Fikih Riba (Bag. 16): Hilangnya Kesamarataan Dalam Transaksi Barang Ribawi (1)

Daftar Isi ToggleHilangnya kesamarataan dalam transaksi barang ribawi (yang sejenis)Adanya penambahan atau pengurangan pada salah satu dari dua barang ribawi yang sejenisKeadaan pertama: penambahan atau pengurangan terjadi ketika proses akadKeadaan kedua: penambahan atau pengurangan terjadi setelah akad selesaiTerdapat aib atau cacat pada salah satu barang ribawi yang sejenisTelah disebutkan sebelumnya terkait beberapa poin penting pada riba jual beli yang sejenis, sekaligus dengan ketentuan-ketentuannya pada masing-masing poin, yaitu:1) Harus ada tamatsul (sama rata) ketika terjadi penukaran barang ribawi yang sejenis.2) Taqabudh (serah terima) secara langsung dan tidak boleh ada penundaan.Dengan adanya poin-poin ini, maka dapat diketahui bahwa transaksi barang ribawi tidak bisa sembarangan. Harus sama rata dalam timbangan serta takaran, dan harus dilakukan taqabudh (serah terima) dalam melakukan transaksi tersebut. [1]Hilangnya kesamarataan dalam transaksi barang ribawi (yang sejenis)Berikut ini adalah hal-hal yang dapat menghilangkan kesamarataan ketika terjadi transaksi penukaran atau jual beli barang ribawi [1],Adanya penambahan atau pengurangan pada salah satu dari dua barang ribawi yang sejenis Sebagaimana yang telah diketahui bahwa ketika terjadi penukaran barang ribawi yang sejenis, maka disyaratkan adanya tamatsul (kesamarataan) antara kedua barang yang ditukar. Jika ada penambahan atau pengurangan pada salah satu barang yang ditukar, maka hal ini dilarang.Contohnya seperti menukar emas dengan emas, maka harus sama beratnya. Jika yang ingin ditukar satu gram, maka harus ditukar kembali dengan satu gram emas; tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang dari satu gram. Jika lebih, maka transaksi ini termasuk dari kategori transaksi yang mengandung riba.Pada poin ini terdapat dua keadaan [2]:Keadaan pertama: penambahan atau pengurangan terjadi ketika proses akadPada keadaan ini, akad tetap sah dan tidak ada riba padanya. Mengingat akad belum disepakati dan proses akad masih berjalan.Keadaan kedua: penambahan atau pengurangan terjadi setelah akad selesaiPada keadaan kedua ini, bagaimana jika terjadi penambahan atau pengurangan pada salah satu barang yang ditukar?Contohnya, A ingin menukar emas miliknya seberat tiga gram dengan emas milik B seberat tiga gram pula. Tidak ada penambahan dan pengurangan dalam hal ini, sama rata. Namun, setelah akad selesai, A menambahkan emas seberat 1 gram untuk B.Jika disyaratkan adanya penambahan pada salah satu pihak setelah akad selesai, maka hal ini jelas tidak diperbolehkan dan masuk dalam kategori riba. Adapun jika tidak disyaratkan, sebagian ulama menarik permasalahan ini dan dikategorikan termasuk dari pembahasan hibah (pemberian).Dr. Abdul ’Azhim Jalal Abu Zaid menuturkan,إِذَا كَانَتِ الهِبَةُ غَيْرَ مَشْرُوطَةٍ فِي العَقْدِ الَّذِي بَيْعُ فِيهِ العِوَضَانِ الرِّبَوِيَّانِ الْمُتَجَانِسَانِ، فَلَا أَثَرَ لَهَا عَلَى العَقْدِ، فَلَوْ اشْتَرَى صَاعاً مِنْ حِنْطَةٍ بِصَاعٍ مِنْهَا ثُمَّ زَادَهُ شَيْئاً مِنْهَا هِبَةً، صَحَّتِ الهِبَةُ وَلَمْ تُؤَثِّرْ عَلَى العَقْدِ. وَعَلَى هَذَا، لَوْ جَرَى الحَطُّ أَوْ الزِّيَادَةُ بِلَفْظِ الهِبَةِ، لَصَحَّ ذَلِكَ، وَلَمَا أَثَرٌ عَلَى العَقْدِ“Jika hibah tersebut tidak disyaratkan ketika proses akad jual beli dua barang ribawi yang sejenis, maka hibah itu tidak berpengaruh terhadap keabsahan akad. Meskipun seseorang menjual satu sha’ gandum dengan satu sha’ gandum serupa yang kemudian dia memberikan penambahan berupa hibah, maka akadnya tetap sah. Artinya, jika terdapat penambahan atau pengurangan dengan lafaz hibah, maka sah akadnya, dan hal itu tidak berpengaruh negatif terhadap keabsahan akad.” [3]Pendapat ini merupakan pendapat para ulama Hanafiyah, kendati pendapat ini masih diperselisihkan di internal ulama Hanafiyah. Al-Imam Abu Hanifah rahimahullah sendiri berpendapat tidak boleh adanya penambahan dan pengurangan setelah akad selesai.Murid Al-Imam Abu Hanifah, yaitu Al-Imam Muhammad bin Al-Hasan rahimahullah, membedakan antara penambahan dan pengurangan setelah akad selesai. Menurut beliau, tidak boleh hukumnya menambah sesuatu apapun setelah transaksi barang ribawi selesai; adapun pengurangan, maka hukumnya boleh.Intinya, jika memang disyaratkan di awal adanya penambahan atau pengurangan pada transaksi tersebut, maka jelas tidak diperbolehkan. Adapun jika tidak disyaratkan di awal akad, kemudian akad telah berakhir dan terdapat tambahan, sebagian ulama mengarahkan atau mengkategorikan pembahasan ini termasuk dari hibah.Namun, seorang muslim tentunya lebih baik berhati-hati dalam hal ini. Tatkala ada celah untuk mengatakan bahwa tambahan itu termasuk hibah, maka dikhawatirkan seseorang akan bermudah-mudahan dalam hal ini. Ia akan beranggapan bahwa yang terpenting tidak disyaratkan di awal akad; ketika akad telah selesai, dia tinggal diberikan tambahan dari transaksi tukar-menukar barang ribawi yang sejenis.Sehingga alangkah baiknya jika kita mengambil pendapat yang lebih selamat, yaitu pendapat yang mengatakan tidak diperbolehkan adanya tambahan atau pengurangan setelah akad selesai, baik disyaratkan sebelum akad ataupun tidak. Yang demikian ini merupakan pendapat jumhur ulama. [4]Terdapat aib atau cacat pada salah satu barang ribawi yang sejenisTentunya, aib atau cacat yang dimaksud di sini adalah aib yang memang ada sebelum akad. Dalam hal ini terbagi menjadi dua,– Jika aib atau cacat dapat terdeteksi ketika proses akad berlangsung, maka pada saat itu juga akad bisa dibatalkan dan tidak boleh adanya penambahan.Contohnya jika terdapat goresan atau hal lainnya pada emas yang ingin ditukar dan mengurangi kadar beratnya. Dalam kasus ini, akad bisa dibatalkan saat itu juga atau ditukar dengan emas lainnya yang tidak ada aib atau cacat padanya.Dan tidak boleh adanya penambahan, misalnya: karena terdapat aib atau cacat pada salah satu emas, kemudian ditambahkan dengan beberapa gram emas lagi sebagai bentuk ganti rugi dari aib tersebut. Hal semacam ini tidak diperbolehkan.Solusinya adalah jika memungkinkan, diganti dengan emas lainnya yang tidak ada aib atau cacatnya. Jika tidak memungkinkan, maka akad tersebut harus dibatalkan.– Jika aib atau cacat tidak dapat terdeteksi ketika proses akad berlangsung dan baru ketahuan adanya aib atau cacat setelah akad selesai, apakah boleh adanya penambahan sebagai bentuk ganti rugi atas aib atau cacat tersebut?Dalam kasus semacam ini, jumhur ulama tidak membolehkan adanya penambahan dalam rangka ganti rugi atas aib atau cacat. Jika ada penambahan sebagai bentuk ganti rugi, maka yang demikian itu termasuk dalam kategori riba fadhl. [4]Solusinya: jika akad selesai dan terdapat aib atau cacat yang memang sudah ada sebelum akad dilakukan, maka akad tersebut bisa di-faskh (dibatalkan).Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 15***Depok, 9 Safar 1447/ 24 Juli 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Mufasshal fi Fiqhil Hanafi, hal. 192.[2] Pembahasan ini bisa dilihat di kitab Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 197), dan Fiqh Ar-Riba, hal. 262.[3] Fiqh Ar-Riba, hal. 262.[4] Shahih Fiqih Sunnah, 5: 198. Referensi:– Abu Mālik Kamāl bin Sayyid Sālim. Ṣaḥīḥ Fiqh as-Sunnah/Kaysful Akinnah. Jilid 5. Cet. ke-2. Mesir: Maktabah at-Taufīqiyyah, 2016.– Abū Zayd, ʿAbd al-ʿAẓīm Jalāl. Fiqh ar-Ribā: Dirāsah Muqāranah wa Shāmilah li at-Taṭbīqāt al-Muʿāṣirah. Cet. ke-1. Beirut: Muʾassasah ar-Risālah, 1425 H/2004 M.– Muḥammad Mājid. Al-Mufaṣṣal fī al-Fiqh al-Ḥanafī: al-Amwāl wa al-Muʿāmalāt al-Māliyyah. Cet. ke-1. Beirut: Dār al-Mustaqbal, 1426 H/2005 M.

Fikih Riba (Bag. 16): Hilangnya Kesamarataan Dalam Transaksi Barang Ribawi (1)

Daftar Isi ToggleHilangnya kesamarataan dalam transaksi barang ribawi (yang sejenis)Adanya penambahan atau pengurangan pada salah satu dari dua barang ribawi yang sejenisKeadaan pertama: penambahan atau pengurangan terjadi ketika proses akadKeadaan kedua: penambahan atau pengurangan terjadi setelah akad selesaiTerdapat aib atau cacat pada salah satu barang ribawi yang sejenisTelah disebutkan sebelumnya terkait beberapa poin penting pada riba jual beli yang sejenis, sekaligus dengan ketentuan-ketentuannya pada masing-masing poin, yaitu:1) Harus ada tamatsul (sama rata) ketika terjadi penukaran barang ribawi yang sejenis.2) Taqabudh (serah terima) secara langsung dan tidak boleh ada penundaan.Dengan adanya poin-poin ini, maka dapat diketahui bahwa transaksi barang ribawi tidak bisa sembarangan. Harus sama rata dalam timbangan serta takaran, dan harus dilakukan taqabudh (serah terima) dalam melakukan transaksi tersebut. [1]Hilangnya kesamarataan dalam transaksi barang ribawi (yang sejenis)Berikut ini adalah hal-hal yang dapat menghilangkan kesamarataan ketika terjadi transaksi penukaran atau jual beli barang ribawi [1],Adanya penambahan atau pengurangan pada salah satu dari dua barang ribawi yang sejenis Sebagaimana yang telah diketahui bahwa ketika terjadi penukaran barang ribawi yang sejenis, maka disyaratkan adanya tamatsul (kesamarataan) antara kedua barang yang ditukar. Jika ada penambahan atau pengurangan pada salah satu barang yang ditukar, maka hal ini dilarang.Contohnya seperti menukar emas dengan emas, maka harus sama beratnya. Jika yang ingin ditukar satu gram, maka harus ditukar kembali dengan satu gram emas; tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang dari satu gram. Jika lebih, maka transaksi ini termasuk dari kategori transaksi yang mengandung riba.Pada poin ini terdapat dua keadaan [2]:Keadaan pertama: penambahan atau pengurangan terjadi ketika proses akadPada keadaan ini, akad tetap sah dan tidak ada riba padanya. Mengingat akad belum disepakati dan proses akad masih berjalan.Keadaan kedua: penambahan atau pengurangan terjadi setelah akad selesaiPada keadaan kedua ini, bagaimana jika terjadi penambahan atau pengurangan pada salah satu barang yang ditukar?Contohnya, A ingin menukar emas miliknya seberat tiga gram dengan emas milik B seberat tiga gram pula. Tidak ada penambahan dan pengurangan dalam hal ini, sama rata. Namun, setelah akad selesai, A menambahkan emas seberat 1 gram untuk B.Jika disyaratkan adanya penambahan pada salah satu pihak setelah akad selesai, maka hal ini jelas tidak diperbolehkan dan masuk dalam kategori riba. Adapun jika tidak disyaratkan, sebagian ulama menarik permasalahan ini dan dikategorikan termasuk dari pembahasan hibah (pemberian).Dr. Abdul ’Azhim Jalal Abu Zaid menuturkan,إِذَا كَانَتِ الهِبَةُ غَيْرَ مَشْرُوطَةٍ فِي العَقْدِ الَّذِي بَيْعُ فِيهِ العِوَضَانِ الرِّبَوِيَّانِ الْمُتَجَانِسَانِ، فَلَا أَثَرَ لَهَا عَلَى العَقْدِ، فَلَوْ اشْتَرَى صَاعاً مِنْ حِنْطَةٍ بِصَاعٍ مِنْهَا ثُمَّ زَادَهُ شَيْئاً مِنْهَا هِبَةً، صَحَّتِ الهِبَةُ وَلَمْ تُؤَثِّرْ عَلَى العَقْدِ. وَعَلَى هَذَا، لَوْ جَرَى الحَطُّ أَوْ الزِّيَادَةُ بِلَفْظِ الهِبَةِ، لَصَحَّ ذَلِكَ، وَلَمَا أَثَرٌ عَلَى العَقْدِ“Jika hibah tersebut tidak disyaratkan ketika proses akad jual beli dua barang ribawi yang sejenis, maka hibah itu tidak berpengaruh terhadap keabsahan akad. Meskipun seseorang menjual satu sha’ gandum dengan satu sha’ gandum serupa yang kemudian dia memberikan penambahan berupa hibah, maka akadnya tetap sah. Artinya, jika terdapat penambahan atau pengurangan dengan lafaz hibah, maka sah akadnya, dan hal itu tidak berpengaruh negatif terhadap keabsahan akad.” [3]Pendapat ini merupakan pendapat para ulama Hanafiyah, kendati pendapat ini masih diperselisihkan di internal ulama Hanafiyah. Al-Imam Abu Hanifah rahimahullah sendiri berpendapat tidak boleh adanya penambahan dan pengurangan setelah akad selesai.Murid Al-Imam Abu Hanifah, yaitu Al-Imam Muhammad bin Al-Hasan rahimahullah, membedakan antara penambahan dan pengurangan setelah akad selesai. Menurut beliau, tidak boleh hukumnya menambah sesuatu apapun setelah transaksi barang ribawi selesai; adapun pengurangan, maka hukumnya boleh.Intinya, jika memang disyaratkan di awal adanya penambahan atau pengurangan pada transaksi tersebut, maka jelas tidak diperbolehkan. Adapun jika tidak disyaratkan di awal akad, kemudian akad telah berakhir dan terdapat tambahan, sebagian ulama mengarahkan atau mengkategorikan pembahasan ini termasuk dari hibah.Namun, seorang muslim tentunya lebih baik berhati-hati dalam hal ini. Tatkala ada celah untuk mengatakan bahwa tambahan itu termasuk hibah, maka dikhawatirkan seseorang akan bermudah-mudahan dalam hal ini. Ia akan beranggapan bahwa yang terpenting tidak disyaratkan di awal akad; ketika akad telah selesai, dia tinggal diberikan tambahan dari transaksi tukar-menukar barang ribawi yang sejenis.Sehingga alangkah baiknya jika kita mengambil pendapat yang lebih selamat, yaitu pendapat yang mengatakan tidak diperbolehkan adanya tambahan atau pengurangan setelah akad selesai, baik disyaratkan sebelum akad ataupun tidak. Yang demikian ini merupakan pendapat jumhur ulama. [4]Terdapat aib atau cacat pada salah satu barang ribawi yang sejenisTentunya, aib atau cacat yang dimaksud di sini adalah aib yang memang ada sebelum akad. Dalam hal ini terbagi menjadi dua,– Jika aib atau cacat dapat terdeteksi ketika proses akad berlangsung, maka pada saat itu juga akad bisa dibatalkan dan tidak boleh adanya penambahan.Contohnya jika terdapat goresan atau hal lainnya pada emas yang ingin ditukar dan mengurangi kadar beratnya. Dalam kasus ini, akad bisa dibatalkan saat itu juga atau ditukar dengan emas lainnya yang tidak ada aib atau cacat padanya.Dan tidak boleh adanya penambahan, misalnya: karena terdapat aib atau cacat pada salah satu emas, kemudian ditambahkan dengan beberapa gram emas lagi sebagai bentuk ganti rugi dari aib tersebut. Hal semacam ini tidak diperbolehkan.Solusinya adalah jika memungkinkan, diganti dengan emas lainnya yang tidak ada aib atau cacatnya. Jika tidak memungkinkan, maka akad tersebut harus dibatalkan.– Jika aib atau cacat tidak dapat terdeteksi ketika proses akad berlangsung dan baru ketahuan adanya aib atau cacat setelah akad selesai, apakah boleh adanya penambahan sebagai bentuk ganti rugi atas aib atau cacat tersebut?Dalam kasus semacam ini, jumhur ulama tidak membolehkan adanya penambahan dalam rangka ganti rugi atas aib atau cacat. Jika ada penambahan sebagai bentuk ganti rugi, maka yang demikian itu termasuk dalam kategori riba fadhl. [4]Solusinya: jika akad selesai dan terdapat aib atau cacat yang memang sudah ada sebelum akad dilakukan, maka akad tersebut bisa di-faskh (dibatalkan).Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 15***Depok, 9 Safar 1447/ 24 Juli 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Mufasshal fi Fiqhil Hanafi, hal. 192.[2] Pembahasan ini bisa dilihat di kitab Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 197), dan Fiqh Ar-Riba, hal. 262.[3] Fiqh Ar-Riba, hal. 262.[4] Shahih Fiqih Sunnah, 5: 198. Referensi:– Abu Mālik Kamāl bin Sayyid Sālim. Ṣaḥīḥ Fiqh as-Sunnah/Kaysful Akinnah. Jilid 5. Cet. ke-2. Mesir: Maktabah at-Taufīqiyyah, 2016.– Abū Zayd, ʿAbd al-ʿAẓīm Jalāl. Fiqh ar-Ribā: Dirāsah Muqāranah wa Shāmilah li at-Taṭbīqāt al-Muʿāṣirah. Cet. ke-1. Beirut: Muʾassasah ar-Risālah, 1425 H/2004 M.– Muḥammad Mājid. Al-Mufaṣṣal fī al-Fiqh al-Ḥanafī: al-Amwāl wa al-Muʿāmalāt al-Māliyyah. Cet. ke-1. Beirut: Dār al-Mustaqbal, 1426 H/2005 M.
Daftar Isi ToggleHilangnya kesamarataan dalam transaksi barang ribawi (yang sejenis)Adanya penambahan atau pengurangan pada salah satu dari dua barang ribawi yang sejenisKeadaan pertama: penambahan atau pengurangan terjadi ketika proses akadKeadaan kedua: penambahan atau pengurangan terjadi setelah akad selesaiTerdapat aib atau cacat pada salah satu barang ribawi yang sejenisTelah disebutkan sebelumnya terkait beberapa poin penting pada riba jual beli yang sejenis, sekaligus dengan ketentuan-ketentuannya pada masing-masing poin, yaitu:1) Harus ada tamatsul (sama rata) ketika terjadi penukaran barang ribawi yang sejenis.2) Taqabudh (serah terima) secara langsung dan tidak boleh ada penundaan.Dengan adanya poin-poin ini, maka dapat diketahui bahwa transaksi barang ribawi tidak bisa sembarangan. Harus sama rata dalam timbangan serta takaran, dan harus dilakukan taqabudh (serah terima) dalam melakukan transaksi tersebut. [1]Hilangnya kesamarataan dalam transaksi barang ribawi (yang sejenis)Berikut ini adalah hal-hal yang dapat menghilangkan kesamarataan ketika terjadi transaksi penukaran atau jual beli barang ribawi [1],Adanya penambahan atau pengurangan pada salah satu dari dua barang ribawi yang sejenis Sebagaimana yang telah diketahui bahwa ketika terjadi penukaran barang ribawi yang sejenis, maka disyaratkan adanya tamatsul (kesamarataan) antara kedua barang yang ditukar. Jika ada penambahan atau pengurangan pada salah satu barang yang ditukar, maka hal ini dilarang.Contohnya seperti menukar emas dengan emas, maka harus sama beratnya. Jika yang ingin ditukar satu gram, maka harus ditukar kembali dengan satu gram emas; tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang dari satu gram. Jika lebih, maka transaksi ini termasuk dari kategori transaksi yang mengandung riba.Pada poin ini terdapat dua keadaan [2]:Keadaan pertama: penambahan atau pengurangan terjadi ketika proses akadPada keadaan ini, akad tetap sah dan tidak ada riba padanya. Mengingat akad belum disepakati dan proses akad masih berjalan.Keadaan kedua: penambahan atau pengurangan terjadi setelah akad selesaiPada keadaan kedua ini, bagaimana jika terjadi penambahan atau pengurangan pada salah satu barang yang ditukar?Contohnya, A ingin menukar emas miliknya seberat tiga gram dengan emas milik B seberat tiga gram pula. Tidak ada penambahan dan pengurangan dalam hal ini, sama rata. Namun, setelah akad selesai, A menambahkan emas seberat 1 gram untuk B.Jika disyaratkan adanya penambahan pada salah satu pihak setelah akad selesai, maka hal ini jelas tidak diperbolehkan dan masuk dalam kategori riba. Adapun jika tidak disyaratkan, sebagian ulama menarik permasalahan ini dan dikategorikan termasuk dari pembahasan hibah (pemberian).Dr. Abdul ’Azhim Jalal Abu Zaid menuturkan,إِذَا كَانَتِ الهِبَةُ غَيْرَ مَشْرُوطَةٍ فِي العَقْدِ الَّذِي بَيْعُ فِيهِ العِوَضَانِ الرِّبَوِيَّانِ الْمُتَجَانِسَانِ، فَلَا أَثَرَ لَهَا عَلَى العَقْدِ، فَلَوْ اشْتَرَى صَاعاً مِنْ حِنْطَةٍ بِصَاعٍ مِنْهَا ثُمَّ زَادَهُ شَيْئاً مِنْهَا هِبَةً، صَحَّتِ الهِبَةُ وَلَمْ تُؤَثِّرْ عَلَى العَقْدِ. وَعَلَى هَذَا، لَوْ جَرَى الحَطُّ أَوْ الزِّيَادَةُ بِلَفْظِ الهِبَةِ، لَصَحَّ ذَلِكَ، وَلَمَا أَثَرٌ عَلَى العَقْدِ“Jika hibah tersebut tidak disyaratkan ketika proses akad jual beli dua barang ribawi yang sejenis, maka hibah itu tidak berpengaruh terhadap keabsahan akad. Meskipun seseorang menjual satu sha’ gandum dengan satu sha’ gandum serupa yang kemudian dia memberikan penambahan berupa hibah, maka akadnya tetap sah. Artinya, jika terdapat penambahan atau pengurangan dengan lafaz hibah, maka sah akadnya, dan hal itu tidak berpengaruh negatif terhadap keabsahan akad.” [3]Pendapat ini merupakan pendapat para ulama Hanafiyah, kendati pendapat ini masih diperselisihkan di internal ulama Hanafiyah. Al-Imam Abu Hanifah rahimahullah sendiri berpendapat tidak boleh adanya penambahan dan pengurangan setelah akad selesai.Murid Al-Imam Abu Hanifah, yaitu Al-Imam Muhammad bin Al-Hasan rahimahullah, membedakan antara penambahan dan pengurangan setelah akad selesai. Menurut beliau, tidak boleh hukumnya menambah sesuatu apapun setelah transaksi barang ribawi selesai; adapun pengurangan, maka hukumnya boleh.Intinya, jika memang disyaratkan di awal adanya penambahan atau pengurangan pada transaksi tersebut, maka jelas tidak diperbolehkan. Adapun jika tidak disyaratkan di awal akad, kemudian akad telah berakhir dan terdapat tambahan, sebagian ulama mengarahkan atau mengkategorikan pembahasan ini termasuk dari hibah.Namun, seorang muslim tentunya lebih baik berhati-hati dalam hal ini. Tatkala ada celah untuk mengatakan bahwa tambahan itu termasuk hibah, maka dikhawatirkan seseorang akan bermudah-mudahan dalam hal ini. Ia akan beranggapan bahwa yang terpenting tidak disyaratkan di awal akad; ketika akad telah selesai, dia tinggal diberikan tambahan dari transaksi tukar-menukar barang ribawi yang sejenis.Sehingga alangkah baiknya jika kita mengambil pendapat yang lebih selamat, yaitu pendapat yang mengatakan tidak diperbolehkan adanya tambahan atau pengurangan setelah akad selesai, baik disyaratkan sebelum akad ataupun tidak. Yang demikian ini merupakan pendapat jumhur ulama. [4]Terdapat aib atau cacat pada salah satu barang ribawi yang sejenisTentunya, aib atau cacat yang dimaksud di sini adalah aib yang memang ada sebelum akad. Dalam hal ini terbagi menjadi dua,– Jika aib atau cacat dapat terdeteksi ketika proses akad berlangsung, maka pada saat itu juga akad bisa dibatalkan dan tidak boleh adanya penambahan.Contohnya jika terdapat goresan atau hal lainnya pada emas yang ingin ditukar dan mengurangi kadar beratnya. Dalam kasus ini, akad bisa dibatalkan saat itu juga atau ditukar dengan emas lainnya yang tidak ada aib atau cacat padanya.Dan tidak boleh adanya penambahan, misalnya: karena terdapat aib atau cacat pada salah satu emas, kemudian ditambahkan dengan beberapa gram emas lagi sebagai bentuk ganti rugi dari aib tersebut. Hal semacam ini tidak diperbolehkan.Solusinya adalah jika memungkinkan, diganti dengan emas lainnya yang tidak ada aib atau cacatnya. Jika tidak memungkinkan, maka akad tersebut harus dibatalkan.– Jika aib atau cacat tidak dapat terdeteksi ketika proses akad berlangsung dan baru ketahuan adanya aib atau cacat setelah akad selesai, apakah boleh adanya penambahan sebagai bentuk ganti rugi atas aib atau cacat tersebut?Dalam kasus semacam ini, jumhur ulama tidak membolehkan adanya penambahan dalam rangka ganti rugi atas aib atau cacat. Jika ada penambahan sebagai bentuk ganti rugi, maka yang demikian itu termasuk dalam kategori riba fadhl. [4]Solusinya: jika akad selesai dan terdapat aib atau cacat yang memang sudah ada sebelum akad dilakukan, maka akad tersebut bisa di-faskh (dibatalkan).Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 15***Depok, 9 Safar 1447/ 24 Juli 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Mufasshal fi Fiqhil Hanafi, hal. 192.[2] Pembahasan ini bisa dilihat di kitab Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 197), dan Fiqh Ar-Riba, hal. 262.[3] Fiqh Ar-Riba, hal. 262.[4] Shahih Fiqih Sunnah, 5: 198. Referensi:– Abu Mālik Kamāl bin Sayyid Sālim. Ṣaḥīḥ Fiqh as-Sunnah/Kaysful Akinnah. Jilid 5. Cet. ke-2. Mesir: Maktabah at-Taufīqiyyah, 2016.– Abū Zayd, ʿAbd al-ʿAẓīm Jalāl. Fiqh ar-Ribā: Dirāsah Muqāranah wa Shāmilah li at-Taṭbīqāt al-Muʿāṣirah. Cet. ke-1. Beirut: Muʾassasah ar-Risālah, 1425 H/2004 M.– Muḥammad Mājid. Al-Mufaṣṣal fī al-Fiqh al-Ḥanafī: al-Amwāl wa al-Muʿāmalāt al-Māliyyah. Cet. ke-1. Beirut: Dār al-Mustaqbal, 1426 H/2005 M.


Daftar Isi ToggleHilangnya kesamarataan dalam transaksi barang ribawi (yang sejenis)Adanya penambahan atau pengurangan pada salah satu dari dua barang ribawi yang sejenisKeadaan pertama: penambahan atau pengurangan terjadi ketika proses akadKeadaan kedua: penambahan atau pengurangan terjadi setelah akad selesaiTerdapat aib atau cacat pada salah satu barang ribawi yang sejenisTelah disebutkan sebelumnya terkait beberapa poin penting pada riba jual beli yang sejenis, sekaligus dengan ketentuan-ketentuannya pada masing-masing poin, yaitu:1) Harus ada tamatsul (sama rata) ketika terjadi penukaran barang ribawi yang sejenis.2) Taqabudh (serah terima) secara langsung dan tidak boleh ada penundaan.Dengan adanya poin-poin ini, maka dapat diketahui bahwa transaksi barang ribawi tidak bisa sembarangan. Harus sama rata dalam timbangan serta takaran, dan harus dilakukan taqabudh (serah terima) dalam melakukan transaksi tersebut. [1]Hilangnya kesamarataan dalam transaksi barang ribawi (yang sejenis)Berikut ini adalah hal-hal yang dapat menghilangkan kesamarataan ketika terjadi transaksi penukaran atau jual beli barang ribawi [1],Adanya penambahan atau pengurangan pada salah satu dari dua barang ribawi yang sejenis Sebagaimana yang telah diketahui bahwa ketika terjadi penukaran barang ribawi yang sejenis, maka disyaratkan adanya tamatsul (kesamarataan) antara kedua barang yang ditukar. Jika ada penambahan atau pengurangan pada salah satu barang yang ditukar, maka hal ini dilarang.Contohnya seperti menukar emas dengan emas, maka harus sama beratnya. Jika yang ingin ditukar satu gram, maka harus ditukar kembali dengan satu gram emas; tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang dari satu gram. Jika lebih, maka transaksi ini termasuk dari kategori transaksi yang mengandung riba.Pada poin ini terdapat dua keadaan [2]:Keadaan pertama: penambahan atau pengurangan terjadi ketika proses akadPada keadaan ini, akad tetap sah dan tidak ada riba padanya. Mengingat akad belum disepakati dan proses akad masih berjalan.Keadaan kedua: penambahan atau pengurangan terjadi setelah akad selesaiPada keadaan kedua ini, bagaimana jika terjadi penambahan atau pengurangan pada salah satu barang yang ditukar?Contohnya, A ingin menukar emas miliknya seberat tiga gram dengan emas milik B seberat tiga gram pula. Tidak ada penambahan dan pengurangan dalam hal ini, sama rata. Namun, setelah akad selesai, A menambahkan emas seberat 1 gram untuk B.Jika disyaratkan adanya penambahan pada salah satu pihak setelah akad selesai, maka hal ini jelas tidak diperbolehkan dan masuk dalam kategori riba. Adapun jika tidak disyaratkan, sebagian ulama menarik permasalahan ini dan dikategorikan termasuk dari pembahasan hibah (pemberian).Dr. Abdul ’Azhim Jalal Abu Zaid menuturkan,إِذَا كَانَتِ الهِبَةُ غَيْرَ مَشْرُوطَةٍ فِي العَقْدِ الَّذِي بَيْعُ فِيهِ العِوَضَانِ الرِّبَوِيَّانِ الْمُتَجَانِسَانِ، فَلَا أَثَرَ لَهَا عَلَى العَقْدِ، فَلَوْ اشْتَرَى صَاعاً مِنْ حِنْطَةٍ بِصَاعٍ مِنْهَا ثُمَّ زَادَهُ شَيْئاً مِنْهَا هِبَةً، صَحَّتِ الهِبَةُ وَلَمْ تُؤَثِّرْ عَلَى العَقْدِ. وَعَلَى هَذَا، لَوْ جَرَى الحَطُّ أَوْ الزِّيَادَةُ بِلَفْظِ الهِبَةِ، لَصَحَّ ذَلِكَ، وَلَمَا أَثَرٌ عَلَى العَقْدِ“Jika hibah tersebut tidak disyaratkan ketika proses akad jual beli dua barang ribawi yang sejenis, maka hibah itu tidak berpengaruh terhadap keabsahan akad. Meskipun seseorang menjual satu sha’ gandum dengan satu sha’ gandum serupa yang kemudian dia memberikan penambahan berupa hibah, maka akadnya tetap sah. Artinya, jika terdapat penambahan atau pengurangan dengan lafaz hibah, maka sah akadnya, dan hal itu tidak berpengaruh negatif terhadap keabsahan akad.” [3]Pendapat ini merupakan pendapat para ulama Hanafiyah, kendati pendapat ini masih diperselisihkan di internal ulama Hanafiyah. Al-Imam Abu Hanifah rahimahullah sendiri berpendapat tidak boleh adanya penambahan dan pengurangan setelah akad selesai.Murid Al-Imam Abu Hanifah, yaitu Al-Imam Muhammad bin Al-Hasan rahimahullah, membedakan antara penambahan dan pengurangan setelah akad selesai. Menurut beliau, tidak boleh hukumnya menambah sesuatu apapun setelah transaksi barang ribawi selesai; adapun pengurangan, maka hukumnya boleh.Intinya, jika memang disyaratkan di awal adanya penambahan atau pengurangan pada transaksi tersebut, maka jelas tidak diperbolehkan. Adapun jika tidak disyaratkan di awal akad, kemudian akad telah berakhir dan terdapat tambahan, sebagian ulama mengarahkan atau mengkategorikan pembahasan ini termasuk dari hibah.Namun, seorang muslim tentunya lebih baik berhati-hati dalam hal ini. Tatkala ada celah untuk mengatakan bahwa tambahan itu termasuk hibah, maka dikhawatirkan seseorang akan bermudah-mudahan dalam hal ini. Ia akan beranggapan bahwa yang terpenting tidak disyaratkan di awal akad; ketika akad telah selesai, dia tinggal diberikan tambahan dari transaksi tukar-menukar barang ribawi yang sejenis.Sehingga alangkah baiknya jika kita mengambil pendapat yang lebih selamat, yaitu pendapat yang mengatakan tidak diperbolehkan adanya tambahan atau pengurangan setelah akad selesai, baik disyaratkan sebelum akad ataupun tidak. Yang demikian ini merupakan pendapat jumhur ulama. [4]Terdapat aib atau cacat pada salah satu barang ribawi yang sejenisTentunya, aib atau cacat yang dimaksud di sini adalah aib yang memang ada sebelum akad. Dalam hal ini terbagi menjadi dua,– Jika aib atau cacat dapat terdeteksi ketika proses akad berlangsung, maka pada saat itu juga akad bisa dibatalkan dan tidak boleh adanya penambahan.Contohnya jika terdapat goresan atau hal lainnya pada emas yang ingin ditukar dan mengurangi kadar beratnya. Dalam kasus ini, akad bisa dibatalkan saat itu juga atau ditukar dengan emas lainnya yang tidak ada aib atau cacat padanya.Dan tidak boleh adanya penambahan, misalnya: karena terdapat aib atau cacat pada salah satu emas, kemudian ditambahkan dengan beberapa gram emas lagi sebagai bentuk ganti rugi dari aib tersebut. Hal semacam ini tidak diperbolehkan.Solusinya adalah jika memungkinkan, diganti dengan emas lainnya yang tidak ada aib atau cacatnya. Jika tidak memungkinkan, maka akad tersebut harus dibatalkan.– Jika aib atau cacat tidak dapat terdeteksi ketika proses akad berlangsung dan baru ketahuan adanya aib atau cacat setelah akad selesai, apakah boleh adanya penambahan sebagai bentuk ganti rugi atas aib atau cacat tersebut?Dalam kasus semacam ini, jumhur ulama tidak membolehkan adanya penambahan dalam rangka ganti rugi atas aib atau cacat. Jika ada penambahan sebagai bentuk ganti rugi, maka yang demikian itu termasuk dalam kategori riba fadhl. [4]Solusinya: jika akad selesai dan terdapat aib atau cacat yang memang sudah ada sebelum akad dilakukan, maka akad tersebut bisa di-faskh (dibatalkan).Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 15***Depok, 9 Safar 1447/ 24 Juli 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Mufasshal fi Fiqhil Hanafi, hal. 192.[2] Pembahasan ini bisa dilihat di kitab Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 197), dan Fiqh Ar-Riba, hal. 262.[3] Fiqh Ar-Riba, hal. 262.[4] Shahih Fiqih Sunnah, 5: 198. Referensi:– Abu Mālik Kamāl bin Sayyid Sālim. Ṣaḥīḥ Fiqh as-Sunnah/Kaysful Akinnah. Jilid 5. Cet. ke-2. Mesir: Maktabah at-Taufīqiyyah, 2016.– Abū Zayd, ʿAbd al-ʿAẓīm Jalāl. Fiqh ar-Ribā: Dirāsah Muqāranah wa Shāmilah li at-Taṭbīqāt al-Muʿāṣirah. Cet. ke-1. Beirut: Muʾassasah ar-Risālah, 1425 H/2004 M.– Muḥammad Mājid. Al-Mufaṣṣal fī al-Fiqh al-Ḥanafī: al-Amwāl wa al-Muʿāmalāt al-Māliyyah. Cet. ke-1. Beirut: Dār al-Mustaqbal, 1426 H/2005 M.

Sering Cemas Berlebihan? Coba Cara Ibnul Qayyim Mengobati Hati dengan Al-Qur’an

Cara yang benar dalam mencari kesembuhan dengan Al-Qur’an. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Pelajaran dari Rabb kalian dan penyembuh bagi penyakit yang ada di dalam dada.” (QS. Yunus: 57) Kesembuhan yang terdapat dalam Al-Qur’an ini hanyalah dapat diperoleh dengan metode ini, yaitu metode yang disebutkan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. Adapun metode mengobati hati dengan Al-Qur’an adalah dengan tadabur. Apabila ia sampai pada suatu ayat dan mendapati dirinya sangat memerlukan ayat tersebut, misalnya terdapat kekurangan pada dirinya dalam sisi tertentu, atau ada sesuatu yang tidak beres pada sisi tertentu, atau terdapat kekurangan iman pada sisi tertentu, maka ia berhenti pada ayat yang memuat berbagai petunjuk tentang sisi yang masih kurang pada dirinya. Ia mengulang-ulang ayat tersebut dan mentadaburi makna-maknanya, petunjuk-petunjuknya, dan berbagai kandungan yang ditunjukkannya, hingga hatinya sembuh, hingga hatinya memperoleh kesembuhan. Misalnya, sebagian orang memiliki rasa takut, dan keadaan seperti ini banyak terjadi sekarang, yaitu rasa takut yang tidak wajar. Adapun rasa takut yang wajar, itu perkara yang ringan. Namun, orang ini memiliki rasa takut yang tidak wajar, yaitu ia takut terhadap hal-hal yang hanya ada dalam bayangannya. Ia takut terhadap berbagai waswas yang dibisikkan oleh setan, sehingga engkau mendapatinya berada dalam kegelisahan. Seandainya orang ini berhenti dan merenungi firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Sesungguhnya itu hanyalah setan yang menakut-nakuti kalian dengan para pengikutnya… Maka janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar beriman.”(QS. Ali ‘Imran: 175) Lalu ia terus mengulanginya, mengulanginya, mengulanginya, mengulanginya, dan merenungkannya, serta merujuk kitab-kitab tafsir para imam salaf untuk memahami berbagai petunjuk yang terkandung di dalamnya, niscaya ayat itu akan menumbuhkan iman di dalam hatinya. “Maka janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar beriman.”(QS. Ali ‘Imran: 175) Demikian pula dalam perkara tawakal, raja’ (berharap kepada Allah), memohon pertolongan kepada Allah, dan kesabaran. Misalnya ketika tertimpa musibah, ia membaca: “Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) Betapa besar pelipur lara yang terdapat dalam ayat ini bagi orang yang tertimpa musibah ketika ia mengulang-ulangnya: “Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun (sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali).’” (QS. Al-Baqarah: 155–156) Demikian pula terhadap ayat-ayat Al-Qur’an secara umum, ia menerapkan cara yang bermanfaat ini, sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim. Ibnul Qayyim berkata: “Membaca satu ayat dengan tadabur lebih baik daripada membaca satu kali khatam tanpa pemahaman dan tanpa tadabur.” ===== الطَّرِيقَةُ الصَّحِيحَةُ لِلِاسْتِشْفَاءِ بِالْقُرْآنِ قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ هَذَا الشِّفَاءُ الَّذِي فِي الْقُرْآنِ إِنَّمَا يُحَصَّلُ بِهَذِهِ الطَّرِيقَةِ هَذِهِ الطَّرِيقَةِ الَّتِي ذَكَرَهَا الْإِمَامُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ وَطَرِيقَةُ الْمُدَاوَاةِ لِلْقُرْآنِ بِالتَّدَبُّرِ وَإِذَا وَصَلَ إِلَى آيَةٍ وَجَدَ أَنَّهُ مُحْتَاجٌ إِلَيْهَا مِثْلَ أَنْ يَكُونَ عِنْدَهُ تَقْصِيرٌ فِي جَانِبٍ مُعَيَّنٍ أَوْ خَلَلٌ فِي جَانِبٍ مُعَيَّنٍ أَوْ نَقْصٌ فِي الْإِيمَانِ فِي جَانِبٍ مُعَيَّنٍ يَقِفُ عِنْدَ الْآيَةِ الْمُشْتَمِلَةِ عَلَى الْهِدَايَاتِ فِي هَذَا الْجَانِبِ الَّذِي هُوَ مُقَصِّرٌ فِيهِ وَيُكَرِّرُهَا، وَيَتَدَبَّرُ فِي مَعَانِيهَا وَهِدَايَاتِهَا وَدَلَالَاتِهَا حَتَّى يُشْفَى قَلْبُهُ حَتَّى يَحْصُلَ لِقَلْبِهِ الشِّفَاءُ يَعْنِي مَثَلًا بَعْضُ النَّاسِ عِنْدَهُ خَوْفٌ، وَهَذَا كَثِيرٌ الْآنَ خَوْفٌ غَيْرُ طَبِيعِيٍّ الْخَوْفُ الطَّبِيعِيُّ أَمْرُهُ سَهْلٌ لَكِنْ عِنْدَهُ خَوْفٌ غَيْرُ طَبِيعِيٍّ يَعْنِي يَخَافُ مِنْ أَوْهَامٍ، يَخَافُ مِنْ وَسَاوِسَ يُلْقِيهَا الشَّيْطَانُ فَتَجِدُهُ فِي قَلَقٍ لَوْ أَنَّ هَذَا وَقَفَ عِنْدَ قَوْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ وَأَخَذَ يُرَدِّدُهَا وَيُرَدِّدُهَا وَيُرَدِّدُهَا وَيُرَدِّدُهَا وَيَتَأَمَّلُ فِيهَا وَيَسْتَعِينُ بِكُتُبِ التَّفْسِيرِ لِأَئِمَّةِ السَّلَفِ فِي مَعْرِفَةِ هِدَايَاتِهَا، تُثْمِرُ فِي قَلْبِهِ إِيمَانًا فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ وَهَكَذَا فِي بَابِ التَّوَكُّلِ، فِي بَابِ الرَّجَاءِ، فِي بَابِ الِاسْتِعَانَةِ، فِي بَابِ الصَّبْرِ يَعْنِي فِي الْمَصَائِبِ مَثَلًا يَقْرَأُ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ كَمْ فِيهَا مِنْ تَسْلِيَةٍ لِلْمُصَابِ لَمَّا يُرَدِّدُهَا؟ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ وَهَكَذَا فِي عُمُومِ آيَاتِ الْقُرْآنِ يَفْعَلُ هَذِهِ الطَّرِيقَةَ النَّافِعَةَ الَّتِي ذَكَرَهَا ابْنُ الْقَيِّمِ يَقُولُ: قِرَاءَةُ آيَةٍ بِتَدَبُّرٍ خَيْرٌ مِنْ قِرَاءَةِ خَتْمَةٍ بِلَا تَفَهُّمٍ وَلَا تَدَبُّرٍ

Sering Cemas Berlebihan? Coba Cara Ibnul Qayyim Mengobati Hati dengan Al-Qur’an

Cara yang benar dalam mencari kesembuhan dengan Al-Qur’an. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Pelajaran dari Rabb kalian dan penyembuh bagi penyakit yang ada di dalam dada.” (QS. Yunus: 57) Kesembuhan yang terdapat dalam Al-Qur’an ini hanyalah dapat diperoleh dengan metode ini, yaitu metode yang disebutkan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. Adapun metode mengobati hati dengan Al-Qur’an adalah dengan tadabur. Apabila ia sampai pada suatu ayat dan mendapati dirinya sangat memerlukan ayat tersebut, misalnya terdapat kekurangan pada dirinya dalam sisi tertentu, atau ada sesuatu yang tidak beres pada sisi tertentu, atau terdapat kekurangan iman pada sisi tertentu, maka ia berhenti pada ayat yang memuat berbagai petunjuk tentang sisi yang masih kurang pada dirinya. Ia mengulang-ulang ayat tersebut dan mentadaburi makna-maknanya, petunjuk-petunjuknya, dan berbagai kandungan yang ditunjukkannya, hingga hatinya sembuh, hingga hatinya memperoleh kesembuhan. Misalnya, sebagian orang memiliki rasa takut, dan keadaan seperti ini banyak terjadi sekarang, yaitu rasa takut yang tidak wajar. Adapun rasa takut yang wajar, itu perkara yang ringan. Namun, orang ini memiliki rasa takut yang tidak wajar, yaitu ia takut terhadap hal-hal yang hanya ada dalam bayangannya. Ia takut terhadap berbagai waswas yang dibisikkan oleh setan, sehingga engkau mendapatinya berada dalam kegelisahan. Seandainya orang ini berhenti dan merenungi firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Sesungguhnya itu hanyalah setan yang menakut-nakuti kalian dengan para pengikutnya… Maka janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar beriman.”(QS. Ali ‘Imran: 175) Lalu ia terus mengulanginya, mengulanginya, mengulanginya, mengulanginya, dan merenungkannya, serta merujuk kitab-kitab tafsir para imam salaf untuk memahami berbagai petunjuk yang terkandung di dalamnya, niscaya ayat itu akan menumbuhkan iman di dalam hatinya. “Maka janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar beriman.”(QS. Ali ‘Imran: 175) Demikian pula dalam perkara tawakal, raja’ (berharap kepada Allah), memohon pertolongan kepada Allah, dan kesabaran. Misalnya ketika tertimpa musibah, ia membaca: “Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) Betapa besar pelipur lara yang terdapat dalam ayat ini bagi orang yang tertimpa musibah ketika ia mengulang-ulangnya: “Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun (sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali).’” (QS. Al-Baqarah: 155–156) Demikian pula terhadap ayat-ayat Al-Qur’an secara umum, ia menerapkan cara yang bermanfaat ini, sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim. Ibnul Qayyim berkata: “Membaca satu ayat dengan tadabur lebih baik daripada membaca satu kali khatam tanpa pemahaman dan tanpa tadabur.” ===== الطَّرِيقَةُ الصَّحِيحَةُ لِلِاسْتِشْفَاءِ بِالْقُرْآنِ قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ هَذَا الشِّفَاءُ الَّذِي فِي الْقُرْآنِ إِنَّمَا يُحَصَّلُ بِهَذِهِ الطَّرِيقَةِ هَذِهِ الطَّرِيقَةِ الَّتِي ذَكَرَهَا الْإِمَامُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ وَطَرِيقَةُ الْمُدَاوَاةِ لِلْقُرْآنِ بِالتَّدَبُّرِ وَإِذَا وَصَلَ إِلَى آيَةٍ وَجَدَ أَنَّهُ مُحْتَاجٌ إِلَيْهَا مِثْلَ أَنْ يَكُونَ عِنْدَهُ تَقْصِيرٌ فِي جَانِبٍ مُعَيَّنٍ أَوْ خَلَلٌ فِي جَانِبٍ مُعَيَّنٍ أَوْ نَقْصٌ فِي الْإِيمَانِ فِي جَانِبٍ مُعَيَّنٍ يَقِفُ عِنْدَ الْآيَةِ الْمُشْتَمِلَةِ عَلَى الْهِدَايَاتِ فِي هَذَا الْجَانِبِ الَّذِي هُوَ مُقَصِّرٌ فِيهِ وَيُكَرِّرُهَا، وَيَتَدَبَّرُ فِي مَعَانِيهَا وَهِدَايَاتِهَا وَدَلَالَاتِهَا حَتَّى يُشْفَى قَلْبُهُ حَتَّى يَحْصُلَ لِقَلْبِهِ الشِّفَاءُ يَعْنِي مَثَلًا بَعْضُ النَّاسِ عِنْدَهُ خَوْفٌ، وَهَذَا كَثِيرٌ الْآنَ خَوْفٌ غَيْرُ طَبِيعِيٍّ الْخَوْفُ الطَّبِيعِيُّ أَمْرُهُ سَهْلٌ لَكِنْ عِنْدَهُ خَوْفٌ غَيْرُ طَبِيعِيٍّ يَعْنِي يَخَافُ مِنْ أَوْهَامٍ، يَخَافُ مِنْ وَسَاوِسَ يُلْقِيهَا الشَّيْطَانُ فَتَجِدُهُ فِي قَلَقٍ لَوْ أَنَّ هَذَا وَقَفَ عِنْدَ قَوْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ وَأَخَذَ يُرَدِّدُهَا وَيُرَدِّدُهَا وَيُرَدِّدُهَا وَيُرَدِّدُهَا وَيَتَأَمَّلُ فِيهَا وَيَسْتَعِينُ بِكُتُبِ التَّفْسِيرِ لِأَئِمَّةِ السَّلَفِ فِي مَعْرِفَةِ هِدَايَاتِهَا، تُثْمِرُ فِي قَلْبِهِ إِيمَانًا فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ وَهَكَذَا فِي بَابِ التَّوَكُّلِ، فِي بَابِ الرَّجَاءِ، فِي بَابِ الِاسْتِعَانَةِ، فِي بَابِ الصَّبْرِ يَعْنِي فِي الْمَصَائِبِ مَثَلًا يَقْرَأُ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ كَمْ فِيهَا مِنْ تَسْلِيَةٍ لِلْمُصَابِ لَمَّا يُرَدِّدُهَا؟ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ وَهَكَذَا فِي عُمُومِ آيَاتِ الْقُرْآنِ يَفْعَلُ هَذِهِ الطَّرِيقَةَ النَّافِعَةَ الَّتِي ذَكَرَهَا ابْنُ الْقَيِّمِ يَقُولُ: قِرَاءَةُ آيَةٍ بِتَدَبُّرٍ خَيْرٌ مِنْ قِرَاءَةِ خَتْمَةٍ بِلَا تَفَهُّمٍ وَلَا تَدَبُّرٍ
Cara yang benar dalam mencari kesembuhan dengan Al-Qur’an. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Pelajaran dari Rabb kalian dan penyembuh bagi penyakit yang ada di dalam dada.” (QS. Yunus: 57) Kesembuhan yang terdapat dalam Al-Qur’an ini hanyalah dapat diperoleh dengan metode ini, yaitu metode yang disebutkan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. Adapun metode mengobati hati dengan Al-Qur’an adalah dengan tadabur. Apabila ia sampai pada suatu ayat dan mendapati dirinya sangat memerlukan ayat tersebut, misalnya terdapat kekurangan pada dirinya dalam sisi tertentu, atau ada sesuatu yang tidak beres pada sisi tertentu, atau terdapat kekurangan iman pada sisi tertentu, maka ia berhenti pada ayat yang memuat berbagai petunjuk tentang sisi yang masih kurang pada dirinya. Ia mengulang-ulang ayat tersebut dan mentadaburi makna-maknanya, petunjuk-petunjuknya, dan berbagai kandungan yang ditunjukkannya, hingga hatinya sembuh, hingga hatinya memperoleh kesembuhan. Misalnya, sebagian orang memiliki rasa takut, dan keadaan seperti ini banyak terjadi sekarang, yaitu rasa takut yang tidak wajar. Adapun rasa takut yang wajar, itu perkara yang ringan. Namun, orang ini memiliki rasa takut yang tidak wajar, yaitu ia takut terhadap hal-hal yang hanya ada dalam bayangannya. Ia takut terhadap berbagai waswas yang dibisikkan oleh setan, sehingga engkau mendapatinya berada dalam kegelisahan. Seandainya orang ini berhenti dan merenungi firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Sesungguhnya itu hanyalah setan yang menakut-nakuti kalian dengan para pengikutnya… Maka janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar beriman.”(QS. Ali ‘Imran: 175) Lalu ia terus mengulanginya, mengulanginya, mengulanginya, mengulanginya, dan merenungkannya, serta merujuk kitab-kitab tafsir para imam salaf untuk memahami berbagai petunjuk yang terkandung di dalamnya, niscaya ayat itu akan menumbuhkan iman di dalam hatinya. “Maka janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar beriman.”(QS. Ali ‘Imran: 175) Demikian pula dalam perkara tawakal, raja’ (berharap kepada Allah), memohon pertolongan kepada Allah, dan kesabaran. Misalnya ketika tertimpa musibah, ia membaca: “Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) Betapa besar pelipur lara yang terdapat dalam ayat ini bagi orang yang tertimpa musibah ketika ia mengulang-ulangnya: “Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun (sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali).’” (QS. Al-Baqarah: 155–156) Demikian pula terhadap ayat-ayat Al-Qur’an secara umum, ia menerapkan cara yang bermanfaat ini, sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim. Ibnul Qayyim berkata: “Membaca satu ayat dengan tadabur lebih baik daripada membaca satu kali khatam tanpa pemahaman dan tanpa tadabur.” ===== الطَّرِيقَةُ الصَّحِيحَةُ لِلِاسْتِشْفَاءِ بِالْقُرْآنِ قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ هَذَا الشِّفَاءُ الَّذِي فِي الْقُرْآنِ إِنَّمَا يُحَصَّلُ بِهَذِهِ الطَّرِيقَةِ هَذِهِ الطَّرِيقَةِ الَّتِي ذَكَرَهَا الْإِمَامُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ وَطَرِيقَةُ الْمُدَاوَاةِ لِلْقُرْآنِ بِالتَّدَبُّرِ وَإِذَا وَصَلَ إِلَى آيَةٍ وَجَدَ أَنَّهُ مُحْتَاجٌ إِلَيْهَا مِثْلَ أَنْ يَكُونَ عِنْدَهُ تَقْصِيرٌ فِي جَانِبٍ مُعَيَّنٍ أَوْ خَلَلٌ فِي جَانِبٍ مُعَيَّنٍ أَوْ نَقْصٌ فِي الْإِيمَانِ فِي جَانِبٍ مُعَيَّنٍ يَقِفُ عِنْدَ الْآيَةِ الْمُشْتَمِلَةِ عَلَى الْهِدَايَاتِ فِي هَذَا الْجَانِبِ الَّذِي هُوَ مُقَصِّرٌ فِيهِ وَيُكَرِّرُهَا، وَيَتَدَبَّرُ فِي مَعَانِيهَا وَهِدَايَاتِهَا وَدَلَالَاتِهَا حَتَّى يُشْفَى قَلْبُهُ حَتَّى يَحْصُلَ لِقَلْبِهِ الشِّفَاءُ يَعْنِي مَثَلًا بَعْضُ النَّاسِ عِنْدَهُ خَوْفٌ، وَهَذَا كَثِيرٌ الْآنَ خَوْفٌ غَيْرُ طَبِيعِيٍّ الْخَوْفُ الطَّبِيعِيُّ أَمْرُهُ سَهْلٌ لَكِنْ عِنْدَهُ خَوْفٌ غَيْرُ طَبِيعِيٍّ يَعْنِي يَخَافُ مِنْ أَوْهَامٍ، يَخَافُ مِنْ وَسَاوِسَ يُلْقِيهَا الشَّيْطَانُ فَتَجِدُهُ فِي قَلَقٍ لَوْ أَنَّ هَذَا وَقَفَ عِنْدَ قَوْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ وَأَخَذَ يُرَدِّدُهَا وَيُرَدِّدُهَا وَيُرَدِّدُهَا وَيُرَدِّدُهَا وَيَتَأَمَّلُ فِيهَا وَيَسْتَعِينُ بِكُتُبِ التَّفْسِيرِ لِأَئِمَّةِ السَّلَفِ فِي مَعْرِفَةِ هِدَايَاتِهَا، تُثْمِرُ فِي قَلْبِهِ إِيمَانًا فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ وَهَكَذَا فِي بَابِ التَّوَكُّلِ، فِي بَابِ الرَّجَاءِ، فِي بَابِ الِاسْتِعَانَةِ، فِي بَابِ الصَّبْرِ يَعْنِي فِي الْمَصَائِبِ مَثَلًا يَقْرَأُ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ كَمْ فِيهَا مِنْ تَسْلِيَةٍ لِلْمُصَابِ لَمَّا يُرَدِّدُهَا؟ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ وَهَكَذَا فِي عُمُومِ آيَاتِ الْقُرْآنِ يَفْعَلُ هَذِهِ الطَّرِيقَةَ النَّافِعَةَ الَّتِي ذَكَرَهَا ابْنُ الْقَيِّمِ يَقُولُ: قِرَاءَةُ آيَةٍ بِتَدَبُّرٍ خَيْرٌ مِنْ قِرَاءَةِ خَتْمَةٍ بِلَا تَفَهُّمٍ وَلَا تَدَبُّرٍ


