Amal Sebesar Gunung Menjadi Debu? Waspadai Satu Dosa yang Menghancurkan Segalanya!

Maka, waspadalah terhadap dirimu sendiri. Oleh karena itu, disebutkan dalam sebuah hadis: “Sungguh, ada seseorang yang beramal dengan amalan penduduk surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal satu hasta saja, tapi takdir mendahuluinya. Lalu ia justru melakukan amalan penduduk neraka dan wafat dalam keadaan itu…” (HR. Bukhari dan Muslim). Begitu pula sebaliknya.Namun, terdapat sebuah riwayat yang menjelaskan: “Berdasarkan apa yang tampak di mata manusia.” Yaitu seseorang yang terlihat melakukan amalan penduduk surga hanya dalam pandangan manusia saja. Maka dari itu, saya mengingatkan diri saya sendiri sebelum mengingatkan kalian, mengenai perkara-perkara tersembunyi di kala sunyi. Perhatikanlah apa yang Allah lihat darimu, bukan pada apa yang tampak di mata manusia. Jika engkau melakukan apa yang Allah kehendaki sesuai dengan apa yang Dia ridhai, semata-mata demi meraih keridhaan-Nya dan mengharap apa yang ada di sisi-Nya, maka engkau berada dalam kebaikan. Perbanyaklah amalan antara engkau dan Allah yang tak seorang pun manusia mengetahuinya. Perbanyaklah ketaatan di kala sunyi, karena itu adalah penolongmu dengan izin Allah, sebagaimana dosa di kala sunyi itu sangat membinasakan. Dosa yang dilakukan saat sendirian itu merusak dan menyengsarakan, menyeret pelakunya menuju kehancuran dan kenistaan, serta melemahkan ketakwaan dan imannya. Sebagaimana dosa di kala sunyi berdampak buruk, maka ketaatan di kala sunyi pun berdampak besar, mulai dari Shalat Malam hingga sedekah secara sembunyi-sembunyi. Berupa infak dan berbuat baik kepada yang memerlukan, tanpa ada seorang pun yang tahu.Berupa puasa dan Shalat Malam yang tak diketahui siapa pun, hingga tetesan air mata yang jatuh (di kesunyian). Itulah mengapa di antara tujuh golongan yang Allah naungi di bawah naungan-Nya, pada hari tiada naungan selain naungan-Nya, terdapat amalan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi: “Seseorang yang mengingat Allah dalam kesendirian lalu meneteslah air matanya,” (HR. Bukhari dan Muslim). “Seseorang yang bersedekah hingga tangan kirinya tak tahu apa yang diinfakkan tangan kanannya.” Maka, perkara-perkara inilah yang menjadi penolongmu. Dalam pengajaran ilmu kepada orang lain, waspadalah, jangan sampai engkau mengajar, tapi justru menyelisihinya. Sebab itulah, ada orang yang menyeret ususnya, dan ia berputar-putar seperti penggilingan di dalam neraka Jahanam, layaknya seekor keledai. Ia adalah orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia, tapi ia sendiri tidak mengamalkannya. “Bukankah engkau dulu mengajari kami?” Ia menjawab: “Dulu aku memerintah dan melarang kalian, tapi aku sendiri tidak menaatinya.” Maka waspadalah! Jagalah dirimu sendiri dari segala perkara rahasiamu di hadapan Rabbmu. Jagalah matamu, telingamu, lisanmu, dan kemaluanmu. Selalulah engkau merasa diawasi oleh Allah, sebelum engkau merasa diawasi oleh makhluk-Nya. Oleh sebab itu, ada golongan yang pahala kebaikan mereka sirna meski sebesar gunung-gunung di Tihamah, Allah menjadikannya debu yang beterbangan. Seorang Sahabat Nabi bertanya: “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Karena jika mereka sedang sendirian, mereka berani melanggar larangan-larangan Allah.” (HR. Ibnu Majah, disampaikan secara makna). Waspadalah terhadap dosa yang dilakukan saat sendirian. Semoga Allah melindungi kita semua, membimbing kita, menjadi penolong saat kita sedang sendirian. Kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami dan kejahatan amal perbuatan kami. Jadi, inilah yang menentukan akhir kehidupan. Segala perbuatanmu, dan apa yang engkau lakukan, engkaulah orang yang paling tahu tentang dirimu sendiri. Engkaulah yang paling tahu tentang apa yang kau perbuat, kau nafkahkan, dan kau niatkan. Lalu apa yang kau inginkan? Kejarlah apa yang ada di sisi Allah, karena apa yang ada pada manusia akan sirna, sedangkan apa yang ada di sisi Allah akan kekal. ===== فَانْتَبِهْ لِنَفْسِكَ وَلِذَلِكَ فِي الْحَدِيثِ أَنَّ الرَّجُلَ يَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَمُوتُ عَلَى ذَلِكَ وَالْعَكْسُ لَكِنْ هُنَاكَ رِوَايَةٌ فِيمَا يَظْهَرُ لِلنَّاسِ أَنَّ الرَّجُلَ يَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَظْهَرُ لِلنَّاسِ إِذًا أُنَبِّهُ نَفْسِي قَبْلَكُمْ فِي أُمُورِ الْخَفَاءِ احْرِصْ عَلَى مَا يَرَى اللهُ مِنْكَ لَا مَا يَرَاهُ النَّاسُ مِنْكَ فَإِنْ كُنْتَ تُمَارِسُ مَا يُرِيدُهُ اللهُ وِفْقَ مَا أَرَادَ اللهُ بِمَا يُرْضِي اللهَ نَظَرًا فِيمَا عِنْدَ اللهِ فَأَنْتَ عَلَى خَيْرٍ وَأَكْثِرْ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي بَيْنَكَ وَبَيْنَ اللهِ لَا يَعْلَمُهَا النَّاسُ طَاعَاتُ الْخَلَوَاتِ أَكْثِرْ مِنْهَا فَهِيَ مُعِينَةٌ بِإِذْنِ اللهِ كَمَا أَنَّ ذُنُوبَ الْخَلَوَاتِ مُرْدِيَةٌ ذُنُوبُ الْخَلَوَاتِ مُرْدِيَةٌ مُؤْذِيَةٌ قَائِدَةُ صَاحِبِهَا إِلَى الرَّدَى وَالْخَنَى وَتُضْعِفُ تَقْوَاهُ وَتُضْعِفُ إِيمَانَهُ وَكَمَا أَنَّ لِذُنُوبِ الْخَلَوَاتِ أَثَرٌ لِطَاعَاتِ الْخَلَوَاتِ أَثَرٌ مِنْ قِيَامِ اللَّيْلِ مِنْ صَدَقَةِ الْخَفَاءِ مِنَ الْإِنْفَاقِ وَالْإِحْسَانِ عَلَى مَنْ يَحْتَاجُ دُونَ أَنْ يَعْلَمَ عَنْهَا أَحَدٌ مِنْ صِيَامٍ لَا يَعْلَمُ عَنْهُ أَحَدٌ مِنْ قِيَامٍ لَا يَعْلَمُ عَنْهُ أَحَدٌ مِنْ دَمَعَاتٍ خَرَجَتْ وَلِذَلِكَ تَجِدُ فِي السَّبْعَةِ الَّذِينَ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ أَعْمَالٌ مِنْهَا مَا يَتَعَلَّقُ بِالْخَفَاءِ رَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ رَجُلٌ أَنْفَقَ صَدَقَةً يَمِينُهُ لَا تَعْلَمُهَا شِمَالُهُ إِذًا هَذِهِ الْأُمُورُ مِمَّا يُعِينُكَ أَنْتَ فِي تَعْلِيمِكَ لِلنَّاسِ انْتَبِهْ تُعَلِّمُ وَأَنْتَ تُخَالِفُ وَلِذَلِكَ مِمَّنْ يَجُرُّ أَقْتَابَهُ وَيَدُورُ كَالرَّحَى فِي جَهَنَّمَ كَالْحِمَارِ هُوَ مَنْ كَانَ يُعَلِّمُ النَّاسَ الْخَيْرَ وَلَا يَعْمَلُ أَلَمْ تَكُنْ تُعَلِّمُنَا؟ قَالَ كُنْتُ آمُرُكُمْ وَأَنْهَاكُمْ وَلَا أَمْتَثِلُ انْتَبِهْ أَنْتَ انْتَبِهْ مِنْ نَفْسِكَ عَلَى نَفْسِكَ مِنْ أُمُورِ نَفْسِكَ الْخَفِيَّةِ مَعَ رَبِّكَ عَيْنَكَ أُذُنَكَ لِسَانَكَ فَرْجَكَ رَاقِبِ اللهَ قَبْلَ تُرَاقِبُ خَلْقَ اللهِ وَلِذَلِكَ مِمَّنْ تَذْهَبُ حَسَنَاتُهُمُ الَّتِي كَجِبَالِ تِهَامَةَ يَجْعَلُهَا اللهُ هَبَاءً مَنْثُورًا قَالَ وَمَا ذَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ لِأَنَّهُمْ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللهِ انْتَهَكُوهَا انْتَبِهْ مِنْ ذُنُوبِ الْخَلَوَاتِ حَمَانَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ وَتَوَلَّانَا وَكَانَ لَنَا فِي خَلَوَاتِنَا عَوْنًا وَمُعِينًا وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا إِذًا هَذِهِ الْخَوَاتِيمُ أَفْعَالُكَ وَمَا تُمَارِسُ أَنْتَ أَعْلَمُ النَّاسِ بِنَفْسِكَ أَنْتَ أَعْلَمُ النَّاسِ بِمَا تَفْعَلُ وَتُنْفِقُ وَتَقْصِدُ فَمَاذَا تُرِيدُ؟ عَلَيْكَ بِمَا عِنْدَ اللهِ فَمَا عِنْدَ النَّاسِ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللهِ بَاقٍ

Amal Sebesar Gunung Menjadi Debu? Waspadai Satu Dosa yang Menghancurkan Segalanya!

Maka, waspadalah terhadap dirimu sendiri. Oleh karena itu, disebutkan dalam sebuah hadis: “Sungguh, ada seseorang yang beramal dengan amalan penduduk surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal satu hasta saja, tapi takdir mendahuluinya. Lalu ia justru melakukan amalan penduduk neraka dan wafat dalam keadaan itu…” (HR. Bukhari dan Muslim). Begitu pula sebaliknya.Namun, terdapat sebuah riwayat yang menjelaskan: “Berdasarkan apa yang tampak di mata manusia.” Yaitu seseorang yang terlihat melakukan amalan penduduk surga hanya dalam pandangan manusia saja. Maka dari itu, saya mengingatkan diri saya sendiri sebelum mengingatkan kalian, mengenai perkara-perkara tersembunyi di kala sunyi. Perhatikanlah apa yang Allah lihat darimu, bukan pada apa yang tampak di mata manusia. Jika engkau melakukan apa yang Allah kehendaki sesuai dengan apa yang Dia ridhai, semata-mata demi meraih keridhaan-Nya dan mengharap apa yang ada di sisi-Nya, maka engkau berada dalam kebaikan. Perbanyaklah amalan antara engkau dan Allah yang tak seorang pun manusia mengetahuinya. Perbanyaklah ketaatan di kala sunyi, karena itu adalah penolongmu dengan izin Allah, sebagaimana dosa di kala sunyi itu sangat membinasakan. Dosa yang dilakukan saat sendirian itu merusak dan menyengsarakan, menyeret pelakunya menuju kehancuran dan kenistaan, serta melemahkan ketakwaan dan imannya. Sebagaimana dosa di kala sunyi berdampak buruk, maka ketaatan di kala sunyi pun berdampak besar, mulai dari Shalat Malam hingga sedekah secara sembunyi-sembunyi. Berupa infak dan berbuat baik kepada yang memerlukan, tanpa ada seorang pun yang tahu.Berupa puasa dan Shalat Malam yang tak diketahui siapa pun, hingga tetesan air mata yang jatuh (di kesunyian). Itulah mengapa di antara tujuh golongan yang Allah naungi di bawah naungan-Nya, pada hari tiada naungan selain naungan-Nya, terdapat amalan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi: “Seseorang yang mengingat Allah dalam kesendirian lalu meneteslah air matanya,” (HR. Bukhari dan Muslim). “Seseorang yang bersedekah hingga tangan kirinya tak tahu apa yang diinfakkan tangan kanannya.” Maka, perkara-perkara inilah yang menjadi penolongmu. Dalam pengajaran ilmu kepada orang lain, waspadalah, jangan sampai engkau mengajar, tapi justru menyelisihinya. Sebab itulah, ada orang yang menyeret ususnya, dan ia berputar-putar seperti penggilingan di dalam neraka Jahanam, layaknya seekor keledai. Ia adalah orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia, tapi ia sendiri tidak mengamalkannya. “Bukankah engkau dulu mengajari kami?” Ia menjawab: “Dulu aku memerintah dan melarang kalian, tapi aku sendiri tidak menaatinya.” Maka waspadalah! Jagalah dirimu sendiri dari segala perkara rahasiamu di hadapan Rabbmu. Jagalah matamu, telingamu, lisanmu, dan kemaluanmu. Selalulah engkau merasa diawasi oleh Allah, sebelum engkau merasa diawasi oleh makhluk-Nya. Oleh sebab itu, ada golongan yang pahala kebaikan mereka sirna meski sebesar gunung-gunung di Tihamah, Allah menjadikannya debu yang beterbangan. Seorang Sahabat Nabi bertanya: “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Karena jika mereka sedang sendirian, mereka berani melanggar larangan-larangan Allah.” (HR. Ibnu Majah, disampaikan secara makna). Waspadalah terhadap dosa yang dilakukan saat sendirian. Semoga Allah melindungi kita semua, membimbing kita, menjadi penolong saat kita sedang sendirian. Kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami dan kejahatan amal perbuatan kami. Jadi, inilah yang menentukan akhir kehidupan. Segala perbuatanmu, dan apa yang engkau lakukan, engkaulah orang yang paling tahu tentang dirimu sendiri. Engkaulah yang paling tahu tentang apa yang kau perbuat, kau nafkahkan, dan kau niatkan. Lalu apa yang kau inginkan? Kejarlah apa yang ada di sisi Allah, karena apa yang ada pada manusia akan sirna, sedangkan apa yang ada di sisi Allah akan kekal. ===== فَانْتَبِهْ لِنَفْسِكَ وَلِذَلِكَ فِي الْحَدِيثِ أَنَّ الرَّجُلَ يَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَمُوتُ عَلَى ذَلِكَ وَالْعَكْسُ لَكِنْ هُنَاكَ رِوَايَةٌ فِيمَا يَظْهَرُ لِلنَّاسِ أَنَّ الرَّجُلَ يَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَظْهَرُ لِلنَّاسِ إِذًا أُنَبِّهُ نَفْسِي قَبْلَكُمْ فِي أُمُورِ الْخَفَاءِ احْرِصْ عَلَى مَا يَرَى اللهُ مِنْكَ لَا مَا يَرَاهُ النَّاسُ مِنْكَ فَإِنْ كُنْتَ تُمَارِسُ مَا يُرِيدُهُ اللهُ وِفْقَ مَا أَرَادَ اللهُ بِمَا يُرْضِي اللهَ نَظَرًا فِيمَا عِنْدَ اللهِ فَأَنْتَ عَلَى خَيْرٍ وَأَكْثِرْ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي بَيْنَكَ وَبَيْنَ اللهِ لَا يَعْلَمُهَا النَّاسُ طَاعَاتُ الْخَلَوَاتِ أَكْثِرْ مِنْهَا فَهِيَ مُعِينَةٌ بِإِذْنِ اللهِ كَمَا أَنَّ ذُنُوبَ الْخَلَوَاتِ مُرْدِيَةٌ ذُنُوبُ الْخَلَوَاتِ مُرْدِيَةٌ مُؤْذِيَةٌ قَائِدَةُ صَاحِبِهَا إِلَى الرَّدَى وَالْخَنَى وَتُضْعِفُ تَقْوَاهُ وَتُضْعِفُ إِيمَانَهُ وَكَمَا أَنَّ لِذُنُوبِ الْخَلَوَاتِ أَثَرٌ لِطَاعَاتِ الْخَلَوَاتِ أَثَرٌ مِنْ قِيَامِ اللَّيْلِ مِنْ صَدَقَةِ الْخَفَاءِ مِنَ الْإِنْفَاقِ وَالْإِحْسَانِ عَلَى مَنْ يَحْتَاجُ دُونَ أَنْ يَعْلَمَ عَنْهَا أَحَدٌ مِنْ صِيَامٍ لَا يَعْلَمُ عَنْهُ أَحَدٌ مِنْ قِيَامٍ لَا يَعْلَمُ عَنْهُ أَحَدٌ مِنْ دَمَعَاتٍ خَرَجَتْ وَلِذَلِكَ تَجِدُ فِي السَّبْعَةِ الَّذِينَ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ أَعْمَالٌ مِنْهَا مَا يَتَعَلَّقُ بِالْخَفَاءِ رَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ رَجُلٌ أَنْفَقَ صَدَقَةً يَمِينُهُ لَا تَعْلَمُهَا شِمَالُهُ إِذًا هَذِهِ الْأُمُورُ مِمَّا يُعِينُكَ أَنْتَ فِي تَعْلِيمِكَ لِلنَّاسِ انْتَبِهْ تُعَلِّمُ وَأَنْتَ تُخَالِفُ وَلِذَلِكَ مِمَّنْ يَجُرُّ أَقْتَابَهُ وَيَدُورُ كَالرَّحَى فِي جَهَنَّمَ كَالْحِمَارِ هُوَ مَنْ كَانَ يُعَلِّمُ النَّاسَ الْخَيْرَ وَلَا يَعْمَلُ أَلَمْ تَكُنْ تُعَلِّمُنَا؟ قَالَ كُنْتُ آمُرُكُمْ وَأَنْهَاكُمْ وَلَا أَمْتَثِلُ انْتَبِهْ أَنْتَ انْتَبِهْ مِنْ نَفْسِكَ عَلَى نَفْسِكَ مِنْ أُمُورِ نَفْسِكَ الْخَفِيَّةِ مَعَ رَبِّكَ عَيْنَكَ أُذُنَكَ لِسَانَكَ فَرْجَكَ رَاقِبِ اللهَ قَبْلَ تُرَاقِبُ خَلْقَ اللهِ وَلِذَلِكَ مِمَّنْ تَذْهَبُ حَسَنَاتُهُمُ الَّتِي كَجِبَالِ تِهَامَةَ يَجْعَلُهَا اللهُ هَبَاءً مَنْثُورًا قَالَ وَمَا ذَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ لِأَنَّهُمْ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللهِ انْتَهَكُوهَا انْتَبِهْ مِنْ ذُنُوبِ الْخَلَوَاتِ حَمَانَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ وَتَوَلَّانَا وَكَانَ لَنَا فِي خَلَوَاتِنَا عَوْنًا وَمُعِينًا وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا إِذًا هَذِهِ الْخَوَاتِيمُ أَفْعَالُكَ وَمَا تُمَارِسُ أَنْتَ أَعْلَمُ النَّاسِ بِنَفْسِكَ أَنْتَ أَعْلَمُ النَّاسِ بِمَا تَفْعَلُ وَتُنْفِقُ وَتَقْصِدُ فَمَاذَا تُرِيدُ؟ عَلَيْكَ بِمَا عِنْدَ اللهِ فَمَا عِنْدَ النَّاسِ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللهِ بَاقٍ
Maka, waspadalah terhadap dirimu sendiri. Oleh karena itu, disebutkan dalam sebuah hadis: “Sungguh, ada seseorang yang beramal dengan amalan penduduk surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal satu hasta saja, tapi takdir mendahuluinya. Lalu ia justru melakukan amalan penduduk neraka dan wafat dalam keadaan itu…” (HR. Bukhari dan Muslim). Begitu pula sebaliknya.Namun, terdapat sebuah riwayat yang menjelaskan: “Berdasarkan apa yang tampak di mata manusia.” Yaitu seseorang yang terlihat melakukan amalan penduduk surga hanya dalam pandangan manusia saja. Maka dari itu, saya mengingatkan diri saya sendiri sebelum mengingatkan kalian, mengenai perkara-perkara tersembunyi di kala sunyi. Perhatikanlah apa yang Allah lihat darimu, bukan pada apa yang tampak di mata manusia. Jika engkau melakukan apa yang Allah kehendaki sesuai dengan apa yang Dia ridhai, semata-mata demi meraih keridhaan-Nya dan mengharap apa yang ada di sisi-Nya, maka engkau berada dalam kebaikan. Perbanyaklah amalan antara engkau dan Allah yang tak seorang pun manusia mengetahuinya. Perbanyaklah ketaatan di kala sunyi, karena itu adalah penolongmu dengan izin Allah, sebagaimana dosa di kala sunyi itu sangat membinasakan. Dosa yang dilakukan saat sendirian itu merusak dan menyengsarakan, menyeret pelakunya menuju kehancuran dan kenistaan, serta melemahkan ketakwaan dan imannya. Sebagaimana dosa di kala sunyi berdampak buruk, maka ketaatan di kala sunyi pun berdampak besar, mulai dari Shalat Malam hingga sedekah secara sembunyi-sembunyi. Berupa infak dan berbuat baik kepada yang memerlukan, tanpa ada seorang pun yang tahu.Berupa puasa dan Shalat Malam yang tak diketahui siapa pun, hingga tetesan air mata yang jatuh (di kesunyian). Itulah mengapa di antara tujuh golongan yang Allah naungi di bawah naungan-Nya, pada hari tiada naungan selain naungan-Nya, terdapat amalan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi: “Seseorang yang mengingat Allah dalam kesendirian lalu meneteslah air matanya,” (HR. Bukhari dan Muslim). “Seseorang yang bersedekah hingga tangan kirinya tak tahu apa yang diinfakkan tangan kanannya.” Maka, perkara-perkara inilah yang menjadi penolongmu. Dalam pengajaran ilmu kepada orang lain, waspadalah, jangan sampai engkau mengajar, tapi justru menyelisihinya. Sebab itulah, ada orang yang menyeret ususnya, dan ia berputar-putar seperti penggilingan di dalam neraka Jahanam, layaknya seekor keledai. Ia adalah orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia, tapi ia sendiri tidak mengamalkannya. “Bukankah engkau dulu mengajari kami?” Ia menjawab: “Dulu aku memerintah dan melarang kalian, tapi aku sendiri tidak menaatinya.” Maka waspadalah! Jagalah dirimu sendiri dari segala perkara rahasiamu di hadapan Rabbmu. Jagalah matamu, telingamu, lisanmu, dan kemaluanmu. Selalulah engkau merasa diawasi oleh Allah, sebelum engkau merasa diawasi oleh makhluk-Nya. Oleh sebab itu, ada golongan yang pahala kebaikan mereka sirna meski sebesar gunung-gunung di Tihamah, Allah menjadikannya debu yang beterbangan. Seorang Sahabat Nabi bertanya: “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Karena jika mereka sedang sendirian, mereka berani melanggar larangan-larangan Allah.” (HR. Ibnu Majah, disampaikan secara makna). Waspadalah terhadap dosa yang dilakukan saat sendirian. Semoga Allah melindungi kita semua, membimbing kita, menjadi penolong saat kita sedang sendirian. Kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami dan kejahatan amal perbuatan kami. Jadi, inilah yang menentukan akhir kehidupan. Segala perbuatanmu, dan apa yang engkau lakukan, engkaulah orang yang paling tahu tentang dirimu sendiri. Engkaulah yang paling tahu tentang apa yang kau perbuat, kau nafkahkan, dan kau niatkan. Lalu apa yang kau inginkan? Kejarlah apa yang ada di sisi Allah, karena apa yang ada pada manusia akan sirna, sedangkan apa yang ada di sisi Allah akan kekal. ===== فَانْتَبِهْ لِنَفْسِكَ وَلِذَلِكَ فِي الْحَدِيثِ أَنَّ الرَّجُلَ يَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَمُوتُ عَلَى ذَلِكَ وَالْعَكْسُ لَكِنْ هُنَاكَ رِوَايَةٌ فِيمَا يَظْهَرُ لِلنَّاسِ أَنَّ الرَّجُلَ يَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَظْهَرُ لِلنَّاسِ إِذًا أُنَبِّهُ نَفْسِي قَبْلَكُمْ فِي أُمُورِ الْخَفَاءِ احْرِصْ عَلَى مَا يَرَى اللهُ مِنْكَ لَا مَا يَرَاهُ النَّاسُ مِنْكَ فَإِنْ كُنْتَ تُمَارِسُ مَا يُرِيدُهُ اللهُ وِفْقَ مَا أَرَادَ اللهُ بِمَا يُرْضِي اللهَ نَظَرًا فِيمَا عِنْدَ اللهِ فَأَنْتَ عَلَى خَيْرٍ وَأَكْثِرْ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي بَيْنَكَ وَبَيْنَ اللهِ لَا يَعْلَمُهَا النَّاسُ طَاعَاتُ الْخَلَوَاتِ أَكْثِرْ مِنْهَا فَهِيَ مُعِينَةٌ بِإِذْنِ اللهِ كَمَا أَنَّ ذُنُوبَ الْخَلَوَاتِ مُرْدِيَةٌ ذُنُوبُ الْخَلَوَاتِ مُرْدِيَةٌ مُؤْذِيَةٌ قَائِدَةُ صَاحِبِهَا إِلَى الرَّدَى وَالْخَنَى وَتُضْعِفُ تَقْوَاهُ وَتُضْعِفُ إِيمَانَهُ وَكَمَا أَنَّ لِذُنُوبِ الْخَلَوَاتِ أَثَرٌ لِطَاعَاتِ الْخَلَوَاتِ أَثَرٌ مِنْ قِيَامِ اللَّيْلِ مِنْ صَدَقَةِ الْخَفَاءِ مِنَ الْإِنْفَاقِ وَالْإِحْسَانِ عَلَى مَنْ يَحْتَاجُ دُونَ أَنْ يَعْلَمَ عَنْهَا أَحَدٌ مِنْ صِيَامٍ لَا يَعْلَمُ عَنْهُ أَحَدٌ مِنْ قِيَامٍ لَا يَعْلَمُ عَنْهُ أَحَدٌ مِنْ دَمَعَاتٍ خَرَجَتْ وَلِذَلِكَ تَجِدُ فِي السَّبْعَةِ الَّذِينَ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ أَعْمَالٌ مِنْهَا مَا يَتَعَلَّقُ بِالْخَفَاءِ رَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ رَجُلٌ أَنْفَقَ صَدَقَةً يَمِينُهُ لَا تَعْلَمُهَا شِمَالُهُ إِذًا هَذِهِ الْأُمُورُ مِمَّا يُعِينُكَ أَنْتَ فِي تَعْلِيمِكَ لِلنَّاسِ انْتَبِهْ تُعَلِّمُ وَأَنْتَ تُخَالِفُ وَلِذَلِكَ مِمَّنْ يَجُرُّ أَقْتَابَهُ وَيَدُورُ كَالرَّحَى فِي جَهَنَّمَ كَالْحِمَارِ هُوَ مَنْ كَانَ يُعَلِّمُ النَّاسَ الْخَيْرَ وَلَا يَعْمَلُ أَلَمْ تَكُنْ تُعَلِّمُنَا؟ قَالَ كُنْتُ آمُرُكُمْ وَأَنْهَاكُمْ وَلَا أَمْتَثِلُ انْتَبِهْ أَنْتَ انْتَبِهْ مِنْ نَفْسِكَ عَلَى نَفْسِكَ مِنْ أُمُورِ نَفْسِكَ الْخَفِيَّةِ مَعَ رَبِّكَ عَيْنَكَ أُذُنَكَ لِسَانَكَ فَرْجَكَ رَاقِبِ اللهَ قَبْلَ تُرَاقِبُ خَلْقَ اللهِ وَلِذَلِكَ مِمَّنْ تَذْهَبُ حَسَنَاتُهُمُ الَّتِي كَجِبَالِ تِهَامَةَ يَجْعَلُهَا اللهُ هَبَاءً مَنْثُورًا قَالَ وَمَا ذَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ لِأَنَّهُمْ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللهِ انْتَهَكُوهَا انْتَبِهْ مِنْ ذُنُوبِ الْخَلَوَاتِ حَمَانَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ وَتَوَلَّانَا وَكَانَ لَنَا فِي خَلَوَاتِنَا عَوْنًا وَمُعِينًا وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا إِذًا هَذِهِ الْخَوَاتِيمُ أَفْعَالُكَ وَمَا تُمَارِسُ أَنْتَ أَعْلَمُ النَّاسِ بِنَفْسِكَ أَنْتَ أَعْلَمُ النَّاسِ بِمَا تَفْعَلُ وَتُنْفِقُ وَتَقْصِدُ فَمَاذَا تُرِيدُ؟ عَلَيْكَ بِمَا عِنْدَ اللهِ فَمَا عِنْدَ النَّاسِ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللهِ بَاقٍ


Maka, waspadalah terhadap dirimu sendiri. Oleh karena itu, disebutkan dalam sebuah hadis: “Sungguh, ada seseorang yang beramal dengan amalan penduduk surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal satu hasta saja, tapi takdir mendahuluinya. Lalu ia justru melakukan amalan penduduk neraka dan wafat dalam keadaan itu…” (HR. Bukhari dan Muslim). Begitu pula sebaliknya.Namun, terdapat sebuah riwayat yang menjelaskan: “Berdasarkan apa yang tampak di mata manusia.” Yaitu seseorang yang terlihat melakukan amalan penduduk surga hanya dalam pandangan manusia saja. Maka dari itu, saya mengingatkan diri saya sendiri sebelum mengingatkan kalian, mengenai perkara-perkara tersembunyi di kala sunyi. Perhatikanlah apa yang Allah lihat darimu, bukan pada apa yang tampak di mata manusia. Jika engkau melakukan apa yang Allah kehendaki sesuai dengan apa yang Dia ridhai, semata-mata demi meraih keridhaan-Nya dan mengharap apa yang ada di sisi-Nya, maka engkau berada dalam kebaikan. Perbanyaklah amalan antara engkau dan Allah yang tak seorang pun manusia mengetahuinya. Perbanyaklah ketaatan di kala sunyi, karena itu adalah penolongmu dengan izin Allah, sebagaimana dosa di kala sunyi itu sangat membinasakan. Dosa yang dilakukan saat sendirian itu merusak dan menyengsarakan, menyeret pelakunya menuju kehancuran dan kenistaan, serta melemahkan ketakwaan dan imannya. Sebagaimana dosa di kala sunyi berdampak buruk, maka ketaatan di kala sunyi pun berdampak besar, mulai dari Shalat Malam hingga sedekah secara sembunyi-sembunyi. Berupa infak dan berbuat baik kepada yang memerlukan, tanpa ada seorang pun yang tahu.Berupa puasa dan Shalat Malam yang tak diketahui siapa pun, hingga tetesan air mata yang jatuh (di kesunyian). Itulah mengapa di antara tujuh golongan yang Allah naungi di bawah naungan-Nya, pada hari tiada naungan selain naungan-Nya, terdapat amalan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi: “Seseorang yang mengingat Allah dalam kesendirian lalu meneteslah air matanya,” (HR. Bukhari dan Muslim). “Seseorang yang bersedekah hingga tangan kirinya tak tahu apa yang diinfakkan tangan kanannya.” Maka, perkara-perkara inilah yang menjadi penolongmu. Dalam pengajaran ilmu kepada orang lain, waspadalah, jangan sampai engkau mengajar, tapi justru menyelisihinya. Sebab itulah, ada orang yang menyeret ususnya, dan ia berputar-putar seperti penggilingan di dalam neraka Jahanam, layaknya seekor keledai. Ia adalah orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia, tapi ia sendiri tidak mengamalkannya. “Bukankah engkau dulu mengajari kami?” Ia menjawab: “Dulu aku memerintah dan melarang kalian, tapi aku sendiri tidak menaatinya.” Maka waspadalah! Jagalah dirimu sendiri dari segala perkara rahasiamu di hadapan Rabbmu. Jagalah matamu, telingamu, lisanmu, dan kemaluanmu. Selalulah engkau merasa diawasi oleh Allah, sebelum engkau merasa diawasi oleh makhluk-Nya. Oleh sebab itu, ada golongan yang pahala kebaikan mereka sirna meski sebesar gunung-gunung di Tihamah, Allah menjadikannya debu yang beterbangan. Seorang Sahabat Nabi bertanya: “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Karena jika mereka sedang sendirian, mereka berani melanggar larangan-larangan Allah.” (HR. Ibnu Majah, disampaikan secara makna). Waspadalah terhadap dosa yang dilakukan saat sendirian. Semoga Allah melindungi kita semua, membimbing kita, menjadi penolong saat kita sedang sendirian. Kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami dan kejahatan amal perbuatan kami. Jadi, inilah yang menentukan akhir kehidupan. Segala perbuatanmu, dan apa yang engkau lakukan, engkaulah orang yang paling tahu tentang dirimu sendiri. Engkaulah yang paling tahu tentang apa yang kau perbuat, kau nafkahkan, dan kau niatkan. Lalu apa yang kau inginkan? Kejarlah apa yang ada di sisi Allah, karena apa yang ada pada manusia akan sirna, sedangkan apa yang ada di sisi Allah akan kekal. ===== فَانْتَبِهْ لِنَفْسِكَ وَلِذَلِكَ فِي الْحَدِيثِ أَنَّ الرَّجُلَ يَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَمُوتُ عَلَى ذَلِكَ وَالْعَكْسُ لَكِنْ هُنَاكَ رِوَايَةٌ فِيمَا يَظْهَرُ لِلنَّاسِ أَنَّ الرَّجُلَ يَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَظْهَرُ لِلنَّاسِ إِذًا أُنَبِّهُ نَفْسِي قَبْلَكُمْ فِي أُمُورِ الْخَفَاءِ احْرِصْ عَلَى مَا يَرَى اللهُ مِنْكَ لَا مَا يَرَاهُ النَّاسُ مِنْكَ فَإِنْ كُنْتَ تُمَارِسُ مَا يُرِيدُهُ اللهُ وِفْقَ مَا أَرَادَ اللهُ بِمَا يُرْضِي اللهَ نَظَرًا فِيمَا عِنْدَ اللهِ فَأَنْتَ عَلَى خَيْرٍ وَأَكْثِرْ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي بَيْنَكَ وَبَيْنَ اللهِ لَا يَعْلَمُهَا النَّاسُ طَاعَاتُ الْخَلَوَاتِ أَكْثِرْ مِنْهَا فَهِيَ مُعِينَةٌ بِإِذْنِ اللهِ كَمَا أَنَّ ذُنُوبَ الْخَلَوَاتِ مُرْدِيَةٌ ذُنُوبُ الْخَلَوَاتِ مُرْدِيَةٌ مُؤْذِيَةٌ قَائِدَةُ صَاحِبِهَا إِلَى الرَّدَى وَالْخَنَى وَتُضْعِفُ تَقْوَاهُ وَتُضْعِفُ إِيمَانَهُ وَكَمَا أَنَّ لِذُنُوبِ الْخَلَوَاتِ أَثَرٌ لِطَاعَاتِ الْخَلَوَاتِ أَثَرٌ مِنْ قِيَامِ اللَّيْلِ مِنْ صَدَقَةِ الْخَفَاءِ مِنَ الْإِنْفَاقِ وَالْإِحْسَانِ عَلَى مَنْ يَحْتَاجُ دُونَ أَنْ يَعْلَمَ عَنْهَا أَحَدٌ مِنْ صِيَامٍ لَا يَعْلَمُ عَنْهُ أَحَدٌ مِنْ قِيَامٍ لَا يَعْلَمُ عَنْهُ أَحَدٌ مِنْ دَمَعَاتٍ خَرَجَتْ وَلِذَلِكَ تَجِدُ فِي السَّبْعَةِ الَّذِينَ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ أَعْمَالٌ مِنْهَا مَا يَتَعَلَّقُ بِالْخَفَاءِ رَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ رَجُلٌ أَنْفَقَ صَدَقَةً يَمِينُهُ لَا تَعْلَمُهَا شِمَالُهُ إِذًا هَذِهِ الْأُمُورُ مِمَّا يُعِينُكَ أَنْتَ فِي تَعْلِيمِكَ لِلنَّاسِ انْتَبِهْ تُعَلِّمُ وَأَنْتَ تُخَالِفُ وَلِذَلِكَ مِمَّنْ يَجُرُّ أَقْتَابَهُ وَيَدُورُ كَالرَّحَى فِي جَهَنَّمَ كَالْحِمَارِ هُوَ مَنْ كَانَ يُعَلِّمُ النَّاسَ الْخَيْرَ وَلَا يَعْمَلُ أَلَمْ تَكُنْ تُعَلِّمُنَا؟ قَالَ كُنْتُ آمُرُكُمْ وَأَنْهَاكُمْ وَلَا أَمْتَثِلُ انْتَبِهْ أَنْتَ انْتَبِهْ مِنْ نَفْسِكَ عَلَى نَفْسِكَ مِنْ أُمُورِ نَفْسِكَ الْخَفِيَّةِ مَعَ رَبِّكَ عَيْنَكَ أُذُنَكَ لِسَانَكَ فَرْجَكَ رَاقِبِ اللهَ قَبْلَ تُرَاقِبُ خَلْقَ اللهِ وَلِذَلِكَ مِمَّنْ تَذْهَبُ حَسَنَاتُهُمُ الَّتِي كَجِبَالِ تِهَامَةَ يَجْعَلُهَا اللهُ هَبَاءً مَنْثُورًا قَالَ وَمَا ذَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ لِأَنَّهُمْ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللهِ انْتَهَكُوهَا انْتَبِهْ مِنْ ذُنُوبِ الْخَلَوَاتِ حَمَانَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ وَتَوَلَّانَا وَكَانَ لَنَا فِي خَلَوَاتِنَا عَوْنًا وَمُعِينًا وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا إِذًا هَذِهِ الْخَوَاتِيمُ أَفْعَالُكَ وَمَا تُمَارِسُ أَنْتَ أَعْلَمُ النَّاسِ بِنَفْسِكَ أَنْتَ أَعْلَمُ النَّاسِ بِمَا تَفْعَلُ وَتُنْفِقُ وَتَقْصِدُ فَمَاذَا تُرِيدُ؟ عَلَيْكَ بِمَا عِنْدَ اللهِ فَمَا عِنْدَ النَّاسِ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللهِ بَاقٍ

Dada Sesak & Hati Gelisah? Inilah Obat Paling Ampuh yang Sering Kita Lupakan

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: “Salah satu faktor terbesar bagi lapangnya dada dan tenangnya hati adalah dengan memperbanyak zikir mengingat Allah. Sebab, zikir memiliki pengaruh yang luar biasa dalam melapangkan dada, menenangkan hati, serta mengusir kegundahan maupun kesedihannya. Allah Ta’ala berfirman: ‘Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.’ (QS. Ar-Ra’ad: 28). Maka, zikir kepada Allah memiliki dampak yang nyata dalam meraih ketenangan ini karena keistimewaan yang terkandung di dalamnya, juga karena pahala serta balasan yang diharapkan oleh seorang hamba.” Benar, zikir kepada Allah Azza wa Jalla merupakan salah satu sebab terbesar yang mendatangkan kelapangan dada, rasa tenteram dalam hati, serta ketenangan hati, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’ad: 28) Maka, zikir, tanpa ragu, adalah ketenangan bagi hati. Oleh karena itu, cara yang paling bermanfaat bagi seorang hamba, saat menghadapi berbagai beban pikiran, kesedihan, serta rasa pedih di hatinya, adalah dengan memperbanyak zikir mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu sering membaca doa saat dalam kesulitan: LAA ILAAHA ILLALLAAHUL ‘AZHIIM, LAA ILAAHA ILLALLAAHUL HALIIM, LAA ILAAHA ILLALLAAHU ROBBUS SAMAAWAATI WA ROBBUL ARDHI, WA ROBBUL ‘ARSYIL ‘AAZHIIMTiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Agung, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Santun,tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Tuhan semesta langit, Tuhan bumi dan Tuhan Arsy yang agung. Kalimat tauhid, tahlil, dan zikir kepada Allah Azza wa Jalla, inilah sebagai wasilah yang dapat mengusir kegelisahan.Rahasia dari perkara ini adalah: bahwa hati ini diciptakan semata-mata untuk beribadah dan menyibukkan diri dengan ibadah kepada Allah. Jika ia disibukkan dengan perkara lain, ia akan merasa gelisah dan terombang-ambing. Maka obatnya adalah dengan mengembalikannya pada tujuan penciptaannya, yaitu menyibukkannya dengan hal yang memang menjadi tujuan utamanya, yakni berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Zikir yang paling agung adalah dengan empat kalimat yang paling dicintai Allah, yaitu: SUBHAANALLAAH, WALHAMDULILLAAH, WALAA ILAAHA ILLALLAAH, WALLAAHU AKBAR. Kalimat-kalimat ini bersumber dari Al-Qur’an, maka perbanyaklah mengucapkannya. Perbanyak pula membaca Al-Qur’an, istighfar, dan amalan zikir lainnya. Jika seorang hamba diberi taufik dan jiwanya telah sibuk dengan zikir, maka tak akan ada lagi beban pikiran yang tersisa. Sebesar apa pun masalah yang menghimpit, ia tidak akan menetap, melainkan akan tersingkir dan sirna sepenuhnya dari hatinya secara total, dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, salah satu wasilah terbesar untuk mendatangkan ketenangan, kenyamanan, dan kebahagiaan hati, serta kelapangan dada adalah dengan memperbanyak zikir mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Zikir memiliki manfaat yang sangat banyak dan luar biasa. Salah satu ulama terbaik yang membahas dan merinci manfaat zikir adalah Al-Imam Ibnu Al-Qayyim rahimahullah dalam pendahuluan kitabnya, Al-Wabil Ash-Shayyib. Beliau menyebutkan di bagian pengantar bahwa zikir mengingat Allah memiliki lebih dari 100 manfaat. Beliau rahimahullah pun merinci lebih dari 70 manfaat di antaranya.Salah satu poin yang beliau sebutkan adalah bahwa zikir mampu melapangkan dada serta mengusir segala kegelisahan, kesedihan, dan duka lara. Dalam hadis pun terdapat banyak doa saat menghadapi kesulitan, yang disyariatkan bagi seorang Muslim untuk membacanya saat tertimpa masalah berat. Di antaranya adalah doa yang nanti akan dibahas oleh Syaikh rahimahullah, seperti hadis Abu Bakrah tentang doa orang yang tertimpa kesulitan: ALLAAHUMMA ROHMATAKA ARJUU, FALAA TAKILNII ILAA NAFSII THOFATA ‘AININ, WA ASHLIH LII SYA’-NII KULLAHU, LAA ILAAHA ILLAA ANTA. Ya Allah, hanya rahmat-Mu yang aku harapkan, maka janganlah Engkau serahkan urusanku kepada diriku sendiri walau sekejap mata, dan perbaikilah segala urusanku. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. (HR. Abu Daud). Ada pula berbagai doa lainnya, seperti doa Dzun Nun (Nabi Yunus) yang tidaklah dibaca oleh orang yang dirundung duka melainkan Allah akan angkat kesulitannya: LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINAZH ZHOOLIMIIN, Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim. (QS. Al-Anbiya: 87). Kesimpulannya, zikir adalah tempat kembali bagi seorang Muslim di tengah badai kesulitan. Perbanyaklah zikir mengingat Allah Azza wa Jalla, niscaya segala kesukaran akan tersingkir, serta kegalauan dan kesedihan akan sirna dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== قَالَ رَحِمَهُ اللهُ: وَمِنْ أَكْبَرِ الْأَسْبَابِ لِانْشِرَاحِ الصَّدْرِ وَطُمَأْنِينَتِهِ الْإِكْثَارُ مِنْ ذِكْرِ اللهِ فَإِنَّ لِذَلِكَ تَأْثِيرًا عَجِيبًا فِي انْشِرَاحِ الصَّدْرِ وَطُمَأْنِينَتِهِ وَزَوَالِ هَمِّهِ وَغَمِّهِ قَالَ تَعَالَى أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ فَلِذِكْرِ اللهِ أَثَرٌ عَظِيمٌ فِي حُصُولِ هَذَا الْمَطْلُوبِ لِخَاصِّيَّتِهِ وَلِمَا يَرْجُوهُ الْعَبْدُ مِنْ ثَوَابِهِ وَأَجْرِهِ نَعَمْ ذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ أَعْظَمِ الْأَسْبَابِ الْجَالِبَةِ لِانْشِرَاحِ الصَّدْرِ وَأُنْسِ الْقَلْبِ وَطُمَأْنِينَتِهِ كَمَا قَالَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ فَذِكْرٌ بِلَا رَيْبٍ طُمَأْنِينَةٌ لِلْقَلْبِ وَلِهَذَا مِنْ أَنْفَعِ مَا يَكُونُ لِلْعَبْدِ فِي هُمُومِهِ وَغُمُومِهِ وَآلَامِهِ أَنْ يُكْثِرَ مِنْ ذِكْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَانَ يَقُولُ فِي الْكَرْبِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْعَظِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْحَلِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمُ هَذَا التَّوْحِيدُ وَالتَّهْلِيلُ وَالذِّكْرُ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ الطَّارِدُ لِلْقَلَقِ سِرُّ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ أَنَّ هَذَا الْقَلْبَ خُلِقَ لِعِبَادَةِ اللهِ وَلِيَنْشَغِلَ بِعِبَادَةِ اللهِ فَإِذَا شُغِلَ بِأُمُورٍ أُخْرَى قَلِقَ وَاضْطَرَبَ فَدَوَاؤُهُ أَنْ يُعَادَ لِمَا خُلِقَ لِأَجْلِهِ وَأَنْ يُشْغَلَ بِالشَّيْءِ الَّذِي خُلِقَ لِأَجْلِهِ وَهُوَ ذِكْرُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَعْظَمُ مَا يَكُونُ الذِّكْرُ بِالْكَلِمَاتِ الْأَرْبَعَةِ الَّتِي هِيَ أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَهِيَ مِنَ الْقُرْآنِ فَيُكْثِرُ مِنْ هَذِهِ الْكَلِمَاتِ وَيُكْثِرُ أَيْضًا مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَالِاسْتِغْفَارِ وَغَيْرِ ذَلِكَ هَذَا إِذَا وُفِّقَ الْعَبْدُ لَهُ وَانْشَغَلَتْ بِهِ نَفْسُهُ لَمْ يَبْقَ عِنْدَهُ هَمٌّ مَهْمَا كَبُرَ حَجْمُ الْهَمِّلَا يَبْقَى بَلْ يَنْزَاحُ وَيَزُولُ عَنْ قَلْبِهِ زَوَالًا تَامًّا بِإِذْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلِهَذَا مِنْ أَعْظَمِ مَا تُسْتَجْلَبُ أَوْ يُسْتَجْلَبُ بِهِأُنْسُ الْقَلْبِ وَرَاحَتُهُ وَسُرُورُهُ وَانْشِرَاحُ الصَّدْرِ الْإِكْثَارُ مِنْ ذِكْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالذِّكْرُ لَهُ فَوَائِدُ عَظِيمَةٌ كَثِيرةٌ جِدًّا مِنْ أَحْسَنِ مَنْ تَكَلَّمَ وَعَدَّدَ فِي فَوَائِدِ الذِّكْرِ الْإِمَامُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ فِي مُقَدِّمَةِ كِتَابِهِ الْوَابِلِ الصَّيِّبِ قَالَ فِي الْمُقَدِّمَةِ إِنَّ ذِكْرَ اللهِ لَهُ أَكْثَرُ مِنْ ١٠٠ فَائِدَةٍ وَعَدَّ رَحِمَهُ اللهُ مَا يَزِيدُ عَلَى الـ ٧٠ فَائِدَةً مِنْ فَوَائِدِ الذِّكْرِ مِنْ ضِمْنِ الْفَوَائِدِ الَّتِي عَدَّهَا أَنَّهُ جَالِبٌ لِانْشِرَاحِ الصَّدْرِ وَطَارِدٌ لِلْهُمُومِ وَالْغُمُومِ وَالْأَحْزَانِ وَفِي السُّنَّةِ أَدْعِيَةٌ لِلْكَرْبِ كَثِيرَةٌ جَاءَتْ يَعْنِي يُشْرَعُ أَنْ يَقُولَهَا الْمُسْلِمُ عِنْدَ الْكَرْبِ مِنْهَا مَا سَيَأْتِي عِنْدَ الشَّيْخِ رَحِمَهُ اللهُ مِثْلُ حَدِيثِ أَبِي بَكْرَةَ دَعَوَاتُ الْمَكْرُوبِ اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ وَجَاءَتْ أَدْعِيَةٌ عَدِيدَةٌ دَعْوَةُ ذِي النُّونِ مَا دَعَا بِهَا مَكْرُوبٌ إِلَّا فَرَّجَ اللهُ كَرْبَهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ فَالْحَاصِلُ أَنَّ الذِّكْرَ مَفْزَعٌ لِلْمُسْلِمِ فِي كُرُبَاتِهِ يُكْثِرُ مِنْ ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَتَنْزَاحُ عَنْهُ الْكُرَبُ وَتَزُولُ الْهُمُومُ وَالْغُمُومُ بِإِذْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Dada Sesak & Hati Gelisah? Inilah Obat Paling Ampuh yang Sering Kita Lupakan

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: “Salah satu faktor terbesar bagi lapangnya dada dan tenangnya hati adalah dengan memperbanyak zikir mengingat Allah. Sebab, zikir memiliki pengaruh yang luar biasa dalam melapangkan dada, menenangkan hati, serta mengusir kegundahan maupun kesedihannya. Allah Ta’ala berfirman: ‘Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.’ (QS. Ar-Ra’ad: 28). Maka, zikir kepada Allah memiliki dampak yang nyata dalam meraih ketenangan ini karena keistimewaan yang terkandung di dalamnya, juga karena pahala serta balasan yang diharapkan oleh seorang hamba.” Benar, zikir kepada Allah Azza wa Jalla merupakan salah satu sebab terbesar yang mendatangkan kelapangan dada, rasa tenteram dalam hati, serta ketenangan hati, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’ad: 28) Maka, zikir, tanpa ragu, adalah ketenangan bagi hati. Oleh karena itu, cara yang paling bermanfaat bagi seorang hamba, saat menghadapi berbagai beban pikiran, kesedihan, serta rasa pedih di hatinya, adalah dengan memperbanyak zikir mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu sering membaca doa saat dalam kesulitan: LAA ILAAHA ILLALLAAHUL ‘AZHIIM, LAA ILAAHA ILLALLAAHUL HALIIM, LAA ILAAHA ILLALLAAHU ROBBUS SAMAAWAATI WA ROBBUL ARDHI, WA ROBBUL ‘ARSYIL ‘AAZHIIMTiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Agung, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Santun,tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Tuhan semesta langit, Tuhan bumi dan Tuhan Arsy yang agung. Kalimat tauhid, tahlil, dan zikir kepada Allah Azza wa Jalla, inilah sebagai wasilah yang dapat mengusir kegelisahan.Rahasia dari perkara ini adalah: bahwa hati ini diciptakan semata-mata untuk beribadah dan menyibukkan diri dengan ibadah kepada Allah. Jika ia disibukkan dengan perkara lain, ia akan merasa gelisah dan terombang-ambing. Maka obatnya adalah dengan mengembalikannya pada tujuan penciptaannya, yaitu menyibukkannya dengan hal yang memang menjadi tujuan utamanya, yakni berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Zikir yang paling agung adalah dengan empat kalimat yang paling dicintai Allah, yaitu: SUBHAANALLAAH, WALHAMDULILLAAH, WALAA ILAAHA ILLALLAAH, WALLAAHU AKBAR. Kalimat-kalimat ini bersumber dari Al-Qur’an, maka perbanyaklah mengucapkannya. Perbanyak pula membaca Al-Qur’an, istighfar, dan amalan zikir lainnya. Jika seorang hamba diberi taufik dan jiwanya telah sibuk dengan zikir, maka tak akan ada lagi beban pikiran yang tersisa. Sebesar apa pun masalah yang menghimpit, ia tidak akan menetap, melainkan akan tersingkir dan sirna sepenuhnya dari hatinya secara total, dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, salah satu wasilah terbesar untuk mendatangkan ketenangan, kenyamanan, dan kebahagiaan hati, serta kelapangan dada adalah dengan memperbanyak zikir mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Zikir memiliki manfaat yang sangat banyak dan luar biasa. Salah satu ulama terbaik yang membahas dan merinci manfaat zikir adalah Al-Imam Ibnu Al-Qayyim rahimahullah dalam pendahuluan kitabnya, Al-Wabil Ash-Shayyib. Beliau menyebutkan di bagian pengantar bahwa zikir mengingat Allah memiliki lebih dari 100 manfaat. Beliau rahimahullah pun merinci lebih dari 70 manfaat di antaranya.Salah satu poin yang beliau sebutkan adalah bahwa zikir mampu melapangkan dada serta mengusir segala kegelisahan, kesedihan, dan duka lara. Dalam hadis pun terdapat banyak doa saat menghadapi kesulitan, yang disyariatkan bagi seorang Muslim untuk membacanya saat tertimpa masalah berat. Di antaranya adalah doa yang nanti akan dibahas oleh Syaikh rahimahullah, seperti hadis Abu Bakrah tentang doa orang yang tertimpa kesulitan: ALLAAHUMMA ROHMATAKA ARJUU, FALAA TAKILNII ILAA NAFSII THOFATA ‘AININ, WA ASHLIH LII SYA’-NII KULLAHU, LAA ILAAHA ILLAA ANTA. Ya Allah, hanya rahmat-Mu yang aku harapkan, maka janganlah Engkau serahkan urusanku kepada diriku sendiri walau sekejap mata, dan perbaikilah segala urusanku. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. (HR. Abu Daud). Ada pula berbagai doa lainnya, seperti doa Dzun Nun (Nabi Yunus) yang tidaklah dibaca oleh orang yang dirundung duka melainkan Allah akan angkat kesulitannya: LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINAZH ZHOOLIMIIN, Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim. (QS. Al-Anbiya: 87). Kesimpulannya, zikir adalah tempat kembali bagi seorang Muslim di tengah badai kesulitan. Perbanyaklah zikir mengingat Allah Azza wa Jalla, niscaya segala kesukaran akan tersingkir, serta kegalauan dan kesedihan akan sirna dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== قَالَ رَحِمَهُ اللهُ: وَمِنْ أَكْبَرِ الْأَسْبَابِ لِانْشِرَاحِ الصَّدْرِ وَطُمَأْنِينَتِهِ الْإِكْثَارُ مِنْ ذِكْرِ اللهِ فَإِنَّ لِذَلِكَ تَأْثِيرًا عَجِيبًا فِي انْشِرَاحِ الصَّدْرِ وَطُمَأْنِينَتِهِ وَزَوَالِ هَمِّهِ وَغَمِّهِ قَالَ تَعَالَى أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ فَلِذِكْرِ اللهِ أَثَرٌ عَظِيمٌ فِي حُصُولِ هَذَا الْمَطْلُوبِ لِخَاصِّيَّتِهِ وَلِمَا يَرْجُوهُ الْعَبْدُ مِنْ ثَوَابِهِ وَأَجْرِهِ نَعَمْ ذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ أَعْظَمِ الْأَسْبَابِ الْجَالِبَةِ لِانْشِرَاحِ الصَّدْرِ وَأُنْسِ الْقَلْبِ وَطُمَأْنِينَتِهِ كَمَا قَالَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ فَذِكْرٌ بِلَا رَيْبٍ طُمَأْنِينَةٌ لِلْقَلْبِ وَلِهَذَا مِنْ أَنْفَعِ مَا يَكُونُ لِلْعَبْدِ فِي هُمُومِهِ وَغُمُومِهِ وَآلَامِهِ أَنْ يُكْثِرَ مِنْ ذِكْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَانَ يَقُولُ فِي الْكَرْبِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْعَظِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْحَلِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمُ هَذَا التَّوْحِيدُ وَالتَّهْلِيلُ وَالذِّكْرُ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ الطَّارِدُ لِلْقَلَقِ سِرُّ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ أَنَّ هَذَا الْقَلْبَ خُلِقَ لِعِبَادَةِ اللهِ وَلِيَنْشَغِلَ بِعِبَادَةِ اللهِ فَإِذَا شُغِلَ بِأُمُورٍ أُخْرَى قَلِقَ وَاضْطَرَبَ فَدَوَاؤُهُ أَنْ يُعَادَ لِمَا خُلِقَ لِأَجْلِهِ وَأَنْ يُشْغَلَ بِالشَّيْءِ الَّذِي خُلِقَ لِأَجْلِهِ وَهُوَ ذِكْرُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَعْظَمُ مَا يَكُونُ الذِّكْرُ بِالْكَلِمَاتِ الْأَرْبَعَةِ الَّتِي هِيَ أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَهِيَ مِنَ الْقُرْآنِ فَيُكْثِرُ مِنْ هَذِهِ الْكَلِمَاتِ وَيُكْثِرُ أَيْضًا مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَالِاسْتِغْفَارِ وَغَيْرِ ذَلِكَ هَذَا إِذَا وُفِّقَ الْعَبْدُ لَهُ وَانْشَغَلَتْ بِهِ نَفْسُهُ لَمْ يَبْقَ عِنْدَهُ هَمٌّ مَهْمَا كَبُرَ حَجْمُ الْهَمِّلَا يَبْقَى بَلْ يَنْزَاحُ وَيَزُولُ عَنْ قَلْبِهِ زَوَالًا تَامًّا بِإِذْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلِهَذَا مِنْ أَعْظَمِ مَا تُسْتَجْلَبُ أَوْ يُسْتَجْلَبُ بِهِأُنْسُ الْقَلْبِ وَرَاحَتُهُ وَسُرُورُهُ وَانْشِرَاحُ الصَّدْرِ الْإِكْثَارُ مِنْ ذِكْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالذِّكْرُ لَهُ فَوَائِدُ عَظِيمَةٌ كَثِيرةٌ جِدًّا مِنْ أَحْسَنِ مَنْ تَكَلَّمَ وَعَدَّدَ فِي فَوَائِدِ الذِّكْرِ الْإِمَامُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ فِي مُقَدِّمَةِ كِتَابِهِ الْوَابِلِ الصَّيِّبِ قَالَ فِي الْمُقَدِّمَةِ إِنَّ ذِكْرَ اللهِ لَهُ أَكْثَرُ مِنْ ١٠٠ فَائِدَةٍ وَعَدَّ رَحِمَهُ اللهُ مَا يَزِيدُ عَلَى الـ ٧٠ فَائِدَةً مِنْ فَوَائِدِ الذِّكْرِ مِنْ ضِمْنِ الْفَوَائِدِ الَّتِي عَدَّهَا أَنَّهُ جَالِبٌ لِانْشِرَاحِ الصَّدْرِ وَطَارِدٌ لِلْهُمُومِ وَالْغُمُومِ وَالْأَحْزَانِ وَفِي السُّنَّةِ أَدْعِيَةٌ لِلْكَرْبِ كَثِيرَةٌ جَاءَتْ يَعْنِي يُشْرَعُ أَنْ يَقُولَهَا الْمُسْلِمُ عِنْدَ الْكَرْبِ مِنْهَا مَا سَيَأْتِي عِنْدَ الشَّيْخِ رَحِمَهُ اللهُ مِثْلُ حَدِيثِ أَبِي بَكْرَةَ دَعَوَاتُ الْمَكْرُوبِ اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ وَجَاءَتْ أَدْعِيَةٌ عَدِيدَةٌ دَعْوَةُ ذِي النُّونِ مَا دَعَا بِهَا مَكْرُوبٌ إِلَّا فَرَّجَ اللهُ كَرْبَهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ فَالْحَاصِلُ أَنَّ الذِّكْرَ مَفْزَعٌ لِلْمُسْلِمِ فِي كُرُبَاتِهِ يُكْثِرُ مِنْ ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَتَنْزَاحُ عَنْهُ الْكُرَبُ وَتَزُولُ الْهُمُومُ وَالْغُمُومُ بِإِذْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: “Salah satu faktor terbesar bagi lapangnya dada dan tenangnya hati adalah dengan memperbanyak zikir mengingat Allah. Sebab, zikir memiliki pengaruh yang luar biasa dalam melapangkan dada, menenangkan hati, serta mengusir kegundahan maupun kesedihannya. Allah Ta’ala berfirman: ‘Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.’ (QS. Ar-Ra’ad: 28). Maka, zikir kepada Allah memiliki dampak yang nyata dalam meraih ketenangan ini karena keistimewaan yang terkandung di dalamnya, juga karena pahala serta balasan yang diharapkan oleh seorang hamba.” Benar, zikir kepada Allah Azza wa Jalla merupakan salah satu sebab terbesar yang mendatangkan kelapangan dada, rasa tenteram dalam hati, serta ketenangan hati, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’ad: 28) Maka, zikir, tanpa ragu, adalah ketenangan bagi hati. Oleh karena itu, cara yang paling bermanfaat bagi seorang hamba, saat menghadapi berbagai beban pikiran, kesedihan, serta rasa pedih di hatinya, adalah dengan memperbanyak zikir mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu sering membaca doa saat dalam kesulitan: LAA ILAAHA ILLALLAAHUL ‘AZHIIM, LAA ILAAHA ILLALLAAHUL HALIIM, LAA ILAAHA ILLALLAAHU ROBBUS SAMAAWAATI WA ROBBUL ARDHI, WA ROBBUL ‘ARSYIL ‘AAZHIIMTiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Agung, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Santun,tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Tuhan semesta langit, Tuhan bumi dan Tuhan Arsy yang agung. Kalimat tauhid, tahlil, dan zikir kepada Allah Azza wa Jalla, inilah sebagai wasilah yang dapat mengusir kegelisahan.Rahasia dari perkara ini adalah: bahwa hati ini diciptakan semata-mata untuk beribadah dan menyibukkan diri dengan ibadah kepada Allah. Jika ia disibukkan dengan perkara lain, ia akan merasa gelisah dan terombang-ambing. Maka obatnya adalah dengan mengembalikannya pada tujuan penciptaannya, yaitu menyibukkannya dengan hal yang memang menjadi tujuan utamanya, yakni berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Zikir yang paling agung adalah dengan empat kalimat yang paling dicintai Allah, yaitu: SUBHAANALLAAH, WALHAMDULILLAAH, WALAA ILAAHA ILLALLAAH, WALLAAHU AKBAR. Kalimat-kalimat ini bersumber dari Al-Qur’an, maka perbanyaklah mengucapkannya. Perbanyak pula membaca Al-Qur’an, istighfar, dan amalan zikir lainnya. Jika seorang hamba diberi taufik dan jiwanya telah sibuk dengan zikir, maka tak akan ada lagi beban pikiran yang tersisa. Sebesar apa pun masalah yang menghimpit, ia tidak akan menetap, melainkan akan tersingkir dan sirna sepenuhnya dari hatinya secara total, dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, salah satu wasilah terbesar untuk mendatangkan ketenangan, kenyamanan, dan kebahagiaan hati, serta kelapangan dada adalah dengan memperbanyak zikir mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Zikir memiliki manfaat yang sangat banyak dan luar biasa. Salah satu ulama terbaik yang membahas dan merinci manfaat zikir adalah Al-Imam Ibnu Al-Qayyim rahimahullah dalam pendahuluan kitabnya, Al-Wabil Ash-Shayyib. Beliau menyebutkan di bagian pengantar bahwa zikir mengingat Allah memiliki lebih dari 100 manfaat. Beliau rahimahullah pun merinci lebih dari 70 manfaat di antaranya.Salah satu poin yang beliau sebutkan adalah bahwa zikir mampu melapangkan dada serta mengusir segala kegelisahan, kesedihan, dan duka lara. Dalam hadis pun terdapat banyak doa saat menghadapi kesulitan, yang disyariatkan bagi seorang Muslim untuk membacanya saat tertimpa masalah berat. Di antaranya adalah doa yang nanti akan dibahas oleh Syaikh rahimahullah, seperti hadis Abu Bakrah tentang doa orang yang tertimpa kesulitan: ALLAAHUMMA ROHMATAKA ARJUU, FALAA TAKILNII ILAA NAFSII THOFATA ‘AININ, WA ASHLIH LII SYA’-NII KULLAHU, LAA ILAAHA ILLAA ANTA. Ya Allah, hanya rahmat-Mu yang aku harapkan, maka janganlah Engkau serahkan urusanku kepada diriku sendiri walau sekejap mata, dan perbaikilah segala urusanku. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. (HR. Abu Daud). Ada pula berbagai doa lainnya, seperti doa Dzun Nun (Nabi Yunus) yang tidaklah dibaca oleh orang yang dirundung duka melainkan Allah akan angkat kesulitannya: LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINAZH ZHOOLIMIIN, Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim. (QS. Al-Anbiya: 87). Kesimpulannya, zikir adalah tempat kembali bagi seorang Muslim di tengah badai kesulitan. Perbanyaklah zikir mengingat Allah Azza wa Jalla, niscaya segala kesukaran akan tersingkir, serta kegalauan dan kesedihan akan sirna dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== قَالَ رَحِمَهُ اللهُ: وَمِنْ أَكْبَرِ الْأَسْبَابِ لِانْشِرَاحِ الصَّدْرِ وَطُمَأْنِينَتِهِ الْإِكْثَارُ مِنْ ذِكْرِ اللهِ فَإِنَّ لِذَلِكَ تَأْثِيرًا عَجِيبًا فِي انْشِرَاحِ الصَّدْرِ وَطُمَأْنِينَتِهِ وَزَوَالِ هَمِّهِ وَغَمِّهِ قَالَ تَعَالَى أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ فَلِذِكْرِ اللهِ أَثَرٌ عَظِيمٌ فِي حُصُولِ هَذَا الْمَطْلُوبِ لِخَاصِّيَّتِهِ وَلِمَا يَرْجُوهُ الْعَبْدُ مِنْ ثَوَابِهِ وَأَجْرِهِ نَعَمْ ذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ أَعْظَمِ الْأَسْبَابِ الْجَالِبَةِ لِانْشِرَاحِ الصَّدْرِ وَأُنْسِ الْقَلْبِ وَطُمَأْنِينَتِهِ كَمَا قَالَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ فَذِكْرٌ بِلَا رَيْبٍ طُمَأْنِينَةٌ لِلْقَلْبِ وَلِهَذَا مِنْ أَنْفَعِ مَا يَكُونُ لِلْعَبْدِ فِي هُمُومِهِ وَغُمُومِهِ وَآلَامِهِ أَنْ يُكْثِرَ مِنْ ذِكْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَانَ يَقُولُ فِي الْكَرْبِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْعَظِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْحَلِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمُ هَذَا التَّوْحِيدُ وَالتَّهْلِيلُ وَالذِّكْرُ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ الطَّارِدُ لِلْقَلَقِ سِرُّ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ أَنَّ هَذَا الْقَلْبَ خُلِقَ لِعِبَادَةِ اللهِ وَلِيَنْشَغِلَ بِعِبَادَةِ اللهِ فَإِذَا شُغِلَ بِأُمُورٍ أُخْرَى قَلِقَ وَاضْطَرَبَ فَدَوَاؤُهُ أَنْ يُعَادَ لِمَا خُلِقَ لِأَجْلِهِ وَأَنْ يُشْغَلَ بِالشَّيْءِ الَّذِي خُلِقَ لِأَجْلِهِ وَهُوَ ذِكْرُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَعْظَمُ مَا يَكُونُ الذِّكْرُ بِالْكَلِمَاتِ الْأَرْبَعَةِ الَّتِي هِيَ أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَهِيَ مِنَ الْقُرْآنِ فَيُكْثِرُ مِنْ هَذِهِ الْكَلِمَاتِ وَيُكْثِرُ أَيْضًا مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَالِاسْتِغْفَارِ وَغَيْرِ ذَلِكَ هَذَا إِذَا وُفِّقَ الْعَبْدُ لَهُ وَانْشَغَلَتْ بِهِ نَفْسُهُ لَمْ يَبْقَ عِنْدَهُ هَمٌّ مَهْمَا كَبُرَ حَجْمُ الْهَمِّلَا يَبْقَى بَلْ يَنْزَاحُ وَيَزُولُ عَنْ قَلْبِهِ زَوَالًا تَامًّا بِإِذْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلِهَذَا مِنْ أَعْظَمِ مَا تُسْتَجْلَبُ أَوْ يُسْتَجْلَبُ بِهِأُنْسُ الْقَلْبِ وَرَاحَتُهُ وَسُرُورُهُ وَانْشِرَاحُ الصَّدْرِ الْإِكْثَارُ مِنْ ذِكْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالذِّكْرُ لَهُ فَوَائِدُ عَظِيمَةٌ كَثِيرةٌ جِدًّا مِنْ أَحْسَنِ مَنْ تَكَلَّمَ وَعَدَّدَ فِي فَوَائِدِ الذِّكْرِ الْإِمَامُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ فِي مُقَدِّمَةِ كِتَابِهِ الْوَابِلِ الصَّيِّبِ قَالَ فِي الْمُقَدِّمَةِ إِنَّ ذِكْرَ اللهِ لَهُ أَكْثَرُ مِنْ ١٠٠ فَائِدَةٍ وَعَدَّ رَحِمَهُ اللهُ مَا يَزِيدُ عَلَى الـ ٧٠ فَائِدَةً مِنْ فَوَائِدِ الذِّكْرِ مِنْ ضِمْنِ الْفَوَائِدِ الَّتِي عَدَّهَا أَنَّهُ جَالِبٌ لِانْشِرَاحِ الصَّدْرِ وَطَارِدٌ لِلْهُمُومِ وَالْغُمُومِ وَالْأَحْزَانِ وَفِي السُّنَّةِ أَدْعِيَةٌ لِلْكَرْبِ كَثِيرَةٌ جَاءَتْ يَعْنِي يُشْرَعُ أَنْ يَقُولَهَا الْمُسْلِمُ عِنْدَ الْكَرْبِ مِنْهَا مَا سَيَأْتِي عِنْدَ الشَّيْخِ رَحِمَهُ اللهُ مِثْلُ حَدِيثِ أَبِي بَكْرَةَ دَعَوَاتُ الْمَكْرُوبِ اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ وَجَاءَتْ أَدْعِيَةٌ عَدِيدَةٌ دَعْوَةُ ذِي النُّونِ مَا دَعَا بِهَا مَكْرُوبٌ إِلَّا فَرَّجَ اللهُ كَرْبَهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ فَالْحَاصِلُ أَنَّ الذِّكْرَ مَفْزَعٌ لِلْمُسْلِمِ فِي كُرُبَاتِهِ يُكْثِرُ مِنْ ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَتَنْزَاحُ عَنْهُ الْكُرَبُ وَتَزُولُ الْهُمُومُ وَالْغُمُومُ بِإِذْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى


Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: “Salah satu faktor terbesar bagi lapangnya dada dan tenangnya hati adalah dengan memperbanyak zikir mengingat Allah. Sebab, zikir memiliki pengaruh yang luar biasa dalam melapangkan dada, menenangkan hati, serta mengusir kegundahan maupun kesedihannya. Allah Ta’ala berfirman: ‘Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.’ (QS. Ar-Ra’ad: 28). Maka, zikir kepada Allah memiliki dampak yang nyata dalam meraih ketenangan ini karena keistimewaan yang terkandung di dalamnya, juga karena pahala serta balasan yang diharapkan oleh seorang hamba.” Benar, zikir kepada Allah Azza wa Jalla merupakan salah satu sebab terbesar yang mendatangkan kelapangan dada, rasa tenteram dalam hati, serta ketenangan hati, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’ad: 28) Maka, zikir, tanpa ragu, adalah ketenangan bagi hati. Oleh karena itu, cara yang paling bermanfaat bagi seorang hamba, saat menghadapi berbagai beban pikiran, kesedihan, serta rasa pedih di hatinya, adalah dengan memperbanyak zikir mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu sering membaca doa saat dalam kesulitan: LAA ILAAHA ILLALLAAHUL ‘AZHIIM, LAA ILAAHA ILLALLAAHUL HALIIM, LAA ILAAHA ILLALLAAHU ROBBUS SAMAAWAATI WA ROBBUL ARDHI, WA ROBBUL ‘ARSYIL ‘AAZHIIMTiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Agung, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Santun,tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Tuhan semesta langit, Tuhan bumi dan Tuhan Arsy yang agung. Kalimat tauhid, tahlil, dan zikir kepada Allah Azza wa Jalla, inilah sebagai wasilah yang dapat mengusir kegelisahan.Rahasia dari perkara ini adalah: bahwa hati ini diciptakan semata-mata untuk beribadah dan menyibukkan diri dengan ibadah kepada Allah. Jika ia disibukkan dengan perkara lain, ia akan merasa gelisah dan terombang-ambing. Maka obatnya adalah dengan mengembalikannya pada tujuan penciptaannya, yaitu menyibukkannya dengan hal yang memang menjadi tujuan utamanya, yakni berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Zikir yang paling agung adalah dengan empat kalimat yang paling dicintai Allah, yaitu: SUBHAANALLAAH, WALHAMDULILLAAH, WALAA ILAAHA ILLALLAAH, WALLAAHU AKBAR. Kalimat-kalimat ini bersumber dari Al-Qur’an, maka perbanyaklah mengucapkannya. Perbanyak pula membaca Al-Qur’an, istighfar, dan amalan zikir lainnya. Jika seorang hamba diberi taufik dan jiwanya telah sibuk dengan zikir, maka tak akan ada lagi beban pikiran yang tersisa. Sebesar apa pun masalah yang menghimpit, ia tidak akan menetap, melainkan akan tersingkir dan sirna sepenuhnya dari hatinya secara total, dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, salah satu wasilah terbesar untuk mendatangkan ketenangan, kenyamanan, dan kebahagiaan hati, serta kelapangan dada adalah dengan memperbanyak zikir mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Zikir memiliki manfaat yang sangat banyak dan luar biasa. Salah satu ulama terbaik yang membahas dan merinci manfaat zikir adalah Al-Imam Ibnu Al-Qayyim rahimahullah dalam pendahuluan kitabnya, Al-Wabil Ash-Shayyib. Beliau menyebutkan di bagian pengantar bahwa zikir mengingat Allah memiliki lebih dari 100 manfaat. Beliau rahimahullah pun merinci lebih dari 70 manfaat di antaranya.Salah satu poin yang beliau sebutkan adalah bahwa zikir mampu melapangkan dada serta mengusir segala kegelisahan, kesedihan, dan duka lara. Dalam hadis pun terdapat banyak doa saat menghadapi kesulitan, yang disyariatkan bagi seorang Muslim untuk membacanya saat tertimpa masalah berat. Di antaranya adalah doa yang nanti akan dibahas oleh Syaikh rahimahullah, seperti hadis Abu Bakrah tentang doa orang yang tertimpa kesulitan: ALLAAHUMMA ROHMATAKA ARJUU, FALAA TAKILNII ILAA NAFSII THOFATA ‘AININ, WA ASHLIH LII SYA’-NII KULLAHU, LAA ILAAHA ILLAA ANTA. Ya Allah, hanya rahmat-Mu yang aku harapkan, maka janganlah Engkau serahkan urusanku kepada diriku sendiri walau sekejap mata, dan perbaikilah segala urusanku. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. (HR. Abu Daud). Ada pula berbagai doa lainnya, seperti doa Dzun Nun (Nabi Yunus) yang tidaklah dibaca oleh orang yang dirundung duka melainkan Allah akan angkat kesulitannya: LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINAZH ZHOOLIMIIN, Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim. (QS. Al-Anbiya: 87). Kesimpulannya, zikir adalah tempat kembali bagi seorang Muslim di tengah badai kesulitan. Perbanyaklah zikir mengingat Allah Azza wa Jalla, niscaya segala kesukaran akan tersingkir, serta kegalauan dan kesedihan akan sirna dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== قَالَ رَحِمَهُ اللهُ: وَمِنْ أَكْبَرِ الْأَسْبَابِ لِانْشِرَاحِ الصَّدْرِ وَطُمَأْنِينَتِهِ الْإِكْثَارُ مِنْ ذِكْرِ اللهِ فَإِنَّ لِذَلِكَ تَأْثِيرًا عَجِيبًا فِي انْشِرَاحِ الصَّدْرِ وَطُمَأْنِينَتِهِ وَزَوَالِ هَمِّهِ وَغَمِّهِ قَالَ تَعَالَى أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ فَلِذِكْرِ اللهِ أَثَرٌ عَظِيمٌ فِي حُصُولِ هَذَا الْمَطْلُوبِ لِخَاصِّيَّتِهِ وَلِمَا يَرْجُوهُ الْعَبْدُ مِنْ ثَوَابِهِ وَأَجْرِهِ نَعَمْ ذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ أَعْظَمِ الْأَسْبَابِ الْجَالِبَةِ لِانْشِرَاحِ الصَّدْرِ وَأُنْسِ الْقَلْبِ وَطُمَأْنِينَتِهِ كَمَا قَالَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ فَذِكْرٌ بِلَا رَيْبٍ طُمَأْنِينَةٌ لِلْقَلْبِ وَلِهَذَا مِنْ أَنْفَعِ مَا يَكُونُ لِلْعَبْدِ فِي هُمُومِهِ وَغُمُومِهِ وَآلَامِهِ أَنْ يُكْثِرَ مِنْ ذِكْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَانَ يَقُولُ فِي الْكَرْبِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْعَظِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْحَلِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمُ هَذَا التَّوْحِيدُ وَالتَّهْلِيلُ وَالذِّكْرُ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ الطَّارِدُ لِلْقَلَقِ سِرُّ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ أَنَّ هَذَا الْقَلْبَ خُلِقَ لِعِبَادَةِ اللهِ وَلِيَنْشَغِلَ بِعِبَادَةِ اللهِ فَإِذَا شُغِلَ بِأُمُورٍ أُخْرَى قَلِقَ وَاضْطَرَبَ فَدَوَاؤُهُ أَنْ يُعَادَ لِمَا خُلِقَ لِأَجْلِهِ وَأَنْ يُشْغَلَ بِالشَّيْءِ الَّذِي خُلِقَ لِأَجْلِهِ وَهُوَ ذِكْرُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَعْظَمُ مَا يَكُونُ الذِّكْرُ بِالْكَلِمَاتِ الْأَرْبَعَةِ الَّتِي هِيَ أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَهِيَ مِنَ الْقُرْآنِ فَيُكْثِرُ مِنْ هَذِهِ الْكَلِمَاتِ وَيُكْثِرُ أَيْضًا مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَالِاسْتِغْفَارِ وَغَيْرِ ذَلِكَ هَذَا إِذَا وُفِّقَ الْعَبْدُ لَهُ وَانْشَغَلَتْ بِهِ نَفْسُهُ لَمْ يَبْقَ عِنْدَهُ هَمٌّ مَهْمَا كَبُرَ حَجْمُ الْهَمِّلَا يَبْقَى بَلْ يَنْزَاحُ وَيَزُولُ عَنْ قَلْبِهِ زَوَالًا تَامًّا بِإِذْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلِهَذَا مِنْ أَعْظَمِ مَا تُسْتَجْلَبُ أَوْ يُسْتَجْلَبُ بِهِأُنْسُ الْقَلْبِ وَرَاحَتُهُ وَسُرُورُهُ وَانْشِرَاحُ الصَّدْرِ الْإِكْثَارُ مِنْ ذِكْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالذِّكْرُ لَهُ فَوَائِدُ عَظِيمَةٌ كَثِيرةٌ جِدًّا مِنْ أَحْسَنِ مَنْ تَكَلَّمَ وَعَدَّدَ فِي فَوَائِدِ الذِّكْرِ الْإِمَامُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ فِي مُقَدِّمَةِ كِتَابِهِ الْوَابِلِ الصَّيِّبِ قَالَ فِي الْمُقَدِّمَةِ إِنَّ ذِكْرَ اللهِ لَهُ أَكْثَرُ مِنْ ١٠٠ فَائِدَةٍ وَعَدَّ رَحِمَهُ اللهُ مَا يَزِيدُ عَلَى الـ ٧٠ فَائِدَةً مِنْ فَوَائِدِ الذِّكْرِ مِنْ ضِمْنِ الْفَوَائِدِ الَّتِي عَدَّهَا أَنَّهُ جَالِبٌ لِانْشِرَاحِ الصَّدْرِ وَطَارِدٌ لِلْهُمُومِ وَالْغُمُومِ وَالْأَحْزَانِ وَفِي السُّنَّةِ أَدْعِيَةٌ لِلْكَرْبِ كَثِيرَةٌ جَاءَتْ يَعْنِي يُشْرَعُ أَنْ يَقُولَهَا الْمُسْلِمُ عِنْدَ الْكَرْبِ مِنْهَا مَا سَيَأْتِي عِنْدَ الشَّيْخِ رَحِمَهُ اللهُ مِثْلُ حَدِيثِ أَبِي بَكْرَةَ دَعَوَاتُ الْمَكْرُوبِ اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ وَجَاءَتْ أَدْعِيَةٌ عَدِيدَةٌ دَعْوَةُ ذِي النُّونِ مَا دَعَا بِهَا مَكْرُوبٌ إِلَّا فَرَّجَ اللهُ كَرْبَهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ فَالْحَاصِلُ أَنَّ الذِّكْرَ مَفْزَعٌ لِلْمُسْلِمِ فِي كُرُبَاتِهِ يُكْثِرُ مِنْ ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَتَنْزَاحُ عَنْهُ الْكُرَبُ وَتَزُولُ الْهُمُومُ وَالْغُمُومُ بِإِذْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Hari-Hari Terbaik di Dunia

Oleh: Abu Aiman Ahmad bin Imam Segala puji hanya bagi Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Pemberi karunia, yang telah mengaruniakan kepada para hamba-Nya setiap saat segala hal yang dapat mendekatkan mereka kepada keridhaan-Nya, dan menjauhkan mereka dari kemurkaan dan neraka-Nya.  Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang tidak memiliki sekutu. Saya juga bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, manusia pilihan dan kekasih-Nya, yang menyeru kepada agama yang benar dan menuntun menuju jalan yang lurus dengan izin Tuhannya.  Amma ba’du: Di antara bentuk kemurahan Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi para hamba-Nya yang beriman adalah mensyariatkan bagi mereka hal-hal yang baik bagi kehidupan dunia dan akhirat mereka, mengaruniakan kepada mereka dari waktu ke waktu peningkatan karunia dan anugerah, dalam bentuk rahmat yang dicurahkan dan kebaikan yang dilimpahkan, maka orang bahagia sepenuhnya adalah orang yang mengambil bagian darinya.  Tidak ada hal yang lebih mulia dan agung daripada karunia Tuhan dan rahmat ilahi pada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari bulan Zulhijah, inilah hari-hari terbaik di dunia, penghias seluruh bulan dan hari. Inilah sepuluh hari yang keutamaannya tidak lain karena di dalamnya ada satu hari terbaik, yaitu hari Arafah. Cukuplah menjadi keutamaannya bahwa berpuasa pada hari itu dapat menggugurkan dua tahun, satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang, sebagaimana yang disampaikan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dalam riwayat Imam Muslim. Ia adalah hari terbaik di dunia secara mutlak, seperti yang diriwayatkan Ibnu Hibban dalam kitabnya Ash-Shahih dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: أَفْضَلُ الْأَيَّامِ يَوْمُ عَرَفَةَ “Hari yang paling utama adalah hari Arafah.” (HR. Ibnu Hibban). Ia adalah hari haji akbar menurut banyak salaf, termasuk Umar Radhiyallahu ‘anhu. وهو يوم المغفرة والتجاوز والعِتق من النيران، والمباهاة بأهل الموقف؛ روى مسلم في صحيحه عن عائشة – رضي الله عنها – عن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: ((ما من يومٍ أكثر من أن يَعتِقَ الله فيه عبيدًا من النار من يوم عَرَفة، وإنه ليدنو ثم يُباهي بهم الملائكة، فيقول: ما أرادَ هؤلاء؟)). Ia juga merupakan hari ampunan, pemaafan, dan pembebasan dari neraka. Allah mengelu-elukan orang-orang yang sedang wukuf di Arafah. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يَعْتِقَ اللّٰهُ فِيهِ عَبِيدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمُ الْمَلَائِكَةَ، فَيَقُولُ: مَا أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟ “Tidak ada hari di mana Allah lebih banyak membebaskan para hamba-Nya dari neraka daripada di hari Arafah. Sesungguhnya Allah mendekat lalu membanggakan mereka di hadapan para malaikat seraya berfirman: ‘Apa yang mereka inginkan?’” (HR. Muslim). Doa yang dulu paling banyak dibaca Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pada hari Arafah —disebutkan dalam riwayat At-Tirmidzi—: خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي: لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ “Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah, dan sebaik-baik apa yang aku ucapkan maupun para nabi sebelumku adalah: Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘ala kulli syai-in qadir (Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu).” (HR. At-Tirmidzi. Hadis hasan dengan jalur-jalur periwayatannya). Di antara keutamaan hari-hari ini telah disebutkan dalam riwayat Al-Bukhari dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبُّ إِلَى اللّٰهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ – يَعْنِي: أَيَّامَ الْعَشْرِ – قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ، وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللّٰهِ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللّٰهِ، إِلَّا رَجُلًا خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذٰلِكَ بِشَيْءٍ “Tidak ada hari-hari di mana amal saleh di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yakni sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: ‘Wahai Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah?’ Beliau menjawab: ‘Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seorang laki-laki yang pergi berjihad dengan diri dan hartanya, kemudian ia tidak kembali lagi dengan membawa sesuatu pun dari padanya (mati syahid).’” (HR. Al-Bukhari).  Beramal di hari-hari ini lebih utama dan lebih dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta lebih besar pahalanya daripada hari-hari lainnya sepanjang tahun. Meskipun ada amalan yang bukan paling utama, tapi pada hari-hari yang diberkahi ini amalan itu menjadi lebih utama daripada amalan-amalan paling utama yang dilakukan di hari lainnya, bahkan jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam tidak mengecualikan amalan apa pun kecuali jihad yang terbaik, seperti yang pernah ditanyakan kepada beliau: “Jihad apa yang paling utama?” Beliau menjawab:  مَنْ عَقَرَ جَوَادَهُ، وَأُهْرِيقَ دَمُهُ “Orang yang berjihad lalu kudanya tersembelih (di medan perang), dan ia sendiri darahnya tertumpah (mati syahid).” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i. Hadis hasan). Sedangkan jenis jihad yang lain dan amalan-amalan utama lainnya masih kalah utama dan tidak lebih dicintai daripada amalan di sepuluh hari pertama Zulhijah. Di antara amalan yang sepatutnya dijadikan seorang Muslim untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya adalah puasa, karena diriwayatkan dari beberapa istri Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bahwa beliau tidak meninggalkan puasa pada sembilan hari pertama Zulhijah. (Diriwayatkan Abu Dawud). Dan di antara sahabat yang berpuasa pada hari-hari ini adalah Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma. Adapun hadis Aisyah yang diriwayatkan Imam Muslim: “Aku tidak pernah melihat sama sekali Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam berpuasa pada sepuluh hari Zulhijah” maka dapat disangkal dengan beberapa jawaban. Pertama, hadis dari istri-istri Nabi yang lain yang menetapkan bahwa Nabi berpuasa pada hari-hari ini lebih diutamakan daripada hadis Aisyah yang menafikan puasa, karena orang yang menetapkan punya pengetahuan lebih daripada orang yang menafikan. Kedua, mungkin yang dimaksud Aisyah Radhiyallahu ‘anha adalah Nabi tidak berpuasa sepuluh hari penuh, sedangkan maksud dari orang yang menetapkan adalah Nabi berpuasa pada mayoritas hari-hari itu. Di antara amal saleh lainnya yang dapat dikerjakan pada hari-hari ini adalah Salat Malam. Dulu Said bin Jubair —yang merupakan perawi hadits dari Ibnu Abbas ini— apabila telah memasuki sepuluh hari pertama Zulhijjah, beliau beribadah dengan kesungguhan luar biasa, sampai-sampai beliau hampir tidak kuat lagi melakukannya. Di antara amal lainnya adalah banyak berzikir. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ “Dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hajj: 28). Mayoritas para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah sepuluh hari pertama bulan Zulhijah. Secara umum, orang yang berakal tidak sepatutnya melewatkan diri dari hari-hari yang penuh berkah ini, dengan memanfaatkan setiap momennya untuk menggapai keridhaan Tuhannya melalui berbagai bentuk ibadah, seperti salat, puasa, zikir, silaturahim, berbuat baik kepada orang lain, berinfak di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan membaca Al-Qur’an. Hendaklah ia mengerahkan segenap tenaganya untuk hari-hari ini sebagaimana yang ia lakukan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, atau bahkan lebih dari itu. Sebab pada bulan Ramadhan, ia membutuhkan usaha yang lebih besar, karena ketika itu ia punya banyak faktor pendukung untuk beramal ketaatan, seperti orang-orang yang sedang berpuasa dan salat Tarawih, mencari Malam Lailatul Qadar, dan iktikaf. Sedangkan pada bulan Zulhijah, hanya sedikit orang yang mengetahui urgensinya dan mengagungkannya dengan sepatutnya, sehingga orang yang hendak beribadah dengan sungguh-sungguh di dalamnya lebih terlihat asing daripada orang lainnya, karena itulah hari-hari ini benar-benar hari-hari terbaik sepanjang tahun. Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar mengaruniakan taufik kepada saya dan kaum Muslimin seluruhnya untuk memanfaatkan hari-hari ini, tidak mengharamkan kita dari pahalanya, dan menjadikan kita dan semua orang yang beriman termasuk orang-orang yang Dia selamatkan dari neraka. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima ibadah dari kita semua. Sumber: https://www.alukah.net/spotlight/0/27359/خير-أيام-الدنيا/ Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 188 times, 1 visit(s) today Post Views: 168

Hari-Hari Terbaik di Dunia

Oleh: Abu Aiman Ahmad bin Imam Segala puji hanya bagi Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Pemberi karunia, yang telah mengaruniakan kepada para hamba-Nya setiap saat segala hal yang dapat mendekatkan mereka kepada keridhaan-Nya, dan menjauhkan mereka dari kemurkaan dan neraka-Nya.  Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang tidak memiliki sekutu. Saya juga bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, manusia pilihan dan kekasih-Nya, yang menyeru kepada agama yang benar dan menuntun menuju jalan yang lurus dengan izin Tuhannya.  Amma ba’du: Di antara bentuk kemurahan Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi para hamba-Nya yang beriman adalah mensyariatkan bagi mereka hal-hal yang baik bagi kehidupan dunia dan akhirat mereka, mengaruniakan kepada mereka dari waktu ke waktu peningkatan karunia dan anugerah, dalam bentuk rahmat yang dicurahkan dan kebaikan yang dilimpahkan, maka orang bahagia sepenuhnya adalah orang yang mengambil bagian darinya.  Tidak ada hal yang lebih mulia dan agung daripada karunia Tuhan dan rahmat ilahi pada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari bulan Zulhijah, inilah hari-hari terbaik di dunia, penghias seluruh bulan dan hari. Inilah sepuluh hari yang keutamaannya tidak lain karena di dalamnya ada satu hari terbaik, yaitu hari Arafah. Cukuplah menjadi keutamaannya bahwa berpuasa pada hari itu dapat menggugurkan dua tahun, satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang, sebagaimana yang disampaikan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dalam riwayat Imam Muslim. Ia adalah hari terbaik di dunia secara mutlak, seperti yang diriwayatkan Ibnu Hibban dalam kitabnya Ash-Shahih dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: أَفْضَلُ الْأَيَّامِ يَوْمُ عَرَفَةَ “Hari yang paling utama adalah hari Arafah.” (HR. Ibnu Hibban). Ia adalah hari haji akbar menurut banyak salaf, termasuk Umar Radhiyallahu ‘anhu. وهو يوم المغفرة والتجاوز والعِتق من النيران، والمباهاة بأهل الموقف؛ روى مسلم في صحيحه عن عائشة – رضي الله عنها – عن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: ((ما من يومٍ أكثر من أن يَعتِقَ الله فيه عبيدًا من النار من يوم عَرَفة، وإنه ليدنو ثم يُباهي بهم الملائكة، فيقول: ما أرادَ هؤلاء؟)). Ia juga merupakan hari ampunan, pemaafan, dan pembebasan dari neraka. Allah mengelu-elukan orang-orang yang sedang wukuf di Arafah. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يَعْتِقَ اللّٰهُ فِيهِ عَبِيدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمُ الْمَلَائِكَةَ، فَيَقُولُ: مَا أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟ “Tidak ada hari di mana Allah lebih banyak membebaskan para hamba-Nya dari neraka daripada di hari Arafah. Sesungguhnya Allah mendekat lalu membanggakan mereka di hadapan para malaikat seraya berfirman: ‘Apa yang mereka inginkan?’” (HR. Muslim). Doa yang dulu paling banyak dibaca Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pada hari Arafah —disebutkan dalam riwayat At-Tirmidzi—: خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي: لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ “Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah, dan sebaik-baik apa yang aku ucapkan maupun para nabi sebelumku adalah: Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘ala kulli syai-in qadir (Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu).” (HR. At-Tirmidzi. Hadis hasan dengan jalur-jalur periwayatannya). Di antara keutamaan hari-hari ini telah disebutkan dalam riwayat Al-Bukhari dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبُّ إِلَى اللّٰهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ – يَعْنِي: أَيَّامَ الْعَشْرِ – قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ، وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللّٰهِ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللّٰهِ، إِلَّا رَجُلًا خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذٰلِكَ بِشَيْءٍ “Tidak ada hari-hari di mana amal saleh di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yakni sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: ‘Wahai Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah?’ Beliau menjawab: ‘Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seorang laki-laki yang pergi berjihad dengan diri dan hartanya, kemudian ia tidak kembali lagi dengan membawa sesuatu pun dari padanya (mati syahid).’” (HR. Al-Bukhari).  Beramal di hari-hari ini lebih utama dan lebih dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta lebih besar pahalanya daripada hari-hari lainnya sepanjang tahun. Meskipun ada amalan yang bukan paling utama, tapi pada hari-hari yang diberkahi ini amalan itu menjadi lebih utama daripada amalan-amalan paling utama yang dilakukan di hari lainnya, bahkan jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam tidak mengecualikan amalan apa pun kecuali jihad yang terbaik, seperti yang pernah ditanyakan kepada beliau: “Jihad apa yang paling utama?” Beliau menjawab:  مَنْ عَقَرَ جَوَادَهُ، وَأُهْرِيقَ دَمُهُ “Orang yang berjihad lalu kudanya tersembelih (di medan perang), dan ia sendiri darahnya tertumpah (mati syahid).” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i. Hadis hasan). Sedangkan jenis jihad yang lain dan amalan-amalan utama lainnya masih kalah utama dan tidak lebih dicintai daripada amalan di sepuluh hari pertama Zulhijah. Di antara amalan yang sepatutnya dijadikan seorang Muslim untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya adalah puasa, karena diriwayatkan dari beberapa istri Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bahwa beliau tidak meninggalkan puasa pada sembilan hari pertama Zulhijah. (Diriwayatkan Abu Dawud). Dan di antara sahabat yang berpuasa pada hari-hari ini adalah Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma. Adapun hadis Aisyah yang diriwayatkan Imam Muslim: “Aku tidak pernah melihat sama sekali Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam berpuasa pada sepuluh hari Zulhijah” maka dapat disangkal dengan beberapa jawaban. Pertama, hadis dari istri-istri Nabi yang lain yang menetapkan bahwa Nabi berpuasa pada hari-hari ini lebih diutamakan daripada hadis Aisyah yang menafikan puasa, karena orang yang menetapkan punya pengetahuan lebih daripada orang yang menafikan. Kedua, mungkin yang dimaksud Aisyah Radhiyallahu ‘anha adalah Nabi tidak berpuasa sepuluh hari penuh, sedangkan maksud dari orang yang menetapkan adalah Nabi berpuasa pada mayoritas hari-hari itu. Di antara amal saleh lainnya yang dapat dikerjakan pada hari-hari ini adalah Salat Malam. Dulu Said bin Jubair —yang merupakan perawi hadits dari Ibnu Abbas ini— apabila telah memasuki sepuluh hari pertama Zulhijjah, beliau beribadah dengan kesungguhan luar biasa, sampai-sampai beliau hampir tidak kuat lagi melakukannya. Di antara amal lainnya adalah banyak berzikir. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ “Dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hajj: 28). Mayoritas para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah sepuluh hari pertama bulan Zulhijah. Secara umum, orang yang berakal tidak sepatutnya melewatkan diri dari hari-hari yang penuh berkah ini, dengan memanfaatkan setiap momennya untuk menggapai keridhaan Tuhannya melalui berbagai bentuk ibadah, seperti salat, puasa, zikir, silaturahim, berbuat baik kepada orang lain, berinfak di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan membaca Al-Qur’an. Hendaklah ia mengerahkan segenap tenaganya untuk hari-hari ini sebagaimana yang ia lakukan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, atau bahkan lebih dari itu. Sebab pada bulan Ramadhan, ia membutuhkan usaha yang lebih besar, karena ketika itu ia punya banyak faktor pendukung untuk beramal ketaatan, seperti orang-orang yang sedang berpuasa dan salat Tarawih, mencari Malam Lailatul Qadar, dan iktikaf. Sedangkan pada bulan Zulhijah, hanya sedikit orang yang mengetahui urgensinya dan mengagungkannya dengan sepatutnya, sehingga orang yang hendak beribadah dengan sungguh-sungguh di dalamnya lebih terlihat asing daripada orang lainnya, karena itulah hari-hari ini benar-benar hari-hari terbaik sepanjang tahun. Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar mengaruniakan taufik kepada saya dan kaum Muslimin seluruhnya untuk memanfaatkan hari-hari ini, tidak mengharamkan kita dari pahalanya, dan menjadikan kita dan semua orang yang beriman termasuk orang-orang yang Dia selamatkan dari neraka. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima ibadah dari kita semua. Sumber: https://www.alukah.net/spotlight/0/27359/خير-أيام-الدنيا/ Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 188 times, 1 visit(s) today Post Views: 168
Oleh: Abu Aiman Ahmad bin Imam Segala puji hanya bagi Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Pemberi karunia, yang telah mengaruniakan kepada para hamba-Nya setiap saat segala hal yang dapat mendekatkan mereka kepada keridhaan-Nya, dan menjauhkan mereka dari kemurkaan dan neraka-Nya.  Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang tidak memiliki sekutu. Saya juga bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, manusia pilihan dan kekasih-Nya, yang menyeru kepada agama yang benar dan menuntun menuju jalan yang lurus dengan izin Tuhannya.  Amma ba’du: Di antara bentuk kemurahan Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi para hamba-Nya yang beriman adalah mensyariatkan bagi mereka hal-hal yang baik bagi kehidupan dunia dan akhirat mereka, mengaruniakan kepada mereka dari waktu ke waktu peningkatan karunia dan anugerah, dalam bentuk rahmat yang dicurahkan dan kebaikan yang dilimpahkan, maka orang bahagia sepenuhnya adalah orang yang mengambil bagian darinya.  Tidak ada hal yang lebih mulia dan agung daripada karunia Tuhan dan rahmat ilahi pada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari bulan Zulhijah, inilah hari-hari terbaik di dunia, penghias seluruh bulan dan hari. Inilah sepuluh hari yang keutamaannya tidak lain karena di dalamnya ada satu hari terbaik, yaitu hari Arafah. Cukuplah menjadi keutamaannya bahwa berpuasa pada hari itu dapat menggugurkan dua tahun, satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang, sebagaimana yang disampaikan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dalam riwayat Imam Muslim. Ia adalah hari terbaik di dunia secara mutlak, seperti yang diriwayatkan Ibnu Hibban dalam kitabnya Ash-Shahih dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: أَفْضَلُ الْأَيَّامِ يَوْمُ عَرَفَةَ “Hari yang paling utama adalah hari Arafah.” (HR. Ibnu Hibban). Ia adalah hari haji akbar menurut banyak salaf, termasuk Umar Radhiyallahu ‘anhu. وهو يوم المغفرة والتجاوز والعِتق من النيران، والمباهاة بأهل الموقف؛ روى مسلم في صحيحه عن عائشة – رضي الله عنها – عن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: ((ما من يومٍ أكثر من أن يَعتِقَ الله فيه عبيدًا من النار من يوم عَرَفة، وإنه ليدنو ثم يُباهي بهم الملائكة، فيقول: ما أرادَ هؤلاء؟)). Ia juga merupakan hari ampunan, pemaafan, dan pembebasan dari neraka. Allah mengelu-elukan orang-orang yang sedang wukuf di Arafah. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يَعْتِقَ اللّٰهُ فِيهِ عَبِيدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمُ الْمَلَائِكَةَ، فَيَقُولُ: مَا أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟ “Tidak ada hari di mana Allah lebih banyak membebaskan para hamba-Nya dari neraka daripada di hari Arafah. Sesungguhnya Allah mendekat lalu membanggakan mereka di hadapan para malaikat seraya berfirman: ‘Apa yang mereka inginkan?’” (HR. Muslim). Doa yang dulu paling banyak dibaca Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pada hari Arafah —disebutkan dalam riwayat At-Tirmidzi—: خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي: لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ “Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah, dan sebaik-baik apa yang aku ucapkan maupun para nabi sebelumku adalah: Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘ala kulli syai-in qadir (Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu).” (HR. At-Tirmidzi. Hadis hasan dengan jalur-jalur periwayatannya). Di antara keutamaan hari-hari ini telah disebutkan dalam riwayat Al-Bukhari dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبُّ إِلَى اللّٰهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ – يَعْنِي: أَيَّامَ الْعَشْرِ – قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ، وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللّٰهِ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللّٰهِ، إِلَّا رَجُلًا خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذٰلِكَ بِشَيْءٍ “Tidak ada hari-hari di mana amal saleh di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yakni sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: ‘Wahai Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah?’ Beliau menjawab: ‘Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seorang laki-laki yang pergi berjihad dengan diri dan hartanya, kemudian ia tidak kembali lagi dengan membawa sesuatu pun dari padanya (mati syahid).’” (HR. Al-Bukhari).  Beramal di hari-hari ini lebih utama dan lebih dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta lebih besar pahalanya daripada hari-hari lainnya sepanjang tahun. Meskipun ada amalan yang bukan paling utama, tapi pada hari-hari yang diberkahi ini amalan itu menjadi lebih utama daripada amalan-amalan paling utama yang dilakukan di hari lainnya, bahkan jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam tidak mengecualikan amalan apa pun kecuali jihad yang terbaik, seperti yang pernah ditanyakan kepada beliau: “Jihad apa yang paling utama?” Beliau menjawab:  مَنْ عَقَرَ جَوَادَهُ، وَأُهْرِيقَ دَمُهُ “Orang yang berjihad lalu kudanya tersembelih (di medan perang), dan ia sendiri darahnya tertumpah (mati syahid).” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i. Hadis hasan). Sedangkan jenis jihad yang lain dan amalan-amalan utama lainnya masih kalah utama dan tidak lebih dicintai daripada amalan di sepuluh hari pertama Zulhijah. Di antara amalan yang sepatutnya dijadikan seorang Muslim untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya adalah puasa, karena diriwayatkan dari beberapa istri Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bahwa beliau tidak meninggalkan puasa pada sembilan hari pertama Zulhijah. (Diriwayatkan Abu Dawud). Dan di antara sahabat yang berpuasa pada hari-hari ini adalah Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma. Adapun hadis Aisyah yang diriwayatkan Imam Muslim: “Aku tidak pernah melihat sama sekali Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam berpuasa pada sepuluh hari Zulhijah” maka dapat disangkal dengan beberapa jawaban. Pertama, hadis dari istri-istri Nabi yang lain yang menetapkan bahwa Nabi berpuasa pada hari-hari ini lebih diutamakan daripada hadis Aisyah yang menafikan puasa, karena orang yang menetapkan punya pengetahuan lebih daripada orang yang menafikan. Kedua, mungkin yang dimaksud Aisyah Radhiyallahu ‘anha adalah Nabi tidak berpuasa sepuluh hari penuh, sedangkan maksud dari orang yang menetapkan adalah Nabi berpuasa pada mayoritas hari-hari itu. Di antara amal saleh lainnya yang dapat dikerjakan pada hari-hari ini adalah Salat Malam. Dulu Said bin Jubair —yang merupakan perawi hadits dari Ibnu Abbas ini— apabila telah memasuki sepuluh hari pertama Zulhijjah, beliau beribadah dengan kesungguhan luar biasa, sampai-sampai beliau hampir tidak kuat lagi melakukannya. Di antara amal lainnya adalah banyak berzikir. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ “Dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hajj: 28). Mayoritas para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah sepuluh hari pertama bulan Zulhijah. Secara umum, orang yang berakal tidak sepatutnya melewatkan diri dari hari-hari yang penuh berkah ini, dengan memanfaatkan setiap momennya untuk menggapai keridhaan Tuhannya melalui berbagai bentuk ibadah, seperti salat, puasa, zikir, silaturahim, berbuat baik kepada orang lain, berinfak di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan membaca Al-Qur’an. Hendaklah ia mengerahkan segenap tenaganya untuk hari-hari ini sebagaimana yang ia lakukan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, atau bahkan lebih dari itu. Sebab pada bulan Ramadhan, ia membutuhkan usaha yang lebih besar, karena ketika itu ia punya banyak faktor pendukung untuk beramal ketaatan, seperti orang-orang yang sedang berpuasa dan salat Tarawih, mencari Malam Lailatul Qadar, dan iktikaf. Sedangkan pada bulan Zulhijah, hanya sedikit orang yang mengetahui urgensinya dan mengagungkannya dengan sepatutnya, sehingga orang yang hendak beribadah dengan sungguh-sungguh di dalamnya lebih terlihat asing daripada orang lainnya, karena itulah hari-hari ini benar-benar hari-hari terbaik sepanjang tahun. Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar mengaruniakan taufik kepada saya dan kaum Muslimin seluruhnya untuk memanfaatkan hari-hari ini, tidak mengharamkan kita dari pahalanya, dan menjadikan kita dan semua orang yang beriman termasuk orang-orang yang Dia selamatkan dari neraka. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima ibadah dari kita semua. Sumber: https://www.alukah.net/spotlight/0/27359/خير-أيام-الدنيا/ Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 188 times, 1 visit(s) today Post Views: 168


Oleh: Abu Aiman Ahmad bin Imam Segala puji hanya bagi Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Pemberi karunia, yang telah mengaruniakan kepada para hamba-Nya setiap saat segala hal yang dapat mendekatkan mereka kepada keridhaan-Nya, dan menjauhkan mereka dari kemurkaan dan neraka-Nya.  Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang tidak memiliki sekutu. Saya juga bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, manusia pilihan dan kekasih-Nya, yang menyeru kepada agama yang benar dan menuntun menuju jalan yang lurus dengan izin Tuhannya.  Amma ba’du: Di antara bentuk kemurahan Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi para hamba-Nya yang beriman adalah mensyariatkan bagi mereka hal-hal yang baik bagi kehidupan dunia dan akhirat mereka, mengaruniakan kepada mereka dari waktu ke waktu peningkatan karunia dan anugerah, dalam bentuk rahmat yang dicurahkan dan kebaikan yang dilimpahkan, maka orang bahagia sepenuhnya adalah orang yang mengambil bagian darinya.  Tidak ada hal yang lebih mulia dan agung daripada karunia Tuhan dan rahmat ilahi pada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari bulan Zulhijah, inilah hari-hari terbaik di dunia, penghias seluruh bulan dan hari. Inilah sepuluh hari yang keutamaannya tidak lain karena di dalamnya ada satu hari terbaik, yaitu hari Arafah. Cukuplah menjadi keutamaannya bahwa berpuasa pada hari itu dapat menggugurkan dua tahun, satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang, sebagaimana yang disampaikan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dalam riwayat Imam Muslim. Ia adalah hari terbaik di dunia secara mutlak, seperti yang diriwayatkan Ibnu Hibban dalam kitabnya Ash-Shahih dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: أَفْضَلُ الْأَيَّامِ يَوْمُ عَرَفَةَ “Hari yang paling utama adalah hari Arafah.” (HR. Ibnu Hibban). Ia adalah hari haji akbar menurut banyak salaf, termasuk Umar Radhiyallahu ‘anhu. وهو يوم المغفرة والتجاوز والعِتق من النيران، والمباهاة بأهل الموقف؛ روى مسلم في صحيحه عن عائشة – رضي الله عنها – عن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: ((ما من يومٍ أكثر من أن يَعتِقَ الله فيه عبيدًا من النار من يوم عَرَفة، وإنه ليدنو ثم يُباهي بهم الملائكة، فيقول: ما أرادَ هؤلاء؟)). Ia juga merupakan hari ampunan, pemaafan, dan pembebasan dari neraka. Allah mengelu-elukan orang-orang yang sedang wukuf di Arafah. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يَعْتِقَ اللّٰهُ فِيهِ عَبِيدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمُ الْمَلَائِكَةَ، فَيَقُولُ: مَا أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟ “Tidak ada hari di mana Allah lebih banyak membebaskan para hamba-Nya dari neraka daripada di hari Arafah. Sesungguhnya Allah mendekat lalu membanggakan mereka di hadapan para malaikat seraya berfirman: ‘Apa yang mereka inginkan?’” (HR. Muslim). Doa yang dulu paling banyak dibaca Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pada hari Arafah —disebutkan dalam riwayat At-Tirmidzi—: خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي: لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ “Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah, dan sebaik-baik apa yang aku ucapkan maupun para nabi sebelumku adalah: Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘ala kulli syai-in qadir (Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu).” (HR. At-Tirmidzi. Hadis hasan dengan jalur-jalur periwayatannya). Di antara keutamaan hari-hari ini telah disebutkan dalam riwayat Al-Bukhari dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبُّ إِلَى اللّٰهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ – يَعْنِي: أَيَّامَ الْعَشْرِ – قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ، وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللّٰهِ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللّٰهِ، إِلَّا رَجُلًا خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذٰلِكَ بِشَيْءٍ “Tidak ada hari-hari di mana amal saleh di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yakni sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: ‘Wahai Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah?’ Beliau menjawab: ‘Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seorang laki-laki yang pergi berjihad dengan diri dan hartanya, kemudian ia tidak kembali lagi dengan membawa sesuatu pun dari padanya (mati syahid).’” (HR. Al-Bukhari).  Beramal di hari-hari ini lebih utama dan lebih dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta lebih besar pahalanya daripada hari-hari lainnya sepanjang tahun. Meskipun ada amalan yang bukan paling utama, tapi pada hari-hari yang diberkahi ini amalan itu menjadi lebih utama daripada amalan-amalan paling utama yang dilakukan di hari lainnya, bahkan jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam tidak mengecualikan amalan apa pun kecuali jihad yang terbaik, seperti yang pernah ditanyakan kepada beliau: “Jihad apa yang paling utama?” Beliau menjawab:  مَنْ عَقَرَ جَوَادَهُ، وَأُهْرِيقَ دَمُهُ “Orang yang berjihad lalu kudanya tersembelih (di medan perang), dan ia sendiri darahnya tertumpah (mati syahid).” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i. Hadis hasan). Sedangkan jenis jihad yang lain dan amalan-amalan utama lainnya masih kalah utama dan tidak lebih dicintai daripada amalan di sepuluh hari pertama Zulhijah. Di antara amalan yang sepatutnya dijadikan seorang Muslim untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya adalah puasa, karena diriwayatkan dari beberapa istri Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bahwa beliau tidak meninggalkan puasa pada sembilan hari pertama Zulhijah. (Diriwayatkan Abu Dawud). Dan di antara sahabat yang berpuasa pada hari-hari ini adalah Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma. Adapun hadis Aisyah yang diriwayatkan Imam Muslim: “Aku tidak pernah melihat sama sekali Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam berpuasa pada sepuluh hari Zulhijah” maka dapat disangkal dengan beberapa jawaban. Pertama, hadis dari istri-istri Nabi yang lain yang menetapkan bahwa Nabi berpuasa pada hari-hari ini lebih diutamakan daripada hadis Aisyah yang menafikan puasa, karena orang yang menetapkan punya pengetahuan lebih daripada orang yang menafikan. Kedua, mungkin yang dimaksud Aisyah Radhiyallahu ‘anha adalah Nabi tidak berpuasa sepuluh hari penuh, sedangkan maksud dari orang yang menetapkan adalah Nabi berpuasa pada mayoritas hari-hari itu. Di antara amal saleh lainnya yang dapat dikerjakan pada hari-hari ini adalah Salat Malam. Dulu Said bin Jubair —yang merupakan perawi hadits dari Ibnu Abbas ini— apabila telah memasuki sepuluh hari pertama Zulhijjah, beliau beribadah dengan kesungguhan luar biasa, sampai-sampai beliau hampir tidak kuat lagi melakukannya. Di antara amal lainnya adalah banyak berzikir. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ “Dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hajj: 28). Mayoritas para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah sepuluh hari pertama bulan Zulhijah. Secara umum, orang yang berakal tidak sepatutnya melewatkan diri dari hari-hari yang penuh berkah ini, dengan memanfaatkan setiap momennya untuk menggapai keridhaan Tuhannya melalui berbagai bentuk ibadah, seperti salat, puasa, zikir, silaturahim, berbuat baik kepada orang lain, berinfak di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan membaca Al-Qur’an. Hendaklah ia mengerahkan segenap tenaganya untuk hari-hari ini sebagaimana yang ia lakukan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, atau bahkan lebih dari itu. Sebab pada bulan Ramadhan, ia membutuhkan usaha yang lebih besar, karena ketika itu ia punya banyak faktor pendukung untuk beramal ketaatan, seperti orang-orang yang sedang berpuasa dan salat Tarawih, mencari Malam Lailatul Qadar, dan iktikaf. Sedangkan pada bulan Zulhijah, hanya sedikit orang yang mengetahui urgensinya dan mengagungkannya dengan sepatutnya, sehingga orang yang hendak beribadah dengan sungguh-sungguh di dalamnya lebih terlihat asing daripada orang lainnya, karena itulah hari-hari ini benar-benar hari-hari terbaik sepanjang tahun. Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar mengaruniakan taufik kepada saya dan kaum Muslimin seluruhnya untuk memanfaatkan hari-hari ini, tidak mengharamkan kita dari pahalanya, dan menjadikan kita dan semua orang yang beriman termasuk orang-orang yang Dia selamatkan dari neraka. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima ibadah dari kita semua. Sumber: https://www.alukah.net/spotlight/0/27359/خير-أيام-الدنيا/ Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 188 times, 1 visit(s) today Post Views: 168

Bolehkah Menonton Pertandingan Sepak Bola?

Daftar Isi ToggleIslam tidak mengharamkan hiburanKapan menonton bola menjadi dilarang?Melalaikan dari kewajiban, terutama salatAdanya kemaksiatan dalam acara pertandinganFanatisme buta dan permusuhanMengagungkan tokoh non-MuslimPemborosan waktu dan hartaPendapat para ulama tentang sepak bolaHiburan dalam Islam diperbolehkan dengan batasSepak bola adalah olahraga paling populer di dunia. Hampir setiap negara memiliki klub, tim nasional, dan suporter fanatiknya. Stadion penuh, layar televisi ramai, media sosial riuh dengan komentar dan analisis. Pertandingan besar seperti Piala Dunia, Liga Champions, atau Liga Indonesia bisa membuat jutaan manusia terpaku berjam-jam di depan layar.Namun, di balik keseruan itu, seorang Muslim hendaknya tidak kehilangan kesadaran akan pertanyaan penting:“Apakah menonton pertandingan sepak bola dibolehkan dalam Islam?”“Apakah sekadar hiburan, ataukah termasuk kelalaian dan kemaksiatan jika berlebihan?”Pertanyaan muncul bukan karena Islam anti-hiburan, tetapi karena Islam adalah agama yang mengatur segala aspek kehidupan, termasuk cara seorang Muslim mengisi waktu luangnya.Islam tidak mengharamkan hiburanIslam adalah agama fitrah. Ia tidak melarang kesenangan selama berada dalam koridor yang benar. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ“Katakanlah (wahai Muhammad): Siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah yang telah Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya, serta rezeki yang baik-baik itu?” (QS. Al-A‘raf: 32)Ayat ini menegaskan bahwa hiburan, permainan, dan olahraga yang dilakukan dengan niat baik dan tidak melanggar syariat adalah hal yang mubah (boleh). Maka, sepak bola sebagai olahraga jasmani yang mengandung unsur latihan, kekompakan, dan semangat, secara asal hukum adalah boleh. Namun, seperti halnya setiap perkara dunia, hukum asal yang mubah bisa berubah menjadi haram, makruh, atau bahkan berpahala, tergantung niat dan cara pelaksanaannya.Kapan menonton bola menjadi dilarang?Dalam pandangan Islam, suatu aktivitas akan menjadi terlarang jika mengandung unsur yang melanggar batas syariat. Berikut beberapa hal yang menjadikan menonton pertandingan sepak bola tidak dibolehkan:Melalaikan dari kewajiban, terutama salatBanyak orang rela menunda bahkan meninggalkan salat demi menonton pertandingan. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ، الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ“Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu mereka yang lalai dari salatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4–5)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ، وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ“Pokok urusan adalah Islam, dan tiangnya adalah salat.” (HR. Tirmidzi)Betapa banyak orang yang rela duduk berjam-jam di depan layar menonton bola, tetapi berat melangkah lima menit ke masjid. Padahal, satu rakaat salat lebih berharga daripada seluruh pertandingan dunia.Adanya kemaksiatan dalam acara pertandinganDi stadion atau siaran televisi, sering ditampilkan hal-hal yang melanggar syariat: musik keras, aurat terbuka, campur baur antara laki-laki dan perempuan, bahkan iklan minuman keras atau judi.Menonton hal-hal semacam itu tanpa mengingkari termasuk perbuatan dosa, karena berarti rida terhadap kemaksiatan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ“Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kalian dalam Kitab, bahwa apabila kalian mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kalian duduk bersama mereka…” (QS. An-Nisa’: 140)Menonton dengan sadar sebuah acara yang penuh kemaksiatan tanpa niat mengingkari adalah bentuk pembiaran terhadap dosa.Fanatisme buta dan permusuhanRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dengan tegas,دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ“Tinggalkan fanatisme (‘ashabiyyah), karena itu adalah bau busuk (jahiliyah).” (Muttafaqun ‘alaihi)Fanatisme terhadap klub sepak bola telah membuat banyak orang saling mencaci, menghina, bahkan berkelahi hingga menumpahkan darah. Sementara sesama Muslim seharusnya bersaudara. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10)Jika dukungan kepada klub menghapus ukhuwah Islamiyyah, maka itu bukan lagi sekadar hiburan, tetapi penyakit hati.Mengagungkan tokoh non-MuslimBanyak pemain terkenal adalah non-Muslim yang secara terbuka menampakkan syirik atau kekufuran. Menjadikan mereka idola, meniru gaya hidup, ucapan, atau bahkan ritual mereka adalah bentuk tasyabbuh (penyerupaan) yang dilarang.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud)Maka, seorang Muslim hendaknya berhati-hati agar tidak menaruh cinta dan kekaguman yang berlebihan kepada tokoh non-Muslim, apalagi sampai mengidolakan mereka, lebih dari kecintaannya kepada orang beriman.Pemborosan waktu dan hartaBanyak orang rela menghabiskan uang besar demi tiket stadion, pernak-pernik klub, atau bahkan perjalanan ke luar negeri. Padahal, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا، إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ“Janganlah kamu berlebih-lebihan dalam membelanjakan harta, sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra’: 26–27)Waktu yang dihabiskan berjam-jam menonton, berdiskusi, dan bertengkar di media sosial bisa digunakan untuk membaca Al-Qur’an, membantu keluarga, atau menuntut ilmu.Baca juga: Masalah Menang-Kalah Bola Itu Sepele, Tidak BernilaiPendapat para ulama tentang sepak bolaSyekh Ibnu Baz rahimahullah berkata,فالذي نعتقده اليوم: أن فعلها محرم، وأنها منكر، إلا إذا التزم أهلها بالستر، وحفظ الأوقات، وإقامة الصلوات في وقتها، وصار لعبها في وقت خاص محدود، لا يتجاوزه إلى أن يضيعوا به الصلوات، إما المشاهدون، وإما اللاعبون، وإما الجميع، هذا الواقع نسأل الله السلامة“Yang kami yakini saat ini adalah bahwa melakukannya haram dan termasuk kemungkaran, kecuali jika para pelakunya berkomitmen untuk menutup aurat, menjaga waktu, menegakkan salat tepat pada waktunya, dan menjadikannya pada waktu khusus yang terbatas, sehingga tidak sampai melalaikan salat, baik bagi penonton, pemain, maupun keduanya. Inilah kenyataan yang ada. Kita memohon keselamatan kepada Allah.” [1]Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah juga menyampaikan,إذا كان الممارس للرياضة ليس عليه إلا سروال قصير يبدو منه فخذه أو أكثره فإنه لا يجوز ، فإن الصحيح أنه يجب على الشباب ستر أفخاذهم ، وأنه لا يجوز مشاهدة اللاعبين وهم بهذه الحالة من الكشف عن أفخاذهم“Jika orang yang berolahraga hanya memakai celana pendek yang menampakkan pahanya atau sebagian besarnya, maka itu tidak boleh. Pendapat yang benar adalah bahwa para pemuda wajib menutup paha mereka, dan tidak boleh menonton para pemain dalam keadaan mereka membuka paha seperti itu.” [2]Al-Lajnah Ad-Daimah lil Ifta’ mengeluarkan fatwa mengenai hukum menonton pertandingan sepak bola dan menyampaikan,إذا كانت المباراة على غير عوض ولم تشغل عما أوجب الله من الصلاة وغيرها ، ولم تشتمل على محظور : ككشف العورات ، أو اختلاط النساء بالرجال ، أو وجود آلات لهو – فلا حرج فيها ولا في مشاهدتها“Jika pertandingan itu tanpa hadiah (taruhan), tidak melalaikan dari kewajiban seperti salat dan lainnya, serta tidak mengandung hal yang terlarang seperti membuka aurat, campur baur laki-laki dan perempuan, atau adanya alat-alat hiburan (yang haram), maka tidak mengapa melakukannya maupun menontonnya.” [3]Hiburan dalam Islam diperbolehkan dengan batasPertama: Hiburan dalam Islam tidak boleh melalaikan dari Allah. Allah ‘Azza wa Jalla mengingatkan,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah.” (QS. Al-Munafiqun: 9)Maka, jangan sampai hiburan seperti sepak bola membuat seseorang lupa berzikir, enggan membaca Al-Qur’an, atau malas menuntut ilmu.Kedua: Cinta terhadap klub atau pemain boleh saja, namun tidak boleh melebihi cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dengan tegas,قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ… أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ… فَتَرَبَّصُوا“Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara kalian… lebih kalian cintai daripada Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya, maka tunggulah (azab) sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” (QS. At-Taubah: 24)Ketiga: Menonton bola bukan dosa selama kita mampu menjaga batasnya. Akan tetapi, bila pertandingan bola membuat kita lupa kepada Allah, maka itu adalah bencana.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ لرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقّاً، ولأهلِك عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّه“Sesungguhnya Rabbmu memiliki hak atasmu, dan dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu. Maka, berikanlah kepada masing-masing haknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Keempat: Kita boleh menonton bola, tetapi jangan sampai bola membuat kita lupa hak Allah, yaitu hak berupa ibadah dan ketaatan.Ingatlah firman Allah ‘Azza wa Jalla,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzāriyāt: 56)Menonton bola tidak akan menyelamatkan seseorang di kubur, tidak akan menambah pahala kecuali jika disertai niat baik dan kendali iman. Maka, nikmatilah hiburan dalam kadar yang wajar, jaga hati, dan jangan gadaikan akhirat demi 90 menit kesenangan dunia. Wallahu Ta‘ala a‘lam.Baca juga: Syarat Boleh Bermain Sepakbola dan Futsal***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Referensi:[1] https://share.google/Q3TRrFhmqzqQ0MgBx[2] Fatawa Islamiyyah, 4: 431.[3] Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 15: 238.

Bolehkah Menonton Pertandingan Sepak Bola?

