Khutbah Idulfitri | Tanda Amal Diterima Allah dan Penyebab Amal Tertolak

Setiap Muslim tentu berharap amal ibadahnya diterima oleh Allah, terutama setelah menjalani Ramadan dengan puasa, qiyam, tilawah, dan sedekah. Namun, para ulama menjelaskan bahwa yang paling penting bukan sekadar banyaknya amal, tetapi apakah amal itu diterima oleh Allah atau justru tertolak. Karena itu, seorang mukmin perlu mengenal tanda-tanda diterimanya amal sekaligus sebab-sebab yang bisa menggugurkannya.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Allah Hanya Menerima Amal dari Orang yang Bertakwa 3. Diterimanya Amal vs Banyak Beramal 4. Yang Menyebabkan Amalan Tidak Diterima 4.1. Pertama: Tidak beriman kepada Allah 4.2. Kedua: Seseorang menginginkan dunia dengan amalnya, bukan akhirat 4.3. Ketiga: Usaha dan amalnya tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah ﷺ 4.4. Keempat: Hak-hak sesama manusia dan kezaliman terhadap mereka 4.5. Kelima: Kemunafikan 5. Doa agar Amal-Amal Kita Diterima Meneladani Nabi Ibrahim dan Ismail 6. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaاللهُ أَكْبَرُ، (9x)الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ أَمَّابَعْدُ؛ فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُMa’asyiral muslimin hafizhakumullah …Allah Ta’ala memerintahkan shalat Idulfitri dan zakat fitrah sebagai bentuk penyucian jiwa.قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ وَذَكَرَ ٱسْمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.” (QS. Al-A’laa: 14-15) Allah Hanya Menerima Amal dari Orang yang BertakwaAllah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Ma’idah: 27)Maksud dari ayat ini adalah bahwa siapa pun yang bertakwa kepada Allah dalam suatu amal tertentu—yakni ia melakukannya dengan benar, memenuhi syarat-syaratnya seperti iman, ikhlas, dan mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—maka Allah akan menerima amal tersebut darinya. Tidak disyaratkan ia harus bertakwa dalam seluruh aspek hidupnya. Jika ia bertakwa dalam amal tersebut dan melaksanakannya dengan baik, maka Allah akan menerimanya. Ini adalah pendapat Ahlus Sunnah.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan,وَعِنْدَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ يُتَقَبَّلُ الْعَمَلُ مِمَّنِ اتَّقَى اللَّهَ فِيهِ، فَعَمِلَهُ خَالِصًا لِلَّهِ، مُوَافِقًا لِأَمْرِ اللَّهِ، فَمَنْ اتَّقَاهُ فِي عَمَلٍ تَقَبَّلَهُ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ عَاصِيًا فِي غَيْرِهِ. وَمَنْ لَمْ يَتَّقِهِ فِيهِ، لَمْ يَتَقَبَّلْهُ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ مُطِيعًا فِي غَيْرِهِ.“Menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah, Allah menerima amal dari orang yang bertakwa dalam amal itu, yaitu ia mengerjakannya dengan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan perintah-Nya. Maka siapa yang bertakwa kepada Allah dalam suatu amal, Allah akan menerimanya, meskipun ia melakukan maksiat dalam perkara lain. Siapa yang tidak bertakwa kepada Allah dalam amal itu, Allah tidak akan menerimanya, meskipun ia taat dalam perkara lain.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:322)Jadi, amal yang tidak diterima oleh Allah adalah amal yang dilakukan tanpa takwa kepada-Nya, tanpa ikhlas, dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Manusia tidak tahu amal mana yang diterima dan mana yang tidak. Oleh karena itu, ia berada antara harap dan takut. Ia berusaha menyempurnakan amalnya, lalu memohon kepada Allah agar amal itu diterima, karena diterimanya amal adalah semata-mata karunia dari Allah. Ia pun khawatir amalnya ditolak, atau bahkan batal karena ada cacat tersembunyi yang membuatnya tidak diterima.Ada tanda bahwa amal diterima, yaitu ketika amal itu membuahkan ketaatan lain. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian salaf,مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ، الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا.“Termasuk balasan dari satu kebaikan adalah kebaikan berikutnya.”Orang-orang saleh bersungguh-sungguh dalam amal mereka, tetapi tetap menganggap amalnya kecil jika dibandingkan dengan hak Allah atas dirinya. Merasa kecil terhadap amal sendiri dan merendahkan diri adalah tanda bahwa amal diterima.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,عَلَامَةُ قَبُولِ الْعَمَلِ احْتِقَارُهُ وَاسْتِقْلَالُهُ، وَصِغَرُهُ فِي قَلْبِكَ. حَتَّى إِنَّ الْعَارِفَ لَيَسْتَغْفِرُ اللَّهَ عَقِيبَ طَاعَتِهِ. وَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ مِنَ الصَّلَاةِ اسْتَغْفَرَ اللَّهَ ثَلَاثًا.Tanda diterimanya amal adalah jika seseorang menganggap amalnya kecil dan remeh dalam hatinya. Bahkan orang yang mengenal Allah sering beristighfar setelah beramal.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, setelah selesai shalat, beristighfar sebanyak tiga kali. (Madarij As-Salikin baina Manazil Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in, 2:162, Islamweb) Diterimanya Amal vs Banyak BeramalPerhatian para salafus shalih terhadap diterimanya ibadah jauh lebih besar daripada perhatian mereka terhadap pelaksanaan ibadah itu sendiri, karena mereka tidak tahu apakah amal mereka diterima atau tidak. Maka kegelisahan akan diterimanya amal benar-benar menguasai hati mereka.Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَٱلَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآ ءَاتَوا۟ وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَٰجِعُونَ“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 60)Dari Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, ia berkata, Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, tentang firman Allah: ‘Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, sedang hati mereka takut…’, apakah maksudnya orang yang mencuri, berzina, dan minum khamr, lalu tetap takut kepada Allah?”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,لَا يا ابْنَة أبي بَكْرٍ -أو: يَا ابْنَةَ الصّدِيقِ-، وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ يَصُومُ وَيُصَلِّي وَيَتَصَدَّقُ وَيخافُ أنْ لا يُقْبَل مِنْهُ“Bukan, wahai putri Abu Bakar (atau: wahai putri Ash-Shiddiq), tetapi ia adalah orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, lalu ia takut amalnya tidak diterima.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim – dan beliau mensahihkannya –, serta Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman)Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Hendaklah kalian lebih mencemaskan apakah amal kalian diterima, daripada sekadar beramal itu sendiri. Tidakkah kalian mendengar firman Allah: ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.’” (QS. Al-Ma’idah: 27) (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam al-Ikhlas wa an-Niyyah)Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, pada malam terakhir bulan Ramadan, berkata: “Siapakah gerangan di antara kita yang diterima amalnya, agar kita ucapkan selamat kepadanya? Dan siapa pula yang tertolak dan terhalang, agar kita berbelasungkawa kepadanya? Wahai orang yang diterima amalnya, selamat atasmu! Wahai orang yang ditolak, semoga Allah menghiburmu atas musibah ini!” (Diriwayatkan oleh Imam Muhammad bin Nashr al-Marwazi dalam Qiyam al-Lail, juga oleh Ibnu asy-Syajari dan Abu al-Fath al-Maqdisi dalam Amali mereka)Abdul Aziz bin Abi Rawwad berkata,أَدْرَكْتُهُمْ يَجْتَهِدُونَ فِي الْعَمَلِ الصَّالِحِ، فَإِذَا فَعَلُوهُ وَقَعَ عَلَيْهِمُ الْهَمُّ؛ أَيُقْبَلُ مِنْهُمْ أَمْ لَا؟“Aku dapati para salaf sangat bersungguh-sungguh dalam amal saleh, namun setelah melakukannya, mereka justru diliputi kekhawatiran: apakah amal itu diterima atau tidak?” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam Muhasabah An-Nafs)Coba lihat amalan sebagian ulama salaf yang luar biasa sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berikut ini,كَانُوْا يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ شَهْرَ رَمَضَانَ ، ثُمَّ يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُم“Para salaf selalu berdoa kepada Allah selama enam bulan agar bisa diperjumpakan dengan bulan Ramadhan. Kemudian mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar Allah menerima amalan mereka.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 369)Kegelisahan hati ini pun membuat lisan banyak berdoa agar amal ibadah diterima. Karena lisan adalah penerjemah dari isi hati. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:فَإِنَّمَا يُعَبِّرُ عَنِ الْقَلْبِ اللِّسَانُ“Sesungguhnya yang mengungkapkan isi hati adalah lisan.” (Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf, ath-Thabarani dalam Musnad asy-Syamiyyin, dan dari jalurnya oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, dari hadits Qabisah bin Dzu’aib radhiyallahu ‘anhu)Maka jika seseorang merasakan kegelisahan dalam hati tentang apakah amalnya diterima, ia pun mengekspresikannya dengan doa, memohon kepada Allah agar amalnya diterima. Dan Allah tidak akan menolak siapa pun yang berdoa kepada-Nya.Dari penjelasan ini, kita dapat memahami jawaban atas pertanyaan: mengapa para salaf lebih mencemaskan diterimanya amal, daripada amal itu sendiri.اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Yang Menyebabkan Amalan Tidak DiterimaPertama: Tidak beriman kepada AllahInilah penghalang utama yang menyebabkan amal tidak diterima. Jika seorang hamba melakukan berbagai amal kebaikan—seperti shalat, puasa, dan lainnya—namun dalam keadaan musyrik kepada Allah dengan syirik akbar, yaitu mempersembahkan salah satu bentuk ibadah kepada selain Allah, maka seluruh amal salehnya tidak akan memberi manfaat apa pun di sisi Allah.Karena mentauhidkan Allah dan meninggalkan syirik serta para pelakunya merupakan syarat paling agung agar seseorang bisa mendapatkan manfaat dari amal dan ucapan lainnya. Tanpa tauhid, seluruh amal akan batal dan sia-sia.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)Dalam ayat lain disebutkan,وَلَوْ أَشْرَكُوا۟ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 88)Kedua: Seseorang menginginkan dunia dengan amalnya, bukan akhiratSeorang hamba bisa saja beriman kepada Allah Ta’ala, namun terjatuh dalam syirik tersembunyi, yaitu riya, tanpa ia sadari. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kita dari bahaya ini, dan menyampaikan bahwa syirik ini lebih samar daripada langkah semut.Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu ‘Ali – seorang laki-laki dari Bani Kahil – ia berkata:Abu Musa Al-Asy‘ari pernah berkhutbah kepada kami, lalu berkata:“Wahai manusia, jauhilah syirik ini, karena ia lebih samar daripada langkah semut.”Lalu Abdullah bin Hazan dan Qais bin Al-Mudharib berdiri dan berkata:“Demi Allah, engkau harus menjelaskan apa maksudmu tadi, atau kami akan menghadap Umar, baik dengan izin maupun tanpa izin.”Abu Musa menjawab:“Baiklah, aku akan menjelaskannya. Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah kepada kami dan bersabda,يَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا هَذَا الشِّرْكَ، فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ‘Wahai manusia, jauhilah syirik ini, karena ia lebih samar daripada langkah semut.’”، فَقَالَ لَهُ مَنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ: وَكَيْفَ نَتَّقِيهِ وَهُوَ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟Lalu ada seseorang yang dikehendaki oleh Allah berkata:“Wahai Rasulullah, bagaimana kami bisa menjauhinya padahal ia lebih samar daripada langkah semut?” قَالَ: “قُولُوا: اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ، وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُهُBeliau menjawab:“Katakanlah: Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampunan-Mu atas apa yang tidak kami ketahui.” (HR. Ahmad, 4:408, juga dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 716. Disebutkan dalam Shahih At-Targhib wat-Tarhib, 1:121, Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi)Allah Ta’ala berfirman,مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَٰلَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.” (QS. Hud: 15)Al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang ayat ini: Sesungguhnya orang-orang yang riya (pamer dalam ibadah) akan diberikan balasan atas amal baik mereka di dunia. Mereka tidak dizalimi sedikit pun.Artinya: barang siapa yang melakukan amal saleh—seperti puasa, shalat, atau shalat malam—namun tujuannya hanya untuk mendapatkan dunia, bukan mencari rida Allah, maka Allah akan memberinya apa yang ia cari di dunia. Namun amalnya gugur dan sia-sia di sisi Allah, karena niatnya bukan untuk akhirat.Dan ia termasuk orang yang merugi di akhirat.Ketiga: Usaha dan amalnya tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah ﷺKetahuilah bahwa salah satu syarat agar amal dan usaha seseorang memberi manfaat di sisi Allah adalah: amal tersebut harus sesuai dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan hasil bid’ah atau perubahan dalam agama.Inilah yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah saat menafsirkan ayat dalam Surah Al-Isra,وَمَنْ أَرَادَ ٱلْءَاخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا“Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS. Al-Isra: 19)Yakni: ia mencarinya melalui jalannya, yaitu dengan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Di antara dalil yang paling jelas bahwa amal yang tidak mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan memberi manfaat di sisi Allah adalah perkataan Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‌مَنْ ‌عَمِلَ ‌عَمَلًا ‌لَيْسَ ‌عَلَيْهِ أَمْرُنَا، فَأَمْرُهُ رَدٌّ“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)Keempat: Hak-hak sesama manusia dan kezaliman terhadap merekaDi antara penghalang diterimanya amal adalah kezaliman terhadap orang lain, baik dalam bentuk mengambil hak mereka ataupun merusak kehormatan mereka.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ * ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ القِيَامَةِ عِندَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) akan mati, dan mereka pun akan mati. Kemudian sesungguhnya pada hari Kiamat kalian akan saling bersengketa di hadapan Rabb kalian.” (QS. Az-Zumar: 30–31)Pertengkaran yang dimaksud dalam ayat ini adalah saling menuntut antara sesama manusia atas kezaliman yang terjadi di dunia.Dari Az-Zubair bin Al-‘Awwam radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:Ketika ayat ini turun, ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:“Wahai Rasulullah, apakah urusan-urusan yang terjadi antara kami di dunia akan diulang kembali (diadili) pada hari Kiamat, bahkan sampai dosa-dosa kecil?”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,نَعَمْ، لَيُكَرَّرَنَّ عَلَيْكُمْ حَتَّى يُؤَدَّى إِلَى كُلِّ ذِي حَقٍّ حَقُّهُ»، قَالَ الزُّبَيْرُ: وَاللَّهِ إِنَّ الْأَمْرَ لَشَدِيدٌ.“Ya, semua akan diulang sampai setiap orang yang memiliki hak akan diberi haknya.” Az-Zubair pun berkata: “Demi Allah, sungguh ini adalah perkara yang sangat berat.”Di antara hadits paling terkenal dalam hal ini adalah hadits tentang orang yang bangkrut (muflis). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,((أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟))‘، قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ، فَقَالَ: ((إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ، وَصِيَامٍ، وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ)“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab: “Orang yang bangkrut di tengah kami adalah yang tidak punya uang dan tidak punya harta.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari Kiamat membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa dosa: telah mencela orang ini, menuduh orang itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu, dan memukul orang lainnya. Maka pahala kebaikannya akan diberikan kepada orang-orang yang ia zalimi. Jika pahalanya habis sebelum semua hak mereka terpenuhi, maka dosa-dosa mereka akan dipindahkan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim, No. 2581)Kelima: KemunafikanTermasuk penghalang diterimanya amal adalah nifak (kemunafikan). Kata nifak berasal dari nafaq, yaitu lubang atau jalan bawah tanah yang digunakan untuk bersembunyi. Dinamakan demikian karena orang munafik menyembunyikan kekufurannya, sebagaimana dijelaskan oleh Abu ‘Ubaid.Secara syar’i, nifak adalah menampakkan keislaman, namun menyembunyikan kekufuran.Istilah ini adalah istilah khas dalam Islam, yang sebelumnya tidak dikenal bangsa Arab dengan makna khusus seperti ini, walaupun akar katanya dikenal dalam bahasa mereka.Allah Ta’ala berfirman:إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَٰدِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوٓا۟ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُوا۟ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa: 142)Dalam ayat ini, Allah memberitakan bahwa orang munafik juga melaksanakan salat dan mengeluarkan zakat, tetapi Allah tidak menerima amal tersebut dari mereka.Demikian pula dalam firman-Nya:وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَٰتُهُمْ إِلَّآ أَنَّهُمْ كَفَرُوا۟ بِٱللَّهِ وَبِرَسُولِهِۦ وَلَا يَأْتُونَ ٱلصَّلَوٰةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَٰرِهُونَ“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (QS. At-Taubah: 54)Di antara sifat orang munafik adalah:Mereka rela melakukan penipuan terhadap Allah dan manusia.Mereka malas saat hendak melaksanakan salat.Mereka berbuat riya (pamer) dalam ibadahnya.Mereka sedikit mengingat Allah.Ini semua adalah sifat tercela dan menjadi peringatan bagi setiap mukmin untuk menjauhinya.Seorang mukmin tidak boleh bersikap pura-pura, tapi harus jujur dan terbuka.Ia harus shalat dengan semangat, bukan dengan malas dan berat hati.Ia harus menjauhi riya dan mengikhlaskan amal untuk Allah semata.Ia juga harus banyak mengingat Allah, karena lalai dari zikir adalah tanda kemunafikan.Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa nafkah dan salat orang munafik tidak diterima, dan Allah juga menyebutkan sebabnya, yaitu karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Ini menunjukkan bahwa amal lahiriah saja tidak cukup, selama hati masih menyimpan kekufuran atau tidak ikhlas karena Allah.اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Doa agar Amal-Amal Kita Diterima Meneladani Nabi Ibrahim dan IsmailKita berdoa kepada Allah agar amalan-amalan kita diterima di bulan Ramadhan setelah berlalu.رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُRABBANAA TAQABBAL MINNAA, INNAKA ANTAS-SAMII’UL-‘ALIIM. WA TUB ‘ALAINAA, INNAKA ANTAT-TAWWAABUR-RAHIIM.“Ya Rabb kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 127–128, potongan dari doa Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimassalam)Semoga Allah menerima taubat kita.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At-Tahrim: 8)قال القُرَظِيُّ: يَجْمَعُهَا أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ: الاسْتِغْفَارُ بِاللِّسَانِ، وَالإِقْلَاعُ بِالأَبْدَانِ، وَإِضْمَارُ تَرْكِ العَوْدِ بِالجَنَانِ، وَمُهَاجَرَةُ سَيِّءِ الإِخْوَانِ.Al-Qurazhi berkata: Taubat nasuha mencakup empat hal:memohon ampun dengan lisan,meninggalkan dosa dengan anggota badan,berniat kuat dalam hati untuk tidak mengulangi, danmenjauhi teman-teman yang buruk.(Tafsir al-Baghawi: 4/430–431)اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah …Semoga Allah menerima amalan kita semuanya di bulan Ramadhan dan kita diperpanjang umur oleh Allah untuk diperjumpakan dengan bulan Ramadhan berikutnya.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah Keduaاَللهُ أَكْبَرُ (7x) اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ، اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَمَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتِلَاوَتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ اللّهُمَّ وَلِّ عَلَيْنَا خِيَارَنا وَلَا تُوَلِّ عَلَيْنا شِرَارَنا. اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِTaqobbalallahu minna wa minkum, shalihal a’maal, kullu ‘aamin wa antum bi khairin. Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.  —– Ini khutbah Idulfitri 1446 H (2025)@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com   Tagsamal diterima amal tertolak Idulfitri ikhlas khutbah hari raya khutbah idul fitri mengikuti sunnah muhasabah diri riya syirik takwa tanda amal diterima

Khutbah Idulfitri | Tanda Amal Diterima Allah dan Penyebab Amal Tertolak

Setiap Muslim tentu berharap amal ibadahnya diterima oleh Allah, terutama setelah menjalani Ramadan dengan puasa, qiyam, tilawah, dan sedekah. Namun, para ulama menjelaskan bahwa yang paling penting bukan sekadar banyaknya amal, tetapi apakah amal itu diterima oleh Allah atau justru tertolak. Karena itu, seorang mukmin perlu mengenal tanda-tanda diterimanya amal sekaligus sebab-sebab yang bisa menggugurkannya.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Allah Hanya Menerima Amal dari Orang yang Bertakwa 3. Diterimanya Amal vs Banyak Beramal 4. Yang Menyebabkan Amalan Tidak Diterima 4.1. Pertama: Tidak beriman kepada Allah 4.2. Kedua: Seseorang menginginkan dunia dengan amalnya, bukan akhirat 4.3. Ketiga: Usaha dan amalnya tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah ﷺ 4.4. Keempat: Hak-hak sesama manusia dan kezaliman terhadap mereka 4.5. Kelima: Kemunafikan 5. Doa agar Amal-Amal Kita Diterima Meneladani Nabi Ibrahim dan Ismail 6. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaاللهُ أَكْبَرُ، (9x)الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ أَمَّابَعْدُ؛ فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُMa’asyiral muslimin hafizhakumullah …Allah Ta’ala memerintahkan shalat Idulfitri dan zakat fitrah sebagai bentuk penyucian jiwa.قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ وَذَكَرَ ٱسْمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.” (QS. Al-A’laa: 14-15) Allah Hanya Menerima Amal dari Orang yang BertakwaAllah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Ma’idah: 27)Maksud dari ayat ini adalah bahwa siapa pun yang bertakwa kepada Allah dalam suatu amal tertentu—yakni ia melakukannya dengan benar, memenuhi syarat-syaratnya seperti iman, ikhlas, dan mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—maka Allah akan menerima amal tersebut darinya. Tidak disyaratkan ia harus bertakwa dalam seluruh aspek hidupnya. Jika ia bertakwa dalam amal tersebut dan melaksanakannya dengan baik, maka Allah akan menerimanya. Ini adalah pendapat Ahlus Sunnah.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan,وَعِنْدَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ يُتَقَبَّلُ الْعَمَلُ مِمَّنِ اتَّقَى اللَّهَ فِيهِ، فَعَمِلَهُ خَالِصًا لِلَّهِ، مُوَافِقًا لِأَمْرِ اللَّهِ، فَمَنْ اتَّقَاهُ فِي عَمَلٍ تَقَبَّلَهُ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ عَاصِيًا فِي غَيْرِهِ. وَمَنْ لَمْ يَتَّقِهِ فِيهِ، لَمْ يَتَقَبَّلْهُ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ مُطِيعًا فِي غَيْرِهِ.“Menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah, Allah menerima amal dari orang yang bertakwa dalam amal itu, yaitu ia mengerjakannya dengan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan perintah-Nya. Maka siapa yang bertakwa kepada Allah dalam suatu amal, Allah akan menerimanya, meskipun ia melakukan maksiat dalam perkara lain. Siapa yang tidak bertakwa kepada Allah dalam amal itu, Allah tidak akan menerimanya, meskipun ia taat dalam perkara lain.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:322)Jadi, amal yang tidak diterima oleh Allah adalah amal yang dilakukan tanpa takwa kepada-Nya, tanpa ikhlas, dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Manusia tidak tahu amal mana yang diterima dan mana yang tidak. Oleh karena itu, ia berada antara harap dan takut. Ia berusaha menyempurnakan amalnya, lalu memohon kepada Allah agar amal itu diterima, karena diterimanya amal adalah semata-mata karunia dari Allah. Ia pun khawatir amalnya ditolak, atau bahkan batal karena ada cacat tersembunyi yang membuatnya tidak diterima.Ada tanda bahwa amal diterima, yaitu ketika amal itu membuahkan ketaatan lain. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian salaf,مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ، الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا.“Termasuk balasan dari satu kebaikan adalah kebaikan berikutnya.”Orang-orang saleh bersungguh-sungguh dalam amal mereka, tetapi tetap menganggap amalnya kecil jika dibandingkan dengan hak Allah atas dirinya. Merasa kecil terhadap amal sendiri dan merendahkan diri adalah tanda bahwa amal diterima.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,عَلَامَةُ قَبُولِ الْعَمَلِ احْتِقَارُهُ وَاسْتِقْلَالُهُ، وَصِغَرُهُ فِي قَلْبِكَ. حَتَّى إِنَّ الْعَارِفَ لَيَسْتَغْفِرُ اللَّهَ عَقِيبَ طَاعَتِهِ. وَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ مِنَ الصَّلَاةِ اسْتَغْفَرَ اللَّهَ ثَلَاثًا.Tanda diterimanya amal adalah jika seseorang menganggap amalnya kecil dan remeh dalam hatinya. Bahkan orang yang mengenal Allah sering beristighfar setelah beramal.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, setelah selesai shalat, beristighfar sebanyak tiga kali. (Madarij As-Salikin baina Manazil Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in, 2:162, Islamweb) Diterimanya Amal vs Banyak BeramalPerhatian para salafus shalih terhadap diterimanya ibadah jauh lebih besar daripada perhatian mereka terhadap pelaksanaan ibadah itu sendiri, karena mereka tidak tahu apakah amal mereka diterima atau tidak. Maka kegelisahan akan diterimanya amal benar-benar menguasai hati mereka.Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَٱلَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآ ءَاتَوا۟ وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَٰجِعُونَ“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 60)Dari Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, ia berkata, Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, tentang firman Allah: ‘Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, sedang hati mereka takut…’, apakah maksudnya orang yang mencuri, berzina, dan minum khamr, lalu tetap takut kepada Allah?”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,لَا يا ابْنَة أبي بَكْرٍ -أو: يَا ابْنَةَ الصّدِيقِ-، وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ يَصُومُ وَيُصَلِّي وَيَتَصَدَّقُ وَيخافُ أنْ لا يُقْبَل مِنْهُ“Bukan, wahai putri Abu Bakar (atau: wahai putri Ash-Shiddiq), tetapi ia adalah orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, lalu ia takut amalnya tidak diterima.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim – dan beliau mensahihkannya –, serta Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman)Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Hendaklah kalian lebih mencemaskan apakah amal kalian diterima, daripada sekadar beramal itu sendiri. Tidakkah kalian mendengar firman Allah: ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.’” (QS. Al-Ma’idah: 27) (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam al-Ikhlas wa an-Niyyah)Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, pada malam terakhir bulan Ramadan, berkata: “Siapakah gerangan di antara kita yang diterima amalnya, agar kita ucapkan selamat kepadanya? Dan siapa pula yang tertolak dan terhalang, agar kita berbelasungkawa kepadanya? Wahai orang yang diterima amalnya, selamat atasmu! Wahai orang yang ditolak, semoga Allah menghiburmu atas musibah ini!” (Diriwayatkan oleh Imam Muhammad bin Nashr al-Marwazi dalam Qiyam al-Lail, juga oleh Ibnu asy-Syajari dan Abu al-Fath al-Maqdisi dalam Amali mereka)Abdul Aziz bin Abi Rawwad berkata,أَدْرَكْتُهُمْ يَجْتَهِدُونَ فِي الْعَمَلِ الصَّالِحِ، فَإِذَا فَعَلُوهُ وَقَعَ عَلَيْهِمُ الْهَمُّ؛ أَيُقْبَلُ مِنْهُمْ أَمْ لَا؟“Aku dapati para salaf sangat bersungguh-sungguh dalam amal saleh, namun setelah melakukannya, mereka justru diliputi kekhawatiran: apakah amal itu diterima atau tidak?” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam Muhasabah An-Nafs)Coba lihat amalan sebagian ulama salaf yang luar biasa sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berikut ini,كَانُوْا يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ شَهْرَ رَمَضَانَ ، ثُمَّ يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُم“Para salaf selalu berdoa kepada Allah selama enam bulan agar bisa diperjumpakan dengan bulan Ramadhan. Kemudian mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar Allah menerima amalan mereka.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 369)Kegelisahan hati ini pun membuat lisan banyak berdoa agar amal ibadah diterima. Karena lisan adalah penerjemah dari isi hati. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:فَإِنَّمَا يُعَبِّرُ عَنِ الْقَلْبِ اللِّسَانُ“Sesungguhnya yang mengungkapkan isi hati adalah lisan.” (Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf, ath-Thabarani dalam Musnad asy-Syamiyyin, dan dari jalurnya oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, dari hadits Qabisah bin Dzu’aib radhiyallahu ‘anhu)Maka jika seseorang merasakan kegelisahan dalam hati tentang apakah amalnya diterima, ia pun mengekspresikannya dengan doa, memohon kepada Allah agar amalnya diterima. Dan Allah tidak akan menolak siapa pun yang berdoa kepada-Nya.Dari penjelasan ini, kita dapat memahami jawaban atas pertanyaan: mengapa para salaf lebih mencemaskan diterimanya amal, daripada amal itu sendiri.اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Yang Menyebabkan Amalan Tidak DiterimaPertama: Tidak beriman kepada AllahInilah penghalang utama yang menyebabkan amal tidak diterima. Jika seorang hamba melakukan berbagai amal kebaikan—seperti shalat, puasa, dan lainnya—namun dalam keadaan musyrik kepada Allah dengan syirik akbar, yaitu mempersembahkan salah satu bentuk ibadah kepada selain Allah, maka seluruh amal salehnya tidak akan memberi manfaat apa pun di sisi Allah.Karena mentauhidkan Allah dan meninggalkan syirik serta para pelakunya merupakan syarat paling agung agar seseorang bisa mendapatkan manfaat dari amal dan ucapan lainnya. Tanpa tauhid, seluruh amal akan batal dan sia-sia.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)Dalam ayat lain disebutkan,وَلَوْ أَشْرَكُوا۟ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 88)Kedua: Seseorang menginginkan dunia dengan amalnya, bukan akhiratSeorang hamba bisa saja beriman kepada Allah Ta’ala, namun terjatuh dalam syirik tersembunyi, yaitu riya, tanpa ia sadari. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kita dari bahaya ini, dan menyampaikan bahwa syirik ini lebih samar daripada langkah semut.Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu ‘Ali – seorang laki-laki dari Bani Kahil – ia berkata:Abu Musa Al-Asy‘ari pernah berkhutbah kepada kami, lalu berkata:“Wahai manusia, jauhilah syirik ini, karena ia lebih samar daripada langkah semut.”Lalu Abdullah bin Hazan dan Qais bin Al-Mudharib berdiri dan berkata:“Demi Allah, engkau harus menjelaskan apa maksudmu tadi, atau kami akan menghadap Umar, baik dengan izin maupun tanpa izin.”Abu Musa menjawab:“Baiklah, aku akan menjelaskannya. Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah kepada kami dan bersabda,يَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا هَذَا الشِّرْكَ، فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ‘Wahai manusia, jauhilah syirik ini, karena ia lebih samar daripada langkah semut.’”، فَقَالَ لَهُ مَنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ: وَكَيْفَ نَتَّقِيهِ وَهُوَ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟Lalu ada seseorang yang dikehendaki oleh Allah berkata:“Wahai Rasulullah, bagaimana kami bisa menjauhinya padahal ia lebih samar daripada langkah semut?” قَالَ: “قُولُوا: اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ، وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُهُBeliau menjawab:“Katakanlah: Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampunan-Mu atas apa yang tidak kami ketahui.” (HR. Ahmad, 4:408, juga dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 716. Disebutkan dalam Shahih At-Targhib wat-Tarhib, 1:121, Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi)Allah Ta’ala berfirman,مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَٰلَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.” (QS. Hud: 15)Al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang ayat ini: Sesungguhnya orang-orang yang riya (pamer dalam ibadah) akan diberikan balasan atas amal baik mereka di dunia. Mereka tidak dizalimi sedikit pun.Artinya: barang siapa yang melakukan amal saleh—seperti puasa, shalat, atau shalat malam—namun tujuannya hanya untuk mendapatkan dunia, bukan mencari rida Allah, maka Allah akan memberinya apa yang ia cari di dunia. Namun amalnya gugur dan sia-sia di sisi Allah, karena niatnya bukan untuk akhirat.Dan ia termasuk orang yang merugi di akhirat.Ketiga: Usaha dan amalnya tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah ﷺKetahuilah bahwa salah satu syarat agar amal dan usaha seseorang memberi manfaat di sisi Allah adalah: amal tersebut harus sesuai dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan hasil bid’ah atau perubahan dalam agama.Inilah yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah saat menafsirkan ayat dalam Surah Al-Isra,وَمَنْ أَرَادَ ٱلْءَاخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا“Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS. Al-Isra: 19)Yakni: ia mencarinya melalui jalannya, yaitu dengan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Di antara dalil yang paling jelas bahwa amal yang tidak mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan memberi manfaat di sisi Allah adalah perkataan Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‌مَنْ ‌عَمِلَ ‌عَمَلًا ‌لَيْسَ ‌عَلَيْهِ أَمْرُنَا، فَأَمْرُهُ رَدٌّ“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)Keempat: Hak-hak sesama manusia dan kezaliman terhadap merekaDi antara penghalang diterimanya amal adalah kezaliman terhadap orang lain, baik dalam bentuk mengambil hak mereka ataupun merusak kehormatan mereka.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ * ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ القِيَامَةِ عِندَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) akan mati, dan mereka pun akan mati. Kemudian sesungguhnya pada hari Kiamat kalian akan saling bersengketa di hadapan Rabb kalian.” (QS. Az-Zumar: 30–31)Pertengkaran yang dimaksud dalam ayat ini adalah saling menuntut antara sesama manusia atas kezaliman yang terjadi di dunia.Dari Az-Zubair bin Al-‘Awwam radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:Ketika ayat ini turun, ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:“Wahai Rasulullah, apakah urusan-urusan yang terjadi antara kami di dunia akan diulang kembali (diadili) pada hari Kiamat, bahkan sampai dosa-dosa kecil?”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,نَعَمْ، لَيُكَرَّرَنَّ عَلَيْكُمْ حَتَّى يُؤَدَّى إِلَى كُلِّ ذِي حَقٍّ حَقُّهُ»، قَالَ الزُّبَيْرُ: وَاللَّهِ إِنَّ الْأَمْرَ لَشَدِيدٌ.“Ya, semua akan diulang sampai setiap orang yang memiliki hak akan diberi haknya.” Az-Zubair pun berkata: “Demi Allah, sungguh ini adalah perkara yang sangat berat.”Di antara hadits paling terkenal dalam hal ini adalah hadits tentang orang yang bangkrut (muflis). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,((أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟))‘، قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ، فَقَالَ: ((إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ، وَصِيَامٍ، وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ)“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab: “Orang yang bangkrut di tengah kami adalah yang tidak punya uang dan tidak punya harta.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari Kiamat membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa dosa: telah mencela orang ini, menuduh orang itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu, dan memukul orang lainnya. Maka pahala kebaikannya akan diberikan kepada orang-orang yang ia zalimi. Jika pahalanya habis sebelum semua hak mereka terpenuhi, maka dosa-dosa mereka akan dipindahkan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim, No. 2581)Kelima: KemunafikanTermasuk penghalang diterimanya amal adalah nifak (kemunafikan). Kata nifak berasal dari nafaq, yaitu lubang atau jalan bawah tanah yang digunakan untuk bersembunyi. Dinamakan demikian karena orang munafik menyembunyikan kekufurannya, sebagaimana dijelaskan oleh Abu ‘Ubaid.Secara syar’i, nifak adalah menampakkan keislaman, namun menyembunyikan kekufuran.Istilah ini adalah istilah khas dalam Islam, yang sebelumnya tidak dikenal bangsa Arab dengan makna khusus seperti ini, walaupun akar katanya dikenal dalam bahasa mereka.Allah Ta’ala berfirman:إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَٰدِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوٓا۟ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُوا۟ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa: 142)Dalam ayat ini, Allah memberitakan bahwa orang munafik juga melaksanakan salat dan mengeluarkan zakat, tetapi Allah tidak menerima amal tersebut dari mereka.Demikian pula dalam firman-Nya:وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَٰتُهُمْ إِلَّآ أَنَّهُمْ كَفَرُوا۟ بِٱللَّهِ وَبِرَسُولِهِۦ وَلَا يَأْتُونَ ٱلصَّلَوٰةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَٰرِهُونَ“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (QS. At-Taubah: 54)Di antara sifat orang munafik adalah:Mereka rela melakukan penipuan terhadap Allah dan manusia.Mereka malas saat hendak melaksanakan salat.Mereka berbuat riya (pamer) dalam ibadahnya.Mereka sedikit mengingat Allah.Ini semua adalah sifat tercela dan menjadi peringatan bagi setiap mukmin untuk menjauhinya.Seorang mukmin tidak boleh bersikap pura-pura, tapi harus jujur dan terbuka.Ia harus shalat dengan semangat, bukan dengan malas dan berat hati.Ia harus menjauhi riya dan mengikhlaskan amal untuk Allah semata.Ia juga harus banyak mengingat Allah, karena lalai dari zikir adalah tanda kemunafikan.Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa nafkah dan salat orang munafik tidak diterima, dan Allah juga menyebutkan sebabnya, yaitu karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Ini menunjukkan bahwa amal lahiriah saja tidak cukup, selama hati masih menyimpan kekufuran atau tidak ikhlas karena Allah.اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Doa agar Amal-Amal Kita Diterima Meneladani Nabi Ibrahim dan IsmailKita berdoa kepada Allah agar amalan-amalan kita diterima di bulan Ramadhan setelah berlalu.رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُRABBANAA TAQABBAL MINNAA, INNAKA ANTAS-SAMII’UL-‘ALIIM. WA TUB ‘ALAINAA, INNAKA ANTAT-TAWWAABUR-RAHIIM.“Ya Rabb kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 127–128, potongan dari doa Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimassalam)Semoga Allah menerima taubat kita.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At-Tahrim: 8)قال القُرَظِيُّ: يَجْمَعُهَا أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ: الاسْتِغْفَارُ بِاللِّسَانِ، وَالإِقْلَاعُ بِالأَبْدَانِ، وَإِضْمَارُ تَرْكِ العَوْدِ بِالجَنَانِ، وَمُهَاجَرَةُ سَيِّءِ الإِخْوَانِ.Al-Qurazhi berkata: Taubat nasuha mencakup empat hal:memohon ampun dengan lisan,meninggalkan dosa dengan anggota badan,berniat kuat dalam hati untuk tidak mengulangi, danmenjauhi teman-teman yang buruk.(Tafsir al-Baghawi: 4/430–431)اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah …Semoga Allah menerima amalan kita semuanya di bulan Ramadhan dan kita diperpanjang umur oleh Allah untuk diperjumpakan dengan bulan Ramadhan berikutnya.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah Keduaاَللهُ أَكْبَرُ (7x) اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ، اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَمَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتِلَاوَتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ اللّهُمَّ وَلِّ عَلَيْنَا خِيَارَنا وَلَا تُوَلِّ عَلَيْنا شِرَارَنا. اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِTaqobbalallahu minna wa minkum, shalihal a’maal, kullu ‘aamin wa antum bi khairin. Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.  —– Ini khutbah Idulfitri 1446 H (2025)@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com   Tagsamal diterima amal tertolak Idulfitri ikhlas khutbah hari raya khutbah idul fitri mengikuti sunnah muhasabah diri riya syirik takwa tanda amal diterima
Setiap Muslim tentu berharap amal ibadahnya diterima oleh Allah, terutama setelah menjalani Ramadan dengan puasa, qiyam, tilawah, dan sedekah. Namun, para ulama menjelaskan bahwa yang paling penting bukan sekadar banyaknya amal, tetapi apakah amal itu diterima oleh Allah atau justru tertolak. Karena itu, seorang mukmin perlu mengenal tanda-tanda diterimanya amal sekaligus sebab-sebab yang bisa menggugurkannya.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Allah Hanya Menerima Amal dari Orang yang Bertakwa 3. Diterimanya Amal vs Banyak Beramal 4. Yang Menyebabkan Amalan Tidak Diterima 4.1. Pertama: Tidak beriman kepada Allah 4.2. Kedua: Seseorang menginginkan dunia dengan amalnya, bukan akhirat 4.3. Ketiga: Usaha dan amalnya tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah ﷺ 4.4. Keempat: Hak-hak sesama manusia dan kezaliman terhadap mereka 4.5. Kelima: Kemunafikan 5. Doa agar Amal-Amal Kita Diterima Meneladani Nabi Ibrahim dan Ismail 6. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaاللهُ أَكْبَرُ، (9x)الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ أَمَّابَعْدُ؛ فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُMa’asyiral muslimin hafizhakumullah …Allah Ta’ala memerintahkan shalat Idulfitri dan zakat fitrah sebagai bentuk penyucian jiwa.قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ وَذَكَرَ ٱسْمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.” (QS. Al-A’laa: 14-15) Allah Hanya Menerima Amal dari Orang yang BertakwaAllah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Ma’idah: 27)Maksud dari ayat ini adalah bahwa siapa pun yang bertakwa kepada Allah dalam suatu amal tertentu—yakni ia melakukannya dengan benar, memenuhi syarat-syaratnya seperti iman, ikhlas, dan mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—maka Allah akan menerima amal tersebut darinya. Tidak disyaratkan ia harus bertakwa dalam seluruh aspek hidupnya. Jika ia bertakwa dalam amal tersebut dan melaksanakannya dengan baik, maka Allah akan menerimanya. Ini adalah pendapat Ahlus Sunnah.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan,وَعِنْدَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ يُتَقَبَّلُ الْعَمَلُ مِمَّنِ اتَّقَى اللَّهَ فِيهِ، فَعَمِلَهُ خَالِصًا لِلَّهِ، مُوَافِقًا لِأَمْرِ اللَّهِ، فَمَنْ اتَّقَاهُ فِي عَمَلٍ تَقَبَّلَهُ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ عَاصِيًا فِي غَيْرِهِ. وَمَنْ لَمْ يَتَّقِهِ فِيهِ، لَمْ يَتَقَبَّلْهُ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ مُطِيعًا فِي غَيْرِهِ.“Menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah, Allah menerima amal dari orang yang bertakwa dalam amal itu, yaitu ia mengerjakannya dengan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan perintah-Nya. Maka siapa yang bertakwa kepada Allah dalam suatu amal, Allah akan menerimanya, meskipun ia melakukan maksiat dalam perkara lain. Siapa yang tidak bertakwa kepada Allah dalam amal itu, Allah tidak akan menerimanya, meskipun ia taat dalam perkara lain.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:322)Jadi, amal yang tidak diterima oleh Allah adalah amal yang dilakukan tanpa takwa kepada-Nya, tanpa ikhlas, dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Manusia tidak tahu amal mana yang diterima dan mana yang tidak. Oleh karena itu, ia berada antara harap dan takut. Ia berusaha menyempurnakan amalnya, lalu memohon kepada Allah agar amal itu diterima, karena diterimanya amal adalah semata-mata karunia dari Allah. Ia pun khawatir amalnya ditolak, atau bahkan batal karena ada cacat tersembunyi yang membuatnya tidak diterima.Ada tanda bahwa amal diterima, yaitu ketika amal itu membuahkan ketaatan lain. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian salaf,مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ، الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا.“Termasuk balasan dari satu kebaikan adalah kebaikan berikutnya.”Orang-orang saleh bersungguh-sungguh dalam amal mereka, tetapi tetap menganggap amalnya kecil jika dibandingkan dengan hak Allah atas dirinya. Merasa kecil terhadap amal sendiri dan merendahkan diri adalah tanda bahwa amal diterima.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,عَلَامَةُ قَبُولِ الْعَمَلِ احْتِقَارُهُ وَاسْتِقْلَالُهُ، وَصِغَرُهُ فِي قَلْبِكَ. حَتَّى إِنَّ الْعَارِفَ لَيَسْتَغْفِرُ اللَّهَ عَقِيبَ طَاعَتِهِ. وَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ مِنَ الصَّلَاةِ اسْتَغْفَرَ اللَّهَ ثَلَاثًا.Tanda diterimanya amal adalah jika seseorang menganggap amalnya kecil dan remeh dalam hatinya. Bahkan orang yang mengenal Allah sering beristighfar setelah beramal.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, setelah selesai shalat, beristighfar sebanyak tiga kali. (Madarij As-Salikin baina Manazil Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in, 2:162, Islamweb) Diterimanya Amal vs Banyak BeramalPerhatian para salafus shalih terhadap diterimanya ibadah jauh lebih besar daripada perhatian mereka terhadap pelaksanaan ibadah itu sendiri, karena mereka tidak tahu apakah amal mereka diterima atau tidak. Maka kegelisahan akan diterimanya amal benar-benar menguasai hati mereka.Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَٱلَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآ ءَاتَوا۟ وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَٰجِعُونَ“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 60)Dari Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, ia berkata, Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, tentang firman Allah: ‘Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, sedang hati mereka takut…’, apakah maksudnya orang yang mencuri, berzina, dan minum khamr, lalu tetap takut kepada Allah?”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,لَا يا ابْنَة أبي بَكْرٍ -أو: يَا ابْنَةَ الصّدِيقِ-، وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ يَصُومُ وَيُصَلِّي وَيَتَصَدَّقُ وَيخافُ أنْ لا يُقْبَل مِنْهُ“Bukan, wahai putri Abu Bakar (atau: wahai putri Ash-Shiddiq), tetapi ia adalah orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, lalu ia takut amalnya tidak diterima.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim – dan beliau mensahihkannya –, serta Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman)Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Hendaklah kalian lebih mencemaskan apakah amal kalian diterima, daripada sekadar beramal itu sendiri. Tidakkah kalian mendengar firman Allah: ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.’” (QS. Al-Ma’idah: 27) (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam al-Ikhlas wa an-Niyyah)Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, pada malam terakhir bulan Ramadan, berkata: “Siapakah gerangan di antara kita yang diterima amalnya, agar kita ucapkan selamat kepadanya? Dan siapa pula yang tertolak dan terhalang, agar kita berbelasungkawa kepadanya? Wahai orang yang diterima amalnya, selamat atasmu! Wahai orang yang ditolak, semoga Allah menghiburmu atas musibah ini!” (Diriwayatkan oleh Imam Muhammad bin Nashr al-Marwazi dalam Qiyam al-Lail, juga oleh Ibnu asy-Syajari dan Abu al-Fath al-Maqdisi dalam Amali mereka)Abdul Aziz bin Abi Rawwad berkata,أَدْرَكْتُهُمْ يَجْتَهِدُونَ فِي الْعَمَلِ الصَّالِحِ، فَإِذَا فَعَلُوهُ وَقَعَ عَلَيْهِمُ الْهَمُّ؛ أَيُقْبَلُ مِنْهُمْ أَمْ لَا؟“Aku dapati para salaf sangat bersungguh-sungguh dalam amal saleh, namun setelah melakukannya, mereka justru diliputi kekhawatiran: apakah amal itu diterima atau tidak?” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam Muhasabah An-Nafs)Coba lihat amalan sebagian ulama salaf yang luar biasa sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berikut ini,كَانُوْا يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ شَهْرَ رَمَضَانَ ، ثُمَّ يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُم“Para salaf selalu berdoa kepada Allah selama enam bulan agar bisa diperjumpakan dengan bulan Ramadhan. Kemudian mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar Allah menerima amalan mereka.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 369)Kegelisahan hati ini pun membuat lisan banyak berdoa agar amal ibadah diterima. Karena lisan adalah penerjemah dari isi hati. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:فَإِنَّمَا يُعَبِّرُ عَنِ الْقَلْبِ اللِّسَانُ“Sesungguhnya yang mengungkapkan isi hati adalah lisan.” (Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf, ath-Thabarani dalam Musnad asy-Syamiyyin, dan dari jalurnya oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, dari hadits Qabisah bin Dzu’aib radhiyallahu ‘anhu)Maka jika seseorang merasakan kegelisahan dalam hati tentang apakah amalnya diterima, ia pun mengekspresikannya dengan doa, memohon kepada Allah agar amalnya diterima. Dan Allah tidak akan menolak siapa pun yang berdoa kepada-Nya.Dari penjelasan ini, kita dapat memahami jawaban atas pertanyaan: mengapa para salaf lebih mencemaskan diterimanya amal, daripada amal itu sendiri.اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Yang Menyebabkan Amalan Tidak DiterimaPertama: Tidak beriman kepada AllahInilah penghalang utama yang menyebabkan amal tidak diterima. Jika seorang hamba melakukan berbagai amal kebaikan—seperti shalat, puasa, dan lainnya—namun dalam keadaan musyrik kepada Allah dengan syirik akbar, yaitu mempersembahkan salah satu bentuk ibadah kepada selain Allah, maka seluruh amal salehnya tidak akan memberi manfaat apa pun di sisi Allah.Karena mentauhidkan Allah dan meninggalkan syirik serta para pelakunya merupakan syarat paling agung agar seseorang bisa mendapatkan manfaat dari amal dan ucapan lainnya. Tanpa tauhid, seluruh amal akan batal dan sia-sia.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)Dalam ayat lain disebutkan,وَلَوْ أَشْرَكُوا۟ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 88)Kedua: Seseorang menginginkan dunia dengan amalnya, bukan akhiratSeorang hamba bisa saja beriman kepada Allah Ta’ala, namun terjatuh dalam syirik tersembunyi, yaitu riya, tanpa ia sadari. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kita dari bahaya ini, dan menyampaikan bahwa syirik ini lebih samar daripada langkah semut.Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu ‘Ali – seorang laki-laki dari Bani Kahil – ia berkata:Abu Musa Al-Asy‘ari pernah berkhutbah kepada kami, lalu berkata:“Wahai manusia, jauhilah syirik ini, karena ia lebih samar daripada langkah semut.”Lalu Abdullah bin Hazan dan Qais bin Al-Mudharib berdiri dan berkata:“Demi Allah, engkau harus menjelaskan apa maksudmu tadi, atau kami akan menghadap Umar, baik dengan izin maupun tanpa izin.”Abu Musa menjawab:“Baiklah, aku akan menjelaskannya. Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah kepada kami dan bersabda,يَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا هَذَا الشِّرْكَ، فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ‘Wahai manusia, jauhilah syirik ini, karena ia lebih samar daripada langkah semut.’”، فَقَالَ لَهُ مَنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ: وَكَيْفَ نَتَّقِيهِ وَهُوَ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟Lalu ada seseorang yang dikehendaki oleh Allah berkata:“Wahai Rasulullah, bagaimana kami bisa menjauhinya padahal ia lebih samar daripada langkah semut?” قَالَ: “قُولُوا: اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ، وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُهُBeliau menjawab:“Katakanlah: Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampunan-Mu atas apa yang tidak kami ketahui.” (HR. Ahmad, 4:408, juga dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 716. Disebutkan dalam Shahih At-Targhib wat-Tarhib, 1:121, Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi)Allah Ta’ala berfirman,مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَٰلَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.” (QS. Hud: 15)Al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang ayat ini: Sesungguhnya orang-orang yang riya (pamer dalam ibadah) akan diberikan balasan atas amal baik mereka di dunia. Mereka tidak dizalimi sedikit pun.Artinya: barang siapa yang melakukan amal saleh—seperti puasa, shalat, atau shalat malam—namun tujuannya hanya untuk mendapatkan dunia, bukan mencari rida Allah, maka Allah akan memberinya apa yang ia cari di dunia. Namun amalnya gugur dan sia-sia di sisi Allah, karena niatnya bukan untuk akhirat.Dan ia termasuk orang yang merugi di akhirat.Ketiga: Usaha dan amalnya tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah ﷺKetahuilah bahwa salah satu syarat agar amal dan usaha seseorang memberi manfaat di sisi Allah adalah: amal tersebut harus sesuai dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan hasil bid’ah atau perubahan dalam agama.Inilah yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah saat menafsirkan ayat dalam Surah Al-Isra,وَمَنْ أَرَادَ ٱلْءَاخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا“Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS. Al-Isra: 19)Yakni: ia mencarinya melalui jalannya, yaitu dengan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Di antara dalil yang paling jelas bahwa amal yang tidak mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan memberi manfaat di sisi Allah adalah perkataan Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‌مَنْ ‌عَمِلَ ‌عَمَلًا ‌لَيْسَ ‌عَلَيْهِ أَمْرُنَا، فَأَمْرُهُ رَدٌّ“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)Keempat: Hak-hak sesama manusia dan kezaliman terhadap merekaDi antara penghalang diterimanya amal adalah kezaliman terhadap orang lain, baik dalam bentuk mengambil hak mereka ataupun merusak kehormatan mereka.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ * ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ القِيَامَةِ عِندَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) akan mati, dan mereka pun akan mati. Kemudian sesungguhnya pada hari Kiamat kalian akan saling bersengketa di hadapan Rabb kalian.” (QS. Az-Zumar: 30–31)Pertengkaran yang dimaksud dalam ayat ini adalah saling menuntut antara sesama manusia atas kezaliman yang terjadi di dunia.Dari Az-Zubair bin Al-‘Awwam radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:Ketika ayat ini turun, ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:“Wahai Rasulullah, apakah urusan-urusan yang terjadi antara kami di dunia akan diulang kembali (diadili) pada hari Kiamat, bahkan sampai dosa-dosa kecil?”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,نَعَمْ، لَيُكَرَّرَنَّ عَلَيْكُمْ حَتَّى يُؤَدَّى إِلَى كُلِّ ذِي حَقٍّ حَقُّهُ»، قَالَ الزُّبَيْرُ: وَاللَّهِ إِنَّ الْأَمْرَ لَشَدِيدٌ.“Ya, semua akan diulang sampai setiap orang yang memiliki hak akan diberi haknya.” Az-Zubair pun berkata: “Demi Allah, sungguh ini adalah perkara yang sangat berat.”Di antara hadits paling terkenal dalam hal ini adalah hadits tentang orang yang bangkrut (muflis). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,((أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟))‘، قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ، فَقَالَ: ((إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ، وَصِيَامٍ، وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ)“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab: “Orang yang bangkrut di tengah kami adalah yang tidak punya uang dan tidak punya harta.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari Kiamat membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa dosa: telah mencela orang ini, menuduh orang itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu, dan memukul orang lainnya. Maka pahala kebaikannya akan diberikan kepada orang-orang yang ia zalimi. Jika pahalanya habis sebelum semua hak mereka terpenuhi, maka dosa-dosa mereka akan dipindahkan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim, No. 2581)Kelima: KemunafikanTermasuk penghalang diterimanya amal adalah nifak (kemunafikan). Kata nifak berasal dari nafaq, yaitu lubang atau jalan bawah tanah yang digunakan untuk bersembunyi. Dinamakan demikian karena orang munafik menyembunyikan kekufurannya, sebagaimana dijelaskan oleh Abu ‘Ubaid.Secara syar’i, nifak adalah menampakkan keislaman, namun menyembunyikan kekufuran.Istilah ini adalah istilah khas dalam Islam, yang sebelumnya tidak dikenal bangsa Arab dengan makna khusus seperti ini, walaupun akar katanya dikenal dalam bahasa mereka.Allah Ta’ala berfirman:إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَٰدِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوٓا۟ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُوا۟ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa: 142)Dalam ayat ini, Allah memberitakan bahwa orang munafik juga melaksanakan salat dan mengeluarkan zakat, tetapi Allah tidak menerima amal tersebut dari mereka.Demikian pula dalam firman-Nya:وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَٰتُهُمْ إِلَّآ أَنَّهُمْ كَفَرُوا۟ بِٱللَّهِ وَبِرَسُولِهِۦ وَلَا يَأْتُونَ ٱلصَّلَوٰةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَٰرِهُونَ“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (QS. At-Taubah: 54)Di antara sifat orang munafik adalah:Mereka rela melakukan penipuan terhadap Allah dan manusia.Mereka malas saat hendak melaksanakan salat.Mereka berbuat riya (pamer) dalam ibadahnya.Mereka sedikit mengingat Allah.Ini semua adalah sifat tercela dan menjadi peringatan bagi setiap mukmin untuk menjauhinya.Seorang mukmin tidak boleh bersikap pura-pura, tapi harus jujur dan terbuka.Ia harus shalat dengan semangat, bukan dengan malas dan berat hati.Ia harus menjauhi riya dan mengikhlaskan amal untuk Allah semata.Ia juga harus banyak mengingat Allah, karena lalai dari zikir adalah tanda kemunafikan.Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa nafkah dan salat orang munafik tidak diterima, dan Allah juga menyebutkan sebabnya, yaitu karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Ini menunjukkan bahwa amal lahiriah saja tidak cukup, selama hati masih menyimpan kekufuran atau tidak ikhlas karena Allah.اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Doa agar Amal-Amal Kita Diterima Meneladani Nabi Ibrahim dan IsmailKita berdoa kepada Allah agar amalan-amalan kita diterima di bulan Ramadhan setelah berlalu.رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُRABBANAA TAQABBAL MINNAA, INNAKA ANTAS-SAMII’UL-‘ALIIM. WA TUB ‘ALAINAA, INNAKA ANTAT-TAWWAABUR-RAHIIM.“Ya Rabb kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 127–128, potongan dari doa Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimassalam)Semoga Allah menerima taubat kita.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At-Tahrim: 8)قال القُرَظِيُّ: يَجْمَعُهَا أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ: الاسْتِغْفَارُ بِاللِّسَانِ، وَالإِقْلَاعُ بِالأَبْدَانِ، وَإِضْمَارُ تَرْكِ العَوْدِ بِالجَنَانِ، وَمُهَاجَرَةُ سَيِّءِ الإِخْوَانِ.Al-Qurazhi berkata: Taubat nasuha mencakup empat hal:memohon ampun dengan lisan,meninggalkan dosa dengan anggota badan,berniat kuat dalam hati untuk tidak mengulangi, danmenjauhi teman-teman yang buruk.(Tafsir al-Baghawi: 4/430–431)اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah …Semoga Allah menerima amalan kita semuanya di bulan Ramadhan dan kita diperpanjang umur oleh Allah untuk diperjumpakan dengan bulan Ramadhan berikutnya.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah Keduaاَللهُ أَكْبَرُ (7x) اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ، اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَمَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتِلَاوَتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ اللّهُمَّ وَلِّ عَلَيْنَا خِيَارَنا وَلَا تُوَلِّ عَلَيْنا شِرَارَنا. اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِTaqobbalallahu minna wa minkum, shalihal a’maal, kullu ‘aamin wa antum bi khairin. Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.  —– Ini khutbah Idulfitri 1446 H (2025)@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com   Tagsamal diterima amal tertolak Idulfitri ikhlas khutbah hari raya khutbah idul fitri mengikuti sunnah muhasabah diri riya syirik takwa tanda amal diterima


Setiap Muslim tentu berharap amal ibadahnya diterima oleh Allah, terutama setelah menjalani Ramadan dengan puasa, qiyam, tilawah, dan sedekah. Namun, para ulama menjelaskan bahwa yang paling penting bukan sekadar banyaknya amal, tetapi apakah amal itu diterima oleh Allah atau justru tertolak. Karena itu, seorang mukmin perlu mengenal tanda-tanda diterimanya amal sekaligus sebab-sebab yang bisa menggugurkannya.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Allah Hanya Menerima Amal dari Orang yang Bertakwa 3. Diterimanya Amal vs Banyak Beramal 4. Yang Menyebabkan Amalan Tidak Diterima 4.1. Pertama: Tidak beriman kepada Allah 4.2. Kedua: Seseorang menginginkan dunia dengan amalnya, bukan akhirat 4.3. Ketiga: Usaha dan amalnya tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah ﷺ 4.4. Keempat: Hak-hak sesama manusia dan kezaliman terhadap mereka 4.5. Kelima: Kemunafikan 5. Doa agar Amal-Amal Kita Diterima Meneladani Nabi Ibrahim dan Ismail 6. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaاللهُ أَكْبَرُ، (9x)الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ أَمَّابَعْدُ؛ فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُMa’asyiral muslimin hafizhakumullah …Allah Ta’ala memerintahkan shalat Idulfitri dan zakat fitrah sebagai bentuk penyucian jiwa.قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ وَذَكَرَ ٱسْمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.” (QS. Al-A’laa: 14-15) Allah Hanya Menerima Amal dari Orang yang BertakwaAllah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Ma’idah: 27)Maksud dari ayat ini adalah bahwa siapa pun yang bertakwa kepada Allah dalam suatu amal tertentu—yakni ia melakukannya dengan benar, memenuhi syarat-syaratnya seperti iman, ikhlas, dan mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—maka Allah akan menerima amal tersebut darinya. Tidak disyaratkan ia harus bertakwa dalam seluruh aspek hidupnya. Jika ia bertakwa dalam amal tersebut dan melaksanakannya dengan baik, maka Allah akan menerimanya. Ini adalah pendapat Ahlus Sunnah.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan,وَعِنْدَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ يُتَقَبَّلُ الْعَمَلُ مِمَّنِ اتَّقَى اللَّهَ فِيهِ، فَعَمِلَهُ خَالِصًا لِلَّهِ، مُوَافِقًا لِأَمْرِ اللَّهِ، فَمَنْ اتَّقَاهُ فِي عَمَلٍ تَقَبَّلَهُ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ عَاصِيًا فِي غَيْرِهِ. وَمَنْ لَمْ يَتَّقِهِ فِيهِ، لَمْ يَتَقَبَّلْهُ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ مُطِيعًا فِي غَيْرِهِ.“Menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah, Allah menerima amal dari orang yang bertakwa dalam amal itu, yaitu ia mengerjakannya dengan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan perintah-Nya. Maka siapa yang bertakwa kepada Allah dalam suatu amal, Allah akan menerimanya, meskipun ia melakukan maksiat dalam perkara lain. Siapa yang tidak bertakwa kepada Allah dalam amal itu, Allah tidak akan menerimanya, meskipun ia taat dalam perkara lain.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:322)Jadi, amal yang tidak diterima oleh Allah adalah amal yang dilakukan tanpa takwa kepada-Nya, tanpa ikhlas, dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Manusia tidak tahu amal mana yang diterima dan mana yang tidak. Oleh karena itu, ia berada antara harap dan takut. Ia berusaha menyempurnakan amalnya, lalu memohon kepada Allah agar amal itu diterima, karena diterimanya amal adalah semata-mata karunia dari Allah. Ia pun khawatir amalnya ditolak, atau bahkan batal karena ada cacat tersembunyi yang membuatnya tidak diterima.Ada tanda bahwa amal diterima, yaitu ketika amal itu membuahkan ketaatan lain. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian salaf,مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ، الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا.“Termasuk balasan dari satu kebaikan adalah kebaikan berikutnya.”Orang-orang saleh bersungguh-sungguh dalam amal mereka, tetapi tetap menganggap amalnya kecil jika dibandingkan dengan hak Allah atas dirinya. Merasa kecil terhadap amal sendiri dan merendahkan diri adalah tanda bahwa amal diterima.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,عَلَامَةُ قَبُولِ الْعَمَلِ احْتِقَارُهُ وَاسْتِقْلَالُهُ، وَصِغَرُهُ فِي قَلْبِكَ. حَتَّى إِنَّ الْعَارِفَ لَيَسْتَغْفِرُ اللَّهَ عَقِيبَ طَاعَتِهِ. وَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ مِنَ الصَّلَاةِ اسْتَغْفَرَ اللَّهَ ثَلَاثًا.Tanda diterimanya amal adalah jika seseorang menganggap amalnya kecil dan remeh dalam hatinya. Bahkan orang yang mengenal Allah sering beristighfar setelah beramal.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, setelah selesai shalat, beristighfar sebanyak tiga kali. (Madarij As-Salikin baina Manazil Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in, 2:162, Islamweb) Diterimanya Amal vs Banyak BeramalPerhatian para salafus shalih terhadap diterimanya ibadah jauh lebih besar daripada perhatian mereka terhadap pelaksanaan ibadah itu sendiri, karena mereka tidak tahu apakah amal mereka diterima atau tidak. Maka kegelisahan akan diterimanya amal benar-benar menguasai hati mereka.Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَٱلَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآ ءَاتَوا۟ وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَٰجِعُونَ“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 60)Dari Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, ia berkata, Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, tentang firman Allah: ‘Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, sedang hati mereka takut…’, apakah maksudnya orang yang mencuri, berzina, dan minum khamr, lalu tetap takut kepada Allah?”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,لَا يا ابْنَة أبي بَكْرٍ -أو: يَا ابْنَةَ الصّدِيقِ-، وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ يَصُومُ وَيُصَلِّي وَيَتَصَدَّقُ وَيخافُ أنْ لا يُقْبَل مِنْهُ“Bukan, wahai putri Abu Bakar (atau: wahai putri Ash-Shiddiq), tetapi ia adalah orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, lalu ia takut amalnya tidak diterima.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim – dan beliau mensahihkannya –, serta Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman)Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Hendaklah kalian lebih mencemaskan apakah amal kalian diterima, daripada sekadar beramal itu sendiri. Tidakkah kalian mendengar firman Allah: ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.’” (QS. Al-Ma’idah: 27) (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam al-Ikhlas wa an-Niyyah)Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, pada malam terakhir bulan Ramadan, berkata: “Siapakah gerangan di antara kita yang diterima amalnya, agar kita ucapkan selamat kepadanya? Dan siapa pula yang tertolak dan terhalang, agar kita berbelasungkawa kepadanya? Wahai orang yang diterima amalnya, selamat atasmu! Wahai orang yang ditolak, semoga Allah menghiburmu atas musibah ini!” (Diriwayatkan oleh Imam Muhammad bin Nashr al-Marwazi dalam Qiyam al-Lail, juga oleh Ibnu asy-Syajari dan Abu al-Fath al-Maqdisi dalam Amali mereka)Abdul Aziz bin Abi Rawwad berkata,أَدْرَكْتُهُمْ يَجْتَهِدُونَ فِي الْعَمَلِ الصَّالِحِ، فَإِذَا فَعَلُوهُ وَقَعَ عَلَيْهِمُ الْهَمُّ؛ أَيُقْبَلُ مِنْهُمْ أَمْ لَا؟“Aku dapati para salaf sangat bersungguh-sungguh dalam amal saleh, namun setelah melakukannya, mereka justru diliputi kekhawatiran: apakah amal itu diterima atau tidak?” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam Muhasabah An-Nafs)Coba lihat amalan sebagian ulama salaf yang luar biasa sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berikut ini,كَانُوْا يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ شَهْرَ رَمَضَانَ ، ثُمَّ يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُم“Para salaf selalu berdoa kepada Allah selama enam bulan agar bisa diperjumpakan dengan bulan Ramadhan. Kemudian mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar Allah menerima amalan mereka.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 369)Kegelisahan hati ini pun membuat lisan banyak berdoa agar amal ibadah diterima. Karena lisan adalah penerjemah dari isi hati. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:فَإِنَّمَا يُعَبِّرُ عَنِ الْقَلْبِ اللِّسَانُ“Sesungguhnya yang mengungkapkan isi hati adalah lisan.” (Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf, ath-Thabarani dalam Musnad asy-Syamiyyin, dan dari jalurnya oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, dari hadits Qabisah bin Dzu’aib radhiyallahu ‘anhu)Maka jika seseorang merasakan kegelisahan dalam hati tentang apakah amalnya diterima, ia pun mengekspresikannya dengan doa, memohon kepada Allah agar amalnya diterima. Dan Allah tidak akan menolak siapa pun yang berdoa kepada-Nya.Dari penjelasan ini, kita dapat memahami jawaban atas pertanyaan: mengapa para salaf lebih mencemaskan diterimanya amal, daripada amal itu sendiri.اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Yang Menyebabkan Amalan Tidak DiterimaPertama: Tidak beriman kepada AllahInilah penghalang utama yang menyebabkan amal tidak diterima. Jika seorang hamba melakukan berbagai amal kebaikan—seperti shalat, puasa, dan lainnya—namun dalam keadaan musyrik kepada Allah dengan syirik akbar, yaitu mempersembahkan salah satu bentuk ibadah kepada selain Allah, maka seluruh amal salehnya tidak akan memberi manfaat apa pun di sisi Allah.Karena mentauhidkan Allah dan meninggalkan syirik serta para pelakunya merupakan syarat paling agung agar seseorang bisa mendapatkan manfaat dari amal dan ucapan lainnya. Tanpa tauhid, seluruh amal akan batal dan sia-sia.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)Dalam ayat lain disebutkan,وَلَوْ أَشْرَكُوا۟ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 88)Kedua: Seseorang menginginkan dunia dengan amalnya, bukan akhiratSeorang hamba bisa saja beriman kepada Allah Ta’ala, namun terjatuh dalam syirik tersembunyi, yaitu riya, tanpa ia sadari. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kita dari bahaya ini, dan menyampaikan bahwa syirik ini lebih samar daripada langkah semut.Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu ‘Ali – seorang laki-laki dari Bani Kahil – ia berkata:Abu Musa Al-Asy‘ari pernah berkhutbah kepada kami, lalu berkata:“Wahai manusia, jauhilah syirik ini, karena ia lebih samar daripada langkah semut.”Lalu Abdullah bin Hazan dan Qais bin Al-Mudharib berdiri dan berkata:“Demi Allah, engkau harus menjelaskan apa maksudmu tadi, atau kami akan menghadap Umar, baik dengan izin maupun tanpa izin.”Abu Musa menjawab:“Baiklah, aku akan menjelaskannya. Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah kepada kami dan bersabda,يَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا هَذَا الشِّرْكَ، فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ‘Wahai manusia, jauhilah syirik ini, karena ia lebih samar daripada langkah semut.’”، فَقَالَ لَهُ مَنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ: وَكَيْفَ نَتَّقِيهِ وَهُوَ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟Lalu ada seseorang yang dikehendaki oleh Allah berkata:“Wahai Rasulullah, bagaimana kami bisa menjauhinya padahal ia lebih samar daripada langkah semut?” قَالَ: “قُولُوا: اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ، وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُهُBeliau menjawab:“Katakanlah: Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampunan-Mu atas apa yang tidak kami ketahui.” (HR. Ahmad, 4:408, juga dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 716. Disebutkan dalam Shahih At-Targhib wat-Tarhib, 1:121, Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi)Allah Ta’ala berfirman,مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَٰلَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.” (QS. Hud: 15)Al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang ayat ini: Sesungguhnya orang-orang yang riya (pamer dalam ibadah) akan diberikan balasan atas amal baik mereka di dunia. Mereka tidak dizalimi sedikit pun.Artinya: barang siapa yang melakukan amal saleh—seperti puasa, shalat, atau shalat malam—namun tujuannya hanya untuk mendapatkan dunia, bukan mencari rida Allah, maka Allah akan memberinya apa yang ia cari di dunia. Namun amalnya gugur dan sia-sia di sisi Allah, karena niatnya bukan untuk akhirat.Dan ia termasuk orang yang merugi di akhirat.Ketiga: Usaha dan amalnya tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah ﷺKetahuilah bahwa salah satu syarat agar amal dan usaha seseorang memberi manfaat di sisi Allah adalah: amal tersebut harus sesuai dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan hasil bid’ah atau perubahan dalam agama.Inilah yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah saat menafsirkan ayat dalam Surah Al-Isra,وَمَنْ أَرَادَ ٱلْءَاخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا“Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS. Al-Isra: 19)Yakni: ia mencarinya melalui jalannya, yaitu dengan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Di antara dalil yang paling jelas bahwa amal yang tidak mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan memberi manfaat di sisi Allah adalah perkataan Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‌مَنْ ‌عَمِلَ ‌عَمَلًا ‌لَيْسَ ‌عَلَيْهِ أَمْرُنَا، فَأَمْرُهُ رَدٌّ“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)Keempat: Hak-hak sesama manusia dan kezaliman terhadap merekaDi antara penghalang diterimanya amal adalah kezaliman terhadap orang lain, baik dalam bentuk mengambil hak mereka ataupun merusak kehormatan mereka.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ * ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ القِيَامَةِ عِندَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) akan mati, dan mereka pun akan mati. Kemudian sesungguhnya pada hari Kiamat kalian akan saling bersengketa di hadapan Rabb kalian.” (QS. Az-Zumar: 30–31)Pertengkaran yang dimaksud dalam ayat ini adalah saling menuntut antara sesama manusia atas kezaliman yang terjadi di dunia.Dari Az-Zubair bin Al-‘Awwam radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:Ketika ayat ini turun, ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:“Wahai Rasulullah, apakah urusan-urusan yang terjadi antara kami di dunia akan diulang kembali (diadili) pada hari Kiamat, bahkan sampai dosa-dosa kecil?”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,نَعَمْ، لَيُكَرَّرَنَّ عَلَيْكُمْ حَتَّى يُؤَدَّى إِلَى كُلِّ ذِي حَقٍّ حَقُّهُ»، قَالَ الزُّبَيْرُ: وَاللَّهِ إِنَّ الْأَمْرَ لَشَدِيدٌ.“Ya, semua akan diulang sampai setiap orang yang memiliki hak akan diberi haknya.” Az-Zubair pun berkata: “Demi Allah, sungguh ini adalah perkara yang sangat berat.”Di antara hadits paling terkenal dalam hal ini adalah hadits tentang orang yang bangkrut (muflis). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,((أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟))‘، قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ، فَقَالَ: ((إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ، وَصِيَامٍ، وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ)“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab: “Orang yang bangkrut di tengah kami adalah yang tidak punya uang dan tidak punya harta.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari Kiamat membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa dosa: telah mencela orang ini, menuduh orang itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu, dan memukul orang lainnya. Maka pahala kebaikannya akan diberikan kepada orang-orang yang ia zalimi. Jika pahalanya habis sebelum semua hak mereka terpenuhi, maka dosa-dosa mereka akan dipindahkan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim, No. 2581)Kelima: KemunafikanTermasuk penghalang diterimanya amal adalah nifak (kemunafikan). Kata nifak berasal dari nafaq, yaitu lubang atau jalan bawah tanah yang digunakan untuk bersembunyi. Dinamakan demikian karena orang munafik menyembunyikan kekufurannya, sebagaimana dijelaskan oleh Abu ‘Ubaid.Secara syar’i, nifak adalah menampakkan keislaman, namun menyembunyikan kekufuran.Istilah ini adalah istilah khas dalam Islam, yang sebelumnya tidak dikenal bangsa Arab dengan makna khusus seperti ini, walaupun akar katanya dikenal dalam bahasa mereka.Allah Ta’ala berfirman:إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَٰدِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوٓا۟ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُوا۟ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa: 142)Dalam ayat ini, Allah memberitakan bahwa orang munafik juga melaksanakan salat dan mengeluarkan zakat, tetapi Allah tidak menerima amal tersebut dari mereka.Demikian pula dalam firman-Nya:وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَٰتُهُمْ إِلَّآ أَنَّهُمْ كَفَرُوا۟ بِٱللَّهِ وَبِرَسُولِهِۦ وَلَا يَأْتُونَ ٱلصَّلَوٰةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَٰرِهُونَ“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (QS. At-Taubah: 54)Di antara sifat orang munafik adalah:Mereka rela melakukan penipuan terhadap Allah dan manusia.Mereka malas saat hendak melaksanakan salat.Mereka berbuat riya (pamer) dalam ibadahnya.Mereka sedikit mengingat Allah.Ini semua adalah sifat tercela dan menjadi peringatan bagi setiap mukmin untuk menjauhinya.Seorang mukmin tidak boleh bersikap pura-pura, tapi harus jujur dan terbuka.Ia harus shalat dengan semangat, bukan dengan malas dan berat hati.Ia harus menjauhi riya dan mengikhlaskan amal untuk Allah semata.Ia juga harus banyak mengingat Allah, karena lalai dari zikir adalah tanda kemunafikan.Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa nafkah dan salat orang munafik tidak diterima, dan Allah juga menyebutkan sebabnya, yaitu karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Ini menunjukkan bahwa amal lahiriah saja tidak cukup, selama hati masih menyimpan kekufuran atau tidak ikhlas karena Allah.اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Doa agar Amal-Amal Kita Diterima Meneladani Nabi Ibrahim dan IsmailKita berdoa kepada Allah agar amalan-amalan kita diterima di bulan Ramadhan setelah berlalu.رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُRABBANAA TAQABBAL MINNAA, INNAKA ANTAS-SAMII’UL-‘ALIIM. WA TUB ‘ALAINAA, INNAKA ANTAT-TAWWAABUR-RAHIIM.“Ya Rabb kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 127–128, potongan dari doa Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimassalam)Semoga Allah menerima taubat kita.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At-Tahrim: 8)قال القُرَظِيُّ: يَجْمَعُهَا أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ: الاسْتِغْفَارُ بِاللِّسَانِ، وَالإِقْلَاعُ بِالأَبْدَانِ، وَإِضْمَارُ تَرْكِ العَوْدِ بِالجَنَانِ، وَمُهَاجَرَةُ سَيِّءِ الإِخْوَانِ.Al-Qurazhi berkata: Taubat nasuha mencakup empat hal:memohon ampun dengan lisan,meninggalkan dosa dengan anggota badan,berniat kuat dalam hati untuk tidak mengulangi, danmenjauhi teman-teman yang buruk.(Tafsir al-Baghawi: 4/430–431)اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah …Semoga Allah menerima amalan kita semuanya di bulan Ramadhan dan kita diperpanjang umur oleh Allah untuk diperjumpakan dengan bulan Ramadhan berikutnya.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah Keduaاَللهُ أَكْبَرُ (7x) اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ، اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَمَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتِلَاوَتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ اللّهُمَّ وَلِّ عَلَيْنَا خِيَارَنا وَلَا تُوَلِّ عَلَيْنا شِرَارَنا. اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِTaqobbalallahu minna wa minkum, shalihal a’maal, kullu ‘aamin wa antum bi khairin. Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.  —– Ini khutbah Idulfitri 1446 H (2025)@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com   Tagsamal diterima amal tertolak Idulfitri ikhlas khutbah hari raya khutbah idul fitri mengikuti sunnah muhasabah diri riya syirik takwa tanda amal diterima

