya dan rekayasa mereka, atau menjadi korban dari kalimat-kalimat kosong dan ungkapan-ungkapan tipuan yang mengintai orang-orang yang lemah hati, terombang-ambing dalam gelapnya kebodohan dan fitnah godaan, dan mabuk dalam kenikmatan dan syahwat. Tidak ada yang dapat melindungi dari itu semua kecuali dengan kembalinya hati kepada penghayatan ayat-ayat ilahi, kesadaran akal dengan merenungi hikmah-hikmah Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ “Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (QS. Shad: 29). Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/122756/الشيطان-الناصح/ Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 161 times, 1 visit(s) today Post Views: 101
Oleh: Dr. Basyuni Nahila Mungkin ada sebagian orang yang heran terhadap setan yang menjadi pemberi nasihat, karena asal kata nasihat mengandung makna-makna ketulusan, kesucian, kejujuran, dan kebaikan. Dan ini menyelisihi tabiat setan dalam kelicikan, permainan, penipuan, dan godaannya. Dari sinilah urgensi artikel ini dalam menyingkap tipu daya setan dan bala tentaranya dalam menipu manusia dan menggiring mereka agar terjerumus ke dalam hal-hal terlarang dan membinasakan, melalui cara menyamar dalam peran-peran licik, menggunakan identitas-identitas palsu, dan menghiasi diri dengan ciri-ciri yang menipu. Kita dapat mencari tahu peran tercela setan ini melalui apa yang tertulis dalam Al-Qur’an Al-Karim tentang aksi pertama setan dalam menggoda bapak manusia, Adam Alaihissalam. Setelah setan mengancam Nabi Adam dan keturunannya dengan godaan dan penyesatan, ia menampakkan diri sebagai pemberi nasihat dan memakai istilah-istilah yang dipakai para pemberi nasihat, demi menjerumuskan Nabi Adam dan istrinya dari kubangan kemaksiatan dan keburukan dosa-dosa.  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua.’” (QS. Al-A‘raf: 21). Inilah momen pertama penggunaan kata nasihat dan turunannya dalam mengawali ucapan atau sebagai penutup dialog, dan ini tidak selalu menjadi tanda kebaikan, ketulusan, dan kebaikan batin, karena pemberi nasihat, rekam jejaknya, isi nasihat dan konteksnya, serta sebab dan tujuannya itulah yang menjadi tolok ukur apakah nasihat itu tulus dan suci, atau justru bersifat setan yang penuh kepura-puraan. Karena berbahayanya nasihat jenis kedua ini dalam mengaburkan kebenaran dan menyesatkan khalayak umum —terlebih lagi di kehidupan zaman modern yang mengalami perkembangan luar biasa dalam media-media sosial dan jenis-jenis media model lama dan baru yang banyak orang berusaha mencapai akal dan hati manusia, terkadang dengan tujuan mengelabuhi dan menghiasi yang buruk dan terkadang untuk mengaburkan dan memalsukan yang baik— maka hadirlah artikel ini untuk meletakkan beberapa kaidah yang dapat membantu membedakan nasihat setan dan mengenali pengaruhnya, bahkan ketika nasihat itu berasal dari manusia, alat, organisasi, komunitas, atau pertemanan. Ucapan yang paling sesuai dalam mencirikan setan yang memberi nasihat juga bala tentaranya adalah apa yang ditulis oleh Ahmad Syauqi dalam menyifati rubah yang suatu hari muncul dengan kostum pemberi nasihat, berpura-pura dengan segala tipu daya dan muslihat hingga mampu mewujudkan tujuan keji dan berhasil mendapat mangsa gemuknya. Di antara yang dikatakan Ahmad Syauqi adalah: بَرَزَ الثَّعْلَبُ يَوْمًا فِي شِعَارِ الْوَاعِظِينَ Suatu hari seekor rubah muncul. Dengan tampilan pakaian para pemberi nasihat. فَمَشَى فِي الْأَرْضِ يَهْذِي وَيَسُبُّ الْمَاكِرِينَ Ia berjalan di muka bumi sambil mengigau. Dan mencela orang-orang yang menipu. وَيَقُولُ الْحَمْدُ لِلْـ هِ إِلَهِ الْعَالَمِينَ Ia berkata: “Segala puji hanya bagi Allah. Tuhan semesta alam. يَا عِبَادَ اللَّهِ تُوبُوا فَهُوَ كَهْفُ التَّائِبِينَ Wahai para hamba Allah, bertaubatlah. Karena Dialah tempat berlindung orang-orang yang bertaubat. Ini juga yang dilakukan oleh Iblis ketika suatu hari muncul dengan tampilan pemberi nasihat dengan tujuan mengelabuhi Adam dan mengeluarkannya dari surga, agar ia menjadi pelaku maksiat dengan berbuat kemaksiatan terbesar dan pertama sepanjang sejarah.  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua.’” (QS. Al-A‘raf: 21). Contoh lainnya juga: godaan yang dimasukkan setan ke dalam hati saudara-saudara Nabi Yusuf Alaihissalam. Mereka menyusun tipu daya mereka dan bertekad untuk membuang saudara mereka, Yusuf ke dalam sumur akibat rasa dengki dari diri mereka. Demi mencapai apa yang mereka inginkan dan mencapai apa yang mereka cita-citakan, mereka menampakkan diri sebagai pemberi nasihat dan mengaku sebagai penjaga yang tulus. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: قَالُوا يَا أَبَانَا مَا لَكَ لَا تَأْمَنَّا عَلَى يُوسُفَ وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ “Mereka berkata: ‘Wahai ayah kami, mengapa engkau tidak mempercayakan Yusuf kepada kami, padahal sungguh kami benar-benar adalah orang-orang yang memberi nasihat kepadanya?’” (QS. Yusuf: 11). Dan yang mengherankan dari dua kisah ini adalah tipu daya setan sebagai pemberi nasihat Adam dan istrinya ini berhasil dan mencapai tujuannya, juga muslihat saudara-saudara Yusuf terhadap Nabi Ya’qub dan Yusuf dapat terlaksana dan mencapai targetnya, meskipun mereka sebagai Nabi-Nabi yang mulia, karena kata ‘penasihat’ dan metode nasihat tidak punya makna lain di dalam kamus para Nabi dan orang-orang saleh selain kehendak kebaikan yang tulus ikhlas, tapi pada hakikatnya terkadang menjadi racun mematikan, keburukan yang mengintai, dan kehancuran yang besar. Nasihat-nasihat setan dan bala tentaranya selalu memiliki ciri khas yang terkadang dapat dikenali dari ucapan manis, dan terkadang melalui silat lidah. Berikut ini kami sebutkan beberapa ciri khas tersebut, agar orang-orang yang punya niat baik dari golongan orang-orang yang baik, tulus, dan jujur selalu waspada dari jeratan muslihatnya dalam berbagai bentuk dan istilahnya: 1. Kedustaan yang terencana Setan pemberi nasihat dan bala tentaranya menyadari sepenuhnya hakikat keburukan dalam diri mereka, sehingga mereka berusaha membersihkan situasi di sekeliling mereka dari racun mereka. Itu mereka lakukan dengan cara mengulang-ulang penggunaan kata penegas yang berlapis, seperti dengan sumpah, dan huruf Nun dan Lam taukid (huruf yang digunakan sebagai penegas dalam bahasa Arab), seperti yang ada dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua.’” (QS. Al-A‘raf: 21). Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang ucapan saudara-saudara Yusuf:  وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ “Padahal sungguh kami benar-benar adalah orang-orang yang memberi nasihat kepadanya?” (QS. Yusuf: 11). 2. Membangun nasihatnya dengan kata-kata yang menyilaukan Juga dengan istilah-istilah yang menggiurkan, janji-janji yang melenakan, dan tawaran-tawaran yang menggoda. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَدَلَّاهُمَا بِغُرُورٍ “Maka ia (setan) menjerumuskan keduanya dengan tipu daya.” (QS. Al-A’raf: 22). Demikian juga dengan saudara-saudara Nabi Yusuf ketika mengemukakan nasihat mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang ucapan mereka: أَرْسِلْهُ مَعَنَا غَدًا يَرْتَعْ وَيَلْعَبْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ “Kirimlah dia (Yusuf) bersama kami besok agar ia bersenang-senang dan bermain, dan sesungguhnya kami benar-benar akan menjaganya.” (QS. Yusuf: 12). 3. Tipu daya terencana dan bujukan yang tersusun rapi Nasihat setan dan bala tentaranya tidak mengandung spontanitas dan keluguan, karena mereka menyampaikan nasihat dengan langkah-langkah yang terencana dan peran-peran yang telah tersusun. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ أَجْمَعُوا أَمْرَهُمْ وَهُمْ يَمْكُرُونَ “Dan engkau tidak berada bersama mereka ketika mereka merencanakan tipu daya mereka, sedangkan mereka sedang bersekongkol.” (QS. Yusuf: 102). Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang setan: قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ “Iblis berkata: ‘Demi kemuliaan-Mu, sungguh aku akan menyesatkan mereka semuanya.’” (QS. Shad: 82). Ini merupakan makar yang telah disusun siang dan malam, dan direncanakan secara sembunyi-sembunyi dan rahasia. 4. Mereka tidak dikenal sebagai pemberi nasihat kecuali melalui klaim mereka Dan mereka dikenal demikian oleh orang-orang yang lemah imannya, dan dangkal ilmu serta pengalamannya. Sedangkan bagi orang-orang beriman yang tulus keimanannya dan orang-orang yang punya pemahaman yang lurus, maka setan dan bala tentaranya hanyalah tukang tipu daya dan musuh yang hakiki. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَذَا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوْجِكَ “Maka Kami berfirman: ‘Wahai Adam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka jangan sampai ia mengeluarkan kalian berdua dari surga, sehingga engkau menjadi sengsara.’” (QS. Thaha: 117). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman tentang penyifatan Nabi Yusuf terhadap saudara-saudaranya ketika berjumpa dengan mereka: قَالَ أَنْتُمْ شَرٌّ مَكَانًا وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا تَصِفُونَ “Ia (Yusuf) berkata: ‘Kalian lebih buruk kedudukannya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian katakan.’” (QS. Yusuf: 77). 5. Terungkapnya hakikat mereka, hancurnya reputasi mereka, dan lenyapnya pengaruh mereka Hal ini sebagaimana yang terjadi pada saudara-saudara Nabi Yusuf yang pada awal cerita mereka menyatakan diri sebagai pemberi nasihat bagi Yusuf, tapi tidak berselang lama semua berubah, kisah ini tidak berakhir hingga mereka mengumumkan bahwa dulu mereka telah berbuat salah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: قَالُوا تَاللَّهِ لَقَدْ آثَرَكَ اللَّهُ عَلَيْنَا وَإِنْ كُنَّا لَخَاطِئِينَ “Mereka berkata: ‘Demi Allah, sungguh Allah telah melebihkan engkau atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.’” (QS. Yusuf: 91). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ “Mereka berkata: ‘Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.’” (QS. Yusuf: 97).  Demikian juga yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sampaikan kepada Nabi Adam tentang hakikat nasihat setan kepadanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ “Dan Tuhan mereka menyeru keduanya: ‘Bukankah Aku telah melarang kalian berdua dari pohon itu dan Aku telah mengatakan kepada kalian bahwa setan adalah musuh yang nyata bagi kalian berdua?’” (QS. Al-A’raf: 22). Tujuan Al-Qur’an Al-Karim memaparkan beberapa contoh nasihat-nasihat setan untuk melindungi umat dari terjerumus menjadi mangsa dalam tipu daya dan rekayasa mereka, atau menjadi korban dari kalimat-kalimat kosong dan ungkapan-ungkapan tipuan yang mengintai orang-orang yang lemah hati, terombang-ambing dalam gelapnya kebodohan dan fitnah godaan, dan mabuk dalam kenikmatan dan syahwat. Tidak ada yang dapat melindungi dari itu semua kecuali dengan kembalinya hati kepada penghayatan ayat-ayat ilahi, kesadaran akal dengan merenungi hikmah-hikmah Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ “Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (QS. Shad: 29). Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/122756/الشيطان-الناصح/ Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 161 times, 1 visit(s) today Post Views: 101


Oleh: Dr. Basyuni Nahila Mungkin ada sebagian orang yang heran terhadap setan yang menjadi pemberi nasihat, karena asal kata nasihat mengandung makna-makna ketulusan, kesucian, kejujuran, dan kebaikan. Dan ini menyelisihi tabiat setan dalam kelicikan, permainan, penipuan, dan godaannya. Dari sinilah urgensi artikel ini dalam menyingkap tipu daya setan dan bala tentaranya dalam menipu manusia dan menggiring mereka agar terjerumus ke dalam hal-hal terlarang dan membinasakan, melalui cara menyamar dalam peran-peran licik, menggunakan identitas-identitas palsu, dan menghiasi diri dengan ciri-ciri yang menipu. Kita dapat mencari tahu peran tercela setan ini melalui apa yang tertulis dalam Al-Qur’an Al-Karim tentang aksi pertama setan dalam menggoda bapak manusia, Adam Alaihissalam. Setelah setan mengancam Nabi Adam dan keturunannya dengan godaan dan penyesatan, ia menampakkan diri sebagai pemberi nasihat dan memakai istilah-istilah yang dipakai para pemberi nasihat, demi menjerumuskan Nabi Adam dan istrinya dari kubangan kemaksiatan dan keburukan dosa-dosa.  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua.’” (QS. Al-A‘raf: 21). Inilah momen pertama penggunaan kata nasihat dan turunannya dalam mengawali ucapan atau sebagai penutup dialog, dan ini tidak selalu menjadi tanda kebaikan, ketulusan, dan kebaikan batin, karena pemberi nasihat, rekam jejaknya, isi nasihat dan konteksnya, serta sebab dan tujuannya itulah yang menjadi tolok ukur apakah nasihat itu tulus dan suci, atau justru bersifat setan yang penuh kepura-puraan. Karena berbahayanya nasihat jenis kedua ini dalam mengaburkan kebenaran dan menyesatkan khalayak umum —terlebih lagi di kehidupan zaman modern yang mengalami perkembangan luar biasa dalam media-media sosial dan jenis-jenis media model lama dan baru yang banyak orang berusaha mencapai akal dan hati manusia, terkadang dengan tujuan mengelabuhi dan menghiasi yang buruk dan terkadang untuk mengaburkan dan memalsukan yang baik— maka hadirlah artikel ini untuk meletakkan beberapa kaidah yang dapat membantu membedakan nasihat setan dan mengenali pengaruhnya, bahkan ketika nasihat itu berasal dari manusia, alat, organisasi, komunitas, atau pertemanan. Ucapan yang paling sesuai dalam mencirikan setan yang memberi nasihat juga bala tentaranya adalah apa yang ditulis oleh Ahmad Syauqi dalam menyifati rubah yang suatu hari muncul dengan kostum pemberi nasihat, berpura-pura dengan segala tipu daya dan muslihat hingga mampu mewujudkan tujuan keji dan berhasil mendapat mangsa gemuknya. Di antara yang dikatakan Ahmad Syauqi adalah: بَرَزَ الثَّعْلَبُ يَوْمًا فِي شِعَارِ الْوَاعِظِينَ Suatu hari seekor rubah muncul. Dengan tampilan pakaian para pemberi nasihat. فَمَشَى فِي الْأَرْضِ يَهْذِي وَيَسُبُّ الْمَاكِرِينَ Ia berjalan di muka bumi sambil mengigau. Dan mencela orang-orang yang menipu. وَيَقُولُ الْحَمْدُ لِلْـ هِ إِلَهِ الْعَالَمِينَ Ia berkata: “Segala puji hanya bagi Allah. Tuhan semesta alam. يَا عِبَادَ اللَّهِ تُوبُوا فَهُوَ كَهْفُ التَّائِبِينَ Wahai para hamba Allah, bertaubatlah. Karena Dialah tempat berlindung orang-orang yang bertaubat. Ini juga yang dilakukan oleh Iblis ketika suatu hari muncul dengan tampilan pemberi nasihat dengan tujuan mengelabuhi Adam dan mengeluarkannya dari surga, agar ia menjadi pelaku maksiat dengan berbuat kemaksiatan terbesar dan pertama sepanjang sejarah.  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua.’” (QS. Al-A‘raf: 21). Contoh lainnya juga: godaan yang dimasukkan setan ke dalam hati saudara-saudara Nabi Yusuf Alaihissalam. Mereka menyusun tipu daya mereka dan bertekad untuk membuang saudara mereka, Yusuf ke dalam sumur akibat rasa dengki dari diri mereka. Demi mencapai apa yang mereka inginkan dan mencapai apa yang mereka cita-citakan, mereka menampakkan diri sebagai pemberi nasihat dan mengaku sebagai penjaga yang tulus. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: قَالُوا يَا أَبَانَا مَا لَكَ لَا تَأْمَنَّا عَلَى يُوسُفَ وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ “Mereka berkata: ‘Wahai ayah kami, mengapa engkau tidak mempercayakan Yusuf kepada kami, padahal sungguh kami benar-benar adalah orang-orang yang memberi nasihat kepadanya?’” (QS. Yusuf: 11). Dan yang mengherankan dari dua kisah ini adalah tipu daya setan sebagai pemberi nasihat Adam dan istrinya ini berhasil dan mencapai tujuannya, juga muslihat saudara-saudara Yusuf terhadap Nabi Ya’qub dan Yusuf dapat terlaksana dan mencapai targetnya, meskipun mereka sebagai Nabi-Nabi yang mulia, karena kata ‘penasihat’ dan metode nasihat tidak punya makna lain di dalam kamus para Nabi dan orang-orang saleh selain kehendak kebaikan yang tulus ikhlas, tapi pada hakikatnya terkadang menjadi racun mematikan, keburukan yang mengintai, dan kehancuran yang besar. Nasihat-nasihat setan dan bala tentaranya selalu memiliki ciri khas yang terkadang dapat dikenali dari ucapan manis, dan terkadang melalui silat lidah. Berikut ini kami sebutkan beberapa ciri khas tersebut, agar orang-orang yang punya niat baik dari golongan orang-orang yang baik, tulus, dan jujur selalu waspada dari jeratan muslihatnya dalam berbagai bentuk dan istilahnya: 1. Kedustaan yang terencana Setan pemberi nasihat dan bala tentaranya menyadari sepenuhnya hakikat keburukan dalam diri mereka, sehingga mereka berusaha membersihkan situasi di sekeliling mereka dari racun mereka. Itu mereka lakukan dengan cara mengulang-ulang penggunaan kata penegas yang berlapis, seperti dengan sumpah, dan huruf Nun dan Lam taukid (huruf yang digunakan sebagai penegas dalam bahasa Arab), seperti yang ada dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua.’” (QS. Al-A‘raf: 21). Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang ucapan saudara-saudara Yusuf:  وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ “Padahal sungguh kami benar-benar adalah orang-orang yang memberi nasihat kepadanya?” (QS. Yusuf: 11). 2. Membangun nasihatnya dengan kata-kata yang menyilaukan Juga dengan istilah-istilah yang menggiurkan, janji-janji yang melenakan, dan tawaran-tawaran yang menggoda. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَدَلَّاهُمَا بِغُرُورٍ “Maka ia (setan) menjerumuskan keduanya dengan tipu daya.” (QS. Al-A’raf: 22). Demikian juga dengan saudara-saudara Nabi Yusuf ketika mengemukakan nasihat mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang ucapan mereka: أَرْسِلْهُ مَعَنَا غَدًا يَرْتَعْ وَيَلْعَبْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ “Kirimlah dia (Yusuf) bersama kami besok agar ia bersenang-senang dan bermain, dan sesungguhnya kami benar-benar akan menjaganya.” (QS. Yusuf: 12). 3. Tipu daya terencana dan bujukan yang tersusun rapi Nasihat setan dan bala tentaranya tidak mengandung spontanitas dan keluguan, karena mereka menyampaikan nasihat dengan langkah-langkah yang terencana dan peran-peran yang telah tersusun. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ أَجْمَعُوا أَمْرَهُمْ وَهُمْ يَمْكُرُونَ “Dan engkau tidak berada bersama mereka ketika mereka merencanakan tipu daya mereka, sedangkan mereka sedang bersekongkol.” (QS. Yusuf: 102). Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang setan: قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ “Iblis berkata: ‘Demi kemuliaan-Mu, sungguh aku akan menyesatkan mereka semuanya.’” (QS. Shad: 82). Ini merupakan makar yang telah disusun siang dan malam, dan direncanakan secara sembunyi-sembunyi dan rahasia. 4. Mereka tidak dikenal sebagai pemberi nasihat kecuali melalui klaim mereka Dan mereka dikenal demikian oleh orang-orang yang lemah imannya, dan dangkal ilmu serta pengalamannya. Sedangkan bagi orang-orang beriman yang tulus keimanannya dan orang-orang yang punya pemahaman yang lurus, maka setan dan bala tentaranya hanyalah tukang tipu daya dan musuh yang hakiki. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَذَا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوْجِكَ “Maka Kami berfirman: ‘Wahai Adam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka jangan sampai ia mengeluarkan kalian berdua dari surga, sehingga engkau menjadi sengsara.’” (QS. Thaha: 117). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman tentang penyifatan Nabi Yusuf terhadap saudara-saudaranya ketika berjumpa dengan mereka: قَالَ أَنْتُمْ شَرٌّ مَكَانًا وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا تَصِفُونَ “Ia (Yusuf) berkata: ‘Kalian lebih buruk kedudukannya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian katakan.’” (QS. Yusuf: 77). 5. Terungkapnya hakikat mereka, hancurnya reputasi mereka, dan lenyapnya pengaruh mereka Hal ini sebagaimana yang terjadi pada saudara-saudara Nabi Yusuf yang pada awal cerita mereka menyatakan diri sebagai pemberi nasihat bagi Yusuf, tapi tidak berselang lama semua berubah, kisah ini tidak berakhir hingga mereka mengumumkan bahwa dulu mereka telah berbuat salah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: قَالُوا تَاللَّهِ لَقَدْ آثَرَكَ اللَّهُ عَلَيْنَا وَإِنْ كُنَّا لَخَاطِئِينَ “Mereka berkata: ‘Demi Allah, sungguh Allah telah melebihkan engkau atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.’” (QS. Yusuf: 91). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ “Mereka berkata: ‘Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.’” (QS. Yusuf: 97).  Demikian juga yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sampaikan kepada Nabi Adam tentang hakikat nasihat setan kepadanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ “Dan Tuhan mereka menyeru keduanya: ‘Bukankah Aku telah melarang kalian berdua dari pohon itu dan Aku telah mengatakan kepada kalian bahwa setan adalah musuh yang nyata bagi kalian berdua?’” (QS. Al-A’raf: 22). Tujuan Al-Qur’an Al-Karim memaparkan beberapa contoh nasihat-nasihat setan untuk melindungi umat dari terjerumus menjadi mangsa dalam tipu daya dan rekayasa mereka, atau menjadi korban dari kalimat-kalimat kosong dan ungkapan-ungkapan tipuan yang mengintai orang-orang yang lemah hati, terombang-ambing dalam gelapnya kebodohan dan fitnah godaan, dan mabuk dalam kenikmatan dan syahwat. Tidak ada yang dapat melindungi dari itu semua kecuali dengan kembalinya hati kepada penghayatan ayat-ayat ilahi, kesadaran akal dengan merenungi hikmah-hikmah Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ “Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (QS. Shad: 29). Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/122756/الشيطان-الناصح/ Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 161 times, 1 visit(s) today Post Views: 101