Daftar Isi ToggleIslam tidak mengharamkan hiburanKapan menonton bola menjadi dilarang?Melalaikan dari kewajiban, terutama salatAdanya kemaksiatan dalam acara pertandinganFanatisme buta dan permusuhanMengagungkan tokoh non-MuslimPemborosan waktu dan hartaPendapat para ulama tentang sepak bolaHiburan dalam Islam diperbolehkan dengan batasSepak bola adalah olahraga paling populer di dunia. Hampir setiap negara memiliki klub, tim nasional, dan suporter fanatiknya. Stadion penuh, layar televisi ramai, media sosial riuh dengan komentar dan analisis. Pertandingan besar seperti Piala Dunia, Liga Champions, atau Liga Indonesia bisa membuat jutaan manusia terpaku berjam-jam di depan layar.Namun, di balik keseruan itu, seorang Muslim hendaknya tidak kehilangan kesadaran akan pertanyaan penting:“Apakah menonton pertandingan sepak bola dibolehkan dalam Islam?”“Apakah sekadar hiburan, ataukah termasuk kelalaian dan kemaksiatan jika berlebihan?”Pertanyaan muncul bukan karena Islam anti-hiburan, tetapi karena Islam adalah agama yang mengatur segala aspek kehidupan, termasuk cara seorang Muslim mengisi waktu luangnya.Islam tidak mengharamkan hiburanIslam adalah agama fitrah. Ia tidak melarang kesenangan selama berada dalam koridor yang benar. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ“Katakanlah (wahai Muhammad): Siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah yang telah Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya, serta rezeki yang baik-baik itu?” (QS. Al-A‘raf: 32)Ayat ini menegaskan bahwa hiburan, permainan, dan olahraga yang dilakukan dengan niat baik dan tidak melanggar syariat adalah hal yang mubah (boleh). Maka, sepak bola sebagai olahraga jasmani yang mengandung unsur latihan, kekompakan, dan semangat, secara asal hukum adalah boleh. Namun, seperti halnya setiap perkara dunia, hukum asal yang mubah bisa berubah menjadi haram, makruh, atau bahkan berpahala, tergantung niat dan cara pelaksanaannya.Kapan menonton bola menjadi dilarang?Dalam pandangan Islam, suatu aktivitas akan menjadi terlarang jika mengandung unsur yang melanggar batas syariat. Berikut beberapa hal yang menjadikan menonton pertandingan sepak bola tidak dibolehkan:Melalaikan dari kewajiban, terutama salatBanyak orang rela menunda bahkan meninggalkan salat demi menonton pertandingan. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ، الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ“Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu mereka yang lalai dari salatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4–5)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ، وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ“Pokok urusan adalah Islam, dan tiangnya adalah salat.” (HR. Tirmidzi)Betapa banyak orang yang rela duduk berjam-jam di depan layar menonton bola, tetapi berat melangkah lima menit ke masjid. Padahal, satu rakaat salat lebih berharga daripada seluruh pertandingan dunia.Adanya kemaksiatan dalam acara pertandinganDi stadion atau siaran televisi, sering ditampilkan hal-hal yang melanggar syariat: musik keras, aurat terbuka, campur baur antara laki-laki dan perempuan, bahkan iklan minuman keras atau judi.Menonton hal-hal semacam itu tanpa mengingkari termasuk perbuatan dosa, karena berarti rida terhadap kemaksiatan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ“Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kalian dalam Kitab, bahwa apabila kalian mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kalian duduk bersama mereka…” (QS. An-Nisa’: 140)Menonton dengan sadar sebuah acara yang penuh kemaksiatan tanpa niat mengingkari adalah bentuk pembiaran terhadap dosa.Fanatisme buta dan permusuhanRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dengan tegas,دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ“Tinggalkan fanatisme (‘ashabiyyah), karena itu adalah bau busuk (jahiliyah).” (Muttafaqun ‘alaihi)Fanatisme terhadap klub sepak bola telah membuat banyak orang saling mencaci, menghina, bahkan berkelahi hingga menumpahkan darah. Sementara sesama Muslim seharusnya bersaudara. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10)Jika dukungan kepada klub menghapus ukhuwah Islamiyyah, maka itu bukan lagi sekadar hiburan, tetapi penyakit hati.Mengagungkan tokoh non-MuslimBanyak pemain terkenal adalah non-Muslim yang secara terbuka menampakkan syirik atau kekufuran. Menjadikan mereka idola, meniru gaya hidup, ucapan, atau bahkan ritual mereka adalah bentuk tasyabbuh (penyerupaan) yang dilarang.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud)Maka, seorang Muslim hendaknya berhati-hati agar tidak menaruh cinta dan kekaguman yang berlebihan kepada tokoh non-Muslim, apalagi sampai mengidolakan mereka, lebih dari kecintaannya kepada orang beriman.Pemborosan waktu dan hartaBanyak orang rela menghabiskan uang besar demi tiket stadion, pernak-pernik klub, atau bahkan perjalanan ke luar negeri. Padahal, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا، إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ“Janganlah kamu berlebih-lebihan dalam membelanjakan harta, sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra’: 26–27)Waktu yang dihabiskan berjam-jam menonton, berdiskusi, dan bertengkar di media sosial bisa digunakan untuk membaca Al-Qur’an, membantu keluarga, atau menuntut ilmu.Baca juga: Masalah Menang-Kalah Bola Itu Sepele, Tidak BernilaiPendapat para ulama tentang sepak bolaSyekh Ibnu Baz rahimahullah berkata,فالذي نعتقده اليوم: أن فعلها محرم، وأنها منكر، إلا إذا التزم أهلها بالستر، وحفظ الأوقات، وإقامة الصلوات في وقتها، وصار لعبها في وقت خاص محدود، لا يتجاوزه إلى أن يضيعوا به الصلوات، إما المشاهدون، وإما اللاعبون، وإما الجميع، هذا الواقع نسأل الله السلامة“Yang kami yakini saat ini adalah bahwa melakukannya haram dan termasuk kemungkaran, kecuali jika para pelakunya berkomitmen untuk menutup aurat, menjaga waktu, menegakkan salat tepat pada waktunya, dan menjadikannya pada waktu khusus yang terbatas, sehingga tidak sampai melalaikan salat, baik bagi penonton, pemain, maupun keduanya. Inilah kenyataan yang ada. Kita memohon keselamatan kepada Allah.” [1]Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah juga menyampaikan,إذا كان الممارس للرياضة ليس عليه إلا سروال قصير يبدو منه فخذه أو أكثره فإنه لا يجوز ، فإن الصحيح أنه يجب على الشباب ستر أفخاذهم ، وأنه لا يجوز مشاهدة اللاعبين وهم بهذه الحالة من الكشف عن أفخاذهم“Jika orang yang berolahraga hanya memakai celana pendek yang menampakkan pahanya atau sebagian besarnya, maka itu tidak boleh. Pendapat yang benar adalah bahwa para pemuda wajib menutup paha mereka, dan tidak boleh menonton para pemain dalam keadaan mereka membuka paha seperti itu.” [2]Al-Lajnah Ad-Daimah lil Ifta’ mengeluarkan fatwa mengenai hukum menonton pertandingan sepak bola dan menyampaikan,إذا كانت المباراة على غير عوض ولم تشغل عما أوجب الله من الصلاة وغيرها ، ولم تشتمل على محظور : ككشف العورات ، أو اختلاط النساء بالرجال ، أو وجود آلات لهو – فلا حرج فيها ولا في مشاهدتها“Jika pertandingan itu tanpa hadiah (taruhan), tidak melalaikan dari kewajiban seperti salat dan lainnya, serta tidak mengandung hal yang terlarang seperti membuka aurat, campur baur laki-laki dan perempuan, atau adanya alat-alat hiburan (yang haram), maka tidak mengapa melakukannya maupun menontonnya.” [3]Hiburan dalam Islam diperbolehkan dengan batasPertama: Hiburan dalam Islam tidak boleh melalaikan dari Allah. Allah ‘Azza wa Jalla mengingatkan,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah.” (QS. Al-Munafiqun: 9)Maka, jangan sampai hiburan seperti sepak bola membuat seseorang lupa berzikir, enggan membaca Al-Qur’an, atau malas menuntut ilmu.Kedua: Cinta terhadap klub atau pemain boleh saja, namun tidak boleh melebihi cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dengan tegas,قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ… أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ… فَتَرَبَّصُوا“Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara kalian… lebih kalian cintai daripada Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya, maka tunggulah (azab) sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” (QS. At-Taubah: 24)Ketiga: Menonton bola bukan dosa selama kita mampu menjaga batasnya. Akan tetapi, bila pertandingan bola membuat kita lupa kepada Allah, maka itu adalah bencana.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ لرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقّاً، ولأهلِك عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّه“Sesungguhnya Rabbmu memiliki hak atasmu, dan dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu. Maka, berikanlah kepada masing-masing haknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Keempat: Kita boleh menonton bola, tetapi jangan sampai bola membuat kita lupa hak Allah, yaitu hak berupa ibadah dan ketaatan.Ingatlah firman Allah ‘Azza wa Jalla,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzāriyāt: 56)Menonton bola tidak akan menyelamatkan seseorang di kubur, tidak akan menambah pahala kecuali jika disertai niat baik dan kendali iman. Maka, nikmatilah hiburan dalam kadar yang wajar, jaga hati, dan jangan gadaikan akhirat demi 90 menit kesenangan dunia. Wallahu Ta‘ala a‘lam.Baca juga: Syarat Boleh Bermain Sepakbola dan Futsal***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Referensi:[1] https://share.google/Q3TRrFhmqzqQ0MgBx[2] Fatawa Islamiyyah, 4: 431.[3] Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 15: 238.
Daftar Isi ToggleIslam tidak mengharamkan hiburanKapan menonton bola menjadi dilarang?Melalaikan dari kewajiban, terutama salatAdanya kemaksiatan dalam acara pertandinganFanatisme buta dan permusuhanMengagungkan tokoh non-MuslimPemborosan waktu dan hartaPendapat para ulama tentang sepak bolaHiburan dalam Islam diperbolehkan dengan batasSepak bola adalah olahraga paling populer di dunia. Hampir setiap negara memiliki klub, tim nasional, dan suporter fanatiknya. Stadion penuh, layar televisi ramai, media sosial riuh dengan komentar dan analisis. Pertandingan besar seperti Piala Dunia, Liga Champions, atau Liga Indonesia bisa membuat jutaan manusia terpaku berjam-jam di depan layar.Namun, di balik keseruan itu, seorang Muslim hendaknya tidak kehilangan kesadaran akan pertanyaan penting:“Apakah menonton pertandingan sepak bola dibolehkan dalam Islam?”“Apakah sekadar hiburan, ataukah termasuk kelalaian dan kemaksiatan jika berlebihan?”Pertanyaan muncul bukan karena Islam anti-hiburan, tetapi karena Islam adalah agama yang mengatur segala aspek kehidupan, termasuk cara seorang Muslim mengisi waktu luangnya.Islam tidak mengharamkan hiburanIslam adalah agama fitrah. Ia tidak melarang kesenangan selama berada dalam koridor yang benar. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ“Katakanlah (wahai Muhammad): Siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah yang telah Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya, serta rezeki yang baik-baik itu?” (QS. Al-A‘raf: 32)Ayat ini menegaskan bahwa hiburan, permainan, dan olahraga yang dilakukan dengan niat baik dan tidak melanggar syariat adalah hal yang mubah (boleh). Maka, sepak bola sebagai olahraga jasmani yang mengandung unsur latihan, kekompakan, dan semangat, secara asal hukum adalah boleh. Namun, seperti halnya setiap perkara dunia, hukum asal yang mubah bisa berubah menjadi haram, makruh, atau bahkan berpahala, tergantung niat dan cara pelaksanaannya.Kapan menonton bola menjadi dilarang?Dalam pandangan Islam, suatu aktivitas akan menjadi terlarang jika mengandung unsur yang melanggar batas syariat. Berikut beberapa hal yang menjadikan menonton pertandingan sepak bola tidak dibolehkan:Melalaikan dari kewajiban, terutama salatBanyak orang rela menunda bahkan meninggalkan salat demi menonton pertandingan. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ، الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ“Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu mereka yang lalai dari salatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4–5)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ، وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ“Pokok urusan adalah Islam, dan tiangnya adalah salat.” (HR. Tirmidzi)Betapa banyak orang yang rela duduk berjam-jam di depan layar menonton bola, tetapi berat melangkah lima menit ke masjid. Padahal, satu rakaat salat lebih berharga daripada seluruh pertandingan dunia.Adanya kemaksiatan dalam acara pertandinganDi stadion atau siaran televisi, sering ditampilkan hal-hal yang melanggar syariat: musik keras, aurat terbuka, campur baur antara laki-laki dan perempuan, bahkan iklan minuman keras atau judi.Menonton hal-hal semacam itu tanpa mengingkari termasuk perbuatan dosa, karena berarti rida terhadap kemaksiatan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ“Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kalian dalam Kitab, bahwa apabila kalian mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kalian duduk bersama mereka…” (QS. An-Nisa’: 140)Menonton dengan sadar sebuah acara yang penuh kemaksiatan tanpa niat mengingkari adalah bentuk pembiaran terhadap dosa.Fanatisme buta dan permusuhanRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dengan tegas,دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ“Tinggalkan fanatisme (‘ashabiyyah), karena itu adalah bau busuk (jahiliyah).” (Muttafaqun ‘alaihi)Fanatisme terhadap klub sepak bola telah membuat banyak orang saling mencaci, menghina, bahkan berkelahi hingga menumpahkan darah. Sementara sesama Muslim seharusnya bersaudara. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10)Jika dukungan kepada klub menghapus ukhuwah Islamiyyah, maka itu bukan lagi sekadar hiburan, tetapi penyakit hati.Mengagungkan tokoh non-MuslimBanyak pemain terkenal adalah non-Muslim yang secara terbuka menampakkan syirik atau kekufuran. Menjadikan mereka idola, meniru gaya hidup, ucapan, atau bahkan ritual mereka adalah bentuk tasyabbuh (penyerupaan) yang dilarang.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud)Maka, seorang Muslim hendaknya berhati-hati agar tidak menaruh cinta dan kekaguman yang berlebihan kepada tokoh non-Muslim, apalagi sampai mengidolakan mereka, lebih dari kecintaannya kepada orang beriman.Pemborosan waktu dan hartaBanyak orang rela menghabiskan uang besar demi tiket stadion, pernak-pernik klub, atau bahkan perjalanan ke luar negeri. Padahal, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا، إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ“Janganlah kamu berlebih-lebihan dalam membelanjakan harta, sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra’: 26–27)Waktu yang dihabiskan berjam-jam menonton, berdiskusi, dan bertengkar di media sosial bisa digunakan untuk membaca Al-Qur’an, membantu keluarga, atau menuntut ilmu.Baca juga: Masalah Menang-Kalah Bola Itu Sepele, Tidak BernilaiPendapat para ulama tentang sepak bolaSyekh Ibnu Baz rahimahullah berkata,فالذي نعتقده اليوم: أن فعلها محرم، وأنها منكر، إلا إذا التزم أهلها بالستر، وحفظ الأوقات، وإقامة الصلوات في وقتها، وصار لعبها في وقت خاص محدود، لا يتجاوزه إلى أن يضيعوا به الصلوات، إما المشاهدون، وإما اللاعبون، وإما الجميع، هذا الواقع نسأل الله السلامة“Yang kami yakini saat ini adalah bahwa melakukannya haram dan termasuk kemungkaran, kecuali jika para pelakunya berkomitmen untuk menutup aurat, menjaga waktu, menegakkan salat tepat pada waktunya, dan menjadikannya pada waktu khusus yang terbatas, sehingga tidak sampai melalaikan salat, baik bagi penonton, pemain, maupun keduanya. Inilah kenyataan yang ada. Kita memohon keselamatan kepada Allah.” [1]Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah juga menyampaikan,إذا كان الممارس للرياضة ليس عليه إلا سروال قصير يبدو منه فخذه أو أكثره فإنه لا يجوز ، فإن الصحيح أنه يجب على الشباب ستر أفخاذهم ، وأنه لا يجوز مشاهدة اللاعبين وهم بهذه الحالة من الكشف عن أفخاذهم“Jika orang yang berolahraga hanya memakai celana pendek yang menampakkan pahanya atau sebagian besarnya, maka itu tidak boleh. Pendapat yang benar adalah bahwa para pemuda wajib menutup paha mereka, dan tidak boleh menonton para pemain dalam keadaan mereka membuka paha seperti itu.” [2]Al-Lajnah Ad-Daimah lil Ifta’ mengeluarkan fatwa mengenai hukum menonton pertandingan sepak bola dan menyampaikan,إذا كانت المباراة على غير عوض ولم تشغل عما أوجب الله من الصلاة وغيرها ، ولم تشتمل على محظور : ككشف العورات ، أو اختلاط النساء بالرجال ، أو وجود آلات لهو – فلا حرج فيها ولا في مشاهدتها“Jika pertandingan itu tanpa hadiah (taruhan), tidak melalaikan dari kewajiban seperti salat dan lainnya, serta tidak mengandung hal yang terlarang seperti membuka aurat, campur baur laki-laki dan perempuan, atau adanya alat-alat hiburan (yang haram), maka tidak mengapa melakukannya maupun menontonnya.” [3]Hiburan dalam Islam diperbolehkan dengan batasPertama: Hiburan dalam Islam tidak boleh melalaikan dari Allah. Allah ‘Azza wa Jalla mengingatkan,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah.” (QS. Al-Munafiqun: 9)Maka, jangan sampai hiburan seperti sepak bola membuat seseorang lupa berzikir, enggan membaca Al-Qur’an, atau malas menuntut ilmu.Kedua: Cinta terhadap klub atau pemain boleh saja, namun tidak boleh melebihi cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dengan tegas,قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ… أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ… فَتَرَبَّصُوا“Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara kalian… lebih kalian cintai daripada Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya, maka tunggulah (azab) sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” (QS. At-Taubah: 24)Ketiga: Menonton bola bukan dosa selama kita mampu menjaga batasnya. Akan tetapi, bila pertandingan bola membuat kita lupa kepada Allah, maka itu adalah bencana.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ لرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقّاً، ولأهلِك عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّه“Sesungguhnya Rabbmu memiliki hak atasmu, dan dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu. Maka, berikanlah kepada masing-masing haknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Keempat: Kita boleh menonton bola, tetapi jangan sampai bola membuat kita lupa hak Allah, yaitu hak berupa ibadah dan ketaatan.Ingatlah firman Allah ‘Azza wa Jalla,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzāriyāt: 56)Menonton bola tidak akan menyelamatkan seseorang di kubur, tidak akan menambah pahala kecuali jika disertai niat baik dan kendali iman. Maka, nikmatilah hiburan dalam kadar yang wajar, jaga hati, dan jangan gadaikan akhirat demi 90 menit kesenangan dunia. Wallahu Ta‘ala a‘lam.Baca juga: Syarat Boleh Bermain Sepakbola dan Futsal***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Referensi:[1] https://share.google/Q3TRrFhmqzqQ0MgBx[2] Fatawa Islamiyyah, 4: 431.[3] Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 15: 238.


Daftar Isi ToggleIslam tidak mengharamkan hiburanKapan menonton bola menjadi dilarang?Melalaikan dari kewajiban, terutama salatAdanya kemaksiatan dalam acara pertandinganFanatisme buta dan permusuhanMengagungkan tokoh non-MuslimPemborosan waktu dan hartaPendapat para ulama tentang sepak bolaHiburan dalam Islam diperbolehkan dengan batasSepak bola adalah olahraga paling populer di dunia. Hampir setiap negara memiliki klub, tim nasional, dan suporter fanatiknya. Stadion penuh, layar televisi ramai, media sosial riuh dengan komentar dan analisis. Pertandingan besar seperti Piala Dunia, Liga Champions, atau Liga Indonesia bisa membuat jutaan manusia terpaku berjam-jam di depan layar.Namun, di balik keseruan itu, seorang Muslim hendaknya tidak kehilangan kesadaran akan pertanyaan penting:“Apakah menonton pertandingan sepak bola dibolehkan dalam Islam?”“Apakah sekadar hiburan, ataukah termasuk kelalaian dan kemaksiatan jika berlebihan?”Pertanyaan muncul bukan karena Islam anti-hiburan, tetapi karena Islam adalah agama yang mengatur segala aspek kehidupan, termasuk cara seorang Muslim mengisi waktu luangnya.Islam tidak mengharamkan hiburanIslam adalah agama fitrah. Ia tidak melarang kesenangan selama berada dalam koridor yang benar. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ“Katakanlah (wahai Muhammad): Siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah yang telah Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya, serta rezeki yang baik-baik itu?” (QS. Al-A‘raf: 32)Ayat ini menegaskan bahwa hiburan, permainan, dan olahraga yang dilakukan dengan niat baik dan tidak melanggar syariat adalah hal yang mubah (boleh). Maka, sepak bola sebagai olahraga jasmani yang mengandung unsur latihan, kekompakan, dan semangat, secara asal hukum adalah boleh. Namun, seperti halnya setiap perkara dunia, hukum asal yang mubah bisa berubah menjadi haram, makruh, atau bahkan berpahala, tergantung niat dan cara pelaksanaannya.Kapan menonton bola menjadi dilarang?Dalam pandangan Islam, suatu aktivitas akan menjadi terlarang jika mengandung unsur yang melanggar batas syariat. Berikut beberapa hal yang menjadikan menonton pertandingan sepak bola tidak dibolehkan:Melalaikan dari kewajiban, terutama salatBanyak orang rela menunda bahkan meninggalkan salat demi menonton pertandingan. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ، الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ“Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu mereka yang lalai dari salatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4–5)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ، وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ“Pokok urusan adalah Islam, dan tiangnya adalah salat.” (HR. Tirmidzi)Betapa banyak orang yang rela duduk berjam-jam di depan layar menonton bola, tetapi berat melangkah lima menit ke masjid. Padahal, satu rakaat salat lebih berharga daripada seluruh pertandingan dunia.Adanya kemaksiatan dalam acara pertandinganDi stadion atau siaran televisi, sering ditampilkan hal-hal yang melanggar syariat: musik keras, aurat terbuka, campur baur antara laki-laki dan perempuan, bahkan iklan minuman keras atau judi.Menonton hal-hal semacam itu tanpa mengingkari termasuk perbuatan dosa, karena berarti rida terhadap kemaksiatan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ“Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kalian dalam Kitab, bahwa apabila kalian mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kalian duduk bersama mereka…” (QS. An-Nisa’: 140)Menonton dengan sadar sebuah acara yang penuh kemaksiatan tanpa niat mengingkari adalah bentuk pembiaran terhadap dosa.Fanatisme buta dan permusuhanRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dengan tegas,دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ“Tinggalkan fanatisme (‘ashabiyyah), karena itu adalah bau busuk (jahiliyah).” (Muttafaqun ‘alaihi)Fanatisme terhadap klub sepak bola telah membuat banyak orang saling mencaci, menghina, bahkan berkelahi hingga menumpahkan darah. Sementara sesama Muslim seharusnya bersaudara. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10)Jika dukungan kepada klub menghapus ukhuwah Islamiyyah, maka itu bukan lagi sekadar hiburan, tetapi penyakit hati.Mengagungkan tokoh non-MuslimBanyak pemain terkenal adalah non-Muslim yang secara terbuka menampakkan syirik atau kekufuran. Menjadikan mereka idola, meniru gaya hidup, ucapan, atau bahkan ritual mereka adalah bentuk tasyabbuh (penyerupaan) yang dilarang.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud)Maka, seorang Muslim hendaknya berhati-hati agar tidak menaruh cinta dan kekaguman yang berlebihan kepada tokoh non-Muslim, apalagi sampai mengidolakan mereka, lebih dari kecintaannya kepada orang beriman.Pemborosan waktu dan hartaBanyak orang rela menghabiskan uang besar demi tiket stadion, pernak-pernik klub, atau bahkan perjalanan ke luar negeri. Padahal, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا، إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ“Janganlah kamu berlebih-lebihan dalam membelanjakan harta, sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra’: 26–27)Waktu yang dihabiskan berjam-jam menonton, berdiskusi, dan bertengkar di media sosial bisa digunakan untuk membaca Al-Qur’an, membantu keluarga, atau menuntut ilmu.Baca juga: Masalah Menang-Kalah Bola Itu Sepele, Tidak BernilaiPendapat para ulama tentang sepak bolaSyekh Ibnu Baz rahimahullah berkata,فالذي نعتقده اليوم: أن فعلها محرم، وأنها منكر، إلا إذا التزم أهلها بالستر، وحفظ الأوقات، وإقامة الصلوات في وقتها، وصار لعبها في وقت خاص محدود، لا يتجاوزه إلى أن يضيعوا به الصلوات، إما المشاهدون، وإما اللاعبون، وإما الجميع، هذا الواقع نسأل الله السلامة“Yang kami yakini saat ini adalah bahwa melakukannya haram dan termasuk kemungkaran, kecuali jika para pelakunya berkomitmen untuk menutup aurat, menjaga waktu, menegakkan salat tepat pada waktunya, dan menjadikannya pada waktu khusus yang terbatas, sehingga tidak sampai melalaikan salat, baik bagi penonton, pemain, maupun keduanya. Inilah kenyataan yang ada. Kita memohon keselamatan kepada Allah.” [1]Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah juga menyampaikan,إذا كان الممارس للرياضة ليس عليه إلا سروال قصير يبدو منه فخذه أو أكثره فإنه لا يجوز ، فإن الصحيح أنه يجب على الشباب ستر أفخاذهم ، وأنه لا يجوز مشاهدة اللاعبين وهم بهذه الحالة من الكشف عن أفخاذهم“Jika orang yang berolahraga hanya memakai celana pendek yang menampakkan pahanya atau sebagian besarnya, maka itu tidak boleh. Pendapat yang benar adalah bahwa para pemuda wajib menutup paha mereka, dan tidak boleh menonton para pemain dalam keadaan mereka membuka paha seperti itu.” [2]Al-Lajnah Ad-Daimah lil Ifta’ mengeluarkan fatwa mengenai hukum menonton pertandingan sepak bola dan menyampaikan,إذا كانت المباراة على غير عوض ولم تشغل عما أوجب الله من الصلاة وغيرها ، ولم تشتمل على محظور : ككشف العورات ، أو اختلاط النساء بالرجال ، أو وجود آلات لهو – فلا حرج فيها ولا في مشاهدتها“Jika pertandingan itu tanpa hadiah (taruhan), tidak melalaikan dari kewajiban seperti salat dan lainnya, serta tidak mengandung hal yang terlarang seperti membuka aurat, campur baur laki-laki dan perempuan, atau adanya alat-alat hiburan (yang haram), maka tidak mengapa melakukannya maupun menontonnya.” [3]Hiburan dalam Islam diperbolehkan dengan batasPertama: Hiburan dalam Islam tidak boleh melalaikan dari Allah. Allah ‘Azza wa Jalla mengingatkan,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah.” (QS. Al-Munafiqun: 9)Maka, jangan sampai hiburan seperti sepak bola membuat seseorang lupa berzikir, enggan membaca Al-Qur’an, atau malas menuntut ilmu.Kedua: Cinta terhadap klub atau pemain boleh saja, namun tidak boleh melebihi cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dengan tegas,قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ… أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ… فَتَرَبَّصُوا“Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara kalian… lebih kalian cintai daripada Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya, maka tunggulah (azab) sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” (QS. At-Taubah: 24)Ketiga: Menonton bola bukan dosa selama kita mampu menjaga batasnya. Akan tetapi, bila pertandingan bola membuat kita lupa kepada Allah, maka itu adalah bencana.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ لرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقّاً، ولأهلِك عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّه“Sesungguhnya Rabbmu memiliki hak atasmu, dan dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu. Maka, berikanlah kepada masing-masing haknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Keempat: Kita boleh menonton bola, tetapi jangan sampai bola membuat kita lupa hak Allah, yaitu hak berupa ibadah dan ketaatan.Ingatlah firman Allah ‘Azza wa Jalla,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzāriyāt: 56)Menonton bola tidak akan menyelamatkan seseorang di kubur, tidak akan menambah pahala kecuali jika disertai niat baik dan kendali iman. Maka, nikmatilah hiburan dalam kadar yang wajar, jaga hati, dan jangan gadaikan akhirat demi 90 menit kesenangan dunia. Wallahu Ta‘ala a‘lam.Baca juga: Syarat Boleh Bermain Sepakbola dan Futsal***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Referensi:[1] https://share.google/Q3TRrFhmqzqQ0MgBx[2] Fatawa Islamiyyah, 4: 431.[3] Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 15: 238.

Tanda-Tanda Kamu Sudah Tidak Dijaga Allah – Syaikh Muhammad bin Ramzan Al-Hajiri #NasehatUlama

Jika engkau mendapati anggota tubuhmu mulai lepas kendali dalam bermaksiat, ​​maka ketahuilah, engkau sedang tidak berada dalam penjagaan Allah. Kembalilah! Segeralah kembali!Ketika matamu menyimpang kepada yang haram, waspadalah! Engkau sedang tidak dalam perlindungan Allah. “Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” (HR. At-Tirmidzi). Begitu pula jika engkau mendapati kemaluanmu, perutmu, pendengaranmu, dan lisanmu, mulai melampaui batas, segeralah kembali! Cepatlah kembali kepada Allah! Bertaubatlah kepada Allah! Dosa yang telah dicatat untukmu akan dihapuskan dengan izin Allah Azza wa Jalla. “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan dosa perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Hud: 114). “Dan iringilah perbuatan buruk itu dengan perbuatan baik…” (HR. At-Tirmidzi). Siapa yang mengatakan bahwa amal baik adalah penghapus dosa? Siapa yang menetapkan hal ini? Siapa yang mengatakannya? Allah Azza wa Jalla. “Dan iringilah perbuatan buruk itu dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya.” (HR. At-Tirmidzi). Jika kakimu tergelincir (ke tempat maksiat), pergilah ke masjid! Jika pandanganmu tergelincir (melihat yang haram), bukalah Al-Qur’an dan bacalah! Gantilah keburukan itu dengan kebaikan! Jika tanganmu berbuat salah, atau apa pun kesalahan yang engkau lakukan, segera perbaiki! Jangan terus larut dalam maksiat tersebut! Sebab, setan akan terus menghiasi maksiat itu agar engkau terus melakukannya tanpa henti sampai tiba-tiba kematian datang menjemput! Saat maut tiba, engkau baru tersadar. Ingin kembali? Sudah tidak ada lagi jalan untuk kembali. “Ya Tuhanku kembalikanlah aku ke dunia…” (QS. Al-Mu’minun: 99). “…agar aku dapat beramal saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding (alam barzakh), sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 100). Segalanya telah berakhir! Waktu untuk beramal sudah habis, sekarang adalah waktu untuk menerima balasan. Apa yang bisa kau lakukan sekarang? Maka, bertaubatlah kepada Allah, sekarang juga! Perbaikilah dirimu! Jika ada riba, tinggalkan! Berbuat syirik? Gantilah dengan tauhid. Berbuat bid’ah? Gantilah dengan sunnah. Berbuat maksiat? Gantilah dengan ketaatan. Jika memutus silaturahmi, segera sambung kembali dengan kerabatmu. Ayah, paman, saudara perempuan, paman atau bibi dari jalur ibu maupun ayah, mulailah dari kerabat terdekat. Jika hubungan dengan tetangga buruk, perbaikilah! Jika engkau bersikap buruk kepada saudara dan sahabatmu, ubahlah sikapmu! Perbaiki semuanya mulai detik ini! Mulailah berbenah, jadikan dirimu lebih baik dari dirimu sebelumnya. Berbenahlah! Kesempatan untuk memperbaiki diri masih ada padamu. Bertaubatlah kepada Allah! Sungguh, Allah Azza wa Jalla sangat mencintai hamba-Nya yang datang kembali kepada-Nya. Dia mencintai hamba-Nya yang terus-menerus meminta. Allah mencintai hamba yang terus-menerus memohon kepada-Nya: “Ya Rabb, ya Rabb, ya Rabb…”hingga engkau kembali dengan kesadaran penuh. Niscaya Allah Azza wa Jalla akan melindungimu. Allah akan membantumu, dan memberimu taufik. Selalulah merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla dalam setiap amalmu. Milikilah amalan-amalan rahasia antara engkau dengan Allah. Lakukanlah amal-amal kebaikan yang tidak diketahui oleh siapa pun. Selama ini engkau sangat menjaga agar dosa-dosamu tidak diketahui oleh seorang pun. Maka, waspadalah terhadap dosa yang dilakukan saat sendirian! Karena dosa itulah yang mencelakakan pelakunya. Di antara sebab terbesar dari gelapnya wajah, hidup yang sengsara, sempitnya jiwa, urusan serba sulit, dan beratnya kehidupan, sebabnya adalah dosa yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Bahkan, kelak di hari kiamat ada orang-orang yang datang membawa pahala sebesar gunung-gunung di Tihamah, tapi Allah menjadikannya debu yang berterbangan, karena jika mereka sedang sendirian, mereka berani melanggar larangan-larangan Allah. Milikilah amalan rahasia! Demi Allah, salah satu kunci utama lapangnya dada, luasnya rezeki, cerahnya wajah, mudahnya segala urusan, serta baiknya keturunan adalah ketaatan yang dilakukan di kala sunyi. Milikilah amal-amal rahasia antara engkau dengan Allah, setetes air mata yang tak seorang pun tahu, kesulitan orang lain yang engkau ringankan tanpa ada orang yang tahu, atau hajat seseorang yang engkau penuhi secara sembunyi-sembunyi. Tanpa ada seorang pun yang tahu. Entah itu janda, anak yatim, orang miskin, dhuafa, anak yatim, atau siapa pun yang memerlukan. Milikilah amal-amal rahasia di hadapan Allah Azza wa Jalla yang tak seorang pun tahu. Sebab, sebagaimana dosa di kala sunyi itu membinasakan, maka ketaatan di kala sunyi adalah yang menyelamatkan. ===== ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ لَمْ يَتَزَوَّجْ وَلَعَلَّ اللهَ تَعَالَى أَرَادَ خَيْرًا بِهَذِهِ الْأُمَّةِ يَعْنِي لَوْ تَزَوَّجَ رُبَّمَا اشْتَغَلَ بِأُسْرَتِهِ وَنَحْوِ ذَلِكَ لَكِنَّهُ تَفَرَّغَ لِلْعِلْمِ وَالدَّعْوَةِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهُوَ لَمْ يَتَزَوَّجْ وَكَانَ الْقَائِمُ عَلَيْهِ أَخُوهُ وَكَانَ يَجْلِسُ بِحَضْرَتِهِ كَأَنَّ عَلَى رَأْسِهِ الطَّيْرُ وَكَانَ يَهَابُهُ كَمَا يَهَابُ سُلْطَانًا وَكُنَّا نَعْجَبُ مِنْهُ فِي ذَلِكَ وَنَقُولُ: مِنَ الْعُرْفِ وَالْعَادَةِ أَنَّ أَهْلَ الرَّجُلِ لَا يَحْتَشِمُونَ كَالْأَجَانِبِ بَلْ يَكُونُ انْبِسَاطُهُمْ مَعَهُ فَضْلًا عَنِ الْأَجْنَبِيِّ وَنَحْنُ نَرَاكَ مَعَ الشَّيْخِ كَتِلْمِيذٍ مُبَالِغٍ فِي احْتِشَامِهِ وَاحْتِرَامِهِ فَيَقُولُ: إِنِّي أَرَى مِنْهُ أَشْيَاءَ لَا يَرَاهَا غَيْرِي أَوْجَبَتْ عَلَيَّ أَنْ أَكُونَ مَعَهُ كَمَا تَرَوْنَ يَعْنِي كَمَا يُقَالُ: أَزْهَدُ النَّاسِ فِي الْعَالِمِ أَهْلُهُ فَيَعْنِي أَهْلَ الْعَالِمِ لَا يَحْتَرِمُونَ كَمَا يَحْتَرِمُ الْعَالِمَ غَيْرُهُمْ لَكِن هَذِهِ الْقَاعِدَةُ خَرَقَهَا ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ أَخُوهُ كَانَ يَحْتَرِمُهُ احْتِرَامًا شَدِيدًا يَهَابُهُ كَمَا يَهَابُ السُّلْطَانَ كَأَنَّ عَلَى رَأْسِهِ الطَّيْرُ فَكَانُوا يَتَعَجَّبُونَ مِنْهُ يَعْنِي يَقُولُونَ هُوَ أَخُوكَ الْعَادَةُ أَنَّ يَعْنِي أَهْلَ الْإِنْسَانِ لَا يَحْتَشِمُونَهُ وَيَتَبَسَّطُونَ مَعَهُ وَنَحْوِ ذَلِكَ فَيَقُولُ: إِنِّي أَرَى مَا لَا تَرَوْنَ أَرَى مِنْ هَذَا الرَّجُلِ أَشْيَاءَ أَوْجَبَتْ أَنْ أَكُونَ مَعَهُ كَمَا تَرَوْنَ أَرَى عَجَائِبَ فِي شَخْصِيَّتِهِ وَفِي سِيرَتِهِ أَعْطَتْهُ هَذِهِ الْمَهَابَةَ الْعَظِيمَةَ فَهَذَا مِنْ مَنَاقِبِ هَذَا الْإِمَامِ رَحِمَهُ اللهُ أَيْضًا مِمَّا ذَكَرَهُ أَبُو حَفْصٍ الْبَزَّارُ فِي هَذَا الْكِتَابِ الْفَائِدَةُ رَقْمُ ٤٤٨ ذَكَرَ عَجَبًا يَعْنِي مِنْ حَالِهِ وَقْتَ طُفُولَتِهِ قَالَ حَدَّثَنِي مَنْ أَثِقُ بِهِ يَقُولُ الْبَزَّارُ: حَدَّثَنِي مَنْ أَثِقُ بِهِ عَنْ شَيْخِهِ الَّذِي عَلَّمَهُ الْقُرْآنَ يَعْنِي عَنْ شَيْخِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ الَّذِي عَلَّمَهُ الْقُرْآنَ قَالَ قَالَ لِي أَبُوهُ… هُوَ عَبْدُ السَّلَامِ هُوَ أَبُو أَحْمَدَ بْنُ عَبْدِ السَّلَامِ قَالَ لِي أَبُوهُ وَهُوَ صَبِيٌّ يَعْنِي الشَّيْخُ أُحِبُّ أَنْ تُوصِيَهُ بِأَلَّا يَنْقَطِعَ يَعْنِي يَسْتَمِرُّ فِي حِفْظِ الْقُرْآنِ وَأَدْفَعُ إِلَيْكَ كُلَّ شَهْرٍ أَرْبَعِينَ دِرْهَمًا وَقَالَ أَعْطِهِ إِيَّاهَا فَإِنَّهُ صَغِيرٌ وَقُلْ لَهُ: لَكَ فِي كُلِّ شَهْرٍ مِثْلَهَا فَامْتَنَعَ يَعْنِي ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ امْتَنَعَ مِنْ قَبُولِهَا وَقَالَ: إِنِّي عَاهَدْتُ اللهَ تَعَالَى عَلَى أَلَّا آخُذَ عَلَى الْقُرْآنِ أَجْرًا وَلَمْ يَأْخُذْهَا فَرَأَيْتُ أَنَّ هَذَا لَا يَقَعُ مِنْ صَبِيٍّ إِلَّا لِمَا لِلهِ فِيهِ مِنَ الْعِنَايَةِ اللهُ أَكْبَرُ قُلْتُ: وَصَدَقَ شَيْخُهُ فَإِنَّ عِنَايَةَ اللهِ هِيَ الَّتِي أَوْصَلَتْهُ إِلَى مَا وَصَلَ مِنْ كُلِّ خَيْرٍ يَعْنِي هَذَا وَهُوَ صَبِيٌّ وَهُوَ صَبِيٌّ أَبُوهُ أَعْطَى مُعَلِّمَ الْقُرْآنِ وَقَالَ لَهُ: سَأُعْطِيكَ كُلَّ شَهْرٍ أَرْبَعِينَ دِرْهَمًا أَهَمُّ شَيْءٍ أَنَّهُ يَسْتَمِرُّ فَرَفَضَ أَنْ يَقْبَلَهَا وَانْظُرْ إِلَى الْجَوَابِ مَاذَا قَالَ؟ قَالَ: عَاهَدْتُ اللهَ أَلَّا آخُذَ عَلَى الْقُرْآنِ أَجْرًا وَهُوَ فِي تِلْكَ السِّنِّ فَتَعَجَّبُوا مِنْهُ كَيْفَ يَقَعُ هَذَا مِنْ صَبِيٍّ فَقَالُوا هَذَا يَدُلُّ عَلَى عِنَايَةِ اللهِ تَعَالَى الْعَظِيمَةِ بِهَذَا الرَّجُلِ مُنْذُ نَشْأَتِهِ فَيَعْنِي هَؤُلَاءِ الْأَئِمَّةُ يَعْنِي يُرَى لُطْفُ اللهِ وَعِنَايَتُهُ بِهِمْ مِنْ حِينِ نَشْأَتِهِمْ فَعِنْدَمَا نَرَى مَثَلًا فِي سِيَرِ الْأَئِمَّةِ كَالْإِمَامِ أَحْمَدَ وَالْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ وَكَثِيرٍ مِنَ الْأَئِمَّةِ نَجِدُ الْعِنَايَةَ وَاللُّطْفَ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِهَؤُلَاءِ مُنْذُ نَشْأَتِهِمْ يَعْنِي كَمَا يُقَالُ لَيْسَ لَهُمْ صَبْوَةٌ نَشَأُوا فِي طَاعَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَمِثْلُ هَذَا يَعْنِي التَّصَرُّفُ وَهَذَا الْجَوَابُ يَعْنِي لَا يَكُونُ إِلَّا مِنْ إِنْسَانٍ كَبِيرٍ يَعْنِي هَذَا صَبِيٌّ وَمُحْتَاجٌ وَمَعَ ذَلِكَ لَمْ يَقْبَلْ هَذَا الْمَبْلَغَ لَمْ يَقْبَلْ أَنْ يَأْخُذَ هَذِهِ الدَّرَاهِمَ سُبْحَانَ اللهِ فَتَعَجَّبُوا مِنْهُ وَقَالُوا إِنَّ هَذَا لَا يَقَعُ مِنْ صَبِيٍّ إِلَّا لِمَا جَعَلَ اللهُ تَعَالَى فِيهِ مِنَ الْعِنَايَةِ وَاللُّطْفِ وَالِاخْتِيَارِ فَاللهُ تَعَالَى يَخْتَارُ أَئِمَّةً وَعُلَمَاءَ يَصْطَفِيهِمْ وَيَجْتَبِيهِمْ مُنْذُ نَشْأَتِهِمْ وَصِغَرِهِمْ وَيُرَى آثَارُ اللُّطْفِ وَالْعِنَايَةِ عَلَى سِيَرِهِمْ أَيْضًا ذَكَرَ الْبَزَّارُ فِي الْكِتَابِ نَفْسِهِ قِصَّةً أُخْرَى قَالَ إِنَّ الشَّيْخَ حَالَ صِبَاهُ كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَذْهَبَ إِلَى الْكَتَاتِيبِ يَعْتَرِضُهُ يَهُودِيٌّ كَانَ مَنْزِلُهُ بطَرِيقِهِ وَيَسْأَلُهُ عَنْ مَسَائِلَ لِمَا رَأَى فِيهِ مِنَ الذَّكَاءِ وَالْفِطْنَةِ فَكَانَ يُجِيبُهُ سَرِيعًا بِسُرْعَةِ بَدِيهَةٍ وَذَكَاءٍ حَتَّى تَعَجَّبَ مِنْهُ وَسُبْحَانَ اللهِ يَعْنِي مِنْ هَذِهِ الْأَجْوِبَةِ أَسْلَمَ هَذَا الْيَهُودِيُّ وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ اِسْتَطَاعَ هَذَا الصَّبِيُّ أَنْ يُقْنِعَ هَذَا الْيَهُودِيَّ بِـأَنَّ الْإِسْلَامَ هُوَ الدِّينُ الْحَقُّ فَأَسْلَمَ وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ فَهُوَ هَذَا وَهُوَ صَبِيٌّ وَهُوَ صَبِيٌّ فَهَذَا يَدُلُّ عَلَى الْعِنَايَةِ الْعَظِيمَةِ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاللُّطْفِ بِهَذَا الْإِمَامِ مُنْذُ نَشْأَتِهِ وَمُنْذُ صِغَرِهِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَجَزَاهُ عَنِ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ خَيْرَ الْجَزَاءِ

Tanda-Tanda Kamu Sudah Tidak Dijaga Allah – Syaikh Muhammad bin Ramzan Al-Hajiri #NasehatUlama

Jika engkau mendapati anggota tubuhmu mulai lepas kendali dalam bermaksiat, ​​maka ketahuilah, engkau sedang tidak berada dalam penjagaan Allah. Kembalilah! Segeralah kembali!Ketika matamu menyimpang kepada yang haram, waspadalah! Engkau sedang tidak dalam perlindungan Allah. “Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” (HR. At-Tirmidzi). Begitu pula jika engkau mendapati kemaluanmu, perutmu, pendengaranmu, dan lisanmu, mulai melampaui batas, segeralah kembali! Cepatlah kembali kepada Allah! Bertaubatlah kepada Allah! Dosa yang telah dicatat untukmu akan dihapuskan dengan izin Allah Azza wa Jalla. “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan dosa perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Hud: 114). “Dan iringilah perbuatan buruk itu dengan perbuatan baik…” (HR. At-Tirmidzi). Siapa yang mengatakan bahwa amal baik adalah penghapus dosa? Siapa yang menetapkan hal ini? Siapa yang mengatakannya? Allah Azza wa Jalla. “Dan iringilah perbuatan buruk itu dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya.” (HR. At-Tirmidzi). Jika kakimu tergelincir (ke tempat maksiat), pergilah ke masjid! Jika pandanganmu tergelincir (melihat yang haram), bukalah Al-Qur’an dan bacalah! Gantilah keburukan itu dengan kebaikan! Jika tanganmu berbuat salah, atau apa pun kesalahan yang engkau lakukan, segera perbaiki! Jangan terus larut dalam maksiat tersebut! Sebab, setan akan terus menghiasi maksiat itu agar engkau terus melakukannya tanpa henti sampai tiba-tiba kematian datang menjemput! Saat maut tiba, engkau baru tersadar. Ingin kembali? Sudah tidak ada lagi jalan untuk kembali. “Ya Tuhanku kembalikanlah aku ke dunia…” (QS. Al-Mu’minun: 99). “…agar aku dapat beramal saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding (alam barzakh), sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 100). Segalanya telah berakhir! Waktu untuk beramal sudah habis, sekarang adalah waktu untuk menerima balasan. Apa yang bisa kau lakukan sekarang? Maka, bertaubatlah kepada Allah, sekarang juga! Perbaikilah dirimu! Jika ada riba, tinggalkan! Berbuat syirik? Gantilah dengan tauhid. Berbuat bid’ah? Gantilah dengan sunnah. Berbuat maksiat? Gantilah dengan ketaatan. Jika memutus silaturahmi, segera sambung kembali dengan kerabatmu. Ayah, paman, saudara perempuan, paman atau bibi dari jalur ibu maupun ayah, mulailah dari kerabat terdekat. Jika hubungan dengan tetangga buruk, perbaikilah! Jika engkau bersikap buruk kepada saudara dan sahabatmu, ubahlah sikapmu! Perbaiki semuanya mulai detik ini! Mulailah berbenah, jadikan dirimu lebih baik dari dirimu sebelumnya. Berbenahlah! Kesempatan untuk memperbaiki diri masih ada padamu. Bertaubatlah kepada Allah! Sungguh, Allah Azza wa Jalla sangat mencintai hamba-Nya yang datang kembali kepada-Nya. Dia mencintai hamba-Nya yang terus-menerus meminta. Allah mencintai hamba yang terus-menerus memohon kepada-Nya: “Ya Rabb, ya Rabb, ya Rabb…”hingga engkau kembali dengan kesadaran penuh. Niscaya Allah Azza wa Jalla akan melindungimu. Allah akan membantumu, dan memberimu taufik. Selalulah merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla dalam setiap amalmu. Milikilah amalan-amalan rahasia antara engkau dengan Allah. Lakukanlah amal-amal kebaikan yang tidak diketahui oleh siapa pun. Selama ini engkau sangat menjaga agar dosa-dosamu tidak diketahui oleh seorang pun. Maka, waspadalah terhadap dosa yang dilakukan saat sendirian! Karena dosa itulah yang mencelakakan pelakunya. Di antara sebab terbesar dari gelapnya wajah, hidup yang sengsara, sempitnya jiwa, urusan serba sulit, dan beratnya kehidupan, sebabnya adalah dosa yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Bahkan, kelak di hari kiamat ada orang-orang yang datang membawa pahala sebesar gunung-gunung di Tihamah, tapi Allah menjadikannya debu yang berterbangan, karena jika mereka sedang sendirian, mereka berani melanggar larangan-larangan Allah. Milikilah amalan rahasia! Demi Allah, salah satu kunci utama lapangnya dada, luasnya rezeki, cerahnya wajah, mudahnya segala urusan, serta baiknya keturunan adalah ketaatan yang dilakukan di kala sunyi. Milikilah amal-amal rahasia antara engkau dengan Allah, setetes air mata yang tak seorang pun tahu, kesulitan orang lain yang engkau ringankan tanpa ada orang yang tahu, atau hajat seseorang yang engkau penuhi secara sembunyi-sembunyi. Tanpa ada seorang pun yang tahu. Entah itu janda, anak yatim, orang miskin, dhuafa, anak yatim, atau siapa pun yang memerlukan. Milikilah amal-amal rahasia di hadapan Allah Azza wa Jalla yang tak seorang pun tahu. Sebab, sebagaimana dosa di kala sunyi itu membinasakan, maka ketaatan di kala sunyi adalah yang menyelamatkan. ===== ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ لَمْ يَتَزَوَّجْ وَلَعَلَّ اللهَ تَعَالَى أَرَادَ خَيْرًا بِهَذِهِ الْأُمَّةِ يَعْنِي لَوْ تَزَوَّجَ رُبَّمَا اشْتَغَلَ بِأُسْرَتِهِ وَنَحْوِ ذَلِكَ لَكِنَّهُ تَفَرَّغَ لِلْعِلْمِ وَالدَّعْوَةِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهُوَ لَمْ يَتَزَوَّجْ وَكَانَ الْقَائِمُ عَلَيْهِ أَخُوهُ وَكَانَ يَجْلِسُ بِحَضْرَتِهِ كَأَنَّ عَلَى رَأْسِهِ الطَّيْرُ وَكَانَ يَهَابُهُ كَمَا يَهَابُ سُلْطَانًا وَكُنَّا نَعْجَبُ مِنْهُ فِي ذَلِكَ وَنَقُولُ: مِنَ الْعُرْفِ وَالْعَادَةِ أَنَّ أَهْلَ الرَّجُلِ لَا يَحْتَشِمُونَ كَالْأَجَانِبِ بَلْ يَكُونُ انْبِسَاطُهُمْ مَعَهُ فَضْلًا عَنِ الْأَجْنَبِيِّ وَنَحْنُ نَرَاكَ مَعَ الشَّيْخِ كَتِلْمِيذٍ مُبَالِغٍ فِي احْتِشَامِهِ وَاحْتِرَامِهِ فَيَقُولُ: إِنِّي أَرَى مِنْهُ أَشْيَاءَ لَا يَرَاهَا غَيْرِي أَوْجَبَتْ عَلَيَّ أَنْ أَكُونَ مَعَهُ كَمَا تَرَوْنَ يَعْنِي كَمَا يُقَالُ: أَزْهَدُ النَّاسِ فِي الْعَالِمِ أَهْلُهُ فَيَعْنِي أَهْلَ الْعَالِمِ لَا يَحْتَرِمُونَ كَمَا يَحْتَرِمُ الْعَالِمَ غَيْرُهُمْ لَكِن هَذِهِ الْقَاعِدَةُ خَرَقَهَا ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ أَخُوهُ كَانَ يَحْتَرِمُهُ احْتِرَامًا شَدِيدًا يَهَابُهُ كَمَا يَهَابُ السُّلْطَانَ كَأَنَّ عَلَى رَأْسِهِ الطَّيْرُ فَكَانُوا يَتَعَجَّبُونَ مِنْهُ يَعْنِي يَقُولُونَ هُوَ أَخُوكَ الْعَادَةُ أَنَّ يَعْنِي أَهْلَ الْإِنْسَانِ لَا يَحْتَشِمُونَهُ وَيَتَبَسَّطُونَ مَعَهُ وَنَحْوِ ذَلِكَ فَيَقُولُ: إِنِّي أَرَى مَا لَا تَرَوْنَ أَرَى مِنْ هَذَا الرَّجُلِ أَشْيَاءَ أَوْجَبَتْ أَنْ أَكُونَ مَعَهُ كَمَا تَرَوْنَ أَرَى عَجَائِبَ فِي شَخْصِيَّتِهِ وَفِي سِيرَتِهِ أَعْطَتْهُ هَذِهِ الْمَهَابَةَ الْعَظِيمَةَ فَهَذَا مِنْ مَنَاقِبِ هَذَا الْإِمَامِ رَحِمَهُ اللهُ أَيْضًا مِمَّا ذَكَرَهُ أَبُو حَفْصٍ الْبَزَّارُ فِي هَذَا الْكِتَابِ الْفَائِدَةُ رَقْمُ ٤٤٨ ذَكَرَ عَجَبًا يَعْنِي مِنْ حَالِهِ وَقْتَ طُفُولَتِهِ قَالَ حَدَّثَنِي مَنْ أَثِقُ بِهِ يَقُولُ الْبَزَّارُ: حَدَّثَنِي مَنْ أَثِقُ بِهِ عَنْ شَيْخِهِ الَّذِي عَلَّمَهُ الْقُرْآنَ يَعْنِي عَنْ شَيْخِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ الَّذِي عَلَّمَهُ الْقُرْآنَ قَالَ قَالَ لِي أَبُوهُ… هُوَ عَبْدُ السَّلَامِ هُوَ أَبُو أَحْمَدَ بْنُ عَبْدِ السَّلَامِ قَالَ لِي أَبُوهُ وَهُوَ صَبِيٌّ يَعْنِي الشَّيْخُ أُحِبُّ أَنْ تُوصِيَهُ بِأَلَّا يَنْقَطِعَ يَعْنِي يَسْتَمِرُّ فِي حِفْظِ الْقُرْآنِ وَأَدْفَعُ إِلَيْكَ كُلَّ شَهْرٍ أَرْبَعِينَ دِرْهَمًا وَقَالَ أَعْطِهِ إِيَّاهَا فَإِنَّهُ صَغِيرٌ وَقُلْ لَهُ: لَكَ فِي كُلِّ شَهْرٍ مِثْلَهَا فَامْتَنَعَ يَعْنِي ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ امْتَنَعَ مِنْ قَبُولِهَا وَقَالَ: إِنِّي عَاهَدْتُ اللهَ تَعَالَى عَلَى أَلَّا آخُذَ عَلَى الْقُرْآنِ أَجْرًا وَلَمْ يَأْخُذْهَا فَرَأَيْتُ أَنَّ هَذَا لَا يَقَعُ مِنْ صَبِيٍّ إِلَّا لِمَا لِلهِ فِيهِ مِنَ الْعِنَايَةِ اللهُ أَكْبَرُ قُلْتُ: وَصَدَقَ شَيْخُهُ فَإِنَّ عِنَايَةَ اللهِ هِيَ الَّتِي أَوْصَلَتْهُ إِلَى مَا وَصَلَ مِنْ كُلِّ خَيْرٍ يَعْنِي هَذَا وَهُوَ صَبِيٌّ وَهُوَ صَبِيٌّ أَبُوهُ أَعْطَى مُعَلِّمَ الْقُرْآنِ وَقَالَ لَهُ: سَأُعْطِيكَ كُلَّ شَهْرٍ أَرْبَعِينَ دِرْهَمًا أَهَمُّ شَيْءٍ أَنَّهُ يَسْتَمِرُّ فَرَفَضَ أَنْ يَقْبَلَهَا وَانْظُرْ إِلَى الْجَوَابِ مَاذَا قَالَ؟ قَالَ: عَاهَدْتُ اللهَ أَلَّا آخُذَ عَلَى الْقُرْآنِ أَجْرًا وَهُوَ فِي تِلْكَ السِّنِّ فَتَعَجَّبُوا مِنْهُ كَيْفَ يَقَعُ هَذَا مِنْ صَبِيٍّ فَقَالُوا هَذَا يَدُلُّ عَلَى عِنَايَةِ اللهِ تَعَالَى الْعَظِيمَةِ بِهَذَا الرَّجُلِ مُنْذُ نَشْأَتِهِ فَيَعْنِي هَؤُلَاءِ الْأَئِمَّةُ يَعْنِي يُرَى لُطْفُ اللهِ وَعِنَايَتُهُ بِهِمْ مِنْ حِينِ نَشْأَتِهِمْ فَعِنْدَمَا نَرَى مَثَلًا فِي سِيَرِ الْأَئِمَّةِ كَالْإِمَامِ أَحْمَدَ وَالْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ وَكَثِيرٍ مِنَ الْأَئِمَّةِ نَجِدُ الْعِنَايَةَ وَاللُّطْفَ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِهَؤُلَاءِ مُنْذُ نَشْأَتِهِمْ يَعْنِي كَمَا يُقَالُ لَيْسَ لَهُمْ صَبْوَةٌ نَشَأُوا فِي طَاعَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَمِثْلُ هَذَا يَعْنِي التَّصَرُّفُ وَهَذَا الْجَوَابُ يَعْنِي لَا يَكُونُ إِلَّا مِنْ إِنْسَانٍ كَبِيرٍ يَعْنِي هَذَا صَبِيٌّ وَمُحْتَاجٌ وَمَعَ ذَلِكَ لَمْ يَقْبَلْ هَذَا الْمَبْلَغَ لَمْ يَقْبَلْ أَنْ يَأْخُذَ هَذِهِ الدَّرَاهِمَ سُبْحَانَ اللهِ فَتَعَجَّبُوا مِنْهُ وَقَالُوا إِنَّ هَذَا لَا يَقَعُ مِنْ صَبِيٍّ إِلَّا لِمَا جَعَلَ اللهُ تَعَالَى فِيهِ مِنَ الْعِنَايَةِ وَاللُّطْفِ وَالِاخْتِيَارِ فَاللهُ تَعَالَى يَخْتَارُ أَئِمَّةً وَعُلَمَاءَ يَصْطَفِيهِمْ وَيَجْتَبِيهِمْ مُنْذُ نَشْأَتِهِمْ وَصِغَرِهِمْ وَيُرَى آثَارُ اللُّطْفِ وَالْعِنَايَةِ عَلَى سِيَرِهِمْ أَيْضًا ذَكَرَ الْبَزَّارُ فِي الْكِتَابِ نَفْسِهِ قِصَّةً أُخْرَى قَالَ إِنَّ الشَّيْخَ حَالَ صِبَاهُ كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَذْهَبَ إِلَى الْكَتَاتِيبِ يَعْتَرِضُهُ يَهُودِيٌّ كَانَ مَنْزِلُهُ بطَرِيقِهِ وَيَسْأَلُهُ عَنْ مَسَائِلَ لِمَا رَأَى فِيهِ مِنَ الذَّكَاءِ وَالْفِطْنَةِ فَكَانَ يُجِيبُهُ سَرِيعًا بِسُرْعَةِ بَدِيهَةٍ وَذَكَاءٍ حَتَّى تَعَجَّبَ مِنْهُ وَسُبْحَانَ اللهِ يَعْنِي مِنْ هَذِهِ الْأَجْوِبَةِ أَسْلَمَ هَذَا الْيَهُودِيُّ وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ اِسْتَطَاعَ هَذَا الصَّبِيُّ أَنْ يُقْنِعَ هَذَا الْيَهُودِيَّ بِـأَنَّ الْإِسْلَامَ هُوَ الدِّينُ الْحَقُّ فَأَسْلَمَ وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ فَهُوَ هَذَا وَهُوَ صَبِيٌّ وَهُوَ صَبِيٌّ فَهَذَا يَدُلُّ عَلَى الْعِنَايَةِ الْعَظِيمَةِ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاللُّطْفِ بِهَذَا الْإِمَامِ مُنْذُ نَشْأَتِهِ وَمُنْذُ صِغَرِهِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَجَزَاهُ عَنِ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ خَيْرَ الْجَزَاءِ
Jika engkau mendapati anggota tubuhmu mulai lepas kendali dalam bermaksiat, ​​maka ketahuilah, engkau sedang tidak berada dalam penjagaan Allah. Kembalilah! Segeralah kembali!Ketika matamu menyimpang kepada yang haram, waspadalah! Engkau sedang tidak dalam perlindungan Allah. “Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” (HR. At-Tirmidzi). Begitu pula jika engkau mendapati kemaluanmu, perutmu, pendengaranmu, dan lisanmu, mulai melampaui batas, segeralah kembali! Cepatlah kembali kepada Allah! Bertaubatlah kepada Allah! Dosa yang telah dicatat untukmu akan dihapuskan dengan izin Allah Azza wa Jalla. “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan dosa perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Hud: 114). “Dan iringilah perbuatan buruk itu dengan perbuatan baik…” (HR. At-Tirmidzi). Siapa yang mengatakan bahwa amal baik adalah penghapus dosa? Siapa yang menetapkan hal ini? Siapa yang mengatakannya? Allah Azza wa Jalla. “Dan iringilah perbuatan buruk itu dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya.” (HR. At-Tirmidzi). Jika kakimu tergelincir (ke tempat maksiat), pergilah ke masjid! Jika pandanganmu tergelincir (melihat yang haram), bukalah Al-Qur’an dan bacalah! Gantilah keburukan itu dengan kebaikan! Jika tanganmu berbuat salah, atau apa pun kesalahan yang engkau lakukan, segera perbaiki! Jangan terus larut dalam maksiat tersebut! Sebab, setan akan terus menghiasi maksiat itu agar engkau terus melakukannya tanpa henti sampai tiba-tiba kematian datang menjemput! Saat maut tiba, engkau baru tersadar. Ingin kembali? Sudah tidak ada lagi jalan untuk kembali. “Ya Tuhanku kembalikanlah aku ke dunia…” (QS. Al-Mu’minun: 99). “…agar aku dapat beramal saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding (alam barzakh), sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 100). Segalanya telah berakhir! Waktu untuk beramal sudah habis, sekarang adalah waktu untuk menerima balasan. Apa yang bisa kau lakukan sekarang? Maka, bertaubatlah kepada Allah, sekarang juga! Perbaikilah dirimu! Jika ada riba, tinggalkan! Berbuat syirik? Gantilah dengan tauhid. Berbuat bid’ah? Gantilah dengan sunnah. Berbuat maksiat? Gantilah dengan ketaatan. Jika memutus silaturahmi, segera sambung kembali dengan kerabatmu. Ayah, paman, saudara perempuan, paman atau bibi dari jalur ibu maupun ayah, mulailah dari kerabat terdekat. Jika hubungan dengan tetangga buruk, perbaikilah! Jika engkau bersikap buruk kepada saudara dan sahabatmu, ubahlah sikapmu! Perbaiki semuanya mulai detik ini! Mulailah berbenah, jadikan dirimu lebih baik dari dirimu sebelumnya. Berbenahlah! Kesempatan untuk memperbaiki diri masih ada padamu. Bertaubatlah kepada Allah! Sungguh, Allah Azza wa Jalla sangat mencintai hamba-Nya yang datang kembali kepada-Nya. Dia mencintai hamba-Nya yang terus-menerus meminta. Allah mencintai hamba yang terus-menerus memohon kepada-Nya: “Ya Rabb, ya Rabb, ya Rabb…”hingga engkau kembali dengan kesadaran penuh. Niscaya Allah Azza wa Jalla akan melindungimu. Allah akan membantumu, dan memberimu taufik. Selalulah merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla dalam setiap amalmu. Milikilah amalan-amalan rahasia antara engkau dengan Allah. Lakukanlah amal-amal kebaikan yang tidak diketahui oleh siapa pun. Selama ini engkau sangat menjaga agar dosa-dosamu tidak diketahui oleh seorang pun. Maka, waspadalah terhadap dosa yang dilakukan saat sendirian! Karena dosa itulah yang mencelakakan pelakunya. Di antara sebab terbesar dari gelapnya wajah, hidup yang sengsara, sempitnya jiwa, urusan serba sulit, dan beratnya kehidupan, sebabnya adalah dosa yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Bahkan, kelak di hari kiamat ada orang-orang yang datang membawa pahala sebesar gunung-gunung di Tihamah, tapi Allah menjadikannya debu yang berterbangan, karena jika mereka sedang sendirian, mereka berani melanggar larangan-larangan Allah. Milikilah amalan rahasia! Demi Allah, salah satu kunci utama lapangnya dada, luasnya rezeki, cerahnya wajah, mudahnya segala urusan, serta baiknya keturunan adalah ketaatan yang dilakukan di kala sunyi. Milikilah amal-amal rahasia antara engkau dengan Allah, setetes air mata yang tak seorang pun tahu, kesulitan orang lain yang engkau ringankan tanpa ada orang yang tahu, atau hajat seseorang yang engkau penuhi secara sembunyi-sembunyi. Tanpa ada seorang pun yang tahu. Entah itu janda, anak yatim, orang miskin, dhuafa, anak yatim, atau siapa pun yang memerlukan. Milikilah amal-amal rahasia di hadapan Allah Azza wa Jalla yang tak seorang pun tahu. Sebab, sebagaimana dosa di kala sunyi itu membinasakan, maka ketaatan di kala sunyi adalah yang menyelamatkan. ===== ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ لَمْ يَتَزَوَّجْ وَلَعَلَّ اللهَ تَعَالَى أَرَادَ خَيْرًا بِهَذِهِ الْأُمَّةِ يَعْنِي لَوْ تَزَوَّجَ رُبَّمَا اشْتَغَلَ بِأُسْرَتِهِ وَنَحْوِ ذَلِكَ لَكِنَّهُ تَفَرَّغَ لِلْعِلْمِ وَالدَّعْوَةِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهُوَ لَمْ يَتَزَوَّجْ وَكَانَ الْقَائِمُ عَلَيْهِ أَخُوهُ وَكَانَ يَجْلِسُ بِحَضْرَتِهِ كَأَنَّ عَلَى رَأْسِهِ الطَّيْرُ وَكَانَ يَهَابُهُ كَمَا يَهَابُ سُلْطَانًا وَكُنَّا نَعْجَبُ مِنْهُ فِي ذَلِكَ وَنَقُولُ: مِنَ الْعُرْفِ وَالْعَادَةِ أَنَّ أَهْلَ الرَّجُلِ لَا يَحْتَشِمُونَ كَالْأَجَانِبِ بَلْ يَكُونُ انْبِسَاطُهُمْ مَعَهُ فَضْلًا عَنِ الْأَجْنَبِيِّ وَنَحْنُ نَرَاكَ مَعَ الشَّيْخِ كَتِلْمِيذٍ مُبَالِغٍ فِي احْتِشَامِهِ وَاحْتِرَامِهِ فَيَقُولُ: إِنِّي أَرَى مِنْهُ أَشْيَاءَ لَا يَرَاهَا غَيْرِي أَوْجَبَتْ عَلَيَّ أَنْ أَكُونَ مَعَهُ كَمَا تَرَوْنَ يَعْنِي كَمَا يُقَالُ: أَزْهَدُ النَّاسِ فِي الْعَالِمِ أَهْلُهُ فَيَعْنِي أَهْلَ الْعَالِمِ لَا يَحْتَرِمُونَ كَمَا يَحْتَرِمُ الْعَالِمَ غَيْرُهُمْ لَكِن هَذِهِ الْقَاعِدَةُ خَرَقَهَا ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ أَخُوهُ كَانَ يَحْتَرِمُهُ احْتِرَامًا شَدِيدًا يَهَابُهُ كَمَا يَهَابُ السُّلْطَانَ كَأَنَّ عَلَى رَأْسِهِ الطَّيْرُ فَكَانُوا يَتَعَجَّبُونَ مِنْهُ يَعْنِي يَقُولُونَ هُوَ أَخُوكَ الْعَادَةُ أَنَّ يَعْنِي أَهْلَ الْإِنْسَانِ لَا يَحْتَشِمُونَهُ وَيَتَبَسَّطُونَ مَعَهُ وَنَحْوِ ذَلِكَ فَيَقُولُ: إِنِّي أَرَى مَا لَا تَرَوْنَ أَرَى مِنْ هَذَا الرَّجُلِ أَشْيَاءَ أَوْجَبَتْ أَنْ أَكُونَ مَعَهُ كَمَا تَرَوْنَ أَرَى عَجَائِبَ فِي شَخْصِيَّتِهِ وَفِي سِيرَتِهِ أَعْطَتْهُ هَذِهِ الْمَهَابَةَ الْعَظِيمَةَ فَهَذَا مِنْ مَنَاقِبِ هَذَا الْإِمَامِ رَحِمَهُ اللهُ أَيْضًا مِمَّا ذَكَرَهُ أَبُو حَفْصٍ الْبَزَّارُ فِي هَذَا الْكِتَابِ الْفَائِدَةُ رَقْمُ ٤٤٨ ذَكَرَ عَجَبًا يَعْنِي مِنْ حَالِهِ وَقْتَ طُفُولَتِهِ قَالَ حَدَّثَنِي مَنْ أَثِقُ بِهِ يَقُولُ الْبَزَّارُ: حَدَّثَنِي مَنْ أَثِقُ بِهِ عَنْ شَيْخِهِ الَّذِي عَلَّمَهُ الْقُرْآنَ يَعْنِي عَنْ شَيْخِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ الَّذِي عَلَّمَهُ الْقُرْآنَ قَالَ قَالَ لِي أَبُوهُ… هُوَ عَبْدُ السَّلَامِ هُوَ أَبُو أَحْمَدَ بْنُ عَبْدِ السَّلَامِ قَالَ لِي أَبُوهُ وَهُوَ صَبِيٌّ يَعْنِي الشَّيْخُ أُحِبُّ أَنْ تُوصِيَهُ بِأَلَّا يَنْقَطِعَ يَعْنِي يَسْتَمِرُّ فِي حِفْظِ الْقُرْآنِ وَأَدْفَعُ إِلَيْكَ كُلَّ شَهْرٍ أَرْبَعِينَ دِرْهَمًا وَقَالَ أَعْطِهِ إِيَّاهَا فَإِنَّهُ صَغِيرٌ وَقُلْ لَهُ: لَكَ فِي كُلِّ شَهْرٍ مِثْلَهَا فَامْتَنَعَ يَعْنِي ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ امْتَنَعَ مِنْ قَبُولِهَا وَقَالَ: إِنِّي عَاهَدْتُ اللهَ تَعَالَى عَلَى أَلَّا آخُذَ عَلَى الْقُرْآنِ أَجْرًا وَلَمْ يَأْخُذْهَا فَرَأَيْتُ أَنَّ هَذَا لَا يَقَعُ مِنْ صَبِيٍّ إِلَّا لِمَا لِلهِ فِيهِ مِنَ الْعِنَايَةِ اللهُ أَكْبَرُ قُلْتُ: وَصَدَقَ شَيْخُهُ فَإِنَّ عِنَايَةَ اللهِ هِيَ الَّتِي أَوْصَلَتْهُ إِلَى مَا وَصَلَ مِنْ كُلِّ خَيْرٍ يَعْنِي هَذَا وَهُوَ صَبِيٌّ وَهُوَ صَبِيٌّ أَبُوهُ أَعْطَى مُعَلِّمَ الْقُرْآنِ وَقَالَ لَهُ: سَأُعْطِيكَ كُلَّ شَهْرٍ أَرْبَعِينَ دِرْهَمًا أَهَمُّ شَيْءٍ أَنَّهُ يَسْتَمِرُّ فَرَفَضَ أَنْ يَقْبَلَهَا وَانْظُرْ إِلَى الْجَوَابِ مَاذَا قَالَ؟ قَالَ: عَاهَدْتُ اللهَ أَلَّا آخُذَ عَلَى الْقُرْآنِ أَجْرًا وَهُوَ فِي تِلْكَ السِّنِّ فَتَعَجَّبُوا مِنْهُ كَيْفَ يَقَعُ هَذَا مِنْ صَبِيٍّ فَقَالُوا هَذَا يَدُلُّ عَلَى عِنَايَةِ اللهِ تَعَالَى الْعَظِيمَةِ بِهَذَا الرَّجُلِ مُنْذُ نَشْأَتِهِ فَيَعْنِي هَؤُلَاءِ الْأَئِمَّةُ يَعْنِي يُرَى لُطْفُ اللهِ وَعِنَايَتُهُ بِهِمْ مِنْ حِينِ نَشْأَتِهِمْ فَعِنْدَمَا نَرَى مَثَلًا فِي سِيَرِ الْأَئِمَّةِ كَالْإِمَامِ أَحْمَدَ وَالْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ وَكَثِيرٍ مِنَ الْأَئِمَّةِ نَجِدُ الْعِنَايَةَ وَاللُّطْفَ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِهَؤُلَاءِ مُنْذُ نَشْأَتِهِمْ يَعْنِي كَمَا يُقَالُ لَيْسَ لَهُمْ صَبْوَةٌ نَشَأُوا فِي طَاعَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَمِثْلُ هَذَا يَعْنِي التَّصَرُّفُ وَهَذَا الْجَوَابُ يَعْنِي لَا يَكُونُ إِلَّا مِنْ إِنْسَانٍ كَبِيرٍ يَعْنِي هَذَا صَبِيٌّ وَمُحْتَاجٌ وَمَعَ ذَلِكَ لَمْ يَقْبَلْ هَذَا الْمَبْلَغَ لَمْ يَقْبَلْ أَنْ يَأْخُذَ هَذِهِ الدَّرَاهِمَ سُبْحَانَ اللهِ فَتَعَجَّبُوا مِنْهُ وَقَالُوا إِنَّ هَذَا لَا يَقَعُ مِنْ صَبِيٍّ إِلَّا لِمَا جَعَلَ اللهُ تَعَالَى فِيهِ مِنَ الْعِنَايَةِ وَاللُّطْفِ وَالِاخْتِيَارِ فَاللهُ تَعَالَى يَخْتَارُ أَئِمَّةً وَعُلَمَاءَ يَصْطَفِيهِمْ وَيَجْتَبِيهِمْ مُنْذُ نَشْأَتِهِمْ وَصِغَرِهِمْ وَيُرَى آثَارُ اللُّطْفِ وَالْعِنَايَةِ عَلَى سِيَرِهِمْ أَيْضًا ذَكَرَ الْبَزَّارُ فِي الْكِتَابِ نَفْسِهِ قِصَّةً أُخْرَى قَالَ إِنَّ الشَّيْخَ حَالَ صِبَاهُ كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَذْهَبَ إِلَى الْكَتَاتِيبِ يَعْتَرِضُهُ يَهُودِيٌّ كَانَ مَنْزِلُهُ بطَرِيقِهِ وَيَسْأَلُهُ عَنْ مَسَائِلَ لِمَا رَأَى فِيهِ مِنَ الذَّكَاءِ وَالْفِطْنَةِ فَكَانَ يُجِيبُهُ سَرِيعًا بِسُرْعَةِ بَدِيهَةٍ وَذَكَاءٍ حَتَّى تَعَجَّبَ مِنْهُ وَسُبْحَانَ اللهِ يَعْنِي مِنْ هَذِهِ الْأَجْوِبَةِ أَسْلَمَ هَذَا الْيَهُودِيُّ وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ اِسْتَطَاعَ هَذَا الصَّبِيُّ أَنْ يُقْنِعَ هَذَا الْيَهُودِيَّ بِـأَنَّ الْإِسْلَامَ هُوَ الدِّينُ الْحَقُّ فَأَسْلَمَ وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ فَهُوَ هَذَا وَهُوَ صَبِيٌّ وَهُوَ صَبِيٌّ فَهَذَا يَدُلُّ عَلَى الْعِنَايَةِ الْعَظِيمَةِ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاللُّطْفِ بِهَذَا الْإِمَامِ مُنْذُ نَشْأَتِهِ وَمُنْذُ صِغَرِهِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَجَزَاهُ عَنِ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ خَيْرَ الْجَزَاءِ


Jika engkau mendapati anggota tubuhmu mulai lepas kendali dalam bermaksiat, ​​maka ketahuilah, engkau sedang tidak berada dalam penjagaan Allah. Kembalilah! Segeralah kembali!Ketika matamu menyimpang kepada yang haram, waspadalah! Engkau sedang tidak dalam perlindungan Allah. “Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” (HR. At-Tirmidzi). Begitu pula jika engkau mendapati kemaluanmu, perutmu, pendengaranmu, dan lisanmu, mulai melampaui batas, segeralah kembali! Cepatlah kembali kepada Allah! Bertaubatlah kepada Allah! Dosa yang telah dicatat untukmu akan dihapuskan dengan izin Allah Azza wa Jalla. “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan dosa perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Hud: 114). “Dan iringilah perbuatan buruk itu dengan perbuatan baik…” (HR. At-Tirmidzi). Siapa yang mengatakan bahwa amal baik adalah penghapus dosa? Siapa yang menetapkan hal ini? Siapa yang mengatakannya? Allah Azza wa Jalla. “Dan iringilah perbuatan buruk itu dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya.” (HR. At-Tirmidzi). Jika kakimu tergelincir (ke tempat maksiat), pergilah ke masjid! Jika pandanganmu tergelincir (melihat yang haram), bukalah Al-Qur’an dan bacalah! Gantilah keburukan itu dengan kebaikan! Jika tanganmu berbuat salah, atau apa pun kesalahan yang engkau lakukan, segera perbaiki! Jangan terus larut dalam maksiat tersebut! Sebab, setan akan terus menghiasi maksiat itu agar engkau terus melakukannya tanpa henti sampai tiba-tiba kematian datang menjemput! Saat maut tiba, engkau baru tersadar. Ingin kembali? Sudah tidak ada lagi jalan untuk kembali. “Ya Tuhanku kembalikanlah aku ke dunia…” (QS. Al-Mu’minun: 99). “…agar aku dapat beramal saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding (alam barzakh), sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 100). Segalanya telah berakhir! Waktu untuk beramal sudah habis, sekarang adalah waktu untuk menerima balasan. Apa yang bisa kau lakukan sekarang? Maka, bertaubatlah kepada Allah, sekarang juga! Perbaikilah dirimu! Jika ada riba, tinggalkan! Berbuat syirik? Gantilah dengan tauhid. Berbuat bid’ah? Gantilah dengan sunnah. Berbuat maksiat? Gantilah dengan ketaatan. Jika memutus silaturahmi, segera sambung kembali dengan kerabatmu. Ayah, paman, saudara perempuan, paman atau bibi dari jalur ibu maupun ayah, mulailah dari kerabat terdekat. Jika hubungan dengan tetangga buruk, perbaikilah! Jika engkau bersikap buruk kepada saudara dan sahabatmu, ubahlah sikapmu! Perbaiki semuanya mulai detik ini! Mulailah berbenah, jadikan dirimu lebih baik dari dirimu sebelumnya. Berbenahlah! Kesempatan untuk memperbaiki diri masih ada padamu. Bertaubatlah kepada Allah! Sungguh, Allah Azza wa Jalla sangat mencintai hamba-Nya yang datang kembali kepada-Nya. Dia mencintai hamba-Nya yang terus-menerus meminta. Allah mencintai hamba yang terus-menerus memohon kepada-Nya: “Ya Rabb, ya Rabb, ya Rabb…”hingga engkau kembali dengan kesadaran penuh. Niscaya Allah Azza wa Jalla akan melindungimu. Allah akan membantumu, dan memberimu taufik. Selalulah merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla dalam setiap amalmu. Milikilah amalan-amalan rahasia antara engkau dengan Allah. Lakukanlah amal-amal kebaikan yang tidak diketahui oleh siapa pun. Selama ini engkau sangat menjaga agar dosa-dosamu tidak diketahui oleh seorang pun. Maka, waspadalah terhadap dosa yang dilakukan saat sendirian! Karena dosa itulah yang mencelakakan pelakunya. Di antara sebab terbesar dari gelapnya wajah, hidup yang sengsara, sempitnya jiwa, urusan serba sulit, dan beratnya kehidupan, sebabnya adalah dosa yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Bahkan, kelak di hari kiamat ada orang-orang yang datang membawa pahala sebesar gunung-gunung di Tihamah, tapi Allah menjadikannya debu yang berterbangan, karena jika mereka sedang sendirian, mereka berani melanggar larangan-larangan Allah. Milikilah amalan rahasia! Demi Allah, salah satu kunci utama lapangnya dada, luasnya rezeki, cerahnya wajah, mudahnya segala urusan, serta baiknya keturunan adalah ketaatan yang dilakukan di kala sunyi. Milikilah amal-amal rahasia antara engkau dengan Allah, setetes air mata yang tak seorang pun tahu, kesulitan orang lain yang engkau ringankan tanpa ada orang yang tahu, atau hajat seseorang yang engkau penuhi secara sembunyi-sembunyi. Tanpa ada seorang pun yang tahu. Entah itu janda, anak yatim, orang miskin, dhuafa, anak yatim, atau siapa pun yang memerlukan. Milikilah amal-amal rahasia di hadapan Allah Azza wa Jalla yang tak seorang pun tahu. Sebab, sebagaimana dosa di kala sunyi itu membinasakan, maka ketaatan di kala sunyi adalah yang menyelamatkan. ===== ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ لَمْ يَتَزَوَّجْ وَلَعَلَّ اللهَ تَعَالَى أَرَادَ خَيْرًا بِهَذِهِ الْأُمَّةِ يَعْنِي لَوْ تَزَوَّجَ رُبَّمَا اشْتَغَلَ بِأُسْرَتِهِ وَنَحْوِ ذَلِكَ لَكِنَّهُ تَفَرَّغَ لِلْعِلْمِ وَالدَّعْوَةِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهُوَ لَمْ يَتَزَوَّجْ وَكَانَ الْقَائِمُ عَلَيْهِ أَخُوهُ وَكَانَ يَجْلِسُ بِحَضْرَتِهِ كَأَنَّ عَلَى رَأْسِهِ الطَّيْرُ وَكَانَ يَهَابُهُ كَمَا يَهَابُ سُلْطَانًا وَكُنَّا نَعْجَبُ مِنْهُ فِي ذَلِكَ وَنَقُولُ: مِنَ الْعُرْفِ وَالْعَادَةِ أَنَّ أَهْلَ الرَّجُلِ لَا يَحْتَشِمُونَ كَالْأَجَانِبِ بَلْ يَكُونُ انْبِسَاطُهُمْ مَعَهُ فَضْلًا عَنِ الْأَجْنَبِيِّ وَنَحْنُ نَرَاكَ مَعَ الشَّيْخِ كَتِلْمِيذٍ مُبَالِغٍ فِي احْتِشَامِهِ وَاحْتِرَامِهِ فَيَقُولُ: إِنِّي أَرَى مِنْهُ أَشْيَاءَ لَا يَرَاهَا غَيْرِي أَوْجَبَتْ عَلَيَّ أَنْ أَكُونَ مَعَهُ كَمَا تَرَوْنَ يَعْنِي كَمَا يُقَالُ: أَزْهَدُ النَّاسِ فِي الْعَالِمِ أَهْلُهُ فَيَعْنِي أَهْلَ الْعَالِمِ لَا يَحْتَرِمُونَ كَمَا يَحْتَرِمُ الْعَالِمَ غَيْرُهُمْ لَكِن هَذِهِ الْقَاعِدَةُ خَرَقَهَا ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ أَخُوهُ كَانَ يَحْتَرِمُهُ احْتِرَامًا شَدِيدًا يَهَابُهُ كَمَا يَهَابُ السُّلْطَانَ كَأَنَّ عَلَى رَأْسِهِ الطَّيْرُ فَكَانُوا يَتَعَجَّبُونَ مِنْهُ يَعْنِي يَقُولُونَ هُوَ أَخُوكَ الْعَادَةُ أَنَّ يَعْنِي أَهْلَ الْإِنْسَانِ لَا يَحْتَشِمُونَهُ وَيَتَبَسَّطُونَ مَعَهُ وَنَحْوِ ذَلِكَ فَيَقُولُ: إِنِّي أَرَى مَا لَا تَرَوْنَ أَرَى مِنْ هَذَا الرَّجُلِ أَشْيَاءَ أَوْجَبَتْ أَنْ أَكُونَ مَعَهُ كَمَا تَرَوْنَ أَرَى عَجَائِبَ فِي شَخْصِيَّتِهِ وَفِي سِيرَتِهِ أَعْطَتْهُ هَذِهِ الْمَهَابَةَ الْعَظِيمَةَ فَهَذَا مِنْ مَنَاقِبِ هَذَا الْإِمَامِ رَحِمَهُ اللهُ أَيْضًا مِمَّا ذَكَرَهُ أَبُو حَفْصٍ الْبَزَّارُ فِي هَذَا الْكِتَابِ الْفَائِدَةُ رَقْمُ ٤٤٨ ذَكَرَ عَجَبًا يَعْنِي مِنْ حَالِهِ وَقْتَ طُفُولَتِهِ قَالَ حَدَّثَنِي مَنْ أَثِقُ بِهِ يَقُولُ الْبَزَّارُ: حَدَّثَنِي مَنْ أَثِقُ بِهِ عَنْ شَيْخِهِ الَّذِي عَلَّمَهُ الْقُرْآنَ يَعْنِي عَنْ شَيْخِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ الَّذِي عَلَّمَهُ الْقُرْآنَ قَالَ قَالَ لِي أَبُوهُ… هُوَ عَبْدُ السَّلَامِ هُوَ أَبُو أَحْمَدَ بْنُ عَبْدِ السَّلَامِ قَالَ لِي أَبُوهُ وَهُوَ صَبِيٌّ يَعْنِي الشَّيْخُ أُحِبُّ أَنْ تُوصِيَهُ بِأَلَّا يَنْقَطِعَ يَعْنِي يَسْتَمِرُّ فِي حِفْظِ الْقُرْآنِ وَأَدْفَعُ إِلَيْكَ كُلَّ شَهْرٍ أَرْبَعِينَ دِرْهَمًا وَقَالَ أَعْطِهِ إِيَّاهَا فَإِنَّهُ صَغِيرٌ وَقُلْ لَهُ: لَكَ فِي كُلِّ شَهْرٍ مِثْلَهَا فَامْتَنَعَ يَعْنِي ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ امْتَنَعَ مِنْ قَبُولِهَا وَقَالَ: إِنِّي عَاهَدْتُ اللهَ تَعَالَى عَلَى أَلَّا آخُذَ عَلَى الْقُرْآنِ أَجْرًا وَلَمْ يَأْخُذْهَا فَرَأَيْتُ أَنَّ هَذَا لَا يَقَعُ مِنْ صَبِيٍّ إِلَّا لِمَا لِلهِ فِيهِ مِنَ الْعِنَايَةِ اللهُ أَكْبَرُ قُلْتُ: وَصَدَقَ شَيْخُهُ فَإِنَّ عِنَايَةَ اللهِ هِيَ الَّتِي أَوْصَلَتْهُ إِلَى مَا وَصَلَ مِنْ كُلِّ خَيْرٍ يَعْنِي هَذَا وَهُوَ صَبِيٌّ وَهُوَ صَبِيٌّ أَبُوهُ أَعْطَى مُعَلِّمَ الْقُرْآنِ وَقَالَ لَهُ: سَأُعْطِيكَ كُلَّ شَهْرٍ أَرْبَعِينَ دِرْهَمًا أَهَمُّ شَيْءٍ أَنَّهُ يَسْتَمِرُّ فَرَفَضَ أَنْ يَقْبَلَهَا وَانْظُرْ إِلَى الْجَوَابِ مَاذَا قَالَ؟ قَالَ: عَاهَدْتُ اللهَ أَلَّا آخُذَ عَلَى الْقُرْآنِ أَجْرًا وَهُوَ فِي تِلْكَ السِّنِّ فَتَعَجَّبُوا مِنْهُ كَيْفَ يَقَعُ هَذَا مِنْ صَبِيٍّ فَقَالُوا هَذَا يَدُلُّ عَلَى عِنَايَةِ اللهِ تَعَالَى الْعَظِيمَةِ بِهَذَا الرَّجُلِ مُنْذُ نَشْأَتِهِ فَيَعْنِي هَؤُلَاءِ الْأَئِمَّةُ يَعْنِي يُرَى لُطْفُ اللهِ وَعِنَايَتُهُ بِهِمْ مِنْ حِينِ نَشْأَتِهِمْ فَعِنْدَمَا نَرَى مَثَلًا فِي سِيَرِ الْأَئِمَّةِ كَالْإِمَامِ أَحْمَدَ وَالْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ وَكَثِيرٍ مِنَ الْأَئِمَّةِ نَجِدُ الْعِنَايَةَ وَاللُّطْفَ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِهَؤُلَاءِ مُنْذُ نَشْأَتِهِمْ يَعْنِي كَمَا يُقَالُ لَيْسَ لَهُمْ صَبْوَةٌ نَشَأُوا فِي طَاعَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَمِثْلُ هَذَا يَعْنِي التَّصَرُّفُ وَهَذَا الْجَوَابُ يَعْنِي لَا يَكُونُ إِلَّا مِنْ إِنْسَانٍ كَبِيرٍ يَعْنِي هَذَا صَبِيٌّ وَمُحْتَاجٌ وَمَعَ ذَلِكَ لَمْ يَقْبَلْ هَذَا الْمَبْلَغَ لَمْ يَقْبَلْ أَنْ يَأْخُذَ هَذِهِ الدَّرَاهِمَ سُبْحَانَ اللهِ فَتَعَجَّبُوا مِنْهُ وَقَالُوا إِنَّ هَذَا لَا يَقَعُ مِنْ صَبِيٍّ إِلَّا لِمَا جَعَلَ اللهُ تَعَالَى فِيهِ مِنَ الْعِنَايَةِ وَاللُّطْفِ وَالِاخْتِيَارِ فَاللهُ تَعَالَى يَخْتَارُ أَئِمَّةً وَعُلَمَاءَ يَصْطَفِيهِمْ وَيَجْتَبِيهِمْ مُنْذُ نَشْأَتِهِمْ وَصِغَرِهِمْ وَيُرَى آثَارُ اللُّطْفِ وَالْعِنَايَةِ عَلَى سِيَرِهِمْ أَيْضًا ذَكَرَ الْبَزَّارُ فِي الْكِتَابِ نَفْسِهِ قِصَّةً أُخْرَى قَالَ إِنَّ الشَّيْخَ حَالَ صِبَاهُ كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَذْهَبَ إِلَى الْكَتَاتِيبِ يَعْتَرِضُهُ يَهُودِيٌّ كَانَ مَنْزِلُهُ بطَرِيقِهِ وَيَسْأَلُهُ عَنْ مَسَائِلَ لِمَا رَأَى فِيهِ مِنَ الذَّكَاءِ وَالْفِطْنَةِ فَكَانَ يُجِيبُهُ سَرِيعًا بِسُرْعَةِ بَدِيهَةٍ وَذَكَاءٍ حَتَّى تَعَجَّبَ مِنْهُ وَسُبْحَانَ اللهِ يَعْنِي مِنْ هَذِهِ الْأَجْوِبَةِ أَسْلَمَ هَذَا الْيَهُودِيُّ وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ اِسْتَطَاعَ هَذَا الصَّبِيُّ أَنْ يُقْنِعَ هَذَا الْيَهُودِيَّ بِـأَنَّ الْإِسْلَامَ هُوَ الدِّينُ الْحَقُّ فَأَسْلَمَ وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ فَهُوَ هَذَا وَهُوَ صَبِيٌّ وَهُوَ صَبِيٌّ فَهَذَا يَدُلُّ عَلَى الْعِنَايَةِ الْعَظِيمَةِ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاللُّطْفِ بِهَذَا الْإِمَامِ مُنْذُ نَشْأَتِهِ وَمُنْذُ صِغَرِهِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَجَزَاهُ عَنِ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ خَيْرَ الْجَزَاءِ

