Fikih Riba (Bag. 10): Memahami ‘Illat dalam Riba (1)

Daftar Isi ToggleKesepakatan dan perbedaan para ulama dalam menentukan ‘illat riba‘Illat riba pada emas dan perakPendapat pertama: ‘Illat pada emas dan perak adalah timbangan (al-wazn) dan kesamaan jenis (al-jins)Pendapat kedua: ‘Illat pada emas dan perak adalah dominasi fungsi alat tukar atau pembayaranPendapat ketiga: ‘Illat pada emas dan perak adalah tsamaniyyah secara mutlak (fungsi sebagai alat tukar)Pendapat terkuat‘Illat sejatinya adalah sebuah “alasan” atau motif di balik penetapan suatu hukum. Dengan memahami ‘illat, akan terlihat bagaimana para ulama dalam menetapkan suatu hukum tidaklah serta merta ditetapkan begitu saja. Akan tetapi, dengan ditimbang dan dilihat terlebih dahulu dari sisi ‘illat nya, kemudian bisa ditentukan hukum setelahnya, apakah termasuk dari kategori riba atau bukan termasuk dari riba.Oleh karena itu, riba tidak sesederhana yang dibayangkan. Riba bukan hanya persoalan pinjam meminjam, utang piutang, bukan hanya bicara soal bunga tambahan dari sebuah pinjaman. Menukar dua buah emas dengan karat yang berbeda pun bisa masuk dalam kategori riba, atau menukar dua jenis kurma dengan kualitas yang berbeda juga termasuk riba.Secara garis besar, pembahasan kali ini akan membahas tentang ‘illat riba yang ada pada enam komoditas ribawi. Dengan mengetahui ‘illat riba, nantinya dapat dipahami mengapa para ulama mengkategorikan suatu barang tertentu termasuk dari komoditas ribawi.Kesepakatan dan perbedaan para ulama dalam menentukan ‘illat ribaSebelum lebih jauh, pada hal ini terdapat landasan yang harus dipahami; yaitu, para ulama sepakat bahwa ‘illat pada emas dan perak hanyalah satu saja (sama) dan ‘illat pada empat komoditas ribawi lainnya pun hanya satu saja (sama). Namun, mereka berselisih dalam menentukan kedua ‘illat tersebut.Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,وَاتَّفَقَ الْمُعَلِّلُونَ ‌عَلَى ‌أَنَّ ‌عِلَّةَ ‌الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَاحِدَةٌ، وَعِلَّةَ الْأَعْيَانِ الْأَرْبَعَةِ وَاحِدَةٌ، ثُمَّ اخْتَلَفُوا فِي عِلَّةِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا“Para (ulama) ahli ‘illat telah bersepakat bahwa ‘illat (penyebab hukum) pada emas dan perak adalah satu (sama), dan ‘illat pada empat jenis benda lainnya (gandum bur, gandum sya’ir, kurma, dan garam) juga satu (sama). Namun kemudian, mereka berbeda pendapat mengenai apa sebenarnya masing-masing ‘illat tersebut.” [1]Dari perkataan Ibnu Qudamah di atas dapat dipahami:– Para ulama sepakat bahwa emas dan perak berada dalam satu “kotak” yang sama. Segala ketentuan yang berlaku pada emas, berlaku pula pada perak, dan sebaliknya. Dikarenakan ‘illat keduanya dianggap serupa.– Para ulama sepakat bahwa gandum bur, gandum sya’ir, kurma, dan garam berada dalam satu “kotak” yang sama. Dikarenakan ‘illat pada keempat komoditas tersebut dianggap serupa.– Perbedaan para ulama terletak dalam menentukan ‘illat pada masing-masing “kotak” tersebut. Sehingga terdapat dua kotak yang masing-masing berbeda pada ‘illat-nya. Emas dan perak berada pada satu kotak, keempat komoditas sisanya berada di kotak yang lain.‘Illat riba pada emas dan perakPara ulama dalam menentukan ‘illat riba pada emas dan perak berselisih setidaknya pada tiga pendapat [2]:Pendapat pertama: ‘Illat pada emas dan perak adalah timbangan (al-wazn) dan kesamaan jenis (al-jins)Ini merupakan pendapat dari mazhab Hanafi dan Hanbali. Mereka berdalil dengan hadis Abu Hurairah dan Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma,اسْتَعْمَلَ رَجُلًا عَلَى خَيْبَرَ فَجَاءَ بِتَمْرٍ جَنِيبٍ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «أَكُلُّ تَمْرِ خَيْبَرَ هَكَذَا؟» فَقَالَ الرَّجُلُ: «لَا وَاللهِ يَا رَسُولَ اللهِ! إِنَّا نَشْتَرِي الصَّاعَ بِالصَّاعَيْنِ مِنَ الْجَمْعِ»، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: لَا تَفْعَلُوا، وَلَكِنْ مِثْلًا بِمِثْلٍ، أَوْ بِيعُوا هَذَا وَاشْتَرُوا بِثَمَنِهِ مِنْ هَذَا، وَكَذَلِكَ الْمِيزَانُ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menugaskan seseorang dari Khaibar, lalu orang itu datang membawa kurma berkualitas tinggi (janib). Rasulullah kemudian bertanya, ‘Apakah semua kurma Khaibar seperti ini?’ Orang itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah! Sesungguhnya kami menukar satu sha’ (kurma ini) dengan dua sha’ kurma campuran (jam’).’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jangan kalian lakukan itu! Akan tetapi, (tukarlah) kurma yang serupa dengan serupa, atau juallah kurma ini (yang rendah kualitasnya), lalu belilah dengan hasil penjualannya kurma yang itu (kualitas tinggi). Begitu pula dengan barang yang ditimbang.” (HR. Muslim no.1593)Sisi pendalilan dari hadis ini:Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Begitu pula dengan barang yang ditimbang.” Menunjukkan bahwasanya riba berlaku pada setiap barang yang ditimbang dari jenis yang sama, seperti: besi, timah, emas, perak, daging, gula, dan segala jenis yang ditimbang.Konsekuensi dari pendapat ini:– Jika dikatakan ‘illat pada emas dan perak adalah timbangan, maka segala barang yang ditimbang masuk dalam kategori komoditas ribawi.– Konsekuensi berikutya, jika jenisnya sama (misal: besi dengan besi), maka harus sama beratnya, tidak boleh ada selisih berat dan harus tunai.– Jika jenisnya berbeda tapi ‘illat-nya sama (misal: besi dengan timah), maka: boleh berbeda beratnya, tetapi harus dilakukan serah terima secara langsung di tempat (taqabudh).Sanggahan terhadap sisi pendalilan di atas:– Ucapan, “Begitu pula dengan barang yang ditimbang.” Adalah ucapan dari Abu Sa’id Al-Khudri sebagaimana yang disampaikan oleh Al-Imam Al-Baihaqi dalam Sunan-nya. [3]– Lafaz hadis di atas bersifat umum yang maksud dan tujuannya tidak tampak secara zahirnya; maka sejatinya, hadis tersebut diarahkan kepada emas dan perak karena memang itulah maksudnya.Sehingga maksudnya adalah, “Begitu pula dengan barang yang ditimbang saat menjual emas dan perak.” Hal ini dalam rangka menggabungkan antara hadis ini dengan hadis ‘Ubadah dan lainnya, yaitu: tidak sah menjual emas dengan emas atau perak dengan perak kecuali dengan timbangan berat yang sama agar tercapai keselarasan yang diisyaratkan dalam hadis-hadis tersebut. [4]Sanggahan untuk pendapat ini:Berikut ini adalah sanggahan dari pendapat yang mengatakan ‘illat emas dan perak adalah al-wazn (timbangan) dan al-jins (kesamaan jenis).– Menjadikan barang yang ditimbang sebagai ‘illat pada emas dan perak tidak ada keselasaran yang kuat. Karena sejatinya, ia tidak berlaku pada setiap jenis barang yang ditimbang. Sehingga, menjadikan timbangan sebagai ‘illat dalam hal ini bukanlah penetapan hukum berdasarkan suatu sifat yang layak menjadi faktor yang mempengaruhi hukum.– Menjadikan barang yang ditimbang sebagai ‘illat pada emas dan perak juga lemah, karena hal ini tidak berlaku secara konsisten pada semua barang yang ditimbang. Terdapat ijmak (kesepakatan ulama) tentang bolehnya akad salam seperti menukarkan emas atau perak dengan barang-barang yang ditimbang secara tempo, seperti akad salam pada besi, timah, atau semisalnya. Demikian pula bolehnya menjual besi dan sejenisnya dengan pembayaran dirham (perak) secara tempo.Hal ini menunjukkan bahwa timbangan bukanlah ‘illat-nya. Karena jika berat benar-benar menjadi ‘illat, tentu tidak akan dibolehkan adanya nasa’ (penundaan) atau akad salam pada barang-barang yang ditimbang dan harus diberikan secara tunai.Pendapat kedua: ‘Illat pada emas dan perak adalah dominasi fungsi alat tukar atau pembayaranYakni: emas dan perak secara umum merupakan jenis alat tukar atau pembayaran. Ini merupakan ‘illat yang terbatas, yang tidak melampaui keduanya (emas dan perak), hanya sebatas pada penggunaan emas dan perak dalam fungsi alat tukar atau pembayaran. Pendapat ini merupakan pendapat dari mazhab Maliki, Syafi’i, dan sebagian riwayat dari mazhab Hanbali.Alasan dari pendapat ini:Bahwasanya emas dan perak adalah dua substansi dari barang berharga yang digunakan untuk menakar nilai harta. Melalui keduanya, seseorang dapat memperoleh segala sesuatu. Emas dan perak umumnya digunakan sebagai “harga” dalam transaksi jual beli, juga menjadi standar dalam menilai barang-barang yang rusak, dan digunakan sebagai diyat (ganti rugi pidana). Keduanya laku (diterima) di seluruh kalangan manusia; karena adanya karakteristik dan keistimewaan yang dianggap hanya ada pada keduanya.Namun, jika dianggap demikian, maka ‘illat-nya hanya terkurung pada keduanya saja dan tidak dapat mencakup barang yang lain. Artinya, mata uang, uang logam, uang kertas, atau yang sejenisnya tidak berlaku “hukum riba” padanya. Mengingat penggunaan ‘illat pada emas dan perak hanya ada pada penggunaan keduanya sebatas alat tukar saja. Adapun mata uang atau yang sejenisnya, maka tidak berlaku “hukum riba” padanya, karena alat tukar hanya terbatas pada emas dan perak saja.Sanggahan untuk pendapat ini:– Penetapan ‘illat ini terbantahkan secara penggunaannya dan juga secara kebalikannya. Dapat terbantahkan dari sisi penggunaannya seperti pada uang logam selain emas dan perak, karena uang logam pun merupakan alat tukar (terdapat harga dan nominal) padanya. Namun, menurut pendapat ini, tidak terdapat “hukum riba” padanya. Mengapa? Karena menurut pendapat ini alat tukar hanya sebatas pada emas dan perak saja.Begitu pula dapat terbantahkan dari sisi kebalikannya, contohnya pada bejana-bejana dari emas. Menurut pendapat ini, bejana emas berlaku riba, padahal bejana tersebut bukan alat tukar menurut mereka.– Bahwasanya hikmah pada pengharaman riba di antaranya adalah disebabkan kezaliman, dan hal itu tidak hanya terbatas pada emas dan perak saja. Hal itu juga mencakup yang lainnya selain dari emas dan perak sebagai alat tukar, seperti uang logam atau uang kertas. Maka, sebagaimana unsur kezaliman (riba) sangat diperhatikan pada emas dan perak, alat-alat tukar selain emas dan perak pun tentunya harus diperhatikan pula.Sehingga membatasi ‘illat emas dan perak hanya sebatas alat tukar saja tentu akan meniadakan hukum-hukum lainnya yang seharusnya berlaku “hukum riba” padanya.Pendapat ketiga: ‘Illat pada emas dan perak adalah tsamaniyyah secara mutlak (fungsi sebagai alat tukar)Artinya, segala sesuatu yang berfungsi sebagai harga (alat tukar), maka hukum riba berlaku padanya. Pendapat ini merupakan salah satu riwayat dari Imam Ahmad, juga merupakan pendapat Malikiyah, dan dipilih oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah serta Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.Berdasarkan pendapat ini, maka hukum tersebut tidak terbatas pada emas dan perak, tetapi meluas kepada uang logam selain emas dan perak, uang kertas, serta segala sesuatu yang dijadikan oleh manusia sebagai harga.Mereka berdalil dengan dua hal:– Bahwa hikmah diharamkannya riba pada mata uang adalah menjaga kestabilan mata uang itu sendiri dan mempertahankan kedudukannya sebagai standar dalam transaksi. Mata uang harus menjadi standar ukuran nilai dalam muamalah, sehingga nilainya tetap stabil dan terjaga, tidak naik dan turun sebagaimana barang dagangan.Apabila mata uang dijadikan komoditas untuk mencari keuntungan, maka ia tidak lagi berfungsi sebagai standar nilai. Hal itu akan menimbulkan kekacauan dalam transaksi, karena manusia tidak lagi memiliki harga yang dijadikan patokan dalam jual beli. Bahkan seluruh barang akan menjadi komoditas yang nilainya naik turun secara tidak teratur (fluktuatif).Akibatnya, penilaian harga tidak lagi dapat dilakukan dengan standar yang stabil, karena tidak adanya ukuran yang pasti. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang merusak mata uang yang berlaku di tengah kaum muslimin.– Penyebutan secara khusus emas dan perak (dalam dalil) termasuk dalam kategori penyebutan yang mewakili hal serupa lainnya. Sebab, tidak ada sifat khusus yang membedakan keduanya dari yang lain, kecuali keduanya merupakan standar dalam transaksi pada zaman kenabian.Sifat ini (sebagai alat tukar) terdapat pada segala sesuatu yang dijadikan manusia sebagai mata uang. Ketika mata uang tersebut telah beredar luas dan menjadi standar penilaian harga, maka berlaku padanya hukum-hukum yang berlaku pada emas dan perak dalam hal riba.Hal ini dikarenakan mata uang tersebut memiliki makna dan menjalankan fungsi yang sama dengan emas dan perak. Selain itu, kezaliman yang menjadi alasan diharamkannya riba pada emas dan perak juga dapat terjadi pada segala sesuatu yang menggantikan posisi keduanya.Pendapat terkuatPendapat yang kuat dan juga dirajihkan oleh Prof. Dr. Khalid bin ‘Ali Al-Musayqih adalah pendapat yang ketiga, yaitu “’Illat pada emas dan perak adalah tsamaniyyah”, yang berarti fungsi sebagai alat tukar secara mutlak.Sehingga di antara konsekuensi pendapat ini, segala macam bentuk alat tukar dan bagaimanapun perubahannya, maka ia tetap terkena hukum sebagaimana hukum emas dan perak. Baik dari segi tukar menukarnya, dan praktik-praktik lainnya.Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 9***Depok, 14 Ramadan 1447/ 3 Maret 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Mughni, 4: 5.[2] Pembahasan ini bisa dilihat di kitab Al-Mughni (4: 5-6), Fiqhul Mu’amalat Al-Maaliyah Al-Muyassar (hal. 139-142), Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 175-179), dan Syarah Ar-Raudhul Murbi’ (6: 456-460).[3] As-Sunan Al-Kubra, 5: 469.[4] Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzzab, 9: 393-394.Referensi:– Al-Muthiri, ‘Abdurrahman bin Hamud. Fiqh al-Mu‘āmalāt al-Māliyah al-Muyassarah. Cetakan ke-3. Kuwait: Maktabah Imam Adz-Dzahabi, 2018.– Al-Musayqih, Khalid bin ‘Ali. Syarḥ Ar-Raudh al-Murbi‘. Jilid 6. Cetakan ke-1. Riyadh: Dar Rakaiz, 2022.– Ibn Qudamah, Abu Muhammad ‘Abdullah bin Ahmad. Al-Mughni. Jilid 4. Cetakan ke-1. Mesir: Maktabah Al-Qahirah, 1388 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).– Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fiqih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, 2016.– Al-Baihaqi, Abu Bakr Ahmad bin ‘Ali. As-Sunan al-Kubra. Jilid 5. Cetakan ke-3. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1424 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).– An-Nawawi, Abu Zakariya Yahya bin Syaraf. Al-Majmu‘ Syarh al-Muhadzdzab. Jilid 9. Mesir: Idarah ath-Thiba‘ah al-Minbariyyah, 1344 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).

Fikih Riba (Bag. 10): Memahami ‘Illat dalam Riba (1)

Daftar Isi ToggleKesepakatan dan perbedaan para ulama dalam menentukan ‘illat riba‘Illat riba pada emas dan perakPendapat pertama: ‘Illat pada emas dan perak adalah timbangan (al-wazn) dan kesamaan jenis (al-jins)Pendapat kedua: ‘Illat pada emas dan perak adalah dominasi fungsi alat tukar atau pembayaranPendapat ketiga: ‘Illat pada emas dan perak adalah tsamaniyyah secara mutlak (fungsi sebagai alat tukar)Pendapat terkuat‘Illat sejatinya adalah sebuah “alasan” atau motif di balik penetapan suatu hukum. Dengan memahami ‘illat, akan terlihat bagaimana para ulama dalam menetapkan suatu hukum tidaklah serta merta ditetapkan begitu saja. Akan tetapi, dengan ditimbang dan dilihat terlebih dahulu dari sisi ‘illat nya, kemudian bisa ditentukan hukum setelahnya, apakah termasuk dari kategori riba atau bukan termasuk dari riba.Oleh karena itu, riba tidak sesederhana yang dibayangkan. Riba bukan hanya persoalan pinjam meminjam, utang piutang, bukan hanya bicara soal bunga tambahan dari sebuah pinjaman. Menukar dua buah emas dengan karat yang berbeda pun bisa masuk dalam kategori riba, atau menukar dua jenis kurma dengan kualitas yang berbeda juga termasuk riba.Secara garis besar, pembahasan kali ini akan membahas tentang ‘illat riba yang ada pada enam komoditas ribawi. Dengan mengetahui ‘illat riba, nantinya dapat dipahami mengapa para ulama mengkategorikan suatu barang tertentu termasuk dari komoditas ribawi.Kesepakatan dan perbedaan para ulama dalam menentukan ‘illat ribaSebelum lebih jauh, pada hal ini terdapat landasan yang harus dipahami; yaitu, para ulama sepakat bahwa ‘illat pada emas dan perak hanyalah satu saja (sama) dan ‘illat pada empat komoditas ribawi lainnya pun hanya satu saja (sama). Namun, mereka berselisih dalam menentukan kedua ‘illat tersebut.Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,وَاتَّفَقَ الْمُعَلِّلُونَ ‌عَلَى ‌أَنَّ ‌عِلَّةَ ‌الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَاحِدَةٌ، وَعِلَّةَ الْأَعْيَانِ الْأَرْبَعَةِ وَاحِدَةٌ، ثُمَّ اخْتَلَفُوا فِي عِلَّةِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا“Para (ulama) ahli ‘illat telah bersepakat bahwa ‘illat (penyebab hukum) pada emas dan perak adalah satu (sama), dan ‘illat pada empat jenis benda lainnya (gandum bur, gandum sya’ir, kurma, dan garam) juga satu (sama). Namun kemudian, mereka berbeda pendapat mengenai apa sebenarnya masing-masing ‘illat tersebut.” [1]Dari perkataan Ibnu Qudamah di atas dapat dipahami:– Para ulama sepakat bahwa emas dan perak berada dalam satu “kotak” yang sama. Segala ketentuan yang berlaku pada emas, berlaku pula pada perak, dan sebaliknya. Dikarenakan ‘illat keduanya dianggap serupa.– Para ulama sepakat bahwa gandum bur, gandum sya’ir, kurma, dan garam berada dalam satu “kotak” yang sama. Dikarenakan ‘illat pada keempat komoditas tersebut dianggap serupa.– Perbedaan para ulama terletak dalam menentukan ‘illat pada masing-masing “kotak” tersebut. Sehingga terdapat dua kotak yang masing-masing berbeda pada ‘illat-nya. Emas dan perak berada pada satu kotak, keempat komoditas sisanya berada di kotak yang lain.‘Illat riba pada emas dan perakPara ulama dalam menentukan ‘illat riba pada emas dan perak berselisih setidaknya pada tiga pendapat [2]:Pendapat pertama: ‘Illat pada emas dan perak adalah timbangan (al-wazn) dan kesamaan jenis (al-jins)Ini merupakan pendapat dari mazhab Hanafi dan Hanbali. Mereka berdalil dengan hadis Abu Hurairah dan Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma,اسْتَعْمَلَ رَجُلًا عَلَى خَيْبَرَ فَجَاءَ بِتَمْرٍ جَنِيبٍ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «أَكُلُّ تَمْرِ خَيْبَرَ هَكَذَا؟» فَقَالَ الرَّجُلُ: «لَا وَاللهِ يَا رَسُولَ اللهِ! إِنَّا نَشْتَرِي الصَّاعَ بِالصَّاعَيْنِ مِنَ الْجَمْعِ»، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: لَا تَفْعَلُوا، وَلَكِنْ مِثْلًا بِمِثْلٍ، أَوْ بِيعُوا هَذَا وَاشْتَرُوا بِثَمَنِهِ مِنْ هَذَا، وَكَذَلِكَ الْمِيزَانُ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menugaskan seseorang dari Khaibar, lalu orang itu datang membawa kurma berkualitas tinggi (janib). Rasulullah kemudian bertanya, ‘Apakah semua kurma Khaibar seperti ini?’ Orang itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah! Sesungguhnya kami menukar satu sha’ (kurma ini) dengan dua sha’ kurma campuran (jam’).’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jangan kalian lakukan itu! Akan tetapi, (tukarlah) kurma yang serupa dengan serupa, atau juallah kurma ini (yang rendah kualitasnya), lalu belilah dengan hasil penjualannya kurma yang itu (kualitas tinggi). Begitu pula dengan barang yang ditimbang.” (HR. Muslim no.1593)Sisi pendalilan dari hadis ini:Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Begitu pula dengan barang yang ditimbang.” Menunjukkan bahwasanya riba berlaku pada setiap barang yang ditimbang dari jenis yang sama, seperti: besi, timah, emas, perak, daging, gula, dan segala jenis yang ditimbang.Konsekuensi dari pendapat ini:– Jika dikatakan ‘illat pada emas dan perak adalah timbangan, maka segala barang yang ditimbang masuk dalam kategori komoditas ribawi.– Konsekuensi berikutya, jika jenisnya sama (misal: besi dengan besi), maka harus sama beratnya, tidak boleh ada selisih berat dan harus tunai.– Jika jenisnya berbeda tapi ‘illat-nya sama (misal: besi dengan timah), maka: boleh berbeda beratnya, tetapi harus dilakukan serah terima secara langsung di tempat (taqabudh).Sanggahan terhadap sisi pendalilan di atas:– Ucapan, “Begitu pula dengan barang yang ditimbang.” Adalah ucapan dari Abu Sa’id Al-Khudri sebagaimana yang disampaikan oleh Al-Imam Al-Baihaqi dalam Sunan-nya. [3]– Lafaz hadis di atas bersifat umum yang maksud dan tujuannya tidak tampak secara zahirnya; maka sejatinya, hadis tersebut diarahkan kepada emas dan perak karena memang itulah maksudnya.Sehingga maksudnya adalah, “Begitu pula dengan barang yang ditimbang saat menjual emas dan perak.” Hal ini dalam rangka menggabungkan antara hadis ini dengan hadis ‘Ubadah dan lainnya, yaitu: tidak sah menjual emas dengan emas atau perak dengan perak kecuali dengan timbangan berat yang sama agar tercapai keselarasan yang diisyaratkan dalam hadis-hadis tersebut. [4]Sanggahan untuk pendapat ini:Berikut ini adalah sanggahan dari pendapat yang mengatakan ‘illat emas dan perak adalah al-wazn (timbangan) dan al-jins (kesamaan jenis).– Menjadikan barang yang ditimbang sebagai ‘illat pada emas dan perak tidak ada keselasaran yang kuat. Karena sejatinya, ia tidak berlaku pada setiap jenis barang yang ditimbang. Sehingga, menjadikan timbangan sebagai ‘illat dalam hal ini bukanlah penetapan hukum berdasarkan suatu sifat yang layak menjadi faktor yang mempengaruhi hukum.– Menjadikan barang yang ditimbang sebagai ‘illat pada emas dan perak juga lemah, karena hal ini tidak berlaku secara konsisten pada semua barang yang ditimbang. Terdapat ijmak (kesepakatan ulama) tentang bolehnya akad salam seperti menukarkan emas atau perak dengan barang-barang yang ditimbang secara tempo, seperti akad salam pada besi, timah, atau semisalnya. Demikian pula bolehnya menjual besi dan sejenisnya dengan pembayaran dirham (perak) secara tempo.Hal ini menunjukkan bahwa timbangan bukanlah ‘illat-nya. Karena jika berat benar-benar menjadi ‘illat, tentu tidak akan dibolehkan adanya nasa’ (penundaan) atau akad salam pada barang-barang yang ditimbang dan harus diberikan secara tunai.Pendapat kedua: ‘Illat pada emas dan perak adalah dominasi fungsi alat tukar atau pembayaranYakni: emas dan perak secara umum merupakan jenis alat tukar atau pembayaran. Ini merupakan ‘illat yang terbatas, yang tidak melampaui keduanya (emas dan perak), hanya sebatas pada penggunaan emas dan perak dalam fungsi alat tukar atau pembayaran. Pendapat ini merupakan pendapat dari mazhab Maliki, Syafi’i, dan sebagian riwayat dari mazhab Hanbali.Alasan dari pendapat ini:Bahwasanya emas dan perak adalah dua substansi dari barang berharga yang digunakan untuk menakar nilai harta. Melalui keduanya, seseorang dapat memperoleh segala sesuatu. Emas dan perak umumnya digunakan sebagai “harga” dalam transaksi jual beli, juga menjadi standar dalam menilai barang-barang yang rusak, dan digunakan sebagai diyat (ganti rugi pidana). Keduanya laku (diterima) di seluruh kalangan manusia; karena adanya karakteristik dan keistimewaan yang dianggap hanya ada pada keduanya.Namun, jika dianggap demikian, maka ‘illat-nya hanya terkurung pada keduanya saja dan tidak dapat mencakup barang yang lain. Artinya, mata uang, uang logam, uang kertas, atau yang sejenisnya tidak berlaku “hukum riba” padanya. Mengingat penggunaan ‘illat pada emas dan perak hanya ada pada penggunaan keduanya sebatas alat tukar saja. Adapun mata uang atau yang sejenisnya, maka tidak berlaku “hukum riba” padanya, karena alat tukar hanya terbatas pada emas dan perak saja.Sanggahan untuk pendapat ini:– Penetapan ‘illat ini terbantahkan secara penggunaannya dan juga secara kebalikannya. Dapat terbantahkan dari sisi penggunaannya seperti pada uang logam selain emas dan perak, karena uang logam pun merupakan alat tukar (terdapat harga dan nominal) padanya. Namun, menurut pendapat ini, tidak terdapat “hukum riba” padanya. Mengapa? Karena menurut pendapat ini alat tukar hanya sebatas pada emas dan perak saja.Begitu pula dapat terbantahkan dari sisi kebalikannya, contohnya pada bejana-bejana dari emas. Menurut pendapat ini, bejana emas berlaku riba, padahal bejana tersebut bukan alat tukar menurut mereka.– Bahwasanya hikmah pada pengharaman riba di antaranya adalah disebabkan kezaliman, dan hal itu tidak hanya terbatas pada emas dan perak saja. Hal itu juga mencakup yang lainnya selain dari emas dan perak sebagai alat tukar, seperti uang logam atau uang kertas. Maka, sebagaimana unsur kezaliman (riba) sangat diperhatikan pada emas dan perak, alat-alat tukar selain emas dan perak pun tentunya harus diperhatikan pula.Sehingga membatasi ‘illat emas dan perak hanya sebatas alat tukar saja tentu akan meniadakan hukum-hukum lainnya yang seharusnya berlaku “hukum riba” padanya.Pendapat ketiga: ‘Illat pada emas dan perak adalah tsamaniyyah secara mutlak (fungsi sebagai alat tukar)Artinya, segala sesuatu yang berfungsi sebagai harga (alat tukar), maka hukum riba berlaku padanya. Pendapat ini merupakan salah satu riwayat dari Imam Ahmad, juga merupakan pendapat Malikiyah, dan dipilih oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah serta Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.Berdasarkan pendapat ini, maka hukum tersebut tidak terbatas pada emas dan perak, tetapi meluas kepada uang logam selain emas dan perak, uang kertas, serta segala sesuatu yang dijadikan oleh manusia sebagai harga.Mereka berdalil dengan dua hal:– Bahwa hikmah diharamkannya riba pada mata uang adalah menjaga kestabilan mata uang itu sendiri dan mempertahankan kedudukannya sebagai standar dalam transaksi. Mata uang harus menjadi standar ukuran nilai dalam muamalah, sehingga nilainya tetap stabil dan terjaga, tidak naik dan turun sebagaimana barang dagangan.Apabila mata uang dijadikan komoditas untuk mencari keuntungan, maka ia tidak lagi berfungsi sebagai standar nilai. Hal itu akan menimbulkan kekacauan dalam transaksi, karena manusia tidak lagi memiliki harga yang dijadikan patokan dalam jual beli. Bahkan seluruh barang akan menjadi komoditas yang nilainya naik turun secara tidak teratur (fluktuatif).Akibatnya, penilaian harga tidak lagi dapat dilakukan dengan standar yang stabil, karena tidak adanya ukuran yang pasti. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang merusak mata uang yang berlaku di tengah kaum muslimin.– Penyebutan secara khusus emas dan perak (dalam dalil) termasuk dalam kategori penyebutan yang mewakili hal serupa lainnya. Sebab, tidak ada sifat khusus yang membedakan keduanya dari yang lain, kecuali keduanya merupakan standar dalam transaksi pada zaman kenabian.Sifat ini (sebagai alat tukar) terdapat pada segala sesuatu yang dijadikan manusia sebagai mata uang. Ketika mata uang tersebut telah beredar luas dan menjadi standar penilaian harga, maka berlaku padanya hukum-hukum yang berlaku pada emas dan perak dalam hal riba.Hal ini dikarenakan mata uang tersebut memiliki makna dan menjalankan fungsi yang sama dengan emas dan perak. Selain itu, kezaliman yang menjadi alasan diharamkannya riba pada emas dan perak juga dapat terjadi pada segala sesuatu yang menggantikan posisi keduanya.Pendapat terkuatPendapat yang kuat dan juga dirajihkan oleh Prof. Dr. Khalid bin ‘Ali Al-Musayqih adalah pendapat yang ketiga, yaitu “’Illat pada emas dan perak adalah tsamaniyyah”, yang berarti fungsi sebagai alat tukar secara mutlak.Sehingga di antara konsekuensi pendapat ini, segala macam bentuk alat tukar dan bagaimanapun perubahannya, maka ia tetap terkena hukum sebagaimana hukum emas dan perak. Baik dari segi tukar menukarnya, dan praktik-praktik lainnya.Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 9***Depok, 14 Ramadan 1447/ 3 Maret 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Mughni, 4: 5.[2] Pembahasan ini bisa dilihat di kitab Al-Mughni (4: 5-6), Fiqhul Mu’amalat Al-Maaliyah Al-Muyassar (hal. 139-142), Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 175-179), dan Syarah Ar-Raudhul Murbi’ (6: 456-460).[3] As-Sunan Al-Kubra, 5: 469.[4] Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzzab, 9: 393-394.Referensi:– Al-Muthiri, ‘Abdurrahman bin Hamud. Fiqh al-Mu‘āmalāt al-Māliyah al-Muyassarah. Cetakan ke-3. Kuwait: Maktabah Imam Adz-Dzahabi, 2018.– Al-Musayqih, Khalid bin ‘Ali. Syarḥ Ar-Raudh al-Murbi‘. Jilid 6. Cetakan ke-1. Riyadh: Dar Rakaiz, 2022.– Ibn Qudamah, Abu Muhammad ‘Abdullah bin Ahmad. Al-Mughni. Jilid 4. Cetakan ke-1. Mesir: Maktabah Al-Qahirah, 1388 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).– Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fiqih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, 2016.– Al-Baihaqi, Abu Bakr Ahmad bin ‘Ali. As-Sunan al-Kubra. Jilid 5. Cetakan ke-3. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1424 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).– An-Nawawi, Abu Zakariya Yahya bin Syaraf. Al-Majmu‘ Syarh al-Muhadzdzab. Jilid 9. Mesir: Idarah ath-Thiba‘ah al-Minbariyyah, 1344 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).
Daftar Isi ToggleKesepakatan dan perbedaan para ulama dalam menentukan ‘illat riba‘Illat riba pada emas dan perakPendapat pertama: ‘Illat pada emas dan perak adalah timbangan (al-wazn) dan kesamaan jenis (al-jins)Pendapat kedua: ‘Illat pada emas dan perak adalah dominasi fungsi alat tukar atau pembayaranPendapat ketiga: ‘Illat pada emas dan perak adalah tsamaniyyah secara mutlak (fungsi sebagai alat tukar)Pendapat terkuat‘Illat sejatinya adalah sebuah “alasan” atau motif di balik penetapan suatu hukum. Dengan memahami ‘illat, akan terlihat bagaimana para ulama dalam menetapkan suatu hukum tidaklah serta merta ditetapkan begitu saja. Akan tetapi, dengan ditimbang dan dilihat terlebih dahulu dari sisi ‘illat nya, kemudian bisa ditentukan hukum setelahnya, apakah termasuk dari kategori riba atau bukan termasuk dari riba.Oleh karena itu, riba tidak sesederhana yang dibayangkan. Riba bukan hanya persoalan pinjam meminjam, utang piutang, bukan hanya bicara soal bunga tambahan dari sebuah pinjaman. Menukar dua buah emas dengan karat yang berbeda pun bisa masuk dalam kategori riba, atau menukar dua jenis kurma dengan kualitas yang berbeda juga termasuk riba.Secara garis besar, pembahasan kali ini akan membahas tentang ‘illat riba yang ada pada enam komoditas ribawi. Dengan mengetahui ‘illat riba, nantinya dapat dipahami mengapa para ulama mengkategorikan suatu barang tertentu termasuk dari komoditas ribawi.Kesepakatan dan perbedaan para ulama dalam menentukan ‘illat ribaSebelum lebih jauh, pada hal ini terdapat landasan yang harus dipahami; yaitu, para ulama sepakat bahwa ‘illat pada emas dan perak hanyalah satu saja (sama) dan ‘illat pada empat komoditas ribawi lainnya pun hanya satu saja (sama). Namun, mereka berselisih dalam menentukan kedua ‘illat tersebut.Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,وَاتَّفَقَ الْمُعَلِّلُونَ ‌عَلَى ‌أَنَّ ‌عِلَّةَ ‌الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَاحِدَةٌ، وَعِلَّةَ الْأَعْيَانِ الْأَرْبَعَةِ وَاحِدَةٌ، ثُمَّ اخْتَلَفُوا فِي عِلَّةِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا“Para (ulama) ahli ‘illat telah bersepakat bahwa ‘illat (penyebab hukum) pada emas dan perak adalah satu (sama), dan ‘illat pada empat jenis benda lainnya (gandum bur, gandum sya’ir, kurma, dan garam) juga satu (sama). Namun kemudian, mereka berbeda pendapat mengenai apa sebenarnya masing-masing ‘illat tersebut.” [1]Dari perkataan Ibnu Qudamah di atas dapat dipahami:– Para ulama sepakat bahwa emas dan perak berada dalam satu “kotak” yang sama. Segala ketentuan yang berlaku pada emas, berlaku pula pada perak, dan sebaliknya. Dikarenakan ‘illat keduanya dianggap serupa.– Para ulama sepakat bahwa gandum bur, gandum sya’ir, kurma, dan garam berada dalam satu “kotak” yang sama. Dikarenakan ‘illat pada keempat komoditas tersebut dianggap serupa.– Perbedaan para ulama terletak dalam menentukan ‘illat pada masing-masing “kotak” tersebut. Sehingga terdapat dua kotak yang masing-masing berbeda pada ‘illat-nya. Emas dan perak berada pada satu kotak, keempat komoditas sisanya berada di kotak yang lain.‘Illat riba pada emas dan perakPara ulama dalam menentukan ‘illat riba pada emas dan perak berselisih setidaknya pada tiga pendapat [2]:Pendapat pertama: ‘Illat pada emas dan perak adalah timbangan (al-wazn) dan kesamaan jenis (al-jins)Ini merupakan pendapat dari mazhab Hanafi dan Hanbali. Mereka berdalil dengan hadis Abu Hurairah dan Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma,اسْتَعْمَلَ رَجُلًا عَلَى خَيْبَرَ فَجَاءَ بِتَمْرٍ جَنِيبٍ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «أَكُلُّ تَمْرِ خَيْبَرَ هَكَذَا؟» فَقَالَ الرَّجُلُ: «لَا وَاللهِ يَا رَسُولَ اللهِ! إِنَّا نَشْتَرِي الصَّاعَ بِالصَّاعَيْنِ مِنَ الْجَمْعِ»، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: لَا تَفْعَلُوا، وَلَكِنْ مِثْلًا بِمِثْلٍ، أَوْ بِيعُوا هَذَا وَاشْتَرُوا بِثَمَنِهِ مِنْ هَذَا، وَكَذَلِكَ الْمِيزَانُ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menugaskan seseorang dari Khaibar, lalu orang itu datang membawa kurma berkualitas tinggi (janib). Rasulullah kemudian bertanya, ‘Apakah semua kurma Khaibar seperti ini?’ Orang itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah! Sesungguhnya kami menukar satu sha’ (kurma ini) dengan dua sha’ kurma campuran (jam’).’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jangan kalian lakukan itu! Akan tetapi, (tukarlah) kurma yang serupa dengan serupa, atau juallah kurma ini (yang rendah kualitasnya), lalu belilah dengan hasil penjualannya kurma yang itu (kualitas tinggi). Begitu pula dengan barang yang ditimbang.” (HR. Muslim no.1593)Sisi pendalilan dari hadis ini:Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Begitu pula dengan barang yang ditimbang.” Menunjukkan bahwasanya riba berlaku pada setiap barang yang ditimbang dari jenis yang sama, seperti: besi, timah, emas, perak, daging, gula, dan segala jenis yang ditimbang.Konsekuensi dari pendapat ini:– Jika dikatakan ‘illat pada emas dan perak adalah timbangan, maka segala barang yang ditimbang masuk dalam kategori komoditas ribawi.– Konsekuensi berikutya, jika jenisnya sama (misal: besi dengan besi), maka harus sama beratnya, tidak boleh ada selisih berat dan harus tunai.– Jika jenisnya berbeda tapi ‘illat-nya sama (misal: besi dengan timah), maka: boleh berbeda beratnya, tetapi harus dilakukan serah terima secara langsung di tempat (taqabudh).Sanggahan terhadap sisi pendalilan di atas:– Ucapan, “Begitu pula dengan barang yang ditimbang.” Adalah ucapan dari Abu Sa’id Al-Khudri sebagaimana yang disampaikan oleh Al-Imam Al-Baihaqi dalam Sunan-nya. [3]– Lafaz hadis di atas bersifat umum yang maksud dan tujuannya tidak tampak secara zahirnya; maka sejatinya, hadis tersebut diarahkan kepada emas dan perak karena memang itulah maksudnya.Sehingga maksudnya adalah, “Begitu pula dengan barang yang ditimbang saat menjual emas dan perak.” Hal ini dalam rangka menggabungkan antara hadis ini dengan hadis ‘Ubadah dan lainnya, yaitu: tidak sah menjual emas dengan emas atau perak dengan perak kecuali dengan timbangan berat yang sama agar tercapai keselarasan yang diisyaratkan dalam hadis-hadis tersebut. [4]Sanggahan untuk pendapat ini:Berikut ini adalah sanggahan dari pendapat yang mengatakan ‘illat emas dan perak adalah al-wazn (timbangan) dan al-jins (kesamaan jenis).– Menjadikan barang yang ditimbang sebagai ‘illat pada emas dan perak tidak ada keselasaran yang kuat. Karena sejatinya, ia tidak berlaku pada setiap jenis barang yang ditimbang. Sehingga, menjadikan timbangan sebagai ‘illat dalam hal ini bukanlah penetapan hukum berdasarkan suatu sifat yang layak menjadi faktor yang mempengaruhi hukum.– Menjadikan barang yang ditimbang sebagai ‘illat pada emas dan perak juga lemah, karena hal ini tidak berlaku secara konsisten pada semua barang yang ditimbang. Terdapat ijmak (kesepakatan ulama) tentang bolehnya akad salam seperti menukarkan emas atau perak dengan barang-barang yang ditimbang secara tempo, seperti akad salam pada besi, timah, atau semisalnya. Demikian pula bolehnya menjual besi dan sejenisnya dengan pembayaran dirham (perak) secara tempo.Hal ini menunjukkan bahwa timbangan bukanlah ‘illat-nya. Karena jika berat benar-benar menjadi ‘illat, tentu tidak akan dibolehkan adanya nasa’ (penundaan) atau akad salam pada barang-barang yang ditimbang dan harus diberikan secara tunai.Pendapat kedua: ‘Illat pada emas dan perak adalah dominasi fungsi alat tukar atau pembayaranYakni: emas dan perak secara umum merupakan jenis alat tukar atau pembayaran. Ini merupakan ‘illat yang terbatas, yang tidak melampaui keduanya (emas dan perak), hanya sebatas pada penggunaan emas dan perak dalam fungsi alat tukar atau pembayaran. Pendapat ini merupakan pendapat dari mazhab Maliki, Syafi’i, dan sebagian riwayat dari mazhab Hanbali.Alasan dari pendapat ini:Bahwasanya emas dan perak adalah dua substansi dari barang berharga yang digunakan untuk menakar nilai harta. Melalui keduanya, seseorang dapat memperoleh segala sesuatu. Emas dan perak umumnya digunakan sebagai “harga” dalam transaksi jual beli, juga menjadi standar dalam menilai barang-barang yang rusak, dan digunakan sebagai diyat (ganti rugi pidana). Keduanya laku (diterima) di seluruh kalangan manusia; karena adanya karakteristik dan keistimewaan yang dianggap hanya ada pada keduanya.Namun, jika dianggap demikian, maka ‘illat-nya hanya terkurung pada keduanya saja dan tidak dapat mencakup barang yang lain. Artinya, mata uang, uang logam, uang kertas, atau yang sejenisnya tidak berlaku “hukum riba” padanya. Mengingat penggunaan ‘illat pada emas dan perak hanya ada pada penggunaan keduanya sebatas alat tukar saja. Adapun mata uang atau yang sejenisnya, maka tidak berlaku “hukum riba” padanya, karena alat tukar hanya terbatas pada emas dan perak saja.Sanggahan untuk pendapat ini:– Penetapan ‘illat ini terbantahkan secara penggunaannya dan juga secara kebalikannya. Dapat terbantahkan dari sisi penggunaannya seperti pada uang logam selain emas dan perak, karena uang logam pun merupakan alat tukar (terdapat harga dan nominal) padanya. Namun, menurut pendapat ini, tidak terdapat “hukum riba” padanya. Mengapa? Karena menurut pendapat ini alat tukar hanya sebatas pada emas dan perak saja.Begitu pula dapat terbantahkan dari sisi kebalikannya, contohnya pada bejana-bejana dari emas. Menurut pendapat ini, bejana emas berlaku riba, padahal bejana tersebut bukan alat tukar menurut mereka.– Bahwasanya hikmah pada pengharaman riba di antaranya adalah disebabkan kezaliman, dan hal itu tidak hanya terbatas pada emas dan perak saja. Hal itu juga mencakup yang lainnya selain dari emas dan perak sebagai alat tukar, seperti uang logam atau uang kertas. Maka, sebagaimana unsur kezaliman (riba) sangat diperhatikan pada emas dan perak, alat-alat tukar selain emas dan perak pun tentunya harus diperhatikan pula.Sehingga membatasi ‘illat emas dan perak hanya sebatas alat tukar saja tentu akan meniadakan hukum-hukum lainnya yang seharusnya berlaku “hukum riba” padanya.Pendapat ketiga: ‘Illat pada emas dan perak adalah tsamaniyyah secara mutlak (fungsi sebagai alat tukar)Artinya, segala sesuatu yang berfungsi sebagai harga (alat tukar), maka hukum riba berlaku padanya. Pendapat ini merupakan salah satu riwayat dari Imam Ahmad, juga merupakan pendapat Malikiyah, dan dipilih oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah serta Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.Berdasarkan pendapat ini, maka hukum tersebut tidak terbatas pada emas dan perak, tetapi meluas kepada uang logam selain emas dan perak, uang kertas, serta segala sesuatu yang dijadikan oleh manusia sebagai harga.Mereka berdalil dengan dua hal:– Bahwa hikmah diharamkannya riba pada mata uang adalah menjaga kestabilan mata uang itu sendiri dan mempertahankan kedudukannya sebagai standar dalam transaksi. Mata uang harus menjadi standar ukuran nilai dalam muamalah, sehingga nilainya tetap stabil dan terjaga, tidak naik dan turun sebagaimana barang dagangan.Apabila mata uang dijadikan komoditas untuk mencari keuntungan, maka ia tidak lagi berfungsi sebagai standar nilai. Hal itu akan menimbulkan kekacauan dalam transaksi, karena manusia tidak lagi memiliki harga yang dijadikan patokan dalam jual beli. Bahkan seluruh barang akan menjadi komoditas yang nilainya naik turun secara tidak teratur (fluktuatif).Akibatnya, penilaian harga tidak lagi dapat dilakukan dengan standar yang stabil, karena tidak adanya ukuran yang pasti. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang merusak mata uang yang berlaku di tengah kaum muslimin.– Penyebutan secara khusus emas dan perak (dalam dalil) termasuk dalam kategori penyebutan yang mewakili hal serupa lainnya. Sebab, tidak ada sifat khusus yang membedakan keduanya dari yang lain, kecuali keduanya merupakan standar dalam transaksi pada zaman kenabian.Sifat ini (sebagai alat tukar) terdapat pada segala sesuatu yang dijadikan manusia sebagai mata uang. Ketika mata uang tersebut telah beredar luas dan menjadi standar penilaian harga, maka berlaku padanya hukum-hukum yang berlaku pada emas dan perak dalam hal riba.Hal ini dikarenakan mata uang tersebut memiliki makna dan menjalankan fungsi yang sama dengan emas dan perak. Selain itu, kezaliman yang menjadi alasan diharamkannya riba pada emas dan perak juga dapat terjadi pada segala sesuatu yang menggantikan posisi keduanya.Pendapat terkuatPendapat yang kuat dan juga dirajihkan oleh Prof. Dr. Khalid bin ‘Ali Al-Musayqih adalah pendapat yang ketiga, yaitu “’Illat pada emas dan perak adalah tsamaniyyah”, yang berarti fungsi sebagai alat tukar secara mutlak.Sehingga di antara konsekuensi pendapat ini, segala macam bentuk alat tukar dan bagaimanapun perubahannya, maka ia tetap terkena hukum sebagaimana hukum emas dan perak. Baik dari segi tukar menukarnya, dan praktik-praktik lainnya.Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 9***Depok, 14 Ramadan 1447/ 3 Maret 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Mughni, 4: 5.[2] Pembahasan ini bisa dilihat di kitab Al-Mughni (4: 5-6), Fiqhul Mu’amalat Al-Maaliyah Al-Muyassar (hal. 139-142), Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 175-179), dan Syarah Ar-Raudhul Murbi’ (6: 456-460).[3] As-Sunan Al-Kubra, 5: 469.[4] Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzzab, 9: 393-394.Referensi:– Al-Muthiri, ‘Abdurrahman bin Hamud. Fiqh al-Mu‘āmalāt al-Māliyah al-Muyassarah. Cetakan ke-3. Kuwait: Maktabah Imam Adz-Dzahabi, 2018.– Al-Musayqih, Khalid bin ‘Ali. Syarḥ Ar-Raudh al-Murbi‘. Jilid 6. Cetakan ke-1. Riyadh: Dar Rakaiz, 2022.– Ibn Qudamah, Abu Muhammad ‘Abdullah bin Ahmad. Al-Mughni. Jilid 4. Cetakan ke-1. Mesir: Maktabah Al-Qahirah, 1388 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).– Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fiqih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, 2016.– Al-Baihaqi, Abu Bakr Ahmad bin ‘Ali. As-Sunan al-Kubra. Jilid 5. Cetakan ke-3. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1424 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).– An-Nawawi, Abu Zakariya Yahya bin Syaraf. Al-Majmu‘ Syarh al-Muhadzdzab. Jilid 9. Mesir: Idarah ath-Thiba‘ah al-Minbariyyah, 1344 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).


Daftar Isi ToggleKesepakatan dan perbedaan para ulama dalam menentukan ‘illat riba‘Illat riba pada emas dan perakPendapat pertama: ‘Illat pada emas dan perak adalah timbangan (al-wazn) dan kesamaan jenis (al-jins)Pendapat kedua: ‘Illat pada emas dan perak adalah dominasi fungsi alat tukar atau pembayaranPendapat ketiga: ‘Illat pada emas dan perak adalah tsamaniyyah secara mutlak (fungsi sebagai alat tukar)Pendapat terkuat‘Illat sejatinya adalah sebuah “alasan” atau motif di balik penetapan suatu hukum. Dengan memahami ‘illat, akan terlihat bagaimana para ulama dalam menetapkan suatu hukum tidaklah serta merta ditetapkan begitu saja. Akan tetapi, dengan ditimbang dan dilihat terlebih dahulu dari sisi ‘illat nya, kemudian bisa ditentukan hukum setelahnya, apakah termasuk dari kategori riba atau bukan termasuk dari riba.Oleh karena itu, riba tidak sesederhana yang dibayangkan. Riba bukan hanya persoalan pinjam meminjam, utang piutang, bukan hanya bicara soal bunga tambahan dari sebuah pinjaman. Menukar dua buah emas dengan karat yang berbeda pun bisa masuk dalam kategori riba, atau menukar dua jenis kurma dengan kualitas yang berbeda juga termasuk riba.Secara garis besar, pembahasan kali ini akan membahas tentang ‘illat riba yang ada pada enam komoditas ribawi. Dengan mengetahui ‘illat riba, nantinya dapat dipahami mengapa para ulama mengkategorikan suatu barang tertentu termasuk dari komoditas ribawi.Kesepakatan dan perbedaan para ulama dalam menentukan ‘illat ribaSebelum lebih jauh, pada hal ini terdapat landasan yang harus dipahami; yaitu, para ulama sepakat bahwa ‘illat pada emas dan perak hanyalah satu saja (sama) dan ‘illat pada empat komoditas ribawi lainnya pun hanya satu saja (sama). Namun, mereka berselisih dalam menentukan kedua ‘illat tersebut.Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,وَاتَّفَقَ الْمُعَلِّلُونَ ‌عَلَى ‌أَنَّ ‌عِلَّةَ ‌الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَاحِدَةٌ، وَعِلَّةَ الْأَعْيَانِ الْأَرْبَعَةِ وَاحِدَةٌ، ثُمَّ اخْتَلَفُوا فِي عِلَّةِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا“Para (ulama) ahli ‘illat telah bersepakat bahwa ‘illat (penyebab hukum) pada emas dan perak adalah satu (sama), dan ‘illat pada empat jenis benda lainnya (gandum bur, gandum sya’ir, kurma, dan garam) juga satu (sama). Namun kemudian, mereka berbeda pendapat mengenai apa sebenarnya masing-masing ‘illat tersebut.” [1]Dari perkataan Ibnu Qudamah di atas dapat dipahami:– Para ulama sepakat bahwa emas dan perak berada dalam satu “kotak” yang sama. Segala ketentuan yang berlaku pada emas, berlaku pula pada perak, dan sebaliknya. Dikarenakan ‘illat keduanya dianggap serupa.– Para ulama sepakat bahwa gandum bur, gandum sya’ir, kurma, dan garam berada dalam satu “kotak” yang sama. Dikarenakan ‘illat pada keempat komoditas tersebut dianggap serupa.– Perbedaan para ulama terletak dalam menentukan ‘illat pada masing-masing “kotak” tersebut. Sehingga terdapat dua kotak yang masing-masing berbeda pada ‘illat-nya. Emas dan perak berada pada satu kotak, keempat komoditas sisanya berada di kotak yang lain.‘Illat riba pada emas dan perakPara ulama dalam menentukan ‘illat riba pada emas dan perak berselisih setidaknya pada tiga pendapat [2]:Pendapat pertama: ‘Illat pada emas dan perak adalah timbangan (al-wazn) dan kesamaan jenis (al-jins)Ini merupakan pendapat dari mazhab Hanafi dan Hanbali. Mereka berdalil dengan hadis Abu Hurairah dan Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma,اسْتَعْمَلَ رَجُلًا عَلَى خَيْبَرَ فَجَاءَ بِتَمْرٍ جَنِيبٍ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «أَكُلُّ تَمْرِ خَيْبَرَ هَكَذَا؟» فَقَالَ الرَّجُلُ: «لَا وَاللهِ يَا رَسُولَ اللهِ! إِنَّا نَشْتَرِي الصَّاعَ بِالصَّاعَيْنِ مِنَ الْجَمْعِ»، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: لَا تَفْعَلُوا، وَلَكِنْ مِثْلًا بِمِثْلٍ، أَوْ بِيعُوا هَذَا وَاشْتَرُوا بِثَمَنِهِ مِنْ هَذَا، وَكَذَلِكَ الْمِيزَانُ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menugaskan seseorang dari Khaibar, lalu orang itu datang membawa kurma berkualitas tinggi (janib). Rasulullah kemudian bertanya, ‘Apakah semua kurma Khaibar seperti ini?’ Orang itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah! Sesungguhnya kami menukar satu sha’ (kurma ini) dengan dua sha’ kurma campuran (jam’).’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jangan kalian lakukan itu! Akan tetapi, (tukarlah) kurma yang serupa dengan serupa, atau juallah kurma ini (yang rendah kualitasnya), lalu belilah dengan hasil penjualannya kurma yang itu (kualitas tinggi). Begitu pula dengan barang yang ditimbang.” (HR. Muslim no.1593)Sisi pendalilan dari hadis ini:Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Begitu pula dengan barang yang ditimbang.” Menunjukkan bahwasanya riba berlaku pada setiap barang yang ditimbang dari jenis yang sama, seperti: besi, timah, emas, perak, daging, gula, dan segala jenis yang ditimbang.Konsekuensi dari pendapat ini:– Jika dikatakan ‘illat pada emas dan perak adalah timbangan, maka segala barang yang ditimbang masuk dalam kategori komoditas ribawi.– Konsekuensi berikutya, jika jenisnya sama (misal: besi dengan besi), maka harus sama beratnya, tidak boleh ada selisih berat dan harus tunai.– Jika jenisnya berbeda tapi ‘illat-nya sama (misal: besi dengan timah), maka: boleh berbeda beratnya, tetapi harus dilakukan serah terima secara langsung di tempat (taqabudh).Sanggahan terhadap sisi pendalilan di atas:– Ucapan, “Begitu pula dengan barang yang ditimbang.” Adalah ucapan dari Abu Sa’id Al-Khudri sebagaimana yang disampaikan oleh Al-Imam Al-Baihaqi dalam Sunan-nya. [3]– Lafaz hadis di atas bersifat umum yang maksud dan tujuannya tidak tampak secara zahirnya; maka sejatinya, hadis tersebut diarahkan kepada emas dan perak karena memang itulah maksudnya.Sehingga maksudnya adalah, “Begitu pula dengan barang yang ditimbang saat menjual emas dan perak.” Hal ini dalam rangka menggabungkan antara hadis ini dengan hadis ‘Ubadah dan lainnya, yaitu: tidak sah menjual emas dengan emas atau perak dengan perak kecuali dengan timbangan berat yang sama agar tercapai keselarasan yang diisyaratkan dalam hadis-hadis tersebut. [4]Sanggahan untuk pendapat ini:Berikut ini adalah sanggahan dari pendapat yang mengatakan ‘illat emas dan perak adalah al-wazn (timbangan) dan al-jins (kesamaan jenis).– Menjadikan barang yang ditimbang sebagai ‘illat pada emas dan perak tidak ada keselasaran yang kuat. Karena sejatinya, ia tidak berlaku pada setiap jenis barang yang ditimbang. Sehingga, menjadikan timbangan sebagai ‘illat dalam hal ini bukanlah penetapan hukum berdasarkan suatu sifat yang layak menjadi faktor yang mempengaruhi hukum.– Menjadikan barang yang ditimbang sebagai ‘illat pada emas dan perak juga lemah, karena hal ini tidak berlaku secara konsisten pada semua barang yang ditimbang. Terdapat ijmak (kesepakatan ulama) tentang bolehnya akad salam seperti menukarkan emas atau perak dengan barang-barang yang ditimbang secara tempo, seperti akad salam pada besi, timah, atau semisalnya. Demikian pula bolehnya menjual besi dan sejenisnya dengan pembayaran dirham (perak) secara tempo.Hal ini menunjukkan bahwa timbangan bukanlah ‘illat-nya. Karena jika berat benar-benar menjadi ‘illat, tentu tidak akan dibolehkan adanya nasa’ (penundaan) atau akad salam pada barang-barang yang ditimbang dan harus diberikan secara tunai.Pendapat kedua: ‘Illat pada emas dan perak adalah dominasi fungsi alat tukar atau pembayaranYakni: emas dan perak secara umum merupakan jenis alat tukar atau pembayaran. Ini merupakan ‘illat yang terbatas, yang tidak melampaui keduanya (emas dan perak), hanya sebatas pada penggunaan emas dan perak dalam fungsi alat tukar atau pembayaran. Pendapat ini merupakan pendapat dari mazhab Maliki, Syafi’i, dan sebagian riwayat dari mazhab Hanbali.Alasan dari pendapat ini:Bahwasanya emas dan perak adalah dua substansi dari barang berharga yang digunakan untuk menakar nilai harta. Melalui keduanya, seseorang dapat memperoleh segala sesuatu. Emas dan perak umumnya digunakan sebagai “harga” dalam transaksi jual beli, juga menjadi standar dalam menilai barang-barang yang rusak, dan digunakan sebagai diyat (ganti rugi pidana). Keduanya laku (diterima) di seluruh kalangan manusia; karena adanya karakteristik dan keistimewaan yang dianggap hanya ada pada keduanya.Namun, jika dianggap demikian, maka ‘illat-nya hanya terkurung pada keduanya saja dan tidak dapat mencakup barang yang lain. Artinya, mata uang, uang logam, uang kertas, atau yang sejenisnya tidak berlaku “hukum riba” padanya. Mengingat penggunaan ‘illat pada emas dan perak hanya ada pada penggunaan keduanya sebatas alat tukar saja. Adapun mata uang atau yang sejenisnya, maka tidak berlaku “hukum riba” padanya, karena alat tukar hanya terbatas pada emas dan perak saja.Sanggahan untuk pendapat ini:– Penetapan ‘illat ini terbantahkan secara penggunaannya dan juga secara kebalikannya. Dapat terbantahkan dari sisi penggunaannya seperti pada uang logam selain emas dan perak, karena uang logam pun merupakan alat tukar (terdapat harga dan nominal) padanya. Namun, menurut pendapat ini, tidak terdapat “hukum riba” padanya. Mengapa? Karena menurut pendapat ini alat tukar hanya sebatas pada emas dan perak saja.Begitu pula dapat terbantahkan dari sisi kebalikannya, contohnya pada bejana-bejana dari emas. Menurut pendapat ini, bejana emas berlaku riba, padahal bejana tersebut bukan alat tukar menurut mereka.– Bahwasanya hikmah pada pengharaman riba di antaranya adalah disebabkan kezaliman, dan hal itu tidak hanya terbatas pada emas dan perak saja. Hal itu juga mencakup yang lainnya selain dari emas dan perak sebagai alat tukar, seperti uang logam atau uang kertas. Maka, sebagaimana unsur kezaliman (riba) sangat diperhatikan pada emas dan perak, alat-alat tukar selain emas dan perak pun tentunya harus diperhatikan pula.Sehingga membatasi ‘illat emas dan perak hanya sebatas alat tukar saja tentu akan meniadakan hukum-hukum lainnya yang seharusnya berlaku “hukum riba” padanya.Pendapat ketiga: ‘Illat pada emas dan perak adalah tsamaniyyah secara mutlak (fungsi sebagai alat tukar)Artinya, segala sesuatu yang berfungsi sebagai harga (alat tukar), maka hukum riba berlaku padanya. Pendapat ini merupakan salah satu riwayat dari Imam Ahmad, juga merupakan pendapat Malikiyah, dan dipilih oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah serta Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.Berdasarkan pendapat ini, maka hukum tersebut tidak terbatas pada emas dan perak, tetapi meluas kepada uang logam selain emas dan perak, uang kertas, serta segala sesuatu yang dijadikan oleh manusia sebagai harga.Mereka berdalil dengan dua hal:– Bahwa hikmah diharamkannya riba pada mata uang adalah menjaga kestabilan mata uang itu sendiri dan mempertahankan kedudukannya sebagai standar dalam transaksi. Mata uang harus menjadi standar ukuran nilai dalam muamalah, sehingga nilainya tetap stabil dan terjaga, tidak naik dan turun sebagaimana barang dagangan.Apabila mata uang dijadikan komoditas untuk mencari keuntungan, maka ia tidak lagi berfungsi sebagai standar nilai. Hal itu akan menimbulkan kekacauan dalam transaksi, karena manusia tidak lagi memiliki harga yang dijadikan patokan dalam jual beli. Bahkan seluruh barang akan menjadi komoditas yang nilainya naik turun secara tidak teratur (fluktuatif).Akibatnya, penilaian harga tidak lagi dapat dilakukan dengan standar yang stabil, karena tidak adanya ukuran yang pasti. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang merusak mata uang yang berlaku di tengah kaum muslimin.– Penyebutan secara khusus emas dan perak (dalam dalil) termasuk dalam kategori penyebutan yang mewakili hal serupa lainnya. Sebab, tidak ada sifat khusus yang membedakan keduanya dari yang lain, kecuali keduanya merupakan standar dalam transaksi pada zaman kenabian.Sifat ini (sebagai alat tukar) terdapat pada segala sesuatu yang dijadikan manusia sebagai mata uang. Ketika mata uang tersebut telah beredar luas dan menjadi standar penilaian harga, maka berlaku padanya hukum-hukum yang berlaku pada emas dan perak dalam hal riba.Hal ini dikarenakan mata uang tersebut memiliki makna dan menjalankan fungsi yang sama dengan emas dan perak. Selain itu, kezaliman yang menjadi alasan diharamkannya riba pada emas dan perak juga dapat terjadi pada segala sesuatu yang menggantikan posisi keduanya.Pendapat terkuatPendapat yang kuat dan juga dirajihkan oleh Prof. Dr. Khalid bin ‘Ali Al-Musayqih adalah pendapat yang ketiga, yaitu “’Illat pada emas dan perak adalah tsamaniyyah”, yang berarti fungsi sebagai alat tukar secara mutlak.Sehingga di antara konsekuensi pendapat ini, segala macam bentuk alat tukar dan bagaimanapun perubahannya, maka ia tetap terkena hukum sebagaimana hukum emas dan perak. Baik dari segi tukar menukarnya, dan praktik-praktik lainnya.Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 9***Depok, 14 Ramadan 1447/ 3 Maret 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Mughni, 4: 5.[2] Pembahasan ini bisa dilihat di kitab Al-Mughni (4: 5-6), Fiqhul Mu’amalat Al-Maaliyah Al-Muyassar (hal. 139-142), Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 175-179), dan Syarah Ar-Raudhul Murbi’ (6: 456-460).[3] As-Sunan Al-Kubra, 5: 469.[4] Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzzab, 9: 393-394.Referensi:– Al-Muthiri, ‘Abdurrahman bin Hamud. Fiqh al-Mu‘āmalāt al-Māliyah al-Muyassarah. Cetakan ke-3. Kuwait: Maktabah Imam Adz-Dzahabi, 2018.– Al-Musayqih, Khalid bin ‘Ali. Syarḥ Ar-Raudh al-Murbi‘. Jilid 6. Cetakan ke-1. Riyadh: Dar Rakaiz, 2022.– Ibn Qudamah, Abu Muhammad ‘Abdullah bin Ahmad. Al-Mughni. Jilid 4. Cetakan ke-1. Mesir: Maktabah Al-Qahirah, 1388 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).– Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fiqih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, 2016.– Al-Baihaqi, Abu Bakr Ahmad bin ‘Ali. As-Sunan al-Kubra. Jilid 5. Cetakan ke-3. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1424 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).– An-Nawawi, Abu Zakariya Yahya bin Syaraf. Al-Majmu‘ Syarh al-Muhadzdzab. Jilid 9. Mesir: Idarah ath-Thiba‘ah al-Minbariyyah, 1344 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).

Witir Cuma Satu Rakaat, Sah atau Tidak? Simak Penjelasan Lengkapnya di Sini

https://youtu.be/iAZjDtGq0ko Berkaitan dengan orang yang mengerjakan Shalat Witir hanya satu rakaat, apakah kita katakan bahwa tindakannya itu sesuai dengan yang disyariatkan? Atau pendapat yang benar adalah minimal dilakukan sebanyak tiga rakaat? Shalat Witir hukumnya sunnah muakkadah (sangat ditekankan), dan batasan minimalnya satu rakaat. Jadi, orang yang mengerjakannya satu rakaat, berarti telah menunaikan batas minimal dari Shalat Witir. Nabi ‘alaihis shalatu was salam bersabda: “Shalat Witir itu satu rakaat pada akhir malam.” (HR. Muslim). Ini menjadi dalil bahwa jumlah minimalnya adalah satu rakaat. Namun, hendaknya seorang muslim bersemangat untuk mendirikan Shalat Witir tidak kurang dari 3 rakaat. Jika ia menambahnya menjadi 5, 7, 9, atau 11 rakaat, maka ini jauh lebih sempurna dan lebih utama. Shalat Malam tidak memiliki batasan maksimal, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Shalat Malam itu dua rakaat dua rakaat kemudian jika salah seorang dari kalian khawatir waktu subuh segera tiba, hendaklah ia menutupnya dengan witir satu rakaat.” (HR. Bukhari & Muslim). ===== بِالنِّسْبَةِ لِمَنْ يُوتِرُ بِرَكْعَةٍ وَاحِدَةٍ هَلْ هَذَا نَقُولُ إِنَّهُ فَعَلَ مَشْرُوعًا أَوْ أَنَّ الصَّحِيحَ أَنْ يُوتِرَ بِثَلَاثٍ أَقَلِّ شَيْءٍ الْوِتْرُ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ وَأَقَلُّهُ رَكْعَةٌ فَمَنْ أَتَى بِرَكْعَةٍ فَقَدْ أَتَى بِالْحَدِّ الْأَدْنَى مِنَ الْوِتْرِ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْوِتْرُ رَكْعَةٌ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ أَقَلَّهُ رَكْعَةٌ لَكِنْ يَنْبَغِي أَنْ تَسْمُوَ نَفْسُ الْمُسْلِمِ يَعْنِي أَلَّا تَقِلَّ عَنْ ثَلَاثٍ وَإِنْ زَادَهَا وَجَعَلَهَا خَمْسًا أَوْ سَبْعًا أَوْ تِسْعًا أَوْ إِحْدَى عَشْرَةَ كَانَ هَذَا أَكْمَلَ وَأَفْضَلَ وَصَلَاةُ اللَّيْلِ لَيْسَ لَهَا حَدٌّ مَحْدُودٌ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ فَلْيُوتِرْ بِوَاحِدَةٍ

Witir Cuma Satu Rakaat, Sah atau Tidak? Simak Penjelasan Lengkapnya di Sini

https://youtu.be/iAZjDtGq0ko Berkaitan dengan orang yang mengerjakan Shalat Witir hanya satu rakaat, apakah kita katakan bahwa tindakannya itu sesuai dengan yang disyariatkan? Atau pendapat yang benar adalah minimal dilakukan sebanyak tiga rakaat? Shalat Witir hukumnya sunnah muakkadah (sangat ditekankan), dan batasan minimalnya satu rakaat. Jadi, orang yang mengerjakannya satu rakaat, berarti telah menunaikan batas minimal dari Shalat Witir. Nabi ‘alaihis shalatu was salam bersabda: “Shalat Witir itu satu rakaat pada akhir malam.” (HR. Muslim). Ini menjadi dalil bahwa jumlah minimalnya adalah satu rakaat. Namun, hendaknya seorang muslim bersemangat untuk mendirikan Shalat Witir tidak kurang dari 3 rakaat. Jika ia menambahnya menjadi 5, 7, 9, atau 11 rakaat, maka ini jauh lebih sempurna dan lebih utama. Shalat Malam tidak memiliki batasan maksimal, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Shalat Malam itu dua rakaat dua rakaat kemudian jika salah seorang dari kalian khawatir waktu subuh segera tiba, hendaklah ia menutupnya dengan witir satu rakaat.” (HR. Bukhari & Muslim). ===== بِالنِّسْبَةِ لِمَنْ يُوتِرُ بِرَكْعَةٍ وَاحِدَةٍ هَلْ هَذَا نَقُولُ إِنَّهُ فَعَلَ مَشْرُوعًا أَوْ أَنَّ الصَّحِيحَ أَنْ يُوتِرَ بِثَلَاثٍ أَقَلِّ شَيْءٍ الْوِتْرُ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ وَأَقَلُّهُ رَكْعَةٌ فَمَنْ أَتَى بِرَكْعَةٍ فَقَدْ أَتَى بِالْحَدِّ الْأَدْنَى مِنَ الْوِتْرِ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْوِتْرُ رَكْعَةٌ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ أَقَلَّهُ رَكْعَةٌ لَكِنْ يَنْبَغِي أَنْ تَسْمُوَ نَفْسُ الْمُسْلِمِ يَعْنِي أَلَّا تَقِلَّ عَنْ ثَلَاثٍ وَإِنْ زَادَهَا وَجَعَلَهَا خَمْسًا أَوْ سَبْعًا أَوْ تِسْعًا أَوْ إِحْدَى عَشْرَةَ كَانَ هَذَا أَكْمَلَ وَأَفْضَلَ وَصَلَاةُ اللَّيْلِ لَيْسَ لَهَا حَدٌّ مَحْدُودٌ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ فَلْيُوتِرْ بِوَاحِدَةٍ
https://youtu.be/iAZjDtGq0ko Berkaitan dengan orang yang mengerjakan Shalat Witir hanya satu rakaat, apakah kita katakan bahwa tindakannya itu sesuai dengan yang disyariatkan? Atau pendapat yang benar adalah minimal dilakukan sebanyak tiga rakaat? Shalat Witir hukumnya sunnah muakkadah (sangat ditekankan), dan batasan minimalnya satu rakaat. Jadi, orang yang mengerjakannya satu rakaat, berarti telah menunaikan batas minimal dari Shalat Witir. Nabi ‘alaihis shalatu was salam bersabda: “Shalat Witir itu satu rakaat pada akhir malam.” (HR. Muslim). Ini menjadi dalil bahwa jumlah minimalnya adalah satu rakaat. Namun, hendaknya seorang muslim bersemangat untuk mendirikan Shalat Witir tidak kurang dari 3 rakaat. Jika ia menambahnya menjadi 5, 7, 9, atau 11 rakaat, maka ini jauh lebih sempurna dan lebih utama. Shalat Malam tidak memiliki batasan maksimal, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Shalat Malam itu dua rakaat dua rakaat kemudian jika salah seorang dari kalian khawatir waktu subuh segera tiba, hendaklah ia menutupnya dengan witir satu rakaat.” (HR. Bukhari & Muslim). ===== بِالنِّسْبَةِ لِمَنْ يُوتِرُ بِرَكْعَةٍ وَاحِدَةٍ هَلْ هَذَا نَقُولُ إِنَّهُ فَعَلَ مَشْرُوعًا أَوْ أَنَّ الصَّحِيحَ أَنْ يُوتِرَ بِثَلَاثٍ أَقَلِّ شَيْءٍ الْوِتْرُ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ وَأَقَلُّهُ رَكْعَةٌ فَمَنْ أَتَى بِرَكْعَةٍ فَقَدْ أَتَى بِالْحَدِّ الْأَدْنَى مِنَ الْوِتْرِ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْوِتْرُ رَكْعَةٌ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ أَقَلَّهُ رَكْعَةٌ لَكِنْ يَنْبَغِي أَنْ تَسْمُوَ نَفْسُ الْمُسْلِمِ يَعْنِي أَلَّا تَقِلَّ عَنْ ثَلَاثٍ وَإِنْ زَادَهَا وَجَعَلَهَا خَمْسًا أَوْ سَبْعًا أَوْ تِسْعًا أَوْ إِحْدَى عَشْرَةَ كَانَ هَذَا أَكْمَلَ وَأَفْضَلَ وَصَلَاةُ اللَّيْلِ لَيْسَ لَهَا حَدٌّ مَحْدُودٌ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ فَلْيُوتِرْ بِوَاحِدَةٍ


https://youtu.be/iAZjDtGq0ko Berkaitan dengan orang yang mengerjakan Shalat Witir hanya satu rakaat, apakah kita katakan bahwa tindakannya itu sesuai dengan yang disyariatkan? Atau pendapat yang benar adalah minimal dilakukan sebanyak tiga rakaat? Shalat Witir hukumnya sunnah muakkadah (sangat ditekankan), dan batasan minimalnya satu rakaat. Jadi, orang yang mengerjakannya satu rakaat, berarti telah menunaikan batas minimal dari Shalat Witir. Nabi ‘alaihis shalatu was salam bersabda: “Shalat Witir itu satu rakaat pada akhir malam.” (HR. Muslim). Ini menjadi dalil bahwa jumlah minimalnya adalah satu rakaat. Namun, hendaknya seorang muslim bersemangat untuk mendirikan Shalat Witir tidak kurang dari 3 rakaat. Jika ia menambahnya menjadi 5, 7, 9, atau 11 rakaat, maka ini jauh lebih sempurna dan lebih utama. Shalat Malam tidak memiliki batasan maksimal, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Shalat Malam itu dua rakaat dua rakaat kemudian jika salah seorang dari kalian khawatir waktu subuh segera tiba, hendaklah ia menutupnya dengan witir satu rakaat.” (HR. Bukhari & Muslim). ===== بِالنِّسْبَةِ لِمَنْ يُوتِرُ بِرَكْعَةٍ وَاحِدَةٍ هَلْ هَذَا نَقُولُ إِنَّهُ فَعَلَ مَشْرُوعًا أَوْ أَنَّ الصَّحِيحَ أَنْ يُوتِرَ بِثَلَاثٍ أَقَلِّ شَيْءٍ الْوِتْرُ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ وَأَقَلُّهُ رَكْعَةٌ فَمَنْ أَتَى بِرَكْعَةٍ فَقَدْ أَتَى بِالْحَدِّ الْأَدْنَى مِنَ الْوِتْرِ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْوِتْرُ رَكْعَةٌ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ أَقَلَّهُ رَكْعَةٌ لَكِنْ يَنْبَغِي أَنْ تَسْمُوَ نَفْسُ الْمُسْلِمِ يَعْنِي أَلَّا تَقِلَّ عَنْ ثَلَاثٍ وَإِنْ زَادَهَا وَجَعَلَهَا خَمْسًا أَوْ سَبْعًا أَوْ تِسْعًا أَوْ إِحْدَى عَشْرَةَ كَانَ هَذَا أَكْمَلَ وَأَفْضَلَ وَصَلَاةُ اللَّيْلِ لَيْسَ لَهَا حَدٌّ مَحْدُودٌ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ فَلْيُوتِرْ بِوَاحِدَةٍ

Lupa Bayar Zakat Fitrah Sampai Lebaran Usai? Jangan Panik, Ini Solusinya! – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

https://youtu.be/PYSUhanYzFs Apabila seseorang lupa menunaikan Zakat Fitrah hingga batas waktunya berlalu, apakah ia dimaafkan karena lupa? Dan apakah ia wajib mengqadhanya? Ya, ia wajib mengqadhanya (membayarnya) seketika saat ia teringat. Kapan pun ia teringat tentang Zakat Fitrah itu, ia harus segera mengqadhanya. Bahkan jika ia teringat setelah hari raya, Zakat fitrah yang telah terlewat waktunya harus tetap diqadha. Sebagai contoh, jika seseorang lupa membayar Zakat Fitrah pada tahun lalu, dan baru teringat sekarang, ia baru teringat bahwa ia belum menunaikan Zakat Fitrah tersebut, maka ia wajib membayar Zakat Fitrah tersebut sekarang juga, dan ia dimaafkan atas kelalaiannya tersebut. ===== إِذَا نَسِيَ إِخْرَاجَ زَكَاةِ الْفِطْرِ بَعْدَ وَقْتِهَا هَلْ يُعْذَرُ بِالنِّسْيَانِ؟ وَهَلْ يَقْضِي؟ نَعَمْ يَقْضِي مِنْ حِينِ الذِّكْرِ مَتَى مَا تَذَكَّرَ زَكَاةَ الْفِطْرِ قَضَاهَا حَتَّى لَوْ كَانَ ذَلِكَ بَعْدَ يَوْمِ الْعِيْدِفَزَكَاةُ الفِطْرِ إِذَا فَاتَتْ تُقْضَى مَثَلًا لَوْ أَنَّ شَخْصًا نَسِيَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنَ الْعَامِ الْمَاضِي وَتَذَكَّرَهَا الْآنَ تَذَكَّرَ الْآنَ أَنَّهُ لَمْ يُخْرِجْ زَكَاةَ الْفِطْرِ فَيُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ الْآنَ وَهُوَ مَعْذُورٌ بِالنِّسْيَانِ

Lupa Bayar Zakat Fitrah Sampai Lebaran Usai? Jangan Panik, Ini Solusinya! – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

https://youtu.be/PYSUhanYzFs Apabila seseorang lupa menunaikan Zakat Fitrah hingga batas waktunya berlalu, apakah ia dimaafkan karena lupa? Dan apakah ia wajib mengqadhanya? Ya, ia wajib mengqadhanya (membayarnya) seketika saat ia teringat. Kapan pun ia teringat tentang Zakat Fitrah itu, ia harus segera mengqadhanya. Bahkan jika ia teringat setelah hari raya, Zakat fitrah yang telah terlewat waktunya harus tetap diqadha. Sebagai contoh, jika seseorang lupa membayar Zakat Fitrah pada tahun lalu, dan baru teringat sekarang, ia baru teringat bahwa ia belum menunaikan Zakat Fitrah tersebut, maka ia wajib membayar Zakat Fitrah tersebut sekarang juga, dan ia dimaafkan atas kelalaiannya tersebut. ===== إِذَا نَسِيَ إِخْرَاجَ زَكَاةِ الْفِطْرِ بَعْدَ وَقْتِهَا هَلْ يُعْذَرُ بِالنِّسْيَانِ؟ وَهَلْ يَقْضِي؟ نَعَمْ يَقْضِي مِنْ حِينِ الذِّكْرِ مَتَى مَا تَذَكَّرَ زَكَاةَ الْفِطْرِ قَضَاهَا حَتَّى لَوْ كَانَ ذَلِكَ بَعْدَ يَوْمِ الْعِيْدِفَزَكَاةُ الفِطْرِ إِذَا فَاتَتْ تُقْضَى مَثَلًا لَوْ أَنَّ شَخْصًا نَسِيَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنَ الْعَامِ الْمَاضِي وَتَذَكَّرَهَا الْآنَ تَذَكَّرَ الْآنَ أَنَّهُ لَمْ يُخْرِجْ زَكَاةَ الْفِطْرِ فَيُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ الْآنَ وَهُوَ مَعْذُورٌ بِالنِّسْيَانِ
https://youtu.be/PYSUhanYzFs Apabila seseorang lupa menunaikan Zakat Fitrah hingga batas waktunya berlalu, apakah ia dimaafkan karena lupa? Dan apakah ia wajib mengqadhanya? Ya, ia wajib mengqadhanya (membayarnya) seketika saat ia teringat. Kapan pun ia teringat tentang Zakat Fitrah itu, ia harus segera mengqadhanya. Bahkan jika ia teringat setelah hari raya, Zakat fitrah yang telah terlewat waktunya harus tetap diqadha. Sebagai contoh, jika seseorang lupa membayar Zakat Fitrah pada tahun lalu, dan baru teringat sekarang, ia baru teringat bahwa ia belum menunaikan Zakat Fitrah tersebut, maka ia wajib membayar Zakat Fitrah tersebut sekarang juga, dan ia dimaafkan atas kelalaiannya tersebut. ===== إِذَا نَسِيَ إِخْرَاجَ زَكَاةِ الْفِطْرِ بَعْدَ وَقْتِهَا هَلْ يُعْذَرُ بِالنِّسْيَانِ؟ وَهَلْ يَقْضِي؟ نَعَمْ يَقْضِي مِنْ حِينِ الذِّكْرِ مَتَى مَا تَذَكَّرَ زَكَاةَ الْفِطْرِ قَضَاهَا حَتَّى لَوْ كَانَ ذَلِكَ بَعْدَ يَوْمِ الْعِيْدِفَزَكَاةُ الفِطْرِ إِذَا فَاتَتْ تُقْضَى مَثَلًا لَوْ أَنَّ شَخْصًا نَسِيَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنَ الْعَامِ الْمَاضِي وَتَذَكَّرَهَا الْآنَ تَذَكَّرَ الْآنَ أَنَّهُ لَمْ يُخْرِجْ زَكَاةَ الْفِطْرِ فَيُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ الْآنَ وَهُوَ مَعْذُورٌ بِالنِّسْيَانِ


https://youtu.be/PYSUhanYzFs Apabila seseorang lupa menunaikan Zakat Fitrah hingga batas waktunya berlalu, apakah ia dimaafkan karena lupa? Dan apakah ia wajib mengqadhanya? Ya, ia wajib mengqadhanya (membayarnya) seketika saat ia teringat. Kapan pun ia teringat tentang Zakat Fitrah itu, ia harus segera mengqadhanya. Bahkan jika ia teringat setelah hari raya, Zakat fitrah yang telah terlewat waktunya harus tetap diqadha. Sebagai contoh, jika seseorang lupa membayar Zakat Fitrah pada tahun lalu, dan baru teringat sekarang, ia baru teringat bahwa ia belum menunaikan Zakat Fitrah tersebut, maka ia wajib membayar Zakat Fitrah tersebut sekarang juga, dan ia dimaafkan atas kelalaiannya tersebut. ===== إِذَا نَسِيَ إِخْرَاجَ زَكَاةِ الْفِطْرِ بَعْدَ وَقْتِهَا هَلْ يُعْذَرُ بِالنِّسْيَانِ؟ وَهَلْ يَقْضِي؟ نَعَمْ يَقْضِي مِنْ حِينِ الذِّكْرِ مَتَى مَا تَذَكَّرَ زَكَاةَ الْفِطْرِ قَضَاهَا حَتَّى لَوْ كَانَ ذَلِكَ بَعْدَ يَوْمِ الْعِيْدِفَزَكَاةُ الفِطْرِ إِذَا فَاتَتْ تُقْضَى مَثَلًا لَوْ أَنَّ شَخْصًا نَسِيَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنَ الْعَامِ الْمَاضِي وَتَذَكَّرَهَا الْآنَ تَذَكَّرَ الْآنَ أَنَّهُ لَمْ يُخْرِجْ زَكَاةَ الْفِطْرِ فَيُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ الْآنَ وَهُوَ مَعْذُورٌ بِالنِّسْيَانِ

Derajat Hadis Membaca Doa Melihat Kakbah

Daftar Isi ToggleRiwayat hadisPertama, hadis MakhulKedua, hadis Ibnu JuraijBerdoa pada saat melihat KakbahKesimpulanMengunjungi Baitullah al-Haram, Kakbah, merupakan impian setiap Muslim. Di antara penyempurna rukun dari agama Islam adalah ibadah haji. Sebagian ulama juga berpendapat bahwa umrah menjadi kewajiban bagi muslim yang mampu. Dengan begitu, kita seyogyanya mempelajari ibadah-ibadah apa saja yang dapat kita lakukan ketika melakukan ibadah haji dan umrah.Di antara yang menjadi pembahasan belakangan ini adalah hadis tentang doa ketika melihat Kakbah. Bagaimana derajat hadis tersebut di kalangan para ulama? Untuk menjawab hal ini, kita perlu terlebih dahulu mengetahui lafaz hadis yang sering dinukil dalam masalah ini. Di antara lafaz yang paling masyhur adalah diambil dari hadis,كان النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إذا رأَى البَيتَ قال: اللَّهمَّ زِدْ هذا البَيتَ تَشريفًا وتَعظيمًا وتَكريمًا ومَهابةً، وزِدْ مِن شَرَفِه وكَرَمِه مِمَّن حَجَّه أوِ اعتَمَرَه؛ تَشريفًا وتَكريمًا وتَعظيمًا ومَهابةً وبِرًّا“Ya Allah, tambahkanlah untuk rumah ini kemuliaan, keagungan, penghormatan, dan kewibawaan. Tambahkan pula bagi orang yang memuliakan dan memuliakannya dengan berhaji atau berumrah. Tambahkanlah kemuliaan, penghormatan, keagungan, kewibawaan, serta kebaikan.” [1]Doa ini sering disebut sebagai doa yang dibaca ketika pertama kali melihat Kakbah. Bahkan, sebagian jamaah haji dan umrah menganggapnya sebagai bagian dari sunah yang dianjurkan secara khusus. Namun, benarkah doa ini berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Bagaimanakah riwayat hadis ini?Riwayat hadisPertama, hadis Makhul Hadis ini diriwayatkan dari Makhul rahimahullah. Riwayat tersebut disebutkan oleh Ibn Abi Shaybah dalam al-Mushannaf [2]. Beliau meriwayatkan dari Waki‘, dari Sufyan, dari seorang laki-laki dari penduduk Syam, dari Makhul, bahwa apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Kakbah, beliau membaca,اللهم زد هذا البيت تشريفًا وتعظيمًا ومهابة، وزد من حجه أو اعتمره تشريفًا وتعظيمًا وتكريمًا وبرًّاRiwayat ini dha’if karena dua sebab:Makhul adalah seorang tabi’in, sementara beliau meriwayatkan langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (tanpa perantara sahabat). Dengan demikian, riwayat ini termasuk hadis mursal, dan hadis mursal adalah bagian dari hadis dha’if.Dalam sanadnya terdapat perawi yang tidak dikenal, yaitu “seorang laki-laki dari penduduk Syam”, sehingga menambah kelemahan riwayat tersebut. Riwayat ini juga disebutkan oleh Al-Bayhaqi dalam al-Sunan al-Kubra [3]. Dalam sanadnya terdapat Abu Sa‘id asy-Syami. Akan tetapi, Abu Sa‘id asy-Syami dinilai sebagai pendusta. Al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani berkata dalam at-Talkhis al-Habir [4]: “Kadzab (pendusta).” Dengan demikian, jalur Makhul ini tidak bisa dijadikan hujjah.Kedua, hadis Ibnu Juraij Hadis ini diriwayatkan dari Ibn Juraij rahimahullah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Riwayat tersebut disebutkan dalam Musnad Syafi’i melalui susunan Abu Said Sanjar bin Abdullah al-Nashiri al-Jawli [5], dari Sa‘id bin Salim, dari Ibnu Juraij. Riwayat ini juga dibawakan oleh al-Baihaqi rahimahullah dalam al-Sunan al-Kubra [6]. Sanad ini sahih sampai kepada Ibnu Juraij. Sa‘id bin Salim dinilai tsiqah oleh Yahya bin Ma‘in dan dinilai “la ba’sa bihi” oleh an-Nasa’i. Namun, cacatnya terletak pada riwayat Ibnu Juraij dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu Juraij adalah seorang tabi’in, sehingga riwayatnya langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk hadis mu’dhal, yaitu hadis yang gugur dua perawi atau lebih secara berurutan dalam sanadnya. Dan hadis mu’dhal termasuk hadis dha’if. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam at-Talkhis al-Habir,وهو معضل فيما بين ابن جريج والنبي صلى الله عليه وسلم“Riwayat ini mu’dhal antara Ibnu Juraij dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [7]Al-Baihaqi juga menyatakan bahwa riwayat tersebut terputus (munqathi‘). Dengan demikian, jalur Ibnu Juraij juga tidak dapat dijadikan dalil.Berdoa pada saat melihat KakbahLalu, setelah mengetahui bahwa doa melihat Kakbah mempunyai derajat yang mursal dan mu’dhal atau dha’if yang tidak bisa menjadi sebuah rujukan, bagaimana dengan hukum berdoa ketika melihat Kakbah?Berdoa pada saat melihat Kakbah pernah dilakukan oleh Nabi sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dalam hadis yang panjang diceritakan bahwa,فَلَمَّا فَرَغَ مِن طَوَافِهِ أَتَى الصَّفَا، فَعَلَا عليه حتَّى نَظَرَ إلى البَيْتِ، وَرَفَعَ يَدَيْهِ فَجَعَلَ يَحْمَدُ اللَّهَ وَيَدْعُو بما شَاءَ أَنْ يَدْعُوَ“Ketika beliau selesai dari thawaf, beliau mendatangi Shafa, lalu naik ke atasnya hingga melihat Kakbah. Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya, lalu memuji Allah dan berdoa dengan doa apa saja yang beliau kehendaki.” [8]Hadis ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memang berdoa ketika melihat Kakbah. Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa kejadian tersebut bukan dalam konteks pertama kali melihat Kakbah, melainkan ketika beliau berada di atas Shafa setelah menyelesaikan thawaf. Oleh karena itu, hadis ini tidak bisa dijadikan dalil adanya doa khusus ketika pertama kali melihat Kakbah.Namun, dari hadis ini dapat diambil faidah penting bahwa berdoa ketika melihat Kakbah secara umum adalah sesuatu yang diperbolehkan. Bahkan, tempat dan momen tersebut termasuk di antara waktu dan kondisi yang memiliki peluang besar untuk dikabulkannya doa.Sebagaimana disebutkan dalam Kitab Fatawa Syabakah Islamiyyah,يدعو بما شاء، فالله سبحانه وتعالى قد أمر عباده بدعائه ووعدهم بالإجابة، وهذا المشهد – وهو مشاهدة الكعبة- من أفضل أماكن الدعاء“Seseorang boleh berdoa dengan doa apa saja yang ia kehendaki. Allah Subhanahu wa Ta‘ala telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya dan Dia pun menjanjikan akan mengabulkannya. Dan momen ini (yaitu saat memandang Kakbah) termasuk salah satu tempat dan waktu terbaik untuk berdoa.” [9]Abd Allah bin Muhammad al-Ghunayman juga menyebutkan dalam Syarh Fath al-Majid,ليس لزيارة البيت الحرام أدعية معينة تحفظ، وقد جاء في رؤية البيت دعاء في حديث سنده ضعيف، وعلى الإنسان أن يجتهد في الدعاء الذي يناسبه ويحتاجه لنفسه فيدعو الله به“Tidak ada doa-doa khusus yang harus dihafal ketika mengunjungi Baitul Haram. Memang ada riwayat tentang doa ketika pertama kali melihat Kakbah, namun sanad hadis tersebut lemah. Oleh karena itu, seseorang hendaknya bersungguh-sungguh memanjatkan doa sesuai dengan kebutuhan dan keadaan dirinya, memohon kepada Allah dengan doa yang ia rasa paling ia perlukan.” [10]Kesimpulan Pertama, doa yang populer dibaca ketika melihat Kakbah tidaklah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Riwayat-riwayat yang menyebutkan doa tersebut berputar pada jalur Makhul dan Ibnu Juraij, yang keduanya tidak tersambung kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (mursal dan mu’dhal), bahkan sebagian jalurnya mengandung perawi yang lemah dan tertuduh. Oleh karena itu, doa tersebut tidak bisa dijadikan sebagai sunah khusus yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kedua, berdoa ketika melihat Kakbah pada asalnya tidak mengapa. Hal ini ditunjukkan oleh riwayat sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa ketika melihat Kakbah dari atas Shafa. Meskipun bukan dalam konteks pertama kali melihat Kakbah, hadis ini menunjukkan bolehnya berdoa secara umum. Maka, seorang muslim boleh berdoa dengan doa apa saja sesuai kebutuhan dan hajatnya, tanpa mengkhususkan lafaz tertentu atau meyakini adanya tuntunan khusus dalam momen tersebut.Ketiga, apabila seseorang ingin membaca doa yang diriwayatkan oleh Imam asy-Syafi’i karena maknanya yang baik dan sesuai dengan keagungan Kakbah, yang berbunyi,اللَّهمَّ زِدْ هذا البَيتَ تَشريفًا وتَعظيمًا وتَكريمًا ومَهابةً، وزِدْ مِن شَرَفِه وكَرَمِه مِمَّن حَجَّه أوِ اعتَمَرَه؛ تَشريفًا وتَكريمًا وتَعظيمًا ومَهابةً وبِرًّاmaka hal itu tidak mengapa. Namun, yang perlu ditekankan adalah tidak boleh meyakini bahwa doa tersebut merupakan sunah khusus ketika melihat Kakbah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atau memiliki keutamaan tertentu yang tidak didasarkan pada dalil yang sahih.Baca juga: Mengenal Baitul Makmur: Ka’bah Penduduk Langit***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Imam al-Bayhaqi, as-Sunan as-Shaghir, 2: 171.[2] Imam Ibn Abi Shaybah, al-Mushannaf, no. 30240, 15: 317.[3] Imam al-Bayhaqi, al-Sunan al-Kubra, 9: 524.[4] Imam Ibn Hajar al-Asqalani, at-Talkhis al-Habir, 2: 242.[5] Imam Abu Said Sanjar, Musnad al-Imam al-Shafi’i (Tartib Sanjar), hal. 125.[6] Imam al-Bayhaqi, al-Sunan al-Kubra, 9: 524.[7] Ibn Hajar al-Asqalani, at-Talkhis al-Habir, 2: 526.[8] Muslim, Shahih Muslim, no. 1780.[9] Lajnah al-Fatwa bi al-Shabakah al-Islamiyyah, Fatawa al-Shabakah al-Islamiyyah, 10: 900.[10] Abd Allah bin Muhammad al-Ghunayman, Sharh Fath al-Majid, 4: 141.Daftar Pustaka Ibn Abi Shaybah. al-Mushannaf. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Ibn Hajar al-Asqalani. at-Talkhis al-Habir. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Imam Abu Said Sanjar. Musnad al-Imam al-Shafi‘i. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Muslim ibn al-Hajjaj. Shahih Muslim. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Bayhaqi. al-Sunan al-Kubra. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Bayhaqi. as-Sunan as-Saghir. Tahqiq ‘Abd al-Mu‘ti Amin Qal‘aji. Cet. 1. 4 jilid. Karachi: Jami‘ah ad-Dirasat al-Islamiyyah, 1410/ 1989.Abd Allah ibn Muhammad al-Ghunayman. Sharh Fath al-Majid. Transkrip pelajaran audio oleh Islamweb.Islamweb. Fatawa al-Shabakah al-Islamiyyah. Disusun oleh Lajnah al-Fatwa. Diakses melalui http://www.islamweb.net .