Beberapa Kesalahan Terkait Wukuf di Arafah

Daftar Isi ToggleKesalahan pertamaKesalahan keduaKesalahan ketigaKesalahan keempatKesalahan kelimaKesalahan keenamKesalahan ketujuhKesalahan kedelapanKesalahan kesembilanPenutupIbadah haji bagi kebanyakan kaum muslimin mungkin hanya dapat dilaksanakan sekali seumur hidup. Oleh karena itu, sudah sepatutnya setiap jemaah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya agar dapat menunaikan haji sesuai sunah dan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Setiap orang tentu berharap hajinya diterima sebagai haji yang mabrur dan dosa-dosanya diampuni. Hal ini sangat wajar, karena pahala haji mabrur tidak lain adalah surga.Tidak seorang pun mengetahui apakah musim haji tahun ini menjadi kesempatan terakhir baginya untuk hadir sebagai Dhuyuuf Ar-Rahmaan, yaitu tamu-tamu Allah. Oleh sebab itu, seorang muslim sudah semestinya mempelajari dan memahami manasik haji yang akan dilaluinya. Jangan sampai ia terjatuh ke dalam berbagai kesalahan dan pelanggaran. Karena apabila kesempatan ini ternyata menjadi yang terakhir, kapan lagi ia dapat mengulang dan memperbaikinya?Salah satu rangkaian penting dalam ibadah haji adalah wukuf di Arafah. Bahkan, wukuf di Arafah merupakan puncak pelaksanaan ibadah haji, sebagaimana disebutkan dalam hadis,الْحَجُّ عَرَفَةُ“Haji itu adalah Arafah.” (HR. At-Tirmidzi) [1] Oleh karena itu, seorang jemaah hendaknya memberikan perhatian besar terhadap ibadah ini, baik dari sisi ilmu, adab, maupun penjagaan diri dari berbagai kesalahan. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan nasihat dan pengingat agar jemaah haji tidak melakukan pelanggaran, terutama pada momen agung yang menjadi inti dan puncak ibadah haji.Di antara beberapa kesalahan yang dilakukan jamaah haji ketika menuju ke Arafah dan wukuf di Arafah adalah sebagai berikut:Kesalahan pertamaSebagian jemaah haji tidak mengeraskan suara talbiyah saat berjalan dari Mina ke Arafah. Padahal, telah ada ketetapan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau terus ber-talbiyah hingga melempar jumrah Aqabah pada hari Iduladha (Mutaffaqun ‘alaihi) [2].Kesalahan keduaSalah satu kesalahan besar yang fatal adalah sebagian jemaah haji singgah di luar Arafah, lalu tetap berada di tempat singgah tersebut hingga matahari terbenam. Setelah itu, mereka berangkat dari tempat tersebut menuju Muzdalifah. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Haji itu adalah Arafah” [1], maka siapa saja yang tidak wukuf di Arafah, yaitu di tempat yang termasuk wilayah Arafah, dan pada waktu yang telah ditentukan untuk wukuf, maka hajinya tidak sah berdasarkan hadis yang telah disebutkan. Ini adalah perkara yang sangat serius.Batas-batas wilayah Arafah sebenarnya telah diberi tanda-tanda yang jelas dan tidak samar, kecuali bagi orang yang lalai dan meremehkannya. Oleh karena itu, wajib bagi setiap jemaah haji untuk memastikan batas-batas tersebut agar ia benar-benar mengetahui bahwa dirinya telah wukuf di wilayah Arafah, bukan di luar wilayah tersebut.Alangkah baiknya apabila pihak-pihak yang mengurus pelaksanaan haji mengumumkan hal ini kepada seluruh jemaah melalui sarana yang dapat dijangkau oleh mereka semua, serta menggunakan berbagai bahasa. Hendaknya mereka juga menegaskan para pembimbing haji untuk memperingatkan jemaah dari kesalahan ini, agar memahami perkara hajinya dengan jelas dan dapat menunaikan haji dengan cara yang tidak membuat tanggung jawab mereka gugur di hadapan Allah.Kesalahan ketigaSebagian jemaah, ketika sibuk berdoa pada akhir hari Arafah, mereka menghadap ke arah bukit tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwukuf. Padahal, kiblat bisa berada di belakang mereka, di sebelah kanan, atau di sebelah kiri. Ini juga merupakan ketidaktahuan dan kesalahan. Sebab, yang disyariatkan ketika berdoa pada hari Arafah adalah seseorang menghadap ke arah kiblat, baik bukit itu berada di depannya, di belakangnya, di sebelah kanannya, maupun di sebelah kirinya.Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menghadap ke arah bukit tersebut karena tempat wukuf beliau berada di belakang bukit tersebut. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap menghadap kiblat. Apabila bukit tersebut berada di antara beliau dan kiblat, maka secara otomatis beliau juga menghadap ke arah bukit tersebut.Kesalahan keempatSebagian jemaah menyangka bahwa seseorang harus pergi ke tempat wukuf Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berada di puncak bukit, lalu berwukuf di sana. Karena anggapan ini, sebagian jemaah didapati memaksakan diri menempuh berbagai kesulitan dan menghadapi kepayahan hingga sampai ke tempat tersebut. Bahkan, sebagian dari mereka berjalan kaki tanpa mengetahui arah. Akibatnya, mereka bisa kehausan dan kelaparan jika tidak mendapatkan air dan makanan. Mereka juga bisa tersesat di perjalanan, lalu mengalami bahaya besar akibat prasangka keliru tersebut. Padahal telah ditetapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,وَوَقَفْتُ هَاهُنَا، وَعَرَفَةُ كُلُّهَا مَوْقِفٌ“Aku wukuf di sini, dan seluruh Arafah adalah tempat wukuf.” (HR. Muslim) [3]Seakan-akan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan isyarat bahwa tidak perlu memberat-beratkan diri tepat di tempat wukuf Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi, hendaknya ia melakukan apa yang mudah baginya, karena seluruh wilayah Arafah merupakan tempat wukuf.Kesalahan kelimaSebagian orang meyakini bahwa pepohonan di Arafah sama seperti pepohonan di Mina dan Muzdalifah, yaitu seseorang tidak boleh memotong daunnya, rantingnya, atau bagian sejenisnya. Hal ini karena mereka mengira bahwa larangan memotong pohon berkaitan dengan ihram, sebagaimana larangan berburu. Ini adalah sangkaan yang keliru karena memotong pohon tidak ada kaitannya dengan ihram, tetapi berkaitan dengan tempat. Pepohonan yang berada di dalam batas tanah haram itu memiliki kehormatan. Pohon-pohon tersebut tidak boleh dipotong, tidak boleh diambil daunnya, dan tidak boleh dipatahkan rantingnya.Adapun pepohonan yang berada di luar batas tanah haram, maka tidak mengapa dipotong, meskipun seseorang sedang dalam keadaan ihram. Berdasarkan hal ini, memotong pepohonan di Arafah pada asalnya tidak mengapa.Adapun pohon-pohon yang ditanam oleh manusia, maka larangan memotongnya bukan termasuk larangan karena kehormatan tanah haram. Akan tetapi, bisa jadi memotongnya tetap haram karena sebab lain, yaitu karena hal itu merupakan pelanggaran terhadap hak orang yang menanamnya, serta terhadap hak para jemaah haji, apabila pohon-pohon tersebut ditanam untuk menyejukkan udara dan menjadi tempat berteduh dari panas matahari.Dengan demikian, pohon-pohon yang ditanam di Arafah tidak boleh dipotong, bukan karena larangan tanah haram, melainkan karena memotongnya termasuk pelanggaran terhadap hak kaum muslimin secara umum.Kesalahan keenamSebagian jemaah haji meyakini bahwa bukit tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berwukuf memiliki kesucian khusus. Oleh karena itu, mereka pergi ke sana, menaikinya, mencari berkah dari batu-batu dan tanahnya, menggantungkan potongan-potongan kain pada pepohonannya, dan hal-hal lain yang telah dikenal. Perbuatan seperti ini termasuk bid’ah. Tidak disyariatkan menaiki bukit tersebut, tidak pula salat di puncaknya, dan tidak disyariatkan menggantungkan potongan-potongan kain pada pepohonannya. Sebab semua itu tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan ada sedikit nuansa penyembahan berhala.Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan lainnya dengan sanad yang sahih dari Abu Waqid Al-Laitsi, ia berkata,عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا خَرَجَ إِلَى حُنَيْنٍ مَرَّ بِشَجَرَةٍ لِلْمُشْرِكِينَ يُقَالُ لَهَا ذَاتُ أَنْوَاطٍ يُعَلِّقُونَ عَلَيْهَا أَسْلِحَتَهُمْ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُبْحَانَ اللَّهِ هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَرْكَبُنَّ سُنَّةَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ“Kami berangkat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Hunain. Saat itu, kami baru keluar dari kekufuran. Saat itu, kaum musyrikin mempunyai tempat pohon khusus yang biasa dikunjungi dan di mana senjatanya digantungkan. Tempat itu disebut Dzatu Anwath. Saat itu kami melewatinya, lalu kami berkata, “Wahai Rasulullah, buatkan bagi kami Dzatu Anwath seperti yang mereka miliki.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mahasuci Allah, ini seperti yang diucapkan oleh kaumnya Musa, ‘Buatkan tuhan untuk kami sebagaimana mereka memiliki tuhan-tuhan.’ Demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, (jika demikian) niscaya kalian menempuh cara orang-orang yang sebelum kalian.” (HR. At-Tirmidzi) [4]Bukit tersebut sebenarnya tidak memiliki kesucian khusus. Ia sama seperti bukit-bukit kecil dan dataran lain yang ada di Arafah. Hanya saja, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berwukuf di sana.  Maka, yang disyariatkan adalah seseorang berwukuf di tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila hal itu mudah baginya. Namun, hal tersebut bukan kewajiban, dan seseorang tidak sepantasnya memaksakan diri untuk pergi ke sana, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.Kesalahan ketujuhSebagian jemaah haji menyangka bahwa seseorang harus melaksanakan salat Zuhur dan Asar bersama imam di masjid. Karena itu, ada beberapa orang yang pergi ke masjid yang lokasinya jauh agar bisa salat bersama imam. Akibatnya, mereka mengalami kesulitan, gangguan, dan bahkan tersesat, sehingga ibadah haji terasa berat dan sempit bagi mereka. Sebagian mereka juga membuat sesak sebagian yang lain, bahkan saling menganggu satu sama lain. Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku berwukuf di sini dan seluruh Arafah adalah tempat wukuf.” [3] Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,جُعلت لي الأرض مسجدا وطهورا“Dijadikan untukku bumi sebagai masjid dan alat bersuci.” (Mutaffaqun ‘alaihi) [5]Maka, apabila seseorang melaksanakan salat di tendanya dengan tenang, tanpa bahaya apapun baginya atau darinya, serta tanpa kesulitan yang membuat ibadah haji menjadi berat, maka hal itu lebih baik dan lebih utama.Kesalahan kedelapanSebagian jemaah keluar dari Arafah sebelum matahari terbenam, lalu bertolak ke Muzdalifah. Ini adalah kesalahan besar. Di dalamnya terdapat bentuk penyerupaan terhadap kaum musyrikin yang dahulu bertolak dari Arafah sebelum matahari terbenam, serta menyelisihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tidak bertolak dari Arafah kecuali setelah matahari terbenam dan warna kekuningan di langit sedikit menghilang, sebagaimana disebutkan dalam hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu [3].Berdasarkan hal ini, wajib bagi seseorang untuk tetap berada di Arafah, dalam batas-batas wilayahnya, hingga matahari terbenam. Sebab, waktu wukuf ini dibatasi hingga terbenamnya matahari. Sehingga, sebagaimana tidak boleh bagi orang yang berpuasa untuk berbuka sebelum matahari terbenam; demikian pula, tidak boleh bagi orang yang sedang wukuf di Arafah untuk meninggalkan Arafah sebelum matahari terbenam.Kesalahan kesembilanMenyia-nyiakan waktu dalam perkara yang tidak bermanfaat. Sebagian orang didapati sejak awal hari hingga penghujung hari sibuk dengan berbagai pembicaraan. Bisa jadi pembicaraan itu masih bersih dan selamat dari ghibah serta mencela kehormatan orang lain. Namun, bisa jadi pembicaraan itu tidak bersih, karena mereka membicarakan kehormatan orang lain dan memakan daging saudaranya sendiri, yakni melakukan ghibah.Jika yang terjadi adalah yang kedua, maka mereka telah terjatuh dalam dua larangan: larangan pertama, memakan daging saudaranya dan melakukan ghibah terhadap mereka. Ini merupakan kesalahan dan pelanggaran, bahkan ketika seseorang sedang berihram. Sebab Allah Ta’ala berfirman,الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu untuk mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan semasa mengerjakan haji. Dan apa pun yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa, dan bertakwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah: 197)Sedangkan, larangan yang kedua adalah menyia-nyiakan waktu. Adapun jika pembicaraan itu bersih dan tidak mengandung perkara yang haram, maka di dalamnya tetap terdapat unsur menyia-nyiakan waktu. Namun, tidak mengapa seseorang mengisi waktunya dengan pembicaraan yang baik dan mubah sebelum waktu zawal, yaitu sebelum matahari tergelincir.Adapun setelah zawal, setelah melaksanakan salat Zuhur dan Asar, maka yang lebih utama adalah menyibukkan diri dengan dengan doa, zikir, dan membaca Al-Qur’an. Demikian pula, apabila ia merasa lelah membaca Al-Qur’an dan berzikir, ia boleh menyampaikan hal-hal yang bermanfaat kepada saudara-saudaranya, seperti membahas ilmu-ilmu syar’i atau hal-hal semisalnya yang dapat menggembirakan mereka, membuka pintu harapan, serta menumbuhkan rasa optimis terhadap rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.Namun, hendaknya ia benar-benar memanfaatkan kesempatan pada saat-saat terakhir di hari Arafah. Hendaknya ia menyibukkan diri dengan berdoa dan menghadap kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam keadaan merendahkan hati, tunduk, tobat kepada-Nya, mengharap karunia-Nya, dan rahmat-Nya. Hendaknya ia bersungguh-sungguh dalam berdoa, memperbanyak doa-doa yang terdapat dalam Al-Qur’an dan dalam sunah yang sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab doa-doa tersebut adalah sebaik-baiknya doa dan doa pada waktu tersebut sangat mustajab untuk dikabulkan.PenutupIbadah haji adalah ibadah yang sangat berkaitan dengan pengagungan terhadap syi’ar-syi’ar Allah. Maka, alangkah tidak pantasnya apabila di satu sisi kita berharap meraih haji yang mabrur, namun di sisi lain kita justru melanggar sebagai tamu Allah dengan mengabaikan aturan-aturan-Nya. Allah telah menjelaskan ketentuan-ketentuan tersebut melalui lisan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, agar kaum muslimin tidak terjatuh dalam kesalahan, khususnya ketika wukuf di Arafah. Namun, betapa sering kita masih mudah melanggarnya.Ya Allah, sungguh kami telah banyak menzalimi diri kami sendiri. Seandainya bukan karena ampunan dan rahmat-Mu niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.Wa shallallaahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad.Baca juga: Larangan Ketika Ihram***Penulis: Luqman Hasan NahariArtikel Muslim.or.id Sumber: Diterjemahkan dari islamqa.info berdasarkan pertanyaan No. 34293, dengan beberapa tambahan dan penyesuaian.Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 889) dan dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Irwaa’ Al-Ghalil (no. 1064).[2] Diriwayatkan oleh Bukhari (no. 1685) dan Muslim (no. 1281).[3] Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1218).[4] Diriwayatkan At-Tirmidzi dalam Al-Fitan (no. 2180) dan Ahmad (no. 2139), dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih As-Sunnah karya Ibnu Abi ‘Ashim.[5] Diriwayatkan oleh Bukhari (no. 438) dan Muslim (no. 521).