Perang Hunain: Ketika Jumlah Besar Tidak Menjamin Kemenangan

Perang Hunain merupakan salah satu peperangan besar dalam sirah Nabi ﷺ yang sarat dengan pelajaran iman dan tauhid. Pada awalnya kaum muslimin sempat terpukul mundur karena rasa bangga terhadap jumlah pasukan, hingga Allah ﷻ menegur mereka melalui peristiwa ini. Namun dengan keteguhan Rasulullah ﷺ dan pertolongan Allah, keadaan pun berbalik menjadi kemenangan yang nyata bagi kaum muslimin.Baca juga: Perang Hunain dalam Tafsir QS. At-Taubah 25–27: Ketika Jumlah Besar Tidak Menjamin Kemenangan  Daftar Isi tutup 1. Jumlah Banyak Belum Tentu Menang 2. Allah Turunkan Sakinah pada Perang Hunain 3. Kaum Hawazin Masuk Islam 4. Kisah Dzul Khuwaishirah yang Menuntut Rasulullah untuk Adil 5. Delegasi Tsaqif Datang Menemui Rasulullah ﷺ 6. Pelajaran yang Dipetik dari Perang Hunain dan Pengepungan Thaif 6.1. Nasihat Mengenai Ngalap Berkah (Tabarruk)  Peperangan ini adalah Perang Hunain. Sebagian ulama menamakannya Perang Authas, dan sebagian lainnya menamakannya Perang Hawazin. Namun, penamaan yang digunakan dalam Al-Qur’an adalah Hunain.Perang Hunain dianggap sebagai kelanjutan dari penaklukan Mekah, dan merupakan salah satu dampaknya. Hal itu karena Perang Hunain terjadi sebagai konsekuensi dari penaklukan besar tersebut. Ketika suku Hawazin dan Tsaqif mengetahui apa yang menimpa Quraisy di Mekah, mereka pun mulai bersiap-siap dan mengumpulkan pasukan untuk memerangi Rasulullah ﷺ.Ketika Rasulullah ﷺ mengetahui hal tersebut, sementara beliau masih berada di Mekah, beliau pun keluar untuk menemui mereka di Hunain. Keberangkatan beliau terjadi pada hari keenam bulan Syawal tahun kedelapan Hijriah.Rasulullah ﷺ menunjuk ‘Attab bin Asid radhiyallahu ‘anhu sebagai pemimpin di Mekah. Jumlah pasukan yang menyertai Rasulullah ﷺ adalah sepuluh ribu orang, ditambah dua ribu orang dari kalangan thulaqā’ (orang-orang Mekah yang dimaafkan).Pasukan kaum musyrikin dari Thaif berada di bawah pimpinan Malik bin ‘Auf An-Nadhri. Mereka bergabung dengan pasukan Hawazin dan Tsaqif seluruhnya, juga bergabung suku Nashr dan Jusham seluruhnya, serta Sa‘d bin Bakr dan sebagian orang dari Bani Hilal—jumlah mereka sedikit. Termasuk dari Bani Jusham adalah Duraid bin Ash-Shimmah, seorang syekh tua yang sudah sangat lanjut usia, yang sebenarnya tidak lagi memiliki kemampuan apa pun, kecuali sekadar dimintai pendapat karena pengalaman dan pengetahuannya tentang peperangan. Ia adalah seorang syekh yang telah banyak mengalami peperangan.Ketika Malik bin Auf mengumpulkan pasukan dan membawa mereka menuju Rasulullah ﷺ, ia juga mengikutsertakan harta benda, para wanita, dan anak-anak mereka. Ketika mereka singgah di Authas dan berkumpul di sana, Duraid bin Ash-Shimmah—yang berada di dalam sekedup (tandu) yang dibawanya—bertanya, “Di lembah apakah kita berada?” Mereka menjawab, “Di Authas.” Ia berkata, “Tempat yang bagus untuk medan pasukan berkuda. Tidak ada tanah keras yang melukai kaki, tidak pula tanah lunak yang membuat kuda terperosok. Namun, mengapa aku mendengar suara unta, ringkikan keledai, tangisan anak kecil, dan kambing yang mengembik?” Mereka menjawab, “Malik bin ‘Auf membawa serta harta, para wanita, dan anak-anak bersama pasukan.”Ia bertanya, “Di mana Malik?” Dijawab, “Ini Malik.” Malik pun dipanggil dan mendekat kepadanya. Duraid berkata, “Wahai Malik, sungguh engkau telah menjadi pemimpin kaummu. Hari ini adalah hari yang menentukan, dan setelah hari ini tidak ada hari lain bagimu. Mengapa aku mendengar suara unta, ringkikan keledai, tangisan anak kecil, dan kambing yang mengembik?” Malik menjawab, “Aku membawa mereka agar setiap orang berperang di belakang harta, wanita, dan anak-anak mereka.”Duraid berkata, “Celaka engkau! Apakah orang yang kalah bisa ditahan oleh sesuatu apa pun? Jika engkau menang, yang akan bermanfaat bagimu hanyalah seorang laki-laki dengan pedang dan tombaknya. Namun, jika engkau kalah, engkau akan dipermalukan bersama keluarga dan hartamu.” Malik berkata, “Demi Allah, aku tidak akan melakukan selain ini. Sungguh engkau telah tua dan akalmu pun telah melemah.”Duraid berkata, “Demi Allah, aku telah menyelamatkanmu dari kehinaan suku Hawazin. Seandainya aku masih mampu berdiri di atas kakiku, aku akan bertarung dengan pedang ini hingga keluar dari punggungku. Aku membenci jika Bani Jusham tidak memiliki pendapat atau pandangan dalam urusan ini.” Mereka berkata, “Berilah kami pendapatmu.” Maka Duraid bin Ash-Shimmah berkata, “Hari ini aku tidak melihat sesuatu yang aku persaksikan, dan aku tidak pula kehilangan akalku.”Jumlah orang yang berkumpul bersama Malik bin ‘Auf untuk memerangi Rasulullah ﷺ mencapai dua puluh ribu orang. Malik menempatkan mata-mata (pengintai)nya, lalu mata-mata itu datang kepadanya dalam keadaan kacau balau. Malik bertanya, “Celaka kalian, apa yang terjadi?” Mereka menjawab, “Kami melihat pasukan berkuda putih di atas kuda-kuda yang belang. Demi Allah, kami tidak mampu bertahan sejak pertama kali melihat mereka.” Malik tidak menghiraukan laporan itu dan tidak memedulikannya.Rasulullah ﷺ meminjam baju besi dan senjata dari Shafwan bin Umayyah, sementara Shafwan saat itu masih dalam keadaan musyrik. Shafwan berkata, “Apakah ini berarti engkau merampasnya, wahai Muhammad?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Bukan, ini pinjaman yang dijamin.” Maka Shafwan meminjamkan kepada Rasulullah ﷺ seratus baju besi.Pasukan ini merupakan pasukan Islam terbesar yang pernah keluar bersama Rasulullah ﷺ. Ketika sebagian kaum muslimin melihat banyaknya jumlah pasukan, ada seseorang yang berkata, “Hari ini kita tidak akan kalah karena jumlah yang sedikit.” Perkataan itu memberatkan Rasulullah ﷺ. Lalu Allah Ta‘ala menurunkan firman-Nya:﴿لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ ۝ ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ﴾“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 25–26)Di tengah perjalanan, kaum muslimin melewati sebuah pohon milik kaum musyrikin yang disebut Dzat Anwath. Dari Abu Waaqid Al-Laitsi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami keluar dari Mekah bersama Rasulullah ﷺ menuju Hunain. Orang-orang kafir memiliki sebuah pohon bidara tempat mereka berdiam dan menggantungkan senjata-senjata mereka, yang disebut Dzat Anwath.”Ia berkata, “Kami pun melewati sebuah pohon bidara yang hijau dan besar.” Maka kami berkata, “Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzat Anwāṭ (tempat menggantungkan senjata) sebagaimana mereka memiliki Dzat Anwāṭ.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Allāhu akbar! Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian telah mengatakan seperti apa yang dikatakan kaum Musa.”ٱجْعَل لَّنَآ إِلَٰهًا كَمَا لَهُمْ ءَالِهَةٌ ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ“Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)“.” (QS. Al-A‘rāf: 138)Rasulullah ﷺ melanjutkan, “Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian setahap demi setahap.”Rasulullah ﷺ kemudian mengutus ‘Abdullāh bin Abī Ḥadrad Al-Aslamī radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu. Dari ayahnya, ia berkata: “Ia datang membawa kabar tentang Hawāzin. Ia pun masuk ke tengah-tengah kaum itu dan mendapati mereka telah berkumpul seluruhnya untuk memerangi Rasulullah ﷺ. Ia lalu menyampaikan apa yang ia lihat kepada Rasulullah ﷺ.” Maka Rasulullah ﷺ tersenyum dan bersabda, “Itu adalah rampasan kaum muslimin besok, insya Allah.”Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapa yang akan mengawasi kita malam ini?”Anas bin Abī Murthid Al-Ghanawī radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu berkata, “Aku, wahai Rasulullah.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Naiklah.” Maka ia pun menaiki kudanya dan segera datang menemui Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, “Hadapilah lembah ini hingga engkau berada di atasnya, dan jangan biarkan siapa pun mendatangi kita dari arahmu malam ini.”Ketika pagi tiba, Rasulullah ﷺ keluar menuju tempat salatnya dan melaksanakan dua rakaat. Setelah itu beliau bersabda, “Apakah kalian merasakan penjagaan sahabat kalian?”Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, kami tidak melihat sesuatu pun.”Maka Rasulullah ﷺ pun melaksanakan salat, dan beliau menoleh ke arah lembah itu hingga selesai salatnya. Kemudian beliau bersabda, “Bergembiralah, sungguh penjaga kalian telah datang.”Kami pun melihat ke arah lembah itu melalui sela-sela pepohonan. Ternyata ia telah datang, lalu berdiri di hadapan Rasulullah ﷺ dan memberi salam. Ia berkata, “Aku berangkat hingga aku berada di puncak lembah ini, tempat engkau memerintahkanku, wahai Rasulullah. Ketika dua lembah itu tampak jelas, aku pun melihat keduanya.”Kami memperhatikan, tetapi tidak melihat seorang pun. Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya, “Apakah engkau turun pada malam hari?” Ia menjawab, “Tidak, kecuali hanya untuk melaksanakan salat atau menunaikan hajat.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, “Engkau telah menjalankan tugas dengan baik, maka jangan engkau lakukan apa pun setelah ini.”Kemudian Rasulullah ﷺ melanjutkan perjalanannya hingga sampai di Hunain. Sementara itu, Malik bin ‘Auf beserta pasukannya telah lebih dahulu tiba sebelum Rasulullah ﷺ. Mereka menyiapkan diri dan bersembunyi di celah-celah lembah serta di balik pepohonan. Rasulullah ﷺ datang bersama para sahabatnya hingga mereka turun ke lembah pada waktu subuh. Mereka tidak menyadari hal tersebut. Tiba-tiba Hawazin dan Tsaqif menyerang mereka dengan serangan serentak oleh satu orang, lalu orang-orang yang bersembunyi keluar dari celah-celah lembah dan tempat-tempat persembunyian mereka, serta menghujani kaum muslimin dengan anak panah. Urusan kaum muslimin pun menjadi kacau secara tiba-tiba.Mereka pun lari mundur dalam keadaan terpecah-belah, tidak menoleh ke arah mana pun. Namun Rasulullah ﷺ tetap teguh berdiri, bersama sebagian kecil kaum mukminin yang ada bersamanya. Rasulullah ﷺ berpaling ke arah kanan, lalu berseru, “Wahai manusia, kemarilah kepadaku! Aku adalah Rasulullah, aku adalah Muhammad bin ‘Abdullah.”Bersama beliau terdapat sekelompok orang dari kalangan Muhajirin dan Anshar, sementara orang-orang yang tetap bertahan bersamanya tidak banyak. Di antara Ahlul Bait yang tetap bersamanya adalah Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Ali bin Abi Thalib, Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib, putranya Al-Fadhl bin ‘Abbas, Abu Sufyan bin Al-Harits, Rabi‘ah bin Al-Harits, Aiman bin ‘Ubaid—yang merupakan putra Ummu Aiman—dan Usamah bin Zaid radhiyallahu ta‘ala ‘anhum ajma‘in.Rasulullah ﷺ pun berseru, “Aku adalah Nabi, tidak ada dusta. Aku adalah putra ‘Abdul Muththalib.” Termasuk doa beliau saat itu adalah, “Ya Allah, jika Engkau menghendaki, maka Engkau tidak akan disembah setelah hari ini.”Dalam Shahih Muslim, dari Al-‘Abbas radhiyallahu ta‘ala ‘anhu, ia berkata: “Aku menyaksikan Perang Hunain bersama Rasulullah ﷺ. Aku dan Abu Sufyan bin Al-Harits bin ‘Abdul Muththalib selalu bersama Rasulullah ﷺ dan tidak berpisah darinya. Rasulullah ﷺ berada di atas seekor bagal putih yang dihadiahkan oleh Farrukh bin Nafatsah Al-Judzami. Ketika kaum muslimin dan orang-orang kafir saling berhadapan, kaum muslimin pun mundur.”“Rasulullah ﷺ lalu memacu bagalnya ke arah orang-orang kafir. Aku memegang tali kekang bagal Rasulullah ﷺ, menahannya agar tidak melaju terlalu cepat, sementara Abu Sufyan memegang sanggurdi beliau. Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Wahai ‘Abbas, panggillah para sahabat Samurah!’”Al-‘Abbas berkata: “Aku adalah seorang yang bersuara lantang. Aku pun berteriak sekeras-kerasnya, ‘Di mana para sahabat Samurah?’ Demi Allah, ketika mereka mendengar suaraku, suara itu terasa seperti suara sapi yang memanggil anaknya. Mereka pun menjawab, ‘Labbaik, labbaik!’ Lalu mereka bertempur melawan orang-orang kafir.”“Kemudian seruan dialihkan kepada kaum Anshar. Dikatakan, ‘Wahai kaum Anshar!’ Lalu seruan itu dikhususkan kepada Bani Al-Harits bin Al-Khazraj. Dikatakan, ‘Wahai Bani Al-Harits bin Al-Khazraj!’ Maka Rasulullah ﷺ memandang mereka, sementara beliau berada di atas bagalnya, seakan-akan beliau menjulang di atas mereka.”Rasulullah ﷺ bersabda, “Sekaranglah panasnya peperangan.”Al-‘Abbas berkata: “Kemudian Rasulullah ﷺ mengambil segenggam kerikil dan melemparkannya ke wajah orang-orang kafir, lalu bersabda, ‘Hancurlah wajah-wajah itu!’ Aku pun pergi menyaksikan keadaan pertempuran, dan demi Allah, tidaklah beliau melempar mereka dengan kerikil itu, melainkan aku melihat mereka semua tercerai-berai dan urusan mereka pun kacau balau.” Jumlah Banyak Belum Tentu MenangAllah Ta’ala berfirman tentang Thalut,كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 249)Baca juga: Kisah Thalut, Jalut, dan Nabi Daud: Ujian Kepemimpinan dan Kemenangan ImanNamun karena mereka bangga dengan jumlah yang banyak, Allah Ta’ala berfirman,لَقَدْ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ فِى مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْـًٔا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ ٱلْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.” (QS. At-Taubah: 25)Ayat yang membicarakan kekalahan dalam perang Hunain terkait sejatinya dengan peringatan pada ayat sebelumnya,قُلْ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَٰنُكُمْ وَأَزْوَٰجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَٰلٌ ٱقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٍ فِى سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُوا۟ حَتَّىٰ يَأْتِىَ ٱللَّهُ بِأَمْرِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْفَٰسِقِينَ“Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah:24)Allah Ta’ala berfirman,ثُمَّ أَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ۚ وَذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلْكَٰفِرِينَ“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 26)ثُمَّ يَتُوبُ ٱللَّهُ مِنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 27)Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan:Ibnu Juraij meriwayatkan dari Mujahid, ia berkata: “Ini adalah ayat pertama yang turun dari Surah Barā’ah (At-Taubah).”Allah Ta‘ala menyebutkan kepada orang-orang beriman tentang karunia dan kebaikan-Nya kepada mereka, berupa pertolongan-Nya dalam banyak pertempuran yang mereka jalani bersama Rasul-Nya. Semua itu terjadi semata-mata dari sisi Allah Ta‘ala, dengan dukungan dan ketetapan-Nya, bukan karena jumlah mereka dan bukan pula karena banyaknya pasukan. Allah mengingatkan mereka bahwa kemenangan hanyalah dari sisi-Nya, baik jumlah kaum muslimin sedikit maupun banyak.Pada Perang Hunain, kaum muslimin sempat merasa kagum dengan banyaknya jumlah mereka. Namun ternyata, banyaknya jumlah itu sama sekali tidak memberi manfaat bagi mereka. Mereka pun berbalik melarikan diri, kecuali sedikit orang yang tetap bersama Rasulullah ﷺ. Setelah itu, Allah menurunkan pertolongan dan dukungan-Nya kepada Rasul-Nya dan kepada kaum mukminin yang bersamanya, sebagaimana akan dijelaskan secara terperinci—insyaallah—agar mereka mengetahui bahwa kemenangan itu benar-benar dari sisi Allah Ta‘ala semata, dengan pertolongan-Nya, meskipun jumlah pasukan sedikit.فكم من فئة قليلة غلبت فئة كثيرة بإذن الله ، والله مع الصابرين .Betapa sering kelompok yang sedikit mampu mengalahkan kelompok yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah bersama orang-orang yang sabar.Imam Ahmad berkata: “Telah menceritakan kepada kami Wahb bin Jarir, telah menceritakan kepada kami ayahku, aku mendengar Yunus menceritakan dari Az-Zuhri, dari ‘Ubaidullah, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:خير الصحابة أربعة ، وخير السرايا أربعمائة ، وخير الجيوش أربعة آلاف ، ولن تغلب اثنا عشر ألفا من قلة .‘Sebaik-baik para sahabat itu berjumlah empat orang, sebaik-baik pasukan kecil (sariyyah) berjumlah empat ratus orang, dan sebaik-baik tentara berjumlah empat ribu orang. Dan dua belas ribu pasukan tidak akan terkalahkan karena sedikitnya jumlah.’”Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi. At-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan gharib. Tidak ada seorang perawi besar pun yang meriwayatkannya secara bersambung kecuali Jarir bin Hazim. Riwayat yang masyhur dari Az-Zuhri adalah dari Nabi ﷺ secara mursal.”Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Al-Baihaqi, dan selain keduanya, dari Aktsam bin Al-Jaun, dari Rasulullah ﷺ dengan lafaz yang semakna. Dan Allah Maha Mengetahui.Peristiwa Perang Hunain terjadi setelah Fathu Makkah, tepatnya pada bulan Syawal tahun kedelapan Hijriah. Hal itu bermula ketika Rasulullah ﷺ telah selesai menaklukkan Makkah, urusan-urusannya telah tertata dengan baik, dan mayoritas penduduknya telah masuk Islam. Rasulullah ﷺ pun membebaskan mereka. Lalu sampai kepada beliau kabar bahwa suku Hawazin telah menghimpun kekuatan untuk memerangi beliau. Pemimpin mereka adalah Malik bin ‘Auf An-Nadhri, bersama seluruh kabilah Tsaqif, Bani Jusyam, Bani Sa‘d bin Bakr, sejumlah kelompok dari Bani Hilal—yang jumlahnya tidak banyak—serta sekelompok orang dari Bani ‘Amr bin ‘Amir dan ‘Auf bin ‘Amir.Mereka datang dengan membawa serta para wanita, anak-anak, kambing, dan unta, bahkan membawa seluruh harta dan keluarga mereka tanpa tersisa. Maka Rasulullah ﷺ keluar menemui mereka dengan pasukan yang beliau bawa saat Fathu Makkah, yaitu sepuluh ribu orang dari kalangan Muhajirin, Anshar, dan kabilah-kabilah Arab. Bersama beliau juga ikut orang-orang Makkah yang baru masuk Islam, yaitu para thulaqā’, yang jumlahnya sekitar dua ribu orang. Beliau pun bergerak bersama mereka menuju musuh.Kedua pasukan bertemu di sebuah lembah antara Makkah dan Thaif yang bernama Hunain. Pertempuran terjadi di sana pada awal pagi, saat suasana masih gelap menjelang subuh. Kaum muslimin menuruni lembah tersebut, sementara pasukan Hawazin telah bersembunyi di dalamnya. Ketika kedua pasukan saling berhadapan, kaum muslimin tiba-tiba diserbu. Mereka dihujani anak panah, pedang-pedang dihunus, dan pasukan musuh menyerang serentak sebagai satu kesatuan, sebagaimana perintah pemimpin mereka. Pada saat itulah kaum muslimin berbalik melarikan diri, sebagaimana yang disebutkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla.Namun Rasulullah ﷺ tetap teguh berdiri. Saat itu beliau menaiki baghal (keledai besar) beliau yang berwarna putih keabu-abuan, mengarahkannya menuju pusat pasukan musuh. Paman beliau, Al-‘Abbas, memegang tali kekang sebelah kanan, dan Abu Sufyan bin Al-Harits bin ‘Abdul Muththalib memegang sebelah kiri, keduanya menahan laju hewan itu agar tidak berjalan terlalu cepat. Rasulullah ﷺ menyerukan nama beliau dan mengajak kaum muslimin untuk kembali, seraya berkata,[ ويقول ] أين يا عباد الله ؟ إلي أنا رسول الله ، ويقول في تلك الحال “Ke mana kalian, wahai hamba-hamba Allah? Kembalilah kepadaku, aku adalah Rasulullah.” Pada saat itu beliau juga mengucapkan:أنا النبي لا كذب أنا ابن عبد المطلب“Aku adalah Nabi, tidak ada dusta.
Aku adalah putra ‘Abdul Muththalib.”وثبت معه من أصحابه قريب من مائة ، ومنهم من قال : ثمانون ، فمنهم : أبو بكر ، وعمر – رضي الله عنهما – والعباس وعلي ، والفضل بن عباس ، وأبو سفيان بن الحارث ، وأيمن بن أم أيمن ، وأسامة بن زيد ، وغيرهم – رضي الله عنهم –Bersama beliau saat itu tetap bertahan sekitar seratus orang dari para sahabat—ada pula yang mengatakan delapan puluh orang. Di antara mereka adalah Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Al-‘Abbas, ‘Ali, Al-Fadhl bin Al-‘Abbas, Abu Sufyan bin Al-Harits, Aiman bin Ummu Aiman, Usamah bin Zaid, dan selain mereka radhiyallahu ‘anhum. ثم أمر – صلى الله عليه وسلم – عمه العباس – وكان جهير الصوت – أن ينادي بأعلى صوته : يا أصحاب الشجرة – يعني شجرة بيعة الرضوان ، التي بايعه المسلمون من المهاجرين والأنصار تحتها ، على ألا يفروا عنه – فجعل ينادي بهم : يا أصحاب السمرة ويقول تارة : يا أصحاب سورة البقرة ،Kemudian Rasulullah ﷺ memerintahkan pamannya, Al-‘Abbas—yang dikenal bersuara lantang—untuk menyeru dengan suara keras: “Wahai para pemilik pohon!” Maksudnya adalah pohon Bai‘at Ridwan, tempat kaum muslimin dari kalangan Muhajirin dan Anshar berbaiat di bawahnya untuk tidak lari meninggalkan beliau. Al-‘Abbas pun menyeru mereka dengan berkata: “Wahai para pemilik pohon samurah!” Terkadang ia juga berseru: “Wahai para pemilik Surah Al-Baqarah!” فجعلوا يقولون : يا لبيك ، يا لبيك ، وانعطف الناس فجعلوا يتراجعون إلى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – حتى إن الرجل منهم إذا لم يطاوعه بعيره على الرجوع ، لبس درعه ، ثم انحدر عنه ، وأرسله ، ورجع بنفسه إلى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – . فلما رجعت شرذمة منهم ، أمرهم عليه السلام أن يصدقوا الحملة ، وأخذ قبضة من التراب بعدما دعا ربه واستنصره ، وقال : Mereka pun menjawab, “Kami penuhi panggilanmu, kami penuhi panggilanmu.” Orang-orang mulai berbalik dan kembali menuju Rasulullah ﷺ. Bahkan ada di antara mereka yang, jika untanya tidak mau berbalik arah, ia mengenakan baju besinya, lalu turun dari untanya, melepaskannya, dan ia sendiri berlari kembali menuju Rasulullah ﷺ.Ketika sejumlah pasukan telah kembali, Rasulullah ﷺ memerintahkan mereka untuk melakukan serangan dengan sungguh-sungguh. Beliau lalu mengambil segenggam tanah setelah berdoa kepada Rabb-nya dan memohon pertolongan-Nya, seraya berkata:اللهم أنجز لي ما وعدتني “Ya Allah, penuhilah untukku apa yang telah Engkau janjikan kepadaku.”ثم رمى القوم بها ، فما بقي إنسان منهم إلا أصابه منها في عينيه وفمه ما شغله عن القتال ، ثم انهزموا ، فاتبع المسلمون أقفاءهم يقتلون ويأسرون ، وما تراجع بقية الناس إلا والأسارى مجدلة بين يدي رسول الله – صلى الله عليه وسلم – Kemudian beliau melemparkan tanah itu ke arah musuh. Tidak ada seorang pun dari mereka kecuali tanah itu mengenai mata dan mulutnya, sehingga menyibukkan mereka dari pertempuran. Akhirnya mereka pun kalah dan melarikan diri.Kaum muslimin mengejar mereka, membunuh dan menawan. Tidaklah sisa pasukan kembali, melainkan para tawanan telah bergelimpangan di hadapan Rasulullah ﷺ.Dalam riwayat Imam Ahmad, dari Abu ‘Abdurrahman Al-Fihri—nama aslinya Yazid bin Usaid, ada pula yang mengatakan Yazid bin Anis, dan ada yang mengatakan Karz—ia berkata:‘Aku pernah bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Hunain. Kami berjalan pada hari yang sangat terik dan panasnya amat menyengat. Kami pun singgah di bawah naungan pepohonan. Ketika matahari telah condong (ke barat), aku mengenakan baju besiku dan menaiki kudaku. Lalu aku berangkat menemui Rasulullah ﷺ, sementara beliau berada di dalam kemahnya. Aku berkata, “Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya tercurah kepadamu, wahai Rasulullah. Apakah sudah waktunya berangkat?” Beliau menjawab, “Ya.”Beliau lalu bersabda, “Wahai Bilal.” Maka Bilal segera bangkit dari bawah pohon samurah, seakan-akan naungannya adalah naungan seekor burung. Ia berkata, “Aku penuhi panggilanmu dan aku siap melayanimu, aku menebusmu dengan diriku.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Pelanakanlah kudaku.” Maka dikeluarkanlah sebuah pelana yang kedua sisinya terbuat dari serat, tidak ada kemewahan dan tidak ada kesombongan padanya.Pelana itu pun dipasangkan. Rasulullah ﷺ menaikinya, dan kami pun menaiki tunggangan kami. Kami berhadapan dengan musuh pada sore hari dan sepanjang malam. Kuda-kuda saling berhadapan, lalu kaum muslimin berbalik melarikan diri, sebagaimana yang difirmankan Allah ‘Azza wa Jalla: “Kemudian kalian berpaling melarikan diri.”Rasulullah ﷺ bersabda, “Wahai hamba-hamba Allah, aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.” Kemudian beliau bersabda lagi, “Wahai kaum Muhajirin, aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.”Kemudian Rasulullah ﷺ meloncat turun dari kudanya, lalu mengambil segenggam tanah. Orang yang paling dekat denganku—yang melihat kejadian itu—mengabarkan kepadaku bahwa Rasulullah ﷺ melemparkan tanah tersebut ke wajah mereka seraya bersabda, “Binasalah wajah-wajah itu.” Maka Allah ‘Azza wa Jalla pun mengalahkan mereka.Ya‘la bin ‘Atha’ berkata: “Anak-anak mereka menceritakan kepadaku, dari para ayah mereka, bahwa mereka berkata: ‘Tidak ada seorang pun dari kami yang tersisa, kecuali kedua matanya dan mulutnya penuh dengan tanah. Dan kami mendengar suara gemerincing antara langit dan bumi, seperti bunyi besi yang digesekkan pada bejana baru.’”Demikian pula hadits ini diriwayatkan oleh Al-Hafizh Al-Baihaqi dalam kitab Dalā’il an-Nubuwwah, melalui riwayat Abu Dawud Ath-Thayalisi, dari Hammad bin Salamah, dengan sanad yang sama.Muhammad bin Ishaq berkata: “Telah menceritakan kepadaku ‘Ashim bin ‘Umar bin Qatadah, dari ‘Abdurrahman bin Jabir, dari ayahnya, Jabir, dari ‘Abdullah,” ia berkata:Malik bin ‘Auf keluar bersama pasukannya menuju Hunain. Ia tiba lebih dahulu daripada Rasulullah ﷺ, lalu mereka menyiapkan diri dan bersiaga di tempat-tempat sempit serta lekuk-lekuk lembah. Rasulullah ﷺ pun datang bersama para sahabatnya, hingga mereka turun memasuki lembah pada saat pagi masih gelap. Ketika orang-orang mulai menuruni lembah itu, tiba-tiba pasukan berkuda musuh menyerbu ke arah mereka. Serangan itu terasa sangat berat, sehingga orang-orang pun berbalik lari tunggang-langgang, tidak ada seorang pun yang menoleh kepada yang lain.Rasulullah ﷺ pun bergerak ke arah kanan sambil berseru, “Wahai manusia, kemarilah kepadaku! Aku adalah Rasulullah! Aku adalah Rasulullah! Aku adalah Muhammad bin ‘Abdullah!” Namun tidak ada yang menyahut. Unta-unta pun saling bertubrukan satu sama lain. Ketika Rasulullah ﷺ melihat keadaan kaum muslimin seperti itu, beliau bersabda, “Wahai ‘Abbas, berserulah: Wahai kaum Anshar, wahai para pemilik pohon samurah!”Mereka pun menjawab, “Kami penuhi panggilanmu, kami penuhi panggilanmu.” Seseorang di antara mereka berusaha membelokkan untanya, namun tidak mampu. Maka ia pun melemparkan baju besinya ke lehernya, mengambil pedang dan busurnya, lalu menuju ke arah suara panggilan itu, hingga berkumpul di sekitar Rasulullah ﷺ sekitar seratus orang. Rasulullah ﷺ kemudian mengatur barisan mereka, lalu terjadilah pertempuran sengit.Pada awalnya seruan itu ditujukan kepada kaum Anshar, kemudian di akhir kepada kabilah Khazraj, dan mereka adalah orang-orang yang sangat tegar dalam peperangan. Rasulullah ﷺ pun menampakkan diri di atas tunggangannya dan melihat sengitnya pertempuran, lalu bersabda, “Sekarang benar-benar berkobarlah api peperangan.”Demi Allah, tidaklah orang-orang kembali, melainkan para tawanan telah tergeletak di hadapan Rasulullah ﷺ. Allah membinasakan siapa yang dibinasakan-Nya dari mereka, dan sebagian lainnya melarikan diri. Allah pun memberikan kepada Rasul-Nya harta dan anak-anak mereka sebagai rampasan.Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari hadits Syu‘bah, dari Abu Ishaq, dari Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepadanya, “Wahai Abu ‘Umarah, apakah kalian lari meninggalkan Rasulullah ﷺ pada hari Hunain?” Ia menjawab, “Ya, tetapi Rasulullah ﷺ tidak lari. Sesungguhnya Hawazin adalah kaum pemanah. Ketika kami berjumpa dengan mereka dan menyerang mereka, mereka pun mundur. Lalu orang-orang sibuk mengumpulkan harta rampasan, maka pasukan Hawazin kembali menyerang kami dengan hujan anak panah, sehingga orang-orang pun berlarian. Sungguh aku melihat Rasulullah ﷺ, sementara Abu Sufyan bin Al-Harits memegang tali kekang baghal putih Rasulullah ﷺ, dan beliau berkata: ‘Aku adalah Nabi, tidak ada dusta. 
Aku adalah putra ‘Abdul Muththalib.’”Aku berkata: Ini merupakan puncak keberanian yang paling sempurna. Pada hari seperti itu, di tengah kancah pertempuran yang berkecamuk, ketika pasukannya telah tercerai-berai darinya, beliau tetap berada di atas seekor baghal yang bukan tunggangan cepat, tidak cocok untuk menyerang, mundur, ataupun melarikan diri. Namun dalam keadaan seperti itu, beliau justru mengarahkannya ke hadapan musuh dan menyebutkan nama beliau agar dikenal oleh siapa pun yang belum mengenalnya. Semoga shalawat dan salam Allah senantiasa tercurah kepada beliau hingga hari kiamat.Semua itu tidak lain adalah karena keyakinan beliau kepada Allah, tawakal kepada-Nya, dan pengetahuan beliau bahwa Allah pasti akan menolongnya, menyempurnakan risalah yang diembankan kepadanya, dan memenangkan agamanya atas seluruh agama lainnya. Allah Turunkan Sakinah pada Perang HunainAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ أَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ۚ وَذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلْكَٰفِرِينَ“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 26)Oleh karena itu, Allah Ta‘ālā berfirman:﴿ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ﴾Artinya, Allah menurunkan ketenangan dan keteguhan kepada Rasul-Nya.Dan firman-Nya:﴿وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ﴾Maksudnya, kepada orang-orang beriman yang bersama beliau.Dan firman-Nya:﴿وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا﴾Yaitu para malaikat, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Abu Ja‘far bin Jarir.Ia berkata:Telah menceritakan kepada kami Al-Qasim, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Al-Hasan bin ‘Arafah, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Al-Mu‘tamir bin Sulaiman, dari ‘Auf—yaitu Ibnu Abi Jamīlah Al-A‘rābi—ia berkata: aku mendengar ‘Abdurrahman, mantan budak Ibnu Baratsan, ia menceritakan kepadaku dari seorang lelaki yang berada di pihak orang-orang musyrik pada hari Perang Hunain. Lelaki itu berkata:“Ketika kami bertemu dengan para sahabat Rasulullah ﷺ pada hari Hunain, mereka sama sekali tidak mampu bertahan menghadapi kami, bahkan sekejap pun. Ketika kami berhasil memukul mundur mereka, kami terus mengejar mereka hingga akhirnya kami sampai kepada seorang laki-laki yang berada di atas seekor bagal putih. Ternyata dia adalah Rasulullah ﷺ.Di dekat beliau, kami disambut oleh orang-orang berpakaian putih, berwajah tampan. Mereka berkata kepada kami: ‘Semoga wajah-wajah kalian menjadi buruk! Kembalilah!’Maka kami pun langsung lari tunggang-langgang. Mereka menaiki tengkuk-tengkuk kami, dan kekalahan itu pun menimpa kami.”Al-Ḥāfiẓ Abu Bakr Al-Baihaqi berkata:Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Abdillah Al-Ḥāfiẓ, telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ahmad bin Bālawaih, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Al-Hasan Al-Harbi, telah menceritakan kepada kami ‘Affān bin Muslim, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wāḥid bin Ziyād, telah menceritakan kepada kami Al-Ḥārith bin Ḥuṣairah, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim bin ‘Abdurrahman, dari ayahnya, ia berkata:Ibnu Mas‘ūd radhiyallahu ‘anhu berkata:“Aku bersama Rasulullah ﷺ pada hari Perang Hunain. Ketika itu orang-orang tercerai-berai meninggalkan beliau, dan yang tersisa bersama beliau hanyalah delapan puluh orang dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Kami maju ke depan dan tidak membelakangi musuh. Merekalah orang-orang yang Allah turunkan kepada mereka ketenangan.Rasulullah ﷺ berada di atas bagalnya dan terus maju. Bagalnya sempat menyimpang sehingga beliau hampir miring dari pelana. Aku berkata: ‘Bangkitlah, semoga Allah meninggikanmu.’Beliau bersabda: ‘Berikan kepadaku segenggam tanah.’ Aku pun memberikannya. Lalu beliau melemparkan tanah itu ke wajah mereka, hingga mata-mata mereka penuh dengan debu.Kemudian beliau bersabda: ‘Di mana kaum Muhajirin dan Anshar?’Aku menjawab: ‘Mereka ada di sana.’Beliau bersabda: ‘Panggil mereka!’Aku pun memanggil mereka. Mereka datang dengan pedang-pedang terhunus di tangan kanan mereka, seakan-akan kilatan cahaya. Maka orang-orang musyrik pun membalikkan badan mereka dan lari.”Riwayat ini juga dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dari ‘Affān, dengan lafaz yang hampir sama.Al-Walīd bin Muslim berkata:Telah menceritakan kepadaku ‘Abdullāh bin al-Mubārak, dari Abū Bakr al-Hudzalī, dari ‘Ikrimah—mantan budak Ibnu ‘Abbās—dari Syaibah bin ‘Utsmān, ia berkata:“Ketika aku melihat Rasulullah ﷺ pada hari Perang Hunain dalam keadaan terbuka (tidak terlindungi), aku teringat ayah dan pamanku yang terbunuh oleh ‘Ali dan Hamzah. Maka aku berkata dalam hatiku: ‘Hari ini aku akan menuntut balasku darinya.’Aku pun bergerak hendak mendatanginya dari sisi kanan. Namun tiba-tiba aku melihat al-‘Abbās bin ‘Abdul Muththalib berdiri, mengenakan baju besi putih seperti perak, debu pertempuran menyingkapinya. Aku berkata: ‘Itu pamannya, ia pasti tidak akan membiarkannya.’Lalu aku mendatanginya dari sisi kiri, ternyata di sana ada Abū Sufyān bin al-Ḥārith bin ‘Abdul Muththalib. Aku berkata: ‘Itu sepupunya, ia pun tidak akan membiarkannya.’Aku pun mendatanginya dari arah belakang. Tidak tersisa lagi bagiku kecuali mengayunkan pedang kepadanya. Tiba-tiba muncul di hadapanku nyala api di antara aku dan dia, seperti kilat. Aku takut api itu akan membakarku, maka aku menutup mataku dengan tanganku dan mundur perlahan.Rasulullah ﷺ lalu menoleh kepadaku dan bersabda: ‘Wahai Syaibah, wahai Syaibah, mendekatlah kepadaku. Ya Allah, hilangkanlah setan darinya.’Aku pun mengangkat pandanganku ke arah beliau. Saat itu, beliau menjadi lebih aku cintai daripada pendengaran dan penglihatanku sendiri. Lalu beliau bersabda: ‘Wahai Syaibah, perangilah orang-orang kafir.’”Karena itulah Allah Ta‘ālā berfirman:﴿ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ﴾“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 26) Kaum Hawazin Masuk IslamAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ يَتُوبُ ٱللَّهُ مِنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 26)Allah benar-benar telah menerima tobat sisa kaum Hawāzin. Mereka masuk Islam dan datang menemui Rasulullah ﷺ dalam keadaan sebagai kaum muslimin. Mereka menyusul beliau ketika beliau telah mendekati Mekah, tepatnya di Ji‘rānah, sekitar dua puluh hari setelah peristiwa perang.Pada saat itu, Rasulullah ﷺ memberi mereka pilihan antara mengambil kembali para tawanan mereka atau mengambil kembali harta-harta mereka. Mereka memilih para tawanan mereka. Jumlah tawanan itu sekitar enam ribu orang, terdiri dari anak-anak dan para perempuan. Maka Rasulullah ﷺ mengembalikan seluruh tawanan itu kepada mereka.Adapun harta rampasan perang, beliau membagikannya kepada para prajurit yang ikut berperang. Beliau juga memberikan tambahan pemberian (nafal) kepada sebagian orang dari golongan ṭulaqā’ (orang-orang yang baru masuk Islam setelah Fathu Mekah), dengan tujuan melembutkan hati mereka agar semakin kokoh dalam Islam. Beliau memberi mereka masing-masing seratus ekor unta.Di antara orang yang diberi seratus ekor unta tersebut adalah Mālik bin ‘Auf an-Naḍrī. Rasulullah ﷺ bahkan mengangkatnya kembali sebagai pemimpin atas kaumnya sebagaimana sebelumnya. Karena itu, Mālik bin ‘Auf memuji Rasulullah ﷺ dengan sebuah qasidah yang di antaranya berbunyi:Aku tidak pernah melihat dan tidak pernah mendengar
di tengah seluruh manusia seseorang seperti Muhammad.Paling menepati janji dan paling banyak memberi,
bila diminta kebaikan; dan kapan pun engkau kehendaki,
ia mampu mengabarkan apa yang akan terjadi esok hari.Jika pasukan telah menampakkan taring-taringnya,
dengan tombak-tombak lurus dan pedang-pedang tajam,Maka ia laksana singa di tengah anak-anaknya,
tenang di tengah debu peperangan, siap mengintai musuh. Kisah Dzul Khuwaishirah yang Menuntut Rasulullah untuk AdilKemudian datanglah utusan dari Hawazin yang telah masuk Islam di Ji‘ranah. Mereka berbicara kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, kami memiliki keluarga dan kerabat. Kami telah tertimpa musibah yang tidak tersembunyi bagimu. Maka berilah kami sebagian dari apa yang Allah berikan kepadamu.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“أَبْنَاؤُكُمْ وَنِسَاؤُكُمْ أَحَبُّ إِلَيْكُمْ أَمْ أَمْوَالُكُمْ؟”“Anak-anak dan wanita kalian lebih kalian cintai atau harta kalian?”Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, engkau memberi kami pilihan antara harta dan keluarga kami, maka kami memilih agar wanita dan anak-anak kami dikembalikan kepada kami. Itu lebih kami cintai.”Beliau bersabda kepada mereka,“أَمَّا مَا كَانَ لِي وَلِبَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَهُوَ لَكُمْ”“Adapun yang menjadi bagianku dan bagian Bani Abdul Muththalib, maka itu untuk kalian.”Kemudian beliau berkata, “Jika aku telah selesai salat Zuhur bersama manusia, maka berdirilah kalian dan katakan: ‘Kami memohon syafaat kepada Rasulullah kepada kaum muslimin, dan kepada kaum muslimin agar membantu kami dalam urusan wanita dan anak-anak kami.’”Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai salat Zuhur bersama manusia, mereka pun berdiri dan menyampaikan apa yang diperintahkan kepada mereka. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“أَمَّا مَا كَانَ لِي وَلِبَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَهُوَ لَكُمْ”“Adapun yang menjadi bagianku dan bagian Bani Abdul Muththalib, maka itu untuk kalian.”Kaum Muhajirin berkata, “Apa yang menjadi bagian kami, maka itu untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Al-Aqra‘ bin Habis berkata, “Adapun aku dan Bani Tamim, tidak.”‘Uyainah bin Hishn berkata, “Adapun aku dan Bani Fazarah, tidak.”Al-‘Abbas bin Mirdas berkata, “Adapun aku dan Bani Sulaim, tidak.”Namun Bani Sulaim berkata, “Bahkan, apa yang menjadi bagian kami, maka itu untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“أَمَّا مَنْ تَمَسَّكَ مِنْكُمْ بِحَقِّهِ مِنْ هَذَا السَّبْيِ فَلَهُ بِكُلِّ إِنْسَانٍ سِتُّ فَرَائِضَ مِنْ أَوَّلِ سَبْيٍ أُصِيبَهُ”“Adapun siapa di antara kalian yang tetap mempertahankan haknya dari tawanan ini, maka baginya setiap satu orang (yang ia lepaskan) akan diganti dengan enam bagian dari tawanan pertama yang akan kami dapatkan.”Maka mereka pun mengembalikan anak-anak dan wanita kepada kaum tersebut.Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Ji‘ranah, sementara di tangan Bilal ada pakaian, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil darinya untuk dibagikan kepada manusia. Lalu orang itu berkata, “Wahai Muhammad, berlakulah adil!”Beliau bersabda,“وَيْلَكَ، وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ؟ لَقَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ”“Celakalah engkau! Siapa yang akan berlaku adil jika aku tidak berlaku adil? Sungguh engkau akan rugi dan merugi jika aku tidak berlaku adil.”Maka Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Wahai Rasulullah, izinkan aku membunuh orang munafik ini.”Beliau bersabda,“مَعَاذَ اللَّهِ، أَنْ يَتَحَدَّثَ النَّاسُ أَنِّي أَقْتُلُ أَصْحَابِي”“Aku berlindung kepada Allah dari ucapan orang-orang bahwa aku membunuh para sahabatku.”Beliau melanjutkan,“إِنَّ هَذَا وَأَصْحَابَهُ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنْهُ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ”“Sesungguhnya orang ini dan pengikutnya membaca Al-Qur’an, tetapi tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah melesat dari sasarannya.”Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan harta kepada orang-orang Quraisy dan kabilah Arab lainnya, sementara kaum Anshar tidak mendapatkan bagian, maka sebagian dari mereka merasakan sesuatu dalam hati mereka, hingga salah seorang dari mereka berkata, “Demi Allah, Rasulullah telah menemui kaumnya.”Maka Sa‘d bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kaum Anshar merasakan sesuatu dalam hati mereka terhadap apa yang engkau lakukan, yaitu engkau membagi kepada kaummu dan memberikan pemberian besar kepada kabilah Arab, sementara kaum Anshar tidak mendapatkan bagian apa pun.”Beliau bersabda, “Di manakah posisi engkau dalam hal ini, wahai Sa‘d?”Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, aku hanyalah bagian dari kaumku.”Beliau bersabda, “Kumpulkanlah kaummu di tempat ini.”Maka Sa‘d mengumpulkan kaum Anshar di tempat tersebut. Setelah mereka berkumpul, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di tengah mereka, memuji Allah dan menyanjung-Nya, lalu bersabda:“يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ، مَا قَالَةٌ بَلَغَتْنِي عَنْكُمْ؟”“Wahai kaum Anshar, apa ucapan yang sampai kepadaku dari kalian?”Mereka menjawab, “Adapun orang-orang bijak di antara kami, wahai Rasulullah, mereka tidak mengatakan apa-apa. Namun sebagian dari kami yang masih muda berkata: ‘Semoga Allah mengampuni Rasulullah, beliau memberi kepada Quraisy dan meninggalkan kami, sementara pedang kami masih meneteskan darah mereka.’”Maka beliau bersabda,“أَلَمْ آتِكُمْ ضُلَّالًا فَهَدَاكُمُ اللَّهُ، وَعَالَةً فَأَغْنَاكُمُ اللَّهُ، وَأَعْدَاءً فَأَلَّفَ اللَّهُ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ؟”“Bukankah dahulu kalian dalam keadaan sesat lalu Allah memberi kalian petunjuk, kalian dalam keadaan miskin lalu Allah mencukupkan kalian, dan kalian saling bermusuhan lalu Allah menyatukan hati kalian?”Mereka menjawab, “Benar, Allah dan Rasul-Nya lebih banyak memberi karunia dan keutamaan.”Beliau bersabda,“أَلَا تُجِيبُونِي يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ؟”“Mengapa kalian tidak menjawabku, wahai kaum Anshar?”Mereka berkata, “Apa yang harus kami katakan, wahai Rasulullah? Bagi Allah dan Rasul-Nya segala karunia dan keutamaan.”Beliau bersabda,“أَمَا وَاللَّهِ لَوْ شِئْتُمْ لَقُلْتُمْ فَلَصَدَقْتُمْ وَلَصُدِّقْتُمْ: أَتَيْتَنَا مُكَذَّبًا فَصَدَّقْنَاكَ، وَمَخْذُولًا فَنَصَرْنَاكَ…”“Demi Allah, seandainya kalian mau, kalian bisa mengatakan—dan kalian benar—: ‘Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami membenarkanmu; engkau datang dalam keadaan ditinggalkan, lalu kami menolongmu lalu kalian menolongku, aku datang dalam keadaan terusir lalu kalian melindungiku, dan dalam keadaan miskin lalu kalian mencukupkanku.”“Wahai kaum Anshar, apakah kalian merasakan sesuatu dalam hati kalian karena sedikit bagian dunia yang dengannya aku ingin melunakkan hati suatu kaum agar mereka masuk Islam, sementara aku menyerahkan keislaman kalian (tanpa diberi bagian dunia)? Tidakkah kalian ridha, wahai kaum Anshar, bahwa manusia kembali dengan kambing dan unta, sedangkan kalian kembali membawa Rasulullah ke tempat tinggal kalian?”“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seandainya bukan karena hijrah, niscaya aku termasuk bagian dari kaum Anshar. Jika manusia menempuh suatu jalan dan kaum Anshar menempuh jalan lain, pasti aku akan menempuh jalan kaum Anshar. Ya Allah, rahmatilah kaum Anshar, anak-anak Anshar, dan cucu-cucu Anshar.”Maka kaum itu pun menangis hingga janggut mereka basah, dan mereka berkata, “Kami ridha dengan Rasulullah sebagai bagian kami dan pembagian yang kami terima.”Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pergi, dan mereka pun berpisah. Delegasi Tsaqif Datang Menemui Rasulullah ﷺRasulullah ﷺ tiba di Madinah dalam keadaan menang, setelah Allah memuliakan beliau dengan kemenangan atas dua kekuatan Arab terbesar di Jazirah Arab. Beliau memasuki Madinah pada malam keenam yang tersisa dari bulan Dzulqa‘dah.Adapun kaum Tsaqif, mereka tetap bertahan dalam keadaan takut hingga Rasulullah ﷺ pulang dari perang Tabuk. Setelah itu mereka datang menemui Nabi ﷺ. Al-Mughirah bin Syu‘bah radhiyallahu ‘anhu lebih dahulu menemui mereka, lalu ia meminta kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu agar menjadi orang yang menyampaikan kabar gembira kepada Rasulullah ﷺ tentang kedatangan mereka. Abu Bakar pun menyetujuinya. Maka Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu masuk menemui Rasulullah ﷺ dan menyampaikan kabar gembira tersebut.Rasulullah ﷺ kemudian mendirikan kemah untuk mereka di masjid agar mereka merasa dekat dengan Islam. Disebutkan dari Al-Hasan rahimahullah, dari ‘Utsman bin Abi Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu, bahwa ketika delegasi Tsaqif datang menemui Rasulullah ﷺ, beliau menempatkan mereka di masjid agar hati mereka menjadi lebih lunak.Mereka lalu mengajukan syarat agar tidak diwajibkan ikut perang dan tidak dibebani zakat. Rasulullah ﷺ bersabda:«لَكُمْ أَنْ لَا تُحْشَرُوا وَلَا تُعْشَرُوا، وَلَا خَيْرَ فِي دِينٍ لَيْسَ فِيهِ رُكُوعٌ»“Kalian tidak diwajibkan keluar untuk berjihad dan tidak dipungut sepersepuluh harta (usyur), tetapi tidak ada kebaikan pada agama yang tidak ada rukuk di dalamnya.”Mereka juga meminta agar Rasulullah ﷺ menunda penghancuran berhala Al-Lat selama tiga tahun. Namun beliau menolak kecuali berhala itu harus dihancurkan. Mereka lalu meminta agar mereka tidak diperintahkan menghancurkannya sendiri. Maka Rasulullah ﷺ mengutus Abu Sufyan dan Al-Mughirah bin Syu‘bah radhiyallahu ‘anhuma untuk menghancurkan Al-Lat.Beliau juga mengangkat ‘Utsman bin Abi Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu sebagai pemimpin mereka, padahal usianya paling muda di antara mereka. Hal itu karena Rasulullah ﷺ melihat semangatnya dalam mempelajari Al-Qur’an dan mendalami agama. Disebutkan pula bahwa beliau memerintahkannya menjadikan tempat berhala mereka sebagai lokasi masjid Thaif. Pelajaran yang Dipetik dari Perang Hunain dan Pengepungan ThaifPertama: Sesungguhnya Allah dengan taufik-Nya mengatur urusan hamba-hamba-Nya yang beriman, bersikap lembut kepada mereka, dan melindungi mereka dari tipu daya orang-orang kafir. Allah menjadikan apa yang Dia kehendaki sebagai harta rampasan bagi kaum muslimin.Tidaklah Rasulullah ﷺ keluar menghadapi kekuatan besar kaum Quraisy di Makkah, kecuali karena Allah menanamkan rasa takut ke dalam hati kaum Hawazin, sehingga mereka berhenti bergerak untuk memerangi Rasulullah ﷺ. Bahkan Allah menjadikan mereka menghadapi Rasulullah ﷺ dengan membawa serta wanita-wanita dan harta-harta mereka berupa unta dan kambing yang jumlahnya hanya diketahui oleh Allah.Semua itu terjadi agar harta rampasan tersebut menjadi milik kaum muslimin, yang dengannya Rasulullah ﷺ dapat menggunakannya untuk melembutkan dan menautkan hati serta mengobati luka batin penduduk Makkah, setelah mereka mengalami kekalahan besar yang sangat melukai perasaan mereka.Pada fase dakwah ini, Rasulullah ﷺ sangat membutuhkan upaya penaklukan hati, sementara beliau sendiri tidak memiliki apa-apa, bahkan sampai harus meminjam baju besi dari Shafwan. Maka datanglah harta-harta rampasan dan kekayaan yang besar ini, lalu Rasulullah ﷺ menggunakannya untuk menundukkan hati para pemimpin yang sebelumnya telah “hilang akal sehatnya” (karena kebencian dan permusuhan).Mahasuci Allah, Sang Pengatur segala urusan dan Pembolak-balik hati sesuai kehendak-Nya. Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.Kedua: Peristiwa Rasulullah ﷺ meminjam baju besi dari Shafwan bin Umayyah mengandung beberapa pelajaran, di antaranya:Keterbatasan sarana material yang dimiliki pasukan Rasulullah ﷺ, hingga beliau harus meminjam senjata dari seorang musyrik.Bolehnya seorang imam atau pemimpin meminjam senjata milik orang musyrik untuk memerangi musuh. Peristiwa ini termasuk salah satu bentuk isti‘ānah (meminta bantuan).Barang pinjaman (al-‘āriyah) itu bersifat tanggungan, meskipun barang yang dipinjam tersebut adalah milik orang musyrik, meski dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan para fuqaha.Ketiga: Malik an-Nadhri mengutus seorang mata-mata sebagai pemimpin pasukan Tsaqif dan Hawazin agar ia mengamati langsung keadaan Rasulullah ﷺ dan berita tentang pasukan kaum muslimin.Ketika mata-mata itu kembali kepada Malik, terlihat jelas pada wajahnya tanda-tanda ketakutan dan kegentaran. Maka Malik bertanya, “Apa yang terjadi dengan kalian?”Mereka menjawab, “Kami melihat para lelaki yang berpakaian putih, menaiki kuda-kuda hitam pekat. Demi Allah, kami sama sekali tidak mampu bertahan, dan apa yang kami alami benar-benar tidak terbayangkan.”Malik pun tidak mampu menolak atau menghalangi mereka dari tujuan dan niat tersebut.Peristiwa ini merupakan salah satu bentuk rasa takut (ar-ru‘b) yang Allah berikan sebagai pertolongan kepada Rasul-Nya ﷺ dan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.Allah Ta‘ala berfirman:﴿ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ فَرِيقًا تَقْتُلُونَ وَتَأْسِرُونَ فَرِيقًا ﴾“Dan Dia menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka; sebagian mereka kalian bunuh dan sebagian yang lain kalian tawan.” (QS. Al-Ahzab: 26)Dan Allah Ta‘ala juga berfirman:﴿ سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا ۖ وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ ۖ وَبِئْسَ مَثْوَى الظَّالِمِينَ ﴾“Akan Kami tanamkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir, karena mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan dalil tentang itu. Tempat mereka adalah neraka, dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal bagi orang-orang zalim.” (QS. Ali ‘Imran: 151)Dan Rasulullah ﷺ bersabda:«نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ»“Aku ditolong dengan rasa takut (yang ditanamkan ke dalam hati musuh).” (HR. Bukhari dan Muslim)Keempat: Ketika ada seorang laki-laki dari kaum muslimin berkata, “Kita tidak akan dikalahkan hari ini karena jumlah yang sedikit,” Rasulullah ﷺ tidak menyukai ucapan tersebut, karena beliau mengetahui akibat buruk dari perkataan semacam itu. Dari sini kita dapat mengambil pelajaran sebagai berikut:1. Ucapan satu orang saja, sebagaimana disebutkan oleh para ahli sirah, bisa menjadi sebab datangnya musibah besar yang menimpa seluruh pasukan secara keseluruhan. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya waspada agar tidak mendatangkan bencana bagi komunitasnya atau keluarganya akibat keburukan yang muncul dari perbuatannya atau ucapannya.2. Meskipun hanya satu kalimat, namun dengan sebab itulah bencana terjadi. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:«إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ، مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ» “Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan satu kata, yang ia tidak memperhatikan akibatnya, lalu karena kata itu ia tergelincir ke dalam neraka sejauh jarak antara timur.” (HR. Bukhari dan Muslim)3. Ini menunjukkan kelemahan tabiat manusia dan cepatnya ia tertipu oleh rasa bangga. Seseorang bisa saja, ketika melihat banyaknya jumlah pasukan, merasa kagum, tertipu oleh kekuatan semu itu, lalu membesarkan dirinya dan merasa yakin akan kemenangan. Ia pun mengucapkan kalimat tersebut, yang muncul dari kelemahan manusiawi yang kadang menimpa seorang hamba dalam kondisi tertentu, ketika ia tidak selalu menghadirkan rasa takwa kepada Allah, pengawasan-Nya, ketundukan kepada-Nya, serta kesadaran atas nikmat-nikmat-Nya.4. Besarnya bahaya perkara ini, karena berkaitan langsung dengan akidah. Seorang muslim, di antara bentuk ibadah terbesar yang ia lakukan, adalah tunduk kepada Allah, bersyukur atas nikmat-Nya, dan waspada dari kelalaian dalam hal ini. Hendaknya ia menyadari bahwa rasa ujub (bangga diri) dan masuknya kesombongan ke dalam hati termasuk dosa-dosa besar yang dapat membinasakan.5. Besarnya bahaya perkara ini juga ditunjukkan oleh hukuman yang terjadi secara langsung, serta ayat-ayat yang turun untuk menegur umat agar mereka mengambil pelajaran untuk masa depan mereka. Karena itu, ucapan semacam ini tidak boleh dianggap remeh. Abu Bakar al-Jazā’irī rahimahullah berkata dalam penjelasannya: “Haramnya merasa kagum terhadap diri sendiri, terhadap amal, atau terhadap kekuatan. Sebab, akibat dari sikap tersebut adalah kekalahan kaum mukminin pada awal pertempuran mereka melawan musuh.”6. Pada peristiwa ini juga terdapat pelajaran akidah yang sangat penting. Jika Perang Badar telah menetapkan bagi kaum muslimin bahwa jumlah yang sedikit tidak membahayakan mereka di hadapan musuh-musuh mereka apabila mereka bersabar, bertakwa, dan hati mereka bergantung kepada Allah Ta’ala, maka Perang Hunain menetapkan bagi kaum muslimin bahwa jumlah yang banyak pun tidak akan memberi manfaat sedikit pun, apabila hati mereka tidak bergantung kepada Allah Ta’ala. Perang Hunain telah menetapkan bagi kaum muslimin bahwa jumlah yang banyak pun tidak akan memberi manfaat apa pun, apabila hati mereka tidak bergantung kepada Allah.Kelima: Dalam ucapan sebagian orang yang diucapkan di hadapan Rasulullah ﷺ: “Jadikanlah untuk kami dzātu anwāṭ sebagaimana mereka memiliki dzātu anwāṭ,” terdapat beberapa pelajaran penting, di antaranya:Orang-orang yang mengucapkan kalimat tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh perawi hadits Abu Wāqid al-Laitsī radhiyallāhu ‘anhu, adalah orang-orang yang baru saja keluar dari kekafiran. Mereka termasuk orang-orang yang baru masuk Islam setelah penaklukan Makkah atau sesudahnya, dan bukan dari kalangan sahabat yang telah lebih dahulu masuk Islam. Karena itu, perkara seperti ini tidak mungkin muncul dari para sahabat terdahulu, dan tidak pantas disangka atau dituduhkan kepada mereka. Semoga Allah Ta‘ālā meridai mereka semua.Kewajiban bersikap sangat waspada terhadap kesyirikan. Orang-orang tersebut tidak bermaksud menggantungkan diri kepada pohon sebagaimana praktik orang-orang musyrik, namun Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ucapan mereka serupa dengan ucapan para pengikut Nabi Musa, yaitu: “Jadikanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan.” Maka perhatikanlah bagaimana cara melakukan tabarruk (mencari berkah), memohon keberkahan, beribadah, dan mendekatkan diri kepada yang diberkahi. Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas‘ūd radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Kami pernah bersama Rasulullah ﷺ dalam sebuah perjalanan, lalu kami kehabisan air. Rasulullah ﷺ bersabda:«اطْلُبُوا فَضْلَةً مِنْ مَاءٍ»“Carilah sisa air.”Lalu didatangkan sebuah bejana yang di dalamnya terdapat sedikit air. Rasulullah ﷺ memasukkan tangannya ke dalam bejana itu, kemudian bersabda:«حَيَّ عَلَى الطَّهُورِ الْمُبَارَكِ، وَالْبَرَكَةُ مِنَ اللَّهِ» “Marilah kepada air bersuci yang diberkahi, dan keberkahan itu berasal dari Allah.” Yakni, keberkahan tidak diminta kecuali dari Allah semata, tidak dari selain-Nya. Dialah Allah —dengan mematahkan anggapan keliru— tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia.Pintu tabarruk termasuk pintu terbesar yang melaluinya kesyirikan masuk ke tengah manusia. Awalnya, orang-orang mengagungkan para ulama dan orang-orang saleh, lalu meminta doa kepada mereka. Setelah itu, mereka mulai mengusap-usap (tabarruk) kepada mereka, dan meyakini bahwa para tokoh tersebut memiliki kemampuan memberi keberkahan karena kesalehan dan kedudukan mereka di sisi Allah. Ketika mereka terus-menerus meminta keberkahan kepada orang-orang tersebut, muncullah praktik tabarruk kepada para wali dan orang-orang saleh, kemudian tabarruk kepada kuburan, bahkan berkembang menjadi tabarruk kepada pepohonan dan batu-batuan. Semua ini merupakan penyimpangan yang besar.Meminta Keberkahan kepada Allah SemataKeberkahan diminta dari Zat yang memilikinya, bukan dari yang tidak memilikinya. Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, beliau sangat mencintainya dan berharap keberkahan ada di dalamnya, lalu beliau berdoa kepada Allah Subḥānahu. Dalam hadits Abu Sa‘īd al-Khudrī radhiyallāhu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:«اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي مَدِينَتِنَا، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي صَاعِنَا، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي مُدِّنَا، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي مَدِينَتِنَا، اللَّهُمَّ اجْعَلْ مَعَ الْبَرَكَةِ بَرَكَتَيْنِ» (1)“Ya Allah, berkahilah kota Madinah kami. Ya Allah, berkahilah sha‘ kami. Ya Allah, berkahilah mudd kami. Ya Allah, berkahilah kota Madinah kami. Ya Allah, jadikanlah keberkahan itu berlipat ganda.”Beliau berdoa agar Allah memberikan keberkahan pada Madinah, makanan pokok mereka, dan takaran mereka. Maka, jika Rasulullah ﷺ sendiri meminta keberkahan dari Allah, sudah seharusnya kita tidak meminta keberkahan kecuali kepada Allah.Adapun meminta keberkahan kepada selain-Nya, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang meminta keberkahan dengan menggantungkan senjata mereka pada pohon, maka perbuatan itu sama dengan ucapan “Jadikanlah untuk kami sesembahan”, dan berarti menjadikan tandingan bagi Allah.Maka orang-orang seperti ini harus diberi peringatan keras, diarahkan untuk kembali kepada Allah, dan dicegah dari mencari keberkahan dengan cara yang menyimpang, sebagaimana mereka juga dicegah dari penyimpangan dalam seluruh bentuk ibadah lainnya. Nasihat Mengenai Ngalap Berkah (Tabarruk)Maka seharusnya orang-orang seperti ini sadar dan kembali kepada Allah. Hendaknya mereka bersungguh-sungguh dalam mencari keberkahan hanya kepada-Nya, sebagaimana mereka bersungguh-sungguh dalam berbagai bentuk ibadah lainnya.1. Perhatikan apa yang diminta oleh mereka kepada Rasulullah ﷺ.Mereka berkata, “Jadikanlah untuk kami Dzātu Anwāṭ sebagaimana mereka memiliki Dzātu Anwāṭ.”Dalam Fathul Majīd dijelaskan bahwa maksudnya, mereka tidak meminta agar dibuatkan sesembahan selain Allah—karena mereka tentu lebih paham dan lebih mulia dari itu—tetapi mereka hanya meminta sebuah pohon yang diberi izin oleh Nabi untuk mereka bertabarruk (mengambil berkah darinya), dengan cara menggantungkan senjata-senjata mereka di sana, tanpa melakukan shalat atau sedekah untuknya.Namun Nabi ﷺ menjelaskan bahwa permintaan mereka untuk bertabarruk tersebut—meskipun tidak disertai shalat atau sedekah—tetap termasuk syirik itu sendiri. Di dalamnya terdapat bantahan terhadap syubhat kaum musyrik di zaman ini yang mengira bahwa apa yang mereka lakukan berupa tabarruk dan pengagungan adalah sesuatu yang tidak mengapa.2. Apa yang mereka minta bukanlah syirik kecil.Seandainya Nabi ﷺ mengabulkannya, tentu itu serupa dengan ucapan Bani Israil kepada Nabi mereka, “Jadikanlah untuk kami sesembahan.” Demi Allah, itu termasuk syirik besar. Namun Bani Israil tidak langsung dikafirkan karena permintaan tersebut, sebab mereka baru saja meninggalkan kekafiran dan masuk ke dalam Islam. Selain itu, mereka tidak sampai melakukannya dan tidak memaksakan permintaan tersebut, melainkan hanya sekadar meminta kepada Nabi ﷺ.3. Kaidah bahwa ibadah itu harus berdasarkan perintah syariat sudah tertanam dalam diri para sahabat.Para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang mengajukan permintaan tersebut tidak serta-merta melakukannya sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah. Mereka tidak langsung mengamalkannya, tetapi terlebih dahulu mendatangi Rasulullah ﷺ. Sebab mereka mengetahui bahwa setiap ibadah harus memiliki landasan syariat sebelum diamalkan, agar seseorang tidak terjatuh ke dalam perbuatan bid’ah, yaitu beribadah kepada Allah tanpa dasar yang telah Dia tetapkan.Keenam: Wajib berhati-hati dari menyerupai orang-orang kafir.Hal ini karena Rasulullah ﷺ telah menjelaskan hal tersebut dalam sabdanya:لَتَتَّبِعُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَذْوَ الْقُذَّةِ بِالْقُذَّةِ“Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, setahap demi setahap.”Oleh karena itu, sudah sepantasnya seorang muslim waspada dan tidak meniru orang-orang kafir. Bahkan, yang menjadi kewajibannya adalah berhati-hati dari menyerupai mereka dalam seluruh urusan mereka, serta mewaspadai ajakan untuk mengikuti hawa nafsu dan penyimpangan umat-umat terdahulu.Menyerupai orang-orang kafir juga termasuk salah satu sebab terbesar munculnya berbagai bid’ah. Dalam hadis ini dijelaskan bahwa sikap menyerupai orang kafir itulah yang mendorong Bani Israil untuk meminta kepada Nabi Musa agar dibuatkan bagi mereka sesembahan sebagaimana kaum kafir memiliki sesembahan yang mereka sembah.Demikian pula, sikap menyerupai orang kafir itulah yang mendorong sebagian sahabat Nabi Muhammad ﷺ—yang saat itu masih baru masuk Islam—untuk meminta agar dibuatkan bagi mereka sebuah pohon yang mereka jadikan tempat mencari berkah selain Allah.Dan inilah kenyataan yang terjadi pada hari ini. Sebagian kaum muslimin meniru orang-orang kafir dalam melakukan bid’ah dan perbuatan syirik. Salah satu sebab paling menonjol dari penyimpangan tersebut adalah sikap menyerupai orang-orang kafir. Ketujuh: Mengambil pelajaran tentang pentingnya optimisme (tafā’ul).Ketika Rasulullah ﷺ mengutus ‘Abdullah bin Abī Ḥadrad radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu dan ayahnya untuk mendatangi pasukan Tsaqīf, lalu ia kembali dan mengabarkan bahwa ia melihat kaum wanita, keluarga, anak-anak, serta hewan ternak mereka ikut bersama pasukan itu—yang maksud mereka adalah untuk menunjukkan keteguhan dan agar tidak lari saat pertempuran—maka hal itu tentu merupakan sesuatu yang menakutkan bagi pasukan yang menghadapinya.Namun Rasulullah ﷺ tersenyum dan bersabda, “Itu adalah harta rampasan kaum muslimin esok hari, insya Allah.” Dari peristiwa ini kita mengambil pelajaran tentang sikap optimis.Sepanjang kehidupan Rasulullah ﷺ dipenuhi dengan optimisme. Dalam kondisi apa pun, beliau selalu melihat dari sisi yang membawa harapan. Beliau tidak terpengaruh oleh kumpulan pasukan Tsaqīf, bahkan mengucapkan kata-kata optimis yang didengar oleh para sahabat radhiyallāhu ‘anhum. Ucapan itu membangkitkan harapan, menyemangati jiwa, dan meneguhkan hati.Sebab jiwa manusia, ketika diingatkan pada kekuatan dan jumlah besar musuh, bisa saja merasa gentar. Namun ketika diberi harapan tentang kemenangan dan ganimah yang besar, maka ia akan berani dan maju. Apalagi ketika gambaran tentang harta rampasan itu seakan-akan sudah tampak di depan mata.Sikap seperti ini juga tampak pada peristiwa ketika Rasulullah ﷺ kembali dari mendatangi Banī Qurayẓah pada hari Perang Aḥzāb. Saat itu para sahabat—di antaranya Sa‘d bin Mu‘ādz, Sa‘d bin ‘Ubādah, ‘Abdullah bin Rawāḥah, dan Khawwāt bin Jubair radhiyallāhu ‘anhum—yang diutus untuk memastikan apakah Banī Qurayẓah telah melanggar perjanjian, kembali dan mengabarkan bahwa mereka benar-benar telah mengkhianati perjanjian.Maka Rasulullah ﷺ mengangkat kepalanya dan bersabda:«أَبْشِرُوا يَا مَعْشَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِنَصْرِ اللَّهِ تَعَالَى وَعَوْنِهِ»“Bergembiralah wahai kaum mukminin, dengan pertolongan dan bantuan Allah Ta‘ālā.”Ketika keadaan semakin sulit dan musuh semakin berkumpul, hati pun semakin bergantung kepada Allah, dan pertolongan pun datang. Rasulullah ﷺ sangat perhatian pada hari itu untuk menebarkan ketenangan dan optimisme di hadapan para sahabat radhiyallāhu ‘anhum. Kedelapan: Di antara pelajaran dari serangan mendadak orang-orang kafir terhadap kaum Muslimin, kekacauan barisan mereka, lalu kekalahan yang mereka alami — dan tidak ada yang tetap tegar bersama Rasulullah ﷺ kecuali sedikit dari kalangan mukminin — terdapat pelajaran praktis bagi kaum Muslimin di setiap zaman dan tempat: janganlah kalian tertipu oleh kekuatan kalian dan jangan pula oleh jumlah yang kalian miliki.Sebagian kaum Muslimin ketika itu berkata, “Hari ini kita tidak akan kalah karena jumlah yang sedikit.” Namun ternyata mereka mengalami kekalahan pada awal pertemuan dengan musuh. Peristiwa ini menjadi pendidikan dan pembinaan bagi hati agar tidak berpaling kepada selain Allah. Jika hati berpaling kepada selain-Nya, maka akibatnya akan seperti yang terjadi pada pasukan Hunain di awal pertempuran.Allah Ta’ala berfirman:لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْـًٔا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ“Sungguh, Allah telah menolong kalian di banyak medan peperangan, dan (ingatlah) pada Perang Hunain, ketika jumlah kalian yang banyak membuat kalian bangga, tetapi jumlah itu tidak memberi manfaat sedikit pun bagi kalian. Bumi yang luas terasa sempit bagi kalian, kemudian kalian berbalik ke belakang dengan lari tunggang-langgang.” (QS. At-Taubah: 25)Setelah pelajaran itu benar-benar terwujud dan pesan pun sampai, manusia memahami secara nyata bahwa kekuatan dan jumlah mereka tidak akan bermanfaat jika Allah tidak menolong mereka. Jika Allah Jalla Sya’nuhu tidak memberikan pertolongan, maka tidak akan turun kemenangan dari sisi-Nya.Allah — Mahatinggi dan Mahamulia — tidak akan menyia-nyiakan hamba-hamba-Nya yang beriman. Dialah yang berperang dengan pertolongan-Nya, anugerah-Nya, dan kebaikan-Nya.Sebagaimana firman-Nya:وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ“Dan menjadi kewajiban atas Kami untuk menolong orang-orang yang beriman.” (QS. Ar-Rum: 47)Namun setelah Allah memperlihatkan kepada kaum mukminin secara nyata keadaan mereka tanpa pertolongan-Nya, barulah pertolongan itu datang dari sisi Allah. Allah Ta’ala berfirman:ثُمَّ أَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin, serta menurunkan bala tentara yang tidak kalian lihat, dan Dia mengazab orang-orang kafir. Itulah balasan bagi orang-orang kafir.” (QS. At-Taubah: 26)Adapun keadaan kita hari ini — realitas kita tercerai-berai dan hati kita belum bergantung kepada Allah sebagaimana mestinya — maka kita perlu memahami pelajaran ini dengan baik agar keadaan kita menjadi lurus. Sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.Kesembilan: Firman Allah Ta’ala: “Sungguh, Allah telah menolong kalian di banyak medan peperangan, dan (ingatlah) pada Perang Hunain, ketika jumlah kalian yang banyak membuat kalian bangga, tetapi jumlah itu tidak memberi manfaat sedikit pun bagi kalian. Bumi yang luas terasa sempit bagi kalian, kemudian kalian berbalik ke belakang dengan lari tunggang-langgang. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin, serta menurunkan bala tentara yang tidak kalian lihat, dan Dia mengazab orang-orang kafir. Itulah balasan bagi orang-orang kafir.” (QS. At-Taubah: 25–26)Ath-Thahir bin ‘Asyur rahimahullah berkata, “Penyandaran pertolongan secara tegas kepada Allah Ta’ala bertujuan untuk menampakkan tanda kecintaan Allah, meskipun di dalamnya terdapat sebagian kepentingan dunia. Di dalamnya terdapat bagian akhirat, dan juga bagian dunia berupa kemenangan yang menguatkan persatuan, menghasilkan ghanimah, serta melindungi umat dari serangan musuh-musuhnya. Semua itu termasuk karunia Allah, karena mereka melihat kecintaan-Nya dalam urusan-urusan dunia mereka.”Beliau juga berkata, “Penyebutan secara khusus hari Hunain di antara hari-hari peperangan lainnya, karena kaum Muslimin sempat mengalami kekalahan pada awalnya, kemudian kemenangan kembali kepada mereka. Penyebutan ini mengandung pelajaran bahwa kemenangan diraih ketika menaati perintah Allah dan Rasul-Nya ﷺ, sedangkan kekalahan terjadi ketika lebih mengutamakan keuntungan dunia yang segera daripada ketaatan.”Kesepuluh: Seruan Al-‘Abbas radhiyallahu ‘anhu kepada para sahabat Baiat Syajarah, juga kepada kaum Muhajirin dan Anshar, lalu kembalinya mereka.Tidak lama setelah peristiwa itu, para pasukan yang sempat mundur kembali berkumpul di sekitar Rasulullah ﷺ. Hal ini menunjukkan bahwa larinya mereka tidaklah jauh. Itu hanyalah kekacauan dan kepanikan sesaat. Mereka masih berada cukup dekat sehingga dapat mendengar suara panggilan.Kemudian terjadi pendidikan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, lalu datang keteguhan yang bersumber dari Allah dan pertolongan-Nya. Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama mengatakan bahwa dalam hadis ini terdapat dalil bahwa mundurnya mereka tidaklah jauh dan tidak semua pasukan benar-benar melarikan diri. Yang mundur hanyalah orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit, dari kalangan penduduk Makkah yang baru masuk Islam (mualaf) dan orang-orang musyrik Makkah yang belum benar-benar beriman.Kekalahan itu datang secara tiba-tiba. Mereka dihujani anak panah sekaligus dan bercampur dengan sebagian penduduk Makkah yang imannya belum kokoh. Di antara mereka ada wanita dan anak-anak yang ikut keluar untuk mencari harta rampasan, sehingga mereka berada di barisan depan. Ketika panah-panah beterbangan, mereka pun berbalik dan lari. Namun akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ketenangan kepada kaum mukminin, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.”Kesebelas: Ketika Al-‘Abbas memanggil para sahabat Baiat Syajarah dan menyeru kaum Anshar, mereka segera menyambut dan kembali kepada Rasulullah ﷺ. Bahkan sebagian mereka tidak mampu membalikkan unta yang ditungganginya, sehingga ia turun dan meninggalkannya, lalu kembali kepada Rasulullah ﷺ dengan senjatanya.Hal ini menegaskan kewajiban untuk segera menyambut seruan Rasulullah ﷺ dan mengingatkan kita pentingnya bersegera memenuhi perintah beliau begitu kita mendengar dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah.Kedua belas: Kita melihat bahwa Rasulullah ﷺ, yang sangat lembut dan penyayang terhadap orang-orang beriman, tidak mencela seorang pun dari mereka yang sempat mundur. Ketika Ummu Salim radhiyallahu ‘anha berkata tentang orang-orang yang lari, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mencukupi dan memperbaiki keadaan.”Artinya, beliau tidak menegur mereka dengan celaan, karena peristiwa itu telah berlalu dan tidak ada jalan untuk mengulanginya, terlebih dalam kondisi perang yang memang menimbulkan guncangan jiwa. Rasulullah ﷺ memuliakan para sahabatnya dengan tidak mengungkit kesalahan itu. Demikianlah sikap yang baik: memaafkan, melapangkan dada, dan tidak berlebihan dalam menyalahkan seorang Muslim atas kesalahan yang sudah tidak mungkin diperbaiki. Seorang Muslim hendaknya memberi ruang bagi sebagian uzur dalam hal semacam itu.Ketiga belas: Disyariatkannya doa dan bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah yang dilakukan Rasulullah ﷺ, khususnya ketika keadaan menjadi genting. Pada Perang Hunain, beliau memohon pertolongan kepada Rabb-nya dan bersungguh-sungguh dalam doa agar kaum Muslimin diberi kemenangan atas orang-orang musyrik.Pertolongan itu datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kembalinya Rasulullah ﷺ kepada Rabb-nya dalam situasi yang sulit tersebut menjadi faktor paling kuat dalam mengubah jalannya pertempuran sehingga berpihak kepada kaum Muslimin.Keempat belas: Disyariatkannya berdoa dan mengarahkan diri kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Inilah yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ; beliau menempuh jalan tersebut, terlebih ketika keadaan menjadi sulit. Saat itu beliau memohon kepada Rabb-nya dan bersungguh-sungguh dalam doa agar kaum Muslimin memperoleh kemenangan atas kaum musyrikin.Pertolongan itu datang dari sisi Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Ketika Rasulullah ﷺ menghadapkan diri kepada Rabb-nya dalam situasi yang berat tersebut, hal itu menjadi faktor paling kuat yang mengubah jalannya peperangan sehingga berpihak kepada kaum Muslimin.Kelima belas: Ketika Rasulullah ﷺ melihat seorang wanita yang terbunuh, beliau melarang pembunuhan terhadap wanita dan anak-anak. Inilah salah satu prinsip peperangan dalam Islam. Ini juga termasuk wasiat Rasulullah ﷺ yang terus berlaku bagi pasukan kaum Muslimin.Sebagaimana disebutkan dalam Musnad Imam Aḥmad — semoga Allah merahmatinya — dari Ibnu ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhumā, ia berkata:“Apabila Rasulullah ﷺ mengirim pasukan, beliau bersabda,‘Keluarlah kalian dengan menyebut nama Allah. Berperanglah di jalan Allah melawan orang yang kafir kepada Allah. Jangan berkhianat, jangan melampaui batas, jangan melakukan mutilasi, dan jangan membunuh anak-anak, serta jangan pula membunuh para penghuni tempat ibadah.’Ketika beliau mengutus pasukan untuk memerangi Ibnu Abī al-Ḥuqayq dan para sahabatnya di daerah Khaybar, az-Zuhrī berkata:Ibnu Ka‘b bin Mālik mengabarkan kepadaku dari pamannya — radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu — bahwa Nabi ﷺ ketika mengutus mereka kepada Ibnu Abī al-Ḥuqayq di Khaybar, beliau melarang mereka membunuh wanita dan anak-anak.Dengan demikian, peperangan dalam Islam adalah peperangan yang memiliki akhlak. Bahkan ketika menghadapi musuh yang memerangi kaum Muslimin, tetap tidak boleh ada kezaliman, tidak boleh melampaui batas, tidak boleh melakukan kerusakan, dan tidak boleh seseorang menanggung kesalahan orang lain.Hal ini juga menunjukkan tingginya kedudukan hak asasi manusia dalam Islam, meskipun orang tersebut adalah seorang kafir. Allah Ta‘ālā berfirman:۞ وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ وَحَمَلْنَٰهُمْ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ وَرَزَقْنَٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَفَضَّلْنَٰهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Isra’: 70)Islam menghormati manusia sebagai manusia, apa pun agama dan keyakinannya, bahkan dalam keadaan perang. Maka bagaimana lagi dalam keadaan damai dan kehidupan bermasyarakat?Peperangan dalam Islam adalah perang yang mulia. Seorang Muslim tidak meninggalkan prinsip-prinsip luhur tersebut. Oleh karena itu, wanita dan anak-anak tidak memiliki peran dalam peperangan, sehingga mereka harus dilindungi dan tidak boleh dibunuh, kecuali jika seorang wanita benar-benar ikut serta dalam peperangan. Ia juga tidak menanggung dosa orang lain.Barang siapa menjaga hak perempuan secara khusus dan hak manusia secara umum dalam keadaan perang dan pertempuran, tentu ia lebih layak lagi menjaga hak-hak manusia dalam keadaan damai.Islam telah mengangkat tinggi hak manusia hingga kita melihat dengan jelas bahwa hak-hak manusia dalam Islam merupakan salah satu poros tujuan syariat Islam. Sementara itu, seluruh dunia menyaksikan berbagai pelanggaran terhadap hak kaum Muslimin yang terjadi di berbagai tempat, bahkan di sebagian masyarakat yang mengaku modern: terjadi pembunuhan massal, penghancuran kota-kota dan rumah-rumah penduduk, tanpa membedakan antara wanita, anak-anak, orang tua, dan para pejuang yang terlibat dalam peperangan.Padahal Rasulullah ﷺ pernah melewati seorang wanita yang terbunuh pada waktu perang — hanya satu orang wanita saja — lalu beliau mengingkari perbuatan tersebut dan melarang pembunuhan terhadap wanita dan anak-anak.Karena itu para ulama fikih menyatakan:“Diharamkan membunuh wanita dan anak-anak selama mereka tidak ikut berperang.”Keenam belas: Khalid bin Al-Walid radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu termasuk orang yang ikut serta dalam Perang Hunain. Ketika itu beliau berada di garis depan, namun ia mengalami luka. Ketika Rasulullah ﷺ mengetahui hal itu, beliau segera menuju kemahnya untuk menanyakan keadaannya. Setelah menemukannya, beliau menanyakan kondisinya, melihat lukanya, dan mengobatinya.Padahal Rasulullah ﷺ memimpin pasukan yang besar, namun beliau tetap memeriksa keadaan para sahabatnya, menanyakan kabar mereka, dan memperhatikan mereka satu per satu.Kemudian Khalid — meskipun mengalami luka-luka — tetap ikut serta dalam Perang Thaif. Siapa pun yang membaca kisah ini akan merasa kagum melihat bagaimana Khalid radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu tetap melanjutkan perjalanan menuju Thaif dan turut serta dalam pengepungan kota tersebut. Ia tidak ingin kehilangan pahala jihad sedikit pun, meskipun ia mengalami luka yang sebenarnya bisa menjadi alasan baginya untuk tidak ikut.Hal ini mengingatkan kita pada peristiwa setelah salah satu peperangan, ketika Rasulullah ﷺ mengejar orang-orang kafir Quraisy hingga sampai di Hamrā’ al-Asad. Saat itu para sahabat radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhum juga mengalami luka yang besar, namun mereka tidak tertinggal dan tetap ikut bersama beliau. Tentang mereka turun firman Allah Ta‘ālā:ٱلَّذِينَ ٱسْتَجَابُوا۟ لِلَّهِ وَٱلرَّسُولِ مِنۢ بَعْدِ مَآ أَصَابَهُمُ ٱلْقَرْحُ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ مِنْهُمْ وَٱتَّقَوْا۟ أَجْرٌ عَظِيمٌ“(Yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan diantara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.” (QS. Ali Imran: 172)Ketujuh belas: Ketika Rasulullah ﷺ tidak mampu menaklukkan benteng Thaif, dikatakan kepada beliau, “Doakanlah kebinasaan bagi mereka.” Namun beliau justru mendoakan agar mereka mendapat hidayah dan tidak mendoakan keburukan bagi mereka. Inilah bentuk sempurna dari kasih sayang dan rahmat beliau ﷺ.Baca juga: Sudahlah Maafkanlah Dia Agar Allah Memaafkan KitaPadahal penduduk Thaif telah menyakiti Rasulullah ﷺ dan mengusir beliau ketika datang mengajak mereka kepada Allah. Bahkan mereka melempari beliau dengan batu. Namun demikian, beliau tetap mendoakan agar mereka mendapat hidayah, padahal mereka adalah musuh-musuh Allah. Hal ini menunjukkan besarnya rasa sayang dan kepedulian beliau ﷺ kepada umatnya.Allah pun mengabulkan doa beliau. Setelah itu mereka datang dalam keadaan telah memeluk Islam tanpa melalui penderitaan atau kesulitan.Demikianlah seharusnya seorang muslim: ia menasihati karena Allah dan berusaha menjauhi sikap membalas dendam terhadap dirinya sendiri. Ia tidak mendoakan keburukan bagi orang yang memusuhinya, tetapi justru mendoakan agar musuhnya mendapat hidayah kepada Islam.Jika engkau berselisih dengan seseorang—baik orang dekat maupun jauh—maka yang lebih utama adalah mendoakan agar Allah memberinya hidayah. Dengan begitu engkau memperoleh pahala, mampu mengalahkan godaan setan, hawa nafsu, dan ego diri, serta kedudukanmu di sisi Allah akan terangkat. Perbuatan ini juga membersihkan hati dan memperbaiki batin. Namun sikap seperti ini sering kali jarang kita lakukan dalam banyak keadaan.Baca juga: Memaafkan Seperti Allah dengan Tetap MelupakanKedelapan belas: Jika ada seseorang yang berdalil dengan hadits ini ketika Rasulullah ﷺ diminta untuk mendoakan kebinasaan bagi kabilah Tsaqif, lalu beliau justru berkata:اللَّهُمَّ اهْدِ ثَقِيفًا“Ya Allah, berilah hidayah kepada Tsaqif.”Kemudian orang itu menyimpulkan bahwa tidak boleh mendoakan keburukan bagi orang kafir, karena Rasulullah ﷺ tidak mendoakan kebinasaan bagi Tsaqif dan malah mendoakan hidayah bagi mereka, serta tidak memenuhi permintaan sebagian sahabat—semoga Allah meridai mereka—yang meminta agar didoakan kebinasaan bagi mereka.Pendapat ini juga dikuatkan oleh hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata: Ath-Thufail bin ‘Amr datang bersama para sahabatnya dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kabilah Daus telah kafir dan menolak. Maka doakanlah kebinasaan bagi mereka.” Lalu dikatakan, “Binasalah Daus.” Namun Rasulullah ﷺ justru berdoa:اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا وَأْتِ بِهِمْ“Ya Allah, berilah hidayah kepada kabilah Daus dan datangkanlah mereka (kepada Islam).”Jawabannya adalah bahwa dalam Shahih Bukhari dan Muslim juga terdapat hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ pernah berdoa:اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ، وَاجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ سِنِينَ كَسِنِي يُوسُفَ“Ya Allah, perkeraslah hukuman-Mu atas kabilah Mudhar, dan jadikanlah bagi mereka tahun-tahun paceklik seperti tahun-tahun yang terjadi pada masa Nabi Yusuf.”Karena itu, yang benar adalah menggabungkan kedua jenis hadits tersebut. Imam Al-Bukhari memasukkan hadits tentang doa untuk kabilah Daus dalam Shahih-nya pada bab “Doa bagi orang-orang musyrik agar mendapatkan hidayah dan agar hati mereka dilunakkan.”Baca juga: Karamah Said bin Zaid yang Doanya Mustajab Hingga Seorang Wanita Zalim CelakaIbnu Hajar rahimahullah menjelaskan tentang judul bab tersebut: kata “liya’tilafahum” (agar hati mereka dilunakkan) menunjukkan bahwa Nabi ﷺ terkadang mendoakan keburukan bagi mereka dan terkadang mendoakan kebaikan bagi mereka. Keadaan pertama terjadi ketika kejahatan mereka semakin kuat dan gangguan mereka semakin besar. Adapun keadaan kedua adalah ketika diharapkan mereka akan mendapatkan hidayah dan hati mereka dapat dilunakkan, sebagaimana yang terjadi pada kisah kabilah Daus.Baca juga: Karamah Wali, Luar Biasanya Doa Sa’ad bin Abi WaqqashIbnu Al-Mulaqqin rahimahullah berkata: Nabi ﷺ sangat menyukai masuknya manusia ke dalam Islam. Karena itu beliau tidak tergesa-gesa mendoakan keburukan bagi mereka selama masih ada harapan mereka akan menerima Islam. Bahkan beliau mendoakan kebaikan bagi orang yang diharapkan mau menerima dakwah.Adapun terhadap orang yang tidak lagi diharapkan keislamannya dan dikhawatirkan bahaya serta kekuatannya, maka beliau mendoakan keburukan atasnya. Sebagaimana beliau pernah mendoakan agar mereka ditimpa tahun-tahun paceklik seperti masa Nabi Yusuf. Beliau juga mendoakan keburukan bagi para pemuka Quraisy karena banyaknya gangguan dan permusuhan mereka. Doa itu pun dikabulkan terhadap mereka, hingga mereka terbunuh dalam Perang Badar. Sebagaimana banyak pula orang yang dahulu beliau doakan agar mendapat hidayah, kemudian benar-benar masuk Islam.Hal ini memberi petunjuk kepada kita tentang satu prinsip penting dalam memahami sirah Nabi ﷺ. Agar kita dapat mengambil pelajaran yang benar dari peristiwa-peristiwa dalam sirah, kita perlu mengumpulkan berbagai kejadian, membandingkannya satu sama lain, lalu mengambil kesimpulan dari keseluruhannya.Sebab, sebagian peristiwa bisa saja berkaitan dengan keadaan tertentu, sementara yang lain berkaitan dengan keadaan yang berbeda. Ada yang bersifat khusus dan ada yang bersifat umum. Ada pula yang terjadi lebih dahulu dan ada yang terjadi kemudian, dan seterusnya.Kesembilan belas: Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang hikmah ditundanya penaklukan Thaif:Hikmah Ilahi menghendaki agar penaklukan itu ditunda secara sengaja supaya mereka tidak langsung dibinasakan dengan peperangan. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa ketika Nabi ﷺ keluar dari Thaif—setelah beliau mengajak mereka kepada Allah dan meminta perlindungan agar dapat menyampaikan risalah Rabbnya—peristiwa itu terjadi setelah wafatnya pamannya, Abu Thalib. Namun mereka justru menolak dan mendustakan beliau.Beliau pun kembali dalam keadaan sangat sedih. Beliau tidak dapat beristirahat kecuali ketika sampai di Qarn Ats-Tsa‘alib. Di sana beliau diliputi awan. Kemudian Jibril memanggilnya bersama malaikat penjaga gunung. Malaikat itu berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Rabbmu menyampaikan salam kepadamu. Dia telah mendengar ucapan kaummu kepadamu dan bagaimana mereka menolakmu. Jika engkau menghendaki, aku akan menimpakan kepada mereka dua gunung ini.”Namun Rasulullah ﷺ menjawab, “Tidak. Aku berharap semoga Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”Ucapan beliau ini menunjukkan bahwa beliau berharap benteng mereka tidak dibuka saat itu sehingga mereka tidak dibinasakan. Penaklukan itu ditunda agar mereka datang kemudian dalam keadaan telah memeluk Islam, yaitu pada bulan Ramadhan pada tahun berikutnya.Kedua puluh: Asy-Syami rahimahullah menjelaskan hikmah pemberian harta kepada orang-orang yang dilunakkan hatinya (al-mu’allafatu qulubuhum).Baca juga: Hukum Zakat untuk Non-Muslim: Bolehkah Disalurkan?Hikmah Allah Ta’ala menghendaki bahwa harta rampasan dari orang-orang kafir—setelah diperoleh—dibagikan kepada orang-orang yang iman belum benar-benar kokoh di dalam hati mereka. Hal ini dilakukan karena tabiat manusia memang mencintai harta. Dengan pemberian tersebut, hati mereka menjadi tenang dan kecintaan mereka terhadap Islam semakin kuat.Karena itulah Rasulullah ﷺ memberikan bagian yang besar kepada orang-orang yang baru masuk Islam atau kepada orang yang diharapkan akan masuk Islam. Sementara sebagian tokoh kaum Muhajirin dan pemimpin kaum Anshar tidak diberi bagian dari pemberian tersebut, meskipun mereka juga berhak mendapatkannya. Hal itu karena iman mereka sudah kuat dan tidak membutuhkan penguatan melalui pemberian harta.Jika mereka diberi bagian sebagaimana para mu’allaf itu, maka dikhawatirkan hati orang-orang yang baru masuk Islam tidak akan tertarik. Padahal pemberian tersebut bertujuan agar mereka semakin mantap dalam Islam dan agar orang lain mengikuti mereka untuk masuk Islam. Maka pemberian itu merupakan kemaslahatan yang besar.Kedua puluh satu: Dari peristiwa ini kita juga dapat mengambil pelajaran tentang ketajaman pandangan Rasulullah ﷺ dan kedalaman pemahaman beliau terhadap tabiat manusia serta hal-hal yang dapat memperbaikinya.Beliau memberikan hadiah-hadiah yang besar dan pemberian yang melimpah kepada orang-orang yang sebelumnya memusuhi beliau dan masih belum memeluk Islam. Beliau juga memberikan hadiah kepada orang-orang yang ingin beliau lunakkan hatinya agar mereka mendapat hidayah dan memeluk Islam.Baca juga: 21 Faedah tentang HadiahHasilnya pun sesuai dengan yang diharapkan oleh Rasulullah ﷺ. Orang-orang yang diberi pemberian itu akhirnya masuk Islam dan menjadi baik keislamannya. Bahkan mereka kemudian menjadi pembela Islam yang jujur dan kuat.Upaya melunakkan hati dengan harta tidak hanya dilakukan oleh pemimpin negara. Individu pun dapat melakukannya. Misalnya pemilik usaha yang memiliki pekerja nonmuslim, atau seseorang yang memiliki pembantu, sopir, atau pegawai yang belum masuk Islam. Ia dapat berusaha melunakkan hati mereka melalui kebaikan dan pemberian. Sebab manusia secara tabiat mencintai orang yang berbuat baik kepadanya. Jika seseorang mencintai orang lain, ia akan senang memenuhi keinginannya dan membuatnya bahagia. Karena itu ketika orang tersebut mengajaknya kepada Islam, ia akan lebih cepat menerima ajakan tersebut.Kedua puluh dua: Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu termasuk orang yang baru masuk Islam. Rasulullah ﷺ pernah memberinya seratus ekor unta. Lalu ia meminta lagi, maka Rasulullah ﷺ memberinya. Ia meminta lagi, lalu Rasulullah ﷺ kembali memberinya.Kemudian tertanam dalam hatinya kecintaan yang besar kepada Rasulullah ﷺ. Hal ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ mengajarinya pelajaran tentang harta dengan cara yang sangat tepat dan menyentuh hatinya.Setelah itu, Hakim bersumpah kepada Rasulullah ﷺ bahwa ia tidak akan lagi mengambil harta dari siapa pun setelah hari itu. Artinya, ia tidak akan menerima pemberian dari siapa pun setelahnya, bahkan meskipun pemberian itu banyak.Ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu memanggilnya setelah wafatnya Rasulullah ﷺ untuk memberinya bagian, ia menolak. Demikian pula ketika Umar radhiyallahu ‘anhu memanggilnya setelah itu, ia tetap menolak. Ia pun menjalani sisa hidupnya dengan sikap tersebut, hingga wafat pada masa Mu‘awiyah, tetap berpegang pada janjinya kepada Nabi ﷺ.Sungguh menakjubkan keadaan sahabat ini. Awalnya ia terus meminta kepada Rasulullah ﷺ berkali-kali, bahkan dengan desakan. Namun setelah itu, ia berubah total hingga tidak mau mengambil apa pun, meskipun diberi dalam jumlah besar.Dalam kisah ini tampak betapa agungnya sahabat tersebut, dan betapa teguhnya ia memegang prinsip. Sejak Fathu Makkah hingga beberapa tahun di masa Mu‘awiyah—lebih dari tiga puluh tahun—ia tetap konsisten tidak mengambil harta dari siapa pun.Baca juga: Memahami Arti Zuhud yang SebenarnyaDalam kisah ini juga terlihat bagaimana Rasulullah ﷺ memilih waktu yang tepat untuk memberikan nasihat. Beliau menasihati Hakim setelah memberinya beberapa kali, sehingga nasihat itu benar-benar berpengaruh dalam dirinya. Kepribadiannya berubah, dan cara pandangnya terhadap dunia pun berbeda dari sebelumnya.Jika nasihat itu disampaikan sebelum ia diberi, kemungkinan besar tidak akan memberikan pengaruh seperti setelah ia merasakan pemberian tersebut.Dalam kisah ini juga terdapat penjelasan bahwa dunia itu manis dan menipu. Siapa yang menjadikannya sebagai tujuan utama, ia tidak akan pernah merasa puas, meskipun telah mendapatkan banyak.Hal ini nyata dalam kehidupan sebagian orang. Meskipun harta mereka banyak, mereka tetap merasa kurang.Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ، وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ. وَقَالَ لَنَا أَبُو الْوَلِيدِ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ، عَنْ أُبَيٍّ، قَالَ: كُنَّا نَرَى هَذَا مِنَ الْقُرْآنِ، حَتَّى نَزَلَتْ: أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ“Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin memiliki dua lembah. Dan tidak ada yang dapat memenuhi mulutnya kecuali tanah. Namun Allah menerima tobat orang yang bertobat.”Abu Al-Walid berkata kepada kami: telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, dari Tsabit, dari Anas, dari Ubay bin Ka‘ab, ia berkata: dahulu kami menganggap perkataan ini termasuk bagian dari Al-Qur’an, hingga turun firman Allah: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.” (QS. At-Takatsur: 1) (HR. Bukhari, no. 6439 dan Muslim, no. 1048)Adapun nasihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Hakim bin Hizam, kata Hakim:سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَعْطَانِي، ثُمَّ سَأَلْتُهُ فَأَعْطَانِي، ثُمَّ قَالَ لِي: يَا حَكِيمُ، إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرٌ حُلْوٌ، فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ، وَكَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ، وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى. قَالَ حَكِيمٌ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَا أَرْزَأُ أَحَدًا بَعْدَكَ شَيْئًا حَتَّى أُفَارِقَ الدُّنْيَا. فَكَانَ أَبُو بَكْرٍ يَدْعُو حَكِيمًا لِيُعْطِيَهُ الْعَطَاءَ فَيَأْبَى أَنْ يَقْبَلَ مِنْهُ شَيْئًا، ثُمَّ إِنَّ عُمَرَ دَعَاهُ لِيُعْطِيَهُ فَأَبَى أَنْ يَقْبَلَ، فَقَالَ: يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ، إِنِّي أَعْرِضُ عَلَيْهِ حَقَّهُ الَّذِي قَسَمَ اللَّهُ لَهُ مِنْ هَذَا الْفَيْءِ فَيَأْبَى أَنْ يَأْخُذَهُ. فَلَمْ يَرْزَأْ حَكِيمٌ أَحَدًا مِنَ النَّاسِ شَيْئًا بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى تُوُفِّيَ.Aku pernah meminta kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau memberiku. Kemudian aku meminta lagi, dan beliau pun memberiku. Lalu beliau berkata kepadaku:“Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini itu hijau lagi manis. Siapa yang mengambilnya dengan jiwa yang lapang (tidak tamak), maka harta itu akan diberkahi baginya. Namun siapa yang mengambilnya dengan penuh ambisi dan ketamakan, maka tidak ada keberkahan baginya. Ia seperti orang yang makan, tetapi tidak pernah merasa kenyang. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”Hakim berkata: Aku pun berkata, “Wahai Rasulullah, demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan meminta sesuatu pun dari siapa pun setelah engkau hingga aku meninggal dunia.”Setelah itu, Abu Bakar pernah memanggil Hakim untuk memberinya bagian harta, namun ia menolak untuk menerimanya. Kemudian Umar juga memanggilnya untuk memberinya, tetapi ia tetap menolak. Maka Umar berkata, “Wahai kaum Muslimin, aku menawarkan kepadanya hak yang telah Allah tetapkan baginya dari harta fai’, tetapi ia menolak untuk mengambilnya.”Sejak wafatnya Nabi ﷺ, Hakim tidak pernah meminta apa pun kepada manusia hingga ia meninggal dunia. (HR. Bukhari, no. 3143)Sikap lapang terhadap harta menjadi sebab datangnya keberkahan, sedangkan kerakusan menjadi sebab hilangnya keberkahan.Diketahui bahwa harta yang sedikit tetapi diberkahi lebih baik daripada harta yang banyak namun tidak berkah. Karena tujuan bukan sekadar banyaknya harta, tetapi bagaimana harta itu membawa kebahagiaan.Harta pada hakikatnya hanyalah sarana, bukan tujuan. Ia tidak bisa dimakan, diminum, atau dimanfaatkan secara langsung. Seandainya seseorang berada di padang pasir dengan membawa harta yang banyak, tetapi tidak memiliki makanan, ia tetap akan mati karena lapar dan haus.Baca juga: Perkataan Ibnu Taimiyah, Sedikit Tetapi Halal Pasti Bawa BerkahJika harta tidak diberkahi, maka seseorang tidak akan bisa merasakan manfaatnya. Bisa jadi ia jatuh sakit sehingga hartanya habis untuk pengobatan, atau tidak mampu menikmati apa yang diinginkannya. Bahkan harta itu bisa menjadi sumber kegelisahan, karena ia takut kehilangan atau khawatir dicuri.Karena itu, rasa cukup terhadap yang sedikit menjadi sebab datangnya keberkahan dan manfaat. Jika Allah memberkahi harta seseorang, maka tidak ada batas bagi keberkahannya.Kedua puluh tiga: Jika kita melihat keseluruhan pemberian Rasulullah ﷺ pada Perang Hunain, kita akan dapati bahwa beliau memberikan kepada para pembesar kaum yang baru dilunakkan hatinya (muallafatu qulubuhum), padahal mereka adalah orang-orang kaya. Rasulullah ﷺ memberi mereka bukan karena kebutuhan mereka terhadap harta, tetapi demi kemaslahatan Islam, yaitu untuk melunakkan hati mereka agar menerima agama ini.Jika mereka telah masuk Islam, maka diharapkan orang-orang di belakang mereka akan ikut masuk Islam. Karena itu, pemberian demi maslahat lebih didahulukan daripada pemberian karena kebutuhan. Menyelamatkan manusia dari neraka lebih didahulukan daripada sekadar mengenyangkan perut orang fakir. Ini adalah kaidah penting dalam kehidupan, bahwa maslahat umum bagi Islam didahulukan daripada maslahat pribadi.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: Ketika Perang Hunain, Nabi ﷺ membagi harta rampasan kepada orang-orang yang dilunakkan hatinya (muallafatu qulubuhum), seperti para pembesar dari Najd dan para tokoh Quraisy yang baru dibebaskan, seperti ‘Uyainah bin Hishn, Al-Aqra‘ bin Habis, dan yang semisal mereka. Juga kepada Suhail bin ‘Amr, Shafwan bin Umayyah, ‘Ikrimah bin Abu Jahl, Abu Sufyan bin Harb, serta Mu‘awiyah bin Abu Sufyan dan yang semisal mereka dari kalangan orang-orang yang baru masuk Islam.Mereka adalah orang-orang yang dibebaskan pada hari Fathu Makkah. Rasulullah ﷺ tidak memberikan apa pun kepada kaum Muhajirin dan Anshar. Beliau memberikan kepada mereka untuk melunakkan hati mereka agar tetap berada di atas Islam, dan karena itu menjadi maslahat umum bagi kaum Muslimin.Adapun orang-orang yang tidak diberi, mereka justru lebih utama di sisi beliau. Mereka adalah para wali Allah yang bertakwa dan hamba-hamba-Nya yang saleh, setelah para nabi dan rasul. Sedangkan orang-orang yang diberi, sebagian dari mereka ada yang kemudian murtad sebelum wafatnya Nabi ﷺ, sementara yang lain tetap hidup dalam keadaan kaya, bukan orang-orang fakir.Seandainya pemberian itu didasarkan pada kebutuhan semata, tentu Nabi ﷺ akan memberikan kepada para Muhajirin dan Anshar, yang lebih membutuhkan dan lebih utama. Namun karena pertimbangan maslahat umum lebih didahulukan daripada kebutuhan pribadi, maka pemberian diberikan kepada para pembesar yang baru masuk Islam tersebut.Baca juga: Berapa Jumlah Para Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?Kedua puluh empat: Keberhasilan dalam memenangkan orang yang berbeda (pendapat) itulah keberhasilan yang sejati. Inilah hakikat seni dalam berdakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Adapun memenangkan orang yang sudah sepakat, itu bukan sesuatu yang baru.Keberhasilan dalam dakwah adalah ketika orang yang awalnya membencimu, membenci dakwahmu, atau membenci agama yang engkau serukan, tidak beranjak darimu kecuali setelah agama yang engkau ajarkan menjadi agama yang paling ia cintai. Dan engkau pun menjadi orang yang paling ia cintai.Inilah yang kita lihat dalam sirah Nabi ﷺ. Beliau mampu menaklukkan hati manusia dan mengubah mereka dari musuh menjadi penolong. Ada orang kafir yang datang kepada Rasulullah ﷺ dalam keadaan sangat membencinya dan bahkan ingin membunuhnya. Namun setelah duduk bersamanya, kebencian itu berubah menjadi cinta kepada Rasulullah ﷺ.Hal ini terjadi pada sejumlah sahabat, seperti ‘Amr bin Al-‘Ash, Hakim bin Hizam, ‘Umair bin Wahb Al-Jumahi, dan ‘Adi bin Hatim Ath-Tha’i radhiyallahu ‘anhum. Mereka datang kepada Rasulullah ﷺ, sebagian di antara mereka bahkan ingin membunuh beliau, namun akhirnya pulang dalam keadaan Muslim. Bahkan mereka mengucapkan syahadat tauhid di majelis beliau sebelum bangkit dari tempat duduknya. Kebencian yang sebelumnya begitu kuat berubah menjadi cinta yang mendalam.Sebagian dari mereka datang karena urusan dunia, tetapi ketika pulang, mereka telah merendahkan dunia, memahami nilainya, dan bahkan bersumpah tidak akan meminta apa pun kepada manusia.Ini adalah pelajaran dalam berdakwah kepada Allah: kunci keberhasilannya adalah memenangkan hati manusia dan berbuat baik kepada orang yang berbeda dengan kita, apa pun bentuk perbedaannya.Sebaliknya, sebagian orang justru menjadikan perbedaan sebagai sebab buruknya sikap. Akibatnya, perbedaan itu berubah menjadi permusuhan yang semakin mengakar. Alih-alih memenangkan hati orang yang berbeda, justru semakin memperlebar jurang perbedaan dan menambah jarak di antara mereka. Ini bukanlah sikap seorang dai yang berhasil. Hanya Allah yang memberi taufik.Kedua puluh lima: Di dunia ini banyak orang yang digiring kepada kebenaran bukan karena pemahaman akal mereka, tetapi karena tertarik secara perlahan. Sebagaimana hewan ternak digiring dengan segenggam rumput hingga masuk ke kandangnya, demikian pula sebagian manusia membutuhkan pendekatan dan strategi agar hati mereka menjadi tenang dengan iman dan merasa nyaman dengannya. (Muhammad Al-Ghazali dalam Fiqh As-Sirah, hlm. 394).Kedua puluh enam: Allah Ta‘ala berfirman,ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ (٢٦) ثُمَّ يَتُوبُ اللَّهُ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (٢٧)“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin, serta menurunkan bala tentara yang tidak kamu lihat, dan Dia mengazab orang-orang kafir. Itulah balasan bagi orang-orang kafir. Kemudian Allah menerima tobat setelah itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 26–27)Ath-Thahir bin ‘Asyur rahimahullah berkata tentang firman Allah Ta‘ala:ثُمَّ يَتُوبُ اللَّهُ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Kemudian Allah menerima tobat setelah itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Ini merupakan isyarat kepada masuk Islamnya kaum Hawazin setelah kekalahan tersebut. Mereka kemudian datang kepada Rasulullah ﷺ dalam keadaan telah menjadi Muslim dan bertobat.Kedua puluh tujuh: Ghanimah (harta rampasan perang) bukanlah tujuan utama dari jihad, tetapi yang lebih Allah cintai adalah masuknya manusia ke dalam Islam. Karena itu, Rasulullah ﷺ menunda pembagian ghanimah perang Hunain dengan harapan kaum Hawazin akan kembali kepada Islam. Beliau menunggu di Ji‘ranah selama sekitar dua puluh hari, dan itu adalah waktu yang cukup bagi para pemimpin Hawazin untuk berpikir, kembali kepada kebenaran, masuk Islam, serta meminta kembali harta, anak-anak, dan wanita mereka. Namun ketika mereka terlambat, sementara menunggu lebih lama lagi akan memberatkan pasukan tanpa ada harapan jelas, maka Rasulullah ﷺ pun membagikan harta tersebut.Meski demikian, ketika kaum Hawazin datang setelah pembagian itu, Rasulullah ﷺ menyambut mereka dengan gembira dan memberitahu bahwa beliau telah menunggu mereka. Namun karena keluarga dan harta mereka sudah terlanjur berpindah tangan kepada kaum muslimin, beliau memberi mereka pilihan antara mengambil kembali keluarga mereka atau harta mereka. Kemudian beliau membantu mereka dalam cara mendapatkan kembali apa yang telah dibagikan, bahkan beliau sendiri bersama Bani ‘Abdul Muththalib menjadi orang pertama yang mempraktikkan pengembalian tersebut.Para sahabat yang mulia radhiyallahu ‘anhum tidaklah menyelisihi Rasulullah ﷺ dalam hal ini. Mereka mengikuti beliau dengan mengembalikan apa yang ada pada mereka. Namun sebagian orang Arab Badui tidak mengikuti hal tersebut, sehingga Rasulullah ﷺ menebus bagian mereka dan memerintahkan agar seluruh tawanan wanita dan anak-anak dikembalikan kepada Hawazin.Siapa yang memahami sejarah, pasti akan teringat bagaimana perlakuan penduduk Thaif terhadap Rasulullah ﷺ ketika beliau datang kepada mereka—tidak ada yang bersamanya kecuali Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu—mereka melempari beliau dengan batu dan mengejeknya. Namun setelah Allah menaklukkan Makkah dan kaum muslimin menang atas mereka, beliau justru bersikap lembut, pemaaf, dan mulia. Semua yang beliau lakukan adalah demi kemaslahatan Islam dan penyebarannya, dan beliau tidak pernah membalas untuk kepentingan pribadi sama sekali.Inilah akhlak seorang muslim sejati. Ia menjauh dari sikap egois, permusuhan, dan perselisihan dengan orang lain, serta tidak sibuk mencari-cari kesalahan mereka. Prinsipnya adalah kelapangan dada, pemaafan, perbaikan hubungan, dan bersatu di atas kemaslahatan agama ini serta meninggikan kalimat Allah. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita yang telah lalu. Kedua puluh delapan: Termasuk inisiatif Rasulullah ﷺ dalam mengembalikan apa yang beliau miliki dan apa yang ada di tangan beliau dari harta rampasan kepada Bani ‘Abdil Muththalib dari tawanan perang Hawazin. Dari sini diambil teladan dalam berdakwah kepada Allah. Rasulullah ﷺ memulai sendiri dengan mengembalikan tawanan, agar beliau menjadi contoh dan diikuti oleh yang lain dalam mengembalikan apa yang ada di tangan mereka kepada Hawazin.Kedua puluh sembilan: Dari ucapan Dzul Khuwaishirah, kita mengetahui sejauh mana keburukan orang ini dan orang-orang semisalnya, serta besarnya kejahatan dan kesesatan mereka. Ia berani berbicara kepada Rasulullah ﷺ dengan ucapan yang menunjukkan keburukan hati, rusaknya keyakinan, kebodohan yang parah, dan sikap kasar dalam berinteraksi. Ia tidak memahami nash-nash, tidak mengenal hak Rasulullah ﷺ, serta berani berpendapat berdasarkan kebodohan, kebencian, kekerasan, dan kedengkian. Kita berlindung kepada Allah dari hal seperti ini.Ketiga puluh: Diambil pula pelajaran untuk mewaspadai sikap berlebihan dalam agama. Orang ini terdorong oleh sikap berlebihannya hingga keluar dari agama yang benar. Ia datang dengan mengaku berserah diri kepada Allah dan Rasul-Nya, namun justru membantah Rasulullah ﷺ dan menuntut keadilan dari beliau, serta menjadikan akal dan hawa nafsunya sebagai penentu makna keadilan. Ia telah menyimpang dari jalan mencari petunjuk.Keselamatan dari sikap berlebihan adalah dengan berpegang teguh pada nash-nash, memuliakan dan menghormatinya, berhenti pada batas-batasnya, serta mengagungkan Rasulullah ﷺ dan ajaran yang beliau bawa. Juga dengan mengetahui kedudukan para salaf dan pemahaman mereka, serta menempatkan para ulama pada posisi yang layak dan mengetahui hak-hak mereka. Inilah jalan yang aman dari penyimpangan. Adapun bersandar pada akal semata dan merendahkan para ulama, maka itu adalah penyimpangan dalam manhaj yang pasti akan menyeret kepada sikap berlebihan dalam agama, yang pada akhirnya membawa kepada kebinasaan, sebagaimana yang dilakukan oleh Dzul Khuwaishirah.Penyimpangan ini berawal dari sebuah ide kecil di dalam pikiran, lalu berkembang hingga berubah menjadi perilaku yang buruk, merusak yang hijau dan yang kering, serta membinasakan tanaman dan manusia. Kita berlindung kepada Allah.Kelompok seperti ini telah memberikan dampak buruk yang besar terhadap Islam dan kaum Muslimin sepanjang sejarah. Mereka telah menghalangi banyak orang untuk masuk Islam, dan memberi peluang kepada musuh untuk menjelekkan Islam dan kaum Muslimin.Ketiga puluh satu: dari kisah Dzul Khuwaishirah, kita mengambil pelajaran tentang kesabaran Rasulullah ﷺ dan kelembutan beliau terhadap orang-orang Arab Badui yang kasar dan keras. Beliau menahan diri terhadap ucapan yang dikatakan kepadanya secara terang-terangan di hadapan manusia, padahal saat itu beliau sedang membagi harta rampasan dalam jumlah besar. Beliau tidak menyisakan sedikit pun untuk dirinya sendiri. Tujuan beliau hanyalah melunakkan hati manusia agar mereka menerima agama ini. Namun orang Arab Badui itu justru datang dan menuduh beliau tidak adil dalam pembagian.Meski demikian, Rasulullah ﷺ tidak membalasnya. Bahkan beliau memberitahukan kepada manusia sebagai tanda dan bukti kenabian bahwa akan muncul dari keturunan orang ini orang-orang yang keluar dari Islam. Beliau memperingatkan umatnya dari mereka, sekaligus mengajarkan bagaimana cara menyikapi mereka.Ketiga puluh dua: dengan memperhatikan hal di atas, kita dapati bahwa Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah menukil pendapat salah satu ulama yang berkata (dan sebagian guru kami berkata): “Pembagian ini hanyalah untuk mencari ridha Allah.” Adapun ucapannya, “Berlaku adillah,” maka Nabi ﷺ tidak memahaminya sebagai bentuk celaan dan tuduhan terhadap beliau. Namun beliau memandangnya sebagai kesalahan dalam berpendapat dan dalam urusan dunia, serta sebagai ijtihad dalam hal kemaslahatan menurut pandangan orang tersebut, meskipun keliru. Maka beliau tidak melihatnya sebagai kejahatan yang harus dibalas, tetapi sebagai gangguan yang layak dimaafkan dan disikapi dengan kesabaran. Karena itu, beliau tidak menghukumnya.Setelah menyebutkan beberapa pendapat, ia berkata: “Pendapat yang paling kuat dari sisi ini adalah bahwa hal tersebut dilakukan untuk tujuan melunakkan hati (isti’laf) dan bersikap bijak dalam mengajak manusia kepada agama agar mereka beriman.”Ketiga puluh tiga:  Termasuk sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Umar ketika ia meminta izin untuk membunuh seorang munafik. Maka beliau bersabda:«مَعَاذَ اللَّهِ أَنْ يَتَحَدَّثَ النَّاسُ أَنِّي أَقْتُلُ أَصْحَابِي»“Semoga Allah melindungi (aku) dari anggapan manusia bahwa aku membunuh para sahabatku.”Hal ini menunjukkan disyariatkannya menjaga kehormatan diri dan tidak membuka peluang tuduhan dari orang lain. Diriwayatkan pula:«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يَقِفْ مَوَاقِفَ التُّهَمِ»“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia menempatkan dirinya pada posisi yang menimbulkan tuduhan.” (Lihat Az-Zamakhsyari, Al-Kasyaf 3: 273)Karena itu, seorang Muslim hendaknya menjaga kehormatannya agar tidak menjadi bahan pembicaraan manusia. Ini termasuk bentuk perhatian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar tidak memberi peluang bagi orang lain untuk membicarakan keburukan dalam agama ini, sekaligus menerapkan kaidah:دَرْءُ الْمَفْسَدَةِ مُقَدَّمٌ عَلَىٰ جَلْبِ الْمَصْلَحَةِ“Menolak kerusakan didahulukan daripada menarik kemaslahatan.”Sebab, kerusakan yang timbul dari membunuh orang tersebut lebih besar daripada maslahat yang diharapkan dari pembunuhannya. Di antaranya, manusia akan membicarakan bahwa beliau membunuh para sahabatnya, padahal hakikat orang tersebut tidak tampak bagi kebanyakan manusia. Wallahu a‘lam.Ketiga puluh empat: Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah berkata: Ditanyakan kepada Imam Malik rahimahullah tentang orang zindiq. Ia menjawab: Orang-orang munafik pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekafiran, dan itulah yang disebut zindiq menurut kami saat ini.Lalu dikatakan kepada Imam Malik: Mengapa zindiq tidak dibunuh, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membunuh orang-orang munafik meskipun beliau mengetahui mereka? Maka beliau menjawab: Seandainya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membunuh mereka padahal mereka menampakkan keimanan, tentu hal itu akan menjadi sebab orang-orang berkata bahwa beliau membunuh mereka karena kedengkian atau sebab lainnya. Akibatnya, orang-orang akan enggan masuk Islam. Inilah makna sabda beliau. (Ibnu ‘Abdil Barr, 10: 154, dalam Ath-Thab’ah Al-Maghribiyyah)Hal ini juga dikuatkan oleh hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Ia berkata: Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dinding (Hijr Ismail), apakah ia termasuk bagian dari Ka‘bah? Beliau menjawab: “Ya.” Aku bertanya: Mengapa mereka tidak memasukkannya ke dalam bangunan Ka‘bah? Beliau menjawab:«إِنَّ قَوْمَكِ قَصُرَتْ بِهِمُ النَّفَقَةُ»“Sesungguhnya kaummu kekurangan biaya.”Aku bertanya: Mengapa pintunya dibuat tinggi? Beliau menjawab:«فَعَلَ ذَلِكِ قَوْمُكِ لِيُدْخِلُوا مَنْ شَاءُوا وَيَمْنَعُوا مَنْ شَاءُوا، وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمَكِ حَدِيثُو عَهْدٍ بِالْجَاهِلِيَّةِ، فَأَخَافُ أَنْ تُنْكِرَ قُلُوبُهُمْ، لَأَدْخَلْتُ الْجِدْرَ فِي الْبَيْتِ، وَلَأَلْصَقْتُ بَابَهُ بِالْأَرْضِ»“Mereka melakukan itu agar bisa memasukkan siapa yang mereka kehendaki dan melarang siapa yang mereka kehendaki. Seandainya kaummu tidak baru saja meninggalkan masa jahiliah, dan aku khawatir hati mereka akan mengingkarinya, niscaya aku akan memasukkan dinding itu ke dalam bangunan Ka‘bah dan menjadikan pintunya rata dengan tanah.”Maka hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ini menunjukkan bahwa beliau mempertimbangkan mafsadah berupa keluarnya orang dari agama, dan hadits tentang Dzul Khuwaishirah menunjukkan pertimbangan mafsadah berupa orang tidak mau masuk ke dalam agama. Ini termasuk pemahaman mendalam dalam politik syariat.Ketiga puluh lima: Tidak diberikannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagian ghanimah kepada kaum Anshar adalah karena kepercayaan beliau terhadap kuatnya iman mereka dan kelapangan jiwa mereka. Ini merupakan pujian besar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mereka. Beliau memberikan harta ghanimah kepada orang-orang yang beliau khawatirkan keimanan mereka masih lemah, atau untuk melunakkan hati mereka agar condong kepada Islam. Beliau bersabda kepada kaum Anshar:«أَلَا تَرْضَوْنَ أَنْ أَرْجِعَ النَّاسُ بِالشَّاةِ وَالْبَعِيرِ، وَتَرْجِعُوا أَنْتُمْ بِرَسُولِ اللَّهِ؟»“Tidakkah kalian ridha jika manusia pulang membawa kambing dan unta, sedangkan kalian pulang membawa Rasulullah?”Coba renungkan, bagaimana keadaan orang yang mendapatkan ucapan seperti ini? Sungguh kaum Anshar menangis. Mereka berhak untuk merasa bahagia dan bangga dengan pembagian ini, serta dengan kedudukan yang mereka miliki di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demi Allah, seandainya seseorang mendapatkan ucapan ini saja, itu sudah cukup menjadi kebahagiaan dan kegembiraan baginya, melebihi segala sesuatu yang dimiliki orang lain. Lalu bagaimana jika yang mereka dapatkan adalah kebahagiaan yang membuat mereka menangis karena gembira, sementara orang lain mendapatkan kambing dan unta, sedangkan kaum Anshar mendapatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?Ketiga puluh enam: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membiarkan mereka dalam kebingungan, bahkan beliau memberikan jawaban kepada mereka. Beliau bersabda:«أَمَا وَاللَّهِ لَوْ شِئْتُمْ لَقُلْتُمْ فَلَصَدَقْتُمْ وَلَصُدِّقْتُمْ: أَتَيْتَنَا مُكَذَّبًا فَصَدَّقْنَاكَ، وَمَخْذُولًا فَنَصَرْنَاكَ، وَطَرِيدًا فَآوَيْنَاكَ، وَعَائِلًا فَآسَيْنَاكَ»“Demi Allah, seandainya kalian mau, kalian bisa mengatakan—dan kalian benar serta akan dibenarkan—: ‘Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami membenarkanmu; engkau ditinggalkan, lalu kami menolongmu; engkau terusir, lalu kami melindungimu; dan engkau dalam keadaan kekurangan, lalu kami mencukupimu.’”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersemangat untuk menghilangkan segala keraguan atau ganjalan dalam hati mereka, dengan menjelaskan sebab mengapa beliau memberikan harta ghanimah kepada orang-orang yang ingin dilunakkan hatinya, bukan kepada kaum Anshar.Ketiga puluh tujuh: Dari khutbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum Anshar, diambil pelajaran tentang disyariatkannya berkhutbah dalam kondisi seperti ini. Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Dalam hal ini terdapat dalil tentang disyariatkannya khutbah ketika terjadi suatu peristiwa, baik bersifat khusus maupun umum.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkhutbah kepada kaum Anshar dengan khutbah yang sangat menyentuh. Belum pernah terdengar dalam bab menenangkan hati yang lebih indah daripada khutbah ini, karena di dalamnya terkumpul antara kebenaran, kejelasan, kelembutan, dan kasih sayang. Shalawat dan salam Allah senantiasa tercurah kepada beliau hingga hari kiamat.Ketiga puluh delapan: Dari khutbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum Anshar, diambil pelajaran tentang menghibur diri atas sesuatu dari dunia yang terlewat, dengan melihat balasan di akhirat yang akan diperoleh.Ketiga puluh sembilan: Di dalamnya terdapat keutamaan kaum Anshar, yaitu cepatnya mereka kembali kepada kebenaran dan menerima penjelasan, segera setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kepada mereka. Ini juga menunjukkan baiknya nasihat mereka, adab mereka dalam berbicara dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta kesiapan mereka menjawab ketika beliau mengajukan pertanyaan kepada mereka. Telah disebutkan sebelumnya ucapan sebagian ulama: “Kembali kepada kebenaran adalah bagian dari agama.” Maka seorang mukmin tidak sepatutnya merasa berat untuk kembali kepada kebenaran ketika telah jelas baginya.Keempat puluh: Di dalamnya terdapat penekanan pentingnya menghilangkan syubhat dari orang yang mengalami keraguan, baik itu perkara umum maupun khusus. Jika bersifat umum, maka penjelasannya bersifat umum; jika bersifat khusus, maka penjelasannya pun khusus.Tidak ada yang lebih indah daripada kejujuran dan keterbukaan untuk menghilangkan apa yang ada di dalam hati berupa ganjalan. Seandainya manusia saling terbuka dan menjelaskan sebagian sikap yang menimbulkan kekecewaan, niscaya banyak masalah akan selesai.Sebagian orang berkata: “Jika aku benar dalam tindakanku, aku tidak peduli dengan ucapan manusia.” Maka dikatakan kepadanya: Ini keliru. Bahkan engkau harus menjelaskan kepada manusia alasan di balik tindakanmu, menghilangkan keraguan yang ada pada mereka, serta menjelaskan sudut pandang dan landasan tindakanmu. Dengan itu, engkau menjaga kehormatanmu, memperbaiki hati-hati manusia, dan mencegah prasangka buruk di tengah masyarakat.Keterbukaan seperti ini telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau berkhutbah kepada kaum Anshar dalam khutbah yang agung tersebut. Juga dicontohkan oleh Sa‘d bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu ketika ia menyampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pandangan kaum Anshar dan apa yang mereka rasakan.Di dalamnya juga terdapat pelajaran bahwa pendapat para pemuda tidaklah sama dengan pendapat para tokoh yang lebih tua. Telah diketahui bahwa umumnya pendapat orang yang lebih tua lebih matang dalam ilmu, amal, pengalaman, dan ketakwaan dibandingkan pendapat para pemuda.Keempat puluh satu: Dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:«إِنَّ قُرَيْشًا حَدِيثُ عَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ وَمَعْصِيَةٍ، وَإِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَجْبُرَهُمْ وَأَتَأَلَّفَهُمْ»“Sesungguhnya Quraisy baru saja meninggalkan masa jahiliah dan kemaksiatan, dan aku ingin menguatkan serta melunakkan hati mereka.”Terdapat pelajaran besar dalam upaya menarik hati manusia serta mempertimbangkan kondisi jiwa mereka. Sesungguhnya kaum Quraisy mengalami guncangan besar dengan peristiwa penaklukan Makkah. Meskipun itu merupakan nikmat terbesar bagi mereka, dalam pandangan mereka hal itu terasa berat karena runtuhnya kebesaran dan kekuasaan mereka, serta terpecahnya tokoh-tokoh mereka yang tetap berada dalam kesyirikan.Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin mengobati keguncangan tersebut dan meringankan beban yang mereka rasakan dengan memberikan harta, agar hati mereka menjadi tenang. Ini merupakan tuntunan yang seharusnya diperhatikan dalam memperbaiki jiwa yang terluka, meskipun dengan harta, serta berusaha meringankan beban mereka. Ini adalah akhlak Islam yang tinggi, yang tidak akan dipahami kecuali oleh orang yang memiliki bagian besar dari kebaikan.Keempat puluh dua: Seseorang berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Engkau telah memberi kepada ‘Uyainah dan Al-Aqra‘, sedangkan aku ditinggalkan, padahal aku lebih baik dari mereka.” Ia bermaksud mengingatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dirinya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan jawaban agung, yang menunjukkan bahwa beliau tidak merasa iri kepada siapa pun dalam perkara dunia, melainkan mengarahkan pandangan kepada Allah dan mencari kedudukan di sisi-Nya. Perhatikanlah jawaban beliau yang jujur lagi benar:«أَمَا وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَجَبِيلُ بْنُ سُرَاقَةَ خَيْرٌ مِنْ طِلَاعِ الْأَرْضِ كُلِّهِمْ مِثْلَ عُيَيْنَةَ بْنِ حِصْنٍ وَالْأَقْرَعِ بْنِ حَابِسٍ، وَلَكِنِّي أُؤَلِّفُهُمَا لِيُسْلِمَا، وَوَكَلْتُكَ إِلَى إِسْلَامِكَ»“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh Jabil bin Suraqah lebih baik daripada seluruh penduduk bumi seperti ‘Uyainah bin Hishn dan Al-Aqra‘ bin Habis. Akan tetapi aku memberi kepada mereka berdua untuk melunakkan hati mereka agar masuk Islam, sedangkan aku menyerahkanmu kepada keislamanmu.”Maka janganlah engkau tertipu oleh kedudukan dunia dan jabatan, karena itu hanyalah tipuan yang akan diikuti penyesalan. Mintalah kedudukan di sisi Allah Yang Maha Mulia. Betapa banyak di antara kita orang yang lebih baik daripada kebanyakan manusia, namun tidak mendapatkan kedudukan dunia, karena ia selamat dari fitnah jabatan.Kemudian sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini juga menunjukkan bahwa hal tersebut tidak khusus untuk kaum Anshar saja, tetapi berlaku bagi siapa saja yang kuat imannya. Termasuk di dalamnya sahabat tersebut yang disebutkan, radhiyallahu ‘anhu.Keempat puluh tiga: Dalam janji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Malik bin ‘Auf An-Nadhri, bahwa jika ia datang sebagai seorang Muslim, maka beliau akan mengembalikan keluarganya, hartanya, dan memberinya seratus ekor unta, terdapat dua pelajaran:Pertama: Tujuan utama jihad adalah masuknya manusia ke dalam Islam, bukan semata-mata harta rampasan dan keuntungan materi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan kepada pemimpin Thaif tersebut bahwa jika ia masuk Islam, maka keluarganya dan hartanya akan dikembalikan, serta diberikan tambahan berupa seratus ekor unta sebagai bentuk penghargaan dan dorongan agar ia masuk Islam. Ini menunjukkan besarnya perhatian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap keislaman seseorang, serta tidak adanya keinginan untuk menawan keluarganya atau merampas hartanya.Kedua: Ini merupakan metode dakwah yang agung yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menarik hati tokoh-tokoh besar, serta metode melunakkan hati. Hal ini tampak jelas dalam peristiwa Hunain, ketika beliau memberikan pemberian besar kepada para pemimpin Arab agar hati mereka condong kepada Islam, sehingga mereka masuk Islam dan kaum mereka pun mengikuti.Karena itu, seseorang hendaknya memperhatikan cara-cara pemberian yang dilakukan oleh pemimpin atau tokoh masyarakat dalam rangka mewujudkan kemaslahatan umum bagi kaum Muslimin, dan juga kemaslahatan khusus bagi suatu negeri.Keempat puluh empat: Ibnu Hajar rahimahullah berkata, demikian pula Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Di antara hikmah penaklukan Makkah adalah menjadi sebab masuknya banyak kabilah Arab ke dalam Islam. Dahulu mereka berkata: ‘Biarkan dia (Muhammad) bersama kaumnya. Jika ia menang atas mereka, berarti ia berada di atas kebenaran.’ Ketika Allah memberikan kemenangan kepadanya, sebagian mereka tetap berada dalam kesesatan, lalu mereka berkumpul dan bersiap untuk memeranginya. Maka termasuk hikmah dari hal itu adalah agar tampak bahwa Allah menolong Rasul-Nya bukan dengan banyaknya orang yang masuk Islam dari kalangan kabilah, dan bukan pula karena kaumnya menahan diri dari memeranginya.”Keempat puluh lima: Hikmah Perang Badar dan HunainIbnu Qayyim rahimahullāh berkata dari kisah Perang Hunain:Sesungguhnya Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā memulai peperangan kaum Arab dengan Perang Badar, dan menutup rangkaian peperangan mereka dengan Perang Hunain. Karena itu, kedua peperangan ini sering disebut secara beriringan: Badar dan Hunain, meskipun jarak waktu di antara keduanya sekitar tujuh tahun.Para malaikat turut berperang bersama kaum Muslimin dalam dua peperangan tersebut. Nabi ﷺ juga melemparkan pasir ke wajah orang-orang musyrik dalam kedua peristiwa itu.Melalui dua peperangan ini, semangat dan kekuatan kaum Arab dalam memerangi Rasulullah ﷺ dan kaum Muslimin pun runtuh. Pada perang yang pertama, Allah menanamkan rasa takut dalam hati mereka dan mematahkan kekuatan mereka. Pada perang yang kedua, Allah menghabiskan sisa-sisa kekuatan mereka, mematahkan panah-panah mereka, dan menundukkan seluruh pasukan mereka, hingga mereka mulai masuk ke dalam agama Allah.Di antara kekhususan Perang Hunain adalah bahwa ia menjadi peperangan penentu terakhir antara kaum Muslimin dan kaum musyrik di Jazirah Arab, sebagaimana Perang Badar merupakan peperangan besar pertama yang menentukan antara dua golongan tersebut.Keempat puluh enam: Hidayah Melalui Azan dan Pentingnya Mengarahkan BakatDiriwayatkan bahwa seseorang pernah mendengar Rasulullah ﷺ mengumandangkan azan, lalu ia menirukan suara muazin dengan tujuan mengejek. Ia saat itu masih memiliki sisa-sisa kesyirikan dalam dirinya. Kemudian Rasulullah ﷺ memintanya untuk dihadirkan. Nabi ﷺ memintanya mengulang lafaz azan, lalu beliau kagum dengan suaranya. Beliau pun mengajaknya kepada Islam, hingga ia masuk Islam. Setelah itu, Nabi ﷺ mengangkatnya sebagai muazin di Masjidil Haram.Dari kisah ini terdapat beberapa faedah:1. Suara yang indah merupakan nikmat dari Allah, anugerah yang diberikan kepada sebagian hamba-Nya. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ kepada Abu Musa Al-Asy‘ari radhiyallāhu ‘anhu:لَوْ رَأَيْتَنِي وَأَنَا أَسْتَمِعُ لِقِرَاءَتِكَ الْبَارِحَةَ، لَقَدْ أُوتِيتَ مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ“Seandainya engkau melihatku ketika aku mendengarkan bacaanmu tadi malam, sungguh engkau telah dianugerahi suara yang merdu seperti suara keluarga Nabi Dawud.”Keindahan suara ini tidak bisa diusahakan semata, melainkan merupakan karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki.2. Nikmat tersebut menjadi sangat agung ketika digunakan untuk ketaatan kepada Allah. Bilal radhiyallāhu ‘anhu menjadi muazin Rasulullah ﷺ karena memiliki suara yang paling merdu.3. Sebaliknya, nikmat itu menjadi bencana ketika digunakan untuk kemaksiatan. Seseorang bisa dikenal karena nyanyian dan hiburan yang melalaikan, serta berada di majelis-majelis yang tidak mengingat Allah.4. Allah memuliakan pemuda sahabat ini dengan menjadikannya muazin di Masjidil Haram selama lima puluh tahun. Bahkan, keutamaan ini diwarisi oleh keturunannya selama lebih dari dua abad, karena berkah ketaatan tersebut.5. Wahai para pembaca Al-Qur’an, tidak ada satu pun di antara kalian kecuali memiliki nikmat yang Allah berikan, yang tidak kalian usahakan. Maka manfaatkanlah nikmat itu dalam ketaatan kepada Allah, niscaya keberkahannya akan dirasakan oleh dirimu dan orang-orang setelahmu.6. Metode dakwah Nabi ﷺ dalam kisah ini sangat bijak: beliau menggabungkan antara menunjukkan kekaguman, mendoakan, dan memberikan dorongan (targhib). Cara ini memberi pengaruh besar hingga orang tersebut masuk Islam.7. Para ayah secara khusus, dan para pendidik secara umum, hendaknya mencari potensi anak-anak, menggali bakat mereka, serta mendorong dan mengarahkannya. Dengan demikian, potensi tersebut bisa dimanfaatkan untuk kemaslahatan masyarakat dan umat. Mengabaikannya berarti menyia-nyiakan kekayaan besar berupa kemampuan yang tidak ternilai harganya.Keempat puluh tujuh: Kisah Bani Tsaqif dan Pelajaran tentang Dakwah serta Altruisme (Itsār)Dalam kisah Tsaqif yang datang menemui Rasulullah ﷺ, terjadi dialog panjang hingga akhirnya mereka masuk Islam. Dari peristiwa ini diambil beberapa pelajaran:1. Ini menunjukkan dikabulkannya doa Rasulullah ﷺ. Beliau mendoakan agar mereka diberi hidayah dan datang kepada beliau. Padahal sebelumnya mereka memerangi beliau, membunuh sebagian sahabatnya, bahkan membunuh utusan yang beliau kirim kepada mereka untuk mengajak kepada Allah. Namun demikian, beliau tetap mendoakan mereka dan tidak mendoakan keburukan bagi mereka. Ini termasuk bentuk kesempurnaan kasih sayang, rahmat, dan nasihat beliau ﷺ.2. Dalam kisah permintaan Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallāhu ‘anhu agar Al-Mughīrah radhiyallāhu ‘anhu mendahuluinya dalam menyampaikan kabar gembira kepada Rasulullah ﷺ, terdapat faedah penting: bolehnya mendahulukan orang lain dalam perkara yang mendekatkan kepada Allah (itsār dalam qurbah).Meskipun sebagian ulama menetapkan bahwa itsār dalam ibadah itu makruh, namun siapa yang memperhatikan praktik Abu Bakr dan Al-Mughīrah radhiyallāhu ‘anhumā—di mana Abu Bakr meminta dan Al-Mughīrah menyetujuinya—akan memahami bolehnya hal tersebut, bahkan menunjukkan kerelaan dan kesepakatan.Ibnu Qayyim rahimahullāh berkata: Hal ini menunjukkan bolehnya seseorang meminta saudaranya untuk didahulukan dalam amal kebaikan, dan bolehnya pula seseorang mendahulukan saudaranya dalam hal tersebut. Adapun pendapat yang mengatakan tidak boleh itsār dalam ibadah, maka itu tidak tepat.Contohnya adalah apa yang dilakukan oleh ‘Āisyah radhiyallāhu ‘anhā ketika Umar bin Al-Khaṭṭāb radhiyallāhu ‘anhu meminta izin untuk dimakamkan di rumahnya, di samping Nabi ﷺ. ‘Āisyah mengizinkannya, padahal sebelumnya tempat itu ia persiapkan untuk dirinya sendiri. Ia tidak merasa berat dengan permintaan itu, karena tidak ada unsur merendahkan diri atau meminta-minta dalam hal tersebut.Demikian pula, jika seseorang diminta untuk memberikan tempatnya di shaf pertama kepada orang lain, lalu ia memberikannya, maka itu tidak termasuk perbuatan tercela, karena tidak ada unsur kehinaan. Bahkan, ini termasuk akhlak mulia para sahabat yang penuh dengan kedermawanan dan kelapangan jiwa.Perbuatan seperti ini merupakan bentuk kebaikan, kemurahan hati, dan mendahulukan orang lain, yang justru lebih dicintai oleh jiwa. Selain itu, terdapat unsur membahagiakan sesama Muslim, menghormatinya, memenuhi permintaannya, dan mendorongnya untuk berbuat kebaikan.Boleh jadi, pahala dari sifat-sifat ini lebih besar daripada pahala amal yang ditinggalkan. Maka orang yang mendahulukan orang lain dalam kebaikan seakan-akan menjadi “pedagang” yang melipatgandakan pahala.Oleh karena itu, tidak mengapa seseorang memberikan airnya kepada orang lain untuk berwudu, lalu ia bertayamum sebagai gantinya—jika memang salah satunya harus dilakukan. Dengan begitu, ia mendapatkan keutamaan itsār sekaligus keutamaan bersuci dengan tayamum.Hal ini tidak bertentangan dengan Al-Qur’an, sunnah, maupun akhlak yang mulia.Bahkan, jika suatu kaum berada dalam kondisi kehausan yang sangat dan khawatir akan binasa, lalu sebagian mereka memberikan air kepada yang lain hingga ia sendiri meninggal, maka perbuatan itu boleh. Ia tidak disebut sebagai orang yang membunuh dirinya, dan tidak pula melakukan sesuatu yang haram. Bahkan, itu termasuk puncak kedermawanan dan pengorbanan, sebagaimana firman Allah Ta‘ālā:وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ“Dan mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.” (QS. Al-Ḥasyr: 9)Hal ini pernah terjadi pada sekelompok sahabat dalam penaklukan negeri Syam. Itu termasuk keutamaan dan kelebihan mereka.Memberikan pahala suatu amal kepada orang yang telah meninggal dunia, yang sering diperselisihkan para ulama, pada hakikatnya termasuk bentuk itsār dalam amal kebaikan.Apa bedanya antara seseorang yang mendahulukan orang lain dalam melakukan amal agar ia mendapatkan pahalanya, dengan seseorang yang melakukan amal lalu menghadiahkan pahalanya kepada orang lain?3. Termasuk keutamaan Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallāhu ‘anhu adalah semangatnya dalam membahagiakan Rasulullah ﷺ dan memuliakan Al-Mughīrah radhiyallāhu ‘anhu. Hal itu terlihat dari sikap beliau yang memenuhi permintaan Al-Mughīrah.4. Tidak boleh membiarkan tempat-tempat kesyirikan dan kemaksiatan tetap ada, padahal mampu untuk menghancurkan dan menghilangkannya, walaupun hanya satu hari. Karena tempat-tempat tersebut adalah simbol kekufuran dan kesyirikan, yang termasuk kemungkaran paling besar. Maka tidak boleh membiarkannya tetap ada ketika memiliki kemampuan yang jelas untuk menghilangkannya.Demikian pula hukum bangunan-bangunan yang didirikan di atas kuburan, yang dijadikan sebagai berhala dan tempat ibadah selain Allah. Begitu juga batu-batu yang diagungkan untuk tujuan mencari berkah, bernazar, mencium, dan semisalnya. Semua itu tidak boleh dibiarkan tetap ada di muka bumi selama ada kemampuan untuk menghilangkannya.Bahkan banyak di antaranya seperti berhala Lāt, ‘Uzzā, dan Manāt, atau bahkan lebih besar kesyirikannya.5. Ketika Rasulullah ﷺ memerintahkan ‘Utsmān bin Abī Al-‘Āṣ radhiyallāhu ‘anhu untuk membangun masjid di tempat bekas berhala kaum Ṭāif, hal ini menunjukkan bolehnya menjadikan gereja, tempat ibadah non-Muslim, dan tempat berhala sebagai masjid.Demikian pula yang dilakukan para sahabat radhiyallāhu ‘anhum ketika menaklukkan berbagai negeri. Mereka mengubah tempat-tempat ibadah orang kafir menjadi tempat ibadah bagi kaum Muslimin. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghancuran simbol-simbol kekufuran dan penegakan Islam.Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا“Muḥammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, lalu tunas itu menguatkannya, kemudian menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati para penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Fatḥ: 29)Ibnu Taimiyyah rahimahullāh berkata: Adapun tempat-tempat kekufuran dan kemaksiatan yang tidak ada azab di dalamnya, jika dijadikan tempat untuk iman dan ketaatan, maka itu adalah kebaikan. Sebagaimana Nabi ﷺ memerintahkan penduduk Ṭāif untuk menjadikan masjid di tempat berhala mereka, dan sebagaimana penduduk Yamāmah diperintahkan untuk menjadikan masjid di tempat gereja mereka dahulu.6. ‘Utsmān bin Abī Al-‘Āṣ radhiyallāhu ‘anhu adalah yang paling muda usianya di antara kaumnya. Namun, ia adalah yang paling semangat dalam mempelajari Al-Qur’an dan ilmu. Ia sering datang kepada Rasulullah ﷺ untuk belajar dan bertanya.Ketika kaumnya hendak kembali ke Ṭāif, Rasulullah ﷺ menjadikannya sebagai pemimpin mereka dan imam dalam shalat. Inilah ukuran yang sebenarnya dalam keutamaan: ilmu dan agama. Inilah pula medan yang seharusnya menjadi ajang persaingan.Sebagaimana firman Allah Ta‘ālā:قَالُوا أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ ۚ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ ۖ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَن يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ“Mereka berkata, ‘Bagaimana mungkin dia memperoleh kerajaan atas kami, padahal kami lebih berhak atas kerajaan itu darinya, dan dia tidak diberi kekayaan yang banyak?’ (Nabi mereka) berkata, ‘Sesungguhnya Allah telah memilihnya atas kamu dan memberinya kelebihan ilmu dan tubuh.’ Allah memberikan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 247)Ayat ini menunjukkan bahwa sebab utama keutamaan adalah ilmu.7. Bolehnya membiarkan orang musyrik masuk ke dalam masjid, khususnya jika diharapkan keislamannya, agar ia bisa mendengar Al-Qur’an serta menyaksikan ibadah kaum Muslimin.8. Fleksibilitas dalam Dakwah untuk Menarik Orang kepada IslamDi antara faedah penting yang tampaknya lebih kuat menurut penulis adalah bahwa terkadang delegasi Tsaqif berdialog dengan Rasulullah ﷺ dan mengajukan beberapa syarat agar mereka mau masuk Islam. Sebagian syarat tersebut ditolak oleh Nabi ﷺ, sementara sebagian lainnya diberi kelonggaran.Rasulullah ﷺ bersabda:«لَكُمْ أَنْ لَا تُحْشَرُوا وَلَا تُعْشَرُوا، وَلَا خَيْرَ فِي دِينٍ لَيْسَ فِيهِ رُكُوعٌ»“Kalian tidak diwajibkan keluar untuk berjihad dan tidak dipungut sepersepuluh harta (usyur), tetapi tidak ada kebaikan pada agama yang tidak ada rukuk di dalamnya.”Dari Wahb, ia berkata: Aku bertanya kepada Jabir radhiyallahu ‘anhu tentang kisah baiat Tsaqif. Jabir menjawab: “Mereka mensyaratkan kepada Nabi ﷺ agar tidak ada sedekah dan jihad atas mereka.”Kemudian setelah itu Nabi ﷺ terdengar bersabda:«سَيَتَصَدَّقُونَ وَيُجَاهِدُونَ إِذَا أَسْلَمُوا»“Mereka nanti akan bersedekah dan berjihad jika telah benar-benar masuk Islam.”³Pada masa sekarang, sebagian dai menghadapi kenyataan seperti di Afrika dan tempat lainnya: ada orang-orang yang menerima Islam ketika didakwahi, namun mereka masih memiliki adat dan kebiasaan yang sangat melekat, baik dalam makanan, minuman, maupun interaksi sosial mereka. Sangat sulit untuk langsung meninggalkan semuanya sekaligus.Jika seorang dai mensyaratkan agar mereka segera meninggalkan seluruh kebiasaan itu sejak awal, besar kemungkinan mereka justru tidak jadi masuk Islam. Padahal bisa jadi, bila mereka masuk Islam terlebih dahulu, lambat laun keadaan mereka akan membaik. Setelah iman mulai menyentuh hati mereka, mereka akan menerima kebenaran dan rela meninggalkan kebiasaan tersebut, atau setidaknya mengambil sikap yang lebih ringan walaupun masih ada sebagian kekurangan.Sebagian ulama memandang bahwa menerima mereka dalam kondisi seperti itu lebih maslahat daripada menolaknya, karena dikhawatirkan penolakan tersebut menjadi sebab mereka tidak masuk Islam.Pendapat ini didukung oleh beberapa hal:Syariat Islam turun secara bertahap, baik dalam perkara ibadah maupun pengharaman sesuatu. Shalat misalnya, penyempurnaan syariatnya baru terjadi setelah hijrah. Puasa awalnya diwajibkan pada hari ‘Asyura, kemudian disempurnakan dengan puasa Ramadan. Demikian pula jihad: awalnya dilarang, lalu diizinkan untuk membela diri, hingga akhirnya disyariatkan memerangi kaum musyrikin secara umum sebagaimana kaum muslimin memerangi sesama mereka yang memerangi Islam. Begitu juga pengharaman khamr, turun melalui empat tahapan.‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:«إِنَّمَا نَزَلَ أَوَّلُ مَا نَزَلَ مِنْهُ سُورَةٌ مِنَ الْمُفَصَّلِ، فِيهَا ذِكْرُ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، حَتَّى إِذَا ثَابَ النَّاسُ إِلَى الْإِسْلَامِ نَزَلَ الْحَلَالُ وَالْحَرَامُ، وَلَوْ نَزَلَ أَوَّلَ شَيْءٍ: لَا تَشْرَبُوا الْخَمْرَ، لَقَالُوا: لَا نَدَعُ الْخَمْرَ أَبَدًا، وَلَوْ نَزَلَ: لَا تَزْنُوا، لَقَالُوا: لَا نَدَعُ الزِّنَا أَبَدًا»“Yang pertama kali turun dari Al-Qur’an adalah surat-surat pendek yang berisi tentang surga dan neraka. Setelah manusia mulai kembali kepada Islam, barulah turun hukum halal dan haram. Seandainya yang pertama kali turun adalah larangan meminum khamr, niscaya mereka akan berkata: ‘Kami tidak akan meninggalkan khamr selamanya.’ Dan seandainya yang pertama kali turun adalah larangan zina, niscaya mereka akan berkata: ‘Kami tidak akan meninggalkan zina selamanya.’”Karakter manusia pada dasarnya serupa, walaupun berbeda tempat dan zaman.Dari Hakim radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:**«بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ أَلَّا أَخِرَّ إِلَّا قَائِمًا»**²“Aku berbaiat kepada Rasulullah ﷺ untuk tidak mati kecuali dalam keadaan istiqamah.”Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ pernah berkata kepada seseorang:«أَسْلِمْ»“Masuk Islamlah.”Orang itu menjawab:“Aku masih membencinya.”Nabi ﷺ tetap bersabda:أَسْلِمْ وَإِنْ كُنْتَ كَارِهًا“Masuk Islamlah, meskipun engkau masih merasa berat.”Ini termasuk bagian dari strategi dakwah, yaitu mempertimbangkan maslahat dan mafsadat. Masuknya seseorang ke dalam Islam merupakan maslahat besar. Walaupun di dalam prosesnya masih ada berbagai kekurangan dan kebiasaan buruk yang tersisa, namun diharapkan semua itu akan hilang sedikit demi sedikit seiring kokohnya akidah dalam jiwa. Setelah itu, manusia diajarkan kewajiban-kewajiban Islam secara bertahap.Namun demikian, sebagian ulama menegaskan bahwa perkara ini tidak boleh diserahkan kepada ijtihad pribadi para dai. Hendaknya dikembalikan kepada para ulama di suatu negeri: apakah kepada mufti yang kompeten, atau kepada lembaga dakwah resmi yang membawahi urusan dakwah di negara tersebut. Tujuannya agar masalah ini tidak menjadi pintu kelonggaran yang berlebihan, sehingga orang-orang justru dibiarkan terus-menerus dalam kemaksiatan besar dengan alasan maslahat dakwah.Permasalahan ini termasuk ranah ijtihad. Wallahu a‘lam bish-shawab. Referensi: Fiqh As-Sirah. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Daar Tadmuriyyah. —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 21 Dzulqa’dah 1447 H, 8 Mei 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfaedah sirah nabi peperangan dalam islam peperangan di masa Rasulullah perang hunain sirah nabawiyah sirah nabi