Derajat Hadis Membaca Doa Melihat Kakbah

Daftar Isi ToggleRiwayat hadisPertama, hadis MakhulKedua, hadis Ibnu JuraijBerdoa pada saat melihat KakbahKesimpulanMengunjungi Baitullah al-Haram, Kakbah, merupakan impian setiap Muslim. Di antara penyempurna rukun dari agama Islam adalah ibadah haji. Sebagian ulama juga berpendapat bahwa umrah menjadi kewajiban bagi muslim yang mampu. Dengan begitu, kita seyogyanya mempelajari ibadah-ibadah apa saja yang dapat kita lakukan ketika melakukan ibadah haji dan umrah.Di antara yang menjadi pembahasan belakangan ini adalah hadis tentang doa ketika melihat Kakbah. Bagaimana derajat hadis tersebut di kalangan para ulama? Untuk menjawab hal ini, kita perlu terlebih dahulu mengetahui lafaz hadis yang sering dinukil dalam masalah ini. Di antara lafaz yang paling masyhur adalah diambil dari hadis,كان النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إذا رأَى البَيتَ قال: اللَّهمَّ زِدْ هذا البَيتَ تَشريفًا وتَعظيمًا وتَكريمًا ومَهابةً، وزِدْ مِن شَرَفِه وكَرَمِه مِمَّن حَجَّه أوِ اعتَمَرَه؛ تَشريفًا وتَكريمًا وتَعظيمًا ومَهابةً وبِرًّا“Ya Allah, tambahkanlah untuk rumah ini kemuliaan, keagungan, penghormatan, dan kewibawaan. Tambahkan pula bagi orang yang memuliakan dan memuliakannya dengan berhaji atau berumrah. Tambahkanlah kemuliaan, penghormatan, keagungan, kewibawaan, serta kebaikan.” [1]Doa ini sering disebut sebagai doa yang dibaca ketika pertama kali melihat Kakbah. Bahkan, sebagian jamaah haji dan umrah menganggapnya sebagai bagian dari sunah yang dianjurkan secara khusus. Namun, benarkah doa ini berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Bagaimanakah riwayat hadis ini?Riwayat hadisPertama, hadis Makhul Hadis ini diriwayatkan dari Makhul rahimahullah. Riwayat tersebut disebutkan oleh Ibn Abi Shaybah dalam al-Mushannaf [2]. Beliau meriwayatkan dari Waki‘, dari Sufyan, dari seorang laki-laki dari penduduk Syam, dari Makhul, bahwa apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Kakbah, beliau membaca,اللهم زد هذا البيت تشريفًا وتعظيمًا ومهابة، وزد من حجه أو اعتمره تشريفًا وتعظيمًا وتكريمًا وبرًّاRiwayat ini dha’if karena dua sebab:Makhul adalah seorang tabi’in, sementara beliau meriwayatkan langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (tanpa perantara sahabat). Dengan demikian, riwayat ini termasuk hadis mursal, dan hadis mursal adalah bagian dari hadis dha’if.Dalam sanadnya terdapat perawi yang tidak dikenal, yaitu “seorang laki-laki dari penduduk Syam”, sehingga menambah kelemahan riwayat tersebut. Riwayat ini juga disebutkan oleh Al-Bayhaqi dalam al-Sunan al-Kubra [3]. Dalam sanadnya terdapat Abu Sa‘id asy-Syami. Akan tetapi, Abu Sa‘id asy-Syami dinilai sebagai pendusta. Al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani berkata dalam at-Talkhis al-Habir [4]: “Kadzab (pendusta).” Dengan demikian, jalur Makhul ini tidak bisa dijadikan hujjah.Kedua, hadis Ibnu Juraij Hadis ini diriwayatkan dari Ibn Juraij rahimahullah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Riwayat tersebut disebutkan dalam Musnad Syafi’i melalui susunan Abu Said Sanjar bin Abdullah al-Nashiri al-Jawli [5], dari Sa‘id bin Salim, dari Ibnu Juraij. Riwayat ini juga dibawakan oleh al-Baihaqi rahimahullah dalam al-Sunan al-Kubra [6]. Sanad ini sahih sampai kepada Ibnu Juraij. Sa‘id bin Salim dinilai tsiqah oleh Yahya bin Ma‘in dan dinilai “la ba’sa bihi” oleh an-Nasa’i. Namun, cacatnya terletak pada riwayat Ibnu Juraij dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu Juraij adalah seorang tabi’in, sehingga riwayatnya langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk hadis mu’dhal, yaitu hadis yang gugur dua perawi atau lebih secara berurutan dalam sanadnya. Dan hadis mu’dhal termasuk hadis dha’if. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam at-Talkhis al-Habir,وهو معضل فيما بين ابن جريج والنبي صلى الله عليه وسلم“Riwayat ini mu’dhal antara Ibnu Juraij dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [7]Al-Baihaqi juga menyatakan bahwa riwayat tersebut terputus (munqathi‘). Dengan demikian, jalur Ibnu Juraij juga tidak dapat dijadikan dalil.Berdoa pada saat melihat KakbahLalu, setelah mengetahui bahwa doa melihat Kakbah mempunyai derajat yang mursal dan mu’dhal atau dha’if yang tidak bisa menjadi sebuah rujukan, bagaimana dengan hukum berdoa ketika melihat Kakbah?Berdoa pada saat melihat Kakbah pernah dilakukan oleh Nabi sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dalam hadis yang panjang diceritakan bahwa,فَلَمَّا فَرَغَ مِن طَوَافِهِ أَتَى الصَّفَا، فَعَلَا عليه حتَّى نَظَرَ إلى البَيْتِ، وَرَفَعَ يَدَيْهِ فَجَعَلَ يَحْمَدُ اللَّهَ وَيَدْعُو بما شَاءَ أَنْ يَدْعُوَ“Ketika beliau selesai dari thawaf, beliau mendatangi Shafa, lalu naik ke atasnya hingga melihat Kakbah. Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya, lalu memuji Allah dan berdoa dengan doa apa saja yang beliau kehendaki.” [8]Hadis ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memang berdoa ketika melihat Kakbah. Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa kejadian tersebut bukan dalam konteks pertama kali melihat Kakbah, melainkan ketika beliau berada di atas Shafa setelah menyelesaikan thawaf. Oleh karena itu, hadis ini tidak bisa dijadikan dalil adanya doa khusus ketika pertama kali melihat Kakbah.Namun, dari hadis ini dapat diambil faidah penting bahwa berdoa ketika melihat Kakbah secara umum adalah sesuatu yang diperbolehkan. Bahkan, tempat dan momen tersebut termasuk di antara waktu dan kondisi yang memiliki peluang besar untuk dikabulkannya doa.Sebagaimana disebutkan dalam Kitab Fatawa Syabakah Islamiyyah,يدعو بما شاء، فالله سبحانه وتعالى قد أمر عباده بدعائه ووعدهم بالإجابة، وهذا المشهد – وهو مشاهدة الكعبة- من أفضل أماكن الدعاء“Seseorang boleh berdoa dengan doa apa saja yang ia kehendaki. Allah Subhanahu wa Ta‘ala telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya dan Dia pun menjanjikan akan mengabulkannya. Dan momen ini (yaitu saat memandang Kakbah) termasuk salah satu tempat dan waktu terbaik untuk berdoa.” [9]Abd Allah bin Muhammad al-Ghunayman juga menyebutkan dalam Syarh Fath al-Majid,ليس لزيارة البيت الحرام أدعية معينة تحفظ، وقد جاء في رؤية البيت دعاء في حديث سنده ضعيف، وعلى الإنسان أن يجتهد في الدعاء الذي يناسبه ويحتاجه لنفسه فيدعو الله به“Tidak ada doa-doa khusus yang harus dihafal ketika mengunjungi Baitul Haram. Memang ada riwayat tentang doa ketika pertama kali melihat Kakbah, namun sanad hadis tersebut lemah. Oleh karena itu, seseorang hendaknya bersungguh-sungguh memanjatkan doa sesuai dengan kebutuhan dan keadaan dirinya, memohon kepada Allah dengan doa yang ia rasa paling ia perlukan.” [10]Kesimpulan Pertama, doa yang populer dibaca ketika melihat Kakbah tidaklah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Riwayat-riwayat yang menyebutkan doa tersebut berputar pada jalur Makhul dan Ibnu Juraij, yang keduanya tidak tersambung kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (mursal dan mu’dhal), bahkan sebagian jalurnya mengandung perawi yang lemah dan tertuduh. Oleh karena itu, doa tersebut tidak bisa dijadikan sebagai sunah khusus yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kedua, berdoa ketika melihat Kakbah pada asalnya tidak mengapa. Hal ini ditunjukkan oleh riwayat sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa ketika melihat Kakbah dari atas Shafa. Meskipun bukan dalam konteks pertama kali melihat Kakbah, hadis ini menunjukkan bolehnya berdoa secara umum. Maka, seorang muslim boleh berdoa dengan doa apa saja sesuai kebutuhan dan hajatnya, tanpa mengkhususkan lafaz tertentu atau meyakini adanya tuntunan khusus dalam momen tersebut.Ketiga, apabila seseorang ingin membaca doa yang diriwayatkan oleh Imam asy-Syafi’i karena maknanya yang baik dan sesuai dengan keagungan Kakbah, yang berbunyi,اللَّهمَّ زِدْ هذا البَيتَ تَشريفًا وتَعظيمًا وتَكريمًا ومَهابةً، وزِدْ مِن شَرَفِه وكَرَمِه مِمَّن حَجَّه أوِ اعتَمَرَه؛ تَشريفًا وتَكريمًا وتَعظيمًا ومَهابةً وبِرًّاmaka hal itu tidak mengapa. Namun, yang perlu ditekankan adalah tidak boleh meyakini bahwa doa tersebut merupakan sunah khusus ketika melihat Kakbah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atau memiliki keutamaan tertentu yang tidak didasarkan pada dalil yang sahih.Baca juga: Mengenal Baitul Makmur: Ka’bah Penduduk Langit***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Imam al-Bayhaqi, as-Sunan as-Shaghir, 2: 171.[2] Imam Ibn Abi Shaybah, al-Mushannaf, no. 30240, 15: 317.[3] Imam al-Bayhaqi, al-Sunan al-Kubra, 9: 524.[4] Imam Ibn Hajar al-Asqalani, at-Talkhis al-Habir, 2: 242.[5] Imam Abu Said Sanjar, Musnad al-Imam al-Shafi’i (Tartib Sanjar), hal. 125.[6] Imam al-Bayhaqi, al-Sunan al-Kubra, 9: 524.[7] Ibn Hajar al-Asqalani, at-Talkhis al-Habir, 2: 526.[8] Muslim, Shahih Muslim, no. 1780.[9] Lajnah al-Fatwa bi al-Shabakah al-Islamiyyah, Fatawa al-Shabakah al-Islamiyyah, 10: 900.[10] Abd Allah bin Muhammad al-Ghunayman, Sharh Fath al-Majid, 4: 141.Daftar Pustaka Ibn Abi Shaybah. al-Mushannaf. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Ibn Hajar al-Asqalani. at-Talkhis al-Habir. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Imam Abu Said Sanjar. Musnad al-Imam al-Shafi‘i. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Muslim ibn al-Hajjaj. Shahih Muslim. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Bayhaqi. al-Sunan al-Kubra. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Bayhaqi. as-Sunan as-Saghir. Tahqiq ‘Abd al-Mu‘ti Amin Qal‘aji. Cet. 1. 4 jilid. Karachi: Jami‘ah ad-Dirasat al-Islamiyyah, 1410/ 1989.Abd Allah ibn Muhammad al-Ghunayman. Sharh Fath al-Majid. Transkrip pelajaran audio oleh Islamweb.Islamweb. Fatawa al-Shabakah al-Islamiyyah. Disusun oleh Lajnah al-Fatwa. Diakses melalui http://www.islamweb.net .
Daftar Isi ToggleRiwayat hadisPertama, hadis MakhulKedua, hadis Ibnu JuraijBerdoa pada saat melihat KakbahKesimpulanMengunjungi Baitullah al-Haram, Kakbah, merupakan impian setiap Muslim. Di antara penyempurna rukun dari agama Islam adalah ibadah haji. Sebagian ulama juga berpendapat bahwa umrah menjadi kewajiban bagi muslim yang mampu. Dengan begitu, kita seyogyanya mempelajari ibadah-ibadah apa saja yang dapat kita lakukan ketika melakukan ibadah haji dan umrah.Di antara yang menjadi pembahasan belakangan ini adalah hadis tentang doa ketika melihat Kakbah. Bagaimana derajat hadis tersebut di kalangan para ulama? Untuk menjawab hal ini, kita perlu terlebih dahulu mengetahui lafaz hadis yang sering dinukil dalam masalah ini. Di antara lafaz yang paling masyhur adalah diambil dari hadis,كان النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إذا رأَى البَيتَ قال: اللَّهمَّ زِدْ هذا البَيتَ تَشريفًا وتَعظيمًا وتَكريمًا ومَهابةً، وزِدْ مِن شَرَفِه وكَرَمِه مِمَّن حَجَّه أوِ اعتَمَرَه؛ تَشريفًا وتَكريمًا وتَعظيمًا ومَهابةً وبِرًّا“Ya Allah, tambahkanlah untuk rumah ini kemuliaan, keagungan, penghormatan, dan kewibawaan. Tambahkan pula bagi orang yang memuliakan dan memuliakannya dengan berhaji atau berumrah. Tambahkanlah kemuliaan, penghormatan, keagungan, kewibawaan, serta kebaikan.” [1]Doa ini sering disebut sebagai doa yang dibaca ketika pertama kali melihat Kakbah. Bahkan, sebagian jamaah haji dan umrah menganggapnya sebagai bagian dari sunah yang dianjurkan secara khusus. Namun, benarkah doa ini berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Bagaimanakah riwayat hadis ini?Riwayat hadisPertama, hadis Makhul Hadis ini diriwayatkan dari Makhul rahimahullah. Riwayat tersebut disebutkan oleh Ibn Abi Shaybah dalam al-Mushannaf [2]. Beliau meriwayatkan dari Waki‘, dari Sufyan, dari seorang laki-laki dari penduduk Syam, dari Makhul, bahwa apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Kakbah, beliau membaca,اللهم زد هذا البيت تشريفًا وتعظيمًا ومهابة، وزد من حجه أو اعتمره تشريفًا وتعظيمًا وتكريمًا وبرًّاRiwayat ini dha’if karena dua sebab:Makhul adalah seorang tabi’in, sementara beliau meriwayatkan langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (tanpa perantara sahabat). Dengan demikian, riwayat ini termasuk hadis mursal, dan hadis mursal adalah bagian dari hadis dha’if.Dalam sanadnya terdapat perawi yang tidak dikenal, yaitu “seorang laki-laki dari penduduk Syam”, sehingga menambah kelemahan riwayat tersebut. Riwayat ini juga disebutkan oleh Al-Bayhaqi dalam al-Sunan al-Kubra [3]. Dalam sanadnya terdapat Abu Sa‘id asy-Syami. Akan tetapi, Abu Sa‘id asy-Syami dinilai sebagai pendusta. Al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani berkata dalam at-Talkhis al-Habir [4]: “Kadzab (pendusta).” Dengan demikian, jalur Makhul ini tidak bisa dijadikan hujjah.Kedua, hadis Ibnu Juraij Hadis ini diriwayatkan dari Ibn Juraij rahimahullah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Riwayat tersebut disebutkan dalam Musnad Syafi’i melalui susunan Abu Said Sanjar bin Abdullah al-Nashiri al-Jawli [5], dari Sa‘id bin Salim, dari Ibnu Juraij. Riwayat ini juga dibawakan oleh al-Baihaqi rahimahullah dalam al-Sunan al-Kubra [6]. Sanad ini sahih sampai kepada Ibnu Juraij. Sa‘id bin Salim dinilai tsiqah oleh Yahya bin Ma‘in dan dinilai “la ba’sa bihi” oleh an-Nasa’i. Namun, cacatnya terletak pada riwayat Ibnu Juraij dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu Juraij adalah seorang tabi’in, sehingga riwayatnya langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk hadis mu’dhal, yaitu hadis yang gugur dua perawi atau lebih secara berurutan dalam sanadnya. Dan hadis mu’dhal termasuk hadis dha’if. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam at-Talkhis al-Habir,وهو معضل فيما بين ابن جريج والنبي صلى الله عليه وسلم“Riwayat ini mu’dhal antara Ibnu Juraij dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [7]Al-Baihaqi juga menyatakan bahwa riwayat tersebut terputus (munqathi‘). Dengan demikian, jalur Ibnu Juraij juga tidak dapat dijadikan dalil.Berdoa pada saat melihat KakbahLalu, setelah mengetahui bahwa doa melihat Kakbah mempunyai derajat yang mursal dan mu’dhal atau dha’if yang tidak bisa menjadi sebuah rujukan, bagaimana dengan hukum berdoa ketika melihat Kakbah?Berdoa pada saat melihat Kakbah pernah dilakukan oleh Nabi sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dalam hadis yang panjang diceritakan bahwa,فَلَمَّا فَرَغَ مِن طَوَافِهِ أَتَى الصَّفَا، فَعَلَا عليه حتَّى نَظَرَ إلى البَيْتِ، وَرَفَعَ يَدَيْهِ فَجَعَلَ يَحْمَدُ اللَّهَ وَيَدْعُو بما شَاءَ أَنْ يَدْعُوَ“Ketika beliau selesai dari thawaf, beliau mendatangi Shafa, lalu naik ke atasnya hingga melihat Kakbah. Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya, lalu memuji Allah dan berdoa dengan doa apa saja yang beliau kehendaki.” [8]Hadis ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memang berdoa ketika melihat Kakbah. Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa kejadian tersebut bukan dalam konteks pertama kali melihat Kakbah, melainkan ketika beliau berada di atas Shafa setelah menyelesaikan thawaf. Oleh karena itu, hadis ini tidak bisa dijadikan dalil adanya doa khusus ketika pertama kali melihat Kakbah.Namun, dari hadis ini dapat diambil faidah penting bahwa berdoa ketika melihat Kakbah secara umum adalah sesuatu yang diperbolehkan. Bahkan, tempat dan momen tersebut termasuk di antara waktu dan kondisi yang memiliki peluang besar untuk dikabulkannya doa.Sebagaimana disebutkan dalam Kitab Fatawa Syabakah Islamiyyah,يدعو بما شاء، فالله سبحانه وتعالى قد أمر عباده بدعائه ووعدهم بالإجابة، وهذا المشهد – وهو مشاهدة الكعبة- من أفضل أماكن الدعاء“Seseorang boleh berdoa dengan doa apa saja yang ia kehendaki. Allah Subhanahu wa Ta‘ala telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya dan Dia pun menjanjikan akan mengabulkannya. Dan momen ini (yaitu saat memandang Kakbah) termasuk salah satu tempat dan waktu terbaik untuk berdoa.” [9]Abd Allah bin Muhammad al-Ghunayman juga menyebutkan dalam Syarh Fath al-Majid,ليس لزيارة البيت الحرام أدعية معينة تحفظ، وقد جاء في رؤية البيت دعاء في حديث سنده ضعيف، وعلى الإنسان أن يجتهد في الدعاء الذي يناسبه ويحتاجه لنفسه فيدعو الله به“Tidak ada doa-doa khusus yang harus dihafal ketika mengunjungi Baitul Haram. Memang ada riwayat tentang doa ketika pertama kali melihat Kakbah, namun sanad hadis tersebut lemah. Oleh karena itu, seseorang hendaknya bersungguh-sungguh memanjatkan doa sesuai dengan kebutuhan dan keadaan dirinya, memohon kepada Allah dengan doa yang ia rasa paling ia perlukan.” [10]Kesimpulan Pertama, doa yang populer dibaca ketika melihat Kakbah tidaklah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Riwayat-riwayat yang menyebutkan doa tersebut berputar pada jalur Makhul dan Ibnu Juraij, yang keduanya tidak tersambung kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (mursal dan mu’dhal), bahkan sebagian jalurnya mengandung perawi yang lemah dan tertuduh. Oleh karena itu, doa tersebut tidak bisa dijadikan sebagai sunah khusus yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kedua, berdoa ketika melihat Kakbah pada asalnya tidak mengapa. Hal ini ditunjukkan oleh riwayat sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa ketika melihat Kakbah dari atas Shafa. Meskipun bukan dalam konteks pertama kali melihat Kakbah, hadis ini menunjukkan bolehnya berdoa secara umum. Maka, seorang muslim boleh berdoa dengan doa apa saja sesuai kebutuhan dan hajatnya, tanpa mengkhususkan lafaz tertentu atau meyakini adanya tuntunan khusus dalam momen tersebut.Ketiga, apabila seseorang ingin membaca doa yang diriwayatkan oleh Imam asy-Syafi’i karena maknanya yang baik dan sesuai dengan keagungan Kakbah, yang berbunyi,اللَّهمَّ زِدْ هذا البَيتَ تَشريفًا وتَعظيمًا وتَكريمًا ومَهابةً، وزِدْ مِن شَرَفِه وكَرَمِه مِمَّن حَجَّه أوِ اعتَمَرَه؛ تَشريفًا وتَكريمًا وتَعظيمًا ومَهابةً وبِرًّاmaka hal itu tidak mengapa. Namun, yang perlu ditekankan adalah tidak boleh meyakini bahwa doa tersebut merupakan sunah khusus ketika melihat Kakbah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atau memiliki keutamaan tertentu yang tidak didasarkan pada dalil yang sahih.Baca juga: Mengenal Baitul Makmur: Ka’bah Penduduk Langit***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Imam al-Bayhaqi, as-Sunan as-Shaghir, 2: 171.[2] Imam Ibn Abi Shaybah, al-Mushannaf, no. 30240, 15: 317.[3] Imam al-Bayhaqi, al-Sunan al-Kubra, 9: 524.[4] Imam Ibn Hajar al-Asqalani, at-Talkhis al-Habir, 2: 242.[5] Imam Abu Said Sanjar, Musnad al-Imam al-Shafi’i (Tartib Sanjar), hal. 125.[6] Imam al-Bayhaqi, al-Sunan al-Kubra, 9: 524.[7] Ibn Hajar al-Asqalani, at-Talkhis al-Habir, 2: 526.[8] Muslim, Shahih Muslim, no. 1780.[9] Lajnah al-Fatwa bi al-Shabakah al-Islamiyyah, Fatawa al-Shabakah al-Islamiyyah, 10: 900.[10] Abd Allah bin Muhammad al-Ghunayman, Sharh Fath al-Majid, 4: 141.Daftar Pustaka Ibn Abi Shaybah. al-Mushannaf. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Ibn Hajar al-Asqalani. at-Talkhis al-Habir. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Imam Abu Said Sanjar. Musnad al-Imam al-Shafi‘i. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Muslim ibn al-Hajjaj. Shahih Muslim. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Bayhaqi. al-Sunan al-Kubra. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Bayhaqi. as-Sunan as-Saghir. Tahqiq ‘Abd al-Mu‘ti Amin Qal‘aji. Cet. 1. 4 jilid. Karachi: Jami‘ah ad-Dirasat al-Islamiyyah, 1410/ 1989.Abd Allah ibn Muhammad al-Ghunayman. Sharh Fath al-Majid. Transkrip pelajaran audio oleh Islamweb.Islamweb. Fatawa al-Shabakah al-Islamiyyah. Disusun oleh Lajnah al-Fatwa. Diakses melalui http://www.islamweb.net .


Daftar Isi ToggleRiwayat hadisPertama, hadis MakhulKedua, hadis Ibnu JuraijBerdoa pada saat melihat KakbahKesimpulanMengunjungi Baitullah al-Haram, Kakbah, merupakan impian setiap Muslim. Di antara penyempurna rukun dari agama Islam adalah ibadah haji. Sebagian ulama juga berpendapat bahwa umrah menjadi kewajiban bagi muslim yang mampu. Dengan begitu, kita seyogyanya mempelajari ibadah-ibadah apa saja yang dapat kita lakukan ketika melakukan ibadah haji dan umrah.Di antara yang menjadi pembahasan belakangan ini adalah hadis tentang doa ketika melihat Kakbah. Bagaimana derajat hadis tersebut di kalangan para ulama? Untuk menjawab hal ini, kita perlu terlebih dahulu mengetahui lafaz hadis yang sering dinukil dalam masalah ini. Di antara lafaz yang paling masyhur adalah diambil dari hadis,كان النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إذا رأَى البَيتَ قال: اللَّهمَّ زِدْ هذا البَيتَ تَشريفًا وتَعظيمًا وتَكريمًا ومَهابةً، وزِدْ مِن شَرَفِه وكَرَمِه مِمَّن حَجَّه أوِ اعتَمَرَه؛ تَشريفًا وتَكريمًا وتَعظيمًا ومَهابةً وبِرًّا“Ya Allah, tambahkanlah untuk rumah ini kemuliaan, keagungan, penghormatan, dan kewibawaan. Tambahkan pula bagi orang yang memuliakan dan memuliakannya dengan berhaji atau berumrah. Tambahkanlah kemuliaan, penghormatan, keagungan, kewibawaan, serta kebaikan.” [1]Doa ini sering disebut sebagai doa yang dibaca ketika pertama kali melihat Kakbah. Bahkan, sebagian jamaah haji dan umrah menganggapnya sebagai bagian dari sunah yang dianjurkan secara khusus. Namun, benarkah doa ini berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Bagaimanakah riwayat hadis ini?Riwayat hadisPertama, hadis Makhul Hadis ini diriwayatkan dari Makhul rahimahullah. Riwayat tersebut disebutkan oleh Ibn Abi Shaybah dalam al-Mushannaf [2]. Beliau meriwayatkan dari Waki‘, dari Sufyan, dari seorang laki-laki dari penduduk Syam, dari Makhul, bahwa apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Kakbah, beliau membaca,اللهم زد هذا البيت تشريفًا وتعظيمًا ومهابة، وزد من حجه أو اعتمره تشريفًا وتعظيمًا وتكريمًا وبرًّاRiwayat ini dha’if karena dua sebab:Makhul adalah seorang tabi’in, sementara beliau meriwayatkan langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (tanpa perantara sahabat). Dengan demikian, riwayat ini termasuk hadis mursal, dan hadis mursal adalah bagian dari hadis dha’if.Dalam sanadnya terdapat perawi yang tidak dikenal, yaitu “seorang laki-laki dari penduduk Syam”, sehingga menambah kelemahan riwayat tersebut. Riwayat ini juga disebutkan oleh Al-Bayhaqi dalam al-Sunan al-Kubra [3]. Dalam sanadnya terdapat Abu Sa‘id asy-Syami. Akan tetapi, Abu Sa‘id asy-Syami dinilai sebagai pendusta. Al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani berkata dalam at-Talkhis al-Habir [4]: “Kadzab (pendusta).” Dengan demikian, jalur Makhul ini tidak bisa dijadikan hujjah.Kedua, hadis Ibnu Juraij Hadis ini diriwayatkan dari Ibn Juraij rahimahullah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Riwayat tersebut disebutkan dalam Musnad Syafi’i melalui susunan Abu Said Sanjar bin Abdullah al-Nashiri al-Jawli [5], dari Sa‘id bin Salim, dari Ibnu Juraij. Riwayat ini juga dibawakan oleh al-Baihaqi rahimahullah dalam al-Sunan al-Kubra [6]. Sanad ini sahih sampai kepada Ibnu Juraij. Sa‘id bin Salim dinilai tsiqah oleh Yahya bin Ma‘in dan dinilai “la ba’sa bihi” oleh an-Nasa’i. Namun, cacatnya terletak pada riwayat Ibnu Juraij dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu Juraij adalah seorang tabi’in, sehingga riwayatnya langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk hadis mu’dhal, yaitu hadis yang gugur dua perawi atau lebih secara berurutan dalam sanadnya. Dan hadis mu’dhal termasuk hadis dha’if. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam at-Talkhis al-Habir,وهو معضل فيما بين ابن جريج والنبي صلى الله عليه وسلم“Riwayat ini mu’dhal antara Ibnu Juraij dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [7]Al-Baihaqi juga menyatakan bahwa riwayat tersebut terputus (munqathi‘). Dengan demikian, jalur Ibnu Juraij juga tidak dapat dijadikan dalil.Berdoa pada saat melihat KakbahLalu, setelah mengetahui bahwa doa melihat Kakbah mempunyai derajat yang mursal dan mu’dhal atau dha’if yang tidak bisa menjadi sebuah rujukan, bagaimana dengan hukum berdoa ketika melihat Kakbah?Berdoa pada saat melihat Kakbah pernah dilakukan oleh Nabi sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dalam hadis yang panjang diceritakan bahwa,فَلَمَّا فَرَغَ مِن طَوَافِهِ أَتَى الصَّفَا، فَعَلَا عليه حتَّى نَظَرَ إلى البَيْتِ، وَرَفَعَ يَدَيْهِ فَجَعَلَ يَحْمَدُ اللَّهَ وَيَدْعُو بما شَاءَ أَنْ يَدْعُوَ“Ketika beliau selesai dari thawaf, beliau mendatangi Shafa, lalu naik ke atasnya hingga melihat Kakbah. Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya, lalu memuji Allah dan berdoa dengan doa apa saja yang beliau kehendaki.” [8]Hadis ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memang berdoa ketika melihat Kakbah. Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa kejadian tersebut bukan dalam konteks pertama kali melihat Kakbah, melainkan ketika beliau berada di atas Shafa setelah menyelesaikan thawaf. Oleh karena itu, hadis ini tidak bisa dijadikan dalil adanya doa khusus ketika pertama kali melihat Kakbah.Namun, dari hadis ini dapat diambil faidah penting bahwa berdoa ketika melihat Kakbah secara umum adalah sesuatu yang diperbolehkan. Bahkan, tempat dan momen tersebut termasuk di antara waktu dan kondisi yang memiliki peluang besar untuk dikabulkannya doa.Sebagaimana disebutkan dalam Kitab Fatawa Syabakah Islamiyyah,يدعو بما شاء، فالله سبحانه وتعالى قد أمر عباده بدعائه ووعدهم بالإجابة، وهذا المشهد – وهو مشاهدة الكعبة- من أفضل أماكن الدعاء“Seseorang boleh berdoa dengan doa apa saja yang ia kehendaki. Allah Subhanahu wa Ta‘ala telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya dan Dia pun menjanjikan akan mengabulkannya. Dan momen ini (yaitu saat memandang Kakbah) termasuk salah satu tempat dan waktu terbaik untuk berdoa.” [9]Abd Allah bin Muhammad al-Ghunayman juga menyebutkan dalam Syarh Fath al-Majid,ليس لزيارة البيت الحرام أدعية معينة تحفظ، وقد جاء في رؤية البيت دعاء في حديث سنده ضعيف، وعلى الإنسان أن يجتهد في الدعاء الذي يناسبه ويحتاجه لنفسه فيدعو الله به“Tidak ada doa-doa khusus yang harus dihafal ketika mengunjungi Baitul Haram. Memang ada riwayat tentang doa ketika pertama kali melihat Kakbah, namun sanad hadis tersebut lemah. Oleh karena itu, seseorang hendaknya bersungguh-sungguh memanjatkan doa sesuai dengan kebutuhan dan keadaan dirinya, memohon kepada Allah dengan doa yang ia rasa paling ia perlukan.” [10]Kesimpulan Pertama, doa yang populer dibaca ketika melihat Kakbah tidaklah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Riwayat-riwayat yang menyebutkan doa tersebut berputar pada jalur Makhul dan Ibnu Juraij, yang keduanya tidak tersambung kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (mursal dan mu’dhal), bahkan sebagian jalurnya mengandung perawi yang lemah dan tertuduh. Oleh karena itu, doa tersebut tidak bisa dijadikan sebagai sunah khusus yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kedua, berdoa ketika melihat Kakbah pada asalnya tidak mengapa. Hal ini ditunjukkan oleh riwayat sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa ketika melihat Kakbah dari atas Shafa. Meskipun bukan dalam konteks pertama kali melihat Kakbah, hadis ini menunjukkan bolehnya berdoa secara umum. Maka, seorang muslim boleh berdoa dengan doa apa saja sesuai kebutuhan dan hajatnya, tanpa mengkhususkan lafaz tertentu atau meyakini adanya tuntunan khusus dalam momen tersebut.Ketiga, apabila seseorang ingin membaca doa yang diriwayatkan oleh Imam asy-Syafi’i karena maknanya yang baik dan sesuai dengan keagungan Kakbah, yang berbunyi,اللَّهمَّ زِدْ هذا البَيتَ تَشريفًا وتَعظيمًا وتَكريمًا ومَهابةً، وزِدْ مِن شَرَفِه وكَرَمِه مِمَّن حَجَّه أوِ اعتَمَرَه؛ تَشريفًا وتَكريمًا وتَعظيمًا ومَهابةً وبِرًّاmaka hal itu tidak mengapa. Namun, yang perlu ditekankan adalah tidak boleh meyakini bahwa doa tersebut merupakan sunah khusus ketika melihat Kakbah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atau memiliki keutamaan tertentu yang tidak didasarkan pada dalil yang sahih.Baca juga: Mengenal Baitul Makmur: Ka’bah Penduduk Langit***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Imam al-Bayhaqi, as-Sunan as-Shaghir, 2: 171.[2] Imam Ibn Abi Shaybah, al-Mushannaf, no. 30240, 15: 317.[3] Imam al-Bayhaqi, al-Sunan al-Kubra, 9: 524.[4] Imam Ibn Hajar al-Asqalani, at-Talkhis al-Habir, 2: 242.[5] Imam Abu Said Sanjar, Musnad al-Imam al-Shafi’i (Tartib Sanjar), hal. 125.[6] Imam al-Bayhaqi, al-Sunan al-Kubra, 9: 524.[7] Ibn Hajar al-Asqalani, at-Talkhis al-Habir, 2: 526.[8] Muslim, Shahih Muslim, no. 1780.[9] Lajnah al-Fatwa bi al-Shabakah al-Islamiyyah, Fatawa al-Shabakah al-Islamiyyah, 10: 900.[10] Abd Allah bin Muhammad al-Ghunayman, Sharh Fath al-Majid, 4: 141.Daftar Pustaka Ibn Abi Shaybah. al-Mushannaf. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Ibn Hajar al-Asqalani. at-Talkhis al-Habir. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Imam Abu Said Sanjar. Musnad al-Imam al-Shafi‘i. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Muslim ibn al-Hajjaj. Shahih Muslim. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Bayhaqi. al-Sunan al-Kubra. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Bayhaqi. as-Sunan as-Saghir. Tahqiq ‘Abd al-Mu‘ti Amin Qal‘aji. Cet. 1. 4 jilid. Karachi: Jami‘ah ad-Dirasat al-Islamiyyah, 1410/ 1989.Abd Allah ibn Muhammad al-Ghunayman. Sharh Fath al-Majid. Transkrip pelajaran audio oleh Islamweb.Islamweb. Fatawa al-Shabakah al-Islamiyyah. Disusun oleh Lajnah al-Fatwa. Diakses melalui http://www.islamweb.net .

Rahasia Ibadah yang Paling Banyak Pahalanya – Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad

https://youtu.be/Rp92ghldYJw Seseorang yang di tengah menjalankan ibadah puasanya memperbanyak membaca Al-Qur’an serta menadaburi petunjuk-petunjuk di dalamnya, apakah pahalanya setara dengan orang yang lebih banyak menghabiskan waktu puasanya dengan tidur? Keduanya sama-sama sedang berpuasa. Keduanya pun sama-sama telah menunaikan kewajiban. Namun, apakah keduanya mendapatkan nilai pahala yang sama? Terkait hal ini, terdapat sebuah hadis yang dinilai hasan oleh sebagian ulama, sebagaimana dikutip oleh Ibnul Qayyim dalam kitab beliau, Al-Wabil Ash-Shayyib. Beliau menyimpulkan sebuah kaidah yang sangat agung dari hadis tersebut mengenai tingkatan keutamaan dan perbandingan pahala dalam suatu amalan. Dikisahkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya?”Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir kepada Allah.” Lalu ditanyakan, “Siapakah jemaah haji yang paling agung pahalanya?” Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir kepada Allah.” Ditanyakan lagi, “Siapakah jemaah umrah yang paling besar pahalanya?” Beliau kembali menjawab, “Yang paling banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Ath-Thabarani). Ibnul Qayyim merumuskan sebuah kaidah umum dari hadis ini dengan menyatakan, “Orang yang paling agung pahalanya dalam setiap ketaatan adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah saat menjalaninya.” Orang yang paling besar pahalanya dalam ketaatan adalah mereka yang paling banyak berzikir di dalam amalan tersebut. Maka, orang yang paling agung pahalanya dalam ibadah shalat adalah yang paling banyak zikirnya. “Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14). Demikian pula dalam ibadah haji, pahala yang paling besar adalah bagi mereka yang paling banyak berzikir selama manasik haji. Beliau menjelaskan bahwa disyariatkannya tawaf di Baitullah, melempar jamrah, serta sai antara Shafa dan Marwah, tujuannya adalah untuk menegakkan zikir kepada Allah. Semata-mata untuk senantiasa mengingat Allah. Maka orang yang paling besar pahalanya dalam ketaatan-ketaatan tersebut adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah di dalamnya. Demikian pula orang-orang yang berpuasa, yang paling besar pahalanya adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah dalam puasa mereka. Hendaknya seseorang bersemangat untuk memiliki porsi rutin dalam membaca Al-Qur’an, menjaga lisannya agar senantiasa basah dengan zikir kepada Ar-Rahman, serta antusias dalam berdoa, juga meluangkan waktu untuk menuntut ilmu serta mendalami agamanya. Semua ini termasuk bentuk penjagaan terhadap puasa. ===== مَنْ فِي أَثْنَاءِ صِيَامِهِ يُكْثِرُ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَالتَّدَبُّرِ فِي هِدَايَاتِهِ هَلْ أَجْرُهُ مُمَاثِلٌ لِمَنْ يُكْثِرُ فِي صِيَامِهِ مِنَ النَّوْمِ؟ هَذَا الصَّائِمُ وَهَذَا الصَّائِمُ وَهَذَا أَدَّى الْفَرْضَ وَهَذَا أَدَّى الْفَرْضَ لَكِنْ هَلْ هُمَا سَوَاءٌ فِي الْأَجْرِ؟ وَلِهَذَا جَاءَ فِي حَدِيثٍ يُحَسِّنُهُ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ وَأَوْرَدَهُ ابْنُ الْقَيِّمِ فِي كِتَابِهِ الْوَابِلِ الصَّيِّبِ وَاسْتَخْلَصَ مِنْهُ قَاعِدَةً عَظِيمَةً فِي التَّفْضِيلِ وَالْمُفَاضَلَةِ فِي الْأَعْمَالِ وَهُوَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ أَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا قِيلَ: أَيُّ الْحُجَّاجِ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا قِيلَ: أَيُّ الْعُمَّارِ أَكْثَر أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا ابْنُ الْقَيِّمِ أَخَذَ مِنْ هَذَا الْحَدِيثِ قَاعِدَةً جَامِعَةً قَالَ: أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا فَأَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي الصَّلَاةِ أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا أَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي وَالْحَجُّ أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِيهِ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِي الْحَجِّ قَالَ: إِنَّمَا شُرِعَ الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ وَرَمْيُ الْجِمَارِ وَالسَّعْيُ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ مَاذَا؟ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ فَأَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي هَذِهِ الطَّاعَاتِ أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا لِلَّهِ فِيهَا وَهَكَذَا الصُّوَّامُ، أَعْظَمُهُمْ أَجْرًا فِي صِيَامِهِمْ أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا لِلَّهِ فَيَحْرِصِ الْمَرْءُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وِرْدٌ فِي الْقُرْآنِ وَأَنْ يَكُونَ لِسَانُهُ رَطْبًا بِذِكْرِ الرَّحْمنِ وَأَنْ يَحْرِصَ عَلَى الدُّعَاءِ وَأَنْ يَجْعَلَ لَهُ وَقْتًا أَيْضًا فِي الْعِلْمِ وَالتَّفَقُّهِ فِي دِينِهِ فَهَذَا كُلُّهُ دَاخِلٌ فِي حِفْظِ الصِّيَامِ

Rahasia Ibadah yang Paling Banyak Pahalanya – Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad

https://youtu.be/Rp92ghldYJw Seseorang yang di tengah menjalankan ibadah puasanya memperbanyak membaca Al-Qur’an serta menadaburi petunjuk-petunjuk di dalamnya, apakah pahalanya setara dengan orang yang lebih banyak menghabiskan waktu puasanya dengan tidur? Keduanya sama-sama sedang berpuasa. Keduanya pun sama-sama telah menunaikan kewajiban. Namun, apakah keduanya mendapatkan nilai pahala yang sama? Terkait hal ini, terdapat sebuah hadis yang dinilai hasan oleh sebagian ulama, sebagaimana dikutip oleh Ibnul Qayyim dalam kitab beliau, Al-Wabil Ash-Shayyib. Beliau menyimpulkan sebuah kaidah yang sangat agung dari hadis tersebut mengenai tingkatan keutamaan dan perbandingan pahala dalam suatu amalan. Dikisahkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya?”Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir kepada Allah.” Lalu ditanyakan, “Siapakah jemaah haji yang paling agung pahalanya?” Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir kepada Allah.” Ditanyakan lagi, “Siapakah jemaah umrah yang paling besar pahalanya?” Beliau kembali menjawab, “Yang paling banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Ath-Thabarani). Ibnul Qayyim merumuskan sebuah kaidah umum dari hadis ini dengan menyatakan, “Orang yang paling agung pahalanya dalam setiap ketaatan adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah saat menjalaninya.” Orang yang paling besar pahalanya dalam ketaatan adalah mereka yang paling banyak berzikir di dalam amalan tersebut. Maka, orang yang paling agung pahalanya dalam ibadah shalat adalah yang paling banyak zikirnya. “Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14). Demikian pula dalam ibadah haji, pahala yang paling besar adalah bagi mereka yang paling banyak berzikir selama manasik haji. Beliau menjelaskan bahwa disyariatkannya tawaf di Baitullah, melempar jamrah, serta sai antara Shafa dan Marwah, tujuannya adalah untuk menegakkan zikir kepada Allah. Semata-mata untuk senantiasa mengingat Allah. Maka orang yang paling besar pahalanya dalam ketaatan-ketaatan tersebut adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah di dalamnya. Demikian pula orang-orang yang berpuasa, yang paling besar pahalanya adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah dalam puasa mereka. Hendaknya seseorang bersemangat untuk memiliki porsi rutin dalam membaca Al-Qur’an, menjaga lisannya agar senantiasa basah dengan zikir kepada Ar-Rahman, serta antusias dalam berdoa, juga meluangkan waktu untuk menuntut ilmu serta mendalami agamanya. Semua ini termasuk bentuk penjagaan terhadap puasa. ===== مَنْ فِي أَثْنَاءِ صِيَامِهِ يُكْثِرُ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَالتَّدَبُّرِ فِي هِدَايَاتِهِ هَلْ أَجْرُهُ مُمَاثِلٌ لِمَنْ يُكْثِرُ فِي صِيَامِهِ مِنَ النَّوْمِ؟ هَذَا الصَّائِمُ وَهَذَا الصَّائِمُ وَهَذَا أَدَّى الْفَرْضَ وَهَذَا أَدَّى الْفَرْضَ لَكِنْ هَلْ هُمَا سَوَاءٌ فِي الْأَجْرِ؟ وَلِهَذَا جَاءَ فِي حَدِيثٍ يُحَسِّنُهُ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ وَأَوْرَدَهُ ابْنُ الْقَيِّمِ فِي كِتَابِهِ الْوَابِلِ الصَّيِّبِ وَاسْتَخْلَصَ مِنْهُ قَاعِدَةً عَظِيمَةً فِي التَّفْضِيلِ وَالْمُفَاضَلَةِ فِي الْأَعْمَالِ وَهُوَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ أَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا قِيلَ: أَيُّ الْحُجَّاجِ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا قِيلَ: أَيُّ الْعُمَّارِ أَكْثَر أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا ابْنُ الْقَيِّمِ أَخَذَ مِنْ هَذَا الْحَدِيثِ قَاعِدَةً جَامِعَةً قَالَ: أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا فَأَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي الصَّلَاةِ أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا أَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي وَالْحَجُّ أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِيهِ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِي الْحَجِّ قَالَ: إِنَّمَا شُرِعَ الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ وَرَمْيُ الْجِمَارِ وَالسَّعْيُ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ مَاذَا؟ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ فَأَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي هَذِهِ الطَّاعَاتِ أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا لِلَّهِ فِيهَا وَهَكَذَا الصُّوَّامُ، أَعْظَمُهُمْ أَجْرًا فِي صِيَامِهِمْ أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا لِلَّهِ فَيَحْرِصِ الْمَرْءُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وِرْدٌ فِي الْقُرْآنِ وَأَنْ يَكُونَ لِسَانُهُ رَطْبًا بِذِكْرِ الرَّحْمنِ وَأَنْ يَحْرِصَ عَلَى الدُّعَاءِ وَأَنْ يَجْعَلَ لَهُ وَقْتًا أَيْضًا فِي الْعِلْمِ وَالتَّفَقُّهِ فِي دِينِهِ فَهَذَا كُلُّهُ دَاخِلٌ فِي حِفْظِ الصِّيَامِ
https://youtu.be/Rp92ghldYJw Seseorang yang di tengah menjalankan ibadah puasanya memperbanyak membaca Al-Qur’an serta menadaburi petunjuk-petunjuk di dalamnya, apakah pahalanya setara dengan orang yang lebih banyak menghabiskan waktu puasanya dengan tidur? Keduanya sama-sama sedang berpuasa. Keduanya pun sama-sama telah menunaikan kewajiban. Namun, apakah keduanya mendapatkan nilai pahala yang sama? Terkait hal ini, terdapat sebuah hadis yang dinilai hasan oleh sebagian ulama, sebagaimana dikutip oleh Ibnul Qayyim dalam kitab beliau, Al-Wabil Ash-Shayyib. Beliau menyimpulkan sebuah kaidah yang sangat agung dari hadis tersebut mengenai tingkatan keutamaan dan perbandingan pahala dalam suatu amalan. Dikisahkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya?”Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir kepada Allah.” Lalu ditanyakan, “Siapakah jemaah haji yang paling agung pahalanya?” Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir kepada Allah.” Ditanyakan lagi, “Siapakah jemaah umrah yang paling besar pahalanya?” Beliau kembali menjawab, “Yang paling banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Ath-Thabarani). Ibnul Qayyim merumuskan sebuah kaidah umum dari hadis ini dengan menyatakan, “Orang yang paling agung pahalanya dalam setiap ketaatan adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah saat menjalaninya.” Orang yang paling besar pahalanya dalam ketaatan adalah mereka yang paling banyak berzikir di dalam amalan tersebut. Maka, orang yang paling agung pahalanya dalam ibadah shalat adalah yang paling banyak zikirnya. “Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14). Demikian pula dalam ibadah haji, pahala yang paling besar adalah bagi mereka yang paling banyak berzikir selama manasik haji. Beliau menjelaskan bahwa disyariatkannya tawaf di Baitullah, melempar jamrah, serta sai antara Shafa dan Marwah, tujuannya adalah untuk menegakkan zikir kepada Allah. Semata-mata untuk senantiasa mengingat Allah. Maka orang yang paling besar pahalanya dalam ketaatan-ketaatan tersebut adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah di dalamnya. Demikian pula orang-orang yang berpuasa, yang paling besar pahalanya adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah dalam puasa mereka. Hendaknya seseorang bersemangat untuk memiliki porsi rutin dalam membaca Al-Qur’an, menjaga lisannya agar senantiasa basah dengan zikir kepada Ar-Rahman, serta antusias dalam berdoa, juga meluangkan waktu untuk menuntut ilmu serta mendalami agamanya. Semua ini termasuk bentuk penjagaan terhadap puasa. ===== مَنْ فِي أَثْنَاءِ صِيَامِهِ يُكْثِرُ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَالتَّدَبُّرِ فِي هِدَايَاتِهِ هَلْ أَجْرُهُ مُمَاثِلٌ لِمَنْ يُكْثِرُ فِي صِيَامِهِ مِنَ النَّوْمِ؟ هَذَا الصَّائِمُ وَهَذَا الصَّائِمُ وَهَذَا أَدَّى الْفَرْضَ وَهَذَا أَدَّى الْفَرْضَ لَكِنْ هَلْ هُمَا سَوَاءٌ فِي الْأَجْرِ؟ وَلِهَذَا جَاءَ فِي حَدِيثٍ يُحَسِّنُهُ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ وَأَوْرَدَهُ ابْنُ الْقَيِّمِ فِي كِتَابِهِ الْوَابِلِ الصَّيِّبِ وَاسْتَخْلَصَ مِنْهُ قَاعِدَةً عَظِيمَةً فِي التَّفْضِيلِ وَالْمُفَاضَلَةِ فِي الْأَعْمَالِ وَهُوَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ أَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا قِيلَ: أَيُّ الْحُجَّاجِ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا قِيلَ: أَيُّ الْعُمَّارِ أَكْثَر أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا ابْنُ الْقَيِّمِ أَخَذَ مِنْ هَذَا الْحَدِيثِ قَاعِدَةً جَامِعَةً قَالَ: أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا فَأَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي الصَّلَاةِ أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا أَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي وَالْحَجُّ أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِيهِ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِي الْحَجِّ قَالَ: إِنَّمَا شُرِعَ الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ وَرَمْيُ الْجِمَارِ وَالسَّعْيُ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ مَاذَا؟ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ فَأَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي هَذِهِ الطَّاعَاتِ أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا لِلَّهِ فِيهَا وَهَكَذَا الصُّوَّامُ، أَعْظَمُهُمْ أَجْرًا فِي صِيَامِهِمْ أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا لِلَّهِ فَيَحْرِصِ الْمَرْءُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وِرْدٌ فِي الْقُرْآنِ وَأَنْ يَكُونَ لِسَانُهُ رَطْبًا بِذِكْرِ الرَّحْمنِ وَأَنْ يَحْرِصَ عَلَى الدُّعَاءِ وَأَنْ يَجْعَلَ لَهُ وَقْتًا أَيْضًا فِي الْعِلْمِ وَالتَّفَقُّهِ فِي دِينِهِ فَهَذَا كُلُّهُ دَاخِلٌ فِي حِفْظِ الصِّيَامِ


https://youtu.be/Rp92ghldYJw Seseorang yang di tengah menjalankan ibadah puasanya memperbanyak membaca Al-Qur’an serta menadaburi petunjuk-petunjuk di dalamnya, apakah pahalanya setara dengan orang yang lebih banyak menghabiskan waktu puasanya dengan tidur? Keduanya sama-sama sedang berpuasa. Keduanya pun sama-sama telah menunaikan kewajiban. Namun, apakah keduanya mendapatkan nilai pahala yang sama? Terkait hal ini, terdapat sebuah hadis yang dinilai hasan oleh sebagian ulama, sebagaimana dikutip oleh Ibnul Qayyim dalam kitab beliau, Al-Wabil Ash-Shayyib. Beliau menyimpulkan sebuah kaidah yang sangat agung dari hadis tersebut mengenai tingkatan keutamaan dan perbandingan pahala dalam suatu amalan. Dikisahkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya?”Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir kepada Allah.” Lalu ditanyakan, “Siapakah jemaah haji yang paling agung pahalanya?” Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir kepada Allah.” Ditanyakan lagi, “Siapakah jemaah umrah yang paling besar pahalanya?” Beliau kembali menjawab, “Yang paling banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Ath-Thabarani). Ibnul Qayyim merumuskan sebuah kaidah umum dari hadis ini dengan menyatakan, “Orang yang paling agung pahalanya dalam setiap ketaatan adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah saat menjalaninya.” Orang yang paling besar pahalanya dalam ketaatan adalah mereka yang paling banyak berzikir di dalam amalan tersebut. Maka, orang yang paling agung pahalanya dalam ibadah shalat adalah yang paling banyak zikirnya. “Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14). Demikian pula dalam ibadah haji, pahala yang paling besar adalah bagi mereka yang paling banyak berzikir selama manasik haji. Beliau menjelaskan bahwa disyariatkannya tawaf di Baitullah, melempar jamrah, serta sai antara Shafa dan Marwah, tujuannya adalah untuk menegakkan zikir kepada Allah. Semata-mata untuk senantiasa mengingat Allah. Maka orang yang paling besar pahalanya dalam ketaatan-ketaatan tersebut adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah di dalamnya. Demikian pula orang-orang yang berpuasa, yang paling besar pahalanya adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah dalam puasa mereka. Hendaknya seseorang bersemangat untuk memiliki porsi rutin dalam membaca Al-Qur’an, menjaga lisannya agar senantiasa basah dengan zikir kepada Ar-Rahman, serta antusias dalam berdoa, juga meluangkan waktu untuk menuntut ilmu serta mendalami agamanya. Semua ini termasuk bentuk penjagaan terhadap puasa. ===== مَنْ فِي أَثْنَاءِ صِيَامِهِ يُكْثِرُ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَالتَّدَبُّرِ فِي هِدَايَاتِهِ هَلْ أَجْرُهُ مُمَاثِلٌ لِمَنْ يُكْثِرُ فِي صِيَامِهِ مِنَ النَّوْمِ؟ هَذَا الصَّائِمُ وَهَذَا الصَّائِمُ وَهَذَا أَدَّى الْفَرْضَ وَهَذَا أَدَّى الْفَرْضَ لَكِنْ هَلْ هُمَا سَوَاءٌ فِي الْأَجْرِ؟ وَلِهَذَا جَاءَ فِي حَدِيثٍ يُحَسِّنُهُ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ وَأَوْرَدَهُ ابْنُ الْقَيِّمِ فِي كِتَابِهِ الْوَابِلِ الصَّيِّبِ وَاسْتَخْلَصَ مِنْهُ قَاعِدَةً عَظِيمَةً فِي التَّفْضِيلِ وَالْمُفَاضَلَةِ فِي الْأَعْمَالِ وَهُوَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ أَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا قِيلَ: أَيُّ الْحُجَّاجِ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا قِيلَ: أَيُّ الْعُمَّارِ أَكْثَر أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا ابْنُ الْقَيِّمِ أَخَذَ مِنْ هَذَا الْحَدِيثِ قَاعِدَةً جَامِعَةً قَالَ: أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا فَأَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي الصَّلَاةِ أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا أَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي وَالْحَجُّ أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِيهِ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِي الْحَجِّ قَالَ: إِنَّمَا شُرِعَ الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ وَرَمْيُ الْجِمَارِ وَالسَّعْيُ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ مَاذَا؟ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ فَأَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي هَذِهِ الطَّاعَاتِ أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا لِلَّهِ فِيهَا وَهَكَذَا الصُّوَّامُ، أَعْظَمُهُمْ أَجْرًا فِي صِيَامِهِمْ أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا لِلَّهِ فَيَحْرِصِ الْمَرْءُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وِرْدٌ فِي الْقُرْآنِ وَأَنْ يَكُونَ لِسَانُهُ رَطْبًا بِذِكْرِ الرَّحْمنِ وَأَنْ يَحْرِصَ عَلَى الدُّعَاءِ وَأَنْ يَجْعَلَ لَهُ وَقْتًا أَيْضًا فِي الْعِلْمِ وَالتَّفَقُّهِ فِي دِينِهِ فَهَذَا كُلُّهُ دَاخِلٌ فِي حِفْظِ الصِّيَامِ

Kapan Transfer Uang di Masjid Menjadi Haram? Simak Penjelasan Tuntas Syaikh!

https://youtu.be/hwTDgWc5ZLQ Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada Anda. Penanya bertanya: “Apa hukum mentransfer uang melalui m-banking di dalam masjid?” Demi Allah, wahai saudara-saudaraku! Kita sedang berada di zaman yang sangat mengherankan. Banyak orang masuk ke masjid, tapi seolah-olah mereka tidak sedang berada di dalam masjid. Bahkan, saya pernah melihat sendiri, ada orang yang membuka klip-klip video yang ia tonton dari YouTube di dalam masjid. Ia mencari hiburan di antara waktu azan dan iqamah dengan menonton klip-klip film. Video tersebut bukan penjelasan suatu pelajaran atau semacamnya, melainkan murni klip-klip film. Anda juga dapat menyaksikan sebagian orang di masjid sibuk mengikuti berita-berita dunia. Hal ini sama sekali tidak pantas bagi masjid, dan tidak layak dilakukan oleh seorang mukmin saat berada di dalamnya. Sebagian orang zaman sekarang juga melakukan transaksi keuangan di dalam masjid. Ia menjual, membeli, membayar, hingga mentransfer uang. Semua ini tidak diperbolehkan. Sebab, masjid tidak dibangun untuk tujuan tersebut, yakni untuk dijadikan tempat melakukan transaksi keuangan, segala transaksi itu dilarang jika dilakukan di dalam masjid. Namun, jika seseorang melakukan transfer uang untuk saudaranya, bukan transaksi keuangan (jual beli), seperti mengirim uang dari rekening pribadi ke saudara atau ibunya, atau ia sekadar mengirim uang pembayaran sedangkan akad transaksinya telah selesai di luar masjid, atau ia sedang menerima barang padahal kesepakatan jual belinya terjadi di luar masjid, maka hal ini tidak bisa kita katakan hukumnya haram. Tetapi, selayaknya masjid dijaga kesuciannya dari hal-hal duniawi semacam itu. Sepatutnya perbuatan itu tidak dilakukan di dalam masjid. Lagipula, waktu seseorang tidaklah sesempit itu, sampai-sampai ia harus melakukan ini semua di dalam masjid. ===== أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ يَقُولُ مَا حُكْمُ تَحْوِيلِ الْمَالِ لِشَخْصٍ عَبْرَ الْبَنْكِ دَاخِلَ الْمَسْجِدِ وَاللَّهِ يَا إِخْوَةُ نَحْنُ فِي زَمَنٍ عَجِيبٍ النَّاسُ يَدْخُلُونَ الْمَسْجِدَ مَا كَأَنَّهُمْ دَخَلُوا الْمَسْجِدَ حَتَّى رَأَيْتُ مَرَّةً مَنْ يَفْتَحُ مَقَاطِعَ يُشَاهِدُهَا فِي هَذَا الَّذِي يُسَمُّونَهُ الْيُوتِيُوبَ فِي الْمَسْجِدِ يَتَسَلَّى بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ بِمَقَاطِعَ تَمْثِيلِيَّةٍ لَيْسَتْ شَرْحًا لِدَرْسٍ أَوْ كَذَا لَا مَقَاطِعَ تَمْثِيلِيَّةً وَتَرَى يَعْنِي بَعْضَ النَّاسِ فِي الْمَسْجِدِ يَتَتَبَّعُونَ أَخْبَارَ الدُّنْيَا هَذَا مَا يَلِيقُ بِالْمَسَاجِدِ وَلَا يَلِيقُ بِالْمُؤْمِنِ فِي الْمَسْجِدِ وَبَعْضُ النَّاسِ الْآنَ صَارَ يُجْرِي مُعَامَلَاتِهِ الْمَالِيَّةَ فِي الْمَسْجِدِ فَيَبِيعُ وَيَشْتَرِي وَيَدْفَعُ وَيُحَوِّلُ وَكُلُّ هَذَا لَا يَجُوزُ فَإِنَّ الْمَسَاجِدَ لَمْ تُبْنَ لِهَذَا أَنْ تُجْرَى الْمُعَامَلَاتُ الْمَالِيَّةُ فِي دَاخِلِ الْمَسْجِدِ لَا يَجُوزُ لَكِنْ إِذَا كَانَ يُحَوِّلُ لِأَخِيهِ لَيْسَتْ مُعَامَلَةً مَالِيَّةً يُحَوِّلُ مِنْ حِسَابِهِ إِلَى أَخِيهِ أَوْ إِلَى أُمِّهِ أَوْ يَدْفَعُ الثَّمَنَ وَإِلَّا فَالْمُعَامَلَةُ وَقَعَتْ خَارِجَ الْمَسْجِدِ أَوْ يَقْبِضُ السِّلْعَةَ وَإِلَّا فَالْمُعَامَلَةُ كَانَتْ فِي خَارِجِ الْمَسْجِدِ فَهَذَا لَا نَسْتَطِيعُ أَنْ نَقُولَ إِنَّهُ حَرَامٌ لَكِنْ يَنْبَغِي أَنْ يُنَزَّهَ الْمَسْجِدُ عَنْهُ يَنْبَغِي أَنْ يُنَزَّهَ الْمَسْجِدُ عَنْهُ وَمَا ضَاقَ الْوَقْتُ بِالْإِنسَانِ حَتَّى يُجْرِيَ هَذِهِ الْأَشْيَاءَ فِي دَاخِلِ الْمَسْجِدِ

Kapan Transfer Uang di Masjid Menjadi Haram? Simak Penjelasan Tuntas Syaikh!

https://youtu.be/hwTDgWc5ZLQ Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada Anda. Penanya bertanya: “Apa hukum mentransfer uang melalui m-banking di dalam masjid?” Demi Allah, wahai saudara-saudaraku! Kita sedang berada di zaman yang sangat mengherankan. Banyak orang masuk ke masjid, tapi seolah-olah mereka tidak sedang berada di dalam masjid. Bahkan, saya pernah melihat sendiri, ada orang yang membuka klip-klip video yang ia tonton dari YouTube di dalam masjid. Ia mencari hiburan di antara waktu azan dan iqamah dengan menonton klip-klip film. Video tersebut bukan penjelasan suatu pelajaran atau semacamnya, melainkan murni klip-klip film. Anda juga dapat menyaksikan sebagian orang di masjid sibuk mengikuti berita-berita dunia. Hal ini sama sekali tidak pantas bagi masjid, dan tidak layak dilakukan oleh seorang mukmin saat berada di dalamnya. Sebagian orang zaman sekarang juga melakukan transaksi keuangan di dalam masjid. Ia menjual, membeli, membayar, hingga mentransfer uang. Semua ini tidak diperbolehkan. Sebab, masjid tidak dibangun untuk tujuan tersebut, yakni untuk dijadikan tempat melakukan transaksi keuangan, segala transaksi itu dilarang jika dilakukan di dalam masjid. Namun, jika seseorang melakukan transfer uang untuk saudaranya, bukan transaksi keuangan (jual beli), seperti mengirim uang dari rekening pribadi ke saudara atau ibunya, atau ia sekadar mengirim uang pembayaran sedangkan akad transaksinya telah selesai di luar masjid, atau ia sedang menerima barang padahal kesepakatan jual belinya terjadi di luar masjid, maka hal ini tidak bisa kita katakan hukumnya haram. Tetapi, selayaknya masjid dijaga kesuciannya dari hal-hal duniawi semacam itu. Sepatutnya perbuatan itu tidak dilakukan di dalam masjid. Lagipula, waktu seseorang tidaklah sesempit itu, sampai-sampai ia harus melakukan ini semua di dalam masjid. ===== أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ يَقُولُ مَا حُكْمُ تَحْوِيلِ الْمَالِ لِشَخْصٍ عَبْرَ الْبَنْكِ دَاخِلَ الْمَسْجِدِ وَاللَّهِ يَا إِخْوَةُ نَحْنُ فِي زَمَنٍ عَجِيبٍ النَّاسُ يَدْخُلُونَ الْمَسْجِدَ مَا كَأَنَّهُمْ دَخَلُوا الْمَسْجِدَ حَتَّى رَأَيْتُ مَرَّةً مَنْ يَفْتَحُ مَقَاطِعَ يُشَاهِدُهَا فِي هَذَا الَّذِي يُسَمُّونَهُ الْيُوتِيُوبَ فِي الْمَسْجِدِ يَتَسَلَّى بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ بِمَقَاطِعَ تَمْثِيلِيَّةٍ لَيْسَتْ شَرْحًا لِدَرْسٍ أَوْ كَذَا لَا مَقَاطِعَ تَمْثِيلِيَّةً وَتَرَى يَعْنِي بَعْضَ النَّاسِ فِي الْمَسْجِدِ يَتَتَبَّعُونَ أَخْبَارَ الدُّنْيَا هَذَا مَا يَلِيقُ بِالْمَسَاجِدِ وَلَا يَلِيقُ بِالْمُؤْمِنِ فِي الْمَسْجِدِ وَبَعْضُ النَّاسِ الْآنَ صَارَ يُجْرِي مُعَامَلَاتِهِ الْمَالِيَّةَ فِي الْمَسْجِدِ فَيَبِيعُ وَيَشْتَرِي وَيَدْفَعُ وَيُحَوِّلُ وَكُلُّ هَذَا لَا يَجُوزُ فَإِنَّ الْمَسَاجِدَ لَمْ تُبْنَ لِهَذَا أَنْ تُجْرَى الْمُعَامَلَاتُ الْمَالِيَّةُ فِي دَاخِلِ الْمَسْجِدِ لَا يَجُوزُ لَكِنْ إِذَا كَانَ يُحَوِّلُ لِأَخِيهِ لَيْسَتْ مُعَامَلَةً مَالِيَّةً يُحَوِّلُ مِنْ حِسَابِهِ إِلَى أَخِيهِ أَوْ إِلَى أُمِّهِ أَوْ يَدْفَعُ الثَّمَنَ وَإِلَّا فَالْمُعَامَلَةُ وَقَعَتْ خَارِجَ الْمَسْجِدِ أَوْ يَقْبِضُ السِّلْعَةَ وَإِلَّا فَالْمُعَامَلَةُ كَانَتْ فِي خَارِجِ الْمَسْجِدِ فَهَذَا لَا نَسْتَطِيعُ أَنْ نَقُولَ إِنَّهُ حَرَامٌ لَكِنْ يَنْبَغِي أَنْ يُنَزَّهَ الْمَسْجِدُ عَنْهُ يَنْبَغِي أَنْ يُنَزَّهَ الْمَسْجِدُ عَنْهُ وَمَا ضَاقَ الْوَقْتُ بِالْإِنسَانِ حَتَّى يُجْرِيَ هَذِهِ الْأَشْيَاءَ فِي دَاخِلِ الْمَسْجِدِ
https://youtu.be/hwTDgWc5ZLQ Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada Anda. Penanya bertanya: “Apa hukum mentransfer uang melalui m-banking di dalam masjid?” Demi Allah, wahai saudara-saudaraku! Kita sedang berada di zaman yang sangat mengherankan. Banyak orang masuk ke masjid, tapi seolah-olah mereka tidak sedang berada di dalam masjid. Bahkan, saya pernah melihat sendiri, ada orang yang membuka klip-klip video yang ia tonton dari YouTube di dalam masjid. Ia mencari hiburan di antara waktu azan dan iqamah dengan menonton klip-klip film. Video tersebut bukan penjelasan suatu pelajaran atau semacamnya, melainkan murni klip-klip film. Anda juga dapat menyaksikan sebagian orang di masjid sibuk mengikuti berita-berita dunia. Hal ini sama sekali tidak pantas bagi masjid, dan tidak layak dilakukan oleh seorang mukmin saat berada di dalamnya. Sebagian orang zaman sekarang juga melakukan transaksi keuangan di dalam masjid. Ia menjual, membeli, membayar, hingga mentransfer uang. Semua ini tidak diperbolehkan. Sebab, masjid tidak dibangun untuk tujuan tersebut, yakni untuk dijadikan tempat melakukan transaksi keuangan, segala transaksi itu dilarang jika dilakukan di dalam masjid. Namun, jika seseorang melakukan transfer uang untuk saudaranya, bukan transaksi keuangan (jual beli), seperti mengirim uang dari rekening pribadi ke saudara atau ibunya, atau ia sekadar mengirim uang pembayaran sedangkan akad transaksinya telah selesai di luar masjid, atau ia sedang menerima barang padahal kesepakatan jual belinya terjadi di luar masjid, maka hal ini tidak bisa kita katakan hukumnya haram. Tetapi, selayaknya masjid dijaga kesuciannya dari hal-hal duniawi semacam itu. Sepatutnya perbuatan itu tidak dilakukan di dalam masjid. Lagipula, waktu seseorang tidaklah sesempit itu, sampai-sampai ia harus melakukan ini semua di dalam masjid. ===== أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ يَقُولُ مَا حُكْمُ تَحْوِيلِ الْمَالِ لِشَخْصٍ عَبْرَ الْبَنْكِ دَاخِلَ الْمَسْجِدِ وَاللَّهِ يَا إِخْوَةُ نَحْنُ فِي زَمَنٍ عَجِيبٍ النَّاسُ يَدْخُلُونَ الْمَسْجِدَ مَا كَأَنَّهُمْ دَخَلُوا الْمَسْجِدَ حَتَّى رَأَيْتُ مَرَّةً مَنْ يَفْتَحُ مَقَاطِعَ يُشَاهِدُهَا فِي هَذَا الَّذِي يُسَمُّونَهُ الْيُوتِيُوبَ فِي الْمَسْجِدِ يَتَسَلَّى بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ بِمَقَاطِعَ تَمْثِيلِيَّةٍ لَيْسَتْ شَرْحًا لِدَرْسٍ أَوْ كَذَا لَا مَقَاطِعَ تَمْثِيلِيَّةً وَتَرَى يَعْنِي بَعْضَ النَّاسِ فِي الْمَسْجِدِ يَتَتَبَّعُونَ أَخْبَارَ الدُّنْيَا هَذَا مَا يَلِيقُ بِالْمَسَاجِدِ وَلَا يَلِيقُ بِالْمُؤْمِنِ فِي الْمَسْجِدِ وَبَعْضُ النَّاسِ الْآنَ صَارَ يُجْرِي مُعَامَلَاتِهِ الْمَالِيَّةَ فِي الْمَسْجِدِ فَيَبِيعُ وَيَشْتَرِي وَيَدْفَعُ وَيُحَوِّلُ وَكُلُّ هَذَا لَا يَجُوزُ فَإِنَّ الْمَسَاجِدَ لَمْ تُبْنَ لِهَذَا أَنْ تُجْرَى الْمُعَامَلَاتُ الْمَالِيَّةُ فِي دَاخِلِ الْمَسْجِدِ لَا يَجُوزُ لَكِنْ إِذَا كَانَ يُحَوِّلُ لِأَخِيهِ لَيْسَتْ مُعَامَلَةً مَالِيَّةً يُحَوِّلُ مِنْ حِسَابِهِ إِلَى أَخِيهِ أَوْ إِلَى أُمِّهِ أَوْ يَدْفَعُ الثَّمَنَ وَإِلَّا فَالْمُعَامَلَةُ وَقَعَتْ خَارِجَ الْمَسْجِدِ أَوْ يَقْبِضُ السِّلْعَةَ وَإِلَّا فَالْمُعَامَلَةُ كَانَتْ فِي خَارِجِ الْمَسْجِدِ فَهَذَا لَا نَسْتَطِيعُ أَنْ نَقُولَ إِنَّهُ حَرَامٌ لَكِنْ يَنْبَغِي أَنْ يُنَزَّهَ الْمَسْجِدُ عَنْهُ يَنْبَغِي أَنْ يُنَزَّهَ الْمَسْجِدُ عَنْهُ وَمَا ضَاقَ الْوَقْتُ بِالْإِنسَانِ حَتَّى يُجْرِيَ هَذِهِ الْأَشْيَاءَ فِي دَاخِلِ الْمَسْجِدِ


https://youtu.be/hwTDgWc5ZLQ Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada Anda. Penanya bertanya: “Apa hukum mentransfer uang melalui m-banking di dalam masjid?” Demi Allah, wahai saudara-saudaraku! Kita sedang berada di zaman yang sangat mengherankan. Banyak orang masuk ke masjid, tapi seolah-olah mereka tidak sedang berada di dalam masjid. Bahkan, saya pernah melihat sendiri, ada orang yang membuka klip-klip video yang ia tonton dari YouTube di dalam masjid. Ia mencari hiburan di antara waktu azan dan iqamah dengan menonton klip-klip film. Video tersebut bukan penjelasan suatu pelajaran atau semacamnya, melainkan murni klip-klip film. Anda juga dapat menyaksikan sebagian orang di masjid sibuk mengikuti berita-berita dunia. Hal ini sama sekali tidak pantas bagi masjid, dan tidak layak dilakukan oleh seorang mukmin saat berada di dalamnya. Sebagian orang zaman sekarang juga melakukan transaksi keuangan di dalam masjid. Ia menjual, membeli, membayar, hingga mentransfer uang. Semua ini tidak diperbolehkan. Sebab, masjid tidak dibangun untuk tujuan tersebut, yakni untuk dijadikan tempat melakukan transaksi keuangan, segala transaksi itu dilarang jika dilakukan di dalam masjid. Namun, jika seseorang melakukan transfer uang untuk saudaranya, bukan transaksi keuangan (jual beli), seperti mengirim uang dari rekening pribadi ke saudara atau ibunya, atau ia sekadar mengirim uang pembayaran sedangkan akad transaksinya telah selesai di luar masjid, atau ia sedang menerima barang padahal kesepakatan jual belinya terjadi di luar masjid, maka hal ini tidak bisa kita katakan hukumnya haram. Tetapi, selayaknya masjid dijaga kesuciannya dari hal-hal duniawi semacam itu. Sepatutnya perbuatan itu tidak dilakukan di dalam masjid. Lagipula, waktu seseorang tidaklah sesempit itu, sampai-sampai ia harus melakukan ini semua di dalam masjid. ===== أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ يَقُولُ مَا حُكْمُ تَحْوِيلِ الْمَالِ لِشَخْصٍ عَبْرَ الْبَنْكِ دَاخِلَ الْمَسْجِدِ وَاللَّهِ يَا إِخْوَةُ نَحْنُ فِي زَمَنٍ عَجِيبٍ النَّاسُ يَدْخُلُونَ الْمَسْجِدَ مَا كَأَنَّهُمْ دَخَلُوا الْمَسْجِدَ حَتَّى رَأَيْتُ مَرَّةً مَنْ يَفْتَحُ مَقَاطِعَ يُشَاهِدُهَا فِي هَذَا الَّذِي يُسَمُّونَهُ الْيُوتِيُوبَ فِي الْمَسْجِدِ يَتَسَلَّى بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ بِمَقَاطِعَ تَمْثِيلِيَّةٍ لَيْسَتْ شَرْحًا لِدَرْسٍ أَوْ كَذَا لَا مَقَاطِعَ تَمْثِيلِيَّةً وَتَرَى يَعْنِي بَعْضَ النَّاسِ فِي الْمَسْجِدِ يَتَتَبَّعُونَ أَخْبَارَ الدُّنْيَا هَذَا مَا يَلِيقُ بِالْمَسَاجِدِ وَلَا يَلِيقُ بِالْمُؤْمِنِ فِي الْمَسْجِدِ وَبَعْضُ النَّاسِ الْآنَ صَارَ يُجْرِي مُعَامَلَاتِهِ الْمَالِيَّةَ فِي الْمَسْجِدِ فَيَبِيعُ وَيَشْتَرِي وَيَدْفَعُ وَيُحَوِّلُ وَكُلُّ هَذَا لَا يَجُوزُ فَإِنَّ الْمَسَاجِدَ لَمْ تُبْنَ لِهَذَا أَنْ تُجْرَى الْمُعَامَلَاتُ الْمَالِيَّةُ فِي دَاخِلِ الْمَسْجِدِ لَا يَجُوزُ لَكِنْ إِذَا كَانَ يُحَوِّلُ لِأَخِيهِ لَيْسَتْ مُعَامَلَةً مَالِيَّةً يُحَوِّلُ مِنْ حِسَابِهِ إِلَى أَخِيهِ أَوْ إِلَى أُمِّهِ أَوْ يَدْفَعُ الثَّمَنَ وَإِلَّا فَالْمُعَامَلَةُ وَقَعَتْ خَارِجَ الْمَسْجِدِ أَوْ يَقْبِضُ السِّلْعَةَ وَإِلَّا فَالْمُعَامَلَةُ كَانَتْ فِي خَارِجِ الْمَسْجِدِ فَهَذَا لَا نَسْتَطِيعُ أَنْ نَقُولَ إِنَّهُ حَرَامٌ لَكِنْ يَنْبَغِي أَنْ يُنَزَّهَ الْمَسْجِدُ عَنْهُ يَنْبَغِي أَنْ يُنَزَّهَ الْمَسْجِدُ عَنْهُ وَمَا ضَاقَ الْوَقْتُ بِالْإِنسَانِ حَتَّى يُجْرِيَ هَذِهِ الْأَشْيَاءَ فِي دَاخِلِ الْمَسْجِدِ

Fatwa Ulama: Kewajiban Berpuasa dan Berhari Raya Bersama Kaum Muslimin

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Apakah boleh seseorang berbuka sebelum adzan karena menganggap adzan belum dikumandangkan tepat sesuai waktu yang sebenarnya?Jazakumullahu khairan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, juga kepada keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’dua:Perlu dibedakan antara puasa Ramadhan (yang bersifat bersama/jamaah) dan puasa wajib atau sunnah yang dilakukan secara individu.Adapun puasa wajib yang dilakukan secara bersama (seperti Ramadhan), maka seorang muslim hendaknya berpuasa dan berbuka bersama masyarakat dan pemimpin mereka, berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَPuasa adalah pada hari kalian semua berpuasa, berbuka adalah pada hari kalian semua berbuka, dan Idul Adha adalah pada hari kalian semua berkurban.[1]Hadits tersebut menegaskan bahwa puasa, berbuka, dan berkurban harus dilakukan bersama jamaah dan mayoritas kaum muslimin — baik dalam penetapan awal Ramadhan dan hari raya, maupun dalam menentukan waktu berbuka (terbenam matahari) dan mulai puasa (terbit fajar). Karena itu, setiap orang harus mengikuti imam dan jamaah dalam masalah ini, dan tidak boleh mengambil keputusan sendiri-sendiri. Tujuannya agar umat tetap bersatu, barisan tetap rapi, dan terhindar dari pendapat pribadi yang bisa memecah belah. Sebab,يَد اللهِ مَعَ الجَمَاعَةِ“tangan Allah itu bersama jamaah”.[2]Adapun puasa wajib (selain Ramadhan) dan puasa sunnah yang dilakukan secara pribadi, maka penentuannya kembali kepada masing-masing orang, berdasarkan masuknya waktu Maghrib atau terbitnya fajar, sesuai dengan firman Allah Ta‘ala.وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلۡخَيۡطُ ٱلۡأَبۡيَضُ مِنَ ٱلۡخَيۡطِ ٱلۡأَسۡوَدِ مِنَ ٱلۡفَجۡرِ“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar”. (QS. Al-Baqarah: 187)Dan berdasarkan sabda Nabi shallallahualaihi wa sallam:إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَاهُنَا، وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَاهُنَا، وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ؛ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُJika malam telah datang dari arah sini, siang telah pergi dari arah sana, dan matahari telah terbenam, maka orang yang berpuasa telah berbuka.[3]Dan dalam masalah ini masih ada hadits-hadits lain yang mendukungnya.Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari Kiamat.Baca juga:Puasa dan Berhari Raya Bersama PemerintahRenungan Menjelang Idul Fitri***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel muslim.or.idSumber: ferkous.app Catatan Kaki:[1] Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh Al-Albani dan juga oleh Al-Arna’uth[2] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Kitab Al-Fitan, bab Anjuran untuk tetap bersama jamaah no. 2166, dari hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami‘ no. 8065[3] Hadits ini muttafaq ‘alaih: diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Kitab Puasa, bab “Kapan orang yang berpuasa boleh berbuka?” no. 1954, dan oleh Muslim dalam Kitab Puasa no. 1100, dari hadits Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu

Fatwa Ulama: Kewajiban Berpuasa dan Berhari Raya Bersama Kaum Muslimin

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Apakah boleh seseorang berbuka sebelum adzan karena menganggap adzan belum dikumandangkan tepat sesuai waktu yang sebenarnya?Jazakumullahu khairan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, juga kepada keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’dua:Perlu dibedakan antara puasa Ramadhan (yang bersifat bersama/jamaah) dan puasa wajib atau sunnah yang dilakukan secara individu.Adapun puasa wajib yang dilakukan secara bersama (seperti Ramadhan), maka seorang muslim hendaknya berpuasa dan berbuka bersama masyarakat dan pemimpin mereka, berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَPuasa adalah pada hari kalian semua berpuasa, berbuka adalah pada hari kalian semua berbuka, dan Idul Adha adalah pada hari kalian semua berkurban.[1]Hadits tersebut menegaskan bahwa puasa, berbuka, dan berkurban harus dilakukan bersama jamaah dan mayoritas kaum muslimin — baik dalam penetapan awal Ramadhan dan hari raya, maupun dalam menentukan waktu berbuka (terbenam matahari) dan mulai puasa (terbit fajar). Karena itu, setiap orang harus mengikuti imam dan jamaah dalam masalah ini, dan tidak boleh mengambil keputusan sendiri-sendiri. Tujuannya agar umat tetap bersatu, barisan tetap rapi, dan terhindar dari pendapat pribadi yang bisa memecah belah. Sebab,يَد اللهِ مَعَ الجَمَاعَةِ“tangan Allah itu bersama jamaah”.[2]Adapun puasa wajib (selain Ramadhan) dan puasa sunnah yang dilakukan secara pribadi, maka penentuannya kembali kepada masing-masing orang, berdasarkan masuknya waktu Maghrib atau terbitnya fajar, sesuai dengan firman Allah Ta‘ala.وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلۡخَيۡطُ ٱلۡأَبۡيَضُ مِنَ ٱلۡخَيۡطِ ٱلۡأَسۡوَدِ مِنَ ٱلۡفَجۡرِ“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar”. (QS. Al-Baqarah: 187)Dan berdasarkan sabda Nabi shallallahualaihi wa sallam:إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَاهُنَا، وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَاهُنَا، وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ؛ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُJika malam telah datang dari arah sini, siang telah pergi dari arah sana, dan matahari telah terbenam, maka orang yang berpuasa telah berbuka.[3]Dan dalam masalah ini masih ada hadits-hadits lain yang mendukungnya.Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari Kiamat.Baca juga:Puasa dan Berhari Raya Bersama PemerintahRenungan Menjelang Idul Fitri***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel muslim.or.idSumber: ferkous.app Catatan Kaki:[1] Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh Al-Albani dan juga oleh Al-Arna’uth[2] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Kitab Al-Fitan, bab Anjuran untuk tetap bersama jamaah no. 2166, dari hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami‘ no. 8065[3] Hadits ini muttafaq ‘alaih: diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Kitab Puasa, bab “Kapan orang yang berpuasa boleh berbuka?” no. 1954, dan oleh Muslim dalam Kitab Puasa no. 1100, dari hadits Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu
Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Apakah boleh seseorang berbuka sebelum adzan karena menganggap adzan belum dikumandangkan tepat sesuai waktu yang sebenarnya?Jazakumullahu khairan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, juga kepada keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’dua:Perlu dibedakan antara puasa Ramadhan (yang bersifat bersama/jamaah) dan puasa wajib atau sunnah yang dilakukan secara individu.Adapun puasa wajib yang dilakukan secara bersama (seperti Ramadhan), maka seorang muslim hendaknya berpuasa dan berbuka bersama masyarakat dan pemimpin mereka, berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَPuasa adalah pada hari kalian semua berpuasa, berbuka adalah pada hari kalian semua berbuka, dan Idul Adha adalah pada hari kalian semua berkurban.[1]Hadits tersebut menegaskan bahwa puasa, berbuka, dan berkurban harus dilakukan bersama jamaah dan mayoritas kaum muslimin — baik dalam penetapan awal Ramadhan dan hari raya, maupun dalam menentukan waktu berbuka (terbenam matahari) dan mulai puasa (terbit fajar). Karena itu, setiap orang harus mengikuti imam dan jamaah dalam masalah ini, dan tidak boleh mengambil keputusan sendiri-sendiri. Tujuannya agar umat tetap bersatu, barisan tetap rapi, dan terhindar dari pendapat pribadi yang bisa memecah belah. Sebab,يَد اللهِ مَعَ الجَمَاعَةِ“tangan Allah itu bersama jamaah”.[2]Adapun puasa wajib (selain Ramadhan) dan puasa sunnah yang dilakukan secara pribadi, maka penentuannya kembali kepada masing-masing orang, berdasarkan masuknya waktu Maghrib atau terbitnya fajar, sesuai dengan firman Allah Ta‘ala.وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلۡخَيۡطُ ٱلۡأَبۡيَضُ مِنَ ٱلۡخَيۡطِ ٱلۡأَسۡوَدِ مِنَ ٱلۡفَجۡرِ“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar”. (QS. Al-Baqarah: 187)Dan berdasarkan sabda Nabi shallallahualaihi wa sallam:إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَاهُنَا، وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَاهُنَا، وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ؛ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُJika malam telah datang dari arah sini, siang telah pergi dari arah sana, dan matahari telah terbenam, maka orang yang berpuasa telah berbuka.[3]Dan dalam masalah ini masih ada hadits-hadits lain yang mendukungnya.Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari Kiamat.Baca juga:Puasa dan Berhari Raya Bersama PemerintahRenungan Menjelang Idul Fitri***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel muslim.or.idSumber: ferkous.app Catatan Kaki:[1] Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh Al-Albani dan juga oleh Al-Arna’uth[2] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Kitab Al-Fitan, bab Anjuran untuk tetap bersama jamaah no. 2166, dari hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami‘ no. 8065[3] Hadits ini muttafaq ‘alaih: diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Kitab Puasa, bab “Kapan orang yang berpuasa boleh berbuka?” no. 1954, dan oleh Muslim dalam Kitab Puasa no. 1100, dari hadits Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu


Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Apakah boleh seseorang berbuka sebelum adzan karena menganggap adzan belum dikumandangkan tepat sesuai waktu yang sebenarnya?Jazakumullahu khairan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, juga kepada keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’dua:Perlu dibedakan antara puasa Ramadhan (yang bersifat bersama/jamaah) dan puasa wajib atau sunnah yang dilakukan secara individu.Adapun puasa wajib yang dilakukan secara bersama (seperti Ramadhan), maka seorang muslim hendaknya berpuasa dan berbuka bersama masyarakat dan pemimpin mereka, berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَPuasa adalah pada hari kalian semua berpuasa, berbuka adalah pada hari kalian semua berbuka, dan Idul Adha adalah pada hari kalian semua berkurban.[1]Hadits tersebut menegaskan bahwa puasa, berbuka, dan berkurban harus dilakukan bersama jamaah dan mayoritas kaum muslimin — baik dalam penetapan awal Ramadhan dan hari raya, maupun dalam menentukan waktu berbuka (terbenam matahari) dan mulai puasa (terbit fajar). Karena itu, setiap orang harus mengikuti imam dan jamaah dalam masalah ini, dan tidak boleh mengambil keputusan sendiri-sendiri. Tujuannya agar umat tetap bersatu, barisan tetap rapi, dan terhindar dari pendapat pribadi yang bisa memecah belah. Sebab,يَد اللهِ مَعَ الجَمَاعَةِ“tangan Allah itu bersama jamaah”.[2]Adapun puasa wajib (selain Ramadhan) dan puasa sunnah yang dilakukan secara pribadi, maka penentuannya kembali kepada masing-masing orang, berdasarkan masuknya waktu Maghrib atau terbitnya fajar, sesuai dengan firman Allah Ta‘ala.وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلۡخَيۡطُ ٱلۡأَبۡيَضُ مِنَ ٱلۡخَيۡطِ ٱلۡأَسۡوَدِ مِنَ ٱلۡفَجۡرِ“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar”. (QS. Al-Baqarah: 187)Dan berdasarkan sabda Nabi shallallahualaihi wa sallam:إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَاهُنَا، وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَاهُنَا، وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ؛ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُJika malam telah datang dari arah sini, siang telah pergi dari arah sana, dan matahari telah terbenam, maka orang yang berpuasa telah berbuka.[3]Dan dalam masalah ini masih ada hadits-hadits lain yang mendukungnya.Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari Kiamat.Baca juga:Puasa dan Berhari Raya Bersama PemerintahRenungan Menjelang Idul Fitri***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel muslim.or.idSumber: ferkous.app Catatan Kaki:[1] Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh Al-Albani dan juga oleh Al-Arna’uth[2] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Kitab Al-Fitan, bab Anjuran untuk tetap bersama jamaah no. 2166, dari hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami‘ no. 8065[3] Hadits ini muttafaq ‘alaih: diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Kitab Puasa, bab “Kapan orang yang berpuasa boleh berbuka?” no. 1954, dan oleh Muslim dalam Kitab Puasa no. 1100, dari hadits Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu

Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail: Ujian Cinta kepada Allah yang Menggetarkan Hati

Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika diperintahkan menyembelih putranya, Ismail, adalah salah satu kisah paling agung dalam Al-Qur’an. Kisah ini menunjukkan betapa besar cinta seorang hamba kepada Allah sehingga ia mendahulukan perintah-Nya di atas segalanya. Dari peristiwa ini kita belajar tentang keimanan, ketundukan, kesabaran, dan keikhlasan yang luar biasa.Baca juga: Pelajaran dari Kisah Nabi Ibrahim Menyembelih Ismail  Daftar Isi tutup 1. Hijrah Nabi Ibrahim karena Tauhid 2. Doa Nabi Ibrahim Meminta Anak yang Saleh 3. Kabar Gembira Kelahiran Nabi Ismail 4. Perintah Menyembelih Ismail dalam Mimpi 5. Ketundukan Ibrahim dan Kesabaran Ismail 6. Allah Menghentikan Penyembelihan 7. Ujian Besar yang Mengungkap Cinta kepada Allah 8. Asal Syariat Qurban 9. Pujian Abadi untuk Nabi Ibrahim 10. Balasan bagi Orang yang Berbuat Ihsan 11. Nasihat Penutup  Hijrah Nabi Ibrahim karena TauhidAllah Ta’ala berfirman,وَقَالَ إِنِّى ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّى سَيَهْدِينِ“Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. As-Saffat: 99)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya: Ketika mereka melakukan tindakan tersebut terhadapnya, sementara Ibrahim telah menegakkan hujah kepada mereka dan telah menyampaikan alasan yang jelas, maka ia berkata, “Sesungguhnya aku akan pergi menuju Tuhanku,” yaitu berhijrah kepada-Nya dengan menuju negeri yang diberkahi, yaitu negeri Syam. “Dia pasti akan memberi petunjuk kepadaku,” yakni menunjukkan kepadaku jalan yang di dalamnya terdapat kebaikan bagi urusan agama dan duniaku. Dalam ayat lain beliau berkata,وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدْعُوا۟ رَبِّى عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّى شَقِيًّا“Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku”.” (QS. Maryam: 48) Doa Nabi Ibrahim Meminta Anak yang SalehAllah Ta’ala berfirman,رَبِّ هَبْ لِى مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ“Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. As-Saffat: 100)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Maksudnya, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang saleh. Ketika Ibrahim telah berputus asa dari kaumnya dan tidak melihat kebaikan pada mereka, ia berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak laki-laki yang saleh, yang dapat memberi manfaat dalam kehidupannya dan setelah wafatnya. Kabar Gembira Kelahiran Nabi IsmailAllah Ta’ala berfirman,فَبَشَّرْنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٍ“Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.” (QS. As-Saffat: 101)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Allah pun mengabulkan doanya dan berfirman, “Lalu Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang sangat penyantun.” Anak tersebut adalah Ismail ‘alaihis salam tanpa keraguan. Setelah itu disebutkan kabar gembira tentang Ishaq. Allah berfirman dalam kabar gembira tentang Ishaq,وَٱمْرَأَتُهُۥ قَآئِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَٰهَا بِإِسْحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسْحَٰقَ يَعْقُوبَ“Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya’qub.” (QS. Hud: 71)Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang diperintahkan untuk disembelih. Allah menyifati Ismail dengan sifat halim (penyantun), yang mencakup kesabaran, akhlak yang baik, kelapangan dada, dan sikap memaafkan orang yang berbuat salah. Perintah Menyembelih Ismail dalam MimpiAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.” (QS. As-Saffat: 102)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ketika anak itu telah mencapai usia yang memungkinkan ia membantu ayahnya dan menjadi usia yang biasanya paling dicintai oleh kedua orang tuanya—karena kesulitannya telah berlalu dan manfaatnya mulai tampak—maka Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.” Maksudnya, ia melihat dalam mimpi bahwa Allah memerintahkannya untuk menyembelihnya. Mimpi para nabi adalah wahyu.Kemudian ia berkata, “Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.” Karena perintah Allah pasti harus dilaksanakan.Ismail menjawab dengan penuh kesabaran, mengharap pahala, ridha kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Ia memberitahukan kepada ayahnya bahwa dirinya telah menyiapkan diri untuk bersabar. Ia juga mengaitkannya dengan kehendak Allah, karena tidak ada sesuatu pun yang terjadi tanpa kehendak-Nya.Baca juga: Yang Disembelih adalah Ishak, Bukan Ismail? Ketundukan Ibrahim dan Kesabaran IsmailAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّآ أَسْلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلْجَبِينِ“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).” (QS. As-Saffat: 103)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ketika Ibrahim dan putranya Ismail sama-sama berserah diri kepada perintah Allah, Ibrahim telah bertekad menyembelih anaknya—buah hatinya—dalam rangka menaati perintah Tuhannya dan karena takut akan azab-Nya. Sementara sang anak telah menyiapkan diri untuk bersabar, dan hal itu menjadi ringan baginya demi menaati Tuhannya dan menyenangkan ayahnya.“Dan Ibrahim membaringkannya di atas pelipisnya,” yaitu Ibrahim membaringkan Ismail dengan wajah menghadap ke bawah agar ia dapat menyembelihnya, sehingga ia tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. Allah Menghentikan PenyembelihanAllah Ta’ala berfirman,وَنَٰدَيْنَٰهُ أَن يَٰٓإِبْرَٰهِيمُ“Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim.” (QS. As-Saffat: 104)قَدْ صَدَّقْتَ ٱلرُّءْيَآ ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ“sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. As-Saffat: 105)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Pada saat yang sangat menegangkan dan menggetarkan itu, Allah memanggilnya, “Wahai Ibrahim! Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu,” yaitu engkau telah melakukan apa yang diperintahkan kepadamu. Engkau telah menyiapkan dirimu untuk melaksanakannya dan telah melakukan semua sebabnya. Yang tersisa hanyalah menjalankan pisau di leher anakmu.“Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik,” yaitu mereka yang mendahulukan keridaan Allah daripada keinginan diri mereka. Ujian Besar yang Mengungkap Cinta kepada AllahAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلْبَلَٰٓؤُا۟ ٱلْمُبِينُ“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS. As-Saffat: 106)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ujian yang Allah berikan kepada Ibrahim ini adalah ujian yang sangat jelas, yang menampakkan kemurnian dirinya serta kesempurnaan cintanya kepada Allah. Ismail adalah anak yang sangat dicintainya, sedangkan Ibrahim adalah Khalilur Rahman, kekasih Allah. Tingkatan khullah adalah tingkatan cinta yang paling tinggi dan tidak menerima sekutu.Ketika sebagian hatinya terikat kepada anaknya, Allah ingin memurnikan cintanya dan menguji kedudukannya sebagai khalil. Maka Allah memerintahkannya untuk menyembelih sesuatu yang bersaing dengan kecintaannya kepada Allah.Ketika Ibrahim lebih mendahulukan cinta kepada Allah daripada keinginan dirinya dan telah bertekad menyembelih anaknya, maka hilanglah penghalang dalam hatinya. Karena itu penyembelihan tersebut tidak lagi diperlukan. Itulah sebabnya Allah berfirman, “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” Asal Syariat QurbanAllah Ta’ala berfirman,وَفَدَيْنَٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. As-Saffat: 107)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Maksudnya, Allah menggantinya dengan seekor sembelihan dari kambing yang besar, yang disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan itu disebut besar karena menjadi tebusan bagi Ismail, karena termasuk ibadah yang agung, dan karena ia menjadi qurban serta sunnah yang terus berlangsung hingga hari kiamat.Baca juga: Ketentuan dan Hikmah Ibadah Qurban Pujian Abadi untuk Nabi IbrahimAllah Ta’ala berfirman,وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى ٱلْءَاخِرِينَ“Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.” (QS. As-Saffat: 108)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Artinya, Allah menetapkan bagi Ibrahim pujian yang baik di kalangan generasi setelahnya, sebagaimana ia juga dipuji oleh generasi sebelumnya. Setiap zaman setelah Ibrahim, ia selalu dicintai, dimuliakan, dan dipuji.Allah Ta’ala berfirman,سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبْرَٰهِيمَ“(yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”.” (QS. As-Saffat: 109)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ini adalah bentuk penghormatan dan doa keselamatan untuknya, sebagaimana firman Allah,قُلِ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصْطَفَىٰٓ ۗ ءَآللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ“Katakanlah: “Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya.” (QS. An-Naml: 59) Balasan bagi Orang yang Berbuat IhsanAllah Ta’ala berfirman,كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ“Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. As-Saffat: 110)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Maksudnya, dalam beribadah kepada Allah dan dalam memperlakukan sesama manusia, Allah memberikan balasan kepada mereka dengan menghilangkan kesulitan dari mereka serta menjadikan bagi mereka akhir yang baik dan pujian yang indah.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّهُۥ مِنْ عِبَادِنَا ٱلْمُؤْمِنِينَ“Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (QS. As-Saffat: 111)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ibrahim termasuk hamba-hamba Allah yang benar-benar beriman terhadap apa yang diperintahkan untuk diimani, hingga imannya mencapai tingkat keyakinan yang tinggi. Sebagaimana firman Allah,وَكَذَٰلِكَ نُرِىٓ إِبْرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلْمُوقِنِينَ“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.” (QS. Al-An’am: 75) Nasihat PenutupKisah ini mengajarkan kepada kita bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segala cinta lainnya: cinta kepada harta, jabatan, bahkan kepada keluarga. Di zaman sekarang, banyak orang rela melanggar perintah Allah demi menjaga kepentingan dunia, padahal seorang mukmin sejati adalah yang mendahulukan keridaan Allah di atas segala-galanya.Semoga kisah Nabi Ibrahim dan Ismail ini menumbuhkan keikhlasan, kesabaran, dan ketundukan kita kepada Allah dalam setiap keadaan.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang ikhlas, sabar dalam ujian, dan kuat dalam menaati perintah-Nya.اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُخْلِصِينَ، وَارْزُقْنَا الصَّبْرَ فِي الْبَلَاءِ، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ.“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang ikhlas, karuniakan kepada kami kesabaran dalam menghadapi ujian, dan tetapkanlah hati kami di atas ketaatan kepada-Mu.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Malam Sabtu, 25 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsibrah kisah nabi kisah kurban dalam al quran kisah nabi dalam al quran kisah Nabi Ibrahim kisah penyembelihan ismail nabi ibrahim dan ismail pelajaran dari nabi ibrahim pelajaran iman nabi ibrahim renungan ayat renungan quran tafsir as-sa'di tafsir surat as saffat

Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail: Ujian Cinta kepada Allah yang Menggetarkan Hati

Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika diperintahkan menyembelih putranya, Ismail, adalah salah satu kisah paling agung dalam Al-Qur’an. Kisah ini menunjukkan betapa besar cinta seorang hamba kepada Allah sehingga ia mendahulukan perintah-Nya di atas segalanya. Dari peristiwa ini kita belajar tentang keimanan, ketundukan, kesabaran, dan keikhlasan yang luar biasa.Baca juga: Pelajaran dari Kisah Nabi Ibrahim Menyembelih Ismail  Daftar Isi tutup 1. Hijrah Nabi Ibrahim karena Tauhid 2. Doa Nabi Ibrahim Meminta Anak yang Saleh 3. Kabar Gembira Kelahiran Nabi Ismail 4. Perintah Menyembelih Ismail dalam Mimpi 5. Ketundukan Ibrahim dan Kesabaran Ismail 6. Allah Menghentikan Penyembelihan 7. Ujian Besar yang Mengungkap Cinta kepada Allah 8. Asal Syariat Qurban 9. Pujian Abadi untuk Nabi Ibrahim 10. Balasan bagi Orang yang Berbuat Ihsan 11. Nasihat Penutup  Hijrah Nabi Ibrahim karena TauhidAllah Ta’ala berfirman,وَقَالَ إِنِّى ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّى سَيَهْدِينِ“Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. As-Saffat: 99)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya: Ketika mereka melakukan tindakan tersebut terhadapnya, sementara Ibrahim telah menegakkan hujah kepada mereka dan telah menyampaikan alasan yang jelas, maka ia berkata, “Sesungguhnya aku akan pergi menuju Tuhanku,” yaitu berhijrah kepada-Nya dengan menuju negeri yang diberkahi, yaitu negeri Syam. “Dia pasti akan memberi petunjuk kepadaku,” yakni menunjukkan kepadaku jalan yang di dalamnya terdapat kebaikan bagi urusan agama dan duniaku. Dalam ayat lain beliau berkata,وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدْعُوا۟ رَبِّى عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّى شَقِيًّا“Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku”.” (QS. Maryam: 48) Doa Nabi Ibrahim Meminta Anak yang SalehAllah Ta’ala berfirman,رَبِّ هَبْ لِى مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ“Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. As-Saffat: 100)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Maksudnya, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang saleh. Ketika Ibrahim telah berputus asa dari kaumnya dan tidak melihat kebaikan pada mereka, ia berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak laki-laki yang saleh, yang dapat memberi manfaat dalam kehidupannya dan setelah wafatnya. Kabar Gembira Kelahiran Nabi IsmailAllah Ta’ala berfirman,فَبَشَّرْنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٍ“Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.” (QS. As-Saffat: 101)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Allah pun mengabulkan doanya dan berfirman, “Lalu Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang sangat penyantun.” Anak tersebut adalah Ismail ‘alaihis salam tanpa keraguan. Setelah itu disebutkan kabar gembira tentang Ishaq. Allah berfirman dalam kabar gembira tentang Ishaq,وَٱمْرَأَتُهُۥ قَآئِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَٰهَا بِإِسْحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسْحَٰقَ يَعْقُوبَ“Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya’qub.” (QS. Hud: 71)Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang diperintahkan untuk disembelih. Allah menyifati Ismail dengan sifat halim (penyantun), yang mencakup kesabaran, akhlak yang baik, kelapangan dada, dan sikap memaafkan orang yang berbuat salah. Perintah Menyembelih Ismail dalam MimpiAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.” (QS. As-Saffat: 102)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ketika anak itu telah mencapai usia yang memungkinkan ia membantu ayahnya dan menjadi usia yang biasanya paling dicintai oleh kedua orang tuanya—karena kesulitannya telah berlalu dan manfaatnya mulai tampak—maka Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.” Maksudnya, ia melihat dalam mimpi bahwa Allah memerintahkannya untuk menyembelihnya. Mimpi para nabi adalah wahyu.Kemudian ia berkata, “Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.” Karena perintah Allah pasti harus dilaksanakan.Ismail menjawab dengan penuh kesabaran, mengharap pahala, ridha kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Ia memberitahukan kepada ayahnya bahwa dirinya telah menyiapkan diri untuk bersabar. Ia juga mengaitkannya dengan kehendak Allah, karena tidak ada sesuatu pun yang terjadi tanpa kehendak-Nya.Baca juga: Yang Disembelih adalah Ishak, Bukan Ismail? Ketundukan Ibrahim dan Kesabaran IsmailAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّآ أَسْلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلْجَبِينِ“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).” (QS. As-Saffat: 103)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ketika Ibrahim dan putranya Ismail sama-sama berserah diri kepada perintah Allah, Ibrahim telah bertekad menyembelih anaknya—buah hatinya—dalam rangka menaati perintah Tuhannya dan karena takut akan azab-Nya. Sementara sang anak telah menyiapkan diri untuk bersabar, dan hal itu menjadi ringan baginya demi menaati Tuhannya dan menyenangkan ayahnya.“Dan Ibrahim membaringkannya di atas pelipisnya,” yaitu Ibrahim membaringkan Ismail dengan wajah menghadap ke bawah agar ia dapat menyembelihnya, sehingga ia tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. Allah Menghentikan PenyembelihanAllah Ta’ala berfirman,وَنَٰدَيْنَٰهُ أَن يَٰٓإِبْرَٰهِيمُ“Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim.” (QS. As-Saffat: 104)قَدْ صَدَّقْتَ ٱلرُّءْيَآ ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ“sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. As-Saffat: 105)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Pada saat yang sangat menegangkan dan menggetarkan itu, Allah memanggilnya, “Wahai Ibrahim! Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu,” yaitu engkau telah melakukan apa yang diperintahkan kepadamu. Engkau telah menyiapkan dirimu untuk melaksanakannya dan telah melakukan semua sebabnya. Yang tersisa hanyalah menjalankan pisau di leher anakmu.“Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik,” yaitu mereka yang mendahulukan keridaan Allah daripada keinginan diri mereka. Ujian Besar yang Mengungkap Cinta kepada AllahAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلْبَلَٰٓؤُا۟ ٱلْمُبِينُ“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS. As-Saffat: 106)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ujian yang Allah berikan kepada Ibrahim ini adalah ujian yang sangat jelas, yang menampakkan kemurnian dirinya serta kesempurnaan cintanya kepada Allah. Ismail adalah anak yang sangat dicintainya, sedangkan Ibrahim adalah Khalilur Rahman, kekasih Allah. Tingkatan khullah adalah tingkatan cinta yang paling tinggi dan tidak menerima sekutu.Ketika sebagian hatinya terikat kepada anaknya, Allah ingin memurnikan cintanya dan menguji kedudukannya sebagai khalil. Maka Allah memerintahkannya untuk menyembelih sesuatu yang bersaing dengan kecintaannya kepada Allah.Ketika Ibrahim lebih mendahulukan cinta kepada Allah daripada keinginan dirinya dan telah bertekad menyembelih anaknya, maka hilanglah penghalang dalam hatinya. Karena itu penyembelihan tersebut tidak lagi diperlukan. Itulah sebabnya Allah berfirman, “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” Asal Syariat QurbanAllah Ta’ala berfirman,وَفَدَيْنَٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. As-Saffat: 107)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Maksudnya, Allah menggantinya dengan seekor sembelihan dari kambing yang besar, yang disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan itu disebut besar karena menjadi tebusan bagi Ismail, karena termasuk ibadah yang agung, dan karena ia menjadi qurban serta sunnah yang terus berlangsung hingga hari kiamat.Baca juga: Ketentuan dan Hikmah Ibadah Qurban Pujian Abadi untuk Nabi IbrahimAllah Ta’ala berfirman,وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى ٱلْءَاخِرِينَ“Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.” (QS. As-Saffat: 108)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Artinya, Allah menetapkan bagi Ibrahim pujian yang baik di kalangan generasi setelahnya, sebagaimana ia juga dipuji oleh generasi sebelumnya. Setiap zaman setelah Ibrahim, ia selalu dicintai, dimuliakan, dan dipuji.Allah Ta’ala berfirman,سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبْرَٰهِيمَ“(yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”.” (QS. As-Saffat: 109)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ini adalah bentuk penghormatan dan doa keselamatan untuknya, sebagaimana firman Allah,قُلِ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصْطَفَىٰٓ ۗ ءَآللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ“Katakanlah: “Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya.” (QS. An-Naml: 59) Balasan bagi Orang yang Berbuat IhsanAllah Ta’ala berfirman,كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ“Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. As-Saffat: 110)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Maksudnya, dalam beribadah kepada Allah dan dalam memperlakukan sesama manusia, Allah memberikan balasan kepada mereka dengan menghilangkan kesulitan dari mereka serta menjadikan bagi mereka akhir yang baik dan pujian yang indah.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّهُۥ مِنْ عِبَادِنَا ٱلْمُؤْمِنِينَ“Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (QS. As-Saffat: 111)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ibrahim termasuk hamba-hamba Allah yang benar-benar beriman terhadap apa yang diperintahkan untuk diimani, hingga imannya mencapai tingkat keyakinan yang tinggi. Sebagaimana firman Allah,وَكَذَٰلِكَ نُرِىٓ إِبْرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلْمُوقِنِينَ“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.” (QS. Al-An’am: 75) Nasihat PenutupKisah ini mengajarkan kepada kita bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segala cinta lainnya: cinta kepada harta, jabatan, bahkan kepada keluarga. Di zaman sekarang, banyak orang rela melanggar perintah Allah demi menjaga kepentingan dunia, padahal seorang mukmin sejati adalah yang mendahulukan keridaan Allah di atas segala-galanya.Semoga kisah Nabi Ibrahim dan Ismail ini menumbuhkan keikhlasan, kesabaran, dan ketundukan kita kepada Allah dalam setiap keadaan.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang ikhlas, sabar dalam ujian, dan kuat dalam menaati perintah-Nya.اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُخْلِصِينَ، وَارْزُقْنَا الصَّبْرَ فِي الْبَلَاءِ، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ.“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang ikhlas, karuniakan kepada kami kesabaran dalam menghadapi ujian, dan tetapkanlah hati kami di atas ketaatan kepada-Mu.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Malam Sabtu, 25 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsibrah kisah nabi kisah kurban dalam al quran kisah nabi dalam al quran kisah Nabi Ibrahim kisah penyembelihan ismail nabi ibrahim dan ismail pelajaran dari nabi ibrahim pelajaran iman nabi ibrahim renungan ayat renungan quran tafsir as-sa'di tafsir surat as saffat
Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika diperintahkan menyembelih putranya, Ismail, adalah salah satu kisah paling agung dalam Al-Qur’an. Kisah ini menunjukkan betapa besar cinta seorang hamba kepada Allah sehingga ia mendahulukan perintah-Nya di atas segalanya. Dari peristiwa ini kita belajar tentang keimanan, ketundukan, kesabaran, dan keikhlasan yang luar biasa.Baca juga: Pelajaran dari Kisah Nabi Ibrahim Menyembelih Ismail  Daftar Isi tutup 1. Hijrah Nabi Ibrahim karena Tauhid 2. Doa Nabi Ibrahim Meminta Anak yang Saleh 3. Kabar Gembira Kelahiran Nabi Ismail 4. Perintah Menyembelih Ismail dalam Mimpi 5. Ketundukan Ibrahim dan Kesabaran Ismail 6. Allah Menghentikan Penyembelihan 7. Ujian Besar yang Mengungkap Cinta kepada Allah 8. Asal Syariat Qurban 9. Pujian Abadi untuk Nabi Ibrahim 10. Balasan bagi Orang yang Berbuat Ihsan 11. Nasihat Penutup  Hijrah Nabi Ibrahim karena TauhidAllah Ta’ala berfirman,وَقَالَ إِنِّى ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّى سَيَهْدِينِ“Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. As-Saffat: 99)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya: Ketika mereka melakukan tindakan tersebut terhadapnya, sementara Ibrahim telah menegakkan hujah kepada mereka dan telah menyampaikan alasan yang jelas, maka ia berkata, “Sesungguhnya aku akan pergi menuju Tuhanku,” yaitu berhijrah kepada-Nya dengan menuju negeri yang diberkahi, yaitu negeri Syam. “Dia pasti akan memberi petunjuk kepadaku,” yakni menunjukkan kepadaku jalan yang di dalamnya terdapat kebaikan bagi urusan agama dan duniaku. Dalam ayat lain beliau berkata,وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدْعُوا۟ رَبِّى عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّى شَقِيًّا“Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku”.” (QS. Maryam: 48) Doa Nabi Ibrahim Meminta Anak yang SalehAllah Ta’ala berfirman,رَبِّ هَبْ لِى مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ“Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. As-Saffat: 100)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Maksudnya, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang saleh. Ketika Ibrahim telah berputus asa dari kaumnya dan tidak melihat kebaikan pada mereka, ia berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak laki-laki yang saleh, yang dapat memberi manfaat dalam kehidupannya dan setelah wafatnya. Kabar Gembira Kelahiran Nabi IsmailAllah Ta’ala berfirman,فَبَشَّرْنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٍ“Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.” (QS. As-Saffat: 101)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Allah pun mengabulkan doanya dan berfirman, “Lalu Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang sangat penyantun.” Anak tersebut adalah Ismail ‘alaihis salam tanpa keraguan. Setelah itu disebutkan kabar gembira tentang Ishaq. Allah berfirman dalam kabar gembira tentang Ishaq,وَٱمْرَأَتُهُۥ قَآئِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَٰهَا بِإِسْحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسْحَٰقَ يَعْقُوبَ“Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya’qub.” (QS. Hud: 71)Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang diperintahkan untuk disembelih. Allah menyifati Ismail dengan sifat halim (penyantun), yang mencakup kesabaran, akhlak yang baik, kelapangan dada, dan sikap memaafkan orang yang berbuat salah. Perintah Menyembelih Ismail dalam MimpiAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.” (QS. As-Saffat: 102)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ketika anak itu telah mencapai usia yang memungkinkan ia membantu ayahnya dan menjadi usia yang biasanya paling dicintai oleh kedua orang tuanya—karena kesulitannya telah berlalu dan manfaatnya mulai tampak—maka Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.” Maksudnya, ia melihat dalam mimpi bahwa Allah memerintahkannya untuk menyembelihnya. Mimpi para nabi adalah wahyu.Kemudian ia berkata, “Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.” Karena perintah Allah pasti harus dilaksanakan.Ismail menjawab dengan penuh kesabaran, mengharap pahala, ridha kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Ia memberitahukan kepada ayahnya bahwa dirinya telah menyiapkan diri untuk bersabar. Ia juga mengaitkannya dengan kehendak Allah, karena tidak ada sesuatu pun yang terjadi tanpa kehendak-Nya.Baca juga: Yang Disembelih adalah Ishak, Bukan Ismail? Ketundukan Ibrahim dan Kesabaran IsmailAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّآ أَسْلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلْجَبِينِ“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).” (QS. As-Saffat: 103)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ketika Ibrahim dan putranya Ismail sama-sama berserah diri kepada perintah Allah, Ibrahim telah bertekad menyembelih anaknya—buah hatinya—dalam rangka menaati perintah Tuhannya dan karena takut akan azab-Nya. Sementara sang anak telah menyiapkan diri untuk bersabar, dan hal itu menjadi ringan baginya demi menaati Tuhannya dan menyenangkan ayahnya.“Dan Ibrahim membaringkannya di atas pelipisnya,” yaitu Ibrahim membaringkan Ismail dengan wajah menghadap ke bawah agar ia dapat menyembelihnya, sehingga ia tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. Allah Menghentikan PenyembelihanAllah Ta’ala berfirman,وَنَٰدَيْنَٰهُ أَن يَٰٓإِبْرَٰهِيمُ“Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim.” (QS. As-Saffat: 104)قَدْ صَدَّقْتَ ٱلرُّءْيَآ ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ“sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. As-Saffat: 105)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Pada saat yang sangat menegangkan dan menggetarkan itu, Allah memanggilnya, “Wahai Ibrahim! Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu,” yaitu engkau telah melakukan apa yang diperintahkan kepadamu. Engkau telah menyiapkan dirimu untuk melaksanakannya dan telah melakukan semua sebabnya. Yang tersisa hanyalah menjalankan pisau di leher anakmu.“Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik,” yaitu mereka yang mendahulukan keridaan Allah daripada keinginan diri mereka. Ujian Besar yang Mengungkap Cinta kepada AllahAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلْبَلَٰٓؤُا۟ ٱلْمُبِينُ“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS. As-Saffat: 106)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ujian yang Allah berikan kepada Ibrahim ini adalah ujian yang sangat jelas, yang menampakkan kemurnian dirinya serta kesempurnaan cintanya kepada Allah. Ismail adalah anak yang sangat dicintainya, sedangkan Ibrahim adalah Khalilur Rahman, kekasih Allah. Tingkatan khullah adalah tingkatan cinta yang paling tinggi dan tidak menerima sekutu.Ketika sebagian hatinya terikat kepada anaknya, Allah ingin memurnikan cintanya dan menguji kedudukannya sebagai khalil. Maka Allah memerintahkannya untuk menyembelih sesuatu yang bersaing dengan kecintaannya kepada Allah.Ketika Ibrahim lebih mendahulukan cinta kepada Allah daripada keinginan dirinya dan telah bertekad menyembelih anaknya, maka hilanglah penghalang dalam hatinya. Karena itu penyembelihan tersebut tidak lagi diperlukan. Itulah sebabnya Allah berfirman, “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” Asal Syariat QurbanAllah Ta’ala berfirman,وَفَدَيْنَٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. As-Saffat: 107)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Maksudnya, Allah menggantinya dengan seekor sembelihan dari kambing yang besar, yang disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan itu disebut besar karena menjadi tebusan bagi Ismail, karena termasuk ibadah yang agung, dan karena ia menjadi qurban serta sunnah yang terus berlangsung hingga hari kiamat.Baca juga: Ketentuan dan Hikmah Ibadah Qurban Pujian Abadi untuk Nabi IbrahimAllah Ta’ala berfirman,وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى ٱلْءَاخِرِينَ“Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.” (QS. As-Saffat: 108)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Artinya, Allah menetapkan bagi Ibrahim pujian yang baik di kalangan generasi setelahnya, sebagaimana ia juga dipuji oleh generasi sebelumnya. Setiap zaman setelah Ibrahim, ia selalu dicintai, dimuliakan, dan dipuji.Allah Ta’ala berfirman,سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبْرَٰهِيمَ“(yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”.” (QS. As-Saffat: 109)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ini adalah bentuk penghormatan dan doa keselamatan untuknya, sebagaimana firman Allah,قُلِ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصْطَفَىٰٓ ۗ ءَآللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ“Katakanlah: “Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya.” (QS. An-Naml: 59) Balasan bagi Orang yang Berbuat IhsanAllah Ta’ala berfirman,كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ“Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. As-Saffat: 110)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Maksudnya, dalam beribadah kepada Allah dan dalam memperlakukan sesama manusia, Allah memberikan balasan kepada mereka dengan menghilangkan kesulitan dari mereka serta menjadikan bagi mereka akhir yang baik dan pujian yang indah.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّهُۥ مِنْ عِبَادِنَا ٱلْمُؤْمِنِينَ“Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (QS. As-Saffat: 111)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ibrahim termasuk hamba-hamba Allah yang benar-benar beriman terhadap apa yang diperintahkan untuk diimani, hingga imannya mencapai tingkat keyakinan yang tinggi. Sebagaimana firman Allah,وَكَذَٰلِكَ نُرِىٓ إِبْرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلْمُوقِنِينَ“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.” (QS. Al-An’am: 75) Nasihat PenutupKisah ini mengajarkan kepada kita bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segala cinta lainnya: cinta kepada harta, jabatan, bahkan kepada keluarga. Di zaman sekarang, banyak orang rela melanggar perintah Allah demi menjaga kepentingan dunia, padahal seorang mukmin sejati adalah yang mendahulukan keridaan Allah di atas segala-galanya.Semoga kisah Nabi Ibrahim dan Ismail ini menumbuhkan keikhlasan, kesabaran, dan ketundukan kita kepada Allah dalam setiap keadaan.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang ikhlas, sabar dalam ujian, dan kuat dalam menaati perintah-Nya.اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُخْلِصِينَ، وَارْزُقْنَا الصَّبْرَ فِي الْبَلَاءِ، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ.“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang ikhlas, karuniakan kepada kami kesabaran dalam menghadapi ujian, dan tetapkanlah hati kami di atas ketaatan kepada-Mu.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Malam Sabtu, 25 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsibrah kisah nabi kisah kurban dalam al quran kisah nabi dalam al quran kisah Nabi Ibrahim kisah penyembelihan ismail nabi ibrahim dan ismail pelajaran dari nabi ibrahim pelajaran iman nabi ibrahim renungan ayat renungan quran tafsir as-sa'di tafsir surat as saffat


Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika diperintahkan menyembelih putranya, Ismail, adalah salah satu kisah paling agung dalam Al-Qur’an. Kisah ini menunjukkan betapa besar cinta seorang hamba kepada Allah sehingga ia mendahulukan perintah-Nya di atas segalanya. Dari peristiwa ini kita belajar tentang keimanan, ketundukan, kesabaran, dan keikhlasan yang luar biasa.Baca juga: Pelajaran dari Kisah Nabi Ibrahim Menyembelih Ismail  Daftar Isi tutup 1. Hijrah Nabi Ibrahim karena Tauhid 2. Doa Nabi Ibrahim Meminta Anak yang Saleh 3. Kabar Gembira Kelahiran Nabi Ismail 4. Perintah Menyembelih Ismail dalam Mimpi 5. Ketundukan Ibrahim dan Kesabaran Ismail 6. Allah Menghentikan Penyembelihan 7. Ujian Besar yang Mengungkap Cinta kepada Allah 8. Asal Syariat Qurban 9. Pujian Abadi untuk Nabi Ibrahim 10. Balasan bagi Orang yang Berbuat Ihsan 11. Nasihat Penutup  Hijrah Nabi Ibrahim karena TauhidAllah Ta’ala berfirman,وَقَالَ إِنِّى ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّى سَيَهْدِينِ“Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. As-Saffat: 99)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya: Ketika mereka melakukan tindakan tersebut terhadapnya, sementara Ibrahim telah menegakkan hujah kepada mereka dan telah menyampaikan alasan yang jelas, maka ia berkata, “Sesungguhnya aku akan pergi menuju Tuhanku,” yaitu berhijrah kepada-Nya dengan menuju negeri yang diberkahi, yaitu negeri Syam. “Dia pasti akan memberi petunjuk kepadaku,” yakni menunjukkan kepadaku jalan yang di dalamnya terdapat kebaikan bagi urusan agama dan duniaku. Dalam ayat lain beliau berkata,وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدْعُوا۟ رَبِّى عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّى شَقِيًّا“Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku”.” (QS. Maryam: 48) Doa Nabi Ibrahim Meminta Anak yang SalehAllah Ta’ala berfirman,رَبِّ هَبْ لِى مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ“Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. As-Saffat: 100)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Maksudnya, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang saleh. Ketika Ibrahim telah berputus asa dari kaumnya dan tidak melihat kebaikan pada mereka, ia berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak laki-laki yang saleh, yang dapat memberi manfaat dalam kehidupannya dan setelah wafatnya. Kabar Gembira Kelahiran Nabi IsmailAllah Ta’ala berfirman,فَبَشَّرْنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٍ“Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.” (QS. As-Saffat: 101)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Allah pun mengabulkan doanya dan berfirman, “Lalu Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang sangat penyantun.” Anak tersebut adalah Ismail ‘alaihis salam tanpa keraguan. Setelah itu disebutkan kabar gembira tentang Ishaq. Allah berfirman dalam kabar gembira tentang Ishaq,وَٱمْرَأَتُهُۥ قَآئِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَٰهَا بِإِسْحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسْحَٰقَ يَعْقُوبَ“Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya’qub.” (QS. Hud: 71)Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang diperintahkan untuk disembelih. Allah menyifati Ismail dengan sifat halim (penyantun), yang mencakup kesabaran, akhlak yang baik, kelapangan dada, dan sikap memaafkan orang yang berbuat salah. Perintah Menyembelih Ismail dalam MimpiAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.” (QS. As-Saffat: 102)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ketika anak itu telah mencapai usia yang memungkinkan ia membantu ayahnya dan menjadi usia yang biasanya paling dicintai oleh kedua orang tuanya—karena kesulitannya telah berlalu dan manfaatnya mulai tampak—maka Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.” Maksudnya, ia melihat dalam mimpi bahwa Allah memerintahkannya untuk menyembelihnya. Mimpi para nabi adalah wahyu.Kemudian ia berkata, “Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.” Karena perintah Allah pasti harus dilaksanakan.Ismail menjawab dengan penuh kesabaran, mengharap pahala, ridha kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Ia memberitahukan kepada ayahnya bahwa dirinya telah menyiapkan diri untuk bersabar. Ia juga mengaitkannya dengan kehendak Allah, karena tidak ada sesuatu pun yang terjadi tanpa kehendak-Nya.Baca juga: Yang Disembelih adalah Ishak, Bukan Ismail? Ketundukan Ibrahim dan Kesabaran IsmailAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّآ أَسْلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلْجَبِينِ“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).” (QS. As-Saffat: 103)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ketika Ibrahim dan putranya Ismail sama-sama berserah diri kepada perintah Allah, Ibrahim telah bertekad menyembelih anaknya—buah hatinya—dalam rangka menaati perintah Tuhannya dan karena takut akan azab-Nya. Sementara sang anak telah menyiapkan diri untuk bersabar, dan hal itu menjadi ringan baginya demi menaati Tuhannya dan menyenangkan ayahnya.“Dan Ibrahim membaringkannya di atas pelipisnya,” yaitu Ibrahim membaringkan Ismail dengan wajah menghadap ke bawah agar ia dapat menyembelihnya, sehingga ia tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. Allah Menghentikan PenyembelihanAllah Ta’ala berfirman,وَنَٰدَيْنَٰهُ أَن يَٰٓإِبْرَٰهِيمُ“Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim.” (QS. As-Saffat: 104)قَدْ صَدَّقْتَ ٱلرُّءْيَآ ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ“sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. As-Saffat: 105)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Pada saat yang sangat menegangkan dan menggetarkan itu, Allah memanggilnya, “Wahai Ibrahim! Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu,” yaitu engkau telah melakukan apa yang diperintahkan kepadamu. Engkau telah menyiapkan dirimu untuk melaksanakannya dan telah melakukan semua sebabnya. Yang tersisa hanyalah menjalankan pisau di leher anakmu.“Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik,” yaitu mereka yang mendahulukan keridaan Allah daripada keinginan diri mereka. Ujian Besar yang Mengungkap Cinta kepada AllahAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلْبَلَٰٓؤُا۟ ٱلْمُبِينُ“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS. As-Saffat: 106)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ujian yang Allah berikan kepada Ibrahim ini adalah ujian yang sangat jelas, yang menampakkan kemurnian dirinya serta kesempurnaan cintanya kepada Allah. Ismail adalah anak yang sangat dicintainya, sedangkan Ibrahim adalah Khalilur Rahman, kekasih Allah. Tingkatan khullah adalah tingkatan cinta yang paling tinggi dan tidak menerima sekutu.Ketika sebagian hatinya terikat kepada anaknya, Allah ingin memurnikan cintanya dan menguji kedudukannya sebagai khalil. Maka Allah memerintahkannya untuk menyembelih sesuatu yang bersaing dengan kecintaannya kepada Allah.Ketika Ibrahim lebih mendahulukan cinta kepada Allah daripada keinginan dirinya dan telah bertekad menyembelih anaknya, maka hilanglah penghalang dalam hatinya. Karena itu penyembelihan tersebut tidak lagi diperlukan. Itulah sebabnya Allah berfirman, “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” Asal Syariat QurbanAllah Ta’ala berfirman,وَفَدَيْنَٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. As-Saffat: 107)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Maksudnya, Allah menggantinya dengan seekor sembelihan dari kambing yang besar, yang disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan itu disebut besar karena menjadi tebusan bagi Ismail, karena termasuk ibadah yang agung, dan karena ia menjadi qurban serta sunnah yang terus berlangsung hingga hari kiamat.Baca juga: Ketentuan dan Hikmah Ibadah Qurban Pujian Abadi untuk Nabi IbrahimAllah Ta’ala berfirman,وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى ٱلْءَاخِرِينَ“Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.” (QS. As-Saffat: 108)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Artinya, Allah menetapkan bagi Ibrahim pujian yang baik di kalangan generasi setelahnya, sebagaimana ia juga dipuji oleh generasi sebelumnya. Setiap zaman setelah Ibrahim, ia selalu dicintai, dimuliakan, dan dipuji.Allah Ta’ala berfirman,سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبْرَٰهِيمَ“(yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”.” (QS. As-Saffat: 109)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ini adalah bentuk penghormatan dan doa keselamatan untuknya, sebagaimana firman Allah,قُلِ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصْطَفَىٰٓ ۗ ءَآللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ“Katakanlah: “Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya.” (QS. An-Naml: 59) Balasan bagi Orang yang Berbuat IhsanAllah Ta’ala berfirman,كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ“Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. As-Saffat: 110)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Maksudnya, dalam beribadah kepada Allah dan dalam memperlakukan sesama manusia, Allah memberikan balasan kepada mereka dengan menghilangkan kesulitan dari mereka serta menjadikan bagi mereka akhir yang baik dan pujian yang indah.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّهُۥ مِنْ عِبَادِنَا ٱلْمُؤْمِنِينَ“Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (QS. As-Saffat: 111)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ibrahim termasuk hamba-hamba Allah yang benar-benar beriman terhadap apa yang diperintahkan untuk diimani, hingga imannya mencapai tingkat keyakinan yang tinggi. Sebagaimana firman Allah,وَكَذَٰلِكَ نُرِىٓ إِبْرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلْمُوقِنِينَ“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.” (QS. Al-An’am: 75) Nasihat PenutupKisah ini mengajarkan kepada kita bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segala cinta lainnya: cinta kepada harta, jabatan, bahkan kepada keluarga. Di zaman sekarang, banyak orang rela melanggar perintah Allah demi menjaga kepentingan dunia, padahal seorang mukmin sejati adalah yang mendahulukan keridaan Allah di atas segala-galanya.Semoga kisah Nabi Ibrahim dan Ismail ini menumbuhkan keikhlasan, kesabaran, dan ketundukan kita kepada Allah dalam setiap keadaan.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang ikhlas, sabar dalam ujian, dan kuat dalam menaati perintah-Nya.اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُخْلِصِينَ، وَارْزُقْنَا الصَّبْرَ فِي الْبَلَاءِ، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ.“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang ikhlas, karuniakan kepada kami kesabaran dalam menghadapi ujian, dan tetapkanlah hati kami di atas ketaatan kepada-Mu.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Malam Sabtu, 25 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsibrah kisah nabi kisah kurban dalam al quran kisah nabi dalam al quran kisah Nabi Ibrahim kisah penyembelihan ismail nabi ibrahim dan ismail pelajaran dari nabi ibrahim pelajaran iman nabi ibrahim renungan ayat renungan quran tafsir as-sa'di tafsir surat as saffat

Sudah Banyak Dosa? QS. Ghafir Ayat 3 Mengajarkan Jangan Putus Asa

Al-Qur’an sering menanamkan keseimbangan antara harapan dan rasa takut kepada Allah. Seorang hamba tidak boleh terlalu merasa aman dari azab-Nya, namun juga tidak boleh berputus asa dari rahmat-Nya. Surah Ghafir ayat 3 merangkum keseimbangan tersebut melalui sifat Allah yang Maha Mengampuni, menerima tobat, namun juga keras dalam hukuman-Nya.  Daftar Isi tutup 1. Makna Besar Surah Ghafir Ayat 3 2. Ayat Ini Merangkum Pokok Isi Al-Qur’an 3. Tafsir Ibnu Katsir: Antara Harapan dan Rasa Takut 4. Kisah #01: Masih Adakah Tobat bagi Pembunuh? 5. Kisah #02: Cara Menolong Orang yang Jatuh dalam Dosa (Teladan dari Umar bin Al-Khattab) 6. Kisah #03: Doa Saat Membaca Ayat Tentang Ampunan dan Tobat 7. Nasihat Penutup: Kembali kepada Allah Sebelum Terlambat  Makna Besar Surah Ghafir Ayat 3Allah Ta’ala berfirman,غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ“Dialah Yang mengampuni dosa, menerima tobat, sangat keras hukuman-Nya, dan memiliki karunia yang luas. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nya segala sesuatu kembali.” (QS. Ghafir: 3)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.غَافِرِ الذَّنْبِ artinya Allah mengampuni dosa orang-orang yang berdosa.وَقَابِلِ التَّوْبِ artinya Allah menerima tobat orang-orang yang bertobat.شَدِيدِ الْعِقَابِ artinya Allah sangat keras hukuman-Nya terhadap orang yang berani terus-menerus berbuat dosa dan tidak mau bertobat.ذِي الطَّوْلِ maksudnya Allah memiliki karunia, kebaikan, dan ihsan yang sangat luas serta meliputi.Setelah Allah menegaskan kesempurnaan sifat-sifat-Nya, dan itu semua mengharuskan bahwa hanya Dia satu-satunya sesembahan yang pantas diibadahi serta hanya kepada-Nya amal diikhlaskan, maka Allah berfirman: لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nya tempat kembali.” Ayat Ini Merangkum Pokok Isi Al-Qur’anSyaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini:Hubungan antara penyebutan turunnya Al-Qur’an dari Allah yang memiliki sifat-sifat agung ini adalah bahwa sifat-sifat tersebut mencakup seluruh kandungan makna Al-Qur’an.Sebab isi Al-Qur’an itu mencakup beberapa hal:Pertama, Al-Qur’an berisi berita tentang nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Semua itu tercakup dalam ayat ini, karena di dalamnya disebut nama, sifat, dan perbuatan Allah.Kedua, Al-Qur’an berisi berita tentang perkara-perkara gaib, baik yang telah terjadi maupun yang akan datang. Semua itu merupakan bagian dari pengajaran Allah Yang Maha Mengetahui kepada hamba-hamba-Nya.Ketiga, Al-Qur’an berisi berita tentang nikmat-nikmat Allah yang agung, karunia-Nya yang besar, serta jalan untuk meraihnya melalui berbagai perintah. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: ذِي الطَّوْلِ.Keempat, Al-Qur’an berisi berita tentang azab Allah yang keras, serta berbagai perbuatan maksiat yang menyebabkan datangnya azab tersebut. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: شَدِيدِ الْعِقَابِ.Kelima, Al-Qur’an berisi ajakan kepada orang-orang yang berdosa agar bertobat, kembali kepada Allah, dan memohon ampun. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ.Keenam, Al-Qur’an berisi penjelasan bahwa hanya Allah satu-satunya sesembahan yang berhak diibadahi. Al-Qur’an juga menegakkan dalil-dalil akal dan dalil-dalil syariat tentang hal itu, mendorong manusia untuk mentauhidkan Allah, melarang mereka dari menyembah selain-Nya, menerangkan rusaknya ibadah kepada selain Allah, serta memperingatkan manusia darinya. Semua ini ditunjukkan oleh firman-Nya: لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ.Ketujuh, Al-Qur’an berisi berita tentang hukum balasan Allah yang adil, pahala bagi orang-orang yang berbuat baik, dan hukuman bagi orang-orang yang durhaka. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: إِلَيْهِ الْمَصِيرُ.Jadi, ayat ini secara ringkas telah merangkum seluruh pokok ajaran besar yang terkandung dalam Al-Qur’an. Tafsir Ibnu Katsir: Antara Harapan dan Rasa TakutDalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan firman Allah:غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِArtinya, Allah mengampuni dosa yang telah lalu dan menerima tobat pada masa yang akan datang bagi siapa saja yang bertobat kepada-Nya dan merendahkan diri di hadapan-Nya.Kemudian firman-Nya:شَدِيدِ الْعِقَابِArtinya, Allah sangat keras hukuman-Nya bagi orang yang membangkang, melampaui batas, lebih memilih kehidupan dunia, menentang perintah Allah, dan berlaku zalim.Dalam ayat ini terkumpul dua hal sekaligus, yaitu harapan dan rasa takut. Ayat ini serupa dengan firman Allah Ta’ala:نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُوَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ“Sampaikanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa Aku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS. Al-Hijr: 49–50)Allah sering menyandingkan kedua sifat ini dalam banyak ayat Al-Qur’an, agar seorang hamba selalu berada di antara harapan dan rasa takut.Selanjutnya firman Allah:ذِي الطَّوْلِIbnu ‘Abbas menafsirkan bahwa maknanya adalah Allah memiliki keluasan dan kekayaan. Penafsiran ini juga dikemukakan oleh Mujahid dan Qatadah.Yazid bin Al-Asham mengatakan bahwa maknanya adalah Allah memiliki kebaikan yang sangat banyak.Ikrimah menafsirkan bahwa maknanya adalah Allah memiliki karunia dan pemberian.Sedangkan Qatadah menjelaskan bahwa maknanya adalah Allah memiliki berbagai nikmat dan keutamaan.Makna keseluruhannya adalah bahwa Allah senantiasa melimpahkan karunia kepada hamba-hamba-Nya, memberikan berbagai anugerah dan nikmat kepada mereka, padahal mereka tidak mampu mensyukuri satu pun dari nikmat tersebut secara sempurna.Allah Ta’ala berfirman:وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ“Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari nikmat.” (QS. Ibrahim: 34)Kemudian firman-Nya:لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَArtinya, tidak ada yang sebanding dengan-Nya dalam seluruh sifat-sifat-Nya. Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia, dan tidak ada Rabb selain-Nya.Firman-Nya:إِلَيْهِ الْمَصِيرُArtinya, hanya kepada-Nya tempat kembali dan tempat kembali terakhir. Di sana Allah akan membalas setiap orang sesuai dengan amalnya.Sebagaimana firman-Nya:وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ“Dan Dia Maha Cepat perhitungan-Nya.” (QS. Ar-Ra’d: 41) Kisah #01: Masih Adakah Tobat bagi Pembunuh?Kisah pertama ini dibawakan oleh Imam Ibnu Katsir ketika membahas surah Ghafir ayat ketiga.Abu Bakar bin ‘Ayyasy berkata: Aku mendengar Abu Ishaq As-Sabi‘i menceritakan bahwa seorang laki-laki datang kepada ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu lalu berkata,“Wahai Amirul Mukminin, aku telah melakukan pembunuhan. Apakah masih ada tobat bagiku?”Maka ‘Umar membacakan kepadanya ayat:حمتَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِغَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِKemudian beliau berkata,اِعْمَلْ وَلَا تَيْأَسْ“Beramallah dan jangan berputus asa.”Riwayat ini disebutkan oleh Ibnu Abi Hatim (dengan lafaz ini) dan juga oleh Ibnu Jarir. Kisah #02: Cara Menolong Orang yang Jatuh dalam Dosa (Teladan dari Umar bin Al-Khattab)Kisah kedua ini juga dibawakan oleh Imam Ibnu Katsir ketika membahas surah Ghafir ayat ketiga.Ibnu Abi Hatim berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Musa bin Marwan Ar-Raqqi menceritakan kepada kami, ‘Umar — yaitu Ibnu Ayyub — menceritakan kepada kami, Ja‘far bin Burqan menceritakan dari Yazid bin Al-Asham, ia berkata: Dahulu ada seorang lelaki dari penduduk Syam yang dikenal kuat dan pemberani. Ia sering datang menemui ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Suatu waktu ‘Umar tidak lagi melihatnya, lalu beliau bertanya,“Apa yang terjadi dengan si fulan bin fulan?”Mereka menjawab,يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، يُتَابِعُ فِي هَذَا الشَّرَابِ“Wahai Amirul Mukminin, ia sekarang sering terjerumus dalam minuman keras.”Maka ‘Umar memanggil penulisnya dan berkata, “Tulislah:Dari ‘Umar bin Al-Khaththab kepada fulan bin fulan.Salam sejahtera untukmu. Amma ba‘du.Sesungguhnya aku memuji Allah kepadamu, yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, Yang mengampuni dosa, menerima tobat, sangat keras hukuman-Nya, dan memiliki karunia yang luas. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, dan hanya kepada-Nya tempat kembali.”Kemudian ‘Umar berkata kepada para sahabatnya,اُدْعُوا اللَّهَ لِأَخِيكُمْ أَنْ يُقْبِلَ بِقَلْبِهِ، وَأَنْ يَتُوبَ اللَّهُ عَلَيْهِ.“Doakanlah saudara kalian ini agar hatinya kembali kepada Allah dan agar Allah menerima tobatnya.”Ketika surat ‘Umar sampai kepada lelaki tersebut, ia membacanya berulang-ulang sambil berkata,“غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ(Dia Yang mengampuni dosa, menerima tobat, dan keras hukuman-Nya).”Ia berkata, “Allah telah memperingatkanku dengan hukuman-Nya, namun juga menjanjikan ampunan bagiku.”Ia terus mengulang-ulang ayat itu pada dirinya, hingga akhirnya ia menangis. Setelah itu ia meninggalkan kebiasaan buruknya dan bertobat dengan sebaik-baiknya.Ketika kabar tersebut sampai kepada ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,هَكَذَا فَاصْنَعُوا، إِذَا رَأَيْتُمْ أَخَاكُمْ زَلَّ زَلَّةً فَسَدِّدُوهُ وَوَفِّقُوهُ، وَادْعُوا اللَّهَ لَهُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِ، وَلَا تَكُونُوا أَعْوَانًا لِلشَّيْطَانِ عَلَيْهِ.“Seperti inilah yang harus kalian lakukan. Jika kalian melihat saudara kalian tergelincir dalam suatu kesalahan, maka luruskanlah dan bantulah ia kembali ke jalan yang benar. Doakanlah agar Allah menerima tobatnya. Jangan sampai kalian justru menjadi penolong setan untuk menjatuhkannya.”Baca juga: Isi Surat Umar pada Sahabatnya: Jangan Jadi Kroninya Setan Kisah #03: Doa Saat Membaca Ayat Tentang Ampunan dan TobatKisah ketiga ini adalah kelanjutan penjelasan Imam Ibnu Katsir ketika membahas surah Ghafir ayat ketiga.Ibnu Abi Hatim berkata: ‘Umar bin Syabbah menceritakan kepada kami, Hammad bin Waqid — Abu ‘Umar Ash-Shaffar — menceritakan kepada kami, Tsabit Al-Bunani berkata:Aku pernah bersama Mush‘ab bin Az-Zubair di wilayah sekitar Kufah. Lalu aku masuk ke sebuah kebun untuk menunaikan shalat dua rakaat. Aku memulai membaca Surah حم المؤمن (Surah Ghafir). Ketika sampai pada ayat:لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُtiba-tiba ada seorang lelaki di belakangku, menunggang bagal berwarna keabu-abuan. Ia mengenakan pakaian bergaris dari Yaman. Ia berkata kepadaku:“Jika engkau membaca غَافِرِ الذَّنْبِ, maka katakanlah:‘Wahai Yang Mengampuni dosa, ampunilah dosaku.’Jika engkau membaca وَقَابِلِ التَّوْبِ, maka katakanlah:‘Wahai Yang Menerima tobat, terimalah tobatku.’Jika engkau membaca شَدِيدِ الْعِقَابِ, maka katakanlah:‘Wahai Yang sangat keras hukuman-Nya, janganlah Engkau menghukumku.’”Tsabit berkata: Aku pun menoleh ke belakang, tetapi tidak melihat seorang pun. Lalu aku keluar menuju pintu kebun dan bertanya kepada orang-orang,“Apakah ada seseorang yang lewat di sini, mengenakan pakaian bergaris dari Yaman?”Mereka menjawab, “Kami tidak melihat siapa pun.”Sebagian orang kemudian beranggapan bahwa orang tersebut adalah Nabi Ilyas ‘alaihissalam.Riwayat ini juga diriwayatkan melalui jalur lain dari Tsabit dengan kisah yang serupa, namun dalam riwayat itu tidak disebutkan bahwa orang tersebut adalah Ilyas. Nasihat Penutup: Kembali kepada Allah Sebelum TerlambatDi zaman sekarang, banyak orang terjatuh dalam dua sikap yang berbahaya. Sebagian terlalu merasa aman dari dosa sehingga terus menunda tobat, sementara sebagian lain justru putus asa dari rahmat Allah karena banyaknya kesalahan yang pernah dilakukan. Padahal Al-Qur’an mengajarkan keseimbangan: tetap takut kepada hukuman Allah, tetapi tetap berharap pada ampunan-Nya.Ayat ini mengajarkan bahwa pintu tobat selalu terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan. Bahkan seseorang yang pernah melakukan dosa besar sekalipun masih memiliki peluang kembali kepada Allah. Karena itu, jangan pernah menutup pintu harapan bagi diri sendiri maupun bagi saudara kita yang sedang jatuh dalam dosa.Sebaliknya, jika kita melihat saudara kita tergelincir, jangan malah mencela dan menjatuhkannya. Nasihati dengan lembut, doakan agar Allah memberinya hidayah, dan bantu ia kembali kepada jalan yang benar. Inilah akhlak para sahabat, sebagaimana nasihat ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu agar kita tidak menjadi penolong setan atas saudara kita.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba yang selalu hidup di antara rasa takut dan harapan, serta senantiasa kembali kepada-Nya dengan tobat yang tulus.اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، وَارْحَمْنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ التَّائِبِينَ الصَّادِقِينَ.“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, terimalah tobat kami, rahmatilah kami, dan jadikan kami termasuk orang-orang yang benar-benar bertobat.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Sabtu, 25 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdosa dan ampunan harapan dan takut nasihat islam qs ghafir ayat 3 renungan ayat renungan quran sifat Allah tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir tafsir quran taubat dalam islam

Sudah Banyak Dosa? QS. Ghafir Ayat 3 Mengajarkan Jangan Putus Asa

Al-Qur’an sering menanamkan keseimbangan antara harapan dan rasa takut kepada Allah. Seorang hamba tidak boleh terlalu merasa aman dari azab-Nya, namun juga tidak boleh berputus asa dari rahmat-Nya. Surah Ghafir ayat 3 merangkum keseimbangan tersebut melalui sifat Allah yang Maha Mengampuni, menerima tobat, namun juga keras dalam hukuman-Nya.  Daftar Isi tutup 1. Makna Besar Surah Ghafir Ayat 3 2. Ayat Ini Merangkum Pokok Isi Al-Qur’an 3. Tafsir Ibnu Katsir: Antara Harapan dan Rasa Takut 4. Kisah #01: Masih Adakah Tobat bagi Pembunuh? 5. Kisah #02: Cara Menolong Orang yang Jatuh dalam Dosa (Teladan dari Umar bin Al-Khattab) 6. Kisah #03: Doa Saat Membaca Ayat Tentang Ampunan dan Tobat 7. Nasihat Penutup: Kembali kepada Allah Sebelum Terlambat  Makna Besar Surah Ghafir Ayat 3Allah Ta’ala berfirman,غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ“Dialah Yang mengampuni dosa, menerima tobat, sangat keras hukuman-Nya, dan memiliki karunia yang luas. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nya segala sesuatu kembali.” (QS. Ghafir: 3)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.غَافِرِ الذَّنْبِ artinya Allah mengampuni dosa orang-orang yang berdosa.وَقَابِلِ التَّوْبِ artinya Allah menerima tobat orang-orang yang bertobat.شَدِيدِ الْعِقَابِ artinya Allah sangat keras hukuman-Nya terhadap orang yang berani terus-menerus berbuat dosa dan tidak mau bertobat.ذِي الطَّوْلِ maksudnya Allah memiliki karunia, kebaikan, dan ihsan yang sangat luas serta meliputi.Setelah Allah menegaskan kesempurnaan sifat-sifat-Nya, dan itu semua mengharuskan bahwa hanya Dia satu-satunya sesembahan yang pantas diibadahi serta hanya kepada-Nya amal diikhlaskan, maka Allah berfirman: لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nya tempat kembali.” Ayat Ini Merangkum Pokok Isi Al-Qur’anSyaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini:Hubungan antara penyebutan turunnya Al-Qur’an dari Allah yang memiliki sifat-sifat agung ini adalah bahwa sifat-sifat tersebut mencakup seluruh kandungan makna Al-Qur’an.Sebab isi Al-Qur’an itu mencakup beberapa hal:Pertama, Al-Qur’an berisi berita tentang nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Semua itu tercakup dalam ayat ini, karena di dalamnya disebut nama, sifat, dan perbuatan Allah.Kedua, Al-Qur’an berisi berita tentang perkara-perkara gaib, baik yang telah terjadi maupun yang akan datang. Semua itu merupakan bagian dari pengajaran Allah Yang Maha Mengetahui kepada hamba-hamba-Nya.Ketiga, Al-Qur’an berisi berita tentang nikmat-nikmat Allah yang agung, karunia-Nya yang besar, serta jalan untuk meraihnya melalui berbagai perintah. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: ذِي الطَّوْلِ.Keempat, Al-Qur’an berisi berita tentang azab Allah yang keras, serta berbagai perbuatan maksiat yang menyebabkan datangnya azab tersebut. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: شَدِيدِ الْعِقَابِ.Kelima, Al-Qur’an berisi ajakan kepada orang-orang yang berdosa agar bertobat, kembali kepada Allah, dan memohon ampun. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ.Keenam, Al-Qur’an berisi penjelasan bahwa hanya Allah satu-satunya sesembahan yang berhak diibadahi. Al-Qur’an juga menegakkan dalil-dalil akal dan dalil-dalil syariat tentang hal itu, mendorong manusia untuk mentauhidkan Allah, melarang mereka dari menyembah selain-Nya, menerangkan rusaknya ibadah kepada selain Allah, serta memperingatkan manusia darinya. Semua ini ditunjukkan oleh firman-Nya: لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ.Ketujuh, Al-Qur’an berisi berita tentang hukum balasan Allah yang adil, pahala bagi orang-orang yang berbuat baik, dan hukuman bagi orang-orang yang durhaka. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: إِلَيْهِ الْمَصِيرُ.Jadi, ayat ini secara ringkas telah merangkum seluruh pokok ajaran besar yang terkandung dalam Al-Qur’an. Tafsir Ibnu Katsir: Antara Harapan dan Rasa TakutDalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan firman Allah:غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِArtinya, Allah mengampuni dosa yang telah lalu dan menerima tobat pada masa yang akan datang bagi siapa saja yang bertobat kepada-Nya dan merendahkan diri di hadapan-Nya.Kemudian firman-Nya:شَدِيدِ الْعِقَابِArtinya, Allah sangat keras hukuman-Nya bagi orang yang membangkang, melampaui batas, lebih memilih kehidupan dunia, menentang perintah Allah, dan berlaku zalim.Dalam ayat ini terkumpul dua hal sekaligus, yaitu harapan dan rasa takut. Ayat ini serupa dengan firman Allah Ta’ala:نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُوَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ“Sampaikanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa Aku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS. Al-Hijr: 49–50)Allah sering menyandingkan kedua sifat ini dalam banyak ayat Al-Qur’an, agar seorang hamba selalu berada di antara harapan dan rasa takut.Selanjutnya firman Allah:ذِي الطَّوْلِIbnu ‘Abbas menafsirkan bahwa maknanya adalah Allah memiliki keluasan dan kekayaan. Penafsiran ini juga dikemukakan oleh Mujahid dan Qatadah.Yazid bin Al-Asham mengatakan bahwa maknanya adalah Allah memiliki kebaikan yang sangat banyak.Ikrimah menafsirkan bahwa maknanya adalah Allah memiliki karunia dan pemberian.Sedangkan Qatadah menjelaskan bahwa maknanya adalah Allah memiliki berbagai nikmat dan keutamaan.Makna keseluruhannya adalah bahwa Allah senantiasa melimpahkan karunia kepada hamba-hamba-Nya, memberikan berbagai anugerah dan nikmat kepada mereka, padahal mereka tidak mampu mensyukuri satu pun dari nikmat tersebut secara sempurna.Allah Ta’ala berfirman:وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ“Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari nikmat.” (QS. Ibrahim: 34)Kemudian firman-Nya:لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَArtinya, tidak ada yang sebanding dengan-Nya dalam seluruh sifat-sifat-Nya. Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia, dan tidak ada Rabb selain-Nya.Firman-Nya:إِلَيْهِ الْمَصِيرُArtinya, hanya kepada-Nya tempat kembali dan tempat kembali terakhir. Di sana Allah akan membalas setiap orang sesuai dengan amalnya.Sebagaimana firman-Nya:وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ“Dan Dia Maha Cepat perhitungan-Nya.” (QS. Ar-Ra’d: 41) Kisah #01: Masih Adakah Tobat bagi Pembunuh?Kisah pertama ini dibawakan oleh Imam Ibnu Katsir ketika membahas surah Ghafir ayat ketiga.Abu Bakar bin ‘Ayyasy berkata: Aku mendengar Abu Ishaq As-Sabi‘i menceritakan bahwa seorang laki-laki datang kepada ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu lalu berkata,“Wahai Amirul Mukminin, aku telah melakukan pembunuhan. Apakah masih ada tobat bagiku?”Maka ‘Umar membacakan kepadanya ayat:حمتَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِغَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِKemudian beliau berkata,اِعْمَلْ وَلَا تَيْأَسْ“Beramallah dan jangan berputus asa.”Riwayat ini disebutkan oleh Ibnu Abi Hatim (dengan lafaz ini) dan juga oleh Ibnu Jarir. Kisah #02: Cara Menolong Orang yang Jatuh dalam Dosa (Teladan dari Umar bin Al-Khattab)Kisah kedua ini juga dibawakan oleh Imam Ibnu Katsir ketika membahas surah Ghafir ayat ketiga.Ibnu Abi Hatim berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Musa bin Marwan Ar-Raqqi menceritakan kepada kami, ‘Umar — yaitu Ibnu Ayyub — menceritakan kepada kami, Ja‘far bin Burqan menceritakan dari Yazid bin Al-Asham, ia berkata: Dahulu ada seorang lelaki dari penduduk Syam yang dikenal kuat dan pemberani. Ia sering datang menemui ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Suatu waktu ‘Umar tidak lagi melihatnya, lalu beliau bertanya,“Apa yang terjadi dengan si fulan bin fulan?”Mereka menjawab,يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، يُتَابِعُ فِي هَذَا الشَّرَابِ“Wahai Amirul Mukminin, ia sekarang sering terjerumus dalam minuman keras.”Maka ‘Umar memanggil penulisnya dan berkata, “Tulislah:Dari ‘Umar bin Al-Khaththab kepada fulan bin fulan.Salam sejahtera untukmu. Amma ba‘du.Sesungguhnya aku memuji Allah kepadamu, yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, Yang mengampuni dosa, menerima tobat, sangat keras hukuman-Nya, dan memiliki karunia yang luas. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, dan hanya kepada-Nya tempat kembali.”Kemudian ‘Umar berkata kepada para sahabatnya,اُدْعُوا اللَّهَ لِأَخِيكُمْ أَنْ يُقْبِلَ بِقَلْبِهِ، وَأَنْ يَتُوبَ اللَّهُ عَلَيْهِ.“Doakanlah saudara kalian ini agar hatinya kembali kepada Allah dan agar Allah menerima tobatnya.”Ketika surat ‘Umar sampai kepada lelaki tersebut, ia membacanya berulang-ulang sambil berkata,“غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ(Dia Yang mengampuni dosa, menerima tobat, dan keras hukuman-Nya).”Ia berkata, “Allah telah memperingatkanku dengan hukuman-Nya, namun juga menjanjikan ampunan bagiku.”Ia terus mengulang-ulang ayat itu pada dirinya, hingga akhirnya ia menangis. Setelah itu ia meninggalkan kebiasaan buruknya dan bertobat dengan sebaik-baiknya.Ketika kabar tersebut sampai kepada ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,هَكَذَا فَاصْنَعُوا، إِذَا رَأَيْتُمْ أَخَاكُمْ زَلَّ زَلَّةً فَسَدِّدُوهُ وَوَفِّقُوهُ، وَادْعُوا اللَّهَ لَهُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِ، وَلَا تَكُونُوا أَعْوَانًا لِلشَّيْطَانِ عَلَيْهِ.“Seperti inilah yang harus kalian lakukan. Jika kalian melihat saudara kalian tergelincir dalam suatu kesalahan, maka luruskanlah dan bantulah ia kembali ke jalan yang benar. Doakanlah agar Allah menerima tobatnya. Jangan sampai kalian justru menjadi penolong setan untuk menjatuhkannya.”Baca juga: Isi Surat Umar pada Sahabatnya: Jangan Jadi Kroninya Setan Kisah #03: Doa Saat Membaca Ayat Tentang Ampunan dan TobatKisah ketiga ini adalah kelanjutan penjelasan Imam Ibnu Katsir ketika membahas surah Ghafir ayat ketiga.Ibnu Abi Hatim berkata: ‘Umar bin Syabbah menceritakan kepada kami, Hammad bin Waqid — Abu ‘Umar Ash-Shaffar — menceritakan kepada kami, Tsabit Al-Bunani berkata:Aku pernah bersama Mush‘ab bin Az-Zubair di wilayah sekitar Kufah. Lalu aku masuk ke sebuah kebun untuk menunaikan shalat dua rakaat. Aku memulai membaca Surah حم المؤمن (Surah Ghafir). Ketika sampai pada ayat:لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُtiba-tiba ada seorang lelaki di belakangku, menunggang bagal berwarna keabu-abuan. Ia mengenakan pakaian bergaris dari Yaman. Ia berkata kepadaku:“Jika engkau membaca غَافِرِ الذَّنْبِ, maka katakanlah:‘Wahai Yang Mengampuni dosa, ampunilah dosaku.’Jika engkau membaca وَقَابِلِ التَّوْبِ, maka katakanlah:‘Wahai Yang Menerima tobat, terimalah tobatku.’Jika engkau membaca شَدِيدِ الْعِقَابِ, maka katakanlah:‘Wahai Yang sangat keras hukuman-Nya, janganlah Engkau menghukumku.’”Tsabit berkata: Aku pun menoleh ke belakang, tetapi tidak melihat seorang pun. Lalu aku keluar menuju pintu kebun dan bertanya kepada orang-orang,“Apakah ada seseorang yang lewat di sini, mengenakan pakaian bergaris dari Yaman?”Mereka menjawab, “Kami tidak melihat siapa pun.”Sebagian orang kemudian beranggapan bahwa orang tersebut adalah Nabi Ilyas ‘alaihissalam.Riwayat ini juga diriwayatkan melalui jalur lain dari Tsabit dengan kisah yang serupa, namun dalam riwayat itu tidak disebutkan bahwa orang tersebut adalah Ilyas. Nasihat Penutup: Kembali kepada Allah Sebelum TerlambatDi zaman sekarang, banyak orang terjatuh dalam dua sikap yang berbahaya. Sebagian terlalu merasa aman dari dosa sehingga terus menunda tobat, sementara sebagian lain justru putus asa dari rahmat Allah karena banyaknya kesalahan yang pernah dilakukan. Padahal Al-Qur’an mengajarkan keseimbangan: tetap takut kepada hukuman Allah, tetapi tetap berharap pada ampunan-Nya.Ayat ini mengajarkan bahwa pintu tobat selalu terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan. Bahkan seseorang yang pernah melakukan dosa besar sekalipun masih memiliki peluang kembali kepada Allah. Karena itu, jangan pernah menutup pintu harapan bagi diri sendiri maupun bagi saudara kita yang sedang jatuh dalam dosa.Sebaliknya, jika kita melihat saudara kita tergelincir, jangan malah mencela dan menjatuhkannya. Nasihati dengan lembut, doakan agar Allah memberinya hidayah, dan bantu ia kembali kepada jalan yang benar. Inilah akhlak para sahabat, sebagaimana nasihat ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu agar kita tidak menjadi penolong setan atas saudara kita.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba yang selalu hidup di antara rasa takut dan harapan, serta senantiasa kembali kepada-Nya dengan tobat yang tulus.اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، وَارْحَمْنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ التَّائِبِينَ الصَّادِقِينَ.“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, terimalah tobat kami, rahmatilah kami, dan jadikan kami termasuk orang-orang yang benar-benar bertobat.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Sabtu, 25 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdosa dan ampunan harapan dan takut nasihat islam qs ghafir ayat 3 renungan ayat renungan quran sifat Allah tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir tafsir quran taubat dalam islam
Al-Qur’an sering menanamkan keseimbangan antara harapan dan rasa takut kepada Allah. Seorang hamba tidak boleh terlalu merasa aman dari azab-Nya, namun juga tidak boleh berputus asa dari rahmat-Nya. Surah Ghafir ayat 3 merangkum keseimbangan tersebut melalui sifat Allah yang Maha Mengampuni, menerima tobat, namun juga keras dalam hukuman-Nya.  Daftar Isi tutup 1. Makna Besar Surah Ghafir Ayat 3 2. Ayat Ini Merangkum Pokok Isi Al-Qur’an 3. Tafsir Ibnu Katsir: Antara Harapan dan Rasa Takut 4. Kisah #01: Masih Adakah Tobat bagi Pembunuh? 5. Kisah #02: Cara Menolong Orang yang Jatuh dalam Dosa (Teladan dari Umar bin Al-Khattab) 6. Kisah #03: Doa Saat Membaca Ayat Tentang Ampunan dan Tobat 7. Nasihat Penutup: Kembali kepada Allah Sebelum Terlambat  Makna Besar Surah Ghafir Ayat 3Allah Ta’ala berfirman,غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ“Dialah Yang mengampuni dosa, menerima tobat, sangat keras hukuman-Nya, dan memiliki karunia yang luas. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nya segala sesuatu kembali.” (QS. Ghafir: 3)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.غَافِرِ الذَّنْبِ artinya Allah mengampuni dosa orang-orang yang berdosa.وَقَابِلِ التَّوْبِ artinya Allah menerima tobat orang-orang yang bertobat.شَدِيدِ الْعِقَابِ artinya Allah sangat keras hukuman-Nya terhadap orang yang berani terus-menerus berbuat dosa dan tidak mau bertobat.ذِي الطَّوْلِ maksudnya Allah memiliki karunia, kebaikan, dan ihsan yang sangat luas serta meliputi.Setelah Allah menegaskan kesempurnaan sifat-sifat-Nya, dan itu semua mengharuskan bahwa hanya Dia satu-satunya sesembahan yang pantas diibadahi serta hanya kepada-Nya amal diikhlaskan, maka Allah berfirman: لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nya tempat kembali.” Ayat Ini Merangkum Pokok Isi Al-Qur’anSyaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini:Hubungan antara penyebutan turunnya Al-Qur’an dari Allah yang memiliki sifat-sifat agung ini adalah bahwa sifat-sifat tersebut mencakup seluruh kandungan makna Al-Qur’an.Sebab isi Al-Qur’an itu mencakup beberapa hal:Pertama, Al-Qur’an berisi berita tentang nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Semua itu tercakup dalam ayat ini, karena di dalamnya disebut nama, sifat, dan perbuatan Allah.Kedua, Al-Qur’an berisi berita tentang perkara-perkara gaib, baik yang telah terjadi maupun yang akan datang. Semua itu merupakan bagian dari pengajaran Allah Yang Maha Mengetahui kepada hamba-hamba-Nya.Ketiga, Al-Qur’an berisi berita tentang nikmat-nikmat Allah yang agung, karunia-Nya yang besar, serta jalan untuk meraihnya melalui berbagai perintah. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: ذِي الطَّوْلِ.Keempat, Al-Qur’an berisi berita tentang azab Allah yang keras, serta berbagai perbuatan maksiat yang menyebabkan datangnya azab tersebut. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: شَدِيدِ الْعِقَابِ.Kelima, Al-Qur’an berisi ajakan kepada orang-orang yang berdosa agar bertobat, kembali kepada Allah, dan memohon ampun. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ.Keenam, Al-Qur’an berisi penjelasan bahwa hanya Allah satu-satunya sesembahan yang berhak diibadahi. Al-Qur’an juga menegakkan dalil-dalil akal dan dalil-dalil syariat tentang hal itu, mendorong manusia untuk mentauhidkan Allah, melarang mereka dari menyembah selain-Nya, menerangkan rusaknya ibadah kepada selain Allah, serta memperingatkan manusia darinya. Semua ini ditunjukkan oleh firman-Nya: لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ.Ketujuh, Al-Qur’an berisi berita tentang hukum balasan Allah yang adil, pahala bagi orang-orang yang berbuat baik, dan hukuman bagi orang-orang yang durhaka. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: إِلَيْهِ الْمَصِيرُ.Jadi, ayat ini secara ringkas telah merangkum seluruh pokok ajaran besar yang terkandung dalam Al-Qur’an. Tafsir Ibnu Katsir: Antara Harapan dan Rasa TakutDalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan firman Allah:غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِArtinya, Allah mengampuni dosa yang telah lalu dan menerima tobat pada masa yang akan datang bagi siapa saja yang bertobat kepada-Nya dan merendahkan diri di hadapan-Nya.Kemudian firman-Nya:شَدِيدِ الْعِقَابِArtinya, Allah sangat keras hukuman-Nya bagi orang yang membangkang, melampaui batas, lebih memilih kehidupan dunia, menentang perintah Allah, dan berlaku zalim.Dalam ayat ini terkumpul dua hal sekaligus, yaitu harapan dan rasa takut. Ayat ini serupa dengan firman Allah Ta’ala:نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُوَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ“Sampaikanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa Aku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS. Al-Hijr: 49–50)Allah sering menyandingkan kedua sifat ini dalam banyak ayat Al-Qur’an, agar seorang hamba selalu berada di antara harapan dan rasa takut.Selanjutnya firman Allah:ذِي الطَّوْلِIbnu ‘Abbas menafsirkan bahwa maknanya adalah Allah memiliki keluasan dan kekayaan. Penafsiran ini juga dikemukakan oleh Mujahid dan Qatadah.Yazid bin Al-Asham mengatakan bahwa maknanya adalah Allah memiliki kebaikan yang sangat banyak.Ikrimah menafsirkan bahwa maknanya adalah Allah memiliki karunia dan pemberian.Sedangkan Qatadah menjelaskan bahwa maknanya adalah Allah memiliki berbagai nikmat dan keutamaan.Makna keseluruhannya adalah bahwa Allah senantiasa melimpahkan karunia kepada hamba-hamba-Nya, memberikan berbagai anugerah dan nikmat kepada mereka, padahal mereka tidak mampu mensyukuri satu pun dari nikmat tersebut secara sempurna.Allah Ta’ala berfirman:وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ“Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari nikmat.” (QS. Ibrahim: 34)Kemudian firman-Nya:لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَArtinya, tidak ada yang sebanding dengan-Nya dalam seluruh sifat-sifat-Nya. Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia, dan tidak ada Rabb selain-Nya.Firman-Nya:إِلَيْهِ الْمَصِيرُArtinya, hanya kepada-Nya tempat kembali dan tempat kembali terakhir. Di sana Allah akan membalas setiap orang sesuai dengan amalnya.Sebagaimana firman-Nya:وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ“Dan Dia Maha Cepat perhitungan-Nya.” (QS. Ar-Ra’d: 41) Kisah #01: Masih Adakah Tobat bagi Pembunuh?Kisah pertama ini dibawakan oleh Imam Ibnu Katsir ketika membahas surah Ghafir ayat ketiga.Abu Bakar bin ‘Ayyasy berkata: Aku mendengar Abu Ishaq As-Sabi‘i menceritakan bahwa seorang laki-laki datang kepada ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu lalu berkata,“Wahai Amirul Mukminin, aku telah melakukan pembunuhan. Apakah masih ada tobat bagiku?”Maka ‘Umar membacakan kepadanya ayat:حمتَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِغَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِKemudian beliau berkata,اِعْمَلْ وَلَا تَيْأَسْ“Beramallah dan jangan berputus asa.”Riwayat ini disebutkan oleh Ibnu Abi Hatim (dengan lafaz ini) dan juga oleh Ibnu Jarir. Kisah #02: Cara Menolong Orang yang Jatuh dalam Dosa (Teladan dari Umar bin Al-Khattab)Kisah kedua ini juga dibawakan oleh Imam Ibnu Katsir ketika membahas surah Ghafir ayat ketiga.Ibnu Abi Hatim berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Musa bin Marwan Ar-Raqqi menceritakan kepada kami, ‘Umar — yaitu Ibnu Ayyub — menceritakan kepada kami, Ja‘far bin Burqan menceritakan dari Yazid bin Al-Asham, ia berkata: Dahulu ada seorang lelaki dari penduduk Syam yang dikenal kuat dan pemberani. Ia sering datang menemui ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Suatu waktu ‘Umar tidak lagi melihatnya, lalu beliau bertanya,“Apa yang terjadi dengan si fulan bin fulan?”Mereka menjawab,يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، يُتَابِعُ فِي هَذَا الشَّرَابِ“Wahai Amirul Mukminin, ia sekarang sering terjerumus dalam minuman keras.”Maka ‘Umar memanggil penulisnya dan berkata, “Tulislah:Dari ‘Umar bin Al-Khaththab kepada fulan bin fulan.Salam sejahtera untukmu. Amma ba‘du.Sesungguhnya aku memuji Allah kepadamu, yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, Yang mengampuni dosa, menerima tobat, sangat keras hukuman-Nya, dan memiliki karunia yang luas. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, dan hanya kepada-Nya tempat kembali.”Kemudian ‘Umar berkata kepada para sahabatnya,اُدْعُوا اللَّهَ لِأَخِيكُمْ أَنْ يُقْبِلَ بِقَلْبِهِ، وَأَنْ يَتُوبَ اللَّهُ عَلَيْهِ.“Doakanlah saudara kalian ini agar hatinya kembali kepada Allah dan agar Allah menerima tobatnya.”Ketika surat ‘Umar sampai kepada lelaki tersebut, ia membacanya berulang-ulang sambil berkata,“غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ(Dia Yang mengampuni dosa, menerima tobat, dan keras hukuman-Nya).”Ia berkata, “Allah telah memperingatkanku dengan hukuman-Nya, namun juga menjanjikan ampunan bagiku.”Ia terus mengulang-ulang ayat itu pada dirinya, hingga akhirnya ia menangis. Setelah itu ia meninggalkan kebiasaan buruknya dan bertobat dengan sebaik-baiknya.Ketika kabar tersebut sampai kepada ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,هَكَذَا فَاصْنَعُوا، إِذَا رَأَيْتُمْ أَخَاكُمْ زَلَّ زَلَّةً فَسَدِّدُوهُ وَوَفِّقُوهُ، وَادْعُوا اللَّهَ لَهُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِ، وَلَا تَكُونُوا أَعْوَانًا لِلشَّيْطَانِ عَلَيْهِ.“Seperti inilah yang harus kalian lakukan. Jika kalian melihat saudara kalian tergelincir dalam suatu kesalahan, maka luruskanlah dan bantulah ia kembali ke jalan yang benar. Doakanlah agar Allah menerima tobatnya. Jangan sampai kalian justru menjadi penolong setan untuk menjatuhkannya.”Baca juga: Isi Surat Umar pada Sahabatnya: Jangan Jadi Kroninya Setan Kisah #03: Doa Saat Membaca Ayat Tentang Ampunan dan TobatKisah ketiga ini adalah kelanjutan penjelasan Imam Ibnu Katsir ketika membahas surah Ghafir ayat ketiga.Ibnu Abi Hatim berkata: ‘Umar bin Syabbah menceritakan kepada kami, Hammad bin Waqid — Abu ‘Umar Ash-Shaffar — menceritakan kepada kami, Tsabit Al-Bunani berkata:Aku pernah bersama Mush‘ab bin Az-Zubair di wilayah sekitar Kufah. Lalu aku masuk ke sebuah kebun untuk menunaikan shalat dua rakaat. Aku memulai membaca Surah حم المؤمن (Surah Ghafir). Ketika sampai pada ayat:لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُtiba-tiba ada seorang lelaki di belakangku, menunggang bagal berwarna keabu-abuan. Ia mengenakan pakaian bergaris dari Yaman. Ia berkata kepadaku:“Jika engkau membaca غَافِرِ الذَّنْبِ, maka katakanlah:‘Wahai Yang Mengampuni dosa, ampunilah dosaku.’Jika engkau membaca وَقَابِلِ التَّوْبِ, maka katakanlah:‘Wahai Yang Menerima tobat, terimalah tobatku.’Jika engkau membaca شَدِيدِ الْعِقَابِ, maka katakanlah:‘Wahai Yang sangat keras hukuman-Nya, janganlah Engkau menghukumku.’”Tsabit berkata: Aku pun menoleh ke belakang, tetapi tidak melihat seorang pun. Lalu aku keluar menuju pintu kebun dan bertanya kepada orang-orang,“Apakah ada seseorang yang lewat di sini, mengenakan pakaian bergaris dari Yaman?”Mereka menjawab, “Kami tidak melihat siapa pun.”Sebagian orang kemudian beranggapan bahwa orang tersebut adalah Nabi Ilyas ‘alaihissalam.Riwayat ini juga diriwayatkan melalui jalur lain dari Tsabit dengan kisah yang serupa, namun dalam riwayat itu tidak disebutkan bahwa orang tersebut adalah Ilyas. Nasihat Penutup: Kembali kepada Allah Sebelum TerlambatDi zaman sekarang, banyak orang terjatuh dalam dua sikap yang berbahaya. Sebagian terlalu merasa aman dari dosa sehingga terus menunda tobat, sementara sebagian lain justru putus asa dari rahmat Allah karena banyaknya kesalahan yang pernah dilakukan. Padahal Al-Qur’an mengajarkan keseimbangan: tetap takut kepada hukuman Allah, tetapi tetap berharap pada ampunan-Nya.Ayat ini mengajarkan bahwa pintu tobat selalu terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan. Bahkan seseorang yang pernah melakukan dosa besar sekalipun masih memiliki peluang kembali kepada Allah. Karena itu, jangan pernah menutup pintu harapan bagi diri sendiri maupun bagi saudara kita yang sedang jatuh dalam dosa.Sebaliknya, jika kita melihat saudara kita tergelincir, jangan malah mencela dan menjatuhkannya. Nasihati dengan lembut, doakan agar Allah memberinya hidayah, dan bantu ia kembali kepada jalan yang benar. Inilah akhlak para sahabat, sebagaimana nasihat ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu agar kita tidak menjadi penolong setan atas saudara kita.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba yang selalu hidup di antara rasa takut dan harapan, serta senantiasa kembali kepada-Nya dengan tobat yang tulus.اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، وَارْحَمْنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ التَّائِبِينَ الصَّادِقِينَ.“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, terimalah tobat kami, rahmatilah kami, dan jadikan kami termasuk orang-orang yang benar-benar bertobat.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Sabtu, 25 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdosa dan ampunan harapan dan takut nasihat islam qs ghafir ayat 3 renungan ayat renungan quran sifat Allah tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir tafsir quran taubat dalam islam


Al-Qur’an sering menanamkan keseimbangan antara harapan dan rasa takut kepada Allah. Seorang hamba tidak boleh terlalu merasa aman dari azab-Nya, namun juga tidak boleh berputus asa dari rahmat-Nya. Surah Ghafir ayat 3 merangkum keseimbangan tersebut melalui sifat Allah yang Maha Mengampuni, menerima tobat, namun juga keras dalam hukuman-Nya.  Daftar Isi tutup 1. Makna Besar Surah Ghafir Ayat 3 2. Ayat Ini Merangkum Pokok Isi Al-Qur’an 3. Tafsir Ibnu Katsir: Antara Harapan dan Rasa Takut 4. Kisah #01: Masih Adakah Tobat bagi Pembunuh? 5. Kisah #02: Cara Menolong Orang yang Jatuh dalam Dosa (Teladan dari Umar bin Al-Khattab) 6. Kisah #03: Doa Saat Membaca Ayat Tentang Ampunan dan Tobat 7. Nasihat Penutup: Kembali kepada Allah Sebelum Terlambat  Makna Besar Surah Ghafir Ayat 3Allah Ta’ala berfirman,غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ“Dialah Yang mengampuni dosa, menerima tobat, sangat keras hukuman-Nya, dan memiliki karunia yang luas. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nya segala sesuatu kembali.” (QS. Ghafir: 3)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.غَافِرِ الذَّنْبِ artinya Allah mengampuni dosa orang-orang yang berdosa.وَقَابِلِ التَّوْبِ artinya Allah menerima tobat orang-orang yang bertobat.شَدِيدِ الْعِقَابِ artinya Allah sangat keras hukuman-Nya terhadap orang yang berani terus-menerus berbuat dosa dan tidak mau bertobat.ذِي الطَّوْلِ maksudnya Allah memiliki karunia, kebaikan, dan ihsan yang sangat luas serta meliputi.Setelah Allah menegaskan kesempurnaan sifat-sifat-Nya, dan itu semua mengharuskan bahwa hanya Dia satu-satunya sesembahan yang pantas diibadahi serta hanya kepada-Nya amal diikhlaskan, maka Allah berfirman: لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nya tempat kembali.” Ayat Ini Merangkum Pokok Isi Al-Qur’anSyaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini:Hubungan antara penyebutan turunnya Al-Qur’an dari Allah yang memiliki sifat-sifat agung ini adalah bahwa sifat-sifat tersebut mencakup seluruh kandungan makna Al-Qur’an.Sebab isi Al-Qur’an itu mencakup beberapa hal:Pertama, Al-Qur’an berisi berita tentang nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Semua itu tercakup dalam ayat ini, karena di dalamnya disebut nama, sifat, dan perbuatan Allah.Kedua, Al-Qur’an berisi berita tentang perkara-perkara gaib, baik yang telah terjadi maupun yang akan datang. Semua itu merupakan bagian dari pengajaran Allah Yang Maha Mengetahui kepada hamba-hamba-Nya.Ketiga, Al-Qur’an berisi berita tentang nikmat-nikmat Allah yang agung, karunia-Nya yang besar, serta jalan untuk meraihnya melalui berbagai perintah. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: ذِي الطَّوْلِ.Keempat, Al-Qur’an berisi berita tentang azab Allah yang keras, serta berbagai perbuatan maksiat yang menyebabkan datangnya azab tersebut. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: شَدِيدِ الْعِقَابِ.Kelima, Al-Qur’an berisi ajakan kepada orang-orang yang berdosa agar bertobat, kembali kepada Allah, dan memohon ampun. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ.Keenam, Al-Qur’an berisi penjelasan bahwa hanya Allah satu-satunya sesembahan yang berhak diibadahi. Al-Qur’an juga menegakkan dalil-dalil akal dan dalil-dalil syariat tentang hal itu, mendorong manusia untuk mentauhidkan Allah, melarang mereka dari menyembah selain-Nya, menerangkan rusaknya ibadah kepada selain Allah, serta memperingatkan manusia darinya. Semua ini ditunjukkan oleh firman-Nya: لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ.Ketujuh, Al-Qur’an berisi berita tentang hukum balasan Allah yang adil, pahala bagi orang-orang yang berbuat baik, dan hukuman bagi orang-orang yang durhaka. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: إِلَيْهِ الْمَصِيرُ.Jadi, ayat ini secara ringkas telah merangkum seluruh pokok ajaran besar yang terkandung dalam Al-Qur’an. Tafsir Ibnu Katsir: Antara Harapan dan Rasa TakutDalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan firman Allah:غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِArtinya, Allah mengampuni dosa yang telah lalu dan menerima tobat pada masa yang akan datang bagi siapa saja yang bertobat kepada-Nya dan merendahkan diri di hadapan-Nya.Kemudian firman-Nya:شَدِيدِ الْعِقَابِArtinya, Allah sangat keras hukuman-Nya bagi orang yang membangkang, melampaui batas, lebih memilih kehidupan dunia, menentang perintah Allah, dan berlaku zalim.Dalam ayat ini terkumpul dua hal sekaligus, yaitu harapan dan rasa takut. Ayat ini serupa dengan firman Allah Ta’ala:نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُوَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ“Sampaikanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa Aku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS. Al-Hijr: 49–50)Allah sering menyandingkan kedua sifat ini dalam banyak ayat Al-Qur’an, agar seorang hamba selalu berada di antara harapan dan rasa takut.Selanjutnya firman Allah:ذِي الطَّوْلِIbnu ‘Abbas menafsirkan bahwa maknanya adalah Allah memiliki keluasan dan kekayaan. Penafsiran ini juga dikemukakan oleh Mujahid dan Qatadah.Yazid bin Al-Asham mengatakan bahwa maknanya adalah Allah memiliki kebaikan yang sangat banyak.Ikrimah menafsirkan bahwa maknanya adalah Allah memiliki karunia dan pemberian.Sedangkan Qatadah menjelaskan bahwa maknanya adalah Allah memiliki berbagai nikmat dan keutamaan.Makna keseluruhannya adalah bahwa Allah senantiasa melimpahkan karunia kepada hamba-hamba-Nya, memberikan berbagai anugerah dan nikmat kepada mereka, padahal mereka tidak mampu mensyukuri satu pun dari nikmat tersebut secara sempurna.Allah Ta’ala berfirman:وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ“Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari nikmat.” (QS. Ibrahim: 34)Kemudian firman-Nya:لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَArtinya, tidak ada yang sebanding dengan-Nya dalam seluruh sifat-sifat-Nya. Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia, dan tidak ada Rabb selain-Nya.Firman-Nya:إِلَيْهِ الْمَصِيرُArtinya, hanya kepada-Nya tempat kembali dan tempat kembali terakhir. Di sana Allah akan membalas setiap orang sesuai dengan amalnya.Sebagaimana firman-Nya:وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ“Dan Dia Maha Cepat perhitungan-Nya.” (QS. Ar-Ra’d: 41) Kisah #01: Masih Adakah Tobat bagi Pembunuh?Kisah pertama ini dibawakan oleh Imam Ibnu Katsir ketika membahas surah Ghafir ayat ketiga.Abu Bakar bin ‘Ayyasy berkata: Aku mendengar Abu Ishaq As-Sabi‘i menceritakan bahwa seorang laki-laki datang kepada ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu lalu berkata,“Wahai Amirul Mukminin, aku telah melakukan pembunuhan. Apakah masih ada tobat bagiku?”Maka ‘Umar membacakan kepadanya ayat:حمتَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِغَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِKemudian beliau berkata,اِعْمَلْ وَلَا تَيْأَسْ“Beramallah dan jangan berputus asa.”Riwayat ini disebutkan oleh Ibnu Abi Hatim (dengan lafaz ini) dan juga oleh Ibnu Jarir. Kisah #02: Cara Menolong Orang yang Jatuh dalam Dosa (Teladan dari Umar bin Al-Khattab)Kisah kedua ini juga dibawakan oleh Imam Ibnu Katsir ketika membahas surah Ghafir ayat ketiga.Ibnu Abi Hatim berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Musa bin Marwan Ar-Raqqi menceritakan kepada kami, ‘Umar — yaitu Ibnu Ayyub — menceritakan kepada kami, Ja‘far bin Burqan menceritakan dari Yazid bin Al-Asham, ia berkata: Dahulu ada seorang lelaki dari penduduk Syam yang dikenal kuat dan pemberani. Ia sering datang menemui ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Suatu waktu ‘Umar tidak lagi melihatnya, lalu beliau bertanya,“Apa yang terjadi dengan si fulan bin fulan?”Mereka menjawab,يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، يُتَابِعُ فِي هَذَا الشَّرَابِ“Wahai Amirul Mukminin, ia sekarang sering terjerumus dalam minuman keras.”Maka ‘Umar memanggil penulisnya dan berkata, “Tulislah:Dari ‘Umar bin Al-Khaththab kepada fulan bin fulan.Salam sejahtera untukmu. Amma ba‘du.Sesungguhnya aku memuji Allah kepadamu, yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, Yang mengampuni dosa, menerima tobat, sangat keras hukuman-Nya, dan memiliki karunia yang luas. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, dan hanya kepada-Nya tempat kembali.”Kemudian ‘Umar berkata kepada para sahabatnya,اُدْعُوا اللَّهَ لِأَخِيكُمْ أَنْ يُقْبِلَ بِقَلْبِهِ، وَأَنْ يَتُوبَ اللَّهُ عَلَيْهِ.“Doakanlah saudara kalian ini agar hatinya kembali kepada Allah dan agar Allah menerima tobatnya.”Ketika surat ‘Umar sampai kepada lelaki tersebut, ia membacanya berulang-ulang sambil berkata,“غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ(Dia Yang mengampuni dosa, menerima tobat, dan keras hukuman-Nya).”Ia berkata, “Allah telah memperingatkanku dengan hukuman-Nya, namun juga menjanjikan ampunan bagiku.”Ia terus mengulang-ulang ayat itu pada dirinya, hingga akhirnya ia menangis. Setelah itu ia meninggalkan kebiasaan buruknya dan bertobat dengan sebaik-baiknya.Ketika kabar tersebut sampai kepada ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,هَكَذَا فَاصْنَعُوا، إِذَا رَأَيْتُمْ أَخَاكُمْ زَلَّ زَلَّةً فَسَدِّدُوهُ وَوَفِّقُوهُ، وَادْعُوا اللَّهَ لَهُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِ، وَلَا تَكُونُوا أَعْوَانًا لِلشَّيْطَانِ عَلَيْهِ.“Seperti inilah yang harus kalian lakukan. Jika kalian melihat saudara kalian tergelincir dalam suatu kesalahan, maka luruskanlah dan bantulah ia kembali ke jalan yang benar. Doakanlah agar Allah menerima tobatnya. Jangan sampai kalian justru menjadi penolong setan untuk menjatuhkannya.”Baca juga: Isi Surat Umar pada Sahabatnya: Jangan Jadi Kroninya Setan Kisah #03: Doa Saat Membaca Ayat Tentang Ampunan dan TobatKisah ketiga ini adalah kelanjutan penjelasan Imam Ibnu Katsir ketika membahas surah Ghafir ayat ketiga.Ibnu Abi Hatim berkata: ‘Umar bin Syabbah menceritakan kepada kami, Hammad bin Waqid — Abu ‘Umar Ash-Shaffar — menceritakan kepada kami, Tsabit Al-Bunani berkata:Aku pernah bersama Mush‘ab bin Az-Zubair di wilayah sekitar Kufah. Lalu aku masuk ke sebuah kebun untuk menunaikan shalat dua rakaat. Aku memulai membaca Surah حم المؤمن (Surah Ghafir). Ketika sampai pada ayat:لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُtiba-tiba ada seorang lelaki di belakangku, menunggang bagal berwarna keabu-abuan. Ia mengenakan pakaian bergaris dari Yaman. Ia berkata kepadaku:“Jika engkau membaca غَافِرِ الذَّنْبِ, maka katakanlah:‘Wahai Yang Mengampuni dosa, ampunilah dosaku.’Jika engkau membaca وَقَابِلِ التَّوْبِ, maka katakanlah:‘Wahai Yang Menerima tobat, terimalah tobatku.’Jika engkau membaca شَدِيدِ الْعِقَابِ, maka katakanlah:‘Wahai Yang sangat keras hukuman-Nya, janganlah Engkau menghukumku.’”Tsabit berkata: Aku pun menoleh ke belakang, tetapi tidak melihat seorang pun. Lalu aku keluar menuju pintu kebun dan bertanya kepada orang-orang,“Apakah ada seseorang yang lewat di sini, mengenakan pakaian bergaris dari Yaman?”Mereka menjawab, “Kami tidak melihat siapa pun.”Sebagian orang kemudian beranggapan bahwa orang tersebut adalah Nabi Ilyas ‘alaihissalam.Riwayat ini juga diriwayatkan melalui jalur lain dari Tsabit dengan kisah yang serupa, namun dalam riwayat itu tidak disebutkan bahwa orang tersebut adalah Ilyas. Nasihat Penutup: Kembali kepada Allah Sebelum TerlambatDi zaman sekarang, banyak orang terjatuh dalam dua sikap yang berbahaya. Sebagian terlalu merasa aman dari dosa sehingga terus menunda tobat, sementara sebagian lain justru putus asa dari rahmat Allah karena banyaknya kesalahan yang pernah dilakukan. Padahal Al-Qur’an mengajarkan keseimbangan: tetap takut kepada hukuman Allah, tetapi tetap berharap pada ampunan-Nya.Ayat ini mengajarkan bahwa pintu tobat selalu terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan. Bahkan seseorang yang pernah melakukan dosa besar sekalipun masih memiliki peluang kembali kepada Allah. Karena itu, jangan pernah menutup pintu harapan bagi diri sendiri maupun bagi saudara kita yang sedang jatuh dalam dosa.Sebaliknya, jika kita melihat saudara kita tergelincir, jangan malah mencela dan menjatuhkannya. Nasihati dengan lembut, doakan agar Allah memberinya hidayah, dan bantu ia kembali kepada jalan yang benar. Inilah akhlak para sahabat, sebagaimana nasihat ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu agar kita tidak menjadi penolong setan atas saudara kita.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba yang selalu hidup di antara rasa takut dan harapan, serta senantiasa kembali kepada-Nya dengan tobat yang tulus.اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، وَارْحَمْنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ التَّائِبِينَ الصَّادِقِينَ.“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, terimalah tobat kami, rahmatilah kami, dan jadikan kami termasuk orang-orang yang benar-benar bertobat.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Sabtu, 25 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdosa dan ampunan harapan dan takut nasihat islam qs ghafir ayat 3 renungan ayat renungan quran sifat Allah tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir tafsir quran taubat dalam islam

Tafsir Surah At-Takwir: Gambaran Dahsyat Hari Kiamat

Surah At-Takwir menggambarkan peristiwa-peristiwa dahsyat yang terjadi menjelang hari kiamat, ketika tatanan alam semesta berubah dan manusia menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah yang menggetarkan. Melalui ayat-ayat ini, Allah mengingatkan bahwa pada hari itu setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dipersiapkannya untuk akhirat, baik berupa kebaikan maupun keburukan.  Daftar Isi tutup 1. Gambaran Dahsyat Hari Kiamat di Awal Surah At-Takwir 1.1. Ketika Matahari Padam dan Bintang-Bintang Berjatuhan 1.2. Gunung Dihancurkan, Harta Paling Berharga Ditinggalkan 1.3. Binatang Dikumpulkan dan Lautan Menyala 1.4. Setiap Jiwa Dikumpulkan Bersama Golongannya 1.5. Bayi Perempuan yang Dikubur Hidup-Hidup Akan Ditanya 1.6. Catatan Amal Dibuka, Langit Disingkap 1.7. Neraka Dinyalakan dan Surga Didekatkan 1.8. Setiap Jiwa Melihat Apa yang Telah Dipersiapkannya 1.9. Surah At-Takwir, Lukisan Hari Kiamat yang Mengguncang Hati 2. Allah Bersumpah dengan Tanda-Tanda Besar di Alam Semesta 3. Al-Qur’an Dibawa oleh Utusan yang Mulia (Jibril) 4. Nabi Muhammad ﷺ Bukan Orang Gila, tetapi Pembawa Wahyu 5. Al-Qur’an Bukan Perkataan Setan 6. Mengapa Masih Berpaling dari Kebenaran? 7. Al-Qur’an adalah Peringatan bagi Seluruh Manusia 8. Hidayah Terjadi dengan Kehendak Allah  Gambaran Dahsyat Hari Kiamat di Awal Surah At-TakwirKetika Matahari Padam dan Bintang-Bintang BerjatuhanAllah Ta’ala berfirman,إِذَا ٱلشَّمْسُ كُوِّرَتْ“Apabila matahari digulung.” (QS. At-Takwir: 1)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Apabila terjadi peristiwa-peristiwa besar yang dahsyat ini, maka manusia akan dipisahkan, dan setiap orang akan mengetahui apa yang telah ia persiapkan untuk akhiratnya, berupa kebaikan maupun keburukan. Hal itu terjadi pada hari kiamat, ketika matahari digulung, yaitu dikumpulkan dan dilipat, bulan digelapkan, lalu keduanya dilemparkan ke dalam neraka. Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلنُّجُومُ ٱنكَدَرَتْ“dan apabila bintang-bintang berjatuhan.” (QS. At-Takwir: 2)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila bintang-bintang berubah dan jatuh berserakan dari tempat peredarannya. Gunung Dihancurkan, Harta Paling Berharga DitinggalkanAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْجِبَالُ سُيِّرَتْ“dan apabila gunung-gunung dihancurkan.” (QS. At-Takwir: 3)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila gunung-gunung digerakkan. Gunung-gunung itu mula-mula menjadi seperti gundukan pasir yang mudah hancur, kemudian menjadi seperti bulu yang beterbangan, lalu berubah menjadi debu yang bertebaran dan dipindahkan dari tempatnya.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْعِشَارُ عُطِّلَتْ“dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan).” (QS. At-Takwir: 4)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan. Pada saat itu manusia meninggalkan harta mereka yang paling berharga, yang sebelumnya sangat mereka perhatikan dan jaga setiap waktu. Mereka menjadi lalai darinya karena kedahsyatan yang mereka hadapi. Disebutkan “unta-unta bunting” karena itulah harta yang paling berharga bagi orang Arab pada masa itu. Penyebutan ini juga mencakup setiap harta yang sangat bernilai. Binatang Dikumpulkan dan Lautan MenyalaAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْوُحُوشُ حُشِرَتْ“dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan.” (QS. At-Takwir: 5)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan. Semuanya dihimpun pada hari kiamat agar Allah menegakkan keadilan dengan memberi pembalasan antara sebagian dengan yang lain. Dengan demikian para hamba dapat melihat kesempurnaan keadilan-Nya. Bahkan akan dilakukan pembalasan antara hewan yang bertanduk terhadap hewan yang tidak bertanduk, kemudian setelah itu Allah berfirman kepadanya, “Jadilah kamu tanah.”Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْبِحَارُ سُجِّرَتْ“dan apabila lautan dijadikan meluap.” (QS. At-Takwir: 6)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila lautan dipanaskan hingga menyala, sehingga lautan yang sangat besar itu berubah menjadi api yang berkobar. Setiap Jiwa Dikumpulkan Bersama GolongannyaAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلنُّفُوسُ زُوِّجَتْ“dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh).” (QS. At-Takwir: 7)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila setiap jiwa dipasangkan dengan yang sejenis dengannya. Orang-orang yang berbuat baik dikumpulkan bersama orang-orang yang berbuat baik, dan orang-orang durhaka dikumpulkan bersama orang-orang durhaka. Orang-orang beriman dipasangkan dengan bidadari surga, sedangkan orang-orang kafir dipasangkan dengan setan-setan mereka. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ زُمَرًا“Orang-orang kafir digiring ke neraka Jahanam secara berkelompok.” (QS. Az-Zumar: 71)وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka digiring ke surga secara berkelompok.” (QS. Az-Zumar: 73)احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ“Kumpulkanlah orang-orang yang zalim bersama pasangan-pasangan mereka.” (QS. Ash-Shaffat: 22) Bayi Perempuan yang Dikubur Hidup-Hidup Akan DitanyaAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْمَوْءُۥدَةُ سُئِلَتْ“dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya.” (QS. At-Takwir: 8)بِأَىِّ ذَنۢبٍ قُتِلَتْ“karena dosa apakah dia dibunuh.” (QS. At-Takwir: 9)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya. Yang dimaksud adalah perbuatan yang dahulu dilakukan oleh orang-orang jahiliah yang sangat bodoh, yaitu mengubur anak perempuan mereka hidup-hidup tanpa alasan apa pun, kecuali karena takut miskin.Lalu ditanyakan kepadanya, “Karena dosa apakah ia dibunuh?” Padahal sudah diketahui bahwa ia tidak memiliki dosa apa pun. Dalam hal ini terdapat celaan dan teguran keras bagi orang-orang yang membunuhnya.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai ayat di atas sebagai berikut.Demikianlah bacaan mayoritas ulama qiraah: سُئِلَتْ (ditanya). Yang dimaksud dengan al-mau’ūdah adalah bayi perempuan yang pada masa jahiliah dikubur hidup-hidup di dalam tanah karena mereka tidak menyukai kelahiran anak perempuan. Pada hari kiamat nanti, bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup itu akan ditanya, “Karena dosa apakah ia dibunuh?” Hal itu menjadi ancaman bagi orang yang membunuhnya. Jika yang dizalimi saja ditanya, maka bagaimana lagi keadaan orang yang berbuat zalim?Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah “dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya“, maksudnya adalah ia meminta penjelasan. Demikian pula dikatakan oleh Abu Adh-Dhuha, bahwa ia menuntut darahnya. Hal yang sama juga dikatakan oleh As-Suddi dan Qatadah.Terdapat beberapa hadis yang berkaitan dengan bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup. Imam Ahmad meriwayatkan: Abdullah bin Yazid menceritakan kepada kami, Sa’id bin Abi Ayyub menceritakan kepada kami, Abu Al-Aswad—yaitu Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Naufal—menceritakan kepadaku, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah, dari Judamah binti Wahb, saudari ‘Ukasyah. Ia berkata: Aku pernah berada bersama Rasulullah ﷺ di tengah beberapa orang, lalu beliau bersabda, “Aku pernah berniat melarang ghilah (menggauli istri yang sedang menyusui). Namun aku melihat orang Romawi dan Persia melakukannya, dan hal itu tidak membahayakan anak-anak mereka.” Kemudian beliau ditanya tentang ‘azl (menumpahkan mani di luar rahim), maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Itu adalah pembunuhan yang tersembunyi,” yaitu seperti yang disebutkan dalam ayat “dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya”.Hadis ini juga diriwayatkan oleh Muslim melalui jalur Abu ‘Abdurrahman Al-Muqri’, yaitu Abdullah bin Yazid, dari Sa’id bin Abi Ayyub. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah melalui Abu Bakr bin Abi Syaibah dari Yahya bin Ishaq As-Sailahini dari Yahya bin Ayyub. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i juga meriwayatkannya dari jalur Malik bin Anas, semuanya dari Abu Al-Aswad dengan sanad yang sama.Imam Ahmad juga meriwayatkan: Ibnu Abi ‘Adi menceritakan kepada kami dari Dawud bin Abi Hind, dari Asy-Sya’bi, dari ‘Alqamah, dari Salamah bin Yazid Al-Ju’fi. Ia berkata: Aku dan saudaraku pergi menemui Rasulullah ﷺ. Kami berkata, “Wahai Rasulullah, ibu kami yang bernama Mulaikah dahulu suka menyambung silaturahmi, memuliakan tamu, dan melakukan berbagai kebaikan, tetapi ia meninggal pada masa jahiliah. Apakah itu bermanfaat baginya?” Beliau menjawab, “Tidak.” Kami berkata lagi, “Dahulu ia pernah mengubur hidup-hidup saudari kami pada masa jahiliah. Apakah itu bermanfaat baginya?” Beliau bersabda, “Orang yang mengubur hidup-hidup dan yang dikubur hidup-hidup keduanya di neraka, kecuali jika orang yang mengubur itu masuk Islam, maka Allah akan memaafkannya.”Hadis ini juga diriwayatkan oleh An-Nasa’i dari Dawud bin Abi Hind dengan sanad yang sama.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan: Ahmad bin Sinan Al-Wasithi menceritakan kepada kami, Abu Ahmad Az-Zubairi menceritakan kepada kami, Isra’il meriwayatkan dari Abu Ishaq, dari ‘Alqamah dan Abu Al-Ahwas, dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang yang mengubur hidup-hidup dan yang dikubur hidup-hidup keduanya di neraka.”Baca juga: Membunuh Anak Karena Takut MiskinAhmad juga meriwayatkan: Ishaq Al-Azraq menceritakan kepada kami, ‘Auf menceritakan kepada kami, Hasna binti Mu’awiyah As-Sarimiyah menceritakan kepadaku dari pamannya. Ia berkata: Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa saja yang berada di surga?” Beliau menjawab, “Nabi di surga, syahid di surga, anak kecil di surga, dan bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup juga di surga.”Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkan: Ayahku menceritakan kepada kami, Muslim bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Qurrah menceritakan kepada kami bahwa ia mendengar Al-Hasan berkata: Pernah ditanyakan kepada Rasulullah ﷺ, “Siapakah yang berada di surga?” Beliau menjawab, “Bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup berada di surga.” Hadis ini adalah hadis mursal dari riwayat Al-Hasan, dan sebagian ulama menerimanya.Baca juga: Nasib Anak-Anak yang Meninggal Sebelum Baligh: Apakah Semua Masuk Surga?Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkan: Abu Abdullah Az-Zahrani menceritakan kepada kami, Hafsh bin ‘Umar Al-‘Adani menceritakan kepada kami, Al-Hakam bin Aban menceritakan dari ‘Ikrimah bahwa Ibnu ‘Abbas berkata, “Anak-anak orang musyrik berada di surga. Barang siapa mengatakan bahwa mereka di neraka, maka ia telah berdusta.” Lalu ia membaca firman Allah:وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ • بِأَيِّ ذَنبٍ قُتِلَتْIbnu ‘Abbas berkata: Yang dimaksud adalah anak perempuan yang dikubur hidup-hidup.Abdurrazzaq meriwayatkan: Isra’il menceritakan kepada kami dari Simak bin Harb, dari An-Nu’man bin Basyir, dari ‘Umar bin Al-Khaththab tentang firman Allah “dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh.” berkata: Qais bin ‘Ashim datang kepada Rasulullah ﷺ lalu berkata, “Wahai Rasulullah, dahulu aku telah mengubur hidup-hidup beberapa anak perempuanku pada masa jahiliah.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Bebaskanlah seorang budak untuk setiap anak perempuan itu.” Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku memiliki banyak unta.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, sembelihlah seekor unta untuk setiap anak perempuan itu.”Al-Hafizh Abu Bakr Al-Bazzar berkata: Riwayat ini diperselisihkan dari Abdurrazzaq, dan kami tidak menuliskannya kecuali dari jalur Al-Husain bin Mahdi darinya.Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkannya dengan sanad yang sama, hanya saja disebutkan bahwa Qais bin ‘Ashim berkata, “Aku telah mengubur delapan anak perempuanku pada masa jahiliah.” Pada akhir riwayat disebutkan, “Jika engkau mau, sembelihlah seekor unta untuk setiap anak perempuan itu.”Kemudian ia berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Abdullah bin Raja’ menceritakan kepada kami, Qais bin Ar-Rabi’ meriwayatkan dari Al-Aghar bin Ash-Shabah, dari Khalifah bin Hushain. Ia berkata: Qais bin ‘Ashim datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Wahai Rasulullah, dahulu aku telah mengubur dua belas atau tiga belas anak perempuanku pada masa jahiliah.” Beliau bersabda, “Bebaskanlah budak sejumlah mereka.” Maka ia pun membebaskan budak sebanyak itu. Pada tahun berikutnya ia datang dengan membawa seratus ekor unta lalu berkata, “Wahai Rasulullah, ini adalah sedekah dari kaumku setelah apa yang telah aku lakukan terhadap kaum muslimin.” Ali bin Abi Thalib berkata: Kami pun menggembalakannya dan menamainya unta-unta Qais.Firman Allah:بِأَيِّ ذَنبٍ قُتِلَتْPada hari kiamat bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup itu ditanya, “Karena dosa apakah ia dibunuh?” Hal ini sebagai ancaman bagi orang yang membunuhnya. Jika orang yang dizalimi saja ditanya, maka bagaimana lagi keadaan orang yang berbuat zalim? Catatan Amal Dibuka, Langit DisingkapAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلصُّحُفُ نُشِرَتْ“dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka.” (QS. At-Takwir: 10)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Apabila lembaran-lembaran catatan amal dibuka, yaitu catatan yang berisi seluruh perbuatan manusia, baik kebaikan maupun keburukan. Catatan itu kemudian dibagikan kepada pemiliknya. Ada yang menerima kitabnya dengan tangan kanan, ada yang menerimanya dengan tangan kiri, dan ada pula yang menerimanya dari belakang punggungnya.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلسَّمَآءُ كُشِطَتْ“dan apabila langit dilenyapkan.” (QS. At-Takwir: 11)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila langit disingkap atau dihilangkan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:يَوْمَ تَشَقَّقُ السَّمَاءُ بِالْغَمَامِ“Pada hari ketika langit terbelah dengan awan.” (QS. Al-Furqan: 25)Dan firman-Nya:يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ“Pada hari Kami melipat langit seperti melipat lembaran-lembaran kitab.” (QS. Al-Anbiya’: 104)Serta firman-Nya: وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ “Dan bumi seluruhnya berada dalam genggaman-Nya pada hari kiamat, dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.” (QS. Az-Zumar: 67) Neraka Dinyalakan dan Surga DidekatkanAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْجَحِيمُ سُعِّرَتْ“dan apabila neraka Jahim dinyalakan.” (QS. At-Takwir: 12)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila neraka Jahim dinyalakan dengan sangat dahsyat, sehingga apinya berkobar dan menyala-nyala dengan kobaran yang belum pernah terjadi sebelumnya.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْجَنَّةُ أُزْلِفَتْ“dan apabila surga didekatkan.” (QS. At-Takwir: 13)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa. Setiap Jiwa Melihat Apa yang Telah DipersiapkannyaAllah Ta’ala berfirman,عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّآ أَحْضَرَتْ“maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.” (QS. At-Takwir: 14)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Pada saat itu setiap jiwa mengetahui apa yang telah dibawanya, yaitu amal-amal yang dahulu telah ia kerjakan dan kini dihadirkan di hadapannya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا“Dan mereka mendapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis di hadapan mereka).” (QS. Al-Kahfi: 49)Sifat-sifat hari kiamat yang digambarkan oleh Allah ini adalah gambaran yang mengguncang hati, menimbulkan kegelisahan yang besar, membuat tubuh gemetar, dan menimbulkan rasa takut yang meliputi manusia. Semua itu mendorong orang-orang yang berakal untuk mempersiapkan diri menghadapi hari tersebut dan menjauhi segala sesuatu yang mendatangkan penyesalan. Surah At-Takwir, Lukisan Hari Kiamat yang Mengguncang HatiKarena itu sebagian ulama salaf berkata:مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُ رَأْيَ عَيْنٍ، فَلْيَتَدَبَّرْ سُورَةَ { إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ }“Barang siapa ingin melihat gambaran hari kiamat seakan-akan melihatnya dengan mata kepala sendiri, hendaklah ia merenungkan surah Idzasy-Syamsu Kuwwirat (Surah At-Takwir).” Allah Bersumpah dengan Tanda-Tanda Besar di Alam SemestaAllah Ta’ala berfirman,فَلَآ أُقْسِمُ بِٱلْخُنَّسِ“Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang.” (QS. At-Takwir: 15)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Allah Ta‘ala bersumpah dengan bintang-bintang yang bersembunyi, yaitu bintang-bintang yang tampak mundur dari perjalanan biasa bintang-bintang lainnya menuju arah timur. Yang dimaksud adalah tujuh benda langit yang bergerak: matahari, bulan, Venus, Jupiter, Mars, Saturnus, dan Merkurius.Ketujuh benda langit ini memiliki dua jenis pergerakan: pergerakan menuju arah barat bersama bintang-bintang dan langit lainnya, serta pergerakan yang berlawanan menuju arah timur yang khusus dimiliki oleh ketujuh benda langit tersebut.Allah Ta’ala berfirman,ٱلْجَوَارِ ٱلْكُنَّسِ“yang beredar dan terbenam.” (QS. At-Takwir: 16)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Allah bersumpah dengan bintang-bintang itu ketika bersembunyi, yaitu ketika tampak mundur; ketika berjalan, yaitu saat bergerak di orbitnya; dan ketika masuk ke tempat persembunyian, yaitu saat tidak tampak di siang hari.Ada pula kemungkinan bahwa yang dimaksud adalah seluruh bintang, baik yang bergerak maupun yang tidak.Allah Ta’ala berfirman,وَٱلَّيْلِ إِذَا عَسْعَسَ“demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya.” (QS. At-Takwir: 17)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.“Demi malam apabila telah hampir berakhir.” Ada pula yang menafsirkan: apabila malam mulai datang.Allah Ta’ala berfirman,وَٱلصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ“dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing.” (QS. At-Takwir: 18)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.“Dan demi subuh apabila mulai bernapas,” yaitu ketika tanda-tanda fajar mulai tampak dan cahaya mulai terbelah sedikit demi sedikit hingga sempurna dan matahari pun terbit.Semua ini adalah tanda-tanda kebesaran Allah yang agung. Allah bersumpah dengannya untuk menunjukkan kemuliaan dan kedudukan tinggi Al-Qur’an. Al-Qur’an Dibawa oleh Utusan yang Mulia (Jibril)Allah Ta’ala berfirman,إِنَّهُۥ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ“Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril).” (QS. At-Takwir: 19)ذِى قُوَّةٍ عِندَ ذِى ٱلْعَرْشِ مَكِينٍ“yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy.” (QS. At-Takwir: 20)مُّطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ“yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya.” (QS. At-Takwir: 21)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah perkataan yang dibawa oleh seorang utusan yang mulia, yaitu Jibril ‘alaihissalam. Ia menurunkannya dari Allah Ta‘ala. Sebagaimana firman Allah:وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ ۝ نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ ۝ عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ“Dan sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam. Yang dibawa turun oleh Ar-Rūḥul Amīn (Jibril) ke dalam hatimu agar engkau termasuk orang-orang yang memberi peringatan.” (QS. Asy-Syu’ara: 192-194)Allah menyifati Jibril sebagai mulia, karena kemuliaan akhlaknya dan banyaknya sifat terpuji yang dimilikinya. Ia adalah malaikat yang paling utama dan paling tinggi kedudukannya di sisi Allah.ذِي قُوَّةٍ عِندَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ (20)Ia memiliki kekuatan dalam melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya.Di antara bukti kekuatannya adalah ketika ia membalik negeri kaum Nabi Luth, sehingga mereka pun dibinasakan.Ia juga dekat dengan Pemilik ‘Arsy, yaitu Allah. Artinya, Jibril memiliki kedudukan yang tinggi dan kedekatan khusus di sisi Allah.Makīn berarti memiliki kedudukan dan tempat yang tinggi, melebihi kedudukan para malaikat lainnya.مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ (21)Ia adalah malaikat yang ditaati di sana, yaitu di kalangan para malaikat di alam atas.Di bawah perintahnya terdapat para malaikat yang patuh kepadanya; perintahnya dijalankan dan pendapatnya ditaati.Ia juga amanah, yaitu menunaikan tugas yang diperintahkan kepadanya dengan sempurna: tidak menambah, tidak mengurangi, dan tidak melampaui apa yang telah ditetapkan baginya.Semua sifat ini menunjukkan betapa mulianya Al-Qur’an di sisi Allah, karena wahyu tersebut dibawa oleh malaikat yang mulia dengan sifat-sifat yang sempurna.Kebiasaan para raja adalah tidak mengutus orang yang mulia kecuali untuk tugas yang sangat penting dan pesan yang paling agung. Nabi Muhammad ﷺ Bukan Orang Gila, tetapi Pembawa WahyuAllah Ta’ala berfirman,وَمَا صَاحِبُكُم بِمَجْنُونٍ“Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila.” (QS. At-Takwir: 22)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Setelah Allah menyebutkan keutamaan rasul dari kalangan malaikat yang membawa Al-Qur’an, Allah juga menyebutkan keutamaan rasul dari kalangan manusia yang menerima Al-Qur’an dan mengajak manusia kepadanya. Allah berfirman: “Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah orang gila.”Yang dimaksud adalah Nabi Muhammad ﷺ. Beliau bukanlah orang gila sebagaimana yang dituduhkan oleh musuh-musuhnya yang mendustakan risalahnya dan melontarkan berbagai tuduhan terhadapnya. Mereka mengatakan berbagai perkataan itu dengan maksud memadamkan kebenaran yang beliau bawa, sebisa yang mereka lakukan. Padahal beliau adalah manusia yang paling sempurna akalnya, paling matang pendapatnya, dan paling jujur ucapannya.Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ رَءَاهُ بِٱلْأُفُقِ ٱلْمُبِينِ“Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang.” (QS. At-Takwir: 23)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Maksudnya, Nabi Muhammad ﷺ benar-benar melihat Malaikat Jibril ‘alaihissalam di ufuk yang terang dan jelas, yaitu di tempat paling tinggi yang dapat terlihat oleh pandangan mata.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا هُوَ عَلَى ٱلْغَيْبِ بِضَنِينٍ“Dan dia (Muhammad) bukanlah orang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib.” (QS. At-Takwir: 24)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Artinya, beliau tidak dituduh menambah, mengurangi, atau menyembunyikan sedikit pun dari wahyu yang Allah turunkan kepadanya. Nabi ﷺ adalah orang yang terpercaya bagi penduduk langit dan penduduk bumi. Beliau menyampaikan risalah Tuhannya dengan penyampaian yang jelas. Beliau tidak menahan sedikit pun dari wahyu tersebut, baik kepada orang kaya maupun orang miskin, kepada pemimpin maupun rakyat biasa, kepada laki-laki maupun perempuan, kepada penduduk kota maupun penduduk desa. Karena itulah Allah mengutus beliau di tengah umat yang ummi dan sangat jahil. Namun sebelum beliau wafat, mereka telah menjadi ulama yang rabbani, para ahli ilmu yang tajam pemahamannya. Pada merekalah puncak ilmu, dan kepada merekalah berakhir kemampuan dalam menggali makna-makna yang mendalam. Mereka adalah para guru, sedangkan selain mereka hanyalah murid-murid mereka. Al-Qur’an Bukan Perkataan SetanAllah Ta’ala berfirman,وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطَٰنٍ رَّجِيمٍ“Dan Al Quran itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk.” (QS. At-Takwir: 25)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Setelah Allah menjelaskan kemuliaan kitab-Nya dan keutamaannya dengan menyebutkan dua rasul yang mulia—yang melalui keduanya Al-Qur’an sampai kepada manusia—serta memuji keduanya dengan pujian yang agung, Allah menolak segala tuduhan dan kekurangan yang dapat merusak kebenaran Al-Qur’an. Maka Allah menegaskan bahwa Al-Qur’an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk, yaitu setan yang sangat jauh dari Allah dan dari kedekatan kepada-Nya. Mengapa Masih Berpaling dari Kebenaran?Allah Ta’ala berfirman,فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ“maka ke manakah kamu akan pergi?” (QS. At-Takwir: 26)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Artinya, bagaimana mungkin anggapan seperti itu muncul dalam pikiran kalian? Ke mana hilangnya akal kalian sampai-sampai kalian menjadikan kebenaran—yang berada pada tingkat paling tinggi dari kejujuran—sebagai sesuatu yang dianggap dusta, padahal dusta adalah sesuatu yang paling rendah, paling buruk, dan paling hina di antara berbagai bentuk kebatilan? Bukankah ini tidak lain hanyalah bentuk terbaliknya hakikat kebenaran? Al-Qur’an adalah Peringatan bagi Seluruh ManusiaAllah Ta’ala berfirman,إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعَٰلَمِينَ“Al Quran itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam.” (QS. At-Takwir: 27)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Melalui Al-Qur’an, manusia diingatkan tentang Tuhan mereka, tentang sifat-sifat kesempurnaan-Nya, dan tentang segala kekurangan serta keburukan yang mustahil bagi-Nya. Mereka juga diingatkan tentang berbagai perintah dan larangan beserta hikmahnya. Selain itu, mereka diingatkan tentang ketentuan-ketentuan Allah, baik yang bersifat takdir, syariat, maupun balasan. Singkatnya, melalui Al-Qur’an manusia diingatkan tentang berbagai kemaslahatan dunia dan akhirat, dan dengan mengamalkannya mereka meraih kebahagiaan di dua kehidupan tersebut.لِمَن شَآءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ“(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.” (QS. At-Takwir: 28)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Hal ini berlaku setelah jelas perbedaan antara jalan yang benar dan jalan yang sesat, serta antara petunjuk dan kesesatan. Hidayah Terjadi dengan Kehendak AllahAllah Ta’ala berfirman,وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At-Takwir: 29)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Artinya, kehendak Allah pasti berlaku dan tidak mungkin ditolak ataupun dihalangi. Dalam ayat ini dan ayat-ayat yang semisal terdapat bantahan terhadap dua kelompok: golongan Qadariyah yang menolak takdir dan golongan yang memaksakan takdir secara mutlak.   Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Sabtu, 25 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagshari kiamat juz amma kiamat besar renungan ayat renungan quran tafsir juz amma tanda kiamat