Beberapa Kesalahan Terkait Wukuf di Arafah

Daftar Isi ToggleKesalahan pertamaKesalahan keduaKesalahan ketigaKesalahan keempatKesalahan kelimaKesalahan keenamKesalahan ketujuhKesalahan kedelapanKesalahan kesembilanPenutupIbadah haji bagi kebanyakan kaum muslimin mungkin hanya dapat dilaksanakan sekali seumur hidup. Oleh karena itu, sudah sepatutnya setiap jemaah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya agar dapat menunaikan haji sesuai sunah dan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Setiap orang tentu berharap hajinya diterima sebagai haji yang mabrur dan dosa-dosanya diampuni. Hal ini sangat wajar, karena pahala haji mabrur tidak lain adalah surga.Tidak seorang pun mengetahui apakah musim haji tahun ini menjadi kesempatan terakhir baginya untuk hadir sebagai Dhuyuuf Ar-Rahmaan, yaitu tamu-tamu Allah. Oleh sebab itu, seorang muslim sudah semestinya mempelajari dan memahami manasik haji yang akan dilaluinya. Jangan sampai ia terjatuh ke dalam berbagai kesalahan dan pelanggaran. Karena apabila kesempatan ini ternyata menjadi yang terakhir, kapan lagi ia dapat mengulang dan memperbaikinya?Salah satu rangkaian penting dalam ibadah haji adalah wukuf di Arafah. Bahkan, wukuf di Arafah merupakan puncak pelaksanaan ibadah haji, sebagaimana disebutkan dalam hadis,الْحَجُّ عَرَفَةُ“Haji itu adalah Arafah.” (HR. At-Tirmidzi) [1] Oleh karena itu, seorang jemaah hendaknya memberikan perhatian besar terhadap ibadah ini, baik dari sisi ilmu, adab, maupun penjagaan diri dari berbagai kesalahan. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan nasihat dan pengingat agar jemaah haji tidak melakukan pelanggaran, terutama pada momen agung yang menjadi inti dan puncak ibadah haji.Di antara beberapa kesalahan yang dilakukan jamaah haji ketika menuju ke Arafah dan wukuf di Arafah adalah sebagai berikut:Kesalahan pertamaSebagian jemaah haji tidak mengeraskan suara talbiyah saat berjalan dari Mina ke Arafah. Padahal, telah ada ketetapan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau terus ber-talbiyah hingga melempar jumrah Aqabah pada hari Iduladha (Mutaffaqun ‘alaihi) [2].Kesalahan keduaSalah satu kesalahan besar yang fatal adalah sebagian jemaah haji singgah di luar Arafah, lalu tetap berada di tempat singgah tersebut hingga matahari terbenam. Setelah itu, mereka berangkat dari tempat tersebut menuju Muzdalifah. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Haji itu adalah Arafah” [1], maka siapa saja yang tidak wukuf di Arafah, yaitu di tempat yang termasuk wilayah Arafah, dan pada waktu yang telah ditentukan untuk wukuf, maka hajinya tidak sah berdasarkan hadis yang telah disebutkan. Ini adalah perkara yang sangat serius.Batas-batas wilayah Arafah sebenarnya telah diberi tanda-tanda yang jelas dan tidak samar, kecuali bagi orang yang lalai dan meremehkannya. Oleh karena itu, wajib bagi setiap jemaah haji untuk memastikan batas-batas tersebut agar ia benar-benar mengetahui bahwa dirinya telah wukuf di wilayah Arafah, bukan di luar wilayah tersebut.Alangkah baiknya apabila pihak-pihak yang mengurus pelaksanaan haji mengumumkan hal ini kepada seluruh jemaah melalui sarana yang dapat dijangkau oleh mereka semua, serta menggunakan berbagai bahasa. Hendaknya mereka juga menegaskan para pembimbing haji untuk memperingatkan jemaah dari kesalahan ini, agar memahami perkara hajinya dengan jelas dan dapat menunaikan haji dengan cara yang tidak membuat tanggung jawab mereka gugur di hadapan Allah.Kesalahan ketigaSebagian jemaah, ketika sibuk berdoa pada akhir hari Arafah, mereka menghadap ke arah bukit tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwukuf. Padahal, kiblat bisa berada di belakang mereka, di sebelah kanan, atau di sebelah kiri. Ini juga merupakan ketidaktahuan dan kesalahan. Sebab, yang disyariatkan ketika berdoa pada hari Arafah adalah seseorang menghadap ke arah kiblat, baik bukit itu berada di depannya, di belakangnya, di sebelah kanannya, maupun di sebelah kirinya.Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menghadap ke arah bukit tersebut karena tempat wukuf beliau berada di belakang bukit tersebut. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap menghadap kiblat. Apabila bukit tersebut berada di antara beliau dan kiblat, maka secara otomatis beliau juga menghadap ke arah bukit tersebut.Kesalahan keempatSebagian jemaah menyangka bahwa seseorang harus pergi ke tempat wukuf Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berada di puncak bukit, lalu berwukuf di sana. Karena anggapan ini, sebagian jemaah didapati memaksakan diri menempuh berbagai kesulitan dan menghadapi kepayahan hingga sampai ke tempat tersebut. Bahkan, sebagian dari mereka berjalan kaki tanpa mengetahui arah. Akibatnya, mereka bisa kehausan dan kelaparan jika tidak mendapatkan air dan makanan. Mereka juga bisa tersesat di perjalanan, lalu mengalami bahaya besar akibat prasangka keliru tersebut. Padahal telah ditetapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,وَوَقَفْتُ هَاهُنَا، وَعَرَفَةُ كُلُّهَا مَوْقِفٌ“Aku wukuf di sini, dan seluruh Arafah adalah tempat wukuf.” (HR. Muslim) [3]Seakan-akan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan isyarat bahwa tidak perlu memberat-beratkan diri tepat di tempat wukuf Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi, hendaknya ia melakukan apa yang mudah baginya, karena seluruh wilayah Arafah merupakan tempat wukuf.Kesalahan kelimaSebagian orang meyakini bahwa pepohonan di Arafah sama seperti pepohonan di Mina dan Muzdalifah, yaitu seseorang tidak boleh memotong daunnya, rantingnya, atau bagian sejenisnya. Hal ini karena mereka mengira bahwa larangan memotong pohon berkaitan dengan ihram, sebagaimana larangan berburu. Ini adalah sangkaan yang keliru karena memotong pohon tidak ada kaitannya dengan ihram, tetapi berkaitan dengan tempat. Pepohonan yang berada di dalam batas tanah haram itu memiliki kehormatan. Pohon-pohon tersebut tidak boleh dipotong, tidak boleh diambil daunnya, dan tidak boleh dipatahkan rantingnya.Adapun pepohonan yang berada di luar batas tanah haram, maka tidak mengapa dipotong, meskipun seseorang sedang dalam keadaan ihram. Berdasarkan hal ini, memotong pepohonan di Arafah pada asalnya tidak mengapa.Adapun pohon-pohon yang ditanam oleh manusia, maka larangan memotongnya bukan termasuk larangan karena kehormatan tanah haram. Akan tetapi, bisa jadi memotongnya tetap haram karena sebab lain, yaitu karena hal itu merupakan pelanggaran terhadap hak orang yang menanamnya, serta terhadap hak para jemaah haji, apabila pohon-pohon tersebut ditanam untuk menyejukkan udara dan menjadi tempat berteduh dari panas matahari.Dengan demikian, pohon-pohon yang ditanam di Arafah tidak boleh dipotong, bukan karena larangan tanah haram, melainkan karena memotongnya termasuk pelanggaran terhadap hak kaum muslimin secara umum.Kesalahan keenamSebagian jemaah haji meyakini bahwa bukit tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berwukuf memiliki kesucian khusus. Oleh karena itu, mereka pergi ke sana, menaikinya, mencari berkah dari batu-batu dan tanahnya, menggantungkan potongan-potongan kain pada pepohonannya, dan hal-hal lain yang telah dikenal. Perbuatan seperti ini termasuk bid’ah. Tidak disyariatkan menaiki bukit tersebut, tidak pula salat di puncaknya, dan tidak disyariatkan menggantungkan potongan-potongan kain pada pepohonannya. Sebab semua itu tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan ada sedikit nuansa penyembahan berhala.Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan lainnya dengan sanad yang sahih dari Abu Waqid Al-Laitsi, ia berkata,عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا خَرَجَ إِلَى حُنَيْنٍ مَرَّ بِشَجَرَةٍ لِلْمُشْرِكِينَ يُقَالُ لَهَا ذَاتُ أَنْوَاطٍ يُعَلِّقُونَ عَلَيْهَا أَسْلِحَتَهُمْ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُبْحَانَ اللَّهِ هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَرْكَبُنَّ سُنَّةَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ“Kami berangkat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Hunain. Saat itu, kami baru keluar dari kekufuran. Saat itu, kaum musyrikin mempunyai tempat pohon khusus yang biasa dikunjungi dan di mana senjatanya digantungkan. Tempat itu disebut Dzatu Anwath. Saat itu kami melewatinya, lalu kami berkata, “Wahai Rasulullah, buatkan bagi kami Dzatu Anwath seperti yang mereka miliki.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mahasuci Allah, ini seperti yang diucapkan oleh kaumnya Musa, ‘Buatkan tuhan untuk kami sebagaimana mereka memiliki tuhan-tuhan.’ Demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, (jika demikian) niscaya kalian menempuh cara orang-orang yang sebelum kalian.” (HR. At-Tirmidzi) [4]Bukit tersebut sebenarnya tidak memiliki kesucian khusus. Ia sama seperti bukit-bukit kecil dan dataran lain yang ada di Arafah. Hanya saja, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berwukuf di sana.  Maka, yang disyariatkan adalah seseorang berwukuf di tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila hal itu mudah baginya. Namun, hal tersebut bukan kewajiban, dan seseorang tidak sepantasnya memaksakan diri untuk pergi ke sana, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.Kesalahan ketujuhSebagian jemaah haji menyangka bahwa seseorang harus melaksanakan salat Zuhur dan Asar bersama imam di masjid. Karena itu, ada beberapa orang yang pergi ke masjid yang lokasinya jauh agar bisa salat bersama imam. Akibatnya, mereka mengalami kesulitan, gangguan, dan bahkan tersesat, sehingga ibadah haji terasa berat dan sempit bagi mereka. Sebagian mereka juga membuat sesak sebagian yang lain, bahkan saling menganggu satu sama lain. Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku berwukuf di sini dan seluruh Arafah adalah tempat wukuf.” [3] Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,جُعلت لي الأرض مسجدا وطهورا“Dijadikan untukku bumi sebagai masjid dan alat bersuci.” (Mutaffaqun ‘alaihi) [5]Maka, apabila seseorang melaksanakan salat di tendanya dengan tenang, tanpa bahaya apapun baginya atau darinya, serta tanpa kesulitan yang membuat ibadah haji menjadi berat, maka hal itu lebih baik dan lebih utama.Kesalahan kedelapanSebagian jemaah keluar dari Arafah sebelum matahari terbenam, lalu bertolak ke Muzdalifah. Ini adalah kesalahan besar. Di dalamnya terdapat bentuk penyerupaan terhadap kaum musyrikin yang dahulu bertolak dari Arafah sebelum matahari terbenam, serta menyelisihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tidak bertolak dari Arafah kecuali setelah matahari terbenam dan warna kekuningan di langit sedikit menghilang, sebagaimana disebutkan dalam hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu [3].Berdasarkan hal ini, wajib bagi seseorang untuk tetap berada di Arafah, dalam batas-batas wilayahnya, hingga matahari terbenam. Sebab, waktu wukuf ini dibatasi hingga terbenamnya matahari. Sehingga, sebagaimana tidak boleh bagi orang yang berpuasa untuk berbuka sebelum matahari terbenam; demikian pula, tidak boleh bagi orang yang sedang wukuf di Arafah untuk meninggalkan Arafah sebelum matahari terbenam.Kesalahan kesembilanMenyia-nyiakan waktu dalam perkara yang tidak bermanfaat. Sebagian orang didapati sejak awal hari hingga penghujung hari sibuk dengan berbagai pembicaraan. Bisa jadi pembicaraan itu masih bersih dan selamat dari ghibah serta mencela kehormatan orang lain. Namun, bisa jadi pembicaraan itu tidak bersih, karena mereka membicarakan kehormatan orang lain dan memakan daging saudaranya sendiri, yakni melakukan ghibah.Jika yang terjadi adalah yang kedua, maka mereka telah terjatuh dalam dua larangan: larangan pertama, memakan daging saudaranya dan melakukan ghibah terhadap mereka. Ini merupakan kesalahan dan pelanggaran, bahkan ketika seseorang sedang berihram. Sebab Allah Ta’ala berfirman,الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu untuk mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan semasa mengerjakan haji. Dan apa pun yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa, dan bertakwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah: 197)Sedangkan, larangan yang kedua adalah menyia-nyiakan waktu. Adapun jika pembicaraan itu bersih dan tidak mengandung perkara yang haram, maka di dalamnya tetap terdapat unsur menyia-nyiakan waktu. Namun, tidak mengapa seseorang mengisi waktunya dengan pembicaraan yang baik dan mubah sebelum waktu zawal, yaitu sebelum matahari tergelincir.Adapun setelah zawal, setelah melaksanakan salat Zuhur dan Asar, maka yang lebih utama adalah menyibukkan diri dengan dengan doa, zikir, dan membaca Al-Qur’an. Demikian pula, apabila ia merasa lelah membaca Al-Qur’an dan berzikir, ia boleh menyampaikan hal-hal yang bermanfaat kepada saudara-saudaranya, seperti membahas ilmu-ilmu syar’i atau hal-hal semisalnya yang dapat menggembirakan mereka, membuka pintu harapan, serta menumbuhkan rasa optimis terhadap rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.Namun, hendaknya ia benar-benar memanfaatkan kesempatan pada saat-saat terakhir di hari Arafah. Hendaknya ia menyibukkan diri dengan berdoa dan menghadap kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam keadaan merendahkan hati, tunduk, tobat kepada-Nya, mengharap karunia-Nya, dan rahmat-Nya. Hendaknya ia bersungguh-sungguh dalam berdoa, memperbanyak doa-doa yang terdapat dalam Al-Qur’an dan dalam sunah yang sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab doa-doa tersebut adalah sebaik-baiknya doa dan doa pada waktu tersebut sangat mustajab untuk dikabulkan.PenutupIbadah haji adalah ibadah yang sangat berkaitan dengan pengagungan terhadap syi’ar-syi’ar Allah. Maka, alangkah tidak pantasnya apabila di satu sisi kita berharap meraih haji yang mabrur, namun di sisi lain kita justru melanggar sebagai tamu Allah dengan mengabaikan aturan-aturan-Nya. Allah telah menjelaskan ketentuan-ketentuan tersebut melalui lisan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, agar kaum muslimin tidak terjatuh dalam kesalahan, khususnya ketika wukuf di Arafah. Namun, betapa sering kita masih mudah melanggarnya.Ya Allah, sungguh kami telah banyak menzalimi diri kami sendiri. Seandainya bukan karena ampunan dan rahmat-Mu niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.Wa shallallaahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad.Baca juga: Larangan Ketika Ihram***Penulis: Luqman Hasan NahariArtikel Muslim.or.id Sumber: Diterjemahkan dari islamqa.info berdasarkan pertanyaan No. 34293, dengan beberapa tambahan dan penyesuaian.Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 889) dan dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Irwaa’ Al-Ghalil (no. 1064).[2] Diriwayatkan oleh Bukhari (no. 1685) dan Muslim (no. 1281).[3] Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1218).[4] Diriwayatkan At-Tirmidzi dalam Al-Fitan (no. 2180) dan Ahmad (no. 2139), dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih As-Sunnah karya Ibnu Abi ‘Ashim.[5] Diriwayatkan oleh Bukhari (no. 438) dan Muslim (no. 521).
Daftar Isi ToggleKesalahan pertamaKesalahan keduaKesalahan ketigaKesalahan keempatKesalahan kelimaKesalahan keenamKesalahan ketujuhKesalahan kedelapanKesalahan kesembilanPenutupIbadah haji bagi kebanyakan kaum muslimin mungkin hanya dapat dilaksanakan sekali seumur hidup. Oleh karena itu, sudah sepatutnya setiap jemaah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya agar dapat menunaikan haji sesuai sunah dan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Setiap orang tentu berharap hajinya diterima sebagai haji yang mabrur dan dosa-dosanya diampuni. Hal ini sangat wajar, karena pahala haji mabrur tidak lain adalah surga.Tidak seorang pun mengetahui apakah musim haji tahun ini menjadi kesempatan terakhir baginya untuk hadir sebagai Dhuyuuf Ar-Rahmaan, yaitu tamu-tamu Allah. Oleh sebab itu, seorang muslim sudah semestinya mempelajari dan memahami manasik haji yang akan dilaluinya. Jangan sampai ia terjatuh ke dalam berbagai kesalahan dan pelanggaran. Karena apabila kesempatan ini ternyata menjadi yang terakhir, kapan lagi ia dapat mengulang dan memperbaikinya?Salah satu rangkaian penting dalam ibadah haji adalah wukuf di Arafah. Bahkan, wukuf di Arafah merupakan puncak pelaksanaan ibadah haji, sebagaimana disebutkan dalam hadis,الْحَجُّ عَرَفَةُ“Haji itu adalah Arafah.” (HR. At-Tirmidzi) [1] Oleh karena itu, seorang jemaah hendaknya memberikan perhatian besar terhadap ibadah ini, baik dari sisi ilmu, adab, maupun penjagaan diri dari berbagai kesalahan. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan nasihat dan pengingat agar jemaah haji tidak melakukan pelanggaran, terutama pada momen agung yang menjadi inti dan puncak ibadah haji.Di antara beberapa kesalahan yang dilakukan jamaah haji ketika menuju ke Arafah dan wukuf di Arafah adalah sebagai berikut:Kesalahan pertamaSebagian jemaah haji tidak mengeraskan suara talbiyah saat berjalan dari Mina ke Arafah. Padahal, telah ada ketetapan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau terus ber-talbiyah hingga melempar jumrah Aqabah pada hari Iduladha (Mutaffaqun ‘alaihi) [2].Kesalahan keduaSalah satu kesalahan besar yang fatal adalah sebagian jemaah haji singgah di luar Arafah, lalu tetap berada di tempat singgah tersebut hingga matahari terbenam. Setelah itu, mereka berangkat dari tempat tersebut menuju Muzdalifah. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Haji itu adalah Arafah” [1], maka siapa saja yang tidak wukuf di Arafah, yaitu di tempat yang termasuk wilayah Arafah, dan pada waktu yang telah ditentukan untuk wukuf, maka hajinya tidak sah berdasarkan hadis yang telah disebutkan. Ini adalah perkara yang sangat serius.Batas-batas wilayah Arafah sebenarnya telah diberi tanda-tanda yang jelas dan tidak samar, kecuali bagi orang yang lalai dan meremehkannya. Oleh karena itu, wajib bagi setiap jemaah haji untuk memastikan batas-batas tersebut agar ia benar-benar mengetahui bahwa dirinya telah wukuf di wilayah Arafah, bukan di luar wilayah tersebut.Alangkah baiknya apabila pihak-pihak yang mengurus pelaksanaan haji mengumumkan hal ini kepada seluruh jemaah melalui sarana yang dapat dijangkau oleh mereka semua, serta menggunakan berbagai bahasa. Hendaknya mereka juga menegaskan para pembimbing haji untuk memperingatkan jemaah dari kesalahan ini, agar memahami perkara hajinya dengan jelas dan dapat menunaikan haji dengan cara yang tidak membuat tanggung jawab mereka gugur di hadapan Allah.Kesalahan ketigaSebagian jemaah, ketika sibuk berdoa pada akhir hari Arafah, mereka menghadap ke arah bukit tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwukuf. Padahal, kiblat bisa berada di belakang mereka, di sebelah kanan, atau di sebelah kiri. Ini juga merupakan ketidaktahuan dan kesalahan. Sebab, yang disyariatkan ketika berdoa pada hari Arafah adalah seseorang menghadap ke arah kiblat, baik bukit itu berada di depannya, di belakangnya, di sebelah kanannya, maupun di sebelah kirinya.Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menghadap ke arah bukit tersebut karena tempat wukuf beliau berada di belakang bukit tersebut. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap menghadap kiblat. Apabila bukit tersebut berada di antara beliau dan kiblat, maka secara otomatis beliau juga menghadap ke arah bukit tersebut.Kesalahan keempatSebagian jemaah menyangka bahwa seseorang harus pergi ke tempat wukuf Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berada di puncak bukit, lalu berwukuf di sana. Karena anggapan ini, sebagian jemaah didapati memaksakan diri menempuh berbagai kesulitan dan menghadapi kepayahan hingga sampai ke tempat tersebut. Bahkan, sebagian dari mereka berjalan kaki tanpa mengetahui arah. Akibatnya, mereka bisa kehausan dan kelaparan jika tidak mendapatkan air dan makanan. Mereka juga bisa tersesat di perjalanan, lalu mengalami bahaya besar akibat prasangka keliru tersebut. Padahal telah ditetapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,وَوَقَفْتُ هَاهُنَا، وَعَرَفَةُ كُلُّهَا مَوْقِفٌ“Aku wukuf di sini, dan seluruh Arafah adalah tempat wukuf.” (HR. Muslim) [3]Seakan-akan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan isyarat bahwa tidak perlu memberat-beratkan diri tepat di tempat wukuf Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi, hendaknya ia melakukan apa yang mudah baginya, karena seluruh wilayah Arafah merupakan tempat wukuf.Kesalahan kelimaSebagian orang meyakini bahwa pepohonan di Arafah sama seperti pepohonan di Mina dan Muzdalifah, yaitu seseorang tidak boleh memotong daunnya, rantingnya, atau bagian sejenisnya. Hal ini karena mereka mengira bahwa larangan memotong pohon berkaitan dengan ihram, sebagaimana larangan berburu. Ini adalah sangkaan yang keliru karena memotong pohon tidak ada kaitannya dengan ihram, tetapi berkaitan dengan tempat. Pepohonan yang berada di dalam batas tanah haram itu memiliki kehormatan. Pohon-pohon tersebut tidak boleh dipotong, tidak boleh diambil daunnya, dan tidak boleh dipatahkan rantingnya.Adapun pepohonan yang berada di luar batas tanah haram, maka tidak mengapa dipotong, meskipun seseorang sedang dalam keadaan ihram. Berdasarkan hal ini, memotong pepohonan di Arafah pada asalnya tidak mengapa.Adapun pohon-pohon yang ditanam oleh manusia, maka larangan memotongnya bukan termasuk larangan karena kehormatan tanah haram. Akan tetapi, bisa jadi memotongnya tetap haram karena sebab lain, yaitu karena hal itu merupakan pelanggaran terhadap hak orang yang menanamnya, serta terhadap hak para jemaah haji, apabila pohon-pohon tersebut ditanam untuk menyejukkan udara dan menjadi tempat berteduh dari panas matahari.Dengan demikian, pohon-pohon yang ditanam di Arafah tidak boleh dipotong, bukan karena larangan tanah haram, melainkan karena memotongnya termasuk pelanggaran terhadap hak kaum muslimin secara umum.Kesalahan keenamSebagian jemaah haji meyakini bahwa bukit tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berwukuf memiliki kesucian khusus. Oleh karena itu, mereka pergi ke sana, menaikinya, mencari berkah dari batu-batu dan tanahnya, menggantungkan potongan-potongan kain pada pepohonannya, dan hal-hal lain yang telah dikenal. Perbuatan seperti ini termasuk bid’ah. Tidak disyariatkan menaiki bukit tersebut, tidak pula salat di puncaknya, dan tidak disyariatkan menggantungkan potongan-potongan kain pada pepohonannya. Sebab semua itu tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan ada sedikit nuansa penyembahan berhala.Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan lainnya dengan sanad yang sahih dari Abu Waqid Al-Laitsi, ia berkata,عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا خَرَجَ إِلَى حُنَيْنٍ مَرَّ بِشَجَرَةٍ لِلْمُشْرِكِينَ يُقَالُ لَهَا ذَاتُ أَنْوَاطٍ يُعَلِّقُونَ عَلَيْهَا أَسْلِحَتَهُمْ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُبْحَانَ اللَّهِ هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَرْكَبُنَّ سُنَّةَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ“Kami berangkat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Hunain. Saat itu, kami baru keluar dari kekufuran. Saat itu, kaum musyrikin mempunyai tempat pohon khusus yang biasa dikunjungi dan di mana senjatanya digantungkan. Tempat itu disebut Dzatu Anwath. Saat itu kami melewatinya, lalu kami berkata, “Wahai Rasulullah, buatkan bagi kami Dzatu Anwath seperti yang mereka miliki.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mahasuci Allah, ini seperti yang diucapkan oleh kaumnya Musa, ‘Buatkan tuhan untuk kami sebagaimana mereka memiliki tuhan-tuhan.’ Demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, (jika demikian) niscaya kalian menempuh cara orang-orang yang sebelum kalian.” (HR. At-Tirmidzi) [4]Bukit tersebut sebenarnya tidak memiliki kesucian khusus. Ia sama seperti bukit-bukit kecil dan dataran lain yang ada di Arafah. Hanya saja, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berwukuf di sana.  Maka, yang disyariatkan adalah seseorang berwukuf di tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila hal itu mudah baginya. Namun, hal tersebut bukan kewajiban, dan seseorang tidak sepantasnya memaksakan diri untuk pergi ke sana, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.Kesalahan ketujuhSebagian jemaah haji menyangka bahwa seseorang harus melaksanakan salat Zuhur dan Asar bersama imam di masjid. Karena itu, ada beberapa orang yang pergi ke masjid yang lokasinya jauh agar bisa salat bersama imam. Akibatnya, mereka mengalami kesulitan, gangguan, dan bahkan tersesat, sehingga ibadah haji terasa berat dan sempit bagi mereka. Sebagian mereka juga membuat sesak sebagian yang lain, bahkan saling menganggu satu sama lain. Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku berwukuf di sini dan seluruh Arafah adalah tempat wukuf.” [3] Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,جُعلت لي الأرض مسجدا وطهورا“Dijadikan untukku bumi sebagai masjid dan alat bersuci.” (Mutaffaqun ‘alaihi) [5]Maka, apabila seseorang melaksanakan salat di tendanya dengan tenang, tanpa bahaya apapun baginya atau darinya, serta tanpa kesulitan yang membuat ibadah haji menjadi berat, maka hal itu lebih baik dan lebih utama.Kesalahan kedelapanSebagian jemaah keluar dari Arafah sebelum matahari terbenam, lalu bertolak ke Muzdalifah. Ini adalah kesalahan besar. Di dalamnya terdapat bentuk penyerupaan terhadap kaum musyrikin yang dahulu bertolak dari Arafah sebelum matahari terbenam, serta menyelisihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tidak bertolak dari Arafah kecuali setelah matahari terbenam dan warna kekuningan di langit sedikit menghilang, sebagaimana disebutkan dalam hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu [3].Berdasarkan hal ini, wajib bagi seseorang untuk tetap berada di Arafah, dalam batas-batas wilayahnya, hingga matahari terbenam. Sebab, waktu wukuf ini dibatasi hingga terbenamnya matahari. Sehingga, sebagaimana tidak boleh bagi orang yang berpuasa untuk berbuka sebelum matahari terbenam; demikian pula, tidak boleh bagi orang yang sedang wukuf di Arafah untuk meninggalkan Arafah sebelum matahari terbenam.Kesalahan kesembilanMenyia-nyiakan waktu dalam perkara yang tidak bermanfaat. Sebagian orang didapati sejak awal hari hingga penghujung hari sibuk dengan berbagai pembicaraan. Bisa jadi pembicaraan itu masih bersih dan selamat dari ghibah serta mencela kehormatan orang lain. Namun, bisa jadi pembicaraan itu tidak bersih, karena mereka membicarakan kehormatan orang lain dan memakan daging saudaranya sendiri, yakni melakukan ghibah.Jika yang terjadi adalah yang kedua, maka mereka telah terjatuh dalam dua larangan: larangan pertama, memakan daging saudaranya dan melakukan ghibah terhadap mereka. Ini merupakan kesalahan dan pelanggaran, bahkan ketika seseorang sedang berihram. Sebab Allah Ta’ala berfirman,الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu untuk mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan semasa mengerjakan haji. Dan apa pun yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa, dan bertakwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah: 197)Sedangkan, larangan yang kedua adalah menyia-nyiakan waktu. Adapun jika pembicaraan itu bersih dan tidak mengandung perkara yang haram, maka di dalamnya tetap terdapat unsur menyia-nyiakan waktu. Namun, tidak mengapa seseorang mengisi waktunya dengan pembicaraan yang baik dan mubah sebelum waktu zawal, yaitu sebelum matahari tergelincir.Adapun setelah zawal, setelah melaksanakan salat Zuhur dan Asar, maka yang lebih utama adalah menyibukkan diri dengan dengan doa, zikir, dan membaca Al-Qur’an. Demikian pula, apabila ia merasa lelah membaca Al-Qur’an dan berzikir, ia boleh menyampaikan hal-hal yang bermanfaat kepada saudara-saudaranya, seperti membahas ilmu-ilmu syar’i atau hal-hal semisalnya yang dapat menggembirakan mereka, membuka pintu harapan, serta menumbuhkan rasa optimis terhadap rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.Namun, hendaknya ia benar-benar memanfaatkan kesempatan pada saat-saat terakhir di hari Arafah. Hendaknya ia menyibukkan diri dengan berdoa dan menghadap kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam keadaan merendahkan hati, tunduk, tobat kepada-Nya, mengharap karunia-Nya, dan rahmat-Nya. Hendaknya ia bersungguh-sungguh dalam berdoa, memperbanyak doa-doa yang terdapat dalam Al-Qur’an dan dalam sunah yang sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab doa-doa tersebut adalah sebaik-baiknya doa dan doa pada waktu tersebut sangat mustajab untuk dikabulkan.PenutupIbadah haji adalah ibadah yang sangat berkaitan dengan pengagungan terhadap syi’ar-syi’ar Allah. Maka, alangkah tidak pantasnya apabila di satu sisi kita berharap meraih haji yang mabrur, namun di sisi lain kita justru melanggar sebagai tamu Allah dengan mengabaikan aturan-aturan-Nya. Allah telah menjelaskan ketentuan-ketentuan tersebut melalui lisan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, agar kaum muslimin tidak terjatuh dalam kesalahan, khususnya ketika wukuf di Arafah. Namun, betapa sering kita masih mudah melanggarnya.Ya Allah, sungguh kami telah banyak menzalimi diri kami sendiri. Seandainya bukan karena ampunan dan rahmat-Mu niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.Wa shallallaahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad.Baca juga: Larangan Ketika Ihram***Penulis: Luqman Hasan NahariArtikel Muslim.or.id Sumber: Diterjemahkan dari islamqa.info berdasarkan pertanyaan No. 34293, dengan beberapa tambahan dan penyesuaian.Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 889) dan dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Irwaa’ Al-Ghalil (no. 1064).[2] Diriwayatkan oleh Bukhari (no. 1685) dan Muslim (no. 1281).[3] Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1218).[4] Diriwayatkan At-Tirmidzi dalam Al-Fitan (no. 2180) dan Ahmad (no. 2139), dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih As-Sunnah karya Ibnu Abi ‘Ashim.[5] Diriwayatkan oleh Bukhari (no. 438) dan Muslim (no. 521).