Perang Hunain: Ketika Jumlah Besar Tidak Menjamin Kemenangan

Perang Hunain merupakan salah satu peperangan besar dalam sirah Nabi ﷺ yang sarat dengan pelajaran iman dan tauhid. Pada awalnya kaum muslimin sempat terpukul mundur karena rasa bangga terhadap jumlah pasukan, hingga Allah ﷻ menegur mereka melalui peristiwa ini. Namun dengan keteguhan Rasulullah ﷺ dan pertolongan Allah, keadaan pun berbalik menjadi kemenangan yang nyata bagi kaum muslimin.Baca juga: Perang Hunain dalam Tafsir QS. At-Taubah 25–27: Ketika Jumlah Besar Tidak Menjamin Kemenangan  Daftar Isi tutup 1. Jumlah Banyak Belum Tentu Menang 2. Allah Turunkan Sakinah pada Perang Hunain 3. Kaum Hawazin Masuk Islam 4. Kisah Dzul Khuwaishirah yang Menuntut Rasulullah untuk Adil 5. Delegasi Tsaqif Datang Menemui Rasulullah ﷺ 6. Pelajaran yang Dipetik dari Perang Hunain dan Pengepungan Thaif 6.1. Nasihat Mengenai Ngalap Berkah (Tabarruk)  Peperangan ini adalah Perang Hunain. Sebagian ulama menamakannya Perang Authas, dan sebagian lainnya menamakannya Perang Hawazin. Namun, penamaan yang digunakan dalam Al-Qur’an adalah Hunain.Perang Hunain dianggap sebagai kelanjutan dari penaklukan Mekah, dan merupakan salah satu dampaknya. Hal itu karena Perang Hunain terjadi sebagai konsekuensi dari penaklukan besar tersebut. Ketika suku Hawazin dan Tsaqif mengetahui apa yang menimpa Quraisy di Mekah, mereka pun mulai bersiap-siap dan mengumpulkan pasukan untuk memerangi Rasulullah ﷺ.Ketika Rasulullah ﷺ mengetahui hal tersebut, sementara beliau masih berada di Mekah, beliau pun keluar untuk menemui mereka di Hunain. Keberangkatan beliau terjadi pada hari keenam bulan Syawal tahun kedelapan Hijriah.Rasulullah ﷺ menunjuk ‘Attab bin Asid radhiyallahu ‘anhu sebagai pemimpin di Mekah. Jumlah pasukan yang menyertai Rasulullah ﷺ adalah sepuluh ribu orang, ditambah dua ribu orang dari kalangan thulaqā’ (orang-orang Mekah yang dimaafkan).Pasukan kaum musyrikin dari Thaif berada di bawah pimpinan Malik bin ‘Auf An-Nadhri. Mereka bergabung dengan pasukan Hawazin dan Tsaqif seluruhnya, juga bergabung suku Nashr dan Jusham seluruhnya, serta Sa‘d bin Bakr dan sebagian orang dari Bani Hilal—jumlah mereka sedikit. Termasuk dari Bani Jusham adalah Duraid bin Ash-Shimmah, seorang syekh tua yang sudah sangat lanjut usia, yang sebenarnya tidak lagi memiliki kemampuan apa pun, kecuali sekadar dimintai pendapat karena pengalaman dan pengetahuannya tentang peperangan. Ia adalah seorang syekh yang telah banyak mengalami peperangan.Ketika Malik bin Auf mengumpulkan pasukan dan membawa mereka menuju Rasulullah ﷺ, ia juga mengikutsertakan harta benda, para wanita, dan anak-anak mereka. Ketika mereka singgah di Authas dan berkumpul di sana, Duraid bin Ash-Shimmah—yang berada di dalam sekedup (tandu) yang dibawanya—bertanya, “Di lembah apakah kita berada?” Mereka menjawab, “Di Authas.” Ia berkata, “Tempat yang bagus untuk medan pasukan berkuda. Tidak ada tanah keras yang melukai kaki, tidak pula tanah lunak yang membuat kuda terperosok. Namun, mengapa aku mendengar suara unta, ringkikan keledai, tangisan anak kecil, dan kambing yang mengembik?” Mereka menjawab, “Malik bin ‘Auf membawa serta harta, para wanita, dan anak-anak bersama pasukan.”Ia bertanya, “Di mana Malik?” Dijawab, “Ini Malik.” Malik pun dipanggil dan mendekat kepadanya. Duraid berkata, “Wahai Malik, sungguh engkau telah menjadi pemimpin kaummu. Hari ini adalah hari yang menentukan, dan setelah hari ini tidak ada hari lain bagimu. Mengapa aku mendengar suara unta, ringkikan keledai, tangisan anak kecil, dan kambing yang mengembik?” Malik menjawab, “Aku membawa mereka agar setiap orang berperang di belakang harta, wanita, dan anak-anak mereka.”Duraid berkata, “Celaka engkau! Apakah orang yang kalah bisa ditahan oleh sesuatu apa pun? Jika engkau menang, yang akan bermanfaat bagimu hanyalah seorang laki-laki dengan pedang dan tombaknya. Namun, jika engkau kalah, engkau akan dipermalukan bersama keluarga dan hartamu.” Malik berkata, “Demi Allah, aku tidak akan melakukan selain ini. Sungguh engkau telah tua dan akalmu pun telah melemah.”Duraid berkata, “Demi Allah, aku telah menyelamatkanmu dari kehinaan suku Hawazin. Seandainya aku masih mampu berdiri di atas kakiku, aku akan bertarung dengan pedang ini hingga keluar dari punggungku. Aku membenci jika Bani Jusham tidak memiliki pendapat atau pandangan dalam urusan ini.” Mereka berkata, “Berilah kami pendapatmu.” Maka Duraid bin Ash-Shimmah berkata, “Hari ini aku tidak melihat sesuatu yang aku persaksikan, dan aku tidak pula kehilangan akalku.”Jumlah orang yang berkumpul bersama Malik bin ‘Auf untuk memerangi Rasulullah ﷺ mencapai dua puluh ribu orang. Malik menempatkan mata-mata (pengintai)nya, lalu mata-mata itu datang kepadanya dalam keadaan kacau balau. Malik bertanya, “Celaka kalian, apa yang terjadi?” Mereka menjawab, “Kami melihat pasukan berkuda putih di atas kuda-kuda yang belang. Demi Allah, kami tidak mampu bertahan sejak pertama kali melihat mereka.” Malik tidak menghiraukan laporan itu dan tidak memedulikannya.Rasulullah ﷺ meminjam baju besi dan senjata dari Shafwan bin Umayyah, sementara Shafwan saat itu masih dalam keadaan musyrik. Shafwan berkata, “Apakah ini berarti engkau merampasnya, wahai Muhammad?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Bukan, ini pinjaman yang dijamin.” Maka Shafwan meminjamkan kepada Rasulullah ﷺ seratus baju besi.Pasukan ini merupakan pasukan Islam terbesar yang pernah keluar bersama Rasulullah ﷺ. Ketika sebagian kaum muslimin melihat banyaknya jumlah pasukan, ada seseorang yang berkata, “Hari ini kita tidak akan kalah karena jumlah yang sedikit.” Perkataan itu memberatkan Rasulullah ﷺ. Lalu Allah Ta‘ala menurunkan firman-Nya:﴿لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ ۝ ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ﴾“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 25–26)Di tengah perjalanan, kaum muslimin melewati sebuah pohon milik kaum musyrikin yang disebut Dzat Anwath. Dari Abu Waaqid Al-Laitsi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami keluar dari Mekah bersama Rasulullah ﷺ menuju Hunain. Orang-orang kafir memiliki sebuah pohon bidara tempat mereka berdiam dan menggantungkan senjata-senjata mereka, yang disebut Dzat Anwath.”Ia berkata, “Kami pun melewati sebuah pohon bidara yang hijau dan besar.” Maka kami berkata, “Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzat Anwāṭ (tempat menggantungkan senjata) sebagaimana mereka memiliki Dzat Anwāṭ.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Allāhu akbar! Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian telah mengatakan seperti apa yang dikatakan kaum Musa.”ٱجْعَل لَّنَآ إِلَٰهًا كَمَا لَهُمْ ءَالِهَةٌ ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ“Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)“.” (QS. Al-A‘rāf: 138)Rasulullah ﷺ melanjutkan, “Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian setahap demi setahap.”Rasulullah ﷺ kemudian mengutus ‘Abdullāh bin Abī Ḥadrad Al-Aslamī radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu. Dari ayahnya, ia berkata: “Ia datang membawa kabar tentang Hawāzin. Ia pun masuk ke tengah-tengah kaum itu dan mendapati mereka telah berkumpul seluruhnya untuk memerangi Rasulullah ﷺ. Ia lalu menyampaikan apa yang ia lihat kepada Rasulullah ﷺ.” Maka Rasulullah ﷺ tersenyum dan bersabda, “Itu adalah rampasan kaum muslimin besok, insya Allah.”Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapa yang akan mengawasi kita malam ini?”Anas bin Abī Murthid Al-Ghanawī radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu berkata, “Aku, wahai Rasulullah.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Naiklah.” Maka ia pun menaiki kudanya dan segera datang menemui Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, “Hadapilah lembah ini hingga engkau berada di atasnya, dan jangan biarkan siapa pun mendatangi kita dari arahmu malam ini.”Ketika pagi tiba, Rasulullah ﷺ keluar menuju tempat salatnya dan melaksanakan dua rakaat. Setelah itu beliau bersabda, “Apakah kalian merasakan penjagaan sahabat kalian?”Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, kami tidak melihat sesuatu pun.”Maka Rasulullah ﷺ pun melaksanakan salat, dan beliau menoleh ke arah lembah itu hingga selesai salatnya. Kemudian beliau bersabda, “Bergembiralah, sungguh penjaga kalian telah datang.”Kami pun melihat ke arah lembah itu melalui sela-sela pepohonan. Ternyata ia telah datang, lalu berdiri di hadapan Rasulullah ﷺ dan memberi salam. Ia berkata, “Aku berangkat hingga aku berada di puncak lembah ini, tempat engkau memerintahkanku, wahai Rasulullah. Ketika dua lembah itu tampak jelas, aku pun melihat keduanya.”Kami memperhatikan, tetapi tidak melihat seorang pun. Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya, “Apakah engkau turun pada malam hari?” Ia menjawab, “Tidak, kecuali hanya untuk melaksanakan salat atau menunaikan hajat.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, “Engkau telah menjalankan tugas dengan baik, maka jangan engkau lakukan apa pun setelah ini.”Kemudian Rasulullah ﷺ melanjutkan perjalanannya hingga sampai di Hunain. Sementara itu, Malik bin ‘Auf beserta pasukannya telah lebih dahulu tiba sebelum Rasulullah ﷺ. Mereka menyiapkan diri dan bersembunyi di celah-celah lembah serta di balik pepohonan. Rasulullah ﷺ datang bersama para sahabatnya hingga mereka turun ke lembah pada waktu subuh. Mereka tidak menyadari hal tersebut. Tiba-tiba Hawazin dan Tsaqif menyerang mereka dengan serangan serentak oleh satu orang, lalu orang-orang yang bersembunyi keluar dari celah-celah lembah dan tempat-tempat persembunyian mereka, serta menghujani kaum muslimin dengan anak panah. Urusan kaum muslimin pun menjadi kacau secara tiba-tiba.Mereka pun lari mundur dalam keadaan terpecah-belah, tidak menoleh ke arah mana pun. Namun Rasulullah ﷺ tetap teguh berdiri, bersama sebagian kecil kaum mukminin yang ada bersamanya. Rasulullah ﷺ berpaling ke arah kanan, lalu berseru, “Wahai manusia, kemarilah kepadaku! Aku adalah Rasulullah, aku adalah Muhammad bin ‘Abdullah.”Bersama beliau terdapat sekelompok orang dari kalangan Muhajirin dan Anshar, sementara orang-orang yang tetap bertahan bersamanya tidak banyak. Di antara Ahlul Bait yang tetap bersamanya adalah Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Ali bin Abi Thalib, Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib, putranya Al-Fadhl bin ‘Abbas, Abu Sufyan bin Al-Harits, Rabi‘ah bin Al-Harits, Aiman bin ‘Ubaid—yang merupakan putra Ummu Aiman—dan Usamah bin Zaid radhiyallahu ta‘ala ‘anhum ajma‘in.Rasulullah ﷺ pun berseru, “Aku adalah Nabi, tidak ada dusta. Aku adalah putra ‘Abdul Muththalib.” Termasuk doa beliau saat itu adalah, “Ya Allah, jika Engkau menghendaki, maka Engkau tidak akan disembah setelah hari ini.”Dalam Shahih Muslim, dari Al-‘Abbas radhiyallahu ta‘ala ‘anhu, ia berkata: “Aku menyaksikan Perang Hunain bersama Rasulullah ﷺ. Aku dan Abu Sufyan bin Al-Harits bin ‘Abdul Muththalib selalu bersama Rasulullah ﷺ dan tidak berpisah darinya. Rasulullah ﷺ berada di atas seekor bagal putih yang dihadiahkan oleh Farrukh bin Nafatsah Al-Judzami. Ketika kaum muslimin dan orang-orang kafir saling berhadapan, kaum muslimin pun mundur.”“Rasulullah ﷺ lalu memacu bagalnya ke arah orang-orang kafir. Aku memegang tali kekang bagal Rasulullah ﷺ, menahannya agar tidak melaju terlalu cepat, sementara Abu Sufyan memegang sanggurdi beliau. Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Wahai ‘Abbas, panggillah para sahabat Samurah!’”Al-‘Abbas berkata: “Aku adalah seorang yang bersuara lantang. Aku pun berteriak sekeras-kerasnya, ‘Di mana para sahabat Samurah?’ Demi Allah, ketika mereka mendengar suaraku, suara itu terasa seperti suara sapi yang memanggil anaknya. Mereka pun menjawab, ‘Labbaik, labbaik!’ Lalu mereka bertempur melawan orang-orang kafir.”“Kemudian seruan dialihkan kepada kaum Anshar. Dikatakan, ‘Wahai kaum Anshar!’ Lalu seruan itu dikhususkan kepada Bani Al-Harits bin Al-Khazraj. Dikatakan, ‘Wahai Bani Al-Harits bin Al-Khazraj!’ Maka Rasulullah ﷺ memandang mereka, sementara beliau berada di atas bagalnya, seakan-akan beliau menjulang di atas mereka.”Rasulullah ﷺ bersabda, “Sekaranglah panasnya peperangan.”Al-‘Abbas berkata: “Kemudian Rasulullah ﷺ mengambil segenggam kerikil dan melemparkannya ke wajah orang-orang kafir, lalu bersabda, ‘Hancurlah wajah-wajah itu!’ Aku pun pergi menyaksikan keadaan pertempuran, dan demi Allah, tidaklah beliau melempar mereka dengan kerikil itu, melainkan aku melihat mereka semua tercerai-berai dan urusan mereka pun kacau balau.” Jumlah Banyak Belum Tentu MenangAllah Ta’ala berfirman tentang Thalut,كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 249)Baca juga: Kisah Thalut, Jalut, dan Nabi Daud: Ujian Kepemimpinan dan Kemenangan ImanNamun karena mereka bangga dengan jumlah yang banyak, Allah Ta’ala berfirman,لَقَدْ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ فِى مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْـًٔا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ ٱلْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.” (QS. At-Taubah: 25)Ayat yang membicarakan kekalahan dalam perang Hunain terkait sejatinya dengan peringatan pada ayat sebelumnya,قُلْ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَٰنُكُمْ وَأَزْوَٰجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَٰلٌ ٱقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٍ فِى سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُوا۟ حَتَّىٰ يَأْتِىَ ٱللَّهُ بِأَمْرِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْفَٰسِقِينَ“Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah:24)Allah Ta’ala berfirman,ثُمَّ أَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ۚ وَذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلْكَٰفِرِينَ“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 26)ثُمَّ يَتُوبُ ٱللَّهُ مِنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 27)Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan:Ibnu Juraij meriwayatkan dari Mujahid, ia berkata: “Ini adalah ayat pertama yang turun dari Surah Barā’ah (At-Taubah).”Allah Ta‘ala menyebutkan kepada orang-orang beriman tentang karunia dan kebaikan-Nya kepada mereka, berupa pertolongan-Nya dalam banyak pertempuran yang mereka jalani bersama Rasul-Nya. Semua itu terjadi semata-mata dari sisi Allah Ta‘ala, dengan dukungan dan ketetapan-Nya, bukan karena jumlah mereka dan bukan pula karena banyaknya pasukan. Allah mengingatkan mereka bahwa kemenangan hanyalah dari sisi-Nya, baik jumlah kaum muslimin sedikit maupun banyak.Pada Perang Hunain, kaum muslimin sempat merasa kagum dengan banyaknya jumlah mereka. Namun ternyata, banyaknya jumlah itu sama sekali tidak memberi manfaat bagi mereka. Mereka pun berbalik melarikan diri, kecuali sedikit orang yang tetap bersama Rasulullah ﷺ. Setelah itu, Allah menurunkan pertolongan dan dukungan-Nya kepada Rasul-Nya dan kepada kaum mukminin yang bersamanya, sebagaimana akan dijelaskan secara terperinci—insyaallah—agar mereka mengetahui bahwa kemenangan itu benar-benar dari sisi Allah Ta‘ala semata, dengan pertolongan-Nya, meskipun jumlah pasukan sedikit.فكم من فئة قليلة غلبت فئة كثيرة بإذن الله ، والله مع الصابرين .Betapa sering kelompok yang sedikit mampu mengalahkan kelompok yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah bersama orang-orang yang sabar.Imam Ahmad berkata: “Telah menceritakan kepada kami Wahb bin Jarir, telah menceritakan kepada kami ayahku, aku mendengar Yunus menceritakan dari Az-Zuhri, dari ‘Ubaidullah, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:خير الصحابة أربعة ، وخير السرايا أربعمائة ، وخير الجيوش أربعة آلاف ، ولن تغلب اثنا عشر ألفا من قلة .‘Sebaik-baik para sahabat itu berjumlah empat orang, sebaik-baik pasukan kecil (sariyyah) berjumlah empat ratus orang, dan sebaik-baik tentara berjumlah empat ribu orang. Dan dua belas ribu pasukan tidak akan terkalahkan karena sedikitnya jumlah.’”Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi. At-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan gharib. Tidak ada seorang perawi besar pun yang meriwayatkannya secara bersambung kecuali Jarir bin Hazim. Riwayat yang masyhur dari Az-Zuhri adalah dari Nabi ﷺ secara mursal.”Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Al-Baihaqi, dan selain keduanya, dari Aktsam bin Al-Jaun, dari Rasulullah ﷺ dengan lafaz yang semakna. Dan Allah Maha Mengetahui.Peristiwa Perang Hunain terjadi setelah Fathu Makkah, tepatnya pada bulan Syawal tahun kedelapan Hijriah. Hal itu bermula ketika Rasulullah ﷺ telah selesai menaklukkan Makkah, urusan-urusannya telah tertata dengan baik, dan mayoritas penduduknya telah masuk Islam. Rasulullah ﷺ pun membebaskan mereka. Lalu sampai kepada beliau kabar bahwa suku Hawazin telah menghimpun kekuatan untuk memerangi beliau. Pemimpin mereka adalah Malik bin ‘Auf An-Nadhri, bersama seluruh kabilah Tsaqif, Bani Jusyam, Bani Sa‘d bin Bakr, sejumlah kelompok dari Bani Hilal—yang jumlahnya tidak banyak—serta sekelompok orang dari Bani ‘Amr bin ‘Amir dan ‘Auf bin ‘Amir.Mereka datang dengan membawa serta para wanita, anak-anak, kambing, dan unta, bahkan membawa seluruh harta dan keluarga mereka tanpa tersisa. Maka Rasulullah ﷺ keluar menemui mereka dengan pasukan yang beliau bawa saat Fathu Makkah, yaitu sepuluh ribu orang dari kalangan Muhajirin, Anshar, dan kabilah-kabilah Arab. Bersama beliau juga ikut orang-orang Makkah yang baru masuk Islam, yaitu para thulaqā’, yang jumlahnya sekitar dua ribu orang. Beliau pun bergerak bersama mereka menuju musuh.Kedua pasukan bertemu di sebuah lembah antara Makkah dan Thaif yang bernama Hunain. Pertempuran terjadi di sana pada awal pagi, saat suasana masih gelap menjelang subuh. Kaum muslimin menuruni lembah tersebut, sementara pasukan Hawazin telah bersembunyi di dalamnya. Ketika kedua pasukan saling berhadapan, kaum muslimin tiba-tiba diserbu. Mereka dihujani anak panah, pedang-pedang dihunus, dan pasukan musuh menyerang serentak sebagai satu kesatuan, sebagaimana perintah pemimpin mereka. Pada saat itulah kaum muslimin berbalik melarikan diri, sebagaimana yang disebutkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla.Namun Rasulullah ﷺ tetap teguh berdiri. Saat itu beliau menaiki baghal (keledai besar) beliau yang berwarna putih keabu-abuan, mengarahkannya menuju pusat pasukan musuh. Paman beliau, Al-‘Abbas, memegang tali kekang sebelah kanan, dan Abu Sufyan bin Al-Harits bin ‘Abdul Muththalib memegang sebelah kiri, keduanya menahan laju hewan itu agar tidak berjalan terlalu cepat. Rasulullah ﷺ menyerukan nama beliau dan mengajak kaum muslimin untuk kembali, seraya berkata,[ ويقول ] أين يا عباد الله ؟ إلي أنا رسول الله ، ويقول في تلك الحال “Ke mana kalian, wahai hamba-hamba Allah? Kembalilah kepadaku, aku adalah Rasulullah.” Pada saat itu beliau juga mengucapkan:أنا النبي لا كذب أنا ابن عبد المطلب“Aku adalah Nabi, tidak ada dusta.
Aku adalah putra ‘Abdul Muththalib.”وثبت معه من أصحابه قريب من مائة ، ومنهم من قال : ثمانون ، فمنهم : أبو بكر ، وعمر – رضي الله عنهما – والعباس وعلي ، والفضل بن عباس ، وأبو سفيان بن الحارث ، وأيمن بن أم أيمن ، وأسامة بن زيد ، وغيرهم – رضي الله عنهم –Bersama beliau saat itu tetap bertahan sekitar seratus orang dari para sahabat—ada pula yang mengatakan delapan puluh orang. Di antara mereka adalah Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Al-‘Abbas, ‘Ali, Al-Fadhl bin Al-‘Abbas, Abu Sufyan bin Al-Harits, Aiman bin Ummu Aiman, Usamah bin Zaid, dan selain mereka radhiyallahu ‘anhum. ثم أمر – صلى الله عليه وسلم – عمه العباس – وكان جهير الصوت – أن ينادي بأعلى صوته : يا أصحاب الشجرة – يعني شجرة بيعة الرضوان ، التي بايعه المسلمون من المهاجرين والأنصار تحتها ، على ألا يفروا عنه – فجعل ينادي بهم : يا أصحاب السمرة ويقول تارة : يا أصحاب سورة البقرة ،Kemudian Rasulullah ﷺ memerintahkan pamannya, Al-‘Abbas—yang dikenal bersuara lantang—untuk menyeru dengan suara keras: “Wahai para pemilik pohon!” Maksudnya adalah pohon Bai‘at Ridwan, tempat kaum muslimin dari kalangan Muhajirin dan Anshar berbaiat di bawahnya untuk tidak lari meninggalkan beliau. Al-‘Abbas pun menyeru mereka dengan berkata: “Wahai para pemilik pohon samurah!” Terkadang ia juga berseru: “Wahai para pemilik Surah Al-Baqarah!” فجعلوا يقولون : يا لبيك ، يا لبيك ، وانعطف الناس فجعلوا يتراجعون إلى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – حتى إن الرجل منهم إذا لم يطاوعه بعيره على الرجوع ، لبس درعه ، ثم انحدر عنه ، وأرسله ، ورجع بنفسه إلى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – . فلما رجعت شرذمة منهم ، أمرهم عليه السلام أن يصدقوا الحملة ، وأخذ قبضة من التراب بعدما دعا ربه واستنصره ، وقال : Mereka pun menjawab, “Kami penuhi panggilanmu, kami penuhi panggilanmu.” Orang-orang mulai berbalik dan kembali menuju Rasulullah ﷺ. Bahkan ada di antara mereka yang, jika untanya tidak mau berbalik arah, ia mengenakan baju besinya, lalu turun dari untanya, melepaskannya, dan ia sendiri berlari kembali menuju Rasulullah ﷺ.Ketika sejumlah pasukan telah kembali, Rasulullah ﷺ memerintahkan mereka untuk melakukan serangan dengan sungguh-sungguh. Beliau lalu mengambil segenggam tanah setelah berdoa kepada Rabb-nya dan memohon pertolongan-Nya, seraya berkata:اللهم أنجز لي ما وعدتني “Ya Allah, penuhilah untukku apa yang telah Engkau janjikan kepadaku.”ثم رمى القوم بها ، فما بقي إنسان منهم إلا أصابه منها في عينيه وفمه ما شغله عن القتال ، ثم انهزموا ، فاتبع المسلمون أقفاءهم يقتلون ويأسرون ، وما تراجع بقية الناس إلا والأسارى مجدلة بين يدي رسول الله – صلى الله عليه وسلم – Kemudian beliau melemparkan tanah itu ke arah musuh. Tidak ada seorang pun dari mereka kecuali tanah itu mengenai mata dan mulutnya, sehingga menyibukkan mereka dari pertempuran. Akhirnya mereka pun kalah dan melarikan diri.Kaum muslimin mengejar mereka, membunuh dan menawan. Tidaklah sisa pasukan kembali, melainkan para tawanan telah bergelimpangan di hadapan Rasulullah ﷺ.Dalam riwayat Imam Ahmad, dari Abu ‘Abdurrahman Al-Fihri—nama aslinya Yazid bin Usaid, ada pula yang mengatakan Yazid bin Anis, dan ada yang mengatakan Karz—ia berkata:‘Aku pernah bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Hunain. Kami berjalan pada hari yang sangat terik dan panasnya amat menyengat. Kami pun singgah di bawah naungan pepohonan. Ketika matahari telah condong (ke barat), aku mengenakan baju besiku dan menaiki kudaku. Lalu aku berangkat menemui Rasulullah ﷺ, sementara beliau berada di dalam kemahnya. Aku berkata, “Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya tercurah kepadamu, wahai Rasulullah. Apakah sudah waktunya berangkat?” Beliau menjawab, “Ya.”Beliau lalu bersabda, “Wahai Bilal.” Maka Bilal segera bangkit dari bawah pohon samurah, seakan-akan naungannya adalah naungan seekor burung. Ia berkata, “Aku penuhi panggilanmu dan aku siap melayanimu, aku menebusmu dengan diriku.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Pelanakanlah kudaku.” Maka dikeluarkanlah sebuah pelana yang kedua sisinya terbuat dari serat, tidak ada kemewahan dan tidak ada kesombongan padanya.Pelana itu pun dipasangkan. Rasulullah ﷺ menaikinya, dan kami pun menaiki tunggangan kami. Kami berhadapan dengan musuh pada sore hari dan sepanjang malam. Kuda-kuda saling berhadapan, lalu kaum muslimin berbalik melarikan diri, sebagaimana yang difirmankan Allah ‘Azza wa Jalla: “Kemudian kalian berpaling melarikan diri.”Rasulullah ﷺ bersabda, “Wahai hamba-hamba Allah, aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.” Kemudian beliau bersabda lagi, “Wahai kaum Muhajirin, aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.”Kemudian Rasulullah ﷺ meloncat turun dari kudanya, lalu mengambil segenggam tanah. Orang yang paling dekat denganku—yang melihat kejadian itu—mengabarkan kepadaku bahwa Rasulullah ﷺ melemparkan tanah tersebut ke wajah mereka seraya bersabda, “Binasalah wajah-wajah itu.” Maka Allah ‘Azza wa Jalla pun mengalahkan mereka.Ya‘la bin ‘Atha’ berkata: “Anak-anak mereka menceritakan kepadaku, dari para ayah mereka, bahwa mereka berkata: ‘Tidak ada seorang pun dari kami yang tersisa, kecuali kedua matanya dan mulutnya penuh dengan tanah. Dan kami mendengar suara gemerincing antara langit dan bumi, seperti bunyi besi yang digesekkan pada bejana baru.’”Demikian pula hadits ini diriwayatkan oleh Al-Hafizh Al-Baihaqi dalam kitab Dalā’il an-Nubuwwah, melalui riwayat Abu Dawud Ath-Thayalisi, dari Hammad bin Salamah, dengan sanad yang sama.Muhammad bin Ishaq berkata: “Telah menceritakan kepadaku ‘Ashim bin ‘Umar bin Qatadah, dari ‘Abdurrahman bin Jabir, dari ayahnya, Jabir, dari ‘Abdullah,” ia berkata:Malik bin ‘Auf keluar bersama pasukannya menuju Hunain. Ia tiba lebih dahulu daripada Rasulullah ﷺ, lalu mereka menyiapkan diri dan bersiaga di tempat-tempat sempit serta lekuk-lekuk lembah. Rasulullah ﷺ pun datang bersama para sahabatnya, hingga mereka turun memasuki lembah pada saat pagi masih gelap. Ketika orang-orang mulai menuruni lembah itu, tiba-tiba pasukan berkuda musuh menyerbu ke arah mereka. Serangan itu terasa sangat berat, sehingga orang-orang pun berbalik lari tunggang-langgang, tidak ada seorang pun yang menoleh kepada yang lain.Rasulullah ﷺ pun bergerak ke arah kanan sambil berseru, “Wahai manusia, kemarilah kepadaku! Aku adalah Rasulullah! Aku adalah Rasulullah! Aku adalah Muhammad bin ‘Abdullah!” Namun tidak ada yang menyahut. Unta-unta pun saling bertubrukan satu sama lain. Ketika Rasulullah ﷺ melihat keadaan kaum muslimin seperti itu, beliau bersabda, “Wahai ‘Abbas, berserulah: Wahai kaum Anshar, wahai para pemilik pohon samurah!”Mereka pun menjawab, “Kami penuhi panggilanmu, kami penuhi panggilanmu.” Seseorang di antara mereka berusaha membelokkan untanya, namun tidak mampu. Maka ia pun melemparkan baju besinya ke lehernya, mengambil pedang dan busurnya, lalu menuju ke arah suara panggilan itu, hingga berkumpul di sekitar Rasulullah ﷺ sekitar seratus orang. Rasulullah ﷺ kemudian mengatur barisan mereka, lalu terjadilah pertempuran sengit.Pada awalnya seruan itu ditujukan kepada kaum Anshar, kemudian di akhir kepada kabilah Khazraj, dan mereka adalah orang-orang yang sangat tegar dalam peperangan. Rasulullah ﷺ pun menampakkan diri di atas tunggangannya dan melihat sengitnya pertempuran, lalu bersabda, “Sekarang benar-benar berkobarlah api peperangan.”Demi Allah, tidaklah orang-orang kembali, melainkan para tawanan telah tergeletak di hadapan Rasulullah ﷺ. Allah membinasakan siapa yang dibinasakan-Nya dari mereka, dan sebagian lainnya melarikan diri. Allah pun memberikan kepada Rasul-Nya harta dan anak-anak mereka sebagai rampasan.Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari hadits Syu‘bah, dari Abu Ishaq, dari Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepadanya, “Wahai Abu ‘Umarah, apakah kalian lari meninggalkan Rasulullah ﷺ pada hari Hunain?” Ia menjawab, “Ya, tetapi Rasulullah ﷺ tidak lari. Sesungguhnya Hawazin adalah kaum pemanah. Ketika kami berjumpa dengan mereka dan menyerang mereka, mereka pun mundur. Lalu orang-orang sibuk mengumpulkan harta rampasan, maka pasukan Hawazin kembali menyerang kami dengan hujan anak panah, sehingga orang-orang pun berlarian. Sungguh aku melihat Rasulullah ﷺ, sementara Abu Sufyan bin Al-Harits memegang tali kekang baghal putih Rasulullah ﷺ, dan beliau berkata: ‘Aku adalah Nabi, tidak ada dusta. 
Aku adalah putra ‘Abdul Muththalib.’”Aku berkata: Ini merupakan puncak keberanian yang paling sempurna. Pada hari seperti itu, di tengah kancah pertempuran yang berkecamuk, ketika pasukannya telah tercerai-berai darinya, beliau tetap berada di atas seekor baghal yang bukan tunggangan cepat, tidak cocok untuk menyerang, mundur, ataupun melarikan diri. Namun dalam keadaan seperti itu, beliau justru mengarahkannya ke hadapan musuh dan menyebutkan nama beliau agar dikenal oleh siapa pun yang belum mengenalnya. Semoga shalawat dan salam Allah senantiasa tercurah kepada beliau hingga hari kiamat.Semua itu tidak lain adalah karena keyakinan beliau kepada Allah, tawakal kepada-Nya, dan pengetahuan beliau bahwa Allah pasti akan menolongnya, menyempurnakan risalah yang diembankan kepadanya, dan memenangkan agamanya atas seluruh agama lainnya. Allah Turunkan Sakinah pada Perang HunainAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ أَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ۚ وَذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلْكَٰفِرِينَ“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 26)Oleh karena itu, Allah Ta‘ālā berfirman:﴿ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ﴾Artinya, Allah menurunkan ketenangan dan keteguhan kepada Rasul-Nya.Dan firman-Nya:﴿وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ﴾Maksudnya, kepada orang-orang beriman yang bersama beliau.Dan firman-Nya:﴿وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا﴾Yaitu para malaikat, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Abu Ja‘far bin Jarir.Ia berkata:Telah menceritakan kepada kami Al-Qasim, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Al-Hasan bin ‘Arafah, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Al-Mu‘tamir bin Sulaiman, dari ‘Auf—yaitu Ibnu Abi Jamīlah Al-A‘rābi—ia berkata: aku mendengar ‘Abdurrahman, mantan budak Ibnu Baratsan, ia menceritakan kepadaku dari seorang lelaki yang berada di pihak orang-orang musyrik pada hari Perang Hunain. Lelaki itu berkata:“Ketika kami bertemu dengan para sahabat Rasulullah ﷺ pada hari Hunain, mereka sama sekali tidak mampu bertahan menghadapi kami, bahkan sekejap pun. Ketika kami berhasil memukul mundur mereka, kami terus mengejar mereka hingga akhirnya kami sampai kepada seorang laki-laki yang berada di atas seekor bagal putih. Ternyata dia adalah Rasulullah ﷺ.Di dekat beliau, kami disambut oleh orang-orang berpakaian putih, berwajah tampan. Mereka berkata kepada kami: ‘Semoga wajah-wajah kalian menjadi buruk! Kembalilah!’Maka kami pun langsung lari tunggang-langgang. Mereka menaiki tengkuk-tengkuk kami, dan kekalahan itu pun menimpa kami.”Al-Ḥāfiẓ Abu Bakr Al-Baihaqi berkata:Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Abdillah Al-Ḥāfiẓ, telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ahmad bin Bālawaih, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Al-Hasan Al-Harbi, telah menceritakan kepada kami ‘Affān bin Muslim, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wāḥid bin Ziyād, telah menceritakan kepada kami Al-Ḥārith bin Ḥuṣairah, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim bin ‘Abdurrahman, dari ayahnya, ia berkata:Ibnu Mas‘ūd radhiyallahu ‘anhu berkata:“Aku bersama Rasulullah ﷺ pada hari Perang Hunain. Ketika itu orang-orang tercerai-berai meninggalkan beliau, dan yang tersisa bersama beliau hanyalah delapan puluh orang dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Kami maju ke depan dan tidak membelakangi musuh. Merekalah orang-orang yang Allah turunkan kepada mereka ketenangan.Rasulullah ﷺ berada di atas bagalnya dan terus maju. Bagalnya sempat menyimpang sehingga beliau hampir miring dari pelana. Aku berkata: ‘Bangkitlah, semoga Allah meninggikanmu.’Beliau bersabda: ‘Berikan kepadaku segenggam tanah.’ Aku pun memberikannya. Lalu beliau melemparkan tanah itu ke wajah mereka, hingga mata-mata mereka penuh dengan debu.Kemudian beliau bersabda: ‘Di mana kaum Muhajirin dan Anshar?’Aku menjawab: ‘Mereka ada di sana.’Beliau bersabda: ‘Panggil mereka!’Aku pun memanggil mereka. Mereka datang dengan pedang-pedang terhunus di tangan kanan mereka, seakan-akan kilatan cahaya. Maka orang-orang musyrik pun membalikkan badan mereka dan lari.”Riwayat ini juga dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dari ‘Affān, dengan lafaz yang hampir sama.Al-Walīd bin Muslim berkata:Telah menceritakan kepadaku ‘Abdullāh bin al-Mubārak, dari Abū Bakr al-Hudzalī, dari ‘Ikrimah—mantan budak Ibnu ‘Abbās—dari Syaibah bin ‘Utsmān, ia berkata:“Ketika aku melihat Rasulullah ﷺ pada hari Perang Hunain dalam keadaan terbuka (tidak terlindungi), aku teringat ayah dan pamanku yang terbunuh oleh ‘Ali dan Hamzah. Maka aku berkata dalam hatiku: ‘Hari ini aku akan menuntut balasku darinya.’Aku pun bergerak hendak mendatanginya dari sisi kanan. Namun tiba-tiba aku melihat al-‘Abbās bin ‘Abdul Muththalib berdiri, mengenakan baju besi putih seperti perak, debu pertempuran menyingkapinya. Aku berkata: ‘Itu pamannya, ia pasti tidak akan membiarkannya.’Lalu aku mendatanginya dari sisi kiri, ternyata di sana ada Abū Sufyān bin al-Ḥārith bin ‘Abdul Muththalib. Aku berkata: ‘Itu sepupunya, ia pun tidak akan membiarkannya.’Aku pun mendatanginya dari arah belakang. Tidak tersisa lagi bagiku kecuali mengayunkan pedang kepadanya. Tiba-tiba muncul di hadapanku nyala api di antara aku dan dia, seperti kilat. Aku takut api itu akan membakarku, maka aku menutup mataku dengan tanganku dan mundur perlahan.Rasulullah ﷺ lalu menoleh kepadaku dan bersabda: ‘Wahai Syaibah, wahai Syaibah, mendekatlah kepadaku. Ya Allah, hilangkanlah setan darinya.’Aku pun mengangkat pandanganku ke arah beliau. Saat itu, beliau menjadi lebih aku cintai daripada pendengaran dan penglihatanku sendiri. Lalu beliau bersabda: ‘Wahai Syaibah, perangilah orang-orang kafir.’”Karena itulah Allah Ta‘ālā berfirman:﴿ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ﴾“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 26) Kaum Hawazin Masuk IslamAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ يَتُوبُ ٱللَّهُ مِنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 26)Allah benar-benar telah menerima tobat sisa kaum Hawāzin. Mereka masuk Islam dan datang menemui Rasulullah ﷺ dalam keadaan sebagai kaum muslimin. Mereka menyusul beliau ketika beliau telah mendekati Mekah, tepatnya di Ji‘rānah, sekitar dua puluh hari setelah peristiwa perang.Pada saat itu, Rasulullah ﷺ memberi mereka pilihan antara mengambil kembali para tawanan mereka atau mengambil kembali harta-harta mereka. Mereka memilih para tawanan mereka. Jumlah tawanan itu sekitar enam ribu orang, terdiri dari anak-anak dan para perempuan. Maka Rasulullah ﷺ mengembalikan seluruh tawanan itu kepada mereka.Adapun harta rampasan perang, beliau membagikannya kepada para prajurit yang ikut berperang. Beliau juga memberikan tambahan pemberian (nafal) kepada sebagian orang dari golongan ṭulaqā’ (orang-orang yang baru masuk Islam setelah Fathu Mekah), dengan tujuan melembutkan hati mereka agar semakin kokoh dalam Islam. Beliau memberi mereka masing-masing seratus ekor unta.Di antara orang yang diberi seratus ekor unta tersebut adalah Mālik bin ‘Auf an-Naḍrī. Rasulullah ﷺ bahkan mengangkatnya kembali sebagai pemimpin atas kaumnya sebagaimana sebelumnya. Karena itu, Mālik bin ‘Auf memuji Rasulullah ﷺ dengan sebuah qasidah yang di antaranya berbunyi:Aku tidak pernah melihat dan tidak pernah mendengar
di tengah seluruh manusia seseorang seperti Muhammad.Paling menepati janji dan paling banyak memberi,
bila diminta kebaikan; dan kapan pun engkau kehendaki,
ia mampu mengabarkan apa yang akan terjadi esok hari.Jika pasukan telah menampakkan taring-taringnya,
dengan tombak-tombak lurus dan pedang-pedang tajam,Maka ia laksana singa di tengah anak-anaknya,
tenang di tengah debu peperangan, siap mengintai musuh. Kisah Dzul Khuwaishirah yang Menuntut Rasulullah untuk AdilKemudian datanglah utusan dari Hawazin yang telah masuk Islam di Ji‘ranah. Mereka berbicara kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, kami memiliki keluarga dan kerabat. Kami telah tertimpa musibah yang tidak tersembunyi bagimu. Maka berilah kami sebagian dari apa yang Allah berikan kepadamu.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“أَبْنَاؤُكُمْ وَنِسَاؤُكُمْ أَحَبُّ إِلَيْكُمْ أَمْ أَمْوَالُكُمْ؟”“Anak-anak dan wanita kalian lebih kalian cintai atau harta kalian?”Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, engkau memberi kami pilihan antara harta dan keluarga kami, maka kami memilih agar wanita dan anak-anak kami dikembalikan kepada kami. Itu lebih kami cintai.”Beliau bersabda kepada mereka,“أَمَّا مَا كَانَ لِي وَلِبَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَهُوَ لَكُمْ”“Adapun yang menjadi bagianku dan bagian Bani Abdul Muththalib, maka itu untuk kalian.”Kemudian beliau berkata, “Jika aku telah selesai salat Zuhur bersama manusia, maka berdirilah kalian dan katakan: ‘Kami memohon syafaat kepada Rasulullah kepada kaum muslimin, dan kepada kaum muslimin agar membantu kami dalam urusan wanita dan anak-anak kami.’”Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai salat Zuhur bersama manusia, mereka pun berdiri dan menyampaikan apa yang diperintahkan kepada mereka. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“أَمَّا مَا كَانَ لِي وَلِبَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَهُوَ لَكُمْ”“Adapun yang menjadi bagianku dan bagian Bani Abdul Muththalib, maka itu untuk kalian.”Kaum Muhajirin berkata, “Apa yang menjadi bagian kami, maka itu untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Al-Aqra‘ bin Habis berkata, “Adapun aku dan Bani Tamim, tidak.”‘Uyainah bin Hishn berkata, “Adapun aku dan Bani Fazarah, tidak.”Al-‘Abbas bin Mirdas berkata, “Adapun aku dan Bani Sulaim, tidak.”Namun Bani Sulaim berkata, “Bahkan, apa yang menjadi bagian kami, maka itu untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“أَمَّا مَنْ تَمَسَّكَ مِنْكُمْ بِحَقِّهِ مِنْ هَذَا السَّبْيِ فَلَهُ بِكُلِّ إِنْسَانٍ سِتُّ فَرَائِضَ مِنْ أَوَّلِ سَبْيٍ أُصِيبَهُ”“Adapun siapa di antara kalian yang tetap mempertahankan haknya dari tawanan ini, maka baginya setiap satu orang (yang ia lepaskan) akan diganti dengan enam bagian dari tawanan pertama yang akan kami dapatkan.”Maka mereka pun mengembalikan anak-anak dan wanita kepada kaum tersebut.Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Ji‘ranah, sementara di tangan Bilal ada pakaian, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil darinya untuk dibagikan kepada manusia. Lalu orang itu berkata, “Wahai Muhammad, berlakulah adil!”Beliau bersabda,“وَيْلَكَ، وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ؟ لَقَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ”“Celakalah engkau! Siapa yang akan berlaku adil jika aku tidak berlaku adil? Sungguh engkau akan rugi dan merugi jika aku tidak berlaku adil.”Maka Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Wahai Rasulullah, izinkan aku membunuh orang munafik ini.”Beliau bersabda,“مَعَاذَ اللَّهِ، أَنْ يَتَحَدَّثَ النَّاسُ أَنِّي أَقْتُلُ أَصْحَابِي”“Aku berlindung kepada Allah dari ucapan orang-orang bahwa aku membunuh para sahabatku.”Beliau melanjutkan,“إِنَّ هَذَا وَأَصْحَابَهُ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنْهُ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ”“Sesungguhnya orang ini dan pengikutnya membaca Al-Qur’an, tetapi tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah melesat dari sasarannya.”Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan harta kepada orang-orang Quraisy dan kabilah Arab lainnya, sementara kaum Anshar tidak mendapatkan bagian, maka sebagian dari mereka merasakan sesuatu dalam hati mereka, hingga salah seorang dari mereka berkata, “Demi Allah, Rasulullah telah menemui kaumnya.”Maka Sa‘d bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kaum Anshar merasakan sesuatu dalam hati mereka terhadap apa yang engkau lakukan, yaitu engkau membagi kepada kaummu dan memberikan pemberian besar kepada kabilah Arab, sementara kaum Anshar tidak mendapatkan bagian apa pun.”Beliau bersabda, “Di manakah posisi engkau dalam hal ini, wahai Sa‘d?”Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, aku hanyalah bagian dari kaumku.”Beliau bersabda, “Kumpulkanlah kaummu di tempat ini.”Maka Sa‘d mengumpulkan kaum Anshar di tempat tersebut. Setelah mereka berkumpul, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di tengah mereka, memuji Allah dan menyanjung-Nya, lalu bersabda:“يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ، مَا قَالَةٌ بَلَغَتْنِي عَنْكُمْ؟”“Wahai kaum Anshar, apa ucapan yang sampai kepadaku dari kalian?”Mereka menjawab, “Adapun orang-orang bijak di antara kami, wahai Rasulullah, mereka tidak mengatakan apa-apa. Namun sebagian dari kami yang masih muda berkata: ‘Semoga Allah mengampuni Rasulullah, beliau memberi kepada Quraisy dan meninggalkan kami, sementara pedang kami masih meneteskan darah mereka.’”Maka beliau bersabda,“أَلَمْ آتِكُمْ ضُلَّالًا فَهَدَاكُمُ اللَّهُ، وَعَالَةً فَأَغْنَاكُمُ اللَّهُ، وَأَعْدَاءً فَأَلَّفَ اللَّهُ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ؟”“Bukankah dahulu kalian dalam keadaan sesat lalu Allah memberi kalian petunjuk, kalian dalam keadaan miskin lalu Allah mencukupkan kalian, dan kalian saling bermusuhan lalu Allah menyatukan hati kalian?”Mereka menjawab, “Benar, Allah dan Rasul-Nya lebih banyak memberi karunia dan keutamaan.”Beliau bersabda,“أَلَا تُجِيبُونِي يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ؟”“Mengapa kalian tidak menjawabku, wahai kaum Anshar?”Mereka berkata, “Apa yang harus kami katakan, wahai Rasulullah? Bagi Allah dan Rasul-Nya segala karunia dan keutamaan.”Beliau bersabda,“أَمَا وَاللَّهِ لَوْ شِئْتُمْ لَقُلْتُمْ فَلَصَدَقْتُمْ وَلَصُدِّقْتُمْ: أَتَيْتَنَا مُكَذَّبًا فَصَدَّقْنَاكَ، وَمَخْذُولًا فَنَصَرْنَاكَ…”“Demi Allah, seandainya kalian mau, kalian bisa mengatakan—dan kalian benar—: ‘Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami membenarkanmu; engkau datang dalam keadaan ditinggalkan, lalu kami menolongmu lalu kalian menolongku, aku datang dalam keadaan terusir lalu kalian melindungiku, dan dalam keadaan miskin lalu kalian mencukupkanku.”“Wahai kaum Anshar, apakah kalian merasakan sesuatu dalam hati kalian karena sedikit bagian dunia yang dengannya aku ingin melunakkan hati suatu kaum agar mereka masuk Islam, sementara aku menyerahkan keislaman kalian (tanpa diberi bagian dunia)? Tidakkah kalian ridha, wahai kaum Anshar, bahwa manusia kembali dengan kambing dan unta, sedangkan kalian kembali membawa Rasulullah ke tempat tinggal kalian?”“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seandainya bukan karena hijrah, niscaya aku termasuk bagian dari kaum Anshar. Jika manusia menempuh suatu jalan dan kaum Anshar menempuh jalan lain, pasti aku akan menempuh jalan kaum Anshar. Ya Allah, rahmatilah kaum Anshar, anak-anak Anshar, dan cucu-cucu Anshar.”Maka kaum itu pun menangis hingga janggut mereka basah, dan mereka berkata, “Kami ridha dengan Rasulullah sebagai bagian kami dan pembagian yang kami terima.”Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pergi, dan mereka pun berpisah. Delegasi Tsaqif Datang Menemui Rasulullah ﷺRasulullah ﷺ tiba di Madinah dalam keadaan menang, setelah Allah memuliakan beliau dengan kemenangan atas dua kekuatan Arab terbesar di Jazirah Arab. Beliau memasuki Madinah pada malam keenam yang tersisa dari bulan Dzulqa‘dah.Adapun kaum Tsaqif, mereka tetap bertahan dalam keadaan takut hingga Rasulullah ﷺ pulang dari perang Tabuk. Setelah itu mereka datang menemui Nabi ﷺ. Al-Mughirah bin Syu‘bah radhiyallahu ‘anhu lebih dahulu menemui mereka, lalu ia meminta kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu agar menjadi orang yang menyampaikan kabar gembira kepada Rasulullah ﷺ tentang kedatangan mereka. Abu Bakar pun menyetujuinya. Maka Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu masuk menemui Rasulullah ﷺ dan menyampaikan kabar gembira tersebut.Rasulullah ﷺ kemudian mendirikan kemah untuk mereka di masjid agar mereka merasa dekat dengan Islam. Disebutkan dari Al-Hasan rahimahullah, dari ‘Utsman bin Abi Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu, bahwa ketika delegasi Tsaqif datang menemui Rasulullah ﷺ, beliau menempatkan mereka di masjid agar hati mereka menjadi lebih lunak.Mereka lalu mengajukan syarat agar tidak diwajibkan ikut perang dan tidak dibebani zakat. Rasulullah ﷺ bersabda:«لَكُمْ أَنْ لَا تُحْشَرُوا وَلَا تُعْشَرُوا، وَلَا خَيْرَ فِي دِينٍ لَيْسَ فِيهِ رُكُوعٌ»“Kalian tidak diwajibkan keluar untuk berjihad dan tidak dipungut sepersepuluh harta (usyur), tetapi tidak ada kebaikan pada agama yang tidak ada rukuk di dalamnya.”Mereka juga meminta agar Rasulullah ﷺ menunda penghancuran berhala Al-Lat selama tiga tahun. Namun beliau menolak kecuali berhala itu harus dihancurkan. Mereka lalu meminta agar mereka tidak diperintahkan menghancurkannya sendiri. Maka Rasulullah ﷺ mengutus Abu Sufyan dan Al-Mughirah bin Syu‘bah radhiyallahu ‘anhuma untuk menghancurkan Al-Lat.Beliau juga mengangkat ‘Utsman bin Abi Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu sebagai pemimpin mereka, padahal usianya paling muda di antara mereka. Hal itu karena Rasulullah ﷺ melihat semangatnya dalam mempelajari Al-Qur’an dan mendalami agama. Disebutkan pula bahwa beliau memerintahkannya menjadikan tempat berhala mereka sebagai lokasi masjid Thaif. Pelajaran yang Dipetik dari Perang Hunain dan Pengepungan ThaifPertama: Sesungguhnya Allah dengan taufik-Nya mengatur urusan hamba-hamba-Nya yang beriman, bersikap lembut kepada mereka, dan melindungi mereka dari tipu daya orang-orang kafir. Allah menjadikan apa yang Dia kehendaki sebagai harta rampasan bagi kaum muslimin.Tidaklah Rasulullah ﷺ keluar menghadapi kekuatan besar kaum Quraisy di Makkah, kecuali karena Allah menanamkan rasa takut ke dalam hati kaum Hawazin, sehingga mereka berhenti bergerak untuk memerangi Rasulullah ﷺ. Bahkan Allah menjadikan mereka menghadapi Rasulullah ﷺ dengan membawa serta wanita-wanita dan harta-harta mereka berupa unta dan kambing yang jumlahnya hanya diketahui oleh Allah.Semua itu terjadi agar harta rampasan tersebut menjadi milik kaum muslimin, yang dengannya Rasulullah ﷺ dapat menggunakannya untuk melembutkan dan menautkan hati serta mengobati luka batin penduduk Makkah, setelah mereka mengalami kekalahan besar yang sangat melukai perasaan mereka.Pada fase dakwah ini, Rasulullah ﷺ sangat membutuhkan upaya penaklukan hati, sementara beliau sendiri tidak memiliki apa-apa, bahkan sampai harus meminjam baju besi dari Shafwan. Maka datanglah harta-harta rampasan dan kekayaan yang besar ini, lalu Rasulullah ﷺ menggunakannya untuk menundukkan hati para pemimpin yang sebelumnya telah “hilang akal sehatnya” (karena kebencian dan permusuhan).Mahasuci Allah, Sang Pengatur segala urusan dan Pembolak-balik hati sesuai kehendak-Nya. Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.Kedua: Peristiwa Rasulullah ﷺ meminjam baju besi dari Shafwan bin Umayyah mengandung beberapa pelajaran, di antaranya:Keterbatasan sarana material yang dimiliki pasukan Rasulullah ﷺ, hingga beliau harus meminjam senjata dari seorang musyrik.Bolehnya seorang imam atau pemimpin meminjam senjata milik orang musyrik untuk memerangi musuh. Peristiwa ini termasuk salah satu bentuk isti‘ānah (meminta bantuan).Barang pinjaman (al-‘āriyah) itu bersifat tanggungan, meskipun barang yang dipinjam tersebut adalah milik orang musyrik, meski dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan para fuqaha.Ketiga: Malik an-Nadhri mengutus seorang mata-mata sebagai pemimpin pasukan Tsaqif dan Hawazin agar ia mengamati langsung keadaan Rasulullah ﷺ dan berita tentang pasukan kaum muslimin.Ketika mata-mata itu kembali kepada Malik, terlihat jelas pada wajahnya tanda-tanda ketakutan dan kegentaran. Maka Malik bertanya, “Apa yang terjadi dengan kalian?”Mereka menjawab, “Kami melihat para lelaki yang berpakaian putih, menaiki kuda-kuda hitam pekat. Demi Allah, kami sama sekali tidak mampu bertahan, dan apa yang kami alami benar-benar tidak terbayangkan.”Malik pun tidak mampu menolak atau menghalangi mereka dari tujuan dan niat tersebut.Peristiwa ini merupakan salah satu bentuk rasa takut (ar-ru‘b) yang Allah berikan sebagai pertolongan kepada Rasul-Nya ﷺ dan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.Allah Ta‘ala berfirman:﴿ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ فَرِيقًا تَقْتُلُونَ وَتَأْسِرُونَ فَرِيقًا ﴾“Dan Dia menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka; sebagian mereka kalian bunuh dan sebagian yang lain kalian tawan.” (QS. Al-Ahzab: 26)Dan Allah Ta‘ala juga berfirman:﴿ سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا ۖ وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ ۖ وَبِئْسَ مَثْوَى الظَّالِمِينَ ﴾“Akan Kami tanamkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir, karena mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan dalil tentang itu. Tempat mereka adalah neraka, dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal bagi orang-orang zalim.” (QS. Ali ‘Imran: 151)Dan Rasulullah ﷺ bersabda:«نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ»“Aku ditolong dengan rasa takut (yang ditanamkan ke dalam hati musuh).” (HR. Bukhari dan Muslim)Keempat: Ketika ada seorang laki-laki dari kaum muslimin berkata, “Kita tidak akan dikalahkan hari ini karena jumlah yang sedikit,” Rasulullah ﷺ tidak menyukai ucapan tersebut, karena beliau mengetahui akibat buruk dari perkataan semacam itu. Dari sini kita dapat mengambil pelajaran sebagai berikut:1. Ucapan satu orang saja, sebagaimana disebutkan oleh para ahli sirah, bisa menjadi sebab datangnya musibah besar yang menimpa seluruh pasukan secara keseluruhan. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya waspada agar tidak mendatangkan bencana bagi komunitasnya atau keluarganya akibat keburukan yang muncul dari perbuatannya atau ucapannya.2. Meskipun hanya satu kalimat, namun dengan sebab itulah bencana terjadi. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:«إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ، مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ» “Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan satu kata, yang ia tidak memperhatikan akibatnya, lalu karena kata itu ia tergelincir ke dalam neraka sejauh jarak antara timur.” (HR. Bukhari dan Muslim)3. Ini menunjukkan kelemahan tabiat manusia dan cepatnya ia tertipu oleh rasa bangga. Seseorang bisa saja, ketika melihat banyaknya jumlah pasukan, merasa kagum, tertipu oleh kekuatan semu itu, lalu membesarkan dirinya dan merasa yakin akan kemenangan. Ia pun mengucapkan kalimat tersebut, yang muncul dari kelemahan manusiawi yang kadang menimpa seorang hamba dalam kondisi tertentu, ketika ia tidak selalu menghadirkan rasa takwa kepada Allah, pengawasan-Nya, ketundukan kepada-Nya, serta kesadaran atas nikmat-nikmat-Nya.4. Besarnya bahaya perkara ini, karena berkaitan langsung dengan akidah. Seorang muslim, di antara bentuk ibadah terbesar yang ia lakukan, adalah tunduk kepada Allah, bersyukur atas nikmat-Nya, dan waspada dari kelalaian dalam hal ini. Hendaknya ia menyadari bahwa rasa ujub (bangga diri) dan masuknya kesombongan ke dalam hati termasuk dosa-dosa besar yang dapat membinasakan.5. Besarnya bahaya perkara ini juga ditunjukkan oleh hukuman yang terjadi secara langsung, serta ayat-ayat yang turun untuk menegur umat agar mereka mengambil pelajaran untuk masa depan mereka. Karena itu, ucapan semacam ini tidak boleh dianggap remeh. Abu Bakar al-Jazā’irī rahimahullah berkata dalam penjelasannya: “Haramnya merasa kagum terhadap diri sendiri, terhadap amal, atau terhadap kekuatan. Sebab, akibat dari sikap tersebut adalah kekalahan kaum mukminin pada awal pertempuran mereka melawan musuh.”6. Pada peristiwa ini juga terdapat pelajaran akidah yang sangat penting. Jika Perang Badar telah menetapkan bagi kaum muslimin bahwa jumlah yang sedikit tidak membahayakan mereka di hadapan musuh-musuh mereka apabila mereka bersabar, bertakwa, dan hati mereka bergantung kepada Allah Ta’ala, maka Perang Hunain menetapkan bagi kaum muslimin bahwa jumlah yang banyak pun tidak akan memberi manfaat sedikit pun, apabila hati mereka tidak bergantung kepada Allah Ta’ala. Perang Hunain telah menetapkan bagi kaum muslimin bahwa jumlah yang banyak pun tidak akan memberi manfaat apa pun, apabila hati mereka tidak bergantung kepada Allah.Kelima: Dalam ucapan sebagian orang yang diucapkan di hadapan Rasulullah ﷺ: “Jadikanlah untuk kami dzātu anwāṭ sebagaimana mereka memiliki dzātu anwāṭ,” terdapat beberapa pelajaran penting, di antaranya:Orang-orang yang mengucapkan kalimat tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh perawi hadits Abu Wāqid al-Laitsī radhiyallāhu ‘anhu, adalah orang-orang yang baru saja keluar dari kekafiran. Mereka termasuk orang-orang yang baru masuk Islam setelah penaklukan Makkah atau sesudahnya, dan bukan dari kalangan sahabat yang telah lebih dahulu masuk Islam. Karena itu, perkara seperti ini tidak mungkin muncul dari para sahabat terdahulu, dan tidak pantas disangka atau dituduhkan kepada mereka. Semoga Allah Ta‘ālā meridai mereka semua.Kewajiban bersikap sangat waspada terhadap kesyirikan. Orang-orang tersebut tidak bermaksud menggantungkan diri kepada pohon sebagaimana praktik orang-orang musyrik, namun Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ucapan mereka serupa dengan ucapan para pengikut Nabi Musa, yaitu: “Jadikanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan.” Maka perhatikanlah bagaimana cara melakukan tabarruk (mencari berkah), memohon keberkahan, beribadah, dan mendekatkan diri kepada yang diberkahi. Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas‘ūd radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Kami pernah bersama Rasulullah ﷺ dalam sebuah perjalanan, lalu kami kehabisan air. Rasulullah ﷺ bersabda:«اطْلُبُوا فَضْلَةً مِنْ مَاءٍ»“Carilah sisa air.”Lalu didatangkan sebuah bejana yang di dalamnya terdapat sedikit air. Rasulullah ﷺ memasukkan tangannya ke dalam bejana itu, kemudian bersabda:«حَيَّ عَلَى الطَّهُورِ الْمُبَارَكِ، وَالْبَرَكَةُ مِنَ اللَّهِ» “Marilah kepada air bersuci yang diberkahi, dan keberkahan itu berasal dari Allah.” Yakni, keberkahan tidak diminta kecuali dari Allah semata, tidak dari selain-Nya. Dialah Allah —dengan mematahkan anggapan keliru— tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia.Pintu tabarruk termasuk pintu terbesar yang melaluinya kesyirikan masuk ke tengah manusia. Awalnya, orang-orang mengagungkan para ulama dan orang-orang saleh, lalu meminta doa kepada mereka. Setelah itu, mereka mulai mengusap-usap (tabarruk) kepada mereka, dan meyakini bahwa para tokoh tersebut memiliki kemampuan memberi keberkahan karena kesalehan dan kedudukan mereka di sisi Allah. Ketika mereka terus-menerus meminta keberkahan kepada orang-orang tersebut, muncullah praktik tabarruk kepada para wali dan orang-orang saleh, kemudian tabarruk kepada kuburan, bahkan berkembang menjadi tabarruk kepada pepohonan dan batu-batuan. Semua ini merupakan penyimpangan yang besar.Meminta Keberkahan kepada Allah SemataKeberkahan diminta dari Zat yang memilikinya, bukan dari yang tidak memilikinya. Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, beliau sangat mencintainya dan berharap keberkahan ada di dalamnya, lalu beliau berdoa kepada Allah Subḥānahu. Dalam hadits Abu Sa‘īd al-Khudrī radhiyallāhu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:«اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي مَدِينَتِنَا، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي صَاعِنَا، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي مُدِّنَا، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي مَدِينَتِنَا، اللَّهُمَّ اجْعَلْ مَعَ الْبَرَكَةِ بَرَكَتَيْنِ» (1)“Ya Allah, berkahilah kota Madinah kami. Ya Allah, berkahilah sha‘ kami. Ya Allah, berkahilah mudd kami. Ya Allah, berkahilah kota Madinah kami. Ya Allah, jadikanlah keberkahan itu berlipat ganda.”Beliau berdoa agar Allah memberikan keberkahan pada Madinah, makanan pokok mereka, dan takaran mereka. Maka, jika Rasulullah ﷺ sendiri meminta keberkahan dari Allah, sudah seharusnya kita tidak meminta keberkahan kecuali kepada Allah.Adapun meminta keberkahan kepada selain-Nya, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang meminta keberkahan dengan menggantungkan senjata mereka pada pohon, maka perbuatan itu sama dengan ucapan “Jadikanlah untuk kami sesembahan”, dan berarti menjadikan tandingan bagi Allah.Maka orang-orang seperti ini harus diberi peringatan keras, diarahkan untuk kembali kepada Allah, dan dicegah dari mencari keberkahan dengan cara yang menyimpang, sebagaimana mereka juga dicegah dari penyimpangan dalam seluruh bentuk ibadah lainnya. Nasihat Mengenai Ngalap Berkah (Tabarruk)Maka seharusnya orang-orang seperti ini sadar dan kembali kepada Allah. Hendaknya mereka bersungguh-sungguh dalam mencari keberkahan hanya kepada-Nya, sebagaimana mereka bersungguh-sungguh dalam berbagai bentuk ibadah lainnya.1. Perhatikan apa yang diminta oleh mereka kepada Rasulullah ﷺ.Mereka berkata, “Jadikanlah untuk kami Dzātu Anwāṭ sebagaimana mereka memiliki Dzātu Anwāṭ.”Dalam Fathul Majīd dijelaskan bahwa maksudnya, mereka tidak meminta agar dibuatkan sesembahan selain Allah—karena mereka tentu lebih paham dan lebih mulia dari itu—tetapi mereka hanya meminta sebuah pohon yang diberi izin oleh Nabi untuk mereka bertabarruk (mengambil berkah darinya), dengan cara menggantungkan senjata-senjata mereka di sana, tanpa melakukan shalat atau sedekah untuknya.Namun Nabi ﷺ menjelaskan bahwa permintaan mereka untuk bertabarruk tersebut—meskipun tidak disertai shalat atau sedekah—tetap termasuk syirik itu sendiri. Di dalamnya terdapat bantahan terhadap syubhat kaum musyrik di zaman ini yang mengira bahwa apa yang mereka lakukan berupa tabarruk dan pengagungan adalah sesuatu yang tidak mengapa.2. Apa yang mereka minta bukanlah syirik kecil.Seandainya Nabi ﷺ mengabulkannya, tentu itu serupa dengan ucapan Bani Israil kepada Nabi mereka, “Jadikanlah untuk kami sesembahan.” Demi Allah, itu termasuk syirik besar. Namun Bani Israil tidak langsung dikafirkan karena permintaan tersebut, sebab mereka baru saja meninggalkan kekafiran dan masuk ke dalam Islam. Selain itu, mereka tidak sampai melakukannya dan tidak memaksakan permintaan tersebut, melainkan hanya sekadar meminta kepada Nabi ﷺ.3. Kaidah bahwa ibadah itu harus berdasarkan perintah syariat sudah tertanam dalam diri para sahabat.Para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang mengajukan permintaan tersebut tidak serta-merta melakukannya sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah. Mereka tidak langsung mengamalkannya, tetapi terlebih dahulu mendatangi Rasulullah ﷺ. Sebab mereka mengetahui bahwa setiap ibadah harus memiliki landasan syariat sebelum diamalkan, agar seseorang tidak terjatuh ke dalam perbuatan bid’ah, yaitu beribadah kepada Allah tanpa dasar yang telah Dia tetapkan.Keenam: Wajib berhati-hati dari menyerupai orang-orang kafir.Hal ini karena Rasulullah ﷺ telah menjelaskan hal tersebut dalam sabdanya:لَتَتَّبِعُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَذْوَ الْقُذَّةِ بِالْقُذَّةِ“Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, setahap demi setahap.”Oleh karena itu, sudah sepantasnya seorang muslim waspada dan tidak meniru orang-orang kafir. Bahkan, yang menjadi kewajibannya adalah berhati-hati dari menyerupai mereka dalam seluruh urusan mereka, serta mewaspadai ajakan untuk mengikuti hawa nafsu dan penyimpangan umat-umat terdahulu.Menyerupai orang-orang kafir juga termasuk salah satu sebab terbesar munculnya berbagai bid’ah. Dalam hadis ini dijelaskan bahwa sikap menyerupai orang kafir itulah yang mendorong Bani Israil untuk meminta kepada Nabi Musa agar dibuatkan bagi mereka sesembahan sebagaimana kaum kafir memiliki sesembahan yang mereka sembah.Demikian pula, sikap menyerupai orang kafir itulah yang mendorong sebagian sahabat Nabi Muhammad ﷺ—yang saat itu masih baru masuk Islam—untuk meminta agar dibuatkan bagi mereka sebuah pohon yang mereka jadikan tempat mencari berkah selain Allah.Dan inilah kenyataan yang terjadi pada hari ini. Sebagian kaum muslimin meniru orang-orang kafir dalam melakukan bid’ah dan perbuatan syirik. Salah satu sebab paling menonjol dari penyimpangan tersebut adalah sikap menyerupai orang-orang kafir. Ketujuh: Mengambil pelajaran tentang pentingnya optimisme (tafā’ul).Ketika Rasulullah ﷺ mengutus ‘Abdullah bin Abī Ḥadrad radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu dan ayahnya untuk mendatangi pasukan Tsaqīf, lalu ia kembali dan mengabarkan bahwa ia melihat kaum wanita, keluarga, anak-anak, serta hewan ternak mereka ikut bersama pasukan itu—yang maksud mereka adalah untuk menunjukkan keteguhan dan agar tidak lari saat pertempuran—maka hal itu tentu merupakan sesuatu yang menakutkan bagi pasukan yang menghadapinya.Namun Rasulullah ﷺ tersenyum dan bersabda, “Itu adalah harta rampasan kaum muslimin esok hari, insya Allah.” Dari peristiwa ini kita mengambil pelajaran tentang sikap optimis.Sepanjang kehidupan Rasulullah ﷺ dipenuhi dengan optimisme. Dalam kondisi apa pun, beliau selalu melihat dari sisi yang membawa harapan. Beliau tidak terpengaruh oleh kumpulan pasukan Tsaqīf, bahkan mengucapkan kata-kata optimis yang didengar oleh para sahabat radhiyallāhu ‘anhum. Ucapan itu membangkitkan harapan, menyemangati jiwa, dan meneguhkan hati.Sebab jiwa manusia, ketika diingatkan pada kekuatan dan jumlah besar musuh, bisa saja merasa gentar. Namun ketika diberi harapan tentang kemenangan dan ganimah yang besar, maka ia akan berani dan maju. Apalagi ketika gambaran tentang harta rampasan itu seakan-akan sudah tampak di depan mata.Sikap seperti ini juga tampak pada peristiwa ketika Rasulullah ﷺ kembali dari mendatangi Banī Qurayẓah pada hari Perang Aḥzāb. Saat itu para sahabat—di antaranya Sa‘d bin Mu‘ādz, Sa‘d bin ‘Ubādah, ‘Abdullah bin Rawāḥah, dan Khawwāt bin Jubair radhiyallāhu ‘anhum—yang diutus untuk memastikan apakah Banī Qurayẓah telah melanggar perjanjian, kembali dan mengabarkan bahwa mereka benar-benar telah mengkhianati perjanjian.Maka Rasulullah ﷺ mengangkat kepalanya dan bersabda:«أَبْشِرُوا يَا مَعْشَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِنَصْرِ اللَّهِ تَعَالَى وَعَوْنِهِ»“Bergembiralah wahai kaum mukminin, dengan pertolongan dan bantuan Allah Ta‘ālā.”Ketika keadaan semakin sulit dan musuh semakin berkumpul, hati pun semakin bergantung kepada Allah, dan pertolongan pun datang. Rasulullah ﷺ sangat perhatian pada hari itu untuk menebarkan ketenangan dan optimisme di hadapan para sahabat radhiyallāhu ‘anhum. Kedelapan: Di antara pelajaran dari serangan mendadak orang-orang kafir terhadap kaum Muslimin, kekacauan barisan mereka, lalu kekalahan yang mereka alami — dan tidak ada yang tetap tegar bersama Rasulullah ﷺ kecuali sedikit dari kalangan mukminin — terdapat pelajaran praktis bagi kaum Muslimin di setiap zaman dan tempat: janganlah kalian tertipu oleh kekuatan kalian dan jangan pula oleh jumlah yang kalian miliki.Sebagian kaum Muslimin ketika itu berkata, “Hari ini kita tidak akan kalah karena jumlah yang sedikit.” Namun ternyata mereka mengalami kekalahan pada awal pertemuan dengan musuh. Peristiwa ini menjadi pendidikan dan pembinaan bagi hati agar tidak berpaling kepada selain Allah. Jika hati berpaling kepada selain-Nya, maka akibatnya akan seperti yang terjadi pada pasukan Hunain di awal pertempuran.Allah Ta’ala berfirman:لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْـًٔا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ“Sungguh, Allah telah menolong kalian di banyak medan peperangan, dan (ingatlah) pada Perang Hunain, ketika jumlah kalian yang banyak membuat kalian bangga, tetapi jumlah itu tidak memberi manfaat sedikit pun bagi kalian. Bumi yang luas terasa sempit bagi kalian, kemudian kalian berbalik ke belakang dengan lari tunggang-langgang.” (QS. At-Taubah: 25)Setelah pelajaran itu benar-benar terwujud dan pesan pun sampai, manusia memahami secara nyata bahwa kekuatan dan jumlah mereka tidak akan bermanfaat jika Allah tidak menolong mereka. Jika Allah Jalla Sya’nuhu tidak memberikan pertolongan, maka tidak akan turun kemenangan dari sisi-Nya.Allah — Mahatinggi dan Mahamulia — tidak akan menyia-nyiakan hamba-hamba-Nya yang beriman. Dialah yang berperang dengan pertolongan-Nya, anugerah-Nya, dan kebaikan-Nya.Sebagaimana firman-Nya:وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ“Dan menjadi kewajiban atas Kami untuk menolong orang-orang yang beriman.” (QS. Ar-Rum: 47)Namun setelah Allah memperlihatkan kepada kaum mukminin secara nyata keadaan mereka tanpa pertolongan-Nya, barulah pertolongan itu datang dari sisi Allah. Allah Ta’ala berfirman:ثُمَّ أَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin, serta menurunkan bala tentara yang tidak kalian lihat, dan Dia mengazab orang-orang kafir. Itulah balasan bagi orang-orang kafir.” (QS. At-Taubah: 26)Adapun keadaan kita hari ini — realitas kita tercerai-berai dan hati kita belum bergantung kepada Allah sebagaimana mestinya — maka kita perlu memahami pelajaran ini dengan baik agar keadaan kita menjadi lurus. Sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.Kesembilan: Firman Allah Ta’ala: “Sungguh, Allah telah menolong kalian di banyak medan peperangan, dan (ingatlah) pada Perang Hunain, ketika jumlah kalian yang banyak membuat kalian bangga, tetapi jumlah itu tidak memberi manfaat sedikit pun bagi kalian. Bumi yang luas terasa sempit bagi kalian, kemudian kalian berbalik ke belakang dengan lari tunggang-langgang. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin, serta menurunkan bala tentara yang tidak kalian lihat, dan Dia mengazab orang-orang kafir. Itulah balasan bagi orang-orang kafir.” (QS. At-Taubah: 25–26)Ath-Thahir bin ‘Asyur rahimahullah berkata, “Penyandaran pertolongan secara tegas kepada Allah Ta’ala bertujuan untuk menampakkan tanda kecintaan Allah, meskipun di dalamnya terdapat sebagian kepentingan dunia. Di dalamnya terdapat bagian akhirat, dan juga bagian dunia berupa kemenangan yang menguatkan persatuan, menghasilkan ghanimah, serta melindungi umat dari serangan musuh-musuhnya. Semua itu termasuk karunia Allah, karena mereka melihat kecintaan-Nya dalam urusan-urusan dunia mereka.”Beliau juga berkata, “Penyebutan secara khusus hari Hunain di antara hari-hari peperangan lainnya, karena kaum Muslimin sempat mengalami kekalahan pada awalnya, kemudian kemenangan kembali kepada mereka. Penyebutan ini mengandung pelajaran bahwa kemenangan diraih ketika menaati perintah Allah dan Rasul-Nya ﷺ, sedangkan kekalahan terjadi ketika lebih mengutamakan keuntungan dunia yang segera daripada ketaatan.”Kesepuluh: Seruan Al-‘Abbas radhiyallahu ‘anhu kepada para sahabat Baiat Syajarah, juga kepada kaum Muhajirin dan Anshar, lalu kembalinya mereka.Tidak lama setelah peristiwa itu, para pasukan yang sempat mundur kembali berkumpul di sekitar Rasulullah ﷺ. Hal ini menunjukkan bahwa larinya mereka tidaklah jauh. Itu hanyalah kekacauan dan kepanikan sesaat. Mereka masih berada cukup dekat sehingga dapat mendengar suara panggilan.Kemudian terjadi pendidikan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, lalu datang keteguhan yang bersumber dari Allah dan pertolongan-Nya. Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama mengatakan bahwa dalam hadis ini terdapat dalil bahwa mundurnya mereka tidaklah jauh dan tidak semua pasukan benar-benar melarikan diri. Yang mundur hanyalah orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit, dari kalangan penduduk Makkah yang baru masuk Islam (mualaf) dan orang-orang musyrik Makkah yang belum benar-benar beriman.Kekalahan itu datang secara tiba-tiba. Mereka dihujani anak panah sekaligus dan bercampur dengan sebagian penduduk Makkah yang imannya belum kokoh. Di antara mereka ada wanita dan anak-anak yang ikut keluar untuk mencari harta rampasan, sehingga mereka berada di barisan depan. Ketika panah-panah beterbangan, mereka pun berbalik dan lari. Namun akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ketenangan kepada kaum mukminin, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.”Kesebelas: Ketika Al-‘Abbas memanggil para sahabat Baiat Syajarah dan menyeru kaum Anshar, mereka segera menyambut dan kembali kepada Rasulullah ﷺ. Bahkan sebagian mereka tidak mampu membalikkan unta yang ditungganginya, sehingga ia turun dan meninggalkannya, lalu kembali kepada Rasulullah ﷺ dengan senjatanya.Hal ini menegaskan kewajiban untuk segera menyambut seruan Rasulullah ﷺ dan mengingatkan kita pentingnya bersegera memenuhi perintah beliau begitu kita mendengar dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah.Kedua belas: Kita melihat bahwa Rasulullah ﷺ, yang sangat lembut dan penyayang terhadap orang-orang beriman, tidak mencela seorang pun dari mereka yang sempat mundur. Ketika Ummu Salim radhiyallahu ‘anha berkata tentang orang-orang yang lari, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mencukupi dan memperbaiki keadaan.”Artinya, beliau tidak menegur mereka dengan celaan, karena peristiwa itu telah berlalu dan tidak ada jalan untuk mengulanginya, terlebih dalam kondisi perang yang memang menimbulkan guncangan jiwa. Rasulullah ﷺ memuliakan para sahabatnya dengan tidak mengungkit kesalahan itu. Demikianlah sikap yang baik: memaafkan, melapangkan dada, dan tidak berlebihan dalam menyalahkan seorang Muslim atas kesalahan yang sudah tidak mungkin diperbaiki. Seorang Muslim hendaknya memberi ruang bagi sebagian uzur dalam hal semacam itu.Ketiga belas: Disyariatkannya doa dan bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah yang dilakukan Rasulullah ﷺ, khususnya ketika keadaan menjadi genting. Pada Perang Hunain, beliau memohon pertolongan kepada Rabb-nya dan bersungguh-sungguh dalam doa agar kaum Muslimin diberi kemenangan atas orang-orang musyrik.Pertolongan itu datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kembalinya Rasulullah ﷺ kepada Rabb-nya dalam situasi yang sulit tersebut menjadi faktor paling kuat dalam mengubah jalannya pertempuran sehingga berpihak kepada kaum Muslimin.Keempat belas: Disyariatkannya berdoa dan mengarahkan diri kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Inilah yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ; beliau menempuh jalan tersebut, terlebih ketika keadaan menjadi sulit. Saat itu beliau memohon kepada Rabb-nya dan bersungguh-sungguh dalam doa agar kaum Muslimin memperoleh kemenangan atas kaum musyrikin.Pertolongan itu datang dari sisi Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Ketika Rasulullah ﷺ menghadapkan diri kepada Rabb-nya dalam situasi yang berat tersebut, hal itu menjadi faktor paling kuat yang mengubah jalannya peperangan sehingga berpihak kepada kaum Muslimin.Kelima belas: Ketika Rasulullah ﷺ melihat seorang wanita yang terbunuh, beliau melarang pembunuhan terhadap wanita dan anak-anak. Inilah salah satu prinsip peperangan dalam Islam. Ini juga termasuk wasiat Rasulullah ﷺ yang terus berlaku bagi pasukan kaum Muslimin.Sebagaimana disebutkan dalam Musnad Imam Aḥmad — semoga Allah merahmatinya — dari Ibnu ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhumā, ia berkata:“Apabila Rasulullah ﷺ mengirim pasukan, beliau bersabda,‘Keluarlah kalian dengan menyebut nama Allah. Berperanglah di jalan Allah melawan orang yang kafir kepada Allah. Jangan berkhianat, jangan melampaui batas, jangan melakukan mutilasi, dan jangan membunuh anak-anak, serta jangan pula membunuh para penghuni tempat ibadah.’Ketika beliau mengutus pasukan untuk memerangi Ibnu Abī al-Ḥuqayq dan para sahabatnya di daerah Khaybar, az-Zuhrī berkata:Ibnu Ka‘b bin Mālik mengabarkan kepadaku dari pamannya — radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu — bahwa Nabi ﷺ ketika mengutus mereka kepada Ibnu Abī al-Ḥuqayq di Khaybar, beliau melarang mereka membunuh wanita dan anak-anak.Dengan demikian, peperangan dalam Islam adalah peperangan yang memiliki akhlak. Bahkan ketika menghadapi musuh yang memerangi kaum Muslimin, tetap tidak boleh ada kezaliman, tidak boleh melampaui batas, tidak boleh melakukan kerusakan, dan tidak boleh seseorang menanggung kesalahan orang lain.Hal ini juga menunjukkan tingginya kedudukan hak asasi manusia dalam Islam, meskipun orang tersebut adalah seorang kafir. Allah Ta‘ālā berfirman:۞ وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ وَحَمَلْنَٰهُمْ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ وَرَزَقْنَٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَفَضَّلْنَٰهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Isra’: 70)Islam menghormati manusia sebagai manusia, apa pun agama dan keyakinannya, bahkan dalam keadaan perang. Maka bagaimana lagi dalam keadaan damai dan kehidupan bermasyarakat?Peperangan dalam Islam adalah perang yang mulia. Seorang Muslim tidak meninggalkan prinsip-prinsip luhur tersebut. Oleh karena itu, wanita dan anak-anak tidak memiliki peran dalam peperangan, sehingga mereka harus dilindungi dan tidak boleh dibunuh, kecuali jika seorang wanita benar-benar ikut serta dalam peperangan. Ia juga tidak menanggung dosa orang lain.Barang siapa menjaga hak perempuan secara khusus dan hak manusia secara umum dalam keadaan perang dan pertempuran, tentu ia lebih layak lagi menjaga hak-hak manusia dalam keadaan damai.Islam telah mengangkat tinggi hak manusia hingga kita melihat dengan jelas bahwa hak-hak manusia dalam Islam merupakan salah satu poros tujuan syariat Islam. Sementara itu, seluruh dunia menyaksikan berbagai pelanggaran terhadap hak kaum Muslimin yang terjadi di berbagai tempat, bahkan di sebagian masyarakat yang mengaku modern: terjadi pembunuhan massal, penghancuran kota-kota dan rumah-rumah penduduk, tanpa membedakan antara wanita, anak-anak, orang tua, dan para pejuang yang terlibat dalam peperangan.Padahal Rasulullah ﷺ pernah melewati seorang wanita yang terbunuh pada waktu perang — hanya satu orang wanita saja — lalu beliau mengingkari perbuatan tersebut dan melarang pembunuhan terhadap wanita dan anak-anak.Karena itu para ulama fikih menyatakan:“Diharamkan membunuh wanita dan anak-anak selama mereka tidak ikut berperang.”Keenam belas: Khalid bin Al-Walid radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu termasuk orang yang ikut serta dalam Perang Hunain. Ketika itu beliau berada di garis depan, namun ia mengalami luka. Ketika Rasulullah ﷺ mengetahui hal itu, beliau segera menuju kemahnya untuk menanyakan keadaannya. Setelah menemukannya, beliau menanyakan kondisinya, melihat lukanya, dan mengobatinya.Padahal Rasulullah ﷺ memimpin pasukan yang besar, namun beliau tetap memeriksa keadaan para sahabatnya, menanyakan kabar mereka, dan memperhatikan mereka satu per satu.Kemudian Khalid — meskipun mengalami luka-luka — tetap ikut serta dalam Perang Thaif. Siapa pun yang membaca kisah ini akan merasa kagum melihat bagaimana Khalid radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu tetap melanjutkan perjalanan menuju Thaif dan turut serta dalam pengepungan kota tersebut. Ia tidak ingin kehilangan pahala jihad sedikit pun, meskipun ia mengalami luka yang sebenarnya bisa menjadi alasan baginya untuk tidak ikut.Hal ini mengingatkan kita pada peristiwa setelah salah satu peperangan, ketika Rasulullah ﷺ mengejar orang-orang kafir Quraisy hingga sampai di Hamrā’ al-Asad. Saat itu para sahabat radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhum juga mengalami luka yang besar, namun mereka tidak tertinggal dan tetap ikut bersama beliau. Tentang mereka turun firman Allah Ta‘ālā:ٱلَّذِينَ ٱسْتَجَابُوا۟ لِلَّهِ وَٱلرَّسُولِ مِنۢ بَعْدِ مَآ أَصَابَهُمُ ٱلْقَرْحُ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ مِنْهُمْ وَٱتَّقَوْا۟ أَجْرٌ عَظِيمٌ“(Yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan diantara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.” (QS. Ali Imran: 172)Ketujuh belas: Ketika Rasulullah ﷺ tidak mampu menaklukkan benteng Thaif, dikatakan kepada beliau, “Doakanlah kebinasaan bagi mereka.” Namun beliau justru mendoakan agar mereka mendapat hidayah dan tidak mendoakan keburukan bagi mereka. Inilah bentuk sempurna dari kasih sayang dan rahmat beliau ﷺ.Baca juga: Sudahlah Maafkanlah Dia Agar Allah Memaafkan KitaPadahal penduduk Thaif telah menyakiti Rasulullah ﷺ dan mengusir beliau ketika datang mengajak mereka kepada Allah. Bahkan mereka melempari beliau dengan batu. Namun demikian, beliau tetap mendoakan agar mereka mendapat hidayah, padahal mereka adalah musuh-musuh Allah. Hal ini menunjukkan besarnya rasa sayang dan kepedulian beliau ﷺ kepada umatnya.Allah pun mengabulkan doa beliau. Setelah itu mereka datang dalam keadaan telah memeluk Islam tanpa melalui penderitaan atau kesulitan.Demikianlah seharusnya seorang muslim: ia menasihati karena Allah dan berusaha menjauhi sikap membalas dendam terhadap dirinya sendiri. Ia tidak mendoakan keburukan bagi orang yang memusuhinya, tetapi justru mendoakan agar musuhnya mendapat hidayah kepada Islam.Jika engkau berselisih dengan seseorang—baik orang dekat maupun jauh—maka yang lebih utama adalah mendoakan agar Allah memberinya hidayah. Dengan begitu engkau memperoleh pahala, mampu mengalahkan godaan setan, hawa nafsu, dan ego diri, serta kedudukanmu di sisi Allah akan terangkat. Perbuatan ini juga membersihkan hati dan memperbaiki batin. Namun sikap seperti ini sering kali jarang kita lakukan dalam banyak keadaan.Baca juga: Memaafkan Seperti Allah dengan Tetap MelupakanKedelapan belas: Jika ada seseorang yang berdalil dengan hadits ini ketika Rasulullah ﷺ diminta untuk mendoakan kebinasaan bagi kabilah Tsaqif, lalu beliau justru berkata:اللَّهُمَّ اهْدِ ثَقِيفًا“Ya Allah, berilah hidayah kepada Tsaqif.”Kemudian orang itu menyimpulkan bahwa tidak boleh mendoakan keburukan bagi orang kafir, karena Rasulullah ﷺ tidak mendoakan kebinasaan bagi Tsaqif dan malah mendoakan hidayah bagi mereka, serta tidak memenuhi permintaan sebagian sahabat—semoga Allah meridai mereka—yang meminta agar didoakan kebinasaan bagi mereka.Pendapat ini juga dikuatkan oleh hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata: Ath-Thufail bin ‘Amr datang bersama para sahabatnya dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kabilah Daus telah kafir dan menolak. Maka doakanlah kebinasaan bagi mereka.” Lalu dikatakan, “Binasalah Daus.” Namun Rasulullah ﷺ justru berdoa:اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا وَأْتِ بِهِمْ“Ya Allah, berilah hidayah kepada kabilah Daus dan datangkanlah mereka (kepada Islam).”Jawabannya adalah bahwa dalam Shahih Bukhari dan Muslim juga terdapat hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ pernah berdoa:اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ، وَاجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ سِنِينَ كَسِنِي يُوسُفَ“Ya Allah, perkeraslah hukuman-Mu atas kabilah Mudhar, dan jadikanlah bagi mereka tahun-tahun paceklik seperti tahun-tahun yang terjadi pada masa Nabi Yusuf.”Karena itu, yang benar adalah menggabungkan kedua jenis hadits tersebut. Imam Al-Bukhari memasukkan hadits tentang doa untuk kabilah Daus dalam Shahih-nya pada bab “Doa bagi orang-orang musyrik agar mendapatkan hidayah dan agar hati mereka dilunakkan.”Baca juga: Karamah Said bin Zaid yang Doanya Mustajab Hingga Seorang Wanita Zalim CelakaIbnu Hajar rahimahullah menjelaskan tentang judul bab tersebut: kata “liya’tilafahum” (agar hati mereka dilunakkan) menunjukkan bahwa Nabi ﷺ terkadang mendoakan keburukan bagi mereka dan terkadang mendoakan kebaikan bagi mereka. Keadaan pertama terjadi ketika kejahatan mereka semakin kuat dan gangguan mereka semakin besar. Adapun keadaan kedua adalah ketika diharapkan mereka akan mendapatkan hidayah dan hati mereka dapat dilunakkan, sebagaimana yang terjadi pada kisah kabilah Daus.Baca juga: Karamah Wali, Luar Biasanya Doa Sa’ad bin Abi WaqqashIbnu Al-Mulaqqin rahimahullah berkata: Nabi ﷺ sangat menyukai masuknya manusia ke dalam Islam. Karena itu beliau tidak tergesa-gesa mendoakan keburukan bagi mereka selama masih ada harapan mereka akan menerima Islam. Bahkan beliau mendoakan kebaikan bagi orang yang diharapkan mau menerima dakwah.Adapun terhadap orang yang tidak lagi diharapkan keislamannya dan dikhawatirkan bahaya serta kekuatannya, maka beliau mendoakan keburukan atasnya. Sebagaimana beliau pernah mendoakan agar mereka ditimpa tahun-tahun paceklik seperti masa Nabi Yusuf. Beliau juga mendoakan keburukan bagi para pemuka Quraisy karena banyaknya gangguan dan permusuhan mereka. Doa itu pun dikabulkan terhadap mereka, hingga mereka terbunuh dalam Perang Badar. Sebagaimana banyak pula orang yang dahulu beliau doakan agar mendapat hidayah, kemudian benar-benar masuk Islam.Hal ini memberi petunjuk kepada kita tentang satu prinsip penting dalam memahami sirah Nabi ﷺ. Agar kita dapat mengambil pelajaran yang benar dari peristiwa-peristiwa dalam sirah, kita perlu mengumpulkan berbagai kejadian, membandingkannya satu sama lain, lalu mengambil kesimpulan dari keseluruhannya.Sebab, sebagian peristiwa bisa saja berkaitan dengan keadaan tertentu, sementara yang lain berkaitan dengan keadaan yang berbeda. Ada yang bersifat khusus dan ada yang bersifat umum. Ada pula yang terjadi lebih dahulu dan ada yang terjadi kemudian, dan seterusnya.Kesembilan belas: Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang hikmah ditundanya penaklukan Thaif:Hikmah Ilahi menghendaki agar penaklukan itu ditunda secara sengaja supaya mereka tidak langsung dibinasakan dengan peperangan. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa ketika Nabi ﷺ keluar dari Thaif—setelah beliau mengajak mereka kepada Allah dan meminta perlindungan agar dapat menyampaikan risalah Rabbnya—peristiwa itu terjadi setelah wafatnya pamannya, Abu Thalib. Namun mereka justru menolak dan mendustakan beliau.Beliau pun kembali dalam keadaan sangat sedih. Beliau tidak dapat beristirahat kecuali ketika sampai di Qarn Ats-Tsa‘alib. Di sana beliau diliputi awan. Kemudian Jibril memanggilnya bersama malaikat penjaga gunung. Malaikat itu berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Rabbmu menyampaikan salam kepadamu. Dia telah mendengar ucapan kaummu kepadamu dan bagaimana mereka menolakmu. Jika engkau menghendaki, aku akan menimpakan kepada mereka dua gunung ini.”Namun Rasulullah ﷺ menjawab, “Tidak. Aku berharap semoga Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”Ucapan beliau ini menunjukkan bahwa beliau berharap benteng mereka tidak dibuka saat itu sehingga mereka tidak dibinasakan. Penaklukan itu ditunda agar mereka datang kemudian dalam keadaan telah memeluk Islam, yaitu pada bulan Ramadhan pada tahun berikutnya.Kedua puluh: Asy-Syami rahimahullah menjelaskan hikmah pemberian harta kepada orang-orang yang dilunakkan hatinya (al-mu’allafatu qulubuhum).Baca juga: Hukum Zakat untuk Non-Muslim: Bolehkah Disalurkan?Hikmah Allah Ta’ala menghendaki bahwa harta rampasan dari orang-orang kafir—setelah diperoleh—dibagikan kepada orang-orang yang iman belum benar-benar kokoh di dalam hati mereka. Hal ini dilakukan karena tabiat manusia memang mencintai harta. Dengan pemberian tersebut, hati mereka menjadi tenang dan kecintaan mereka terhadap Islam semakin kuat.Karena itulah Rasulullah ﷺ memberikan bagian yang besar kepada orang-orang yang baru masuk Islam atau kepada orang yang diharapkan akan masuk Islam. Sementara sebagian tokoh kaum Muhajirin dan pemimpin kaum Anshar tidak diberi bagian dari pemberian tersebut, meskipun mereka juga berhak mendapatkannya. Hal itu karena iman mereka sudah kuat dan tidak membutuhkan penguatan melalui pemberian harta.Jika mereka diberi bagian sebagaimana para mu’allaf itu, maka dikhawatirkan hati orang-orang yang baru masuk Islam tidak akan tertarik. Padahal pemberian tersebut bertujuan agar mereka semakin mantap dalam Islam dan agar orang lain mengikuti mereka untuk masuk Islam. Maka pemberian itu merupakan kemaslahatan yang besar.Kedua puluh satu: Dari peristiwa ini kita juga dapat mengambil pelajaran tentang ketajaman pandangan Rasulullah ﷺ dan kedalaman pemahaman beliau terhadap tabiat manusia serta hal-hal yang dapat memperbaikinya.Beliau memberikan hadiah-hadiah yang besar dan pemberian yang melimpah kepada orang-orang yang sebelumnya memusuhi beliau dan masih belum memeluk Islam. Beliau juga memberikan hadiah kepada orang-orang yang ingin beliau lunakkan hatinya agar mereka mendapat hidayah dan memeluk Islam.Baca juga: 21 Faedah tentang HadiahHasilnya pun sesuai dengan yang diharapkan oleh Rasulullah ﷺ. Orang-orang yang diberi pemberian itu akhirnya masuk Islam dan menjadi baik keislamannya. Bahkan mereka kemudian menjadi pembela Islam yang jujur dan kuat.Upaya melunakkan hati dengan harta tidak hanya dilakukan oleh pemimpin negara. Individu pun dapat melakukannya. Misalnya pemilik usaha yang memiliki pekerja nonmuslim, atau seseorang yang memiliki pembantu, sopir, atau pegawai yang belum masuk Islam. Ia dapat berusaha melunakkan hati mereka melalui kebaikan dan pemberian. Sebab manusia secara tabiat mencintai orang yang berbuat baik kepadanya. Jika seseorang mencintai orang lain, ia akan senang memenuhi keinginannya dan membuatnya bahagia. Karena itu ketika orang tersebut mengajaknya kepada Islam, ia akan lebih cepat menerima ajakan tersebut.Kedua puluh dua: Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu termasuk orang yang baru masuk Islam. Rasulullah ﷺ pernah memberinya seratus ekor unta. Lalu ia meminta lagi, maka Rasulullah ﷺ memberinya. Ia meminta lagi, lalu Rasulullah ﷺ kembali memberinya.Kemudian tertanam dalam hatinya kecintaan yang besar kepada Rasulullah ﷺ. Hal ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ mengajarinya pelajaran tentang harta dengan cara yang sangat tepat dan menyentuh hatinya.Setelah itu, Hakim bersumpah kepada Rasulullah ﷺ bahwa ia tidak akan lagi mengambil harta dari siapa pun setelah hari itu. Artinya, ia tidak akan menerima pemberian dari siapa pun setelahnya, bahkan meskipun pemberian itu banyak.Ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu memanggilnya setelah wafatnya Rasulullah ﷺ untuk memberinya bagian, ia menolak. Demikian pula ketika Umar radhiyallahu ‘anhu memanggilnya setelah itu, ia tetap menolak. Ia pun menjalani sisa hidupnya dengan sikap tersebut, hingga wafat pada masa Mu‘awiyah, tetap berpegang pada janjinya kepada Nabi ﷺ.Sungguh menakjubkan keadaan sahabat ini. Awalnya ia terus meminta kepada Rasulullah ﷺ berkali-kali, bahkan dengan desakan. Namun setelah itu, ia berubah total hingga tidak mau mengambil apa pun, meskipun diberi dalam jumlah besar.Dalam kisah ini tampak betapa agungnya sahabat tersebut, dan betapa teguhnya ia memegang prinsip. Sejak Fathu Makkah hingga beberapa tahun di masa Mu‘awiyah—lebih dari tiga puluh tahun—ia tetap konsisten tidak mengambil harta dari siapa pun.Baca juga: Memahami Arti Zuhud yang SebenarnyaDalam kisah ini juga terlihat bagaimana Rasulullah ﷺ memilih waktu yang tepat untuk memberikan nasihat. Beliau menasihati Hakim setelah memberinya beberapa kali, sehingga nasihat itu benar-benar berpengaruh dalam dirinya. Kepribadiannya berubah, dan cara pandangnya terhadap dunia pun berbeda dari sebelumnya.Jika nasihat itu disampaikan sebelum ia diberi, kemungkinan besar tidak akan memberikan pengaruh seperti setelah ia merasakan pemberian tersebut.Dalam kisah ini juga terdapat penjelasan bahwa dunia itu manis dan menipu. Siapa yang menjadikannya sebagai tujuan utama, ia tidak akan pernah merasa puas, meskipun telah mendapatkan banyak.Hal ini nyata dalam kehidupan sebagian orang. Meskipun harta mereka banyak, mereka tetap merasa kurang.Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ، وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ. وَقَالَ لَنَا أَبُو الْوَلِيدِ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ، عَنْ أُبَيٍّ، قَالَ: كُنَّا نَرَى هَذَا مِنَ الْقُرْآنِ، حَتَّى نَزَلَتْ: أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ“Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin memiliki dua lembah. Dan tidak ada yang dapat memenuhi mulutnya kecuali tanah. Namun Allah menerima tobat orang yang bertobat.”Abu Al-Walid berkata kepada kami: telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, dari Tsabit, dari Anas, dari Ubay bin Ka‘ab, ia berkata: dahulu kami menganggap perkataan ini termasuk bagian dari Al-Qur’an, hingga turun firman Allah: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.” (QS. At-Takatsur: 1) (HR. Bukhari, no. 6439 dan Muslim, no. 1048)Adapun nasihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Hakim bin Hizam, kata Hakim:سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَعْطَانِي، ثُمَّ سَأَلْتُهُ فَأَعْطَانِي، ثُمَّ قَالَ لِي: يَا حَكِيمُ، إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرٌ حُلْوٌ، فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ، وَكَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ، وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى. قَالَ حَكِيمٌ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَا أَرْزَأُ أَحَدًا بَعْدَكَ شَيْئًا حَتَّى أُفَارِقَ الدُّنْيَا. فَكَانَ أَبُو بَكْرٍ يَدْعُو حَكِيمًا لِيُعْطِيَهُ الْعَطَاءَ فَيَأْبَى أَنْ يَقْبَلَ مِنْهُ شَيْئًا، ثُمَّ إِنَّ عُمَرَ دَعَاهُ لِيُعْطِيَهُ فَأَبَى أَنْ يَقْبَلَ، فَقَالَ: يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ، إِنِّي أَعْرِضُ عَلَيْهِ حَقَّهُ الَّذِي قَسَمَ اللَّهُ لَهُ مِنْ هَذَا الْفَيْءِ فَيَأْبَى أَنْ يَأْخُذَهُ. فَلَمْ يَرْزَأْ حَكِيمٌ أَحَدًا مِنَ النَّاسِ شَيْئًا بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى تُوُفِّيَ.Aku pernah meminta kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau memberiku. Kemudian aku meminta lagi, dan beliau pun memberiku. Lalu beliau berkata kepadaku:“Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini itu hijau lagi manis. Siapa yang mengambilnya dengan jiwa yang lapang (tidak tamak), maka harta itu akan diberkahi baginya. Namun siapa yang mengambilnya dengan penuh ambisi dan ketamakan, maka tidak ada keberkahan baginya. Ia seperti orang yang makan, tetapi tidak pernah merasa kenyang. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”Hakim berkata: Aku pun berkata, “Wahai Rasulullah, demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan meminta sesuatu pun dari siapa pun setelah engkau hingga aku meninggal dunia.”Setelah itu, Abu Bakar pernah memanggil Hakim untuk memberinya bagian harta, namun ia menolak untuk menerimanya. Kemudian Umar juga memanggilnya untuk memberinya, tetapi ia tetap menolak. Maka Umar berkata, “Wahai kaum Muslimin, aku menawarkan kepadanya hak yang telah Allah tetapkan baginya dari harta fai’, tetapi ia menolak untuk mengambilnya.”Sejak wafatnya Nabi ﷺ, Hakim tidak pernah meminta apa pun kepada manusia hingga ia meninggal dunia. (HR. Bukhari, no. 3143)Sikap lapang terhadap harta menjadi sebab datangnya keberkahan, sedangkan kerakusan menjadi sebab hilangnya keberkahan.Diketahui bahwa harta yang sedikit tetapi diberkahi lebih baik daripada harta yang banyak namun tidak berkah. Karena tujuan bukan sekadar banyaknya harta, tetapi bagaimana harta itu membawa kebahagiaan.Harta pada hakikatnya hanyalah sarana, bukan tujuan. Ia tidak bisa dimakan, diminum, atau dimanfaatkan secara langsung. Seandainya seseorang berada di padang pasir dengan membawa harta yang banyak, tetapi tidak memiliki makanan, ia tetap akan mati karena lapar dan haus.Baca juga: Perkataan Ibnu Taimiyah, Sedikit Tetapi Halal Pasti Bawa BerkahJika harta tidak diberkahi, maka seseorang tidak akan bisa merasakan manfaatnya. Bisa jadi ia jatuh sakit sehingga hartanya habis untuk pengobatan, atau tidak mampu menikmati apa yang diinginkannya. Bahkan harta itu bisa menjadi sumber kegelisahan, karena ia takut kehilangan atau khawatir dicuri.Karena itu, rasa cukup terhadap yang sedikit menjadi sebab datangnya keberkahan dan manfaat. Jika Allah memberkahi harta seseorang, maka tidak ada batas bagi keberkahannya.Kedua puluh tiga: Jika kita melihat keseluruhan pemberian Rasulullah ﷺ pada Perang Hunain, kita akan dapati bahwa beliau memberikan kepada para pembesar kaum yang baru dilunakkan hatinya (muallafatu qulubuhum), padahal mereka adalah orang-orang kaya. Rasulullah ﷺ memberi mereka bukan karena kebutuhan mereka terhadap harta, tetapi demi kemaslahatan Islam, yaitu untuk melunakkan hati mereka agar menerima agama ini.Jika mereka telah masuk Islam, maka diharapkan orang-orang di belakang mereka akan ikut masuk Islam. Karena itu, pemberian demi maslahat lebih didahulukan daripada pemberian karena kebutuhan. Menyelamatkan manusia dari neraka lebih didahulukan daripada sekadar mengenyangkan perut orang fakir. Ini adalah kaidah penting dalam kehidupan, bahwa maslahat umum bagi Islam didahulukan daripada maslahat pribadi.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: Ketika Perang Hunain, Nabi ﷺ membagi harta rampasan kepada orang-orang yang dilunakkan hatinya (muallafatu qulubuhum), seperti para pembesar dari Najd dan para tokoh Quraisy yang baru dibebaskan, seperti ‘Uyainah bin Hishn, Al-Aqra‘ bin Habis, dan yang semisal mereka. Juga kepada Suhail bin ‘Amr, Shafwan bin Umayyah, ‘Ikrimah bin Abu Jahl, Abu Sufyan bin Harb, serta Mu‘awiyah bin Abu Sufyan dan yang semisal mereka dari kalangan orang-orang yang baru masuk Islam.Mereka adalah orang-orang yang dibebaskan pada hari Fathu Makkah. Rasulullah ﷺ tidak memberikan apa pun kepada kaum Muhajirin dan Anshar. Beliau memberikan kepada mereka untuk melunakkan hati mereka agar tetap berada di atas Islam, dan karena itu menjadi maslahat umum bagi kaum Muslimin.Adapun orang-orang yang tidak diberi, mereka justru lebih utama di sisi beliau. Mereka adalah para wali Allah yang bertakwa dan hamba-hamba-Nya yang saleh, setelah para nabi dan rasul. Sedangkan orang-orang yang diberi, sebagian dari mereka ada yang kemudian murtad sebelum wafatnya Nabi ﷺ, sementara yang lain tetap hidup dalam keadaan kaya, bukan orang-orang fakir.Seandainya pemberian itu didasarkan pada kebutuhan semata, tentu Nabi ﷺ akan memberikan kepada para Muhajirin dan Anshar, yang lebih membutuhkan dan lebih utama. Namun karena pertimbangan maslahat umum lebih didahulukan daripada kebutuhan pribadi, maka pemberian diberikan kepada para pembesar yang baru masuk Islam tersebut.Baca juga: Berapa Jumlah Para Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?Kedua puluh empat: Keberhasilan dalam memenangkan orang yang berbeda (pendapat) itulah keberhasilan yang sejati. Inilah hakikat seni dalam berdakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Adapun memenangkan orang yang sudah sepakat, itu bukan sesuatu yang baru.Keberhasilan dalam dakwah adalah ketika orang yang awalnya membencimu, membenci dakwahmu, atau membenci agama yang engkau serukan, tidak beranjak darimu kecuali setelah agama yang engkau ajarkan menjadi agama yang paling ia cintai. Dan engkau pun menjadi orang yang paling ia cintai.Inilah yang kita lihat dalam sirah Nabi ﷺ. Beliau mampu menaklukkan hati manusia dan mengubah mereka dari musuh menjadi penolong. Ada orang kafir yang datang kepada Rasulullah ﷺ dalam keadaan sangat membencinya dan bahkan ingin membunuhnya. Namun setelah duduk bersamanya, kebencian itu berubah menjadi cinta kepada Rasulullah ﷺ.Hal ini terjadi pada sejumlah sahabat, seperti ‘Amr bin Al-‘Ash, Hakim bin Hizam, ‘Umair bin Wahb Al-Jumahi, dan ‘Adi bin Hatim Ath-Tha’i radhiyallahu ‘anhum. Mereka datang kepada Rasulullah ﷺ, sebagian di antara mereka bahkan ingin membunuh beliau, namun akhirnya pulang dalam keadaan Muslim. Bahkan mereka mengucapkan syahadat tauhid di majelis beliau sebelum bangkit dari tempat duduknya. Kebencian yang sebelumnya begitu kuat berubah menjadi cinta yang mendalam.Sebagian dari mereka datang karena urusan dunia, tetapi ketika pulang, mereka telah merendahkan dunia, memahami nilainya, dan bahkan bersumpah tidak akan meminta apa pun kepada manusia.Ini adalah pelajaran dalam berdakwah kepada Allah: kunci keberhasilannya adalah memenangkan hati manusia dan berbuat baik kepada orang yang berbeda dengan kita, apa pun bentuk perbedaannya.Sebaliknya, sebagian orang justru menjadikan perbedaan sebagai sebab buruknya sikap. Akibatnya, perbedaan itu berubah menjadi permusuhan yang semakin mengakar. Alih-alih memenangkan hati orang yang berbeda, justru semakin memperlebar jurang perbedaan dan menambah jarak di antara mereka. Ini bukanlah sikap seorang dai yang berhasil. Hanya Allah yang memberi taufik.Kedua puluh lima: Di dunia ini banyak orang yang digiring kepada kebenaran bukan karena pemahaman akal mereka, tetapi karena tertarik secara perlahan. Sebagaimana hewan ternak digiring dengan segenggam rumput hingga masuk ke kandangnya, demikian pula sebagian manusia membutuhkan pendekatan dan strategi agar hati mereka menjadi tenang dengan iman dan merasa nyaman dengannya. (Muhammad Al-Ghazali dalam Fiqh As-Sirah, hlm. 394).Kedua puluh enam: Allah Ta‘ala berfirman,ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ (٢٦) ثُمَّ يَتُوبُ اللَّهُ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (٢٧)“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin, serta menurunkan bala tentara yang tidak kamu lihat, dan Dia mengazab orang-orang kafir. Itulah balasan bagi orang-orang kafir. Kemudian Allah menerima tobat setelah itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 26–27)Ath-Thahir bin ‘Asyur rahimahullah berkata tentang firman Allah Ta‘ala:ثُمَّ يَتُوبُ اللَّهُ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Kemudian Allah menerima tobat setelah itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Ini merupakan isyarat kepada masuk Islamnya kaum Hawazin setelah kekalahan tersebut. Mereka kemudian datang kepada Rasulullah ﷺ dalam keadaan telah menjadi Muslim dan bertobat.Kedua puluh tujuh: Ghanimah (harta rampasan perang) bukanlah tujuan utama dari jihad, tetapi yang lebih Allah cintai adalah masuknya manusia ke dalam Islam. Karena itu, Rasulullah ﷺ menunda pembagian ghanimah perang Hunain dengan harapan kaum Hawazin akan kembali kepada Islam. Beliau menunggu di Ji‘ranah selama sekitar dua puluh hari, dan itu adalah waktu yang cukup bagi para pemimpin Hawazin untuk berpikir, kembali kepada kebenaran, masuk Islam, serta meminta kembali harta, anak-anak, dan wanita mereka. Namun ketika mereka terlambat, sementara menunggu lebih lama lagi akan memberatkan pasukan tanpa ada harapan jelas, maka Rasulullah ﷺ pun membagikan harta tersebut.Meski demikian, ketika kaum Hawazin datang setelah pembagian itu, Rasulullah ﷺ menyambut mereka dengan gembira dan memberitahu bahwa beliau telah menunggu mereka. Namun karena keluarga dan harta mereka sudah terlanjur berpindah tangan kepada kaum muslimin, beliau memberi mereka pilihan antara mengambil kembali keluarga mereka atau harta mereka. Kemudian beliau membantu mereka dalam cara mendapatkan kembali apa yang telah dibagikan, bahkan beliau sendiri bersama Bani ‘Abdul Muththalib menjadi orang pertama yang mempraktikkan pengembalian tersebut.Para sahabat yang mulia radhiyallahu ‘anhum tidaklah menyelisihi Rasulullah ﷺ dalam hal ini. Mereka mengikuti beliau dengan mengembalikan apa yang ada pada mereka. Namun sebagian orang Arab Badui tidak mengikuti hal tersebut, sehingga Rasulullah ﷺ menebus bagian mereka dan memerintahkan agar seluruh tawanan wanita dan anak-anak dikembalikan kepada Hawazin.Siapa yang memahami sejarah, pasti akan teringat bagaimana perlakuan penduduk Thaif terhadap Rasulullah ﷺ ketika beliau datang kepada mereka—tidak ada yang bersamanya kecuali Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu—mereka melempari beliau dengan batu dan mengejeknya. Namun setelah Allah menaklukkan Makkah dan kaum muslimin menang atas mereka, beliau justru bersikap lembut, pemaaf, dan mulia. Semua yang beliau lakukan adalah demi kemaslahatan Islam dan penyebarannya, dan beliau tidak pernah membalas untuk kepentingan pribadi sama sekali.Inilah akhlak seorang muslim sejati. Ia menjauh dari sikap egois, permusuhan, dan perselisihan dengan orang lain, serta tidak sibuk mencari-cari kesalahan mereka. Prinsipnya adalah kelapangan dada, pemaafan, perbaikan hubungan, dan bersatu di atas kemaslahatan agama ini serta meninggikan kalimat Allah. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita yang telah lalu. Kedua puluh delapan: Termasuk inisiatif Rasulullah ﷺ dalam mengembalikan apa yang beliau miliki dan apa yang ada di tangan beliau dari harta rampasan kepada Bani ‘Abdil Muththalib dari tawanan perang Hawazin. Dari sini diambil teladan dalam berdakwah kepada Allah. Rasulullah ﷺ memulai sendiri dengan mengembalikan tawanan, agar beliau menjadi contoh dan diikuti oleh yang lain dalam mengembalikan apa yang ada di tangan mereka kepada Hawazin.Kedua puluh sembilan: Dari ucapan Dzul Khuwaishirah, kita mengetahui sejauh mana keburukan orang ini dan orang-orang semisalnya, serta besarnya kejahatan dan kesesatan mereka. Ia berani berbicara kepada Rasulullah ﷺ dengan ucapan yang menunjukkan keburukan hati, rusaknya keyakinan, kebodohan yang parah, dan sikap kasar dalam berinteraksi. Ia tidak memahami nash-nash, tidak mengenal hak Rasulullah ﷺ, serta berani berpendapat berdasarkan kebodohan, kebencian, kekerasan, dan kedengkian. Kita berlindung kepada Allah dari hal seperti ini.Ketiga puluh: Diambil pula pelajaran untuk mewaspadai sikap berlebihan dalam agama. Orang ini terdorong oleh sikap berlebihannya hingga keluar dari agama yang benar. Ia datang dengan mengaku berserah diri kepada Allah dan Rasul-Nya, namun justru membantah Rasulullah ﷺ dan menuntut keadilan dari beliau, serta menjadikan akal dan hawa nafsunya sebagai penentu makna keadilan. Ia telah menyimpang dari jalan mencari petunjuk.Keselamatan dari sikap berlebihan adalah dengan berpegang teguh pada nash-nash, memuliakan dan menghormatinya, berhenti pada batas-batasnya, serta mengagungkan Rasulullah ﷺ dan ajaran yang beliau bawa. Juga dengan mengetahui kedudukan para salaf dan pemahaman mereka, serta menempatkan para ulama pada posisi yang layak dan mengetahui hak-hak mereka. Inilah jalan yang aman dari penyimpangan. Adapun bersandar pada akal semata dan merendahkan para ulama, maka itu adalah penyimpangan dalam manhaj yang pasti akan menyeret kepada sikap berlebihan dalam agama, yang pada akhirnya membawa kepada kebinasaan, sebagaimana yang dilakukan oleh Dzul Khuwaishirah.Penyimpangan ini berawal dari sebuah ide kecil di dalam pikiran, lalu berkembang hingga berubah menjadi perilaku yang buruk, merusak yang hijau dan yang kering, serta membinasakan tanaman dan manusia. Kita berlindung kepada Allah.Kelompok seperti ini telah memberikan dampak buruk yang besar terhadap Islam dan kaum Muslimin sepanjang sejarah. Mereka telah menghalangi banyak orang untuk masuk Islam, dan memberi peluang kepada musuh untuk menjelekkan Islam dan kaum Muslimin.Ketiga puluh satu: dari kisah Dzul Khuwaishirah, kita mengambil pelajaran tentang kesabaran Rasulullah ﷺ dan kelembutan beliau terhadap orang-orang Arab Badui yang kasar dan keras. Beliau menahan diri terhadap ucapan yang dikatakan kepadanya secara terang-terangan di hadapan manusia, padahal saat itu beliau sedang membagi harta rampasan dalam jumlah besar. Beliau tidak menyisakan sedikit pun untuk dirinya sendiri. Tujuan beliau hanyalah melunakkan hati manusia agar mereka menerima agama ini. Namun orang Arab Badui itu justru datang dan menuduh beliau tidak adil dalam pembagian.Meski demikian, Rasulullah ﷺ tidak membalasnya. Bahkan beliau memberitahukan kepada manusia sebagai tanda dan bukti kenabian bahwa akan muncul dari keturunan orang ini orang-orang yang keluar dari Islam. Beliau memperingatkan umatnya dari mereka, sekaligus mengajarkan bagaimana cara menyikapi mereka.Ketiga puluh dua: dengan memperhatikan hal di atas, kita dapati bahwa Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah menukil pendapat salah satu ulama yang berkata (dan sebagian guru kami berkata): “Pembagian ini hanyalah untuk mencari ridha Allah.” Adapun ucapannya, “Berlaku adillah,” maka Nabi ﷺ tidak memahaminya sebagai bentuk celaan dan tuduhan terhadap beliau. Namun beliau memandangnya sebagai kesalahan dalam berpendapat dan dalam urusan dunia, serta sebagai ijtihad dalam hal kemaslahatan menurut pandangan orang tersebut, meskipun keliru. Maka beliau tidak melihatnya sebagai kejahatan yang harus dibalas, tetapi sebagai gangguan yang layak dimaafkan dan disikapi dengan kesabaran. Karena itu, beliau tidak menghukumnya.Setelah menyebutkan beberapa pendapat, ia berkata: “Pendapat yang paling kuat dari sisi ini adalah bahwa hal tersebut dilakukan untuk tujuan melunakkan hati (isti’laf) dan bersikap bijak dalam mengajak manusia kepada agama agar mereka beriman.”Ketiga puluh tiga:  Termasuk sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Umar ketika ia meminta izin untuk membunuh seorang munafik. Maka beliau bersabda:«مَعَاذَ اللَّهِ أَنْ يَتَحَدَّثَ النَّاسُ أَنِّي أَقْتُلُ أَصْحَابِي»“Semoga Allah melindungi (aku) dari anggapan manusia bahwa aku membunuh para sahabatku.”Hal ini menunjukkan disyariatkannya menjaga kehormatan diri dan tidak membuka peluang tuduhan dari orang lain. Diriwayatkan pula:«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يَقِفْ مَوَاقِفَ التُّهَمِ»“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia menempatkan dirinya pada posisi yang menimbulkan tuduhan.” (Lihat Az-Zamakhsyari, Al-Kasyaf 3: 273)Karena itu, seorang Muslim hendaknya menjaga kehormatannya agar tidak menjadi bahan pembicaraan manusia. Ini termasuk bentuk perhatian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar tidak memberi peluang bagi orang lain untuk membicarakan keburukan dalam agama ini, sekaligus menerapkan kaidah:دَرْءُ الْمَفْسَدَةِ مُقَدَّمٌ عَلَىٰ جَلْبِ الْمَصْلَحَةِ“Menolak kerusakan didahulukan daripada menarik kemaslahatan.”Sebab, kerusakan yang timbul dari membunuh orang tersebut lebih besar daripada maslahat yang diharapkan dari pembunuhannya. Di antaranya, manusia akan membicarakan bahwa beliau membunuh para sahabatnya, padahal hakikat orang tersebut tidak tampak bagi kebanyakan manusia. Wallahu a‘lam.Ketiga puluh empat: Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah berkata: Ditanyakan kepada Imam Malik rahimahullah tentang orang zindiq. Ia menjawab: Orang-orang munafik pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekafiran, dan itulah yang disebut zindiq menurut kami saat ini.Lalu dikatakan kepada Imam Malik: Mengapa zindiq tidak dibunuh, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membunuh orang-orang munafik meskipun beliau mengetahui mereka? Maka beliau menjawab: Seandainya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membunuh mereka padahal mereka menampakkan keimanan, tentu hal itu akan menjadi sebab orang-orang berkata bahwa beliau membunuh mereka karena kedengkian atau sebab lainnya. Akibatnya, orang-orang akan enggan masuk Islam. Inilah makna sabda beliau. (Ibnu ‘Abdil Barr, 10: 154, dalam Ath-Thab’ah Al-Maghribiyyah)Hal ini juga dikuatkan oleh hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Ia berkata: Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dinding (Hijr Ismail), apakah ia termasuk bagian dari Ka‘bah? Beliau menjawab: “Ya.” Aku bertanya: Mengapa mereka tidak memasukkannya ke dalam bangunan Ka‘bah? Beliau menjawab:«إِنَّ قَوْمَكِ قَصُرَتْ بِهِمُ النَّفَقَةُ»“Sesungguhnya kaummu kekurangan biaya.”Aku bertanya: Mengapa pintunya dibuat tinggi? Beliau menjawab:«فَعَلَ ذَلِكِ قَوْمُكِ لِيُدْخِلُوا مَنْ شَاءُوا وَيَمْنَعُوا مَنْ شَاءُوا، وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمَكِ حَدِيثُو عَهْدٍ بِالْجَاهِلِيَّةِ، فَأَخَافُ أَنْ تُنْكِرَ قُلُوبُهُمْ، لَأَدْخَلْتُ الْجِدْرَ فِي الْبَيْتِ، وَلَأَلْصَقْتُ بَابَهُ بِالْأَرْضِ»“Mereka melakukan itu agar bisa memasukkan siapa yang mereka kehendaki dan melarang siapa yang mereka kehendaki. Seandainya kaummu tidak baru saja meninggalkan masa jahiliah, dan aku khawatir hati mereka akan mengingkarinya, niscaya aku akan memasukkan dinding itu ke dalam bangunan Ka‘bah dan menjadikan pintunya rata dengan tanah.”Maka hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ini menunjukkan bahwa beliau mempertimbangkan mafsadah berupa keluarnya orang dari agama, dan hadits tentang Dzul Khuwaishirah menunjukkan pertimbangan mafsadah berupa orang tidak mau masuk ke dalam agama. Ini termasuk pemahaman mendalam dalam politik syariat.Ketiga puluh lima: Tidak diberikannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagian ghanimah kepada kaum Anshar adalah karena kepercayaan beliau terhadap kuatnya iman mereka dan kelapangan jiwa mereka. Ini merupakan pujian besar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mereka. Beliau memberikan harta ghanimah kepada orang-orang yang beliau khawatirkan keimanan mereka masih lemah, atau untuk melunakkan hati mereka agar condong kepada Islam. Beliau bersabda kepada kaum Anshar:«أَلَا تَرْضَوْنَ أَنْ أَرْجِعَ النَّاسُ بِالشَّاةِ وَالْبَعِيرِ، وَتَرْجِعُوا أَنْتُمْ بِرَسُولِ اللَّهِ؟»“Tidakkah kalian ridha jika manusia pulang membawa kambing dan unta, sedangkan kalian pulang membawa Rasulullah?”Coba renungkan, bagaimana keadaan orang yang mendapatkan ucapan seperti ini? Sungguh kaum Anshar menangis. Mereka berhak untuk merasa bahagia dan bangga dengan pembagian ini, serta dengan kedudukan yang mereka miliki di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demi Allah, seandainya seseorang mendapatkan ucapan ini saja, itu sudah cukup menjadi kebahagiaan dan kegembiraan baginya, melebihi segala sesuatu yang dimiliki orang lain. Lalu bagaimana jika yang mereka dapatkan adalah kebahagiaan yang membuat mereka menangis karena gembira, sementara orang lain mendapatkan kambing dan unta, sedangkan kaum Anshar mendapatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?Ketiga puluh enam: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membiarkan mereka dalam kebingungan, bahkan beliau memberikan jawaban kepada mereka. Beliau bersabda:«أَمَا وَاللَّهِ لَوْ شِئْتُمْ لَقُلْتُمْ فَلَصَدَقْتُمْ وَلَصُدِّقْتُمْ: أَتَيْتَنَا مُكَذَّبًا فَصَدَّقْنَاكَ، وَمَخْذُولًا فَنَصَرْنَاكَ، وَطَرِيدًا فَآوَيْنَاكَ، وَعَائِلًا فَآسَيْنَاكَ»“Demi Allah, seandainya kalian mau, kalian bisa mengatakan—dan kalian benar serta akan dibenarkan—: ‘Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami membenarkanmu; engkau ditinggalkan, lalu kami menolongmu; engkau terusir, lalu kami melindungimu; dan engkau dalam keadaan kekurangan, lalu kami mencukupimu.’”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersemangat untuk menghilangkan segala keraguan atau ganjalan dalam hati mereka, dengan menjelaskan sebab mengapa beliau memberikan harta ghanimah kepada orang-orang yang ingin dilunakkan hatinya, bukan kepada kaum Anshar.Ketiga puluh tujuh: Dari khutbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum Anshar, diambil pelajaran tentang disyariatkannya berkhutbah dalam kondisi seperti ini. Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Dalam hal ini terdapat dalil tentang disyariatkannya khutbah ketika terjadi suatu peristiwa, baik bersifat khusus maupun umum.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkhutbah kepada kaum Anshar dengan khutbah yang sangat menyentuh. Belum pernah terdengar dalam bab menenangkan hati yang lebih indah daripada khutbah ini, karena di dalamnya terkumpul antara kebenaran, kejelasan, kelembutan, dan kasih sayang. Shalawat dan salam Allah senantiasa tercurah kepada beliau hingga hari kiamat.Ketiga puluh delapan: Dari khutbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum Anshar, diambil pelajaran tentang menghibur diri atas sesuatu dari dunia yang terlewat, dengan melihat balasan di akhirat yang akan diperoleh.Ketiga puluh sembilan: Di dalamnya terdapat keutamaan kaum Anshar, yaitu cepatnya mereka kembali kepada kebenaran dan menerima penjelasan, segera setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kepada mereka. Ini juga menunjukkan baiknya nasihat mereka, adab mereka dalam berbicara dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta kesiapan mereka menjawab ketika beliau mengajukan pertanyaan kepada mereka. Telah disebutkan sebelumnya ucapan sebagian ulama: “Kembali kepada kebenaran adalah bagian dari agama.” Maka seorang mukmin tidak sepatutnya merasa berat untuk kembali kepada kebenaran ketika telah jelas baginya.Keempat puluh: Di dalamnya terdapat penekanan pentingnya menghilangkan syubhat dari orang yang mengalami keraguan, baik itu perkara umum maupun khusus. Jika bersifat umum, maka penjelasannya bersifat umum; jika bersifat khusus, maka penjelasannya pun khusus.Tidak ada yang lebih indah daripada kejujuran dan keterbukaan untuk menghilangkan apa yang ada di dalam hati berupa ganjalan. Seandainya manusia saling terbuka dan menjelaskan sebagian sikap yang menimbulkan kekecewaan, niscaya banyak masalah akan selesai.Sebagian orang berkata: “Jika aku benar dalam tindakanku, aku tidak peduli dengan ucapan manusia.” Maka dikatakan kepadanya: Ini keliru. Bahkan engkau harus menjelaskan kepada manusia alasan di balik tindakanmu, menghilangkan keraguan yang ada pada mereka, serta menjelaskan sudut pandang dan landasan tindakanmu. Dengan itu, engkau menjaga kehormatanmu, memperbaiki hati-hati manusia, dan mencegah prasangka buruk di tengah masyarakat.Keterbukaan seperti ini telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau berkhutbah kepada kaum Anshar dalam khutbah yang agung tersebut. Juga dicontohkan oleh Sa‘d bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu ketika ia menyampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pandangan kaum Anshar dan apa yang mereka rasakan.Di dalamnya juga terdapat pelajaran bahwa pendapat para pemuda tidaklah sama dengan pendapat para tokoh yang lebih tua. Telah diketahui bahwa umumnya pendapat orang yang lebih tua lebih matang dalam ilmu, amal, pengalaman, dan ketakwaan dibandingkan pendapat para pemuda.Keempat puluh satu: Dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:«إِنَّ قُرَيْشًا حَدِيثُ عَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ وَمَعْصِيَةٍ، وَإِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَجْبُرَهُمْ وَأَتَأَلَّفَهُمْ»“Sesungguhnya Quraisy baru saja meninggalkan masa jahiliah dan kemaksiatan, dan aku ingin menguatkan serta melunakkan hati mereka.”Terdapat pelajaran besar dalam upaya menarik hati manusia serta mempertimbangkan kondisi jiwa mereka. Sesungguhnya kaum Quraisy mengalami guncangan besar dengan peristiwa penaklukan Makkah. Meskipun itu merupakan nikmat terbesar bagi mereka, dalam pandangan mereka hal itu terasa berat karena runtuhnya kebesaran dan kekuasaan mereka, serta terpecahnya tokoh-tokoh mereka yang tetap berada dalam kesyirikan.Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin mengobati keguncangan tersebut dan meringankan beban yang mereka rasakan dengan memberikan harta, agar hati mereka menjadi tenang. Ini merupakan tuntunan yang seharusnya diperhatikan dalam memperbaiki jiwa yang terluka, meskipun dengan harta, serta berusaha meringankan beban mereka. Ini adalah akhlak Islam yang tinggi, yang tidak akan dipahami kecuali oleh orang yang memiliki bagian besar dari kebaikan.Keempat puluh dua: Seseorang berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Engkau telah memberi kepada ‘Uyainah dan Al-Aqra‘, sedangkan aku ditinggalkan, padahal aku lebih baik dari mereka.” Ia bermaksud mengingatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dirinya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan jawaban agung, yang menunjukkan bahwa beliau tidak merasa iri kepada siapa pun dalam perkara dunia, melainkan mengarahkan pandangan kepada Allah dan mencari kedudukan di sisi-Nya. Perhatikanlah jawaban beliau yang jujur lagi benar:«أَمَا وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَجَبِيلُ بْنُ سُرَاقَةَ خَيْرٌ مِنْ طِلَاعِ الْأَرْضِ كُلِّهِمْ مِثْلَ عُيَيْنَةَ بْنِ حِصْنٍ وَالْأَقْرَعِ بْنِ حَابِسٍ، وَلَكِنِّي أُؤَلِّفُهُمَا لِيُسْلِمَا، وَوَكَلْتُكَ إِلَى إِسْلَامِكَ»“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh Jabil bin Suraqah lebih baik daripada seluruh penduduk bumi seperti ‘Uyainah bin Hishn dan Al-Aqra‘ bin Habis. Akan tetapi aku memberi kepada mereka berdua untuk melunakkan hati mereka agar masuk Islam, sedangkan aku menyerahkanmu kepada keislamanmu.”Maka janganlah engkau tertipu oleh kedudukan dunia dan jabatan, karena itu hanyalah tipuan yang akan diikuti penyesalan. Mintalah kedudukan di sisi Allah Yang Maha Mulia. Betapa banyak di antara kita orang yang lebih baik daripada kebanyakan manusia, namun tidak mendapatkan kedudukan dunia, karena ia selamat dari fitnah jabatan.Kemudian sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini juga menunjukkan bahwa hal tersebut tidak khusus untuk kaum Anshar saja, tetapi berlaku bagi siapa saja yang kuat imannya. Termasuk di dalamnya sahabat tersebut yang disebutkan, radhiyallahu ‘anhu.Keempat puluh tiga: Dalam janji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Malik bin ‘Auf An-Nadhri, bahwa jika ia datang sebagai seorang Muslim, maka beliau akan mengembalikan keluarganya, hartanya, dan memberinya seratus ekor unta, terdapat dua pelajaran:Pertama: Tujuan utama jihad adalah masuknya manusia ke dalam Islam, bukan semata-mata harta rampasan dan keuntungan materi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan kepada pemimpin Thaif tersebut bahwa jika ia masuk Islam, maka keluarganya dan hartanya akan dikembalikan, serta diberikan tambahan berupa seratus ekor unta sebagai bentuk penghargaan dan dorongan agar ia masuk Islam. Ini menunjukkan besarnya perhatian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap keislaman seseorang, serta tidak adanya keinginan untuk menawan keluarganya atau merampas hartanya.Kedua: Ini merupakan metode dakwah yang agung yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menarik hati tokoh-tokoh besar, serta metode melunakkan hati. Hal ini tampak jelas dalam peristiwa Hunain, ketika beliau memberikan pemberian besar kepada para pemimpin Arab agar hati mereka condong kepada Islam, sehingga mereka masuk Islam dan kaum mereka pun mengikuti.Karena itu, seseorang hendaknya memperhatikan cara-cara pemberian yang dilakukan oleh pemimpin atau tokoh masyarakat dalam rangka mewujudkan kemaslahatan umum bagi kaum Muslimin, dan juga kemaslahatan khusus bagi suatu negeri.Keempat puluh empat: Ibnu Hajar rahimahullah berkata, demikian pula Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Di antara hikmah penaklukan Makkah adalah menjadi sebab masuknya banyak kabilah Arab ke dalam Islam. Dahulu mereka berkata: ‘Biarkan dia (Muhammad) bersama kaumnya. Jika ia menang atas mereka, berarti ia berada di atas kebenaran.’ Ketika Allah memberikan kemenangan kepadanya, sebagian mereka tetap berada dalam kesesatan, lalu mereka berkumpul dan bersiap untuk memeranginya. Maka termasuk hikmah dari hal itu adalah agar tampak bahwa Allah menolong Rasul-Nya bukan dengan banyaknya orang yang masuk Islam dari kalangan kabilah, dan bukan pula karena kaumnya menahan diri dari memeranginya.”Keempat puluh lima: Hikmah Perang Badar dan HunainIbnu Qayyim rahimahullāh berkata dari kisah Perang Hunain:Sesungguhnya Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā memulai peperangan kaum Arab dengan Perang Badar, dan menutup rangkaian peperangan mereka dengan Perang Hunain. Karena itu, kedua peperangan ini sering disebut secara beriringan: Badar dan Hunain, meskipun jarak waktu di antara keduanya sekitar tujuh tahun.Para malaikat turut berperang bersama kaum Muslimin dalam dua peperangan tersebut. Nabi ﷺ juga melemparkan pasir ke wajah orang-orang musyrik dalam kedua peristiwa itu.Melalui dua peperangan ini, semangat dan kekuatan kaum Arab dalam memerangi Rasulullah ﷺ dan kaum Muslimin pun runtuh. Pada perang yang pertama, Allah menanamkan rasa takut dalam hati mereka dan mematahkan kekuatan mereka. Pada perang yang kedua, Allah menghabiskan sisa-sisa kekuatan mereka, mematahkan panah-panah mereka, dan menundukkan seluruh pasukan mereka, hingga mereka mulai masuk ke dalam agama Allah.Di antara kekhususan Perang Hunain adalah bahwa ia menjadi peperangan penentu terakhir antara kaum Muslimin dan kaum musyrik di Jazirah Arab, sebagaimana Perang Badar merupakan peperangan besar pertama yang menentukan antara dua golongan tersebut.Keempat puluh enam: Hidayah Melalui Azan dan Pentingnya Mengarahkan BakatDiriwayatkan bahwa seseorang pernah mendengar Rasulullah ﷺ mengumandangkan azan, lalu ia menirukan suara muazin dengan tujuan mengejek. Ia saat itu masih memiliki sisa-sisa kesyirikan dalam dirinya. Kemudian Rasulullah ﷺ memintanya untuk dihadirkan. Nabi ﷺ memintanya mengulang lafaz azan, lalu beliau kagum dengan suaranya. Beliau pun mengajaknya kepada Islam, hingga ia masuk Islam. Setelah itu, Nabi ﷺ mengangkatnya sebagai muazin di Masjidil Haram.Dari kisah ini terdapat beberapa faedah:1. Suara yang indah merupakan nikmat dari Allah, anugerah yang diberikan kepada sebagian hamba-Nya. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ kepada Abu Musa Al-Asy‘ari radhiyallāhu ‘anhu:لَوْ رَأَيْتَنِي وَأَنَا أَسْتَمِعُ لِقِرَاءَتِكَ الْبَارِحَةَ، لَقَدْ أُوتِيتَ مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ“Seandainya engkau melihatku ketika aku mendengarkan bacaanmu tadi malam, sungguh engkau telah dianugerahi suara yang merdu seperti suara keluarga Nabi Dawud.”Keindahan suara ini tidak bisa diusahakan semata, melainkan merupakan karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki.2. Nikmat tersebut menjadi sangat agung ketika digunakan untuk ketaatan kepada Allah. Bilal radhiyallāhu ‘anhu menjadi muazin Rasulullah ﷺ karena memiliki suara yang paling merdu.3. Sebaliknya, nikmat itu menjadi bencana ketika digunakan untuk kemaksiatan. Seseorang bisa dikenal karena nyanyian dan hiburan yang melalaikan, serta berada di majelis-majelis yang tidak mengingat Allah.4. Allah memuliakan pemuda sahabat ini dengan menjadikannya muazin di Masjidil Haram selama lima puluh tahun. Bahkan, keutamaan ini diwarisi oleh keturunannya selama lebih dari dua abad, karena berkah ketaatan tersebut.5. Wahai para pembaca Al-Qur’an, tidak ada satu pun di antara kalian kecuali memiliki nikmat yang Allah berikan, yang tidak kalian usahakan. Maka manfaatkanlah nikmat itu dalam ketaatan kepada Allah, niscaya keberkahannya akan dirasakan oleh dirimu dan orang-orang setelahmu.6. Metode dakwah Nabi ﷺ dalam kisah ini sangat bijak: beliau menggabungkan antara menunjukkan kekaguman, mendoakan, dan memberikan dorongan (targhib). Cara ini memberi pengaruh besar hingga orang tersebut masuk Islam.7. Para ayah secara khusus, dan para pendidik secara umum, hendaknya mencari potensi anak-anak, menggali bakat mereka, serta mendorong dan mengarahkannya. Dengan demikian, potensi tersebut bisa dimanfaatkan untuk kemaslahatan masyarakat dan umat. Mengabaikannya berarti menyia-nyiakan kekayaan besar berupa kemampuan yang tidak ternilai harganya.Keempat puluh tujuh: Kisah Bani Tsaqif dan Pelajaran tentang Dakwah serta Altruisme (Itsār)Dalam kisah Tsaqif yang datang menemui Rasulullah ﷺ, terjadi dialog panjang hingga akhirnya mereka masuk Islam. Dari peristiwa ini diambil beberapa pelajaran:1. Ini menunjukkan dikabulkannya doa Rasulullah ﷺ. Beliau mendoakan agar mereka diberi hidayah dan datang kepada beliau. Padahal sebelumnya mereka memerangi beliau, membunuh sebagian sahabatnya, bahkan membunuh utusan yang beliau kirim kepada mereka untuk mengajak kepada Allah. Namun demikian, beliau tetap mendoakan mereka dan tidak mendoakan keburukan bagi mereka. Ini termasuk bentuk kesempurnaan kasih sayang, rahmat, dan nasihat beliau ﷺ.2. Dalam kisah permintaan Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallāhu ‘anhu agar Al-Mughīrah radhiyallāhu ‘anhu mendahuluinya dalam menyampaikan kabar gembira kepada Rasulullah ﷺ, terdapat faedah penting: bolehnya mendahulukan orang lain dalam perkara yang mendekatkan kepada Allah (itsār dalam qurbah).Meskipun sebagian ulama menetapkan bahwa itsār dalam ibadah itu makruh, namun siapa yang memperhatikan praktik Abu Bakr dan Al-Mughīrah radhiyallāhu ‘anhumā—di mana Abu Bakr meminta dan Al-Mughīrah menyetujuinya—akan memahami bolehnya hal tersebut, bahkan menunjukkan kerelaan dan kesepakatan.Ibnu Qayyim rahimahullāh berkata: Hal ini menunjukkan bolehnya seseorang meminta saudaranya untuk didahulukan dalam amal kebaikan, dan bolehnya pula seseorang mendahulukan saudaranya dalam hal tersebut. Adapun pendapat yang mengatakan tidak boleh itsār dalam ibadah, maka itu tidak tepat.Contohnya adalah apa yang dilakukan oleh ‘Āisyah radhiyallāhu ‘anhā ketika Umar bin Al-Khaṭṭāb radhiyallāhu ‘anhu meminta izin untuk dimakamkan di rumahnya, di samping Nabi ﷺ. ‘Āisyah mengizinkannya, padahal sebelumnya tempat itu ia persiapkan untuk dirinya sendiri. Ia tidak merasa berat dengan permintaan itu, karena tidak ada unsur merendahkan diri atau meminta-minta dalam hal tersebut.Demikian pula, jika seseorang diminta untuk memberikan tempatnya di shaf pertama kepada orang lain, lalu ia memberikannya, maka itu tidak termasuk perbuatan tercela, karena tidak ada unsur kehinaan. Bahkan, ini termasuk akhlak mulia para sahabat yang penuh dengan kedermawanan dan kelapangan jiwa.Perbuatan seperti ini merupakan bentuk kebaikan, kemurahan hati, dan mendahulukan orang lain, yang justru lebih dicintai oleh jiwa. Selain itu, terdapat unsur membahagiakan sesama Muslim, menghormatinya, memenuhi permintaannya, dan mendorongnya untuk berbuat kebaikan.Boleh jadi, pahala dari sifat-sifat ini lebih besar daripada pahala amal yang ditinggalkan. Maka orang yang mendahulukan orang lain dalam kebaikan seakan-akan menjadi “pedagang” yang melipatgandakan pahala.Oleh karena itu, tidak mengapa seseorang memberikan airnya kepada orang lain untuk berwudu, lalu ia bertayamum sebagai gantinya—jika memang salah satunya harus dilakukan. Dengan begitu, ia mendapatkan keutamaan itsār sekaligus keutamaan bersuci dengan tayamum.Hal ini tidak bertentangan dengan Al-Qur’an, sunnah, maupun akhlak yang mulia.Bahkan, jika suatu kaum berada dalam kondisi kehausan yang sangat dan khawatir akan binasa, lalu sebagian mereka memberikan air kepada yang lain hingga ia sendiri meninggal, maka perbuatan itu boleh. Ia tidak disebut sebagai orang yang membunuh dirinya, dan tidak pula melakukan sesuatu yang haram. Bahkan, itu termasuk puncak kedermawanan dan pengorbanan, sebagaimana firman Allah Ta‘ālā:وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ“Dan mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.” (QS. Al-Ḥasyr: 9)Hal ini pernah terjadi pada sekelompok sahabat dalam penaklukan negeri Syam. Itu termasuk keutamaan dan kelebihan mereka.Memberikan pahala suatu amal kepada orang yang telah meninggal dunia, yang sering diperselisihkan para ulama, pada hakikatnya termasuk bentuk itsār dalam amal kebaikan.Apa bedanya antara seseorang yang mendahulukan orang lain dalam melakukan amal agar ia mendapatkan pahalanya, dengan seseorang yang melakukan amal lalu menghadiahkan pahalanya kepada orang lain?3. Termasuk keutamaan Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallāhu ‘anhu adalah semangatnya dalam membahagiakan Rasulullah ﷺ dan memuliakan Al-Mughīrah radhiyallāhu ‘anhu. Hal itu terlihat dari sikap beliau yang memenuhi permintaan Al-Mughīrah.4. Tidak boleh membiarkan tempat-tempat kesyirikan dan kemaksiatan tetap ada, padahal mampu untuk menghancurkan dan menghilangkannya, walaupun hanya satu hari. Karena tempat-tempat tersebut adalah simbol kekufuran dan kesyirikan, yang termasuk kemungkaran paling besar. Maka tidak boleh membiarkannya tetap ada ketika memiliki kemampuan yang jelas untuk menghilangkannya.Demikian pula hukum bangunan-bangunan yang didirikan di atas kuburan, yang dijadikan sebagai berhala dan tempat ibadah selain Allah. Begitu juga batu-batu yang diagungkan untuk tujuan mencari berkah, bernazar, mencium, dan semisalnya. Semua itu tidak boleh dibiarkan tetap ada di muka bumi selama ada kemampuan untuk menghilangkannya.Bahkan banyak di antaranya seperti berhala Lāt, ‘Uzzā, dan Manāt, atau bahkan lebih besar kesyirikannya.5. Ketika Rasulullah ﷺ memerintahkan ‘Utsmān bin Abī Al-‘Āṣ radhiyallāhu ‘anhu untuk membangun masjid di tempat bekas berhala kaum Ṭāif, hal ini menunjukkan bolehnya menjadikan gereja, tempat ibadah non-Muslim, dan tempat berhala sebagai masjid.Demikian pula yang dilakukan para sahabat radhiyallāhu ‘anhum ketika menaklukkan berbagai negeri. Mereka mengubah tempat-tempat ibadah orang kafir menjadi tempat ibadah bagi kaum Muslimin. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghancuran simbol-simbol kekufuran dan penegakan Islam.Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا“Muḥammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, lalu tunas itu menguatkannya, kemudian menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati para penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Fatḥ: 29)Ibnu Taimiyyah rahimahullāh berkata: Adapun tempat-tempat kekufuran dan kemaksiatan yang tidak ada azab di dalamnya, jika dijadikan tempat untuk iman dan ketaatan, maka itu adalah kebaikan. Sebagaimana Nabi ﷺ memerintahkan penduduk Ṭāif untuk menjadikan masjid di tempat berhala mereka, dan sebagaimana penduduk Yamāmah diperintahkan untuk menjadikan masjid di tempat gereja mereka dahulu.6. ‘Utsmān bin Abī Al-‘Āṣ radhiyallāhu ‘anhu adalah yang paling muda usianya di antara kaumnya. Namun, ia adalah yang paling semangat dalam mempelajari Al-Qur’an dan ilmu. Ia sering datang kepada Rasulullah ﷺ untuk belajar dan bertanya.Ketika kaumnya hendak kembali ke Ṭāif, Rasulullah ﷺ menjadikannya sebagai pemimpin mereka dan imam dalam shalat. Inilah ukuran yang sebenarnya dalam keutamaan: ilmu dan agama. Inilah pula medan yang seharusnya menjadi ajang persaingan.Sebagaimana firman Allah Ta‘ālā:قَالُوا أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ ۚ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ ۖ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَن يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ“Mereka berkata, ‘Bagaimana mungkin dia memperoleh kerajaan atas kami, padahal kami lebih berhak atas kerajaan itu darinya, dan dia tidak diberi kekayaan yang banyak?’ (Nabi mereka) berkata, ‘Sesungguhnya Allah telah memilihnya atas kamu dan memberinya kelebihan ilmu dan tubuh.’ Allah memberikan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 247)Ayat ini menunjukkan bahwa sebab utama keutamaan adalah ilmu.7. Bolehnya membiarkan orang musyrik masuk ke dalam masjid, khususnya jika diharapkan keislamannya, agar ia bisa mendengar Al-Qur’an serta menyaksikan ibadah kaum Muslimin.8. Fleksibilitas dalam Dakwah untuk Menarik Orang kepada IslamDi antara faedah penting yang tampaknya lebih kuat menurut penulis adalah bahwa terkadang delegasi Tsaqif berdialog dengan Rasulullah ﷺ dan mengajukan beberapa syarat agar mereka mau masuk Islam. Sebagian syarat tersebut ditolak oleh Nabi ﷺ, sementara sebagian lainnya diberi kelonggaran.Rasulullah ﷺ bersabda:«لَكُمْ أَنْ لَا تُحْشَرُوا وَلَا تُعْشَرُوا، وَلَا خَيْرَ فِي دِينٍ لَيْسَ فِيهِ رُكُوعٌ»“Kalian tidak diwajibkan keluar untuk berjihad dan tidak dipungut sepersepuluh harta (usyur), tetapi tidak ada kebaikan pada agama yang tidak ada rukuk di dalamnya.”Dari Wahb, ia berkata: Aku bertanya kepada Jabir radhiyallahu ‘anhu tentang kisah baiat Tsaqif. Jabir menjawab: “Mereka mensyaratkan kepada Nabi ﷺ agar tidak ada sedekah dan jihad atas mereka.”Kemudian setelah itu Nabi ﷺ terdengar bersabda:«سَيَتَصَدَّقُونَ وَيُجَاهِدُونَ إِذَا أَسْلَمُوا»“Mereka nanti akan bersedekah dan berjihad jika telah benar-benar masuk Islam.”³Pada masa sekarang, sebagian dai menghadapi kenyataan seperti di Afrika dan tempat lainnya: ada orang-orang yang menerima Islam ketika didakwahi, namun mereka masih memiliki adat dan kebiasaan yang sangat melekat, baik dalam makanan, minuman, maupun interaksi sosial mereka. Sangat sulit untuk langsung meninggalkan semuanya sekaligus.Jika seorang dai mensyaratkan agar mereka segera meninggalkan seluruh kebiasaan itu sejak awal, besar kemungkinan mereka justru tidak jadi masuk Islam. Padahal bisa jadi, bila mereka masuk Islam terlebih dahulu, lambat laun keadaan mereka akan membaik. Setelah iman mulai menyentuh hati mereka, mereka akan menerima kebenaran dan rela meninggalkan kebiasaan tersebut, atau setidaknya mengambil sikap yang lebih ringan walaupun masih ada sebagian kekurangan.Sebagian ulama memandang bahwa menerima mereka dalam kondisi seperti itu lebih maslahat daripada menolaknya, karena dikhawatirkan penolakan tersebut menjadi sebab mereka tidak masuk Islam.Pendapat ini didukung oleh beberapa hal:Syariat Islam turun secara bertahap, baik dalam perkara ibadah maupun pengharaman sesuatu. Shalat misalnya, penyempurnaan syariatnya baru terjadi setelah hijrah. Puasa awalnya diwajibkan pada hari ‘Asyura, kemudian disempurnakan dengan puasa Ramadan. Demikian pula jihad: awalnya dilarang, lalu diizinkan untuk membela diri, hingga akhirnya disyariatkan memerangi kaum musyrikin secara umum sebagaimana kaum muslimin memerangi sesama mereka yang memerangi Islam. Begitu juga pengharaman khamr, turun melalui empat tahapan.‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:«إِنَّمَا نَزَلَ أَوَّلُ مَا نَزَلَ مِنْهُ سُورَةٌ مِنَ الْمُفَصَّلِ، فِيهَا ذِكْرُ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، حَتَّى إِذَا ثَابَ النَّاسُ إِلَى الْإِسْلَامِ نَزَلَ الْحَلَالُ وَالْحَرَامُ، وَلَوْ نَزَلَ أَوَّلَ شَيْءٍ: لَا تَشْرَبُوا الْخَمْرَ، لَقَالُوا: لَا نَدَعُ الْخَمْرَ أَبَدًا، وَلَوْ نَزَلَ: لَا تَزْنُوا، لَقَالُوا: لَا نَدَعُ الزِّنَا أَبَدًا»“Yang pertama kali turun dari Al-Qur’an adalah surat-surat pendek yang berisi tentang surga dan neraka. Setelah manusia mulai kembali kepada Islam, barulah turun hukum halal dan haram. Seandainya yang pertama kali turun adalah larangan meminum khamr, niscaya mereka akan berkata: ‘Kami tidak akan meninggalkan khamr selamanya.’ Dan seandainya yang pertama kali turun adalah larangan zina, niscaya mereka akan berkata: ‘Kami tidak akan meninggalkan zina selamanya.’”Karakter manusia pada dasarnya serupa, walaupun berbeda tempat dan zaman.Dari Hakim radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:**«بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ أَلَّا أَخِرَّ إِلَّا قَائِمًا»**²“Aku berbaiat kepada Rasulullah ﷺ untuk tidak mati kecuali dalam keadaan istiqamah.”Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ pernah berkata kepada seseorang:«أَسْلِمْ»“Masuk Islamlah.”Orang itu menjawab:“Aku masih membencinya.”Nabi ﷺ tetap bersabda:أَسْلِمْ وَإِنْ كُنْتَ كَارِهًا“Masuk Islamlah, meskipun engkau masih merasa berat.”Ini termasuk bagian dari strategi dakwah, yaitu mempertimbangkan maslahat dan mafsadat. Masuknya seseorang ke dalam Islam merupakan maslahat besar. Walaupun di dalam prosesnya masih ada berbagai kekurangan dan kebiasaan buruk yang tersisa, namun diharapkan semua itu akan hilang sedikit demi sedikit seiring kokohnya akidah dalam jiwa. Setelah itu, manusia diajarkan kewajiban-kewajiban Islam secara bertahap.Namun demikian, sebagian ulama menegaskan bahwa perkara ini tidak boleh diserahkan kepada ijtihad pribadi para dai. Hendaknya dikembalikan kepada para ulama di suatu negeri: apakah kepada mufti yang kompeten, atau kepada lembaga dakwah resmi yang membawahi urusan dakwah di negara tersebut. Tujuannya agar masalah ini tidak menjadi pintu kelonggaran yang berlebihan, sehingga orang-orang justru dibiarkan terus-menerus dalam kemaksiatan besar dengan alasan maslahat dakwah.Permasalahan ini termasuk ranah ijtihad. Wallahu a‘lam bish-shawab. Referensi: Fiqh As-Sirah. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Daar Tadmuriyyah. —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 21 Dzulqa’dah 1447 H, 8 Mei 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfaedah sirah nabi peperangan dalam islam peperangan di masa Rasulullah perang hunain sirah nabawiyah sirah nabi
