Setiap Muslim tentu berharap amal ibadahnya diterima oleh Allah, terutama setelah menjalani Ramadan dengan puasa, qiyam, tilawah, dan sedekah. Namun, para ulama menjelaskan bahwa yang paling penting bukan sekadar banyaknya amal, tetapi apakah amal itu diterima oleh Allah atau justru tertolak. Karena itu, seorang mukmin perlu mengenal tanda-tanda diterimanya amal sekaligus sebab-sebab yang bisa menggugurkannya. Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Allah Hanya Menerima Amal dari Orang yang Bertakwa 3. Diterimanya Amal vs Banyak Beramal 4. Yang Menyebabkan Amalan Tidak Diterima 4.1. Pertama: Tidak beriman kepada Allah 4.2. Kedua: Seseorang menginginkan dunia dengan amalnya, bukan akhirat 4.3. Ketiga: Usaha dan amalnya tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah ﷺ 4.4. Keempat: Hak-hak sesama manusia dan kezaliman terhadap mereka 4.5. Kelima: Kemunafikan 5. Doa agar Amal-Amal Kita Diterima Meneladani Nabi Ibrahim dan Ismail 6. Khutbah Kedua Khutbah Pertamaاللهُ أَكْبَرُ، (9x)الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ أَمَّابَعْدُ؛ فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُMa’asyiral muslimin hafizhakumullah …Allah Ta’ala memerintahkan shalat Idulfitri dan zakat fitrah sebagai bentuk penyucian jiwa.قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ وَذَكَرَ ٱسْمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.” (QS. Al-A’laa: 14-15) Allah Hanya Menerima Amal dari Orang yang BertakwaAllah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Ma’idah: 27)Maksud dari ayat ini adalah bahwa siapa pun yang bertakwa kepada Allah dalam suatu amal tertentu—yakni ia melakukannya dengan benar, memenuhi syarat-syaratnya seperti iman, ikhlas, dan mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—maka Allah akan menerima amal tersebut darinya. Tidak disyaratkan ia harus bertakwa dalam seluruh aspek hidupnya. Jika ia bertakwa dalam amal tersebut dan melaksanakannya dengan baik, maka Allah akan menerimanya. Ini adalah pendapat Ahlus Sunnah.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan,وَعِنْدَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ يُتَقَبَّلُ الْعَمَلُ مِمَّنِ اتَّقَى اللَّهَ فِيهِ، فَعَمِلَهُ خَالِصًا لِلَّهِ، مُوَافِقًا لِأَمْرِ اللَّهِ، فَمَنْ اتَّقَاهُ فِي عَمَلٍ تَقَبَّلَهُ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ عَاصِيًا فِي غَيْرِهِ. وَمَنْ لَمْ يَتَّقِهِ فِيهِ، لَمْ يَتَقَبَّلْهُ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ مُطِيعًا فِي غَيْرِهِ.“Menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah, Allah menerima amal dari orang yang bertakwa dalam amal itu, yaitu ia mengerjakannya dengan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan perintah-Nya. Maka siapa yang bertakwa kepada Allah dalam suatu amal, Allah akan menerimanya, meskipun ia melakukan maksiat dalam perkara lain. Siapa yang tidak bertakwa kepada Allah dalam amal itu, Allah tidak akan menerimanya, meskipun ia taat dalam perkara lain.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:322)Jadi, amal yang tidak diterima oleh Allah adalah amal yang dilakukan tanpa takwa kepada-Nya, tanpa ikhlas, dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Manusia tidak tahu amal mana yang diterima dan mana yang tidak. Oleh karena itu, ia berada antara harap dan takut. Ia berusaha menyempurnakan amalnya, lalu memohon kepada Allah agar amal itu diterima, karena diterimanya amal adalah semata-mata karunia dari Allah. Ia pun khawatir amalnya ditolak, atau bahkan batal karena ada cacat tersembunyi yang membuatnya tidak diterima.Ada tanda bahwa amal diterima, yaitu ketika amal itu membuahkan ketaatan lain. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian salaf,مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ، الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا.“Termasuk balasan dari satu kebaikan adalah kebaikan berikutnya.”Orang-orang saleh bersungguh-sungguh dalam amal mereka, tetapi tetap menganggap amalnya kecil jika dibandingkan dengan hak Allah atas dirinya. Merasa kecil terhadap amal sendiri dan merendahkan diri adalah tanda bahwa amal diterima.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,عَلَامَةُ قَبُولِ الْعَمَلِ احْتِقَارُهُ وَاسْتِقْلَالُهُ، وَصِغَرُهُ فِي قَلْبِكَ. حَتَّى إِنَّ الْعَارِفَ لَيَسْتَغْفِرُ اللَّهَ عَقِيبَ طَاعَتِهِ. وَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ مِنَ الصَّلَاةِ اسْتَغْفَرَ اللَّهَ ثَلَاثًا.Tanda diterimanya amal adalah jika seseorang menganggap amalnya kecil dan remeh dalam hatinya. Bahkan orang yang mengenal Allah sering beristighfar setelah beramal.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, setelah selesai shalat, beristighfar sebanyak tiga kali. (Madarij As-Salikin baina Manazil Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in, 2:162, Islamweb) Diterimanya Amal vs Banyak BeramalPerhatian para salafus shalih terhadap diterimanya ibadah jauh lebih besar daripada perhatian mereka terhadap pelaksanaan ibadah itu sendiri, karena mereka tidak tahu apakah amal mereka diterima atau tidak. Maka kegelisahan akan diterimanya amal benar-benar menguasai hati mereka.Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَٱلَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآ ءَاتَوا۟ وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَٰجِعُونَ“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 60)Dari Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, ia berkata, Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, tentang firman Allah: ‘Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, sedang hati mereka takut…’, apakah maksudnya orang yang mencuri, berzina, dan minum khamr, lalu tetap takut kepada Allah?”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,لَا يا ابْنَة أبي بَكْرٍ -أو: يَا ابْنَةَ الصّدِيقِ-، وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ يَصُومُ وَيُصَلِّي وَيَتَصَدَّقُ وَيخافُ أنْ لا يُقْبَل مِنْهُ“Bukan, wahai putri Abu Bakar (atau: wahai putri Ash-Shiddiq), tetapi ia adalah orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, lalu ia takut amalnya tidak diterima.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim – dan beliau mensahihkannya –, serta Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman)Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Hendaklah kalian lebih mencemaskan apakah amal kalian diterima, daripada sekadar beramal itu sendiri. Tidakkah kalian mendengar firman Allah: ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.’” (QS. Al-Ma’idah: 27) (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam al-Ikhlas wa an-Niyyah)Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, pada malam terakhir bulan Ramadan, berkata: “Siapakah gerangan di antara kita yang diterima amalnya, agar kita ucapkan selamat kepadanya? Dan siapa pula yang tertolak dan terhalang, agar kita berbelasungkawa kepadanya? Wahai orang yang diterima amalnya, selamat atasmu! Wahai orang yang ditolak, semoga Allah menghiburmu atas musibah ini!” (Diriwayatkan oleh Imam Muhammad bin Nashr al-Marwazi dalam Qiyam al-Lail, juga oleh Ibnu asy-Syajari dan Abu al-Fath al-Maqdisi dalam Amali mereka)Abdul Aziz bin Abi Rawwad berkata,أَدْرَكْتُهُمْ يَجْتَهِدُونَ فِي الْعَمَلِ الصَّالِحِ، فَإِذَا فَعَلُوهُ وَقَعَ عَلَيْهِمُ الْهَمُّ؛ أَيُقْبَلُ مِنْهُمْ أَمْ لَا؟“Aku dapati para salaf sangat bersungguh-sungguh dalam amal saleh, namun setelah melakukannya, mereka justru diliputi kekhawatiran: apakah amal itu diterima atau tidak?” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam Muhasabah An-Nafs)Coba lihat amalan sebagian ulama salaf yang luar biasa sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berikut ini,كَانُوْا يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ شَهْرَ رَمَضَانَ ، ثُمَّ يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُم“Para salaf selalu berdoa kepada Allah selama enam bulan agar bisa diperjumpakan dengan bulan Ramadhan. Kemudian mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar Allah menerima amalan mereka.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 369)Kegelisahan hati ini pun membuat lisan banyak berdoa agar amal ibadah diterima. Karena lisan adalah penerjemah dari isi hati. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:فَإِنَّمَا يُعَبِّرُ عَنِ الْقَلْبِ اللِّسَانُ“Sesungguhnya yang mengungkapkan isi hati adalah lisan.” (Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf, ath-Thabarani dalam Musnad asy-Syamiyyin, dan dari jalurnya oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, dari hadits Qabisah bin Dzu’aib radhiyallahu ‘anhu)Maka jika seseorang merasakan kegelisahan dalam hati tentang apakah amalnya diterima, ia pun mengekspresikannya dengan doa, memohon kepada Allah agar amalnya diterima. Dan Allah tidak akan menolak siapa pun yang berdoa kepada-Nya.Dari penjelasan ini, kita dapat memahami jawaban atas pertanyaan: mengapa para salaf lebih mencemaskan diterimanya amal, daripada amal itu sendiri.اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Yang Menyebabkan Amalan Tidak DiterimaPertama: Tidak beriman kepada AllahInilah penghalang utama yang menyebabkan amal tidak diterima. Jika seorang hamba melakukan berbagai amal kebaikan—seperti shalat, puasa, dan lainnya—namun dalam keadaan musyrik kepada Allah dengan syirik akbar, yaitu mempersembahkan salah satu bentuk ibadah kepada selain Allah, maka seluruh amal salehnya tidak akan memberi manfaat apa pun di sisi Allah.Karena mentauhidkan Allah dan meninggalkan syirik serta para pelakunya merupakan syarat paling agung agar seseorang bisa mendapatkan manfaat dari amal dan ucapan lainnya. Tanpa tauhid, seluruh amal akan batal dan sia-sia.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)Dalam ayat lain disebutkan,وَلَوْ أَشْرَكُوا۟ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 88)Kedua: Seseorang menginginkan dunia dengan amalnya, bukan akhiratSeorang hamba bisa saja beriman kepada Allah Ta’ala, namun terjatuh dalam syirik tersembunyi, yaitu riya, tanpa ia sadari. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kita dari bahaya ini, dan menyampaikan bahwa syirik ini lebih samar daripada langkah semut.Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu ‘Ali – seorang laki-laki dari Bani Kahil – ia berkata:Abu Musa Al-Asy‘ari pernah berkhutbah kepada kami, lalu berkata:“Wahai manusia, jauhilah syirik ini, karena ia lebih samar daripada langkah semut.”Lalu Abdullah bin Hazan dan Qais bin Al-Mudharib berdiri dan berkata:“Demi Allah, engkau harus menjelaskan apa maksudmu tadi, atau kami akan menghadap Umar, baik dengan izin maupun tanpa izin.”Abu Musa menjawab:“Baiklah, aku akan menjelaskannya. Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah kepada kami dan bersabda,يَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا هَذَا الشِّرْكَ، فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ‘Wahai manusia, jauhilah syirik ini, karena ia lebih samar daripada langkah semut.’”، فَقَالَ لَهُ مَنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ: وَكَيْفَ نَتَّقِيهِ وَهُوَ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟Lalu ada seseorang yang dikehendaki oleh Allah berkata:“Wahai Rasulullah, bagaimana kami bisa menjauhinya padahal ia lebih samar daripada langkah semut?” قَالَ: “قُولُوا: اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ، وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُهُBeliau menjawab:“Katakanlah: Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampunan-Mu atas apa yang tidak kami ketahui.” (HR. Ahmad, 4:408, juga dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 716. Disebutkan dalam Shahih At-Targhib wat-Tarhib, 1:121, Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi)Allah Ta’ala berfirman,مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَٰلَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.” (QS. Hud: 15)Al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang ayat ini: Sesungguhnya orang-orang yang riya (pamer dalam ibadah) akan diberikan balasan atas amal baik mereka di dunia. Mereka tidak dizalimi sedikit pun.Artinya: barang siapa yang melakukan amal saleh—seperti puasa, shalat, atau shalat malam—namun tujuannya hanya untuk mendapatkan dunia, bukan mencari rida Allah, maka Allah akan memberinya apa yang ia cari di dunia. Namun amalnya gugur dan sia-sia di sisi Allah, karena niatnya bukan untuk akhirat.Dan ia termasuk orang yang merugi di akhirat.Ketiga: Usaha dan amalnya tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah ﷺKetahuilah bahwa salah satu syarat agar amal dan usaha seseorang memberi manfaat di sisi Allah adalah: amal tersebut harus sesuai dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan hasil bid’ah atau perubahan dalam agama.Inilah yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah saat menafsirkan ayat dalam Surah Al-Isra,وَمَنْ أَرَادَ ٱلْءَاخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا“Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS. Al-Isra: 19)Yakni: ia mencarinya melalui jalannya, yaitu dengan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Di antara dalil yang paling jelas bahwa amal yang tidak mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan memberi manfaat di sisi Allah adalah perkataan Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا، فَأَمْرُهُ رَدٌّ“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)Keempat: Hak-hak sesama manusia dan kezaliman terhadap merekaDi antara penghalang diterimanya amal adalah kezaliman terhadap orang lain, baik dalam bentuk mengambil hak mereka ataupun merusak kehormatan mereka.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ * ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ القِيَامَةِ عِندَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) akan mati, dan mereka pun akan mati. Kemudian sesungguhnya pada hari Kiamat kalian akan saling bersengketa di hadapan Rabb kalian.” (QS. Az-Zumar: 30–31)Pertengkaran yang dimaksud dalam ayat ini adalah saling menuntut antara sesama manusia atas kezaliman yang terjadi di dunia.Dari Az-Zubair bin Al-‘Awwam radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:Ketika ayat ini turun, ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:“Wahai Rasulullah, apakah urusan-urusan yang terjadi antara kami di dunia akan diulang kembali (diadili) pada hari Kiamat, bahkan sampai dosa-dosa kecil?”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,نَعَمْ، لَيُكَرَّرَنَّ عَلَيْكُمْ حَتَّى يُؤَدَّى إِلَى كُلِّ ذِي حَقٍّ حَقُّهُ»، قَالَ الزُّبَيْرُ: وَاللَّهِ إِنَّ الْأَمْرَ لَشَدِيدٌ.“Ya, semua akan diulang sampai setiap orang yang memiliki hak akan diberi haknya.” Az-Zubair pun berkata: “Demi Allah, sungguh ini adalah perkara yang sangat berat.”Di antara hadits paling terkenal dalam hal ini adalah hadits tentang orang yang bangkrut (muflis). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,((أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟))‘، قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ، فَقَالَ: ((إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ، وَصِيَامٍ، وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ)“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab: “Orang yang bangkrut di tengah kami adalah yang tidak punya uang dan tidak punya harta.