Khutbah Idulfitri | 8 Kiat Menjadi Hamba yang Sabar dan Bersyukur (Selamat dari Sifat Halu’a)

Manusia secara tabiat memiliki sifat mudah gelisah saat susah dan kikir saat senang. Inilah yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai sifat halu’. Namun, Allah tidak hanya menyebutkan sifat tersebut, tetapi juga memberikan jalan keluar agar seorang hamba menjadi pribadi yang sabar dan bersyukur.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Hakikat Manusia: Sifat Halu’ 3. Pengecualian: Orang yang Selamat dari Halu’ 3.1. Ciri Pertama: Menjaga Shalat Secara Konsisten 3.2. Ciri Kedua: Peduli dengan Harta dan Berbagi 3.3. Ciri Ketiga: Beriman kepada Hari Pembalasan 3.4. Ciri Keempat: Takut terhadap Azab Allah 3.5. Ciri Kelima: Menjaga Kehormatan Diri 3.6. Ciri Keenam: Menjaga Amanah dan Janji 3.7. Ciri Ketujuh: Jujur dalam Kesaksian 3.8. Ciri Kedelapan: Menjaga Shalat dengan Sempurna 4. Balasan: Surga bagi Orang yang Memiliki Sifat Ini 5. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaاللهُ أَكْبَرُ، (9x)الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ أَمَّابَعْدُ؛ فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُMa’asyiral muslimin hafizhakumullah …Segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan bagi kita ibadah Ramadan dan mempertemukan kita dengan hari kemenangan, Idulfitri. Hari ini bukan sekadar hari bergembira, tetapi hari untuk menguji apakah kita benar-benar berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Di antara perubahan terbesar yang harus kita raih adalah keluar dari sifat halu’—tidak sabar saat susah dan tidak bersyukur saat senang—menuju sifat orang-orang beriman yang sabar, bersyukur, dan istiqamah dalam ketaatan.  اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُHakikat Manusia: Sifat Halu’Allah Ta’ala berfirman,۞ إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (19)“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah.” (QS. Al-Ma’arij: 19)Sifat ini menggambarkan manusia dari sisi tabiat asalnya, yaitu memiliki sifat mudah gelisah dan tidak sabar.إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (20)“Apabila ia ditimpa kesusahan, ia menjadi sangat gelisah.” (QS. Al-Ma’arij: 20)Sifat “halu’” itu dijelaskan, yaitu ketika seseorang tertimpa keburukan, ia menjadi gelisah. Ia tidak tahan jika terkena kemiskinan, sakit, atau kehilangan sesuatu yang dicintainya, seperti harta, keluarga, atau anak. Dalam keadaan itu, ia tidak menggunakan kesabaran dan tidak ridha terhadap ketetapan Allah.وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا (21)“Dan apabila ia mendapat kebaikan, ia sangat kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 21)Artinya, ia tidak mau menafkahkan sebagian dari apa yang Allah berikan kepadanya, dan tidak bersyukur atas nikmat dan kebaikan Allah. Haluu’ berarti gelisah saat susah, dan kikir saat senang. Pengecualian: Orang yang Selamat dari Halu’إِلَّا الْمُصَلِّينَ (22)“kecuali orang-orang yang melaksanakan shalat.” (QS. Al-Ma’arij: 22)Yaitu orang-orang yang memiliki sifat-sifat berikut.Jika mereka mendapatkan kebaikan, mereka bersyukur kepada Allah dan menafkahkan sebagian dari apa yang Allah berikan.Jika mereka tertimpa kesusahan, mereka bersabar dan mengharapkan pahala. Ciri Pertama: Menjaga Shalat Secara Konsistenالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ (23)“(yaitu) orang-orang yang tetap mengerjakan shalatnya.” (QS. Al-Ma’arij: 23)Mereka senantiasa menjaga shalat pada waktunya, dengan memenuhi syarat-syaratnya dan menyempurnakannya. Mereka tidak seperti orang yang meninggalkannya, atau melakukannya hanya sesekali (shalatnya bolong-bolong), atau melakukannya dengan cara yang tidak sempurna. Ciri Kedua: Peduli dengan Harta dan Berbagiوَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ (24)“Dan orang-orang yang dalam hartanya terdapat bagian tertentu.” (QS. Al-Ma’arij: 24)Yaitu bagian dari zakat dan sedekah.لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ (25)“bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta).” (QS. Al-Ma’arij: 25)Yang dimaksud dengan “orang yang meminta” adalah orang yang datang meminta bantuan. Adapun “orang yang tidak mau meminta” adalah orang miskin yang tidak meminta-minta kepada orang lain, sehingga ia tidak diberi, dan keadaannya pun tidak disadari sehingga tidak ada yang bersedekah kepadanya.” Ciri Ketiga: Beriman kepada Hari Pembalasanوَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ (26)“Dan orang-orang yang membenarkan hari pembalasan.” (QS. Al-Ma’arij: 26)Yaitu mereka beriman kepada apa yang Allah kabarkan dan disampaikan oleh para rasul tentang hari pembalasan dan kebangkitan. Mereka meyakini hal itu dengan penuh keyakinan, sehingga mereka mempersiapkan diri untuk akhirat dan berusaha untuknya. Membenarkan hari pembalasan mengharuskan membenarkan para rasul dan apa yang mereka bawa berupa kitab-kitab. Ciri Keempat: Takut terhadap Azab Allahوَالَّذِينَ هُم مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ (27)“Dan orang-orang yang takut terhadap azab Rabbnya.” (QS. Al-Ma’arij: 27)Yaitu mereka merasa takut dan khawatir, sehingga mereka meninggalkan segala sesuatu yang dapat mendekatkan kepada azab Allah.إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍ (28)“Sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat merasa aman darinya.” (QS. Al-Ma’arij: 28)Artinya, azab itu adalah sesuatu yang harus ditakuti dan diwaspadai. Ciri Kelima: Menjaga Kehormatan Diriوَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (29)“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya.” (QS. Al-Ma’arij: 29)Maksud ayat ini adalah:Mereka tidak melakukan hubungan intim yang diharamkan, seperti zina, liwath (homoseksual), menyetubuhi dari belakang, atau saat haid, dan semisalnya.Mereka tidak memandang dan menyentuh kemaluan orang lain yang tidak halal.Mereka meninggalkan segala sebab yang mengantarkan pada perbuatan zina.إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (30)“kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela.” (QS. Al-Ma’arij: 30)Artinya, mereka tidak tercela jika menyalurkan kebutuhan tersebut kepada istri atau budak yang mereka miliki, pada tempat yang memang diperbolehkan.فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (31)“Barang siapa mencari selain itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Ma’arij: 31)Artinya, siapa yang mencari selain istri dan hamba sahaya, maka ia telah melampaui batas dari yang dihalalkan menuju yang diharamkan. Ayat ini menunjukkan haramnya nikah mut’ah (kawin kontrak ala kaum Syi’ah), karena tidak termasuk istri yang dimaksud dan bukan pula hamba sahaya. Ciri Keenam: Menjaga Amanah dan Janjiوَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (32)“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya.” (QS. Al-Ma’arij: 32)Mereka menjaga dan bersungguh-sungguh menunaikannya serta menepatinya. Ini mencakup seluruh amanat antara hamba dengan Allah, seperti kewajiban yang tersembunyi yang tidak diketahui kecuali oleh Allah, dan amanat antara hamba dengan manusia, seperti dalam harta dan rahasia. Begitu pula janji, baik janji kepada Allah maupun kepada manusia, karena semua itu akan dimintai pertanggungjawaban, apakah ditunaikan atau dikhianati. Ciri Ketujuh: Jujur dalam Kesaksianوَالَّذِينَ هُمْ بِشَهَادَاتِهِمْ قَائِمُونَ (33)“Dan orang-orang yang memberikan kesaksian mereka.” (QS. Al-Ma’arij: 33)Mereka tidak bersaksi kecuali dengan apa yang mereka ketahui, tanpa menambah, mengurangi, atau menyembunyikan. Mereka tidak memihak kepada kerabat atau teman, dan tujuan mereka adalah karena Allah.Allah Ta‘ālā berfirman,وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ“Dan tegakkanlah kesaksian itu karena Allah.” (QS. Ath-Thalaq: 2)يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap kedua orang tua dan kaum kerabatmu.” (QS. An-Nisa’: 135) Ciri Kedelapan: Menjaga Shalat dengan Sempurnaوَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (34)“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.” (QS. Al-Ma’arij: 34)Yaitu dengan terus menjaganya dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Balasan: Surga bagi Orang yang Memiliki Sifat Iniأُولَٰئِكَ فِي جَنَّاتٍ مُّكْرَمُونَ (35)“Mereka itu dimuliakan di dalam surga.” (QS. Al-Ma’arij: 35)Yaitu orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut akan dimuliakan oleh Allah dengan berbagai kenikmatan yang kekal, yang diinginkan oleh jiwa dan menyenangkan pandangan, dan mereka kekal di dalamnya.Kesimpulannya, Allah menyifati orang-orang yang berbahagia dan baik dengan sifat-sifat yang sempurna dan akhlak yang mulia.Mereka memiliki ibadah badan, seperti shalat dan terus menjaganya; amal hati, seperti rasa takut kepada Allah yang mendorong kepada setiap kebaikan; ibadah harta; keyakinan yang benar; serta akhlak yang luhur.Mereka juga berinteraksi dengan Allah dan dengan sesama manusia dengan sebaik-baiknya, yaitu dengan bersikap adil, menjaga janji dan rahasia, serta memiliki kehormatan diri yang sempurna dengan menjaga kemaluan dari segala yang dibenci oleh Allah Ta‘ālā. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُMa‘asyiral muslimin rahimakumullah, itulah sifat manusia dan jalan keselamatan yang Allah ajarkan dalam Al-Qur’an. Siapa yang ingin selamat dari sifat gelisah dan kikir, maka perbaikilah shalatnya, kuatkan imannya, dan jaga amanah serta akhlaknya.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang sabar saat diuji dan bersyukur saat diberi nikmat.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah Keduaاَللهُ أَكْبَرُ (7x) اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَىٰ وَالتُّقَىٰ وَالْعَفَافَ وَالْغِنَىٰ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ، اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَمَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتِلَاوَتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ اللّهُمَّ وَلِّ عَلَيْنَا خِيَارَنا وَلَا تُوَلِّ عَلَيْنا شِرَارَنا. اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِTaqobbalallahu minna wa minkum, shalihal a’maal, kullu ‘aamin wa antum bi khairin. Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Naskah ini yang dipakai untuk Khutbah Idulfitri 1447 HRabu sore, 29 Ramadhan 1447 H, 18 Maret 2026@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak islam halu’ iman akhirat khutbah hari raya khutbah idul fitri renungan ayat renungan quran sabar shalat sifat manusia syukur tafsir al ma’arij Tafsir juz 29 tafsir surah al ma'arij Zakat

Khutbah Idulfitri | 8 Kiat Menjadi Hamba yang Sabar dan Bersyukur (Selamat dari Sifat Halu’a)

Manusia secara tabiat memiliki sifat mudah gelisah saat susah dan kikir saat senang. Inilah yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai sifat halu’. Namun, Allah tidak hanya menyebutkan sifat tersebut, tetapi juga memberikan jalan keluar agar seorang hamba menjadi pribadi yang sabar dan bersyukur.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Hakikat Manusia: Sifat Halu’ 3. Pengecualian: Orang yang Selamat dari Halu’ 3.1. Ciri Pertama: Menjaga Shalat Secara Konsisten 3.2. Ciri Kedua: Peduli dengan Harta dan Berbagi 3.3. Ciri Ketiga: Beriman kepada Hari Pembalasan 3.4. Ciri Keempat: Takut terhadap Azab Allah 3.5. Ciri Kelima: Menjaga Kehormatan Diri 3.6. Ciri Keenam: Menjaga Amanah dan Janji 3.7. Ciri Ketujuh: Jujur dalam Kesaksian 3.8. Ciri Kedelapan: Menjaga Shalat dengan Sempurna 4. Balasan: Surga bagi Orang yang Memiliki Sifat Ini 5. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaاللهُ أَكْبَرُ، (9x)الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ أَمَّابَعْدُ؛ فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُMa’asyiral muslimin hafizhakumullah …Segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan bagi kita ibadah Ramadan dan mempertemukan kita dengan hari kemenangan, Idulfitri. Hari ini bukan sekadar hari bergembira, tetapi hari untuk menguji apakah kita benar-benar berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Di antara perubahan terbesar yang harus kita raih adalah keluar dari sifat halu’—tidak sabar saat susah dan tidak bersyukur saat senang—menuju sifat orang-orang beriman yang sabar, bersyukur, dan istiqamah dalam ketaatan.  اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُHakikat Manusia: Sifat Halu’Allah Ta’ala berfirman,۞ إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (19)“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah.” (QS. Al-Ma’arij: 19)Sifat ini menggambarkan manusia dari sisi tabiat asalnya, yaitu memiliki sifat mudah gelisah dan tidak sabar.إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (20)“Apabila ia ditimpa kesusahan, ia menjadi sangat gelisah.” (QS. Al-Ma’arij: 20)Sifat “halu’” itu dijelaskan, yaitu ketika seseorang tertimpa keburukan, ia menjadi gelisah. Ia tidak tahan jika terkena kemiskinan, sakit, atau kehilangan sesuatu yang dicintainya, seperti harta, keluarga, atau anak. Dalam keadaan itu, ia tidak menggunakan kesabaran dan tidak ridha terhadap ketetapan Allah.وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا (21)“Dan apabila ia mendapat kebaikan, ia sangat kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 21)Artinya, ia tidak mau menafkahkan sebagian dari apa yang Allah berikan kepadanya, dan tidak bersyukur atas nikmat dan kebaikan Allah. Haluu’ berarti gelisah saat susah, dan kikir saat senang. Pengecualian: Orang yang Selamat dari Halu’إِلَّا الْمُصَلِّينَ (22)“kecuali orang-orang yang melaksanakan shalat.” (QS. Al-Ma’arij: 22)Yaitu orang-orang yang memiliki sifat-sifat berikut.Jika mereka mendapatkan kebaikan, mereka bersyukur kepada Allah dan menafkahkan sebagian dari apa yang Allah berikan.Jika mereka tertimpa kesusahan, mereka bersabar dan mengharapkan pahala. Ciri Pertama: Menjaga Shalat Secara Konsistenالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ (23)“(yaitu) orang-orang yang tetap mengerjakan shalatnya.” (QS. Al-Ma’arij: 23)Mereka senantiasa menjaga shalat pada waktunya, dengan memenuhi syarat-syaratnya dan menyempurnakannya. Mereka tidak seperti orang yang meninggalkannya, atau melakukannya hanya sesekali (shalatnya bolong-bolong), atau melakukannya dengan cara yang tidak sempurna. Ciri Kedua: Peduli dengan Harta dan Berbagiوَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ (24)“Dan orang-orang yang dalam hartanya terdapat bagian tertentu.” (QS. Al-Ma’arij: 24)Yaitu bagian dari zakat dan sedekah.لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ (25)“bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta).” (QS. Al-Ma’arij: 25)Yang dimaksud dengan “orang yang meminta” adalah orang yang datang meminta bantuan. Adapun “orang yang tidak mau meminta” adalah orang miskin yang tidak meminta-minta kepada orang lain, sehingga ia tidak diberi, dan keadaannya pun tidak disadari sehingga tidak ada yang bersedekah kepadanya.” Ciri Ketiga: Beriman kepada Hari Pembalasanوَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ (26)“Dan orang-orang yang membenarkan hari pembalasan.” (QS. Al-Ma’arij: 26)Yaitu mereka beriman kepada apa yang Allah kabarkan dan disampaikan oleh para rasul tentang hari pembalasan dan kebangkitan. Mereka meyakini hal itu dengan penuh keyakinan, sehingga mereka mempersiapkan diri untuk akhirat dan berusaha untuknya. Membenarkan hari pembalasan mengharuskan membenarkan para rasul dan apa yang mereka bawa berupa kitab-kitab. Ciri Keempat: Takut terhadap Azab Allahوَالَّذِينَ هُم مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ (27)“Dan orang-orang yang takut terhadap azab Rabbnya.” (QS. Al-Ma’arij: 27)Yaitu mereka merasa takut dan khawatir, sehingga mereka meninggalkan segala sesuatu yang dapat mendekatkan kepada azab Allah.إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍ (28)“Sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat merasa aman darinya.” (QS. Al-Ma’arij: 28)Artinya, azab itu adalah sesuatu yang harus ditakuti dan diwaspadai. Ciri Kelima: Menjaga Kehormatan Diriوَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (29)“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya.” (QS. Al-Ma’arij: 29)Maksud ayat ini adalah:Mereka tidak melakukan hubungan intim yang diharamkan, seperti zina, liwath (homoseksual), menyetubuhi dari belakang, atau saat haid, dan semisalnya.Mereka tidak memandang dan menyentuh kemaluan orang lain yang tidak halal.Mereka meninggalkan segala sebab yang mengantarkan pada perbuatan zina.إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (30)“kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela.” (QS. Al-Ma’arij: 30)Artinya, mereka tidak tercela jika menyalurkan kebutuhan tersebut kepada istri atau budak yang mereka miliki, pada tempat yang memang diperbolehkan.فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (31)“Barang siapa mencari selain itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Ma’arij: 31)Artinya, siapa yang mencari selain istri dan hamba sahaya, maka ia telah melampaui batas dari yang dihalalkan menuju yang diharamkan. Ayat ini menunjukkan haramnya nikah mut’ah (kawin kontrak ala kaum Syi’ah), karena tidak termasuk istri yang dimaksud dan bukan pula hamba sahaya. Ciri Keenam: Menjaga Amanah dan Janjiوَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (32)“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya.” (QS. Al-Ma’arij: 32)Mereka menjaga dan bersungguh-sungguh menunaikannya serta menepatinya. Ini mencakup seluruh amanat antara hamba dengan Allah, seperti kewajiban yang tersembunyi yang tidak diketahui kecuali oleh Allah, dan amanat antara hamba dengan manusia, seperti dalam harta dan rahasia. Begitu pula janji, baik janji kepada Allah maupun kepada manusia, karena semua itu akan dimintai pertanggungjawaban, apakah ditunaikan atau dikhianati. Ciri Ketujuh: Jujur dalam Kesaksianوَالَّذِينَ هُمْ بِشَهَادَاتِهِمْ قَائِمُونَ (33)“Dan orang-orang yang memberikan kesaksian mereka.” (QS. Al-Ma’arij: 33)Mereka tidak bersaksi kecuali dengan apa yang mereka ketahui, tanpa menambah, mengurangi, atau menyembunyikan. Mereka tidak memihak kepada kerabat atau teman, dan tujuan mereka adalah karena Allah.Allah Ta‘ālā berfirman,وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ“Dan tegakkanlah kesaksian itu karena Allah.” (QS. Ath-Thalaq: 2)يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap kedua orang tua dan kaum kerabatmu.” (QS. An-Nisa’: 135) Ciri Kedelapan: Menjaga Shalat dengan Sempurnaوَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (34)“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.” (QS. Al-Ma’arij: 34)Yaitu dengan terus menjaganya dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Balasan: Surga bagi Orang yang Memiliki Sifat Iniأُولَٰئِكَ فِي جَنَّاتٍ مُّكْرَمُونَ (35)“Mereka itu dimuliakan di dalam surga.” (QS. Al-Ma’arij: 35)Yaitu orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut akan dimuliakan oleh Allah dengan berbagai kenikmatan yang kekal, yang diinginkan oleh jiwa dan menyenangkan pandangan, dan mereka kekal di dalamnya.Kesimpulannya, Allah menyifati orang-orang yang berbahagia dan baik dengan sifat-sifat yang sempurna dan akhlak yang mulia.Mereka memiliki ibadah badan, seperti shalat dan terus menjaganya; amal hati, seperti rasa takut kepada Allah yang mendorong kepada setiap kebaikan; ibadah harta; keyakinan yang benar; serta akhlak yang luhur.Mereka juga berinteraksi dengan Allah dan dengan sesama manusia dengan sebaik-baiknya, yaitu dengan bersikap adil, menjaga janji dan rahasia, serta memiliki kehormatan diri yang sempurna dengan menjaga kemaluan dari segala yang dibenci oleh Allah Ta‘ālā. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُMa‘asyiral muslimin rahimakumullah, itulah sifat manusia dan jalan keselamatan yang Allah ajarkan dalam Al-Qur’an. Siapa yang ingin selamat dari sifat gelisah dan kikir, maka perbaikilah shalatnya, kuatkan imannya, dan jaga amanah serta akhlaknya.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang sabar saat diuji dan bersyukur saat diberi nikmat.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah Keduaاَللهُ أَكْبَرُ (7x) اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَىٰ وَالتُّقَىٰ وَالْعَفَافَ وَالْغِنَىٰ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ، اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَمَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتِلَاوَتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ اللّهُمَّ وَلِّ عَلَيْنَا خِيَارَنا وَلَا تُوَلِّ عَلَيْنا شِرَارَنا. اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِTaqobbalallahu minna wa minkum, shalihal a’maal, kullu ‘aamin wa antum bi khairin. Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Naskah ini yang dipakai untuk Khutbah Idulfitri 1447 HRabu sore, 29 Ramadhan 1447 H, 18 Maret 2026@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak islam halu’ iman akhirat khutbah hari raya khutbah idul fitri renungan ayat renungan quran sabar shalat sifat manusia syukur tafsir al ma’arij Tafsir juz 29 tafsir surah al ma'arij Zakat
Manusia secara tabiat memiliki sifat mudah gelisah saat susah dan kikir saat senang. Inilah yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai sifat halu’. Namun, Allah tidak hanya menyebutkan sifat tersebut, tetapi juga memberikan jalan keluar agar seorang hamba menjadi pribadi yang sabar dan bersyukur.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Hakikat Manusia: Sifat Halu’ 3. Pengecualian: Orang yang Selamat dari Halu’ 3.1. Ciri Pertama: Menjaga Shalat Secara Konsisten 3.2. Ciri Kedua: Peduli dengan Harta dan Berbagi 3.3. Ciri Ketiga: Beriman kepada Hari Pembalasan 3.4. Ciri Keempat: Takut terhadap Azab Allah 3.5. Ciri Kelima: Menjaga Kehormatan Diri 3.6. Ciri Keenam: Menjaga Amanah dan Janji 3.7. Ciri Ketujuh: Jujur dalam Kesaksian 3.8. Ciri Kedelapan: Menjaga Shalat dengan Sempurna 4. Balasan: Surga bagi Orang yang Memiliki Sifat Ini 5. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaاللهُ أَكْبَرُ، (9x)الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ أَمَّابَعْدُ؛ فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُMa’asyiral muslimin hafizhakumullah …Segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan bagi kita ibadah Ramadan dan mempertemukan kita dengan hari kemenangan, Idulfitri. Hari ini bukan sekadar hari bergembira, tetapi hari untuk menguji apakah kita benar-benar berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Di antara perubahan terbesar yang harus kita raih adalah keluar dari sifat halu’—tidak sabar saat susah dan tidak bersyukur saat senang—menuju sifat orang-orang beriman yang sabar, bersyukur, dan istiqamah dalam ketaatan.  اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُHakikat Manusia: Sifat Halu’Allah Ta’ala berfirman,۞ إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (19)“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah.” (QS. Al-Ma’arij: 19)Sifat ini menggambarkan manusia dari sisi tabiat asalnya, yaitu memiliki sifat mudah gelisah dan tidak sabar.إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (20)“Apabila ia ditimpa kesusahan, ia menjadi sangat gelisah.” (QS. Al-Ma’arij: 20)Sifat “halu’” itu dijelaskan, yaitu ketika seseorang tertimpa keburukan, ia menjadi gelisah. Ia tidak tahan jika terkena kemiskinan, sakit, atau kehilangan sesuatu yang dicintainya, seperti harta, keluarga, atau anak. Dalam keadaan itu, ia tidak menggunakan kesabaran dan tidak ridha terhadap ketetapan Allah.وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا (21)“Dan apabila ia mendapat kebaikan, ia sangat kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 21)Artinya, ia tidak mau menafkahkan sebagian dari apa yang Allah berikan kepadanya, dan tidak bersyukur atas nikmat dan kebaikan Allah. Haluu’ berarti gelisah saat susah, dan kikir saat senang. Pengecualian: Orang yang Selamat dari Halu’إِلَّا الْمُصَلِّينَ (22)“kecuali orang-orang yang melaksanakan shalat.” (QS. Al-Ma’arij: 22)Yaitu orang-orang yang memiliki sifat-sifat berikut.Jika mereka mendapatkan kebaikan, mereka bersyukur kepada Allah dan menafkahkan sebagian dari apa yang Allah berikan.Jika mereka tertimpa kesusahan, mereka bersabar dan mengharapkan pahala. Ciri Pertama: Menjaga Shalat Secara Konsistenالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ (23)“(yaitu) orang-orang yang tetap mengerjakan shalatnya.” (QS. Al-Ma’arij: 23)Mereka senantiasa menjaga shalat pada waktunya, dengan memenuhi syarat-syaratnya dan menyempurnakannya. Mereka tidak seperti orang yang meninggalkannya, atau melakukannya hanya sesekali (shalatnya bolong-bolong), atau melakukannya dengan cara yang tidak sempurna. Ciri Kedua: Peduli dengan Harta dan Berbagiوَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ (24)“Dan orang-orang yang dalam hartanya terdapat bagian tertentu.” (QS. Al-Ma’arij: 24)Yaitu bagian dari zakat dan sedekah.لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ (25)“bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta).” (QS. Al-Ma’arij: 25)Yang dimaksud dengan “orang yang meminta” adalah orang yang datang meminta bantuan. Adapun “orang yang tidak mau meminta” adalah orang miskin yang tidak meminta-minta kepada orang lain, sehingga ia tidak diberi, dan keadaannya pun tidak disadari sehingga tidak ada yang bersedekah kepadanya.” Ciri Ketiga: Beriman kepada Hari Pembalasanوَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ (26)“Dan orang-orang yang membenarkan hari pembalasan.” (QS. Al-Ma’arij: 26)Yaitu mereka beriman kepada apa yang Allah kabarkan dan disampaikan oleh para rasul tentang hari pembalasan dan kebangkitan. Mereka meyakini hal itu dengan penuh keyakinan, sehingga mereka mempersiapkan diri untuk akhirat dan berusaha untuknya. Membenarkan hari pembalasan mengharuskan membenarkan para rasul dan apa yang mereka bawa berupa kitab-kitab. Ciri Keempat: Takut terhadap Azab Allahوَالَّذِينَ هُم مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ (27)“Dan orang-orang yang takut terhadap azab Rabbnya.” (QS. Al-Ma’arij: 27)Yaitu mereka merasa takut dan khawatir, sehingga mereka meninggalkan segala sesuatu yang dapat mendekatkan kepada azab Allah.إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍ (28)“Sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat merasa aman darinya.” (QS. Al-Ma’arij: 28)Artinya, azab itu adalah sesuatu yang harus ditakuti dan diwaspadai. Ciri Kelima: Menjaga Kehormatan Diriوَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (29)“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya.” (QS. Al-Ma’arij: 29)Maksud ayat ini adalah:Mereka tidak melakukan hubungan intim yang diharamkan, seperti zina, liwath (homoseksual), menyetubuhi dari belakang, atau saat haid, dan semisalnya.Mereka tidak memandang dan menyentuh kemaluan orang lain yang tidak halal.Mereka meninggalkan segala sebab yang mengantarkan pada perbuatan zina.إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (30)“kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela.” (QS. Al-Ma’arij: 30)Artinya, mereka tidak tercela jika menyalurkan kebutuhan tersebut kepada istri atau budak yang mereka miliki, pada tempat yang memang diperbolehkan.فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (31)“Barang siapa mencari selain itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Ma’arij: 31)Artinya, siapa yang mencari selain istri dan hamba sahaya, maka ia telah melampaui batas dari yang dihalalkan menuju yang diharamkan. Ayat ini menunjukkan haramnya nikah mut’ah (kawin kontrak ala kaum Syi’ah), karena tidak termasuk istri yang dimaksud dan bukan pula hamba sahaya. Ciri Keenam: Menjaga Amanah dan Janjiوَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (32)“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya.” (QS. Al-Ma’arij: 32)Mereka menjaga dan bersungguh-sungguh menunaikannya serta menepatinya. Ini mencakup seluruh amanat antara hamba dengan Allah, seperti kewajiban yang tersembunyi yang tidak diketahui kecuali oleh Allah, dan amanat antara hamba dengan manusia, seperti dalam harta dan rahasia. Begitu pula janji, baik janji kepada Allah maupun kepada manusia, karena semua itu akan dimintai pertanggungjawaban, apakah ditunaikan atau dikhianati. Ciri Ketujuh: Jujur dalam Kesaksianوَالَّذِينَ هُمْ بِشَهَادَاتِهِمْ قَائِمُونَ (33)“Dan orang-orang yang memberikan kesaksian mereka.” (QS. Al-Ma’arij: 33)Mereka tidak bersaksi kecuali dengan apa yang mereka ketahui, tanpa menambah, mengurangi, atau menyembunyikan. Mereka tidak memihak kepada kerabat atau teman, dan tujuan mereka adalah karena Allah.Allah Ta‘ālā berfirman,وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ“Dan tegakkanlah kesaksian itu karena Allah.” (QS. Ath-Thalaq: 2)يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap kedua orang tua dan kaum kerabatmu.” (QS. An-Nisa’: 135) Ciri Kedelapan: Menjaga Shalat dengan Sempurnaوَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (34)“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.” (QS. Al-Ma’arij: 34)Yaitu dengan terus menjaganya dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Balasan: Surga bagi Orang yang Memiliki Sifat Iniأُولَٰئِكَ فِي جَنَّاتٍ مُّكْرَمُونَ (35)“Mereka itu dimuliakan di dalam surga.” (QS. Al-Ma’arij: 35)Yaitu orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut akan dimuliakan oleh Allah dengan berbagai kenikmatan yang kekal, yang diinginkan oleh jiwa dan menyenangkan pandangan, dan mereka kekal di dalamnya.Kesimpulannya, Allah menyifati orang-orang yang berbahagia dan baik dengan sifat-sifat yang sempurna dan akhlak yang mulia.Mereka memiliki ibadah badan, seperti shalat dan terus menjaganya; amal hati, seperti rasa takut kepada Allah yang mendorong kepada setiap kebaikan; ibadah harta; keyakinan yang benar; serta akhlak yang luhur.Mereka juga berinteraksi dengan Allah dan dengan sesama manusia dengan sebaik-baiknya, yaitu dengan bersikap adil, menjaga janji dan rahasia, serta memiliki kehormatan diri yang sempurna dengan menjaga kemaluan dari segala yang dibenci oleh Allah Ta‘ālā. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُMa‘asyiral muslimin rahimakumullah, itulah sifat manusia dan jalan keselamatan yang Allah ajarkan dalam Al-Qur’an. Siapa yang ingin selamat dari sifat gelisah dan kikir, maka perbaikilah shalatnya, kuatkan imannya, dan jaga amanah serta akhlaknya.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang sabar saat diuji dan bersyukur saat diberi nikmat.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah Keduaاَللهُ أَكْبَرُ (7x) اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَىٰ وَالتُّقَىٰ وَالْعَفَافَ وَالْغِنَىٰ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ، اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَمَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتِلَاوَتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ اللّهُمَّ وَلِّ عَلَيْنَا خِيَارَنا وَلَا تُوَلِّ عَلَيْنا شِرَارَنا. اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِTaqobbalallahu minna wa minkum, shalihal a’maal, kullu ‘aamin wa antum bi khairin. Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Naskah ini yang dipakai untuk Khutbah Idulfitri 1447 HRabu sore, 29 Ramadhan 1447 H, 18 Maret 2026@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak islam halu’ iman akhirat khutbah hari raya khutbah idul fitri renungan ayat renungan quran sabar shalat sifat manusia syukur tafsir al ma’arij Tafsir juz 29 tafsir surah al ma'arij Zakat


Manusia secara tabiat memiliki sifat mudah gelisah saat susah dan kikir saat senang. Inilah yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai sifat halu’. Namun, Allah tidak hanya menyebutkan sifat tersebut, tetapi juga memberikan jalan keluar agar seorang hamba menjadi pribadi yang sabar dan bersyukur.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Hakikat Manusia: Sifat Halu’ 3. Pengecualian: Orang yang Selamat dari Halu’ 3.1. Ciri Pertama: Menjaga Shalat Secara Konsisten 3.2. Ciri Kedua: Peduli dengan Harta dan Berbagi 3.3. Ciri Ketiga: Beriman kepada Hari Pembalasan 3.4. Ciri Keempat: Takut terhadap Azab Allah 3.5. Ciri Kelima: Menjaga Kehormatan Diri 3.6. Ciri Keenam: Menjaga Amanah dan Janji 3.7. Ciri Ketujuh: Jujur dalam Kesaksian 3.8. Ciri Kedelapan: Menjaga Shalat dengan Sempurna 4. Balasan: Surga bagi Orang yang Memiliki Sifat Ini 5. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaاللهُ أَكْبَرُ، (9x)الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ أَمَّابَعْدُ؛ فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُMa’asyiral muslimin hafizhakumullah …Segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan bagi kita ibadah Ramadan dan mempertemukan kita dengan hari kemenangan, Idulfitri. Hari ini bukan sekadar hari bergembira, tetapi hari untuk menguji apakah kita benar-benar berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Di antara perubahan terbesar yang harus kita raih adalah keluar dari sifat halu’—tidak sabar saat susah dan tidak bersyukur saat senang—menuju sifat orang-orang beriman yang sabar, bersyukur, dan istiqamah dalam ketaatan.  اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُHakikat Manusia: Sifat Halu’Allah Ta’ala berfirman,۞ إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (19)“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah.” (QS. Al-Ma’arij: 19)Sifat ini menggambarkan manusia dari sisi tabiat asalnya, yaitu memiliki sifat mudah gelisah dan tidak sabar.إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (20)“Apabila ia ditimpa kesusahan, ia menjadi sangat gelisah.” (QS. Al-Ma’arij: 20)Sifat “halu’” itu dijelaskan, yaitu ketika seseorang tertimpa keburukan, ia menjadi gelisah. Ia tidak tahan jika terkena kemiskinan, sakit, atau kehilangan sesuatu yang dicintainya, seperti harta, keluarga, atau anak. Dalam keadaan itu, ia tidak menggunakan kesabaran dan tidak ridha terhadap ketetapan Allah.وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا (21)“Dan apabila ia mendapat kebaikan, ia sangat kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 21)Artinya, ia tidak mau menafkahkan sebagian dari apa yang Allah berikan kepadanya, dan tidak bersyukur atas nikmat dan kebaikan Allah. Haluu’ berarti gelisah saat susah, dan kikir saat senang. Pengecualian: Orang yang Selamat dari Halu’إِلَّا الْمُصَلِّينَ (22)“kecuali orang-orang yang melaksanakan shalat.” (QS. Al-Ma’arij: 22)Yaitu orang-orang yang memiliki sifat-sifat berikut.Jika mereka mendapatkan kebaikan, mereka bersyukur kepada Allah dan menafkahkan sebagian dari apa yang Allah berikan.Jika mereka tertimpa kesusahan, mereka bersabar dan mengharapkan pahala. Ciri Pertama: Menjaga Shalat Secara Konsistenالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ (23)“(yaitu) orang-orang yang tetap mengerjakan shalatnya.” (QS. Al-Ma’arij: 23)Mereka senantiasa menjaga shalat pada waktunya, dengan memenuhi syarat-syaratnya dan menyempurnakannya. Mereka tidak seperti orang yang meninggalkannya, atau melakukannya hanya sesekali (shalatnya bolong-bolong), atau melakukannya dengan cara yang tidak sempurna. Ciri Kedua: Peduli dengan Harta dan Berbagiوَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ (24)“Dan orang-orang yang dalam hartanya terdapat bagian tertentu.” (QS. Al-Ma’arij: 24)Yaitu bagian dari zakat dan sedekah.لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ (25)“bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta).” (QS. Al-Ma’arij: 25)Yang dimaksud dengan “orang yang meminta” adalah orang yang datang meminta bantuan. Adapun “orang yang tidak mau meminta” adalah orang miskin yang tidak meminta-minta kepada orang lain, sehingga ia tidak diberi, dan keadaannya pun tidak disadari sehingga tidak ada yang bersedekah kepadanya.” Ciri Ketiga: Beriman kepada Hari Pembalasanوَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ (26)“Dan orang-orang yang membenarkan hari pembalasan.” (QS. Al-Ma’arij: 26)Yaitu mereka beriman kepada apa yang Allah kabarkan dan disampaikan oleh para rasul tentang hari pembalasan dan kebangkitan. Mereka meyakini hal itu dengan penuh keyakinan, sehingga mereka mempersiapkan diri untuk akhirat dan berusaha untuknya. Membenarkan hari pembalasan mengharuskan membenarkan para rasul dan apa yang mereka bawa berupa kitab-kitab. Ciri Keempat: Takut terhadap Azab Allahوَالَّذِينَ هُم مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ (27)“Dan orang-orang yang takut terhadap azab Rabbnya.” (QS. Al-Ma’arij: 27)Yaitu mereka merasa takut dan khawatir, sehingga mereka meninggalkan segala sesuatu yang dapat mendekatkan kepada azab Allah.إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍ (28)“Sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat merasa aman darinya.” (QS. Al-Ma’arij: 28)Artinya, azab itu adalah sesuatu yang harus ditakuti dan diwaspadai. Ciri Kelima: Menjaga Kehormatan Diriوَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (29)“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya.” (QS. Al-Ma’arij: 29)Maksud ayat ini adalah:Mereka tidak melakukan hubungan intim yang diharamkan, seperti zina, liwath (homoseksual), menyetubuhi dari belakang, atau saat haid, dan semisalnya.Mereka tidak memandang dan menyentuh kemaluan orang lain yang tidak halal.Mereka meninggalkan segala sebab yang mengantarkan pada perbuatan zina.إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (30)“kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela.” (QS. Al-Ma’arij: 30)Artinya, mereka tidak tercela jika menyalurkan kebutuhan tersebut kepada istri atau budak yang mereka miliki, pada tempat yang memang diperbolehkan.فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (31)“Barang siapa mencari selain itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Ma’arij: 31)Artinya, siapa yang mencari selain istri dan hamba sahaya, maka ia telah melampaui batas dari yang dihalalkan menuju yang diharamkan. Ayat ini menunjukkan haramnya nikah mut’ah (kawin kontrak ala kaum Syi’ah), karena tidak termasuk istri yang dimaksud dan bukan pula hamba sahaya. Ciri Keenam: Menjaga Amanah dan Janjiوَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (32)“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya.” (QS. Al-Ma’arij: 32)Mereka menjaga dan bersungguh-sungguh menunaikannya serta menepatinya. Ini mencakup seluruh amanat antara hamba dengan Allah, seperti kewajiban yang tersembunyi yang tidak diketahui kecuali oleh Allah, dan amanat antara hamba dengan manusia, seperti dalam harta dan rahasia. Begitu pula janji, baik janji kepada Allah maupun kepada manusia, karena semua itu akan dimintai pertanggungjawaban, apakah ditunaikan atau dikhianati. Ciri Ketujuh: Jujur dalam Kesaksianوَالَّذِينَ هُمْ بِشَهَادَاتِهِمْ قَائِمُونَ (33)“Dan orang-orang yang memberikan kesaksian mereka.” (QS. Al-Ma’arij: 33)Mereka tidak bersaksi kecuali dengan apa yang mereka ketahui, tanpa menambah, mengurangi, atau menyembunyikan. Mereka tidak memihak kepada kerabat atau teman, dan tujuan mereka adalah karena Allah.Allah Ta‘ālā berfirman,وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ“Dan tegakkanlah kesaksian itu karena Allah.” (QS. Ath-Thalaq: 2)يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap kedua orang tua dan kaum kerabatmu.” (QS. An-Nisa’: 135) Ciri Kedelapan: Menjaga Shalat dengan Sempurnaوَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (34)“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.” (QS. Al-Ma’arij: 34)Yaitu dengan terus menjaganya dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Balasan: Surga bagi Orang yang Memiliki Sifat Iniأُولَٰئِكَ فِي جَنَّاتٍ مُّكْرَمُونَ (35)“Mereka itu dimuliakan di dalam surga.” (QS. Al-Ma’arij: 35)Yaitu orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut akan dimuliakan oleh Allah dengan berbagai kenikmatan yang kekal, yang diinginkan oleh jiwa dan menyenangkan pandangan, dan mereka kekal di dalamnya.Kesimpulannya, Allah menyifati orang-orang yang berbahagia dan baik dengan sifat-sifat yang sempurna dan akhlak yang mulia.Mereka memiliki ibadah badan, seperti shalat dan terus menjaganya; amal hati, seperti rasa takut kepada Allah yang mendorong kepada setiap kebaikan; ibadah harta; keyakinan yang benar; serta akhlak yang luhur.Mereka juga berinteraksi dengan Allah dan dengan sesama manusia dengan sebaik-baiknya, yaitu dengan bersikap adil, menjaga janji dan rahasia, serta memiliki kehormatan diri yang sempurna dengan menjaga kemaluan dari segala yang dibenci oleh Allah Ta‘ālā. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُMa‘asyiral muslimin rahimakumullah, itulah sifat manusia dan jalan keselamatan yang Allah ajarkan dalam Al-Qur’an. Siapa yang ingin selamat dari sifat gelisah dan kikir, maka perbaikilah shalatnya, kuatkan imannya, dan jaga amanah serta akhlaknya.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang sabar saat diuji dan bersyukur saat diberi nikmat.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah Keduaاَللهُ أَكْبَرُ (7x) اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَىٰ وَالتُّقَىٰ وَالْعَفَافَ وَالْغِنَىٰ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ، اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَمَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتِلَاوَتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ اللّهُمَّ وَلِّ عَلَيْنَا خِيَارَنا وَلَا تُوَلِّ عَلَيْنا شِرَارَنا. اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِTaqobbalallahu minna wa minkum, shalihal a’maal, kullu ‘aamin wa antum bi khairin. Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Naskah ini yang dipakai untuk Khutbah Idulfitri 1447 HRabu sore, 29 Ramadhan 1447 H, 18 Maret 2026@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak islam halu’ iman akhirat khutbah hari raya khutbah idul fitri renungan ayat renungan quran sabar shalat sifat manusia syukur tafsir al ma’arij Tafsir juz 29 tafsir surah al ma'arij Zakat

Tafsir Surah ‘Abasa: Cara Islam Mengajarkan Kesetaraan Manusia

Surah ‘Abasa mengisahkan peristiwa ketika seorang sahabat yang buta datang kepada Nabi ﷺ untuk belajar, sementara pada saat yang sama beliau sedang berbicara dengan seorang tokoh kaya Quraisy. Nabi ﷺ lebih memberi perhatian kepada orang kaya itu dengan harapan ia mendapat hidayah. Melalui ayat-ayat ini, Allah menegur dengan lembut dan mengajarkan bahwa orang yang sungguh-sungguh mencari petunjuk lebih layak didahulukan daripada orang yang merasa tidak membutuhkan.  Daftar Isi tutup 1. Ketika Nabi ﷺ Bermuka Masam kepada Sahabat yang Tulus Mencari Ilmu 2. Mengapa Nabi ﷺ Lebih Memperhatikan Tokoh Quraisy Saat Itu? 2.1. Kesaksian Para Sahabat dan Ulama tentang Sebab Turunnya Surah ‘Abasa 2.2. Dari Teguran Menjadi Kemuliaan untuk Ibnu Ummi Maktum 2.3. Pelajaran Besar: Siapa yang Lebih Layak Diprioritaskan dalam Dakwah 2.4. Jangan Tinggalkan Kebaikan yang Pasti demi Harapan yang Belum Jelas 3. Al-Qur’an untuk Memberi Peringatan 4. Dari Nutfah hingga Dibangkitkan: Mengapa Manusia Masih Kufur? 5. Allah Tunjukkan Rezeki, Tapi Kita Lalai! 6. Hari Paling Menakutkan: Semua Lari, Bahkan dari Orang Tua!  Ketika Nabi ﷺ Bermuka Masam kepada Sahabat yang Tulus Mencari IlmuAllah Ta’ala berfirman,عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling.” (QS. ‘Abasa: 1)أَن جَآءَهُ ٱلْأَعْمَىٰ“karena telah datang seorang buta kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 2) وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُۥ يَزَّكَّىٰٓ“Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa).” (QS. ‘Abasa: 3)أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكْرَىٰٓ“atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?” (QS. ‘Abasa: 4)أَمَّا مَنِ ٱسْتَغْنَىٰ“Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup.” (QS. ‘Abasa: 5)فَأَنتَ لَهُۥ تَصَدَّىٰ“maka kamu melayaninya.” (QS. ‘Abasa: 6)وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّىٰ“Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).” (QS. ‘Abasa: 7)وَأَمَّا مَن جَآءَكَ يَسْعَىٰ“Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran).” (QS. ‘Abasa: 8)وَهُوَ يَخْشَىٰ“sedang ia takut kepada (Allah).” (QS. ‘Abasa: 9)فَأَنتَ عَنْهُ تَلَهَّىٰ“maka kamu mengabaikannya.” (QS. ‘Abasa: 10)Baca juga: Ibnu Ummi Maktum: Sahabat Nabi yang Buta tetapi Tetap Berjuang untuk Islam Mengapa Nabi ﷺ Lebih Memperhatikan Tokoh Quraisy Saat Itu?Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan:Beberapa ahli tafsir menyebutkan bahwa pada suatu hari Rasulullah ﷺ sedang berbicara dengan salah seorang tokoh besar Quraisy. Beliau sangat berharap orang tersebut masuk Islam.Ketika beliau sedang berbicara dan berdialog dengannya, datanglah Ibnu Ummi Maktum—seorang sahabat yang telah lebih dahulu masuk Islam. Ia mulai bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang suatu hal dan terus meminta penjelasan.Saat itu Nabi ﷺ berharap Ibnu Ummi Maktum berhenti sejenak agar beliau dapat melanjutkan pembicaraan dengan orang tersebut, karena beliau sangat berharap orang itu mendapatkan hidayah. Maka Nabi ﷺ pun bermuka masam kepada Ibnu Ummi Maktum, berpaling darinya, dan kembali memperhatikan orang yang sedang beliau ajak bicara.Lalu Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya:عَبَسَ وَتَوَلَّى“Dia bermuka masam dan berpaling.” Kesaksian Para Sahabat dan Ulama tentang Sebab Turunnya Surah ‘AbasaAl-Hafizh Abu Ya‘la meriwayatkan dalam Musnad-nya:Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mahdi, telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaq, telah mengabarkan kepada kami Ma‘mar, dari Qatadah, dari Anas mengenai firman Allah:عَبَسَ وَتَوَلَّى“Dia bermuka masam dan berpaling.”Disebutkan bahwa Ibnu Ummi Maktum datang kepada Nabi ﷺ ketika beliau sedang berbicara dengan Ubay bin Khalaf. Nabi pun berpaling darinya, lalu Allah menurunkan ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى“Dia bermuka masam dan berpaling karena seorang buta datang kepadanya.”Setelah itu Nabi ﷺ selalu memuliakan Ibnu Ummi Maktum.Qatadah berkata:Anas bin Malik mengabarkan kepadaku, ia berkata: Aku pernah melihat Ibnu Ummi Maktum pada hari perang Qadisiyah. Ia mengenakan baju besi dan membawa bendera hitam.Abu Ya‘la dan Ibnu Jarir juga meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Sa‘id bin Yahya Al-Umawi, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.Ia berkata: Ayat “عَبَسَ وَتَوَلَّى” turun berkenaan dengan Ibnu Ummi Maktum yang buta. Ia datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Tunjukkanlah aku jalan yang benar.”Saat itu di sisi Rasulullah ﷺ ada beberapa tokoh besar dari kalangan musyrikin. Nabi pun berpaling darinya dan lebih memperhatikan orang-orang tersebut. Beliau berkata kepada mereka, “Apakah menurut kalian apa yang aku katakan ini salah?”Mereka menjawab, “Tidak.”Maka dalam peristiwa inilah turun ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّىAt-Tirmidzi meriwayatkan hadis ini melalui sanad Sa‘id bin Yahya Al-Umawi dengan sanad yang sama. Ia berkata: Sebagian perawi meriwayatkannya dari Hisyam bin ‘Urwah dari ayahnya, bahwa ayat “عَبَسَ وَتَوَلَّى” turun tentang Ibnu Ummi Maktum tanpa menyebutkan riwayat dari ‘Aisyah.Aku (Ibnu Katsir) mengatakan: Demikian pula riwayat tersebut terdapat dalam kitab Al-Muwaththa’.Kemudian Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari jalur Al-‘Aufi, dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah:عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىIa berkata: Pada suatu ketika Rasulullah ﷺ sedang berbicara dengan ‘Utbah bin Rabi‘ah, Abu Jahl bin Hisyam, dan Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib. Beliau sering menemui mereka dan sangat berharap agar mereka beriman.Tiba-tiba datang seorang lelaki buta bernama ‘Abdullah bin Ummi Maktum. Ia berjalan mendekati Nabi ﷺ ketika beliau sedang berbicara dengan mereka. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sebagian dari apa yang Allah ajarkan kepadamu.”Nabi ﷺ berpaling darinya, bermuka masam, dan tidak menyukai pembicaraannya saat itu, lalu beliau kembali memusatkan perhatian kepada para tokoh tersebut.Ketika Rasulullah ﷺ telah selesai berbicara dengan mereka dan hendak pulang kepada keluarganya, Allah menahan sebagian penglihatannya. Kepala beliau pun tertunduk. Lalu Allah menurunkan ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّىأَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىوَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىأَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى“Dia bermuka masam dan berpaling karena seorang buta datang kepadanya.Tahukah engkau, barangkali ia ingin membersihkan dirinya.Atau ia ingin mendapatkan pelajaran, lalu pelajaran itu memberi manfaat baginya.” Dari Teguran Menjadi Kemuliaan untuk Ibnu Ummi MaktumSetelah ayat ini turun, Rasulullah ﷺ memuliakan Ibnu Ummi Maktum. Beliau sering menyapanya dan berkata kepadanya, “Apa yang engkau butuhkan? Apakah engkau memerlukan sesuatu?”Ketika Ibnu Ummi Maktum hendak pergi, beliau juga berkata, “Apakah engkau memiliki kebutuhan yang bisa aku bantu?”Hal itu terjadi setelah Allah menurunkan firman-Nya:أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّىوَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّى“Adapun orang yang merasa dirinya cukup, engkau justru memberi perhatian kepadanya. Padahal tidak ada tanggung jawab atasmu jika ia tidak membersihkan dirinya.”Namun dalam riwayat ini terdapat keanehan dan kemungkaran, dan para ulama telah membicarakan sanadnya.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Manshur Ar-Ramadi, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Shalih, telah menceritakan kepada kami Al-Laits, telah menceritakan kepada kami Yunus dari Ibnu Syihab.Ia berkata: Salim bin ‘Abdullah meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:“Sesungguhnya Bilal mengumandangkan azan pada malam hari. Maka makan dan minumlah sampai kalian mendengar azan Ibnu Ummi Maktum.”Ibnu Ummi Maktum adalah seorang yang buta, yang disebut dalam ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىIa biasa mengumandangkan azan bersama Bilal. Salim berkata: Ia adalah seorang yang buta. Ia tidak mengumandangkan azan sampai orang-orang berkata kepadanya ketika mereka melihat terbitnya fajar, “Sekarang sudah fajar, kumandangkanlah azan.”Demikian pula disebutkan oleh ‘Urwah bin Az-Zubair, Mujahid, Abu Malik, Qatadah, Adh-Dhahhak, Ibnu Zaid, dan banyak ulama salaf maupun khalaf bahwa ayat ini turun tentang Ibnu Ummi Maktum.Yang paling masyhur, namanya adalah ‘Abdullah, dan ada pula yang mengatakan ‘Amr. Pelajaran Besar: Siapa yang Lebih Layak Diprioritaskan dalam DakwahAllah Ta’ala berfirman,عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ (1)Sebab turunnya ayat-ayat mulia ini adalah ketika datang seorang laki-laki mukmin yang buta kepada Nabi ﷺ untuk bertanya dan belajar dari beliau.Pada saat yang sama datang pula seorang lelaki kaya. Nabi ﷺ sangat bersemangat untuk memberi hidayah kepada manusia, sehingga beliau lebih condong dan memberi perhatian kepada orang kaya tersebut, sementara beliau berpaling dari orang buta yang miskin itu.Beliau berharap orang kaya tersebut mendapatkan hidayah dan menjadi baik. Maka Allah menegur beliau dengan teguran yang lembut, dengan firman-Nya:“Dia bermuka masam dan berpaling.”Maksudnya, beliau bermuka masam kepada orang buta itu dan memalingkan badannya darinya.أَن جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ (2)Karena orang buta itu datang kepadanya.وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ (3)Kemudian Allah menjelaskan manfaat jika memperhatikannya, yaitu:“Dan tahukah engkau, barangkali dia ingin membersihkan dirinya.”Maksudnya, barangkali orang buta itu ingin menyucikan dirinya dari akhlak yang buruk dan menghiasi dirinya dengan akhlak yang baik.أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ الذِّكْرَىٰ (4)“Atau dia ingin mendapatkan pelajaran, lalu peringatan itu memberi manfaat baginya.”Maksudnya, ia mengingat sesuatu yang bermanfaat baginya sehingga ia dapat mengamalkan peringatan tersebut.أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَىٰ (5)Di sini terdapat pelajaran yang sangat besar, yaitu tujuan utama diutusnya para rasul, disampaikannya nasihat oleh para pemberi nasihat, dan diingatkannya manusia oleh para pengingat.Memberi perhatian kepada orang yang datang sendiri dalam keadaan membutuhkan ilmu darimu adalah sikap yang lebih pantas dan lebih wajib.Adapun memusatkan perhatian kepada orang kaya yang merasa cukup, yang tidak bertanya dan tidak meminta nasihat karena tidak berminat pada kebaikan, sementara orang yang lebih membutuhkan justru ditinggalkan, maka hal itu tidak pantas dilakukan.Karena jika orang kaya itu tidak mau memperbaiki dirinya, maka engkau tidak menanggung dosa atas keburukan yang ia lakukan.Dari ayat ini dipahami sebuah kaidah yang terkenal:لَا يُتْرَكُ أَمْرٌ مَعْلُومٌ لِأَمْرٍ مَوْهُومٍ، وَلَا مَصْلَحَةٌ مُتَحَقِّقَةٌ لِمَصْلَحَةٍ مُتَوَهَّمَةٍ“Tidak boleh meninggalkan sesuatu yang jelas demi sesuatu yang masih dugaan, dan tidak boleh meninggalkan kemaslahatan yang nyata demi kemaslahatan yang hanya diperkirakan.”Karena itu, seharusnya seseorang lebih memberi perhatian kepada penuntut ilmu yang benar-benar membutuhkan, sangat memerlukannya, dan memiliki semangat untuk mempelajarinya dibandingkan yang lainnya. Jangan Tinggalkan Kebaikan yang Pasti demi Harapan yang Belum Jelas Berikut tiga contoh penerapan kaidah ini dalam kehidupan saat ini:1. Dalam dakwah dan pengajaranSeorang dai meninggalkan majelis kecil yang serius belajar agama demi mengejar audiens besar yang belum tentu mau mendengar. Padahal orang yang hadir di majelis sudah jelas ingin belajar. Yang tepat adalah tetap memprioritaskan orang yang benar-benar datang untuk menuntut ilmu.2. Dalam mendidik anakOrang tua terlalu sibuk mengejar kesuksesan dunia anak (kursus, prestasi, lomba) tetapi mengabaikan pendidikan agama yang jelas manfaatnya bagi akhirat. Padahal membangun iman dan akhlak anak adalah maslahat yang pasti, sementara prestasi dunia belum tentu membawa kebaikan.3. Dalam ibadahSeseorang meninggalkan shalat berjamaah yang jelas pahalanya demi melakukan aktivitas lain yang belum tentu bernilai ibadah, seperti terlalu lama bermain gawai atau mengejar kesibukan dunia yang tidak mendesak.Intinya, kaidah ini mengajarkan agar tidak meninggalkan kebaikan yang pasti demi sesuatu yang masih sekadar harapan atau dugaan.Baca juga: Cara Dakwah Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an: Dekat, Peduli, dan Penyayang Al-Qur’an untuk Memberi PeringatanAllah Ta’ala berfirman,كَلَّآ إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ“Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan.” (QS. ‘Abasa: 11)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Maksudnya, peringatan ini benar-benar merupakan nasihat dari Allah. Dengan itu Allah mengingatkan hamba-hamba-Nya dan menjelaskan dalam kitab-Nya apa yang mereka butuhkan, serta membedakan antara petunjuk dan kesesatan.Allah Ta’ala berfirman,فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ“maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya.” (QS. ‘Abasa: 12)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Jika hal itu telah jelas, maka siapa saja yang mau, ia akan mengambil pelajaran dan mengamalkannya. Sebagaimana firman Allah:وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ“Katakanlah, ‘Kebenaran itu datang dari Tuhanmu; maka siapa yang menghendaki, hendaklah dia beriman, dan siapa yang menghendaki, hendaklah dia kafir.’” (QS. Al-Kahfi: 29)Allah Ta’ala berfirman,فِى صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍ“di dalam kitab-kitab yang dimuliakan.” (QS. ‘Abasa: 13)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Kemudian Allah menyebutkan tempat peringatan ini, keagungannya, dan tingginya kedudukannya, yaitu berada dalam lembaran-lembaran yang dimuliakan.Allah Ta’ala berfirman,مَّرْفُوعَةٍ مُّطَهَّرَةٍۭ“yang ditinggikan lagi disucikan.” (QS. ‘Abasa: 14)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Lembaran itu tinggi kedudukan dan derajatnya, serta disucikan dari segala kekurangan, dan tidak dapat dijangkau oleh tangan-tangan setan ataupun dicuri oleh mereka.Allah Ta’ala berfirman,بِأَيْدِى سَفَرَةٍ“di tangan para penulis (malaikat).” (QS. ‘Abasa: 15)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Yaitu di tangan para malaikat yang menjadi perantara antara Allah dan para hamba-Nya.Allah Ta’ala berfirman,كِرَامٍۭ بَرَرَةٍ“yang mulia lagi berbakti.” (QS. ‘Abasa: 16)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Mereka adalah malaikat yang banyak kebaikannya, penuh keberkahan, serta hati dan amal mereka sangat baik.Semua ini merupakan penjagaan dari Allah terhadap kitab-Nya. Allah menjadikan para malaikat yang mulia, kuat, dan bertakwa sebagai perantara untuk menyampaikannya kepada para rasul, dan tidak memberikan jalan bagi setan untuk mengganggunya. Hal ini semestinya mendorong untuk beriman dan menerima Al-Qur’an dengan penuh penerimaan. Namun demikian, manusia tetap saja enggan dan memilih kekafiran. Dari Nutfah hingga Dibangkitkan: Mengapa Manusia Masih Kufur?Allah Ta’ala berfirman:قُتِلَ الْإِنسَانُ مَا أَكْفَرَهُ (١٧)“Celakalah manusia! Alangkah sangat kufurnya dia!” (QS. ‘Abasa: 17)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, manusia sangat kufur terhadap nikmat Allah dan sangat keras penolakannya terhadap kebenaran setelah jelas baginya, padahal ia hanyalah makhluk yang lemah.مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ (١٨)“Dari apakah Dia menciptakannya?” (QS. ‘Abasa: 18)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Ia diciptakan dari sesuatu yang sangat lemah.مِنْ نُطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ (١٩)“Dari setetes mani, Dia menciptakannya lalu menentukannya.” (QS. ‘Abasa: 19)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah menciptakannya dari air yang hina, kemudian menentukan penciptaannya, menjadikannya manusia yang sempurna, serta menyempurnakan kekuatan lahir dan batinnya.ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ (٢٠)“Kemudian Dia memudahkan jalannya.” (QS. ‘Abasa: 20)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah memudahkan baginya jalan, baik urusan agama maupun dunia, menunjukkan jalan itu, serta mengujinya dengan perintah dan larangan.ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ (٢١)“Kemudian Dia mematikannya lalu memasukkannya ke dalam kubur.” (QS. ‘Abasa: 21)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah memuliakannya dengan dikuburkan, tidak menjadikannya seperti hewan yang bangkainya dibiarkan di permukaan bumi.ثُمَّ إِذَا شَاءَ أَنْشَرَهُ (٢٢)“Kemudian apabila Dia menghendaki, Dia akan membangkitkannya kembali.” (QS. ‘Abasa: 22)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Artinya, Allah akan membangkitkannya setelah mati untuk diberi balasan. Allah semata yang mengatur manusia dan mengubah keadaannya dalam seluruh proses ini, tanpa ada sekutu bagi-Nya. Allah Tunjukkan Rezeki, Tapi Kita Lalai!Allah Ta’ala berfirman,كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَآ أَمَرَهُۥ“Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 23)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Namun manusia—dengan keadaan seperti ini—tidak menjalankan apa yang Allah perintahkan. Ia belum menunaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya, bahkan terus berada dalam kekurangan dalam melaksanakan perintah tersebut. فَلْيَنظُرِ ٱلْإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ“maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (QS. ‘Abasa: 24)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Kemudian Allah mengarahkan manusia untuk memperhatikan dan merenungkan makanannya, bagaimana makanan itu sampai kepadanya setelah melalui berbagai tahapan yang berulang, dan bagaimana Allah memudahkannya untuk mendapatkannya.أَنَّا صَبَبْنَا ٱلْمَآءَ صَبًّا“Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit).” (QS. ‘Abasa: 25)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Artinya, Kami menurunkan hujan ke bumi dengan deras.ثُمَّ شَقَقْنَا ٱلْأَرْضَ شَقًّا“kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya.” (QS. ‘Abasa: 26)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yakni Kami membelah bumi untuk tumbuhnya tanaman.فَأَنۢبَتْنَا فِيهَا حَبًّا“lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu.” (QS. ‘Abasa: 27)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yakni berbagai jenis makanan yang beragam dan lezat, serta sumber makanan yang baik, mencakup seluruh jenis biji-bijian dengan berbagai macamnya.وَعِنَبًا وَقَضْبًا“anggur dan sayur-sayuran.” (QS. ‘Abasa: 28)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:(Qadb adalah sayuran yang dimakan segar.)وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا“zaitun dan kurma.” (QS. ‘Abasa: 29)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Disebutkan khusus karena banyaknya manfaat dan kegunaannya.وَحَدَآئِقَ غُلْبًا“kebun-kebun (yang) lebat.” (QS. ‘Abasa: 30)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yakni kebun-kebun yang dipenuhi pepohonan yang rimbun.وَفَٰكِهَةً وَأَبًّا“dan buah-buahan serta rumput-rumputan.” (QS. ‘Abasa: 31)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Buah-buahan adalah segala yang dinikmati manusia, seperti tin, anggur, persik, delima, dan lainnya.مَّتَٰعًا لَّكُمْ وَلِأَنْعَٰمِكُمْ“untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.” (QS. ‘Abasa: 32)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Adapun rumput-rumputan adalah makanan bagi hewan ternak. Karena itu Allah berfirman bahwa semua itu adalah kenikmatan bagi kalian dan bagi hewan ternak kalian yang Allah ciptakan dan tundukkan untuk kalian.Barang siapa memperhatikan nikmat-nikmat ini, maka hal itu akan mendorongnya untuk bersyukur kepada Rabb-nya, bersungguh-sungguh kembali kepada-Nya, menghadap kepada ketaatan-Nya, dan membenarkan berita-berita-Nya. Hari Paling Menakutkan: Semua Lari, Bahkan dari Orang Tua!Allah Ta’ala berfirman,فَإِذَا جَآءَتِ ٱلصَّآخَّةُ“Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua).” (QS. ‘Abasa: 33)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yaitu ketika datang teriakan hari kiamat, yang karena dahsyatnya membuat telinga menjadi tuli, dan hati menjadi terguncang, karena apa yang disaksikan manusia berupa kengerian dan kebutuhan yang sangat terhadap amal-amal yang telah lalu.Allah Ta’ala berfirman,يَوْمَ يَفِرُّ ٱلْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ“pada hari ketika manusia lari dari saudaranya.” (QS. ‘Abasa: 34)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Manusia lari dari orang-orang yang paling ia cintai dan paling ia sayangi, yaitu dari saudaranya,Allah Ta’ala berfirman,وَأُمِّهِۦ وَأَبِيهِ“dari ibu dan bapaknya.” (QS. ‘Abasa: 35)وَصَٰحِبَتِهِۦ وَبَنِيهِ“dari istri dan anak-anaknya.” (QS. ‘Abasa: 36)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Ia lari dari orang-orang yang paling dekat dengannya: saudaranya, ibunya, ayahnya, istrinya, dan anak-anaknya.Allah Ta’ala berfirman,لِكُلِّ ٱمْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ“Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. ‘Abasa: 37)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Setiap orang sibuk dengan dirinya sendiri, memikirkan keselamatannya, dan tidak memperhatikan orang lain. Pada saat itu manusia terbagi menjadi dua golongan: orang-orang yang bahagia dan orang-orang yang celaka.Allah Ta’ala berfirman,وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُّسْفِرَةٌ“Banyak muka pada hari itu berseri-seri.” (QS. ‘Abasa: 38)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Adapun orang-orang yang bahagia, wajah mereka tampak bersinar, terlihat kegembiraan dan kebahagiaan, karena mereka mengetahui keselamatan mereka dan keberhasilan meraih kenikmatan.Allah Ta’ala berfirman,ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌ“tertawa dan bergembira ria” (QS. ‘Abasa: 39)وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌ“dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu.” (QS. ‘Abasa: 40)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Adapun orang-orang yang celaka, wajah mereka pada hari itu tertutup debu.Allah Ta’ala berfirman,تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ“dan ditutup lagi oleh kegelapan.” (QS. ‘Abasa: 41)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Wajah mereka diliputi kegelapan, menjadi hitam dan suram, mereka telah putus asa dari segala kebaikan, dan mengetahui kesengsaraan serta kebinasaan mereka.Allah Ta’ala berfirman,أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْكَفَرَةُ ٱلْفَجَرَةُ“Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka.” (QS. ‘Abasa: 42)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Mereka adalah orang-orang yang kufur terhadap nikmat Allah, mendustakan ayat-ayat-Nya, dan berani melanggar larangan-Nya.Kami memohon kepada Allah ampunan dan keselamatan. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia. Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Malam Kamis, 30 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscara dakwah Dakwah Nabi dakwah nabi penuh cinta dakwah para nabi kisah dakwah Rasulullah tafsir juz amma