Perang Hunain merupakan salah satu peperangan besar dalam sirah Nabi ﷺ yang sarat dengan pelajaran iman dan tauhid. Pada awalnya kaum muslimin sempat terpukul mundur karena rasa bangga terhadap jumlah pasukan, hingga Allah ﷻ menegur mereka melalui peristiwa ini. Namun dengan keteguhan Rasulullah ﷺ dan pertolongan Allah, keadaan pun berbalik menjadi kemenangan yang nyata bagi kaum muslimin.Baca juga: Perang Hunain dalam Tafsir QS. At-Taubah 25–27: Ketika Jumlah Besar Tidak Menjamin Kemenangan  Daftar Isi tutup 1. Jumlah Banyak Belum Tentu Menang 2. Allah Turunkan Sakinah pada Perang Hunain 3. Kaum Hawazin Masuk Islam 4. Kisah Dzul Khuwaishirah yang Menuntut Rasulullah untuk Adil 5. Delegasi Tsaqif Datang Menemui Rasulullah ﷺ 6. Pelajaran yang Dipetik dari Perang Hunain dan Pengepungan Thaif 6.1. Nasihat Mengenai Ngalap Berkah (Tabarruk)  Peperangan ini adalah Perang Hunain. Sebagian ulama menamakannya Perang Authas, dan sebagian lainnya menamakannya Perang Hawazin. Namun, penamaan yang digunakan dalam Al-Qur’an adalah Hunain.Perang Hunain dianggap sebagai kelanjutan dari penaklukan Mekah, dan merupakan salah satu dampaknya. Hal itu karena Perang Hunain terjadi sebagai konsekuensi dari penaklukan besar tersebut. Ketika suku Hawazin dan Tsaqif mengetahui apa yang menimpa Quraisy di Mekah, mereka pun mulai bersiap-siap dan mengumpulkan pasukan untuk memerangi Rasulullah ﷺ.Ketika Rasulullah ﷺ mengetahui hal tersebut, sementara beliau masih berada di Mekah, beliau pun keluar untuk menemui mereka di Hunain. Keberangkatan beliau terjadi pada hari keenam bulan Syawal tahun kedelapan Hijriah.Rasulullah ﷺ menunjuk ‘Attab bin Asid radhiyallahu ‘anhu sebagai pemimpin di Mekah. Jumlah pasukan yang menyertai Rasulullah ﷺ adalah sepuluh ribu orang, ditambah dua ribu orang dari kalangan thulaqā’ (orang-orang Mekah yang dimaafkan).Pasukan kaum musyrikin dari Thaif berada di bawah pimpinan Malik bin ‘Auf An-Nadhri. Mereka bergabung dengan pasukan Hawazin dan Tsaqif seluruhnya, juga bergabung suku Nashr dan Jusham seluruhnya, serta Sa‘d bin Bakr dan sebagian orang dari Bani Hilal—jumlah mereka sedikit. Termasuk dari Bani Jusham adalah Duraid bin Ash-Shimmah, seorang syekh tua yang sudah sangat lanjut usia, yang sebenarnya tidak lagi memiliki kemampuan apa pun, kecuali sekadar dimintai pendapat karena pengalaman dan pengetahuannya tentang peperangan. Ia adalah seorang syekh yang telah banyak mengalami peperangan.Ketika Malik bin Auf mengumpulkan pasukan dan membawa mereka menuju Rasulullah ﷺ, ia juga mengikutsertakan harta benda, para wanita, dan anak-anak mereka. Ketika mereka singgah di Authas dan berkumpul di sana, Duraid bin Ash-Shimmah—yang berada di dalam sekedup (tandu) yang dibawanya—bertanya, “Di lembah apakah kita berada?” Mereka menjawab, “Di Authas.” Ia berkata, “Tempat yang bagus untuk medan pasukan berkuda. Tidak ada tanah keras yang melukai kaki, tidak pula tanah lunak yang membuat kuda terperosok. Namun, mengapa aku mendengar suara unta, ringkikan keledai, tangisan anak kecil, dan kambing yang mengembik?” Mereka menjawab, “Malik bin ‘Auf membawa serta harta, para wanita, dan anak-anak bersama pasukan.”Ia bertanya, “Di mana Malik?” Dijawab, “Ini Malik.” Malik pun dipanggil dan mendekat kepadanya. Duraid berkata, “Wahai Malik, sungguh engkau telah menjadi pemimpin kaummu. Hari ini adalah hari yang menentukan, dan setelah hari ini tidak ada hari lain bagimu. Mengapa aku mendengar suara unta, ringkikan keledai, tangisan anak kecil, dan kambing yang mengembik?” Malik menjawab, “Aku membawa mereka agar setiap orang berperang di belakang harta, wanita, dan anak-anak mereka.”Duraid berkata, “Celaka engkau! Apakah orang yang kalah bisa ditahan oleh sesuatu apa pun? Jika engkau menang, yang akan bermanfaat bagimu hanyalah seorang laki-laki dengan pedang dan tombaknya. Namun, jika engkau kalah, engkau akan dipermalukan bersama keluarga dan hartamu.” Malik berkata, “Demi Allah, aku tidak akan melakukan selain ini. Sungguh engkau telah tua dan akalmu pun telah melemah.”Duraid berkata, “Demi Allah, aku telah menyelamatkanmu dari kehinaan suku Hawazin. Seandainya aku masih mampu berdiri di atas kakiku, aku akan bertarung dengan pedang ini hingga keluar dari punggungku. Aku membenci jika Bani Jusham tidak memiliki pendapat atau pandangan dalam urusan ini.” Mereka berkata, “Berilah kami pendapatmu.” Maka Duraid bin Ash-Shimmah berkata, “Hari ini aku tidak melihat sesuatu yang aku persaksikan, dan aku tidak pula kehilangan akalku.”Jumlah orang yang berkumpul bersama Malik bin ‘Auf untuk memerangi Rasulullah ﷺ mencapai dua puluh ribu orang. Malik menempatkan mata-mata (pengintai)nya, lalu mata-mata itu datang kepadanya dalam keadaan kacau balau. Malik bertanya, “Celaka kalian, apa yang terjadi?” Mereka menjawab, “Kami melihat pasukan berkuda putih di atas kuda-kuda yang belang. Demi Allah, kami tidak mampu bertahan sejak pertama kali melihat mereka.” Malik tidak menghiraukan laporan itu dan tidak memedulikannya.Rasulullah ﷺ meminjam baju besi dan senjata dari Shafwan bin Umayyah, sementara Shafwan saat itu masih dalam keadaan musyrik. Shafwan berkata, “Apakah ini berarti engkau merampasnya, wahai Muhammad?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Bukan, ini pinjaman yang dijamin.” Maka Shafwan meminjamkan kepada Rasulullah ﷺ seratus baju besi.Pasukan ini merupakan pasukan Islam terbesar yang pernah keluar bersama Rasulullah ﷺ. Ketika sebagian kaum muslimin melihat banyaknya jumlah pasukan, ada seseorang yang berkata, “Hari ini kita tidak akan kalah karena jumlah yang sedikit.” Perkataan itu memberatkan Rasulullah ﷺ. Lalu Allah Ta‘ala menurunkan firman-Nya:﴿لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ ۝ ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ﴾“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 25–26)Di tengah perjalanan, kaum muslimin melewati sebuah pohon milik kaum musyrikin yang disebut Dzat Anwath. Dari Abu Waaqid Al-Laitsi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami keluar dari Mekah bersama Rasulullah ﷺ menuju Hunain. Orang-orang kafir memiliki sebuah pohon bidara tempat mereka berdiam dan menggantungkan senjata-senjata mereka, yang disebut Dzat Anwath.”Ia berkata, “Kami pun melewati sebuah pohon bidara yang hijau dan besar.” Maka kami berkata, “Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzat Anwāṭ (tempat menggantungkan senjata) sebagaimana mereka memiliki Dzat Anwāṭ.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Allāhu akbar! Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian telah mengatakan seperti apa yang dikatakan kaum Musa.”ٱجْعَل لَّنَآ إِلَٰهًا كَمَا لَهُمْ ءَالِهَةٌ ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ“Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)“.” (QS. Al-A‘rāf: 138)Rasulullah ﷺ melanjutkan, “Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian setahap demi setahap.”Rasulullah ﷺ kemudian mengutus ‘Abdullāh bin Abī Ḥadrad Al-Aslamī radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu. Dari ayahnya, ia berkata: “Ia datang membawa kabar tentang Hawāzin. Ia pun masuk ke tengah-tengah kaum itu dan mendapati mereka telah berkumpul seluruhnya untuk memerangi Rasulullah ﷺ. Ia lalu menyampaikan apa yang ia lihat kepada Rasulullah ﷺ.” Maka Rasulullah ﷺ tersenyum dan bersabda, “Itu adalah rampasan kaum muslimin besok, insya Allah.”Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapa yang akan mengawasi kita malam ini?”Anas bin Abī Murthid Al-Ghanawī radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu berkata, “Aku, wahai Rasulullah.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Naiklah.” Maka ia pun menaiki kudanya dan segera datang menemui Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, “Hadapilah lembah ini hingga engkau berada di atasnya, dan jangan biarkan siapa pun mendatangi kita dari arahmu malam ini.”Ketika pagi tiba, Rasulullah ﷺ keluar menuju tempat salatnya dan melaksanakan dua rakaat. Setelah itu beliau bersabda, “Apakah kalian merasakan penjagaan sahabat kalian?”Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, kami tidak melihat sesuatu pun.”Maka Rasulullah ﷺ pun melaksanakan salat, dan beliau menoleh ke arah lembah itu hingga selesai salatnya. Kemudian beliau bersabda, “Bergembiralah, sungguh penjaga kalian telah datang.”Kami pun melihat ke arah lembah itu melalui sela-sela pepohonan. Ternyata ia telah datang, lalu berdiri di hadapan Rasulullah ﷺ dan memberi salam. Ia berkata, “Aku berangkat hingga aku berada di puncak lembah ini, tempat engkau memerintahkanku, wahai Rasulullah. Ketika dua lembah itu tampak jelas, aku pun melihat keduanya.”Kami memperhatikan, tetapi tidak melihat seorang pun. Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya, “Apakah engkau turun pada malam hari?” Ia menjawab, “Tidak, kecuali hanya untuk melaksanakan salat atau menunaikan hajat.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, “Engkau telah menjalankan tugas dengan baik, maka jangan engkau lakukan apa pun setelah ini.”Kemudian Rasulullah ﷺ melanjutkan perjalanannya hingga sampai di Hunain. Sementara itu, Malik bin ‘Auf beserta pasukannya telah lebih dahulu tiba sebelum Rasulullah ﷺ. Mereka menyiapkan diri dan bersembunyi di celah-celah lembah serta di balik pepohonan. Rasulullah ﷺ datang bersama para sahabatnya hingga mereka turun ke lembah pada waktu subuh. Mereka tidak menyadari hal tersebut. Tiba-tiba Hawazin dan Tsaqif menyerang mereka dengan serangan serentak oleh satu orang, lalu orang-orang yang bersembunyi keluar dari celah-celah lembah dan tempat-tempat persembunyian mereka, serta menghujani kaum muslimin dengan anak panah. Urusan kaum muslimin pun menjadi kacau secara tiba-tiba.Mereka pun lari mundur dalam keadaan terpecah-belah, tidak menoleh ke arah mana pun. Namun Rasulullah ﷺ tetap teguh berdiri, bersama sebagian kecil kaum mukminin yang ada bersamanya. Rasulullah ﷺ berpaling ke arah kanan, lalu berseru, “Wahai manusia, kemarilah kepadaku! Aku adalah Rasulullah, aku adalah Muhammad bin ‘Abdullah.”Bersama beliau terdapat sekelompok orang dari kalangan Muhajirin dan Anshar, sementara orang-orang yang tetap bertahan bersamanya tidak banyak. Di antara Ahlul Bait yang tetap bersamanya adalah Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Ali bin Abi Thalib, Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib, putranya Al-Fadhl bin ‘Abbas, Abu Sufyan bin Al-Harits, Rabi‘ah bin Al-Harits, Aiman bin ‘Ubaid—yang merupakan putra Ummu Aiman—dan Usamah bin Zaid radhiyallahu ta‘ala ‘anhum ajma‘in.Rasulullah ﷺ pun berseru, “Aku adalah Nabi, tidak ada dusta. Aku adalah putra ‘Abdul Muththalib.” Termasuk doa beliau saat itu adalah, “Ya Allah, jika Engkau menghendaki, maka Engkau tidak akan disembah setelah hari ini.”Dalam Shahih Muslim, dari Al-‘Abbas radhiyallahu ta‘ala ‘anhu, ia berkata: “Aku menyaksikan Perang Hunain bersama Rasulullah ﷺ. Aku dan Abu Sufyan bin Al-Harits bin ‘Abdul Muththalib selalu bersama Rasulullah ﷺ dan tidak berpisah darinya. Rasulullah ﷺ berada di atas seekor bagal putih yang dihadiahkan oleh Farrukh bin Nafatsah Al-Judzami. Ketika kaum muslimin dan orang-orang kafir saling berhadapan, kaum muslimin pun mundur.”“Rasulullah ﷺ lalu memacu bagalnya ke arah orang-orang kafir. Aku memegang tali kekang bagal Rasulullah ﷺ, menahannya agar tidak melaju terlalu cepat, sementara Abu Sufyan memegang sanggurdi beliau. Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Wahai ‘Abbas, panggillah para sahabat Samurah!’”Al-‘Abbas berkata: “Aku adalah seorang yang bersuara lantang. Aku pun berteriak sekeras-kerasnya, ‘Di mana para sahabat Samurah?’ Demi Allah, ketika mereka mendengar suaraku, suara itu terasa seperti suara sapi yang memanggil anaknya. Mereka pun menjawab, ‘Labbaik, labbaik!’ Lalu mereka bertempur melawan orang-orang kafir.”“Kemudian seruan dialihkan kepada kaum Anshar. Dikatakan, ‘Wahai kaum Anshar!’ Lalu seruan itu dikhususkan kepada Bani Al-Harits bin Al-Khazraj. Dikatakan, ‘Wahai Bani Al-Harits bin Al-Khazraj!’ Maka Rasulullah ﷺ memandang mereka, sementara beliau berada di atas bagalnya, seakan-akan beliau menjulang di atas mereka.”Rasulullah ﷺ bersabda, “Sekaranglah panasnya peperangan.”Al-‘Abbas berkata: “Kemudian Rasulullah ﷺ mengambil segenggam kerikil dan melemparkannya ke wajah orang-orang kafir, lalu bersabda, ‘Hancurlah wajah-wajah itu!’ Aku pun pergi menyaksikan keadaan pertempuran, dan demi Allah, tidaklah beliau melempar mereka dengan kerikil itu, melainkan aku melihat mereka semua tercerai-berai dan urusan mereka pun kacau balau.” Jumlah Banyak Belum Tentu MenangAllah Ta’ala berfirman tentang Thalut,كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 249)Baca juga: Kisah Thalut, Jalut, dan Nabi Daud: Ujian Kepemimpinan dan Kemenangan ImanNamun karena mereka bangga dengan jumlah yang banyak, Allah Ta’ala berfirman,لَقَدْ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ فِى مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْـًٔا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ ٱلْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.” (QS. At-Taubah: 25)Ayat yang membicarakan kekalahan dalam perang Hunain terkait sejatinya dengan peringatan pada ayat sebelumnya,قُلْ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَٰنُكُمْ وَأَزْوَٰجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَٰلٌ ٱقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٍ فِى سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُوا۟ حَتَّىٰ يَأْتِىَ ٱللَّهُ بِأَمْرِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْفَٰسِقِينَ“Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah:24)Allah Ta’ala berfirman,ثُمَّ أَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ۚ وَذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلْكَٰفِرِينَ“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 26)ثُمَّ يَتُوبُ ٱللَّهُ مِنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 27)Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan:Ibnu Juraij meriwayatkan dari Mujahid, ia berkata: “Ini adalah ayat pertama yang turun dari Surah Barā’ah (At-Taubah).”Allah Ta‘ala menyebutkan kepada orang-orang beriman tentang karunia dan kebaikan-Nya kepada mereka, berupa pertolongan-Nya dalam banyak pertempuran yang mereka jalani bersama Rasul-Nya. Semua itu terjadi semata-mata dari sisi Allah Ta‘ala, dengan dukungan dan ketetapan-Nya, bukan karena jumlah mereka dan bukan pula karena banyaknya pasukan. Allah mengingatkan mereka bahwa kemenangan hanyalah dari sisi-Nya, baik jumlah kaum muslimin sedikit maupun banyak.Pada Perang Hunain, kaum muslimin sempat merasa kagum dengan banyaknya jumlah mereka. Namun ternyata, banyaknya jumlah itu sama sekali tidak memberi manfaat bagi mereka. Mereka pun berbalik melarikan diri, kecuali sedikit orang yang tetap bersama Rasulullah ﷺ. Setelah itu, Allah menurunkan pertolongan dan dukungan-Nya kepada Rasul-Nya dan kepada kaum mukminin yang bersamanya, sebagaimana akan dijelaskan secara terperinci—insyaallah—agar mereka mengetahui bahwa kemenangan itu benar-benar dari sisi Allah Ta‘ala semata, dengan pertolongan-Nya, meskipun jumlah pasukan sedikit.فكم من فئة قليلة غلبت فئة كثيرة بإذن الله ، والله مع الصابرين .Betapa sering kelompok yang sedikit mampu mengalahkan kelompok yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah bersama orang-orang yang sabar.Imam Ahmad berkata: “Telah menceritakan kepada kami Wahb bin Jarir, telah menceritakan kepada kami ayahku, aku mendengar Yunus menceritakan dari Az-Zuhri, dari ‘Ubaidullah, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:خير الصحابة أربعة ، وخير السرايا أربعمائة ، وخير الجيوش أربعة آلاف ، ولن تغلب اثنا عشر ألفا من قلة .‘Sebaik-baik para sahabat itu berjumlah empat orang, sebaik-baik pasukan kecil (sariyyah) berjumlah empat ratus orang, dan sebaik-baik tentara berjumlah empat ribu orang. Dan dua belas ribu pasukan tidak akan terkalahkan karena sedikitnya jumlah.’”Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi. At-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan gharib. Tidak ada seorang perawi besar pun yang meriwayatkannya secara bersambung kecuali Jarir bin Hazim. Riwayat yang masyhur dari Az-Zuhri adalah dari Nabi ﷺ secara mursal.”Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Al-Baihaqi, dan selain keduanya, dari Aktsam bin Al-Jaun, dari Rasulullah ﷺ dengan lafaz yang semakna. Dan Allah Maha Mengetahui.Peristiwa Perang Hunain terjadi setelah Fathu Makkah, tepatnya pada bulan Syawal tahun kedelapan Hijriah. Hal itu bermula ketika Rasulullah ﷺ telah selesai menaklukkan Makkah, urusan-urusannya telah tertata dengan baik, dan mayoritas penduduknya telah masuk Islam. Rasulullah ﷺ pun membebaskan mereka. Lalu sampai kepada beliau kabar bahwa suku Hawazin telah menghimpun kekuatan untuk memerangi beliau. Pemimpin mereka adalah Malik bin ‘Auf An-Nadhri, bersama seluruh kabilah Tsaqif, Bani Jusyam, Bani Sa‘d bin Bakr, sejumlah kelompok dari Bani Hilal—yang jumlahnya tidak banyak—serta sekelompok orang dari Bani ‘Amr bin ‘Amir dan ‘Auf bin ‘Amir.Mereka datang dengan membawa serta para wanita, anak-anak, kambing, dan unta, bahkan membawa seluruh harta dan keluarga mereka tanpa tersisa. Maka Rasulullah ﷺ keluar menemui mereka dengan pasukan yang beliau bawa saat Fathu Makkah, yaitu sepuluh ribu orang dari kalangan Muhajirin, Anshar, dan kabilah-kabilah Arab. Bersama beliau juga ikut orang-orang Makkah yang baru masuk Islam, yaitu para thulaqā’, yang jumlahnya sekitar dua ribu orang. Beliau pun bergerak bersama mereka menuju musuh.Kedua pasukan bertemu di sebuah lembah antara Makkah dan Thaif yang bernama Hunain. Pertempuran terjadi di sana pada awal pagi, saat suasana masih gelap menjelang subuh. Kaum muslimin menuruni lembah tersebut, sementara pasukan Hawazin telah bersembunyi di dalamnya. Ketika kedua pasukan saling berhadapan, kaum muslimin tiba-tiba diserbu. Mereka dihujani anak panah, pedang-pedang dihunus, dan pasukan musuh menyerang serentak sebagai satu kesatuan, sebagaimana perintah pemimpin mereka. Pada saat itulah kaum muslimin berbalik melarikan diri, sebagaimana yang disebutkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla.Namun Rasulullah ﷺ tetap teguh berdiri. Saat itu beliau menaiki baghal (keledai besar) beliau yang berwarna putih keabu-abuan, mengarahkannya menuju pusat pasukan musuh. Paman beliau, Al-‘Abbas, memegang tali kekang sebelah kanan, dan Abu Sufyan bin Al-Harits bin ‘Abdul Muththalib memegang sebelah kiri, keduanya menahan laju hewan itu agar tidak berjalan terlalu cepat. Rasulullah ﷺ menyerukan nama beliau dan mengajak kaum muslimin untuk kembali, seraya berkata,[ ويقول ] أين يا عباد الله ؟ إلي أنا رسول الله ، ويقول في تلك الحال “Ke mana kalian, wahai hamba-hamba Allah? Kembalilah kepadaku, aku adalah Rasulullah.” Pada saat itu beliau juga mengucapkan:أنا النبي لا كذب أنا ابن عبد المطلب“Aku adalah Nabi, tidak ada dusta.
Aku adalah putra ‘Abdul Muththalib.”وثبت معه من أصحابه قريب من مائة ، ومنهم من قال : ثمانون ، فمنهم : أبو بكر ، وعمر – رضي الله عنهما – والعباس وعلي ، والفضل بن عباس ، وأبو سفيان بن الحارث ، وأيمن بن أم أيمن ، وأسامة بن زيد ، وغيرهم – رضي الله عنهم –Bersama beliau saat itu tetap bertahan sekitar seratus orang dari para sahabat—ada pula yang mengatakan delapan puluh orang. Di antara mereka adalah Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Al-‘Abbas, ‘Ali, Al-Fadhl bin Al-‘Abbas, Abu Sufyan bin Al-Harits, Aiman bin Ummu Aiman, Usamah bin Zaid, dan selain mereka radhiyallahu ‘anhum. ثم أمر – صلى الله عليه وسلم – عمه العباس – وكان جهير الصوت – أن ينادي بأعلى صوته : يا أصحاب الشجرة – يعني شجرة بيعة الرضوان ، التي بايعه المسلمون من المهاجرين والأنصار تحتها ، على ألا يفروا عنه – فجعل ينادي بهم : يا أصحاب السمرة ويقول تارة : يا أصحاب سورة البقرة ،Kemudian Rasulullah ﷺ memerintahkan pamannya, Al-‘Abbas—yang dikenal bersuara lantang—untuk menyeru dengan suara keras: “Wahai para pemilik pohon!” Maksudnya adalah pohon Bai‘at Ridwan, tempat kaum muslimin dari kalangan Muhajirin dan Anshar berbaiat di bawahnya untuk tidak lari meninggalkan beliau. Al-‘Abbas pun menyeru mereka dengan berkata: “Wahai para pemilik pohon samurah!” Terkadang ia juga berseru: “Wahai para pemilik Surah Al-Baqarah!” فجعلوا يقولون : يا لبيك ، يا لبيك ، وانعطف الناس فجعلوا يتراجعون إلى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – حتى إن الرجل منهم إذا لم يطاوعه بعيره على الرجوع ، لبس درعه ، ثم انحدر عنه ، وأرسله ، ورجع بنفسه إلى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – . فلما رجعت شرذمة منهم ، أمرهم عليه السلام أن يصدقوا الحملة ، وأخذ قبضة من التراب بعدما دعا ربه واستنصره ، وقال : Mereka pun menjawab, “Kami penuhi panggilanmu, kami penuhi panggilanmu.” Orang-orang mulai berbalik dan kembali menuju Rasulullah ﷺ. Bahkan ada di antara mereka yang, jika untanya tidak mau berbalik arah, ia mengenakan baju besinya, lalu turun dari untanya, melepaskannya, dan ia sendiri berlari kembali menuju Rasulullah ﷺ.Ketika sejumlah pasukan telah kembali, Rasulullah ﷺ memerintahkan mereka untuk melakukan serangan dengan sungguh-sungguh. Beliau lalu mengambil segenggam tanah setelah berdoa kepada Rabb-nya dan memohon pertolongan-Nya, seraya berkata:اللهم أنجز لي ما وعدتني “Ya Allah, penuhilah untukku apa yang telah Engkau janjikan kepadaku.”ثم رمى القوم بها ، فما بقي إنسان منهم إلا أصابه منها في عينيه وفمه ما شغله عن القتال ، ثم انهزموا ، فاتبع المسلمون أقفاءهم يقتلون ويأسرون ، وما تراجع بقية الناس إلا والأسارى مجدلة بين يدي رسول الله – صلى الله عليه وسلم – Kemudian beliau melemparkan tanah itu ke arah musuh. Tidak ada seorang pun dari mereka kecuali tanah itu mengenai mata dan mulutnya, sehingga menyibukkan mereka dari pertempuran. Akhirnya mereka pun kalah dan melarikan diri.Kaum muslimin mengejar mereka, membunuh dan menawan. Tidaklah sisa pasukan kembali, melainkan para tawanan telah bergelimpangan di hadapan Rasulullah ﷺ.Dalam riwayat Imam Ahmad, dari Abu ‘Abdurrahman Al-Fihri—nama aslinya Yazid bin Usaid, ada pula yang mengatakan Yazid bin Anis, dan ada yang mengatakan Karz—ia berkata:‘Aku pernah bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Hunain. Kami berjalan pada hari yang sangat terik dan panasnya amat menyengat. Kami pun singgah di bawah naungan pepohonan. Ketika matahari telah condong (ke barat), aku mengenakan baju besiku dan menaiki kudaku. Lalu aku berangkat menemui Rasulullah ﷺ, sementara beliau berada di dalam kemahnya. Aku berkata, “Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya tercurah kepadamu, wahai Rasulullah. Apakah sudah waktunya berangkat?” Beliau menjawab, “Ya.”Beliau lalu bersabda, “Wahai Bilal.” Maka Bilal segera bangkit dari bawah pohon samurah, seakan-akan naungannya adalah naungan seekor burung. Ia berkata, “Aku penuhi panggilanmu dan aku siap melayanimu, aku menebusmu dengan diriku.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Pelanakanlah kudaku.” Maka dikeluarkanlah sebuah pelana yang kedua sisinya terbuat dari serat, tidak ada kemewahan dan tidak ada kesombongan padanya.Pelana itu pun dipasangkan. Rasulullah ﷺ menaikinya, dan kami pun menaiki tunggangan kami. Kami berhadapan dengan musuh pada sore hari dan sepanjang malam. Kuda-kuda saling berhadapan, lalu kaum muslimin berbalik melarikan diri, sebagaimana yang difirmankan Allah ‘Azza wa Jalla: “Kemudian kalian berpaling melarikan diri.”Rasulullah ﷺ bersabda, “Wahai hamba-hamba Allah, aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.” Kemudian beliau bersabda lagi, “Wahai kaum Muhajirin, aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.”Kemudian Rasulullah ﷺ meloncat turun dari kudanya, lalu mengambil segenggam tanah. Orang yang paling dekat denganku—yang melihat kejadian itu—mengabarkan kepadaku bahwa Rasulullah ﷺ melemparkan tanah tersebut ke wajah mereka seraya bersabda, “Binasalah wajah-wajah itu.” Maka Allah ‘Azza wa Jalla pun mengalahkan mereka.Ya‘la bin ‘Atha’ berkata: “Anak-anak mereka menceritakan kepadaku, dari para ayah mereka, bahwa mereka berkata: ‘Tidak ada seorang pun dari kami yang tersisa, kecuali kedua matanya dan mulutnya penuh dengan tanah. Dan kami mendengar suara gemerincing antara langit dan bumi, seperti bunyi besi yang digesekkan pada bejana baru.’”Demikian pula hadits ini diriwayatkan oleh Al-Hafizh Al-Baihaqi dalam kitab Dalā’il an-Nubuwwah, melalui riwayat Abu Dawud Ath-Thayalisi, dari Hammad bin Salamah, dengan sanad yang sama.Muhammad bin Ishaq berkata: “Telah menceritakan kepadaku ‘Ashim bin ‘Umar bin Qatadah, dari ‘Abdurrahman bin Jabir, dari ayahnya, Jabir, dari ‘Abdullah,” ia berkata:Malik bin ‘Auf keluar bersama pasukannya menuju Hunain. Ia tiba lebih dahulu daripada Rasulullah ﷺ, lalu mereka menyiapkan diri dan bersiaga di tempat-tempat sempit serta lekuk-lekuk lembah. Rasulullah ﷺ pun datang bersama para sahabatnya, hingga mereka turun memasuki lembah pada saat pagi masih gelap. Ketika orang-orang mulai menuruni lembah itu, tiba-tiba pasukan berkuda musuh menyerbu ke arah mereka. Serangan itu terasa sangat berat, sehingga orang-orang pun berbalik lari tunggang-langgang, tidak ada seorang pun yang menoleh kepada yang lain.Rasulullah ﷺ pun bergerak ke arah kanan sambil berseru, “Wahai manusia, kemarilah kepadaku! Aku adalah Rasulullah! Aku adalah Rasulullah! Aku adalah Muhammad bin ‘Abdullah!” Namun tidak ada yang menyahut. Unta-unta pun saling bertubrukan satu sama lain. Ketika Rasulullah ﷺ melihat keadaan kaum muslimin seperti itu, beliau bersabda, “Wahai ‘Abbas, berserulah: Wahai kaum Anshar, wahai para pemilik pohon samurah!”Mereka pun menjawab, “Kami penuhi panggilanmu, kami penuhi panggilanmu.” Seseorang di antara mereka berusaha membelokkan untanya, namun tidak mampu. Maka ia pun melemparkan baju besinya ke lehernya, mengambil pedang dan busurnya, lalu menuju ke arah suara panggilan itu, hingga berkumpul di sekitar Rasulullah ﷺ sekitar seratus orang. Rasulullah ﷺ kemudian mengatur barisan mereka, lalu terjadilah pertempuran sengit.Pada awalnya seruan itu ditujukan kepada kaum Anshar, kemudian di akhir kepada kabilah Khazraj, dan mereka adalah orang-orang yang sangat tegar dalam peperangan. Rasulullah ﷺ pun menampakkan diri di atas tunggangannya dan melihat sengitnya pertempuran, lalu bersabda, “Sekarang benar-benar berkobarlah api peperangan.”Demi Allah, tidaklah orang-orang kembali, melainkan para tawanan telah tergeletak di hadapan Rasulullah ﷺ. Allah membinasakan siapa yang dibinasakan-Nya dari mereka, dan sebagian lainnya melarikan diri. Allah pun memberikan kepada Rasul-Nya harta dan anak-anak mereka sebagai rampasan.Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari hadits Syu‘bah, dari Abu Ishaq, dari Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepadanya, “Wahai Abu ‘Umarah, apakah kalian lari meninggalkan Rasulullah ﷺ pada hari Hunain?” Ia menjawab, “Ya, tetapi Rasulullah ﷺ tidak lari. Sesungguhnya Hawazin adalah kaum pemanah. Ketika kami berjumpa dengan mereka dan menyerang mereka, mereka pun mundur. Lalu orang-orang sibuk mengumpulkan harta rampasan, maka pasukan Hawazin kembali menyerang kami dengan hujan anak panah, sehingga orang-orang pun berlarian. Sungguh aku melihat Rasulullah ﷺ, sementara Abu Sufyan bin Al-Harits memegang tali kekang baghal putih Rasulullah ﷺ, dan beliau berkata: ‘Aku adalah Nabi, tidak ada dusta. 
Aku adalah putra ‘Abdul Muththalib.’”Aku berkata: Ini merupakan puncak keberanian yang paling sempurna. Pada hari seperti itu, di tengah kancah pertempuran yang berkecamuk, ketika pasukannya telah tercerai-berai darinya, beliau tetap berada di atas seekor baghal yang bukan tunggangan cepat, tidak cocok untuk menyerang, mundur, ataupun melarikan diri. Namun dalam keadaan seperti itu, beliau justru mengarahkannya ke hadapan musuh dan menyebutkan nama beliau agar dikenal oleh siapa pun yang belum mengenalnya. Semoga shalawat dan salam Allah senantiasa tercurah kepada beliau hingga hari kiamat.Semua itu tidak lain adalah karena keyakinan beliau kepada Allah, tawakal kepada-Nya, dan pengetahuan beliau bahwa Allah pasti akan menolongnya, menyempurnakan risalah yang diembankan kepadanya, dan memenangkan agamanya atas seluruh agama lainnya. Allah Turunkan Sakinah pada Perang HunainAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ أَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ۚ وَذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلْكَٰفِرِينَ“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 26)Oleh karena itu, Allah Ta‘ālā berfirman:﴿ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ﴾Artinya, Allah menurunkan ketenangan dan keteguhan kepada Rasul-Nya.Dan firman-Nya:﴿وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ﴾Maksudnya, kepada orang-orang beriman yang bersama beliau.Dan firman-Nya:﴿وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا﴾Yaitu para malaikat, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Abu Ja‘far bin Jarir.Ia berkata:Telah menceritakan kepada kami Al-Qasim, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Al-Hasan bin ‘Arafah, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Al-Mu‘tamir bin Sulaiman, dari ‘Auf—yaitu Ibnu Abi Jamīlah Al-A‘rābi—ia berkata: aku mendengar ‘Abdurrahman, mantan budak Ibnu Baratsan, ia menceritakan kepadaku dari seorang lelaki yang berada di pihak orang-orang musyrik pada hari Perang Hunain. Lelaki itu berkata:“Ketika kami bertemu dengan para sahabat Rasulullah ﷺ pada hari Hunain, mereka sama sekali tidak mampu bertahan menghadapi kami, bahkan sekejap pun. Ketika kami berhasil memukul mundur mereka, kami terus mengejar mereka hingga akhirnya kami sampai kepada seorang laki-laki yang berada di atas seekor bagal putih. Ternyata dia adalah Rasulullah ﷺ.Di dekat beliau, kami disambut oleh orang-orang berpakaian putih, berwajah tampan. Mereka berkata kepada kami: ‘Semoga wajah-wajah kalian menjadi buruk! Kembalilah!’Maka kami pun langsung lari tunggang-langgang. Mereka menaiki tengkuk-tengkuk kami, dan kekalahan itu pun menimpa kami.”Al-Ḥāfiẓ Abu Bakr Al-Baihaqi berkata:Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Abdillah Al-Ḥāfiẓ, telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ahmad bin Bālawaih, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Al-Hasan Al-Harbi, telah menceritakan kepada kami ‘Affān bin Muslim, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wāḥid bin Ziyād, telah menceritakan kepada kami Al-Ḥārith bin Ḥuṣairah, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim bin ‘Abdurrahman, dari ayahnya, ia berkata:Ibnu Mas‘ūd radhiyallahu ‘anhu berkata:“Aku bersama Rasulullah ﷺ pada hari Perang Hunain. Ketika itu orang-orang tercerai-berai meninggalkan beliau, dan yang tersisa bersama beliau hanyalah delapan puluh orang dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Kami maju ke depan dan tidak membelakangi musuh. Merekalah orang-orang yang Allah turunkan kepada mereka ketenangan.Rasulullah ﷺ berada di atas bagalnya dan terus maju. Bagalnya sempat menyimpang sehingga beliau hampir miring dari pelana. Aku berkata: ‘Bangkitlah, semoga Allah meninggikanmu.’Beliau bersabda: ‘Berikan kepadaku segenggam tanah.’ Aku pun memberikannya. Lalu beliau melemparkan tanah itu ke wajah mereka, hingga mata-mata mereka penuh dengan debu.Kemudian beliau bersabda: ‘Di mana kaum Muhajirin dan Anshar?’Aku menjawab: ‘Mereka ada di sana.’Beliau bersabda: ‘Panggil mereka!’Aku pun memanggil mereka. Mereka datang dengan pedang-pedang terhunus di tangan kanan mereka, seakan-akan kilatan cahaya. Maka orang-orang musyrik pun membalikkan badan mereka dan lari.”Riwayat ini juga dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dari ‘Affān, dengan lafaz yang hampir sama.Al-Walīd bin Muslim berkata:Telah menceritakan kepadaku ‘Abdullāh bin al-Mubārak, dari Abū Bakr al-Hudzalī, dari ‘Ikrimah—mantan budak Ibnu ‘Abbās—dari Syaibah bin ‘Utsmān, ia berkata:“Ketika aku melihat Rasulullah ﷺ pada hari Perang Hunain dalam keadaan terbuka (tidak terlindungi), aku teringat ayah dan pamanku yang terbunuh oleh ‘Ali dan Hamzah. Maka aku berkata dalam hatiku: ‘Hari ini aku akan menuntut balasku darinya.’Aku pun bergerak hendak mendatanginya dari sisi kanan. Namun tiba-tiba aku melihat al-‘Abbās bin ‘Abdul Muththalib berdiri, mengenakan baju besi putih seperti perak, debu pertempuran menyingkapinya. Aku berkata: ‘Itu pamannya, ia pasti tidak akan membiarkannya.’Lalu aku mendatanginya dari sisi kiri, ternyata di sana ada Abū Sufyān bin al-Ḥārith bin ‘Abdul Muththalib. Aku berkata: ‘Itu sepupunya, ia pun tidak akan membiarkannya.’Aku pun mendatanginya dari arah belakang. Tidak tersisa lagi bagiku kecuali mengayunkan pedang kepadanya. Tiba-tiba muncul di hadapanku nyala api di antara aku dan dia, seperti kilat. Aku takut api itu akan membakarku, maka aku menutup mataku dengan tanganku dan mundur perlahan.Rasulullah ﷺ lalu menoleh kepadaku dan bersabda: ‘Wahai Syaibah, wahai Syaibah, mendekatlah kepadaku. Ya Allah, hilangkanlah setan darinya.’Aku pun mengangkat pandanganku ke arah beliau. Saat itu, beliau menjadi lebih aku cintai daripada pendengaran dan penglihatanku sendiri. Lalu beliau bersabda: ‘Wahai Syaibah, perangilah orang-orang kafir.’”Karena itulah Allah Ta‘ālā berfirman:﴿ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ﴾“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 26) Kaum Hawazin Masuk IslamAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ يَتُوبُ ٱللَّهُ مِنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 26)Allah benar-benar telah menerima tobat sisa kaum Hawāzin. Mereka masuk Islam dan datang menemui Rasulullah ﷺ dalam keadaan sebagai kaum muslimin. Mereka menyusul beliau ketika beliau telah mendekati Mekah, tepatnya di Ji‘rānah, sekitar dua puluh hari setelah peristiwa perang.Pada saat itu, Rasulullah ﷺ memberi mereka pilihan antara mengambil kembali para tawanan mereka atau mengambil kembali harta-harta mereka. Mereka memilih para tawanan mereka. Jumlah tawanan itu sekitar enam ribu orang, terdiri dari anak-anak dan para perempuan. Maka Rasulullah ﷺ mengembalikan seluruh tawanan itu kepada mereka.Adapun harta rampasan perang, beliau membagikannya kepada para prajurit yang ikut berperang. Beliau juga memberikan tambahan pemberian (nafal) kepada sebagian orang dari golongan ṭulaqā’ (orang-orang yang baru masuk Islam setelah Fathu Mekah), dengan tujuan melembutkan hati mereka agar semakin kokoh dalam Islam. Beliau memberi mereka masing-masing seratus ekor unta.Di antara orang yang diberi seratus ekor unta tersebut adalah Mālik bin ‘Auf an-Naḍrī. Rasulullah ﷺ bahkan mengangkatnya kembali sebagai pemimpin atas kaumnya sebagaimana sebelumnya. Karena itu, Mālik bin ‘Auf memuji Rasulullah ﷺ dengan sebuah qasidah yang di antaranya berbunyi:Aku tidak pernah melihat dan tidak pernah mendengar
di tengah seluruh manusia seseorang seperti Muhammad.Paling menepati janji dan paling banyak memberi,
bila diminta kebaikan; dan kapan pun engkau kehendaki,
ia mampu mengabarkan apa yang akan terjadi esok hari.Jika pasukan telah menampakkan taring-taringnya,
dengan tombak-tombak lurus dan pedang-pedang tajam,Maka ia laksana singa di tengah anak-anaknya,
tenang di tengah debu peperangan, siap mengintai musuh. Kisah Dzul Khuwaishirah yang Menuntut Rasulullah untuk AdilKemudian datanglah utusan dari Hawazin yang telah masuk Islam di Ji‘ranah. Mereka berbicara kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, kami memiliki keluarga dan kerabat. Kami telah tertimpa musibah yang tidak tersembunyi bagimu. Maka berilah kami sebagian dari apa yang Allah berikan kepadamu.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“أَبْنَاؤُكُمْ وَنِسَاؤُكُمْ أَحَبُّ إِلَيْكُمْ أَمْ أَمْوَالُكُمْ؟”“Anak-anak dan wanita kalian lebih kalian cintai atau harta kalian?”Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, engkau memberi kami pilihan antara harta dan keluarga kami, maka kami memilih agar wanita dan anak-anak kami dikembalikan kepada kami. Itu lebih kami cintai.”Beliau bersabda kepada mereka,“أَمَّا مَا كَانَ لِي وَلِبَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَهُوَ لَكُمْ”“Adapun yang menjadi bagianku dan bagian Bani Abdul Muththalib, maka itu untuk kalian.”Kemudian beliau berkata, “Jika aku telah selesai salat Zuhur bersama manusia, maka berdirilah kalian dan katakan: ‘Kami memohon syafaat kepada Rasulullah kepada kaum muslimin, dan kepada kaum muslimin agar membantu kami dalam urusan wanita dan anak-anak kami.’”Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai salat Zuhur bersama manusia, mereka pun berdiri dan menyampaikan apa yang diperintahkan kepada mereka. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“أَمَّا مَا كَانَ لِي وَلِبَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَهُوَ لَكُمْ”“Adapun yang menjadi bagianku dan bagian Bani Abdul Muththalib, maka itu untuk kalian.”Kaum Muhajirin berkata, “Apa yang menjadi bagian kami, maka itu untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Al-Aqra‘ bin Habis berkata, “Adapun aku dan Bani Tamim, tidak.”‘Uyainah bin Hishn berkata, “Adapun aku dan Bani Fazarah, tidak.”Al-‘Abbas bin Mirdas berkata, “Adapun aku dan Bani Sulaim, tidak.”Namun Bani Sulaim berkata, “Bahkan, apa yang menjadi bagian kami, maka itu untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“أَمَّا مَنْ تَمَسَّكَ مِنْكُمْ بِحَقِّهِ مِنْ هَذَا السَّبْيِ فَلَهُ بِكُلِّ إِنْسَانٍ سِتُّ فَرَائِضَ مِنْ أَوَّلِ سَبْيٍ أُصِيبَهُ”“Adapun siapa di antara kalian yang tetap mempertahankan haknya dari tawanan ini, maka baginya setiap satu orang (yang ia lepaskan) akan diganti dengan enam bagian dari tawanan pertama yang akan kami dapatkan.”Maka mereka pun mengembalikan anak-anak dan wanita kepada kaum tersebut.Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Ji‘ranah, sementara di tangan Bilal ada pakaian, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil darinya untuk dibagikan kepada manusia. Lalu orang itu berkata, “Wahai Muhammad, berlakulah adil!”Beliau bersabda,“وَيْلَكَ، وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ؟ لَقَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ”“Celakalah engkau! Siapa yang akan berlaku adil jika aku tidak berlaku adil? Sungguh engkau akan rugi dan merugi jika aku tidak berlaku adil.”Maka Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Wahai Rasulullah, izinkan aku membunuh orang munafik ini.”Beliau bersabda,“مَعَاذَ اللَّهِ، أَنْ يَتَحَدَّثَ النَّاسُ أَنِّي أَقْتُلُ أَصْحَابِي”“Aku berlindung kepada Allah dari ucapan orang-orang bahwa aku membunuh para sahabatku.”Beliau melanjutkan,“إِنَّ هَذَا وَأَصْحَابَهُ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنْهُ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ”“Sesungguhnya orang ini dan pengikutnya membaca Al-Qur’an, tetapi tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah melesat dari sasarannya.”Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan harta kepada orang-orang Quraisy dan kabilah Arab lainnya, sementara kaum Anshar tidak mendapatkan bagian, maka sebagian dari mereka merasakan sesuatu dalam hati mereka, hingga salah seorang dari mereka berkata, “Demi Allah, Rasulullah telah menemui kaumnya.”Maka Sa‘d bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kaum Anshar merasakan sesuatu dalam hati mereka terhadap apa yang engkau lakukan, yaitu engkau membagi kepada kaummu dan memberikan pemberian besar kepada kabilah Arab, sementara kaum Anshar tidak mendapatkan bagian apa pun.”Beliau bersabda, “Di manakah posisi engkau dalam hal ini, wahai Sa‘d?”Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, aku hanyalah bagian dari kaumku.”Beliau bersabda, “Kumpulkanlah kaummu di tempat ini.”Maka Sa‘d mengumpulkan kaum Anshar di tempat tersebut. Setelah mereka berkumpul, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di tengah mereka, memuji Allah dan menyanjung-Nya, lalu bersabda:“يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ، مَا قَالَةٌ بَلَغَتْنِي عَنْكُمْ؟”“Wahai kaum Anshar, apa ucapan yang sampai kepadaku dari kalian?”Mereka menjawab, “Adapun orang-orang bijak di antara kami, wahai Rasulullah, mereka tidak mengatakan apa-apa. Namun sebagian dari kami yang masih muda berkata: ‘Semoga Allah mengampuni Rasulullah, beliau memberi kepada Quraisy dan meninggalkan kami, sementara pedang kami masih meneteskan darah mereka.’”Maka beliau bersabda,“أَلَمْ آتِكُمْ ضُلَّالًا فَهَدَاكُمُ اللَّهُ، وَعَالَةً فَأَغْنَاكُمُ اللَّهُ، وَأَعْدَاءً فَأَلَّفَ اللَّهُ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ؟”“Bukankah dahulu kalian dalam keadaan sesat lalu Allah memberi kalian petunjuk, kalian dalam keadaan miskin lalu Allah mencukupkan kalian, dan kalian saling bermusuhan lalu Allah menyatukan hati kalian?”Mereka menjawab, “Benar, Allah dan Rasul-Nya lebih banyak memberi karunia dan keutamaan.”Beliau bersabda,“أَلَا تُجِيبُونِي يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ؟”“Mengapa kalian tidak menjawabku, wahai kaum Anshar?”Mereka berkata, “Apa yang harus kami katakan, wahai Rasulullah? Bagi Allah dan Rasul-Nya segala karunia dan keutamaan.”Beliau bersabda,“أَمَا وَاللَّهِ لَوْ شِئْتُمْ لَقُلْتُمْ فَلَصَدَقْتُمْ وَلَصُدِّقْتُمْ: أَتَيْتَنَا مُكَذَّبًا فَصَدَّقْنَاكَ، وَمَخْذُولًا فَنَصَرْنَاكَ…”“Demi Allah, seandainya kalian mau, kalian bisa mengatakan—dan kalian benar—: ‘Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami membenarkanmu; engkau datang dalam keadaan ditinggalkan, lalu kami menolongmu lalu kalian menolongku, aku datang dalam keadaan terusir lalu kalian melindungiku, dan dalam keadaan miskin lalu kalian mencukupkanku.”“Wahai kaum Anshar, apakah kalian merasakan sesuatu dalam hati kalian karena sedikit bagian dunia yang dengannya aku ingin melunakkan hati suatu kaum agar mereka masuk Islam, sementara aku menyerahkan keislaman kalian (tanpa diberi bagian dunia)? Tidakkah kalian ridha, wahai kaum Anshar, bahwa manusia kembali dengan kambing dan unta, sedangkan kalian kembali membawa Rasulullah ke tempat tinggal kalian?”“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seandainya bukan karena hijrah, niscaya aku termasuk bagian dari kaum Anshar. Jika manusia menempuh suatu jalan dan kaum Anshar menempuh jalan lain, pasti aku akan menempuh jalan kaum Anshar. Ya Allah, rahmatilah kaum Anshar, anak-anak Anshar, dan cucu-cucu Anshar.”Maka kaum itu pun menangis hingga janggut mereka basah, dan mereka berkata, “Kami ridha dengan Rasulullah sebagai bagian kami dan pembagian yang kami terima.”Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pergi, dan mereka pun berpisah. Delegasi Tsaqif Datang Menemui Rasulullah ﷺRasulullah ﷺ tiba di Madinah dalam keadaan menang, setelah Allah memuliakan beliau dengan kemenangan atas dua kekuatan Arab terbesar di Jazirah Arab. Beliau memasuki Madinah pada malam keenam yang tersisa dari bulan Dzulqa‘dah.Adapun kaum Tsaqif, mereka tetap bertahan dalam keadaan takut hingga Rasulullah ﷺ pulang dari perang Tabuk. Setelah itu mereka datang menemui Nabi ﷺ. Al-Mughirah bin Syu‘bah radhiyallahu ‘anhu lebih dahulu menemui mereka, lalu ia meminta kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu agar menjadi orang yang menyampaikan kabar gembira kepada Rasulullah ﷺ tentang kedatangan mereka. Abu Bakar pun menyetujuinya. Maka Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu masuk menemui Rasulullah ﷺ dan menyampaikan kabar gembira tersebut.Rasulullah ﷺ kemudian mendirikan kemah untuk mereka di masjid agar mereka merasa dekat dengan Islam. Disebutkan dari Al-Hasan rahimahullah, dari ‘Utsman bin Abi Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu, bahwa ketika delegasi Tsaqif datang menemui Rasulullah ﷺ, beliau menempatkan mereka di masjid agar hati mereka menjadi lebih lunak.Mereka lalu mengajukan syarat agar tidak diwajibkan ikut perang dan tidak dibebani zakat. Rasulullah ﷺ bersabda:«لَكُمْ أَنْ لَا تُحْشَرُوا وَلَا تُعْشَرُوا، وَلَا خَيْرَ فِي دِينٍ لَيْسَ فِيهِ رُكُوعٌ»“Kalian tidak diwajibkan keluar untuk berjihad dan tidak dipungut sepersepuluh harta (usyur), tetapi tidak ada kebaikan pada agama yang tidak ada rukuk di dalamnya.”Mereka juga meminta agar Rasulullah ﷺ menunda penghancuran berhala Al-Lat selama tiga tahun. Namun beliau menolak kecuali berhala itu harus dihancurkan. Mereka lalu meminta agar mereka tidak diperintahkan menghancurkannya sendiri. Maka Rasulullah ﷺ mengutus Abu Sufyan dan Al-Mughirah bin Syu‘bah radhiyallahu ‘anhuma untuk menghancurkan Al-Lat.Beliau juga mengangkat ‘Utsman bin Abi Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu sebagai pemimpin mereka, padahal usianya paling muda di antara mereka. Hal itu karena Rasulullah ﷺ melihat semangatnya dalam mempelajari Al-Qur’an dan mendalami agama. Disebutkan pula bahwa beliau memerintahkannya menjadikan tempat berhala mereka sebagai lokasi masjid Thaif. Pelajaran yang Dipetik dari Perang Hunain dan Pengepungan ThaifPertama: Sesungguhnya Allah dengan taufik-Nya mengatur urusan hamba-hamba-Nya yang beriman, bersikap lembut kepada mereka, dan melindungi mereka dari tipu daya orang-orang kafir. Allah menjadikan apa yang Dia kehendaki sebagai harta rampasan bagi kaum muslimin.Tidaklah Rasulullah ﷺ keluar menghadapi kekuatan besar kaum Quraisy di Makkah, kecuali karena Allah menanamkan rasa takut ke dalam hati kaum Hawazin, sehingga mereka berhenti bergerak untuk memerangi Rasulullah ﷺ. Bahkan Allah menjadikan mereka menghadapi Rasulullah ﷺ dengan membawa serta wanita-wanita dan harta-harta mereka berupa unta dan kambing yang jumlahnya hanya diketahui oleh Allah.Semua itu terjadi agar harta rampasan tersebut menjadi milik kaum muslimin, yang dengannya Rasulullah ﷺ dapat menggunakannya untuk melembutkan dan menautkan hati serta mengobati luka batin penduduk Makkah, setelah mereka mengalami kekalahan besar yang sangat melukai perasaan mereka.Pada fase dakwah ini, Rasulullah ﷺ sangat membutuhkan upaya penaklukan hati, sementara beliau sendiri tidak memiliki apa-apa, bahkan sampai harus meminjam baju besi dari Shafwan. Maka datanglah harta-harta rampasan dan kekayaan yang besar ini, lalu Rasulullah ﷺ menggunakannya untuk menundukkan hati para pemimpin yang sebelumnya telah “hilang akal sehatnya” (karena kebencian dan permusuhan).Mahasuci Allah, Sang Pengatur segala urusan dan Pembolak-balik hati sesuai kehendak-Nya. Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.Kedua: Peristiwa Rasulullah ﷺ meminjam baju besi dari Shafwan bin Umayyah mengandung beberapa pelajaran, di antaranya:Keterbatasan sarana material yang dimiliki pasukan Rasulullah ﷺ, hingga beliau harus meminjam senjata dari seorang musyrik.Bolehnya seorang imam atau pemimpin meminjam senjata milik orang musyrik untuk memerangi musuh. Peristiwa ini termasuk salah satu bentuk isti‘ānah (meminta bantuan).Barang pinjaman (al-‘āriyah) itu bersifat tanggungan, meskipun barang yang dipinjam tersebut adalah milik orang musyrik, meski dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan para fuqaha.Ketiga: Malik an-Nadhri mengutus seorang mata-mata sebagai pemimpin pasukan Tsaqif dan Hawazin agar ia mengamati langsung keadaan Rasulullah ﷺ dan berita tentang pasukan kaum muslimin.Ketika mata-mata itu kembali kepada Malik, terlihat jelas pada wajahnya tanda-tanda ketakutan dan kegentaran. Maka Malik bertanya, “Apa yang terjadi dengan kalian?”Mereka menjawab, “Kami melihat para lelaki yang berpakaian putih, menaiki kuda-kuda hitam pekat. Demi Allah, kami sama sekali tidak mampu bertahan, dan apa yang kami alami benar-benar tidak terbayangkan.”Malik pun tidak mampu menolak atau menghalangi mereka dari tujuan dan niat tersebut.Peristiwa ini merupakan salah satu bentuk rasa takut (ar-ru‘b) yang Allah berikan sebagai pertolongan kepada Rasul-Nya ﷺ dan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.Allah Ta‘ala berfirman:﴿ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ فَرِيقًا تَقْتُلُونَ وَتَأْسِرُونَ فَرِيقًا ﴾“Dan Dia menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka; sebagian mereka kalian bunuh dan sebagian yang lain kalian tawan.” (QS. Al-Ahzab: 26)Dan Allah Ta‘ala juga berfirman:﴿ سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا ۖ وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ ۖ وَبِئْسَ مَثْوَى الظَّالِمِينَ ﴾“Akan Kami tanamkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir, karena mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan dalil tentang itu. Tempat mereka adalah neraka, dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal bagi orang-orang zalim.” (QS. Ali ‘Imran: 151)Dan Rasulullah ﷺ bersabda:«نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ»“Aku ditolong dengan rasa takut (yang ditanamkan ke dalam hati musuh).” (HR. Bukhari dan Muslim)Keempat: Ketika ada seorang laki-laki dari kaum muslimin berkata, “Kita tidak akan dikalahkan hari ini karena jumlah yang sedikit,” Rasulullah ﷺ tidak menyukai ucapan tersebut, karena beliau mengetahui akibat buruk dari perkataan semacam itu. Dari sini kita dapat mengambil pelajaran sebagai berikut:1. Ucapan satu orang saja, sebagaimana disebutkan oleh para ahli sirah, bisa menjadi sebab datangnya musibah besar yang menimpa seluruh pasukan secara keseluruhan. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya waspada agar tidak mendatangkan bencana bagi komunitasnya atau keluarganya akibat keburukan yang muncul dari perbuatannya atau ucapannya.2. Meskipun hanya satu kalimat, namun dengan sebab itulah bencana terjadi. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:«إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ، مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ» “Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan satu kata, yang ia tidak memperhatikan akibatnya, lalu karena kata itu ia tergelincir ke dalam neraka sejauh jarak antara timur.” (HR. Bukhari dan Muslim)3. Ini menunjukkan kelemahan tabiat manusia dan cepatnya ia tertipu oleh rasa bangga. Seseorang bisa saja, ketika melihat banyaknya jumlah pasukan, merasa kagum, tertipu oleh kekuatan semu itu, lalu membesarkan dirinya dan merasa yakin akan kemenangan. Ia pun mengucapkan kalimat tersebut, yang muncul dari kelemahan manusiawi yang kadang menimpa seorang hamba dalam kondisi tertentu, ketika ia tidak selalu menghadirkan rasa takwa kepada Allah, pengawasan-Nya, ketundukan kepada-Nya, serta kesadaran atas nikmat-nikmat-Nya.4. Besarnya bahaya perkara ini, karena berkaitan langsung dengan akidah. Seorang muslim, di antara bentuk ibadah terbesar yang ia lakukan, adalah tunduk kepada Allah, bersyukur atas nikmat-Nya, dan waspada dari kelalaian dalam hal ini. Hendaknya ia menyadari bahwa rasa ujub (bangga diri) dan masuknya kesombongan ke dalam hati termasuk dosa-dosa besar yang dapat membinasakan.5. Besarnya bahaya perkara ini juga ditunjukkan oleh hukuman yang terjadi secara langsung, serta ayat-ayat yang turun untuk menegur umat agar mereka mengambil pelajaran untuk masa depan mereka. Karena itu, ucapan semacam ini tidak boleh dianggap remeh. Abu Bakar al-Jazā’irī rahimahullah berkata dalam penjelasannya: “Haramnya merasa kagum terhadap diri sendiri, terhadap amal, atau terhadap kekuatan. Sebab, akibat dari sikap tersebut adalah kekalahan kaum mukminin pada awal pertempuran mereka melawan musuh.”6. Pada peristiwa ini juga terdapat pelajaran akidah yang sangat penting. Jika Perang Badar telah menetapkan bagi kaum muslimin bahwa jumlah yang sedikit tidak membahayakan mereka di hadapan musuh-musuh mereka apabila mereka bersabar, bertakwa, dan hati mereka bergantung kepada Allah Ta’ala, maka Perang Hunain menetapkan bagi kaum muslimin bahwa jumlah yang banyak pun tidak akan memberi manfaat sedikit pun, apabila hati mereka tidak bergantung kepada Allah Ta’ala. Perang Hunain telah menetapkan bagi kaum muslimin bahwa jumlah yang banyak pun tidak akan memberi manfaat apa pun, apabila hati mereka tidak bergantung kepada Allah.Kelima: Dalam ucapan sebagian orang yang diucapkan di hadapan Rasulullah ﷺ: “Jadikanlah untuk kami dzātu anwāṭ sebagaimana mereka memiliki dzātu anwāṭ,” terdapat beberapa pelajaran penting, di antaranya:Orang-orang yang mengucapkan kalimat tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh perawi hadits Abu Wāqid al-Laitsī radhiyallāhu ‘anhu, adalah orang-orang yang baru saja keluar dari kekafiran. Mereka termasuk orang-orang yang baru masuk Islam setelah penaklukan Makkah atau sesudahnya, dan bukan dari kalangan sahabat yang telah lebih dahulu masuk Islam. Karena itu, perkara seperti ini tidak mungkin muncul dari para sahabat terdahulu, dan tidak pantas disangka atau dituduhkan kepada mereka. Semoga Allah Ta‘ālā meridai mereka semua.Kewajiban bersikap sangat waspada terhadap kesyirikan. Orang-orang tersebut tidak bermaksud menggantungkan diri kepada pohon sebagaimana praktik orang-orang musyrik, namun Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ucapan mereka serupa dengan ucapan para pengikut Nabi Musa, yaitu: “Jadikanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan.” Maka perhatikanlah bagaimana cara melakukan tabarruk (mencari berkah), memohon keberkahan, beribadah, dan mendekatkan diri kepada yang diberkahi. Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas‘ūd radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Kami pernah bersama Rasulullah ﷺ dalam sebuah perjalanan, lalu kami kehabisan air. Rasulullah ﷺ bersabda:«اطْلُبُوا فَضْلَةً مِنْ مَاءٍ»“Carilah sisa air.”Lalu didatangkan sebuah bejana yang di dalamnya terdapat sedikit air. Rasulullah ﷺ memasukkan tangannya ke dalam bejana itu, kemudian bersabda:«حَيَّ عَلَى الطَّهُورِ الْمُبَارَكِ، وَالْبَرَكَةُ مِنَ اللَّهِ» “Marilah kepada air bersuci yang diberkahi, dan keberkahan itu berasal dari Allah.” Yakni, keberkahan tidak diminta kecuali dari Allah semata, tidak dari selain-Nya. Dialah Allah —dengan mematahkan anggapan keliru— tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia.Pintu tabarruk termasuk pintu terbesar yang melaluinya kesyirikan masuk ke tengah manusia. Awalnya, orang-orang mengagungkan para ulama dan orang-orang saleh, lalu meminta doa kepada mereka. Setelah itu, mereka mulai mengusap-usap (tabarruk) kepada mereka, dan meyakini bahwa para tokoh tersebut memiliki kemampuan memberi keberkahan karena kesalehan dan kedudukan mereka di sisi Allah. Ketika mereka terus-menerus meminta keberkahan kepada orang-orang tersebut, muncullah praktik tabarruk kepada para wali dan orang-orang saleh, kemudian tabarruk kepada kuburan, bahkan berkembang menjadi tabarruk kepada pepohonan dan batu-batuan. Semua ini merupakan penyimpangan yang besar.Meminta Keberkahan kepada Allah SemataKeberkahan diminta dari Zat yang memilikinya, bukan dari yang tidak memilikinya. Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, beliau sangat mencintainya dan berharap keberkahan ada di dalamnya, lalu beliau berdoa kepada Allah Subḥānahu. Dalam hadits Abu Sa‘īd al-Khudrī radhiyallāhu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:«اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي مَدِينَتِنَا، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي صَاعِنَا، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي مُدِّنَا، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي مَدِينَتِنَا، اللَّهُمَّ اجْعَلْ مَعَ الْبَرَكَةِ بَرَكَتَيْنِ» (1)“Ya Allah, berkahilah kota Madinah kami. Ya Allah, berkahilah sha‘ kami. Ya Allah, berkahilah mudd kami. Ya Allah, berkahilah kota Madinah kami. Ya Allah, jadikanlah keberkahan itu berlipat ganda.”Beliau berdoa agar Allah memberikan keberkahan pada Madinah, makanan pokok mereka, dan takaran mereka. Maka, jika Rasulullah ﷺ sendiri meminta keberkahan dari Allah, sudah seharusnya kita tidak meminta keberkahan kecuali kepada Allah.Adapun meminta keberkahan kepada selain-Nya, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang meminta keberkahan dengan menggantungkan senjata mereka pada pohon, maka perbuatan itu sama dengan ucapan “Jadikanlah untuk kami sesembahan”, dan berarti menjadikan tandingan bagi Allah.Maka orang-orang seperti ini harus diberi peringatan keras, diarahkan untuk kembali kepada Allah, dan dicegah dari mencari keberkahan dengan cara yang menyimpang, sebagaimana mereka juga dicegah dari penyimpangan dalam seluruh bentuk ibadah lainnya. Nasihat Mengenai Ngalap Berkah (Tabarruk)Maka seharusnya orang-orang seperti ini sadar dan kembali kepada Allah. Hendaknya mereka bersungguh-sungguh dalam mencari keberkahan hanya kepada-Nya, sebagaimana mereka bersungguh-sungguh dalam berbagai bentuk ibadah lainnya.1. Perhatikan apa yang diminta oleh mereka kepada Rasulullah ﷺ.Mereka berkata, “Jadikanlah untuk kami Dzātu Anwāṭ sebagaimana mereka memiliki Dzātu Anwāṭ.”Dalam Fathul Majīd dijelaskan bahwa maksudnya, mereka tidak meminta agar dibuatkan sesembahan selain Allah—karena mereka tentu lebih paham dan lebih mulia dari itu—tetapi mereka hanya meminta sebuah pohon yang diberi izin oleh Nabi untuk mereka bertabarruk (mengambil berkah darinya), dengan cara menggantungkan senjata-senjata mereka di sana, tanpa melakukan shalat atau sedekah untuknya.Namun Nabi ﷺ menjelaskan bahwa permintaan mereka untuk bertabarruk tersebut—meskipun tidak disertai shalat atau sedekah—tetap termasuk syirik itu sendiri. Di dalamnya terdapat bantahan terhadap syubhat kaum musyrik di zaman ini yang mengira bahwa apa yang mereka lakukan berupa tabarruk dan pengagungan adalah sesuatu yang tidak mengapa.2. Apa yang mereka minta bukanlah syirik kecil.Seandainya Nabi ﷺ mengabulkannya, tentu itu serupa dengan ucapan Bani Israil kepada Nabi mereka, “Jadikanlah untuk kami sesembahan.” Demi Allah, itu termasuk syirik besar. Namun Bani Israil tidak langsung dikafirkan karena permintaan tersebut, sebab mereka baru saja meninggalkan kekafiran dan masuk ke dalam Islam. Selain itu, mereka tidak sampai melakukannya dan tidak memaksakan permintaan tersebut, melainkan hanya sekadar meminta kepada Nabi ﷺ.3. Kaidah bahwa ibadah itu harus berdasarkan perintah syariat sudah tertanam dalam diri para sahabat.Para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang mengajukan permintaan tersebut tidak serta-merta melakukannya sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah. Mereka tidak langsung mengamalkannya, tetapi terlebih dahulu mendatangi Rasulullah ﷺ. Sebab mereka mengetahui bahwa setiap ibadah harus memiliki landasan syariat sebelum diamalkan, agar seseorang tidak terjatuh ke dalam perbuatan bid’ah, yaitu beribadah kepada Allah tanpa dasar yang telah Dia tetapkan.Keenam: Wajib berhati-hati dari menyerupai orang-orang kafir.Hal ini karena Rasulullah ﷺ telah menjelaskan hal tersebut dalam sabdanya:لَتَتَّبِعُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَذْوَ الْقُذَّةِ بِالْقُذَّةِ“Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, setahap demi setahap.”Oleh karena itu, sudah sepantasnya seorang muslim waspada dan tidak meniru orang-orang kafir. Bahkan, yang menjadi kewajibannya adalah berhati-hati dari menyerupai mereka dalam seluruh urusan mereka, serta mewaspadai ajakan untuk mengikuti hawa nafsu dan penyimpangan umat-umat terdahulu.Menyerupai orang-orang kafir juga termasuk salah satu sebab terbesar munculnya berbagai bid’ah. Dalam hadis ini dijelaskan bahwa sikap menyerupai orang kafir itulah yang mendorong Bani Israil untuk meminta kepada Nabi Musa agar dibuatkan bagi mereka sesembahan sebagaimana kaum kafir memiliki sesembahan yang mereka sembah.Demikian pula, sikap menyerupai orang kafir itulah yang mendorong sebagian sahabat Nabi Muhammad ﷺ—yang saat itu masih baru masuk Islam—untuk meminta agar dibuatkan bagi mereka sebuah pohon yang mereka jadikan tempat mencari berkah selain Allah.Dan inilah kenyataan yang terjadi pada hari ini. Sebagian kaum muslimin meniru orang-orang kafir dalam melakukan bid’ah dan perbuatan syirik. Salah satu sebab paling menonjol dari penyimpangan tersebut adalah sikap menyerupai orang-orang kafir. Ketujuh: Mengambil pelajaran tentang pentingnya optimisme (tafā’ul).Ketika Rasulullah ﷺ mengutus ‘Abdullah bin Abī Ḥadrad radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu dan ayahnya untuk mendatangi pasukan Tsaqīf, lalu ia kembali dan mengabarkan bahwa ia melihat kaum wanita, keluarga, anak-anak, serta hewan ternak mereka ikut bersama pasukan itu—yang maksud mereka adalah untuk menunjukkan keteguhan dan agar tidak lari saat pertempuran—maka hal itu tentu merupakan sesuatu yang menakutkan bagi pasukan yang menghadapinya.Namun Rasulullah ﷺ tersenyum dan bersabda, “Itu adalah harta rampasan kaum muslimin esok hari, insya Allah.” Dari peristiwa ini kita mengambil pelajaran tentang sikap optimis.Sepanjang kehidupan Rasulullah ﷺ dipenuhi dengan optimisme. Dalam kondisi apa pun, beliau selalu melihat dari sisi yang membawa harapan. Beliau tidak terpengaruh oleh kumpulan pasukan Tsaqīf, bahkan mengucapkan kata-kata optimis yang didengar oleh para sahabat radhiyallāhu ‘anhum. Ucapan itu membangkitkan harapan, menyemangati jiwa, dan meneguhkan hati.Sebab jiwa manusia, ketika diingatkan pada kekuatan dan jumlah besar musuh, bisa saja merasa gentar. Namun ketika diberi harapan tentang kemenangan dan ganimah yang besar, maka ia akan berani dan maju. Apalagi ketika gambaran tentang harta rampasan itu seakan-akan sudah tampak di depan mata.Sikap seperti ini juga tampak pada peristiwa ketika Rasulullah ﷺ kembali dari mendatangi Banī Qurayẓah pada hari Perang Aḥzāb. Saat itu para sahabat—di antaranya Sa‘d bin Mu‘ādz, Sa‘d bin ‘Ubādah, ‘Abdullah bin Rawāḥah, dan Khawwāt bin Jubair radhiyallāhu ‘anhum—yang diutus untuk memastikan apakah Banī Qurayẓah telah melanggar perjanjian, kembali dan mengabarkan bahwa mereka benar-benar telah mengkhianati perjanjian.Maka Rasulullah ﷺ mengangkat kepalanya dan bersabda:«أَبْشِرُوا يَا مَعْشَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِنَصْرِ اللَّهِ تَعَالَى وَعَوْنِهِ»“Bergembiralah wahai kaum mukminin, dengan pertolongan dan bantuan Allah Ta‘ālā.”Ketika keadaan semakin sulit dan musuh semakin berkumpul, hati pun semakin bergantung kepada Allah, dan pertolongan pun datang. Rasulullah ﷺ sangat perhatian pada hari itu untuk menebarkan ketenangan dan optimisme di hadapan para sahabat radhiyallāhu ‘anhum. Kedelapan: Di antara pelajaran dari serangan mendadak orang-orang kafir terhadap kaum Muslimin, kekacauan barisan mereka, lalu kekalahan yang mereka alami — dan tidak ada yang tetap tegar bersama Rasulullah ﷺ kecuali sedikit dari kalangan mukminin — terdapat pelajaran praktis bagi kaum Muslimin di setiap zaman dan tempat: janganlah kalian tertipu oleh kekuatan kalian dan jangan pula oleh jumlah yang kalian miliki.Sebagian kaum Muslimin ketika itu berkata, “Hari ini kita tidak akan kalah karena jumlah yang sedikit.” Namun ternyata mereka mengalami kekalahan pada awal pertemuan dengan musuh. Peristiwa ini menjadi pendidikan dan pembinaan bagi hati agar tidak berpaling kepada selain Allah. Jika hati berpaling kepada selain-Nya, maka akibatnya akan seperti yang terjadi pada pasukan Hunain di awal pertempuran.Allah Ta’ala berfirman:لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْـًٔا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ“Sungguh, Allah telah menolong kalian di banyak medan peperangan, dan (ingatlah) pada Perang Hunain, ketika jumlah kalian yang banyak membuat kalian bangga, tetapi jumlah itu tidak memberi manfaat sedikit pun bagi kalian. Bumi yang luas terasa sempit bagi kalian, kemudian kalian berbalik ke belakang dengan lari tunggang-langgang.” (QS. At-Taubah: 25)Setelah pelajaran itu benar-benar terwujud dan pesan pun sampai, manusia memahami secara nyata bahwa kekuatan dan jumlah mereka tidak akan bermanfaat jika Allah tidak menolong mereka. Jika Allah Jalla Sya’nuhu tidak memberikan pertolongan, maka tidak akan turun kemenangan dari sisi-Nya.Allah — Mahatinggi dan Mahamulia — tidak akan menyia-nyiakan hamba-hamba-Nya yang beriman. Dialah yang berperang dengan pertolongan-Nya, anugerah-Nya, dan kebaikan-Nya.Sebagaimana firman-Nya:وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ“Dan menjadi kewajiban atas Kami untuk menolong orang-orang yang beriman.” (QS. Ar-Rum: 47)Namun setelah Allah memperlihatkan kepada kaum mukminin secara nyata keadaan mereka tanpa pertolongan-Nya, barulah pertolongan itu datang dari sisi Allah. Allah Ta’ala berfirman:ثُمَّ أَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin, serta menurunkan bala tentara yang tidak kalian lihat, dan Dia mengazab orang-orang kafir. Itulah balasan bagi orang-orang kafir.” (QS. At-Taubah: 26)Adapun keadaan kita hari ini — realitas kita tercerai-berai dan hati kita belum bergantung kepada Allah sebagaimana mestinya — maka kita perlu memahami pelajaran ini dengan baik agar keadaan kita menjadi lurus. Sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.Kesembilan: Firman Allah Ta’ala: “Sungguh, Allah telah menolong kalian di banyak medan peperangan, dan (ingatlah) pada Perang Hunain, ketika jumlah kalian yang banyak membuat kalian bangga, tetapi jumlah itu tidak memberi manfaat sedikit pun bagi kalian. Bumi yang luas terasa sempit bagi kalian, kemudian kalian berbalik ke belakang dengan lari tunggang-langgang. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin, serta menurunkan bala tentara yang tidak kalian lihat, dan Dia mengazab orang-orang kafir. Itulah balasan bagi orang-orang kafir.” (QS. At-Taubah: 25–26)Ath-Thahir bin ‘Asyur rahimahullah berkata, “Penyandaran pertolongan secara tegas kepada Allah Ta’ala bertujuan untuk menampakkan tanda kecintaan Allah, meskipun di dalamnya terdapat sebagian kepentingan dunia. Di dalamnya terdapat bagian akhirat, dan juga bagian dunia berupa kemenangan yang menguatkan persatuan, menghasilkan ghanimah, serta melindungi umat dari serangan musuh-musuhnya. Semua itu termasuk karunia Allah, karena mereka melihat kecintaan-Nya dalam urusan-urusan dunia mereka.”Beliau juga berkata, “Penyebutan secara khusus hari Hunain di antara hari-hari peperangan lainnya, karena kaum Muslimin sempat mengalami kekalahan pada awalnya, kemudian kemenangan kembali kepada mereka. Penyebutan ini mengandung pelajaran bahwa kemenangan diraih ketika menaati perintah Allah dan Rasul-Nya ﷺ, sedangkan kekalahan terjadi ketika lebih mengutamakan keuntungan dunia yang segera daripada ketaatan.”Kesepuluh: Seruan Al-‘Abbas radhiyallahu ‘anhu kepada para sahabat Baiat Syajarah, juga kepada kaum Muhajirin dan Anshar, lalu kembalinya mereka.Tidak lama setelah peristiwa itu, para pasukan yang sempat mundur kembali berkumpul di sekitar Rasulullah ﷺ. Hal ini menunjukkan bahwa larinya mereka tidaklah jauh. Itu hanyalah kekacauan dan kepanikan sesaat. Mereka masih berada cukup dekat sehingga dapat mendengar suara panggilan.Kemudian terjadi pendidikan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, lalu datang keteguhan yang bersumber dari Allah dan pertolongan-Nya. Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama mengatakan bahwa dalam hadis ini terdapat dalil bahwa mundurnya mereka tidaklah jauh dan tidak semua pasukan benar-benar melarikan diri. Yang mundur hanyalah orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit, dari kalangan penduduk Makkah yang baru masuk Islam (mualaf) dan orang-orang musyrik Makkah yang belum benar-benar beriman.Kekalahan itu datang secara tiba-tiba. Mereka dihujani anak panah sekaligus dan bercampur dengan sebagian penduduk Makkah yang imannya belum kokoh. Di antara mereka ada wanita dan anak-anak yang ikut keluar untuk mencari harta rampasan, sehingga mereka berada di barisan depan. Ketika panah-panah beterbangan, mereka pun berbalik dan lari. Namun akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ketenangan kepada kaum mukminin, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.”Kesebelas: Ketika Al-‘Abbas memanggil para sahabat Baiat Syajarah dan menyeru kaum Anshar, mereka segera menyambut dan kembali kepada Rasulullah ﷺ. Bahkan sebagian mereka tidak mampu membalikkan unta yang ditungganginya, sehingga ia turun dan meninggalkannya, lalu kembali kepada Rasulullah ﷺ dengan senjatanya.Hal ini menegaskan kewajiban untuk segera menyambut seruan Rasulullah ﷺ dan mengingatkan kita pentingnya bersegera memenuhi perintah beliau begitu kita mendengar dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah.Kedua belas: Kita melihat bahwa Rasulullah ﷺ, yang sangat lembut dan penyayang terhadap orang-orang beriman, tidak mencela seorang pun dari mereka yang sempat mundur. Ketika Ummu Salim radhiyallahu ‘anha berkata tentang orang-orang yang lari, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mencukupi dan memperbaiki keadaan.”Artinya, beliau tidak menegur mereka dengan celaan, karena peristiwa itu telah berlalu dan tidak ada jalan untuk mengulanginya, terlebih dalam kondisi perang yang memang menimbulkan guncangan jiwa. Rasulullah ﷺ memuliakan para sahabatnya dengan tidak mengungkit kesalahan itu. Demikianlah sikap yang baik: memaafkan, melapangkan dada, dan tidak berlebihan dalam menyalahkan seorang Muslim atas kesalahan yang sudah tidak mungkin diperbaiki. Seorang Muslim hendaknya memberi ruang bagi sebagian uzur dalam hal semacam itu.Ketiga belas: Disyariatkannya doa dan bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah yang dilakukan Rasulullah ﷺ, khususnya ketika keadaan menjadi genting. Pada Perang Hunain, beliau memohon pertolongan kepada Rabb-nya dan bersungguh-sungguh dalam doa agar kaum Muslimin diberi kemenangan atas orang-orang musyrik.Pertolongan itu datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kembalinya Rasulullah ﷺ kepada Rabb-nya dalam situasi yang sulit tersebut menjadi faktor paling kuat dalam mengubah jalannya pertempuran sehingga berpihak kepada kaum Muslimin.Keempat belas: Disyariatkannya berdoa dan mengarahkan diri kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Inilah yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ; beliau menempuh jalan tersebut, terlebih ketika keadaan menjadi sulit. Saat itu beliau memohon kepada Rabb-nya dan bersungguh-sungguh dalam doa agar kaum Muslimin memperoleh kemenangan atas kaum musyrikin.Pertolongan itu datang dari sisi Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Ketika Rasulullah ﷺ menghadapkan diri kepada Rabb-nya dalam situasi yang berat tersebut, hal itu menjadi faktor paling kuat yang mengubah jalannya peperangan sehingga berpihak kepada kaum Muslimin.Kelima belas: Ketika Rasulullah ﷺ melihat seorang wanita yang terbunuh, beliau melarang pembunuhan terhadap wanita dan anak-anak. Inilah salah satu prinsip peperangan dalam Islam. Ini juga termasuk wasiat Rasulullah ﷺ yang terus berlaku bagi pasukan kaum Muslimin.Sebagaimana disebutkan dalam Musnad Imam Aḥmad — semoga Allah merahmatinya — dari Ibnu ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhumā, ia berkata:“Apabila Rasulullah ﷺ mengirim pasukan, beliau bersabda,‘Keluarlah kalian dengan menyebut nama Allah. Berperanglah di jalan Allah melawan orang yang kafir kepada Allah. Jangan berkhianat, jangan melampaui batas, jangan melakukan mutilasi, dan jangan membunuh anak-anak, serta jangan pula membunuh para penghuni tempat ibadah.’Ketika beliau mengutus pasukan untuk memerangi Ibnu Abī al-Ḥuqayq dan para sahabatnya di daerah Khaybar, az-Zuhrī berkata:Ibnu Ka‘b bin Mālik mengabarkan kepadaku dari pamannya — radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu — bahwa Nabi ﷺ ketika mengutus mereka kepada Ibnu Abī al-Ḥuqayq di Khaybar, beliau melarang mereka membunuh wanita dan anak-anak.Dengan demikian, peperangan dalam Islam adalah peperangan yang memiliki akhlak. Bahkan ketika menghadapi musuh yang memerangi kaum Muslimin, tetap tidak boleh ada kezaliman, tidak boleh melampaui batas, tidak boleh melakukan kerusakan, dan tidak boleh seseorang menanggung kesalahan orang lain.Hal ini juga menunjukkan tingginya kedudukan hak asasi manusia dalam Islam, meskipun orang tersebut adalah seorang kafir. Allah Ta‘ālā berfirman:۞ وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ وَحَمَلْنَٰهُمْ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ وَرَزَقْنَٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَفَضَّلْنَٰهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Isra’: 70)Islam menghormati manusia sebagai manusia, apa pun agama dan keyakinannya, bahkan dalam keadaan perang. Maka bagaimana lagi dalam keadaan damai dan kehidupan bermasyarakat?Peperangan dalam Islam adalah perang yang mulia. Seorang Muslim tidak meninggalkan prinsip-prinsip luhur tersebut. Oleh karena itu, wanita dan anak-anak tidak memiliki peran dalam peperangan, sehingga mereka harus dilindungi dan tidak boleh dibunuh, kecuali jika seorang wanita benar-benar ikut serta dalam peperangan. Ia juga tidak menanggung dosa orang lain.Barang siapa menjaga hak perempuan secara khusus dan hak manusia secara umum dalam keadaan perang dan pertempuran, tentu ia lebih layak lagi menjaga hak-hak manusia dalam keadaan damai.Islam telah mengangkat tinggi hak manusia hingga kita melihat dengan jelas bahwa hak-hak manusia dalam Islam merupakan salah satu poros tujuan syariat Islam. Sementara itu, seluruh dunia menyaksikan berbagai pelanggaran terhadap hak kaum Muslimin yang terjadi di berbagai tempat, bahkan di sebagian masyarakat yang mengaku modern: terjadi pembunuhan massal, penghancuran kota-kota dan rumah-rumah penduduk, tanpa membedakan antara wanita, anak-anak, orang tua, dan para pejuang yang terlibat dalam peperangan.Padahal Rasulullah ﷺ pernah melewati seorang wanita yang terbunuh pada waktu perang — hanya satu orang wanita saja — lalu beliau mengingkari perbuatan tersebut dan melarang pembunuhan terhadap wanita dan anak-anak.Karena itu para ulama fikih menyatakan:“Diharamkan membunuh wanita dan anak-anak selama mereka tidak ikut berperang.”Keenam belas: Khalid bin Al-Walid radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu termasuk orang yang ikut serta dalam Perang Hunain. Ketika itu beliau berada di garis depan, namun ia mengalami luka. Ketika Rasulullah ﷺ mengetahui hal itu, beliau segera menuju kemahnya untuk menanyakan keadaannya. Setelah menemukannya, beliau menanyakan kondisinya, melihat lukanya, dan mengobatinya.Padahal Rasulullah ﷺ memimpin pasukan yang besar, namun beliau tetap memeriksa keadaan para sahabatnya, menanyakan kabar mereka, dan memperhatikan mereka satu per satu.Kemudian Khalid — meskipun mengalami luka-luka — tetap ikut serta dalam Perang Thaif. Siapa pun yang membaca kisah ini akan merasa kagum melihat bagaimana Khalid radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu tetap melanjutkan perjalanan menuju Thaif dan turut serta dalam pengepungan kota tersebut. Ia tidak ingin kehilangan pahala jihad sedikit pun, meskipun ia mengalami luka yang sebenarnya bisa menjadi alasan baginya untuk tidak ikut.Hal ini mengingatkan kita pada peristiwa setelah salah satu peperangan, ketika Rasulullah ﷺ mengejar orang-orang kafir Quraisy hingga sampai di Hamrā’ al-Asad. Saat itu para sahabat radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhum juga mengalami luka yang besar, namun mereka tidak tertinggal dan tetap ikut bersama beliau. Tentang mereka turun firman Allah Ta‘ālā:ٱلَّذِينَ ٱسْتَجَابُوا۟ لِلَّهِ وَٱلرَّسُولِ مِنۢ بَعْدِ مَآ أَصَابَهُمُ ٱلْقَرْحُ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ مِنْهُمْ وَٱتَّقَوْا۟ أَجْرٌ عَظِيمٌ“(Yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan diantara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.” (QS. Ali Imran: 172)Ketujuh belas: Ketika Rasulullah ﷺ tidak mampu menaklukkan benteng Thaif, dikatakan kepada beliau, “Doakanlah kebinasaan bagi mereka.” Namun beliau justru mendoakan agar mereka mendapat hidayah dan tidak mendoakan keburukan bagi mereka. Inilah bentuk sempurna dari kasih sayang dan rahmat beliau ﷺ.Baca juga: Sudahlah Maafkanlah Dia Agar Allah Memaafkan KitaPadahal penduduk Thaif telah menyakiti Rasulullah ﷺ dan mengusir beliau ketika datang mengajak mereka kepada Allah. Bahkan mereka melempari beliau dengan batu. Namun demikian, beliau tetap mendoakan agar mereka mendapat hidayah, padahal mereka adalah musuh-musuh Allah. Hal ini menunjukkan besarnya rasa sayang dan kepedulian beliau ﷺ kepada umatnya.Allah pun mengabulkan doa beliau. Setelah itu mereka datang dalam keadaan telah memeluk Islam tanpa melalui penderitaan atau kesulitan.Demikianlah seharusnya seorang muslim: ia menasihati karena Allah dan berusaha menjauhi sikap membalas dendam terhadap dirinya sendiri. Ia tidak mendoakan keburukan bagi orang yang memusuhinya, tetapi justru mendoakan agar musuhnya mendapat hidayah kepada Islam.Jika engkau berselisih dengan seseorang—baik orang dekat maupun jauh—maka yang lebih utama adalah mendoakan agar Allah memberinya hidayah. Dengan begitu engkau memperoleh pahala, mampu mengalahkan godaan setan, hawa nafsu, dan ego diri, serta kedudukanmu di sisi Allah akan terangkat. Perbuatan ini juga membersihkan hati dan memperbaiki batin. Namun sikap seperti ini sering kali jarang kita lakukan dalam banyak keadaan.Baca juga: Memaafkan Seperti Allah dengan Tetap MelupakanKedelapan belas: Jika ada seseorang yang berdalil dengan hadits ini ketika Rasulullah ﷺ diminta untuk mendoakan kebinasaan bagi kabilah Tsaqif, lalu beliau justru berkata:اللَّهُمَّ اهْدِ ثَقِيفًا“Ya Allah, berilah hidayah kepada Tsaqif.”Kemudian orang itu menyimpulkan bahwa tidak boleh mendoakan keburukan bagi orang kafir, karena Rasulullah ﷺ tidak mendoakan kebinasaan bagi Tsaqif dan malah mendoakan hidayah bagi mereka, serta tidak memenuhi permintaan sebagian sahabat—semoga Allah meridai mereka—yang meminta agar didoakan kebinasaan bagi mereka.Pendapat ini juga dikuatkan oleh hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata: Ath-Thufail bin ‘Amr datang bersama para sahabatnya dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kabilah Daus telah kafir dan menolak. Maka doakanlah kebinasaan bagi mereka.” Lalu dikatakan, “Binasalah Daus.” Namun Rasulullah ﷺ justru berdoa:اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا وَأْتِ بِهِمْ“Ya Allah, berilah hidayah kepada kabilah Daus dan datangkanlah mereka (kepada Islam).”Jawabannya adalah bahwa dalam Shahih Bukhari dan Muslim juga terdapat hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ pernah berdoa:اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ، وَاجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ سِنِينَ كَسِنِي يُوسُفَ“Ya Allah, perkeraslah hukuman-Mu atas kabilah Mudhar, dan jadikanlah bagi mereka tahun-tahun paceklik seperti tahun-tahun yang terjadi pada masa Nabi Yusuf.”Karena itu, yang benar adalah menggabungkan kedua jenis hadits tersebut. Imam Al-Bukhari memasukkan hadits tentang doa untuk kabilah Daus dalam Shahih-nya pada bab “Doa bagi orang-orang musyrik agar mendapatkan hidayah dan agar hati mereka dilunakkan.”Baca juga: Karamah Said bin Zaid yang Doanya Mustajab Hingga Seorang Wanita Zalim CelakaIbnu Hajar rahimahullah menjelaskan tentang judul bab tersebut: kata “liya’tilafahum” (agar hati mereka dilunakkan) menunjukkan bahwa Nabi ﷺ terkadang mendoakan keburukan bagi mereka dan terkadang mendoakan kebaikan bagi mereka. Keadaan pertama terjadi ketika kejahatan mereka semakin kuat dan gangguan mereka semakin besar. Adapun keadaan kedua adalah ketika diharapkan mereka akan mendapatkan hidayah dan hati mereka dapat dilunakkan, sebagaimana yang terjadi pada kisah kabilah Daus.Baca juga: Karamah Wali, Luar Biasanya Doa Sa’ad bin Abi WaqqashIbnu Al-Mulaqqin rahimahullah berkata: Nabi ﷺ sangat menyukai masuknya manusia ke dalam Islam. Karena itu beliau tidak tergesa-gesa mendoakan keburukan bagi mereka selama masih ada harapan mereka akan menerima Islam. Bahkan beliau mendoakan kebaikan bagi orang yang diharapkan mau menerima dakwah.Adapun terhadap orang yang tidak lagi diharapkan keislamannya dan dikhawatirkan bahaya serta kekuatannya, maka beliau mendoakan keburukan atasnya. Sebagaimana beliau pernah mendoakan agar mereka ditimpa tahun-tahun paceklik seperti masa Nabi Yusuf. Beliau juga mendoakan keburukan bagi para pemuka Quraisy karena banyaknya gangguan dan permusuhan mereka. Doa itu pun dikabulkan terhadap mereka, hingga mereka terbunuh dalam Perang Badar. Sebagaimana banyak pula orang yang dahulu beliau doakan agar mendapat hidayah, kemudian benar-benar masuk Islam.Hal ini memberi petunjuk kepada kita tentang satu prinsip penting dalam memahami sirah Nabi ﷺ. Agar kita dapat mengambil pelajaran yang benar dari peristiwa-peristiwa dalam sirah, kita perlu mengumpulkan berbagai kejadian, membandingkannya satu sama lain, lalu mengambil kesimpulan dari keseluruhannya.Sebab, sebagian peristiwa bisa saja berkaitan dengan keadaan tertentu, sementara yang lain berkaitan dengan keadaan yang berbeda. Ada yang bersifat khusus dan ada yang bersifat umum. Ada pula yang terjadi lebih dahulu dan ada yang terjadi kemudian, dan seterusnya.Kesembilan belas: Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang hikmah ditundanya penaklukan Thaif:Hikmah Ilahi menghendaki agar penaklukan itu ditunda secara sengaja supaya mereka tidak langsung dibinasakan dengan peperangan. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa ketika Nabi ﷺ keluar dari Thaif—setelah beliau mengajak mereka kepada Allah dan meminta perlindungan agar dapat menyampaikan risalah Rabbnya—peristiwa itu terjadi setelah wafatnya pamannya, Abu Thalib. Namun mereka justru menolak dan mendustakan beliau.Beliau pun kembali dalam keadaan sangat sedih. Beliau tidak dapat beristirahat kecuali ketika sampai di Qarn Ats-Tsa‘alib. Di sana beliau diliputi awan. Kemudian Jibril memanggilnya bersama malaikat penjaga gunung. Malaikat itu berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Rabbmu menyampaikan salam kepadamu. Dia telah mendengar ucapan kaummu kepadamu dan bagaimana mereka menolakmu. Jika engkau menghendaki, aku akan menimpakan kepada mereka dua gunung ini.”Namun Rasulullah ﷺ menjawab, “Tidak. Aku berharap semoga Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”Ucapan beliau ini menunjukkan bahwa beliau berharap benteng mereka tidak dibuka saat itu sehingga mereka tidak dibinasakan. Penaklukan itu ditunda agar mereka datang kemudian dalam keadaan telah memeluk Islam, yaitu pada bulan Ramadhan pada tahun berikutnya.Kedua puluh: Asy-Syami rahimahullah menjelaskan hikmah pemberian harta kepada orang-orang yang dilunakkan hatinya (al-mu’allafatu qulubuhum).Baca juga: Hukum Zakat untuk Non-Muslim: Bolehkah Disalurkan?Hikmah Allah Ta’ala menghendaki bahwa harta rampasan dari orang-orang kafir—setelah diperoleh—dibagikan kepada orang-orang yang iman belum benar-benar kokoh di dalam hati mereka. Hal ini dilakukan karena tabiat manusia memang mencintai harta. Dengan pemberian tersebut, hati mereka menjadi tenang dan kecintaan mereka terhadap Islam semakin kuat.Karena itulah Rasulullah ﷺ memberikan bagian yang besar kepada orang-orang yang baru masuk Islam atau kepada orang yang diharapkan akan masuk Islam. Sementara sebagian tokoh kaum Muhajirin dan pemimpin kaum Anshar tidak diberi bagian dari pemberian tersebut, meskipun mereka juga berhak mendapatkannya. Hal itu karena iman mereka sudah kuat dan tidak membutuhkan penguatan melalui pemberian harta.Jika mereka diberi bagian sebagaimana para mu’allaf itu, maka dikhawatirkan hati orang-orang yang baru masuk Islam tidak akan tertarik. Padahal pemberian tersebut bertujuan agar mereka semakin mantap dalam Islam dan agar orang lain mengikuti mereka untuk masuk Islam. Maka pemberian itu merupakan kemaslahatan yang besar.Kedua puluh satu: Dari peristiwa ini kita juga dapat mengambil pelajaran tentang ketajaman pandangan Rasulullah ﷺ dan kedalaman pemahaman beliau terhadap tabiat manusia serta hal-hal yang dapat memperbaikinya.Beliau memberikan hadiah-hadiah yang besar dan pemberian yang melimpah kepada orang-orang yang sebelumnya memusuhi beliau dan masih belum memeluk Islam. Beliau juga memberikan hadiah kepada orang-orang yang ingin beliau lunakkan hatinya agar mereka mendapat hidayah dan memeluk Islam.Baca juga: 21 Faedah tentang HadiahHasilnya pun sesuai dengan yang diharapkan oleh Rasulullah ﷺ. Orang-orang yang diberi pemberian itu akhirnya masuk Islam dan menjadi baik keislamannya. Bahkan mereka kemudian menjadi pembela Islam yang jujur dan kuat.Upaya melunakkan hati dengan harta tidak hanya dilakukan oleh pemimpin negara. Individu pun dapat melakukannya. Misalnya pemilik usaha yang memiliki pekerja nonmuslim, atau seseorang yang memiliki pembantu, sopir, atau pegawai yang belum masuk Islam. Ia dapat berusaha melunakkan hati mereka melalui kebaikan dan pemberian. Sebab manusia secara tabiat mencintai orang yang berbuat baik kepadanya. Jika seseorang mencintai orang lain, ia akan senang memenuhi keinginannya dan membuatnya bahagia. Karena itu ketika orang tersebut mengajaknya kepada Islam, ia akan lebih cepat menerima ajakan tersebut.Kedua puluh dua: Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu termasuk orang yang baru masuk Islam. Rasulullah ﷺ pernah memberinya seratus ekor unta. Lalu ia meminta lagi, maka Rasulullah ﷺ memberinya. Ia meminta lagi, lalu Rasulullah ﷺ kembali memberinya.Kemudian tertanam dalam hatinya kecintaan yang besar kepada Rasulullah ﷺ. Hal ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ mengajarinya pelajaran tentang harta dengan cara yang sangat tepat dan menyentuh hatinya.Setelah itu, Hakim bersumpah kepada Rasulullah ﷺ bahwa ia tidak akan lagi mengambil harta dari siapa pun setelah hari itu. Artinya, ia tidak akan menerima pemberian dari siapa pun setelahnya, bahkan meskipun pemberian itu banyak.Ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu memanggilnya setelah wafatnya Rasulullah ﷺ untuk memberinya bagian, ia menolak. Demikian pula ketika Umar radhiyallahu ‘anhu memanggilnya setelah itu, ia tetap menolak. Ia pun menjalani sisa hidupnya dengan sikap tersebut, hingga wafat pada masa Mu‘awiyah, tetap berpegang pada janjinya kepada Nabi ﷺ.Sungguh menakjubkan keadaan sahabat ini. Awalnya ia terus meminta kepada Rasulullah ﷺ berkali-kali, bahkan dengan desakan. Namun setelah itu, ia berubah total hingga tidak mau mengambil apa pun, meskipun diberi dalam jumlah besar.Dalam kisah ini tampak betapa agungnya sahabat tersebut, dan betapa teguhnya ia memegang prinsip. Sejak Fathu Makkah hingga beberapa tahun di masa Mu‘awiyah—lebih dari tiga puluh tahun—ia tetap konsisten tidak mengambil harta dari siapa pun.Baca juga: Memahami Arti Zuhud yang SebenarnyaDalam kisah ini juga terlihat bagaimana Rasulullah ﷺ memilih waktu yang tepat untuk memberikan nasihat. Beliau menasihati Hakim setelah memberinya beberapa kali, sehingga nasihat itu benar-benar berpengaruh dalam dirinya. Kepribadiannya berubah, dan cara pandangnya terhadap dunia pun berbeda dari sebelumnya.Jika nasihat itu disampaikan sebelum ia diberi, kemungkinan besar tidak akan memberikan pengaruh seperti setelah ia merasakan pemberian tersebut.Dalam kisah ini juga terdapat penjelasan bahwa dunia itu manis dan menipu. Siapa yang menjadikannya sebagai tujuan utama, ia tidak akan pernah merasa puas, meskipun telah mendapatkan banyak.Hal ini nyata dalam kehidupan sebagian orang. Meskipun harta mereka banyak, mereka tetap merasa kurang.Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ، وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ. وَقَالَ لَنَا أَبُو الْوَلِيدِ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ، عَنْ أُبَيٍّ، قَالَ: كُنَّا نَرَى هَذَا مِنَ الْقُرْآنِ، حَتَّى نَزَلَتْ: أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ“Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin memiliki dua lembah. Dan tidak ada yang dapat memenuhi mulutnya kecuali tanah. Namun Allah menerima tobat orang yang bertobat.”Abu Al-Walid berkata kepada kami: telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, dari Tsabit, dari Anas, dari Ubay bin Ka‘ab, ia berkata: dahulu kami menganggap perkataan ini termasuk bagian dari Al-Qur’an, hingga turun firman Allah: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.” (QS. At-Takatsur: 1) (HR. Bukhari, no. 6439 dan Muslim, no. 1048)Adapun nasihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Hakim bin Hizam, kata Hakim:سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَعْطَانِي، ثُمَّ سَأَلْتُهُ فَأَعْطَانِي، ثُمَّ قَالَ لِي: يَا حَكِيمُ، إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرٌ حُلْوٌ، فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ، وَكَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ، وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى. قَالَ حَكِيمٌ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَا أَرْزَأُ أَحَدًا بَعْدَكَ شَيْئًا حَتَّى أُفَارِقَ الدُّنْيَا. فَكَانَ أَبُو بَكْرٍ يَدْعُو حَكِيمًا لِيُعْطِيَهُ الْعَطَاءَ فَيَأْبَى أَنْ يَقْبَلَ مِنْهُ شَيْئًا، ثُمَّ إِنَّ عُمَرَ دَعَاهُ لِيُعْطِيَهُ فَأَبَى أَنْ يَقْبَلَ، فَقَالَ: يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ، إِنِّي أَعْرِضُ عَلَيْهِ حَقَّهُ الَّذِي قَسَمَ اللَّهُ لَهُ مِنْ هَذَا الْفَيْءِ فَيَأْبَى أَنْ يَأْخُذَهُ. فَلَمْ يَرْزَأْ حَكِيمٌ أَحَدًا مِنَ النَّاسِ شَيْئًا بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى تُوُفِّيَ.Aku pernah meminta kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau memberiku. Kemudian aku meminta lagi, dan beliau pun memberiku. Lalu beliau berkata kepadaku:“Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini itu hijau lagi manis. Siapa yang mengambilnya dengan jiwa yang lapang (tidak tamak), maka harta itu akan diberkahi baginya. Namun siapa yang mengambilnya dengan penuh ambisi dan ketamakan, maka tidak ada keberkahan baginya. Ia seperti orang yang makan, tetapi tidak pernah merasa kenyang. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”Hakim berkata: Aku pun berkata, “Wahai Rasulullah, demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan meminta sesuatu pun dari siapa pun setelah engkau hingga aku meninggal dunia.”Setelah itu, Abu Bakar pernah memanggil Hakim untuk memberinya bagian harta, namun ia menolak untuk menerimanya. Kemudian Umar juga memanggilnya untuk memberinya, tetapi ia tetap menolak. Maka Umar berkata, “Wahai kaum Muslimin, aku menawarkan kepadanya hak yang telah Allah tetapkan baginya dari harta fai’, tetapi ia menolak untuk mengambilnya.”Sejak wafatnya Nabi ﷺ, Hakim tidak pernah meminta apa pun kepada manusia hingga ia meninggal dunia. (HR. Bukhari, no. 3143)Sikap lapang terhadap harta menjadi sebab datangnya keberkahan, sedangkan kerakusan menjadi sebab hilangnya keberkahan.Diketahui bahwa harta yang sedikit tetapi diberkahi lebih baik daripada harta yang banyak namun tidak berkah. Karena tujuan bukan sekadar banyaknya harta, tetapi bagaimana harta itu membawa kebahagiaan.Harta pada hakikatnya hanyalah sarana, bukan tujuan. Ia tidak bisa dimakan, diminum, atau dimanfaatkan secara langsung. Seandainya seseorang berada di padang pasir dengan membawa harta yang banyak, tetapi tidak memiliki makanan, ia tetap akan mati karena lapar dan haus.Baca juga: Perkataan Ibnu Taimiyah, Sedikit Tetapi Halal Pasti Bawa BerkahJika harta tidak diberkahi, maka seseorang tidak akan bisa merasakan manfaatnya. Bisa jadi ia jatuh sakit sehingga hartanya habis untuk pengobatan, atau tidak mampu menikmati apa yang diinginkannya. Bahkan harta itu bisa menjadi sumber kegelisahan, karena ia takut kehilangan atau khawatir dicuri.Karena itu, rasa cukup terhadap yang sedikit menjadi sebab datangnya keberkahan dan manfaat. Jika Allah memberkahi harta seseorang, maka tidak ada batas bagi keberkahannya.Kedua puluh tiga: Jika kita melihat keseluruhan pemberian Rasulullah ﷺ pada Perang Hunain, kita akan dapati bahwa beliau memberikan kepada para pembesar kaum yang baru dilunakkan hatinya (muallafatu qulubuhum), padahal mereka adalah orang-orang kaya. Rasulullah ﷺ memberi mereka bukan karena kebutuhan mereka terhadap harta, tetapi demi kemaslahatan Islam, yaitu untuk melunakkan hati mereka agar menerima agama ini.Jika mereka telah masuk Islam, maka diharapkan orang-orang di belakang mereka akan ikut masuk Islam. Karena itu, pemberian demi maslahat lebih didahulukan daripada pemberian karena kebutuhan. Menyelamatkan manusia dari neraka lebih didahulukan daripada sekadar mengenyangkan perut orang fakir. Ini adalah kaidah penting dalam kehidupan, bahwa maslahat umum bagi Islam didahulukan daripada maslahat pribadi.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: Ketika Perang Hunain, Nabi ﷺ membagi harta rampasan kepada orang-orang yang dilunakkan hatinya (muallafatu qulubuhum), seperti para pembesar dari Najd dan para tokoh Quraisy yang baru dibebaskan, seperti ‘Uyainah bin Hishn, Al-Aqra‘ bin Habis, dan yang semisal mereka. Juga kepada Suhail bin ‘Amr, Shafwan bin Umayyah, ‘Ikrimah bin Abu Jahl, Abu Sufyan bin Harb, serta Mu‘awiyah bin Abu Sufyan dan yang semisal mereka dari kalangan orang-orang yang baru masuk Islam.Mereka adalah orang-orang yang dibebaskan pada hari Fathu Makkah. Rasulullah ﷺ tidak memberikan apa pun kepada kaum Muhajirin dan Anshar. Beliau memberikan kepada mereka untuk melunakkan hati mereka agar tetap berada di atas Islam, dan karena itu menjadi maslahat umum bagi kaum Muslimin.Adapun orang-orang yang tidak diberi, mereka justru lebih utama di sisi beliau. Mereka adalah para wali Allah yang bertakwa dan hamba-hamba-Nya yang saleh, setelah para nabi dan rasul. Sedangkan orang-orang yang diberi, sebagian dari mereka ada yang kemudian murtad sebelum wafatnya Nabi ﷺ, sementara yang lain tetap hidup dalam keadaan kaya, bukan orang-orang fakir.Seandainya pemberian itu didasarkan pada kebutuhan semata, tentu Nabi ﷺ akan memberikan kepada para Muhajirin dan Anshar, yang lebih membutuhkan dan lebih utama. Namun karena pertimbangan maslahat umum lebih didahulukan daripada kebutuhan pribadi, maka pemberian diberikan kepada para pembesar yang baru masuk Islam tersebut.Baca juga: Berapa Jumlah Para Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?Kedua puluh empat: Keberhasilan dalam memenangkan orang yang berbeda (pendapat) itulah keberhasilan yang sejati. Inilah hakikat seni dalam berdakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Adapun memenangkan orang yang sudah sepakat, itu bukan sesuatu yang baru.Keberhasilan dalam dakwah adalah ketika orang yang awalnya membencimu, membenci dakwahmu, atau membenci agama yang engkau serukan, tidak beranjak darimu kecuali setelah agama yang engkau ajarkan menjadi agama yang paling ia cintai. Dan engkau pun menjadi orang yang paling ia cintai.Inilah yang kita lihat dalam sirah Nabi ﷺ. Beliau mampu menaklukkan hati manusia dan mengubah mereka dari musuh menjadi penolong. Ada orang kafir yang datang kepada Rasulullah ﷺ dalam keadaan sangat membencinya dan bahkan ingin membunuhnya. Namun setelah duduk bersamanya, kebencian itu berubah menjadi cinta kepada Rasulullah ﷺ.Hal ini terjadi pada sejumlah sahabat, seperti ‘Amr bin Al-‘Ash, Hakim bin Hizam, ‘Umair bin Wahb Al-Jumahi, dan ‘Adi bin Hatim Ath-Tha’i radhiyallahu ‘anhum. Mereka datang kepada Rasulullah ﷺ, sebagian di antara mereka bahkan ingin membunuh beliau, namun akhirnya pulang dalam keadaan Muslim. Bahkan mereka mengucapkan syahadat tauhid di majelis beliau sebelum bangkit dari tempat duduknya. Kebencian yang sebelumnya begitu kuat berubah menjadi cinta yang mendalam.Sebagian dari mereka datang karena urusan dunia, tetapi ketika pulang, mereka telah merendahkan dunia, memahami nilainya, dan bahkan bersumpah tidak akan meminta apa pun kepada manusia.Ini adalah pelajaran dalam berdakwah kepada Allah: kunci keberhasilannya adalah memenangkan hati manusia dan berbuat baik kepada orang yang berbeda dengan kita, apa pun bentuk perbedaannya.Sebaliknya, sebagian orang justru menjadikan perbedaan sebagai sebab buruknya sikap. Akibatnya, perbedaan itu berubah menjadi permusuhan yang semakin mengakar. Alih-alih memenangkan hati orang yang berbeda, justru semakin memperlebar jurang perbedaan dan menambah jarak di antara mereka. Ini bukanlah sikap seorang dai yang berhasil. Hanya Allah yang memberi taufik.Kedua puluh lima: Di dunia ini banyak orang yang digiring kepada kebenaran bukan karena pemahaman akal mereka, tetapi karena tertarik secara perlahan. Sebagaimana hewan ternak digiring dengan segenggam rumput hingga masuk ke kandangnya, demikian pula sebagian manusia membutuhkan pendekatan dan strategi agar hati mereka menjadi tenang dengan iman dan merasa nyaman dengannya. (Muhammad Al-Ghazali dalam Fiqh As-Sirah, hlm. 394).Kedua puluh enam: Allah Ta‘ala berfirman,ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ (٢٦) ثُمَّ يَتُوبُ اللَّهُ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (٢٧)“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin, serta menurunkan bala tentara yang tidak kamu lihat, dan Dia mengazab orang-orang kafir. Itulah balasan bagi orang-orang kafir. Kemudian Allah menerima tobat setelah itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 26–27)Ath-Thahir bin ‘Asyur rahimahullah berkata tentang firman Allah Ta‘ala:ثُمَّ يَتُوبُ اللَّهُ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Kemudian Allah menerima tobat setelah itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Ini merupakan isyarat kepada masuk Islamnya kaum Hawazin setelah kekalahan tersebut. Mereka kemudian datang kepada Rasulullah ﷺ dalam keadaan telah menjadi Muslim dan bertobat.Kedua puluh tujuh: Ghanimah (harta rampasan perang) bukanlah tujuan utama dari jihad, tetapi yang lebih Allah cintai adalah masuknya manusia ke dalam Islam. Karena itu, Rasulullah ﷺ menunda pembagian ghanimah perang Hunain dengan harapan kaum Hawazin akan kembali kepada Islam. Beliau menunggu di Ji‘ranah selama sekitar dua puluh hari, dan itu adalah waktu yang cukup bagi para pemimpin Hawazin untuk berpikir, kembali kepada kebenaran, masuk Islam, serta meminta kembali harta, anak-anak, dan wanita mereka. Namun ketika mereka terlambat, sementara menunggu lebih lama lagi akan memberatkan pasukan tanpa ada harapan jelas, maka Rasulullah ﷺ pun membagikan harta tersebut.Meski demikian, ketika kaum Hawazin datang setelah pembagian itu, Rasulullah ﷺ menyambut mereka dengan gembira dan memberitahu bahwa beliau telah menunggu mereka. Namun karena keluarga dan harta mereka sudah terlanjur berpindah tangan kepada kaum muslimin, beliau memberi mereka pilihan antara mengambil kembali keluarga mereka atau harta mereka. Kemudian beliau membantu mereka dalam cara mendapatkan kembali apa yang telah dibagikan, bahkan beliau sendiri bersama Bani ‘Abdul Muththalib menjadi orang pertama yang mempraktikkan pengembalian tersebut.Para sahabat yang mulia radhiyallahu ‘anhum tidaklah menyelisihi Rasulullah ﷺ dalam hal ini. Mereka mengikuti beliau dengan mengembalikan apa yang ada pada mereka. Namun sebagian orang Arab Badui tidak mengikuti hal tersebut, sehingga Rasulullah ﷺ menebus bagian mereka dan memerintahkan agar seluruh tawanan wanita dan anak-anak dikembalikan kepada Hawazin.Siapa yang memahami sejarah, pasti akan teringat bagaimana perlakuan penduduk Thaif terhadap Rasulullah ﷺ ketika beliau datang kepada mereka—tidak ada yang bersamanya kecuali Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu—mereka melempari beliau dengan batu dan mengejeknya. Namun setelah Allah menaklukkan Makkah dan kaum muslimin menang atas mereka, beliau justru bersikap lembut, pemaaf, dan mulia. Semua yang beliau lakukan adalah demi kemaslahatan Islam dan penyebarannya, dan beliau tidak pernah membalas untuk kepentingan pribadi sama sekali.Inilah akhlak seorang muslim sejati. Ia menjauh dari sikap egois, permusuhan, dan perselisihan dengan orang lain, serta tidak sibuk mencari-cari kesalahan mereka. Prinsipnya adalah kelapangan dada, pemaafan, perbaikan hubungan, dan bersatu di atas kemaslahatan agama ini serta meninggikan kalimat Allah. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita yang telah lalu. Kedua puluh delapan: Termasuk inisiatif Rasulullah ﷺ dalam mengembalikan apa yang beliau miliki dan apa yang ada di tangan beliau dari harta rampasan kepada Bani ‘Abdil Muththalib dari tawanan perang Hawazin. Dari sini diambil teladan dalam berdakwah kepada Allah. Rasulullah ﷺ memulai sendiri dengan mengembalikan tawanan, agar beliau menjadi contoh dan diikuti oleh yang lain dalam mengembalikan apa yang ada di tangan mereka kepada Hawazin.Kedua puluh sembilan: Dari ucapan Dzul Khuwaishirah, kita mengetahui sejauh mana keburukan orang ini dan orang-orang semisalnya, serta besarnya kejahatan dan kesesatan mereka. Ia berani berbicara kepada Rasulullah ﷺ dengan ucapan yang menunjukkan keburukan hati, rusaknya keyakinan, kebodohan yang parah, dan sikap kasar dalam berinteraksi. Ia tidak memahami nash-nash, tidak mengenal hak Rasulullah ﷺ, serta berani berpendapat berdasarkan kebodohan, kebencian, kekerasan, dan kedengkian. Kita berlindung kepada Allah dari hal seperti ini.Ketiga puluh: Diambil pula pelajaran untuk mewaspadai sikap berlebihan dalam agama. Orang ini terdorong oleh sikap berlebihannya hingga keluar dari agama yang benar. Ia datang dengan mengaku berserah diri kepada Allah dan Rasul-Nya, namun justru membantah Rasulullah ﷺ dan menuntut keadilan dari beliau, serta menjadikan akal dan hawa nafsunya sebagai penentu makna keadilan. Ia telah menyimpang dari jalan mencari petunjuk.Keselamatan dari sikap berlebihan adalah dengan berpegang teguh pada nash-nash, memuliakan dan menghormatinya, berhenti pada batas-batasnya, serta mengagungkan Rasulullah ﷺ dan ajaran yang beliau bawa. Juga dengan mengetahui kedudukan para salaf dan pemahaman mereka, serta menempatkan para ulama pada posisi yang layak dan mengetahui hak-hak mereka. Inilah jalan yang aman dari penyimpangan. Adapun bersandar pada akal semata dan merendahkan para ulama, maka itu adalah penyimpangan dalam manhaj yang pasti akan menyeret kepada sikap berlebihan dalam agama, yang pada akhirnya membawa kepada kebinasaan, sebagaimana yang dilakukan oleh Dzul Khuwaishirah.Penyimpangan ini berawal dari sebuah ide kecil di dalam pikiran, lalu berkembang hingga berubah menjadi perilaku yang buruk, merusak yang hijau dan yang kering, serta membinasakan tanaman dan manusia. Kita berlindung kepada Allah.Kelompok seperti ini telah memberikan dampak buruk yang besar terhadap Islam dan kaum Muslimin sepanjang sejarah. Mereka telah menghalangi banyak orang untuk masuk Islam, dan memberi peluang kepada musuh untuk menjelekkan Islam dan kaum Muslimin.Ketiga puluh satu: dari kisah Dzul Khuwaishirah, kita mengambil pelajaran tentang kesabaran Rasulullah ﷺ dan kelembutan beliau terhadap orang-orang Arab Badui yang kasar dan keras. Beliau menahan diri terhadap ucapan yang dikatakan kepadanya secara terang-terangan di hadapan manusia, padahal saat itu beliau sedang membagi harta rampasan dalam jumlah besar. Beliau tidak menyisakan sedikit pun untuk dirinya sendiri. Tujuan beliau hanyalah melunakkan hati manusia agar mereka menerima agama ini. Namun orang Arab Badui itu justru datang dan menuduh beliau tidak adil dalam pembagian.Meski demikian, Rasulullah ﷺ tidak membalasnya. Bahkan beliau memberitahukan kepada manusia sebagai tanda dan bukti kenabian bahwa akan muncul dari keturunan orang ini orang-orang yang keluar dari Islam. Beliau memperingatkan umatnya dari mereka, sekaligus mengajarkan bagaimana cara menyikapi mereka.Ketiga puluh dua: dengan memperhatikan hal di atas, kita dapati bahwa Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah menukil pendapat salah satu ulama yang berkata (dan sebagian guru kami berkata): “Pembagian ini hanyalah untuk mencari ridha Allah.” Adapun ucapannya, “Berlaku adillah,” maka Nabi ﷺ tidak memahaminya sebagai bentuk celaan dan tuduhan terhadap beliau. Namun beliau memandangnya sebagai kesalahan dalam berpendapat dan dalam urusan dunia, serta sebagai ijtihad dalam hal kemaslahatan menurut pandangan orang tersebut, meskipun keliru. Maka beliau tidak melihatnya sebagai kejahatan yang harus dibalas, tetapi sebagai gangguan yang layak dimaafkan dan disikapi dengan kesabaran. Karena itu, beliau tidak menghukumnya.Setelah menyebutkan beberapa pendapat, ia berkata: “Pendapat yang paling kuat dari sisi ini adalah bahwa hal tersebut dilakukan untuk tujuan melunakkan hati (isti’laf) dan bersikap bijak dalam mengajak manusia kepada agama agar mereka beriman.”Ketiga puluh tiga:  Termasuk sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Umar ketika ia meminta izin untuk membunuh seorang munafik. Maka beliau bersabda:«مَعَاذَ اللَّهِ أَنْ يَتَحَدَّثَ النَّاسُ أَنِّي أَقْتُلُ أَصْحَابِي»“Semoga Allah melindungi (aku) dari anggapan manusia bahwa aku membunuh para sahabatku.”Hal ini menunjukkan disyariatkannya menjaga kehormatan diri dan tidak membuka peluang tuduhan dari orang lain. Diriwayatkan pula:«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يَقِفْ مَوَاقِفَ التُّهَمِ»“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia menempatkan dirinya pada posisi yang menimbulkan tuduhan.” (Lihat Az-Zamakhsyari, Al-Kasyaf 3: 273)Karena itu, seorang Muslim hendaknya menjaga kehormatannya agar tidak menjadi bahan pembicaraan manusia. Ini termasuk bentuk perhatian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar tidak memberi peluang bagi orang lain untuk membicarakan keburukan dalam agama ini, sekaligus menerapkan kaidah:دَرْءُ الْمَفْسَدَةِ مُقَدَّمٌ عَلَىٰ جَلْبِ الْمَصْلَحَةِ“Menolak kerusakan didahulukan daripada menarik kemaslahatan.”Sebab, kerusakan yang timbul dari membunuh orang tersebut lebih besar daripada maslahat yang diharapkan dari pembunuhannya. Di antaranya, manusia akan membicarakan bahwa beliau membunuh para sahabatnya, padahal hakikat orang tersebut tidak tampak bagi kebanyakan manusia. Wallahu a‘lam.Ketiga puluh empat: Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah berkata: Ditanyakan kepada Imam Malik rahimahullah tentang orang zindiq. Ia menjawab: Orang-orang munafik pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekafiran, dan itulah yang disebut zindiq menurut kami saat ini.Lalu dikatakan kepada Imam Malik: Mengapa zindiq tidak dibunuh, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membunuh orang-orang munafik meskipun beliau mengetahui mereka? Maka beliau menjawab: Seandainya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membunuh mereka padahal mereka menampakkan keimanan, tentu hal itu akan menjadi sebab orang-orang berkata bahwa beliau membunuh mereka karena kedengkian atau sebab lainnya. Akibatnya, orang-orang akan enggan masuk Islam. Inilah makna sabda beliau. (Ibnu ‘Abdil Barr, 10: 154, dalam Ath-Thab’ah Al-Maghribiyyah)Hal ini juga dikuatkan oleh hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Ia berkata: Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dinding (Hijr Ismail), apakah ia termasuk bagian dari Ka‘bah? Beliau menjawab: “Ya.” Aku bertanya: Mengapa mereka tidak memasukkannya ke dalam bangunan Ka‘bah? Beliau menjawab:«إِنَّ قَوْمَكِ قَصُرَتْ بِهِمُ النَّفَقَةُ»“Sesungguhnya kaummu kekurangan biaya.”Aku bertanya: Mengapa pintunya dibuat tinggi? Beliau menjawab:«فَعَلَ ذَلِكِ قَوْمُكِ لِيُدْخِلُوا مَنْ شَاءُوا وَيَمْنَعُوا مَنْ شَاءُوا، وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمَكِ حَدِيثُو عَهْدٍ بِالْجَاهِلِيَّةِ، فَأَخَافُ أَنْ تُنْكِرَ قُلُوبُهُمْ، لَأَدْخَلْتُ الْجِدْرَ فِي الْبَيْتِ، وَلَأَلْصَقْتُ بَابَهُ بِالْأَرْضِ»“Mereka melakukan itu agar bisa memasukkan siapa yang mereka kehendaki dan melarang siapa yang mereka kehendaki. Seandainya kaummu tidak baru saja meninggalkan masa jahiliah, dan aku khawatir hati mereka akan mengingkarinya, niscaya aku akan memasukkan dinding itu ke dalam bangunan Ka‘bah dan menjadikan pintunya rata dengan tanah.”Maka hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ini menunjukkan bahwa beliau mempertimbangkan mafsadah berupa keluarnya orang dari agama, dan hadits tentang Dzul Khuwaishirah menunjukkan pertimbangan mafsadah berupa orang tidak mau masuk ke dalam agama. Ini termasuk pemahaman mendalam dalam politik syariat.Ketiga puluh lima: Tidak diberikannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagian ghanimah kepada kaum Anshar adalah karena kepercayaan beliau terhadap kuatnya iman mereka dan kelapangan jiwa mereka. Ini merupakan pujian besar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mereka. Beliau memberikan harta ghanimah kepada orang-orang yang beliau khawatirkan keimanan mereka masih lemah, atau untuk melunakkan hati mereka agar condong kepada Islam. Beliau bersabda kepada kaum Anshar:«أَلَا تَرْضَوْنَ أَنْ أَرْجِعَ النَّاسُ بِالشَّاةِ وَالْبَعِيرِ، وَتَرْجِعُوا أَنْتُمْ بِرَسُولِ اللَّهِ؟»“Tidakkah kalian ridha jika manusia pulang membawa kambing dan unta, sedangkan kalian pulang membawa Rasulullah?”Coba renungkan, bagaimana keadaan orang yang mendapatkan ucapan seperti ini? Sungguh kaum Anshar menangis. Mereka berhak untuk merasa bahagia dan bangga dengan pembagian ini, serta dengan kedudukan yang mereka miliki di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demi Allah, seandainya seseorang mendapatkan ucapan ini saja, itu sudah cukup menjadi kebahagiaan dan kegembiraan baginya, melebihi segala sesuatu yang dimiliki orang lain. Lalu bagaimana jika yang mereka dapatkan adalah kebahagiaan yang membuat mereka menangis karena gembira, sementara orang lain mendapatkan kambing dan unta, sedangkan kaum Anshar mendapatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?Ketiga puluh enam: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membiarkan mereka dalam kebingungan, bahkan beliau memberikan jawaban kepada mereka. Beliau bersabda:«أَمَا وَاللَّهِ لَوْ شِئْتُمْ لَقُلْتُمْ فَلَصَدَقْتُمْ وَلَصُدِّقْتُمْ: أَتَيْتَنَا مُكَذَّبًا فَصَدَّقْنَاكَ، وَمَخْذُولًا فَنَصَرْنَاكَ، وَطَرِيدًا فَآوَيْنَاكَ، وَعَائِلًا فَآسَيْنَاكَ»“Demi Allah, seandainya kalian mau, kalian bisa mengatakan—dan kalian benar serta akan dibenarkan—: ‘Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami membenarkanmu; engkau ditinggalkan, lalu kami menolongmu; engkau terusir, lalu kami melindungimu; dan engkau dalam keadaan kekurangan, lalu kami mencukupimu.’”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersemangat untuk menghilangkan segala keraguan atau ganjalan dalam hati mereka, dengan menjelaskan sebab mengapa beliau memberikan harta ghanimah kepada orang-orang yang ingin dilunakkan hatinya, bukan kepada kaum Anshar.Ketiga puluh tujuh: Dari khutbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum Anshar, diambil pelajaran tentang disyariatkannya berkhutbah dalam kondisi seperti ini. Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Dalam hal ini terdapat dalil tentang disyariatkannya khutbah ketika terjadi suatu peristiwa, baik bersifat khusus maupun umum.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkhutbah kepada kaum Anshar dengan khutbah yang sangat menyentuh. Belum pernah terdengar dalam bab menenangkan hati yang lebih indah daripada khutbah ini, karena di dalamnya terkumpul antara kebenaran, kejelasan, kelembutan, dan kasih sayang. Shalawat dan salam Allah senantiasa tercurah kepada beliau hingga hari kiamat.Ketiga puluh delapan: Dari khutbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum Anshar, diambil pelajaran tentang menghibur diri atas sesuatu dari dunia yang terlewat, dengan melihat balasan di akhirat yang akan diperoleh.Ketiga puluh sembilan: Di dalamnya terdapat keutamaan kaum Anshar, yaitu cepatnya mereka kembali kepada kebenaran dan menerima penjelasan, segera setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kepada mereka. Ini juga menunjukkan baiknya nasihat mereka, adab mereka dalam berbicara dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta kesiapan mereka menjawab ketika beliau mengajukan pertanyaan kepada mereka. Telah disebutkan sebelumnya ucapan sebagian ulama: “Kembali kepada kebenaran adalah bagian dari agama.” Maka seorang mukmin tidak sepatutnya merasa berat untuk kembali kepada kebenaran ketika telah jelas baginya.Keempat puluh: Di dalamnya terdapat penekanan pentingnya menghilangkan syubhat dari orang yang mengalami keraguan, baik itu perkara umum maupun khusus. Jika bersifat umum, maka penjelasannya bersifat umum; jika bersifat khusus, maka penjelasannya pun khusus.Tidak ada yang lebih indah daripada kejujuran dan keterbukaan untuk menghilangkan apa yang ada di dalam hati berupa ganjalan. Seandainya manusia saling terbuka dan menjelaskan sebagian sikap yang menimbulkan kekecewaan, niscaya banyak masalah akan selesai.Sebagian orang berkata: “Jika aku benar dalam tindakanku, aku tidak peduli dengan ucapan manusia.” Maka dikatakan kepadanya: Ini keliru. Bahkan engkau harus menjelaskan kepada manusia alasan di balik tindakanmu, menghilangkan keraguan yang ada pada mereka, serta menjelaskan sudut pandang dan landasan tindakanmu. Dengan itu, engkau menjaga kehormatanmu, memperbaiki hati-hati manusia, dan mencegah prasangka buruk di tengah masyarakat.Keterbukaan seperti ini telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau berkhutbah kepada kaum Anshar dalam khutbah yang agung tersebut. Juga dicontohkan oleh Sa‘d bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu ketika ia menyampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pandangan kaum Anshar dan apa yang mereka rasakan.Di dalamnya juga terdapat pelajaran bahwa pendapat para pemuda tidaklah sama dengan pendapat para tokoh yang lebih tua. Telah diketahui bahwa umumnya pendapat orang yang lebih tua lebih matang dalam ilmu, amal, pengalaman, dan ketakwaan dibandingkan pendapat para pemuda.Keempat puluh satu: Dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:«إِنَّ قُرَيْشًا حَدِيثُ عَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ وَمَعْصِيَةٍ، وَإِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَجْبُرَهُمْ وَأَتَأَلَّفَهُمْ»“Sesungguhnya Quraisy baru saja meninggalkan masa jahiliah dan kemaksiatan, dan aku ingin menguatkan serta melunakkan hati mereka.”Terdapat pelajaran besar dalam upaya menarik hati manusia serta mempertimbangkan kondisi jiwa mereka. Sesungguhnya kaum Quraisy mengalami guncangan besar dengan peristiwa penaklukan Makkah. Meskipun itu merupakan nikmat terbesar bagi mereka, dalam pandangan mereka hal itu terasa berat karena runtuhnya kebesaran dan kekuasaan mereka, serta terpecahnya tokoh-tokoh mereka yang tetap berada dalam kesyirikan.Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin mengobati keguncangan tersebut dan meringankan beban yang mereka rasakan dengan memberikan harta, agar hati mereka menjadi tenang. Ini merupakan tuntunan yang seharusnya diperhatikan dalam memperbaiki jiwa yang terluka, meskipun dengan harta, serta berusaha meringankan beban mereka. Ini adalah akhlak Islam yang tinggi, yang tidak akan dipahami kecuali oleh orang yang memiliki bagian besar dari kebaikan.Keempat puluh dua: Seseorang berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Engkau telah memberi kepada ‘Uyainah dan Al-Aqra‘, sedangkan aku ditinggalkan, padahal aku lebih baik dari mereka.” Ia bermaksud mengingatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dirinya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan jawaban agung, yang menunjukkan bahwa beliau tidak merasa iri kepada siapa pun dalam perkara dunia, melainkan mengarahkan pandangan kepada Allah dan mencari kedudukan di sisi-Nya. Perhatikanlah jawaban beliau yang jujur lagi benar:«أَمَا وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَجَبِيلُ بْنُ سُرَاقَةَ خَيْرٌ مِنْ طِلَاعِ الْأَرْضِ كُلِّهِمْ مِثْلَ عُيَيْنَةَ بْنِ حِصْنٍ وَالْأَقْرَعِ بْنِ حَابِسٍ، وَلَكِنِّي أُؤَلِّفُهُمَا لِيُسْلِمَا، وَوَكَلْتُكَ إِلَى إِسْلَامِكَ»“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh Jabil bin Suraqah lebih baik daripada seluruh penduduk bumi seperti ‘Uyainah bin Hishn dan Al-Aqra‘ bin Habis. Akan tetapi aku memberi kepada mereka berdua untuk melunakkan hati mereka agar masuk Islam, sedangkan aku menyerahkanmu kepada keislamanmu.”Maka janganlah engkau tertipu oleh kedudukan dunia dan jabatan, karena itu hanyalah tipuan yang akan diikuti penyesalan. Mintalah kedudukan di sisi Allah Yang Maha Mulia. Betapa banyak di antara kita orang yang lebih baik daripada kebanyakan manusia, namun tidak mendapatkan kedudukan dunia, karena ia selamat dari fitnah jabatan.Kemudian sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini juga menunjukkan bahwa hal tersebut tidak khusus untuk kaum Anshar saja, tetapi berlaku bagi siapa saja yang kuat imannya. Termasuk di dalamnya sahabat tersebut yang disebutkan, radhiyallahu ‘anhu.Keempat puluh tiga: Dalam janji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Malik bin ‘Auf An-Nadhri, bahwa jika ia datang sebagai seorang Muslim, maka beliau akan mengembalikan keluarganya, hartanya, dan memberinya seratus ekor unta, terdapat dua pelajaran:Pertama: Tujuan utama jihad adalah masuknya manusia ke dalam Islam, bukan semata-mata harta rampasan dan keuntungan materi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan kepada pemimpin Thaif tersebut bahwa jika ia masuk Islam, maka keluarganya dan hartanya akan dikembalikan, serta diberikan tambahan berupa seratus ekor unta sebagai bentuk penghargaan dan dorongan agar ia masuk Islam. Ini menunjukkan besarnya perhatian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap keislaman seseorang, serta tidak adanya keinginan untuk menawan keluarganya atau merampas hartanya.Kedua: Ini merupakan metode dakwah yang agung yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menarik hati tokoh-tokoh besar, serta metode melunakkan hati. Hal ini tampak jelas dalam peristiwa Hunain, ketika beliau memberikan pemberian besar kepada para pemimpin Arab agar hati mereka condong kepada Islam, sehingga mereka masuk Islam dan kaum mereka pun mengikuti.Karena itu, seseorang hendaknya memperhatikan cara-cara pemberian yang dilakukan oleh pemimpin atau tokoh masyarakat dalam rangka mewujudkan kemaslahatan umum bagi kaum Muslimin, dan juga kemaslahatan khusus bagi suatu negeri.Keempat puluh empat: Ibnu Hajar rahimahullah berkata, demikian pula Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Di antara hikmah penaklukan Makkah adalah menjadi sebab masuknya banyak kabilah Arab ke dalam Islam. Dahulu mereka berkata: ‘Biarkan dia (Muhammad) bersama kaumnya. Jika ia menang atas mereka, berarti ia berada di atas kebenaran.’ Ketika Allah memberikan kemenangan kepadanya, sebagian mereka tetap berada dalam kesesatan, lalu mereka berkumpul dan bersiap untuk memeranginya. Maka termasuk hikmah dari hal itu adalah agar tampak bahwa Allah menolong Rasul-Nya bukan dengan banyaknya orang yang masuk Islam dari kalangan kabilah, dan bukan pula karena kaumnya menahan diri dari memeranginya.”Keempat puluh lima: Hikmah Perang Badar dan HunainIbnu Qayyim rahimahullāh berkata dari kisah Perang Hunain:Sesungguhnya Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā memulai peperangan kaum Arab dengan Perang Badar, dan menutup rangkaian peperangan mereka dengan Perang Hunain. Karena itu, kedua peperangan ini sering disebut secara beriringan: Badar dan Hunain, meskipun jarak waktu di antara keduanya sekitar tujuh tahun.Para malaikat turut berperang bersama kaum Muslimin dalam dua peperangan tersebut. Nabi ﷺ juga melemparkan pasir ke wajah orang-orang musyrik dalam kedua peristiwa itu.Melalui dua peperangan ini, semangat dan kekuatan kaum Arab dalam memerangi Rasulullah ﷺ dan kaum Muslimin pun runtuh. Pada perang yang pertama, Allah menanamkan rasa takut dalam hati mereka dan mematahkan kekuatan mereka. Pada perang yang kedua, Allah menghabiskan sisa-sisa kekuatan mereka, mematahkan panah-panah mereka, dan menundukkan seluruh pasukan mereka, hingga mereka mulai masuk ke dalam agama Allah.Di antara kekhususan Perang Hunain adalah bahwa ia menjadi peperangan penentu terakhir antara kaum Muslimin dan kaum musyrik di Jazirah Arab, sebagaimana Perang Badar merupakan peperangan besar pertama yang menentukan antara dua golongan tersebut.Keempat puluh enam: Hidayah Melalui Azan dan Pentingnya Mengarahkan BakatDiriwayatkan bahwa seseorang pernah mendengar Rasulullah ﷺ mengumandangkan azan, lalu ia menirukan suara muazin dengan tujuan mengejek. Ia saat itu masih memiliki sisa-sisa kesyirikan dalam dirinya. Kemudian Rasulullah ﷺ memintanya untuk dihadirkan. Nabi ﷺ memintanya mengulang lafaz azan, lalu beliau kagum dengan suaranya. Beliau pun mengajaknya kepada Islam, hingga ia masuk Islam. Setelah itu, Nabi ﷺ mengangkatnya sebagai muazin di Masjidil Haram.Dari kisah ini terdapat beberapa faedah:1. Suara yang indah merupakan nikmat dari Allah, anugerah yang diberikan kepada sebagian hamba-Nya. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ kepada Abu Musa Al-Asy‘ari radhiyallāhu ‘anhu:لَوْ رَأَيْتَنِي وَأَنَا أَسْتَمِعُ لِقِرَاءَتِكَ الْبَارِحَةَ، لَقَدْ أُوتِيتَ مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ“Seandainya engkau melihatku ketika aku mendengarkan bacaanmu tadi malam, sungguh engkau telah dianugerahi suara yang merdu seperti suara keluarga Nabi Dawud.”Keindahan suara ini tidak bisa diusahakan semata, melainkan merupakan karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki.2. Nikmat tersebut menjadi sangat agung ketika digunakan untuk ketaatan kepada Allah. Bilal radhiyallāhu ‘anhu menjadi muazin Rasulullah ﷺ karena memiliki suara yang paling merdu.3. Sebaliknya, nikmat itu menjadi bencana ketika digunakan untuk kemaksiatan. Seseorang bisa dikenal karena nyanyian dan hiburan yang melalaikan, serta berada di majelis-majelis yang tidak mengingat Allah.4. Allah memuliakan pemuda sahabat ini dengan menjadikannya muazin di Masjidil Haram selama lima puluh tahun. Bahkan, keutamaan ini diwarisi oleh keturunannya selama lebih dari dua abad, karena berkah ketaatan tersebut.5. Wahai para pembaca Al-Qur’an, tidak ada satu pun di antara kalian kecuali memiliki nikmat yang Allah berikan, yang tidak kalian usahakan. Maka manfaatkanlah nikmat itu dalam ketaatan kepada Allah, niscaya keberkahannya akan dirasakan oleh dirimu dan orang-orang setelahmu.6. Metode dakwah Nabi ﷺ dalam kisah ini sangat bijak: beliau menggabungkan antara menunjukkan kekaguman, mendoakan, dan memberikan dorongan (targhib). Cara ini memberi pengaruh besar hingga orang tersebut masuk Islam.7. Para ayah secara khusus, dan para pendidik secara umum, hendaknya mencari potensi anak-anak, menggali bakat mereka, serta mendorong dan mengarahkannya. Dengan demikian, potensi tersebut bisa dimanfaatkan untuk kemaslahatan masyarakat dan umat. Mengabaikannya berarti menyia-nyiakan kekayaan besar berupa kemampuan yang tidak ternilai harganya.Keempat puluh tujuh: Kisah Bani Tsaqif dan Pelajaran tentang Dakwah serta Altruisme (Itsār)Dalam kisah Tsaqif yang datang menemui Rasulullah ﷺ, terjadi dialog panjang hingga akhirnya mereka masuk Islam. Dari peristiwa ini diambil beberapa pelajaran:1. Ini menunjukkan dikabulkannya doa Rasulullah ﷺ. Beliau mendoakan agar mereka diberi hidayah dan datang kepada beliau. Padahal sebelumnya mereka memerangi beliau, membunuh sebagian sahabatnya, bahkan membunuh utusan yang beliau kirim kepada mereka untuk mengajak kepada Allah. Namun demikian, beliau tetap mendoakan mereka dan tidak mendoakan keburukan bagi mereka. Ini termasuk bentuk kesempurnaan kasih sayang, rahmat, dan nasihat beliau ﷺ.2. Dalam kisah permintaan Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallāhu ‘anhu agar Al-Mughīrah radhiyallāhu ‘anhu mendahuluinya dalam menyampaikan kabar gembira kepada Rasulullah ﷺ, terdapat faedah penting: bolehnya mendahulukan orang lain dalam perkara yang mendekatkan kepada Allah (itsār dalam qurbah).Meskipun sebagian ulama menetapkan bahwa itsār dalam ibadah itu makruh, namun siapa yang memperhatikan praktik Abu Bakr dan Al-Mughīrah radhiyallāhu ‘anhumā—di mana Abu Bakr meminta dan Al-Mughīrah menyetujuinya—akan memahami bolehnya hal tersebut, bahkan menunjukkan kerelaan dan kesepakatan.Ibnu Qayyim rahimahullāh berkata: Hal ini menunjukkan bolehnya seseorang meminta saudaranya untuk didahulukan dalam amal kebaikan, dan bolehnya pula seseorang mendahulukan saudaranya dalam hal tersebut. Adapun pendapat yang mengatakan tidak boleh itsār dalam ibadah, maka itu tidak tepat.Contohnya adalah apa yang dilakukan oleh ‘Āisyah radhiyallāhu ‘anhā ketika Umar bin Al-Khaṭṭāb radhiyallāhu ‘anhu meminta izin untuk dimakamkan di rumahnya, di samping Nabi ﷺ. ‘Āisyah mengizinkannya, padahal sebelumnya tempat itu ia persiapkan untuk dirinya sendiri. Ia tidak merasa berat dengan permintaan itu, karena tidak ada unsur merendahkan diri atau meminta-minta dalam hal tersebut.Demikian pula, jika seseorang diminta untuk memberikan tempatnya di shaf pertama kepada orang lain, lalu ia memberikannya, maka itu tidak termasuk perbuatan tercela, karena tidak ada unsur kehinaan. Bahkan, ini termasuk akhlak mulia para sahabat yang penuh dengan kedermawanan dan kelapangan jiwa.Perbuatan seperti ini merupakan bentuk kebaikan, kemurahan hati, dan mendahulukan orang lain, yang justru lebih dicintai oleh jiwa. Selain itu, terdapat unsur membahagiakan sesama Muslim, menghormatinya, memenuhi permintaannya, dan mendorongnya untuk berbuat kebaikan.Boleh jadi, pahala dari sifat-sifat ini lebih besar daripada pahala amal yang ditinggalkan. Maka orang yang mendahulukan orang lain dalam kebaikan seakan-akan menjadi “pedagang” yang melipatgandakan pahala.Oleh karena itu, tidak mengapa seseorang memberikan airnya kepada orang lain untuk berwudu, lalu ia bertayamum sebagai gantinya—jika memang salah satunya harus dilakukan. Dengan begitu, ia mendapatkan keutamaan itsār sekaligus keutamaan bersuci dengan tayamum.Hal ini tidak bertentangan dengan Al-Qur’an, sunnah, maupun akhlak yang mulia.Bahkan, jika suatu kaum berada dalam kondisi kehausan yang sangat dan khawatir akan binasa, lalu sebagian mereka memberikan air kepada yang lain hingga ia sendiri meninggal, maka perbuatan itu boleh. Ia tidak disebut sebagai orang yang membunuh dirinya, dan tidak pula melakukan sesuatu yang haram. Bahkan, itu termasuk puncak kedermawanan dan pengorbanan, sebagaimana firman Allah Ta‘ālā:وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ“Dan mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.” (QS. Al-Ḥasyr: 9)Hal ini pernah terjadi pada sekelompok sahabat dalam penaklukan negeri Syam. Itu termasuk keutamaan dan kelebihan mereka.Memberikan pahala suatu amal kepada orang yang telah meninggal dunia, yang sering diperselisihkan para ulama, pada hakikatnya termasuk bentuk itsār dalam amal kebaikan.Apa bedanya antara seseorang yang mendahulukan orang lain dalam melakukan amal agar ia mendapatkan pahalanya, dengan seseorang yang melakukan amal lalu menghadiahkan pahalanya kepada orang lain?3. Termasuk keutamaan Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallāhu ‘anhu adalah semangatnya dalam membahagiakan Rasulullah ﷺ dan memuliakan Al-Mughīrah radhiyallāhu ‘anhu. Hal itu terlihat dari sikap beliau yang memenuhi permintaan Al-Mughīrah.4. Tidak boleh membiarkan tempat-tempat kesyirikan dan kemaksiatan tetap ada, padahal mampu untuk menghancurkan dan menghilangkannya, walaupun hanya satu hari. Karena tempat-tempat tersebut adalah simbol kekufuran dan kesyirikan, yang termasuk kemungkaran paling besar. Maka tidak boleh membiarkannya tetap ada ketika memiliki kemampuan yang jelas untuk menghilangkannya.Demikian pula hukum bangunan-bangunan yang didirikan di atas kuburan, yang dijadikan sebagai berhala dan tempat ibadah selain Allah. Begitu juga batu-batu yang diagungkan untuk tujuan mencari berkah, bernazar, mencium, dan semisalnya. Semua itu tidak boleh dibiarkan tetap ada di muka bumi selama ada kemampuan untuk menghilangkannya.Bahkan banyak di antaranya seperti berhala Lāt, ‘Uzzā, dan Manāt, atau bahkan lebih besar kesyirikannya.5. Ketika Rasulullah ﷺ memerintahkan ‘Utsmān bin Abī Al-‘Āṣ radhiyallāhu ‘anhu untuk membangun masjid di tempat bekas berhala kaum Ṭāif, hal ini menunjukkan bolehnya menjadikan gereja, tempat ibadah non-Muslim, dan tempat berhala sebagai masjid.Demikian pula yang dilakukan para sahabat radhiyallāhu ‘anhum ketika menaklukkan berbagai negeri. Mereka mengubah tempat-tempat ibadah orang kafir menjadi tempat ibadah bagi kaum Muslimin. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghancuran simbol-simbol kekufuran dan penegakan Islam.Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا“Muḥammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, lalu tunas itu menguatkannya, kemudian menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati para penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Fatḥ: 29)Ibnu Taimiyyah rahimahullāh berkata: Adapun tempat-tempat kekufuran dan kemaksiatan yang tidak ada azab di dalamnya, jika dijadikan tempat untuk iman dan ketaatan, maka itu adalah kebaikan. Sebagaimana Nabi ﷺ memerintahkan penduduk Ṭāif untuk menjadikan masjid di tempat berhala mereka, dan sebagaimana penduduk Yamāmah diperintahkan untuk menjadikan masjid di tempat gereja mereka dahulu.6. ‘Utsmān bin Abī Al-‘Āṣ radhiyallāhu ‘anhu adalah yang paling muda usianya di antara kaumnya. Namun, ia adalah yang paling semangat dalam mempelajari Al-Qur’an dan ilmu. Ia sering datang kepada Rasulullah ﷺ untuk belajar dan bertanya.Ketika kaumnya hendak kembali ke Ṭāif, Rasulullah ﷺ menjadikannya sebagai pemimpin mereka dan imam dalam shalat. Inilah ukuran yang sebenarnya dalam keutamaan: ilmu dan agama. Inilah pula medan yang seharusnya menjadi ajang persaingan.Sebagaimana firman Allah Ta‘ālā:قَالُوا أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ ۚ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ ۖ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَن يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ“Mereka berkata, ‘Bagaimana mungkin dia memperoleh kerajaan atas kami, padahal kami lebih berhak atas kerajaan itu darinya, dan dia tidak diberi kekayaan yang banyak?’ (Nabi mereka) berkata, ‘Sesungguhnya Allah telah memilihnya atas kamu dan memberinya kelebihan ilmu dan tubuh.’ Allah memberikan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 247)Ayat ini menunjukkan bahwa sebab utama keutamaan adalah ilmu.7. Bolehnya membiarkan orang musyrik masuk ke dalam masjid, khususnya jika diharapkan keislamannya, agar ia bisa mendengar Al-Qur’an serta menyaksikan ibadah kaum Muslimin.8. Fleksibilitas dalam Dakwah untuk Menarik Orang kepada IslamDi antara faedah penting yang tampaknya lebih kuat menurut penulis adalah bahwa terkadang delegasi Tsaqif berdialog dengan Rasulullah ﷺ dan mengajukan beberapa syarat agar mereka mau masuk Islam. Sebagian syarat tersebut ditolak oleh Nabi ﷺ, sementara sebagian lainnya diberi kelonggaran.Rasulullah ﷺ bersabda:«لَكُمْ أَنْ لَا تُحْشَرُوا وَلَا تُعْشَرُوا، وَلَا خَيْرَ فِي دِينٍ لَيْسَ فِيهِ رُكُوعٌ»“Kalian tidak diwajibkan keluar untuk berjihad dan tidak dipungut sepersepuluh harta (usyur), tetapi tidak ada kebaikan pada agama yang tidak ada rukuk di dalamnya.”Dari Wahb, ia berkata: Aku bertanya kepada Jabir radhiyallahu ‘anhu tentang kisah baiat Tsaqif. Jabir menjawab: “Mereka mensyaratkan kepada Nabi ﷺ agar tidak ada sedekah dan jihad atas mereka.”Kemudian setelah itu Nabi ﷺ terdengar bersabda:«سَيَتَصَدَّقُونَ وَيُجَاهِدُونَ إِذَا أَسْلَمُوا»“Mereka nanti akan bersedekah dan berjihad jika telah benar-benar masuk Islam.”³Pada masa sekarang, sebagian dai menghadapi kenyataan seperti di Afrika dan tempat lainnya: ada orang-orang yang menerima Islam ketika didakwahi, namun mereka masih memiliki adat dan kebiasaan yang sangat melekat, baik dalam makanan, minuman, maupun interaksi sosial mereka. Sangat sulit untuk langsung meninggalkan semuanya sekaligus.Jika seorang dai mensyaratkan agar mereka segera meninggalkan seluruh kebiasaan itu sejak awal, besar kemungkinan mereka justru tidak jadi masuk Islam. Padahal bisa jadi, bila mereka masuk Islam terlebih dahulu, lambat laun keadaan mereka akan membaik. Setelah iman mulai menyentuh hati mereka, mereka akan menerima kebenaran dan rela meninggalkan kebiasaan tersebut, atau setidaknya mengambil sikap yang lebih ringan walaupun masih ada sebagian kekurangan.Sebagian ulama memandang bahwa menerima mereka dalam kondisi seperti itu lebih maslahat daripada menolaknya, karena dikhawatirkan penolakan tersebut menjadi sebab mereka tidak masuk Islam.Pendapat ini didukung oleh beberapa hal:Syariat Islam turun secara bertahap, baik dalam perkara ibadah maupun pengharaman sesuatu. Shalat misalnya, penyempurnaan syariatnya baru terjadi setelah hijrah. Puasa awalnya diwajibkan pada hari ‘Asyura, kemudian disempurnakan dengan puasa Ramadan. Demikian pula jihad: awalnya dilarang, lalu diizinkan untuk membela diri, hingga akhirnya disyariatkan memerangi kaum musyrikin secara umum sebagaimana kaum muslimin memerangi sesama mereka yang memerangi Islam. Begitu juga pengharaman khamr, turun melalui empat tahapan.‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:«إِنَّمَا نَزَلَ أَوَّلُ مَا نَزَلَ مِنْهُ سُورَةٌ مِنَ الْمُفَصَّلِ، فِيهَا ذِكْرُ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، حَتَّى إِذَا ثَابَ النَّاسُ إِلَى الْإِسْلَامِ نَزَلَ الْحَلَالُ وَالْحَرَامُ، وَلَوْ نَزَلَ أَوَّلَ شَيْءٍ: لَا تَشْرَبُوا الْخَمْرَ، لَقَالُوا: لَا نَدَعُ الْخَمْرَ أَبَدًا، وَلَوْ نَزَلَ: لَا تَزْنُوا، لَقَالُوا: لَا نَدَعُ الزِّنَا أَبَدًا»“Yang pertama kali turun dari Al-Qur’an adalah surat-surat pendek yang berisi tentang surga dan neraka. Setelah manusia mulai kembali kepada Islam, barulah turun hukum halal dan haram. Seandainya yang pertama kali turun adalah larangan meminum khamr, niscaya mereka akan berkata: ‘Kami tidak akan meninggalkan khamr selamanya.’ Dan seandainya yang pertama kali turun adalah larangan zina, niscaya mereka akan berkata: ‘Kami tidak akan meninggalkan zina selamanya.’”Karakter manusia pada dasarnya serupa, walaupun berbeda tempat dan zaman.Dari Hakim radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:**«بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ أَلَّا أَخِرَّ إِلَّا قَائِمًا»**²“Aku berbaiat kepada Rasulullah ﷺ untuk tidak mati kecuali dalam keadaan istiqamah.”Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ pernah berkata kepada seseorang:«أَسْلِمْ»“Masuk Islamlah.”Orang itu menjawab:“Aku masih membencinya.”Nabi ﷺ tetap bersabda:أَسْلِمْ وَإِنْ كُنْتَ كَارِهًا“Masuk Islamlah, meskipun engkau masih merasa berat.”Ini termasuk bagian dari strategi dakwah, yaitu mempertimbangkan maslahat dan mafsadat. Masuknya seseorang ke dalam Islam merupakan maslahat besar. Walaupun di dalam prosesnya masih ada berbagai kekurangan dan kebiasaan buruk yang tersisa, namun diharapkan semua itu akan hilang sedikit demi sedikit seiring kokohnya akidah dalam jiwa. Setelah itu, manusia diajarkan kewajiban-kewajiban Islam secara bertahap.Namun demikian, sebagian ulama menegaskan bahwa perkara ini tidak boleh diserahkan kepada ijtihad pribadi para dai. Hendaknya dikembalikan kepada para ulama di suatu negeri: apakah kepada mufti yang kompeten, atau kepada lembaga dakwah resmi yang membawahi urusan dakwah di negara tersebut. Tujuannya agar masalah ini tidak menjadi pintu kelonggaran yang berlebihan, sehingga orang-orang justru dibiarkan terus-menerus dalam kemaksiatan besar dengan alasan maslahat dakwah.Permasalahan ini termasuk ranah ijtihad. Wallahu a‘lam bish-shawab. Referensi: Fiqh As-Sirah. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Daar Tadmuriyyah. —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 21 Dzulqa’dah 1447 H, 8 Mei 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfaedah sirah nabi peperangan dalam islam peperangan di masa Rasulullah perang hunain sirah nabawiyah sirah nabi