Cara yang benar dalam mencari kesembuhan dengan Al-Qur’an. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Pelajaran dari Rabb kalian dan penyembuh bagi penyakit yang ada di dalam dada.” (QS. Yunus: 57) Kesembuhan yang terdapat dalam Al-Qur’an ini hanyalah dapat diperoleh dengan metode ini, yaitu metode yang disebutkan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. Adapun metode mengobati hati dengan Al-Qur’an adalah dengan tadabur. Apabila ia sampai pada suatu ayat dan mendapati dirinya sangat memerlukan ayat tersebut, misalnya terdapat kekurangan pada dirinya dalam sisi tertentu, atau ada sesuatu yang tidak beres pada sisi tertentu, atau terdapat kekurangan iman pada sisi tertentu, maka ia berhenti pada ayat yang memuat berbagai petunjuk tentang sisi yang masih kurang pada dirinya. Ia mengulang-ulang ayat tersebut dan mentadaburi makna-maknanya, petunjuk-petunjuknya, dan berbagai kandungan yang ditunjukkannya, hingga hatinya sembuh, hingga hatinya memperoleh kesembuhan. Misalnya, sebagian orang memiliki rasa takut, dan keadaan seperti ini banyak terjadi sekarang, yaitu rasa takut yang tidak wajar. Adapun rasa takut yang wajar, itu perkara yang ringan. Namun, orang ini memiliki rasa takut yang tidak wajar, yaitu ia takut terhadap hal-hal yang hanya ada dalam bayangannya. Ia takut terhadap berbagai waswas yang dibisikkan oleh setan, sehingga engkau mendapatinya berada dalam kegelisahan. Seandainya orang ini berhenti dan merenungi firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Sesungguhnya itu hanyalah setan yang menakut-nakuti kalian dengan para pengikutnya… Maka janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar beriman.”(QS. Ali ‘Imran: 175) Lalu ia terus mengulanginya, mengulanginya, mengulanginya, mengulanginya, dan merenungkannya, serta merujuk kitab-kitab tafsir para imam salaf untuk memahami berbagai petunjuk yang terkandung di dalamnya, niscaya ayat itu akan menumbuhkan iman di dalam hatinya. “Maka janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar beriman.”(QS. Ali ‘Imran: 175) Demikian pula dalam perkara tawakal, raja’ (berharap kepada Allah), memohon pertolongan kepada Allah, dan kesabaran. Misalnya ketika tertimpa musibah, ia membaca: “Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) Betapa besar pelipur lara yang terdapat dalam ayat ini bagi orang yang tertimpa musibah ketika ia mengulang-ulangnya: “Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun (sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali).’” (QS. Al-Baqarah: 155–156) Demikian pula terhadap ayat-ayat Al-Qur’an secara umum, ia menerapkan cara yang bermanfaat ini, sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim. Ibnul Qayyim berkata: “Membaca satu ayat dengan tadabur lebih baik daripada membaca satu kali khatam tanpa pemahaman dan tanpa tadabur.” ===== الطَّرِيقَةُ الصَّحِيحَةُ لِلِاسْتِشْفَاءِ بِالْقُرْآنِ قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ هَذَا الشِّفَاءُ الَّذِي فِي الْقُرْآنِ إِنَّمَا يُحَصَّلُ بِهَذِهِ الطَّرِيقَةِ هَذِهِ الطَّرِيقَةِ الَّتِي ذَكَرَهَا الْإِمَامُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ وَطَرِيقَةُ الْمُدَاوَاةِ لِلْقُرْآنِ بِالتَّدَبُّرِ وَإِذَا وَصَلَ إِلَى آيَةٍ وَجَدَ أَنَّهُ مُحْتَاجٌ إِلَيْهَا مِثْلَ أَنْ يَكُونَ عِنْدَهُ تَقْصِيرٌ فِي جَانِبٍ مُعَيَّنٍ أَوْ خَلَلٌ فِي جَانِبٍ مُعَيَّنٍ أَوْ نَقْصٌ فِي الْإِيمَانِ فِي جَانِبٍ مُعَيَّنٍ يَقِفُ عِنْدَ الْآيَةِ الْمُشْتَمِلَةِ عَلَى الْهِدَايَاتِ فِي هَذَا الْجَانِبِ الَّذِي هُوَ مُقَصِّرٌ فِيهِ وَيُكَرِّرُهَا، وَيَتَدَبَّرُ فِي مَعَانِيهَا وَهِدَايَاتِهَا وَدَلَالَاتِهَا حَتَّى يُشْفَى قَلْبُهُ حَتَّى يَحْصُلَ لِقَلْبِهِ الشِّفَاءُ يَعْنِي مَثَلًا بَعْضُ النَّاسِ عِنْدَهُ خَوْفٌ، وَهَذَا كَثِيرٌ الْآنَ خَوْفٌ غَيْرُ طَبِيعِيٍّ الْخَوْفُ الطَّبِيعِيُّ أَمْرُهُ سَهْلٌ لَكِنْ عِنْدَهُ خَوْفٌ غَيْرُ طَبِيعِيٍّ يَعْنِي يَخَافُ مِنْ أَوْهَامٍ، يَخَافُ مِنْ وَسَاوِسَ يُلْقِيهَا الشَّيْطَانُ فَتَجِدُهُ فِي قَلَقٍ لَوْ أَنَّ هَذَا وَقَفَ عِنْدَ قَوْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ وَأَخَذَ يُرَدِّدُهَا وَيُرَدِّدُهَا وَيُرَدِّدُهَا وَيُرَدِّدُهَا وَيَتَأَمَّلُ فِيهَا وَيَسْتَعِينُ بِكُتُبِ التَّفْسِيرِ لِأَئِمَّةِ السَّلَفِ فِي مَعْرِفَةِ هِدَايَاتِهَا، تُثْمِرُ فِي قَلْبِهِ إِيمَانًا فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ وَهَكَذَا فِي بَابِ التَّوَكُّلِ، فِي بَابِ الرَّجَاءِ، فِي بَابِ الِاسْتِعَانَةِ، فِي بَابِ الصَّبْرِ يَعْنِي فِي الْمَصَائِبِ مَثَلًا يَقْرَأُ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ كَمْ فِيهَا مِنْ تَسْلِيَةٍ لِلْمُصَابِ لَمَّا يُرَدِّدُهَا؟ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ وَهَكَذَا فِي عُمُومِ آيَاتِ الْقُرْآنِ يَفْعَلُ هَذِهِ الطَّرِيقَةَ النَّافِعَةَ الَّتِي ذَكَرَهَا ابْنُ الْقَيِّمِ يَقُولُ: قِرَاءَةُ آيَةٍ بِتَدَبُّرٍ خَيْرٌ مِنْ قِرَاءَةِ خَتْمَةٍ بِلَا تَفَهُّمٍ وَلَا تَدَبُّرٍ

Allah Suka Diminta, Teruslah Berdoa, Pertolongan Allah Dekat

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Allah tidak merasa bosan oleh desakan orang-orang yang terus memohon. Bahkan, Allah mencintai orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam berdoa, dan Allah suka untuk diminta, serta murka apabila tidak diminta.” Benar. Allah Subhanahu wa Ta’ala suka untuk diminta, dan Allah menyukai apabila kita terus bersungguh-sungguh memohon kepada-Nya. Sementara manusia tidak suka terus-menerus dimintai dan tidak suka didesak dengan permintaan. Adapun Ar-Rabb Jalla fi ‘Ulahu, Dia justru mencintai hamba-Nya yang terus memohon, merendahkan diri, serta memperbanyak doa, permohonan, dan ketundukan kepada-Nya. Benar. Dia merasa malu kepada hamba-Nya, ketika sang hamba tidak merasa malu kepada-Nya. “Sesungguhnya Allah Maha Pemalu lagi Maha Pemurah. Dia merasa malu kepada hamba-Nya apabila hamba itu mengangkat kedua tangannya kepada-Nya, lalu Dia mengembalikan keduanya dalam keadaan kosong.” (Lihat HR. Abu Dawud no. 1488, At-Tirmidzi no. 3556, Ibnu Majah no. 3865). Benar. Allah menutupi aib hamba-Nya ketika sang hamba tidak menutupi dirinya sendiri, dan merahmatinya ketika ia tidak menyayangi dirinya sendiri. Allah menyerunya dengan berbagai nikmat-Nya, kebaikan-Nya, dan karunia-Nya, menuju kemuliaan dan keridaan-Nya, tetapi hamba itu menolak. Maka Allah mengutus para rasul-Nya untuk mencarinya dan bersama mereka mengirimkan perjanjian-Nya kepadanya. Kemudian Dia Subhanahu wa Ta’ala sendiri turun kepadanya, dan Allah berfirman, ‘Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya? Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya?’” Semua itu, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Kaya dengan kesempurnaan mutlak. Dia Jalla wa ‘Ala sama sekali tidak memerlukan hamba tersebut. Namun, Allah tetap menyeru hamba-Nya dengan berbagai nikmat-Nya, terus melimpahkan kebaikan-Nya kepadanya, mengutus para rasul, dan menurunkan kitab-kitab kepadanya. Bahkan setelah semua itu, Allah Jalla fi ‘Ulahu turun setiap malam ke langit dunia, sebagaimana telah sahih dalam hadis mutawatir dari Nabi kita ‘alaihish shalatu was salam, Allah turun setiap malam ke langit dunia seraya berfirman, “Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya? Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya? Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkan doanya?” (Lihat HR. Bukhari no. 6321, Muslim no. 758). Dalam sebagian riwayat hadis ini juga disebutkan, “Aku tidak bertanya tentang hamba-hamba-Ku kepada siapa pun selain diri-Ku.” (Lihat HR. Ahmad no. 16218). Benar. Dan disebutkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat yang sampai kepada kita, “Sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar tertawa melihat kesempitan dan keputusasaan kalian, padahal begitu cepat Dia mengabulkan doa kalian.” Lalu seseorang berkata kepada beliau… Benar. Ini juga menetapkan sifat tertawa bagi Allah terhadap keadaan para makhluk yang sedang berada dalam kesempitan, yakni ketika mereka berputus asa. Apabila hujan tidak turun dan bumi mengalami kekeringan, manusia menjadi putus asa, kehilangan harapan, dan merasa bahwa turunnya hujan masih lama. Allah Jalla wa ‘Ala tertawa terhadap keadaan itu. Allah Jalla wa ‘Ala tertawa melihat hamba-hamba-Nya. Dia melihat mereka dalam keadaan sempit dan berputus asa, maka Allah terus tertawa, sementara Dia mengetahui bahwa jalan keluar bagi mereka telah dekat. Dia pun menurunkan hujan kepada mereka, menumbuhkan rerumputan dan tanaman untuk mereka, serta menyediakan air yang melimpah bagi mereka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Melindungi lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy-Syura: 28) Allah Subhanahu juga berfirman, “Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan. Kemudian Dia membentangkannya di langit sebagaimana yang Dia kehendaki dan menjadikannya bergumpal-gumpal. Lalu engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya. Ketika Dia menurunkannya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, seketika mereka bergembira. Padahal sebelum hujan diturunkan kepada mereka, sungguh mereka benar-benar telah berputus asa.” Yakni dalam keadaan putus asa dan kehilangan harapan. “Padahal sebelum hujan diturunkan kepada mereka, sungguh mereka benar-benar telah berputus asa…Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi setelah mati (kering)…” (Lihat QS. Ar-Rum: 48–50) Inilah seperti yang disebutkan dalam hadis: ketika hujan tidak kunjung turun, para hamba diliputi rasa putus asa dan kehilangan harapan. Sementara Allah Jalla wa ‘Ala tertawa terhadap keadaan itu, dan Dia mengetahui bahwa jalan keluar bagi mereka telah dekat. Benar. ===== قَالَ رَحِمَهُ اللهُ وَلَا يَتَبَرَّمُ بِإِلْحَاحِ الْمُلِحِّينَ بَلْ يُحِبُّ الْمُلِحِّينَ فِي الدُّعَاءِ وَيُحِبُّ أَنْ يُسْأَلَ، وَيَغْضَبُ إِذَا لَمْ يُسْأَلْ نَعَمْ، يُحِبُّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُسْأَلَ وَيُحِبُّ أَنْ نُلِحَّ عَلَيْهِ بِالسُّؤَالِ بَيْنَمَا ابْنُ آدَمَ يَكْرَهُ أَنْ يُسْأَلَ وَيَكْرَهُ أَنْ يُلَحَّ عَلَيْهِ بِالسُّؤَالِ أَمَّا الرَّبُّ جَلَّ فِي عُلَاهُ فَيُحِبُّ مِنْ عَبْدِهِ أَنْ يَكُونَ مُلِحًّا مُتَضَرِّعًا مُكْثِرًا مِنَ الدُّعَاءِ وَالسُّؤَالِ وَالتَّذَلُّلِ نَعَمْ يَسْتَحِي مِنْ عَبْدِهِ حَيْثُ لَا يَسْتَحِي الْعَبْدُ مِنْهُ إِنَّ اللهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ، يَسْتَحِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا نَعَمْ وَيَسْتُرُهُ حَيْثُ لَا يَسْتُرُ نَفْسَهُ، وَيَرْحَمُهُ حَيْثُ لَا يَرْحَمُ نَفْسَهُ دَعَاهُ بِنِعَمِهِ وَإِحْسَانِهِ وَأَيَادِيهِ إِلَى كَرَامَتِهِ وَرِضْوَانِهِ، فَأَبَى فَأَرْسَلَ رُسُلَهُ فِي طَلَبِهِ وَبَعَثَ إِلَيْهِ مَعَهُمْ عَهْدَهُ ثُمَّ نَزَلَ سُبْحَانَهُ إِلَيْهِ بِنَفْسِهِ وَقَالَ: مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ؟ هَذَا كُلُّهُ مَعَ كَمَالِ غِنَاهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، مَعَ كَمَالِ غِنَاهُ جَلَّ وَعَلَا عَنْ هَذَا الْعَبْدِ لَكِنَّهُ دَعَا عَبْدَهُ بِنِعَمِهِ وَوَالَى عَلَيْهِ إِحْسَانَهُ، وَأَرْسَلَ إِلَيْهِ الرُّسُلَ، وَأَنْزَلَ إِلَيْهِ الْكُتُبَ وَمَعَ هَذَا كُلِّهِ جَلَّ فِي عُلَاهُ يَنْزِلُ كُلَّ لَيْلَةٍ كَمَا صَحَّ بِذَلِكَ فِي الْحَدِيثِ الْمُتَوَاتِرِ عَنْ نَبِيِّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كُلَّ لَيْلَةٍ يَنْزِلُ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا يَقُولُ: مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ؟ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ؟ وَيَقُولُ كَمَا فِي بَعْضِ رِوَايَاتِ هَذَا الْحَدِيثِ: لَا أَسْأَلُ عَنْ عِبَادِي أَحَدًا غَيْرِي نَعَمْ. وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا بَلَغَنَا إِنَّ اللهَ تَعَالَى لَيَضْحَكُ مِنْ أَزْلِكُمْ وَقُنُوطِكُمْ وَسُرْعَةِ إِجَابَتِكُمْ فَقَالَ لَهُ نَعَمْ، وَهَذَا أَيْضًا فِيهِ إِثْبَاتٌ أَنَّ اللهَ يَضْحَكُ مِنْ أَزْلِ الْمَخْلُوقِينَ، يَعْنِي يَأْسِهِمْ الْمَخْلُوقُونَ، الْخَلْقُ، إِذَا انْحَبَسَ الْمَطَرُ وَأَجْدَبَتِ الْأَرْضُ فَإِنَّهُمْ يَيْأَسُونَ وَيَقْنَطُونَ وَيَسْتَبْعِدُونَ نُزُولَ الْمَطَرِاللهُ جَلَّ وَعَلَا يَضْحَكُ مِنْ ذَلِكَ يَضْحَكُ مِنْ عِبَادِهِ، يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ آزِلِينَ قَانِطِينَ فَيَظَلُّ يَضْحَكُ، يَعْلَمُ أَنَّ فَرَجَهُمْ قَرِيبٌ، وَيُنْزِلُ عَلَيْهِمُ الْمَطَرَ وَيُنْبِتُ لَهُمُ الْكَلَأَ وَالزُّرُوعَ، وَيُوَفِّرُ لَهُمُ الْمِيَاهَ كَمَا قَالَ تَعَالَى: وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ وَقَالَ سُبْحَانَهُ: اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلِ أَن يُنَزَّلَ عَلَيْهِم مِّن قَبْلِهِ لَمُبْلِسِينَ يَعْنِي آيِسِينَ قَانِطِينَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلِ أَن يُنَزَّلَ عَلَيْهِم مِّن قَبْلِهِ لَمُبْلِسِينَ فَانظُرْ إِلَىٰ آثَارِ رَحْمَتِ اللَّهِ كَيْفَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا فَهَذَا مِثْلُ مَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ مِنْ أَنَّ الْعِبَادَ إِذَا انْحَبَسَ الْمَطَرُ يَحْصُلُ عِنْدَهُمْ يَأْسٌ وَقُنُوطٌ وَاللهُ جَلَّ وَعَلَا يَضْحَكُ مِنْ ذَلِكَ، يَعْلَمُ أَنَّ فَرَجَهُمْ قَرِيبٌ نَعَمْ

Allah Suka Diminta, Teruslah Berdoa, Pertolongan Allah Dekat

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Allah tidak merasa bosan oleh desakan orang-orang yang terus memohon. Bahkan, Allah mencintai orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam berdoa, dan Allah suka untuk diminta, serta murka apabila tidak diminta.” Benar. Allah Subhanahu wa Ta’ala suka untuk diminta, dan Allah menyukai apabila kita terus bersungguh-sungguh memohon kepada-Nya. Sementara manusia tidak suka terus-menerus dimintai dan tidak suka didesak dengan permintaan. Adapun Ar-Rabb Jalla fi ‘Ulahu, Dia justru mencintai hamba-Nya yang terus memohon, merendahkan diri, serta memperbanyak doa, permohonan, dan ketundukan kepada-Nya. Benar. Dia merasa malu kepada hamba-Nya, ketika sang hamba tidak merasa malu kepada-Nya. “Sesungguhnya Allah Maha Pemalu lagi Maha Pemurah. Dia merasa malu kepada hamba-Nya apabila hamba itu mengangkat kedua tangannya kepada-Nya, lalu Dia mengembalikan keduanya dalam keadaan kosong.” (Lihat HR. Abu Dawud no. 1488, At-Tirmidzi no. 3556, Ibnu Majah no. 3865). Benar. Allah menutupi aib hamba-Nya ketika sang hamba tidak menutupi dirinya sendiri, dan merahmatinya ketika ia tidak menyayangi dirinya sendiri. Allah menyerunya dengan berbagai nikmat-Nya, kebaikan-Nya, dan karunia-Nya, menuju kemuliaan dan keridaan-Nya, tetapi hamba itu menolak. Maka Allah mengutus para rasul-Nya untuk mencarinya dan bersama mereka mengirimkan perjanjian-Nya kepadanya. Kemudian Dia Subhanahu wa Ta’ala sendiri turun kepadanya, dan Allah berfirman, ‘Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya? Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya?’” Semua itu, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Kaya dengan kesempurnaan mutlak. Dia Jalla wa ‘Ala sama sekali tidak memerlukan hamba tersebut. Namun, Allah tetap menyeru hamba-Nya dengan berbagai nikmat-Nya, terus melimpahkan kebaikan-Nya kepadanya, mengutus para rasul, dan menurunkan kitab-kitab kepadanya. Bahkan setelah semua itu, Allah Jalla fi ‘Ulahu turun setiap malam ke langit dunia, sebagaimana telah sahih dalam hadis mutawatir dari Nabi kita ‘alaihish shalatu was salam, Allah turun setiap malam ke langit dunia seraya berfirman, “Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya? Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya? Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkan doanya?” (Lihat HR. Bukhari no. 6321, Muslim no. 758). Dalam sebagian riwayat hadis ini juga disebutkan, “Aku tidak bertanya tentang hamba-hamba-Ku kepada siapa pun selain diri-Ku.” (Lihat HR. Ahmad no. 16218). Benar. Dan disebutkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat yang sampai kepada kita, “Sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar tertawa melihat kesempitan dan keputusasaan kalian, padahal begitu cepat Dia mengabulkan doa kalian.” Lalu seseorang berkata kepada beliau… Benar. Ini juga menetapkan sifat tertawa bagi Allah terhadap keadaan para makhluk yang sedang berada dalam kesempitan, yakni ketika mereka berputus asa. Apabila hujan tidak turun dan bumi mengalami kekeringan, manusia menjadi putus asa, kehilangan harapan, dan merasa bahwa turunnya hujan masih lama. Allah Jalla wa ‘Ala tertawa terhadap keadaan itu. Allah Jalla wa ‘Ala tertawa melihat hamba-hamba-Nya. Dia melihat mereka dalam keadaan sempit dan berputus asa, maka Allah terus tertawa, sementara Dia mengetahui bahwa jalan keluar bagi mereka telah dekat. Dia pun menurunkan hujan kepada mereka, menumbuhkan rerumputan dan tanaman untuk mereka, serta menyediakan air yang melimpah bagi mereka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Melindungi lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy-Syura: 28) Allah Subhanahu juga berfirman, “Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan. Kemudian Dia membentangkannya di langit sebagaimana yang Dia kehendaki dan menjadikannya bergumpal-gumpal. Lalu engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya. Ketika Dia menurunkannya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, seketika mereka bergembira. Padahal sebelum hujan diturunkan kepada mereka, sungguh mereka benar-benar telah berputus asa.” Yakni dalam keadaan putus asa dan kehilangan harapan. “Padahal sebelum hujan diturunkan kepada mereka, sungguh mereka benar-benar telah berputus asa…Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi setelah mati (kering)…” (Lihat QS. Ar-Rum: 48–50) Inilah seperti yang disebutkan dalam hadis: ketika hujan tidak kunjung turun, para hamba diliputi rasa putus asa dan kehilangan harapan. Sementara Allah Jalla wa ‘Ala tertawa terhadap keadaan itu, dan Dia mengetahui bahwa jalan keluar bagi mereka telah dekat. Benar. ===== قَالَ رَحِمَهُ اللهُ وَلَا يَتَبَرَّمُ بِإِلْحَاحِ الْمُلِحِّينَ بَلْ يُحِبُّ الْمُلِحِّينَ فِي الدُّعَاءِ وَيُحِبُّ أَنْ يُسْأَلَ، وَيَغْضَبُ إِذَا لَمْ يُسْأَلْ نَعَمْ، يُحِبُّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُسْأَلَ وَيُحِبُّ أَنْ نُلِحَّ عَلَيْهِ بِالسُّؤَالِ بَيْنَمَا ابْنُ آدَمَ يَكْرَهُ أَنْ يُسْأَلَ وَيَكْرَهُ أَنْ يُلَحَّ عَلَيْهِ بِالسُّؤَالِ أَمَّا الرَّبُّ جَلَّ فِي عُلَاهُ فَيُحِبُّ مِنْ عَبْدِهِ أَنْ يَكُونَ مُلِحًّا مُتَضَرِّعًا مُكْثِرًا مِنَ الدُّعَاءِ وَالسُّؤَالِ وَالتَّذَلُّلِ نَعَمْ يَسْتَحِي مِنْ عَبْدِهِ حَيْثُ لَا يَسْتَحِي الْعَبْدُ مِنْهُ إِنَّ اللهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ، يَسْتَحِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا نَعَمْ وَيَسْتُرُهُ حَيْثُ لَا يَسْتُرُ نَفْسَهُ، وَيَرْحَمُهُ حَيْثُ لَا يَرْحَمُ نَفْسَهُ دَعَاهُ بِنِعَمِهِ وَإِحْسَانِهِ وَأَيَادِيهِ إِلَى كَرَامَتِهِ وَرِضْوَانِهِ، فَأَبَى فَأَرْسَلَ رُسُلَهُ فِي طَلَبِهِ وَبَعَثَ إِلَيْهِ مَعَهُمْ عَهْدَهُ ثُمَّ نَزَلَ سُبْحَانَهُ إِلَيْهِ بِنَفْسِهِ وَقَالَ: مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ؟ هَذَا كُلُّهُ مَعَ كَمَالِ غِنَاهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، مَعَ كَمَالِ غِنَاهُ جَلَّ وَعَلَا عَنْ هَذَا الْعَبْدِ لَكِنَّهُ دَعَا عَبْدَهُ بِنِعَمِهِ وَوَالَى عَلَيْهِ إِحْسَانَهُ، وَأَرْسَلَ إِلَيْهِ الرُّسُلَ، وَأَنْزَلَ إِلَيْهِ الْكُتُبَ وَمَعَ هَذَا كُلِّهِ جَلَّ فِي عُلَاهُ يَنْزِلُ كُلَّ لَيْلَةٍ كَمَا صَحَّ بِذَلِكَ فِي الْحَدِيثِ الْمُتَوَاتِرِ عَنْ نَبِيِّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كُلَّ لَيْلَةٍ يَنْزِلُ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا يَقُولُ: مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ؟ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ؟ وَيَقُولُ كَمَا فِي بَعْضِ رِوَايَاتِ هَذَا الْحَدِيثِ: لَا أَسْأَلُ عَنْ عِبَادِي أَحَدًا غَيْرِي نَعَمْ. وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا بَلَغَنَا إِنَّ اللهَ تَعَالَى لَيَضْحَكُ مِنْ أَزْلِكُمْ وَقُنُوطِكُمْ وَسُرْعَةِ إِجَابَتِكُمْ فَقَالَ لَهُ نَعَمْ، وَهَذَا أَيْضًا فِيهِ إِثْبَاتٌ أَنَّ اللهَ يَضْحَكُ مِنْ أَزْلِ الْمَخْلُوقِينَ، يَعْنِي يَأْسِهِمْ الْمَخْلُوقُونَ، الْخَلْقُ، إِذَا انْحَبَسَ الْمَطَرُ وَأَجْدَبَتِ الْأَرْضُ فَإِنَّهُمْ يَيْأَسُونَ وَيَقْنَطُونَ وَيَسْتَبْعِدُونَ نُزُولَ الْمَطَرِاللهُ جَلَّ وَعَلَا يَضْحَكُ مِنْ ذَلِكَ يَضْحَكُ مِنْ عِبَادِهِ، يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ آزِلِينَ قَانِطِينَ فَيَظَلُّ يَضْحَكُ، يَعْلَمُ أَنَّ فَرَجَهُمْ قَرِيبٌ، وَيُنْزِلُ عَلَيْهِمُ الْمَطَرَ وَيُنْبِتُ لَهُمُ الْكَلَأَ وَالزُّرُوعَ، وَيُوَفِّرُ لَهُمُ الْمِيَاهَ كَمَا قَالَ تَعَالَى: وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ وَقَالَ سُبْحَانَهُ: اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلِ أَن يُنَزَّلَ عَلَيْهِم مِّن قَبْلِهِ لَمُبْلِسِينَ يَعْنِي آيِسِينَ قَانِطِينَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلِ أَن يُنَزَّلَ عَلَيْهِم مِّن قَبْلِهِ لَمُبْلِسِينَ فَانظُرْ إِلَىٰ آثَارِ رَحْمَتِ اللَّهِ كَيْفَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا فَهَذَا مِثْلُ مَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ مِنْ أَنَّ الْعِبَادَ إِذَا انْحَبَسَ الْمَطَرُ يَحْصُلُ عِنْدَهُمْ يَأْسٌ وَقُنُوطٌ وَاللهُ جَلَّ وَعَلَا يَضْحَكُ مِنْ ذَلِكَ، يَعْلَمُ أَنَّ فَرَجَهُمْ قَرِيبٌ نَعَمْ
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Allah tidak merasa bosan oleh desakan orang-orang yang terus memohon. Bahkan, Allah mencintai orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam berdoa, dan Allah suka untuk diminta, serta murka apabila tidak diminta.” Benar. Allah Subhanahu wa Ta’ala suka untuk diminta, dan Allah menyukai apabila kita terus bersungguh-sungguh memohon kepada-Nya. Sementara manusia tidak suka terus-menerus dimintai dan tidak suka didesak dengan permintaan. Adapun Ar-Rabb Jalla fi ‘Ulahu, Dia justru mencintai hamba-Nya yang terus memohon, merendahkan diri, serta memperbanyak doa, permohonan, dan ketundukan kepada-Nya. Benar. Dia merasa malu kepada hamba-Nya, ketika sang hamba tidak merasa malu kepada-Nya. “Sesungguhnya Allah Maha Pemalu lagi Maha Pemurah. Dia merasa malu kepada hamba-Nya apabila hamba itu mengangkat kedua tangannya kepada-Nya, lalu Dia mengembalikan keduanya dalam keadaan kosong.” (Lihat HR. Abu Dawud no. 1488, At-Tirmidzi no. 3556, Ibnu Majah no. 3865). Benar. Allah menutupi aib hamba-Nya ketika sang hamba tidak menutupi dirinya sendiri, dan merahmatinya ketika ia tidak menyayangi dirinya sendiri. Allah menyerunya dengan berbagai nikmat-Nya, kebaikan-Nya, dan karunia-Nya, menuju kemuliaan dan keridaan-Nya, tetapi hamba itu menolak. Maka Allah mengutus para rasul-Nya untuk mencarinya dan bersama mereka mengirimkan perjanjian-Nya kepadanya. Kemudian Dia Subhanahu wa Ta’ala sendiri turun kepadanya, dan Allah berfirman, ‘Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya? Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya?’” Semua itu, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Kaya dengan kesempurnaan mutlak. Dia Jalla wa ‘Ala sama sekali tidak memerlukan hamba tersebut. Namun, Allah tetap menyeru hamba-Nya dengan berbagai nikmat-Nya, terus melimpahkan kebaikan-Nya kepadanya, mengutus para rasul, dan menurunkan kitab-kitab kepadanya. Bahkan setelah semua itu, Allah Jalla fi ‘Ulahu turun setiap malam ke langit dunia, sebagaimana telah sahih dalam hadis mutawatir dari Nabi kita ‘alaihish shalatu was salam, Allah turun setiap malam ke langit dunia seraya berfirman, “Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya? Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya? Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkan doanya?” (Lihat HR. Bukhari no. 6321, Muslim no. 758). Dalam sebagian riwayat hadis ini juga disebutkan, “Aku tidak bertanya tentang hamba-hamba-Ku kepada siapa pun selain diri-Ku.” (Lihat HR. Ahmad no. 16218). Benar. Dan disebutkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat yang sampai kepada kita, “Sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar tertawa melihat kesempitan dan keputusasaan kalian, padahal begitu cepat Dia mengabulkan doa kalian.” Lalu seseorang berkata kepada beliau… Benar. Ini juga menetapkan sifat tertawa bagi Allah terhadap keadaan para makhluk yang sedang berada dalam kesempitan, yakni ketika mereka berputus asa. Apabila hujan tidak turun dan bumi mengalami kekeringan, manusia menjadi putus asa, kehilangan harapan, dan merasa bahwa turunnya hujan masih lama. Allah Jalla wa ‘Ala tertawa terhadap keadaan itu. Allah Jalla wa ‘Ala tertawa melihat hamba-hamba-Nya. Dia melihat mereka dalam keadaan sempit dan berputus asa, maka Allah terus tertawa, sementara Dia mengetahui bahwa jalan keluar bagi mereka telah dekat. Dia pun menurunkan hujan kepada mereka, menumbuhkan rerumputan dan tanaman untuk mereka, serta menyediakan air yang melimpah bagi mereka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Melindungi lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy-Syura: 28) Allah Subhanahu juga berfirman, “Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan. Kemudian Dia membentangkannya di langit sebagaimana yang Dia kehendaki dan menjadikannya bergumpal-gumpal. Lalu engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya. Ketika Dia menurunkannya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, seketika mereka bergembira. Padahal sebelum hujan diturunkan kepada mereka, sungguh mereka benar-benar telah berputus asa.” Yakni dalam keadaan putus asa dan kehilangan harapan. “Padahal sebelum hujan diturunkan kepada mereka, sungguh mereka benar-benar telah berputus asa…Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi setelah mati (kering)…” (Lihat QS. Ar-Rum: 48–50) Inilah seperti yang disebutkan dalam hadis: ketika hujan tidak kunjung turun, para hamba diliputi rasa putus asa dan kehilangan harapan. Sementara Allah Jalla wa ‘Ala tertawa terhadap keadaan itu, dan Dia mengetahui bahwa jalan keluar bagi mereka telah dekat. Benar. ===== قَالَ رَحِمَهُ اللهُ وَلَا يَتَبَرَّمُ بِإِلْحَاحِ الْمُلِحِّينَ بَلْ يُحِبُّ الْمُلِحِّينَ فِي الدُّعَاءِ وَيُحِبُّ أَنْ يُسْأَلَ، وَيَغْضَبُ إِذَا لَمْ يُسْأَلْ نَعَمْ، يُحِبُّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُسْأَلَ وَيُحِبُّ أَنْ نُلِحَّ عَلَيْهِ بِالسُّؤَالِ بَيْنَمَا ابْنُ آدَمَ يَكْرَهُ أَنْ يُسْأَلَ وَيَكْرَهُ أَنْ يُلَحَّ عَلَيْهِ بِالسُّؤَالِ أَمَّا الرَّبُّ جَلَّ فِي عُلَاهُ فَيُحِبُّ مِنْ عَبْدِهِ أَنْ يَكُونَ مُلِحًّا مُتَضَرِّعًا مُكْثِرًا مِنَ الدُّعَاءِ وَالسُّؤَالِ وَالتَّذَلُّلِ نَعَمْ يَسْتَحِي مِنْ عَبْدِهِ حَيْثُ لَا يَسْتَحِي الْعَبْدُ مِنْهُ إِنَّ اللهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ، يَسْتَحِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا نَعَمْ وَيَسْتُرُهُ حَيْثُ لَا يَسْتُرُ نَفْسَهُ، وَيَرْحَمُهُ حَيْثُ لَا يَرْحَمُ نَفْسَهُ دَعَاهُ بِنِعَمِهِ وَإِحْسَانِهِ وَأَيَادِيهِ إِلَى كَرَامَتِهِ وَرِضْوَانِهِ، فَأَبَى فَأَرْسَلَ رُسُلَهُ فِي طَلَبِهِ وَبَعَثَ إِلَيْهِ مَعَهُمْ عَهْدَهُ ثُمَّ نَزَلَ سُبْحَانَهُ إِلَيْهِ بِنَفْسِهِ وَقَالَ: مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ؟ هَذَا كُلُّهُ مَعَ كَمَالِ غِنَاهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، مَعَ كَمَالِ غِنَاهُ جَلَّ وَعَلَا عَنْ هَذَا الْعَبْدِ لَكِنَّهُ دَعَا عَبْدَهُ بِنِعَمِهِ وَوَالَى عَلَيْهِ إِحْسَانَهُ، وَأَرْسَلَ إِلَيْهِ الرُّسُلَ، وَأَنْزَلَ إِلَيْهِ الْكُتُبَ وَمَعَ هَذَا كُلِّهِ جَلَّ فِي عُلَاهُ يَنْزِلُ كُلَّ لَيْلَةٍ كَمَا صَحَّ بِذَلِكَ فِي الْحَدِيثِ الْمُتَوَاتِرِ عَنْ نَبِيِّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كُلَّ لَيْلَةٍ يَنْزِلُ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا يَقُولُ: مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ؟ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ؟ وَيَقُولُ كَمَا فِي بَعْضِ رِوَايَاتِ هَذَا الْحَدِيثِ: لَا أَسْأَلُ عَنْ عِبَادِي أَحَدًا غَيْرِي نَعَمْ. وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا بَلَغَنَا إِنَّ اللهَ تَعَالَى لَيَضْحَكُ مِنْ أَزْلِكُمْ وَقُنُوطِكُمْ وَسُرْعَةِ إِجَابَتِكُمْ فَقَالَ لَهُ نَعَمْ، وَهَذَا أَيْضًا فِيهِ إِثْبَاتٌ أَنَّ اللهَ يَضْحَكُ مِنْ أَزْلِ الْمَخْلُوقِينَ، يَعْنِي يَأْسِهِمْ الْمَخْلُوقُونَ، الْخَلْقُ، إِذَا انْحَبَسَ الْمَطَرُ وَأَجْدَبَتِ الْأَرْضُ فَإِنَّهُمْ يَيْأَسُونَ وَيَقْنَطُونَ وَيَسْتَبْعِدُونَ نُزُولَ الْمَطَرِاللهُ جَلَّ وَعَلَا يَضْحَكُ مِنْ ذَلِكَ يَضْحَكُ مِنْ عِبَادِهِ، يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ آزِلِينَ قَانِطِينَ فَيَظَلُّ يَضْحَكُ، يَعْلَمُ أَنَّ فَرَجَهُمْ قَرِيبٌ، وَيُنْزِلُ عَلَيْهِمُ الْمَطَرَ وَيُنْبِتُ لَهُمُ الْكَلَأَ وَالزُّرُوعَ، وَيُوَفِّرُ لَهُمُ الْمِيَاهَ كَمَا قَالَ تَعَالَى: وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ وَقَالَ سُبْحَانَهُ: اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلِ أَن يُنَزَّلَ عَلَيْهِم مِّن قَبْلِهِ لَمُبْلِسِينَ يَعْنِي آيِسِينَ قَانِطِينَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلِ أَن يُنَزَّلَ عَلَيْهِم مِّن قَبْلِهِ لَمُبْلِسِينَ فَانظُرْ إِلَىٰ آثَارِ رَحْمَتِ اللَّهِ كَيْفَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا فَهَذَا مِثْلُ مَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ مِنْ أَنَّ الْعِبَادَ إِذَا انْحَبَسَ الْمَطَرُ يَحْصُلُ عِنْدَهُمْ يَأْسٌ وَقُنُوطٌ وَاللهُ جَلَّ وَعَلَا يَضْحَكُ مِنْ ذَلِكَ، يَعْلَمُ أَنَّ فَرَجَهُمْ قَرِيبٌ نَعَمْ


Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Allah tidak merasa bosan oleh desakan orang-orang yang terus memohon. Bahkan, Allah mencintai orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam berdoa, dan Allah suka untuk diminta, serta murka apabila tidak diminta.” Benar. Allah Subhanahu wa Ta’ala suka untuk diminta, dan Allah menyukai apabila kita terus bersungguh-sungguh memohon kepada-Nya. Sementara manusia tidak suka terus-menerus dimintai dan tidak suka didesak dengan permintaan. Adapun Ar-Rabb Jalla fi ‘Ulahu, Dia justru mencintai hamba-Nya yang terus memohon, merendahkan diri, serta memperbanyak doa, permohonan, dan ketundukan kepada-Nya. Benar. Dia merasa malu kepada hamba-Nya, ketika sang hamba tidak merasa malu kepada-Nya. “Sesungguhnya Allah Maha Pemalu lagi Maha Pemurah. Dia merasa malu kepada hamba-Nya apabila hamba itu mengangkat kedua tangannya kepada-Nya, lalu Dia mengembalikan keduanya dalam keadaan kosong.” (Lihat HR. Abu Dawud no. 1488, At-Tirmidzi no. 3556, Ibnu Majah no. 3865). Benar. Allah menutupi aib hamba-Nya ketika sang hamba tidak menutupi dirinya sendiri, dan merahmatinya ketika ia tidak menyayangi dirinya sendiri. Allah menyerunya dengan berbagai nikmat-Nya, kebaikan-Nya, dan karunia-Nya, menuju kemuliaan dan keridaan-Nya, tetapi hamba itu menolak. Maka Allah mengutus para rasul-Nya untuk mencarinya dan bersama mereka mengirimkan perjanjian-Nya kepadanya. Kemudian Dia Subhanahu wa Ta’ala sendiri turun kepadanya, dan Allah berfirman, ‘Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya? Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya?’” Semua itu, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Kaya dengan kesempurnaan mutlak. Dia Jalla wa ‘Ala sama sekali tidak memerlukan hamba tersebut. Namun, Allah tetap menyeru hamba-Nya dengan berbagai nikmat-Nya, terus melimpahkan kebaikan-Nya kepadanya, mengutus para rasul, dan menurunkan kitab-kitab kepadanya. Bahkan setelah semua itu, Allah Jalla fi ‘Ulahu turun setiap malam ke langit dunia, sebagaimana telah sahih dalam hadis mutawatir dari Nabi kita ‘alaihish shalatu was salam, Allah turun setiap malam ke langit dunia seraya berfirman, “Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya? Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya? Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkan doanya?” (Lihat HR. Bukhari no. 6321, Muslim no. 758). Dalam sebagian riwayat hadis ini juga disebutkan, “Aku tidak bertanya tentang hamba-hamba-Ku kepada siapa pun selain diri-Ku.” (Lihat HR. Ahmad no. 16218). Benar. Dan disebutkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat yang sampai kepada kita, “Sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar tertawa melihat kesempitan dan keputusasaan kalian, padahal begitu cepat Dia mengabulkan doa kalian.” Lalu seseorang berkata kepada beliau… Benar. Ini juga menetapkan sifat tertawa bagi Allah terhadap keadaan para makhluk yang sedang berada dalam kesempitan, yakni ketika mereka berputus asa. Apabila hujan tidak turun dan bumi mengalami kekeringan, manusia menjadi putus asa, kehilangan harapan, dan merasa bahwa turunnya hujan masih lama. Allah Jalla wa ‘Ala tertawa terhadap keadaan itu. Allah Jalla wa ‘Ala tertawa melihat hamba-hamba-Nya. Dia melihat mereka dalam keadaan sempit dan berputus asa, maka Allah terus tertawa, sementara Dia mengetahui bahwa jalan keluar bagi mereka telah dekat. Dia pun menurunkan hujan kepada mereka, menumbuhkan rerumputan dan tanaman untuk mereka, serta menyediakan air yang melimpah bagi mereka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Melindungi lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy-Syura: 28) Allah Subhanahu juga berfirman, “Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan. Kemudian Dia membentangkannya di langit sebagaimana yang Dia kehendaki dan menjadikannya bergumpal-gumpal. Lalu engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya. Ketika Dia menurunkannya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, seketika mereka bergembira. Padahal sebelum hujan diturunkan kepada mereka, sungguh mereka benar-benar telah berputus asa.” Yakni dalam keadaan putus asa dan kehilangan harapan. “Padahal sebelum hujan diturunkan kepada mereka, sungguh mereka benar-benar telah berputus asa…Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi setelah mati (kering)…” (Lihat QS. Ar-Rum: 48–50) Inilah seperti yang disebutkan dalam hadis: ketika hujan tidak kunjung turun, para hamba diliputi rasa putus asa dan kehilangan harapan. Sementara Allah Jalla wa ‘Ala tertawa terhadap keadaan itu, dan Dia mengetahui bahwa jalan keluar bagi mereka telah dekat. Benar. ===== قَالَ رَحِمَهُ اللهُ وَلَا يَتَبَرَّمُ بِإِلْحَاحِ الْمُلِحِّينَ بَلْ يُحِبُّ الْمُلِحِّينَ فِي الدُّعَاءِ وَيُحِبُّ أَنْ يُسْأَلَ، وَيَغْضَبُ إِذَا لَمْ يُسْأَلْ نَعَمْ، يُحِبُّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُسْأَلَ وَيُحِبُّ أَنْ نُلِحَّ عَلَيْهِ بِالسُّؤَالِ بَيْنَمَا ابْنُ آدَمَ يَكْرَهُ أَنْ يُسْأَلَ وَيَكْرَهُ أَنْ يُلَحَّ عَلَيْهِ بِالسُّؤَالِ أَمَّا الرَّبُّ جَلَّ فِي عُلَاهُ فَيُحِبُّ مِنْ عَبْدِهِ أَنْ يَكُونَ مُلِحًّا مُتَضَرِّعًا مُكْثِرًا مِنَ الدُّعَاءِ وَالسُّؤَالِ وَالتَّذَلُّلِ نَعَمْ يَسْتَحِي مِنْ عَبْدِهِ حَيْثُ لَا يَسْتَحِي الْعَبْدُ مِنْهُ إِنَّ اللهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ، يَسْتَحِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا نَعَمْ وَيَسْتُرُهُ حَيْثُ لَا يَسْتُرُ نَفْسَهُ، وَيَرْحَمُهُ حَيْثُ لَا يَرْحَمُ نَفْسَهُ دَعَاهُ بِنِعَمِهِ وَإِحْسَانِهِ وَأَيَادِيهِ إِلَى كَرَامَتِهِ وَرِضْوَانِهِ، فَأَبَى فَأَرْسَلَ رُسُلَهُ فِي طَلَبِهِ وَبَعَثَ إِلَيْهِ مَعَهُمْ عَهْدَهُ ثُمَّ نَزَلَ سُبْحَانَهُ إِلَيْهِ بِنَفْسِهِ وَقَالَ: مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ؟ هَذَا كُلُّهُ مَعَ كَمَالِ غِنَاهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، مَعَ كَمَالِ غِنَاهُ جَلَّ وَعَلَا عَنْ هَذَا الْعَبْدِ لَكِنَّهُ دَعَا عَبْدَهُ بِنِعَمِهِ وَوَالَى عَلَيْهِ إِحْسَانَهُ، وَأَرْسَلَ إِلَيْهِ الرُّسُلَ، وَأَنْزَلَ إِلَيْهِ الْكُتُبَ وَمَعَ هَذَا كُلِّهِ جَلَّ فِي عُلَاهُ يَنْزِلُ كُلَّ لَيْلَةٍ كَمَا صَحَّ بِذَلِكَ فِي الْحَدِيثِ الْمُتَوَاتِرِ عَنْ نَبِيِّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كُلَّ لَيْلَةٍ يَنْزِلُ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا يَقُولُ: مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ؟ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ؟ وَيَقُولُ كَمَا فِي بَعْضِ رِوَايَاتِ هَذَا الْحَدِيثِ: لَا أَسْأَلُ عَنْ عِبَادِي أَحَدًا غَيْرِي نَعَمْ. وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا بَلَغَنَا إِنَّ اللهَ تَعَالَى لَيَضْحَكُ مِنْ أَزْلِكُمْ وَقُنُوطِكُمْ وَسُرْعَةِ إِجَابَتِكُمْ فَقَالَ لَهُ نَعَمْ، وَهَذَا أَيْضًا فِيهِ إِثْبَاتٌ أَنَّ اللهَ يَضْحَكُ مِنْ أَزْلِ الْمَخْلُوقِينَ، يَعْنِي يَأْسِهِمْ الْمَخْلُوقُونَ، الْخَلْقُ، إِذَا انْحَبَسَ الْمَطَرُ وَأَجْدَبَتِ الْأَرْضُ فَإِنَّهُمْ يَيْأَسُونَ وَيَقْنَطُونَ وَيَسْتَبْعِدُونَ نُزُولَ الْمَطَرِاللهُ جَلَّ وَعَلَا يَضْحَكُ مِنْ ذَلِكَ يَضْحَكُ مِنْ عِبَادِهِ، يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ آزِلِينَ قَانِطِينَ فَيَظَلُّ يَضْحَكُ، يَعْلَمُ أَنَّ فَرَجَهُمْ قَرِيبٌ، وَيُنْزِلُ عَلَيْهِمُ الْمَطَرَ وَيُنْبِتُ لَهُمُ الْكَلَأَ وَالزُّرُوعَ، وَيُوَفِّرُ لَهُمُ الْمِيَاهَ كَمَا قَالَ تَعَالَى: وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ وَقَالَ سُبْحَانَهُ: اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلِ أَن يُنَزَّلَ عَلَيْهِم مِّن قَبْلِهِ لَمُبْلِسِينَ يَعْنِي آيِسِينَ قَانِطِينَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلِ أَن يُنَزَّلَ عَلَيْهِم مِّن قَبْلِهِ لَمُبْلِسِينَ فَانظُرْ إِلَىٰ آثَارِ رَحْمَتِ اللَّهِ كَيْفَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا فَهَذَا مِثْلُ مَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ مِنْ أَنَّ الْعِبَادَ إِذَا انْحَبَسَ الْمَطَرُ يَحْصُلُ عِنْدَهُمْ يَأْسٌ وَقُنُوطٌ وَاللهُ جَلَّ وَعَلَا يَضْحَكُ مِنْ ذَلِكَ، يَعْلَمُ أَنَّ فَرَجَهُمْ قَرِيبٌ نَعَمْ

Membaca Al-Qur’an Berhadiah Khamr (Bir) 

Daftar Isi TogglePendahuluanIni adalah bentuk istihzā’ (pelecehan agama)PenutupPendahuluanAl-Qur’an memiliki kedudukan suci (ḥurmah) yang wajib dijaga oleh setiap Muslim. Menjadikannya sebagai “gimmick” dalam sebuah kegiatan yang hadiahnya adalah barang haram — apalagi khamr, yang Allah sebut sebagai rijs (najis/kotor) dari perbuatan setan — adalah pelanggaran ganda: merendahkan kesucian Al-Qur’an sekaligus mempromosikan keharaman. Khamr telah diharamkan secara tegas dalam Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ“Sesungguhnya khamr, judi, berhala, dan mengundi nasib adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu.” (QS. Al-Mā’idah: 90)Memberikan khamr sebagai hadiah, menjadikannya sebagai hadiah perlombaan, atau mendorong orang untuk mendapatkannya, semuanya merupakan bentuk kemungkaran dan bertentangan dengan tujuan syariat dalam menjaga agama, akal, dan harta. Dan menggabungkan sesuatu yang paling suci (Al-Qur’an) dengan sesuatu yang paling dicela (khamr) dalam satu rangkaian acara — apalagi jika ada unsur kesengajaan menistakan — bukan lagi sekadar dosa biasa, melainkan berpotensi masuk ranah yang lebih berat.Ini adalah bentuk istihzā’ (pelecehan agama)Jika kegiatan semacam ini dilakukan dengan niat mengolok-olok, mempermainkan, atau merendahkan Al-Qur’an — bukan karena kebodohan atau ketidaktahuan — maka ia masuk kategori istihzā’ bid-dīn, yakni mengolok-olok agama. Allah Ta’ala berfirman tentang kaum munafik yang mengolok-olok ayat-ayat-Nya,وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ۝ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab, ‘Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah, ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak perlu kamu meminta maaf, karena kamu kafir setelah beriman.” (QS. At-Taubah: 65-66)Ayat ini turun berkaitan dengan orang-orang munafik yang mengolok-olok Nabi ﷺ dan para sahabat dalam Perang Tabuk, lalu berdalih “hanya bercanda.” Allah menegaskan bahwa alasan “hanya bercanda” tidak diterima ketika yang diolok-olok adalah Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya.Syekh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan, “Mengolok-olok Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya adalah kekufuran yang mengeluarkan seseorang dari agama, karena pondasi agama itu dibangun di atas pengagungan terhadap Allah, agama-Nya, dan para Rasul-Nya — sehingga mengolok-oloknya bertentangan total dengan pondasi tersebut.” (Tafsīr al-Karīm al-Raḥmān, Tafsīr [9]: 65)Ibnu Taimiyah rahimahullah menegaskan,الاستهزاء بالله وآياته ورسوله كفرٌ يكفر به صاحبه بعد إيمانه“Berolok-olok terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya merupakan kekufuran yang menyebabkan pelakunya kafir setelah keimanannya.” (Majmū‘ al-Fatāwā, 7: 273)Dengan demikian, apabila seseorang sengaja menjadikan tilawah Al-Qur’an sebagai bahan permainan untuk memperoleh khamr, dengan maksud merendahkan Al-Qur’an atau syariat, maka perbuatannya dapat masuk dalam bab al-Istihzā’ bid-dīn (mengolok-olok agama) yang merupakan kufur akbar.PenutupMemberikan minuman khamr sebagai hadiah sudah merupakan kemungkaran yang nyata. Menjadikannya sebagai hadiah setelah membaca Al-Qur’an merupakan bentuk yang lebih buruk karena menggabungkan penghormatan terhadap wahyu dengan sesuatu yang Allah haramkan.Jika di dalamnya terdapat niat dan kesengajaan sebagai penghinaan dan olok-olok terhadap Al-Qur’an atau agama, maka ancamannya jauh lebih berat. Allah Ta’ala sendiri menyatakan,لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ“Janganlah kalian meminta maaf, karena sungguh kalian telah kafir setelah beriman.” (QS. At-Taubah: 66)Maka sikap seorang muslim bukanlah membiarkan kemungkaran tersebut, tetapi mengingkari, menasihati, dan menjelaskan bahayanya. Adapun perkara takfir (memvonis kafir) terhadap individu, maka diserahkan kepada ahlinya, yaitu para ulama dan yang memiliki wewenang atas hal itu. Wallāhu a’lam.Semoga bermanfaat.Baca juga: Hukum Minum Khamr (Minuman Keras), Meskipun Tidak Mabuk***Penulis: Junaidi Abu IsaArtikel Muslim.or.id

Membaca Al-Qur’an Berhadiah Khamr (Bir) 