Tafsir Surah ‘Abasa: Cara Islam Mengajarkan Kesetaraan Manusia

Surah ‘Abasa mengisahkan peristiwa ketika seorang sahabat yang buta datang kepada Nabi ﷺ untuk belajar, sementara pada saat yang sama beliau sedang berbicara dengan seorang tokoh kaya Quraisy. Nabi ﷺ lebih memberi perhatian kepada orang kaya itu dengan harapan ia mendapat hidayah. Melalui ayat-ayat ini, Allah menegur dengan lembut dan mengajarkan bahwa orang yang sungguh-sungguh mencari petunjuk lebih layak didahulukan daripada orang yang merasa tidak membutuhkan.  Daftar Isi tutup 1. Ketika Nabi ﷺ Bermuka Masam kepada Sahabat yang Tulus Mencari Ilmu 2. Mengapa Nabi ﷺ Lebih Memperhatikan Tokoh Quraisy Saat Itu? 2.1. Kesaksian Para Sahabat dan Ulama tentang Sebab Turunnya Surah ‘Abasa 2.2. Dari Teguran Menjadi Kemuliaan untuk Ibnu Ummi Maktum 2.3. Pelajaran Besar: Siapa yang Lebih Layak Diprioritaskan dalam Dakwah 2.4. Jangan Tinggalkan Kebaikan yang Pasti demi Harapan yang Belum Jelas 3. Al-Qur’an untuk Memberi Peringatan 4. Dari Nutfah hingga Dibangkitkan: Mengapa Manusia Masih Kufur? 5. Allah Tunjukkan Rezeki, Tapi Kita Lalai! 6. Hari Paling Menakutkan: Semua Lari, Bahkan dari Orang Tua!  Ketika Nabi ﷺ Bermuka Masam kepada Sahabat yang Tulus Mencari IlmuAllah Ta’ala berfirman,عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling.” (QS. ‘Abasa: 1)أَن جَآءَهُ ٱلْأَعْمَىٰ“karena telah datang seorang buta kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 2) وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُۥ يَزَّكَّىٰٓ“Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa).” (QS. ‘Abasa: 3)أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكْرَىٰٓ“atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?” (QS. ‘Abasa: 4)أَمَّا مَنِ ٱسْتَغْنَىٰ“Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup.” (QS. ‘Abasa: 5)فَأَنتَ لَهُۥ تَصَدَّىٰ“maka kamu melayaninya.” (QS. ‘Abasa: 6)وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّىٰ“Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).” (QS. ‘Abasa: 7)وَأَمَّا مَن جَآءَكَ يَسْعَىٰ“Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran).” (QS. ‘Abasa: 8)وَهُوَ يَخْشَىٰ“sedang ia takut kepada (Allah).” (QS. ‘Abasa: 9)فَأَنتَ عَنْهُ تَلَهَّىٰ“maka kamu mengabaikannya.” (QS. ‘Abasa: 10)Baca juga: Ibnu Ummi Maktum: Sahabat Nabi yang Buta tetapi Tetap Berjuang untuk Islam Mengapa Nabi ﷺ Lebih Memperhatikan Tokoh Quraisy Saat Itu?Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan:Beberapa ahli tafsir menyebutkan bahwa pada suatu hari Rasulullah ﷺ sedang berbicara dengan salah seorang tokoh besar Quraisy. Beliau sangat berharap orang tersebut masuk Islam.Ketika beliau sedang berbicara dan berdialog dengannya, datanglah Ibnu Ummi Maktum—seorang sahabat yang telah lebih dahulu masuk Islam. Ia mulai bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang suatu hal dan terus meminta penjelasan.Saat itu Nabi ﷺ berharap Ibnu Ummi Maktum berhenti sejenak agar beliau dapat melanjutkan pembicaraan dengan orang tersebut, karena beliau sangat berharap orang itu mendapatkan hidayah. Maka Nabi ﷺ pun bermuka masam kepada Ibnu Ummi Maktum, berpaling darinya, dan kembali memperhatikan orang yang sedang beliau ajak bicara.Lalu Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya:عَبَسَ وَتَوَلَّى“Dia bermuka masam dan berpaling.” Kesaksian Para Sahabat dan Ulama tentang Sebab Turunnya Surah ‘AbasaAl-Hafizh Abu Ya‘la meriwayatkan dalam Musnad-nya:Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mahdi, telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaq, telah mengabarkan kepada kami Ma‘mar, dari Qatadah, dari Anas mengenai firman Allah:عَبَسَ وَتَوَلَّى“Dia bermuka masam dan berpaling.”Disebutkan bahwa Ibnu Ummi Maktum datang kepada Nabi ﷺ ketika beliau sedang berbicara dengan Ubay bin Khalaf. Nabi pun berpaling darinya, lalu Allah menurunkan ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى“Dia bermuka masam dan berpaling karena seorang buta datang kepadanya.”Setelah itu Nabi ﷺ selalu memuliakan Ibnu Ummi Maktum.Qatadah berkata:Anas bin Malik mengabarkan kepadaku, ia berkata: Aku pernah melihat Ibnu Ummi Maktum pada hari perang Qadisiyah. Ia mengenakan baju besi dan membawa bendera hitam.Abu Ya‘la dan Ibnu Jarir juga meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Sa‘id bin Yahya Al-Umawi, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.Ia berkata: Ayat “عَبَسَ وَتَوَلَّى” turun berkenaan dengan Ibnu Ummi Maktum yang buta. Ia datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Tunjukkanlah aku jalan yang benar.”Saat itu di sisi Rasulullah ﷺ ada beberapa tokoh besar dari kalangan musyrikin. Nabi pun berpaling darinya dan lebih memperhatikan orang-orang tersebut. Beliau berkata kepada mereka, “Apakah menurut kalian apa yang aku katakan ini salah?”Mereka menjawab, “Tidak.”Maka dalam peristiwa inilah turun ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّىAt-Tirmidzi meriwayatkan hadis ini melalui sanad Sa‘id bin Yahya Al-Umawi dengan sanad yang sama. Ia berkata: Sebagian perawi meriwayatkannya dari Hisyam bin ‘Urwah dari ayahnya, bahwa ayat “عَبَسَ وَتَوَلَّى” turun tentang Ibnu Ummi Maktum tanpa menyebutkan riwayat dari ‘Aisyah.Aku (Ibnu Katsir) mengatakan: Demikian pula riwayat tersebut terdapat dalam kitab Al-Muwaththa’.Kemudian Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari jalur Al-‘Aufi, dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah:عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىIa berkata: Pada suatu ketika Rasulullah ﷺ sedang berbicara dengan ‘Utbah bin Rabi‘ah, Abu Jahl bin Hisyam, dan Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib. Beliau sering menemui mereka dan sangat berharap agar mereka beriman.Tiba-tiba datang seorang lelaki buta bernama ‘Abdullah bin Ummi Maktum. Ia berjalan mendekati Nabi ﷺ ketika beliau sedang berbicara dengan mereka. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sebagian dari apa yang Allah ajarkan kepadamu.”Nabi ﷺ berpaling darinya, bermuka masam, dan tidak menyukai pembicaraannya saat itu, lalu beliau kembali memusatkan perhatian kepada para tokoh tersebut.Ketika Rasulullah ﷺ telah selesai berbicara dengan mereka dan hendak pulang kepada keluarganya, Allah menahan sebagian penglihatannya. Kepala beliau pun tertunduk. Lalu Allah menurunkan ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّىأَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىوَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىأَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى“Dia bermuka masam dan berpaling karena seorang buta datang kepadanya.Tahukah engkau, barangkali ia ingin membersihkan dirinya.Atau ia ingin mendapatkan pelajaran, lalu pelajaran itu memberi manfaat baginya.” Dari Teguran Menjadi Kemuliaan untuk Ibnu Ummi MaktumSetelah ayat ini turun, Rasulullah ﷺ memuliakan Ibnu Ummi Maktum. Beliau sering menyapanya dan berkata kepadanya, “Apa yang engkau butuhkan? Apakah engkau memerlukan sesuatu?”Ketika Ibnu Ummi Maktum hendak pergi, beliau juga berkata, “Apakah engkau memiliki kebutuhan yang bisa aku bantu?”Hal itu terjadi setelah Allah menurunkan firman-Nya:أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّىوَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّى“Adapun orang yang merasa dirinya cukup, engkau justru memberi perhatian kepadanya. Padahal tidak ada tanggung jawab atasmu jika ia tidak membersihkan dirinya.”Namun dalam riwayat ini terdapat keanehan dan kemungkaran, dan para ulama telah membicarakan sanadnya.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Manshur Ar-Ramadi, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Shalih, telah menceritakan kepada kami Al-Laits, telah menceritakan kepada kami Yunus dari Ibnu Syihab.Ia berkata: Salim bin ‘Abdullah meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:“Sesungguhnya Bilal mengumandangkan azan pada malam hari. Maka makan dan minumlah sampai kalian mendengar azan Ibnu Ummi Maktum.”Ibnu Ummi Maktum adalah seorang yang buta, yang disebut dalam ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىIa biasa mengumandangkan azan bersama Bilal. Salim berkata: Ia adalah seorang yang buta. Ia tidak mengumandangkan azan sampai orang-orang berkata kepadanya ketika mereka melihat terbitnya fajar, “Sekarang sudah fajar, kumandangkanlah azan.”Demikian pula disebutkan oleh ‘Urwah bin Az-Zubair, Mujahid, Abu Malik, Qatadah, Adh-Dhahhak, Ibnu Zaid, dan banyak ulama salaf maupun khalaf bahwa ayat ini turun tentang Ibnu Ummi Maktum.Yang paling masyhur, namanya adalah ‘Abdullah, dan ada pula yang mengatakan ‘Amr. Pelajaran Besar: Siapa yang Lebih Layak Diprioritaskan dalam DakwahAllah Ta’ala berfirman,عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ (1)Sebab turunnya ayat-ayat mulia ini adalah ketika datang seorang laki-laki mukmin yang buta kepada Nabi ﷺ untuk bertanya dan belajar dari beliau.Pada saat yang sama datang pula seorang lelaki kaya. Nabi ﷺ sangat bersemangat untuk memberi hidayah kepada manusia, sehingga beliau lebih condong dan memberi perhatian kepada orang kaya tersebut, sementara beliau berpaling dari orang buta yang miskin itu.Beliau berharap orang kaya tersebut mendapatkan hidayah dan menjadi baik. Maka Allah menegur beliau dengan teguran yang lembut, dengan firman-Nya:“Dia bermuka masam dan berpaling.”Maksudnya, beliau bermuka masam kepada orang buta itu dan memalingkan badannya darinya.أَن جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ (2)Karena orang buta itu datang kepadanya.وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ (3)Kemudian Allah menjelaskan manfaat jika memperhatikannya, yaitu:“Dan tahukah engkau, barangkali dia ingin membersihkan dirinya.”Maksudnya, barangkali orang buta itu ingin menyucikan dirinya dari akhlak yang buruk dan menghiasi dirinya dengan akhlak yang baik.أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ الذِّكْرَىٰ (4)“Atau dia ingin mendapatkan pelajaran, lalu peringatan itu memberi manfaat baginya.”Maksudnya, ia mengingat sesuatu yang bermanfaat baginya sehingga ia dapat mengamalkan peringatan tersebut.أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَىٰ (5)Di sini terdapat pelajaran yang sangat besar, yaitu tujuan utama diutusnya para rasul, disampaikannya nasihat oleh para pemberi nasihat, dan diingatkannya manusia oleh para pengingat.Memberi perhatian kepada orang yang datang sendiri dalam keadaan membutuhkan ilmu darimu adalah sikap yang lebih pantas dan lebih wajib.Adapun memusatkan perhatian kepada orang kaya yang merasa cukup, yang tidak bertanya dan tidak meminta nasihat karena tidak berminat pada kebaikan, sementara orang yang lebih membutuhkan justru ditinggalkan, maka hal itu tidak pantas dilakukan.Karena jika orang kaya itu tidak mau memperbaiki dirinya, maka engkau tidak menanggung dosa atas keburukan yang ia lakukan.Dari ayat ini dipahami sebuah kaidah yang terkenal:لَا يُتْرَكُ أَمْرٌ مَعْلُومٌ لِأَمْرٍ مَوْهُومٍ، وَلَا مَصْلَحَةٌ مُتَحَقِّقَةٌ لِمَصْلَحَةٍ مُتَوَهَّمَةٍ“Tidak boleh meninggalkan sesuatu yang jelas demi sesuatu yang masih dugaan, dan tidak boleh meninggalkan kemaslahatan yang nyata demi kemaslahatan yang hanya diperkirakan.”Karena itu, seharusnya seseorang lebih memberi perhatian kepada penuntut ilmu yang benar-benar membutuhkan, sangat memerlukannya, dan memiliki semangat untuk mempelajarinya dibandingkan yang lainnya. Jangan Tinggalkan Kebaikan yang Pasti demi Harapan yang Belum Jelas Berikut tiga contoh penerapan kaidah ini dalam kehidupan saat ini:1. Dalam dakwah dan pengajaranSeorang dai meninggalkan majelis kecil yang serius belajar agama demi mengejar audiens besar yang belum tentu mau mendengar. Padahal orang yang hadir di majelis sudah jelas ingin belajar. Yang tepat adalah tetap memprioritaskan orang yang benar-benar datang untuk menuntut ilmu.2. Dalam mendidik anakOrang tua terlalu sibuk mengejar kesuksesan dunia anak (kursus, prestasi, lomba) tetapi mengabaikan pendidikan agama yang jelas manfaatnya bagi akhirat. Padahal membangun iman dan akhlak anak adalah maslahat yang pasti, sementara prestasi dunia belum tentu membawa kebaikan.3. Dalam ibadahSeseorang meninggalkan shalat berjamaah yang jelas pahalanya demi melakukan aktivitas lain yang belum tentu bernilai ibadah, seperti terlalu lama bermain gawai atau mengejar kesibukan dunia yang tidak mendesak.Intinya, kaidah ini mengajarkan agar tidak meninggalkan kebaikan yang pasti demi sesuatu yang masih sekadar harapan atau dugaan.Baca juga: Cara Dakwah Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an: Dekat, Peduli, dan Penyayang Al-Qur’an untuk Memberi PeringatanAllah Ta’ala berfirman,كَلَّآ إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ“Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan.” (QS. ‘Abasa: 11)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Maksudnya, peringatan ini benar-benar merupakan nasihat dari Allah. Dengan itu Allah mengingatkan hamba-hamba-Nya dan menjelaskan dalam kitab-Nya apa yang mereka butuhkan, serta membedakan antara petunjuk dan kesesatan.Allah Ta’ala berfirman,فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ“maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya.” (QS. ‘Abasa: 12)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Jika hal itu telah jelas, maka siapa saja yang mau, ia akan mengambil pelajaran dan mengamalkannya. Sebagaimana firman Allah:وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ“Katakanlah, ‘Kebenaran itu datang dari Tuhanmu; maka siapa yang menghendaki, hendaklah dia beriman, dan siapa yang menghendaki, hendaklah dia kafir.’” (QS. Al-Kahfi: 29)Allah Ta’ala berfirman,فِى صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍ“di dalam kitab-kitab yang dimuliakan.” (QS. ‘Abasa: 13)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Kemudian Allah menyebutkan tempat peringatan ini, keagungannya, dan tingginya kedudukannya, yaitu berada dalam lembaran-lembaran yang dimuliakan.Allah Ta’ala berfirman,مَّرْفُوعَةٍ مُّطَهَّرَةٍۭ“yang ditinggikan lagi disucikan.” (QS. ‘Abasa: 14)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Lembaran itu tinggi kedudukan dan derajatnya, serta disucikan dari segala kekurangan, dan tidak dapat dijangkau oleh tangan-tangan setan ataupun dicuri oleh mereka.Allah Ta’ala berfirman,بِأَيْدِى سَفَرَةٍ“di tangan para penulis (malaikat).” (QS. ‘Abasa: 15)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Yaitu di tangan para malaikat yang menjadi perantara antara Allah dan para hamba-Nya.Allah Ta’ala berfirman,كِرَامٍۭ بَرَرَةٍ“yang mulia lagi berbakti.” (QS. ‘Abasa: 16)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Mereka adalah malaikat yang banyak kebaikannya, penuh keberkahan, serta hati dan amal mereka sangat baik.Semua ini merupakan penjagaan dari Allah terhadap kitab-Nya. Allah menjadikan para malaikat yang mulia, kuat, dan bertakwa sebagai perantara untuk menyampaikannya kepada para rasul, dan tidak memberikan jalan bagi setan untuk mengganggunya. Hal ini semestinya mendorong untuk beriman dan menerima Al-Qur’an dengan penuh penerimaan. Namun demikian, manusia tetap saja enggan dan memilih kekafiran. Dari Nutfah hingga Dibangkitkan: Mengapa Manusia Masih Kufur?Allah Ta’ala berfirman:قُتِلَ الْإِنسَانُ مَا أَكْفَرَهُ (١٧)“Celakalah manusia! Alangkah sangat kufurnya dia!” (QS. ‘Abasa: 17)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, manusia sangat kufur terhadap nikmat Allah dan sangat keras penolakannya terhadap kebenaran setelah jelas baginya, padahal ia hanyalah makhluk yang lemah.مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ (١٨)“Dari apakah Dia menciptakannya?” (QS. ‘Abasa: 18)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Ia diciptakan dari sesuatu yang sangat lemah.مِنْ نُطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ (١٩)“Dari setetes mani, Dia menciptakannya lalu menentukannya.” (QS. ‘Abasa: 19)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah menciptakannya dari air yang hina, kemudian menentukan penciptaannya, menjadikannya manusia yang sempurna, serta menyempurnakan kekuatan lahir dan batinnya.ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ (٢٠)“Kemudian Dia memudahkan jalannya.” (QS. ‘Abasa: 20)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah memudahkan baginya jalan, baik urusan agama maupun dunia, menunjukkan jalan itu, serta mengujinya dengan perintah dan larangan.ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ (٢١)“Kemudian Dia mematikannya lalu memasukkannya ke dalam kubur.” (QS. ‘Abasa: 21)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah memuliakannya dengan dikuburkan, tidak menjadikannya seperti hewan yang bangkainya dibiarkan di permukaan bumi.ثُمَّ إِذَا شَاءَ أَنْشَرَهُ (٢٢)“Kemudian apabila Dia menghendaki, Dia akan membangkitkannya kembali.” (QS. ‘Abasa: 22)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Artinya, Allah akan membangkitkannya setelah mati untuk diberi balasan. Allah semata yang mengatur manusia dan mengubah keadaannya dalam seluruh proses ini, tanpa ada sekutu bagi-Nya. Allah Tunjukkan Rezeki, Tapi Kita Lalai!Allah Ta’ala berfirman,كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَآ أَمَرَهُۥ“Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 23)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Namun manusia—dengan keadaan seperti ini—tidak menjalankan apa yang Allah perintahkan. Ia belum menunaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya, bahkan terus berada dalam kekurangan dalam melaksanakan perintah tersebut. فَلْيَنظُرِ ٱلْإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ“maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (QS. ‘Abasa: 24)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Kemudian Allah mengarahkan manusia untuk memperhatikan dan merenungkan makanannya, bagaimana makanan itu sampai kepadanya setelah melalui berbagai tahapan yang berulang, dan bagaimana Allah memudahkannya untuk mendapatkannya.أَنَّا صَبَبْنَا ٱلْمَآءَ صَبًّا“Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit).” (QS. ‘Abasa: 25)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Artinya, Kami menurunkan hujan ke bumi dengan deras.ثُمَّ شَقَقْنَا ٱلْأَرْضَ شَقًّا“kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya.” (QS. ‘Abasa: 26)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yakni Kami membelah bumi untuk tumbuhnya tanaman.فَأَنۢبَتْنَا فِيهَا حَبًّا“lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu.” (QS. ‘Abasa: 27)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yakni berbagai jenis makanan yang beragam dan lezat, serta sumber makanan yang baik, mencakup seluruh jenis biji-bijian dengan berbagai macamnya.وَعِنَبًا وَقَضْبًا“anggur dan sayur-sayuran.” (QS. ‘Abasa: 28)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:(Qadb adalah sayuran yang dimakan segar.)وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا“zaitun dan kurma.” (QS. ‘Abasa: 29)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Disebutkan khusus karena banyaknya manfaat dan kegunaannya.وَحَدَآئِقَ غُلْبًا“kebun-kebun (yang) lebat.” (QS. ‘Abasa: 30)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yakni kebun-kebun yang dipenuhi pepohonan yang rimbun.وَفَٰكِهَةً وَأَبًّا“dan buah-buahan serta rumput-rumputan.” (QS. ‘Abasa: 31)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Buah-buahan adalah segala yang dinikmati manusia, seperti tin, anggur, persik, delima, dan lainnya.مَّتَٰعًا لَّكُمْ وَلِأَنْعَٰمِكُمْ“untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.” (QS. ‘Abasa: 32)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Adapun rumput-rumputan adalah makanan bagi hewan ternak. Karena itu Allah berfirman bahwa semua itu adalah kenikmatan bagi kalian dan bagi hewan ternak kalian yang Allah ciptakan dan tundukkan untuk kalian.Barang siapa memperhatikan nikmat-nikmat ini, maka hal itu akan mendorongnya untuk bersyukur kepada Rabb-nya, bersungguh-sungguh kembali kepada-Nya, menghadap kepada ketaatan-Nya, dan membenarkan berita-berita-Nya. Hari Paling Menakutkan: Semua Lari, Bahkan dari Orang Tua!Allah Ta’ala berfirman,فَإِذَا جَآءَتِ ٱلصَّآخَّةُ“Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua).” (QS. ‘Abasa: 33)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yaitu ketika datang teriakan hari kiamat, yang karena dahsyatnya membuat telinga menjadi tuli, dan hati menjadi terguncang, karena apa yang disaksikan manusia berupa kengerian dan kebutuhan yang sangat terhadap amal-amal yang telah lalu.Allah Ta’ala berfirman,يَوْمَ يَفِرُّ ٱلْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ“pada hari ketika manusia lari dari saudaranya.” (QS. ‘Abasa: 34)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Manusia lari dari orang-orang yang paling ia cintai dan paling ia sayangi, yaitu dari saudaranya,Allah Ta’ala berfirman,وَأُمِّهِۦ وَأَبِيهِ“dari ibu dan bapaknya.” (QS. ‘Abasa: 35)وَصَٰحِبَتِهِۦ وَبَنِيهِ“dari istri dan anak-anaknya.” (QS. ‘Abasa: 36)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Ia lari dari orang-orang yang paling dekat dengannya: saudaranya, ibunya, ayahnya, istrinya, dan anak-anaknya.Allah Ta’ala berfirman,لِكُلِّ ٱمْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ“Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. ‘Abasa: 37)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Setiap orang sibuk dengan dirinya sendiri, memikirkan keselamatannya, dan tidak memperhatikan orang lain. Pada saat itu manusia terbagi menjadi dua golongan: orang-orang yang bahagia dan orang-orang yang celaka.Allah Ta’ala berfirman,وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُّسْفِرَةٌ“Banyak muka pada hari itu berseri-seri.” (QS. ‘Abasa: 38)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Adapun orang-orang yang bahagia, wajah mereka tampak bersinar, terlihat kegembiraan dan kebahagiaan, karena mereka mengetahui keselamatan mereka dan keberhasilan meraih kenikmatan.Allah Ta’ala berfirman,ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌ“tertawa dan bergembira ria” (QS. ‘Abasa: 39)وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌ“dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu.” (QS. ‘Abasa: 40)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Adapun orang-orang yang celaka, wajah mereka pada hari itu tertutup debu.Allah Ta’ala berfirman,تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ“dan ditutup lagi oleh kegelapan.” (QS. ‘Abasa: 41)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Wajah mereka diliputi kegelapan, menjadi hitam dan suram, mereka telah putus asa dari segala kebaikan, dan mengetahui kesengsaraan serta kebinasaan mereka.Allah Ta’ala berfirman,أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْكَفَرَةُ ٱلْفَجَرَةُ“Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka.” (QS. ‘Abasa: 42)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Mereka adalah orang-orang yang kufur terhadap nikmat Allah, mendustakan ayat-ayat-Nya, dan berani melanggar larangan-Nya.Kami memohon kepada Allah ampunan dan keselamatan. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia. Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Malam Kamis, 30 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscara dakwah Dakwah Nabi dakwah nabi penuh cinta dakwah para nabi kisah dakwah Rasulullah tafsir juz amma
Surah ‘Abasa mengisahkan peristiwa ketika seorang sahabat yang buta datang kepada Nabi ﷺ untuk belajar, sementara pada saat yang sama beliau sedang berbicara dengan seorang tokoh kaya Quraisy. Nabi ﷺ lebih memberi perhatian kepada orang kaya itu dengan harapan ia mendapat hidayah. Melalui ayat-ayat ini, Allah menegur dengan lembut dan mengajarkan bahwa orang yang sungguh-sungguh mencari petunjuk lebih layak didahulukan daripada orang yang merasa tidak membutuhkan.  Daftar Isi tutup 1. Ketika Nabi ﷺ Bermuka Masam kepada Sahabat yang Tulus Mencari Ilmu 2. Mengapa Nabi ﷺ Lebih Memperhatikan Tokoh Quraisy Saat Itu? 2.1. Kesaksian Para Sahabat dan Ulama tentang Sebab Turunnya Surah ‘Abasa 2.2. Dari Teguran Menjadi Kemuliaan untuk Ibnu Ummi Maktum 2.3. Pelajaran Besar: Siapa yang Lebih Layak Diprioritaskan dalam Dakwah 2.4. Jangan Tinggalkan Kebaikan yang Pasti demi Harapan yang Belum Jelas 3. Al-Qur’an untuk Memberi Peringatan 4. Dari Nutfah hingga Dibangkitkan: Mengapa Manusia Masih Kufur? 5. Allah Tunjukkan Rezeki, Tapi Kita Lalai! 6. Hari Paling Menakutkan: Semua Lari, Bahkan dari Orang Tua!  Ketika Nabi ﷺ Bermuka Masam kepada Sahabat yang Tulus Mencari IlmuAllah Ta’ala berfirman,عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling.” (QS. ‘Abasa: 1)أَن جَآءَهُ ٱلْأَعْمَىٰ“karena telah datang seorang buta kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 2) وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُۥ يَزَّكَّىٰٓ“Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa).” (QS. ‘Abasa: 3)أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكْرَىٰٓ“atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?” (QS. ‘Abasa: 4)أَمَّا مَنِ ٱسْتَغْنَىٰ“Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup.” (QS. ‘Abasa: 5)فَأَنتَ لَهُۥ تَصَدَّىٰ“maka kamu melayaninya.” (QS. ‘Abasa: 6)وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّىٰ“Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).” (QS. ‘Abasa: 7)وَأَمَّا مَن جَآءَكَ يَسْعَىٰ“Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran).” (QS. ‘Abasa: 8)وَهُوَ يَخْشَىٰ“sedang ia takut kepada (Allah).” (QS. ‘Abasa: 9)فَأَنتَ عَنْهُ تَلَهَّىٰ“maka kamu mengabaikannya.” (QS. ‘Abasa: 10)Baca juga: Ibnu Ummi Maktum: Sahabat Nabi yang Buta tetapi Tetap Berjuang untuk Islam Mengapa Nabi ﷺ Lebih Memperhatikan Tokoh Quraisy Saat Itu?Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan:Beberapa ahli tafsir menyebutkan bahwa pada suatu hari Rasulullah ﷺ sedang berbicara dengan salah seorang tokoh besar Quraisy. Beliau sangat berharap orang tersebut masuk Islam.Ketika beliau sedang berbicara dan berdialog dengannya, datanglah Ibnu Ummi Maktum—seorang sahabat yang telah lebih dahulu masuk Islam. Ia mulai bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang suatu hal dan terus meminta penjelasan.Saat itu Nabi ﷺ berharap Ibnu Ummi Maktum berhenti sejenak agar beliau dapat melanjutkan pembicaraan dengan orang tersebut, karena beliau sangat berharap orang itu mendapatkan hidayah. Maka Nabi ﷺ pun bermuka masam kepada Ibnu Ummi Maktum, berpaling darinya, dan kembali memperhatikan orang yang sedang beliau ajak bicara.Lalu Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya:عَبَسَ وَتَوَلَّى“Dia bermuka masam dan berpaling.” Kesaksian Para Sahabat dan Ulama tentang Sebab Turunnya Surah ‘AbasaAl-Hafizh Abu Ya‘la meriwayatkan dalam Musnad-nya:Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mahdi, telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaq, telah mengabarkan kepada kami Ma‘mar, dari Qatadah, dari Anas mengenai firman Allah:عَبَسَ وَتَوَلَّى“Dia bermuka masam dan berpaling.”Disebutkan bahwa Ibnu Ummi Maktum datang kepada Nabi ﷺ ketika beliau sedang berbicara dengan Ubay bin Khalaf. Nabi pun berpaling darinya, lalu Allah menurunkan ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى“Dia bermuka masam dan berpaling karena seorang buta datang kepadanya.”Setelah itu Nabi ﷺ selalu memuliakan Ibnu Ummi Maktum.Qatadah berkata:Anas bin Malik mengabarkan kepadaku, ia berkata: Aku pernah melihat Ibnu Ummi Maktum pada hari perang Qadisiyah. Ia mengenakan baju besi dan membawa bendera hitam.Abu Ya‘la dan Ibnu Jarir juga meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Sa‘id bin Yahya Al-Umawi, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.Ia berkata: Ayat “عَبَسَ وَتَوَلَّى” turun berkenaan dengan Ibnu Ummi Maktum yang buta. Ia datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Tunjukkanlah aku jalan yang benar.”Saat itu di sisi Rasulullah ﷺ ada beberapa tokoh besar dari kalangan musyrikin. Nabi pun berpaling darinya dan lebih memperhatikan orang-orang tersebut. Beliau berkata kepada mereka, “Apakah menurut kalian apa yang aku katakan ini salah?”Mereka menjawab, “Tidak.”Maka dalam peristiwa inilah turun ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّىAt-Tirmidzi meriwayatkan hadis ini melalui sanad Sa‘id bin Yahya Al-Umawi dengan sanad yang sama. Ia berkata: Sebagian perawi meriwayatkannya dari Hisyam bin ‘Urwah dari ayahnya, bahwa ayat “عَبَسَ وَتَوَلَّى” turun tentang Ibnu Ummi Maktum tanpa menyebutkan riwayat dari ‘Aisyah.Aku (Ibnu Katsir) mengatakan: Demikian pula riwayat tersebut terdapat dalam kitab Al-Muwaththa’.Kemudian Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari jalur Al-‘Aufi, dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah:عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىIa berkata: Pada suatu ketika Rasulullah ﷺ sedang berbicara dengan ‘Utbah bin Rabi‘ah, Abu Jahl bin Hisyam, dan Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib. Beliau sering menemui mereka dan sangat berharap agar mereka beriman.Tiba-tiba datang seorang lelaki buta bernama ‘Abdullah bin Ummi Maktum. Ia berjalan mendekati Nabi ﷺ ketika beliau sedang berbicara dengan mereka. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sebagian dari apa yang Allah ajarkan kepadamu.”Nabi ﷺ berpaling darinya, bermuka masam, dan tidak menyukai pembicaraannya saat itu, lalu beliau kembali memusatkan perhatian kepada para tokoh tersebut.Ketika Rasulullah ﷺ telah selesai berbicara dengan mereka dan hendak pulang kepada keluarganya, Allah menahan sebagian penglihatannya. Kepala beliau pun tertunduk. Lalu Allah menurunkan ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّىأَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىوَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىأَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى“Dia bermuka masam dan berpaling karena seorang buta datang kepadanya.Tahukah engkau, barangkali ia ingin membersihkan dirinya.Atau ia ingin mendapatkan pelajaran, lalu pelajaran itu memberi manfaat baginya.” Dari Teguran Menjadi Kemuliaan untuk Ibnu Ummi MaktumSetelah ayat ini turun, Rasulullah ﷺ memuliakan Ibnu Ummi Maktum. Beliau sering menyapanya dan berkata kepadanya, “Apa yang engkau butuhkan? Apakah engkau memerlukan sesuatu?”Ketika Ibnu Ummi Maktum hendak pergi, beliau juga berkata, “Apakah engkau memiliki kebutuhan yang bisa aku bantu?”Hal itu terjadi setelah Allah menurunkan firman-Nya:أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّىوَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّى“Adapun orang yang merasa dirinya cukup, engkau justru memberi perhatian kepadanya. Padahal tidak ada tanggung jawab atasmu jika ia tidak membersihkan dirinya.”Namun dalam riwayat ini terdapat keanehan dan kemungkaran, dan para ulama telah membicarakan sanadnya.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Manshur Ar-Ramadi, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Shalih, telah menceritakan kepada kami Al-Laits, telah menceritakan kepada kami Yunus dari Ibnu Syihab.Ia berkata: Salim bin ‘Abdullah meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:“Sesungguhnya Bilal mengumandangkan azan pada malam hari. Maka makan dan minumlah sampai kalian mendengar azan Ibnu Ummi Maktum.”Ibnu Ummi Maktum adalah seorang yang buta, yang disebut dalam ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىIa biasa mengumandangkan azan bersama Bilal. Salim berkata: Ia adalah seorang yang buta. Ia tidak mengumandangkan azan sampai orang-orang berkata kepadanya ketika mereka melihat terbitnya fajar, “Sekarang sudah fajar, kumandangkanlah azan.”Demikian pula disebutkan oleh ‘Urwah bin Az-Zubair, Mujahid, Abu Malik, Qatadah, Adh-Dhahhak, Ibnu Zaid, dan banyak ulama salaf maupun khalaf bahwa ayat ini turun tentang Ibnu Ummi Maktum.Yang paling masyhur, namanya adalah ‘Abdullah, dan ada pula yang mengatakan ‘Amr. Pelajaran Besar: Siapa yang Lebih Layak Diprioritaskan dalam DakwahAllah Ta’ala berfirman,عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ (1)Sebab turunnya ayat-ayat mulia ini adalah ketika datang seorang laki-laki mukmin yang buta kepada Nabi ﷺ untuk bertanya dan belajar dari beliau.Pada saat yang sama datang pula seorang lelaki kaya. Nabi ﷺ sangat bersemangat untuk memberi hidayah kepada manusia, sehingga beliau lebih condong dan memberi perhatian kepada orang kaya tersebut, sementara beliau berpaling dari orang buta yang miskin itu.Beliau berharap orang kaya tersebut mendapatkan hidayah dan menjadi baik. Maka Allah menegur beliau dengan teguran yang lembut, dengan firman-Nya:“Dia bermuka masam dan berpaling.”Maksudnya, beliau bermuka masam kepada orang buta itu dan memalingkan badannya darinya.أَن جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ (2)Karena orang buta itu datang kepadanya.وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ (3)Kemudian Allah menjelaskan manfaat jika memperhatikannya, yaitu:“Dan tahukah engkau, barangkali dia ingin membersihkan dirinya.”Maksudnya, barangkali orang buta itu ingin menyucikan dirinya dari akhlak yang buruk dan menghiasi dirinya dengan akhlak yang baik.أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ الذِّكْرَىٰ (4)“Atau dia ingin mendapatkan pelajaran, lalu peringatan itu memberi manfaat baginya.”Maksudnya, ia mengingat sesuatu yang bermanfaat baginya sehingga ia dapat mengamalkan peringatan tersebut.أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَىٰ (5)Di sini terdapat pelajaran yang sangat besar, yaitu tujuan utama diutusnya para rasul, disampaikannya nasihat oleh para pemberi nasihat, dan diingatkannya manusia oleh para pengingat.Memberi perhatian kepada orang yang datang sendiri dalam keadaan membutuhkan ilmu darimu adalah sikap yang lebih pantas dan lebih wajib.Adapun memusatkan perhatian kepada orang kaya yang merasa cukup, yang tidak bertanya dan tidak meminta nasihat karena tidak berminat pada kebaikan, sementara orang yang lebih membutuhkan justru ditinggalkan, maka hal itu tidak pantas dilakukan.Karena jika orang kaya itu tidak mau memperbaiki dirinya, maka engkau tidak menanggung dosa atas keburukan yang ia lakukan.Dari ayat ini dipahami sebuah kaidah yang terkenal:لَا يُتْرَكُ أَمْرٌ مَعْلُومٌ لِأَمْرٍ مَوْهُومٍ، وَلَا مَصْلَحَةٌ مُتَحَقِّقَةٌ لِمَصْلَحَةٍ مُتَوَهَّمَةٍ“Tidak boleh meninggalkan sesuatu yang jelas demi sesuatu yang masih dugaan, dan tidak boleh meninggalkan kemaslahatan yang nyata demi kemaslahatan yang hanya diperkirakan.”Karena itu, seharusnya seseorang lebih memberi perhatian kepada penuntut ilmu yang benar-benar membutuhkan, sangat memerlukannya, dan memiliki semangat untuk mempelajarinya dibandingkan yang lainnya. Jangan Tinggalkan Kebaikan yang Pasti demi Harapan yang Belum Jelas Berikut tiga contoh penerapan kaidah ini dalam kehidupan saat ini:1. Dalam dakwah dan pengajaranSeorang dai meninggalkan majelis kecil yang serius belajar agama demi mengejar audiens besar yang belum tentu mau mendengar. Padahal orang yang hadir di majelis sudah jelas ingin belajar. Yang tepat adalah tetap memprioritaskan orang yang benar-benar datang untuk menuntut ilmu.2. Dalam mendidik anakOrang tua terlalu sibuk mengejar kesuksesan dunia anak (kursus, prestasi, lomba) tetapi mengabaikan pendidikan agama yang jelas manfaatnya bagi akhirat. Padahal membangun iman dan akhlak anak adalah maslahat yang pasti, sementara prestasi dunia belum tentu membawa kebaikan.3. Dalam ibadahSeseorang meninggalkan shalat berjamaah yang jelas pahalanya demi melakukan aktivitas lain yang belum tentu bernilai ibadah, seperti terlalu lama bermain gawai atau mengejar kesibukan dunia yang tidak mendesak.Intinya, kaidah ini mengajarkan agar tidak meninggalkan kebaikan yang pasti demi sesuatu yang masih sekadar harapan atau dugaan.Baca juga: Cara Dakwah Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an: Dekat, Peduli, dan Penyayang Al-Qur’an untuk Memberi PeringatanAllah Ta’ala berfirman,كَلَّآ إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ“Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan.” (QS. ‘Abasa: 11)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Maksudnya, peringatan ini benar-benar merupakan nasihat dari Allah. Dengan itu Allah mengingatkan hamba-hamba-Nya dan menjelaskan dalam kitab-Nya apa yang mereka butuhkan, serta membedakan antara petunjuk dan kesesatan.Allah Ta’ala berfirman,فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ“maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya.” (QS. ‘Abasa: 12)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Jika hal itu telah jelas, maka siapa saja yang mau, ia akan mengambil pelajaran dan mengamalkannya. Sebagaimana firman Allah:وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ“Katakanlah, ‘Kebenaran itu datang dari Tuhanmu; maka siapa yang menghendaki, hendaklah dia beriman, dan siapa yang menghendaki, hendaklah dia kafir.’” (QS. Al-Kahfi: 29)Allah Ta’ala berfirman,فِى صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍ“di dalam kitab-kitab yang dimuliakan.” (QS. ‘Abasa: 13)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Kemudian Allah menyebutkan tempat peringatan ini, keagungannya, dan tingginya kedudukannya, yaitu berada dalam lembaran-lembaran yang dimuliakan.Allah Ta’ala berfirman,مَّرْفُوعَةٍ مُّطَهَّرَةٍۭ“yang ditinggikan lagi disucikan.” (QS. ‘Abasa: 14)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Lembaran itu tinggi kedudukan dan derajatnya, serta disucikan dari segala kekurangan, dan tidak dapat dijangkau oleh tangan-tangan setan ataupun dicuri oleh mereka.Allah Ta’ala berfirman,بِأَيْدِى سَفَرَةٍ“di tangan para penulis (malaikat).” (QS. ‘Abasa: 15)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Yaitu di tangan para malaikat yang menjadi perantara antara Allah dan para hamba-Nya.Allah Ta’ala berfirman,كِرَامٍۭ بَرَرَةٍ“yang mulia lagi berbakti.” (QS. ‘Abasa: 16)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Mereka adalah malaikat yang banyak kebaikannya, penuh keberkahan, serta hati dan amal mereka sangat baik.Semua ini merupakan penjagaan dari Allah terhadap kitab-Nya. Allah menjadikan para malaikat yang mulia, kuat, dan bertakwa sebagai perantara untuk menyampaikannya kepada para rasul, dan tidak memberikan jalan bagi setan untuk mengganggunya. Hal ini semestinya mendorong untuk beriman dan menerima Al-Qur’an dengan penuh penerimaan. Namun demikian, manusia tetap saja enggan dan memilih kekafiran. Dari Nutfah hingga Dibangkitkan: Mengapa Manusia Masih Kufur?Allah Ta’ala berfirman:قُتِلَ الْإِنسَانُ مَا أَكْفَرَهُ (١٧)“Celakalah manusia! Alangkah sangat kufurnya dia!” (QS. ‘Abasa: 17)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, manusia sangat kufur terhadap nikmat Allah dan sangat keras penolakannya terhadap kebenaran setelah jelas baginya, padahal ia hanyalah makhluk yang lemah.مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ (١٨)“Dari apakah Dia menciptakannya?” (QS. ‘Abasa: 18)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Ia diciptakan dari sesuatu yang sangat lemah.مِنْ نُطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ (١٩)“Dari setetes mani, Dia menciptakannya lalu menentukannya.” (QS. ‘Abasa: 19)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah menciptakannya dari air yang hina, kemudian menentukan penciptaannya, menjadikannya manusia yang sempurna, serta menyempurnakan kekuatan lahir dan batinnya.ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ (٢٠)“Kemudian Dia memudahkan jalannya.” (QS. ‘Abasa: 20)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah memudahkan baginya jalan, baik urusan agama maupun dunia, menunjukkan jalan itu, serta mengujinya dengan perintah dan larangan.ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ (٢١)“Kemudian Dia mematikannya lalu memasukkannya ke dalam kubur.” (QS. ‘Abasa: 21)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah memuliakannya dengan dikuburkan, tidak menjadikannya seperti hewan yang bangkainya dibiarkan di permukaan bumi.ثُمَّ إِذَا شَاءَ أَنْشَرَهُ (٢٢)“Kemudian apabila Dia menghendaki, Dia akan membangkitkannya kembali.” (QS. ‘Abasa: 22)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Artinya, Allah akan membangkitkannya setelah mati untuk diberi balasan. Allah semata yang mengatur manusia dan mengubah keadaannya dalam seluruh proses ini, tanpa ada sekutu bagi-Nya. Allah Tunjukkan Rezeki, Tapi Kita Lalai!Allah Ta’ala berfirman,كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَآ أَمَرَهُۥ“Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 23)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Namun manusia—dengan keadaan seperti ini—tidak menjalankan apa yang Allah perintahkan. Ia belum menunaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya, bahkan terus berada dalam kekurangan dalam melaksanakan perintah tersebut. فَلْيَنظُرِ ٱلْإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ“maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (QS. ‘Abasa: 24)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Kemudian Allah mengarahkan manusia untuk memperhatikan dan merenungkan makanannya, bagaimana makanan itu sampai kepadanya setelah melalui berbagai tahapan yang berulang, dan bagaimana Allah memudahkannya untuk mendapatkannya.أَنَّا صَبَبْنَا ٱلْمَآءَ صَبًّا“Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit).” (QS. ‘Abasa: 25)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Artinya, Kami menurunkan hujan ke bumi dengan deras.ثُمَّ شَقَقْنَا ٱلْأَرْضَ شَقًّا“kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya.” (QS. ‘Abasa: 26)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yakni Kami membelah bumi untuk tumbuhnya tanaman.فَأَنۢبَتْنَا فِيهَا حَبًّا“lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu.” (QS. ‘Abasa: 27)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yakni berbagai jenis makanan yang beragam dan lezat, serta sumber makanan yang baik, mencakup seluruh jenis biji-bijian dengan berbagai macamnya.وَعِنَبًا وَقَضْبًا“anggur dan sayur-sayuran.” (QS. ‘Abasa: 28)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:(Qadb adalah sayuran yang dimakan segar.)وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا“zaitun dan kurma.” (QS. ‘Abasa: 29)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Disebutkan khusus karena banyaknya manfaat dan kegunaannya.وَحَدَآئِقَ غُلْبًا“kebun-kebun (yang) lebat.” (QS. ‘Abasa: 30)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yakni kebun-kebun yang dipenuhi pepohonan yang rimbun.وَفَٰكِهَةً وَأَبًّا“dan buah-buahan serta rumput-rumputan.” (QS. ‘Abasa: 31)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Buah-buahan adalah segala yang dinikmati manusia, seperti tin, anggur, persik, delima, dan lainnya.مَّتَٰعًا لَّكُمْ وَلِأَنْعَٰمِكُمْ“untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.” (QS. ‘Abasa: 32)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Adapun rumput-rumputan adalah makanan bagi hewan ternak. Karena itu Allah berfirman bahwa semua itu adalah kenikmatan bagi kalian dan bagi hewan ternak kalian yang Allah ciptakan dan tundukkan untuk kalian.Barang siapa memperhatikan nikmat-nikmat ini, maka hal itu akan mendorongnya untuk bersyukur kepada Rabb-nya, bersungguh-sungguh kembali kepada-Nya, menghadap kepada ketaatan-Nya, dan membenarkan berita-berita-Nya. Hari Paling Menakutkan: Semua Lari, Bahkan dari Orang Tua!Allah Ta’ala berfirman,فَإِذَا جَآءَتِ ٱلصَّآخَّةُ“Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua).” (QS. ‘Abasa: 33)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yaitu ketika datang teriakan hari kiamat, yang karena dahsyatnya membuat telinga menjadi tuli, dan hati menjadi terguncang, karena apa yang disaksikan manusia berupa kengerian dan kebutuhan yang sangat terhadap amal-amal yang telah lalu.Allah Ta’ala berfirman,يَوْمَ يَفِرُّ ٱلْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ“pada hari ketika manusia lari dari saudaranya.” (QS. ‘Abasa: 34)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Manusia lari dari orang-orang yang paling ia cintai dan paling ia sayangi, yaitu dari saudaranya,Allah Ta’ala berfirman,وَأُمِّهِۦ وَأَبِيهِ“dari ibu dan bapaknya.” (QS. ‘Abasa: 35)وَصَٰحِبَتِهِۦ وَبَنِيهِ“dari istri dan anak-anaknya.” (QS. ‘Abasa: 36)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Ia lari dari orang-orang yang paling dekat dengannya: saudaranya, ibunya, ayahnya, istrinya, dan anak-anaknya.Allah Ta’ala berfirman,لِكُلِّ ٱمْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ“Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. ‘Abasa: 37)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Setiap orang sibuk dengan dirinya sendiri, memikirkan keselamatannya, dan tidak memperhatikan orang lain. Pada saat itu manusia terbagi menjadi dua golongan: orang-orang yang bahagia dan orang-orang yang celaka.Allah Ta’ala berfirman,وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُّسْفِرَةٌ“Banyak muka pada hari itu berseri-seri.” (QS. ‘Abasa: 38)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Adapun orang-orang yang bahagia, wajah mereka tampak bersinar, terlihat kegembiraan dan kebahagiaan, karena mereka mengetahui keselamatan mereka dan keberhasilan meraih kenikmatan.Allah Ta’ala berfirman,ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌ“tertawa dan bergembira ria” (QS. ‘Abasa: 39)وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌ“dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu.” (QS. ‘Abasa: 40)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Adapun orang-orang yang celaka, wajah mereka pada hari itu tertutup debu.Allah Ta’ala berfirman,تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ“dan ditutup lagi oleh kegelapan.” (QS. ‘Abasa: 41)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Wajah mereka diliputi kegelapan, menjadi hitam dan suram, mereka telah putus asa dari segala kebaikan, dan mengetahui kesengsaraan serta kebinasaan mereka.Allah Ta’ala berfirman,أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْكَفَرَةُ ٱلْفَجَرَةُ“Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka.” (QS. ‘Abasa: 42)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Mereka adalah orang-orang yang kufur terhadap nikmat Allah, mendustakan ayat-ayat-Nya, dan berani melanggar larangan-Nya.Kami memohon kepada Allah ampunan dan keselamatan. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia. Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Malam Kamis, 30 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscara dakwah Dakwah Nabi dakwah nabi penuh cinta dakwah para nabi kisah dakwah Rasulullah tafsir juz amma


Surah ‘Abasa mengisahkan peristiwa ketika seorang sahabat yang buta datang kepada Nabi ﷺ untuk belajar, sementara pada saat yang sama beliau sedang berbicara dengan seorang tokoh kaya Quraisy. Nabi ﷺ lebih memberi perhatian kepada orang kaya itu dengan harapan ia mendapat hidayah. Melalui ayat-ayat ini, Allah menegur dengan lembut dan mengajarkan bahwa orang yang sungguh-sungguh mencari petunjuk lebih layak didahulukan daripada orang yang merasa tidak membutuhkan.  Daftar Isi tutup 1. Ketika Nabi ﷺ Bermuka Masam kepada Sahabat yang Tulus Mencari Ilmu 2. Mengapa Nabi ﷺ Lebih Memperhatikan Tokoh Quraisy Saat Itu? 2.1. Kesaksian Para Sahabat dan Ulama tentang Sebab Turunnya Surah ‘Abasa 2.2. Dari Teguran Menjadi Kemuliaan untuk Ibnu Ummi Maktum 2.3. Pelajaran Besar: Siapa yang Lebih Layak Diprioritaskan dalam Dakwah 2.4. Jangan Tinggalkan Kebaikan yang Pasti demi Harapan yang Belum Jelas 3. Al-Qur’an untuk Memberi Peringatan 4. Dari Nutfah hingga Dibangkitkan: Mengapa Manusia Masih Kufur? 5. Allah Tunjukkan Rezeki, Tapi Kita Lalai! 6. Hari Paling Menakutkan: Semua Lari, Bahkan dari Orang Tua!  Ketika Nabi ﷺ Bermuka Masam kepada Sahabat yang Tulus Mencari IlmuAllah Ta’ala berfirman,عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling.” (QS. ‘Abasa: 1)أَن جَآءَهُ ٱلْأَعْمَىٰ“karena telah datang seorang buta kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 2) وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُۥ يَزَّكَّىٰٓ“Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa).” (QS. ‘Abasa: 3)أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكْرَىٰٓ“atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?” (QS. ‘Abasa: 4)أَمَّا مَنِ ٱسْتَغْنَىٰ“Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup.” (QS. ‘Abasa: 5)فَأَنتَ لَهُۥ تَصَدَّىٰ“maka kamu melayaninya.” (QS. ‘Abasa: 6)وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّىٰ“Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).” (QS. ‘Abasa: 7)وَأَمَّا مَن جَآءَكَ يَسْعَىٰ“Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran).” (QS. ‘Abasa: 8)وَهُوَ يَخْشَىٰ“sedang ia takut kepada (Allah).” (QS. ‘Abasa: 9)فَأَنتَ عَنْهُ تَلَهَّىٰ“maka kamu mengabaikannya.” (QS. ‘Abasa: 10)Baca juga: Ibnu Ummi Maktum: Sahabat Nabi yang Buta tetapi Tetap Berjuang untuk Islam Mengapa Nabi ﷺ Lebih Memperhatikan Tokoh Quraisy Saat Itu?Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan:Beberapa ahli tafsir menyebutkan bahwa pada suatu hari Rasulullah ﷺ sedang berbicara dengan salah seorang tokoh besar Quraisy. Beliau sangat berharap orang tersebut masuk Islam.Ketika beliau sedang berbicara dan berdialog dengannya, datanglah Ibnu Ummi Maktum—seorang sahabat yang telah lebih dahulu masuk Islam. Ia mulai bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang suatu hal dan terus meminta penjelasan.Saat itu Nabi ﷺ berharap Ibnu Ummi Maktum berhenti sejenak agar beliau dapat melanjutkan pembicaraan dengan orang tersebut, karena beliau sangat berharap orang itu mendapatkan hidayah. Maka Nabi ﷺ pun bermuka masam kepada Ibnu Ummi Maktum, berpaling darinya, dan kembali memperhatikan orang yang sedang beliau ajak bicara.Lalu Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya:عَبَسَ وَتَوَلَّى“Dia bermuka masam dan berpaling.” Kesaksian Para Sahabat dan Ulama tentang Sebab Turunnya Surah ‘AbasaAl-Hafizh Abu Ya‘la meriwayatkan dalam Musnad-nya:Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mahdi, telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaq, telah mengabarkan kepada kami Ma‘mar, dari Qatadah, dari Anas mengenai firman Allah:عَبَسَ وَتَوَلَّى“Dia bermuka masam dan berpaling.”Disebutkan bahwa Ibnu Ummi Maktum datang kepada Nabi ﷺ ketika beliau sedang berbicara dengan Ubay bin Khalaf. Nabi pun berpaling darinya, lalu Allah menurunkan ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى“Dia bermuka masam dan berpaling karena seorang buta datang kepadanya.”Setelah itu Nabi ﷺ selalu memuliakan Ibnu Ummi Maktum.Qatadah berkata:Anas bin Malik mengabarkan kepadaku, ia berkata: Aku pernah melihat Ibnu Ummi Maktum pada hari perang Qadisiyah. Ia mengenakan baju besi dan membawa bendera hitam.Abu Ya‘la dan Ibnu Jarir juga meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Sa‘id bin Yahya Al-Umawi, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.Ia berkata: Ayat “عَبَسَ وَتَوَلَّى” turun berkenaan dengan Ibnu Ummi Maktum yang buta. Ia datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Tunjukkanlah aku jalan yang benar.”Saat itu di sisi Rasulullah ﷺ ada beberapa tokoh besar dari kalangan musyrikin. Nabi pun berpaling darinya dan lebih memperhatikan orang-orang tersebut. Beliau berkata kepada mereka, “Apakah menurut kalian apa yang aku katakan ini salah?”Mereka menjawab, “Tidak.”Maka dalam peristiwa inilah turun ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّىAt-Tirmidzi meriwayatkan hadis ini melalui sanad Sa‘id bin Yahya Al-Umawi dengan sanad yang sama. Ia berkata: Sebagian perawi meriwayatkannya dari Hisyam bin ‘Urwah dari ayahnya, bahwa ayat “عَبَسَ وَتَوَلَّى” turun tentang Ibnu Ummi Maktum tanpa menyebutkan riwayat dari ‘Aisyah.Aku (Ibnu Katsir) mengatakan: Demikian pula riwayat tersebut terdapat dalam kitab Al-Muwaththa’.Kemudian Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari jalur Al-‘Aufi, dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah:عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىIa berkata: Pada suatu ketika Rasulullah ﷺ sedang berbicara dengan ‘Utbah bin Rabi‘ah, Abu Jahl bin Hisyam, dan Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib. Beliau sering menemui mereka dan sangat berharap agar mereka beriman.Tiba-tiba datang seorang lelaki buta bernama ‘Abdullah bin Ummi Maktum. Ia berjalan mendekati Nabi ﷺ ketika beliau sedang berbicara dengan mereka. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sebagian dari apa yang Allah ajarkan kepadamu.”Nabi ﷺ berpaling darinya, bermuka masam, dan tidak menyukai pembicaraannya saat itu, lalu beliau kembali memusatkan perhatian kepada para tokoh tersebut.Ketika Rasulullah ﷺ telah selesai berbicara dengan mereka dan hendak pulang kepada keluarganya, Allah menahan sebagian penglihatannya. Kepala beliau pun tertunduk. Lalu Allah menurunkan ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّىأَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىوَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىأَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى“Dia bermuka masam dan berpaling karena seorang buta datang kepadanya.Tahukah engkau, barangkali ia ingin membersihkan dirinya.Atau ia ingin mendapatkan pelajaran, lalu pelajaran itu memberi manfaat baginya.” Dari Teguran Menjadi Kemuliaan untuk Ibnu Ummi MaktumSetelah ayat ini turun, Rasulullah ﷺ memuliakan Ibnu Ummi Maktum. Beliau sering menyapanya dan berkata kepadanya, “Apa yang engkau butuhkan? Apakah engkau memerlukan sesuatu?”Ketika Ibnu Ummi Maktum hendak pergi, beliau juga berkata, “Apakah engkau memiliki kebutuhan yang bisa aku bantu?”Hal itu terjadi setelah Allah menurunkan firman-Nya:أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّىوَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّى“Adapun orang yang merasa dirinya cukup, engkau justru memberi perhatian kepadanya. Padahal tidak ada tanggung jawab atasmu jika ia tidak membersihkan dirinya.”Namun dalam riwayat ini terdapat keanehan dan kemungkaran, dan para ulama telah membicarakan sanadnya.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Manshur Ar-Ramadi, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Shalih, telah menceritakan kepada kami Al-Laits, telah menceritakan kepada kami Yunus dari Ibnu Syihab.Ia berkata: Salim bin ‘Abdullah meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:“Sesungguhnya Bilal mengumandangkan azan pada malam hari. Maka makan dan minumlah sampai kalian mendengar azan Ibnu Ummi Maktum.”Ibnu Ummi Maktum adalah seorang yang buta, yang disebut dalam ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىIa biasa mengumandangkan azan bersama Bilal. Salim berkata: Ia adalah seorang yang buta. Ia tidak mengumandangkan azan sampai orang-orang berkata kepadanya ketika mereka melihat terbitnya fajar, “Sekarang sudah fajar, kumandangkanlah azan.”Demikian pula disebutkan oleh ‘Urwah bin Az-Zubair, Mujahid, Abu Malik, Qatadah, Adh-Dhahhak, Ibnu Zaid, dan banyak ulama salaf maupun khalaf bahwa ayat ini turun tentang Ibnu Ummi Maktum.Yang paling masyhur, namanya adalah ‘Abdullah, dan ada pula yang mengatakan ‘Amr. Pelajaran Besar: Siapa yang Lebih Layak Diprioritaskan dalam DakwahAllah Ta’ala berfirman,عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ (1)Sebab turunnya ayat-ayat mulia ini adalah ketika datang seorang laki-laki mukmin yang buta kepada Nabi ﷺ untuk bertanya dan belajar dari beliau.Pada saat yang sama datang pula seorang lelaki kaya. Nabi ﷺ sangat bersemangat untuk memberi hidayah kepada manusia, sehingga beliau lebih condong dan memberi perhatian kepada orang kaya tersebut, sementara beliau berpaling dari orang buta yang miskin itu.Beliau berharap orang kaya tersebut mendapatkan hidayah dan menjadi baik. Maka Allah menegur beliau dengan teguran yang lembut, dengan firman-Nya:“Dia bermuka masam dan berpaling.”Maksudnya, beliau bermuka masam kepada orang buta itu dan memalingkan badannya darinya.أَن جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ (2)Karena orang buta itu datang kepadanya.وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ (3)Kemudian Allah menjelaskan manfaat jika memperhatikannya, yaitu:“Dan tahukah engkau, barangkali dia ingin membersihkan dirinya.”Maksudnya, barangkali orang buta itu ingin menyucikan dirinya dari akhlak yang buruk dan menghiasi dirinya dengan akhlak yang baik.أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ الذِّكْرَىٰ (4)“Atau dia ingin mendapatkan pelajaran, lalu peringatan itu memberi manfaat baginya.”Maksudnya, ia mengingat sesuatu yang bermanfaat baginya sehingga ia dapat mengamalkan peringatan tersebut.أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَىٰ (5)Di sini terdapat pelajaran yang sangat besar, yaitu tujuan utama diutusnya para rasul, disampaikannya nasihat oleh para pemberi nasihat, dan diingatkannya manusia oleh para pengingat.Memberi perhatian kepada orang yang datang sendiri dalam keadaan membutuhkan ilmu darimu adalah sikap yang lebih pantas dan lebih wajib.Adapun memusatkan perhatian kepada orang kaya yang merasa cukup, yang tidak bertanya dan tidak meminta nasihat karena tidak berminat pada kebaikan, sementara orang yang lebih membutuhkan justru ditinggalkan, maka hal itu tidak pantas dilakukan.Karena jika orang kaya itu tidak mau memperbaiki dirinya, maka engkau tidak menanggung dosa atas keburukan yang ia lakukan.Dari ayat ini dipahami sebuah kaidah yang terkenal:لَا يُتْرَكُ أَمْرٌ مَعْلُومٌ لِأَمْرٍ مَوْهُومٍ، وَلَا مَصْلَحَةٌ مُتَحَقِّقَةٌ لِمَصْلَحَةٍ مُتَوَهَّمَةٍ“Tidak boleh meninggalkan sesuatu yang jelas demi sesuatu yang masih dugaan, dan tidak boleh meninggalkan kemaslahatan yang nyata demi kemaslahatan yang hanya diperkirakan.”Karena itu, seharusnya seseorang lebih memberi perhatian kepada penuntut ilmu yang benar-benar membutuhkan, sangat memerlukannya, dan memiliki semangat untuk mempelajarinya dibandingkan yang lainnya. Jangan Tinggalkan Kebaikan yang Pasti demi Harapan yang Belum Jelas Berikut tiga contoh penerapan kaidah ini dalam kehidupan saat ini:1. Dalam dakwah dan pengajaranSeorang dai meninggalkan majelis kecil yang serius belajar agama demi mengejar audiens besar yang belum tentu mau mendengar. Padahal orang yang hadir di majelis sudah jelas ingin belajar. Yang tepat adalah tetap memprioritaskan orang yang benar-benar datang untuk menuntut ilmu.2. Dalam mendidik anakOrang tua terlalu sibuk mengejar kesuksesan dunia anak (kursus, prestasi, lomba) tetapi mengabaikan pendidikan agama yang jelas manfaatnya bagi akhirat. Padahal membangun iman dan akhlak anak adalah maslahat yang pasti, sementara prestasi dunia belum tentu membawa kebaikan.3. Dalam ibadahSeseorang meninggalkan shalat berjamaah yang jelas pahalanya demi melakukan aktivitas lain yang belum tentu bernilai ibadah, seperti terlalu lama bermain gawai atau mengejar kesibukan dunia yang tidak mendesak.Intinya, kaidah ini mengajarkan agar tidak meninggalkan kebaikan yang pasti demi sesuatu yang masih sekadar harapan atau dugaan.Baca juga: Cara Dakwah Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an: Dekat, Peduli, dan Penyayang Al-Qur’an untuk Memberi PeringatanAllah Ta’ala berfirman,كَلَّآ إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ“Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan.” (QS. ‘Abasa: 11)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Maksudnya, peringatan ini benar-benar merupakan nasihat dari Allah. Dengan itu Allah mengingatkan hamba-hamba-Nya dan menjelaskan dalam kitab-Nya apa yang mereka butuhkan, serta membedakan antara petunjuk dan kesesatan.Allah Ta’ala berfirman,فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ“maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya.” (QS. ‘Abasa: 12)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Jika hal itu telah jelas, maka siapa saja yang mau, ia akan mengambil pelajaran dan mengamalkannya. Sebagaimana firman Allah:وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ“Katakanlah, ‘Kebenaran itu datang dari Tuhanmu; maka siapa yang menghendaki, hendaklah dia beriman, dan siapa yang menghendaki, hendaklah dia kafir.’” (QS. Al-Kahfi: 29)Allah Ta’ala berfirman,فِى صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍ“di dalam kitab-kitab yang dimuliakan.” (QS. ‘Abasa: 13)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Kemudian Allah menyebutkan tempat peringatan ini, keagungannya, dan tingginya kedudukannya, yaitu berada dalam lembaran-lembaran yang dimuliakan.Allah Ta’ala berfirman,مَّرْفُوعَةٍ مُّطَهَّرَةٍۭ“yang ditinggikan lagi disucikan.” (QS. ‘Abasa: 14)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Lembaran itu tinggi kedudukan dan derajatnya, serta disucikan dari segala kekurangan, dan tidak dapat dijangkau oleh tangan-tangan setan ataupun dicuri oleh mereka.Allah Ta’ala berfirman,بِأَيْدِى سَفَرَةٍ“di tangan para penulis (malaikat).” (QS. ‘Abasa: 15)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Yaitu di tangan para malaikat yang menjadi perantara antara Allah dan para hamba-Nya.Allah Ta’ala berfirman,كِرَامٍۭ بَرَرَةٍ“yang mulia lagi berbakti.” (QS. ‘Abasa: 16)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Mereka adalah malaikat yang banyak kebaikannya, penuh keberkahan, serta hati dan amal mereka sangat baik.Semua ini merupakan penjagaan dari Allah terhadap kitab-Nya. Allah menjadikan para malaikat yang mulia, kuat, dan bertakwa sebagai perantara untuk menyampaikannya kepada para rasul, dan tidak memberikan jalan bagi setan untuk mengganggunya. Hal ini semestinya mendorong untuk beriman dan menerima Al-Qur’an dengan penuh penerimaan. Namun demikian, manusia tetap saja enggan dan memilih kekafiran. Dari Nutfah hingga Dibangkitkan: Mengapa Manusia Masih Kufur?Allah Ta’ala berfirman:قُتِلَ الْإِنسَانُ مَا أَكْفَرَهُ (١٧)“Celakalah manusia! Alangkah sangat kufurnya dia!” (QS. ‘Abasa: 17)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, manusia sangat kufur terhadap nikmat Allah dan sangat keras penolakannya terhadap kebenaran setelah jelas baginya, padahal ia hanyalah makhluk yang lemah.مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ (١٨)“Dari apakah Dia menciptakannya?” (QS. ‘Abasa: 18)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Ia diciptakan dari sesuatu yang sangat lemah.مِنْ نُطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ (١٩)“Dari setetes mani, Dia menciptakannya lalu menentukannya.” (QS. ‘Abasa: 19)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah menciptakannya dari air yang hina, kemudian menentukan penciptaannya, menjadikannya manusia yang sempurna, serta menyempurnakan kekuatan lahir dan batinnya.ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ (٢٠)“Kemudian Dia memudahkan jalannya.” (QS. ‘Abasa: 20)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah memudahkan baginya jalan, baik urusan agama maupun dunia, menunjukkan jalan itu, serta mengujinya dengan perintah dan larangan.ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ (٢١)“Kemudian Dia mematikannya lalu memasukkannya ke dalam kubur.” (QS. ‘Abasa: 21)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah memuliakannya dengan dikuburkan, tidak menjadikannya seperti hewan yang bangkainya dibiarkan di permukaan bumi.ثُمَّ إِذَا شَاءَ أَنْشَرَهُ (٢٢)“Kemudian apabila Dia menghendaki, Dia akan membangkitkannya kembali.” (QS. ‘Abasa: 22)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Artinya, Allah akan membangkitkannya setelah mati untuk diberi balasan. Allah semata yang mengatur manusia dan mengubah keadaannya dalam seluruh proses ini, tanpa ada sekutu bagi-Nya. Allah Tunjukkan Rezeki, Tapi Kita Lalai!Allah Ta’ala berfirman,كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَآ أَمَرَهُۥ“Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 23)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Namun manusia—dengan keadaan seperti ini—tidak menjalankan apa yang Allah perintahkan. Ia belum menunaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya, bahkan terus berada dalam kekurangan dalam melaksanakan perintah tersebut. فَلْيَنظُرِ ٱلْإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ“maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (QS. ‘Abasa: 24)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Kemudian Allah mengarahkan manusia untuk memperhatikan dan merenungkan makanannya, bagaimana makanan itu sampai kepadanya setelah melalui berbagai tahapan yang berulang, dan bagaimana Allah memudahkannya untuk mendapatkannya.أَنَّا صَبَبْنَا ٱلْمَآءَ صَبًّا“Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit).” (QS. ‘Abasa: 25)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Artinya, Kami menurunkan hujan ke bumi dengan deras.ثُمَّ شَقَقْنَا ٱلْأَرْضَ شَقًّا“kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya.” (QS. ‘Abasa: 26)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yakni Kami membelah bumi untuk tumbuhnya tanaman.فَأَنۢبَتْنَا فِيهَا حَبًّا“lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu.” (QS. ‘Abasa: 27)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yakni berbagai jenis makanan yang beragam dan lezat, serta sumber makanan yang baik, mencakup seluruh jenis biji-bijian dengan berbagai macamnya.وَعِنَبًا وَقَضْبًا“anggur dan sayur-sayuran.” (QS. ‘Abasa: 28)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:(Qadb adalah sayuran yang dimakan segar.)وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا“zaitun dan kurma.” (QS. ‘Abasa: 29)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Disebutkan khusus karena banyaknya manfaat dan kegunaannya.وَحَدَآئِقَ غُلْبًا“kebun-kebun (yang) lebat.” (QS. ‘Abasa: 30)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yakni kebun-kebun yang dipenuhi pepohonan yang rimbun.وَفَٰكِهَةً وَأَبًّا“dan buah-buahan serta rumput-rumputan.” (QS. ‘Abasa: 31)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Buah-buahan adalah segala yang dinikmati manusia, seperti tin, anggur, persik, delima, dan lainnya.مَّتَٰعًا لَّكُمْ وَلِأَنْعَٰمِكُمْ“untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.” (QS. ‘Abasa: 32)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Adapun rumput-rumputan adalah makanan bagi hewan ternak. Karena itu Allah berfirman bahwa semua itu adalah kenikmatan bagi kalian dan bagi hewan ternak kalian yang Allah ciptakan dan tundukkan untuk kalian.Barang siapa memperhatikan nikmat-nikmat ini, maka hal itu akan mendorongnya untuk bersyukur kepada Rabb-nya, bersungguh-sungguh kembali kepada-Nya, menghadap kepada ketaatan-Nya, dan membenarkan berita-berita-Nya. Hari Paling Menakutkan: Semua Lari, Bahkan dari Orang Tua!Allah Ta’ala berfirman,فَإِذَا جَآءَتِ ٱلصَّآخَّةُ“Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua).” (QS. ‘Abasa: 33)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yaitu ketika datang teriakan hari kiamat, yang karena dahsyatnya membuat telinga menjadi tuli, dan hati menjadi terguncang, karena apa yang disaksikan manusia berupa kengerian dan kebutuhan yang sangat terhadap amal-amal yang telah lalu.Allah Ta’ala berfirman,يَوْمَ يَفِرُّ ٱلْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ“pada hari ketika manusia lari dari saudaranya.” (QS. ‘Abasa: 34)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Manusia lari dari orang-orang yang paling ia cintai dan paling ia sayangi, yaitu dari saudaranya,Allah Ta’ala berfirman,وَأُمِّهِۦ وَأَبِيهِ“dari ibu dan bapaknya.” (QS. ‘Abasa: 35)وَصَٰحِبَتِهِۦ وَبَنِيهِ“dari istri dan anak-anaknya.” (QS. ‘Abasa: 36)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Ia lari dari orang-orang yang paling dekat dengannya: saudaranya, ibunya, ayahnya, istrinya, dan anak-anaknya.Allah Ta’ala berfirman,لِكُلِّ ٱمْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ“Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. ‘Abasa: 37)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Setiap orang sibuk dengan dirinya sendiri, memikirkan keselamatannya, dan tidak memperhatikan orang lain. Pada saat itu manusia terbagi menjadi dua golongan: orang-orang yang bahagia dan orang-orang yang celaka.Allah Ta’ala berfirman,وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُّسْفِرَةٌ“Banyak muka pada hari itu berseri-seri.” (QS. ‘Abasa: 38)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Adapun orang-orang yang bahagia, wajah mereka tampak bersinar, terlihat kegembiraan dan kebahagiaan, karena mereka mengetahui keselamatan mereka dan keberhasilan meraih kenikmatan.Allah Ta’ala berfirman,ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌ“tertawa dan bergembira ria” (QS. ‘Abasa: 39)وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌ“dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu.” (QS. ‘Abasa: 40)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Adapun orang-orang yang celaka, wajah mereka pada hari itu tertutup debu.Allah Ta’ala berfirman,تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ“dan ditutup lagi oleh kegelapan.” (QS. ‘Abasa: 41)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Wajah mereka diliputi kegelapan, menjadi hitam dan suram, mereka telah putus asa dari segala kebaikan, dan mengetahui kesengsaraan serta kebinasaan mereka.Allah Ta’ala berfirman,أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْكَفَرَةُ ٱلْفَجَرَةُ“Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka.” (QS. ‘Abasa: 42)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Mereka adalah orang-orang yang kufur terhadap nikmat Allah, mendustakan ayat-ayat-Nya, dan berani melanggar larangan-Nya.Kami memohon kepada Allah ampunan dan keselamatan. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia. Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Malam Kamis, 30 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscara dakwah Dakwah Nabi dakwah nabi penuh cinta dakwah para nabi kisah dakwah Rasulullah tafsir juz amma