Perang Hunain merupakan salah satu peperangan besar dalam sirah Nabi ﷺ yang sarat dengan pelajaran iman dan tauhid. Pada awalnya kaum muslimin sempat terpukul mundur karena rasa bangga terhadap jumlah pasukan, hingga Allah ﷻ menegur mereka melalui peristiwa ini. Namun dengan keteguhan Rasulullah ﷺ dan pertolongan Allah, keadaan pun berbalik menjadi kemenangan yang nyata bagi kaum muslimin.Baca juga: Perang Hunain dalam Tafsir QS. At-Taubah 25–27: Ketika Jumlah Besar Tidak Menjamin Kemenangan  Daftar Isi tutup 1. Jumlah Banyak Belum Tentu Menang 2. Allah Turunkan Sakinah pada Perang Hunain 3. Kaum Hawazin Masuk Islam 4. Kisah Dzul Khuwaishirah yang Menuntut Rasulullah untuk Adil 5. Delegasi Tsaqif Datang Menemui Rasulullah ﷺ 6. Pelajaran yang Dipetik dari Perang Hunain dan Pengepungan Thaif 6.1. Nasihat Mengenai Ngalap Berkah (Tabarruk)  Peperangan ini adalah Perang Hunain. Sebagian ulama menamakannya Perang Authas, dan sebagian lainnya menamakannya Perang Hawazin. Namun, penamaan yang digunakan dalam Al-Qur’an adalah Hunain.Perang Hunain dianggap sebagai kelanjutan dari penaklukan Mekah, dan merupakan salah satu dampaknya. Hal itu karena Perang Hunain terjadi sebagai konsekuensi dari penaklukan besar tersebut. Ketika suku Hawazin dan Tsaqif mengetahui apa yang menimpa Quraisy di Mekah, mereka pun mulai bersiap-siap dan mengumpulkan pasukan untuk memerangi Rasulullah ﷺ.Ketika Rasulullah ﷺ mengetahui hal tersebut, sementara beliau masih berada di Mekah, beliau pun keluar untuk menemui mereka di Hunain. Keberangkatan beliau terjadi pada hari keenam bulan Syawal tahun kedelapan Hijriah.Rasulullah ﷺ menunjuk ‘Attab bin Asid radhiyallahu ‘anhu sebagai pemimpin di Mekah. Jumlah pasukan yang menyertai Rasulullah ﷺ adalah sepuluh ribu orang, ditambah dua ribu orang dari kalangan thulaqā’ (orang-orang Mekah yang dimaafkan).Pasukan kaum musyrikin dari Thaif berada di bawah pimpinan Malik bin ‘Auf An-Nadhri. Mereka bergabung dengan pasukan Hawazin dan Tsaqif seluruhnya, juga bergabung suku Nashr dan Jusham seluruhnya, serta Sa‘d bin Bakr dan sebagian orang dari Bani Hilal—jumlah mereka sedikit. Termasuk dari Bani Jusham adalah Duraid bin Ash-Shimmah, seorang syekh tua yang sudah sangat lanjut usia, yang sebenarnya tidak lagi memiliki kemampuan apa pun, kecuali sekadar dimintai pendapat karena pengalaman dan pengetahuannya tentang peperangan. Ia adalah seorang syekh yang telah banyak mengalami peperangan.Ketika Malik bin Auf mengumpulkan pasukan dan membawa mereka menuju Rasulullah ﷺ, ia juga mengikutsertakan harta benda, para wanita, dan anak-anak mereka. Ketika mereka singgah di Authas dan berkumpul di sana, Duraid bin Ash-Shimmah—yang berada di dalam sekedup (tandu) yang dibawanya—bertanya, “Di lembah apakah kita berada?” Mereka menjawab, “Di Authas.” Ia berkata, “Tempat yang bagus untuk medan pasukan berkuda. Tidak ada tanah keras yang melukai kaki, tidak pula tanah lunak yang membuat kuda terperosok. Namun, mengapa aku mendengar suara unta, ringkikan keledai, tangisan anak kecil, dan kambing yang mengembik?” Mereka menjawab, “Malik bin ‘Auf membawa serta harta, para wanita, dan anak-anak bersama pasukan.”Ia bertanya, “Di mana Malik?” Dijawab, “Ini Malik.” Malik pun dipanggil dan mendekat kepadanya. Duraid berkata, “Wahai Malik, sungguh engkau telah menjadi pemimpin kaummu. Hari ini adalah hari yang menentukan, dan setelah hari ini tidak ada hari lain bagimu. Mengapa aku mendengar suara unta, ringkikan keledai, tangisan anak kecil, dan kambing yang mengembik?” Malik menjawab, “Aku membawa mereka agar setiap orang berperang di belakang harta, wanita, dan anak-anak mereka.”Duraid berkata, “Celaka engkau! Apakah orang yang kalah bisa ditahan oleh sesuatu apa pun? Jika engkau menang, yang akan bermanfaat bagimu hanyalah seorang laki-laki dengan pedang dan tombaknya. Namun, jika engkau kalah, engkau akan dipermalukan bersama keluarga dan hartamu.” Malik berkata, “Demi Allah, aku tidak akan melakukan selain ini. Sungguh engkau telah tua dan akalmu pun telah melemah.”Duraid berkata, “Demi Allah, aku telah menyelamatkanmu dari kehinaan suku Hawazin. Seandainya aku masih mampu berdiri di atas kakiku, aku akan bertarung dengan pedang ini hingga keluar dari punggungku. Aku membenci jika Bani Jusham tidak memiliki pendapat atau pandangan dalam urusan ini.” Mereka berkata, “Berilah kami pendapatmu.” Maka Duraid bin Ash-Shimmah berkata, “Hari ini aku tidak melihat sesuatu yang aku persaksikan, dan aku tidak pula kehilangan akalku.”Jumlah orang yang berkumpul bersama Malik bin ‘Auf untuk memerangi Rasulullah ﷺ mencapai dua puluh ribu orang. Malik menempatkan mata-mata (pengintai)nya, lalu mata-mata itu datang kepadanya dalam keadaan kacau balau. Malik bertanya, “Celaka kalian, apa yang terjadi?” Mereka menjawab, “Kami melihat pasukan berkuda putih di atas kuda-kuda yang belang. Demi Allah, kami tidak mampu bertahan sejak pertama kali melihat mereka.” Malik tidak menghiraukan laporan itu dan tidak memedulikannya.Rasulullah ﷺ meminjam baju besi dan senjata dari Shafwan bin Umayyah, sementara Shafwan saat itu masih dalam keadaan musyrik. Shafwan berkata, “Apakah ini berarti engkau merampasnya, wahai Muhammad?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Bukan, ini pinjaman yang dijamin.” Maka Shafwan meminjamkan kepada Rasulullah ﷺ seratus baju besi.Pasukan ini merupakan pasukan Islam terbesar yang pernah keluar bersama Rasulullah ﷺ. Ketika sebagian kaum muslimin melihat banyaknya jumlah pasukan, ada seseorang yang berkata, “Hari ini kita tidak akan kalah karena jumlah yang sedikit.” Perkataan itu memberatkan Rasulullah ﷺ. Lalu Allah Ta‘ala menurunkan firman-Nya:﴿لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ ۝ ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ﴾“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 25–26)Di tengah perjalanan, kaum muslimin melewati sebuah pohon milik kaum musyrikin yang disebut Dzat Anwath. Dari Abu Waaqid Al-Laitsi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami keluar dari Mekah bersama Rasulullah ﷺ menuju Hunain. Orang-orang kafir memiliki sebuah pohon bidara tempat mereka berdiam dan menggantungkan senjata-senjata mereka, yang disebut Dzat Anwath.”Ia berkata, “Kami pun melewati sebuah pohon bidara yang hijau dan besar.” Maka kami berkata, “Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzat Anwāṭ (tempat menggantungkan senjata) sebagaimana mereka memiliki Dzat Anwāṭ.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Allāhu akbar! Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian telah mengatakan seperti apa yang dikatakan kaum Musa.”ٱجْعَل لَّنَآ إِلَٰهًا كَمَا لَهُمْ ءَالِهَةٌ ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ“Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)“.” (QS. Al-A‘rāf: 138)Rasulullah ﷺ melanjutkan, “Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian setahap demi setahap.”Rasulullah ﷺ kemudian mengutus ‘Abdullāh bin Abī Ḥadrad Al-Aslamī radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu. Dari ayahnya, ia berkata: “Ia datang membawa kabar tentang Hawāzin. Ia pun masuk ke tengah-tengah kaum itu dan mendapati mereka telah berkumpul seluruhnya untuk memerangi Rasulullah ﷺ. Ia lalu menyampaikan apa yang ia lihat kepada Rasulullah ﷺ.” Maka Rasulullah ﷺ tersenyum dan bersabda, “Itu adalah rampasan kaum muslimin besok, insya Allah.”Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapa yang akan mengawasi kita malam ini?”Anas bin Abī Murthid Al-Ghanawī radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu berkata, “Aku, wahai Rasulullah.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Naiklah.” Maka ia pun menaiki kudanya dan segera datang menemui Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, “Hadapilah lembah ini hingga engkau berada di atasnya, dan jangan biarkan siapa pun mendatangi kita dari arahmu malam ini.”Ketika pagi tiba, Rasulullah ﷺ keluar menuju tempat salatnya dan melaksanakan dua rakaat. Setelah itu beliau bersabda, “Apakah kalian merasakan penjagaan sahabat kalian?”Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, kami tidak melihat sesuatu pun.”Maka Rasulullah ﷺ pun melaksanakan salat, dan beliau menoleh ke arah lembah itu hingga selesai salatnya. Kemudian beliau bersabda, “Bergembiralah, sungguh penjaga kalian telah datang.”Kami pun melihat ke arah lembah itu melalui sela-sela pepohonan. Ternyata ia telah datang, lalu berdiri di hadapan Rasulullah ﷺ dan memberi salam. Ia berkata, “Aku berangkat hingga aku berada di puncak lembah ini, tempat engkau memerintahkanku, wahai Rasulullah. Ketika dua lembah itu tampak jelas, aku pun melihat keduanya.”Kami memperhatikan, tetapi tidak melihat seorang pun. Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya, “Apakah engkau turun pada malam hari?” Ia menjawab, “Tidak, kecuali hanya untuk melaksanakan salat atau menunaikan hajat.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, “Engkau telah menjalankan tugas dengan baik, maka jangan engkau lakukan apa pun setelah ini.”Kemudian Rasulullah ﷺ melanjutkan perjalanannya hingga sampai di Hunain. Sementara itu, Malik bin ‘Auf beserta pasukannya telah lebih dahulu tiba sebelum Rasulullah ﷺ. Mereka menyiapkan diri dan bersembunyi di celah-celah lembah serta di balik pepohonan. Rasulullah ﷺ datang bersama para sahabatnya hingga mereka turun ke lembah pada waktu subuh. Mereka tidak menyadari hal tersebut. Tiba-tiba Hawazin dan Tsaqif menyerang mereka dengan serangan serentak oleh satu orang, lalu orang-orang yang bersembunyi keluar dari celah-celah lembah dan tempat-tempat persembunyian mereka, serta menghujani kaum muslimin dengan anak panah. Urusan kaum muslimin pun menjadi kacau secara tiba-tiba.Mereka pun lari mundur dalam keadaan terpecah-belah, tidak menoleh ke arah mana pun. Namun Rasulullah ﷺ tetap teguh berdiri, bersama sebagian kecil kaum mukminin yang ada bersamanya. Rasulullah ﷺ berpaling ke arah kanan, lalu berseru, “Wahai manusia, kemarilah kepadaku! Aku adalah Rasulullah, aku adalah Muhammad bin ‘Abdullah.”Bersama beliau terdapat sekelompok orang dari kalangan Muhajirin dan Anshar, sementara orang-orang yang tetap bertahan bersamanya tidak banyak. Di antara Ahlul Bait yang tetap bersamanya adalah Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Ali bin Abi Thalib, Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib, putranya Al-Fadhl bin ‘Abbas, Abu Sufyan bin Al-Harits, Rabi‘ah bin Al-Harits, Aiman bin ‘Ubaid—yang merupakan putra Ummu Aiman—dan Usamah bin Zaid radhiyallahu ta‘ala ‘anhum ajma‘in.Rasulullah ﷺ pun berseru, “Aku adalah Nabi, tidak ada dusta. Aku adalah putra ‘Abdul Muththalib.” Termasuk doa beliau saat itu adalah, “Ya Allah, jika Engkau menghendaki, maka Engkau tidak akan disembah setelah hari ini.”Dalam Shahih Muslim, dari Al-‘Abbas radhiyallahu ta‘ala ‘anhu, ia berkata: “Aku menyaksikan Perang Hunain bersama Rasulullah ﷺ. Aku dan Abu Sufyan bin Al-Harits bin ‘Abdul Muththalib selalu bersama Rasulullah ﷺ dan tidak berpisah darinya. Rasulullah ﷺ berada di atas seekor bagal putih yang dihadiahkan oleh Farrukh bin Nafatsah Al-Judzami. Ketika kaum muslimin dan orang-orang kafir saling berhadapan, kaum muslimin pun mundur.”“Rasulullah ﷺ lalu memacu bagalnya ke arah orang-orang kafir. Aku memegang tali kekang bagal Rasulullah ﷺ, menahannya agar tidak melaju terlalu cepat, sementara Abu Sufyan memegang sanggurdi beliau. Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Wahai ‘Abbas, panggillah para sahabat Samurah!’”Al-‘Abbas berkata: “Aku adalah seorang yang bersuara lantang. Aku pun berteriak sekeras-kerasnya, ‘Di mana para sahabat Samurah?’ Demi Allah, ketika mereka mendengar suaraku, suara itu terasa seperti suara sapi yang memanggil anaknya. Mereka pun menjawab, ‘Labbaik, labbaik!’ Lalu mereka bertempur melawan orang-orang kafir.”“Kemudian seruan dialihkan kepada kaum Anshar. Dikatakan, ‘Wahai kaum Anshar!’ Lalu seruan itu dikhususkan kepada Bani Al-Harits bin Al-Khazraj. Dikatakan, ‘Wahai Bani Al-Harits bin Al-Khazraj!’ Maka Rasulullah ﷺ memandang mereka, sementara beliau berada di atas bagalnya, seakan-akan beliau menjulang di atas mereka.”Rasulullah ﷺ bersabda, “Sekaranglah panasnya peperangan.”Al-‘Abbas berkata: “Kemudian Rasulullah ﷺ mengambil segenggam kerikil dan melemparkannya ke wajah orang-orang kafir, lalu bersabda, ‘Hancurlah wajah-wajah itu!’ Aku pun pergi menyaksikan keadaan pertempuran, dan demi Allah, tidaklah beliau melempar mereka dengan kerikil itu, melainkan aku melihat mereka semua tercerai-berai dan urusan mereka pun kacau balau.” Jumlah Banyak Belum Tentu MenangAllah Ta’ala berfirman tentang Thalut,كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 249)Baca juga: Kisah Thalut, Jalut, dan Nabi Daud: Ujian Kepemimpinan dan Kemenangan ImanNamun karena mereka bangga dengan jumlah yang banyak, Allah Ta’ala berfirman,لَقَدْ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ فِى مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْـًٔا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ ٱلْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.” (QS. At-Taubah: 25)Ayat yang membicarakan kekalahan dalam perang Hunain terkait sejatinya dengan peringatan pada ayat sebelumnya,قُلْ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَٰنُكُمْ وَأَزْوَٰجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَٰلٌ ٱقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٍ فِى سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُوا۟ حَتَّىٰ يَأْتِىَ ٱللَّهُ بِأَمْرِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْفَٰسِقِينَ“Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah:24)Allah Ta’ala berfirman,ثُمَّ أَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ۚ وَذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلْكَٰفِرِينَ“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 26)ثُمَّ يَتُوبُ ٱللَّهُ مِنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 27)Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan:Ibnu Juraij meriwayatkan dari Mujahid, ia berkata: “Ini adalah ayat pertama yang turun dari Surah Barā’ah (At-Taubah).”Allah Ta‘ala menyebutkan kepada orang-orang beriman tentang karunia dan kebaikan-Nya kepada mereka, berupa pertolongan-Nya dalam banyak pertempuran yang mereka jalani bersama Rasul-Nya. Semua itu terjadi semata-mata dari sisi Allah Ta‘ala, dengan dukungan dan ketetapan-Nya, bukan karena jumlah mereka dan bukan pula karena banyaknya pasukan. Allah mengingatkan mereka bahwa kemenangan hanyalah dari sisi-Nya, baik jumlah kaum muslimin sedikit maupun banyak.Pada Perang Hunain, kaum muslimin sempat merasa kagum dengan banyaknya jumlah mereka. Namun ternyata, banyaknya jumlah itu sama sekali tidak memberi manfaat bagi mereka. Mereka pun berbalik melarikan diri, kecuali sedikit orang yang tetap bersama Rasulullah ﷺ. Setelah itu, Allah menurunkan pertolongan dan dukungan-Nya kepada Rasul-Nya dan kepada kaum mukminin yang bersamanya, sebagaimana akan dijelaskan secara terperinci—insyaallah—agar mereka mengetahui bahwa kemenangan itu benar-benar dari sisi Allah Ta‘ala semata, dengan pertolongan-Nya, meskipun jumlah pasukan sedikit.فكم من فئة قليلة غلبت فئة كثيرة بإذن الله ، والله مع الصابرين .Betapa sering kelompok yang sedikit mampu mengalahkan kelompok yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah bersama orang-orang yang sabar.Imam Ahmad berkata: “Telah menceritakan kepada kami Wahb bin Jarir, telah menceritakan kepada kami ayahku, aku mendengar Yunus menceritakan dari Az-Zuhri, dari ‘Ubaidullah, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:خير الصحابة أربعة ، وخير السرايا أربعمائة ، وخير الجيوش أربعة آلاف ، ولن تغلب اثنا عشر ألفا من قلة .‘Sebaik-baik para sahabat itu berjumlah empat orang, sebaik-baik pasukan kecil (sariyyah) berjumlah empat ratus orang, dan sebaik-baik tentara berjumlah empat ribu orang. Dan dua belas ribu pasukan tidak akan terkalahkan karena sedikitnya jumlah.’”Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi. At-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan gharib. Tidak ada seorang perawi besar pun yang meriwayatkannya secara bersambung kecuali Jarir bin Hazim. Riwayat yang masyhur dari Az-Zuhri adalah dari Nabi ﷺ secara mursal.”Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Al-Baihaqi, dan selain keduanya, dari Aktsam bin Al-Jaun, dari Rasulullah ﷺ dengan lafaz yang semakna. Dan Allah Maha Mengetahui.Peristiwa Perang Hunain terjadi setelah Fathu Makkah, tepatnya pada bulan Syawal tahun kedelapan Hijriah. Hal itu bermula ketika Rasulullah ﷺ telah selesai menaklukkan Makkah, urusan-urusannya telah tertata dengan baik, dan mayoritas penduduknya telah masuk Islam. Rasulullah ﷺ pun membebaskan mereka. Lalu sampai kepada beliau kabar bahwa suku Hawazin telah menghimpun kekuatan untuk memerangi beliau. Pemimpin mereka adalah Malik bin ‘Auf An-Nadhri, bersama seluruh kabilah Tsaqif, Bani Jusyam, Bani Sa‘d bin Bakr, sejumlah kelompok dari Bani Hilal—yang jumlahnya tidak banyak—serta sekelompok orang dari Bani ‘Amr bin ‘Amir dan ‘Auf bin ‘Amir.Mereka datang dengan membawa serta para wanita, anak-anak, kambing, dan unta, bahkan membawa seluruh harta dan keluarga mereka tanpa tersisa. Maka Rasulullah ﷺ keluar menemui mereka dengan pasukan yang beliau bawa saat Fathu Makkah, yaitu sepuluh ribu orang dari kalangan Muhajirin, Anshar, dan kabilah-kabilah Arab. Bersama beliau juga ikut orang-orang Makkah yang baru masuk Islam, yaitu para thulaqā’, yang jumlahnya sekitar dua ribu orang. Beliau pun bergerak bersama mereka menuju musuh.Kedua pasukan bertemu di sebuah lembah antara Makkah dan Thaif yang bernama Hunain. Pertempuran terjadi di sana pada awal pagi, saat suasana masih gelap menjelang subuh. Kaum muslimin menuruni lembah tersebut, sementara pasukan Hawazin telah bersembunyi di dalamnya. Ketika kedua pasukan saling berhadapan, kaum muslimin tiba-tiba diserbu. Mereka dihujani anak panah, pedang-pedang dihunus, dan pasukan musuh menyerang serentak sebagai satu kesatuan, sebagaimana perintah pemimpin mereka. Pada saat itulah kaum muslimin berbalik melarikan diri, sebagaimana yang disebutkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla.Namun Rasulullah ﷺ tetap teguh berdiri. Saat itu beliau menaiki baghal (keledai besar) beliau yang berwarna putih keabu-abuan, mengarahkannya menuju pusat pasukan musuh. Paman beliau, Al-‘Abbas, memegang tali kekang sebelah kanan, dan Abu Sufyan bin Al-Harits bin ‘Abdul Muththalib memegang sebelah kiri, keduanya menahan laju hewan itu agar tidak berjalan terlalu cepat. Rasulullah ﷺ menyerukan nama beliau dan mengajak kaum muslimin untuk kembali, seraya berkata,[ ويقول ] أين يا عباد الله ؟ إلي أنا رسول الله ، ويقول في تلك الحال “Ke mana kalian, wahai hamba-hamba Allah? Kembalilah kepadaku, aku adalah Rasulullah.” Pada saat itu beliau juga mengucapkan:أنا النبي لا كذب أنا ابن عبد المطلب“Aku adalah Nabi, tidak ada dusta.
Aku adalah putra ‘Abdul Muththalib.”وثبت معه من أصحابه قريب من مائة ، ومنهم من قال : ثمانون ، فمنهم : أبو بكر ، وعمر – رضي الله عنهما – والعباس وعلي ، والفضل بن عباس ، وأبو سفيان بن الحارث ، وأيمن بن أم أيمن ، وأسامة بن زيد ، وغيرهم – رضي الله عنهم –Bersama beliau saat itu tetap bertahan sekitar seratus orang dari para sahabat—ada pula yang mengatakan delapan puluh orang. Di antara mereka adalah Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Al-‘Abbas, ‘Ali, Al-Fadhl bin Al-‘Abbas, Abu Sufyan bin Al-Harits, Aiman bin Ummu Aiman, Usamah bin Zaid, dan selain mereka radhiyallahu ‘anhum. ثم أمر – صلى الله عليه وسلم – عمه العباس – وكان جهير الصوت – أن ينادي بأعلى صوته : يا أصحاب الشجرة – يعني شجرة بيعة الرضوان ، التي بايعه المسلمون من المهاجرين والأنصار تحتها ، على ألا يفروا عنه – فجعل ينادي بهم : يا أصحاب السمرة ويقول تارة : يا أصحاب سورة البقرة ،Kemudian Rasulullah ﷺ memerintahkan pamannya, Al-‘Abbas—yang dikenal bersuara lantang—untuk menyeru dengan suara keras: “Wahai para pemilik pohon!” Maksudnya adalah pohon Bai‘at Ridwan, tempat kaum muslimin dari kalangan Muhajirin dan Anshar berbaiat di bawahnya untuk tidak lari meninggalkan beliau. Al-‘Abbas pun menyeru mereka dengan berkata: “Wahai para pemilik pohon samurah!” Terkadang ia juga berseru: “Wahai para pemilik Surah Al-Baqarah!” فجعلوا يقولون : يا لبيك ، يا لبيك ، وانعطف الناس فجعلوا يتراجعون إلى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – حتى إن الرجل منهم إذا لم يطاوعه بعيره على الرجوع ، لبس درعه ، ثم انحدر عنه ، وأرسله ، ورجع بنفسه إلى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – . فلما رجعت شرذمة منهم ، أمرهم عليه السلام أن يصدقوا الحملة ، وأخذ قبضة من التراب بعدما دعا ربه واستنصره ، وقال : Mereka pun menjawab, “Kami penuhi panggilanmu, kami penuhi panggilanmu.” Orang-orang mulai berbalik dan kembali menuju Rasulullah ﷺ. Bahkan ada di antara mereka yang, jika untanya tidak mau berbalik arah, ia mengenakan baju besinya, lalu turun dari untanya, melepaskannya, dan ia sendiri berlari kembali menuju Rasulullah ﷺ.Ketika sejumlah pasukan telah kembali, Rasulullah ﷺ memerintahkan mereka untuk melakukan serangan dengan sungguh-sungguh. Beliau lalu mengambil segenggam tanah setelah berdoa kepada Rabb-nya dan memohon pertolongan-Nya, seraya berkata:اللهم أنجز لي ما وعدتني “Ya Allah, penuhilah untukku apa yang telah Engkau janjikan kepadaku.”ثم رمى القوم بها ، فما بقي إنسان منهم إلا أصابه منها في عينيه وفمه ما شغله عن القتال ، ثم انهزموا ، فاتبع المسلمون أقفاءهم يقتلون ويأسرون ، وما تراجع بقية الناس إلا والأسارى مجدلة بين يدي رسول الله – صلى الله عليه وسلم – Kemudian beliau melemparkan tanah itu ke arah musuh. Tidak ada seorang pun dari mereka kecuali tanah itu mengenai mata dan mulutnya, sehingga menyibukkan mereka dari pertempuran. Akhirnya mereka pun kalah dan melarikan diri.Kaum muslimin mengejar mereka, membunuh dan menawan. Tidaklah sisa pasukan kembali, melainkan para tawanan telah bergelimpangan di hadapan Rasulullah ﷺ.Dalam riwayat Imam Ahmad, dari Abu ‘Abdurrahman Al-Fihri—nama aslinya Yazid bin Usaid, ada pula yang mengatakan Yazid bin Anis, dan ada yang mengatakan Karz—ia berkata:‘Aku pernah bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Hunain. Kami berjalan pada hari yang sangat terik dan panasnya amat menyengat. Kami pun singgah di bawah naungan pepohonan. Ketika matahari telah condong (ke barat), aku mengenakan baju besiku dan menaiki kudaku. Lalu aku berangkat menemui Rasulullah ﷺ, sementara beliau berada di dalam kemahnya. Aku berkata, “Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya tercurah kepadamu, wahai Rasulullah. Apakah sudah waktunya berangkat?” Beliau menjawab, “Ya.”Beliau lalu bersabda, “Wahai Bilal.” Maka Bilal segera bangkit dari bawah pohon samurah, seakan-akan naungannya adalah naungan seekor burung. Ia berkata, “Aku penuhi panggilanmu dan aku siap melayanimu, aku menebusmu dengan diriku.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Pelanakanlah kudaku.” Maka dikeluarkanlah sebuah pelana yang kedua sisinya terbuat dari serat, tidak ada kemewahan dan tidak ada kesombongan padanya.Pelana itu pun dipasangkan. Rasulullah ﷺ menaikinya, dan kami pun menaiki tunggangan kami. Kami berhadapan dengan musuh pada sore hari dan sepanjang malam. Kuda-kuda saling berhadapan, lalu kaum muslimin berbalik melarikan diri, sebagaimana yang difirmankan Allah ‘Azza wa Jalla: “Kemudian kalian berpaling melarikan diri.”Rasulullah ﷺ bersabda, “Wahai hamba-hamba Allah, aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.” Kemudian beliau bersabda lagi, “Wahai kaum Muhajirin, aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.”Kemudian Rasulullah ﷺ meloncat turun dari kudanya, lalu mengambil segenggam tanah. Orang yang paling dekat denganku—yang melihat kejadian itu—mengabarkan kepadaku bahwa Rasulullah ﷺ melemparkan tanah tersebut ke wajah mereka seraya bersabda, “Binasalah wajah-wajah itu.” Maka Allah ‘Azza wa Jalla pun mengalahkan mereka.Ya‘la bin ‘Atha’ berkata: “Anak-anak mereka menceritakan kepadaku, dari para ayah mereka, bahwa mereka berkata: ‘Tidak ada seorang pun dari kami yang tersisa, kecuali kedua matanya dan mulutnya penuh dengan tanah. Dan kami mendengar suara gemerincing antara langit dan bumi, seperti bunyi besi yang digesekkan pada bejana baru.’”Demikian pula hadits ini diriwayatkan oleh Al-Hafizh Al-Baihaqi dalam kitab Dalā’il an-Nubuwwah, melalui riwayat Abu Dawud Ath-Thayalisi, dari Hammad bin Salamah, dengan sanad yang sama.Muhammad bin Ishaq berkata: “Telah menceritakan kepadaku ‘Ashim bin ‘Umar bin Qatadah, dari ‘Abdurrahman bin Jabir, dari ayahnya, Jabir, dari ‘Abdullah,” ia berkata:Malik bin ‘Auf keluar bersama pasukannya menuju Hunain. Ia tiba lebih dahulu daripada Rasulullah ﷺ, lalu mereka menyiapkan diri dan bersiaga di tempat-tempat sempit serta lekuk-lekuk lembah. Rasulullah ﷺ pun datang bersama para sahabatnya, hingga mereka turun memasuki lembah pada saat pagi masih gelap. Ketika orang-orang mulai menuruni lembah itu, tiba-tiba pasukan berkuda musuh menyerbu ke arah mereka. Serangan itu terasa sangat berat, sehingga orang-orang pun berbalik lari tunggang-langgang, tidak ada seorang pun yang menoleh kepada yang lain.Rasulullah ﷺ pun bergerak ke arah kanan sambil berseru, “Wahai manusia, kemarilah kepadaku! Aku adalah Rasulullah! Aku adalah Rasulullah! Aku adalah Muhammad bin ‘Abdullah!” Namun tidak ada yang menyahut. Unta-unta pun saling bertubrukan satu sama lain. Ketika Rasulullah ﷺ melihat keadaan kaum muslimin seperti itu, beliau bersabda, “Wahai ‘Abbas, berserulah: Wahai kaum Anshar, wahai para pemilik pohon samurah!”Mereka pun menjawab, “Kami penuhi panggilanmu, kami penuhi panggilanmu.” Seseorang di antara mereka berusaha membelokkan untanya, namun tidak mampu. Maka ia pun melemparkan baju besinya ke lehernya, mengambil pedang dan busurnya, lalu menuju ke arah suara panggilan itu, hingga berkumpul di sekitar Rasulullah ﷺ sekitar seratus orang. Rasulullah ﷺ kemudian mengatur barisan mereka, lalu terjadilah pertempuran sengit.Pada awalnya seruan itu ditujukan kepada kaum Anshar, kemudian di akhir kepada kabilah Khazraj, dan mereka adalah orang-orang yang sangat tegar dalam peperangan. Rasulullah ﷺ pun menampakkan diri di atas tunggangannya dan melihat sengitnya pertempuran, lalu bersabda, “Sekarang benar-benar berkobarlah api peperangan.”Demi Allah, tidaklah orang-orang kembali, melainkan para tawanan telah tergeletak di hadapan Rasulullah ﷺ. Allah membinasakan siapa yang dibinasakan-Nya dari mereka, dan sebagian lainnya melarikan diri. Allah pun memberikan kepada Rasul-Nya harta dan anak-anak mereka sebagai rampasan.Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari hadits Syu‘bah, dari Abu Ishaq, dari Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepadanya, “Wahai Abu ‘Umarah, apakah kalian lari meninggalkan Rasulullah ﷺ pada hari Hunain?” Ia menjawab, “Ya, tetapi Rasulullah ﷺ tidak lari. Sesungguhnya Hawazin adalah kaum pemanah. Ketika kami berjumpa dengan mereka dan menyerang mereka, mereka pun mundur. Lalu orang-orang sibuk mengumpulkan harta rampasan, maka pasukan Hawazin kembali menyerang kami dengan hujan anak panah, sehingga orang-orang pun berlarian. Sungguh aku melihat Rasulullah ﷺ, sementara Abu Sufyan bin Al-Harits memegang tali kekang baghal putih Rasulullah ﷺ, dan beliau berkata: ‘Aku adalah Nabi, tidak ada dusta. 
Aku adalah putra ‘Abdul Muththalib.’”Aku berkata: Ini merupakan puncak keberanian yang paling sempurna. Pada hari seperti itu, di tengah kancah pertempuran yang berkecamuk, ketika pasukannya telah tercerai-berai darinya, beliau tetap berada di atas seekor baghal yang bukan tunggangan cepat, tidak cocok untuk menyerang, mundur, ataupun melarikan diri. Namun dalam keadaan seperti itu, beliau justru mengarahkannya ke hadapan musuh dan menyebutkan nama beliau agar dikenal oleh siapa pun yang belum mengenalnya. Semoga shalawat dan salam Allah senantiasa tercurah kepada beliau hingga hari kiamat.Semua itu tidak lain adalah karena keyakinan beliau kepada Allah, tawakal kepada-Nya, dan pengetahuan beliau bahwa Allah pasti akan menolongnya, menyempurnakan risalah yang diembankan kepadanya, dan memenangkan agamanya atas seluruh agama lainnya. Allah Turunkan Sakinah pada Perang HunainAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ أَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ۚ وَذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلْكَٰفِرِينَ“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 26)Oleh karena itu, Allah Ta‘ālā berfirman:﴿ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ﴾Artinya, Allah menurunkan ketenangan dan keteguhan kepada Rasul-Nya.Dan firman-Nya:﴿وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ﴾Maksudnya, kepada orang-orang beriman yang bersama beliau.Dan firman-Nya:﴿وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا﴾Yaitu para malaikat, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Abu Ja‘far bin Jarir.Ia berkata:Telah menceritakan kepada kami Al-Qasim, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Al-Hasan bin ‘Arafah, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Al-Mu‘tamir bin Sulaiman, dari ‘Auf—yaitu Ibnu Abi Jamīlah Al-A‘rābi—ia berkata: aku mendengar ‘Abdurrahman, mantan budak Ibnu Baratsan, ia menceritakan kepadaku dari seorang lelaki yang berada di pihak orang-orang musyrik pada hari Perang Hunain. Lelaki itu berkata:“Ketika kami bertemu dengan para sahabat Rasulullah ﷺ pada hari Hunain, mereka sama sekali tidak mampu bertahan menghadapi kami, bahkan sekejap pun. Ketika kami berhasil memukul mundur mereka, kami terus mengejar mereka hingga akhirnya kami sampai kepada seorang laki-laki yang berada di atas seekor bagal putih. Ternyata dia adalah Rasulullah ﷺ.Di dekat beliau, kami disambut oleh orang-orang berpakaian putih, berwajah tampan. Mereka berkata kepada kami: ‘Semoga wajah-wajah kalian menjadi buruk! Kembalilah!’Maka kami pun langsung lari tunggang-langgang. Mereka menaiki tengkuk-tengkuk kami, dan kekalahan itu pun menimpa kami.”Al-Ḥāfiẓ Abu Bakr Al-Baihaqi berkata:Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Abdillah Al-Ḥāfiẓ, telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ahmad bin Bālawaih, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Al-Hasan Al-Harbi, telah menceritakan kepada kami ‘Affān bin Muslim, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wāḥid bin Ziyād, telah menceritakan kepada kami Al-Ḥārith bin Ḥuṣairah, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim bin ‘Abdurrahman, dari ayahnya, ia berkata:Ibnu Mas‘ūd radhiyallahu ‘anhu berkata:“Aku bersama Rasulullah ﷺ pada hari Perang Hunain. Ketika itu orang-orang tercerai-berai meninggalkan beliau, dan yang tersisa bersama beliau hanyalah delapan puluh orang dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Kami maju ke depan dan tidak membelakangi musuh. Merekalah orang-orang yang Allah turunkan kepada mereka ketenangan.Rasulullah ﷺ berada di atas bagalnya dan terus maju. Bagalnya sempat menyimpang sehingga beliau hampir miring dari pelana. Aku berkata: ‘Bangkitlah, semoga Allah meninggikanmu.’Beliau bersabda: ‘Berikan kepadaku segenggam tanah.’ Aku pun memberikannya. Lalu beliau melemparkan tanah itu ke wajah mereka, hingga mata-mata mereka penuh dengan debu.Kemudian beliau bersabda: ‘Di mana kaum Muhajirin dan Anshar?’Aku menjawab: ‘Mereka ada di sana.’Beliau bersabda: ‘Panggil mereka!’Aku pun memanggil mereka. Mereka datang dengan pedang-pedang terhunus di tangan kanan mereka, seakan-akan kilatan cahaya. Maka orang-orang musyrik pun membalikkan badan mereka dan lari.”Riwayat ini juga dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dari ‘Affān, dengan lafaz yang hampir sama.Al-Walīd bin Muslim berkata:Telah menceritakan kepadaku ‘Abdullāh bin al-Mubārak, dari Abū Bakr al-Hudzalī, dari ‘Ikrimah—mantan budak Ibnu ‘Abbās—dari Syaibah bin ‘Utsmān, ia berkata:“Ketika aku melihat Rasulullah ﷺ pada hari Perang Hunain dalam keadaan terbuka (tidak terlindungi), aku teringat ayah dan pamanku yang terbunuh oleh ‘Ali dan Hamzah. Maka aku berkata dalam hatiku: ‘Hari ini aku akan menuntut balasku darinya.’Aku pun bergerak hendak mendatanginya dari sisi kanan. Namun tiba-tiba aku melihat al-‘Abbās bin ‘Abdul Muththalib berdiri, mengenakan baju besi putih seperti perak, debu pertempuran menyingkapinya. Aku berkata: ‘Itu pamannya, ia pasti tidak akan membiarkannya.’Lalu aku mendatanginya dari sisi kiri, ternyata di sana ada Abū Sufyān bin al-Ḥārith bin ‘Abdul Muththalib. Aku berkata: ‘Itu sepupunya, ia pun tidak akan membiarkannya.’Aku pun mendatanginya dari arah belakang. Tidak tersisa lagi bagiku kecuali mengayunkan pedang kepadanya. Tiba-tiba muncul di hadapanku nyala api di antara aku dan dia, seperti kilat. Aku takut api itu akan membakarku, maka aku menutup mataku dengan tanganku dan mundur perlahan.Rasulullah ﷺ lalu menoleh kepadaku dan bersabda: ‘Wahai Syaibah, wahai Syaibah, mendekatlah kepadaku. Ya Allah, hilangkanlah setan darinya.’Aku pun mengangkat pandanganku ke arah beliau. Saat itu, beliau menjadi lebih aku cintai daripada pendengaran dan penglihatanku sendiri. Lalu beliau bersabda: ‘Wahai Syaibah, perangilah orang-orang kafir.’”Karena itulah Allah Ta‘ālā berfirman:﴿ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ﴾“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 26) Kaum Hawazin Masuk IslamAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ يَتُوبُ ٱللَّهُ مِنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 26)Allah benar-benar telah menerima tobat sisa kaum Hawāzin. Mereka masuk Islam dan datang menemui Rasulullah ﷺ dalam keadaan sebagai kaum muslimin. Mereka menyusul beliau ketika beliau telah mendekati Mekah, tepatnya di Ji‘rānah, sekitar dua puluh hari setelah peristiwa perang.Pada saat itu, Rasulullah ﷺ memberi mereka pilihan antara mengambil kembali para tawanan mereka atau mengambil kembali harta-harta mereka. Mereka memilih para tawanan mereka. Jumlah tawanan itu sekitar enam ribu orang, terdiri dari anak-anak dan para perempuan. Maka Rasulullah ﷺ mengembalikan seluruh tawanan itu kepada mereka.Adapun harta rampasan perang, beliau membagikannya kepada para prajurit yang ikut berperang. Beliau juga memberikan tambahan pemberian (nafal) kepada sebagian orang dari golongan ṭulaqā’ (orang-orang yang baru masuk Islam setelah Fathu Mekah), dengan tujuan melembutkan hati mereka agar semakin kokoh dalam Islam. Beliau memberi mereka masing-masing seratus ekor unta.Di antara orang yang diberi seratus ekor unta tersebut adalah Mālik bin ‘Auf an-Naḍrī. Rasulullah ﷺ bahkan mengangkatnya kembali sebagai pemimpin atas kaumnya sebagaimana sebelumnya. Karena itu, Mālik bin ‘Auf memuji Rasulullah ﷺ dengan sebuah qasidah yang di antaranya berbunyi:Aku tidak pernah melihat dan tidak pernah mendengar
di tengah seluruh manusia seseorang seperti Muhammad.Paling menepati janji dan paling banyak memberi,
bila diminta kebaikan; dan kapan pun engkau kehendaki,
ia mampu mengabarkan apa yang akan terjadi esok hari.Jika pasukan telah menampakkan taring-taringnya,
dengan tombak-tombak lurus dan pedang-pedang tajam,Maka ia laksana singa di tengah anak-anaknya,
tenang di tengah debu peperangan, siap mengintai musuh. Kisah Dzul Khuwaishirah yang Menuntut Rasulullah untuk AdilKemudian datanglah utusan dari Hawazin yang telah masuk Islam di Ji‘ranah. Mereka berbicara kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, kami memiliki keluarga dan kerabat. Kami telah tertimpa musibah yang tidak tersembunyi bagimu. Maka berilah kami sebagian dari apa yang Allah berikan kepadamu.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“أَبْنَاؤُكُمْ وَنِسَاؤُكُمْ أَحَبُّ إِلَيْكُمْ أَمْ أَمْوَالُكُمْ؟”“Anak-anak dan wanita kalian lebih kalian cintai atau harta kalian?”Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, engkau memberi kami pilihan antara harta dan keluarga kami, maka kami memilih agar wanita dan anak-anak kami dikembalikan kepada kami. Itu lebih kami cintai.”Beliau bersabda kepada mereka,“أَمَّا مَا كَانَ لِي وَلِبَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَهُوَ لَكُمْ”“Adapun yang menjadi bagianku dan bagian Bani Abdul Muththalib, maka itu untuk kalian.”Kemudian beliau berkata, “Jika aku telah selesai salat Zuhur bersama manusia, maka berdirilah kalian dan katakan: ‘Kami memohon syafaat kepada Rasulullah kepada kaum muslimin, dan kepada kaum muslimin agar membantu kami dalam urusan wanita dan anak-anak kami.’”Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai salat Zuhur bersama manusia, mereka pun berdiri dan menyampaikan apa yang diperintahkan kepada mereka. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“أَمَّا مَا كَانَ لِي وَلِبَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَهُوَ لَكُمْ”“Adapun yang menjadi bagianku dan bagian Bani Abdul Muththalib, maka itu untuk kalian.”Kaum Muhajirin berkata, “Apa yang menjadi bagian kami, maka itu untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Al-Aqra‘ bin Habis berkata, “Adapun aku dan Bani Tamim, tidak.”‘Uyainah bin Hishn berkata, “Adapun aku dan Bani Fazarah, tidak.”Al-‘Abbas bin Mirdas berkata, “Adapun aku dan Bani Sulaim, tidak.”Namun Bani Sulaim berkata, “Bahkan, apa yang menjadi bagian kami, maka itu untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“أَمَّا مَنْ تَمَسَّكَ مِنْكُمْ بِحَقِّهِ مِنْ هَذَا السَّبْيِ فَلَهُ بِكُلِّ إِنْسَانٍ سِتُّ فَرَائِضَ مِنْ أَوَّلِ سَبْيٍ أُصِيبَهُ”“Adapun siapa di antara kalian yang tetap mempertahankan haknya dari tawanan ini, maka baginya setiap satu orang (yang ia lepaskan) akan diganti dengan enam bagian dari tawanan pertama yang akan kami dapatkan.”Maka mereka pun mengembalikan anak-anak dan wanita kepada kaum tersebut.Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Ji‘ranah, sementara di tangan Bilal ada pakaian, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil darinya untuk dibagikan kepada manusia. Lalu orang itu berkata, “Wahai Muhammad, berlakulah adil!”Beliau bersabda,“وَيْلَكَ، وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ؟ لَقَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ”“Celakalah engkau! Siapa yang akan berlaku adil jika aku tidak berlaku adil? Sungguh engkau akan rugi dan merugi jika aku tidak berlaku adil.”Maka Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Wahai Rasulullah, izinkan aku membunuh orang munafik ini.”Beliau bersabda,“مَعَاذَ اللَّهِ، أَنْ يَتَحَدَّثَ النَّاسُ أَنِّي أَقْتُلُ أَصْحَابِي”“Aku berlindung kepada Allah dari ucapan orang-orang bahwa aku membunuh para sahabatku.”Beliau melanjutkan,“إِنَّ هَذَا وَأَصْحَابَهُ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنْهُ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ”“Sesungguhnya orang ini dan pengikutnya membaca Al-Qur’an, tetapi tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah melesat dari sasarannya.”Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan harta kepada orang-orang Quraisy dan kabilah Arab lainnya, sementara kaum Anshar tidak mendapatkan bagian, maka sebagian dari mereka merasakan sesuatu dalam hati mereka, hingga salah seorang dari mereka berkata, “Demi Allah, Rasulullah telah menemui kaumnya.”Maka Sa‘d bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kaum Anshar merasakan sesuatu dalam hati mereka terhadap apa yang engkau lakukan, yaitu engkau membagi kepada kaummu dan memberikan pemberian besar kepada kabilah Arab, sementara kaum Anshar tidak mendapatkan bagian apa pun.”Beliau bersabda, “Di manakah posisi engkau dalam hal ini, wahai Sa‘d?”Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, aku hanyalah bagian dari kaumku.”Beliau bersabda, “Kumpulkanlah kaummu di tempat ini.”Maka Sa‘d mengumpulkan kaum Anshar di tempat tersebut. Setelah mereka berkumpul, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di tengah mereka, memuji Allah dan menyanjung-Nya, lalu bersabda:“يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ، مَا قَالَةٌ بَلَغَتْنِي عَنْكُمْ؟”“Wahai kaum Anshar, apa ucapan yang sampai kepadaku dari kalian?”Mereka menjawab, “Adapun orang-orang bijak di antara kami, wahai Rasulullah, mereka tidak mengatakan apa-apa. Namun sebagian dari kami yang masih muda berkata: ‘Semoga Allah mengampuni Rasulullah, beliau memberi kepada Quraisy dan meninggalkan kami, sementara pedang kami masih meneteskan darah mereka.’”Maka beliau bersabda,“أَلَمْ آتِكُمْ ضُلَّالًا فَهَدَاكُمُ اللَّهُ، وَعَالَةً فَأَغْنَاكُمُ اللَّهُ، وَأَعْدَاءً فَأَلَّفَ اللَّهُ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ؟”“Bukankah dahulu kalian dalam keadaan sesat lalu Allah memberi kalian petunjuk, kalian dalam keadaan miskin lalu Allah mencukupkan kalian, dan kalian saling bermusuhan lalu Allah menyatukan hati kalian?”Mereka menjawab, “Benar, Allah dan Rasul-Nya lebih banyak memberi karunia dan keutamaan.”Beliau bersabda,“أَلَا تُجِيبُونِي يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ؟”“Mengapa kalian tidak menjawabku, wahai kaum Anshar?”Mereka berkata, “Apa yang harus kami katakan, wahai Rasulullah? Bagi Allah dan Rasul-Nya segala karunia dan keutamaan.”Beliau bersabda,“أَمَا وَاللَّهِ لَوْ شِئْتُمْ لَقُلْتُمْ فَلَصَدَقْتُمْ وَلَصُدِّقْتُمْ: أَتَيْتَنَا مُكَذَّبًا فَصَدَّقْنَاكَ، وَمَخْذُولًا فَنَصَرْنَاكَ…”“Demi Allah, seandainya kalian mau, kalian bisa mengatakan—dan kalian benar—: ‘Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami membenarkanmu; engkau datang dalam keadaan ditinggalkan, lalu kami menolongmu lalu kalian menolongku, aku datang dalam keadaan terusir lalu kalian melindungiku, dan dalam keadaan miskin lalu kalian mencukupkanku.”“Wahai kaum Anshar, apakah kalian merasakan sesuatu dalam hati kalian karena sedikit bagian dunia yang dengannya aku ingin melunakkan hati suatu kaum agar mereka masuk Islam, sementara aku menyerahkan keislaman kalian (tanpa diberi bagian dunia)? Tidakkah kalian ridha, wahai kaum Anshar, bahwa manusia kembali dengan kambing dan unta, sedangkan kalian kembali membawa Rasulullah ke tempat tinggal kalian?”“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seandainya bukan karena hijrah, niscaya aku termasuk bagian dari kaum Anshar. Jika manusia menempuh suatu jalan dan kaum Anshar menempuh jalan lain, pasti aku akan menempuh jalan kaum Anshar. Ya Allah, rahmatilah kaum Anshar, anak-anak Anshar, dan cucu-cucu Anshar.”Maka kaum itu pun menangis hingga janggut mereka basah, dan mereka berkata, “Kami ridha dengan Rasulullah sebagai bagian kami dan pembagian yang kami terima.”Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pergi, dan mereka pun berpisah. Delegasi Tsaqif Datang Menemui Rasulullah ﷺRasulullah ﷺ tiba di Madinah dalam keadaan menang, setelah Allah memuliakan beliau dengan kemenangan atas dua kekuatan Arab terbesar di Jazirah Arab. Beliau memasuki Madinah pada malam keenam yang tersisa dari bulan Dzulqa‘dah.Adapun kaum Tsaqif, mereka tetap bertahan dalam keadaan takut hingga Rasulullah ﷺ pulang dari perang Tabuk. Setelah itu mereka datang menemui Nabi ﷺ. Al-Mughirah bin Syu‘bah radhiyallahu ‘anhu lebih dahulu menemui mereka, lalu ia meminta kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu agar menjadi orang yang menyampaikan kabar gembira kepada Rasulullah ﷺ tentang kedatangan mereka. Abu Bakar pun menyetujuinya. Maka Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu masuk menemui Rasulullah ﷺ dan menyampaikan kabar gembira tersebut.Rasulullah ﷺ kemudian mendirikan kemah untuk mereka di masjid agar mereka merasa dekat dengan Islam. Disebutkan dari Al-Hasan rahimahullah, dari ‘Utsman bin Abi Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu, bahwa ketika delegasi Tsaqif datang menemui Rasulullah ﷺ, beliau menempatkan mereka di masjid agar hati mereka menjadi lebih lunak.Mereka lalu mengajukan syarat agar tidak diwajibkan ikut perang dan tidak dibebani zakat. Rasulullah ﷺ bersabda:«لَكُمْ أَنْ لَا تُحْشَرُوا وَلَا تُعْشَرُوا، وَلَا خَيْرَ فِي دِينٍ لَيْسَ فِيهِ رُكُوعٌ»“Kalian tidak diwajibkan keluar untuk berjihad dan tidak dipungut sepersepuluh harta (usyur), tetapi tidak ada kebaikan pada agama yang tidak ada rukuk di dalamnya.”Mereka juga meminta agar Rasulullah ﷺ menunda penghancuran berhala Al-Lat selama tiga tahun. Namun beliau menolak kecuali berhala itu harus dihancurkan. Mereka lalu meminta agar mereka tidak diperintahkan menghancurkannya sendiri. Maka Rasulullah ﷺ mengutus Abu Sufyan dan Al-Mughirah bin Syu‘bah radhiyallahu ‘anhuma untuk menghancurkan Al-Lat.Beliau juga mengangkat ‘Utsman bin Abi Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu sebagai pemimpin mereka, padahal usianya paling muda di antara mereka. Hal itu karena Rasulullah ﷺ melihat semangatnya dalam mempelajari Al-Qur’an dan mendalami agama. Disebutkan pula bahwa beliau memerintahkannya menjadikan tempat berhala mereka sebagai lokasi masjid Thaif. Pelajaran yang Dipetik dari Perang Hunain dan Pengepungan ThaifPertama: Sesungguhnya Allah dengan taufik-Nya mengatur urusan hamba-hamba-Nya yang beriman, bersikap lembut kepada mereka, dan melindungi mereka dari tipu daya orang-orang kafir. Allah menjadikan apa yang Dia kehendaki sebagai harta rampasan bagi kaum muslimin.Tidaklah Rasulullah ﷺ keluar menghadapi kekuatan besar kaum Quraisy di Makkah, kecuali karena Allah menanamkan rasa takut ke dalam hati kaum Hawazin, sehingga mereka berhenti bergerak untuk memerangi Rasulullah ﷺ. Bahkan Allah menjadikan mereka menghadapi Rasulullah ﷺ dengan membawa serta wanita-wanita dan harta-harta mereka berupa unta dan kambing yang jumlahnya hanya diketahui oleh Allah.Semua itu terjadi agar harta rampasan tersebut menjadi milik kaum muslimin, yang dengannya Rasulullah ﷺ dapat menggunakannya untuk melembutkan dan menautkan hati serta mengobati luka batin penduduk Makkah, setelah mereka mengalami kekalahan besar yang sangat melukai perasaan mereka.Pada fase dakwah ini, Rasulullah ﷺ sangat membutuhkan upaya penaklukan hati, sementara beliau sendiri tidak memiliki apa-apa, bahkan sampai harus meminjam baju besi dari Shafwan. Maka datanglah harta-harta rampasan dan kekayaan yang besar ini, lalu Rasulullah ﷺ menggunakannya untuk menundukkan hati para pemimpin yang sebelumnya telah “hilang akal sehatnya” (karena kebencian dan permusuhan).Mahasuci Allah, Sang Pengatur segala urusan dan Pembolak-balik hati sesuai kehendak-Nya. Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.Kedua: Peristiwa Rasulullah ﷺ meminjam baju besi dari Shafwan bin Umayyah mengandung beberapa pelajaran, di antaranya:Keterbatasan sarana material yang dimiliki pasukan Rasulullah ﷺ, hingga beliau harus meminjam senjata dari seorang musyrik.Bolehnya seorang imam atau pemimpin meminjam senjata milik orang musyrik untuk memerangi musuh. Peristiwa ini termasuk salah satu bentuk isti‘ānah (meminta bantuan).Barang pinjaman (al-‘āriyah) itu bersifat tanggungan, meskipun barang yang dipinjam tersebut adalah milik orang musyrik, meski dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan para fuqaha.Ketiga: Malik an-Nadhri mengutus seorang mata-mata sebagai pemimpin pasukan Tsaqif dan Hawazin agar ia mengamati langsung keadaan Rasulullah ﷺ dan berita tentang pasukan kaum muslimin.Ketika mata-mata itu kembali kepada Malik, terlihat jelas pada wajahnya tanda-tanda ketakutan dan kegentaran. Maka Malik bertanya, “Apa yang terjadi dengan kalian?”Mereka menjawab, “Kami melihat para lelaki yang berpakaian putih, menaiki kuda-kuda hitam pekat. Demi Allah, kami sama sekali tidak mampu bertahan, dan apa yang kami alami benar-benar tidak terbayangkan.”Malik pun tidak mampu menolak atau menghalangi mereka dari tujuan dan niat tersebut.Peristiwa ini merupakan salah satu bentuk rasa takut (ar-ru‘b) yang Allah berikan sebagai pertolongan kepada Rasul-Nya ﷺ dan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.Allah Ta‘ala berfirman:﴿ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ فَرِيقًا تَقْتُلُونَ وَتَأْسِرُونَ فَرِيقًا ﴾“Dan Dia menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka; sebagian mereka kalian bunuh dan sebagian yang lain kalian tawan.” (QS. Al-Ahzab: 26)Dan Allah Ta‘ala juga berfirman:﴿ سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا ۖ وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ ۖ وَبِئْسَ مَثْوَى الظَّالِمِينَ ﴾“Akan Kami tanamkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir, karena mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan dalil tentang itu. Tempat mereka adalah neraka, dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal bagi orang-orang zalim.” (QS. Ali ‘Imran: 151)Dan Rasulullah ﷺ bersabda:«نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ»“Aku ditolong dengan rasa takut (yang ditanamkan ke dalam hati musuh).” (HR. Bukhari dan Muslim)Keempat: Ketika ada seorang laki-laki dari kaum muslimin berkata, “Kita tidak akan dikalahkan hari ini karena jumlah yang sedikit,” Rasulullah ﷺ tidak menyukai ucapan tersebut, karena beliau mengetahui akibat buruk dari perkataan semacam itu. Dari sini kita dapat mengambil pelajaran sebagai berikut:1. Ucapan satu orang saja, sebagaimana disebutkan oleh para ahli sirah, bisa menjadi sebab datangnya musibah besar yang menimpa seluruh pasukan secara keseluruhan. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya waspada agar tidak mendatangkan bencana bagi komunitasnya atau keluarganya akibat keburukan yang muncul dari perbuatannya atau ucapannya.2. Meskipun hanya satu kalimat, namun dengan sebab itulah bencana terjadi. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:«إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ، مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ» “Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan satu kata, yang ia tidak memperhatikan akibatnya, lalu karena kata itu ia tergelincir ke dalam neraka sejauh jarak antara timur.” (HR. Bukhari dan Muslim)3. Ini menunjukkan kelemahan tabiat manusia dan cepatnya ia tertipu oleh rasa bangga. Seseorang bisa saja, ketika melihat banyaknya jumlah pasukan, merasa kagum, tertipu oleh kekuatan semu itu, lalu membesarkan dirinya dan merasa yakin akan kemenangan. Ia pun mengucapkan kalimat tersebut, yang muncul dari kelemahan manusiawi yang kadang menimpa seorang hamba dalam kondisi tertentu, ketika ia tidak selalu menghadirkan rasa takwa kepada Allah, pengawasan-Nya, ketundukan kepada-Nya, serta kesadaran atas nikmat-nikmat-Nya.4. Besarnya bahaya perkara ini, karena berkaitan langsung dengan akidah. Seorang muslim, di antara bentuk ibadah terbesar yang ia lakukan, adalah tunduk kepada Allah, bersyukur atas nikmat-Nya, dan waspada dari kelalaian dalam hal ini. Hendaknya ia menyadari bahwa rasa ujub (bangga diri) dan masuknya kesombongan ke dalam hati termasuk dosa-dosa besar yang dapat membinasakan.5. Besarnya bahaya perkara ini juga ditunjukkan oleh hukuman yang terjadi secara langsung, serta ayat-ayat yang turun untuk menegur umat agar mereka mengambil pelajaran untuk masa depan mereka. Karena itu, ucapan semacam ini tidak boleh dianggap remeh. Abu Bakar al-Jazā’irī rahimahullah berkata dalam penjelasannya: “Haramnya merasa kagum terhadap diri sendiri, terhadap amal, atau terhadap kekuatan. Sebab, akibat dari sikap tersebut adalah kekalahan kaum mukminin pada awal pertempuran mereka melawan musuh.”6. Pada peristiwa ini juga terdapat pelajaran akidah yang sangat penting. Jika Perang Badar telah menetapkan bagi kaum muslimin bahwa jumlah yang sedikit tidak membahayakan mereka di hadapan musuh-musuh mereka apabila mereka bersabar, bertakwa, dan hati mereka bergantung kepada Allah Ta’ala, maka Perang Hunain menetapkan bagi kaum muslimin bahwa jumlah yang banyak pun tidak akan memberi manfaat sedikit pun, apabila hati mereka tidak bergantung kepada Allah Ta’ala. Perang Hunain telah menetapkan bagi kaum muslimin bahwa jumlah yang banyak pun tidak akan memberi manfaat apa pun, apabila hati mereka tidak bergantung kepada Allah.Kelima: Dalam ucapan sebagian orang yang diucapkan di hadapan Rasulullah ﷺ: “Jadikanlah untuk kami dzātu anwāṭ sebagaimana mereka memiliki dzātu anwāṭ,” terdapat beberapa pelajaran penting, di antaranya:Orang-orang yang mengucapkan kalimat tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh perawi hadits Abu Wāqid al-Laitsī radhiyallāhu ‘anhu, adalah orang-orang yang baru saja keluar dari kekafiran. Mereka termasuk orang-orang yang baru masuk Islam setelah penaklukan Makkah atau sesudahnya, dan bukan dari kalangan sahabat yang telah lebih dahulu masuk Islam. Karena itu, perkara seperti ini tidak mungkin muncul dari para sahabat terdahulu, dan tidak pantas disangka atau dituduhkan kepada mereka. Semoga Allah Ta‘ālā meridai mereka semua.Kewajiban bersikap sangat waspada terhadap kesyirikan. Orang-orang tersebut tidak bermaksud menggantungkan diri kepada pohon sebagaimana praktik orang-orang musyrik, namun Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ucapan mereka serupa dengan ucapan para pengikut Nabi Musa, yaitu: “Jadikanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan.” Maka perhatikanlah bagaimana cara melakukan tabarruk (mencari berkah), memohon keberkahan, beribadah, dan mendekatkan diri kepada yang diberkahi. Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas‘ūd radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Kami pernah bersama Rasulullah ﷺ dalam sebuah perjalanan, lalu kami kehabisan air. Rasulullah ﷺ bersabda:«اطْلُبُوا فَضْلَةً مِنْ مَاءٍ»“Carilah sisa air.”Lalu didatangkan sebuah bejana yang di dalamnya terdapat sedikit air. Rasulullah ﷺ memasukkan tangannya ke dalam bejana itu, kemudian bersabda:«حَيَّ عَلَى الطَّهُورِ الْمُبَارَكِ، وَالْبَرَكَةُ مِنَ اللَّهِ» “Marilah kepada air bersuci yang diberkahi, dan keberkahan itu berasal dari Allah.” Yakni, keberkahan tidak diminta kecuali dari Allah semata, tidak dari selain-Nya. Dialah Allah —dengan mematahkan anggapan keliru— tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia.Pintu tabarruk termasuk pintu terbesar yang melaluinya kesyirikan masuk ke tengah manusia. Awalnya, orang-orang mengagungkan para ulama dan orang-orang saleh, lalu meminta doa kepada mereka. Setelah itu, mereka mulai mengusap-usap (tabarruk) kepada mereka, dan meyakini bahwa para tokoh tersebut memiliki kemampuan memberi keberkahan karena kesalehan dan kedudukan mereka di sisi Allah. Ketika mereka terus-menerus meminta keberkahan kepada orang-orang tersebut, muncullah praktik tabarruk kepada para wali dan orang-orang saleh, kemudian tabarruk kepada kuburan, bahkan berkembang menjadi tabarruk kepada pepohonan dan batu-batuan. Semua ini merupakan penyimpangan yang besar.Meminta Keberkahan kepada Allah SemataKeberkahan diminta dari Zat yang memilikinya, bukan dari yang tidak memilikinya. Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, beliau sangat mencintainya dan berharap keberkahan ada di dalamnya, lalu beliau berdoa kepada Allah Subḥānahu. Dalam hadits Abu Sa‘īd al-Khudrī radhiyallāhu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:«اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي مَدِينَتِنَا، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي صَاعِنَا، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي مُدِّنَا، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي مَدِينَتِنَا، اللَّهُمَّ اجْعَلْ مَعَ الْبَرَكَةِ بَرَكَتَيْنِ» (1)“Ya Allah, berkahilah kota Madinah kami. Ya Allah, berkahilah sha‘ kami. Ya Allah, berkahilah mudd kami. Ya Allah, berkahilah kota Madinah kami. Ya Allah, jadikanlah keberkahan itu berlipat ganda.”Beliau berdoa agar Allah memberikan keberkahan pada Madinah, makanan pokok mereka, dan takaran mereka. Maka, jika Rasulullah ﷺ sendiri meminta keberkahan dari Allah, sudah seharusnya kita tidak meminta keberkahan kecuali kepada Allah.Adapun meminta keberkahan kepada selain-Nya, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang meminta keberkahan dengan menggantungkan senjata mereka pada pohon, maka perbuatan itu sama dengan ucapan “Jadikanlah untuk kami sesembahan”, dan berarti menjadikan tandingan bagi Allah.Maka orang-orang seperti ini harus diberi peringatan keras, diarahkan untuk kembali kepada Allah, dan dicegah dari mencari keberkahan dengan cara yang menyimpang, sebagaimana mereka juga dicegah dari penyimpangan dalam seluruh bentuk ibadah lainnya. Nasihat Mengenai Ngalap Berkah (Tabarruk)Maka seharusnya orang-orang seperti ini sadar dan kembali kepada Allah. Hendaknya mereka bersungguh-sungguh dalam mencari keberkahan hanya kepada-Nya, sebagaimana mereka bersungguh-sungguh dalam berbagai bentuk ibadah lainnya.1. Perhatikan apa yang diminta oleh mereka kepada Rasulullah ﷺ.Mereka berkata, “Jadikanlah untuk kami Dzātu Anwāṭ sebagaimana mereka memiliki Dzātu Anwāṭ.”Dalam Fathul Majīd dijelaskan bahwa maksudnya, mereka tidak meminta agar dibuatkan sesembahan selain Allah—karena mereka tentu lebih paham dan lebih mulia dari itu—tetapi mereka hanya meminta sebuah pohon yang diberi izin oleh Nabi untuk mereka bertabarruk (mengambil berkah darinya), dengan cara menggantungkan senjata-senjata mereka di sana, tanpa melakukan shalat atau sedekah untuknya.Namun Nabi ﷺ menjelaskan bahwa permintaan mereka untuk bertabarruk tersebut—meskipun tidak disertai shalat atau sedekah—tetap termasuk syirik itu sendiri. Di dalamnya terdapat bantahan terhadap syubhat kaum musyrik di zaman ini yang mengira bahwa apa yang mereka lakukan berupa tabarruk dan pengagungan adalah sesuatu yang tidak mengapa.2. Apa yang mereka minta bukanlah syirik kecil.Seandainya Nabi ﷺ mengabulkannya, tentu itu serupa dengan ucapan Bani Israil kepada Nabi mereka, “Jadikanlah untuk kami sesembahan.” Demi Allah, itu termasuk syirik besar. Namun Bani Israil tidak langsung dikafirkan karena permintaan tersebut, sebab mereka baru saja meninggalkan kekafiran dan masuk ke dalam Islam. Selain itu, mereka tidak sampai melakukannya dan tidak memaksakan permintaan tersebut, melainkan hanya sekadar meminta kepada Nabi ﷺ.3. Kaidah bahwa ibadah itu harus berdasarkan perintah syariat sudah tertanam dalam diri para sahabat.Para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang mengajukan permintaan tersebut tidak serta-merta melakukannya sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah. Mereka tidak langsung mengamalkannya, tetapi terlebih dahulu mendatangi Rasulullah ﷺ. Sebab mereka mengetahui bahwa setiap ibadah harus memiliki landasan syariat sebelum diamalkan, agar seseorang tidak terjatuh ke dalam perbuatan bid’ah, yaitu beribadah kepada Allah tanpa dasar yang telah Dia tetapkan.Keenam: Wajib berhati-hati dari menyerupai orang-orang kafir.Hal ini karena Rasulullah ﷺ telah menjelaskan hal tersebut dalam sabdanya:لَتَتَّبِعُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَذْوَ الْقُذَّةِ بِالْقُذَّةِ“Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, setahap demi setahap.”Oleh karena itu, sudah sepantasnya seorang muslim waspada dan tidak meniru orang-orang kafir. Bahkan, yang menjadi kewajibannya adalah berhati-hati dari menyerupai mereka dalam seluruh urusan mereka, serta mewaspadai ajakan untuk mengikuti hawa nafsu dan penyimpangan umat-umat terdahulu.Menyerupai orang-orang kafir juga termasuk salah satu sebab terbesar munculnya berbagai bid’ah. Dalam hadis ini dijelaskan bahwa sikap menyerupai orang kafir itulah yang mendorong Bani Israil untuk meminta kepada Nabi Musa agar dibuatkan bagi mereka sesembahan sebagaimana kaum kafir memiliki sesembahan yang mereka sembah.Demikian pula, sikap menyerupai orang kafir itulah yang mendorong sebagian sahabat Nabi Muhammad ﷺ—yang saat itu masih baru masuk Islam—untuk meminta agar dibuatkan bagi mereka sebuah pohon yang mereka jadikan tempat mencari berkah selain Allah.Dan inilah kenyataan yang terjadi pada hari ini. Sebagian kaum muslimin meniru orang-orang kafir dalam melakukan bid’ah dan perbuatan syirik. Salah satu sebab paling menonjol dari penyimpangan tersebut adalah sikap menyerupai orang-orang kafir. Ketujuh: Mengambil pelajaran tentang pentingnya optimisme (tafā’ul).Ketika Rasulullah ﷺ mengutus ‘Abdullah bin Abī Ḥadrad radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu dan ayahnya untuk mendatangi pasukan Tsaqīf, lalu ia kembali dan mengabarkan bahwa ia melihat kaum wanita, keluarga, anak-anak, serta hewan ternak mereka ikut bersama pasukan itu—yang maksud mereka adalah untuk menunjukkan keteguhan dan agar tidak lari saat pertempuran—maka hal itu tentu merupakan sesuatu yang menakutkan bagi pasukan yang menghadapinya.Namun Rasulullah ﷺ tersenyum dan bersabda, “Itu adalah harta rampasan kaum muslimin esok hari, insya Allah.” Dari peristiwa ini kita mengambil pelajaran tentang sikap optimis.Sepanjang kehidupan Rasulullah ﷺ dipenuhi dengan optimisme. Dalam kondisi apa pun, beliau selalu melihat dari sisi yang membawa harapan. Beliau tidak terpengaruh oleh kumpulan pasukan Tsaqīf, bahkan mengucapkan kata-kata optimis yang didengar oleh para sahabat radhiyallāhu ‘anhum. Ucapan itu membangkitkan harapan, menyemangati jiwa, dan meneguhkan hati.Sebab jiwa manusia, ketika diingatkan pada kekuatan dan jumlah besar musuh, bisa saja merasa gentar. Namun ketika diberi harapan tentang kemenangan dan ganimah yang besar, maka ia akan berani dan maju. Apalagi ketika gambaran tentang harta rampasan itu seakan-akan sudah tampak di depan mata.Sikap seperti ini juga tampak pada peristiwa ketika Rasulullah ﷺ kembali dari mendatangi Banī Qurayẓah pada hari Perang Aḥzāb. Saat itu para sahabat—di antaranya Sa‘d bin Mu‘ādz, Sa‘d bin ‘Ubādah, ‘Abdullah bin Rawāḥah, dan Khawwāt bin Jubair radhiyallāhu ‘anhum—yang diutus untuk memastikan apakah Banī Qurayẓah telah melanggar perjanjian, kembali dan mengabarkan bahwa mereka benar-benar telah mengkhianati perjanjian.Maka Rasulullah ﷺ mengangkat kepalanya dan bersabda:«أَبْشِرُوا يَا مَعْشَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِنَصْرِ اللَّهِ تَعَالَى وَعَوْنِهِ»“Bergembiralah wahai kaum mukminin, dengan pertolongan dan bantuan Allah Ta‘ālā.”Ketika keadaan semakin sulit dan musuh semakin berkumpul, hati pun semakin bergantung kepada Allah, dan pertolongan pun datang. Rasulullah ﷺ sangat perhatian pada hari itu untuk menebarkan ketenangan dan optimisme di hadapan para sahabat radhiyallāhu ‘anhum. Kedelapan: Di antara pelajaran dari serangan mendadak orang-orang kafir terhadap kaum Muslimin, kekacauan barisan mereka, lalu kekalahan yang mereka alami — dan tidak ada yang tetap tegar bersama Rasulullah ﷺ kecuali sedikit dari kalangan mukminin — terdapat pelajaran praktis bagi kaum Muslimin di setiap zaman dan tempat: janganlah kalian tertipu oleh kekuatan kalian dan jangan pula oleh jumlah yang kalian miliki.Sebagian kaum Muslimin ketika itu berkata, “Hari ini kita tidak akan kalah karena jumlah yang sedikit.” Namun ternyata mereka mengalami kekalahan pada awal pertemuan dengan musuh. Peristiwa ini menjadi pendidikan dan pembinaan bagi hati agar tidak berpaling kepada selain Allah. Jika hati berpaling kepada selain-Nya, maka akibatnya akan seperti yang terjadi pada pasukan Hunain di awal pertempuran.Allah Ta’ala berfirman:لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْـًٔا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ“Sungguh, Allah telah menolong kalian di banyak medan peperangan, dan (ingatlah) pada Perang Hunain, ketika jumlah kalian yang banyak membuat kalian bangga, tetapi jumlah itu tidak memberi manfaat sedikit pun bagi kalian. Bumi yang luas terasa sempit bagi kalian, kemudian kalian berbalik ke belakang dengan lari tunggang-langgang.” (QS. At-Taubah: 25)Setelah pelajaran itu benar-benar terwujud dan pesan pun sampai, manusia memahami secara nyata bahwa kekuatan dan jumlah mereka tidak akan bermanfaat jika Allah tidak menolong mereka. Jika Allah Jalla Sya’nuhu tidak memberikan pertolongan, maka tidak akan turun kemenangan dari sisi-Nya.Allah — Mahatinggi dan Mahamulia — tidak akan menyia-nyiakan hamba-hamba-Nya yang beriman. Dialah yang berperang dengan pertolongan-Nya, anugerah-Nya, dan kebaikan-Nya.Sebagaimana firman-Nya:وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ“Dan menjadi kewajiban atas Kami untuk menolong orang-orang yang beriman.” (QS. Ar-Rum: 47)Namun setelah Allah memperlihatkan kepada kaum mukminin secara nyata keadaan mereka tanpa pertolongan-Nya, barulah pertolongan itu datang dari sisi Allah. Allah Ta’ala berfirman:ثُمَّ أَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin, serta menurunkan bala tentara yang tidak kalian lihat, dan Dia mengazab orang-orang kafir. Itulah balasan bagi orang-orang kafir.” (QS. At-Taubah: 26)Adapun keadaan kita hari ini — realitas kita tercerai-berai dan hati kita belum bergantung kepada Allah sebagaimana mestinya — maka kita perlu memahami pelajaran ini dengan baik agar keadaan kita menjadi lurus. Sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.Kesembilan: Firman Allah Ta’ala: “Sungguh, Allah telah menolong kalian di banyak medan peperangan, dan (ingatlah) pada Perang Hunain, ketika jumlah kalian yang banyak membuat kalian bangga, tetapi jumlah itu tidak memberi manfaat sedikit pun bagi kalian. Bumi yang luas terasa sempit bagi kalian, kemudian kalian berbalik ke belakang dengan lari tunggang-langgang. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin, serta menurunkan bala tentara yang tidak kalian lihat, dan Dia mengazab orang-orang kafir. Itulah balasan bagi orang-orang kafir.” (QS. At-Taubah: 25–26)Ath-Thahir bin ‘Asyur rahimahullah berkata, “Penyandaran pertolongan secara tegas kepada Allah Ta’ala bertujuan untuk menampakkan tanda kecintaan Allah, meskipun di dalamnya terdapat sebagian kepentingan dunia. Di dalamnya terdapat bagian akhirat, dan juga bagian dunia berupa kemenangan yang menguatkan persatuan, menghasilkan ghanimah, serta melindungi umat dari serangan musuh-musuhnya. Semua itu termasuk karunia Allah, karena mereka melihat kecintaan-Nya dalam urusan-urusan dunia mereka.”Beliau juga berkata, “Penyebutan secara khusus hari Hunain di antara hari-hari peperangan lainnya, karena kaum Muslimin sempat mengalami kekalahan pada awalnya, kemudian kemenangan kembali kepada mereka. Penyebutan ini mengandung pelajaran bahwa kemenangan diraih ketika menaati perintah Allah dan Rasul-Nya ﷺ, sedangkan kekalahan terjadi ketika lebih mengutamakan keuntungan dunia yang segera daripada ketaatan.”Kesepuluh: Seruan Al-‘Abbas radhiyallahu ‘anhu kepada para sahabat Baiat Syajarah, juga kepada kaum Muhajirin dan Anshar, lalu kembalinya mereka.Tidak lama setelah peristiwa itu, para pasukan yang sempat mundur kembali berkumpul di sekitar Rasulullah ﷺ. Hal ini menunjukkan bahwa larinya mereka tidaklah jauh. Itu hanyalah kekacauan dan kepanikan sesaat. Mereka masih berada cukup dekat sehingga dapat mendengar suara panggilan.Kemudian terjadi pendidikan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, lalu datang keteguhan yang bersumber dari Allah dan pertolongan-Nya. Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama mengatakan bahwa dalam hadis ini terdapat dalil bahwa mundurnya mereka tidaklah jauh dan tidak semua pasukan benar-benar melarikan diri. Yang mundur hanyalah orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit, dari kalangan penduduk Makkah yang baru masuk Islam (mualaf) dan orang-orang musyrik Makkah yang belum benar-benar beriman.Kekalahan itu datang secara tiba-tiba. Mereka dihujani anak panah sekaligus dan bercampur dengan sebagian penduduk Makkah yang imannya belum kokoh. Di antara mereka ada wanita dan anak-anak yang ikut keluar untuk mencari harta rampasan, sehingga mereka berada di barisan depan. Ketika panah-panah beterbangan, mereka pun berbalik dan lari. Namun akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ketenangan kepada kaum mukminin, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.”Kesebelas: Ketika Al-‘Abbas memanggil para sahabat Baiat Syajarah dan menyeru kaum Anshar, mereka segera menyambut dan kembali kepada Rasulullah ﷺ. Bahkan sebagian mereka tidak mampu membalikkan unta yang ditungganginya, sehingga ia turun dan meninggalkannya, lalu kembali kepada Rasulullah ﷺ dengan senjatanya.Hal ini menegaskan kewajiban untuk segera menyambut seruan Rasulullah ﷺ dan mengingatkan kita pentingnya bersegera memenuhi perintah beliau begitu kita mendengar dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah.Kedua belas: Kita melihat bahwa Rasulullah ﷺ, yang sangat lembut dan penyayang terhadap orang-orang beriman, tidak mencela seorang pun dari mereka yang sempat mundur. Ketika Ummu Salim radhiyallahu ‘anha berkata tentang orang-orang yang lari, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mencukupi dan memperbaiki keadaan.”Artinya, beliau tidak menegur mereka dengan celaan, karena peristiwa itu telah berlalu dan tidak ada jalan untuk mengulanginya, terlebih dalam kondisi perang yang memang menimbulkan guncangan jiwa. Rasulullah ﷺ memuliakan para sahabatnya dengan tidak mengungkit kesalahan itu. Demikianlah sikap yang baik: memaafkan, melapangkan dada, dan tidak berlebihan dalam menyalahkan seorang Muslim atas kesalahan yang sudah tidak mungkin diperbaiki. Seorang Muslim hendaknya memberi ruang bagi sebagian uzur dalam hal semacam itu.Ketiga belas: Disyariatkannya doa dan bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah yang dilakukan Rasulullah ﷺ, khususnya ketika keadaan menjadi genting. Pada Perang Hunain, beliau memohon pertolongan kepada Rabb-nya dan bersungguh-sungguh dalam doa agar kaum Muslimin diberi kemenangan atas orang-orang musyrik.Pertolongan itu datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kembalinya Rasulullah ﷺ kepada Rabb-nya dalam situasi yang sulit tersebut menjadi faktor paling kuat dalam mengubah jalannya pertempuran sehingga berpihak kepada kaum Muslimin.Keempat belas: Disyariatkannya berdoa dan mengarahkan diri kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Inilah yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ; beliau menempuh jalan tersebut, terlebih ketika keadaan menjadi sulit. Saat itu beliau memohon kepada Rabb-nya dan bersungguh-sungguh dalam doa agar kaum Muslimin memperoleh kemenangan atas kaum musyrikin.Pertolongan itu datang dari sisi Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Ketika Rasulullah ﷺ menghadapkan diri kepada Rabb-nya dalam situasi yang berat tersebut, hal itu menjadi faktor paling kuat yang mengubah jalannya peperangan sehingga berpihak kepada kaum Muslimin.Kelima belas: Ketika Rasulullah ﷺ melihat seorang wanita yang terbunuh, beliau melarang pembunuhan terhadap wanita dan anak-anak. Inilah salah satu prinsip peperangan dalam Islam. Ini juga termasuk wasiat Rasulullah ﷺ yang terus berlaku bagi pasukan kaum Muslimin.Sebagaimana disebutkan dalam Musnad Imam Aḥmad — semoga Allah merahmatinya — dari Ibnu ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhumā, ia berkata:“Apabila Rasulullah ﷺ mengirim pasukan, beliau bersabda,‘Keluarlah kalian dengan menyebut nama Allah. Berperanglah di jalan Allah melawan orang yang kafir kepada Allah. Jangan berkhianat, jangan melampaui batas, jangan melakukan mutilasi, dan jangan membunuh anak-anak, serta jangan pula membunuh para penghuni tempat ibadah.’Ketika beliau mengutus pasukan untuk memerangi Ibnu Abī al-Ḥuqayq dan para sahabatnya di daerah Khaybar, az-Zuhrī berkata:Ibnu Ka‘b bin Mālik mengabarkan kepadaku dari pamannya — radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu — bahwa Nabi ﷺ ketika mengutus mereka kepada Ibnu Abī al-Ḥuqayq di Khaybar, beliau melarang mereka membunuh wanita dan anak-anak.Dengan demikian, peperangan dalam Islam adalah peperangan yang memiliki akhlak. Bahkan ketika menghadapi musuh yang memerangi kaum Muslimin, tetap tidak boleh ada kezaliman, tidak boleh melampaui batas, tidak boleh melakukan kerusakan, dan tidak boleh seseorang menanggung kesalahan orang lain.Hal ini juga menunjukkan tingginya kedudukan hak asasi manusia dalam Islam, meskipun orang tersebut adalah seorang kafir. Allah Ta‘ālā berfirman:۞ وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ وَحَمَلْنَٰهُمْ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ وَرَزَقْنَٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَفَضَّلْنَٰهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Isra’: 70)Islam menghormati manusia sebagai manusia, apa pun agama dan keyakinannya, bahkan dalam keadaan perang. Maka bagaimana lagi dalam keadaan damai dan kehidupan bermasyarakat?Peperangan dalam Islam adalah perang yang mulia. Seorang Muslim tidak meninggalkan prinsip-prinsip luhur tersebut. Oleh karena itu, wanita dan anak-anak tidak memiliki peran dalam peperangan, sehingga mereka harus dilindungi dan tidak boleh dibunuh, kecuali jika seorang wanita benar-benar ikut serta dalam peperangan. Ia juga tidak menanggung dosa orang lain.Barang siapa menjaga hak perempuan secara khusus dan hak manusia secara umum dalam keadaan perang dan pertempuran, tentu ia lebih layak lagi menjaga hak-hak manusia dalam keadaan damai.Islam telah mengangkat tinggi hak manusia hingga kita melihat dengan jelas bahwa hak-hak manusia dalam Islam merupakan salah satu poros tujuan syariat Islam. Sementara itu, seluruh dunia menyaksikan berbagai pelanggaran terhadap hak kaum Muslimin yang terjadi di berbagai tempat, bahkan di sebagian masyarakat yang mengaku modern: terjadi pembunuhan massal, penghancuran kota-kota dan rumah-rumah penduduk, tanpa membedakan antara wanita, anak-anak, orang tua, dan para pejuang yang terlibat dalam peperangan.Padahal Rasulullah ﷺ pernah melewati seorang wanita yang terbunuh pada waktu perang — hanya satu orang wanita saja — lalu beliau mengingkari perbuatan tersebut dan melarang pembunuhan terhadap wanita dan anak-anak.Karena itu para ulama fikih menyatakan:“Diharamkan membunuh wanita dan anak-anak selama mereka tidak ikut berperang.”Keenam belas: Khalid bin Al-Walid radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu termasuk orang yang ikut serta dalam Perang Hunain. Ketika itu beliau berada di garis depan, namun ia mengalami luka. Ketika Rasulullah ﷺ mengetahui hal itu, beliau segera menuju kemahnya untuk menanyakan keadaannya. Setelah menemukannya, beliau menanyakan kondisinya, melihat lukanya, dan mengobatinya.Padahal Rasulullah ﷺ memimpin pasukan yang besar, namun beliau tetap memeriksa keadaan para sahabatnya, menanyakan kabar mereka, dan memperhatikan mereka satu per satu.Kemudian Khalid — meskipun mengalami luka-luka — tetap ikut serta dalam Perang Thaif. Siapa pun yang membaca kisah ini akan merasa kagum melihat bagaimana Khalid radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu tetap melanjutkan perjalanan menuju Thaif dan turut serta dalam pengepungan kota tersebut. Ia tidak ingin kehilangan pahala jihad sedikit pun, meskipun ia mengalami luka yang sebenarnya bisa menjadi alasan baginya untuk tidak ikut.Hal ini mengingatkan kita pada peristiwa setelah salah satu peperangan, ketika Rasulullah ﷺ mengejar orang-orang kafir Quraisy hingga sampai di Hamrā’ al-Asad. Saat itu para sahabat radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhum juga mengalami luka yang besar, namun mereka tidak tertinggal dan tetap ikut bersama beliau. Tentang mereka turun firman Allah Ta‘ālā:ٱلَّذِينَ ٱسْتَجَابُوا۟ لِلَّهِ وَٱلرَّسُولِ مِنۢ بَعْدِ مَآ أَصَابَهُمُ ٱلْقَرْحُ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ مِنْهُمْ وَٱتَّقَوْا۟ أَجْرٌ عَظِيمٌ“(Yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan diantara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.” (QS. Ali Imran: 172)Ketujuh belas: Ketika Rasulullah ﷺ tidak mampu menaklukkan benteng Thaif, dikatakan kepada beliau, “Doakanlah kebinasaan bagi mereka.” Namun beliau justru mendoakan agar mereka mendapat hidayah dan tidak mendoakan keburukan bagi mereka. Inilah bentuk sempurna dari kasih sayang dan rahmat beliau ﷺ.Baca juga: Sudahlah Maafkanlah Dia Agar Allah Memaafkan KitaPadahal penduduk Thaif telah menyakiti Rasulullah ﷺ dan mengusir beliau ketika datang mengajak mereka kepada Allah. Bahkan mereka melempari beliau dengan batu. Namun demikian, beliau tetap mendoakan agar mereka mendapat hidayah, padahal mereka adalah musuh-musuh Allah. Hal ini menunjukkan besarnya rasa sayang dan kepedulian beliau ﷺ kepada umatnya.Allah pun mengabulkan doa beliau. Setelah itu mereka datang dalam keadaan telah memeluk Islam tanpa melalui penderitaan atau kesulitan.Demikianlah seharusnya seorang muslim: ia menasihati karena Allah dan berusaha menjauhi sikap membalas dendam terhadap dirinya sendiri. Ia tidak mendoakan keburukan bagi orang yang memusuhinya, tetapi justru mendoakan agar musuhnya mendapat hidayah kepada Islam.Jika engkau berselisih dengan seseorang—baik orang dekat maupun jauh—maka yang lebih utama adalah mendoakan agar Allah memberinya hidayah. Dengan begitu engkau memperoleh pahala, mampu mengalahkan godaan setan, hawa nafsu, dan ego diri, serta kedudukanmu di sisi Allah akan terangkat. Perbuatan ini juga membersihkan hati dan memperbaiki batin. Namun sikap seperti ini sering kali jarang kita lakukan dalam banyak keadaan.Baca juga: Memaafkan Seperti Allah dengan Tetap MelupakanKedelapan belas: Jika ada seseorang yang berdalil dengan hadits ini ketika Rasulullah ﷺ diminta untuk mendoakan kebinasaan bagi kabilah Tsaqif, lalu beliau justru berkata:اللَّهُمَّ اهْدِ ثَقِيفًا“Ya Allah, berilah hidayah kepada Tsaqif.”Kemudian orang itu menyimpulkan bahwa tidak boleh mendoakan keburukan bagi orang kafir, karena Rasulullah ﷺ tidak mendoakan kebinasaan bagi Tsaqif dan malah mendoakan hidayah bagi mereka, serta tidak memenuhi permintaan sebagian sahabat—semoga Allah meridai mereka—yang meminta agar didoakan kebinasaan bagi mereka.Pendapat ini juga dikuatkan oleh hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata: Ath-Thufail bin ‘Amr datang bersama para sahabatnya dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kabilah Daus telah kafir dan menolak. Maka doakanlah kebinasaan bagi mereka.” Lalu dikatakan, “Binasalah Daus.” Namun Rasulullah ﷺ justru berdoa:اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا وَأْتِ بِهِمْ“Ya Allah, berilah hidayah kepada kabilah Daus dan datangkanlah mereka (kepada Islam).”Jawabannya adalah bahwa dalam Shahih Bukhari dan Muslim juga terdapat hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ pernah berdoa:اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ، وَاجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ سِنِينَ كَسِنِي يُوسُفَ“Ya Allah, perkeraslah hukuman-Mu atas kabilah Mudhar, dan jadikanlah bagi mereka tahun-tahun paceklik seperti tahun-tahun yang terjadi pada masa Nabi Yusuf.”Karena itu, yang benar adalah menggabungkan kedua jenis hadits tersebut. Imam Al-Bukhari memasukkan hadits tentang doa untuk kabilah Daus dalam Shahih-nya pada bab “Doa bagi orang-orang musyrik agar mendapatkan hidayah dan agar hati mereka dilunakkan.”Baca juga: Karamah Said bin Zaid yang Doanya Mustajab Hingga Seorang Wanita Zalim CelakaIbnu Hajar rahimahullah menjelaskan tentang judul bab tersebut: kata “liya’tilafahum” (agar hati mereka dilunakkan) menunjukkan bahwa Nabi ﷺ terkadang mendoakan keburukan bagi mereka dan terkadang mendoakan kebaikan bagi mereka. Keadaan pertama terjadi ketika kejahatan mereka semakin kuat dan gangguan mereka semakin besar. Adapun keadaan kedua adalah ketika diharapkan mereka akan mendapatkan hidayah dan hati mereka dapat dilunakkan, sebagaimana yang terjadi pada kisah kabilah Daus.Baca juga: Karamah Wali, Luar Biasanya Doa Sa’ad bin Abi WaqqashIbnu Al-Mulaqqin rahimahullah berkata: Nabi ﷺ sangat menyukai masuknya manusia ke dalam Islam. Karena itu beliau tidak tergesa-gesa mendoakan keburukan bagi mereka selama masih ada harapan mereka akan menerima Islam. Bahkan beliau mendoakan kebaikan bagi orang yang diharapkan mau menerima dakwah.Adapun terhadap orang yang tidak lagi diharapkan keislamannya dan dikhawatirkan bahaya serta kekuatannya, maka beliau mendoakan keburukan atasnya. Sebagaimana beliau pernah mendoakan agar mereka ditimpa tahun-tahun paceklik seperti masa Nabi Yusuf. Beliau juga mendoakan keburukan bagi para pemuka Quraisy karena banyaknya gangguan dan permusuhan mereka. Doa itu pun dikabulkan terhadap mereka, hingga mereka terbunuh dalam Perang Badar. Sebagaimana banyak pula orang yang dahulu beliau doakan agar mendapat hidayah, kemudian benar-benar masuk Islam.Hal ini memberi petunjuk kepada kita tentang satu prinsip penting dalam memahami sirah Nabi ﷺ. Agar kita dapat mengambil pelajaran yang benar dari peristiwa-peristiwa dalam sirah, kita perlu mengumpulkan berbagai kejadian, membandingkannya satu sama lain, lalu mengambil kesimpulan dari keseluruhannya.Sebab, sebagian peristiwa bisa saja berkaitan dengan keadaan tertentu, sementara yang lain berkaitan dengan keadaan yang berbeda. Ada yang bersifat khusus dan ada yang bersifat umum. Ada pula yang terjadi lebih dahulu dan ada yang terjadi kemudian, dan seterusnya.Kesembilan belas: Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang hikmah ditundanya penaklukan Thaif:Hikmah Ilahi menghendaki agar penaklukan itu ditunda secara sengaja supaya mereka tidak langsung dibinasakan dengan peperangan. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa ketika Nabi ﷺ keluar dari Thaif—setelah beliau mengajak mereka kepada Allah dan meminta perlindungan agar dapat menyampaikan risalah Rabbnya—peristiwa itu terjadi setelah wafatnya pamannya, Abu Thalib. Namun mereka justru menolak dan mendustakan beliau.Beliau pun kembali dalam keadaan sangat sedih. Beliau tidak dapat beristirahat kecuali ketika sampai di Qarn Ats-Tsa‘alib. Di sana beliau diliputi awan. Kemudian Jibril memanggilnya bersama malaikat penjaga gunung. Malaikat itu berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Rabbmu menyampaikan salam kepadamu. Dia telah mendengar ucapan kaummu kepadamu dan bagaimana mereka menolakmu. Jika engkau menghendaki, aku akan menimpakan kepada mereka dua gunung ini.”Namun Rasulullah ﷺ menjawab, “Tidak. Aku berharap semoga Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”Ucapan beliau ini menunjukkan bahwa beliau berharap benteng mereka tidak dibuka saat itu sehingga mereka tidak dibinasakan. Penaklukan itu ditunda agar mereka datang kemudian dalam keadaan telah memeluk Islam, yaitu pada bulan Ramadhan pada tahun berikutnya.Kedua puluh: Asy-Syami rahimahullah menjelaskan hikmah pemberian harta kepada orang-orang yang dilunakkan hatinya (al-mu’allafatu qulubuhum).Baca juga: Hukum Zakat untuk Non-Muslim: Bolehkah Disalurkan?Hikmah Allah Ta’ala menghendaki bahwa harta rampasan dari orang-orang kafir—setelah diperoleh—dibagikan kepada orang-orang yang iman belum benar-benar kokoh di dalam hati mereka. Hal ini dilakukan karena tabiat manusia memang mencintai harta. Dengan pemberian tersebut, hati mereka menjadi tenang dan kecintaan mereka terhadap Islam semakin kuat.Karena itulah Rasulullah ﷺ memberikan bagian yang besar kepada orang-orang yang baru masuk Islam atau kepada orang yang diharapkan akan masuk Islam. Sementara sebagian tokoh kaum Muhajirin dan pemimpin kaum Anshar tidak diberi bagian dari pemberian tersebut, meskipun mereka juga berhak mendapatkannya. Hal itu karena iman mereka sudah kuat dan tidak membutuhkan penguatan melalui pemberian harta.Jika mereka diberi bagian sebagaimana para mu’allaf itu, maka dikhawatirkan hati orang-orang yang baru masuk Islam tidak akan tertarik. Padahal pemberian tersebut bertujuan agar mereka semakin mantap dalam Islam dan agar orang lain mengikuti mereka untuk masuk Islam. Maka pemberian itu merupakan kemaslahatan yang besar.Kedua puluh satu: Dari peristiwa ini kita juga dapat mengambil pelajaran tentang ketajaman pandangan Rasulullah ﷺ dan kedalaman pemahaman beliau terhadap tabiat manusia serta hal-hal yang dapat memperbaikinya.Beliau memberikan hadiah-hadiah yang besar dan pemberian yang melimpah kepada orang-orang yang sebelumnya memusuhi beliau dan masih belum memeluk Islam. Beliau juga memberikan hadiah kepada orang-orang yang ingin beliau lunakkan hatinya agar mereka mendapat hidayah dan memeluk Islam.Baca juga: 21 Faedah tentang HadiahHasilnya pun sesuai dengan yang diharapkan oleh Rasulullah ﷺ. Orang-orang yang diberi pemberian itu akhirnya masuk Islam dan menjadi baik keislamannya. Bahkan mereka kemudian menjadi pembela Islam yang jujur dan kuat.Upaya melunakkan hati dengan harta tidak hanya dilakukan oleh pemimpin negara. Individu pun dapat melakukannya. Misalnya pemilik usaha yang memiliki pekerja nonmuslim, atau seseorang yang memiliki pembantu, sopir, atau pegawai yang belum masuk Islam. Ia dapat berusaha melunakkan hati mereka melalui kebaikan dan pemberian. Sebab manusia secara tabiat mencintai orang yang berbuat baik kepadanya. Jika seseorang mencintai orang lain, ia akan senang memenuhi keinginannya dan membuatnya bahagia. Karena itu ketika orang tersebut mengajaknya kepada Islam, ia akan lebih cepat menerima ajakan tersebut.Kedua puluh dua: Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu termasuk orang yang baru masuk Islam. Rasulullah ﷺ pernah memberinya seratus ekor unta. Lalu ia meminta lagi, maka Rasulullah ﷺ memberinya. Ia meminta lagi, lalu Rasulullah ﷺ kembali memberinya.Kemudian tertanam dalam hatinya kecintaan yang besar kepada Rasulullah ﷺ. Hal ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ mengajarinya pelajaran tentang harta dengan cara yang sangat tepat dan menyentuh hatinya.Setelah itu, Hakim bersumpah kepada Rasulullah ﷺ bahwa ia tidak akan lagi mengambil harta dari siapa pun setelah hari itu. Artinya, ia tidak akan menerima pemberian dari siapa pun setelahnya, bahkan meskipun pemberian itu banyak.Ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu memanggilnya setelah wafatnya Rasulullah ﷺ untuk memberinya bagian, ia menolak. Demikian pula ketika Umar radhiyallahu ‘anhu memanggilnya setelah itu, ia tetap menolak. Ia pun menjalani sisa hidupnya dengan sikap tersebut, hingga wafat pada masa Mu‘awiyah, tetap berpegang pada janjinya kepada Nabi ﷺ.Sungguh menakjubkan keadaan sahabat ini. Awalnya ia terus meminta kepada Rasulullah ﷺ berkali-kali, bahkan dengan desakan. Namun setelah itu, ia berubah total hingga tidak mau mengambil apa pun, meskipun diberi dalam jumlah besar.Dalam kisah ini tampak betapa agungnya sahabat tersebut, dan betapa teguhnya ia memegang prinsip. Sejak Fathu Makkah hingga beberapa tahun di masa Mu‘awiyah—lebih dari tiga puluh tahun—ia tetap konsisten tidak mengambil harta dari siapa pun.Baca juga: Memahami Arti Zuhud yang SebenarnyaDalam kisah ini juga terlihat bagaimana Rasulullah ﷺ memilih waktu yang tepat untuk memberikan nasihat. Beliau menasihati Hakim setelah memberinya beberapa kali, sehingga nasihat itu benar-benar berpengaruh dalam dirinya. Kepribadiannya berubah, dan cara pandangnya terhadap dunia pun berbeda dari sebelumnya.Jika nasihat itu disampaikan sebelum ia diberi, kemungkinan besar tidak akan memberikan pengaruh seperti setelah ia merasakan pemberian tersebut.Dalam kisah ini juga terdapat penjelasan bahwa dunia itu manis dan menipu. Siapa yang menjadikannya sebagai tujuan utama, ia tidak akan pernah merasa puas, meskipun telah mendapatkan banyak.Hal ini nyata dalam kehidupan sebagian orang. Meskipun harta mereka banyak, mereka tetap merasa kurang.Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ، وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ. وَقَالَ لَنَا أَبُو الْوَلِيدِ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ، عَنْ أُبَيٍّ، قَالَ: كُنَّا نَرَى هَذَا مِنَ الْقُرْآنِ، حَتَّى نَزَلَتْ: أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ“Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin memiliki dua lembah. Dan tidak ada yang dapat memenuhi mulutnya kecuali tanah. Namun Allah menerima tobat orang yang bertobat.”Abu Al-Walid berkata kepada kami: telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, dari Tsabit, dari Anas, dari Ubay bin Ka‘ab, ia berkata: dahulu kami menganggap perkataan ini termasuk bagian dari Al-Qur’an, hingga turun firman Allah: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.” (QS. At-Takatsur: 1) (HR. Bukhari, no. 6439 dan Muslim, no. 1048)Adapun nasihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Hakim bin Hizam, kata Hakim:سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَعْطَانِي، ثُمَّ سَأَلْتُهُ فَأَعْطَانِي، ثُمَّ قَالَ لِي: يَا حَكِيمُ، إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرٌ حُلْوٌ، فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ، وَكَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ، وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى. قَالَ حَكِيمٌ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَا أَرْزَأُ أَحَدًا بَعْدَكَ شَيْئًا حَتَّى أُفَارِقَ الدُّنْيَا. فَكَانَ أَبُو بَكْرٍ يَدْعُو حَكِيمًا لِيُعْطِيَهُ الْعَطَاءَ فَيَأْبَى أَنْ يَقْبَلَ مِنْهُ شَيْئًا، ثُمَّ إِنَّ عُمَرَ دَعَاهُ لِيُعْطِيَهُ فَأَبَى أَنْ يَقْبَلَ، فَقَالَ: يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ، إِنِّي أَعْرِضُ عَلَيْهِ حَقَّهُ الَّذِي قَسَمَ اللَّهُ لَهُ مِنْ هَذَا الْفَيْءِ فَيَأْبَى أَنْ يَأْخُذَهُ. فَلَمْ يَرْزَأْ حَكِيمٌ أَحَدًا مِنَ النَّاسِ شَيْئًا بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى تُوُفِّيَ.Aku pernah meminta kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau memberiku. Kemudian aku meminta lagi, dan beliau pun memberiku. Lalu beliau berkata kepadaku:“Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini itu hijau lagi manis. Siapa yang mengambilnya dengan jiwa yang lapang (tidak tamak), maka harta itu akan diberkahi baginya. Namun siapa yang mengambilnya dengan penuh ambisi dan ketamakan, maka tidak ada keberkahan baginya. Ia seperti orang yang makan, tetapi tidak pernah merasa kenyang. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”Hakim berkata: Aku pun berkata, “Wahai Rasulullah, demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan meminta sesuatu pun dari siapa pun setelah engkau hingga aku meninggal dunia.”Setelah itu, Abu Bakar pernah memanggil Hakim untuk memberinya bagian harta, namun ia menolak untuk menerimanya. Kemudian Umar juga memanggilnya untuk memberinya, tetapi ia tetap menolak. Maka Umar berkata, “Wahai kaum Muslimin, aku menawarkan kepadanya hak yang telah Allah tetapkan baginya dari harta fai’, tetapi ia menolak untuk mengambilnya.”Sejak wafatnya Nabi ﷺ, Hakim tidak pernah meminta apa pun kepada manusia hingga ia meninggal dunia. (HR. Bukhari, no. 3143)Sikap lapang terhadap harta menjadi sebab datangnya keberkahan, sedangkan kerakusan menjadi sebab hilangnya keberkahan.Diketahui bahwa harta yang sedikit tetapi diberkahi lebih baik daripada harta yang banyak namun tidak berkah. Karena tujuan bukan sekadar banyaknya harta, tetapi bagaimana harta itu membawa kebahagiaan.Harta pada hakikatnya hanyalah sarana, bukan tujuan. Ia tidak bisa dimakan, diminum, atau dimanfaatkan secara langsung. Seandainya seseorang berada di padang pasir dengan membawa harta yang banyak, tetapi tidak memiliki makanan, ia tetap akan mati karena lapar dan haus.Baca juga: Perkataan Ibnu Taimiyah, Sedikit Tetapi Halal Pasti Bawa BerkahJika harta tidak diberkahi, maka seseorang tidak akan bisa merasakan manfaatnya. Bisa jadi ia jatuh sakit sehingga hartanya habis untuk pengobatan, atau tidak mampu menikmati apa yang diinginkannya. Bahkan harta itu bisa menjadi sumber kegelisahan, karena ia takut kehilangan atau khawatir dicuri.Karena itu, rasa cukup terhadap yang sedikit menjadi sebab datangnya keberkahan dan manfaat. Jika Allah memberkahi harta seseorang, maka tidak ada batas bagi keberkahannya.Kedua puluh tiga: Jika kita melihat keseluruhan pemberian Rasulullah ﷺ pada Perang Hunain, kita akan dapati bahwa beliau memberikan kepada para pembesar kaum yang baru dilunakkan hatinya (muallafatu qulubuhum), padahal mereka adalah orang-orang kaya. Rasulullah ﷺ memberi mereka bukan karena kebutuhan mereka terhadap harta, tetapi demi kemaslahatan Islam, yaitu untuk melunakkan hati mereka agar menerima agama ini.Jika mereka telah masuk Islam, maka diharapkan orang-orang di belakang mereka akan ikut masuk Islam. Karena itu, pemberian demi maslahat lebih didahulukan daripada pemberian karena kebutuhan. Menyelamatkan manusia dari neraka lebih didahulukan daripada sekadar mengenyangkan perut orang fakir. Ini adalah kaidah penting dalam kehidupan, bahwa maslahat umum bagi Islam didahulukan daripada maslahat pribadi.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: Ketika Perang Hunain, Nabi ﷺ membagi harta rampasan kepada orang-orang yang dilunakkan hatinya (muallafatu qulubuhum), seperti para pembesar dari Najd dan para tokoh Quraisy yang baru dibebaskan, seperti ‘Uyainah bin Hishn, Al-Aqra‘ bin Habis, dan yang semisal mereka. Juga kepada Suhail bin ‘Amr, Shafwan bin Umayyah, ‘Ikrimah bin Abu Jahl, Abu Sufyan bin Harb, serta Mu‘awiyah bin Abu Sufyan dan yang semisal mereka dari kalangan orang-orang yang baru masuk Islam.Mereka adalah orang-orang yang dibebaskan pada hari Fathu Makkah. Rasulullah ﷺ tidak memberikan apa pun kepada kaum Muhajirin dan Anshar. Beliau memberikan kepada mereka untuk melunakkan hati mereka agar tetap berada di atas Islam, dan karena itu menjadi maslahat umum bagi kaum Muslimin.Adapun orang-orang yang tidak diberi, mereka justru lebih utama di sisi beliau. Mereka adalah para wali Allah yang bertakwa dan hamba-hamba-Nya yang saleh, setelah para nabi dan rasul. Sedangkan orang-orang yang diberi, sebagian dari mereka ada yang kemudian murtad sebelum wafatnya Nabi ﷺ, sementara yang lain tetap hidup dalam keadaan kaya, bukan orang-orang fakir.Seandainya pemberian itu didasarkan pada kebutuhan semata, tentu Nabi ﷺ akan memberikan kepada para Muhajirin dan Anshar, yang lebih membutuhkan dan lebih utama. Namun karena pertimbangan maslahat umum lebih didahulukan daripada kebutuhan pribadi, maka pemberian diberikan kepada para pembesar yang baru masuk Islam tersebut.Baca juga: Berapa Jumlah Para Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?Kedua puluh empat: Keberhasilan dalam memenangkan orang yang berbeda (pendapat) itulah keberhasilan yang sejati. Inilah hakikat seni dalam berdakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Adapun memenangkan orang yang sudah sepakat, itu bukan sesuatu yang baru.Keberhasilan dalam dakwah adalah ketika orang yang awalnya membencimu, membenci dakwahmu, atau membenci agama yang engkau serukan, tidak beranjak darimu kecuali setelah agama yang engkau ajarkan menjadi agama yang paling ia cintai. Dan engkau pun menjadi orang yang paling ia cintai.Inilah yang kita lihat dalam sirah Nabi ﷺ. Beliau mampu menaklukkan hati manusia dan mengubah mereka dari musuh menjadi penolong. Ada orang kafir yang datang kepada Rasulullah ﷺ dalam keadaan sangat membencinya dan bahkan ingin membunuhnya. Namun setelah duduk bersamanya, kebencian itu berubah menjadi cinta kepada Rasulullah ﷺ.Hal ini terjadi pada sejumlah sahabat, seperti ‘Amr bin Al-‘Ash, Hakim bin Hizam, ‘Umair bin Wahb Al-Jumahi, dan ‘Adi bin Hatim Ath-Tha’i radhiyallahu ‘anhum. Mereka datang kepada Rasulullah ﷺ, sebagian di antara mereka bahkan ingin membunuh beliau, namun akhirnya pulang dalam keadaan Muslim. Bahkan mereka mengucapkan syahadat tauhid di majelis beliau sebelum bangkit dari tempat duduknya. Kebencian yang sebelumnya begitu kuat berubah menjadi cinta yang mendalam.Sebagian dari mereka datang karena urusan dunia, tetapi ketika pulang, mereka telah merendahkan dunia, memahami nilainya, dan bahkan bersumpah tidak akan meminta apa pun kepada manusia.Ini adalah pelajaran dalam berdakwah kepada Allah: kunci keberhasilannya adalah memenangkan hati manusia dan berbuat baik kepada orang yang berbeda dengan kita, apa pun bentuk perbedaannya.Sebaliknya, sebagian orang justru menjadikan perbedaan sebagai sebab buruknya sikap. Akibatnya, perbedaan itu berubah menjadi permusuhan yang semakin mengakar. Alih-alih memenangkan hati orang yang berbeda, justru semakin memperlebar jurang perbedaan dan menambah jarak di antara mereka. Ini bukanlah sikap seorang dai yang berhasil. Hanya Allah yang memberi taufik.Kedua puluh lima: Di dunia ini banyak orang yang digiring kepada kebenaran bukan karena pemahaman akal mereka, tetapi karena tertarik secara perlahan. Sebagaimana hewan ternak digiring dengan segenggam rumput hingga masuk ke kandangnya, demikian pula sebagian manusia membutuhkan pendekatan dan strategi agar hati mereka menjadi tenang dengan iman dan merasa nyaman dengannya. (Muhammad Al-Ghazali dalam Fiqh As-Sirah, hlm. 394).Kedua puluh enam: Allah Ta‘ala berfirman,ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ (٢٦) ثُمَّ يَتُوبُ اللَّهُ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (٢٧)“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin, serta menurunkan bala tentara yang tidak kamu lihat, dan Dia mengazab orang-orang kafir. Itulah balasan bagi orang-orang kafir. Kemudian Allah menerima tobat setelah itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 26–27)Ath-Thahir bin ‘Asyur rahimahullah berkata tentang firman Allah Ta‘ala:ثُمَّ يَتُوبُ اللَّهُ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Kemudian Allah menerima tobat setelah itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Ini merupakan isyarat kepada masuk Islamnya kaum Hawazin setelah kekalahan tersebut. Mereka kemudian datang kepada Rasulullah ﷺ dalam keadaan telah menjadi Muslim dan bertobat.Kedua puluh tujuh: Ghanimah (harta rampasan perang) bukanlah tujuan utama dari jihad, tetapi yang lebih Allah cintai adalah masuknya manusia ke dalam Islam. Karena itu, Rasulullah ﷺ menunda pembagian ghanimah perang Hunain dengan harapan kaum Hawazin akan kembali kepada Islam. Beliau menunggu di Ji‘ranah selama sekitar dua puluh hari, dan itu adalah waktu yang cukup bagi para pemimpin Hawazin untuk berpikir, kembali kepada kebenaran, masuk Islam, serta meminta kembali harta, anak-anak, dan wanita mereka. Namun ketika mereka terlambat, sementara menunggu lebih lama lagi akan memberatkan pasukan tanpa ada harapan jelas, maka Rasulullah ﷺ pun membagikan harta tersebut.Meski demikian, ketika kaum Hawazin datang setelah pembagian itu, Rasulullah ﷺ menyambut mereka dengan gembira dan memberitahu bahwa beliau telah menunggu mereka. Namun karena keluarga dan harta mereka sudah terlanjur berpindah tangan kepada kaum muslimin, beliau memberi mereka pilihan antara mengambil kembali keluarga mereka atau harta mereka. Kemudian beliau membantu mereka dalam cara mendapatkan kembali apa yang telah dibagikan, bahkan beliau sendiri bersama Bani ‘Abdul Muththalib menjadi orang pertama yang mempraktikkan pengembalian tersebut.Para sahabat yang mulia radhiyallahu ‘anhum tidaklah menyelisihi Rasulullah ﷺ dalam hal ini. Mereka mengikuti beliau dengan mengembalikan apa yang ada pada mereka. Namun sebagian orang Arab Badui tidak mengikuti hal tersebut, sehingga Rasulullah ﷺ menebus bagian mereka dan memerintahkan agar seluruh tawanan wanita dan anak-anak dikembalikan kepada Hawazin.Siapa yang memahami sejarah, pasti akan teringat bagaimana perlakuan penduduk Thaif terhadap Rasulullah ﷺ ketika beliau datang kepada mereka—tidak ada yang bersamanya kecuali Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu—mereka melempari beliau dengan batu dan mengejeknya. Namun setelah Allah menaklukkan Makkah dan kaum muslimin menang atas mereka, beliau justru bersikap lembut, pemaaf, dan mulia. Semua yang beliau lakukan adalah demi kemaslahatan Islam dan penyebarannya, dan beliau tidak pernah membalas untuk kepentingan pribadi sama sekali.Inilah akhlak seorang muslim sejati. Ia menjauh dari sikap egois, permusuhan, dan perselisihan dengan orang lain, serta tidak sibuk mencari-cari kesalahan mereka. Prinsipnya adalah kelapangan dada, pemaafan, perbaikan hubungan, dan bersatu di atas kemaslahatan agama ini serta meninggikan kalimat Allah. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita yang telah lalu. Kedua puluh delapan: Termasuk inisiatif Rasulullah ﷺ dalam mengembalikan apa yang beliau miliki dan apa yang ada di tangan beliau dari harta rampasan kepada Bani ‘Abdil Muththalib dari tawanan perang Hawazin. Dari sini diambil teladan dalam berdakwah kepada Allah. Rasulullah ﷺ memulai sendiri dengan mengembalikan tawanan, agar beliau menjadi contoh dan diikuti oleh yang lain dalam mengembalikan apa yang ada di tangan mereka kepada Hawazin.Kedua puluh sembilan: Dari ucapan Dzul Khuwaishirah, kita mengetahui sejauh mana keburukan orang ini dan orang-orang semisalnya, serta besarnya kejahatan dan kesesatan mereka. Ia berani berbicara kepada Rasulullah ﷺ dengan ucapan yang menunjukkan keburukan hati, rusaknya keyakinan, kebodohan yang parah, dan sikap kasar dalam berinteraksi. Ia tidak memahami nash-nash, tidak mengenal hak Rasulullah ﷺ, serta berani berpendapat berdasarkan kebodohan, kebencian, kekerasan, dan kedengkian. Kita berlindung kepada Allah dari hal seperti ini.Ketiga puluh: Diambil pula pelajaran untuk mewaspadai sikap berlebihan dalam agama. Orang ini terdorong oleh sikap berlebihannya hingga keluar dari agama yang benar. Ia datang dengan mengaku berserah diri kepada Allah dan Rasul-Nya, namun justru membantah Rasulullah ﷺ dan menuntut keadilan dari beliau, serta menjadikan akal dan hawa nafsunya sebagai penentu makna keadilan. Ia telah menyimpang dari jalan mencari petunjuk.Keselamatan dari sikap berlebihan adalah dengan berpegang teguh pada nash-nash, memuliakan dan menghormatinya, berhenti pada batas-batasnya, serta mengagungkan Rasulullah ﷺ dan ajaran yang beliau bawa. Juga dengan mengetahui kedudukan para salaf dan pemahaman mereka, serta menempatkan para ulama pada posisi yang layak dan mengetahui hak-hak mereka. Inilah jalan yang aman dari penyimpangan. Adapun bersandar pada akal semata dan merendahkan para ulama, maka itu adalah penyimpangan dalam manhaj yang pasti akan menyeret kepada sikap berlebihan dalam agama, yang pada akhirnya membawa kepada kebinasaan, sebagaimana yang dilakukan oleh Dzul Khuwaishirah.Penyimpangan ini berawal dari sebuah ide kecil di dalam pikiran, lalu berkembang hingga berubah menjadi perilaku yang buruk, merusak yang hijau dan yang kering, serta membinasakan tanaman dan manusia. Kita berlindung kepada Allah.Kelompok seperti ini telah memberikan dampak buruk yang besar terhadap Islam dan kaum Muslimin sepanjang sejarah. Mereka telah menghalangi banyak orang untuk masuk Islam, dan memberi peluang kepada musuh untuk menjelekkan Islam dan kaum Muslimin.Ketiga puluh satu: dari kisah Dzul Khuwaishirah, kita mengambil pelajaran tentang kesabaran Rasulullah ﷺ dan kelembutan beliau terhadap orang-orang Arab Badui yang kasar dan keras. Beliau menahan diri terhadap ucapan yang dikatakan kepadanya secara terang-terangan di hadapan manusia, padahal saat itu beliau sedang membagi harta rampasan dalam jumlah besar. Beliau tidak menyisakan sedikit pun untuk dirinya sendiri. Tujuan beliau hanyalah melunakkan hati manusia agar mereka menerima agama ini. Namun orang Arab Badui itu justru datang dan menuduh beliau tidak adil dalam pembagian.Meski demikian, Rasulullah ﷺ tidak membalasnya. Bahkan beliau memberitahukan kepada manusia sebagai tanda dan bukti kenabian bahwa akan muncul dari keturunan orang ini orang-orang yang keluar dari Islam. Beliau memperingatkan umatnya dari mereka, sekaligus mengajarkan bagaimana cara menyikapi mereka.Ketiga puluh dua: dengan memperhatikan hal di atas, kita dapati bahwa Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah menukil pendapat salah satu ulama yang berkata (dan sebagian guru kami berkata): “Pembagian ini hanyalah untuk mencari ridha Allah.” Adapun ucapannya, “Berlaku adillah,” maka Nabi ﷺ tidak memahaminya sebagai bentuk celaan dan tuduhan terhadap beliau. Namun beliau memandangnya sebagai kesalahan dalam berpendapat dan dalam urusan dunia, serta sebagai ijtihad dalam hal kemaslahatan menurut pandangan orang tersebut, meskipun keliru. Maka beliau tidak melihatnya sebagai kejahatan yang harus dibalas, tetapi sebagai gangguan yang layak dimaafkan dan disikapi dengan kesabaran. Karena itu, beliau tidak menghukumnya.Setelah menyebutkan beberapa pendapat, ia berkata: “Pendapat yang paling kuat dari sisi ini adalah bahwa hal tersebut dilakukan untuk tujuan melunakkan hati (isti’laf) dan bersikap bijak dalam mengajak manusia kepada agama agar mereka beriman.”Ketiga puluh tiga:  Termasuk sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Umar ketika ia meminta izin untuk membunuh seorang munafik. Maka beliau bersabda:«مَعَاذَ اللَّهِ أَنْ يَتَحَدَّثَ النَّاسُ أَنِّي أَقْتُلُ أَصْحَابِي»“Semoga Allah melindungi (aku) dari anggapan manusia bahwa aku membunuh para sahabatku.”Hal ini menunjukkan disyariatkannya menjaga kehormatan diri dan tidak membuka peluang tuduhan dari orang lain. Diriwayatkan pula:«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يَقِفْ مَوَاقِفَ التُّهَمِ»“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia menempatkan dirinya pada posisi yang menimbulkan tuduhan.” (Lihat Az-Zamakhsyari, Al-Kasyaf 3: 273)Karena itu, seorang Muslim hendaknya menjaga kehormatannya agar tidak menjadi bahan pembicaraan manusia. Ini termasuk bentuk perhatian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar tidak memberi peluang bagi orang lain untuk membicarakan keburukan dalam agama ini, sekaligus menerapkan kaidah:دَرْءُ الْمَفْسَدَةِ مُقَدَّمٌ عَلَىٰ جَلْبِ الْمَصْلَحَةِ“Menolak kerusakan didahulukan daripada menarik kemaslahatan.”Sebab, kerusakan yang timbul dari membunuh orang tersebut lebih besar daripada maslahat yang diharapkan dari pembunuhannya. Di antaranya, manusia akan membicarakan bahwa beliau membunuh para sahabatnya, padahal hakikat orang tersebut tidak tampak bagi kebanyakan manusia. Wallahu a‘lam.Ketiga puluh empat: Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah berkata: Ditanyakan kepada Imam Malik rahimahullah tentang orang zindiq. Ia menjawab: Orang-orang munafik pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekafiran, dan itulah yang disebut zindiq menurut kami saat ini.Lalu dikatakan kepada Imam Malik: Mengapa zindiq tidak dibunuh, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membunuh orang-orang munafik meskipun beliau mengetahui mereka? Maka beliau menjawab: Seandainya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membunuh mereka padahal mereka menampakkan keimanan, tentu hal itu akan menjadi sebab orang-orang berkata bahwa beliau membunuh mereka karena kedengkian atau sebab lainnya. Akibatnya, orang-orang akan enggan masuk Islam. Inilah makna sabda beliau. (Ibnu ‘Abdil Barr, 10: 154, dalam Ath-Thab’ah Al-Maghribiyyah)Hal ini juga dikuatkan oleh hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Ia berkata: Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dinding (Hijr Ismail), apakah ia termasuk bagian dari Ka‘bah? Beliau menjawab: “Ya.” Aku bertanya: Mengapa mereka tidak memasukkannya ke dalam bangunan Ka‘bah? Beliau menjawab:«إِنَّ قَوْمَكِ قَصُرَتْ بِهِمُ النَّفَقَةُ»“Sesungguhnya kaummu kekurangan biaya.”Aku bertanya: Mengapa pintunya dibuat tinggi? Beliau menjawab:«فَعَلَ ذَلِكِ قَوْمُكِ لِيُدْخِلُوا مَنْ شَاءُوا وَيَمْنَعُوا مَنْ شَاءُوا، وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمَكِ حَدِيثُو عَهْدٍ بِالْجَاهِلِيَّةِ، فَأَخَافُ أَنْ تُنْكِرَ قُلُوبُهُمْ، لَأَدْخَلْتُ الْجِدْرَ فِي الْبَيْتِ، وَلَأَلْصَقْتُ بَابَهُ بِالْأَرْضِ»“Mereka melakukan itu agar bisa memasukkan siapa yang mereka kehendaki dan melarang siapa yang mereka kehendaki. Seandainya kaummu tidak baru saja meninggalkan masa jahiliah, dan aku khawatir hati mereka akan mengingkarinya, niscaya aku akan memasukkan dinding itu ke dalam bangunan Ka‘bah dan menjadikan pintunya rata dengan tanah.”Maka hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ini menunjukkan bahwa beliau mempertimbangkan mafsadah berupa keluarnya orang dari agama, dan hadits tentang Dzul Khuwaishirah menunjukkan pertimbangan mafsadah berupa orang tidak mau masuk ke dalam agama. Ini termasuk pemahaman mendalam dalam politik syariat.Ketiga puluh lima: Tidak diberikannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagian ghanimah kepada kaum Anshar adalah karena kepercayaan beliau terhadap kuatnya iman mereka dan kelapangan jiwa mereka. Ini merupakan pujian besar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mereka. Beliau memberikan harta ghanimah kepada orang-orang yang beliau khawatirkan keimanan mereka masih lemah, atau untuk melunakkan hati mereka agar condong kepada Islam. Beliau bersabda kepada kaum Anshar:«أَلَا تَرْضَوْنَ أَنْ أَرْجِعَ النَّاسُ بِالشَّاةِ وَالْبَعِيرِ، وَتَرْجِعُوا أَنْتُمْ بِرَسُولِ اللَّهِ؟»“Tidakkah kalian ridha jika manusia pulang membawa kambing dan unta, sedangkan kalian pulang membawa Rasulullah?”Coba renungkan, bagaimana keadaan orang yang mendapatkan ucapan seperti ini? Sungguh kaum Anshar menangis. Mereka berhak untuk merasa bahagia dan bangga dengan pembagian ini, serta dengan kedudukan yang mereka miliki di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demi Allah, seandainya seseorang mendapatkan ucapan ini saja, itu sudah cukup menjadi kebahagiaan dan kegembiraan baginya, melebihi segala sesuatu yang dimiliki orang lain. Lalu bagaimana jika yang mereka dapatkan adalah kebahagiaan yang membuat mereka menangis karena gembira, sementara orang lain mendapatkan kambing dan unta, sedangkan kaum Anshar mendapatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?Ketiga puluh enam: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membiarkan mereka dalam kebingungan, bahkan beliau memberikan jawaban kepada mereka. Beliau bersabda:«أَمَا وَاللَّهِ لَوْ شِئْتُمْ لَقُلْتُمْ فَلَصَدَقْتُمْ وَلَصُدِّقْتُمْ: أَتَيْتَنَا مُكَذَّبًا فَصَدَّقْنَاكَ، وَمَخْذُولًا فَنَصَرْنَاكَ، وَطَرِيدًا فَآوَيْنَاكَ، وَعَائِلًا فَآسَيْنَاكَ»“Demi Allah, seandainya kalian mau, kalian bisa mengatakan—dan kalian benar serta akan dibenarkan—: ‘Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami membenarkanmu; engkau ditinggalkan, lalu kami menolongmu; engkau terusir, lalu kami melindungimu; dan engkau dalam keadaan kekurangan, lalu kami mencukupimu.’”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersemangat untuk menghilangkan segala keraguan atau ganjalan dalam hati mereka, dengan menjelaskan sebab mengapa beliau memberikan harta ghanimah kepada orang-orang yang ingin dilunakkan hatinya, bukan kepada kaum Anshar.Ketiga puluh tujuh: Dari khutbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum Anshar, diambil pelajaran tentang disyariatkannya berkhutbah dalam kondisi seperti ini. Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Dalam hal ini terdapat dalil tentang disyariatkannya khutbah ketika terjadi suatu peristiwa, baik bersifat khusus maupun umum.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkhutbah kepada kaum Anshar dengan khutbah yang sangat menyentuh. Belum pernah terdengar dalam bab menenangkan hati yang lebih indah daripada khutbah ini, karena di dalamnya terkumpul antara kebenaran, kejelasan, kelembutan, dan kasih sayang. Shalawat dan salam Allah senantiasa tercurah kepada beliau hingga hari kiamat.Ketiga puluh delapan: Dari khutbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum Anshar, diambil pelajaran tentang menghibur diri atas sesuatu dari dunia yang terlewat, dengan melihat balasan di akhirat yang akan diperoleh.Ketiga puluh sembilan: Di dalamnya terdapat keutamaan kaum Anshar, yaitu cepatnya mereka kembali kepada kebenaran dan menerima penjelasan, segera setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kepada mereka. Ini juga menunjukkan baiknya nasihat mereka, adab mereka dalam berbicara dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta kesiapan mereka menjawab ketika beliau mengajukan pertanyaan kepada mereka. Telah disebutkan sebelumnya ucapan sebagian ulama: “Kembali kepada kebenaran adalah bagian dari agama.” Maka seorang mukmin tidak sepatutnya merasa berat untuk kembali kepada kebenaran ketika telah jelas baginya.Keempat puluh: Di dalamnya terdapat penekanan pentingnya menghilangkan syubhat dari orang yang mengalami keraguan, baik itu perkara umum maupun khusus. Jika bersifat umum, maka penjelasannya bersifat umum; jika bersifat khusus, maka penjelasannya pun khusus.Tidak ada yang lebih indah daripada kejujuran dan keterbukaan untuk menghilangkan apa yang ada di dalam hati berupa ganjalan. Seandainya manusia saling terbuka dan menjelaskan sebagian sikap yang menimbulkan kekecewaan, niscaya banyak masalah akan selesai.Sebagian orang berkata: “Jika aku benar dalam tindakanku, aku tidak peduli dengan ucapan manusia.” Maka dikatakan kepadanya: Ini keliru. Bahkan engkau harus menjelaskan kepada manusia alasan di balik tindakanmu, menghilangkan keraguan yang ada pada mereka, serta menjelaskan sudut pandang dan landasan tindakanmu. Dengan itu, engkau menjaga kehormatanmu, memperbaiki hati-hati manusia, dan mencegah prasangka buruk di tengah masyarakat.Keterbukaan seperti ini telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau berkhutbah kepada kaum Anshar dalam khutbah yang agung tersebut. Juga dicontohkan oleh Sa‘d bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu ketika ia menyampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pandangan kaum Anshar dan apa yang mereka rasakan.Di dalamnya juga terdapat pelajaran bahwa pendapat para pemuda tidaklah sama dengan pendapat para tokoh yang lebih tua. Telah diketahui bahwa umumnya pendapat orang yang lebih tua lebih matang dalam ilmu, amal, pengalaman, dan ketakwaan dibandingkan pendapat para pemuda.Keempat puluh satu: Dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:«إِنَّ قُرَيْشًا حَدِيثُ عَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ وَمَعْصِيَةٍ، وَإِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَجْبُرَهُمْ وَأَتَأَلَّفَهُمْ»“Sesungguhnya Quraisy baru saja meninggalkan masa jahiliah dan kemaksiatan, dan aku ingin menguatkan serta melunakkan hati mereka.”Terdapat pelajaran besar dalam upaya menarik hati manusia serta mempertimbangkan kondisi jiwa mereka. Sesungguhnya kaum Quraisy mengalami guncangan besar dengan peristiwa penaklukan Makkah. Meskipun itu merupakan nikmat terbesar bagi mereka, dalam pandangan mereka hal itu terasa berat karena runtuhnya kebesaran dan kekuasaan mereka, serta terpecahnya tokoh-tokoh mereka yang tetap berada dalam kesyirikan.Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin mengobati keguncangan tersebut dan meringankan beban yang mereka rasakan dengan memberikan harta, agar hati mereka menjadi tenang. Ini merupakan tuntunan yang seharusnya diperhatikan dalam memperbaiki jiwa yang terluka, meskipun dengan harta, serta berusaha meringankan beban mereka. Ini adalah akhlak Islam yang tinggi, yang tidak akan dipahami kecuali oleh orang yang memiliki bagian besar dari kebaikan.Keempat puluh dua: Seseorang berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Engkau telah memberi kepada ‘Uyainah dan Al-Aqra‘, sedangkan aku ditinggalkan, padahal aku lebih baik dari mereka.” Ia bermaksud mengingatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dirinya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan jawaban agung, yang menunjukkan bahwa beliau tidak merasa iri kepada siapa pun dalam perkara dunia, melainkan mengarahkan pandangan kepada Allah dan mencari kedudukan di sisi-Nya. Perhatikanlah jawaban beliau yang jujur lagi benar:«أَمَا وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَجَبِيلُ بْنُ سُرَاقَةَ خَيْرٌ مِنْ طِلَاعِ الْأَرْضِ كُلِّهِمْ مِثْلَ عُيَيْنَةَ بْنِ حِصْنٍ وَالْأَقْرَعِ بْنِ حَابِسٍ، وَلَكِنِّي أُؤَلِّفُهُمَا لِيُسْلِمَا، وَوَكَلْتُكَ إِلَى إِسْلَامِكَ»“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh Jabil bin Suraqah lebih baik daripada seluruh penduduk bumi seperti ‘Uyainah bin Hishn dan Al-Aqra‘ bin Habis. Akan tetapi aku memberi kepada mereka berdua untuk melunakkan hati mereka agar masuk Islam, sedangkan aku menyerahkanmu kepada keislamanmu.”Maka janganlah engkau tertipu oleh kedudukan dunia dan jabatan, karena itu hanyalah tipuan yang akan diikuti penyesalan. Mintalah kedudukan di sisi Allah Yang Maha Mulia. Betapa banyak di antara kita orang yang lebih baik daripada kebanyakan manusia, namun tidak mendapatkan kedudukan dunia, karena ia selamat dari fitnah jabatan.Kemudian sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini juga menunjukkan bahwa hal tersebut tidak khusus untuk kaum Anshar saja, tetapi berlaku bagi siapa saja yang kuat imannya. Termasuk di dalamnya sahabat tersebut yang disebutkan, radhiyallahu ‘anhu.Keempat puluh tiga: Dalam janji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Malik bin ‘Auf An-Nadhri, bahwa jika ia datang sebagai seorang Muslim, maka beliau akan mengembalikan keluarganya, hartanya, dan memberinya seratus ekor unta, terdapat dua pelajaran:Pertama: Tujuan utama jihad adalah masuknya manusia ke dalam Islam, bukan semata-mata harta rampasan dan keuntungan materi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan kepada pemimpin Thaif tersebut bahwa jika ia masuk Islam, maka keluarganya dan hartanya akan dikembalikan, serta diberikan tambahan berupa seratus ekor unta sebagai bentuk penghargaan dan dorongan agar ia masuk Islam. Ini menunjukkan besarnya perhatian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap keislaman seseorang, serta tidak adanya keinginan untuk menawan keluarganya atau merampas hartanya.Kedua: Ini merupakan metode dakwah yang agung yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menarik hati tokoh-tokoh besar, serta metode melunakkan hati. Hal ini tampak jelas dalam peristiwa Hunain, ketika beliau memberikan pemberian besar kepada para pemimpin Arab agar hati mereka condong kepada Islam, sehingga mereka masuk Islam dan kaum mereka pun mengikuti.Karena itu, seseorang hendaknya memperhatikan cara-cara pemberian yang dilakukan oleh pemimpin atau tokoh masyarakat dalam rangka mewujudkan kemaslahatan umum bagi kaum Muslimin, dan juga kemaslahatan khusus bagi suatu negeri.Keempat puluh empat: Ibnu Hajar rahimahullah berkata, demikian pula Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Di antara hikmah penaklukan Makkah adalah menjadi sebab masuknya banyak kabilah Arab ke dalam Islam. Dahulu mereka berkata: ‘Biarkan dia (Muhammad) bersama kaumnya. Jika ia menang atas mereka, berarti ia berada di atas kebenaran.’ Ketika Allah memberikan kemenangan kepadanya, sebagian mereka tetap berada dalam kesesatan, lalu mereka berkumpul dan bersiap untuk memeranginya. Maka termasuk hikmah dari hal itu adalah agar tampak bahwa Allah menolong Rasul-Nya bukan dengan banyaknya orang yang masuk Islam dari kalangan kabilah, dan bukan pula karena kaumnya menahan diri dari memeranginya.”Keempat puluh lima: Hikmah Perang Badar dan HunainIbnu Qayyim rahimahullāh berkata dari kisah Perang Hunain:Sesungguhnya Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā memulai peperangan kaum Arab dengan Perang Badar, dan menutup rangkaian peperangan mereka dengan Perang Hunain. Karena itu, kedua peperangan ini sering disebut secara beriringan: Badar dan Hunain, meskipun jarak waktu di antara keduanya sekitar tujuh tahun.Para malaikat turut berperang bersama kaum Muslimin dalam dua peperangan tersebut. Nabi ﷺ juga melemparkan pasir ke wajah orang-orang musyrik dalam kedua peristiwa itu.Melalui dua peperangan ini, semangat dan kekuatan kaum Arab dalam memerangi Rasulullah ﷺ dan kaum Muslimin pun runtuh. Pada perang yang pertama, Allah menanamkan rasa takut dalam hati mereka dan mematahkan kekuatan mereka. Pada perang yang kedua, Allah menghabiskan sisa-sisa kekuatan mereka, mematahkan panah-panah mereka, dan menundukkan seluruh pasukan mereka, hingga mereka mulai masuk ke dalam agama Allah.Di antara kekhususan Perang Hunain adalah bahwa ia menjadi peperangan penentu terakhir antara kaum Muslimin dan kaum musyrik di Jazirah Arab, sebagaimana Perang Badar merupakan peperangan besar pertama yang menentukan antara dua golongan tersebut.Keempat puluh enam: Hidayah Melalui Azan dan Pentingnya Mengarahkan BakatDiriwayatkan bahwa seseorang pernah mendengar Rasulullah ﷺ mengumandangkan azan, lalu ia menirukan suara muazin dengan tujuan mengejek. Ia saat itu masih memiliki sisa-sisa kesyirikan dalam dirinya. Kemudian Rasulullah ﷺ memintanya untuk dihadirkan. Nabi ﷺ memintanya mengulang lafaz azan, lalu beliau kagum dengan suaranya. Beliau pun mengajaknya kepada Islam, hingga ia masuk Islam. Setelah itu, Nabi ﷺ mengangkatnya sebagai muazin di Masjidil Haram.Dari kisah ini terdapat beberapa faedah:1. Suara yang indah merupakan nikmat dari Allah, anugerah yang diberikan kepada sebagian hamba-Nya. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ kepada Abu Musa Al-Asy‘ari radhiyallāhu ‘anhu:لَوْ رَأَيْتَنِي وَأَنَا أَسْتَمِعُ لِقِرَاءَتِكَ الْبَارِحَةَ، لَقَدْ أُوتِيتَ مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ“Seandainya engkau melihatku ketika aku mendengarkan bacaanmu tadi malam, sungguh engkau telah dianugerahi suara yang merdu seperti suara keluarga Nabi Dawud.”Keindahan suara ini tidak bisa diusahakan semata, melainkan merupakan karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki.2. Nikmat tersebut menjadi sangat agung ketika digunakan untuk ketaatan kepada Allah. Bilal radhiyallāhu ‘anhu menjadi muazin Rasulullah ﷺ karena memiliki suara yang paling merdu.3. Sebaliknya, nikmat itu menjadi bencana ketika digunakan untuk kemaksiatan. Seseorang bisa dikenal karena nyanyian dan hiburan yang melalaikan, serta berada di majelis-majelis yang tidak mengingat Allah.4. Allah memuliakan pemuda sahabat ini dengan menjadikannya muazin di Masjidil Haram selama lima puluh tahun. Bahkan, keutamaan ini diwarisi oleh keturunannya selama lebih dari dua abad, karena berkah ketaatan tersebut.5. Wahai para pembaca Al-Qur’an, tidak ada satu pun di antara kalian kecuali memiliki nikmat yang Allah berikan, yang tidak kalian usahakan. Maka manfaatkanlah nikmat itu dalam ketaatan kepada Allah, niscaya keberkahannya akan dirasakan oleh dirimu dan orang-orang setelahmu.6. Metode dakwah Nabi ﷺ dalam kisah ini sangat bijak: beliau menggabungkan antara menunjukkan kekaguman, mendoakan, dan memberikan dorongan (targhib). Cara ini memberi pengaruh besar hingga orang tersebut masuk Islam.7. Para ayah secara khusus, dan para pendidik secara umum, hendaknya mencari potensi anak-anak, menggali bakat mereka, serta mendorong dan mengarahkannya. Dengan demikian, potensi tersebut bisa dimanfaatkan untuk kemaslahatan masyarakat dan umat. Mengabaikannya berarti menyia-nyiakan kekayaan besar berupa kemampuan yang tidak ternilai harganya.Keempat puluh tujuh: Kisah Bani Tsaqif dan Pelajaran tentang Dakwah serta Altruisme (Itsār)Dalam kisah Tsaqif yang datang menemui Rasulullah ﷺ, terjadi dialog panjang hingga akhirnya mereka masuk Islam. Dari peristiwa ini diambil beberapa pelajaran:1. Ini menunjukkan dikabulkannya doa Rasulullah ﷺ. Beliau mendoakan agar mereka diberi hidayah dan datang kepada beliau. Padahal sebelumnya mereka memerangi beliau, membunuh sebagian sahabatnya, bahkan membunuh utusan yang beliau kirim kepada mereka untuk mengajak kepada Allah. Namun demikian, beliau tetap mendoakan mereka dan tidak mendoakan keburukan bagi mereka. Ini termasuk bentuk kesempurnaan kasih sayang, rahmat, dan nasihat beliau ﷺ.2. Dalam kisah permintaan Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallāhu ‘anhu agar Al-Mughīrah radhiyallāhu ‘anhu mendahuluinya dalam menyampaikan kabar gembira kepada Rasulullah ﷺ, terdapat faedah penting: bolehnya mendahulukan orang lain dalam perkara yang mendekatkan kepada Allah (itsār dalam qurbah).Meskipun sebagian ulama menetapkan bahwa itsār dalam ibadah itu makruh, namun siapa yang memperhatikan praktik Abu Bakr dan Al-Mughīrah radhiyallāhu ‘anhumā—di mana Abu Bakr meminta dan Al-Mughīrah menyetujuinya—akan memahami bolehnya hal tersebut, bahkan menunjukkan kerelaan dan kesepakatan.Ibnu Qayyim rahimahullāh berkata: Hal ini menunjukkan bolehnya seseorang meminta saudaranya untuk didahulukan dalam amal kebaikan, dan bolehnya pula seseorang mendahulukan saudaranya dalam hal tersebut. Adapun pendapat yang mengatakan tidak boleh itsār dalam ibadah, maka itu tidak tepat.Contohnya adalah apa yang dilakukan oleh ‘Āisyah radhiyallāhu ‘anhā ketika Umar bin Al-Khaṭṭāb radhiyallāhu ‘anhu meminta izin untuk dimakamkan di rumahnya, di samping Nabi ﷺ. ‘Āisyah mengizinkannya, padahal sebelumnya tempat itu ia persiapkan untuk dirinya sendiri. Ia tidak merasa berat dengan permintaan itu, karena tidak ada unsur merendahkan diri atau meminta-minta dalam hal tersebut.Demikian pula, jika seseorang diminta untuk memberikan tempatnya di shaf pertama kepada orang lain, lalu ia memberikannya, maka itu tidak termasuk perbuatan tercela, karena tidak ada unsur kehinaan. Bahkan, ini termasuk akhlak mulia para sahabat yang penuh dengan kedermawanan dan kelapangan jiwa.Perbuatan seperti ini merupakan bentuk kebaikan, kemurahan hati, dan mendahulukan orang lain, yang justru lebih dicintai oleh jiwa. Selain itu, terdapat unsur membahagiakan sesama Muslim, menghormatinya, memenuhi permintaannya, dan mendorongnya untuk berbuat kebaikan.Boleh jadi, pahala dari sifat-sifat ini lebih besar daripada pahala amal yang ditinggalkan. Maka orang yang mendahulukan orang lain dalam kebaikan seakan-akan menjadi “pedagang” yang melipatgandakan pahala.Oleh karena itu, tidak mengapa seseorang memberikan airnya kepada orang lain untuk berwudu, lalu ia bertayamum sebagai gantinya—jika memang salah satunya harus dilakukan. Dengan begitu, ia mendapatkan keutamaan itsār sekaligus keutamaan bersuci dengan tayamum.Hal ini tidak bertentangan dengan Al-Qur’an, sunnah, maupun akhlak yang mulia.Bahkan, jika suatu kaum berada dalam kondisi kehausan yang sangat dan khawatir akan binasa, lalu sebagian mereka memberikan air kepada yang lain hingga ia sendiri meninggal, maka perbuatan itu boleh. Ia tidak disebut sebagai orang yang membunuh dirinya, dan tidak pula melakukan sesuatu yang haram. Bahkan, itu termasuk puncak kedermawanan dan pengorbanan, sebagaimana firman Allah Ta‘ālā:وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ“Dan mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.” (QS. Al-Ḥasyr: 9)Hal ini pernah terjadi pada sekelompok sahabat dalam penaklukan negeri Syam. Itu termasuk keutamaan dan kelebihan mereka.Memberikan pahala suatu amal kepada orang yang telah meninggal dunia, yang sering diperselisihkan para ulama, pada hakikatnya termasuk bentuk itsār dalam amal kebaikan.Apa bedanya antara seseorang yang mendahulukan orang lain dalam melakukan amal agar ia mendapatkan pahalanya, dengan seseorang yang melakukan amal lalu menghadiahkan pahalanya kepada orang lain?3. Termasuk keutamaan Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallāhu ‘anhu adalah semangatnya dalam membahagiakan Rasulullah ﷺ dan memuliakan Al-Mughīrah radhiyallāhu ‘anhu. Hal itu terlihat dari sikap beliau yang memenuhi permintaan Al-Mughīrah.4. Tidak boleh membiarkan tempat-tempat kesyirikan dan kemaksiatan tetap ada, padahal mampu untuk menghancurkan dan menghilangkannya, walaupun hanya satu hari. Karena tempat-tempat tersebut adalah simbol kekufuran dan kesyirikan, yang termasuk kemungkaran paling besar. Maka tidak boleh membiarkannya tetap ada ketika memiliki kemampuan yang jelas untuk menghilangkannya.Demikian pula hukum bangunan-bangunan yang didirikan di atas kuburan, yang dijadikan sebagai berhala dan tempat ibadah selain Allah. Begitu juga batu-batu yang diagungkan untuk tujuan mencari berkah, bernazar, mencium, dan semisalnya. Semua itu tidak boleh dibiarkan tetap ada di muka bumi selama ada kemampuan untuk menghilangkannya.Bahkan banyak di antaranya seperti berhala Lāt, ‘Uzzā, dan Manāt, atau bahkan lebih besar kesyirikannya.5. Ketika Rasulullah ﷺ memerintahkan ‘Utsmān bin Abī Al-‘Āṣ radhiyallāhu ‘anhu untuk membangun masjid di tempat bekas berhala kaum Ṭāif, hal ini menunjukkan bolehnya menjadikan gereja, tempat ibadah non-Muslim, dan tempat berhala sebagai masjid.Demikian pula yang dilakukan para sahabat radhiyallāhu ‘anhum ketika menaklukkan berbagai negeri. Mereka mengubah tempat-tempat ibadah orang kafir menjadi tempat ibadah bagi kaum Muslimin. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghancuran simbol-simbol kekufuran dan penegakan Islam.Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا“Muḥammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, lalu tunas itu menguatkannya, kemudian menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati para penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Fatḥ: 29)Ibnu Taimiyyah rahimahullāh berkata: Adapun tempat-tempat kekufuran dan kemaksiatan yang tidak ada azab di dalamnya, jika dijadikan tempat untuk iman dan ketaatan, maka itu adalah kebaikan. Sebagaimana Nabi ﷺ memerintahkan penduduk Ṭāif untuk menjadikan masjid di tempat berhala mereka, dan sebagaimana penduduk Yamāmah diperintahkan untuk menjadikan masjid di tempat gereja mereka dahulu.6. ‘Utsmān bin Abī Al-‘Āṣ radhiyallāhu ‘anhu adalah yang paling muda usianya di antara kaumnya. Namun, ia adalah yang paling semangat dalam mempelajari Al-Qur’an dan ilmu. Ia sering datang kepada Rasulullah ﷺ untuk belajar dan bertanya.Ketika kaumnya hendak kembali ke Ṭāif, Rasulullah ﷺ menjadikannya sebagai pemimpin mereka dan imam dalam shalat. Inilah ukuran yang sebenarnya dalam keutamaan: ilmu dan agama. Inilah pula medan yang seharusnya menjadi ajang persaingan.Sebagaimana firman Allah Ta‘ālā:قَالُوا أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ ۚ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ ۖ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَن يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ“Mereka berkata, ‘Bagaimana mungkin dia memperoleh kerajaan atas kami, padahal kami lebih berhak atas kerajaan itu darinya, dan dia tidak diberi kekayaan yang banyak?’ (Nabi mereka) berkata, ‘Sesungguhnya Allah telah memilihnya atas kamu dan memberinya kelebihan ilmu dan tubuh.’ Allah memberikan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 247)Ayat ini menunjukkan bahwa sebab utama keutamaan adalah ilmu.7. Bolehnya membiarkan orang musyrik masuk ke dalam masjid, khususnya jika diharapkan keislamannya, agar ia bisa mendengar Al-Qur’an serta menyaksikan ibadah kaum Muslimin.8. Fleksibilitas dalam Dakwah untuk Menarik Orang kepada IslamDi antara faedah penting yang tampaknya lebih kuat menurut penulis adalah bahwa terkadang delegasi Tsaqif berdialog dengan Rasulullah ﷺ dan mengajukan beberapa syarat agar mereka mau masuk Islam. Sebagian syarat tersebut ditolak oleh Nabi ﷺ, sementara sebagian lainnya diberi kelonggaran.Rasulullah ﷺ bersabda:«لَكُمْ أَنْ لَا تُحْشَرُوا وَلَا تُعْشَرُوا، وَلَا خَيْرَ فِي دِينٍ لَيْسَ فِيهِ رُكُوعٌ»“Kalian tidak diwajibkan keluar untuk berjihad dan tidak dipungut sepersepuluh harta (usyur), tetapi tidak ada kebaikan pada agama yang tidak ada rukuk di dalamnya.”Dari Wahb, ia berkata: Aku bertanya kepada Jabir radhiyallahu ‘anhu tentang kisah baiat Tsaqif. Jabir menjawab: “Mereka mensyaratkan kepada Nabi ﷺ agar tidak ada sedekah dan jihad atas mereka.”Kemudian setelah itu Nabi ﷺ terdengar bersabda:«سَيَتَصَدَّقُونَ وَيُجَاهِدُونَ إِذَا أَسْلَمُوا»“Mereka nanti akan bersedekah dan berjihad jika telah benar-benar masuk Islam.”³Pada masa sekarang, sebagian dai menghadapi kenyataan seperti di Afrika dan tempat lainnya: ada orang-orang yang menerima Islam ketika didakwahi, namun mereka masih memiliki adat dan kebiasaan yang sangat melekat, baik dalam makanan, minuman, maupun interaksi sosial mereka. Sangat sulit untuk langsung meninggalkan semuanya sekaligus.Jika seorang dai mensyaratkan agar mereka segera meninggalkan seluruh kebiasaan itu sejak awal, besar kemungkinan mereka justru tidak jadi masuk Islam. Padahal bisa jadi, bila mereka masuk Islam terlebih dahulu, lambat laun keadaan mereka akan membaik. Setelah iman mulai menyentuh hati mereka, mereka akan menerima kebenaran dan rela meninggalkan kebiasaan tersebut, atau setidaknya mengambil sikap yang lebih ringan walaupun masih ada sebagian kekurangan.Sebagian ulama memandang bahwa menerima mereka dalam kondisi seperti itu lebih maslahat daripada menolaknya, karena dikhawatirkan penolakan tersebut menjadi sebab mereka tidak masuk Islam.Pendapat ini didukung oleh beberapa hal:Syariat Islam turun secara bertahap, baik dalam perkara ibadah maupun pengharaman sesuatu. Shalat misalnya, penyempurnaan syariatnya baru terjadi setelah hijrah. Puasa awalnya diwajibkan pada hari ‘Asyura, kemudian disempurnakan dengan puasa Ramadan. Demikian pula jihad: awalnya dilarang, lalu diizinkan untuk membela diri, hingga akhirnya disyariatkan memerangi kaum musyrikin secara umum sebagaimana kaum muslimin memerangi sesama mereka yang memerangi Islam. Begitu juga pengharaman khamr, turun melalui empat tahapan.‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:«إِنَّمَا نَزَلَ أَوَّلُ مَا نَزَلَ مِنْهُ سُورَةٌ مِنَ الْمُفَصَّلِ، فِيهَا ذِكْرُ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، حَتَّى إِذَا ثَابَ النَّاسُ إِلَى الْإِسْلَامِ نَزَلَ الْحَلَالُ وَالْحَرَامُ، وَلَوْ نَزَلَ أَوَّلَ شَيْءٍ: لَا تَشْرَبُوا الْخَمْرَ، لَقَالُوا: لَا نَدَعُ الْخَمْرَ أَبَدًا، وَلَوْ نَزَلَ: لَا تَزْنُوا، لَقَالُوا: لَا نَدَعُ الزِّنَا أَبَدًا»“Yang pertama kali turun dari Al-Qur’an adalah surat-surat pendek yang berisi tentang surga dan neraka. Setelah manusia mulai kembali kepada Islam, barulah turun hukum halal dan haram. Seandainya yang pertama kali turun adalah larangan meminum khamr, niscaya mereka akan berkata: ‘Kami tidak akan meninggalkan khamr selamanya.’ Dan seandainya yang pertama kali turun adalah larangan zina, niscaya mereka akan berkata: ‘Kami tidak akan meninggalkan zina selamanya.’”Karakter manusia pada dasarnya serupa, walaupun berbeda tempat dan zaman.Dari Hakim radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:**«بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ أَلَّا أَخِرَّ إِلَّا قَائِمًا»**²“Aku berbaiat kepada Rasulullah ﷺ untuk tidak mati kecuali dalam keadaan istiqamah.”Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ pernah berkata kepada seseorang:«أَسْلِمْ»“Masuk Islamlah.”Orang itu menjawab:“Aku masih membencinya.”Nabi ﷺ tetap bersabda:أَسْلِمْ وَإِنْ كُنْتَ كَارِهًا“Masuk Islamlah, meskipun engkau masih merasa berat.”Ini termasuk bagian dari strategi dakwah, yaitu mempertimbangkan maslahat dan mafsadat. Masuknya seseorang ke dalam Islam merupakan maslahat besar. Walaupun di dalam prosesnya masih ada berbagai kekurangan dan kebiasaan buruk yang tersisa, namun diharapkan semua itu akan hilang sedikit demi sedikit seiring kokohnya akidah dalam jiwa. Setelah itu, manusia diajarkan kewajiban-kewajiban Islam secara bertahap.Namun demikian, sebagian ulama menegaskan bahwa perkara ini tidak boleh diserahkan kepada ijtihad pribadi para dai. Hendaknya dikembalikan kepada para ulama di suatu negeri: apakah kepada mufti yang kompeten, atau kepada lembaga dakwah resmi yang membawahi urusan dakwah di negara tersebut. Tujuannya agar masalah ini tidak menjadi pintu kelonggaran yang berlebihan, sehingga orang-orang justru dibiarkan terus-menerus dalam kemaksiatan besar dengan alasan maslahat dakwah.Permasalahan ini termasuk ranah ijtihad. Wallahu a‘lam bish-shawab. Referensi: Fiqh As-Sirah. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Daar Tadmuriyyah. —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 21 Dzulqa’dah 1447 H, 8 Mei 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfaedah sirah nabi peperangan dalam islam peperangan di masa Rasulullah perang hunain sirah nabawiyah sirah nabi