Tafsir Surah At-Takwir: Gambaran Dahsyat Hari Kiamat

Surah At-Takwir menggambarkan peristiwa-peristiwa dahsyat yang terjadi menjelang hari kiamat, ketika tatanan alam semesta berubah dan manusia menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah yang menggetarkan. Melalui ayat-ayat ini, Allah mengingatkan bahwa pada hari itu setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dipersiapkannya untuk akhirat, baik berupa kebaikan maupun keburukan.  Daftar Isi tutup 1. Gambaran Dahsyat Hari Kiamat di Awal Surah At-Takwir 1.1. Ketika Matahari Padam dan Bintang-Bintang Berjatuhan 1.2. Gunung Dihancurkan, Harta Paling Berharga Ditinggalkan 1.3. Binatang Dikumpulkan dan Lautan Menyala 1.4. Setiap Jiwa Dikumpulkan Bersama Golongannya 1.5. Bayi Perempuan yang Dikubur Hidup-Hidup Akan Ditanya 1.6. Catatan Amal Dibuka, Langit Disingkap 1.7. Neraka Dinyalakan dan Surga Didekatkan 1.8. Setiap Jiwa Melihat Apa yang Telah Dipersiapkannya 1.9. Surah At-Takwir, Lukisan Hari Kiamat yang Mengguncang Hati 2. Allah Bersumpah dengan Tanda-Tanda Besar di Alam Semesta 3. Al-Qur’an Dibawa oleh Utusan yang Mulia (Jibril) 4. Nabi Muhammad ﷺ Bukan Orang Gila, tetapi Pembawa Wahyu 5. Al-Qur’an Bukan Perkataan Setan 6. Mengapa Masih Berpaling dari Kebenaran? 7. Al-Qur’an adalah Peringatan bagi Seluruh Manusia 8. Hidayah Terjadi dengan Kehendak Allah  Gambaran Dahsyat Hari Kiamat di Awal Surah At-TakwirKetika Matahari Padam dan Bintang-Bintang BerjatuhanAllah Ta’ala berfirman,إِذَا ٱلشَّمْسُ كُوِّرَتْ“Apabila matahari digulung.” (QS. At-Takwir: 1)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Apabila terjadi peristiwa-peristiwa besar yang dahsyat ini, maka manusia akan dipisahkan, dan setiap orang akan mengetahui apa yang telah ia persiapkan untuk akhiratnya, berupa kebaikan maupun keburukan. Hal itu terjadi pada hari kiamat, ketika matahari digulung, yaitu dikumpulkan dan dilipat, bulan digelapkan, lalu keduanya dilemparkan ke dalam neraka. Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلنُّجُومُ ٱنكَدَرَتْ“dan apabila bintang-bintang berjatuhan.” (QS. At-Takwir: 2)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila bintang-bintang berubah dan jatuh berserakan dari tempat peredarannya. Gunung Dihancurkan, Harta Paling Berharga DitinggalkanAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْجِبَالُ سُيِّرَتْ“dan apabila gunung-gunung dihancurkan.” (QS. At-Takwir: 3)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila gunung-gunung digerakkan. Gunung-gunung itu mula-mula menjadi seperti gundukan pasir yang mudah hancur, kemudian menjadi seperti bulu yang beterbangan, lalu berubah menjadi debu yang bertebaran dan dipindahkan dari tempatnya.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْعِشَارُ عُطِّلَتْ“dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan).” (QS. At-Takwir: 4)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan. Pada saat itu manusia meninggalkan harta mereka yang paling berharga, yang sebelumnya sangat mereka perhatikan dan jaga setiap waktu. Mereka menjadi lalai darinya karena kedahsyatan yang mereka hadapi. Disebutkan “unta-unta bunting” karena itulah harta yang paling berharga bagi orang Arab pada masa itu. Penyebutan ini juga mencakup setiap harta yang sangat bernilai. Binatang Dikumpulkan dan Lautan MenyalaAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْوُحُوشُ حُشِرَتْ“dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan.” (QS. At-Takwir: 5)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan. Semuanya dihimpun pada hari kiamat agar Allah menegakkan keadilan dengan memberi pembalasan antara sebagian dengan yang lain. Dengan demikian para hamba dapat melihat kesempurnaan keadilan-Nya. Bahkan akan dilakukan pembalasan antara hewan yang bertanduk terhadap hewan yang tidak bertanduk, kemudian setelah itu Allah berfirman kepadanya, “Jadilah kamu tanah.”Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْبِحَارُ سُجِّرَتْ“dan apabila lautan dijadikan meluap.” (QS. At-Takwir: 6)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila lautan dipanaskan hingga menyala, sehingga lautan yang sangat besar itu berubah menjadi api yang berkobar. Setiap Jiwa Dikumpulkan Bersama GolongannyaAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلنُّفُوسُ زُوِّجَتْ“dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh).” (QS. At-Takwir: 7)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila setiap jiwa dipasangkan dengan yang sejenis dengannya. Orang-orang yang berbuat baik dikumpulkan bersama orang-orang yang berbuat baik, dan orang-orang durhaka dikumpulkan bersama orang-orang durhaka. Orang-orang beriman dipasangkan dengan bidadari surga, sedangkan orang-orang kafir dipasangkan dengan setan-setan mereka. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ زُمَرًا“Orang-orang kafir digiring ke neraka Jahanam secara berkelompok.” (QS. Az-Zumar: 71)وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka digiring ke surga secara berkelompok.” (QS. Az-Zumar: 73)احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ“Kumpulkanlah orang-orang yang zalim bersama pasangan-pasangan mereka.” (QS. Ash-Shaffat: 22) Bayi Perempuan yang Dikubur Hidup-Hidup Akan DitanyaAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْمَوْءُۥدَةُ سُئِلَتْ“dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya.” (QS. At-Takwir: 8)بِأَىِّ ذَنۢبٍ قُتِلَتْ“karena dosa apakah dia dibunuh.” (QS. At-Takwir: 9)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya. Yang dimaksud adalah perbuatan yang dahulu dilakukan oleh orang-orang jahiliah yang sangat bodoh, yaitu mengubur anak perempuan mereka hidup-hidup tanpa alasan apa pun, kecuali karena takut miskin.Lalu ditanyakan kepadanya, “Karena dosa apakah ia dibunuh?” Padahal sudah diketahui bahwa ia tidak memiliki dosa apa pun. Dalam hal ini terdapat celaan dan teguran keras bagi orang-orang yang membunuhnya.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai ayat di atas sebagai berikut.Demikianlah bacaan mayoritas ulama qiraah: سُئِلَتْ (ditanya). Yang dimaksud dengan al-mau’ūdah adalah bayi perempuan yang pada masa jahiliah dikubur hidup-hidup di dalam tanah karena mereka tidak menyukai kelahiran anak perempuan. Pada hari kiamat nanti, bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup itu akan ditanya, “Karena dosa apakah ia dibunuh?” Hal itu menjadi ancaman bagi orang yang membunuhnya. Jika yang dizalimi saja ditanya, maka bagaimana lagi keadaan orang yang berbuat zalim?Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah “dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya“, maksudnya adalah ia meminta penjelasan. Demikian pula dikatakan oleh Abu Adh-Dhuha, bahwa ia menuntut darahnya. Hal yang sama juga dikatakan oleh As-Suddi dan Qatadah.Terdapat beberapa hadis yang berkaitan dengan bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup. Imam Ahmad meriwayatkan: Abdullah bin Yazid menceritakan kepada kami, Sa’id bin Abi Ayyub menceritakan kepada kami, Abu Al-Aswad—yaitu Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Naufal—menceritakan kepadaku, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah, dari Judamah binti Wahb, saudari ‘Ukasyah. Ia berkata: Aku pernah berada bersama Rasulullah ﷺ di tengah beberapa orang, lalu beliau bersabda, “Aku pernah berniat melarang ghilah (menggauli istri yang sedang menyusui). Namun aku melihat orang Romawi dan Persia melakukannya, dan hal itu tidak membahayakan anak-anak mereka.” Kemudian beliau ditanya tentang ‘azl (menumpahkan mani di luar rahim), maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Itu adalah pembunuhan yang tersembunyi,” yaitu seperti yang disebutkan dalam ayat “dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya”.Hadis ini juga diriwayatkan oleh Muslim melalui jalur Abu ‘Abdurrahman Al-Muqri’, yaitu Abdullah bin Yazid, dari Sa’id bin Abi Ayyub. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah melalui Abu Bakr bin Abi Syaibah dari Yahya bin Ishaq As-Sailahini dari Yahya bin Ayyub. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i juga meriwayatkannya dari jalur Malik bin Anas, semuanya dari Abu Al-Aswad dengan sanad yang sama.Imam Ahmad juga meriwayatkan: Ibnu Abi ‘Adi menceritakan kepada kami dari Dawud bin Abi Hind, dari Asy-Sya’bi, dari ‘Alqamah, dari Salamah bin Yazid Al-Ju’fi. Ia berkata: Aku dan saudaraku pergi menemui Rasulullah ﷺ. Kami berkata, “Wahai Rasulullah, ibu kami yang bernama Mulaikah dahulu suka menyambung silaturahmi, memuliakan tamu, dan melakukan berbagai kebaikan, tetapi ia meninggal pada masa jahiliah. Apakah itu bermanfaat baginya?” Beliau menjawab, “Tidak.” Kami berkata lagi, “Dahulu ia pernah mengubur hidup-hidup saudari kami pada masa jahiliah. Apakah itu bermanfaat baginya?” Beliau bersabda, “Orang yang mengubur hidup-hidup dan yang dikubur hidup-hidup keduanya di neraka, kecuali jika orang yang mengubur itu masuk Islam, maka Allah akan memaafkannya.”Hadis ini juga diriwayatkan oleh An-Nasa’i dari Dawud bin Abi Hind dengan sanad yang sama.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan: Ahmad bin Sinan Al-Wasithi menceritakan kepada kami, Abu Ahmad Az-Zubairi menceritakan kepada kami, Isra’il meriwayatkan dari Abu Ishaq, dari ‘Alqamah dan Abu Al-Ahwas, dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang yang mengubur hidup-hidup dan yang dikubur hidup-hidup keduanya di neraka.”Baca juga: Membunuh Anak Karena Takut MiskinAhmad juga meriwayatkan: Ishaq Al-Azraq menceritakan kepada kami, ‘Auf menceritakan kepada kami, Hasna binti Mu’awiyah As-Sarimiyah menceritakan kepadaku dari pamannya. Ia berkata: Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa saja yang berada di surga?” Beliau menjawab, “Nabi di surga, syahid di surga, anak kecil di surga, dan bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup juga di surga.”Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkan: Ayahku menceritakan kepada kami, Muslim bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Qurrah menceritakan kepada kami bahwa ia mendengar Al-Hasan berkata: Pernah ditanyakan kepada Rasulullah ﷺ, “Siapakah yang berada di surga?” Beliau menjawab, “Bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup berada di surga.” Hadis ini adalah hadis mursal dari riwayat Al-Hasan, dan sebagian ulama menerimanya.Baca juga: Nasib Anak-Anak yang Meninggal Sebelum Baligh: Apakah Semua Masuk Surga?Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkan: Abu Abdullah Az-Zahrani menceritakan kepada kami, Hafsh bin ‘Umar Al-‘Adani menceritakan kepada kami, Al-Hakam bin Aban menceritakan dari ‘Ikrimah bahwa Ibnu ‘Abbas berkata, “Anak-anak orang musyrik berada di surga. Barang siapa mengatakan bahwa mereka di neraka, maka ia telah berdusta.” Lalu ia membaca firman Allah:وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ • بِأَيِّ ذَنبٍ قُتِلَتْIbnu ‘Abbas berkata: Yang dimaksud adalah anak perempuan yang dikubur hidup-hidup.Abdurrazzaq meriwayatkan: Isra’il menceritakan kepada kami dari Simak bin Harb, dari An-Nu’man bin Basyir, dari ‘Umar bin Al-Khaththab tentang firman Allah “dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh.” berkata: Qais bin ‘Ashim datang kepada Rasulullah ﷺ lalu berkata, “Wahai Rasulullah, dahulu aku telah mengubur hidup-hidup beberapa anak perempuanku pada masa jahiliah.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Bebaskanlah seorang budak untuk setiap anak perempuan itu.” Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku memiliki banyak unta.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, sembelihlah seekor unta untuk setiap anak perempuan itu.”Al-Hafizh Abu Bakr Al-Bazzar berkata: Riwayat ini diperselisihkan dari Abdurrazzaq, dan kami tidak menuliskannya kecuali dari jalur Al-Husain bin Mahdi darinya.Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkannya dengan sanad yang sama, hanya saja disebutkan bahwa Qais bin ‘Ashim berkata, “Aku telah mengubur delapan anak perempuanku pada masa jahiliah.” Pada akhir riwayat disebutkan, “Jika engkau mau, sembelihlah seekor unta untuk setiap anak perempuan itu.”Kemudian ia berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Abdullah bin Raja’ menceritakan kepada kami, Qais bin Ar-Rabi’ meriwayatkan dari Al-Aghar bin Ash-Shabah, dari Khalifah bin Hushain. Ia berkata: Qais bin ‘Ashim datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Wahai Rasulullah, dahulu aku telah mengubur dua belas atau tiga belas anak perempuanku pada masa jahiliah.” Beliau bersabda, “Bebaskanlah budak sejumlah mereka.” Maka ia pun membebaskan budak sebanyak itu. Pada tahun berikutnya ia datang dengan membawa seratus ekor unta lalu berkata, “Wahai Rasulullah, ini adalah sedekah dari kaumku setelah apa yang telah aku lakukan terhadap kaum muslimin.” Ali bin Abi Thalib berkata: Kami pun menggembalakannya dan menamainya unta-unta Qais.Firman Allah:بِأَيِّ ذَنبٍ قُتِلَتْPada hari kiamat bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup itu ditanya, “Karena dosa apakah ia dibunuh?” Hal ini sebagai ancaman bagi orang yang membunuhnya. Jika orang yang dizalimi saja ditanya, maka bagaimana lagi keadaan orang yang berbuat zalim? Catatan Amal Dibuka, Langit DisingkapAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلصُّحُفُ نُشِرَتْ“dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka.” (QS. At-Takwir: 10)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Apabila lembaran-lembaran catatan amal dibuka, yaitu catatan yang berisi seluruh perbuatan manusia, baik kebaikan maupun keburukan. Catatan itu kemudian dibagikan kepada pemiliknya. Ada yang menerima kitabnya dengan tangan kanan, ada yang menerimanya dengan tangan kiri, dan ada pula yang menerimanya dari belakang punggungnya.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلسَّمَآءُ كُشِطَتْ“dan apabila langit dilenyapkan.” (QS. At-Takwir: 11)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila langit disingkap atau dihilangkan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:يَوْمَ تَشَقَّقُ السَّمَاءُ بِالْغَمَامِ“Pada hari ketika langit terbelah dengan awan.” (QS. Al-Furqan: 25)Dan firman-Nya:يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ“Pada hari Kami melipat langit seperti melipat lembaran-lembaran kitab.” (QS. Al-Anbiya’: 104)Serta firman-Nya: وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ “Dan bumi seluruhnya berada dalam genggaman-Nya pada hari kiamat, dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.” (QS. Az-Zumar: 67) Neraka Dinyalakan dan Surga DidekatkanAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْجَحِيمُ سُعِّرَتْ“dan apabila neraka Jahim dinyalakan.” (QS. At-Takwir: 12)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila neraka Jahim dinyalakan dengan sangat dahsyat, sehingga apinya berkobar dan menyala-nyala dengan kobaran yang belum pernah terjadi sebelumnya.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْجَنَّةُ أُزْلِفَتْ“dan apabila surga didekatkan.” (QS. At-Takwir: 13)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa. Setiap Jiwa Melihat Apa yang Telah DipersiapkannyaAllah Ta’ala berfirman,عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّآ أَحْضَرَتْ“maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.” (QS. At-Takwir: 14)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Pada saat itu setiap jiwa mengetahui apa yang telah dibawanya, yaitu amal-amal yang dahulu telah ia kerjakan dan kini dihadirkan di hadapannya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا“Dan mereka mendapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis di hadapan mereka).” (QS. Al-Kahfi: 49)Sifat-sifat hari kiamat yang digambarkan oleh Allah ini adalah gambaran yang mengguncang hati, menimbulkan kegelisahan yang besar, membuat tubuh gemetar, dan menimbulkan rasa takut yang meliputi manusia. Semua itu mendorong orang-orang yang berakal untuk mempersiapkan diri menghadapi hari tersebut dan menjauhi segala sesuatu yang mendatangkan penyesalan. Surah At-Takwir, Lukisan Hari Kiamat yang Mengguncang HatiKarena itu sebagian ulama salaf berkata:مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُ رَأْيَ عَيْنٍ، فَلْيَتَدَبَّرْ سُورَةَ { إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ }“Barang siapa ingin melihat gambaran hari kiamat seakan-akan melihatnya dengan mata kepala sendiri, hendaklah ia merenungkan surah Idzasy-Syamsu Kuwwirat (Surah At-Takwir).” Allah Bersumpah dengan Tanda-Tanda Besar di Alam SemestaAllah Ta’ala berfirman,فَلَآ أُقْسِمُ بِٱلْخُنَّسِ“Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang.” (QS. At-Takwir: 15)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Allah Ta‘ala bersumpah dengan bintang-bintang yang bersembunyi, yaitu bintang-bintang yang tampak mundur dari perjalanan biasa bintang-bintang lainnya menuju arah timur. Yang dimaksud adalah tujuh benda langit yang bergerak: matahari, bulan, Venus, Jupiter, Mars, Saturnus, dan Merkurius.Ketujuh benda langit ini memiliki dua jenis pergerakan: pergerakan menuju arah barat bersama bintang-bintang dan langit lainnya, serta pergerakan yang berlawanan menuju arah timur yang khusus dimiliki oleh ketujuh benda langit tersebut.Allah Ta’ala berfirman,ٱلْجَوَارِ ٱلْكُنَّسِ“yang beredar dan terbenam.” (QS. At-Takwir: 16)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Allah bersumpah dengan bintang-bintang itu ketika bersembunyi, yaitu ketika tampak mundur; ketika berjalan, yaitu saat bergerak di orbitnya; dan ketika masuk ke tempat persembunyian, yaitu saat tidak tampak di siang hari.Ada pula kemungkinan bahwa yang dimaksud adalah seluruh bintang, baik yang bergerak maupun yang tidak.Allah Ta’ala berfirman,وَٱلَّيْلِ إِذَا عَسْعَسَ“demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya.” (QS. At-Takwir: 17)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.“Demi malam apabila telah hampir berakhir.” Ada pula yang menafsirkan: apabila malam mulai datang.Allah Ta’ala berfirman,وَٱلصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ“dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing.” (QS. At-Takwir: 18)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.“Dan demi subuh apabila mulai bernapas,” yaitu ketika tanda-tanda fajar mulai tampak dan cahaya mulai terbelah sedikit demi sedikit hingga sempurna dan matahari pun terbit.Semua ini adalah tanda-tanda kebesaran Allah yang agung. Allah bersumpah dengannya untuk menunjukkan kemuliaan dan kedudukan tinggi Al-Qur’an. Al-Qur’an Dibawa oleh Utusan yang Mulia (Jibril)Allah Ta’ala berfirman,إِنَّهُۥ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ“Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril).” (QS. At-Takwir: 19)ذِى قُوَّةٍ عِندَ ذِى ٱلْعَرْشِ مَكِينٍ“yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy.” (QS. At-Takwir: 20)مُّطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ“yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya.” (QS. At-Takwir: 21)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah perkataan yang dibawa oleh seorang utusan yang mulia, yaitu Jibril ‘alaihissalam. Ia menurunkannya dari Allah Ta‘ala. Sebagaimana firman Allah:وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ ۝ نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ ۝ عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ“Dan sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam. Yang dibawa turun oleh Ar-Rūḥul Amīn (Jibril) ke dalam hatimu agar engkau termasuk orang-orang yang memberi peringatan.” (QS. Asy-Syu’ara: 192-194)Allah menyifati Jibril sebagai mulia, karena kemuliaan akhlaknya dan banyaknya sifat terpuji yang dimilikinya. Ia adalah malaikat yang paling utama dan paling tinggi kedudukannya di sisi Allah.ذِي قُوَّةٍ عِندَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ (20)Ia memiliki kekuatan dalam melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya.Di antara bukti kekuatannya adalah ketika ia membalik negeri kaum Nabi Luth, sehingga mereka pun dibinasakan.Ia juga dekat dengan Pemilik ‘Arsy, yaitu Allah. Artinya, Jibril memiliki kedudukan yang tinggi dan kedekatan khusus di sisi Allah.Makīn berarti memiliki kedudukan dan tempat yang tinggi, melebihi kedudukan para malaikat lainnya.مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ (21)Ia adalah malaikat yang ditaati di sana, yaitu di kalangan para malaikat di alam atas.Di bawah perintahnya terdapat para malaikat yang patuh kepadanya; perintahnya dijalankan dan pendapatnya ditaati.Ia juga amanah, yaitu menunaikan tugas yang diperintahkan kepadanya dengan sempurna: tidak menambah, tidak mengurangi, dan tidak melampaui apa yang telah ditetapkan baginya.Semua sifat ini menunjukkan betapa mulianya Al-Qur’an di sisi Allah, karena wahyu tersebut dibawa oleh malaikat yang mulia dengan sifat-sifat yang sempurna.Kebiasaan para raja adalah tidak mengutus orang yang mulia kecuali untuk tugas yang sangat penting dan pesan yang paling agung. Nabi Muhammad ﷺ Bukan Orang Gila, tetapi Pembawa WahyuAllah Ta’ala berfirman,وَمَا صَاحِبُكُم بِمَجْنُونٍ“Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila.” (QS. At-Takwir: 22)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Setelah Allah menyebutkan keutamaan rasul dari kalangan malaikat yang membawa Al-Qur’an, Allah juga menyebutkan keutamaan rasul dari kalangan manusia yang menerima Al-Qur’an dan mengajak manusia kepadanya. Allah berfirman: “Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah orang gila.”Yang dimaksud adalah Nabi Muhammad ﷺ. Beliau bukanlah orang gila sebagaimana yang dituduhkan oleh musuh-musuhnya yang mendustakan risalahnya dan melontarkan berbagai tuduhan terhadapnya. Mereka mengatakan berbagai perkataan itu dengan maksud memadamkan kebenaran yang beliau bawa, sebisa yang mereka lakukan. Padahal beliau adalah manusia yang paling sempurna akalnya, paling matang pendapatnya, dan paling jujur ucapannya.Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ رَءَاهُ بِٱلْأُفُقِ ٱلْمُبِينِ“Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang.” (QS. At-Takwir: 23)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Maksudnya, Nabi Muhammad ﷺ benar-benar melihat Malaikat Jibril ‘alaihissalam di ufuk yang terang dan jelas, yaitu di tempat paling tinggi yang dapat terlihat oleh pandangan mata.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا هُوَ عَلَى ٱلْغَيْبِ بِضَنِينٍ“Dan dia (Muhammad) bukanlah orang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib.” (QS. At-Takwir: 24)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Artinya, beliau tidak dituduh menambah, mengurangi, atau menyembunyikan sedikit pun dari wahyu yang Allah turunkan kepadanya. Nabi ﷺ adalah orang yang terpercaya bagi penduduk langit dan penduduk bumi. Beliau menyampaikan risalah Tuhannya dengan penyampaian yang jelas. Beliau tidak menahan sedikit pun dari wahyu tersebut, baik kepada orang kaya maupun orang miskin, kepada pemimpin maupun rakyat biasa, kepada laki-laki maupun perempuan, kepada penduduk kota maupun penduduk desa. Karena itulah Allah mengutus beliau di tengah umat yang ummi dan sangat jahil. Namun sebelum beliau wafat, mereka telah menjadi ulama yang rabbani, para ahli ilmu yang tajam pemahamannya. Pada merekalah puncak ilmu, dan kepada merekalah berakhir kemampuan dalam menggali makna-makna yang mendalam. Mereka adalah para guru, sedangkan selain mereka hanyalah murid-murid mereka. Al-Qur’an Bukan Perkataan SetanAllah Ta’ala berfirman,وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطَٰنٍ رَّجِيمٍ“Dan Al Quran itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk.” (QS. At-Takwir: 25)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Setelah Allah menjelaskan kemuliaan kitab-Nya dan keutamaannya dengan menyebutkan dua rasul yang mulia—yang melalui keduanya Al-Qur’an sampai kepada manusia—serta memuji keduanya dengan pujian yang agung, Allah menolak segala tuduhan dan kekurangan yang dapat merusak kebenaran Al-Qur’an. Maka Allah menegaskan bahwa Al-Qur’an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk, yaitu setan yang sangat jauh dari Allah dan dari kedekatan kepada-Nya. Mengapa Masih Berpaling dari Kebenaran?Allah Ta’ala berfirman,فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ“maka ke manakah kamu akan pergi?” (QS. At-Takwir: 26)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Artinya, bagaimana mungkin anggapan seperti itu muncul dalam pikiran kalian? Ke mana hilangnya akal kalian sampai-sampai kalian menjadikan kebenaran—yang berada pada tingkat paling tinggi dari kejujuran—sebagai sesuatu yang dianggap dusta, padahal dusta adalah sesuatu yang paling rendah, paling buruk, dan paling hina di antara berbagai bentuk kebatilan? Bukankah ini tidak lain hanyalah bentuk terbaliknya hakikat kebenaran? Al-Qur’an adalah Peringatan bagi Seluruh ManusiaAllah Ta’ala berfirman,إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعَٰلَمِينَ“Al Quran itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam.” (QS. At-Takwir: 27)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Melalui Al-Qur’an, manusia diingatkan tentang Tuhan mereka, tentang sifat-sifat kesempurnaan-Nya, dan tentang segala kekurangan serta keburukan yang mustahil bagi-Nya. Mereka juga diingatkan tentang berbagai perintah dan larangan beserta hikmahnya. Selain itu, mereka diingatkan tentang ketentuan-ketentuan Allah, baik yang bersifat takdir, syariat, maupun balasan. Singkatnya, melalui Al-Qur’an manusia diingatkan tentang berbagai kemaslahatan dunia dan akhirat, dan dengan mengamalkannya mereka meraih kebahagiaan di dua kehidupan tersebut.لِمَن شَآءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ“(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.” (QS. At-Takwir: 28)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Hal ini berlaku setelah jelas perbedaan antara jalan yang benar dan jalan yang sesat, serta antara petunjuk dan kesesatan. Hidayah Terjadi dengan Kehendak AllahAllah Ta’ala berfirman,وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At-Takwir: 29)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Artinya, kehendak Allah pasti berlaku dan tidak mungkin ditolak ataupun dihalangi. Dalam ayat ini dan ayat-ayat yang semisal terdapat bantahan terhadap dua kelompok: golongan Qadariyah yang menolak takdir dan golongan yang memaksakan takdir secara mutlak.   Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Sabtu, 25 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagshari kiamat juz amma kiamat besar renungan ayat renungan quran tafsir juz amma tanda kiamat
Surah At-Takwir menggambarkan peristiwa-peristiwa dahsyat yang terjadi menjelang hari kiamat, ketika tatanan alam semesta berubah dan manusia menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah yang menggetarkan. Melalui ayat-ayat ini, Allah mengingatkan bahwa pada hari itu setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dipersiapkannya untuk akhirat, baik berupa kebaikan maupun keburukan.  Daftar Isi tutup 1. Gambaran Dahsyat Hari Kiamat di Awal Surah At-Takwir 1.1. Ketika Matahari Padam dan Bintang-Bintang Berjatuhan 1.2. Gunung Dihancurkan, Harta Paling Berharga Ditinggalkan 1.3. Binatang Dikumpulkan dan Lautan Menyala 1.4. Setiap Jiwa Dikumpulkan Bersama Golongannya 1.5. Bayi Perempuan yang Dikubur Hidup-Hidup Akan Ditanya 1.6. Catatan Amal Dibuka, Langit Disingkap 1.7. Neraka Dinyalakan dan Surga Didekatkan 1.8. Setiap Jiwa Melihat Apa yang Telah Dipersiapkannya 1.9. Surah At-Takwir, Lukisan Hari Kiamat yang Mengguncang Hati 2. Allah Bersumpah dengan Tanda-Tanda Besar di Alam Semesta 3. Al-Qur’an Dibawa oleh Utusan yang Mulia (Jibril) 4. Nabi Muhammad ﷺ Bukan Orang Gila, tetapi Pembawa Wahyu 5. Al-Qur’an Bukan Perkataan Setan 6. Mengapa Masih Berpaling dari Kebenaran? 7. Al-Qur’an adalah Peringatan bagi Seluruh Manusia 8. Hidayah Terjadi dengan Kehendak Allah  Gambaran Dahsyat Hari Kiamat di Awal Surah At-TakwirKetika Matahari Padam dan Bintang-Bintang BerjatuhanAllah Ta’ala berfirman,إِذَا ٱلشَّمْسُ كُوِّرَتْ“Apabila matahari digulung.” (QS. At-Takwir: 1)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Apabila terjadi peristiwa-peristiwa besar yang dahsyat ini, maka manusia akan dipisahkan, dan setiap orang akan mengetahui apa yang telah ia persiapkan untuk akhiratnya, berupa kebaikan maupun keburukan. Hal itu terjadi pada hari kiamat, ketika matahari digulung, yaitu dikumpulkan dan dilipat, bulan digelapkan, lalu keduanya dilemparkan ke dalam neraka. Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلنُّجُومُ ٱنكَدَرَتْ“dan apabila bintang-bintang berjatuhan.” (QS. At-Takwir: 2)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila bintang-bintang berubah dan jatuh berserakan dari tempat peredarannya. Gunung Dihancurkan, Harta Paling Berharga DitinggalkanAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْجِبَالُ سُيِّرَتْ“dan apabila gunung-gunung dihancurkan.” (QS. At-Takwir: 3)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila gunung-gunung digerakkan. Gunung-gunung itu mula-mula menjadi seperti gundukan pasir yang mudah hancur, kemudian menjadi seperti bulu yang beterbangan, lalu berubah menjadi debu yang bertebaran dan dipindahkan dari tempatnya.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْعِشَارُ عُطِّلَتْ“dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan).” (QS. At-Takwir: 4)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan. Pada saat itu manusia meninggalkan harta mereka yang paling berharga, yang sebelumnya sangat mereka perhatikan dan jaga setiap waktu. Mereka menjadi lalai darinya karena kedahsyatan yang mereka hadapi. Disebutkan “unta-unta bunting” karena itulah harta yang paling berharga bagi orang Arab pada masa itu. Penyebutan ini juga mencakup setiap harta yang sangat bernilai. Binatang Dikumpulkan dan Lautan MenyalaAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْوُحُوشُ حُشِرَتْ“dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan.” (QS. At-Takwir: 5)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan. Semuanya dihimpun pada hari kiamat agar Allah menegakkan keadilan dengan memberi pembalasan antara sebagian dengan yang lain. Dengan demikian para hamba dapat melihat kesempurnaan keadilan-Nya. Bahkan akan dilakukan pembalasan antara hewan yang bertanduk terhadap hewan yang tidak bertanduk, kemudian setelah itu Allah berfirman kepadanya, “Jadilah kamu tanah.”Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْبِحَارُ سُجِّرَتْ“dan apabila lautan dijadikan meluap.” (QS. At-Takwir: 6)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila lautan dipanaskan hingga menyala, sehingga lautan yang sangat besar itu berubah menjadi api yang berkobar. Setiap Jiwa Dikumpulkan Bersama GolongannyaAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلنُّفُوسُ زُوِّجَتْ“dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh).” (QS. At-Takwir: 7)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila setiap jiwa dipasangkan dengan yang sejenis dengannya. Orang-orang yang berbuat baik dikumpulkan bersama orang-orang yang berbuat baik, dan orang-orang durhaka dikumpulkan bersama orang-orang durhaka. Orang-orang beriman dipasangkan dengan bidadari surga, sedangkan orang-orang kafir dipasangkan dengan setan-setan mereka. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ زُمَرًا“Orang-orang kafir digiring ke neraka Jahanam secara berkelompok.” (QS. Az-Zumar: 71)وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka digiring ke surga secara berkelompok.” (QS. Az-Zumar: 73)احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ“Kumpulkanlah orang-orang yang zalim bersama pasangan-pasangan mereka.” (QS. Ash-Shaffat: 22) Bayi Perempuan yang Dikubur Hidup-Hidup Akan DitanyaAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْمَوْءُۥدَةُ سُئِلَتْ“dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya.” (QS. At-Takwir: 8)بِأَىِّ ذَنۢبٍ قُتِلَتْ“karena dosa apakah dia dibunuh.” (QS. At-Takwir: 9)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya. Yang dimaksud adalah perbuatan yang dahulu dilakukan oleh orang-orang jahiliah yang sangat bodoh, yaitu mengubur anak perempuan mereka hidup-hidup tanpa alasan apa pun, kecuali karena takut miskin.Lalu ditanyakan kepadanya, “Karena dosa apakah ia dibunuh?” Padahal sudah diketahui bahwa ia tidak memiliki dosa apa pun. Dalam hal ini terdapat celaan dan teguran keras bagi orang-orang yang membunuhnya.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai ayat di atas sebagai berikut.Demikianlah bacaan mayoritas ulama qiraah: سُئِلَتْ (ditanya). Yang dimaksud dengan al-mau’ūdah adalah bayi perempuan yang pada masa jahiliah dikubur hidup-hidup di dalam tanah karena mereka tidak menyukai kelahiran anak perempuan. Pada hari kiamat nanti, bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup itu akan ditanya, “Karena dosa apakah ia dibunuh?” Hal itu menjadi ancaman bagi orang yang membunuhnya. Jika yang dizalimi saja ditanya, maka bagaimana lagi keadaan orang yang berbuat zalim?Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah “dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya“, maksudnya adalah ia meminta penjelasan. Demikian pula dikatakan oleh Abu Adh-Dhuha, bahwa ia menuntut darahnya. Hal yang sama juga dikatakan oleh As-Suddi dan Qatadah.Terdapat beberapa hadis yang berkaitan dengan bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup. Imam Ahmad meriwayatkan: Abdullah bin Yazid menceritakan kepada kami, Sa’id bin Abi Ayyub menceritakan kepada kami, Abu Al-Aswad—yaitu Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Naufal—menceritakan kepadaku, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah, dari Judamah binti Wahb, saudari ‘Ukasyah. Ia berkata: Aku pernah berada bersama Rasulullah ﷺ di tengah beberapa orang, lalu beliau bersabda, “Aku pernah berniat melarang ghilah (menggauli istri yang sedang menyusui). Namun aku melihat orang Romawi dan Persia melakukannya, dan hal itu tidak membahayakan anak-anak mereka.” Kemudian beliau ditanya tentang ‘azl (menumpahkan mani di luar rahim), maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Itu adalah pembunuhan yang tersembunyi,” yaitu seperti yang disebutkan dalam ayat “dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya”.Hadis ini juga diriwayatkan oleh Muslim melalui jalur Abu ‘Abdurrahman Al-Muqri’, yaitu Abdullah bin Yazid, dari Sa’id bin Abi Ayyub. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah melalui Abu Bakr bin Abi Syaibah dari Yahya bin Ishaq As-Sailahini dari Yahya bin Ayyub. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i juga meriwayatkannya dari jalur Malik bin Anas, semuanya dari Abu Al-Aswad dengan sanad yang sama.Imam Ahmad juga meriwayatkan: Ibnu Abi ‘Adi menceritakan kepada kami dari Dawud bin Abi Hind, dari Asy-Sya’bi, dari ‘Alqamah, dari Salamah bin Yazid Al-Ju’fi. Ia berkata: Aku dan saudaraku pergi menemui Rasulullah ﷺ. Kami berkata, “Wahai Rasulullah, ibu kami yang bernama Mulaikah dahulu suka menyambung silaturahmi, memuliakan tamu, dan melakukan berbagai kebaikan, tetapi ia meninggal pada masa jahiliah. Apakah itu bermanfaat baginya?” Beliau menjawab, “Tidak.” Kami berkata lagi, “Dahulu ia pernah mengubur hidup-hidup saudari kami pada masa jahiliah. Apakah itu bermanfaat baginya?” Beliau bersabda, “Orang yang mengubur hidup-hidup dan yang dikubur hidup-hidup keduanya di neraka, kecuali jika orang yang mengubur itu masuk Islam, maka Allah akan memaafkannya.”Hadis ini juga diriwayatkan oleh An-Nasa’i dari Dawud bin Abi Hind dengan sanad yang sama.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan: Ahmad bin Sinan Al-Wasithi menceritakan kepada kami, Abu Ahmad Az-Zubairi menceritakan kepada kami, Isra’il meriwayatkan dari Abu Ishaq, dari ‘Alqamah dan Abu Al-Ahwas, dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang yang mengubur hidup-hidup dan yang dikubur hidup-hidup keduanya di neraka.”Baca juga: Membunuh Anak Karena Takut MiskinAhmad juga meriwayatkan: Ishaq Al-Azraq menceritakan kepada kami, ‘Auf menceritakan kepada kami, Hasna binti Mu’awiyah As-Sarimiyah menceritakan kepadaku dari pamannya. Ia berkata: Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa saja yang berada di surga?” Beliau menjawab, “Nabi di surga, syahid di surga, anak kecil di surga, dan bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup juga di surga.”Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkan: Ayahku menceritakan kepada kami, Muslim bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Qurrah menceritakan kepada kami bahwa ia mendengar Al-Hasan berkata: Pernah ditanyakan kepada Rasulullah ﷺ, “Siapakah yang berada di surga?” Beliau menjawab, “Bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup berada di surga.” Hadis ini adalah hadis mursal dari riwayat Al-Hasan, dan sebagian ulama menerimanya.Baca juga: Nasib Anak-Anak yang Meninggal Sebelum Baligh: Apakah Semua Masuk Surga?Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkan: Abu Abdullah Az-Zahrani menceritakan kepada kami, Hafsh bin ‘Umar Al-‘Adani menceritakan kepada kami, Al-Hakam bin Aban menceritakan dari ‘Ikrimah bahwa Ibnu ‘Abbas berkata, “Anak-anak orang musyrik berada di surga. Barang siapa mengatakan bahwa mereka di neraka, maka ia telah berdusta.” Lalu ia membaca firman Allah:وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ • بِأَيِّ ذَنبٍ قُتِلَتْIbnu ‘Abbas berkata: Yang dimaksud adalah anak perempuan yang dikubur hidup-hidup.Abdurrazzaq meriwayatkan: Isra’il menceritakan kepada kami dari Simak bin Harb, dari An-Nu’man bin Basyir, dari ‘Umar bin Al-Khaththab tentang firman Allah “dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh.” berkata: Qais bin ‘Ashim datang kepada Rasulullah ﷺ lalu berkata, “Wahai Rasulullah, dahulu aku telah mengubur hidup-hidup beberapa anak perempuanku pada masa jahiliah.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Bebaskanlah seorang budak untuk setiap anak perempuan itu.” Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku memiliki banyak unta.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, sembelihlah seekor unta untuk setiap anak perempuan itu.”Al-Hafizh Abu Bakr Al-Bazzar berkata: Riwayat ini diperselisihkan dari Abdurrazzaq, dan kami tidak menuliskannya kecuali dari jalur Al-Husain bin Mahdi darinya.Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkannya dengan sanad yang sama, hanya saja disebutkan bahwa Qais bin ‘Ashim berkata, “Aku telah mengubur delapan anak perempuanku pada masa jahiliah.” Pada akhir riwayat disebutkan, “Jika engkau mau, sembelihlah seekor unta untuk setiap anak perempuan itu.”Kemudian ia berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Abdullah bin Raja’ menceritakan kepada kami, Qais bin Ar-Rabi’ meriwayatkan dari Al-Aghar bin Ash-Shabah, dari Khalifah bin Hushain. Ia berkata: Qais bin ‘Ashim datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Wahai Rasulullah, dahulu aku telah mengubur dua belas atau tiga belas anak perempuanku pada masa jahiliah.” Beliau bersabda, “Bebaskanlah budak sejumlah mereka.” Maka ia pun membebaskan budak sebanyak itu. Pada tahun berikutnya ia datang dengan membawa seratus ekor unta lalu berkata, “Wahai Rasulullah, ini adalah sedekah dari kaumku setelah apa yang telah aku lakukan terhadap kaum muslimin.” Ali bin Abi Thalib berkata: Kami pun menggembalakannya dan menamainya unta-unta Qais.Firman Allah:بِأَيِّ ذَنبٍ قُتِلَتْPada hari kiamat bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup itu ditanya, “Karena dosa apakah ia dibunuh?” Hal ini sebagai ancaman bagi orang yang membunuhnya. Jika orang yang dizalimi saja ditanya, maka bagaimana lagi keadaan orang yang berbuat zalim? Catatan Amal Dibuka, Langit DisingkapAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلصُّحُفُ نُشِرَتْ“dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka.” (QS. At-Takwir: 10)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Apabila lembaran-lembaran catatan amal dibuka, yaitu catatan yang berisi seluruh perbuatan manusia, baik kebaikan maupun keburukan. Catatan itu kemudian dibagikan kepada pemiliknya. Ada yang menerima kitabnya dengan tangan kanan, ada yang menerimanya dengan tangan kiri, dan ada pula yang menerimanya dari belakang punggungnya.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلسَّمَآءُ كُشِطَتْ“dan apabila langit dilenyapkan.” (QS. At-Takwir: 11)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila langit disingkap atau dihilangkan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:يَوْمَ تَشَقَّقُ السَّمَاءُ بِالْغَمَامِ“Pada hari ketika langit terbelah dengan awan.” (QS. Al-Furqan: 25)Dan firman-Nya:يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ“Pada hari Kami melipat langit seperti melipat lembaran-lembaran kitab.” (QS. Al-Anbiya’: 104)Serta firman-Nya: وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ “Dan bumi seluruhnya berada dalam genggaman-Nya pada hari kiamat, dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.” (QS. Az-Zumar: 67) Neraka Dinyalakan dan Surga DidekatkanAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْجَحِيمُ سُعِّرَتْ“dan apabila neraka Jahim dinyalakan.” (QS. At-Takwir: 12)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila neraka Jahim dinyalakan dengan sangat dahsyat, sehingga apinya berkobar dan menyala-nyala dengan kobaran yang belum pernah terjadi sebelumnya.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْجَنَّةُ أُزْلِفَتْ“dan apabila surga didekatkan.” (QS. At-Takwir: 13)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa. Setiap Jiwa Melihat Apa yang Telah DipersiapkannyaAllah Ta’ala berfirman,عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّآ أَحْضَرَتْ“maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.” (QS. At-Takwir: 14)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Pada saat itu setiap jiwa mengetahui apa yang telah dibawanya, yaitu amal-amal yang dahulu telah ia kerjakan dan kini dihadirkan di hadapannya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا“Dan mereka mendapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis di hadapan mereka).” (QS. Al-Kahfi: 49)Sifat-sifat hari kiamat yang digambarkan oleh Allah ini adalah gambaran yang mengguncang hati, menimbulkan kegelisahan yang besar, membuat tubuh gemetar, dan menimbulkan rasa takut yang meliputi manusia. Semua itu mendorong orang-orang yang berakal untuk mempersiapkan diri menghadapi hari tersebut dan menjauhi segala sesuatu yang mendatangkan penyesalan. Surah At-Takwir, Lukisan Hari Kiamat yang Mengguncang HatiKarena itu sebagian ulama salaf berkata:مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُ رَأْيَ عَيْنٍ، فَلْيَتَدَبَّرْ سُورَةَ { إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ }“Barang siapa ingin melihat gambaran hari kiamat seakan-akan melihatnya dengan mata kepala sendiri, hendaklah ia merenungkan surah Idzasy-Syamsu Kuwwirat (Surah At-Takwir).” Allah Bersumpah dengan Tanda-Tanda Besar di Alam SemestaAllah Ta’ala berfirman,فَلَآ أُقْسِمُ بِٱلْخُنَّسِ“Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang.” (QS. At-Takwir: 15)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Allah Ta‘ala bersumpah dengan bintang-bintang yang bersembunyi, yaitu bintang-bintang yang tampak mundur dari perjalanan biasa bintang-bintang lainnya menuju arah timur. Yang dimaksud adalah tujuh benda langit yang bergerak: matahari, bulan, Venus, Jupiter, Mars, Saturnus, dan Merkurius.Ketujuh benda langit ini memiliki dua jenis pergerakan: pergerakan menuju arah barat bersama bintang-bintang dan langit lainnya, serta pergerakan yang berlawanan menuju arah timur yang khusus dimiliki oleh ketujuh benda langit tersebut.Allah Ta’ala berfirman,ٱلْجَوَارِ ٱلْكُنَّسِ“yang beredar dan terbenam.” (QS. At-Takwir: 16)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Allah bersumpah dengan bintang-bintang itu ketika bersembunyi, yaitu ketika tampak mundur; ketika berjalan, yaitu saat bergerak di orbitnya; dan ketika masuk ke tempat persembunyian, yaitu saat tidak tampak di siang hari.Ada pula kemungkinan bahwa yang dimaksud adalah seluruh bintang, baik yang bergerak maupun yang tidak.Allah Ta’ala berfirman,وَٱلَّيْلِ إِذَا عَسْعَسَ“demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya.” (QS. At-Takwir: 17)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.“Demi malam apabila telah hampir berakhir.” Ada pula yang menafsirkan: apabila malam mulai datang.Allah Ta’ala berfirman,وَٱلصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ“dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing.” (QS. At-Takwir: 18)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.“Dan demi subuh apabila mulai bernapas,” yaitu ketika tanda-tanda fajar mulai tampak dan cahaya mulai terbelah sedikit demi sedikit hingga sempurna dan matahari pun terbit.Semua ini adalah tanda-tanda kebesaran Allah yang agung. Allah bersumpah dengannya untuk menunjukkan kemuliaan dan kedudukan tinggi Al-Qur’an. Al-Qur’an Dibawa oleh Utusan yang Mulia (Jibril)Allah Ta’ala berfirman,إِنَّهُۥ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ“Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril).” (QS. At-Takwir: 19)ذِى قُوَّةٍ عِندَ ذِى ٱلْعَرْشِ مَكِينٍ“yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy.” (QS. At-Takwir: 20)مُّطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ“yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya.” (QS. At-Takwir: 21)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah perkataan yang dibawa oleh seorang utusan yang mulia, yaitu Jibril ‘alaihissalam. Ia menurunkannya dari Allah Ta‘ala. Sebagaimana firman Allah:وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ ۝ نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ ۝ عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ“Dan sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam. Yang dibawa turun oleh Ar-Rūḥul Amīn (Jibril) ke dalam hatimu agar engkau termasuk orang-orang yang memberi peringatan.” (QS. Asy-Syu’ara: 192-194)Allah menyifati Jibril sebagai mulia, karena kemuliaan akhlaknya dan banyaknya sifat terpuji yang dimilikinya. Ia adalah malaikat yang paling utama dan paling tinggi kedudukannya di sisi Allah.ذِي قُوَّةٍ عِندَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ (20)Ia memiliki kekuatan dalam melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya.Di antara bukti kekuatannya adalah ketika ia membalik negeri kaum Nabi Luth, sehingga mereka pun dibinasakan.Ia juga dekat dengan Pemilik ‘Arsy, yaitu Allah. Artinya, Jibril memiliki kedudukan yang tinggi dan kedekatan khusus di sisi Allah.Makīn berarti memiliki kedudukan dan tempat yang tinggi, melebihi kedudukan para malaikat lainnya.مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ (21)Ia adalah malaikat yang ditaati di sana, yaitu di kalangan para malaikat di alam atas.Di bawah perintahnya terdapat para malaikat yang patuh kepadanya; perintahnya dijalankan dan pendapatnya ditaati.Ia juga amanah, yaitu menunaikan tugas yang diperintahkan kepadanya dengan sempurna: tidak menambah, tidak mengurangi, dan tidak melampaui apa yang telah ditetapkan baginya.Semua sifat ini menunjukkan betapa mulianya Al-Qur’an di sisi Allah, karena wahyu tersebut dibawa oleh malaikat yang mulia dengan sifat-sifat yang sempurna.Kebiasaan para raja adalah tidak mengutus orang yang mulia kecuali untuk tugas yang sangat penting dan pesan yang paling agung. Nabi Muhammad ﷺ Bukan Orang Gila, tetapi Pembawa WahyuAllah Ta’ala berfirman,وَمَا صَاحِبُكُم بِمَجْنُونٍ“Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila.” (QS. At-Takwir: 22)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Setelah Allah menyebutkan keutamaan rasul dari kalangan malaikat yang membawa Al-Qur’an, Allah juga menyebutkan keutamaan rasul dari kalangan manusia yang menerima Al-Qur’an dan mengajak manusia kepadanya. Allah berfirman: “Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah orang gila.”Yang dimaksud adalah Nabi Muhammad ﷺ. Beliau bukanlah orang gila sebagaimana yang dituduhkan oleh musuh-musuhnya yang mendustakan risalahnya dan melontarkan berbagai tuduhan terhadapnya. Mereka mengatakan berbagai perkataan itu dengan maksud memadamkan kebenaran yang beliau bawa, sebisa yang mereka lakukan. Padahal beliau adalah manusia yang paling sempurna akalnya, paling matang pendapatnya, dan paling jujur ucapannya.Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ رَءَاهُ بِٱلْأُفُقِ ٱلْمُبِينِ“Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang.” (QS. At-Takwir: 23)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Maksudnya, Nabi Muhammad ﷺ benar-benar melihat Malaikat Jibril ‘alaihissalam di ufuk yang terang dan jelas, yaitu di tempat paling tinggi yang dapat terlihat oleh pandangan mata.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا هُوَ عَلَى ٱلْغَيْبِ بِضَنِينٍ“Dan dia (Muhammad) bukanlah orang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib.” (QS. At-Takwir: 24)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Artinya, beliau tidak dituduh menambah, mengurangi, atau menyembunyikan sedikit pun dari wahyu yang Allah turunkan kepadanya. Nabi ﷺ adalah orang yang terpercaya bagi penduduk langit dan penduduk bumi. Beliau menyampaikan risalah Tuhannya dengan penyampaian yang jelas. Beliau tidak menahan sedikit pun dari wahyu tersebut, baik kepada orang kaya maupun orang miskin, kepada pemimpin maupun rakyat biasa, kepada laki-laki maupun perempuan, kepada penduduk kota maupun penduduk desa. Karena itulah Allah mengutus beliau di tengah umat yang ummi dan sangat jahil. Namun sebelum beliau wafat, mereka telah menjadi ulama yang rabbani, para ahli ilmu yang tajam pemahamannya. Pada merekalah puncak ilmu, dan kepada merekalah berakhir kemampuan dalam menggali makna-makna yang mendalam. Mereka adalah para guru, sedangkan selain mereka hanyalah murid-murid mereka. Al-Qur’an Bukan Perkataan SetanAllah Ta’ala berfirman,وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطَٰنٍ رَّجِيمٍ“Dan Al Quran itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk.” (QS. At-Takwir: 25)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Setelah Allah menjelaskan kemuliaan kitab-Nya dan keutamaannya dengan menyebutkan dua rasul yang mulia—yang melalui keduanya Al-Qur’an sampai kepada manusia—serta memuji keduanya dengan pujian yang agung, Allah menolak segala tuduhan dan kekurangan yang dapat merusak kebenaran Al-Qur’an. Maka Allah menegaskan bahwa Al-Qur’an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk, yaitu setan yang sangat jauh dari Allah dan dari kedekatan kepada-Nya. Mengapa Masih Berpaling dari Kebenaran?Allah Ta’ala berfirman,فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ“maka ke manakah kamu akan pergi?” (QS. At-Takwir: 26)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Artinya, bagaimana mungkin anggapan seperti itu muncul dalam pikiran kalian? Ke mana hilangnya akal kalian sampai-sampai kalian menjadikan kebenaran—yang berada pada tingkat paling tinggi dari kejujuran—sebagai sesuatu yang dianggap dusta, padahal dusta adalah sesuatu yang paling rendah, paling buruk, dan paling hina di antara berbagai bentuk kebatilan? Bukankah ini tidak lain hanyalah bentuk terbaliknya hakikat kebenaran? Al-Qur’an adalah Peringatan bagi Seluruh ManusiaAllah Ta’ala berfirman,إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعَٰلَمِينَ“Al Quran itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam.” (QS. At-Takwir: 27)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Melalui Al-Qur’an, manusia diingatkan tentang Tuhan mereka, tentang sifat-sifat kesempurnaan-Nya, dan tentang segala kekurangan serta keburukan yang mustahil bagi-Nya. Mereka juga diingatkan tentang berbagai perintah dan larangan beserta hikmahnya. Selain itu, mereka diingatkan tentang ketentuan-ketentuan Allah, baik yang bersifat takdir, syariat, maupun balasan. Singkatnya, melalui Al-Qur’an manusia diingatkan tentang berbagai kemaslahatan dunia dan akhirat, dan dengan mengamalkannya mereka meraih kebahagiaan di dua kehidupan tersebut.لِمَن شَآءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ“(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.” (QS. At-Takwir: 28)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Hal ini berlaku setelah jelas perbedaan antara jalan yang benar dan jalan yang sesat, serta antara petunjuk dan kesesatan. Hidayah Terjadi dengan Kehendak AllahAllah Ta’ala berfirman,وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At-Takwir: 29)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Artinya, kehendak Allah pasti berlaku dan tidak mungkin ditolak ataupun dihalangi. Dalam ayat ini dan ayat-ayat yang semisal terdapat bantahan terhadap dua kelompok: golongan Qadariyah yang menolak takdir dan golongan yang memaksakan takdir secara mutlak.   Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Sabtu, 25 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagshari kiamat juz amma kiamat besar renungan ayat renungan quran tafsir juz amma tanda kiamat


Surah At-Takwir menggambarkan peristiwa-peristiwa dahsyat yang terjadi menjelang hari kiamat, ketika tatanan alam semesta berubah dan manusia menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah yang menggetarkan. Melalui ayat-ayat ini, Allah mengingatkan bahwa pada hari itu setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dipersiapkannya untuk akhirat, baik berupa kebaikan maupun keburukan.  Daftar Isi tutup 1. Gambaran Dahsyat Hari Kiamat di Awal Surah At-Takwir 1.1. Ketika Matahari Padam dan Bintang-Bintang Berjatuhan 1.2. Gunung Dihancurkan, Harta Paling Berharga Ditinggalkan 1.3. Binatang Dikumpulkan dan Lautan Menyala 1.4. Setiap Jiwa Dikumpulkan Bersama Golongannya 1.5. Bayi Perempuan yang Dikubur Hidup-Hidup Akan Ditanya 1.6. Catatan Amal Dibuka, Langit Disingkap 1.7. Neraka Dinyalakan dan Surga Didekatkan 1.8. Setiap Jiwa Melihat Apa yang Telah Dipersiapkannya 1.9. Surah At-Takwir, Lukisan Hari Kiamat yang Mengguncang Hati 2. Allah Bersumpah dengan Tanda-Tanda Besar di Alam Semesta 3. Al-Qur’an Dibawa oleh Utusan yang Mulia (Jibril) 4. Nabi Muhammad ﷺ Bukan Orang Gila, tetapi Pembawa Wahyu 5. Al-Qur’an Bukan Perkataan Setan 6. Mengapa Masih Berpaling dari Kebenaran? 7. Al-Qur’an adalah Peringatan bagi Seluruh Manusia 8. Hidayah Terjadi dengan Kehendak Allah  Gambaran Dahsyat Hari Kiamat di Awal Surah At-TakwirKetika Matahari Padam dan Bintang-Bintang BerjatuhanAllah Ta’ala berfirman,إِذَا ٱلشَّمْسُ كُوِّرَتْ“Apabila matahari digulung.” (QS. At-Takwir: 1)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Apabila terjadi peristiwa-peristiwa besar yang dahsyat ini, maka manusia akan dipisahkan, dan setiap orang akan mengetahui apa yang telah ia persiapkan untuk akhiratnya, berupa kebaikan maupun keburukan. Hal itu terjadi pada hari kiamat, ketika matahari digulung, yaitu dikumpulkan dan dilipat, bulan digelapkan, lalu keduanya dilemparkan ke dalam neraka. Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلنُّجُومُ ٱنكَدَرَتْ“dan apabila bintang-bintang berjatuhan.” (QS. At-Takwir: 2)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila bintang-bintang berubah dan jatuh berserakan dari tempat peredarannya. Gunung Dihancurkan, Harta Paling Berharga DitinggalkanAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْجِبَالُ سُيِّرَتْ“dan apabila gunung-gunung dihancurkan.” (QS. At-Takwir: 3)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila gunung-gunung digerakkan. Gunung-gunung itu mula-mula menjadi seperti gundukan pasir yang mudah hancur, kemudian menjadi seperti bulu yang beterbangan, lalu berubah menjadi debu yang bertebaran dan dipindahkan dari tempatnya.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْعِشَارُ عُطِّلَتْ“dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan).” (QS. At-Takwir: 4)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan. Pada saat itu manusia meninggalkan harta mereka yang paling berharga, yang sebelumnya sangat mereka perhatikan dan jaga setiap waktu. Mereka menjadi lalai darinya karena kedahsyatan yang mereka hadapi. Disebutkan “unta-unta bunting” karena itulah harta yang paling berharga bagi orang Arab pada masa itu. Penyebutan ini juga mencakup setiap harta yang sangat bernilai. Binatang Dikumpulkan dan Lautan MenyalaAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْوُحُوشُ حُشِرَتْ“dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan.” (QS. At-Takwir: 5)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan. Semuanya dihimpun pada hari kiamat agar Allah menegakkan keadilan dengan memberi pembalasan antara sebagian dengan yang lain. Dengan demikian para hamba dapat melihat kesempurnaan keadilan-Nya. Bahkan akan dilakukan pembalasan antara hewan yang bertanduk terhadap hewan yang tidak bertanduk, kemudian setelah itu Allah berfirman kepadanya, “Jadilah kamu tanah.”Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْبِحَارُ سُجِّرَتْ“dan apabila lautan dijadikan meluap.” (QS. At-Takwir: 6)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila lautan dipanaskan hingga menyala, sehingga lautan yang sangat besar itu berubah menjadi api yang berkobar. Setiap Jiwa Dikumpulkan Bersama GolongannyaAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلنُّفُوسُ زُوِّجَتْ“dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh).” (QS. At-Takwir: 7)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila setiap jiwa dipasangkan dengan yang sejenis dengannya. Orang-orang yang berbuat baik dikumpulkan bersama orang-orang yang berbuat baik, dan orang-orang durhaka dikumpulkan bersama orang-orang durhaka. Orang-orang beriman dipasangkan dengan bidadari surga, sedangkan orang-orang kafir dipasangkan dengan setan-setan mereka. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ زُمَرًا“Orang-orang kafir digiring ke neraka Jahanam secara berkelompok.” (QS. Az-Zumar: 71)وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka digiring ke surga secara berkelompok.” (QS. Az-Zumar: 73)احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ“Kumpulkanlah orang-orang yang zalim bersama pasangan-pasangan mereka.” (QS. Ash-Shaffat: 22) Bayi Perempuan yang Dikubur Hidup-Hidup Akan DitanyaAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْمَوْءُۥدَةُ سُئِلَتْ“dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya.” (QS. At-Takwir: 8)بِأَىِّ ذَنۢبٍ قُتِلَتْ“karena dosa apakah dia dibunuh.” (QS. At-Takwir: 9)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya. Yang dimaksud adalah perbuatan yang dahulu dilakukan oleh orang-orang jahiliah yang sangat bodoh, yaitu mengubur anak perempuan mereka hidup-hidup tanpa alasan apa pun, kecuali karena takut miskin.Lalu ditanyakan kepadanya, “Karena dosa apakah ia dibunuh?” Padahal sudah diketahui bahwa ia tidak memiliki dosa apa pun. Dalam hal ini terdapat celaan dan teguran keras bagi orang-orang yang membunuhnya.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai ayat di atas sebagai berikut.Demikianlah bacaan mayoritas ulama qiraah: سُئِلَتْ (ditanya). Yang dimaksud dengan al-mau’ūdah adalah bayi perempuan yang pada masa jahiliah dikubur hidup-hidup di dalam tanah karena mereka tidak menyukai kelahiran anak perempuan. Pada hari kiamat nanti, bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup itu akan ditanya, “Karena dosa apakah ia dibunuh?” Hal itu menjadi ancaman bagi orang yang membunuhnya. Jika yang dizalimi saja ditanya, maka bagaimana lagi keadaan orang yang berbuat zalim?Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah “dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya“, maksudnya adalah ia meminta penjelasan. Demikian pula dikatakan oleh Abu Adh-Dhuha, bahwa ia menuntut darahnya. Hal yang sama juga dikatakan oleh As-Suddi dan Qatadah.Terdapat beberapa hadis yang berkaitan dengan bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup. Imam Ahmad meriwayatkan: Abdullah bin Yazid menceritakan kepada kami, Sa’id bin Abi Ayyub menceritakan kepada kami, Abu Al-Aswad—yaitu Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Naufal—menceritakan kepadaku, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah, dari Judamah binti Wahb, saudari ‘Ukasyah. Ia berkata: Aku pernah berada bersama Rasulullah ﷺ di tengah beberapa orang, lalu beliau bersabda, “Aku pernah berniat melarang ghilah (menggauli istri yang sedang menyusui). Namun aku melihat orang Romawi dan Persia melakukannya, dan hal itu tidak membahayakan anak-anak mereka.” Kemudian beliau ditanya tentang ‘azl (menumpahkan mani di luar rahim), maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Itu adalah pembunuhan yang tersembunyi,” yaitu seperti yang disebutkan dalam ayat “dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya”.Hadis ini juga diriwayatkan oleh Muslim melalui jalur Abu ‘Abdurrahman Al-Muqri’, yaitu Abdullah bin Yazid, dari Sa’id bin Abi Ayyub. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah melalui Abu Bakr bin Abi Syaibah dari Yahya bin Ishaq As-Sailahini dari Yahya bin Ayyub. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i juga meriwayatkannya dari jalur Malik bin Anas, semuanya dari Abu Al-Aswad dengan sanad yang sama.Imam Ahmad juga meriwayatkan: Ibnu Abi ‘Adi menceritakan kepada kami dari Dawud bin Abi Hind, dari Asy-Sya’bi, dari ‘Alqamah, dari Salamah bin Yazid Al-Ju’fi. Ia berkata: Aku dan saudaraku pergi menemui Rasulullah ﷺ. Kami berkata, “Wahai Rasulullah, ibu kami yang bernama Mulaikah dahulu suka menyambung silaturahmi, memuliakan tamu, dan melakukan berbagai kebaikan, tetapi ia meninggal pada masa jahiliah. Apakah itu bermanfaat baginya?” Beliau menjawab, “Tidak.” Kami berkata lagi, “Dahulu ia pernah mengubur hidup-hidup saudari kami pada masa jahiliah. Apakah itu bermanfaat baginya?” Beliau bersabda, “Orang yang mengubur hidup-hidup dan yang dikubur hidup-hidup keduanya di neraka, kecuali jika orang yang mengubur itu masuk Islam, maka Allah akan memaafkannya.”Hadis ini juga diriwayatkan oleh An-Nasa’i dari Dawud bin Abi Hind dengan sanad yang sama.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan: Ahmad bin Sinan Al-Wasithi menceritakan kepada kami, Abu Ahmad Az-Zubairi menceritakan kepada kami, Isra’il meriwayatkan dari Abu Ishaq, dari ‘Alqamah dan Abu Al-Ahwas, dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang yang mengubur hidup-hidup dan yang dikubur hidup-hidup keduanya di neraka.”Baca juga: Membunuh Anak Karena Takut MiskinAhmad juga meriwayatkan: Ishaq Al-Azraq menceritakan kepada kami, ‘Auf menceritakan kepada kami, Hasna binti Mu’awiyah As-Sarimiyah menceritakan kepadaku dari pamannya. Ia berkata: Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa saja yang berada di surga?” Beliau menjawab, “Nabi di surga, syahid di surga, anak kecil di surga, dan bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup juga di surga.”Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkan: Ayahku menceritakan kepada kami, Muslim bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Qurrah menceritakan kepada kami bahwa ia mendengar Al-Hasan berkata: Pernah ditanyakan kepada Rasulullah ﷺ, “Siapakah yang berada di surga?” Beliau menjawab, “Bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup berada di surga.” Hadis ini adalah hadis mursal dari riwayat Al-Hasan, dan sebagian ulama menerimanya.Baca juga: Nasib Anak-Anak yang Meninggal Sebelum Baligh: Apakah Semua Masuk Surga?Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkan: Abu Abdullah Az-Zahrani menceritakan kepada kami, Hafsh bin ‘Umar Al-‘Adani menceritakan kepada kami, Al-Hakam bin Aban menceritakan dari ‘Ikrimah bahwa Ibnu ‘Abbas berkata, “Anak-anak orang musyrik berada di surga. Barang siapa mengatakan bahwa mereka di neraka, maka ia telah berdusta.” Lalu ia membaca firman Allah:وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ • بِأَيِّ ذَنبٍ قُتِلَتْIbnu ‘Abbas berkata: Yang dimaksud adalah anak perempuan yang dikubur hidup-hidup.Abdurrazzaq meriwayatkan: Isra’il menceritakan kepada kami dari Simak bin Harb, dari An-Nu’man bin Basyir, dari ‘Umar bin Al-Khaththab tentang firman Allah “dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh.” berkata: Qais bin ‘Ashim datang kepada Rasulullah ﷺ lalu berkata, “Wahai Rasulullah, dahulu aku telah mengubur hidup-hidup beberapa anak perempuanku pada masa jahiliah.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Bebaskanlah seorang budak untuk setiap anak perempuan itu.” Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku memiliki banyak unta.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, sembelihlah seekor unta untuk setiap anak perempuan itu.”Al-Hafizh Abu Bakr Al-Bazzar berkata: Riwayat ini diperselisihkan dari Abdurrazzaq, dan kami tidak menuliskannya kecuali dari jalur Al-Husain bin Mahdi darinya.Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkannya dengan sanad yang sama, hanya saja disebutkan bahwa Qais bin ‘Ashim berkata, “Aku telah mengubur delapan anak perempuanku pada masa jahiliah.” Pada akhir riwayat disebutkan, “Jika engkau mau, sembelihlah seekor unta untuk setiap anak perempuan itu.”Kemudian ia berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Abdullah bin Raja’ menceritakan kepada kami, Qais bin Ar-Rabi’ meriwayatkan dari Al-Aghar bin Ash-Shabah, dari Khalifah bin Hushain. Ia berkata: Qais bin ‘Ashim datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Wahai Rasulullah, dahulu aku telah mengubur dua belas atau tiga belas anak perempuanku pada masa jahiliah.” Beliau bersabda, “Bebaskanlah budak sejumlah mereka.” Maka ia pun membebaskan budak sebanyak itu. Pada tahun berikutnya ia datang dengan membawa seratus ekor unta lalu berkata, “Wahai Rasulullah, ini adalah sedekah dari kaumku setelah apa yang telah aku lakukan terhadap kaum muslimin.” Ali bin Abi Thalib berkata: Kami pun menggembalakannya dan menamainya unta-unta Qais.Firman Allah:بِأَيِّ ذَنبٍ قُتِلَتْPada hari kiamat bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup itu ditanya, “Karena dosa apakah ia dibunuh?” Hal ini sebagai ancaman bagi orang yang membunuhnya. Jika orang yang dizalimi saja ditanya, maka bagaimana lagi keadaan orang yang berbuat zalim? Catatan Amal Dibuka, Langit DisingkapAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلصُّحُفُ نُشِرَتْ“dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka.” (QS. At-Takwir: 10)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Apabila lembaran-lembaran catatan amal dibuka, yaitu catatan yang berisi seluruh perbuatan manusia, baik kebaikan maupun keburukan. Catatan itu kemudian dibagikan kepada pemiliknya. Ada yang menerima kitabnya dengan tangan kanan, ada yang menerimanya dengan tangan kiri, dan ada pula yang menerimanya dari belakang punggungnya.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلسَّمَآءُ كُشِطَتْ“dan apabila langit dilenyapkan.” (QS. At-Takwir: 11)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila langit disingkap atau dihilangkan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:يَوْمَ تَشَقَّقُ السَّمَاءُ بِالْغَمَامِ“Pada hari ketika langit terbelah dengan awan.” (QS. Al-Furqan: 25)Dan firman-Nya:يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ“Pada hari Kami melipat langit seperti melipat lembaran-lembaran kitab.” (QS. Al-Anbiya’: 104)Serta firman-Nya: وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ “Dan bumi seluruhnya berada dalam genggaman-Nya pada hari kiamat, dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.” (QS. Az-Zumar: 67) Neraka Dinyalakan dan Surga DidekatkanAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْجَحِيمُ سُعِّرَتْ“dan apabila neraka Jahim dinyalakan.” (QS. At-Takwir: 12)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila neraka Jahim dinyalakan dengan sangat dahsyat, sehingga apinya berkobar dan menyala-nyala dengan kobaran yang belum pernah terjadi sebelumnya.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْجَنَّةُ أُزْلِفَتْ“dan apabila surga didekatkan.” (QS. At-Takwir: 13)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa. Setiap Jiwa Melihat Apa yang Telah DipersiapkannyaAllah Ta’ala berfirman,عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّآ أَحْضَرَتْ“maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.” (QS. At-Takwir: 14)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Pada saat itu setiap jiwa mengetahui apa yang telah dibawanya, yaitu amal-amal yang dahulu telah ia kerjakan dan kini dihadirkan di hadapannya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا“Dan mereka mendapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis di hadapan mereka).” (QS. Al-Kahfi: 49)Sifat-sifat hari kiamat yang digambarkan oleh Allah ini adalah gambaran yang mengguncang hati, menimbulkan kegelisahan yang besar, membuat tubuh gemetar, dan menimbulkan rasa takut yang meliputi manusia. Semua itu mendorong orang-orang yang berakal untuk mempersiapkan diri menghadapi hari tersebut dan menjauhi segala sesuatu yang mendatangkan penyesalan. Surah At-Takwir, Lukisan Hari Kiamat yang Mengguncang HatiKarena itu sebagian ulama salaf berkata:مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُ رَأْيَ عَيْنٍ، فَلْيَتَدَبَّرْ سُورَةَ { إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ }“Barang siapa ingin melihat gambaran hari kiamat seakan-akan melihatnya dengan mata kepala sendiri, hendaklah ia merenungkan surah Idzasy-Syamsu Kuwwirat (Surah At-Takwir).” Allah Bersumpah dengan Tanda-Tanda Besar di Alam SemestaAllah Ta’ala berfirman,فَلَآ أُقْسِمُ بِٱلْخُنَّسِ“Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang.” (QS. At-Takwir: 15)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Allah Ta‘ala bersumpah dengan bintang-bintang yang bersembunyi, yaitu bintang-bintang yang tampak mundur dari perjalanan biasa bintang-bintang lainnya menuju arah timur. Yang dimaksud adalah tujuh benda langit yang bergerak: matahari, bulan, Venus, Jupiter, Mars, Saturnus, dan Merkurius.Ketujuh benda langit ini memiliki dua jenis pergerakan: pergerakan menuju arah barat bersama bintang-bintang dan langit lainnya, serta pergerakan yang berlawanan menuju arah timur yang khusus dimiliki oleh ketujuh benda langit tersebut.Allah Ta’ala berfirman,ٱلْجَوَارِ ٱلْكُنَّسِ“yang beredar dan terbenam.” (QS. At-Takwir: 16)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Allah bersumpah dengan bintang-bintang itu ketika bersembunyi, yaitu ketika tampak mundur; ketika berjalan, yaitu saat bergerak di orbitnya; dan ketika masuk ke tempat persembunyian, yaitu saat tidak tampak di siang hari.Ada pula kemungkinan bahwa yang dimaksud adalah seluruh bintang, baik yang bergerak maupun yang tidak.Allah Ta’ala berfirman,وَٱلَّيْلِ إِذَا عَسْعَسَ“demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya.” (QS. At-Takwir: 17)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.“Demi malam apabila telah hampir berakhir.” Ada pula yang menafsirkan: apabila malam mulai datang.Allah Ta’ala berfirman,وَٱلصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ“dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing.” (QS. At-Takwir: 18)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.“Dan demi subuh apabila mulai bernapas,” yaitu ketika tanda-tanda fajar mulai tampak dan cahaya mulai terbelah sedikit demi sedikit hingga sempurna dan matahari pun terbit.Semua ini adalah tanda-tanda kebesaran Allah yang agung. Allah bersumpah dengannya untuk menunjukkan kemuliaan dan kedudukan tinggi Al-Qur’an. Al-Qur’an Dibawa oleh Utusan yang Mulia (Jibril)Allah Ta’ala berfirman,إِنَّهُۥ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ“Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril).” (QS. At-Takwir: 19)ذِى قُوَّةٍ عِندَ ذِى ٱلْعَرْشِ مَكِينٍ“yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy.” (QS. At-Takwir: 20)مُّطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ“yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya.” (QS. At-Takwir: 21)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah perkataan yang dibawa oleh seorang utusan yang mulia, yaitu Jibril ‘alaihissalam. Ia menurunkannya dari Allah Ta‘ala. Sebagaimana firman Allah:وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ ۝ نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ ۝ عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ“Dan sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam. Yang dibawa turun oleh Ar-Rūḥul Amīn (Jibril) ke dalam hatimu agar engkau termasuk orang-orang yang memberi peringatan.” (QS. Asy-Syu’ara: 192-194)Allah menyifati Jibril sebagai mulia, karena kemuliaan akhlaknya dan banyaknya sifat terpuji yang dimilikinya. Ia adalah malaikat yang paling utama dan paling tinggi kedudukannya di sisi Allah.ذِي قُوَّةٍ عِندَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ (20)Ia memiliki kekuatan dalam melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya.Di antara bukti kekuatannya adalah ketika ia membalik negeri kaum Nabi Luth, sehingga mereka pun dibinasakan.Ia juga dekat dengan Pemilik ‘Arsy, yaitu Allah. Artinya, Jibril memiliki kedudukan yang tinggi dan kedekatan khusus di sisi Allah.Makīn berarti memiliki kedudukan dan tempat yang tinggi, melebihi kedudukan para malaikat lainnya.مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ (21)Ia adalah malaikat yang ditaati di sana, yaitu di kalangan para malaikat di alam atas.Di bawah perintahnya terdapat para malaikat yang patuh kepadanya; perintahnya dijalankan dan pendapatnya ditaati.Ia juga amanah, yaitu menunaikan tugas yang diperintahkan kepadanya dengan sempurna: tidak menambah, tidak mengurangi, dan tidak melampaui apa yang telah ditetapkan baginya.Semua sifat ini menunjukkan betapa mulianya Al-Qur’an di sisi Allah, karena wahyu tersebut dibawa oleh malaikat yang mulia dengan sifat-sifat yang sempurna.Kebiasaan para raja adalah tidak mengutus orang yang mulia kecuali untuk tugas yang sangat penting dan pesan yang paling agung. Nabi Muhammad ﷺ Bukan Orang Gila, tetapi Pembawa WahyuAllah Ta’ala berfirman,وَمَا صَاحِبُكُم بِمَجْنُونٍ“Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila.” (QS. At-Takwir: 22)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Setelah Allah menyebutkan keutamaan rasul dari kalangan malaikat yang membawa Al-Qur’an, Allah juga menyebutkan keutamaan rasul dari kalangan manusia yang menerima Al-Qur’an dan mengajak manusia kepadanya. Allah berfirman: “Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah orang gila.”Yang dimaksud adalah Nabi Muhammad ﷺ. Beliau bukanlah orang gila sebagaimana yang dituduhkan oleh musuh-musuhnya yang mendustakan risalahnya dan melontarkan berbagai tuduhan terhadapnya. Mereka mengatakan berbagai perkataan itu dengan maksud memadamkan kebenaran yang beliau bawa, sebisa yang mereka lakukan. Padahal beliau adalah manusia yang paling sempurna akalnya, paling matang pendapatnya, dan paling jujur ucapannya.Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ رَءَاهُ بِٱلْأُفُقِ ٱلْمُبِينِ“Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang.” (QS. At-Takwir: 23)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Maksudnya, Nabi Muhammad ﷺ benar-benar melihat Malaikat Jibril ‘alaihissalam di ufuk yang terang dan jelas, yaitu di tempat paling tinggi yang dapat terlihat oleh pandangan mata.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا هُوَ عَلَى ٱلْغَيْبِ بِضَنِينٍ“Dan dia (Muhammad) bukanlah orang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib.” (QS. At-Takwir: 24)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Artinya, beliau tidak dituduh menambah, mengurangi, atau menyembunyikan sedikit pun dari wahyu yang Allah turunkan kepadanya. Nabi ﷺ adalah orang yang terpercaya bagi penduduk langit dan penduduk bumi. Beliau menyampaikan risalah Tuhannya dengan penyampaian yang jelas. Beliau tidak menahan sedikit pun dari wahyu tersebut, baik kepada orang kaya maupun orang miskin, kepada pemimpin maupun rakyat biasa, kepada laki-laki maupun perempuan, kepada penduduk kota maupun penduduk desa. Karena itulah Allah mengutus beliau di tengah umat yang ummi dan sangat jahil. Namun sebelum beliau wafat, mereka telah menjadi ulama yang rabbani, para ahli ilmu yang tajam pemahamannya. Pada merekalah puncak ilmu, dan kepada merekalah berakhir kemampuan dalam menggali makna-makna yang mendalam. Mereka adalah para guru, sedangkan selain mereka hanyalah murid-murid mereka. Al-Qur’an Bukan Perkataan SetanAllah Ta’ala berfirman,وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطَٰنٍ رَّجِيمٍ“Dan Al Quran itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk.” (QS. At-Takwir: 25)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Setelah Allah menjelaskan kemuliaan kitab-Nya dan keutamaannya dengan menyebutkan dua rasul yang mulia—yang melalui keduanya Al-Qur’an sampai kepada manusia—serta memuji keduanya dengan pujian yang agung, Allah menolak segala tuduhan dan kekurangan yang dapat merusak kebenaran Al-Qur’an. Maka Allah menegaskan bahwa Al-Qur’an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk, yaitu setan yang sangat jauh dari Allah dan dari kedekatan kepada-Nya. Mengapa Masih Berpaling dari Kebenaran?Allah Ta’ala berfirman,فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ“maka ke manakah kamu akan pergi?” (QS. At-Takwir: 26)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Artinya, bagaimana mungkin anggapan seperti itu muncul dalam pikiran kalian? Ke mana hilangnya akal kalian sampai-sampai kalian menjadikan kebenaran—yang berada pada tingkat paling tinggi dari kejujuran—sebagai sesuatu yang dianggap dusta, padahal dusta adalah sesuatu yang paling rendah, paling buruk, dan paling hina di antara berbagai bentuk kebatilan? Bukankah ini tidak lain hanyalah bentuk terbaliknya hakikat kebenaran? Al-Qur’an adalah Peringatan bagi Seluruh ManusiaAllah Ta’ala berfirman,إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعَٰلَمِينَ“Al Quran itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam.” (QS. At-Takwir: 27)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Melalui Al-Qur’an, manusia diingatkan tentang Tuhan mereka, tentang sifat-sifat kesempurnaan-Nya, dan tentang segala kekurangan serta keburukan yang mustahil bagi-Nya. Mereka juga diingatkan tentang berbagai perintah dan larangan beserta hikmahnya. Selain itu, mereka diingatkan tentang ketentuan-ketentuan Allah, baik yang bersifat takdir, syariat, maupun balasan. Singkatnya, melalui Al-Qur’an manusia diingatkan tentang berbagai kemaslahatan dunia dan akhirat, dan dengan mengamalkannya mereka meraih kebahagiaan di dua kehidupan tersebut.لِمَن شَآءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ“(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.” (QS. At-Takwir: 28)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Hal ini berlaku setelah jelas perbedaan antara jalan yang benar dan jalan yang sesat, serta antara petunjuk dan kesesatan. Hidayah Terjadi dengan Kehendak AllahAllah Ta’ala berfirman,وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At-Takwir: 29)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Artinya, kehendak Allah pasti berlaku dan tidak mungkin ditolak ataupun dihalangi. Dalam ayat ini dan ayat-ayat yang semisal terdapat bantahan terhadap dua kelompok: golongan Qadariyah yang menolak takdir dan golongan yang memaksakan takdir secara mutlak.   Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Sabtu, 25 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagshari kiamat juz amma kiamat besar renungan ayat renungan quran tafsir juz amma tanda kiamat

Kisah Jin Mendengar Al-Qur’an dan Dakwah Rasulullah ﷺ kepada Mereka (Tafsir Surah Al-Ahqaf: 29-32)