Daftar Isi ToggleKesalahan pertamaKesalahan keduaKesalahan ketigaKesalahan keempatKesalahan kelimaKesalahan keenamKesalahan ketujuhKesalahan kedelapanKesalahan kesembilanPenutupIbadah haji bagi kebanyakan kaum muslimin mungkin hanya dapat dilaksanakan sekali seumur hidup. Oleh karena itu, sudah sepatutnya setiap jemaah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya agar dapat menunaikan haji sesuai sunah dan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Setiap orang tentu berharap hajinya diterima sebagai haji yang mabrur dan dosa-dosanya diampuni. Hal ini sangat wajar, karena pahala haji mabrur tidak lain adalah surga.Tidak seorang pun mengetahui apakah musim haji tahun ini menjadi kesempatan terakhir baginya untuk hadir sebagai Dhuyuuf Ar-Rahmaan, yaitu tamu-tamu Allah. Oleh sebab itu, seorang muslim sudah semestinya mempelajari dan memahami manasik haji yang akan dilaluinya. Jangan sampai ia terjatuh ke dalam berbagai kesalahan dan pelanggaran. Karena apabila kesempatan ini ternyata menjadi yang terakhir, kapan lagi ia dapat mengulang dan memperbaikinya?Salah satu rangkaian penting dalam ibadah haji adalah wukuf di Arafah. Bahkan, wukuf di Arafah merupakan puncak pelaksanaan ibadah haji, sebagaimana disebutkan dalam hadis,الْحَجُّ عَرَفَةُ“Haji itu adalah Arafah.” (HR. At-Tirmidzi) [1] Oleh karena itu, seorang jemaah hendaknya memberikan perhatian besar terhadap ibadah ini, baik dari sisi ilmu, adab, maupun penjagaan diri dari berbagai kesalahan. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan nasihat dan pengingat agar jemaah haji tidak melakukan pelanggaran, terutama pada momen agung yang menjadi inti dan puncak ibadah haji.Di antara beberapa kesalahan yang dilakukan jamaah haji ketika menuju ke Arafah dan wukuf di Arafah adalah sebagai berikut:Kesalahan pertamaSebagian jemaah haji tidak mengeraskan suara talbiyah saat berjalan dari Mina ke Arafah. Padahal, telah ada ketetapan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau terus ber-talbiyah hingga melempar jumrah Aqabah pada hari Iduladha (Mutaffaqun ‘alaihi) [2].Kesalahan keduaSalah satu kesalahan besar yang fatal adalah sebagian jemaah haji singgah di luar Arafah, lalu tetap berada di tempat singgah tersebut hingga matahari terbenam. Setelah itu, mereka berangkat dari tempat tersebut menuju Muzdalifah. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Haji itu adalah Arafah” [1], maka siapa saja yang tidak wukuf di Arafah, yaitu di tempat yang termasuk wilayah Arafah, dan pada waktu yang telah ditentukan untuk wukuf, maka hajinya tidak sah berdasarkan hadis yang telah disebutkan. Ini adalah perkara yang sangat serius.Batas-batas wilayah Arafah sebenarnya telah diberi tanda-tanda yang jelas dan tidak samar, kecuali bagi orang yang lalai dan meremehkannya. Oleh karena itu, wajib bagi setiap jemaah haji untuk memastikan batas-batas tersebut agar ia benar-benar mengetahui bahwa dirinya telah wukuf di wilayah Arafah, bukan di luar wilayah tersebut.Alangkah baiknya apabila pihak-pihak yang mengurus pelaksanaan haji mengumumkan hal ini kepada seluruh jemaah melalui sarana yang dapat dijangkau oleh mereka semua, serta menggunakan berbagai bahasa. Hendaknya mereka juga menegaskan para pembimbing haji untuk memperingatkan jemaah dari kesalahan ini, agar memahami perkara hajinya dengan jelas dan dapat menunaikan haji dengan cara yang tidak membuat tanggung jawab mereka gugur di hadapan Allah.Kesalahan ketigaSebagian jemaah, ketika sibuk berdoa pada akhir hari Arafah, mereka menghadap ke arah bukit tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwukuf. Padahal, kiblat bisa berada di belakang mereka, di sebelah kanan, atau di sebelah kiri. Ini juga merupakan ketidaktahuan dan kesalahan. Sebab, yang disyariatkan ketika berdoa pada hari Arafah adalah seseorang menghadap ke arah kiblat, baik bukit itu berada di depannya, di belakangnya, di sebelah kanannya, maupun di sebelah kirinya.Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menghadap ke arah bukit tersebut karena tempat wukuf beliau berada di belakang bukit tersebut. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap menghadap kiblat. Apabila bukit tersebut berada di antara beliau dan kiblat, maka secara otomatis beliau juga menghadap ke arah bukit tersebut.Kesalahan keempatSebagian jemaah menyangka bahwa seseorang harus pergi ke tempat wukuf Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berada di puncak bukit, lalu berwukuf di sana. Karena anggapan ini, sebagian jemaah didapati memaksakan diri menempuh berbagai kesulitan dan menghadapi kepayahan hingga sampai ke tempat tersebut. Bahkan, sebagian dari mereka berjalan kaki tanpa mengetahui arah. Akibatnya, mereka bisa kehausan dan kelaparan jika tidak mendapatkan air dan makanan. Mereka juga bisa tersesat di perjalanan, lalu mengalami bahaya besar akibat prasangka keliru tersebut. Padahal telah ditetapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,وَوَقَفْتُ هَاهُنَا، وَعَرَفَةُ كُلُّهَا مَوْقِفٌ“Aku wukuf di sini, dan seluruh Arafah adalah tempat wukuf.” (HR. Muslim) [3]Seakan-akan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan isyarat bahwa tidak perlu memberat-beratkan diri tepat di tempat wukuf Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi, hendaknya ia melakukan apa yang mudah baginya, karena seluruh wilayah Arafah merupakan tempat wukuf.Kesalahan kelimaSebagian orang meyakini bahwa pepohonan di Arafah sama seperti pepohonan di Mina dan Muzdalifah, yaitu seseorang tidak boleh memotong daunnya, rantingnya, atau bagian sejenisnya. Hal ini karena mereka mengira bahwa larangan memotong pohon berkaitan dengan ihram, sebagaimana larangan berburu. Ini adalah sangkaan yang keliru karena memotong pohon tidak ada kaitannya dengan ihram, tetapi berkaitan dengan tempat. Pepohonan yang berada di dalam batas tanah haram itu memiliki kehormatan. Pohon-pohon tersebut tidak boleh dipotong, tidak boleh diambil daunnya, dan tidak boleh dipatahkan rantingnya.Adapun pepohonan yang berada di luar batas tanah haram, maka tidak mengapa dipotong, meskipun seseorang sedang dalam keadaan ihram. Berdasarkan hal ini, memotong pepohonan di Arafah pada asalnya tidak mengapa.Adapun pohon-pohon yang ditanam oleh manusia, maka larangan memotongnya bukan termasuk larangan karena kehormatan tanah haram. Akan tetapi, bisa jadi memotongnya tetap haram karena sebab lain, yaitu karena hal itu merupakan pelanggaran terhadap hak orang yang menanamnya, serta terhadap hak para jemaah haji, apabila pohon-pohon tersebut ditanam untuk menyejukkan udara dan menjadi tempat berteduh dari panas matahari.Dengan demikian, pohon-pohon yang ditanam di Arafah tidak boleh dipotong, bukan karena larangan tanah haram, melainkan karena memotongnya termasuk pelanggaran terhadap hak kaum muslimin secara umum.Kesalahan keenamSebagian jemaah haji meyakini bahwa bukit tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berwukuf memiliki kesucian khusus. Oleh karena itu, mereka pergi ke sana, menaikinya, mencari berkah dari batu-batu dan tanahnya, menggantungkan potongan-potongan kain pada pepohonannya, dan hal-hal lain yang telah dikenal. Perbuatan seperti ini termasuk bid’ah. Tidak disyariatkan menaiki bukit tersebut, tidak pula salat di puncaknya, dan tidak disyariatkan menggantungkan potongan-potongan kain pada pepohonannya. Sebab semua itu tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan ada sedikit nuansa penyembahan berhala.Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan lainnya dengan sanad yang sahih dari Abu Waqid Al-Laitsi, ia berkata,عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا خَرَجَ إِلَى حُنَيْنٍ مَرَّ بِشَجَرَةٍ لِلْمُشْرِكِينَ يُقَالُ لَهَا ذَاتُ أَنْوَاطٍ يُعَلِّقُونَ عَلَيْهَا أَسْلِحَتَهُمْ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُبْحَانَ اللَّهِ هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَرْكَبُنَّ سُنَّةَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ“Kami berangkat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Hunain. Saat itu, kami baru keluar dari kekufuran. Saat itu, kaum musyrikin mempunyai tempat pohon khusus yang biasa dikunjungi dan di mana senjatanya digantungkan. Tempat itu disebut Dzatu Anwath. Saat itu kami melewatinya, lalu kami berkata, “Wahai Rasulullah, buatkan bagi kami Dzatu Anwath seperti yang mereka miliki.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mahasuci Allah, ini seperti yang diucapkan oleh kaumnya Musa, ‘Buatkan tuhan untuk kami sebagaimana mereka memiliki tuhan-tuhan.’ Demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, (jika demikian) niscaya kalian menempuh cara orang-orang yang sebelum kalian.” (HR. At-Tirmidzi) [4]Bukit tersebut sebenarnya tidak memiliki kesucian khusus. Ia sama seperti bukit-bukit kecil dan dataran lain yang ada di Arafah. Hanya saja, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berwukuf di sana.  Maka, yang disyariatkan adalah seseorang berwukuf di tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila hal itu mudah baginya. Namun, hal tersebut bukan kewajiban, dan seseorang tidak sepantasnya memaksakan diri untuk pergi ke sana, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.Kesalahan ketujuhSebagian jemaah haji menyangka bahwa seseorang harus melaksanakan salat Zuhur dan Asar bersama imam di masjid. Karena itu, ada beberapa orang yang pergi ke masjid yang lokasinya jauh agar bisa salat bersama imam. Akibatnya, mereka mengalami kesulitan, gangguan, dan bahkan tersesat, sehingga ibadah haji terasa berat dan sempit bagi mereka. Sebagian mereka juga membuat sesak sebagian yang lain, bahkan saling menganggu satu sama lain. Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku berwukuf di sini dan seluruh Arafah adalah tempat wukuf.” [3] Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,جُعلت لي الأرض مسجدا وطهورا“Dijadikan untukku bumi sebagai masjid dan alat bersuci.” (Mutaffaqun ‘alaihi) [5]Maka, apabila seseorang melaksanakan salat di tendanya dengan tenang, tanpa bahaya apapun baginya atau darinya, serta tanpa kesulitan yang membuat ibadah haji menjadi berat, maka hal itu lebih baik dan lebih utama.Kesalahan kedelapanSebagian jemaah keluar dari Arafah sebelum matahari terbenam, lalu bertolak ke Muzdalifah. Ini adalah kesalahan besar. Di dalamnya terdapat bentuk penyerupaan terhadap kaum musyrikin yang dahulu bertolak dari Arafah sebelum matahari terbenam, serta menyelisihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tidak bertolak dari Arafah kecuali setelah matahari terbenam dan warna kekuningan di langit sedikit menghilang, sebagaimana disebutkan dalam hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu [3].Berdasarkan hal ini, wajib bagi seseorang untuk tetap berada di Arafah, dalam batas-batas wilayahnya, hingga matahari terbenam. Sebab, waktu wukuf ini dibatasi hingga terbenamnya matahari. Sehingga, sebagaimana tidak boleh bagi orang yang berpuasa untuk berbuka sebelum matahari terbenam; demikian pula, tidak boleh bagi orang yang sedang wukuf di Arafah untuk meninggalkan Arafah sebelum matahari terbenam.Kesalahan kesembilanMenyia-nyiakan waktu dalam perkara yang tidak bermanfaat. Sebagian orang didapati sejak awal hari hingga penghujung hari sibuk dengan berbagai pembicaraan. Bisa jadi pembicaraan itu masih bersih dan selamat dari ghibah serta mencela kehormatan orang lain. Namun, bisa jadi pembicaraan itu tidak bersih, karena mereka membicarakan kehormatan orang lain dan memakan daging saudaranya sendiri, yakni melakukan ghibah.Jika yang terjadi adalah yang kedua, maka mereka telah terjatuh dalam dua larangan: larangan pertama, memakan daging saudaranya dan melakukan ghibah terhadap mereka. Ini merupakan kesalahan dan pelanggaran, bahkan ketika seseorang sedang berihram. Sebab Allah Ta’ala berfirman,الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu untuk mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan semasa mengerjakan haji. Dan apa pun yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa, dan bertakwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah: 197)Sedangkan, larangan yang kedua adalah menyia-nyiakan waktu. Adapun jika pembicaraan itu bersih dan tidak mengandung perkara yang haram, maka di dalamnya tetap terdapat unsur menyia-nyiakan waktu. Namun, tidak mengapa seseorang mengisi waktunya dengan pembicaraan yang baik dan mubah sebelum waktu zawal, yaitu sebelum matahari tergelincir.Adapun setelah zawal, setelah melaksanakan salat Zuhur dan Asar, maka yang lebih utama adalah menyibukkan diri dengan dengan doa, zikir, dan membaca Al-Qur’an. Demikian pula, apabila ia merasa lelah membaca Al-Qur’an dan berzikir, ia boleh menyampaikan hal-hal yang bermanfaat kepada saudara-saudaranya, seperti membahas ilmu-ilmu syar’i atau hal-hal semisalnya yang dapat menggembirakan mereka, membuka pintu harapan, serta menumbuhkan rasa optimis terhadap rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.Namun, hendaknya ia benar-benar memanfaatkan kesempatan pada saat-saat terakhir di hari Arafah. Hendaknya ia menyibukkan diri dengan berdoa dan menghadap kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam keadaan merendahkan hati, tunduk, tobat kepada-Nya, mengharap karunia-Nya, dan rahmat-Nya. Hendaknya ia bersungguh-sungguh dalam berdoa, memperbanyak doa-doa yang terdapat dalam Al-Qur’an dan dalam sunah yang sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab doa-doa tersebut adalah sebaik-baiknya doa dan doa pada waktu tersebut sangat mustajab untuk dikabulkan.PenutupIbadah haji adalah ibadah yang sangat berkaitan dengan pengagungan terhadap syi’ar-syi’ar Allah. Maka, alangkah tidak pantasnya apabila di satu sisi kita berharap meraih haji yang mabrur, namun di sisi lain kita justru melanggar sebagai tamu Allah dengan mengabaikan aturan-aturan-Nya. Allah telah menjelaskan ketentuan-ketentuan tersebut melalui lisan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, agar kaum muslimin tidak terjatuh dalam kesalahan, khususnya ketika wukuf di Arafah. Namun, betapa sering kita masih mudah melanggarnya.Ya Allah, sungguh kami telah banyak menzalimi diri kami sendiri. Seandainya bukan karena ampunan dan rahmat-Mu niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.Wa shallallaahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad.Baca juga: Larangan Ketika Ihram***Penulis: Luqman Hasan NahariArtikel Muslim.or.id Sumber: Diterjemahkan dari islamqa.info berdasarkan pertanyaan No. 34293, dengan beberapa tambahan dan penyesuaian.Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 889) dan dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Irwaa’ Al-Ghalil (no. 1064).[2] Diriwayatkan oleh Bukhari (no. 1685) dan Muslim (no. 1281).[3] Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1218).[4] Diriwayatkan At-Tirmidzi dalam Al-Fitan (no. 2180) dan Ahmad (no. 2139), dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih As-Sunnah karya Ibnu Abi ‘Ashim.[5] Diriwayatkan oleh Bukhari (no. 438) dan Muslim (no. 521).

