Kisah jin yang mendengarkan Al-Qur’an menunjukkan betapa agungnya kalam Allah hingga mampu menggugah hati makhluk yang tidak terlihat oleh manusia. Mereka tidak hanya mendengar, tetapi juga beriman, lalu kembali kepada kaumnya untuk mengajak kepada tauhid dan memperingatkan dari kesesatan. Ayat-ayat dalam Surah Al-Ahqaf ini mengajarkan bahwa siapa pun yang jujur mencari kebenaran, akan ditunjuki kepada jalan yang lurus. Baca juga:Kisah Jin Mendengar Al-Quran Lantas Berdakwah pada KaumnyaFaedah Sirah Nabi: Masih Kisah Dakwah ke Thaif, Ketika Jin Mendengar Al-QuranKumpulan Artikel Dakwah Nabi ke Thaif Daftar Isi tutup 1. 1. Al-Qur’an Didengar oleh Sekelompok Jin 1.1. Awal Mula Jin Datang Mendengar Bacaan Nabi ﷺ 1.2. Kesimpulan dari cerita-cerita di atas adalah: 2. 2. Jin Mengakui Kebenaran Al-Qur’an 3. 3. Seruan Jin agar Kaumnya Beriman 3.1. Apakah Jin Mukmin Masuk Surga? 4. 4. Ancaman bagi yang Menolak Seruan Allah 5. Pelajaran Dakwah dari Kisah Jin dalam Al-Qur’an 6. Nasihat Penutup 1. Al-Qur’an Didengar oleh Sekelompok JinAllah Ta’ala berfirman,وَإِذْ صَرَفْنَآ إِلَيْكَ نَفَرًا مِّنَ ٱلْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ ٱلْقُرْءَانَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوٓا۟ أَنصِتُوا۟ ۖ فَلَمَّا قُضِىَ وَلَّوْا۟ إِلَىٰ قَوْمِهِم مُّنذِرِينَ“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.” (QS. Al-Ahqaf: 29) Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat 29:Imam Ahmad berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Amr, ia berkata: Aku mendengar Ikrimah, dari Az-Zubair mengenai firman Allah:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ“Dan ingatlah ketika Kami hadapkan kepadamu beberapa golongan jin yang mendengarkan Al-Qur’an.”Ia berkata: Peristiwa itu terjadi di Nakhlah, ketika Rasulullah ﷺ sedang melaksanakan salat Isya terakhir. Mengenai firman Allah:كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا “hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya.” (QS. Al-Jin: 19)Sufyan menjelaskan bahwa kata اللبد berarti sebagian mereka saling menumpuk di atas yang lain, seperti sesuatu yang saling bertumpuk.Riwayat ini hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Nanti akan disebutkan pula riwayat dari Ibnu Jarir, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas bahwa jumlah mereka adalah tujuh jin dari daerah Nashibin.Imam Ahmad juga berkata: Affan menceritakan kepada kami, Abu Awanah menceritakan kepada kami. Awal Mula Jin Datang Mendengar Bacaan Nabi ﷺAl-Hafizh Abu Bakar Al-Baihaqi dalam kitab Dalā’il An-Nubuwwah berkata: Abu Al-Hasan Ali bin Ahmad bin Abdan mengabarkan kepada kami, Ahmad bin Ubaid Ash-Shaffar menceritakan kepada kami, Ismail Al-Qadhi menceritakan kepada kami, Musaddad menceritakan kepada kami, Abu Awanah dari Abu Bisyir, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia berkata:Rasulullah ﷺ tidak pernah membaca Al-Qur’an secara khusus kepada para jin dan tidak pula melihat mereka. Pada suatu ketika Rasulullah ﷺ berangkat bersama beberapa sahabat menuju pasar ‘Ukaz.Saat itu para setan telah terhalang dari berita langit, dan mereka dilempari dengan bintang-bintang. Maka para setan kembali kepada kaum mereka. Kaum mereka bertanya, “Apa yang terjadi dengan kalian?”Mereka menjawab, “Kami terhalang dari berita langit dan dilempari dengan bintang-bintang.”Kaum mereka berkata, “Tidaklah sesuatu menghalangi kalian dari berita langit kecuali karena ada peristiwa baru yang terjadi. Maka pergilah kalian ke seluruh penjuru bumi, ke timur dan ke barat, dan carilah apa yang menyebabkan kalian terhalang dari berita langit.”Maka mereka pun pergi menyusuri seluruh penjuru bumi untuk mencari penyebab hal tersebut. Sekelompok jin yang menuju arah Tihamah kemudian sampai kepada Rasulullah ﷺ di Nakhlah. Ketika itu beliau sedang dalam perjalanan menuju pasar ‘Ukaz dan sedang shalat Subuh bersama para sahabatnya.Ketika mereka mendengar bacaan Al-Qur’an, mereka pun mendengarkannya dengan saksama. Lalu mereka berkata, “Inilah, demi Allah, yang telah menghalangi kalian dari berita langit.”Ketika mereka kembali kepada kaum mereka, mereka berkata:يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا“Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengar bacaan Al-Qur’an yang menakjubkan, yang memberi petunjuk kepada kebenaran, maka kami beriman kepadanya dan kami tidak akan mempersekutukan Tuhan kami dengan sesuatu pun.”Kemudian Allah menurunkan kepada Nabi-Nya ayat:قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ“Katakanlah: Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur’an).” (QS. Al-Jin: 1)Sesungguhnya yang diwahyukan kepada Nabi adalah ucapan para jin tersebut.Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Musaddad dengan redaksi yang serupa. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim dari Syaiban bin Farrukh dari Abu Awanah dengan sanad yang sama. At-Tirmidzi dan An-Nasa’i juga meriwayatkannya dalam kitab tafsir dari hadis Abu Awanah. Imam Ahmad juga berkata: Abu Ahmad menceritakan kepada kami, Israil menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia berkata:Dahulu para jin dapat mencuri dengar wahyu. Mereka mendengar satu kalimat lalu menambahkan sepuluh kalimat ke dalamnya. Apa yang mereka dengar itu benar, tetapi tambahan mereka adalah kebatilan. Pada masa itu bintang-bintang belum digunakan untuk melempar mereka.Namun ketika Rasulullah ﷺ diutus, setiap jin yang mencoba duduk di tempatnya untuk mencuri dengar akan dilempari dengan meteor yang membakarnya jika mengenainya.Mereka pun mengadukan hal itu kepada Iblis. Iblis berkata, “Ini pasti karena suatu peristiwa baru telah terjadi.”Ia kemudian menyebarkan bala tentaranya. Ternyata mereka menemukan Nabi ﷺ sedang shalat di antara dua gunung di Nakhlah. Mereka pun datang kepada Iblis dan memberitahukan hal itu.Iblis berkata, “Inilah peristiwa baru yang terjadi di bumi.”Riwayat ini juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan An-Nasa’i dalam kitab tafsir mereka melalui jalur Israil. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.Demikian pula riwayat ini diriwayatkan oleh Ayyub dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas. Begitu juga diriwayatkan oleh Al-‘Aufi dari Ibnu Abbas dengan redaksi panjang yang serupa.Al-Hasan Al-Bashri juga mengatakan bahwa Nabi ﷺ tidak mengetahui kedatangan mereka sampai Allah menurunkan wahyu yang mengabarkan tentang mereka.Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Yazid bin Ruman, dari Muhammad bin Ka‘b Al-Qurazhi kisah keluarnya Rasulullah ﷺ menuju Thaif dan mengajak mereka kepada Allah, namun mereka menolaknya. Ia menyebutkan kisah tersebut secara panjang, termasuk doa Nabi yang indah:“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku dan sedikitnya kemampuanku…”Ia berkata: Setelah kembali dari Thaif, Rasulullah ﷺ bermalam di Nakhlah. Pada malam itu beliau membaca Al-Qur’an, lalu para jin dari Nashibin mendengarkannya.Riwayat ini benar, tetapi pernyataan bahwa para jin mendengarkan pada malam tersebut masih perlu ditinjau. Sebab para jin telah mendengarkan Al-Qur’an pada awal masa turunnya wahyu, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Ibnu Abbas yang telah disebutkan sebelumnya.Adapun perjalanan Nabi ﷺ ke Thaif terjadi setelah wafatnya pamannya, yaitu satu atau dua tahun sebelum hijrah, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Ishaq dan lainnya. Wallahu a‘lam.Baca juga: Faedah Sirah Nabi: Masih Kisah Dakwah ke Thaif, Ketika Jin Mendengar Al-QuranAbu Bakar bin Abi Syaibah berkata: Abu Ahmad Az-Zubairi menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari ‘Ashim, dari Zir, dari Abdullah bin Mas‘ud, ia berkata:Sekelompok jin turun kepada Nabi ﷺ ketika beliau sedang membaca Al-Qur’an di lembah Nakhlah. Ketika mereka mendengarnya, mereka berkata, “Diamlah dan dengarkan.”Jumlah mereka sembilan jin, salah satunya bernama Zawba‘ah. Lalu Allah menurunkan firman-Nya:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ“Dan ingatlah ketika Kami hadapkan kepadamu sekelompok jin yang mendengarkan Al-Qur’an. Ketika mereka menghadirinya, mereka berkata, ‘Diamlah dan dengarkan.’ Ketika bacaan itu selesai, mereka kembali kepada kaumnya untuk memberi peringatan.”Sampai firman-Nya:ضَلَالٍ مُبِينٍ“dalam kesesatan yang nyata.”Riwayat ini, bersama riwayat pertama dari Ibnu Abbas, menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ pada peristiwa ini tidak menyadari kehadiran mereka. Mereka hanya mendengarkan bacaan beliau, lalu kembali kepada kaum mereka. Setelah itu mereka datang kepada beliau secara bergelombang, satu kaum setelah kaum yang lain, dan satu rombongan setelah rombongan yang lain, sebagaimana nanti akan datang riwayat-riwayat dan atsar-atsar tentang hal itu pada tempatnya, insyaallah. Hanya kepada-Nya tempat bergantung.Adapun riwayat yang dibawakan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Qudamah Ubaidullah bin Sa‘id As-Sarkhasi, dari Abu Usamah Hammad bin Usamah, dari Mis‘ar bin Kidam, dari Ma‘n bin Abdurrahman, ia berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Aku bertanya kepada Masruq, “Siapa yang memberitahu Nabi ﷺ pada malam ketika para jin mendengarkan Al-Qur’an?” Ia menjawab, “Ayahmu telah menceritakan kepadaku, maksudnya Ibnu Mas‘ud, bahwa yang memberitahu beliau tentang mereka adalah sebuah pohon.”Mungkin hal itu terjadi pada peristiwa pertama, sehingga penetapan ini didahulukan atas penafian Ibnu Abbas. Mungkin juga itu terjadi pada salah satu peristiwa yang datang kemudian. Wallahu a‘lam. Bisa juga terjadi pada peristiwa pertama, tetapi beliau tidak mengetahui kehadiran mereka saat mereka sedang mendengarkan, sampai pohon itu memberitahu beliau, maksudnya mengabarkan kepada beliau bahwa mereka sedang mendengarkan. Wallahu a‘lam.Al-Hafizh Al-Baihaqi berkata: Apa yang diceritakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma itu adalah tentang pertama kali jin mendengar bacaan Rasulullah ﷺ dan mengetahui keadaan beliau. Pada saat itu beliau tidak membacakan Al-Qur’an kepada mereka dan tidak pula melihat mereka. Setelah itu, barulah utusan jin datang kepada beliau, lalu beliau membacakan Al-Qur’an kepada mereka dan mengajak mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu.Berikut riwayat tentang hal itu:Imam Ahmad berkata: Ismail bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Dawud menceritakan kepada kami dari Asy-Sya‘bi, dan Ibnu Abi Zaidah mengabarkan kepada kami, dari Dawud, dari Asy-Sya‘bi, dari ‘Alqamah, ia berkata:Aku bertanya kepada Abdullah bin Mas‘ud, “Apakah ada salah seorang dari kalian yang menemani Rasulullah ﷺ pada malam jin?”Ia menjawab, “Tidak ada seorang pun dari kami yang menemaninya. Akan tetapi, pada suatu malam di Makkah kami kehilangan beliau. Kami berkata, ‘Apakah beliau dibunuh? Atau dibawa terbang? Apa yang telah terjadi padanya?’ Maka kami melewati malam terburuk yang pernah dilalui suatu kaum. Ketika menjelang pagi, atau saat waktu sahur, tiba-tiba beliau datang dari arah Hira’. Maka kami berkata, ‘Wahai Rasulullah,’ lalu mereka menyebutkan apa yang mereka alami.”Beliau bersabda, “Sesungguhnya telah datang kepadaku utusan jin. Lalu aku mendatangi mereka dan membacakan Al-Qur’an kepada mereka.”Lalu beliau pergi bersama kami dan memperlihatkan kepada kami bekas-bekas mereka dan bekas api mereka.Asy-Sya‘bi berkata: Mereka bertanya kepada beliau tentang bekal. Amir berkata: Mereka bertanya di Makkah, dan mereka adalah jin dari Jazirah. Maka beliau bersabda, “Setiap tulang yang disebut nama Allah padanya, akan sampai ke tangan kalian dalam keadaan paling banyak dagingnya. Dan setiap kotoran hewan atau kotoran kering adalah makanan bagi hewan tunggangan kalian. Karena itu, janganlah kalian beristinja dengan keduanya, karena keduanya adalah makanan saudara-saudara kalian dari kalangan jin.”Demikian pula Muslim meriwayatkannya dalam Shahih-nya dari Ali bin Hujr, dari Ismail bin ‘Ulayyah, dengan riwayat yang semisal.Muslim juga meriwayatkan: Muhammad bin Al-Mutsanna menceritakan kepada kami, Abdul A‘la menceritakan kepada kami, Dawud, yaitu Ibnu Abi Hind, dari Amir, ia berkata:Aku bertanya kepada ‘Alqamah, “Apakah Ibnu Mas‘ud pernah hadir bersama Rasulullah ﷺ pada malam jin?”‘Alqamah menjawab, “Aku pernah bertanya kepada Ibnu Mas‘ud: Apakah ada seseorang dari kalian yang hadir bersama Rasulullah ﷺ pada malam jin? Ia menjawab: Tidak. Akan tetapi, pada suatu malam kami bersama Rasulullah ﷺ, lalu kami kehilangan beliau. Kami mencarinya di lembah-lembah dan celah-celah gunung. Kami berkata: Apakah beliau dibawa terbang? Atau dibunuh? Maka kami melewati malam terburuk yang pernah dilalui suatu kaum. Ketika pagi tiba, ternyata beliau datang dari arah Hira’. Maka kami berkata: Wahai Rasulullah, kami kehilanganmu lalu kami mencarimu, tetapi kami tidak menemukanmu, dan kami melewati malam terburuk yang pernah dilalui suatu kaum.”Beliau bersabda, “Telah datang kepadaku utusan jin, lalu aku pergi bersama mereka dan membacakan Al-Qur’an kepada mereka.”Ia berkata: Lalu beliau pergi bersama kami, memperlihatkan bekas-bekas mereka dan bekas api mereka. Mereka meminta bekal, lalu beliau bersabda, “Setiap tulang yang disebut nama Allah padanya, akan sampai ke tangan kalian dalam keadaan paling banyak dagingnya. Dan setiap kotoran hewan atau kotoran kering adalah makanan bagi hewan tunggangan kalian.”Rasulullah ﷺ bersabda, “Karena itu, janganlah kalian beristinja dengan keduanya, karena keduanya adalah makanan saudara-saudara kalian.”Jalur lain dari Ibnu Mas‘ud:Abu Ja‘far bin Jarir berkata: Ahmad bin Abdurrahman menceritakan kepadaku, pamanku menceritakan kepadaku, Yunus menceritakan kepadaku, dari Az-Zuhri, dari Ubaidullah bin Abdullah, bahwa Ibnu Mas‘ud berkata:Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Tadi malam aku bermalam membaca Al-Qur’an kepada jin seperempat bagian di Al-Hajun.”Jalur lain, disebutkan bahwa Ibnu Mas‘ud bersama beliau pada malam jin:Ibnu Jarir rahimahullah berkata: Ahmad bin Abdurrahman bin Wahb menceritakan kepadaku, pamanku Abdullah bin Wahb menceritakan kepada kami, Yunus mengabarkan kepadaku, dari Ibnu Syihab, dari Abu Utsman bin Sunnah Al-Khuza‘i, seorang dari penduduk Syam, bahwa Abdullah bin Mas‘ud berkata:Rasulullah ﷺ berkata kepada para sahabatnya ketika beliau berada di Makkah, “Siapa di antara kalian yang ingin menghadiri urusan jin malam ini, maka ikutlah.”Maka tidak ada seorang pun yang hadir selain aku. Kami pun berangkat. Ketika kami sampai di dataran tinggi Makkah, beliau membuat garis dengan kakinya untukku, lalu menyuruhku duduk di dalamnya. Kemudian beliau pergi dan berdiri, lalu mulai membaca Al-Qur’an. Tiba-tiba sekumpulan hitam yang banyak menutup pandanganku terhadap beliau, hingga aku tidak lagi mendengar suara beliau. Setelah itu mereka mulai terpecah seperti potongan awan yang pergi, hingga tersisa beberapa kelompok saja. Rasulullah ﷺ selesai menjelang Subuh, lalu pergi untuk buang hajat. Setelah itu beliau datang kepadaku dan bertanya, “Apa yang dilakukan oleh rombongan tadi?”Aku menjawab, “Mereka itulah, wahai Rasulullah.”Lalu beliau memberi mereka tulang dan kotoran hewan sebagai bekal, kemudian beliau melarang seseorang bersuci dengan kotoran hewan atau tulang.Riwayat ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam, dari Abu Zur‘ah Wahbullah bin Rasyid, dari Yunus bin Yazid Al-Ayli, dengannya. Al-Baihaqi juga meriwayatkannya dalam Ad-Dalā’il dari hadis Abdullah bin Shalih, juru tulis Al-Laits, dari Al-Laits, dari Yunus, dengannya.Ishaq bin Rahawaih juga meriwayatkan dari Jarir, dari Qabus bin Abi Zhabyan, dari ayahnya, dari Ibnu Mas‘ud, lalu menyebutkan seperti yang telah disebutkan sebelumnya.Al-Hafizh Abu Nu‘aim juga meriwayatkannya melalui jalur Musa bin Ubaidah, dari Sa‘id bin Al-Harits, dari Abu Al-Mu‘alla, dari Ibnu Mas‘ud, dan ia menyebutkan yang semisal.Jalur lain:Abu Nu‘aim berkata: Abu Bakar bin Malik menceritakan kepada kami, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku: Affan dan Ikrimah berkata: Mu‘tamir menceritakan kepada kami. Ayahku berkata: Abu Tamimah menceritakan kepadaku, dari Amr, mungkin ia berkata Al-Bakali, bahwa Amr menceritakan kepadanya dari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:Rasulullah ﷺ mengajakku mengikuti beliau. Maka kami berangkat hingga sampai di suatu tempat. Beliau membuat garis untukku, lalu bersabda, “Tetaplah berada di tengah garis ini, jangan keluar darinya. Jika engkau keluar darinya, engkau akan binasa.”Lalu ia menyebutkan hadis itu dengan panjang, dan di dalamnya terdapat keanehan yang sangat.Jalur lain:Ibnu Jarir berkata: Ibnu Abdil A‘la menceritakan kepada kami, Ibnu Tsaur menceritakan kepada kami, dari Ma‘mar, dari Yahya bin Abi Katsir, dari Abdullah bin Amr bin Ghailan Ats-Tsaqafi, bahwa ia berkata kepada Ibnu Mas‘ud, “Telah diceritakan bahwa engkau bersama Rasulullah ﷺ pada malam kedatangan utusan jin?”Ia menjawab, “Ya.”Ia bertanya, “Bagaimana peristiwanya?”Lalu ia menceritakan hadits itu seluruhnya, dan menyebutkan bahwa Nabi ﷺ membuat garis untuknya, seraya bersabda, “Jangan tinggalkan tempat ini.”Ia menyebutkan bahwa sesuatu seperti pusaran hitam menutupi Rasulullah ﷺ. Ia merasa sangat takut sampai tiga kali. Ketika hampir Subuh, Nabi ﷺ datang kepadaku dan bertanya, “Apakah engkau tidur?”Aku menjawab, “Tidak, demi Allah. Bahkan beberapa kali aku ingin meminta pertolongan orang-orang, sampai aku mendengarmu memukul mereka dengan tongkatmu sambil berkata: ‘Duduklah kalian.’”Beliau bersabda, “Kalau engkau keluar, aku tidak merasa aman kalau sebagian dari mereka akan menculikmu.”Kemudian beliau bersabda, “Apakah engkau melihat sesuatu?”Aku menjawab, “Ya, aku melihat laki-laki berkulit hitam, mengenakan pakaian putih.”Beliau bersabda, “Mereka itu jin Nashibin. Mereka meminta bekal kepadaku, dan aku memberi mereka setiap tulang kering, atau kotoran hewan, atau tahi sebagai bekal.”Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa manfaat semua itu bagi mereka?”Beliau menjawab, “Mereka tidak mendapatkan satu tulang pun kecuali akan mendapati dagingnya masih ada di atasnya sebagaimana pada hari saat dimakan, dan mereka tidak mendapatkan kotoran hewan pun kecuali akan mendapati biji-bijiannya masih ada sebagaimana pada hari saat dimakan. Karena itu, janganlah salah seorang dari kalian bersuci setelah buang hajat dengan tulang, kotoran hewan, atau tahi.”Jalur lain:Al-Hafizh Abu Bakar Al-Baihaqi berkata: Abu Abdurrahman As-Sulami dan Abu Nashr bin Qatadah mengabarkan kepada kami, keduanya berkata: Abu Muhammad Yahya bin Manshur Al-Qadhi mengabarkan kepada kami, Abu Abdullah Muhammad bin Ibrahim Al-Bausyanji menceritakan kepada kami, Ruh bin Shalah menceritakan kepada kami, Musa bin Ali bin Rabah menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari Abdullah bin Mas‘ud, ia berkata:Rasulullah ﷺ mengajakku dan bersabda, “Sesungguhnya sekelompok jin, lima belas orang, saudara-saudara dan sepupu-sepupu, akan datang kepadaku malam ini, lalu aku akan membacakan Al-Qur’an kepada mereka.”Maka aku pun berangkat bersama beliau ke tempat yang beliau kehendaki. Beliau membuat garis untukku dan mendudukkanku di dalamnya, lalu berkata kepadaku, “Jangan keluar dari sini.”Aku tetap berada di tempat itu sampai Rasulullah ﷺ datang kepadaku menjelang sahur. Di tangan beliau ada tulang kering dan kotoran hitam yang sudah hangus, lalu beliau berkata kepadaku, “Jika engkau pergi buang hajat, janganlah engkau beristinja dengan salah satu dari benda-benda ini.”Ketika pagi tiba aku berkata, “Akan aku cari tahu sejauh pengetahuanku tentang tempat Rasulullah ﷺ tadi.” Lalu aku pergi dan melihat tempat peristirahatan enam puluh unta.Jalur lain:Al-Baihaqi berkata: Abu Abdullah Al-Hafizh mengabarkan kepada kami, Abu Al-Abbas Al-Ashamm mengabarkan kepada kami, Al-Abbas bin Muhammad Ad-Dauri menceritakan kepada kami, Utsman bin Umar menceritakan kepada kami, dari Al-Mustamir bin Ar-Rayyan, dari Abu Al-Jauza’, dari Abdullah bin Mas‘ud, ia berkata:Aku pergi bersama Rasulullah ﷺ pada malam jin hingga beliau sampai di Al-Hajun. Lalu beliau membuat garis untukku, kemudian maju menemui mereka. Mereka pun berdesakan di sekitar beliau. Lalu pemimpin mereka yang disebut Wardan berkata, “Aku akan menjauhkan mereka darimu.”Maka beliau bersabda, “Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang dapat melindungiku dari Allah.”Jalur lain:Imam Ahmad berkata: Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Abu Fazārah Al-‘Absi, Abu Zaid, budak Amr bin Huraith, menceritakan kepada kami dari Ibnu Mas‘ud, ia berkata:Ketika malam jin, Nabi ﷺ berkata kepadaku, “Apakah engkau membawa air?”Aku menjawab, “Aku tidak membawa air, tetapi aku membawa wadah berisi nabidz.”Maka Nabi bersabda, “Kurma yang baik dan air yang suci.”Lalu beliau berwudhu dengannya.Riwayat ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari hadis Abu Zaid.Jalur lain:Ahmad berkata: Yahya bin Ishaq menceritakan kepada kami, Ibnu Lahi‘ah mengabarkan kepada kami, dari Qais bin Al-Hajjaj, dari Hanasy Ash-Shan‘ani, dari Ibnu Abbas, dari Abdullah bin Mas‘ud, bahwa ia bersama Rasulullah ﷺ pada malam jin. Lalu Rasulullah bersabda, “Wahai Abdullah, apakah engkau membawa air?”Ia menjawab, “Aku membawa nabidz di dalam wadah.”Maka beliau bersabda, “Tuangkanlah kepadaku.”Lalu beliau berwudu. Nabi ﷺ bersabda, “Wahai Abdullah, ini minuman dan sekaligus alat bersuci.”Riwayat ini hanya diriwayatkan oleh Ahmad melalui jalur ini. Ad-Daraquthni juga membawakannya dari jalur lain, dari Ibnu Mas‘ud.Jalur lain:Imam Ahmad berkata: Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, ayahku mengabarkan kepadaku dari Mīnā’, dari Abdullah, ia berkata:Aku bersama Rasulullah ﷺ pada malam kedatangan utusan jin. Setelah beliau selesai, beliau menarik napas panjang. Maka aku bertanya, “Apa gerangan yang terjadi padamu?”Beliau bersabda, “Ajalku telah diberitahukan kepadaku, wahai Ibnu Mas‘ud.”Beginilah aku melihatnya dalam Musnad secara ringkas. Al-Hafizh Abu Nu‘aim meriwayatkannya dalam kitab Dalā’il An-Nubuwwah, lalu berkata: Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub menceritakan kepada kami, Ishaq bin Ibrahim menceritakan kepada kami, dan Abu Bakar bin Malik menceritakan kepada kami, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Mina’, dari Ibnu Mas‘ud, ia berkata:Aku bersama Rasulullah ﷺ pada malam kedatangan utusan jin. Beliau menarik napas panjang. Aku bertanya,“Ada apa denganmu wahai Rasulullah?”Beliau bersabda, “Ajalku telah diberitahukan kepadaku, wahai Ibnu Mas‘ud.”Aku berkata, “Tunjuklah seorang pengganti.”Beliau bertanya, “Siapa?”Aku menjawab, “Abu Bakar.”Beliau diam. Setelah beberapa saat beliau kembali menarik napas panjang. Aku bertanya, “Ada apa denganmu? Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, wahai Rasulullah?”Beliau bersabda, “Ajalku telah diberitahukan kepadaku, wahai Ibnu Mas‘ud.”Aku berkata, “Tunjuklah seorang pengganti.”Beliau bertanya, “Siapa?”Aku menjawab, “Umar.”Beliau diam. Setelah beberapa saat beliau kembali menarik napas panjang. Aku bertanya, “Apa yang terjadi?”Beliau bersabda, “Ajalku telah diberitahukan kepadaku.”Aku berkata, “Kalau begitu tunjuklah pengganti.”Beliau bersabda, “Siapa?”Aku menjawab, “Ali bin Abi Thalib.”Maka Nabi ﷺ bersabda, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya mereka menaatinya, niscaya mereka semua akan masuk surga.”Ini adalah hadits yang sangat asing, dan lebih layak untuk dinilai tidak terjaga. Kalau pun dianggap sahih, maka yang tampak peristiwa ini terjadi setelah kedatangan mereka kepada beliau di Madinah, sebagaimana akan kami sebutkan nanti. Sebab pada waktu itu, di akhir masa dakwah, ketika Makkah telah dibebaskan, manusia dan jin pun masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong. Lalu turun surah:إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًاSurah inilah yang memberitahukan dekatnya wafat beliau, sebagaimana telah dijelaskan oleh Ibnu Abbas, dan Umar bin Al-Khaththab juga sependapat dengannya. Nanti akan datang hadis tentang hal itu saat menafsirkan surah tersebut. Wallahu a‘lam.Abu Nu‘aim juga meriwayatkannya dari Ath-Thabarani, dari Muhammad bin Abdullah Al-Hadhrami, dari Ali bin Al-Husain bin Abi Burdah, dari Yahya bin Sa‘id Al-Aslami, dari Harb bin Shabih, dari Sa‘id bin Maslamah, dari Abu Murrah Ash-Shan‘ani, dari Abu Abdullah Al-Jadali, dari Ibnu Mas‘ud, lalu menyebutkannya serta menyebut kisah penunjukan pengganti. Ini sanad yang asing dan redaksi yang ganjil.Jalur lain:Imam Ahmad berkata: Abu Sa‘id menceritakan kepada kami, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Ali bin Zaid, dari Abu Rafi‘, dari Ibnu Mas‘ud, bahwa Rasulullah ﷺ membuat lingkaran di sekelilingnya. Sebagian mereka tampak seperti kumpulan lebah hitam. Beliau berkata kepadaku, “Jangan tinggalkan tempatmu.”Lalu beliau membacakan Kitab Allah kepada mereka. Ketika beliau melihat Az-Zuth, beliau berkata, “Mereka seperti هؤلاء.”Nabi ﷺ berkata, “Apakah engkau membawa air?”Aku menjawab, “Tidak.”Beliau bertanya, “Apakah engkau membawa nabidz?”Aku menjawab, “Ya.”Maka beliau berwudu dengannya.Jalur lain yang mursal:Ibnu Abi Hatim berkata: Abu Abdullah Azh-Zhahrani menceritakan kepada kami, Hafsh bin Umar Al-‘Adani mengabarkan kepada kami, Al-Hakam bin Aban menceritakan kepada kami, dari Ikrimah tentang firman Allah Ta‘ala:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّIa berkata: Mereka berjumlah dua belas ribu, datang dari Jazirah Al-Maushil. Nabi ﷺ berkata kepada Ibnu Mas‘ud, “Tunggulah aku sampai aku kembali kepadamu.” Lalu beliau membuat garis untuknya dan berkata, “Jangan pergi dari tempatmu sampai aku datang.” Ketika Ibnu Mas‘ud mulai merasa takut kepada mereka, ia hampir saja pergi. Namun ia teringat ucapan Rasulullah ﷺ, maka ia tetap di tempatnya. Lalu Nabi ﷺ berkata kepadanya, “Seandainya engkau pergi, niscaya kita tidak akan bertemu lagi sampai hari kiamat.” Jalur lain yang juga mursal:Sa‘id bin Abi ‘Arubah berkata, dari Qatadah, tentang firman Allah:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّDisebutkan kepada kami bahwa mereka diarahkan kepada beliau dari Nainawa. Nabi Allah ﷺ bersabda, “Aku diperintahkan untuk membacakan Al-Qur’an kepada jin. Siapa di antara kalian yang akan ikut bersamaku?”Mereka menunduk diam. Beliau mengulangi ajakan itu, namun mereka tetap menunduk. Ketika beliau mengulanginya untuk ketiga kali, seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, itu adalah urusan yang sangat berat.” Maka Ibnu Mas‘ud, saudara Hudzail itu, ikut bersama beliau.Nabi ﷺ masuk ke sebuah celah gunung yang disebut Syi‘b Al-Hajun, lalu membuat garis untuknya, juga membuat garis untuk Ibnu Mas‘ud agar dengan itu ia tetap di tempatnya. Aku mulai ketakutan dan melihat sesuatu seperti burung nasar berjalan di sisi-sisinya. Aku juga mendengar suara gaduh yang sangat keras, sampai aku takut terhadap Nabi Allah ﷺ. Kemudian beliau membaca Al-Qur’an. Ketika Rasulullah ﷺ kembali, aku bertanya, “Wahai Rasulullah, suara gaduh apa yang aku dengar itu?”Beliau menjawab, “Mereka sedang berselisih tentang seorang yang terbunuh, lalu diputuskan perkara di antara mereka dengan benar.”Riwayat ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim.Semua jalur riwayat ini menunjukkan bahwa beliau ﷺ memang sengaja mendatangi jin, lalu membacakan Al-Qur’an kepada mereka, mengajak mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla, serta menetapkan melalui lisan beliau syariat yang mereka butuhkan saat itu.Bisa jadi pertama kali mereka mendengar beliau membaca Al-Qur’an, beliau tidak menyadari kehadiran mereka, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Setelah itu mereka datang kepada beliau, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Mas‘ud. Adapun Ibnu Mas‘ud, ia tidak berada bersama Rasulullah ﷺ ketika beliau berbicara langsung dengan jin dan mengajak mereka. Ia hanya berada jauh dari beliau, dan tidak ada seorang pun yang keluar bersama Nabi ﷺ selain dia. Meski demikian, ia pun tidak menyaksikan langsung peristiwa pembicaraan itu. Inilah cara Al-Baihaqi memahami riwayat-riwayat tersebut.Bisa juga terjadi bahwa pertama kali beliau keluar menemui mereka, tidak ada Ibnu Mas‘ud dan tidak pula orang lain bersama beliau, sebagaimana tampak dari riwayat pertama melalui jalur Imam Ahmad, dan riwayat itu juga ada dalam Muslim. Setelah itu beliau keluar lagi bersama Ibnu Mas‘ud pada malam yang lain. Wallahu a‘lam.Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam tafsir قُلْ أُوحِيَ, dari hadis Ibnu Juraij, ia berkata: Abdul Aziz bin Umar berkata:Adapun jin yang bertemu beliau di Nakhlah adalah jin dari Nainawa, sedangkan jin yang bertemu beliau di Makkah adalah jin dari Nashibin.Al-Baihaqi memahami ucapan, “Kami melewati malam terburuk yang pernah dilalui suatu kaum,” bahwa ucapan itu berasal dari selain Ibnu Mas‘ud, yaitu orang-orang yang tidak mengetahui keluarnya beliau ﷺ menemui jin. Ini mungkin, tetapi agak jauh. Wallahu a‘lam.Al-Hafizh Abu Bakar Al-Baihaqi berkata: Abu Amr Muhammad bin Abdullah Al-Adib mengabarkan kepada kami, Abu Bakar Al-Isma‘ili mengabarkan kepada kami, Al-Hasan bin Sufyan menceritakan kepadaku, Suwaid bin Sa‘id menceritakan kepada kami, Amr bin Yahya menceritakan kepada kami, dari kakeknya Sa‘id bin Amr, ia berkata:Abu Hurairah biasa mengikuti Rasulullah ﷺ dengan membawa wadah air untuk wudu dan keperluan beliau. Pada suatu hari beliau menjumpainya dan bertanya, “Siapa ini?”Ia menjawab, “Aku, Abu Hurairah.”Beliau bersabda, “Bawakan kepadaku batu-batu untuk aku pakai bersuci, dan jangan bawakan tulang atau kotoran hewan.”Maka aku datang membawa batu-batu di ujung bajuku, lalu meletakkannya di samping beliau. Setelah beliau selesai dan bangkit, aku mengikuti beliau lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa tulang dan kotoran hewan tidak boleh?”Beliau menjawab, “Telah datang kepadaku utusan jin Nashibin. Mereka meminta bekal kepadaku, maka aku berdoa kepada Allah untuk mereka agar mereka tidak melewati satu tulang ataupun kotoran hewan kecuali mereka mendapatinya sebagai makanan.”Riwayat ini dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya dari Musa bin Ismail, dari Amr bin Yahya, dengan sanad yang hampir sama. Ini menunjukkan, bersama riwayat-riwayat sebelumnya, bahwa mereka memang datang lagi kepada beliau setelah itu. Dan nanti akan kami sebutkan apa yang menunjukkan bahwa hal itu terjadi berulang kali.Penjelasan dari Ibnu Katsir mengenai kisah-kisah terkait yang dibahas ini masih berlanjut. Kesimpulan dari cerita-cerita di atas adalah:1. Allah pernah menghadapkan sekelompok jin kepada Rasulullah ﷺ agar mereka mendengarkan bacaan Al-Qur’an yang beliau baca di Nakhlah.2. Pada peristiwa pertama itu, para jin mendengar bacaan Al-Qur’an, terdiam untuk menyimak, lalu kembali kepada kaumnya sebagai pemberi peringatan.3. Mereka langsung mengakui bahwa Al-Qur’an adalah bacaan yang menakjubkan, memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu mereka pun beriman.4. Sebab awal kedatangan mereka adalah karena para setan telah dihalangi dari berita langit dan dilempari bintang-bintang pijar, sehingga mereka mencari penyebabnya.5. Ketika mereka menemukan Nabi ﷺ sedang salat dan membaca Al-Qur’an, mereka sadar bahwa inilah peristiwa besar yang telah mengubah keadaan langit.6. Riwayat-riwayat yang ada menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ pada awalnya tidak selalu mengetahui kehadiran mereka, namun setelah itu para jin datang lagi kepada beliau dalam beberapa kesempatan.7. Dalam pertemuan-pertemuan berikutnya, Rasulullah ﷺ sengaja mendatangi mereka, membacakan Al-Qur’an, mengajak mereka kepada Allah, dan mengajarkan hukum-hukum yang mereka perlukan.8. Di antara ajaran yang beliau sampaikan kepada mereka ialah bahwa tulang dan kotoran hewan menjadi bekal bagi jin, sehingga manusia dilarang beristinja dengan keduanya.9. Perbedaan jumlah jin dalam berbagai riwayat, seperti tujuh, sembilan, lima belas, atau lebih banyak dari itu, menunjukkan bahwa kedatangan mereka kemungkinan terjadi berulang kali.10. Inti seluruh bahasan ini adalah bahwa jin juga mendengar dakwah Nabi ﷺ, beriman kepada Al-Qur’an, kembali mengingatkan kaumnya, dan dari kalangan mereka ada pemberi peringatan, tetapi tidak ada rasul dari jenis jin. 2. Jin Mengakui Kebenaran Al-Qur’anAllah Ta’ala berfirman,قَالُوا۟ يَٰقَوْمَنَآ إِنَّا سَمِعْنَا كِتَٰبًا أُنزِلَ مِنۢ بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِىٓ إِلَى ٱلْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ“Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Ahqaf: 30)Kemudian Allah menjelaskan isi peringatan yang disampaikan para jin kepada kaumnya. Allah mengabarkan ucapan mereka:قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنزِلَ مِن بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ“Mereka berkata: Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengar sebuah kitab yang diturunkan setelah Musa, yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya, dan memberi petunjuk kepada kebenaran.”Mereka tidak menyebut Isa, karena Isa ‘alaihissalam diturunkan kepadanya Injil yang berisi nasihat-nasihat, pelunakan hati, dan hanya sedikit hukum halal