Kisah jin yang mendengarkan Al-Qur’an menunjukkan betapa agungnya kalam Allah hingga mampu menggugah hati makhluk yang tidak terlihat oleh manusia. Mereka tidak hanya mendengar, tetapi juga beriman, lalu kembali kepada kaumnya untuk mengajak kepada tauhid dan memperingatkan dari kesesatan. Ayat-ayat dalam Surah Al-Ahqaf ini mengajarkan bahwa siapa pun yang jujur mencari kebenaran, akan ditunjuki kepada jalan yang lurus. Baca juga:Kisah Jin Mendengar Al-Quran Lantas Berdakwah pada KaumnyaFaedah Sirah Nabi: Masih Kisah Dakwah ke Thaif, Ketika Jin Mendengar Al-QuranKumpulan Artikel Dakwah Nabi ke Thaif   Daftar Isi tutup 1. 1. Al-Qur’an Didengar oleh Sekelompok Jin 1.1. Awal Mula Jin Datang Mendengar Bacaan Nabi ﷺ 1.2. Kesimpulan dari cerita-cerita di atas adalah: 2. 2. Jin Mengakui Kebenaran Al-Qur’an 3. 3. Seruan Jin agar Kaumnya Beriman 3.1. Apakah Jin Mukmin Masuk Surga? 4. 4. Ancaman bagi yang Menolak Seruan Allah 5. Pelajaran Dakwah dari Kisah Jin dalam Al-Qur’an 6. Nasihat Penutup 1. Al-Qur’an Didengar oleh Sekelompok JinAllah Ta’ala berfirman,وَإِذْ صَرَفْنَآ إِلَيْكَ نَفَرًا مِّنَ ٱلْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ ٱلْقُرْءَانَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوٓا۟ أَنصِتُوا۟ ۖ فَلَمَّا قُضِىَ وَلَّوْا۟ إِلَىٰ قَوْمِهِم مُّنذِرِينَ“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.” (QS. Al-Ahqaf: 29) Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat 29:Imam Ahmad berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Amr, ia berkata: Aku mendengar Ikrimah, dari Az-Zubair mengenai firman Allah:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ“Dan ingatlah ketika Kami hadapkan kepadamu beberapa golongan jin yang mendengarkan Al-Qur’an.”Ia berkata: Peristiwa itu terjadi di Nakhlah, ketika Rasulullah ﷺ sedang melaksanakan salat Isya terakhir. Mengenai firman Allah:كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا “hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya.” (QS. Al-Jin: 19)Sufyan menjelaskan bahwa kata اللبد berarti sebagian mereka saling menumpuk di atas yang lain, seperti sesuatu yang saling bertumpuk.Riwayat ini hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Nanti akan disebutkan pula riwayat dari Ibnu Jarir, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas bahwa jumlah mereka adalah tujuh jin dari daerah Nashibin.Imam Ahmad juga berkata: Affan menceritakan kepada kami, Abu Awanah menceritakan kepada kami. Awal Mula Jin Datang Mendengar Bacaan Nabi ﷺAl-Hafizh Abu Bakar Al-Baihaqi dalam kitab Dalā’il An-Nubuwwah berkata: Abu Al-Hasan Ali bin Ahmad bin Abdan mengabarkan kepada kami, Ahmad bin Ubaid Ash-Shaffar menceritakan kepada kami, Ismail Al-Qadhi menceritakan kepada kami, Musaddad menceritakan kepada kami, Abu Awanah dari Abu Bisyir, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia berkata:Rasulullah ﷺ tidak pernah membaca Al-Qur’an secara khusus kepada para jin dan tidak pula melihat mereka. Pada suatu ketika Rasulullah ﷺ berangkat bersama beberapa sahabat menuju pasar ‘Ukaz.Saat itu para setan telah terhalang dari berita langit, dan mereka dilempari dengan bintang-bintang. Maka para setan kembali kepada kaum mereka. Kaum mereka bertanya, “Apa yang terjadi dengan kalian?”Mereka menjawab, “Kami terhalang dari berita langit dan dilempari dengan bintang-bintang.”Kaum mereka berkata, “Tidaklah sesuatu menghalangi kalian dari berita langit kecuali karena ada peristiwa baru yang terjadi. Maka pergilah kalian ke seluruh penjuru bumi, ke timur dan ke barat, dan carilah apa yang menyebabkan kalian terhalang dari berita langit.”Maka mereka pun pergi menyusuri seluruh penjuru bumi untuk mencari penyebab hal tersebut. Sekelompok jin yang menuju arah Tihamah kemudian sampai kepada Rasulullah ﷺ di Nakhlah. Ketika itu beliau sedang dalam perjalanan menuju pasar ‘Ukaz dan sedang shalat Subuh bersama para sahabatnya.Ketika mereka mendengar bacaan Al-Qur’an, mereka pun mendengarkannya dengan saksama. Lalu mereka berkata, “Inilah, demi Allah, yang telah menghalangi kalian dari berita langit.”Ketika mereka kembali kepada kaum mereka, mereka berkata:يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا ۝ يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا“Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengar bacaan Al-Qur’an yang menakjubkan, yang memberi petunjuk kepada kebenaran, maka kami beriman kepadanya dan kami tidak akan mempersekutukan Tuhan kami dengan sesuatu pun.”Kemudian Allah menurunkan kepada Nabi-Nya ayat:قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ“Katakanlah: Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur’an).” (QS. Al-Jin: 1)Sesungguhnya yang diwahyukan kepada Nabi adalah ucapan para jin tersebut.Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Musaddad dengan redaksi yang serupa. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim dari Syaiban bin Farrukh dari Abu Awanah dengan sanad yang sama. At-Tirmidzi dan An-Nasa’i juga meriwayatkannya dalam kitab tafsir dari hadis Abu Awanah. Imam Ahmad juga berkata: Abu Ahmad menceritakan kepada kami, Israil menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia berkata:Dahulu para jin dapat mencuri dengar wahyu. Mereka mendengar satu kalimat lalu menambahkan sepuluh kalimat ke dalamnya. Apa yang mereka dengar itu benar, tetapi tambahan mereka adalah kebatilan. Pada masa itu bintang-bintang belum digunakan untuk melempar mereka.Namun ketika Rasulullah ﷺ diutus, setiap jin yang mencoba duduk di tempatnya untuk mencuri dengar akan dilempari dengan meteor yang membakarnya jika mengenainya.Mereka pun mengadukan hal itu kepada Iblis. Iblis berkata, “Ini pasti karena suatu peristiwa baru telah terjadi.”Ia kemudian menyebarkan bala tentaranya. Ternyata mereka menemukan Nabi ﷺ sedang shalat di antara dua gunung di Nakhlah. Mereka pun datang kepada Iblis dan memberitahukan hal itu.Iblis berkata, “Inilah peristiwa baru yang terjadi di bumi.”Riwayat ini juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan An-Nasa’i dalam kitab tafsir mereka melalui jalur Israil. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.Demikian pula riwayat ini diriwayatkan oleh Ayyub dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas. Begitu juga diriwayatkan oleh Al-‘Aufi dari Ibnu Abbas dengan redaksi panjang yang serupa.Al-Hasan Al-Bashri juga mengatakan bahwa Nabi ﷺ tidak mengetahui kedatangan mereka sampai Allah menurunkan wahyu yang mengabarkan tentang mereka.Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Yazid bin Ruman, dari Muhammad bin Ka‘b Al-Qurazhi kisah keluarnya Rasulullah ﷺ menuju Thaif dan mengajak mereka kepada Allah, namun mereka menolaknya. Ia menyebutkan kisah tersebut secara panjang, termasuk doa Nabi yang indah:“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku dan sedikitnya kemampuanku…”Ia berkata: Setelah kembali dari Thaif, Rasulullah ﷺ bermalam di Nakhlah. Pada malam itu beliau membaca Al-Qur’an, lalu para jin dari Nashibin mendengarkannya.Riwayat ini benar, tetapi pernyataan bahwa para jin mendengarkan pada malam tersebut masih perlu ditinjau. Sebab para jin telah mendengarkan Al-Qur’an pada awal masa turunnya wahyu, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Ibnu Abbas yang telah disebutkan sebelumnya.Adapun perjalanan Nabi ﷺ ke Thaif terjadi setelah wafatnya pamannya, yaitu satu atau dua tahun sebelum hijrah, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Ishaq dan lainnya. Wallahu a‘lam.Baca juga: Faedah Sirah Nabi: Masih Kisah Dakwah ke Thaif, Ketika Jin Mendengar Al-QuranAbu Bakar bin Abi Syaibah berkata: Abu Ahmad Az-Zubairi menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari ‘Ashim, dari Zir, dari Abdullah bin Mas‘ud, ia berkata:Sekelompok jin turun kepada Nabi ﷺ ketika beliau sedang membaca Al-Qur’an di lembah Nakhlah. Ketika mereka mendengarnya, mereka berkata, “Diamlah dan dengarkan.”Jumlah mereka sembilan jin, salah satunya bernama Zawba‘ah. Lalu Allah menurunkan firman-Nya:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ“Dan ingatlah ketika Kami hadapkan kepadamu sekelompok jin yang mendengarkan Al-Qur’an. Ketika mereka menghadirinya, mereka berkata, ‘Diamlah dan dengarkan.’ Ketika bacaan itu selesai, mereka kembali kepada kaumnya untuk memberi peringatan.”Sampai firman-Nya:ضَلَالٍ مُبِينٍ“dalam kesesatan yang nyata.”Riwayat ini, bersama riwayat pertama dari Ibnu Abbas, menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ pada peristiwa ini tidak menyadari kehadiran mereka. Mereka hanya mendengarkan bacaan beliau, lalu kembali kepada kaum mereka. Setelah itu mereka datang kepada beliau secara bergelombang, satu kaum setelah kaum yang lain, dan satu rombongan setelah rombongan yang lain, sebagaimana nanti akan datang riwayat-riwayat dan atsar-atsar tentang hal itu pada tempatnya, insyaallah. Hanya kepada-Nya tempat bergantung.Adapun riwayat yang dibawakan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Qudamah Ubaidullah bin Sa‘id As-Sarkhasi, dari Abu Usamah Hammad bin Usamah, dari Mis‘ar bin Kidam, dari Ma‘n bin Abdurrahman, ia berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Aku bertanya kepada Masruq, “Siapa yang memberitahu Nabi ﷺ pada malam ketika para jin mendengarkan Al-Qur’an?” Ia menjawab, “Ayahmu telah menceritakan kepadaku, maksudnya Ibnu Mas‘ud, bahwa yang memberitahu beliau tentang mereka adalah sebuah pohon.”Mungkin hal itu terjadi pada peristiwa pertama, sehingga penetapan ini didahulukan atas penafian Ibnu Abbas. Mungkin juga itu terjadi pada salah satu peristiwa yang datang kemudian. Wallahu a‘lam. Bisa juga terjadi pada peristiwa pertama, tetapi beliau tidak mengetahui kehadiran mereka saat mereka sedang mendengarkan, sampai pohon itu memberitahu beliau, maksudnya mengabarkan kepada beliau bahwa mereka sedang mendengarkan. Wallahu a‘lam.Al-Hafizh Al-Baihaqi berkata: Apa yang diceritakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma itu adalah tentang pertama kali jin mendengar bacaan Rasulullah ﷺ dan mengetahui keadaan beliau. Pada saat itu beliau tidak membacakan Al-Qur’an kepada mereka dan tidak pula melihat mereka. Setelah itu, barulah utusan jin datang kepada beliau, lalu beliau membacakan Al-Qur’an kepada mereka dan mengajak mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu.Berikut riwayat tentang hal itu:Imam Ahmad berkata: Ismail bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Dawud menceritakan kepada kami dari Asy-Sya‘bi, dan Ibnu Abi Zaidah mengabarkan kepada kami, dari Dawud, dari Asy-Sya‘bi, dari ‘Alqamah, ia berkata:Aku bertanya kepada Abdullah bin Mas‘ud, “Apakah ada salah seorang dari kalian yang menemani Rasulullah ﷺ pada malam jin?”Ia menjawab, “Tidak ada seorang pun dari kami yang menemaninya. Akan tetapi, pada suatu malam di Makkah kami kehilangan beliau. Kami berkata, ‘Apakah beliau dibunuh? Atau dibawa terbang? Apa yang telah terjadi padanya?’ Maka kami melewati malam terburuk yang pernah dilalui suatu kaum. Ketika menjelang pagi, atau saat waktu sahur, tiba-tiba beliau datang dari arah Hira’. Maka kami berkata, ‘Wahai Rasulullah,’ lalu mereka menyebutkan apa yang mereka alami.”Beliau bersabda, “Sesungguhnya telah datang kepadaku utusan jin. Lalu aku mendatangi mereka dan membacakan Al-Qur’an kepada mereka.”Lalu beliau pergi bersama kami dan memperlihatkan kepada kami bekas-bekas mereka dan bekas api mereka.Asy-Sya‘bi berkata: Mereka bertanya kepada beliau tentang bekal. Amir berkata: Mereka bertanya di Makkah, dan mereka adalah jin dari Jazirah. Maka beliau bersabda, “Setiap tulang yang disebut nama Allah padanya, akan sampai ke tangan kalian dalam keadaan paling banyak dagingnya. Dan setiap kotoran hewan atau kotoran kering adalah makanan bagi hewan tunggangan kalian. Karena itu, janganlah kalian beristinja dengan keduanya, karena keduanya adalah makanan saudara-saudara kalian dari kalangan jin.”Demikian pula Muslim meriwayatkannya dalam Shahih-nya dari Ali bin Hujr, dari Ismail bin ‘Ulayyah, dengan riwayat yang semisal.Muslim juga meriwayatkan: Muhammad bin Al-Mutsanna menceritakan kepada kami, Abdul A‘la menceritakan kepada kami, Dawud, yaitu Ibnu Abi Hind, dari Amir, ia berkata:Aku bertanya kepada ‘Alqamah, “Apakah Ibnu Mas‘ud pernah hadir bersama Rasulullah ﷺ pada malam jin?”‘Alqamah menjawab, “Aku pernah bertanya kepada Ibnu Mas‘ud: Apakah ada seseorang dari kalian yang hadir bersama Rasulullah ﷺ pada malam jin? Ia menjawab: Tidak. Akan tetapi, pada suatu malam kami bersama Rasulullah ﷺ, lalu kami kehilangan beliau. Kami mencarinya di lembah-lembah dan celah-celah gunung. Kami berkata: Apakah beliau dibawa terbang? Atau dibunuh? Maka kami melewati malam terburuk yang pernah dilalui suatu kaum. Ketika pagi tiba, ternyata beliau datang dari arah Hira’. Maka kami berkata: Wahai Rasulullah, kami kehilanganmu lalu kami mencarimu, tetapi kami tidak menemukanmu, dan kami melewati malam terburuk yang pernah dilalui suatu kaum.”Beliau bersabda, “Telah datang kepadaku utusan jin, lalu aku pergi bersama mereka dan membacakan Al-Qur’an kepada mereka.”Ia berkata: Lalu beliau pergi bersama kami, memperlihatkan bekas-bekas mereka dan bekas api mereka. Mereka meminta bekal, lalu beliau bersabda, “Setiap tulang yang disebut nama Allah padanya, akan sampai ke tangan kalian dalam keadaan paling banyak dagingnya. Dan setiap kotoran hewan atau kotoran kering adalah makanan bagi hewan tunggangan kalian.”Rasulullah ﷺ bersabda, “Karena itu, janganlah kalian beristinja dengan keduanya, karena keduanya adalah makanan saudara-saudara kalian.”Jalur lain dari Ibnu Mas‘ud:Abu Ja‘far bin Jarir berkata: Ahmad bin Abdurrahman menceritakan kepadaku, pamanku menceritakan kepadaku, Yunus menceritakan kepadaku, dari Az-Zuhri, dari Ubaidullah bin Abdullah, bahwa Ibnu Mas‘ud berkata:Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Tadi malam aku bermalam membaca Al-Qur’an kepada jin seperempat bagian di Al-Hajun.”Jalur lain, disebutkan bahwa Ibnu Mas‘ud bersama beliau pada malam jin:Ibnu Jarir rahimahullah berkata: Ahmad bin Abdurrahman bin Wahb menceritakan kepadaku, pamanku Abdullah bin Wahb menceritakan kepada kami, Yunus mengabarkan kepadaku, dari Ibnu Syihab, dari Abu Utsman bin Sunnah Al-Khuza‘i, seorang dari penduduk Syam, bahwa Abdullah bin Mas‘ud berkata:Rasulullah ﷺ berkata kepada para sahabatnya ketika beliau berada di Makkah, “Siapa di antara kalian yang ingin menghadiri urusan jin malam ini, maka ikutlah.”Maka tidak ada seorang pun yang hadir selain aku. Kami pun berangkat. Ketika kami sampai di dataran tinggi Makkah, beliau membuat garis dengan kakinya untukku, lalu menyuruhku duduk di dalamnya. Kemudian beliau pergi dan berdiri, lalu mulai membaca Al-Qur’an. Tiba-tiba sekumpulan hitam yang banyak menutup pandanganku terhadap beliau, hingga aku tidak lagi mendengar suara beliau. Setelah itu mereka mulai terpecah seperti potongan awan yang pergi, hingga tersisa beberapa kelompok saja. Rasulullah ﷺ selesai menjelang Subuh, lalu pergi untuk buang hajat. Setelah itu beliau datang kepadaku dan bertanya, “Apa yang dilakukan oleh rombongan tadi?”Aku menjawab, “Mereka itulah, wahai Rasulullah.”Lalu beliau memberi mereka tulang dan kotoran hewan sebagai bekal, kemudian beliau melarang seseorang bersuci dengan kotoran hewan atau tulang.Riwayat ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam, dari Abu Zur‘ah Wahbullah bin Rasyid, dari Yunus bin Yazid Al-Ayli, dengannya. Al-Baihaqi juga meriwayatkannya dalam Ad-Dalā’il dari hadis Abdullah bin Shalih, juru tulis Al-Laits, dari Al-Laits, dari Yunus, dengannya.Ishaq bin Rahawaih juga meriwayatkan dari Jarir, dari Qabus bin Abi Zhabyan, dari ayahnya, dari Ibnu Mas‘ud, lalu menyebutkan seperti yang telah disebutkan sebelumnya.Al-Hafizh Abu Nu‘aim juga meriwayatkannya melalui jalur Musa bin Ubaidah, dari Sa‘id bin Al-Harits, dari Abu Al-Mu‘alla, dari Ibnu Mas‘ud, dan ia menyebutkan yang semisal.Jalur lain:Abu Nu‘aim berkata: Abu Bakar bin Malik menceritakan kepada kami, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku: Affan dan Ikrimah berkata: Mu‘tamir menceritakan kepada kami. Ayahku berkata: Abu Tamimah menceritakan kepadaku, dari Amr, mungkin ia berkata Al-Bakali, bahwa Amr menceritakan kepadanya dari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:Rasulullah ﷺ mengajakku mengikuti beliau. Maka kami berangkat hingga sampai di suatu tempat. Beliau membuat garis untukku, lalu bersabda, “Tetaplah berada di tengah garis ini, jangan keluar darinya. Jika engkau keluar darinya, engkau akan binasa.”Lalu ia menyebutkan hadis itu dengan panjang, dan di dalamnya terdapat keanehan yang sangat.Jalur lain:Ibnu Jarir berkata: Ibnu Abdil A‘la menceritakan kepada kami, Ibnu Tsaur menceritakan kepada kami, dari Ma‘mar, dari Yahya bin Abi Katsir, dari Abdullah bin Amr bin Ghailan Ats-Tsaqafi, bahwa ia berkata kepada Ibnu Mas‘ud, “Telah diceritakan bahwa engkau bersama Rasulullah ﷺ pada malam kedatangan utusan jin?”Ia menjawab, “Ya.”Ia bertanya, “Bagaimana peristiwanya?”Lalu ia menceritakan hadits itu seluruhnya, dan menyebutkan bahwa Nabi ﷺ membuat garis untuknya, seraya bersabda, “Jangan tinggalkan tempat ini.”Ia menyebutkan bahwa sesuatu seperti pusaran hitam menutupi Rasulullah ﷺ. Ia merasa sangat takut sampai tiga kali. Ketika hampir Subuh, Nabi ﷺ datang kepadaku dan bertanya, “Apakah engkau tidur?”Aku menjawab, “Tidak, demi Allah. Bahkan beberapa kali aku ingin meminta pertolongan orang-orang, sampai aku mendengarmu memukul mereka dengan tongkatmu sambil berkata: ‘Duduklah kalian.’”Beliau bersabda, “Kalau engkau keluar, aku tidak merasa aman kalau sebagian dari mereka akan menculikmu.”Kemudian beliau bersabda, “Apakah engkau melihat sesuatu?”Aku menjawab, “Ya, aku melihat laki-laki berkulit hitam, mengenakan pakaian putih.”Beliau bersabda, “Mereka itu jin Nashibin. Mereka meminta bekal kepadaku, dan aku memberi mereka setiap tulang kering, atau kotoran hewan, atau tahi sebagai bekal.”Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa manfaat semua itu bagi mereka?”Beliau menjawab, “Mereka tidak mendapatkan satu tulang pun kecuali akan mendapati dagingnya masih ada di atasnya sebagaimana pada hari saat dimakan, dan mereka tidak mendapatkan kotoran hewan pun kecuali akan mendapati biji-bijiannya masih ada sebagaimana pada hari saat dimakan. Karena itu, janganlah salah seorang dari kalian bersuci setelah buang hajat dengan tulang, kotoran hewan, atau tahi.”Jalur lain:Al-Hafizh Abu Bakar Al-Baihaqi berkata: Abu Abdurrahman As-Sulami dan Abu Nashr bin Qatadah mengabarkan kepada kami, keduanya berkata: Abu Muhammad Yahya bin Manshur Al-Qadhi mengabarkan kepada kami, Abu Abdullah Muhammad bin Ibrahim Al-Bausyanji menceritakan kepada kami, Ruh bin Shalah menceritakan kepada kami, Musa bin Ali bin Rabah menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari Abdullah bin Mas‘ud, ia berkata:Rasulullah ﷺ mengajakku dan bersabda, “Sesungguhnya sekelompok jin, lima belas orang, saudara-saudara dan sepupu-sepupu, akan datang kepadaku malam ini, lalu aku akan membacakan Al-Qur’an kepada mereka.”Maka aku pun berangkat bersama beliau ke tempat yang beliau kehendaki. Beliau membuat garis untukku dan mendudukkanku di dalamnya, lalu berkata kepadaku, “Jangan keluar dari sini.”Aku tetap berada di tempat itu sampai Rasulullah ﷺ datang kepadaku menjelang sahur. Di tangan beliau ada tulang kering dan kotoran hitam yang sudah hangus, lalu beliau berkata kepadaku, “Jika engkau pergi buang hajat, janganlah engkau beristinja dengan salah satu dari benda-benda ini.”Ketika pagi tiba aku berkata, “Akan aku cari tahu sejauh pengetahuanku tentang tempat Rasulullah ﷺ tadi.” Lalu aku pergi dan melihat tempat peristirahatan enam puluh unta.Jalur lain:Al-Baihaqi berkata: Abu Abdullah Al-Hafizh mengabarkan kepada kami, Abu Al-Abbas Al-Ashamm mengabarkan kepada kami, Al-Abbas bin Muhammad Ad-Dauri menceritakan kepada kami, Utsman bin Umar menceritakan kepada kami, dari Al-Mustamir bin Ar-Rayyan, dari Abu Al-Jauza’, dari Abdullah bin Mas‘ud, ia berkata:Aku pergi bersama Rasulullah ﷺ pada malam jin hingga beliau sampai di Al-Hajun. Lalu beliau membuat garis untukku, kemudian maju menemui mereka. Mereka pun berdesakan di sekitar beliau. Lalu pemimpin mereka yang disebut Wardan berkata, “Aku akan menjauhkan mereka darimu.”Maka beliau bersabda, “Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang dapat melindungiku dari Allah.”Jalur lain:Imam Ahmad berkata: Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Abu Fazārah Al-‘Absi, Abu Zaid, budak Amr bin Huraith, menceritakan kepada kami dari Ibnu Mas‘ud, ia berkata:Ketika malam jin, Nabi ﷺ berkata kepadaku, “Apakah engkau membawa air?”Aku menjawab, “Aku tidak membawa air, tetapi aku membawa wadah berisi nabidz.”Maka Nabi bersabda, “Kurma yang baik dan air yang suci.”Lalu beliau berwudhu dengannya.Riwayat ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari hadis Abu Zaid.Jalur lain:Ahmad berkata: Yahya bin Ishaq menceritakan kepada kami, Ibnu Lahi‘ah mengabarkan kepada kami, dari Qais bin Al-Hajjaj, dari Hanasy Ash-Shan‘ani, dari Ibnu Abbas, dari Abdullah bin Mas‘ud, bahwa ia bersama Rasulullah ﷺ pada malam jin. Lalu Rasulullah bersabda, “Wahai Abdullah, apakah engkau membawa air?”Ia menjawab, “Aku membawa nabidz di dalam wadah.”Maka beliau bersabda, “Tuangkanlah kepadaku.”Lalu beliau berwudu. Nabi ﷺ bersabda, “Wahai Abdullah, ini minuman dan sekaligus alat bersuci.”Riwayat ini hanya diriwayatkan oleh Ahmad melalui jalur ini. Ad-Daraquthni juga membawakannya dari jalur lain, dari Ibnu Mas‘ud.Jalur lain:Imam Ahmad berkata: Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, ayahku mengabarkan kepadaku dari Mīnā’, dari Abdullah, ia berkata:Aku bersama Rasulullah ﷺ pada malam kedatangan utusan jin. Setelah beliau selesai, beliau menarik napas panjang. Maka aku bertanya, “Apa gerangan yang terjadi padamu?”Beliau bersabda, “Ajalku telah diberitahukan kepadaku, wahai Ibnu Mas‘ud.”Beginilah aku melihatnya dalam Musnad secara ringkas. Al-Hafizh Abu Nu‘aim meriwayatkannya dalam kitab Dalā’il An-Nubuwwah, lalu berkata: Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub menceritakan kepada kami, Ishaq bin Ibrahim menceritakan kepada kami, dan Abu Bakar bin Malik menceritakan kepada kami, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Mina’, dari Ibnu Mas‘ud, ia berkata:Aku bersama Rasulullah ﷺ pada malam kedatangan utusan jin. Beliau menarik napas panjang. Aku bertanya,“Ada apa denganmu wahai Rasulullah?”Beliau bersabda, “Ajalku telah diberitahukan kepadaku, wahai Ibnu Mas‘ud.”Aku berkata, “Tunjuklah seorang pengganti.”Beliau bertanya, “Siapa?”Aku menjawab, “Abu Bakar.”Beliau diam. Setelah beberapa saat beliau kembali menarik napas panjang. Aku bertanya, “Ada apa denganmu? Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, wahai Rasulullah?”Beliau bersabda, “Ajalku telah diberitahukan kepadaku, wahai Ibnu Mas‘ud.”Aku berkata, “Tunjuklah seorang pengganti.”Beliau bertanya, “Siapa?”Aku menjawab, “Umar.”Beliau diam. Setelah beberapa saat beliau kembali menarik napas panjang. Aku bertanya, “Apa yang terjadi?”Beliau bersabda, “Ajalku telah diberitahukan kepadaku.”Aku berkata, “Kalau begitu tunjuklah pengganti.”Beliau bersabda, “Siapa?”Aku menjawab, “Ali bin Abi Thalib.”Maka Nabi ﷺ bersabda, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya mereka menaatinya, niscaya mereka semua akan masuk surga.”Ini adalah hadits yang sangat asing, dan lebih layak untuk dinilai tidak terjaga. Kalau pun dianggap sahih, maka yang tampak peristiwa ini terjadi setelah kedatangan mereka kepada beliau di Madinah, sebagaimana akan kami sebutkan nanti. Sebab pada waktu itu, di akhir masa dakwah, ketika Makkah telah dibebaskan, manusia dan jin pun masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong. Lalu turun surah:إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ ۝ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا ۝ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًاSurah inilah yang memberitahukan dekatnya wafat beliau, sebagaimana telah dijelaskan oleh Ibnu Abbas, dan Umar bin Al-Khaththab juga sependapat dengannya. Nanti akan datang hadis tentang hal itu saat menafsirkan surah tersebut. Wallahu a‘lam.Abu Nu‘aim juga meriwayatkannya dari Ath-Thabarani, dari Muhammad bin Abdullah Al-Hadhrami, dari Ali bin Al-Husain bin Abi Burdah, dari Yahya bin Sa‘id Al-Aslami, dari Harb bin Shabih, dari Sa‘id bin Maslamah, dari Abu Murrah Ash-Shan‘ani, dari Abu Abdullah Al-Jadali, dari Ibnu Mas‘ud, lalu menyebutkannya serta menyebut kisah penunjukan pengganti. Ini sanad yang asing dan redaksi yang ganjil.Jalur lain:Imam Ahmad berkata: Abu Sa‘id menceritakan kepada kami, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Ali bin Zaid, dari Abu Rafi‘, dari Ibnu Mas‘ud, bahwa Rasulullah ﷺ membuat lingkaran di sekelilingnya. Sebagian mereka tampak seperti kumpulan lebah hitam. Beliau berkata kepadaku, “Jangan tinggalkan tempatmu.”Lalu beliau membacakan Kitab Allah kepada mereka. Ketika beliau melihat Az-Zuth, beliau berkata, “Mereka seperti هؤلاء.”Nabi ﷺ berkata, “Apakah engkau membawa air?”Aku menjawab, “Tidak.”Beliau bertanya, “Apakah engkau membawa nabidz?”Aku menjawab, “Ya.”Maka beliau berwudu dengannya.Jalur lain yang mursal:Ibnu Abi Hatim berkata: Abu Abdullah Azh-Zhahrani menceritakan kepada kami, Hafsh bin Umar Al-‘Adani mengabarkan kepada kami, Al-Hakam bin Aban menceritakan kepada kami, dari Ikrimah tentang firman Allah Ta‘ala:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّIa berkata: Mereka berjumlah dua belas ribu, datang dari Jazirah Al-Maushil. Nabi ﷺ berkata kepada Ibnu Mas‘ud, “Tunggulah aku sampai aku kembali kepadamu.” Lalu beliau membuat garis untuknya dan berkata, “Jangan pergi dari tempatmu sampai aku datang.” Ketika Ibnu Mas‘ud mulai merasa takut kepada mereka, ia hampir saja pergi. Namun ia teringat ucapan Rasulullah ﷺ, maka ia tetap di tempatnya. Lalu Nabi ﷺ berkata kepadanya, “Seandainya engkau pergi, niscaya kita tidak akan bertemu lagi sampai hari kiamat.” Jalur lain yang juga mursal:Sa‘id bin Abi ‘Arubah berkata, dari Qatadah, tentang firman Allah:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّDisebutkan kepada kami bahwa mereka diarahkan kepada beliau dari Nainawa. Nabi Allah ﷺ bersabda, “Aku diperintahkan untuk membacakan Al-Qur’an kepada jin. Siapa di antara kalian yang akan ikut bersamaku?”Mereka menunduk diam. Beliau mengulangi ajakan itu, namun mereka tetap menunduk. Ketika beliau mengulanginya untuk ketiga kali, seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, itu adalah urusan yang sangat berat.” Maka Ibnu Mas‘ud, saudara Hudzail itu, ikut bersama beliau.Nabi ﷺ masuk ke sebuah celah gunung yang disebut Syi‘b Al-Hajun, lalu membuat garis untuknya, juga membuat garis untuk Ibnu Mas‘ud agar dengan itu ia tetap di tempatnya. Aku mulai ketakutan dan melihat sesuatu seperti burung nasar berjalan di sisi-sisinya. Aku juga mendengar suara gaduh yang sangat keras, sampai aku takut terhadap Nabi Allah ﷺ. Kemudian beliau membaca Al-Qur’an. Ketika Rasulullah ﷺ kembali, aku bertanya, “Wahai Rasulullah, suara gaduh apa yang aku dengar itu?”Beliau menjawab, “Mereka sedang berselisih tentang seorang yang terbunuh, lalu diputuskan perkara di antara mereka dengan benar.”Riwayat ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim.Semua jalur riwayat ini menunjukkan bahwa beliau ﷺ memang sengaja mendatangi jin, lalu membacakan Al-Qur’an kepada mereka, mengajak mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla, serta menetapkan melalui lisan beliau syariat yang mereka butuhkan saat itu.Bisa jadi pertama kali mereka mendengar beliau membaca Al-Qur’an, beliau tidak menyadari kehadiran mereka, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Setelah itu mereka datang kepada beliau, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Mas‘ud. Adapun Ibnu Mas‘ud, ia tidak berada bersama Rasulullah ﷺ ketika beliau berbicara langsung dengan jin dan mengajak mereka. Ia hanya berada jauh dari beliau, dan tidak ada seorang pun yang keluar bersama Nabi ﷺ selain dia. Meski demikian, ia pun tidak menyaksikan langsung peristiwa pembicaraan itu. Inilah cara Al-Baihaqi memahami riwayat-riwayat tersebut.Bisa juga terjadi bahwa pertama kali beliau keluar menemui mereka, tidak ada Ibnu Mas‘ud dan tidak pula orang lain bersama beliau, sebagaimana tampak dari riwayat pertama melalui jalur Imam Ahmad, dan riwayat itu juga ada dalam Muslim. Setelah itu beliau keluar lagi bersama Ibnu Mas‘ud pada malam yang lain. Wallahu a‘lam.Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam tafsir قُلْ أُوحِيَ, dari hadis Ibnu Juraij, ia berkata: Abdul Aziz bin Umar berkata:Adapun jin yang bertemu beliau di Nakhlah adalah jin dari Nainawa, sedangkan jin yang bertemu beliau di Makkah adalah jin dari Nashibin.Al-Baihaqi memahami ucapan, “Kami melewati malam terburuk yang pernah dilalui suatu kaum,” bahwa ucapan itu berasal dari selain Ibnu Mas‘ud, yaitu orang-orang yang tidak mengetahui keluarnya beliau ﷺ menemui jin. Ini mungkin, tetapi agak jauh. Wallahu a‘lam.Al-Hafizh Abu Bakar Al-Baihaqi berkata: Abu Amr Muhammad bin Abdullah Al-Adib mengabarkan kepada kami, Abu Bakar Al-Isma‘ili mengabarkan kepada kami, Al-Hasan bin Sufyan menceritakan kepadaku, Suwaid bin Sa‘id menceritakan kepada kami, Amr bin Yahya menceritakan kepada kami, dari kakeknya Sa‘id bin Amr, ia berkata:Abu Hurairah biasa mengikuti Rasulullah ﷺ dengan membawa wadah air untuk wudu dan keperluan beliau. Pada suatu hari beliau menjumpainya dan bertanya, “Siapa ini?”Ia menjawab, “Aku, Abu Hurairah.”Beliau bersabda, “Bawakan kepadaku batu-batu untuk aku pakai bersuci, dan jangan bawakan tulang atau kotoran hewan.”Maka aku datang membawa batu-batu di ujung bajuku, lalu meletakkannya di samping beliau. Setelah beliau selesai dan bangkit, aku mengikuti beliau lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa tulang dan kotoran hewan tidak boleh?”Beliau menjawab, “Telah datang kepadaku utusan jin Nashibin. Mereka meminta bekal kepadaku, maka aku berdoa kepada Allah untuk mereka agar mereka tidak melewati satu tulang ataupun kotoran hewan kecuali mereka mendapatinya sebagai makanan.”Riwayat ini dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya dari Musa bin Ismail, dari Amr bin Yahya, dengan sanad yang hampir sama. Ini menunjukkan, bersama riwayat-riwayat sebelumnya, bahwa mereka memang datang lagi kepada beliau setelah itu. Dan nanti akan kami sebutkan apa yang menunjukkan bahwa hal itu terjadi berulang kali.Penjelasan dari Ibnu Katsir mengenai kisah-kisah terkait yang dibahas ini masih berlanjut. Kesimpulan dari cerita-cerita di atas adalah:1. Allah pernah menghadapkan sekelompok jin kepada Rasulullah ﷺ agar mereka mendengarkan bacaan Al-Qur’an yang beliau baca di Nakhlah.2. Pada peristiwa pertama itu, para jin mendengar bacaan Al-Qur’an, terdiam untuk menyimak, lalu kembali kepada kaumnya sebagai pemberi peringatan.3. Mereka langsung mengakui bahwa Al-Qur’an adalah bacaan yang menakjubkan, memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu mereka pun beriman.4. Sebab awal kedatangan mereka adalah karena para setan telah dihalangi dari berita langit dan dilempari bintang-bintang pijar, sehingga mereka mencari penyebabnya.5. Ketika mereka menemukan Nabi ﷺ sedang salat dan membaca Al-Qur’an, mereka sadar bahwa inilah peristiwa besar yang telah mengubah keadaan langit.6. Riwayat-riwayat yang ada menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ pada awalnya tidak selalu mengetahui kehadiran mereka, namun setelah itu para jin datang lagi kepada beliau dalam beberapa kesempatan.7. Dalam pertemuan-pertemuan berikutnya, Rasulullah ﷺ sengaja mendatangi mereka, membacakan Al-Qur’an, mengajak mereka kepada Allah, dan mengajarkan hukum-hukum yang mereka perlukan.8. Di antara ajaran yang beliau sampaikan kepada mereka ialah bahwa tulang dan kotoran hewan menjadi bekal bagi jin, sehingga manusia dilarang beristinja dengan keduanya.9. Perbedaan jumlah jin dalam berbagai riwayat, seperti tujuh, sembilan, lima belas, atau lebih banyak dari itu, menunjukkan bahwa kedatangan mereka kemungkinan terjadi berulang kali.10. Inti seluruh bahasan ini adalah bahwa jin juga mendengar dakwah Nabi ﷺ, beriman kepada Al-Qur’an, kembali mengingatkan kaumnya, dan dari kalangan mereka ada pemberi peringatan, tetapi tidak ada rasul dari jenis jin. 2. Jin Mengakui Kebenaran Al-Qur’anAllah Ta’ala berfirman,قَالُوا۟ يَٰقَوْمَنَآ إِنَّا سَمِعْنَا كِتَٰبًا أُنزِلَ مِنۢ بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِىٓ إِلَى ٱلْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ“Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Ahqaf: 30)Kemudian Allah menjelaskan isi peringatan yang disampaikan para jin kepada kaumnya. Allah mengabarkan ucapan mereka:قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنزِلَ مِن بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ“Mereka berkata: Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengar sebuah kitab yang diturunkan setelah Musa, yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya, dan memberi petunjuk kepada kebenaran.”Mereka tidak menyebut Isa, karena Isa ‘alaihissalam diturunkan kepadanya Injil yang berisi nasihat-nasihat, pelunakan hati, dan hanya sedikit hukum halal dan haram. Pada hakikatnya, Injil itu seperti penyempurna bagi syariat Taurat. Karena itu, yang menjadi pokok adalah Taurat. Itulah sebabnya mereka berkata, “diturunkan setelah Musa.”Demikian pula yang dikatakan oleh Waraqah bin Naufal ketika Nabi ﷺ mengabarkan kepadanya kisah turunnya Jibril ‘alaihissalam kepada beliau untuk pertama kalinya. Waraqah berkata, “Sungguh, sungguh, ini adalah Namus yang dahulu datang kepada Musa. Seandainya aku masih muda pada masa itu.”Firman mereka:مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ“yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya,”maksudnya, kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya kepada para nabi.Ucapan mereka:يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ“memberi petunjuk kepada kebenaran,” maksudnya dalam masalah keyakinan dan berita.Dan ucapan mereka:وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ“dan kepada jalan yang lurus,” maksudnya dalam amalan.Sebab Al-Qur’an mencakup dua perkara: berita dan tuntunan. Beritanya adalah benar, dan tuntunannya adalah adil. Sebagaimana firman Allah:وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا“Dan telah sempurna kalimat Tuhanmu dengan kebenaran dan keadilan.” (QS. Al-An‘am: 115)Dan firman-Nya:هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar.” (QS. At-Taubah: 33)Yang dimaksud dengan petunjuk adalah ilmu yang bermanfaat, sedangkan agama yang benar adalah amal saleh.Demikian pula ucapan para jin:يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ“memberi petunjuk kepada kebenaran,” yaitu dalam keyakinan-keyakinan.Dan:وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ“dan kepada jalan yang lurus,” yaitu dalam amalan-amalan. 3. Seruan Jin agar Kaumnya BerimanAllah Ta’ala berfirman,يَٰقَوْمَنَآ أَجِيبُوا۟ دَاعِىَ ٱللَّهِ وَءَامِنُوا۟ بِهِۦ يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ“Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.” (QS. Al-Ahqaf: 31)Dalam ayat disebutkan,يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ“Wahai kaum kami, penuhilah seruan orang yang mengajak kepada Allah,”menunjukkan bahwa Allah mengutus Nabi Muhammad ﷺ kepada dua golongan makhluk, yaitu manusia dan jin. Beliau mengajak mereka kepada Allah, dan membacakan kepada mereka surah yang di dalamnya terdapat seruan kepada kedua golongan tersebut, berisi kewajiban, janji, dan ancaman bagi mereka, yaitu Surah Ar-Rahman. Karena itu mereka berkata:أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ“Penuhilah seruan orang yang mengajak kepada Allah dan berimanlah kepadanya.”Firman-Nya:يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ“Agar Dia mengampuni sebagian dosa-dosa kalian.”Ada yang mengatakan bahwa kata min di sini hanya sebagai tambahan, tetapi pendapat ini masih perlu dipertimbangkan, karena penggunaan tambahan seperti itu dalam kalimat yang bersifat penetapan jarang terjadi. Ada pula yang mengatakan bahwa kata min tetap pada makna asalnya, yaitu menunjukkan sebagian. Apakah Jin Mukmin Masuk Surga?Firman-Nya:وَيُجِرْكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ“Dan melindungi kalian dari azab yang pedih,”maksudnya Allah akan menjaga kalian dari azab-Nya yang menyakitkan.Sebagian ulama menggunakan ayat ini sebagai dalil bahwa jin yang beriman tidak masuk surga. Menurut mereka, balasan bagi jin yang saleh hanyalah diselamatkan dari azab neraka pada hari kiamat. Mereka berpendapat demikian karena dalam ayat ini disebutkan balasan berupa pengampunan dosa dan perlindungan dari azab, tanpa menyebutkan surga.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa jin yang beriman tidak masuk surga karena mereka berasal dari keturunan Iblis, sedangkan keturunan Iblis tidak masuk surga.Namun pendapat yang benar adalah bahwa jin yang beriman akan masuk surga sebagaimana manusia yang beriman. Ini merupakan pendapat sejumlah ulama dari kalangan salaf.Sebagian ulama berdalil dengan firman Allah:لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌ“Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya.” (QS. Ar-Rahman: 74)Namun dalil yang lebih kuat adalah firman Allah:وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ ۝ فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ“Dan bagi orang yang takut kepada Tuhannya disediakan dua surga. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kalian dustakan?” (QS. Ar-Rahman: 46–47)Dalam ayat ini Allah memberikan nikmat kepada dua golongan, yaitu manusia dan jin, dengan menyebutkan bahwa balasan bagi orang yang berbuat baik di antara mereka adalah surga. Para jin bahkan menjawab ayat ini dengan ucapan syukur yang lebih jelas daripada manusia, yaitu:“Kami tidak mendustakan satu pun dari nikmat-Mu, wahai Tuhan kami. Segala puji bagi-Mu.”Tidak mungkin Allah menyebutkan suatu balasan kepada mereka jika balasan itu tidak akan mereka peroleh.Selain itu, jika Allah menghukum orang kafir dari kalangan jin dengan neraka, yang merupakan bentuk keadilan, maka lebih pantas lagi jika Allah memberi balasan surga kepada jin yang beriman, yang merupakan bentuk karunia.Hal ini juga dikuatkan oleh firman Allah:إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka surga Firdaus sebagai tempat tinggal.” (QS. Al-Kahfi: 107)Dan ayat-ayat lain yang serupa.Surga juga masih memiliki kelebihan tempat hingga Allah menciptakan makhluk baru untuk mengisinya. Maka tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa orang yang beriman kepada-Nya dan beramal saleh tidak akan memasukinya.Adapun balasan yang disebutkan dalam ayat ini, yaitu pengampunan dosa dan perlindungan dari azab, pada hakikatnya mengandung makna masuk surga. Sebab di akhirat hanya ada dua tempat: surga atau neraka. Siapa yang diselamatkan dari neraka pasti akan masuk surga.Tidak ada dalil yang jelas dari syariat yang menyatakan bahwa jin yang beriman tidak masuk surga. Jika ada dalil yang sahih, tentu akan diterima.Nabi Nuh juga berkata kepada kaumnya:يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرْكُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى“Agar Dia mengampuni sebagian dosa-dosa kalian dan menangguhkan kalian sampai waktu yang dite          ntukan.” (QS. Nuh: 4)Padahal tidak ada perbedaan pendapat bahwa orang beriman dari kaum Nabi Nuh masuk surga. Demikian pula halnya dengan jin yang beriman.Ada pula beberapa pendapat lain yang aneh. Misalnya pendapat Umar bin Abdul Aziz yang mengatakan bahwa jin tidak masuk ke bagian utama surga, tetapi berada di sekitar dan di pinggirannya.Ada juga yang mengatakan bahwa di surga manusia dapat melihat jin, tetapi jin tidak dapat melihat manusia, kebalikan dari keadaan mereka di dunia.Ada pula yang mengatakan bahwa jin tidak makan dan tidak minum di surga, tetapi hanya diberi ilham untuk bertasbih, bertahmid, dan mensucikan Allah sebagai pengganti makanan dan minuman, sebagaimana malaikat.Namun semua pendapat tersebut masih perlu dipertimbangkan dan tidak memiliki dalil yang jelas. 4. Ancaman bagi yang Menolak Seruan AllahAllah Ta’ala berfirman,وَمَن لَّا يُجِبْ دَاعِىَ ٱللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُۥ مِن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءُ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ“Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata”.” (QS. Al-Ahqaf: 32)“Dan barang siapa tidak memenuhi seruan orang yang mengajak kepada Allah, maka ia tidak akan dapat melemahkan Allah di bumi, dan tidak ada baginya pelindung selain Dia. Mereka itulah orang-orang yang berada dalam kesesatan yang nyata.” (32)Kemudian Allah mengabarkan ucapan para jin itu:وَمَن لَّا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي الْأَرْضِ“Dan barang siapa tidak memenuhi seruan orang yang mengajak kepada Allah, maka ia tidak akan dapat melemahkan Allah di bumi.”Maksudnya, kekuasaan Allah meliputi dan menguasai dirinya sepenuhnya.Firman-Nya:وَلَيْسَ لَهُ مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءُ“Dan tidak ada baginya pelindung selain Dia.”Artinya, tidak ada seorang pun yang dapat melindungi mereka dari azab Allah.Firman-Nya:أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ“Mereka itulah orang-orang yang berada dalam kesesatan yang nyata.”Ini adalah bentuk ancaman dan peringatan keras. Para jin itu mengajak kaumnya dengan dua cara sekaligus: memberikan harapan dan memberikan peringatan. Karena itu, dakwah mereka memberi pengaruh pada banyak dari kaumnya, hingga mereka datang kepada Rasulullah ﷺ secara berkelompok demi berkelompok, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Pelajaran Dakwah dari Kisah Jin dalam Al-Qur’anKetika mendengar Al-Qur’an, para jin langsung diam dan menyimak dengan penuh perhatian. Ini mengajarkan adab ketika mendengar ayat Allah: berhenti dari kesibukan dan fokus mendengarkan.Mereka tidak menunda menerima kebenaran. Begitu memahami bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk, mereka langsung beriman tanpa banyak keraguan.Hidayah tidak mereka simpan untuk diri sendiri. Setelah beriman, mereka segera kembali kepada kaumnya untuk mengajak kepada kebenaran.Dakwah yang mereka lakukan memadukan dua cara: memberi harapan berupa ampunan dan keselamatan, serta memberi peringatan tentang azab bagi yang menolak.Al-Qur’an adalah petunjuk bagi semua makhluk yang dibebani syariat, baik manusia maupun jin.Kisah ini menjadi teguran bagi manusia. Jika jin yang baru sekali mendengar Al-Qur’an bisa langsung beriman dan berdakwah, maka manusia yang sering mendengar Al-Qur’an seharusnya lebih cepat menerima dan mengamalkannya. Nasihat PenutupDi zaman ini, banyak manusia justru lebih keras hatinya daripada jin yang diceritakan dalam Al-Qur’an. Jin itu ketika mendengar ayat Allah langsung diam, menyimak, beriman, lalu bergerak menyampaikan kebenaran kepada kaumnya. Adapun kita, Al-Qur’an begitu dekat, kajian begitu mudah diakses, mushaf begitu mudah dibuka, tetapi sering kali hati tetap lalai, telinga tidak sungguh-sungguh mendengar, dan hidup belum berubah.Karena itu, jangan sampai kita kalah dari jin dalam menyambut hidayah. Jika mereka yang baru sekali mendengar Al-Qur’an bisa tersentuh lalu beriman, maka kita yang setiap hari mendengar ayat-ayat Allah seharusnya lebih layak untuk tunduk, memperbaiki iman, dan segera memenuhi seruan Rasulullah ﷺ.Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendengar nasihat lalu mengikuti yang terbaik darinya.اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوبِنَا، وَنُورَ صُدُورِنَا، وَهَادِيَنَا إِلَى الْحَقِّ وَالصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِقُرَّائِنَا وَلِلْمُسْلِمِينَ أَجْمَعِينَ.Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyejuk hati kami, cahaya dada kami, dan penuntun kami menuju kebenaran serta jalan yang lurus. Ampunilah kami, para pembaca tulisan ini, dan seluruh kaum muslimin. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Senin, 27 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdakwah Nabi kepada jin hidayah Al-Qur’an jin beriman jin mendengar Al Quran kisah jin dalam Islam pelajaran tauhid renungan ayat renungan quran rumaysho Surah Al-Ahqaf tafsir Al-Ahqaf tafsir Ibnu Katsir

Kisah Jin Mendengar Al-Qur’an dan Dakwah Rasulullah ﷺ kepada Mereka (Tafsir Surah Al-Ahqaf: 29-32)

Kisah jin yang mendengarkan Al-Qur’an menunjukkan betapa agungnya kalam Allah hingga mampu menggugah hati makhluk yang tidak terlihat oleh manusia. Mereka tidak hanya mendengar, tetapi juga beriman, lalu kembali kepada kaumnya untuk mengajak kepada tauhid dan memperingatkan dari kesesatan. Ayat-ayat dalam Surah Al-Ahqaf ini mengajarkan bahwa siapa pun yang jujur mencari kebenaran, akan ditunjuki kepada jalan yang lurus. Baca juga:Kisah Jin Mendengar Al-Quran Lantas Berdakwah pada KaumnyaFaedah Sirah Nabi: Masih Kisah Dakwah ke Thaif, Ketika Jin Mendengar Al-QuranKumpulan Artikel Dakwah Nabi ke Thaif   Daftar Isi tutup 1. 1. Al-Qur’an Didengar oleh Sekelompok Jin 1.1. Awal Mula Jin Datang Mendengar Bacaan Nabi ﷺ 1.2. Kesimpulan dari cerita-cerita di atas adalah: 2. 2. Jin Mengakui Kebenaran Al-Qur’an 3. 3. Seruan Jin agar Kaumnya Beriman 3.1. Apakah Jin Mukmin Masuk Surga? 4. 4. Ancaman bagi yang Menolak Seruan Allah 5. Pelajaran Dakwah dari Kisah Jin dalam Al-Qur’an 6. Nasihat Penutup 1. Al-Qur’an Didengar oleh Sekelompok JinAllah Ta’ala berfirman,وَإِذْ صَرَفْنَآ إِلَيْكَ نَفَرًا مِّنَ ٱلْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ ٱلْقُرْءَانَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوٓا۟ أَنصِتُوا۟ ۖ فَلَمَّا قُضِىَ وَلَّوْا۟ إِلَىٰ قَوْمِهِم مُّنذِرِينَ“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.” (QS. Al-Ahqaf: 29) Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat 29:Imam Ahmad berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Amr, ia berkata: Aku mendengar Ikrimah, dari Az-Zubair mengenai firman Allah:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ“Dan ingatlah ketika Kami hadapkan kepadamu beberapa golongan jin yang mendengarkan Al-Qur’an.”Ia berkata: Peristiwa itu terjadi di Nakhlah, ketika Rasulullah ﷺ sedang melaksanakan salat Isya terakhir. Mengenai firman Allah:كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا “hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya.” (QS. Al-Jin: 19)Sufyan menjelaskan bahwa kata اللبد berarti sebagian mereka saling menumpuk di atas yang lain, seperti sesuatu yang saling bertumpuk.Riwayat ini hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Nanti akan disebutkan pula riwayat dari Ibnu Jarir, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas bahwa jumlah mereka adalah tujuh jin dari daerah Nashibin.Imam Ahmad juga berkata: Affan menceritakan kepada kami, Abu Awanah menceritakan kepada kami. Awal Mula Jin Datang Mendengar Bacaan Nabi ﷺAl-Hafizh Abu Bakar Al-Baihaqi dalam kitab Dalā’il An-Nubuwwah berkata: Abu Al-Hasan Ali bin Ahmad bin Abdan mengabarkan kepada kami, Ahmad bin Ubaid Ash-Shaffar menceritakan kepada kami, Ismail Al-Qadhi menceritakan kepada kami, Musaddad menceritakan kepada kami, Abu Awanah dari Abu Bisyir, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia berkata:Rasulullah ﷺ tidak pernah membaca Al-Qur’an secara khusus kepada para jin dan tidak pula melihat mereka. Pada suatu ketika Rasulullah ﷺ berangkat bersama beberapa sahabat menuju pasar ‘Ukaz.Saat itu para setan telah terhalang dari berita langit, dan mereka dilempari dengan bintang-bintang. Maka para setan kembali kepada kaum mereka. Kaum mereka bertanya, “Apa yang terjadi dengan kalian?”Mereka menjawab, “Kami terhalang dari berita langit dan dilempari dengan bintang-bintang.”Kaum mereka berkata, “Tidaklah sesuatu menghalangi kalian dari berita langit kecuali karena ada peristiwa baru yang terjadi. Maka pergilah kalian ke seluruh penjuru bumi, ke timur dan ke barat, dan carilah apa yang menyebabkan kalian terhalang dari berita langit.”Maka mereka pun pergi menyusuri seluruh penjuru bumi untuk mencari penyebab hal tersebut. Sekelompok jin yang menuju arah Tihamah kemudian sampai kepada Rasulullah ﷺ di Nakhlah. Ketika itu beliau sedang dalam perjalanan menuju pasar ‘Ukaz dan sedang shalat Subuh bersama para sahabatnya.Ketika mereka mendengar bacaan Al-Qur’an, mereka pun mendengarkannya dengan saksama. Lalu mereka berkata, “Inilah, demi Allah, yang telah menghalangi kalian dari berita langit.”Ketika mereka kembali kepada kaum mereka, mereka berkata:يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا ۝ يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا“Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengar bacaan Al-Qur’an yang menakjubkan, yang memberi petunjuk kepada kebenaran, maka kami beriman kepadanya dan kami tidak akan mempersekutukan Tuhan kami dengan sesuatu pun.”Kemudian Allah menurunkan kepada Nabi-Nya ayat:قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ“Katakanlah: Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur’an).” (QS. Al-Jin: 1)Sesungguhnya yang diwahyukan kepada Nabi adalah ucapan para jin tersebut.Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Musaddad dengan redaksi yang serupa. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim dari Syaiban bin Farrukh dari Abu Awanah dengan sanad yang sama. At-Tirmidzi dan An-Nasa’i juga meriwayatkannya dalam kitab tafsir dari hadis Abu Awanah. Imam Ahmad juga berkata: Abu Ahmad menceritakan kepada kami, Israil menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia berkata:Dahulu para jin dapat mencuri dengar wahyu. Mereka mendengar satu kalimat lalu menambahkan sepuluh kalimat ke dalamnya. Apa yang mereka dengar itu benar, tetapi tambahan mereka adalah kebatilan. Pada masa itu bintang-bintang belum digunakan untuk melempar mereka.Namun ketika Rasulullah ﷺ diutus, setiap jin yang mencoba duduk di tempatnya untuk mencuri dengar akan dilempari dengan meteor yang membakarnya jika mengenainya.Mereka pun mengadukan hal itu kepada Iblis. Iblis berkata, “Ini pasti karena suatu peristiwa baru telah terjadi.”Ia kemudian menyebarkan bala tentaranya. Ternyata mereka menemukan Nabi ﷺ sedang shalat di antara dua gunung di Nakhlah. Mereka pun datang kepada Iblis dan memberitahukan hal itu.Iblis berkata, “Inilah peristiwa baru yang terjadi di bumi.”Riwayat ini juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan An-Nasa’i dalam kitab tafsir mereka melalui jalur Israil. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.Demikian pula riwayat ini diriwayatkan oleh Ayyub dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas. Begitu juga diriwayatkan oleh Al-‘Aufi dari Ibnu Abbas dengan redaksi panjang yang serupa.Al-Hasan Al-Bashri juga mengatakan bahwa Nabi ﷺ tidak mengetahui kedatangan mereka sampai Allah menurunkan wahyu yang mengabarkan tentang mereka.Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Yazid bin Ruman, dari Muhammad bin Ka‘b Al-Qurazhi kisah keluarnya Rasulullah ﷺ menuju Thaif dan mengajak mereka kepada Allah, namun mereka menolaknya. Ia menyebutkan kisah tersebut secara panjang, termasuk doa Nabi yang indah:“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku dan sedikitnya kemampuanku…”Ia berkata: Setelah kembali dari Thaif, Rasulullah ﷺ bermalam di Nakhlah. Pada malam itu beliau membaca Al-Qur’an, lalu para jin dari Nashibin mendengarkannya.Riwayat ini benar, tetapi pernyataan bahwa para jin mendengarkan pada malam tersebut masih perlu ditinjau. Sebab para jin telah mendengarkan Al-Qur’an pada awal masa turunnya wahyu, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Ibnu Abbas yang telah disebutkan sebelumnya.Adapun perjalanan Nabi ﷺ ke Thaif terjadi setelah wafatnya pamannya, yaitu satu atau dua tahun sebelum hijrah, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Ishaq dan lainnya. Wallahu a‘lam.Baca juga: Faedah Sirah Nabi: Masih Kisah Dakwah ke Thaif, Ketika Jin Mendengar Al-QuranAbu Bakar bin Abi Syaibah berkata: Abu Ahmad Az-Zubairi menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari ‘Ashim, dari Zir, dari Abdullah bin Mas‘ud, ia berkata:Sekelompok jin turun kepada Nabi ﷺ ketika beliau sedang membaca Al-Qur’an di lembah Nakhlah. Ketika mereka mendengarnya, mereka berkata, “Diamlah dan dengarkan.”Jumlah mereka sembilan jin, salah satunya bernama Zawba‘ah. Lalu Allah menurunkan firman-Nya:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ“Dan ingatlah ketika Kami hadapkan kepadamu sekelompok jin yang mendengarkan Al-Qur’an. Ketika mereka menghadirinya, mereka berkata, ‘Diamlah dan dengarkan.’ Ketika bacaan itu selesai, mereka kembali kepada kaumnya untuk memberi peringatan.”Sampai firman-Nya:ضَلَالٍ مُبِينٍ“dalam kesesatan yang nyata.”Riwayat ini, bersama riwayat pertama dari Ibnu Abbas, menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ pada peristiwa ini tidak menyadari kehadiran mereka. Mereka hanya mendengarkan bacaan beliau, lalu kembali kepada kaum mereka. Setelah itu mereka datang kepada beliau secara bergelombang, satu kaum setelah kaum yang lain, dan satu rombongan setelah rombongan yang lain, sebagaimana nanti akan datang riwayat-riwayat dan atsar-atsar tentang hal itu pada tempatnya, insyaallah. Hanya kepada-Nya tempat bergantung.Adapun riwayat yang dibawakan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Qudamah Ubaidullah bin Sa‘id As-Sarkhasi, dari Abu Usamah Hammad bin Usamah, dari Mis‘ar bin Kidam, dari Ma‘n bin Abdurrahman, ia berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Aku bertanya kepada Masruq, “Siapa yang memberitahu Nabi ﷺ pada malam ketika para jin mendengarkan Al-Qur’an?” Ia menjawab, “Ayahmu telah menceritakan kepadaku, maksudnya Ibnu Mas‘ud, bahwa yang memberitahu beliau tentang mereka adalah sebuah pohon.”Mungkin hal itu terjadi pada peristiwa pertama, sehingga penetapan ini didahulukan atas penafian Ibnu Abbas. Mungkin juga itu terjadi pada salah satu peristiwa yang datang kemudian. Wallahu a‘lam. Bisa juga terjadi pada peristiwa pertama, tetapi beliau tidak mengetahui kehadiran mereka saat mereka sedang mendengarkan, sampai pohon itu memberitahu beliau, maksudnya mengabarkan kepada beliau bahwa mereka sedang mendengarkan. Wallahu a‘lam.Al-Hafizh Al-Baihaqi berkata: Apa yang diceritakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma itu adalah tentang pertama kali jin mendengar bacaan Rasulullah ﷺ dan mengetahui keadaan beliau. Pada saat itu beliau tidak membacakan Al-Qur’an kepada mereka dan tidak pula melihat mereka. Setelah itu, barulah utusan jin datang kepada beliau, lalu beliau membacakan Al-Qur’an kepada mereka dan mengajak mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu.Berikut riwayat tentang hal itu:Imam Ahmad berkata: Ismail bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Dawud menceritakan kepada kami dari Asy-Sya‘bi, dan Ibnu Abi Zaidah mengabarkan kepada kami, dari Dawud, dari Asy-Sya‘bi, dari ‘Alqamah, ia berkata:Aku bertanya kepada Abdullah bin Mas‘ud, “Apakah ada salah seorang dari kalian yang menemani Rasulullah ﷺ pada malam jin?”Ia menjawab, “Tidak ada seorang pun dari kami yang menemaninya. Akan tetapi, pada suatu malam di Makkah kami kehilangan beliau. Kami berkata, ‘Apakah beliau dibunuh? Atau dibawa terbang? Apa yang telah terjadi padanya?’ Maka kami melewati malam terburuk yang pernah dilalui suatu kaum. Ketika menjelang pagi, atau saat waktu sahur, tiba-tiba beliau datang dari arah Hira’. Maka kami berkata, ‘Wahai Rasulullah,’ lalu mereka menyebutkan apa yang mereka alami.”Beliau bersabda, “Sesungguhnya telah datang kepadaku utusan jin. Lalu aku mendatangi mereka dan membacakan Al-Qur’an kepada mereka.”Lalu beliau pergi bersama kami dan memperlihatkan kepada kami bekas-bekas mereka dan bekas api mereka.Asy-Sya‘bi berkata: Mereka bertanya kepada beliau tentang bekal. Amir berkata: Mereka bertanya di Makkah, dan mereka adalah jin dari Jazirah. Maka beliau bersabda, “Setiap tulang yang disebut nama Allah padanya, akan sampai ke tangan kalian dalam keadaan paling banyak dagingnya. Dan setiap kotoran hewan atau kotoran kering adalah makanan bagi hewan tunggangan kalian. Karena itu, janganlah kalian beristinja dengan keduanya, karena keduanya adalah makanan saudara-saudara kalian dari kalangan jin.”Demikian pula Muslim meriwayatkannya dalam Shahih-nya dari Ali bin Hujr, dari Ismail bin ‘Ulayyah, dengan riwayat yang semisal.Muslim juga meriwayatkan: Muhammad bin Al-Mutsanna menceritakan kepada kami, Abdul A‘la menceritakan kepada kami, Dawud, yaitu Ibnu Abi Hind, dari Amir, ia berkata:Aku bertanya kepada ‘Alqamah, “Apakah Ibnu Mas‘ud pernah hadir bersama Rasulullah ﷺ pada malam jin?”‘Alqamah menjawab, “Aku pernah bertanya kepada Ibnu Mas‘ud: Apakah ada seseorang dari kalian yang hadir bersama Rasulullah ﷺ pada malam jin? Ia menjawab: Tidak. Akan tetapi, pada suatu malam kami bersama Rasulullah ﷺ, lalu kami kehilangan beliau. Kami mencarinya di lembah-lembah dan celah-celah gunung. Kami berkata: Apakah beliau dibawa terbang? Atau dibunuh? Maka kami melewati malam terburuk yang pernah dilalui suatu kaum. Ketika pagi tiba, ternyata beliau datang dari arah Hira’. Maka kami berkata: Wahai Rasulullah, kami kehilanganmu lalu kami mencarimu, tetapi kami tidak menemukanmu, dan kami melewati malam terburuk yang pernah dilalui suatu kaum.”Beliau bersabda, “Telah datang kepadaku utusan jin, lalu aku pergi bersama mereka dan membacakan Al-Qur’an kepada mereka.”Ia berkata: Lalu beliau pergi bersama kami, memperlihatkan bekas-bekas mereka dan bekas api mereka. Mereka meminta bekal, lalu beliau bersabda, “Setiap tulang yang disebut nama Allah padanya, akan sampai ke tangan kalian dalam keadaan paling banyak dagingnya. Dan setiap kotoran hewan atau kotoran kering adalah makanan bagi hewan tunggangan kalian.”Rasulullah ﷺ bersabda, “Karena itu, janganlah kalian beristinja dengan keduanya, karena keduanya adalah makanan saudara-saudara kalian.”Jalur lain dari Ibnu Mas‘ud:Abu Ja‘far bin Jarir berkata: Ahmad bin Abdurrahman menceritakan kepadaku, pamanku menceritakan kepadaku, Yunus menceritakan kepadaku, dari Az-Zuhri, dari Ubaidullah bin Abdullah, bahwa Ibnu Mas‘ud berkata:Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Tadi malam aku bermalam membaca Al-Qur’an kepada jin seperempat bagian di Al-Hajun.”Jalur lain, disebutkan bahwa Ibnu Mas‘ud bersama beliau pada malam jin:Ibnu Jarir rahimahullah berkata: Ahmad bin Abdurrahman bin Wahb menceritakan kepadaku, pamanku Abdullah bin Wahb menceritakan kepada kami, Yunus mengabarkan kepadaku, dari Ibnu Syihab, dari Abu Utsman bin Sunnah Al-Khuza‘i, seorang dari penduduk Syam, bahwa Abdullah bin Mas‘ud berkata:Rasulullah ﷺ berkata kepada para sahabatnya ketika beliau berada di Makkah, “Siapa di antara kalian yang ingin menghadiri urusan jin malam ini, maka ikutlah.”Maka tidak ada seorang pun yang hadir selain aku. Kami pun berangkat. Ketika kami sampai di dataran tinggi Makkah, beliau membuat garis dengan kakinya untukku, lalu menyuruhku duduk di dalamnya. Kemudian beliau pergi dan berdiri, lalu mulai membaca Al-Qur’an. Tiba-tiba sekumpulan hitam yang banyak menutup pandanganku terhadap beliau, hingga aku tidak lagi mendengar suara beliau. Setelah itu mereka mulai terpecah seperti potongan awan yang pergi, hingga tersisa beberapa kelompok saja. Rasulullah ﷺ selesai menjelang Subuh, lalu pergi untuk buang hajat. Setelah itu beliau datang kepadaku dan bertanya, “Apa yang dilakukan oleh rombongan tadi?”Aku menjawab, “Mereka itulah, wahai Rasulullah.”Lalu beliau memberi mereka tulang dan kotoran hewan sebagai bekal, kemudian beliau melarang seseorang bersuci dengan kotoran hewan atau tulang.Riwayat ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam, dari Abu Zur‘ah Wahbullah bin Rasyid, dari Yunus bin Yazid Al-Ayli, dengannya. Al-Baihaqi juga meriwayatkannya dalam Ad-Dalā’il dari hadis Abdullah bin Shalih, juru tulis Al-Laits, dari Al-Laits, dari Yunus, dengannya.Ishaq bin Rahawaih juga meriwayatkan dari Jarir, dari Qabus bin Abi Zhabyan, dari ayahnya, dari Ibnu Mas‘ud, lalu menyebutkan seperti yang telah disebutkan sebelumnya.Al-Hafizh Abu Nu‘aim juga meriwayatkannya melalui jalur Musa bin Ubaidah, dari Sa‘id bin Al-Harits, dari Abu Al-Mu‘alla, dari Ibnu Mas‘ud, dan ia menyebutkan yang semisal.Jalur lain:Abu Nu‘aim berkata: Abu Bakar bin Malik menceritakan kepada kami, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku: Affan dan Ikrimah berkata: Mu‘tamir menceritakan kepada kami. Ayahku berkata: Abu Tamimah menceritakan kepadaku, dari Amr, mungkin ia berkata Al-Bakali, bahwa Amr menceritakan kepadanya dari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:Rasulullah ﷺ mengajakku mengikuti beliau. Maka kami berangkat hingga sampai di suatu tempat. Beliau membuat garis untukku, lalu bersabda, “Tetaplah berada di tengah garis ini, jangan keluar darinya. Jika engkau keluar darinya, engkau akan binasa.”Lalu ia menyebutkan hadis itu dengan panjang, dan di dalamnya terdapat keanehan yang sangat.Jalur lain:Ibnu Jarir berkata: Ibnu Abdil A‘la menceritakan kepada kami, Ibnu Tsaur menceritakan kepada kami, dari Ma‘mar, dari Yahya bin Abi Katsir, dari Abdullah bin Amr bin Ghailan Ats-Tsaqafi, bahwa ia berkata kepada Ibnu Mas‘ud, “Telah diceritakan bahwa engkau bersama Rasulullah ﷺ pada malam kedatangan utusan jin?”Ia menjawab, “Ya.”Ia bertanya, “Bagaimana peristiwanya?”Lalu ia menceritakan hadits itu seluruhnya, dan menyebutkan bahwa Nabi ﷺ membuat garis untuknya, seraya bersabda, “Jangan tinggalkan tempat ini.”Ia menyebutkan bahwa sesuatu seperti pusaran hitam menutupi Rasulullah ﷺ. Ia merasa sangat takut sampai tiga kali. Ketika hampir Subuh, Nabi ﷺ datang kepadaku dan bertanya, “Apakah engkau tidur?”Aku menjawab, “Tidak, demi Allah. Bahkan beberapa kali aku ingin meminta pertolongan orang-orang, sampai aku mendengarmu memukul mereka dengan tongkatmu sambil berkata: ‘Duduklah kalian.’”Beliau bersabda, “Kalau engkau keluar, aku tidak merasa aman kalau sebagian dari mereka akan menculikmu.”Kemudian beliau bersabda, “Apakah engkau melihat sesuatu?”Aku menjawab, “Ya, aku melihat laki-laki berkulit hitam, mengenakan pakaian putih.”Beliau bersabda, “Mereka itu jin Nashibin. Mereka meminta bekal kepadaku, dan aku memberi mereka setiap tulang kering, atau kotoran hewan, atau tahi sebagai bekal.”Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa manfaat semua itu bagi mereka?”Beliau menjawab, “Mereka tidak mendapatkan satu tulang pun kecuali akan mendapati dagingnya masih ada di atasnya sebagaimana pada hari saat dimakan, dan mereka tidak mendapatkan kotoran hewan pun kecuali akan mendapati biji-bijiannya masih ada sebagaimana pada hari saat dimakan. Karena itu, janganlah salah seorang dari kalian bersuci setelah buang hajat dengan tulang, kotoran hewan, atau tahi.”Jalur lain:Al-Hafizh Abu Bakar Al-Baihaqi berkata: Abu Abdurrahman As-Sulami dan Abu Nashr bin Qatadah mengabarkan kepada kami, keduanya berkata: Abu Muhammad Yahya bin Manshur Al-Qadhi mengabarkan kepada kami, Abu Abdullah Muhammad bin Ibrahim Al-Bausyanji menceritakan kepada kami, Ruh bin Shalah menceritakan kepada kami, Musa bin Ali bin Rabah menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari Abdullah bin Mas‘ud, ia berkata:Rasulullah ﷺ mengajakku dan bersabda, “Sesungguhnya sekelompok jin, lima belas orang, saudara-saudara dan sepupu-sepupu, akan datang kepadaku malam ini, lalu aku akan membacakan Al-Qur’an kepada mereka.”Maka aku pun berangkat bersama beliau ke tempat yang beliau kehendaki. Beliau membuat garis untukku dan mendudukkanku di dalamnya, lalu berkata kepadaku, “Jangan keluar dari sini.”Aku tetap berada di tempat itu sampai Rasulullah ﷺ datang kepadaku menjelang sahur. Di tangan beliau ada tulang kering dan kotoran hitam yang sudah hangus, lalu beliau berkata kepadaku, “Jika engkau pergi buang hajat, janganlah engkau beristinja dengan salah satu dari benda-benda ini.”Ketika pagi tiba aku berkata, “Akan aku cari tahu sejauh pengetahuanku tentang tempat Rasulullah ﷺ tadi.” Lalu aku pergi dan melihat tempat peristirahatan enam puluh unta.Jalur lain:Al-Baihaqi berkata: Abu Abdullah Al-Hafizh mengabarkan kepada kami, Abu Al-Abbas Al-Ashamm mengabarkan kepada kami, Al-Abbas bin Muhammad Ad-Dauri menceritakan kepada kami, Utsman bin Umar menceritakan kepada kami, dari Al-Mustamir bin Ar-Rayyan, dari Abu Al-Jauza’, dari Abdullah bin Mas‘ud, ia berkata:Aku pergi bersama Rasulullah ﷺ pada malam jin hingga beliau sampai di Al-Hajun. Lalu beliau membuat garis untukku, kemudian maju menemui mereka. Mereka pun berdesakan di sekitar beliau. Lalu pemimpin mereka yang disebut Wardan berkata, “Aku akan menjauhkan mereka darimu.”Maka beliau bersabda, “Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang dapat melindungiku dari Allah.”Jalur lain:Imam Ahmad berkata: Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Abu Fazārah Al-‘Absi, Abu Zaid, budak Amr bin Huraith, menceritakan kepada kami dari Ibnu Mas‘ud, ia berkata:Ketika malam jin, Nabi ﷺ berkata kepadaku, “Apakah engkau membawa air?”Aku menjawab, “Aku tidak membawa air, tetapi aku membawa wadah berisi nabidz.”Maka Nabi bersabda, “Kurma yang baik dan air yang suci.”Lalu beliau berwudhu dengannya.Riwayat ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari hadis Abu Zaid.Jalur lain:Ahmad berkata: Yahya bin Ishaq menceritakan kepada kami, Ibnu Lahi‘ah mengabarkan kepada kami, dari Qais bin Al-Hajjaj, dari Hanasy Ash-Shan‘ani, dari Ibnu Abbas, dari Abdullah bin Mas‘ud, bahwa ia bersama Rasulullah ﷺ pada malam jin. Lalu Rasulullah bersabda, “Wahai Abdullah, apakah engkau membawa air?”Ia menjawab, “Aku membawa nabidz di dalam wadah.”Maka beliau bersabda, “Tuangkanlah kepadaku.”Lalu beliau berwudu. Nabi ﷺ bersabda, “Wahai Abdullah, ini minuman dan sekaligus alat bersuci.”Riwayat ini hanya diriwayatkan oleh Ahmad melalui jalur ini. Ad-Daraquthni juga membawakannya dari jalur lain, dari Ibnu Mas‘ud.Jalur lain:Imam Ahmad berkata: Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, ayahku mengabarkan kepadaku dari Mīnā’, dari Abdullah, ia berkata:Aku bersama Rasulullah ﷺ pada malam kedatangan utusan jin. Setelah beliau selesai, beliau menarik napas panjang. Maka aku bertanya, “Apa gerangan yang terjadi padamu?”Beliau bersabda, “Ajalku telah diberitahukan kepadaku, wahai Ibnu Mas‘ud.”Beginilah aku melihatnya dalam Musnad secara ringkas. Al-Hafizh Abu Nu‘aim meriwayatkannya dalam kitab Dalā’il An-Nubuwwah, lalu berkata: Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub menceritakan kepada kami, Ishaq bin Ibrahim menceritakan kepada kami, dan Abu Bakar bin Malik menceritakan kepada kami, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Mina’, dari Ibnu Mas‘ud, ia berkata:Aku bersama Rasulullah ﷺ pada malam kedatangan utusan jin. Beliau menarik napas panjang. Aku bertanya,“Ada apa denganmu wahai Rasulullah?”Beliau bersabda, “Ajalku telah diberitahukan kepadaku, wahai Ibnu Mas‘ud.”Aku berkata, “Tunjuklah seorang pengganti.”Beliau bertanya, “Siapa?”Aku menjawab, “Abu Bakar.”Beliau diam. Setelah beberapa saat beliau kembali menarik napas panjang. Aku bertanya, “Ada apa denganmu? Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, wahai Rasulullah?”Beliau bersabda, “Ajalku telah diberitahukan kepadaku, wahai Ibnu Mas‘ud.”Aku berkata, “Tunjuklah seorang pengganti.”Beliau bertanya, “Siapa?”Aku menjawab, “Umar.”Beliau diam. Setelah beberapa saat beliau kembali menarik napas panjang. Aku bertanya, “Apa yang terjadi?”Beliau bersabda, “Ajalku telah diberitahukan kepadaku.”Aku berkata, “Kalau begitu tunjuklah pengganti.”Beliau bersabda, “Siapa?”Aku menjawab, “Ali bin Abi Thalib.”Maka Nabi ﷺ bersabda, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya mereka menaatinya, niscaya mereka semua akan masuk surga.”Ini adalah hadits yang sangat asing, dan lebih layak untuk dinilai tidak terjaga. Kalau pun dianggap sahih, maka yang tampak peristiwa ini terjadi setelah kedatangan mereka kepada beliau di Madinah, sebagaimana akan kami sebutkan nanti. Sebab pada waktu itu, di akhir masa dakwah, ketika Makkah telah dibebaskan, manusia dan jin pun masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong. Lalu turun surah:إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ ۝ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا ۝ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًاSurah inilah yang memberitahukan dekatnya wafat beliau, sebagaimana telah dijelaskan oleh Ibnu Abbas, dan Umar bin Al-Khaththab juga sependapat dengannya. Nanti akan datang hadis tentang hal itu saat menafsirkan surah tersebut. Wallahu a‘lam.Abu Nu‘aim juga meriwayatkannya dari Ath-Thabarani, dari Muhammad bin Abdullah Al-Hadhrami, dari Ali bin Al-Husain bin Abi Burdah, dari Yahya bin Sa‘id Al-Aslami, dari Harb bin Shabih, dari Sa‘id bin Maslamah, dari Abu Murrah Ash-Shan‘ani, dari Abu Abdullah Al-Jadali, dari Ibnu Mas‘ud, lalu menyebutkannya serta menyebut kisah penunjukan pengganti. Ini sanad yang asing dan redaksi yang ganjil.Jalur lain:Imam Ahmad berkata: Abu Sa‘id menceritakan kepada kami, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Ali bin Zaid, dari Abu Rafi‘, dari Ibnu Mas‘ud, bahwa Rasulullah ﷺ membuat lingkaran di sekelilingnya. Sebagian mereka tampak seperti kumpulan lebah hitam. Beliau berkata kepadaku, “Jangan tinggalkan tempatmu.”Lalu beliau membacakan Kitab Allah kepada mereka. Ketika beliau melihat Az-Zuth, beliau berkata, “Mereka seperti هؤلاء.”Nabi ﷺ berkata, “Apakah engkau membawa air?”Aku menjawab, “Tidak.”Beliau bertanya, “Apakah engkau membawa nabidz?”Aku menjawab, “Ya.”Maka beliau berwudu dengannya.Jalur lain yang mursal:Ibnu Abi Hatim berkata: Abu Abdullah Azh-Zhahrani menceritakan kepada kami, Hafsh bin Umar Al-‘Adani mengabarkan kepada kami, Al-Hakam bin Aban menceritakan kepada kami, dari Ikrimah tentang firman Allah Ta‘ala:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّIa berkata: Mereka berjumlah dua belas ribu, datang dari Jazirah Al-Maushil. Nabi ﷺ berkata kepada Ibnu Mas‘ud, “Tunggulah aku sampai aku kembali kepadamu.” Lalu beliau membuat garis untuknya dan berkata, “Jangan pergi dari tempatmu sampai aku datang.” Ketika Ibnu Mas‘ud mulai merasa takut kepada mereka, ia hampir saja pergi. Namun ia teringat ucapan Rasulullah ﷺ, maka ia tetap di tempatnya. Lalu Nabi ﷺ berkata kepadanya, “Seandainya engkau pergi, niscaya kita tidak akan bertemu lagi sampai hari kiamat.” Jalur lain yang juga mursal:Sa‘id bin Abi ‘Arubah berkata, dari Qatadah, tentang firman Allah:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّDisebutkan kepada kami bahwa mereka diarahkan kepada beliau dari Nainawa. Nabi Allah ﷺ bersabda, “Aku diperintahkan untuk membacakan Al-Qur’an kepada jin. Siapa di antara kalian yang akan ikut bersamaku?”Mereka menunduk diam. Beliau mengulangi ajakan itu, namun mereka tetap menunduk. Ketika beliau mengulanginya untuk ketiga kali, seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, itu adalah urusan yang sangat berat.” Maka Ibnu Mas‘ud, saudara Hudzail itu, ikut bersama beliau.Nabi ﷺ masuk ke sebuah celah gunung yang disebut Syi‘b Al-Hajun, lalu membuat garis untuknya, juga membuat garis untuk Ibnu Mas‘ud agar dengan itu ia tetap di tempatnya. Aku mulai ketakutan dan melihat sesuatu seperti burung nasar berjalan di sisi-sisinya. Aku juga mendengar suara gaduh yang sangat keras, sampai aku takut terhadap Nabi Allah ﷺ. Kemudian beliau membaca Al-Qur’an. Ketika Rasulullah ﷺ kembali, aku bertanya, “Wahai Rasulullah, suara gaduh apa yang aku dengar itu?”Beliau menjawab, “Mereka sedang berselisih tentang seorang yang terbunuh, lalu diputuskan perkara di antara mereka dengan benar.”Riwayat ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim.Semua jalur riwayat ini menunjukkan bahwa beliau ﷺ memang sengaja mendatangi jin, lalu membacakan Al-Qur’an kepada mereka, mengajak mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla, serta menetapkan melalui lisan beliau syariat yang mereka butuhkan saat itu.Bisa jadi pertama kali mereka mendengar beliau membaca Al-Qur’an, beliau tidak menyadari kehadiran mereka, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Setelah itu mereka datang kepada beliau, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Mas‘ud. Adapun Ibnu Mas‘ud, ia tidak berada bersama Rasulullah ﷺ ketika beliau berbicara langsung dengan jin dan mengajak mereka. Ia hanya berada jauh dari beliau, dan tidak ada seorang pun yang keluar bersama Nabi ﷺ selain dia. Meski demikian, ia pun tidak menyaksikan langsung peristiwa pembicaraan itu. Inilah cara Al-Baihaqi memahami riwayat-riwayat tersebut.Bisa juga terjadi bahwa pertama kali beliau keluar menemui mereka, tidak ada Ibnu Mas‘ud dan tidak pula orang lain bersama beliau, sebagaimana tampak dari riwayat pertama melalui jalur Imam Ahmad, dan riwayat itu juga ada dalam Muslim. Setelah itu beliau keluar lagi bersama Ibnu Mas‘ud pada malam yang lain. Wallahu a‘lam.Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam tafsir قُلْ أُوحِيَ, dari hadis Ibnu Juraij, ia berkata: Abdul Aziz bin Umar berkata:Adapun jin yang bertemu beliau di Nakhlah adalah jin dari Nainawa, sedangkan jin yang bertemu beliau di Makkah adalah jin dari Nashibin.Al-Baihaqi memahami ucapan, “Kami melewati malam terburuk yang pernah dilalui suatu kaum,” bahwa ucapan itu berasal dari selain Ibnu Mas‘ud, yaitu orang-orang yang tidak mengetahui keluarnya beliau ﷺ menemui jin. Ini mungkin, tetapi agak jauh. Wallahu a‘lam.Al-Hafizh Abu Bakar Al-Baihaqi berkata: Abu Amr Muhammad bin Abdullah Al-Adib mengabarkan kepada kami, Abu Bakar Al-Isma‘ili mengabarkan kepada kami, Al-Hasan bin Sufyan menceritakan kepadaku, Suwaid bin Sa‘id menceritakan kepada kami, Amr bin Yahya menceritakan kepada kami, dari kakeknya Sa‘id bin Amr, ia berkata:Abu Hurairah biasa mengikuti Rasulullah ﷺ dengan membawa wadah air untuk wudu dan keperluan beliau. Pada suatu hari beliau menjumpainya dan bertanya, “Siapa ini?”Ia menjawab, “Aku, Abu Hurairah.”Beliau bersabda, “Bawakan kepadaku batu-batu untuk aku pakai bersuci, dan jangan bawakan tulang atau kotoran hewan.”Maka aku datang membawa batu-batu di ujung bajuku, lalu meletakkannya di samping beliau. Setelah beliau selesai dan bangkit, aku mengikuti beliau lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa tulang dan kotoran hewan tidak boleh?”Beliau menjawab, “Telah datang kepadaku utusan jin Nashibin. Mereka meminta bekal kepadaku, maka aku berdoa kepada Allah untuk mereka agar mereka tidak melewati satu tulang ataupun kotoran hewan kecuali mereka mendapatinya sebagai makanan.”Riwayat ini dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya dari Musa bin Ismail, dari Amr bin Yahya, dengan sanad yang hampir sama. Ini menunjukkan, bersama riwayat-riwayat sebelumnya, bahwa mereka memang datang lagi kepada beliau setelah itu. Dan nanti akan kami sebutkan apa yang menunjukkan bahwa hal itu terjadi berulang kali.Penjelasan dari Ibnu Katsir mengenai kisah-kisah terkait yang dibahas ini masih berlanjut. Kesimpulan dari cerita-cerita di atas adalah:1. Allah pernah menghadapkan sekelompok jin kepada Rasulullah ﷺ agar mereka mendengarkan bacaan Al-Qur’an yang beliau baca di Nakhlah.2. Pada peristiwa pertama itu, para jin mendengar bacaan Al-Qur’an, terdiam untuk menyimak, lalu kembali kepada kaumnya sebagai pemberi peringatan.3. Mereka langsung mengakui bahwa Al-Qur’an adalah bacaan yang menakjubkan, memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu mereka pun beriman.4. Sebab awal kedatangan mereka adalah karena para setan telah dihalangi dari berita langit dan dilempari bintang-bintang pijar, sehingga mereka mencari penyebabnya.5. Ketika mereka menemukan Nabi ﷺ sedang salat dan membaca Al-Qur’an, mereka sadar bahwa inilah peristiwa besar yang telah mengubah keadaan langit.6. Riwayat-riwayat yang ada menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ pada awalnya tidak selalu mengetahui kehadiran mereka, namun setelah itu para jin datang lagi kepada beliau dalam beberapa kesempatan.7. Dalam pertemuan-pertemuan berikutnya, Rasulullah ﷺ sengaja mendatangi mereka, membacakan Al-Qur’an, mengajak mereka kepada Allah, dan mengajarkan hukum-hukum yang mereka perlukan.8. Di antara ajaran yang beliau sampaikan kepada mereka ialah bahwa tulang dan kotoran hewan menjadi bekal bagi jin, sehingga manusia dilarang beristinja dengan keduanya.9. Perbedaan jumlah jin dalam berbagai riwayat, seperti tujuh, sembilan, lima belas, atau lebih banyak dari itu, menunjukkan bahwa kedatangan mereka kemungkinan terjadi berulang kali.10. Inti seluruh bahasan ini adalah bahwa jin juga mendengar dakwah Nabi ﷺ, beriman kepada Al-Qur’an, kembali mengingatkan kaumnya, dan dari kalangan mereka ada pemberi peringatan, tetapi tidak ada rasul dari jenis jin. 2. Jin Mengakui Kebenaran Al-Qur’anAllah Ta’ala berfirman,قَالُوا۟ يَٰقَوْمَنَآ إِنَّا سَمِعْنَا كِتَٰبًا أُنزِلَ مِنۢ بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِىٓ إِلَى ٱلْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ“Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Ahqaf: 30)Kemudian Allah menjelaskan isi peringatan yang disampaikan para jin kepada kaumnya. Allah mengabarkan ucapan mereka:قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنزِلَ مِن بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ“Mereka berkata: Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengar sebuah kitab yang diturunkan setelah Musa, yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya, dan memberi petunjuk kepada kebenaran.”Mereka tidak menyebut Isa, karena Isa ‘alaihissalam diturunkan kepadanya Injil yang berisi nasihat-nasihat, pelunakan hati, dan hanya sedikit hukum halal dan haram. Pada hakikatnya, Injil itu seperti penyempurna bagi syariat Taurat. Karena itu, yang menjadi pokok adalah Taurat. Itulah sebabnya mereka berkata, “diturunkan setelah Musa.”Demikian pula yang dikatakan oleh Waraqah bin Naufal ketika Nabi ﷺ mengabarkan kepadanya kisah turunnya Jibril ‘alaihissalam kepada beliau untuk pertama kalinya. Waraqah berkata, “Sungguh, sungguh, ini adalah Namus yang dahulu datang kepada Musa. Seandainya aku masih muda pada masa itu.”Firman mereka:مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ“yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya,”maksudnya, kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya kepada para nabi.Ucapan mereka:يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ“memberi petunjuk kepada kebenaran,” maksudnya dalam masalah keyakinan dan berita.Dan ucapan mereka:وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ“dan kepada jalan yang lurus,” maksudnya dalam amalan.Sebab Al-Qur’an mencakup dua perkara: berita dan tuntunan. Beritanya adalah benar, dan tuntunannya adalah adil. Sebagaimana firman Allah:وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا“Dan telah sempurna kalimat Tuhanmu dengan kebenaran dan keadilan.” (QS. Al-An‘am: 115)Dan firman-Nya:هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar.” (QS. At-Taubah: 33)Yang dimaksud dengan petunjuk adalah ilmu yang bermanfaat, sedangkan agama yang benar adalah amal saleh.Demikian pula ucapan para jin:يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ“memberi petunjuk kepada kebenaran,” yaitu dalam keyakinan-keyakinan.Dan:وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ“dan kepada jalan yang lurus,” yaitu dalam amalan-amalan. 3. Seruan Jin agar Kaumnya BerimanAllah Ta’ala berfirman,يَٰقَوْمَنَآ أَجِيبُوا۟ دَاعِىَ ٱللَّهِ وَءَامِنُوا۟ بِهِۦ يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ“Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.” (QS. Al-Ahqaf: 31)Dalam ayat disebutkan,يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ“Wahai kaum kami, penuhilah seruan orang yang mengajak kepada Allah,”menunjukkan bahwa Allah mengutus Nabi Muhammad ﷺ kepada dua golongan makhluk, yaitu manusia dan jin. Beliau mengajak mereka kepada Allah, dan membacakan kepada mereka surah yang di dalamnya terdapat seruan kepada kedua golongan tersebut, berisi kewajiban, janji, dan ancaman bagi mereka, yaitu Surah Ar-Rahman. Karena itu mereka berkata:أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ“Penuhilah seruan orang yang mengajak kepada Allah dan berimanlah kepadanya.”Firman-Nya:يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ“Agar Dia mengampuni sebagian dosa-dosa kalian.”Ada yang mengatakan bahwa kata min di sini hanya sebagai tambahan, tetapi pendapat ini masih perlu dipertimbangkan, karena penggunaan tambahan seperti itu dalam kalimat yang bersifat penetapan jarang terjadi. Ada pula yang mengatakan bahwa kata min tetap pada makna asalnya, yaitu menunjukkan sebagian. Apakah Jin Mukmin Masuk Surga?Firman-Nya:وَيُجِرْكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ“Dan melindungi kalian dari azab yang pedih,”maksudnya Allah akan menjaga kalian dari azab-Nya yang menyakitkan.Sebagian ulama menggunakan ayat ini sebagai dalil bahwa jin yang beriman tidak masuk surga. Menurut mereka, balasan bagi jin yang saleh hanyalah diselamatkan dari azab neraka pada hari kiamat. Mereka berpendapat demikian karena dalam ayat ini disebutkan balasan berupa pengampunan dosa dan perlindungan dari azab, tanpa menyebutkan surga.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa jin yang beriman tidak masuk surga karena mereka berasal dari keturunan Iblis, sedangkan keturunan Iblis tidak masuk surga.Namun pendapat yang benar adalah bahwa jin yang beriman akan masuk surga sebagaimana manusia yang beriman. Ini merupakan pendapat sejumlah ulama dari kalangan salaf.Sebagian ulama berdalil dengan firman Allah:لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌ“Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya.” (QS. Ar-Rahman: 74)Namun dalil yang lebih kuat adalah firman Allah:وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ ۝ فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ“Dan bagi orang yang takut kepada Tuhannya disediakan dua surga. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kalian dustakan?” (QS. Ar-Rahman: 46–47)Dalam ayat ini Allah memberikan nikmat kepada dua golongan, yaitu manusia dan jin, dengan menyebutkan bahwa balasan bagi orang yang berbuat baik di antara mereka adalah surga. Para jin bahkan menjawab ayat ini dengan ucapan syukur yang lebih jelas daripada manusia, yaitu:“Kami tidak mendustakan satu pun dari nikmat-Mu, wahai Tuhan kami. Segala puji bagi-Mu.”Tidak mungkin Allah menyebutkan suatu balasan kepada mereka jika balasan itu tidak akan mereka peroleh.Selain itu, jika Allah menghukum orang kafir dari kalangan jin dengan neraka, yang merupakan bentuk keadilan, maka lebih pantas lagi jika Allah memberi balasan surga kepada jin yang beriman, yang merupakan bentuk karunia.Hal ini juga dikuatkan oleh firman Allah:إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka surga Firdaus sebagai tempat tinggal.” (QS. Al-Kahfi: 107)Dan ayat-ayat lain yang serupa.Surga juga masih memiliki kelebihan tempat hingga Allah menciptakan makhluk baru untuk mengisinya. Maka tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa orang yang beriman kepada-Nya dan beramal saleh tidak akan memasukinya.Adapun balasan yang disebutkan dalam ayat ini, yaitu pengampunan dosa dan perlindungan dari azab, pada hakikatnya mengandung makna masuk surga. Sebab di akhirat hanya ada dua tempat: surga atau neraka. Siapa yang diselamatkan dari neraka pasti akan masuk surga.Tidak ada dalil yang jelas dari syariat yang menyatakan bahwa jin yang beriman tidak masuk surga. Jika ada dalil yang sahih, tentu akan diterima.Nabi Nuh juga berkata kepada kaumnya:يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرْكُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى“Agar Dia mengampuni sebagian dosa-dosa kalian dan menangguhkan kalian sampai waktu yang dite          ntukan.” (QS. Nuh: 4)Padahal tidak ada perbedaan pendapat bahwa orang beriman dari kaum Nabi Nuh masuk surga. Demikian pula halnya dengan jin yang beriman.Ada pula beberapa pendapat lain yang aneh. Misalnya pendapat Umar bin Abdul Aziz yang mengatakan bahwa jin tidak masuk ke bagian utama surga, tetapi berada di sekitar dan di pinggirannya.Ada juga yang mengatakan bahwa di surga manusia dapat melihat jin, tetapi jin tidak dapat melihat manusia, kebalikan dari keadaan mereka di dunia.Ada pula yang mengatakan bahwa jin tidak makan dan tidak minum di surga, tetapi hanya diberi ilham untuk bertasbih, bertahmid, dan mensucikan Allah sebagai pengganti makanan dan minuman, sebagaimana malaikat.Namun semua pendapat tersebut masih perlu dipertimbangkan dan tidak memiliki dalil yang jelas. 4. Ancaman bagi yang Menolak Seruan AllahAllah Ta’ala berfirman,وَمَن لَّا يُجِبْ دَاعِىَ ٱللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُۥ مِن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءُ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ“Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata”.” (QS. Al-Ahqaf: 32)“Dan barang siapa tidak memenuhi seruan orang yang mengajak kepada Allah, maka ia tidak akan dapat melemahkan Allah di bumi, dan tidak ada baginya pelindung selain Dia. Mereka itulah orang-orang yang berada dalam kesesatan yang nyata.” (32)Kemudian Allah mengabarkan ucapan para jin itu:وَمَن لَّا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي الْأَرْضِ“Dan barang siapa tidak memenuhi seruan orang yang mengajak kepada Allah, maka ia tidak akan dapat melemahkan Allah di bumi.”Maksudnya, kekuasaan Allah meliputi dan menguasai dirinya sepenuhnya.Firman-Nya:وَلَيْسَ لَهُ مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءُ“Dan tidak ada baginya pelindung selain Dia.”Artinya, tidak ada seorang pun yang dapat melindungi mereka dari azab Allah.Firman-Nya:أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ“Mereka itulah orang-orang yang berada dalam kesesatan yang nyata.”Ini adalah bentuk ancaman dan peringatan keras. Para jin itu mengajak kaumnya dengan dua cara sekaligus: memberikan harapan dan memberikan peringatan. Karena itu, dakwah mereka memberi pengaruh pada banyak dari kaumnya, hingga mereka datang kepada Rasulullah ﷺ secara berkelompok demi berkelompok, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Pelajaran Dakwah dari Kisah Jin dalam Al-Qur’anKetika mendengar Al-Qur’an, para jin langsung diam dan menyimak dengan penuh perhatian. Ini mengajarkan adab ketika mendengar ayat Allah: berhenti dari kesibukan dan fokus mendengarkan.Mereka tidak menunda menerima kebenaran. Begitu memahami bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk, mereka langsung beriman tanpa banyak keraguan.Hidayah tidak mereka simpan untuk diri sendiri. Setelah beriman, mereka segera kembali kepada kaumnya untuk mengajak kepada kebenaran.Dakwah yang mereka lakukan memadukan dua cara: memberi harapan berupa ampunan dan keselamatan, serta memberi peringatan tentang azab bagi yang menolak.Al-Qur’an adalah petunjuk bagi semua makhluk yang dibebani syariat, baik manusia maupun jin.Kisah ini menjadi teguran bagi manusia. Jika jin yang baru sekali mendengar Al-Qur’an bisa langsung beriman dan berdakwah, maka manusia yang sering mendengar Al-Qur’an seharusnya lebih cepat menerima dan mengamalkannya. Nasihat PenutupDi zaman ini, banyak manusia justru lebih keras hatinya daripada jin yang diceritakan dalam Al-Qur’an. Jin itu ketika mendengar ayat Allah langsung diam, menyimak, beriman, lalu bergerak menyampaikan kebenaran kepada kaumnya. Adapun kita, Al-Qur’an begitu dekat, kajian begitu mudah diakses, mushaf begitu mudah dibuka, tetapi sering kali hati tetap lalai, telinga tidak sungguh-sungguh mendengar, dan hidup belum berubah.Karena itu, jangan sampai kita kalah dari jin dalam menyambut hidayah. Jika mereka yang baru sekali mendengar Al-Qur’an bisa tersentuh lalu beriman, maka kita yang setiap hari mendengar ayat-ayat Allah seharusnya lebih layak untuk tunduk, memperbaiki iman, dan segera memenuhi seruan Rasulullah ﷺ.Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendengar nasihat lalu mengikuti yang terbaik darinya.اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوبِنَا، وَنُورَ صُدُورِنَا، وَهَادِيَنَا إِلَى الْحَقِّ وَالصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِقُرَّائِنَا وَلِلْمُسْلِمِينَ أَجْمَعِينَ.Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyejuk hati kami, cahaya dada kami, dan penuntun kami menuju kebenaran serta jalan yang lurus. Ampunilah kami, para pembaca tulisan ini, dan seluruh kaum muslimin. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Senin, 27 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdakwah Nabi kepada jin hidayah Al-Qur’an jin beriman jin mendengar Al Quran kisah jin dalam Islam pelajaran tauhid renungan ayat renungan quran rumaysho Surah Al-Ahqaf tafsir Al-Ahqaf tafsir Ibnu Katsir
Kisah jin yang mendengarkan Al-Qur’an menunjukkan betapa agungnya kalam Allah hingga mampu menggugah hati makhluk yang tidak terlihat oleh manusia. Mereka tidak hanya mendengar, tetapi juga beriman, lalu kembali kepada kaumnya untuk mengajak kepada tauhid dan memperingatkan dari kesesatan. Ayat-ayat dalam Surah Al-Ahqaf ini mengajarkan bahwa siapa pun yang jujur mencari kebenaran, akan ditunjuki kepada jalan yang lurus. Baca juga:Kisah Jin Mendengar Al-Quran Lantas Berdakwah pada KaumnyaFaedah Sirah Nabi: Masih Kisah Dakwah ke Thaif, Ketika Jin Mendengar Al-QuranKumpulan Artikel Dakwah Nabi ke Thaif   Daftar Isi tutup 1. 1. Al-Qur’an Didengar oleh Sekelompok Jin 1.1. Awal Mula Jin Datang Mendengar Bacaan Nabi ﷺ 1.2. Kesimpulan dari cerita-cerita di atas adalah: 2. 2. Jin Mengakui Kebenaran Al-Qur’an 3. 3. Seruan Jin agar Kaumnya Beriman 3.1. Apakah Jin Mukmin Masuk Surga? 4. 4. Ancaman bagi yang Menolak Seruan Allah 5. Pelajaran Dakwah dari Kisah Jin dalam Al-Qur’an 6. Nasihat Penutup 1. Al-Qur’an Didengar oleh Sekelompok JinAllah Ta’ala berfirman,وَإِذْ صَرَفْنَآ إِلَيْكَ نَفَرًا مِّنَ ٱلْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ ٱلْقُرْءَانَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوٓا۟ أَنصِتُوا۟ ۖ فَلَمَّا قُضِىَ وَلَّوْا۟ إِلَىٰ قَوْمِهِم مُّنذِرِينَ“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.” (QS. Al-Ahqaf: 29) Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat 29:Imam Ahmad berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Amr, ia berkata: Aku mendengar Ikrimah, dari Az-Zubair mengenai firman Allah:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ“Dan ingatlah ketika Kami hadapkan kepadamu beberapa golongan jin yang mendengarkan Al-Qur’an.”Ia berkata: Peristiwa itu terjadi di Nakhlah, ketika Rasulullah ﷺ sedang melaksanakan salat Isya terakhir. Mengenai firman Allah:كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا “hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya.” (QS. Al-Jin: 19)Sufyan menjelaskan bahwa kata اللبد berarti sebagian mereka saling menumpuk di atas yang lain, seperti sesuatu yang saling bertumpuk.Riwayat ini hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Nanti akan disebutkan pula riwayat dari Ibnu Jarir, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas bahwa jumlah mereka adalah tujuh jin dari daerah Nashibin.Imam Ahmad juga berkata: Affan menceritakan kepada kami, Abu Awanah menceritakan kepada kami. Awal Mula Jin Datang Mendengar Bacaan Nabi ﷺAl-Hafizh Abu Bakar Al-Baihaqi dalam kitab Dalā’il An-Nubuwwah berkata: Abu Al-Hasan Ali bin Ahmad bin Abdan mengabarkan kepada kami, Ahmad bin Ubaid Ash-Shaffar menceritakan kepada kami, Ismail Al-Qadhi menceritakan kepada kami, Musaddad menceritakan kepada kami, Abu Awanah dari Abu Bisyir, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia berkata:Rasulullah ﷺ tidak pernah membaca Al-Qur’an secara khusus kepada para jin dan tidak pula melihat mereka. Pada suatu ketika Rasulullah ﷺ berangkat bersama beberapa sahabat menuju pasar ‘Ukaz.Saat itu para setan telah terhalang dari berita langit, dan mereka dilempari dengan bintang-bintang. Maka para setan kembali kepada kaum mereka. Kaum mereka bertanya, “Apa yang terjadi dengan kalian?”Mereka menjawab, “Kami terhalang dari berita langit dan dilempari dengan bintang-bintang.”Kaum mereka berkata, “Tidaklah sesuatu menghalangi kalian dari berita langit kecuali karena ada peristiwa baru yang terjadi. Maka pergilah kalian ke seluruh penjuru bumi, ke timur dan ke barat, dan carilah apa yang menyebabkan kalian terhalang dari berita langit.”Maka mereka pun pergi menyusuri seluruh penjuru bumi untuk mencari penyebab hal tersebut. Sekelompok jin yang menuju arah Tihamah kemudian sampai kepada Rasulullah ﷺ di Nakhlah. Ketika itu beliau sedang dalam perjalanan menuju pasar ‘Ukaz dan sedang shalat Subuh bersama para sahabatnya.Ketika mereka mendengar bacaan Al-Qur’an, mereka pun mendengarkannya dengan saksama. Lalu mereka berkata, “Inilah, demi Allah, yang telah menghalangi kalian dari berita langit.”Ketika mereka kembali kepada kaum mereka, mereka berkata:يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا ۝ يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا“Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengar bacaan Al-Qur’an yang menakjubkan, yang memberi petunjuk kepada kebenaran, maka kami beriman kepadanya dan kami tidak akan mempersekutukan Tuhan kami dengan sesuatu pun.”Kemudian Allah menurunkan kepada Nabi-Nya ayat:قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ“Katakanlah: Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur’an).” (QS. Al-Jin: 1)Sesungguhnya yang diwahyukan kepada Nabi adalah ucapan para jin tersebut.Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Musaddad dengan redaksi yang serupa. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim dari Syaiban bin Farrukh dari Abu Awanah dengan sanad yang sama. At-Tirmidzi dan An-Nasa’i juga meriwayatkannya dalam kitab tafsir dari hadis Abu Awanah. Imam Ahmad juga berkata: Abu Ahmad menceritakan kepada kami, Israil menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia berkata:Dahulu para jin dapat mencuri dengar wahyu. Mereka mendengar satu kalimat lalu menambahkan sepuluh kalimat ke dalamnya. Apa yang mereka dengar itu benar, tetapi tambahan mereka adalah kebatilan. Pada masa itu bintang-bintang belum digunakan untuk melempar mereka.Namun ketika Rasulullah ﷺ diutus, setiap jin yang mencoba duduk di tempatnya untuk mencuri dengar akan dilempari dengan meteor yang membakarnya jika mengenainya.Mereka pun mengadukan hal itu kepada Iblis. Iblis berkata, “Ini pasti karena suatu peristiwa baru telah terjadi.”Ia kemudian menyebarkan bala tentaranya. Ternyata mereka menemukan Nabi ﷺ sedang shalat di antara dua gunung di Nakhlah. Mereka pun datang kepada Iblis dan memberitahukan hal itu.Iblis berkata, “Inilah peristiwa baru yang terjadi di bumi.”Riwayat ini juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan An-Nasa’i dalam kitab tafsir mereka melalui jalur Israil. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.Demikian pula riwayat ini diriwayatkan oleh Ayyub dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas. Begitu juga diriwayatkan oleh Al-‘Aufi dari Ibnu Abbas dengan redaksi panjang yang serupa.Al-Hasan Al-Bashri juga mengatakan bahwa Nabi ﷺ tidak mengetahui kedatangan mereka sampai Allah menurunkan wahyu yang mengabarkan tentang mereka.Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Yazid bin Ruman, dari Muhammad bin Ka‘b Al-Qurazhi kisah keluarnya Rasulullah ﷺ menuju Thaif dan mengajak mereka kepada Allah, namun mereka menolaknya. Ia menyebutkan kisah tersebut secara panjang, termasuk doa Nabi yang indah:“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku dan sedikitnya kemampuanku…”Ia berkata: Setelah kembali dari Thaif, Rasulullah ﷺ bermalam di Nakhlah. Pada malam itu beliau membaca Al-Qur’an, lalu para jin dari Nashibin mendengarkannya.Riwayat ini benar, tetapi pernyataan bahwa para jin mendengarkan pada malam tersebut masih perlu ditinjau. Sebab para jin telah mendengarkan Al-Qur’an pada awal masa turunnya wahyu, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Ibnu Abbas yang telah disebutkan sebelumnya.Adapun perjalanan Nabi ﷺ ke Thaif terjadi setelah wafatnya pamannya, yaitu satu atau dua tahun sebelum hijrah, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Ishaq dan lainnya. Wallahu a‘lam.Baca juga: Faedah Sirah Nabi: Masih Kisah Dakwah ke Thaif, Ketika Jin Mendengar Al-QuranAbu Bakar bin Abi Syaibah berkata: Abu Ahmad Az-Zubairi menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari ‘Ashim, dari Zir, dari Abdullah bin Mas‘ud, ia berkata:Sekelompok jin turun kepada Nabi ﷺ ketika beliau sedang membaca Al-Qur’an di lembah Nakhlah. Ketika mereka mendengarnya, mereka berkata, “Diamlah dan dengarkan.”Jumlah mereka sembilan jin, salah satunya bernama Zawba‘ah. Lalu Allah menurunkan firman-Nya:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ“Dan ingatlah ketika Kami hadapkan kepadamu sekelompok jin yang mendengarkan Al-Qur’an. Ketika mereka menghadirinya, mereka berkata, ‘Diamlah dan dengarkan.’ Ketika bacaan itu selesai, mereka kembali kepada kaumnya untuk memberi peringatan.”Sampai firman-Nya:ضَلَالٍ مُبِينٍ“dalam kesesatan yang nyata.”Riwayat ini, bersama riwayat pertama dari Ibnu Abbas, menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ pada peristiwa ini tidak menyadari kehadiran mereka. Mereka hanya mendengarkan bacaan beliau, lalu kembali kepada kaum mereka. Setelah itu mereka datang kepada beliau secara bergelombang, satu kaum setelah kaum yang lain, dan satu rombongan setelah rombongan yang lain, sebagaimana nanti akan datang riwayat-riwayat dan atsar-atsar tentang hal itu pada tempatnya, insyaallah. Hanya kepada-Nya tempat bergantung.Adapun riwayat yang dibawakan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Qudamah Ubaidullah bin Sa‘id As-Sarkhasi, dari Abu Usamah Hammad bin Usamah, dari Mis‘ar bin Kidam, dari Ma‘n bin Abdurrahman, ia berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Aku bertanya kepada Masruq, “Siapa yang memberitahu Nabi ﷺ pada malam ketika para jin mendengarkan Al-Qur’an?” Ia menjawab, “Ayahmu telah menceritakan kepadaku, maksudnya Ibnu Mas‘ud, bahwa yang memberitahu beliau tentang mereka adalah sebuah pohon.”Mungkin hal itu terjadi pada peristiwa pertama, sehingga penetapan ini didahulukan atas penafian Ibnu Abbas. Mungkin juga itu terjadi pada salah satu peristiwa yang datang kemudian. Wallahu a‘lam. Bisa juga terjadi pada peristiwa pertama, tetapi beliau tidak mengetahui kehadiran mereka saat mereka sedang mendengarkan, sampai pohon itu memberitahu beliau, maksudnya mengabarkan kepada beliau bahwa mereka sedang mendengarkan. Wallahu a‘lam.Al-Hafizh Al-Baihaqi berkata: Apa yang diceritakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma itu adalah tentang pertama kali jin mendengar bacaan Rasulullah ﷺ dan mengetahui keadaan beliau. Pada saat itu beliau tidak membacakan Al-Qur’an kepada mereka dan tidak pula melihat mereka. Setelah itu, barulah utusan jin datang kepada beliau, lalu beliau membacakan Al-Qur’an kepada mereka dan mengajak mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu.Berikut riwayat tentang hal itu:Imam Ahmad berkata: Ismail bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Dawud menceritakan kepada kami dari Asy-Sya‘bi, dan Ibnu Abi Zaidah mengabarkan kepada kami, dari Dawud, dari Asy-Sya‘bi, dari ‘Alqamah, ia berkata:Aku bertanya kepada Abdullah bin Mas‘ud, “Apakah ada salah seorang dari kalian yang menemani Rasulullah ﷺ pada malam jin?”Ia menjawab, “Tidak ada seorang pun dari kami yang menemaninya. Akan tetapi, pada suatu malam di Makkah kami kehilangan beliau. Kami berkata, ‘Apakah beliau dibunuh? Atau dibawa terbang? Apa yang telah terjadi padanya?’ Maka kami melewati malam terburuk yang pernah dilalui suatu kaum. Ketika menjelang pagi, atau saat waktu sahur, tiba-tiba beliau datang dari arah Hira’. Maka kami berkata, ‘Wahai Rasulullah,’ lalu mereka menyebutkan apa yang mereka alami.”Beliau bersabda, “Sesungguhnya telah datang kepadaku utusan jin. Lalu aku mendatangi mereka dan membacakan Al-Qur’an kepada mereka.”Lalu beliau pergi bersama kami dan memperlihatkan kepada kami bekas-bekas mereka dan bekas api mereka.Asy-Sya‘bi berkata: Mereka bertanya kepada beliau tentang bekal. Amir berkata: Mereka bertanya di Makkah, dan mereka adalah jin dari Jazirah. Maka beliau bersabda, “Setiap tulang yang disebut nama Allah padanya, akan sampai ke tangan kalian dalam keadaan paling banyak dagingnya. Dan setiap kotoran hewan atau kotoran kering adalah makanan bagi hewan tunggangan kalian. Karena itu, janganlah kalian beristinja dengan keduanya, karena keduanya adalah makanan saudara-saudara kalian dari kalangan jin.”Demikian pula Muslim meriwayatkannya dalam Shahih-nya dari Ali bin Hujr, dari Ismail bin ‘Ulayyah, dengan riwayat yang semisal.Muslim juga meriwayatkan: Muhammad bin Al-Mutsanna menceritakan kepada kami, Abdul A‘la menceritakan kepada kami, Dawud, yaitu Ibnu Abi Hind, dari Amir, ia berkata:Aku bertanya kepada ‘Alqamah, “Apakah Ibnu Mas‘ud pernah hadir bersama Rasulullah ﷺ pada malam jin?”‘Alqamah menjawab, “Aku pernah bertanya kepada Ibnu Mas‘ud: Apakah ada seseorang dari kalian yang hadir bersama Rasulullah ﷺ pada malam jin? Ia menjawab: Tidak. Akan tetapi, pada suatu malam kami bersama Rasulullah ﷺ, lalu kami kehilangan beliau. Kami mencarinya di lembah-lembah dan celah-celah gunung. Kami berkata: Apakah beliau dibawa terbang? Atau dibunuh? Maka kami melewati malam terburuk yang pernah dilalui suatu kaum. Ketika pagi tiba, ternyata beliau datang dari arah Hira’. Maka kami berkata: Wahai Rasulullah, kami kehilanganmu lalu kami mencarimu, tetapi kami tidak menemukanmu, dan kami melewati malam terburuk yang pernah dilalui suatu kaum.”Beliau bersabda, “Telah datang kepadaku utusan jin, lalu aku pergi bersama mereka dan membacakan Al-Qur’an kepada mereka.”Ia berkata: Lalu beliau pergi bersama kami, memperlihatkan bekas-bekas mereka dan bekas api mereka. Mereka meminta bekal, lalu beliau bersabda, “Setiap tulang yang disebut nama Allah padanya, akan sampai ke tangan kalian dalam keadaan paling banyak dagingnya. Dan setiap kotoran hewan atau kotoran kering adalah makanan bagi hewan tunggangan kalian.”Rasulullah ﷺ bersabda, “Karena itu, janganlah kalian beristinja dengan keduanya, karena keduanya adalah makanan saudara-saudara kalian.”Jalur lain dari Ibnu Mas‘ud:Abu Ja‘far bin Jarir berkata: Ahmad bin Abdurrahman menceritakan kepadaku, pamanku menceritakan kepadaku, Yunus menceritakan kepadaku, dari Az-Zuhri, dari Ubaidullah bin Abdullah, bahwa Ibnu Mas‘ud berkata:Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Tadi malam aku bermalam membaca Al-Qur’an kepada jin seperempat bagian di Al-Hajun.”Jalur lain, disebutkan bahwa Ibnu Mas‘ud bersama beliau pada malam jin:Ibnu Jarir rahimahullah berkata: Ahmad bin Abdurrahman bin Wahb menceritakan kepadaku, pamanku Abdullah bin Wahb menceritakan kepada kami, Yunus mengabarkan kepadaku, dari Ibnu Syihab, dari Abu Utsman bin Sunnah Al-Khuza‘i, seorang dari penduduk Syam, bahwa Abdullah bin Mas‘ud berkata:Rasulullah ﷺ berkata kepada para sahabatnya ketika beliau berada di Makkah, “Siapa di antara kalian yang ingin menghadiri urusan jin malam ini, maka ikutlah.”Maka tidak ada seorang pun yang hadir selain aku. Kami pun berangkat. Ketika kami sampai di dataran tinggi Makkah, beliau membuat garis dengan kakinya untukku, lalu menyuruhku duduk di dalamnya. Kemudian beliau pergi dan berdiri, lalu mulai membaca Al-Qur’an. Tiba-tiba sekumpulan hitam yang banyak menutup pandanganku terhadap beliau, hingga aku tidak lagi mendengar suara beliau. Setelah itu mereka mulai terpecah seperti potongan awan yang pergi, hingga tersisa beberapa kelompok saja. Rasulullah ﷺ selesai menjelang Subuh, lalu pergi untuk buang hajat. Setelah itu beliau datang kepadaku dan bertanya, “Apa yang dilakukan oleh rombongan tadi?”Aku menjawab, “Mereka itulah, wahai Rasulullah.”Lalu beliau memberi mereka tulang dan kotoran hewan sebagai bekal, kemudian beliau melarang seseorang bersuci dengan kotoran hewan atau tulang.Riwayat ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam, dari Abu Zur‘ah Wahbullah bin Rasyid, dari Yunus bin Yazid Al-Ayli, dengannya. Al-Baihaqi juga meriwayatkannya dalam Ad-Dalā’il dari hadis Abdullah bin Shalih, juru tulis Al-Laits, dari Al-Laits, dari Yunus, dengannya.Ishaq bin Rahawaih juga meriwayatkan dari Jarir, dari Qabus bin Abi Zhabyan, dari ayahnya, dari Ibnu Mas‘ud, lalu menyebutkan seperti yang telah disebutkan sebelumnya.Al-Hafizh Abu Nu‘aim juga meriwayatkannya melalui jalur Musa bin Ubaidah, dari Sa‘id bin Al-Harits, dari Abu Al-Mu‘alla, dari Ibnu Mas‘ud, dan ia menyebutkan yang semisal.Jalur lain:Abu Nu‘aim berkata: Abu Bakar bin Malik menceritakan kepada kami, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku: Affan dan Ikrimah berkata: Mu‘tamir menceritakan kepada kami. Ayahku berkata: Abu Tamimah menceritakan kepadaku, dari Amr, mungkin ia berkata Al-Bakali, bahwa Amr menceritakan kepadanya dari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:Rasulullah ﷺ mengajakku mengikuti beliau. Maka kami berangkat hingga sampai di suatu tempat. Beliau membuat garis untukku, lalu bersabda, “Tetaplah berada di tengah garis ini, jangan keluar darinya. Jika engkau keluar darinya, engkau akan binasa.”Lalu ia menyebutkan hadis itu dengan panjang, dan di dalamnya terdapat keanehan yang sangat.Jalur lain:Ibnu Jarir berkata: Ibnu Abdil A‘la menceritakan kepada kami, Ibnu Tsaur menceritakan kepada kami, dari Ma‘mar, dari Yahya bin Abi Katsir, dari Abdullah bin Amr bin Ghailan Ats-Tsaqafi, bahwa ia berkata kepada Ibnu Mas‘ud, “Telah diceritakan bahwa engkau bersama Rasulullah ﷺ pada malam kedatangan utusan jin?”Ia menjawab, “Ya.”Ia bertanya, “Bagaimana peristiwanya?”Lalu ia menceritakan hadits itu seluruhnya, dan menyebutkan bahwa Nabi ﷺ membuat garis untuknya, seraya bersabda, “Jangan tinggalkan tempat ini.”Ia menyebutkan bahwa sesuatu seperti pusaran hitam menutupi Rasulullah ﷺ. Ia merasa sangat takut sampai tiga kali. Ketika hampir Subuh, Nabi ﷺ datang kepadaku dan bertanya, “Apakah engkau tidur?”Aku menjawab, “Tidak, demi Allah. Bahkan beberapa kali aku ingin meminta pertolongan orang-orang, sampai aku mendengarmu memukul mereka dengan tongkatmu sambil berkata: ‘Duduklah kalian.’”Beliau bersabda, “Kalau engkau keluar, aku tidak merasa aman kalau sebagian dari mereka akan menculikmu.”Kemudian beliau bersabda, “Apakah engkau melihat sesuatu?”Aku menjawab, “Ya, aku melihat laki-laki berkulit hitam, mengenakan pakaian putih.”Beliau bersabda, “Mereka itu jin Nashibin. Mereka meminta bekal kepadaku, dan aku memberi mereka setiap tulang kering, atau kotoran hewan, atau tahi sebagai bekal.”Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa manfaat semua itu bagi mereka?”Beliau menjawab, “Mereka tidak mendapatkan satu tulang pun kecuali akan mendapati dagingnya masih ada di atasnya sebagaimana pada hari saat dimakan, dan mereka tidak mendapatkan kotoran hewan pun kecuali akan mendapati biji-bijiannya masih ada sebagaimana pada hari saat dimakan. Karena itu, janganlah salah seorang dari kalian bersuci setelah buang hajat dengan tulang, kotoran hewan, atau tahi.”Jalur lain:Al-Hafizh Abu Bakar Al-Baihaqi berkata: Abu Abdurrahman As-Sulami dan Abu Nashr bin Qatadah mengabarkan kepada kami, keduanya berkata: Abu Muhammad Yahya bin Manshur Al-Qadhi mengabarkan kepada kami, Abu Abdullah Muhammad bin Ibrahim Al-Bausyanji menceritakan kepada kami, Ruh bin Shalah menceritakan kepada kami, Musa bin Ali bin Rabah menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari Abdullah bin Mas‘ud, ia berkata:Rasulullah ﷺ mengajakku dan bersabda, “Sesungguhnya sekelompok jin, lima belas orang, saudara-saudara dan sepupu-sepupu, akan datang kepadaku malam ini, lalu aku akan membacakan Al-Qur’an kepada mereka.”Maka aku pun berangkat bersama beliau ke tempat yang beliau kehendaki. Beliau membuat garis untukku dan mendudukkanku di dalamnya, lalu berkata kepadaku, “Jangan keluar dari sini.”Aku tetap berada di tempat itu sampai Rasulullah ﷺ datang kepadaku menjelang sahur. Di tangan beliau ada tulang kering dan kotoran hitam yang sudah hangus, lalu beliau berkata kepadaku, “Jika engkau pergi buang hajat, janganlah engkau beristinja dengan salah satu dari benda-benda ini.”Ketika pagi tiba aku berkata, “Akan aku cari tahu sejauh pengetahuanku tentang tempat Rasulullah ﷺ tadi.” Lalu aku pergi dan melihat tempat peristirahatan enam puluh unta.Jalur lain:Al-Baihaqi berkata: Abu Abdullah Al-Hafizh mengabarkan kepada kami, Abu Al-Abbas Al-Ashamm mengabarkan kepada kami, Al-Abbas bin Muhammad Ad-Dauri menceritakan kepada kami, Utsman bin Umar menceritakan kepada kami, dari Al-Mustamir bin Ar-Rayyan, dari Abu Al-Jauza’, dari Abdullah bin Mas‘ud, ia berkata:Aku pergi bersama Rasulullah ﷺ pada malam jin hingga beliau sampai di Al-Hajun. Lalu beliau membuat garis untukku, kemudian maju menemui mereka. Mereka pun berdesakan di sekitar beliau. Lalu pemimpin mereka yang disebut Wardan berkata, “Aku akan menjauhkan mereka darimu.”Maka beliau bersabda, “Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang dapat melindungiku dari Allah.”Jalur lain:Imam Ahmad berkata: Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Abu Fazārah Al-‘Absi, Abu Zaid, budak Amr bin Huraith, menceritakan kepada kami dari Ibnu Mas‘ud, ia berkata:Ketika malam jin, Nabi ﷺ berkata kepadaku, “Apakah engkau membawa air?”Aku menjawab, “Aku tidak membawa air, tetapi aku membawa wadah berisi nabidz.”Maka Nabi bersabda, “Kurma yang baik dan air yang suci.”Lalu beliau berwudhu dengannya.Riwayat ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari hadis Abu Zaid.Jalur lain:Ahmad berkata: Yahya bin Ishaq menceritakan kepada kami, Ibnu Lahi‘ah mengabarkan kepada kami, dari Qais bin Al-Hajjaj, dari Hanasy Ash-Shan‘ani, dari Ibnu Abbas, dari Abdullah bin Mas‘ud, bahwa ia bersama Rasulullah ﷺ pada malam jin. Lalu Rasulullah bersabda, “Wahai Abdullah, apakah engkau membawa air?”Ia menjawab, “Aku membawa nabidz di dalam wadah.”Maka beliau bersabda, “Tuangkanlah kepadaku.”Lalu beliau berwudu. Nabi ﷺ bersabda, “Wahai Abdullah, ini minuman dan sekaligus alat bersuci.”Riwayat ini hanya diriwayatkan oleh Ahmad melalui jalur ini. Ad-Daraquthni juga membawakannya dari jalur lain, dari Ibnu Mas‘ud.Jalur lain:Imam Ahmad berkata: Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, ayahku mengabarkan kepadaku dari Mīnā’, dari Abdullah, ia berkata:Aku bersama Rasulullah ﷺ pada malam kedatangan utusan jin. Setelah beliau selesai, beliau menarik napas panjang. Maka aku bertanya, “Apa gerangan yang terjadi padamu?”Beliau bersabda, “Ajalku telah diberitahukan kepadaku, wahai Ibnu Mas‘ud.”Beginilah aku melihatnya dalam Musnad secara ringkas. Al-Hafizh Abu Nu‘aim meriwayatkannya dalam kitab Dalā’il An-Nubuwwah, lalu berkata: Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub menceritakan kepada kami, Ishaq bin Ibrahim menceritakan kepada kami, dan Abu Bakar bin Malik menceritakan kepada kami, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Mina’, dari Ibnu Mas‘ud, ia berkata:Aku bersama Rasulullah ﷺ pada malam kedatangan utusan jin. Beliau menarik napas panjang. Aku bertanya,“Ada apa denganmu wahai Rasulullah?”Beliau bersabda, “Ajalku telah diberitahukan kepadaku, wahai Ibnu Mas‘ud.”Aku berkata, “Tunjuklah seorang pengganti.”Beliau bertanya, “Siapa?”Aku menjawab, “Abu Bakar.”Beliau diam. Setelah beberapa saat beliau kembali menarik napas panjang. Aku bertanya, “Ada apa denganmu? Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, wahai Rasulullah?”Beliau bersabda, “Ajalku telah diberitahukan kepadaku, wahai Ibnu Mas‘ud.”Aku berkata, “Tunjuklah seorang pengganti.”Beliau bertanya, “Siapa?”Aku menjawab, “Umar.”Beliau diam. Setelah beberapa saat beliau kembali menarik napas panjang. Aku bertanya, “Apa yang terjadi?”Beliau bersabda, “Ajalku telah diberitahukan kepadaku.”Aku berkata, “Kalau begitu tunjuklah pengganti.”Beliau bersabda, “Siapa?”Aku menjawab, “Ali bin Abi Thalib.”Maka Nabi ﷺ bersabda, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya mereka menaatinya, niscaya mereka semua akan masuk surga.”Ini adalah hadits yang sangat asing, dan lebih layak untuk dinilai tidak terjaga. Kalau pun dianggap sahih, maka yang tampak peristiwa ini terjadi setelah kedatangan mereka kepada beliau di Madinah, sebagaimana akan kami sebutkan nanti. Sebab pada waktu itu, di akhir masa dakwah, ketika Makkah telah dibebaskan, manusia dan jin pun masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong. Lalu turun surah:إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ ۝ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا ۝ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًاSurah inilah yang memberitahukan dekatnya wafat beliau, sebagaimana telah dijelaskan oleh Ibnu Abbas, dan Umar bin Al-Khaththab juga sependapat dengannya. Nanti akan datang hadis tentang hal itu saat menafsirkan surah tersebut. Wallahu a‘lam.Abu Nu‘aim juga meriwayatkannya dari Ath-Thabarani, dari Muhammad bin Abdullah Al-Hadhrami, dari Ali bin Al-Husain bin Abi Burdah, dari Yahya bin Sa‘id Al-Aslami, dari Harb bin Shabih, dari Sa‘id bin Maslamah, dari Abu Murrah Ash-Shan‘ani, dari Abu Abdullah Al-Jadali, dari Ibnu Mas‘ud, lalu menyebutkannya serta menyebut kisah penunjukan pengganti. Ini sanad yang asing dan redaksi yang ganjil.Jalur lain:Imam Ahmad berkata: Abu Sa‘id menceritakan kepada kami, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Ali bin Zaid, dari Abu Rafi‘, dari Ibnu Mas‘ud, bahwa Rasulullah ﷺ membuat lingkaran di sekelilingnya. Sebagian mereka tampak seperti kumpulan lebah hitam. Beliau berkata kepadaku, “Jangan tinggalkan tempatmu.”Lalu beliau membacakan Kitab Allah kepada mereka. Ketika beliau melihat Az-Zuth, beliau berkata, “Mereka seperti هؤلاء.”Nabi ﷺ berkata, “Apakah engkau membawa air?”Aku menjawab, “Tidak.”Beliau bertanya, “Apakah engkau membawa nabidz?”Aku menjawab, “Ya.”Maka beliau berwudu dengannya.Jalur lain yang mursal:Ibnu Abi Hatim berkata: Abu Abdullah Azh-Zhahrani menceritakan kepada kami, Hafsh bin Umar Al-‘Adani mengabarkan kepada kami, Al-Hakam bin Aban menceritakan kepada kami, dari Ikrimah tentang firman Allah Ta‘ala:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّIa berkata: Mereka berjumlah dua belas ribu, datang dari Jazirah Al-Maushil. Nabi ﷺ berkata kepada Ibnu Mas‘ud, “Tunggulah aku sampai aku kembali kepadamu.” Lalu beliau membuat garis untuknya dan berkata, “Jangan pergi dari tempatmu sampai aku datang.” Ketika Ibnu Mas‘ud mulai merasa takut kepada mereka, ia hampir saja pergi. Namun ia teringat ucapan Rasulullah ﷺ, maka ia tetap di tempatnya. Lalu Nabi ﷺ berkata kepadanya, “Seandainya engkau pergi, niscaya kita tidak akan bertemu lagi sampai hari kiamat.” Jalur lain yang juga mursal:Sa‘id bin Abi ‘Arubah berkata, dari Qatadah, tentang firman Allah:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّDisebutkan kepada kami bahwa mereka diarahkan kepada beliau dari Nainawa. Nabi Allah ﷺ bersabda, “Aku diperintahkan untuk membacakan Al-Qur’an kepada jin. Siapa di antara kalian yang akan ikut bersamaku?”Mereka menunduk diam. Beliau mengulangi ajakan itu, namun mereka tetap menunduk. Ketika beliau mengulanginya untuk ketiga kali, seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, itu adalah urusan yang sangat berat.” Maka Ibnu Mas‘ud, saudara Hudzail itu, ikut bersama beliau.Nabi ﷺ masuk ke sebuah celah gunung yang disebut Syi‘b Al-Hajun, lalu membuat garis untuknya, juga membuat garis untuk Ibnu Mas‘ud agar dengan itu ia tetap di tempatnya. Aku mulai ketakutan dan melihat sesuatu seperti burung nasar berjalan di sisi-sisinya. Aku juga mendengar suara gaduh yang sangat keras, sampai aku takut terhadap Nabi Allah ﷺ. Kemudian beliau membaca Al-Qur’an. Ketika Rasulullah ﷺ kembali, aku bertanya, “Wahai Rasulullah, suara gaduh apa yang aku dengar itu?”Beliau menjawab, “Mereka sedang berselisih tentang seorang yang terbunuh, lalu diputuskan perkara di antara mereka dengan benar.”Riwayat ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim.Semua jalur riwayat ini menunjukkan bahwa beliau ﷺ memang sengaja mendatangi jin, lalu membacakan Al-Qur’an kepada mereka, mengajak mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla, serta menetapkan melalui lisan beliau syariat yang mereka butuhkan saat itu.Bisa jadi pertama kali mereka mendengar beliau membaca Al-Qur’an, beliau tidak menyadari kehadiran mereka, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Setelah itu mereka datang kepada beliau, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Mas‘ud. Adapun Ibnu Mas‘ud, ia tidak berada bersama Rasulullah ﷺ ketika beliau berbicara langsung dengan jin dan mengajak mereka. Ia hanya berada jauh dari beliau, dan tidak ada seorang pun yang keluar bersama Nabi ﷺ selain dia. Meski demikian, ia pun tidak menyaksikan langsung peristiwa pembicaraan itu. Inilah cara Al-Baihaqi memahami riwayat-riwayat tersebut.Bisa juga terjadi bahwa pertama kali beliau keluar menemui mereka, tidak ada Ibnu Mas‘ud dan tidak pula orang lain bersama beliau, sebagaimana tampak dari riwayat pertama melalui jalur Imam Ahmad, dan riwayat itu juga ada dalam Muslim. Setelah itu beliau keluar lagi bersama Ibnu Mas‘ud pada malam yang lain. Wallahu a‘lam.Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam tafsir قُلْ أُوحِيَ, dari hadis Ibnu Juraij, ia berkata: Abdul Aziz bin Umar berkata:Adapun jin yang bertemu beliau di Nakhlah adalah jin dari Nainawa, sedangkan jin yang bertemu beliau di Makkah adalah jin dari Nashibin.Al-Baihaqi memahami ucapan, “Kami melewati malam terburuk yang pernah dilalui suatu kaum,” bahwa ucapan itu berasal dari selain Ibnu Mas‘ud, yaitu orang-orang yang tidak mengetahui keluarnya beliau ﷺ menemui jin. Ini mungkin, tetapi agak jauh. Wallahu a‘lam.Al-Hafizh Abu Bakar Al-Baihaqi berkata: Abu Amr Muhammad bin Abdullah Al-Adib mengabarkan kepada kami, Abu Bakar Al-Isma‘ili mengabarkan kepada kami, Al-Hasan bin Sufyan menceritakan kepadaku, Suwaid bin Sa‘id menceritakan kepada kami, Amr bin Yahya menceritakan kepada kami, dari kakeknya Sa‘id bin Amr, ia berkata:Abu Hurairah biasa mengikuti Rasulullah ﷺ dengan membawa wadah air untuk wudu dan keperluan beliau. Pada suatu hari beliau menjumpainya dan bertanya, “Siapa ini?”Ia menjawab, “Aku, Abu Hurairah.”Beliau bersabda, “Bawakan kepadaku batu-batu untuk aku pakai bersuci, dan jangan bawakan tulang atau kotoran hewan.”Maka aku datang membawa batu-batu di ujung bajuku, lalu meletakkannya di samping beliau. Setelah beliau selesai dan bangkit, aku mengikuti beliau lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa tulang dan kotoran hewan tidak boleh?”Beliau menjawab, “Telah datang kepadaku utusan jin Nashibin. Mereka meminta bekal kepadaku, maka aku berdoa kepada Allah untuk mereka agar mereka tidak melewati satu tulang ataupun kotoran hewan kecuali mereka mendapatinya sebagai makanan.”Riwayat ini dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya dari Musa bin Ismail, dari Amr bin Yahya, dengan sanad yang hampir sama. Ini menunjukkan, bersama riwayat-riwayat sebelumnya, bahwa mereka memang datang lagi kepada beliau setelah itu. Dan nanti akan kami sebutkan apa yang menunjukkan bahwa hal itu terjadi berulang kali.Penjelasan dari Ibnu Katsir mengenai kisah-kisah terkait yang dibahas ini masih berlanjut. Kesimpulan dari cerita-cerita di atas adalah:1. Allah pernah menghadapkan sekelompok jin kepada Rasulullah ﷺ agar mereka mendengarkan bacaan Al-Qur’an yang beliau baca di Nakhlah.2. Pada peristiwa pertama itu, para jin mendengar bacaan Al-Qur’an, terdiam untuk menyimak, lalu kembali kepada kaumnya sebagai pemberi peringatan.3. Mereka langsung mengakui bahwa Al-Qur’an adalah bacaan yang menakjubkan, memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu mereka pun beriman.4. Sebab awal kedatangan mereka adalah karena para setan telah dihalangi dari berita langit dan dilempari bintang-bintang pijar, sehingga mereka mencari penyebabnya.5. Ketika mereka menemukan Nabi ﷺ sedang salat dan membaca Al-Qur’an, mereka sadar bahwa inilah peristiwa besar yang telah mengubah keadaan langit.6. Riwayat-riwayat yang ada menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ pada awalnya tidak selalu mengetahui kehadiran mereka, namun setelah itu para jin datang lagi kepada beliau dalam beberapa kesempatan.7. Dalam pertemuan-pertemuan berikutnya, Rasulullah ﷺ sengaja mendatangi mereka, membacakan Al-Qur’an, mengajak mereka kepada Allah, dan mengajarkan hukum-hukum yang mereka perlukan.8. Di antara ajaran yang beliau sampaikan kepada mereka ialah bahwa tulang dan kotoran hewan menjadi bekal bagi jin, sehingga manusia dilarang beristinja dengan keduanya.9. Perbedaan jumlah jin dalam berbagai riwayat, seperti tujuh, sembilan, lima belas, atau lebih banyak dari itu, menunjukkan bahwa kedatangan mereka kemungkinan terjadi berulang kali.10. Inti seluruh bahasan ini adalah bahwa jin juga mendengar dakwah Nabi ﷺ, beriman kepada Al-Qur’an, kembali mengingatkan kaumnya, dan dari kalangan mereka ada pemberi peringatan, tetapi tidak ada rasul dari jenis jin. 2. Jin Mengakui Kebenaran Al-Qur’anAllah Ta’ala berfirman,قَالُوا۟ يَٰقَوْمَنَآ إِنَّا سَمِعْنَا كِتَٰبًا أُنزِلَ مِنۢ بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِىٓ إِلَى ٱلْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ“Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Ahqaf: 30)Kemudian Allah menjelaskan isi peringatan yang disampaikan para jin kepada kaumnya. Allah mengabarkan ucapan mereka:قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنزِلَ مِن بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ“Mereka berkata: Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengar sebuah kitab yang diturunkan setelah Musa, yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya, dan memberi petunjuk kepada kebenaran.”Mereka tidak menyebut Isa, karena Isa ‘alaihissalam diturunkan kepadanya Injil yang berisi nasihat-nasihat, pelunakan hati, dan hanya sedikit hukum halal dan haram. Pada hakikatnya, Injil itu seperti penyempurna bagi syariat Taurat. Karena itu, yang menjadi pokok adalah Taurat. Itulah sebabnya mereka berkata, “diturunkan setelah Musa.”Demikian pula yang dikatakan oleh Waraqah bin Naufal ketika Nabi ﷺ mengabarkan kepadanya kisah turunnya Jibril ‘alaihissalam kepada beliau untuk pertama kalinya. Waraqah berkata, “Sungguh, sungguh, ini adalah Namus yang dahulu datang kepada Musa. Seandainya aku masih muda pada masa itu.”Firman mereka:مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ“yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya,”maksudnya, kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya kepada para nabi.Ucapan mereka:يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ“memberi petunjuk kepada kebenaran,” maksudnya dalam masalah keyakinan dan berita.Dan ucapan mereka:وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ“dan kepada jalan yang lurus,” maksudnya dalam amalan.Sebab Al-Qur’an mencakup dua perkara: berita dan tuntunan. Beritanya adalah benar, dan tuntunannya adalah adil. Sebagaimana firman Allah:وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا“Dan telah sempurna kalimat Tuhanmu dengan kebenaran dan keadilan.” (QS. Al-An‘am: 115)Dan firman-Nya:هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar.” (QS. At-Taubah: 33)Yang dimaksud dengan petunjuk adalah ilmu yang bermanfaat, sedangkan agama yang benar adalah amal saleh.Demikian pula ucapan para jin:يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ“memberi petunjuk kepada kebenaran,” yaitu dalam keyakinan-keyakinan.Dan:وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ“dan kepada jalan yang lurus,” yaitu dalam amalan-amalan. 3. Seruan Jin agar Kaumnya BerimanAllah Ta’ala berfirman,يَٰقَوْمَنَآ أَجِيبُوا۟ دَاعِىَ ٱللَّهِ وَءَامِنُوا۟ بِهِۦ يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ“Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.” (QS. Al-Ahqaf: 31)Dalam ayat disebutkan,يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ“Wahai kaum kami, penuhilah seruan orang yang mengajak kepada Allah,”menunjukkan bahwa Allah mengutus Nabi Muhammad ﷺ kepada dua golongan makhluk, yaitu manusia dan jin. Beliau mengajak mereka kepada Allah, dan membacakan kepada mereka surah yang di dalamnya terdapat seruan kepada kedua golongan tersebut, berisi kewajiban, janji, dan ancaman bagi mereka, yaitu Surah Ar-Rahman. Karena itu mereka berkata:أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ“Penuhilah seruan orang yang mengajak kepada Allah dan berimanlah kepadanya.”Firman-Nya:يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ“Agar Dia mengampuni sebagian dosa-dosa kalian.”Ada yang mengatakan bahwa kata min di sini hanya sebagai tambahan, tetapi pendapat ini masih perlu dipertimbangkan, karena penggunaan tambahan seperti itu dalam kalimat yang bersifat penetapan jarang terjadi. Ada pula yang mengatakan bahwa kata min tetap pada makna asalnya, yaitu menunjukkan sebagian. Apakah Jin Mukmin Masuk Surga?Firman-Nya:وَيُجِرْكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ“Dan melindungi kalian dari azab yang pedih,”maksudnya Allah akan menjaga kalian dari azab-Nya yang menyakitkan.Sebagian ulama menggunakan ayat ini sebagai dalil bahwa jin yang beriman tidak masuk surga. Menurut mereka, balasan bagi jin yang saleh hanyalah diselamatkan dari azab neraka pada hari kiamat. Mereka berpendapat demikian karena dalam ayat ini disebutkan balasan berupa pengampunan dosa dan perlindungan dari azab, tanpa menyebutkan surga.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa jin yang beriman tidak masuk surga karena mereka berasal dari keturunan Iblis, sedangkan keturunan Iblis tidak masuk surga.Namun pendapat yang benar adalah bahwa jin yang beriman akan masuk surga sebagaimana manusia yang beriman. Ini merupakan pendapat sejumlah ulama dari kalangan salaf.Sebagian ulama berdalil dengan firman Allah:لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌ“Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya.” (QS. Ar-Rahman: 74)Namun dalil yang lebih kuat adalah firman Allah:وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ ۝ فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ“Dan bagi orang yang takut kepada Tuhannya disediakan dua surga. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kalian dustakan?” (QS. Ar-Rahman: 46–47)Dalam ayat ini Allah memberikan nikmat kepada dua golongan, yaitu manusia dan jin, dengan menyebutkan bahwa balasan bagi orang yang berbuat baik di antara mereka adalah surga. Para jin bahkan menjawab ayat ini dengan ucapan syukur yang lebih jelas daripada manusia, yaitu:“Kami tidak mendustakan satu pun dari nikmat-Mu, wahai Tuhan kami. Segala puji bagi-Mu.”Tidak mungkin Allah menyebutkan suatu balasan kepada mereka jika balasan itu tidak akan mereka peroleh.Selain itu, jika Allah menghukum orang kafir dari kalangan jin dengan neraka, yang merupakan bentuk keadilan, maka lebih pantas lagi jika Allah memberi balasan surga kepada jin yang beriman, yang merupakan bentuk karunia.Hal ini juga dikuatkan oleh firman Allah:إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka surga Firdaus sebagai tempat tinggal.” (QS. Al-Kahfi: 107)Dan ayat-ayat lain yang serupa.Surga juga masih memiliki kelebihan tempat hingga Allah menciptakan makhluk baru untuk mengisinya. Maka tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa orang yang beriman kepada-Nya dan beramal saleh tidak akan memasukinya.Adapun balasan yang disebutkan dalam ayat ini, yaitu pengampunan dosa dan perlindungan dari azab, pada hakikatnya mengandung makna masuk surga. Sebab di akhirat hanya ada dua tempat: surga atau neraka. Siapa yang diselamatkan dari neraka pasti akan masuk surga.Tidak ada dalil yang jelas dari syariat yang menyatakan bahwa jin yang beriman tidak masuk surga. Jika ada dalil yang sahih, tentu akan diterima.Nabi Nuh juga berkata kepada kaumnya:يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرْكُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى“Agar Dia mengampuni sebagian dosa-dosa kalian dan menangguhkan kalian sampai waktu yang dite          ntukan.” (QS. Nuh: 4)Padahal tidak ada perbedaan pendapat bahwa orang beriman dari kaum Nabi Nuh masuk surga. Demikian pula halnya dengan jin yang beriman.Ada pula beberapa pendapat lain yang aneh. Misalnya pendapat Umar bin Abdul Aziz yang mengatakan bahwa jin tidak masuk ke bagian utama surga, tetapi berada di sekitar dan di pinggirannya.Ada juga yang mengatakan bahwa di surga manusia dapat melihat jin, tetapi jin tidak dapat melihat manusia, kebalikan dari keadaan mereka di dunia.Ada pula yang mengatakan bahwa jin tidak makan dan tidak minum di surga, tetapi hanya diberi ilham untuk bertasbih, bertahmid, dan mensucikan Allah sebagai pengganti makanan dan minuman, sebagaimana malaikat.Namun semua pendapat tersebut masih perlu dipertimbangkan dan tidak memiliki dalil yang jelas. 4. Ancaman bagi yang Menolak Seruan AllahAllah Ta’ala berfirman,وَمَن لَّا يُجِبْ دَاعِىَ ٱللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُۥ مِن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءُ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ“Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata”.” (QS. Al-Ahqaf: 32)“Dan barang siapa tidak memenuhi seruan orang yang mengajak kepada Allah, maka ia tidak akan dapat melemahkan Allah di bumi, dan tidak ada baginya pelindung selain Dia. Mereka itulah orang-orang yang berada dalam kesesatan yang nyata.” (32)Kemudian Allah mengabarkan ucapan para jin itu:وَمَن لَّا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي الْأَرْضِ“Dan barang siapa tidak memenuhi seruan orang yang mengajak kepada Allah, maka ia tidak akan dapat melemahkan Allah di bumi.”Maksudnya, kekuasaan Allah meliputi dan menguasai dirinya sepenuhnya.Firman-Nya:وَلَيْسَ لَهُ مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءُ“Dan tidak ada baginya pelindung selain Dia.”Artinya, tidak ada seorang pun yang dapat melindungi mereka dari azab Allah.Firman-Nya:أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ“Mereka itulah orang-orang yang berada dalam kesesatan yang nyata.”Ini adalah bentuk ancaman dan peringatan keras. Para jin itu mengajak kaumnya dengan dua cara sekaligus: memberikan harapan dan memberikan peringatan. Karena itu, dakwah mereka memberi pengaruh pada banyak dari kaumnya, hingga mereka datang kepada Rasulullah ﷺ secara berkelompok demi berkelompok, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Pelajaran Dakwah dari Kisah Jin dalam Al-Qur’anKetika mendengar Al-Qur’an, para jin langsung diam dan menyimak dengan penuh perhatian. Ini mengajarkan adab ketika mendengar ayat Allah: berhenti dari kesibukan dan fokus mendengarkan.Mereka tidak menunda menerima kebenaran. Begitu memahami bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk, mereka langsung beriman tanpa banyak keraguan.Hidayah tidak mereka simpan untuk diri sendiri. Setelah beriman, mereka segera kembali kepada kaumnya untuk mengajak kepada kebenaran.Dakwah yang mereka lakukan memadukan dua cara: memberi harapan berupa ampunan dan keselamatan, serta memberi peringatan tentang azab bagi yang menolak.Al-Qur’an adalah petunjuk bagi semua makhluk yang dibebani syariat, baik manusia maupun jin.Kisah ini menjadi teguran bagi manusia. Jika jin yang baru sekali mendengar Al-Qur’an bisa langsung beriman dan berdakwah, maka manusia yang sering mendengar Al-Qur’an seharusnya lebih cepat menerima dan mengamalkannya. Nasihat PenutupDi zaman ini, banyak manusia justru lebih keras hatinya daripada jin yang diceritakan dalam Al-Qur’an. Jin itu ketika mendengar ayat Allah langsung diam, menyimak, beriman, lalu bergerak menyampaikan kebenaran kepada kaumnya. Adapun kita, Al-Qur’an begitu dekat, kajian begitu mudah diakses, mushaf begitu mudah dibuka, tetapi sering kali hati tetap lalai, telinga tidak sungguh-sungguh mendengar, dan hidup belum berubah.Karena itu, jangan sampai kita kalah dari jin dalam menyambut hidayah. Jika mereka yang baru sekali mendengar Al-Qur’an bisa tersentuh lalu beriman, maka kita yang setiap hari mendengar ayat-ayat Allah seharusnya lebih layak untuk tunduk, memperbaiki iman, dan segera memenuhi seruan Rasulullah ﷺ.Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendengar nasihat lalu mengikuti yang terbaik darinya.اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوبِنَا، وَنُورَ صُدُورِنَا، وَهَادِيَنَا إِلَى الْحَقِّ وَالصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِقُرَّائِنَا وَلِلْمُسْلِمِينَ أَجْمَعِينَ.Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyejuk hati kami, cahaya dada kami, dan penuntun kami menuju kebenaran serta jalan yang lurus. Ampunilah kami, para pembaca tulisan ini, dan seluruh kaum muslimin. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Senin, 27 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdakwah Nabi kepada jin hidayah Al-Qur’an jin beriman jin mendengar Al Quran kisah jin dalam Islam pelajaran tauhid renungan ayat renungan quran rumaysho Surah Al-Ahqaf tafsir Al-Ahqaf tafsir Ibnu Katsir