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari Kiamat membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa dosa: telah mencela orang ini, menuduh orang itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu, dan memukul orang lainnya. Maka pahala kebaikannya akan diberikan kepada orang-orang yang ia zalimi. Jika pahalanya habis sebelum semua hak mereka terpenuhi, maka dosa-dosa mereka akan dipindahkan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim, No. 2581)Kelima: KemunafikanTermasuk penghalang diterimanya amal adalah nifak (kemunafikan). Kata nifak berasal dari nafaq, yaitu lubang atau jalan bawah tanah yang digunakan untuk bersembunyi. Dinamakan demikian karena orang munafik menyembunyikan kekufurannya, sebagaimana dijelaskan oleh Abu ‘Ubaid.Secara syar’i, nifak adalah menampakkan keislaman, namun menyembunyikan kekufuran.Istilah ini adalah istilah khas dalam Islam, yang sebelumnya tidak dikenal bangsa Arab dengan makna khusus seperti ini, walaupun akar katanya dikenal dalam bahasa mereka.Allah Ta’ala berfirman:إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَٰدِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوٓا۟ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُوا۟ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa: 142)Dalam ayat ini, Allah memberitakan bahwa orang munafik juga melaksanakan salat dan mengeluarkan zakat, tetapi Allah tidak menerima amal tersebut dari mereka.Demikian pula dalam firman-Nya:وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَٰتُهُمْ إِلَّآ أَنَّهُمْ كَفَرُوا۟ بِٱللَّهِ وَبِرَسُولِهِۦ وَلَا يَأْتُونَ ٱلصَّلَوٰةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَٰرِهُونَ“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (QS. At-Taubah: 54)Di antara sifat orang munafik adalah:Mereka rela melakukan penipuan terhadap Allah dan manusia.Mereka malas saat hendak melaksanakan salat.Mereka berbuat riya (pamer) dalam ibadahnya.Mereka sedikit mengingat Allah.Ini semua adalah sifat tercela dan menjadi peringatan bagi setiap mukmin untuk menjauhinya.Seorang mukmin tidak boleh bersikap pura-pura, tapi harus jujur dan terbuka.Ia harus shalat dengan semangat, bukan dengan malas dan berat hati.Ia harus menjauhi riya dan mengikhlaskan amal untuk Allah semata.Ia juga harus banyak mengingat Allah, karena lalai dari zikir adalah tanda kemunafikan.Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa nafkah dan salat orang munafik tidak diterima, dan Allah juga menyebutkan sebabnya, yaitu karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Ini menunjukkan bahwa amal lahiriah saja tidak cukup, selama hati masih menyimpan kekufuran atau tidak ikhlas karena Allah.اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Doa agar Amal-Amal Kita Diterima Meneladani Nabi Ibrahim dan IsmailKita berdoa kepada Allah agar amalan-amalan kita diterima di bulan Ramadhan setelah berlalu.رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُRABBANAA TAQABBAL MINNAA, INNAKA ANTAS-SAMII’UL-‘ALIIM. WA TUB ‘ALAINAA, INNAKA ANTAT-TAWWAABUR-RAHIIM.“Ya Rabb kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 127–128, potongan dari doa Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimassalam)Semoga Allah menerima taubat kita.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At-Tahrim: 8)قال القُرَظِيُّ: يَجْمَعُهَا أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ: الاسْتِغْفَارُ بِاللِّسَانِ، وَالإِقْلَاعُ بِالأَبْدَانِ، وَإِضْمَارُ تَرْكِ العَوْدِ بِالجَنَانِ، وَمُهَاجَرَةُ سَيِّءِ الإِخْوَانِ.Al-Qurazhi berkata: Taubat nasuha mencakup empat hal:memohon ampun dengan lisan,meninggalkan dosa dengan anggota badan,berniat kuat dalam hati untuk tidak mengulangi, danmenjauhi teman-teman yang buruk.(Tafsir al-Baghawi: 4/430–431)اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah …Semoga Allah menerima amalan kita semuanya di bulan Ramadhan dan kita diperpanjang umur oleh Allah untuk diperjumpakan dengan bulan Ramadhan berikutnya.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah Keduaاَللهُ أَكْبَرُ (7x) اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ، اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَمَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتِلَاوَتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ اللّهُمَّ وَلِّ عَلَيْنَا خِيَارَنا وَلَا تُوَلِّ عَلَيْنا شِرَارَنا. اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِTaqobbalallahu minna wa minkum, shalihal a’maal, kullu ‘aamin wa antum bi khairin. Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh. —– Ini khutbah Idulfitri 1446 H (2025)@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal diterima amal tertolak Idulfitri ikhlas khutbah hari raya khutbah idul fitri mengikuti sunnah muhasabah diri riya syirik takwa tanda amal diterima