dan haram. Pada hakikatnya, Injil itu seperti penyempurna bagi syariat Taurat. Karena itu, yang menjadi pokok adalah Taurat. Itulah sebabnya mereka berkata, “diturunkan setelah Musa.”Demikian pula yang dikatakan oleh Waraqah bin Naufal ketika Nabi ﷺ mengabarkan kepadanya kisah turunnya Jibril ‘alaihissalam kepada beliau untuk pertama kalinya. Waraqah berkata, “Sungguh, sungguh, ini adalah Namus yang dahulu datang kepada Musa. Seandainya aku masih muda pada masa itu.”Firman mereka:مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ“yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya,”maksudnya, kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya kepada para nabi.Ucapan mereka:يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ“memberi petunjuk kepada kebenaran,” maksudnya dalam masalah keyakinan dan berita.Dan ucapan mereka:وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ“dan kepada jalan yang lurus,” maksudnya dalam amalan.Sebab Al-Qur’an mencakup dua perkara: berita dan tuntunan. Beritanya adalah benar, dan tuntunannya adalah adil. Sebagaimana firman Allah:وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا“Dan telah sempurna kalimat Tuhanmu dengan kebenaran dan keadilan.” (QS. Al-An‘am: 115)Dan firman-Nya:هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar.” (QS. At-Taubah: 33)Yang dimaksud dengan petunjuk adalah ilmu yang bermanfaat, sedangkan agama yang benar adalah amal saleh.Demikian pula ucapan para jin:يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ“memberi petunjuk kepada kebenaran,” yaitu dalam keyakinan-keyakinan.Dan:وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ“dan kepada jalan yang lurus,” yaitu dalam amalan-amalan. 3. Seruan Jin agar Kaumnya BerimanAllah Ta’ala berfirman,يَٰقَوْمَنَآ أَجِيبُوا۟ دَاعِىَ ٱللَّهِ وَءَامِنُوا۟ بِهِۦ يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ“Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.” (QS. Al-Ahqaf: 31)Dalam ayat disebutkan,يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ“Wahai kaum kami, penuhilah seruan orang yang mengajak kepada Allah,”menunjukkan bahwa Allah mengutus Nabi Muhammad ﷺ kepada dua golongan makhluk, yaitu manusia dan jin. Beliau mengajak mereka kepada Allah, dan membacakan kepada mereka surah yang di dalamnya terdapat seruan kepada kedua golongan tersebut, berisi kewajiban, janji, dan ancaman bagi mereka, yaitu Surah Ar-Rahman. Karena itu mereka berkata:أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ“Penuhilah seruan orang yang mengajak kepada Allah dan berimanlah kepadanya.”Firman-Nya:يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ“Agar Dia mengampuni sebagian dosa-dosa kalian.”Ada yang mengatakan bahwa kata min di sini hanya sebagai tambahan, tetapi pendapat ini masih perlu dipertimbangkan, karena penggunaan tambahan seperti itu dalam kalimat yang bersifat penetapan jarang terjadi. Ada pula yang mengatakan bahwa kata min tetap pada makna asalnya, yaitu menunjukkan sebagian. Apakah Jin Mukmin Masuk Surga?Firman-Nya:وَيُجِرْكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ“Dan melindungi kalian dari azab yang pedih,”maksudnya Allah akan menjaga kalian dari azab-Nya yang menyakitkan.Sebagian ulama menggunakan ayat ini sebagai dalil bahwa jin yang beriman tidak masuk surga. Menurut mereka, balasan bagi jin yang saleh hanyalah diselamatkan dari azab neraka pada hari kiamat. Mereka berpendapat demikian karena dalam ayat ini disebutkan balasan berupa pengampunan dosa dan perlindungan dari azab, tanpa menyebutkan surga.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa jin yang beriman tidak masuk surga karena mereka berasal dari keturunan Iblis, sedangkan keturunan Iblis tidak masuk surga.Namun pendapat yang benar adalah bahwa jin yang beriman akan masuk surga sebagaimana manusia yang beriman. Ini merupakan pendapat sejumlah ulama dari kalangan salaf.Sebagian ulama berdalil dengan firman Allah:لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌ“Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya.” (QS. Ar-Rahman: 74)Namun dalil yang lebih kuat adalah firman Allah:وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ“Dan bagi orang yang takut kepada Tuhannya disediakan dua surga. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kalian dustakan?” (QS. Ar-Rahman: 46–47)Dalam ayat ini Allah memberikan nikmat kepada dua golongan, yaitu manusia dan jin, dengan menyebutkan bahwa balasan bagi orang yang berbuat baik di antara mereka adalah surga. Para jin bahkan menjawab ayat ini dengan ucapan syukur yang lebih jelas daripada manusia, yaitu:“Kami tidak mendustakan satu pun dari nikmat-Mu, wahai Tuhan kami. Segala puji bagi-Mu.”Tidak mungkin Allah menyebutkan suatu balasan kepada mereka jika balasan itu tidak akan mereka peroleh.Selain itu, jika Allah menghukum orang kafir dari kalangan jin dengan neraka, yang merupakan bentuk keadilan, maka lebih pantas lagi jika Allah memberi balasan surga kepada jin yang beriman, yang merupakan bentuk karunia.Hal ini juga dikuatkan oleh firman Allah:إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka surga Firdaus sebagai tempat tinggal.” (QS. Al-Kahfi: 107)Dan ayat-ayat lain yang serupa.Surga juga masih memiliki kelebihan tempat hingga Allah menciptakan makhluk baru untuk mengisinya. Maka tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa orang yang beriman kepada-Nya dan beramal saleh tidak akan memasukinya.Adapun balasan yang disebutkan dalam ayat ini, yaitu pengampunan dosa dan perlindungan dari azab, pada hakikatnya mengandung makna masuk surga. Sebab di akhirat hanya ada dua tempat: surga atau neraka. Siapa yang diselamatkan dari neraka pasti akan masuk surga.Tidak ada dalil yang jelas dari syariat yang menyatakan bahwa jin yang beriman tidak masuk surga. Jika ada dalil yang sahih, tentu akan diterima.Nabi Nuh juga berkata kepada kaumnya:يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرْكُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى“Agar Dia mengampuni sebagian dosa-dosa kalian dan menangguhkan kalian sampai waktu yang dite ntukan.” (QS. Nuh: 4)Padahal tidak ada perbedaan pendapat bahwa orang beriman dari kaum Nabi Nuh masuk surga. Demikian pula halnya dengan jin yang beriman.Ada pula beberapa pendapat lain yang aneh. Misalnya pendapat Umar bin Abdul Aziz yang mengatakan bahwa jin tidak masuk ke bagian utama surga, tetapi berada di sekitar dan di pinggirannya.Ada juga yang mengatakan bahwa di surga manusia dapat melihat jin, tetapi jin tidak dapat melihat manusia, kebalikan dari keadaan mereka di dunia.Ada pula yang mengatakan bahwa jin tidak makan dan tidak minum di surga, tetapi hanya diberi ilham untuk bertasbih, bertahmid, dan mensucikan Allah sebagai pengganti makanan dan minuman, sebagaimana malaikat.Namun semua pendapat tersebut masih perlu dipertimbangkan dan tidak memiliki dalil yang jelas. 4. Ancaman bagi yang Menolak Seruan AllahAllah Ta’ala berfirman,وَمَن لَّا يُجِبْ دَاعِىَ ٱللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُۥ مِن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءُ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ“Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata”.” (QS. Al-Ahqaf: 32)“Dan barang siapa tidak memenuhi seruan orang yang mengajak kepada Allah, maka ia tidak akan dapat melemahkan Allah di bumi, dan tidak ada baginya pelindung selain Dia. Mereka itulah orang-orang yang berada dalam kesesatan yang nyata.” (32)Kemudian Allah mengabarkan ucapan para jin itu:وَمَن لَّا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي الْأَرْضِ“Dan barang siapa tidak memenuhi seruan orang yang mengajak kepada Allah, maka ia tidak akan dapat melemahkan Allah di bumi.”Maksudnya, kekuasaan Allah meliputi dan menguasai dirinya sepenuhnya.Firman-Nya:وَلَيْسَ لَهُ مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءُ“Dan tidak ada baginya pelindung selain Dia.”Artinya, tidak ada seorang pun yang dapat melindungi mereka dari azab Allah.Firman-Nya:أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ“Mereka itulah orang-orang yang berada dalam kesesatan yang nyata.”Ini adalah bentuk ancaman dan peringatan keras. Para jin itu mengajak kaumnya dengan dua cara sekaligus: memberikan harapan dan memberikan peringatan. Karena itu, dakwah mereka memberi pengaruh pada banyak dari kaumnya, hingga mereka datang kepada Rasulullah ﷺ secara berkelompok demi berkelompok, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Pelajaran Dakwah dari Kisah Jin dalam Al-Qur’anKetika mendengar Al-Qur’an, para jin langsung diam dan menyimak dengan penuh perhatian. Ini mengajarkan adab ketika mendengar ayat Allah: berhenti dari kesibukan dan fokus mendengarkan.Mereka tidak menunda menerima kebenaran. Begitu memahami bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk, mereka langsung beriman tanpa banyak keraguan.Hidayah tidak mereka simpan untuk diri sendiri. Setelah beriman, mereka segera kembali kepada kaumnya untuk mengajak kepada kebenaran.Dakwah yang mereka lakukan memadukan dua cara: memberi harapan berupa ampunan dan keselamatan, serta memberi peringatan tentang azab bagi yang menolak.Al-Qur’an adalah petunjuk bagi semua makhluk yang dibebani syariat, baik manusia maupun jin.Kisah ini menjadi teguran bagi manusia. Jika jin yang baru sekali mendengar Al-Qur’an bisa langsung beriman dan berdakwah, maka manusia yang sering mendengar Al-Qur’an seharusnya lebih cepat menerima dan mengamalkannya. Nasihat PenutupDi zaman ini, banyak manusia justru lebih keras hatinya daripada jin yang diceritakan dalam Al-Qur’an. Jin itu ketika mendengar ayat Allah langsung diam, menyimak, beriman, lalu bergerak menyampaikan kebenaran kepada kaumnya. Adapun kita, Al-Qur’an begitu dekat, kajian begitu mudah diakses, mushaf begitu mudah dibuka, tetapi sering kali hati tetap lalai, telinga tidak sungguh-sungguh mendengar, dan hidup belum berubah.Karena itu, jangan sampai kita kalah dari jin dalam menyambut hidayah. Jika mereka yang baru sekali mendengar Al-Qur’an bisa tersentuh lalu beriman, maka kita yang setiap hari mendengar ayat-ayat Allah seharusnya lebih layak untuk tunduk, memperbaiki iman, dan segera memenuhi seruan Rasulullah ﷺ.Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendengar nasihat lalu mengikuti yang terbaik darinya.اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوبِنَا، وَنُورَ صُدُورِنَا، وَهَادِيَنَا إِلَى الْحَقِّ وَالصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِقُرَّائِنَا وَلِلْمُسْلِمِينَ أَجْمَعِينَ.Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyejuk hati kami, cahaya dada kami, dan penuntun kami menuju kebenaran serta jalan yang lurus. Ampunilah kami, para pembaca tulisan ini, dan seluruh kaum muslimin. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic —– Senin, 27 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdakwah Nabi kepada jin hidayah Al-Qur’an jin beriman jin mendengar Al Quran kisah jin dalam Islam pelajaran tauhid renungan ayat renungan quran rumaysho Surah Al-Ahqaf tafsir Al-Ahqaf tafsir Ibnu Katsir