Daftar Isi TogglePendahuluanIni adalah bentuk istihzā’ (pelecehan agama)PenutupPendahuluanAl-Qur’an memiliki kedudukan suci (ḥurmah) yang wajib dijaga oleh setiap Muslim. Menjadikannya sebagai “gimmick” dalam sebuah kegiatan yang hadiahnya adalah barang haram — apalagi khamr, yang Allah sebut sebagai rijs (najis/kotor) dari perbuatan setan — adalah pelanggaran ganda: merendahkan kesucian Al-Qur’an sekaligus mempromosikan keharaman. Khamr telah diharamkan secara tegas dalam Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ“Sesungguhnya khamr, judi, berhala, dan mengundi nasib adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu.” (QS. Al-Mā’idah: 90)Memberikan khamr sebagai hadiah, menjadikannya sebagai hadiah perlombaan, atau mendorong orang untuk mendapatkannya, semuanya merupakan bentuk kemungkaran dan bertentangan dengan tujuan syariat dalam menjaga agama, akal, dan harta. Dan menggabungkan sesuatu yang paling suci (Al-Qur’an) dengan sesuatu yang paling dicela (khamr) dalam satu rangkaian acara — apalagi jika ada unsur kesengajaan menistakan — bukan lagi sekadar dosa biasa, melainkan berpotensi masuk ranah yang lebih berat.Ini adalah bentuk istihzā’ (pelecehan agama)Jika kegiatan semacam ini dilakukan dengan niat mengolok-olok, mempermainkan, atau merendahkan Al-Qur’an — bukan karena kebodohan atau ketidaktahuan — maka ia masuk kategori istihzā’ bid-dīn, yakni mengolok-olok agama. Allah Ta’ala berfirman tentang kaum munafik yang mengolok-olok ayat-ayat-Nya,وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ۝ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab, ‘Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah, ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak perlu kamu meminta maaf, karena kamu kafir setelah beriman.” (QS. At-Taubah: 65-66)Ayat ini turun berkaitan dengan orang-orang munafik yang mengolok-olok Nabi ﷺ dan para sahabat dalam Perang Tabuk, lalu berdalih “hanya bercanda.” Allah menegaskan bahwa alasan “hanya bercanda” tidak diterima ketika yang diolok-olok adalah Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya.Syekh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan, “Mengolok-olok Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya adalah kekufuran yang mengeluarkan seseorang dari agama, karena pondasi agama itu dibangun di atas pengagungan terhadap Allah, agama-Nya, dan para Rasul-Nya — sehingga mengolok-oloknya bertentangan total dengan pondasi tersebut.” (Tafsīr al-Karīm al-Raḥmān, Tafsīr [9]: 65)Ibnu Taimiyah rahimahullah menegaskan,الاستهزاء بالله وآياته ورسوله كفرٌ يكفر به صاحبه بعد إيمانه“Berolok-olok terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya merupakan kekufuran yang menyebabkan pelakunya kafir setelah keimanannya.” (Majmū‘ al-Fatāwā, 7: 273)Dengan demikian, apabila seseorang sengaja menjadikan tilawah Al-Qur’an sebagai bahan permainan untuk memperoleh khamr, dengan maksud merendahkan Al-Qur’an atau syariat, maka perbuatannya dapat masuk dalam bab al-Istihzā’ bid-dīn (mengolok-olok agama) yang merupakan kufur akbar.PenutupMemberikan minuman khamr sebagai hadiah sudah merupakan kemungkaran yang nyata. Menjadikannya sebagai hadiah setelah membaca Al-Qur’an merupakan bentuk yang lebih buruk karena menggabungkan penghormatan terhadap wahyu dengan sesuatu yang Allah haramkan.Jika di dalamnya terdapat niat dan kesengajaan sebagai penghinaan dan olok-olok terhadap Al-Qur’an atau agama, maka ancamannya jauh lebih berat. Allah Ta’ala sendiri menyatakan,لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ“Janganlah kalian meminta maaf, karena sungguh kalian telah kafir setelah beriman.” (QS. At-Taubah: 66)Maka sikap seorang muslim bukanlah membiarkan kemungkaran tersebut, tetapi mengingkari, menasihati, dan menjelaskan bahayanya. Adapun perkara takfir (memvonis kafir) terhadap individu, maka diserahkan kepada ahlinya, yaitu para ulama dan yang memiliki wewenang atas hal itu. Wallāhu a’lam.Semoga bermanfaat.Baca juga: Hukum Minum Khamr (Minuman Keras), Meskipun Tidak Mabuk***Penulis: Junaidi Abu IsaArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi TogglePendahuluanIni adalah bentuk istihzā’ (pelecehan agama)PenutupPendahuluanAl-Qur’an memiliki kedudukan suci (ḥurmah) yang wajib dijaga oleh setiap Muslim. Menjadikannya sebagai “gimmick” dalam sebuah kegiatan yang hadiahnya adalah barang haram — apalagi khamr, yang Allah sebut sebagai rijs (najis/kotor) dari perbuatan setan — adalah pelanggaran ganda: merendahkan kesucian Al-Qur’an sekaligus mempromosikan keharaman. Khamr telah diharamkan secara tegas dalam Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ“Sesungguhnya khamr, judi, berhala, dan mengundi nasib adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu.” (QS. Al-Mā’idah: 90)Memberikan khamr sebagai hadiah, menjadikannya sebagai hadiah perlombaan, atau mendorong orang untuk mendapatkannya, semuanya merupakan bentuk kemungkaran dan bertentangan dengan tujuan syariat dalam menjaga agama, akal, dan harta. Dan menggabungkan sesuatu yang paling suci (Al-Qur’an) dengan sesuatu yang paling dicela (khamr) dalam satu rangkaian acara — apalagi jika ada unsur kesengajaan menistakan — bukan lagi sekadar dosa biasa, melainkan berpotensi masuk ranah yang lebih berat.Ini adalah bentuk istihzā’ (pelecehan agama)Jika kegiatan semacam ini dilakukan dengan niat mengolok-olok, mempermainkan, atau merendahkan Al-Qur’an — bukan karena kebodohan atau ketidaktahuan — maka ia masuk kategori istihzā’ bid-dīn, yakni mengolok-olok agama. Allah Ta’ala berfirman tentang kaum munafik yang mengolok-olok ayat-ayat-Nya,وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ۝ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab, ‘Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah, ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak perlu kamu meminta maaf, karena kamu kafir setelah beriman.” (QS. At-Taubah: 65-66)Ayat ini turun berkaitan dengan orang-orang munafik yang mengolok-olok Nabi ﷺ dan para sahabat dalam Perang Tabuk, lalu berdalih “hanya bercanda.” Allah menegaskan bahwa alasan “hanya bercanda” tidak diterima ketika yang diolok-olok adalah Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya.Syekh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan, “Mengolok-olok Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya adalah kekufuran yang mengeluarkan seseorang dari agama, karena pondasi agama itu dibangun di atas pengagungan terhadap Allah, agama-Nya, dan para Rasul-Nya — sehingga mengolok-oloknya bertentangan total dengan pondasi tersebut.” (Tafsīr al-Karīm al-Raḥmān, Tafsīr [9]: 65)Ibnu Taimiyah rahimahullah menegaskan,الاستهزاء بالله وآياته ورسوله كفرٌ يكفر به صاحبه بعد إيمانه“Berolok-olok terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya merupakan kekufuran yang menyebabkan pelakunya kafir setelah keimanannya.” (Majmū‘ al-Fatāwā, 7: 273)Dengan demikian, apabila seseorang sengaja menjadikan tilawah Al-Qur’an sebagai bahan permainan untuk memperoleh khamr, dengan maksud merendahkan Al-Qur’an atau syariat, maka perbuatannya dapat masuk dalam bab al-Istihzā’ bid-dīn (mengolok-olok agama) yang merupakan kufur akbar.PenutupMemberikan minuman khamr sebagai hadiah sudah merupakan kemungkaran yang nyata. Menjadikannya sebagai hadiah setelah membaca Al-Qur’an merupakan bentuk yang lebih buruk karena menggabungkan penghormatan terhadap wahyu dengan sesuatu yang Allah haramkan.Jika di dalamnya terdapat niat dan kesengajaan sebagai penghinaan dan olok-olok terhadap Al-Qur’an atau agama, maka ancamannya jauh lebih berat. Allah Ta’ala sendiri menyatakan,لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ“Janganlah kalian meminta maaf, karena sungguh kalian telah kafir setelah beriman.” (QS. At-Taubah: 66)Maka sikap seorang muslim bukanlah membiarkan kemungkaran tersebut, tetapi mengingkari, menasihati, dan menjelaskan bahayanya. Adapun perkara takfir (memvonis kafir) terhadap individu, maka diserahkan kepada ahlinya, yaitu para ulama dan yang memiliki wewenang atas hal itu. Wallāhu a’lam.Semoga bermanfaat.Baca juga: Hukum Minum Khamr (Minuman Keras), Meskipun Tidak Mabuk***Penulis: Junaidi Abu IsaArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi TogglePendahuluanIni adalah bentuk istihzā’ (pelecehan agama)PenutupPendahuluanAl-Qur’an memiliki kedudukan suci (ḥurmah) yang wajib dijaga oleh setiap Muslim. Menjadikannya sebagai “gimmick” dalam sebuah kegiatan yang hadiahnya adalah barang haram — apalagi khamr, yang Allah sebut sebagai rijs (najis/kotor) dari perbuatan setan — adalah pelanggaran ganda: merendahkan kesucian Al-Qur’an sekaligus mempromosikan keharaman. Khamr telah diharamkan secara tegas dalam Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ“Sesungguhnya khamr, judi, berhala, dan mengundi nasib adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu.” (QS. Al-Mā’idah: 90)Memberikan khamr sebagai hadiah, menjadikannya sebagai hadiah perlombaan, atau mendorong orang untuk mendapatkannya, semuanya merupakan bentuk kemungkaran dan bertentangan dengan tujuan syariat dalam menjaga agama, akal, dan harta. Dan menggabungkan sesuatu yang paling suci (Al-Qur’an) dengan sesuatu yang paling dicela (khamr) dalam satu rangkaian acara — apalagi jika ada unsur kesengajaan menistakan — bukan lagi sekadar dosa biasa, melainkan berpotensi masuk ranah yang lebih berat.Ini adalah bentuk istihzā’ (pelecehan agama)Jika kegiatan semacam ini dilakukan dengan niat mengolok-olok, mempermainkan, atau merendahkan Al-Qur’an — bukan karena kebodohan atau ketidaktahuan — maka ia masuk kategori istihzā’ bid-dīn, yakni mengolok-olok agama. Allah Ta’ala berfirman tentang kaum munafik yang mengolok-olok ayat-ayat-Nya,وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ۝ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab, ‘Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah, ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak perlu kamu meminta maaf, karena kamu kafir setelah beriman.” (QS. At-Taubah: 65-66)Ayat ini turun berkaitan dengan orang-orang munafik yang mengolok-olok Nabi ﷺ dan para sahabat dalam Perang Tabuk, lalu berdalih “hanya bercanda.” Allah menegaskan bahwa alasan “hanya bercanda” tidak diterima ketika yang diolok-olok adalah Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya.Syekh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan, “Mengolok-olok Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya adalah kekufuran yang mengeluarkan seseorang dari agama, karena pondasi agama itu dibangun di atas pengagungan terhadap Allah, agama-Nya, dan para Rasul-Nya — sehingga mengolok-oloknya bertentangan total dengan pondasi tersebut.” (Tafsīr al-Karīm al-Raḥmān, Tafsīr [9]: 65)Ibnu Taimiyah rahimahullah menegaskan,الاستهزاء بالله وآياته ورسوله كفرٌ يكفر به صاحبه بعد إيمانه“Berolok-olok terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya merupakan kekufuran yang menyebabkan pelakunya kafir setelah keimanannya.” (Majmū‘ al-Fatāwā, 7: 273)Dengan demikian, apabila seseorang sengaja menjadikan tilawah Al-Qur’an sebagai bahan permainan untuk memperoleh khamr, dengan maksud merendahkan Al-Qur’an atau syariat, maka perbuatannya dapat masuk dalam bab al-Istihzā’ bid-dīn (mengolok-olok agama) yang merupakan kufur akbar.PenutupMemberikan minuman khamr sebagai hadiah sudah merupakan kemungkaran yang nyata. Menjadikannya sebagai hadiah setelah membaca Al-Qur’an merupakan bentuk yang lebih buruk karena menggabungkan penghormatan terhadap wahyu dengan sesuatu yang Allah haramkan.Jika di dalamnya terdapat niat dan kesengajaan sebagai penghinaan dan olok-olok terhadap Al-Qur’an atau agama, maka ancamannya jauh lebih berat. Allah Ta’ala sendiri menyatakan,لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ“Janganlah kalian meminta maaf, karena sungguh kalian telah kafir setelah beriman.” (QS. At-Taubah: 66)Maka sikap seorang muslim bukanlah membiarkan kemungkaran tersebut, tetapi mengingkari, menasihati, dan menjelaskan bahayanya. Adapun perkara takfir (memvonis kafir) terhadap individu, maka diserahkan kepada ahlinya, yaitu para ulama dan yang memiliki wewenang atas hal itu. Wallāhu a’lam.Semoga bermanfaat.Baca juga: Hukum Minum Khamr (Minuman Keras), Meskipun Tidak Mabuk***Penulis: Junaidi Abu IsaArtikel Muslim.or.id

6 Obat untuk Hati yang Sakit- Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili #NasehatUlama

Semoga Allah berbuat baik kepada Anda, wahai Syaikh kami, dan memberkahi Anda. Apa obat sombong dan hasad bagi orang yang mendapati sedikit dari sifat tersebut di dalam hatinya, tanpa ia menampakkannya ataupun melakukan sesuatu berdasarkan dorongan sifat tersebut? [OBAT PERTAMA] Obat bagi seluruh penyakit hati, obat yang paling agung untuk semuanya adalah Al-Qur’an Al-Karim. Al-Qur’an adalah penyembuh. Tidak ada sesuatu yang dapat mengobati hati semisal Al-Qur’an. Perbanyaklah membaca Al-Qur’an dengan tadabur. Yakinlah, hatimu akan menjadi lembut. Dan yakinlah, hatimu akan menjadi sehat. [OBAT KEDUA] Hal kedua, membaca hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sirah kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. [OBAT KETIGA] Hal ketiga, membaca kisah kehidupan para Salafus Saleh, semoga keridaan Allah tercurah kepada mereka. [OBAT KEEMPAT] Hal keempat, bersahabat dengan orang-orang saleh. Sebab, dari orang-orang saleh seseorang dapat memperoleh berbagai sifat baik yang sebelumnya tidak ada pada dirinya. [OBAT KELIMA] Hal kelima, memperbanyak doa, terutama di waktu malam. Saudaraku, tidak ada yang dapat mendatangkan rahmat, tidak ada pula yang dapat mendatangkan ampunan, serta tidak ada yang dapat mendatangkan berbagai kebaikan, yang semisal dengan doa yang dipanjatkan di tengah malam. Apabila engkau menyendiri bersama Allah di waktu malam, dan mengerjakan Salat Malam karena Allah, lalu engkau mengerjakan Salat Witir, engkau berdoa di dalam salat dan setelah salat yang engkau kerjakan, demi Allah, berbagai kebaikan, rahmat, keberkahan, dan ampunan akan didatangkan melalui amalan yang agung ini. [OBAT KEENAM]Faktor lain yang dapat melembutkan hati adalah seseorang mengingat kematian, apa yang terjadi setelah kematian, mengingat apa yang ada di sisi Allah,serta mengingat hukuman yang Allah tetapkan bagi orang-orang yang sombong. Kemudian ketahuilah—semoga Allah memberimu taufik—bahwa di antara bentuk taufik Allah ialah ketika seseorang mendapati suatu sifat buruk dalam dirinya, ia tidak membiarkan sifat itu terwujud dalam perbuatannya. Ia melawan dirinya agar tidak bertindak berdasarkan dorongan sifat tersebut. Boleh jadi seseorang memiliki sifat kikir, tetapi ia tidak menuruti sifat kikirnya itu. Orang seperti ini berada di atas kebaikan, dan ia terus berusaha mengobati dirinya. Yang menjadi petaka ialah ketika engkau menuruti kekikiran itu. Boleh jadi ada kesombongan dalam diri seseorang, tetapi ia tidak menurutinya. Justru ia memperlakukan orang lain dengan rendah hati, meskipun masih terdapat kesombongan di dalam hatinya, dan ia terus berusaha mengobati dirinya. Ini termasuk taufik Allah kepada seorang hamba. Sebagai penutup, saya katakan: Sesungguhnya apabila seseorang menyerahkan hajatnya kepada Allah, niscaya ia akan segera mendapatkan jawaban. Yang terpenting, engkau benar-benar meminta tolong kepada Allah dengan jujur dan ikhlas. Barang siapa bersama Allah, Allah ‘Azza wa Jalla akan bersamanya. Barang siapa jujur kepada Allah, Allah akan membuktikan kejujurannya. Seperti sahabat yang berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidak keluar bersamamu demi mendapatkan harta rampasan…Namun aku keluar bersamamu agar terkena anak panah dari sini dan menembus keluar dari sini.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika ia benar-benar jujur kepada Allah, Allah akan mewujudkan apa yang ia nyatakan dengan jujur.” Setelah pertempuran, ia pun dicari. Ia ditemukan dalam keadaan terkena anak panah tepat pada bagian yang sebelumnya ia tunjuk, anak panah itu menembus keluar pada bagian yang juga ia tunjuk. Ia benar-benar jujur kepada Allah. Yang terpenting, jujurlah kepada Allah. Sebagian besar kekurangan kita terletak pada kurangnya kejujuran kepada Allah. ===== أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ شَيْخَنَا وَبَارَكَ فِيكُمْ مَا هُوَ عِلَاجُ الْكِبْرِ وَالْحَسَدِ لِمَنْ يَجِدُ فِي قَلْبِهِ شَيْئًا مِنْهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُظْهِرَهُ أَوْ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ؟ عِلَاجُ أَمْرَاضِ الْقُلُوبِ كُلِّهَا أَعْظَمُ عِلَاجٍ لِذَلِكَ الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ الْقُرْآنُ شِفَاءٌ مَا عُولِجَتِ الْقُلُوبُ بِمِثْلِ الْقُرْآنِ أَكْثِرْ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ بِتَدَبُّرٍ ثِقْ أَنَّ قَلْبَكَ سَيَلِينُ وَثِقْ أَنَّ قَلْبَكَ سَيَسْلَمُ الْأَمْرُ الثَّانِي قِرَاءَةُ أَحَادِيثِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسِيرَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْأَمْرُ الثَّالِثُ قِرَاءَةُ سِيَرِ السَّلَفِ الصَّالِحِ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ وَالْأَمْرُ الرَّابِعُ: مُصَاحَبَةُ الْأَخْيَارِ فَإِنَّ الْأَخْيَارَ يَكْتَسِبُ مِنْهُمُ الْإِنْسَانُ أُمُورًا قَدْ لَا تَكُونُ فِيهِ وَالْأَمْرُ الْخَامِسُ: كَثْرَةُ الدُّعَاءِ وَلَا سِيَّمَا فِي اللَّيْلِ يَا أَخِي مَا اسْتُجْلِبَتِ الرَّحْمَةُ وَمَا اسْتُجْلِبَتِ الْمَغْفِرَةُ وَمَا اسْتُجْلِبَتِ الْخَيْرَاتُ بِمِثْلِ دُعَاءٍ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ إِذَا خَلَوْتَ بِاللهِ فِي اللَّيْلِ وَصَلَّيْتَ لِلهِ وَأَوْتَرْتَ تَدْعُو فِي صَلَاتِكَ وَتَدْعُو بَعْدَ صَلَاتِكَ وَاللهِ تُسْتَجْلَبُ الْخَيْرَاتُ وَالرَّحَمَاتُ وَالْبَرَكَاتُ وَالْمَغْفِرَةُ بِهَذَا الْأَمْرِ الْعَظِيمِ أَيْضًا مِمَّا يُرَقِّقُ الْقُلُوبَ أَنْ يَتَذَكَّرَ الْإِنْسَانُ الْمَوْتَ وَمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَأَنْ يَتَذَكَّرَ مَا عِنْدَ اللهِ وَيَتَذَكَّرَ مَا جَعَلَهُ اللهُ مِنْ عُقُوبَةٍ لِلْمُتَكَبِّرِينَ ثُمَّ اعْلَمْ -وَفَّقَكَ اللهُ- أَنَّ مِنَ التَّوْفِيقِ أَنَّ مَنْ وَجَدَ فِي نَفْسِهِ صِفَةً قَبِيحَةً أَلَّا يُنْفِذَهَا أَنْ يُجَاهِدَ نَفْسَهُ أَلَّا يَعْمَلَ بِهَا قَدْ يَكُونُ الْإِنْسَانُ شَحِيحًا، قَدْ يَكُونُ شَحِيحًا لَكِنَّهُ لَا يُطِيعُ شُحَّهُ فَهَذَا عَلَى خَيْرٍ وَيُعَالِجُ نَفْسَهُ الْبَلَاءُ أَنْ تُطِيعَ الشُّحَّ قَدْ يَكُونُ فِي نَفْسِ الْإِنْسَانِ كِبْرٌ لَكِنَّهُ لَا يُطِيعُهُ بَلْ يُعَامِلُ النَّاسَ بِتَوَاضُعٍ وَإِنْ وُجِدَ الْكِبْرُ فِي قَلْبِهِ وَيُعَالِجُ نَفْسَهُ وَهَذَا مِنْ تَوْفِيقِ اللهِ لِلْعَبْدِ وَأَقُولُ خَاتِمًا إِنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا وَضَعَ حَاجَتَهُ عِنْدَ اللهِ اسْتُجِيبَ لَهُ قَرِيبًا الْمُهِمُّ أَنْ تَلْجَأَ إِلَى اللهِ بِصِدْقٍ وَإِخْلَاصٍ وَمَنْ كَانَ مَعَ اللهِ كَانَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مَعَهُ وَمَنْ صَدَقَ اللهَ صَدَقَهُ اللهُ ذَاكَ الصَّحَابِيُّ الَّذِي قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ مَا خَرَجْتُ مَعَكَ مِنْ أَجْلِ الْغَنِيمَةِ وَإِنَّمَا خَرَجْتُ أَنْ أُصَابَ مِنْ هُنَا وَيَخْرُجَ مِنْ هَاهُنَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنْ يَصْدُقِ اللهَ يَصْدُقْهُ اللهُ فَتُفُقِّدَ بَعْدَ الْمَعْرَكَةِ فَوُجِدَ وَقَدْ أُصِيبَ بِسَهْمٍ مِنَ الْمَكَانِ الَّذِي أَشَارَ إِلَيْهِ وَخَرَجَ مِنَ الْمَكَانِ الَّذِي أَشَارَ إِلَيْهِ صَدَقَ اللهَ الْمُهِمُّ اصْدُقِ اللهَ أَكْثَرُ الْخَلَلِ عِنْدَنَا فِي عَدَمِ الصِّدْقِ مَعَ اللهِ

6 Obat untuk Hati yang Sakit- Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili #NasehatUlama

Semoga Allah berbuat baik kepada Anda, wahai Syaikh kami, dan memberkahi Anda. Apa obat sombong dan hasad bagi orang yang mendapati sedikit dari sifat tersebut di dalam hatinya, tanpa ia menampakkannya ataupun melakukan sesuatu berdasarkan dorongan sifat tersebut? [OBAT PERTAMA] Obat bagi seluruh penyakit hati, obat yang paling agung untuk semuanya adalah Al-Qur’an Al-Karim. Al-Qur’an adalah penyembuh. Tidak ada sesuatu yang dapat mengobati hati semisal Al-Qur’an. Perbanyaklah membaca Al-Qur’an dengan tadabur. Yakinlah, hatimu akan menjadi lembut. Dan yakinlah, hatimu akan menjadi sehat. [OBAT KEDUA] Hal kedua, membaca hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sirah kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. [OBAT KETIGA] Hal ketiga, membaca kisah kehidupan para Salafus Saleh, semoga keridaan Allah tercurah kepada mereka. [OBAT KEEMPAT] Hal keempat, bersahabat dengan orang-orang saleh. Sebab, dari orang-orang saleh seseorang dapat memperoleh berbagai sifat baik yang sebelumnya tidak ada pada dirinya. [OBAT KELIMA] Hal kelima, memperbanyak doa, terutama di waktu malam. Saudaraku, tidak ada yang dapat mendatangkan rahmat, tidak ada pula yang dapat mendatangkan ampunan, serta tidak ada yang dapat mendatangkan berbagai kebaikan, yang semisal dengan doa yang dipanjatkan di tengah malam. Apabila engkau menyendiri bersama Allah di waktu malam, dan mengerjakan Salat Malam karena Allah, lalu engkau mengerjakan Salat Witir, engkau berdoa di dalam salat dan setelah salat yang engkau kerjakan, demi Allah, berbagai kebaikan, rahmat, keberkahan, dan ampunan akan didatangkan melalui amalan yang agung ini. [OBAT KEENAM]Faktor lain yang dapat melembutkan hati adalah seseorang mengingat kematian, apa yang terjadi setelah kematian, mengingat apa yang ada di sisi Allah,serta mengingat hukuman yang Allah tetapkan bagi orang-orang yang sombong. Kemudian ketahuilah—semoga Allah memberimu taufik—bahwa di antara bentuk taufik Allah ialah ketika seseorang mendapati suatu sifat buruk dalam dirinya, ia tidak membiarkan sifat itu terwujud dalam perbuatannya. Ia melawan dirinya agar tidak bertindak berdasarkan dorongan sifat tersebut. Boleh jadi seseorang memiliki sifat kikir, tetapi ia tidak menuruti sifat kikirnya itu. Orang seperti ini berada di atas kebaikan, dan ia terus berusaha mengobati dirinya. Yang menjadi petaka ialah ketika engkau menuruti kekikiran itu. Boleh jadi ada kesombongan dalam diri seseorang, tetapi ia tidak menurutinya. Justru ia memperlakukan orang lain dengan rendah hati, meskipun masih terdapat kesombongan di dalam hatinya, dan ia terus berusaha mengobati dirinya. Ini termasuk taufik Allah kepada seorang hamba. Sebagai penutup, saya katakan: Sesungguhnya apabila seseorang menyerahkan hajatnya kepada Allah, niscaya ia akan segera mendapatkan jawaban. Yang terpenting, engkau benar-benar meminta tolong kepada Allah dengan jujur dan ikhlas. Barang siapa bersama Allah, Allah ‘Azza wa Jalla akan bersamanya. Barang siapa jujur kepada Allah, Allah akan membuktikan kejujurannya. Seperti sahabat yang berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidak keluar bersamamu demi mendapatkan harta rampasan…Namun aku keluar bersamamu agar terkena anak panah dari sini dan menembus keluar dari sini.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika ia benar-benar jujur kepada Allah, Allah akan mewujudkan apa yang ia nyatakan dengan jujur.” Setelah pertempuran, ia pun dicari. Ia ditemukan dalam keadaan terkena anak panah tepat pada bagian yang sebelumnya ia tunjuk, anak panah itu menembus keluar pada bagian yang juga ia tunjuk. Ia benar-benar jujur kepada Allah. Yang terpenting, jujurlah kepada Allah. Sebagian besar kekurangan kita terletak pada kurangnya kejujuran kepada Allah. ===== أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ شَيْخَنَا وَبَارَكَ فِيكُمْ مَا هُوَ عِلَاجُ الْكِبْرِ وَالْحَسَدِ لِمَنْ يَجِدُ فِي قَلْبِهِ شَيْئًا مِنْهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُظْهِرَهُ أَوْ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ؟ عِلَاجُ أَمْرَاضِ الْقُلُوبِ كُلِّهَا أَعْظَمُ عِلَاجٍ لِذَلِكَ الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ الْقُرْآنُ شِفَاءٌ مَا عُولِجَتِ الْقُلُوبُ بِمِثْلِ الْقُرْآنِ أَكْثِرْ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ بِتَدَبُّرٍ ثِقْ أَنَّ قَلْبَكَ سَيَلِينُ وَثِقْ أَنَّ قَلْبَكَ سَيَسْلَمُ الْأَمْرُ الثَّانِي قِرَاءَةُ أَحَادِيثِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسِيرَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْأَمْرُ الثَّالِثُ قِرَاءَةُ سِيَرِ السَّلَفِ الصَّالِحِ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ وَالْأَمْرُ الرَّابِعُ: مُصَاحَبَةُ الْأَخْيَارِ فَإِنَّ الْأَخْيَارَ يَكْتَسِبُ مِنْهُمُ الْإِنْسَانُ أُمُورًا قَدْ لَا تَكُونُ فِيهِ وَالْأَمْرُ الْخَامِسُ: كَثْرَةُ الدُّعَاءِ وَلَا سِيَّمَا فِي اللَّيْلِ يَا أَخِي مَا اسْتُجْلِبَتِ الرَّحْمَةُ وَمَا اسْتُجْلِبَتِ الْمَغْفِرَةُ وَمَا اسْتُجْلِبَتِ الْخَيْرَاتُ بِمِثْلِ دُعَاءٍ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ إِذَا خَلَوْتَ بِاللهِ فِي اللَّيْلِ وَصَلَّيْتَ لِلهِ وَأَوْتَرْتَ تَدْعُو فِي صَلَاتِكَ وَتَدْعُو بَعْدَ صَلَاتِكَ وَاللهِ تُسْتَجْلَبُ الْخَيْرَاتُ وَالرَّحَمَاتُ وَالْبَرَكَاتُ وَالْمَغْفِرَةُ بِهَذَا الْأَمْرِ الْعَظِيمِ أَيْضًا مِمَّا يُرَقِّقُ الْقُلُوبَ أَنْ يَتَذَكَّرَ الْإِنْسَانُ الْمَوْتَ وَمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَأَنْ يَتَذَكَّرَ مَا عِنْدَ اللهِ وَيَتَذَكَّرَ مَا جَعَلَهُ اللهُ مِنْ عُقُوبَةٍ لِلْمُتَكَبِّرِينَ ثُمَّ اعْلَمْ -وَفَّقَكَ اللهُ- أَنَّ مِنَ التَّوْفِيقِ أَنَّ مَنْ وَجَدَ فِي نَفْسِهِ صِفَةً قَبِيحَةً أَلَّا يُنْفِذَهَا أَنْ يُجَاهِدَ نَفْسَهُ أَلَّا يَعْمَلَ بِهَا قَدْ يَكُونُ الْإِنْسَانُ شَحِيحًا، قَدْ يَكُونُ شَحِيحًا لَكِنَّهُ لَا يُطِيعُ شُحَّهُ فَهَذَا عَلَى خَيْرٍ وَيُعَالِجُ نَفْسَهُ الْبَلَاءُ أَنْ تُطِيعَ الشُّحَّ قَدْ يَكُونُ فِي نَفْسِ الْإِنْسَانِ كِبْرٌ لَكِنَّهُ لَا يُطِيعُهُ بَلْ يُعَامِلُ النَّاسَ بِتَوَاضُعٍ وَإِنْ وُجِدَ الْكِبْرُ فِي قَلْبِهِ وَيُعَالِجُ نَفْسَهُ وَهَذَا مِنْ تَوْفِيقِ اللهِ لِلْعَبْدِ وَأَقُولُ خَاتِمًا إِنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا وَضَعَ حَاجَتَهُ عِنْدَ اللهِ اسْتُجِيبَ لَهُ قَرِيبًا الْمُهِمُّ أَنْ تَلْجَأَ إِلَى اللهِ بِصِدْقٍ وَإِخْلَاصٍ وَمَنْ كَانَ مَعَ اللهِ كَانَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مَعَهُ وَمَنْ صَدَقَ اللهَ صَدَقَهُ اللهُ ذَاكَ الصَّحَابِيُّ الَّذِي قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ مَا خَرَجْتُ مَعَكَ مِنْ أَجْلِ الْغَنِيمَةِ وَإِنَّمَا خَرَجْتُ أَنْ أُصَابَ مِنْ هُنَا وَيَخْرُجَ مِنْ هَاهُنَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنْ يَصْدُقِ اللهَ يَصْدُقْهُ اللهُ فَتُفُقِّدَ بَعْدَ الْمَعْرَكَةِ فَوُجِدَ وَقَدْ أُصِيبَ بِسَهْمٍ مِنَ الْمَكَانِ الَّذِي أَشَارَ إِلَيْهِ وَخَرَجَ مِنَ الْمَكَانِ الَّذِي أَشَارَ إِلَيْهِ صَدَقَ اللهَ الْمُهِمُّ اصْدُقِ اللهَ أَكْثَرُ الْخَلَلِ عِنْدَنَا فِي عَدَمِ الصِّدْقِ مَعَ اللهِ
Semoga Allah berbuat baik kepada Anda, wahai Syaikh kami, dan memberkahi Anda. Apa obat sombong dan hasad bagi orang yang mendapati sedikit dari sifat tersebut di dalam hatinya, tanpa ia menampakkannya ataupun melakukan sesuatu berdasarkan dorongan sifat tersebut? [OBAT PERTAMA] Obat bagi seluruh penyakit hati, obat yang paling agung untuk semuanya adalah Al-Qur’an Al-Karim. Al-Qur’an adalah penyembuh. Tidak ada sesuatu yang dapat mengobati hati semisal Al-Qur’an. Perbanyaklah membaca Al-Qur’an dengan tadabur. Yakinlah, hatimu akan menjadi lembut. Dan yakinlah, hatimu akan menjadi sehat. [OBAT KEDUA] Hal kedua, membaca hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sirah kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. [OBAT KETIGA] Hal ketiga, membaca kisah kehidupan para Salafus Saleh, semoga keridaan Allah tercurah kepada mereka. [OBAT KEEMPAT] Hal keempat, bersahabat dengan orang-orang saleh. Sebab, dari orang-orang saleh seseorang dapat memperoleh berbagai sifat baik yang sebelumnya tidak ada pada dirinya. [OBAT KELIMA] Hal kelima, memperbanyak doa, terutama di waktu malam. Saudaraku, tidak ada yang dapat mendatangkan rahmat, tidak ada pula yang dapat mendatangkan ampunan, serta tidak ada yang dapat mendatangkan berbagai kebaikan, yang semisal dengan doa yang dipanjatkan di tengah malam. Apabila engkau menyendiri bersama Allah di waktu malam, dan mengerjakan Salat Malam karena Allah, lalu engkau mengerjakan Salat Witir, engkau berdoa di dalam salat dan setelah salat yang engkau kerjakan, demi Allah, berbagai kebaikan, rahmat, keberkahan, dan ampunan akan didatangkan melalui amalan yang agung ini. [OBAT KEENAM]Faktor lain yang dapat melembutkan hati adalah seseorang mengingat kematian, apa yang terjadi setelah kematian, mengingat apa yang ada di sisi Allah,serta mengingat hukuman yang Allah tetapkan bagi orang-orang yang sombong. Kemudian ketahuilah—semoga Allah memberimu taufik—bahwa di antara bentuk taufik Allah ialah ketika seseorang mendapati suatu sifat buruk dalam dirinya, ia tidak membiarkan sifat itu terwujud dalam perbuatannya. Ia melawan dirinya agar tidak bertindak berdasarkan dorongan sifat tersebut. Boleh jadi seseorang memiliki sifat kikir, tetapi ia tidak menuruti sifat kikirnya itu. Orang seperti ini berada di atas kebaikan, dan ia terus berusaha mengobati dirinya. Yang menjadi petaka ialah ketika engkau menuruti kekikiran itu. Boleh jadi ada kesombongan dalam diri seseorang, tetapi ia tidak menurutinya. Justru ia memperlakukan orang lain dengan rendah hati, meskipun masih terdapat kesombongan di dalam hatinya, dan ia terus berusaha mengobati dirinya. Ini termasuk taufik Allah kepada seorang hamba. Sebagai penutup, saya katakan: Sesungguhnya apabila seseorang menyerahkan hajatnya kepada Allah, niscaya ia akan segera mendapatkan jawaban. Yang terpenting, engkau benar-benar meminta tolong kepada Allah dengan jujur dan ikhlas. Barang siapa bersama Allah, Allah ‘Azza wa Jalla akan bersamanya. Barang siapa jujur kepada Allah, Allah akan membuktikan kejujurannya. Seperti sahabat yang berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidak keluar bersamamu demi mendapatkan harta rampasan…Namun aku keluar bersamamu agar terkena anak panah dari sini dan menembus keluar dari sini.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika ia benar-benar jujur kepada Allah, Allah akan mewujudkan apa yang ia nyatakan dengan jujur.” Setelah pertempuran, ia pun dicari. Ia ditemukan dalam keadaan terkena anak panah tepat pada bagian yang sebelumnya ia tunjuk, anak panah itu menembus keluar pada bagian yang juga ia tunjuk. Ia benar-benar jujur kepada Allah. Yang terpenting, jujurlah kepada Allah. Sebagian besar kekurangan kita terletak pada kurangnya kejujuran kepada Allah. ===== أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ شَيْخَنَا وَبَارَكَ فِيكُمْ مَا هُوَ عِلَاجُ الْكِبْرِ وَالْحَسَدِ لِمَنْ يَجِدُ فِي قَلْبِهِ شَيْئًا مِنْهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُظْهِرَهُ أَوْ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ؟ عِلَاجُ أَمْرَاضِ الْقُلُوبِ كُلِّهَا أَعْظَمُ عِلَاجٍ لِذَلِكَ الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ الْقُرْآنُ شِفَاءٌ مَا عُولِجَتِ الْقُلُوبُ بِمِثْلِ الْقُرْآنِ أَكْثِرْ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ بِتَدَبُّرٍ ثِقْ أَنَّ قَلْبَكَ سَيَلِينُ وَثِقْ أَنَّ قَلْبَكَ سَيَسْلَمُ الْأَمْرُ الثَّانِي قِرَاءَةُ أَحَادِيثِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسِيرَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْأَمْرُ الثَّالِثُ قِرَاءَةُ سِيَرِ السَّلَفِ الصَّالِحِ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ وَالْأَمْرُ الرَّابِعُ: مُصَاحَبَةُ الْأَخْيَارِ فَإِنَّ الْأَخْيَارَ يَكْتَسِبُ مِنْهُمُ الْإِنْسَانُ أُمُورًا قَدْ لَا تَكُونُ فِيهِ وَالْأَمْرُ الْخَامِسُ: كَثْرَةُ الدُّعَاءِ وَلَا سِيَّمَا فِي اللَّيْلِ يَا أَخِي مَا اسْتُجْلِبَتِ الرَّحْمَةُ وَمَا اسْتُجْلِبَتِ الْمَغْفِرَةُ وَمَا اسْتُجْلِبَتِ الْخَيْرَاتُ بِمِثْلِ دُعَاءٍ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ إِذَا خَلَوْتَ بِاللهِ فِي اللَّيْلِ وَصَلَّيْتَ لِلهِ وَأَوْتَرْتَ تَدْعُو فِي صَلَاتِكَ وَتَدْعُو بَعْدَ صَلَاتِكَ وَاللهِ تُسْتَجْلَبُ الْخَيْرَاتُ وَالرَّحَمَاتُ وَالْبَرَكَاتُ وَالْمَغْفِرَةُ بِهَذَا الْأَمْرِ الْعَظِيمِ أَيْضًا مِمَّا يُرَقِّقُ الْقُلُوبَ أَنْ يَتَذَكَّرَ الْإِنْسَانُ الْمَوْتَ وَمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَأَنْ يَتَذَكَّرَ مَا عِنْدَ اللهِ وَيَتَذَكَّرَ مَا جَعَلَهُ اللهُ مِنْ عُقُوبَةٍ لِلْمُتَكَبِّرِينَ ثُمَّ اعْلَمْ -وَفَّقَكَ اللهُ- أَنَّ مِنَ التَّوْفِيقِ أَنَّ مَنْ وَجَدَ فِي نَفْسِهِ صِفَةً قَبِيحَةً أَلَّا يُنْفِذَهَا أَنْ يُجَاهِدَ نَفْسَهُ أَلَّا يَعْمَلَ بِهَا قَدْ يَكُونُ الْإِنْسَانُ شَحِيحًا، قَدْ يَكُونُ شَحِيحًا لَكِنَّهُ لَا يُطِيعُ شُحَّهُ فَهَذَا عَلَى خَيْرٍ وَيُعَالِجُ نَفْسَهُ الْبَلَاءُ أَنْ تُطِيعَ الشُّحَّ قَدْ يَكُونُ فِي نَفْسِ الْإِنْسَانِ كِبْرٌ لَكِنَّهُ لَا يُطِيعُهُ بَلْ يُعَامِلُ النَّاسَ بِتَوَاضُعٍ وَإِنْ وُجِدَ الْكِبْرُ فِي قَلْبِهِ وَيُعَالِجُ نَفْسَهُ وَهَذَا مِنْ تَوْفِيقِ اللهِ لِلْعَبْدِ وَأَقُولُ خَاتِمًا إِنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا وَضَعَ حَاجَتَهُ عِنْدَ اللهِ اسْتُجِيبَ لَهُ قَرِيبًا الْمُهِمُّ أَنْ تَلْجَأَ إِلَى اللهِ بِصِدْقٍ وَإِخْلَاصٍ وَمَنْ كَانَ مَعَ اللهِ كَانَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مَعَهُ وَمَنْ صَدَقَ اللهَ صَدَقَهُ اللهُ ذَاكَ الصَّحَابِيُّ الَّذِي قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ مَا خَرَجْتُ مَعَكَ مِنْ أَجْلِ الْغَنِيمَةِ وَإِنَّمَا خَرَجْتُ أَنْ أُصَابَ مِنْ هُنَا وَيَخْرُجَ مِنْ هَاهُنَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنْ يَصْدُقِ اللهَ يَصْدُقْهُ اللهُ فَتُفُقِّدَ بَعْدَ الْمَعْرَكَةِ فَوُجِدَ وَقَدْ أُصِيبَ بِسَهْمٍ مِنَ الْمَكَانِ الَّذِي أَشَارَ إِلَيْهِ وَخَرَجَ مِنَ الْمَكَانِ الَّذِي أَشَارَ إِلَيْهِ صَدَقَ اللهَ الْمُهِمُّ اصْدُقِ اللهَ أَكْثَرُ الْخَلَلِ عِنْدَنَا فِي عَدَمِ الصِّدْقِ مَعَ اللهِ


Semoga Allah berbuat baik kepada Anda, wahai Syaikh kami, dan memberkahi Anda. Apa obat sombong dan hasad bagi orang yang mendapati sedikit dari sifat tersebut di dalam hatinya, tanpa ia menampakkannya ataupun melakukan sesuatu berdasarkan dorongan sifat tersebut? [OBAT PERTAMA] Obat bagi seluruh penyakit hati, obat yang paling agung untuk semuanya adalah Al-Qur’an Al-Karim. Al-Qur’an adalah penyembuh. Tidak ada sesuatu yang dapat mengobati hati semisal Al-Qur’an. Perbanyaklah membaca Al-Qur’an dengan tadabur. Yakinlah, hatimu akan menjadi lembut. Dan yakinlah, hatimu akan menjadi sehat. [OBAT KEDUA] Hal kedua, membaca hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sirah kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. [OBAT KETIGA] Hal ketiga, membaca kisah kehidupan para Salafus Saleh, semoga keridaan Allah tercurah kepada mereka. [OBAT KEEMPAT] Hal keempat, bersahabat dengan orang-orang saleh. Sebab, dari orang-orang saleh seseorang dapat memperoleh berbagai sifat baik yang sebelumnya tidak ada pada dirinya. [OBAT KELIMA] Hal kelima, memperbanyak doa, terutama di waktu malam. Saudaraku, tidak ada yang dapat mendatangkan rahmat, tidak ada pula yang dapat mendatangkan ampunan, serta tidak ada yang dapat mendatangkan berbagai kebaikan, yang semisal dengan doa yang dipanjatkan di tengah malam. Apabila engkau menyendiri bersama Allah di waktu malam, dan mengerjakan Salat Malam karena Allah, lalu engkau mengerjakan Salat Witir, engkau berdoa di dalam salat dan setelah salat yang engkau kerjakan, demi Allah, berbagai kebaikan, rahmat, keberkahan, dan ampunan akan didatangkan melalui amalan yang agung ini. [OBAT KEENAM]Faktor lain yang dapat melembutkan hati adalah seseorang mengingat kematian, apa yang terjadi setelah kematian, mengingat apa yang ada di sisi Allah,serta mengingat hukuman yang Allah tetapkan bagi orang-orang yang sombong. Kemudian ketahuilah—semoga Allah memberimu taufik—bahwa di antara bentuk taufik Allah ialah ketika seseorang mendapati suatu sifat buruk dalam dirinya, ia tidak membiarkan sifat itu terwujud dalam perbuatannya. Ia melawan dirinya agar tidak bertindak berdasarkan dorongan sifat tersebut. Boleh jadi seseorang memiliki sifat kikir, tetapi ia tidak menuruti sifat kikirnya itu. Orang seperti ini berada di atas kebaikan, dan ia terus berusaha mengobati dirinya. Yang menjadi petaka ialah ketika engkau menuruti kekikiran itu. Boleh jadi ada kesombongan dalam diri seseorang, tetapi ia tidak menurutinya. Justru ia memperlakukan orang lain dengan rendah hati, meskipun masih terdapat kesombongan di dalam hatinya, dan ia terus berusaha mengobati dirinya. Ini termasuk taufik Allah kepada seorang hamba. Sebagai penutup, saya katakan: Sesungguhnya apabila seseorang menyerahkan hajatnya kepada Allah, niscaya ia akan segera mendapatkan jawaban. Yang terpenting, engkau benar-benar meminta tolong kepada Allah dengan jujur dan ikhlas. Barang siapa bersama Allah, Allah ‘Azza wa Jalla akan bersamanya. Barang siapa jujur kepada Allah, Allah akan membuktikan kejujurannya. Seperti sahabat yang berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidak keluar bersamamu demi mendapatkan harta rampasan…Namun aku keluar bersamamu agar terkena anak panah dari sini dan menembus keluar dari sini.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika ia benar-benar jujur kepada Allah, Allah akan mewujudkan apa yang ia nyatakan dengan jujur.” Setelah pertempuran, ia pun dicari. Ia ditemukan dalam keadaan terkena anak panah tepat pada bagian yang sebelumnya ia tunjuk, anak panah itu menembus keluar pada bagian yang juga ia tunjuk. Ia benar-benar jujur kepada Allah. Yang terpenting, jujurlah kepada Allah. Sebagian besar kekurangan kita terletak pada kurangnya kejujuran kepada Allah. ===== أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ شَيْخَنَا وَبَارَكَ فِيكُمْ مَا هُوَ عِلَاجُ الْكِبْرِ وَالْحَسَدِ لِمَنْ يَجِدُ فِي قَلْبِهِ شَيْئًا مِنْهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُظْهِرَهُ أَوْ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ؟ عِلَاجُ أَمْرَاضِ الْقُلُوبِ كُلِّهَا أَعْظَمُ عِلَاجٍ لِذَلِكَ الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ الْقُرْآنُ شِفَاءٌ مَا عُولِجَتِ الْقُلُوبُ بِمِثْلِ الْقُرْآنِ أَكْثِرْ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ بِتَدَبُّرٍ ثِقْ أَنَّ قَلْبَكَ سَيَلِينُ وَثِقْ أَنَّ قَلْبَكَ سَيَسْلَمُ الْأَمْرُ الثَّانِي قِرَاءَةُ أَحَادِيثِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسِيرَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْأَمْرُ الثَّالِثُ قِرَاءَةُ سِيَرِ السَّلَفِ الصَّالِحِ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ وَالْأَمْرُ الرَّابِعُ: مُصَاحَبَةُ الْأَخْيَارِ فَإِنَّ الْأَخْيَارَ يَكْتَسِبُ مِنْهُمُ الْإِنْسَانُ أُمُورًا قَدْ لَا تَكُونُ فِيهِ وَالْأَمْرُ الْخَامِسُ: كَثْرَةُ الدُّعَاءِ وَلَا سِيَّمَا فِي اللَّيْلِ يَا أَخِي مَا اسْتُجْلِبَتِ الرَّحْمَةُ وَمَا اسْتُجْلِبَتِ الْمَغْفِرَةُ وَمَا اسْتُجْلِبَتِ الْخَيْرَاتُ بِمِثْلِ دُعَاءٍ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ إِذَا خَلَوْتَ بِاللهِ فِي اللَّيْلِ وَصَلَّيْتَ لِلهِ وَأَوْتَرْتَ تَدْعُو فِي صَلَاتِكَ وَتَدْعُو بَعْدَ صَلَاتِكَ وَاللهِ تُسْتَجْلَبُ الْخَيْرَاتُ وَالرَّحَمَاتُ وَالْبَرَكَاتُ وَالْمَغْفِرَةُ بِهَذَا الْأَمْرِ الْعَظِيمِ أَيْضًا مِمَّا يُرَقِّقُ الْقُلُوبَ أَنْ يَتَذَكَّرَ الْإِنْسَانُ الْمَوْتَ وَمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَأَنْ يَتَذَكَّرَ مَا عِنْدَ اللهِ وَيَتَذَكَّرَ مَا جَعَلَهُ اللهُ مِنْ عُقُوبَةٍ لِلْمُتَكَبِّرِينَ ثُمَّ اعْلَمْ -وَفَّقَكَ اللهُ- أَنَّ مِنَ التَّوْفِيقِ أَنَّ مَنْ وَجَدَ فِي نَفْسِهِ صِفَةً قَبِيحَةً أَلَّا يُنْفِذَهَا أَنْ يُجَاهِدَ نَفْسَهُ أَلَّا يَعْمَلَ بِهَا قَدْ يَكُونُ الْإِنْسَانُ شَحِيحًا، قَدْ يَكُونُ شَحِيحًا لَكِنَّهُ لَا يُطِيعُ شُحَّهُ فَهَذَا عَلَى خَيْرٍ وَيُعَالِجُ نَفْسَهُ الْبَلَاءُ أَنْ تُطِيعَ الشُّحَّ قَدْ يَكُونُ فِي نَفْسِ الْإِنْسَانِ كِبْرٌ لَكِنَّهُ لَا يُطِيعُهُ بَلْ يُعَامِلُ النَّاسَ بِتَوَاضُعٍ وَإِنْ وُجِدَ الْكِبْرُ فِي قَلْبِهِ وَيُعَالِجُ نَفْسَهُ وَهَذَا مِنْ تَوْفِيقِ اللهِ لِلْعَبْدِ وَأَقُولُ خَاتِمًا إِنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا وَضَعَ حَاجَتَهُ عِنْدَ اللهِ اسْتُجِيبَ لَهُ قَرِيبًا الْمُهِمُّ أَنْ تَلْجَأَ إِلَى اللهِ بِصِدْقٍ وَإِخْلَاصٍ وَمَنْ كَانَ مَعَ اللهِ كَانَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مَعَهُ وَمَنْ صَدَقَ اللهَ صَدَقَهُ اللهُ ذَاكَ الصَّحَابِيُّ الَّذِي قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ مَا خَرَجْتُ مَعَكَ مِنْ أَجْلِ الْغَنِيمَةِ وَإِنَّمَا خَرَجْتُ أَنْ أُصَابَ مِنْ هُنَا وَيَخْرُجَ مِنْ هَاهُنَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنْ يَصْدُقِ اللهَ يَصْدُقْهُ اللهُ فَتُفُقِّدَ بَعْدَ الْمَعْرَكَةِ فَوُجِدَ وَقَدْ أُصِيبَ بِسَهْمٍ مِنَ الْمَكَانِ الَّذِي أَشَارَ إِلَيْهِ وَخَرَجَ مِنَ الْمَكَانِ الَّذِي أَشَارَ إِلَيْهِ صَدَقَ اللهَ الْمُهِمُّ اصْدُقِ اللهَ أَكْثَرُ الْخَلَلِ عِنْدَنَا فِي عَدَمِ الصِّدْقِ مَعَ اللهِ

Khotbah Jumat Kemerdekaan: Langkah Nyata Membangun Negeri yang Amanah

Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaPertama, jaga makan kita dari hal-hal yang haramKedua, tanamkan nilai kejujuran dalam diri kitaKetiga, hadirkan kepedulian kebaikan untuk sesama (amar makruf nahi munkar)Khotbah keduaKhotbah pertamaإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَوَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً، وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ، إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاوَقَالَ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًافَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ ﷺ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَاأَمَّا بَعْدُعِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ، وَهِيَ وَصِيَّةُ اللَّهِ لِلْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَKaum Muslimin, jemaah sidang Jumat rahimakumullah,Setiap kali bulan Agustus tiba, ingatan kolektif kita kembali ditarik pada lembaran sejarah perjuangan bangsa ini keluar dari cengkeraman penjajahan fisik. Di mana-mana merah putih berkibar, hiasan-hiasan dipasang di sepanjang jalan, dan sorak-sorai perlombaan terdengar di gang-gang kampung. Namun, di balik megahnya pesta tahunan ini, sudahkah kita meletakkan kemerdekaan ini pada timbangan syariat yang jujur? Ataukah perayaan kita justru diisi dengan kemaksiatan yang dibungkus dengan slogan nasionalisme?Panglima pasukan Islam, Rabi’ bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, pernah mendefinisikan hakikat kemerdekaan dengan sangat luar biasa di hadapan Rustam, jenderal tertinggi Persia,اللَّهُ ابْتَعَثَنَا لِيُخْرِجَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ إِلَى عِبَادَةِ اللَّهِ وَحْدَهُ، وَمِنْ ضِيقِ الدُّنْيَا إِلَى سَعَتِهَا، وَمِنْ جَوْرِ الْأَدْيَانِ إِلَى عَدْلِ الْإِسْلَامِ“Allah mengutus kami untuk memerdekakan siapa saja yang Dia kehendaki; dari penghambaan kepada sesama makhluk menuju penghambaan kepada Allah semata, dari kesempitan dunia menuju kelapangannya, dan dari kezaliman agama-agama menuju keadilan Islam.” (Kitabun ilal Islam min Jadid, hal. 63)Merdeka yang sejati dalam pandangan Islam adalah ketundukan total di bawah aturan Allah, bukan kebebasan tanpa batas untuk memperturutkan hawa nafsu. Mustahil sebuah negeri bisa tegak berdiri di atas pilar yang amanah jika rakyatnya masih menjadi budak syahwat, budak dunia, dan abai terhadap aturan Rabbnya.Maka, bagaimana langkah konkret kita untuk membangun negeri yang amanah ini dari bawah? Bukan dengan sekadar sibuk mencaci maki keadaan di media sosial, minimal kita hadirkan tiga langkah sederhana yang bisa kita usahakan:Pertama, jaga makan kita dari hal-hal yang haramMembangun negeri yang bersih tidak dimulai dari merombak kabinet di istana, melainkan dari apa yang kita sajikan di atas meja makan rumah kita sendiri. Kita kerap berteriak lantang mengutuk korupsi para pejabat di televisi, namun di saat yang sama, kita menyuapkan makanan ke mulut anak-istri kita dari hasil timbangan yang dikurangi, waktu kerja kantor yang dikorupsi, atau proyek-proyek syubhat yang kita manipulasi.Bagaimana mungkin kita mengharapkan lahirnya generasi pemimpin yang amanah, jika mereka kita beri makan dari darah dan daging yang tumbuh dari barang haram? Nabi ﷺ bersabda,كُلُّ لَحْمٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ“Setiap daging yang tumbuh dari harta yang haram, maka neraka lebih pantas baginya.” (HR. At-Tirmidzi no. 614, disahihkan oleh Al-Albani)Harta haram adalah penghalang utama terkabulnya doa sebuah bangsa. Ingatkah kita akan hadis tentang seorang lelaki yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut, tubuhnya berdebu, ia menengadahkan tangannya ke langit seraya berdoa, “Wahai Rabbku, wahai Rabbku!” Sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi makan dari yang haram. Nabi ﷺ menegaskan,فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ“Maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim no. 1015)Jika doa-doa kita untuk negeri ini tidak terijabah juga, jangan-jangan karena perut kita masih dikotori dengan harta yang tidak halal. Langkah nyata pertama adalah bertobat, memastikan setiap suap nasi yang masuk ke rumah kita adalah murni dari tetesan keringat yang halal. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6)Kedua, tanamkan nilai kejujuran dalam diri kitaKita sering mengeluhkan rusaknya sistem di negeri ini. Namun, sistem itu tidak berjalan sendiri; ia digerakkan oleh manusia. Menjaga negeri berarti berkomitmen menolak khianat dalam muamalah harian kita. Jangan sampai kita menjadi orang yang paling depan menuntut hak, namun menjadi orang yang paling lihai mengelak saat harus menunaikan kewajiban. Allah Ta’ala memberikan peringatan keras kepada mereka yang curang dalam transaksi,وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ ، الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ ، وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ“Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menimbang)! Yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi; dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi.” (QS. Al-Muthaffifin: 1-3)Amanah dalam bekerja adalah harga mati bagi seorang mukmin. Ketika kita menandatangani kontrak kerja, sepakat atas sebuah transaksi dagang, atau menerima suatu jabatan, di sana ada janji di hadapan Allah yang harus kita pertanggungjawabkan,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 27)Setiap kebohongan, manipulasi laporan, menyogok demi kelancaran urusan, atau mengambil hak orang lain adalah bentuk pengrusakan (fasad) yang dilarang keras oleh Allah,وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya…” (QS. Al-A’raf: 56)Rasulullah ﷺ bahkan mengeluarkan dari golongannya mereka yang mencari keuntungan dengan jalan menipu,مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا“Barangsiapa yang menipu kami, maka ia bukan golongan kami.” (HR. Muslim no. 102)Sebaliknya, jika kita bersikap amanah dan jujur dalam berdagang atau bekerja, Allah menjanjikan kedudukan yang luar biasa mulia di akhirat kelak,التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ“Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para Nabi, orang-orang yang jujur (shiddiqin), dan para syuhada.” (HR. At-Tirmidzi no. 1209, disahihkan oleh Al-Albani)Ketiga, hadirkan kepedulian kebaikan untuk sesama (amar makruf nahi munkar)Kerusakan terbesar sebuah bangsa sering kali bukan karena banyaknya orang jahat, melainkan karena diamnya orang-orang baik. Ketika kita melihat judi online merenggut masa depan anak muda di sekitar kita, ketika narkoba merusak tetangga kita, atau ketika pornografi bebas diakses di layar handphone anak-anak tanpa ada pengawasan, lalu kita memilih diam dengan dalih “yang penting keluarga saya aman”, maka saat itulah kita sedang berkontribusi meruntuhkan negeri ini.Jika sebuah kapal bocor dan kita membiarkan pelaku melubanginya demi ego “kebebasan”, maka seluruh isi kapal akan tenggelam bersama, termasuk kita yang hanya diam menonton. Allah Ta’ala memuji umat ini sebagai umat terbaik hanya jika kita mau peduli dan bergerak mencegah kemungkaran,كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 110)Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa napas utama tegaknya agama dan kehidupan sosial adalah ketulusan dalam saling menasihati,الدِّينُ النَّصِيحَةُ“Agama itu adalah nasihat (ketulusan).” (HR. Muslim no. 55)Jangan biarkan sikap acuh tak acuh mencabut keberkahan dari negeri kita. Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pernah memperingatkan umat ini tentang bahaya berdiam diri melihat kezaliman dan kemaksiatan di sekitar mereka. Beliau mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابِهِ“Sesungguhnya jika manusia melihat seorang pelaku kezaliman (atau kemaksiatan) namun mereka tidak mencegahnya dengan tangan mereka (tidak berusaha menghentikannya), hampir saja Allah akan meratakan azab-Nya kepada mereka semua.” (HR. Abu Dawud no. 4338 dan At-Tirmidzi no. 2168, disahihkan oleh Al-Albani)Jemaah yang dirahmati Allah, marilah kita berhenti menjadi manusia-manusia pasif. Kemerdekaan ini harus diisi dengan kerja nyata, bukan keluhan tak berujung. Mari bersihkan piring makan kita dari yang haram, tegakkan kejujuran di tempat kerja tanpa kompromi, dan peduli terhadap kemerosotan moral di sekeliling kita. Dari langkah kecil inilah, sebuah negeri yang amanah dan diberkahi akan benar-benar terwujud.أَقُولُ مَا سَمِعْتُمْ، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَخَطِيئَةٍ؛ فَاسْتَغْفِرُوهُ، وَتُوبُوا إِلَيْهِ؛ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُKhotbah keduaالْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَعَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًاوَقَالَ تَعَالَىإِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَإِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌاللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَإِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌاللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِاللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَاللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَاجْعَلْهُمْ رَحْمَةً عَلَى رَعَايَاهُمْ، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَخُذْ بِأَيْدِيهِمْ إِلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىاللَّهُمَّ اجْعَلْ بَلَدَنَا هٰذَا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، سَخَاءً رَخَاءً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَاللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخِيَانَةِ وَالْفَسَادِ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْأُمَنَاءِ الْمُخْلِصِينَاللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ النِّفَاقِ، وَأَعْمَالَنَا مِنَ الرِّيَاءِ، وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ، وَأَعْيُنَنَا مِنَ الْخِيَانَةِ، إِنَّكَ تَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِعِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَفَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَأَقِيمُوا الصَّلَاةَBaca juga: Makna Kemerdekaan bagi Seorang Muslim***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id