Setiap Muslim tentu berharap amal ibadahnya diterima oleh Allah, terutama setelah menjalani Ramadan dengan puasa, qiyam, tilawah, dan sedekah. Namun, para ulama menjelaskan bahwa yang paling penting bukan sekadar banyaknya amal, tetapi apakah amal itu diterima oleh Allah atau justru tertolak. Karena itu, seorang mukmin perlu mengenal tanda-tanda diterimanya amal sekaligus sebab-sebab yang bisa menggugurkannya. Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Allah Hanya Menerima Amal dari Orang yang Bertakwa 3. Diterimanya Amal vs Banyak Beramal 4. Yang Menyebabkan Amalan Tidak Diterima 4.1. Pertama: Tidak beriman kepada Allah 4.2. Kedua: Seseorang menginginkan dunia dengan amalnya, bukan akhirat 4.3. Ketiga: Usaha dan amalnya tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah ﷺ 4.4. Keempat: Hak-hak sesama manusia dan kezaliman terhadap mereka 4.5. Kelima: Kemunafikan 5. Doa agar Amal-Amal Kita Diterima Meneladani Nabi Ibrahim dan Ismail 6. Khutbah Kedua Khutbah Pertamaاللهُ أَكْبَرُ، (9x)الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ أَمَّابَعْدُ؛ فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُMa’asyiral muslimin hafizhakumullah …Allah Ta’ala memerintahkan shalat Idulfitri dan zakat fitrah sebagai bentuk penyucian jiwa.قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ وَذَكَرَ ٱسْمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.” (QS. Al-A’laa: 14-15) Allah Hanya Menerima Amal dari Orang yang BertakwaAllah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Ma’idah: 27)Maksud dari ayat ini adalah bahwa siapa pun yang bertakwa kepada Allah dalam suatu amal tertentu—yakni ia melakukannya dengan benar, memenuhi syarat-syaratnya seperti iman, ikhlas, dan mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—maka Allah akan menerima amal tersebut darinya. Tidak disyaratkan ia harus bertakwa dalam seluruh aspek hidupnya. Jika ia bertakwa dalam amal tersebut dan melaksanakannya dengan baik, maka Allah akan menerimanya. Ini adalah pendapat Ahlus Sunnah.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan,وَعِنْدَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ يُتَقَبَّلُ الْعَمَلُ مِمَّنِ اتَّقَى اللَّهَ فِيهِ، فَعَمِلَهُ خَالِصًا لِلَّهِ، مُوَافِقًا لِأَمْرِ اللَّهِ، فَمَنْ اتَّقَاهُ فِي عَمَلٍ تَقَبَّلَهُ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ عَاصِيًا فِي غَيْرِهِ. وَمَنْ لَمْ يَتَّقِهِ فِيهِ، لَمْ يَتَقَبَّلْهُ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ مُطِيعًا فِي غَيْرِهِ.“Menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah, Allah menerima amal dari orang yang bertakwa dalam amal itu, yaitu ia mengerjakannya dengan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan perintah-Nya. Maka siapa yang bertakwa kepada Allah dalam suatu amal, Allah akan menerimanya, meskipun ia melakukan maksiat dalam perkara lain. Siapa yang tidak bertakwa kepada Allah dalam amal itu, Allah tidak akan menerimanya, meskipun ia taat dalam perkara lain.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:322)Jadi, amal yang tidak diterima oleh Allah adalah amal yang dilakukan tanpa takwa kepada-Nya, tanpa ikhlas, dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Manusia tidak tahu amal mana yang diterima dan mana yang tidak. Oleh karena itu, ia berada antara harap dan takut. Ia berusaha menyempurnakan amalnya, lalu memohon kepada Allah agar amal itu diterima, karena diterimanya amal adalah semata-mata karunia dari Allah. Ia pun khawatir amalnya ditolak, atau bahkan batal karena ada cacat tersembunyi yang membuatnya tidak diterima.Ada tanda bahwa amal diterima, yaitu ketika amal itu membuahkan ketaatan lain. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian salaf,مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ، الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا.“Termasuk balasan dari satu kebaikan adalah kebaikan berikutnya.”Orang-orang saleh bersungguh-sungguh dalam amal mereka, tetapi tetap menganggap amalnya kecil jika dibandingkan dengan hak Allah atas dirinya. Merasa kecil terhadap amal sendiri dan merendahkan diri adalah tanda bahwa amal diterima.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,عَلَامَةُ قَبُولِ الْعَمَلِ احْتِقَارُهُ وَاسْتِقْلَالُهُ، وَصِغَرُهُ فِي قَلْبِكَ. حَتَّى إِنَّ الْعَارِفَ لَيَسْتَغْفِرُ اللَّهَ عَقِيبَ طَاعَتِهِ. وَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ مِنَ الصَّلَاةِ اسْتَغْفَرَ اللَّهَ ثَلَاثًا.Tanda diterimanya amal adalah jika seseorang menganggap amalnya kecil dan remeh dalam hatinya. Bahkan orang yang mengenal Allah sering beristighfar setelah beramal.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, setelah selesai shalat, beristighfar sebanyak tiga kali. (Madarij As-Salikin baina Manazil Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in, 2:162, Islamweb) Diterimanya Amal vs Banyak BeramalPerhatian para salafus shalih terhadap diterimanya ibadah jauh lebih besar daripada perhatian mereka terhadap pelaksanaan ibadah itu sendiri, karena mereka tidak tahu apakah amal mereka diterima atau tidak. Maka kegelisahan akan diterimanya amal benar-benar menguasai hati mereka.Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَٱلَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآ ءَاتَوا۟ وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَٰجِعُونَ“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 60)Dari Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, ia berkata, Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, tentang firman Allah: ‘Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, sedang hati mereka takut…’, apakah maksudnya orang yang mencuri, berzina, dan minum khamr, lalu tetap takut kepada Allah?”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,لَا يا ابْنَة أبي بَكْرٍ -أو: يَا ابْنَةَ الصّدِيقِ-، وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ يَصُومُ وَيُصَلِّي وَيَتَصَدَّقُ وَيخافُ أنْ لا يُقْبَل مِنْهُ“Bukan, wahai putri Abu Bakar (atau: wahai putri Ash-Shiddiq), tetapi ia adalah orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, lalu ia takut amalnya tidak diterima.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim – dan beliau mensahihkannya –, serta Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman)Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Hendaklah kalian lebih mencemaskan apakah amal kalian diterima, daripada sekadar beramal itu sendiri. Tidakkah kalian mendengar firman Allah: ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.’” (QS. Al-Ma’idah: 27) (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam al-Ikhlas wa an-Niyyah)Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, pada malam terakhir bulan Ramadan, berkata: “Siapakah gerangan di antara kita yang diterima amalnya, agar kita ucapkan selamat kepadanya? Dan siapa pula yang tertolak dan terhalang, agar kita berbelasungkawa kepadanya? Wahai orang yang diterima amalnya, selamat atasmu! Wahai orang yang ditolak, semoga Allah menghiburmu atas musibah ini!” (Diriwayatkan oleh Imam Muhammad bin Nashr al-Marwazi dalam Qiyam al-Lail, juga oleh Ibnu asy-Syajari dan Abu al-Fath al-Maqdisi dalam Amali mereka)Abdul Aziz bin Abi Rawwad berkata,أَدْرَكْتُهُمْ يَجْتَهِدُونَ فِي الْعَمَلِ الصَّالِحِ، فَإِذَا فَعَلُوهُ وَقَعَ عَلَيْهِمُ الْهَمُّ؛ أَيُقْبَلُ مِنْهُمْ أَمْ لَا؟“Aku dapati para salaf sangat bersungguh-sungguh dalam amal saleh, namun setelah melakukannya, mereka justru diliputi kekhawatiran: apakah amal itu diterima atau tidak?” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam Muhasabah An-Nafs)Coba lihat amalan sebagian ulama salaf yang luar biasa sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berikut ini,كَانُوْا يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ شَهْرَ رَمَضَانَ ، ثُمَّ يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُم“Para salaf selalu berdoa kepada Allah selama enam bulan agar bisa diperjumpakan dengan bulan Ramadhan. Kemudian mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar Allah menerima amalan mereka.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 369)Kegelisahan hati ini pun membuat lisan banyak berdoa agar amal ibadah diterima. Karena lisan adalah penerjemah dari isi hati. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:فَإِنَّمَا يُعَبِّرُ عَنِ الْقَلْبِ اللِّسَانُ“Sesungguhnya yang mengungkapkan isi hati adalah lisan.” (Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf, ath-Thabarani dalam Musnad asy-Syamiyyin, dan dari jalurnya oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, dari hadits Qabisah bin Dzu’aib radhiyallahu ‘anhu)Maka jika seseorang merasakan kegelisahan dalam hati tentang apakah amalnya diterima, ia pun mengekspresikannya dengan doa, memohon kepada Allah agar amalnya diterima. Dan Allah tidak akan menolak siapa pun yang berdoa kepada-Nya.Dari penjelasan ini, kita dapat memahami jawaban atas pertanyaan: mengapa para salaf lebih mencemaskan diterimanya amal, daripada amal itu sendiri.اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Yang Menyebabkan Amalan Tidak DiterimaPertama: Tidak beriman kepada AllahInilah penghalang utama yang menyebabkan amal tidak diterima. Jika seorang hamba melakukan berbagai amal kebaikan—seperti shalat, puasa, dan lainnya—namun dalam keadaan musyrik kepada Allah dengan syirik akbar, yaitu mempersembahkan salah satu bentuk ibadah kepada selain Allah, maka seluruh amal salehnya tidak akan memberi manfaat apa pun di sisi Allah.Karena mentauhidkan Allah dan meninggalkan syirik serta para pelakunya merupakan syarat paling agung agar seseorang bisa mendapatkan manfaat dari amal dan ucapan lainnya. Tanpa tauhid, seluruh amal akan batal dan sia-sia.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)Dalam ayat lain disebutkan,وَلَوْ أَشْرَكُوا۟ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 88)Kedua: Seseorang menginginkan dunia dengan amalnya, bukan akhiratSeorang hamba bisa saja beriman kepada Allah Ta’ala, namun terjatuh dalam syirik tersembunyi, yaitu riya, tanpa ia sadari. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kita dari bahaya ini, dan menyampaikan bahwa syirik ini lebih samar daripada langkah semut.Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu ‘Ali – seorang laki-laki dari Bani Kahil – ia berkata:Abu Musa Al-Asy‘ari pernah berkhutbah kepada kami, lalu berkata:“Wahai manusia, jauhilah syirik ini, karena ia lebih samar daripada langkah semut.”Lalu Abdullah bin Hazan dan Qais bin Al-Mudharib berdiri dan berkata:“Demi Allah, engkau harus menjelaskan apa maksudmu tadi, atau kami akan menghadap Umar, baik dengan izin maupun tanpa izin.”Abu Musa menjawab:“Baiklah, aku akan menjelaskannya. Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah kepada kami dan bersabda,يَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا هَذَا الشِّرْكَ، فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ‘Wahai manusia, jauhilah syirik ini, karena ia lebih samar daripada langkah semut.’”، فَقَالَ لَهُ مَنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ: وَكَيْفَ نَتَّقِيهِ وَهُوَ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟Lalu ada seseorang yang dikehendaki oleh Allah berkata:“Wahai Rasulullah, bagaimana kami bisa menjauhinya padahal ia lebih samar daripada langkah semut?” قَالَ: “قُولُوا: اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ، وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُهُBeliau menjawab:“Katakanlah: Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampunan-Mu atas apa yang tidak kami ketahui.” (HR. Ahmad, 4:408, juga dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 716. Disebutkan dalam Shahih At-Targhib wat-Tarhib, 1:121, Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi)Allah Ta’ala berfirman,مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَٰلَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.” (QS. Hud: 15)Al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang ayat ini: Sesungguhnya orang-orang yang riya (pamer dalam ibadah) akan diberikan balasan atas amal baik mereka di dunia. Mereka tidak dizalimi sedikit pun.Artinya: barang siapa yang melakukan amal saleh—seperti puasa, shalat, atau shalat malam—namun tujuannya hanya untuk mendapatkan dunia, bukan mencari rida Allah, maka Allah akan memberinya apa yang ia cari di dunia. Namun amalnya gugur dan sia-sia di sisi Allah, karena niatnya bukan untuk akhirat.Dan ia termasuk orang yang merugi di akhirat.Ketiga: Usaha dan amalnya tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah ﷺKetahuilah bahwa salah satu syarat agar amal dan usaha seseorang memberi manfaat di sisi Allah adalah: amal tersebut harus sesuai dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan hasil bid’ah atau perubahan dalam agama.Inilah yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah saat menafsirkan ayat dalam Surah Al-Isra,وَمَنْ أَرَادَ ٱلْءَاخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا“Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS. Al-Isra: 19)Yakni: ia mencarinya melalui jalannya, yaitu dengan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Di antara dalil yang paling jelas bahwa amal yang tidak mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan memberi manfaat di sisi Allah adalah perkataan Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا، فَأَمْرُهُ رَدٌّ“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)Keempat: Hak-hak sesama manusia dan kezaliman terhadap merekaDi antara penghalang diterimanya amal adalah kezaliman terhadap orang lain, baik dalam bentuk mengambil hak mereka ataupun merusak kehormatan mereka.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ * ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ القِيَامَةِ عِندَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) akan mati, dan mereka pun akan mati. Kemudian sesungguhnya pada hari Kiamat kalian akan saling bersengketa di hadapan Rabb kalian.” (QS. Az-Zumar: 30–31)Pertengkaran yang dimaksud dalam ayat ini adalah saling menuntut antara sesama manusia atas kezaliman yang terjadi di dunia.Dari Az-Zubair bin Al-‘Awwam radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:Ketika ayat ini turun, ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:“Wahai Rasulullah, apakah urusan-urusan yang terjadi antara kami di dunia akan diulang kembali (diadili) pada hari Kiamat, bahkan sampai dosa-dosa kecil?”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,نَعَمْ، لَيُكَرَّرَنَّ عَلَيْكُمْ حَتَّى يُؤَدَّى إِلَى كُلِّ ذِي حَقٍّ حَقُّهُ»، قَالَ الزُّبَيْرُ: وَاللَّهِ إِنَّ الْأَمْرَ لَشَدِيدٌ.“Ya, semua akan diulang sampai setiap orang yang memiliki hak akan diberi haknya.” Az-Zubair pun berkata: “Demi Allah, sungguh ini adalah perkara yang sangat berat.”Di antara hadits paling terkenal dalam hal ini adalah hadits tentang orang yang bangkrut (muflis). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,((أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟))‘، قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ، فَقَالَ: ((إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ، وَصِيَامٍ، وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ)“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab: “Orang yang bangkrut di tengah kami adalah yang tidak punya uang dan tidak punya harta.