Tafsir Surah Al-Lail: Jalan Menuju Kemudahan atau Kesulitan

Surah Al-Lail menjelaskan bahwa kehidupan manusia berjalan di dua arah yang sangat berbeda: menuju kemudahan atau menuju kesulitan. Perbedaan ini ditentukan oleh iman, amal, dan tujuan hidup seseorang. Siapa yang memilih kebaikan akan dimudahkan menuju kebaikan, dan siapa yang memilih keburukan akan dimudahkan menuju keburukan.  Daftar Isi tutup 1. Sumpah Allah dengan Malam dan Siang 2. Hikmah Penciptaan Laki-Laki dan Perempuan 3. Usaha Manusia yang Berbeda-Beda 4. Ciri Orang yang Dimudahkan ke Jalan Kebaikan 5. Jalan Mudah bagi Orang yang Memilih Kebaikan 6. Ciri Orang yang Memilih Jalan Keburukan 7. Dimudahkan ke Jalan Sulit karena Pilihan Sendiri 8. Takdir dan Kemudahan Beramal 9. Harta Tidak Berguna Tanpa Amal 10. Petunjuk dan Kepemilikan Allah atas Dunia dan Akhirat 11. Ancaman Neraka bagi Orang yang Celaka 12. Sifat Orang Bertakwa yang Selamat 13. Ikhlas dan Tidak Mengharap Balasan dari Manusia 14. Nasihat Penutup  Sumpah Allah dengan Malam dan SiangAllah Ta’ala berfirman,وَٱلَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰ“Demi malam apabila menutupi (cahaya siang).” (QS. Al-Lail: 1)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Ini adalah sumpah dari Allah dengan waktu, yaitu waktu yang di dalamnya manusia melakukan berbagai aktivitas dengan keadaan yang berbeda-beda. Firman-Nya, “demi malam apabila menutupi”, maksudnya malam menyelimuti seluruh makhluk dengan kegelapannya. Ketika itu, setiap orang kembali ke tempat tinggalnya, dan manusia beristirahat dari keletihan serta kepayahan. وَٱلنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ“dan siang apabila terang benderang.” (QS. Al-Lail: 2)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Dan demi siang ketika tampak jelas bagi manusia, sehingga mereka mendapatkan cahaya dari sinarnya dan bertebaran untuk mengurus berbagai keperluan mereka. Hikmah Penciptaan Laki-Laki dan PerempuanAllah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقَ ٱلذَّكَرَ وَٱلْأُنثَىٰٓ“dan penciptaan laki-laki dan perempuan.” (QS. Al-Lail: 3)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Firman-Nya, “dan (demi) yang menciptakan laki-laki dan perempuan”, jika kata mā dimaknai sebagai kata sambung (maushulah), maka ini adalah sumpah dengan Dzat Allah yang mulia, yaitu Dia yang menciptakan laki-laki dan perempuan. Jika dimaknai sebagai kata dasar (mashdariyah), maka ini adalah sumpah dengan penciptaan laki-laki dan perempuan itu sendiri.Di antara kesempurnaan hikmah-Nya adalah bahwa Allah menciptakan dari setiap jenis makhluk hidup yang Dia kehendaki kelangsungannya, pasangan laki-laki dan perempuan, agar jenis tersebut tetap lestari dan tidak punah. Allah juga menautkan keduanya dengan dorongan syahwat, serta menjadikan masing-masing sesuai dan saling melengkapi. Maka Mahasuci Allah, sebaik-baik Pencipta. Usaha Manusia yang Berbeda-BedaAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّىٰ“sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.” (QS. Al-Lail: 4)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Ini adalah isi sumpah tersebut, yaitu bahwa usaha kalian, wahai manusia yang dibebani syariat, benar-benar berbeda dengan perbedaan yang besar. Hal ini tergantung pada jenis amal yang dilakukan, banyak atau sedikitnya, serta kesungguhan dalam melaksanakannya. Juga tergantung pada tujuan dari amal tersebut: apakah ditujukan untuk mencari wajah Allah Yang Mahatinggi dan kekal, sehingga amal itu pun kekal dan pelakunya mendapatkan manfaat darinya; ataukah tujuannya sesuatu yang fana dan akan lenyap, sehingga amal itu pun menjadi sia-sia dan hilang bersama hilangnya tujuan tersebut. Ciri Orang yang Dimudahkan ke Jalan KebaikanAllah Ta’ala berfirman,فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَٱتَّقَىٰ“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa.” (QS. Al-Lail: 5)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Allah menjelaskan keadaan orang-orang yang beramal dan menyebutkan amalan mereka. Adapun orang yang memberi, yaitu menunaikan apa yang diperintahkan berupa ibadah harta, seperti zakat, kafarat, nafkah, sedekah, dan berbagai bentuk infak di jalan kebaikan. Juga ibadah badan seperti shalat, puasa, dan yang semisalnya. Serta ibadah yang menggabungkan keduanya, seperti haji dan umrah. Dan ia bertakwa, yaitu meninggalkan apa yang dilarang berupa berbagai macam perbuatan haram dan maksiat.وَصَدَّقَ بِٱلْحُسْنَىٰ“dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga).” (QS. Al-Lail: 6)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu membenarkan kalimat lā ilāha illallāh dan apa yang dikandungnya, berupa seluruh keyakinan agama, serta apa yang menjadi konsekuensinya berupa balasan di akhirat. Jalan Mudah bagi Orang yang Memilih KebaikanAllah Ta’ala berfirman,فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْيُسْرَىٰ“maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 7)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, Kami akan memudahkan urusannya, menjadikannya dimudahkan untuk melakukan setiap kebaikan, dan dimudahkan untuk meninggalkan setiap keburukan. Karena ia telah menempuh sebab-sebab kemudahan, maka Allah pun memudahkan baginya hal tersebut.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dari ayat disimpulkan perkataan salaf berikut.وَقَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ عُقُوبَةِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا.Sebagian ulama salaf mengatakan: di antara balasan kebaikan adalah kebaikan setelahnya, dan di antara balasan keburukan adalah keburukan setelahnya. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Imam Ibnu Katsir) Ciri Orang yang Memilih Jalan KeburukanAllah Ta’ala berfirman,وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ وَٱسْتَغْنَىٰ“Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup.” (QS. Al-Lail: 8)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu orang yang kikir terhadap apa yang diperintahkan, sehingga ia meninggalkan infak yang wajib maupun yang dianjurkan, dan jiwanya tidak mau menunaikan kewajiban kepada Allah. Ia juga merasa tidak membutuhkan Allah, sehingga meninggalkan penghambaan kepada-Nya, dan tidak merasa dirinya sangat bergantung kepada Rabb-nya, padahal tidak ada keselamatan, keberuntungan, dan kesuksesan kecuali dengan menjadikan Allah sebagai yang dicintai dan disembah, yang menjadi tujuan dan tempat bergantung.وَكَذَّبَ بِٱلْحُسْنَىٰ“serta mendustakan pahala terbaik.” (QS. Al-Lail: 9)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu mendustakan apa yang Allah wajibkan untuk diimani oleh para hamba berupa keyakinan yang benar. Dimudahkan ke Jalan Sulit karena Pilihan SendiriAllah Ta’ala berfirman,فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْعُسْرَىٰ“maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (QS. Al-Lail: 10)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, menuju keadaan yang sulit dan sifat-sifat yang buruk. Ia akan dimudahkan untuk melakukan keburukan di mana pun berada, dan diserahkan kepada perbuatan maksiat. Kita memohon kepada Allah keselamatan.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan surah Al-Lail ayat 10 sebagai berikut.“maka Kami akan memudahkannya ke jalan yang sukar.” (QS. Al-Lail: 10)Artinya, menuju jalan keburukan. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:وَنُقَلِّبُ أَفْـِٔدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ“Dan Kami bolak-balikkan hati dan penglihatan mereka sebagaimana mereka tidak beriman kepadanya pada permulaan, dan Kami biarkan mereka dalam kesesatan mereka meraba-raba.” (QS. Al-An‘am: 110)Ayat-ayat dengan makna seperti ini sangat banyak, yang menunjukkan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla membalas orang yang menginginkan kebaikan dengan memberikan taufik kepadanya, dan membalas orang yang menginginkan keburukan dengan membiarkannya (tidak diberi taufik). Semua itu terjadi dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Hadits-hadits yang menunjukkan makna ini juga banyak. Takdir dan Kemudahan BeramalDi antaranya riwayat dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Ayyasy, telah menceritakan kepadaku Al-‘Aththaf bin Khalid, telah menceritakan kepadaku seorang laki-laki dari penduduk Bashrah, dari Thalhah bin ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman bin Abi Bakar Ash-Shiddiq, dari ayahnya, ia berkata: aku mendengar ayahku menyebutkan bahwa ayahnya mendengar Abu Bakar berkata:Aku berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, apakah kita beramal berdasarkan sesuatu yang telah ditetapkan atau berdasarkan sesuatu yang baru dimulai?”Beliau bersabda:بَلْ عَلَىٰ أَمْرٍ قَدْ فُرِغَ مِنْهُ“Bahkan berdasarkan sesuatu yang telah ditetapkan.”Aku bertanya lagi, “Lalu untuk apa kita beramal, wahai Rasulullah?”Beliau bersabda:كُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ“Setiap orang akan dimudahkan untuk (jalan) yang ia diciptakan untuknya.”Riwayat dari Ali radhiyallahu ‘anhu:Imam Al-Bukhari berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Nu‘aim, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-A‘mash, dari Sa‘d bin ‘Ubaidah, dari Abu ‘Abdurrahman As-Sulami, dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata:Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Baqi‘ Al-Gharqad dalam suatu pemakaman. Lalu beliau bersabda:مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَمَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ“Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali telah ditetapkan tempat duduknya di surga dan tempat duduknya di neraka.”Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita tidak bersandar saja (kepada takdir)?”Beliau bersabda:اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ“Beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan untuk (jalan) yang ia diciptakan untuknya.”Kemudian beliau membaca:فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ“Sementara orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, serta membenarkan (pahala) yang terbaik (surga), maka Kami akan memudahkannya ke jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 5–7)sampai firman-Nya:لِلْعُسْرَىٰ“(ke jalan) yang sukar.” (QS. Al-Lail: 10)Hadis ini juga diriwayatkan melalui jalur Syu‘bah dan Waki‘ dari Al-A‘mash dengan makna yang serupa.Kemudian diriwayatkan pula dari ‘Utsman bin Abi Syaibah, dari Jarir, dari Manshur, dari Sa‘d bin ‘Ubaidah, dari Abu ‘Abdurrahman, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:Kami berada dalam suatu pemakaman di Baqi‘ Al-Gharqad. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, kemudian duduk, dan kami pun duduk di sekeliling beliau. Di tangan beliau ada tongkat kecil, lalu beliau menundukkan kepala dan menggoreskan tongkatnya ke tanah. Kemudian beliau bersabda:مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ – أَوْ مَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوسَةٍ – إِلَّا كُتِبَ مَكَانُهَا مِنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، وَإِلَّا قَدْ كُتِبَتْ شَقِيَّةً أَوْ سَعِيدَةً“Tidak ada seorang pun di antara kalian—atau tidak ada satu jiwa pun—kecuali telah ditetapkan tempatnya di surga atau di neraka, dan telah ditetapkan apakah ia celaka atau bahagia.”Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita tidak bersandar saja dan meninggalkan amal? Jika kami termasuk orang yang bahagia, kami akan menuju kepada kebahagiaan, dan jika kami termasuk orang yang celaka, kami akan menuju kepada kecelakaan.”Beliau bersabda:أَمَّا أَهْلُ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ، وَأَمَّا أَهْلُ الشَّقَاوَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ“Adapun orang-orang yang bahagia, mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang yang bahagia. Dan adapun orang-orang yang celaka, mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang yang celaka.”Kemudian beliau membaca:فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ“Maka barang siapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, serta membenarkan (pahala) yang terbaik (surga), maka Kami akan memudahkannya ke jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 5–7) Harta Tidak Berguna Tanpa AmalAllah Ta’ala berfirman,وَمَا يُغْنِى عَنْهُ مَالُهُۥٓ إِذَا تَرَدَّىٰٓ“Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.” (QS. Al-Lail: 11)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Dan tidaklah berguna baginya harta yang membuatnya melampaui batas, yang membuatnya merasa cukup, serta yang ia tahan (tidak ia infakkan), ketika ia telah binasa dan mati. Karena yang menyertainya hanyalah amal salehnya. Adapun hartanya yang tidak ia keluarkan kewajibannya, maka itu akan menjadi bencana baginya, karena ia tidak menyiapkan apa pun darinya untuk akhirat. Petunjuk dan Kepemilikan Allah atas Dunia dan AkhiratAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ عَلَيْنَا لَلْهُدَىٰ“Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk.” (QS. Al-Lail: 12)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, jalan petunjuk yang lurus itu berada di bawah penjelasan dan bimbingan Kami. Jalan tersebut mengantarkan kepada Allah dan mendekatkan kepada keridaan-Nya. Adapun kesesatan adalah jalan-jalan yang tertutup dari Allah, tidak mengantarkan pelakunya kecuali kepada azab yang berat.وَإِنَّ لَنَا لَلْءَاخِرَةَ وَٱلْأُولَىٰ“dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia.” (QS. Al-Lail: 13)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, keduanya—akhirat dan dunia—adalah milik Allah dalam kekuasaan dan pengaturan, tanpa ada sekutu bagi-Nya. Maka hendaklah orang yang menginginkan sesuatu memohon hanya kepada-Nya, dan memutuskan harapannya dari makhluk. Ancaman Neraka bagi Orang yang CelakaAllah Ta’ala berfirman,فَأَنذَرْتُكُمْ نَارًا تَلَظَّىٰ“Maka, kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Lail: 14)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu neraka yang berkobar dan menyala dengan dahsyat.لَا يَصْلَىٰهَآ إِلَّا ٱلْأَشْقَى“Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka.” (QS. Al-Lail: 15)ٱلَّذِى كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ“yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman).” (QS. Al-Lail: 16)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu orang yang mendustakan kebenaran dan berpaling dari perintah. Sifat Orang Bertakwa yang SelamatAllah Ta’ala berfirman,وَسَيُجَنَّبُهَا ٱلْأَتْقَى“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu.” (QS. Al-Lail: 17)ٱلَّذِى يُؤْتِى مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ“yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya.” (QS. Al-Lail: 18)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu orang yang memberikan hartanya dengan tujuan menyucikan dirinya dan membersihkannya dari dosa dan kekurangan, dengan mengharap wajah Allah Ta‘ala. Ini menunjukkan bahwa jika infak sunnah menyebabkan ditinggalkannya kewajiban, seperti membayar utang, menafkahi yang wajib, dan semisalnya, maka hal itu tidak disyariatkan. Bahkan pemberiannya tertolak menurut banyak ulama, karena seseorang tidak dianggap menyucikan diri dengan melakukan amalan sunnah yang menyebabkan ia meninggalkan kewajiban. Ikhlas dan Tidak Mengharap Balasan dari ManusiaAllah Ta’ala berfirman,وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعْمَةٍ تُجْزَىٰٓ“padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya.” (QS. Al-Lail: 19)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, tidak ada seorang pun dari makhluk yang memiliki jasa atau nikmat atas orang yang paling bertakwa ini yang harus ia balas, kecuali ia telah membalasnya. Bahkan mungkin ia masih memiliki keutamaan atas manusia. Dengan demikian, ia menjadi hamba yang murni hanya untuk Allah, karena ia sepenuhnya tunduk kepada kebaikan-Nya saja.Adapun orang yang masih memiliki utang budi kepada manusia yang belum ia balas, maka pasti ia akan melakukan sesuatu untuk mereka yang dapat mengurangi keikhlasannya.Ayat ini, meskipun mencakup Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu—bahkan disebutkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan beliau—karena tidak ada seorang pun yang memiliki jasa kepadanya yang belum ia balas, bahkan termasuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali nikmat kerasulan yang tidak mungkin dibalas, yaitu nikmat berupa dakwah kepada agama Islam, pengajaran petunjuk, dan agama yang benar. Karena sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya memiliki karunia atas setiap manusia, suatu karunia yang tidak mungkin dibalas atau disamai. Namun ayat ini juga mencakup setiap orang yang memiliki sifat mulia ini, yaitu tidak ada lagi hak manusia yang tersisa atas dirinya, sehingga amalnya menjadi murni hanya untuk Allah Ta‘ala.إِلَّا ٱبْتِغَآءَ وَجْهِ رَبِّهِ ٱلْأَعْلَىٰ“tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi.” (QS. Al-Lail: 20)وَلَسَوْفَ يَرْضَىٰ“Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.” (QS. Al-Lail: 21)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Orang yang paling bertakwa ini akan merasa puas dengan apa yang Allah berikan kepadanya berupa berbagai kemuliaan dan pahala. Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang mengejar kemudahan dunia, tetapi lupa bahwa kemudahan sejati adalah dimudahkan dalam ketaatan. Hati yang condong pada kebaikan akan semakin mudah melakukan kebaikan, sedangkan hati yang terbiasa dengan maksiat akan semakin berat kembali kepada kebenaran. Karena itu, jagalah niat, luruskan tujuan, dan biasakan diri dengan amal saleh sekecil apa pun. Jangan menunda kebaikan, karena setiap langkah kecil bisa membuka pintu kemudahan yang besar.اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لَنَا خَيْرًاALLĀHUMMA INNĀ NAS’ALUKA AN TAJ‘ALA KULLA QAḌĀ’IN QAḌAYTAHU LANĀ KHAYRĀ“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu agar setiap ketetapan yang Engkau tetapkan untuk kami menjadi kebaikan bagi kami.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Kamis, 30 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal shalih jalan kebaikan jalan keburukan juz amma keikhlasan renungan ayat renungan quran surah al lail tafsir al lail tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir tafsir juz amma takdir dan usaha taufik dan hidayah

Tafsir Surah Al-Lail: Jalan Menuju Kemudahan atau Kesulitan

Surah Al-Lail menjelaskan bahwa kehidupan manusia berjalan di dua arah yang sangat berbeda: menuju kemudahan atau menuju kesulitan. Perbedaan ini ditentukan oleh iman, amal, dan tujuan hidup seseorang. Siapa yang memilih kebaikan akan dimudahkan menuju kebaikan, dan siapa yang memilih keburukan akan dimudahkan menuju keburukan.  Daftar Isi tutup 1. Sumpah Allah dengan Malam dan Siang 2. Hikmah Penciptaan Laki-Laki dan Perempuan 3. Usaha Manusia yang Berbeda-Beda 4. Ciri Orang yang Dimudahkan ke Jalan Kebaikan 5. Jalan Mudah bagi Orang yang Memilih Kebaikan 6. Ciri Orang yang Memilih Jalan Keburukan 7. Dimudahkan ke Jalan Sulit karena Pilihan Sendiri 8. Takdir dan Kemudahan Beramal 9. Harta Tidak Berguna Tanpa Amal 10. Petunjuk dan Kepemilikan Allah atas Dunia dan Akhirat 11. Ancaman Neraka bagi Orang yang Celaka 12. Sifat Orang Bertakwa yang Selamat 13. Ikhlas dan Tidak Mengharap Balasan dari Manusia 14. Nasihat Penutup  Sumpah Allah dengan Malam dan SiangAllah Ta’ala berfirman,وَٱلَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰ“Demi malam apabila menutupi (cahaya siang).” (QS. Al-Lail: 1)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Ini adalah sumpah dari Allah dengan waktu, yaitu waktu yang di dalamnya manusia melakukan berbagai aktivitas dengan keadaan yang berbeda-beda. Firman-Nya, “demi malam apabila menutupi”, maksudnya malam menyelimuti seluruh makhluk dengan kegelapannya. Ketika itu, setiap orang kembali ke tempat tinggalnya, dan manusia beristirahat dari keletihan serta kepayahan. وَٱلنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ“dan siang apabila terang benderang.” (QS. Al-Lail: 2)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Dan demi siang ketika tampak jelas bagi manusia, sehingga mereka mendapatkan cahaya dari sinarnya dan bertebaran untuk mengurus berbagai keperluan mereka. Hikmah Penciptaan Laki-Laki dan PerempuanAllah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقَ ٱلذَّكَرَ وَٱلْأُنثَىٰٓ“dan penciptaan laki-laki dan perempuan.” (QS. Al-Lail: 3)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Firman-Nya, “dan (demi) yang menciptakan laki-laki dan perempuan”, jika kata mā dimaknai sebagai kata sambung (maushulah), maka ini adalah sumpah dengan Dzat Allah yang mulia, yaitu Dia yang menciptakan laki-laki dan perempuan. Jika dimaknai sebagai kata dasar (mashdariyah), maka ini adalah sumpah dengan penciptaan laki-laki dan perempuan itu sendiri.Di antara kesempurnaan hikmah-Nya adalah bahwa Allah menciptakan dari setiap jenis makhluk hidup yang Dia kehendaki kelangsungannya, pasangan laki-laki dan perempuan, agar jenis tersebut tetap lestari dan tidak punah. Allah juga menautkan keduanya dengan dorongan syahwat, serta menjadikan masing-masing sesuai dan saling melengkapi. Maka Mahasuci Allah, sebaik-baik Pencipta. Usaha Manusia yang Berbeda-BedaAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّىٰ“sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.” (QS. Al-Lail: 4)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Ini adalah isi sumpah tersebut, yaitu bahwa usaha kalian, wahai manusia yang dibebani syariat, benar-benar berbeda dengan perbedaan yang besar. Hal ini tergantung pada jenis amal yang dilakukan, banyak atau sedikitnya, serta kesungguhan dalam melaksanakannya. Juga tergantung pada tujuan dari amal tersebut: apakah ditujukan untuk mencari wajah Allah Yang Mahatinggi dan kekal, sehingga amal itu pun kekal dan pelakunya mendapatkan manfaat darinya; ataukah tujuannya sesuatu yang fana dan akan lenyap, sehingga amal itu pun menjadi sia-sia dan hilang bersama hilangnya tujuan tersebut. Ciri Orang yang Dimudahkan ke Jalan KebaikanAllah Ta’ala berfirman,فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَٱتَّقَىٰ“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa.” (QS. Al-Lail: 5)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Allah menjelaskan keadaan orang-orang yang beramal dan menyebutkan amalan mereka. Adapun orang yang memberi, yaitu menunaikan apa yang diperintahkan berupa ibadah harta, seperti zakat, kafarat, nafkah, sedekah, dan berbagai bentuk infak di jalan kebaikan. Juga ibadah badan seperti shalat, puasa, dan yang semisalnya. Serta ibadah yang menggabungkan keduanya, seperti haji dan umrah. Dan ia bertakwa, yaitu meninggalkan apa yang dilarang berupa berbagai macam perbuatan haram dan maksiat.وَصَدَّقَ بِٱلْحُسْنَىٰ“dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga).” (QS. Al-Lail: 6)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu membenarkan kalimat lā ilāha illallāh dan apa yang dikandungnya, berupa seluruh keyakinan agama, serta apa yang menjadi konsekuensinya berupa balasan di akhirat. Jalan Mudah bagi Orang yang Memilih KebaikanAllah Ta’ala berfirman,فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْيُسْرَىٰ“maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 7)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, Kami akan memudahkan urusannya, menjadikannya dimudahkan untuk melakukan setiap kebaikan, dan dimudahkan untuk meninggalkan setiap keburukan. Karena ia telah menempuh sebab-sebab kemudahan, maka Allah pun memudahkan baginya hal tersebut.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dari ayat disimpulkan perkataan salaf berikut.وَقَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ عُقُوبَةِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا.Sebagian ulama salaf mengatakan: di antara balasan kebaikan adalah kebaikan setelahnya, dan di antara balasan keburukan adalah keburukan setelahnya. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Imam Ibnu Katsir) Ciri Orang yang Memilih Jalan KeburukanAllah Ta’ala berfirman,وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ وَٱسْتَغْنَىٰ“Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup.” (QS. Al-Lail: 8)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu orang yang kikir terhadap apa yang diperintahkan, sehingga ia meninggalkan infak yang wajib maupun yang dianjurkan, dan jiwanya tidak mau menunaikan kewajiban kepada Allah. Ia juga merasa tidak membutuhkan Allah, sehingga meninggalkan penghambaan kepada-Nya, dan tidak merasa dirinya sangat bergantung kepada Rabb-nya, padahal tidak ada keselamatan, keberuntungan, dan kesuksesan kecuali dengan menjadikan Allah sebagai yang dicintai dan disembah, yang menjadi tujuan dan tempat bergantung.وَكَذَّبَ بِٱلْحُسْنَىٰ“serta mendustakan pahala terbaik.” (QS. Al-Lail: 9)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu mendustakan apa yang Allah wajibkan untuk diimani oleh para hamba berupa keyakinan yang benar. Dimudahkan ke Jalan Sulit karena Pilihan SendiriAllah Ta’ala berfirman,فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْعُسْرَىٰ“maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (QS. Al-Lail: 10)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, menuju keadaan yang sulit dan sifat-sifat yang buruk. Ia akan dimudahkan untuk melakukan keburukan di mana pun berada, dan diserahkan kepada perbuatan maksiat. Kita memohon kepada Allah keselamatan.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan surah Al-Lail ayat 10 sebagai berikut.“maka Kami akan memudahkannya ke jalan yang sukar.” (QS. Al-Lail: 10)Artinya, menuju jalan keburukan. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:وَنُقَلِّبُ أَفْـِٔدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ“Dan Kami bolak-balikkan hati dan penglihatan mereka sebagaimana mereka tidak beriman kepadanya pada permulaan, dan Kami biarkan mereka dalam kesesatan mereka meraba-raba.” (QS. Al-An‘am: 110)Ayat-ayat dengan makna seperti ini sangat banyak, yang menunjukkan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla membalas orang yang menginginkan kebaikan dengan memberikan taufik kepadanya, dan membalas orang yang menginginkan keburukan dengan membiarkannya (tidak diberi taufik). Semua itu terjadi dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Hadits-hadits yang menunjukkan makna ini juga banyak. Takdir dan Kemudahan BeramalDi antaranya riwayat dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Ayyasy, telah menceritakan kepadaku Al-‘Aththaf bin Khalid, telah menceritakan kepadaku seorang laki-laki dari penduduk Bashrah, dari Thalhah bin ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman bin Abi Bakar Ash-Shiddiq, dari ayahnya, ia berkata: aku mendengar ayahku menyebutkan bahwa ayahnya mendengar Abu Bakar berkata:Aku berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, apakah kita beramal berdasarkan sesuatu yang telah ditetapkan atau berdasarkan sesuatu yang baru dimulai?”Beliau bersabda:بَلْ عَلَىٰ أَمْرٍ قَدْ فُرِغَ مِنْهُ“Bahkan berdasarkan sesuatu yang telah ditetapkan.”Aku bertanya lagi, “Lalu untuk apa kita beramal, wahai Rasulullah?”Beliau bersabda:كُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ“Setiap orang akan dimudahkan untuk (jalan) yang ia diciptakan untuknya.”Riwayat dari Ali radhiyallahu ‘anhu:Imam Al-Bukhari berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Nu‘aim, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-A‘mash, dari Sa‘d bin ‘Ubaidah, dari Abu ‘Abdurrahman As-Sulami, dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata:Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Baqi‘ Al-Gharqad dalam suatu pemakaman. Lalu beliau bersabda:مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَمَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ“Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali telah ditetapkan tempat duduknya di surga dan tempat duduknya di neraka.”Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita tidak bersandar saja (kepada takdir)?”Beliau bersabda:اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ“Beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan untuk (jalan) yang ia diciptakan untuknya.”Kemudian beliau membaca:فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ“Sementara orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, serta membenarkan (pahala) yang terbaik (surga), maka Kami akan memudahkannya ke jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 5–7)sampai firman-Nya:لِلْعُسْرَىٰ“(ke jalan) yang sukar.” (QS. Al-Lail: 10)Hadis ini juga diriwayatkan melalui jalur Syu‘bah dan Waki‘ dari Al-A‘mash dengan makna yang serupa.Kemudian diriwayatkan pula dari ‘Utsman bin Abi Syaibah, dari Jarir, dari Manshur, dari Sa‘d bin ‘Ubaidah, dari Abu ‘Abdurrahman, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:Kami berada dalam suatu pemakaman di Baqi‘ Al-Gharqad. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, kemudian duduk, dan kami pun duduk di sekeliling beliau. Di tangan beliau ada tongkat kecil, lalu beliau menundukkan kepala dan menggoreskan tongkatnya ke tanah. Kemudian beliau bersabda:مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ – أَوْ مَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوسَةٍ – إِلَّا كُتِبَ مَكَانُهَا مِنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، وَإِلَّا قَدْ كُتِبَتْ شَقِيَّةً أَوْ سَعِيدَةً“Tidak ada seorang pun di antara kalian—atau tidak ada satu jiwa pun—kecuali telah ditetapkan tempatnya di surga atau di neraka, dan telah ditetapkan apakah ia celaka atau bahagia.”Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita tidak bersandar saja dan meninggalkan amal? Jika kami termasuk orang yang bahagia, kami akan menuju kepada kebahagiaan, dan jika kami termasuk orang yang celaka, kami akan menuju kepada kecelakaan.”Beliau bersabda:أَمَّا أَهْلُ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ، وَأَمَّا أَهْلُ الشَّقَاوَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ“Adapun orang-orang yang bahagia, mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang yang bahagia. Dan adapun orang-orang yang celaka, mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang yang celaka.”Kemudian beliau membaca:فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ“Maka barang siapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, serta membenarkan (pahala) yang terbaik (surga), maka Kami akan memudahkannya ke jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 5–7) Harta Tidak Berguna Tanpa AmalAllah Ta’ala berfirman,وَمَا يُغْنِى عَنْهُ مَالُهُۥٓ إِذَا تَرَدَّىٰٓ“Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.” (QS. Al-Lail: 11)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Dan tidaklah berguna baginya harta yang membuatnya melampaui batas, yang membuatnya merasa cukup, serta yang ia tahan (tidak ia infakkan), ketika ia telah binasa dan mati. Karena yang menyertainya hanyalah amal salehnya. Adapun hartanya yang tidak ia keluarkan kewajibannya, maka itu akan menjadi bencana baginya, karena ia tidak menyiapkan apa pun darinya untuk akhirat. Petunjuk dan Kepemilikan Allah atas Dunia dan AkhiratAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ عَلَيْنَا لَلْهُدَىٰ“Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk.” (QS. Al-Lail: 12)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, jalan petunjuk yang lurus itu berada di bawah penjelasan dan bimbingan Kami. Jalan tersebut mengantarkan kepada Allah dan mendekatkan kepada keridaan-Nya. Adapun kesesatan adalah jalan-jalan yang tertutup dari Allah, tidak mengantarkan pelakunya kecuali kepada azab yang berat.وَإِنَّ لَنَا لَلْءَاخِرَةَ وَٱلْأُولَىٰ“dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia.” (QS. Al-Lail: 13)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, keduanya—akhirat dan dunia—adalah milik Allah dalam kekuasaan dan pengaturan, tanpa ada sekutu bagi-Nya. Maka hendaklah orang yang menginginkan sesuatu memohon hanya kepada-Nya, dan memutuskan harapannya dari makhluk. Ancaman Neraka bagi Orang yang CelakaAllah Ta’ala berfirman,فَأَنذَرْتُكُمْ نَارًا تَلَظَّىٰ“Maka, kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Lail: 14)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu neraka yang berkobar dan menyala dengan dahsyat.لَا يَصْلَىٰهَآ إِلَّا ٱلْأَشْقَى“Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka.” (QS. Al-Lail: 15)ٱلَّذِى كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ“yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman).” (QS. Al-Lail: 16)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu orang yang mendustakan kebenaran dan berpaling dari perintah. Sifat Orang Bertakwa yang SelamatAllah Ta’ala berfirman,وَسَيُجَنَّبُهَا ٱلْأَتْقَى“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu.” (QS. Al-Lail: 17)ٱلَّذِى يُؤْتِى مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ“yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya.” (QS. Al-Lail: 18)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu orang yang memberikan hartanya dengan tujuan menyucikan dirinya dan membersihkannya dari dosa dan kekurangan, dengan mengharap wajah Allah Ta‘ala. Ini menunjukkan bahwa jika infak sunnah menyebabkan ditinggalkannya kewajiban, seperti membayar utang, menafkahi yang wajib, dan semisalnya, maka hal itu tidak disyariatkan. Bahkan pemberiannya tertolak menurut banyak ulama, karena seseorang tidak dianggap menyucikan diri dengan melakukan amalan sunnah yang menyebabkan ia meninggalkan kewajiban. Ikhlas dan Tidak Mengharap Balasan dari ManusiaAllah Ta’ala berfirman,وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعْمَةٍ تُجْزَىٰٓ“padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya.” (QS. Al-Lail: 19)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, tidak ada seorang pun dari makhluk yang memiliki jasa atau nikmat atas orang yang paling bertakwa ini yang harus ia balas, kecuali ia telah membalasnya. Bahkan mungkin ia masih memiliki keutamaan atas manusia. Dengan demikian, ia menjadi hamba yang murni hanya untuk Allah, karena ia sepenuhnya tunduk kepada kebaikan-Nya saja.Adapun orang yang masih memiliki utang budi kepada manusia yang belum ia balas, maka pasti ia akan melakukan sesuatu untuk mereka yang dapat mengurangi keikhlasannya.Ayat ini, meskipun mencakup Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu—bahkan disebutkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan beliau—karena tidak ada seorang pun yang memiliki jasa kepadanya yang belum ia balas, bahkan termasuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali nikmat kerasulan yang tidak mungkin dibalas, yaitu nikmat berupa dakwah kepada agama Islam, pengajaran petunjuk, dan agama yang benar. Karena sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya memiliki karunia atas setiap manusia, suatu karunia yang tidak mungkin dibalas atau disamai. Namun ayat ini juga mencakup setiap orang yang memiliki sifat mulia ini, yaitu tidak ada lagi hak manusia yang tersisa atas dirinya, sehingga amalnya menjadi murni hanya untuk Allah Ta‘ala.إِلَّا ٱبْتِغَآءَ وَجْهِ رَبِّهِ ٱلْأَعْلَىٰ“tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi.” (QS. Al-Lail: 20)وَلَسَوْفَ يَرْضَىٰ“Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.” (QS. Al-Lail: 21)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Orang yang paling bertakwa ini akan merasa puas dengan apa yang Allah berikan kepadanya berupa berbagai kemuliaan dan pahala. Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang mengejar kemudahan dunia, tetapi lupa bahwa kemudahan sejati adalah dimudahkan dalam ketaatan. Hati yang condong pada kebaikan akan semakin mudah melakukan kebaikan, sedangkan hati yang terbiasa dengan maksiat akan semakin berat kembali kepada kebenaran. Karena itu, jagalah niat, luruskan tujuan, dan biasakan diri dengan amal saleh sekecil apa pun. Jangan menunda kebaikan, karena setiap langkah kecil bisa membuka pintu kemudahan yang besar.اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لَنَا خَيْرًاALLĀHUMMA INNĀ NAS’ALUKA AN TAJ‘ALA KULLA QAḌĀ’IN QAḌAYTAHU LANĀ KHAYRĀ“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu agar setiap ketetapan yang Engkau tetapkan untuk kami menjadi kebaikan bagi kami.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Kamis, 30 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal shalih jalan kebaikan jalan keburukan juz amma keikhlasan renungan ayat renungan quran surah al lail tafsir al lail tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir tafsir juz amma takdir dan usaha taufik dan hidayah
Surah Al-Lail menjelaskan bahwa kehidupan manusia berjalan di dua arah yang sangat berbeda: menuju kemudahan atau menuju kesulitan. Perbedaan ini ditentukan oleh iman, amal, dan tujuan hidup seseorang. Siapa yang memilih kebaikan akan dimudahkan menuju kebaikan, dan siapa yang memilih keburukan akan dimudahkan menuju keburukan.  Daftar Isi tutup 1. Sumpah Allah dengan Malam dan Siang 2. Hikmah Penciptaan Laki-Laki dan Perempuan 3. Usaha Manusia yang Berbeda-Beda 4. Ciri Orang yang Dimudahkan ke Jalan Kebaikan 5. Jalan Mudah bagi Orang yang Memilih Kebaikan 6. Ciri Orang yang Memilih Jalan Keburukan 7. Dimudahkan ke Jalan Sulit karena Pilihan Sendiri 8. Takdir dan Kemudahan Beramal 9. Harta Tidak Berguna Tanpa Amal 10. Petunjuk dan Kepemilikan Allah atas Dunia dan Akhirat 11. Ancaman Neraka bagi Orang yang Celaka 12. Sifat Orang Bertakwa yang Selamat 13. Ikhlas dan Tidak Mengharap Balasan dari Manusia 14. Nasihat Penutup  Sumpah Allah dengan Malam dan SiangAllah Ta’ala berfirman,وَٱلَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰ“Demi malam apabila menutupi (cahaya siang).” (QS. Al-Lail: 1)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Ini adalah sumpah dari Allah dengan waktu, yaitu waktu yang di dalamnya manusia melakukan berbagai aktivitas dengan keadaan yang berbeda-beda. Firman-Nya, “demi malam apabila menutupi”, maksudnya malam menyelimuti seluruh makhluk dengan kegelapannya. Ketika itu, setiap orang kembali ke tempat tinggalnya, dan manusia beristirahat dari keletihan serta kepayahan. وَٱلنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ“dan siang apabila terang benderang.” (QS. Al-Lail: 2)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Dan demi siang ketika tampak jelas bagi manusia, sehingga mereka mendapatkan cahaya dari sinarnya dan bertebaran untuk mengurus berbagai keperluan mereka. Hikmah Penciptaan Laki-Laki dan PerempuanAllah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقَ ٱلذَّكَرَ وَٱلْأُنثَىٰٓ“dan penciptaan laki-laki dan perempuan.” (QS. Al-Lail: 3)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Firman-Nya, “dan (demi) yang menciptakan laki-laki dan perempuan”, jika kata mā dimaknai sebagai kata sambung (maushulah), maka ini adalah sumpah dengan Dzat Allah yang mulia, yaitu Dia yang menciptakan laki-laki dan perempuan. Jika dimaknai sebagai kata dasar (mashdariyah), maka ini adalah sumpah dengan penciptaan laki-laki dan perempuan itu sendiri.Di antara kesempurnaan hikmah-Nya adalah bahwa Allah menciptakan dari setiap jenis makhluk hidup yang Dia kehendaki kelangsungannya, pasangan laki-laki dan perempuan, agar jenis tersebut tetap lestari dan tidak punah. Allah juga menautkan keduanya dengan dorongan syahwat, serta menjadikan masing-masing sesuai dan saling melengkapi. Maka Mahasuci Allah, sebaik-baik Pencipta. Usaha Manusia yang Berbeda-BedaAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّىٰ“sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.” (QS. Al-Lail: 4)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Ini adalah isi sumpah tersebut, yaitu bahwa usaha kalian, wahai manusia yang dibebani syariat, benar-benar berbeda dengan perbedaan yang besar. Hal ini tergantung pada jenis amal yang dilakukan, banyak atau sedikitnya, serta kesungguhan dalam melaksanakannya. Juga tergantung pada tujuan dari amal tersebut: apakah ditujukan untuk mencari wajah Allah Yang Mahatinggi dan kekal, sehingga amal itu pun kekal dan pelakunya mendapatkan manfaat darinya; ataukah tujuannya sesuatu yang fana dan akan lenyap, sehingga amal itu pun menjadi sia-sia dan hilang bersama hilangnya tujuan tersebut. Ciri Orang yang Dimudahkan ke Jalan KebaikanAllah Ta’ala berfirman,فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَٱتَّقَىٰ“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa.” (QS. Al-Lail: 5)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Allah menjelaskan keadaan orang-orang yang beramal dan menyebutkan amalan mereka. Adapun orang yang memberi, yaitu menunaikan apa yang diperintahkan berupa ibadah harta, seperti zakat, kafarat, nafkah, sedekah, dan berbagai bentuk infak di jalan kebaikan. Juga ibadah badan seperti shalat, puasa, dan yang semisalnya. Serta ibadah yang menggabungkan keduanya, seperti haji dan umrah. Dan ia bertakwa, yaitu meninggalkan apa yang dilarang berupa berbagai macam perbuatan haram dan maksiat.وَصَدَّقَ بِٱلْحُسْنَىٰ“dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga).” (QS. Al-Lail: 6)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu membenarkan kalimat lā ilāha illallāh dan apa yang dikandungnya, berupa seluruh keyakinan agama, serta apa yang menjadi konsekuensinya berupa balasan di akhirat. Jalan Mudah bagi Orang yang Memilih KebaikanAllah Ta’ala berfirman,فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْيُسْرَىٰ“maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 7)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, Kami akan memudahkan urusannya, menjadikannya dimudahkan untuk melakukan setiap kebaikan, dan dimudahkan untuk meninggalkan setiap keburukan. Karena ia telah menempuh sebab-sebab kemudahan, maka Allah pun memudahkan baginya hal tersebut.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dari ayat disimpulkan perkataan salaf berikut.وَقَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ عُقُوبَةِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا.Sebagian ulama salaf mengatakan: di antara balasan kebaikan adalah kebaikan setelahnya, dan di antara balasan keburukan adalah keburukan setelahnya. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Imam Ibnu Katsir) Ciri Orang yang Memilih Jalan KeburukanAllah Ta’ala berfirman,وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ وَٱسْتَغْنَىٰ“Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup.” (QS. Al-Lail: 8)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu orang yang kikir terhadap apa yang diperintahkan, sehingga ia meninggalkan infak yang wajib maupun yang dianjurkan, dan jiwanya tidak mau menunaikan kewajiban kepada Allah. Ia juga merasa tidak membutuhkan Allah, sehingga meninggalkan penghambaan kepada-Nya, dan tidak merasa dirinya sangat bergantung kepada Rabb-nya, padahal tidak ada keselamatan, keberuntungan, dan kesuksesan kecuali dengan menjadikan Allah sebagai yang dicintai dan disembah, yang menjadi tujuan dan tempat bergantung.وَكَذَّبَ بِٱلْحُسْنَىٰ“serta mendustakan pahala terbaik.” (QS. Al-Lail: 9)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu mendustakan apa yang Allah wajibkan untuk diimani oleh para hamba berupa keyakinan yang benar. Dimudahkan ke Jalan Sulit karena Pilihan SendiriAllah Ta’ala berfirman,فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْعُسْرَىٰ“maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (QS. Al-Lail: 10)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, menuju keadaan yang sulit dan sifat-sifat yang buruk. Ia akan dimudahkan untuk melakukan keburukan di mana pun berada, dan diserahkan kepada perbuatan maksiat. Kita memohon kepada Allah keselamatan.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan surah Al-Lail ayat 10 sebagai berikut.“maka Kami akan memudahkannya ke jalan yang sukar.” (QS. Al-Lail: 10)Artinya, menuju jalan keburukan. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:وَنُقَلِّبُ أَفْـِٔدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ“Dan Kami bolak-balikkan hati dan penglihatan mereka sebagaimana mereka tidak beriman kepadanya pada permulaan, dan Kami biarkan mereka dalam kesesatan mereka meraba-raba.” (QS. Al-An‘am: 110)Ayat-ayat dengan makna seperti ini sangat banyak, yang menunjukkan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla membalas orang yang menginginkan kebaikan dengan memberikan taufik kepadanya, dan membalas orang yang menginginkan keburukan dengan membiarkannya (tidak diberi taufik). Semua itu terjadi dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Hadits-hadits yang menunjukkan makna ini juga banyak. Takdir dan Kemudahan BeramalDi antaranya riwayat dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Ayyasy, telah menceritakan kepadaku Al-‘Aththaf bin Khalid, telah menceritakan kepadaku seorang laki-laki dari penduduk Bashrah, dari Thalhah bin ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman bin Abi Bakar Ash-Shiddiq, dari ayahnya, ia berkata: aku mendengar ayahku menyebutkan bahwa ayahnya mendengar Abu Bakar berkata:Aku berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, apakah kita beramal berdasarkan sesuatu yang telah ditetapkan atau berdasarkan sesuatu yang baru dimulai?”Beliau bersabda:بَلْ عَلَىٰ أَمْرٍ قَدْ فُرِغَ مِنْهُ“Bahkan berdasarkan sesuatu yang telah ditetapkan.”Aku bertanya lagi, “Lalu untuk apa kita beramal, wahai Rasulullah?”Beliau bersabda:كُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ“Setiap orang akan dimudahkan untuk (jalan) yang ia diciptakan untuknya.”Riwayat dari Ali radhiyallahu ‘anhu:Imam Al-Bukhari berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Nu‘aim, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-A‘mash, dari Sa‘d bin ‘Ubaidah, dari Abu ‘Abdurrahman As-Sulami, dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata:Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Baqi‘ Al-Gharqad dalam suatu pemakaman. Lalu beliau bersabda:مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَمَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ“Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali telah ditetapkan tempat duduknya di surga dan tempat duduknya di neraka.”Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita tidak bersandar saja (kepada takdir)?”Beliau bersabda:اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ“Beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan untuk (jalan) yang ia diciptakan untuknya.”Kemudian beliau membaca:فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ“Sementara orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, serta membenarkan (pahala) yang terbaik (surga), maka Kami akan memudahkannya ke jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 5–7)sampai firman-Nya:لِلْعُسْرَىٰ“(ke jalan) yang sukar.” (QS. Al-Lail: 10)Hadis ini juga diriwayatkan melalui jalur Syu‘bah dan Waki‘ dari Al-A‘mash dengan makna yang serupa.Kemudian diriwayatkan pula dari ‘Utsman bin Abi Syaibah, dari Jarir, dari Manshur, dari Sa‘d bin ‘Ubaidah, dari Abu ‘Abdurrahman, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:Kami berada dalam suatu pemakaman di Baqi‘ Al-Gharqad. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, kemudian duduk, dan kami pun duduk di sekeliling beliau. Di tangan beliau ada tongkat kecil, lalu beliau menundukkan kepala dan menggoreskan tongkatnya ke tanah. Kemudian beliau bersabda:مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ – أَوْ مَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوسَةٍ – إِلَّا كُتِبَ مَكَانُهَا مِنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، وَإِلَّا قَدْ كُتِبَتْ شَقِيَّةً أَوْ سَعِيدَةً“Tidak ada seorang pun di antara kalian—atau tidak ada satu jiwa pun—kecuali telah ditetapkan tempatnya di surga atau di neraka, dan telah ditetapkan apakah ia celaka atau bahagia.”Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita tidak bersandar saja dan meninggalkan amal? Jika kami termasuk orang yang bahagia, kami akan menuju kepada kebahagiaan, dan jika kami termasuk orang yang celaka, kami akan menuju kepada kecelakaan.”Beliau bersabda:أَمَّا أَهْلُ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ، وَأَمَّا أَهْلُ الشَّقَاوَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ“Adapun orang-orang yang bahagia, mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang yang bahagia. Dan adapun orang-orang yang celaka, mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang yang celaka.”Kemudian beliau membaca:فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ“Maka barang siapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, serta membenarkan (pahala) yang terbaik (surga), maka Kami akan memudahkannya ke jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 5–7) Harta Tidak Berguna Tanpa AmalAllah Ta’ala berfirman,وَمَا يُغْنِى عَنْهُ مَالُهُۥٓ إِذَا تَرَدَّىٰٓ“Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.” (QS. Al-Lail: 11)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Dan tidaklah berguna baginya harta yang membuatnya melampaui batas, yang membuatnya merasa cukup, serta yang ia tahan (tidak ia infakkan), ketika ia telah binasa dan mati. Karena yang menyertainya hanyalah amal salehnya. Adapun hartanya yang tidak ia keluarkan kewajibannya, maka itu akan menjadi bencana baginya, karena ia tidak menyiapkan apa pun darinya untuk akhirat. Petunjuk dan Kepemilikan Allah atas Dunia dan AkhiratAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ عَلَيْنَا لَلْهُدَىٰ“Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk.” (QS. Al-Lail: 12)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, jalan petunjuk yang lurus itu berada di bawah penjelasan dan bimbingan Kami. Jalan tersebut mengantarkan kepada Allah dan mendekatkan kepada keridaan-Nya. Adapun kesesatan adalah jalan-jalan yang tertutup dari Allah, tidak mengantarkan pelakunya kecuali kepada azab yang berat.وَإِنَّ لَنَا لَلْءَاخِرَةَ وَٱلْأُولَىٰ“dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia.” (QS. Al-Lail: 13)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, keduanya—akhirat dan dunia—adalah milik Allah dalam kekuasaan dan pengaturan, tanpa ada sekutu bagi-Nya. Maka hendaklah orang yang menginginkan sesuatu memohon hanya kepada-Nya, dan memutuskan harapannya dari makhluk. Ancaman Neraka bagi Orang yang CelakaAllah Ta’ala berfirman,فَأَنذَرْتُكُمْ نَارًا تَلَظَّىٰ“Maka, kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Lail: 14)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu neraka yang berkobar dan menyala dengan dahsyat.لَا يَصْلَىٰهَآ إِلَّا ٱلْأَشْقَى“Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka.” (QS. Al-Lail: 15)ٱلَّذِى كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ“yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman).” (QS. Al-Lail: 16)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu orang yang mendustakan kebenaran dan berpaling dari perintah. Sifat Orang Bertakwa yang SelamatAllah Ta’ala berfirman,وَسَيُجَنَّبُهَا ٱلْأَتْقَى“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu.” (QS. Al-Lail: 17)ٱلَّذِى يُؤْتِى مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ“yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya.” (QS. Al-Lail: 18)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu orang yang memberikan hartanya dengan tujuan menyucikan dirinya dan membersihkannya dari dosa dan kekurangan, dengan mengharap wajah Allah Ta‘ala. Ini menunjukkan bahwa jika infak sunnah menyebabkan ditinggalkannya kewajiban, seperti membayar utang, menafkahi yang wajib, dan semisalnya, maka hal itu tidak disyariatkan. Bahkan pemberiannya tertolak menurut banyak ulama, karena seseorang tidak dianggap menyucikan diri dengan melakukan amalan sunnah yang menyebabkan ia meninggalkan kewajiban. Ikhlas dan Tidak Mengharap Balasan dari ManusiaAllah Ta’ala berfirman,وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعْمَةٍ تُجْزَىٰٓ“padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya.” (QS. Al-Lail: 19)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, tidak ada seorang pun dari makhluk yang memiliki jasa atau nikmat atas orang yang paling bertakwa ini yang harus ia balas, kecuali ia telah membalasnya. Bahkan mungkin ia masih memiliki keutamaan atas manusia. Dengan demikian, ia menjadi hamba yang murni hanya untuk Allah, karena ia sepenuhnya tunduk kepada kebaikan-Nya saja.Adapun orang yang masih memiliki utang budi kepada manusia yang belum ia balas, maka pasti ia akan melakukan sesuatu untuk mereka yang dapat mengurangi keikhlasannya.Ayat ini, meskipun mencakup Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu—bahkan disebutkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan beliau—karena tidak ada seorang pun yang memiliki jasa kepadanya yang belum ia balas, bahkan termasuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali nikmat kerasulan yang tidak mungkin dibalas, yaitu nikmat berupa dakwah kepada agama Islam, pengajaran petunjuk, dan agama yang benar. Karena sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya memiliki karunia atas setiap manusia, suatu karunia yang tidak mungkin dibalas atau disamai. Namun ayat ini juga mencakup setiap orang yang memiliki sifat mulia ini, yaitu tidak ada lagi hak manusia yang tersisa atas dirinya, sehingga amalnya menjadi murni hanya untuk Allah Ta‘ala.إِلَّا ٱبْتِغَآءَ وَجْهِ رَبِّهِ ٱلْأَعْلَىٰ“tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi.” (QS. Al-Lail: 20)وَلَسَوْفَ يَرْضَىٰ“Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.” (QS. Al-Lail: 21)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Orang yang paling bertakwa ini akan merasa puas dengan apa yang Allah berikan kepadanya berupa berbagai kemuliaan dan pahala. Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang mengejar kemudahan dunia, tetapi lupa bahwa kemudahan sejati adalah dimudahkan dalam ketaatan. Hati yang condong pada kebaikan akan semakin mudah melakukan kebaikan, sedangkan hati yang terbiasa dengan maksiat akan semakin berat kembali kepada kebenaran. Karena itu, jagalah niat, luruskan tujuan, dan biasakan diri dengan amal saleh sekecil apa pun. Jangan menunda kebaikan, karena setiap langkah kecil bisa membuka pintu kemudahan yang besar.اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لَنَا خَيْرًاALLĀHUMMA INNĀ NAS’ALUKA AN TAJ‘ALA KULLA QAḌĀ’IN QAḌAYTAHU LANĀ KHAYRĀ“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu agar setiap ketetapan yang Engkau tetapkan untuk kami menjadi kebaikan bagi kami.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Kamis, 30 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal shalih jalan kebaikan jalan keburukan juz amma keikhlasan renungan ayat renungan quran surah al lail tafsir al lail tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir tafsir juz amma takdir dan usaha taufik dan hidayah


Surah Al-Lail menjelaskan bahwa kehidupan manusia berjalan di dua arah yang sangat berbeda: menuju kemudahan atau menuju kesulitan. Perbedaan ini ditentukan oleh iman, amal, dan tujuan hidup seseorang. Siapa yang memilih kebaikan akan dimudahkan menuju kebaikan, dan siapa yang memilih keburukan akan dimudahkan menuju keburukan.  Daftar Isi tutup 1. Sumpah Allah dengan Malam dan Siang 2. Hikmah Penciptaan Laki-Laki dan Perempuan 3. Usaha Manusia yang Berbeda-Beda 4. Ciri Orang yang Dimudahkan ke Jalan Kebaikan 5. Jalan Mudah bagi Orang yang Memilih Kebaikan 6. Ciri Orang yang Memilih Jalan Keburukan 7. Dimudahkan ke Jalan Sulit karena Pilihan Sendiri 8. Takdir dan Kemudahan Beramal 9. Harta Tidak Berguna Tanpa Amal 10. Petunjuk dan Kepemilikan Allah atas Dunia dan Akhirat 11. Ancaman Neraka bagi Orang yang Celaka 12. Sifat Orang Bertakwa yang Selamat 13. Ikhlas dan Tidak Mengharap Balasan dari Manusia 14. Nasihat Penutup  Sumpah Allah dengan Malam dan SiangAllah Ta’ala berfirman,وَٱلَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰ“Demi malam apabila menutupi (cahaya siang).” (QS. Al-Lail: 1)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Ini adalah sumpah dari Allah dengan waktu, yaitu waktu yang di dalamnya manusia melakukan berbagai aktivitas dengan keadaan yang berbeda-beda. Firman-Nya, “demi malam apabila menutupi”, maksudnya malam menyelimuti seluruh makhluk dengan kegelapannya. Ketika itu, setiap orang kembali ke tempat tinggalnya, dan manusia beristirahat dari keletihan serta kepayahan. وَٱلنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ“dan siang apabila terang benderang.” (QS. Al-Lail: 2)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Dan demi siang ketika tampak jelas bagi manusia, sehingga mereka mendapatkan cahaya dari sinarnya dan bertebaran untuk mengurus berbagai keperluan mereka. Hikmah Penciptaan Laki-Laki dan PerempuanAllah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقَ ٱلذَّكَرَ وَٱلْأُنثَىٰٓ“dan penciptaan laki-laki dan perempuan.” (QS. Al-Lail: 3)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Firman-Nya, “dan (demi) yang menciptakan laki-laki dan perempuan”, jika kata mā dimaknai sebagai kata sambung (maushulah), maka ini adalah sumpah dengan Dzat Allah yang mulia, yaitu Dia yang menciptakan laki-laki dan perempuan. Jika dimaknai sebagai kata dasar (mashdariyah), maka ini adalah sumpah dengan penciptaan laki-laki dan perempuan itu sendiri.Di antara kesempurnaan hikmah-Nya adalah bahwa Allah menciptakan dari setiap jenis makhluk hidup yang Dia kehendaki kelangsungannya, pasangan laki-laki dan perempuan, agar jenis tersebut tetap lestari dan tidak punah. Allah juga menautkan keduanya dengan dorongan syahwat, serta menjadikan masing-masing sesuai dan saling melengkapi. Maka Mahasuci Allah, sebaik-baik Pencipta. Usaha Manusia yang Berbeda-BedaAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّىٰ“sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.” (QS. Al-Lail: 4)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Ini adalah isi sumpah tersebut, yaitu bahwa usaha kalian, wahai manusia yang dibebani syariat, benar-benar berbeda dengan perbedaan yang besar. Hal ini tergantung pada jenis amal yang dilakukan, banyak atau sedikitnya, serta kesungguhan dalam melaksanakannya. Juga tergantung pada tujuan dari amal tersebut: apakah ditujukan untuk mencari wajah Allah Yang Mahatinggi dan kekal, sehingga amal itu pun kekal dan pelakunya mendapatkan manfaat darinya; ataukah tujuannya sesuatu yang fana dan akan lenyap, sehingga amal itu pun menjadi sia-sia dan hilang bersama hilangnya tujuan tersebut. Ciri Orang yang Dimudahkan ke Jalan KebaikanAllah Ta’ala berfirman,فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَٱتَّقَىٰ“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa.” (QS. Al-Lail: 5)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Allah menjelaskan keadaan orang-orang yang beramal dan menyebutkan amalan mereka. Adapun orang yang memberi, yaitu menunaikan apa yang diperintahkan berupa ibadah harta, seperti zakat, kafarat, nafkah, sedekah, dan berbagai bentuk infak di jalan kebaikan. Juga ibadah badan seperti shalat, puasa, dan yang semisalnya. Serta ibadah yang menggabungkan keduanya, seperti haji dan umrah. Dan ia bertakwa, yaitu meninggalkan apa yang dilarang berupa berbagai macam perbuatan haram dan maksiat.وَصَدَّقَ بِٱلْحُسْنَىٰ“dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga).” (QS. Al-Lail: 6)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu membenarkan kalimat lā ilāha illallāh dan apa yang dikandungnya, berupa seluruh keyakinan agama, serta apa yang menjadi konsekuensinya berupa balasan di akhirat. Jalan Mudah bagi Orang yang Memilih KebaikanAllah Ta’ala berfirman,فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْيُسْرَىٰ“maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 7)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, Kami akan memudahkan urusannya, menjadikannya dimudahkan untuk melakukan setiap kebaikan, dan dimudahkan untuk meninggalkan setiap keburukan. Karena ia telah menempuh sebab-sebab kemudahan, maka Allah pun memudahkan baginya hal tersebut.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dari ayat disimpulkan perkataan salaf berikut.وَقَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ عُقُوبَةِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا.Sebagian ulama salaf mengatakan: di antara balasan kebaikan adalah kebaikan setelahnya, dan di antara balasan keburukan adalah keburukan setelahnya. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Imam Ibnu Katsir) Ciri Orang yang Memilih Jalan KeburukanAllah Ta’ala berfirman,وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ وَٱسْتَغْنَىٰ“Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup.” (QS. Al-Lail: 8)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu orang yang kikir terhadap apa yang diperintahkan, sehingga ia meninggalkan infak yang wajib maupun yang dianjurkan, dan jiwanya tidak mau menunaikan kewajiban kepada Allah. Ia juga merasa tidak membutuhkan Allah, sehingga meninggalkan penghambaan kepada-Nya, dan tidak merasa dirinya sangat bergantung kepada Rabb-nya, padahal tidak ada keselamatan, keberuntungan, dan kesuksesan kecuali dengan menjadikan Allah sebagai yang dicintai dan disembah, yang menjadi tujuan dan tempat bergantung.وَكَذَّبَ بِٱلْحُسْنَىٰ“serta mendustakan pahala terbaik.” (QS. Al-Lail: 9)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu mendustakan apa yang Allah wajibkan untuk diimani oleh para hamba berupa keyakinan yang benar. Dimudahkan ke Jalan Sulit karena Pilihan SendiriAllah Ta’ala berfirman,فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْعُسْرَىٰ“maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (QS. Al-Lail: 10)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, menuju keadaan yang sulit dan sifat-sifat yang buruk. Ia akan dimudahkan untuk melakukan keburukan di mana pun berada, dan diserahkan kepada perbuatan maksiat. Kita memohon kepada Allah keselamatan.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan surah Al-Lail ayat 10 sebagai berikut.“maka Kami akan memudahkannya ke jalan yang sukar.” (QS. Al-Lail: 10)Artinya, menuju jalan keburukan. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:وَنُقَلِّبُ أَفْـِٔدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ“Dan Kami bolak-balikkan hati dan penglihatan mereka sebagaimana mereka tidak beriman kepadanya pada permulaan, dan Kami biarkan mereka dalam kesesatan mereka meraba-raba.” (QS. Al-An‘am: 110)Ayat-ayat dengan makna seperti ini sangat banyak, yang menunjukkan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla membalas orang yang menginginkan kebaikan dengan memberikan taufik kepadanya, dan membalas orang yang menginginkan keburukan dengan membiarkannya (tidak diberi taufik). Semua itu terjadi dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Hadits-hadits yang menunjukkan makna ini juga banyak. Takdir dan Kemudahan BeramalDi antaranya riwayat dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Ayyasy, telah menceritakan kepadaku Al-‘Aththaf bin Khalid, telah menceritakan kepadaku seorang laki-laki dari penduduk Bashrah, dari Thalhah bin ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman bin Abi Bakar Ash-Shiddiq, dari ayahnya, ia berkata: aku mendengar ayahku menyebutkan bahwa ayahnya mendengar Abu Bakar berkata:Aku berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, apakah kita beramal berdasarkan sesuatu yang telah ditetapkan atau berdasarkan sesuatu yang baru dimulai?”Beliau bersabda:بَلْ عَلَىٰ أَمْرٍ قَدْ فُرِغَ مِنْهُ“Bahkan berdasarkan sesuatu yang telah ditetapkan.”Aku bertanya lagi, “Lalu untuk apa kita beramal, wahai Rasulullah?”Beliau bersabda:كُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ“Setiap orang akan dimudahkan untuk (jalan) yang ia diciptakan untuknya.”Riwayat dari Ali radhiyallahu ‘anhu:Imam Al-Bukhari berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Nu‘aim, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-A‘mash, dari Sa‘d bin ‘Ubaidah, dari Abu ‘Abdurrahman As-Sulami, dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata:Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Baqi‘ Al-Gharqad dalam suatu pemakaman. Lalu beliau bersabda:مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَمَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ“Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali telah ditetapkan tempat duduknya di surga dan tempat duduknya di neraka.”Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita tidak bersandar saja (kepada takdir)?”Beliau bersabda:اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ“Beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan untuk (jalan) yang ia diciptakan untuknya.”Kemudian beliau membaca:فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ“Sementara orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, serta membenarkan (pahala) yang terbaik (surga), maka Kami akan memudahkannya ke jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 5–7)sampai firman-Nya:لِلْعُسْرَىٰ“(ke jalan) yang sukar.” (QS. Al-Lail: 10)Hadis ini juga diriwayatkan melalui jalur Syu‘bah dan Waki‘ dari Al-A‘mash dengan makna yang serupa.Kemudian diriwayatkan pula dari ‘Utsman bin Abi Syaibah, dari Jarir, dari Manshur, dari Sa‘d bin ‘Ubaidah, dari Abu ‘Abdurrahman, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:Kami berada dalam suatu pemakaman di Baqi‘ Al-Gharqad. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, kemudian duduk, dan kami pun duduk di sekeliling beliau. Di tangan beliau ada tongkat kecil, lalu beliau menundukkan kepala dan menggoreskan tongkatnya ke tanah. Kemudian beliau bersabda:مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ – أَوْ مَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوسَةٍ – إِلَّا كُتِبَ مَكَانُهَا مِنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، وَإِلَّا قَدْ كُتِبَتْ شَقِيَّةً أَوْ سَعِيدَةً“Tidak ada seorang pun di antara kalian—atau tidak ada satu jiwa pun—kecuali telah ditetapkan tempatnya di surga atau di neraka, dan telah ditetapkan apakah ia celaka atau bahagia.”Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita tidak bersandar saja dan meninggalkan amal? Jika kami termasuk orang yang bahagia, kami akan menuju kepada kebahagiaan, dan jika kami termasuk orang yang celaka, kami akan menuju kepada kecelakaan.”Beliau bersabda:أَمَّا أَهْلُ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ، وَأَمَّا أَهْلُ الشَّقَاوَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ“Adapun orang-orang yang bahagia, mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang yang bahagia. Dan adapun orang-orang yang celaka, mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang yang celaka.”Kemudian beliau membaca:فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ“Maka barang siapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, serta membenarkan (pahala) yang terbaik (surga), maka Kami akan memudahkannya ke jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 5–7) Harta Tidak Berguna Tanpa AmalAllah Ta’ala berfirman,وَمَا يُغْنِى عَنْهُ مَالُهُۥٓ إِذَا تَرَدَّىٰٓ“Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.” (QS. Al-Lail: 11)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Dan tidaklah berguna baginya harta yang membuatnya melampaui batas, yang membuatnya merasa cukup, serta yang ia tahan (tidak ia infakkan), ketika ia telah binasa dan mati. Karena yang menyertainya hanyalah amal salehnya. Adapun hartanya yang tidak ia keluarkan kewajibannya, maka itu akan menjadi bencana baginya, karena ia tidak menyiapkan apa pun darinya untuk akhirat. Petunjuk dan Kepemilikan Allah atas Dunia dan AkhiratAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ عَلَيْنَا لَلْهُدَىٰ“Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk.” (QS. Al-Lail: 12)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, jalan petunjuk yang lurus itu berada di bawah penjelasan dan bimbingan Kami. Jalan tersebut mengantarkan kepada Allah dan mendekatkan kepada keridaan-Nya. Adapun kesesatan adalah jalan-jalan yang tertutup dari Allah, tidak mengantarkan pelakunya kecuali kepada azab yang berat.وَإِنَّ لَنَا لَلْءَاخِرَةَ وَٱلْأُولَىٰ“dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia.” (QS. Al-Lail: 13)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, keduanya—akhirat dan dunia—adalah milik Allah dalam kekuasaan dan pengaturan, tanpa ada sekutu bagi-Nya. Maka hendaklah orang yang menginginkan sesuatu memohon hanya kepada-Nya, dan memutuskan harapannya dari makhluk. Ancaman Neraka bagi Orang yang CelakaAllah Ta’ala berfirman,فَأَنذَرْتُكُمْ نَارًا تَلَظَّىٰ“Maka, kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Lail: 14)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu neraka yang berkobar dan menyala dengan dahsyat.لَا يَصْلَىٰهَآ إِلَّا ٱلْأَشْقَى“Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka.” (QS. Al-Lail: 15)ٱلَّذِى كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ“yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman).” (QS. Al-Lail: 16)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu orang yang mendustakan kebenaran dan berpaling dari perintah. Sifat Orang Bertakwa yang SelamatAllah Ta’ala berfirman,وَسَيُجَنَّبُهَا ٱلْأَتْقَى“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu.” (QS. Al-Lail: 17)ٱلَّذِى يُؤْتِى مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ“yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya.” (QS. Al-Lail: 18)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu orang yang memberikan hartanya dengan tujuan menyucikan dirinya dan membersihkannya dari dosa dan kekurangan, dengan mengharap wajah Allah Ta‘ala. Ini menunjukkan bahwa jika infak sunnah menyebabkan ditinggalkannya kewajiban, seperti membayar utang, menafkahi yang wajib, dan semisalnya, maka hal itu tidak disyariatkan. Bahkan pemberiannya tertolak menurut banyak ulama, karena seseorang tidak dianggap menyucikan diri dengan melakukan amalan sunnah yang menyebabkan ia meninggalkan kewajiban. Ikhlas dan Tidak Mengharap Balasan dari ManusiaAllah Ta’ala berfirman,وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعْمَةٍ تُجْزَىٰٓ“padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya.” (QS. Al-Lail: 19)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, tidak ada seorang pun dari makhluk yang memiliki jasa atau nikmat atas orang yang paling bertakwa ini yang harus ia balas, kecuali ia telah membalasnya. Bahkan mungkin ia masih memiliki keutamaan atas manusia. Dengan demikian, ia menjadi hamba yang murni hanya untuk Allah, karena ia sepenuhnya tunduk kepada kebaikan-Nya saja.Adapun orang yang masih memiliki utang budi kepada manusia yang belum ia balas, maka pasti ia akan melakukan sesuatu untuk mereka yang dapat mengurangi keikhlasannya.Ayat ini, meskipun mencakup Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu—bahkan disebutkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan beliau—karena tidak ada seorang pun yang memiliki jasa kepadanya yang belum ia balas, bahkan termasuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali nikmat kerasulan yang tidak mungkin dibalas, yaitu nikmat berupa dakwah kepada agama Islam, pengajaran petunjuk, dan agama yang benar. Karena sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya memiliki karunia atas setiap manusia, suatu karunia yang tidak mungkin dibalas atau disamai. Namun ayat ini juga mencakup setiap orang yang memiliki sifat mulia ini, yaitu tidak ada lagi hak manusia yang tersisa atas dirinya, sehingga amalnya menjadi murni hanya untuk Allah Ta‘ala.إِلَّا ٱبْتِغَآءَ وَجْهِ رَبِّهِ ٱلْأَعْلَىٰ“tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi.” (QS. Al-Lail: 20)وَلَسَوْفَ يَرْضَىٰ“Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.” (QS. Al-Lail: 21)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Orang yang paling bertakwa ini akan merasa puas dengan apa yang Allah berikan kepadanya berupa berbagai kemuliaan dan pahala. Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang mengejar kemudahan dunia, tetapi lupa bahwa kemudahan sejati adalah dimudahkan dalam ketaatan. Hati yang condong pada kebaikan akan semakin mudah melakukan kebaikan, sedangkan hati yang terbiasa dengan maksiat akan semakin berat kembali kepada kebenaran. Karena itu, jagalah niat, luruskan tujuan, dan biasakan diri dengan amal saleh sekecil apa pun. Jangan menunda kebaikan, karena setiap langkah kecil bisa membuka pintu kemudahan yang besar.اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لَنَا خَيْرًاALLĀHUMMA INNĀ NAS’ALUKA AN TAJ‘ALA KULLA QAḌĀ’IN QAḌAYTAHU LANĀ KHAYRĀ“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu agar setiap ketetapan yang Engkau tetapkan untuk kami menjadi kebaikan bagi kami.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Kamis, 30 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal shalih jalan kebaikan jalan keburukan juz amma keikhlasan renungan ayat renungan quran surah al lail tafsir al lail tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir tafsir juz amma takdir dan usaha taufik dan hidayah

Ngeri! Inilah Siksaan Mengerikan Bagi Tukang Hoaks di Alam Barzakh – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

https://youtu.be/wybMEd9Ivro Musa bin Ismail meriwayatkan kepada kami, dari Jarir, dari Abu Raja’, dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku melihat dua orang lelaki datang kepadaku.”Kedua orang itu berkata kepadaku: ‘Orang yang kamu lihat sedang dirobek mulutnya hingga ke tengkuknya itu adalah seorang pendusta. Ia melakukan suatu kedustaan, lalu kedustaan itu disebarluaskan darinya hingga mencapai pelosok dunia. Maka ia pun disiksa seperti itu (di alam barzakh) hingga hari kiamat.’” (HR. Bukhari). Kisah ini terdapat dalam hadis riwayat Samurah, yang disebutkan penulis secara lengkap di bagian lain. Rasulullah bersabda: “Ada dua sosok yang mendatangi aku malam ini, lalu mereka berkata: ‘Berangkatlah! Berangkatlah!’” Lalu Nabi menyaksikan berbagai hal yang menakjubkan dan asing. Di antara yang beliau lihat, sebagaimana sabda beliau: “Aku melihat dua orang yang datang,” yakni dua sosok yang berkata kepada beliau: “Berangkatlah! Berangkatlah!” Lalu beliau melihat seseorang yang mulutnya dirobek. Maksudnya, mulut orang tersebut dirobek dari sudut bibir hingga ke sisi pipinya secara terus-menerus. Kemudian sosok tersebut menjelaskan bahwa itu adalah orang yang sering berbohong, lalu kebohongan itu disebarkan darinya hingga ke penjuru dunia. Yakni, ia sengaja menyebarkan desas-desus atau hoaks di tengah masyarakat. Itulah bentuk hukuman yang ia terima. Bahwa mulutnya akan terus dirobek, hingga robekannya mencapai lubang hidungnya. Ia disiksa seperti itu terus. Setiap kali lukanya sembuh, disiksa lagi seperti itu. Ini adalah ancaman keras bagi orang yang suka menebar hoaks. Dan betapa banyaknya pelaku perbuatan ini pada zaman kita sekarang. Mereka menyebarkan berita bohong di tengah masyarakat. Siapa saja yang berbohong lalu kebohongannya disebarkan hingga ke ufuk dunia, maka ia telah melakukan hal yang sangat keji dan termasuk dosa besar. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan hukuman beratnya dalam hadis ini, bahwa ia akan terus menerima siksaan tersebut hingga hari kiamat. ===== حَدَّثَنَا مُوسَى ابْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ حَدَّثَنَا أَبُو رَجَاءٍ عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِ قَالَ الَّذِي رَأَيْتَهُ يَشُقُّ شِدْقَيْهِ فَكَذَّابٌ يَكْذِبُ يَكْذِبُ بِالْكِذْبَةِ تُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ فَيُصْنَعُ بِهِ إِلى يَوْمِ الْقِيَامَةِ هَذَا جَاءَ فِي حَدِيثِ سَمُرَةَ سَاقَهُ الْمُصَنِّفُ بِطُولِهِ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ قَالَ إِنَّهُ أَتَانِي اللَّيْلَ أَتَيَانِ وَإِنَّهُمَا قَالَا لِي انْطَلِقِ انْطَلِقْ فَرَأَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجَائِبَ وَغَرَائِبَ وَكَانَ مِمَّا رَأَى قَالَ رَأَيْتُ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِ يَعْنِي هَذَا الرَّجُلَ الَّذِي قَالَ انْطَلِقِ انْطَلِقْ فَرَأَى رَجُلًا قَالَ يُشَقُّ شِدْقُهُ يَعْنِي يُشَقُّ شِدْقُهُ مِنْ فَمِهِ إِلَى جَانِبِهِ يُشَقُّ شَقًّا ثُمَّ أَخْبَرَ بِأَنَّ هَذَا الرَّجُلَ هُوَ الَّذِي يَكْذِبُ الْكِذْبَةَ تُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ يَعْنِي يُطْلِقُ الشَّائِعَاتِ فِي الْمُجْتَمَعِ هُوَ يُطْلِقُ الشَّائِعَاتِ فِي الْمُجْتَمَعِ فَيَكُونُ هَذَا هُوَ عِقَابُهُ أَنَّهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ حَتَّى يَصِلَ إِلَى مَنْخِرَيْهِ وَيُفْعَلُ بِهِ هَكَذَا مَا إِنْ يَصِحُّ إِلَّا وَيُعَادُ مَرَّةً أُخْرَى وَهَذَا وَعِيدٌ شَدِيدٌ فِي حَقِّ الَّذِينَ يُطْلِقُونَ الشَّائِعَاتِ وَمَا أَكْثَرَهُمْ فِي وَقْتِنَا الْحَاضِرِ يُطْلِقُونَ الشَّائِعَاتِ الْكَاذِبَةَ فِي الْمُجْتَمَعِ فَهَذَا الَّذِي يَكْذِبُ الْكِذْبَةَ تُحْمَلُ عَنْهُ وَتَبْلُغُ الْآفَاقَ هَذَا قَدْ ارْتَكَبَ أَمْرًا فَظِيعًا وَمِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ وَلِذَلِكَ أَخْبَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعُقُوبَتِهِ الشَّدِيدَةِ فِي هَذَا الْحَدِيثِ وَأَنَّهُ يَسْتَمِرُّ عَلَى هَذِهِ الْعُقُوبَةِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Ngeri! Inilah Siksaan Mengerikan Bagi Tukang Hoaks di Alam Barzakh – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

https://youtu.be/wybMEd9Ivro Musa bin Ismail meriwayatkan kepada kami, dari Jarir, dari Abu Raja’, dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku melihat dua orang lelaki datang kepadaku.”Kedua orang itu berkata kepadaku: ‘Orang yang kamu lihat sedang dirobek mulutnya hingga ke tengkuknya itu adalah seorang pendusta. Ia melakukan suatu kedustaan, lalu kedustaan itu disebarluaskan darinya hingga mencapai pelosok dunia. Maka ia pun disiksa seperti itu (di alam barzakh) hingga hari kiamat.’” (HR. Bukhari). Kisah ini terdapat dalam hadis riwayat Samurah, yang disebutkan penulis secara lengkap di bagian lain. Rasulullah bersabda: “Ada dua sosok yang mendatangi aku malam ini, lalu mereka berkata: ‘Berangkatlah! Berangkatlah!’” Lalu Nabi menyaksikan berbagai hal yang menakjubkan dan asing. Di antara yang beliau lihat, sebagaimana sabda beliau: “Aku melihat dua orang yang datang,” yakni dua sosok yang berkata kepada beliau: “Berangkatlah! Berangkatlah!” Lalu beliau melihat seseorang yang mulutnya dirobek. Maksudnya, mulut orang tersebut dirobek dari sudut bibir hingga ke sisi pipinya secara terus-menerus. Kemudian sosok tersebut menjelaskan bahwa itu adalah orang yang sering berbohong, lalu kebohongan itu disebarkan darinya hingga ke penjuru dunia. Yakni, ia sengaja menyebarkan desas-desus atau hoaks di tengah masyarakat. Itulah bentuk hukuman yang ia terima. Bahwa mulutnya akan terus dirobek, hingga robekannya mencapai lubang hidungnya. Ia disiksa seperti itu terus. Setiap kali lukanya sembuh, disiksa lagi seperti itu. Ini adalah ancaman keras bagi orang yang suka menebar hoaks. Dan betapa banyaknya pelaku perbuatan ini pada zaman kita sekarang. Mereka menyebarkan berita bohong di tengah masyarakat. Siapa saja yang berbohong lalu kebohongannya disebarkan hingga ke ufuk dunia, maka ia telah melakukan hal yang sangat keji dan termasuk dosa besar. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan hukuman beratnya dalam hadis ini, bahwa ia akan terus menerima siksaan tersebut hingga hari kiamat. ===== حَدَّثَنَا مُوسَى ابْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ حَدَّثَنَا أَبُو رَجَاءٍ عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِ قَالَ الَّذِي رَأَيْتَهُ يَشُقُّ شِدْقَيْهِ فَكَذَّابٌ يَكْذِبُ يَكْذِبُ بِالْكِذْبَةِ تُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ فَيُصْنَعُ بِهِ إِلى يَوْمِ الْقِيَامَةِ هَذَا جَاءَ فِي حَدِيثِ سَمُرَةَ سَاقَهُ الْمُصَنِّفُ بِطُولِهِ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ قَالَ إِنَّهُ أَتَانِي اللَّيْلَ أَتَيَانِ وَإِنَّهُمَا قَالَا لِي انْطَلِقِ انْطَلِقْ فَرَأَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجَائِبَ وَغَرَائِبَ وَكَانَ مِمَّا رَأَى قَالَ رَأَيْتُ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِ يَعْنِي هَذَا الرَّجُلَ الَّذِي قَالَ انْطَلِقِ انْطَلِقْ فَرَأَى رَجُلًا قَالَ يُشَقُّ شِدْقُهُ يَعْنِي يُشَقُّ شِدْقُهُ مِنْ فَمِهِ إِلَى جَانِبِهِ يُشَقُّ شَقًّا ثُمَّ أَخْبَرَ بِأَنَّ هَذَا الرَّجُلَ هُوَ الَّذِي يَكْذِبُ الْكِذْبَةَ تُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ يَعْنِي يُطْلِقُ الشَّائِعَاتِ فِي الْمُجْتَمَعِ هُوَ يُطْلِقُ الشَّائِعَاتِ فِي الْمُجْتَمَعِ فَيَكُونُ هَذَا هُوَ عِقَابُهُ أَنَّهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ حَتَّى يَصِلَ إِلَى مَنْخِرَيْهِ وَيُفْعَلُ بِهِ هَكَذَا مَا إِنْ يَصِحُّ إِلَّا وَيُعَادُ مَرَّةً أُخْرَى وَهَذَا وَعِيدٌ شَدِيدٌ فِي حَقِّ الَّذِينَ يُطْلِقُونَ الشَّائِعَاتِ وَمَا أَكْثَرَهُمْ فِي وَقْتِنَا الْحَاضِرِ يُطْلِقُونَ الشَّائِعَاتِ الْكَاذِبَةَ فِي الْمُجْتَمَعِ فَهَذَا الَّذِي يَكْذِبُ الْكِذْبَةَ تُحْمَلُ عَنْهُ وَتَبْلُغُ الْآفَاقَ هَذَا قَدْ ارْتَكَبَ أَمْرًا فَظِيعًا وَمِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ وَلِذَلِكَ أَخْبَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعُقُوبَتِهِ الشَّدِيدَةِ فِي هَذَا الْحَدِيثِ وَأَنَّهُ يَسْتَمِرُّ عَلَى هَذِهِ الْعُقُوبَةِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
https://youtu.be/wybMEd9Ivro Musa bin Ismail meriwayatkan kepada kami, dari Jarir, dari Abu Raja’, dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku melihat dua orang lelaki datang kepadaku.”Kedua orang itu berkata kepadaku: ‘Orang yang kamu lihat sedang dirobek mulutnya hingga ke tengkuknya itu adalah seorang pendusta. Ia melakukan suatu kedustaan, lalu kedustaan itu disebarluaskan darinya hingga mencapai pelosok dunia. Maka ia pun disiksa seperti itu (di alam barzakh) hingga hari kiamat.’” (HR. Bukhari). Kisah ini terdapat dalam hadis riwayat Samurah, yang disebutkan penulis secara lengkap di bagian lain. Rasulullah bersabda: “Ada dua sosok yang mendatangi aku malam ini, lalu mereka berkata: ‘Berangkatlah! Berangkatlah!’” Lalu Nabi menyaksikan berbagai hal yang menakjubkan dan asing. Di antara yang beliau lihat, sebagaimana sabda beliau: “Aku melihat dua orang yang datang,” yakni dua sosok yang berkata kepada beliau: “Berangkatlah! Berangkatlah!” Lalu beliau melihat seseorang yang mulutnya dirobek. Maksudnya, mulut orang tersebut dirobek dari sudut bibir hingga ke sisi pipinya secara terus-menerus. Kemudian sosok tersebut menjelaskan bahwa itu adalah orang yang sering berbohong, lalu kebohongan itu disebarkan darinya hingga ke penjuru dunia. Yakni, ia sengaja menyebarkan desas-desus atau hoaks di tengah masyarakat. Itulah bentuk hukuman yang ia terima. Bahwa mulutnya akan terus dirobek, hingga robekannya mencapai lubang hidungnya. Ia disiksa seperti itu terus. Setiap kali lukanya sembuh, disiksa lagi seperti itu. Ini adalah ancaman keras bagi orang yang suka menebar hoaks. Dan betapa banyaknya pelaku perbuatan ini pada zaman kita sekarang. Mereka menyebarkan berita bohong di tengah masyarakat. Siapa saja yang berbohong lalu kebohongannya disebarkan hingga ke ufuk dunia, maka ia telah melakukan hal yang sangat keji dan termasuk dosa besar. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan hukuman beratnya dalam hadis ini, bahwa ia akan terus menerima siksaan tersebut hingga hari kiamat. ===== حَدَّثَنَا مُوسَى ابْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ حَدَّثَنَا أَبُو رَجَاءٍ عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِ قَالَ الَّذِي رَأَيْتَهُ يَشُقُّ شِدْقَيْهِ فَكَذَّابٌ يَكْذِبُ يَكْذِبُ بِالْكِذْبَةِ تُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ فَيُصْنَعُ بِهِ إِلى يَوْمِ الْقِيَامَةِ هَذَا جَاءَ فِي حَدِيثِ سَمُرَةَ سَاقَهُ الْمُصَنِّفُ بِطُولِهِ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ قَالَ إِنَّهُ أَتَانِي اللَّيْلَ أَتَيَانِ وَإِنَّهُمَا قَالَا لِي انْطَلِقِ انْطَلِقْ فَرَأَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجَائِبَ وَغَرَائِبَ وَكَانَ مِمَّا رَأَى قَالَ رَأَيْتُ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِ يَعْنِي هَذَا الرَّجُلَ الَّذِي قَالَ انْطَلِقِ انْطَلِقْ فَرَأَى رَجُلًا قَالَ يُشَقُّ شِدْقُهُ يَعْنِي يُشَقُّ شِدْقُهُ مِنْ فَمِهِ إِلَى جَانِبِهِ يُشَقُّ شَقًّا ثُمَّ أَخْبَرَ بِأَنَّ هَذَا الرَّجُلَ هُوَ الَّذِي يَكْذِبُ الْكِذْبَةَ تُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ يَعْنِي يُطْلِقُ الشَّائِعَاتِ فِي الْمُجْتَمَعِ هُوَ يُطْلِقُ الشَّائِعَاتِ فِي الْمُجْتَمَعِ فَيَكُونُ هَذَا هُوَ عِقَابُهُ أَنَّهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ حَتَّى يَصِلَ إِلَى مَنْخِرَيْهِ وَيُفْعَلُ بِهِ هَكَذَا مَا إِنْ يَصِحُّ إِلَّا وَيُعَادُ مَرَّةً أُخْرَى وَهَذَا وَعِيدٌ شَدِيدٌ فِي حَقِّ الَّذِينَ يُطْلِقُونَ الشَّائِعَاتِ وَمَا أَكْثَرَهُمْ فِي وَقْتِنَا الْحَاضِرِ يُطْلِقُونَ الشَّائِعَاتِ الْكَاذِبَةَ فِي الْمُجْتَمَعِ فَهَذَا الَّذِي يَكْذِبُ الْكِذْبَةَ تُحْمَلُ عَنْهُ وَتَبْلُغُ الْآفَاقَ هَذَا قَدْ ارْتَكَبَ أَمْرًا فَظِيعًا وَمِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ وَلِذَلِكَ أَخْبَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعُقُوبَتِهِ الشَّدِيدَةِ فِي هَذَا الْحَدِيثِ وَأَنَّهُ يَسْتَمِرُّ عَلَى هَذِهِ الْعُقُوبَةِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ


https://youtu.be/wybMEd9Ivro Musa bin Ismail meriwayatkan kepada kami, dari Jarir, dari Abu Raja’, dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku melihat dua orang lelaki datang kepadaku.”Kedua orang itu berkata kepadaku: ‘Orang yang kamu lihat sedang dirobek mulutnya hingga ke tengkuknya itu adalah seorang pendusta. Ia melakukan suatu kedustaan, lalu kedustaan itu disebarluaskan darinya hingga mencapai pelosok dunia. Maka ia pun disiksa seperti itu (di alam barzakh) hingga hari kiamat.’” (HR. Bukhari). Kisah ini terdapat dalam hadis riwayat Samurah, yang disebutkan penulis secara lengkap di bagian lain. Rasulullah bersabda: “Ada dua sosok yang mendatangi aku malam ini, lalu mereka berkata: ‘Berangkatlah! Berangkatlah!’” Lalu Nabi menyaksikan berbagai hal yang menakjubkan dan asing. Di antara yang beliau lihat, sebagaimana sabda beliau: “Aku melihat dua orang yang datang,” yakni dua sosok yang berkata kepada beliau: “Berangkatlah! Berangkatlah!” Lalu beliau melihat seseorang yang mulutnya dirobek. Maksudnya, mulut orang tersebut dirobek dari sudut bibir hingga ke sisi pipinya secara terus-menerus. Kemudian sosok tersebut menjelaskan bahwa itu adalah orang yang sering berbohong, lalu kebohongan itu disebarkan darinya hingga ke penjuru dunia. Yakni, ia sengaja menyebarkan desas-desus atau hoaks di tengah masyarakat. Itulah bentuk hukuman yang ia terima. Bahwa mulutnya akan terus dirobek, hingga robekannya mencapai lubang hidungnya. Ia disiksa seperti itu terus. Setiap kali lukanya sembuh, disiksa lagi seperti itu. Ini adalah ancaman keras bagi orang yang suka menebar hoaks. Dan betapa banyaknya pelaku perbuatan ini pada zaman kita sekarang. Mereka menyebarkan berita bohong di tengah masyarakat. Siapa saja yang berbohong lalu kebohongannya disebarkan hingga ke ufuk dunia, maka ia telah melakukan hal yang sangat keji dan termasuk dosa besar. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan hukuman beratnya dalam hadis ini, bahwa ia akan terus menerima siksaan tersebut hingga hari kiamat. ===== حَدَّثَنَا مُوسَى ابْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ حَدَّثَنَا أَبُو رَجَاءٍ عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِ قَالَ الَّذِي رَأَيْتَهُ يَشُقُّ شِدْقَيْهِ فَكَذَّابٌ يَكْذِبُ يَكْذِبُ بِالْكِذْبَةِ تُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ فَيُصْنَعُ بِهِ إِلى يَوْمِ الْقِيَامَةِ هَذَا جَاءَ فِي حَدِيثِ سَمُرَةَ سَاقَهُ الْمُصَنِّفُ بِطُولِهِ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ قَالَ إِنَّهُ أَتَانِي اللَّيْلَ أَتَيَانِ وَإِنَّهُمَا قَالَا لِي انْطَلِقِ انْطَلِقْ فَرَأَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجَائِبَ وَغَرَائِبَ وَكَانَ مِمَّا رَأَى قَالَ رَأَيْتُ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِ يَعْنِي هَذَا الرَّجُلَ الَّذِي قَالَ انْطَلِقِ انْطَلِقْ فَرَأَى رَجُلًا قَالَ يُشَقُّ شِدْقُهُ يَعْنِي يُشَقُّ شِدْقُهُ مِنْ فَمِهِ إِلَى جَانِبِهِ يُشَقُّ شَقًّا ثُمَّ أَخْبَرَ بِأَنَّ هَذَا الرَّجُلَ هُوَ الَّذِي يَكْذِبُ الْكِذْبَةَ تُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ يَعْنِي يُطْلِقُ الشَّائِعَاتِ فِي الْمُجْتَمَعِ هُوَ يُطْلِقُ الشَّائِعَاتِ فِي الْمُجْتَمَعِ فَيَكُونُ هَذَا هُوَ عِقَابُهُ أَنَّهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ حَتَّى يَصِلَ إِلَى مَنْخِرَيْهِ وَيُفْعَلُ بِهِ هَكَذَا مَا إِنْ يَصِحُّ إِلَّا وَيُعَادُ مَرَّةً أُخْرَى وَهَذَا وَعِيدٌ شَدِيدٌ فِي حَقِّ الَّذِينَ يُطْلِقُونَ الشَّائِعَاتِ وَمَا أَكْثَرَهُمْ فِي وَقْتِنَا الْحَاضِرِ يُطْلِقُونَ الشَّائِعَاتِ الْكَاذِبَةَ فِي الْمُجْتَمَعِ فَهَذَا الَّذِي يَكْذِبُ الْكِذْبَةَ تُحْمَلُ عَنْهُ وَتَبْلُغُ الْآفَاقَ هَذَا قَدْ ارْتَكَبَ أَمْرًا فَظِيعًا وَمِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ وَلِذَلِكَ أَخْبَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعُقُوبَتِهِ الشَّدِيدَةِ فِي هَذَا الْحَدِيثِ وَأَنَّهُ يَسْتَمِرُّ عَلَى هَذِهِ الْعُقُوبَةِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Fatwa Ulama: Hukum Orang yang Berpindah ke Negeri dengan Pengurangan atau Penambahan Puasa