Khotbah Jumat Kemerdekaan: Langkah Nyata Membangun Negeri yang Amanah

Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaPertama, jaga makan kita dari hal-hal yang haramKedua, tanamkan nilai kejujuran dalam diri kitaKetiga, hadirkan kepedulian kebaikan untuk sesama (amar makruf nahi munkar)Khotbah keduaKhotbah pertamaإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَوَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً، وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ، إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاوَقَالَ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًافَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ ﷺ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَاأَمَّا بَعْدُعِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ، وَهِيَ وَصِيَّةُ اللَّهِ لِلْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَKaum Muslimin, jemaah sidang Jumat rahimakumullah,Setiap kali bulan Agustus tiba, ingatan kolektif kita kembali ditarik pada lembaran sejarah perjuangan bangsa ini keluar dari cengkeraman penjajahan fisik. Di mana-mana merah putih berkibar, hiasan-hiasan dipasang di sepanjang jalan, dan sorak-sorai perlombaan terdengar di gang-gang kampung. Namun, di balik megahnya pesta tahunan ini, sudahkah kita meletakkan kemerdekaan ini pada timbangan syariat yang jujur? Ataukah perayaan kita justru diisi dengan kemaksiatan yang dibungkus dengan slogan nasionalisme?Panglima pasukan Islam, Rabi’ bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, pernah mendefinisikan hakikat kemerdekaan dengan sangat luar biasa di hadapan Rustam, jenderal tertinggi Persia,اللَّهُ ابْتَعَثَنَا لِيُخْرِجَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ إِلَى عِبَادَةِ اللَّهِ وَحْدَهُ، وَمِنْ ضِيقِ الدُّنْيَا إِلَى سَعَتِهَا، وَمِنْ جَوْرِ الْأَدْيَانِ إِلَى عَدْلِ الْإِسْلَامِ“Allah mengutus kami untuk memerdekakan siapa saja yang Dia kehendaki; dari penghambaan kepada sesama makhluk menuju penghambaan kepada Allah semata, dari kesempitan dunia menuju kelapangannya, dan dari kezaliman agama-agama menuju keadilan Islam.” (Kitabun ilal Islam min Jadid, hal. 63)Merdeka yang sejati dalam pandangan Islam adalah ketundukan total di bawah aturan Allah, bukan kebebasan tanpa batas untuk memperturutkan hawa nafsu. Mustahil sebuah negeri bisa tegak berdiri di atas pilar yang amanah jika rakyatnya masih menjadi budak syahwat, budak dunia, dan abai terhadap aturan Rabbnya.Maka, bagaimana langkah konkret kita untuk membangun negeri yang amanah ini dari bawah? Bukan dengan sekadar sibuk mencaci maki keadaan di media sosial, minimal kita hadirkan tiga langkah sederhana yang bisa kita usahakan:Pertama, jaga makan kita dari hal-hal yang haramMembangun negeri yang bersih tidak dimulai dari merombak kabinet di istana, melainkan dari apa yang kita sajikan di atas meja makan rumah kita sendiri. Kita kerap berteriak lantang mengutuk korupsi para pejabat di televisi, namun di saat yang sama, kita menyuapkan makanan ke mulut anak-istri kita dari hasil timbangan yang dikurangi, waktu kerja kantor yang dikorupsi, atau proyek-proyek syubhat yang kita manipulasi.Bagaimana mungkin kita mengharapkan lahirnya generasi pemimpin yang amanah, jika mereka kita beri makan dari darah dan daging yang tumbuh dari barang haram? Nabi ﷺ bersabda,كُلُّ لَحْمٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ“Setiap daging yang tumbuh dari harta yang haram, maka neraka lebih pantas baginya.” (HR. At-Tirmidzi no. 614, disahihkan oleh Al-Albani)Harta haram adalah penghalang utama terkabulnya doa sebuah bangsa. Ingatkah kita akan hadis tentang seorang lelaki yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut, tubuhnya berdebu, ia menengadahkan tangannya ke langit seraya berdoa, “Wahai Rabbku, wahai Rabbku!” Sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi makan dari yang haram. Nabi ﷺ menegaskan,فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ“Maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim no. 1015)Jika doa-doa kita untuk negeri ini tidak terijabah juga, jangan-jangan karena perut kita masih dikotori dengan harta yang tidak halal. Langkah nyata pertama adalah bertobat, memastikan setiap suap nasi yang masuk ke rumah kita adalah murni dari tetesan keringat yang halal. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6)Kedua, tanamkan nilai kejujuran dalam diri kitaKita sering mengeluhkan rusaknya sistem di negeri ini. Namun, sistem itu tidak berjalan sendiri; ia digerakkan oleh manusia. Menjaga negeri berarti berkomitmen menolak khianat dalam muamalah harian kita. Jangan sampai kita menjadi orang yang paling depan menuntut hak, namun menjadi orang yang paling lihai mengelak saat harus menunaikan kewajiban. Allah Ta’ala memberikan peringatan keras kepada mereka yang curang dalam transaksi,وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ ، الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ ، وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ“Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menimbang)! Yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi; dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi.” (QS. Al-Muthaffifin: 1-3)Amanah dalam bekerja adalah harga mati bagi seorang mukmin. Ketika kita menandatangani kontrak kerja, sepakat atas sebuah transaksi dagang, atau menerima suatu jabatan, di sana ada janji di hadapan Allah yang harus kita pertanggungjawabkan,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 27)Setiap kebohongan, manipulasi laporan, menyogok demi kelancaran urusan, atau mengambil hak orang lain adalah bentuk pengrusakan (fasad) yang dilarang keras oleh Allah,وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya…” (QS. Al-A’raf: 56)Rasulullah ﷺ bahkan mengeluarkan dari golongannya mereka yang mencari keuntungan dengan jalan menipu,مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا“Barangsiapa yang menipu kami, maka ia bukan golongan kami.” (HR. Muslim no. 102)Sebaliknya, jika kita bersikap amanah dan jujur dalam berdagang atau bekerja, Allah menjanjikan kedudukan yang luar biasa mulia di akhirat kelak,التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ“Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para Nabi, orang-orang yang jujur (shiddiqin), dan para syuhada.” (HR. At-Tirmidzi no. 1209, disahihkan oleh Al-Albani)Ketiga, hadirkan kepedulian kebaikan untuk sesama (amar makruf nahi munkar)Kerusakan terbesar sebuah bangsa sering kali bukan karena banyaknya orang jahat, melainkan karena diamnya orang-orang baik. Ketika kita melihat judi online merenggut masa depan anak muda di sekitar kita, ketika narkoba merusak tetangga kita, atau ketika pornografi bebas diakses di layar handphone anak-anak tanpa ada pengawasan, lalu kita memilih diam dengan dalih “yang penting keluarga saya aman”, maka saat itulah kita sedang berkontribusi meruntuhkan negeri ini.Jika sebuah kapal bocor dan kita membiarkan pelaku melubanginya demi ego “kebebasan”, maka seluruh isi kapal akan tenggelam bersama, termasuk kita yang hanya diam menonton. Allah Ta’ala memuji umat ini sebagai umat terbaik hanya jika kita mau peduli dan bergerak mencegah kemungkaran,كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 110)Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa napas utama tegaknya agama dan kehidupan sosial adalah ketulusan dalam saling menasihati,الدِّينُ النَّصِيحَةُ“Agama itu adalah nasihat (ketulusan).” (HR. Muslim no. 55)Jangan biarkan sikap acuh tak acuh mencabut keberkahan dari negeri kita. Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pernah memperingatkan umat ini tentang bahaya berdiam diri melihat kezaliman dan kemaksiatan di sekitar mereka. Beliau mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابِهِ“Sesungguhnya jika manusia melihat seorang pelaku kezaliman (atau kemaksiatan) namun mereka tidak mencegahnya dengan tangan mereka (tidak berusaha menghentikannya), hampir saja Allah akan meratakan azab-Nya kepada mereka semua.” (HR. Abu Dawud no. 4338 dan At-Tirmidzi no. 2168, disahihkan oleh Al-Albani)Jemaah yang dirahmati Allah, marilah kita berhenti menjadi manusia-manusia pasif. Kemerdekaan ini harus diisi dengan kerja nyata, bukan keluhan tak berujung. Mari bersihkan piring makan kita dari yang haram, tegakkan kejujuran di tempat kerja tanpa kompromi, dan peduli terhadap kemerosotan moral di sekeliling kita. Dari langkah kecil inilah, sebuah negeri yang amanah dan diberkahi akan benar-benar terwujud.أَقُولُ مَا سَمِعْتُمْ، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَخَطِيئَةٍ؛ فَاسْتَغْفِرُوهُ، وَتُوبُوا إِلَيْهِ؛ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُKhotbah keduaالْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَعَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًاوَقَالَ تَعَالَىإِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَإِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌاللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَإِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌاللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِاللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَاللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَاجْعَلْهُمْ رَحْمَةً عَلَى رَعَايَاهُمْ، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَخُذْ بِأَيْدِيهِمْ إِلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىاللَّهُمَّ اجْعَلْ بَلَدَنَا هٰذَا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، سَخَاءً رَخَاءً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَاللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخِيَانَةِ وَالْفَسَادِ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْأُمَنَاءِ الْمُخْلِصِينَاللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ النِّفَاقِ، وَأَعْمَالَنَا مِنَ الرِّيَاءِ، وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ، وَأَعْيُنَنَا مِنَ الْخِيَانَةِ، إِنَّكَ تَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِعِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَفَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَأَقِيمُوا الصَّلَاةَBaca juga: Makna Kemerdekaan bagi Seorang Muslim***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaPertama, jaga makan kita dari hal-hal yang haramKedua, tanamkan nilai kejujuran dalam diri kitaKetiga, hadirkan kepedulian kebaikan untuk sesama (amar makruf nahi munkar)Khotbah keduaKhotbah pertamaإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَوَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً، وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ، إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاوَقَالَ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًافَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ ﷺ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَاأَمَّا بَعْدُعِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ، وَهِيَ وَصِيَّةُ اللَّهِ لِلْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَKaum Muslimin, jemaah sidang Jumat rahimakumullah,Setiap kali bulan Agustus tiba, ingatan kolektif kita kembali ditarik pada lembaran sejarah perjuangan bangsa ini keluar dari cengkeraman penjajahan fisik. Di mana-mana merah putih berkibar, hiasan-hiasan dipasang di sepanjang jalan, dan sorak-sorai perlombaan terdengar di gang-gang kampung. Namun, di balik megahnya pesta tahunan ini, sudahkah kita meletakkan kemerdekaan ini pada timbangan syariat yang jujur? Ataukah perayaan kita justru diisi dengan kemaksiatan yang dibungkus dengan slogan nasionalisme?Panglima pasukan Islam, Rabi’ bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, pernah mendefinisikan hakikat kemerdekaan dengan sangat luar biasa di hadapan Rustam, jenderal tertinggi Persia,اللَّهُ ابْتَعَثَنَا لِيُخْرِجَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ إِلَى عِبَادَةِ اللَّهِ وَحْدَهُ، وَمِنْ ضِيقِ الدُّنْيَا إِلَى سَعَتِهَا، وَمِنْ جَوْرِ الْأَدْيَانِ إِلَى عَدْلِ الْإِسْلَامِ“Allah mengutus kami untuk memerdekakan siapa saja yang Dia kehendaki; dari penghambaan kepada sesama makhluk menuju penghambaan kepada Allah semata, dari kesempitan dunia menuju kelapangannya, dan dari kezaliman agama-agama menuju keadilan Islam.” (Kitabun ilal Islam min Jadid, hal. 63)Merdeka yang sejati dalam pandangan Islam adalah ketundukan total di bawah aturan Allah, bukan kebebasan tanpa batas untuk memperturutkan hawa nafsu. Mustahil sebuah negeri bisa tegak berdiri di atas pilar yang amanah jika rakyatnya masih menjadi budak syahwat, budak dunia, dan abai terhadap aturan Rabbnya.Maka, bagaimana langkah konkret kita untuk membangun negeri yang amanah ini dari bawah? Bukan dengan sekadar sibuk mencaci maki keadaan di media sosial, minimal kita hadirkan tiga langkah sederhana yang bisa kita usahakan:Pertama, jaga makan kita dari hal-hal yang haramMembangun negeri yang bersih tidak dimulai dari merombak kabinet di istana, melainkan dari apa yang kita sajikan di atas meja makan rumah kita sendiri. Kita kerap berteriak lantang mengutuk korupsi para pejabat di televisi, namun di saat yang sama, kita menyuapkan makanan ke mulut anak-istri kita dari hasil timbangan yang dikurangi, waktu kerja kantor yang dikorupsi, atau proyek-proyek syubhat yang kita manipulasi.Bagaimana mungkin kita mengharapkan lahirnya generasi pemimpin yang amanah, jika mereka kita beri makan dari darah dan daging yang tumbuh dari barang haram? Nabi ﷺ bersabda,كُلُّ لَحْمٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ“Setiap daging yang tumbuh dari harta yang haram, maka neraka lebih pantas baginya.” (HR. At-Tirmidzi no. 614, disahihkan oleh Al-Albani)Harta haram adalah penghalang utama terkabulnya doa sebuah bangsa. Ingatkah kita akan hadis tentang seorang lelaki yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut, tubuhnya berdebu, ia menengadahkan tangannya ke langit seraya berdoa, “Wahai Rabbku, wahai Rabbku!” Sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi makan dari yang haram. Nabi ﷺ menegaskan,فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ“Maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim no. 1015)Jika doa-doa kita untuk negeri ini tidak terijabah juga, jangan-jangan karena perut kita masih dikotori dengan harta yang tidak halal. Langkah nyata pertama adalah bertobat, memastikan setiap suap nasi yang masuk ke rumah kita adalah murni dari tetesan keringat yang halal. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6)Kedua, tanamkan nilai kejujuran dalam diri kitaKita sering mengeluhkan rusaknya sistem di negeri ini. Namun, sistem itu tidak berjalan sendiri; ia digerakkan oleh manusia. Menjaga negeri berarti berkomitmen menolak khianat dalam muamalah harian kita. Jangan sampai kita menjadi orang yang paling depan menuntut hak, namun menjadi orang yang paling lihai mengelak saat harus menunaikan kewajiban. Allah Ta’ala memberikan peringatan keras kepada mereka yang curang dalam transaksi,وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ ، الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ ، وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ“Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menimbang)! Yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi; dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi.” (QS. Al-Muthaffifin: 1-3)Amanah dalam bekerja adalah harga mati bagi seorang mukmin. Ketika kita menandatangani kontrak kerja, sepakat atas sebuah transaksi dagang, atau menerima suatu jabatan, di sana ada janji di hadapan Allah yang harus kita pertanggungjawabkan,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 27)Setiap kebohongan, manipulasi laporan, menyogok demi kelancaran urusan, atau mengambil hak orang lain adalah bentuk pengrusakan (fasad) yang dilarang keras oleh Allah,وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya…” (QS. Al-A’raf: 56)Rasulullah ﷺ bahkan mengeluarkan dari golongannya mereka yang mencari keuntungan dengan jalan menipu,مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا“Barangsiapa yang menipu kami, maka ia bukan golongan kami.” (HR. Muslim no. 102)Sebaliknya, jika kita bersikap amanah dan jujur dalam berdagang atau bekerja, Allah menjanjikan kedudukan yang luar biasa mulia di akhirat kelak,التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ“Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para Nabi, orang-orang yang jujur (shiddiqin), dan para syuhada.” (HR. At-Tirmidzi no. 1209, disahihkan oleh Al-Albani)Ketiga, hadirkan kepedulian kebaikan untuk sesama (amar makruf nahi munkar)Kerusakan terbesar sebuah bangsa sering kali bukan karena banyaknya orang jahat, melainkan karena diamnya orang-orang baik. Ketika kita melihat judi online merenggut masa depan anak muda di sekitar kita, ketika narkoba merusak tetangga kita, atau ketika pornografi bebas diakses di layar handphone anak-anak tanpa ada pengawasan, lalu kita memilih diam dengan dalih “yang penting keluarga saya aman”, maka saat itulah kita sedang berkontribusi meruntuhkan negeri ini.Jika sebuah kapal bocor dan kita membiarkan pelaku melubanginya demi ego “kebebasan”, maka seluruh isi kapal akan tenggelam bersama, termasuk kita yang hanya diam menonton. Allah Ta’ala memuji umat ini sebagai umat terbaik hanya jika kita mau peduli dan bergerak mencegah kemungkaran,كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 110)Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa napas utama tegaknya agama dan kehidupan sosial adalah ketulusan dalam saling menasihati,الدِّينُ النَّصِيحَةُ“Agama itu adalah nasihat (ketulusan).” (HR. Muslim no. 55)Jangan biarkan sikap acuh tak acuh mencabut keberkahan dari negeri kita. Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pernah memperingatkan umat ini tentang bahaya berdiam diri melihat kezaliman dan kemaksiatan di sekitar mereka. Beliau mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابِهِ“Sesungguhnya jika manusia melihat seorang pelaku kezaliman (atau kemaksiatan) namun mereka tidak mencegahnya dengan tangan mereka (tidak berusaha menghentikannya), hampir saja Allah akan meratakan azab-Nya kepada mereka semua.” (HR. Abu Dawud no. 4338 dan At-Tirmidzi no. 2168, disahihkan oleh Al-Albani)Jemaah yang dirahmati Allah, marilah kita berhenti menjadi manusia-manusia pasif. Kemerdekaan ini harus diisi dengan kerja nyata, bukan keluhan tak berujung. Mari bersihkan piring makan kita dari yang haram, tegakkan kejujuran di tempat kerja tanpa kompromi, dan peduli terhadap kemerosotan moral di sekeliling kita. Dari langkah kecil inilah, sebuah negeri yang amanah dan diberkahi akan benar-benar terwujud.أَقُولُ مَا سَمِعْتُمْ، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَخَطِيئَةٍ؛ فَاسْتَغْفِرُوهُ، وَتُوبُوا إِلَيْهِ؛ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُKhotbah keduaالْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَعَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًاوَقَالَ تَعَالَىإِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَإِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌاللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَإِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌاللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِاللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَاللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَاجْعَلْهُمْ رَحْمَةً عَلَى رَعَايَاهُمْ، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَخُذْ بِأَيْدِيهِمْ إِلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىاللَّهُمَّ اجْعَلْ بَلَدَنَا هٰذَا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، سَخَاءً رَخَاءً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَاللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخِيَانَةِ وَالْفَسَادِ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْأُمَنَاءِ الْمُخْلِصِينَاللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ النِّفَاقِ، وَأَعْمَالَنَا مِنَ الرِّيَاءِ، وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ، وَأَعْيُنَنَا مِنَ الْخِيَانَةِ، إِنَّكَ تَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِعِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَفَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَأَقِيمُوا الصَّلَاةَBaca juga: Makna Kemerdekaan bagi Seorang Muslim***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaPertama, jaga makan kita dari hal-hal yang haramKedua, tanamkan nilai kejujuran dalam diri kitaKetiga, hadirkan kepedulian kebaikan untuk sesama (amar makruf nahi munkar)Khotbah keduaKhotbah pertamaإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَوَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً، وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ، إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاوَقَالَ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًافَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ ﷺ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَاأَمَّا بَعْدُعِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ، وَهِيَ وَصِيَّةُ اللَّهِ لِلْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَKaum Muslimin, jemaah sidang Jumat rahimakumullah,Setiap kali bulan Agustus tiba, ingatan kolektif kita kembali ditarik pada lembaran sejarah perjuangan bangsa ini keluar dari cengkeraman penjajahan fisik. Di mana-mana merah putih berkibar, hiasan-hiasan dipasang di sepanjang jalan, dan sorak-sorai perlombaan terdengar di gang-gang kampung. Namun, di balik megahnya pesta tahunan ini, sudahkah kita meletakkan kemerdekaan ini pada timbangan syariat yang jujur? Ataukah perayaan kita justru diisi dengan kemaksiatan yang dibungkus dengan slogan nasionalisme?Panglima pasukan Islam, Rabi’ bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, pernah mendefinisikan hakikat kemerdekaan dengan sangat luar biasa di hadapan Rustam, jenderal tertinggi Persia,اللَّهُ ابْتَعَثَنَا لِيُخْرِجَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ إِلَى عِبَادَةِ اللَّهِ وَحْدَهُ، وَمِنْ ضِيقِ الدُّنْيَا إِلَى سَعَتِهَا، وَمِنْ جَوْرِ الْأَدْيَانِ إِلَى عَدْلِ الْإِسْلَامِ“Allah mengutus kami untuk memerdekakan siapa saja yang Dia kehendaki; dari penghambaan kepada sesama makhluk menuju penghambaan kepada Allah semata, dari kesempitan dunia menuju kelapangannya, dan dari kezaliman agama-agama menuju keadilan Islam.” (Kitabun ilal Islam min Jadid, hal. 63)Merdeka yang sejati dalam pandangan Islam adalah ketundukan total di bawah aturan Allah, bukan kebebasan tanpa batas untuk memperturutkan hawa nafsu. Mustahil sebuah negeri bisa tegak berdiri di atas pilar yang amanah jika rakyatnya masih menjadi budak syahwat, budak dunia, dan abai terhadap aturan Rabbnya.Maka, bagaimana langkah konkret kita untuk membangun negeri yang amanah ini dari bawah? Bukan dengan sekadar sibuk mencaci maki keadaan di media sosial, minimal kita hadirkan tiga langkah sederhana yang bisa kita usahakan:Pertama, jaga makan kita dari hal-hal yang haramMembangun negeri yang bersih tidak dimulai dari merombak kabinet di istana, melainkan dari apa yang kita sajikan di atas meja makan rumah kita sendiri. Kita kerap berteriak lantang mengutuk korupsi para pejabat di televisi, namun di saat yang sama, kita menyuapkan makanan ke mulut anak-istri kita dari hasil timbangan yang dikurangi, waktu kerja kantor yang dikorupsi, atau proyek-proyek syubhat yang kita manipulasi.Bagaimana mungkin kita mengharapkan lahirnya generasi pemimpin yang amanah, jika mereka kita beri makan dari darah dan daging yang tumbuh dari barang haram? Nabi ﷺ bersabda,كُلُّ لَحْمٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ“Setiap daging yang tumbuh dari harta yang haram, maka neraka lebih pantas baginya.” (HR. At-Tirmidzi no. 614, disahihkan oleh Al-Albani)Harta haram adalah penghalang utama terkabulnya doa sebuah bangsa. Ingatkah kita akan hadis tentang seorang lelaki yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut, tubuhnya berdebu, ia menengadahkan tangannya ke langit seraya berdoa, “Wahai Rabbku, wahai Rabbku!” Sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi makan dari yang haram. Nabi ﷺ menegaskan,فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ“Maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim no. 1015)Jika doa-doa kita untuk negeri ini tidak terijabah juga, jangan-jangan karena perut kita masih dikotori dengan harta yang tidak halal. Langkah nyata pertama adalah bertobat, memastikan setiap suap nasi yang masuk ke rumah kita adalah murni dari tetesan keringat yang halal. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6)Kedua, tanamkan nilai kejujuran dalam diri kitaKita sering mengeluhkan rusaknya sistem di negeri ini. Namun, sistem itu tidak berjalan sendiri; ia digerakkan oleh manusia. Menjaga negeri berarti berkomitmen menolak khianat dalam muamalah harian kita. Jangan sampai kita menjadi orang yang paling depan menuntut hak, namun menjadi orang yang paling lihai mengelak saat harus menunaikan kewajiban. Allah Ta’ala memberikan peringatan keras kepada mereka yang curang dalam transaksi,وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ ، الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ ، وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ“Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menimbang)! Yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi; dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi.” (QS. Al-Muthaffifin: 1-3)Amanah dalam bekerja adalah harga mati bagi seorang mukmin. Ketika kita menandatangani kontrak kerja, sepakat atas sebuah transaksi dagang, atau menerima suatu jabatan, di sana ada janji di hadapan Allah yang harus kita pertanggungjawabkan,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 27)Setiap kebohongan, manipulasi laporan, menyogok demi kelancaran urusan, atau mengambil hak orang lain adalah bentuk pengrusakan (fasad) yang dilarang keras oleh Allah,وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya…” (QS. Al-A’raf: 56)Rasulullah ﷺ bahkan mengeluarkan dari golongannya mereka yang mencari keuntungan dengan jalan menipu,مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا“Barangsiapa yang menipu kami, maka ia bukan golongan kami.” (HR. Muslim no. 102)Sebaliknya, jika kita bersikap amanah dan jujur dalam berdagang atau bekerja, Allah menjanjikan kedudukan yang luar biasa mulia di akhirat kelak,التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ“Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para Nabi, orang-orang yang jujur (shiddiqin), dan para syuhada.” (HR. At-Tirmidzi no. 1209, disahihkan oleh Al-Albani)Ketiga, hadirkan kepedulian kebaikan untuk sesama (amar makruf nahi munkar)Kerusakan terbesar sebuah bangsa sering kali bukan karena banyaknya orang jahat, melainkan karena diamnya orang-orang baik. Ketika kita melihat judi online merenggut masa depan anak muda di sekitar kita, ketika narkoba merusak tetangga kita, atau ketika pornografi bebas diakses di layar handphone anak-anak tanpa ada pengawasan, lalu kita memilih diam dengan dalih “yang penting keluarga saya aman”, maka saat itulah kita sedang berkontribusi meruntuhkan negeri ini.Jika sebuah kapal bocor dan kita membiarkan pelaku melubanginya demi ego “kebebasan”, maka seluruh isi kapal akan tenggelam bersama, termasuk kita yang hanya diam menonton. Allah Ta’ala memuji umat ini sebagai umat terbaik hanya jika kita mau peduli dan bergerak mencegah kemungkaran,كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 110)Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa napas utama tegaknya agama dan kehidupan sosial adalah ketulusan dalam saling menasihati,الدِّينُ النَّصِيحَةُ“Agama itu adalah nasihat (ketulusan).” (HR. Muslim no. 55)Jangan biarkan sikap acuh tak acuh mencabut keberkahan dari negeri kita. Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pernah memperingatkan umat ini tentang bahaya berdiam diri melihat kezaliman dan kemaksiatan di sekitar mereka. Beliau mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابِهِ“Sesungguhnya jika manusia melihat seorang pelaku kezaliman (atau kemaksiatan) namun mereka tidak mencegahnya dengan tangan mereka (tidak berusaha menghentikannya), hampir saja Allah akan meratakan azab-Nya kepada mereka semua.” (HR. Abu Dawud no. 4338 dan At-Tirmidzi no. 2168, disahihkan oleh Al-Albani)Jemaah yang dirahmati Allah, marilah kita berhenti menjadi manusia-manusia pasif. Kemerdekaan ini harus diisi dengan kerja nyata, bukan keluhan tak berujung. Mari bersihkan piring makan kita dari yang haram, tegakkan kejujuran di tempat kerja tanpa kompromi, dan peduli terhadap kemerosotan moral di sekeliling kita. Dari langkah kecil inilah, sebuah negeri yang amanah dan diberkahi akan benar-benar terwujud.أَقُولُ مَا سَمِعْتُمْ، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَخَطِيئَةٍ؛ فَاسْتَغْفِرُوهُ، وَتُوبُوا إِلَيْهِ؛ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُKhotbah keduaالْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَعَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًاوَقَالَ تَعَالَىإِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَإِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌاللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَإِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌاللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِاللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَاللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَاجْعَلْهُمْ رَحْمَةً عَلَى رَعَايَاهُمْ، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَخُذْ بِأَيْدِيهِمْ إِلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىاللَّهُمَّ اجْعَلْ بَلَدَنَا هٰذَا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، سَخَاءً رَخَاءً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَاللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخِيَانَةِ وَالْفَسَادِ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْأُمَنَاءِ الْمُخْلِصِينَاللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ النِّفَاقِ، وَأَعْمَالَنَا مِنَ الرِّيَاءِ، وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ، وَأَعْيُنَنَا مِنَ الْخِيَانَةِ، إِنَّكَ تَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِعِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَفَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَأَقِيمُوا الصَّلَاةَBaca juga: Makna Kemerdekaan bagi Seorang Muslim***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id

Akhlak yang Membawamu Dekat dengan Nabi di Surga – Syaikh Abdussalam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Pembahasan mengenai akhlak mulia merupakan pembahasan yang sangat agung. Sungguh, pada hari Kiamat seseorang akan ditempatkan pada suatu kedudukan di surga. Kedudukan itu diraihnya bukan karena salat ataupun puasanya, bukan pula karena banyaknya Salat Malam yang ia kerjakan. Akan tetapi, ia meraih kedudukan di surga itu karena akhlaknya yang baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku menjamin sebuah istana di bagian tertinggi surga bagi orang yang baik akhlaknya.” (HR. Abu Dawud). Oleh karena itu, akhlak yang baik merupakan salah satu tujuan agung syariat. Akhlak yang baik merupakan sifat orang-orang beriman yang sempurna. Dengannya, Allah ‘Azza wa Jalla mengangkat siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Karena itulah, manusia yang paling sempurna akhlaknya adalah para nabi shalawatullah wa salamuhu ‘alaihim. Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam adalah manusia yang paling sempurna akhlaknya, pembawaan, dan cara hidupnya. Siapa yang hendak meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, setelah mengikuti berbagai hukum yang telah beliau jelaskan, hendaklah ia juga meneladani akhlak beliau. Para ulama hadis rahimahumullah dahulu menyusun kitab-kitab khusus yang membahas akhlak Nabi shalawatullah wa salamuhu ‘alaihi. Abu Asy-Syaikh Al-Ashbahani, misalnya, memiliki sebuah kitab yang telah dicetak berkali-kali. Kitab itu berjudul Akhlaq An-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada umumnya, para ulama yang menulis tentang Syamail Nabi menyusun sebagian besar babnya untuk membahas akhlak dan adab beliau shalawatullah wa salamuhu ‘alaihi. Karena itu, orang yang paling dekat kedudukannya dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling menyerupai beliau dalam akhlaknya. ===== عَنْ مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ حَدِيثٌ عَظِيمٌ جِدًّا فَإِنَّ الْمَرْءَ يُنْزَلُ الْمَنْزِلَةَ فِي الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا تَكُونُ مَنْزِلَتُهُ هَذِهِ بِسَبَبِ صَلَاتِهِ وَلَا بِسَبَبِ صِيَامِهِ وَلَا كَثْرَةِ قِيَامِهِ وَإِنَّمَا تَكُونُ مَنْزِلَتُهُ فِي الْجَنَّةِ بِحُسْنِ خُلُقِهِ وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ حُسْنَ الْخُلُقِ مَقْصِدٌ عَظِيمٌ مِنْ مَقَاصِدِ الشَّرِيعَةِ وَهِيَ صِفَةُ الْكُمَّلِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَهِيَ صِفَةٌ يَرْفَعُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادِهِ وَلِذَا كَانَ أَكْمَلُ النَّاسِ أَخْلَاقًا هُمُ الْأَنْبِيَاءُ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ نَبِيُّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ أَكْمَلَ النَّاسِ فِي أَخْلَاقِهِ وَفِي دَلِّهِ وَفِي هَدْيِهِ وَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَسْتَنَّ بِشَيْءٍ مِنْ أَمْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَمَا بَيَّنَهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فِي الْأَحْكَامِ فَلْيَسْتَنَّ بِأَخْلَاقِهِ وَكَانَ عُلَمَاءُ الْحَدِيثِ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى يُفْرِدُونَ كُتُبًا مُفْرَدَةً فِي أَخْلَاقِهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ فَأَبُو الشَّيْخِ الْأَصْبَهَانِيُّ لَهُ كِتَابٌ طُبِعَ أَكْثَرَ مِنْ مَرَّةٍ اسْمُهُ أَخْلَاقُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَامَّةُ مَنْ أَلَّفَ فِي الشَّمَائِلِ فَإِنَّ أَغْلَبَ الْأَبْوَابِ الْمَعْقُودَةِ هِيَ مَا يَتَعَلَّقُ بِأَخْلَاقِهِ وَأَدَبِهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَلِذَا فَإِنَّ أَقْرَبَ النَّاسِ مَنْزِلَةً مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ شَابَهَهُ فِي أَخْلَاقِهِ

Akhlak yang Membawamu Dekat dengan Nabi di Surga – Syaikh Abdussalam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Pembahasan mengenai akhlak mulia merupakan pembahasan yang sangat agung. Sungguh, pada hari Kiamat seseorang akan ditempatkan pada suatu kedudukan di surga. Kedudukan itu diraihnya bukan karena salat ataupun puasanya, bukan pula karena banyaknya Salat Malam yang ia kerjakan. Akan tetapi, ia meraih kedudukan di surga itu karena akhlaknya yang baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku menjamin sebuah istana di bagian tertinggi surga bagi orang yang baik akhlaknya.” (HR. Abu Dawud). Oleh karena itu, akhlak yang baik merupakan salah satu tujuan agung syariat. Akhlak yang baik merupakan sifat orang-orang beriman yang sempurna. Dengannya, Allah ‘Azza wa Jalla mengangkat siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Karena itulah, manusia yang paling sempurna akhlaknya adalah para nabi shalawatullah wa salamuhu ‘alaihim. Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam adalah manusia yang paling sempurna akhlaknya, pembawaan, dan cara hidupnya. Siapa yang hendak meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, setelah mengikuti berbagai hukum yang telah beliau jelaskan, hendaklah ia juga meneladani akhlak beliau. Para ulama hadis rahimahumullah dahulu menyusun kitab-kitab khusus yang membahas akhlak Nabi shalawatullah wa salamuhu ‘alaihi. Abu Asy-Syaikh Al-Ashbahani, misalnya, memiliki sebuah kitab yang telah dicetak berkali-kali. Kitab itu berjudul Akhlaq An-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada umumnya, para ulama yang menulis tentang Syamail Nabi menyusun sebagian besar babnya untuk membahas akhlak dan adab beliau shalawatullah wa salamuhu ‘alaihi. Karena itu, orang yang paling dekat kedudukannya dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling menyerupai beliau dalam akhlaknya. ===== عَنْ مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ حَدِيثٌ عَظِيمٌ جِدًّا فَإِنَّ الْمَرْءَ يُنْزَلُ الْمَنْزِلَةَ فِي الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا تَكُونُ مَنْزِلَتُهُ هَذِهِ بِسَبَبِ صَلَاتِهِ وَلَا بِسَبَبِ صِيَامِهِ وَلَا كَثْرَةِ قِيَامِهِ وَإِنَّمَا تَكُونُ مَنْزِلَتُهُ فِي الْجَنَّةِ بِحُسْنِ خُلُقِهِ وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ حُسْنَ الْخُلُقِ مَقْصِدٌ عَظِيمٌ مِنْ مَقَاصِدِ الشَّرِيعَةِ وَهِيَ صِفَةُ الْكُمَّلِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَهِيَ صِفَةٌ يَرْفَعُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادِهِ وَلِذَا كَانَ أَكْمَلُ النَّاسِ أَخْلَاقًا هُمُ الْأَنْبِيَاءُ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ نَبِيُّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ أَكْمَلَ النَّاسِ فِي أَخْلَاقِهِ وَفِي دَلِّهِ وَفِي هَدْيِهِ وَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَسْتَنَّ بِشَيْءٍ مِنْ أَمْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَمَا بَيَّنَهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فِي الْأَحْكَامِ فَلْيَسْتَنَّ بِأَخْلَاقِهِ وَكَانَ عُلَمَاءُ الْحَدِيثِ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى يُفْرِدُونَ كُتُبًا مُفْرَدَةً فِي أَخْلَاقِهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ فَأَبُو الشَّيْخِ الْأَصْبَهَانِيُّ لَهُ كِتَابٌ طُبِعَ أَكْثَرَ مِنْ مَرَّةٍ اسْمُهُ أَخْلَاقُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَامَّةُ مَنْ أَلَّفَ فِي الشَّمَائِلِ فَإِنَّ أَغْلَبَ الْأَبْوَابِ الْمَعْقُودَةِ هِيَ مَا يَتَعَلَّقُ بِأَخْلَاقِهِ وَأَدَبِهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَلِذَا فَإِنَّ أَقْرَبَ النَّاسِ مَنْزِلَةً مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ شَابَهَهُ فِي أَخْلَاقِهِ
Pembahasan mengenai akhlak mulia merupakan pembahasan yang sangat agung. Sungguh, pada hari Kiamat seseorang akan ditempatkan pada suatu kedudukan di surga. Kedudukan itu diraihnya bukan karena salat ataupun puasanya, bukan pula karena banyaknya Salat Malam yang ia kerjakan. Akan tetapi, ia meraih kedudukan di surga itu karena akhlaknya yang baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku menjamin sebuah istana di bagian tertinggi surga bagi orang yang baik akhlaknya.” (HR. Abu Dawud). Oleh karena itu, akhlak yang baik merupakan salah satu tujuan agung syariat. Akhlak yang baik merupakan sifat orang-orang beriman yang sempurna. Dengannya, Allah ‘Azza wa Jalla mengangkat siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Karena itulah, manusia yang paling sempurna akhlaknya adalah para nabi shalawatullah wa salamuhu ‘alaihim. Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam adalah manusia yang paling sempurna akhlaknya, pembawaan, dan cara hidupnya. Siapa yang hendak meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, setelah mengikuti berbagai hukum yang telah beliau jelaskan, hendaklah ia juga meneladani akhlak beliau. Para ulama hadis rahimahumullah dahulu menyusun kitab-kitab khusus yang membahas akhlak Nabi shalawatullah wa salamuhu ‘alaihi. Abu Asy-Syaikh Al-Ashbahani, misalnya, memiliki sebuah kitab yang telah dicetak berkali-kali. Kitab itu berjudul Akhlaq An-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada umumnya, para ulama yang menulis tentang Syamail Nabi menyusun sebagian besar babnya untuk membahas akhlak dan adab beliau shalawatullah wa salamuhu ‘alaihi. Karena itu, orang yang paling dekat kedudukannya dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling menyerupai beliau dalam akhlaknya. ===== عَنْ مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ حَدِيثٌ عَظِيمٌ جِدًّا فَإِنَّ الْمَرْءَ يُنْزَلُ الْمَنْزِلَةَ فِي الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا تَكُونُ مَنْزِلَتُهُ هَذِهِ بِسَبَبِ صَلَاتِهِ وَلَا بِسَبَبِ صِيَامِهِ وَلَا كَثْرَةِ قِيَامِهِ وَإِنَّمَا تَكُونُ مَنْزِلَتُهُ فِي الْجَنَّةِ بِحُسْنِ خُلُقِهِ وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ حُسْنَ الْخُلُقِ مَقْصِدٌ عَظِيمٌ مِنْ مَقَاصِدِ الشَّرِيعَةِ وَهِيَ صِفَةُ الْكُمَّلِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَهِيَ صِفَةٌ يَرْفَعُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادِهِ وَلِذَا كَانَ أَكْمَلُ النَّاسِ أَخْلَاقًا هُمُ الْأَنْبِيَاءُ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ نَبِيُّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ أَكْمَلَ النَّاسِ فِي أَخْلَاقِهِ وَفِي دَلِّهِ وَفِي هَدْيِهِ وَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَسْتَنَّ بِشَيْءٍ مِنْ أَمْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَمَا بَيَّنَهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فِي الْأَحْكَامِ فَلْيَسْتَنَّ بِأَخْلَاقِهِ وَكَانَ عُلَمَاءُ الْحَدِيثِ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى يُفْرِدُونَ كُتُبًا مُفْرَدَةً فِي أَخْلَاقِهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ فَأَبُو الشَّيْخِ الْأَصْبَهَانِيُّ لَهُ كِتَابٌ طُبِعَ أَكْثَرَ مِنْ مَرَّةٍ اسْمُهُ أَخْلَاقُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَامَّةُ مَنْ أَلَّفَ فِي الشَّمَائِلِ فَإِنَّ أَغْلَبَ الْأَبْوَابِ الْمَعْقُودَةِ هِيَ مَا يَتَعَلَّقُ بِأَخْلَاقِهِ وَأَدَبِهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَلِذَا فَإِنَّ أَقْرَبَ النَّاسِ مَنْزِلَةً مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ شَابَهَهُ فِي أَخْلَاقِهِ


Pembahasan mengenai akhlak mulia merupakan pembahasan yang sangat agung. Sungguh, pada hari Kiamat seseorang akan ditempatkan pada suatu kedudukan di surga. Kedudukan itu diraihnya bukan karena salat ataupun puasanya, bukan pula karena banyaknya Salat Malam yang ia kerjakan. Akan tetapi, ia meraih kedudukan di surga itu karena akhlaknya yang baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku menjamin sebuah istana di bagian tertinggi surga bagi orang yang baik akhlaknya.” (HR. Abu Dawud). Oleh karena itu, akhlak yang baik merupakan salah satu tujuan agung syariat. Akhlak yang baik merupakan sifat orang-orang beriman yang sempurna. Dengannya, Allah ‘Azza wa Jalla mengangkat siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Karena itulah, manusia yang paling sempurna akhlaknya adalah para nabi shalawatullah wa salamuhu ‘alaihim. Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam adalah manusia yang paling sempurna akhlaknya, pembawaan, dan cara hidupnya. Siapa yang hendak meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, setelah mengikuti berbagai hukum yang telah beliau jelaskan, hendaklah ia juga meneladani akhlak beliau. Para ulama hadis rahimahumullah dahulu menyusun kitab-kitab khusus yang membahas akhlak Nabi shalawatullah wa salamuhu ‘alaihi. Abu Asy-Syaikh Al-Ashbahani, misalnya, memiliki sebuah kitab yang telah dicetak berkali-kali. Kitab itu berjudul Akhlaq An-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada umumnya, para ulama yang menulis tentang Syamail Nabi menyusun sebagian besar babnya untuk membahas akhlak dan adab beliau shalawatullah wa salamuhu ‘alaihi. Karena itu, orang yang paling dekat kedudukannya dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling menyerupai beliau dalam akhlaknya. ===== عَنْ مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ حَدِيثٌ عَظِيمٌ جِدًّا فَإِنَّ الْمَرْءَ يُنْزَلُ الْمَنْزِلَةَ فِي الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا تَكُونُ مَنْزِلَتُهُ هَذِهِ بِسَبَبِ صَلَاتِهِ وَلَا بِسَبَبِ صِيَامِهِ وَلَا كَثْرَةِ قِيَامِهِ وَإِنَّمَا تَكُونُ مَنْزِلَتُهُ فِي الْجَنَّةِ بِحُسْنِ خُلُقِهِ وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ حُسْنَ الْخُلُقِ مَقْصِدٌ عَظِيمٌ مِنْ مَقَاصِدِ الشَّرِيعَةِ وَهِيَ صِفَةُ الْكُمَّلِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَهِيَ صِفَةٌ يَرْفَعُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادِهِ وَلِذَا كَانَ أَكْمَلُ النَّاسِ أَخْلَاقًا هُمُ الْأَنْبِيَاءُ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ نَبِيُّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ أَكْمَلَ النَّاسِ فِي أَخْلَاقِهِ وَفِي دَلِّهِ وَفِي هَدْيِهِ وَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَسْتَنَّ بِشَيْءٍ مِنْ أَمْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَمَا بَيَّنَهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فِي الْأَحْكَامِ فَلْيَسْتَنَّ بِأَخْلَاقِهِ وَكَانَ عُلَمَاءُ الْحَدِيثِ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى يُفْرِدُونَ كُتُبًا مُفْرَدَةً فِي أَخْلَاقِهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ فَأَبُو الشَّيْخِ الْأَصْبَهَانِيُّ لَهُ كِتَابٌ طُبِعَ أَكْثَرَ مِنْ مَرَّةٍ اسْمُهُ أَخْلَاقُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَامَّةُ مَنْ أَلَّفَ فِي الشَّمَائِلِ فَإِنَّ أَغْلَبَ الْأَبْوَابِ الْمَعْقُودَةِ هِيَ مَا يَتَعَلَّقُ بِأَخْلَاقِهِ وَأَدَبِهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَلِذَا فَإِنَّ أَقْرَبَ النَّاسِ مَنْزِلَةً مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ شَابَهَهُ فِي أَخْلَاقِهِ

Allah Memasukkan Manusia ke Surga dan Neraka dengan Keadilan-Nya (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleOrang bejat itu mustahil mendapatkan tempat orang taatManfaat meyakini Allah ﷻ tidak mungkin salah membalasPara salaf menekankan keyakinan ini dalam kehidupannyaTidak mungkin secara akal teoretis bagi Allah ﷻ melakukan kezalimanDalam tulisan sebelumnya, telah terjawab bahwa Allah ﷻ tidak akan menghukum orang yang taat luar biasa kepada-Nya di neraka dan orang yang mendurhakai-Nya diberi nikmat di surga. Bahkan bantahan tersebut datang dari Allah ﷻ secara langsung. Selanjutnya, kita perlu memahami hikmah dari mengetahui akidah yang benar tentang hal ini. Serta kita perlu mengulas konsekuensi dari keyakinan yang salah pada konsep ini dan bagaimana meresponnya.Orang bejat itu mustahil mendapatkan tempat orang taatAl-Hafiz Abu Ya’la mengatakan dengan sanad dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, menukilkan sabda dari Nabi ﷺ,كَمَا أَنَّهُ لَا يُجْتَنَى مِنَ الشَّوْكِ الْعِنَبُ، كَذَلِكَ لَا يَنَالُ الْفُجَّارُ مَنَازِلَ الْأَبْرَارِ“Sebagaimana buah anggur tidak dapat dipetik dari pohon yang berduri, demikian pula halnya orang-orang durhaka, mereka tidak akan memperoleh kedudukan orang-orang yang bertakwa’.” (Hadis ini dinukilkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dan dinilai gharib bila ditinjau dari segi jalurnya)Hadis ini dibawakan setelah Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu menjelaskan bahwa seorang yang menerima syariat tetapi tidak menjalankannya, niscaya dihukum juga. Beliau mengatakan,إِنَّ اللَّهَ بَنَى دِينَهُ عَلَى أَرْبَعَةِ أَرْكَانٍ، فَمَنْ صَبَرَ عَلَيْهِنَّ وَلَمْ يَعْمَلْ بِهِنَّ لَقِيَ اللَّهَ وَهُوَ مِنَ الْفَاسِقِينَ“Sungguh Allah membangun agama-Nya di atas empat pilar. Maka barangsiapa yang sabar menanggungnya tetapi tidak mengamalkannya, ia akan menghadap kepada Allah dalam keadaan sebagai orang yang fasik (durhaka).”Ketika ditanyakan, “Apa saja keempat pilar itu, wahai Abu Dzar?”Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Hendaklah seseorang itu melakukan empat perkara ini:1) Menerima apa yang dihalalkan oleh Allah karena Allah (يُسْلِمُ حَلَالَ اللَّهِ لِلَّهِ)2) Menolak apa yang diharamkan oleh Allah karena Allah (حَرَامَ اللَّهِ لِلَّهِ)3) Menerima perintah Allah karena Allah (أَمْرَ اللَّهِ لِلَّهِ)4) Menjauhi larangan Allah karena Allah (نَهْيَ اللَّهِ لله)Ia mempercayai dan melakukan keempat perkara itu hanya dari dan karena Allah ﷻ.Seseorang harus meyakini dan mengamalkan empat perkara tersebut secara komprehensif dengan tujuan tunduk kepada Allah ﷻ. Jika tidak demikian, maka ia pun akan dimasukkan ke dalam neraka dengan keadilan Allah ﷻ sebagai bentuk hukuman. Karena dikatakan sebagaimana hadis gharib di atas “anggur tak didapat dari pohon berduri, demikian pula ahli maksiat tak dapat menempati kedudukan orang bertakwa.”Perkataan ini disebutkan pula oleh Ibnu lshaq dalam kitab Sirah-nya, yang ditemukan pada sebuah prasasti di pondasi Kakbah. Kalimatnya kurang lebih,تَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ وَتَرْجُونَ الْحَسَنَاتِ؟ أَجَلْ كَمَا يُجْتَنَى مِنَ الشَّوْكِ الْعِنَبُ“Kamu berbuat keburukan dan kamu harapkan kebaikan, perihalnya sama dengan orang yang memetik buah anggur dari pohon yang berduri.”Manfaat meyakini Allah ﷻ tidak mungkin salah membalasHikmah bagi orang yang benar dalam meyakini perbuatan Allah ﷻ ini menjadikan kita bersemangat dalam beramal. Kita meyakini dengan pasti bahwa Allah ﷻ tidak mungkin zalim secara zat maupun perbuatan atas segala apa yang kita lakukan. Demikian pula ketika ada orang yang berbuat zalim tetapi mendapatkan nikmat, kita tidak jadi iri dengan orang tersebut.Kita temukan keadaan di mana orang yang zalim mendapatkan kedudukan setara orang baik di mata manusia. Sebaliknya, orang ahli taat justru ditempatkan manusia sebagai orang yang terhina. Kondisi yang lebih riil kita lihat adalah tertindasnya kaum muslimin di seluruh dunia serta kejayaan orang kafir di zaman ini. Tentu di hati kita ini sangatlah amat perih. Namun, ketika seseorang memiliki keyakinan bahwa Allah ﷻ tidak mungkin salah dalam menempatkan kedudukan manusia, niscaya rasa pahit itu dapat luntur.Keyakinan ini oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dijadikan poin-poin keyakinan yang memisahkan antara orang yang benar akidahnya dan salah dalam meyakini deskripsi Allah ﷻ. Artinya, keyakinan ini menjadi suatu hal yang asasi dan banyak implikasinya. Bisa saja seseorang yang meyakini konsep ini dengan salah akan kehilangan motivasi beramal. Padahal, roda kehidupan agama itu senantiasa diliputi oleh amal.Para salaf menekankan keyakinan ini dalam kehidupannyaPara salaf kita, seperti Tamim Ad-Dari, sebagaimana disebutkan oleh Imam Thabarani, beliau salat di suatu malam hingga pagi seraya mengulang-ngulang bacaan ayat QS. Al-Jatsiyah: 21.أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ“Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mereka?” (QS. Al-Jatsiyah: 21)Salah satu hikmah dari ayat ini yang terefleksikan dari perbuatan Tamim Ad-Dari adalah kita hendaknya sadar bahwa perbuatan Allah ﷻ mengandung keadilan sempurna. Tak mungkin salat kita disia-siakan oleh-Nya, jika sudah memenuhi syarat-Nya. Sehingga ketika beramal, seseorang dapat tenang dengan kepastian janji itu.Tidak mungkin secara akal teoretis bagi Allah ﷻ melakukan kezalimanSebagian orang meyakini secara akal teoretis bahwa Allah ﷻ berhak melakukan hal yang kita bahas di atas. Namun, yang tepat tidaklah demikian. Bahkan menggunakan istilah “boleh”, “bisa”, “berhak” dalam kajian tentang perbuatan Allah ﷻ sangat tidak pas dan sebaiknya dihindari seorang muslim. Kita gunakan saja istilah dan pengabaran dari Allah ﷻ dalam firman-Nya yang jelas menetapkan sifat hikmah Allah ﷻ dan kemustahilan perbuatan tersebut. Allah ﷻ berfirman,أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ (35) مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ (36‏‏‏‏‏)“Apakah patut Kami memperlakukan orang-orang Islam itu seperti orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimana kamu mengambil keputusan?” (QS. Al-Qalam: 35-36)Maksudnya, mengapa ada orang yang bisa berprasangka demikian? Bahkan Allah ﷻ menekankan lebih kuat lagi tentang dasar keyakinan itu dalam lanjutan firman-Nya,أَمْ لَكُمْ كِتَابٌ فِيهِ تَدْرُسُونَ (37) إِنَّ لَكُمْ فِيهِ لَمَا تَخَيَّرُونَ (38)“Apakah bagi kalian terdapat kitab yang kalian pelajari? Bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu?” (QS. Al-Qalam: 37-38)Pertanyaan untuk membantah dugaan buruk tersebut terus Allah ﷻ berikan setelahnya. Artinya, secara argumentatif, tidak ada celah bagi seseorang untuk menetapkan bahwa Allah ﷻ bisa saja mengekalkan wali-Nya di neraka dan sebaliknya (memasukkan orang kafir ke surga). Bahkan meskipun dinarasikan ini hanya sekadar kajian teoretis akal.Konsekuensi dari keyakinan yang salah ini sangat berbahaya, semisal:1) Memungkinkan Nabi ﷺ tidak dimasukkan ke dalam surga;2) Meniadakan sifat hikmah bagi Allah ﷻ.Meskipun demikian, seorang muslim tidak boleh memastikan siapapun secara personal masuk surga atau neraka. Para ulama hanya membolehkan kita menetapkan bahwa muslim pasti masuk surga dan kafir pasti masuk neraka. Adapun masing-masing orangnya, tidaklah diketahui. Ketetapan ini adalah urusan gaib di akhirat nanti, adapun urusan ketetapan di dunia, kita tidak dibebankan melainkan yang zahir terlihat. Ketika seorang muslim wafat, maka diurus dengan cara Islam, begitupula sebaliknya.Semoga jawaban para ulama yang diambil dari firman Allah ﷻ ini dapat mencegah masuknya keyakinan-keyakinan yang salah seputar hikmah dan keadilan Allah ﷻ.سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَMaha Suci Tuhanmu, Yang Mempunyai Keperkasaan dari apa yang mereka sifatkan.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id