Kisah jin yang mendengarkan Al-Qur’an menunjukkan betapa agungnya kalam Allah hingga mampu menggugah hati makhluk yang tidak terlihat oleh manusia. Mereka tidak hanya mendengar, tetapi juga beriman, lalu kembali kepada kaumnya untuk mengajak kepada tauhid dan memperingatkan dari kesesatan. Ayat-ayat dalam Surah Al-Ahqaf ini mengajarkan bahwa siapa pun yang jujur mencari kebenaran, akan ditunjuki kepada jalan yang lurus. Baca juga:Kisah Jin Mendengar Al-Quran Lantas Berdakwah pada KaumnyaFaedah Sirah Nabi: Masih Kisah Dakwah ke Thaif, Ketika Jin Mendengar Al-QuranKumpulan Artikel Dakwah Nabi ke Thaif Daftar Isi tutup 1. 1. Al-Qur’an Didengar oleh Sekelompok Jin 1.1. Awal Mula Jin Datang Mendengar Bacaan Nabi ﷺ 1.2. Kesimpulan dari cerita-cerita di atas adalah: 2. 2. Jin Mengakui Kebenaran Al-Qur’an 3. 3. Seruan Jin agar Kaumnya Beriman 3.1. Apakah Jin Mukmin Masuk Surga? 4. 4. Ancaman bagi yang Menolak Seruan Allah 5. Pelajaran Dakwah dari Kisah Jin dalam Al-Qur’an 6. Nasihat Penutup 1. Al-Qur’an Didengar oleh Sekelompok JinAllah Ta’ala berfirman,وَإِذْ صَرَفْنَآ إِلَيْكَ نَفَرًا مِّنَ ٱلْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ ٱلْقُرْءَانَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوٓا۟ أَنصِتُوا۟ ۖ فَلَمَّا قُضِىَ وَلَّوْا۟ إِلَىٰ قَوْمِهِم مُّنذِرِينَ“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.” (QS. Al-Ahqaf: 29) Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat 29:Imam Ahmad berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Amr, ia berkata: Aku mendengar Ikrimah, dari Az-Zubair mengenai firman Allah:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ“Dan ingatlah ketika Kami hadapkan kepadamu beberapa golongan jin yang mendengarkan Al-Qur’an.”Ia berkata: Peristiwa itu terjadi di Nakhlah, ketika Rasulullah ﷺ sedang melaksanakan salat Isya terakhir. Mengenai firman Allah:كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا “hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya.” (QS. Al-Jin: 19)Sufyan menjelaskan bahwa kata اللبد berarti sebagian mereka saling menumpuk di atas yang lain, seperti sesuatu yang saling bertumpuk.Riwayat ini hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Nanti akan disebutkan pula riwayat dari Ibnu Jarir, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas bahwa jumlah mereka adalah tujuh jin dari daerah Nashibin.Imam Ahmad juga berkata: Affan menceritakan kepada kami, Abu Awanah menceritakan kepada kami. Awal Mula Jin Datang Mendengar Bacaan Nabi ﷺAl-Hafizh Abu Bakar Al-Baihaqi dalam kitab Dalā’il An-Nubuwwah berkata: Abu Al-Hasan Ali bin Ahmad bin Abdan mengabarkan kepada kami, Ahmad bin Ubaid Ash-Shaffar menceritakan kepada kami, Ismail Al-Qadhi menceritakan kepada kami, Musaddad menceritakan kepada kami, Abu Awanah dari Abu Bisyir, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia berkata:Rasulullah ﷺ tidak pernah membaca Al-Qur’an secara khusus kepada para jin dan tidak pula melihat mereka. Pada suatu ketika Rasulullah ﷺ berangkat bersama beberapa sahabat menuju pasar ‘Ukaz.Saat itu para setan telah terhalang dari berita langit, dan mereka dilempari dengan bintang-bintang. Maka para setan kembali kepada kaum mereka. Kaum mereka bertanya, “Apa yang terjadi dengan kalian?”Mereka menjawab, “Kami terhalang dari berita langit dan dilempari dengan bintang-bintang.”Kaum mereka berkata, “Tidaklah sesuatu menghalangi kalian dari berita langit kecuali karena ada peristiwa baru yang terjadi. Maka pergilah kalian ke seluruh penjuru bumi, ke timur dan ke barat, dan carilah apa yang menyebabkan kalian terhalang dari berita langit.”Maka mereka pun pergi menyusuri seluruh penjuru bumi untuk mencari penyebab hal tersebut. Sekelompok jin yang menuju arah Tihamah kemudian sampai kepada Rasulullah ﷺ di Nakhlah. Ketika itu beliau sedang dalam perjalanan menuju pasar ‘Ukaz dan sedang shalat Subuh bersama para sahabatnya.Ketika mereka mendengar bacaan Al-Qur’an, mereka pun mendengarkannya dengan saksama. Lalu mereka berkata, “Inilah, demi Allah, yang telah menghalangi kalian dari berita langit.”Ketika mereka kembali kepada kaum mereka, mereka berkata:يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا“Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengar bacaan Al-Qur’an yang menakjubkan, yang memberi petunjuk kepada kebenaran, maka kami beriman kepadanya dan kami tidak akan mempersekutukan Tuhan kami dengan sesuatu pun.”Kemudian Allah menurunkan kepada Nabi-Nya ayat:قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ“Katakanlah: Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur’an).” (QS. Al-Jin: 1)Sesungguhnya yang diwahyukan kepada Nabi adalah ucapan para jin tersebut.Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Musaddad dengan redaksi yang serupa. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim dari Syaiban bin Farrukh dari Abu Awanah dengan sanad yang sama. At-Tirmidzi dan An-Nasa’i juga meriwayatkannya dalam kitab tafsir dari hadis Abu Awanah. Imam Ahmad juga berkata: Abu Ahmad menceritakan kepada kami, Israil menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia berkata:Dahulu para jin dapat mencuri dengar wahyu. Mereka mendengar satu kalimat lalu menambahkan sepuluh kalimat ke dalamnya. Apa yang mereka dengar itu benar, tetapi tambahan mereka adalah kebatilan. Pada masa itu bintang-bintang belum digunakan untuk melempar mereka.Namun ketika Rasulullah ﷺ diutus, setiap jin yang mencoba duduk di tempatnya untuk mencuri dengar akan dilempari dengan meteor yang membakarnya jika mengenainya.Mereka pun mengadukan hal itu kepada Iblis. Iblis berkata, “Ini pasti karena suatu peristiwa baru telah terjadi.”Ia kemudian menyebarkan bala tentaranya. Ternyata mereka menemukan Nabi ﷺ sedang shalat di antara dua gunung di Nakhlah. Mereka pun datang kepada Iblis dan memberitahukan hal itu.Iblis berkata, “Inilah peristiwa baru yang terjadi di bumi.”Riwayat ini juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan An-Nasa’i dalam kitab tafsir mereka melalui jalur Israil. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.Demikian pula riwayat ini diriwayatkan oleh Ayyub dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas. Begitu juga diriwayatkan oleh Al-‘Aufi dari Ibnu Abbas dengan redaksi panjang yang serupa.Al-Hasan Al-Bashri juga mengatakan bahwa Nabi ﷺ tidak mengetahui kedatangan mereka sampai Allah menurunkan wahyu yang mengabarkan tentang mereka.Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Yazid bin Ruman, dari Muhammad bin Ka‘b Al-Qurazhi kisah keluarnya Rasulullah ﷺ menuju Thaif dan mengajak mereka kepada Allah, namun mereka menolaknya. Ia menyebutkan kisah tersebut secara panjang, termasuk doa Nabi yang indah:“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku dan sedikitnya kemampuanku…”Ia berkata: Setelah kembali dari Thaif, Rasulullah ﷺ bermalam di Nakhlah. Pada malam itu beliau membaca Al-Qur’an, lalu para jin dari Nashibin mendengarkannya.Riwayat ini benar, tetapi pernyataan bahwa para jin mendengarkan pada malam tersebut masih perlu ditinjau. Sebab para jin telah mendengarkan Al-Qur’an pada awal masa turunnya wahyu, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Ibnu Abbas yang telah disebutkan sebelumnya.Adapun perjalanan Nabi ﷺ ke Thaif terjadi setelah wafatnya pamannya, yaitu satu atau dua tahun sebelum hijrah, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Ishaq dan lainnya. Wallahu a‘lam.Baca juga: Faedah Sirah Nabi: Masih Kisah Dakwah ke Thaif, Ketika Jin Mendengar Al-QuranAbu Bakar bin Abi Syaibah berkata: Abu Ahmad Az-Zubairi menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari ‘Ashim, dari Zir, dari Abdullah bin Mas‘ud, ia berkata:Sekelompok jin turun kepada Nabi ﷺ ketika beliau sedang membaca Al-Qur’an di lembah Nakhlah. Ketika mereka mendengarnya, mereka berkata, “Diamlah dan dengarkan.”Jumlah mereka sembilan jin, salah satunya bernama Zawba‘ah. Lalu Allah menurunkan firman-Nya:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ“Dan ingatlah ketika Kami hadapkan kepadamu sekelompok jin yang mendengarkan Al-Qur’an. Ketika mereka menghadirinya, mereka berkata, ‘Diamlah dan dengarkan.’ Ketika bacaan itu selesai, mereka kembali kepada kaumnya untuk memberi peringatan.”Sampai firman-Nya:ضَلَالٍ مُبِينٍ“dalam kesesatan yang nyata.”Riwayat ini, bersama riwayat pertama dari Ibnu Abbas, menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ pada peristiwa ini tidak menyadari kehadiran mereka. Mereka hanya mendengarkan bacaan beliau, lalu kembali kepada kaum mereka. Setelah itu mereka datang kepada beliau secara bergelombang, satu kaum setelah kaum yang lain, dan satu rombongan setelah rombongan yang lain, sebagaimana nanti akan datang riwayat-riwayat dan atsar-atsar tentang hal itu pada tempatnya, insyaallah. Hanya kepada-Nya tempat bergantung.Adapun riwayat yang dibawakan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Qudamah Ubaidullah bin Sa‘id As-Sarkhasi, dari Abu Usamah Hammad bin Usamah, dari Mis‘ar bin Kidam, dari Ma‘n bin Abdurrahman, ia berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Aku bertanya kepada Masruq, “Siapa yang memberitahu Nabi ﷺ pada malam ketika para jin mendengarkan Al-Qur’an?” Ia menjawab, “Ayahmu telah menceritakan kepadaku, maksudnya Ibnu Mas‘ud, bahwa yang memberitahu beliau tentang mereka adalah sebuah pohon.”Mungkin hal itu terjadi pada peristiwa pertama, sehingga penetapan ini didahulukan atas penafian Ibnu Abbas. Mungkin juga itu terjadi pada salah satu peristiwa yang datang kemudian. Wallahu a‘lam. Bisa juga terjadi pada peristiwa pertama, tetapi beliau tidak mengetahui kehadiran mereka saat mereka sedang mendengarkan, sampai pohon itu memberitahu beliau, maksudnya mengabarkan kepada beliau bahwa mereka sedang mendengarkan. Wallahu a‘lam.Al-Hafizh Al-Baihaqi berkata: Apa yang diceritakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma itu adalah tentang pertama kali jin mendengar bacaan Rasulullah ﷺ dan mengetahui keadaan beliau. Pada saat itu beliau tidak membacakan Al-Qur’an kepada mereka dan tidak pula melihat mereka. Setelah itu, barulah utusan jin datang kepada beliau, lalu beliau membacakan Al-Qur’an kepada mereka dan mengajak mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu.Berikut riwayat tentang hal itu:Imam Ahmad berkata: Ismail bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Dawud menceritakan kepada kami dari Asy-Sya‘bi, dan Ibnu Abi Zaidah mengabarkan kepada kami, dari Dawud, dari Asy-Sya‘bi, dari ‘Alqamah, ia berkata:Aku bertanya kepada Abdullah bin Mas‘ud, “Apakah ada salah seorang dari kalian yang menemani Rasulullah ﷺ pada malam jin?”Ia menjawab, “Tidak ada seorang pun dari kami yang menemaninya. Akan tetapi, pada suatu malam di Makkah kami kehilangan beliau. Kami berkata, ‘Apakah beliau dibunuh? Atau dibawa terbang? Apa yang telah terjadi padanya?’ Maka kami melewati malam terburuk yang pernah dilalui suatu kaum. Ketika menjelang pagi, atau saat waktu sahur, tiba-tiba beliau datang dari arah Hira’. Maka kami berkata, ‘Wahai Rasulullah,’ lalu mereka menyebutkan apa yang mereka alami.”Beliau bersabda, “Sesungguhnya telah datang kepadaku utusan jin. Lalu aku mendatangi mereka dan membacakan Al-Qur’an kepada mereka.”Lalu beliau pergi bersama kami dan memperlihatkan kepada kami bekas-bekas mereka dan bekas api mereka.Asy-Sya‘bi berkata: Mereka bertanya kepada beliau tentang bekal. Amir berkata: Mereka bertanya di Makkah, dan mereka adalah jin dari Jazirah. Maka beliau bersabda, “Setiap tulang yang disebut nama Allah padanya, akan sampai ke tangan kalian dalam keadaan paling banyak dagingnya. Dan setiap kotoran hewan atau kotoran kering adalah makanan bagi hewan tunggangan kalian. Karena itu, janganlah kalian beristinja dengan keduanya, karena keduanya adalah makanan saudara-saudara kalian dari kalangan jin.”Demikian pula Muslim meriwayatkannya dalam Shahih-nya dari Ali bin Hujr, dari Ismail bin ‘Ulayyah, dengan riwayat yang semisal.Muslim juga meriwayatkan: Muhammad bin Al-Mutsanna menceritakan kepada kami, Abdul A‘la menceritakan kepada kami, Dawud, yaitu Ibnu Abi Hind, dari Amir, ia berkata:Aku bertanya kepada ‘Alqamah, “Apakah Ibnu Mas‘ud pernah hadir bersama Rasulullah ﷺ pada malam jin?”‘Alqamah menjawab, “Aku pernah bertanya kepada Ibnu Mas‘ud: Apakah ada seseorang dari kalian yang hadir bersama Rasulullah ﷺ pada malam jin? Ia menjawab: Tidak. Akan tetapi, pada suatu malam kami bersama Rasulullah ﷺ, lalu kami kehilangan beliau. Kami mencarinya di lembah-lembah dan celah-celah gunung. Kami berkata: Apakah beliau dibawa terbang? Atau dibunuh? Maka kami melewati malam terburuk yang pernah dilalui suatu kaum. Ketika pagi tiba, ternyata beliau datang dari arah Hira’. Maka kami berkata: Wahai Rasulullah, kami kehilanganmu lalu kami mencarimu, tetapi kami tidak menemukanmu, dan kami melewati malam terburuk yang pernah dilalui suatu kaum.”Beliau bersabda, “Telah datang kepadaku utusan jin, lalu aku pergi bersama mereka dan membacakan Al-Qur’an kepada mereka.”Ia berkata: Lalu beliau pergi bersama kami, memperlihatkan bekas-bekas mereka dan bekas api mereka. Mereka meminta bekal, lalu beliau bersabda, “Setiap tulang yang disebut nama Allah padanya, akan sampai ke tangan kalian dalam keadaan paling banyak dagingnya. Dan setiap kotoran hewan atau kotoran kering adalah makanan bagi hewan tunggangan kalian.”Rasulullah ﷺ bersabda, “Karena itu, janganlah kalian beristinja dengan keduanya, karena keduanya adalah makanan saudara-saudara kalian.”Jalur lain dari Ibnu Mas‘ud:Abu Ja‘far bin Jarir berkata: Ahmad bin Abdurrahman menceritakan kepadaku, pamanku menceritakan kepadaku, Yunus menceritakan kepadaku, dari Az-Zuhri, dari Ubaidullah bin Abdullah, bahwa Ibnu Mas‘ud berkata:Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Tadi malam aku bermalam membaca Al-Qur’an kepada jin seperempat bagian di Al-Hajun.”Jalur lain, disebutkan bahwa Ibnu Mas‘ud bersama beliau pada malam jin:Ibnu Jarir rahimahullah berkata: Ahmad bin Abdurrahman bin Wahb menceritakan kepadaku, pamanku Abdullah bin Wahb menceritakan kepada kami, Yunus mengabarkan kepadaku, dari Ibnu Syihab, dari Abu Utsman bin Sunnah Al-Khuza‘i, seorang dari penduduk Syam, bahwa Abdullah bin Mas‘ud berkata:Rasulullah ﷺ berkata kepada para sahabatnya ketika beliau berada di Makkah, “Siapa di antara kalian yang ingin menghadiri urusan jin malam ini, maka ikutlah.”Maka tidak ada seorang pun yang hadir selain aku. Kami pun berangkat. Ketika kami sampai di dataran tinggi Makkah, beliau membuat garis dengan kakinya untukku, lalu menyuruhku duduk di dalamnya. Kemudian beliau pergi dan berdiri, lalu mulai membaca Al-Qur’an. Tiba-tiba sekumpulan hitam yang banyak menutup pandanganku terhadap beliau, hingga aku tidak lagi mendengar suara beliau. Setelah itu mereka mulai terpecah seperti potongan awan yang pergi, hingga tersisa beberapa kelompok saja. Rasulullah ﷺ selesai menjelang Subuh, lalu pergi untuk buang hajat. Setelah itu beliau datang kepadaku dan bertanya, “Apa yang dilakukan oleh rombongan tadi?”Aku menjawab, “Mereka itulah, wahai Rasulullah.”Lalu beliau memberi mereka tulang dan kotoran hewan sebagai bekal, kemudian beliau melarang seseorang bersuci dengan kotoran hewan atau tulang.Riwayat ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam, dari Abu Zur‘ah Wahbullah bin Rasyid, dari Yunus bin Yazid Al-Ayli, dengannya. Al-Baihaqi juga meriwayatkannya dalam Ad-Dalā’il dari hadis Abdullah bin Shalih, juru tulis Al-Laits, dari Al-Laits, dari Yunus, dengannya.Ishaq bin Rahawaih juga meriwayatkan dari Jarir, dari Qabus bin Abi Zhabyan, dari ayahnya, dari Ibnu Mas‘ud, lalu menyebutkan seperti yang telah disebutkan sebelumnya.Al-Hafizh Abu Nu‘aim juga meriwayatkannya melalui jalur Musa bin Ubaidah, dari Sa‘id bin Al-Harits, dari Abu Al-Mu‘alla, dari Ibnu Mas‘ud, dan ia menyebutkan yang semisal.Jalur lain:Abu Nu‘aim berkata: Abu Bakar bin Malik menceritakan kepada kami, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku: Affan dan Ikrimah berkata: Mu‘tamir menceritakan kepada kami. Ayahku berkata: Abu Tamimah menceritakan kepadaku, dari Amr, mungkin ia berkata Al-Bakali, bahwa Amr menceritakan kepadanya dari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:Rasulullah ﷺ mengajakku mengikuti beliau. Maka kami berangkat hingga sampai di suatu tempat. Beliau membuat garis untukku, lalu bersabda, “Tetaplah berada di tengah garis ini, jangan keluar darinya. Jika engkau keluar darinya, engkau akan binasa.”Lalu ia menyebutkan hadis itu dengan panjang, dan di dalamnya terdapat keanehan yang sangat.Jalur lain:Ibnu Jarir berkata: Ibnu Abdil A‘la menceritakan kepada kami, Ibnu Tsaur menceritakan kepada kami, dari Ma‘mar, dari Yahya bin Abi Katsir, dari Abdullah bin Amr bin Ghailan Ats-Tsaqafi, bahwa ia berkata kepada Ibnu Mas‘ud, “Telah diceritakan bahwa engkau bersama Rasulullah ﷺ pada malam kedatangan utusan jin?”Ia menjawab, “Ya.”Ia bertanya, “Bagaimana peristiwanya?”Lalu ia menceritakan hadits itu seluruhnya, dan menyebutkan bahwa Nabi ﷺ membuat garis untuknya, seraya bersabda, “Jangan tinggalkan tempat ini.”Ia menyebutkan bahwa sesuatu seperti pusaran hitam menutupi Rasulullah ﷺ. Ia merasa sangat takut sampai tiga kali. Ketika hampir Subuh, Nabi ﷺ datang kepadaku dan bertanya, “Apakah engkau tidur?”Aku menjawab, “Tidak, demi Allah. Bahkan beberapa kali aku ingin meminta pertolongan orang-orang, sampai aku mendengarmu memukul mereka dengan tongkatmu sambil berkata: ‘Duduklah kalian.’”Beliau bersabda, “Kalau engkau keluar, aku tidak merasa aman kalau sebagian dari mereka akan menculikmu.”Kemudian beliau bersabda, “Apakah engkau melihat sesuatu?”Aku menjawab, “Ya, aku melihat laki-laki berkulit hitam, mengenakan pakaian putih.”Beliau bersabda, “Mereka itu jin Nashibin. Mereka meminta bekal kepadaku, dan aku memberi mereka setiap tulang kering, atau kotoran hewan, atau tahi sebagai bekal.”Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa manfaat semua itu bagi mereka?”Beliau menjawab, “Mereka tidak mendapatkan satu tulang pun kecuali akan mendapati dagingnya masih ada di atasnya sebagaimana pada hari saat dimakan, dan mereka tidak mendapatkan kotoran hewan pun kecuali akan mendapati biji-bijiannya masih ada sebagaimana pada hari saat dimakan. Karena itu, janganlah salah seorang dari kalian bersuci setelah buang hajat dengan tulang, kotoran hewan, atau tahi.”Jalur lain:Al-Hafizh Abu Bakar Al-Baihaqi berkata: Abu Abdurrahman As-Sulami dan Abu Nashr bin Qatadah mengabarkan kepada kami, keduanya berkata: Abu Muhammad Yahya bin Manshur Al-Qadhi mengabarkan kepada kami, Abu Abdullah Muhammad bin Ibrahim Al-Bausyanji menceritakan kepada kami, Ruh bin Shalah menceritakan kepada kami, Musa bin Ali bin Rabah menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari Abdullah bin Mas‘ud, ia berkata:Rasulullah ﷺ mengajakku dan bersabda, “Sesungguhnya sekelompok jin, lima belas orang, saudara-saudara dan sepupu-sepupu, akan datang kepadaku malam ini, lalu aku akan membacakan Al-Qur’an kepada mereka.”Maka aku pun berangkat bersama beliau ke tempat yang beliau kehendaki. Beliau membuat garis untukku dan mendudukkanku di dalamnya, lalu berkata kepadaku, “Jangan keluar dari sini.”Aku tetap berada di tempat itu sampai Rasulullah ﷺ datang kepadaku menjelang sahur. Di tangan beliau ada tulang kering dan kotoran hitam yang sudah hangus, lalu beliau berkata kepadaku, “Jika engkau pergi buang hajat, janganlah engkau beristinja dengan salah satu dari benda-benda ini.”Ketika pagi tiba aku berkata, “Akan aku cari tahu sejauh pengetahuanku tentang tempat Rasulullah ﷺ tadi.” Lalu aku pergi dan melihat tempat peristirahatan enam puluh unta.Jalur lain:Al-Baihaqi berkata: Abu Abdullah Al-Hafizh mengabarkan kepada kami, Abu Al-Abbas Al-Ashamm mengabarkan kepada kami, Al-Abbas bin Muhammad Ad-Dauri menceritakan kepada kami, Utsman bin Umar menceritakan kepada kami, dari Al-Mustamir bin Ar-Rayyan, dari Abu Al-Jauza’, dari Abdullah bin Mas‘ud, ia berkata:Aku pergi bersama Rasulullah ﷺ pada malam jin hingga beliau sampai di Al-Hajun. Lalu beliau membuat garis untukku, kemudian maju menemui mereka. Mereka pun berdesakan di sekitar beliau. Lalu pemimpin mereka yang disebut Wardan berkata, “Aku akan menjauhkan mereka darimu.”Maka beliau bersabda, “Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang dapat melindungiku dari Allah.”Jalur lain:Imam Ahmad berkata: Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Abu Fazārah Al-‘Absi, Abu Zaid, budak Amr bin Huraith, menceritakan kepada kami dari Ibnu Mas‘ud, ia berkata:Ketika malam jin, Nabi ﷺ berkata kepadaku, “Apakah engkau membawa air?”Aku menjawab, “Aku tidak membawa air, tetapi aku membawa wadah berisi nabidz.”Maka Nabi bersabda, “Kurma yang baik dan air yang suci.”Lalu beliau berwudhu dengannya.Riwayat ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari hadis Abu Zaid.Jalur lain:Ahmad berkata: Yahya bin Ishaq menceritakan kepada kami, Ibnu Lahi‘ah mengabarkan kepada kami, dari Qais bin Al-Hajjaj, dari Hanasy Ash-Shan‘ani, dari Ibnu Abbas, dari Abdullah bin Mas‘ud, bahwa ia bersama Rasulullah ﷺ pada malam jin. Lalu Rasulullah bersabda, “Wahai Abdullah, apakah engkau membawa air?”Ia menjawab, “Aku membawa nabidz di dalam wadah.”Maka beliau bersabda, “Tuangkanlah kepadaku.”Lalu beliau berwudu. Nabi ﷺ bersabda, “Wahai Abdullah, ini minuman dan sekaligus alat bersuci.”Riwayat ini hanya diriwayatkan oleh Ahmad melalui jalur ini. Ad-Daraquthni juga membawakannya dari jalur lain, dari Ibnu Mas‘ud.Jalur lain:Imam Ahmad berkata: Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, ayahku mengabarkan kepadaku dari Mīnā’, dari Abdullah, ia berkata:Aku bersama Rasulullah ﷺ pada malam kedatangan utusan jin. Setelah beliau selesai, beliau menarik napas panjang. Maka aku bertanya, “Apa gerangan yang terjadi padamu?”Beliau bersabda, “Ajalku telah diberitahukan kepadaku, wahai Ibnu Mas‘ud.”Beginilah aku melihatnya dalam Musnad secara ringkas. Al-Hafizh Abu Nu‘aim meriwayatkannya dalam kitab Dalā’il An-Nubuwwah, lalu berkata: Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub menceritakan kepada kami, Ishaq bin Ibrahim menceritakan kepada kami, dan Abu Bakar bin Malik menceritakan kepada kami, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Mina’, dari Ibnu Mas‘ud, ia berkata:Aku bersama Rasulullah ﷺ pada malam kedatangan utusan jin. Beliau menarik napas panjang. Aku bertanya,“Ada apa denganmu wahai Rasulullah?”Beliau bersabda, “Ajalku telah diberitahukan kepadaku, wahai Ibnu Mas‘ud.”Aku berkata, “Tunjuklah seorang pengganti.”Beliau bertanya, “Siapa?”Aku menjawab, “Abu Bakar.”Beliau diam. Setelah beberapa saat beliau kembali menarik napas panjang. Aku bertanya, “Ada apa denganmu? Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, wahai Rasulullah?”Beliau bersabda, “Ajalku telah diberitahukan kepadaku, wahai Ibnu Mas‘ud.”Aku berkata, “Tunjuklah seorang pengganti.”Beliau bertanya, “Siapa?”Aku menjawab, “Umar.”Beliau diam. Setelah beberapa saat beliau kembali menarik napas panjang. Aku bertanya, “Apa yang terjadi?”Beliau bersabda, “Ajalku telah diberitahukan kepadaku.”Aku berkata, “Kalau begitu tunjuklah pengganti.”Beliau bersabda, “Siapa?”Aku menjawab, “Ali bin Abi Thalib.”Maka Nabi ﷺ bersabda, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya mereka menaatinya, niscaya mereka semua akan masuk surga.”Ini adalah hadits yang sangat asing, dan lebih layak untuk dinilai tidak terjaga. Kalau pun dianggap sahih, maka yang tampak peristiwa ini terjadi setelah kedatangan mereka kepada beliau di Madinah, sebagaimana akan kami sebutkan nanti. Sebab pada waktu itu, di akhir masa dakwah, ketika Makkah telah dibebaskan, manusia dan jin pun masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong. Lalu turun surah:إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًاSurah inilah yang memberitahukan dekatnya wafat beliau, sebagaimana telah dijelaskan oleh Ibnu Abbas, dan Umar bin Al-Khaththab juga sependapat dengannya. Nanti akan datang hadis tentang hal itu saat menafsirkan surah tersebut. Wallahu a‘lam.Abu Nu‘aim juga meriwayatkannya dari Ath-Thabarani, dari Muhammad bin Abdullah Al-Hadhrami, dari Ali bin Al-Husain bin Abi Burdah, dari Yahya bin Sa‘id Al-Aslami, dari Harb bin Shabih, dari Sa‘id bin Maslamah, dari Abu Murrah Ash-Shan‘ani, dari Abu Abdullah Al-Jadali, dari Ibnu Mas‘ud, lalu menyebutkannya serta menyebut kisah penunjukan pengganti. Ini sanad yang asing dan redaksi yang ganjil.Jalur lain:Imam Ahmad berkata: Abu Sa‘id menceritakan kepada kami, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Ali bin Zaid, dari Abu Rafi‘, dari Ibnu Mas‘ud, bahwa Rasulullah ﷺ membuat lingkaran di sekelilingnya. Sebagian mereka tampak seperti kumpulan lebah hitam. Beliau berkata kepadaku, “Jangan tinggalkan tempatmu.”Lalu beliau membacakan Kitab Allah kepada mereka. Ketika beliau melihat Az-Zuth, beliau berkata, “Mereka seperti هؤلاء.”Nabi ﷺ berkata, “Apakah engkau membawa air?”Aku menjawab, “Tidak.”Beliau bertanya, “Apakah engkau membawa nabidz?”Aku menjawab, “Ya.”Maka beliau berwudu dengannya.Jalur lain yang mursal:Ibnu Abi Hatim berkata: Abu Abdullah Azh-Zhahrani menceritakan kepada kami, Hafsh bin Umar Al-‘Adani mengabarkan kepada kami, Al-Hakam bin Aban menceritakan kepada kami, dari Ikrimah tentang firman Allah Ta‘ala:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّIa berkata: Mereka berjumlah dua belas ribu, datang dari Jazirah Al-Maushil. Nabi ﷺ berkata kepada Ibnu Mas‘ud, “Tunggulah aku sampai aku kembali kepadamu.” Lalu beliau membuat garis untuknya dan berkata, “Jangan pergi dari tempatmu sampai aku datang.” Ketika Ibnu Mas‘ud mulai merasa takut kepada mereka, ia hampir saja pergi. Namun ia teringat ucapan Rasulullah ﷺ, maka ia tetap di tempatnya. Lalu Nabi ﷺ berkata kepadanya, “Seandainya engkau pergi, niscaya kita tidak akan bertemu lagi sampai hari kiamat.” Jalur lain yang juga mursal:Sa‘id bin Abi ‘Arubah berkata, dari Qatadah, tentang firman Allah:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّDisebutkan kepada kami bahwa mereka diarahkan kepada beliau dari Nainawa. Nabi Allah ﷺ bersabda, “Aku diperintahkan untuk membacakan Al-Qur’an kepada jin. Siapa di antara kalian yang akan ikut bersamaku?”Mereka menunduk diam. Beliau mengulangi ajakan itu, namun mereka tetap menunduk. Ketika beliau mengulanginya untuk ketiga kali, seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, itu adalah urusan yang sangat berat.” Maka Ibnu Mas‘ud, saudara Hudzail itu, ikut bersama beliau.Nabi ﷺ masuk ke sebuah celah gunung yang disebut Syi‘b Al-Hajun, lalu membuat garis untuknya, juga membuat garis untuk Ibnu Mas‘ud agar dengan itu ia tetap di tempatnya. Aku mulai ketakutan dan melihat sesuatu seperti burung nasar berjalan di sisi-sisinya. Aku juga mendengar suara gaduh yang sangat keras, sampai aku takut terhadap Nabi Allah ﷺ. Kemudian beliau membaca Al-Qur’an. Ketika Rasulullah ﷺ kembali, aku bertanya, “Wahai Rasulullah, suara gaduh apa yang aku dengar itu?”Beliau menjawab, “Mereka sedang berselisih tentang seorang yang terbunuh, lalu diputuskan perkara di antara mereka dengan benar.”Riwayat ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim.Semua jalur riwayat ini menunjukkan bahwa beliau ﷺ memang sengaja mendatangi jin, lalu membacakan Al-Qur’an kepada mereka, mengajak mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla, serta menetapkan melalui lisan beliau syariat yang mereka butuhkan saat itu.Bisa jadi pertama kali mereka mendengar beliau membaca Al-Qur’an, beliau tidak menyadari kehadiran mereka, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Setelah itu mereka datang kepada beliau, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Mas‘ud. Adapun Ibnu Mas‘ud, ia tidak berada bersama Rasulullah ﷺ ketika beliau berbicara langsung dengan jin dan mengajak mereka. Ia hanya berada jauh dari beliau, dan tidak ada seorang pun yang keluar bersama Nabi ﷺ selain dia. Meski demikian, ia pun tidak menyaksikan langsung peristiwa pembicaraan itu. Inilah cara Al-Baihaqi memahami riwayat-riwayat tersebut.Bisa juga terjadi bahwa pertama kali beliau keluar menemui mereka, tidak ada Ibnu Mas‘ud dan tidak pula orang lain bersama beliau, sebagaimana tampak dari riwayat pertama melalui jalur Imam Ahmad, dan riwayat itu juga ada dalam Muslim. Setelah itu beliau keluar lagi bersama Ibnu Mas‘ud pada malam yang lain. Wallahu a‘lam.Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam tafsir قُلْ أُوحِيَ, dari hadis Ibnu Juraij, ia berkata: Abdul Aziz bin Umar berkata:Adapun jin yang bertemu beliau di Nakhlah adalah jin dari Nainawa, sedangkan jin yang bertemu beliau di Makkah adalah jin dari Nashibin.Al-Baihaqi memahami ucapan, “Kami melewati malam terburuk yang pernah dilalui suatu kaum,” bahwa ucapan itu berasal dari selain Ibnu Mas‘ud, yaitu orang-orang yang tidak mengetahui keluarnya beliau ﷺ menemui jin. Ini mungkin, tetapi agak jauh. Wallahu a‘lam.Al-Hafizh Abu Bakar Al-Baihaqi berkata: Abu Amr Muhammad bin Abdullah Al-Adib mengabarkan kepada kami, Abu Bakar Al-Isma‘ili mengabarkan kepada kami, Al-Hasan bin Sufyan menceritakan kepadaku, Suwaid bin Sa‘id menceritakan kepada kami, Amr bin Yahya menceritakan kepada kami, dari kakeknya Sa‘id bin Amr, ia berkata:Abu Hurairah biasa mengikuti Rasulullah ﷺ dengan membawa wadah air untuk wudu dan keperluan beliau. Pada suatu hari beliau menjumpainya dan bertanya, “Siapa ini?”Ia menjawab, “Aku, Abu Hurairah.”Beliau bersabda, “Bawakan kepadaku batu-batu untuk aku pakai bersuci, dan jangan bawakan tulang atau kotoran hewan.”Maka aku datang membawa batu-batu di ujung bajuku, lalu meletakkannya di samping beliau. Setelah beliau selesai dan bangkit, aku mengikuti beliau lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa tulang dan kotoran hewan tidak boleh?”Beliau menjawab, “Telah datang kepadaku utusan jin Nashibin. Mereka meminta bekal kepadaku, maka aku berdoa kepada Allah untuk mereka agar mereka tidak melewati satu tulang ataupun kotoran hewan kecuali mereka mendapatinya sebagai makanan.”Riwayat ini dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya dari Musa bin Ismail, dari Amr bin Yahya, dengan sanad yang hampir sama. Ini menunjukkan, bersama riwayat-riwayat sebelumnya, bahwa mereka memang datang lagi kepada beliau setelah itu. Dan nanti akan kami sebutkan apa yang menunjukkan bahwa hal itu terjadi berulang kali.Penjelasan dari Ibnu Katsir mengenai kisah-kisah terkait yang dibahas ini masih berlanjut. Kesimpulan dari cerita-cerita di atas adalah:1. Allah pernah menghadapkan sekelompok jin kepada Rasulullah ﷺ agar mereka mendengarkan bacaan Al-Qur’an yang beliau baca di Nakhlah.2. Pada peristiwa pertama itu, para jin mendengar bacaan Al-Qur’an, terdiam untuk menyimak, lalu kembali kepada kaumnya sebagai pemberi peringatan.3. Mereka langsung mengakui bahwa Al-Qur’an adalah bacaan yang menakjubkan, memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu mereka pun beriman.4. Sebab awal kedatangan mereka adalah karena para setan telah dihalangi dari berita langit dan dilempari bintang-bintang pijar, sehingga mereka mencari penyebabnya.5. Ketika mereka menemukan Nabi ﷺ sedang salat dan membaca Al-Qur’an, mereka sadar bahwa inilah peristiwa besar yang telah mengubah keadaan langit.6. Riwayat-riwayat yang ada menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ pada awalnya tidak selalu mengetahui kehadiran mereka, namun setelah itu para jin datang lagi kepada beliau dalam beberapa kesempatan.7. Dalam pertemuan-pertemuan berikutnya, Rasulullah ﷺ sengaja mendatangi mereka, membacakan Al-Qur’an, mengajak mereka kepada Allah, dan mengajarkan hukum-hukum yang mereka perlukan.8. Di antara ajaran yang beliau sampaikan kepada mereka ialah bahwa tulang dan kotoran hewan menjadi bekal bagi jin, sehingga manusia dilarang beristinja dengan keduanya.9. Perbedaan jumlah jin dalam berbagai riwayat, seperti tujuh, sembilan, lima belas, atau lebih banyak dari itu, menunjukkan bahwa kedatangan mereka kemungkinan terjadi berulang kali.10. Inti seluruh bahasan ini adalah bahwa jin juga mendengar dakwah Nabi ﷺ, beriman kepada Al-Qur’an, kembali mengingatkan kaumnya, dan dari kalangan mereka ada pemberi peringatan, tetapi tidak ada rasul dari jenis jin. 2. Jin Mengakui Kebenaran Al-Qur’anAllah Ta’ala berfirman,قَالُوا۟ يَٰقَوْمَنَآ إِنَّا سَمِعْنَا كِتَٰبًا أُنزِلَ مِنۢ بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِىٓ إِلَى ٱلْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ“Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Ahqaf: 30)Kemudian Allah menjelaskan isi peringatan yang disampaikan para jin kepada kaumnya. Allah mengabarkan ucapan mereka:قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنزِلَ مِن بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ“Mereka berkata: Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengar sebuah kitab yang diturunkan setelah Musa, yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya, dan memberi petunjuk kepada kebenaran.”Mereka tidak menyebut Isa, karena Isa ‘alaihissalam diturunkan kepadanya Injil yang berisi nasihat-nasihat, pelunakan hati, dan hanya sedikit hukum halal