Kisah jin yang mendengarkan Al-Qur’an menunjukkan betapa agungnya kalam Allah hingga mampu menggugah hati makhluk yang tidak terlihat oleh manusia. Mereka tidak hanya mendengar, tetapi juga beriman, lalu kembali kepada kaumnya untuk mengajak kepada tauhid dan memperingatkan dari kesesatan. Ayat-ayat dalam Surah Al-Ahqaf ini mengajarkan bahwa siapa pun yang jujur mencari kebenaran, akan ditunjuki kepada jalan yang lurus. Baca juga:Kisah Jin Mendengar Al-Quran Lantas Berdakwah pada KaumnyaFaedah Sirah Nabi: Masih Kisah Dakwah ke Thaif, Ketika Jin Mendengar Al-QuranKumpulan Artikel Dakwah Nabi ke Thaif   Daftar Isi tutup 1. 1. Al-Qur’an Didengar oleh Sekelompok Jin 1.1. Awal Mula Jin Datang Mendengar Bacaan Nabi ﷺ 1.2. Kesimpulan dari cerita-cerita di atas adalah: 2. 2. Jin Mengakui Kebenaran Al-Qur’an 3. 3. Seruan Jin agar Kaumnya Beriman 3.1. Apakah Jin Mukmin Masuk Surga? 4. 4. Ancaman bagi yang Menolak Seruan Allah 5. Pelajaran Dakwah dari Kisah Jin dalam Al-Qur’an 6. Nasihat Penutup 1. Al-Qur’an Didengar oleh Sekelompok JinAllah Ta’ala berfirman,وَإِذْ صَرَفْنَآ إِلَيْكَ نَفَرًا مِّنَ ٱلْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ ٱلْقُرْءَانَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوٓا۟ أَنصِتُوا۟ ۖ فَلَمَّا قُضِىَ وَلَّوْا۟ إِلَىٰ قَوْمِهِم مُّنذِرِينَ“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.” (QS. Al-Ahqaf: 29) Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat 29:Imam Ahmad berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Amr, ia berkata: Aku mendengar Ikrimah, dari Az-Zubair mengenai firman Allah:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ“Dan ingatlah ketika Kami hadapkan kepadamu beberapa golongan jin yang mendengarkan Al-Qur’an.”Ia berkata: Peristiwa itu terjadi di Nakhlah, ketika Rasulullah ﷺ sedang melaksanakan salat Isya terakhir. Mengenai firman Allah:كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا “hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya.” (QS. Al-Jin: 19)Sufyan menjelaskan bahwa kata اللبد berarti sebagian mereka saling menumpuk di atas yang lain, seperti sesuatu yang saling bertumpuk.Riwayat ini hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Nanti akan disebutkan pula riwayat dari Ibnu Jarir, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas bahwa jumlah mereka adalah tujuh jin dari daerah Nashibin.Imam Ahmad juga berkata: Affan menceritakan kepada kami, Abu Awanah menceritakan kepada kami. Awal Mula Jin Datang Mendengar Bacaan Nabi ﷺAl-Hafizh Abu Bakar Al-Baihaqi dalam kitab Dalā’il An-Nubuwwah berkata: Abu Al-Hasan Ali bin Ahmad bin Abdan mengabarkan kepada kami, Ahmad bin Ubaid Ash-Shaffar menceritakan kepada kami, Ismail Al-Qadhi menceritakan kepada kami, Musaddad menceritakan kepada kami, Abu Awanah dari Abu Bisyir, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia berkata:Rasulullah ﷺ tidak pernah membaca Al-Qur’an secara khusus kepada para jin dan tidak pula melihat mereka. Pada suatu ketika Rasulullah ﷺ berangkat bersama beberapa sahabat menuju pasar ‘Ukaz.Saat itu para setan telah terhalang dari berita langit, dan mereka dilempari dengan bintang-bintang. Maka para setan kembali kepada kaum mereka. Kaum mereka bertanya, “Apa yang terjadi dengan kalian?”Mereka menjawab, “Kami terhalang dari berita langit dan dilempari dengan bintang-bintang.”Kaum mereka berkata, “Tidaklah sesuatu menghalangi kalian dari berita langit kecuali karena ada peristiwa baru yang terjadi. Maka pergilah kalian ke seluruh penjuru bumi, ke timur dan ke barat, dan carilah apa yang menyebabkan kalian terhalang dari berita langit.”Maka mereka pun pergi menyusuri seluruh penjuru bumi untuk mencari penyebab hal tersebut. Sekelompok jin yang menuju arah Tihamah kemudian sampai kepada Rasulullah ﷺ di Nakhlah. Ketika itu beliau sedang dalam perjalanan menuju pasar ‘Ukaz dan sedang shalat Subuh bersama para sahabatnya.Ketika mereka mendengar bacaan Al-Qur’an, mereka pun mendengarkannya dengan saksama. Lalu mereka berkata, “Inilah, demi Allah, yang telah menghalangi kalian dari berita langit.”Ketika mereka kembali kepada kaum mereka, mereka berkata:يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا ۝ يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا“Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengar bacaan Al-Qur’an yang menakjubkan, yang memberi petunjuk kepada kebenaran, maka kami beriman kepadanya dan kami tidak akan mempersekutukan Tuhan kami dengan sesuatu pun.”Kemudian Allah menurunkan kepada Nabi-Nya ayat:قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ“Katakanlah: Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur’an).” (QS. Al-Jin: 1)Sesungguhnya yang diwahyukan kepada Nabi adalah ucapan para jin tersebut.Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Musaddad dengan redaksi yang serupa. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim dari Syaiban bin Farrukh dari Abu Awanah dengan sanad yang sama. At-Tirmidzi dan An-Nasa’i juga meriwayatkannya dalam kitab tafsir dari hadis Abu Awanah. Imam Ahmad juga berkata: Abu Ahmad menceritakan kepada kami, Israil menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia berkata:Dahulu para jin dapat mencuri dengar wahyu. Mereka mendengar satu kalimat lalu menambahkan sepuluh kalimat ke dalamnya. Apa yang mereka dengar itu benar, tetapi tambahan mereka adalah kebatilan. Pada masa itu bintang-bintang belum digunakan untuk melempar mereka.Namun ketika Rasulullah ﷺ diutus, setiap jin yang mencoba duduk di tempatnya untuk mencuri dengar akan dilempari dengan meteor yang membakarnya jika mengenainya.Mereka pun mengadukan hal itu kepada Iblis. Iblis berkata, “Ini pasti karena suatu peristiwa baru telah terjadi.”Ia kemudian menyebarkan bala tentaranya. Ternyata mereka menemukan Nabi ﷺ sedang shalat di antara dua gunung di Nakhlah. Mereka pun datang kepada Iblis dan memberitahukan hal itu.Iblis berkata, “Inilah peristiwa baru yang terjadi di bumi.”Riwayat ini juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan An-Nasa’i dalam kitab tafsir mereka melalui jalur Israil. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.Demikian pula riwayat ini diriwayatkan oleh Ayyub dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas. Begitu juga diriwayatkan oleh Al-‘Aufi dari Ibnu Abbas dengan redaksi panjang yang serupa.Al-Hasan Al-Bashri juga mengatakan bahwa Nabi ﷺ tidak mengetahui kedatangan mereka sampai Allah menurunkan wahyu yang mengabarkan tentang mereka.Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Yazid bin Ruman, dari Muhammad bin Ka‘b Al-Qurazhi kisah keluarnya Rasulullah ﷺ menuju Thaif dan mengajak mereka kepada Allah, namun mereka menolaknya. Ia menyebutkan kisah tersebut secara panjang, termasuk doa Nabi yang indah:“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku dan sedikitnya kemampuanku…”Ia berkata: Setelah kembali dari Thaif, Rasulullah ﷺ bermalam di Nakhlah. Pada malam itu beliau membaca Al-Qur’an, lalu para jin dari Nashibin mendengarkannya.Riwayat ini benar, tetapi pernyataan bahwa para jin mendengarkan pada malam tersebut masih perlu ditinjau. Sebab para jin telah mendengarkan Al-Qur’an pada awal masa turunnya wahyu, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Ibnu Abbas yang telah disebutkan sebelumnya.Adapun perjalanan Nabi ﷺ ke Thaif terjadi setelah wafatnya pamannya, yaitu satu atau dua tahun sebelum hijrah, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Ishaq dan lainnya. Wallahu a‘lam.Baca juga: Faedah Sirah Nabi: Masih Kisah Dakwah ke Thaif, Ketika Jin Mendengar Al-QuranAbu Bakar bin Abi Syaibah berkata: Abu Ahmad Az-Zubairi menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari ‘Ashim, dari Zir, dari Abdullah bin Mas‘ud, ia berkata:Sekelompok jin turun kepada Nabi ﷺ ketika beliau sedang membaca Al-Qur’an di lembah Nakhlah. Ketika mereka mendengarnya, mereka berkata, “Diamlah dan dengarkan.”Jumlah mereka sembilan jin, salah satunya bernama Zawba‘ah. Lalu Allah menurunkan firman-Nya:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ“Dan ingatlah ketika Kami hadapkan kepadamu sekelompok jin yang mendengarkan Al-Qur’an. Ketika mereka menghadirinya, mereka berkata, ‘Diamlah dan dengarkan.’ Ketika bacaan itu selesai, mereka kembali kepada kaumnya untuk memberi peringatan.”Sampai firman-Nya:ضَلَالٍ مُبِينٍ“dalam kesesatan yang nyata.”Riwayat ini, bersama riwayat pertama dari Ibnu Abbas, menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ pada peristiwa ini tidak menyadari kehadiran mereka. Mereka hanya mendengarkan bacaan beliau, lalu kembali kepada kaum mereka. Setelah itu mereka datang kepada beliau secara bergelombang, satu kaum setelah kaum yang lain, dan satu rombongan setelah rombongan yang lain, sebagaimana nanti akan datang riwayat-riwayat dan atsar-atsar tentang hal itu pada tempatnya, insyaallah. Hanya kepada-Nya tempat bergantung.Adapun riwayat yang dibawakan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Qudamah Ubaidullah bin Sa‘id As-Sarkhasi, dari Abu Usamah Hammad bin Usamah, dari Mis‘ar bin Kidam, dari Ma‘n bin Abdurrahman, ia berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Aku bertanya kepada Masruq, “Siapa yang memberitahu Nabi ﷺ pada malam ketika para jin mendengarkan Al-Qur’an?” Ia menjawab, “Ayahmu telah menceritakan kepadaku, maksudnya Ibnu Mas‘ud, bahwa yang memberitahu beliau tentang mereka adalah sebuah pohon.”Mungkin hal itu terjadi pada peristiwa pertama, sehingga penetapan ini didahulukan atas penafian Ibnu Abbas. Mungkin juga itu terjadi pada salah satu peristiwa yang datang kemudian. Wallahu a‘lam. Bisa juga terjadi pada peristiwa pertama, tetapi beliau tidak mengetahui kehadiran mereka saat mereka sedang mendengarkan, sampai pohon itu memberitahu beliau, maksudnya mengabarkan kepada beliau bahwa mereka sedang mendengarkan. Wallahu a‘lam.Al-Hafizh Al-Baihaqi berkata: Apa yang diceritakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma itu adalah tentang pertama kali jin mendengar bacaan Rasulullah ﷺ dan mengetahui keadaan beliau. Pada saat itu beliau tidak membacakan Al-Qur’an kepada mereka dan tidak pula melihat mereka. Setelah itu, barulah utusan jin datang kepada beliau, lalu beliau membacakan Al-Qur’an kepada mereka dan mengajak mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu.Berikut riwayat tentang hal itu:Imam Ahmad berkata: Ismail bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Dawud menceritakan kepada kami dari Asy-Sya‘bi, dan Ibnu Abi Zaidah mengabarkan kepada kami, dari Dawud, dari Asy-Sya‘bi, dari ‘Alqamah, ia berkata:Aku bertanya kepada Abdullah bin Mas‘ud, “Apakah ada salah seorang dari kalian yang menemani Rasulullah ﷺ pada malam jin?”Ia menjawab, “Tidak ada seorang pun dari kami yang menemaninya. Akan tetapi, pada suatu malam di Makkah kami kehilangan beliau. Kami berkata, ‘Apakah beliau dibunuh? Atau dibawa terbang? Apa yang telah terjadi padanya?’ Maka kami melewati malam terburuk yang pernah dilalui suatu kaum. Ketika menjelang pagi, atau saat waktu sahur, tiba-tiba beliau datang dari arah Hira’. Maka kami berkata, ‘Wahai Rasulullah,’ lalu mereka menyebutkan apa yang mereka alami.”Beliau bersabda, “Sesungguhnya telah datang kepadaku utusan jin. Lalu aku mendatangi mereka dan membacakan Al-Qur’an kepada mereka.”Lalu beliau pergi bersama kami dan memperlihatkan kepada kami bekas-bekas mereka dan bekas api mereka.Asy-Sya‘bi berkata: Mereka bertanya kepada beliau tentang bekal. Amir berkata: Mereka bertanya di Makkah, dan mereka adalah jin dari Jazirah. Maka beliau bersabda, “Setiap tulang yang disebut nama Allah padanya, akan sampai ke tangan kalian dalam keadaan paling banyak dagingnya. Dan setiap kotoran hewan atau kotoran kering adalah makanan bagi hewan tunggangan kalian. Karena itu, janganlah kalian beristinja dengan keduanya, karena keduanya adalah makanan saudara-saudara kalian dari kalangan jin.”Demikian pula Muslim meriwayatkannya dalam Shahih-nya dari Ali bin Hujr, dari Ismail bin ‘Ulayyah, dengan riwayat yang semisal.Muslim juga meriwayatkan: Muhammad bin Al-Mutsanna menceritakan kepada kami, Abdul A‘la menceritakan kepada kami, Dawud, yaitu Ibnu Abi Hind, dari Amir, ia berkata:Aku bertanya kepada ‘Alqamah, “Apakah Ibnu Mas‘ud pernah hadir bersama Rasulullah ﷺ pada malam jin?”‘Alqamah menjawab, “Aku pernah bertanya kepada Ibnu Mas‘ud: Apakah ada seseorang dari kalian yang hadir bersama Rasulullah ﷺ pada malam jin? Ia menjawab: Tidak. Akan tetapi, pada suatu malam kami bersama Rasulullah ﷺ, lalu kami kehilangan beliau. Kami mencarinya di lembah-lembah dan celah-celah gunung. Kami berkata: Apakah beliau dibawa terbang? Atau dibunuh? Maka kami melewati malam terburuk yang pernah dilalui suatu kaum. Ketika pagi tiba, ternyata beliau datang dari arah Hira’. Maka kami berkata: Wahai Rasulullah, kami kehilanganmu lalu kami mencarimu, tetapi kami tidak menemukanmu, dan kami melewati malam terburuk yang pernah dilalui suatu kaum.”Beliau bersabda, “Telah datang kepadaku utusan jin, lalu aku pergi bersama mereka dan membacakan Al-Qur’an kepada mereka.”Ia berkata: Lalu beliau pergi bersama kami, memperlihatkan bekas-bekas mereka dan bekas api mereka. Mereka meminta bekal, lalu beliau bersabda, “Setiap tulang yang disebut nama Allah padanya, akan sampai ke tangan kalian dalam keadaan paling banyak dagingnya. Dan setiap kotoran hewan atau kotoran kering adalah makanan bagi hewan tunggangan kalian.”Rasulullah ﷺ bersabda, “Karena itu, janganlah kalian beristinja dengan keduanya, karena keduanya adalah makanan saudara-saudara kalian.”Jalur lain dari Ibnu Mas‘ud:Abu Ja‘far bin Jarir berkata: Ahmad bin Abdurrahman menceritakan kepadaku, pamanku menceritakan kepadaku, Yunus menceritakan kepadaku, dari Az-Zuhri, dari Ubaidullah bin Abdullah, bahwa Ibnu Mas‘ud berkata:Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Tadi malam aku bermalam membaca Al-Qur’an kepada jin seperempat bagian di Al-Hajun.”Jalur lain, disebutkan bahwa Ibnu Mas‘ud bersama beliau pada malam jin:Ibnu Jarir rahimahullah berkata: Ahmad bin Abdurrahman bin Wahb menceritakan kepadaku, pamanku Abdullah bin Wahb menceritakan kepada kami, Yunus mengabarkan kepadaku, dari Ibnu Syihab, dari Abu Utsman bin Sunnah Al-Khuza‘i, seorang dari penduduk Syam, bahwa Abdullah bin Mas‘ud berkata:Rasulullah ﷺ berkata kepada para sahabatnya ketika beliau berada di Makkah, “Siapa di antara kalian yang ingin menghadiri urusan jin malam ini, maka ikutlah.”Maka tidak ada seorang pun yang hadir selain aku. Kami pun berangkat. Ketika kami sampai di dataran tinggi Makkah, beliau membuat garis dengan kakinya untukku, lalu menyuruhku duduk di dalamnya. Kemudian beliau pergi dan berdiri, lalu mulai membaca Al-Qur’an. Tiba-tiba sekumpulan hitam yang banyak menutup pandanganku terhadap beliau, hingga aku tidak lagi mendengar suara beliau. Setelah itu mereka mulai terpecah seperti potongan awan yang pergi, hingga tersisa beberapa kelompok saja. Rasulullah ﷺ selesai menjelang Subuh, lalu pergi untuk buang hajat. Setelah itu beliau datang kepadaku dan bertanya, “Apa yang dilakukan oleh rombongan tadi?”Aku menjawab, “Mereka itulah, wahai Rasulullah.”Lalu beliau memberi mereka tulang dan kotoran hewan sebagai bekal, kemudian beliau melarang seseorang bersuci dengan kotoran hewan atau tulang.Riwayat ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam, dari Abu Zur‘ah Wahbullah bin Rasyid, dari Yunus bin Yazid Al-Ayli, dengannya. Al-Baihaqi juga meriwayatkannya dalam Ad-Dalā’il dari hadis Abdullah bin Shalih, juru tulis Al-Laits, dari Al-Laits, dari Yunus, dengannya.Ishaq bin Rahawaih juga meriwayatkan dari Jarir, dari Qabus bin Abi Zhabyan, dari ayahnya, dari Ibnu Mas‘ud, lalu menyebutkan seperti yang telah disebutkan sebelumnya.Al-Hafizh Abu Nu‘aim juga meriwayatkannya melalui jalur Musa bin Ubaidah, dari Sa‘id bin Al-Harits, dari Abu Al-Mu‘alla, dari Ibnu Mas‘ud, dan ia menyebutkan yang semisal.Jalur lain:Abu Nu‘aim berkata: Abu Bakar bin Malik menceritakan kepada kami, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku: Affan dan Ikrimah berkata: Mu‘tamir menceritakan kepada kami. Ayahku berkata: Abu Tamimah menceritakan kepadaku, dari Amr, mungkin ia berkata Al-Bakali, bahwa Amr menceritakan kepadanya dari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:Rasulullah ﷺ mengajakku mengikuti beliau. Maka kami berangkat hingga sampai di suatu tempat. Beliau membuat garis untukku, lalu bersabda, “Tetaplah berada di tengah garis ini, jangan keluar darinya. Jika engkau keluar darinya, engkau akan binasa.”Lalu ia menyebutkan hadis itu dengan panjang, dan di dalamnya terdapat keanehan yang sangat.Jalur lain:Ibnu Jarir berkata: Ibnu Abdil A‘la menceritakan kepada kami, Ibnu Tsaur menceritakan kepada kami, dari Ma‘mar, dari Yahya bin Abi Katsir, dari Abdullah bin Amr bin Ghailan Ats-Tsaqafi, bahwa ia berkata kepada Ibnu Mas‘ud, “Telah diceritakan bahwa engkau bersama Rasulullah ﷺ pada malam kedatangan utusan jin?”Ia menjawab, “Ya.”Ia bertanya, “Bagaimana peristiwanya?”Lalu ia menceritakan hadits itu seluruhnya, dan menyebutkan bahwa Nabi ﷺ membuat garis untuknya, seraya bersabda, “Jangan tinggalkan tempat ini.”Ia menyebutkan bahwa sesuatu seperti pusaran hitam menutupi Rasulullah ﷺ. Ia merasa sangat takut sampai tiga kali. Ketika hampir Subuh, Nabi ﷺ datang kepadaku dan bertanya, “Apakah engkau tidur?”Aku menjawab, “Tidak, demi Allah. Bahkan beberapa kali aku ingin meminta pertolongan orang-orang, sampai aku mendengarmu memukul mereka dengan tongkatmu sambil berkata: ‘Duduklah kalian.’”Beliau bersabda, “Kalau engkau keluar, aku tidak merasa aman kalau sebagian dari mereka akan menculikmu.”Kemudian beliau bersabda, “Apakah engkau melihat sesuatu?”Aku menjawab, “Ya, aku melihat laki-laki berkulit hitam, mengenakan pakaian putih.”Beliau bersabda, “Mereka itu jin Nashibin. Mereka meminta bekal kepadaku, dan aku memberi mereka setiap tulang kering, atau kotoran hewan, atau tahi sebagai bekal.”Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa manfaat semua itu bagi mereka?”Beliau menjawab, “Mereka tidak mendapatkan satu tulang pun kecuali akan mendapati dagingnya masih ada di atasnya sebagaimana pada hari saat dimakan, dan mereka tidak mendapatkan kotoran hewan pun kecuali akan mendapati biji-bijiannya masih ada sebagaimana pada hari saat dimakan. Karena itu, janganlah salah seorang dari kalian bersuci setelah buang hajat dengan tulang, kotoran hewan, atau tahi.”Jalur lain:Al-Hafizh Abu Bakar Al-Baihaqi berkata: Abu Abdurrahman As-Sulami dan Abu Nashr bin Qatadah mengabarkan kepada kami, keduanya berkata: Abu Muhammad Yahya bin Manshur Al-Qadhi mengabarkan kepada kami, Abu Abdullah Muhammad bin Ibrahim Al-Bausyanji menceritakan kepada kami, Ruh bin Shalah menceritakan kepada kami, Musa bin Ali bin Rabah menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari Abdullah bin Mas‘ud, ia berkata:Rasulullah ﷺ mengajakku dan bersabda, “Sesungguhnya sekelompok jin, lima belas orang, saudara-saudara dan sepupu-sepupu, akan datang kepadaku malam ini, lalu aku akan membacakan Al-Qur’an kepada mereka.”Maka aku pun berangkat bersama beliau ke tempat yang beliau kehendaki. Beliau membuat garis untukku dan mendudukkanku di dalamnya, lalu berkata kepadaku, “Jangan keluar dari sini.”Aku tetap berada di tempat itu sampai Rasulullah ﷺ datang kepadaku menjelang sahur. Di tangan beliau ada tulang kering dan kotoran hitam yang sudah hangus, lalu beliau berkata kepadaku, “Jika engkau pergi buang hajat, janganlah engkau beristinja dengan salah satu dari benda-benda ini.”Ketika pagi tiba aku berkata, “Akan aku cari tahu sejauh pengetahuanku tentang tempat Rasulullah ﷺ tadi.” Lalu aku pergi dan melihat tempat peristirahatan enam puluh unta.Jalur lain:Al-Baihaqi berkata: Abu Abdullah Al-Hafizh mengabarkan kepada kami, Abu Al-Abbas Al-Ashamm mengabarkan kepada kami, Al-Abbas bin Muhammad Ad-Dauri menceritakan kepada kami, Utsman bin Umar menceritakan kepada kami, dari Al-Mustamir bin Ar-Rayyan, dari Abu Al-Jauza’, dari Abdullah bin Mas‘ud, ia berkata:Aku pergi bersama Rasulullah ﷺ pada malam jin hingga beliau sampai di Al-Hajun. Lalu beliau membuat garis untukku, kemudian maju menemui mereka. Mereka pun berdesakan di sekitar beliau. Lalu pemimpin mereka yang disebut Wardan berkata, “Aku akan menjauhkan mereka darimu.”Maka beliau bersabda, “Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang dapat melindungiku dari Allah.”Jalur lain:Imam Ahmad berkata: Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Abu Fazārah Al-‘Absi, Abu Zaid, budak Amr bin Huraith, menceritakan kepada kami dari Ibnu Mas‘ud, ia berkata:Ketika malam jin, Nabi ﷺ berkata kepadaku, “Apakah engkau membawa air?”Aku menjawab, “Aku tidak membawa air, tetapi aku membawa wadah berisi nabidz.”Maka Nabi bersabda, “Kurma yang baik dan air yang suci.”Lalu beliau berwudhu dengannya.Riwayat ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari hadis Abu Zaid.Jalur lain:Ahmad berkata: Yahya bin Ishaq menceritakan kepada kami, Ibnu Lahi‘ah mengabarkan kepada kami, dari Qais bin Al-Hajjaj, dari Hanasy Ash-Shan‘ani, dari Ibnu Abbas, dari Abdullah bin Mas‘ud, bahwa ia bersama Rasulullah ﷺ pada malam jin. Lalu Rasulullah bersabda, “Wahai Abdullah, apakah engkau membawa air?”Ia menjawab, “Aku membawa nabidz di dalam wadah.”Maka beliau bersabda, “Tuangkanlah kepadaku.”Lalu beliau berwudu. Nabi ﷺ bersabda, “Wahai Abdullah, ini minuman dan sekaligus alat bersuci.”Riwayat ini hanya diriwayatkan oleh Ahmad melalui jalur ini. Ad-Daraquthni juga membawakannya dari jalur lain, dari Ibnu Mas‘ud.Jalur lain:Imam Ahmad berkata: Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, ayahku mengabarkan kepadaku dari Mīnā’, dari Abdullah, ia berkata:Aku bersama Rasulullah ﷺ pada malam kedatangan utusan jin. Setelah beliau selesai, beliau menarik napas panjang. Maka aku bertanya, “Apa gerangan yang terjadi padamu?”Beliau bersabda, “Ajalku telah diberitahukan kepadaku, wahai Ibnu Mas‘ud.”Beginilah aku melihatnya dalam Musnad secara ringkas. Al-Hafizh Abu Nu‘aim meriwayatkannya dalam kitab Dalā’il An-Nubuwwah, lalu berkata: Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub menceritakan kepada kami, Ishaq bin Ibrahim menceritakan kepada kami, dan Abu Bakar bin Malik menceritakan kepada kami, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Mina’, dari Ibnu Mas‘ud, ia berkata:Aku bersama Rasulullah ﷺ pada malam kedatangan utusan jin. Beliau menarik napas panjang. Aku bertanya,“Ada apa denganmu wahai Rasulullah?”Beliau bersabda, “Ajalku telah diberitahukan kepadaku, wahai Ibnu Mas‘ud.”Aku berkata, “Tunjuklah seorang pengganti.”Beliau bertanya, “Siapa?”Aku menjawab, “Abu Bakar.”Beliau diam. Setelah beberapa saat beliau kembali menarik napas panjang. Aku bertanya, “Ada apa denganmu? Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, wahai Rasulullah?”Beliau bersabda, “Ajalku telah diberitahukan kepadaku, wahai Ibnu Mas‘ud.”Aku berkata, “Tunjuklah seorang pengganti.”Beliau bertanya, “Siapa?”Aku menjawab, “Umar.”Beliau diam. Setelah beberapa saat beliau kembali menarik napas panjang. Aku bertanya, “Apa yang terjadi?”Beliau bersabda, “Ajalku telah diberitahukan kepadaku.”Aku berkata, “Kalau begitu tunjuklah pengganti.”Beliau bersabda, “Siapa?”Aku menjawab, “Ali bin Abi Thalib.”Maka Nabi ﷺ bersabda, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya mereka menaatinya, niscaya mereka semua akan masuk surga.”Ini adalah hadits yang sangat asing, dan lebih layak untuk dinilai tidak terjaga. Kalau pun dianggap sahih, maka yang tampak peristiwa ini terjadi setelah kedatangan mereka kepada beliau di Madinah, sebagaimana akan kami sebutkan nanti. Sebab pada waktu itu, di akhir masa dakwah, ketika Makkah telah dibebaskan, manusia dan jin pun masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong. Lalu turun surah:إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ ۝ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا ۝ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًاSurah inilah yang memberitahukan dekatnya wafat beliau, sebagaimana telah dijelaskan oleh Ibnu Abbas, dan Umar bin Al-Khaththab juga sependapat dengannya. Nanti akan datang hadis tentang hal itu saat menafsirkan surah tersebut. Wallahu a‘lam.Abu Nu‘aim juga meriwayatkannya dari Ath-Thabarani, dari Muhammad bin Abdullah Al-Hadhrami, dari Ali bin Al-Husain bin Abi Burdah, dari Yahya bin Sa‘id Al-Aslami, dari Harb bin Shabih, dari Sa‘id bin Maslamah, dari Abu Murrah Ash-Shan‘ani, dari Abu Abdullah Al-Jadali, dari Ibnu Mas‘ud, lalu menyebutkannya serta menyebut kisah penunjukan pengganti. Ini sanad yang asing dan redaksi yang ganjil.Jalur lain:Imam Ahmad berkata: Abu Sa‘id menceritakan kepada kami, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Ali bin Zaid, dari Abu Rafi‘, dari Ibnu Mas‘ud, bahwa Rasulullah ﷺ membuat lingkaran di sekelilingnya. Sebagian mereka tampak seperti kumpulan lebah hitam. Beliau berkata kepadaku, “Jangan tinggalkan tempatmu.”Lalu beliau membacakan Kitab Allah kepada mereka. Ketika beliau melihat Az-Zuth, beliau berkata, “Mereka seperti هؤلاء.”Nabi ﷺ berkata, “Apakah engkau membawa air?”Aku menjawab, “Tidak.”Beliau bertanya, “Apakah engkau membawa nabidz?”Aku menjawab, “Ya.”Maka beliau berwudu dengannya.Jalur lain yang mursal:Ibnu Abi Hatim berkata: Abu Abdullah Azh-Zhahrani menceritakan kepada kami, Hafsh bin Umar Al-‘Adani mengabarkan kepada kami, Al-Hakam bin Aban menceritakan kepada kami, dari Ikrimah tentang firman Allah Ta‘ala:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّIa berkata: Mereka berjumlah dua belas ribu, datang dari Jazirah Al-Maushil. Nabi ﷺ berkata kepada Ibnu Mas‘ud, “Tunggulah aku sampai aku kembali kepadamu.” Lalu beliau membuat garis untuknya dan berkata, “Jangan pergi dari tempatmu sampai aku datang.” Ketika Ibnu Mas‘ud mulai merasa takut kepada mereka, ia hampir saja pergi. Namun ia teringat ucapan Rasulullah ﷺ, maka ia tetap di tempatnya. Lalu Nabi ﷺ berkata kepadanya, “Seandainya engkau pergi, niscaya kita tidak akan bertemu lagi sampai hari kiamat.” Jalur lain yang juga mursal:Sa‘id bin Abi ‘Arubah berkata, dari Qatadah, tentang firman Allah:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّDisebutkan kepada kami bahwa mereka diarahkan kepada beliau dari Nainawa. Nabi Allah ﷺ bersabda, “Aku diperintahkan untuk membacakan Al-Qur’an kepada jin. Siapa di antara kalian yang akan ikut bersamaku?”Mereka menunduk diam. Beliau mengulangi ajakan itu, namun mereka tetap menunduk. Ketika beliau mengulanginya untuk ketiga kali, seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, itu adalah urusan yang sangat berat.” Maka Ibnu Mas‘ud, saudara Hudzail itu, ikut bersama beliau.Nabi ﷺ masuk ke sebuah celah gunung yang disebut Syi‘b Al-Hajun, lalu membuat garis untuknya, juga membuat garis untuk Ibnu Mas‘ud agar dengan itu ia tetap di tempatnya. Aku mulai ketakutan dan melihat sesuatu seperti burung nasar berjalan di sisi-sisinya. Aku juga mendengar suara gaduh yang sangat keras, sampai aku takut terhadap Nabi Allah ﷺ. Kemudian beliau membaca Al-Qur’an. Ketika Rasulullah ﷺ kembali, aku bertanya, “Wahai Rasulullah, suara gaduh apa yang aku dengar itu?”Beliau menjawab, “Mereka sedang berselisih tentang seorang yang terbunuh, lalu diputuskan perkara di antara mereka dengan benar.”Riwayat ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim.Semua jalur riwayat ini menunjukkan bahwa beliau ﷺ memang sengaja mendatangi jin, lalu membacakan Al-Qur’an kepada mereka, mengajak mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla, serta menetapkan melalui lisan beliau syariat yang mereka butuhkan saat itu.Bisa jadi pertama kali mereka mendengar beliau membaca Al-Qur’an, beliau tidak menyadari kehadiran mereka, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Setelah itu mereka datang kepada beliau, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Mas‘ud. Adapun Ibnu Mas‘ud, ia tidak berada bersama Rasulullah ﷺ ketika beliau berbicara langsung dengan jin dan mengajak mereka. Ia hanya berada jauh dari beliau, dan tidak ada seorang pun yang keluar bersama Nabi ﷺ selain dia. Meski demikian, ia pun tidak menyaksikan langsung peristiwa pembicaraan itu. Inilah cara Al-Baihaqi memahami riwayat-riwayat tersebut.Bisa juga terjadi bahwa pertama kali beliau keluar menemui mereka, tidak ada Ibnu Mas‘ud dan tidak pula orang lain bersama beliau, sebagaimana tampak dari riwayat pertama melalui jalur Imam Ahmad, dan riwayat itu juga ada dalam Muslim. Setelah itu beliau keluar lagi bersama Ibnu Mas‘ud pada malam yang lain. Wallahu a‘lam.Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam tafsir قُلْ أُوحِيَ, dari hadis Ibnu Juraij, ia berkata: Abdul Aziz bin Umar berkata:Adapun jin yang bertemu beliau di Nakhlah adalah jin dari Nainawa, sedangkan jin yang bertemu beliau di Makkah adalah jin dari Nashibin.Al-Baihaqi memahami ucapan, “Kami melewati malam terburuk yang pernah dilalui suatu kaum,” bahwa ucapan itu berasal dari selain Ibnu Mas‘ud, yaitu orang-orang yang tidak mengetahui keluarnya beliau ﷺ menemui jin. Ini mungkin, tetapi agak jauh. Wallahu a‘lam.Al-Hafizh Abu Bakar Al-Baihaqi berkata: Abu Amr Muhammad bin Abdullah Al-Adib mengabarkan kepada kami, Abu Bakar Al-Isma‘ili mengabarkan kepada kami, Al-Hasan bin Sufyan menceritakan kepadaku, Suwaid bin Sa‘id menceritakan kepada kami, Amr bin Yahya menceritakan kepada kami, dari kakeknya Sa‘id bin Amr, ia berkata:Abu Hurairah biasa mengikuti Rasulullah ﷺ dengan membawa wadah air untuk wudu dan keperluan beliau. Pada suatu hari beliau menjumpainya dan bertanya, “Siapa ini?”Ia menjawab, “Aku, Abu Hurairah.”Beliau bersabda, “Bawakan kepadaku batu-batu untuk aku pakai bersuci, dan jangan bawakan tulang atau kotoran hewan.”Maka aku datang membawa batu-batu di ujung bajuku, lalu meletakkannya di samping beliau. Setelah beliau selesai dan bangkit, aku mengikuti beliau lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa tulang dan kotoran hewan tidak boleh?”Beliau menjawab, “Telah datang kepadaku utusan jin Nashibin. Mereka meminta bekal kepadaku, maka aku berdoa kepada Allah untuk mereka agar mereka tidak melewati satu tulang ataupun kotoran hewan kecuali mereka mendapatinya sebagai makanan.”Riwayat ini dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya dari Musa bin Ismail, dari Amr bin Yahya, dengan sanad yang hampir sama. Ini menunjukkan, bersama riwayat-riwayat sebelumnya, bahwa mereka memang datang lagi kepada beliau setelah itu. Dan nanti akan kami sebutkan apa yang menunjukkan bahwa hal itu terjadi berulang kali.Penjelasan dari Ibnu Katsir mengenai kisah-kisah terkait yang dibahas ini masih berlanjut. Kesimpulan dari cerita-cerita di atas adalah:1. Allah pernah menghadapkan sekelompok jin kepada Rasulullah ﷺ agar mereka mendengarkan bacaan Al-Qur’an yang beliau baca di Nakhlah.2. Pada peristiwa pertama itu, para jin mendengar bacaan Al-Qur’an, terdiam untuk menyimak, lalu kembali kepada kaumnya sebagai pemberi peringatan.3. Mereka langsung mengakui bahwa Al-Qur’an adalah bacaan yang menakjubkan, memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu mereka pun beriman.4. Sebab awal kedatangan mereka adalah karena para setan telah dihalangi dari berita langit dan dilempari bintang-bintang pijar, sehingga mereka mencari penyebabnya.5. Ketika mereka menemukan Nabi ﷺ sedang salat dan membaca Al-Qur’an, mereka sadar bahwa inilah peristiwa besar yang telah mengubah keadaan langit.6. Riwayat-riwayat yang ada menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ pada awalnya tidak selalu mengetahui kehadiran mereka, namun setelah itu para jin datang lagi kepada beliau dalam beberapa kesempatan.7. Dalam pertemuan-pertemuan berikutnya, Rasulullah ﷺ sengaja mendatangi mereka, membacakan Al-Qur’an, mengajak mereka kepada Allah, dan mengajarkan hukum-hukum yang mereka perlukan.8. Di antara ajaran yang beliau sampaikan kepada mereka ialah bahwa tulang dan kotoran hewan menjadi bekal bagi jin, sehingga manusia dilarang beristinja dengan keduanya.9. Perbedaan jumlah jin dalam berbagai riwayat, seperti tujuh, sembilan, lima belas, atau lebih banyak dari itu, menunjukkan bahwa kedatangan mereka kemungkinan terjadi berulang kali.10. Inti seluruh bahasan ini adalah bahwa jin juga mendengar dakwah Nabi ﷺ, beriman kepada Al-Qur’an, kembali mengingatkan kaumnya, dan dari kalangan mereka ada pemberi peringatan, tetapi tidak ada rasul dari jenis jin. 2. Jin Mengakui Kebenaran Al-Qur’anAllah Ta’ala berfirman,قَالُوا۟ يَٰقَوْمَنَآ إِنَّا سَمِعْنَا كِتَٰبًا أُنزِلَ مِنۢ بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِىٓ إِلَى ٱلْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ“Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Ahqaf: 30)Kemudian Allah menjelaskan isi peringatan yang disampaikan para jin kepada kaumnya. Allah mengabarkan ucapan mereka:قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنزِلَ مِن بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ“Mereka berkata: Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengar sebuah kitab yang diturunkan setelah Musa, yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya, dan memberi petunjuk kepada kebenaran.”Mereka tidak menyebut Isa, karena Isa ‘alaihissalam diturunkan kepadanya Injil yang berisi nasihat-nasihat, pelunakan hati, dan hanya sedikit hukum halal dan haram. Pada hakikatnya, Injil itu seperti penyempurna bagi syariat Taurat. Karena itu, yang menjadi pokok adalah Taurat. Itulah sebabnya mereka berkata, “diturunkan setelah Musa.”Demikian pula yang dikatakan oleh Waraqah bin Naufal ketika Nabi ﷺ mengabarkan kepadanya kisah turunnya Jibril ‘alaihissalam kepada beliau untuk pertama kalinya. Waraqah berkata, “Sungguh, sungguh, ini adalah Namus yang dahulu datang kepada Musa. Seandainya aku masih muda pada masa itu.”Firman mereka:مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ“yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya,”maksudnya, kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya kepada para nabi.Ucapan mereka:يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ“memberi petunjuk kepada kebenaran,” maksudnya dalam masalah keyakinan dan berita.Dan ucapan mereka:وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ“dan kepada jalan yang lurus,” maksudnya dalam amalan.Sebab Al-Qur’an mencakup dua perkara: berita dan tuntunan. Beritanya adalah benar, dan tuntunannya adalah adil. Sebagaimana firman Allah:وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا“Dan telah sempurna kalimat Tuhanmu dengan kebenaran dan keadilan.” (QS. Al-An‘am: 115)Dan firman-Nya:هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar.” (QS. At-Taubah: 33)Yang dimaksud dengan petunjuk adalah ilmu yang bermanfaat, sedangkan agama yang benar adalah amal saleh.Demikian pula ucapan para jin:يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ“memberi petunjuk kepada kebenaran,” yaitu dalam keyakinan-keyakinan.Dan:وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ“dan kepada jalan yang lurus,” yaitu dalam amalan-amalan. 3. Seruan Jin agar Kaumnya BerimanAllah Ta’ala berfirman,يَٰقَوْمَنَآ أَجِيبُوا۟ دَاعِىَ ٱللَّهِ وَءَامِنُوا۟ بِهِۦ يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ“Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.” (QS. Al-Ahqaf: 31)Dalam ayat disebutkan,يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ“Wahai kaum kami, penuhilah seruan orang yang mengajak kepada Allah,”menunjukkan bahwa Allah mengutus Nabi Muhammad ﷺ kepada dua golongan makhluk, yaitu manusia dan jin. Beliau mengajak mereka kepada Allah, dan membacakan kepada mereka surah yang di dalamnya terdapat seruan kepada kedua golongan tersebut, berisi kewajiban, janji, dan ancaman bagi mereka, yaitu Surah Ar-Rahman. Karena itu mereka berkata:أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ“Penuhilah seruan orang yang mengajak kepada Allah dan berimanlah kepadanya.”Firman-Nya:يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ“Agar Dia mengampuni sebagian dosa-dosa kalian.”Ada yang mengatakan bahwa kata min di sini hanya sebagai tambahan, tetapi pendapat ini masih perlu dipertimbangkan, karena penggunaan tambahan seperti itu dalam kalimat yang bersifat penetapan jarang terjadi. Ada pula yang mengatakan bahwa kata min tetap pada makna asalnya, yaitu menunjukkan sebagian. Apakah Jin Mukmin Masuk Surga?Firman-Nya:وَيُجِرْكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ“Dan melindungi kalian dari azab yang pedih,”maksudnya Allah akan menjaga kalian dari azab-Nya yang menyakitkan.Sebagian ulama menggunakan ayat ini sebagai dalil bahwa jin yang beriman tidak masuk surga. Menurut mereka, balasan bagi jin yang saleh hanyalah diselamatkan dari azab neraka pada hari kiamat. Mereka berpendapat demikian karena dalam ayat ini disebutkan balasan berupa pengampunan dosa dan perlindungan dari azab, tanpa menyebutkan surga.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa jin yang beriman tidak masuk surga karena mereka berasal dari keturunan Iblis, sedangkan keturunan Iblis tidak masuk surga.Namun pendapat yang benar adalah bahwa jin yang beriman akan masuk surga sebagaimana manusia yang beriman. Ini merupakan pendapat sejumlah ulama dari kalangan salaf.Sebagian ulama berdalil dengan firman Allah:لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌ“Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya.” (QS. Ar-Rahman: 74)Namun dalil yang lebih kuat adalah firman Allah:وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ ۝ فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ“Dan bagi orang yang takut kepada Tuhannya disediakan dua surga. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kalian dustakan?” (QS. Ar-Rahman: 46–47)Dalam ayat ini Allah memberikan nikmat kepada dua golongan, yaitu manusia dan jin, dengan menyebutkan bahwa balasan bagi orang yang berbuat baik di antara mereka adalah surga. Para jin bahkan menjawab ayat ini dengan ucapan syukur yang lebih jelas daripada manusia, yaitu:“Kami tidak mendustakan satu pun dari nikmat-Mu, wahai Tuhan kami. Segala puji bagi-Mu.”Tidak mungkin Allah menyebutkan suatu balasan kepada mereka jika balasan itu tidak akan mereka peroleh.Selain itu, jika Allah menghukum orang kafir dari kalangan jin dengan neraka, yang merupakan bentuk keadilan, maka lebih pantas lagi jika Allah memberi balasan surga kepada jin yang beriman, yang merupakan bentuk karunia.Hal ini juga dikuatkan oleh firman Allah:إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka surga Firdaus sebagai tempat tinggal.” (QS. Al-Kahfi: 107)Dan ayat-ayat lain yang serupa.Surga juga masih memiliki kelebihan tempat hingga Allah menciptakan makhluk baru untuk mengisinya. Maka tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa orang yang beriman kepada-Nya dan beramal saleh tidak akan memasukinya.Adapun balasan yang disebutkan dalam ayat ini, yaitu pengampunan dosa dan perlindungan dari azab, pada hakikatnya mengandung makna masuk surga. Sebab di akhirat hanya ada dua tempat: surga atau neraka. Siapa yang diselamatkan dari neraka pasti akan masuk surga.Tidak ada dalil yang jelas dari syariat yang menyatakan bahwa jin yang beriman tidak masuk surga. Jika ada dalil yang sahih, tentu akan diterima.Nabi Nuh juga berkata kepada kaumnya:يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرْكُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى“Agar Dia mengampuni sebagian dosa-dosa kalian dan menangguhkan kalian sampai waktu yang dite          ntukan.” (QS. Nuh: 4)Padahal tidak ada perbedaan pendapat bahwa orang beriman dari kaum Nabi Nuh masuk surga. Demikian pula halnya dengan jin yang beriman.Ada pula beberapa pendapat lain yang aneh. Misalnya pendapat Umar bin Abdul Aziz yang mengatakan bahwa jin tidak masuk ke bagian utama surga, tetapi berada di sekitar dan di pinggirannya.Ada juga yang mengatakan bahwa di surga manusia dapat melihat jin, tetapi jin tidak dapat melihat manusia, kebalikan dari keadaan mereka di dunia.Ada pula yang mengatakan bahwa jin tidak makan dan tidak minum di surga, tetapi hanya diberi ilham untuk bertasbih, bertahmid, dan mensucikan Allah sebagai pengganti makanan dan minuman, sebagaimana malaikat.Namun semua pendapat tersebut masih perlu dipertimbangkan dan tidak memiliki dalil yang jelas. 4. Ancaman bagi yang Menolak Seruan AllahAllah Ta’ala berfirman,وَمَن لَّا يُجِبْ دَاعِىَ ٱللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُۥ مِن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءُ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ“Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata”.” (QS. Al-Ahqaf: 32)“Dan barang siapa tidak memenuhi seruan orang yang mengajak kepada Allah, maka ia tidak akan dapat melemahkan Allah di bumi, dan tidak ada baginya pelindung selain Dia. Mereka itulah orang-orang yang berada dalam kesesatan yang nyata.” (32)Kemudian Allah mengabarkan ucapan para jin itu:وَمَن لَّا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي الْأَرْضِ“Dan barang siapa tidak memenuhi seruan orang yang mengajak kepada Allah, maka ia tidak akan dapat melemahkan Allah di bumi.”Maksudnya, kekuasaan Allah meliputi dan menguasai dirinya sepenuhnya.Firman-Nya:وَلَيْسَ لَهُ مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءُ“Dan tidak ada baginya pelindung selain Dia.”Artinya, tidak ada seorang pun yang dapat melindungi mereka dari azab Allah.Firman-Nya:أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ“Mereka itulah orang-orang yang berada dalam kesesatan yang nyata.”Ini adalah bentuk ancaman dan peringatan keras. Para jin itu mengajak kaumnya dengan dua cara sekaligus: memberikan harapan dan memberikan peringatan. Karena itu, dakwah mereka memberi pengaruh pada banyak dari kaumnya, hingga mereka datang kepada Rasulullah ﷺ secara berkelompok demi berkelompok, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Pelajaran Dakwah dari Kisah Jin dalam Al-Qur’anKetika mendengar Al-Qur’an, para jin langsung diam dan menyimak dengan penuh perhatian. Ini mengajarkan adab ketika mendengar ayat Allah: berhenti dari kesibukan dan fokus mendengarkan.Mereka tidak menunda menerima kebenaran. Begitu memahami bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk, mereka langsung beriman tanpa banyak keraguan.Hidayah tidak mereka simpan untuk diri sendiri. Setelah beriman, mereka segera kembali kepada kaumnya untuk mengajak kepada kebenaran.Dakwah yang mereka lakukan memadukan dua cara: memberi harapan berupa ampunan dan keselamatan, serta memberi peringatan tentang azab bagi yang menolak.Al-Qur’an adalah petunjuk bagi semua makhluk yang dibebani syariat, baik manusia maupun jin.Kisah ini menjadi teguran bagi manusia. Jika jin yang baru sekali mendengar Al-Qur’an bisa langsung beriman dan berdakwah, maka manusia yang sering mendengar Al-Qur’an seharusnya lebih cepat menerima dan mengamalkannya. Nasihat PenutupDi zaman ini, banyak manusia justru lebih keras hatinya daripada jin yang diceritakan dalam Al-Qur’an. Jin itu ketika mendengar ayat Allah langsung diam, menyimak, beriman, lalu bergerak menyampaikan kebenaran kepada kaumnya. Adapun kita, Al-Qur’an begitu dekat, kajian begitu mudah diakses, mushaf begitu mudah dibuka, tetapi sering kali hati tetap lalai, telinga tidak sungguh-sungguh mendengar, dan hidup belum berubah.Karena itu, jangan sampai kita kalah dari jin dalam menyambut hidayah. Jika mereka yang baru sekali mendengar Al-Qur’an bisa tersentuh lalu beriman, maka kita yang setiap hari mendengar ayat-ayat Allah seharusnya lebih layak untuk tunduk, memperbaiki iman, dan segera memenuhi seruan Rasulullah ﷺ.Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendengar nasihat lalu mengikuti yang terbaik darinya.اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوبِنَا، وَنُورَ صُدُورِنَا، وَهَادِيَنَا إِلَى الْحَقِّ وَالصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِقُرَّائِنَا وَلِلْمُسْلِمِينَ أَجْمَعِينَ.Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyejuk hati kami, cahaya dada kami, dan penuntun kami menuju kebenaran serta jalan yang lurus. Ampunilah kami, para pembaca tulisan ini, dan seluruh kaum muslimin. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Senin, 27 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdakwah Nabi kepada jin hidayah Al-Qur’an jin beriman jin mendengar Al Quran kisah jin dalam Islam pelajaran tauhid renungan ayat renungan quran rumaysho Surah Al-Ahqaf tafsir Al-Ahqaf tafsir Ibnu Katsir

Rezeki Lapang Bisa Menipu, Rezeki Sempit Bisa Menyelamatkan

Banyak orang mengira bahwa rezeki yang lapang adalah tanda kemuliaan, dan rezeki yang sempit adalah tanda kehinaan. Padahal, Al-Qur’an menjelaskan bahwa ukuran kemuliaan bukan pada banyaknya dunia yang dimiliki. Tulisan ini mengajak kita memahami bagaimana Allah mengatur rezeki dengan penuh hikmah dan kasih sayang. Ini adalah penenungan ayat dari juz ke-25, surah Az-Zukhruf.  Daftar Isi tutup 1. Dunia Tidak Bernilai di Sisi Allah 2. Kemewahan Dunia Hanya Kesenangan Sementara 3. Allah Menahan Dunia Demi Kebaikan Hamba 4. Nasihat Penutup  Dunia Tidak Bernilai di Sisi AllahAllah Ta’ala berfirman,وَلَوْلَآ أَن يَكُونَ ٱلنَّاسُ أُمَّةً وَٰحِدَةً لَّجَعَلْنَا لِمَن يَكْفُرُ بِٱلرَّحْمَٰنِ لِبُيُوتِهِمْ سُقُفًا مِّن فِضَّةٍ وَمَعَارِجَ عَلَيْهَا يَظْهَرُونَ“Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya.” (QS. Az-Zukhruf: 33)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini.Ayat ini menjelaskan bahwa dunia sama sekali tidak bernilai di sisi Allah. Kalaulah bukan karena kelembutan dan kasih sayang-Nya kepada para hamba, yang selalu Dia dahulukan, niscaya Allah akan melapangkan dunia dengan sangat luas bagi orang-orang kafir. Bahkan, Allah akan menjadikan atap-atap rumah mereka dari perak, dan juga tangga-tangga dari perak yang mereka gunakan untuk naik ke bagian atas rumah mereka.Baca juga: Orang Bertakwa Tidak Pernah Merasa Miskin Kemewahan Dunia Hanya Kesenangan SementaraAllah Ta’ala berfirman,وَلِبُيُوتِهِمْ أَبْوَٰبًا وَسُرُرًا عَلَيْهَا يَتَّكِـُٔونَ“Dan (Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan atasnya.”  (QS. Az-Zukhruf: 34)وَزُخْرُفًا ۚ وَإِن كُلُّ ذَٰلِكَ لَمَّا مَتَٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۚ وَٱلْءَاخِرَةُ عِندَ رَبِّكَ لِلْمُتَّقِينَ“Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 35)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini.Dan Allah juga akan menjadikan bagi mereka berbagai perhiasan (kemewahan), yaitu menghiasi dunia mereka dengan berbagai bentuk hiasan, serta memberikan apa saja yang mereka inginkan.Namun, Allah menahan semua itu karena rahmat-Nya kepada para hamba. Dia khawatir jika dunia dilapangkan secara berlebihan, manusia akan semakin cepat terjerumus dalam kekufuran dan semakin banyak melakukan maksiat karena terlalu mencintai dunia.Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa Allah terkadang menahan sebagian kenikmatan dunia dari hamba-Nya, baik secara umum maupun khusus, demi kebaikan mereka.Ini juga menunjukkan bahwa dunia tidak bernilai di sisi Allah, bahkan tidak sebanding dengan sayap seekor nyamuk. Semua yang disebutkan itu hanyalah kenikmatan sementara, yang penuh kekurangan, mengganggu, dan pasti akan lenyap.Adapun akhirat di sisi Allah jauh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu mereka yang menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena kenikmatan di akhirat itu sempurna dari segala sisi. Di dalam surga terdapat segala yang diinginkan oleh jiwa dan yang menyenangkan mata, dan mereka kekal di dalamnya.Betapa besar perbedaan antara kehidupan dunia dan akhirat.Baca juga: Orang Kafir Tidak Diberi Rezeki, Namun? Allah Menahan Dunia Demi Kebaikan HambaKetika menjelaskan ayat berikut ini,{ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا } { وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ }“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: وَأَهْلُ التَّقْوَى يَرْزُقُهُمْ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُونَ وَلَا يَكُونُ رِزْقُهُمْ بِأَسْبَابِ مُحَرَّمَةٍ وَلَا يَكُونُ خَبِيثًا وَالتَّقِيُّ لَا يُحْرَمُ مَا يَحْتَاجُ إلَيْهِ مِنْ الرِّزْقِ Orang-orang yang bertakwa akan diberi rezeki oleh Allah dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Rezeki mereka bukan berasal dari sebab-sebab yang haram, dan bukan pula rezeki yang buruk. Orang yang bertakwa tidak akan dihalangi dari rezeki yang benar-benar ia butuhkan. وَإِنَّمَا يُحْمَى مِنْ فُضُولِ الدُّنْيَا رَحْمَةً بِهِ وَإِحْسَانًا إلَيْهِ؛ فَإِنَّ تَوْسِيعَ الرِّزْقِ قَدْ يَكُونُ مَضَرَّةً عَلَى صَاحِبِهِ وَتَقْدِيرَهُ يَكُونُ رَحْمَةً لِصَاحِبِهِ.Hanya saja, terkadang ia dijauhkan dari kelebihan dunia, sebagai bentuk rahmat dan kebaikan Allah kepadanya. Sebab, dilapangkannya rezeki bisa jadi justru membahayakan pemiliknya, sedangkan disempitkannya rezeki bisa jadi merupakan rahmat bagi dirinya.Allah Ta’ala berfirman:{فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ} {وَأَمَّا إذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ} {كُلًّا}“Maka adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Adapun apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku.’ Sekali-kali tidak!” (QS. Al-Fajr: 15–17)Maksudnya, persoalannya tidak seperti itu. Tidak setiap orang yang dilapangkan rezekinya berarti dimuliakan, dan tidak setiap orang yang disempitkan rezekinya berarti dihinakan.بَلْ قَدْ يُوَسَّعُ عَلَيْهِ رِزْقُهُ إمْلَاءً وَاسْتِدْرَاجًا وَقَدْ يُقَدَّرُ عَلَيْهِ رِزْقُهُ حِمَايَةً وَصِيَانَةً لَهُBisa jadi seseorang dilapangkan rezekinya sebagai bentuk penangguhan dan istidraj. Sebaliknya, bisa jadi seseorang disempitkan rezekinya sebagai bentuk perlindungan dan penjagaan untuk dirinya.وَضِيقُ الرِّزْقِ عَلَى عَبْدٍ مِنْ أَهْلِ الدِّينِ قَدْ يَكُونُ لِمَا لَهُ مِنْ ذُنُوبٍ وَخَطَايَاSempitnya rezeki yang dialami seorang hamba yang taat beragama terkadang juga disebabkan oleh dosa-dosa dan kesalahannya.Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama salaf,إنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar bisa terhalang dari rezeki karena dosa yang dilakukannya.”Dalam hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan:مَنْ أَكْثَرَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Siapa yang memperbanyak istigfar, Allah akan memberinya jalan keluar dari setiap kesusahan, kelapangan dari setiap kesempitan, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 16:53)Baca juga: Istidraj: Jebakan Berupa Limpahan Rezeki Karena Bermaksiat Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang mengukur keberhasilan hanya dari banyaknya harta dan kemewahan, padahal itu bukan ukuran kemuliaan di sisi Allah. Jangan mudah iri dengan rezeki orang lain, karena bisa jadi itu ujian yang berat baginya. Sebaliknya, jangan pula merasa rendah diri saat rezeki terasa sempit, karena bisa jadi itu bentuk penjagaan dari Allah. Fokuslah memperbaiki takwa dan memperbanyak istighfar, karena di situlah kunci keberkahan hidup.اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا رِزْقًا طَيِّبًا مُبَارَكًا، وَاكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَAllāhumma-rzuqnā rizqan ṭayyiban mubārakan, wakfinā biḥalālika ‘an ḥarāmika, wa aghninā bifaḍlika ‘amman siwāk.Ya Allah, karuniakan kepada kami rezeki yang baik dan penuh berkah, cukupkan kami dengan yang halal sehingga kami terhindar dari yang haram, dan jadikan kami merasa cukup dengan karunia-Mu dari selain-Mu. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Ibn Taymiyyah, A. ibn T. (2004). Majmū‘ al-fatāwā (A. ibn M. ibn Qāsim, Ed.; M. ibn ‘Abd al-Raḥmān ibn Qāsim, Assisting ed.). Majma‘ al-Malik Fahd li-Ṭibā‘at al-Muṣḥaf al-Sharīf. —– Selasa, 28 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsal fajr ath thalaq az zukhruf cinta dunia dunia vs akhirat istidraj istigfar pembuka pintu rezeki renungan ayat renungan quran rezeki tafsir quran takwa ujian hidup