Catatan Penting Saat Wukuf di Arafah

Hari Arafah adalah hari yang penuh keutamaan dan merupakan hari terbaik untuk berdoa. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait ibadah wukuf dan berdoa di hari yang agung ini, khususnya bagi para jemaah haji. Di antara hal penting yang harus diperhatikan adalah:Pertama: Disunahkan pada hari ini bagi seorang muslim untuk memperbanyak dan senantiasa mengulang-ulang bacaan tauhid, yaitu ucapan:لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌHal ini merupakan petunjuk seluruh para Nabi, sebagaimana yang dijelaskan oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. Dan sebaik-baik yang kuucapkan, begitu pula diucapkan oleh para Nabi sebelumku adalah ucapan, “Laa ilaaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qadir (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan, segala pujian dan Allah yang menguasai segala sesuatu).” (HR. Tirmidzi no. 3585, shahih)Mengulang-ulang kalimat ini pada hari Arafah sangat sesuai sekali, karena hari Arafah adalah hari terbaik dan kalimat tauhid (لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ) adalah puncak zikir yang paling utama. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis,أَفْضَلُ الذِّكْرِ أَنَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ“Sebaik-baik zikir adalah lafal Laa ilaaha illallah.” (HR. Tirmidzi no. 3383, hasan)Maka sangatlah tepat dan sesuai apabila seorang hamba memperbanyak zikir terbaik di hari yang terbaik ini.Kedua: Disunahkan pada hari ini untuk mengangkat kedua tangan di saat berdoa. Dari ‘Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,كنتُ رَديفَ النبيِّ ﷺ بعَرَفاتٍ، فرَفَعَ يدَيه يَدعو، فمالتْ به ناقتُه، فسَقَطَ خِطامُها، فتَناوَلَ الخِطامَ بإحدى يدَيه وهو رافعٌ يدَه الأُخرى“Aku sedang menunggang unta di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Arafah. Beliau mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, dan untanya bergoyang, menyebabkan tali kekangnya terlepas. Beliau mengambil tali kekang itu dengan satu tangan sambil tetap mengangkat tangan lainnya.“ (HR. An-Nasa’i, shahih)Dalam hadis ini, tampak sangat jelas semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala berdoa sambil mengangkat tangan di hari Arafah ini. Sehingga meskipun tali kekang unta terlepas, beliau terus melanjutkan berdoa dan tetap mengangkat salah satu tangan beliau karena satu tangan yang lain meraih tali kekang yang jatuh.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا“Sesungguhnya Rabb-mu (Allâh) Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdoa dengan) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya, kemudian Dia menolaknya dengan hampa.“ (HR. Abu Dawud no. 1488, shahih)Ketiga: Para jemaah haji hendaknya bersemangat berdoa dengan doa yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebutkan dalam sunah beliau. Hal ini akan memberikan faidah yang sangat banyak, di antaranya:1) Nabi diberikan mukjizat berupa jawaami’ul kalim, yaitu doa-doa beliau mengandung permintaan yang mencapai puncak kesempurnaan, dan permintaan yang tinggi nilainya, yang mencakup kebaikan dunia dan akhirat.2) Doa yang berasal dari Nabi selamat dari berbagai macam kekurangan dalam doa, kesalahan dalam makna, karena doa yang berasal dari beliau terjaga dari kekurangan dan kesalahan. Hal ini akan semakin jelas jika kita mencermati kisah sahabat Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallahu ‘anhu ketika mendengar anaknya berdoa kepada Allah dengan ucapan,اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ الجنَّةَ ونعيمَها وإستبرَقَها، ونحوًا من هذا وأعوذُ بِكَ منَ النَّارِ وسلاسلِها وأغلالِها“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga, kebahagiaannya, sutra halusnya, dan hal-hal serupa. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka, rantainya, dan belenggunya.”Sa’ad bin Abi Waqasah radhiyallahu ‘anhu pun berkata kepada anaknya,“Sungguh engkau telah meminta kepada Allah banyak sekali, dan berlindung kepada Allah dari banyak keburukan. Sungguh aku telah mendengar Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنه سيكون قومٌ يعتدون في الدُّ الدعاء“Sesungghuhnya akan ada di antara umat yang melampaui batas dalam doa.“ Kemudian beliau membaca firman Allah Ta’ala,اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةًۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَۚ“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” Sesungguhya engkau cukup membaca doa,اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ الجنَّةَ وما قرَّبَ إليها مِن قولٍ أو عملٍ، وأعوذُ بكَ مِنَ النَّارِ وما قرَّبَ إليها من قولٍ أو عملٍ“Aku memohon surga kepada-Mu dan segala perkataan dan perbuatan yang mendekatkan kepadanya. Aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan segala perkataan dan perbuatan yang mendekatkan kepadanya.”  (HR. Ahmad no. 1483, shahih)Seorang muslim yang menggunakan doa yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan meraih keberkahan dan kebaikan yang banyak, serta selamat dari kekeliruan yang bisa saja terjadi dalam doa yang dia panjatkan.Keempat: Ikhlas dalam berdoa dan juga dalam seluruh amalan yang dikerjakan. Setiap muslim hendaknya ikhlas dalam doanya dan seluruh amalnya, karena ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya amal saleh. Jika tidak ikhlas, maka amal akan batal. Oleh karena itu, ketika memulai talbiyah haji di Dzul Hulaifah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اللَّهُمَّ اجعله حَجَّا لاَ رِيَاءَ فِيهَ وَلاَ سُمْعَةَ“Ya Allah, jadikanlah haji yang tidak mengandung riya’ dan sum’ah di dalamnya.“Sayangnya, banyak sekali jaemaah haji telah tertipu oleh fitnah di zaman ini dengan berfoto ketika mereka melakukan manasik haji. Banyak di antara mereka yang memiliki tujuan untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa dia sedang menunaikan ibadah haji. Sebagian di antara mereka memperbagus dalam ibadah dan doa di tempat-tempat ibadah haji agar sempurna gambarnya saat dia dalam kondisi ibadah tersebut. Hendaknya orang yang melakukan semisal ini khawatir akan diharamkan pahala haji seluruhnya, karena Allah berfirman,وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.“ (QS. Al-Bayyinah: 5)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa saja yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa saja yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam hadis qudsi, Allah Ta’ala berfriman,أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ“Aku adalah (Zat) yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa mengerjakan suatu amal yang ia mempersekutukan Aku dengan yang lain di dalamnya, maka Aku tinggalkan dia dengan syiriknya itu.” (HR. Muslim)Maka bagi para jemaah haji, hendaknya menjadi perhatian penting baginya untuk mengikhlaskan hajinya hanya karena Allah, dan dalam rangka meraih rida-Nya semata, serta bersungguh-sungguh untuk menjaga hajinya dari berbagai kerusakan dan segala sesuatu yang menghalangi diterimanya ibadah haji.Kelima: Berdoa dengan cakupan yang luas, termasuk untuk kedua orangtua, kerabat, dan kaum muslimin secara umum agar manfaatnya dirasakan oleh banyak orang. Hendaknya tidak membatasi doa hanya untuk dirinya sendiri saja. Apalagi pada kondisi munculnya berbagai fitnah yang besar yang menimpa berbagai negeri kaum Muslimin, baik berupa pertumpahan darah, perampasan dan penjarahan harta, serta merendahkan kehormatan orang lain.Maka bersemangatlah untuk mendoakan kaum Muslimin dari bagian doa kita, karena kaum Muslimin adalah satu penderitaan dan satu harapan. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا“Seorang Mukmin dengan Mukmin lainnya seperti satu bangunan yang tersusun rapi, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah bersabda,مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى“Perumpamaan kaum Mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi, dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim)Keenam: Jemaah haji hendaknya bersemangat menjaga waktunya di hari Arafah dari kesia-siaan. Hendaknya dia sibukkan dirinya dengan zikir kepada Allah dan berdoa. Oleh karena itu, Nabi menggabungkan di hari Arafah antara salat Zuhur dan Asar dengan jamak taqdim agar para jemaah haji punya banyak waktu luang untuk berdoa dan bermunajat.Namun sangat disayangkan, para jemaah haji justru menyia-nyiakan keutamaan doa dan menundukkan diri pada hari yang agung ini, dan justru sibuk dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, atau banyak ngobrol dengan yang lain, atau menghabiskan banyak waktu untuk tidur. Kemudian tanpa disadari, matahari sudah tenggelam dan dia kehilangan waktu terbaik untuk berdoa di siang hari Arafah.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa tujuan disyariatkannya haji adalah untuk mengingat Allah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا جُعِلَ الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ، وَالسَّعْيُ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ، وَرَمْيُ الْجِمَارِ؛ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللهِ“Sesungguhnya disyariatkannya tawaf di Baitullah (Kakbah), sa’i antara Shafa dan Marwah, serta melempar jumrah adalah untuk menegakkan zikir kepada Allah.” (HR. Abu Dawud no. 1888)Oleh karena itu, Ibnul Qayyim rahimahullah dalam masalah ini mengingatkan tentang satu kaidah yang agung. Beliau berkata, “Sesungguhnya yang paling utama dari setiap pelaku amal adalah yang paling banyak mengingat Allah di dalamnya. Sehingga orang puasa yang paling utama adalah yang paling banyak mengingat Allah dalam puasanya, dan jemaah haji yang paling baik adalah yang paling banyak mengingat Allah, dan demikian berlaku untuk seluruh amal yang lainnya.“Maka tidaklah sama orang yang menggunakan waktu hajinya untuk berzikir, berdoa, membaca Al-Quran, dan amalan ketaatan lainnya dengan orang yang menyia-nyiakan waktunya untuk selain hal-hal tersebut.Ketujuh:  Menghindarkan suara gaduh ketika berdoa. Orang yang sedang haji hendaknya meninggalkan suara gaduh ketika berdoa dan berdoa secara berjemaah, karena yang demikian itu tidak ada petunjuknya dalam sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebaik-baik petunjuk dan yang paling sempurna adalah apa yang sesuai dengan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, yang disyariatkan bahwa setiap jemaah haji berdoa sendiri-sendiri dan juga berzikir sendiri-sendiri. Hal ini sebagaimana perkataan Ibnu ‘Umar ketika menceritakan kondisi para sahabat tatkala bertalbiyah dan berzikir di hari Arafah, “Aku melewati Nabi dan para sahabatnya. Maka di antara kita ada yang bertakbir dan ada yang bertalbiyah.” (HR. Muslim) Sehingga tidak ada yang bertalbiyah atau bertakbir atau berdoa secara berjemaah atau menjadikan ada yang memimpin kemudian yang lain mengikutinya.Baca juga: Sebab Mendapatkan Ampunan di Hari Arafah***Penulis: Adika MianokiArtikel Muslim.or.id Referensi: Fadhailu Yaumi ‘Arafah, karya Syekh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr hafidzahullah.

Catatan Penting Saat Wukuf di Arafah

Hari Arafah adalah hari yang penuh keutamaan dan merupakan hari terbaik untuk berdoa. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait ibadah wukuf dan berdoa di hari yang agung ini, khususnya bagi para jemaah haji. Di antara hal penting yang harus diperhatikan adalah:Pertama: Disunahkan pada hari ini bagi seorang muslim untuk memperbanyak dan senantiasa mengulang-ulang bacaan tauhid, yaitu ucapan:لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌHal ini merupakan petunjuk seluruh para Nabi, sebagaimana yang dijelaskan oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. Dan sebaik-baik yang kuucapkan, begitu pula diucapkan oleh para Nabi sebelumku adalah ucapan, “Laa ilaaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qadir (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan, segala pujian dan Allah yang menguasai segala sesuatu).” (HR. Tirmidzi no. 3585, shahih)Mengulang-ulang kalimat ini pada hari Arafah sangat sesuai sekali, karena hari Arafah adalah hari terbaik dan kalimat tauhid (لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ) adalah puncak zikir yang paling utama. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis,أَفْضَلُ الذِّكْرِ أَنَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ“Sebaik-baik zikir adalah lafal Laa ilaaha illallah.” (HR. Tirmidzi no. 3383, hasan)Maka sangatlah tepat dan sesuai apabila seorang hamba memperbanyak zikir terbaik di hari yang terbaik ini.Kedua: Disunahkan pada hari ini untuk mengangkat kedua tangan di saat berdoa. Dari ‘Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,كنتُ رَديفَ النبيِّ ﷺ بعَرَفاتٍ، فرَفَعَ يدَيه يَدعو، فمالتْ به ناقتُه، فسَقَطَ خِطامُها، فتَناوَلَ الخِطامَ بإحدى يدَيه وهو رافعٌ يدَه الأُخرى“Aku sedang menunggang unta di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Arafah. Beliau mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, dan untanya bergoyang, menyebabkan tali kekangnya terlepas. Beliau mengambil tali kekang itu dengan satu tangan sambil tetap mengangkat tangan lainnya.“ (HR. An-Nasa’i, shahih)Dalam hadis ini, tampak sangat jelas semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala berdoa sambil mengangkat tangan di hari Arafah ini. Sehingga meskipun tali kekang unta terlepas, beliau terus melanjutkan berdoa dan tetap mengangkat salah satu tangan beliau karena satu tangan yang lain meraih tali kekang yang jatuh.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا“Sesungguhnya Rabb-mu (Allâh) Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdoa dengan) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya, kemudian Dia menolaknya dengan hampa.“ (HR. Abu Dawud no. 1488, shahih)Ketiga: Para jemaah haji hendaknya bersemangat berdoa dengan doa yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebutkan dalam sunah beliau. Hal ini akan memberikan faidah yang sangat banyak, di antaranya:1) Nabi diberikan mukjizat berupa jawaami’ul kalim, yaitu doa-doa beliau mengandung permintaan yang mencapai puncak kesempurnaan, dan permintaan yang tinggi nilainya, yang mencakup kebaikan dunia dan akhirat.2) Doa yang berasal dari Nabi selamat dari berbagai macam kekurangan dalam doa, kesalahan dalam makna, karena doa yang berasal dari beliau terjaga dari kekurangan dan kesalahan. Hal ini akan semakin jelas jika kita mencermati kisah sahabat Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallahu ‘anhu ketika mendengar anaknya berdoa kepada Allah dengan ucapan,اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ الجنَّةَ ونعيمَها وإستبرَقَها، ونحوًا من هذا وأعوذُ بِكَ منَ النَّارِ وسلاسلِها وأغلالِها“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga, kebahagiaannya, sutra halusnya, dan hal-hal serupa. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka, rantainya, dan belenggunya.”Sa’ad bin Abi Waqasah radhiyallahu ‘anhu pun berkata kepada anaknya,“Sungguh engkau telah meminta kepada Allah banyak sekali, dan berlindung kepada Allah dari banyak keburukan. Sungguh aku telah mendengar Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنه سيكون قومٌ يعتدون في الدُّ الدعاء“Sesungghuhnya akan ada di antara umat yang melampaui batas dalam doa.“ Kemudian beliau membaca firman Allah Ta’ala,اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةًۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَۚ“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” Sesungguhya engkau cukup membaca doa,اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ الجنَّةَ وما قرَّبَ إليها مِن قولٍ أو عملٍ، وأعوذُ بكَ مِنَ النَّارِ وما قرَّبَ إليها من قولٍ أو عملٍ“Aku memohon surga kepada-Mu dan segala perkataan dan perbuatan yang mendekatkan kepadanya. Aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan segala perkataan dan perbuatan yang mendekatkan kepadanya.”  (HR. Ahmad no. 1483, shahih)Seorang muslim yang menggunakan doa yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan meraih keberkahan dan kebaikan yang banyak, serta selamat dari kekeliruan yang bisa saja terjadi dalam doa yang dia panjatkan.Keempat: Ikhlas dalam berdoa dan juga dalam seluruh amalan yang dikerjakan. Setiap muslim hendaknya ikhlas dalam doanya dan seluruh amalnya, karena ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya amal saleh. Jika tidak ikhlas, maka amal akan batal. Oleh karena itu, ketika memulai talbiyah haji di Dzul Hulaifah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اللَّهُمَّ اجعله حَجَّا لاَ رِيَاءَ فِيهَ وَلاَ سُمْعَةَ“Ya Allah, jadikanlah haji yang tidak mengandung riya’ dan sum’ah di dalamnya.“Sayangnya, banyak sekali jaemaah haji telah tertipu oleh fitnah di zaman ini dengan berfoto ketika mereka melakukan manasik haji. Banyak di antara mereka yang memiliki tujuan untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa dia sedang menunaikan ibadah haji. Sebagian di antara mereka memperbagus dalam ibadah dan doa di tempat-tempat ibadah haji agar sempurna gambarnya saat dia dalam kondisi ibadah tersebut. Hendaknya orang yang melakukan semisal ini khawatir akan diharamkan pahala haji seluruhnya, karena Allah berfirman,وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.“ (QS. Al-Bayyinah: 5)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa saja yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa saja yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam hadis qudsi, Allah Ta’ala berfriman,أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ“Aku adalah (Zat) yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa mengerjakan suatu amal yang ia mempersekutukan Aku dengan yang lain di dalamnya, maka Aku tinggalkan dia dengan syiriknya itu.” (HR. Muslim)Maka bagi para jemaah haji, hendaknya menjadi perhatian penting baginya untuk mengikhlaskan hajinya hanya karena Allah, dan dalam rangka meraih rida-Nya semata, serta bersungguh-sungguh untuk menjaga hajinya dari berbagai kerusakan dan segala sesuatu yang menghalangi diterimanya ibadah haji.Kelima: Berdoa dengan cakupan yang luas, termasuk untuk kedua orangtua, kerabat, dan kaum muslimin secara umum agar manfaatnya dirasakan oleh banyak orang. Hendaknya tidak membatasi doa hanya untuk dirinya sendiri saja. Apalagi pada kondisi munculnya berbagai fitnah yang besar yang menimpa berbagai negeri kaum Muslimin, baik berupa pertumpahan darah, perampasan dan penjarahan harta, serta merendahkan kehormatan orang lain.Maka bersemangatlah untuk mendoakan kaum Muslimin dari bagian doa kita, karena kaum Muslimin adalah satu penderitaan dan satu harapan. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا“Seorang Mukmin dengan Mukmin lainnya seperti satu bangunan yang tersusun rapi, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah bersabda,مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى“Perumpamaan kaum Mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi, dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim)Keenam: Jemaah haji hendaknya bersemangat menjaga waktunya di hari Arafah dari kesia-siaan. Hendaknya dia sibukkan dirinya dengan zikir kepada Allah dan berdoa. Oleh karena itu, Nabi menggabungkan di hari Arafah antara salat Zuhur dan Asar dengan jamak taqdim agar para jemaah haji punya banyak waktu luang untuk berdoa dan bermunajat.Namun sangat disayangkan, para jemaah haji justru menyia-nyiakan keutamaan doa dan menundukkan diri pada hari yang agung ini, dan justru sibuk dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, atau banyak ngobrol dengan yang lain, atau menghabiskan banyak waktu untuk tidur. Kemudian tanpa disadari, matahari sudah tenggelam dan dia kehilangan waktu terbaik untuk berdoa di siang hari Arafah.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa tujuan disyariatkannya haji adalah untuk mengingat Allah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا جُعِلَ الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ، وَالسَّعْيُ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ، وَرَمْيُ الْجِمَارِ؛ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللهِ“Sesungguhnya disyariatkannya tawaf di Baitullah (Kakbah), sa’i antara Shafa dan Marwah, serta melempar jumrah adalah untuk menegakkan zikir kepada Allah.” (HR. Abu Dawud no. 1888)Oleh karena itu, Ibnul Qayyim rahimahullah dalam masalah ini mengingatkan tentang satu kaidah yang agung. Beliau berkata, “Sesungguhnya yang paling utama dari setiap pelaku amal adalah yang paling banyak mengingat Allah di dalamnya. Sehingga orang puasa yang paling utama adalah yang paling banyak mengingat Allah dalam puasanya, dan jemaah haji yang paling baik adalah yang paling banyak mengingat Allah, dan demikian berlaku untuk seluruh amal yang lainnya.“Maka tidaklah sama orang yang menggunakan waktu hajinya untuk berzikir, berdoa, membaca Al-Quran, dan amalan ketaatan lainnya dengan orang yang menyia-nyiakan waktunya untuk selain hal-hal tersebut.Ketujuh:  Menghindarkan suara gaduh ketika berdoa. Orang yang sedang haji hendaknya meninggalkan suara gaduh ketika berdoa dan berdoa secara berjemaah, karena yang demikian itu tidak ada petunjuknya dalam sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebaik-baik petunjuk dan yang paling sempurna adalah apa yang sesuai dengan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, yang disyariatkan bahwa setiap jemaah haji berdoa sendiri-sendiri dan juga berzikir sendiri-sendiri. Hal ini sebagaimana perkataan Ibnu ‘Umar ketika menceritakan kondisi para sahabat tatkala bertalbiyah dan berzikir di hari Arafah, “Aku melewati Nabi dan para sahabatnya. Maka di antara kita ada yang bertakbir dan ada yang bertalbiyah.” (HR. Muslim) Sehingga tidak ada yang bertalbiyah atau bertakbir atau berdoa secara berjemaah atau menjadikan ada yang memimpin kemudian yang lain mengikutinya.Baca juga: Sebab Mendapatkan Ampunan di Hari Arafah***Penulis: Adika MianokiArtikel Muslim.or.id Referensi: Fadhailu Yaumi ‘Arafah, karya Syekh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr hafidzahullah.
Hari Arafah adalah hari yang penuh keutamaan dan merupakan hari terbaik untuk berdoa. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait ibadah wukuf dan berdoa di hari yang agung ini, khususnya bagi para jemaah haji. Di antara hal penting yang harus diperhatikan adalah:Pertama: Disunahkan pada hari ini bagi seorang muslim untuk memperbanyak dan senantiasa mengulang-ulang bacaan tauhid, yaitu ucapan:لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌHal ini merupakan petunjuk seluruh para Nabi, sebagaimana yang dijelaskan oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. Dan sebaik-baik yang kuucapkan, begitu pula diucapkan oleh para Nabi sebelumku adalah ucapan, “Laa ilaaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qadir (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan, segala pujian dan Allah yang menguasai segala sesuatu).” (HR. Tirmidzi no. 3585, shahih)Mengulang-ulang kalimat ini pada hari Arafah sangat sesuai sekali, karena hari Arafah adalah hari terbaik dan kalimat tauhid (لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ) adalah puncak zikir yang paling utama. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis,أَفْضَلُ الذِّكْرِ أَنَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ“Sebaik-baik zikir adalah lafal Laa ilaaha illallah.” (HR. Tirmidzi no. 3383, hasan)Maka sangatlah tepat dan sesuai apabila seorang hamba memperbanyak zikir terbaik di hari yang terbaik ini.Kedua: Disunahkan pada hari ini untuk mengangkat kedua tangan di saat berdoa. Dari ‘Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,كنتُ رَديفَ النبيِّ ﷺ بعَرَفاتٍ، فرَفَعَ يدَيه يَدعو، فمالتْ به ناقتُه، فسَقَطَ خِطامُها، فتَناوَلَ الخِطامَ بإحدى يدَيه وهو رافعٌ يدَه الأُخرى“Aku sedang menunggang unta di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Arafah. Beliau mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, dan untanya bergoyang, menyebabkan tali kekangnya terlepas. Beliau mengambil tali kekang itu dengan satu tangan sambil tetap mengangkat tangan lainnya.“ (HR. An-Nasa’i, shahih)Dalam hadis ini, tampak sangat jelas semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala berdoa sambil mengangkat tangan di hari Arafah ini. Sehingga meskipun tali kekang unta terlepas, beliau terus melanjutkan berdoa dan tetap mengangkat salah satu tangan beliau karena satu tangan yang lain meraih tali kekang yang jatuh.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا“Sesungguhnya Rabb-mu (Allâh) Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdoa dengan) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya, kemudian Dia menolaknya dengan hampa.“ (HR. Abu Dawud no. 1488, shahih)Ketiga: Para jemaah haji hendaknya bersemangat berdoa dengan doa yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebutkan dalam sunah beliau. Hal ini akan memberikan faidah yang sangat banyak, di antaranya:1) Nabi diberikan mukjizat berupa jawaami’ul kalim, yaitu doa-doa beliau mengandung permintaan yang mencapai puncak kesempurnaan, dan permintaan yang tinggi nilainya, yang mencakup kebaikan dunia dan akhirat.2) Doa yang berasal dari Nabi selamat dari berbagai macam kekurangan dalam doa, kesalahan dalam makna, karena doa yang berasal dari beliau terjaga dari kekurangan dan kesalahan. Hal ini akan semakin jelas jika kita mencermati kisah sahabat Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallahu ‘anhu ketika mendengar anaknya berdoa kepada Allah dengan ucapan,اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ الجنَّةَ ونعيمَها وإستبرَقَها، ونحوًا من هذا وأعوذُ بِكَ منَ النَّارِ وسلاسلِها وأغلالِها“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga, kebahagiaannya, sutra halusnya, dan hal-hal serupa. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka, rantainya, dan belenggunya.”Sa’ad bin Abi Waqasah radhiyallahu ‘anhu pun berkata kepada anaknya,“Sungguh engkau telah meminta kepada Allah banyak sekali, dan berlindung kepada Allah dari banyak keburukan. Sungguh aku telah mendengar Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنه سيكون قومٌ يعتدون في الدُّ الدعاء“Sesungghuhnya akan ada di antara umat yang melampaui batas dalam doa.“ Kemudian beliau membaca firman Allah Ta’ala,اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةًۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَۚ“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” Sesungguhya engkau cukup membaca doa,اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ الجنَّةَ وما قرَّبَ إليها مِن قولٍ أو عملٍ، وأعوذُ بكَ مِنَ النَّارِ وما قرَّبَ إليها من قولٍ أو عملٍ“Aku memohon surga kepada-Mu dan segala perkataan dan perbuatan yang mendekatkan kepadanya. Aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan segala perkataan dan perbuatan yang mendekatkan kepadanya.”  (HR. Ahmad no. 1483, shahih)Seorang muslim yang menggunakan doa yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan meraih keberkahan dan kebaikan yang banyak, serta selamat dari kekeliruan yang bisa saja terjadi dalam doa yang dia panjatkan.Keempat: Ikhlas dalam berdoa dan juga dalam seluruh amalan yang dikerjakan. Setiap muslim hendaknya ikhlas dalam doanya dan seluruh amalnya, karena ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya amal saleh. Jika tidak ikhlas, maka amal akan batal. Oleh karena itu, ketika memulai talbiyah haji di Dzul Hulaifah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اللَّهُمَّ اجعله حَجَّا لاَ رِيَاءَ فِيهَ وَلاَ سُمْعَةَ“Ya Allah, jadikanlah haji yang tidak mengandung riya’ dan sum’ah di dalamnya.“Sayangnya, banyak sekali jaemaah haji telah tertipu oleh fitnah di zaman ini dengan berfoto ketika mereka melakukan manasik haji. Banyak di antara mereka yang memiliki tujuan untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa dia sedang menunaikan ibadah haji. Sebagian di antara mereka memperbagus dalam ibadah dan doa di tempat-tempat ibadah haji agar sempurna gambarnya saat dia dalam kondisi ibadah tersebut. Hendaknya orang yang melakukan semisal ini khawatir akan diharamkan pahala haji seluruhnya, karena Allah berfirman,وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.“ (QS. Al-Bayyinah: 5)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa saja yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa saja yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam hadis qudsi, Allah Ta’ala berfriman,أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ“Aku adalah (Zat) yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa mengerjakan suatu amal yang ia mempersekutukan Aku dengan yang lain di dalamnya, maka Aku tinggalkan dia dengan syiriknya itu.” (HR. Muslim)Maka bagi para jemaah haji, hendaknya menjadi perhatian penting baginya untuk mengikhlaskan hajinya hanya karena Allah, dan dalam rangka meraih rida-Nya semata, serta bersungguh-sungguh untuk menjaga hajinya dari berbagai kerusakan dan segala sesuatu yang menghalangi diterimanya ibadah haji.Kelima: Berdoa dengan cakupan yang luas, termasuk untuk kedua orangtua, kerabat, dan kaum muslimin secara umum agar manfaatnya dirasakan oleh banyak orang. Hendaknya tidak membatasi doa hanya untuk dirinya sendiri saja. Apalagi pada kondisi munculnya berbagai fitnah yang besar yang menimpa berbagai negeri kaum Muslimin, baik berupa pertumpahan darah, perampasan dan penjarahan harta, serta merendahkan kehormatan orang lain.Maka bersemangatlah untuk mendoakan kaum Muslimin dari bagian doa kita, karena kaum Muslimin adalah satu penderitaan dan satu harapan. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا“Seorang Mukmin dengan Mukmin lainnya seperti satu bangunan yang tersusun rapi, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah bersabda,مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى“Perumpamaan kaum Mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi, dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim)Keenam: Jemaah haji hendaknya bersemangat menjaga waktunya di hari Arafah dari kesia-siaan. Hendaknya dia sibukkan dirinya dengan zikir kepada Allah dan berdoa. Oleh karena itu, Nabi menggabungkan di hari Arafah antara salat Zuhur dan Asar dengan jamak taqdim agar para jemaah haji punya banyak waktu luang untuk berdoa dan bermunajat.Namun sangat disayangkan, para jemaah haji justru menyia-nyiakan keutamaan doa dan menundukkan diri pada hari yang agung ini, dan justru sibuk dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, atau banyak ngobrol dengan yang lain, atau menghabiskan banyak waktu untuk tidur. Kemudian tanpa disadari, matahari sudah tenggelam dan dia kehilangan waktu terbaik untuk berdoa di siang hari Arafah.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa tujuan disyariatkannya haji adalah untuk mengingat Allah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا جُعِلَ الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ، وَالسَّعْيُ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ، وَرَمْيُ الْجِمَارِ؛ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللهِ“Sesungguhnya disyariatkannya tawaf di Baitullah (Kakbah), sa’i antara Shafa dan Marwah, serta melempar jumrah adalah untuk menegakkan zikir kepada Allah.” (HR. Abu Dawud no. 1888)Oleh karena itu, Ibnul Qayyim rahimahullah dalam masalah ini mengingatkan tentang satu kaidah yang agung. Beliau berkata, “Sesungguhnya yang paling utama dari setiap pelaku amal adalah yang paling banyak mengingat Allah di dalamnya. Sehingga orang puasa yang paling utama adalah yang paling banyak mengingat Allah dalam puasanya, dan jemaah haji yang paling baik adalah yang paling banyak mengingat Allah, dan demikian berlaku untuk seluruh amal yang lainnya.“Maka tidaklah sama orang yang menggunakan waktu hajinya untuk berzikir, berdoa, membaca Al-Quran, dan amalan ketaatan lainnya dengan orang yang menyia-nyiakan waktunya untuk selain hal-hal tersebut.Ketujuh:  Menghindarkan suara gaduh ketika berdoa. Orang yang sedang haji hendaknya meninggalkan suara gaduh ketika berdoa dan berdoa secara berjemaah, karena yang demikian itu tidak ada petunjuknya dalam sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebaik-baik petunjuk dan yang paling sempurna adalah apa yang sesuai dengan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, yang disyariatkan bahwa setiap jemaah haji berdoa sendiri-sendiri dan juga berzikir sendiri-sendiri. Hal ini sebagaimana perkataan Ibnu ‘Umar ketika menceritakan kondisi para sahabat tatkala bertalbiyah dan berzikir di hari Arafah, “Aku melewati Nabi dan para sahabatnya. Maka di antara kita ada yang bertakbir dan ada yang bertalbiyah.” (HR. Muslim) Sehingga tidak ada yang bertalbiyah atau bertakbir atau berdoa secara berjemaah atau menjadikan ada yang memimpin kemudian yang lain mengikutinya.Baca juga: Sebab Mendapatkan Ampunan di Hari Arafah***Penulis: Adika MianokiArtikel Muslim.or.id Referensi: Fadhailu Yaumi ‘Arafah, karya Syekh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr hafidzahullah.