dan haram. Pada hakikatnya, Injil itu seperti penyempurna bagi syariat Taurat. Karena itu, yang menjadi pokok adalah Taurat. Itulah sebabnya mereka berkata, “diturunkan setelah Musa.”Demikian pula yang dikatakan oleh Waraqah bin Naufal ketika Nabi ﷺ mengabarkan kepadanya kisah turunnya Jibril ‘alaihissalam kepada beliau untuk pertama kalinya. Waraqah berkata, “Sungguh, sungguh, ini adalah Namus yang dahulu datang kepada Musa. Seandainya aku masih muda pada masa itu.”Firman mereka:مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ“yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya,”maksudnya, kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya kepada para nabi.Ucapan mereka:يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ“memberi petunjuk kepada kebenaran,” maksudnya dalam masalah keyakinan dan berita.Dan ucapan mereka:وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ“dan kepada jalan yang lurus,” maksudnya dalam amalan.Sebab Al-Qur’an mencakup dua perkara: berita dan tuntunan. Beritanya adalah benar, dan tuntunannya adalah adil. Sebagaimana firman Allah:وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا“Dan telah sempurna kalimat Tuhanmu dengan kebenaran dan keadilan.” (QS. Al-An‘am: 115)Dan firman-Nya:هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar.” (QS. At-Taubah: 33)Yang dimaksud dengan petunjuk adalah ilmu yang bermanfaat, sedangkan agama yang benar adalah amal saleh.Demikian pula ucapan para jin:يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ“memberi petunjuk kepada kebenaran,” yaitu dalam keyakinan-keyakinan.Dan:وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ“dan kepada jalan yang lurus,” yaitu dalam amalan-amalan. 3. Seruan Jin agar Kaumnya BerimanAllah Ta’ala berfirman,يَٰقَوْمَنَآ أَجِيبُوا۟ دَاعِىَ ٱللَّهِ وَءَامِنُوا۟ بِهِۦ يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ“Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.” (QS. Al-Ahqaf: 31)Dalam ayat disebutkan,يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ“Wahai kaum kami, penuhilah seruan orang yang mengajak kepada Allah,”menunjukkan bahwa Allah mengutus Nabi Muhammad ﷺ kepada dua golongan makhluk, yaitu manusia dan jin. Beliau mengajak mereka kepada Allah, dan membacakan kepada mereka surah yang di dalamnya terdapat seruan kepada kedua golongan tersebut, berisi kewajiban, janji, dan ancaman bagi mereka, yaitu Surah Ar-Rahman. Karena itu mereka berkata:أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ“Penuhilah seruan orang yang mengajak kepada Allah dan berimanlah kepadanya.”Firman-Nya:يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ“Agar Dia mengampuni sebagian dosa-dosa kalian.”Ada yang mengatakan bahwa kata min di sini hanya sebagai tambahan, tetapi pendapat ini masih perlu dipertimbangkan, karena penggunaan tambahan seperti itu dalam kalimat yang bersifat penetapan jarang terjadi. Ada pula yang mengatakan bahwa kata min tetap pada makna asalnya, yaitu menunjukkan sebagian. Apakah Jin Mukmin Masuk Surga?Firman-Nya:وَيُجِرْكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ“Dan melindungi kalian dari azab yang pedih,”maksudnya Allah akan menjaga kalian dari azab-Nya yang menyakitkan.Sebagian ulama menggunakan ayat ini sebagai dalil bahwa jin yang beriman tidak masuk surga. Menurut mereka, balasan bagi jin yang saleh hanyalah diselamatkan dari azab neraka pada hari kiamat. Mereka berpendapat demikian karena dalam ayat ini disebutkan balasan berupa pengampunan dosa dan perlindungan dari azab, tanpa menyebutkan surga.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa jin yang beriman tidak masuk surga karena mereka berasal dari keturunan Iblis, sedangkan keturunan Iblis tidak masuk surga.Namun pendapat yang benar adalah bahwa jin yang beriman akan masuk surga sebagaimana manusia yang beriman. Ini merupakan pendapat sejumlah ulama dari kalangan salaf.Sebagian ulama berdalil dengan firman Allah:لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌ“Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya.” (QS. Ar-Rahman: 74)Namun dalil yang lebih kuat adalah firman Allah:وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ“Dan bagi orang yang takut kepada Tuhannya disediakan dua surga. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kalian dustakan?” (QS. Ar-Rahman: 46–47)Dalam ayat ini Allah memberikan nikmat kepada dua golongan, yaitu manusia dan jin, dengan menyebutkan bahwa balasan bagi orang yang berbuat baik di antara mereka adalah surga. Para jin bahkan menjawab ayat ini dengan ucapan syukur yang lebih jelas daripada manusia, yaitu:“Kami tidak mendustakan satu pun dari nikmat-Mu, wahai Tuhan kami. Segala puji bagi-Mu.”Tidak mungkin Allah menyebutkan suatu balasan kepada mereka jika balasan itu tidak akan mereka peroleh.Selain itu, jika Allah menghukum orang kafir dari kalangan jin dengan neraka, yang merupakan bentuk keadilan, maka lebih pantas lagi jika Allah memberi balasan surga kepada jin yang beriman, yang merupakan bentuk karunia.Hal ini juga dikuatkan oleh firman Allah:إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka surga Firdaus sebagai tempat tinggal.” (QS. Al-Kahfi: 107)Dan ayat-ayat lain yang serupa.Surga juga masih memiliki kelebihan tempat hingga Allah menciptakan makhluk baru untuk mengisinya. Maka tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa orang yang beriman kepada-Nya dan beramal saleh tidak akan memasukinya.Adapun balasan yang disebutkan dalam ayat ini, yaitu pengampunan dosa dan perlindungan dari azab, pada hakikatnya mengandung makna masuk surga. Sebab di akhirat hanya ada dua tempat: surga atau neraka. Siapa yang diselamatkan dari neraka pasti akan masuk surga.Tidak ada dalil yang jelas dari syariat yang menyatakan bahwa jin yang beriman tidak masuk surga. Jika ada dalil yang sahih, tentu akan diterima.Nabi Nuh juga berkata kepada kaumnya:يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرْكُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى“Agar Dia mengampuni sebagian dosa-dosa kalian dan menangguhkan kalian sampai waktu yang dite ntukan.” (QS. Nuh: 4)Padahal tidak ada perbedaan pendapat bahwa orang beriman dari kaum Nabi Nuh masuk surga. Demikian pula halnya dengan jin yang beriman.Ada pula beberapa pendapat lain yang aneh. Misalnya pendapat Umar bin Abdul Aziz yang mengatakan bahwa jin tidak masuk ke bagian utama surga, tetapi berada di sekitar dan di pinggirannya.Ada juga yang mengatakan bahwa di surga manusia dapat melihat jin, tetapi jin tidak dapat melihat manusia, kebalikan dari keadaan mereka di dunia.Ada pula yang mengatakan bahwa jin tidak makan dan tidak minum di surga, tetapi hanya diberi ilham untuk bertasbih, bertahmid, dan mensucikan Allah sebagai pengganti makanan dan minuman, sebagaimana malaikat.Namun semua pendapat tersebut masih perlu dipertimbangkan dan tidak memiliki dalil yang jelas. 4. Ancaman bagi yang Menolak Seruan AllahAllah Ta’ala berfirman,وَمَن لَّا يُجِبْ دَاعِىَ ٱللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُۥ مِن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءُ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ“Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata”.” (QS. Al-Ahqaf: 32)“Dan barang siapa tidak memenuhi seruan orang yang mengajak kepada Allah, maka ia tidak akan dapat melemahkan Allah di bumi, dan tidak ada baginya pelindung selain Dia. Mereka itulah orang-orang yang berada dalam kesesatan yang nyata.” (32)Kemudian Allah mengabarkan ucapan para jin itu:وَمَن لَّا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي الْأَرْضِ“Dan barang siapa tidak memenuhi seruan orang yang mengajak kepada Allah, maka ia tidak akan dapat melemahkan Allah di bumi.”Maksudnya, kekuasaan Allah meliputi dan menguasai dirinya sepenuhnya.Firman-Nya:وَلَيْسَ لَهُ مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءُ“Dan tidak ada baginya pelindung selain Dia.”Artinya, tidak ada seorang pun yang dapat melindungi mereka dari azab Allah.Firman-Nya:أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ“Mereka itulah orang-orang yang berada dalam kesesatan yang nyata.”Ini adalah bentuk ancaman dan peringatan keras. Para jin itu mengajak kaumnya dengan dua cara sekaligus: memberikan harapan dan memberikan peringatan. Karena itu, dakwah mereka memberi pengaruh pada banyak dari kaumnya, hingga mereka datang kepada Rasulullah ﷺ secara berkelompok demi berkelompok, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Pelajaran Dakwah dari Kisah Jin dalam Al-Qur’anKetika mendengar Al-Qur’an, para jin langsung diam dan menyimak dengan penuh perhatian. Ini mengajarkan adab ketika mendengar ayat Allah: berhenti dari kesibukan dan fokus mendengarkan.Mereka tidak menunda menerima kebenaran. Begitu memahami bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk, mereka langsung beriman tanpa banyak keraguan.Hidayah tidak mereka simpan untuk diri sendiri. Setelah beriman, mereka segera kembali kepada kaumnya untuk mengajak kepada kebenaran.Dakwah yang mereka lakukan memadukan dua cara: memberi harapan berupa ampunan dan keselamatan, serta memberi peringatan tentang azab bagi yang menolak.Al-Qur’an adalah petunjuk bagi semua makhluk yang dibebani syariat, baik manusia maupun jin.Kisah ini menjadi teguran bagi manusia. Jika jin yang baru sekali mendengar Al-Qur’an bisa langsung beriman dan berdakwah, maka manusia yang sering mendengar Al-Qur’an seharusnya lebih cepat menerima dan mengamalkannya. Nasihat PenutupDi zaman ini, banyak manusia justru lebih keras hatinya daripada jin yang diceritakan dalam Al-Qur’an. Jin itu ketika mendengar ayat Allah langsung diam, menyimak, beriman, lalu bergerak menyampaikan kebenaran kepada kaumnya. Adapun kita, Al-Qur’an begitu dekat, kajian begitu mudah diakses, mushaf begitu mudah dibuka, tetapi sering kali hati tetap lalai, telinga tidak sungguh-sungguh mendengar, dan hidup belum berubah.Karena itu, jangan sampai kita kalah dari jin dalam menyambut hidayah. Jika mereka yang baru sekali mendengar Al-Qur’an bisa tersentuh lalu beriman, maka kita yang setiap hari mendengar ayat-ayat Allah seharusnya lebih layak untuk tunduk, memperbaiki iman, dan segera memenuhi seruan Rasulullah ﷺ.Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendengar nasihat lalu mengikuti yang terbaik darinya.اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوبِنَا، وَنُورَ صُدُورِنَا، وَهَادِيَنَا إِلَى الْحَقِّ وَالصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِقُرَّائِنَا وَلِلْمُسْلِمِينَ أَجْمَعِينَ.Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyejuk hati kami, cahaya dada kami, dan penuntun kami menuju kebenaran serta jalan yang lurus. Ampunilah kami, para pembaca tulisan ini, dan seluruh kaum muslimin. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic —– Senin, 27 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdakwah Nabi kepada jin hidayah Al-Qur’an jin beriman jin mendengar Al Quran kisah jin dalam Islam pelajaran tauhid renungan ayat renungan quran rumaysho Surah Al-Ahqaf tafsir Al-Ahqaf tafsir Ibnu Katsir