Rezeki Lapang Bisa Menipu, Rezeki Sempit Bisa Menyelamatkan

Banyak orang mengira bahwa rezeki yang lapang adalah tanda kemuliaan, dan rezeki yang sempit adalah tanda kehinaan. Padahal, Al-Qur’an menjelaskan bahwa ukuran kemuliaan bukan pada banyaknya dunia yang dimiliki. Tulisan ini mengajak kita memahami bagaimana Allah mengatur rezeki dengan penuh hikmah dan kasih sayang. Ini adalah penenungan ayat dari juz ke-25, surah Az-Zukhruf.  Daftar Isi tutup 1. Dunia Tidak Bernilai di Sisi Allah 2. Kemewahan Dunia Hanya Kesenangan Sementara 3. Allah Menahan Dunia Demi Kebaikan Hamba 4. Nasihat Penutup  Dunia Tidak Bernilai di Sisi AllahAllah Ta’ala berfirman,وَلَوْلَآ أَن يَكُونَ ٱلنَّاسُ أُمَّةً وَٰحِدَةً لَّجَعَلْنَا لِمَن يَكْفُرُ بِٱلرَّحْمَٰنِ لِبُيُوتِهِمْ سُقُفًا مِّن فِضَّةٍ وَمَعَارِجَ عَلَيْهَا يَظْهَرُونَ“Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya.” (QS. Az-Zukhruf: 33)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini.Ayat ini menjelaskan bahwa dunia sama sekali tidak bernilai di sisi Allah. Kalaulah bukan karena kelembutan dan kasih sayang-Nya kepada para hamba, yang selalu Dia dahulukan, niscaya Allah akan melapangkan dunia dengan sangat luas bagi orang-orang kafir. Bahkan, Allah akan menjadikan atap-atap rumah mereka dari perak, dan juga tangga-tangga dari perak yang mereka gunakan untuk naik ke bagian atas rumah mereka.Baca juga: Orang Bertakwa Tidak Pernah Merasa Miskin Kemewahan Dunia Hanya Kesenangan SementaraAllah Ta’ala berfirman,وَلِبُيُوتِهِمْ أَبْوَٰبًا وَسُرُرًا عَلَيْهَا يَتَّكِـُٔونَ“Dan (Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan atasnya.”  (QS. Az-Zukhruf: 34)وَزُخْرُفًا ۚ وَإِن كُلُّ ذَٰلِكَ لَمَّا مَتَٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۚ وَٱلْءَاخِرَةُ عِندَ رَبِّكَ لِلْمُتَّقِينَ“Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 35)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini.Dan Allah juga akan menjadikan bagi mereka berbagai perhiasan (kemewahan), yaitu menghiasi dunia mereka dengan berbagai bentuk hiasan, serta memberikan apa saja yang mereka inginkan.Namun, Allah menahan semua itu karena rahmat-Nya kepada para hamba. Dia khawatir jika dunia dilapangkan secara berlebihan, manusia akan semakin cepat terjerumus dalam kekufuran dan semakin banyak melakukan maksiat karena terlalu mencintai dunia.Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa Allah terkadang menahan sebagian kenikmatan dunia dari hamba-Nya, baik secara umum maupun khusus, demi kebaikan mereka.Ini juga menunjukkan bahwa dunia tidak bernilai di sisi Allah, bahkan tidak sebanding dengan sayap seekor nyamuk. Semua yang disebutkan itu hanyalah kenikmatan sementara, yang penuh kekurangan, mengganggu, dan pasti akan lenyap.Adapun akhirat di sisi Allah jauh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu mereka yang menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena kenikmatan di akhirat itu sempurna dari segala sisi. Di dalam surga terdapat segala yang diinginkan oleh jiwa dan yang menyenangkan mata, dan mereka kekal di dalamnya.Betapa besar perbedaan antara kehidupan dunia dan akhirat.Baca juga: Orang Kafir Tidak Diberi Rezeki, Namun? Allah Menahan Dunia Demi Kebaikan HambaKetika menjelaskan ayat berikut ini,{ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا } { وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ }“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: وَأَهْلُ التَّقْوَى يَرْزُقُهُمْ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُونَ وَلَا يَكُونُ رِزْقُهُمْ بِأَسْبَابِ مُحَرَّمَةٍ وَلَا يَكُونُ خَبِيثًا وَالتَّقِيُّ لَا يُحْرَمُ مَا يَحْتَاجُ إلَيْهِ مِنْ الرِّزْقِ Orang-orang yang bertakwa akan diberi rezeki oleh Allah dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Rezeki mereka bukan berasal dari sebab-sebab yang haram, dan bukan pula rezeki yang buruk. Orang yang bertakwa tidak akan dihalangi dari rezeki yang benar-benar ia butuhkan. وَإِنَّمَا يُحْمَى مِنْ فُضُولِ الدُّنْيَا رَحْمَةً بِهِ وَإِحْسَانًا إلَيْهِ؛ فَإِنَّ تَوْسِيعَ الرِّزْقِ قَدْ يَكُونُ مَضَرَّةً عَلَى صَاحِبِهِ وَتَقْدِيرَهُ يَكُونُ رَحْمَةً لِصَاحِبِهِ.Hanya saja, terkadang ia dijauhkan dari kelebihan dunia, sebagai bentuk rahmat dan kebaikan Allah kepadanya. Sebab, dilapangkannya rezeki bisa jadi justru membahayakan pemiliknya, sedangkan disempitkannya rezeki bisa jadi merupakan rahmat bagi dirinya.Allah Ta’ala berfirman:{فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ} {وَأَمَّا إذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ} {كُلًّا}“Maka adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Adapun apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku.’ Sekali-kali tidak!” (QS. Al-Fajr: 15–17)Maksudnya, persoalannya tidak seperti itu. Tidak setiap orang yang dilapangkan rezekinya berarti dimuliakan, dan tidak setiap orang yang disempitkan rezekinya berarti dihinakan.بَلْ قَدْ يُوَسَّعُ عَلَيْهِ رِزْقُهُ إمْلَاءً وَاسْتِدْرَاجًا وَقَدْ يُقَدَّرُ عَلَيْهِ رِزْقُهُ حِمَايَةً وَصِيَانَةً لَهُBisa jadi seseorang dilapangkan rezekinya sebagai bentuk penangguhan dan istidraj. Sebaliknya, bisa jadi seseorang disempitkan rezekinya sebagai bentuk perlindungan dan penjagaan untuk dirinya.وَضِيقُ الرِّزْقِ عَلَى عَبْدٍ مِنْ أَهْلِ الدِّينِ قَدْ يَكُونُ لِمَا لَهُ مِنْ ذُنُوبٍ وَخَطَايَاSempitnya rezeki yang dialami seorang hamba yang taat beragama terkadang juga disebabkan oleh dosa-dosa dan kesalahannya.Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama salaf,إنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar bisa terhalang dari rezeki karena dosa yang dilakukannya.”Dalam hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan:مَنْ أَكْثَرَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Siapa yang memperbanyak istigfar, Allah akan memberinya jalan keluar dari setiap kesusahan, kelapangan dari setiap kesempitan, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 16:53)Baca juga: Istidraj: Jebakan Berupa Limpahan Rezeki Karena Bermaksiat Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang mengukur keberhasilan hanya dari banyaknya harta dan kemewahan, padahal itu bukan ukuran kemuliaan di sisi Allah. Jangan mudah iri dengan rezeki orang lain, karena bisa jadi itu ujian yang berat baginya. Sebaliknya, jangan pula merasa rendah diri saat rezeki terasa sempit, karena bisa jadi itu bentuk penjagaan dari Allah. Fokuslah memperbaiki takwa dan memperbanyak istighfar, karena di situlah kunci keberkahan hidup.اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا رِزْقًا طَيِّبًا مُبَارَكًا، وَاكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَAllāhumma-rzuqnā rizqan ṭayyiban mubārakan, wakfinā biḥalālika ‘an ḥarāmika, wa aghninā bifaḍlika ‘amman siwāk.Ya Allah, karuniakan kepada kami rezeki yang baik dan penuh berkah, cukupkan kami dengan yang halal sehingga kami terhindar dari yang haram, dan jadikan kami merasa cukup dengan karunia-Mu dari selain-Mu. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Ibn Taymiyyah, A. ibn T. (2004). Majmū‘ al-fatāwā (A. ibn M. ibn Qāsim, Ed.; M. ibn ‘Abd al-Raḥmān ibn Qāsim, Assisting ed.). Majma‘ al-Malik Fahd li-Ṭibā‘at al-Muṣḥaf al-Sharīf. —– Selasa, 28 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsal fajr ath thalaq az zukhruf cinta dunia dunia vs akhirat istidraj istigfar pembuka pintu rezeki renungan ayat renungan quran rezeki tafsir quran takwa ujian hidup
Banyak orang mengira bahwa rezeki yang lapang adalah tanda kemuliaan, dan rezeki yang sempit adalah tanda kehinaan. Padahal, Al-Qur’an menjelaskan bahwa ukuran kemuliaan bukan pada banyaknya dunia yang dimiliki. Tulisan ini mengajak kita memahami bagaimana Allah mengatur rezeki dengan penuh hikmah dan kasih sayang. Ini adalah penenungan ayat dari juz ke-25, surah Az-Zukhruf.  Daftar Isi tutup 1. Dunia Tidak Bernilai di Sisi Allah 2. Kemewahan Dunia Hanya Kesenangan Sementara 3. Allah Menahan Dunia Demi Kebaikan Hamba 4. Nasihat Penutup  Dunia Tidak Bernilai di Sisi AllahAllah Ta’ala berfirman,وَلَوْلَآ أَن يَكُونَ ٱلنَّاسُ أُمَّةً وَٰحِدَةً لَّجَعَلْنَا لِمَن يَكْفُرُ بِٱلرَّحْمَٰنِ لِبُيُوتِهِمْ سُقُفًا مِّن فِضَّةٍ وَمَعَارِجَ عَلَيْهَا يَظْهَرُونَ“Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya.” (QS. Az-Zukhruf: 33)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini.Ayat ini menjelaskan bahwa dunia sama sekali tidak bernilai di sisi Allah. Kalaulah bukan karena kelembutan dan kasih sayang-Nya kepada para hamba, yang selalu Dia dahulukan, niscaya Allah akan melapangkan dunia dengan sangat luas bagi orang-orang kafir. Bahkan, Allah akan menjadikan atap-atap rumah mereka dari perak, dan juga tangga-tangga dari perak yang mereka gunakan untuk naik ke bagian atas rumah mereka.Baca juga: Orang Bertakwa Tidak Pernah Merasa Miskin Kemewahan Dunia Hanya Kesenangan SementaraAllah Ta’ala berfirman,وَلِبُيُوتِهِمْ أَبْوَٰبًا وَسُرُرًا عَلَيْهَا يَتَّكِـُٔونَ“Dan (Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan atasnya.”  (QS. Az-Zukhruf: 34)وَزُخْرُفًا ۚ وَإِن كُلُّ ذَٰلِكَ لَمَّا مَتَٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۚ وَٱلْءَاخِرَةُ عِندَ رَبِّكَ لِلْمُتَّقِينَ“Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 35)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini.Dan Allah juga akan menjadikan bagi mereka berbagai perhiasan (kemewahan), yaitu menghiasi dunia mereka dengan berbagai bentuk hiasan, serta memberikan apa saja yang mereka inginkan.Namun, Allah menahan semua itu karena rahmat-Nya kepada para hamba. Dia khawatir jika dunia dilapangkan secara berlebihan, manusia akan semakin cepat terjerumus dalam kekufuran dan semakin banyak melakukan maksiat karena terlalu mencintai dunia.Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa Allah terkadang menahan sebagian kenikmatan dunia dari hamba-Nya, baik secara umum maupun khusus, demi kebaikan mereka.Ini juga menunjukkan bahwa dunia tidak bernilai di sisi Allah, bahkan tidak sebanding dengan sayap seekor nyamuk. Semua yang disebutkan itu hanyalah kenikmatan sementara, yang penuh kekurangan, mengganggu, dan pasti akan lenyap.Adapun akhirat di sisi Allah jauh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu mereka yang menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena kenikmatan di akhirat itu sempurna dari segala sisi. Di dalam surga terdapat segala yang diinginkan oleh jiwa dan yang menyenangkan mata, dan mereka kekal di dalamnya.Betapa besar perbedaan antara kehidupan dunia dan akhirat.Baca juga: Orang Kafir Tidak Diberi Rezeki, Namun? Allah Menahan Dunia Demi Kebaikan HambaKetika menjelaskan ayat berikut ini,{ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا } { وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ }“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: وَأَهْلُ التَّقْوَى يَرْزُقُهُمْ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُونَ وَلَا يَكُونُ رِزْقُهُمْ بِأَسْبَابِ مُحَرَّمَةٍ وَلَا يَكُونُ خَبِيثًا وَالتَّقِيُّ لَا يُحْرَمُ مَا يَحْتَاجُ إلَيْهِ مِنْ الرِّزْقِ Orang-orang yang bertakwa akan diberi rezeki oleh Allah dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Rezeki mereka bukan berasal dari sebab-sebab yang haram, dan bukan pula rezeki yang buruk. Orang yang bertakwa tidak akan dihalangi dari rezeki yang benar-benar ia butuhkan. وَإِنَّمَا يُحْمَى مِنْ فُضُولِ الدُّنْيَا رَحْمَةً بِهِ وَإِحْسَانًا إلَيْهِ؛ فَإِنَّ تَوْسِيعَ الرِّزْقِ قَدْ يَكُونُ مَضَرَّةً عَلَى صَاحِبِهِ وَتَقْدِيرَهُ يَكُونُ رَحْمَةً لِصَاحِبِهِ.Hanya saja, terkadang ia dijauhkan dari kelebihan dunia, sebagai bentuk rahmat dan kebaikan Allah kepadanya. Sebab, dilapangkannya rezeki bisa jadi justru membahayakan pemiliknya, sedangkan disempitkannya rezeki bisa jadi merupakan rahmat bagi dirinya.Allah Ta’ala berfirman:{فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ} {وَأَمَّا إذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ} {كُلًّا}“Maka adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Adapun apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku.’ Sekali-kali tidak!” (QS. Al-Fajr: 15–17)Maksudnya, persoalannya tidak seperti itu. Tidak setiap orang yang dilapangkan rezekinya berarti dimuliakan, dan tidak setiap orang yang disempitkan rezekinya berarti dihinakan.بَلْ قَدْ يُوَسَّعُ عَلَيْهِ رِزْقُهُ إمْلَاءً وَاسْتِدْرَاجًا وَقَدْ يُقَدَّرُ عَلَيْهِ رِزْقُهُ حِمَايَةً وَصِيَانَةً لَهُBisa jadi seseorang dilapangkan rezekinya sebagai bentuk penangguhan dan istidraj. Sebaliknya, bisa jadi seseorang disempitkan rezekinya sebagai bentuk perlindungan dan penjagaan untuk dirinya.وَضِيقُ الرِّزْقِ عَلَى عَبْدٍ مِنْ أَهْلِ الدِّينِ قَدْ يَكُونُ لِمَا لَهُ مِنْ ذُنُوبٍ وَخَطَايَاSempitnya rezeki yang dialami seorang hamba yang taat beragama terkadang juga disebabkan oleh dosa-dosa dan kesalahannya.Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama salaf,إنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar bisa terhalang dari rezeki karena dosa yang dilakukannya.”Dalam hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan:مَنْ أَكْثَرَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Siapa yang memperbanyak istigfar, Allah akan memberinya jalan keluar dari setiap kesusahan, kelapangan dari setiap kesempitan, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 16:53)Baca juga: Istidraj: Jebakan Berupa Limpahan Rezeki Karena Bermaksiat Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang mengukur keberhasilan hanya dari banyaknya harta dan kemewahan, padahal itu bukan ukuran kemuliaan di sisi Allah. Jangan mudah iri dengan rezeki orang lain, karena bisa jadi itu ujian yang berat baginya. Sebaliknya, jangan pula merasa rendah diri saat rezeki terasa sempit, karena bisa jadi itu bentuk penjagaan dari Allah. Fokuslah memperbaiki takwa dan memperbanyak istighfar, karena di situlah kunci keberkahan hidup.اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا رِزْقًا طَيِّبًا مُبَارَكًا، وَاكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَAllāhumma-rzuqnā rizqan ṭayyiban mubārakan, wakfinā biḥalālika ‘an ḥarāmika, wa aghninā bifaḍlika ‘amman siwāk.Ya Allah, karuniakan kepada kami rezeki yang baik dan penuh berkah, cukupkan kami dengan yang halal sehingga kami terhindar dari yang haram, dan jadikan kami merasa cukup dengan karunia-Mu dari selain-Mu. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Ibn Taymiyyah, A. ibn T. (2004). Majmū‘ al-fatāwā (A. ibn M. ibn Qāsim, Ed.; M. ibn ‘Abd al-Raḥmān ibn Qāsim, Assisting ed.). Majma‘ al-Malik Fahd li-Ṭibā‘at al-Muṣḥaf al-Sharīf. —– Selasa, 28 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsal fajr ath thalaq az zukhruf cinta dunia dunia vs akhirat istidraj istigfar pembuka pintu rezeki renungan ayat renungan quran rezeki tafsir quran takwa ujian hidup


Banyak orang mengira bahwa rezeki yang lapang adalah tanda kemuliaan, dan rezeki yang sempit adalah tanda kehinaan. Padahal, Al-Qur’an menjelaskan bahwa ukuran kemuliaan bukan pada banyaknya dunia yang dimiliki. Tulisan ini mengajak kita memahami bagaimana Allah mengatur rezeki dengan penuh hikmah dan kasih sayang. Ini adalah penenungan ayat dari juz ke-25, surah Az-Zukhruf.  Daftar Isi tutup 1. Dunia Tidak Bernilai di Sisi Allah 2. Kemewahan Dunia Hanya Kesenangan Sementara 3. Allah Menahan Dunia Demi Kebaikan Hamba 4. Nasihat Penutup  Dunia Tidak Bernilai di Sisi AllahAllah Ta’ala berfirman,وَلَوْلَآ أَن يَكُونَ ٱلنَّاسُ أُمَّةً وَٰحِدَةً لَّجَعَلْنَا لِمَن يَكْفُرُ بِٱلرَّحْمَٰنِ لِبُيُوتِهِمْ سُقُفًا مِّن فِضَّةٍ وَمَعَارِجَ عَلَيْهَا يَظْهَرُونَ“Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya.” (QS. Az-Zukhruf: 33)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini.Ayat ini menjelaskan bahwa dunia sama sekali tidak bernilai di sisi Allah. Kalaulah bukan karena kelembutan dan kasih sayang-Nya kepada para hamba, yang selalu Dia dahulukan, niscaya Allah akan melapangkan dunia dengan sangat luas bagi orang-orang kafir. Bahkan, Allah akan menjadikan atap-atap rumah mereka dari perak, dan juga tangga-tangga dari perak yang mereka gunakan untuk naik ke bagian atas rumah mereka.Baca juga: Orang Bertakwa Tidak Pernah Merasa Miskin Kemewahan Dunia Hanya Kesenangan SementaraAllah Ta’ala berfirman,وَلِبُيُوتِهِمْ أَبْوَٰبًا وَسُرُرًا عَلَيْهَا يَتَّكِـُٔونَ“Dan (Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan atasnya.”  (QS. Az-Zukhruf: 34)وَزُخْرُفًا ۚ وَإِن كُلُّ ذَٰلِكَ لَمَّا مَتَٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۚ وَٱلْءَاخِرَةُ عِندَ رَبِّكَ لِلْمُتَّقِينَ“Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 35)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini.Dan Allah juga akan menjadikan bagi mereka berbagai perhiasan (kemewahan), yaitu menghiasi dunia mereka dengan berbagai bentuk hiasan, serta memberikan apa saja yang mereka inginkan.Namun, Allah menahan semua itu karena rahmat-Nya kepada para hamba. Dia khawatir jika dunia dilapangkan secara berlebihan, manusia akan semakin cepat terjerumus dalam kekufuran dan semakin banyak melakukan maksiat karena terlalu mencintai dunia.Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa Allah terkadang menahan sebagian kenikmatan dunia dari hamba-Nya, baik secara umum maupun khusus, demi kebaikan mereka.Ini juga menunjukkan bahwa dunia tidak bernilai di sisi Allah, bahkan tidak sebanding dengan sayap seekor nyamuk. Semua yang disebutkan itu hanyalah kenikmatan sementara, yang penuh kekurangan, mengganggu, dan pasti akan lenyap.Adapun akhirat di sisi Allah jauh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu mereka yang menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena kenikmatan di akhirat itu sempurna dari segala sisi. Di dalam surga terdapat segala yang diinginkan oleh jiwa dan yang menyenangkan mata, dan mereka kekal di dalamnya.Betapa besar perbedaan antara kehidupan dunia dan akhirat.Baca juga: Orang Kafir Tidak Diberi Rezeki, Namun? Allah Menahan Dunia Demi Kebaikan HambaKetika menjelaskan ayat berikut ini,{ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا } { وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ }“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: وَأَهْلُ التَّقْوَى يَرْزُقُهُمْ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُونَ وَلَا يَكُونُ رِزْقُهُمْ بِأَسْبَابِ مُحَرَّمَةٍ وَلَا يَكُونُ خَبِيثًا وَالتَّقِيُّ لَا يُحْرَمُ مَا يَحْتَاجُ إلَيْهِ مِنْ الرِّزْقِ Orang-orang yang bertakwa akan diberi rezeki oleh Allah dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Rezeki mereka bukan berasal dari sebab-sebab yang haram, dan bukan pula rezeki yang buruk. Orang yang bertakwa tidak akan dihalangi dari rezeki yang benar-benar ia butuhkan. وَإِنَّمَا يُحْمَى مِنْ فُضُولِ الدُّنْيَا رَحْمَةً بِهِ وَإِحْسَانًا إلَيْهِ؛ فَإِنَّ تَوْسِيعَ الرِّزْقِ قَدْ يَكُونُ مَضَرَّةً عَلَى صَاحِبِهِ وَتَقْدِيرَهُ يَكُونُ رَحْمَةً لِصَاحِبِهِ.Hanya saja, terkadang ia dijauhkan dari kelebihan dunia, sebagai bentuk rahmat dan kebaikan Allah kepadanya. Sebab, dilapangkannya rezeki bisa jadi justru membahayakan pemiliknya, sedangkan disempitkannya rezeki bisa jadi merupakan rahmat bagi dirinya.Allah Ta’ala berfirman:{فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ} {وَأَمَّا إذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ} {كُلًّا}“Maka adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Adapun apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku.’ Sekali-kali tidak!” (QS. Al-Fajr: 15–17)Maksudnya, persoalannya tidak seperti itu. Tidak setiap orang yang dilapangkan rezekinya berarti dimuliakan, dan tidak setiap orang yang disempitkan rezekinya berarti dihinakan.بَلْ قَدْ يُوَسَّعُ عَلَيْهِ رِزْقُهُ إمْلَاءً وَاسْتِدْرَاجًا وَقَدْ يُقَدَّرُ عَلَيْهِ رِزْقُهُ حِمَايَةً وَصِيَانَةً لَهُBisa jadi seseorang dilapangkan rezekinya sebagai bentuk penangguhan dan istidraj. Sebaliknya, bisa jadi seseorang disempitkan rezekinya sebagai bentuk perlindungan dan penjagaan untuk dirinya.وَضِيقُ الرِّزْقِ عَلَى عَبْدٍ مِنْ أَهْلِ الدِّينِ قَدْ يَكُونُ لِمَا لَهُ مِنْ ذُنُوبٍ وَخَطَايَاSempitnya rezeki yang dialami seorang hamba yang taat beragama terkadang juga disebabkan oleh dosa-dosa dan kesalahannya.Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama salaf,إنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar bisa terhalang dari rezeki karena dosa yang dilakukannya.”Dalam hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan:مَنْ أَكْثَرَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Siapa yang memperbanyak istigfar, Allah akan memberinya jalan keluar dari setiap kesusahan, kelapangan dari setiap kesempitan, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 16:53)Baca juga: Istidraj: Jebakan Berupa Limpahan Rezeki Karena Bermaksiat Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang mengukur keberhasilan hanya dari banyaknya harta dan kemewahan, padahal itu bukan ukuran kemuliaan di sisi Allah. Jangan mudah iri dengan rezeki orang lain, karena bisa jadi itu ujian yang berat baginya. Sebaliknya, jangan pula merasa rendah diri saat rezeki terasa sempit, karena bisa jadi itu bentuk penjagaan dari Allah. Fokuslah memperbaiki takwa dan memperbanyak istighfar, karena di situlah kunci keberkahan hidup.اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا رِزْقًا طَيِّبًا مُبَارَكًا، وَاكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَAllāhumma-rzuqnā rizqan ṭayyiban mubārakan, wakfinā biḥalālika ‘an ḥarāmika, wa aghninā bifaḍlika ‘amman siwāk.Ya Allah, karuniakan kepada kami rezeki yang baik dan penuh berkah, cukupkan kami dengan yang halal sehingga kami terhindar dari yang haram, dan jadikan kami merasa cukup dengan karunia-Mu dari selain-Mu. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Ibn Taymiyyah, A. ibn T. (2004). Majmū‘ al-fatāwā (A. ibn M. ibn Qāsim, Ed.; M. ibn ‘Abd al-Raḥmān ibn Qāsim, Assisting ed.). Majma‘ al-Malik Fahd li-Ṭibā‘at al-Muṣḥaf al-Sharīf. —– Selasa, 28 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsal fajr ath thalaq az zukhruf cinta dunia dunia vs akhirat istidraj istigfar pembuka pintu rezeki renungan ayat renungan quran rezeki tafsir quran takwa ujian hidup

Ibnu Ummi Maktum: Sahabat Nabi yang Buta tetapi Tetap Berjuang untuk Islam

Di antara sahabat Nabi ﷺ terdapat sosok yang memiliki keterbatasan fisik, namun memiliki iman yang luar biasa kuat. Ia adalah Ibnu Ummi Maktum radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat yang buta tetapi memiliki kedudukan mulia dalam Islam. Kisah hidupnya mengajarkan bahwa keterbatasan tidak pernah menghalangi seseorang untuk berjuang di jalan Allah.  Daftar Isi tutup 1. Muazin Nabi yang Tunanetra 2. Turunnya Surah ‘Abasa karena Ibnu Ummi Maktum 3. Turunnya Ayat “Ghairu Ulī ad-Dharar” 4. Semangat Jihad Meski Memiliki Keterbatasan 5. Nasihat Penutup Ibnu Ummi Maktum diperselisihkan mengenai nama aslinya. Penduduk Madinah mengatakan bahwa namanya adalah Abdullah bin Qais bin Zaidah bin Al-Asham bin Rawahah Al-Qurasyi Al-‘Amiri.Adapun penduduk Irak menyebut namanya ‘Amr. Ibunya bernama Ummu Maktum, yaitu ‘Atikah binti ‘Abdullah bin ‘Ankatsah bin ‘Amir bin Makhzum bin Yaqazhah Al-Makhzumiyyah. Ia termasuk golongan orang-orang yang lebih dahulu masuk Islam dan berhijrah. Muazin Nabi yang TunanetraIa adalah seorang tunanetra dan menjadi muazin Rasulullah ﷺ bersama Bilal, Sa‘d Al-Qurazh, dan Abu Mahdzurah—yang menjadi muazin di Makkah.Ibnu Ummi Maktum berhijrah tidak lama setelah Perang Badar, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Sa‘d. Nabi ﷺ sangat menghormatinya dan pernah menunjuknya sebagai pengganti beliau di Madinah, sehingga ia memimpin salat bagi orang-orang yang tinggal di sana.Asy-Sya‘bi mengatakan bahwa Nabi ﷺ pernah menunjuk ‘Amr bin Ummi Maktum untuk memimpin manusia sebagai imam, padahal ia seorang yang buta. Hal itu disebut terjadi pada Perang Tabuk. Namun riwayat yang lebih kuat menyebutkan bahwa pada saat itu Nabi ﷺ sebenarnya menunjuk ‘Ali bin Abi Thalib sebagai pengganti beliau di Madinah. Qatadah mengatakan bahwa Nabi ﷺ dua kali menunjuk Ibnu Ummi Maktum sebagai pengganti beliau di Madinah, padahal ia seorang yang buta.Diriwayatkan pula dari Mujalid, dari Asy-Sya‘bi, bahwa Nabi ﷺ pernah menunjuk Ibnu Ummi Maktum sebagai pengganti beliau di Madinah pada Perang Badar. Namun riwayat ini bertentangan dengan riwayat sebelumnya. Hal ini juga bertentangan dengan hadis dari Abu Ishaq, dari Al-Bara’, yang mengatakan:Orang pertama yang datang kepada kami adalah Mush‘ab bin ‘Umair, kemudian setelah itu datang ‘Amr bin Ummi Maktum. Mereka berdua lalu mengajarkan Al-Qur’an kepada manusia.Dalam riwayat lain, Syu‘bah dari Abu Ishaq, dari Al-Bara’, ia berkata:Orang pertama yang datang kepada kami adalah Mush‘ab bin ‘Umair dan Ibnu Ummi Maktum, lalu keduanya mengajarkan Al-Qur’an kepada manusia.Diriwayatkan pula oleh Hammad bin Salamah, dari Abu Zhalal, ia berkata:Aku pernah berada di sisi Anas bin Malik, lalu ia bertanya kepadaku, “Kapan penglihatanmu hilang?” Aku menjawab, “Ketika aku masih kecil.” Maka ia berkata:Suatu ketika Jibril datang kepada Rasulullah ﷺ, sementara di sisi beliau ada Ibnu Ummi Maktum. Jibril bertanya kepadanya, “Sejak kapan engkau kehilangan penglihatan?” Ia menjawab, “Sejak aku masih kecil.”Lalu Jibril berkata, “Allah berfirman:Jika Aku mengambil sesuatu yang sangat dicintai dari hamba-Ku (yaitu penglihatannya), maka Aku tidak menemukan balasan yang layak baginya selain surga.”‘Aisyah radhiyallahu ‘anha juga berkata:Ibnu Ummi Maktum adalah muazin Rasulullah ﷺ, padahal ia seorang yang buta.Diriwayatkan oleh Hajjaj bin Arthah, dari seorang syekh, dari sebagian muazin Rasulullah ﷺ, ia berkata:Bilal biasa mengumandangkan azan, sedangkan Ibnu Ummi Maktum yang mengumandangkan iqamah. Kadang-kadang Ibnu Ummi Maktum yang azan dan Bilal yang iqamah. Namun sanad riwayat ini lemah.Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:إِنَّ بِلَالًا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ، فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُنَادِيَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ“Sesungguhnya Bilal mengumandangkan azan pada malam hari, maka makan dan minumlah kalian sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan azan.”Ibnu Ummi Maktum adalah seorang yang buta. Ia tidak mengumandangkan azan sampai ada yang mengatakan kepadanya, “Sudah pagi, sudah pagi.” Turunnya Surah ‘Abasa karena Ibnu Ummi MaktumUrwah berkata:Suatu ketika Nabi ﷺ sedang bersama beberapa tokoh Quraisy, di antaranya Utbah bin Rabi‘ah. Lalu datanglah Ibnu Ummi Maktum menanyakan sesuatu kepada beliau. Nabi ﷺ berpaling darinya. Maka Allah menurunkan firman-Nya:عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ ۝ أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena seorang buta telah datang kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 1–2)Al-Waqidi meriwayatkan dari Ubaidullah bin Nuh, dari Muhammad bin Sahl bin Abi Hatsmah, ia berkata:Rasulullah ﷺ pernah menunjuk Ibnu Ummi Maktum sebagai pengganti beliau di Madinah. Ia mengumpulkan manusia untuk salat dan berkhutbah di dekat mimbar, dengan posisi mimbar di sebelah kirinya.Yunus bin Abi Ishaq meriwayatkan dari ayahnya, dari Abdullah bin Ma‘qal, ia berkata:Ibnu Ummi Maktum pernah tinggal di rumah seorang wanita Yahudi di Madinah yang dahulu bersikap baik kepadanya, tetapi kemudian wanita itu mencela Nabi ﷺ. Maka Ibnu Ummi Maktum memukulnya hingga wanita itu meninggal. Perkara itu dilaporkan kepada Nabi ﷺ. Ibnu Ummi Maktum berkata:“Demi Allah, dahulu ia memang baik kepadaku, tetapi ia telah menyakiti aku karena Allah dan Rasul-Nya.”Maka Nabi ﷺ bersabda:“Semoga Allah menjauhkannya. Darahnya tidak dituntut.”Abu Ishaq meriwayatkan dari Al-Bara’, ia berkata:Ketika turun ayat:لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ“Tidaklah sama orang-orang yang duduk (tidak ikut berjihad)…” Turunnya Ayat “Ghairu Ulī ad-Dharar”Nabi ﷺ memanggil Zaid dan memerintahkannya menulis ayat itu. Zaid datang membawa sepotong tulang bahu untuk menuliskannya. Lalu datang Ibnu Ummi Maktum, mengadukan kebutaannya. Maka turunlah tambahan ayat:غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ“kecuali orang-orang yang memiliki uzur.”Tsabit Al-Bunani meriwayatkan dari Ibnu Abi Laila bahwa Ibnu Ummi Maktum pernah berdoa:“Wahai Rabbku, turunkanlah alasan pembebasanku.”Lalu turun ayat:غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِSetelah itu ia tetap ingin ikut berjihad dan berkata:“Amanahkan kepadaku panji perang. Aku ini buta, sehingga tidak bisa melarikan diri. Tempatkan aku di antara dua barisan.”Abdurrahman bin Abi Az-Zinad meriwayatkan dari ayahnya, dari Kharijah bin Zaid, dari ayahnya, ia berkata:Aku berada di samping Nabi ﷺ ketika wahyu turun kepada beliau. Saat itu paha beliau menekan pahaku dan aku tidak pernah merasakan sesuatu yang lebih berat darinya. Setelah wahyu selesai, beliau bersabda:“Tulislah.”Lalu aku menulis pada tulang bahu:لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُجَاهِدُونَKemudian ‘Amr bin Ummi Maktum berdiri dan berkata:“Bagaimana dengan orang yang tidak mampu?”Belum selesai ucapannya, wahyu kembali turun kepada Nabi ﷺ. Setelah selesai, beliau bersabda:“Tulislah:”غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِZaid berkata:Ayat itu diturunkan secara khusus sebagai tambahan, seakan-akan aku masih melihat tempat penyisipannya pada tulang bahu yang retak itu. Semangat Jihad Meski Memiliki KeterbatasanIbnu Abi ‘Arubah meriwayatkan dari Qatadah, dari Anas, bahwa Abdullah bin Ummi Maktum pada Perang Qadisiyah membawa bendera hitam, dan ia mengenakan baju perang.Dalam riwayat Abu Hilal, dari Qatadah, dari Anas disebutkan:Abdullah bin Zaidah, yaitu Ibnu Ummi Maktum, ikut berperang pada hari Qadisiyah dengan mengenakan baju perang yang kuat dan lengkap.Al-Waqidi berkata:Ibnu Ummi Maktum ikut dalam Perang Qadisiyah dengan membawa panji. Setelah itu ia kembali ke Madinah dan wafat di sana. Tidak ada lagi berita tentangnya setelah masa Umar.Namun ada juga pendapat yang mengatakan bahwa ia gugur sebagai syahid dalam Perang Qadisiyah.Hadis darinya diriwayatkan secara mursal oleh Abdurrahman bin Abi Laila dan juga oleh Abu Razin Al-Asadi serta yang lainnya.Adapun Perang Qadisiyah adalah peperangan besar yang terjadi di Irak. Pasukan kaum Muslimin dipimpin oleh Sa‘d bin Abi Waqqash, sedangkan pasukan Persia dipimpin oleh Rustam, Dzu Al-Hajib, dan Jalinus.Abu Wa’il berkata:Jumlah pasukan kaum Muslimin sekitar lebih dari tujuh ribu orang, sedangkan musuh berjumlah empat puluh ribu, bahkan ada yang mengatakan enam puluh ribu orang, dan mereka membawa tujuh puluh ekor gajah.Al-Mada’ini mengatakan:Pertempuran berlangsung selama tiga hari, pada akhir bulan Syawal tahun 15 H. Dalam perang itu Rustam terbunuh, lalu pasukan Persia mengalami kekalahan dan melarikan diri. Nasihat PenutupKisah Ibnu Ummi Maktum mengajarkan kepada kita bahwa nilai seorang hamba tidak diukur dari kondisi fisiknya, tetapi dari keimanan dan kesungguhannya dalam mencari hidayah. Di zaman sekarang, banyak orang yang memiliki tubuh sehat dan kesempatan luas, tetapi justru lalai dari ilmu dan ibadah.Semoga kisah sahabat mulia ini mendorong kita untuk lebih semangat dalam menuntut ilmu, beribadah, dan berjuang untuk agama Allah sesuai kemampuan kita.اللهم ارزقنا حب الإيمان، وثبت قلوبنا على طاعتك، واجعلنا من عبادك الصالحين.“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami kecintaan kepada iman, teguhkan hati kami di atas ketaatan kepada-Mu, dan jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang saleh.” Sumber rujukan: Siyar A’lam An-Nubala’ dari Islamweb —– Senin, 27 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsIbnu Ummi Maktum jihad sahabat Nabi kisah inspiratif sahabat kisah sahabat nabi muazin Rasulullah perang Qadisiyah sahabat nabi sahabat tunanetra sejarah sahabat tafsir surah Abasa

Ibnu Ummi Maktum: Sahabat Nabi yang Buta tetapi Tetap Berjuang untuk Islam

Di antara sahabat Nabi ﷺ terdapat sosok yang memiliki keterbatasan fisik, namun memiliki iman yang luar biasa kuat. Ia adalah Ibnu Ummi Maktum radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat yang buta tetapi memiliki kedudukan mulia dalam Islam. Kisah hidupnya mengajarkan bahwa keterbatasan tidak pernah menghalangi seseorang untuk berjuang di jalan Allah.  Daftar Isi tutup 1. Muazin Nabi yang Tunanetra 2. Turunnya Surah ‘Abasa karena Ibnu Ummi Maktum 3. Turunnya Ayat “Ghairu Ulī ad-Dharar” 4. Semangat Jihad Meski Memiliki Keterbatasan 5. Nasihat Penutup Ibnu Ummi Maktum diperselisihkan mengenai nama aslinya. Penduduk Madinah mengatakan bahwa namanya adalah Abdullah bin Qais bin Zaidah bin Al-Asham bin Rawahah Al-Qurasyi Al-‘Amiri.Adapun penduduk Irak menyebut namanya ‘Amr. Ibunya bernama Ummu Maktum, yaitu ‘Atikah binti ‘Abdullah bin ‘Ankatsah bin ‘Amir bin Makhzum bin Yaqazhah Al-Makhzumiyyah. Ia termasuk golongan orang-orang yang lebih dahulu masuk Islam dan berhijrah. Muazin Nabi yang TunanetraIa adalah seorang tunanetra dan menjadi muazin Rasulullah ﷺ bersama Bilal, Sa‘d Al-Qurazh, dan Abu Mahdzurah—yang menjadi muazin di Makkah.Ibnu Ummi Maktum berhijrah tidak lama setelah Perang Badar, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Sa‘d. Nabi ﷺ sangat menghormatinya dan pernah menunjuknya sebagai pengganti beliau di Madinah, sehingga ia memimpin salat bagi orang-orang yang tinggal di sana.Asy-Sya‘bi mengatakan bahwa Nabi ﷺ pernah menunjuk ‘Amr bin Ummi Maktum untuk memimpin manusia sebagai imam, padahal ia seorang yang buta. Hal itu disebut terjadi pada Perang Tabuk. Namun riwayat yang lebih kuat menyebutkan bahwa pada saat itu Nabi ﷺ sebenarnya menunjuk ‘Ali bin Abi Thalib sebagai pengganti beliau di Madinah. Qatadah mengatakan bahwa Nabi ﷺ dua kali menunjuk Ibnu Ummi Maktum sebagai pengganti beliau di Madinah, padahal ia seorang yang buta.Diriwayatkan pula dari Mujalid, dari Asy-Sya‘bi, bahwa Nabi ﷺ pernah menunjuk Ibnu Ummi Maktum sebagai pengganti beliau di Madinah pada Perang Badar. Namun riwayat ini bertentangan dengan riwayat sebelumnya. Hal ini juga bertentangan dengan hadis dari Abu Ishaq, dari Al-Bara’, yang mengatakan:Orang pertama yang datang kepada kami adalah Mush‘ab bin ‘Umair, kemudian setelah itu datang ‘Amr bin Ummi Maktum. Mereka berdua lalu mengajarkan Al-Qur’an kepada manusia.Dalam riwayat lain, Syu‘bah dari Abu Ishaq, dari Al-Bara’, ia berkata:Orang pertama yang datang kepada kami adalah Mush‘ab bin ‘Umair dan Ibnu Ummi Maktum, lalu keduanya mengajarkan Al-Qur’an kepada manusia.Diriwayatkan pula oleh Hammad bin Salamah, dari Abu Zhalal, ia berkata:Aku pernah berada di sisi Anas bin Malik, lalu ia bertanya kepadaku, “Kapan penglihatanmu hilang?” Aku menjawab, “Ketika aku masih kecil.” Maka ia berkata:Suatu ketika Jibril datang kepada Rasulullah ﷺ, sementara di sisi beliau ada Ibnu Ummi Maktum. Jibril bertanya kepadanya, “Sejak kapan engkau kehilangan penglihatan?” Ia menjawab, “Sejak aku masih kecil.”Lalu Jibril berkata, “Allah berfirman:Jika Aku mengambil sesuatu yang sangat dicintai dari hamba-Ku (yaitu penglihatannya), maka Aku tidak menemukan balasan yang layak baginya selain surga.”‘Aisyah radhiyallahu ‘anha juga berkata:Ibnu Ummi Maktum adalah muazin Rasulullah ﷺ, padahal ia seorang yang buta.Diriwayatkan oleh Hajjaj bin Arthah, dari seorang syekh, dari sebagian muazin Rasulullah ﷺ, ia berkata:Bilal biasa mengumandangkan azan, sedangkan Ibnu Ummi Maktum yang mengumandangkan iqamah. Kadang-kadang Ibnu Ummi Maktum yang azan dan Bilal yang iqamah. Namun sanad riwayat ini lemah.Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:إِنَّ بِلَالًا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ، فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُنَادِيَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ“Sesungguhnya Bilal mengumandangkan azan pada malam hari, maka makan dan minumlah kalian sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan azan.”Ibnu Ummi Maktum adalah seorang yang buta. Ia tidak mengumandangkan azan sampai ada yang mengatakan kepadanya, “Sudah pagi, sudah pagi.” Turunnya Surah ‘Abasa karena Ibnu Ummi MaktumUrwah berkata:Suatu ketika Nabi ﷺ sedang bersama beberapa tokoh Quraisy, di antaranya Utbah bin Rabi‘ah. Lalu datanglah Ibnu Ummi Maktum menanyakan sesuatu kepada beliau. Nabi ﷺ berpaling darinya. Maka Allah menurunkan firman-Nya:عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ ۝ أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena seorang buta telah datang kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 1–2)Al-Waqidi meriwayatkan dari Ubaidullah bin Nuh, dari Muhammad bin Sahl bin Abi Hatsmah, ia berkata:Rasulullah ﷺ pernah menunjuk Ibnu Ummi Maktum sebagai pengganti beliau di Madinah. Ia mengumpulkan manusia untuk salat dan berkhutbah di dekat mimbar, dengan posisi mimbar di sebelah kirinya.Yunus bin Abi Ishaq meriwayatkan dari ayahnya, dari Abdullah bin Ma‘qal, ia berkata:Ibnu Ummi Maktum pernah tinggal di rumah seorang wanita Yahudi di Madinah yang dahulu bersikap baik kepadanya, tetapi kemudian wanita itu mencela Nabi ﷺ. Maka Ibnu Ummi Maktum memukulnya hingga wanita itu meninggal. Perkara itu dilaporkan kepada Nabi ﷺ. Ibnu Ummi Maktum berkata:“Demi Allah, dahulu ia memang baik kepadaku, tetapi ia telah menyakiti aku karena Allah dan Rasul-Nya.”Maka Nabi ﷺ bersabda:“Semoga Allah menjauhkannya. Darahnya tidak dituntut.”Abu Ishaq meriwayatkan dari Al-Bara’, ia berkata:Ketika turun ayat:لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ“Tidaklah sama orang-orang yang duduk (tidak ikut berjihad)…” Turunnya Ayat “Ghairu Ulī ad-Dharar”Nabi ﷺ memanggil Zaid dan memerintahkannya menulis ayat itu. Zaid datang membawa sepotong tulang bahu untuk menuliskannya. Lalu datang Ibnu Ummi Maktum, mengadukan kebutaannya. Maka turunlah tambahan ayat:غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ“kecuali orang-orang yang memiliki uzur.”Tsabit Al-Bunani meriwayatkan dari Ibnu Abi Laila bahwa Ibnu Ummi Maktum pernah berdoa:“Wahai Rabbku, turunkanlah alasan pembebasanku.”Lalu turun ayat:غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِSetelah itu ia tetap ingin ikut berjihad dan berkata:“Amanahkan kepadaku panji perang. Aku ini buta, sehingga tidak bisa melarikan diri. Tempatkan aku di antara dua barisan.”Abdurrahman bin Abi Az-Zinad meriwayatkan dari ayahnya, dari Kharijah bin Zaid, dari ayahnya, ia berkata:Aku berada di samping Nabi ﷺ ketika wahyu turun kepada beliau. Saat itu paha beliau menekan pahaku dan aku tidak pernah merasakan sesuatu yang lebih berat darinya. Setelah wahyu selesai, beliau bersabda:“Tulislah.”Lalu aku menulis pada tulang bahu:لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُجَاهِدُونَKemudian ‘Amr bin Ummi Maktum berdiri dan berkata:“Bagaimana dengan orang yang tidak mampu?”Belum selesai ucapannya, wahyu kembali turun kepada Nabi ﷺ. Setelah selesai, beliau bersabda:“Tulislah:”غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِZaid berkata:Ayat itu diturunkan secara khusus sebagai tambahan, seakan-akan aku masih melihat tempat penyisipannya pada tulang bahu yang retak itu. Semangat Jihad Meski Memiliki KeterbatasanIbnu Abi ‘Arubah meriwayatkan dari Qatadah, dari Anas, bahwa Abdullah bin Ummi Maktum pada Perang Qadisiyah membawa bendera hitam, dan ia mengenakan baju perang.Dalam riwayat Abu Hilal, dari Qatadah, dari Anas disebutkan:Abdullah bin Zaidah, yaitu Ibnu Ummi Maktum, ikut berperang pada hari Qadisiyah dengan mengenakan baju perang yang kuat dan lengkap.Al-Waqidi berkata:Ibnu Ummi Maktum ikut dalam Perang Qadisiyah dengan membawa panji. Setelah itu ia kembali ke Madinah dan wafat di sana. Tidak ada lagi berita tentangnya setelah masa Umar.Namun ada juga pendapat yang mengatakan bahwa ia gugur sebagai syahid dalam Perang Qadisiyah.Hadis darinya diriwayatkan secara mursal oleh Abdurrahman bin Abi Laila dan juga oleh Abu Razin Al-Asadi serta yang lainnya.Adapun Perang Qadisiyah adalah peperangan besar yang terjadi di Irak. Pasukan kaum Muslimin dipimpin oleh Sa‘d bin Abi Waqqash, sedangkan pasukan Persia dipimpin oleh Rustam, Dzu Al-Hajib, dan Jalinus.Abu Wa’il berkata:Jumlah pasukan kaum Muslimin sekitar lebih dari tujuh ribu orang, sedangkan musuh berjumlah empat puluh ribu, bahkan ada yang mengatakan enam puluh ribu orang, dan mereka membawa tujuh puluh ekor gajah.Al-Mada’ini mengatakan:Pertempuran berlangsung selama tiga hari, pada akhir bulan Syawal tahun 15 H. Dalam perang itu Rustam terbunuh, lalu pasukan Persia mengalami kekalahan dan melarikan diri. Nasihat PenutupKisah Ibnu Ummi Maktum mengajarkan kepada kita bahwa nilai seorang hamba tidak diukur dari kondisi fisiknya, tetapi dari keimanan dan kesungguhannya dalam mencari hidayah. Di zaman sekarang, banyak orang yang memiliki tubuh sehat dan kesempatan luas, tetapi justru lalai dari ilmu dan ibadah.Semoga kisah sahabat mulia ini mendorong kita untuk lebih semangat dalam menuntut ilmu, beribadah, dan berjuang untuk agama Allah sesuai kemampuan kita.اللهم ارزقنا حب الإيمان، وثبت قلوبنا على طاعتك، واجعلنا من عبادك الصالحين.“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami kecintaan kepada iman, teguhkan hati kami di atas ketaatan kepada-Mu, dan jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang saleh.” Sumber rujukan: Siyar A’lam An-Nubala’ dari Islamweb —– Senin, 27 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsIbnu Ummi Maktum jihad sahabat Nabi kisah inspiratif sahabat kisah sahabat nabi muazin Rasulullah perang Qadisiyah sahabat nabi sahabat tunanetra sejarah sahabat tafsir surah Abasa
Di antara sahabat Nabi ﷺ terdapat sosok yang memiliki keterbatasan fisik, namun memiliki iman yang luar biasa kuat. Ia adalah Ibnu Ummi Maktum radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat yang buta tetapi memiliki kedudukan mulia dalam Islam. Kisah hidupnya mengajarkan bahwa keterbatasan tidak pernah menghalangi seseorang untuk berjuang di jalan Allah.  Daftar Isi tutup 1. Muazin Nabi yang Tunanetra 2. Turunnya Surah ‘Abasa karena Ibnu Ummi Maktum 3. Turunnya Ayat “Ghairu Ulī ad-Dharar” 4. Semangat Jihad Meski Memiliki Keterbatasan 5. Nasihat Penutup Ibnu Ummi Maktum diperselisihkan mengenai nama aslinya. Penduduk Madinah mengatakan bahwa namanya adalah Abdullah bin Qais bin Zaidah bin Al-Asham bin Rawahah Al-Qurasyi Al-‘Amiri.Adapun penduduk Irak menyebut namanya ‘Amr. Ibunya bernama Ummu Maktum, yaitu ‘Atikah binti ‘Abdullah bin ‘Ankatsah bin ‘Amir bin Makhzum bin Yaqazhah Al-Makhzumiyyah. Ia termasuk golongan orang-orang yang lebih dahulu masuk Islam dan berhijrah. Muazin Nabi yang TunanetraIa adalah seorang tunanetra dan menjadi muazin Rasulullah ﷺ bersama Bilal, Sa‘d Al-Qurazh, dan Abu Mahdzurah—yang menjadi muazin di Makkah.Ibnu Ummi Maktum berhijrah tidak lama setelah Perang Badar, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Sa‘d. Nabi ﷺ sangat menghormatinya dan pernah menunjuknya sebagai pengganti beliau di Madinah, sehingga ia memimpin salat bagi orang-orang yang tinggal di sana.Asy-Sya‘bi mengatakan bahwa Nabi ﷺ pernah menunjuk ‘Amr bin Ummi Maktum untuk memimpin manusia sebagai imam, padahal ia seorang yang buta. Hal itu disebut terjadi pada Perang Tabuk. Namun riwayat yang lebih kuat menyebutkan bahwa pada saat itu Nabi ﷺ sebenarnya menunjuk ‘Ali bin Abi Thalib sebagai pengganti beliau di Madinah. Qatadah mengatakan bahwa Nabi ﷺ dua kali menunjuk Ibnu Ummi Maktum sebagai pengganti beliau di Madinah, padahal ia seorang yang buta.Diriwayatkan pula dari Mujalid, dari Asy-Sya‘bi, bahwa Nabi ﷺ pernah menunjuk Ibnu Ummi Maktum sebagai pengganti beliau di Madinah pada Perang Badar. Namun riwayat ini bertentangan dengan riwayat sebelumnya. Hal ini juga bertentangan dengan hadis dari Abu Ishaq, dari Al-Bara’, yang mengatakan:Orang pertama yang datang kepada kami adalah Mush‘ab bin ‘Umair, kemudian setelah itu datang ‘Amr bin Ummi Maktum. Mereka berdua lalu mengajarkan Al-Qur’an kepada manusia.Dalam riwayat lain, Syu‘bah dari Abu Ishaq, dari Al-Bara’, ia berkata:Orang pertama yang datang kepada kami adalah Mush‘ab bin ‘Umair dan Ibnu Ummi Maktum, lalu keduanya mengajarkan Al-Qur’an kepada manusia.Diriwayatkan pula oleh Hammad bin Salamah, dari Abu Zhalal, ia berkata:Aku pernah berada di sisi Anas bin Malik, lalu ia bertanya kepadaku, “Kapan penglihatanmu hilang?” Aku menjawab, “Ketika aku masih kecil.” Maka ia berkata:Suatu ketika Jibril datang kepada Rasulullah ﷺ, sementara di sisi beliau ada Ibnu Ummi Maktum. Jibril bertanya kepadanya, “Sejak kapan engkau kehilangan penglihatan?” Ia menjawab, “Sejak aku masih kecil.”Lalu Jibril berkata, “Allah berfirman:Jika Aku mengambil sesuatu yang sangat dicintai dari hamba-Ku (yaitu penglihatannya), maka Aku tidak menemukan balasan yang layak baginya selain surga.”‘Aisyah radhiyallahu ‘anha juga berkata:Ibnu Ummi Maktum adalah muazin Rasulullah ﷺ, padahal ia seorang yang buta.Diriwayatkan oleh Hajjaj bin Arthah, dari seorang syekh, dari sebagian muazin Rasulullah ﷺ, ia berkata:Bilal biasa mengumandangkan azan, sedangkan Ibnu Ummi Maktum yang mengumandangkan iqamah. Kadang-kadang Ibnu Ummi Maktum yang azan dan Bilal yang iqamah. Namun sanad riwayat ini lemah.Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:إِنَّ بِلَالًا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ، فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُنَادِيَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ“Sesungguhnya Bilal mengumandangkan azan pada malam hari, maka makan dan minumlah kalian sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan azan.”Ibnu Ummi Maktum adalah seorang yang buta. Ia tidak mengumandangkan azan sampai ada yang mengatakan kepadanya, “Sudah pagi, sudah pagi.” Turunnya Surah ‘Abasa karena Ibnu Ummi MaktumUrwah berkata:Suatu ketika Nabi ﷺ sedang bersama beberapa tokoh Quraisy, di antaranya Utbah bin Rabi‘ah. Lalu datanglah Ibnu Ummi Maktum menanyakan sesuatu kepada beliau. Nabi ﷺ berpaling darinya. Maka Allah menurunkan firman-Nya:عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ ۝ أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena seorang buta telah datang kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 1–2)Al-Waqidi meriwayatkan dari Ubaidullah bin Nuh, dari Muhammad bin Sahl bin Abi Hatsmah, ia berkata:Rasulullah ﷺ pernah menunjuk Ibnu Ummi Maktum sebagai pengganti beliau di Madinah. Ia mengumpulkan manusia untuk salat dan berkhutbah di dekat mimbar, dengan posisi mimbar di sebelah kirinya.Yunus bin Abi Ishaq meriwayatkan dari ayahnya, dari Abdullah bin Ma‘qal, ia berkata:Ibnu Ummi Maktum pernah tinggal di rumah seorang wanita Yahudi di Madinah yang dahulu bersikap baik kepadanya, tetapi kemudian wanita itu mencela Nabi ﷺ. Maka Ibnu Ummi Maktum memukulnya hingga wanita itu meninggal. Perkara itu dilaporkan kepada Nabi ﷺ. Ibnu Ummi Maktum berkata:“Demi Allah, dahulu ia memang baik kepadaku, tetapi ia telah menyakiti aku karena Allah dan Rasul-Nya.”Maka Nabi ﷺ bersabda:“Semoga Allah menjauhkannya. Darahnya tidak dituntut.”Abu Ishaq meriwayatkan dari Al-Bara’, ia berkata:Ketika turun ayat:لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ“Tidaklah sama orang-orang yang duduk (tidak ikut berjihad)…” Turunnya Ayat “Ghairu Ulī ad-Dharar”Nabi ﷺ memanggil Zaid dan memerintahkannya menulis ayat itu. Zaid datang membawa sepotong tulang bahu untuk menuliskannya. Lalu datang Ibnu Ummi Maktum, mengadukan kebutaannya. Maka turunlah tambahan ayat:غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ“kecuali orang-orang yang memiliki uzur.”Tsabit Al-Bunani meriwayatkan dari Ibnu Abi Laila bahwa Ibnu Ummi Maktum pernah berdoa:“Wahai Rabbku, turunkanlah alasan pembebasanku.”Lalu turun ayat:غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِSetelah itu ia tetap ingin ikut berjihad dan berkata:“Amanahkan kepadaku panji perang. Aku ini buta, sehingga tidak bisa melarikan diri. Tempatkan aku di antara dua barisan.”Abdurrahman bin Abi Az-Zinad meriwayatkan dari ayahnya, dari Kharijah bin Zaid, dari ayahnya, ia berkata:Aku berada di samping Nabi ﷺ ketika wahyu turun kepada beliau. Saat itu paha beliau menekan pahaku dan aku tidak pernah merasakan sesuatu yang lebih berat darinya. Setelah wahyu selesai, beliau bersabda:“Tulislah.”Lalu aku menulis pada tulang bahu:لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُجَاهِدُونَKemudian ‘Amr bin Ummi Maktum berdiri dan berkata:“Bagaimana dengan orang yang tidak mampu?”Belum selesai ucapannya, wahyu kembali turun kepada Nabi ﷺ. Setelah selesai, beliau bersabda:“Tulislah:”غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِZaid berkata:Ayat itu diturunkan secara khusus sebagai tambahan, seakan-akan aku masih melihat tempat penyisipannya pada tulang bahu yang retak itu. Semangat Jihad Meski Memiliki KeterbatasanIbnu Abi ‘Arubah meriwayatkan dari Qatadah, dari Anas, bahwa Abdullah bin Ummi Maktum pada Perang Qadisiyah membawa bendera hitam, dan ia mengenakan baju perang.Dalam riwayat Abu Hilal, dari Qatadah, dari Anas disebutkan:Abdullah bin Zaidah, yaitu Ibnu Ummi Maktum, ikut berperang pada hari Qadisiyah dengan mengenakan baju perang yang kuat dan lengkap.Al-Waqidi berkata:Ibnu Ummi Maktum ikut dalam Perang Qadisiyah dengan membawa panji. Setelah itu ia kembali ke Madinah dan wafat di sana. Tidak ada lagi berita tentangnya setelah masa Umar.Namun ada juga pendapat yang mengatakan bahwa ia gugur sebagai syahid dalam Perang Qadisiyah.Hadis darinya diriwayatkan secara mursal oleh Abdurrahman bin Abi Laila dan juga oleh Abu Razin Al-Asadi serta yang lainnya.Adapun Perang Qadisiyah adalah peperangan besar yang terjadi di Irak. Pasukan kaum Muslimin dipimpin oleh Sa‘d bin Abi Waqqash, sedangkan pasukan Persia dipimpin oleh Rustam, Dzu Al-Hajib, dan Jalinus.Abu Wa’il berkata:Jumlah pasukan kaum Muslimin sekitar lebih dari tujuh ribu orang, sedangkan musuh berjumlah empat puluh ribu, bahkan ada yang mengatakan enam puluh ribu orang, dan mereka membawa tujuh puluh ekor gajah.Al-Mada’ini mengatakan:Pertempuran berlangsung selama tiga hari, pada akhir bulan Syawal tahun 15 H. Dalam perang itu Rustam terbunuh, lalu pasukan Persia mengalami kekalahan dan melarikan diri. Nasihat PenutupKisah Ibnu Ummi Maktum mengajarkan kepada kita bahwa nilai seorang hamba tidak diukur dari kondisi fisiknya, tetapi dari keimanan dan kesungguhannya dalam mencari hidayah. Di zaman sekarang, banyak orang yang memiliki tubuh sehat dan kesempatan luas, tetapi justru lalai dari ilmu dan ibadah.Semoga kisah sahabat mulia ini mendorong kita untuk lebih semangat dalam menuntut ilmu, beribadah, dan berjuang untuk agama Allah sesuai kemampuan kita.اللهم ارزقنا حب الإيمان، وثبت قلوبنا على طاعتك، واجعلنا من عبادك الصالحين.“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami kecintaan kepada iman, teguhkan hati kami di atas ketaatan kepada-Mu, dan jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang saleh.” Sumber rujukan: Siyar A’lam An-Nubala’ dari Islamweb —– Senin, 27 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsIbnu Ummi Maktum jihad sahabat Nabi kisah inspiratif sahabat kisah sahabat nabi muazin Rasulullah perang Qadisiyah sahabat nabi sahabat tunanetra sejarah sahabat tafsir surah Abasa


Di antara sahabat Nabi ﷺ terdapat sosok yang memiliki keterbatasan fisik, namun memiliki iman yang luar biasa kuat. Ia adalah Ibnu Ummi Maktum radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat yang buta tetapi memiliki kedudukan mulia dalam Islam. Kisah hidupnya mengajarkan bahwa keterbatasan tidak pernah menghalangi seseorang untuk berjuang di jalan Allah.  Daftar Isi tutup 1. Muazin Nabi yang Tunanetra 2. Turunnya Surah ‘Abasa karena Ibnu Ummi Maktum 3. Turunnya Ayat “Ghairu Ulī ad-Dharar” 4. Semangat Jihad Meski Memiliki Keterbatasan 5. Nasihat Penutup Ibnu Ummi Maktum diperselisihkan mengenai nama aslinya. Penduduk Madinah mengatakan bahwa namanya adalah Abdullah bin Qais bin Zaidah bin Al-Asham bin Rawahah Al-Qurasyi Al-‘Amiri.Adapun penduduk Irak menyebut namanya ‘Amr. Ibunya bernama Ummu Maktum, yaitu ‘Atikah binti ‘Abdullah bin ‘Ankatsah bin ‘Amir bin Makhzum bin Yaqazhah Al-Makhzumiyyah. Ia termasuk golongan orang-orang yang lebih dahulu masuk Islam dan berhijrah. Muazin Nabi yang TunanetraIa adalah seorang tunanetra dan menjadi muazin Rasulullah ﷺ bersama Bilal, Sa‘d Al-Qurazh, dan Abu Mahdzurah—yang menjadi muazin di Makkah.Ibnu Ummi Maktum berhijrah tidak lama setelah Perang Badar, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Sa‘d. Nabi ﷺ sangat menghormatinya dan pernah menunjuknya sebagai pengganti beliau di Madinah, sehingga ia memimpin salat bagi orang-orang yang tinggal di sana.Asy-Sya‘bi mengatakan bahwa Nabi ﷺ pernah menunjuk ‘Amr bin Ummi Maktum untuk memimpin manusia sebagai imam, padahal ia seorang yang buta. Hal itu disebut terjadi pada Perang Tabuk. Namun riwayat yang lebih kuat menyebutkan bahwa pada saat itu Nabi ﷺ sebenarnya menunjuk ‘Ali bin Abi Thalib sebagai pengganti beliau di Madinah. Qatadah mengatakan bahwa Nabi ﷺ dua kali menunjuk Ibnu Ummi Maktum sebagai pengganti beliau di Madinah, padahal ia seorang yang buta.Diriwayatkan pula dari Mujalid, dari Asy-Sya‘bi, bahwa Nabi ﷺ pernah menunjuk Ibnu Ummi Maktum sebagai pengganti beliau di Madinah pada Perang Badar. Namun riwayat ini bertentangan dengan riwayat sebelumnya. Hal ini juga bertentangan dengan hadis dari Abu Ishaq, dari Al-Bara’, yang mengatakan:Orang pertama yang datang kepada kami adalah Mush‘ab bin ‘Umair, kemudian setelah itu datang ‘Amr bin Ummi Maktum. Mereka berdua lalu mengajarkan Al-Qur’an kepada manusia.Dalam riwayat lain, Syu‘bah dari Abu Ishaq, dari Al-Bara’, ia berkata:Orang pertama yang datang kepada kami adalah Mush‘ab bin ‘Umair dan Ibnu Ummi Maktum, lalu keduanya mengajarkan Al-Qur’an kepada manusia.Diriwayatkan pula oleh Hammad bin Salamah, dari Abu Zhalal, ia berkata:Aku pernah berada di sisi Anas bin Malik, lalu ia bertanya kepadaku, “Kapan penglihatanmu hilang?” Aku menjawab, “Ketika aku masih kecil.” Maka ia berkata:Suatu ketika Jibril datang kepada Rasulullah ﷺ, sementara di sisi beliau ada Ibnu Ummi Maktum. Jibril bertanya kepadanya, “Sejak kapan engkau kehilangan penglihatan?” Ia menjawab, “Sejak aku masih kecil.”Lalu Jibril berkata, “Allah berfirman:Jika Aku mengambil sesuatu yang sangat dicintai dari hamba-Ku (yaitu penglihatannya), maka Aku tidak menemukan balasan yang layak baginya selain surga.”‘Aisyah radhiyallahu ‘anha juga berkata:Ibnu Ummi Maktum adalah muazin Rasulullah ﷺ, padahal ia seorang yang buta.Diriwayatkan oleh Hajjaj bin Arthah, dari seorang syekh, dari sebagian muazin Rasulullah ﷺ, ia berkata:Bilal biasa mengumandangkan azan, sedangkan Ibnu Ummi Maktum yang mengumandangkan iqamah. Kadang-kadang Ibnu Ummi Maktum yang azan dan Bilal yang iqamah. Namun sanad riwayat ini lemah.Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:إِنَّ بِلَالًا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ، فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُنَادِيَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ“Sesungguhnya Bilal mengumandangkan azan pada malam hari, maka makan dan minumlah kalian sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan azan.”Ibnu Ummi Maktum adalah seorang yang buta. Ia tidak mengumandangkan azan sampai ada yang mengatakan kepadanya, “Sudah pagi, sudah pagi.” Turunnya Surah ‘Abasa karena Ibnu Ummi MaktumUrwah berkata:Suatu ketika Nabi ﷺ sedang bersama beberapa tokoh Quraisy, di antaranya Utbah bin Rabi‘ah. Lalu datanglah Ibnu Ummi Maktum menanyakan sesuatu kepada beliau. Nabi ﷺ berpaling darinya. Maka Allah menurunkan firman-Nya:عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ ۝ أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena seorang buta telah datang kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 1–2)Al-Waqidi meriwayatkan dari Ubaidullah bin Nuh, dari Muhammad bin Sahl bin Abi Hatsmah, ia berkata:Rasulullah ﷺ pernah menunjuk Ibnu Ummi Maktum sebagai pengganti beliau di Madinah. Ia mengumpulkan manusia untuk salat dan berkhutbah di dekat mimbar, dengan posisi mimbar di sebelah kirinya.Yunus bin Abi Ishaq meriwayatkan dari ayahnya, dari Abdullah bin Ma‘qal, ia berkata:Ibnu Ummi Maktum pernah tinggal di rumah seorang wanita Yahudi di Madinah yang dahulu bersikap baik kepadanya, tetapi kemudian wanita itu mencela Nabi ﷺ. Maka Ibnu Ummi Maktum memukulnya hingga wanita itu meninggal. Perkara itu dilaporkan kepada Nabi ﷺ. Ibnu Ummi Maktum berkata:“Demi Allah, dahulu ia memang baik kepadaku, tetapi ia telah menyakiti aku karena Allah dan Rasul-Nya.”Maka Nabi ﷺ bersabda:“Semoga Allah menjauhkannya. Darahnya tidak dituntut.”Abu Ishaq meriwayatkan dari Al-Bara’, ia berkata:Ketika turun ayat:لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ“Tidaklah sama orang-orang yang duduk (tidak ikut berjihad)…” Turunnya Ayat “Ghairu Ulī ad-Dharar”Nabi ﷺ memanggil Zaid dan memerintahkannya menulis ayat itu. Zaid datang membawa sepotong tulang bahu untuk menuliskannya. Lalu datang Ibnu Ummi Maktum, mengadukan kebutaannya. Maka turunlah tambahan ayat:غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ“kecuali orang-orang yang memiliki uzur.”Tsabit Al-Bunani meriwayatkan dari Ibnu Abi Laila bahwa Ibnu Ummi Maktum pernah berdoa:“Wahai Rabbku, turunkanlah alasan pembebasanku.”Lalu turun ayat:غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِSetelah itu ia tetap ingin ikut berjihad dan berkata:“Amanahkan kepadaku panji perang. Aku ini buta, sehingga tidak bisa melarikan diri. Tempatkan aku di antara dua barisan.”Abdurrahman bin Abi Az-Zinad meriwayatkan dari ayahnya, dari Kharijah bin Zaid, dari ayahnya, ia berkata:Aku berada di samping Nabi ﷺ ketika wahyu turun kepada beliau. Saat itu paha beliau menekan pahaku dan aku tidak pernah merasakan sesuatu yang lebih berat darinya. Setelah wahyu selesai, beliau bersabda:“Tulislah.”Lalu aku menulis pada tulang bahu:لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُجَاهِدُونَKemudian ‘Amr bin Ummi Maktum berdiri dan berkata:“Bagaimana dengan orang yang tidak mampu?”Belum selesai ucapannya, wahyu kembali turun kepada Nabi ﷺ. Setelah selesai, beliau bersabda:“Tulislah:”غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِZaid berkata:Ayat itu diturunkan secara khusus sebagai tambahan, seakan-akan aku masih melihat tempat penyisipannya pada tulang bahu yang retak itu. Semangat Jihad Meski Memiliki KeterbatasanIbnu Abi ‘Arubah meriwayatkan dari Qatadah, dari Anas, bahwa Abdullah bin Ummi Maktum pada Perang Qadisiyah membawa bendera hitam, dan ia mengenakan baju perang.Dalam riwayat Abu Hilal, dari Qatadah, dari Anas disebutkan:Abdullah bin Zaidah, yaitu Ibnu Ummi Maktum, ikut berperang pada hari Qadisiyah dengan mengenakan baju perang yang kuat dan lengkap.Al-Waqidi berkata:Ibnu Ummi Maktum ikut dalam Perang Qadisiyah dengan membawa panji. Setelah itu ia kembali ke Madinah dan wafat di sana. Tidak ada lagi berita tentangnya setelah masa Umar.Namun ada juga pendapat yang mengatakan bahwa ia gugur sebagai syahid dalam Perang Qadisiyah.Hadis darinya diriwayatkan secara mursal oleh Abdurrahman bin Abi Laila dan juga oleh Abu Razin Al-Asadi serta yang lainnya.Adapun Perang Qadisiyah adalah peperangan besar yang terjadi di Irak. Pasukan kaum Muslimin dipimpin oleh Sa‘d bin Abi Waqqash, sedangkan pasukan Persia dipimpin oleh Rustam, Dzu Al-Hajib, dan Jalinus.Abu Wa’il berkata:Jumlah pasukan kaum Muslimin sekitar lebih dari tujuh ribu orang, sedangkan musuh berjumlah empat puluh ribu, bahkan ada yang mengatakan enam puluh ribu orang, dan mereka membawa tujuh puluh ekor gajah.Al-Mada’ini mengatakan:Pertempuran berlangsung selama tiga hari, pada akhir bulan Syawal tahun 15 H. Dalam perang itu Rustam terbunuh, lalu pasukan Persia mengalami kekalahan dan melarikan diri. Nasihat PenutupKisah Ibnu Ummi Maktum mengajarkan kepada kita bahwa nilai seorang hamba tidak diukur dari kondisi fisiknya, tetapi dari keimanan dan kesungguhannya dalam mencari hidayah. Di zaman sekarang, banyak orang yang memiliki tubuh sehat dan kesempatan luas, tetapi justru lalai dari ilmu dan ibadah.Semoga kisah sahabat mulia ini mendorong kita untuk lebih semangat dalam menuntut ilmu, beribadah, dan berjuang untuk agama Allah sesuai kemampuan kita.اللهم ارزقنا حب الإيمان، وثبت قلوبنا على طاعتك، واجعلنا من عبادك الصالحين.“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami kecintaan kepada iman, teguhkan hati kami di atas ketaatan kepada-Mu, dan jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang saleh.” Sumber rujukan: Siyar A’lam An-Nubala’ dari Islamweb —– Senin, 27 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsIbnu Ummi Maktum jihad sahabat Nabi kisah inspiratif sahabat kisah sahabat nabi muazin Rasulullah perang Qadisiyah sahabat nabi sahabat tunanetra sejarah sahabat tafsir surah Abasa

Cahaya Orang Beriman di Hari Kiamat dan Sebab Padamnya Cahaya Munafik

Hari kiamat adalah hari ketika iman dan amal tampak nyata, bahkan dalam bentuk cahaya yang menerangi jalan seorang hamba. Orang-orang beriman mendapatkan cahaya sesuai kadar iman, takwa, dan amal mereka, sedangkan orang-orang munafik kehilangan cahaya itu pada saat yang paling genting. Dari ayat-ayat Surah Al-Hadid dan At-Tahrim ini (juz 27 dan 28), kita belajar pentingnya menjaga keikhlasan, menjauhi syahwat, meninggalkan keraguan, dan tidak tertipu oleh angan-angan kosong.  Daftar Isi tutup 1. Cahaya Orang Beriman di Hari Kiamat 2. Takwa Menghadirkan Cahaya dan Ampunan (Dua Bagian Rahmat) 3. Cahaya itu Murni Karunia Allah 4. Saat Orang Munafik Kehilangan Cahaya 5. Pengakuan Orang Munafik, Jawaban Orang Beriman 5.1. Empat sebab padamnya cahaya pada hari kiamat 6. Nasihat Penutup: Jagalah Cahaya Iman!  Cahaya Orang Beriman di Hari KiamatAllah Ta‘ālā berfirman:يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَىٰ نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“(yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar”.” (QS. Al-Ḥadīd: 12)Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:Allah Ta‘ala mengabarkan tentang orang-orang beriman yang gemar bersedekah, bahwa pada hari kiamat cahaya mereka berjalan di hadapan mereka di padang mahsyar, sesuai dengan kadar amal mereka. Sebagaimana disebutkan oleh Abdullah bin Mas‘ud tentang firman-Nya,يَسْعَىٰ نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ، قَالَ: عَلَىٰ قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ يَمُرُّونَ عَلَى الصِّرَاطِ، مِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ الْجَبَلِ، وَمِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ النَّخْلَةِ، وَمِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ الرَّجُلِ الْقَائِمِ، وَأَدْنَاهُمْ نُورًا مَنْ نُورُهُ فِي إِبْهَامِهِ يَتَّقِدُ مَرَّةً وَيَطْفَأُ مَرَّةً.“Cahaya mereka bersinar di hadapan mereka”, ia berkata: mereka melintasi shirath sesuai dengan amal mereka. Ada yang cahayanya seperti gunung, ada yang seperti pohon kurma, ada yang seperti seorang laki-laki yang berdiri, dan yang paling sedikit cahayanya adalah yang cahayanya berada di ibu jari kakinya, kadang menyala dan kadang padam. (HR. Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir)Qatadah berkata: disebutkan kepada kami bahwa Nabi ﷺ bersabda,مِنَ الْمُؤْمِنِينَ مَنْ يُضِيءُ نُورُهُ مِنَ الْمَدِينَةِ إِلَىٰ عَدَنَ أَبْيَنَ وَصَنْعَاءَ فَدُونَ ذَلِكَ، حَتَّىٰ إِنَّ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ مَنْ يُضِيءُ نُورُهُ مَوْضِعَ قَدَمَيْهِ.“Di antara orang-orang beriman ada yang cahayanya menerangi dari Madinah hingga ‘Adn Abyan dan Shan‘a, dan ada pula yang kurang dari itu, hingga di antara mereka ada yang cahayanya hanya menerangi tempat kedua telapak kakinya.”Sufyan Ats-Tsauri meriwayatkan dari Husain, dari Mujahid, dari Junadah bin Umayyah, ia berkata: sesungguhnya kalian telah dicatat di sisi Allah dengan nama-nama kalian, tanda-tanda kalian, perhiasan kalian, rahasia kalian, dan majelis kalian. Maka ketika hari kiamat tiba, dikatakan: “Wahai fulan, ini adalah cahayamu.” Dan kepada yang lain dikatakan: “Wahai fulan, tidak ada cahaya bagimu.” Lalu ia membaca ayat, “cahaya mereka bersinar di hadapan mereka.”Adh-Dhahhak berkata: setiap orang akan diberi cahaya pada hari kiamat. Ketika mereka sampai di atas shirath, padamlah cahaya orang-orang munafik. Ketika orang-orang beriman melihat hal itu, mereka merasa takut jika cahaya mereka juga padam sebagaimana padamnya cahaya orang-orang munafik. Maka mereka berkata:رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا“Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami.”Al-Hasan berkata tentang firman-Nya, “cahaya mereka bersinar di hadapan mereka”, maksudnya adalah di atas shirath.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Abu Darda’ dan Abu Dzar mengabarkan dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Aku adalah orang pertama yang diizinkan bersujud pada hari kiamat dan orang pertama yang diizinkan mengangkat kepala. Lalu aku melihat ke depan, ke belakang, ke kanan, dan ke kiri, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya.”فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، كَيْفَ تَعْرِفُ أُمَّتَكَ مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ مَا بَيْنَ نُوحٍ إِلَىٰ أُمَّتِكَ؟Seseorang bertanya: “Wahai Nabi Allah, bagaimana engkau mengenali umatmu di antara umat-umat dari zaman Nuh hingga umatmu?”قَالَ: «أَعْرِفُهُمْ، مُحَجَّلُونَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ، وَلَا يَكُونُ لِأَحَدٍ مِنَ الْأُمَمِ غَيْرُهُمْ، وَأَعْرِفُهُمْ يُؤْتَوْنَ كُتُبَهُمْ بِأَيْمَانِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِنُورِهِمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَذُرِّيَّتِهِمْ».Beliau menjawab: “Aku mengenali mereka dengan wajah yang bercahaya karena bekas wudhu, yang tidak dimiliki oleh umat lain. Aku mengenali mereka karena mereka menerima catatan amal dengan tangan kanan mereka. Aku mengenali mereka dari tanda-tanda di wajah mereka, dan aku mengenali mereka dari cahaya yang bersinar di hadapan mereka dan pada anak keturunan mereka.”Firman-Nya, “dan di sebelah kanan mereka”, Adh-Dhahhak berkata: yaitu catatan amal mereka berada di tangan kanan mereka, sebagaimana firman Allah, “Barang siapa yang diberikan kitabnya di tangan kanannya.”Firman-Nya, “(dikatakan kepada mereka): ‘Pada hari ini ada kabar gembira untuk kalian berupa surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai’”, maksudnya dikatakan kepada mereka: pada hari ini kalian mendapat kabar gembira berupa surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.“Mereka kekal di dalamnya”, yaitu mereka tinggal di dalamnya selama-lamanya.“Itulah kemenangan yang besar.”Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:Allah Ta‘ala menjelaskan tentang keutamaan iman dan kebahagiaan para pemiliknya pada hari kiamat: “(Yaitu) pada hari ketika engkau melihat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, cahaya mereka bersinar di hadapan mereka dan di sebelah kanan mereka.”Artinya, ketika hari kiamat terjadi, matahari digulung, bulan menjadi gelap, dan manusia berada dalam kegelapan, serta shirath dibentangkan di atas neraka Jahannam, maka pada saat itulah engkau melihat orang-orang beriman, laki-laki dan perempuan, cahaya mereka berjalan di hadapan dan di sebelah kanan mereka. Mereka berjalan dengan cahaya dan catatan amal mereka di tangan kanan, dalam keadaan yang sangat dahsyat dan sulit itu, masing-masing sesuai dengan kadar imannya.Pada saat itu, mereka diberi kabar gembira yang paling agung. Dikatakan kepada mereka:“Pada hari ini ada kabar gembira untuk kalian, yaitu surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, kalian kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”Sungguh, betapa indah kabar gembira ini di dalam hati mereka, dan betapa nikmat bagi jiwa mereka, karena mereka mendapatkan semua yang diinginkan dan dicintai, serta selamat dari segala keburukan dan hal yang ditakuti. Takwa Menghadirkan Cahaya dan Ampunan (Dua Bagian Rahmat)Allah Ta‘ālā berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ḥadīd: 28)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:Ayat ini kemungkinan merupakan seruan kepada Ahli Kitab yang telah beriman kepada Musa dan Isa ‘alaihimas salam, agar mereka mengamalkan konsekuensi dari iman mereka, yaitu dengan bertakwa kepada Allah dengan meninggalkan maksiat, serta beriman kepada Rasul-Nya, Muhammad ﷺ. Jika mereka melakukan hal itu, maka Allah akan memberikan kepada mereka dua bagian dari rahmat-Nya, yaitu dua bagian pahala: satu pahala atas iman mereka kepada para nabi terdahulu, dan satu pahala atas iman mereka kepada Muhammad ﷺ.Kemungkinan lain, ayat ini bersifat umum mencakup Ahli Kitab dan selain mereka, dan inilah yang lebih tampak. Allah memerintahkan mereka untuk beriman dan bertakwa, yang mencakup seluruh ajaran agama, baik lahir maupun batin, pokok maupun cabangnya. Jika mereka melaksanakan perintah yang agung ini, Allah akan memberikan kepada mereka dua bagian dari rahmat-Nya, yang hakikat dan besarnya hanya diketahui oleh Allah Ta‘ala. Bisa bermakna pahala atas iman dan pahala atas takwa, atau pahala atas melaksanakan perintah dan pahala atas menjauhi larangan, atau makna dua itu menunjukkan pemberian yang berulang-ulang.“Dan Dia menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan,” yaitu Allah memberi kalian ilmu, petunjuk, dan cahaya yang kalian gunakan untuk berjalan di tengah kegelapan kebodohan, serta Dia mengampuni dosa-dosa kalian.“Dan Allah memiliki karunia yang besar,” sehingga pahala ini tidaklah dianggap besar bagi Zat Yang memiliki karunia yang agung, yang karunia-Nya meliputi seluruh penduduk langit dan bumi. Tidak ada satu makhluk pun yang lepas dari karunia-Nya walau sekejap mata, bahkan lebih kecil dari itu.Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:Telah disebutkan dalam riwayat An-Nasa’i dari Ibnu ‘Abbas bahwa beliau memahami ayat ini tentang orang-orang beriman dari kalangan Ahli Kitab, dan bahwa mereka mendapatkan pahala dua kali, sebagaimana disebutkan dalam ayat di surah Al-Qashash, dan sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Asy-Sya‘bi, dari Abu Burdah, dari Abu Musa Al-Asy‘ari, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:ثَلَاثَةٌ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ: رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمَنَ بِنَبِيِّهِ وَآمَنَ بِي فَلَهُ أَجْرَانِ، وَعَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَدَّى حَقَّ اللَّهِ وَحَقَّ مَوَالِيهِ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَرَجُلٌ أَدَّبَ أَمَتَهُ فَأَحْسَنَ تَأْدِيبَهَا ثُمَّ أَعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا فَلَهُ أَجْرَانِ“Tiga golongan yang mendapatkan pahala dua kali: seorang dari Ahli Kitab yang beriman kepada nabinya dan beriman kepadaku, maka ia mendapat dua pahala; seorang hamba sahaya yang menunaikan hak Allah dan hak tuannya, maka ia mendapat dua pahala; dan seorang yang mendidik budak wanitanya dengan baik, lalu memerdekakannya dan menikahinya, maka ia mendapat dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)Pendapat ini juga disepakati oleh Adh-Dhahhak, ‘Utbah bin Abi Hakim, dan selain keduanya, serta dipilih oleh Ibnu Jarir.Sa‘id bin Jubair berkata: ketika Ahli Kitab membanggakan bahwa mereka mendapatkan pahala dua kali, maka Allah menurunkan ayat ini untuk umat ini:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian dua bagian dari rahmat-Nya, menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan, dan mengampuni kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Maksudnya, dua bagian tersebut adalah dua kali lipat. Allah juga menambahkan bagi mereka, “dan Dia menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan,” yaitu petunjuk yang dengannya seseorang dapat melihat jalan di tengah kebutaan dan kebodohan, serta mengampuni kalian. Allah melebihkan mereka dengan cahaya dan ampunan. Riwayat ini juga dibawakan oleh Ibnu Jarir.Ayat ini serupa dengan firman Allah Ta‘ala:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian pembeda (antara yang benar dan yang batil), menghapus kesalahan-kesalahan kalian, dan mengampuni kalian. Dan Allah memiliki karunia yang besar.” (QS. Al-Anfal: 29)Sa‘id bin ‘Abdul ‘Aziz berkata: Umar bin Al-Khaththab pernah bertanya kepada seorang alim dari kalangan Yahudi: “Berapa kali lipat paling besar pahala kebaikan yang diberikan kepada kalian?” Ia menjawab: “Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi tiga ratus lima puluh kebaikan.” Maka Umar memuji Allah karena Dia telah memberikan kepada kita dua bagian (pahala). Kemudian Sa‘id menyebutkan firman Allah ‘Azza wa Jalla:يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ“Dia akan memberikan kepada kalian dua bagian dari rahmat-Nya.”Sa‘id berkata: dua bagian itu pada hari Jumat seperti itu juga. Riwayat ini dibawakan oleh Ibnu Jarir.Di antara yang menguatkan pendapat ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Ia berkata: telah menceritakan kepada kami Isma‘il, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Nafi‘, dari Ibnu Umar, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:مَثَلُكُمْ وَمَثَلُ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَعْمَلَ عُمَّالًا فَقَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ إِلَىٰ نِصْفِ النَّهَارِ عَلَىٰ قِيرَاطٍ قِيرَاطٍ؟ أَلَا فَعَمِلَتِ الْيَهُودُ، ثُمَّ قَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ نِصْفِ النَّهَارِ إِلَىٰ صَلَاةِ الْعَصْرِ عَلَىٰ قِيرَاطٍ قِيرَاطٍ؟ أَلَا فَعَمِلَتِ النَّصَارَى، ثُمَّ قَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَىٰ غُرُوبِ الشَّمْسِ عَلَىٰ قِيرَاطَيْنِ قِيرَاطَيْنِ؟ أَلَا فَأَنْتُمُ الَّذِينَ عَمِلْتُمْ، فَغَضِبَتِ النَّصَارَى وَالْيَهُودُ، وَقَالُوا: نَحْنُ أَكْثَرُ عَمَلًا وَأَقَلُّ عَطَاءً، قَالَ: هَلْ ظَلَمْتُكُمْ مِنْ أَجْرِكُمْ شَيْئًا؟ قَالُوا: لَا، قَالَ: فَإِنَّمَا هُوَ فَضْلِي أُؤْتِيهِ مَنْ أَشَاءُ“Perumpamaan kalian dengan Yahudi dan Nasrani seperti seorang laki-laki yang mempekerjakan para pekerja. Ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari setelah Shubuh hingga tengah hari dengan upah satu qirath satu qirath?’ Maka orang-orang Yahudi bekerja. Kemudian ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari tengah hari hingga Ashar dengan upah satu qirath satu qirath?’ Maka orang-orang Nasrani bekerja. Kemudian ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari setelah Ashar hingga terbenam matahari dengan upah dua qirath dua qirath?’ Maka kalianlah yang bekerja. Lalu orang-orang Nasrani dan Yahudi marah dan berkata: ‘Kami bekerja lebih banyak, tetapi mendapatkan upah lebih sedikit.’ Ia berkata: ‘Apakah aku mengurangi sedikit pun dari upah kalian?’ Mereka menjawab: ‘Tidak.’ Ia berkata: ‘Itu adalah karunia-Ku, Aku berikan kepada siapa yang Aku kehendaki.’”Ahmad berkata: hadits ini juga diriwayatkan kepada kami oleh Mu’ammal, dari Sufyan, dari ‘Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar, semisal hadits Nafi‘ darinya.Hadits ini diriwayatkan secara khusus oleh Al-Bukhari, dari Sulaiman bin Harb, dari Hammad, dari Ayyub, dari Nafi‘ dengan sanad tersebut, dan juga dari Qutaibah, dari Al-Laits, dari Nafi‘ dengan lafaz yang semisal.Al-Bukhari juga berkata: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al-‘Ala’, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Buraid, dari Abu Burdah, dari Abu Musa, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:مَثَلُ الْمُسْلِمِينَ وَالْيَهُودِ وَالنَّصَارَى كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَأْجَرَ قَوْمًا يَعْمَلُونَ لَهُ عَمَلًا يَوْمًا إِلَى اللَّيْلِ عَلَىٰ أَجْرٍ مَعْلُومٍ، فَعَمِلُوا إِلَىٰ نِصْفِ النَّهَارِ فَقَالُوا: لَا حَاجَةَ لَنَا فِي أَجْرِكَ الَّذِي شَرَطْتَ لَنَا، وَمَا عَمِلْنَا بَاطِلٌ، فَقَالَ لَهُمْ: لَا تَفْعَلُوا، أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ عَمَلِكُمْ وَخُذُوا أَجْرَكُمْ كَامِلًا، فَأَبَوْا وَتَرَكُوا، وَاسْتَأْجَرَ آخَرِينَ بَعْدَهُمْ فَقَالَ: أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ يَوْمِكُمْ وَلَكُمُ الَّذِي شَرَطْتُ لَهُمْ مِنَ الْأَجْرِ، فَعَمِلُوا، حَتَّىٰ إِذَا كَانَ حِينَ صَلَوْا الْعَصْرَ قَالُوا: مَا عَمِلْنَا بَاطِلٌ، وَلَكَ الْأَجْرُ الَّذِي جَعَلْتَ لَنَا فِيهِ، فَقَالَ: أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ عَمَلِكُمْ؛ فَإِنَّ مَا بَقِيَ مِنَ النَّهَارِ شَيْءٌ يَسِيرٌ، فَأَبَوْا، فَاسْتَأْجَرَ قَوْمًا أَنْ يَعْمَلُوا لَهُ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ، فَعَمِلُوا بَقِيَّةَ يَوْمِهِ حَتَّىٰ غَابَتِ الشَّمْسُ، فَاسْتَكْمَلُوا أَجْرَ الْفَرِيقَيْنِ كِلَيْهِمَا، فَذَلِكَ مَثَلُهُمْ وَمَثَلُ مَا قَبِلُوا مِنْ هَذَا النُّورِ“Perumpamaan kaum muslimin, Yahudi, dan Nasrani seperti seorang laki-laki yang menyewa suatu kaum untuk bekerja sehari penuh sampai malam dengan upah tertentu. Mereka bekerja sampai tengah hari, lalu berkata: ‘Kami tidak butuh upah yang engkau janjikan, dan apa yang kami kerjakan sia-sia.’ Ia berkata: ‘Jangan lakukan itu, selesaikan sisa pekerjaan kalian dan ambil upah kalian secara penuh.’ Namun mereka menolak dan pergi. Lalu ia menyewa orang lain setelah mereka dan berkata: ‘Selesaikan sisa hari kalian dan kalian akan mendapatkan upah seperti yang aku janjikan kepada mereka.’ Mereka bekerja, hingga ketika waktu Ashar, mereka berkata: ‘Apa yang kami kerjakan sia-sia, dan upah itu untukmu.’ Ia berkata: ‘Selesaikan sisa pekerjaan kalian, karena yang tersisa dari hari itu hanya sedikit.’ Namun mereka menolak. Lalu ia menyewa suatu kaum untuk menyelesaikan sisa hari itu, maka mereka bekerja hingga matahari terbenam, dan mereka mendapatkan upah kedua kelompok sebelumnya secara penuh. Itulah perumpamaan mereka dan perumpamaan apa yang mereka terima dari cahaya ini.”Hadits ini diriwayatkan secara khusus oleh Al-Bukhari. Cahaya itu Murni Karunia AllahAllah Ta‘ālā berfirman,﴿نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.” (QS. At-Taḥrīm: 8)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Mereka berkata: ‘Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.’”Mujahid, Adh-Dhahhak, Al-Hasan Al-Bashri, dan selain mereka berkata: ucapan ini diucapkan oleh orang-orang beriman ketika mereka melihat pada hari kiamat cahaya orang-orang munafik telah padam.Muhammad bin Nashr Al-Marwazi berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muqatil Al-Marwazi, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Lahi‘ah, telah menceritakan kepadaku Yazid bin Abi Habib, dari ‘Abdurrahman bin Jubair bin Nufair, bahwa ia mendengar Abu Dzar dan Abu Darda’ berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:أَنَا أَوَّلُ مَنْ يُؤْذَنُ لَهُ فِي السُّجُودِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَأَوَّلُ مَنْ يُؤْذَنُ لَهُ بِرَفْعِ رَأْسِهِ، فَأَنْظُرُ بَيْنَ يَدَيَّ فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ، وَأَنْظُرُ عَنْ يَمِينِي فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ، وَأَنْظُرُ عَنْ شِمَالِي فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ“Akulah orang pertama yang diizinkan untuk sujud pada hari kiamat, dan orang pertama yang diizinkan untuk mengangkat kepala. Lalu aku melihat ke hadapanku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya. Aku melihat ke sebelah kananku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya. Aku melihat ke sebelah kiriku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya.”Seorang laki-laki bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana engkau mengenali umatmu di antara umat-umat?” Beliau menjawab:غُرٌّ مُحَجَّلُونَ مِنْ آثَارِ الطُّهُورِ، وَلَا يَكُونُ أَحَدٌ مِنَ الْأُمَمِ كَذَلِكَ غَيْرُهُمْ، وَأَعْرِفُهُمْ أَنَّهُمْ يُؤْتَوْنَ كُتُبَهُمْ بِأَيْمَانِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ، وَأَعْرِفُهُمْ بِنُورِهِمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ“Mereka memiliki wajah dan anggota tubuh yang bercahaya karena bekas wudhu, dan tidak ada umat lain yang memiliki hal itu selain mereka. Aku juga mengenali mereka karena mereka menerima catatan amal mereka dengan tangan kanan, aku mengenali mereka dari tanda di wajah mereka akibat sujud, dan aku mengenali mereka dari cahaya yang berjalan di hadapan mereka.”Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Ishaq Ath-Thalqani, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, dari Yahya bin Hassan, dari seorang laki-laki dari Bani Kinanah, ia berkata: aku shalat di belakang Rasulullah ﷺ pada tahun penaklukan Makkah, lalu aku mendengar beliau berdoa:اللَّهُمَّ لَا تُخْزِنِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Ya Allah, janganlah Engkau hinakan aku pada hari kiamat.” Saat Orang Munafik Kehilangan CahayaAllah Ta‘ālā berfirman,يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”. Dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”. Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.” (QS. Al-Ḥadīd: 13)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.Ketika orang-orang munafik melihat cahaya orang-orang beriman yang mereka gunakan untuk berjalan, sementara cahaya mereka sendiri telah padam dan mereka berada dalam kegelapan dalam keadaan bingung, mereka berkata kepada orang-orang beriman:انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ“Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.”Maksudnya, berilah kami kesempatan agar kami mendapatkan cahaya yang bisa kami gunakan untuk berjalan, sehingga kami selamat dari azab.Maka dikatakan kepada mereka:ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا“Kembalilah kalian ke belakang dan carilah cahaya (di sana).”Maksudnya, jika hal itu mungkin dilakukan. Padahal kenyataannya hal itu tidak mungkin, bahkan termasuk sesuatu yang mustahil.Lalu dipisahkan antara orang-orang beriman dan orang-orang munafik dengan sebuah dinding:فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Maka dipasanglah di antara mereka sebuah dinding yang memiliki pintu. Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Yaitu sebuah dinding yang kokoh dan benteng yang kuat. Bagian dalam yang menghadap orang-orang beriman berisi rahmat, sedangkan bagian luar yang menghadap orang-orang munafik berisi azab. Lalu orang-orang munafik memanggil orang-orang beriman.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: ‘Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.’”Ini adalah pemberitahuan dari Allah tentang apa yang terjadi pada hari kiamat di padang mahsyar berupa berbagai kengerian yang mengguncangkan, gempa yang dahsyat, dan peristiwa-peristiwa yang menakutkan. Pada hari itu, tidak ada yang selamat kecuali orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mengamalkan apa yang diperintahkan Allah, dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya.Ibnu Abi Hatim berkata: telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami ‘Abdah bin Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, telah menceritakan kepada kami Shafwan bin ‘Amr, telah menceritakan kepadaku Sulaim bin ‘Amir, ia berkata: kami keluar mengiringi jenazah di pintu Damaskus bersama Abu Umamah Al-Bahili. Setelah beliau menyalati jenazah dan mereka mulai menguburkannya, Abu Umamah berkata:“Wahai manusia, kalian sekarang berada di suatu tempat yang di dalamnya kalian membagi-bagi kebaikan dan keburukan. Kalian hampir akan berpindah darinya menuju tempat lain, yaitu ini”—sambil menunjuk ke kubur—“rumah kesendirian, rumah kegelapan, rumah ulat, dan rumah kesempitan, kecuali yang dilapangkan oleh Allah. Kemudian kalian akan berpindah darinya menuju berbagai tempat pada hari kiamat. Pada sebagian tempat itu, manusia akan diliputi oleh suatu perkara dari Allah, sehingga ada wajah yang menjadi putih dan ada wajah yang menjadi hitam.Kemudian kalian berpindah lagi ke tempat lain, lalu manusia diliputi oleh kegelapan yang sangat. Setelah itu, cahaya dibagikan. Orang beriman diberi cahaya, sedangkan orang kafir dan munafik tidak diberi apa pun. Inilah perumpamaan yang Allah sebutkan dalam Kitab-Nya:أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ۚ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا ۗ وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ“Atau seperti kegelapan di lautan yang dalam, yang diliputi ombak di atasnya ombak (pula), di atasnya lagi awan; kegelapan yang bertumpuk-tumpuk. Apabila dia mengeluarkan tangannya, hampir-hampir dia tidak dapat melihatnya. Barang siapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah, maka tidak ada baginya cahaya.” (QS. An-Nur: 40)Maka orang kafir dan munafik tidak dapat mengambil manfaat dari cahaya orang beriman, sebagaimana orang buta tidak dapat mengambil manfaat dari cahaya orang yang melihat. Lalu orang-orang munafik berkata kepada orang-orang beriman:انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا“Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.” Lalu dikatakan kepada mereka: “Kembalilah kalian ke belakang dan carilah cahaya (di sana).”Itulah tipu daya Allah terhadap orang-orang munafik, sebagaimana firman-Nya:يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ“Mereka menipu Allah, dan Allah membalas tipu daya mereka.” (QS. An-Nisa: 142)Maka mereka kembali ke tempat pembagian cahaya, tetapi mereka tidak mendapatkan apa pun. Lalu mereka kembali kepada orang-orang beriman, namun telah dipisahkan antara mereka dengan sebuah dinding yang memiliki pintu:بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Sulaim bin ‘Amir berkata: orang munafik terus tertipu hingga cahaya dibagikan, lalu Allah membedakan antara orang beriman dan orang munafik.Ada lagi tambahan dari Ibnu Katsir sebagai berikut.Abu Al-Qasim Ath-Thabrani berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin ‘Alwiyah Al-Qaththan, telah menceritakan kepada kami Isma‘il bin ‘Isa Al-‘Aththar, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Bisyir Abu Hudzaifah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, dari Ibnu Abi Mulaikah, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:إِنَّ اللَّهَ يَدْعُو النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِهِمْ سِتْرًا مِنْهُ عَلَىٰ عِبَادِهِ، وَأَمَّا عِنْدَ الصِّرَاطِ فَإِنَّ اللَّهَ يُعْطِي كُلَّ مُؤْمِنٍ نُورًا، وَكُلَّ مُنَافِقٍ نُورًا، فَإِذَا اسْتَوَوْا عَلَى الصِّرَاطِ سَلَبَ اللَّهُ نُورَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ، فَقَالَ الْمُنَافِقُونَ: ﴿انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ﴾، وَقَالَ الْمُؤْمِنُونَ: ﴿رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا﴾، فَلَا يُذْكَرُ عِنْدَ ذَلِكَ أَحَدٌ أَحَدًا“Sesungguhnya Allah memanggil manusia pada hari kiamat dengan nama-nama mereka sebagai bentuk penutupan (aib) dari-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Adapun di dekat shirath, Allah memberikan kepada setiap orang beriman cahaya, dan kepada setiap orang munafik juga cahaya. Ketika mereka telah berada di atas shirath, Allah mencabut cahaya orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. Maka orang-orang munafik berkata: ‘Tunggulah kami agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.’ Dan orang-orang beriman berkata: ‘Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami.’ Maka pada saat itu, tidak ada seorang pun yang mengingat orang lain.”Firman-Nya:فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Maka dipasanglah di antara mereka sebuah dinding yang memiliki pintu. Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Al-Hasan dan Qatadah berkata: dinding itu adalah pemisah antara surga dan neraka.‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata: itulah yang disebut oleh Allah Ta‘ala dalam firman-Nya:وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ“Dan di antara keduanya ada batas.” (QS. Al-A‘raf: 46)Demikian pula diriwayatkan dari Mujahid rahimahullah dan selainnya, dan inilah pendapat yang benar.Baca juga: Ashabul A’raf: Golongan yang Timbangannya Seimbang, Tertahan di Antara Surga dan Neraka (Surah Al-A’raf ayat 46-49)Pengakuan Orang Munafik, Jawaban Orang BerimanAllah Ta‘ālā berfirman,يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ وَلَٰكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّىٰ جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ“Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab: “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu.” (QS. Al-Ḥadīd: 14)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini sebagai berikut.“Mereka memanggil mereka, ‘Bukankah kami dahulu bersama kalian?’” maksudnya, orang-orang munafik memanggil orang-orang beriman: bukankah kami dahulu bersama kalian di dunia, menghadiri shalat Jumat bersama kalian, shalat berjamaah bersama kalian, wukuf di Arafah bersama kalian, ikut dalam peperangan bersama kalian, dan menjalankan berbagai kewajiban bersama kalian?“Mereka menjawab, ‘Benar,’” yaitu orang-orang beriman menjawab: benar, kalian dahulu bersama kami.“Namun kalian mencelakakan diri kalian sendiri, menunggu-nunggu, ragu-ragu, dan kalian ditipu oleh angan-angan kosong.” Sebagian ulama salaf berkata: maksudnya kalian mencelakakan diri dengan kenikmatan, maksiat, dan syahwat.“Dan kalian menunggu-nunggu,” maksudnya kalian menunda tobat dari waktu ke waktu.Qatadah berkata: “Dan kalian menunggu-nunggu” yaitu terhadap kebenaran dan para pengikutnya. “Dan kalian ragu-ragu,” yaitu terhadap kebangkitan setelah kematian. “Dan kalian ditipu oleh angan-angan,” yaitu kalian berkata: Allah akan mengampuni kami. Ada juga yang mengatakan: kalian tertipu oleh dunia.“Hingga datang ketetapan Allah,” maksudnya kalian terus dalam keadaan itu hingga datang kematian.“Dan setan telah menipu kalian tentang Allah,” maksudnya setan.Qatadah berkata: mereka terus berada dalam tipuan setan, hingga akhirnya Allah melemparkan mereka ke dalam neraka.Makna ucapan orang-orang beriman kepada orang-orang munafik ini adalah: kalian dahulu bersama kami secara lahiriah, tetapi tanpa niat dan tanpa hati. Kalian berada dalam kebingungan dan keraguan, kalian hanya berbuat untuk dilihat manusia, dan kalian tidak mengingat Allah kecuali sedikit.Mujahid berkata: orang-orang munafik dahulu hidup bersama orang-orang beriman, mereka menikah dengan mereka, bergaul, dan hidup bersama mereka. Namun mereka mati dalam keadaan terpisah. Pada hari kiamat, mereka semua diberi cahaya, tetapi cahaya orang-orang munafik dipadamkan ketika sampai di dekat dinding, lalu dipisahkan antara mereka.Ucapan orang-orang beriman ini tidak bertentangan dengan firman Allah yang mengabarkan tentang mereka:كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ ۝ إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ ۝ فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ ۝ عَنِ الْمُجْرِمِينَ ۝ مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ ۝ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ۝ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ ۝ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ ۝ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ ۝ حَتَّىٰ أَتَانَا الْيَقِينُ“Setiap jiwa bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan. Mereka berada di dalam surga, saling bertanya tentang orang-orang yang berdosa: ‘Apa yang menyebabkan kalian masuk ke dalam (neraka) Saqar?’ Mereka menjawab: ‘Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, serta kami membicarakan yang batil bersama orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.’” (QS. Al-Muddatstsir: 38–47)Ucapan itu keluar dari orang-orang beriman sebagai bentuk celaan dan teguran keras kepada mereka. Kemudian Allah Ta‘ala berfirman:فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ“Maka tidak berguna bagi mereka syafaat para pemberi syafaat.” (QS. Al-Muddatstsir: 48) Empat sebab padamnya cahaya pada hari kiamatBerdasarkan Al-Hadid ayat 14, sebab tercabutnya cahaya pada hari kiamat dapat diringkas menjadi empat hal:1. Mencelakakan diri dengan maksiat dan syahwat(فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ)2. Menunda tobat dan menunggu-nunggu kebenaran(وَتَرَبَّصْتُمْ)3. Ragu terhadap iman dan hari akhir(وَارْتَبْتُمْ)4. Tertipu oleh angan-angan dan tipuan setan(وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ … وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ) Nasihat Penutup: Jagalah Cahaya Iman!Di zaman sekarang, seseorang bisa tampak dekat dengan agama secara lahiriah, tetapi yang paling menentukan tetaplah keadaan hati di sisi Allah. Banyak orang rajin hadir dalam majelis ilmu, aktif dalam amal, dan terlihat baik di hadapan manusia, namun yang menyelamatkan adalah iman yang jujur dan hati yang bersih. Karena itu, jangan hanya sibuk memperbaiki penampilan ibadah, tetapi perbaikilah juga niat, tobat, keyakinan, dan rasa takut kepada Allah. Semoga Allah menjaga cahaya iman kita, meneguhkan kita di atas kebenaran, dan tidak menjadikan kita termasuk orang yang kehilangan cahaya pada hari kiamat.اللَّهُمَّ أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا، وَاغْفِرْ لَنَا، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَىٰ طَاعَتِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُخْلِصِينَAllāhumma atmim lanā nūranā, waghfir lanā, wa tsabbit qulūbanā ‘alā ṭā‘atika, waj‘alnā min ‘ibādikal-mukhliṣīn.“Ya Allah, sempurnakanlah cahaya kami, ampunilah kami, teguhkan hati kami di atas ketaatan kepada-Mu, dan jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang ikhlas.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Selasa, 28 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscahaya iman hari akhir hari kiamat iman dan amal munafik nasihat akhirat orang munafik renungan ayat renungan quran rumaysho shirath tafsir Al-Hadid tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir tafsir quran takwa tazkiyatun nafs