Hari Arafah adalah hari yang penuh keutamaan dan merupakan hari terbaik untuk berdoa. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait ibadah wukuf dan berdoa di hari yang agung ini, khususnya bagi para jemaah haji. Di antara hal penting yang harus diperhatikan adalah:Pertama: Disunahkan pada hari ini bagi seorang muslim untuk memperbanyak dan senantiasa mengulang-ulang bacaan tauhid, yaitu ucapan:لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌHal ini merupakan petunjuk seluruh para Nabi, sebagaimana yang dijelaskan oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. Dan sebaik-baik yang kuucapkan, begitu pula diucapkan oleh para Nabi sebelumku adalah ucapan, “Laa ilaaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qadir (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan, segala pujian dan Allah yang menguasai segala sesuatu).” (HR. Tirmidzi no. 3585, shahih)Mengulang-ulang kalimat ini pada hari Arafah sangat sesuai sekali, karena hari Arafah adalah hari terbaik dan kalimat tauhid (لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ) adalah puncak zikir yang paling utama. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis,أَفْضَلُ الذِّكْرِ أَنَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ“Sebaik-baik zikir adalah lafal Laa ilaaha illallah.” (HR. Tirmidzi no. 3383, hasan)Maka sangatlah tepat dan sesuai apabila seorang hamba memperbanyak zikir terbaik di hari yang terbaik ini.Kedua: Disunahkan pada hari ini untuk mengangkat kedua tangan di saat berdoa. Dari ‘Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,كنتُ رَديفَ النبيِّ ﷺ بعَرَفاتٍ، فرَفَعَ يدَيه يَدعو، فمالتْ به ناقتُه، فسَقَطَ خِطامُها، فتَناوَلَ الخِطامَ بإحدى يدَيه وهو رافعٌ يدَه الأُخرى“Aku sedang menunggang unta di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Arafah. Beliau mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, dan untanya bergoyang, menyebabkan tali kekangnya terlepas. Beliau mengambil tali kekang itu dengan satu tangan sambil tetap mengangkat tangan lainnya.“ (HR. An-Nasa’i, shahih)Dalam hadis ini, tampak sangat jelas semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala berdoa sambil mengangkat tangan di hari Arafah ini. Sehingga meskipun tali kekang unta terlepas, beliau terus melanjutkan berdoa dan tetap mengangkat salah satu tangan beliau karena satu tangan yang lain meraih tali kekang yang jatuh.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا“Sesungguhnya Rabb-mu (Allâh) Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdoa dengan) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya, kemudian Dia menolaknya dengan hampa.“ (HR. Abu Dawud no. 1488, shahih)Ketiga: Para jemaah haji hendaknya bersemangat berdoa dengan doa yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebutkan dalam sunah beliau. Hal ini akan memberikan faidah yang sangat banyak, di antaranya:1) Nabi diberikan mukjizat berupa jawaami’ul kalim, yaitu doa-doa beliau mengandung permintaan yang mencapai puncak kesempurnaan, dan permintaan yang tinggi nilainya, yang mencakup kebaikan dunia dan akhirat.2) Doa yang berasal dari Nabi selamat dari berbagai macam kekurangan dalam doa, kesalahan dalam makna, karena doa yang berasal dari beliau terjaga dari kekurangan dan kesalahan. Hal ini akan semakin jelas jika kita mencermati kisah sahabat Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallahu ‘anhu ketika mendengar anaknya berdoa kepada Allah dengan ucapan,اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ الجنَّةَ ونعيمَها وإستبرَقَها، ونحوًا من هذا وأعوذُ بِكَ منَ النَّارِ وسلاسلِها وأغلالِها“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga, kebahagiaannya, sutra halusnya, dan hal-hal serupa. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka, rantainya, dan belenggunya.”Sa’ad bin Abi Waqasah radhiyallahu ‘anhu pun berkata kepada anaknya,“Sungguh engkau telah meminta kepada Allah banyak sekali, dan berlindung kepada Allah dari banyak keburukan. Sungguh aku telah mendengar Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنه سيكون قومٌ يعتدون في الدُّ الدعاء“Sesungghuhnya akan ada di antara umat yang melampaui batas dalam doa.“ Kemudian beliau membaca firman Allah Ta’ala,اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةًۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَۚ“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” Sesungguhya engkau cukup membaca doa,اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ الجنَّةَ وما قرَّبَ إليها مِن قولٍ أو عملٍ، وأعوذُ بكَ مِنَ النَّارِ وما قرَّبَ إليها من قولٍ أو عملٍ“Aku memohon surga kepada-Mu dan segala perkataan dan perbuatan yang mendekatkan kepadanya. Aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan segala perkataan dan perbuatan yang mendekatkan kepadanya.”  (HR. Ahmad no. 1483, shahih)Seorang muslim yang menggunakan doa yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan meraih keberkahan dan kebaikan yang banyak, serta selamat dari kekeliruan yang bisa saja terjadi dalam doa yang dia panjatkan.Keempat: Ikhlas dalam berdoa dan juga dalam seluruh amalan yang dikerjakan. Setiap muslim hendaknya ikhlas dalam doanya dan seluruh amalnya, karena ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya amal saleh. Jika tidak ikhlas, maka amal akan batal. Oleh karena itu, ketika memulai talbiyah haji di Dzul Hulaifah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اللَّهُمَّ اجعله حَجَّا لاَ رِيَاءَ فِيهَ وَلاَ سُمْعَةَ“Ya Allah, jadikanlah haji yang tidak mengandung riya’ dan sum’ah di dalamnya.“Sayangnya, banyak sekali jaemaah haji telah tertipu oleh fitnah di zaman ini dengan berfoto ketika mereka melakukan manasik haji. Banyak di antara mereka yang memiliki tujuan untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa dia sedang menunaikan ibadah haji. Sebagian di antara mereka memperbagus dalam ibadah dan doa di tempat-tempat ibadah haji agar sempurna gambarnya saat dia dalam kondisi ibadah tersebut. Hendaknya orang yang melakukan semisal ini khawatir akan diharamkan pahala haji seluruhnya, karena Allah berfirman,وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.“ (QS. Al-Bayyinah: 5)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa saja yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa saja yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam hadis qudsi, Allah Ta’ala berfriman,أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ“Aku adalah (Zat) yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa mengerjakan suatu amal yang ia mempersekutukan Aku dengan yang lain di dalamnya, maka Aku tinggalkan dia dengan syiriknya itu.” (HR. Muslim)Maka bagi para jemaah haji, hendaknya menjadi perhatian penting baginya untuk mengikhlaskan hajinya hanya karena Allah, dan dalam rangka meraih rida-Nya semata, serta bersungguh-sungguh untuk menjaga hajinya dari berbagai kerusakan dan segala sesuatu yang menghalangi diterimanya ibadah haji.Kelima: Berdoa dengan cakupan yang luas, termasuk untuk kedua orangtua, kerabat, dan kaum muslimin secara umum agar manfaatnya dirasakan oleh banyak orang. Hendaknya tidak membatasi doa hanya untuk dirinya sendiri saja. Apalagi pada kondisi munculnya berbagai fitnah yang besar yang menimpa berbagai negeri kaum Muslimin, baik berupa pertumpahan darah, perampasan dan penjarahan harta, serta merendahkan kehormatan orang lain.Maka bersemangatlah untuk mendoakan kaum Muslimin dari bagian doa kita, karena kaum Muslimin adalah satu penderitaan dan satu harapan. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا“Seorang Mukmin dengan Mukmin lainnya seperti satu bangunan yang tersusun rapi, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah bersabda,مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى“Perumpamaan kaum Mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi, dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim)Keenam: Jemaah haji hendaknya bersemangat menjaga waktunya di hari Arafah dari kesia-siaan. Hendaknya dia sibukkan dirinya dengan zikir kepada Allah dan berdoa. Oleh karena itu, Nabi menggabungkan di hari Arafah antara salat Zuhur dan Asar dengan jamak taqdim agar para jemaah haji punya banyak waktu luang untuk berdoa dan bermunajat.Namun sangat disayangkan, para jemaah haji justru menyia-nyiakan keutamaan doa dan menundukkan diri pada hari yang agung ini, dan justru sibuk dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, atau banyak ngobrol dengan yang lain, atau menghabiskan banyak waktu untuk tidur. Kemudian tanpa disadari, matahari sudah tenggelam dan dia kehilangan waktu terbaik untuk berdoa di siang hari Arafah.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa tujuan disyariatkannya haji adalah untuk mengingat Allah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا جُعِلَ الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ، وَالسَّعْيُ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ، وَرَمْيُ الْجِمَارِ؛ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللهِ“Sesungguhnya disyariatkannya tawaf di Baitullah (Kakbah), sa’i antara Shafa dan Marwah, serta melempar jumrah adalah untuk menegakkan zikir kepada Allah.” (HR. Abu Dawud no. 1888)Oleh karena itu, Ibnul Qayyim rahimahullah dalam masalah ini mengingatkan tentang satu kaidah yang agung. Beliau berkata, “Sesungguhnya yang paling utama dari setiap pelaku amal adalah yang paling banyak mengingat Allah di dalamnya. Sehingga orang puasa yang paling utama adalah yang paling banyak mengingat Allah dalam puasanya, dan jemaah haji yang paling baik adalah yang paling banyak mengingat Allah, dan demikian berlaku untuk seluruh amal yang lainnya.“Maka tidaklah sama orang yang menggunakan waktu hajinya untuk berzikir, berdoa, membaca Al-Quran, dan amalan ketaatan lainnya dengan orang yang menyia-nyiakan waktunya untuk selain hal-hal tersebut.Ketujuh:  Menghindarkan suara gaduh ketika berdoa. Orang yang sedang haji hendaknya meninggalkan suara gaduh ketika berdoa dan berdoa secara berjemaah, karena yang demikian itu tidak ada petunjuknya dalam sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebaik-baik petunjuk dan yang paling sempurna adalah apa yang sesuai dengan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, yang disyariatkan bahwa setiap jemaah haji berdoa sendiri-sendiri dan juga berzikir sendiri-sendiri. Hal ini sebagaimana perkataan Ibnu ‘Umar ketika menceritakan kondisi para sahabat tatkala bertalbiyah dan berzikir di hari Arafah, “Aku melewati Nabi dan para sahabatnya. Maka di antara kita ada yang bertakbir dan ada yang bertalbiyah.” (HR. Muslim) Sehingga tidak ada yang bertalbiyah atau bertakbir atau berdoa secara berjemaah atau menjadikan ada yang memimpin kemudian yang lain mengikutinya.Baca juga: Sebab Mendapatkan Ampunan di Hari Arafah***Penulis: Adika MianokiArtikel Muslim.or.id Referensi: Fadhailu Yaumi ‘Arafah, karya Syekh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr hafidzahullah.