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Apa hukum seseorang yang berpuasa hari pertama Ramadan di negerinya, lalu ia berada di hari kedua di negeri yang ia tuju, dan penduduk negeri tersebut berpuasa dua puluh sembilan hari (29 hari), sementara ia hanya berpuasa dua puluh delapan hari (28 hari)? Apakah ia tetap berpuasa pada hari ketika penduduk negeri tempat ia berada berbuka, ataukah ia berbuka bersama mereka lalu mengqadha sisa puasanya? Lalu bagaimana hukum orang yang mengalami sebaliknya, di mana ia berpuasa di negerinya sehari sebelum negeri yang ia tuju, lalu apa yang harus ia lakukan jika penduduk negeri tersebut berpuasa tiga puluh hari (30 hari)? Apakah ia harus berpuasa tiga puluh satu hari (31 hari)? Mohon berikan penjelasan kepada kami.Jazakumullahu khairan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, juga kepada keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’du.Hukum asalnya, seorang muslim berpuasa dan berbuka bersama jemaah, kebanyakan umat Islam, dan pemimpin mereka di mana pun ia berada, baik bersama penduduk negerinya sendiri maupun bersama penduduk negeri lain. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ“Puasa adalah pada hari kalian semua berpuasa; berbuka (berhari raya) adalah pada hari kalian semua berhari raya; dan Idul Adha adalah pada hari kalian semua berkurban.” [1]Makna tentang wajibnya puasa dan berbuka bersama jemaah dalam hadis inilah yang dijadikan hujah (dalil) oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha terhadap Masruq ketika ia enggan berpuasa pada hari Arafah karena khawatir hari tersebut adalah hari Nahr (Idul Adha). Masruq berkata,“Aku menemui Aisyah pada hari Arafah, lalu ia berkata, ‘Berilah minum Masruq dengan sawiq (minuman dari gandum/tepung) dan perbanyaklah campuran manisnya.'” Masruq berkata, “Aku pun berkata, ‘Sungguh, tidak ada yang menghalangiku untuk berpuasa hari ini selain aku khawatir hari ini adalah hari Nahr.’ Maka Aisyah berkata, ‘Hari Nahr adalah pada saat manusia (semua) berkurban, dan hari berbuka (Idul Fitri) adalah pada saat manusia (semua) berbuka’.” [2]Dari penjelasan ini, bisa dipahami bahwa dalam ibadah yang dilakukan bersama-sama (berjemaah), seperti puasa Ramadan, berbuka puasa, berkurban, dan merayakan hari raya, serta ibadah sejenisnya, pendapat atau keinginan pribadi tidak bisa dijadikan patokan. Mereka tidak boleh melakukannya sendiri-sendiri (menyendiri), dan tidak boleh pula mengikuti jemaah lain selain jemaah (masyarakat) yang ada di tengah-tengah mereka. Sebaliknya, urusan ibadah ini, baik puasa maupun berbuka, harus mengikuti pemimpin (imam) dan jemaah setempat tempat mereka berada.Jika ketentuan ini harus ia ikuti, maka: Apabila ia berbuka (hanya) kurang dari dua puluh sembilan hari bersama negeri tempat ia pindah, maka ia wajib mengqadha setelahnya apa yang kurang dari puasanya. Hal ini karena bulan qamariyah (Hijriah) tidak kurang dari dua puluh sembilan hari dan tidak lebih dari tiga puluh hari, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسُبُ، الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا“Sesungguhnya kita adalah umat yang ummi (tidak menulis dan berhitung). Bulan itu sekian dan sekian (kadang 29 dan kadang 30).” [3]Demikian pula, jika ia telah menyelesaikan puasa tiga puluh hari, lalu ia pindah ke negeri yang penduduknya masih berpuasa sehari atau lebih, maka ia wajib menyesuaikan diri dengan mereka dalam puasanya. Adapun kelebihan puasanya (dari 30 hari) menjadi puasa sunah baginya. Sebagaimana ia juga wajib menyesuaikan diri dengan mereka dalam berbuka dan merayakan Id, demi mewujudkan tujuan syariat dalam mempersatukan umat Islam dan menyatukan mereka dalam melaksanakan syiar-syiar keagamaan, serta menjauhkan mereka dari segala hal yang dapat memecah belah barisan dan mencerai-beraikan persatuan mereka. Sesungguhnya,يَد اللهِ مَعَ الجَمَاعَةِ“Tangan Allah bersama jemaah.” [4]Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat.***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Sumber: https://www.ferkous.app/home/index.php?q=fatwa-500Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab “Ash-Shaum”, bab “Jika Suatu Kaum Keliru dalam Melihat Hilal” (no. 2324); At-Tirmidzi dalam kitab “Ash-Shaum” (3: 80), bab “Mengenai Bahwa Hari Berbuka adalah Saat Manusia Berbuka dan Hari Kurban adalah Saat Manusia Berkurban” (no. 697); Ibnu Majah dalam kitab “Ash-Shiyam” (1: 531), bab “Mengenai Dua Bulan Hari Raya” (no. 1660), dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini disahihkan oleh Al-Albani dalam “Silsilah Ash-Shahihah” (1: 45) no. (224), dan juga oleh Al-Arna’uth dalam tahqiq-nya terhadap kitab “Syarh As-Sunnah” karya Al-Baghawi (6: 248).[2] Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi (no. 8209). Al-Albani menilai sanadnya baik (jayyid) dalam kitabnya “Silsilah Ash-Shahihah” (1/1/442).[3] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab “Ash-Shaum” (4: 126), bab “Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Kita tidak bisa menulis dan tidak bisa berhitung'” (no. 1913); Muslim dalam kitab “Ash-Shiyam” (7: 192), bab “Wajibnya Puasa Ramadan karena Melihat Hilal dan Berbuka karena Melihat Hilal; dan Apabila Mendung di Awal atau Akhir Bulan, Maka Sempurnakanlah Hitungan Bulan Menjadi Tiga Puluh Hari” (no. 1080); dan Al-Baghawi dalam “Syarh As-Sunnah” (6/228), dari hadis Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma.[4] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam kitab “Al-Fitan”, bab “Mengenai Kewajiban Berpegang Teguh dengan Jemaah” (no. 2166), dari hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hadis ini disahihkan oleh Al-Albani dalam “Shahih Al-Jami'” (no. 8065).

Fatwa Ulama: Hukum Orang yang Berpindah ke Negeri dengan Pengurangan atau Penambahan Puasa

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Apa hukum seseorang yang berpuasa hari pertama Ramadan di negerinya, lalu ia berada di hari kedua di negeri yang ia tuju, dan penduduk negeri tersebut berpuasa dua puluh sembilan hari (29 hari), sementara ia hanya berpuasa dua puluh delapan hari (28 hari)? Apakah ia tetap berpuasa pada hari ketika penduduk negeri tempat ia berada berbuka, ataukah ia berbuka bersama mereka lalu mengqadha sisa puasanya? Lalu bagaimana hukum orang yang mengalami sebaliknya, di mana ia berpuasa di negerinya sehari sebelum negeri yang ia tuju, lalu apa yang harus ia lakukan jika penduduk negeri tersebut berpuasa tiga puluh hari (30 hari)? Apakah ia harus berpuasa tiga puluh satu hari (31 hari)? Mohon berikan penjelasan kepada kami.Jazakumullahu khairan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, juga kepada keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’du.Hukum asalnya, seorang muslim berpuasa dan berbuka bersama jemaah, kebanyakan umat Islam, dan pemimpin mereka di mana pun ia berada, baik bersama penduduk negerinya sendiri maupun bersama penduduk negeri lain. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ“Puasa adalah pada hari kalian semua berpuasa; berbuka (berhari raya) adalah pada hari kalian semua berhari raya; dan Idul Adha adalah pada hari kalian semua berkurban.” [1]Makna tentang wajibnya puasa dan berbuka bersama jemaah dalam hadis inilah yang dijadikan hujah (dalil) oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha terhadap Masruq ketika ia enggan berpuasa pada hari Arafah karena khawatir hari tersebut adalah hari Nahr (Idul Adha). Masruq berkata,“Aku menemui Aisyah pada hari Arafah, lalu ia berkata, ‘Berilah minum Masruq dengan sawiq (minuman dari gandum/tepung) dan perbanyaklah campuran manisnya.'” Masruq berkata, “Aku pun berkata, ‘Sungguh, tidak ada yang menghalangiku untuk berpuasa hari ini selain aku khawatir hari ini adalah hari Nahr.’ Maka Aisyah berkata, ‘Hari Nahr adalah pada saat manusia (semua) berkurban, dan hari berbuka (Idul Fitri) adalah pada saat manusia (semua) berbuka’.” [2]Dari penjelasan ini, bisa dipahami bahwa dalam ibadah yang dilakukan bersama-sama (berjemaah), seperti puasa Ramadan, berbuka puasa, berkurban, dan merayakan hari raya, serta ibadah sejenisnya, pendapat atau keinginan pribadi tidak bisa dijadikan patokan. Mereka tidak boleh melakukannya sendiri-sendiri (menyendiri), dan tidak boleh pula mengikuti jemaah lain selain jemaah (masyarakat) yang ada di tengah-tengah mereka. Sebaliknya, urusan ibadah ini, baik puasa maupun berbuka, harus mengikuti pemimpin (imam) dan jemaah setempat tempat mereka berada.Jika ketentuan ini harus ia ikuti, maka: Apabila ia berbuka (hanya) kurang dari dua puluh sembilan hari bersama negeri tempat ia pindah, maka ia wajib mengqadha setelahnya apa yang kurang dari puasanya. Hal ini karena bulan qamariyah (Hijriah) tidak kurang dari dua puluh sembilan hari dan tidak lebih dari tiga puluh hari, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسُبُ، الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا“Sesungguhnya kita adalah umat yang ummi (tidak menulis dan berhitung). Bulan itu sekian dan sekian (kadang 29 dan kadang 30).” [3]Demikian pula, jika ia telah menyelesaikan puasa tiga puluh hari, lalu ia pindah ke negeri yang penduduknya masih berpuasa sehari atau lebih, maka ia wajib menyesuaikan diri dengan mereka dalam puasanya. Adapun kelebihan puasanya (dari 30 hari) menjadi puasa sunah baginya. Sebagaimana ia juga wajib menyesuaikan diri dengan mereka dalam berbuka dan merayakan Id, demi mewujudkan tujuan syariat dalam mempersatukan umat Islam dan menyatukan mereka dalam melaksanakan syiar-syiar keagamaan, serta menjauhkan mereka dari segala hal yang dapat memecah belah barisan dan mencerai-beraikan persatuan mereka. Sesungguhnya,يَد اللهِ مَعَ الجَمَاعَةِ“Tangan Allah bersama jemaah.” [4]Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat.***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Sumber: https://www.ferkous.app/home/index.php?q=fatwa-500Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab “Ash-Shaum”, bab “Jika Suatu Kaum Keliru dalam Melihat Hilal” (no. 2324); At-Tirmidzi dalam kitab “Ash-Shaum” (3: 80), bab “Mengenai Bahwa Hari Berbuka adalah Saat Manusia Berbuka dan Hari Kurban adalah Saat Manusia Berkurban” (no. 697); Ibnu Majah dalam kitab “Ash-Shiyam” (1: 531), bab “Mengenai Dua Bulan Hari Raya” (no. 1660), dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini disahihkan oleh Al-Albani dalam “Silsilah Ash-Shahihah” (1: 45) no. (224), dan juga oleh Al-Arna’uth dalam tahqiq-nya terhadap kitab “Syarh As-Sunnah” karya Al-Baghawi (6: 248).[2] Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi (no. 8209). Al-Albani menilai sanadnya baik (jayyid) dalam kitabnya “Silsilah Ash-Shahihah” (1/1/442).[3] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab “Ash-Shaum” (4: 126), bab “Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Kita tidak bisa menulis dan tidak bisa berhitung'” (no. 1913); Muslim dalam kitab “Ash-Shiyam” (7: 192), bab “Wajibnya Puasa Ramadan karena Melihat Hilal dan Berbuka karena Melihat Hilal; dan Apabila Mendung di Awal atau Akhir Bulan, Maka Sempurnakanlah Hitungan Bulan Menjadi Tiga Puluh Hari” (no. 1080); dan Al-Baghawi dalam “Syarh As-Sunnah” (6/228), dari hadis Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma.[4] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam kitab “Al-Fitan”, bab “Mengenai Kewajiban Berpegang Teguh dengan Jemaah” (no. 2166), dari hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hadis ini disahihkan oleh Al-Albani dalam “Shahih Al-Jami'” (no. 8065).
Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Apa hukum seseorang yang berpuasa hari pertama Ramadan di negerinya, lalu ia berada di hari kedua di negeri yang ia tuju, dan penduduk negeri tersebut berpuasa dua puluh sembilan hari (29 hari), sementara ia hanya berpuasa dua puluh delapan hari (28 hari)? Apakah ia tetap berpuasa pada hari ketika penduduk negeri tempat ia berada berbuka, ataukah ia berbuka bersama mereka lalu mengqadha sisa puasanya? Lalu bagaimana hukum orang yang mengalami sebaliknya, di mana ia berpuasa di negerinya sehari sebelum negeri yang ia tuju, lalu apa yang harus ia lakukan jika penduduk negeri tersebut berpuasa tiga puluh hari (30 hari)? Apakah ia harus berpuasa tiga puluh satu hari (31 hari)? Mohon berikan penjelasan kepada kami.Jazakumullahu khairan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, juga kepada keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’du.Hukum asalnya, seorang muslim berpuasa dan berbuka bersama jemaah, kebanyakan umat Islam, dan pemimpin mereka di mana pun ia berada, baik bersama penduduk negerinya sendiri maupun bersama penduduk negeri lain. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ“Puasa adalah pada hari kalian semua berpuasa; berbuka (berhari raya) adalah pada hari kalian semua berhari raya; dan Idul Adha adalah pada hari kalian semua berkurban.” [1]Makna tentang wajibnya puasa dan berbuka bersama jemaah dalam hadis inilah yang dijadikan hujah (dalil) oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha terhadap Masruq ketika ia enggan berpuasa pada hari Arafah karena khawatir hari tersebut adalah hari Nahr (Idul Adha). Masruq berkata,“Aku menemui Aisyah pada hari Arafah, lalu ia berkata, ‘Berilah minum Masruq dengan sawiq (minuman dari gandum/tepung) dan perbanyaklah campuran manisnya.'” Masruq berkata, “Aku pun berkata, ‘Sungguh, tidak ada yang menghalangiku untuk berpuasa hari ini selain aku khawatir hari ini adalah hari Nahr.’ Maka Aisyah berkata, ‘Hari Nahr adalah pada saat manusia (semua) berkurban, dan hari berbuka (Idul Fitri) adalah pada saat manusia (semua) berbuka’.” [2]Dari penjelasan ini, bisa dipahami bahwa dalam ibadah yang dilakukan bersama-sama (berjemaah), seperti puasa Ramadan, berbuka puasa, berkurban, dan merayakan hari raya, serta ibadah sejenisnya, pendapat atau keinginan pribadi tidak bisa dijadikan patokan. Mereka tidak boleh melakukannya sendiri-sendiri (menyendiri), dan tidak boleh pula mengikuti jemaah lain selain jemaah (masyarakat) yang ada di tengah-tengah mereka. Sebaliknya, urusan ibadah ini, baik puasa maupun berbuka, harus mengikuti pemimpin (imam) dan jemaah setempat tempat mereka berada.Jika ketentuan ini harus ia ikuti, maka: Apabila ia berbuka (hanya) kurang dari dua puluh sembilan hari bersama negeri tempat ia pindah, maka ia wajib mengqadha setelahnya apa yang kurang dari puasanya. Hal ini karena bulan qamariyah (Hijriah) tidak kurang dari dua puluh sembilan hari dan tidak lebih dari tiga puluh hari, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسُبُ، الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا“Sesungguhnya kita adalah umat yang ummi (tidak menulis dan berhitung). Bulan itu sekian dan sekian (kadang 29 dan kadang 30).” [3]Demikian pula, jika ia telah menyelesaikan puasa tiga puluh hari, lalu ia pindah ke negeri yang penduduknya masih berpuasa sehari atau lebih, maka ia wajib menyesuaikan diri dengan mereka dalam puasanya. Adapun kelebihan puasanya (dari 30 hari) menjadi puasa sunah baginya. Sebagaimana ia juga wajib menyesuaikan diri dengan mereka dalam berbuka dan merayakan Id, demi mewujudkan tujuan syariat dalam mempersatukan umat Islam dan menyatukan mereka dalam melaksanakan syiar-syiar keagamaan, serta menjauhkan mereka dari segala hal yang dapat memecah belah barisan dan mencerai-beraikan persatuan mereka. Sesungguhnya,يَد اللهِ مَعَ الجَمَاعَةِ“Tangan Allah bersama jemaah.” [4]Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat.***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Sumber: https://www.ferkous.app/home/index.php?q=fatwa-500Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab “Ash-Shaum”, bab “Jika Suatu Kaum Keliru dalam Melihat Hilal” (no. 2324); At-Tirmidzi dalam kitab “Ash-Shaum” (3: 80), bab “Mengenai Bahwa Hari Berbuka adalah Saat Manusia Berbuka dan Hari Kurban adalah Saat Manusia Berkurban” (no. 697); Ibnu Majah dalam kitab “Ash-Shiyam” (1: 531), bab “Mengenai Dua Bulan Hari Raya” (no. 1660), dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini disahihkan oleh Al-Albani dalam “Silsilah Ash-Shahihah” (1: 45) no. (224), dan juga oleh Al-Arna’uth dalam tahqiq-nya terhadap kitab “Syarh As-Sunnah” karya Al-Baghawi (6: 248).[2] Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi (no. 8209). Al-Albani menilai sanadnya baik (jayyid) dalam kitabnya “Silsilah Ash-Shahihah” (1/1/442).[3] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab “Ash-Shaum” (4: 126), bab “Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Kita tidak bisa menulis dan tidak bisa berhitung'” (no. 1913); Muslim dalam kitab “Ash-Shiyam” (7: 192), bab “Wajibnya Puasa Ramadan karena Melihat Hilal dan Berbuka karena Melihat Hilal; dan Apabila Mendung di Awal atau Akhir Bulan, Maka Sempurnakanlah Hitungan Bulan Menjadi Tiga Puluh Hari” (no. 1080); dan Al-Baghawi dalam “Syarh As-Sunnah” (6/228), dari hadis Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma.[4] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam kitab “Al-Fitan”, bab “Mengenai Kewajiban Berpegang Teguh dengan Jemaah” (no. 2166), dari hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hadis ini disahihkan oleh Al-Albani dalam “Shahih Al-Jami'” (no. 8065).


Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Apa hukum seseorang yang berpuasa hari pertama Ramadan di negerinya, lalu ia berada di hari kedua di negeri yang ia tuju, dan penduduk negeri tersebut berpuasa dua puluh sembilan hari (29 hari), sementara ia hanya berpuasa dua puluh delapan hari (28 hari)? Apakah ia tetap berpuasa pada hari ketika penduduk negeri tempat ia berada berbuka, ataukah ia berbuka bersama mereka lalu mengqadha sisa puasanya? Lalu bagaimana hukum orang yang mengalami sebaliknya, di mana ia berpuasa di negerinya sehari sebelum negeri yang ia tuju, lalu apa yang harus ia lakukan jika penduduk negeri tersebut berpuasa tiga puluh hari (30 hari)? Apakah ia harus berpuasa tiga puluh satu hari (31 hari)? Mohon berikan penjelasan kepada kami.Jazakumullahu khairan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, juga kepada keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’du.Hukum asalnya, seorang muslim berpuasa dan berbuka bersama jemaah, kebanyakan umat Islam, dan pemimpin mereka di mana pun ia berada, baik bersama penduduk negerinya sendiri maupun bersama penduduk negeri lain. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ“Puasa adalah pada hari kalian semua berpuasa; berbuka (berhari raya) adalah pada hari kalian semua berhari raya; dan Idul Adha adalah pada hari kalian semua berkurban.” [1]Makna tentang wajibnya puasa dan berbuka bersama jemaah dalam hadis inilah yang dijadikan hujah (dalil) oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha terhadap Masruq ketika ia enggan berpuasa pada hari Arafah karena khawatir hari tersebut adalah hari Nahr (Idul Adha). Masruq berkata,“Aku menemui Aisyah pada hari Arafah, lalu ia berkata, ‘Berilah minum Masruq dengan sawiq (minuman dari gandum/tepung) dan perbanyaklah campuran manisnya.'” Masruq berkata, “Aku pun berkata, ‘Sungguh, tidak ada yang menghalangiku untuk berpuasa hari ini selain aku khawatir hari ini adalah hari Nahr.’ Maka Aisyah berkata, ‘Hari Nahr adalah pada saat manusia (semua) berkurban, dan hari berbuka (Idul Fitri) adalah pada saat manusia (semua) berbuka’.” [2]Dari penjelasan ini, bisa dipahami bahwa dalam ibadah yang dilakukan bersama-sama (berjemaah), seperti puasa Ramadan, berbuka puasa, berkurban, dan merayakan hari raya, serta ibadah sejenisnya, pendapat atau keinginan pribadi tidak bisa dijadikan patokan. Mereka tidak boleh melakukannya sendiri-sendiri (menyendiri), dan tidak boleh pula mengikuti jemaah lain selain jemaah (masyarakat) yang ada di tengah-tengah mereka. Sebaliknya, urusan ibadah ini, baik puasa maupun berbuka, harus mengikuti pemimpin (imam) dan jemaah setempat tempat mereka berada.Jika ketentuan ini harus ia ikuti, maka: Apabila ia berbuka (hanya) kurang dari dua puluh sembilan hari bersama negeri tempat ia pindah, maka ia wajib mengqadha setelahnya apa yang kurang dari puasanya. Hal ini karena bulan qamariyah (Hijriah) tidak kurang dari dua puluh sembilan hari dan tidak lebih dari tiga puluh hari, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسُبُ، الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا“Sesungguhnya kita adalah umat yang ummi (tidak menulis dan berhitung). Bulan itu sekian dan sekian (kadang 29 dan kadang 30).” [3]Demikian pula, jika ia telah menyelesaikan puasa tiga puluh hari, lalu ia pindah ke negeri yang penduduknya masih berpuasa sehari atau lebih, maka ia wajib menyesuaikan diri dengan mereka dalam puasanya. Adapun kelebihan puasanya (dari 30 hari) menjadi puasa sunah baginya. Sebagaimana ia juga wajib menyesuaikan diri dengan mereka dalam berbuka dan merayakan Id, demi mewujudkan tujuan syariat dalam mempersatukan umat Islam dan menyatukan mereka dalam melaksanakan syiar-syiar keagamaan, serta menjauhkan mereka dari segala hal yang dapat memecah belah barisan dan mencerai-beraikan persatuan mereka. Sesungguhnya,يَد اللهِ مَعَ الجَمَاعَةِ“Tangan Allah bersama jemaah.” [4]Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat.***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Sumber: https://www.ferkous.app/home/index.php?q=fatwa-500Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab “Ash-Shaum”, bab “Jika Suatu Kaum Keliru dalam Melihat Hilal” (no. 2324); At-Tirmidzi dalam kitab “Ash-Shaum” (3: 80), bab “Mengenai Bahwa Hari Berbuka adalah Saat Manusia Berbuka dan Hari Kurban adalah Saat Manusia Berkurban” (no. 697); Ibnu Majah dalam kitab “Ash-Shiyam” (1: 531), bab “Mengenai Dua Bulan Hari Raya” (no. 1660), dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini disahihkan oleh Al-Albani dalam “Silsilah Ash-Shahihah” (1: 45) no. (224), dan juga oleh Al-Arna’uth dalam tahqiq-nya terhadap kitab “Syarh As-Sunnah” karya Al-Baghawi (6: 248).[2] Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi (no. 8209). Al-Albani menilai sanadnya baik (jayyid) dalam kitabnya “Silsilah Ash-Shahihah” (1/1/442).[3] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab “Ash-Shaum” (4: 126), bab “Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Kita tidak bisa menulis dan tidak bisa berhitung'” (no. 1913); Muslim dalam kitab “Ash-Shiyam” (7: 192), bab “Wajibnya Puasa Ramadan karena Melihat Hilal dan Berbuka karena Melihat Hilal; dan Apabila Mendung di Awal atau Akhir Bulan, Maka Sempurnakanlah Hitungan Bulan Menjadi Tiga Puluh Hari” (no. 1080); dan Al-Baghawi dalam “Syarh As-Sunnah” (6/228), dari hadis Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma.[4] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam kitab “Al-Fitan”, bab “Mengenai Kewajiban Berpegang Teguh dengan Jemaah” (no. 2166), dari hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hadis ini disahihkan oleh Al-Albani dalam “Shahih Al-Jami'” (no. 8065).

Nasihat Menyentuh Syaikh Utsaimin Agar Shalat Khusyuk – Syaikh Utsaimin #NasehatUlama

https://youtu.be/7z7zbVsr7sg Wahai saudaraku! Ketika Anda berdiri untuk shalat, Anda akan merasakan pergulatan batin dengan dirimu sendiri. Sebuah pergulatan, nafsu Anda membisikkan: “Cepatlah! Cepatlah! Cepatlah!” Namun, janganlah Anda ikuti! Katakanlah: “Aku sadar bahwa aku tidak akan meraih manfaat dari duniaku kecuali pada saat shalat ini!” Dengan amalan ini! Jika Anda menghadirkan perasaan ini, bahwa Anda tidak akan memetik manfaat dari hidupmu ini kecuali dengan amalan shalat dan yang semisalnya. Apakah Anda akan lari darinya seperti menghindari singa, atau justru merasa tenang? Jawablah, wahai jemaah! Tentu Anda merasa tenang! Wahai saudaraku, renungkanlah ini! Saat Anda bertakbir “Allahu Akbar!”, nafsu Anda kembali berbisik: “Ayo, cepat! Selesaikan segera!” Pada saat itu, katakanlah pada diri Anda: “Tenanglah! Tenanglah!” “Tenanglah, karena aku tidak memiliki bekal dari hidupku kecuali amalan ini.” “Tidak ada yang berguna bagiku di alam kubur, saat kematianku, maupun pada hari kiamat kelak kecuali amalan ini.” Tenanglah, wahai saudaraku! Ingatlah ketika Anda sedang shalat, kepada siapa Anda sedang bermunajat? Kepada siapa Anda bermunajat, wahai saudaraku? Anda sedang bermunajat kepada Zat yang paling Anda cintai, yaitu Allah ‘Azza wa Jalla. Tidakkah Anda tahu bahwa saat Anda mengucap: “Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin,” Allah Ta’ala menjawab dari atas langit yang tujuh: “Hamba-Ku telah memuji-Ku.” Tidakkah Anda tahu, saat Anda membaca: “Ar-Rohmaaanir rohiim,” Dia berfirman: “Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.” Tidakkah Anda tahu, saat Anda membaca: “Maaliki yaumiddiin,” Dia berfirman: “Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.” Ini semua adalah kebenaran yang nyata! Tidakkah Anda tahu saat Anda membaca: “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin,” Allah berfirman: “Ini adalah urusan antara Aku dan hamba-Ku, terbagi menjadi dua bagian.” Tidakkah Anda tahu, saat Anda membaca: “Ihdinash shiroothol mustaqiim,” Allah berfirman: “Ini adalah untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.” Apakah Anda menemukan kebaikan yang lebih banyak dari ini? Bagaimana mungkin Anda lari dari berdiri di hadapan Zat yang sedang mengajak Anda bicara, sedangkan Dia Maha Kuasa atas segalanya? Wahai saudaraku, kenalilah diri Anda! Kenalilah hakikat diri Anda, dan untuk tujuan apa Anda diciptakan? Demi Allah, sekiranya kita benar-benar merasakan hal ini, niscaya segala ibadah akan terasa ringan, dan seluruh dunia ini pasti akan terasa tidak berharga bagi kita. “Seandainya dunia ini senilai dengan sayap nyamuk, niscaya Tuhan tidak akan memberi minum darinya kepada orang kafir.” “Namun demi Allah, dunia itu lebih hina di sisi-Nya daripada kepakan sayap nyamuk itu.” Demikianlah yang dikatakan Ibnul Qayyim rahimahullah, dan sungguh benar apa yang beliau katakan. ===== فَأَنْتَ يَا أَخِي عِنْدَمَا تَقُومُ تُصَلِّي تَجِدُ عِرَاكًا مَعَ نَفْسِكَ مُصَارَعَةً نَفْسُكَ تَقُولُ: عَجِّلْ عَجِّلْ عَجِّلْ لَكِنْ لَا تُطِعْهَا قُلْ: أَنَا أَعْلَمُ أَنِّي لَا أَنْتَفِعُ مِنْ دُنْيَايَ إِلَّا فِي هَذِهِ اللَّحْظَةِ وَبِهَذَا الْعَمَلِ وَإِذَا شَعَرْتَ هَذَا الشُّعُورَ وَأَنَّكَ لَنْ تَنْتَفِعَ مِنْ حَيَاتِكَ إِلَّا بِهَذَا وَأَمْثَالِهِ هَلْ تَفِرُّ مِنْهُ فِرَارَكَ مِنَ الْأَسَدِ أَوْ تَطْمَئِنُّ؟ أَجِيبُوا يَا جَمَاعَةُ تَطْمَئِنُّ يَا أَخِي، فَكِّرْ فِي هَذَا عِنْدَمَا تَقُولُ اللهُ أَكْبَرُ تَجِدُ شَيْئًا فِي نَفْسِكَ يَلَا مَشِ مَشِ قُلْ يَا أَخِي هَوْنًا هَوْنًا هَوْنًا مَا لِي مِنْ حَيَاتِي إِلَّا هَذَا مَا يَنْفَعُنِي فِي قَبْرِي وَلَا عِنْدَ مَوْتِي وَلَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا هَذَا اطْمَئِنَّ يَا أَخِي ثُمَّ اذْكُرْ وَأَنْتَ فِي صَلَاتِكَ مَنْ تُنَاجِي مَنْ تُنَاجِي يَا أَخِي تُنَاجِي أَحَبَّ شَيْءٍ إِلَيْكَ وَهُوَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ قَالَ اللهُ تَعَالَى مِنْ فَوْقِ سَبْعِ سَمَاوَاتٍ قَالَ حَمِدَنِي عَبْدِي أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قَالَ أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي كُلُّ هَذَا حَقٌّ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ قَالَ اللهُ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ قَالَ اللهُ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ هَلْ تَجِدُ خَيْرًا أَكْثَرَ مِنْ هَذَا؟ كَيْفَ تَفِرُّ مِنْ أَنْ تَقِفَ بَيْنَ يَدَيْ مَنْ يُنَاجِيكَ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ يَا أَخِي اعْرِفْ نَفْسَكَ اعْرِفْ نَفْسَكَ وَلِمَاذَا خُلِقْتَ وَاللهِ لَوْ كُنَّا نَشْعُرُ هَذَا الشُّعُورَ لَهَانَتْ عَلَيْنَا الْعِبَادَاتُ وَلَا رَخُصَتْ عَلَيْنَا الدُّنْيَا كُلُّهَا لَوْ سَاوَتِ الدُّنْيَا جَنَاحَ بَعُوضَةٍ لَمْ يَسْقِ مِنْهَا الرَّبُّ ذَا الْكُفْرَانِ لَكِنَّهَا وَاللهِ أَحْقَرُ عِنْدَهُ مِنْ ذَا الْجَنَاحِ الْقَاصِدِ الطَّيَرَانِ هَكَذَا يَقُولُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ وَصَدَقَ

Nasihat Menyentuh Syaikh Utsaimin Agar Shalat Khusyuk – Syaikh Utsaimin #NasehatUlama

https://youtu.be/7z7zbVsr7sg Wahai saudaraku! Ketika Anda berdiri untuk shalat, Anda akan merasakan pergulatan batin dengan dirimu sendiri. Sebuah pergulatan, nafsu Anda membisikkan: “Cepatlah! Cepatlah! Cepatlah!” Namun, janganlah Anda ikuti! Katakanlah: “Aku sadar bahwa aku tidak akan meraih manfaat dari duniaku kecuali pada saat shalat ini!” Dengan amalan ini! Jika Anda menghadirkan perasaan ini, bahwa Anda tidak akan memetik manfaat dari hidupmu ini kecuali dengan amalan shalat dan yang semisalnya. Apakah Anda akan lari darinya seperti menghindari singa, atau justru merasa tenang? Jawablah, wahai jemaah! Tentu Anda merasa tenang! Wahai saudaraku, renungkanlah ini! Saat Anda bertakbir “Allahu Akbar!”, nafsu Anda kembali berbisik: “Ayo, cepat! Selesaikan segera!” Pada saat itu, katakanlah pada diri Anda: “Tenanglah! Tenanglah!” “Tenanglah, karena aku tidak memiliki bekal dari hidupku kecuali amalan ini.” “Tidak ada yang berguna bagiku di alam kubur, saat kematianku, maupun pada hari kiamat kelak kecuali amalan ini.” Tenanglah, wahai saudaraku! Ingatlah ketika Anda sedang shalat, kepada siapa Anda sedang bermunajat? Kepada siapa Anda bermunajat, wahai saudaraku? Anda sedang bermunajat kepada Zat yang paling Anda cintai, yaitu Allah ‘Azza wa Jalla. Tidakkah Anda tahu bahwa saat Anda mengucap: “Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin,” Allah Ta’ala menjawab dari atas langit yang tujuh: “Hamba-Ku telah memuji-Ku.” Tidakkah Anda tahu, saat Anda membaca: “Ar-Rohmaaanir rohiim,” Dia berfirman: “Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.” Tidakkah Anda tahu, saat Anda membaca: “Maaliki yaumiddiin,” Dia berfirman: “Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.” Ini semua adalah kebenaran yang nyata! Tidakkah Anda tahu saat Anda membaca: “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin,” Allah berfirman: “Ini adalah urusan antara Aku dan hamba-Ku, terbagi menjadi dua bagian.” Tidakkah Anda tahu, saat Anda membaca: “Ihdinash shiroothol mustaqiim,” Allah berfirman: “Ini adalah untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.” Apakah Anda menemukan kebaikan yang lebih banyak dari ini? Bagaimana mungkin Anda lari dari berdiri di hadapan Zat yang sedang mengajak Anda bicara, sedangkan Dia Maha Kuasa atas segalanya? Wahai saudaraku, kenalilah diri Anda! Kenalilah hakikat diri Anda, dan untuk tujuan apa Anda diciptakan? Demi Allah, sekiranya kita benar-benar merasakan hal ini, niscaya segala ibadah akan terasa ringan, dan seluruh dunia ini pasti akan terasa tidak berharga bagi kita. “Seandainya dunia ini senilai dengan sayap nyamuk, niscaya Tuhan tidak akan memberi minum darinya kepada orang kafir.” “Namun demi Allah, dunia itu lebih hina di sisi-Nya daripada kepakan sayap nyamuk itu.” Demikianlah yang dikatakan Ibnul Qayyim rahimahullah, dan sungguh benar apa yang beliau katakan. ===== فَأَنْتَ يَا أَخِي عِنْدَمَا تَقُومُ تُصَلِّي تَجِدُ عِرَاكًا مَعَ نَفْسِكَ مُصَارَعَةً نَفْسُكَ تَقُولُ: عَجِّلْ عَجِّلْ عَجِّلْ لَكِنْ لَا تُطِعْهَا قُلْ: أَنَا أَعْلَمُ أَنِّي لَا أَنْتَفِعُ مِنْ دُنْيَايَ إِلَّا فِي هَذِهِ اللَّحْظَةِ وَبِهَذَا الْعَمَلِ وَإِذَا شَعَرْتَ هَذَا الشُّعُورَ وَأَنَّكَ لَنْ تَنْتَفِعَ مِنْ حَيَاتِكَ إِلَّا بِهَذَا وَأَمْثَالِهِ هَلْ تَفِرُّ مِنْهُ فِرَارَكَ مِنَ الْأَسَدِ أَوْ تَطْمَئِنُّ؟ أَجِيبُوا يَا جَمَاعَةُ تَطْمَئِنُّ يَا أَخِي، فَكِّرْ فِي هَذَا عِنْدَمَا تَقُولُ اللهُ أَكْبَرُ تَجِدُ شَيْئًا فِي نَفْسِكَ يَلَا مَشِ مَشِ قُلْ يَا أَخِي هَوْنًا هَوْنًا هَوْنًا مَا لِي مِنْ حَيَاتِي إِلَّا هَذَا مَا يَنْفَعُنِي فِي قَبْرِي وَلَا عِنْدَ مَوْتِي وَلَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا هَذَا اطْمَئِنَّ يَا أَخِي ثُمَّ اذْكُرْ وَأَنْتَ فِي صَلَاتِكَ مَنْ تُنَاجِي مَنْ تُنَاجِي يَا أَخِي تُنَاجِي أَحَبَّ شَيْءٍ إِلَيْكَ وَهُوَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ قَالَ اللهُ تَعَالَى مِنْ فَوْقِ سَبْعِ سَمَاوَاتٍ قَالَ حَمِدَنِي عَبْدِي أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قَالَ أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي كُلُّ هَذَا حَقٌّ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ قَالَ اللهُ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ قَالَ اللهُ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ هَلْ تَجِدُ خَيْرًا أَكْثَرَ مِنْ هَذَا؟ كَيْفَ تَفِرُّ مِنْ أَنْ تَقِفَ بَيْنَ يَدَيْ مَنْ يُنَاجِيكَ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ يَا أَخِي اعْرِفْ نَفْسَكَ اعْرِفْ نَفْسَكَ وَلِمَاذَا خُلِقْتَ وَاللهِ لَوْ كُنَّا نَشْعُرُ هَذَا الشُّعُورَ لَهَانَتْ عَلَيْنَا الْعِبَادَاتُ وَلَا رَخُصَتْ عَلَيْنَا الدُّنْيَا كُلُّهَا لَوْ سَاوَتِ الدُّنْيَا جَنَاحَ بَعُوضَةٍ لَمْ يَسْقِ مِنْهَا الرَّبُّ ذَا الْكُفْرَانِ لَكِنَّهَا وَاللهِ أَحْقَرُ عِنْدَهُ مِنْ ذَا الْجَنَاحِ الْقَاصِدِ الطَّيَرَانِ هَكَذَا يَقُولُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ وَصَدَقَ
https://youtu.be/7z7zbVsr7sg Wahai saudaraku! Ketika Anda berdiri untuk shalat, Anda akan merasakan pergulatan batin dengan dirimu sendiri. Sebuah pergulatan, nafsu Anda membisikkan: “Cepatlah! Cepatlah! Cepatlah!” Namun, janganlah Anda ikuti! Katakanlah: “Aku sadar bahwa aku tidak akan meraih manfaat dari duniaku kecuali pada saat shalat ini!” Dengan amalan ini! Jika Anda menghadirkan perasaan ini, bahwa Anda tidak akan memetik manfaat dari hidupmu ini kecuali dengan amalan shalat dan yang semisalnya. Apakah Anda akan lari darinya seperti menghindari singa, atau justru merasa tenang? Jawablah, wahai jemaah! Tentu Anda merasa tenang! Wahai saudaraku, renungkanlah ini! Saat Anda bertakbir “Allahu Akbar!”, nafsu Anda kembali berbisik: “Ayo, cepat! Selesaikan segera!” Pada saat itu, katakanlah pada diri Anda: “Tenanglah! Tenanglah!” “Tenanglah, karena aku tidak memiliki bekal dari hidupku kecuali amalan ini.” “Tidak ada yang berguna bagiku di alam kubur, saat kematianku, maupun pada hari kiamat kelak kecuali amalan ini.” Tenanglah, wahai saudaraku! Ingatlah ketika Anda sedang shalat, kepada siapa Anda sedang bermunajat? Kepada siapa Anda bermunajat, wahai saudaraku? Anda sedang bermunajat kepada Zat yang paling Anda cintai, yaitu Allah ‘Azza wa Jalla. Tidakkah Anda tahu bahwa saat Anda mengucap: “Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin,” Allah Ta’ala menjawab dari atas langit yang tujuh: “Hamba-Ku telah memuji-Ku.” Tidakkah Anda tahu, saat Anda membaca: “Ar-Rohmaaanir rohiim,” Dia berfirman: “Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.” Tidakkah Anda tahu, saat Anda membaca: “Maaliki yaumiddiin,” Dia berfirman: “Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.” Ini semua adalah kebenaran yang nyata! Tidakkah Anda tahu saat Anda membaca: “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin,” Allah berfirman: “Ini adalah urusan antara Aku dan hamba-Ku, terbagi menjadi dua bagian.” Tidakkah Anda tahu, saat Anda membaca: “Ihdinash shiroothol mustaqiim,” Allah berfirman: “Ini adalah untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.” Apakah Anda menemukan kebaikan yang lebih banyak dari ini? Bagaimana mungkin Anda lari dari berdiri di hadapan Zat yang sedang mengajak Anda bicara, sedangkan Dia Maha Kuasa atas segalanya? Wahai saudaraku, kenalilah diri Anda! Kenalilah hakikat diri Anda, dan untuk tujuan apa Anda diciptakan? Demi Allah, sekiranya kita benar-benar merasakan hal ini, niscaya segala ibadah akan terasa ringan, dan seluruh dunia ini pasti akan terasa tidak berharga bagi kita. “Seandainya dunia ini senilai dengan sayap nyamuk, niscaya Tuhan tidak akan memberi minum darinya kepada orang kafir.” “Namun demi Allah, dunia itu lebih hina di sisi-Nya daripada kepakan sayap nyamuk itu.” Demikianlah yang dikatakan Ibnul Qayyim rahimahullah, dan sungguh benar apa yang beliau katakan. ===== فَأَنْتَ يَا أَخِي عِنْدَمَا تَقُومُ تُصَلِّي تَجِدُ عِرَاكًا مَعَ نَفْسِكَ مُصَارَعَةً نَفْسُكَ تَقُولُ: عَجِّلْ عَجِّلْ عَجِّلْ لَكِنْ لَا تُطِعْهَا قُلْ: أَنَا أَعْلَمُ أَنِّي لَا أَنْتَفِعُ مِنْ دُنْيَايَ إِلَّا فِي هَذِهِ اللَّحْظَةِ وَبِهَذَا الْعَمَلِ وَإِذَا شَعَرْتَ هَذَا الشُّعُورَ وَأَنَّكَ لَنْ تَنْتَفِعَ مِنْ حَيَاتِكَ إِلَّا بِهَذَا وَأَمْثَالِهِ هَلْ تَفِرُّ مِنْهُ فِرَارَكَ مِنَ الْأَسَدِ أَوْ تَطْمَئِنُّ؟ أَجِيبُوا يَا جَمَاعَةُ تَطْمَئِنُّ يَا أَخِي، فَكِّرْ فِي هَذَا عِنْدَمَا تَقُولُ اللهُ أَكْبَرُ تَجِدُ شَيْئًا فِي نَفْسِكَ يَلَا مَشِ مَشِ قُلْ يَا أَخِي هَوْنًا هَوْنًا هَوْنًا مَا لِي مِنْ حَيَاتِي إِلَّا هَذَا مَا يَنْفَعُنِي فِي قَبْرِي وَلَا عِنْدَ مَوْتِي وَلَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا هَذَا اطْمَئِنَّ يَا أَخِي ثُمَّ اذْكُرْ وَأَنْتَ فِي صَلَاتِكَ مَنْ تُنَاجِي مَنْ تُنَاجِي يَا أَخِي تُنَاجِي أَحَبَّ شَيْءٍ إِلَيْكَ وَهُوَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ قَالَ اللهُ تَعَالَى مِنْ فَوْقِ سَبْعِ سَمَاوَاتٍ قَالَ حَمِدَنِي عَبْدِي أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قَالَ أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي كُلُّ هَذَا حَقٌّ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ قَالَ اللهُ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ قَالَ اللهُ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ هَلْ تَجِدُ خَيْرًا أَكْثَرَ مِنْ هَذَا؟ كَيْفَ تَفِرُّ مِنْ أَنْ تَقِفَ بَيْنَ يَدَيْ مَنْ يُنَاجِيكَ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ يَا أَخِي اعْرِفْ نَفْسَكَ اعْرِفْ نَفْسَكَ وَلِمَاذَا خُلِقْتَ وَاللهِ لَوْ كُنَّا نَشْعُرُ هَذَا الشُّعُورَ لَهَانَتْ عَلَيْنَا الْعِبَادَاتُ وَلَا رَخُصَتْ عَلَيْنَا الدُّنْيَا كُلُّهَا لَوْ سَاوَتِ الدُّنْيَا جَنَاحَ بَعُوضَةٍ لَمْ يَسْقِ مِنْهَا الرَّبُّ ذَا الْكُفْرَانِ لَكِنَّهَا وَاللهِ أَحْقَرُ عِنْدَهُ مِنْ ذَا الْجَنَاحِ الْقَاصِدِ الطَّيَرَانِ هَكَذَا يَقُولُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ وَصَدَقَ


https://youtu.be/7z7zbVsr7sg Wahai saudaraku! Ketika Anda berdiri untuk shalat, Anda akan merasakan pergulatan batin dengan dirimu sendiri. Sebuah pergulatan, nafsu Anda membisikkan: “Cepatlah! Cepatlah! Cepatlah!” Namun, janganlah Anda ikuti! Katakanlah: “Aku sadar bahwa aku tidak akan meraih manfaat dari duniaku kecuali pada saat shalat ini!” Dengan amalan ini! Jika Anda menghadirkan perasaan ini, bahwa Anda tidak akan memetik manfaat dari hidupmu ini kecuali dengan amalan shalat dan yang semisalnya. Apakah Anda akan lari darinya seperti menghindari singa, atau justru merasa tenang? Jawablah, wahai jemaah! Tentu Anda merasa tenang! Wahai saudaraku, renungkanlah ini! Saat Anda bertakbir “Allahu Akbar!”, nafsu Anda kembali berbisik: “Ayo, cepat! Selesaikan segera!” Pada saat itu, katakanlah pada diri Anda: “Tenanglah! Tenanglah!” “Tenanglah, karena aku tidak memiliki bekal dari hidupku kecuali amalan ini.” “Tidak ada yang berguna bagiku di alam kubur, saat kematianku, maupun pada hari kiamat kelak kecuali amalan ini.” Tenanglah, wahai saudaraku! Ingatlah ketika Anda sedang shalat, kepada siapa Anda sedang bermunajat? Kepada siapa Anda bermunajat, wahai saudaraku? Anda sedang bermunajat kepada Zat yang paling Anda cintai, yaitu Allah ‘Azza wa Jalla. Tidakkah Anda tahu bahwa saat Anda mengucap: “Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin,” Allah Ta’ala menjawab dari atas langit yang tujuh: “Hamba-Ku telah memuji-Ku.” Tidakkah Anda tahu, saat Anda membaca: “Ar-Rohmaaanir rohiim,” Dia berfirman: “Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.” Tidakkah Anda tahu, saat Anda membaca: “Maaliki yaumiddiin,” Dia berfirman: “Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.” Ini semua adalah kebenaran yang nyata! Tidakkah Anda tahu saat Anda membaca: “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin,” Allah berfirman: “Ini adalah urusan antara Aku dan hamba-Ku, terbagi menjadi dua bagian.” Tidakkah Anda tahu, saat Anda membaca: “Ihdinash shiroothol mustaqiim,” Allah berfirman: “Ini adalah untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.” Apakah Anda menemukan kebaikan yang lebih banyak dari ini? Bagaimana mungkin Anda lari dari berdiri di hadapan Zat yang sedang mengajak Anda bicara, sedangkan Dia Maha Kuasa atas segalanya? Wahai saudaraku, kenalilah diri Anda! Kenalilah hakikat diri Anda, dan untuk tujuan apa Anda diciptakan? Demi Allah, sekiranya kita benar-benar merasakan hal ini, niscaya segala ibadah akan terasa ringan, dan seluruh dunia ini pasti akan terasa tidak berharga bagi kita. “Seandainya dunia ini senilai dengan sayap nyamuk, niscaya Tuhan tidak akan memberi minum darinya kepada orang kafir.” “Namun demi Allah, dunia itu lebih hina di sisi-Nya daripada kepakan sayap nyamuk itu.” Demikianlah yang dikatakan Ibnul Qayyim rahimahullah, dan sungguh benar apa yang beliau katakan. ===== فَأَنْتَ يَا أَخِي عِنْدَمَا تَقُومُ تُصَلِّي تَجِدُ عِرَاكًا مَعَ نَفْسِكَ مُصَارَعَةً نَفْسُكَ تَقُولُ: عَجِّلْ عَجِّلْ عَجِّلْ لَكِنْ لَا تُطِعْهَا قُلْ: أَنَا أَعْلَمُ أَنِّي لَا أَنْتَفِعُ مِنْ دُنْيَايَ إِلَّا فِي هَذِهِ اللَّحْظَةِ وَبِهَذَا الْعَمَلِ وَإِذَا شَعَرْتَ هَذَا الشُّعُورَ وَأَنَّكَ لَنْ تَنْتَفِعَ مِنْ حَيَاتِكَ إِلَّا بِهَذَا وَأَمْثَالِهِ هَلْ تَفِرُّ مِنْهُ فِرَارَكَ مِنَ الْأَسَدِ أَوْ تَطْمَئِنُّ؟ أَجِيبُوا يَا جَمَاعَةُ تَطْمَئِنُّ يَا أَخِي، فَكِّرْ فِي هَذَا عِنْدَمَا تَقُولُ اللهُ أَكْبَرُ تَجِدُ شَيْئًا فِي نَفْسِكَ يَلَا مَشِ مَشِ قُلْ يَا أَخِي هَوْنًا هَوْنًا هَوْنًا مَا لِي مِنْ حَيَاتِي إِلَّا هَذَا مَا يَنْفَعُنِي فِي قَبْرِي وَلَا عِنْدَ مَوْتِي وَلَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا هَذَا اطْمَئِنَّ يَا أَخِي ثُمَّ اذْكُرْ وَأَنْتَ فِي صَلَاتِكَ مَنْ تُنَاجِي مَنْ تُنَاجِي يَا أَخِي تُنَاجِي أَحَبَّ شَيْءٍ إِلَيْكَ وَهُوَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ قَالَ اللهُ تَعَالَى مِنْ فَوْقِ سَبْعِ سَمَاوَاتٍ قَالَ حَمِدَنِي عَبْدِي أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قَالَ أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي كُلُّ هَذَا حَقٌّ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ قَالَ اللهُ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ قَالَ اللهُ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ هَلْ تَجِدُ خَيْرًا أَكْثَرَ مِنْ هَذَا؟ كَيْفَ تَفِرُّ مِنْ أَنْ تَقِفَ بَيْنَ يَدَيْ مَنْ يُنَاجِيكَ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ يَا أَخِي اعْرِفْ نَفْسَكَ اعْرِفْ نَفْسَكَ وَلِمَاذَا خُلِقْتَ وَاللهِ لَوْ كُنَّا نَشْعُرُ هَذَا الشُّعُورَ لَهَانَتْ عَلَيْنَا الْعِبَادَاتُ وَلَا رَخُصَتْ عَلَيْنَا الدُّنْيَا كُلُّهَا لَوْ سَاوَتِ الدُّنْيَا جَنَاحَ بَعُوضَةٍ لَمْ يَسْقِ مِنْهَا الرَّبُّ ذَا الْكُفْرَانِ لَكِنَّهَا وَاللهِ أَحْقَرُ عِنْدَهُ مِنْ ذَا الْجَنَاحِ الْقَاصِدِ الطَّيَرَانِ هَكَذَا يَقُولُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ وَصَدَقَ

Ketika Tidak Bisa Mudik: Untuk Para Pekerja yang Menahan Rindu

Daftar Isi ToggleRindu yang bernilai ibadahAmanah didahulukan daripada keinginan pribadiBekerja mencari nafkah adalah kemuliaanSilaturahim tidak selalu dengan hadir fisikKesabaran menahan rinduJangan bandingkan diri dengan orang lainMenjadikan momen ini sebagai muhasabahSolusi praktis mengobati rinduSetiap musim mudik tiba, Indonesia seperti bergerak bersama. Data dari Kementerian Perhubungan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa puluhan hingga ratusan juta orang melakukan perjalanan mudik setiap Idul Fitri. Jalan tol padat, pelabuhan penuh, bandara sibuk, stasiun sesak. Mudik telah menjadi tradisi nasional yang sangat kuat.Namun di balik arus besar itu, ada jutaan orang yang tetap tinggal. Mereka tidak pulang. Bukan karena tidak rindu, tetapi karena tanggung jawab.Ada tenaga kesehatan yang berjaga di rumah sakit. Ada petugas keamanan yang menjaga ketertiban. Ada sopir, pekerja pabrik, pegawai ritel, operator transportasi, pekerja tambang, awak media, hingga pekerja migran Indonesia di luar negeri yang hanya bisa melihat keluarga lewat layar ponsel.Hati mereka sama seperti yang lain. Mereka juga rindu ibu. Mereka juga ingin mencium tangan ayah. Mereka juga ingin duduk di ruang tamu sederhana yang penuh kenangan masa kecil. Namun, karena berbagai hal, seperti tidak adanya izin kerja, jarak yang begitu jauh, atau bahkan ketiadaan biaya untuk mudik, keinginan itu harus mereka pendam.Rindu yang bernilai ibadahIslam mengajarkan bahwa setiap amal tergantung pada niatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Jika seseorang bekerja dengan niat mencari nafkah halal, membantu keluarga, menjaga amanah, dan memberi manfaat bagi orang lain, maka pekerjaannya bernilai ibadah.Tidak mudik bukan berarti tidak berbakti. Bisa jadi justru ia sedang berbakti dengan cara yang berbeda: mengirim nafkah, menanggung kebutuhan keluarga, atau menjaga pelayanan bagi masyarakat.Fakta sosial di Indonesia menunjukkan bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan finansial untuk mudik. Biaya tiket transportasi, kebutuhan keluarga, dan kondisi ekonomi sering menjadi penghalang. Islam memahami keterbatasan ini.Allah Azza wa Jalla berfirman,لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)Jika seseorang tidak mampu pulang karena keterbatasan biaya, ia tidak berdosa. Bahkan kesabarannya dalam kondisi sempit menjadi pahala.Amanah didahulukan daripada keinginan pribadiIslam sangat menekankan pentingnya amanah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa’: 58)Pekerjaan adalah amanah. Kontrak kerja adalah amanah. Tanggung jawab profesi adalah amanah.Sering kali yang tidak mudik adalah mereka yang justru dibutuhkan banyak orang, seperti petugas medis, aparat keamanan, pekerja transportasi, karyawan layanan publik, dan banyak profesi lain yang membuat orang lain bisa merayakan hari raya dengan aman dan nyaman.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ“Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang dari kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan baik.” (HR. Thabrani dan Baihaqi)Menjaga profesionalitas di hari raya adalah bentuk ihsan (berbuat baik). Bisa jadi pahala lebih besar karena menahan rindu demi menjaga amanah.Bekerja mencari nafkah adalah kemuliaanSebagian orang merasa rendah hati karena tidak bisa pulang. Padahal, bekerja mencari nafkah halal untuk keluarga termasuk amal yang besar. Dari Al-Miqdam bin Ma‘di Karib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما أكل أحد طعاما قط خيرا من أن يأكل من عمل يده، وإن نبي الله داود صلى الله عليه وسلم كان يأكل من عمل يده“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik sama sekali daripada makanan yang ia makan dari hasil kerja tangannya sendiri. Dan sungguh Nabi Allah Dawud ‘alaihis salam dahulu makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)Di Indonesia, banyak pekerja di kota besar yang menjadi tulang punggung keluarga di desa. Uang yang dikirim setiap bulan justru menjadi sebab orang tua bisa hidup layak. Maka, pengorbanan tidak mudik bisa jadi bagian dari bakti yang nyata.Baca juga: Memberi Nafkah kepada Anak-Istri adalah Ibadah yang AgungSilaturahim tidak selalu dengan hadir fisikMemang, bertemu langsung memiliki kehangatan tersendiri. Namun, silaturahim tidak terbatas pada pertemuan fisik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا“Orang yang menyambung silaturahim bukanlah yang membalas kunjungan, tetapi yang tetap menyambung ketika diputus.” (HR. Bukhari)Sebagian orang merasa bersalah karena tidak bisa pulang menemui orang tua. Namun, berbakti tidak selalu harus dengan hadir secara fisik. Allah Azza wa Jalla berfirman,فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Bertakwalah kepada Allah semampu kalian.” (QS. At-Taghabun: 16)Jika tidak bisa datang, teleponlah dengan suara lembut. Kirim pesan penuh doa. Transfer nafkah jika mampu. Ucapkan kata-kata yang menenangkan hati orang tua. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ“Rida Allah tergantung pada rida orang tua.” (HR. Tirmidzi)Rida itu bisa diraih dengan perhatian dan doa, meski terpisah jarak.Kesabaran menahan rinduMenahan rindu bukan perkara ringan. Namun, kesabaran adalah kemuliaan. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali ‘Imran: 146)Diriwayatkan dari Shuhaib radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya itu baik, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan nikmat, dia bersyukur dan itu baik baginya. Dan apabila dia mendapatkan musibah, dia sabar dan itu baik baginya.” (HR. Muslim)Kesabaran menahan rindu adalah ibadah yang mungkin tidak terlihat oleh manusia, tetapi dicatat oleh Allah.Jangan bandingkan diri dengan orang lainDi era media sosial, foto kebersamaan keluarga dapat menambah rasa sepi bagi yang tidak mudik. Namun Allah mengingatkan,وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ“Janganlah engkau memandang dengan kagum terhadap apa yang Kami berikan kepada sebagian dari mereka.” (QS. Thaha: 131)Setiap orang memiliki ujian yang berbeda. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya.Menjadikan momen ini sebagai muhasabahTidak mudik bisa menjadi waktu yang sunyi. Dan kesunyian sering kali mengajarkan kedewasaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ“Dan Dia bersama kalian di mana pun kalian berada.” (QS. Al-Hadid: 4)Mungkin Anda jauh dari keluarga, tetapi tidak pernah jauh dari Allah.Gunakan momen ini untuk:Memperbanyak doa.Mengirimkan doa untuk kedua orang tua.Merenungi perjalanan hidup.Menyusun rencana agar suatu hari bisa pulang dengan lebih baik.Allah Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)Solusi praktis mengobati rinduBeberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:Niatkan pekerjaan sebagai ibadah dan bakti.Jadwalkan video call khusus bersama keluarga.Kirim hadiah kecil sebagai tanda cinta.Datangi masjid untuk merasakan kebersamaan umat.Perbanyak zikir dan doa.Allah Azza wa Jalla berfirman,فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ“Ingatlah Aku, niscaya Aku ingat kalian.” (QS. Al-Baqarah: 152)Wahai Anda yang tetap bekerja saat orang lain pulang…Allah mengetahui rindu yang Anda simpan dalam diam. Allah melihat pengorbanan yang mungkin tidak disorot manusia. Allah mencatat setiap langkah yang Anda tempuh demi nafkah halal dan amanah yang dijaga.Tidak mudik bukan tanda kurang cinta. Tidak pulang bukan berarti kurang bakti. Bisa jadi justru Anda sedang menjalani bentuk pengabdian yang lebih sunyi, namun lebih berat timbangannya di sisi Allah.Jika tahun ini belum Allah izinkan untuk berkumpul, percayalah bahwa setiap kesabaran ada batas akhirnya. Setiap rindu yang ditahan akan diganti dengan pertemuan yang lebih hangat, pada waktu yang terbaik menurut-Nya.Dan jika jarak masih memisahkan, doa tidak pernah terhalang ruang dan waktu. Doa seorang anak tetap sampai. Nafkah yang dikirim tetap menjadi bukti cinta. Kesungguhan hati tetap bernilai ibadah.Semoga Allah menjaga keluarga yang jauh di sana. Semoga Allah melapangkan rezeki dan langkah kita. Semoga Allah mempertemukan kembali dalam keadaan terbaik, di dunia dan kelak di surga-Nya.Wallahu Ta‘ala A‘lam.Baca juga: Mudik: Lebih dari Sekadar Pulang Kampung***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Ketika Tidak Bisa Mudik: Untuk Para Pekerja yang Menahan Rindu