Bagaimana Cara Menyucikan Diri Melalui Ibadah Haji

Oleh: Isa bin Ali Abu al-Id Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyariatkan kepada kita berbagai ibadah agar kita dapat menyucikan jiwa dan memperbaiki hati. Apabila jiwa telah bersih, niscaya ia akan beruntung dan selamat, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا “Sungguh beruntung orang yang menyucikan (jiwa)nya.” (QS. Asy-Syams: 5). Haji adalah ibadah agung yang Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan sebagai pembersih, pendidik, dan ampunan bagi dosa-dosa para hamba-Nya. Namun banyak orang memandang ibadah-ibadah —termasuk haji— sebatas ungkapan keimanan dan sarana meraih pahala, itu saja. Padahal hakikatnya tidak demikian. Ibadah itu selain sebagai perwujudan keimanan dan sarana meraih pahala, juga sebagai rambu-rambu yang menuntun seorang hamba di jalan kehidupan yang penuh lika-liku ini. Di dalamnya terdapat realisasi keseimbangan yang benar antara amalan duniawi dan amalan ukhrawi. Sedangkan perjalanan haji merupakan miniatur dari perjalanan hidup dalam beberapa hitungan hari. Ia pergi dari negeri yang sudah ia kenal menuju negeri lain, yaitu negeri terbaik. Lalu melaksanakan ibadah dan ketaatan dengan tata cara tertentu. Ia berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, hidup dengan banyak orang dengan beragam warna kulit, bangsa, dan negara. Selalu menyertai mereka berjalan dan menetap, bangun dan tidur, makan dan minum. Setelah itu kembali berpisah. Demikianlah hidup. Ibadah haji telah hilang makna-maknanya yang benar dari hati banyak orang, makna yang mengantarkan jamaah haji menuju penyucian jiwa dengan ibadah agung ini. Ketika kita mencermati sarana penyucian jiwa melalui haji, kita dapati bahwa terdapat tiga tahapannya, yaitu sebelum haji dilaksanakan, selama melaksanakan haji, dan setelahnya.  Sarana-sarana ini dapat diterapkan dalam setiap ibadah, dan rinciannya adalah sebagai berikut: Pertama: Sarana penyucian jiwa sebelum ibadah Mengikhlaskan ibadah untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu dengan meniatkan ibadah tersebut semata-mata hanya untuk-Nya, bukan untuk riya, sum’ah, atau tujuan-tujuan duniawi lainnya, tapi untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Perhatikanlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang realisasi keikhlasan dalam haji: وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.” (QS. Al-Baqarah: 196). Dan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ حَجَّ لِلّٰهِ، فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ. “Barangsiapa yang berhaji karena Allah, lalu tidak berkata-kata keji dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali (dalam keadaan suci dari dosa) seperti pada hari ia dilahirkan oleh ibunya.”  Mengikuti tuntunan Nabi dan mencontoh beliau dalam setiap amalan haji. Dalam artian, engkau mengejar bentuk amalan yang paling sempurna yang dilakukan Nabi dalam hajinya. Alih-alih mencari keringanan dan alasan-alasan yang dapat membatalkan ibadah dan amalan.  Ketahuilah selalu bahwa engkau sedang mengejar tujuan agung dalam hajimu, yaitu: “Haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” Maka tidak sepatutnya engkau melewatkan kebaikan dan kesempurnaan hajimu dengan mencari-cari keringanan dan menyia-nyiakan kewajiban yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan kepadamu. Oleh sebab itu, engkau harus mempelajari hukum-hukum haji dengan membaca buku tentang tata cara haji yang benar, mendengarkan kajian, dan lain sebagainya. Melatih diri untuk melaksanakan haji, melalui pelaksanaan umrah lebih dari sekali. Hal ini juga berlaku dalam setiap ibadah. Syariat menghadirkan ibadah-ibadah sunnah dari jenis ibadah wajib yang serupa. Pada umumnya, ia bertujuan sebagai latihan dan pembiasaan diri untuk melakukan ibadah wajib. Sebagai contoh, salat sunnah rawatib bagi salat fardhu dan banyak berpuasa sunnah di bulan Sya’ban untuk bersiap menyambut Ramadhan. Ini juga kita temui di haji, dengan membiasakan diri dengan ibadah umrah. Nabi bersabda: اَلْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ “Ibadah umrah ke umrah berikutnya adalah penggugur dosa di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.”  Perhatikanlah bagaimana Nabi menyandingkan umrah dengan haji dalam peraihan pahala, dan dimulai dengan umrah, sehingga umrah merupakan sarana untuk memahami dan menghayati ibadah haji, agar seorang hamba meraih pahala haji. Nabi juga bersabda: تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ “Iringilah antara ibadah haji dan umrah.” Dan makna hadis ini menjadi lebih jelas dengan konteks hadis-hadis sebelumnya. Mencermati keutamaan-keutamaan haji dan membuat jiwa kita rindu kepada Tanah Suci, melalui ayat-ayat, hadis-hadis, dan ucapan para ulama yang menggugah semangat untuk berhaji ke Baitullah. Perhatikanlah doa Nabi Ibrahim tentang kecintaan manusia kepada Makkah: فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ “Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka.” (QS. Ibrahim: 37). Dan bisa jadi Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan bagi hati manusia kecintaan dan kecenderungan kepada Baitullah. Kedua: Sarana penyucian jiwa saat melangsungkan ibadah Selalu teguh dalam keikhlasan dan pengesaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta menghadirkannya dalam setiap amalan, terlebih lagi makna ketauhidan tampak sangat jelas dalam ibadah haji. Perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang Ibrahim: وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا “Dan (ingatlah), ketika Kami tentukan tempat Baitullah bagi Ibrahim (dengan berfirman): ‘Janganlah engkau mempersekutukan Aku dengan apa pun.’” (QS. Al-Hajj: 26). Perhatikan juga ketauhidan yang ada dalam kalimat talbiyah Nabi, doa beliau di bukit Shafa, Marwah, dan tempat-tempat pelaksanaan haji lainnya. Diriwayatkan juga ketika berihram, beliau mengajarkan orang-orang tentang keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak menghiraukan kenikmatan dunia dan pujian manusia. Anas mengatakan: “Nabi berhaji di atas pelana yang usang dan kain beludru yang harganya tidak sampai empat dirham, beliau berdoa: ‘Ya Allah, jadikanlah haji ini tidak mengandung riya dan sum’ah.’”  Mencontoh sang teladan, Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, yang telah mengajarkan umat bagaimana cara melaksanakan kewajiban ini. Beliau berhaji dengan umatnya lalu bersabda kepada mereka:  لِتَأْخُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ “Hendaklah kalian mempelajari dariku tata cara ibadah haji kalian.”  Menjauhi segala hal yang menghalangi seseorang dari mengoptimalkan pelaksanaan ibadah haji, yaitu dengan menjauhi kemaksiatan dan dosa. “Maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (masa) haji.” (QS. Al-Baqarah: 197). Juga menjauhi segala hal yang diharamkan saat ia dalam keadaan berihram, karena itu semua sebagai bentuk pengagungan terhadap ibadah haji dan manasik yang dijalankan olehnya. Oleh karenanya, orang yang mengagungkan syiar-syiar Allah Subhanahu wa Ta’ala akan dianugerahi ketakwaan dan amalan yang baik. “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32). Berhenti di tempat-tempat pelaksanaan haji, dan menghayati sejarah, makna, dan kaitannya dengan tauhid, tawakal, dan pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi bersabda: قِفُوا عَلَى الْمَشَاعِرِ؛ فَإِنَّهَا مِنْ إِرْثِ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ “Berhentilah di tempat-tempat pelaksanaan haji ini, karena ia adalah bagian dari warisan ayah kalian, Ibrahim. Perhatikanlah sai antara Shafa dan Marwah, ingatlah kisah keluarga Nabi Ibrahim dan bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan mereka, mengabadikan sejarah mereka, dan menjadikan ibadah haji sesuai dengan cara mereka. Perhatikan juga tawaf, dan ingatlah bahwa Nabi Ibrahim dan para nabi lainnya bertawaf di Baitullah ini, juga berharap dan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ingatlah juga Baitul Makmur yang tepat lurus dengannya di langit, para malaikat juga bertawaf mengelilinginya di sana, dan jika satu malaikat telah ke sana, ia tidak akan kembali lagi hingga hari kiamat. Sedangkan engkau dapat kembali ke Baitullah berkali-kali. Ingat dan berlombalah dengan hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang saleh dalam beramal saleh.  Semakin banyak seseorang menghayati amalan-amalan haji ini, semakin meningkat kedekatannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan mengetahui kadar nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tercurah kepadanya dalam pelaksanaan hajinya. Bersabar atas kesulitan yang dihadapi orang yang berhaji selama hajinya. Namun, ketika ia mengetahui besarnya pahala, akan terasa sepele segala keletihan itu. Oleh sebab itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang hal-hal yang dapat mengurangi pahala, Dia berfirman: “Maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (masa) haji.” (QS. Al-Baqarah: 197). Perhatikanlah, bagaimana perselisihan dan perdebatan dapat menghalangi seseorang dari banyak pahala yang besar. Ketiga: Sarana penyucian jiwa setelah ibadah Introspeksi dirimu, dan tanyakan padanya tentang segala yang ada di antara awal dan akhir ibadahmu, apakah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosaku? Apakah Dia menerima amalanku? Apakah hajiku mabrur? Berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam penerimaan ibadahmu. Ketahuilah bahwa baik sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala menuntutmu untuk tidak terbuai dengan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menutupi aib-aibmu. Jangan mengajak dirimu untuk bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena ada sebagian orang yang ketika sedang beribadah atau hampir menyelesaikannya, ia mulai memikirkan dosa dan kemaksiatan yang baru saja ia bertaubat darinya. Subhanallah! Apakah seperti ini bentuk syukur atas nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberimu taufik dan petunjuk, dan memudahkanmu untuk menjadi salah satu jemaah haji, kemudian engkau berniat untuk bermaksiat lagi padahal engkau belum keluar dari Rumah-Nya yang agung! Kami memohon ampunan-Mu, ya Allah! Wahai orang yang sudah bertaubat, teguhkanlah dirimu di atas pertaubatan dan keinsafanmu. Berdoalah kepada Tuhanmu: “Ya Allah, janganlah engkau jadikan ini sebagai akhir bagiku berada di Rumah-Mu. Jadikanlah kami orang yang berhaji dan umrah dengan meraih ampunan dosa dan perbaikan hati.” Penutup  Ada orang saleh yang menangis saat melepas keberangkatan jemaah haji. Ia bergumam dalam hati: “Duhai sedihnya!” Ia bersedih atas ketidakmampuannya melaksanakan haji ke Baitullah. Lalu ia berkata: “Ini kesedihan orang yang terputus dari Baitullah, lalu bagaimana dengan orang yang terputus dari Allah Subhanahu wa Ta’ala?” Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar tidak mengharamkan kita dari berhaji ke Baitullah, menikmati nikmat bermunajat kepada-Nya, dan mendekat kepada-Nya tahun demi tahun. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima amalan kita semua. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada hamba dan nabi-Nya, Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam, dan kepada keluarga dan para sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/spotlight/0/8210/كيف-نتزكى-بالحج؟/ Sumber artikel 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 83 times, 1 visit(s) today Post Views: 167

Bagaimana Cara Menyucikan Diri Melalui Ibadah Haji

Oleh: Isa bin Ali Abu al-Id Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyariatkan kepada kita berbagai ibadah agar kita dapat menyucikan jiwa dan memperbaiki hati. Apabila jiwa telah bersih, niscaya ia akan beruntung dan selamat, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا “Sungguh beruntung orang yang menyucikan (jiwa)nya.” (QS. Asy-Syams: 5). Haji adalah ibadah agung yang Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan sebagai pembersih, pendidik, dan ampunan bagi dosa-dosa para hamba-Nya. Namun banyak orang memandang ibadah-ibadah —termasuk haji— sebatas ungkapan keimanan dan sarana meraih pahala, itu saja. Padahal hakikatnya tidak demikian. Ibadah itu selain sebagai perwujudan keimanan dan sarana meraih pahala, juga sebagai rambu-rambu yang menuntun seorang hamba di jalan kehidupan yang penuh lika-liku ini. Di dalamnya terdapat realisasi keseimbangan yang benar antara amalan duniawi dan amalan ukhrawi. Sedangkan perjalanan haji merupakan miniatur dari perjalanan hidup dalam beberapa hitungan hari. Ia pergi dari negeri yang sudah ia kenal menuju negeri lain, yaitu negeri terbaik. Lalu melaksanakan ibadah dan ketaatan dengan tata cara tertentu. Ia berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, hidup dengan banyak orang dengan beragam warna kulit, bangsa, dan negara. Selalu menyertai mereka berjalan dan menetap, bangun dan tidur, makan dan minum. Setelah itu kembali berpisah. Demikianlah hidup. Ibadah haji telah hilang makna-maknanya yang benar dari hati banyak orang, makna yang mengantarkan jamaah haji menuju penyucian jiwa dengan ibadah agung ini. Ketika kita mencermati sarana penyucian jiwa melalui haji, kita dapati bahwa terdapat tiga tahapannya, yaitu sebelum haji dilaksanakan, selama melaksanakan haji, dan setelahnya.  Sarana-sarana ini dapat diterapkan dalam setiap ibadah, dan rinciannya adalah sebagai berikut: Pertama: Sarana penyucian jiwa sebelum ibadah Mengikhlaskan ibadah untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu dengan meniatkan ibadah tersebut semata-mata hanya untuk-Nya, bukan untuk riya, sum’ah, atau tujuan-tujuan duniawi lainnya, tapi untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Perhatikanlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang realisasi keikhlasan dalam haji: وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.” (QS. Al-Baqarah: 196). Dan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ حَجَّ لِلّٰهِ، فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ. “Barangsiapa yang berhaji karena Allah, lalu tidak berkata-kata keji dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali (dalam keadaan suci dari dosa) seperti pada hari ia dilahirkan oleh ibunya.”  Mengikuti tuntunan Nabi dan mencontoh beliau dalam setiap amalan haji. Dalam artian, engkau mengejar bentuk amalan yang paling sempurna yang dilakukan Nabi dalam hajinya. Alih-alih mencari keringanan dan alasan-alasan yang dapat membatalkan ibadah dan amalan.  Ketahuilah selalu bahwa engkau sedang mengejar tujuan agung dalam hajimu, yaitu: “Haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” Maka tidak sepatutnya engkau melewatkan kebaikan dan kesempurnaan hajimu dengan mencari-cari keringanan dan menyia-nyiakan kewajiban yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan kepadamu. Oleh sebab itu, engkau harus mempelajari hukum-hukum haji dengan membaca buku tentang tata cara haji yang benar, mendengarkan kajian, dan lain sebagainya. Melatih diri untuk melaksanakan haji, melalui pelaksanaan umrah lebih dari sekali. Hal ini juga berlaku dalam setiap ibadah. Syariat menghadirkan ibadah-ibadah sunnah dari jenis ibadah wajib yang serupa. Pada umumnya, ia bertujuan sebagai latihan dan pembiasaan diri untuk melakukan ibadah wajib. Sebagai contoh, salat sunnah rawatib bagi salat fardhu dan banyak berpuasa sunnah di bulan Sya’ban untuk bersiap menyambut Ramadhan. Ini juga kita temui di haji, dengan membiasakan diri dengan ibadah umrah. Nabi bersabda: اَلْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ “Ibadah umrah ke umrah berikutnya adalah penggugur dosa di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.”  Perhatikanlah bagaimana Nabi menyandingkan umrah dengan haji dalam peraihan pahala, dan dimulai dengan umrah, sehingga umrah merupakan sarana untuk memahami dan menghayati ibadah haji, agar seorang hamba meraih pahala haji. Nabi juga bersabda: تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ “Iringilah antara ibadah haji dan umrah.” Dan makna hadis ini menjadi lebih jelas dengan konteks hadis-hadis sebelumnya. Mencermati keutamaan-keutamaan haji dan membuat jiwa kita rindu kepada Tanah Suci, melalui ayat-ayat, hadis-hadis, dan ucapan para ulama yang menggugah semangat untuk berhaji ke Baitullah. Perhatikanlah doa Nabi Ibrahim tentang kecintaan manusia kepada Makkah: فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ “Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka.” (QS. Ibrahim: 37). Dan bisa jadi Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan bagi hati manusia kecintaan dan kecenderungan kepada Baitullah. Kedua: Sarana penyucian jiwa saat melangsungkan ibadah Selalu teguh dalam keikhlasan dan pengesaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta menghadirkannya dalam setiap amalan, terlebih lagi makna ketauhidan tampak sangat jelas dalam ibadah haji. Perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang Ibrahim: وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا “Dan (ingatlah), ketika Kami tentukan tempat Baitullah bagi Ibrahim (dengan berfirman): ‘Janganlah engkau mempersekutukan Aku dengan apa pun.’” (QS. Al-Hajj: 26). Perhatikan juga ketauhidan yang ada dalam kalimat talbiyah Nabi, doa beliau di bukit Shafa, Marwah, dan tempat-tempat pelaksanaan haji lainnya. Diriwayatkan juga ketika berihram, beliau mengajarkan orang-orang tentang keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak menghiraukan kenikmatan dunia dan pujian manusia. Anas mengatakan: “Nabi berhaji di atas pelana yang usang dan kain beludru yang harganya tidak sampai empat dirham, beliau berdoa: ‘Ya Allah, jadikanlah haji ini tidak mengandung riya dan sum’ah.’”  Mencontoh sang teladan, Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, yang telah mengajarkan umat bagaimana cara melaksanakan kewajiban ini. Beliau berhaji dengan umatnya lalu bersabda kepada mereka:  لِتَأْخُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ “Hendaklah kalian mempelajari dariku tata cara ibadah haji kalian.”  Menjauhi segala hal yang menghalangi seseorang dari mengoptimalkan pelaksanaan ibadah haji, yaitu dengan menjauhi kemaksiatan dan dosa. “Maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (masa) haji.” (QS. Al-Baqarah: 197). Juga menjauhi segala hal yang diharamkan saat ia dalam keadaan berihram, karena itu semua sebagai bentuk pengagungan terhadap ibadah haji dan manasik yang dijalankan olehnya. Oleh karenanya, orang yang mengagungkan syiar-syiar Allah Subhanahu wa Ta’ala akan dianugerahi ketakwaan dan amalan yang baik. “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32). Berhenti di tempat-tempat pelaksanaan haji, dan menghayati sejarah, makna, dan kaitannya dengan tauhid, tawakal, dan pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi bersabda: قِفُوا عَلَى الْمَشَاعِرِ؛ فَإِنَّهَا مِنْ إِرْثِ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ “Berhentilah di tempat-tempat pelaksanaan haji ini, karena ia adalah bagian dari warisan ayah kalian, Ibrahim. Perhatikanlah sai antara Shafa dan Marwah, ingatlah kisah keluarga Nabi Ibrahim dan bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan mereka, mengabadikan sejarah mereka, dan menjadikan ibadah haji sesuai dengan cara mereka. Perhatikan juga tawaf, dan ingatlah bahwa Nabi Ibrahim dan para nabi lainnya bertawaf di Baitullah ini, juga berharap dan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ingatlah juga Baitul Makmur yang tepat lurus dengannya di langit, para malaikat juga bertawaf mengelilinginya di sana, dan jika satu malaikat telah ke sana, ia tidak akan kembali lagi hingga hari kiamat. Sedangkan engkau dapat kembali ke Baitullah berkali-kali. Ingat dan berlombalah dengan hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang saleh dalam beramal saleh.  Semakin banyak seseorang menghayati amalan-amalan haji ini, semakin meningkat kedekatannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan mengetahui kadar nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tercurah kepadanya dalam pelaksanaan hajinya. Bersabar atas kesulitan yang dihadapi orang yang berhaji selama hajinya. Namun, ketika ia mengetahui besarnya pahala, akan terasa sepele segala keletihan itu. Oleh sebab itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang hal-hal yang dapat mengurangi pahala, Dia berfirman: “Maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (masa) haji.” (QS. Al-Baqarah: 197). Perhatikanlah, bagaimana perselisihan dan perdebatan dapat menghalangi seseorang dari banyak pahala yang besar. Ketiga: Sarana penyucian jiwa setelah ibadah Introspeksi dirimu, dan tanyakan padanya tentang segala yang ada di antara awal dan akhir ibadahmu, apakah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosaku? Apakah Dia menerima amalanku? Apakah hajiku mabrur? Berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam penerimaan ibadahmu. Ketahuilah bahwa baik sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala menuntutmu untuk tidak terbuai dengan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menutupi aib-aibmu. Jangan mengajak dirimu untuk bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena ada sebagian orang yang ketika sedang beribadah atau hampir menyelesaikannya, ia mulai memikirkan dosa dan kemaksiatan yang baru saja ia bertaubat darinya. Subhanallah! Apakah seperti ini bentuk syukur atas nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberimu taufik dan petunjuk, dan memudahkanmu untuk menjadi salah satu jemaah haji, kemudian engkau berniat untuk bermaksiat lagi padahal engkau belum keluar dari Rumah-Nya yang agung! Kami memohon ampunan-Mu, ya Allah! Wahai orang yang sudah bertaubat, teguhkanlah dirimu di atas pertaubatan dan keinsafanmu. Berdoalah kepada Tuhanmu: “Ya Allah, janganlah engkau jadikan ini sebagai akhir bagiku berada di Rumah-Mu. Jadikanlah kami orang yang berhaji dan umrah dengan meraih ampunan dosa dan perbaikan hati.” Penutup  Ada orang saleh yang menangis saat melepas keberangkatan jemaah haji. Ia bergumam dalam hati: “Duhai sedihnya!” Ia bersedih atas ketidakmampuannya melaksanakan haji ke Baitullah. Lalu ia berkata: “Ini kesedihan orang yang terputus dari Baitullah, lalu bagaimana dengan orang yang terputus dari Allah Subhanahu wa Ta’ala?” Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar tidak mengharamkan kita dari berhaji ke Baitullah, menikmati nikmat bermunajat kepada-Nya, dan mendekat kepada-Nya tahun demi tahun. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima amalan kita semua. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada hamba dan nabi-Nya, Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam, dan kepada keluarga dan para sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/spotlight/0/8210/كيف-نتزكى-بالحج؟/ Sumber artikel 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 83 times, 1 visit(s) today Post Views: 167
Oleh: Isa bin Ali Abu al-Id Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyariatkan kepada kita berbagai ibadah agar kita dapat menyucikan jiwa dan memperbaiki hati. Apabila jiwa telah bersih, niscaya ia akan beruntung dan selamat, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا “Sungguh beruntung orang yang menyucikan (jiwa)nya.” (QS. Asy-Syams: 5). Haji adalah ibadah agung yang Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan sebagai pembersih, pendidik, dan ampunan bagi dosa-dosa para hamba-Nya. Namun banyak orang memandang ibadah-ibadah —termasuk haji— sebatas ungkapan keimanan dan sarana meraih pahala, itu saja. Padahal hakikatnya tidak demikian. Ibadah itu selain sebagai perwujudan keimanan dan sarana meraih pahala, juga sebagai rambu-rambu yang menuntun seorang hamba di jalan kehidupan yang penuh lika-liku ini. Di dalamnya terdapat realisasi keseimbangan yang benar antara amalan duniawi dan amalan ukhrawi. Sedangkan perjalanan haji merupakan miniatur dari perjalanan hidup dalam beberapa hitungan hari. Ia pergi dari negeri yang sudah ia kenal menuju negeri lain, yaitu negeri terbaik. Lalu melaksanakan ibadah dan ketaatan dengan tata cara tertentu. Ia berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, hidup dengan banyak orang dengan beragam warna kulit, bangsa, dan negara. Selalu menyertai mereka berjalan dan menetap, bangun dan tidur, makan dan minum. Setelah itu kembali berpisah. Demikianlah hidup. Ibadah haji telah hilang makna-maknanya yang benar dari hati banyak orang, makna yang mengantarkan jamaah haji menuju penyucian jiwa dengan ibadah agung ini. Ketika kita mencermati sarana penyucian jiwa melalui haji, kita dapati bahwa terdapat tiga tahapannya, yaitu sebelum haji dilaksanakan, selama melaksanakan haji, dan setelahnya.  Sarana-sarana ini dapat diterapkan dalam setiap ibadah, dan rinciannya adalah sebagai berikut: Pertama: Sarana penyucian jiwa sebelum ibadah Mengikhlaskan ibadah untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu dengan meniatkan ibadah tersebut semata-mata hanya untuk-Nya, bukan untuk riya, sum’ah, atau tujuan-tujuan duniawi lainnya, tapi untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Perhatikanlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang realisasi keikhlasan dalam haji: وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.” (QS. Al-Baqarah: 196). Dan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ حَجَّ لِلّٰهِ، فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ. “Barangsiapa yang berhaji karena Allah, lalu tidak berkata-kata keji dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali (dalam keadaan suci dari dosa) seperti pada hari ia dilahirkan oleh ibunya.”  Mengikuti tuntunan Nabi dan mencontoh beliau dalam setiap amalan haji. Dalam artian, engkau mengejar bentuk amalan yang paling sempurna yang dilakukan Nabi dalam hajinya. Alih-alih mencari keringanan dan alasan-alasan yang dapat membatalkan ibadah dan amalan.  Ketahuilah selalu bahwa engkau sedang mengejar tujuan agung dalam hajimu, yaitu: “Haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” Maka tidak sepatutnya engkau melewatkan kebaikan dan kesempurnaan hajimu dengan mencari-cari keringanan dan menyia-nyiakan kewajiban yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan kepadamu. Oleh sebab itu, engkau harus mempelajari hukum-hukum haji dengan membaca buku tentang tata cara haji yang benar, mendengarkan kajian, dan lain sebagainya. Melatih diri untuk melaksanakan haji, melalui pelaksanaan umrah lebih dari sekali. Hal ini juga berlaku dalam setiap ibadah. Syariat menghadirkan ibadah-ibadah sunnah dari jenis ibadah wajib yang serupa. Pada umumnya, ia bertujuan sebagai latihan dan pembiasaan diri untuk melakukan ibadah wajib. Sebagai contoh, salat sunnah rawatib bagi salat fardhu dan banyak berpuasa sunnah di bulan Sya’ban untuk bersiap menyambut Ramadhan. Ini juga kita temui di haji, dengan membiasakan diri dengan ibadah umrah. Nabi bersabda: اَلْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ “Ibadah umrah ke umrah berikutnya adalah penggugur dosa di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.”  Perhatikanlah bagaimana Nabi menyandingkan umrah dengan haji dalam peraihan pahala, dan dimulai dengan umrah, sehingga umrah merupakan sarana untuk memahami dan menghayati ibadah haji, agar seorang hamba meraih pahala haji. Nabi juga bersabda: تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ “Iringilah antara ibadah haji dan umrah.” Dan makna hadis ini menjadi lebih jelas dengan konteks hadis-hadis sebelumnya. Mencermati keutamaan-keutamaan haji dan membuat jiwa kita rindu kepada Tanah Suci, melalui ayat-ayat, hadis-hadis, dan ucapan para ulama yang menggugah semangat untuk berhaji ke Baitullah. Perhatikanlah doa Nabi Ibrahim tentang kecintaan manusia kepada Makkah: فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ “Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka.” (QS. Ibrahim: 37). Dan bisa jadi Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan bagi hati manusia kecintaan dan kecenderungan kepada Baitullah. Kedua: Sarana penyucian jiwa saat melangsungkan ibadah Selalu teguh dalam keikhlasan dan pengesaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta menghadirkannya dalam setiap amalan, terlebih lagi makna ketauhidan tampak sangat jelas dalam ibadah haji. Perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang Ibrahim: وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا “Dan (ingatlah), ketika Kami tentukan tempat Baitullah bagi Ibrahim (dengan berfirman): ‘Janganlah engkau mempersekutukan Aku dengan apa pun.’” (QS. Al-Hajj: 26). Perhatikan juga ketauhidan yang ada dalam kalimat talbiyah Nabi, doa beliau di bukit Shafa, Marwah, dan tempat-tempat pelaksanaan haji lainnya. Diriwayatkan juga ketika berihram, beliau mengajarkan orang-orang tentang keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak menghiraukan kenikmatan dunia dan pujian manusia. Anas mengatakan: “Nabi berhaji di atas pelana yang usang dan kain beludru yang harganya tidak sampai empat dirham, beliau berdoa: ‘Ya Allah, jadikanlah haji ini tidak mengandung riya dan sum’ah.’”  Mencontoh sang teladan, Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, yang telah mengajarkan umat bagaimana cara melaksanakan kewajiban ini. Beliau berhaji dengan umatnya lalu bersabda kepada mereka:  لِتَأْخُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ “Hendaklah kalian mempelajari dariku tata cara ibadah haji kalian.”  Menjauhi segala hal yang menghalangi seseorang dari mengoptimalkan pelaksanaan ibadah haji, yaitu dengan menjauhi kemaksiatan dan dosa. “Maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (masa) haji.” (QS. Al-Baqarah: 197). Juga menjauhi segala hal yang diharamkan saat ia dalam keadaan berihram, karena itu semua sebagai bentuk pengagungan terhadap ibadah haji dan manasik yang dijalankan olehnya. Oleh karenanya, orang yang mengagungkan syiar-syiar Allah Subhanahu wa Ta’ala akan dianugerahi ketakwaan dan amalan yang baik. “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32). Berhenti di tempat-tempat pelaksanaan haji, dan menghayati sejarah, makna, dan kaitannya dengan tauhid, tawakal, dan pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi bersabda: قِفُوا عَلَى الْمَشَاعِرِ؛ فَإِنَّهَا مِنْ إِرْثِ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ “Berhentilah di tempat-tempat pelaksanaan haji ini, karena ia adalah bagian dari warisan ayah kalian, Ibrahim. Perhatikanlah sai antara Shafa dan Marwah, ingatlah kisah keluarga Nabi Ibrahim dan bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan mereka, mengabadikan sejarah mereka, dan menjadikan ibadah haji sesuai dengan cara mereka. Perhatikan juga tawaf, dan ingatlah bahwa Nabi Ibrahim dan para nabi lainnya bertawaf di Baitullah ini, juga berharap dan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ingatlah juga Baitul Makmur yang tepat lurus dengannya di langit, para malaikat juga bertawaf mengelilinginya di sana, dan jika satu malaikat telah ke sana, ia tidak akan kembali lagi hingga hari kiamat. Sedangkan engkau dapat kembali ke Baitullah berkali-kali. Ingat dan berlombalah dengan hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang saleh dalam beramal saleh.  Semakin banyak seseorang menghayati amalan-amalan haji ini, semakin meningkat kedekatannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan mengetahui kadar nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tercurah kepadanya dalam pelaksanaan hajinya. Bersabar atas kesulitan yang dihadapi orang yang berhaji selama hajinya. Namun, ketika ia mengetahui besarnya pahala, akan terasa sepele segala keletihan itu. Oleh sebab itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang hal-hal yang dapat mengurangi pahala, Dia berfirman: “Maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (masa) haji.” (QS. Al-Baqarah: 197). Perhatikanlah, bagaimana perselisihan dan perdebatan dapat menghalangi seseorang dari banyak pahala yang besar. Ketiga: Sarana penyucian jiwa setelah ibadah Introspeksi dirimu, dan tanyakan padanya tentang segala yang ada di antara awal dan akhir ibadahmu, apakah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosaku? Apakah Dia menerima amalanku? Apakah hajiku mabrur? Berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam penerimaan ibadahmu. Ketahuilah bahwa baik sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala menuntutmu untuk tidak terbuai dengan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menutupi aib-aibmu. Jangan mengajak dirimu untuk bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena ada sebagian orang yang ketika sedang beribadah atau hampir menyelesaikannya, ia mulai memikirkan dosa dan kemaksiatan yang baru saja ia bertaubat darinya. Subhanallah! Apakah seperti ini bentuk syukur atas nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberimu taufik dan petunjuk, dan memudahkanmu untuk menjadi salah satu jemaah haji, kemudian engkau berniat untuk bermaksiat lagi padahal engkau belum keluar dari Rumah-Nya yang agung! Kami memohon ampunan-Mu, ya Allah! Wahai orang yang sudah bertaubat, teguhkanlah dirimu di atas pertaubatan dan keinsafanmu. Berdoalah kepada Tuhanmu: “Ya Allah, janganlah engkau jadikan ini sebagai akhir bagiku berada di Rumah-Mu. Jadikanlah kami orang yang berhaji dan umrah dengan meraih ampunan dosa dan perbaikan hati.” Penutup  Ada orang saleh yang menangis saat melepas keberangkatan jemaah haji. Ia bergumam dalam hati: “Duhai sedihnya!” Ia bersedih atas ketidakmampuannya melaksanakan haji ke Baitullah. Lalu ia berkata: “Ini kesedihan orang yang terputus dari Baitullah, lalu bagaimana dengan orang yang terputus dari Allah Subhanahu wa Ta’ala?” Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar tidak mengharamkan kita dari berhaji ke Baitullah, menikmati nikmat bermunajat kepada-Nya, dan mendekat kepada-Nya tahun demi tahun. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima amalan kita semua. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada hamba dan nabi-Nya, Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam, dan kepada keluarga dan para sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/spotlight/0/8210/كيف-نتزكى-بالحج؟/ Sumber artikel 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 83 times, 1 visit(s) today Post Views: 167


Oleh: Isa bin Ali Abu al-Id Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyariatkan kepada kita berbagai ibadah agar kita dapat menyucikan jiwa dan memperbaiki hati. Apabila jiwa telah bersih, niscaya ia akan beruntung dan selamat, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا “Sungguh beruntung orang yang menyucikan (jiwa)nya.” (QS. Asy-Syams: 5). Haji adalah ibadah agung yang Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan sebagai pembersih, pendidik, dan ampunan bagi dosa-dosa para hamba-Nya. Namun banyak orang memandang ibadah-ibadah —termasuk haji— sebatas ungkapan keimanan dan sarana meraih pahala, itu saja. Padahal hakikatnya tidak demikian. Ibadah itu selain sebagai perwujudan keimanan dan sarana meraih pahala, juga sebagai rambu-rambu yang menuntun seorang hamba di jalan kehidupan yang penuh lika-liku ini. Di dalamnya terdapat realisasi keseimbangan yang benar antara amalan duniawi dan amalan ukhrawi. Sedangkan perjalanan haji merupakan miniatur dari perjalanan hidup dalam beberapa hitungan hari. Ia pergi dari negeri yang sudah ia kenal menuju negeri lain, yaitu negeri terbaik. Lalu melaksanakan ibadah dan ketaatan dengan tata cara tertentu. Ia berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, hidup dengan banyak orang dengan beragam warna kulit, bangsa, dan negara. Selalu menyertai mereka berjalan dan menetap, bangun dan tidur, makan dan minum. Setelah itu kembali berpisah. Demikianlah hidup. Ibadah haji telah hilang makna-maknanya yang benar dari hati banyak orang, makna yang mengantarkan jamaah haji menuju penyucian jiwa dengan ibadah agung ini. Ketika kita mencermati sarana penyucian jiwa melalui haji, kita dapati bahwa terdapat tiga tahapannya, yaitu sebelum haji dilaksanakan, selama melaksanakan haji, dan setelahnya.  Sarana-sarana ini dapat diterapkan dalam setiap ibadah, dan rinciannya adalah sebagai berikut: Pertama: Sarana penyucian jiwa sebelum ibadah Mengikhlaskan ibadah untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu dengan meniatkan ibadah tersebut semata-mata hanya untuk-Nya, bukan untuk riya, sum’ah, atau tujuan-tujuan duniawi lainnya, tapi untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Perhatikanlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang realisasi keikhlasan dalam haji: وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.” (QS. Al-Baqarah: 196). Dan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ حَجَّ لِلّٰهِ، فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ. “Barangsiapa yang berhaji karena Allah, lalu tidak berkata-kata keji dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali (dalam keadaan suci dari dosa) seperti pada hari ia dilahirkan oleh ibunya.”  Mengikuti tuntunan Nabi dan mencontoh beliau dalam setiap amalan haji. Dalam artian, engkau mengejar bentuk amalan yang paling sempurna yang dilakukan Nabi dalam hajinya. Alih-alih mencari keringanan dan alasan-alasan yang dapat membatalkan ibadah dan amalan.  Ketahuilah selalu bahwa engkau sedang mengejar tujuan agung dalam hajimu, yaitu: “Haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” Maka tidak sepatutnya engkau melewatkan kebaikan dan kesempurnaan hajimu dengan mencari-cari keringanan dan menyia-nyiakan kewajiban yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan kepadamu. Oleh sebab itu, engkau harus mempelajari hukum-hukum haji dengan membaca buku tentang tata cara haji yang benar, mendengarkan kajian, dan lain sebagainya. Melatih diri untuk melaksanakan haji, melalui pelaksanaan umrah lebih dari sekali. Hal ini juga berlaku dalam setiap ibadah. Syariat menghadirkan ibadah-ibadah sunnah dari jenis ibadah wajib yang serupa. Pada umumnya, ia bertujuan sebagai latihan dan pembiasaan diri untuk melakukan ibadah wajib. Sebagai contoh, salat sunnah rawatib bagi salat fardhu dan banyak berpuasa sunnah di bulan Sya’ban untuk bersiap menyambut Ramadhan. Ini juga kita temui di haji, dengan membiasakan diri dengan ibadah umrah. Nabi bersabda: اَلْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ “Ibadah umrah ke umrah berikutnya adalah penggugur dosa di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.”  Perhatikanlah bagaimana Nabi menyandingkan umrah dengan haji dalam peraihan pahala, dan dimulai dengan umrah, sehingga umrah merupakan sarana untuk memahami dan menghayati ibadah haji, agar seorang hamba meraih pahala haji. Nabi juga bersabda: تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ “Iringilah antara ibadah haji dan umrah.” Dan makna hadis ini menjadi lebih jelas dengan konteks hadis-hadis sebelumnya. Mencermati keutamaan-keutamaan haji dan membuat jiwa kita rindu kepada Tanah Suci, melalui ayat-ayat, hadis-hadis, dan ucapan para ulama yang menggugah semangat untuk berhaji ke Baitullah. Perhatikanlah doa Nabi Ibrahim tentang kecintaan manusia kepada Makkah: فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ “Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka.” (QS. Ibrahim: 37). Dan bisa jadi Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan bagi hati manusia kecintaan dan kecenderungan kepada Baitullah. Kedua: Sarana penyucian jiwa saat melangsungkan ibadah Selalu teguh dalam keikhlasan dan pengesaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta menghadirkannya dalam setiap amalan, terlebih lagi makna ketauhidan tampak sangat jelas dalam ibadah haji. Perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang Ibrahim: وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا “Dan (ingatlah), ketika Kami tentukan tempat Baitullah bagi Ibrahim (dengan berfirman): ‘Janganlah engkau mempersekutukan Aku dengan apa pun.’” (QS. Al-Hajj: 26). Perhatikan juga ketauhidan yang ada dalam kalimat talbiyah Nabi, doa beliau di bukit Shafa, Marwah, dan tempat-tempat pelaksanaan haji lainnya. Diriwayatkan juga ketika berihram, beliau mengajarkan orang-orang tentang keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak menghiraukan kenikmatan dunia dan pujian manusia. Anas mengatakan: “Nabi berhaji di atas pelana yang usang dan kain beludru yang harganya tidak sampai empat dirham, beliau berdoa: ‘Ya Allah, jadikanlah haji ini tidak mengandung riya dan sum’ah.’”  Mencontoh sang teladan, Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, yang telah mengajarkan umat bagaimana cara melaksanakan kewajiban ini. Beliau berhaji dengan umatnya lalu bersabda kepada mereka:  لِتَأْخُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ “Hendaklah kalian mempelajari dariku tata cara ibadah haji kalian.”  Menjauhi segala hal yang menghalangi seseorang dari mengoptimalkan pelaksanaan ibadah haji, yaitu dengan menjauhi kemaksiatan dan dosa. “Maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (masa) haji.” (QS. Al-Baqarah: 197). Juga menjauhi segala hal yang diharamkan saat ia dalam keadaan berihram, karena itu semua sebagai bentuk pengagungan terhadap ibadah haji dan manasik yang dijalankan olehnya. Oleh karenanya, orang yang mengagungkan syiar-syiar Allah Subhanahu wa Ta’ala akan dianugerahi ketakwaan dan amalan yang baik. “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32). Berhenti di tempat-tempat pelaksanaan haji, dan menghayati sejarah, makna, dan kaitannya dengan tauhid, tawakal, dan pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi bersabda: قِفُوا عَلَى الْمَشَاعِرِ؛ فَإِنَّهَا مِنْ إِرْثِ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ “Berhentilah di tempat-tempat pelaksanaan haji ini, karena ia adalah bagian dari warisan ayah kalian, Ibrahim. Perhatikanlah sai antara Shafa dan Marwah, ingatlah kisah keluarga Nabi Ibrahim dan bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan mereka, mengabadikan sejarah mereka, dan menjadikan ibadah haji sesuai dengan cara mereka. Perhatikan juga tawaf, dan ingatlah bahwa Nabi Ibrahim dan para nabi lainnya bertawaf di Baitullah ini, juga berharap dan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ingatlah juga Baitul Makmur yang tepat lurus dengannya di langit, para malaikat juga bertawaf mengelilinginya di sana, dan jika satu malaikat telah ke sana, ia tidak akan kembali lagi hingga hari kiamat. Sedangkan engkau dapat kembali ke Baitullah berkali-kali. Ingat dan berlombalah dengan hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang saleh dalam beramal saleh.  Semakin banyak seseorang menghayati amalan-amalan haji ini, semakin meningkat kedekatannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan mengetahui kadar nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tercurah kepadanya dalam pelaksanaan hajinya. Bersabar atas kesulitan yang dihadapi orang yang berhaji selama hajinya. Namun, ketika ia mengetahui besarnya pahala, akan terasa sepele segala keletihan itu. Oleh sebab itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang hal-hal yang dapat mengurangi pahala, Dia berfirman: “Maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (masa) haji.” (QS. Al-Baqarah: 197). Perhatikanlah, bagaimana perselisihan dan perdebatan dapat menghalangi seseorang dari banyak pahala yang besar. Ketiga: Sarana penyucian jiwa setelah ibadah Introspeksi dirimu, dan tanyakan padanya tentang segala yang ada di antara awal dan akhir ibadahmu, apakah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosaku? Apakah Dia menerima amalanku? Apakah hajiku mabrur? Berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam penerimaan ibadahmu. Ketahuilah bahwa baik sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala menuntutmu untuk tidak terbuai dengan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menutupi aib-aibmu. Jangan mengajak dirimu untuk bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena ada sebagian orang yang ketika sedang beribadah atau hampir menyelesaikannya, ia mulai memikirkan dosa dan kemaksiatan yang baru saja ia bertaubat darinya. Subhanallah! Apakah seperti ini bentuk syukur atas nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberimu taufik dan petunjuk, dan memudahkanmu untuk menjadi salah satu jemaah haji, kemudian engkau berniat untuk bermaksiat lagi padahal engkau belum keluar dari Rumah-Nya yang agung! Kami memohon ampunan-Mu, ya Allah! Wahai orang yang sudah bertaubat, teguhkanlah dirimu di atas pertaubatan dan keinsafanmu. Berdoalah kepada Tuhanmu: “Ya Allah, janganlah engkau jadikan ini sebagai akhir bagiku berada di Rumah-Mu. Jadikanlah kami orang yang berhaji dan umrah dengan meraih ampunan dosa dan perbaikan hati.” Penutup  Ada orang saleh yang menangis saat melepas keberangkatan jemaah haji. Ia bergumam dalam hati: “Duhai sedihnya!” Ia bersedih atas ketidakmampuannya melaksanakan haji ke Baitullah. Lalu ia berkata: “Ini kesedihan orang yang terputus dari Baitullah, lalu bagaimana dengan orang yang terputus dari Allah Subhanahu wa Ta’ala?” Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar tidak mengharamkan kita dari berhaji ke Baitullah, menikmati nikmat bermunajat kepada-Nya, dan mendekat kepada-Nya tahun demi tahun. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima amalan kita semua. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada hamba dan nabi-Nya, Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam, dan kepada keluarga dan para sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/spotlight/0/8210/كيف-نتزكى-بالحج؟/ Sumber artikel 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 83 times, 1 visit(s) today Post Views: 167

Saat Semua Sandaran Runtuh, Di Mana Hati Kita Bergantung?

Daftar Isi ToggleMusibah dan sunnatullahHakikat kemuliaanKetika semua sandaran dicabutSabar dan ridaKeselamatan imanBeberapa waktu terakhir, sebagian wilayah Sumatera dilanda musibah banjir. Rumah-rumah terendam, harta benda hanyut, ladang rusak, kendaraan tak tersisa, bahkan nyawa melayang. Bagi banyak keluarga, apa yang dikumpulkan bertahun-tahun seolah hilang dalam hitungan jam. Tangisan terdengar di pengungsian, doa dipanjatkan dengan suara bergetar, dan hati manusia diuji pada titik yang paling dalam.Di tengah peristiwa seperti ini, kita diingatkan pada satu hakikat penting: kehilangan adalah kenyataan hidup yang tidak bisa dihindari. Ada yang kehilangan harta, ada yang kehilangan rasa aman, ada yang kehilangan orang tercinta, dan ada pula yang kehilangan hampir seluruh sandaran duniawinya sekaligus. Namun, yang paling menentukan bukanlah besarnya kehilangan itu, melainkan bagaimana hati meresponnya. Apakah ia semakin tunduk kepada Allah Ta’ala, atau justru tenggelam dalam keluhan dan keputusasaan.Banyak manusia—tanpa sadar—mengukur kasih sayang Allah Ta’ala dengan kenyamanan hidup. Selama rumah utuh dan rezeki lancar, mereka merasa Allah sedang meridai. Namun ketika banjir datang, harta lenyap, dan hidup terasa sempit, muncul bisikan: “Mengapa Allah melakukan ini?” Padahal, ukuran rida Allah Ta’ala bukanlah banyak atau sedikitnya dunia, melainkan keteguhan iman saat ujian datang.Maka, hal perlu kita tanamkan dalam diri kita adalah bahwa kehilangan—baik harta maupun nyawa—adalah cermin keimanan. Musibah yang menimpa telah menyingkap siapa yang benar-benar bersandar kepada Allah, dan siapa yang selama ini hanya bergantung kepada dunia.Musibah dan sunnatullahAllah Ta’ala telah menegaskan sejak awal bahwa kehidupan dunia ini tidak pernah lepas dari ujian. Allah berfirman,وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ“Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Ayat ini terasa begitu dekat dengan realitas musibah banjir yang terjadi. Kekurangan harta, hilangnya jiwa, rasa takut, dan ketidakpastian—semuanya nyata di hadapan mata. Namun, Al-Qur’an mengajarkan bahwa semua itu bukan tanda kebencian Allah, melainkan bagian dari sunnatullah.Orang beriman tidak dijanjikan hidup tanpa bencana. Yang dijanjikan adalah pertolongan, pahala, dan pengangkatan derajat bagi mereka yang bersabar. Bahkan sering kali, musibah adalah bentuk kasih sayang Allah agar seorang hamba kembali sadar, kembali lurus, dan kembali menggantungkan hatinya kepada Rabb semesta alam.Jika seseorang tertimpa musibah lalu menjauh dari Allah Ta’ala, maka ia rugi dua kali: dunia hilang dan akhirat terancam. Namun, jika musibah membuatnya semakin tunduk, maka sesungguhnya ia sedang diselamatkan—meskipun secara lahir tampak kehilangan segalanya.Baca juga: Mengapa Bencana Terus MelandaHakikat kemuliaanBanjir yang melanda Sumatera menyadarkan kita betapa rapuhnya harta dunia. Rumah yang kokoh, kendaraan yang mahal, dan simpanan bertahun-tahun bisa lenyap dalam satu malam. Di sinilah Allah menyingkap kesalahan cara pandang manusia tentang harta dan kemuliaan.Allah Ta’ala berfirman,فَأَمَّا ٱلْإِنسَـٰنُ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ رَبُّهُۥ فَأَكْرَمَهُۥ وَنَعَّمَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَكْرَمَنِوَأَمَّآ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَهَـٰنَنِ“Adapun manusia, apabila Rabbnya mengujinya, lalu dimuliakan, dan diberi kesenangan, maka dia berkata, ‘Rabbku telah memuliakanku.’ Tetapi apabila Rabbnya mengujinya, lalu membatasi rezekinya, dia berkata, ‘Rabbku telah menghinakanku.’ (QS. Al-Fajr: 15–16)Saudaraku, lapangnya rezeki bukan bukti kemuliaan, dan sempitnya rezeki bukan tanda kehinaan. Keduanya adalah ujian. Musibah banjir bukan ukuran kehinaan suatu daerah atau suatu kaum, tetapi ladang ujian iman.Lihatlah, tidak sedikit orang yang hartanya melimpah, namun hatinya kosong dari zikir. Sebaliknya, ada yang kehilangan hampir segalanya, tetapi justru menemukan kedekatan dengan Allah Ta’ala. Maka pertanyaan terpenting bukanlah, “Apa saja yang hanyut?” melainkan “Apa yang tersisa di dalam hati?”Para salaf dahulu tidak takut miskin. Mereka takut jika dunia merusak hati. Karena dunia yang sedikit namun menguatkan iman jauh lebih berharga daripada dunia berlimpah yang melalaikan.Ketika semua sandaran dicabutMusibah banjir sering kali mencabut seluruh sandaran dunia: rumah, pekerjaan, rasa aman, dan masa depan yang telah direncanakan. Di titik inilah hakikat tawakal diuji.Allah Ta’ala berfirman,وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Tawakal bukan berarti menyerah tanpa usaha. Para korban banjir tetap berikhtiar: menyelamatkan keluarga, mencari bantuan, dan membangun kembali kehidupan. Namun, hati mereka belajar satu hal penting: hasil sepenuhnya berada di tangan Allah Ta’ala.Kadangkala, Allah Ta’ala mengambil sesuatu dari kita agar kita kembali menjadikan Allah sebagai satu-satunya sandaran. Jika harta hanyut tetapi tawakal tumbuh, maka itu bukan musibah semata—melainkan anugerah yang tersembunyi.Hati yang bertawakal tidak mudah panik, tidak tenggelam dalam keputusasaan, dan tidak kehilangan harapan. Ia yakin bahwa apa pun yang Allah ambil, pasti mengandung hikmah; dan Allah Maha Mampu mengganti, meski tidak selalu dengan bentuk yang sama.Sabar dan ridaRasulullah ﷺ bersabda,عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999)Hadis ini menjadi penguat bagi setiap jiwa yang terdampak musibah. Kehilangan bukanlah kehancuran, selama sabar dan iman masih dijaga.Mestinya, seorang muslim tidak larut dalam pertanyaan, “Mengapa ini terjadi padaku?” tetapi beralih kepada pertanyaan yang lebih menyelamatkan, “Apa yang Allah ingin perbaiki dariku?” Di sinilah musibah berubah menjadi sarana pengangkat derajat.Kesedihan adalah fitrah. Namun, lisan dijaga dari keluhan yang menyalahkan takdir, hati dijaga dari prasangka buruk kepada Allah, dan anggota tubuh dijaga dari maksiat. Adapun rida adalah menerima ketetapan Allah dengan tenang, karena yakin bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang tidak kita ketahui.Keselamatan imanMusibah banjir di Sumatera mengajarkan kita bahwa dunia ini benar-benar sementara. Tidak semua kehilangan itu buruk, dan tidak semua kelapangan itu baik. Ada kehilangan yang menyelamatkan iman, dan ada kelapangan yang perlahan membinasakan hati.Jika musibah membuat kita lebih sering sujud, lebih jujur dalam doa, lebih peduli kepada sesama, dan lebih rindu kepada akhirat, maka sejatinya kita tidak kehilangan apa pun. Kita hanya sedang dipindahkan dari sandaran yang rapuh menuju sandaran yang Maha Kokoh.Semoga Allah Ta’ala memberikan kesabaran dan pertolongan kepada saudara-saudara kita yang terdampak banjir, mengganti apa yang hilang dengan kebaikan yang lebih besar, dan menjadikan setiap musibah sebagai jalan kembali kepada-Nya. Karena pada akhirnya, yang paling berharga bukanlah apa yang kita miliki di dunia, tetapi keadaan hati kita saat bertemu Allah Ta’ala.Baca juga: Sikap Seorang Muslim dalam Menghadapi Musibah***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Saat Semua Sandaran Runtuh, Di Mana Hati Kita Bergantung?