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari Kiamat membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa dosa: telah mencela orang ini, menuduh orang itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu, dan memukul orang lainnya. Maka pahala kebaikannya akan diberikan kepada orang-orang yang ia zalimi. Jika pahalanya habis sebelum semua hak mereka terpenuhi, maka dosa-dosa mereka akan dipindahkan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim, No. 2581)Kelima: KemunafikanTermasuk penghalang diterimanya amal adalah nifak (kemunafikan). Kata nifak berasal dari nafaq, yaitu lubang atau jalan bawah tanah yang digunakan untuk bersembunyi. Dinamakan demikian karena orang munafik menyembunyikan kekufurannya, sebagaimana dijelaskan oleh Abu ‘Ubaid.Secara syar’i, nifak adalah menampakkan keislaman, namun menyembunyikan kekufuran.Istilah ini adalah istilah khas dalam Islam, yang sebelumnya tidak dikenal bangsa Arab dengan makna khusus seperti ini, walaupun akar katanya dikenal dalam bahasa mereka.Allah Ta’ala berfirman:إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَٰدِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوٓا۟ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُوا۟ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa: 142)Dalam ayat ini, Allah memberitakan bahwa orang munafik juga melaksanakan salat dan mengeluarkan zakat, tetapi Allah tidak menerima amal tersebut dari mereka.Demikian pula dalam firman-Nya:وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَٰتُهُمْ إِلَّآ أَنَّهُمْ كَفَرُوا۟ بِٱللَّهِ وَبِرَسُولِهِۦ وَلَا يَأْتُونَ ٱلصَّلَوٰةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَٰرِهُونَ“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (QS. At-Taubah: 54)Di antara sifat orang munafik adalah:Mereka rela melakukan penipuan terhadap Allah dan manusia.Mereka malas saat hendak melaksanakan salat.Mereka berbuat riya (pamer) dalam ibadahnya.Mereka sedikit mengingat Allah.Ini semua adalah sifat tercela dan menjadi peringatan bagi setiap mukmin untuk menjauhinya.Seorang mukmin tidak boleh bersikap pura-pura, tapi harus jujur dan terbuka.Ia harus shalat dengan semangat, bukan dengan malas dan berat hati.Ia harus menjauhi riya dan mengikhlaskan amal untuk Allah semata.Ia juga harus banyak mengingat Allah, karena lalai dari zikir adalah tanda kemunafikan.Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa nafkah dan salat orang munafik tidak diterima, dan Allah juga menyebutkan sebabnya, yaitu karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Ini menunjukkan bahwa amal lahiriah saja tidak cukup, selama hati masih menyimpan kekufuran atau tidak ikhlas karena Allah.اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Doa agar Amal-Amal Kita Diterima Meneladani Nabi Ibrahim dan IsmailKita berdoa kepada Allah agar amalan-amalan kita diterima di bulan Ramadhan setelah berlalu.رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُRABBANAA TAQABBAL MINNAA, INNAKA ANTAS-SAMII’UL-‘ALIIM. WA TUB ‘ALAINAA, INNAKA ANTAT-TAWWAABUR-RAHIIM.“Ya Rabb kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 127–128, potongan dari doa Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimassalam)Semoga Allah menerima taubat kita.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At-Tahrim: 8)قال القُرَظِيُّ: يَجْمَعُهَا أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ: الاسْتِغْفَارُ بِاللِّسَانِ، وَالإِقْلَاعُ بِالأَبْدَانِ، وَإِضْمَارُ تَرْكِ العَوْدِ بِالجَنَانِ، وَمُهَاجَرَةُ سَيِّءِ الإِخْوَانِ.Al-Qurazhi berkata: Taubat nasuha mencakup empat hal:memohon ampun dengan lisan,meninggalkan dosa dengan anggota badan,berniat kuat dalam hati untuk tidak mengulangi, danmenjauhi teman-teman yang buruk.(Tafsir al-Baghawi: 4/430–431)اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah …Semoga Allah menerima amalan kita semuanya di bulan Ramadhan dan kita diperpanjang umur oleh Allah untuk diperjumpakan dengan bulan Ramadhan berikutnya.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah Keduaاَللهُ أَكْبَرُ (7x) اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ، اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَمَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتِلَاوَتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ اللّهُمَّ وَلِّ عَلَيْنَا خِيَارَنا وَلَا تُوَلِّ عَلَيْنا شِرَارَنا. اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِTaqobbalallahu minna wa minkum, shalihal a’maal, kullu ‘aamin wa antum bi khairin. Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh. —– Ini khutbah Idulfitri 1446 H (2025)@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal diterima amal tertolak Idulfitri ikhlas khutbah hari raya khutbah idul fitri mengikuti sunnah muhasabah diri riya syirik takwa tanda amal diterima