Daftar Isi ToggleRindu yang bernilai ibadahAmanah didahulukan daripada keinginan pribadiBekerja mencari nafkah adalah kemuliaanSilaturahim tidak selalu dengan hadir fisikKesabaran menahan rinduJangan bandingkan diri dengan orang lainMenjadikan momen ini sebagai muhasabahSolusi praktis mengobati rinduSetiap musim mudik tiba, Indonesia seperti bergerak bersama. Data dari Kementerian Perhubungan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa puluhan hingga ratusan juta orang melakukan perjalanan mudik setiap Idul Fitri. Jalan tol padat, pelabuhan penuh, bandara sibuk, stasiun sesak. Mudik telah menjadi tradisi nasional yang sangat kuat.Namun di balik arus besar itu, ada jutaan orang yang tetap tinggal. Mereka tidak pulang. Bukan karena tidak rindu, tetapi karena tanggung jawab.Ada tenaga kesehatan yang berjaga di rumah sakit. Ada petugas keamanan yang menjaga ketertiban. Ada sopir, pekerja pabrik, pegawai ritel, operator transportasi, pekerja tambang, awak media, hingga pekerja migran Indonesia di luar negeri yang hanya bisa melihat keluarga lewat layar ponsel.Hati mereka sama seperti yang lain. Mereka juga rindu ibu. Mereka juga ingin mencium tangan ayah. Mereka juga ingin duduk di ruang tamu sederhana yang penuh kenangan masa kecil. Namun, karena berbagai hal, seperti tidak adanya izin kerja, jarak yang begitu jauh, atau bahkan ketiadaan biaya untuk mudik, keinginan itu harus mereka pendam.Rindu yang bernilai ibadahIslam mengajarkan bahwa setiap amal tergantung pada niatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Jika seseorang bekerja dengan niat mencari nafkah halal, membantu keluarga, menjaga amanah, dan memberi manfaat bagi orang lain, maka pekerjaannya bernilai ibadah.Tidak mudik bukan berarti tidak berbakti. Bisa jadi justru ia sedang berbakti dengan cara yang berbeda: mengirim nafkah, menanggung kebutuhan keluarga, atau menjaga pelayanan bagi masyarakat.Fakta sosial di Indonesia menunjukkan bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan finansial untuk mudik. Biaya tiket transportasi, kebutuhan keluarga, dan kondisi ekonomi sering menjadi penghalang. Islam memahami keterbatasan ini.Allah Azza wa Jalla berfirman,لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)Jika seseorang tidak mampu pulang karena keterbatasan biaya, ia tidak berdosa. Bahkan kesabarannya dalam kondisi sempit menjadi pahala.Amanah didahulukan daripada keinginan pribadiIslam sangat menekankan pentingnya amanah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa’: 58)Pekerjaan adalah amanah. Kontrak kerja adalah amanah. Tanggung jawab profesi adalah amanah.Sering kali yang tidak mudik adalah mereka yang justru dibutuhkan banyak orang, seperti petugas medis, aparat keamanan, pekerja transportasi, karyawan layanan publik, dan banyak profesi lain yang membuat orang lain bisa merayakan hari raya dengan aman dan nyaman.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ“Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang dari kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan baik.” (HR. Thabrani dan Baihaqi)Menjaga profesionalitas di hari raya adalah bentuk ihsan (berbuat baik). Bisa jadi pahala lebih besar karena menahan rindu demi menjaga amanah.Bekerja mencari nafkah adalah kemuliaanSebagian orang merasa rendah hati karena tidak bisa pulang. Padahal, bekerja mencari nafkah halal untuk keluarga termasuk amal yang besar. Dari Al-Miqdam bin Ma‘di Karib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما أكل أحد طعاما قط خيرا من أن يأكل من عمل يده، وإن نبي الله داود صلى الله عليه وسلم كان يأكل من عمل يده“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik sama sekali daripada makanan yang ia makan dari hasil kerja tangannya sendiri. Dan sungguh Nabi Allah Dawud ‘alaihis salam dahulu makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)Di Indonesia, banyak pekerja di kota besar yang menjadi tulang punggung keluarga di desa. Uang yang dikirim setiap bulan justru menjadi sebab orang tua bisa hidup layak. Maka, pengorbanan tidak mudik bisa jadi bagian dari bakti yang nyata.Baca juga: Memberi Nafkah kepada Anak-Istri adalah Ibadah yang AgungSilaturahim tidak selalu dengan hadir fisikMemang, bertemu langsung memiliki kehangatan tersendiri. Namun, silaturahim tidak terbatas pada pertemuan fisik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا“Orang yang menyambung silaturahim bukanlah yang membalas kunjungan, tetapi yang tetap menyambung ketika diputus.” (HR. Bukhari)Sebagian orang merasa bersalah karena tidak bisa pulang menemui orang tua. Namun, berbakti tidak selalu harus dengan hadir secara fisik. Allah Azza wa Jalla berfirman,فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Bertakwalah kepada Allah semampu kalian.” (QS. At-Taghabun: 16)Jika tidak bisa datang, teleponlah dengan suara lembut. Kirim pesan penuh doa. Transfer nafkah jika mampu. Ucapkan kata-kata yang menenangkan hati orang tua. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ“Rida Allah tergantung pada rida orang tua.” (HR. Tirmidzi)Rida itu bisa diraih dengan perhatian dan doa, meski terpisah jarak.Kesabaran menahan rinduMenahan rindu bukan perkara ringan. Namun, kesabaran adalah kemuliaan. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali ‘Imran: 146)Diriwayatkan dari Shuhaib radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya itu baik, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan nikmat, dia bersyukur dan itu baik baginya. Dan apabila dia mendapatkan musibah, dia sabar dan itu baik baginya.” (HR. Muslim)Kesabaran menahan rindu adalah ibadah yang mungkin tidak terlihat oleh manusia, tetapi dicatat oleh Allah.Jangan bandingkan diri dengan orang lainDi era media sosial, foto kebersamaan keluarga dapat menambah rasa sepi bagi yang tidak mudik. Namun Allah mengingatkan,وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ“Janganlah engkau memandang dengan kagum terhadap apa yang Kami berikan kepada sebagian dari mereka.” (QS. Thaha: 131)Setiap orang memiliki ujian yang berbeda. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya.Menjadikan momen ini sebagai muhasabahTidak mudik bisa menjadi waktu yang sunyi. Dan kesunyian sering kali mengajarkan kedewasaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ“Dan Dia bersama kalian di mana pun kalian berada.” (QS. Al-Hadid: 4)Mungkin Anda jauh dari keluarga, tetapi tidak pernah jauh dari Allah.Gunakan momen ini untuk:Memperbanyak doa.Mengirimkan doa untuk kedua orang tua.Merenungi perjalanan hidup.Menyusun rencana agar suatu hari bisa pulang dengan lebih baik.Allah Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)Solusi praktis mengobati rinduBeberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:Niatkan pekerjaan sebagai ibadah dan bakti.Jadwalkan video call khusus bersama keluarga.Kirim hadiah kecil sebagai tanda cinta.Datangi masjid untuk merasakan kebersamaan umat.Perbanyak zikir dan doa.Allah Azza wa Jalla berfirman,فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ“Ingatlah Aku, niscaya Aku ingat kalian.” (QS. Al-Baqarah: 152)Wahai Anda yang tetap bekerja saat orang lain pulang…Allah mengetahui rindu yang Anda simpan dalam diam. Allah melihat pengorbanan yang mungkin tidak disorot manusia. Allah mencatat setiap langkah yang Anda tempuh demi nafkah halal dan amanah yang dijaga.Tidak mudik bukan tanda kurang cinta. Tidak pulang bukan berarti kurang bakti. Bisa jadi justru Anda sedang menjalani bentuk pengabdian yang lebih sunyi, namun lebih berat timbangannya di sisi Allah.Jika tahun ini belum Allah izinkan untuk berkumpul, percayalah bahwa setiap kesabaran ada batas akhirnya. Setiap rindu yang ditahan akan diganti dengan pertemuan yang lebih hangat, pada waktu yang terbaik menurut-Nya.Dan jika jarak masih memisahkan, doa tidak pernah terhalang ruang dan waktu. Doa seorang anak tetap sampai. Nafkah yang dikirim tetap menjadi bukti cinta. Kesungguhan hati tetap bernilai ibadah.Semoga Allah menjaga keluarga yang jauh di sana. Semoga Allah melapangkan rezeki dan langkah kita. Semoga Allah mempertemukan kembali dalam keadaan terbaik, di dunia dan kelak di surga-Nya.Wallahu Ta‘ala A‘lam.Baca juga: Mudik: Lebih dari Sekadar Pulang Kampung***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleRindu yang bernilai ibadahAmanah didahulukan daripada keinginan pribadiBekerja mencari nafkah adalah kemuliaanSilaturahim tidak selalu dengan hadir fisikKesabaran menahan rinduJangan bandingkan diri dengan orang lainMenjadikan momen ini sebagai muhasabahSolusi praktis mengobati rinduSetiap musim mudik tiba, Indonesia seperti bergerak bersama. Data dari Kementerian Perhubungan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa puluhan hingga ratusan juta orang melakukan perjalanan mudik setiap Idul Fitri. Jalan tol padat, pelabuhan penuh, bandara sibuk, stasiun sesak. Mudik telah menjadi tradisi nasional yang sangat kuat.Namun di balik arus besar itu, ada jutaan orang yang tetap tinggal. Mereka tidak pulang. Bukan karena tidak rindu, tetapi karena tanggung jawab.Ada tenaga kesehatan yang berjaga di rumah sakit. Ada petugas keamanan yang menjaga ketertiban. Ada sopir, pekerja pabrik, pegawai ritel, operator transportasi, pekerja tambang, awak media, hingga pekerja migran Indonesia di luar negeri yang hanya bisa melihat keluarga lewat layar ponsel.Hati mereka sama seperti yang lain. Mereka juga rindu ibu. Mereka juga ingin mencium tangan ayah. Mereka juga ingin duduk di ruang tamu sederhana yang penuh kenangan masa kecil. Namun, karena berbagai hal, seperti tidak adanya izin kerja, jarak yang begitu jauh, atau bahkan ketiadaan biaya untuk mudik, keinginan itu harus mereka pendam.Rindu yang bernilai ibadahIslam mengajarkan bahwa setiap amal tergantung pada niatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Jika seseorang bekerja dengan niat mencari nafkah halal, membantu keluarga, menjaga amanah, dan memberi manfaat bagi orang lain, maka pekerjaannya bernilai ibadah.Tidak mudik bukan berarti tidak berbakti. Bisa jadi justru ia sedang berbakti dengan cara yang berbeda: mengirim nafkah, menanggung kebutuhan keluarga, atau menjaga pelayanan bagi masyarakat.Fakta sosial di Indonesia menunjukkan bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan finansial untuk mudik. Biaya tiket transportasi, kebutuhan keluarga, dan kondisi ekonomi sering menjadi penghalang. Islam memahami keterbatasan ini.Allah Azza wa Jalla berfirman,لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)Jika seseorang tidak mampu pulang karena keterbatasan biaya, ia tidak berdosa. Bahkan kesabarannya dalam kondisi sempit menjadi pahala.Amanah didahulukan daripada keinginan pribadiIslam sangat menekankan pentingnya amanah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa’: 58)Pekerjaan adalah amanah. Kontrak kerja adalah amanah. Tanggung jawab profesi adalah amanah.Sering kali yang tidak mudik adalah mereka yang justru dibutuhkan banyak orang, seperti petugas medis, aparat keamanan, pekerja transportasi, karyawan layanan publik, dan banyak profesi lain yang membuat orang lain bisa merayakan hari raya dengan aman dan nyaman.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ“Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang dari kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan baik.” (HR. Thabrani dan Baihaqi)Menjaga profesionalitas di hari raya adalah bentuk ihsan (berbuat baik). Bisa jadi pahala lebih besar karena menahan rindu demi menjaga amanah.Bekerja mencari nafkah adalah kemuliaanSebagian orang merasa rendah hati karena tidak bisa pulang. Padahal, bekerja mencari nafkah halal untuk keluarga termasuk amal yang besar. Dari Al-Miqdam bin Ma‘di Karib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما أكل أحد طعاما قط خيرا من أن يأكل من عمل يده، وإن نبي الله داود صلى الله عليه وسلم كان يأكل من عمل يده“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik sama sekali daripada makanan yang ia makan dari hasil kerja tangannya sendiri. Dan sungguh Nabi Allah Dawud ‘alaihis salam dahulu makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)Di Indonesia, banyak pekerja di kota besar yang menjadi tulang punggung keluarga di desa. Uang yang dikirim setiap bulan justru menjadi sebab orang tua bisa hidup layak. Maka, pengorbanan tidak mudik bisa jadi bagian dari bakti yang nyata.Baca juga: Memberi Nafkah kepada Anak-Istri adalah Ibadah yang AgungSilaturahim tidak selalu dengan hadir fisikMemang, bertemu langsung memiliki kehangatan tersendiri. Namun, silaturahim tidak terbatas pada pertemuan fisik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا“Orang yang menyambung silaturahim bukanlah yang membalas kunjungan, tetapi yang tetap menyambung ketika diputus.” (HR. Bukhari)Sebagian orang merasa bersalah karena tidak bisa pulang menemui orang tua. Namun, berbakti tidak selalu harus dengan hadir secara fisik. Allah Azza wa Jalla berfirman,فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Bertakwalah kepada Allah semampu kalian.” (QS. At-Taghabun: 16)Jika tidak bisa datang, teleponlah dengan suara lembut. Kirim pesan penuh doa. Transfer nafkah jika mampu. Ucapkan kata-kata yang menenangkan hati orang tua. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ“Rida Allah tergantung pada rida orang tua.” (HR. Tirmidzi)Rida itu bisa diraih dengan perhatian dan doa, meski terpisah jarak.Kesabaran menahan rinduMenahan rindu bukan perkara ringan. Namun, kesabaran adalah kemuliaan. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali ‘Imran: 146)Diriwayatkan dari Shuhaib radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya itu baik, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan nikmat, dia bersyukur dan itu baik baginya. Dan apabila dia mendapatkan musibah, dia sabar dan itu baik baginya.” (HR. Muslim)Kesabaran menahan rindu adalah ibadah yang mungkin tidak terlihat oleh manusia, tetapi dicatat oleh Allah.Jangan bandingkan diri dengan orang lainDi era media sosial, foto kebersamaan keluarga dapat menambah rasa sepi bagi yang tidak mudik. Namun Allah mengingatkan,وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ“Janganlah engkau memandang dengan kagum terhadap apa yang Kami berikan kepada sebagian dari mereka.” (QS. Thaha: 131)Setiap orang memiliki ujian yang berbeda. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya.Menjadikan momen ini sebagai muhasabahTidak mudik bisa menjadi waktu yang sunyi. Dan kesunyian sering kali mengajarkan kedewasaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ“Dan Dia bersama kalian di mana pun kalian berada.” (QS. Al-Hadid: 4)Mungkin Anda jauh dari keluarga, tetapi tidak pernah jauh dari Allah.Gunakan momen ini untuk:Memperbanyak doa.Mengirimkan doa untuk kedua orang tua.Merenungi perjalanan hidup.Menyusun rencana agar suatu hari bisa pulang dengan lebih baik.Allah Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)Solusi praktis mengobati rinduBeberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:Niatkan pekerjaan sebagai ibadah dan bakti.Jadwalkan video call khusus bersama keluarga.Kirim hadiah kecil sebagai tanda cinta.Datangi masjid untuk merasakan kebersamaan umat.Perbanyak zikir dan doa.Allah Azza wa Jalla berfirman,فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ“Ingatlah Aku, niscaya Aku ingat kalian.” (QS. Al-Baqarah: 152)Wahai Anda yang tetap bekerja saat orang lain pulang…Allah mengetahui rindu yang Anda simpan dalam diam. Allah melihat pengorbanan yang mungkin tidak disorot manusia. Allah mencatat setiap langkah yang Anda tempuh demi nafkah halal dan amanah yang dijaga.Tidak mudik bukan tanda kurang cinta. Tidak pulang bukan berarti kurang bakti. Bisa jadi justru Anda sedang menjalani bentuk pengabdian yang lebih sunyi, namun lebih berat timbangannya di sisi Allah.Jika tahun ini belum Allah izinkan untuk berkumpul, percayalah bahwa setiap kesabaran ada batas akhirnya. Setiap rindu yang ditahan akan diganti dengan pertemuan yang lebih hangat, pada waktu yang terbaik menurut-Nya.Dan jika jarak masih memisahkan, doa tidak pernah terhalang ruang dan waktu. Doa seorang anak tetap sampai. Nafkah yang dikirim tetap menjadi bukti cinta. Kesungguhan hati tetap bernilai ibadah.Semoga Allah menjaga keluarga yang jauh di sana. Semoga Allah melapangkan rezeki dan langkah kita. Semoga Allah mempertemukan kembali dalam keadaan terbaik, di dunia dan kelak di surga-Nya.Wallahu Ta‘ala A‘lam.Baca juga: Mudik: Lebih dari Sekadar Pulang Kampung***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleRindu yang bernilai ibadahAmanah didahulukan daripada keinginan pribadiBekerja mencari nafkah adalah kemuliaanSilaturahim tidak selalu dengan hadir fisikKesabaran menahan rinduJangan bandingkan diri dengan orang lainMenjadikan momen ini sebagai muhasabahSolusi praktis mengobati rinduSetiap musim mudik tiba, Indonesia seperti bergerak bersama. Data dari Kementerian Perhubungan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa puluhan hingga ratusan juta orang melakukan perjalanan mudik setiap Idul Fitri. Jalan tol padat, pelabuhan penuh, bandara sibuk, stasiun sesak. Mudik telah menjadi tradisi nasional yang sangat kuat.Namun di balik arus besar itu, ada jutaan orang yang tetap tinggal. Mereka tidak pulang. Bukan karena tidak rindu, tetapi karena tanggung jawab.Ada tenaga kesehatan yang berjaga di rumah sakit. Ada petugas keamanan yang menjaga ketertiban. Ada sopir, pekerja pabrik, pegawai ritel, operator transportasi, pekerja tambang, awak media, hingga pekerja migran Indonesia di luar negeri yang hanya bisa melihat keluarga lewat layar ponsel.Hati mereka sama seperti yang lain. Mereka juga rindu ibu. Mereka juga ingin mencium tangan ayah. Mereka juga ingin duduk di ruang tamu sederhana yang penuh kenangan masa kecil. Namun, karena berbagai hal, seperti tidak adanya izin kerja, jarak yang begitu jauh, atau bahkan ketiadaan biaya untuk mudik, keinginan itu harus mereka pendam.Rindu yang bernilai ibadahIslam mengajarkan bahwa setiap amal tergantung pada niatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Jika seseorang bekerja dengan niat mencari nafkah halal, membantu keluarga, menjaga amanah, dan memberi manfaat bagi orang lain, maka pekerjaannya bernilai ibadah.Tidak mudik bukan berarti tidak berbakti. Bisa jadi justru ia sedang berbakti dengan cara yang berbeda: mengirim nafkah, menanggung kebutuhan keluarga, atau menjaga pelayanan bagi masyarakat.Fakta sosial di Indonesia menunjukkan bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan finansial untuk mudik. Biaya tiket transportasi, kebutuhan keluarga, dan kondisi ekonomi sering menjadi penghalang. Islam memahami keterbatasan ini.Allah Azza wa Jalla berfirman,لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)Jika seseorang tidak mampu pulang karena keterbatasan biaya, ia tidak berdosa. Bahkan kesabarannya dalam kondisi sempit menjadi pahala.Amanah didahulukan daripada keinginan pribadiIslam sangat menekankan pentingnya amanah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa’: 58)Pekerjaan adalah amanah. Kontrak kerja adalah amanah. Tanggung jawab profesi adalah amanah.Sering kali yang tidak mudik adalah mereka yang justru dibutuhkan banyak orang, seperti petugas medis, aparat keamanan, pekerja transportasi, karyawan layanan publik, dan banyak profesi lain yang membuat orang lain bisa merayakan hari raya dengan aman dan nyaman.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ“Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang dari kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan baik.” (HR. Thabrani dan Baihaqi)Menjaga profesionalitas di hari raya adalah bentuk ihsan (berbuat baik). Bisa jadi pahala lebih besar karena menahan rindu demi menjaga amanah.Bekerja mencari nafkah adalah kemuliaanSebagian orang merasa rendah hati karena tidak bisa pulang. Padahal, bekerja mencari nafkah halal untuk keluarga termasuk amal yang besar. Dari Al-Miqdam bin Ma‘di Karib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما أكل أحد طعاما قط خيرا من أن يأكل من عمل يده، وإن نبي الله داود صلى الله عليه وسلم كان يأكل من عمل يده“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik sama sekali daripada makanan yang ia makan dari hasil kerja tangannya sendiri. Dan sungguh Nabi Allah Dawud ‘alaihis salam dahulu makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)Di Indonesia, banyak pekerja di kota besar yang menjadi tulang punggung keluarga di desa. Uang yang dikirim setiap bulan justru menjadi sebab orang tua bisa hidup layak. Maka, pengorbanan tidak mudik bisa jadi bagian dari bakti yang nyata.Baca juga: Memberi Nafkah kepada Anak-Istri adalah Ibadah yang AgungSilaturahim tidak selalu dengan hadir fisikMemang, bertemu langsung memiliki kehangatan tersendiri. Namun, silaturahim tidak terbatas pada pertemuan fisik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا“Orang yang menyambung silaturahim bukanlah yang membalas kunjungan, tetapi yang tetap menyambung ketika diputus.” (HR. Bukhari)Sebagian orang merasa bersalah karena tidak bisa pulang menemui orang tua. Namun, berbakti tidak selalu harus dengan hadir secara fisik. Allah Azza wa Jalla berfirman,فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Bertakwalah kepada Allah semampu kalian.” (QS. At-Taghabun: 16)Jika tidak bisa datang, teleponlah dengan suara lembut. Kirim pesan penuh doa. Transfer nafkah jika mampu. Ucapkan kata-kata yang menenangkan hati orang tua. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ“Rida Allah tergantung pada rida orang tua.” (HR. Tirmidzi)Rida itu bisa diraih dengan perhatian dan doa, meski terpisah jarak.Kesabaran menahan rinduMenahan rindu bukan perkara ringan. Namun, kesabaran adalah kemuliaan. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali ‘Imran: 146)Diriwayatkan dari Shuhaib radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya itu baik, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan nikmat, dia bersyukur dan itu baik baginya. Dan apabila dia mendapatkan musibah, dia sabar dan itu baik baginya.” (HR. Muslim)Kesabaran menahan rindu adalah ibadah yang mungkin tidak terlihat oleh manusia, tetapi dicatat oleh Allah.Jangan bandingkan diri dengan orang lainDi era media sosial, foto kebersamaan keluarga dapat menambah rasa sepi bagi yang tidak mudik. Namun Allah mengingatkan,وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ“Janganlah engkau memandang dengan kagum terhadap apa yang Kami berikan kepada sebagian dari mereka.” (QS. Thaha: 131)Setiap orang memiliki ujian yang berbeda. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya.Menjadikan momen ini sebagai muhasabahTidak mudik bisa menjadi waktu yang sunyi. Dan kesunyian sering kali mengajarkan kedewasaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ“Dan Dia bersama kalian di mana pun kalian berada.” (QS. Al-Hadid: 4)Mungkin Anda jauh dari keluarga, tetapi tidak pernah jauh dari Allah.Gunakan momen ini untuk:Memperbanyak doa.Mengirimkan doa untuk kedua orang tua.Merenungi perjalanan hidup.Menyusun rencana agar suatu hari bisa pulang dengan lebih baik.Allah Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)Solusi praktis mengobati rinduBeberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:Niatkan pekerjaan sebagai ibadah dan bakti.Jadwalkan video call khusus bersama keluarga.Kirim hadiah kecil sebagai tanda cinta.Datangi masjid untuk merasakan kebersamaan umat.Perbanyak zikir dan doa.Allah Azza wa Jalla berfirman,فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ“Ingatlah Aku, niscaya Aku ingat kalian.” (QS. Al-Baqarah: 152)Wahai Anda yang tetap bekerja saat orang lain pulang…Allah mengetahui rindu yang Anda simpan dalam diam. Allah melihat pengorbanan yang mungkin tidak disorot manusia. Allah mencatat setiap langkah yang Anda tempuh demi nafkah halal dan amanah yang dijaga.Tidak mudik bukan tanda kurang cinta. Tidak pulang bukan berarti kurang bakti. Bisa jadi justru Anda sedang menjalani bentuk pengabdian yang lebih sunyi, namun lebih berat timbangannya di sisi Allah.Jika tahun ini belum Allah izinkan untuk berkumpul, percayalah bahwa setiap kesabaran ada batas akhirnya. Setiap rindu yang ditahan akan diganti dengan pertemuan yang lebih hangat, pada waktu yang terbaik menurut-Nya.Dan jika jarak masih memisahkan, doa tidak pernah terhalang ruang dan waktu. Doa seorang anak tetap sampai. Nafkah yang dikirim tetap menjadi bukti cinta. Kesungguhan hati tetap bernilai ibadah.Semoga Allah menjaga keluarga yang jauh di sana. Semoga Allah melapangkan rezeki dan langkah kita. Semoga Allah mempertemukan kembali dalam keadaan terbaik, di dunia dan kelak di surga-Nya.Wallahu Ta‘ala A‘lam.Baca juga: Mudik: Lebih dari Sekadar Pulang Kampung***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Mudik atau Liburan? Simak Aturan Lengkap Jamak Qashar Agar Ibadah Tetap Sah

https://youtu.be/N59ugSDv0kc Syaikh kami, ia ingin penjelasan rinci mengenai tenggat waktu yang membolehkan seorang musafir untuk menjamak dan mengqashar shalatnya. Hukum asal shalat adalah dilaksanakan secara sempurna. Setiap shalat ditunaikan pada waktunya masing-masing. Hal ini berdasarkan firman Allah Jalla wa ‘Ala: “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang mukmin.” (QS. An-Nisa: 103). Dengan demikian, wajib bagi setiap insan untuk melaksanakan shalat tepat pada waktunya, dan tidak diperbolehkan menunda shalat atau menjamak dua shalat sekaligus, tanpa (ada uzurnya). Setiap insan harus tetap mengupayakan shalat pada waktunya, serta menjalankannya dengan rakaat yang sempurna. Jika hal ini telah dipahami, maka seseorang diperbolehkan mengqashar shalat dalam beberapa kondisi. Kondisi pertama: Saat ia berpindah dari satu daerah ke daerah lain sebagai seorang musafir. Berdasarkan firman Allah Jalla wa ‘Ala: “Apabila kamu bepergian di bumi, maka tidak ada dosa bagimu untuk mengqashar shalat, jika kamu takut diserang orang-orang kafir.” (QS. An-Nisa: 101). Kondisi kedua: Jika seseorang menetap sementara di tempat tujuan selama satu, dua, tiga, atau empat hari. Maka saat itu ia boleh mengambil rukhshah (keringanan) untuk menjamak dan mengqashar shalatnya. Adapun jika ia menetap sementara lebih dari batas waktu itu (lebih dari 4 hari), maka ia wajib menyempurnakan shalatnya (sesuai waktu dan rakaat aslinya). Demikian pula jika ia menetap di suatu tempat, tanpa tahu berapa lama ia akan menetap dan kapan akan berakhir urusannya, ia menunggu suatu urusan yang ia harap bisa selesai setiap harinya, maka dalam kondisi ini ia pun diperbolehkan mengambil keringanan safar. Sedangkan orang yang menetap sementara, tapi mengetahui berapa lama durasinya, dan itu lebih dari empat hari, maka ia wajib menyempurnakan shalatnya (sesuai waktu dan jumlah rakaat aslinya), karena ia tidak lagi dianggap sebagai orang yang sedang bepergian. Sebab Allah Ta’ala berfirman: “Apabila kamu bepergian di bumi, maka tidak ada dosa bagimu untuk mengqashar shalat…” Dari ayat ini dapat dipahami bahwa orang yang sudah tidak lagi dalam keadaan bepergian, maka ia berdosa jika tetap mengqashar shalatnya. ===== سَأَلَتْ شَيْخَنَا تُرِيدُ التَّفْصِيلَ فِي الْمُدَّةِ الَّتِي يَجُوزُ لِلْمُسَافِرِ أَنْ يَجْمَعَ وَيَقْصُرَ الصَّلَوَاتِ الْأَصْلُ فِي الصَّلَاةِ أَنْ تُؤَدَّى تَامَّةً كُلُّ صَلَاةٍ فِي وَقْتِهَا لِقَوْلِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا وَبِالتَّالِي الْوَاجِبُ عَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يَقُومَ بِأَدَاءِ الصَّلَوَاتِ فِي أَوْقَاتِهَا وَلَا يَجُوزُ لِلْإِنْسَانِ أَنْ يُؤَخِّرَ الصَّلَاةَ أَوْ أَنْ يَجْمَعَ الصَّلَاتَيْنِ بِدُونِ أَنْ بَلْ لَا بُدَّ أَنْ يُؤَدِّيَ كُلَّ صَلَاةٍ فِي وَقْتِهَا وَأَنْ يُؤَدِّيَهَا تَامَّةً إِذَا تَقَرَّرَ هَذَا فَإِنَّ الْإِنْسَانَ يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَقْصُرَ الصَّلَاةَ فِي أَحْوَالٍ الْحَالَةُ الْأُولَى عِنْدَ انْتِقَالِهِ مِنْ بَلَدٍ إِلَى بَلَدٍ آخَرَ مُسَافِرًا لِقَوْلِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا الْحَالَةُ الثَّانِيَةُ إِذَا أَقَامَ الْإِنْسَانُ إِقَامَةً مُؤَقَّتَةً لِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةٍ أَوْ أَرْبَعَةٍ جَازَ لَهُ حِينَئِذٍ أَنْ يَأْخُذَ بِالرُّخْصَةِ وَأَنْ يَجْمَعَ وَأَنْ يَقْصُرَ أَمَّا إِذَا زَادَتْ إِقَامَتُهُ الْمُؤَقَّتَةُ عَلَى هَذَا الْمِقْدَارِ وَجَبَ عَلَيْهِ إِتْمَامُ الصَّلَاةِ وَهَكَذَا إِذَا أَقَامَ إِقَامَةً لَا يَدْرِي مَا مَدَى هَذِهِ الْإِقَامَةِ وَلَا مَتَى سَتَنْتَهِي يَنْتَظِرُ أَمْرًا يَرْجُو خَلَاصَهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ فَهَذَا أَيْضًا يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَتَرَخَّصَ بِرُخَصِ السَّفَرِ وَأَمَّا مَنْ أَقَامَ إِقَامَةً مُؤَقَّتَةً يَعْلَمُ مَدَاهَا وَيَكُونُ أَمَدُهَا زَائِدًا عَنْ أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِ إِتْمَامُ الصَّلَاةِ لِكَوْنِهِ لَمْ يَعُدْ ضَارِبًا فِي الْأَرْضِ وَاللَّهُ تَعَالَى قَالَ وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ فَفُهِمَ مِنْهُ أَنَّ مَنْ لَمْ يَضْرِبْ فِي الْأَرْضِ فَعَلَيْهِ جُنَاحٌ مَتَى قَصَرَ الصَّلَاةَ

Mudik atau Liburan? Simak Aturan Lengkap Jamak Qashar Agar Ibadah Tetap Sah

https://youtu.be/N59ugSDv0kc Syaikh kami, ia ingin penjelasan rinci mengenai tenggat waktu yang membolehkan seorang musafir untuk menjamak dan mengqashar shalatnya. Hukum asal shalat adalah dilaksanakan secara sempurna. Setiap shalat ditunaikan pada waktunya masing-masing. Hal ini berdasarkan firman Allah Jalla wa ‘Ala: “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang mukmin.” (QS. An-Nisa: 103). Dengan demikian, wajib bagi setiap insan untuk melaksanakan shalat tepat pada waktunya, dan tidak diperbolehkan menunda shalat atau menjamak dua shalat sekaligus, tanpa (ada uzurnya). Setiap insan harus tetap mengupayakan shalat pada waktunya, serta menjalankannya dengan rakaat yang sempurna. Jika hal ini telah dipahami, maka seseorang diperbolehkan mengqashar shalat dalam beberapa kondisi. Kondisi pertama: Saat ia berpindah dari satu daerah ke daerah lain sebagai seorang musafir. Berdasarkan firman Allah Jalla wa ‘Ala: “Apabila kamu bepergian di bumi, maka tidak ada dosa bagimu untuk mengqashar shalat, jika kamu takut diserang orang-orang kafir.” (QS. An-Nisa: 101). Kondisi kedua: Jika seseorang menetap sementara di tempat tujuan selama satu, dua, tiga, atau empat hari. Maka saat itu ia boleh mengambil rukhshah (keringanan) untuk menjamak dan mengqashar shalatnya. Adapun jika ia menetap sementara lebih dari batas waktu itu (lebih dari 4 hari), maka ia wajib menyempurnakan shalatnya (sesuai waktu dan rakaat aslinya). Demikian pula jika ia menetap di suatu tempat, tanpa tahu berapa lama ia akan menetap dan kapan akan berakhir urusannya, ia menunggu suatu urusan yang ia harap bisa selesai setiap harinya, maka dalam kondisi ini ia pun diperbolehkan mengambil keringanan safar. Sedangkan orang yang menetap sementara, tapi mengetahui berapa lama durasinya, dan itu lebih dari empat hari, maka ia wajib menyempurnakan shalatnya (sesuai waktu dan jumlah rakaat aslinya), karena ia tidak lagi dianggap sebagai orang yang sedang bepergian. Sebab Allah Ta’ala berfirman: “Apabila kamu bepergian di bumi, maka tidak ada dosa bagimu untuk mengqashar shalat…” Dari ayat ini dapat dipahami bahwa orang yang sudah tidak lagi dalam keadaan bepergian, maka ia berdosa jika tetap mengqashar shalatnya. ===== سَأَلَتْ شَيْخَنَا تُرِيدُ التَّفْصِيلَ فِي الْمُدَّةِ الَّتِي يَجُوزُ لِلْمُسَافِرِ أَنْ يَجْمَعَ وَيَقْصُرَ الصَّلَوَاتِ الْأَصْلُ فِي الصَّلَاةِ أَنْ تُؤَدَّى تَامَّةً كُلُّ صَلَاةٍ فِي وَقْتِهَا لِقَوْلِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا وَبِالتَّالِي الْوَاجِبُ عَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يَقُومَ بِأَدَاءِ الصَّلَوَاتِ فِي أَوْقَاتِهَا وَلَا يَجُوزُ لِلْإِنْسَانِ أَنْ يُؤَخِّرَ الصَّلَاةَ أَوْ أَنْ يَجْمَعَ الصَّلَاتَيْنِ بِدُونِ أَنْ بَلْ لَا بُدَّ أَنْ يُؤَدِّيَ كُلَّ صَلَاةٍ فِي وَقْتِهَا وَأَنْ يُؤَدِّيَهَا تَامَّةً إِذَا تَقَرَّرَ هَذَا فَإِنَّ الْإِنْسَانَ يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَقْصُرَ الصَّلَاةَ فِي أَحْوَالٍ الْحَالَةُ الْأُولَى عِنْدَ انْتِقَالِهِ مِنْ بَلَدٍ إِلَى بَلَدٍ آخَرَ مُسَافِرًا لِقَوْلِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا الْحَالَةُ الثَّانِيَةُ إِذَا أَقَامَ الْإِنْسَانُ إِقَامَةً مُؤَقَّتَةً لِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةٍ أَوْ أَرْبَعَةٍ جَازَ لَهُ حِينَئِذٍ أَنْ يَأْخُذَ بِالرُّخْصَةِ وَأَنْ يَجْمَعَ وَأَنْ يَقْصُرَ أَمَّا إِذَا زَادَتْ إِقَامَتُهُ الْمُؤَقَّتَةُ عَلَى هَذَا الْمِقْدَارِ وَجَبَ عَلَيْهِ إِتْمَامُ الصَّلَاةِ وَهَكَذَا إِذَا أَقَامَ إِقَامَةً لَا يَدْرِي مَا مَدَى هَذِهِ الْإِقَامَةِ وَلَا مَتَى سَتَنْتَهِي يَنْتَظِرُ أَمْرًا يَرْجُو خَلَاصَهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ فَهَذَا أَيْضًا يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَتَرَخَّصَ بِرُخَصِ السَّفَرِ وَأَمَّا مَنْ أَقَامَ إِقَامَةً مُؤَقَّتَةً يَعْلَمُ مَدَاهَا وَيَكُونُ أَمَدُهَا زَائِدًا عَنْ أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِ إِتْمَامُ الصَّلَاةِ لِكَوْنِهِ لَمْ يَعُدْ ضَارِبًا فِي الْأَرْضِ وَاللَّهُ تَعَالَى قَالَ وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ فَفُهِمَ مِنْهُ أَنَّ مَنْ لَمْ يَضْرِبْ فِي الْأَرْضِ فَعَلَيْهِ جُنَاحٌ مَتَى قَصَرَ الصَّلَاةَ
https://youtu.be/N59ugSDv0kc Syaikh kami, ia ingin penjelasan rinci mengenai tenggat waktu yang membolehkan seorang musafir untuk menjamak dan mengqashar shalatnya. Hukum asal shalat adalah dilaksanakan secara sempurna. Setiap shalat ditunaikan pada waktunya masing-masing. Hal ini berdasarkan firman Allah Jalla wa ‘Ala: “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang mukmin.” (QS. An-Nisa: 103). Dengan demikian, wajib bagi setiap insan untuk melaksanakan shalat tepat pada waktunya, dan tidak diperbolehkan menunda shalat atau menjamak dua shalat sekaligus, tanpa (ada uzurnya). Setiap insan harus tetap mengupayakan shalat pada waktunya, serta menjalankannya dengan rakaat yang sempurna. Jika hal ini telah dipahami, maka seseorang diperbolehkan mengqashar shalat dalam beberapa kondisi. Kondisi pertama: Saat ia berpindah dari satu daerah ke daerah lain sebagai seorang musafir. Berdasarkan firman Allah Jalla wa ‘Ala: “Apabila kamu bepergian di bumi, maka tidak ada dosa bagimu untuk mengqashar shalat, jika kamu takut diserang orang-orang kafir.” (QS. An-Nisa: 101). Kondisi kedua: Jika seseorang menetap sementara di tempat tujuan selama satu, dua, tiga, atau empat hari. Maka saat itu ia boleh mengambil rukhshah (keringanan) untuk menjamak dan mengqashar shalatnya. Adapun jika ia menetap sementara lebih dari batas waktu itu (lebih dari 4 hari), maka ia wajib menyempurnakan shalatnya (sesuai waktu dan rakaat aslinya). Demikian pula jika ia menetap di suatu tempat, tanpa tahu berapa lama ia akan menetap dan kapan akan berakhir urusannya, ia menunggu suatu urusan yang ia harap bisa selesai setiap harinya, maka dalam kondisi ini ia pun diperbolehkan mengambil keringanan safar. Sedangkan orang yang menetap sementara, tapi mengetahui berapa lama durasinya, dan itu lebih dari empat hari, maka ia wajib menyempurnakan shalatnya (sesuai waktu dan jumlah rakaat aslinya), karena ia tidak lagi dianggap sebagai orang yang sedang bepergian. Sebab Allah Ta’ala berfirman: “Apabila kamu bepergian di bumi, maka tidak ada dosa bagimu untuk mengqashar shalat…” Dari ayat ini dapat dipahami bahwa orang yang sudah tidak lagi dalam keadaan bepergian, maka ia berdosa jika tetap mengqashar shalatnya. ===== سَأَلَتْ شَيْخَنَا تُرِيدُ التَّفْصِيلَ فِي الْمُدَّةِ الَّتِي يَجُوزُ لِلْمُسَافِرِ أَنْ يَجْمَعَ وَيَقْصُرَ الصَّلَوَاتِ الْأَصْلُ فِي الصَّلَاةِ أَنْ تُؤَدَّى تَامَّةً كُلُّ صَلَاةٍ فِي وَقْتِهَا لِقَوْلِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا وَبِالتَّالِي الْوَاجِبُ عَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يَقُومَ بِأَدَاءِ الصَّلَوَاتِ فِي أَوْقَاتِهَا وَلَا يَجُوزُ لِلْإِنْسَانِ أَنْ يُؤَخِّرَ الصَّلَاةَ أَوْ أَنْ يَجْمَعَ الصَّلَاتَيْنِ بِدُونِ أَنْ بَلْ لَا بُدَّ أَنْ يُؤَدِّيَ كُلَّ صَلَاةٍ فِي وَقْتِهَا وَأَنْ يُؤَدِّيَهَا تَامَّةً إِذَا تَقَرَّرَ هَذَا فَإِنَّ الْإِنْسَانَ يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَقْصُرَ الصَّلَاةَ فِي أَحْوَالٍ الْحَالَةُ الْأُولَى عِنْدَ انْتِقَالِهِ مِنْ بَلَدٍ إِلَى بَلَدٍ آخَرَ مُسَافِرًا لِقَوْلِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا الْحَالَةُ الثَّانِيَةُ إِذَا أَقَامَ الْإِنْسَانُ إِقَامَةً مُؤَقَّتَةً لِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةٍ أَوْ أَرْبَعَةٍ جَازَ لَهُ حِينَئِذٍ أَنْ يَأْخُذَ بِالرُّخْصَةِ وَأَنْ يَجْمَعَ وَأَنْ يَقْصُرَ أَمَّا إِذَا زَادَتْ إِقَامَتُهُ الْمُؤَقَّتَةُ عَلَى هَذَا الْمِقْدَارِ وَجَبَ عَلَيْهِ إِتْمَامُ الصَّلَاةِ وَهَكَذَا إِذَا أَقَامَ إِقَامَةً لَا يَدْرِي مَا مَدَى هَذِهِ الْإِقَامَةِ وَلَا مَتَى سَتَنْتَهِي يَنْتَظِرُ أَمْرًا يَرْجُو خَلَاصَهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ فَهَذَا أَيْضًا يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَتَرَخَّصَ بِرُخَصِ السَّفَرِ وَأَمَّا مَنْ أَقَامَ إِقَامَةً مُؤَقَّتَةً يَعْلَمُ مَدَاهَا وَيَكُونُ أَمَدُهَا زَائِدًا عَنْ أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِ إِتْمَامُ الصَّلَاةِ لِكَوْنِهِ لَمْ يَعُدْ ضَارِبًا فِي الْأَرْضِ وَاللَّهُ تَعَالَى قَالَ وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ فَفُهِمَ مِنْهُ أَنَّ مَنْ لَمْ يَضْرِبْ فِي الْأَرْضِ فَعَلَيْهِ جُنَاحٌ مَتَى قَصَرَ الصَّلَاةَ


https://youtu.be/N59ugSDv0kc Syaikh kami, ia ingin penjelasan rinci mengenai tenggat waktu yang membolehkan seorang musafir untuk menjamak dan mengqashar shalatnya. Hukum asal shalat adalah dilaksanakan secara sempurna. Setiap shalat ditunaikan pada waktunya masing-masing. Hal ini berdasarkan firman Allah Jalla wa ‘Ala: “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang mukmin.” (QS. An-Nisa: 103). Dengan demikian, wajib bagi setiap insan untuk melaksanakan shalat tepat pada waktunya, dan tidak diperbolehkan menunda shalat atau menjamak dua shalat sekaligus, tanpa (ada uzurnya). Setiap insan harus tetap mengupayakan shalat pada waktunya, serta menjalankannya dengan rakaat yang sempurna. Jika hal ini telah dipahami, maka seseorang diperbolehkan mengqashar shalat dalam beberapa kondisi. Kondisi pertama: Saat ia berpindah dari satu daerah ke daerah lain sebagai seorang musafir. Berdasarkan firman Allah Jalla wa ‘Ala: “Apabila kamu bepergian di bumi, maka tidak ada dosa bagimu untuk mengqashar shalat, jika kamu takut diserang orang-orang kafir.” (QS. An-Nisa: 101). Kondisi kedua: Jika seseorang menetap sementara di tempat tujuan selama satu, dua, tiga, atau empat hari. Maka saat itu ia boleh mengambil rukhshah (keringanan) untuk menjamak dan mengqashar shalatnya. Adapun jika ia menetap sementara lebih dari batas waktu itu (lebih dari 4 hari), maka ia wajib menyempurnakan shalatnya (sesuai waktu dan rakaat aslinya). Demikian pula jika ia menetap di suatu tempat, tanpa tahu berapa lama ia akan menetap dan kapan akan berakhir urusannya, ia menunggu suatu urusan yang ia harap bisa selesai setiap harinya, maka dalam kondisi ini ia pun diperbolehkan mengambil keringanan safar. Sedangkan orang yang menetap sementara, tapi mengetahui berapa lama durasinya, dan itu lebih dari empat hari, maka ia wajib menyempurnakan shalatnya (sesuai waktu dan jumlah rakaat aslinya), karena ia tidak lagi dianggap sebagai orang yang sedang bepergian. Sebab Allah Ta’ala berfirman: “Apabila kamu bepergian di bumi, maka tidak ada dosa bagimu untuk mengqashar shalat…” Dari ayat ini dapat dipahami bahwa orang yang sudah tidak lagi dalam keadaan bepergian, maka ia berdosa jika tetap mengqashar shalatnya. ===== سَأَلَتْ شَيْخَنَا تُرِيدُ التَّفْصِيلَ فِي الْمُدَّةِ الَّتِي يَجُوزُ لِلْمُسَافِرِ أَنْ يَجْمَعَ وَيَقْصُرَ الصَّلَوَاتِ الْأَصْلُ فِي الصَّلَاةِ أَنْ تُؤَدَّى تَامَّةً كُلُّ صَلَاةٍ فِي وَقْتِهَا لِقَوْلِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا وَبِالتَّالِي الْوَاجِبُ عَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يَقُومَ بِأَدَاءِ الصَّلَوَاتِ فِي أَوْقَاتِهَا وَلَا يَجُوزُ لِلْإِنْسَانِ أَنْ يُؤَخِّرَ الصَّلَاةَ أَوْ أَنْ يَجْمَعَ الصَّلَاتَيْنِ بِدُونِ أَنْ بَلْ لَا بُدَّ أَنْ يُؤَدِّيَ كُلَّ صَلَاةٍ فِي وَقْتِهَا وَأَنْ يُؤَدِّيَهَا تَامَّةً إِذَا تَقَرَّرَ هَذَا فَإِنَّ الْإِنْسَانَ يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَقْصُرَ الصَّلَاةَ فِي أَحْوَالٍ الْحَالَةُ الْأُولَى عِنْدَ انْتِقَالِهِ مِنْ بَلَدٍ إِلَى بَلَدٍ آخَرَ مُسَافِرًا لِقَوْلِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا الْحَالَةُ الثَّانِيَةُ إِذَا أَقَامَ الْإِنْسَانُ إِقَامَةً مُؤَقَّتَةً لِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةٍ أَوْ أَرْبَعَةٍ جَازَ لَهُ حِينَئِذٍ أَنْ يَأْخُذَ بِالرُّخْصَةِ وَأَنْ يَجْمَعَ وَأَنْ يَقْصُرَ أَمَّا إِذَا زَادَتْ إِقَامَتُهُ الْمُؤَقَّتَةُ عَلَى هَذَا الْمِقْدَارِ وَجَبَ عَلَيْهِ إِتْمَامُ الصَّلَاةِ وَهَكَذَا إِذَا أَقَامَ إِقَامَةً لَا يَدْرِي مَا مَدَى هَذِهِ الْإِقَامَةِ وَلَا مَتَى سَتَنْتَهِي يَنْتَظِرُ أَمْرًا يَرْجُو خَلَاصَهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ فَهَذَا أَيْضًا يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَتَرَخَّصَ بِرُخَصِ السَّفَرِ وَأَمَّا مَنْ أَقَامَ إِقَامَةً مُؤَقَّتَةً يَعْلَمُ مَدَاهَا وَيَكُونُ أَمَدُهَا زَائِدًا عَنْ أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِ إِتْمَامُ الصَّلَاةِ لِكَوْنِهِ لَمْ يَعُدْ ضَارِبًا فِي الْأَرْضِ وَاللَّهُ تَعَالَى قَالَ وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ فَفُهِمَ مِنْهُ أَنَّ مَنْ لَمْ يَضْرِبْ فِي الْأَرْضِ فَعَلَيْهِ جُنَاحٌ مَتَى قَصَرَ الصَّلَاةَ

Mudik: Lebih dari Sekadar Pulang Kampung

Daftar Isi TogglePulang sebagai fitrah manusiaMudik dan silaturahimBerbakti kepada orang tua: Inti dari perjalananSafar dalam Islam: Perjalanan yang bernilaiUjian akhlak dalam perjalananJangan jadikan mudik sebagai ajang pamerMudik sebagai muhasabahPenutupSetiap tahun, jutaan manusia bergerak serempak meninggalkan kota-kota besar menuju desa dan kampung halaman. Jalanan macet, terminal penuh, stasiun sesak, bandara padat. Orang rela menempuh perjalanan panjang, menguras tenaga, bahkan menabung berbulan-bulan demi satu tujuan: pulang.Mudik bukan sekadar tradisi tahunan. Ia bukan hanya fenomena sosial atau arus kendaraan yang memadati jalanan. Di balik koper, tiket, dan kemacetan panjang, ada sesuatu yang lebih dalam: kerinduan kepada keluarga, kepada orang tua, kepada akar kehidupan. Ia adalah perjalanan hati. Ia adalah rindu yang tak bisa diukur dengan jarak. Ada ibu yang menunggu di depan pintu. Ada ayah yang diam-diam menghitung hari. Ada rumah lama yang menyimpan kenangan masa kecil. Ada kampung halaman yang selalu terasa berbeda, meskipun sederhana.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya, amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Maka, mudik yang diniatkan untuk menyambung silaturahim, membahagiakan orang tua, memperbaiki hubungan, dan mencari rida Allah, dapat menjadi amal besar di sisi-Nya.Pulang sebagai fitrah manusiaManusia diciptakan dengan fitrah untuk mencintai tempat asalnya. Bahkan, ketika Nabi Adam diturunkan ke bumi, beliau merindukan surga sebagai tempat asalnya. Rindu adalah bagian dari jiwa manusia. Allah Azza wa Jalla berfirman,يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ“Wahai manusia, sesungguhnya engkau sedang berjalan menuju Tuhanmu dengan sungguh-sungguh, dan engkau pasti akan menemui-Nya.” (QS. Al-Insyiqaq: 6)Seluruh hidup sejatinya adalah perjalanan pulang kepada Allah. Mudik di dunia seharusnya menjadi pengingat akan “mudik akhirat”, yaitu pulang yang sesungguhnya.Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan,إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ“Sesungguhnya, kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156)Maka, jangan sampai perjalanan dunia membuat kita lupa pada perjalanan akhirat.Mudik dan silaturahimSalah satu nilai terbesar dalam mudik adalah silaturahim. Banyak orang yang selama setahun sibuk bekerja, jarang bertemu keluarga, bahkan jarang menelpon orang tua. Mudik menjadi momentum memperbaiki hubungan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)Silaturahim bukan sekadar formalitas berjabat tangan, tetapi menghadirkan hati, meminta maaf dengan tulus, dan memperbaiki hubungan yang mungkin retak.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ“Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara kalian.” (QS. Al-Anfal: 1)Mudik menjadi ladang pahala jika diniatkan untuk berbakti kepada orang tua dan menyambung kekerabatan.Baca juga: Beberapa Bentuk Bakti Kepada Orang TuaBerbakti kepada orang tua: Inti dari perjalananDi antara makna terdalam mudik adalah kesempatan bertemu orang tua. Ada yang masih memiliki keduanya, ada yang tinggal satu, dan ada pula yang telah kehilangan keduanya. Bagi yang masih diberi kesempatan, itulah nikmat yang sering kali baru terasa besar ketika ia sudah tiada.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا“Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al-Ahqaf: 15)Dan juga,وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا“Sembahlah Allah dan jangan menyekutukan-Nya, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (QS. An-Nisa’: 36)Berbakti kepada orang tua disebutkan setelah perintah tauhid. Ini menunjukkan betapa agung dan tingginya kedudukan birrul walidain dalam Islam.Banyak orang menyesal ketika orang tuanya telah tiada. Rumah terasa kosong. Suara ibu tak lagi terdengar. Nasihat ayah tak lagi didapatkan. Kesempatan untuk mencium tangan, mendengar cerita yang berulang, dan sekadar duduk berbincang hangat tak akan pernah kembali.Karena itu, mudik adalah peluang emas untuk berbakti. Bukan sekadar hadir secara fisik, tetapi hadir dengan hati. Duduklah bersama mereka. Dengarkan cerita yang mungkin sudah sering diulang; sebab itu bukan hanya cerita, melainkan kebutuhan hati mereka. Cium tangan mereka dengan niat ibadah. Ucapkan kata-kata lembut yang mungkin sederhana, tetapi sangat berarti.Karena mungkin suatu hari nanti, kita ingin pulang, tetapi kesempatan itu sudah tidak ada lagi.Safar dalam Islam: Perjalanan yang bernilaiDalam Islam, safar bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Ia adalah kondisi yang memiliki keistimewaan dan nilai spiritual tersendiri. Mudik termasuk safar, dan safar memiliki adab, doa, serta peluang pahala.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ثلاثُ دعوَاتٍ مُستجاباتٌ لا شَكَّ فيهنَّ : دعوَةُ المظلومِ ، ودعوةُ المسافرِ ، ودعوةُ الوالدِ على ولدِهِ“Tiga doa yang mustajab (dikabulkan), tidak ada keraguan di dalamnya: doa orang yang dizalimi, doa orang yang sedang bepergian (musafir), dan doa orang tua terhadap anaknya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)Doa seorang musafir termasuk doa yang dikabulkan. Ini menunjukkan bahwa perjalanan memiliki kedudukan khusus di sisi Allah. Mudik seharusnya diisi dengan doa, zikir, dan tawakal, bukan kelalaian atau sekadar kesibukan duniawi.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan doa ketika naik kendaraan dengan membaca firman Allah,سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ“Maha Suci Allah yang menundukkan kendaraan ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya.” (QS. Az-Zukhruf: 13)Ayat ini mengingatkan bahwa kendaraan, jalan yang aman, dan kemudahan perjalanan adalah nikmat dari Allah yang patut disyukuri. Dengan niat yang benar dan adab yang dijaga, safar bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan yang mendekatkan diri kepada Allah.Ujian akhlak dalam perjalananMudik bukan hanya tentang rindu dan pertemuan, tetapi juga ujian akhlak. Ia menguji kesabaran, kerendahan hati, dan kemampuan mengendalikan diri.Kemacetan panjang, kelelahan, cuaca panas, biaya perjalanan, bahkan perbedaan pendapat dengan keluarga, semuanya bisa memancing emosi. Dalam kondisi seperti itu, karakter seseorang benar-benar terlihat.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Kesabaran dalam perjalanan bukan hal kecil. Jika diniatkan karena Allah, ia menjadi pahala.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ليس الشَّديدُ بالصُّرَعةِ، إنَّما الشَّديدُ الذي يملِكُ نفسَه عندَ الغَضَبِ“Orang kuat bukanlah yang menang bergulat, tetapi yang mampu mengendalikan diri ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)An-Nawawi rahimahullah menjelaskan hadis ini dan berkata,فيه كَظمُ الغَيظِ، وإمساكُ النَّفسِ عندَ الغَضَبِ عن الانتِصارِ والمُخاصَمةِ والمُنازَعةِ“Di dalamnya terdapat menahan amarah, mengendalikan diri ketika marah dari keinginan untuk membalas, bertengkar, dan berselisih.” (Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim, 16: 162)Mudik adalah ujian pengendalian diri. Bukan yang paling keras suaranya yang kuat, tetapi yang mampu menahan amarahnya. Bukan yang paling cepat membalas, tetapi yang mampu meredam ego.Perjalanan panjang bisa menjadi ladang pahala jika diisi dengan sabar dan akhlak yang baik. Namun, ia juga bisa menjadi ladang dosa jika dipenuhi keluh kesah dan kemarahan. Oleh karena itu, jadikan mudik bukan hanya perjalanan raga, tetapi juga latihan jiwa.Jangan jadikan mudik sebagai ajang pamerTidak jarang mudik berubah menjadi ajang menunjukkan keberhasilan: mobil baru, pakaian mahal, jabatan, atau pencapaian finansial.Padahal, Allah Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya, yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)Dan juga,أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian.” (QS. At-Takatsur: 1)Kemuliaan bukan diukur dari harta yang dibawa pulang, tetapi dari akhlak dan ketakwaan.Mudik sebagai muhasabahPulang kampung sering membawa kita kembali ke masa kecil. Rumah sederhana, halaman tempat bermain, masjid kecil, jalan yang dulu terasa luas.Allah Azza wa Jalla berfirman,اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً“Allah yang menciptakan kalian dari keadaan lemah, kemudian menjadikan setelah lemah itu kuat.” (QS. Ar-Rum: 54)Mudik bisa menjadi momen muhasabah: apakah kita menjadi lebih dekat kepada Allah atau justru semakin jauh?Dan ingatlah,كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ“Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian.” (QS. Ali ‘Imran: 185)Suatu hari nanti, kita akan pulang untuk selamanya.PenutupWahai yang sedang bersiap pulang…Luruskan niatmu sebelum melangkah. Jadikan setiap kilometer perjalanan sebagai ibadah. Isi waktu safarmu dengan doa, bukan keluh kesah. Datangi keluargamu dengan hati yang rendah, bukan dengan kesombongan.Ketika tanganmu mencium tangan ibu, niatkan sebagai bakti. Ketika engkau duduk mendengar nasihat ayah, niatkan sebagai ketaatan. Ketika engkau memaafkan saudara dan kerabat, niatkan sebagai pembersih hati.Karena mungkin suatu hari nanti, engkau ingin pulang, tetapi rumah itu telah sepi. Dan mungkin suatu saat, engkau kembali bukan sebagai tamu, tetapi sebagai jenazah yang diantarkan.Mudik mengajarkan bahwa setiap perjalanan ada ujungnya. Sebagaimana kita kembali ke kampung halaman, kelak kita semua akan kembali kepada Allah.Maka, jadikan mudik dunia sebagai pengingat untuk mempersiapkan mudik terbesar dalam hidup ini, yaitu perjalanan menuju akhirat.Semoga setiap langkah kita bernilai pahala, setiap rindu menjadi ibadah, dan setiap pertemuan membawa keberkahan.Wallāhu Ta‘ala a‘lam.Baca juga: Mudik: Tradisi atau Ibadah?***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Mudik: Lebih dari Sekadar Pulang Kampung

Daftar Isi TogglePulang sebagai fitrah manusiaMudik dan silaturahimBerbakti kepada orang tua: Inti dari perjalananSafar dalam Islam: Perjalanan yang bernilaiUjian akhlak dalam perjalananJangan jadikan mudik sebagai ajang pamerMudik sebagai muhasabahPenutupSetiap tahun, jutaan manusia bergerak serempak meninggalkan kota-kota besar menuju desa dan kampung halaman. Jalanan macet, terminal penuh, stasiun sesak, bandara padat. Orang rela menempuh perjalanan panjang, menguras tenaga, bahkan menabung berbulan-bulan demi satu tujuan: pulang.Mudik bukan sekadar tradisi tahunan. Ia bukan hanya fenomena sosial atau arus kendaraan yang memadati jalanan. Di balik koper, tiket, dan kemacetan panjang, ada sesuatu yang lebih dalam: kerinduan kepada keluarga, kepada orang tua, kepada akar kehidupan. Ia adalah perjalanan hati. Ia adalah rindu yang tak bisa diukur dengan jarak. Ada ibu yang menunggu di depan pintu. Ada ayah yang diam-diam menghitung hari. Ada rumah lama yang menyimpan kenangan masa kecil. Ada kampung halaman yang selalu terasa berbeda, meskipun sederhana.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya, amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Maka, mudik yang diniatkan untuk menyambung silaturahim, membahagiakan orang tua, memperbaiki hubungan, dan mencari rida Allah, dapat menjadi amal besar di sisi-Nya.Pulang sebagai fitrah manusiaManusia diciptakan dengan fitrah untuk mencintai tempat asalnya. Bahkan, ketika Nabi Adam diturunkan ke bumi, beliau merindukan surga sebagai tempat asalnya. Rindu adalah bagian dari jiwa manusia. Allah Azza wa Jalla berfirman,يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ“Wahai manusia, sesungguhnya engkau sedang berjalan menuju Tuhanmu dengan sungguh-sungguh, dan engkau pasti akan menemui-Nya.” (QS. Al-Insyiqaq: 6)Seluruh hidup sejatinya adalah perjalanan pulang kepada Allah. Mudik di dunia seharusnya menjadi pengingat akan “mudik akhirat”, yaitu pulang yang sesungguhnya.Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan,إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ“Sesungguhnya, kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156)Maka, jangan sampai perjalanan dunia membuat kita lupa pada perjalanan akhirat.Mudik dan silaturahimSalah satu nilai terbesar dalam mudik adalah silaturahim. Banyak orang yang selama setahun sibuk bekerja, jarang bertemu keluarga, bahkan jarang menelpon orang tua. Mudik menjadi momentum memperbaiki hubungan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)Silaturahim bukan sekadar formalitas berjabat tangan, tetapi menghadirkan hati, meminta maaf dengan tulus, dan memperbaiki hubungan yang mungkin retak.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ“Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara kalian.” (QS. Al-Anfal: 1)Mudik menjadi ladang pahala jika diniatkan untuk berbakti kepada orang tua dan menyambung kekerabatan.Baca juga: Beberapa Bentuk Bakti Kepada Orang TuaBerbakti kepada orang tua: Inti dari perjalananDi antara makna terdalam mudik adalah kesempatan bertemu orang tua. Ada yang masih memiliki keduanya, ada yang tinggal satu, dan ada pula yang telah kehilangan keduanya. Bagi yang masih diberi kesempatan, itulah nikmat yang sering kali baru terasa besar ketika ia sudah tiada.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا“Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al-Ahqaf: 15)Dan juga,وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا“Sembahlah Allah dan jangan menyekutukan-Nya, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (QS. An-Nisa’: 36)Berbakti kepada orang tua disebutkan setelah perintah tauhid. Ini menunjukkan betapa agung dan tingginya kedudukan birrul walidain dalam Islam.Banyak orang menyesal ketika orang tuanya telah tiada. Rumah terasa kosong. Suara ibu tak lagi terdengar. Nasihat ayah tak lagi didapatkan. Kesempatan untuk mencium tangan, mendengar cerita yang berulang, dan sekadar duduk berbincang hangat tak akan pernah kembali.Karena itu, mudik adalah peluang emas untuk berbakti. Bukan sekadar hadir secara fisik, tetapi hadir dengan hati. Duduklah bersama mereka. Dengarkan cerita yang mungkin sudah sering diulang; sebab itu bukan hanya cerita, melainkan kebutuhan hati mereka. Cium tangan mereka dengan niat ibadah. Ucapkan kata-kata lembut yang mungkin sederhana, tetapi sangat berarti.Karena mungkin suatu hari nanti, kita ingin pulang, tetapi kesempatan itu sudah tidak ada lagi.Safar dalam Islam: Perjalanan yang bernilaiDalam Islam, safar bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Ia adalah kondisi yang memiliki keistimewaan dan nilai spiritual tersendiri. Mudik termasuk safar, dan safar memiliki adab, doa, serta peluang pahala.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ثلاثُ دعوَاتٍ مُستجاباتٌ لا شَكَّ فيهنَّ : دعوَةُ المظلومِ ، ودعوةُ المسافرِ ، ودعوةُ الوالدِ على ولدِهِ“Tiga doa yang mustajab (dikabulkan), tidak ada keraguan di dalamnya: doa orang yang dizalimi, doa orang yang sedang bepergian (musafir), dan doa orang tua terhadap anaknya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)Doa seorang musafir termasuk doa yang dikabulkan. Ini menunjukkan bahwa perjalanan memiliki kedudukan khusus di sisi Allah. Mudik seharusnya diisi dengan doa, zikir, dan tawakal, bukan kelalaian atau sekadar kesibukan duniawi.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan doa ketika naik kendaraan dengan membaca firman Allah,سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ“Maha Suci Allah yang menundukkan kendaraan ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya.” (QS. Az-Zukhruf: 13)Ayat ini mengingatkan bahwa kendaraan, jalan yang aman, dan kemudahan perjalanan adalah nikmat dari Allah yang patut disyukuri. Dengan niat yang benar dan adab yang dijaga, safar bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan yang mendekatkan diri kepada Allah.Ujian akhlak dalam perjalananMudik bukan hanya tentang rindu dan pertemuan, tetapi juga ujian akhlak. Ia menguji kesabaran, kerendahan hati, dan kemampuan mengendalikan diri.Kemacetan panjang, kelelahan, cuaca panas, biaya perjalanan, bahkan perbedaan pendapat dengan keluarga, semuanya bisa memancing emosi. Dalam kondisi seperti itu, karakter seseorang benar-benar terlihat.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Kesabaran dalam perjalanan bukan hal kecil. Jika diniatkan karena Allah, ia menjadi pahala.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ليس الشَّديدُ بالصُّرَعةِ، إنَّما الشَّديدُ الذي يملِكُ نفسَه عندَ الغَضَبِ“Orang kuat bukanlah yang menang bergulat, tetapi yang mampu mengendalikan diri ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)An-Nawawi rahimahullah menjelaskan hadis ini dan berkata,فيه كَظمُ الغَيظِ، وإمساكُ النَّفسِ عندَ الغَضَبِ عن الانتِصارِ والمُخاصَمةِ والمُنازَعةِ“Di dalamnya terdapat menahan amarah, mengendalikan diri ketika marah dari keinginan untuk membalas, bertengkar, dan berselisih.” (Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim, 16: 162)Mudik adalah ujian pengendalian diri. Bukan yang paling keras suaranya yang kuat, tetapi yang mampu menahan amarahnya. Bukan yang paling cepat membalas, tetapi yang mampu meredam ego.Perjalanan panjang bisa menjadi ladang pahala jika diisi dengan sabar dan akhlak yang baik. Namun, ia juga bisa menjadi ladang dosa jika dipenuhi keluh kesah dan kemarahan. Oleh karena itu, jadikan mudik bukan hanya perjalanan raga, tetapi juga latihan jiwa.Jangan jadikan mudik sebagai ajang pamerTidak jarang mudik berubah menjadi ajang menunjukkan keberhasilan: mobil baru, pakaian mahal, jabatan, atau pencapaian finansial.Padahal, Allah Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya, yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)Dan juga,أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian.” (QS. At-Takatsur: 1)Kemuliaan bukan diukur dari harta yang dibawa pulang, tetapi dari akhlak dan ketakwaan.Mudik sebagai muhasabahPulang kampung sering membawa kita kembali ke masa kecil. Rumah sederhana, halaman tempat bermain, masjid kecil, jalan yang dulu terasa luas.Allah Azza wa Jalla berfirman,اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً“Allah yang menciptakan kalian dari keadaan lemah, kemudian menjadikan setelah lemah itu kuat.” (QS. Ar-Rum: 54)Mudik bisa menjadi momen muhasabah: apakah kita menjadi lebih dekat kepada Allah atau justru semakin jauh?Dan ingatlah,كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ“Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian.” (QS. Ali ‘Imran: 185)Suatu hari nanti, kita akan pulang untuk selamanya.PenutupWahai yang sedang bersiap pulang…Luruskan niatmu sebelum melangkah. Jadikan setiap kilometer perjalanan sebagai ibadah. Isi waktu safarmu dengan doa, bukan keluh kesah. Datangi keluargamu dengan hati yang rendah, bukan dengan kesombongan.Ketika tanganmu mencium tangan ibu, niatkan sebagai bakti. Ketika engkau duduk mendengar nasihat ayah, niatkan sebagai ketaatan. Ketika engkau memaafkan saudara dan kerabat, niatkan sebagai pembersih hati.Karena mungkin suatu hari nanti, engkau ingin pulang, tetapi rumah itu telah sepi. Dan mungkin suatu saat, engkau kembali bukan sebagai tamu, tetapi sebagai jenazah yang diantarkan.Mudik mengajarkan bahwa setiap perjalanan ada ujungnya. Sebagaimana kita kembali ke kampung halaman, kelak kita semua akan kembali kepada Allah.Maka, jadikan mudik dunia sebagai pengingat untuk mempersiapkan mudik terbesar dalam hidup ini, yaitu perjalanan menuju akhirat.Semoga setiap langkah kita bernilai pahala, setiap rindu menjadi ibadah, dan setiap pertemuan membawa keberkahan.Wallāhu Ta‘ala a‘lam.Baca juga: Mudik: Tradisi atau Ibadah?***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi TogglePulang sebagai fitrah manusiaMudik dan silaturahimBerbakti kepada orang tua: Inti dari perjalananSafar dalam Islam: Perjalanan yang bernilaiUjian akhlak dalam perjalananJangan jadikan mudik sebagai ajang pamerMudik sebagai muhasabahPenutupSetiap tahun, jutaan manusia bergerak serempak meninggalkan kota-kota besar menuju desa dan kampung halaman. Jalanan macet, terminal penuh, stasiun sesak, bandara padat. Orang rela menempuh perjalanan panjang, menguras tenaga, bahkan menabung berbulan-bulan demi satu tujuan: pulang.Mudik bukan sekadar tradisi tahunan. Ia bukan hanya fenomena sosial atau arus kendaraan yang memadati jalanan. Di balik koper, tiket, dan kemacetan panjang, ada sesuatu yang lebih dalam: kerinduan kepada keluarga, kepada orang tua, kepada akar kehidupan. Ia adalah perjalanan hati. Ia adalah rindu yang tak bisa diukur dengan jarak. Ada ibu yang menunggu di depan pintu. Ada ayah yang diam-diam menghitung hari. Ada rumah lama yang menyimpan kenangan masa kecil. Ada kampung halaman yang selalu terasa berbeda, meskipun sederhana.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya, amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Maka, mudik yang diniatkan untuk menyambung silaturahim, membahagiakan orang tua, memperbaiki hubungan, dan mencari rida Allah, dapat menjadi amal besar di sisi-Nya.Pulang sebagai fitrah manusiaManusia diciptakan dengan fitrah untuk mencintai tempat asalnya. Bahkan, ketika Nabi Adam diturunkan ke bumi, beliau merindukan surga sebagai tempat asalnya. Rindu adalah bagian dari jiwa manusia. Allah Azza wa Jalla berfirman,يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ“Wahai manusia, sesungguhnya engkau sedang berjalan menuju Tuhanmu dengan sungguh-sungguh, dan engkau pasti akan menemui-Nya.” (QS. Al-Insyiqaq: 6)Seluruh hidup sejatinya adalah perjalanan pulang kepada Allah. Mudik di dunia seharusnya menjadi pengingat akan “mudik akhirat”, yaitu pulang yang sesungguhnya.Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan,إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ“Sesungguhnya, kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156)Maka, jangan sampai perjalanan dunia membuat kita lupa pada perjalanan akhirat.Mudik dan silaturahimSalah satu nilai terbesar dalam mudik adalah silaturahim. Banyak orang yang selama setahun sibuk bekerja, jarang bertemu keluarga, bahkan jarang menelpon orang tua. Mudik menjadi momentum memperbaiki hubungan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)Silaturahim bukan sekadar formalitas berjabat tangan, tetapi menghadirkan hati, meminta maaf dengan tulus, dan memperbaiki hubungan yang mungkin retak.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ“Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara kalian.” (QS. Al-Anfal: 1)Mudik menjadi ladang pahala jika diniatkan untuk berbakti kepada orang tua dan menyambung kekerabatan.Baca juga: Beberapa Bentuk Bakti Kepada Orang TuaBerbakti kepada orang tua: Inti dari perjalananDi antara makna terdalam mudik adalah kesempatan bertemu orang tua. Ada yang masih memiliki keduanya, ada yang tinggal satu, dan ada pula yang telah kehilangan keduanya. Bagi yang masih diberi kesempatan, itulah nikmat yang sering kali baru terasa besar ketika ia sudah tiada.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا“Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al-Ahqaf: 15)Dan juga,وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا“Sembahlah Allah dan jangan menyekutukan-Nya, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (QS. An-Nisa’: 36)Berbakti kepada orang tua disebutkan setelah perintah tauhid. Ini menunjukkan betapa agung dan tingginya kedudukan birrul walidain dalam Islam.Banyak orang menyesal ketika orang tuanya telah tiada. Rumah terasa kosong. Suara ibu tak lagi terdengar. Nasihat ayah tak lagi didapatkan. Kesempatan untuk mencium tangan, mendengar cerita yang berulang, dan sekadar duduk berbincang hangat tak akan pernah kembali.Karena itu, mudik adalah peluang emas untuk berbakti. Bukan sekadar hadir secara fisik, tetapi hadir dengan hati. Duduklah bersama mereka. Dengarkan cerita yang mungkin sudah sering diulang; sebab itu bukan hanya cerita, melainkan kebutuhan hati mereka. Cium tangan mereka dengan niat ibadah. Ucapkan kata-kata lembut yang mungkin sederhana, tetapi sangat berarti.Karena mungkin suatu hari nanti, kita ingin pulang, tetapi kesempatan itu sudah tidak ada lagi.Safar dalam Islam: Perjalanan yang bernilaiDalam Islam, safar bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Ia adalah kondisi yang memiliki keistimewaan dan nilai spiritual tersendiri. Mudik termasuk safar, dan safar memiliki adab, doa, serta peluang pahala.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ثلاثُ دعوَاتٍ مُستجاباتٌ لا شَكَّ فيهنَّ : دعوَةُ المظلومِ ، ودعوةُ المسافرِ ، ودعوةُ الوالدِ على ولدِهِ“Tiga doa yang mustajab (dikabulkan), tidak ada keraguan di dalamnya: doa orang yang dizalimi, doa orang yang sedang bepergian (musafir), dan doa orang tua terhadap anaknya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)Doa seorang musafir termasuk doa yang dikabulkan. Ini menunjukkan bahwa perjalanan memiliki kedudukan khusus di sisi Allah. Mudik seharusnya diisi dengan doa, zikir, dan tawakal, bukan kelalaian atau sekadar kesibukan duniawi.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan doa ketika naik kendaraan dengan membaca firman Allah,سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ“Maha Suci Allah yang menundukkan kendaraan ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya.” (QS. Az-Zukhruf: 13)Ayat ini mengingatkan bahwa kendaraan, jalan yang aman, dan kemudahan perjalanan adalah nikmat dari Allah yang patut disyukuri. Dengan niat yang benar dan adab yang dijaga, safar bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan yang mendekatkan diri kepada Allah.Ujian akhlak dalam perjalananMudik bukan hanya tentang rindu dan pertemuan, tetapi juga ujian akhlak. Ia menguji kesabaran, kerendahan hati, dan kemampuan mengendalikan diri.Kemacetan panjang, kelelahan, cuaca panas, biaya perjalanan, bahkan perbedaan pendapat dengan keluarga, semuanya bisa memancing emosi. Dalam kondisi seperti itu, karakter seseorang benar-benar terlihat.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Kesabaran dalam perjalanan bukan hal kecil. Jika diniatkan karena Allah, ia menjadi pahala.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ليس الشَّديدُ بالصُّرَعةِ، إنَّما الشَّديدُ الذي يملِكُ نفسَه عندَ الغَضَبِ“Orang kuat bukanlah yang menang bergulat, tetapi yang mampu mengendalikan diri ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)An-Nawawi rahimahullah menjelaskan hadis ini dan berkata,فيه كَظمُ الغَيظِ، وإمساكُ النَّفسِ عندَ الغَضَبِ عن الانتِصارِ والمُخاصَمةِ والمُنازَعةِ“Di dalamnya terdapat menahan amarah, mengendalikan diri ketika marah dari keinginan untuk membalas, bertengkar, dan berselisih.” (Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim, 16: 162)Mudik adalah ujian pengendalian diri. Bukan yang paling keras suaranya yang kuat, tetapi yang mampu menahan amarahnya. Bukan yang paling cepat membalas, tetapi yang mampu meredam ego.Perjalanan panjang bisa menjadi ladang pahala jika diisi dengan sabar dan akhlak yang baik. Namun, ia juga bisa menjadi ladang dosa jika dipenuhi keluh kesah dan kemarahan. Oleh karena itu, jadikan mudik bukan hanya perjalanan raga, tetapi juga latihan jiwa.Jangan jadikan mudik sebagai ajang pamerTidak jarang mudik berubah menjadi ajang menunjukkan keberhasilan: mobil baru, pakaian mahal, jabatan, atau pencapaian finansial.Padahal, Allah Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya, yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)Dan juga,أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian.” (QS. At-Takatsur: 1)Kemuliaan bukan diukur dari harta yang dibawa pulang, tetapi dari akhlak dan ketakwaan.Mudik sebagai muhasabahPulang kampung sering membawa kita kembali ke masa kecil. Rumah sederhana, halaman tempat bermain, masjid kecil, jalan yang dulu terasa luas.Allah Azza wa Jalla berfirman,اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً“Allah yang menciptakan kalian dari keadaan lemah, kemudian menjadikan setelah lemah itu kuat.” (QS. Ar-Rum: 54)Mudik bisa menjadi momen muhasabah: apakah kita menjadi lebih dekat kepada Allah atau justru semakin jauh?Dan ingatlah,كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ“Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian.” (QS. Ali ‘Imran: 185)Suatu hari nanti, kita akan pulang untuk selamanya.PenutupWahai yang sedang bersiap pulang…Luruskan niatmu sebelum melangkah. Jadikan setiap kilometer perjalanan sebagai ibadah. Isi waktu safarmu dengan doa, bukan keluh kesah. Datangi keluargamu dengan hati yang rendah, bukan dengan kesombongan.Ketika tanganmu mencium tangan ibu, niatkan sebagai bakti. Ketika engkau duduk mendengar nasihat ayah, niatkan sebagai ketaatan. Ketika engkau memaafkan saudara dan kerabat, niatkan sebagai pembersih hati.Karena mungkin suatu hari nanti, engkau ingin pulang, tetapi rumah itu telah sepi. Dan mungkin suatu saat, engkau kembali bukan sebagai tamu, tetapi sebagai jenazah yang diantarkan.Mudik mengajarkan bahwa setiap perjalanan ada ujungnya. Sebagaimana kita kembali ke kampung halaman, kelak kita semua akan kembali kepada Allah.Maka, jadikan mudik dunia sebagai pengingat untuk mempersiapkan mudik terbesar dalam hidup ini, yaitu perjalanan menuju akhirat.Semoga setiap langkah kita bernilai pahala, setiap rindu menjadi ibadah, dan setiap pertemuan membawa keberkahan.Wallāhu Ta‘ala a‘lam.Baca juga: Mudik: Tradisi atau Ibadah?***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi TogglePulang sebagai fitrah manusiaMudik dan silaturahimBerbakti kepada orang tua: Inti dari perjalananSafar dalam Islam: Perjalanan yang bernilaiUjian akhlak dalam perjalananJangan jadikan mudik sebagai ajang pamerMudik sebagai muhasabahPenutupSetiap tahun, jutaan manusia bergerak serempak meninggalkan kota-kota besar menuju desa dan kampung halaman. Jalanan macet, terminal penuh, stasiun sesak, bandara padat. Orang rela menempuh perjalanan panjang, menguras tenaga, bahkan menabung berbulan-bulan demi satu tujuan: pulang.Mudik bukan sekadar tradisi tahunan. Ia bukan hanya fenomena sosial atau arus kendaraan yang memadati jalanan. Di balik koper, tiket, dan kemacetan panjang, ada sesuatu yang lebih dalam: kerinduan kepada keluarga, kepada orang tua, kepada akar kehidupan. Ia adalah perjalanan hati. Ia adalah rindu yang tak bisa diukur dengan jarak. Ada ibu yang menunggu di depan pintu. Ada ayah yang diam-diam menghitung hari. Ada rumah lama yang menyimpan kenangan masa kecil. Ada kampung halaman yang selalu terasa berbeda, meskipun sederhana.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya, amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Maka, mudik yang diniatkan untuk menyambung silaturahim, membahagiakan orang tua, memperbaiki hubungan, dan mencari rida Allah, dapat menjadi amal besar di sisi-Nya.Pulang sebagai fitrah manusiaManusia diciptakan dengan fitrah untuk mencintai tempat asalnya. Bahkan, ketika Nabi Adam diturunkan ke bumi, beliau merindukan surga sebagai tempat asalnya. Rindu adalah bagian dari jiwa manusia. Allah Azza wa Jalla berfirman,يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ“Wahai manusia, sesungguhnya engkau sedang berjalan menuju Tuhanmu dengan sungguh-sungguh, dan engkau pasti akan menemui-Nya.” (QS. Al-Insyiqaq: 6)Seluruh hidup sejatinya adalah perjalanan pulang kepada Allah. Mudik di dunia seharusnya menjadi pengingat akan “mudik akhirat”, yaitu pulang yang sesungguhnya.Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan,إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ“Sesungguhnya, kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156)Maka, jangan sampai perjalanan dunia membuat kita lupa pada perjalanan akhirat.Mudik dan silaturahimSalah satu nilai terbesar dalam mudik adalah silaturahim. Banyak orang yang selama setahun sibuk bekerja, jarang bertemu keluarga, bahkan jarang menelpon orang tua. Mudik menjadi momentum memperbaiki hubungan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)Silaturahim bukan sekadar formalitas berjabat tangan, tetapi menghadirkan hati, meminta maaf dengan tulus, dan memperbaiki hubungan yang mungkin retak.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ“Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara kalian.” (QS. Al-Anfal: 1)Mudik menjadi ladang pahala jika diniatkan untuk berbakti kepada orang tua dan menyambung kekerabatan.Baca juga: Beberapa Bentuk Bakti Kepada Orang TuaBerbakti kepada orang tua: Inti dari perjalananDi antara makna terdalam mudik adalah kesempatan bertemu orang tua. Ada yang masih memiliki keduanya, ada yang tinggal satu, dan ada pula yang telah kehilangan keduanya. Bagi yang masih diberi kesempatan, itulah nikmat yang sering kali baru terasa besar ketika ia sudah tiada.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا“Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al-Ahqaf: 15)Dan juga,وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا“Sembahlah Allah dan jangan menyekutukan-Nya, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (QS. An-Nisa’: 36)Berbakti kepada orang tua disebutkan setelah perintah tauhid. Ini menunjukkan betapa agung dan tingginya kedudukan birrul walidain dalam Islam.Banyak orang menyesal ketika orang tuanya telah tiada. Rumah terasa kosong. Suara ibu tak lagi terdengar. Nasihat ayah tak lagi didapatkan. Kesempatan untuk mencium tangan, mendengar cerita yang berulang, dan sekadar duduk berbincang hangat tak akan pernah kembali.Karena itu, mudik adalah peluang emas untuk berbakti. Bukan sekadar hadir secara fisik, tetapi hadir dengan hati. Duduklah bersama mereka. Dengarkan cerita yang mungkin sudah sering diulang; sebab itu bukan hanya cerita, melainkan kebutuhan hati mereka. Cium tangan mereka dengan niat ibadah. Ucapkan kata-kata lembut yang mungkin sederhana, tetapi sangat berarti.Karena mungkin suatu hari nanti, kita ingin pulang, tetapi kesempatan itu sudah tidak ada lagi.Safar dalam Islam: Perjalanan yang bernilaiDalam Islam, safar bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Ia adalah kondisi yang memiliki keistimewaan dan nilai spiritual tersendiri. Mudik termasuk safar, dan safar memiliki adab, doa, serta peluang pahala.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ثلاثُ دعوَاتٍ مُستجاباتٌ لا شَكَّ فيهنَّ : دعوَةُ المظلومِ ، ودعوةُ المسافرِ ، ودعوةُ الوالدِ على ولدِهِ“Tiga doa yang mustajab (dikabulkan), tidak ada keraguan di dalamnya: doa orang yang dizalimi, doa orang yang sedang bepergian (musafir), dan doa orang tua terhadap anaknya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)Doa seorang musafir termasuk doa yang dikabulkan. Ini menunjukkan bahwa perjalanan memiliki kedudukan khusus di sisi Allah. Mudik seharusnya diisi dengan doa, zikir, dan tawakal, bukan kelalaian atau sekadar kesibukan duniawi.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan doa ketika naik kendaraan dengan membaca firman Allah,سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ“Maha Suci Allah yang menundukkan kendaraan ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya.” (QS. Az-Zukhruf: 13)Ayat ini mengingatkan bahwa kendaraan, jalan yang aman, dan kemudahan perjalanan adalah nikmat dari Allah yang patut disyukuri. Dengan niat yang benar dan adab yang dijaga, safar bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan yang mendekatkan diri kepada Allah.Ujian akhlak dalam perjalananMudik bukan hanya tentang rindu dan pertemuan, tetapi juga ujian akhlak. Ia menguji kesabaran, kerendahan hati, dan kemampuan mengendalikan diri.Kemacetan panjang, kelelahan, cuaca panas, biaya perjalanan, bahkan perbedaan pendapat dengan keluarga, semuanya bisa memancing emosi. Dalam kondisi seperti itu, karakter seseorang benar-benar terlihat.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Kesabaran dalam perjalanan bukan hal kecil. Jika diniatkan karena Allah, ia menjadi pahala.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ليس الشَّديدُ بالصُّرَعةِ، إنَّما الشَّديدُ الذي يملِكُ نفسَه عندَ الغَضَبِ“Orang kuat bukanlah yang menang bergulat, tetapi yang mampu mengendalikan diri ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)An-Nawawi rahimahullah menjelaskan hadis ini dan berkata,فيه كَظمُ الغَيظِ، وإمساكُ النَّفسِ عندَ الغَضَبِ عن الانتِصارِ والمُخاصَمةِ والمُنازَعةِ“Di dalamnya terdapat menahan amarah, mengendalikan diri ketika marah dari keinginan untuk membalas, bertengkar, dan berselisih.” (Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim, 16: 162)Mudik adalah ujian pengendalian diri. Bukan yang paling keras suaranya yang kuat, tetapi yang mampu menahan amarahnya. Bukan yang paling cepat membalas, tetapi yang mampu meredam ego.Perjalanan panjang bisa menjadi ladang pahala jika diisi dengan sabar dan akhlak yang baik. Namun, ia juga bisa menjadi ladang dosa jika dipenuhi keluh kesah dan kemarahan. Oleh karena itu, jadikan mudik bukan hanya perjalanan raga, tetapi juga latihan jiwa.Jangan jadikan mudik sebagai ajang pamerTidak jarang mudik berubah menjadi ajang menunjukkan keberhasilan: mobil baru, pakaian mahal, jabatan, atau pencapaian finansial.Padahal, Allah Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya, yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)Dan juga,أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian.” (QS. At-Takatsur: 1)Kemuliaan bukan diukur dari harta yang dibawa pulang, tetapi dari akhlak dan ketakwaan.Mudik sebagai muhasabahPulang kampung sering membawa kita kembali ke masa kecil. Rumah sederhana, halaman tempat bermain, masjid kecil, jalan yang dulu terasa luas.Allah Azza wa Jalla berfirman,اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً“Allah yang menciptakan kalian dari keadaan lemah, kemudian menjadikan setelah lemah itu kuat.” (QS. Ar-Rum: 54)Mudik bisa menjadi momen muhasabah: apakah kita menjadi lebih dekat kepada Allah atau justru semakin jauh?Dan ingatlah,كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ“Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian.” (QS. Ali ‘Imran: 185)Suatu hari nanti, kita akan pulang untuk selamanya.PenutupWahai yang sedang bersiap pulang…Luruskan niatmu sebelum melangkah. Jadikan setiap kilometer perjalanan sebagai ibadah. Isi waktu safarmu dengan doa, bukan keluh kesah. Datangi keluargamu dengan hati yang rendah, bukan dengan kesombongan.Ketika tanganmu mencium tangan ibu, niatkan sebagai bakti. Ketika engkau duduk mendengar nasihat ayah, niatkan sebagai ketaatan. Ketika engkau memaafkan saudara dan kerabat, niatkan sebagai pembersih hati.Karena mungkin suatu hari nanti, engkau ingin pulang, tetapi rumah itu telah sepi. Dan mungkin suatu saat, engkau kembali bukan sebagai tamu, tetapi sebagai jenazah yang diantarkan.Mudik mengajarkan bahwa setiap perjalanan ada ujungnya. Sebagaimana kita kembali ke kampung halaman, kelak kita semua akan kembali kepada Allah.Maka, jadikan mudik dunia sebagai pengingat untuk mempersiapkan mudik terbesar dalam hidup ini, yaitu perjalanan menuju akhirat.Semoga setiap langkah kita bernilai pahala, setiap rindu menjadi ibadah, dan setiap pertemuan membawa keberkahan.Wallāhu Ta‘ala a‘lam.Baca juga: Mudik: Tradisi atau Ibadah?***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Ngeri! Satu Golongan Orang yang Didoakan Celaka oleh Jibril di Bulan Ramadan