Allah Memasukkan Manusia ke Surga dan Neraka dengan Keadilan-Nya (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleOrang bejat itu mustahil mendapatkan tempat orang taatManfaat meyakini Allah ﷻ tidak mungkin salah membalasPara salaf menekankan keyakinan ini dalam kehidupannyaTidak mungkin secara akal teoretis bagi Allah ﷻ melakukan kezalimanDalam tulisan sebelumnya, telah terjawab bahwa Allah ﷻ tidak akan menghukum orang yang taat luar biasa kepada-Nya di neraka dan orang yang mendurhakai-Nya diberi nikmat di surga. Bahkan bantahan tersebut datang dari Allah ﷻ secara langsung. Selanjutnya, kita perlu memahami hikmah dari mengetahui akidah yang benar tentang hal ini. Serta kita perlu mengulas konsekuensi dari keyakinan yang salah pada konsep ini dan bagaimana meresponnya.Orang bejat itu mustahil mendapatkan tempat orang taatAl-Hafiz Abu Ya’la mengatakan dengan sanad dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, menukilkan sabda dari Nabi ﷺ,كَمَا أَنَّهُ لَا يُجْتَنَى مِنَ الشَّوْكِ الْعِنَبُ، كَذَلِكَ لَا يَنَالُ الْفُجَّارُ مَنَازِلَ الْأَبْرَارِ“Sebagaimana buah anggur tidak dapat dipetik dari pohon yang berduri, demikian pula halnya orang-orang durhaka, mereka tidak akan memperoleh kedudukan orang-orang yang bertakwa’.” (Hadis ini dinukilkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dan dinilai gharib bila ditinjau dari segi jalurnya)Hadis ini dibawakan setelah Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu menjelaskan bahwa seorang yang menerima syariat tetapi tidak menjalankannya, niscaya dihukum juga. Beliau mengatakan,إِنَّ اللَّهَ بَنَى دِينَهُ عَلَى أَرْبَعَةِ أَرْكَانٍ، فَمَنْ صَبَرَ عَلَيْهِنَّ وَلَمْ يَعْمَلْ بِهِنَّ لَقِيَ اللَّهَ وَهُوَ مِنَ الْفَاسِقِينَ“Sungguh Allah membangun agama-Nya di atas empat pilar. Maka barangsiapa yang sabar menanggungnya tetapi tidak mengamalkannya, ia akan menghadap kepada Allah dalam keadaan sebagai orang yang fasik (durhaka).”Ketika ditanyakan, “Apa saja keempat pilar itu, wahai Abu Dzar?”Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Hendaklah seseorang itu melakukan empat perkara ini:1) Menerima apa yang dihalalkan oleh Allah karena Allah (يُسْلِمُ حَلَالَ اللَّهِ لِلَّهِ)2) Menolak apa yang diharamkan oleh Allah karena Allah (حَرَامَ اللَّهِ لِلَّهِ)3) Menerima perintah Allah karena Allah (أَمْرَ اللَّهِ لِلَّهِ)4) Menjauhi larangan Allah karena Allah (نَهْيَ اللَّهِ لله)Ia mempercayai dan melakukan keempat perkara itu hanya dari dan karena Allah ﷻ.Seseorang harus meyakini dan mengamalkan empat perkara tersebut secara komprehensif dengan tujuan tunduk kepada Allah ﷻ. Jika tidak demikian, maka ia pun akan dimasukkan ke dalam neraka dengan keadilan Allah ﷻ sebagai bentuk hukuman. Karena dikatakan sebagaimana hadis gharib di atas “anggur tak didapat dari pohon berduri, demikian pula ahli maksiat tak dapat menempati kedudukan orang bertakwa.”Perkataan ini disebutkan pula oleh Ibnu lshaq dalam kitab Sirah-nya, yang ditemukan pada sebuah prasasti di pondasi Kakbah. Kalimatnya kurang lebih,تَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ وَتَرْجُونَ الْحَسَنَاتِ؟ أَجَلْ كَمَا يُجْتَنَى مِنَ الشَّوْكِ الْعِنَبُ“Kamu berbuat keburukan dan kamu harapkan kebaikan, perihalnya sama dengan orang yang memetik buah anggur dari pohon yang berduri.”Manfaat meyakini Allah ﷻ tidak mungkin salah membalasHikmah bagi orang yang benar dalam meyakini perbuatan Allah ﷻ ini menjadikan kita bersemangat dalam beramal. Kita meyakini dengan pasti bahwa Allah ﷻ tidak mungkin zalim secara zat maupun perbuatan atas segala apa yang kita lakukan. Demikian pula ketika ada orang yang berbuat zalim tetapi mendapatkan nikmat, kita tidak jadi iri dengan orang tersebut.Kita temukan keadaan di mana orang yang zalim mendapatkan kedudukan setara orang baik di mata manusia. Sebaliknya, orang ahli taat justru ditempatkan manusia sebagai orang yang terhina. Kondisi yang lebih riil kita lihat adalah tertindasnya kaum muslimin di seluruh dunia serta kejayaan orang kafir di zaman ini. Tentu di hati kita ini sangatlah amat perih. Namun, ketika seseorang memiliki keyakinan bahwa Allah ﷻ tidak mungkin salah dalam menempatkan kedudukan manusia, niscaya rasa pahit itu dapat luntur.Keyakinan ini oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dijadikan poin-poin keyakinan yang memisahkan antara orang yang benar akidahnya dan salah dalam meyakini deskripsi Allah ﷻ. Artinya, keyakinan ini menjadi suatu hal yang asasi dan banyak implikasinya. Bisa saja seseorang yang meyakini konsep ini dengan salah akan kehilangan motivasi beramal. Padahal, roda kehidupan agama itu senantiasa diliputi oleh amal.Para salaf menekankan keyakinan ini dalam kehidupannyaPara salaf kita, seperti Tamim Ad-Dari, sebagaimana disebutkan oleh Imam Thabarani, beliau salat di suatu malam hingga pagi seraya mengulang-ngulang bacaan ayat QS. Al-Jatsiyah: 21.أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ“Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mereka?” (QS. Al-Jatsiyah: 21)Salah satu hikmah dari ayat ini yang terefleksikan dari perbuatan Tamim Ad-Dari adalah kita hendaknya sadar bahwa perbuatan Allah ﷻ mengandung keadilan sempurna. Tak mungkin salat kita disia-siakan oleh-Nya, jika sudah memenuhi syarat-Nya. Sehingga ketika beramal, seseorang dapat tenang dengan kepastian janji itu.Tidak mungkin secara akal teoretis bagi Allah ﷻ melakukan kezalimanSebagian orang meyakini secara akal teoretis bahwa Allah ﷻ berhak melakukan hal yang kita bahas di atas. Namun, yang tepat tidaklah demikian. Bahkan menggunakan istilah “boleh”, “bisa”, “berhak” dalam kajian tentang perbuatan Allah ﷻ sangat tidak pas dan sebaiknya dihindari seorang muslim. Kita gunakan saja istilah dan pengabaran dari Allah ﷻ dalam firman-Nya yang jelas menetapkan sifat hikmah Allah ﷻ dan kemustahilan perbuatan tersebut. Allah ﷻ berfirman,أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ (35) مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ (36‏‏‏‏‏)“Apakah patut Kami memperlakukan orang-orang Islam itu seperti orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimana kamu mengambil keputusan?” (QS. Al-Qalam: 35-36)Maksudnya, mengapa ada orang yang bisa berprasangka demikian? Bahkan Allah ﷻ menekankan lebih kuat lagi tentang dasar keyakinan itu dalam lanjutan firman-Nya,أَمْ لَكُمْ كِتَابٌ فِيهِ تَدْرُسُونَ (37) إِنَّ لَكُمْ فِيهِ لَمَا تَخَيَّرُونَ (38)“Apakah bagi kalian terdapat kitab yang kalian pelajari? Bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu?” (QS. Al-Qalam: 37-38)Pertanyaan untuk membantah dugaan buruk tersebut terus Allah ﷻ berikan setelahnya. Artinya, secara argumentatif, tidak ada celah bagi seseorang untuk menetapkan bahwa Allah ﷻ bisa saja mengekalkan wali-Nya di neraka dan sebaliknya (memasukkan orang kafir ke surga). Bahkan meskipun dinarasikan ini hanya sekadar kajian teoretis akal.Konsekuensi dari keyakinan yang salah ini sangat berbahaya, semisal:1) Memungkinkan Nabi ﷺ tidak dimasukkan ke dalam surga;2) Meniadakan sifat hikmah bagi Allah ﷻ.Meskipun demikian, seorang muslim tidak boleh memastikan siapapun secara personal masuk surga atau neraka. Para ulama hanya membolehkan kita menetapkan bahwa muslim pasti masuk surga dan kafir pasti masuk neraka. Adapun masing-masing orangnya, tidaklah diketahui. Ketetapan ini adalah urusan gaib di akhirat nanti, adapun urusan ketetapan di dunia, kita tidak dibebankan melainkan yang zahir terlihat. Ketika seorang muslim wafat, maka diurus dengan cara Islam, begitupula sebaliknya.Semoga jawaban para ulama yang diambil dari firman Allah ﷻ ini dapat mencegah masuknya keyakinan-keyakinan yang salah seputar hikmah dan keadilan Allah ﷻ.سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَMaha Suci Tuhanmu, Yang Mempunyai Keperkasaan dari apa yang mereka sifatkan.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleOrang bejat itu mustahil mendapatkan tempat orang taatManfaat meyakini Allah ﷻ tidak mungkin salah membalasPara salaf menekankan keyakinan ini dalam kehidupannyaTidak mungkin secara akal teoretis bagi Allah ﷻ melakukan kezalimanDalam tulisan sebelumnya, telah terjawab bahwa Allah ﷻ tidak akan menghukum orang yang taat luar biasa kepada-Nya di neraka dan orang yang mendurhakai-Nya diberi nikmat di surga. Bahkan bantahan tersebut datang dari Allah ﷻ secara langsung. Selanjutnya, kita perlu memahami hikmah dari mengetahui akidah yang benar tentang hal ini. Serta kita perlu mengulas konsekuensi dari keyakinan yang salah pada konsep ini dan bagaimana meresponnya.Orang bejat itu mustahil mendapatkan tempat orang taatAl-Hafiz Abu Ya’la mengatakan dengan sanad dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, menukilkan sabda dari Nabi ﷺ,كَمَا أَنَّهُ لَا يُجْتَنَى مِنَ الشَّوْكِ الْعِنَبُ، كَذَلِكَ لَا يَنَالُ الْفُجَّارُ مَنَازِلَ الْأَبْرَارِ“Sebagaimana buah anggur tidak dapat dipetik dari pohon yang berduri, demikian pula halnya orang-orang durhaka, mereka tidak akan memperoleh kedudukan orang-orang yang bertakwa’.” (Hadis ini dinukilkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dan dinilai gharib bila ditinjau dari segi jalurnya)Hadis ini dibawakan setelah Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu menjelaskan bahwa seorang yang menerima syariat tetapi tidak menjalankannya, niscaya dihukum juga. Beliau mengatakan,إِنَّ اللَّهَ بَنَى دِينَهُ عَلَى أَرْبَعَةِ أَرْكَانٍ، فَمَنْ صَبَرَ عَلَيْهِنَّ وَلَمْ يَعْمَلْ بِهِنَّ لَقِيَ اللَّهَ وَهُوَ مِنَ الْفَاسِقِينَ“Sungguh Allah membangun agama-Nya di atas empat pilar. Maka barangsiapa yang sabar menanggungnya tetapi tidak mengamalkannya, ia akan menghadap kepada Allah dalam keadaan sebagai orang yang fasik (durhaka).”Ketika ditanyakan, “Apa saja keempat pilar itu, wahai Abu Dzar?”Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Hendaklah seseorang itu melakukan empat perkara ini:1) Menerima apa yang dihalalkan oleh Allah karena Allah (يُسْلِمُ حَلَالَ اللَّهِ لِلَّهِ)2) Menolak apa yang diharamkan oleh Allah karena Allah (حَرَامَ اللَّهِ لِلَّهِ)3) Menerima perintah Allah karena Allah (أَمْرَ اللَّهِ لِلَّهِ)4) Menjauhi larangan Allah karena Allah (نَهْيَ اللَّهِ لله)Ia mempercayai dan melakukan keempat perkara itu hanya dari dan karena Allah ﷻ.Seseorang harus meyakini dan mengamalkan empat perkara tersebut secara komprehensif dengan tujuan tunduk kepada Allah ﷻ. Jika tidak demikian, maka ia pun akan dimasukkan ke dalam neraka dengan keadilan Allah ﷻ sebagai bentuk hukuman. Karena dikatakan sebagaimana hadis gharib di atas “anggur tak didapat dari pohon berduri, demikian pula ahli maksiat tak dapat menempati kedudukan orang bertakwa.”Perkataan ini disebutkan pula oleh Ibnu lshaq dalam kitab Sirah-nya, yang ditemukan pada sebuah prasasti di pondasi Kakbah. Kalimatnya kurang lebih,تَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ وَتَرْجُونَ الْحَسَنَاتِ؟ أَجَلْ كَمَا يُجْتَنَى مِنَ الشَّوْكِ الْعِنَبُ“Kamu berbuat keburukan dan kamu harapkan kebaikan, perihalnya sama dengan orang yang memetik buah anggur dari pohon yang berduri.”Manfaat meyakini Allah ﷻ tidak mungkin salah membalasHikmah bagi orang yang benar dalam meyakini perbuatan Allah ﷻ ini menjadikan kita bersemangat dalam beramal. Kita meyakini dengan pasti bahwa Allah ﷻ tidak mungkin zalim secara zat maupun perbuatan atas segala apa yang kita lakukan. Demikian pula ketika ada orang yang berbuat zalim tetapi mendapatkan nikmat, kita tidak jadi iri dengan orang tersebut.Kita temukan keadaan di mana orang yang zalim mendapatkan kedudukan setara orang baik di mata manusia. Sebaliknya, orang ahli taat justru ditempatkan manusia sebagai orang yang terhina. Kondisi yang lebih riil kita lihat adalah tertindasnya kaum muslimin di seluruh dunia serta kejayaan orang kafir di zaman ini. Tentu di hati kita ini sangatlah amat perih. Namun, ketika seseorang memiliki keyakinan bahwa Allah ﷻ tidak mungkin salah dalam menempatkan kedudukan manusia, niscaya rasa pahit itu dapat luntur.Keyakinan ini oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dijadikan poin-poin keyakinan yang memisahkan antara orang yang benar akidahnya dan salah dalam meyakini deskripsi Allah ﷻ. Artinya, keyakinan ini menjadi suatu hal yang asasi dan banyak implikasinya. Bisa saja seseorang yang meyakini konsep ini dengan salah akan kehilangan motivasi beramal. Padahal, roda kehidupan agama itu senantiasa diliputi oleh amal.Para salaf menekankan keyakinan ini dalam kehidupannyaPara salaf kita, seperti Tamim Ad-Dari, sebagaimana disebutkan oleh Imam Thabarani, beliau salat di suatu malam hingga pagi seraya mengulang-ngulang bacaan ayat QS. Al-Jatsiyah: 21.أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ“Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mereka?” (QS. Al-Jatsiyah: 21)Salah satu hikmah dari ayat ini yang terefleksikan dari perbuatan Tamim Ad-Dari adalah kita hendaknya sadar bahwa perbuatan Allah ﷻ mengandung keadilan sempurna. Tak mungkin salat kita disia-siakan oleh-Nya, jika sudah memenuhi syarat-Nya. Sehingga ketika beramal, seseorang dapat tenang dengan kepastian janji itu.Tidak mungkin secara akal teoretis bagi Allah ﷻ melakukan kezalimanSebagian orang meyakini secara akal teoretis bahwa Allah ﷻ berhak melakukan hal yang kita bahas di atas. Namun, yang tepat tidaklah demikian. Bahkan menggunakan istilah “boleh”, “bisa”, “berhak” dalam kajian tentang perbuatan Allah ﷻ sangat tidak pas dan sebaiknya dihindari seorang muslim. Kita gunakan saja istilah dan pengabaran dari Allah ﷻ dalam firman-Nya yang jelas menetapkan sifat hikmah Allah ﷻ dan kemustahilan perbuatan tersebut. Allah ﷻ berfirman,أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ (35) مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ (36‏‏‏‏‏)“Apakah patut Kami memperlakukan orang-orang Islam itu seperti orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimana kamu mengambil keputusan?” (QS. Al-Qalam: 35-36)Maksudnya, mengapa ada orang yang bisa berprasangka demikian? Bahkan Allah ﷻ menekankan lebih kuat lagi tentang dasar keyakinan itu dalam lanjutan firman-Nya,أَمْ لَكُمْ كِتَابٌ فِيهِ تَدْرُسُونَ (37) إِنَّ لَكُمْ فِيهِ لَمَا تَخَيَّرُونَ (38)“Apakah bagi kalian terdapat kitab yang kalian pelajari? Bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu?” (QS. Al-Qalam: 37-38)Pertanyaan untuk membantah dugaan buruk tersebut terus Allah ﷻ berikan setelahnya. Artinya, secara argumentatif, tidak ada celah bagi seseorang untuk menetapkan bahwa Allah ﷻ bisa saja mengekalkan wali-Nya di neraka dan sebaliknya (memasukkan orang kafir ke surga). Bahkan meskipun dinarasikan ini hanya sekadar kajian teoretis akal.Konsekuensi dari keyakinan yang salah ini sangat berbahaya, semisal:1) Memungkinkan Nabi ﷺ tidak dimasukkan ke dalam surga;2) Meniadakan sifat hikmah bagi Allah ﷻ.Meskipun demikian, seorang muslim tidak boleh memastikan siapapun secara personal masuk surga atau neraka. Para ulama hanya membolehkan kita menetapkan bahwa muslim pasti masuk surga dan kafir pasti masuk neraka. Adapun masing-masing orangnya, tidaklah diketahui. Ketetapan ini adalah urusan gaib di akhirat nanti, adapun urusan ketetapan di dunia, kita tidak dibebankan melainkan yang zahir terlihat. Ketika seorang muslim wafat, maka diurus dengan cara Islam, begitupula sebaliknya.Semoga jawaban para ulama yang diambil dari firman Allah ﷻ ini dapat mencegah masuknya keyakinan-keyakinan yang salah seputar hikmah dan keadilan Allah ﷻ.سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَMaha Suci Tuhanmu, Yang Mempunyai Keperkasaan dari apa yang mereka sifatkan.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleOrang bejat itu mustahil mendapatkan tempat orang taatManfaat meyakini Allah ﷻ tidak mungkin salah membalasPara salaf menekankan keyakinan ini dalam kehidupannyaTidak mungkin secara akal teoretis bagi Allah ﷻ melakukan kezalimanDalam tulisan sebelumnya, telah terjawab bahwa Allah ﷻ tidak akan menghukum orang yang taat luar biasa kepada-Nya di neraka dan orang yang mendurhakai-Nya diberi nikmat di surga. Bahkan bantahan tersebut datang dari Allah ﷻ secara langsung. Selanjutnya, kita perlu memahami hikmah dari mengetahui akidah yang benar tentang hal ini. Serta kita perlu mengulas konsekuensi dari keyakinan yang salah pada konsep ini dan bagaimana meresponnya.Orang bejat itu mustahil mendapatkan tempat orang taatAl-Hafiz Abu Ya’la mengatakan dengan sanad dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, menukilkan sabda dari Nabi ﷺ,كَمَا أَنَّهُ لَا يُجْتَنَى مِنَ الشَّوْكِ الْعِنَبُ، كَذَلِكَ لَا يَنَالُ الْفُجَّارُ مَنَازِلَ الْأَبْرَارِ“Sebagaimana buah anggur tidak dapat dipetik dari pohon yang berduri, demikian pula halnya orang-orang durhaka, mereka tidak akan memperoleh kedudukan orang-orang yang bertakwa’.” (Hadis ini dinukilkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dan dinilai gharib bila ditinjau dari segi jalurnya)Hadis ini dibawakan setelah Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu menjelaskan bahwa seorang yang menerima syariat tetapi tidak menjalankannya, niscaya dihukum juga. Beliau mengatakan,إِنَّ اللَّهَ بَنَى دِينَهُ عَلَى أَرْبَعَةِ أَرْكَانٍ، فَمَنْ صَبَرَ عَلَيْهِنَّ وَلَمْ يَعْمَلْ بِهِنَّ لَقِيَ اللَّهَ وَهُوَ مِنَ الْفَاسِقِينَ“Sungguh Allah membangun agama-Nya di atas empat pilar. Maka barangsiapa yang sabar menanggungnya tetapi tidak mengamalkannya, ia akan menghadap kepada Allah dalam keadaan sebagai orang yang fasik (durhaka).”Ketika ditanyakan, “Apa saja keempat pilar itu, wahai Abu Dzar?”Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Hendaklah seseorang itu melakukan empat perkara ini:1) Menerima apa yang dihalalkan oleh Allah karena Allah (يُسْلِمُ حَلَالَ اللَّهِ لِلَّهِ)2) Menolak apa yang diharamkan oleh Allah karena Allah (حَرَامَ اللَّهِ لِلَّهِ)3) Menerima perintah Allah karena Allah (أَمْرَ اللَّهِ لِلَّهِ)4) Menjauhi larangan Allah karena Allah (نَهْيَ اللَّهِ لله)Ia mempercayai dan melakukan keempat perkara itu hanya dari dan karena Allah ﷻ.Seseorang harus meyakini dan mengamalkan empat perkara tersebut secara komprehensif dengan tujuan tunduk kepada Allah ﷻ. Jika tidak demikian, maka ia pun akan dimasukkan ke dalam neraka dengan keadilan Allah ﷻ sebagai bentuk hukuman. Karena dikatakan sebagaimana hadis gharib di atas “anggur tak didapat dari pohon berduri, demikian pula ahli maksiat tak dapat menempati kedudukan orang bertakwa.”Perkataan ini disebutkan pula oleh Ibnu lshaq dalam kitab Sirah-nya, yang ditemukan pada sebuah prasasti di pondasi Kakbah. Kalimatnya kurang lebih,تَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ وَتَرْجُونَ الْحَسَنَاتِ؟ أَجَلْ كَمَا يُجْتَنَى مِنَ الشَّوْكِ الْعِنَبُ“Kamu berbuat keburukan dan kamu harapkan kebaikan, perihalnya sama dengan orang yang memetik buah anggur dari pohon yang berduri.”Manfaat meyakini Allah ﷻ tidak mungkin salah membalasHikmah bagi orang yang benar dalam meyakini perbuatan Allah ﷻ ini menjadikan kita bersemangat dalam beramal. Kita meyakini dengan pasti bahwa Allah ﷻ tidak mungkin zalim secara zat maupun perbuatan atas segala apa yang kita lakukan. Demikian pula ketika ada orang yang berbuat zalim tetapi mendapatkan nikmat, kita tidak jadi iri dengan orang tersebut.Kita temukan keadaan di mana orang yang zalim mendapatkan kedudukan setara orang baik di mata manusia. Sebaliknya, orang ahli taat justru ditempatkan manusia sebagai orang yang terhina. Kondisi yang lebih riil kita lihat adalah tertindasnya kaum muslimin di seluruh dunia serta kejayaan orang kafir di zaman ini. Tentu di hati kita ini sangatlah amat perih. Namun, ketika seseorang memiliki keyakinan bahwa Allah ﷻ tidak mungkin salah dalam menempatkan kedudukan manusia, niscaya rasa pahit itu dapat luntur.Keyakinan ini oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dijadikan poin-poin keyakinan yang memisahkan antara orang yang benar akidahnya dan salah dalam meyakini deskripsi Allah ﷻ. Artinya, keyakinan ini menjadi suatu hal yang asasi dan banyak implikasinya. Bisa saja seseorang yang meyakini konsep ini dengan salah akan kehilangan motivasi beramal. Padahal, roda kehidupan agama itu senantiasa diliputi oleh amal.Para salaf menekankan keyakinan ini dalam kehidupannyaPara salaf kita, seperti Tamim Ad-Dari, sebagaimana disebutkan oleh Imam Thabarani, beliau salat di suatu malam hingga pagi seraya mengulang-ngulang bacaan ayat QS. Al-Jatsiyah: 21.أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ“Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mereka?” (QS. Al-Jatsiyah: 21)Salah satu hikmah dari ayat ini yang terefleksikan dari perbuatan Tamim Ad-Dari adalah kita hendaknya sadar bahwa perbuatan Allah ﷻ mengandung keadilan sempurna. Tak mungkin salat kita disia-siakan oleh-Nya, jika sudah memenuhi syarat-Nya. Sehingga ketika beramal, seseorang dapat tenang dengan kepastian janji itu.Tidak mungkin secara akal teoretis bagi Allah ﷻ melakukan kezalimanSebagian orang meyakini secara akal teoretis bahwa Allah ﷻ berhak melakukan hal yang kita bahas di atas. Namun, yang tepat tidaklah demikian. Bahkan menggunakan istilah “boleh”, “bisa”, “berhak” dalam kajian tentang perbuatan Allah ﷻ sangat tidak pas dan sebaiknya dihindari seorang muslim. Kita gunakan saja istilah dan pengabaran dari Allah ﷻ dalam firman-Nya yang jelas menetapkan sifat hikmah Allah ﷻ dan kemustahilan perbuatan tersebut. Allah ﷻ berfirman,أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ (35) مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ (36‏‏‏‏‏)“Apakah patut Kami memperlakukan orang-orang Islam itu seperti orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimana kamu mengambil keputusan?” (QS. Al-Qalam: 35-36)Maksudnya, mengapa ada orang yang bisa berprasangka demikian? Bahkan Allah ﷻ menekankan lebih kuat lagi tentang dasar keyakinan itu dalam lanjutan firman-Nya,أَمْ لَكُمْ كِتَابٌ فِيهِ تَدْرُسُونَ (37) إِنَّ لَكُمْ فِيهِ لَمَا تَخَيَّرُونَ (38)“Apakah bagi kalian terdapat kitab yang kalian pelajari? Bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu?” (QS. Al-Qalam: 37-38)Pertanyaan untuk membantah dugaan buruk tersebut terus Allah ﷻ berikan setelahnya. Artinya, secara argumentatif, tidak ada celah bagi seseorang untuk menetapkan bahwa Allah ﷻ bisa saja mengekalkan wali-Nya di neraka dan sebaliknya (memasukkan orang kafir ke surga). Bahkan meskipun dinarasikan ini hanya sekadar kajian teoretis akal.Konsekuensi dari keyakinan yang salah ini sangat berbahaya, semisal:1) Memungkinkan Nabi ﷺ tidak dimasukkan ke dalam surga;2) Meniadakan sifat hikmah bagi Allah ﷻ.Meskipun demikian, seorang muslim tidak boleh memastikan siapapun secara personal masuk surga atau neraka. Para ulama hanya membolehkan kita menetapkan bahwa muslim pasti masuk surga dan kafir pasti masuk neraka. Adapun masing-masing orangnya, tidaklah diketahui. Ketetapan ini adalah urusan gaib di akhirat nanti, adapun urusan ketetapan di dunia, kita tidak dibebankan melainkan yang zahir terlihat. Ketika seorang muslim wafat, maka diurus dengan cara Islam, begitupula sebaliknya.Semoga jawaban para ulama yang diambil dari firman Allah ﷻ ini dapat mencegah masuknya keyakinan-keyakinan yang salah seputar hikmah dan keadilan Allah ﷻ.سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَMaha Suci Tuhanmu, Yang Mempunyai Keperkasaan dari apa yang mereka sifatkan.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id

Inspirasi dari Imam Nafi’ dan Imam Qalun dalam Belajar dan Mengajarkan Al-Qur’an

Imam Nafi’ Al-Madani adalah salah seorang imam qiraat. Satu qiraat yang masyhur adalah qiraat Imam Nafi’, yang diriwayatkan oleh Qalun dari Nafi’ dan Warasy dari Nafi’. Imam Nafi’ Al-Madani menjadi imam Masjid Nabawi selama 60 tahun, dan beliau duduk mengajarkan Al-Qur’an. Setiap kali beliau membaca Al-Qur’an, tercium aroma kesturi dari mulutnya. Beliau pun ditanya, “Apa rahasianya?” Beliau menjawab, “Aku pernah bermimpi melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan Al-Qur’an ke dalam mulutku.” Maksudnya, ke dalam mulut Imam Nafi’. Dalam riwayat lain, beliau berkata, “Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mimpi meniupkan sedikit ludah ke dalam mulutku.” Sejak itu, setiap kali beliau membaca Al-Qur’an, tercium aroma kesturi dari mulut beliau. Allahu Akbar! Beliau mengajarkan bacaan Al-Qur’an kepada orang-orang selama bertahun-tahun. Bahkan, diriwayatkan dari Imam Qalun rahimahullah, yang meriwayatkan salah satu jalur qiraat dari Imam Nafi’, bahwa ia pernah ditanya, “Berapa lama engkau menyertai Imam Nafi’ untuk membaca dan mempelajari Al-Qur’an kepada beliau?” Imam Qalun menjawab, “Setelah selesai, aku masih terus menyertai beliau, yakni setelah selesai mempelajari Al-Qur’an kepada beliau, aku tetap bermajelis bersama beliau selama 20 tahun. Setelah itu, beliau memerintahkanku untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada orang-orang.” Selama 20 tahun, Imam Qalun terus mengulang khataman Al-Qur’an di hadapan gurunya. Demikianlah dahulu mereka memahami betapa besar nilai mempelajari Al-Qur’an. ===== الْإِمَامُ نَافِعٌ الْمَدَنِيُّ مِنْ أَئِمَّةِ الْقِرَاءَاتِ الْقِرَاءَةُ الْمَعْرُوفَةُ قِرَاءَةُ نَافِعٍ الَّتِي يَرْوِيهَا قَالُونُ عَنْ نَافِعٍ، أَوْ وَرْشٌ عَنْ نَافِعٍ هَذَا الْإِمَامُ كَانَ إِمَامَ الْمَسْجِدِ النَّبَوِيِّ سِتِّينَ سَنَةً وَجَلَسَ يُعَلِّمُ الْقُرْآنَ وَكَانَ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ يُشَمُّ مِنْ فَمِهِ رَائِحَةُ الْمِسْكِ فَيُقَالُ لَهُ: مَا السِّرُّ فِي هَذَا؟ فَيَقُولُ: رَأَيْتُ فِي الْمَنَامِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ الْقُرْآنَ فِي فِيَّ يَعْنِي فِي فَمِهِ وَفِي رِوَايَةٍ قَالَ: رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَنَامِ يَتْفُلُ فِي فَمِي فَكَانَ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ يُشَمُّ مِنْ فَمِهِ رَائِحَةُ الْمِسْكِ اللهُ أَكْبَرُ وَجَلَسَ يُقْرِئُ النَّاسَ الْقُرْآنَ سَنَوَاتٍ طَوِيلَةً يَعْنِي حَتَّى جَاءَ عَنْ قَالُونَ رَحِمَهُ اللهُ الَّذِي رَوَى عَنْهُ قِرَاءَتَهُ مِنْ وَجْهٍ قَالَ: قِيلَ لَهُ: كَمْ جَلَسْتَ مَعَ الْإِمَامِ نَافِعٍ تَقْرَأُ عِنْدَهُ الْقُرْآنَ، تَتَعَلَّمُ عِنْدَهُ الْقُرْآنَ؟ قَالَ: جَلَسْتُ عِنْدَهُ بَعْدَ الْفَرَاغِ يَعْنِي بَعْدَ أَنْ دَرَسْتُ الْقُرْآنَ عَلَيْهِ جَلَسْتُ عَلَيْهِ أَوْ عِنْدَهُ عِشْرِينَ سَنَةً ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ أَمَرَنِي، يَعْنِي أَنْ أُقْرِئَ النَّاسَ الْقُرْآنَ عِشْرِينَ سَنَةً وَهُوَ يُكَرِّرُ عَلَيْهِ خَتْمَ الْقُرْآنِ هَكَذَا كَانُوا يَعْرِفُونَ قَدْرَ تَعَلُّمِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ

Inspirasi dari Imam Nafi’ dan Imam Qalun dalam Belajar dan Mengajarkan Al-Qur’an

Imam Nafi’ Al-Madani adalah salah seorang imam qiraat. Satu qiraat yang masyhur adalah qiraat Imam Nafi’, yang diriwayatkan oleh Qalun dari Nafi’ dan Warasy dari Nafi’. Imam Nafi’ Al-Madani menjadi imam Masjid Nabawi selama 60 tahun, dan beliau duduk mengajarkan Al-Qur’an. Setiap kali beliau membaca Al-Qur’an, tercium aroma kesturi dari mulutnya. Beliau pun ditanya, “Apa rahasianya?” Beliau menjawab, “Aku pernah bermimpi melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan Al-Qur’an ke dalam mulutku.” Maksudnya, ke dalam mulut Imam Nafi’. Dalam riwayat lain, beliau berkata, “Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mimpi meniupkan sedikit ludah ke dalam mulutku.” Sejak itu, setiap kali beliau membaca Al-Qur’an, tercium aroma kesturi dari mulut beliau. Allahu Akbar! Beliau mengajarkan bacaan Al-Qur’an kepada orang-orang selama bertahun-tahun. Bahkan, diriwayatkan dari Imam Qalun rahimahullah, yang meriwayatkan salah satu jalur qiraat dari Imam Nafi’, bahwa ia pernah ditanya, “Berapa lama engkau menyertai Imam Nafi’ untuk membaca dan mempelajari Al-Qur’an kepada beliau?” Imam Qalun menjawab, “Setelah selesai, aku masih terus menyertai beliau, yakni setelah selesai mempelajari Al-Qur’an kepada beliau, aku tetap bermajelis bersama beliau selama 20 tahun. Setelah itu, beliau memerintahkanku untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada orang-orang.” Selama 20 tahun, Imam Qalun terus mengulang khataman Al-Qur’an di hadapan gurunya. Demikianlah dahulu mereka memahami betapa besar nilai mempelajari Al-Qur’an. ===== الْإِمَامُ نَافِعٌ الْمَدَنِيُّ مِنْ أَئِمَّةِ الْقِرَاءَاتِ الْقِرَاءَةُ الْمَعْرُوفَةُ قِرَاءَةُ نَافِعٍ الَّتِي يَرْوِيهَا قَالُونُ عَنْ نَافِعٍ، أَوْ وَرْشٌ عَنْ نَافِعٍ هَذَا الْإِمَامُ كَانَ إِمَامَ الْمَسْجِدِ النَّبَوِيِّ سِتِّينَ سَنَةً وَجَلَسَ يُعَلِّمُ الْقُرْآنَ وَكَانَ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ يُشَمُّ مِنْ فَمِهِ رَائِحَةُ الْمِسْكِ فَيُقَالُ لَهُ: مَا السِّرُّ فِي هَذَا؟ فَيَقُولُ: رَأَيْتُ فِي الْمَنَامِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ الْقُرْآنَ فِي فِيَّ يَعْنِي فِي فَمِهِ وَفِي رِوَايَةٍ قَالَ: رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَنَامِ يَتْفُلُ فِي فَمِي فَكَانَ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ يُشَمُّ مِنْ فَمِهِ رَائِحَةُ الْمِسْكِ اللهُ أَكْبَرُ وَجَلَسَ يُقْرِئُ النَّاسَ الْقُرْآنَ سَنَوَاتٍ طَوِيلَةً يَعْنِي حَتَّى جَاءَ عَنْ قَالُونَ رَحِمَهُ اللهُ الَّذِي رَوَى عَنْهُ قِرَاءَتَهُ مِنْ وَجْهٍ قَالَ: قِيلَ لَهُ: كَمْ جَلَسْتَ مَعَ الْإِمَامِ نَافِعٍ تَقْرَأُ عِنْدَهُ الْقُرْآنَ، تَتَعَلَّمُ عِنْدَهُ الْقُرْآنَ؟ قَالَ: جَلَسْتُ عِنْدَهُ بَعْدَ الْفَرَاغِ يَعْنِي بَعْدَ أَنْ دَرَسْتُ الْقُرْآنَ عَلَيْهِ جَلَسْتُ عَلَيْهِ أَوْ عِنْدَهُ عِشْرِينَ سَنَةً ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ أَمَرَنِي، يَعْنِي أَنْ أُقْرِئَ النَّاسَ الْقُرْآنَ عِشْرِينَ سَنَةً وَهُوَ يُكَرِّرُ عَلَيْهِ خَتْمَ الْقُرْآنِ هَكَذَا كَانُوا يَعْرِفُونَ قَدْرَ تَعَلُّمِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ
Imam Nafi’ Al-Madani adalah salah seorang imam qiraat. Satu qiraat yang masyhur adalah qiraat Imam Nafi’, yang diriwayatkan oleh Qalun dari Nafi’ dan Warasy dari Nafi’. Imam Nafi’ Al-Madani menjadi imam Masjid Nabawi selama 60 tahun, dan beliau duduk mengajarkan Al-Qur’an. Setiap kali beliau membaca Al-Qur’an, tercium aroma kesturi dari mulutnya. Beliau pun ditanya, “Apa rahasianya?” Beliau menjawab, “Aku pernah bermimpi melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan Al-Qur’an ke dalam mulutku.” Maksudnya, ke dalam mulut Imam Nafi’. Dalam riwayat lain, beliau berkata, “Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mimpi meniupkan sedikit ludah ke dalam mulutku.” Sejak itu, setiap kali beliau membaca Al-Qur’an, tercium aroma kesturi dari mulut beliau. Allahu Akbar! Beliau mengajarkan bacaan Al-Qur’an kepada orang-orang selama bertahun-tahun. Bahkan, diriwayatkan dari Imam Qalun rahimahullah, yang meriwayatkan salah satu jalur qiraat dari Imam Nafi’, bahwa ia pernah ditanya, “Berapa lama engkau menyertai Imam Nafi’ untuk membaca dan mempelajari Al-Qur’an kepada beliau?” Imam Qalun menjawab, “Setelah selesai, aku masih terus menyertai beliau, yakni setelah selesai mempelajari Al-Qur’an kepada beliau, aku tetap bermajelis bersama beliau selama 20 tahun. Setelah itu, beliau memerintahkanku untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada orang-orang.” Selama 20 tahun, Imam Qalun terus mengulang khataman Al-Qur’an di hadapan gurunya. Demikianlah dahulu mereka memahami betapa besar nilai mempelajari Al-Qur’an. ===== الْإِمَامُ نَافِعٌ الْمَدَنِيُّ مِنْ أَئِمَّةِ الْقِرَاءَاتِ الْقِرَاءَةُ الْمَعْرُوفَةُ قِرَاءَةُ نَافِعٍ الَّتِي يَرْوِيهَا قَالُونُ عَنْ نَافِعٍ، أَوْ وَرْشٌ عَنْ نَافِعٍ هَذَا الْإِمَامُ كَانَ إِمَامَ الْمَسْجِدِ النَّبَوِيِّ سِتِّينَ سَنَةً وَجَلَسَ يُعَلِّمُ الْقُرْآنَ وَكَانَ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ يُشَمُّ مِنْ فَمِهِ رَائِحَةُ الْمِسْكِ فَيُقَالُ لَهُ: مَا السِّرُّ فِي هَذَا؟ فَيَقُولُ: رَأَيْتُ فِي الْمَنَامِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ الْقُرْآنَ فِي فِيَّ يَعْنِي فِي فَمِهِ وَفِي رِوَايَةٍ قَالَ: رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَنَامِ يَتْفُلُ فِي فَمِي فَكَانَ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ يُشَمُّ مِنْ فَمِهِ رَائِحَةُ الْمِسْكِ اللهُ أَكْبَرُ وَجَلَسَ يُقْرِئُ النَّاسَ الْقُرْآنَ سَنَوَاتٍ طَوِيلَةً يَعْنِي حَتَّى جَاءَ عَنْ قَالُونَ رَحِمَهُ اللهُ الَّذِي رَوَى عَنْهُ قِرَاءَتَهُ مِنْ وَجْهٍ قَالَ: قِيلَ لَهُ: كَمْ جَلَسْتَ مَعَ الْإِمَامِ نَافِعٍ تَقْرَأُ عِنْدَهُ الْقُرْآنَ، تَتَعَلَّمُ عِنْدَهُ الْقُرْآنَ؟ قَالَ: جَلَسْتُ عِنْدَهُ بَعْدَ الْفَرَاغِ يَعْنِي بَعْدَ أَنْ دَرَسْتُ الْقُرْآنَ عَلَيْهِ جَلَسْتُ عَلَيْهِ أَوْ عِنْدَهُ عِشْرِينَ سَنَةً ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ أَمَرَنِي، يَعْنِي أَنْ أُقْرِئَ النَّاسَ الْقُرْآنَ عِشْرِينَ سَنَةً وَهُوَ يُكَرِّرُ عَلَيْهِ خَتْمَ الْقُرْآنِ هَكَذَا كَانُوا يَعْرِفُونَ قَدْرَ تَعَلُّمِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ


Imam Nafi’ Al-Madani adalah salah seorang imam qiraat. Satu qiraat yang masyhur adalah qiraat Imam Nafi’, yang diriwayatkan oleh Qalun dari Nafi’ dan Warasy dari Nafi’. Imam Nafi’ Al-Madani menjadi imam Masjid Nabawi selama 60 tahun, dan beliau duduk mengajarkan Al-Qur’an. Setiap kali beliau membaca Al-Qur’an, tercium aroma kesturi dari mulutnya. Beliau pun ditanya, “Apa rahasianya?” Beliau menjawab, “Aku pernah bermimpi melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan Al-Qur’an ke dalam mulutku.” Maksudnya, ke dalam mulut Imam Nafi’. Dalam riwayat lain, beliau berkata, “Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mimpi meniupkan sedikit ludah ke dalam mulutku.” Sejak itu, setiap kali beliau membaca Al-Qur’an, tercium aroma kesturi dari mulut beliau. Allahu Akbar! Beliau mengajarkan bacaan Al-Qur’an kepada orang-orang selama bertahun-tahun. Bahkan, diriwayatkan dari Imam Qalun rahimahullah, yang meriwayatkan salah satu jalur qiraat dari Imam Nafi’, bahwa ia pernah ditanya, “Berapa lama engkau menyertai Imam Nafi’ untuk membaca dan mempelajari Al-Qur’an kepada beliau?” Imam Qalun menjawab, “Setelah selesai, aku masih terus menyertai beliau, yakni setelah selesai mempelajari Al-Qur’an kepada beliau, aku tetap bermajelis bersama beliau selama 20 tahun. Setelah itu, beliau memerintahkanku untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada orang-orang.” Selama 20 tahun, Imam Qalun terus mengulang khataman Al-Qur’an di hadapan gurunya. Demikianlah dahulu mereka memahami betapa besar nilai mempelajari Al-Qur’an. ===== الْإِمَامُ نَافِعٌ الْمَدَنِيُّ مِنْ أَئِمَّةِ الْقِرَاءَاتِ الْقِرَاءَةُ الْمَعْرُوفَةُ قِرَاءَةُ نَافِعٍ الَّتِي يَرْوِيهَا قَالُونُ عَنْ نَافِعٍ، أَوْ وَرْشٌ عَنْ نَافِعٍ هَذَا الْإِمَامُ كَانَ إِمَامَ الْمَسْجِدِ النَّبَوِيِّ سِتِّينَ سَنَةً وَجَلَسَ يُعَلِّمُ الْقُرْآنَ وَكَانَ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ يُشَمُّ مِنْ فَمِهِ رَائِحَةُ الْمِسْكِ فَيُقَالُ لَهُ: مَا السِّرُّ فِي هَذَا؟ فَيَقُولُ: رَأَيْتُ فِي الْمَنَامِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ الْقُرْآنَ فِي فِيَّ يَعْنِي فِي فَمِهِ وَفِي رِوَايَةٍ قَالَ: رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَنَامِ يَتْفُلُ فِي فَمِي فَكَانَ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ يُشَمُّ مِنْ فَمِهِ رَائِحَةُ الْمِسْكِ اللهُ أَكْبَرُ وَجَلَسَ يُقْرِئُ النَّاسَ الْقُرْآنَ سَنَوَاتٍ طَوِيلَةً يَعْنِي حَتَّى جَاءَ عَنْ قَالُونَ رَحِمَهُ اللهُ الَّذِي رَوَى عَنْهُ قِرَاءَتَهُ مِنْ وَجْهٍ قَالَ: قِيلَ لَهُ: كَمْ جَلَسْتَ مَعَ الْإِمَامِ نَافِعٍ تَقْرَأُ عِنْدَهُ الْقُرْآنَ، تَتَعَلَّمُ عِنْدَهُ الْقُرْآنَ؟ قَالَ: جَلَسْتُ عِنْدَهُ بَعْدَ الْفَرَاغِ يَعْنِي بَعْدَ أَنْ دَرَسْتُ الْقُرْآنَ عَلَيْهِ جَلَسْتُ عَلَيْهِ أَوْ عِنْدَهُ عِشْرِينَ سَنَةً ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ أَمَرَنِي، يَعْنِي أَنْ أُقْرِئَ النَّاسَ الْقُرْآنَ عِشْرِينَ سَنَةً وَهُوَ يُكَرِّرُ عَلَيْهِ خَتْمَ الْقُرْآنِ هَكَذَا كَانُوا يَعْرِفُونَ قَدْرَ تَعَلُّمِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ

Bolehkah Merutinkan Amalan yang Tidak Dirutinkan Nabi?

Ada orang yang menetapkan target membaca Al-Qur’an setiap pagi, bersedekah setiap Jumat, atau beristigfar dengan jumlah tertentu setiap hari. Apakah merutinkan amalan seperti ini otomatis menjadi bid‘ah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menetapkan rutinitas tersebut? Jawabannya perlu dirinci, karena ada perbedaan antara mengatur ibadah agar istiqamah dan membuat tata cara ibadah baru yang dianggap sebagai bagian dari syariat.  Daftar Isi tutup 1. Amalan yang Paling Dicintai Allah adalah yang Kontinu 2. Bedakan Antara Mengatur Ibadah dan Membuat Syariat Baru 3. Kapan Merutinkan Amalan Menjadi Masalah? 4. Ibadah Itu Berdasarkan Dalil dan Mengikuti Tuntunan 5. Contoh Doa Khusus Setiap Hari Ramadan 6. Bagaimana dengan Menentukan Jumlah Zikir Sendiri? 7. Tiga Keadaan dalam Merutinkan Amalan 7.1. Pertama: Rutinitas yang Memang Ditetapkan oleh Syariat 7.2. Kedua: Membuat Jadwal Pribadi agar Istiqamah 7.3. Ketiga: Menetapkan Waktu, Jumlah, atau Tata Cara sebagai Ibadah Khusus Tanpa Dalil 8. Jangan Mudah Memvonis Bid‘ah 9. Kesimpulan 10. Nasihat  Amalan yang Paling Dicintai Allah adalah yang KontinuIslam mendorong seorang muslim untuk istiqamah dalam kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang paling kontinu walaupun sedikit.” (HR. Bukhari, no. 6465 dan Muslim, no. 783)Hadits ini menunjukkan bahwa kontinuitas dalam beramal adalah sesuatu yang terpuji.Karena itu, seseorang yang mampu menjaga shalat Witir setiap malam, shalat Dhuha, membaca Al-Qur’an, berzikir, bersedekah, atau melakukan berbagai amal saleh lainnya secara rutin berarti telah melakukan sesuatu yang baik.Namun, ada persoalan lain yang harus dibedakan, yaitu ketika seseorang memberikan waktu, jumlah, tempat, atau tata cara tertentu pada suatu ibadah yang sebenarnya datang secara mutlak dalam syariat.Apakah hal seperti ini dibolehkan? Bedakan Antara Mengatur Ibadah dan Membuat Syariat BaruKaidah penting dalam masalah ini adalah:التَّنْظِيمُ غَيْرُ التَّشْرِيعِ“Mengatur ibadah tidak sama dengan membuat syariat.”Seseorang terkadang menentukan waktu tertentu untuk suatu ibadah karena pada waktu itulah ia mempunyai kesempatan.Misalnya:membaca Al-Qur’an setiap hari setelah Subuh selama 15 menit;bersedekah setiap Jumat karena pada hari tersebut ia menerima penghasilan;mengerjakan shalat malam pada malam tertentu karena keesokan harinya libur;menetapkan target istigfar dalam jumlah tertentu setiap hari untuk melatih dirinya agar banyak berzikir.Pengaturan semacam ini tidak otomatis menjadi bid‘ah, selama ia tidak meyakini bahwa waktu, jumlah, atau cara yang ia tentukan sendiri tersebut memiliki keutamaan khusus berdasarkan syariat.Dalam IslamQA dijelaskan,تَخْصِيصُ الْمُسْلِمِ عِبَادَةً بِزَمَانٍ أَوْ مَكَانٍ مُعَيَّنٍ لَمْ يَرِدْ بِهِ الشَّرْعُ، مِنْ غَيْرِ اعْتِقَادٍ أَنَّ لِذَلِكَ الزَّمَانِ أَوِ الْمَكَانِ فَضْلًا مُعَيَّنًا، وَإِنَّمَا هُوَ لِظَرْفٍ يَعْرِضُ لَهُ، فَيَحْتَاجُ مَعَهُ إِلَى هَذَا التَّخْصِيصِ، لَيْسَ مِنَ الْبِدْعَةِ فِي شَيْءٍ، وَلَا بَأْسَ بِهِ.“Seorang muslim mengkhususkan suatu ibadah pada waktu atau tempat tertentu yang tidak ditentukan oleh syariat, tanpa meyakini bahwa waktu atau tempat tersebut mempunyai keutamaan tertentu, tetapi semata-mata karena kondisi yang membuatnya membutuhkan pengkhususan tersebut, maka hal itu sama sekali bukan termasuk bid‘ah dan tidak mengapa.”IslamQA kemudian memberikan beberapa contoh. Seseorang biasa berpuasa pada hari Selasa karena hari tersebut merupakan hari liburnya. Ada pula yang biasa melakukan shalat malam pada malam Sabtu karena pada hari Sabtu ia tidak bekerja. Begitu pula seseorang membaca Al-Qur’an antara Magrib dan Isya karena pada waktu tersebut ia mempunyai kesempatan. Semua ini dibolehkan selama tidak ada keyakinan mengenai keutamaan khusus yang tidak ditetapkan oleh syariat. Kapan Merutinkan Amalan Menjadi Masalah?Masalah muncul ketika seseorang tidak lagi sekadar mengatur dirinya, tetapi menjadikan pengaturan tersebut seolah-olah sebagai ketentuan agama.Misalnya, seseorang mengatakan, “Setiap selesai Subuh harus membaca istigfar 500 kali karena jumlah ini mempunyai keutamaan khusus.” Jika keutamaan tersebut dinisbatkan kepada syariat, maka diperlukan dalil.Demikian pula apabila dibuat doa tertentu untuk hari pertama setiap bulan, doa tertentu untuk hari kedua, doa tertentu untuk hari ketiga, kemudian semua itu diajarkan kepada masyarakat sebagai amalan khusus yang memiliki keutamaan tertentu.Padahal tidak ada dalil yang menetapkannya.Di sinilah berlaku kaidah bahwa ibadah bersifat tawqifiyyah, yaitu tata cara ibadah harus mengikuti petunjuk syariat.Allah Ta’ala berfirman,أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syura: 21)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ“Barang siapa membuat perkara baru dalam urusan agama kami yang bukan bagian darinya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari, no. 2697 dan Muslim, no. 1718) Ibadah Itu Berdasarkan Dalil dan Mengikuti TuntunanSyaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,لَا رَيْبَ أَنَّ الْأَذْكَارَ وَالدَّعَوَاتِ مِنْ أَفْضَلِ الْعِبَادَاتِ، وَالْعِبَادَاتُ مَبْنَاهَا عَلَى التَّوْقِيفِ وَالِاتِّبَاعِ، لَا عَلَى الْهَوَى وَالِابْتِدَاعِ.“Tidak diragukan bahwa zikir dan doa termasuk ibadah yang paling utama. Ibadah dibangun di atas prinsip mengikuti dalil dan tuntunan, bukan berdasarkan hawa nafsu dan membuat perkara baru.”Beliau juga menjelaskan bahwa seseorang tidak boleh membuat suatu jenis zikir dan doa yang tidak dituntunkan, lalu menjadikannya sebagai ibadah rutin yang terus dilakukan oleh masyarakat layaknya amalan sunnah yang telah ditetapkan.Lihat: Majmu’ Al-Fatawa, 22:510–511. Contoh Doa Khusus Setiap Hari RamadanContoh yang mudah dipahami adalah tersebarnya “doa hari pertama Ramadan”, “doa hari kedua Ramadan”, “doa hari ketiga Ramadan”, dan seterusnya sampai hari ketiga puluh.Berdoa tentu merupakan ibadah yang sangat mulia. Bahkan memperbanyak doa pada bulan Ramadan sangat dianjurkan.Namun, persoalannya berbeda ketika doa tertentu ditetapkan untuk hari tertentu kemudian diklaim mempunyai pahala atau keutamaan tertentu, padahal tidak ada dalil yang menetapkannya.IslamQA memberikan kaidah,الدُّعَاءُ مِنَ الْعِبَادَةِ، وَمَبْنَى الْعِبَادَاتِ عَلَى التَّوْقِيفِ، فَلَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ أَنْ يَشْرَعَ لِلنَّاسِ عِبَادَةً مُعَيَّنَةً مِنْ دُعَاءٍ أَوْ غَيْرِهِ، فِي يَوْمٍ مُعَيَّنٍ، أَوْ زَمَانٍ مُعَيَّنٍ، أَوْ مَكَانٍ مُعَيَّنٍ، لَمْ يَرِدْ بِهَا الشَّرْعُ.“Doa termasuk ibadah. Ibadah dibangun di atas prinsip mengikuti dalil. Karena itu, seseorang tidak boleh mensyariatkan kepada manusia ibadah tertentu, berupa doa atau selainnya, pada hari tertentu, waktu tertentu, atau tempat tertentu yang tidak ditetapkan oleh syariat.”Namun, seseorang tetap boleh berdoa meminta berbagai kebaikan dunia dan akhirat dengan doa yang tidak disebutkan secara khusus dalam dalil, selama kandungannya benar dan tidak dijadikan sebagai tata cara sunnah khusus. Bagaimana dengan Menentukan Jumlah Zikir Sendiri?Masalah ini juga perlu dirinci.Ada zikir yang jumlahnya memang ditentukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Zikir semacam ini hendaknya dilakukan sebagaimana tuntunan yang ada.Misalnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ، حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ“Barang siapa mengucapkan Subhanallahi wa bihamdih dalam sehari sebanyak seratus kali, dosa-dosanya akan dihapus walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Bukhari, no. 6405 dan Muslim, no. 2691)Di sini jumlah seratus kali berasal dari dalil. Maka, jumlah tersebut memiliki keutamaan berdasarkan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Adapun zikir yang syariat memerintahkan untuk memperbanyaknya secara mutlak, maka tidak boleh menetapkan suatu jumlah tertentu kemudian mengklaim bahwa jumlah tersebut mempunyai keutamaan khusus tanpa dalil.Namun, jika seseorang sekadar membuat target pribadi agar dirinya disiplin dalam berzikir, persoalannya berbeda.Misalnya, ia mengatakan, “Saya menargetkan beristigfar 500 kali sehari agar saya terbiasa memperbanyak istigfar.”Ia tidak mengatakan bahwa angka 500 memiliki keutamaan khusus. Ia juga tidak mengajarkannya sebagai sunnah khusus dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Maka, ini lebih dekat kepada pengaturan pribadi, bukan membuat syariat baru. Tiga Keadaan dalam Merutinkan AmalanDari penjelasan para ulama di atas, masalah ini dapat diringkas menjadi tiga keadaan.Pertama: Rutinitas yang Memang Ditetapkan oleh SyariatIni dianjurkan untuk dijaga.Contohnya adalah zikir pagi dan petang, shalat Witir, shalat Rawatib, puasa Senin-Kamis, puasa tiga hari setiap bulan, serta amalan sunnah lainnya yang memiliki tuntunan.Bahkan istiqamah dalam amalan merupakan sesuatu yang dicintai Allah.Kedua: Membuat Jadwal Pribadi agar IstiqamahIni pada asalnya dibolehkan.Misalnya, seseorang membaca dua halaman Al-Qur’an setiap selesai Subuh karena waktu tersebut paling memungkinkan baginya.Atau seseorang bersedekah setiap tanggal gajian karena pada waktu itulah ia memiliki kelapangan. Tidak masalah selama ia tidak mengatakan bahwa waktu, jumlah, atau cara tersebut memiliki keutamaan syar’i khusus.Dengan demikian, pengaturan pribadi tidak otomatis menjadi pensyariatan baru.Ketiga: Menetapkan Waktu, Jumlah, atau Tata Cara sebagai Ibadah Khusus Tanpa DalilInilah yang perlu dihindari.Misalnya, membuat suatu zikir dengan jumlah tertentu, pada waktu tertentu, dengan tata cara tertentu, kemudian mengatakan bahwa itulah sunnah atau mempunyai keutamaan khusus di sisi Allah, padahal tidak ada dalil yang menunjukkan hal tersebut.Di sini pengaturan telah berubah menjadi pensyariatan. Jangan Mudah Memvonis Bid‘ahDari sini kita juga belajar agar tidak tergesa-gesa mengatakan bahwa setiap orang yang merutinkan suatu amalan berarti telah melakukan bid‘ah.Seseorang membaca Al-Qur’an setiap pukul lima pagi belum tentu meyakini bahwa pukul lima mempunyai keutamaan khusus. Bisa jadi itulah waktu luangnya.Seseorang bersedekah setiap Jumat belum tentu meyakini bahwa sedekah hanya boleh atau harus dilakukan pada hari Jumat. Bisa jadi ia sekadar menjadikannya sebagai jadwal pribadi agar istiqamah.Karena itu, perlu dibedakan antara:التَّخْصِيصُ لِلتَّنْظِيمِ“Pengkhususan dalam rangka pengaturan.”danالتَّخْصِيصُ التَّعَبُّدِيُّ“Pengkhususan dengan keyakinan adanya nilai ibadah khusus.”Yang pertama pada asalnya memiliki ruang yang luas. Adapun yang kedua membutuhkan dalil. KesimpulanAda beberapa kesimpulan penting dalam masalah merutinkan amalan.Pertama, istiqamah dan kontinu dalam melakukan kebaikan adalah sesuatu yang dianjurkan dalam Islam.Kedua, amalan yang telah ditentukan waktu, jumlah, dan tata caranya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendaknya dikerjakan sesuai tuntunan beliau.Ketiga, seseorang boleh mengatur jadwal dan target ibadah pribadi agar lebih disiplin dan istiqamah selama tidak meyakini bahwa pengaturan tersebut mempunyai keutamaan khusus berdasarkan syariat. Keempat, tidak dibenarkan membuat waktu, jumlah, tempat, atau tata cara tertentu untuk suatu ibadah kemudian menisbatkannya kepada agama atau menganggapnya sebagai sunnah khusus tanpa dalil. Ringkasnya,الْمُدَاوَمَةُ عَلَى الْعِبَادَةِ مَشْرُوعَةٌ، وَأَمَّا تَخْصِيصُهَا بِوَصْفٍ تَعَبُّدِيٍّ فَيَحْتَاجُ إِلَى دَلِيلٍ.“Kontinu dalam beribadah adalah sesuatu yang disyariatkan. Adapun mengkhususkannya dengan bentuk ibadah tertentu membutuhkan dalil.” NasihatSemangat beribadah hendaknya selalu diiringi dengan semangat mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jangan sampai takut terhadap bid‘ah justru membuat kita meninggalkan kebiasaan baik dan tidak istiqamah dalam beramal. Sebaliknya, jangan pula semangat beramal membuat kita menetapkan sendiri suatu bentuk ibadah lalu menganggapnya sebagai tuntunan agama. Jadikan sunnah sebagai pedoman dan aturlah waktu dengan baik agar kita mampu istiqamah dalam ketaatan sampai akhir hayat.Semoga Allah memberikan kepada kita keistiqamahan dalam beribadah dan kemampuan untuk selalu mengikuti tuntunan Nabi-Nya.اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، وَارْزُقْنَا الِاسْتِقَامَةَ عَلَى طَاعَتِكَ وَاتِّبَاعَ سُنَّةِ نَبِيِّكَ ﷺ.Allahumma a‘inna ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik, warzuqnal-istiqamata ‘ala tha‘atik, wattiba‘a sunnati nabiyyika shallallahu ‘alaihi wa sallam.“Ya Allah, tolonglah kami untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu. Karuniakanlah kepada kami keistiqamahan dalam menaati-Mu dan mengikuti sunnah Nabi-Mu shallallahu ‘alaihi wa sallam.” ReferensiIslamQA. هل التزام صدقة في يوم معين وبقدر معين بدعة؟ Fatwa no. 120096.IslamQA. حكم تخصيص كل يوم من رمضان بدعاء معين. Fatwa no. 292883.Ibnu Taimiyyah, Ahmad bin ‘Abdul Halim. Majmu’ Al-Fatawa, 22:510–511. —- Selesai ditulis dalam perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamalan rutin amalan sunnah bid'ah doa ibadah istiqamah manhaj salaf mengikuti sunnah sedekah zikir

Bolehkah Merutinkan Amalan yang Tidak Dirutinkan Nabi?