Cahaya Orang Beriman di Hari Kiamat dan Sebab Padamnya Cahaya Munafik

Hari kiamat adalah hari ketika iman dan amal tampak nyata, bahkan dalam bentuk cahaya yang menerangi jalan seorang hamba. Orang-orang beriman mendapatkan cahaya sesuai kadar iman, takwa, dan amal mereka, sedangkan orang-orang munafik kehilangan cahaya itu pada saat yang paling genting. Dari ayat-ayat Surah Al-Hadid dan At-Tahrim ini (juz 27 dan 28), kita belajar pentingnya menjaga keikhlasan, menjauhi syahwat, meninggalkan keraguan, dan tidak tertipu oleh angan-angan kosong.  Daftar Isi tutup 1. Cahaya Orang Beriman di Hari Kiamat 2. Takwa Menghadirkan Cahaya dan Ampunan (Dua Bagian Rahmat) 3. Cahaya itu Murni Karunia Allah 4. Saat Orang Munafik Kehilangan Cahaya 5. Pengakuan Orang Munafik, Jawaban Orang Beriman 5.1. Empat sebab padamnya cahaya pada hari kiamat 6. Nasihat Penutup: Jagalah Cahaya Iman!  Cahaya Orang Beriman di Hari KiamatAllah Ta‘ālā berfirman:يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَىٰ نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“(yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar”.” (QS. Al-Ḥadīd: 12)Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:Allah Ta‘ala mengabarkan tentang orang-orang beriman yang gemar bersedekah, bahwa pada hari kiamat cahaya mereka berjalan di hadapan mereka di padang mahsyar, sesuai dengan kadar amal mereka. Sebagaimana disebutkan oleh Abdullah bin Mas‘ud tentang firman-Nya,يَسْعَىٰ نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ، قَالَ: عَلَىٰ قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ يَمُرُّونَ عَلَى الصِّرَاطِ، مِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ الْجَبَلِ، وَمِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ النَّخْلَةِ، وَمِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ الرَّجُلِ الْقَائِمِ، وَأَدْنَاهُمْ نُورًا مَنْ نُورُهُ فِي إِبْهَامِهِ يَتَّقِدُ مَرَّةً وَيَطْفَأُ مَرَّةً.“Cahaya mereka bersinar di hadapan mereka”, ia berkata: mereka melintasi shirath sesuai dengan amal mereka. Ada yang cahayanya seperti gunung, ada yang seperti pohon kurma, ada yang seperti seorang laki-laki yang berdiri, dan yang paling sedikit cahayanya adalah yang cahayanya berada di ibu jari kakinya, kadang menyala dan kadang padam. (HR. Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir)Qatadah berkata: disebutkan kepada kami bahwa Nabi ﷺ bersabda,مِنَ الْمُؤْمِنِينَ مَنْ يُضِيءُ نُورُهُ مِنَ الْمَدِينَةِ إِلَىٰ عَدَنَ أَبْيَنَ وَصَنْعَاءَ فَدُونَ ذَلِكَ، حَتَّىٰ إِنَّ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ مَنْ يُضِيءُ نُورُهُ مَوْضِعَ قَدَمَيْهِ.“Di antara orang-orang beriman ada yang cahayanya menerangi dari Madinah hingga ‘Adn Abyan dan Shan‘a, dan ada pula yang kurang dari itu, hingga di antara mereka ada yang cahayanya hanya menerangi tempat kedua telapak kakinya.”Sufyan Ats-Tsauri meriwayatkan dari Husain, dari Mujahid, dari Junadah bin Umayyah, ia berkata: sesungguhnya kalian telah dicatat di sisi Allah dengan nama-nama kalian, tanda-tanda kalian, perhiasan kalian, rahasia kalian, dan majelis kalian. Maka ketika hari kiamat tiba, dikatakan: “Wahai fulan, ini adalah cahayamu.” Dan kepada yang lain dikatakan: “Wahai fulan, tidak ada cahaya bagimu.” Lalu ia membaca ayat, “cahaya mereka bersinar di hadapan mereka.”Adh-Dhahhak berkata: setiap orang akan diberi cahaya pada hari kiamat. Ketika mereka sampai di atas shirath, padamlah cahaya orang-orang munafik. Ketika orang-orang beriman melihat hal itu, mereka merasa takut jika cahaya mereka juga padam sebagaimana padamnya cahaya orang-orang munafik. Maka mereka berkata:رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا“Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami.”Al-Hasan berkata tentang firman-Nya, “cahaya mereka bersinar di hadapan mereka”, maksudnya adalah di atas shirath.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Abu Darda’ dan Abu Dzar mengabarkan dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Aku adalah orang pertama yang diizinkan bersujud pada hari kiamat dan orang pertama yang diizinkan mengangkat kepala. Lalu aku melihat ke depan, ke belakang, ke kanan, dan ke kiri, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya.”فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، كَيْفَ تَعْرِفُ أُمَّتَكَ مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ مَا بَيْنَ نُوحٍ إِلَىٰ أُمَّتِكَ؟Seseorang bertanya: “Wahai Nabi Allah, bagaimana engkau mengenali umatmu di antara umat-umat dari zaman Nuh hingga umatmu?”قَالَ: «أَعْرِفُهُمْ، مُحَجَّلُونَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ، وَلَا يَكُونُ لِأَحَدٍ مِنَ الْأُمَمِ غَيْرُهُمْ، وَأَعْرِفُهُمْ يُؤْتَوْنَ كُتُبَهُمْ بِأَيْمَانِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِنُورِهِمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَذُرِّيَّتِهِمْ».Beliau menjawab: “Aku mengenali mereka dengan wajah yang bercahaya karena bekas wudhu, yang tidak dimiliki oleh umat lain. Aku mengenali mereka karena mereka menerima catatan amal dengan tangan kanan mereka. Aku mengenali mereka dari tanda-tanda di wajah mereka, dan aku mengenali mereka dari cahaya yang bersinar di hadapan mereka dan pada anak keturunan mereka.”Firman-Nya, “dan di sebelah kanan mereka”, Adh-Dhahhak berkata: yaitu catatan amal mereka berada di tangan kanan mereka, sebagaimana firman Allah, “Barang siapa yang diberikan kitabnya di tangan kanannya.”Firman-Nya, “(dikatakan kepada mereka): ‘Pada hari ini ada kabar gembira untuk kalian berupa surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai’”, maksudnya dikatakan kepada mereka: pada hari ini kalian mendapat kabar gembira berupa surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.“Mereka kekal di dalamnya”, yaitu mereka tinggal di dalamnya selama-lamanya.“Itulah kemenangan yang besar.”Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:Allah Ta‘ala menjelaskan tentang keutamaan iman dan kebahagiaan para pemiliknya pada hari kiamat: “(Yaitu) pada hari ketika engkau melihat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, cahaya mereka bersinar di hadapan mereka dan di sebelah kanan mereka.”Artinya, ketika hari kiamat terjadi, matahari digulung, bulan menjadi gelap, dan manusia berada dalam kegelapan, serta shirath dibentangkan di atas neraka Jahannam, maka pada saat itulah engkau melihat orang-orang beriman, laki-laki dan perempuan, cahaya mereka berjalan di hadapan dan di sebelah kanan mereka. Mereka berjalan dengan cahaya dan catatan amal mereka di tangan kanan, dalam keadaan yang sangat dahsyat dan sulit itu, masing-masing sesuai dengan kadar imannya.Pada saat itu, mereka diberi kabar gembira yang paling agung. Dikatakan kepada mereka:“Pada hari ini ada kabar gembira untuk kalian, yaitu surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, kalian kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”Sungguh, betapa indah kabar gembira ini di dalam hati mereka, dan betapa nikmat bagi jiwa mereka, karena mereka mendapatkan semua yang diinginkan dan dicintai, serta selamat dari segala keburukan dan hal yang ditakuti. Takwa Menghadirkan Cahaya dan Ampunan (Dua Bagian Rahmat)Allah Ta‘ālā berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ḥadīd: 28)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:Ayat ini kemungkinan merupakan seruan kepada Ahli Kitab yang telah beriman kepada Musa dan Isa ‘alaihimas salam, agar mereka mengamalkan konsekuensi dari iman mereka, yaitu dengan bertakwa kepada Allah dengan meninggalkan maksiat, serta beriman kepada Rasul-Nya, Muhammad ﷺ. Jika mereka melakukan hal itu, maka Allah akan memberikan kepada mereka dua bagian dari rahmat-Nya, yaitu dua bagian pahala: satu pahala atas iman mereka kepada para nabi terdahulu, dan satu pahala atas iman mereka kepada Muhammad ﷺ.Kemungkinan lain, ayat ini bersifat umum mencakup Ahli Kitab dan selain mereka, dan inilah yang lebih tampak. Allah memerintahkan mereka untuk beriman dan bertakwa, yang mencakup seluruh ajaran agama, baik lahir maupun batin, pokok maupun cabangnya. Jika mereka melaksanakan perintah yang agung ini, Allah akan memberikan kepada mereka dua bagian dari rahmat-Nya, yang hakikat dan besarnya hanya diketahui oleh Allah Ta‘ala. Bisa bermakna pahala atas iman dan pahala atas takwa, atau pahala atas melaksanakan perintah dan pahala atas menjauhi larangan, atau makna dua itu menunjukkan pemberian yang berulang-ulang.“Dan Dia menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan,” yaitu Allah memberi kalian ilmu, petunjuk, dan cahaya yang kalian gunakan untuk berjalan di tengah kegelapan kebodohan, serta Dia mengampuni dosa-dosa kalian.“Dan Allah memiliki karunia yang besar,” sehingga pahala ini tidaklah dianggap besar bagi Zat Yang memiliki karunia yang agung, yang karunia-Nya meliputi seluruh penduduk langit dan bumi. Tidak ada satu makhluk pun yang lepas dari karunia-Nya walau sekejap mata, bahkan lebih kecil dari itu.Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:Telah disebutkan dalam riwayat An-Nasa’i dari Ibnu ‘Abbas bahwa beliau memahami ayat ini tentang orang-orang beriman dari kalangan Ahli Kitab, dan bahwa mereka mendapatkan pahala dua kali, sebagaimana disebutkan dalam ayat di surah Al-Qashash, dan sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Asy-Sya‘bi, dari Abu Burdah, dari Abu Musa Al-Asy‘ari, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:ثَلَاثَةٌ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ: رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمَنَ بِنَبِيِّهِ وَآمَنَ بِي فَلَهُ أَجْرَانِ، وَعَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَدَّى حَقَّ اللَّهِ وَحَقَّ مَوَالِيهِ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَرَجُلٌ أَدَّبَ أَمَتَهُ فَأَحْسَنَ تَأْدِيبَهَا ثُمَّ أَعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا فَلَهُ أَجْرَانِ“Tiga golongan yang mendapatkan pahala dua kali: seorang dari Ahli Kitab yang beriman kepada nabinya dan beriman kepadaku, maka ia mendapat dua pahala; seorang hamba sahaya yang menunaikan hak Allah dan hak tuannya, maka ia mendapat dua pahala; dan seorang yang mendidik budak wanitanya dengan baik, lalu memerdekakannya dan menikahinya, maka ia mendapat dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)Pendapat ini juga disepakati oleh Adh-Dhahhak, ‘Utbah bin Abi Hakim, dan selain keduanya, serta dipilih oleh Ibnu Jarir.Sa‘id bin Jubair berkata: ketika Ahli Kitab membanggakan bahwa mereka mendapatkan pahala dua kali, maka Allah menurunkan ayat ini untuk umat ini:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian dua bagian dari rahmat-Nya, menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan, dan mengampuni kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Maksudnya, dua bagian tersebut adalah dua kali lipat. Allah juga menambahkan bagi mereka, “dan Dia menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan,” yaitu petunjuk yang dengannya seseorang dapat melihat jalan di tengah kebutaan dan kebodohan, serta mengampuni kalian. Allah melebihkan mereka dengan cahaya dan ampunan. Riwayat ini juga dibawakan oleh Ibnu Jarir.Ayat ini serupa dengan firman Allah Ta‘ala:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian pembeda (antara yang benar dan yang batil), menghapus kesalahan-kesalahan kalian, dan mengampuni kalian. Dan Allah memiliki karunia yang besar.” (QS. Al-Anfal: 29)Sa‘id bin ‘Abdul ‘Aziz berkata: Umar bin Al-Khaththab pernah bertanya kepada seorang alim dari kalangan Yahudi: “Berapa kali lipat paling besar pahala kebaikan yang diberikan kepada kalian?” Ia menjawab: “Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi tiga ratus lima puluh kebaikan.” Maka Umar memuji Allah karena Dia telah memberikan kepada kita dua bagian (pahala). Kemudian Sa‘id menyebutkan firman Allah ‘Azza wa Jalla:يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ“Dia akan memberikan kepada kalian dua bagian dari rahmat-Nya.”Sa‘id berkata: dua bagian itu pada hari Jumat seperti itu juga. Riwayat ini dibawakan oleh Ibnu Jarir.Di antara yang menguatkan pendapat ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Ia berkata: telah menceritakan kepada kami Isma‘il, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Nafi‘, dari Ibnu Umar, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:مَثَلُكُمْ وَمَثَلُ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَعْمَلَ عُمَّالًا فَقَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ إِلَىٰ نِصْفِ النَّهَارِ عَلَىٰ قِيرَاطٍ قِيرَاطٍ؟ أَلَا فَعَمِلَتِ الْيَهُودُ، ثُمَّ قَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ نِصْفِ النَّهَارِ إِلَىٰ صَلَاةِ الْعَصْرِ عَلَىٰ قِيرَاطٍ قِيرَاطٍ؟ أَلَا فَعَمِلَتِ النَّصَارَى، ثُمَّ قَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَىٰ غُرُوبِ الشَّمْسِ عَلَىٰ قِيرَاطَيْنِ قِيرَاطَيْنِ؟ أَلَا فَأَنْتُمُ الَّذِينَ عَمِلْتُمْ، فَغَضِبَتِ النَّصَارَى وَالْيَهُودُ، وَقَالُوا: نَحْنُ أَكْثَرُ عَمَلًا وَأَقَلُّ عَطَاءً، قَالَ: هَلْ ظَلَمْتُكُمْ مِنْ أَجْرِكُمْ شَيْئًا؟ قَالُوا: لَا، قَالَ: فَإِنَّمَا هُوَ فَضْلِي أُؤْتِيهِ مَنْ أَشَاءُ“Perumpamaan kalian dengan Yahudi dan Nasrani seperti seorang laki-laki yang mempekerjakan para pekerja. Ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari setelah Shubuh hingga tengah hari dengan upah satu qirath satu qirath?’ Maka orang-orang Yahudi bekerja. Kemudian ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari tengah hari hingga Ashar dengan upah satu qirath satu qirath?’ Maka orang-orang Nasrani bekerja. Kemudian ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari setelah Ashar hingga terbenam matahari dengan upah dua qirath dua qirath?’ Maka kalianlah yang bekerja. Lalu orang-orang Nasrani dan Yahudi marah dan berkata: ‘Kami bekerja lebih banyak, tetapi mendapatkan upah lebih sedikit.’ Ia berkata: ‘Apakah aku mengurangi sedikit pun dari upah kalian?’ Mereka menjawab: ‘Tidak.’ Ia berkata: ‘Itu adalah karunia-Ku, Aku berikan kepada siapa yang Aku kehendaki.’”Ahmad berkata: hadits ini juga diriwayatkan kepada kami oleh Mu’ammal, dari Sufyan, dari ‘Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar, semisal hadits Nafi‘ darinya.Hadits ini diriwayatkan secara khusus oleh Al-Bukhari, dari Sulaiman bin Harb, dari Hammad, dari Ayyub, dari Nafi‘ dengan sanad tersebut, dan juga dari Qutaibah, dari Al-Laits, dari Nafi‘ dengan lafaz yang semisal.Al-Bukhari juga berkata: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al-‘Ala’, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Buraid, dari Abu Burdah, dari Abu Musa, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:مَثَلُ الْمُسْلِمِينَ وَالْيَهُودِ وَالنَّصَارَى كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَأْجَرَ قَوْمًا يَعْمَلُونَ لَهُ عَمَلًا يَوْمًا إِلَى اللَّيْلِ عَلَىٰ أَجْرٍ مَعْلُومٍ، فَعَمِلُوا إِلَىٰ نِصْفِ النَّهَارِ فَقَالُوا: لَا حَاجَةَ لَنَا فِي أَجْرِكَ الَّذِي شَرَطْتَ لَنَا، وَمَا عَمِلْنَا بَاطِلٌ، فَقَالَ لَهُمْ: لَا تَفْعَلُوا، أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ عَمَلِكُمْ وَخُذُوا أَجْرَكُمْ كَامِلًا، فَأَبَوْا وَتَرَكُوا، وَاسْتَأْجَرَ آخَرِينَ بَعْدَهُمْ فَقَالَ: أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ يَوْمِكُمْ وَلَكُمُ الَّذِي شَرَطْتُ لَهُمْ مِنَ الْأَجْرِ، فَعَمِلُوا، حَتَّىٰ إِذَا كَانَ حِينَ صَلَوْا الْعَصْرَ قَالُوا: مَا عَمِلْنَا بَاطِلٌ، وَلَكَ الْأَجْرُ الَّذِي جَعَلْتَ لَنَا فِيهِ، فَقَالَ: أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ عَمَلِكُمْ؛ فَإِنَّ مَا بَقِيَ مِنَ النَّهَارِ شَيْءٌ يَسِيرٌ، فَأَبَوْا، فَاسْتَأْجَرَ قَوْمًا أَنْ يَعْمَلُوا لَهُ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ، فَعَمِلُوا بَقِيَّةَ يَوْمِهِ حَتَّىٰ غَابَتِ الشَّمْسُ، فَاسْتَكْمَلُوا أَجْرَ الْفَرِيقَيْنِ كِلَيْهِمَا، فَذَلِكَ مَثَلُهُمْ وَمَثَلُ مَا قَبِلُوا مِنْ هَذَا النُّورِ“Perumpamaan kaum muslimin, Yahudi, dan Nasrani seperti seorang laki-laki yang menyewa suatu kaum untuk bekerja sehari penuh sampai malam dengan upah tertentu. Mereka bekerja sampai tengah hari, lalu berkata: ‘Kami tidak butuh upah yang engkau janjikan, dan apa yang kami kerjakan sia-sia.’ Ia berkata: ‘Jangan lakukan itu, selesaikan sisa pekerjaan kalian dan ambil upah kalian secara penuh.’ Namun mereka menolak dan pergi. Lalu ia menyewa orang lain setelah mereka dan berkata: ‘Selesaikan sisa hari kalian dan kalian akan mendapatkan upah seperti yang aku janjikan kepada mereka.’ Mereka bekerja, hingga ketika waktu Ashar, mereka berkata: ‘Apa yang kami kerjakan sia-sia, dan upah itu untukmu.’ Ia berkata: ‘Selesaikan sisa pekerjaan kalian, karena yang tersisa dari hari itu hanya sedikit.’ Namun mereka menolak. Lalu ia menyewa suatu kaum untuk menyelesaikan sisa hari itu, maka mereka bekerja hingga matahari terbenam, dan mereka mendapatkan upah kedua kelompok sebelumnya secara penuh. Itulah perumpamaan mereka dan perumpamaan apa yang mereka terima dari cahaya ini.”Hadits ini diriwayatkan secara khusus oleh Al-Bukhari. Cahaya itu Murni Karunia AllahAllah Ta‘ālā berfirman,﴿نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.” (QS. At-Taḥrīm: 8)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Mereka berkata: ‘Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.’”Mujahid, Adh-Dhahhak, Al-Hasan Al-Bashri, dan selain mereka berkata: ucapan ini diucapkan oleh orang-orang beriman ketika mereka melihat pada hari kiamat cahaya orang-orang munafik telah padam.Muhammad bin Nashr Al-Marwazi berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muqatil Al-Marwazi, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Lahi‘ah, telah menceritakan kepadaku Yazid bin Abi Habib, dari ‘Abdurrahman bin Jubair bin Nufair, bahwa ia mendengar Abu Dzar dan Abu Darda’ berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:أَنَا أَوَّلُ مَنْ يُؤْذَنُ لَهُ فِي السُّجُودِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَأَوَّلُ مَنْ يُؤْذَنُ لَهُ بِرَفْعِ رَأْسِهِ، فَأَنْظُرُ بَيْنَ يَدَيَّ فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ، وَأَنْظُرُ عَنْ يَمِينِي فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ، وَأَنْظُرُ عَنْ شِمَالِي فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ“Akulah orang pertama yang diizinkan untuk sujud pada hari kiamat, dan orang pertama yang diizinkan untuk mengangkat kepala. Lalu aku melihat ke hadapanku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya. Aku melihat ke sebelah kananku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya. Aku melihat ke sebelah kiriku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya.”Seorang laki-laki bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana engkau mengenali umatmu di antara umat-umat?” Beliau menjawab:غُرٌّ مُحَجَّلُونَ مِنْ آثَارِ الطُّهُورِ، وَلَا يَكُونُ أَحَدٌ مِنَ الْأُمَمِ كَذَلِكَ غَيْرُهُمْ، وَأَعْرِفُهُمْ أَنَّهُمْ يُؤْتَوْنَ كُتُبَهُمْ بِأَيْمَانِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ، وَأَعْرِفُهُمْ بِنُورِهِمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ“Mereka memiliki wajah dan anggota tubuh yang bercahaya karena bekas wudhu, dan tidak ada umat lain yang memiliki hal itu selain mereka. Aku juga mengenali mereka karena mereka menerima catatan amal mereka dengan tangan kanan, aku mengenali mereka dari tanda di wajah mereka akibat sujud, dan aku mengenali mereka dari cahaya yang berjalan di hadapan mereka.”Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Ishaq Ath-Thalqani, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, dari Yahya bin Hassan, dari seorang laki-laki dari Bani Kinanah, ia berkata: aku shalat di belakang Rasulullah ﷺ pada tahun penaklukan Makkah, lalu aku mendengar beliau berdoa:اللَّهُمَّ لَا تُخْزِنِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Ya Allah, janganlah Engkau hinakan aku pada hari kiamat.” Saat Orang Munafik Kehilangan CahayaAllah Ta‘ālā berfirman,يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”. Dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”. Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.” (QS. Al-Ḥadīd: 13)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.Ketika orang-orang munafik melihat cahaya orang-orang beriman yang mereka gunakan untuk berjalan, sementara cahaya mereka sendiri telah padam dan mereka berada dalam kegelapan dalam keadaan bingung, mereka berkata kepada orang-orang beriman:انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ“Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.”Maksudnya, berilah kami kesempatan agar kami mendapatkan cahaya yang bisa kami gunakan untuk berjalan, sehingga kami selamat dari azab.Maka dikatakan kepada mereka:ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا“Kembalilah kalian ke belakang dan carilah cahaya (di sana).”Maksudnya, jika hal itu mungkin dilakukan. Padahal kenyataannya hal itu tidak mungkin, bahkan termasuk sesuatu yang mustahil.Lalu dipisahkan antara orang-orang beriman dan orang-orang munafik dengan sebuah dinding:فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Maka dipasanglah di antara mereka sebuah dinding yang memiliki pintu. Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Yaitu sebuah dinding yang kokoh dan benteng yang kuat. Bagian dalam yang menghadap orang-orang beriman berisi rahmat, sedangkan bagian luar yang menghadap orang-orang munafik berisi azab. Lalu orang-orang munafik memanggil orang-orang beriman.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: ‘Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.’”Ini adalah pemberitahuan dari Allah tentang apa yang terjadi pada hari kiamat di padang mahsyar berupa berbagai kengerian yang mengguncangkan, gempa yang dahsyat, dan peristiwa-peristiwa yang menakutkan. Pada hari itu, tidak ada yang selamat kecuali orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mengamalkan apa yang diperintahkan Allah, dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya.Ibnu Abi Hatim berkata: telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami ‘Abdah bin Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, telah menceritakan kepada kami Shafwan bin ‘Amr, telah menceritakan kepadaku Sulaim bin ‘Amir, ia berkata: kami keluar mengiringi jenazah di pintu Damaskus bersama Abu Umamah Al-Bahili. Setelah beliau menyalati jenazah dan mereka mulai menguburkannya, Abu Umamah berkata:“Wahai manusia, kalian sekarang berada di suatu tempat yang di dalamnya kalian membagi-bagi kebaikan dan keburukan. Kalian hampir akan berpindah darinya menuju tempat lain, yaitu ini”—sambil menunjuk ke kubur—“rumah kesendirian, rumah kegelapan, rumah ulat, dan rumah kesempitan, kecuali yang dilapangkan oleh Allah. Kemudian kalian akan berpindah darinya menuju berbagai tempat pada hari kiamat. Pada sebagian tempat itu, manusia akan diliputi oleh suatu perkara dari Allah, sehingga ada wajah yang menjadi putih dan ada wajah yang menjadi hitam.Kemudian kalian berpindah lagi ke tempat lain, lalu manusia diliputi oleh kegelapan yang sangat. Setelah itu, cahaya dibagikan. Orang beriman diberi cahaya, sedangkan orang kafir dan munafik tidak diberi apa pun. Inilah perumpamaan yang Allah sebutkan dalam Kitab-Nya:أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ۚ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا ۗ وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ“Atau seperti kegelapan di lautan yang dalam, yang diliputi ombak di atasnya ombak (pula), di atasnya lagi awan; kegelapan yang bertumpuk-tumpuk. Apabila dia mengeluarkan tangannya, hampir-hampir dia tidak dapat melihatnya. Barang siapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah, maka tidak ada baginya cahaya.” (QS. An-Nur: 40)Maka orang kafir dan munafik tidak dapat mengambil manfaat dari cahaya orang beriman, sebagaimana orang buta tidak dapat mengambil manfaat dari cahaya orang yang melihat. Lalu orang-orang munafik berkata kepada orang-orang beriman:انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا“Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.” Lalu dikatakan kepada mereka: “Kembalilah kalian ke belakang dan carilah cahaya (di sana).”Itulah tipu daya Allah terhadap orang-orang munafik, sebagaimana firman-Nya:يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ“Mereka menipu Allah, dan Allah membalas tipu daya mereka.” (QS. An-Nisa: 142)Maka mereka kembali ke tempat pembagian cahaya, tetapi mereka tidak mendapatkan apa pun. Lalu mereka kembali kepada orang-orang beriman, namun telah dipisahkan antara mereka dengan sebuah dinding yang memiliki pintu:بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Sulaim bin ‘Amir berkata: orang munafik terus tertipu hingga cahaya dibagikan, lalu Allah membedakan antara orang beriman dan orang munafik.Ada lagi tambahan dari Ibnu Katsir sebagai berikut.Abu Al-Qasim Ath-Thabrani berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin ‘Alwiyah Al-Qaththan, telah menceritakan kepada kami Isma‘il bin ‘Isa Al-‘Aththar, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Bisyir Abu Hudzaifah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, dari Ibnu Abi Mulaikah, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:إِنَّ اللَّهَ يَدْعُو النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِهِمْ سِتْرًا مِنْهُ عَلَىٰ عِبَادِهِ، وَأَمَّا عِنْدَ الصِّرَاطِ فَإِنَّ اللَّهَ يُعْطِي كُلَّ مُؤْمِنٍ نُورًا، وَكُلَّ مُنَافِقٍ نُورًا، فَإِذَا اسْتَوَوْا عَلَى الصِّرَاطِ سَلَبَ اللَّهُ نُورَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ، فَقَالَ الْمُنَافِقُونَ: ﴿انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ﴾، وَقَالَ الْمُؤْمِنُونَ: ﴿رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا﴾، فَلَا يُذْكَرُ عِنْدَ ذَلِكَ أَحَدٌ أَحَدًا“Sesungguhnya Allah memanggil manusia pada hari kiamat dengan nama-nama mereka sebagai bentuk penutupan (aib) dari-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Adapun di dekat shirath, Allah memberikan kepada setiap orang beriman cahaya, dan kepada setiap orang munafik juga cahaya. Ketika mereka telah berada di atas shirath, Allah mencabut cahaya orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. Maka orang-orang munafik berkata: ‘Tunggulah kami agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.’ Dan orang-orang beriman berkata: ‘Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami.’ Maka pada saat itu, tidak ada seorang pun yang mengingat orang lain.”Firman-Nya:فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Maka dipasanglah di antara mereka sebuah dinding yang memiliki pintu. Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Al-Hasan dan Qatadah berkata: dinding itu adalah pemisah antara surga dan neraka.‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata: itulah yang disebut oleh Allah Ta‘ala dalam firman-Nya:وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ“Dan di antara keduanya ada batas.” (QS. Al-A‘raf: 46)Demikian pula diriwayatkan dari Mujahid rahimahullah dan selainnya, dan inilah pendapat yang benar.Baca juga: Ashabul A’raf: Golongan yang Timbangannya Seimbang, Tertahan di Antara Surga dan Neraka (Surah Al-A’raf ayat 46-49)Pengakuan Orang Munafik, Jawaban Orang BerimanAllah Ta‘ālā berfirman,يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ وَلَٰكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّىٰ جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ“Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab: “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu.” (QS. Al-Ḥadīd: 14)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini sebagai berikut.“Mereka memanggil mereka, ‘Bukankah kami dahulu bersama kalian?’” maksudnya, orang-orang munafik memanggil orang-orang beriman: bukankah kami dahulu bersama kalian di dunia, menghadiri shalat Jumat bersama kalian, shalat berjamaah bersama kalian, wukuf di Arafah bersama kalian, ikut dalam peperangan bersama kalian, dan menjalankan berbagai kewajiban bersama kalian?“Mereka menjawab, ‘Benar,’” yaitu orang-orang beriman menjawab: benar, kalian dahulu bersama kami.“Namun kalian mencelakakan diri kalian sendiri, menunggu-nunggu, ragu-ragu, dan kalian ditipu oleh angan-angan kosong.” Sebagian ulama salaf berkata: maksudnya kalian mencelakakan diri dengan kenikmatan, maksiat, dan syahwat.“Dan kalian menunggu-nunggu,” maksudnya kalian menunda tobat dari waktu ke waktu.Qatadah berkata: “Dan kalian menunggu-nunggu” yaitu terhadap kebenaran dan para pengikutnya. “Dan kalian ragu-ragu,” yaitu terhadap kebangkitan setelah kematian. “Dan kalian ditipu oleh angan-angan,” yaitu kalian berkata: Allah akan mengampuni kami. Ada juga yang mengatakan: kalian tertipu oleh dunia.“Hingga datang ketetapan Allah,” maksudnya kalian terus dalam keadaan itu hingga datang kematian.“Dan setan telah menipu kalian tentang Allah,” maksudnya setan.Qatadah berkata: mereka terus berada dalam tipuan setan, hingga akhirnya Allah melemparkan mereka ke dalam neraka.Makna ucapan orang-orang beriman kepada orang-orang munafik ini adalah: kalian dahulu bersama kami secara lahiriah, tetapi tanpa niat dan tanpa hati. Kalian berada dalam kebingungan dan keraguan, kalian hanya berbuat untuk dilihat manusia, dan kalian tidak mengingat Allah kecuali sedikit.Mujahid berkata: orang-orang munafik dahulu hidup bersama orang-orang beriman, mereka menikah dengan mereka, bergaul, dan hidup bersama mereka. Namun mereka mati dalam keadaan terpisah. Pada hari kiamat, mereka semua diberi cahaya, tetapi cahaya orang-orang munafik dipadamkan ketika sampai di dekat dinding, lalu dipisahkan antara mereka.Ucapan orang-orang beriman ini tidak bertentangan dengan firman Allah yang mengabarkan tentang mereka:كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ ۝ إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ ۝ فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ ۝ عَنِ الْمُجْرِمِينَ ۝ مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ ۝ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ۝ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ ۝ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ ۝ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ ۝ حَتَّىٰ أَتَانَا الْيَقِينُ“Setiap jiwa bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan. Mereka berada di dalam surga, saling bertanya tentang orang-orang yang berdosa: ‘Apa yang menyebabkan kalian masuk ke dalam (neraka) Saqar?’ Mereka menjawab: ‘Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, serta kami membicarakan yang batil bersama orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.’” (QS. Al-Muddatstsir: 38–47)Ucapan itu keluar dari orang-orang beriman sebagai bentuk celaan dan teguran keras kepada mereka. Kemudian Allah Ta‘ala berfirman:فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ“Maka tidak berguna bagi mereka syafaat para pemberi syafaat.” (QS. Al-Muddatstsir: 48) Empat sebab padamnya cahaya pada hari kiamatBerdasarkan Al-Hadid ayat 14, sebab tercabutnya cahaya pada hari kiamat dapat diringkas menjadi empat hal:1. Mencelakakan diri dengan maksiat dan syahwat(فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ)2. Menunda tobat dan menunggu-nunggu kebenaran(وَتَرَبَّصْتُمْ)3. Ragu terhadap iman dan hari akhir(وَارْتَبْتُمْ)4. Tertipu oleh angan-angan dan tipuan setan(وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ … وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ) Nasihat Penutup: Jagalah Cahaya Iman!Di zaman sekarang, seseorang bisa tampak dekat dengan agama secara lahiriah, tetapi yang paling menentukan tetaplah keadaan hati di sisi Allah. Banyak orang rajin hadir dalam majelis ilmu, aktif dalam amal, dan terlihat baik di hadapan manusia, namun yang menyelamatkan adalah iman yang jujur dan hati yang bersih. Karena itu, jangan hanya sibuk memperbaiki penampilan ibadah, tetapi perbaikilah juga niat, tobat, keyakinan, dan rasa takut kepada Allah. Semoga Allah menjaga cahaya iman kita, meneguhkan kita di atas kebenaran, dan tidak menjadikan kita termasuk orang yang kehilangan cahaya pada hari kiamat.اللَّهُمَّ أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا، وَاغْفِرْ لَنَا، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَىٰ طَاعَتِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُخْلِصِينَAllāhumma atmim lanā nūranā, waghfir lanā, wa tsabbit qulūbanā ‘alā ṭā‘atika, waj‘alnā min ‘ibādikal-mukhliṣīn.“Ya Allah, sempurnakanlah cahaya kami, ampunilah kami, teguhkan hati kami di atas ketaatan kepada-Mu, dan jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang ikhlas.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Selasa, 28 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscahaya iman hari akhir hari kiamat iman dan amal munafik nasihat akhirat orang munafik renungan ayat renungan quran rumaysho shirath tafsir Al-Hadid tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir tafsir quran takwa tazkiyatun nafs
Hari kiamat adalah hari ketika iman dan amal tampak nyata, bahkan dalam bentuk cahaya yang menerangi jalan seorang hamba. Orang-orang beriman mendapatkan cahaya sesuai kadar iman, takwa, dan amal mereka, sedangkan orang-orang munafik kehilangan cahaya itu pada saat yang paling genting. Dari ayat-ayat Surah Al-Hadid dan At-Tahrim ini (juz 27 dan 28), kita belajar pentingnya menjaga keikhlasan, menjauhi syahwat, meninggalkan keraguan, dan tidak tertipu oleh angan-angan kosong.  Daftar Isi tutup 1. Cahaya Orang Beriman di Hari Kiamat 2. Takwa Menghadirkan Cahaya dan Ampunan (Dua Bagian Rahmat) 3. Cahaya itu Murni Karunia Allah 4. Saat Orang Munafik Kehilangan Cahaya 5. Pengakuan Orang Munafik, Jawaban Orang Beriman 5.1. Empat sebab padamnya cahaya pada hari kiamat 6. Nasihat Penutup: Jagalah Cahaya Iman!  Cahaya Orang Beriman di Hari KiamatAllah Ta‘ālā berfirman:يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَىٰ نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“(yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar”.” (QS. Al-Ḥadīd: 12)Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:Allah Ta‘ala mengabarkan tentang orang-orang beriman yang gemar bersedekah, bahwa pada hari kiamat cahaya mereka berjalan di hadapan mereka di padang mahsyar, sesuai dengan kadar amal mereka. Sebagaimana disebutkan oleh Abdullah bin Mas‘ud tentang firman-Nya,يَسْعَىٰ نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ، قَالَ: عَلَىٰ قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ يَمُرُّونَ عَلَى الصِّرَاطِ، مِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ الْجَبَلِ، وَمِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ النَّخْلَةِ، وَمِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ الرَّجُلِ الْقَائِمِ، وَأَدْنَاهُمْ نُورًا مَنْ نُورُهُ فِي إِبْهَامِهِ يَتَّقِدُ مَرَّةً وَيَطْفَأُ مَرَّةً.“Cahaya mereka bersinar di hadapan mereka”, ia berkata: mereka melintasi shirath sesuai dengan amal mereka. Ada yang cahayanya seperti gunung, ada yang seperti pohon kurma, ada yang seperti seorang laki-laki yang berdiri, dan yang paling sedikit cahayanya adalah yang cahayanya berada di ibu jari kakinya, kadang menyala dan kadang padam. (HR. Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir)Qatadah berkata: disebutkan kepada kami bahwa Nabi ﷺ bersabda,مِنَ الْمُؤْمِنِينَ مَنْ يُضِيءُ نُورُهُ مِنَ الْمَدِينَةِ إِلَىٰ عَدَنَ أَبْيَنَ وَصَنْعَاءَ فَدُونَ ذَلِكَ، حَتَّىٰ إِنَّ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ مَنْ يُضِيءُ نُورُهُ مَوْضِعَ قَدَمَيْهِ.“Di antara orang-orang beriman ada yang cahayanya menerangi dari Madinah hingga ‘Adn Abyan dan Shan‘a, dan ada pula yang kurang dari itu, hingga di antara mereka ada yang cahayanya hanya menerangi tempat kedua telapak kakinya.”Sufyan Ats-Tsauri meriwayatkan dari Husain, dari Mujahid, dari Junadah bin Umayyah, ia berkata: sesungguhnya kalian telah dicatat di sisi Allah dengan nama-nama kalian, tanda-tanda kalian, perhiasan kalian, rahasia kalian, dan majelis kalian. Maka ketika hari kiamat tiba, dikatakan: “Wahai fulan, ini adalah cahayamu.” Dan kepada yang lain dikatakan: “Wahai fulan, tidak ada cahaya bagimu.” Lalu ia membaca ayat, “cahaya mereka bersinar di hadapan mereka.”Adh-Dhahhak berkata: setiap orang akan diberi cahaya pada hari kiamat. Ketika mereka sampai di atas shirath, padamlah cahaya orang-orang munafik. Ketika orang-orang beriman melihat hal itu, mereka merasa takut jika cahaya mereka juga padam sebagaimana padamnya cahaya orang-orang munafik. Maka mereka berkata:رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا“Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami.”Al-Hasan berkata tentang firman-Nya, “cahaya mereka bersinar di hadapan mereka”, maksudnya adalah di atas shirath.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Abu Darda’ dan Abu Dzar mengabarkan dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Aku adalah orang pertama yang diizinkan bersujud pada hari kiamat dan orang pertama yang diizinkan mengangkat kepala. Lalu aku melihat ke depan, ke belakang, ke kanan, dan ke kiri, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya.”فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، كَيْفَ تَعْرِفُ أُمَّتَكَ مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ مَا بَيْنَ نُوحٍ إِلَىٰ أُمَّتِكَ؟Seseorang bertanya: “Wahai Nabi Allah, bagaimana engkau mengenali umatmu di antara umat-umat dari zaman Nuh hingga umatmu?”قَالَ: «أَعْرِفُهُمْ، مُحَجَّلُونَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ، وَلَا يَكُونُ لِأَحَدٍ مِنَ الْأُمَمِ غَيْرُهُمْ، وَأَعْرِفُهُمْ يُؤْتَوْنَ كُتُبَهُمْ بِأَيْمَانِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِنُورِهِمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَذُرِّيَّتِهِمْ».Beliau menjawab: “Aku mengenali mereka dengan wajah yang bercahaya karena bekas wudhu, yang tidak dimiliki oleh umat lain. Aku mengenali mereka karena mereka menerima catatan amal dengan tangan kanan mereka. Aku mengenali mereka dari tanda-tanda di wajah mereka, dan aku mengenali mereka dari cahaya yang bersinar di hadapan mereka dan pada anak keturunan mereka.”Firman-Nya, “dan di sebelah kanan mereka”, Adh-Dhahhak berkata: yaitu catatan amal mereka berada di tangan kanan mereka, sebagaimana firman Allah, “Barang siapa yang diberikan kitabnya di tangan kanannya.”Firman-Nya, “(dikatakan kepada mereka): ‘Pada hari ini ada kabar gembira untuk kalian berupa surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai’”, maksudnya dikatakan kepada mereka: pada hari ini kalian mendapat kabar gembira berupa surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.“Mereka kekal di dalamnya”, yaitu mereka tinggal di dalamnya selama-lamanya.“Itulah kemenangan yang besar.”Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:Allah Ta‘ala menjelaskan tentang keutamaan iman dan kebahagiaan para pemiliknya pada hari kiamat: “(Yaitu) pada hari ketika engkau melihat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, cahaya mereka bersinar di hadapan mereka dan di sebelah kanan mereka.”Artinya, ketika hari kiamat terjadi, matahari digulung, bulan menjadi gelap, dan manusia berada dalam kegelapan, serta shirath dibentangkan di atas neraka Jahannam, maka pada saat itulah engkau melihat orang-orang beriman, laki-laki dan perempuan, cahaya mereka berjalan di hadapan dan di sebelah kanan mereka. Mereka berjalan dengan cahaya dan catatan amal mereka di tangan kanan, dalam keadaan yang sangat dahsyat dan sulit itu, masing-masing sesuai dengan kadar imannya.Pada saat itu, mereka diberi kabar gembira yang paling agung. Dikatakan kepada mereka:“Pada hari ini ada kabar gembira untuk kalian, yaitu surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, kalian kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”Sungguh, betapa indah kabar gembira ini di dalam hati mereka, dan betapa nikmat bagi jiwa mereka, karena mereka mendapatkan semua yang diinginkan dan dicintai, serta selamat dari segala keburukan dan hal yang ditakuti. Takwa Menghadirkan Cahaya dan Ampunan (Dua Bagian Rahmat)Allah Ta‘ālā berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ḥadīd: 28)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:Ayat ini kemungkinan merupakan seruan kepada Ahli Kitab yang telah beriman kepada Musa dan Isa ‘alaihimas salam, agar mereka mengamalkan konsekuensi dari iman mereka, yaitu dengan bertakwa kepada Allah dengan meninggalkan maksiat, serta beriman kepada Rasul-Nya, Muhammad ﷺ. Jika mereka melakukan hal itu, maka Allah akan memberikan kepada mereka dua bagian dari rahmat-Nya, yaitu dua bagian pahala: satu pahala atas iman mereka kepada para nabi terdahulu, dan satu pahala atas iman mereka kepada Muhammad ﷺ.Kemungkinan lain, ayat ini bersifat umum mencakup Ahli Kitab dan selain mereka, dan inilah yang lebih tampak. Allah memerintahkan mereka untuk beriman dan bertakwa, yang mencakup seluruh ajaran agama, baik lahir maupun batin, pokok maupun cabangnya. Jika mereka melaksanakan perintah yang agung ini, Allah akan memberikan kepada mereka dua bagian dari rahmat-Nya, yang hakikat dan besarnya hanya diketahui oleh Allah Ta‘ala. Bisa bermakna pahala atas iman dan pahala atas takwa, atau pahala atas melaksanakan perintah dan pahala atas menjauhi larangan, atau makna dua itu menunjukkan pemberian yang berulang-ulang.“Dan Dia menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan,” yaitu Allah memberi kalian ilmu, petunjuk, dan cahaya yang kalian gunakan untuk berjalan di tengah kegelapan kebodohan, serta Dia mengampuni dosa-dosa kalian.“Dan Allah memiliki karunia yang besar,” sehingga pahala ini tidaklah dianggap besar bagi Zat Yang memiliki karunia yang agung, yang karunia-Nya meliputi seluruh penduduk langit dan bumi. Tidak ada satu makhluk pun yang lepas dari karunia-Nya walau sekejap mata, bahkan lebih kecil dari itu.Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:Telah disebutkan dalam riwayat An-Nasa’i dari Ibnu ‘Abbas bahwa beliau memahami ayat ini tentang orang-orang beriman dari kalangan Ahli Kitab, dan bahwa mereka mendapatkan pahala dua kali, sebagaimana disebutkan dalam ayat di surah Al-Qashash, dan sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Asy-Sya‘bi, dari Abu Burdah, dari Abu Musa Al-Asy‘ari, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:ثَلَاثَةٌ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ: رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمَنَ بِنَبِيِّهِ وَآمَنَ بِي فَلَهُ أَجْرَانِ، وَعَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَدَّى حَقَّ اللَّهِ وَحَقَّ مَوَالِيهِ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَرَجُلٌ أَدَّبَ أَمَتَهُ فَأَحْسَنَ تَأْدِيبَهَا ثُمَّ أَعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا فَلَهُ أَجْرَانِ“Tiga golongan yang mendapatkan pahala dua kali: seorang dari Ahli Kitab yang beriman kepada nabinya dan beriman kepadaku, maka ia mendapat dua pahala; seorang hamba sahaya yang menunaikan hak Allah dan hak tuannya, maka ia mendapat dua pahala; dan seorang yang mendidik budak wanitanya dengan baik, lalu memerdekakannya dan menikahinya, maka ia mendapat dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)Pendapat ini juga disepakati oleh Adh-Dhahhak, ‘Utbah bin Abi Hakim, dan selain keduanya, serta dipilih oleh Ibnu Jarir.Sa‘id bin Jubair berkata: ketika Ahli Kitab membanggakan bahwa mereka mendapatkan pahala dua kali, maka Allah menurunkan ayat ini untuk umat ini:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian dua bagian dari rahmat-Nya, menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan, dan mengampuni kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Maksudnya, dua bagian tersebut adalah dua kali lipat. Allah juga menambahkan bagi mereka, “dan Dia menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan,” yaitu petunjuk yang dengannya seseorang dapat melihat jalan di tengah kebutaan dan kebodohan, serta mengampuni kalian. Allah melebihkan mereka dengan cahaya dan ampunan. Riwayat ini juga dibawakan oleh Ibnu Jarir.Ayat ini serupa dengan firman Allah Ta‘ala:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian pembeda (antara yang benar dan yang batil), menghapus kesalahan-kesalahan kalian, dan mengampuni kalian. Dan Allah memiliki karunia yang besar.” (QS. Al-Anfal: 29)Sa‘id bin ‘Abdul ‘Aziz berkata: Umar bin Al-Khaththab pernah bertanya kepada seorang alim dari kalangan Yahudi: “Berapa kali lipat paling besar pahala kebaikan yang diberikan kepada kalian?” Ia menjawab: “Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi tiga ratus lima puluh kebaikan.” Maka Umar memuji Allah karena Dia telah memberikan kepada kita dua bagian (pahala). Kemudian Sa‘id menyebutkan firman Allah ‘Azza wa Jalla:يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ“Dia akan memberikan kepada kalian dua bagian dari rahmat-Nya.”Sa‘id berkata: dua bagian itu pada hari Jumat seperti itu juga. Riwayat ini dibawakan oleh Ibnu Jarir.Di antara yang menguatkan pendapat ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Ia berkata: telah menceritakan kepada kami Isma‘il, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Nafi‘, dari Ibnu Umar, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:مَثَلُكُمْ وَمَثَلُ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَعْمَلَ عُمَّالًا فَقَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ إِلَىٰ نِصْفِ النَّهَارِ عَلَىٰ قِيرَاطٍ قِيرَاطٍ؟ أَلَا فَعَمِلَتِ الْيَهُودُ، ثُمَّ قَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ نِصْفِ النَّهَارِ إِلَىٰ صَلَاةِ الْعَصْرِ عَلَىٰ قِيرَاطٍ قِيرَاطٍ؟ أَلَا فَعَمِلَتِ النَّصَارَى، ثُمَّ قَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَىٰ غُرُوبِ الشَّمْسِ عَلَىٰ قِيرَاطَيْنِ قِيرَاطَيْنِ؟ أَلَا فَأَنْتُمُ الَّذِينَ عَمِلْتُمْ، فَغَضِبَتِ النَّصَارَى وَالْيَهُودُ، وَقَالُوا: نَحْنُ أَكْثَرُ عَمَلًا وَأَقَلُّ عَطَاءً، قَالَ: هَلْ ظَلَمْتُكُمْ مِنْ أَجْرِكُمْ شَيْئًا؟ قَالُوا: لَا، قَالَ: فَإِنَّمَا هُوَ فَضْلِي أُؤْتِيهِ مَنْ أَشَاءُ“Perumpamaan kalian dengan Yahudi dan Nasrani seperti seorang laki-laki yang mempekerjakan para pekerja. Ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari setelah Shubuh hingga tengah hari dengan upah satu qirath satu qirath?’ Maka orang-orang Yahudi bekerja. Kemudian ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari tengah hari hingga Ashar dengan upah satu qirath satu qirath?’ Maka orang-orang Nasrani bekerja. Kemudian ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari setelah Ashar hingga terbenam matahari dengan upah dua qirath dua qirath?’ Maka kalianlah yang bekerja. Lalu orang-orang Nasrani dan Yahudi marah dan berkata: ‘Kami bekerja lebih banyak, tetapi mendapatkan upah lebih sedikit.’ Ia berkata: ‘Apakah aku mengurangi sedikit pun dari upah kalian?’ Mereka menjawab: ‘Tidak.’ Ia berkata: ‘Itu adalah karunia-Ku, Aku berikan kepada siapa yang Aku kehendaki.’”Ahmad berkata: hadits ini juga diriwayatkan kepada kami oleh Mu’ammal, dari Sufyan, dari ‘Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar, semisal hadits Nafi‘ darinya.Hadits ini diriwayatkan secara khusus oleh Al-Bukhari, dari Sulaiman bin Harb, dari Hammad, dari Ayyub, dari Nafi‘ dengan sanad tersebut, dan juga dari Qutaibah, dari Al-Laits, dari Nafi‘ dengan lafaz yang semisal.Al-Bukhari juga berkata: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al-‘Ala’, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Buraid, dari Abu Burdah, dari Abu Musa, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:مَثَلُ الْمُسْلِمِينَ وَالْيَهُودِ وَالنَّصَارَى كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَأْجَرَ قَوْمًا يَعْمَلُونَ لَهُ عَمَلًا يَوْمًا إِلَى اللَّيْلِ عَلَىٰ أَجْرٍ مَعْلُومٍ، فَعَمِلُوا إِلَىٰ نِصْفِ النَّهَارِ فَقَالُوا: لَا حَاجَةَ لَنَا فِي أَجْرِكَ الَّذِي شَرَطْتَ لَنَا، وَمَا عَمِلْنَا بَاطِلٌ، فَقَالَ لَهُمْ: لَا تَفْعَلُوا، أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ عَمَلِكُمْ وَخُذُوا أَجْرَكُمْ كَامِلًا، فَأَبَوْا وَتَرَكُوا، وَاسْتَأْجَرَ آخَرِينَ بَعْدَهُمْ فَقَالَ: أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ يَوْمِكُمْ وَلَكُمُ الَّذِي شَرَطْتُ لَهُمْ مِنَ الْأَجْرِ، فَعَمِلُوا، حَتَّىٰ إِذَا كَانَ حِينَ صَلَوْا الْعَصْرَ قَالُوا: مَا عَمِلْنَا بَاطِلٌ، وَلَكَ الْأَجْرُ الَّذِي جَعَلْتَ لَنَا فِيهِ، فَقَالَ: أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ عَمَلِكُمْ؛ فَإِنَّ مَا بَقِيَ مِنَ النَّهَارِ شَيْءٌ يَسِيرٌ، فَأَبَوْا، فَاسْتَأْجَرَ قَوْمًا أَنْ يَعْمَلُوا لَهُ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ، فَعَمِلُوا بَقِيَّةَ يَوْمِهِ حَتَّىٰ غَابَتِ الشَّمْسُ، فَاسْتَكْمَلُوا أَجْرَ الْفَرِيقَيْنِ كِلَيْهِمَا، فَذَلِكَ مَثَلُهُمْ وَمَثَلُ مَا قَبِلُوا مِنْ هَذَا النُّورِ“Perumpamaan kaum muslimin, Yahudi, dan Nasrani seperti seorang laki-laki yang menyewa suatu kaum untuk bekerja sehari penuh sampai malam dengan upah tertentu. Mereka bekerja sampai tengah hari, lalu berkata: ‘Kami tidak butuh upah yang engkau janjikan, dan apa yang kami kerjakan sia-sia.’ Ia berkata: ‘Jangan lakukan itu, selesaikan sisa pekerjaan kalian dan ambil upah kalian secara penuh.’ Namun mereka menolak dan pergi. Lalu ia menyewa orang lain setelah mereka dan berkata: ‘Selesaikan sisa hari kalian dan kalian akan mendapatkan upah seperti yang aku janjikan kepada mereka.’ Mereka bekerja, hingga ketika waktu Ashar, mereka berkata: ‘Apa yang kami kerjakan sia-sia, dan upah itu untukmu.’ Ia berkata: ‘Selesaikan sisa pekerjaan kalian, karena yang tersisa dari hari itu hanya sedikit.’ Namun mereka menolak. Lalu ia menyewa suatu kaum untuk menyelesaikan sisa hari itu, maka mereka bekerja hingga matahari terbenam, dan mereka mendapatkan upah kedua kelompok sebelumnya secara penuh. Itulah perumpamaan mereka dan perumpamaan apa yang mereka terima dari cahaya ini.”Hadits ini diriwayatkan secara khusus oleh Al-Bukhari. Cahaya itu Murni Karunia AllahAllah Ta‘ālā berfirman,﴿نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.” (QS. At-Taḥrīm: 8)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Mereka berkata: ‘Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.’”Mujahid, Adh-Dhahhak, Al-Hasan Al-Bashri, dan selain mereka berkata: ucapan ini diucapkan oleh orang-orang beriman ketika mereka melihat pada hari kiamat cahaya orang-orang munafik telah padam.Muhammad bin Nashr Al-Marwazi berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muqatil Al-Marwazi, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Lahi‘ah, telah menceritakan kepadaku Yazid bin Abi Habib, dari ‘Abdurrahman bin Jubair bin Nufair, bahwa ia mendengar Abu Dzar dan Abu Darda’ berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:أَنَا أَوَّلُ مَنْ يُؤْذَنُ لَهُ فِي السُّجُودِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَأَوَّلُ مَنْ يُؤْذَنُ لَهُ بِرَفْعِ رَأْسِهِ، فَأَنْظُرُ بَيْنَ يَدَيَّ فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ، وَأَنْظُرُ عَنْ يَمِينِي فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ، وَأَنْظُرُ عَنْ شِمَالِي فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ“Akulah orang pertama yang diizinkan untuk sujud pada hari kiamat, dan orang pertama yang diizinkan untuk mengangkat kepala. Lalu aku melihat ke hadapanku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya. Aku melihat ke sebelah kananku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya. Aku melihat ke sebelah kiriku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya.”Seorang laki-laki bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana engkau mengenali umatmu di antara umat-umat?” Beliau menjawab:غُرٌّ مُحَجَّلُونَ مِنْ آثَارِ الطُّهُورِ، وَلَا يَكُونُ أَحَدٌ مِنَ الْأُمَمِ كَذَلِكَ غَيْرُهُمْ، وَأَعْرِفُهُمْ أَنَّهُمْ يُؤْتَوْنَ كُتُبَهُمْ بِأَيْمَانِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ، وَأَعْرِفُهُمْ بِنُورِهِمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ“Mereka memiliki wajah dan anggota tubuh yang bercahaya karena bekas wudhu, dan tidak ada umat lain yang memiliki hal itu selain mereka. Aku juga mengenali mereka karena mereka menerima catatan amal mereka dengan tangan kanan, aku mengenali mereka dari tanda di wajah mereka akibat sujud, dan aku mengenali mereka dari cahaya yang berjalan di hadapan mereka.”Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Ishaq Ath-Thalqani, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, dari Yahya bin Hassan, dari seorang laki-laki dari Bani Kinanah, ia berkata: aku shalat di belakang Rasulullah ﷺ pada tahun penaklukan Makkah, lalu aku mendengar beliau berdoa:اللَّهُمَّ لَا تُخْزِنِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Ya Allah, janganlah Engkau hinakan aku pada hari kiamat.” Saat Orang Munafik Kehilangan CahayaAllah Ta‘ālā berfirman,يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”. Dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”. Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.” (QS. Al-Ḥadīd: 13)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.Ketika orang-orang munafik melihat cahaya orang-orang beriman yang mereka gunakan untuk berjalan, sementara cahaya mereka sendiri telah padam dan mereka berada dalam kegelapan dalam keadaan bingung, mereka berkata kepada orang-orang beriman:انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ“Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.”Maksudnya, berilah kami kesempatan agar kami mendapatkan cahaya yang bisa kami gunakan untuk berjalan, sehingga kami selamat dari azab.Maka dikatakan kepada mereka:ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا“Kembalilah kalian ke belakang dan carilah cahaya (di sana).”Maksudnya, jika hal itu mungkin dilakukan. Padahal kenyataannya hal itu tidak mungkin, bahkan termasuk sesuatu yang mustahil.Lalu dipisahkan antara orang-orang beriman dan orang-orang munafik dengan sebuah dinding:فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Maka dipasanglah di antara mereka sebuah dinding yang memiliki pintu. Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Yaitu sebuah dinding yang kokoh dan benteng yang kuat. Bagian dalam yang menghadap orang-orang beriman berisi rahmat, sedangkan bagian luar yang menghadap orang-orang munafik berisi azab. Lalu orang-orang munafik memanggil orang-orang beriman.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: ‘Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.’”Ini adalah pemberitahuan dari Allah tentang apa yang terjadi pada hari kiamat di padang mahsyar berupa berbagai kengerian yang mengguncangkan, gempa yang dahsyat, dan peristiwa-peristiwa yang menakutkan. Pada hari itu, tidak ada yang selamat kecuali orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mengamalkan apa yang diperintahkan Allah, dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya.Ibnu Abi Hatim berkata: telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami ‘Abdah bin Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, telah menceritakan kepada kami Shafwan bin ‘Amr, telah menceritakan kepadaku Sulaim bin ‘Amir, ia berkata: kami keluar mengiringi jenazah di pintu Damaskus bersama Abu Umamah Al-Bahili. Setelah beliau menyalati jenazah dan mereka mulai menguburkannya, Abu Umamah berkata:“Wahai manusia, kalian sekarang berada di suatu tempat yang di dalamnya kalian membagi-bagi kebaikan dan keburukan. Kalian hampir akan berpindah darinya menuju tempat lain, yaitu ini”—sambil menunjuk ke kubur—“rumah kesendirian, rumah kegelapan, rumah ulat, dan rumah kesempitan, kecuali yang dilapangkan oleh Allah. Kemudian kalian akan berpindah darinya menuju berbagai tempat pada hari kiamat. Pada sebagian tempat itu, manusia akan diliputi oleh suatu perkara dari Allah, sehingga ada wajah yang menjadi putih dan ada wajah yang menjadi hitam.Kemudian kalian berpindah lagi ke tempat lain, lalu manusia diliputi oleh kegelapan yang sangat. Setelah itu, cahaya dibagikan. Orang beriman diberi cahaya, sedangkan orang kafir dan munafik tidak diberi apa pun. Inilah perumpamaan yang Allah sebutkan dalam Kitab-Nya:أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ۚ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا ۗ وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ“Atau seperti kegelapan di lautan yang dalam, yang diliputi ombak di atasnya ombak (pula), di atasnya lagi awan; kegelapan yang bertumpuk-tumpuk. Apabila dia mengeluarkan tangannya, hampir-hampir dia tidak dapat melihatnya. Barang siapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah, maka tidak ada baginya cahaya.” (QS. An-Nur: 40)Maka orang kafir dan munafik tidak dapat mengambil manfaat dari cahaya orang beriman, sebagaimana orang buta tidak dapat mengambil manfaat dari cahaya orang yang melihat. Lalu orang-orang munafik berkata kepada orang-orang beriman:انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا“Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.” Lalu dikatakan kepada mereka: “Kembalilah kalian ke belakang dan carilah cahaya (di sana).”Itulah tipu daya Allah terhadap orang-orang munafik, sebagaimana firman-Nya:يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ“Mereka menipu Allah, dan Allah membalas tipu daya mereka.” (QS. An-Nisa: 142)Maka mereka kembali ke tempat pembagian cahaya, tetapi mereka tidak mendapatkan apa pun. Lalu mereka kembali kepada orang-orang beriman, namun telah dipisahkan antara mereka dengan sebuah dinding yang memiliki pintu:بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Sulaim bin ‘Amir berkata: orang munafik terus tertipu hingga cahaya dibagikan, lalu Allah membedakan antara orang beriman dan orang munafik.Ada lagi tambahan dari Ibnu Katsir sebagai berikut.Abu Al-Qasim Ath-Thabrani berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin ‘Alwiyah Al-Qaththan, telah menceritakan kepada kami Isma‘il bin ‘Isa Al-‘Aththar, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Bisyir Abu Hudzaifah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, dari Ibnu Abi Mulaikah, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:إِنَّ اللَّهَ يَدْعُو النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِهِمْ سِتْرًا مِنْهُ عَلَىٰ عِبَادِهِ، وَأَمَّا عِنْدَ الصِّرَاطِ فَإِنَّ اللَّهَ يُعْطِي كُلَّ مُؤْمِنٍ نُورًا، وَكُلَّ مُنَافِقٍ نُورًا، فَإِذَا اسْتَوَوْا عَلَى الصِّرَاطِ سَلَبَ اللَّهُ نُورَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ، فَقَالَ الْمُنَافِقُونَ: ﴿انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ﴾، وَقَالَ الْمُؤْمِنُونَ: ﴿رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا﴾، فَلَا يُذْكَرُ عِنْدَ ذَلِكَ أَحَدٌ أَحَدًا“Sesungguhnya Allah memanggil manusia pada hari kiamat dengan nama-nama mereka sebagai bentuk penutupan (aib) dari-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Adapun di dekat shirath, Allah memberikan kepada setiap orang beriman cahaya, dan kepada setiap orang munafik juga cahaya. Ketika mereka telah berada di atas shirath, Allah mencabut cahaya orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. Maka orang-orang munafik berkata: ‘Tunggulah kami agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.’ Dan orang-orang beriman berkata: ‘Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami.’ Maka pada saat itu, tidak ada seorang pun yang mengingat orang lain.”Firman-Nya:فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Maka dipasanglah di antara mereka sebuah dinding yang memiliki pintu. Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Al-Hasan dan Qatadah berkata: dinding itu adalah pemisah antara surga dan neraka.‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata: itulah yang disebut oleh Allah Ta‘ala dalam firman-Nya:وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ“Dan di antara keduanya ada batas.” (QS. Al-A‘raf: 46)Demikian pula diriwayatkan dari Mujahid rahimahullah dan selainnya, dan inilah pendapat yang benar.Baca juga: Ashabul A’raf: Golongan yang Timbangannya Seimbang, Tertahan di Antara Surga dan Neraka (Surah Al-A’raf ayat 46-49)Pengakuan Orang Munafik, Jawaban Orang BerimanAllah Ta‘ālā berfirman,يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ وَلَٰكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّىٰ جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ“Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab: “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu.” (QS. Al-Ḥadīd: 14)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini sebagai berikut.“Mereka memanggil mereka, ‘Bukankah kami dahulu bersama kalian?’” maksudnya, orang-orang munafik memanggil orang-orang beriman: bukankah kami dahulu bersama kalian di dunia, menghadiri shalat Jumat bersama kalian, shalat berjamaah bersama kalian, wukuf di Arafah bersama kalian, ikut dalam peperangan bersama kalian, dan menjalankan berbagai kewajiban bersama kalian?“Mereka menjawab, ‘Benar,’” yaitu orang-orang beriman menjawab: benar, kalian dahulu bersama kami.“Namun kalian mencelakakan diri kalian sendiri, menunggu-nunggu, ragu-ragu, dan kalian ditipu oleh angan-angan kosong.” Sebagian ulama salaf berkata: maksudnya kalian mencelakakan diri dengan kenikmatan, maksiat, dan syahwat.“Dan kalian menunggu-nunggu,” maksudnya kalian menunda tobat dari waktu ke waktu.Qatadah berkata: “Dan kalian menunggu-nunggu” yaitu terhadap kebenaran dan para pengikutnya. “Dan kalian ragu-ragu,” yaitu terhadap kebangkitan setelah kematian. “Dan kalian ditipu oleh angan-angan,” yaitu kalian berkata: Allah akan mengampuni kami. Ada juga yang mengatakan: kalian tertipu oleh dunia.“Hingga datang ketetapan Allah,” maksudnya kalian terus dalam keadaan itu hingga datang kematian.“Dan setan telah menipu kalian tentang Allah,” maksudnya setan.Qatadah berkata: mereka terus berada dalam tipuan setan, hingga akhirnya Allah melemparkan mereka ke dalam neraka.Makna ucapan orang-orang beriman kepada orang-orang munafik ini adalah: kalian dahulu bersama kami secara lahiriah, tetapi tanpa niat dan tanpa hati. Kalian berada dalam kebingungan dan keraguan, kalian hanya berbuat untuk dilihat manusia, dan kalian tidak mengingat Allah kecuali sedikit.Mujahid berkata: orang-orang munafik dahulu hidup bersama orang-orang beriman, mereka menikah dengan mereka, bergaul, dan hidup bersama mereka. Namun mereka mati dalam keadaan terpisah. Pada hari kiamat, mereka semua diberi cahaya, tetapi cahaya orang-orang munafik dipadamkan ketika sampai di dekat dinding, lalu dipisahkan antara mereka.Ucapan orang-orang beriman ini tidak bertentangan dengan firman Allah yang mengabarkan tentang mereka:كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ ۝ إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ ۝ فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ ۝ عَنِ الْمُجْرِمِينَ ۝ مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ ۝ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ۝ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ ۝ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ ۝ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ ۝ حَتَّىٰ أَتَانَا الْيَقِينُ“Setiap jiwa bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan. Mereka berada di dalam surga, saling bertanya tentang orang-orang yang berdosa: ‘Apa yang menyebabkan kalian masuk ke dalam (neraka) Saqar?’ Mereka menjawab: ‘Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, serta kami membicarakan yang batil bersama orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.’” (QS. Al-Muddatstsir: 38–47)Ucapan itu keluar dari orang-orang beriman sebagai bentuk celaan dan teguran keras kepada mereka. Kemudian Allah Ta‘ala berfirman:فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ“Maka tidak berguna bagi mereka syafaat para pemberi syafaat.” (QS. Al-Muddatstsir: 48) Empat sebab padamnya cahaya pada hari kiamatBerdasarkan Al-Hadid ayat 14, sebab tercabutnya cahaya pada hari kiamat dapat diringkas menjadi empat hal:1. Mencelakakan diri dengan maksiat dan syahwat(فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ)2. Menunda tobat dan menunggu-nunggu kebenaran(وَتَرَبَّصْتُمْ)3. Ragu terhadap iman dan hari akhir(وَارْتَبْتُمْ)4. Tertipu oleh angan-angan dan tipuan setan(وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ … وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ) Nasihat Penutup: Jagalah Cahaya Iman!Di zaman sekarang, seseorang bisa tampak dekat dengan agama secara lahiriah, tetapi yang paling menentukan tetaplah keadaan hati di sisi Allah. Banyak orang rajin hadir dalam majelis ilmu, aktif dalam amal, dan terlihat baik di hadapan manusia, namun yang menyelamatkan adalah iman yang jujur dan hati yang bersih. Karena itu, jangan hanya sibuk memperbaiki penampilan ibadah, tetapi perbaikilah juga niat, tobat, keyakinan, dan rasa takut kepada Allah. Semoga Allah menjaga cahaya iman kita, meneguhkan kita di atas kebenaran, dan tidak menjadikan kita termasuk orang yang kehilangan cahaya pada hari kiamat.اللَّهُمَّ أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا، وَاغْفِرْ لَنَا، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَىٰ طَاعَتِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُخْلِصِينَAllāhumma atmim lanā nūranā, waghfir lanā, wa tsabbit qulūbanā ‘alā ṭā‘atika, waj‘alnā min ‘ibādikal-mukhliṣīn.“Ya Allah, sempurnakanlah cahaya kami, ampunilah kami, teguhkan hati kami di atas ketaatan kepada-Mu, dan jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang ikhlas.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Selasa, 28 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscahaya iman hari akhir hari kiamat iman dan amal munafik nasihat akhirat orang munafik renungan ayat renungan quran rumaysho shirath tafsir Al-Hadid tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir tafsir quran takwa tazkiyatun nafs


Hari kiamat adalah hari ketika iman dan amal tampak nyata, bahkan dalam bentuk cahaya yang menerangi jalan seorang hamba. Orang-orang beriman mendapatkan cahaya sesuai kadar iman, takwa, dan amal mereka, sedangkan orang-orang munafik kehilangan cahaya itu pada saat yang paling genting. Dari ayat-ayat Surah Al-Hadid dan At-Tahrim ini (juz 27 dan 28), kita belajar pentingnya menjaga keikhlasan, menjauhi syahwat, meninggalkan keraguan, dan tidak tertipu oleh angan-angan kosong.  Daftar Isi tutup 1. Cahaya Orang Beriman di Hari Kiamat 2. Takwa Menghadirkan Cahaya dan Ampunan (Dua Bagian Rahmat) 3. Cahaya itu Murni Karunia Allah 4. Saat Orang Munafik Kehilangan Cahaya 5. Pengakuan Orang Munafik, Jawaban Orang Beriman 5.1. Empat sebab padamnya cahaya pada hari kiamat 6. Nasihat Penutup: Jagalah Cahaya Iman!  Cahaya Orang Beriman di Hari KiamatAllah Ta‘ālā berfirman:يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَىٰ نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“(yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar”.” (QS. Al-Ḥadīd: 12)Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:Allah Ta‘ala mengabarkan tentang orang-orang beriman yang gemar bersedekah, bahwa pada hari kiamat cahaya mereka berjalan di hadapan mereka di padang mahsyar, sesuai dengan kadar amal mereka. Sebagaimana disebutkan oleh Abdullah bin Mas‘ud tentang firman-Nya,يَسْعَىٰ نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ، قَالَ: عَلَىٰ قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ يَمُرُّونَ عَلَى الصِّرَاطِ، مِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ الْجَبَلِ، وَمِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ النَّخْلَةِ، وَمِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ الرَّجُلِ الْقَائِمِ، وَأَدْنَاهُمْ نُورًا مَنْ نُورُهُ فِي إِبْهَامِهِ يَتَّقِدُ مَرَّةً وَيَطْفَأُ مَرَّةً.“Cahaya mereka bersinar di hadapan mereka”, ia berkata: mereka melintasi shirath sesuai dengan amal mereka. Ada yang cahayanya seperti gunung, ada yang seperti pohon kurma, ada yang seperti seorang laki-laki yang berdiri, dan yang paling sedikit cahayanya adalah yang cahayanya berada di ibu jari kakinya, kadang menyala dan kadang padam. (HR. Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir)Qatadah berkata: disebutkan kepada kami bahwa Nabi ﷺ bersabda,مِنَ الْمُؤْمِنِينَ مَنْ يُضِيءُ نُورُهُ مِنَ الْمَدِينَةِ إِلَىٰ عَدَنَ أَبْيَنَ وَصَنْعَاءَ فَدُونَ ذَلِكَ، حَتَّىٰ إِنَّ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ مَنْ يُضِيءُ نُورُهُ مَوْضِعَ قَدَمَيْهِ.“Di antara orang-orang beriman ada yang cahayanya menerangi dari Madinah hingga ‘Adn Abyan dan Shan‘a, dan ada pula yang kurang dari itu, hingga di antara mereka ada yang cahayanya hanya menerangi tempat kedua telapak kakinya.”Sufyan Ats-Tsauri meriwayatkan dari Husain, dari Mujahid, dari Junadah bin Umayyah, ia berkata: sesungguhnya kalian telah dicatat di sisi Allah dengan nama-nama kalian, tanda-tanda kalian, perhiasan kalian, rahasia kalian, dan majelis kalian. Maka ketika hari kiamat tiba, dikatakan: “Wahai fulan, ini adalah cahayamu.” Dan kepada yang lain dikatakan: “Wahai fulan, tidak ada cahaya bagimu.” Lalu ia membaca ayat, “cahaya mereka bersinar di hadapan mereka.”Adh-Dhahhak berkata: setiap orang akan diberi cahaya pada hari kiamat. Ketika mereka sampai di atas shirath, padamlah cahaya orang-orang munafik. Ketika orang-orang beriman melihat hal itu, mereka merasa takut jika cahaya mereka juga padam sebagaimana padamnya cahaya orang-orang munafik. Maka mereka berkata:رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا“Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami.”Al-Hasan berkata tentang firman-Nya, “cahaya mereka bersinar di hadapan mereka”, maksudnya adalah di atas shirath.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Abu Darda’ dan Abu Dzar mengabarkan dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Aku adalah orang pertama yang diizinkan bersujud pada hari kiamat dan orang pertama yang diizinkan mengangkat kepala. Lalu aku melihat ke depan, ke belakang, ke kanan, dan ke kiri, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya.”فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، كَيْفَ تَعْرِفُ أُمَّتَكَ مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ مَا بَيْنَ نُوحٍ إِلَىٰ أُمَّتِكَ؟Seseorang bertanya: “Wahai Nabi Allah, bagaimana engkau mengenali umatmu di antara umat-umat dari zaman Nuh hingga umatmu?”قَالَ: «أَعْرِفُهُمْ، مُحَجَّلُونَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ، وَلَا يَكُونُ لِأَحَدٍ مِنَ الْأُمَمِ غَيْرُهُمْ، وَأَعْرِفُهُمْ يُؤْتَوْنَ كُتُبَهُمْ بِأَيْمَانِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِنُورِهِمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَذُرِّيَّتِهِمْ».Beliau menjawab: “Aku mengenali mereka dengan wajah yang bercahaya karena bekas wudhu, yang tidak dimiliki oleh umat lain. Aku mengenali mereka karena mereka menerima catatan amal dengan tangan kanan mereka. Aku mengenali mereka dari tanda-tanda di wajah mereka, dan aku mengenali mereka dari cahaya yang bersinar di hadapan mereka dan pada anak keturunan mereka.”Firman-Nya, “dan di sebelah kanan mereka”, Adh-Dhahhak berkata: yaitu catatan amal mereka berada di tangan kanan mereka, sebagaimana firman Allah, “Barang siapa yang diberikan kitabnya di tangan kanannya.”Firman-Nya, “(dikatakan kepada mereka): ‘Pada hari ini ada kabar gembira untuk kalian berupa surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai’”, maksudnya dikatakan kepada mereka: pada hari ini kalian mendapat kabar gembira berupa surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.“Mereka kekal di dalamnya”, yaitu mereka tinggal di dalamnya selama-lamanya.“Itulah kemenangan yang besar.”Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:Allah Ta‘ala menjelaskan tentang keutamaan iman dan kebahagiaan para pemiliknya pada hari kiamat: “(Yaitu) pada hari ketika engkau melihat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, cahaya mereka bersinar di hadapan mereka dan di sebelah kanan mereka.”Artinya, ketika hari kiamat terjadi, matahari digulung, bulan menjadi gelap, dan manusia berada dalam kegelapan, serta shirath dibentangkan di atas neraka Jahannam, maka pada saat itulah engkau melihat orang-orang beriman, laki-laki dan perempuan, cahaya mereka berjalan di hadapan dan di sebelah kanan mereka. Mereka berjalan dengan cahaya dan catatan amal mereka di tangan kanan, dalam keadaan yang sangat dahsyat dan sulit itu, masing-masing sesuai dengan kadar imannya.Pada saat itu, mereka diberi kabar gembira yang paling agung. Dikatakan kepada mereka:“Pada hari ini ada kabar gembira untuk kalian, yaitu surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, kalian kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”Sungguh, betapa indah kabar gembira ini di dalam hati mereka, dan betapa nikmat bagi jiwa mereka, karena mereka mendapatkan semua yang diinginkan dan dicintai, serta selamat dari segala keburukan dan hal yang ditakuti. Takwa Menghadirkan Cahaya dan Ampunan (Dua Bagian Rahmat)Allah Ta‘ālā berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ḥadīd: 28)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:Ayat ini kemungkinan merupakan seruan kepada Ahli Kitab yang telah beriman kepada Musa dan Isa ‘alaihimas salam, agar mereka mengamalkan konsekuensi dari iman mereka, yaitu dengan bertakwa kepada Allah dengan meninggalkan maksiat, serta beriman kepada Rasul-Nya, Muhammad ﷺ. Jika mereka melakukan hal itu, maka Allah akan memberikan kepada mereka dua bagian dari rahmat-Nya, yaitu dua bagian pahala: satu pahala atas iman mereka kepada para nabi terdahulu, dan satu pahala atas iman mereka kepada Muhammad ﷺ.Kemungkinan lain, ayat ini bersifat umum mencakup Ahli Kitab dan selain mereka, dan inilah yang lebih tampak. Allah memerintahkan mereka untuk beriman dan bertakwa, yang mencakup seluruh ajaran agama, baik lahir maupun batin, pokok maupun cabangnya. Jika mereka melaksanakan perintah yang agung ini, Allah akan memberikan kepada mereka dua bagian dari rahmat-Nya, yang hakikat dan besarnya hanya diketahui oleh Allah Ta‘ala. Bisa bermakna pahala atas iman dan pahala atas takwa, atau pahala atas melaksanakan perintah dan pahala atas menjauhi larangan, atau makna dua itu menunjukkan pemberian yang berulang-ulang.“Dan Dia menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan,” yaitu Allah memberi kalian ilmu, petunjuk, dan cahaya yang kalian gunakan untuk berjalan di tengah kegelapan kebodohan, serta Dia mengampuni dosa-dosa kalian.“Dan Allah memiliki karunia yang besar,” sehingga pahala ini tidaklah dianggap besar bagi Zat Yang memiliki karunia yang agung, yang karunia-Nya meliputi seluruh penduduk langit dan bumi. Tidak ada satu makhluk pun yang lepas dari karunia-Nya walau sekejap mata, bahkan lebih kecil dari itu.Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:Telah disebutkan dalam riwayat An-Nasa’i dari Ibnu ‘Abbas bahwa beliau memahami ayat ini tentang orang-orang beriman dari kalangan Ahli Kitab, dan bahwa mereka mendapatkan pahala dua kali, sebagaimana disebutkan dalam ayat di surah Al-Qashash, dan sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Asy-Sya‘bi, dari Abu Burdah, dari Abu Musa Al-Asy‘ari, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:ثَلَاثَةٌ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ: رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمَنَ بِنَبِيِّهِ وَآمَنَ بِي فَلَهُ أَجْرَانِ، وَعَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَدَّى حَقَّ اللَّهِ وَحَقَّ مَوَالِيهِ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَرَجُلٌ أَدَّبَ أَمَتَهُ فَأَحْسَنَ تَأْدِيبَهَا ثُمَّ أَعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا فَلَهُ أَجْرَانِ“Tiga golongan yang mendapatkan pahala dua kali: seorang dari Ahli Kitab yang beriman kepada nabinya dan beriman kepadaku, maka ia mendapat dua pahala; seorang hamba sahaya yang menunaikan hak Allah dan hak tuannya, maka ia mendapat dua pahala; dan seorang yang mendidik budak wanitanya dengan baik, lalu memerdekakannya dan menikahinya, maka ia mendapat dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)Pendapat ini juga disepakati oleh Adh-Dhahhak, ‘Utbah bin Abi Hakim, dan selain keduanya, serta dipilih oleh Ibnu Jarir.Sa‘id bin Jubair berkata: ketika Ahli Kitab membanggakan bahwa mereka mendapatkan pahala dua kali, maka Allah menurunkan ayat ini untuk umat ini:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian dua bagian dari rahmat-Nya, menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan, dan mengampuni kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Maksudnya, dua bagian tersebut adalah dua kali lipat. Allah juga menambahkan bagi mereka, “dan Dia menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan,” yaitu petunjuk yang dengannya seseorang dapat melihat jalan di tengah kebutaan dan kebodohan, serta mengampuni kalian. Allah melebihkan mereka dengan cahaya dan ampunan. Riwayat ini juga dibawakan oleh Ibnu Jarir.Ayat ini serupa dengan firman Allah Ta‘ala:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian pembeda (antara yang benar dan yang batil), menghapus kesalahan-kesalahan kalian, dan mengampuni kalian. Dan Allah memiliki karunia yang besar.” (QS. Al-Anfal: 29)Sa‘id bin ‘Abdul ‘Aziz berkata: Umar bin Al-Khaththab pernah bertanya kepada seorang alim dari kalangan Yahudi: “Berapa kali lipat paling besar pahala kebaikan yang diberikan kepada kalian?” Ia menjawab: “Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi tiga ratus lima puluh kebaikan.” Maka Umar memuji Allah karena Dia telah memberikan kepada kita dua bagian (pahala). Kemudian Sa‘id menyebutkan firman Allah ‘Azza wa Jalla:يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ“Dia akan memberikan kepada kalian dua bagian dari rahmat-Nya.”Sa‘id berkata: dua bagian itu pada hari Jumat seperti itu juga. Riwayat ini dibawakan oleh Ibnu Jarir.Di antara yang menguatkan pendapat ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Ia berkata: telah menceritakan kepada kami Isma‘il, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Nafi‘, dari Ibnu Umar, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:مَثَلُكُمْ وَمَثَلُ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَعْمَلَ عُمَّالًا فَقَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ إِلَىٰ نِصْفِ النَّهَارِ عَلَىٰ قِيرَاطٍ قِيرَاطٍ؟ أَلَا فَعَمِلَتِ الْيَهُودُ، ثُمَّ قَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ نِصْفِ النَّهَارِ إِلَىٰ صَلَاةِ الْعَصْرِ عَلَىٰ قِيرَاطٍ قِيرَاطٍ؟ أَلَا فَعَمِلَتِ النَّصَارَى، ثُمَّ قَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَىٰ غُرُوبِ الشَّمْسِ عَلَىٰ قِيرَاطَيْنِ قِيرَاطَيْنِ؟ أَلَا فَأَنْتُمُ الَّذِينَ عَمِلْتُمْ، فَغَضِبَتِ النَّصَارَى وَالْيَهُودُ، وَقَالُوا: نَحْنُ أَكْثَرُ عَمَلًا وَأَقَلُّ عَطَاءً، قَالَ: هَلْ ظَلَمْتُكُمْ مِنْ أَجْرِكُمْ شَيْئًا؟ قَالُوا: لَا، قَالَ: فَإِنَّمَا هُوَ فَضْلِي أُؤْتِيهِ مَنْ أَشَاءُ“Perumpamaan kalian dengan Yahudi dan Nasrani seperti seorang laki-laki yang mempekerjakan para pekerja. Ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari setelah Shubuh hingga tengah hari dengan upah satu qirath satu qirath?’ Maka orang-orang Yahudi bekerja. Kemudian ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari tengah hari hingga Ashar dengan upah satu qirath satu qirath?’ Maka orang-orang Nasrani bekerja. Kemudian ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari setelah Ashar hingga terbenam matahari dengan upah dua qirath dua qirath?’ Maka kalianlah yang bekerja. Lalu orang-orang Nasrani dan Yahudi marah dan berkata: ‘Kami bekerja lebih banyak, tetapi mendapatkan upah lebih sedikit.’ Ia berkata: ‘Apakah aku mengurangi sedikit pun dari upah kalian?’ Mereka menjawab: ‘Tidak.’ Ia berkata: ‘Itu adalah karunia-Ku, Aku berikan kepada siapa yang Aku kehendaki.’”Ahmad berkata: hadits ini juga diriwayatkan kepada kami oleh Mu’ammal, dari Sufyan, dari ‘Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar, semisal hadits Nafi‘ darinya.Hadits ini diriwayatkan secara khusus oleh Al-Bukhari, dari Sulaiman bin Harb, dari Hammad, dari Ayyub, dari Nafi‘ dengan sanad tersebut, dan juga dari Qutaibah, dari Al-Laits, dari Nafi‘ dengan lafaz yang semisal.Al-Bukhari juga berkata: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al-‘Ala’, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Buraid, dari Abu Burdah, dari Abu Musa, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:مَثَلُ الْمُسْلِمِينَ وَالْيَهُودِ وَالنَّصَارَى كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَأْجَرَ قَوْمًا يَعْمَلُونَ لَهُ عَمَلًا يَوْمًا إِلَى اللَّيْلِ عَلَىٰ أَجْرٍ مَعْلُومٍ، فَعَمِلُوا إِلَىٰ نِصْفِ النَّهَارِ فَقَالُوا: لَا حَاجَةَ لَنَا فِي أَجْرِكَ الَّذِي شَرَطْتَ لَنَا، وَمَا عَمِلْنَا بَاطِلٌ، فَقَالَ لَهُمْ: لَا تَفْعَلُوا، أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ عَمَلِكُمْ وَخُذُوا أَجْرَكُمْ كَامِلًا، فَأَبَوْا وَتَرَكُوا، وَاسْتَأْجَرَ آخَرِينَ بَعْدَهُمْ فَقَالَ: أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ يَوْمِكُمْ وَلَكُمُ الَّذِي شَرَطْتُ لَهُمْ مِنَ الْأَجْرِ، فَعَمِلُوا، حَتَّىٰ إِذَا كَانَ حِينَ صَلَوْا الْعَصْرَ قَالُوا: مَا عَمِلْنَا بَاطِلٌ، وَلَكَ الْأَجْرُ الَّذِي جَعَلْتَ لَنَا فِيهِ، فَقَالَ: أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ عَمَلِكُمْ؛ فَإِنَّ مَا بَقِيَ مِنَ النَّهَارِ شَيْءٌ يَسِيرٌ، فَأَبَوْا، فَاسْتَأْجَرَ قَوْمًا أَنْ يَعْمَلُوا لَهُ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ، فَعَمِلُوا بَقِيَّةَ يَوْمِهِ حَتَّىٰ غَابَتِ الشَّمْسُ، فَاسْتَكْمَلُوا أَجْرَ الْفَرِيقَيْنِ كِلَيْهِمَا، فَذَلِكَ مَثَلُهُمْ وَمَثَلُ مَا قَبِلُوا مِنْ هَذَا النُّورِ“Perumpamaan kaum muslimin, Yahudi, dan Nasrani seperti seorang laki-laki yang menyewa suatu kaum untuk bekerja sehari penuh sampai malam dengan upah tertentu. Mereka bekerja sampai tengah hari, lalu berkata: ‘Kami tidak butuh upah yang engkau janjikan, dan apa yang kami kerjakan sia-sia.’ Ia berkata: ‘Jangan lakukan itu, selesaikan sisa pekerjaan kalian dan ambil upah kalian secara penuh.’ Namun mereka menolak dan pergi. Lalu ia menyewa orang lain setelah mereka dan berkata: ‘Selesaikan sisa hari kalian dan kalian akan mendapatkan upah seperti yang aku janjikan kepada mereka.’ Mereka bekerja, hingga ketika waktu Ashar, mereka berkata: ‘Apa yang kami kerjakan sia-sia, dan upah itu untukmu.’ Ia berkata: ‘Selesaikan sisa pekerjaan kalian, karena yang tersisa dari hari itu hanya sedikit.’ Namun mereka menolak. Lalu ia menyewa suatu kaum untuk menyelesaikan sisa hari itu, maka mereka bekerja hingga matahari terbenam, dan mereka mendapatkan upah kedua kelompok sebelumnya secara penuh. Itulah perumpamaan mereka dan perumpamaan apa yang mereka terima dari cahaya ini.”Hadits ini diriwayatkan secara khusus oleh Al-Bukhari. Cahaya itu Murni Karunia AllahAllah Ta‘ālā berfirman,﴿نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.” (QS. At-Taḥrīm: 8)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Mereka berkata: ‘Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.’”Mujahid, Adh-Dhahhak, Al-Hasan Al-Bashri, dan selain mereka berkata: ucapan ini diucapkan oleh orang-orang beriman ketika mereka melihat pada hari kiamat cahaya orang-orang munafik telah padam.Muhammad bin Nashr Al-Marwazi berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muqatil Al-Marwazi, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Lahi‘ah, telah menceritakan kepadaku Yazid bin Abi Habib, dari ‘Abdurrahman bin Jubair bin Nufair, bahwa ia mendengar Abu Dzar dan Abu Darda’ berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:أَنَا أَوَّلُ مَنْ يُؤْذَنُ لَهُ فِي السُّجُودِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَأَوَّلُ مَنْ يُؤْذَنُ لَهُ بِرَفْعِ رَأْسِهِ، فَأَنْظُرُ بَيْنَ يَدَيَّ فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ، وَأَنْظُرُ عَنْ يَمِينِي فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ، وَأَنْظُرُ عَنْ شِمَالِي فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ“Akulah orang pertama yang diizinkan untuk sujud pada hari kiamat, dan orang pertama yang diizinkan untuk mengangkat kepala. Lalu aku melihat ke hadapanku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya. Aku melihat ke sebelah kananku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya. Aku melihat ke sebelah kiriku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya.”Seorang laki-laki bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana engkau mengenali umatmu di antara umat-umat?” Beliau menjawab:غُرٌّ مُحَجَّلُونَ مِنْ آثَارِ الطُّهُورِ، وَلَا يَكُونُ أَحَدٌ مِنَ الْأُمَمِ كَذَلِكَ غَيْرُهُمْ، وَأَعْرِفُهُمْ أَنَّهُمْ يُؤْتَوْنَ كُتُبَهُمْ بِأَيْمَانِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ، وَأَعْرِفُهُمْ بِنُورِهِمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ“Mereka memiliki wajah dan anggota tubuh yang bercahaya karena bekas wudhu, dan tidak ada umat lain yang memiliki hal itu selain mereka. Aku juga mengenali mereka karena mereka menerima catatan amal mereka dengan tangan kanan, aku mengenali mereka dari tanda di wajah mereka akibat sujud, dan aku mengenali mereka dari cahaya yang berjalan di hadapan mereka.”Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Ishaq Ath-Thalqani, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, dari Yahya bin Hassan, dari seorang laki-laki dari Bani Kinanah, ia berkata: aku shalat di belakang Rasulullah ﷺ pada tahun penaklukan Makkah, lalu aku mendengar beliau berdoa:اللَّهُمَّ لَا تُخْزِنِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Ya Allah, janganlah Engkau hinakan aku pada hari kiamat.” Saat Orang Munafik Kehilangan CahayaAllah Ta‘ālā berfirman,يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”. Dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”. Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.” (QS. Al-Ḥadīd: 13)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.Ketika orang-orang munafik melihat cahaya orang-orang beriman yang mereka gunakan untuk berjalan, sementara cahaya mereka sendiri telah padam dan mereka berada dalam kegelapan dalam keadaan bingung, mereka berkata kepada orang-orang beriman:انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ“Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.”Maksudnya, berilah kami kesempatan agar kami mendapatkan cahaya yang bisa kami gunakan untuk berjalan, sehingga kami selamat dari azab.Maka dikatakan kepada mereka:ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا“Kembalilah kalian ke belakang dan carilah cahaya (di sana).”Maksudnya, jika hal itu mungkin dilakukan. Padahal kenyataannya hal itu tidak mungkin, bahkan termasuk sesuatu yang mustahil.Lalu dipisahkan antara orang-orang beriman dan orang-orang munafik dengan sebuah dinding:فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Maka dipasanglah di antara mereka sebuah dinding yang memiliki pintu. Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Yaitu sebuah dinding yang kokoh dan benteng yang kuat. Bagian dalam yang menghadap orang-orang beriman berisi rahmat, sedangkan bagian luar yang menghadap orang-orang munafik berisi azab. Lalu orang-orang munafik memanggil orang-orang beriman.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: ‘Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.’”Ini adalah pemberitahuan dari Allah tentang apa yang terjadi pada hari kiamat di padang mahsyar berupa berbagai kengerian yang mengguncangkan, gempa yang dahsyat, dan peristiwa-peristiwa yang menakutkan. Pada hari itu, tidak ada yang selamat kecuali orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mengamalkan apa yang diperintahkan Allah, dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya.Ibnu Abi Hatim berkata: telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami ‘Abdah bin Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, telah menceritakan kepada kami Shafwan bin ‘Amr, telah menceritakan kepadaku Sulaim bin ‘Amir, ia berkata: kami keluar mengiringi jenazah di pintu Damaskus bersama Abu Umamah Al-Bahili. Setelah beliau menyalati jenazah dan mereka mulai menguburkannya, Abu Umamah berkata:“Wahai manusia, kalian sekarang berada di suatu tempat yang di dalamnya kalian membagi-bagi kebaikan dan keburukan. Kalian hampir akan berpindah darinya menuju tempat lain, yaitu ini”—sambil menunjuk ke kubur—“rumah kesendirian, rumah kegelapan, rumah ulat, dan rumah kesempitan, kecuali yang dilapangkan oleh Allah. Kemudian kalian akan berpindah darinya menuju berbagai tempat pada hari kiamat. Pada sebagian tempat itu, manusia akan diliputi oleh suatu perkara dari Allah, sehingga ada wajah yang menjadi putih dan ada wajah yang menjadi hitam.Kemudian kalian berpindah lagi ke tempat lain, lalu manusia diliputi oleh kegelapan yang sangat. Setelah itu, cahaya dibagikan. Orang beriman diberi cahaya, sedangkan orang kafir dan munafik tidak diberi apa pun. Inilah perumpamaan yang Allah sebutkan dalam Kitab-Nya:أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ۚ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا ۗ وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ“Atau seperti kegelapan di lautan yang dalam, yang diliputi ombak di atasnya ombak (pula), di atasnya lagi awan; kegelapan yang bertumpuk-tumpuk. Apabila dia mengeluarkan tangannya, hampir-hampir dia tidak dapat melihatnya. Barang siapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah, maka tidak ada baginya cahaya.” (QS. An-Nur: 40)Maka orang kafir dan munafik tidak dapat mengambil manfaat dari cahaya orang beriman, sebagaimana orang buta tidak dapat mengambil manfaat dari cahaya orang yang melihat. Lalu orang-orang munafik berkata kepada orang-orang beriman:انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا“Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.” Lalu dikatakan kepada mereka: “Kembalilah kalian ke belakang dan carilah cahaya (di sana).”Itulah tipu daya Allah terhadap orang-orang munafik, sebagaimana firman-Nya:يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ“Mereka menipu Allah, dan Allah membalas tipu daya mereka.” (QS. An-Nisa: 142)Maka mereka kembali ke tempat pembagian cahaya, tetapi mereka tidak mendapatkan apa pun. Lalu mereka kembali kepada orang-orang beriman, namun telah dipisahkan antara mereka dengan sebuah dinding yang memiliki pintu:بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Sulaim bin ‘Amir berkata: orang munafik terus tertipu hingga cahaya dibagikan, lalu Allah membedakan antara orang beriman dan orang munafik.Ada lagi tambahan dari Ibnu Katsir sebagai berikut.Abu Al-Qasim Ath-Thabrani berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin ‘Alwiyah Al-Qaththan, telah menceritakan kepada kami Isma‘il bin ‘Isa Al-‘Aththar, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Bisyir Abu Hudzaifah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, dari Ibnu Abi Mulaikah, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:إِنَّ اللَّهَ يَدْعُو النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِهِمْ سِتْرًا مِنْهُ عَلَىٰ عِبَادِهِ، وَأَمَّا عِنْدَ الصِّرَاطِ فَإِنَّ اللَّهَ يُعْطِي كُلَّ مُؤْمِنٍ نُورًا، وَكُلَّ مُنَافِقٍ نُورًا، فَإِذَا اسْتَوَوْا عَلَى الصِّرَاطِ سَلَبَ اللَّهُ نُورَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ، فَقَالَ الْمُنَافِقُونَ: ﴿انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ﴾، وَقَالَ الْمُؤْمِنُونَ: ﴿رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا﴾، فَلَا يُذْكَرُ عِنْدَ ذَلِكَ أَحَدٌ أَحَدًا“Sesungguhnya Allah memanggil manusia pada hari kiamat dengan nama-nama mereka sebagai bentuk penutupan (aib) dari-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Adapun di dekat shirath, Allah memberikan kepada setiap orang beriman cahaya, dan kepada setiap orang munafik juga cahaya. Ketika mereka telah berada di atas shirath, Allah mencabut cahaya orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. Maka orang-orang munafik berkata: ‘Tunggulah kami agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.’ Dan orang-orang beriman berkata: ‘Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami.’ Maka pada saat itu, tidak ada seorang pun yang mengingat orang lain.”Firman-Nya:فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Maka dipasanglah di antara mereka sebuah dinding yang memiliki pintu. Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Al-Hasan dan Qatadah berkata: dinding itu adalah pemisah antara surga dan neraka.‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata: itulah yang disebut oleh Allah Ta‘ala dalam firman-Nya:وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ“Dan di antara keduanya ada batas.” (QS. Al-A‘raf: 46)Demikian pula diriwayatkan dari Mujahid rahimahullah dan selainnya, dan inilah pendapat yang benar.Baca juga: Ashabul A’raf: Golongan yang Timbangannya Seimbang, Tertahan di Antara Surga dan Neraka (Surah Al-A’raf ayat 46-49)Pengakuan Orang Munafik, Jawaban Orang BerimanAllah Ta‘ālā berfirman,يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ وَلَٰكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّىٰ جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ“Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab: “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu.” (QS. Al-Ḥadīd: 14)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini sebagai berikut.“Mereka memanggil mereka, ‘Bukankah kami dahulu bersama kalian?’” maksudnya, orang-orang munafik memanggil orang-orang beriman: bukankah kami dahulu bersama kalian di dunia, menghadiri shalat Jumat bersama kalian, shalat berjamaah bersama kalian, wukuf di Arafah bersama kalian, ikut dalam peperangan bersama kalian, dan menjalankan berbagai kewajiban bersama kalian?“Mereka menjawab, ‘Benar,’” yaitu orang-orang beriman menjawab: benar, kalian dahulu bersama kami.“Namun kalian mencelakakan diri kalian sendiri, menunggu-nunggu, ragu-ragu, dan kalian ditipu oleh angan-angan kosong.” Sebagian ulama salaf berkata: maksudnya kalian mencelakakan diri dengan kenikmatan, maksiat, dan syahwat.“Dan kalian menunggu-nunggu,” maksudnya kalian menunda tobat dari waktu ke waktu.Qatadah berkata: “Dan kalian menunggu-nunggu” yaitu terhadap kebenaran dan para pengikutnya. “Dan kalian ragu-ragu,” yaitu terhadap kebangkitan setelah kematian. “Dan kalian ditipu oleh angan-angan,” yaitu kalian berkata: Allah akan mengampuni kami. Ada juga yang mengatakan: kalian tertipu oleh dunia.“Hingga datang ketetapan Allah,” maksudnya kalian terus dalam keadaan itu hingga datang kematian.“Dan setan telah menipu kalian tentang Allah,” maksudnya setan.Qatadah berkata: mereka terus berada dalam tipuan setan, hingga akhirnya Allah melemparkan mereka ke dalam neraka.Makna ucapan orang-orang beriman kepada orang-orang munafik ini adalah: kalian dahulu bersama kami secara lahiriah, tetapi tanpa niat dan tanpa hati. Kalian berada dalam kebingungan dan keraguan, kalian hanya berbuat untuk dilihat manusia, dan kalian tidak mengingat Allah kecuali sedikit.Mujahid berkata: orang-orang munafik dahulu hidup bersama orang-orang beriman, mereka menikah dengan mereka, bergaul, dan hidup bersama mereka. Namun mereka mati dalam keadaan terpisah. Pada hari kiamat, mereka semua diberi cahaya, tetapi cahaya orang-orang munafik dipadamkan ketika sampai di dekat dinding, lalu dipisahkan antara mereka.Ucapan orang-orang beriman ini tidak bertentangan dengan firman Allah yang mengabarkan tentang mereka:كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ ۝ إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ ۝ فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ ۝ عَنِ الْمُجْرِمِينَ ۝ مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ ۝ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ۝ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ ۝ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ ۝ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ ۝ حَتَّىٰ أَتَانَا الْيَقِينُ“Setiap jiwa bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan. Mereka berada di dalam surga, saling bertanya tentang orang-orang yang berdosa: ‘Apa yang menyebabkan kalian masuk ke dalam (neraka) Saqar?’ Mereka menjawab: ‘Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, serta kami membicarakan yang batil bersama orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.’” (QS. Al-Muddatstsir: 38–47)Ucapan itu keluar dari orang-orang beriman sebagai bentuk celaan dan teguran keras kepada mereka. Kemudian Allah Ta‘ala berfirman:فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ“Maka tidak berguna bagi mereka syafaat para pemberi syafaat.” (QS. Al-Muddatstsir: 48) Empat sebab padamnya cahaya pada hari kiamatBerdasarkan Al-Hadid ayat 14, sebab tercabutnya cahaya pada hari kiamat dapat diringkas menjadi empat hal:1. Mencelakakan diri dengan maksiat dan syahwat(فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ)2. Menunda tobat dan menunggu-nunggu kebenaran(وَتَرَبَّصْتُمْ)3. Ragu terhadap iman dan hari akhir(وَارْتَبْتُمْ)4. Tertipu oleh angan-angan dan tipuan setan(وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ … وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ) Nasihat Penutup: Jagalah Cahaya Iman!Di zaman sekarang, seseorang bisa tampak dekat dengan agama secara lahiriah, tetapi yang paling menentukan tetaplah keadaan hati di sisi Allah. Banyak orang rajin hadir dalam majelis ilmu, aktif dalam amal, dan terlihat baik di hadapan manusia, namun yang menyelamatkan adalah iman yang jujur dan hati yang bersih. Karena itu, jangan hanya sibuk memperbaiki penampilan ibadah, tetapi perbaikilah juga niat, tobat, keyakinan, dan rasa takut kepada Allah. Semoga Allah menjaga cahaya iman kita, meneguhkan kita di atas kebenaran, dan tidak menjadikan kita termasuk orang yang kehilangan cahaya pada hari kiamat.اللَّهُمَّ أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا، وَاغْفِرْ لَنَا، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَىٰ طَاعَتِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُخْلِصِينَAllāhumma atmim lanā nūranā, waghfir lanā, wa tsabbit qulūbanā ‘alā ṭā‘atika, waj‘alnā min ‘ibādikal-mukhliṣīn.“Ya Allah, sempurnakanlah cahaya kami, ampunilah kami, teguhkan hati kami di atas ketaatan kepada-Mu, dan jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang ikhlas.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Selasa, 28 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscahaya iman hari akhir hari kiamat iman dan amal munafik nasihat akhirat orang munafik renungan ayat renungan quran rumaysho shirath tafsir Al-Hadid tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir tafsir quran takwa tazkiyatun nafs
Prev     Next