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam yang paling sempurna bagi Rasul yang diutus sebagai rahmat bagi alam semesta. Juga bagi keluarga dan seluruh sahabat beliau. Amma ba’du: Wahai saudara-saudari sekalian! Sungguh ada seruan agung yang dikumandangkan sejak malam pertama bulan Ramadan hingga malam terakhir di bulan Ramadan. Ada penyeru dari langit yang berseru: “Wahai pencari kebaikan, sambutlah!” “Wahai pencari keburukan, berhentilah!” Wahai pencari kebaikan! Wahai Anda yang menginginkan kebaikan bagi diri sendiri, wahai Anda yang menginginkan kebaikan bagi keluarga, wahai Anda yang menginginkan kebaikan bagi masyarakat Anda, sambutlah! Inilah bulan kebaikan. Inilah bulan yang penuh dengan kebaikan. Inilah bulan yang penuh keberkahan. Jika Anda tidak mendekat di bulan ini, lalu kapan lagi? Jika Anda berpaling di bulan ini, lalu kapan lagi Anda akan berjalan menuju Tuhan Anda? Sambutlah seruan ini! Dan wahai pencari keburukan, berhentilah! Sebab, Anda sedang dibantu untuk melawan hawa nafsu, dan dibantu melawan godaan setan. Maka tinggalkanlah keburukan, dan bulatkanlah tekad untuk menjauhinya. Serta bertawakallah kepada Tuhan Anda! Demi Allah, inilah bulan di mana kita mendapatkan pertolongan! Sungguh pada bulan ini, seorang hamba mendapat pertolongan untuk menjalankan ketaatan kepada Allah dan amal-amal kebaikan. Seorang hamba juga mendapatkan pertolongan untuk meninggalkan kemaksiatan. Oleh sebab itu, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak menaiki mimbar, saat beliau menaiki anak tangga pertama, beliau mengucapkan “Amin”. Saat menaiki anak tangga kedua, beliau juga mengucapkan “Amin”. Dan saat menaiki anak tangga ketiga, beliau kembali mengucapkan “Amin”. Setelah turun dari mimbar, beliau bersabda kepada para sahabat—semoga ayah, ibu, dan seluruh manusia menjadi tebusan baginya: Para sahabat radhiyallahu ‘anhum lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang belum pernah engkau lakukan sebelumnya.” Beliau menjawab: “Sungguh malaikat Jibril mendatangiku tadi, lalu ia berkata: ‘Celakalah orang yang mendapati bulan Ramadan, tapi ia tidak diampuni. Katakanlah: Amin!’ Maka aku pun mengucapkan: ‘Amiin.'” Allahu Akbar! Sungguh merugi orang yang mendapati bulan Ramadan, tapi ia tidak diampuni dosa-dosanya. Mengapa ia sampai merugi sejauh itu? Sebab di bulan Ramadan, seseorang dibantu untuk berbuat baik, dan dibantu pula untuk menjauhi keburukan. Dan dua hal ini termasuk sebab terbesar untuk meraih ampunan. Maka ketika seseorang mendapati bulan Ramadan, tapi ia tidak mengerjakan ketaatan kepada Allah, serta tidak berhenti dari melakukan kemaksiatan kepada-Nya, sehingga ia tidak mendapatkan ampunan, maka sungguh merugilah ia. Siapa yang mendoakan? Jibril ‘alaihissalam. Siapa yang mengaminkan? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Malaikat terbaik yang mendoakan, dan Rasul terbaik yang mengaminkan. Allahu Akbar! Betapa agungnya peristiwa tersebut! Maka sepatutnya Anda merenungkan hal ini, wahai saudaraku, dan Anda renungkan ini, wahai saudariku! Mengapa doa ini dipanjatkan? Karena alasan yang telah kami jelaskan tadi. Bahwa Ramadan adalah bulan di mana kita mendapatkan pertolongan, sehingga kita harus bersungguh-sungguh untuk mengarahkan diri kita menuju ketaatan kepada Allah. Wahai pencari kebaikan, sambutlah! Serta cegahlah diri kita dari melakukan kemaksiatan kepada Allah. Wahai pencari keburukan, berhentilah! Semoga Allah mengaruniakan kita semua kemudahan dalam beramal ketaatan, serta menjaga kita dari buruknya kemaksiatan. Serta menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang saleh. Dan hanya Allah Ta’ala yang Maha Tinggi lagi Maha Mengetahui. Semoga shalawat dan salam terlimpah kepada Nabi kita. ===== الحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْأَتَمَّانِ الْأَكْمَلَانِ عَلَى الْمَبْعُوثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ أَمَّا بَعْدُ فَمَعَاشِرَ الْإِخْوَةِ وَالْأَخَوَاتِ إِنَّ نِدَاءً عَظِيمًا يُنَادَى بِهِ مِنْ أَوَّلِ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ إِلَى آخِرِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ يُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ يَا مَنْ تُرِيدُ الْخَيْرَ لِنَفْسِكَ يَا مَنْ تُرِيدُ الْخَيْرَ لِأَهْلِكَ يَا مَنْ تُرِيدُ الْخَيْرَ لِمُجْتَمَعِكَ أَقْبِلْ فَهَذَا شَهْرُ الْخَيْرِ هَذَا شَهْرُ الْخَيْرَاتِ هَذَا شَهْرُ الْبَرَكَاتِ إِنْ لَمْ تُقْبِلْ فِي هَذَا الشَّهْرِ فَمَتَى تُقْبِلُ إِنْ أَعْرَضْتَ فِي هَذَا الشَّهْرِ فَمَتَى تَسِيرُ إِلَى رَبِّكَ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ فَإِنَّكَ تُعَانُ عَلَى نَفْسِكَ وَتُعَانُ عَلَى الشَّيَاطِينِ فَاتْرُكِ الشَّرَّ وَاعْزِمْ عَلَى تَرْكِهِ وَتَوَكَّلْ عَلَى رَبِّكَ فَهَذَا شَهْرُ الْإِعَانَةِ وَاللَّهِ إِنَّ هَذَا الشَّهْرَ يُعَانُ فِيهِ الْعَبْدُ عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ وَعَلَى الْخَيْرَاتِ وَيُعَانُ فِيهِ الْعَبْدُ عَلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَلِذَلِكَ لَمَّا رَقَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمِنْبَرَ فَلَمَّا صَعَدَ الدَّرَجَةَ الْأُولَى قَالَ آمِينَ فَلَمَّا صَعَدَ الثَّانِيَةَ قَالَ آمِينَ فَلَمَّا صَعَدَ الثَّالِثَةَ فَقَالَ آمِينَ فَلَمَّا نَزَلَ فِدَاهُ أَبِي وَأُمِّي وَالنَّاسُ أَجْمَعِينَ قَالَ لَهُ الصَّحَابَةُ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ فَعَلْتَ شَيْئًا قَدْ فَعَلْتَ شَيْئًا فَقَالَ إِنَّ جِبْرِيلَ عَرَضَ لِي آنِفًا فَقَالَ بَعُدَ مَنْ أَدْرَكَهُ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ قُلْ آمِينَ فَقُلْتُ آمِينَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ بَعُدَ مَنْ أَدْرَكَهُ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ لِمَاذَا بَعُدَ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ فِي رَمَضَانَ يُعَانُ عَلَى الْخَيْرِ وَيُعَانُ عَلَى تَرْكِ الشَّرِّ وَهَذِهِ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ الْمَغْفِرَةِ فَإِذَا أَدْرَكَ الْإِنْسَانُ رَمَضَانَ وَلَمْ يُقْبِلْ عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ وَلَمْ يَنْتَهِ عَنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ بَعُدَ مَنِ الَّذِي دَعَا؟ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَمَنِ الَّذِي أَمَّنَ؟ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الْمَلَائِكَةِ دَعَا وَأَفْضَلُ الرُّسُلِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ أَمَّنَ اللَّهُ أَكْبَرُ مَا أَعْظَمَهُ مِنْ مَقَامٍ يَنْبَغِي أَنْ تَتَفَكَّرَ يَا أَخِي وَأَنْ تَتَفَكَّرِي يَا أُخْتِي لِمَا كَانَ هَذَا الدُّعَاءُ لِمَا ذَكَرْنَاهُ أَنَّ شَهْرَ رَمَضَانَ هُوَ شَهْرُ الْإِعَانَةِ فَيَنْبَغِي أَنْ نَجْتَهِدَ فِي قَوْدِ أَنْفُسِنَا إِلَى طَاعَةِ اللَّهِ فَيَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَمَنْعِ أَنْفُسِنَا عَنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ رَزَقَنِي اللَّهُ وَإِيَّاكُمُ الطَّاعَاتِ وَكَفَانِي وَإِيَّاكُمْ شَرَّ الْمَعَاصِي وَجَعَلَنِي وَإِيَّاكُمْ مِنْ عِبَادِهِ الصَّالِحِينَ وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَى وَأَعْلَمُ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا وَسَلَّمَ

Ngeri! Satu Golongan Orang yang Didoakan Celaka oleh Jibril di Bulan Ramadan

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam yang paling sempurna bagi Rasul yang diutus sebagai rahmat bagi alam semesta. Juga bagi keluarga dan seluruh sahabat beliau. Amma ba’du: Wahai saudara-saudari sekalian! Sungguh ada seruan agung yang dikumandangkan sejak malam pertama bulan Ramadan hingga malam terakhir di bulan Ramadan. Ada penyeru dari langit yang berseru: “Wahai pencari kebaikan, sambutlah!” “Wahai pencari keburukan, berhentilah!” Wahai pencari kebaikan! Wahai Anda yang menginginkan kebaikan bagi diri sendiri, wahai Anda yang menginginkan kebaikan bagi keluarga, wahai Anda yang menginginkan kebaikan bagi masyarakat Anda, sambutlah! Inilah bulan kebaikan. Inilah bulan yang penuh dengan kebaikan. Inilah bulan yang penuh keberkahan. Jika Anda tidak mendekat di bulan ini, lalu kapan lagi? Jika Anda berpaling di bulan ini, lalu kapan lagi Anda akan berjalan menuju Tuhan Anda? Sambutlah seruan ini! Dan wahai pencari keburukan, berhentilah! Sebab, Anda sedang dibantu untuk melawan hawa nafsu, dan dibantu melawan godaan setan. Maka tinggalkanlah keburukan, dan bulatkanlah tekad untuk menjauhinya. Serta bertawakallah kepada Tuhan Anda! Demi Allah, inilah bulan di mana kita mendapatkan pertolongan! Sungguh pada bulan ini, seorang hamba mendapat pertolongan untuk menjalankan ketaatan kepada Allah dan amal-amal kebaikan. Seorang hamba juga mendapatkan pertolongan untuk meninggalkan kemaksiatan. Oleh sebab itu, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak menaiki mimbar, saat beliau menaiki anak tangga pertama, beliau mengucapkan “Amin”. Saat menaiki anak tangga kedua, beliau juga mengucapkan “Amin”. Dan saat menaiki anak tangga ketiga, beliau kembali mengucapkan “Amin”. Setelah turun dari mimbar, beliau bersabda kepada para sahabat—semoga ayah, ibu, dan seluruh manusia menjadi tebusan baginya: Para sahabat radhiyallahu ‘anhum lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang belum pernah engkau lakukan sebelumnya.” Beliau menjawab: “Sungguh malaikat Jibril mendatangiku tadi, lalu ia berkata: ‘Celakalah orang yang mendapati bulan Ramadan, tapi ia tidak diampuni. Katakanlah: Amin!’ Maka aku pun mengucapkan: ‘Amiin.'” Allahu Akbar! Sungguh merugi orang yang mendapati bulan Ramadan, tapi ia tidak diampuni dosa-dosanya. Mengapa ia sampai merugi sejauh itu? Sebab di bulan Ramadan, seseorang dibantu untuk berbuat baik, dan dibantu pula untuk menjauhi keburukan. Dan dua hal ini termasuk sebab terbesar untuk meraih ampunan. Maka ketika seseorang mendapati bulan Ramadan, tapi ia tidak mengerjakan ketaatan kepada Allah, serta tidak berhenti dari melakukan kemaksiatan kepada-Nya, sehingga ia tidak mendapatkan ampunan, maka sungguh merugilah ia. Siapa yang mendoakan? Jibril ‘alaihissalam. Siapa yang mengaminkan? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Malaikat terbaik yang mendoakan, dan Rasul terbaik yang mengaminkan. Allahu Akbar! Betapa agungnya peristiwa tersebut! Maka sepatutnya Anda merenungkan hal ini, wahai saudaraku, dan Anda renungkan ini, wahai saudariku! Mengapa doa ini dipanjatkan? Karena alasan yang telah kami jelaskan tadi. Bahwa Ramadan adalah bulan di mana kita mendapatkan pertolongan, sehingga kita harus bersungguh-sungguh untuk mengarahkan diri kita menuju ketaatan kepada Allah. Wahai pencari kebaikan, sambutlah! Serta cegahlah diri kita dari melakukan kemaksiatan kepada Allah. Wahai pencari keburukan, berhentilah! Semoga Allah mengaruniakan kita semua kemudahan dalam beramal ketaatan, serta menjaga kita dari buruknya kemaksiatan. Serta menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang saleh. Dan hanya Allah Ta’ala yang Maha Tinggi lagi Maha Mengetahui. Semoga shalawat dan salam terlimpah kepada Nabi kita. ===== الحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْأَتَمَّانِ الْأَكْمَلَانِ عَلَى الْمَبْعُوثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ أَمَّا بَعْدُ فَمَعَاشِرَ الْإِخْوَةِ وَالْأَخَوَاتِ إِنَّ نِدَاءً عَظِيمًا يُنَادَى بِهِ مِنْ أَوَّلِ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ إِلَى آخِرِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ يُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ يَا مَنْ تُرِيدُ الْخَيْرَ لِنَفْسِكَ يَا مَنْ تُرِيدُ الْخَيْرَ لِأَهْلِكَ يَا مَنْ تُرِيدُ الْخَيْرَ لِمُجْتَمَعِكَ أَقْبِلْ فَهَذَا شَهْرُ الْخَيْرِ هَذَا شَهْرُ الْخَيْرَاتِ هَذَا شَهْرُ الْبَرَكَاتِ إِنْ لَمْ تُقْبِلْ فِي هَذَا الشَّهْرِ فَمَتَى تُقْبِلُ إِنْ أَعْرَضْتَ فِي هَذَا الشَّهْرِ فَمَتَى تَسِيرُ إِلَى رَبِّكَ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ فَإِنَّكَ تُعَانُ عَلَى نَفْسِكَ وَتُعَانُ عَلَى الشَّيَاطِينِ فَاتْرُكِ الشَّرَّ وَاعْزِمْ عَلَى تَرْكِهِ وَتَوَكَّلْ عَلَى رَبِّكَ فَهَذَا شَهْرُ الْإِعَانَةِ وَاللَّهِ إِنَّ هَذَا الشَّهْرَ يُعَانُ فِيهِ الْعَبْدُ عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ وَعَلَى الْخَيْرَاتِ وَيُعَانُ فِيهِ الْعَبْدُ عَلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَلِذَلِكَ لَمَّا رَقَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمِنْبَرَ فَلَمَّا صَعَدَ الدَّرَجَةَ الْأُولَى قَالَ آمِينَ فَلَمَّا صَعَدَ الثَّانِيَةَ قَالَ آمِينَ فَلَمَّا صَعَدَ الثَّالِثَةَ فَقَالَ آمِينَ فَلَمَّا نَزَلَ فِدَاهُ أَبِي وَأُمِّي وَالنَّاسُ أَجْمَعِينَ قَالَ لَهُ الصَّحَابَةُ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ فَعَلْتَ شَيْئًا قَدْ فَعَلْتَ شَيْئًا فَقَالَ إِنَّ جِبْرِيلَ عَرَضَ لِي آنِفًا فَقَالَ بَعُدَ مَنْ أَدْرَكَهُ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ قُلْ آمِينَ فَقُلْتُ آمِينَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ بَعُدَ مَنْ أَدْرَكَهُ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ لِمَاذَا بَعُدَ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ فِي رَمَضَانَ يُعَانُ عَلَى الْخَيْرِ وَيُعَانُ عَلَى تَرْكِ الشَّرِّ وَهَذِهِ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ الْمَغْفِرَةِ فَإِذَا أَدْرَكَ الْإِنْسَانُ رَمَضَانَ وَلَمْ يُقْبِلْ عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ وَلَمْ يَنْتَهِ عَنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ بَعُدَ مَنِ الَّذِي دَعَا؟ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَمَنِ الَّذِي أَمَّنَ؟ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الْمَلَائِكَةِ دَعَا وَأَفْضَلُ الرُّسُلِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ أَمَّنَ اللَّهُ أَكْبَرُ مَا أَعْظَمَهُ مِنْ مَقَامٍ يَنْبَغِي أَنْ تَتَفَكَّرَ يَا أَخِي وَأَنْ تَتَفَكَّرِي يَا أُخْتِي لِمَا كَانَ هَذَا الدُّعَاءُ لِمَا ذَكَرْنَاهُ أَنَّ شَهْرَ رَمَضَانَ هُوَ شَهْرُ الْإِعَانَةِ فَيَنْبَغِي أَنْ نَجْتَهِدَ فِي قَوْدِ أَنْفُسِنَا إِلَى طَاعَةِ اللَّهِ فَيَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَمَنْعِ أَنْفُسِنَا عَنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ رَزَقَنِي اللَّهُ وَإِيَّاكُمُ الطَّاعَاتِ وَكَفَانِي وَإِيَّاكُمْ شَرَّ الْمَعَاصِي وَجَعَلَنِي وَإِيَّاكُمْ مِنْ عِبَادِهِ الصَّالِحِينَ وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَى وَأَعْلَمُ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا وَسَلَّمَ
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam yang paling sempurna bagi Rasul yang diutus sebagai rahmat bagi alam semesta. Juga bagi keluarga dan seluruh sahabat beliau. Amma ba’du: Wahai saudara-saudari sekalian! Sungguh ada seruan agung yang dikumandangkan sejak malam pertama bulan Ramadan hingga malam terakhir di bulan Ramadan. Ada penyeru dari langit yang berseru: “Wahai pencari kebaikan, sambutlah!” “Wahai pencari keburukan, berhentilah!” Wahai pencari kebaikan! Wahai Anda yang menginginkan kebaikan bagi diri sendiri, wahai Anda yang menginginkan kebaikan bagi keluarga, wahai Anda yang menginginkan kebaikan bagi masyarakat Anda, sambutlah! Inilah bulan kebaikan. Inilah bulan yang penuh dengan kebaikan. Inilah bulan yang penuh keberkahan. Jika Anda tidak mendekat di bulan ini, lalu kapan lagi? Jika Anda berpaling di bulan ini, lalu kapan lagi Anda akan berjalan menuju Tuhan Anda? Sambutlah seruan ini! Dan wahai pencari keburukan, berhentilah! Sebab, Anda sedang dibantu untuk melawan hawa nafsu, dan dibantu melawan godaan setan. Maka tinggalkanlah keburukan, dan bulatkanlah tekad untuk menjauhinya. Serta bertawakallah kepada Tuhan Anda! Demi Allah, inilah bulan di mana kita mendapatkan pertolongan! Sungguh pada bulan ini, seorang hamba mendapat pertolongan untuk menjalankan ketaatan kepada Allah dan amal-amal kebaikan. Seorang hamba juga mendapatkan pertolongan untuk meninggalkan kemaksiatan. Oleh sebab itu, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak menaiki mimbar, saat beliau menaiki anak tangga pertama, beliau mengucapkan “Amin”. Saat menaiki anak tangga kedua, beliau juga mengucapkan “Amin”. Dan saat menaiki anak tangga ketiga, beliau kembali mengucapkan “Amin”. Setelah turun dari mimbar, beliau bersabda kepada para sahabat—semoga ayah, ibu, dan seluruh manusia menjadi tebusan baginya: Para sahabat radhiyallahu ‘anhum lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang belum pernah engkau lakukan sebelumnya.” Beliau menjawab: “Sungguh malaikat Jibril mendatangiku tadi, lalu ia berkata: ‘Celakalah orang yang mendapati bulan Ramadan, tapi ia tidak diampuni. Katakanlah: Amin!’ Maka aku pun mengucapkan: ‘Amiin.'” Allahu Akbar! Sungguh merugi orang yang mendapati bulan Ramadan, tapi ia tidak diampuni dosa-dosanya. Mengapa ia sampai merugi sejauh itu? Sebab di bulan Ramadan, seseorang dibantu untuk berbuat baik, dan dibantu pula untuk menjauhi keburukan. Dan dua hal ini termasuk sebab terbesar untuk meraih ampunan. Maka ketika seseorang mendapati bulan Ramadan, tapi ia tidak mengerjakan ketaatan kepada Allah, serta tidak berhenti dari melakukan kemaksiatan kepada-Nya, sehingga ia tidak mendapatkan ampunan, maka sungguh merugilah ia. Siapa yang mendoakan? Jibril ‘alaihissalam. Siapa yang mengaminkan? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Malaikat terbaik yang mendoakan, dan Rasul terbaik yang mengaminkan. Allahu Akbar! Betapa agungnya peristiwa tersebut! Maka sepatutnya Anda merenungkan hal ini, wahai saudaraku, dan Anda renungkan ini, wahai saudariku! Mengapa doa ini dipanjatkan? Karena alasan yang telah kami jelaskan tadi. Bahwa Ramadan adalah bulan di mana kita mendapatkan pertolongan, sehingga kita harus bersungguh-sungguh untuk mengarahkan diri kita menuju ketaatan kepada Allah. Wahai pencari kebaikan, sambutlah! Serta cegahlah diri kita dari melakukan kemaksiatan kepada Allah. Wahai pencari keburukan, berhentilah! Semoga Allah mengaruniakan kita semua kemudahan dalam beramal ketaatan, serta menjaga kita dari buruknya kemaksiatan. Serta menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang saleh. Dan hanya Allah Ta’ala yang Maha Tinggi lagi Maha Mengetahui. Semoga shalawat dan salam terlimpah kepada Nabi kita. ===== الحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْأَتَمَّانِ الْأَكْمَلَانِ عَلَى الْمَبْعُوثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ أَمَّا بَعْدُ فَمَعَاشِرَ الْإِخْوَةِ وَالْأَخَوَاتِ إِنَّ نِدَاءً عَظِيمًا يُنَادَى بِهِ مِنْ أَوَّلِ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ إِلَى آخِرِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ يُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ يَا مَنْ تُرِيدُ الْخَيْرَ لِنَفْسِكَ يَا مَنْ تُرِيدُ الْخَيْرَ لِأَهْلِكَ يَا مَنْ تُرِيدُ الْخَيْرَ لِمُجْتَمَعِكَ أَقْبِلْ فَهَذَا شَهْرُ الْخَيْرِ هَذَا شَهْرُ الْخَيْرَاتِ هَذَا شَهْرُ الْبَرَكَاتِ إِنْ لَمْ تُقْبِلْ فِي هَذَا الشَّهْرِ فَمَتَى تُقْبِلُ إِنْ أَعْرَضْتَ فِي هَذَا الشَّهْرِ فَمَتَى تَسِيرُ إِلَى رَبِّكَ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ فَإِنَّكَ تُعَانُ عَلَى نَفْسِكَ وَتُعَانُ عَلَى الشَّيَاطِينِ فَاتْرُكِ الشَّرَّ وَاعْزِمْ عَلَى تَرْكِهِ وَتَوَكَّلْ عَلَى رَبِّكَ فَهَذَا شَهْرُ الْإِعَانَةِ وَاللَّهِ إِنَّ هَذَا الشَّهْرَ يُعَانُ فِيهِ الْعَبْدُ عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ وَعَلَى الْخَيْرَاتِ وَيُعَانُ فِيهِ الْعَبْدُ عَلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَلِذَلِكَ لَمَّا رَقَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمِنْبَرَ فَلَمَّا صَعَدَ الدَّرَجَةَ الْأُولَى قَالَ آمِينَ فَلَمَّا صَعَدَ الثَّانِيَةَ قَالَ آمِينَ فَلَمَّا صَعَدَ الثَّالِثَةَ فَقَالَ آمِينَ فَلَمَّا نَزَلَ فِدَاهُ أَبِي وَأُمِّي وَالنَّاسُ أَجْمَعِينَ قَالَ لَهُ الصَّحَابَةُ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ فَعَلْتَ شَيْئًا قَدْ فَعَلْتَ شَيْئًا فَقَالَ إِنَّ جِبْرِيلَ عَرَضَ لِي آنِفًا فَقَالَ بَعُدَ مَنْ أَدْرَكَهُ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ قُلْ آمِينَ فَقُلْتُ آمِينَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ بَعُدَ مَنْ أَدْرَكَهُ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ لِمَاذَا بَعُدَ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ فِي رَمَضَانَ يُعَانُ عَلَى الْخَيْرِ وَيُعَانُ عَلَى تَرْكِ الشَّرِّ وَهَذِهِ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ الْمَغْفِرَةِ فَإِذَا أَدْرَكَ الْإِنْسَانُ رَمَضَانَ وَلَمْ يُقْبِلْ عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ وَلَمْ يَنْتَهِ عَنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ بَعُدَ مَنِ الَّذِي دَعَا؟ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَمَنِ الَّذِي أَمَّنَ؟ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الْمَلَائِكَةِ دَعَا وَأَفْضَلُ الرُّسُلِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ أَمَّنَ اللَّهُ أَكْبَرُ مَا أَعْظَمَهُ مِنْ مَقَامٍ يَنْبَغِي أَنْ تَتَفَكَّرَ يَا أَخِي وَأَنْ تَتَفَكَّرِي يَا أُخْتِي لِمَا كَانَ هَذَا الدُّعَاءُ لِمَا ذَكَرْنَاهُ أَنَّ شَهْرَ رَمَضَانَ هُوَ شَهْرُ الْإِعَانَةِ فَيَنْبَغِي أَنْ نَجْتَهِدَ فِي قَوْدِ أَنْفُسِنَا إِلَى طَاعَةِ اللَّهِ فَيَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَمَنْعِ أَنْفُسِنَا عَنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ رَزَقَنِي اللَّهُ وَإِيَّاكُمُ الطَّاعَاتِ وَكَفَانِي وَإِيَّاكُمْ شَرَّ الْمَعَاصِي وَجَعَلَنِي وَإِيَّاكُمْ مِنْ عِبَادِهِ الصَّالِحِينَ وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَى وَأَعْلَمُ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا وَسَلَّمَ


Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam yang paling sempurna bagi Rasul yang diutus sebagai rahmat bagi alam semesta. Juga bagi keluarga dan seluruh sahabat beliau. Amma ba’du: Wahai saudara-saudari sekalian! Sungguh ada seruan agung yang dikumandangkan sejak malam pertama bulan Ramadan hingga malam terakhir di bulan Ramadan. Ada penyeru dari langit yang berseru: “Wahai pencari kebaikan, sambutlah!” “Wahai pencari keburukan, berhentilah!” Wahai pencari kebaikan! Wahai Anda yang menginginkan kebaikan bagi diri sendiri, wahai Anda yang menginginkan kebaikan bagi keluarga, wahai Anda yang menginginkan kebaikan bagi masyarakat Anda, sambutlah! Inilah bulan kebaikan. Inilah bulan yang penuh dengan kebaikan. Inilah bulan yang penuh keberkahan. Jika Anda tidak mendekat di bulan ini, lalu kapan lagi? Jika Anda berpaling di bulan ini, lalu kapan lagi Anda akan berjalan menuju Tuhan Anda? Sambutlah seruan ini! Dan wahai pencari keburukan, berhentilah! Sebab, Anda sedang dibantu untuk melawan hawa nafsu, dan dibantu melawan godaan setan. Maka tinggalkanlah keburukan, dan bulatkanlah tekad untuk menjauhinya. Serta bertawakallah kepada Tuhan Anda! Demi Allah, inilah bulan di mana kita mendapatkan pertolongan! Sungguh pada bulan ini, seorang hamba mendapat pertolongan untuk menjalankan ketaatan kepada Allah dan amal-amal kebaikan. Seorang hamba juga mendapatkan pertolongan untuk meninggalkan kemaksiatan. Oleh sebab itu, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak menaiki mimbar, saat beliau menaiki anak tangga pertama, beliau mengucapkan “Amin”. Saat menaiki anak tangga kedua, beliau juga mengucapkan “Amin”. Dan saat menaiki anak tangga ketiga, beliau kembali mengucapkan “Amin”. Setelah turun dari mimbar, beliau bersabda kepada para sahabat—semoga ayah, ibu, dan seluruh manusia menjadi tebusan baginya: Para sahabat radhiyallahu ‘anhum lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang belum pernah engkau lakukan sebelumnya.” Beliau menjawab: “Sungguh malaikat Jibril mendatangiku tadi, lalu ia berkata: ‘Celakalah orang yang mendapati bulan Ramadan, tapi ia tidak diampuni. Katakanlah: Amin!’ Maka aku pun mengucapkan: ‘Amiin.'” Allahu Akbar! Sungguh merugi orang yang mendapati bulan Ramadan, tapi ia tidak diampuni dosa-dosanya. Mengapa ia sampai merugi sejauh itu? Sebab di bulan Ramadan, seseorang dibantu untuk berbuat baik, dan dibantu pula untuk menjauhi keburukan. Dan dua hal ini termasuk sebab terbesar untuk meraih ampunan. Maka ketika seseorang mendapati bulan Ramadan, tapi ia tidak mengerjakan ketaatan kepada Allah, serta tidak berhenti dari melakukan kemaksiatan kepada-Nya, sehingga ia tidak mendapatkan ampunan, maka sungguh merugilah ia. Siapa yang mendoakan? Jibril ‘alaihissalam. Siapa yang mengaminkan? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Malaikat terbaik yang mendoakan, dan Rasul terbaik yang mengaminkan. Allahu Akbar! Betapa agungnya peristiwa tersebut! Maka sepatutnya Anda merenungkan hal ini, wahai saudaraku, dan Anda renungkan ini, wahai saudariku! Mengapa doa ini dipanjatkan? Karena alasan yang telah kami jelaskan tadi. Bahwa Ramadan adalah bulan di mana kita mendapatkan pertolongan, sehingga kita harus bersungguh-sungguh untuk mengarahkan diri kita menuju ketaatan kepada Allah. Wahai pencari kebaikan, sambutlah! Serta cegahlah diri kita dari melakukan kemaksiatan kepada Allah. Wahai pencari keburukan, berhentilah! Semoga Allah mengaruniakan kita semua kemudahan dalam beramal ketaatan, serta menjaga kita dari buruknya kemaksiatan. Serta menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang saleh. Dan hanya Allah Ta’ala yang Maha Tinggi lagi Maha Mengetahui. Semoga shalawat dan salam terlimpah kepada Nabi kita. ===== الحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْأَتَمَّانِ الْأَكْمَلَانِ عَلَى الْمَبْعُوثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ أَمَّا بَعْدُ فَمَعَاشِرَ الْإِخْوَةِ وَالْأَخَوَاتِ إِنَّ نِدَاءً عَظِيمًا يُنَادَى بِهِ مِنْ أَوَّلِ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ إِلَى آخِرِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ يُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ يَا مَنْ تُرِيدُ الْخَيْرَ لِنَفْسِكَ يَا مَنْ تُرِيدُ الْخَيْرَ لِأَهْلِكَ يَا مَنْ تُرِيدُ الْخَيْرَ لِمُجْتَمَعِكَ أَقْبِلْ فَهَذَا شَهْرُ الْخَيْرِ هَذَا شَهْرُ الْخَيْرَاتِ هَذَا شَهْرُ الْبَرَكَاتِ إِنْ لَمْ تُقْبِلْ فِي هَذَا الشَّهْرِ فَمَتَى تُقْبِلُ إِنْ أَعْرَضْتَ فِي هَذَا الشَّهْرِ فَمَتَى تَسِيرُ إِلَى رَبِّكَ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ فَإِنَّكَ تُعَانُ عَلَى نَفْسِكَ وَتُعَانُ عَلَى الشَّيَاطِينِ فَاتْرُكِ الشَّرَّ وَاعْزِمْ عَلَى تَرْكِهِ وَتَوَكَّلْ عَلَى رَبِّكَ فَهَذَا شَهْرُ الْإِعَانَةِ وَاللَّهِ إِنَّ هَذَا الشَّهْرَ يُعَانُ فِيهِ الْعَبْدُ عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ وَعَلَى الْخَيْرَاتِ وَيُعَانُ فِيهِ الْعَبْدُ عَلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَلِذَلِكَ لَمَّا رَقَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمِنْبَرَ فَلَمَّا صَعَدَ الدَّرَجَةَ الْأُولَى قَالَ آمِينَ فَلَمَّا صَعَدَ الثَّانِيَةَ قَالَ آمِينَ فَلَمَّا صَعَدَ الثَّالِثَةَ فَقَالَ آمِينَ فَلَمَّا نَزَلَ فِدَاهُ أَبِي وَأُمِّي وَالنَّاسُ أَجْمَعِينَ قَالَ لَهُ الصَّحَابَةُ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ فَعَلْتَ شَيْئًا قَدْ فَعَلْتَ شَيْئًا فَقَالَ إِنَّ جِبْرِيلَ عَرَضَ لِي آنِفًا فَقَالَ بَعُدَ مَنْ أَدْرَكَهُ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ قُلْ آمِينَ فَقُلْتُ آمِينَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ بَعُدَ مَنْ أَدْرَكَهُ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ لِمَاذَا بَعُدَ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ فِي رَمَضَانَ يُعَانُ عَلَى الْخَيْرِ وَيُعَانُ عَلَى تَرْكِ الشَّرِّ وَهَذِهِ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ الْمَغْفِرَةِ فَإِذَا أَدْرَكَ الْإِنْسَانُ رَمَضَانَ وَلَمْ يُقْبِلْ عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ وَلَمْ يَنْتَهِ عَنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ بَعُدَ مَنِ الَّذِي دَعَا؟ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَمَنِ الَّذِي أَمَّنَ؟ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الْمَلَائِكَةِ دَعَا وَأَفْضَلُ الرُّسُلِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ أَمَّنَ اللَّهُ أَكْبَرُ مَا أَعْظَمَهُ مِنْ مَقَامٍ يَنْبَغِي أَنْ تَتَفَكَّرَ يَا أَخِي وَأَنْ تَتَفَكَّرِي يَا أُخْتِي لِمَا كَانَ هَذَا الدُّعَاءُ لِمَا ذَكَرْنَاهُ أَنَّ شَهْرَ رَمَضَانَ هُوَ شَهْرُ الْإِعَانَةِ فَيَنْبَغِي أَنْ نَجْتَهِدَ فِي قَوْدِ أَنْفُسِنَا إِلَى طَاعَةِ اللَّهِ فَيَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَمَنْعِ أَنْفُسِنَا عَنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ رَزَقَنِي اللَّهُ وَإِيَّاكُمُ الطَّاعَاتِ وَكَفَانِي وَإِيَّاكُمْ شَرَّ الْمَعَاصِي وَجَعَلَنِي وَإِيَّاكُمْ مِنْ عِبَادِهِ الصَّالِحِينَ وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَى وَأَعْلَمُ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا وَسَلَّمَ

Ternyata Ini Orang yang Paling Besar Pahala Puasanya! – Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Abbad

Sungguh, orang-orang yang berpuasa tidaklah sama pahalanya, melainkan berbeda-beda tingkatannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya?” Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir mengingat Allah.” (HR. Ath-Thabarani). “Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya?”Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir mengingat Allah.” (HR. Ath-Thabarani). Hal ini menunjukkan adanya perbedaan derajat orang-orang yang berpuasa dalam hal pahala, sesuai dengan kadar zikir mereka kepada Allah. Mengapa demikian? Karena ibadah puasa, shalat, haji, dan seluruh ketaatan pada umumnya disyariatkan semata-mata untuk menegakkan zikir kepada Allah. Maka, apakah sama pahala puasa orang yang senantiasa berzikir dengan orang yang lalai? Apakah mereka setara? Apakah ganjaran keduanya sama? Tidak, demi Allah! Di antara keduanya terdapat perbedaan yang sangat jauh. Orang yang paling besar pahalanya dalam puasa adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah. Bahkan sebagaimana disampaikan oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya, Al-Wabil Ash-Shayyib, beliau berkata: “Orang yang paling besar pahalanya dalam setiap amalan ketaatan adalah yang paling banyak mengingat Allah saat melakukan ketaatan tersebut.” “Orang yang paling besar pahalanya dalam setiap ketaatan adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah di dalamnya.” Oleh sebab itu, bersemangatlah di siang hari Ramadan untuk memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, bertasbih, bertahlil, bertahmid, dan bertakbir, serta membaca kitab-kitab ilmu, menghadiri serta duduk di dalam majelis ilmu, serta menyimak segala kebaikan yang disampaikan di sana. Sesungguhnya majelis ilmu adalah majelis zikir kepada Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian melewati taman-taman surga, maka singgahlah!” Para sahabat bertanya, “Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab, “Halaqah-halaqah zikir.” (HR. At-Tirmidzi). Maksudnya majelis-majelis ilmu, tempat dijelaskannya perkara halal dan haram, diterangkannya hukum-hukum agama, dan manusia diperkenalkan kepada Allah, mengenal nama-nama-Nya, keagungan-Nya, serta sifat-sifat-Nya. Tempat di mana dibacakan ayat-ayat Allah dan dijelaskan maknanya, serta hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diterangkan kandungannya, sehingga manusia dapat mendalami agama dan mempelajari berbagai kebaikan. Semua hal itu termasuk dalam menegakkan zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan merupakan bentuk nyata dalam mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== إِنَّ الصُّوَّامَ لَيْسُوا سَوَاءً فِي الْأَجْرِ بَلْ يَتَفَاوَتُونَ سُئِلَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا أَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا ذَا يَدُلُّ عَلَى تَفَاوُتِ أَهْلِ الصِّيَامِ فِي أَجْرِ الصِّيَامِ بِحَسَبِ حَظِّهِمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ لِمَاذَا؟ لِأَنَّ الصِّيَامَ وَالصَّلَاةَ وَالْحَجَّ وَعُمُومَ الطَّاعَاتِ إِنَّمَا شُرِعَتْ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ أَفَيَسْتَوِي فِي أَجْرِ الصِّيَامِ الذَّاكِرُ وَالْغَافِلُ؟ هَلْ يَسْتَوُونَ؟ أَيَكُونُ أَجْرُهُمَا سَوَاءً؟ لَا وَاللَّهِ، بَيْنَهُمَا بَوْنٌ شَاسِعٌ فَأَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي الصِّيَامِ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا بَلْ كَمَا قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ ذَكَرَ ذَلِكَ فِي كِتَابِهِ الْوَابِلِ الصَّيِّبِ قَالَ: أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا وَلِهَذَا احْرِصْ فِي نَهَارِ رَمَضَانَ عَلَى كَثْرَةِ الذِّكْرِ قِرَاءَةً لِلْقُرْآنِ، تَسْبِيحًا وَتَهْلِيلًا وَحَمْدًا وَتَكْبِيرًا، قِرَاءَةً لِكُتُبِ الْعِلْمِ وَحُضُورًا لِمَجَالِسِ الْعِلْمِ، وَجُلُوسًا فِيهَا وَاسْتِمَاعًا لِمَا يُقَالُ فِيهَا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ مَجَالِسَ الْعِلْمِ مَجَالِسُ ذِكْرٍ لِلَّهِ وَقَدْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا: وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ: حِلَقُ الذِّكْرِ أَيْ مَجَالِسُ الْعِلْمِ الَّتِي يُبَيَّنُ فِيهَا الْحَلَالُ وَالْحَرَامُ وَتُبَيَّنُ الْأَحْكَامُ، وَيُعَرَّفُ النَّاسُ فِيهَا بِاللَّهِ وَأَسْمَائِهِ وَعَظَمَتِهِ وَصِفَاتِهِ وَتُتْلَى فِيهَا آيَاتُ اللَّهِ وَتُبَيَّنُ مَعَانِيهَا وَأَحَادِيثُ الرَّسُولِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَتُبَيَّنُ مَعَانِيهَا، وَيَتَفَقَّهُ النَّاسُ وَيَتَعَلَّمُونَ الْخَيْرَ هَذَا كُلُّهُ هَذَا كُلُّهُ مِنْ إِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْ إِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Ternyata Ini Orang yang Paling Besar Pahala Puasanya! – Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Abbad

Sungguh, orang-orang yang berpuasa tidaklah sama pahalanya, melainkan berbeda-beda tingkatannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya?” Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir mengingat Allah.” (HR. Ath-Thabarani). “Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya?”Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir mengingat Allah.” (HR. Ath-Thabarani). Hal ini menunjukkan adanya perbedaan derajat orang-orang yang berpuasa dalam hal pahala, sesuai dengan kadar zikir mereka kepada Allah. Mengapa demikian? Karena ibadah puasa, shalat, haji, dan seluruh ketaatan pada umumnya disyariatkan semata-mata untuk menegakkan zikir kepada Allah. Maka, apakah sama pahala puasa orang yang senantiasa berzikir dengan orang yang lalai? Apakah mereka setara? Apakah ganjaran keduanya sama? Tidak, demi Allah! Di antara keduanya terdapat perbedaan yang sangat jauh. Orang yang paling besar pahalanya dalam puasa adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah. Bahkan sebagaimana disampaikan oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya, Al-Wabil Ash-Shayyib, beliau berkata: “Orang yang paling besar pahalanya dalam setiap amalan ketaatan adalah yang paling banyak mengingat Allah saat melakukan ketaatan tersebut.” “Orang yang paling besar pahalanya dalam setiap ketaatan adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah di dalamnya.” Oleh sebab itu, bersemangatlah di siang hari Ramadan untuk memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, bertasbih, bertahlil, bertahmid, dan bertakbir, serta membaca kitab-kitab ilmu, menghadiri serta duduk di dalam majelis ilmu, serta menyimak segala kebaikan yang disampaikan di sana. Sesungguhnya majelis ilmu adalah majelis zikir kepada Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian melewati taman-taman surga, maka singgahlah!” Para sahabat bertanya, “Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab, “Halaqah-halaqah zikir.” (HR. At-Tirmidzi). Maksudnya majelis-majelis ilmu, tempat dijelaskannya perkara halal dan haram, diterangkannya hukum-hukum agama, dan manusia diperkenalkan kepada Allah, mengenal nama-nama-Nya, keagungan-Nya, serta sifat-sifat-Nya. Tempat di mana dibacakan ayat-ayat Allah dan dijelaskan maknanya, serta hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diterangkan kandungannya, sehingga manusia dapat mendalami agama dan mempelajari berbagai kebaikan. Semua hal itu termasuk dalam menegakkan zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan merupakan bentuk nyata dalam mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== إِنَّ الصُّوَّامَ لَيْسُوا سَوَاءً فِي الْأَجْرِ بَلْ يَتَفَاوَتُونَ سُئِلَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا أَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا ذَا يَدُلُّ عَلَى تَفَاوُتِ أَهْلِ الصِّيَامِ فِي أَجْرِ الصِّيَامِ بِحَسَبِ حَظِّهِمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ لِمَاذَا؟ لِأَنَّ الصِّيَامَ وَالصَّلَاةَ وَالْحَجَّ وَعُمُومَ الطَّاعَاتِ إِنَّمَا شُرِعَتْ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ أَفَيَسْتَوِي فِي أَجْرِ الصِّيَامِ الذَّاكِرُ وَالْغَافِلُ؟ هَلْ يَسْتَوُونَ؟ أَيَكُونُ أَجْرُهُمَا سَوَاءً؟ لَا وَاللَّهِ، بَيْنَهُمَا بَوْنٌ شَاسِعٌ فَأَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي الصِّيَامِ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا بَلْ كَمَا قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ ذَكَرَ ذَلِكَ فِي كِتَابِهِ الْوَابِلِ الصَّيِّبِ قَالَ: أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا وَلِهَذَا احْرِصْ فِي نَهَارِ رَمَضَانَ عَلَى كَثْرَةِ الذِّكْرِ قِرَاءَةً لِلْقُرْآنِ، تَسْبِيحًا وَتَهْلِيلًا وَحَمْدًا وَتَكْبِيرًا، قِرَاءَةً لِكُتُبِ الْعِلْمِ وَحُضُورًا لِمَجَالِسِ الْعِلْمِ، وَجُلُوسًا فِيهَا وَاسْتِمَاعًا لِمَا يُقَالُ فِيهَا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ مَجَالِسَ الْعِلْمِ مَجَالِسُ ذِكْرٍ لِلَّهِ وَقَدْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا: وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ: حِلَقُ الذِّكْرِ أَيْ مَجَالِسُ الْعِلْمِ الَّتِي يُبَيَّنُ فِيهَا الْحَلَالُ وَالْحَرَامُ وَتُبَيَّنُ الْأَحْكَامُ، وَيُعَرَّفُ النَّاسُ فِيهَا بِاللَّهِ وَأَسْمَائِهِ وَعَظَمَتِهِ وَصِفَاتِهِ وَتُتْلَى فِيهَا آيَاتُ اللَّهِ وَتُبَيَّنُ مَعَانِيهَا وَأَحَادِيثُ الرَّسُولِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَتُبَيَّنُ مَعَانِيهَا، وَيَتَفَقَّهُ النَّاسُ وَيَتَعَلَّمُونَ الْخَيْرَ هَذَا كُلُّهُ هَذَا كُلُّهُ مِنْ إِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْ إِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
Sungguh, orang-orang yang berpuasa tidaklah sama pahalanya, melainkan berbeda-beda tingkatannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya?” Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir mengingat Allah.” (HR. Ath-Thabarani). “Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya?”Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir mengingat Allah.” (HR. Ath-Thabarani). Hal ini menunjukkan adanya perbedaan derajat orang-orang yang berpuasa dalam hal pahala, sesuai dengan kadar zikir mereka kepada Allah. Mengapa demikian? Karena ibadah puasa, shalat, haji, dan seluruh ketaatan pada umumnya disyariatkan semata-mata untuk menegakkan zikir kepada Allah. Maka, apakah sama pahala puasa orang yang senantiasa berzikir dengan orang yang lalai? Apakah mereka setara? Apakah ganjaran keduanya sama? Tidak, demi Allah! Di antara keduanya terdapat perbedaan yang sangat jauh. Orang yang paling besar pahalanya dalam puasa adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah. Bahkan sebagaimana disampaikan oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya, Al-Wabil Ash-Shayyib, beliau berkata: “Orang yang paling besar pahalanya dalam setiap amalan ketaatan adalah yang paling banyak mengingat Allah saat melakukan ketaatan tersebut.” “Orang yang paling besar pahalanya dalam setiap ketaatan adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah di dalamnya.” Oleh sebab itu, bersemangatlah di siang hari Ramadan untuk memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, bertasbih, bertahlil, bertahmid, dan bertakbir, serta membaca kitab-kitab ilmu, menghadiri serta duduk di dalam majelis ilmu, serta menyimak segala kebaikan yang disampaikan di sana. Sesungguhnya majelis ilmu adalah majelis zikir kepada Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian melewati taman-taman surga, maka singgahlah!” Para sahabat bertanya, “Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab, “Halaqah-halaqah zikir.” (HR. At-Tirmidzi). Maksudnya majelis-majelis ilmu, tempat dijelaskannya perkara halal dan haram, diterangkannya hukum-hukum agama, dan manusia diperkenalkan kepada Allah, mengenal nama-nama-Nya, keagungan-Nya, serta sifat-sifat-Nya. Tempat di mana dibacakan ayat-ayat Allah dan dijelaskan maknanya, serta hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diterangkan kandungannya, sehingga manusia dapat mendalami agama dan mempelajari berbagai kebaikan. Semua hal itu termasuk dalam menegakkan zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan merupakan bentuk nyata dalam mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== إِنَّ الصُّوَّامَ لَيْسُوا سَوَاءً فِي الْأَجْرِ بَلْ يَتَفَاوَتُونَ سُئِلَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا أَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا ذَا يَدُلُّ عَلَى تَفَاوُتِ أَهْلِ الصِّيَامِ فِي أَجْرِ الصِّيَامِ بِحَسَبِ حَظِّهِمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ لِمَاذَا؟ لِأَنَّ الصِّيَامَ وَالصَّلَاةَ وَالْحَجَّ وَعُمُومَ الطَّاعَاتِ إِنَّمَا شُرِعَتْ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ أَفَيَسْتَوِي فِي أَجْرِ الصِّيَامِ الذَّاكِرُ وَالْغَافِلُ؟ هَلْ يَسْتَوُونَ؟ أَيَكُونُ أَجْرُهُمَا سَوَاءً؟ لَا وَاللَّهِ، بَيْنَهُمَا بَوْنٌ شَاسِعٌ فَأَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي الصِّيَامِ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا بَلْ كَمَا قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ ذَكَرَ ذَلِكَ فِي كِتَابِهِ الْوَابِلِ الصَّيِّبِ قَالَ: أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا وَلِهَذَا احْرِصْ فِي نَهَارِ رَمَضَانَ عَلَى كَثْرَةِ الذِّكْرِ قِرَاءَةً لِلْقُرْآنِ، تَسْبِيحًا وَتَهْلِيلًا وَحَمْدًا وَتَكْبِيرًا، قِرَاءَةً لِكُتُبِ الْعِلْمِ وَحُضُورًا لِمَجَالِسِ الْعِلْمِ، وَجُلُوسًا فِيهَا وَاسْتِمَاعًا لِمَا يُقَالُ فِيهَا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ مَجَالِسَ الْعِلْمِ مَجَالِسُ ذِكْرٍ لِلَّهِ وَقَدْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا: وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ: حِلَقُ الذِّكْرِ أَيْ مَجَالِسُ الْعِلْمِ الَّتِي يُبَيَّنُ فِيهَا الْحَلَالُ وَالْحَرَامُ وَتُبَيَّنُ الْأَحْكَامُ، وَيُعَرَّفُ النَّاسُ فِيهَا بِاللَّهِ وَأَسْمَائِهِ وَعَظَمَتِهِ وَصِفَاتِهِ وَتُتْلَى فِيهَا آيَاتُ اللَّهِ وَتُبَيَّنُ مَعَانِيهَا وَأَحَادِيثُ الرَّسُولِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَتُبَيَّنُ مَعَانِيهَا، وَيَتَفَقَّهُ النَّاسُ وَيَتَعَلَّمُونَ الْخَيْرَ هَذَا كُلُّهُ هَذَا كُلُّهُ مِنْ إِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْ إِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى


Sungguh, orang-orang yang berpuasa tidaklah sama pahalanya, melainkan berbeda-beda tingkatannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya?” Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir mengingat Allah.” (HR. Ath-Thabarani). “Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya?”Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir mengingat Allah.” (HR. Ath-Thabarani). Hal ini menunjukkan adanya perbedaan derajat orang-orang yang berpuasa dalam hal pahala, sesuai dengan kadar zikir mereka kepada Allah. Mengapa demikian? Karena ibadah puasa, shalat, haji, dan seluruh ketaatan pada umumnya disyariatkan semata-mata untuk menegakkan zikir kepada Allah. Maka, apakah sama pahala puasa orang yang senantiasa berzikir dengan orang yang lalai? Apakah mereka setara? Apakah ganjaran keduanya sama? Tidak, demi Allah! Di antara keduanya terdapat perbedaan yang sangat jauh. Orang yang paling besar pahalanya dalam puasa adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah. Bahkan sebagaimana disampaikan oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya, Al-Wabil Ash-Shayyib, beliau berkata: “Orang yang paling besar pahalanya dalam setiap amalan ketaatan adalah yang paling banyak mengingat Allah saat melakukan ketaatan tersebut.” “Orang yang paling besar pahalanya dalam setiap ketaatan adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah di dalamnya.” Oleh sebab itu, bersemangatlah di siang hari Ramadan untuk memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, bertasbih, bertahlil, bertahmid, dan bertakbir, serta membaca kitab-kitab ilmu, menghadiri serta duduk di dalam majelis ilmu, serta menyimak segala kebaikan yang disampaikan di sana. Sesungguhnya majelis ilmu adalah majelis zikir kepada Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian melewati taman-taman surga, maka singgahlah!” Para sahabat bertanya, “Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab, “Halaqah-halaqah zikir.” (HR. At-Tirmidzi). Maksudnya majelis-majelis ilmu, tempat dijelaskannya perkara halal dan haram, diterangkannya hukum-hukum agama, dan manusia diperkenalkan kepada Allah, mengenal nama-nama-Nya, keagungan-Nya, serta sifat-sifat-Nya. Tempat di mana dibacakan ayat-ayat Allah dan dijelaskan maknanya, serta hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diterangkan kandungannya, sehingga manusia dapat mendalami agama dan mempelajari berbagai kebaikan. Semua hal itu termasuk dalam menegakkan zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan merupakan bentuk nyata dalam mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== إِنَّ الصُّوَّامَ لَيْسُوا سَوَاءً فِي الْأَجْرِ بَلْ يَتَفَاوَتُونَ سُئِلَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا أَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا ذَا يَدُلُّ عَلَى تَفَاوُتِ أَهْلِ الصِّيَامِ فِي أَجْرِ الصِّيَامِ بِحَسَبِ حَظِّهِمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ لِمَاذَا؟ لِأَنَّ الصِّيَامَ وَالصَّلَاةَ وَالْحَجَّ وَعُمُومَ الطَّاعَاتِ إِنَّمَا شُرِعَتْ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ أَفَيَسْتَوِي فِي أَجْرِ الصِّيَامِ الذَّاكِرُ وَالْغَافِلُ؟ هَلْ يَسْتَوُونَ؟ أَيَكُونُ أَجْرُهُمَا سَوَاءً؟ لَا وَاللَّهِ، بَيْنَهُمَا بَوْنٌ شَاسِعٌ فَأَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي الصِّيَامِ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا بَلْ كَمَا قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ ذَكَرَ ذَلِكَ فِي كِتَابِهِ الْوَابِلِ الصَّيِّبِ قَالَ: أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا وَلِهَذَا احْرِصْ فِي نَهَارِ رَمَضَانَ عَلَى كَثْرَةِ الذِّكْرِ قِرَاءَةً لِلْقُرْآنِ، تَسْبِيحًا وَتَهْلِيلًا وَحَمْدًا وَتَكْبِيرًا، قِرَاءَةً لِكُتُبِ الْعِلْمِ وَحُضُورًا لِمَجَالِسِ الْعِلْمِ، وَجُلُوسًا فِيهَا وَاسْتِمَاعًا لِمَا يُقَالُ فِيهَا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ مَجَالِسَ الْعِلْمِ مَجَالِسُ ذِكْرٍ لِلَّهِ وَقَدْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا: وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ: حِلَقُ الذِّكْرِ أَيْ مَجَالِسُ الْعِلْمِ الَّتِي يُبَيَّنُ فِيهَا الْحَلَالُ وَالْحَرَامُ وَتُبَيَّنُ الْأَحْكَامُ، وَيُعَرَّفُ النَّاسُ فِيهَا بِاللَّهِ وَأَسْمَائِهِ وَعَظَمَتِهِ وَصِفَاتِهِ وَتُتْلَى فِيهَا آيَاتُ اللَّهِ وَتُبَيَّنُ مَعَانِيهَا وَأَحَادِيثُ الرَّسُولِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَتُبَيَّنُ مَعَانِيهَا، وَيَتَفَقَّهُ النَّاسُ وَيَتَعَلَّمُونَ الْخَيْرَ هَذَا كُلُّهُ هَذَا كُلُّهُ مِنْ إِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْ إِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Bagaimana Cara Menentukan Malam Lailatul Qadar?

Daftar Isi ToggleMulai mencari lailatul qadar pada paruh kedua RamadanBagaimana menyikapi riwayat lemah berkaitan lailatul qadar?Tanda malam lailatul qadarApa hikmah dirahasiakannya malam lailatul qadar?Perbincangan tentang kapan terjadinya lailatul qadar selalu menjadi bahan obrolan panas di setiap Ramadan. Ada sebagian yang melakukan penelitian tertentu dengan melihat tanda alam, ada yang menghitung tanggal berdasarkan riwayat salaf, atau bahkan mengaku melihat malaikat Jibril turun kepadanya memberitahukan malam itu lailatul qadar. Ini semua adalah fenomena yang terjadi di masyarakat. Hal ini tidak sekadar meramaikan suasana Ramadan, tetapi bisa berkonsekuensi kepada akidah seorang muslim.Oleh karena itu, penentuan lailatul qadar menjadi penting bagi kaum muslimin. Bukan hanya sekadar motivasi untuk meningkatkan amal, tetapi tentang bagaimana seorang muslim hendaknya berinteraksi dengan perkara gaib. Selain itu, terdapat faidah adab berinteraksi dengan ayat dan riwayat.Mulai mencari lailatul qadar pada paruh kedua RamadanTerdapat banyak pendapat dari kalangan ulama salaf mengenai kapan terjadinya lailatul qadar. Dalam Lathaiful Maarif, Ibnu Rajab rahimahullah mengumpulkan beragam riwayat bahwasanya para ulama terdahulu mulai mencari lailatul qadar dari paruh kedua bulan Ramadan. Artinya, dari malam ke-15 sudah ada dari kalangan para sahabat yang memfokuskan diri meningkatkan amalan malam Ramadannya. Di antaranya adalah Ubay bin Kaab mendasari perbuatannya melakukan qunut di witir pada paruh kedua Ramadan karena berharap datangnya lailatul qadar. Ibnu Rajab rahimahullah menilai ini didasarkan pada hadis,رأيتُها ونسِيتُها ، فتحَرَّها في النِّصْف الأواخر“Aku mengetahuinya, lalu melupakan kapannya, jadi carilah dia di separuh terakhir Ramadan.” (HR. Thabrani, sebagian nukilan matan-nya didapatkan pula pada riwayat Muslim)Namun, setelah perintah ini, Nabi ﷺ pun memerintahkan untuk mencari di malam ke-23.Salah satu pendapat kuat di luar 10 malam terakhir adalah malam ke-17 Ramadan, karena banyak dikaitkan dengan peristiwa besar di sejarah Islam. Kejadian besar yang terjadi di malam ke-17 adalah peristiwa perang Badr yang menjadi momentum kemenangan kaum muslimin atas kaum kuffar Quraisy.Juga terdapat atsar dari Ibnu Mas’ud yang dinilai marfu’ oleh Ibnu Rajab, tetapi dilemahkan sebagian ulama,اطْلُبُوها ليلةَ سبْعَ عشْرَةَ مِن رَمَضانَ، وليلةَ إحدَى وعشرين، وليلَةَ ثلاثٍ وعشرين“Aku mencarinya pada malam ke-17 Ramadan, malam ke-21, dan malam ke-23.” (HR. Abu Dawud no. 1384, dinilai hasan. Al-Mundziri memberikan komentar pada perawinya, yakni Hakim bin Saif, sebagai tokoh yang diperbincangkan)Namun, semua riwayat ini lemah. Akan tetapi, ada sebagian riwayat yang menyebutkan para salaf melakukannya. Apakah ini bertentangan? Jawabannya tidak. Lantas bagaimana cara menyikapinya?Baca juga: Kapan Malam Lailatul Qadar Tahun Ini?Bagaimana menyikapi riwayat lemah berkaitan lailatul qadar?Simaklah keterangan Ibnu Rajab rahimahullah berikut,وأيضًا فكُلُّ زمانٍ فاضلٍ من ليلٍ أو نهارٍ، فإنّ آخِرَه أفضَلُ من أوَّلِه، كيومِ عَرَفَةَ، ويوم الجُمُعة. وكذلك اللَّيلُ والنَّهار عمومًا؛ آخِرُهُ أفضَلُ من أوَّلهِ. ولذلكَ كانت الصلاةُ الوسطى صلاةَ العَصْر، كما دلَّت الأحاديثُ الصَّحيحةُ عليه، وآثارُ السَّلفِ الكثيرة تدُلُّ عليه. وكذلك عشْرُ ذي الحجة والمحرم؛ آخِرُهُما أفضَلُ من أوَّلهما“Alasan lainnya adalah setiap waktu itu utama, baik siang atau malam. Sedang bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnya, misalnya hari Arafah dan hari Jumat. Begitu pula di seluruh waktu malam maupun siang secara umum, bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnya. Oleh karena itu, salat pertengahan atau salat wushtha itu adalah salat Asar berdasarkan hadis-hadis sahih yang ada dan atsar-atsar dari para salaf. Begitu juga sepuluh hari pertama bulan Zulhijah dan Muharam, bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnya.” (Lathaiful Maarif, hal. 176)Artinya, perbuatan para ulama terdahulu ini dalam konteks semakin mendekati akhir, mereka semakin meningkatkan tarikan gas amal. Inilah pesan yang ingin kami sampaikan. Bukan menekankan kepada amalan berbasis hadis lemah, tetapi bagaimana kultur yang terbentuk di kalangan salaf terdahulu dalam mencari lailatul qadar.Nabi ﷺ pun melakukan iktikaf dan mengejar malam semenjak paruh kedua Ramadan. Namun, dalam riwayat yang sahih, dijelaskan Nabi ﷺ memerintahkan untuk mencari di 10 malam terakhir. Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan bahwa riwayat ini semua menunjukkan bahwasanya Nabi ﷺ belum mendapatkan isyarat bahwa lailatul qadar hadir di 10 malam terakhir. Ketika sudah mendapatkan wahyu tersebut, maka Nabi ﷺ pun memerintahkan untuk meningkatkan amal di 10 malam terakhir.Dan berbagai riwayat yang menyebutkan Nabi ﷺ tidak tidur di 10 malam terakhir pun tak lepas dari kritik sanad. Sehingga yang ingin kita tekankan adalah bagaimana suasana mengejar malam kemuliaan itu dibangun. Kritik yang mengenai riwayat-riwayat ini tidak melemahkan pesannya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas amal di paruh akhir.Sebab, yang terefleksikan dari perbuatan penduduk Madinah misalnya, mereka mengencangkan semangat beramalnya sejak 17 Ramadan, sebagaimana dinukilkan oleh Imam Ahmad rahimahullah. Begitupula ada sebagian yang mengkhususkan mencari di malam tersebut, di antara penduduk Mekah dan Madinah. Begitupula pendapat Qadhi Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani yang menilai bahwa lailatul qadar dicari di paruh kedua Ramadan tanpa ditentukan pastinya di hari ke berapa.Semuanya menyimpulkan bahwa pesan kuncinya adalah bersemangat mengejar lailatul qadar sedini mungkin.Namun, jika artikel ini hanya berhenti sampai sini, maka ini akan mengecewakan para pembaca yang menuntut jawaban dari pertanyaan pada judul tersebut. Oleh karena itu, kita akan membahas bagaimana para salaf terdahulu merekam tanda-tanda lailatul qadar.Tanda malam lailatul qadarTerdapat beberapa qarinah (indikasi) yang menunjukkan terjadinya lailatul qadar pada malam yang memiliki ciri-ciri atau rumus-rumus ini. Tujuannya bukan memastikan, tetapi menghimpun ciri-ciri yang dilihat oleh para salaf terdahulu pada lailatul qadar. Perbuatan ini mengejawantahkan ciri yang Allah ﷻ sebutkan di dalam Al-Quran.سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ“Keselamatan terjadi sampai akhir terbitnya fajar.” (QS. Al-Qadr: 5)Tanda-tanda tersebut berupa riwayat yang sahih datang dari Nabi ﷺ berkaitan waktu, dan juga suasana yang terjadi. Terdapat pula riwayat pengalaman dan pengamatan para salaf setelah zaman Nabi ﷺ.1) Udara terasa sejuk, tenang, dan cerah. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda,ليلة لقدر ليلة سمحة, طلقةو لا حارة, ولا باردة, تصبح الشمس صبيحتها ضعيفة حمراء“[Malam] lailatul qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan.” (HR. At-Thayalisy no. 349, Ibnu Khuzaimah 3: 231, Bazzar 1: 486, dan dihasankan oleh Syekh Ali Hasan Al-Halabi)2) Matahari pada pagi harinya jernih dan tidak ada sinar yang menyilaukan. Dari Ubay radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,صبيحة ليلة لقدر تطلع الشمس لا شعاع لها كأنها طست حتى ترتفع“Pagi hari malam lailatul qadar, matahari terbit tidak ada sinar menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.” (HR. Muslim no. 762)3) Ada rasa ketenangan dan kelezatan dalam beribadah karena Jibril ‘alaihissalam dan para malaikat turun pada malam tersebut. Allah ﷻ berfirman,تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا“Pada malam itu, turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril.” (QS. Al Qadar: 4).Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan, “Banyak malaikat yang akan turun pada lailatul qadar karena banyaknya berkah pada malam tersebut. Karena sekali lagi, turunnya malaikat menandakan turunnya berkah dan rahmat.”Dari semua tanda di atas, kita tidak mengetahui dengan pasti kapan malam lailatul qadar terjadi. Semuanya hanyalah tanda yang tidak bisa kita pastikan. Inilah jawaban akhirnya: tidak ada cara menentukan malam lailatul qadar secara pasti.Namun, tentunya ada hikmah dari perbuatan Allah ﷻ menjadikan lailatul qadar sebagai rahasia bagi hamba-Nya.Apa hikmah dirahasiakannya malam lailatul qadar?Hikmahnya adalah agar kita sapu bersih setiap malam di bulan Ramadan. Hanya saja isyarat-isyarat ini akan mendorong kita untuk menentukan momentum menekan gas amal kita mulai kapan. Praktik Nabi ﷺ dan para sahabat yang mulia adalah demikian, mereka tidak membeda-bedakan secara ekstrem hari-hari mulia di bulan Ramadan. Sebagaimana prinsip yang dikemas oleh Ibnu Rajab rahimahullah,“Hari-hari di Ramadan sama mulianya dengan malam Ramadan. Dan semakin mendekati ujung suatu momentum, maka semakin istimewa.”Jadilah kita hamba Allah ﷻ yang menyembah-Nya kapan saja dan karena alasan Dialah Zat yang berhak disembah. Bukan karena sekadar hari istimewa. Hari-hari istimewa adalah kemurahan Allah ﷻ untuk memotivasi kita lebih semangat beramal. Dan tentu, sangat mudah bagi akal kita menerima fakta bahwa: pelari yang berlatih 30 hari akan lebih berhak meraih podium juara dibandingkan orang biasa yang baru berlari di momen perlombaan tersebut.Pilihan ada di tangan Anda: menjadi pelari yang terlatih atau menjadi orang biasa yang baru mencoba berlari di hari perlombaan?Baca juga: Untung Besar di Malam Lailatul Qadar***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Seluruh catatan ini mengacu kepada kitab Lathaiful Maarif karya Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah dengan muhaqqiq Asy-Syaikh Yasin Muhammad As-Sawas. Umumnya penilaian hadis ini berdasarkan catatan muhaqqiq.

Bagaimana Cara Menentukan Malam Lailatul Qadar?