Lalai dalam Amal Ketaatan dan Meremehkan Pelaksanaan Sunnah

Oleh: Dr. Thalib bin Umar bin Haidarah Al-Katsiri Salah satu sebab intikasah (berpaling dari hidayah setelah mendapatkannya) adalah lalai dalam amal ketaatan dan meremehkan pelaksanaan sunnah. Sebab ini punya beberapa tanda, engkau mendapati pelakunya tidak peduli dengan batinnya, sehingga ia tidak merealisasikan ibadah, kekhusyukan, ketulusan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan amal-amal sunnah yang rahasia. Yang ia lakukan hanyalah keistiqamahan permukaan dan tampilan saja yang berlainan dengan isi batinnya tanpa ia sadari. Ia melalaikan sunnah-sunnah rawatib, terkadang tidak mengikuti shalat berjamaah, berlalu beberapa masa tanpa ia mendirikan salat malam, tidak khusyuk dalam salatnya, dan tidak mengkhatamkan Al-Qur’an. Hal ini terus berlanjut dalam kemunduran, lalu berlanjut dengan penurunan, mulai dari abai dalam mengingkari kemungkaran yang ia dengar dan lihat, hingga ikut serta dalam menyaksikan dan melakukan hal-hal yang diharamkan, lalu berlanjut lagi dengan rasa ketergantungan dengan hiburan, kemaksiatan, dan rasa sedih jika meninggalkannya, dan pada akhirnya sampai pada keberpalingan dari jalan hidayah. Na’udzubillah. Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata dalam kitab Al-Fawaid halaman 128: “Disebutkan dalam Al-Qur’an berkali-kali bahwa amalan-amalan yang terbangun melalui hati dan anggota badan bisa menjadi sebab hidayah dan kesesatan. Hati dan anggota badan menjalankan suatu amalan lalu membuahkan hidayah, seperti keterikatan antara akibat dengan sebabnya dan pengaruh dengan dampaknya. Demikian pula yang berlaku dalam kesesatan.” Jadi, ini —wahai saudaraku seiman— adalah ikatan sebab-akibat yang saling berkaitan satu sama lain. Abu Mahmud Abdullah bin Muhammad bin Manazil an-Naisaburi mengatakan dalam kitab Syadzarat Adz-Dzahab jilid 1 hlm. 330: “Tidaklah seseorang melalaikan suatu amalan wajib kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengujinya dengan pelalaian sunnah-sunnah. Dan tidaklah seseorang diuji dengan pelalaian sunnah-sunnah melainkan ia akan terancam diuji dengan bid’ah-bid’ah.” Hassan bin Athiyah Rahimahullah berkata: “Tidaklah suatu kaum melakukan suatu bid’ah dalam agama mereka melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencabut dari mereka satu sunnah yang serupa, lalu tidak mengembalikannya kepada mereka hingga hari kiamat.” (Diriwayatkan oleh Al-Lalika’i no. 129 dan Ad-Darimi no. 98 dengan sanad yang sahih). Di antara akibat yang paling masyhur dari intikasah adalah melakukan bid’ah setelah berpegang pada sunnah, kembali bodoh setelah berilmu, dan terombang-ambing dalam keraguan setelah memiliki keyakinan. Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Tatkala aku sedang berdiri di telaga, tiba-tiba muncul sekelompok orang, hingga saat aku mengenali mereka, sesosok malaikat muncul di antara aku dan mereka lalu berkata: ‘Kemarilah’. Aku lalu bertanya: ‘Ke mana?’ Ia menjawab: ‘Demi Allah! Ke neraka.’ Aku pun bertanya: ‘Ada apa dengan mereka?’ Ia menjawab: ‘Mereka telah murtad, berbalik ke belakang.’ Kemudian muncul lagi sekelompok orang lainnya, hingga saat aku mengenali mereka, sesosok malaikat muncul di antara aku dan mereka lalu berkata: ‘Kemarilah’. Aku lalu bertanya: ‘Ke mana?’ Ia menjawab: ‘Demi Allah! Ke neraka.’ Aku pun bertanya: ‘Ada apa dengan mereka?’ Ia menjawab: ‘Mereka telah murtad, berpaling ke belakang.’ Lalu aku tidak melihat ada yang selamat dari mereka kecuali hanya seperti hewan ternak yang terlepas dari kawanannya (sangat sedikit).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Lalu dalam riwayat Imam Muslim dari Aisyah disebutkan tambahan redaksi: “Lalu aku berkata: ‘Wahai Tuhanku, mereka umatku!’ Kemudian Allah berfirman: ‘Engkau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat setelahmu, mereka terus berpaling di atas tumit-tumit mereka.’” (HR. Muslim). Maka, wahai saudara-saudara, waspadalah dari keberpalingan! Jalan keselamatan Disebutkan dalam hadis riwayat Abdullah bin Amru Radhiyallahu ‘anhuma bahwa pernah disebutkan kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam tentang kaum yang sangat bersungguh-sungguh dalam ibadah. Kemudian beliau bersabda: تِلْكَ ضَرُورَةُ الْإِسْلَامِ وَشِرَّتُهُ، وَلِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةٌ، فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى اقْتِصَادٍ فَنِعْمَ مَا هُوَ، وَمَنْ كَانَتْ إِلَى الْمَعَاصِي فَأُولَئِكَ هُمُ الْهَالِكُونَ “Itu adalah masa semangat dalam Islam, dan setiap amal punya masa semangatnya masing-masing. Dan barang siapa yang masa lemah semangatnya tetap berada pada tingkat pertengahan (tetap menjaga kewajiban) maka alangkah baiknya hal itu, tapi barang siapa yang masa lemah semangatnya membawanya kepada kemaksiatan, maka mereka itulah orang-orang yang binasa.” (HR. Ath-Thabrani). Syaikhul Islam Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata: “Masa-masa semangat melemah yang sering kali menghampiri para penempuh jalan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan hal yang pasti. Namun, siapa yang masa lemahnya itu condong kepada kebenaran dan pendekatan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tanpa keluar dari kewajiban dan tidak memasukkannya ke dalam perkara haram, maka diharapkan ia akan kembali dalam keadaan lebih baik daripada sebelumnya, tapi ibadah yang mengundang cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah yang dilakukan seorang hamba secara konsisten.” (Kitab Madarij As-Salikin jilid 3 hlm. 126). Wahai saudaraku yang mulia, hendaklah engkau ketahui bahwa langkah pertama dalam intikasah terjadi setelah terjadi kelemahan semangat. Oleh sebab itu, berusahalah selalu dalam mengingat hadis yang diriwayatkan Abdullah bin Amru bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ فَاسْأَلُوا اللَّهَ تَعَالَى أَنْ يُجَدِّدَ الْإِيمَانَ فِي قُلُوبِكُمْ “Sungguh iman benar-benar bisa menjadi usang di dalam tubuh salah seorang dari kalian sebagaimana usangnya sebuah pakaian, maka memohonlah kepada Allah Ta’ala agar Dia memperbarui iman di dalam hati kalian.” (HR. Al-Hakim jilid 1 hlm. 45. Lihat juga As-Silsilah Ash-Shahihah no. 1585). عن حذيفة بن اليمان رضي الله عنه قال: ” القلوب أربعة: قلب أجرد كأنما فيه سراج يزهر فذلك قلب المؤمن، وقلب أغلف فذلك قلب الكافر، وقلب مصفح فذلك قلب المنافق، وقلب فيه إيمان ونفاق، ومثل الإيمان فيه كمثل شجرة يسقيها ماء طيب، ومثل النفاق فيه كمثل قرحة يمدها قيح ودم فأيهما غلب عليه غلبه” وجاء عن معاذ رضي الله عنه أنه قال:” اجلسوا بنا نؤمن ساعة، يعني نذكر الله تعالى” وعن علقمة أنه كان يقول لأصحابه: “امشوا بنا نزدد إيماناً”[و راجع هذه الأثار وغيرها في الإيمان لابن أبي شيبة 104- 107] Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Hati itu ada empat jenis; (1) hati yang jernih seolah-olah di dalamnya terdapat pelita yang bersinar, dan inilah hati orang beriman. (2) hati yang tertutup, dan inilah hati orang kafir. (3) hati yang terbalik, dan inilah hati orang munafik. (4) hati yang di dalamnya terdapat keimanan dan kemunafikan, keimanan di dalamnya bagaikan pohon yang disirami air yang baik, sedangkan kemunafikan di dalamnya bagaikan luka borok yang terus dialiri nanah dan darah, mana saja yang lebih dominan maka itulah yang akan menguasai.”  Diriwayatkan dari Muadz Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: “Marilah duduk bersama kami untuk sejenak mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Diriwayatkan juga dari Alqamah bahwa beliau pernah berkata kepada murid-muridnya: “Marilah kita berjalan bersama untuk meningkatkan keimanan.” (Riwayat-riwayat tersebut dapat dirujuk dalam kitab Al-Iman karya Ibnu Abi Syaibah, hlm. 104-107). Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata dalam kitab Madarij As-Salikin jilid 2 hlm. 423 tentang keutamaan berzikir: “Ia adalah kedudukan agung bagi kaum (sholihin) yang darinya mereka mengambil bekal, di dalamnya mereka berniaga, dan kepadanya mereka selalu kembali. Zikir adalah tanda kewalian, barang siapa yang dianugerahi tanda ini maka ia akan tersambung dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan barang siapa yang terhalang darinya maka ia akan terjauhkan. Zikir merupakan nutrisi utama bagi hati orang-orang saleh ini, yang apabila mereka mengabaikannya, maka jasad hanya menjadi kuburan bagi hatinya. Zikir juga merupakan pemakmur negeri mereka, yang apabila terlepas darinya, maka akan menjadi negeri yang tandus. Zikir adalah senjata yang mereka pakai untuk melawan para penghadang jalan, air yang mereka gunakan untuk memadamkan kobaran api di perjalanan, obat bagi penyakit mereka yang apabila mereka meninggalkannya maka hati akan semakin terpuruk, juga tali penghubung antara diri mereka dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Mengetahui perkara gaib. Apabila kami sakit, kami berobat dengan mengingat-Mu, tapi terkadang kami mengabaikan zikir sehingga kami pun sakit kembali.” (Lihat juga kitab Al-Wabil ash-Shayyib hlm. 99). Kisah orang-orang teguh saat imannya diuji Malik meriwayatkan dari Abdullah bin Abi Bakar bahwa pernah ada seorang lelaki dari kaum Anshar yang mendirikan salat di kebunnya di daerah Al-Quf pada musim panen kurma. Tangkai-tangkai kurma itu telah merunduk karena beratnya buah yang dihasilkan. Lelaki itu memandanginya dan takjub dengan buah-buah itu, lalu ia kembali fokus pada salatnya. Hanya saja ia lupa salatnya sudah berapa rakaat. Ia lalu bergumam: “Aku telah tertimpa ujian dengan hartaku ini!” Kemudian ia mendatangi Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu yang saat itu menjadi Khalifah, lalu menceritakan kejadian itu kepada beliau dan berkata: “Sungguh kebun ini aku sedekahkan, maka pakailah untuk hal-hal yang baik.” Utsman lalu menjualnya seharga 50 ribu dirham, sehingga harta itu mendapat julukan Al-khamsun (lima puluh).” (Lihat: Mu’jam Ma Ista’jama jilid 3 hlm. 1087). Seandainya engkau mengetahui dari arah mana engkau akan diserang (mengetahui celah kelemahanmu), niscaya setan tidak akan berhasil menangkapmu begitu saja dalam keadaan lalai. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/103411/التقصير-في-الطاعات-والتهاون-في-تضييع-السنن/ Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 122 times, 1 visit(s) today Post Views: 100

Lalai dalam Amal Ketaatan dan Meremehkan Pelaksanaan Sunnah

Oleh: Dr. Thalib bin Umar bin Haidarah Al-Katsiri Salah satu sebab intikasah (berpaling dari hidayah setelah mendapatkannya) adalah lalai dalam amal ketaatan dan meremehkan pelaksanaan sunnah. Sebab ini punya beberapa tanda, engkau mendapati pelakunya tidak peduli dengan batinnya, sehingga ia tidak merealisasikan ibadah, kekhusyukan, ketulusan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan amal-amal sunnah yang rahasia. Yang ia lakukan hanyalah keistiqamahan permukaan dan tampilan saja yang berlainan dengan isi batinnya tanpa ia sadari. Ia melalaikan sunnah-sunnah rawatib, terkadang tidak mengikuti shalat berjamaah, berlalu beberapa masa tanpa ia mendirikan salat malam, tidak khusyuk dalam salatnya, dan tidak mengkhatamkan Al-Qur’an. Hal ini terus berlanjut dalam kemunduran, lalu berlanjut dengan penurunan, mulai dari abai dalam mengingkari kemungkaran yang ia dengar dan lihat, hingga ikut serta dalam menyaksikan dan melakukan hal-hal yang diharamkan, lalu berlanjut lagi dengan rasa ketergantungan dengan hiburan, kemaksiatan, dan rasa sedih jika meninggalkannya, dan pada akhirnya sampai pada keberpalingan dari jalan hidayah. Na’udzubillah. Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata dalam kitab Al-Fawaid halaman 128: “Disebutkan dalam Al-Qur’an berkali-kali bahwa amalan-amalan yang terbangun melalui hati dan anggota badan bisa menjadi sebab hidayah dan kesesatan. Hati dan anggota badan menjalankan suatu amalan lalu membuahkan hidayah, seperti keterikatan antara akibat dengan sebabnya dan pengaruh dengan dampaknya. Demikian pula yang berlaku dalam kesesatan.” Jadi, ini —wahai saudaraku seiman— adalah ikatan sebab-akibat yang saling berkaitan satu sama lain. Abu Mahmud Abdullah bin Muhammad bin Manazil an-Naisaburi mengatakan dalam kitab Syadzarat Adz-Dzahab jilid 1 hlm. 330: “Tidaklah seseorang melalaikan suatu amalan wajib kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengujinya dengan pelalaian sunnah-sunnah. Dan tidaklah seseorang diuji dengan pelalaian sunnah-sunnah melainkan ia akan terancam diuji dengan bid’ah-bid’ah.” Hassan bin Athiyah Rahimahullah berkata: “Tidaklah suatu kaum melakukan suatu bid’ah dalam agama mereka melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencabut dari mereka satu sunnah yang serupa, lalu tidak mengembalikannya kepada mereka hingga hari kiamat.” (Diriwayatkan oleh Al-Lalika’i no. 129 dan Ad-Darimi no. 98 dengan sanad yang sahih). Di antara akibat yang paling masyhur dari intikasah adalah melakukan bid’ah setelah berpegang pada sunnah, kembali bodoh setelah berilmu, dan terombang-ambing dalam keraguan setelah memiliki keyakinan. Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Tatkala aku sedang berdiri di telaga, tiba-tiba muncul sekelompok orang, hingga saat aku mengenali mereka, sesosok malaikat muncul di antara aku dan mereka lalu berkata: ‘Kemarilah’. Aku lalu bertanya: ‘Ke mana?’ Ia menjawab: ‘Demi Allah! Ke neraka.’ Aku pun bertanya: ‘Ada apa dengan mereka?’ Ia menjawab: ‘Mereka telah murtad, berbalik ke belakang.’ Kemudian muncul lagi sekelompok orang lainnya, hingga saat aku mengenali mereka, sesosok malaikat muncul di antara aku dan mereka lalu berkata: ‘Kemarilah’. Aku lalu bertanya: ‘Ke mana?’ Ia menjawab: ‘Demi Allah! Ke neraka.’ Aku pun bertanya: ‘Ada apa dengan mereka?’ Ia menjawab: ‘Mereka telah murtad, berpaling ke belakang.’ Lalu aku tidak melihat ada yang selamat dari mereka kecuali hanya seperti hewan ternak yang terlepas dari kawanannya (sangat sedikit).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Lalu dalam riwayat Imam Muslim dari Aisyah disebutkan tambahan redaksi: “Lalu aku berkata: ‘Wahai Tuhanku, mereka umatku!’ Kemudian Allah berfirman: ‘Engkau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat setelahmu, mereka terus berpaling di atas tumit-tumit mereka.’” (HR. Muslim). Maka, wahai saudara-saudara, waspadalah dari keberpalingan! Jalan keselamatan Disebutkan dalam hadis riwayat Abdullah bin Amru Radhiyallahu ‘anhuma bahwa pernah disebutkan kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam tentang kaum yang sangat bersungguh-sungguh dalam ibadah. Kemudian beliau bersabda: تِلْكَ ضَرُورَةُ الْإِسْلَامِ وَشِرَّتُهُ، وَلِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةٌ، فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى اقْتِصَادٍ فَنِعْمَ مَا هُوَ، وَمَنْ كَانَتْ إِلَى الْمَعَاصِي فَأُولَئِكَ هُمُ الْهَالِكُونَ “Itu adalah masa semangat dalam Islam, dan setiap amal punya masa semangatnya masing-masing. Dan barang siapa yang masa lemah semangatnya tetap berada pada tingkat pertengahan (tetap menjaga kewajiban) maka alangkah baiknya hal itu, tapi barang siapa yang masa lemah semangatnya membawanya kepada kemaksiatan, maka mereka itulah orang-orang yang binasa.” (HR. Ath-Thabrani). Syaikhul Islam Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata: “Masa-masa semangat melemah yang sering kali menghampiri para penempuh jalan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan hal yang pasti. Namun, siapa yang masa lemahnya itu condong kepada kebenaran dan pendekatan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tanpa keluar dari kewajiban dan tidak memasukkannya ke dalam perkara haram, maka diharapkan ia akan kembali dalam keadaan lebih baik daripada sebelumnya, tapi ibadah yang mengundang cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah yang dilakukan seorang hamba secara konsisten.” (Kitab Madarij As-Salikin jilid 3 hlm. 126). Wahai saudaraku yang mulia, hendaklah engkau ketahui bahwa langkah pertama dalam intikasah terjadi setelah terjadi kelemahan semangat. Oleh sebab itu, berusahalah selalu dalam mengingat hadis yang diriwayatkan Abdullah bin Amru bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ فَاسْأَلُوا اللَّهَ تَعَالَى أَنْ يُجَدِّدَ الْإِيمَانَ فِي قُلُوبِكُمْ “Sungguh iman benar-benar bisa menjadi usang di dalam tubuh salah seorang dari kalian sebagaimana usangnya sebuah pakaian, maka memohonlah kepada Allah Ta’ala agar Dia memperbarui iman di dalam hati kalian.” (HR. Al-Hakim jilid 1 hlm. 45. Lihat juga As-Silsilah Ash-Shahihah no. 1585). عن حذيفة بن اليمان رضي الله عنه قال: ” القلوب أربعة: قلب أجرد كأنما فيه سراج يزهر فذلك قلب المؤمن، وقلب أغلف فذلك قلب الكافر، وقلب مصفح فذلك قلب المنافق، وقلب فيه إيمان ونفاق، ومثل الإيمان فيه كمثل شجرة يسقيها ماء طيب، ومثل النفاق فيه كمثل قرحة يمدها قيح ودم فأيهما غلب عليه غلبه” وجاء عن معاذ رضي الله عنه أنه قال:” اجلسوا بنا نؤمن ساعة، يعني نذكر الله تعالى” وعن علقمة أنه كان يقول لأصحابه: “امشوا بنا نزدد إيماناً”[و راجع هذه الأثار وغيرها في الإيمان لابن أبي شيبة 104- 107] Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Hati itu ada empat jenis; (1) hati yang jernih seolah-olah di dalamnya terdapat pelita yang bersinar, dan inilah hati orang beriman. (2) hati yang tertutup, dan inilah hati orang kafir. (3) hati yang terbalik, dan inilah hati orang munafik. (4) hati yang di dalamnya terdapat keimanan dan kemunafikan, keimanan di dalamnya bagaikan pohon yang disirami air yang baik, sedangkan kemunafikan di dalamnya bagaikan luka borok yang terus dialiri nanah dan darah, mana saja yang lebih dominan maka itulah yang akan menguasai.”  Diriwayatkan dari Muadz Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: “Marilah duduk bersama kami untuk sejenak mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Diriwayatkan juga dari Alqamah bahwa beliau pernah berkata kepada murid-muridnya: “Marilah kita berjalan bersama untuk meningkatkan keimanan.” (Riwayat-riwayat tersebut dapat dirujuk dalam kitab Al-Iman karya Ibnu Abi Syaibah, hlm. 104-107). Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata dalam kitab Madarij As-Salikin jilid 2 hlm. 423 tentang keutamaan berzikir: “Ia adalah kedudukan agung bagi kaum (sholihin) yang darinya mereka mengambil bekal, di dalamnya mereka berniaga, dan kepadanya mereka selalu kembali. Zikir adalah tanda kewalian, barang siapa yang dianugerahi tanda ini maka ia akan tersambung dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan barang siapa yang terhalang darinya maka ia akan terjauhkan. Zikir merupakan nutrisi utama bagi hati orang-orang saleh ini, yang apabila mereka mengabaikannya, maka jasad hanya menjadi kuburan bagi hatinya. Zikir juga merupakan pemakmur negeri mereka, yang apabila terlepas darinya, maka akan menjadi negeri yang tandus. Zikir adalah senjata yang mereka pakai untuk melawan para penghadang jalan, air yang mereka gunakan untuk memadamkan kobaran api di perjalanan, obat bagi penyakit mereka yang apabila mereka meninggalkannya maka hati akan semakin terpuruk, juga tali penghubung antara diri mereka dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Mengetahui perkara gaib. Apabila kami sakit, kami berobat dengan mengingat-Mu, tapi terkadang kami mengabaikan zikir sehingga kami pun sakit kembali.” (Lihat juga kitab Al-Wabil ash-Shayyib hlm. 99). Kisah orang-orang teguh saat imannya diuji Malik meriwayatkan dari Abdullah bin Abi Bakar bahwa pernah ada seorang lelaki dari kaum Anshar yang mendirikan salat di kebunnya di daerah Al-Quf pada musim panen kurma. Tangkai-tangkai kurma itu telah merunduk karena beratnya buah yang dihasilkan. Lelaki itu memandanginya dan takjub dengan buah-buah itu, lalu ia kembali fokus pada salatnya. Hanya saja ia lupa salatnya sudah berapa rakaat. Ia lalu bergumam: “Aku telah tertimpa ujian dengan hartaku ini!” Kemudian ia mendatangi Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu yang saat itu menjadi Khalifah, lalu menceritakan kejadian itu kepada beliau dan berkata: “Sungguh kebun ini aku sedekahkan, maka pakailah untuk hal-hal yang baik.” Utsman lalu menjualnya seharga 50 ribu dirham, sehingga harta itu mendapat julukan Al-khamsun (lima puluh).” (Lihat: Mu’jam Ma Ista’jama jilid 3 hlm. 1087). Seandainya engkau mengetahui dari arah mana engkau akan diserang (mengetahui celah kelemahanmu), niscaya setan tidak akan berhasil menangkapmu begitu saja dalam keadaan lalai. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/103411/التقصير-في-الطاعات-والتهاون-في-تضييع-السنن/ Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 122 times, 1 visit(s) today Post Views: 100
Oleh: Dr. Thalib bin Umar bin Haidarah Al-Katsiri Salah satu sebab intikasah (berpaling dari hidayah setelah mendapatkannya) adalah lalai dalam amal ketaatan dan meremehkan pelaksanaan sunnah. Sebab ini punya beberapa tanda, engkau mendapati pelakunya tidak peduli dengan batinnya, sehingga ia tidak merealisasikan ibadah, kekhusyukan, ketulusan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan amal-amal sunnah yang rahasia. Yang ia lakukan hanyalah keistiqamahan permukaan dan tampilan saja yang berlainan dengan isi batinnya tanpa ia sadari. Ia melalaikan sunnah-sunnah rawatib, terkadang tidak mengikuti shalat berjamaah, berlalu beberapa masa tanpa ia mendirikan salat malam, tidak khusyuk dalam salatnya, dan tidak mengkhatamkan Al-Qur’an. Hal ini terus berlanjut dalam kemunduran, lalu berlanjut dengan penurunan, mulai dari abai dalam mengingkari kemungkaran yang ia dengar dan lihat, hingga ikut serta dalam menyaksikan dan melakukan hal-hal yang diharamkan, lalu berlanjut lagi dengan rasa ketergantungan dengan hiburan, kemaksiatan, dan rasa sedih jika meninggalkannya, dan pada akhirnya sampai pada keberpalingan dari jalan hidayah. Na’udzubillah. Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata dalam kitab Al-Fawaid halaman 128: “Disebutkan dalam Al-Qur’an berkali-kali bahwa amalan-amalan yang terbangun melalui hati dan anggota badan bisa menjadi sebab hidayah dan kesesatan. Hati dan anggota badan menjalankan suatu amalan lalu membuahkan hidayah, seperti keterikatan antara akibat dengan sebabnya dan pengaruh dengan dampaknya. Demikian pula yang berlaku dalam kesesatan.” Jadi, ini —wahai saudaraku seiman— adalah ikatan sebab-akibat yang saling berkaitan satu sama lain. Abu Mahmud Abdullah bin Muhammad bin Manazil an-Naisaburi mengatakan dalam kitab Syadzarat Adz-Dzahab jilid 1 hlm. 330: “Tidaklah seseorang melalaikan suatu amalan wajib kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengujinya dengan pelalaian sunnah-sunnah. Dan tidaklah seseorang diuji dengan pelalaian sunnah-sunnah melainkan ia akan terancam diuji dengan bid’ah-bid’ah.” Hassan bin Athiyah Rahimahullah berkata: “Tidaklah suatu kaum melakukan suatu bid’ah dalam agama mereka melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencabut dari mereka satu sunnah yang serupa, lalu tidak mengembalikannya kepada mereka hingga hari kiamat.” (Diriwayatkan oleh Al-Lalika’i no. 129 dan Ad-Darimi no. 98 dengan sanad yang sahih). Di antara akibat yang paling masyhur dari intikasah adalah melakukan bid’ah setelah berpegang pada sunnah, kembali bodoh setelah berilmu, dan terombang-ambing dalam keraguan setelah memiliki keyakinan. Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Tatkala aku sedang berdiri di telaga, tiba-tiba muncul sekelompok orang, hingga saat aku mengenali mereka, sesosok malaikat muncul di antara aku dan mereka lalu berkata: ‘Kemarilah’. Aku lalu bertanya: ‘Ke mana?’ Ia menjawab: ‘Demi Allah! Ke neraka.’ Aku pun bertanya: ‘Ada apa dengan mereka?’ Ia menjawab: ‘Mereka telah murtad, berbalik ke belakang.’ Kemudian muncul lagi sekelompok orang lainnya, hingga saat aku mengenali mereka, sesosok malaikat muncul di antara aku dan mereka lalu berkata: ‘Kemarilah’. Aku lalu bertanya: ‘Ke mana?’ Ia menjawab: ‘Demi Allah! Ke neraka.’ Aku pun bertanya: ‘Ada apa dengan mereka?’ Ia menjawab: ‘Mereka telah murtad, berpaling ke belakang.’ Lalu aku tidak melihat ada yang selamat dari mereka kecuali hanya seperti hewan ternak yang terlepas dari kawanannya (sangat sedikit).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Lalu dalam riwayat Imam Muslim dari Aisyah disebutkan tambahan redaksi: “Lalu aku berkata: ‘Wahai Tuhanku, mereka umatku!’ Kemudian Allah berfirman: ‘Engkau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat setelahmu, mereka terus berpaling di atas tumit-tumit mereka.’” (HR. Muslim). Maka, wahai saudara-saudara, waspadalah dari keberpalingan! Jalan keselamatan Disebutkan dalam hadis riwayat Abdullah bin Amru Radhiyallahu ‘anhuma bahwa pernah disebutkan kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam tentang kaum yang sangat bersungguh-sungguh dalam ibadah. Kemudian beliau bersabda: تِلْكَ ضَرُورَةُ الْإِسْلَامِ وَشِرَّتُهُ، وَلِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةٌ، فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى اقْتِصَادٍ فَنِعْمَ مَا هُوَ، وَمَنْ كَانَتْ إِلَى الْمَعَاصِي فَأُولَئِكَ هُمُ الْهَالِكُونَ “Itu adalah masa semangat dalam Islam, dan setiap amal punya masa semangatnya masing-masing. Dan barang siapa yang masa lemah semangatnya tetap berada pada tingkat pertengahan (tetap menjaga kewajiban) maka alangkah baiknya hal itu, tapi barang siapa yang masa lemah semangatnya membawanya kepada kemaksiatan, maka mereka itulah orang-orang yang binasa.” (HR. Ath-Thabrani). Syaikhul Islam Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata: “Masa-masa semangat melemah yang sering kali menghampiri para penempuh jalan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan hal yang pasti. Namun, siapa yang masa lemahnya itu condong kepada kebenaran dan pendekatan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tanpa keluar dari kewajiban dan tidak memasukkannya ke dalam perkara haram, maka diharapkan ia akan kembali dalam keadaan lebih baik daripada sebelumnya, tapi ibadah yang mengundang cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah yang dilakukan seorang hamba secara konsisten.” (Kitab Madarij As-Salikin jilid 3 hlm. 126). Wahai saudaraku yang mulia, hendaklah engkau ketahui bahwa langkah pertama dalam intikasah terjadi setelah terjadi kelemahan semangat. Oleh sebab itu, berusahalah selalu dalam mengingat hadis yang diriwayatkan Abdullah bin Amru bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ فَاسْأَلُوا اللَّهَ تَعَالَى أَنْ يُجَدِّدَ الْإِيمَانَ فِي قُلُوبِكُمْ “Sungguh iman benar-benar bisa menjadi usang di dalam tubuh salah seorang dari kalian sebagaimana usangnya sebuah pakaian, maka memohonlah kepada Allah Ta’ala agar Dia memperbarui iman di dalam hati kalian.” (HR. Al-Hakim jilid 1 hlm. 45. Lihat juga As-Silsilah Ash-Shahihah no. 1585). عن حذيفة بن اليمان رضي الله عنه قال: ” القلوب أربعة: قلب أجرد كأنما فيه سراج يزهر فذلك قلب المؤمن، وقلب أغلف فذلك قلب الكافر، وقلب مصفح فذلك قلب المنافق، وقلب فيه إيمان ونفاق، ومثل الإيمان فيه كمثل شجرة يسقيها ماء طيب، ومثل النفاق فيه كمثل قرحة يمدها قيح ودم فأيهما غلب عليه غلبه” وجاء عن معاذ رضي الله عنه أنه قال:” اجلسوا بنا نؤمن ساعة، يعني نذكر الله تعالى” وعن علقمة أنه كان يقول لأصحابه: “امشوا بنا نزدد إيماناً”[و راجع هذه الأثار وغيرها في الإيمان لابن أبي شيبة 104- 107] Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Hati itu ada empat jenis; (1) hati yang jernih seolah-olah di dalamnya terdapat pelita yang bersinar, dan inilah hati orang beriman. (2) hati yang tertutup, dan inilah hati orang kafir. (3) hati yang terbalik, dan inilah hati orang munafik. (4) hati yang di dalamnya terdapat keimanan dan kemunafikan, keimanan di dalamnya bagaikan pohon yang disirami air yang baik, sedangkan kemunafikan di dalamnya bagaikan luka borok yang terus dialiri nanah dan darah, mana saja yang lebih dominan maka itulah yang akan menguasai.”  Diriwayatkan dari Muadz Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: “Marilah duduk bersama kami untuk sejenak mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Diriwayatkan juga dari Alqamah bahwa beliau pernah berkata kepada murid-muridnya: “Marilah kita berjalan bersama untuk meningkatkan keimanan.” (Riwayat-riwayat tersebut dapat dirujuk dalam kitab Al-Iman karya Ibnu Abi Syaibah, hlm. 104-107). Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata dalam kitab Madarij As-Salikin jilid 2 hlm. 423 tentang keutamaan berzikir: “Ia adalah kedudukan agung bagi kaum (sholihin) yang darinya mereka mengambil bekal, di dalamnya mereka berniaga, dan kepadanya mereka selalu kembali. Zikir adalah tanda kewalian, barang siapa yang dianugerahi tanda ini maka ia akan tersambung dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan barang siapa yang terhalang darinya maka ia akan terjauhkan. Zikir merupakan nutrisi utama bagi hati orang-orang saleh ini, yang apabila mereka mengabaikannya, maka jasad hanya menjadi kuburan bagi hatinya. Zikir juga merupakan pemakmur negeri mereka, yang apabila terlepas darinya, maka akan menjadi negeri yang tandus. Zikir adalah senjata yang mereka pakai untuk melawan para penghadang jalan, air yang mereka gunakan untuk memadamkan kobaran api di perjalanan, obat bagi penyakit mereka yang apabila mereka meninggalkannya maka hati akan semakin terpuruk, juga tali penghubung antara diri mereka dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Mengetahui perkara gaib. Apabila kami sakit, kami berobat dengan mengingat-Mu, tapi terkadang kami mengabaikan zikir sehingga kami pun sakit kembali.” (Lihat juga kitab Al-Wabil ash-Shayyib hlm. 99). Kisah orang-orang teguh saat imannya diuji Malik meriwayatkan dari Abdullah bin Abi Bakar bahwa pernah ada seorang lelaki dari kaum Anshar yang mendirikan salat di kebunnya di daerah Al-Quf pada musim panen kurma. Tangkai-tangkai kurma itu telah merunduk karena beratnya buah yang dihasilkan. Lelaki itu memandanginya dan takjub dengan buah-buah itu, lalu ia kembali fokus pada salatnya. Hanya saja ia lupa salatnya sudah berapa rakaat. Ia lalu bergumam: “Aku telah tertimpa ujian dengan hartaku ini!” Kemudian ia mendatangi Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu yang saat itu menjadi Khalifah, lalu menceritakan kejadian itu kepada beliau dan berkata: “Sungguh kebun ini aku sedekahkan, maka pakailah untuk hal-hal yang baik.” Utsman lalu menjualnya seharga 50 ribu dirham, sehingga harta itu mendapat julukan Al-khamsun (lima puluh).” (Lihat: Mu’jam Ma Ista’jama jilid 3 hlm. 1087). Seandainya engkau mengetahui dari arah mana engkau akan diserang (mengetahui celah kelemahanmu), niscaya setan tidak akan berhasil menangkapmu begitu saja dalam keadaan lalai. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/103411/التقصير-في-الطاعات-والتهاون-في-تضييع-السنن/ Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 122 times, 1 visit(s) today Post Views: 100