Ada orang yang menetapkan target membaca Al-Qur’an setiap pagi, bersedekah setiap Jumat, atau beristigfar dengan jumlah tertentu setiap hari. Apakah merutinkan amalan seperti ini otomatis menjadi bid‘ah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menetapkan rutinitas tersebut? Jawabannya perlu dirinci, karena ada perbedaan antara mengatur ibadah agar istiqamah dan membuat tata cara ibadah baru yang dianggap sebagai bagian dari syariat.  Daftar Isi tutup 1. Amalan yang Paling Dicintai Allah adalah yang Kontinu 2. Bedakan Antara Mengatur Ibadah dan Membuat Syariat Baru 3. Kapan Merutinkan Amalan Menjadi Masalah? 4. Ibadah Itu Berdasarkan Dalil dan Mengikuti Tuntunan 5. Contoh Doa Khusus Setiap Hari Ramadan 6. Bagaimana dengan Menentukan Jumlah Zikir Sendiri? 7. Tiga Keadaan dalam Merutinkan Amalan 7.1. Pertama: Rutinitas yang Memang Ditetapkan oleh Syariat 7.2. Kedua: Membuat Jadwal Pribadi agar Istiqamah 7.3. Ketiga: Menetapkan Waktu, Jumlah, atau Tata Cara sebagai Ibadah Khusus Tanpa Dalil 8. Jangan Mudah Memvonis Bid‘ah 9. Kesimpulan 10. Nasihat  Amalan yang Paling Dicintai Allah adalah yang KontinuIslam mendorong seorang muslim untuk istiqamah dalam kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang paling kontinu walaupun sedikit.” (HR. Bukhari, no. 6465 dan Muslim, no. 783)Hadits ini menunjukkan bahwa kontinuitas dalam beramal adalah sesuatu yang terpuji.Karena itu, seseorang yang mampu menjaga shalat Witir setiap malam, shalat Dhuha, membaca Al-Qur’an, berzikir, bersedekah, atau melakukan berbagai amal saleh lainnya secara rutin berarti telah melakukan sesuatu yang baik.Namun, ada persoalan lain yang harus dibedakan, yaitu ketika seseorang memberikan waktu, jumlah, tempat, atau tata cara tertentu pada suatu ibadah yang sebenarnya datang secara mutlak dalam syariat.Apakah hal seperti ini dibolehkan? Bedakan Antara Mengatur Ibadah dan Membuat Syariat BaruKaidah penting dalam masalah ini adalah:التَّنْظِيمُ غَيْرُ التَّشْرِيعِ“Mengatur ibadah tidak sama dengan membuat syariat.”Seseorang terkadang menentukan waktu tertentu untuk suatu ibadah karena pada waktu itulah ia mempunyai kesempatan.Misalnya:membaca Al-Qur’an setiap hari setelah Subuh selama 15 menit;bersedekah setiap Jumat karena pada hari tersebut ia menerima penghasilan;mengerjakan shalat malam pada malam tertentu karena keesokan harinya libur;menetapkan target istigfar dalam jumlah tertentu setiap hari untuk melatih dirinya agar banyak berzikir.Pengaturan semacam ini tidak otomatis menjadi bid‘ah, selama ia tidak meyakini bahwa waktu, jumlah, atau cara yang ia tentukan sendiri tersebut memiliki keutamaan khusus berdasarkan syariat.Dalam IslamQA dijelaskan,تَخْصِيصُ الْمُسْلِمِ عِبَادَةً بِزَمَانٍ أَوْ مَكَانٍ مُعَيَّنٍ لَمْ يَرِدْ بِهِ الشَّرْعُ، مِنْ غَيْرِ اعْتِقَادٍ أَنَّ لِذَلِكَ الزَّمَانِ أَوِ الْمَكَانِ فَضْلًا مُعَيَّنًا، وَإِنَّمَا هُوَ لِظَرْفٍ يَعْرِضُ لَهُ، فَيَحْتَاجُ مَعَهُ إِلَى هَذَا التَّخْصِيصِ، لَيْسَ مِنَ الْبِدْعَةِ فِي شَيْءٍ، وَلَا بَأْسَ بِهِ.“Seorang muslim mengkhususkan suatu ibadah pada waktu atau tempat tertentu yang tidak ditentukan oleh syariat, tanpa meyakini bahwa waktu atau tempat tersebut mempunyai keutamaan tertentu, tetapi semata-mata karena kondisi yang membuatnya membutuhkan pengkhususan tersebut, maka hal itu sama sekali bukan termasuk bid‘ah dan tidak mengapa.”IslamQA kemudian memberikan beberapa contoh. Seseorang biasa berpuasa pada hari Selasa karena hari tersebut merupakan hari liburnya. Ada pula yang biasa melakukan shalat malam pada malam Sabtu karena pada hari Sabtu ia tidak bekerja. Begitu pula seseorang membaca Al-Qur’an antara Magrib dan Isya karena pada waktu tersebut ia mempunyai kesempatan. Semua ini dibolehkan selama tidak ada keyakinan mengenai keutamaan khusus yang tidak ditetapkan oleh syariat. Kapan Merutinkan Amalan Menjadi Masalah?Masalah muncul ketika seseorang tidak lagi sekadar mengatur dirinya, tetapi menjadikan pengaturan tersebut seolah-olah sebagai ketentuan agama.Misalnya, seseorang mengatakan, “Setiap selesai Subuh harus membaca istigfar 500 kali karena jumlah ini mempunyai keutamaan khusus.” Jika keutamaan tersebut dinisbatkan kepada syariat, maka diperlukan dalil.Demikian pula apabila dibuat doa tertentu untuk hari pertama setiap bulan, doa tertentu untuk hari kedua, doa tertentu untuk hari ketiga, kemudian semua itu diajarkan kepada masyarakat sebagai amalan khusus yang memiliki keutamaan tertentu.Padahal tidak ada dalil yang menetapkannya.Di sinilah berlaku kaidah bahwa ibadah bersifat tawqifiyyah, yaitu tata cara ibadah harus mengikuti petunjuk syariat.Allah Ta’ala berfirman,أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syura: 21)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ“Barang siapa membuat perkara baru dalam urusan agama kami yang bukan bagian darinya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari, no. 2697 dan Muslim, no. 1718) Ibadah Itu Berdasarkan Dalil dan Mengikuti TuntunanSyaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,لَا رَيْبَ أَنَّ الْأَذْكَارَ وَالدَّعَوَاتِ مِنْ أَفْضَلِ الْعِبَادَاتِ، وَالْعِبَادَاتُ مَبْنَاهَا عَلَى التَّوْقِيفِ وَالِاتِّبَاعِ، لَا عَلَى الْهَوَى وَالِابْتِدَاعِ.“Tidak diragukan bahwa zikir dan doa termasuk ibadah yang paling utama. Ibadah dibangun di atas prinsip mengikuti dalil dan tuntunan, bukan berdasarkan hawa nafsu dan membuat perkara baru.”Beliau juga menjelaskan bahwa seseorang tidak boleh membuat suatu jenis zikir dan doa yang tidak dituntunkan, lalu menjadikannya sebagai ibadah rutin yang terus dilakukan oleh masyarakat layaknya amalan sunnah yang telah ditetapkan.Lihat: Majmu’ Al-Fatawa, 22:510–511. Contoh Doa Khusus Setiap Hari RamadanContoh yang mudah dipahami adalah tersebarnya “doa hari pertama Ramadan”, “doa hari kedua Ramadan”, “doa hari ketiga Ramadan”, dan seterusnya sampai hari ketiga puluh.Berdoa tentu merupakan ibadah yang sangat mulia. Bahkan memperbanyak doa pada bulan Ramadan sangat dianjurkan.Namun, persoalannya berbeda ketika doa tertentu ditetapkan untuk hari tertentu kemudian diklaim mempunyai pahala atau keutamaan tertentu, padahal tidak ada dalil yang menetapkannya.IslamQA memberikan kaidah,الدُّعَاءُ مِنَ الْعِبَادَةِ، وَمَبْنَى الْعِبَادَاتِ عَلَى التَّوْقِيفِ، فَلَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ أَنْ يَشْرَعَ لِلنَّاسِ عِبَادَةً مُعَيَّنَةً مِنْ دُعَاءٍ أَوْ غَيْرِهِ، فِي يَوْمٍ مُعَيَّنٍ، أَوْ زَمَانٍ مُعَيَّنٍ، أَوْ مَكَانٍ مُعَيَّنٍ، لَمْ يَرِدْ بِهَا الشَّرْعُ.“Doa termasuk ibadah. Ibadah dibangun di atas prinsip mengikuti dalil. Karena itu, seseorang tidak boleh mensyariatkan kepada manusia ibadah tertentu, berupa doa atau selainnya, pada hari tertentu, waktu tertentu, atau tempat tertentu yang tidak ditetapkan oleh syariat.”Namun, seseorang tetap boleh berdoa meminta berbagai kebaikan dunia dan akhirat dengan doa yang tidak disebutkan secara khusus dalam dalil, selama kandungannya benar dan tidak dijadikan sebagai tata cara sunnah khusus. Bagaimana dengan Menentukan Jumlah Zikir Sendiri?Masalah ini juga perlu dirinci.Ada zikir yang jumlahnya memang ditentukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Zikir semacam ini hendaknya dilakukan sebagaimana tuntunan yang ada.Misalnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ، حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ“Barang siapa mengucapkan Subhanallahi wa bihamdih dalam sehari sebanyak seratus kali, dosa-dosanya akan dihapus walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Bukhari, no. 6405 dan Muslim, no. 2691)Di sini jumlah seratus kali berasal dari dalil. Maka, jumlah tersebut memiliki keutamaan berdasarkan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Adapun zikir yang syariat memerintahkan untuk memperbanyaknya secara mutlak, maka tidak boleh menetapkan suatu jumlah tertentu kemudian mengklaim bahwa jumlah tersebut mempunyai keutamaan khusus tanpa dalil.Namun, jika seseorang sekadar membuat target pribadi agar dirinya disiplin dalam berzikir, persoalannya berbeda.Misalnya, ia mengatakan, “Saya menargetkan beristigfar 500 kali sehari agar saya terbiasa memperbanyak istigfar.”Ia tidak mengatakan bahwa angka 500 memiliki keutamaan khusus. Ia juga tidak mengajarkannya sebagai sunnah khusus dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Maka, ini lebih dekat kepada pengaturan pribadi, bukan membuat syariat baru. Tiga Keadaan dalam Merutinkan AmalanDari penjelasan para ulama di atas, masalah ini dapat diringkas menjadi tiga keadaan.Pertama: Rutinitas yang Memang Ditetapkan oleh SyariatIni dianjurkan untuk dijaga.Contohnya adalah zikir pagi dan petang, shalat Witir, shalat Rawatib, puasa Senin-Kamis, puasa tiga hari setiap bulan, serta amalan sunnah lainnya yang memiliki tuntunan.Bahkan istiqamah dalam amalan merupakan sesuatu yang dicintai Allah.Kedua: Membuat Jadwal Pribadi agar IstiqamahIni pada asalnya dibolehkan.Misalnya, seseorang membaca dua halaman Al-Qur’an setiap selesai Subuh karena waktu tersebut paling memungkinkan baginya.Atau seseorang bersedekah setiap tanggal gajian karena pada waktu itulah ia memiliki kelapangan. Tidak masalah selama ia tidak mengatakan bahwa waktu, jumlah, atau cara tersebut memiliki keutamaan syar’i khusus.Dengan demikian, pengaturan pribadi tidak otomatis menjadi pensyariatan baru.Ketiga: Menetapkan Waktu, Jumlah, atau Tata Cara sebagai Ibadah Khusus Tanpa DalilInilah yang perlu dihindari.Misalnya, membuat suatu zikir dengan jumlah tertentu, pada waktu tertentu, dengan tata cara tertentu, kemudian mengatakan bahwa itulah sunnah atau mempunyai keutamaan khusus di sisi Allah, padahal tidak ada dalil yang menunjukkan hal tersebut.Di sini pengaturan telah berubah menjadi pensyariatan. Jangan Mudah Memvonis Bid‘ahDari sini kita juga belajar agar tidak tergesa-gesa mengatakan bahwa setiap orang yang merutinkan suatu amalan berarti telah melakukan bid‘ah.Seseorang membaca Al-Qur’an setiap pukul lima pagi belum tentu meyakini bahwa pukul lima mempunyai keutamaan khusus. Bisa jadi itulah waktu luangnya.Seseorang bersedekah setiap Jumat belum tentu meyakini bahwa sedekah hanya boleh atau harus dilakukan pada hari Jumat. Bisa jadi ia sekadar menjadikannya sebagai jadwal pribadi agar istiqamah.Karena itu, perlu dibedakan antara:التَّخْصِيصُ لِلتَّنْظِيمِ“Pengkhususan dalam rangka pengaturan.”danالتَّخْصِيصُ التَّعَبُّدِيُّ“Pengkhususan dengan keyakinan adanya nilai ibadah khusus.”Yang pertama pada asalnya memiliki ruang yang luas. Adapun yang kedua membutuhkan dalil. KesimpulanAda beberapa kesimpulan penting dalam masalah merutinkan amalan.Pertama, istiqamah dan kontinu dalam melakukan kebaikan adalah sesuatu yang dianjurkan dalam Islam.Kedua, amalan yang telah ditentukan waktu, jumlah, dan tata caranya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendaknya dikerjakan sesuai tuntunan beliau.Ketiga, seseorang boleh mengatur jadwal dan target ibadah pribadi agar lebih disiplin dan istiqamah selama tidak meyakini bahwa pengaturan tersebut mempunyai keutamaan khusus berdasarkan syariat. Keempat, tidak dibenarkan membuat waktu, jumlah, tempat, atau tata cara tertentu untuk suatu ibadah kemudian menisbatkannya kepada agama atau menganggapnya sebagai sunnah khusus tanpa dalil. Ringkasnya,الْمُدَاوَمَةُ عَلَى الْعِبَادَةِ مَشْرُوعَةٌ، وَأَمَّا تَخْصِيصُهَا بِوَصْفٍ تَعَبُّدِيٍّ فَيَحْتَاجُ إِلَى دَلِيلٍ.“Kontinu dalam beribadah adalah sesuatu yang disyariatkan. Adapun mengkhususkannya dengan bentuk ibadah tertentu membutuhkan dalil.” NasihatSemangat beribadah hendaknya selalu diiringi dengan semangat mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jangan sampai takut terhadap bid‘ah justru membuat kita meninggalkan kebiasaan baik dan tidak istiqamah dalam beramal. Sebaliknya, jangan pula semangat beramal membuat kita menetapkan sendiri suatu bentuk ibadah lalu menganggapnya sebagai tuntunan agama. Jadikan sunnah sebagai pedoman dan aturlah waktu dengan baik agar kita mampu istiqamah dalam ketaatan sampai akhir hayat.Semoga Allah memberikan kepada kita keistiqamahan dalam beribadah dan kemampuan untuk selalu mengikuti tuntunan Nabi-Nya.اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، وَارْزُقْنَا الِاسْتِقَامَةَ عَلَى طَاعَتِكَ وَاتِّبَاعَ سُنَّةِ نَبِيِّكَ ﷺ.Allahumma a‘inna ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik, warzuqnal-istiqamata ‘ala tha‘atik, wattiba‘a sunnati nabiyyika shallallahu ‘alaihi wa sallam.“Ya Allah, tolonglah kami untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu. Karuniakanlah kepada kami keistiqamahan dalam menaati-Mu dan mengikuti sunnah Nabi-Mu shallallahu ‘alaihi wa sallam.” ReferensiIslamQA. هل التزام صدقة في يوم معين وبقدر معين بدعة؟ Fatwa no. 120096.IslamQA. حكم تخصيص كل يوم من رمضان بدعاء معين. Fatwa no. 292883.Ibnu Taimiyyah, Ahmad bin ‘Abdul Halim. Majmu’ Al-Fatawa, 22:510–511. —- Selesai ditulis dalam perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamalan rutin amalan sunnah bid'ah doa ibadah istiqamah manhaj salaf mengikuti sunnah sedekah zikir
Ada orang yang menetapkan target membaca Al-Qur’an setiap pagi, bersedekah setiap Jumat, atau beristigfar dengan jumlah tertentu setiap hari. Apakah merutinkan amalan seperti ini otomatis menjadi bid‘ah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menetapkan rutinitas tersebut? Jawabannya perlu dirinci, karena ada perbedaan antara mengatur ibadah agar istiqamah dan membuat tata cara ibadah baru yang dianggap sebagai bagian dari syariat.  Daftar Isi tutup 1. Amalan yang Paling Dicintai Allah adalah yang Kontinu 2. Bedakan Antara Mengatur Ibadah dan Membuat Syariat Baru 3. Kapan Merutinkan Amalan Menjadi Masalah? 4. Ibadah Itu Berdasarkan Dalil dan Mengikuti Tuntunan 5. Contoh Doa Khusus Setiap Hari Ramadan 6. Bagaimana dengan Menentukan Jumlah Zikir Sendiri? 7. Tiga Keadaan dalam Merutinkan Amalan 7.1. Pertama: Rutinitas yang Memang Ditetapkan oleh Syariat 7.2. Kedua: Membuat Jadwal Pribadi agar Istiqamah 7.3. Ketiga: Menetapkan Waktu, Jumlah, atau Tata Cara sebagai Ibadah Khusus Tanpa Dalil 8. Jangan Mudah Memvonis Bid‘ah 9. Kesimpulan 10. Nasihat  Amalan yang Paling Dicintai Allah adalah yang KontinuIslam mendorong seorang muslim untuk istiqamah dalam kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang paling kontinu walaupun sedikit.” (HR. Bukhari, no. 6465 dan Muslim, no. 783)Hadits ini menunjukkan bahwa kontinuitas dalam beramal adalah sesuatu yang terpuji.Karena itu, seseorang yang mampu menjaga shalat Witir setiap malam, shalat Dhuha, membaca Al-Qur’an, berzikir, bersedekah, atau melakukan berbagai amal saleh lainnya secara rutin berarti telah melakukan sesuatu yang baik.Namun, ada persoalan lain yang harus dibedakan, yaitu ketika seseorang memberikan waktu, jumlah, tempat, atau tata cara tertentu pada suatu ibadah yang sebenarnya datang secara mutlak dalam syariat.Apakah hal seperti ini dibolehkan? Bedakan Antara Mengatur Ibadah dan Membuat Syariat BaruKaidah penting dalam masalah ini adalah:التَّنْظِيمُ غَيْرُ التَّشْرِيعِ“Mengatur ibadah tidak sama dengan membuat syariat.”Seseorang terkadang menentukan waktu tertentu untuk suatu ibadah karena pada waktu itulah ia mempunyai kesempatan.Misalnya:membaca Al-Qur’an setiap hari setelah Subuh selama 15 menit;bersedekah setiap Jumat karena pada hari tersebut ia menerima penghasilan;mengerjakan shalat malam pada malam tertentu karena keesokan harinya libur;menetapkan target istigfar dalam jumlah tertentu setiap hari untuk melatih dirinya agar banyak berzikir.Pengaturan semacam ini tidak otomatis menjadi bid‘ah, selama ia tidak meyakini bahwa waktu, jumlah, atau cara yang ia tentukan sendiri tersebut memiliki keutamaan khusus berdasarkan syariat.Dalam IslamQA dijelaskan,تَخْصِيصُ الْمُسْلِمِ عِبَادَةً بِزَمَانٍ أَوْ مَكَانٍ مُعَيَّنٍ لَمْ يَرِدْ بِهِ الشَّرْعُ، مِنْ غَيْرِ اعْتِقَادٍ أَنَّ لِذَلِكَ الزَّمَانِ أَوِ الْمَكَانِ فَضْلًا مُعَيَّنًا، وَإِنَّمَا هُوَ لِظَرْفٍ يَعْرِضُ لَهُ، فَيَحْتَاجُ مَعَهُ إِلَى هَذَا التَّخْصِيصِ، لَيْسَ مِنَ الْبِدْعَةِ فِي شَيْءٍ، وَلَا بَأْسَ بِهِ.“Seorang muslim mengkhususkan suatu ibadah pada waktu atau tempat tertentu yang tidak ditentukan oleh syariat, tanpa meyakini bahwa waktu atau tempat tersebut mempunyai keutamaan tertentu, tetapi semata-mata karena kondisi yang membuatnya membutuhkan pengkhususan tersebut, maka hal itu sama sekali bukan termasuk bid‘ah dan tidak mengapa.”IslamQA kemudian memberikan beberapa contoh. Seseorang biasa berpuasa pada hari Selasa karena hari tersebut merupakan hari liburnya. Ada pula yang biasa melakukan shalat malam pada malam Sabtu karena pada hari Sabtu ia tidak bekerja. Begitu pula seseorang membaca Al-Qur’an antara Magrib dan Isya karena pada waktu tersebut ia mempunyai kesempatan. Semua ini dibolehkan selama tidak ada keyakinan mengenai keutamaan khusus yang tidak ditetapkan oleh syariat. Kapan Merutinkan Amalan Menjadi Masalah?Masalah muncul ketika seseorang tidak lagi sekadar mengatur dirinya, tetapi menjadikan pengaturan tersebut seolah-olah sebagai ketentuan agama.Misalnya, seseorang mengatakan, “Setiap selesai Subuh harus membaca istigfar 500 kali karena jumlah ini mempunyai keutamaan khusus.” Jika keutamaan tersebut dinisbatkan kepada syariat, maka diperlukan dalil.Demikian pula apabila dibuat doa tertentu untuk hari pertama setiap bulan, doa tertentu untuk hari kedua, doa tertentu untuk hari ketiga, kemudian semua itu diajarkan kepada masyarakat sebagai amalan khusus yang memiliki keutamaan tertentu.Padahal tidak ada dalil yang menetapkannya.Di sinilah berlaku kaidah bahwa ibadah bersifat tawqifiyyah, yaitu tata cara ibadah harus mengikuti petunjuk syariat.Allah Ta’ala berfirman,أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syura: 21)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ“Barang siapa membuat perkara baru dalam urusan agama kami yang bukan bagian darinya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari, no. 2697 dan Muslim, no. 1718) Ibadah Itu Berdasarkan Dalil dan Mengikuti TuntunanSyaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,لَا رَيْبَ أَنَّ الْأَذْكَارَ وَالدَّعَوَاتِ مِنْ أَفْضَلِ الْعِبَادَاتِ، وَالْعِبَادَاتُ مَبْنَاهَا عَلَى التَّوْقِيفِ وَالِاتِّبَاعِ، لَا عَلَى الْهَوَى وَالِابْتِدَاعِ.“Tidak diragukan bahwa zikir dan doa termasuk ibadah yang paling utama. Ibadah dibangun di atas prinsip mengikuti dalil dan tuntunan, bukan berdasarkan hawa nafsu dan membuat perkara baru.”Beliau juga menjelaskan bahwa seseorang tidak boleh membuat suatu jenis zikir dan doa yang tidak dituntunkan, lalu menjadikannya sebagai ibadah rutin yang terus dilakukan oleh masyarakat layaknya amalan sunnah yang telah ditetapkan.Lihat: Majmu’ Al-Fatawa, 22:510–511. Contoh Doa Khusus Setiap Hari RamadanContoh yang mudah dipahami adalah tersebarnya “doa hari pertama Ramadan”, “doa hari kedua Ramadan”, “doa hari ketiga Ramadan”, dan seterusnya sampai hari ketiga puluh.Berdoa tentu merupakan ibadah yang sangat mulia. Bahkan memperbanyak doa pada bulan Ramadan sangat dianjurkan.Namun, persoalannya berbeda ketika doa tertentu ditetapkan untuk hari tertentu kemudian diklaim mempunyai pahala atau keutamaan tertentu, padahal tidak ada dalil yang menetapkannya.IslamQA memberikan kaidah,الدُّعَاءُ مِنَ الْعِبَادَةِ، وَمَبْنَى الْعِبَادَاتِ عَلَى التَّوْقِيفِ، فَلَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ أَنْ يَشْرَعَ لِلنَّاسِ عِبَادَةً مُعَيَّنَةً مِنْ دُعَاءٍ أَوْ غَيْرِهِ، فِي يَوْمٍ مُعَيَّنٍ، أَوْ زَمَانٍ مُعَيَّنٍ، أَوْ مَكَانٍ مُعَيَّنٍ، لَمْ يَرِدْ بِهَا الشَّرْعُ.“Doa termasuk ibadah. Ibadah dibangun di atas prinsip mengikuti dalil. Karena itu, seseorang tidak boleh mensyariatkan kepada manusia ibadah tertentu, berupa doa atau selainnya, pada hari tertentu, waktu tertentu, atau tempat tertentu yang tidak ditetapkan oleh syariat.”Namun, seseorang tetap boleh berdoa meminta berbagai kebaikan dunia dan akhirat dengan doa yang tidak disebutkan secara khusus dalam dalil, selama kandungannya benar dan tidak dijadikan sebagai tata cara sunnah khusus. Bagaimana dengan Menentukan Jumlah Zikir Sendiri?Masalah ini juga perlu dirinci.Ada zikir yang jumlahnya memang ditentukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Zikir semacam ini hendaknya dilakukan sebagaimana tuntunan yang ada.Misalnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ، حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ“Barang siapa mengucapkan Subhanallahi wa bihamdih dalam sehari sebanyak seratus kali, dosa-dosanya akan dihapus walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Bukhari, no. 6405 dan Muslim, no. 2691)Di sini jumlah seratus kali berasal dari dalil. Maka, jumlah tersebut memiliki keutamaan berdasarkan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Adapun zikir yang syariat memerintahkan untuk memperbanyaknya secara mutlak, maka tidak boleh menetapkan suatu jumlah tertentu kemudian mengklaim bahwa jumlah tersebut mempunyai keutamaan khusus tanpa dalil.Namun, jika seseorang sekadar membuat target pribadi agar dirinya disiplin dalam berzikir, persoalannya berbeda.Misalnya, ia mengatakan, “Saya menargetkan beristigfar 500 kali sehari agar saya terbiasa memperbanyak istigfar.”Ia tidak mengatakan bahwa angka 500 memiliki keutamaan khusus. Ia juga tidak mengajarkannya sebagai sunnah khusus dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Maka, ini lebih dekat kepada pengaturan pribadi, bukan membuat syariat baru. Tiga Keadaan dalam Merutinkan AmalanDari penjelasan para ulama di atas, masalah ini dapat diringkas menjadi tiga keadaan.Pertama: Rutinitas yang Memang Ditetapkan oleh SyariatIni dianjurkan untuk dijaga.Contohnya adalah zikir pagi dan petang, shalat Witir, shalat Rawatib, puasa Senin-Kamis, puasa tiga hari setiap bulan, serta amalan sunnah lainnya yang memiliki tuntunan.Bahkan istiqamah dalam amalan merupakan sesuatu yang dicintai Allah.Kedua: Membuat Jadwal Pribadi agar IstiqamahIni pada asalnya dibolehkan.Misalnya, seseorang membaca dua halaman Al-Qur’an setiap selesai Subuh karena waktu tersebut paling memungkinkan baginya.Atau seseorang bersedekah setiap tanggal gajian karena pada waktu itulah ia memiliki kelapangan. Tidak masalah selama ia tidak mengatakan bahwa waktu, jumlah, atau cara tersebut memiliki keutamaan syar’i khusus.Dengan demikian, pengaturan pribadi tidak otomatis menjadi pensyariatan baru.Ketiga: Menetapkan Waktu, Jumlah, atau Tata Cara sebagai Ibadah Khusus Tanpa DalilInilah yang perlu dihindari.Misalnya, membuat suatu zikir dengan jumlah tertentu, pada waktu tertentu, dengan tata cara tertentu, kemudian mengatakan bahwa itulah sunnah atau mempunyai keutamaan khusus di sisi Allah, padahal tidak ada dalil yang menunjukkan hal tersebut.Di sini pengaturan telah berubah menjadi pensyariatan. Jangan Mudah Memvonis Bid‘ahDari sini kita juga belajar agar tidak tergesa-gesa mengatakan bahwa setiap orang yang merutinkan suatu amalan berarti telah melakukan bid‘ah.Seseorang membaca Al-Qur’an setiap pukul lima pagi belum tentu meyakini bahwa pukul lima mempunyai keutamaan khusus. Bisa jadi itulah waktu luangnya.Seseorang bersedekah setiap Jumat belum tentu meyakini bahwa sedekah hanya boleh atau harus dilakukan pada hari Jumat. Bisa jadi ia sekadar menjadikannya sebagai jadwal pribadi agar istiqamah.Karena itu, perlu dibedakan antara:التَّخْصِيصُ لِلتَّنْظِيمِ“Pengkhususan dalam rangka pengaturan.”danالتَّخْصِيصُ التَّعَبُّدِيُّ“Pengkhususan dengan keyakinan adanya nilai ibadah khusus.”Yang pertama pada asalnya memiliki ruang yang luas. Adapun yang kedua membutuhkan dalil. KesimpulanAda beberapa kesimpulan penting dalam masalah merutinkan amalan.Pertama, istiqamah dan kontinu dalam melakukan kebaikan adalah sesuatu yang dianjurkan dalam Islam.Kedua, amalan yang telah ditentukan waktu, jumlah, dan tata caranya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendaknya dikerjakan sesuai tuntunan beliau.Ketiga, seseorang boleh mengatur jadwal dan target ibadah pribadi agar lebih disiplin dan istiqamah selama tidak meyakini bahwa pengaturan tersebut mempunyai keutamaan khusus berdasarkan syariat. Keempat, tidak dibenarkan membuat waktu, jumlah, tempat, atau tata cara tertentu untuk suatu ibadah kemudian menisbatkannya kepada agama atau menganggapnya sebagai sunnah khusus tanpa dalil. Ringkasnya,الْمُدَاوَمَةُ عَلَى الْعِبَادَةِ مَشْرُوعَةٌ، وَأَمَّا تَخْصِيصُهَا بِوَصْفٍ تَعَبُّدِيٍّ فَيَحْتَاجُ إِلَى دَلِيلٍ.“Kontinu dalam beribadah adalah sesuatu yang disyariatkan. Adapun mengkhususkannya dengan bentuk ibadah tertentu membutuhkan dalil.” NasihatSemangat beribadah hendaknya selalu diiringi dengan semangat mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jangan sampai takut terhadap bid‘ah justru membuat kita meninggalkan kebiasaan baik dan tidak istiqamah dalam beramal. Sebaliknya, jangan pula semangat beramal membuat kita menetapkan sendiri suatu bentuk ibadah lalu menganggapnya sebagai tuntunan agama. Jadikan sunnah sebagai pedoman dan aturlah waktu dengan baik agar kita mampu istiqamah dalam ketaatan sampai akhir hayat.Semoga Allah memberikan kepada kita keistiqamahan dalam beribadah dan kemampuan untuk selalu mengikuti tuntunan Nabi-Nya.اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، وَارْزُقْنَا الِاسْتِقَامَةَ عَلَى طَاعَتِكَ وَاتِّبَاعَ سُنَّةِ نَبِيِّكَ ﷺ.Allahumma a‘inna ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik, warzuqnal-istiqamata ‘ala tha‘atik, wattiba‘a sunnati nabiyyika shallallahu ‘alaihi wa sallam.“Ya Allah, tolonglah kami untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu. Karuniakanlah kepada kami keistiqamahan dalam menaati-Mu dan mengikuti sunnah Nabi-Mu shallallahu ‘alaihi wa sallam.” ReferensiIslamQA. هل التزام صدقة في يوم معين وبقدر معين بدعة؟ Fatwa no. 120096.IslamQA. حكم تخصيص كل يوم من رمضان بدعاء معين. Fatwa no. 292883.Ibnu Taimiyyah, Ahmad bin ‘Abdul Halim. Majmu’ Al-Fatawa, 22:510–511. —- Selesai ditulis dalam perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamalan rutin amalan sunnah bid'ah doa ibadah istiqamah manhaj salaf mengikuti sunnah sedekah zikir


Ada orang yang menetapkan target membaca Al-Qur’an setiap pagi, bersedekah setiap Jumat, atau beristigfar dengan jumlah tertentu setiap hari. Apakah merutinkan amalan seperti ini otomatis menjadi bid‘ah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menetapkan rutinitas tersebut? Jawabannya perlu dirinci, karena ada perbedaan antara mengatur ibadah agar istiqamah dan membuat tata cara ibadah baru yang dianggap sebagai bagian dari syariat.  Daftar Isi tutup 1. Amalan yang Paling Dicintai Allah adalah yang Kontinu 2. Bedakan Antara Mengatur Ibadah dan Membuat Syariat Baru 3. Kapan Merutinkan Amalan Menjadi Masalah? 4. Ibadah Itu Berdasarkan Dalil dan Mengikuti Tuntunan 5. Contoh Doa Khusus Setiap Hari Ramadan 6. Bagaimana dengan Menentukan Jumlah Zikir Sendiri? 7. Tiga Keadaan dalam Merutinkan Amalan 7.1. Pertama: Rutinitas yang Memang Ditetapkan oleh Syariat 7.2. Kedua: Membuat Jadwal Pribadi agar Istiqamah 7.3. Ketiga: Menetapkan Waktu, Jumlah, atau Tata Cara sebagai Ibadah Khusus Tanpa Dalil 8. Jangan Mudah Memvonis Bid‘ah 9. Kesimpulan 10. Nasihat  Amalan yang Paling Dicintai Allah adalah yang KontinuIslam mendorong seorang muslim untuk istiqamah dalam kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang paling kontinu walaupun sedikit.” (HR. Bukhari, no. 6465 dan Muslim, no. 783)Hadits ini menunjukkan bahwa kontinuitas dalam beramal adalah sesuatu yang terpuji.Karena itu, seseorang yang mampu menjaga shalat Witir setiap malam, shalat Dhuha, membaca Al-Qur’an, berzikir, bersedekah, atau melakukan berbagai amal saleh lainnya secara rutin berarti telah melakukan sesuatu yang baik.Namun, ada persoalan lain yang harus dibedakan, yaitu ketika seseorang memberikan waktu, jumlah, tempat, atau tata cara tertentu pada suatu ibadah yang sebenarnya datang secara mutlak dalam syariat.Apakah hal seperti ini dibolehkan? Bedakan Antara Mengatur Ibadah dan Membuat Syariat BaruKaidah penting dalam masalah ini adalah:التَّنْظِيمُ غَيْرُ التَّشْرِيعِ“Mengatur ibadah tidak sama dengan membuat syariat.”Seseorang terkadang menentukan waktu tertentu untuk suatu ibadah karena pada waktu itulah ia mempunyai kesempatan.Misalnya:membaca Al-Qur’an setiap hari setelah Subuh selama 15 menit;bersedekah setiap Jumat karena pada hari tersebut ia menerima penghasilan;mengerjakan shalat malam pada malam tertentu karena keesokan harinya libur;menetapkan target istigfar dalam jumlah tertentu setiap hari untuk melatih dirinya agar banyak berzikir.Pengaturan semacam ini tidak otomatis menjadi bid‘ah, selama ia tidak meyakini bahwa waktu, jumlah, atau cara yang ia tentukan sendiri tersebut memiliki keutamaan khusus berdasarkan syariat.Dalam IslamQA dijelaskan,تَخْصِيصُ الْمُسْلِمِ عِبَادَةً بِزَمَانٍ أَوْ مَكَانٍ مُعَيَّنٍ لَمْ يَرِدْ بِهِ الشَّرْعُ، مِنْ غَيْرِ اعْتِقَادٍ أَنَّ لِذَلِكَ الزَّمَانِ أَوِ الْمَكَانِ فَضْلًا مُعَيَّنًا، وَإِنَّمَا هُوَ لِظَرْفٍ يَعْرِضُ لَهُ، فَيَحْتَاجُ مَعَهُ إِلَى هَذَا التَّخْصِيصِ، لَيْسَ مِنَ الْبِدْعَةِ فِي شَيْءٍ، وَلَا بَأْسَ بِهِ.“Seorang muslim mengkhususkan suatu ibadah pada waktu atau tempat tertentu yang tidak ditentukan oleh syariat, tanpa meyakini bahwa waktu atau tempat tersebut mempunyai keutamaan tertentu, tetapi semata-mata karena kondisi yang membuatnya membutuhkan pengkhususan tersebut, maka hal itu sama sekali bukan termasuk bid‘ah dan tidak mengapa.”IslamQA kemudian memberikan beberapa contoh. Seseorang biasa berpuasa pada hari Selasa karena hari tersebut merupakan hari liburnya. Ada pula yang biasa melakukan shalat malam pada malam Sabtu karena pada hari Sabtu ia tidak bekerja. Begitu pula seseorang membaca Al-Qur’an antara Magrib dan Isya karena pada waktu tersebut ia mempunyai kesempatan. Semua ini dibolehkan selama tidak ada keyakinan mengenai keutamaan khusus yang tidak ditetapkan oleh syariat. Kapan Merutinkan Amalan Menjadi Masalah?Masalah muncul ketika seseorang tidak lagi sekadar mengatur dirinya, tetapi menjadikan pengaturan tersebut seolah-olah sebagai ketentuan agama.Misalnya, seseorang mengatakan, “Setiap selesai Subuh harus membaca istigfar 500 kali karena jumlah ini mempunyai keutamaan khusus.” Jika keutamaan tersebut dinisbatkan kepada syariat, maka diperlukan dalil.Demikian pula apabila dibuat doa tertentu untuk hari pertama setiap bulan, doa tertentu untuk hari kedua, doa tertentu untuk hari ketiga, kemudian semua itu diajarkan kepada masyarakat sebagai amalan khusus yang memiliki keutamaan tertentu.Padahal tidak ada dalil yang menetapkannya.Di sinilah berlaku kaidah bahwa ibadah bersifat tawqifiyyah, yaitu tata cara ibadah harus mengikuti petunjuk syariat.Allah Ta’ala berfirman,أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syura: 21)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ“Barang siapa membuat perkara baru dalam urusan agama kami yang bukan bagian darinya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari, no. 2697 dan Muslim, no. 1718) Ibadah Itu Berdasarkan Dalil dan Mengikuti TuntunanSyaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,لَا رَيْبَ أَنَّ الْأَذْكَارَ وَالدَّعَوَاتِ مِنْ أَفْضَلِ الْعِبَادَاتِ، وَالْعِبَادَاتُ مَبْنَاهَا عَلَى التَّوْقِيفِ وَالِاتِّبَاعِ، لَا عَلَى الْهَوَى وَالِابْتِدَاعِ.“Tidak diragukan bahwa zikir dan doa termasuk ibadah yang paling utama. Ibadah dibangun di atas prinsip mengikuti dalil dan tuntunan, bukan berdasarkan hawa nafsu dan membuat perkara baru.”Beliau juga menjelaskan bahwa seseorang tidak boleh membuat suatu jenis zikir dan doa yang tidak dituntunkan, lalu menjadikannya sebagai ibadah rutin yang terus dilakukan oleh masyarakat layaknya amalan sunnah yang telah ditetapkan.Lihat: Majmu’ Al-Fatawa, 22:510–511. Contoh Doa Khusus Setiap Hari RamadanContoh yang mudah dipahami adalah tersebarnya “doa hari pertama Ramadan”, “doa hari kedua Ramadan”, “doa hari ketiga Ramadan”, dan seterusnya sampai hari ketiga puluh.Berdoa tentu merupakan ibadah yang sangat mulia. Bahkan memperbanyak doa pada bulan Ramadan sangat dianjurkan.Namun, persoalannya berbeda ketika doa tertentu ditetapkan untuk hari tertentu kemudian diklaim mempunyai pahala atau keutamaan tertentu, padahal tidak ada dalil yang menetapkannya.IslamQA memberikan kaidah,الدُّعَاءُ مِنَ الْعِبَادَةِ، وَمَبْنَى الْعِبَادَاتِ عَلَى التَّوْقِيفِ، فَلَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ أَنْ يَشْرَعَ لِلنَّاسِ عِبَادَةً مُعَيَّنَةً مِنْ دُعَاءٍ أَوْ غَيْرِهِ، فِي يَوْمٍ مُعَيَّنٍ، أَوْ زَمَانٍ مُعَيَّنٍ، أَوْ مَكَانٍ مُعَيَّنٍ، لَمْ يَرِدْ بِهَا الشَّرْعُ.“Doa termasuk ibadah. Ibadah dibangun di atas prinsip mengikuti dalil. Karena itu, seseorang tidak boleh mensyariatkan kepada manusia ibadah tertentu, berupa doa atau selainnya, pada hari tertentu, waktu tertentu, atau tempat tertentu yang tidak ditetapkan oleh syariat.”Namun, seseorang tetap boleh berdoa meminta berbagai kebaikan dunia dan akhirat dengan doa yang tidak disebutkan secara khusus dalam dalil, selama kandungannya benar dan tidak dijadikan sebagai tata cara sunnah khusus. Bagaimana dengan Menentukan Jumlah Zikir Sendiri?Masalah ini juga perlu dirinci.Ada zikir yang jumlahnya memang ditentukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Zikir semacam ini hendaknya dilakukan sebagaimana tuntunan yang ada.Misalnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ، حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ“Barang siapa mengucapkan Subhanallahi wa bihamdih dalam sehari sebanyak seratus kali, dosa-dosanya akan dihapus walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Bukhari, no. 6405 dan Muslim, no. 2691)Di sini jumlah seratus kali berasal dari dalil. Maka, jumlah tersebut memiliki keutamaan berdasarkan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Adapun zikir yang syariat memerintahkan untuk memperbanyaknya secara mutlak, maka tidak boleh menetapkan suatu jumlah tertentu kemudian mengklaim bahwa jumlah tersebut mempunyai keutamaan khusus tanpa dalil.Namun, jika seseorang sekadar membuat target pribadi agar dirinya disiplin dalam berzikir, persoalannya berbeda.Misalnya, ia mengatakan, “Saya menargetkan beristigfar 500 kali sehari agar saya terbiasa memperbanyak istigfar.”Ia tidak mengatakan bahwa angka 500 memiliki keutamaan khusus. Ia juga tidak mengajarkannya sebagai sunnah khusus dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Maka, ini lebih dekat kepada pengaturan pribadi, bukan membuat syariat baru. Tiga Keadaan dalam Merutinkan AmalanDari penjelasan para ulama di atas, masalah ini dapat diringkas menjadi tiga keadaan.Pertama: Rutinitas yang Memang Ditetapkan oleh SyariatIni dianjurkan untuk dijaga.Contohnya adalah zikir pagi dan petang, shalat Witir, shalat Rawatib, puasa Senin-Kamis, puasa tiga hari setiap bulan, serta amalan sunnah lainnya yang memiliki tuntunan.Bahkan istiqamah dalam amalan merupakan sesuatu yang dicintai Allah.Kedua: Membuat Jadwal Pribadi agar IstiqamahIni pada asalnya dibolehkan.Misalnya, seseorang membaca dua halaman Al-Qur’an setiap selesai Subuh karena waktu tersebut paling memungkinkan baginya.Atau seseorang bersedekah setiap tanggal gajian karena pada waktu itulah ia memiliki kelapangan. Tidak masalah selama ia tidak mengatakan bahwa waktu, jumlah, atau cara tersebut memiliki keutamaan syar’i khusus.Dengan demikian, pengaturan pribadi tidak otomatis menjadi pensyariatan baru.Ketiga: Menetapkan Waktu, Jumlah, atau Tata Cara sebagai Ibadah Khusus Tanpa DalilInilah yang perlu dihindari.Misalnya, membuat suatu zikir dengan jumlah tertentu, pada waktu tertentu, dengan tata cara tertentu, kemudian mengatakan bahwa itulah sunnah atau mempunyai keutamaan khusus di sisi Allah, padahal tidak ada dalil yang menunjukkan hal tersebut.Di sini pengaturan telah berubah menjadi pensyariatan. Jangan Mudah Memvonis Bid‘ahDari sini kita juga belajar agar tidak tergesa-gesa mengatakan bahwa setiap orang yang merutinkan suatu amalan berarti telah melakukan bid‘ah.Seseorang membaca Al-Qur’an setiap pukul lima pagi belum tentu meyakini bahwa pukul lima mempunyai keutamaan khusus. Bisa jadi itulah waktu luangnya.Seseorang bersedekah setiap Jumat belum tentu meyakini bahwa sedekah hanya boleh atau harus dilakukan pada hari Jumat. Bisa jadi ia sekadar menjadikannya sebagai jadwal pribadi agar istiqamah.Karena itu, perlu dibedakan antara:التَّخْصِيصُ لِلتَّنْظِيمِ“Pengkhususan dalam rangka pengaturan.”danالتَّخْصِيصُ التَّعَبُّدِيُّ“Pengkhususan dengan keyakinan adanya nilai ibadah khusus.”Yang pertama pada asalnya memiliki ruang yang luas. Adapun yang kedua membutuhkan dalil. KesimpulanAda beberapa kesimpulan penting dalam masalah merutinkan amalan.Pertama, istiqamah dan kontinu dalam melakukan kebaikan adalah sesuatu yang dianjurkan dalam Islam.Kedua, amalan yang telah ditentukan waktu, jumlah, dan tata caranya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendaknya dikerjakan sesuai tuntunan beliau.Ketiga, seseorang boleh mengatur jadwal dan target ibadah pribadi agar lebih disiplin dan istiqamah selama tidak meyakini bahwa pengaturan tersebut mempunyai keutamaan khusus berdasarkan syariat. Keempat, tidak dibenarkan membuat waktu, jumlah, tempat, atau tata cara tertentu untuk suatu ibadah kemudian menisbatkannya kepada agama atau menganggapnya sebagai sunnah khusus tanpa dalil. Ringkasnya,الْمُدَاوَمَةُ عَلَى الْعِبَادَةِ مَشْرُوعَةٌ، وَأَمَّا تَخْصِيصُهَا بِوَصْفٍ تَعَبُّدِيٍّ فَيَحْتَاجُ إِلَى دَلِيلٍ.“Kontinu dalam beribadah adalah sesuatu yang disyariatkan. Adapun mengkhususkannya dengan bentuk ibadah tertentu membutuhkan dalil.” NasihatSemangat beribadah hendaknya selalu diiringi dengan semangat mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jangan sampai takut terhadap bid‘ah justru membuat kita meninggalkan kebiasaan baik dan tidak istiqamah dalam beramal. Sebaliknya, jangan pula semangat beramal membuat kita menetapkan sendiri suatu bentuk ibadah lalu menganggapnya sebagai tuntunan agama. Jadikan sunnah sebagai pedoman dan aturlah waktu dengan baik agar kita mampu istiqamah dalam ketaatan sampai akhir hayat.Semoga Allah memberikan kepada kita keistiqamahan dalam beribadah dan kemampuan untuk selalu mengikuti tuntunan Nabi-Nya.اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، وَارْزُقْنَا الِاسْتِقَامَةَ عَلَى طَاعَتِكَ وَاتِّبَاعَ سُنَّةِ نَبِيِّكَ ﷺ.Allahumma a‘inna ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik, warzuqnal-istiqamata ‘ala tha‘atik, wattiba‘a sunnati nabiyyika shallallahu ‘alaihi wa sallam.“Ya Allah, tolonglah kami untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu. Karuniakanlah kepada kami keistiqamahan dalam menaati-Mu dan mengikuti sunnah Nabi-Mu shallallahu ‘alaihi wa sallam.” ReferensiIslamQA. هل التزام صدقة في يوم معين وبقدر معين بدعة؟ Fatwa no. 120096.IslamQA. حكم تخصيص كل يوم من رمضان بدعاء معين. Fatwa no. 292883.Ibnu Taimiyyah, Ahmad bin ‘Abdul Halim. Majmu’ Al-Fatawa, 22:510–511. —- Selesai ditulis dalam perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamalan rutin amalan sunnah bid'ah doa ibadah istiqamah manhaj salaf mengikuti sunnah sedekah zikir

Inilah Sifat-Sifat Wajah Allah dalam Al-Qur’an dan Hadis Nabi – Syaikh Shalih As-Sindi #NasehatUlama