Daftar Isi ToggleMulai mencari lailatul qadar pada paruh kedua RamadanBagaimana menyikapi riwayat lemah berkaitan lailatul qadar?Tanda malam lailatul qadarApa hikmah dirahasiakannya malam lailatul qadar?Perbincangan tentang kapan terjadinya lailatul qadar selalu menjadi bahan obrolan panas di setiap Ramadan. Ada sebagian yang melakukan penelitian tertentu dengan melihat tanda alam, ada yang menghitung tanggal berdasarkan riwayat salaf, atau bahkan mengaku melihat malaikat Jibril turun kepadanya memberitahukan malam itu lailatul qadar. Ini semua adalah fenomena yang terjadi di masyarakat. Hal ini tidak sekadar meramaikan suasana Ramadan, tetapi bisa berkonsekuensi kepada akidah seorang muslim.Oleh karena itu, penentuan lailatul qadar menjadi penting bagi kaum muslimin. Bukan hanya sekadar motivasi untuk meningkatkan amal, tetapi tentang bagaimana seorang muslim hendaknya berinteraksi dengan perkara gaib. Selain itu, terdapat faidah adab berinteraksi dengan ayat dan riwayat.Mulai mencari lailatul qadar pada paruh kedua RamadanTerdapat banyak pendapat dari kalangan ulama salaf mengenai kapan terjadinya lailatul qadar. Dalam Lathaiful Maarif, Ibnu Rajab rahimahullah mengumpulkan beragam riwayat bahwasanya para ulama terdahulu mulai mencari lailatul qadar dari paruh kedua bulan Ramadan. Artinya, dari malam ke-15 sudah ada dari kalangan para sahabat yang memfokuskan diri meningkatkan amalan malam Ramadannya. Di antaranya adalah Ubay bin Kaab mendasari perbuatannya melakukan qunut di witir pada paruh kedua Ramadan karena berharap datangnya lailatul qadar. Ibnu Rajab rahimahullah menilai ini didasarkan pada hadis,رأيتُها ونسِيتُها ، فتحَرَّها في النِّصْف الأواخر“Aku mengetahuinya, lalu melupakan kapannya, jadi carilah dia di separuh terakhir Ramadan.” (HR. Thabrani, sebagian nukilan matan-nya didapatkan pula pada riwayat Muslim)Namun, setelah perintah ini, Nabi ﷺ pun memerintahkan untuk mencari di malam ke-23.Salah satu pendapat kuat di luar 10 malam terakhir adalah malam ke-17 Ramadan, karena banyak dikaitkan dengan peristiwa besar di sejarah Islam. Kejadian besar yang terjadi di malam ke-17 adalah peristiwa perang Badr yang menjadi momentum kemenangan kaum muslimin atas kaum kuffar Quraisy.Juga terdapat atsar dari Ibnu Mas’ud yang dinilai marfu’ oleh Ibnu Rajab, tetapi dilemahkan sebagian ulama,اطْلُبُوها ليلةَ سبْعَ عشْرَةَ مِن رَمَضانَ، وليلةَ إحدَى وعشرين، وليلَةَ ثلاثٍ وعشرين“Aku mencarinya pada malam ke-17 Ramadan, malam ke-21, dan malam ke-23.” (HR. Abu Dawud no. 1384, dinilai hasan. Al-Mundziri memberikan komentar pada perawinya, yakni Hakim bin Saif, sebagai tokoh yang diperbincangkan)Namun, semua riwayat ini lemah. Akan tetapi, ada sebagian riwayat yang menyebutkan para salaf melakukannya. Apakah ini bertentangan? Jawabannya tidak. Lantas bagaimana cara menyikapinya?Baca juga: Kapan Malam Lailatul Qadar Tahun Ini?Bagaimana menyikapi riwayat lemah berkaitan lailatul qadar?Simaklah keterangan Ibnu Rajab rahimahullah berikut,وأيضًا فكُلُّ زمانٍ فاضلٍ من ليلٍ أو نهارٍ، فإنّ آخِرَه أفضَلُ من أوَّلِه، كيومِ عَرَفَةَ، ويوم الجُمُعة. وكذلك اللَّيلُ والنَّهار عمومًا؛ آخِرُهُ أفضَلُ من أوَّلهِ. ولذلكَ كانت الصلاةُ الوسطى صلاةَ العَصْر، كما دلَّت الأحاديثُ الصَّحيحةُ عليه، وآثارُ السَّلفِ الكثيرة تدُلُّ عليه. وكذلك عشْرُ ذي الحجة والمحرم؛ آخِرُهُما أفضَلُ من أوَّلهما“Alasan lainnya adalah setiap waktu itu utama, baik siang atau malam. Sedang bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnya, misalnya hari Arafah dan hari Jumat. Begitu pula di seluruh waktu malam maupun siang secara umum, bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnya. Oleh karena itu, salat pertengahan atau salat wushtha itu adalah salat Asar berdasarkan hadis-hadis sahih yang ada dan atsar-atsar dari para salaf. Begitu juga sepuluh hari pertama bulan Zulhijah dan Muharam, bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnya.” (Lathaiful Maarif, hal. 176)Artinya, perbuatan para ulama terdahulu ini dalam konteks semakin mendekati akhir, mereka semakin meningkatkan tarikan gas amal. Inilah pesan yang ingin kami sampaikan. Bukan menekankan kepada amalan berbasis hadis lemah, tetapi bagaimana kultur yang terbentuk di kalangan salaf terdahulu dalam mencari lailatul qadar.Nabi ﷺ pun melakukan iktikaf dan mengejar malam semenjak paruh kedua Ramadan. Namun, dalam riwayat yang sahih, dijelaskan Nabi ﷺ memerintahkan untuk mencari di 10 malam terakhir. Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan bahwa riwayat ini semua menunjukkan bahwasanya Nabi ﷺ belum mendapatkan isyarat bahwa lailatul qadar hadir di 10 malam terakhir. Ketika sudah mendapatkan wahyu tersebut, maka Nabi ﷺ pun memerintahkan untuk meningkatkan amal di 10 malam terakhir.Dan berbagai riwayat yang menyebutkan Nabi ﷺ tidak tidur di 10 malam terakhir pun tak lepas dari kritik sanad. Sehingga yang ingin kita tekankan adalah bagaimana suasana mengejar malam kemuliaan itu dibangun. Kritik yang mengenai riwayat-riwayat ini tidak melemahkan pesannya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas amal di paruh akhir.Sebab, yang terefleksikan dari perbuatan penduduk Madinah misalnya, mereka mengencangkan semangat beramalnya sejak 17 Ramadan, sebagaimana dinukilkan oleh Imam Ahmad rahimahullah. Begitupula ada sebagian yang mengkhususkan mencari di malam tersebut, di antara penduduk Mekah dan Madinah. Begitupula pendapat Qadhi Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani yang menilai bahwa lailatul qadar dicari di paruh kedua Ramadan tanpa ditentukan pastinya di hari ke berapa.Semuanya menyimpulkan bahwa pesan kuncinya adalah bersemangat mengejar lailatul qadar sedini mungkin.Namun, jika artikel ini hanya berhenti sampai sini, maka ini akan mengecewakan para pembaca yang menuntut jawaban dari pertanyaan pada judul tersebut. Oleh karena itu, kita akan membahas bagaimana para salaf terdahulu merekam tanda-tanda lailatul qadar.Tanda malam lailatul qadarTerdapat beberapa qarinah (indikasi) yang menunjukkan terjadinya lailatul qadar pada malam yang memiliki ciri-ciri atau rumus-rumus ini. Tujuannya bukan memastikan, tetapi menghimpun ciri-ciri yang dilihat oleh para salaf terdahulu pada lailatul qadar. Perbuatan ini mengejawantahkan ciri yang Allah ﷻ sebutkan di dalam Al-Quran.سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ“Keselamatan terjadi sampai akhir terbitnya fajar.” (QS. Al-Qadr: 5)Tanda-tanda tersebut berupa riwayat yang sahih datang dari Nabi ﷺ berkaitan waktu, dan juga suasana yang terjadi. Terdapat pula riwayat pengalaman dan pengamatan para salaf setelah zaman Nabi ﷺ.1) Udara terasa sejuk, tenang, dan cerah. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda,ليلة لقدر ليلة سمحة, طلقةو لا حارة, ولا باردة, تصبح الشمس صبيحتها ضعيفة حمراء“[Malam] lailatul qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan.” (HR. At-Thayalisy no. 349, Ibnu Khuzaimah 3: 231, Bazzar 1: 486, dan dihasankan oleh Syekh Ali Hasan Al-Halabi)2) Matahari pada pagi harinya jernih dan tidak ada sinar yang menyilaukan. Dari Ubay radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,صبيحة ليلة لقدر تطلع الشمس لا شعاع لها كأنها طست حتى ترتفع“Pagi hari malam lailatul qadar, matahari terbit tidak ada sinar menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.” (HR. Muslim no. 762)3) Ada rasa ketenangan dan kelezatan dalam beribadah karena Jibril ‘alaihissalam dan para malaikat turun pada malam tersebut. Allah ﷻ berfirman,تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا“Pada malam itu, turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril.” (QS. Al Qadar: 4).Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan, “Banyak malaikat yang akan turun pada lailatul qadar karena banyaknya berkah pada malam tersebut. Karena sekali lagi, turunnya malaikat menandakan turunnya berkah dan rahmat.”Dari semua tanda di atas, kita tidak mengetahui dengan pasti kapan malam lailatul qadar terjadi. Semuanya hanyalah tanda yang tidak bisa kita pastikan. Inilah jawaban akhirnya: tidak ada cara menentukan malam lailatul qadar secara pasti.Namun, tentunya ada hikmah dari perbuatan Allah ﷻ menjadikan lailatul qadar sebagai rahasia bagi hamba-Nya.Apa hikmah dirahasiakannya malam lailatul qadar?Hikmahnya adalah agar kita sapu bersih setiap malam di bulan Ramadan. Hanya saja isyarat-isyarat ini akan mendorong kita untuk menentukan momentum menekan gas amal kita mulai kapan. Praktik Nabi ﷺ dan para sahabat yang mulia adalah demikian, mereka tidak membeda-bedakan secara ekstrem hari-hari mulia di bulan Ramadan. Sebagaimana prinsip yang dikemas oleh Ibnu Rajab rahimahullah,“Hari-hari di Ramadan sama mulianya dengan malam Ramadan. Dan semakin mendekati ujung suatu momentum, maka semakin istimewa.”Jadilah kita hamba Allah ﷻ yang menyembah-Nya kapan saja dan karena alasan Dialah Zat yang berhak disembah. Bukan karena sekadar hari istimewa. Hari-hari istimewa adalah kemurahan Allah ﷻ untuk memotivasi kita lebih semangat beramal. Dan tentu, sangat mudah bagi akal kita menerima fakta bahwa: pelari yang berlatih 30 hari akan lebih berhak meraih podium juara dibandingkan orang biasa yang baru berlari di momen perlombaan tersebut.Pilihan ada di tangan Anda: menjadi pelari yang terlatih atau menjadi orang biasa yang baru mencoba berlari di hari perlombaan?Baca juga: Untung Besar di Malam Lailatul Qadar***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Seluruh catatan ini mengacu kepada kitab Lathaiful Maarif karya Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah dengan muhaqqiq Asy-Syaikh Yasin Muhammad As-Sawas. Umumnya penilaian hadis ini berdasarkan catatan muhaqqiq.
Daftar Isi ToggleMulai mencari lailatul qadar pada paruh kedua RamadanBagaimana menyikapi riwayat lemah berkaitan lailatul qadar?Tanda malam lailatul qadarApa hikmah dirahasiakannya malam lailatul qadar?Perbincangan tentang kapan terjadinya lailatul qadar selalu menjadi bahan obrolan panas di setiap Ramadan. Ada sebagian yang melakukan penelitian tertentu dengan melihat tanda alam, ada yang menghitung tanggal berdasarkan riwayat salaf, atau bahkan mengaku melihat malaikat Jibril turun kepadanya memberitahukan malam itu lailatul qadar. Ini semua adalah fenomena yang terjadi di masyarakat. Hal ini tidak sekadar meramaikan suasana Ramadan, tetapi bisa berkonsekuensi kepada akidah seorang muslim.Oleh karena itu, penentuan lailatul qadar menjadi penting bagi kaum muslimin. Bukan hanya sekadar motivasi untuk meningkatkan amal, tetapi tentang bagaimana seorang muslim hendaknya berinteraksi dengan perkara gaib. Selain itu, terdapat faidah adab berinteraksi dengan ayat dan riwayat.Mulai mencari lailatul qadar pada paruh kedua RamadanTerdapat banyak pendapat dari kalangan ulama salaf mengenai kapan terjadinya lailatul qadar. Dalam Lathaiful Maarif, Ibnu Rajab rahimahullah mengumpulkan beragam riwayat bahwasanya para ulama terdahulu mulai mencari lailatul qadar dari paruh kedua bulan Ramadan. Artinya, dari malam ke-15 sudah ada dari kalangan para sahabat yang memfokuskan diri meningkatkan amalan malam Ramadannya. Di antaranya adalah Ubay bin Kaab mendasari perbuatannya melakukan qunut di witir pada paruh kedua Ramadan karena berharap datangnya lailatul qadar. Ibnu Rajab rahimahullah menilai ini didasarkan pada hadis,رأيتُها ونسِيتُها ، فتحَرَّها في النِّصْف الأواخر“Aku mengetahuinya, lalu melupakan kapannya, jadi carilah dia di separuh terakhir Ramadan.” (HR. Thabrani, sebagian nukilan matan-nya didapatkan pula pada riwayat Muslim)Namun, setelah perintah ini, Nabi ﷺ pun memerintahkan untuk mencari di malam ke-23.Salah satu pendapat kuat di luar 10 malam terakhir adalah malam ke-17 Ramadan, karena banyak dikaitkan dengan peristiwa besar di sejarah Islam. Kejadian besar yang terjadi di malam ke-17 adalah peristiwa perang Badr yang menjadi momentum kemenangan kaum muslimin atas kaum kuffar Quraisy.Juga terdapat atsar dari Ibnu Mas’ud yang dinilai marfu’ oleh Ibnu Rajab, tetapi dilemahkan sebagian ulama,اطْلُبُوها ليلةَ سبْعَ عشْرَةَ مِن رَمَضانَ، وليلةَ إحدَى وعشرين، وليلَةَ ثلاثٍ وعشرين“Aku mencarinya pada malam ke-17 Ramadan, malam ke-21, dan malam ke-23.” (HR. Abu Dawud no. 1384, dinilai hasan. Al-Mundziri memberikan komentar pada perawinya, yakni Hakim bin Saif, sebagai tokoh yang diperbincangkan)Namun, semua riwayat ini lemah. Akan tetapi, ada sebagian riwayat yang menyebutkan para salaf melakukannya. Apakah ini bertentangan? Jawabannya tidak. Lantas bagaimana cara menyikapinya?Baca juga: Kapan Malam Lailatul Qadar Tahun Ini?Bagaimana menyikapi riwayat lemah berkaitan lailatul qadar?Simaklah keterangan Ibnu Rajab rahimahullah berikut,وأيضًا فكُلُّ زمانٍ فاضلٍ من ليلٍ أو نهارٍ، فإنّ آخِرَه أفضَلُ من أوَّلِه، كيومِ عَرَفَةَ، ويوم الجُمُعة. وكذلك اللَّيلُ والنَّهار عمومًا؛ آخِرُهُ أفضَلُ من أوَّلهِ. ولذلكَ كانت الصلاةُ الوسطى صلاةَ العَصْر، كما دلَّت الأحاديثُ الصَّحيحةُ عليه، وآثارُ السَّلفِ الكثيرة تدُلُّ عليه. وكذلك عشْرُ ذي الحجة والمحرم؛ آخِرُهُما أفضَلُ من أوَّلهما“Alasan lainnya adalah setiap waktu itu utama, baik siang atau malam. Sedang bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnya, misalnya hari Arafah dan hari Jumat. Begitu pula di seluruh waktu malam maupun siang secara umum, bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnya. Oleh karena itu, salat pertengahan atau salat wushtha itu adalah salat Asar berdasarkan hadis-hadis sahih yang ada dan atsar-atsar dari para salaf. Begitu juga sepuluh hari pertama bulan Zulhijah dan Muharam, bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnya.” (Lathaiful Maarif, hal. 176)Artinya, perbuatan para ulama terdahulu ini dalam konteks semakin mendekati akhir, mereka semakin meningkatkan tarikan gas amal. Inilah pesan yang ingin kami sampaikan. Bukan menekankan kepada amalan berbasis hadis lemah, tetapi bagaimana kultur yang terbentuk di kalangan salaf terdahulu dalam mencari lailatul qadar.Nabi ﷺ pun melakukan iktikaf dan mengejar malam semenjak paruh kedua Ramadan. Namun, dalam riwayat yang sahih, dijelaskan Nabi ﷺ memerintahkan untuk mencari di 10 malam terakhir. Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan bahwa riwayat ini semua menunjukkan bahwasanya Nabi ﷺ belum mendapatkan isyarat bahwa lailatul qadar hadir di 10 malam terakhir. Ketika sudah mendapatkan wahyu tersebut, maka Nabi ﷺ pun memerintahkan untuk meningkatkan amal di 10 malam terakhir.Dan berbagai riwayat yang menyebutkan Nabi ﷺ tidak tidur di 10 malam terakhir pun tak lepas dari kritik sanad. Sehingga yang ingin kita tekankan adalah bagaimana suasana mengejar malam kemuliaan itu dibangun. Kritik yang mengenai riwayat-riwayat ini tidak melemahkan pesannya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas amal di paruh akhir.Sebab, yang terefleksikan dari perbuatan penduduk Madinah misalnya, mereka mengencangkan semangat beramalnya sejak 17 Ramadan, sebagaimana dinukilkan oleh Imam Ahmad rahimahullah. Begitupula ada sebagian yang mengkhususkan mencari di malam tersebut, di antara penduduk Mekah dan Madinah. Begitupula pendapat Qadhi Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani yang menilai bahwa lailatul qadar dicari di paruh kedua Ramadan tanpa ditentukan pastinya di hari ke berapa.Semuanya menyimpulkan bahwa pesan kuncinya adalah bersemangat mengejar lailatul qadar sedini mungkin.Namun, jika artikel ini hanya berhenti sampai sini, maka ini akan mengecewakan para pembaca yang menuntut jawaban dari pertanyaan pada judul tersebut. Oleh karena itu, kita akan membahas bagaimana para salaf terdahulu merekam tanda-tanda lailatul qadar.Tanda malam lailatul qadarTerdapat beberapa qarinah (indikasi) yang menunjukkan terjadinya lailatul qadar pada malam yang memiliki ciri-ciri atau rumus-rumus ini. Tujuannya bukan memastikan, tetapi menghimpun ciri-ciri yang dilihat oleh para salaf terdahulu pada lailatul qadar. Perbuatan ini mengejawantahkan ciri yang Allah ﷻ sebutkan di dalam Al-Quran.سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ“Keselamatan terjadi sampai akhir terbitnya fajar.” (QS. Al-Qadr: 5)Tanda-tanda tersebut berupa riwayat yang sahih datang dari Nabi ﷺ berkaitan waktu, dan juga suasana yang terjadi. Terdapat pula riwayat pengalaman dan pengamatan para salaf setelah zaman Nabi ﷺ.1) Udara terasa sejuk, tenang, dan cerah. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda,ليلة لقدر ليلة سمحة, طلقةو لا حارة, ولا باردة, تصبح الشمس صبيحتها ضعيفة حمراء“[Malam] lailatul qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan.” (HR. At-Thayalisy no. 349, Ibnu Khuzaimah 3: 231, Bazzar 1: 486, dan dihasankan oleh Syekh Ali Hasan Al-Halabi)2) Matahari pada pagi harinya jernih dan tidak ada sinar yang menyilaukan. Dari Ubay radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,صبيحة ليلة لقدر تطلع الشمس لا شعاع لها كأنها طست حتى ترتفع“Pagi hari malam lailatul qadar, matahari terbit tidak ada sinar menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.” (HR. Muslim no. 762)3) Ada rasa ketenangan dan kelezatan dalam beribadah karena Jibril ‘alaihissalam dan para malaikat turun pada malam tersebut. Allah ﷻ berfirman,تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا“Pada malam itu, turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril.” (QS. Al Qadar: 4).Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan, “Banyak malaikat yang akan turun pada lailatul qadar karena banyaknya berkah pada malam tersebut. Karena sekali lagi, turunnya malaikat menandakan turunnya berkah dan rahmat.”Dari semua tanda di atas, kita tidak mengetahui dengan pasti kapan malam lailatul qadar terjadi. Semuanya hanyalah tanda yang tidak bisa kita pastikan. Inilah jawaban akhirnya: tidak ada cara menentukan malam lailatul qadar secara pasti.Namun, tentunya ada hikmah dari perbuatan Allah ﷻ menjadikan lailatul qadar sebagai rahasia bagi hamba-Nya.Apa hikmah dirahasiakannya malam lailatul qadar?Hikmahnya adalah agar kita sapu bersih setiap malam di bulan Ramadan. Hanya saja isyarat-isyarat ini akan mendorong kita untuk menentukan momentum menekan gas amal kita mulai kapan. Praktik Nabi ﷺ dan para sahabat yang mulia adalah demikian, mereka tidak membeda-bedakan secara ekstrem hari-hari mulia di bulan Ramadan. Sebagaimana prinsip yang dikemas oleh Ibnu Rajab rahimahullah,“Hari-hari di Ramadan sama mulianya dengan malam Ramadan. Dan semakin mendekati ujung suatu momentum, maka semakin istimewa.”Jadilah kita hamba Allah ﷻ yang menyembah-Nya kapan saja dan karena alasan Dialah Zat yang berhak disembah. Bukan karena sekadar hari istimewa. Hari-hari istimewa adalah kemurahan Allah ﷻ untuk memotivasi kita lebih semangat beramal. Dan tentu, sangat mudah bagi akal kita menerima fakta bahwa: pelari yang berlatih 30 hari akan lebih berhak meraih podium juara dibandingkan orang biasa yang baru berlari di momen perlombaan tersebut.Pilihan ada di tangan Anda: menjadi pelari yang terlatih atau menjadi orang biasa yang baru mencoba berlari di hari perlombaan?Baca juga: Untung Besar di Malam Lailatul Qadar***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Seluruh catatan ini mengacu kepada kitab Lathaiful Maarif karya Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah dengan muhaqqiq Asy-Syaikh Yasin Muhammad As-Sawas. Umumnya penilaian hadis ini berdasarkan catatan muhaqqiq.


Daftar Isi ToggleMulai mencari lailatul qadar pada paruh kedua RamadanBagaimana menyikapi riwayat lemah berkaitan lailatul qadar?Tanda malam lailatul qadarApa hikmah dirahasiakannya malam lailatul qadar?Perbincangan tentang kapan terjadinya lailatul qadar selalu menjadi bahan obrolan panas di setiap Ramadan. Ada sebagian yang melakukan penelitian tertentu dengan melihat tanda alam, ada yang menghitung tanggal berdasarkan riwayat salaf, atau bahkan mengaku melihat malaikat Jibril turun kepadanya memberitahukan malam itu lailatul qadar. Ini semua adalah fenomena yang terjadi di masyarakat. Hal ini tidak sekadar meramaikan suasana Ramadan, tetapi bisa berkonsekuensi kepada akidah seorang muslim.Oleh karena itu, penentuan lailatul qadar menjadi penting bagi kaum muslimin. Bukan hanya sekadar motivasi untuk meningkatkan amal, tetapi tentang bagaimana seorang muslim hendaknya berinteraksi dengan perkara gaib. Selain itu, terdapat faidah adab berinteraksi dengan ayat dan riwayat.Mulai mencari lailatul qadar pada paruh kedua RamadanTerdapat banyak pendapat dari kalangan ulama salaf mengenai kapan terjadinya lailatul qadar. Dalam Lathaiful Maarif, Ibnu Rajab rahimahullah mengumpulkan beragam riwayat bahwasanya para ulama terdahulu mulai mencari lailatul qadar dari paruh kedua bulan Ramadan. Artinya, dari malam ke-15 sudah ada dari kalangan para sahabat yang memfokuskan diri meningkatkan amalan malam Ramadannya. Di antaranya adalah Ubay bin Kaab mendasari perbuatannya melakukan qunut di witir pada paruh kedua Ramadan karena berharap datangnya lailatul qadar. Ibnu Rajab rahimahullah menilai ini didasarkan pada hadis,رأيتُها ونسِيتُها ، فتحَرَّها في النِّصْف الأواخر“Aku mengetahuinya, lalu melupakan kapannya, jadi carilah dia di separuh terakhir Ramadan.” (HR. Thabrani, sebagian nukilan matan-nya didapatkan pula pada riwayat Muslim)Namun, setelah perintah ini, Nabi ﷺ pun memerintahkan untuk mencari di malam ke-23.Salah satu pendapat kuat di luar 10 malam terakhir adalah malam ke-17 Ramadan, karena banyak dikaitkan dengan peristiwa besar di sejarah Islam. Kejadian besar yang terjadi di malam ke-17 adalah peristiwa perang Badr yang menjadi momentum kemenangan kaum muslimin atas kaum kuffar Quraisy.Juga terdapat atsar dari Ibnu Mas’ud yang dinilai marfu’ oleh Ibnu Rajab, tetapi dilemahkan sebagian ulama,اطْلُبُوها ليلةَ سبْعَ عشْرَةَ مِن رَمَضانَ، وليلةَ إحدَى وعشرين، وليلَةَ ثلاثٍ وعشرين“Aku mencarinya pada malam ke-17 Ramadan, malam ke-21, dan malam ke-23.” (HR. Abu Dawud no. 1384, dinilai hasan. Al-Mundziri memberikan komentar pada perawinya, yakni Hakim bin Saif, sebagai tokoh yang diperbincangkan)Namun, semua riwayat ini lemah. Akan tetapi, ada sebagian riwayat yang menyebutkan para salaf melakukannya. Apakah ini bertentangan? Jawabannya tidak. Lantas bagaimana cara menyikapinya?Baca juga: Kapan Malam Lailatul Qadar Tahun Ini?Bagaimana menyikapi riwayat lemah berkaitan lailatul qadar?Simaklah keterangan Ibnu Rajab rahimahullah berikut,وأيضًا فكُلُّ زمانٍ فاضلٍ من ليلٍ أو نهارٍ، فإنّ آخِرَه أفضَلُ من أوَّلِه، كيومِ عَرَفَةَ، ويوم الجُمُعة. وكذلك اللَّيلُ والنَّهار عمومًا؛ آخِرُهُ أفضَلُ من أوَّلهِ. ولذلكَ كانت الصلاةُ الوسطى صلاةَ العَصْر، كما دلَّت الأحاديثُ الصَّحيحةُ عليه، وآثارُ السَّلفِ الكثيرة تدُلُّ عليه. وكذلك عشْرُ ذي الحجة والمحرم؛ آخِرُهُما أفضَلُ من أوَّلهما“Alasan lainnya adalah setiap waktu itu utama, baik siang atau malam. Sedang bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnya, misalnya hari Arafah dan hari Jumat. Begitu pula di seluruh waktu malam maupun siang secara umum, bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnya. Oleh karena itu, salat pertengahan atau salat wushtha itu adalah salat Asar berdasarkan hadis-hadis sahih yang ada dan atsar-atsar dari para salaf. Begitu juga sepuluh hari pertama bulan Zulhijah dan Muharam, bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnya.” (Lathaiful Maarif, hal. 176)Artinya, perbuatan para ulama terdahulu ini dalam konteks semakin mendekati akhir, mereka semakin meningkatkan tarikan gas amal. Inilah pesan yang ingin kami sampaikan. Bukan menekankan kepada amalan berbasis hadis lemah, tetapi bagaimana kultur yang terbentuk di kalangan salaf terdahulu dalam mencari lailatul qadar.Nabi ﷺ pun melakukan iktikaf dan mengejar malam semenjak paruh kedua Ramadan. Namun, dalam riwayat yang sahih, dijelaskan Nabi ﷺ memerintahkan untuk mencari di 10 malam terakhir. Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan bahwa riwayat ini semua menunjukkan bahwasanya Nabi ﷺ belum mendapatkan isyarat bahwa lailatul qadar hadir di 10 malam terakhir. Ketika sudah mendapatkan wahyu tersebut, maka Nabi ﷺ pun memerintahkan untuk meningkatkan amal di 10 malam terakhir.Dan berbagai riwayat yang menyebutkan Nabi ﷺ tidak tidur di 10 malam terakhir pun tak lepas dari kritik sanad. Sehingga yang ingin kita tekankan adalah bagaimana suasana mengejar malam kemuliaan itu dibangun. Kritik yang mengenai riwayat-riwayat ini tidak melemahkan pesannya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas amal di paruh akhir.Sebab, yang terefleksikan dari perbuatan penduduk Madinah misalnya, mereka mengencangkan semangat beramalnya sejak 17 Ramadan, sebagaimana dinukilkan oleh Imam Ahmad rahimahullah. Begitupula ada sebagian yang mengkhususkan mencari di malam tersebut, di antara penduduk Mekah dan Madinah. Begitupula pendapat Qadhi Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani yang menilai bahwa lailatul qadar dicari di paruh kedua Ramadan tanpa ditentukan pastinya di hari ke berapa.Semuanya menyimpulkan bahwa pesan kuncinya adalah bersemangat mengejar lailatul qadar sedini mungkin.Namun, jika artikel ini hanya berhenti sampai sini, maka ini akan mengecewakan para pembaca yang menuntut jawaban dari pertanyaan pada judul tersebut. Oleh karena itu, kita akan membahas bagaimana para salaf terdahulu merekam tanda-tanda lailatul qadar.Tanda malam lailatul qadarTerdapat beberapa qarinah (indikasi) yang menunjukkan terjadinya lailatul qadar pada malam yang memiliki ciri-ciri atau rumus-rumus ini. Tujuannya bukan memastikan, tetapi menghimpun ciri-ciri yang dilihat oleh para salaf terdahulu pada lailatul qadar. Perbuatan ini mengejawantahkan ciri yang Allah ﷻ sebutkan di dalam Al-Quran.سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ“Keselamatan terjadi sampai akhir terbitnya fajar.” (QS. Al-Qadr: 5)Tanda-tanda tersebut berupa riwayat yang sahih datang dari Nabi ﷺ berkaitan waktu, dan juga suasana yang terjadi. Terdapat pula riwayat pengalaman dan pengamatan para salaf setelah zaman Nabi ﷺ.1) Udara terasa sejuk, tenang, dan cerah. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda,ليلة لقدر ليلة سمحة, طلقةو لا حارة, ولا باردة, تصبح الشمس صبيحتها ضعيفة حمراء“[Malam] lailatul qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan.” (HR. At-Thayalisy no. 349, Ibnu Khuzaimah 3: 231, Bazzar 1: 486, dan dihasankan oleh Syekh Ali Hasan Al-Halabi)2) Matahari pada pagi harinya jernih dan tidak ada sinar yang menyilaukan. Dari Ubay radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,صبيحة ليلة لقدر تطلع الشمس لا شعاع لها كأنها طست حتى ترتفع“Pagi hari malam lailatul qadar, matahari terbit tidak ada sinar menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.” (HR. Muslim no. 762)3) Ada rasa ketenangan dan kelezatan dalam beribadah karena Jibril ‘alaihissalam dan para malaikat turun pada malam tersebut. Allah ﷻ berfirman,تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا“Pada malam itu, turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril.” (QS. Al Qadar: 4).Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan, “Banyak malaikat yang akan turun pada lailatul qadar karena banyaknya berkah pada malam tersebut. Karena sekali lagi, turunnya malaikat menandakan turunnya berkah dan rahmat.”Dari semua tanda di atas, kita tidak mengetahui dengan pasti kapan malam lailatul qadar terjadi. Semuanya hanyalah tanda yang tidak bisa kita pastikan. Inilah jawaban akhirnya: tidak ada cara menentukan malam lailatul qadar secara pasti.Namun, tentunya ada hikmah dari perbuatan Allah ﷻ menjadikan lailatul qadar sebagai rahasia bagi hamba-Nya.Apa hikmah dirahasiakannya malam lailatul qadar?Hikmahnya adalah agar kita sapu bersih setiap malam di bulan Ramadan. Hanya saja isyarat-isyarat ini akan mendorong kita untuk menentukan momentum menekan gas amal kita mulai kapan. Praktik Nabi ﷺ dan para sahabat yang mulia adalah demikian, mereka tidak membeda-bedakan secara ekstrem hari-hari mulia di bulan Ramadan. Sebagaimana prinsip yang dikemas oleh Ibnu Rajab rahimahullah,“Hari-hari di Ramadan sama mulianya dengan malam Ramadan. Dan semakin mendekati ujung suatu momentum, maka semakin istimewa.”Jadilah kita hamba Allah ﷻ yang menyembah-Nya kapan saja dan karena alasan Dialah Zat yang berhak disembah. Bukan karena sekadar hari istimewa. Hari-hari istimewa adalah kemurahan Allah ﷻ untuk memotivasi kita lebih semangat beramal. Dan tentu, sangat mudah bagi akal kita menerima fakta bahwa: pelari yang berlatih 30 hari akan lebih berhak meraih podium juara dibandingkan orang biasa yang baru berlari di momen perlombaan tersebut.Pilihan ada di tangan Anda: menjadi pelari yang terlatih atau menjadi orang biasa yang baru mencoba berlari di hari perlombaan?Baca juga: Untung Besar di Malam Lailatul Qadar***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Seluruh catatan ini mengacu kepada kitab Lathaiful Maarif karya Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah dengan muhaqqiq Asy-Syaikh Yasin Muhammad As-Sawas. Umumnya penilaian hadis ini berdasarkan catatan muhaqqiq.

Kisah Ibnu Shayyad (Bag. 1): Pemuda Yahudi yang Dicurigai Sebagai Dajjal

Daftar Isi ToggleMengenal Ibnu SayyadKeadaan Ibnu ShayyadUjian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Ibnu SayyadIbnu Shayyad: Fakta, bukan mitosKematian Ibnu ShayyadAda pertanyaan yang muncul di benak kita mengenai siapa dan di mana keberadaan Dajjal. Apakah Dajjal hidup (saat ini)? Apakah ia sudah ada pada masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam?Sebelum menjawab pertanyaan ini, perlu kita ketahui dahulu tentang kisah Ibnu Shayyad. Pemuda Yahudi yang hidup di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dicurigai sebagai Dajjal. Apakah dia Dajjal atau bukan? Jika Ibnu Shayyad bukan Dajjal, apakah Dajjal sudah ada sebelum kemunculannya dengan fitnahnya, atau baru muncul kemudian (saat menjelang hari kiamat)?Mengenal Ibnu SayyadNama aslinya adalah Shaff (ada yang mengatakan Abdullah) bin Shayyad atau Shaid. Ia merupakan seorang Yahudi dari Madinah, ada juga yang mengatakan dari kalangan Anshar. Ia masih kecil ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah.Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Ibnu Shayyad kemudian masuk Islam, dan anaknya, ‘Umarah, termasuk dari kalangan tabi’in yang terkemuka. Imam Malik dan lainnya meriwayatkan darinya.Adz-Dzhahabi menulis dalam bukunya Tajrid Asma’ as-Sahabah,عبد الله بن صيَّاد، أورده ابن شاهين، وقال: هو ابن صائد، كان أبوه يهوديًّا، فولد عبد الله أعور مختونًا، وهو الّذي قيل: إنّه الدَّجّال، ثمَّ أسلم، فهو تابعيٌّ، له رؤية“Abdullah bin Shayyad, disebut oleh Ibnu Shahin. Ayahnya seorang Yahudi, lahirlah Abdullah yang cacat mata dan disunat, dan orang mengatakan dialah Dajjal. Ia kemudian masuk Islam, sehingga termasuk tabi’in yang pernah bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Al-Hafizh Ibnu Hajar juga menulis dalam al-Isabah menekankan hal yang sama, dan menyebut anaknya ‘Umarah bin Abdullah bin Shayyad sebagai salah satu tabi’in yang terkemuka, yang meriwayatkan dari Imam Malik dan lainnya.Keadaan Ibnu ShayyadIbnu Shayyad dikenal sebagai seorang pendusta yang sering meramal. Terkadang ucapannya benar, dan terkadang salah. Karena sifatnya itu, berita tentang dirinya tersebar luas di tengah masyarakat, sampai muncul anggapan bahwa dialah Dajjal sebagaimana akan dijelaskan dalam kisah ujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapnya.Baca juga: Beriman Terhadap Munculnya DajalUjian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Ibnu SayyadKetika kabar tentang Ibnu Shayyad semakin melebar, dan banyak orang percaya bahwa ia adalah Dajjal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin memastikan kebenaran itu. Beliau mendatangi Ibnu Shayyad secara diam-diam agar tidak ketahuan, dengan harapan dapat mendengar sesuatu yang mengungkap hakikat dirinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bisa membuka jati diri Ibnu Shayyad.Dalam sebuah hadis, Ibnu Umar menceritakan bahwa Umar pernah pergi bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui Ibnu Shayyad. Mereka menemukan Ibnu Shayyad sedang bermain dengan anak-anak di dekat benteng Bani Maghalah, dan ia sudah hampir baligh. Tiba-tiba, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menepuknya dan bertanya,أتشهد أني رسول الله؟“Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah?”Ibnu Shayyad menatap beliau dan menjawab,أشهد أنك رسول الأميين“Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasul bagi orang-orang yang ummi.”Dan Ibnu Shayyad balik bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,أتشهد أني رسول الله؟“Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasul Allah?”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menolaknya dan menjawab,آمنت بالله وبرسله“Aku beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bertanya,ما ترى؟“Apa yang engkau lihat?”Ibnu Shayyad menjawab,يأتيني صادق وكاذب“Datang kepadaku yang benar dan yang dusta.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,خلط عليك الأمر“Engkau telah bingung dan tercampur dalam urusanmu.”Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi,إنِّي خبأت لك خبيئًا؟“Aku menyembunyikan sesuatu untukmu, coba katakan apa itu?”Ibnu Shayyad menjawab,هو الدُّخ“Ad-dukh…”Ia bermaksud mengatakan ad-dukhān (asap), namun hanya mampu mengucapkan sebagian kata itu.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata,اخسأ فلن تعدو قدرك“Diam! Engkau tidak akan melampaui batasmu.”Umar kemudian berkata,دعني يا رسول الله أضرب عنقه“Wahai Rasulullah, izinkan aku memenggal lehernya!”Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن يكنه؛ فلن تسلط عليه، وإن لم يكنه؛ فلا خير لك في قتله“Jika memang dialah (Dajjal), engkau tidak akan mampu membunuhnya. Dan jika bukan dia, maka tidak ada gunanya engkau membunuhnya.” (HR. Bukhari)Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi kepadanya,ما ترى؟“Apa yang engkau lihat?”Ibnu Shayyad menjawab,أرى عرشًا على الماء“Aku melihat singgasana berada di atas air.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,ترى عرش إبليس على البحر، وما ترى؟“Engkau melihat singgasana Iblis di atas lautan. Apa lagi yang kau lihat?”Ia menjawab,أرى صادقين وكاذبًا، أو كاذبين وصادقًا.“Aku melihat dua yang benar dan satu yang dusta, atau dua yang dusta dan satu yang benar.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لُبِّسَ عليه، دعوه“Pikirannya telah dikacaukan. Biarkan saja dia.” (HR. Muslim)Ibnu Umar juga menceritakan bahwa setelah itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Ubay bin Ka‘ab kembali mendatangi kebun kurma tempat Ibnu Shayyad berada. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersembunyi di balik pohon-pohon dengan harapan bisa mendengar sesuatu darinya sebelum ia sadar kedatangan beliau. Saat itu, Ibnu Sayyad sedang berbaring dengan selimutnya. Ibu Ibnu Shayyad melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memanggil anaknya,يا صاف -وهو اسم ابن صياد-! هذا محمَّد صلى الله عليه وسلم.“Wahai Shaff! Itu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam!”Ibnu Shayyad pun terkejut dan bangun. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,لو تركته بيَّن“Seandainya ibunya membiarkannya, pasti urusannya menjadi jelas.” (HR. Bukhari)Abu Dzar pernah ditugaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya kepada ibu Ibnu Shayyad,سلها كم حملت به؟“Berapa lama engkau mengandungnya?”Sang ibu menjawab,حملتُ به اثني عشر شهرًا.“Aku mengandungnya selama dua belas bulan.”Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh Abu Dzar untuk bertanya lagi,سلها عن صيحته حين وقع؟“Bagaimana tangisannya saat ia lahir?”Sang ibu menjawab,صاح صيحة الصبي ابن شهر“Ia menangis seperti bayi berusia satu bulan.”Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Ibnu Shayyad,إنِّي قد خبأت لك خبئًا“Aku menyembunyikan sesuatu darimu. Apa itu?”Ibnu Sayyad menjawab,خبأت لي خطم شاة عفراء والدُّخان“Engkau menyembunyikan khitm (hidung) domba dan asap.”Ia ingin mengucapkan kata ad-dukhan (asap), tetapi ia hanya mampu mengucapkan,الدُّخ، الدُّخ“Ad-dukh… ad-dukh…”Ujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kata “ad-dukhan” merujuk pada firman Allah,فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ“Tunggulah pada hari ketika langit menurunkan asap yang jelas.” (QS. Ad-Dukhan: 10)Dalam riwayat Imam Ahmad dari Ibnu Umar disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembunyikan ayat ini sebagai ujian bagi Ibnu Sayyad.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,ابن صياد كاشف على طريقة الكهَّان، بلسان الجان، وهم يقرطون -أي: يقطعون- العبارة، ولهذا قال: هو الدُّخ يعني: الدُّخان، فعندها عرف رسول الله صلى الله عليه وسلم مادته، وأنّها شيطانية، فقال له: (اخسأ؛ فلن تعدو قدرك)“Ibnu Shayyad memiliki kemampuan seperti para dukun yang dibantu jin, sehingga ucapannya terpotong-potong. Oleh karena itu, ia hanya mampu mengatakan ad-dukh. Saat itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui bahwa sumbernya adalah dari setan. Beliau pun berkata, ‘Diam! Engkau tidak akan melampaui batas.’”Ibnu Shayyad: Fakta, bukan mitosKisah Ibnu Shayyad ini pun ada yang mengatakan adalah kisah mitos saja bukan kenyataan. Salah satu yang berpendapat mengenai hal ini adalah Abu Ubaydah. Dia berkata,شخصية ابن صياد خرافة جازت على بعض العقول، فعاشت قصتها في بعض الكتب منسوبة إلى الرسول، والرسول عليه صلوات الله لا يصدر عنه من القول والفعل إِلَّا ما هو لُباب الحق ومُصاصه، ولقد آن الأوان لنأخذ بعين الاعتبار والجد روح الحديث ومعناه، ودلالته ومرماه؛ كما نأخذ سنده وطريقه؛ لتنجو مداركنا الإِسلامية من الشطط والغلط“Kepribadian Ibnu Shayyad adalah mitos yang diterima oleh beberapa orang, sehingga kisahnya hidup dalam beberapa kitab dan dikaitkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berkata atau berbuat kecuali yang merupakan inti kebenaran dan esensinya. Sudah saatnya kita memperhatikan ruh hadis, maknanya, petunjuk, dan tujuannya, sebagaimana kita memperhatikan sanad dan jalurnya, agar akal keislaman kita selamat dari penyimpangan dan kesalahan.”Namun, hal ini dapat dijawab: hadis-hadis yang menyebut Ibnu Shayyad adalah sahih, tercantum dalam kitab-kitab hadis seperti Ash-Shahihain dan lainnya. Tidak ada yang bertentangan dengan ruh hadis atau inti kebenaran. Ibnu Shayyad, seperti telah disebutkan sebelumnya, memang membuat umat Islam bingung dan termasuk salah satu penipu (Dajjal) dari golongan penipu, dan Allah menampakkan kebohongannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umat Muslim.Kematian Ibnu ShayyadJabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan,فقدنا ابن صيَّاد يوم الحرَّة“Kami kehilangan Ibnu Shayyad pada hari Harrah.” (HR. Abu Daud)Ibnu Hajar rahimahullah menilai riwayat ini sahih. Sementara pendapat yang menyebutkan bahwa Ibnu Shayyad wafat di Madinah dan bahwa orang-orang membukakan wajahnya serta mensalatinya, dianggap lemah oleh Ibnu Hajar.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Kisah Ibnu Shayyad (Bag. 1): Pemuda Yahudi yang Dicurigai Sebagai Dajjal

Daftar Isi ToggleMengenal Ibnu SayyadKeadaan Ibnu ShayyadUjian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Ibnu SayyadIbnu Shayyad: Fakta, bukan mitosKematian Ibnu ShayyadAda pertanyaan yang muncul di benak kita mengenai siapa dan di mana keberadaan Dajjal. Apakah Dajjal hidup (saat ini)? Apakah ia sudah ada pada masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam?Sebelum menjawab pertanyaan ini, perlu kita ketahui dahulu tentang kisah Ibnu Shayyad. Pemuda Yahudi yang hidup di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dicurigai sebagai Dajjal. Apakah dia Dajjal atau bukan? Jika Ibnu Shayyad bukan Dajjal, apakah Dajjal sudah ada sebelum kemunculannya dengan fitnahnya, atau baru muncul kemudian (saat menjelang hari kiamat)?Mengenal Ibnu SayyadNama aslinya adalah Shaff (ada yang mengatakan Abdullah) bin Shayyad atau Shaid. Ia merupakan seorang Yahudi dari Madinah, ada juga yang mengatakan dari kalangan Anshar. Ia masih kecil ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah.Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Ibnu Shayyad kemudian masuk Islam, dan anaknya, ‘Umarah, termasuk dari kalangan tabi’in yang terkemuka. Imam Malik dan lainnya meriwayatkan darinya.Adz-Dzhahabi menulis dalam bukunya Tajrid Asma’ as-Sahabah,عبد الله بن صيَّاد، أورده ابن شاهين، وقال: هو ابن صائد، كان أبوه يهوديًّا، فولد عبد الله أعور مختونًا، وهو الّذي قيل: إنّه الدَّجّال، ثمَّ أسلم، فهو تابعيٌّ، له رؤية“Abdullah bin Shayyad, disebut oleh Ibnu Shahin. Ayahnya seorang Yahudi, lahirlah Abdullah yang cacat mata dan disunat, dan orang mengatakan dialah Dajjal. Ia kemudian masuk Islam, sehingga termasuk tabi’in yang pernah bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Al-Hafizh Ibnu Hajar juga menulis dalam al-Isabah menekankan hal yang sama, dan menyebut anaknya ‘Umarah bin Abdullah bin Shayyad sebagai salah satu tabi’in yang terkemuka, yang meriwayatkan dari Imam Malik dan lainnya.Keadaan Ibnu ShayyadIbnu Shayyad dikenal sebagai seorang pendusta yang sering meramal. Terkadang ucapannya benar, dan terkadang salah. Karena sifatnya itu, berita tentang dirinya tersebar luas di tengah masyarakat, sampai muncul anggapan bahwa dialah Dajjal sebagaimana akan dijelaskan dalam kisah ujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapnya.Baca juga: Beriman Terhadap Munculnya DajalUjian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Ibnu SayyadKetika kabar tentang Ibnu Shayyad semakin melebar, dan banyak orang percaya bahwa ia adalah Dajjal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin memastikan kebenaran itu. Beliau mendatangi Ibnu Shayyad secara diam-diam agar tidak ketahuan, dengan harapan dapat mendengar sesuatu yang mengungkap hakikat dirinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bisa membuka jati diri Ibnu Shayyad.Dalam sebuah hadis, Ibnu Umar menceritakan bahwa Umar pernah pergi bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui Ibnu Shayyad. Mereka menemukan Ibnu Shayyad sedang bermain dengan anak-anak di dekat benteng Bani Maghalah, dan ia sudah hampir baligh. Tiba-tiba, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menepuknya dan bertanya,أتشهد أني رسول الله؟“Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah?”Ibnu Shayyad menatap beliau dan menjawab,أشهد أنك رسول الأميين“Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasul bagi orang-orang yang ummi.”Dan Ibnu Shayyad balik bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,أتشهد أني رسول الله؟“Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasul Allah?”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menolaknya dan menjawab,آمنت بالله وبرسله“Aku beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bertanya,ما ترى؟“Apa yang engkau lihat?”Ibnu Shayyad menjawab,يأتيني صادق وكاذب“Datang kepadaku yang benar dan yang dusta.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,خلط عليك الأمر“Engkau telah bingung dan tercampur dalam urusanmu.”Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi,إنِّي خبأت لك خبيئًا؟“Aku menyembunyikan sesuatu untukmu, coba katakan apa itu?”Ibnu Shayyad menjawab,هو الدُّخ“Ad-dukh…”Ia bermaksud mengatakan ad-dukhān (asap), namun hanya mampu mengucapkan sebagian kata itu.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata,اخسأ فلن تعدو قدرك“Diam! Engkau tidak akan melampaui batasmu.”Umar kemudian berkata,دعني يا رسول الله أضرب عنقه“Wahai Rasulullah, izinkan aku memenggal lehernya!”Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن يكنه؛ فلن تسلط عليه، وإن لم يكنه؛ فلا خير لك في قتله“Jika memang dialah (Dajjal), engkau tidak akan mampu membunuhnya. Dan jika bukan dia, maka tidak ada gunanya engkau membunuhnya.” (HR. Bukhari)Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi kepadanya,ما ترى؟“Apa yang engkau lihat?”Ibnu Shayyad menjawab,أرى عرشًا على الماء“Aku melihat singgasana berada di atas air.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,ترى عرش إبليس على البحر، وما ترى؟“Engkau melihat singgasana Iblis di atas lautan. Apa lagi yang kau lihat?”Ia menjawab,أرى صادقين وكاذبًا، أو كاذبين وصادقًا.“Aku melihat dua yang benar dan satu yang dusta, atau dua yang dusta dan satu yang benar.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لُبِّسَ عليه، دعوه“Pikirannya telah dikacaukan. Biarkan saja dia.” (HR. Muslim)Ibnu Umar juga menceritakan bahwa setelah itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Ubay bin Ka‘ab kembali mendatangi kebun kurma tempat Ibnu Shayyad berada. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersembunyi di balik pohon-pohon dengan harapan bisa mendengar sesuatu darinya sebelum ia sadar kedatangan beliau. Saat itu, Ibnu Sayyad sedang berbaring dengan selimutnya. Ibu Ibnu Shayyad melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memanggil anaknya,يا صاف -وهو اسم ابن صياد-! هذا محمَّد صلى الله عليه وسلم.“Wahai Shaff! Itu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam!”Ibnu Shayyad pun terkejut dan bangun. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,لو تركته بيَّن“Seandainya ibunya membiarkannya, pasti urusannya menjadi jelas.” (HR. Bukhari)Abu Dzar pernah ditugaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya kepada ibu Ibnu Shayyad,سلها كم حملت به؟“Berapa lama engkau mengandungnya?”Sang ibu menjawab,حملتُ به اثني عشر شهرًا.“Aku mengandungnya selama dua belas bulan.”Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh Abu Dzar untuk bertanya lagi,سلها عن صيحته حين وقع؟“Bagaimana tangisannya saat ia lahir?”Sang ibu menjawab,صاح صيحة الصبي ابن شهر“Ia menangis seperti bayi berusia satu bulan.”Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Ibnu Shayyad,إنِّي قد خبأت لك خبئًا“Aku menyembunyikan sesuatu darimu. Apa itu?”Ibnu Sayyad menjawab,خبأت لي خطم شاة عفراء والدُّخان“Engkau menyembunyikan khitm (hidung) domba dan asap.”Ia ingin mengucapkan kata ad-dukhan (asap), tetapi ia hanya mampu mengucapkan,الدُّخ، الدُّخ“Ad-dukh… ad-dukh…”Ujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kata “ad-dukhan” merujuk pada firman Allah,فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ“Tunggulah pada hari ketika langit menurunkan asap yang jelas.” (QS. Ad-Dukhan: 10)Dalam riwayat Imam Ahmad dari Ibnu Umar disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembunyikan ayat ini sebagai ujian bagi Ibnu Sayyad.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,ابن صياد كاشف على طريقة الكهَّان، بلسان الجان، وهم يقرطون -أي: يقطعون- العبارة، ولهذا قال: هو الدُّخ يعني: الدُّخان، فعندها عرف رسول الله صلى الله عليه وسلم مادته، وأنّها شيطانية، فقال له: (اخسأ؛ فلن تعدو قدرك)“Ibnu Shayyad memiliki kemampuan seperti para dukun yang dibantu jin, sehingga ucapannya terpotong-potong. Oleh karena itu, ia hanya mampu mengatakan ad-dukh. Saat itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui bahwa sumbernya adalah dari setan. Beliau pun berkata, ‘Diam! Engkau tidak akan melampaui batas.’”Ibnu Shayyad: Fakta, bukan mitosKisah Ibnu Shayyad ini pun ada yang mengatakan adalah kisah mitos saja bukan kenyataan. Salah satu yang berpendapat mengenai hal ini adalah Abu Ubaydah. Dia berkata,شخصية ابن صياد خرافة جازت على بعض العقول، فعاشت قصتها في بعض الكتب منسوبة إلى الرسول، والرسول عليه صلوات الله لا يصدر عنه من القول والفعل إِلَّا ما هو لُباب الحق ومُصاصه، ولقد آن الأوان لنأخذ بعين الاعتبار والجد روح الحديث ومعناه، ودلالته ومرماه؛ كما نأخذ سنده وطريقه؛ لتنجو مداركنا الإِسلامية من الشطط والغلط“Kepribadian Ibnu Shayyad adalah mitos yang diterima oleh beberapa orang, sehingga kisahnya hidup dalam beberapa kitab dan dikaitkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berkata atau berbuat kecuali yang merupakan inti kebenaran dan esensinya. Sudah saatnya kita memperhatikan ruh hadis, maknanya, petunjuk, dan tujuannya, sebagaimana kita memperhatikan sanad dan jalurnya, agar akal keislaman kita selamat dari penyimpangan dan kesalahan.”Namun, hal ini dapat dijawab: hadis-hadis yang menyebut Ibnu Shayyad adalah sahih, tercantum dalam kitab-kitab hadis seperti Ash-Shahihain dan lainnya. Tidak ada yang bertentangan dengan ruh hadis atau inti kebenaran. Ibnu Shayyad, seperti telah disebutkan sebelumnya, memang membuat umat Islam bingung dan termasuk salah satu penipu (Dajjal) dari golongan penipu, dan Allah menampakkan kebohongannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umat Muslim.Kematian Ibnu ShayyadJabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan,فقدنا ابن صيَّاد يوم الحرَّة“Kami kehilangan Ibnu Shayyad pada hari Harrah.” (HR. Abu Daud)Ibnu Hajar rahimahullah menilai riwayat ini sahih. Sementara pendapat yang menyebutkan bahwa Ibnu Shayyad wafat di Madinah dan bahwa orang-orang membukakan wajahnya serta mensalatinya, dianggap lemah oleh Ibnu Hajar.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleMengenal Ibnu SayyadKeadaan Ibnu ShayyadUjian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Ibnu SayyadIbnu Shayyad: Fakta, bukan mitosKematian Ibnu ShayyadAda pertanyaan yang muncul di benak kita mengenai siapa dan di mana keberadaan Dajjal. Apakah Dajjal hidup (saat ini)? Apakah ia sudah ada pada masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam?Sebelum menjawab pertanyaan ini, perlu kita ketahui dahulu tentang kisah Ibnu Shayyad. Pemuda Yahudi yang hidup di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dicurigai sebagai Dajjal. Apakah dia Dajjal atau bukan? Jika Ibnu Shayyad bukan Dajjal, apakah Dajjal sudah ada sebelum kemunculannya dengan fitnahnya, atau baru muncul kemudian (saat menjelang hari kiamat)?Mengenal Ibnu SayyadNama aslinya adalah Shaff (ada yang mengatakan Abdullah) bin Shayyad atau Shaid. Ia merupakan seorang Yahudi dari Madinah, ada juga yang mengatakan dari kalangan Anshar. Ia masih kecil ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah.Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Ibnu Shayyad kemudian masuk Islam, dan anaknya, ‘Umarah, termasuk dari kalangan tabi’in yang terkemuka. Imam Malik dan lainnya meriwayatkan darinya.Adz-Dzhahabi menulis dalam bukunya Tajrid Asma’ as-Sahabah,عبد الله بن صيَّاد، أورده ابن شاهين، وقال: هو ابن صائد، كان أبوه يهوديًّا، فولد عبد الله أعور مختونًا، وهو الّذي قيل: إنّه الدَّجّال، ثمَّ أسلم، فهو تابعيٌّ، له رؤية“Abdullah bin Shayyad, disebut oleh Ibnu Shahin. Ayahnya seorang Yahudi, lahirlah Abdullah yang cacat mata dan disunat, dan orang mengatakan dialah Dajjal. Ia kemudian masuk Islam, sehingga termasuk tabi’in yang pernah bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Al-Hafizh Ibnu Hajar juga menulis dalam al-Isabah menekankan hal yang sama, dan menyebut anaknya ‘Umarah bin Abdullah bin Shayyad sebagai salah satu tabi’in yang terkemuka, yang meriwayatkan dari Imam Malik dan lainnya.Keadaan Ibnu ShayyadIbnu Shayyad dikenal sebagai seorang pendusta yang sering meramal. Terkadang ucapannya benar, dan terkadang salah. Karena sifatnya itu, berita tentang dirinya tersebar luas di tengah masyarakat, sampai muncul anggapan bahwa dialah Dajjal sebagaimana akan dijelaskan dalam kisah ujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapnya.Baca juga: Beriman Terhadap Munculnya DajalUjian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Ibnu SayyadKetika kabar tentang Ibnu Shayyad semakin melebar, dan banyak orang percaya bahwa ia adalah Dajjal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin memastikan kebenaran itu. Beliau mendatangi Ibnu Shayyad secara diam-diam agar tidak ketahuan, dengan harapan dapat mendengar sesuatu yang mengungkap hakikat dirinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bisa membuka jati diri Ibnu Shayyad.Dalam sebuah hadis, Ibnu Umar menceritakan bahwa Umar pernah pergi bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui Ibnu Shayyad. Mereka menemukan Ibnu Shayyad sedang bermain dengan anak-anak di dekat benteng Bani Maghalah, dan ia sudah hampir baligh. Tiba-tiba, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menepuknya dan bertanya,أتشهد أني رسول الله؟“Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah?”Ibnu Shayyad menatap beliau dan menjawab,أشهد أنك رسول الأميين“Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasul bagi orang-orang yang ummi.”Dan Ibnu Shayyad balik bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,أتشهد أني رسول الله؟“Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasul Allah?”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menolaknya dan menjawab,آمنت بالله وبرسله“Aku beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bertanya,ما ترى؟“Apa yang engkau lihat?”Ibnu Shayyad menjawab,يأتيني صادق وكاذب“Datang kepadaku yang benar dan yang dusta.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,خلط عليك الأمر“Engkau telah bingung dan tercampur dalam urusanmu.”Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi,إنِّي خبأت لك خبيئًا؟“Aku menyembunyikan sesuatu untukmu, coba katakan apa itu?”Ibnu Shayyad menjawab,هو الدُّخ“Ad-dukh…”Ia bermaksud mengatakan ad-dukhān (asap), namun hanya mampu mengucapkan sebagian kata itu.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata,اخسأ فلن تعدو قدرك“Diam! Engkau tidak akan melampaui batasmu.”Umar kemudian berkata,دعني يا رسول الله أضرب عنقه“Wahai Rasulullah, izinkan aku memenggal lehernya!”Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن يكنه؛ فلن تسلط عليه، وإن لم يكنه؛ فلا خير لك في قتله“Jika memang dialah (Dajjal), engkau tidak akan mampu membunuhnya. Dan jika bukan dia, maka tidak ada gunanya engkau membunuhnya.” (HR. Bukhari)Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi kepadanya,ما ترى؟“Apa yang engkau lihat?”Ibnu Shayyad menjawab,أرى عرشًا على الماء“Aku melihat singgasana berada di atas air.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,ترى عرش إبليس على البحر، وما ترى؟“Engkau melihat singgasana Iblis di atas lautan. Apa lagi yang kau lihat?”Ia menjawab,أرى صادقين وكاذبًا، أو كاذبين وصادقًا.“Aku melihat dua yang benar dan satu yang dusta, atau dua yang dusta dan satu yang benar.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لُبِّسَ عليه، دعوه“Pikirannya telah dikacaukan. Biarkan saja dia.” (HR. Muslim)Ibnu Umar juga menceritakan bahwa setelah itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Ubay bin Ka‘ab kembali mendatangi kebun kurma tempat Ibnu Shayyad berada. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersembunyi di balik pohon-pohon dengan harapan bisa mendengar sesuatu darinya sebelum ia sadar kedatangan beliau. Saat itu, Ibnu Sayyad sedang berbaring dengan selimutnya. Ibu Ibnu Shayyad melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memanggil anaknya,يا صاف -وهو اسم ابن صياد-! هذا محمَّد صلى الله عليه وسلم.“Wahai Shaff! Itu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam!”Ibnu Shayyad pun terkejut dan bangun. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,لو تركته بيَّن“Seandainya ibunya membiarkannya, pasti urusannya menjadi jelas.” (HR. Bukhari)Abu Dzar pernah ditugaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya kepada ibu Ibnu Shayyad,سلها كم حملت به؟“Berapa lama engkau mengandungnya?”Sang ibu menjawab,حملتُ به اثني عشر شهرًا.“Aku mengandungnya selama dua belas bulan.”Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh Abu Dzar untuk bertanya lagi,سلها عن صيحته حين وقع؟“Bagaimana tangisannya saat ia lahir?”Sang ibu menjawab,صاح صيحة الصبي ابن شهر“Ia menangis seperti bayi berusia satu bulan.”Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Ibnu Shayyad,إنِّي قد خبأت لك خبئًا“Aku menyembunyikan sesuatu darimu. Apa itu?”Ibnu Sayyad menjawab,خبأت لي خطم شاة عفراء والدُّخان“Engkau menyembunyikan khitm (hidung) domba dan asap.”Ia ingin mengucapkan kata ad-dukhan (asap), tetapi ia hanya mampu mengucapkan,الدُّخ، الدُّخ“Ad-dukh… ad-dukh…”Ujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kata “ad-dukhan” merujuk pada firman Allah,فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ“Tunggulah pada hari ketika langit menurunkan asap yang jelas.” (QS. Ad-Dukhan: 10)Dalam riwayat Imam Ahmad dari Ibnu Umar disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembunyikan ayat ini sebagai ujian bagi Ibnu Sayyad.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,ابن صياد كاشف على طريقة الكهَّان، بلسان الجان، وهم يقرطون -أي: يقطعون- العبارة، ولهذا قال: هو الدُّخ يعني: الدُّخان، فعندها عرف رسول الله صلى الله عليه وسلم مادته، وأنّها شيطانية، فقال له: (اخسأ؛ فلن تعدو قدرك)“Ibnu Shayyad memiliki kemampuan seperti para dukun yang dibantu jin, sehingga ucapannya terpotong-potong. Oleh karena itu, ia hanya mampu mengatakan ad-dukh. Saat itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui bahwa sumbernya adalah dari setan. Beliau pun berkata, ‘Diam! Engkau tidak akan melampaui batas.’”Ibnu Shayyad: Fakta, bukan mitosKisah Ibnu Shayyad ini pun ada yang mengatakan adalah kisah mitos saja bukan kenyataan. Salah satu yang berpendapat mengenai hal ini adalah Abu Ubaydah. Dia berkata,شخصية ابن صياد خرافة جازت على بعض العقول، فعاشت قصتها في بعض الكتب منسوبة إلى الرسول، والرسول عليه صلوات الله لا يصدر عنه من القول والفعل إِلَّا ما هو لُباب الحق ومُصاصه، ولقد آن الأوان لنأخذ بعين الاعتبار والجد روح الحديث ومعناه، ودلالته ومرماه؛ كما نأخذ سنده وطريقه؛ لتنجو مداركنا الإِسلامية من الشطط والغلط“Kepribadian Ibnu Shayyad adalah mitos yang diterima oleh beberapa orang, sehingga kisahnya hidup dalam beberapa kitab dan dikaitkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berkata atau berbuat kecuali yang merupakan inti kebenaran dan esensinya. Sudah saatnya kita memperhatikan ruh hadis, maknanya, petunjuk, dan tujuannya, sebagaimana kita memperhatikan sanad dan jalurnya, agar akal keislaman kita selamat dari penyimpangan dan kesalahan.”Namun, hal ini dapat dijawab: hadis-hadis yang menyebut Ibnu Shayyad adalah sahih, tercantum dalam kitab-kitab hadis seperti Ash-Shahihain dan lainnya. Tidak ada yang bertentangan dengan ruh hadis atau inti kebenaran. Ibnu Shayyad, seperti telah disebutkan sebelumnya, memang membuat umat Islam bingung dan termasuk salah satu penipu (Dajjal) dari golongan penipu, dan Allah menampakkan kebohongannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umat Muslim.Kematian Ibnu ShayyadJabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan,فقدنا ابن صيَّاد يوم الحرَّة“Kami kehilangan Ibnu Shayyad pada hari Harrah.” (HR. Abu Daud)Ibnu Hajar rahimahullah menilai riwayat ini sahih. Sementara pendapat yang menyebutkan bahwa Ibnu Shayyad wafat di Madinah dan bahwa orang-orang membukakan wajahnya serta mensalatinya, dianggap lemah oleh Ibnu Hajar.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleMengenal Ibnu SayyadKeadaan Ibnu ShayyadUjian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Ibnu SayyadIbnu Shayyad: Fakta, bukan mitosKematian Ibnu ShayyadAda pertanyaan yang muncul di benak kita mengenai siapa dan di mana keberadaan Dajjal. Apakah Dajjal hidup (saat ini)? Apakah ia sudah ada pada masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam?Sebelum menjawab pertanyaan ini, perlu kita ketahui dahulu tentang kisah Ibnu Shayyad. Pemuda Yahudi yang hidup di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dicurigai sebagai Dajjal. Apakah dia Dajjal atau bukan? Jika Ibnu Shayyad bukan Dajjal, apakah Dajjal sudah ada sebelum kemunculannya dengan fitnahnya, atau baru muncul kemudian (saat menjelang hari kiamat)?Mengenal Ibnu SayyadNama aslinya adalah Shaff (ada yang mengatakan Abdullah) bin Shayyad atau Shaid. Ia merupakan seorang Yahudi dari Madinah, ada juga yang mengatakan dari kalangan Anshar. Ia masih kecil ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah.Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Ibnu Shayyad kemudian masuk Islam, dan anaknya, ‘Umarah, termasuk dari kalangan tabi’in yang terkemuka. Imam Malik dan lainnya meriwayatkan darinya.Adz-Dzhahabi menulis dalam bukunya Tajrid Asma’ as-Sahabah,عبد الله بن صيَّاد، أورده ابن شاهين، وقال: هو ابن صائد، كان أبوه يهوديًّا، فولد عبد الله أعور مختونًا، وهو الّذي قيل: إنّه الدَّجّال، ثمَّ أسلم، فهو تابعيٌّ، له رؤية“Abdullah bin Shayyad, disebut oleh Ibnu Shahin. Ayahnya seorang Yahudi, lahirlah Abdullah yang cacat mata dan disunat, dan orang mengatakan dialah Dajjal. Ia kemudian masuk Islam, sehingga termasuk tabi’in yang pernah bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Al-Hafizh Ibnu Hajar juga menulis dalam al-Isabah menekankan hal yang sama, dan menyebut anaknya ‘Umarah bin Abdullah bin Shayyad sebagai salah satu tabi’in yang terkemuka, yang meriwayatkan dari Imam Malik dan lainnya.Keadaan Ibnu ShayyadIbnu Shayyad dikenal sebagai seorang pendusta yang sering meramal. Terkadang ucapannya benar, dan terkadang salah. Karena sifatnya itu, berita tentang dirinya tersebar luas di tengah masyarakat, sampai muncul anggapan bahwa dialah Dajjal sebagaimana akan dijelaskan dalam kisah ujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapnya.Baca juga: Beriman Terhadap Munculnya DajalUjian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Ibnu SayyadKetika kabar tentang Ibnu Shayyad semakin melebar, dan banyak orang percaya bahwa ia adalah Dajjal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin memastikan kebenaran itu. Beliau mendatangi Ibnu Shayyad secara diam-diam agar tidak ketahuan, dengan harapan dapat mendengar sesuatu yang mengungkap hakikat dirinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bisa membuka jati diri Ibnu Shayyad.Dalam sebuah hadis, Ibnu Umar menceritakan bahwa Umar pernah pergi bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui Ibnu Shayyad. Mereka menemukan Ibnu Shayyad sedang bermain dengan anak-anak di dekat benteng Bani Maghalah, dan ia sudah hampir baligh. Tiba-tiba, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menepuknya dan bertanya,أتشهد أني رسول الله؟“Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah?”Ibnu Shayyad menatap beliau dan menjawab,أشهد أنك رسول الأميين“Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasul bagi orang-orang yang ummi.”Dan Ibnu Shayyad balik bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,أتشهد أني رسول الله؟“Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasul Allah?”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menolaknya dan menjawab,آمنت بالله وبرسله“Aku beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bertanya,ما ترى؟“Apa yang engkau lihat?”Ibnu Shayyad menjawab,يأتيني صادق وكاذب“Datang kepadaku yang benar dan yang dusta.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,خلط عليك الأمر“Engkau telah bingung dan tercampur dalam urusanmu.”Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi,إنِّي خبأت لك خبيئًا؟“Aku menyembunyikan sesuatu untukmu, coba katakan apa itu?”Ibnu Shayyad menjawab,هو الدُّخ“Ad-dukh…”Ia bermaksud mengatakan ad-dukhān (asap), namun hanya mampu mengucapkan sebagian kata itu.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata,اخسأ فلن تعدو قدرك“Diam! Engkau tidak akan melampaui batasmu.”Umar kemudian berkata,دعني يا رسول الله أضرب عنقه“Wahai Rasulullah, izinkan aku memenggal lehernya!”Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن يكنه؛ فلن تسلط عليه، وإن لم يكنه؛ فلا خير لك في قتله“Jika memang dialah (Dajjal), engkau tidak akan mampu membunuhnya. Dan jika bukan dia, maka tidak ada gunanya engkau membunuhnya.” (HR. Bukhari)Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi kepadanya,ما ترى؟“Apa yang engkau lihat?”Ibnu Shayyad menjawab,أرى عرشًا على الماء“Aku melihat singgasana berada di atas air.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,ترى عرش إبليس على البحر، وما ترى؟“Engkau melihat singgasana Iblis di atas lautan. Apa lagi yang kau lihat?”Ia menjawab,أرى صادقين وكاذبًا، أو كاذبين وصادقًا.“Aku melihat dua yang benar dan satu yang dusta, atau dua yang dusta dan satu yang benar.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لُبِّسَ عليه، دعوه“Pikirannya telah dikacaukan. Biarkan saja dia.” (HR. Muslim)Ibnu Umar juga menceritakan bahwa setelah itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Ubay bin Ka‘ab kembali mendatangi kebun kurma tempat Ibnu Shayyad berada. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersembunyi di balik pohon-pohon dengan harapan bisa mendengar sesuatu darinya sebelum ia sadar kedatangan beliau. Saat itu, Ibnu Sayyad sedang berbaring dengan selimutnya. Ibu Ibnu Shayyad melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memanggil anaknya,يا صاف -وهو اسم ابن صياد-! هذا محمَّد صلى الله عليه وسلم.“Wahai Shaff! Itu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam!”Ibnu Shayyad pun terkejut dan bangun. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,لو تركته بيَّن“Seandainya ibunya membiarkannya, pasti urusannya menjadi jelas.” (HR. Bukhari)Abu Dzar pernah ditugaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya kepada ibu Ibnu Shayyad,سلها كم حملت به؟“Berapa lama engkau mengandungnya?”Sang ibu menjawab,حملتُ به اثني عشر شهرًا.“Aku mengandungnya selama dua belas bulan.”Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh Abu Dzar untuk bertanya lagi,سلها عن صيحته حين وقع؟“Bagaimana tangisannya saat ia lahir?”Sang ibu menjawab,صاح صيحة الصبي ابن شهر“Ia menangis seperti bayi berusia satu bulan.”Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Ibnu Shayyad,إنِّي قد خبأت لك خبئًا“Aku menyembunyikan sesuatu darimu. Apa itu?”Ibnu Sayyad menjawab,خبأت لي خطم شاة عفراء والدُّخان“Engkau menyembunyikan khitm (hidung) domba dan asap.”Ia ingin mengucapkan kata ad-dukhan (asap), tetapi ia hanya mampu mengucapkan,الدُّخ، الدُّخ“Ad-dukh… ad-dukh…”Ujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kata “ad-dukhan” merujuk pada firman Allah,فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ“Tunggulah pada hari ketika langit menurunkan asap yang jelas.” (QS. Ad-Dukhan: 10)Dalam riwayat Imam Ahmad dari Ibnu Umar disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembunyikan ayat ini sebagai ujian bagi Ibnu Sayyad.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,ابن صياد كاشف على طريقة الكهَّان، بلسان الجان، وهم يقرطون -أي: يقطعون- العبارة، ولهذا قال: هو الدُّخ يعني: الدُّخان، فعندها عرف رسول الله صلى الله عليه وسلم مادته، وأنّها شيطانية، فقال له: (اخسأ؛ فلن تعدو قدرك)“Ibnu Shayyad memiliki kemampuan seperti para dukun yang dibantu jin, sehingga ucapannya terpotong-potong. Oleh karena itu, ia hanya mampu mengatakan ad-dukh. Saat itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui bahwa sumbernya adalah dari setan. Beliau pun berkata, ‘Diam! Engkau tidak akan melampaui batas.’”Ibnu Shayyad: Fakta, bukan mitosKisah Ibnu Shayyad ini pun ada yang mengatakan adalah kisah mitos saja bukan kenyataan. Salah satu yang berpendapat mengenai hal ini adalah Abu Ubaydah. Dia berkata,شخصية ابن صياد خرافة جازت على بعض العقول، فعاشت قصتها في بعض الكتب منسوبة إلى الرسول، والرسول عليه صلوات الله لا يصدر عنه من القول والفعل إِلَّا ما هو لُباب الحق ومُصاصه، ولقد آن الأوان لنأخذ بعين الاعتبار والجد روح الحديث ومعناه، ودلالته ومرماه؛ كما نأخذ سنده وطريقه؛ لتنجو مداركنا الإِسلامية من الشطط والغلط“Kepribadian Ibnu Shayyad adalah mitos yang diterima oleh beberapa orang, sehingga kisahnya hidup dalam beberapa kitab dan dikaitkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berkata atau berbuat kecuali yang merupakan inti kebenaran dan esensinya. Sudah saatnya kita memperhatikan ruh hadis, maknanya, petunjuk, dan tujuannya, sebagaimana kita memperhatikan sanad dan jalurnya, agar akal keislaman kita selamat dari penyimpangan dan kesalahan.”Namun, hal ini dapat dijawab: hadis-hadis yang menyebut Ibnu Shayyad adalah sahih, tercantum dalam kitab-kitab hadis seperti Ash-Shahihain dan lainnya. Tidak ada yang bertentangan dengan ruh hadis atau inti kebenaran. Ibnu Shayyad, seperti telah disebutkan sebelumnya, memang membuat umat Islam bingung dan termasuk salah satu penipu (Dajjal) dari golongan penipu, dan Allah menampakkan kebohongannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umat Muslim.Kematian Ibnu ShayyadJabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan,فقدنا ابن صيَّاد يوم الحرَّة“Kami kehilangan Ibnu Shayyad pada hari Harrah.” (HR. Abu Daud)Ibnu Hajar rahimahullah menilai riwayat ini sahih. Sementara pendapat yang menyebutkan bahwa Ibnu Shayyad wafat di Madinah dan bahwa orang-orang membukakan wajahnya serta mensalatinya, dianggap lemah oleh Ibnu Hajar.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id
Prev     Next