Oleh: Dr. Thalib bin Umar bin Haidarah Al-Katsiri Salah satu sebab intikasah (berpaling dari hidayah setelah mendapatkannya) adalah lalai dalam amal ketaatan dan meremehkan pelaksanaan sunnah. Sebab ini punya beberapa tanda, engkau mendapati pelakunya tidak peduli dengan batinnya, sehingga ia tidak merealisasikan ibadah, kekhusyukan, ketulusan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan amal-amal sunnah yang rahasia. Yang ia lakukan hanyalah keistiqamahan permukaan dan tampilan saja yang berlainan dengan isi batinnya tanpa ia sadari. Ia melalaikan sunnah-sunnah rawatib, terkadang tidak mengikuti shalat berjamaah, berlalu beberapa masa tanpa ia mendirikan salat malam, tidak khusyuk dalam salatnya, dan tidak mengkhatamkan Al-Qur’an. Hal ini terus berlanjut dalam kemunduran, lalu berlanjut dengan penurunan, mulai dari abai dalam mengingkari kemungkaran yang ia dengar dan lihat, hingga ikut serta dalam menyaksikan dan melakukan hal-hal yang diharamkan, lalu berlanjut lagi dengan rasa ketergantungan dengan hiburan, kemaksiatan, dan rasa sedih jika meninggalkannya, dan pada akhirnya sampai pada keberpalingan dari jalan hidayah. Na’udzubillah. Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata dalam kitab Al-Fawaid halaman 128: “Disebutkan dalam Al-Qur’an berkali-kali bahwa amalan-amalan yang terbangun melalui hati dan anggota badan bisa menjadi sebab hidayah dan kesesatan. Hati dan anggota badan menjalankan suatu amalan lalu membuahkan hidayah, seperti keterikatan antara akibat dengan sebabnya dan pengaruh dengan dampaknya. Demikian pula yang berlaku dalam kesesatan.” Jadi, ini —wahai saudaraku seiman— adalah ikatan sebab-akibat yang saling berkaitan satu sama lain. Abu Mahmud Abdullah bin Muhammad bin Manazil an-Naisaburi mengatakan dalam kitab Syadzarat Adz-Dzahab jilid 1 hlm. 330: “Tidaklah seseorang melalaikan suatu amalan wajib kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengujinya dengan pelalaian sunnah-sunnah. Dan tidaklah seseorang diuji dengan pelalaian sunnah-sunnah melainkan ia akan terancam diuji dengan bid’ah-bid’ah.” Hassan bin Athiyah Rahimahullah berkata: “Tidaklah suatu kaum melakukan suatu bid’ah dalam agama mereka melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencabut dari mereka satu sunnah yang serupa, lalu tidak mengembalikannya kepada mereka hingga hari kiamat.” (Diriwayatkan oleh Al-Lalika’i no. 129 dan Ad-Darimi no. 98 dengan sanad yang sahih). Di antara akibat yang paling masyhur dari intikasah adalah melakukan bid’ah setelah berpegang pada sunnah, kembali bodoh setelah berilmu, dan terombang-ambing dalam keraguan setelah memiliki keyakinan. Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Tatkala aku sedang berdiri di telaga, tiba-tiba muncul sekelompok orang, hingga saat aku mengenali mereka, sesosok malaikat muncul di antara aku dan mereka lalu berkata: ‘Kemarilah’. Aku lalu bertanya: ‘Ke mana?’ Ia menjawab: ‘Demi Allah! Ke neraka.’ Aku pun bertanya: ‘Ada apa dengan mereka?’ Ia menjawab: ‘Mereka telah murtad, berbalik ke belakang.’ Kemudian muncul lagi sekelompok orang lainnya, hingga saat aku mengenali mereka, sesosok malaikat muncul di antara aku dan mereka lalu berkata: ‘Kemarilah’. Aku lalu bertanya: ‘Ke mana?’ Ia menjawab: ‘Demi Allah! Ke neraka.’ Aku pun bertanya: ‘Ada apa dengan mereka?’ Ia menjawab: ‘Mereka telah murtad, berpaling ke belakang.’ Lalu aku tidak melihat ada yang selamat dari mereka kecuali hanya seperti hewan ternak yang terlepas dari kawanannya (sangat sedikit).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Lalu dalam riwayat Imam Muslim dari Aisyah disebutkan tambahan redaksi: “Lalu aku berkata: ‘Wahai Tuhanku, mereka umatku!’ Kemudian Allah berfirman: ‘Engkau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat setelahmu, mereka terus berpaling di atas tumit-tumit mereka.’” (HR. Muslim). Maka, wahai saudara-saudara, waspadalah dari keberpalingan! Jalan keselamatan Disebutkan dalam hadis riwayat Abdullah bin Amru Radhiyallahu ‘anhuma bahwa pernah disebutkan kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam tentang kaum yang sangat bersungguh-sungguh dalam ibadah. Kemudian beliau bersabda: تِلْكَ ضَرُورَةُ الْإِسْلَامِ وَشِرَّتُهُ، وَلِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةٌ، فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى اقْتِصَادٍ فَنِعْمَ مَا هُوَ، وَمَنْ كَانَتْ إِلَى الْمَعَاصِي فَأُولَئِكَ هُمُ الْهَالِكُونَ “Itu adalah masa semangat dalam Islam, dan setiap amal punya masa semangatnya masing-masing. Dan barang siapa yang masa lemah semangatnya tetap berada pada tingkat pertengahan (tetap menjaga kewajiban) maka alangkah baiknya hal itu, tapi barang siapa yang masa lemah semangatnya membawanya kepada kemaksiatan, maka mereka itulah orang-orang yang binasa.” (HR. Ath-Thabrani). Syaikhul Islam Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata: “Masa-masa semangat melemah yang sering kali menghampiri para penempuh jalan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan hal yang pasti. Namun, siapa yang masa lemahnya itu condong kepada kebenaran dan pendekatan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tanpa keluar dari kewajiban dan tidak memasukkannya ke dalam perkara haram, maka diharapkan ia akan kembali dalam keadaan lebih baik daripada sebelumnya, tapi ibadah yang mengundang cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah yang dilakukan seorang hamba secara konsisten.” (Kitab Madarij As-Salikin jilid 3 hlm. 126). Wahai saudaraku yang mulia, hendaklah engkau ketahui bahwa langkah pertama dalam intikasah terjadi setelah terjadi kelemahan semangat. Oleh sebab itu, berusahalah selalu dalam mengingat hadis yang diriwayatkan Abdullah bin Amru bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ فَاسْأَلُوا اللَّهَ تَعَالَى أَنْ يُجَدِّدَ الْإِيمَانَ فِي قُلُوبِكُمْ “Sungguh iman benar-benar bisa menjadi usang di dalam tubuh salah seorang dari kalian sebagaimana usangnya sebuah pakaian, maka memohonlah kepada Allah Ta’ala agar Dia memperbarui iman di dalam hati kalian.” (HR. Al-Hakim jilid 1 hlm. 45. Lihat juga As-Silsilah Ash-Shahihah no. 1585). عن حذيفة بن اليمان رضي الله عنه قال: ” القلوب أربعة: قلب أجرد كأنما فيه سراج يزهر فذلك قلب المؤمن، وقلب أغلف فذلك قلب الكافر، وقلب مصفح فذلك قلب المنافق، وقلب فيه إيمان ونفاق، ومثل الإيمان فيه كمثل شجرة يسقيها ماء طيب، ومثل النفاق فيه كمثل قرحة يمدها قيح ودم فأيهما غلب عليه غلبه” وجاء عن معاذ رضي الله عنه أنه قال:” اجلسوا بنا نؤمن ساعة، يعني نذكر الله تعالى” وعن علقمة أنه كان يقول لأصحابه: “امشوا بنا نزدد إيماناً”[و راجع هذه الأثار وغيرها في الإيمان لابن أبي شيبة 104- 107] Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Hati itu ada empat jenis; (1) hati yang jernih seolah-olah di dalamnya terdapat pelita yang bersinar, dan inilah hati orang beriman. (2) hati yang tertutup, dan inilah hati orang kafir. (3) hati yang terbalik, dan inilah hati orang munafik. (4) hati yang di dalamnya terdapat keimanan dan kemunafikan, keimanan di dalamnya bagaikan pohon yang disirami air yang baik, sedangkan kemunafikan di dalamnya bagaikan luka borok yang terus dialiri nanah dan darah, mana saja yang lebih dominan maka itulah yang akan menguasai.”  Diriwayatkan dari Muadz Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: “Marilah duduk bersama kami untuk sejenak mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Diriwayatkan juga dari Alqamah bahwa beliau pernah berkata kepada murid-muridnya: “Marilah kita berjalan bersama untuk meningkatkan keimanan.” (Riwayat-riwayat tersebut dapat dirujuk dalam kitab Al-Iman karya Ibnu Abi Syaibah, hlm. 104-107). Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata dalam kitab Madarij As-Salikin jilid 2 hlm. 423 tentang keutamaan berzikir: “Ia adalah kedudukan agung bagi kaum (sholihin) yang darinya mereka mengambil bekal, di dalamnya mereka berniaga, dan kepadanya mereka selalu kembali. Zikir adalah tanda kewalian, barang siapa yang dianugerahi tanda ini maka ia akan tersambung dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan barang siapa yang terhalang darinya maka ia akan terjauhkan. Zikir merupakan nutrisi utama bagi hati orang-orang saleh ini, yang apabila mereka mengabaikannya, maka jasad hanya menjadi kuburan bagi hatinya. Zikir juga merupakan pemakmur negeri mereka, yang apabila terlepas darinya, maka akan menjadi negeri yang tandus. Zikir adalah senjata yang mereka pakai untuk melawan para penghadang jalan, air yang mereka gunakan untuk memadamkan kobaran api di perjalanan, obat bagi penyakit mereka yang apabila mereka meninggalkannya maka hati akan semakin terpuruk, juga tali penghubung antara diri mereka dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Mengetahui perkara gaib. Apabila kami sakit, kami berobat dengan mengingat-Mu, tapi terkadang kami mengabaikan zikir sehingga kami pun sakit kembali.” (Lihat juga kitab Al-Wabil ash-Shayyib hlm. 99). Kisah orang-orang teguh saat imannya diuji Malik meriwayatkan dari Abdullah bin Abi Bakar bahwa pernah ada seorang lelaki dari kaum Anshar yang mendirikan salat di kebunnya di daerah Al-Quf pada musim panen kurma. Tangkai-tangkai kurma itu telah merunduk karena beratnya buah yang dihasilkan. Lelaki itu memandanginya dan takjub dengan buah-buah itu, lalu ia kembali fokus pada salatnya. Hanya saja ia lupa salatnya sudah berapa rakaat. Ia lalu bergumam: “Aku telah tertimpa ujian dengan hartaku ini!” Kemudian ia mendatangi Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu yang saat itu menjadi Khalifah, lalu menceritakan kejadian itu kepada beliau dan berkata: “Sungguh kebun ini aku sedekahkan, maka pakailah untuk hal-hal yang baik.” Utsman lalu menjualnya seharga 50 ribu dirham, sehingga harta itu mendapat julukan Al-khamsun (lima puluh).” (Lihat: Mu’jam Ma Ista’jama jilid 3 hlm. 1087). Seandainya engkau mengetahui dari arah mana engkau akan diserang (mengetahui celah kelemahanmu), niscaya setan tidak akan berhasil menangkapmu begitu saja dalam keadaan lalai. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/103411/التقصير-في-الطاعات-والتهاون-في-تضييع-السنن/ Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 122 times, 1 visit(s) today Post Views: 100
Prev     Next