Beliau berkata, “Di antara dalil yang terdapat dalam ayat-ayat tentang sifat Allah adalah firman Allah Ta’ala: ‘Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang memiliki keagungan dan kemuliaan.’” (QS. Ar-Rahman: 27). Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati diri-Nya bahwa Dia memiliki Wajah. Hal ini termasuk perkara yang telah diketahui berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah, melalui banyak dalil. Wajah-Nya Ta’ala disebutkan memiliki beberapa sifat. Pertama, Wajah-Nya disifati dengan keagungan dan kemuliaan. Sebagaimana firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala, “Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang memiliki keagungan dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 27). Kalimat “yang memiliki keagungan dan kemuliaan” merupakan sifat bagi apa? Itu merupakan sifat bagi Wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kedua, Wajah-Nya Ta’ala disifati dengan subuhat, yaitu kemegahan, keagungan, dan cahaya. Hal ini ditunjukkan oleh hadis Abu Musa radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang Rabb-nya, “Hijab-Nya adalah cahaya. Seandainya Dia menyingkapnya, niscaya subuhat Wajah-Nya akan membakar seluruh makhluk-Nya yang terjangkau oleh pandangan-Nya.” (HR. Muslim). Dengan demikian, Wajah-Nya Subhanahu wa Ta’ala memiliki subuhat, yaitu kemegahan, cahaya, dan keagungan. Ketiga, bahwa Wajah-Nya Ta’ala memiliki hijab berupa cahaya, sebagaimana yang telah engkau dengar dalam hadis tadi, “Hijab-Nya adalah cahaya.” (HR. Muslim). Bagaimanakah hijab ini? Jawablah, wahai sekalian jemaah!Apakah kita pernah diberi tahu tentangnya? Pernahkah kita melihat sesuatu yang serupa dengannya? Kalau begitu, kita harus diam. Allah lebih mengetahui bagaimana hakikatnya. Keempat, pada Wajah Allah Ta’ala terdapat rida’ al-kibriya’. Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua taman surga dari emas; bejana-bejana dan seluruh isinya terbuat dari emas. Ada pula dua taman surga dari perak; bejana-bejana dan seluruh isinya terbuat dari perak. Tidak ada penghalang antara para penghuni surga dan melihat Rabb mereka, selain rida’ al-kibriya’ pada Wajah-Nya di Surga ‘Adn.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadis ini menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala terhijab dengan rida’ al-kibriya’ Subhanahu wa Ta’ala. Perkara kelima, kita telah mengetahui bahwa Wajah-Nya Ta’ala akan dilihat di akhirat ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menyingkap hijab tersebut. Dalil-dalil mengenai hal ini mencapai derajat mutawatir.Penjelasan mengenai perkara ini akan disebutkan dalam pembahasan penulis kitab rahimahullah. Jadi, Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki Wajah yang mulia, yang memiliki sifat-sifat sebagaimana telah engkau dengar. Dalam riwayat Abu Dawud dan selainnya, pada doa masuk masjid disebutkan, “Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung dan dengan Wajah-Nya yang mulia…” (HR. Abu Dawud). Dengan demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki Wajah yang mulia. ===== فَقَالَ: فَمِمَّا جَاءَ فِي آيَاتِ الصِّفَاتِ قَوْلُ اللهِ تَعَالَى: وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَصَفَ نَفْسَهُ بِأَنَّ لَهُ وَجْهًا وَهَذَا مِنَ الْأَمْرِ الْمَعْلُومِ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ فِي أَدِلَّةٍ كَثِيرَةٍ وَوَجْهُهُ تَعَالَى جَاءَ وَصْفُهُ بِصِفَاتٍ أَوَّلًا: أَنَّهُ مُتَّصِفٌ بِالْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ كَمَا قَالَ سُبْحَانَهُ: وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، هَذَا وَصْفُ مَاذَا؟ وَصْفُ وَجْهِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ثَانِيًا: أَنَّ وَجْهَهُ تَعَالَى مُتَّصِفٌ بِالسُّبُحَاتِ الَّتِي هِيَ الْبَهَاءُ وَالْعَظَمَةُ وَالنُّورُ وَيَدُلُّ عَلَى هَذَا حَدِيثُ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَالْمُخَرَّجُ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ رَبِّهِ: حِجَابُهُ النُّورُ، لَوْ كَشَفَهُ لَأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِ فَلِوَجْهِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى سُبُحَاتٌ، بَهَاءٌ وَنُورٌ وَعَظَمَةٌ ثَالِثًا أَنَّ لِوَجْهِهِ تَعَالَى حِجَابًا مِنْ نُورٍ، كَمَا سَمِعْتَ فِي الْحَدِيثِ الْمَاضِي: حِجَابُهُ النُّورُ وَكَيْفَ هَذَا الْحِجَابُ؟ أَجِيبُوا يَا جَمَاعَةُ هَلْ أُعْلِمْنَا عَنْهُ؟ رَأَيْنَا مَثِيلًا لَهُ؟ إِذًا عَلَيْنَا أَنْ نَسْكُتَ، اللهُ أَعْلَمُ كَيْفَ هُوَ رَابِعًا: أَنَّ وَجْهَ اللهِ تَعَالَى عَلَيْهِ رِدَاءُ الْكِبْرِيَاءِ فَفِي الصَّحِيحَيْنِ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَنَّتَانِ مِنْ ذَهَبٍ آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا، وَجَنَّتَانِ مِنْ فِضَّةٍ آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا وَلَيْسَ بَيْنَ الْقَوْمِ وَأَنْ يَرَوْا رَبَّهُمْ إِلَّا رِدَاءُ الْكِبْرِيَاءِ عَلَى وَجْهِهِ فِي جَنَّةِ عَدْنٍ فَدَلَّ هَذَا عَلَى أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مُحْتَجِبٌ بِرِدَاءٍ مِنْ كِبْرِيَاءَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْأَمْرُ الْخَامِسُ: أَنَّنَا قَدْ عَلِمْنَا أَنَّ وَجْهَهُ تَعَالَى يُرَى فِي الْآخِرَةِ إِذَا كَشَفَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْحِجَابَ عَنْهُ وَأَدِلَّةُ هَذَا أَدِلَّةٌ مُتَوَاتِرَةٌ وَسَيَأْتِي فِي كَلَامِ الْمُؤَلِّفِ رَحِمَهُ اللهُ بَيَانُ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ إِذًا لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَجْهٌ كَرِيمٌ مُتَّصِفٌ بِمَا سَمِعْتَ فِي أَبِي دَاوُدَ وَغَيْرِهِ فِي دُعَاءِ دُخُولِ الْمَسْجِدِ أَعُوذُ بِاللهِ الْعَظِيمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ فَهُوَ وَجْهٌ كَرِيمٌ لَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Inilah Sifat-Sifat Wajah Allah dalam Al-Qur’an dan Hadis Nabi – Syaikh Shalih As-Sindi #NasehatUlama

Beliau berkata, “Di antara dalil yang terdapat dalam ayat-ayat tentang sifat Allah adalah firman Allah Ta’ala: ‘Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang memiliki keagungan dan kemuliaan.’” (QS. Ar-Rahman: 27). Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati diri-Nya bahwa Dia memiliki Wajah. Hal ini termasuk perkara yang telah diketahui berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah, melalui banyak dalil. Wajah-Nya Ta’ala disebutkan memiliki beberapa sifat. Pertama, Wajah-Nya disifati dengan keagungan dan kemuliaan. Sebagaimana firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala, “Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang memiliki keagungan dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 27). Kalimat “yang memiliki keagungan dan kemuliaan” merupakan sifat bagi apa? Itu merupakan sifat bagi Wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kedua, Wajah-Nya Ta’ala disifati dengan subuhat, yaitu kemegahan, keagungan, dan cahaya. Hal ini ditunjukkan oleh hadis Abu Musa radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang Rabb-nya, “Hijab-Nya adalah cahaya. Seandainya Dia menyingkapnya, niscaya subuhat Wajah-Nya akan membakar seluruh makhluk-Nya yang terjangkau oleh pandangan-Nya.” (HR. Muslim). Dengan demikian, Wajah-Nya Subhanahu wa Ta’ala memiliki subuhat, yaitu kemegahan, cahaya, dan keagungan. Ketiga, bahwa Wajah-Nya Ta’ala memiliki hijab berupa cahaya, sebagaimana yang telah engkau dengar dalam hadis tadi, “Hijab-Nya adalah cahaya.” (HR. Muslim). Bagaimanakah hijab ini? Jawablah, wahai sekalian jemaah!Apakah kita pernah diberi tahu tentangnya? Pernahkah kita melihat sesuatu yang serupa dengannya? Kalau begitu, kita harus diam. Allah lebih mengetahui bagaimana hakikatnya. Keempat, pada Wajah Allah Ta’ala terdapat rida’ al-kibriya’. Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua taman surga dari emas; bejana-bejana dan seluruh isinya terbuat dari emas. Ada pula dua taman surga dari perak; bejana-bejana dan seluruh isinya terbuat dari perak. Tidak ada penghalang antara para penghuni surga dan melihat Rabb mereka, selain rida’ al-kibriya’ pada Wajah-Nya di Surga ‘Adn.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadis ini menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala terhijab dengan rida’ al-kibriya’ Subhanahu wa Ta’ala. Perkara kelima, kita telah mengetahui bahwa Wajah-Nya Ta’ala akan dilihat di akhirat ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menyingkap hijab tersebut. Dalil-dalil mengenai hal ini mencapai derajat mutawatir.Penjelasan mengenai perkara ini akan disebutkan dalam pembahasan penulis kitab rahimahullah. Jadi, Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki Wajah yang mulia, yang memiliki sifat-sifat sebagaimana telah engkau dengar. Dalam riwayat Abu Dawud dan selainnya, pada doa masuk masjid disebutkan, “Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung dan dengan Wajah-Nya yang mulia…” (HR. Abu Dawud). Dengan demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki Wajah yang mulia. ===== فَقَالَ: فَمِمَّا جَاءَ فِي آيَاتِ الصِّفَاتِ قَوْلُ اللهِ تَعَالَى: وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَصَفَ نَفْسَهُ بِأَنَّ لَهُ وَجْهًا وَهَذَا مِنَ الْأَمْرِ الْمَعْلُومِ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ فِي أَدِلَّةٍ كَثِيرَةٍ وَوَجْهُهُ تَعَالَى جَاءَ وَصْفُهُ بِصِفَاتٍ أَوَّلًا: أَنَّهُ مُتَّصِفٌ بِالْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ كَمَا قَالَ سُبْحَانَهُ: وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، هَذَا وَصْفُ مَاذَا؟ وَصْفُ وَجْهِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ثَانِيًا: أَنَّ وَجْهَهُ تَعَالَى مُتَّصِفٌ بِالسُّبُحَاتِ الَّتِي هِيَ الْبَهَاءُ وَالْعَظَمَةُ وَالنُّورُ وَيَدُلُّ عَلَى هَذَا حَدِيثُ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَالْمُخَرَّجُ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ رَبِّهِ: حِجَابُهُ النُّورُ، لَوْ كَشَفَهُ لَأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِ فَلِوَجْهِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى سُبُحَاتٌ، بَهَاءٌ وَنُورٌ وَعَظَمَةٌ ثَالِثًا أَنَّ لِوَجْهِهِ تَعَالَى حِجَابًا مِنْ نُورٍ، كَمَا سَمِعْتَ فِي الْحَدِيثِ الْمَاضِي: حِجَابُهُ النُّورُ وَكَيْفَ هَذَا الْحِجَابُ؟ أَجِيبُوا يَا جَمَاعَةُ هَلْ أُعْلِمْنَا عَنْهُ؟ رَأَيْنَا مَثِيلًا لَهُ؟ إِذًا عَلَيْنَا أَنْ نَسْكُتَ، اللهُ أَعْلَمُ كَيْفَ هُوَ رَابِعًا: أَنَّ وَجْهَ اللهِ تَعَالَى عَلَيْهِ رِدَاءُ الْكِبْرِيَاءِ فَفِي الصَّحِيحَيْنِ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَنَّتَانِ مِنْ ذَهَبٍ آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا، وَجَنَّتَانِ مِنْ فِضَّةٍ آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا وَلَيْسَ بَيْنَ الْقَوْمِ وَأَنْ يَرَوْا رَبَّهُمْ إِلَّا رِدَاءُ الْكِبْرِيَاءِ عَلَى وَجْهِهِ فِي جَنَّةِ عَدْنٍ فَدَلَّ هَذَا عَلَى أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مُحْتَجِبٌ بِرِدَاءٍ مِنْ كِبْرِيَاءَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْأَمْرُ الْخَامِسُ: أَنَّنَا قَدْ عَلِمْنَا أَنَّ وَجْهَهُ تَعَالَى يُرَى فِي الْآخِرَةِ إِذَا كَشَفَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْحِجَابَ عَنْهُ وَأَدِلَّةُ هَذَا أَدِلَّةٌ مُتَوَاتِرَةٌ وَسَيَأْتِي فِي كَلَامِ الْمُؤَلِّفِ رَحِمَهُ اللهُ بَيَانُ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ إِذًا لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَجْهٌ كَرِيمٌ مُتَّصِفٌ بِمَا سَمِعْتَ فِي أَبِي دَاوُدَ وَغَيْرِهِ فِي دُعَاءِ دُخُولِ الْمَسْجِدِ أَعُوذُ بِاللهِ الْعَظِيمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ فَهُوَ وَجْهٌ كَرِيمٌ لَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
Beliau berkata, “Di antara dalil yang terdapat dalam ayat-ayat tentang sifat Allah adalah firman Allah Ta’ala: ‘Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang memiliki keagungan dan kemuliaan.’” (QS. Ar-Rahman: 27). Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati diri-Nya bahwa Dia memiliki Wajah. Hal ini termasuk perkara yang telah diketahui berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah, melalui banyak dalil. Wajah-Nya Ta’ala disebutkan memiliki beberapa sifat. Pertama, Wajah-Nya disifati dengan keagungan dan kemuliaan. Sebagaimana firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala, “Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang memiliki keagungan dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 27). Kalimat “yang memiliki keagungan dan kemuliaan” merupakan sifat bagi apa? Itu merupakan sifat bagi Wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kedua, Wajah-Nya Ta’ala disifati dengan subuhat, yaitu kemegahan, keagungan, dan cahaya. Hal ini ditunjukkan oleh hadis Abu Musa radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang Rabb-nya, “Hijab-Nya adalah cahaya. Seandainya Dia menyingkapnya, niscaya subuhat Wajah-Nya akan membakar seluruh makhluk-Nya yang terjangkau oleh pandangan-Nya.” (HR. Muslim). Dengan demikian, Wajah-Nya Subhanahu wa Ta’ala memiliki subuhat, yaitu kemegahan, cahaya, dan keagungan. Ketiga, bahwa Wajah-Nya Ta’ala memiliki hijab berupa cahaya, sebagaimana yang telah engkau dengar dalam hadis tadi, “Hijab-Nya adalah cahaya.” (HR. Muslim). Bagaimanakah hijab ini? Jawablah, wahai sekalian jemaah!Apakah kita pernah diberi tahu tentangnya? Pernahkah kita melihat sesuatu yang serupa dengannya? Kalau begitu, kita harus diam. Allah lebih mengetahui bagaimana hakikatnya. Keempat, pada Wajah Allah Ta’ala terdapat rida’ al-kibriya’. Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua taman surga dari emas; bejana-bejana dan seluruh isinya terbuat dari emas. Ada pula dua taman surga dari perak; bejana-bejana dan seluruh isinya terbuat dari perak. Tidak ada penghalang antara para penghuni surga dan melihat Rabb mereka, selain rida’ al-kibriya’ pada Wajah-Nya di Surga ‘Adn.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadis ini menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala terhijab dengan rida’ al-kibriya’ Subhanahu wa Ta’ala. Perkara kelima, kita telah mengetahui bahwa Wajah-Nya Ta’ala akan dilihat di akhirat ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menyingkap hijab tersebut. Dalil-dalil mengenai hal ini mencapai derajat mutawatir.Penjelasan mengenai perkara ini akan disebutkan dalam pembahasan penulis kitab rahimahullah. Jadi, Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki Wajah yang mulia, yang memiliki sifat-sifat sebagaimana telah engkau dengar. Dalam riwayat Abu Dawud dan selainnya, pada doa masuk masjid disebutkan, “Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung dan dengan Wajah-Nya yang mulia…” (HR. Abu Dawud). Dengan demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki Wajah yang mulia. ===== فَقَالَ: فَمِمَّا جَاءَ فِي آيَاتِ الصِّفَاتِ قَوْلُ اللهِ تَعَالَى: وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَصَفَ نَفْسَهُ بِأَنَّ لَهُ وَجْهًا وَهَذَا مِنَ الْأَمْرِ الْمَعْلُومِ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ فِي أَدِلَّةٍ كَثِيرَةٍ وَوَجْهُهُ تَعَالَى جَاءَ وَصْفُهُ بِصِفَاتٍ أَوَّلًا: أَنَّهُ مُتَّصِفٌ بِالْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ كَمَا قَالَ سُبْحَانَهُ: وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، هَذَا وَصْفُ مَاذَا؟ وَصْفُ وَجْهِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ثَانِيًا: أَنَّ وَجْهَهُ تَعَالَى مُتَّصِفٌ بِالسُّبُحَاتِ الَّتِي هِيَ الْبَهَاءُ وَالْعَظَمَةُ وَالنُّورُ وَيَدُلُّ عَلَى هَذَا حَدِيثُ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَالْمُخَرَّجُ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ رَبِّهِ: حِجَابُهُ النُّورُ، لَوْ كَشَفَهُ لَأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِ فَلِوَجْهِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى سُبُحَاتٌ، بَهَاءٌ وَنُورٌ وَعَظَمَةٌ ثَالِثًا أَنَّ لِوَجْهِهِ تَعَالَى حِجَابًا مِنْ نُورٍ، كَمَا سَمِعْتَ فِي الْحَدِيثِ الْمَاضِي: حِجَابُهُ النُّورُ وَكَيْفَ هَذَا الْحِجَابُ؟ أَجِيبُوا يَا جَمَاعَةُ هَلْ أُعْلِمْنَا عَنْهُ؟ رَأَيْنَا مَثِيلًا لَهُ؟ إِذًا عَلَيْنَا أَنْ نَسْكُتَ، اللهُ أَعْلَمُ كَيْفَ هُوَ رَابِعًا: أَنَّ وَجْهَ اللهِ تَعَالَى عَلَيْهِ رِدَاءُ الْكِبْرِيَاءِ فَفِي الصَّحِيحَيْنِ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَنَّتَانِ مِنْ ذَهَبٍ آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا، وَجَنَّتَانِ مِنْ فِضَّةٍ آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا وَلَيْسَ بَيْنَ الْقَوْمِ وَأَنْ يَرَوْا رَبَّهُمْ إِلَّا رِدَاءُ الْكِبْرِيَاءِ عَلَى وَجْهِهِ فِي جَنَّةِ عَدْنٍ فَدَلَّ هَذَا عَلَى أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مُحْتَجِبٌ بِرِدَاءٍ مِنْ كِبْرِيَاءَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْأَمْرُ الْخَامِسُ: أَنَّنَا قَدْ عَلِمْنَا أَنَّ وَجْهَهُ تَعَالَى يُرَى فِي الْآخِرَةِ إِذَا كَشَفَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْحِجَابَ عَنْهُ وَأَدِلَّةُ هَذَا أَدِلَّةٌ مُتَوَاتِرَةٌ وَسَيَأْتِي فِي كَلَامِ الْمُؤَلِّفِ رَحِمَهُ اللهُ بَيَانُ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ إِذًا لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَجْهٌ كَرِيمٌ مُتَّصِفٌ بِمَا سَمِعْتَ فِي أَبِي دَاوُدَ وَغَيْرِهِ فِي دُعَاءِ دُخُولِ الْمَسْجِدِ أَعُوذُ بِاللهِ الْعَظِيمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ فَهُوَ وَجْهٌ كَرِيمٌ لَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى


Beliau berkata, “Di antara dalil yang terdapat dalam ayat-ayat tentang sifat Allah adalah firman Allah Ta’ala: ‘Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang memiliki keagungan dan kemuliaan.’” (QS. Ar-Rahman: 27). Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati diri-Nya bahwa Dia memiliki Wajah. Hal ini termasuk perkara yang telah diketahui berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah, melalui banyak dalil. Wajah-Nya Ta’ala disebutkan memiliki beberapa sifat. Pertama, Wajah-Nya disifati dengan keagungan dan kemuliaan. Sebagaimana firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala, “Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang memiliki keagungan dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 27). Kalimat “yang memiliki keagungan dan kemuliaan” merupakan sifat bagi apa? Itu merupakan sifat bagi Wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kedua, Wajah-Nya Ta’ala disifati dengan subuhat, yaitu kemegahan, keagungan, dan cahaya. Hal ini ditunjukkan oleh hadis Abu Musa radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang Rabb-nya, “Hijab-Nya adalah cahaya. Seandainya Dia menyingkapnya, niscaya subuhat Wajah-Nya akan membakar seluruh makhluk-Nya yang terjangkau oleh pandangan-Nya.” (HR. Muslim). Dengan demikian, Wajah-Nya Subhanahu wa Ta’ala memiliki subuhat, yaitu kemegahan, cahaya, dan keagungan. Ketiga, bahwa Wajah-Nya Ta’ala memiliki hijab berupa cahaya, sebagaimana yang telah engkau dengar dalam hadis tadi, “Hijab-Nya adalah cahaya.” (HR. Muslim). Bagaimanakah hijab ini? Jawablah, wahai sekalian jemaah!Apakah kita pernah diberi tahu tentangnya? Pernahkah kita melihat sesuatu yang serupa dengannya? Kalau begitu, kita harus diam. Allah lebih mengetahui bagaimana hakikatnya. Keempat, pada Wajah Allah Ta’ala terdapat rida’ al-kibriya’. Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua taman surga dari emas; bejana-bejana dan seluruh isinya terbuat dari emas. Ada pula dua taman surga dari perak; bejana-bejana dan seluruh isinya terbuat dari perak. Tidak ada penghalang antara para penghuni surga dan melihat Rabb mereka, selain rida’ al-kibriya’ pada Wajah-Nya di Surga ‘Adn.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadis ini menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala terhijab dengan rida’ al-kibriya’ Subhanahu wa Ta’ala. Perkara kelima, kita telah mengetahui bahwa Wajah-Nya Ta’ala akan dilihat di akhirat ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menyingkap hijab tersebut. Dalil-dalil mengenai hal ini mencapai derajat mutawatir.Penjelasan mengenai perkara ini akan disebutkan dalam pembahasan penulis kitab rahimahullah. Jadi, Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki Wajah yang mulia, yang memiliki sifat-sifat sebagaimana telah engkau dengar. Dalam riwayat Abu Dawud dan selainnya, pada doa masuk masjid disebutkan, “Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung dan dengan Wajah-Nya yang mulia…” (HR. Abu Dawud). Dengan demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki Wajah yang mulia. ===== فَقَالَ: فَمِمَّا جَاءَ فِي آيَاتِ الصِّفَاتِ قَوْلُ اللهِ تَعَالَى: وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَصَفَ نَفْسَهُ بِأَنَّ لَهُ وَجْهًا وَهَذَا مِنَ الْأَمْرِ الْمَعْلُومِ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ فِي أَدِلَّةٍ كَثِيرَةٍ وَوَجْهُهُ تَعَالَى جَاءَ وَصْفُهُ بِصِفَاتٍ أَوَّلًا: أَنَّهُ مُتَّصِفٌ بِالْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ كَمَا قَالَ سُبْحَانَهُ: وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، هَذَا وَصْفُ مَاذَا؟ وَصْفُ وَجْهِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ثَانِيًا: أَنَّ وَجْهَهُ تَعَالَى مُتَّصِفٌ بِالسُّبُحَاتِ الَّتِي هِيَ الْبَهَاءُ وَالْعَظَمَةُ وَالنُّورُ وَيَدُلُّ عَلَى هَذَا حَدِيثُ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَالْمُخَرَّجُ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ رَبِّهِ: حِجَابُهُ النُّورُ، لَوْ كَشَفَهُ لَأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِ فَلِوَجْهِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى سُبُحَاتٌ، بَهَاءٌ وَنُورٌ وَعَظَمَةٌ ثَالِثًا أَنَّ لِوَجْهِهِ تَعَالَى حِجَابًا مِنْ نُورٍ، كَمَا سَمِعْتَ فِي الْحَدِيثِ الْمَاضِي: حِجَابُهُ النُّورُ وَكَيْفَ هَذَا الْحِجَابُ؟ أَجِيبُوا يَا جَمَاعَةُ هَلْ أُعْلِمْنَا عَنْهُ؟ رَأَيْنَا مَثِيلًا لَهُ؟ إِذًا عَلَيْنَا أَنْ نَسْكُتَ، اللهُ أَعْلَمُ كَيْفَ هُوَ رَابِعًا: أَنَّ وَجْهَ اللهِ تَعَالَى عَلَيْهِ رِدَاءُ الْكِبْرِيَاءِ فَفِي الصَّحِيحَيْنِ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَنَّتَانِ مِنْ ذَهَبٍ آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا، وَجَنَّتَانِ مِنْ فِضَّةٍ آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا وَلَيْسَ بَيْنَ الْقَوْمِ وَأَنْ يَرَوْا رَبَّهُمْ إِلَّا رِدَاءُ الْكِبْرِيَاءِ عَلَى وَجْهِهِ فِي جَنَّةِ عَدْنٍ فَدَلَّ هَذَا عَلَى أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مُحْتَجِبٌ بِرِدَاءٍ مِنْ كِبْرِيَاءَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْأَمْرُ الْخَامِسُ: أَنَّنَا قَدْ عَلِمْنَا أَنَّ وَجْهَهُ تَعَالَى يُرَى فِي الْآخِرَةِ إِذَا كَشَفَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْحِجَابَ عَنْهُ وَأَدِلَّةُ هَذَا أَدِلَّةٌ مُتَوَاتِرَةٌ وَسَيَأْتِي فِي كَلَامِ الْمُؤَلِّفِ رَحِمَهُ اللهُ بَيَانُ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ إِذًا لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَجْهٌ كَرِيمٌ مُتَّصِفٌ بِمَا سَمِعْتَ فِي أَبِي دَاوُدَ وَغَيْرِهِ فِي دُعَاءِ دُخُولِ الْمَسْجِدِ أَعُوذُ بِاللهِ الْعَظِيمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ فَهُوَ وَجْهٌ كَرِيمٌ لَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Dua Cara Emas Mendidik Anak Menjadi Saleh – Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Abbad

Semoga Allah senantiasa berbuat baik kepada Anda. Apa cara terbaik untuk mendidik anak-anak? Langkah pertama dalam mendidik anak-anak ialah memperbanyak doa untuk mereka, karena hidayah anak-anakmu berada di Tangan Allah Jalla wa ‘Ala. Sebanyak apa pun upaya dan berbagai metode yang dianugerahkan kepadamu, hidayah mereka tetap berada di Tangan Allah. Sebab, yang memberi hidayah hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki. Karena itu, perbanyaklah doa. Berdoalah kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar Dia memberi mereka hidayah, memperbaiki keadaan mereka, serta melindungi mereka dari keburukan dan berbagai fitnah. Perbanyaklah doa untuk mereka, karena doa orang tua bagi anaknya adalah doa yang dikabulkan. Hal kedua, bersungguh-sungguhlah membina mereka agar mencintai ilmu dan para ulama. Buatlah mereka mencintai ilmu dan doronglah mereka untuk menuntutnya. Maksud saya adalah ilmu syar’i, yang dengannya mereka memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Doronglah mereka mempelajari ilmu ini dan tumbuhkanlah minat mereka kepadanya. Bersungguh-sungguhlah pula mendidik mereka dengan adab-adab syar’i. Selalulah didik mereka agar takut kepada Allah, bukan takut kepadamu. Banyak ayah keliru dalam hal ini. Ketika hendak menegur anaknya, ia menakut-nakuti anak itu dengan ancaman darinya sendiri, “Aku akan melakukan ini dan itu kepadamu,” dan seterusnya. Padahal, yang semestinya ialah menanamkan rasa takut kepada Allah dalam dirinya dan mendidiknya agar senantiasa merasa diawasi Allah dalam setiap perbuatannya. Sebagaimana yang dikatakan Luqman Al-Hakim kepada putranya, “Wahai anakku! Sungguh, jika ada suatu perbuatan seberat biji sawi, lalu berada di dalam batu, di langit, atau di bumi, niscaya Allah akan menghadirkannya. Sungguh, Allah Mahahalus lagi Mahateliti.” (QS. Luqman: 16) Dengan demikian, anak dibesarkan dengan rasa takut kepada Allah, muraqabah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasinya. Pendidikan anak memiliki beragam metode. Siapa yang membaca kisah Luqman Al-Hakim akan mendapati di dalamnya berbagai faedah pendidikan yang sangat agung dan berharga. Allah telah menyanjung Luqman dan menjelaskan betapa agung kedudukannya, serta menyebutkan bahwa Allah telah menganugerahkan hikmah kepadanya. Karena itu, kisah atau nasihat-nasihat Luqman Al-Hakim yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam Kitab-Nya sebagai wahyu yang senantiasa dibaca, merupakan teladan tertinggi dalam bidang pendidikan yang mulia ini. ===== أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ. مَا هِيَ أَحْسَنُ طَرِيقَةٍ لِتَرْبِيَةِ الْأَبْنَاءِ؟ طَرِيقَةُ تَرْبِيَةِ الْأَبْنَاءِ أَوَّلًا: أَكْثِرْ لَهُمْ مِنَ الدُّعَاءِ لِأَنَّ هِدَايَةَ أَبْنَائِكَ بِيَدِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا مَهْمَا أُوتِيتَ مِنَ الْعَمَلِ وَالطَّرَائِقِ، فَهِدَايَتُهُمْ بِيَدِ اللهِ لِأَنَّ الْهَادِيَ هُوَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَيُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ فَأَكْثِرْ مِنَ الدُّعَاءِ، ادْعُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَهْدِيَهُمْ وَأَنْ يُصْلِحَهُمْ وَأَنْ يُعِيذَهُمْ مِنَ الشَّرِّ وَالْفِتَنِ أَكْثِرْ لَهُمْ مِنَ الدُّعَاءِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ مُسْتَجَابَةٌ وَالْأَمْرُ الثَّانِي: أَنْ تَحْرِصَ عَلَى تَنْشِئَتِهِمْ عَلَى مَحَبَّةِ الْعِلْمِ وَمَحَبَّةِ الْعُلَمَاءِ وَأَنْ تُحَبِّبَ إِلَيْهِمُ الْعِلْمَ وَأَنْ تُشَجِّعَهُمْ عَلَى تَحْصِيلِهِ أَعْنِي الْعِلْمَ الشَّرْعِيَّ الَّذِي بِهِ سَعَادَتُهُمْ فِي دُنْيَاهُمْ وَأُخْرَاهُمْ فَتُشَجِّعُهُمْ عَلَى هَذَا الْعِلْمِ وَتُرَغِّبُهُمْ فِيهِ وَأَنْ تَحْرِصَ أَيْضًا عَلَى تَأْدِيبِهِمْ بِالْآدَابِ الشَّرْعِيَّةِ وَدَائِمًا نَشِّئْهُمْ عَلَى الْخَوْفِ مِنَ اللهِ، لَا عَلَى الْخَوْفِ مِنْكَ يُخْطِئُ كَثِيرٌ مِنَ الْآبَاءِ فِي هَذَا الْبَابِ، إِذَا أَرَادَ أَنْ يُزَجِّرَ ابْنَهُ يُخَوِّفُهُ بِنَفْسِهِ: أَفْعَلُ فِيكَ وَأَفْعَلُ، إِلَى آخِرِهِ بَيْنَمَا الْأَصْلُ أَنْ تُخَوِّفَهُ بِاللهِ وَأَنْ تَجْعَلَهُ فِي أَعْمَالِهِ يُرَاقِبُ اللهَ مِثْلَمَا قَالَ لُقْمَانُ الْحَكِيمُ لِابْنِهِ يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ فَيُنَشَّأُ الِابْنُ عَلَى الْخَوْفِ مِنَ اللهِ وَمُرَاقَبَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَنَّ اللهَ مُطَّلِعٌ عَلَيْهِ وَتَرْبِيَةُ الْأَبْنَاءِ لَهَا طَرَائِقُ، وَمَنْ يَقْرَأْ أَيْضًا قِصَّةَ لُقْمَانَ الْحَكِيمِ يَجِدْ فِيهَا فَوَائِدَ عَظِيمَةً وَثَمِينَةً جِدًّا فِي التَّرْبِيَةِ وَقَدْ أَشَادَ اللهُ بِلُقْمَانَ وَبَيَّنَ عَظِيمَ مَكَانَتِهِ وَأَنَّ اللهَ آتَاهُ الْحِكْمَةَ وَلِهَذَا تُعْتَبَرُ الْقِصَّةُ أَوِ الْمَوَاعِظُ الَّتِي ذَكَرَهَا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي كِتَابِهِ وَحْيًا يُتْلَى عَنْ لُقْمَانَ الْحَكِيمِ تُعْتَبَرُ نَمُوذَجًا أَعْلَى فِي هَذَا الْبَابِ الرَّفِيعِ

Dua Cara Emas Mendidik Anak Menjadi Saleh – Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Abbad

Semoga Allah senantiasa berbuat baik kepada Anda. Apa cara terbaik untuk mendidik anak-anak? Langkah pertama dalam mendidik anak-anak ialah memperbanyak doa untuk mereka, karena hidayah anak-anakmu berada di Tangan Allah Jalla wa ‘Ala. Sebanyak apa pun upaya dan berbagai metode yang dianugerahkan kepadamu, hidayah mereka tetap berada di Tangan Allah. Sebab, yang memberi hidayah hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki. Karena itu, perbanyaklah doa. Berdoalah kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar Dia memberi mereka hidayah, memperbaiki keadaan mereka, serta melindungi mereka dari keburukan dan berbagai fitnah. Perbanyaklah doa untuk mereka, karena doa orang tua bagi anaknya adalah doa yang dikabulkan. Hal kedua, bersungguh-sungguhlah membina mereka agar mencintai ilmu dan para ulama. Buatlah mereka mencintai ilmu dan doronglah mereka untuk menuntutnya. Maksud saya adalah ilmu syar’i, yang dengannya mereka memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Doronglah mereka mempelajari ilmu ini dan tumbuhkanlah minat mereka kepadanya. Bersungguh-sungguhlah pula mendidik mereka dengan adab-adab syar’i. Selalulah didik mereka agar takut kepada Allah, bukan takut kepadamu. Banyak ayah keliru dalam hal ini. Ketika hendak menegur anaknya, ia menakut-nakuti anak itu dengan ancaman darinya sendiri, “Aku akan melakukan ini dan itu kepadamu,” dan seterusnya. Padahal, yang semestinya ialah menanamkan rasa takut kepada Allah dalam dirinya dan mendidiknya agar senantiasa merasa diawasi Allah dalam setiap perbuatannya. Sebagaimana yang dikatakan Luqman Al-Hakim kepada putranya, “Wahai anakku! Sungguh, jika ada suatu perbuatan seberat biji sawi, lalu berada di dalam batu, di langit, atau di bumi, niscaya Allah akan menghadirkannya. Sungguh, Allah Mahahalus lagi Mahateliti.” (QS. Luqman: 16) Dengan demikian, anak dibesarkan dengan rasa takut kepada Allah, muraqabah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasinya. Pendidikan anak memiliki beragam metode. Siapa yang membaca kisah Luqman Al-Hakim akan mendapati di dalamnya berbagai faedah pendidikan yang sangat agung dan berharga. Allah telah menyanjung Luqman dan menjelaskan betapa agung kedudukannya, serta menyebutkan bahwa Allah telah menganugerahkan hikmah kepadanya. Karena itu, kisah atau nasihat-nasihat Luqman Al-Hakim yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam Kitab-Nya sebagai wahyu yang senantiasa dibaca, merupakan teladan tertinggi dalam bidang pendidikan yang mulia ini. ===== أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ. مَا هِيَ أَحْسَنُ طَرِيقَةٍ لِتَرْبِيَةِ الْأَبْنَاءِ؟ طَرِيقَةُ تَرْبِيَةِ الْأَبْنَاءِ أَوَّلًا: أَكْثِرْ لَهُمْ مِنَ الدُّعَاءِ لِأَنَّ هِدَايَةَ أَبْنَائِكَ بِيَدِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا مَهْمَا أُوتِيتَ مِنَ الْعَمَلِ وَالطَّرَائِقِ، فَهِدَايَتُهُمْ بِيَدِ اللهِ لِأَنَّ الْهَادِيَ هُوَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَيُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ فَأَكْثِرْ مِنَ الدُّعَاءِ، ادْعُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَهْدِيَهُمْ وَأَنْ يُصْلِحَهُمْ وَأَنْ يُعِيذَهُمْ مِنَ الشَّرِّ وَالْفِتَنِ أَكْثِرْ لَهُمْ مِنَ الدُّعَاءِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ مُسْتَجَابَةٌ وَالْأَمْرُ الثَّانِي: أَنْ تَحْرِصَ عَلَى تَنْشِئَتِهِمْ عَلَى مَحَبَّةِ الْعِلْمِ وَمَحَبَّةِ الْعُلَمَاءِ وَأَنْ تُحَبِّبَ إِلَيْهِمُ الْعِلْمَ وَأَنْ تُشَجِّعَهُمْ عَلَى تَحْصِيلِهِ أَعْنِي الْعِلْمَ الشَّرْعِيَّ الَّذِي بِهِ سَعَادَتُهُمْ فِي دُنْيَاهُمْ وَأُخْرَاهُمْ فَتُشَجِّعُهُمْ عَلَى هَذَا الْعِلْمِ وَتُرَغِّبُهُمْ فِيهِ وَأَنْ تَحْرِصَ أَيْضًا عَلَى تَأْدِيبِهِمْ بِالْآدَابِ الشَّرْعِيَّةِ وَدَائِمًا نَشِّئْهُمْ عَلَى الْخَوْفِ مِنَ اللهِ، لَا عَلَى الْخَوْفِ مِنْكَ يُخْطِئُ كَثِيرٌ مِنَ الْآبَاءِ فِي هَذَا الْبَابِ، إِذَا أَرَادَ أَنْ يُزَجِّرَ ابْنَهُ يُخَوِّفُهُ بِنَفْسِهِ: أَفْعَلُ فِيكَ وَأَفْعَلُ، إِلَى آخِرِهِ بَيْنَمَا الْأَصْلُ أَنْ تُخَوِّفَهُ بِاللهِ وَأَنْ تَجْعَلَهُ فِي أَعْمَالِهِ يُرَاقِبُ اللهَ مِثْلَمَا قَالَ لُقْمَانُ الْحَكِيمُ لِابْنِهِ يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ فَيُنَشَّأُ الِابْنُ عَلَى الْخَوْفِ مِنَ اللهِ وَمُرَاقَبَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَنَّ اللهَ مُطَّلِعٌ عَلَيْهِ وَتَرْبِيَةُ الْأَبْنَاءِ لَهَا طَرَائِقُ، وَمَنْ يَقْرَأْ أَيْضًا قِصَّةَ لُقْمَانَ الْحَكِيمِ يَجِدْ فِيهَا فَوَائِدَ عَظِيمَةً وَثَمِينَةً جِدًّا فِي التَّرْبِيَةِ وَقَدْ أَشَادَ اللهُ بِلُقْمَانَ وَبَيَّنَ عَظِيمَ مَكَانَتِهِ وَأَنَّ اللهَ آتَاهُ الْحِكْمَةَ وَلِهَذَا تُعْتَبَرُ الْقِصَّةُ أَوِ الْمَوَاعِظُ الَّتِي ذَكَرَهَا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي كِتَابِهِ وَحْيًا يُتْلَى عَنْ لُقْمَانَ الْحَكِيمِ تُعْتَبَرُ نَمُوذَجًا أَعْلَى فِي هَذَا الْبَابِ الرَّفِيعِ
Semoga Allah senantiasa berbuat baik kepada Anda. Apa cara terbaik untuk mendidik anak-anak? Langkah pertama dalam mendidik anak-anak ialah memperbanyak doa untuk mereka, karena hidayah anak-anakmu berada di Tangan Allah Jalla wa ‘Ala. Sebanyak apa pun upaya dan berbagai metode yang dianugerahkan kepadamu, hidayah mereka tetap berada di Tangan Allah. Sebab, yang memberi hidayah hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki. Karena itu, perbanyaklah doa. Berdoalah kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar Dia memberi mereka hidayah, memperbaiki keadaan mereka, serta melindungi mereka dari keburukan dan berbagai fitnah. Perbanyaklah doa untuk mereka, karena doa orang tua bagi anaknya adalah doa yang dikabulkan. Hal kedua, bersungguh-sungguhlah membina mereka agar mencintai ilmu dan para ulama. Buatlah mereka mencintai ilmu dan doronglah mereka untuk menuntutnya. Maksud saya adalah ilmu syar’i, yang dengannya mereka memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Doronglah mereka mempelajari ilmu ini dan tumbuhkanlah minat mereka kepadanya. Bersungguh-sungguhlah pula mendidik mereka dengan adab-adab syar’i. Selalulah didik mereka agar takut kepada Allah, bukan takut kepadamu. Banyak ayah keliru dalam hal ini. Ketika hendak menegur anaknya, ia menakut-nakuti anak itu dengan ancaman darinya sendiri, “Aku akan melakukan ini dan itu kepadamu,” dan seterusnya. Padahal, yang semestinya ialah menanamkan rasa takut kepada Allah dalam dirinya dan mendidiknya agar senantiasa merasa diawasi Allah dalam setiap perbuatannya. Sebagaimana yang dikatakan Luqman Al-Hakim kepada putranya, “Wahai anakku! Sungguh, jika ada suatu perbuatan seberat biji sawi, lalu berada di dalam batu, di langit, atau di bumi, niscaya Allah akan menghadirkannya. Sungguh, Allah Mahahalus lagi Mahateliti.” (QS. Luqman: 16) Dengan demikian, anak dibesarkan dengan rasa takut kepada Allah, muraqabah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasinya. Pendidikan anak memiliki beragam metode. Siapa yang membaca kisah Luqman Al-Hakim akan mendapati di dalamnya berbagai faedah pendidikan yang sangat agung dan berharga. Allah telah menyanjung Luqman dan menjelaskan betapa agung kedudukannya, serta menyebutkan bahwa Allah telah menganugerahkan hikmah kepadanya. Karena itu, kisah atau nasihat-nasihat Luqman Al-Hakim yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam Kitab-Nya sebagai wahyu yang senantiasa dibaca, merupakan teladan tertinggi dalam bidang pendidikan yang mulia ini. ===== أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ. مَا هِيَ أَحْسَنُ طَرِيقَةٍ لِتَرْبِيَةِ الْأَبْنَاءِ؟ طَرِيقَةُ تَرْبِيَةِ الْأَبْنَاءِ أَوَّلًا: أَكْثِرْ لَهُمْ مِنَ الدُّعَاءِ لِأَنَّ هِدَايَةَ أَبْنَائِكَ بِيَدِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا مَهْمَا أُوتِيتَ مِنَ الْعَمَلِ وَالطَّرَائِقِ، فَهِدَايَتُهُمْ بِيَدِ اللهِ لِأَنَّ الْهَادِيَ هُوَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَيُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ فَأَكْثِرْ مِنَ الدُّعَاءِ، ادْعُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَهْدِيَهُمْ وَأَنْ يُصْلِحَهُمْ وَأَنْ يُعِيذَهُمْ مِنَ الشَّرِّ وَالْفِتَنِ أَكْثِرْ لَهُمْ مِنَ الدُّعَاءِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ مُسْتَجَابَةٌ وَالْأَمْرُ الثَّانِي: أَنْ تَحْرِصَ عَلَى تَنْشِئَتِهِمْ عَلَى مَحَبَّةِ الْعِلْمِ وَمَحَبَّةِ الْعُلَمَاءِ وَأَنْ تُحَبِّبَ إِلَيْهِمُ الْعِلْمَ وَأَنْ تُشَجِّعَهُمْ عَلَى تَحْصِيلِهِ أَعْنِي الْعِلْمَ الشَّرْعِيَّ الَّذِي بِهِ سَعَادَتُهُمْ فِي دُنْيَاهُمْ وَأُخْرَاهُمْ فَتُشَجِّعُهُمْ عَلَى هَذَا الْعِلْمِ وَتُرَغِّبُهُمْ فِيهِ وَأَنْ تَحْرِصَ أَيْضًا عَلَى تَأْدِيبِهِمْ بِالْآدَابِ الشَّرْعِيَّةِ وَدَائِمًا نَشِّئْهُمْ عَلَى الْخَوْفِ مِنَ اللهِ، لَا عَلَى الْخَوْفِ مِنْكَ يُخْطِئُ كَثِيرٌ مِنَ الْآبَاءِ فِي هَذَا الْبَابِ، إِذَا أَرَادَ أَنْ يُزَجِّرَ ابْنَهُ يُخَوِّفُهُ بِنَفْسِهِ: أَفْعَلُ فِيكَ وَأَفْعَلُ، إِلَى آخِرِهِ بَيْنَمَا الْأَصْلُ أَنْ تُخَوِّفَهُ بِاللهِ وَأَنْ تَجْعَلَهُ فِي أَعْمَالِهِ يُرَاقِبُ اللهَ مِثْلَمَا قَالَ لُقْمَانُ الْحَكِيمُ لِابْنِهِ يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ فَيُنَشَّأُ الِابْنُ عَلَى الْخَوْفِ مِنَ اللهِ وَمُرَاقَبَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَنَّ اللهَ مُطَّلِعٌ عَلَيْهِ وَتَرْبِيَةُ الْأَبْنَاءِ لَهَا طَرَائِقُ، وَمَنْ يَقْرَأْ أَيْضًا قِصَّةَ لُقْمَانَ الْحَكِيمِ يَجِدْ فِيهَا فَوَائِدَ عَظِيمَةً وَثَمِينَةً جِدًّا فِي التَّرْبِيَةِ وَقَدْ أَشَادَ اللهُ بِلُقْمَانَ وَبَيَّنَ عَظِيمَ مَكَانَتِهِ وَأَنَّ اللهَ آتَاهُ الْحِكْمَةَ وَلِهَذَا تُعْتَبَرُ الْقِصَّةُ أَوِ الْمَوَاعِظُ الَّتِي ذَكَرَهَا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي كِتَابِهِ وَحْيًا يُتْلَى عَنْ لُقْمَانَ الْحَكِيمِ تُعْتَبَرُ نَمُوذَجًا أَعْلَى فِي هَذَا الْبَابِ الرَّفِيعِ


Semoga Allah senantiasa berbuat baik kepada Anda. Apa cara terbaik untuk mendidik anak-anak? Langkah pertama dalam mendidik anak-anak ialah memperbanyak doa untuk mereka, karena hidayah anak-anakmu berada di Tangan Allah Jalla wa ‘Ala. Sebanyak apa pun upaya dan berbagai metode yang dianugerahkan kepadamu, hidayah mereka tetap berada di Tangan Allah. Sebab, yang memberi hidayah hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki. Karena itu, perbanyaklah doa. Berdoalah kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar Dia memberi mereka hidayah, memperbaiki keadaan mereka, serta melindungi mereka dari keburukan dan berbagai fitnah. Perbanyaklah doa untuk mereka, karena doa orang tua bagi anaknya adalah doa yang dikabulkan. Hal kedua, bersungguh-sungguhlah membina mereka agar mencintai ilmu dan para ulama. Buatlah mereka mencintai ilmu dan doronglah mereka untuk menuntutnya. Maksud saya adalah ilmu syar’i, yang dengannya mereka memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Doronglah mereka mempelajari ilmu ini dan tumbuhkanlah minat mereka kepadanya. Bersungguh-sungguhlah pula mendidik mereka dengan adab-adab syar’i. Selalulah didik mereka agar takut kepada Allah, bukan takut kepadamu. Banyak ayah keliru dalam hal ini. Ketika hendak menegur anaknya, ia menakut-nakuti anak itu dengan ancaman darinya sendiri, “Aku akan melakukan ini dan itu kepadamu,” dan seterusnya. Padahal, yang semestinya ialah menanamkan rasa takut kepada Allah dalam dirinya dan mendidiknya agar senantiasa merasa diawasi Allah dalam setiap perbuatannya. Sebagaimana yang dikatakan Luqman Al-Hakim kepada putranya, “Wahai anakku! Sungguh, jika ada suatu perbuatan seberat biji sawi, lalu berada di dalam batu, di langit, atau di bumi, niscaya Allah akan menghadirkannya. Sungguh, Allah Mahahalus lagi Mahateliti.” (QS. Luqman: 16) Dengan demikian, anak dibesarkan dengan rasa takut kepada Allah, muraqabah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasinya. Pendidikan anak memiliki beragam metode. Siapa yang membaca kisah Luqman Al-Hakim akan mendapati di dalamnya berbagai faedah pendidikan yang sangat agung dan berharga. Allah telah menyanjung Luqman dan menjelaskan betapa agung kedudukannya, serta menyebutkan bahwa Allah telah menganugerahkan hikmah kepadanya. Karena itu, kisah atau nasihat-nasihat Luqman Al-Hakim yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam Kitab-Nya sebagai wahyu yang senantiasa dibaca, merupakan teladan tertinggi dalam bidang pendidikan yang mulia ini. ===== أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ. مَا هِيَ أَحْسَنُ طَرِيقَةٍ لِتَرْبِيَةِ الْأَبْنَاءِ؟ طَرِيقَةُ تَرْبِيَةِ الْأَبْنَاءِ أَوَّلًا: أَكْثِرْ لَهُمْ مِنَ الدُّعَاءِ لِأَنَّ هِدَايَةَ أَبْنَائِكَ بِيَدِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا مَهْمَا أُوتِيتَ مِنَ الْعَمَلِ وَالطَّرَائِقِ، فَهِدَايَتُهُمْ بِيَدِ اللهِ لِأَنَّ الْهَادِيَ هُوَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَيُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ فَأَكْثِرْ مِنَ الدُّعَاءِ، ادْعُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَهْدِيَهُمْ وَأَنْ يُصْلِحَهُمْ وَأَنْ يُعِيذَهُمْ مِنَ الشَّرِّ وَالْفِتَنِ أَكْثِرْ لَهُمْ مِنَ الدُّعَاءِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ مُسْتَجَابَةٌ وَالْأَمْرُ الثَّانِي: أَنْ تَحْرِصَ عَلَى تَنْشِئَتِهِمْ عَلَى مَحَبَّةِ الْعِلْمِ وَمَحَبَّةِ الْعُلَمَاءِ وَأَنْ تُحَبِّبَ إِلَيْهِمُ الْعِلْمَ وَأَنْ تُشَجِّعَهُمْ عَلَى تَحْصِيلِهِ أَعْنِي الْعِلْمَ الشَّرْعِيَّ الَّذِي بِهِ سَعَادَتُهُمْ فِي دُنْيَاهُمْ وَأُخْرَاهُمْ فَتُشَجِّعُهُمْ عَلَى هَذَا الْعِلْمِ وَتُرَغِّبُهُمْ فِيهِ وَأَنْ تَحْرِصَ أَيْضًا عَلَى تَأْدِيبِهِمْ بِالْآدَابِ الشَّرْعِيَّةِ وَدَائِمًا نَشِّئْهُمْ عَلَى الْخَوْفِ مِنَ اللهِ، لَا عَلَى الْخَوْفِ مِنْكَ يُخْطِئُ كَثِيرٌ مِنَ الْآبَاءِ فِي هَذَا الْبَابِ، إِذَا أَرَادَ أَنْ يُزَجِّرَ ابْنَهُ يُخَوِّفُهُ بِنَفْسِهِ: أَفْعَلُ فِيكَ وَأَفْعَلُ، إِلَى آخِرِهِ بَيْنَمَا الْأَصْلُ أَنْ تُخَوِّفَهُ بِاللهِ وَأَنْ تَجْعَلَهُ فِي أَعْمَالِهِ يُرَاقِبُ اللهَ مِثْلَمَا قَالَ لُقْمَانُ الْحَكِيمُ لِابْنِهِ يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ فَيُنَشَّأُ الِابْنُ عَلَى الْخَوْفِ مِنَ اللهِ وَمُرَاقَبَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَنَّ اللهَ مُطَّلِعٌ عَلَيْهِ وَتَرْبِيَةُ الْأَبْنَاءِ لَهَا طَرَائِقُ، وَمَنْ يَقْرَأْ أَيْضًا قِصَّةَ لُقْمَانَ الْحَكِيمِ يَجِدْ فِيهَا فَوَائِدَ عَظِيمَةً وَثَمِينَةً جِدًّا فِي التَّرْبِيَةِ وَقَدْ أَشَادَ اللهُ بِلُقْمَانَ وَبَيَّنَ عَظِيمَ مَكَانَتِهِ وَأَنَّ اللهَ آتَاهُ الْحِكْمَةَ وَلِهَذَا تُعْتَبَرُ الْقِصَّةُ أَوِ الْمَوَاعِظُ الَّتِي ذَكَرَهَا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي كِتَابِهِ وَحْيًا يُتْلَى عَنْ لُقْمَانَ الْحَكِيمِ تُعْتَبَرُ نَمُوذَجًا أَعْلَى فِي هَذَا الْبَابِ الرَّفِيعِ

Sulit Lepas dari Maksiat? Jangan Tinggalkan Doa Ini – Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Abbad

Satu nasihat yang saya harapkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar Allah menjadikannya sangat bermanfaat. Nasihat ini untuk para pelaku maksiat, orang-orang yang menyia-nyiakan dan melalaikan ketaatan kepada Allah. Di antara nasihat terbaik untuk mereka adalah agar memperbanyak doa kepada Allah agar Allah memberinya hidayah. Mereka dinasihati dengan ini. Misalnya, dikatakan kepadanya, “Perbanyaklah membaca doa ini: ALLAAHUMMAHDINII WA SADDID NII ‘Ya Allah, berilah aku hidayah dan bimbinglah aku kepada kelurusan.’” (HR. An-Nasa’i) Dikatakan kepadanya, “Doa ini lafaznya singkat, tetapi merangkum seluruh kebaikan bagimu. Perbanyaklah membaca doa ini! Hadapkan hatimu kepada Allah dan perbanyaklah membaca doa ini: ALLAAHUMMAHDINII WA SADDID NII ‘Ya Allah, berilah aku hidayah dan bimbinglah aku kepada kelurusan.’” (HR. An-Nasa’i) Apa yang Allah firmankan dalam hadis ini? “Mintalah hidayah kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian hidayah.” (HR. Muslim) Artinya, “Mintalah hidayah kepada-Ku.” Arahkanlah ia kepada permohonan ini. Ajarkanlah ia untuk memohon kepada Allah, hingga seorang hamba menyadari kelemahan dan kefakirannya kepada Rabb-nya, agar Allah memberinya hidayah. Sebab, dalam kehidupan ini, berbagai perkara mengepungnya dari banyak arah. Begitu banyak perkara menguasai dan menghimpitnya: dari arah setan dan dari dorongan jiwanya sendiri,dari teman-teman yang buruk dan berbagai fitnah dunia. Begitu banyak perkara menghimpitnya, sementara dirinya berada dalam keadaan yang sangat lemah. Tidak ada yang dapat melindunginya selain Allah, dan tidak ada yang dapat menyelamatkannya dari semua itu selain Allah. Maka arahan terbaik yang dapat diberikan kepadanya adalah berdoa. Ia dinasihati agar memperbanyak doa. Dikatakan kepadanya, “Wahai Fulan, perbanyaklah memohon hidayah kepada Allah. ALLAAHUMMAHDINII ‘Ya Allah, berilah aku hidayah.’ ALLAAHUMMAHDINII FIIMAN HADAITA ‘Ya Allah, berilah aku hidayah bersama orang-orang yang telah Engkau beri hidayah.’ (HR. Abu Daud) ALLAAHUMMA INNII AS ALUKAL HIDAAYAH ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon hidayah kepada-Mu.’ IHDINASH SHIROOTHOL MUSTAQIIM ‘Tunjukilah kami jalan yang lurus.’ (QS. Al-Fatihah: 6) ALLAAHUMMA INNII AS ALUKAL HUDAA WAT TUQOO WAL ‘IFFATA WAL GHINAA ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kehormatan diri, dan kecukupan.’” (HR. Muslim) Ada banyak doa yang memuat permohonan ini. Maka ia diarahkan untuk mengamalkannya. Bersamaan dengan arahan untuk berdoa, dikatakan pula kepadanya, “Bersungguh-sungguhlah menundukkan hawa nafsumu. Iringilah doa dengan kesungguhan dalam melawan hawa nafsu.” Jika ia menggabungkan doa dengan perjuangan menundukkan hawa nafsunya, ia akan diberi hidayah dengan izin Allah. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman dalam hadis ini, “Mintalah hidayah kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian hidayah.” (HR. Muslim) Ini berkaitan dengan memohon hidayah. Adapun tentang bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu, Allah Jalla wa ‘Ala berfirman, “Orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut: 69) ===== نَصِيحَةٌ أَرْجُو اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُعَظِّمَ النَّفْعَ بِهَا وَهِيَ… الْعُصَاةُ الْمُضَيِّعُونَ الْمُفَرِّطُونَ الْمُتَهَاوِنُونَ فِي طَاعَةِ اللهِ مِنْ خَيْرِ مَا يُرْشَدُ إِلَيْهِ وَيُوصَى بِهِ أَنْ يُكْثِرَ مِنْ دُعَاءِ اللهِ أَنْ يَهْدِيَهُ يُنْصَحُ بِهَذَا يُقَالُ لَهُ مَثَلًا: أَكْثِرْ مِنْ هَذَا الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي يُقَالُ: هَذَا دُعَاءٌ مُخْتَصَرَةٌ أَلْفَاظُهُ جَمَعَ لَكَ الْخَيْرَ أَكْثِرْ مِنْ هَذَا الدُّعَاءِ أَقْبِلْ عَلَى اللهِ بِقَلْبِكَ وَأَكْثِرْ مِنْ هَذَا الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي مَاذَا قَالَ اللهُ هُنَا؟ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ يَعْنِي: اطْلُبُوا مِنِّي الْهِدَايَةَ أَرْشِدْهُ إِلَى هَذَا الطَّلَبِ عَلِّمْهُ أَنْ يَطْلُبَ مِنَ اللهِ حَتَّى يَسْتَشْعِرَ الْعَبْدُ ضَعْفَهُ وَفَقْرَهُ إِلَى رَبِّهِ أَنْ يَهْدِيَهُ لِأَنَّهُ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ تَسَلَّطَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ مِنْ جِهَاتٍ تَسَلَّطَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ كَثِيرَةٌ مِنْ جِهَةِ الشَّيْطَانِ مِنْ جِهَةٍ، وَالنَّفْسِ مِنْ جِهَةٍ وَقُرَنَاءِ السُّوءِ مِنْ جِهَةٍ، وَفِتَنِ الدُّنْيَا مِنْ جِهَةٍ تَسَلَّطَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ كَثِيرَةٌ فَهُوَ فِي غَايَةِ الضَّعْفِ لَا عَاصِمَ لَهُ إِلَّا اللهُ وَلَا مُخَلِّصَ لَهُ مِنْ ذَلِكَ إِلَّا اللهُ فَخَيْرُ مَا يُرْشَدُ إِلَيْهِ الدُّعَاءُ يُوصَى بِالدُّعَاءِ، يُقَالُ لَهُ: يَا فُلَانُ، أَكْثِرْ مِنْ سُؤَالِ اللهِ الْهِدَايَةَ اللَّهُمَّ اهْدِنِي اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهِدَايَةَ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعِفَّةَ وَالْغِنَى أَدْعِيَةٌ كَثِيرَةٌ فِي هَذَا الْمَطْلَبِ فَيُرْشَدُ إِلَى ذَلِكَ وَمَعَ إِرْشَادِهِ إِلَى الدُّعَاءِ يُقَالُ لَهُ أَيْضًا وَجَاهِدْ نَفْسَكَ أَتْبِعِ الدُّعَاءَ بِالْمُجَاهَدَةِ فَإِذَا جَمَعَ بَيْنَ الدُّعَاءِ وَالْمُجَاهَدَةِ لِلنَّفْسِ هُدِيَ بِإِذْنِ اللهِ اللهُ جَلَّ وَعَلَا قَالَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ هَذَا فِي السُّؤَالِ وَفِي الْمُجَاهَدَةِ قَالَ جَلَّ وَعَلَا وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

Sulit Lepas dari Maksiat? Jangan Tinggalkan Doa Ini – Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Abbad

Satu nasihat yang saya harapkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar Allah menjadikannya sangat bermanfaat. Nasihat ini untuk para pelaku maksiat, orang-orang yang menyia-nyiakan dan melalaikan ketaatan kepada Allah. Di antara nasihat terbaik untuk mereka adalah agar memperbanyak doa kepada Allah agar Allah memberinya hidayah. Mereka dinasihati dengan ini. Misalnya, dikatakan kepadanya, “Perbanyaklah membaca doa ini: ALLAAHUMMAHDINII WA SADDID NII ‘Ya Allah, berilah aku hidayah dan bimbinglah aku kepada kelurusan.’” (HR. An-Nasa’i) Dikatakan kepadanya, “Doa ini lafaznya singkat, tetapi merangkum seluruh kebaikan bagimu. Perbanyaklah membaca doa ini! Hadapkan hatimu kepada Allah dan perbanyaklah membaca doa ini: ALLAAHUMMAHDINII WA SADDID NII ‘Ya Allah, berilah aku hidayah dan bimbinglah aku kepada kelurusan.’” (HR. An-Nasa’i) Apa yang Allah firmankan dalam hadis ini? “Mintalah hidayah kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian hidayah.” (HR. Muslim) Artinya, “Mintalah hidayah kepada-Ku.” Arahkanlah ia kepada permohonan ini. Ajarkanlah ia untuk memohon kepada Allah, hingga seorang hamba menyadari kelemahan dan kefakirannya kepada Rabb-nya, agar Allah memberinya hidayah. Sebab, dalam kehidupan ini, berbagai perkara mengepungnya dari banyak arah. Begitu banyak perkara menguasai dan menghimpitnya: dari arah setan dan dari dorongan jiwanya sendiri,dari teman-teman yang buruk dan berbagai fitnah dunia. Begitu banyak perkara menghimpitnya, sementara dirinya berada dalam keadaan yang sangat lemah. Tidak ada yang dapat melindunginya selain Allah, dan tidak ada yang dapat menyelamatkannya dari semua itu selain Allah. Maka arahan terbaik yang dapat diberikan kepadanya adalah berdoa. Ia dinasihati agar memperbanyak doa. Dikatakan kepadanya, “Wahai Fulan, perbanyaklah memohon hidayah kepada Allah. ALLAAHUMMAHDINII ‘Ya Allah, berilah aku hidayah.’ ALLAAHUMMAHDINII FIIMAN HADAITA ‘Ya Allah, berilah aku hidayah bersama orang-orang yang telah Engkau beri hidayah.’ (HR. Abu Daud) ALLAAHUMMA INNII AS ALUKAL HIDAAYAH ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon hidayah kepada-Mu.’ IHDINASH SHIROOTHOL MUSTAQIIM ‘Tunjukilah kami jalan yang lurus.’ (QS. Al-Fatihah: 6) ALLAAHUMMA INNII AS ALUKAL HUDAA WAT TUQOO WAL ‘IFFATA WAL GHINAA ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kehormatan diri, dan kecukupan.’” (HR. Muslim) Ada banyak doa yang memuat permohonan ini. Maka ia diarahkan untuk mengamalkannya. Bersamaan dengan arahan untuk berdoa, dikatakan pula kepadanya, “Bersungguh-sungguhlah menundukkan hawa nafsumu. Iringilah doa dengan kesungguhan dalam melawan hawa nafsu.” Jika ia menggabungkan doa dengan perjuangan menundukkan hawa nafsunya, ia akan diberi hidayah dengan izin Allah. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman dalam hadis ini, “Mintalah hidayah kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian hidayah.” (HR. Muslim) Ini berkaitan dengan memohon hidayah. Adapun tentang bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu, Allah Jalla wa ‘Ala berfirman, “Orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut: 69) ===== نَصِيحَةٌ أَرْجُو اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُعَظِّمَ النَّفْعَ بِهَا وَهِيَ… الْعُصَاةُ الْمُضَيِّعُونَ الْمُفَرِّطُونَ الْمُتَهَاوِنُونَ فِي طَاعَةِ اللهِ مِنْ خَيْرِ مَا يُرْشَدُ إِلَيْهِ وَيُوصَى بِهِ أَنْ يُكْثِرَ مِنْ دُعَاءِ اللهِ أَنْ يَهْدِيَهُ يُنْصَحُ بِهَذَا يُقَالُ لَهُ مَثَلًا: أَكْثِرْ مِنْ هَذَا الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي يُقَالُ: هَذَا دُعَاءٌ مُخْتَصَرَةٌ أَلْفَاظُهُ جَمَعَ لَكَ الْخَيْرَ أَكْثِرْ مِنْ هَذَا الدُّعَاءِ أَقْبِلْ عَلَى اللهِ بِقَلْبِكَ وَأَكْثِرْ مِنْ هَذَا الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي مَاذَا قَالَ اللهُ هُنَا؟ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ يَعْنِي: اطْلُبُوا مِنِّي الْهِدَايَةَ أَرْشِدْهُ إِلَى هَذَا الطَّلَبِ عَلِّمْهُ أَنْ يَطْلُبَ مِنَ اللهِ حَتَّى يَسْتَشْعِرَ الْعَبْدُ ضَعْفَهُ وَفَقْرَهُ إِلَى رَبِّهِ أَنْ يَهْدِيَهُ لِأَنَّهُ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ تَسَلَّطَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ مِنْ جِهَاتٍ تَسَلَّطَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ كَثِيرَةٌ مِنْ جِهَةِ الشَّيْطَانِ مِنْ جِهَةٍ، وَالنَّفْسِ مِنْ جِهَةٍ وَقُرَنَاءِ السُّوءِ مِنْ جِهَةٍ، وَفِتَنِ الدُّنْيَا مِنْ جِهَةٍ تَسَلَّطَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ كَثِيرَةٌ فَهُوَ فِي غَايَةِ الضَّعْفِ لَا عَاصِمَ لَهُ إِلَّا اللهُ وَلَا مُخَلِّصَ لَهُ مِنْ ذَلِكَ إِلَّا اللهُ فَخَيْرُ مَا يُرْشَدُ إِلَيْهِ الدُّعَاءُ يُوصَى بِالدُّعَاءِ، يُقَالُ لَهُ: يَا فُلَانُ، أَكْثِرْ مِنْ سُؤَالِ اللهِ الْهِدَايَةَ اللَّهُمَّ اهْدِنِي اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهِدَايَةَ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعِفَّةَ وَالْغِنَى أَدْعِيَةٌ كَثِيرَةٌ فِي هَذَا الْمَطْلَبِ فَيُرْشَدُ إِلَى ذَلِكَ وَمَعَ إِرْشَادِهِ إِلَى الدُّعَاءِ يُقَالُ لَهُ أَيْضًا وَجَاهِدْ نَفْسَكَ أَتْبِعِ الدُّعَاءَ بِالْمُجَاهَدَةِ فَإِذَا جَمَعَ بَيْنَ الدُّعَاءِ وَالْمُجَاهَدَةِ لِلنَّفْسِ هُدِيَ بِإِذْنِ اللهِ اللهُ جَلَّ وَعَلَا قَالَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ هَذَا فِي السُّؤَالِ وَفِي الْمُجَاهَدَةِ قَالَ جَلَّ وَعَلَا وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
Satu nasihat yang saya harapkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar Allah menjadikannya sangat bermanfaat. Nasihat ini untuk para pelaku maksiat, orang-orang yang menyia-nyiakan dan melalaikan ketaatan kepada Allah. Di antara nasihat terbaik untuk mereka adalah agar memperbanyak doa kepada Allah agar Allah memberinya hidayah. Mereka dinasihati dengan ini. Misalnya, dikatakan kepadanya, “Perbanyaklah membaca doa ini: ALLAAHUMMAHDINII WA SADDID NII ‘Ya Allah, berilah aku hidayah dan bimbinglah aku kepada kelurusan.’” (HR. An-Nasa’i) Dikatakan kepadanya, “Doa ini lafaznya singkat, tetapi merangkum seluruh kebaikan bagimu. Perbanyaklah membaca doa ini! Hadapkan hatimu kepada Allah dan perbanyaklah membaca doa ini: ALLAAHUMMAHDINII WA SADDID NII ‘Ya Allah, berilah aku hidayah dan bimbinglah aku kepada kelurusan.’” (HR. An-Nasa’i) Apa yang Allah firmankan dalam hadis ini? “Mintalah hidayah kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian hidayah.” (HR. Muslim) Artinya, “Mintalah hidayah kepada-Ku.” Arahkanlah ia kepada permohonan ini. Ajarkanlah ia untuk memohon kepada Allah, hingga seorang hamba menyadari kelemahan dan kefakirannya kepada Rabb-nya, agar Allah memberinya hidayah. Sebab, dalam kehidupan ini, berbagai perkara mengepungnya dari banyak arah. Begitu banyak perkara menguasai dan menghimpitnya: dari arah setan dan dari dorongan jiwanya sendiri,dari teman-teman yang buruk dan berbagai fitnah dunia. Begitu banyak perkara menghimpitnya, sementara dirinya berada dalam keadaan yang sangat lemah. Tidak ada yang dapat melindunginya selain Allah, dan tidak ada yang dapat menyelamatkannya dari semua itu selain Allah. Maka arahan terbaik yang dapat diberikan kepadanya adalah berdoa. Ia dinasihati agar memperbanyak doa. Dikatakan kepadanya, “Wahai Fulan, perbanyaklah memohon hidayah kepada Allah. ALLAAHUMMAHDINII ‘Ya Allah, berilah aku hidayah.’ ALLAAHUMMAHDINII FIIMAN HADAITA ‘Ya Allah, berilah aku hidayah bersama orang-orang yang telah Engkau beri hidayah.’ (HR. Abu Daud) ALLAAHUMMA INNII AS ALUKAL HIDAAYAH ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon hidayah kepada-Mu.’ IHDINASH SHIROOTHOL MUSTAQIIM ‘Tunjukilah kami jalan yang lurus.’ (QS. Al-Fatihah: 6) ALLAAHUMMA INNII AS ALUKAL HUDAA WAT TUQOO WAL ‘IFFATA WAL GHINAA ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kehormatan diri, dan kecukupan.’” (HR. Muslim) Ada banyak doa yang memuat permohonan ini. Maka ia diarahkan untuk mengamalkannya. Bersamaan dengan arahan untuk berdoa, dikatakan pula kepadanya, “Bersungguh-sungguhlah menundukkan hawa nafsumu. Iringilah doa dengan kesungguhan dalam melawan hawa nafsu.” Jika ia menggabungkan doa dengan perjuangan menundukkan hawa nafsunya, ia akan diberi hidayah dengan izin Allah. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman dalam hadis ini, “Mintalah hidayah kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian hidayah.” (HR. Muslim) Ini berkaitan dengan memohon hidayah. Adapun tentang bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu, Allah Jalla wa ‘Ala berfirman, “Orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut: 69) ===== نَصِيحَةٌ أَرْجُو اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُعَظِّمَ النَّفْعَ بِهَا وَهِيَ… الْعُصَاةُ الْمُضَيِّعُونَ الْمُفَرِّطُونَ الْمُتَهَاوِنُونَ فِي طَاعَةِ اللهِ مِنْ خَيْرِ مَا يُرْشَدُ إِلَيْهِ وَيُوصَى بِهِ أَنْ يُكْثِرَ مِنْ دُعَاءِ اللهِ أَنْ يَهْدِيَهُ يُنْصَحُ بِهَذَا يُقَالُ لَهُ مَثَلًا: أَكْثِرْ مِنْ هَذَا الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي يُقَالُ: هَذَا دُعَاءٌ مُخْتَصَرَةٌ أَلْفَاظُهُ جَمَعَ لَكَ الْخَيْرَ أَكْثِرْ مِنْ هَذَا الدُّعَاءِ أَقْبِلْ عَلَى اللهِ بِقَلْبِكَ وَأَكْثِرْ مِنْ هَذَا الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي مَاذَا قَالَ اللهُ هُنَا؟ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ يَعْنِي: اطْلُبُوا مِنِّي الْهِدَايَةَ أَرْشِدْهُ إِلَى هَذَا الطَّلَبِ عَلِّمْهُ أَنْ يَطْلُبَ مِنَ اللهِ حَتَّى يَسْتَشْعِرَ الْعَبْدُ ضَعْفَهُ وَفَقْرَهُ إِلَى رَبِّهِ أَنْ يَهْدِيَهُ لِأَنَّهُ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ تَسَلَّطَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ مِنْ جِهَاتٍ تَسَلَّطَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ كَثِيرَةٌ مِنْ جِهَةِ الشَّيْطَانِ مِنْ جِهَةٍ، وَالنَّفْسِ مِنْ جِهَةٍ وَقُرَنَاءِ السُّوءِ مِنْ جِهَةٍ، وَفِتَنِ الدُّنْيَا مِنْ جِهَةٍ تَسَلَّطَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ كَثِيرَةٌ فَهُوَ فِي غَايَةِ الضَّعْفِ لَا عَاصِمَ لَهُ إِلَّا اللهُ وَلَا مُخَلِّصَ لَهُ مِنْ ذَلِكَ إِلَّا اللهُ فَخَيْرُ مَا يُرْشَدُ إِلَيْهِ الدُّعَاءُ يُوصَى بِالدُّعَاءِ، يُقَالُ لَهُ: يَا فُلَانُ، أَكْثِرْ مِنْ سُؤَالِ اللهِ الْهِدَايَةَ اللَّهُمَّ اهْدِنِي اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهِدَايَةَ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعِفَّةَ وَالْغِنَى أَدْعِيَةٌ كَثِيرَةٌ فِي هَذَا الْمَطْلَبِ فَيُرْشَدُ إِلَى ذَلِكَ وَمَعَ إِرْشَادِهِ إِلَى الدُّعَاءِ يُقَالُ لَهُ أَيْضًا وَجَاهِدْ نَفْسَكَ أَتْبِعِ الدُّعَاءَ بِالْمُجَاهَدَةِ فَإِذَا جَمَعَ بَيْنَ الدُّعَاءِ وَالْمُجَاهَدَةِ لِلنَّفْسِ هُدِيَ بِإِذْنِ اللهِ اللهُ جَلَّ وَعَلَا قَالَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ هَذَا فِي السُّؤَالِ وَفِي الْمُجَاهَدَةِ قَالَ جَلَّ وَعَلَا وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا


Satu nasihat yang saya harapkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar Allah menjadikannya sangat bermanfaat. Nasihat ini untuk para pelaku maksiat, orang-orang yang menyia-nyiakan dan melalaikan ketaatan kepada Allah. Di antara nasihat terbaik untuk mereka adalah agar memperbanyak doa kepada Allah agar Allah memberinya hidayah. Mereka dinasihati dengan ini. Misalnya, dikatakan kepadanya, “Perbanyaklah membaca doa ini: ALLAAHUMMAHDINII WA SADDID NII ‘Ya Allah, berilah aku hidayah dan bimbinglah aku kepada kelurusan.’” (HR. An-Nasa’i) Dikatakan kepadanya, “Doa ini lafaznya singkat, tetapi merangkum seluruh kebaikan bagimu. Perbanyaklah membaca doa ini! Hadapkan hatimu kepada Allah dan perbanyaklah membaca doa ini: ALLAAHUMMAHDINII WA SADDID NII ‘Ya Allah, berilah aku hidayah dan bimbinglah aku kepada kelurusan.’” (HR. An-Nasa’i) Apa yang Allah firmankan dalam hadis ini? “Mintalah hidayah kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian hidayah.” (HR. Muslim) Artinya, “Mintalah hidayah kepada-Ku.” Arahkanlah ia kepada permohonan ini. Ajarkanlah ia untuk memohon kepada Allah, hingga seorang hamba menyadari kelemahan dan kefakirannya kepada Rabb-nya, agar Allah memberinya hidayah. Sebab, dalam kehidupan ini, berbagai perkara mengepungnya dari banyak arah. Begitu banyak perkara menguasai dan menghimpitnya: dari arah setan dan dari dorongan jiwanya sendiri,dari teman-teman yang buruk dan berbagai fitnah dunia. Begitu banyak perkara menghimpitnya, sementara dirinya berada dalam keadaan yang sangat lemah. Tidak ada yang dapat melindunginya selain Allah, dan tidak ada yang dapat menyelamatkannya dari semua itu selain Allah. Maka arahan terbaik yang dapat diberikan kepadanya adalah berdoa. Ia dinasihati agar memperbanyak doa. Dikatakan kepadanya, “Wahai Fulan, perbanyaklah memohon hidayah kepada Allah. ALLAAHUMMAHDINII ‘Ya Allah, berilah aku hidayah.’ ALLAAHUMMAHDINII FIIMAN HADAITA ‘Ya Allah, berilah aku hidayah bersama orang-orang yang telah Engkau beri hidayah.’ (HR. Abu Daud) ALLAAHUMMA INNII AS ALUKAL HIDAAYAH ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon hidayah kepada-Mu.’ IHDINASH SHIROOTHOL MUSTAQIIM ‘Tunjukilah kami jalan yang lurus.’ (QS. Al-Fatihah: 6) ALLAAHUMMA INNII AS ALUKAL HUDAA WAT TUQOO WAL ‘IFFATA WAL GHINAA ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kehormatan diri, dan kecukupan.’” (HR. Muslim) Ada banyak doa yang memuat permohonan ini. Maka ia diarahkan untuk mengamalkannya. Bersamaan dengan arahan untuk berdoa, dikatakan pula kepadanya, “Bersungguh-sungguhlah menundukkan hawa nafsumu. Iringilah doa dengan kesungguhan dalam melawan hawa nafsu.” Jika ia menggabungkan doa dengan perjuangan menundukkan hawa nafsunya, ia akan diberi hidayah dengan izin Allah. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman dalam hadis ini, “Mintalah hidayah kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian hidayah.” (HR. Muslim) Ini berkaitan dengan memohon hidayah. Adapun tentang bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu, Allah Jalla wa ‘Ala berfirman, “Orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut: 69) ===== نَصِيحَةٌ أَرْجُو اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُعَظِّمَ النَّفْعَ بِهَا وَهِيَ… الْعُصَاةُ الْمُضَيِّعُونَ الْمُفَرِّطُونَ الْمُتَهَاوِنُونَ فِي طَاعَةِ اللهِ مِنْ خَيْرِ مَا يُرْشَدُ إِلَيْهِ وَيُوصَى بِهِ أَنْ يُكْثِرَ مِنْ دُعَاءِ اللهِ أَنْ يَهْدِيَهُ يُنْصَحُ بِهَذَا يُقَالُ لَهُ مَثَلًا: أَكْثِرْ مِنْ هَذَا الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي يُقَالُ: هَذَا دُعَاءٌ مُخْتَصَرَةٌ أَلْفَاظُهُ جَمَعَ لَكَ الْخَيْرَ أَكْثِرْ مِنْ هَذَا الدُّعَاءِ أَقْبِلْ عَلَى اللهِ بِقَلْبِكَ وَأَكْثِرْ مِنْ هَذَا الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي مَاذَا قَالَ اللهُ هُنَا؟ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ يَعْنِي: اطْلُبُوا مِنِّي الْهِدَايَةَ أَرْشِدْهُ إِلَى هَذَا الطَّلَبِ عَلِّمْهُ أَنْ يَطْلُبَ مِنَ اللهِ حَتَّى يَسْتَشْعِرَ الْعَبْدُ ضَعْفَهُ وَفَقْرَهُ إِلَى رَبِّهِ أَنْ يَهْدِيَهُ لِأَنَّهُ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ تَسَلَّطَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ مِنْ جِهَاتٍ تَسَلَّطَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ كَثِيرَةٌ مِنْ جِهَةِ الشَّيْطَانِ مِنْ جِهَةٍ، وَالنَّفْسِ مِنْ جِهَةٍ وَقُرَنَاءِ السُّوءِ مِنْ جِهَةٍ، وَفِتَنِ الدُّنْيَا مِنْ جِهَةٍ تَسَلَّطَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ كَثِيرَةٌ فَهُوَ فِي غَايَةِ الضَّعْفِ لَا عَاصِمَ لَهُ إِلَّا اللهُ وَلَا مُخَلِّصَ لَهُ مِنْ ذَلِكَ إِلَّا اللهُ فَخَيْرُ مَا يُرْشَدُ إِلَيْهِ الدُّعَاءُ يُوصَى بِالدُّعَاءِ، يُقَالُ لَهُ: يَا فُلَانُ، أَكْثِرْ مِنْ سُؤَالِ اللهِ الْهِدَايَةَ اللَّهُمَّ اهْدِنِي اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهِدَايَةَ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعِفَّةَ وَالْغِنَى أَدْعِيَةٌ كَثِيرَةٌ فِي هَذَا الْمَطْلَبِ فَيُرْشَدُ إِلَى ذَلِكَ وَمَعَ إِرْشَادِهِ إِلَى الدُّعَاءِ يُقَالُ لَهُ أَيْضًا وَجَاهِدْ نَفْسَكَ أَتْبِعِ الدُّعَاءَ بِالْمُجَاهَدَةِ فَإِذَا جَمَعَ بَيْنَ الدُّعَاءِ وَالْمُجَاهَدَةِ لِلنَّفْسِ هُدِيَ بِإِذْنِ اللهِ اللهُ جَلَّ وَعَلَا قَالَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ هَذَا فِي السُّؤَالِ وَفِي الْمُجَاهَدَةِ قَالَ جَلَّ وَعَلَا وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

Inilah Rahasia Menikmati Ibadah agar Hatimu Menjadi Paling Bahagia

Tidaklah dituntut hanyalah sekadar engkau beribadah kepada Allah. Tidak. Namun, engkau dituntut merasakan kelezatan dalam beribadah kepada-Nya. Hendaknya ibadahmu kepada Allah menjadi kenikmatan yang menenteramkan hatimu. Bagaimana hal itu terwujud? Wahai orang-orang yang mulia, ada perbedaan besar antara dua orang. Orang pertama berwudu dan melaksanakan salat hanya untuk menunaikan kewajiban, melepaskan tanggungannya, dan takut hukuman karena meninggalkan kewajiban yang Allah perintahkan. Orang lain pun berpuasa Ramadan dengan cara yang sama: menunaikan kewajiban dan tidak berbuka dengan sengaja tanpa uzur atau alasan yang dibenarkan syariat. Ia melakukannya sekadar untuk menunaikan kewajiban dan melepaskan tanggungan. Demikian pula kewajiban-kewajiban lainnya. Ada perbedaan besar antara orang tadi dengan orang lain yang berwudu seraya menikmati kenyataan bahwa ia sedang berada dalam keadaan suci yang dicintai oleh Allah, Ia menghayati bahwa Allah mengampuni dosa-dosanya bersama setiap tetes air wudu yang menetes dari anggota badannya. Ia selalu mengingat bahwa setiap kali selesai berwudu, delapan pintu surga dibukakan untuknya. Ia menikmati setiap wudu yang dilakukannya. Ketika bangkit menuju salat, hatinya telah lebih dahulu melangkah, penuh kegembiraan dan kerinduan untuk berdiri di hadapan Allah. Ketika ia salat, membaca, atau mendengarkan bacaan imam, hatinya menjadi tenteram dengan firman Allah. Ketika rukuk, ia merasakan nikmatnya mengagungkan Allah.Ketika bangkit dari rukuk, hatinya lebih dahulu melantunkan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebelum lisannya. Ketika sujud, ia mengagungkan Allah dan merasakan bahwa saat itulah dirinya berada paling dekat dengan Rabb-nya. Ia pun memanjatkan doa-doa, menyampaikan segala hajat dan urusan-urusan terpentingnya, serta memohon kepada Allah dengan penuh adab, penghambaan, ketundukan, dan kerendahan diri. Kelezatan dalam ibadah dan kenikmatan yang dirasakan di dalamnya inilah yang mendatangkan segala kebahagiaan hidup yang mengikutinya.Benar, hidupnya tetap tidak akan lepas dari penyakit, musibah, kegundahan, sesak dada, dan berbagai kesulitan lainnya. Akan tetapi, ketika ia telah merasakan nikmatnya menghamba kepada Allah, segala musibah dan ragam ujian dalam hidup berubah menjadi sesuatu yang hanya singgah dan tidak banyak ia hiraukan. Seakan-akan ia hanya berpapasan dengan sesuatu yang sebentar lagi segera akan berlalu. Maka engkau akan melihatnya, betapapun beban kehidupan berhimpun menghimpitnya,ia tetap termasuk manusia yang paling tenteram hatinya dan paling damai hidupnya. Padahal hartanya tidak bertambah, kemiskinannya belum sirna, dan utangnya pun belum terlunasi. Namun Allah ‘Azza wa Jalla telah memenuhi hatinya dengan rida, kegembiraan, dan ketenteraman. Sungguh, ini merupakan perkara yang menakjubkan. Engkau akan menemukannya pada hamba-hamba tulus yang Allah pilih untuk merasakan makna ini. ===== لَيْسَ الْمَطْلُوبُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ فَحَسْبُ، لَا بَلْ أَنْ تَتَلَذَّذَ بِعِبَادَتِكَ لِلهِ أَنْ تَكُونَ عِبَادَتُكَ لِلهِ نَعِيمًا يَأْنَسُ بِهِ قَلْبُكَ كَيْفَ هَذَا؟ فَرْقٌ يَا كِرَامُ بَيْنَ اثْنَيْنِ يَتَوَضَّأُ أَحَدُهُمَا وَيُصَلِّي أَدَاءً لِلْوَاجِبِ وَإِبْرَاءً لِذِمَّتِهِ، وَخَشْيَةً مِنَ الْعِقَابِ عَلَى تَرْكِ الْوَاجِبِ الَّذِي أَمَرَهُ اللهُ وَآخَرُ كَذَلِكَ يَصُومُ رَمَضَانَ، يَفْعَلُ الْوَاجِبَ، وَيَتْرُكُ الْفِطْرَ عَمْدًا بِلَا عُذْرٍ وَلَا شَيْءٍ مِمَّا سَوَّغَتْهُ الشَّرِيعَةُ أَدَاءً لِلْوَاجِبِ، وَإِبْرَاءً لِلذِّمَّةِ، وَسَائِرِ الْوَاجِبَاتِ كَذَلِكَ فَرْقٌ بَيْنَ هَذَا، وَآخَرَ يَتَوَضَّأُ مُسْتَمْتِعًا أَنَّهُ فِي طَهَارَةٍ يُحِبُّهَا اللهُ مُسْتَشْعِرًا أَنَّ اللهَ يَغْفِرُ ذُنُوبَهُ مَعَ كُلِّ قَطْرَةٍ تَقْطُرُ مِنْهَا أَعْضَاؤُهُ بِمَاءِ الْوُضُوءِ مُسْتَصْحِبًا أَنَّهُ كُلَّمَا فَرَغَ مِنْ وُضُوءٍ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَتَلَذَّذُ بِكُلِّ وُضُوءٍ يَتَوَضَّأُهُ فَإِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قَامَ وَقَلْبُهُ يَسْبِقُهُ فَرَحًا وَشَوْقًا إِلَى الْوُقُوفِ بَيْنَ يَدَيِ اللهِ فَإِذَا صَلَّى وَقَرَأَ أَوْ سَمِعَ قِرَاءَةَ الْإِمَامِ أَنِسَ بِكَلَامِ اللهِ وَإِذَا رَكَعَ تَلَذَّذَ بِتَعْظِيمِ اللهِ وَإِذَا رَفَعَ لَهِجَ قَلْبُهُ قَبْلَ لِسَانِهِ حَمْدًا لِلهِ سُبْحَانَهُ وَإِذَا سَجَدَ عَظَّمَ اللهَ وَشَعَرَ أَنَّهُ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ إِلَى رَبِّهِ فَرَفَعَ الدَّعَوَاتِ وَرَفَعَ الْحَوَائِجَ وَالْمُهِمَّاتِ وَسَأَلَ اللهَ بِأَدَبٍ وَعُبُودِيَّةٍ وَخُضُوعٍ وَذُلٍّ هَذَا التَّلَذُّذُ بِالْعِبَادَةِ وَالتَّنَعُّمُ بِهَا يُسْتَجْلَبُ بِهِ كُلُّ مَا وَرَاءَ ذَلِكَ مِنْ سَعَادَةِ الْحَيَاةِ نَعَمْ، هُوَ لَنْ يَخْلُوَ فِي حَيَاتِهِ مِنْ مَرَضٍ وَلَا مُصِيبَةٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا ضِيقِ صَدْرٍ وَلَا لَكِنَّهُ لَمَّا اسْتَمْتَعَ بِعُبُودِيَّتِهِ لِلهِ تَحَوَّلَتْ تِلْكَ الْمَصَائِبُ فِي الْحَيَاةِ وَوُجُوهُ الِابْتِلَاءَاتِ إِلَى أَمْرٍ عَابِرٍ لَا يُلْقِي لَهُ بَالًا فَكَأَنَّمَا مَرَّ بِشَيْءٍ يُوشِكُ أَنْ يَنْصَرِفَ فَتَرَاهُ مَهْمَا اجْتَمَعَتْ عَلَيْهِ هُمُومُ الْحَيَاةِ هُوَ مِنْ أَهْنَأِ النَّاسِ قَلْبًا، وَمِنْ أَطْيَبِهِمْ عَيْشًا مَا كَثُرَ مَالُهُ وَلَا ذَهَبَ فَقْرُهُ، وَلَا قُضِيَ دَيْنُهُ لَكِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ مَلَأَ قَلْبَهُ رِضًا وَسُرُورًا وَأُنْسًا هَذَا شَيْءٌ عَجِيبٌ تَجِدُهُ عِنْدَ الْخُلَّصِ مِنَ الَّذِينَ اصْطَفَاهُمُ اللهُ لِهَذَا الْمَعْنَى

Inilah Rahasia Menikmati Ibadah agar Hatimu Menjadi Paling Bahagia

Tidaklah dituntut hanyalah sekadar engkau beribadah kepada Allah. Tidak. Namun, engkau dituntut merasakan kelezatan dalam beribadah kepada-Nya. Hendaknya ibadahmu kepada Allah menjadi kenikmatan yang menenteramkan hatimu. Bagaimana hal itu terwujud? Wahai orang-orang yang mulia, ada perbedaan besar antara dua orang. Orang pertama berwudu dan melaksanakan salat hanya untuk menunaikan kewajiban, melepaskan tanggungannya, dan takut hukuman karena meninggalkan kewajiban yang Allah perintahkan. Orang lain pun berpuasa Ramadan dengan cara yang sama: menunaikan kewajiban dan tidak berbuka dengan sengaja tanpa uzur atau alasan yang dibenarkan syariat. Ia melakukannya sekadar untuk menunaikan kewajiban dan melepaskan tanggungan. Demikian pula kewajiban-kewajiban lainnya. Ada perbedaan besar antara orang tadi dengan orang lain yang berwudu seraya menikmati kenyataan bahwa ia sedang berada dalam keadaan suci yang dicintai oleh Allah, Ia menghayati bahwa Allah mengampuni dosa-dosanya bersama setiap tetes air wudu yang menetes dari anggota badannya. Ia selalu mengingat bahwa setiap kali selesai berwudu, delapan pintu surga dibukakan untuknya. Ia menikmati setiap wudu yang dilakukannya. Ketika bangkit menuju salat, hatinya telah lebih dahulu melangkah, penuh kegembiraan dan kerinduan untuk berdiri di hadapan Allah. Ketika ia salat, membaca, atau mendengarkan bacaan imam, hatinya menjadi tenteram dengan firman Allah. Ketika rukuk, ia merasakan nikmatnya mengagungkan Allah.Ketika bangkit dari rukuk, hatinya lebih dahulu melantunkan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebelum lisannya. Ketika sujud, ia mengagungkan Allah dan merasakan bahwa saat itulah dirinya berada paling dekat dengan Rabb-nya. Ia pun memanjatkan doa-doa, menyampaikan segala hajat dan urusan-urusan terpentingnya, serta memohon kepada Allah dengan penuh adab, penghambaan, ketundukan, dan kerendahan diri. Kelezatan dalam ibadah dan kenikmatan yang dirasakan di dalamnya inilah yang mendatangkan segala kebahagiaan hidup yang mengikutinya.Benar, hidupnya tetap tidak akan lepas dari penyakit, musibah, kegundahan, sesak dada, dan berbagai kesulitan lainnya. Akan tetapi, ketika ia telah merasakan nikmatnya menghamba kepada Allah, segala musibah dan ragam ujian dalam hidup berubah menjadi sesuatu yang hanya singgah dan tidak banyak ia hiraukan. Seakan-akan ia hanya berpapasan dengan sesuatu yang sebentar lagi segera akan berlalu. Maka engkau akan melihatnya, betapapun beban kehidupan berhimpun menghimpitnya,ia tetap termasuk manusia yang paling tenteram hatinya dan paling damai hidupnya. Padahal hartanya tidak bertambah, kemiskinannya belum sirna, dan utangnya pun belum terlunasi. Namun Allah ‘Azza wa Jalla telah memenuhi hatinya dengan rida, kegembiraan, dan ketenteraman. Sungguh, ini merupakan perkara yang menakjubkan. Engkau akan menemukannya pada hamba-hamba tulus yang Allah pilih untuk merasakan makna ini. ===== لَيْسَ الْمَطْلُوبُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ فَحَسْبُ، لَا بَلْ أَنْ تَتَلَذَّذَ بِعِبَادَتِكَ لِلهِ أَنْ تَكُونَ عِبَادَتُكَ لِلهِ نَعِيمًا يَأْنَسُ بِهِ قَلْبُكَ كَيْفَ هَذَا؟ فَرْقٌ يَا كِرَامُ بَيْنَ اثْنَيْنِ يَتَوَضَّأُ أَحَدُهُمَا وَيُصَلِّي أَدَاءً لِلْوَاجِبِ وَإِبْرَاءً لِذِمَّتِهِ، وَخَشْيَةً مِنَ الْعِقَابِ عَلَى تَرْكِ الْوَاجِبِ الَّذِي أَمَرَهُ اللهُ وَآخَرُ كَذَلِكَ يَصُومُ رَمَضَانَ، يَفْعَلُ الْوَاجِبَ، وَيَتْرُكُ الْفِطْرَ عَمْدًا بِلَا عُذْرٍ وَلَا شَيْءٍ مِمَّا سَوَّغَتْهُ الشَّرِيعَةُ أَدَاءً لِلْوَاجِبِ، وَإِبْرَاءً لِلذِّمَّةِ، وَسَائِرِ الْوَاجِبَاتِ كَذَلِكَ فَرْقٌ بَيْنَ هَذَا، وَآخَرَ يَتَوَضَّأُ مُسْتَمْتِعًا أَنَّهُ فِي طَهَارَةٍ يُحِبُّهَا اللهُ مُسْتَشْعِرًا أَنَّ اللهَ يَغْفِرُ ذُنُوبَهُ مَعَ كُلِّ قَطْرَةٍ تَقْطُرُ مِنْهَا أَعْضَاؤُهُ بِمَاءِ الْوُضُوءِ مُسْتَصْحِبًا أَنَّهُ كُلَّمَا فَرَغَ مِنْ وُضُوءٍ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَتَلَذَّذُ بِكُلِّ وُضُوءٍ يَتَوَضَّأُهُ فَإِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قَامَ وَقَلْبُهُ يَسْبِقُهُ فَرَحًا وَشَوْقًا إِلَى الْوُقُوفِ بَيْنَ يَدَيِ اللهِ فَإِذَا صَلَّى وَقَرَأَ أَوْ سَمِعَ قِرَاءَةَ الْإِمَامِ أَنِسَ بِكَلَامِ اللهِ وَإِذَا رَكَعَ تَلَذَّذَ بِتَعْظِيمِ اللهِ وَإِذَا رَفَعَ لَهِجَ قَلْبُهُ قَبْلَ لِسَانِهِ حَمْدًا لِلهِ سُبْحَانَهُ وَإِذَا سَجَدَ عَظَّمَ اللهَ وَشَعَرَ أَنَّهُ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ إِلَى رَبِّهِ فَرَفَعَ الدَّعَوَاتِ وَرَفَعَ الْحَوَائِجَ وَالْمُهِمَّاتِ وَسَأَلَ اللهَ بِأَدَبٍ وَعُبُودِيَّةٍ وَخُضُوعٍ وَذُلٍّ هَذَا التَّلَذُّذُ بِالْعِبَادَةِ وَالتَّنَعُّمُ بِهَا يُسْتَجْلَبُ بِهِ كُلُّ مَا وَرَاءَ ذَلِكَ مِنْ سَعَادَةِ الْحَيَاةِ نَعَمْ، هُوَ لَنْ يَخْلُوَ فِي حَيَاتِهِ مِنْ مَرَضٍ وَلَا مُصِيبَةٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا ضِيقِ صَدْرٍ وَلَا لَكِنَّهُ لَمَّا اسْتَمْتَعَ بِعُبُودِيَّتِهِ لِلهِ تَحَوَّلَتْ تِلْكَ الْمَصَائِبُ فِي الْحَيَاةِ وَوُجُوهُ الِابْتِلَاءَاتِ إِلَى أَمْرٍ عَابِرٍ لَا يُلْقِي لَهُ بَالًا فَكَأَنَّمَا مَرَّ بِشَيْءٍ يُوشِكُ أَنْ يَنْصَرِفَ فَتَرَاهُ مَهْمَا اجْتَمَعَتْ عَلَيْهِ هُمُومُ الْحَيَاةِ هُوَ مِنْ أَهْنَأِ النَّاسِ قَلْبًا، وَمِنْ أَطْيَبِهِمْ عَيْشًا مَا كَثُرَ مَالُهُ وَلَا ذَهَبَ فَقْرُهُ، وَلَا قُضِيَ دَيْنُهُ لَكِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ مَلَأَ قَلْبَهُ رِضًا وَسُرُورًا وَأُنْسًا هَذَا شَيْءٌ عَجِيبٌ تَجِدُهُ عِنْدَ الْخُلَّصِ مِنَ الَّذِينَ اصْطَفَاهُمُ اللهُ لِهَذَا الْمَعْنَى
Tidaklah dituntut hanyalah sekadar engkau beribadah kepada Allah. Tidak. Namun, engkau dituntut merasakan kelezatan dalam beribadah kepada-Nya. Hendaknya ibadahmu kepada Allah menjadi kenikmatan yang menenteramkan hatimu. Bagaimana hal itu terwujud? Wahai orang-orang yang mulia, ada perbedaan besar antara dua orang. Orang pertama berwudu dan melaksanakan salat hanya untuk menunaikan kewajiban, melepaskan tanggungannya, dan takut hukuman karena meninggalkan kewajiban yang Allah perintahkan. Orang lain pun berpuasa Ramadan dengan cara yang sama: menunaikan kewajiban dan tidak berbuka dengan sengaja tanpa uzur atau alasan yang dibenarkan syariat. Ia melakukannya sekadar untuk menunaikan kewajiban dan melepaskan tanggungan. Demikian pula kewajiban-kewajiban lainnya. Ada perbedaan besar antara orang tadi dengan orang lain yang berwudu seraya menikmati kenyataan bahwa ia sedang berada dalam keadaan suci yang dicintai oleh Allah, Ia menghayati bahwa Allah mengampuni dosa-dosanya bersama setiap tetes air wudu yang menetes dari anggota badannya. Ia selalu mengingat bahwa setiap kali selesai berwudu, delapan pintu surga dibukakan untuknya. Ia menikmati setiap wudu yang dilakukannya. Ketika bangkit menuju salat, hatinya telah lebih dahulu melangkah, penuh kegembiraan dan kerinduan untuk berdiri di hadapan Allah. Ketika ia salat, membaca, atau mendengarkan bacaan imam, hatinya menjadi tenteram dengan firman Allah. Ketika rukuk, ia merasakan nikmatnya mengagungkan Allah.Ketika bangkit dari rukuk, hatinya lebih dahulu melantunkan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebelum lisannya. Ketika sujud, ia mengagungkan Allah dan merasakan bahwa saat itulah dirinya berada paling dekat dengan Rabb-nya. Ia pun memanjatkan doa-doa, menyampaikan segala hajat dan urusan-urusan terpentingnya, serta memohon kepada Allah dengan penuh adab, penghambaan, ketundukan, dan kerendahan diri. Kelezatan dalam ibadah dan kenikmatan yang dirasakan di dalamnya inilah yang mendatangkan segala kebahagiaan hidup yang mengikutinya.Benar, hidupnya tetap tidak akan lepas dari penyakit, musibah, kegundahan, sesak dada, dan berbagai kesulitan lainnya. Akan tetapi, ketika ia telah merasakan nikmatnya menghamba kepada Allah, segala musibah dan ragam ujian dalam hidup berubah menjadi sesuatu yang hanya singgah dan tidak banyak ia hiraukan. Seakan-akan ia hanya berpapasan dengan sesuatu yang sebentar lagi segera akan berlalu. Maka engkau akan melihatnya, betapapun beban kehidupan berhimpun menghimpitnya,ia tetap termasuk manusia yang paling tenteram hatinya dan paling damai hidupnya. Padahal hartanya tidak bertambah, kemiskinannya belum sirna, dan utangnya pun belum terlunasi. Namun Allah ‘Azza wa Jalla telah memenuhi hatinya dengan rida, kegembiraan, dan ketenteraman. Sungguh, ini merupakan perkara yang menakjubkan. Engkau akan menemukannya pada hamba-hamba tulus yang Allah pilih untuk merasakan makna ini. ===== لَيْسَ الْمَطْلُوبُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ فَحَسْبُ، لَا بَلْ أَنْ تَتَلَذَّذَ بِعِبَادَتِكَ لِلهِ أَنْ تَكُونَ عِبَادَتُكَ لِلهِ نَعِيمًا يَأْنَسُ بِهِ قَلْبُكَ كَيْفَ هَذَا؟ فَرْقٌ يَا كِرَامُ بَيْنَ اثْنَيْنِ يَتَوَضَّأُ أَحَدُهُمَا وَيُصَلِّي أَدَاءً لِلْوَاجِبِ وَإِبْرَاءً لِذِمَّتِهِ، وَخَشْيَةً مِنَ الْعِقَابِ عَلَى تَرْكِ الْوَاجِبِ الَّذِي أَمَرَهُ اللهُ وَآخَرُ كَذَلِكَ يَصُومُ رَمَضَانَ، يَفْعَلُ الْوَاجِبَ، وَيَتْرُكُ الْفِطْرَ عَمْدًا بِلَا عُذْرٍ وَلَا شَيْءٍ مِمَّا سَوَّغَتْهُ الشَّرِيعَةُ أَدَاءً لِلْوَاجِبِ، وَإِبْرَاءً لِلذِّمَّةِ، وَسَائِرِ الْوَاجِبَاتِ كَذَلِكَ فَرْقٌ بَيْنَ هَذَا، وَآخَرَ يَتَوَضَّأُ مُسْتَمْتِعًا أَنَّهُ فِي طَهَارَةٍ يُحِبُّهَا اللهُ مُسْتَشْعِرًا أَنَّ اللهَ يَغْفِرُ ذُنُوبَهُ مَعَ كُلِّ قَطْرَةٍ تَقْطُرُ مِنْهَا أَعْضَاؤُهُ بِمَاءِ الْوُضُوءِ مُسْتَصْحِبًا أَنَّهُ كُلَّمَا فَرَغَ مِنْ وُضُوءٍ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَتَلَذَّذُ بِكُلِّ وُضُوءٍ يَتَوَضَّأُهُ فَإِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قَامَ وَقَلْبُهُ يَسْبِقُهُ فَرَحًا وَشَوْقًا إِلَى الْوُقُوفِ بَيْنَ يَدَيِ اللهِ فَإِذَا صَلَّى وَقَرَأَ أَوْ سَمِعَ قِرَاءَةَ الْإِمَامِ أَنِسَ بِكَلَامِ اللهِ وَإِذَا رَكَعَ تَلَذَّذَ بِتَعْظِيمِ اللهِ وَإِذَا رَفَعَ لَهِجَ قَلْبُهُ قَبْلَ لِسَانِهِ حَمْدًا لِلهِ سُبْحَانَهُ وَإِذَا سَجَدَ عَظَّمَ اللهَ وَشَعَرَ أَنَّهُ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ إِلَى رَبِّهِ فَرَفَعَ الدَّعَوَاتِ وَرَفَعَ الْحَوَائِجَ وَالْمُهِمَّاتِ وَسَأَلَ اللهَ بِأَدَبٍ وَعُبُودِيَّةٍ وَخُضُوعٍ وَذُلٍّ هَذَا التَّلَذُّذُ بِالْعِبَادَةِ وَالتَّنَعُّمُ بِهَا يُسْتَجْلَبُ بِهِ كُلُّ مَا وَرَاءَ ذَلِكَ مِنْ سَعَادَةِ الْحَيَاةِ نَعَمْ، هُوَ لَنْ يَخْلُوَ فِي حَيَاتِهِ مِنْ مَرَضٍ وَلَا مُصِيبَةٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا ضِيقِ صَدْرٍ وَلَا لَكِنَّهُ لَمَّا اسْتَمْتَعَ بِعُبُودِيَّتِهِ لِلهِ تَحَوَّلَتْ تِلْكَ الْمَصَائِبُ فِي الْحَيَاةِ وَوُجُوهُ الِابْتِلَاءَاتِ إِلَى أَمْرٍ عَابِرٍ لَا يُلْقِي لَهُ بَالًا فَكَأَنَّمَا مَرَّ بِشَيْءٍ يُوشِكُ أَنْ يَنْصَرِفَ فَتَرَاهُ مَهْمَا اجْتَمَعَتْ عَلَيْهِ هُمُومُ الْحَيَاةِ هُوَ مِنْ أَهْنَأِ النَّاسِ قَلْبًا، وَمِنْ أَطْيَبِهِمْ عَيْشًا مَا كَثُرَ مَالُهُ وَلَا ذَهَبَ فَقْرُهُ، وَلَا قُضِيَ دَيْنُهُ لَكِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ مَلَأَ قَلْبَهُ رِضًا وَسُرُورًا وَأُنْسًا هَذَا شَيْءٌ عَجِيبٌ تَجِدُهُ عِنْدَ الْخُلَّصِ مِنَ الَّذِينَ اصْطَفَاهُمُ اللهُ لِهَذَا الْمَعْنَى


Tidaklah dituntut hanyalah sekadar engkau beribadah kepada Allah. Tidak. Namun, engkau dituntut merasakan kelezatan dalam beribadah kepada-Nya. Hendaknya ibadahmu kepada Allah menjadi kenikmatan yang menenteramkan hatimu. Bagaimana hal itu terwujud? Wahai orang-orang yang mulia, ada perbedaan besar antara dua orang. Orang pertama berwudu dan melaksanakan salat hanya untuk menunaikan kewajiban, melepaskan tanggungannya, dan takut hukuman karena meninggalkan kewajiban yang Allah perintahkan. Orang lain pun berpuasa Ramadan dengan cara yang sama: menunaikan kewajiban dan tidak berbuka dengan sengaja tanpa uzur atau alasan yang dibenarkan syariat. Ia melakukannya sekadar untuk menunaikan kewajiban dan melepaskan tanggungan. Demikian pula kewajiban-kewajiban lainnya. Ada perbedaan besar antara orang tadi dengan orang lain yang berwudu seraya menikmati kenyataan bahwa ia sedang berada dalam keadaan suci yang dicintai oleh Allah, Ia menghayati bahwa Allah mengampuni dosa-dosanya bersama setiap tetes air wudu yang menetes dari anggota badannya. Ia selalu mengingat bahwa setiap kali selesai berwudu, delapan pintu surga dibukakan untuknya. Ia menikmati setiap wudu yang dilakukannya. Ketika bangkit menuju salat, hatinya telah lebih dahulu melangkah, penuh kegembiraan dan kerinduan untuk berdiri di hadapan Allah. Ketika ia salat, membaca, atau mendengarkan bacaan imam, hatinya menjadi tenteram dengan firman Allah. Ketika rukuk, ia merasakan nikmatnya mengagungkan Allah.Ketika bangkit dari rukuk, hatinya lebih dahulu melantunkan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebelum lisannya. Ketika sujud, ia mengagungkan Allah dan merasakan bahwa saat itulah dirinya berada paling dekat dengan Rabb-nya. Ia pun memanjatkan doa-doa, menyampaikan segala hajat dan urusan-urusan terpentingnya, serta memohon kepada Allah dengan penuh adab, penghambaan, ketundukan, dan kerendahan diri. Kelezatan dalam ibadah dan kenikmatan yang dirasakan di dalamnya inilah yang mendatangkan segala kebahagiaan hidup yang mengikutinya.Benar, hidupnya tetap tidak akan lepas dari penyakit, musibah, kegundahan, sesak dada, dan berbagai kesulitan lainnya. Akan tetapi, ketika ia telah merasakan nikmatnya menghamba kepada Allah, segala musibah dan ragam ujian dalam hidup berubah menjadi sesuatu yang hanya singgah dan tidak banyak ia hiraukan. Seakan-akan ia hanya berpapasan dengan sesuatu yang sebentar lagi segera akan berlalu. Maka engkau akan melihatnya, betapapun beban kehidupan berhimpun menghimpitnya,ia tetap termasuk manusia yang paling tenteram hatinya dan paling damai hidupnya. Padahal hartanya tidak bertambah, kemiskinannya belum sirna, dan utangnya pun belum terlunasi. Namun Allah ‘Azza wa Jalla telah memenuhi hatinya dengan rida, kegembiraan, dan ketenteraman. Sungguh, ini merupakan perkara yang menakjubkan. Engkau akan menemukannya pada hamba-hamba tulus yang Allah pilih untuk merasakan makna ini. ===== لَيْسَ الْمَطْلُوبُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ فَحَسْبُ، لَا بَلْ أَنْ تَتَلَذَّذَ بِعِبَادَتِكَ لِلهِ أَنْ تَكُونَ عِبَادَتُكَ لِلهِ نَعِيمًا يَأْنَسُ بِهِ قَلْبُكَ كَيْفَ هَذَا؟ فَرْقٌ يَا كِرَامُ بَيْنَ اثْنَيْنِ يَتَوَضَّأُ أَحَدُهُمَا وَيُصَلِّي أَدَاءً لِلْوَاجِبِ وَإِبْرَاءً لِذِمَّتِهِ، وَخَشْيَةً مِنَ الْعِقَابِ عَلَى تَرْكِ الْوَاجِبِ الَّذِي أَمَرَهُ اللهُ وَآخَرُ كَذَلِكَ يَصُومُ رَمَضَانَ، يَفْعَلُ الْوَاجِبَ، وَيَتْرُكُ الْفِطْرَ عَمْدًا بِلَا عُذْرٍ وَلَا شَيْءٍ مِمَّا سَوَّغَتْهُ الشَّرِيعَةُ أَدَاءً لِلْوَاجِبِ، وَإِبْرَاءً لِلذِّمَّةِ، وَسَائِرِ الْوَاجِبَاتِ كَذَلِكَ فَرْقٌ بَيْنَ هَذَا، وَآخَرَ يَتَوَضَّأُ مُسْتَمْتِعًا أَنَّهُ فِي طَهَارَةٍ يُحِبُّهَا اللهُ مُسْتَشْعِرًا أَنَّ اللهَ يَغْفِرُ ذُنُوبَهُ مَعَ كُلِّ قَطْرَةٍ تَقْطُرُ مِنْهَا أَعْضَاؤُهُ بِمَاءِ الْوُضُوءِ مُسْتَصْحِبًا أَنَّهُ كُلَّمَا فَرَغَ مِنْ وُضُوءٍ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَتَلَذَّذُ بِكُلِّ وُضُوءٍ يَتَوَضَّأُهُ فَإِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قَامَ وَقَلْبُهُ يَسْبِقُهُ فَرَحًا وَشَوْقًا إِلَى الْوُقُوفِ بَيْنَ يَدَيِ اللهِ فَإِذَا صَلَّى وَقَرَأَ أَوْ سَمِعَ قِرَاءَةَ الْإِمَامِ أَنِسَ بِكَلَامِ اللهِ وَإِذَا رَكَعَ تَلَذَّذَ بِتَعْظِيمِ اللهِ وَإِذَا رَفَعَ لَهِجَ قَلْبُهُ قَبْلَ لِسَانِهِ حَمْدًا لِلهِ سُبْحَانَهُ وَإِذَا سَجَدَ عَظَّمَ اللهَ وَشَعَرَ أَنَّهُ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ إِلَى رَبِّهِ فَرَفَعَ الدَّعَوَاتِ وَرَفَعَ الْحَوَائِجَ وَالْمُهِمَّاتِ وَسَأَلَ اللهَ بِأَدَبٍ وَعُبُودِيَّةٍ وَخُضُوعٍ وَذُلٍّ هَذَا التَّلَذُّذُ بِالْعِبَادَةِ وَالتَّنَعُّمُ بِهَا يُسْتَجْلَبُ بِهِ كُلُّ مَا وَرَاءَ ذَلِكَ مِنْ سَعَادَةِ الْحَيَاةِ نَعَمْ، هُوَ لَنْ يَخْلُوَ فِي حَيَاتِهِ مِنْ مَرَضٍ وَلَا مُصِيبَةٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا ضِيقِ صَدْرٍ وَلَا لَكِنَّهُ لَمَّا اسْتَمْتَعَ بِعُبُودِيَّتِهِ لِلهِ تَحَوَّلَتْ تِلْكَ الْمَصَائِبُ فِي الْحَيَاةِ وَوُجُوهُ الِابْتِلَاءَاتِ إِلَى أَمْرٍ عَابِرٍ لَا يُلْقِي لَهُ بَالًا فَكَأَنَّمَا مَرَّ بِشَيْءٍ يُوشِكُ أَنْ يَنْصَرِفَ فَتَرَاهُ مَهْمَا اجْتَمَعَتْ عَلَيْهِ هُمُومُ الْحَيَاةِ هُوَ مِنْ أَهْنَأِ النَّاسِ قَلْبًا، وَمِنْ أَطْيَبِهِمْ عَيْشًا مَا كَثُرَ مَالُهُ وَلَا ذَهَبَ فَقْرُهُ، وَلَا قُضِيَ دَيْنُهُ لَكِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ مَلَأَ قَلْبَهُ رِضًا وَسُرُورًا وَأُنْسًا هَذَا شَيْءٌ عَجِيبٌ تَجِدُهُ عِنْدَ الْخُلَّصِ مِنَ الَّذِينَ اصْطَفَاهُمُ اللهُ لِهَذَا الْمَعْنَى
Prev     Next