Daftar Isi ToggleMusibah dan sunnatullahHakikat kemuliaanKetika semua sandaran dicabutSabar dan ridaKeselamatan imanBeberapa waktu terakhir, sebagian wilayah Sumatera dilanda musibah banjir. Rumah-rumah terendam, harta benda hanyut, ladang rusak, kendaraan tak tersisa, bahkan nyawa melayang. Bagi banyak keluarga, apa yang dikumpulkan bertahun-tahun seolah hilang dalam hitungan jam. Tangisan terdengar di pengungsian, doa dipanjatkan dengan suara bergetar, dan hati manusia diuji pada titik yang paling dalam.Di tengah peristiwa seperti ini, kita diingatkan pada satu hakikat penting: kehilangan adalah kenyataan hidup yang tidak bisa dihindari. Ada yang kehilangan harta, ada yang kehilangan rasa aman, ada yang kehilangan orang tercinta, dan ada pula yang kehilangan hampir seluruh sandaran duniawinya sekaligus. Namun, yang paling menentukan bukanlah besarnya kehilangan itu, melainkan bagaimana hati meresponnya. Apakah ia semakin tunduk kepada Allah Ta’ala, atau justru tenggelam dalam keluhan dan keputusasaan.Banyak manusia—tanpa sadar—mengukur kasih sayang Allah Ta’ala dengan kenyamanan hidup. Selama rumah utuh dan rezeki lancar, mereka merasa Allah sedang meridai. Namun ketika banjir datang, harta lenyap, dan hidup terasa sempit, muncul bisikan: “Mengapa Allah melakukan ini?” Padahal, ukuran rida Allah Ta’ala bukanlah banyak atau sedikitnya dunia, melainkan keteguhan iman saat ujian datang.Maka, hal perlu kita tanamkan dalam diri kita adalah bahwa kehilangan—baik harta maupun nyawa—adalah cermin keimanan. Musibah yang menimpa telah menyingkap siapa yang benar-benar bersandar kepada Allah, dan siapa yang selama ini hanya bergantung kepada dunia.Musibah dan sunnatullahAllah Ta’ala telah menegaskan sejak awal bahwa kehidupan dunia ini tidak pernah lepas dari ujian. Allah berfirman,وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ“Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Ayat ini terasa begitu dekat dengan realitas musibah banjir yang terjadi. Kekurangan harta, hilangnya jiwa, rasa takut, dan ketidakpastian—semuanya nyata di hadapan mata. Namun, Al-Qur’an mengajarkan bahwa semua itu bukan tanda kebencian Allah, melainkan bagian dari sunnatullah.Orang beriman tidak dijanjikan hidup tanpa bencana. Yang dijanjikan adalah pertolongan, pahala, dan pengangkatan derajat bagi mereka yang bersabar. Bahkan sering kali, musibah adalah bentuk kasih sayang Allah agar seorang hamba kembali sadar, kembali lurus, dan kembali menggantungkan hatinya kepada Rabb semesta alam.Jika seseorang tertimpa musibah lalu menjauh dari Allah Ta’ala, maka ia rugi dua kali: dunia hilang dan akhirat terancam. Namun, jika musibah membuatnya semakin tunduk, maka sesungguhnya ia sedang diselamatkan—meskipun secara lahir tampak kehilangan segalanya.Baca juga: Mengapa Bencana Terus MelandaHakikat kemuliaanBanjir yang melanda Sumatera menyadarkan kita betapa rapuhnya harta dunia. Rumah yang kokoh, kendaraan yang mahal, dan simpanan bertahun-tahun bisa lenyap dalam satu malam. Di sinilah Allah menyingkap kesalahan cara pandang manusia tentang harta dan kemuliaan.Allah Ta’ala berfirman,فَأَمَّا ٱلْإِنسَـٰنُ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ رَبُّهُۥ فَأَكْرَمَهُۥ وَنَعَّمَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَكْرَمَنِوَأَمَّآ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَهَـٰنَنِ“Adapun manusia, apabila Rabbnya mengujinya, lalu dimuliakan, dan diberi kesenangan, maka dia berkata, ‘Rabbku telah memuliakanku.’ Tetapi apabila Rabbnya mengujinya, lalu membatasi rezekinya, dia berkata, ‘Rabbku telah menghinakanku.’ (QS. Al-Fajr: 15–16)Saudaraku, lapangnya rezeki bukan bukti kemuliaan, dan sempitnya rezeki bukan tanda kehinaan. Keduanya adalah ujian. Musibah banjir bukan ukuran kehinaan suatu daerah atau suatu kaum, tetapi ladang ujian iman.Lihatlah, tidak sedikit orang yang hartanya melimpah, namun hatinya kosong dari zikir. Sebaliknya, ada yang kehilangan hampir segalanya, tetapi justru menemukan kedekatan dengan Allah Ta’ala. Maka pertanyaan terpenting bukanlah, “Apa saja yang hanyut?” melainkan “Apa yang tersisa di dalam hati?”Para salaf dahulu tidak takut miskin. Mereka takut jika dunia merusak hati. Karena dunia yang sedikit namun menguatkan iman jauh lebih berharga daripada dunia berlimpah yang melalaikan.Ketika semua sandaran dicabutMusibah banjir sering kali mencabut seluruh sandaran dunia: rumah, pekerjaan, rasa aman, dan masa depan yang telah direncanakan. Di titik inilah hakikat tawakal diuji.Allah Ta’ala berfirman,وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Tawakal bukan berarti menyerah tanpa usaha. Para korban banjir tetap berikhtiar: menyelamatkan keluarga, mencari bantuan, dan membangun kembali kehidupan. Namun, hati mereka belajar satu hal penting: hasil sepenuhnya berada di tangan Allah Ta’ala.Kadangkala, Allah Ta’ala mengambil sesuatu dari kita agar kita kembali menjadikan Allah sebagai satu-satunya sandaran. Jika harta hanyut tetapi tawakal tumbuh, maka itu bukan musibah semata—melainkan anugerah yang tersembunyi.Hati yang bertawakal tidak mudah panik, tidak tenggelam dalam keputusasaan, dan tidak kehilangan harapan. Ia yakin bahwa apa pun yang Allah ambil, pasti mengandung hikmah; dan Allah Maha Mampu mengganti, meski tidak selalu dengan bentuk yang sama.Sabar dan ridaRasulullah ﷺ bersabda,عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999)Hadis ini menjadi penguat bagi setiap jiwa yang terdampak musibah. Kehilangan bukanlah kehancuran, selama sabar dan iman masih dijaga.Mestinya, seorang muslim tidak larut dalam pertanyaan, “Mengapa ini terjadi padaku?” tetapi beralih kepada pertanyaan yang lebih menyelamatkan, “Apa yang Allah ingin perbaiki dariku?” Di sinilah musibah berubah menjadi sarana pengangkat derajat.Kesedihan adalah fitrah. Namun, lisan dijaga dari keluhan yang menyalahkan takdir, hati dijaga dari prasangka buruk kepada Allah, dan anggota tubuh dijaga dari maksiat. Adapun rida adalah menerima ketetapan Allah dengan tenang, karena yakin bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang tidak kita ketahui.Keselamatan imanMusibah banjir di Sumatera mengajarkan kita bahwa dunia ini benar-benar sementara. Tidak semua kehilangan itu buruk, dan tidak semua kelapangan itu baik. Ada kehilangan yang menyelamatkan iman, dan ada kelapangan yang perlahan membinasakan hati.Jika musibah membuat kita lebih sering sujud, lebih jujur dalam doa, lebih peduli kepada sesama, dan lebih rindu kepada akhirat, maka sejatinya kita tidak kehilangan apa pun. Kita hanya sedang dipindahkan dari sandaran yang rapuh menuju sandaran yang Maha Kokoh.Semoga Allah Ta’ala memberikan kesabaran dan pertolongan kepada saudara-saudara kita yang terdampak banjir, mengganti apa yang hilang dengan kebaikan yang lebih besar, dan menjadikan setiap musibah sebagai jalan kembali kepada-Nya. Karena pada akhirnya, yang paling berharga bukanlah apa yang kita miliki di dunia, tetapi keadaan hati kita saat bertemu Allah Ta’ala.Baca juga: Sikap Seorang Muslim dalam Menghadapi Musibah***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleMusibah dan sunnatullahHakikat kemuliaanKetika semua sandaran dicabutSabar dan ridaKeselamatan imanBeberapa waktu terakhir, sebagian wilayah Sumatera dilanda musibah banjir. Rumah-rumah terendam, harta benda hanyut, ladang rusak, kendaraan tak tersisa, bahkan nyawa melayang. Bagi banyak keluarga, apa yang dikumpulkan bertahun-tahun seolah hilang dalam hitungan jam. Tangisan terdengar di pengungsian, doa dipanjatkan dengan suara bergetar, dan hati manusia diuji pada titik yang paling dalam.Di tengah peristiwa seperti ini, kita diingatkan pada satu hakikat penting: kehilangan adalah kenyataan hidup yang tidak bisa dihindari. Ada yang kehilangan harta, ada yang kehilangan rasa aman, ada yang kehilangan orang tercinta, dan ada pula yang kehilangan hampir seluruh sandaran duniawinya sekaligus. Namun, yang paling menentukan bukanlah besarnya kehilangan itu, melainkan bagaimana hati meresponnya. Apakah ia semakin tunduk kepada Allah Ta’ala, atau justru tenggelam dalam keluhan dan keputusasaan.Banyak manusia—tanpa sadar—mengukur kasih sayang Allah Ta’ala dengan kenyamanan hidup. Selama rumah utuh dan rezeki lancar, mereka merasa Allah sedang meridai. Namun ketika banjir datang, harta lenyap, dan hidup terasa sempit, muncul bisikan: “Mengapa Allah melakukan ini?” Padahal, ukuran rida Allah Ta’ala bukanlah banyak atau sedikitnya dunia, melainkan keteguhan iman saat ujian datang.Maka, hal perlu kita tanamkan dalam diri kita adalah bahwa kehilangan—baik harta maupun nyawa—adalah cermin keimanan. Musibah yang menimpa telah menyingkap siapa yang benar-benar bersandar kepada Allah, dan siapa yang selama ini hanya bergantung kepada dunia.Musibah dan sunnatullahAllah Ta’ala telah menegaskan sejak awal bahwa kehidupan dunia ini tidak pernah lepas dari ujian. Allah berfirman,وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ“Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Ayat ini terasa begitu dekat dengan realitas musibah banjir yang terjadi. Kekurangan harta, hilangnya jiwa, rasa takut, dan ketidakpastian—semuanya nyata di hadapan mata. Namun, Al-Qur’an mengajarkan bahwa semua itu bukan tanda kebencian Allah, melainkan bagian dari sunnatullah.Orang beriman tidak dijanjikan hidup tanpa bencana. Yang dijanjikan adalah pertolongan, pahala, dan pengangkatan derajat bagi mereka yang bersabar. Bahkan sering kali, musibah adalah bentuk kasih sayang Allah agar seorang hamba kembali sadar, kembali lurus, dan kembali menggantungkan hatinya kepada Rabb semesta alam.Jika seseorang tertimpa musibah lalu menjauh dari Allah Ta’ala, maka ia rugi dua kali: dunia hilang dan akhirat terancam. Namun, jika musibah membuatnya semakin tunduk, maka sesungguhnya ia sedang diselamatkan—meskipun secara lahir tampak kehilangan segalanya.Baca juga: Mengapa Bencana Terus MelandaHakikat kemuliaanBanjir yang melanda Sumatera menyadarkan kita betapa rapuhnya harta dunia. Rumah yang kokoh, kendaraan yang mahal, dan simpanan bertahun-tahun bisa lenyap dalam satu malam. Di sinilah Allah menyingkap kesalahan cara pandang manusia tentang harta dan kemuliaan.Allah Ta’ala berfirman,فَأَمَّا ٱلْإِنسَـٰنُ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ رَبُّهُۥ فَأَكْرَمَهُۥ وَنَعَّمَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَكْرَمَنِوَأَمَّآ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَهَـٰنَنِ“Adapun manusia, apabila Rabbnya mengujinya, lalu dimuliakan, dan diberi kesenangan, maka dia berkata, ‘Rabbku telah memuliakanku.’ Tetapi apabila Rabbnya mengujinya, lalu membatasi rezekinya, dia berkata, ‘Rabbku telah menghinakanku.’ (QS. Al-Fajr: 15–16)Saudaraku, lapangnya rezeki bukan bukti kemuliaan, dan sempitnya rezeki bukan tanda kehinaan. Keduanya adalah ujian. Musibah banjir bukan ukuran kehinaan suatu daerah atau suatu kaum, tetapi ladang ujian iman.Lihatlah, tidak sedikit orang yang hartanya melimpah, namun hatinya kosong dari zikir. Sebaliknya, ada yang kehilangan hampir segalanya, tetapi justru menemukan kedekatan dengan Allah Ta’ala. Maka pertanyaan terpenting bukanlah, “Apa saja yang hanyut?” melainkan “Apa yang tersisa di dalam hati?”Para salaf dahulu tidak takut miskin. Mereka takut jika dunia merusak hati. Karena dunia yang sedikit namun menguatkan iman jauh lebih berharga daripada dunia berlimpah yang melalaikan.Ketika semua sandaran dicabutMusibah banjir sering kali mencabut seluruh sandaran dunia: rumah, pekerjaan, rasa aman, dan masa depan yang telah direncanakan. Di titik inilah hakikat tawakal diuji.Allah Ta’ala berfirman,وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Tawakal bukan berarti menyerah tanpa usaha. Para korban banjir tetap berikhtiar: menyelamatkan keluarga, mencari bantuan, dan membangun kembali kehidupan. Namun, hati mereka belajar satu hal penting: hasil sepenuhnya berada di tangan Allah Ta’ala.Kadangkala, Allah Ta’ala mengambil sesuatu dari kita agar kita kembali menjadikan Allah sebagai satu-satunya sandaran. Jika harta hanyut tetapi tawakal tumbuh, maka itu bukan musibah semata—melainkan anugerah yang tersembunyi.Hati yang bertawakal tidak mudah panik, tidak tenggelam dalam keputusasaan, dan tidak kehilangan harapan. Ia yakin bahwa apa pun yang Allah ambil, pasti mengandung hikmah; dan Allah Maha Mampu mengganti, meski tidak selalu dengan bentuk yang sama.Sabar dan ridaRasulullah ﷺ bersabda,عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999)Hadis ini menjadi penguat bagi setiap jiwa yang terdampak musibah. Kehilangan bukanlah kehancuran, selama sabar dan iman masih dijaga.Mestinya, seorang muslim tidak larut dalam pertanyaan, “Mengapa ini terjadi padaku?” tetapi beralih kepada pertanyaan yang lebih menyelamatkan, “Apa yang Allah ingin perbaiki dariku?” Di sinilah musibah berubah menjadi sarana pengangkat derajat.Kesedihan adalah fitrah. Namun, lisan dijaga dari keluhan yang menyalahkan takdir, hati dijaga dari prasangka buruk kepada Allah, dan anggota tubuh dijaga dari maksiat. Adapun rida adalah menerima ketetapan Allah dengan tenang, karena yakin bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang tidak kita ketahui.Keselamatan imanMusibah banjir di Sumatera mengajarkan kita bahwa dunia ini benar-benar sementara. Tidak semua kehilangan itu buruk, dan tidak semua kelapangan itu baik. Ada kehilangan yang menyelamatkan iman, dan ada kelapangan yang perlahan membinasakan hati.Jika musibah membuat kita lebih sering sujud, lebih jujur dalam doa, lebih peduli kepada sesama, dan lebih rindu kepada akhirat, maka sejatinya kita tidak kehilangan apa pun. Kita hanya sedang dipindahkan dari sandaran yang rapuh menuju sandaran yang Maha Kokoh.Semoga Allah Ta’ala memberikan kesabaran dan pertolongan kepada saudara-saudara kita yang terdampak banjir, mengganti apa yang hilang dengan kebaikan yang lebih besar, dan menjadikan setiap musibah sebagai jalan kembali kepada-Nya. Karena pada akhirnya, yang paling berharga bukanlah apa yang kita miliki di dunia, tetapi keadaan hati kita saat bertemu Allah Ta’ala.Baca juga: Sikap Seorang Muslim dalam Menghadapi Musibah***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleMusibah dan sunnatullahHakikat kemuliaanKetika semua sandaran dicabutSabar dan ridaKeselamatan imanBeberapa waktu terakhir, sebagian wilayah Sumatera dilanda musibah banjir. Rumah-rumah terendam, harta benda hanyut, ladang rusak, kendaraan tak tersisa, bahkan nyawa melayang. Bagi banyak keluarga, apa yang dikumpulkan bertahun-tahun seolah hilang dalam hitungan jam. Tangisan terdengar di pengungsian, doa dipanjatkan dengan suara bergetar, dan hati manusia diuji pada titik yang paling dalam.Di tengah peristiwa seperti ini, kita diingatkan pada satu hakikat penting: kehilangan adalah kenyataan hidup yang tidak bisa dihindari. Ada yang kehilangan harta, ada yang kehilangan rasa aman, ada yang kehilangan orang tercinta, dan ada pula yang kehilangan hampir seluruh sandaran duniawinya sekaligus. Namun, yang paling menentukan bukanlah besarnya kehilangan itu, melainkan bagaimana hati meresponnya. Apakah ia semakin tunduk kepada Allah Ta’ala, atau justru tenggelam dalam keluhan dan keputusasaan.Banyak manusia—tanpa sadar—mengukur kasih sayang Allah Ta’ala dengan kenyamanan hidup. Selama rumah utuh dan rezeki lancar, mereka merasa Allah sedang meridai. Namun ketika banjir datang, harta lenyap, dan hidup terasa sempit, muncul bisikan: “Mengapa Allah melakukan ini?” Padahal, ukuran rida Allah Ta’ala bukanlah banyak atau sedikitnya dunia, melainkan keteguhan iman saat ujian datang.Maka, hal perlu kita tanamkan dalam diri kita adalah bahwa kehilangan—baik harta maupun nyawa—adalah cermin keimanan. Musibah yang menimpa telah menyingkap siapa yang benar-benar bersandar kepada Allah, dan siapa yang selama ini hanya bergantung kepada dunia.Musibah dan sunnatullahAllah Ta’ala telah menegaskan sejak awal bahwa kehidupan dunia ini tidak pernah lepas dari ujian. Allah berfirman,وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ“Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Ayat ini terasa begitu dekat dengan realitas musibah banjir yang terjadi. Kekurangan harta, hilangnya jiwa, rasa takut, dan ketidakpastian—semuanya nyata di hadapan mata. Namun, Al-Qur’an mengajarkan bahwa semua itu bukan tanda kebencian Allah, melainkan bagian dari sunnatullah.Orang beriman tidak dijanjikan hidup tanpa bencana. Yang dijanjikan adalah pertolongan, pahala, dan pengangkatan derajat bagi mereka yang bersabar. Bahkan sering kali, musibah adalah bentuk kasih sayang Allah agar seorang hamba kembali sadar, kembali lurus, dan kembali menggantungkan hatinya kepada Rabb semesta alam.Jika seseorang tertimpa musibah lalu menjauh dari Allah Ta’ala, maka ia rugi dua kali: dunia hilang dan akhirat terancam. Namun, jika musibah membuatnya semakin tunduk, maka sesungguhnya ia sedang diselamatkan—meskipun secara lahir tampak kehilangan segalanya.Baca juga: Mengapa Bencana Terus MelandaHakikat kemuliaanBanjir yang melanda Sumatera menyadarkan kita betapa rapuhnya harta dunia. Rumah yang kokoh, kendaraan yang mahal, dan simpanan bertahun-tahun bisa lenyap dalam satu malam. Di sinilah Allah menyingkap kesalahan cara pandang manusia tentang harta dan kemuliaan.Allah Ta’ala berfirman,فَأَمَّا ٱلْإِنسَـٰنُ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ رَبُّهُۥ فَأَكْرَمَهُۥ وَنَعَّمَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَكْرَمَنِوَأَمَّآ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَهَـٰنَنِ“Adapun manusia, apabila Rabbnya mengujinya, lalu dimuliakan, dan diberi kesenangan, maka dia berkata, ‘Rabbku telah memuliakanku.’ Tetapi apabila Rabbnya mengujinya, lalu membatasi rezekinya, dia berkata, ‘Rabbku telah menghinakanku.’ (QS. Al-Fajr: 15–16)Saudaraku, lapangnya rezeki bukan bukti kemuliaan, dan sempitnya rezeki bukan tanda kehinaan. Keduanya adalah ujian. Musibah banjir bukan ukuran kehinaan suatu daerah atau suatu kaum, tetapi ladang ujian iman.Lihatlah, tidak sedikit orang yang hartanya melimpah, namun hatinya kosong dari zikir. Sebaliknya, ada yang kehilangan hampir segalanya, tetapi justru menemukan kedekatan dengan Allah Ta’ala. Maka pertanyaan terpenting bukanlah, “Apa saja yang hanyut?” melainkan “Apa yang tersisa di dalam hati?”Para salaf dahulu tidak takut miskin. Mereka takut jika dunia merusak hati. Karena dunia yang sedikit namun menguatkan iman jauh lebih berharga daripada dunia berlimpah yang melalaikan.Ketika semua sandaran dicabutMusibah banjir sering kali mencabut seluruh sandaran dunia: rumah, pekerjaan, rasa aman, dan masa depan yang telah direncanakan. Di titik inilah hakikat tawakal diuji.Allah Ta’ala berfirman,وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Tawakal bukan berarti menyerah tanpa usaha. Para korban banjir tetap berikhtiar: menyelamatkan keluarga, mencari bantuan, dan membangun kembali kehidupan. Namun, hati mereka belajar satu hal penting: hasil sepenuhnya berada di tangan Allah Ta’ala.Kadangkala, Allah Ta’ala mengambil sesuatu dari kita agar kita kembali menjadikan Allah sebagai satu-satunya sandaran. Jika harta hanyut tetapi tawakal tumbuh, maka itu bukan musibah semata—melainkan anugerah yang tersembunyi.Hati yang bertawakal tidak mudah panik, tidak tenggelam dalam keputusasaan, dan tidak kehilangan harapan. Ia yakin bahwa apa pun yang Allah ambil, pasti mengandung hikmah; dan Allah Maha Mampu mengganti, meski tidak selalu dengan bentuk yang sama.Sabar dan ridaRasulullah ﷺ bersabda,عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999)Hadis ini menjadi penguat bagi setiap jiwa yang terdampak musibah. Kehilangan bukanlah kehancuran, selama sabar dan iman masih dijaga.Mestinya, seorang muslim tidak larut dalam pertanyaan, “Mengapa ini terjadi padaku?” tetapi beralih kepada pertanyaan yang lebih menyelamatkan, “Apa yang Allah ingin perbaiki dariku?” Di sinilah musibah berubah menjadi sarana pengangkat derajat.Kesedihan adalah fitrah. Namun, lisan dijaga dari keluhan yang menyalahkan takdir, hati dijaga dari prasangka buruk kepada Allah, dan anggota tubuh dijaga dari maksiat. Adapun rida adalah menerima ketetapan Allah dengan tenang, karena yakin bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang tidak kita ketahui.Keselamatan imanMusibah banjir di Sumatera mengajarkan kita bahwa dunia ini benar-benar sementara. Tidak semua kehilangan itu buruk, dan tidak semua kelapangan itu baik. Ada kehilangan yang menyelamatkan iman, dan ada kelapangan yang perlahan membinasakan hati.Jika musibah membuat kita lebih sering sujud, lebih jujur dalam doa, lebih peduli kepada sesama, dan lebih rindu kepada akhirat, maka sejatinya kita tidak kehilangan apa pun. Kita hanya sedang dipindahkan dari sandaran yang rapuh menuju sandaran yang Maha Kokoh.Semoga Allah Ta’ala memberikan kesabaran dan pertolongan kepada saudara-saudara kita yang terdampak banjir, mengganti apa yang hilang dengan kebaikan yang lebih besar, dan menjadikan setiap musibah sebagai jalan kembali kepada-Nya. Karena pada akhirnya, yang paling berharga bukanlah apa yang kita miliki di dunia, tetapi keadaan hati kita saat bertemu Allah Ta’ala.Baca juga: Sikap Seorang Muslim dalam Menghadapi Musibah***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Gelisah: Ini Cara Mengatasinya

Perasaan cemas, takut masa depan, dan overthinking ternyata tidak selalu muncul karena hidup terlalu berat. Terkadang, hati hanya sedang lelah dan kehilangan tempat bergantung yang benar. Islam tidak menutup mata terhadap anxiety, bahkan memberikan langkah bertahap untuk menghadapinya dengan iman, doa, pola hidup sehat, dan tawakal kepada Allah. Dalam tulisan ini, kita akan belajar bagaimana mengelola kecemasan tanpa tenggelam dalam ketakutan dan tanpa kehilangan harapan.  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Fatwanya di Islamqa 2. Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Kehilangan Tempat Bersandar 3. Penutup  Penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Fatwanya di IslamqaPertanyaan no. 430992Pada awalnya, saya adalah seorang gadis yang baru lulus kuliah. Saya menunda banyak hal dan sempat menikmati masa istirahat setelah lelah belajar bertahun-tahun. Namun, setelah beberapa bulan hanya di rumah, saya mulai menjalani rutinitas yang sama setiap hari: bangun tidur, makan, duduk bersama keluarga, lalu tidur lagi.Selain itu, saya mulai kehilangan semangat untuk melakukan hal-hal paling sederhana sekalipun, seperti membantu pekerjaan rumah, menonton film atau serial, bahkan keluar bersama teman-teman. Padahal sebelumnya saya bukan orang yang tertutup atau introvert.Lalu mulai muncul pikiran-pikiran waswas dalam diri saya, seperti merasa hidup ini tidak ada gunanya, dan hari esok hanya akan mengulang hari ini, lalu terus seperti itu seterusnya.Karena itu, saya mencoba mengambil langkah positif untuk mengusir pikiran-pikiran tersebut. Saya mulai menjaga salat dan membaca satu juz Al-Qur’an setiap hari. Alhamdulillah, hidup saya mulai sedikit membaik.Namun setelah beberapa waktu, muncul lagi perasaan bahwa ajal saya mungkin sudah dekat. Padahal saya tidak memiliki keinginan bunuh diri sama sekali. Saya jadi merasa bahwa semangat saya dalam beribadah dan berdzikir hanyalah karena kematian saya sudah dekat. Meskipun saya yakin sepenuhnya bahwa umur berada di tangan Allah. Pikiran-pikiran seperti ini biasanya datang ketika menjelang tidur atau di sela-sela waktu tertentu dalam sehari.Jika saya mencoba mengabaikan pikiran-pikiran itu, saya justru kembali kepada pikiran sebelumnya, yaitu bahwa hari esok hanya akan mengulang hari ini, dan seterusnya.Ditambah lagi, saya tidak bisa membicarakan masalah ini kepada keluarga saya, karena mereka akan menganggap ini hanya rasa malas biasa. Padahal sebelumnya saya bukan orang yang dikenal sering sedih atau memiliki banyak masalah.Karena itu, saya memutuskan untuk mengirim pesan ini kepada Anda. Semoga setelah pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala, saya bisa menemukan jalan keluar dari keadaan ini.Jawaban:Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah. Amma ba‘du.Pertama:Perasaan cemas yang terus-menerus, hidup yang terasa monoton, hilangnya makna hidup, serta kesedihan dan kegelisahan yang menyertainya — semua perasaan ini bisa saja dialami oleh siapa pun, pada fase kehidupan apa pun.Kecemasan yang dialami ini termasuk jenis yang disebut kecemasan karena rasa takut (anxiety of fears). Rasa takut bisa muncul sebagai respons terhadap berbagai keadaan. Ada orang yang takut gagal, takut menghadapi masa depan, takut tidak berhasil meraih kesuksesan, takut ditolak, takut konflik, takut hidup terasa tidak bermakna — yang terkadang disebut sebagai kecemasan eksistensial — juga takut terhadap penyakit, kematian, kesendirian, dan berbagai hal lainnya, baik yang nyata maupun yang hanya ada dalam bayangan.Kedua:Meskipun rasa cemas termasuk perasaan yang wajar dan bisa dialami siapa saja, dampaknya tidak boleh diremehkan. Jika kita memahami akibat-akibatnya, kita akan menyadari pentingnya mengelola dan mengendalikan kecemasan tersebut.Di antara dampak dari kecemasan adalah:Dampak FisikSudah dikenal luas bahwa tekanan mental dan kecemasan yang berat dapat menyebabkan penyakit lambung, bahkan pada usia muda. Namun selain itu, ada pula dampak fisik lain dari kecemasan yang tidak banyak disadari, seperti sakit kepala, ruam kulit, nyeri punggung, gangguan pencernaan, sesak napas, insomnia, kelelahan, dan hilangnya nafsu makan.Lebih dari itu, perubahan tekanan darah, ketegangan otot, serta perubahan pada sistem pencernaan dan zat kimia dalam tubuh akibat kecemasan, jika berlangsung terus-menerus, dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang serius.Dampak PerilakuKetika rasa cemas semakin besar, kebanyakan orang tanpa sadar akan mencari perilaku atau pikiran tertentu untuk meredakan rasa sakit akibat kecemasan dan membantu dirinya bertahan. Di antara perilaku yang bisa muncul akibat kecemasan adalah mencari pelarian melalui tidur berlebihan, narkoba, minuman keras, atau mencoba menyangkal bahwa dirinya sebenarnya sedang mengalami kecemasan yang mendalam.Sebagian orang juga bisa berubah menjadi lebih mudah marah dari biasanya. Mereka menyalahkan orang lain atas masalah pribadinya, atau mudah meledak dalam luapan emosi layaknya anak kecil hanya karena gangguan kecil.Dampak RuhaniTerkadang kecemasan mendorong seseorang untuk meminta pertolongan kepada Allah dalam suatu urusan, padahal sebelumnya ia jarang melakukannya. Ini bisa menjadi sisi positif dari kecemasan. Namun di sisi lain, kecemasan juga bisa menjauhkan seseorang dari Allah pada saat ia sebenarnya paling membutuhkan-Nya. Bahkan orang yang taat beragama pun, ketika dipenuhi kegelisahan dan tekanan hidup, bisa merasa waktu salatnya berkurang dan kekhusyukannya dalam ibadah melemah.Dampak PsikologisKecemasan juga dapat memicu munculnya berbagai gangguan psikologis, di antaranya:Reaksi ketakutan berlebihan (phobia), seperti takut berada di tempat ramai atau situasi yang sulit untuk melarikan diri (agoraphobia), takut berada di tempat tertutup (claustrophobia), takut terhadap tempat tinggi (acrophobia), dan berbagai ketakutan sosial lainnya.Gangguan pola makan, seperti hilangnya nafsu makan atau makan berlebihan. Gangguan ini biasanya berkaitan dengan kecemasan terhadap berat badan dan penampilan diri.Gangguan gerak, karena sebagian gerakan otot yang tidak terkendali bisa berkaitan dengan kecemasan.Ketiga:Menurut yang tampak bagi kami, perasaan menyakitkan yang Anda alami berkaitan dengan perubahan pola hidup Anda menuju fase baru yang belum jelas arah masa depannya. Karena itu, Anda membutuhkan tujuan-tujuan baru dalam hidup yang mulai Anda susun dan kejar secara bertahap.Masa istirahat setelah selesai studi tampaknya sudah saatnya diakhiri, lalu diganti dengan fase baru yang diisi dengan aktivitas yang bermanfaat. Baik berupa pekerjaan profesional, kegiatan sosial dan sukarela, maupun aktivitas positif lainnya.Di samping itu, cobalah kembali menjalin hubungan dengan teman-teman dekat, mengunjungi kerabat, mempererat hubungan dengan orang tua dan saudara, serta memberi perhatian pada belajar ilmu agama dan berbagai kesibukan dunia maupun akhirat lainnya.Aktivitas-aktivitas semacam ini dapat membangkitkan potensi diri, memberi semangat baru, serta membuat seseorang kembali merasakan makna hidup dan tujuan dari keberadaannya.Keempat:Ada beberapa nasihat yang banyak disebutkan dalam referensi psikologi untuk membantu menghadapi kecemasan. Kami ringkaskan untuk Anda dalam beberapa poin berikut:1. Cobalah berbicara tentang ketakutan dan penyebab kecemasan Anda secara terbuka dan mendalam, semampu Anda mengungkapkannya.Usahakan agar ketika Anda berbicara tentang hal tersebut, tidak banyak interupsi dari orang lain. Jangan pula meremehkan alasan yang membuat Anda cemas. Hindari mengucapkan kalimat seperti, “Ah, masalah ini sebenarnya tidak pantas dicemaskan!”Sebaliknya, cobalah memahami dan mengungkapkan isi hati Anda dengan menjawab beberapa pertanyaan berikut:Hal apa yang paling banyak membuat Anda gelisah?Hal apa yang paling Anda takutkan?Kekhawatiran apa yang sebenarnya tampak tidak terlalu penting?Kekhawatiran apa yang menurut Anda benar-benar realistis?Apakah Anda lebih mudah merasa cemas atau tegang pada waktu-waktu tertentu? Di tempat tertentu? Atau ketika bersama orang-orang tertentu?Apakah ada waktu-waktu tertentu ketika perasaan cemas itu menghilang?Pernahkah Anda mencoba melawan atau menghadapi perasaan-perasaan tersebut? Bagaimana caranya?2. Setelah Anda mengungkapkan rasa cemas tersebut, hal terpenting yang perlu Anda lakukan adalah bersikap lembut kepada diri sendiri, serta berempati terhadap diri Anda. Yakinlah bahwa Anda tidak sendirian dalam mengalami perasaan seperti ini.Yang Anda butuhkan setelah itu adalah menerima diri sendiri dan memberikan kasih sayang kepada diri Anda. Sebab, kasih sayang adalah lawan dari rasa takut. Karena itu, berikanlah kasih sayang kepada diri sendiri, dan carilah lingkungan serta hubungan yang membuat Anda merasa dicintai dan dihargai.3. Tempuhlah jalan yang benar dalam menghadapi kecemasanTujuan Anda bukanlah menghilangkan seluruh rasa cemas dari hidup, karena hal itu hampir mustahil dilakukan. Yang seharusnya menjadi tujuan adalah membekali diri agar mampu menghadapi kecemasan dengan baik dan benar.Hal itu dapat dilakukan dengan beberapa cara berikut:Mengakui bahwa Anda sedang cemas, memahami penyebabnya, lalu bertekad belajar bagaimana mengatasinya.Serahkan segala ketakutan Anda kepada Allah, dan raihlah rasa aman serta ketenangan melalui keyakinan bahwa Allah selalu menjaga Anda.Alihkan perhatian dari diri sendiri kepada orang lain. Sebab ketika seseorang berhenti terlalu fokus pada masalah pribadinya lalu mulai membantu orang lain, biasanya rasa cemasnya akan berkurang.Senantiasa berdzikir kepada Allah Ta’ala, membaca Al-Qur’an, mentadabburinya, dan mendengarkannya kapan pun memungkinkan, dengan berbagai sarana yang membantu untuk itu.Allah Ta’ala berfirman:ٱلَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)Di antara dzikir yang sangat agung, terutama bagi orang yang sedih dan gelisah, adalah memperbanyak shalawat kepada Rasulullah ﷺ.Dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أُكْثِرُ الصَّلَاةَ عَلَيْكَ، فَكَمْ أَجْعَلُ لَكَ مِنْ صَلَاتِي؟ فَقَالَ: «مَا شِئْتَ» قَالَ: قُلْتُ الرُّبُعَ؟ قَالَ: «مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ» قُلْتُ: النِّصْفَ؟ قَالَ: «مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ» قُلْتُ: فَالثُّلُثَيْنِ؟ قَالَ: «مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ» قُلْتُ: أَجْعَلُ لَكَ صَلَاتِي كُلَّهَا؟ قَالَ: «إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ»“Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku sering bersalawat kepadamu. Berapa banyak dari doaku yang sebaiknya aku isi dengan shalawat untukmu?’Beliau menjawab, ‘Terserah engkau.’Aku berkata, ‘Seperempat?’Beliau menjawab, ‘Terserah engkau. Jika engkau menambahnya, itu lebih baik bagimu.’Aku berkata, ‘Setengah?’Beliau menjawab, ‘Terserah engkau. Jika engkau menambahnya, itu lebih baik bagimu.’Aku berkata, ‘Dua pertiga?’Beliau menjawab, ‘Terserah engkau. Jika engkau menambahnya, itu lebih baik bagimu.’Aku berkata, ‘Kalau begitu aku jadikan seluruh doaku untuk bersalawat kepadamu?’Beliau bersabda, ‘Jika demikian, kegelisahanmu akan dicukupkan dan dosamu akan diampuni.’”(HR. Ahmad no. 21241 dan Muhammad ibn Isa at-Tirmidhi no. 2457, beliau berkata: “Hadits hasan.”)5. Shalat, doa, dan memohon perlindungan kepada AllahShalat dapat menjadi penenang dari rasa cemas. Karena itu, seharusnya salat menjadi respons pertama kita ketika kecemasan mulai memuncak.Dari Hudhayfah ibn al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى“Apabila Nabi ﷺ menghadapi suatu persoalan yang berat, beliau segera melaksanakan salat.” (HR. Abu Dawud no. 1319, dinyatakan hasan oleh Muhammad Nasiruddin al-Albani dalam Shahih Abi Dawud)Demikian pula dengan doa. Doa termasuk sarana terbesar yang menghubungkan seorang hamba dengan Rabb-nya, terutama ketika menghadapi kegelisahan, ketakutan, serta rasa sakit jiwa maupun fisik.Di antara doa yang paling agung dalam keadaan seperti ini adalah doa Nabi Yunus ‘alaihis salam ketika berada di dalam perut ikan. Dengan doa yang agung ini — yang berisi tauhid kepada Allah, pengakuan dosa seorang hamba, dan kepasrahan kepada Rabb-nya — Allah menghilangkan kesusahan para hamba-Nya.Allah Ta’ala berfirman:وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ ۝ فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Maka ia berdoa dalam kegelapan, ‘Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.’ Maka Kami pun memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kesedihan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiya’: 87–88)Dari Sa’d ibn Abi Waqqas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:دَعْوَةُ ذِي النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِي بَطْنِ الحُوتِ: لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ“Doa Dzun Nun ketika ia berdoa di dalam perut ikan:لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَLAA ILAHA ILLA ANTA SUBHAANAKA INNI KUNTU MINAZH ZHOLIMIIN‘Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.’Tidaklah seorang muslim berdoa dengan doa ini dalam suatu urusan, melainkan Allah akan mengabulkannya.”(HR. Tirmidzi no. 3505 dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya. Hadits ini dihasankan oleh para peneliti Musnad Ahmad dan disahihkan oleh Muhammad Nasiruddin al-Albani)Demikian pula dianjurkan untuk memohon perlindungan kepada Allah dari kegelisahan dan kesedihan.Dari Anas ibn Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:“Aku pernah melayani Rasulullah ﷺ ketika beliau singgah di suatu tempat. Aku sering mendengar beliau berdoa:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِALLAHUMMA INNI A‘UUDZU BIKA MINAL-HAMMI WAL-HAZAN, WAL-‘AJZI WAL-KASAL, WAL-BUKHLI WAL-JUBN, WA DHALA‘ID-DAINI WA GHALABATIR-RIJAAL.‘Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat bakhil dan pengecut, serta dari lilitan utang dan tekanan manusia.’” (HR. Bukhari, no. 2893 dan Muslim, no. 1365)6. Buatlah rencana tindakanSusunlah langkah nyata untuk menghadapi tekanan jiwa dan kecemasan. Di antaranya sebagaimana disebutkan oleh Minirth dan Meier dalam buku Happiness Is a Choice (Kebahagiaan adalah Pilihan), yaitu:Lakukan olahraga secara cukup dan rutin. Tiga kali dalam sepekan adalah pola yang ideal.Tidurlah dengan cukup. Kebanyakan orang membutuhkan sekitar delapan jam tidur setiap malam.Lakukan semampu Anda untuk menghadapi rasa takut atau masalah yang menjadi sumber kecemasan. Carilah berbagai alternatif dan solusi yang mungkin, lalu cobalah salah satunya.Bicarakan hal-hal yang membebani hati Anda kepada sahabat dekat, minimal sekali dalam seminggu.Lakukan aktivitas rekreasi atau hiburan yang positif, sekitar dua hingga tiga kali dalam seminggu.Jalani hidup hari demi hari. Belajar menjalani hidup “satu hari pada satu waktu” adalah keterampilan yang bisa dilatih. Kemungkinan besar, 98% hal yang kita cemaskan sebenarnya tidak akan pernah terjadi.Bayangkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi, lalu pikirkan kembali: mengapa hal itu sebenarnya tidak seburuk yang dibayangkan jika benar-benar terjadi.Jangan menunda pekerjaan atau kewajiban. Sebab menunda-nunda justru akan menambah rasa cemas.Berikan batas waktu untuk memikirkan kekhawatiran Anda. Jangan biarkan kegelisahan menguasai seluruh waktu dan pikiran Anda.7. Membaca buku-buku yang bermanfaatSeperti buku Jaddid Hayatak karya Muhammad al-Ghazali, buku La Tahzan karya Aidh al-Qarni, serta buku How to Stop Worrying and Start Living karya Dale Carnegie.8. Mencari bantuan profesionalJika rasa cemas justru semakin berat meskipun Anda sudah berusaha mengatasinya, maka mungkin Anda perlu mempertimbangkan untuk mencari bantuan profesional dari dokter atau terapis psikologi, terutama jika kecemasan tersebut sudah berkembang menjadi gangguan yang lebih berat atau disertai serangan panik. Sebagai penutup, kami memohon kepada Allah agar Dia melapangkan dada Anda serta menghilangkan kegelisahan dan kesedihan dari diri Anda.Demikian penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dałam fatawanya. Baca juga: Khutbah Jumat: Cara Mengatasi Kegalauan, Kekhawatiran, Kesedihan Menurut Islam Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Kehilangan Tempat BersandarAnxiety, yaitu rasa cemas dan gelisah yang terus-menerus tidak boleh dianggap sepele, tetapi juga tidak perlu langsung membuat seseorang merasa dirinya “rusak” atau kehilangan harapan. Perasaan seperti ini bisa dialami siapa saja dalam fase hidup tertentu. Yang terpenting adalah bagaimana seseorang belajar mengenali, memahami, dan mengelolanya dengan benar.Langkah pertama adalah menyadari dan menerima bahwa dirinya sedang mengalami kecemasan, lalu mencoba mengungkapkan isi hati dan sumber ketakutannya dengan jujur. Setelah itu, ia perlu bersikap lebih lembut kepada dirinya sendiri, tidak terus menyalahkan diri, serta mencari lingkungan yang membuatnya merasa diterima dan dihargai.Tahap berikutnya adalah membangun cara hidup yang sehat untuk menghadapi kecemasan: mendekat kepada Allah dengan shalat, dzikir, membaca Al-Qur’an, doa, dan memperbanyak shalawat; lalu diiringi dengan usaha nyata seperti olahraga, tidur cukup, tidak menunda pekerjaan, memiliki aktivitas positif, berbicara dengan orang terpercaya, serta belajar menjalani hidup hari demi hari tanpa terlalu tenggelam dalam ketakutan tentang masa depan.Selain itu, seseorang juga dianjurkan mengalihkan fokus dari dirinya kepada membantu orang lain, karena terlalu larut memikirkan diri sendiri sering kali memperbesar rasa cemas. Membaca buku-buku yang bermanfaat juga dapat membantu memperbaiki pola pikir dan cara memandang hidup.Namun jika kecemasan semakin berat, terus berulang, atau mulai mengganggu aktivitas dan ketenangan jiwa secara serius, maka mencari bantuan profesional adalah langkah yang baik dan bukan tanda lemahnya iman.Inti dari semua langkah ini adalah: jangan melawan kecemasan sendirian dengan pikiran sendiri, tetapi hadapilah dengan iman, usaha yang bertahap, pola hidup yang sehat, dan keyakinan bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya yang meminta pertolongan kepada-Nya. PenutupDi tengah dunia yang semakin bising, banyak orang terlihat baik-baik saja di luar, tetapi sebenarnya lelah di dalam. Pikiran penuh kekhawatiran, hati dipenuhi ketakutan tentang masa depan, rumah tangga, anak, jodoh, rezeki, hingga penilaian manusia.Padahal, tidak semua kegelisahan bisa diselesaikan hanya dengan motivasi atau sekadar “healing”. Ada kegelisahan yang akar masalahnya jauh lebih dalam: hati yang mulai kehilangan tempat bergantung.Karena itu, pembahasan Purity of Faith bukan sekadar kajian akidah yang teoritis. Tema ini justru sangat dekat dengan realita hidup muslim hari ini:mengapa kita mudah overthinking,mengapa hati sulit tenang,mengapa kita terlalu takut kehilangan,dan mengapa hidup terasa berat meski semuanya terlihat baik-baik saja.Dalam pembahasan ini, kita akan belajar bahwa:tauhid melahirkan ketenangan,tawakal mengurangi kecemasan,husnuzan kepada Allah menguatkan jiwa,dan iman kepada takdir membuat hati lebih lapang menghadapi hidup.Sebab hati yang mengenal Allah dengan benar tidak akan mudah runtuh hanya karena dunia berubah.Insya-Allah tema besar ini akan dibahas lebih dalam dalam agenda: PURITY OF FAITHMenata Hati, Menjernihkan Tauhid, dan Menemukan Ketenangan yang Sebenarnya.Selama tiga hari, peserta tidak hanya diajak memahami akidah sebagai ilmu, tetapi juga merasakan bagaimana tauhid mampu:menenangkan hati,memperbaiki cara memandang ujian,menguatkan rumah tangga,mengendalikan overthinking,dan membuat hidup lebih ringan dijalani.Karena semakin hati mengenal Allah, semakin kecil rasa takut kepada dunia.Dan mungkin… ketenangan yang selama ini dicari ke mana-mana, ternyata berawal dari satu hal: memurnikan iman kepada Allah.Masih banyak kegelisahan hidup yang ternyata akar masalahnya bukan sekadar pikiran yang lelah, tetapi hati yang belum benar-benar mengenal Allah dengan benar. Karena itu, tema tentang anxiety, tawakal, ketenangan hati, dan kemurnian tauhid ini insya-Allah akan dikaji lebih dalam dalam agenda bersama Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, Ustadz Khalid Basalamah, Ustadz Ammi Nur Baits, dan Ustadz Erlan Iskandar.Selama tiga hari, peserta akan diajak membedah buku panduan Purity of Faith sampai tuntas—membahas bagaimana tauhid mampu menenangkan hati, mengurangi overthinking, menguatkan rumah tangga, dan membuat hidup lebih lapang dalam menghadapi takdir Allah.📞 Info pendaftaran: 0895-4295-66900 (Sindha)📲 Ikuti update acara di Instagram: @shafiyahjourney —- Selesai ditulis di perjalanan Solo menuju Pondok Pesantren Darush Sholihin, 20 Dzulqa’dah 1447 H, 7 Mei 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsanxiety doa Dzikir gangguan kesehatan mental iman kecemasan kesehatan mental kesehatan mental Islam ketenangan hati overthinking tauhid tawakal

Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Gelisah: Ini Cara Mengatasinya

Perasaan cemas, takut masa depan, dan overthinking ternyata tidak selalu muncul karena hidup terlalu berat. Terkadang, hati hanya sedang lelah dan kehilangan tempat bergantung yang benar. Islam tidak menutup mata terhadap anxiety, bahkan memberikan langkah bertahap untuk menghadapinya dengan iman, doa, pola hidup sehat, dan tawakal kepada Allah. Dalam tulisan ini, kita akan belajar bagaimana mengelola kecemasan tanpa tenggelam dalam ketakutan dan tanpa kehilangan harapan.  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Fatwanya di Islamqa 2. Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Kehilangan Tempat Bersandar 3. Penutup  Penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Fatwanya di IslamqaPertanyaan no. 430992Pada awalnya, saya adalah seorang gadis yang baru lulus kuliah. Saya menunda banyak hal dan sempat menikmati masa istirahat setelah lelah belajar bertahun-tahun. Namun, setelah beberapa bulan hanya di rumah, saya mulai menjalani rutinitas yang sama setiap hari: bangun tidur, makan, duduk bersama keluarga, lalu tidur lagi.Selain itu, saya mulai kehilangan semangat untuk melakukan hal-hal paling sederhana sekalipun, seperti membantu pekerjaan rumah, menonton film atau serial, bahkan keluar bersama teman-teman. Padahal sebelumnya saya bukan orang yang tertutup atau introvert.Lalu mulai muncul pikiran-pikiran waswas dalam diri saya, seperti merasa hidup ini tidak ada gunanya, dan hari esok hanya akan mengulang hari ini, lalu terus seperti itu seterusnya.Karena itu, saya mencoba mengambil langkah positif untuk mengusir pikiran-pikiran tersebut. Saya mulai menjaga salat dan membaca satu juz Al-Qur’an setiap hari. Alhamdulillah, hidup saya mulai sedikit membaik.Namun setelah beberapa waktu, muncul lagi perasaan bahwa ajal saya mungkin sudah dekat. Padahal saya tidak memiliki keinginan bunuh diri sama sekali. Saya jadi merasa bahwa semangat saya dalam beribadah dan berdzikir hanyalah karena kematian saya sudah dekat. Meskipun saya yakin sepenuhnya bahwa umur berada di tangan Allah. Pikiran-pikiran seperti ini biasanya datang ketika menjelang tidur atau di sela-sela waktu tertentu dalam sehari.Jika saya mencoba mengabaikan pikiran-pikiran itu, saya justru kembali kepada pikiran sebelumnya, yaitu bahwa hari esok hanya akan mengulang hari ini, dan seterusnya.Ditambah lagi, saya tidak bisa membicarakan masalah ini kepada keluarga saya, karena mereka akan menganggap ini hanya rasa malas biasa. Padahal sebelumnya saya bukan orang yang dikenal sering sedih atau memiliki banyak masalah.Karena itu, saya memutuskan untuk mengirim pesan ini kepada Anda. Semoga setelah pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala, saya bisa menemukan jalan keluar dari keadaan ini.Jawaban:Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah. Amma ba‘du.Pertama:Perasaan cemas yang terus-menerus, hidup yang terasa monoton, hilangnya makna hidup, serta kesedihan dan kegelisahan yang menyertainya — semua perasaan ini bisa saja dialami oleh siapa pun, pada fase kehidupan apa pun.Kecemasan yang dialami ini termasuk jenis yang disebut kecemasan karena rasa takut (anxiety of fears). Rasa takut bisa muncul sebagai respons terhadap berbagai keadaan. Ada orang yang takut gagal, takut menghadapi masa depan, takut tidak berhasil meraih kesuksesan, takut ditolak, takut konflik, takut hidup terasa tidak bermakna — yang terkadang disebut sebagai kecemasan eksistensial — juga takut terhadap penyakit, kematian, kesendirian, dan berbagai hal lainnya, baik yang nyata maupun yang hanya ada dalam bayangan.Kedua:Meskipun rasa cemas termasuk perasaan yang wajar dan bisa dialami siapa saja, dampaknya tidak boleh diremehkan. Jika kita memahami akibat-akibatnya, kita akan menyadari pentingnya mengelola dan mengendalikan kecemasan tersebut.Di antara dampak dari kecemasan adalah:Dampak FisikSudah dikenal luas bahwa tekanan mental dan kecemasan yang berat dapat menyebabkan penyakit lambung, bahkan pada usia muda. Namun selain itu, ada pula dampak fisik lain dari kecemasan yang tidak banyak disadari, seperti sakit kepala, ruam kulit, nyeri punggung, gangguan pencernaan, sesak napas, insomnia, kelelahan, dan hilangnya nafsu makan.Lebih dari itu, perubahan tekanan darah, ketegangan otot, serta perubahan pada sistem pencernaan dan zat kimia dalam tubuh akibat kecemasan, jika berlangsung terus-menerus, dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang serius.Dampak PerilakuKetika rasa cemas semakin besar, kebanyakan orang tanpa sadar akan mencari perilaku atau pikiran tertentu untuk meredakan rasa sakit akibat kecemasan dan membantu dirinya bertahan. Di antara perilaku yang bisa muncul akibat kecemasan adalah mencari pelarian melalui tidur berlebihan, narkoba, minuman keras, atau mencoba menyangkal bahwa dirinya sebenarnya sedang mengalami kecemasan yang mendalam.Sebagian orang juga bisa berubah menjadi lebih mudah marah dari biasanya. Mereka menyalahkan orang lain atas masalah pribadinya, atau mudah meledak dalam luapan emosi layaknya anak kecil hanya karena gangguan kecil.Dampak RuhaniTerkadang kecemasan mendorong seseorang untuk meminta pertolongan kepada Allah dalam suatu urusan, padahal sebelumnya ia jarang melakukannya. Ini bisa menjadi sisi positif dari kecemasan. Namun di sisi lain, kecemasan juga bisa menjauhkan seseorang dari Allah pada saat ia sebenarnya paling membutuhkan-Nya. Bahkan orang yang taat beragama pun, ketika dipenuhi kegelisahan dan tekanan hidup, bisa merasa waktu salatnya berkurang dan kekhusyukannya dalam ibadah melemah.Dampak PsikologisKecemasan juga dapat memicu munculnya berbagai gangguan psikologis, di antaranya:Reaksi ketakutan berlebihan (phobia), seperti takut berada di tempat ramai atau situasi yang sulit untuk melarikan diri (agoraphobia), takut berada di tempat tertutup (claustrophobia), takut terhadap tempat tinggi (acrophobia), dan berbagai ketakutan sosial lainnya.Gangguan pola makan, seperti hilangnya nafsu makan atau makan berlebihan. Gangguan ini biasanya berkaitan dengan kecemasan terhadap berat badan dan penampilan diri.Gangguan gerak, karena sebagian gerakan otot yang tidak terkendali bisa berkaitan dengan kecemasan.Ketiga:Menurut yang tampak bagi kami, perasaan menyakitkan yang Anda alami berkaitan dengan perubahan pola hidup Anda menuju fase baru yang belum jelas arah masa depannya. Karena itu, Anda membutuhkan tujuan-tujuan baru dalam hidup yang mulai Anda susun dan kejar secara bertahap.Masa istirahat setelah selesai studi tampaknya sudah saatnya diakhiri, lalu diganti dengan fase baru yang diisi dengan aktivitas yang bermanfaat. Baik berupa pekerjaan profesional, kegiatan sosial dan sukarela, maupun aktivitas positif lainnya.Di samping itu, cobalah kembali menjalin hubungan dengan teman-teman dekat, mengunjungi kerabat, mempererat hubungan dengan orang tua dan saudara, serta memberi perhatian pada belajar ilmu agama dan berbagai kesibukan dunia maupun akhirat lainnya.Aktivitas-aktivitas semacam ini dapat membangkitkan potensi diri, memberi semangat baru, serta membuat seseorang kembali merasakan makna hidup dan tujuan dari keberadaannya.Keempat:Ada beberapa nasihat yang banyak disebutkan dalam referensi psikologi untuk membantu menghadapi kecemasan. Kami ringkaskan untuk Anda dalam beberapa poin berikut:1. Cobalah berbicara tentang ketakutan dan penyebab kecemasan Anda secara terbuka dan mendalam, semampu Anda mengungkapkannya.Usahakan agar ketika Anda berbicara tentang hal tersebut, tidak banyak interupsi dari orang lain. Jangan pula meremehkan alasan yang membuat Anda cemas. Hindari mengucapkan kalimat seperti, “Ah, masalah ini sebenarnya tidak pantas dicemaskan!”Sebaliknya, cobalah memahami dan mengungkapkan isi hati Anda dengan menjawab beberapa pertanyaan berikut:Hal apa yang paling banyak membuat Anda gelisah?Hal apa yang paling Anda takutkan?Kekhawatiran apa yang sebenarnya tampak tidak terlalu penting?Kekhawatiran apa yang menurut Anda benar-benar realistis?Apakah Anda lebih mudah merasa cemas atau tegang pada waktu-waktu tertentu? Di tempat tertentu? Atau ketika bersama orang-orang tertentu?Apakah ada waktu-waktu tertentu ketika perasaan cemas itu menghilang?Pernahkah Anda mencoba melawan atau menghadapi perasaan-perasaan tersebut? Bagaimana caranya?2. Setelah Anda mengungkapkan rasa cemas tersebut, hal terpenting yang perlu Anda lakukan adalah bersikap lembut kepada diri sendiri, serta berempati terhadap diri Anda. Yakinlah bahwa Anda tidak sendirian dalam mengalami perasaan seperti ini.Yang Anda butuhkan setelah itu adalah menerima diri sendiri dan memberikan kasih sayang kepada diri Anda. Sebab, kasih sayang adalah lawan dari rasa takut. Karena itu, berikanlah kasih sayang kepada diri sendiri, dan carilah lingkungan serta hubungan yang membuat Anda merasa dicintai dan dihargai.3. Tempuhlah jalan yang benar dalam menghadapi kecemasanTujuan Anda bukanlah menghilangkan seluruh rasa cemas dari hidup, karena hal itu hampir mustahil dilakukan. Yang seharusnya menjadi tujuan adalah membekali diri agar mampu menghadapi kecemasan dengan baik dan benar.Hal itu dapat dilakukan dengan beberapa cara berikut:Mengakui bahwa Anda sedang cemas, memahami penyebabnya, lalu bertekad belajar bagaimana mengatasinya.Serahkan segala ketakutan Anda kepada Allah, dan raihlah rasa aman serta ketenangan melalui keyakinan bahwa Allah selalu menjaga Anda.Alihkan perhatian dari diri sendiri kepada orang lain. Sebab ketika seseorang berhenti terlalu fokus pada masalah pribadinya lalu mulai membantu orang lain, biasanya rasa cemasnya akan berkurang.Senantiasa berdzikir kepada Allah Ta’ala, membaca Al-Qur’an, mentadabburinya, dan mendengarkannya kapan pun memungkinkan, dengan berbagai sarana yang membantu untuk itu.Allah Ta’ala berfirman:ٱلَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)Di antara dzikir yang sangat agung, terutama bagi orang yang sedih dan gelisah, adalah memperbanyak shalawat kepada Rasulullah ﷺ.Dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أُكْثِرُ الصَّلَاةَ عَلَيْكَ، فَكَمْ أَجْعَلُ لَكَ مِنْ صَلَاتِي؟ فَقَالَ: «مَا شِئْتَ» قَالَ: قُلْتُ الرُّبُعَ؟ قَالَ: «مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ» قُلْتُ: النِّصْفَ؟ قَالَ: «مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ» قُلْتُ: فَالثُّلُثَيْنِ؟ قَالَ: «مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ» قُلْتُ: أَجْعَلُ لَكَ صَلَاتِي كُلَّهَا؟ قَالَ: «إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ»“Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku sering bersalawat kepadamu. Berapa banyak dari doaku yang sebaiknya aku isi dengan shalawat untukmu?’Beliau menjawab, ‘Terserah engkau.’Aku berkata, ‘Seperempat?’Beliau menjawab, ‘Terserah engkau. Jika engkau menambahnya, itu lebih baik bagimu.’Aku berkata, ‘Setengah?’Beliau menjawab, ‘Terserah engkau. Jika engkau menambahnya, itu lebih baik bagimu.’Aku berkata, ‘Dua pertiga?’Beliau menjawab, ‘Terserah engkau. Jika engkau menambahnya, itu lebih baik bagimu.’Aku berkata, ‘Kalau begitu aku jadikan seluruh doaku untuk bersalawat kepadamu?’Beliau bersabda, ‘Jika demikian, kegelisahanmu akan dicukupkan dan dosamu akan diampuni.’”(HR. Ahmad no. 21241 dan Muhammad ibn Isa at-Tirmidhi no. 2457, beliau berkata: “Hadits hasan.”)5. Shalat, doa, dan memohon perlindungan kepada AllahShalat dapat menjadi penenang dari rasa cemas. Karena itu, seharusnya salat menjadi respons pertama kita ketika kecemasan mulai memuncak.Dari Hudhayfah ibn al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى“Apabila Nabi ﷺ menghadapi suatu persoalan yang berat, beliau segera melaksanakan salat.” (HR. Abu Dawud no. 1319, dinyatakan hasan oleh Muhammad Nasiruddin al-Albani dalam Shahih Abi Dawud)Demikian pula dengan doa. Doa termasuk sarana terbesar yang menghubungkan seorang hamba dengan Rabb-nya, terutama ketika menghadapi kegelisahan, ketakutan, serta rasa sakit jiwa maupun fisik.Di antara doa yang paling agung dalam keadaan seperti ini adalah doa Nabi Yunus ‘alaihis salam ketika berada di dalam perut ikan. Dengan doa yang agung ini — yang berisi tauhid kepada Allah, pengakuan dosa seorang hamba, dan kepasrahan kepada Rabb-nya — Allah menghilangkan kesusahan para hamba-Nya.Allah Ta’ala berfirman:وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ ۝ فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Maka ia berdoa dalam kegelapan, ‘Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.’ Maka Kami pun memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kesedihan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiya’: 87–88)Dari Sa’d ibn Abi Waqqas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:دَعْوَةُ ذِي النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِي بَطْنِ الحُوتِ: لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ“Doa Dzun Nun ketika ia berdoa di dalam perut ikan:لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَLAA ILAHA ILLA ANTA SUBHAANAKA INNI KUNTU MINAZH ZHOLIMIIN‘Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.’Tidaklah seorang muslim berdoa dengan doa ini dalam suatu urusan, melainkan Allah akan mengabulkannya.”(HR. Tirmidzi no. 3505 dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya. Hadits ini dihasankan oleh para peneliti Musnad Ahmad dan disahihkan oleh Muhammad Nasiruddin al-Albani)Demikian pula dianjurkan untuk memohon perlindungan kepada Allah dari kegelisahan dan kesedihan.Dari Anas ibn Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:“Aku pernah melayani Rasulullah ﷺ ketika beliau singgah di suatu tempat. Aku sering mendengar beliau berdoa:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِALLAHUMMA INNI A‘UUDZU BIKA MINAL-HAMMI WAL-HAZAN, WAL-‘AJZI WAL-KASAL, WAL-BUKHLI WAL-JUBN, WA DHALA‘ID-DAINI WA GHALABATIR-RIJAAL.‘Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat bakhil dan pengecut, serta dari lilitan utang dan tekanan manusia.’” (HR. Bukhari, no. 2893 dan Muslim, no. 1365)6. Buatlah rencana tindakanSusunlah langkah nyata untuk menghadapi tekanan jiwa dan kecemasan. Di antaranya sebagaimana disebutkan oleh Minirth dan Meier dalam buku Happiness Is a Choice (Kebahagiaan adalah Pilihan), yaitu:Lakukan olahraga secara cukup dan rutin. Tiga kali dalam sepekan adalah pola yang ideal.Tidurlah dengan cukup. Kebanyakan orang membutuhkan sekitar delapan jam tidur setiap malam.Lakukan semampu Anda untuk menghadapi rasa takut atau masalah yang menjadi sumber kecemasan. Carilah berbagai alternatif dan solusi yang mungkin, lalu cobalah salah satunya.Bicarakan hal-hal yang membebani hati Anda kepada sahabat dekat, minimal sekali dalam seminggu.Lakukan aktivitas rekreasi atau hiburan yang positif, sekitar dua hingga tiga kali dalam seminggu.Jalani hidup hari demi hari. Belajar menjalani hidup “satu hari pada satu waktu” adalah keterampilan yang bisa dilatih. Kemungkinan besar, 98% hal yang kita cemaskan sebenarnya tidak akan pernah terjadi.Bayangkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi, lalu pikirkan kembali: mengapa hal itu sebenarnya tidak seburuk yang dibayangkan jika benar-benar terjadi.Jangan menunda pekerjaan atau kewajiban. Sebab menunda-nunda justru akan menambah rasa cemas.Berikan batas waktu untuk memikirkan kekhawatiran Anda. Jangan biarkan kegelisahan menguasai seluruh waktu dan pikiran Anda.7. Membaca buku-buku yang bermanfaatSeperti buku Jaddid Hayatak karya Muhammad al-Ghazali, buku La Tahzan karya Aidh al-Qarni, serta buku How to Stop Worrying and Start Living karya Dale Carnegie.8. Mencari bantuan profesionalJika rasa cemas justru semakin berat meskipun Anda sudah berusaha mengatasinya, maka mungkin Anda perlu mempertimbangkan untuk mencari bantuan profesional dari dokter atau terapis psikologi, terutama jika kecemasan tersebut sudah berkembang menjadi gangguan yang lebih berat atau disertai serangan panik. Sebagai penutup, kami memohon kepada Allah agar Dia melapangkan dada Anda serta menghilangkan kegelisahan dan kesedihan dari diri Anda.Demikian penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dałam fatawanya. Baca juga: Khutbah Jumat: Cara Mengatasi Kegalauan, Kekhawatiran, Kesedihan Menurut Islam Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Kehilangan Tempat BersandarAnxiety, yaitu rasa cemas dan gelisah yang terus-menerus tidak boleh dianggap sepele, tetapi juga tidak perlu langsung membuat seseorang merasa dirinya “rusak” atau kehilangan harapan. Perasaan seperti ini bisa dialami siapa saja dalam fase hidup tertentu. Yang terpenting adalah bagaimana seseorang belajar mengenali, memahami, dan mengelolanya dengan benar.Langkah pertama adalah menyadari dan menerima bahwa dirinya sedang mengalami kecemasan, lalu mencoba mengungkapkan isi hati dan sumber ketakutannya dengan jujur. Setelah itu, ia perlu bersikap lebih lembut kepada dirinya sendiri, tidak terus menyalahkan diri, serta mencari lingkungan yang membuatnya merasa diterima dan dihargai.Tahap berikutnya adalah membangun cara hidup yang sehat untuk menghadapi kecemasan: mendekat kepada Allah dengan shalat, dzikir, membaca Al-Qur’an, doa, dan memperbanyak shalawat; lalu diiringi dengan usaha nyata seperti olahraga, tidur cukup, tidak menunda pekerjaan, memiliki aktivitas positif, berbicara dengan orang terpercaya, serta belajar menjalani hidup hari demi hari tanpa terlalu tenggelam dalam ketakutan tentang masa depan.Selain itu, seseorang juga dianjurkan mengalihkan fokus dari dirinya kepada membantu orang lain, karena terlalu larut memikirkan diri sendiri sering kali memperbesar rasa cemas. Membaca buku-buku yang bermanfaat juga dapat membantu memperbaiki pola pikir dan cara memandang hidup.Namun jika kecemasan semakin berat, terus berulang, atau mulai mengganggu aktivitas dan ketenangan jiwa secara serius, maka mencari bantuan profesional adalah langkah yang baik dan bukan tanda lemahnya iman.Inti dari semua langkah ini adalah: jangan melawan kecemasan sendirian dengan pikiran sendiri, tetapi hadapilah dengan iman, usaha yang bertahap, pola hidup yang sehat, dan keyakinan bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya yang meminta pertolongan kepada-Nya. PenutupDi tengah dunia yang semakin bising, banyak orang terlihat baik-baik saja di luar, tetapi sebenarnya lelah di dalam. Pikiran penuh kekhawatiran, hati dipenuhi ketakutan tentang masa depan, rumah tangga, anak, jodoh, rezeki, hingga penilaian manusia.Padahal, tidak semua kegelisahan bisa diselesaikan hanya dengan motivasi atau sekadar “healing”. Ada kegelisahan yang akar masalahnya jauh lebih dalam: hati yang mulai kehilangan tempat bergantung.Karena itu, pembahasan Purity of Faith bukan sekadar kajian akidah yang teoritis. Tema ini justru sangat dekat dengan realita hidup muslim hari ini:mengapa kita mudah overthinking,mengapa hati sulit tenang,mengapa kita terlalu takut kehilangan,dan mengapa hidup terasa berat meski semuanya terlihat baik-baik saja.Dalam pembahasan ini, kita akan belajar bahwa:tauhid melahirkan ketenangan,tawakal mengurangi kecemasan,husnuzan kepada Allah menguatkan jiwa,dan iman kepada takdir membuat hati lebih lapang menghadapi hidup.Sebab hati yang mengenal Allah dengan benar tidak akan mudah runtuh hanya karena dunia berubah.Insya-Allah tema besar ini akan dibahas lebih dalam dalam agenda: PURITY OF FAITHMenata Hati, Menjernihkan Tauhid, dan Menemukan Ketenangan yang Sebenarnya.Selama tiga hari, peserta tidak hanya diajak memahami akidah sebagai ilmu, tetapi juga merasakan bagaimana tauhid mampu:menenangkan hati,memperbaiki cara memandang ujian,menguatkan rumah tangga,mengendalikan overthinking,dan membuat hidup lebih ringan dijalani.Karena semakin hati mengenal Allah, semakin kecil rasa takut kepada dunia.Dan mungkin… ketenangan yang selama ini dicari ke mana-mana, ternyata berawal dari satu hal: memurnikan iman kepada Allah.Masih banyak kegelisahan hidup yang ternyata akar masalahnya bukan sekadar pikiran yang lelah, tetapi hati yang belum benar-benar mengenal Allah dengan benar. Karena itu, tema tentang anxiety, tawakal, ketenangan hati, dan kemurnian tauhid ini insya-Allah akan dikaji lebih dalam dalam agenda bersama Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, Ustadz Khalid Basalamah, Ustadz Ammi Nur Baits, dan Ustadz Erlan Iskandar.Selama tiga hari, peserta akan diajak membedah buku panduan Purity of Faith sampai tuntas—membahas bagaimana tauhid mampu menenangkan hati, mengurangi overthinking, menguatkan rumah tangga, dan membuat hidup lebih lapang dalam menghadapi takdir Allah.📞 Info pendaftaran: 0895-4295-66900 (Sindha)📲 Ikuti update acara di Instagram: @shafiyahjourney —- Selesai ditulis di perjalanan Solo menuju Pondok Pesantren Darush Sholihin, 20 Dzulqa’dah 1447 H, 7 Mei 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsanxiety doa Dzikir gangguan kesehatan mental iman kecemasan kesehatan mental kesehatan mental Islam ketenangan hati overthinking tauhid tawakal
Perasaan cemas, takut masa depan, dan overthinking ternyata tidak selalu muncul karena hidup terlalu berat. Terkadang, hati hanya sedang lelah dan kehilangan tempat bergantung yang benar. Islam tidak menutup mata terhadap anxiety, bahkan memberikan langkah bertahap untuk menghadapinya dengan iman, doa, pola hidup sehat, dan tawakal kepada Allah. Dalam tulisan ini, kita akan belajar bagaimana mengelola kecemasan tanpa tenggelam dalam ketakutan dan tanpa kehilangan harapan.  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Fatwanya di Islamqa 2. Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Kehilangan Tempat Bersandar 3. Penutup  Penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Fatwanya di IslamqaPertanyaan no. 430992Pada awalnya, saya adalah seorang gadis yang baru lulus kuliah. Saya menunda banyak hal dan sempat menikmati masa istirahat setelah lelah belajar bertahun-tahun. Namun, setelah beberapa bulan hanya di rumah, saya mulai menjalani rutinitas yang sama setiap hari: bangun tidur, makan, duduk bersama keluarga, lalu tidur lagi.Selain itu, saya mulai kehilangan semangat untuk melakukan hal-hal paling sederhana sekalipun, seperti membantu pekerjaan rumah, menonton film atau serial, bahkan keluar bersama teman-teman. Padahal sebelumnya saya bukan orang yang tertutup atau introvert.Lalu mulai muncul pikiran-pikiran waswas dalam diri saya, seperti merasa hidup ini tidak ada gunanya, dan hari esok hanya akan mengulang hari ini, lalu terus seperti itu seterusnya.Karena itu, saya mencoba mengambil langkah positif untuk mengusir pikiran-pikiran tersebut. Saya mulai menjaga salat dan membaca satu juz Al-Qur’an setiap hari. Alhamdulillah, hidup saya mulai sedikit membaik.Namun setelah beberapa waktu, muncul lagi perasaan bahwa ajal saya mungkin sudah dekat. Padahal saya tidak memiliki keinginan bunuh diri sama sekali. Saya jadi merasa bahwa semangat saya dalam beribadah dan berdzikir hanyalah karena kematian saya sudah dekat. Meskipun saya yakin sepenuhnya bahwa umur berada di tangan Allah. Pikiran-pikiran seperti ini biasanya datang ketika menjelang tidur atau di sela-sela waktu tertentu dalam sehari.Jika saya mencoba mengabaikan pikiran-pikiran itu, saya justru kembali kepada pikiran sebelumnya, yaitu bahwa hari esok hanya akan mengulang hari ini, dan seterusnya.Ditambah lagi, saya tidak bisa membicarakan masalah ini kepada keluarga saya, karena mereka akan menganggap ini hanya rasa malas biasa. Padahal sebelumnya saya bukan orang yang dikenal sering sedih atau memiliki banyak masalah.Karena itu, saya memutuskan untuk mengirim pesan ini kepada Anda. Semoga setelah pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala, saya bisa menemukan jalan keluar dari keadaan ini.Jawaban:Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah. Amma ba‘du.Pertama:Perasaan cemas yang terus-menerus, hidup yang terasa monoton, hilangnya makna hidup, serta kesedihan dan kegelisahan yang menyertainya — semua perasaan ini bisa saja dialami oleh siapa pun, pada fase kehidupan apa pun.Kecemasan yang dialami ini termasuk jenis yang disebut kecemasan karena rasa takut (anxiety of fears). Rasa takut bisa muncul sebagai respons terhadap berbagai keadaan. Ada orang yang takut gagal, takut menghadapi masa depan, takut tidak berhasil meraih kesuksesan, takut ditolak, takut konflik, takut hidup terasa tidak bermakna — yang terkadang disebut sebagai kecemasan eksistensial — juga takut terhadap penyakit, kematian, kesendirian, dan berbagai hal lainnya, baik yang nyata maupun yang hanya ada dalam bayangan.Kedua:Meskipun rasa cemas termasuk perasaan yang wajar dan bisa dialami siapa saja, dampaknya tidak boleh diremehkan. Jika kita memahami akibat-akibatnya, kita akan menyadari pentingnya mengelola dan mengendalikan kecemasan tersebut.Di antara dampak dari kecemasan adalah:Dampak FisikSudah dikenal luas bahwa tekanan mental dan kecemasan yang berat dapat menyebabkan penyakit lambung, bahkan pada usia muda. Namun selain itu, ada pula dampak fisik lain dari kecemasan yang tidak banyak disadari, seperti sakit kepala, ruam kulit, nyeri punggung, gangguan pencernaan, sesak napas, insomnia, kelelahan, dan hilangnya nafsu makan.Lebih dari itu, perubahan tekanan darah, ketegangan otot, serta perubahan pada sistem pencernaan dan zat kimia dalam tubuh akibat kecemasan, jika berlangsung terus-menerus, dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang serius.Dampak PerilakuKetika rasa cemas semakin besar, kebanyakan orang tanpa sadar akan mencari perilaku atau pikiran tertentu untuk meredakan rasa sakit akibat kecemasan dan membantu dirinya bertahan. Di antara perilaku yang bisa muncul akibat kecemasan adalah mencari pelarian melalui tidur berlebihan, narkoba, minuman keras, atau mencoba menyangkal bahwa dirinya sebenarnya sedang mengalami kecemasan yang mendalam.Sebagian orang juga bisa berubah menjadi lebih mudah marah dari biasanya. Mereka menyalahkan orang lain atas masalah pribadinya, atau mudah meledak dalam luapan emosi layaknya anak kecil hanya karena gangguan kecil.Dampak RuhaniTerkadang kecemasan mendorong seseorang untuk meminta pertolongan kepada Allah dalam suatu urusan, padahal sebelumnya ia jarang melakukannya. Ini bisa menjadi sisi positif dari kecemasan. Namun di sisi lain, kecemasan juga bisa menjauhkan seseorang dari Allah pada saat ia sebenarnya paling membutuhkan-Nya. Bahkan orang yang taat beragama pun, ketika dipenuhi kegelisahan dan tekanan hidup, bisa merasa waktu salatnya berkurang dan kekhusyukannya dalam ibadah melemah.Dampak PsikologisKecemasan juga dapat memicu munculnya berbagai gangguan psikologis, di antaranya:Reaksi ketakutan berlebihan (phobia), seperti takut berada di tempat ramai atau situasi yang sulit untuk melarikan diri (agoraphobia), takut berada di tempat tertutup (claustrophobia), takut terhadap tempat tinggi (acrophobia), dan berbagai ketakutan sosial lainnya.Gangguan pola makan, seperti hilangnya nafsu makan atau makan berlebihan. Gangguan ini biasanya berkaitan dengan kecemasan terhadap berat badan dan penampilan diri.Gangguan gerak, karena sebagian gerakan otot yang tidak terkendali bisa berkaitan dengan kecemasan.Ketiga:Menurut yang tampak bagi kami, perasaan menyakitkan yang Anda alami berkaitan dengan perubahan pola hidup Anda menuju fase baru yang belum jelas arah masa depannya. Karena itu, Anda membutuhkan tujuan-tujuan baru dalam hidup yang mulai Anda susun dan kejar secara bertahap.Masa istirahat setelah selesai studi tampaknya sudah saatnya diakhiri, lalu diganti dengan fase baru yang diisi dengan aktivitas yang bermanfaat. Baik berupa pekerjaan profesional, kegiatan sosial dan sukarela, maupun aktivitas positif lainnya.Di samping itu, cobalah kembali menjalin hubungan dengan teman-teman dekat, mengunjungi kerabat, mempererat hubungan dengan orang tua dan saudara, serta memberi perhatian pada belajar ilmu agama dan berbagai kesibukan dunia maupun akhirat lainnya.Aktivitas-aktivitas semacam ini dapat membangkitkan potensi diri, memberi semangat baru, serta membuat seseorang kembali merasakan makna hidup dan tujuan dari keberadaannya.Keempat:Ada beberapa nasihat yang banyak disebutkan dalam referensi psikologi untuk membantu menghadapi kecemasan. Kami ringkaskan untuk Anda dalam beberapa poin berikut:1. Cobalah berbicara tentang ketakutan dan penyebab kecemasan Anda secara terbuka dan mendalam, semampu Anda mengungkapkannya.Usahakan agar ketika Anda berbicara tentang hal tersebut, tidak banyak interupsi dari orang lain. Jangan pula meremehkan alasan yang membuat Anda cemas. Hindari mengucapkan kalimat seperti, “Ah, masalah ini sebenarnya tidak pantas dicemaskan!”Sebaliknya, cobalah memahami dan mengungkapkan isi hati Anda dengan menjawab beberapa pertanyaan berikut:Hal apa yang paling banyak membuat Anda gelisah?Hal apa yang paling Anda takutkan?Kekhawatiran apa yang sebenarnya tampak tidak terlalu penting?Kekhawatiran apa yang menurut Anda benar-benar realistis?Apakah Anda lebih mudah merasa cemas atau tegang pada waktu-waktu tertentu? Di tempat tertentu? Atau ketika bersama orang-orang tertentu?Apakah ada waktu-waktu tertentu ketika perasaan cemas itu menghilang?Pernahkah Anda mencoba melawan atau menghadapi perasaan-perasaan tersebut? Bagaimana caranya?2. Setelah Anda mengungkapkan rasa cemas tersebut, hal terpenting yang perlu Anda lakukan adalah bersikap lembut kepada diri sendiri, serta berempati terhadap diri Anda. Yakinlah bahwa Anda tidak sendirian dalam mengalami perasaan seperti ini.Yang Anda butuhkan setelah itu adalah menerima diri sendiri dan memberikan kasih sayang kepada diri Anda. Sebab, kasih sayang adalah lawan dari rasa takut. Karena itu, berikanlah kasih sayang kepada diri sendiri, dan carilah lingkungan serta hubungan yang membuat Anda merasa dicintai dan dihargai.3. Tempuhlah jalan yang benar dalam menghadapi kecemasanTujuan Anda bukanlah menghilangkan seluruh rasa cemas dari hidup, karena hal itu hampir mustahil dilakukan. Yang seharusnya menjadi tujuan adalah membekali diri agar mampu menghadapi kecemasan dengan baik dan benar.Hal itu dapat dilakukan dengan beberapa cara berikut:Mengakui bahwa Anda sedang cemas, memahami penyebabnya, lalu bertekad belajar bagaimana mengatasinya.Serahkan segala ketakutan Anda kepada Allah, dan raihlah rasa aman serta ketenangan melalui keyakinan bahwa Allah selalu menjaga Anda.Alihkan perhatian dari diri sendiri kepada orang lain. Sebab ketika seseorang berhenti terlalu fokus pada masalah pribadinya lalu mulai membantu orang lain, biasanya rasa cemasnya akan berkurang.Senantiasa berdzikir kepada Allah Ta’ala, membaca Al-Qur’an, mentadabburinya, dan mendengarkannya kapan pun memungkinkan, dengan berbagai sarana yang membantu untuk itu.Allah Ta’ala berfirman:ٱلَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)Di antara dzikir yang sangat agung, terutama bagi orang yang sedih dan gelisah, adalah memperbanyak shalawat kepada Rasulullah ﷺ.Dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أُكْثِرُ الصَّلَاةَ عَلَيْكَ، فَكَمْ أَجْعَلُ لَكَ مِنْ صَلَاتِي؟ فَقَالَ: «مَا شِئْتَ» قَالَ: قُلْتُ الرُّبُعَ؟ قَالَ: «مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ» قُلْتُ: النِّصْفَ؟ قَالَ: «مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ» قُلْتُ: فَالثُّلُثَيْنِ؟ قَالَ: «مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ» قُلْتُ: أَجْعَلُ لَكَ صَلَاتِي كُلَّهَا؟ قَالَ: «إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ»“Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku sering bersalawat kepadamu. Berapa banyak dari doaku yang sebaiknya aku isi dengan shalawat untukmu?’Beliau menjawab, ‘Terserah engkau.’Aku berkata, ‘Seperempat?’Beliau menjawab, ‘Terserah engkau. Jika engkau menambahnya, itu lebih baik bagimu.’Aku berkata, ‘Setengah?’Beliau menjawab, ‘Terserah engkau. Jika engkau menambahnya, itu lebih baik bagimu.’Aku berkata, ‘Dua pertiga?’Beliau menjawab, ‘Terserah engkau. Jika engkau menambahnya, itu lebih baik bagimu.’Aku berkata, ‘Kalau begitu aku jadikan seluruh doaku untuk bersalawat kepadamu?’Beliau bersabda, ‘Jika demikian, kegelisahanmu akan dicukupkan dan dosamu akan diampuni.’”(HR. Ahmad no. 21241 dan Muhammad ibn Isa at-Tirmidhi no. 2457, beliau berkata: “Hadits hasan.”)5. Shalat, doa, dan memohon perlindungan kepada AllahShalat dapat menjadi penenang dari rasa cemas. Karena itu, seharusnya salat menjadi respons pertama kita ketika kecemasan mulai memuncak.Dari Hudhayfah ibn al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى“Apabila Nabi ﷺ menghadapi suatu persoalan yang berat, beliau segera melaksanakan salat.” (HR. Abu Dawud no. 1319, dinyatakan hasan oleh Muhammad Nasiruddin al-Albani dalam Shahih Abi Dawud)Demikian pula dengan doa. Doa termasuk sarana terbesar yang menghubungkan seorang hamba dengan Rabb-nya, terutama ketika menghadapi kegelisahan, ketakutan, serta rasa sakit jiwa maupun fisik.Di antara doa yang paling agung dalam keadaan seperti ini adalah doa Nabi Yunus ‘alaihis salam ketika berada di dalam perut ikan. Dengan doa yang agung ini — yang berisi tauhid kepada Allah, pengakuan dosa seorang hamba, dan kepasrahan kepada Rabb-nya — Allah menghilangkan kesusahan para hamba-Nya.Allah Ta’ala berfirman:وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ ۝ فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Maka ia berdoa dalam kegelapan, ‘Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.’ Maka Kami pun memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kesedihan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiya’: 87–88)Dari Sa’d ibn Abi Waqqas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:دَعْوَةُ ذِي النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِي بَطْنِ الحُوتِ: لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ“Doa Dzun Nun ketika ia berdoa di dalam perut ikan:لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَLAA ILAHA ILLA ANTA SUBHAANAKA INNI KUNTU MINAZH ZHOLIMIIN‘Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.’Tidaklah seorang muslim berdoa dengan doa ini dalam suatu urusan, melainkan Allah akan mengabulkannya.”(HR. Tirmidzi no. 3505 dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya. Hadits ini dihasankan oleh para peneliti Musnad Ahmad dan disahihkan oleh Muhammad Nasiruddin al-Albani)Demikian pula dianjurkan untuk memohon perlindungan kepada Allah dari kegelisahan dan kesedihan.Dari Anas ibn Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:“Aku pernah melayani Rasulullah ﷺ ketika beliau singgah di suatu tempat. Aku sering mendengar beliau berdoa:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِALLAHUMMA INNI A‘UUDZU BIKA MINAL-HAMMI WAL-HAZAN, WAL-‘AJZI WAL-KASAL, WAL-BUKHLI WAL-JUBN, WA DHALA‘ID-DAINI WA GHALABATIR-RIJAAL.‘Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat bakhil dan pengecut, serta dari lilitan utang dan tekanan manusia.’” (HR. Bukhari, no. 2893 dan Muslim, no. 1365)6. Buatlah rencana tindakanSusunlah langkah nyata untuk menghadapi tekanan jiwa dan kecemasan. Di antaranya sebagaimana disebutkan oleh Minirth dan Meier dalam buku Happiness Is a Choice (Kebahagiaan adalah Pilihan), yaitu:Lakukan olahraga secara cukup dan rutin. Tiga kali dalam sepekan adalah pola yang ideal.Tidurlah dengan cukup. Kebanyakan orang membutuhkan sekitar delapan jam tidur setiap malam.Lakukan semampu Anda untuk menghadapi rasa takut atau masalah yang menjadi sumber kecemasan. Carilah berbagai alternatif dan solusi yang mungkin, lalu cobalah salah satunya.Bicarakan hal-hal yang membebani hati Anda kepada sahabat dekat, minimal sekali dalam seminggu.Lakukan aktivitas rekreasi atau hiburan yang positif, sekitar dua hingga tiga kali dalam seminggu.Jalani hidup hari demi hari. Belajar menjalani hidup “satu hari pada satu waktu” adalah keterampilan yang bisa dilatih. Kemungkinan besar, 98% hal yang kita cemaskan sebenarnya tidak akan pernah terjadi.Bayangkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi, lalu pikirkan kembali: mengapa hal itu sebenarnya tidak seburuk yang dibayangkan jika benar-benar terjadi.Jangan menunda pekerjaan atau kewajiban. Sebab menunda-nunda justru akan menambah rasa cemas.Berikan batas waktu untuk memikirkan kekhawatiran Anda. Jangan biarkan kegelisahan menguasai seluruh waktu dan pikiran Anda.7. Membaca buku-buku yang bermanfaatSeperti buku Jaddid Hayatak karya Muhammad al-Ghazali, buku La Tahzan karya Aidh al-Qarni, serta buku How to Stop Worrying and Start Living karya Dale Carnegie.8. Mencari bantuan profesionalJika rasa cemas justru semakin berat meskipun Anda sudah berusaha mengatasinya, maka mungkin Anda perlu mempertimbangkan untuk mencari bantuan profesional dari dokter atau terapis psikologi, terutama jika kecemasan tersebut sudah berkembang menjadi gangguan yang lebih berat atau disertai serangan panik. Sebagai penutup, kami memohon kepada Allah agar Dia melapangkan dada Anda serta menghilangkan kegelisahan dan kesedihan dari diri Anda.Demikian penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dałam fatawanya. Baca juga: Khutbah Jumat: Cara Mengatasi Kegalauan, Kekhawatiran, Kesedihan Menurut Islam Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Kehilangan Tempat BersandarAnxiety, yaitu rasa cemas dan gelisah yang terus-menerus tidak boleh dianggap sepele, tetapi juga tidak perlu langsung membuat seseorang merasa dirinya “rusak” atau kehilangan harapan. Perasaan seperti ini bisa dialami siapa saja dalam fase hidup tertentu. Yang terpenting adalah bagaimana seseorang belajar mengenali, memahami, dan mengelolanya dengan benar.Langkah pertama adalah menyadari dan menerima bahwa dirinya sedang mengalami kecemasan, lalu mencoba mengungkapkan isi hati dan sumber ketakutannya dengan jujur. Setelah itu, ia perlu bersikap lebih lembut kepada dirinya sendiri, tidak terus menyalahkan diri, serta mencari lingkungan yang membuatnya merasa diterima dan dihargai.Tahap berikutnya adalah membangun cara hidup yang sehat untuk menghadapi kecemasan: mendekat kepada Allah dengan shalat, dzikir, membaca Al-Qur’an, doa, dan memperbanyak shalawat; lalu diiringi dengan usaha nyata seperti olahraga, tidur cukup, tidak menunda pekerjaan, memiliki aktivitas positif, berbicara dengan orang terpercaya, serta belajar menjalani hidup hari demi hari tanpa terlalu tenggelam dalam ketakutan tentang masa depan.Selain itu, seseorang juga dianjurkan mengalihkan fokus dari dirinya kepada membantu orang lain, karena terlalu larut memikirkan diri sendiri sering kali memperbesar rasa cemas. Membaca buku-buku yang bermanfaat juga dapat membantu memperbaiki pola pikir dan cara memandang hidup.Namun jika kecemasan semakin berat, terus berulang, atau mulai mengganggu aktivitas dan ketenangan jiwa secara serius, maka mencari bantuan profesional adalah langkah yang baik dan bukan tanda lemahnya iman.Inti dari semua langkah ini adalah: jangan melawan kecemasan sendirian dengan pikiran sendiri, tetapi hadapilah dengan iman, usaha yang bertahap, pola hidup yang sehat, dan keyakinan bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya yang meminta pertolongan kepada-Nya. PenutupDi tengah dunia yang semakin bising, banyak orang terlihat baik-baik saja di luar, tetapi sebenarnya lelah di dalam. Pikiran penuh kekhawatiran, hati dipenuhi ketakutan tentang masa depan, rumah tangga, anak, jodoh, rezeki, hingga penilaian manusia.Padahal, tidak semua kegelisahan bisa diselesaikan hanya dengan motivasi atau sekadar “healing”. Ada kegelisahan yang akar masalahnya jauh lebih dalam: hati yang mulai kehilangan tempat bergantung.Karena itu, pembahasan Purity of Faith bukan sekadar kajian akidah yang teoritis. Tema ini justru sangat dekat dengan realita hidup muslim hari ini:mengapa kita mudah overthinking,mengapa hati sulit tenang,mengapa kita terlalu takut kehilangan,dan mengapa hidup terasa berat meski semuanya terlihat baik-baik saja.Dalam pembahasan ini, kita akan belajar bahwa:tauhid melahirkan ketenangan,tawakal mengurangi kecemasan,husnuzan kepada Allah menguatkan jiwa,dan iman kepada takdir membuat hati lebih lapang menghadapi hidup.Sebab hati yang mengenal Allah dengan benar tidak akan mudah runtuh hanya karena dunia berubah.Insya-Allah tema besar ini akan dibahas lebih dalam dalam agenda: PURITY OF FAITHMenata Hati, Menjernihkan Tauhid, dan Menemukan Ketenangan yang Sebenarnya.Selama tiga hari, peserta tidak hanya diajak memahami akidah sebagai ilmu, tetapi juga merasakan bagaimana tauhid mampu:menenangkan hati,memperbaiki cara memandang ujian,menguatkan rumah tangga,mengendalikan overthinking,dan membuat hidup lebih ringan dijalani.Karena semakin hati mengenal Allah, semakin kecil rasa takut kepada dunia.Dan mungkin… ketenangan yang selama ini dicari ke mana-mana, ternyata berawal dari satu hal: memurnikan iman kepada Allah.Masih banyak kegelisahan hidup yang ternyata akar masalahnya bukan sekadar pikiran yang lelah, tetapi hati yang belum benar-benar mengenal Allah dengan benar. Karena itu, tema tentang anxiety, tawakal, ketenangan hati, dan kemurnian tauhid ini insya-Allah akan dikaji lebih dalam dalam agenda bersama Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, Ustadz Khalid Basalamah, Ustadz Ammi Nur Baits, dan Ustadz Erlan Iskandar.Selama tiga hari, peserta akan diajak membedah buku panduan Purity of Faith sampai tuntas—membahas bagaimana tauhid mampu menenangkan hati, mengurangi overthinking, menguatkan rumah tangga, dan membuat hidup lebih lapang dalam menghadapi takdir Allah.📞 Info pendaftaran: 0895-4295-66900 (Sindha)📲 Ikuti update acara di Instagram: @shafiyahjourney —- Selesai ditulis di perjalanan Solo menuju Pondok Pesantren Darush Sholihin, 20 Dzulqa’dah 1447 H, 7 Mei 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsanxiety doa Dzikir gangguan kesehatan mental iman kecemasan kesehatan mental kesehatan mental Islam ketenangan hati overthinking tauhid tawakal


Perasaan cemas, takut masa depan, dan overthinking ternyata tidak selalu muncul karena hidup terlalu berat. Terkadang, hati hanya sedang lelah dan kehilangan tempat bergantung yang benar. Islam tidak menutup mata terhadap anxiety, bahkan memberikan langkah bertahap untuk menghadapinya dengan iman, doa, pola hidup sehat, dan tawakal kepada Allah. Dalam tulisan ini, kita akan belajar bagaimana mengelola kecemasan tanpa tenggelam dalam ketakutan dan tanpa kehilangan harapan.  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Fatwanya di Islamqa 2. Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Kehilangan Tempat Bersandar 3. Penutup  Penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Fatwanya di IslamqaPertanyaan no. 430992Pada awalnya, saya adalah seorang gadis yang baru lulus kuliah. Saya menunda banyak hal dan sempat menikmati masa istirahat setelah lelah belajar bertahun-tahun. Namun, setelah beberapa bulan hanya di rumah, saya mulai menjalani rutinitas yang sama setiap hari: bangun tidur, makan, duduk bersama keluarga, lalu tidur lagi.Selain itu, saya mulai kehilangan semangat untuk melakukan hal-hal paling sederhana sekalipun, seperti membantu pekerjaan rumah, menonton film atau serial, bahkan keluar bersama teman-teman. Padahal sebelumnya saya bukan orang yang tertutup atau introvert.Lalu mulai muncul pikiran-pikiran waswas dalam diri saya, seperti merasa hidup ini tidak ada gunanya, dan hari esok hanya akan mengulang hari ini, lalu terus seperti itu seterusnya.Karena itu, saya mencoba mengambil langkah positif untuk mengusir pikiran-pikiran tersebut. Saya mulai menjaga salat dan membaca satu juz Al-Qur’an setiap hari. Alhamdulillah, hidup saya mulai sedikit membaik.Namun setelah beberapa waktu, muncul lagi perasaan bahwa ajal saya mungkin sudah dekat. Padahal saya tidak memiliki keinginan bunuh diri sama sekali. Saya jadi merasa bahwa semangat saya dalam beribadah dan berdzikir hanyalah karena kematian saya sudah dekat. Meskipun saya yakin sepenuhnya bahwa umur berada di tangan Allah. Pikiran-pikiran seperti ini biasanya datang ketika menjelang tidur atau di sela-sela waktu tertentu dalam sehari.Jika saya mencoba mengabaikan pikiran-pikiran itu, saya justru kembali kepada pikiran sebelumnya, yaitu bahwa hari esok hanya akan mengulang hari ini, dan seterusnya.Ditambah lagi, saya tidak bisa membicarakan masalah ini kepada keluarga saya, karena mereka akan menganggap ini hanya rasa malas biasa. Padahal sebelumnya saya bukan orang yang dikenal sering sedih atau memiliki banyak masalah.Karena itu, saya memutuskan untuk mengirim pesan ini kepada Anda. Semoga setelah pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala, saya bisa menemukan jalan keluar dari keadaan ini.Jawaban:Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah. Amma ba‘du.Pertama:Perasaan cemas yang terus-menerus, hidup yang terasa monoton, hilangnya makna hidup, serta kesedihan dan kegelisahan yang menyertainya — semua perasaan ini bisa saja dialami oleh siapa pun, pada fase kehidupan apa pun.Kecemasan yang dialami ini termasuk jenis yang disebut kecemasan karena rasa takut (anxiety of fears). Rasa takut bisa muncul sebagai respons terhadap berbagai keadaan. Ada orang yang takut gagal, takut menghadapi masa depan, takut tidak berhasil meraih kesuksesan, takut ditolak, takut konflik, takut hidup terasa tidak bermakna — yang terkadang disebut sebagai kecemasan eksistensial — juga takut terhadap penyakit, kematian, kesendirian, dan berbagai hal lainnya, baik yang nyata maupun yang hanya ada dalam bayangan.Kedua:Meskipun rasa cemas termasuk perasaan yang wajar dan bisa dialami siapa saja, dampaknya tidak boleh diremehkan. Jika kita memahami akibat-akibatnya, kita akan menyadari pentingnya mengelola dan mengendalikan kecemasan tersebut.Di antara dampak dari kecemasan adalah:Dampak FisikSudah dikenal luas bahwa tekanan mental dan kecemasan yang berat dapat menyebabkan penyakit lambung, bahkan pada usia muda. Namun selain itu, ada pula dampak fisik lain dari kecemasan yang tidak banyak disadari, seperti sakit kepala, ruam kulit, nyeri punggung, gangguan pencernaan, sesak napas, insomnia, kelelahan, dan hilangnya nafsu makan.Lebih dari itu, perubahan tekanan darah, ketegangan otot, serta perubahan pada sistem pencernaan dan zat kimia dalam tubuh akibat kecemasan, jika berlangsung terus-menerus, dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang serius.Dampak PerilakuKetika rasa cemas semakin besar, kebanyakan orang tanpa sadar akan mencari perilaku atau pikiran tertentu untuk meredakan rasa sakit akibat kecemasan dan membantu dirinya bertahan. Di antara perilaku yang bisa muncul akibat kecemasan adalah mencari pelarian melalui tidur berlebihan, narkoba, minuman keras, atau mencoba menyangkal bahwa dirinya sebenarnya sedang mengalami kecemasan yang mendalam.Sebagian orang juga bisa berubah menjadi lebih mudah marah dari biasanya. Mereka menyalahkan orang lain atas masalah pribadinya, atau mudah meledak dalam luapan emosi layaknya anak kecil hanya karena gangguan kecil.Dampak RuhaniTerkadang kecemasan mendorong seseorang untuk meminta pertolongan kepada Allah dalam suatu urusan, padahal sebelumnya ia jarang melakukannya. Ini bisa menjadi sisi positif dari kecemasan. Namun di sisi lain, kecemasan juga bisa menjauhkan seseorang dari Allah pada saat ia sebenarnya paling membutuhkan-Nya. Bahkan orang yang taat beragama pun, ketika dipenuhi kegelisahan dan tekanan hidup, bisa merasa waktu salatnya berkurang dan kekhusyukannya dalam ibadah melemah.Dampak PsikologisKecemasan juga dapat memicu munculnya berbagai gangguan psikologis, di antaranya:Reaksi ketakutan berlebihan (phobia), seperti takut berada di tempat ramai atau situasi yang sulit untuk melarikan diri (agoraphobia), takut berada di tempat tertutup (claustrophobia), takut terhadap tempat tinggi (acrophobia), dan berbagai ketakutan sosial lainnya.Gangguan pola makan, seperti hilangnya nafsu makan atau makan berlebihan. Gangguan ini biasanya berkaitan dengan kecemasan terhadap berat badan dan penampilan diri.Gangguan gerak, karena sebagian gerakan otot yang tidak terkendali bisa berkaitan dengan kecemasan.Ketiga:Menurut yang tampak bagi kami, perasaan menyakitkan yang Anda alami berkaitan dengan perubahan pola hidup Anda menuju fase baru yang belum jelas arah masa depannya. Karena itu, Anda membutuhkan tujuan-tujuan baru dalam hidup yang mulai Anda susun dan kejar secara bertahap.Masa istirahat setelah selesai studi tampaknya sudah saatnya diakhiri, lalu diganti dengan fase baru yang diisi dengan aktivitas yang bermanfaat. Baik berupa pekerjaan profesional, kegiatan sosial dan sukarela, maupun aktivitas positif lainnya.Di samping itu, cobalah kembali menjalin hubungan dengan teman-teman dekat, mengunjungi kerabat, mempererat hubungan dengan orang tua dan saudara, serta memberi perhatian pada belajar ilmu agama dan berbagai kesibukan dunia maupun akhirat lainnya.Aktivitas-aktivitas semacam ini dapat membangkitkan potensi diri, memberi semangat baru, serta membuat seseorang kembali merasakan makna hidup dan tujuan dari keberadaannya.Keempat:Ada beberapa nasihat yang banyak disebutkan dalam referensi psikologi untuk membantu menghadapi kecemasan. Kami ringkaskan untuk Anda dalam beberapa poin berikut:1. Cobalah berbicara tentang ketakutan dan penyebab kecemasan Anda secara terbuka dan mendalam, semampu Anda mengungkapkannya.Usahakan agar ketika Anda berbicara tentang hal tersebut, tidak banyak interupsi dari orang lain. Jangan pula meremehkan alasan yang membuat Anda cemas. Hindari mengucapkan kalimat seperti, “Ah, masalah ini sebenarnya tidak pantas dicemaskan!”Sebaliknya, cobalah memahami dan mengungkapkan isi hati Anda dengan menjawab beberapa pertanyaan berikut:Hal apa yang paling banyak membuat Anda gelisah?Hal apa yang paling Anda takutkan?Kekhawatiran apa yang sebenarnya tampak tidak terlalu penting?Kekhawatiran apa yang menurut Anda benar-benar realistis?Apakah Anda lebih mudah merasa cemas atau tegang pada waktu-waktu tertentu? Di tempat tertentu? Atau ketika bersama orang-orang tertentu?Apakah ada waktu-waktu tertentu ketika perasaan cemas itu menghilang?Pernahkah Anda mencoba melawan atau menghadapi perasaan-perasaan tersebut? Bagaimana caranya?2. Setelah Anda mengungkapkan rasa cemas tersebut, hal terpenting yang perlu Anda lakukan adalah bersikap lembut kepada diri sendiri, serta berempati terhadap diri Anda. Yakinlah bahwa Anda tidak sendirian dalam mengalami perasaan seperti ini.Yang Anda butuhkan setelah itu adalah menerima diri sendiri dan memberikan kasih sayang kepada diri Anda. Sebab, kasih sayang adalah lawan dari rasa takut. Karena itu, berikanlah kasih sayang kepada diri sendiri, dan carilah lingkungan serta hubungan yang membuat Anda merasa dicintai dan dihargai.3. Tempuhlah jalan yang benar dalam menghadapi kecemasanTujuan Anda bukanlah menghilangkan seluruh rasa cemas dari hidup, karena hal itu hampir mustahil dilakukan. Yang seharusnya menjadi tujuan adalah membekali diri agar mampu menghadapi kecemasan dengan baik dan benar.Hal itu dapat dilakukan dengan beberapa cara berikut:Mengakui bahwa Anda sedang cemas, memahami penyebabnya, lalu bertekad belajar bagaimana mengatasinya.Serahkan segala ketakutan Anda kepada Allah, dan raihlah rasa aman serta ketenangan melalui keyakinan bahwa Allah selalu menjaga Anda.Alihkan perhatian dari diri sendiri kepada orang lain. Sebab ketika seseorang berhenti terlalu fokus pada masalah pribadinya lalu mulai membantu orang lain, biasanya rasa cemasnya akan berkurang.Senantiasa berdzikir kepada Allah Ta’ala, membaca Al-Qur’an, mentadabburinya, dan mendengarkannya kapan pun memungkinkan, dengan berbagai sarana yang membantu untuk itu.Allah Ta’ala berfirman:ٱلَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)Di antara dzikir yang sangat agung, terutama bagi orang yang sedih dan gelisah, adalah memperbanyak shalawat kepada Rasulullah ﷺ.Dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أُكْثِرُ الصَّلَاةَ عَلَيْكَ، فَكَمْ أَجْعَلُ لَكَ مِنْ صَلَاتِي؟ فَقَالَ: «مَا شِئْتَ» قَالَ: قُلْتُ الرُّبُعَ؟ قَالَ: «مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ» قُلْتُ: النِّصْفَ؟ قَالَ: «مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ» قُلْتُ: فَالثُّلُثَيْنِ؟ قَالَ: «مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ» قُلْتُ: أَجْعَلُ لَكَ صَلَاتِي كُلَّهَا؟ قَالَ: «إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ»“Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku sering bersalawat kepadamu. Berapa banyak dari doaku yang sebaiknya aku isi dengan shalawat untukmu?’Beliau menjawab, ‘Terserah engkau.’Aku berkata, ‘Seperempat?’Beliau menjawab, ‘Terserah engkau. Jika engkau menambahnya, itu lebih baik bagimu.’Aku berkata, ‘Setengah?’Beliau menjawab, ‘Terserah engkau. Jika engkau menambahnya, itu lebih baik bagimu.’Aku berkata, ‘Dua pertiga?’Beliau menjawab, ‘Terserah engkau. Jika engkau menambahnya, itu lebih baik bagimu.’Aku berkata, ‘Kalau begitu aku jadikan seluruh doaku untuk bersalawat kepadamu?’Beliau bersabda, ‘Jika demikian, kegelisahanmu akan dicukupkan dan dosamu akan diampuni.’”(HR. Ahmad no. 21241 dan Muhammad ibn Isa at-Tirmidhi no. 2457, beliau berkata: “Hadits hasan.”)5. Shalat, doa, dan memohon perlindungan kepada AllahShalat dapat menjadi penenang dari rasa cemas. Karena itu, seharusnya salat menjadi respons pertama kita ketika kecemasan mulai memuncak.Dari Hudhayfah ibn al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى“Apabila Nabi ﷺ menghadapi suatu persoalan yang berat, beliau segera melaksanakan salat.” (HR. Abu Dawud no. 1319, dinyatakan hasan oleh Muhammad Nasiruddin al-Albani dalam Shahih Abi Dawud)Demikian pula dengan doa. Doa termasuk sarana terbesar yang menghubungkan seorang hamba dengan Rabb-nya, terutama ketika menghadapi kegelisahan, ketakutan, serta rasa sakit jiwa maupun fisik.Di antara doa yang paling agung dalam keadaan seperti ini adalah doa Nabi Yunus ‘alaihis salam ketika berada di dalam perut ikan. Dengan doa yang agung ini — yang berisi tauhid kepada Allah, pengakuan dosa seorang hamba, dan kepasrahan kepada Rabb-nya — Allah menghilangkan kesusahan para hamba-Nya.Allah Ta’ala berfirman:وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ ۝ فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Maka ia berdoa dalam kegelapan, ‘Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.’ Maka Kami pun memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kesedihan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiya’: 87–88)Dari Sa’d ibn Abi Waqqas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:دَعْوَةُ ذِي النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِي بَطْنِ الحُوتِ: لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ“Doa Dzun Nun ketika ia berdoa di dalam perut ikan:لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَLAA ILAHA ILLA ANTA SUBHAANAKA INNI KUNTU MINAZH ZHOLIMIIN‘Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.’Tidaklah seorang muslim berdoa dengan doa ini dalam suatu urusan, melainkan Allah akan mengabulkannya.”(HR. Tirmidzi no. 3505 dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya. Hadits ini dihasankan oleh para peneliti Musnad Ahmad dan disahihkan oleh Muhammad Nasiruddin al-Albani)Demikian pula dianjurkan untuk memohon perlindungan kepada Allah dari kegelisahan dan kesedihan.Dari Anas ibn Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:“Aku pernah melayani Rasulullah ﷺ ketika beliau singgah di suatu tempat. Aku sering mendengar beliau berdoa:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِALLAHUMMA INNI A‘UUDZU BIKA MINAL-HAMMI WAL-HAZAN, WAL-‘AJZI WAL-KASAL, WAL-BUKHLI WAL-JUBN, WA DHALA‘ID-DAINI WA GHALABATIR-RIJAAL.‘Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat bakhil dan pengecut, serta dari lilitan utang dan tekanan manusia.’” (HR. Bukhari, no. 2893 dan Muslim, no. 1365)6. Buatlah rencana tindakanSusunlah langkah nyata untuk menghadapi tekanan jiwa dan kecemasan. Di antaranya sebagaimana disebutkan oleh Minirth dan Meier dalam buku Happiness Is a Choice (Kebahagiaan adalah Pilihan), yaitu:Lakukan olahraga secara cukup dan rutin. Tiga kali dalam sepekan adalah pola yang ideal.Tidurlah dengan cukup. Kebanyakan orang membutuhkan sekitar delapan jam tidur setiap malam.Lakukan semampu Anda untuk menghadapi rasa takut atau masalah yang menjadi sumber kecemasan. Carilah berbagai alternatif dan solusi yang mungkin, lalu cobalah salah satunya.Bicarakan hal-hal yang membebani hati Anda kepada sahabat dekat, minimal sekali dalam seminggu.Lakukan aktivitas rekreasi atau hiburan yang positif, sekitar dua hingga tiga kali dalam seminggu.Jalani hidup hari demi hari. Belajar menjalani hidup “satu hari pada satu waktu” adalah keterampilan yang bisa dilatih. Kemungkinan besar, 98% hal yang kita cemaskan sebenarnya tidak akan pernah terjadi.Bayangkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi, lalu pikirkan kembali: mengapa hal itu sebenarnya tidak seburuk yang dibayangkan jika benar-benar terjadi.Jangan menunda pekerjaan atau kewajiban. Sebab menunda-nunda justru akan menambah rasa cemas.Berikan batas waktu untuk memikirkan kekhawatiran Anda. Jangan biarkan kegelisahan menguasai seluruh waktu dan pikiran Anda.7. Membaca buku-buku yang bermanfaatSeperti buku Jaddid Hayatak karya Muhammad al-Ghazali, buku La Tahzan karya Aidh al-Qarni, serta buku How to Stop Worrying and Start Living karya Dale Carnegie.8. Mencari bantuan profesionalJika rasa cemas justru semakin berat meskipun Anda sudah berusaha mengatasinya, maka mungkin Anda perlu mempertimbangkan untuk mencari bantuan profesional dari dokter atau terapis psikologi, terutama jika kecemasan tersebut sudah berkembang menjadi gangguan yang lebih berat atau disertai serangan panik. Sebagai penutup, kami memohon kepada Allah agar Dia melapangkan dada Anda serta menghilangkan kegelisahan dan kesedihan dari diri Anda.Demikian penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dałam fatawanya. Baca juga: Khutbah Jumat: Cara Mengatasi Kegalauan, Kekhawatiran, Kesedihan Menurut Islam Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Kehilangan Tempat BersandarAnxiety, yaitu rasa cemas dan gelisah yang terus-menerus tidak boleh dianggap sepele, tetapi juga tidak perlu langsung membuat seseorang merasa dirinya “rusak” atau kehilangan harapan. Perasaan seperti ini bisa dialami siapa saja dalam fase hidup tertentu. Yang terpenting adalah bagaimana seseorang belajar mengenali, memahami, dan mengelolanya dengan benar.Langkah pertama adalah menyadari dan menerima bahwa dirinya sedang mengalami kecemasan, lalu mencoba mengungkapkan isi hati dan sumber ketakutannya dengan jujur. Setelah itu, ia perlu bersikap lebih lembut kepada dirinya sendiri, tidak terus menyalahkan diri, serta mencari lingkungan yang membuatnya merasa diterima dan dihargai.Tahap berikutnya adalah membangun cara hidup yang sehat untuk menghadapi kecemasan: mendekat kepada Allah dengan shalat, dzikir, membaca Al-Qur’an, doa, dan memperbanyak shalawat; lalu diiringi dengan usaha nyata seperti olahraga, tidur cukup, tidak menunda pekerjaan, memiliki aktivitas positif, berbicara dengan orang terpercaya, serta belajar menjalani hidup hari demi hari tanpa terlalu tenggelam dalam ketakutan tentang masa depan.Selain itu, seseorang juga dianjurkan mengalihkan fokus dari dirinya kepada membantu orang lain, karena terlalu larut memikirkan diri sendiri sering kali memperbesar rasa cemas. Membaca buku-buku yang bermanfaat juga dapat membantu memperbaiki pola pikir dan cara memandang hidup.Namun jika kecemasan semakin berat, terus berulang, atau mulai mengganggu aktivitas dan ketenangan jiwa secara serius, maka mencari bantuan profesional adalah langkah yang baik dan bukan tanda lemahnya iman.Inti dari semua langkah ini adalah: jangan melawan kecemasan sendirian dengan pikiran sendiri, tetapi hadapilah dengan iman, usaha yang bertahap, pola hidup yang sehat, dan keyakinan bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya yang meminta pertolongan kepada-Nya. PenutupDi tengah dunia yang semakin bising, banyak orang terlihat baik-baik saja di luar, tetapi sebenarnya lelah di dalam. Pikiran penuh kekhawatiran, hati dipenuhi ketakutan tentang masa depan, rumah tangga, anak, jodoh, rezeki, hingga penilaian manusia.Padahal, tidak semua kegelisahan bisa diselesaikan hanya dengan motivasi atau sekadar “healing”. Ada kegelisahan yang akar masalahnya jauh lebih dalam: hati yang mulai kehilangan tempat bergantung.Karena itu, pembahasan Purity of Faith bukan sekadar kajian akidah yang teoritis. Tema ini justru sangat dekat dengan realita hidup muslim hari ini:mengapa kita mudah overthinking,mengapa hati sulit tenang,mengapa kita terlalu takut kehilangan,dan mengapa hidup terasa berat meski semuanya terlihat baik-baik saja.Dalam pembahasan ini, kita akan belajar bahwa:tauhid melahirkan ketenangan,tawakal mengurangi kecemasan,husnuzan kepada Allah menguatkan jiwa,dan iman kepada takdir membuat hati lebih lapang menghadapi hidup.Sebab hati yang mengenal Allah dengan benar tidak akan mudah runtuh hanya karena dunia berubah.Insya-Allah tema besar ini akan dibahas lebih dalam dalam agenda: PURITY OF FAITHMenata Hati, Menjernihkan Tauhid, dan Menemukan Ketenangan yang Sebenarnya.Selama tiga hari, peserta tidak hanya diajak memahami akidah sebagai ilmu, tetapi juga merasakan bagaimana tauhid mampu:menenangkan hati,memperbaiki cara memandang ujian,menguatkan rumah tangga,mengendalikan overthinking,dan membuat hidup lebih ringan dijalani.Karena semakin hati mengenal Allah, semakin kecil rasa takut kepada dunia.Dan mungkin… ketenangan yang selama ini dicari ke mana-mana, ternyata berawal dari satu hal: memurnikan iman kepada Allah.Masih banyak kegelisahan hidup yang ternyata akar masalahnya bukan sekadar pikiran yang lelah, tetapi hati yang belum benar-benar mengenal Allah dengan benar. Karena itu, tema tentang anxiety, tawakal, ketenangan hati, dan kemurnian tauhid ini insya-Allah akan dikaji lebih dalam dalam agenda bersama Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, Ustadz Khalid Basalamah, Ustadz Ammi Nur Baits, dan Ustadz Erlan Iskandar.Selama tiga hari, peserta akan diajak membedah buku panduan Purity of Faith sampai tuntas—membahas bagaimana tauhid mampu menenangkan hati, mengurangi overthinking, menguatkan rumah tangga, dan membuat hidup lebih lapang dalam menghadapi takdir Allah.📞 Info pendaftaran: 0895-4295-66900 (Sindha)📲 Ikuti update acara di Instagram: @shafiyahjourney —- Selesai ditulis di perjalanan Solo menuju Pondok Pesantren Darush Sholihin, 20 Dzulqa’dah 1447 H, 7 Mei 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsanxiety doa Dzikir gangguan kesehatan mental iman kecemasan kesehatan mental kesehatan mental Islam ketenangan hati overthinking tauhid tawakal

Catatan Adab bagi Penuntut Ilmu di Era AI (Artificial Intelligence)

Daftar Isi ToggleIlmu dalam Islam bukan sekadar informasiAI sebagai alat bantu, bukan sandaranRisiko ketika terlalu bergantung pada AIAdab penuntut ilmu dalam memanfaatkan AIPertama, menggunakannya sebatas alat bantu awalKedua, serahkan kembali kepada para ahli ilmuKetiga, jangan jadikan AI sebagai rujukan dan dalilKeempat, jaga semangat muthala’ah dan duduk bersama guruKelima, perbaiki niat sejak awalKesimpulanDi zaman ini, banyak yang terlena dengan kemudahan mendapatkan jawaban agama dalam hitungan detik. Cukup beberapa ketikan, lalu penjelasan pun datang, ringkas, dan terasa meyakinkan. Kemudahan ini memang menggiurkan; namun di balik kesan tersebut, tersembunyi bahaya besar. Ia bisa membuat seorang penuntut ilmu merasa cukup tanpa melalui proses yang semestinya. Padahal, Rasulullah ﷺ telah bersabda,إِنَّمَا العِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ وَإِنَّمَا الحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ وَمَنْ يَتَحَرَّ الخَيْرَ يُعْطَهُ وَمَنْ يَتَّقِ الشَّرَّ يُوقَهُ“Sesungguhnya ilmu itu didapat dengan belajar, kesabaran itu didapat dengan melatih diri untuk sabar. Barang siapa berusaha mencari kebaikan, ia akan diberi; dan barang siapa menjaga diri dari keburukan, ia akan dilindungi darinya.” [1]Ilmu tidak hadir hanya dengan mendapatkan jawaban, tetapi melalui proses belajar yang panjang duduk bersama guru, membaca, mengulang, dan bersabar. Di sinilah letak perbedaan antara kemudahan akses dan keberkahan ilmu. Maka, ketika AI (Artificial Intelligence) hadir di tengah dunia belajar, seorang penuntut ilmu perlu kembali menata sikap. Jangan menjadikannya sandaran utama yang menggeser talaqqi dan melemahkan semangat muthala’ah.Ilmu dalam Islam bukan sekadar informasiIlmu dalam Islam bukan sekadar kumpulan tulisan atau ucapan yang bisa diakses kapan saja. Ia memiliki ruh yang harus dimuliakan, memiliki adab diindahkan, dan memiliki jalan tempuh yang harus diusahakan. Anas bin Malik rahimahullah berkata kepada murid-muridnya,تَعَلَّمِ الْأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ“Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.” [2]Ini bukan sekadar nasihat tata krama. Ini adalah pernyataan bahwa ilmu yang benar tidak bisa dipisahkan dari cara mendapatkannya. Di sinilah letak pentingnya talaqqi, mengambil ilmu langsung dari guru yang bersanad. Imam Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah berkata,الْإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ وَلَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ“Sanad adalah bagian dari agama. Seandainya bukan karena sanad, niscaya siapa saja akan berkata sesuka hatinya.” [3]Ketika ilmu diambil langsung dari guru yang bersanad, ada proses pemeriksaan, koreksi, dan bimbingan yang menyertai setiap pemahaman yang terbentuk. Inilah yang membuat ilmu itu berkah, bukan hanya benar secara isi, tetapi terjaga secara proses dan tersambung secara sanad kepada para ulama yang mulia.AI sebagai alat bantu, bukan sandaranTidak ada yang salah dengan memanfaatkan sarana yang memudahkan proses belajar. Para ulama di setiap zaman memanfaatkan apa yang tersedia, dari penulisan di pelepah kurma, kertas, hingga percetakan kitab. Teknologi adalah sarana, dan sarana dinilai dari cara penggunaannya.AI boleh dimanfaatkan untuk hal-hal yang bersifat men-support saja, seperti memperbaiki penulisan atau merapikan catatan. Pada batas-batas yang proporsional inilah AI bisa bermanfaat. Masalah muncul ketika AI dijadikan sandaran utama dalam memahami agama. As-Safadi rahimahullah berkata,ولهذا قال العلماء: لا تأخذ العلم من صُحُفِيٍّ ولا مُصْحَفِيٍّ“Karena itu para ulama berkata: janganlah engkau mengambil ilmu dari seorang yang hanya belajar dari lembaran-lembaran, dan jangan pula dari seorang yang hanya berpegang pada tulisan-tulisan (buku-buku).” [4]Apabila kitab tertulis saja tidak cukup tanpa guru, maka AI yang hanya merangkum sebagian teks yang beredar di internet tentu lebih tidak memadai lagi. AI tidak bisa meluruskan niat, tidak bisa membimbing saat salah paham, dan tidak menanggung pertanggungjawaban apa pun atas jawaban yang ia berikan.Satu hal yang perlu dicermati secara khusus adalah penggunaan AI dalam penerjemahan teks-teks agama. Bahasa Arab dalam khazanah keilmuan Islam bukan bahasa percakapan biasa. Ia penuh dengan lapisan makna dan istilah teknis yang hanya bisa dipahami secara tepat oleh mereka yang mempelajarinya dari sumbernya. Satu kata dalam kitab fikih bisa memiliki makna yang berbeda dengan kata yang sama dalam kitab tafsir atau ilmu hadis. Ketika terjemahan diserahkan sepenuhnya kepada AI tanpa peninjauan yang seksama, ada risiko nyata bahwa makna yang sampai kepada pendengar adalah makna yang tidak utuh atau bahkan keliru. Dan jika itu terjadi dalam konteks pengajaran agama, ia tidak sekadar menjadi kesalahan teknis, tetapi berpotensi menjadi sebab pemahaman yang salah bagi orang-orang yang mempercayainya.Risiko ketika terlalu bergantung pada AIBergantung kepada AI memiliki beberapa kelemahan, di antaranya:Pertama, berkurangnya keberkahan talaqqi. Keberkahan talaqqi bukan sekadar soal kebenaran informasi, melainkan juga tentang doa guru kepada murid, keteladanan yang terlihat langsung, dan tarbiyah yang mengalir dalam proses belajar bersama. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,لا يزالُ الناسُ بخيرٍ ما أخذُوا العلمَ عن أكابرِهم فإذا أخذُوه من أصاغرِهم وشرارِهم هلَكوا“Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama ilmu datang kepada mereka dari orang-orang besar mereka. Apabila ilmu datang dari kalangan kecil mereka dan hawa nafsu mereka terpecah-pecah, maka binasalah mereka.” [5]Sumber dan jalur ilmu menentukan keselamatan beragama seseorang. AI tidak memiliki sanad, tidak memiliki guru, dan tidak terbentuk melalui proses talaqqi yang panjang. Ilmu yang diambil darinya pun kehilangan dimensi keberkahan yang seharusnya menyertai setiap ilmu syar’i. Keberkahan ini berlaku pula bagi pengajar. Seorang pengajar yang menyampaikan ilmu dari apa yang ia pelajari langsung dari gurunya, yang ia renungkan sendiri sebelum ia ucapkan, menyampaikan sesuatu yang berbeda kualitasnya dibanding yang hanya meneruskan hasil ringkasan mesin.Kedua, melemahnya semangat muthala’ah. Membaca kitab memerlukan waktu, kesabaran, dan kesiapan untuk bingung, lalu merenungkan, lalu memahami secara bertahap. Proses yang terasa lambat itu justru yang membentuk pemahaman yang kuat dan melekat. Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata,ولا بد في هذا العلم من طول الممارسة، وكثرة المذاكرة؛ فإذا عدم المذاكرة به فليكثر طالبه المطالعة في كلام الأئمة“Dalam ilmu ini, harus ada latihan yang panjang dan banyak saling mengulang. Jika tidak ada kesempatan untuk saling mengulang, maka hendaklah penuntut ilmu memperbanyak membaca perkataan para imam.” [6]Ketika seseorang terbiasa mendapat jawaban dalam hitungan detik, ia kehilangan kemampuan dan kemauan untuk bersabar dalam proses panjang yang membentuk kedalaman pemahaman. Kekhawatiran ini bukan sekadar perasaan, melainkan sudah terkonfirmasi oleh riset ilmiah. Doshi dan Hauser (2023) dalam studi yang dipublikasikan di Science Advances menegaskan bahwa penggunaan AI generatif yang intensif dapat mengurangi keragaman dan orisinalitas pemikiran. Ketika seseorang terlalu bergantung pada jawaban yang dihasilkan AI, kapasitas untuk berpikir kritis dan mandiri (effortful thinking) akan melemah seiring waktu. [7]Ketiga, terasa paham padahal dangkal. AI memberikan jawaban yang terdengar lengkap dan meyakinkan, padahal seringkali hanya permukaan dari pembahasan yang jauh lebih dalam di dalam kitab-kitab ulama. Tidak ada pembahasan ikhtilaf secara menyeluruh, tidak ada penjelasan sebab perbedaan pendapat, dan tidak ada bimbingan penerapan ilmu dalam situasi yang nyata. Rasulullah ﷺ bersabda,مَنْ أُفْتِيَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ إِثْمُهُ عَلَى مَنْ أَفْتَاهُ“Barang siapa diberi fatwa tanpa ilmu, maka dosanya ditanggung oleh orang yang memberi fatwa kepadanya.” [8]Dalam konteks AI, tidak ada yang menanggung dosa itu. AI tidak punya beban pertanggungjawaban. Maka orang yang menyebarkan kesalahan berdasarkan jawaban AI itulah yang menanggung sendiri akibatnya. Ini menjadi lebih serius ketika yang menyampaikan adalah seorang pengajar, karena jemaah atau murid mempercayai bahwa apa yang disampaikan telah melalui proses pemahaman yang mendalam dan pertanggungjawaban yang benar.Keempat, referensi AI hanya sebatas apa yang ada di internet. AI bekerja berdasarkan data teks yang dihimpun dari internet dan sumber-sumber digital. Ia tidak bisa mengakses apa yang tidak tersedia dalam bentuk digital. Kenyataannya, masih sangat banyak kitab-kitab turats yang belum terdigitalisasi hingga hari ini. Ribuan manuskrip tulisan tangan para ulama tersimpan di perpustakaan-perpustakaan di seluruh dunia. Ketika seorang penuntut ilmu hanya mengandalkan AI, ia hanya berputar di sekitar sebagian kecil khazanah ilmu yang sudah ada di internet, sementara lautan ilmu yang sesungguhnya sebagian besar tidak tersentuh.Para ulama salaf justru menempuh perjalanan jauh demi mendapatkan satu hadis dari sumbernya yang asli. As-Safarini dalam kitabnya Ghidha’ al-Albab fi Sharh Manzumat al-Adab mensifati Imam Ahmad dengan perkataannya,أَخَذَ يُحَضُّ عَلَى الاجْتِهَادِ فِي طَلَبِ الْعُلُومِ وَالرِّحْلَةِ فِي إِدْرَاكِ مَنْطُوقِهَا وَالْمَفْهُومِ“Ia mulai mendorong untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan menempuh perjalanan demi memahami ungkapan-ungkapan lahiriahnya dan makna-maknanya.” [9]Semangat mendatangi sumber ilmu, bukan menunggu ilmu datang secara instan, adalah metode yang para ulama jaga untuk menjaga keilmuan Islam yang tidak boleh pudar.Baca juga: Status Fikih Karya yang Dihasilkan AIAdab penuntut ilmu dalam memanfaatkan AIDi era kemudahan akses dan fasilitas, para penuntut ilmu harus memperhatikan beberapa catatan.Pertama, menggunakannya sebatas alat bantu awalAI boleh dimanfaatkan untuk mencari gambaran awal suatu topik atau menerjemahkan kosakata, bukan untuk memahami hukum dan akidah secara mandiri. Sumber utama tetap kitab para ulama yang terpercaya dengan bimbingan guru. Syekh Bakr Abu Zaid rahimahullah dalam Hilyah Thalib al-Ilm mengingatkan,الأصل في الطلب أن يكون بطريق التلقين والتلقي عن الأساتيذ، والمثافنة للأشياخ، والأخذ من أفواه الرجال لا من الصحف وبطون الكتب“Pada dasarnya, dalam menuntut ilmu itu yang pokok adalah belajar dengan bimbingan dan mendengarkan langsung dari para guru, serta duduk bersama para syekh. Dan mengambil ilmu itu dari penjelasan langsung lisan para ulama, bukan hanya dari lembaran-lembaran dan isi kitab.” [10]Jika mengambil ilmu dari seseorang yang hanya belajar melalui buku-buku saja diperingatkan, maka menjadikan mesin yang merangkum internet itu sebagai sumber utama tentu lebih patut untuk diwaspadai. Kewaspadaan itu berlipat ganda ketika apa yang bersumber dari sana kemudian disampaikan kepada orang lain atas nama ilmu agama.Kedua, serahkan kembali kepada para ahli ilmuApa pun yang didapatkan dari AI wajib dikembalikan kepada guru atau ulama yang bisa dipertanggungjawabkan. Allah Ta’ala berfirman,فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ“Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu, jika kalian tidak mengetahui.” (QS. an-Nahl: 43)Imam Malik rahimahullah juga menegaskan,إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” [11]AI bukan ahlul zikr (ahli ilmu). Ia tidak memiliki kapasitas dan tidak menanggung pertanggungjawaban apa pun atas apa yang ia sampaikan. Maka apa pun yang diperoleh darinya, sebelum digunakan apalagi sebelum disampaikan kepada orang lain, semestinya melewati proses verifikasi yang sungguh-sungguh kepada mereka yang memiliki kapasitas keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.Ketiga, jangan jadikan AI sebagai rujukan dan dalilJangan terlena dan terpedaya dengan kemudahan AI dalam mencari sesuatu, lalu mencari referensi potongan bahasan. Buka kitabnya, baca konteksnya, pahami penjelasan lengkapnya, kemudian konsultasikan bersama ulama. Saking berharganya ilmu dan dalam rangka penjagaan ilmu, pemahaman agama harus menggunakan bahasa Arab yang mengerti maksud dan konteks dalam berbahasa. Imam asy-Syathibi rahimahullah dalam al-Muwafaqat menyebutkan,إنه لا بدّ في فهم الشريعة من اتباع معهود الأميين؛ وهم العرب الذين نزل القرآن بلسانهم“Sesungguhnya dalam memahami syariat, wajib mengikuti apa yang dikenal oleh orang-orang Arab (umat yang ummī), yaitu orang-orang Arab yang Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa mereka.” [12]Hal ini berlaku pula dalam urusan penerjemahan. Ketika AI menghasilkan terjemahan suatu teks Arab, terjemahan itu bukan titik akhir, melainkan titik awal yang masih harus diperiksa. Menyampaikan terjemahan yang belum diverifikasi dengan seksama kepada khalayak adalah risiko yang tidak sepele. Karena pemahaman pendengar akan terbentuk dari terjemahan AI itu, bukan dari teks aslinya.Keempat, jaga semangat muthala’ah dan duduk bersama guruKemudahan AI tidak boleh menjadi alasan meninggalkan kebiasaan membaca kitab dan duduk bersama guru. Rasulullah ﷺ bersabda,مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” [13]Jalan yang dimaksud adalah jalan yang benar-benar ditempuh dengan kesungguhan, bukan jalan pintas yang mengandalkan kemudahan teknologi. Bagi seorang pengajar, menjaga semangat muthala’ah adalah bagian dari tanggung jawab kepada mereka yang duduk di hadapannya dengan penuh kepercayaan.Kelima, perbaiki niat sejak awalPertanyaan yang perlu dijawab sebelum membuka AI: apakah saya menggunakannya karena benar-benar ingin memahami dan mengamalkan, ataukah hanya ingin mendapat jawaban cepat? Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى“Sesungguhnya segala amal bergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan apa yang ia niatkan.” [14]Bagi seorang pengajar, pertanyaan ini lebih berat lagi. Apakah materi ini dipersiapkan dengan sungguh-sungguh karena ingin menyampaikan ilmu yang benar, ataukah hanya mengejar kemudahan penyiapan tanpa benar-benar menyelami apa yang akan disampaikan kepada jemaah?KesimpulanUjian penuntut ilmu di zaman ini bukan tidak adanya akses, melainkan berlimpahnya akses yang justru bisa membuat seseorang merasa sudah tahu padahal belum benar-benar belajar. Riset menunjukkan bahwa ketergantungan pada AI melemahkan kemampuan berpikir mandiri. [15] Para ulama pun sudah jauh-jauh hari mengingatkan bahwa ilmu yang tidak ditempuh dengan benar tidak akan menghasilkan buah yang seharusnya. Syekh Munajjid dalam kitabnya menceritakan,وقال ابن المبارك: نحن إلى قليلٍ من الأدب أحوج منا إلى كثيرٍ من العلم“Ibnu al-Mubarak berkata, ‘Kita lebih membutuhkan sedikit adab daripada membutuhkan banyak ilmu.’” [16]Ketika orientasi belajar hanya pada mengumpulkan jawaban sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya tanpa memperhatikan adab, proses, dan keberkahan jalan yang ditempuh, maka yang didapat hanyalah tumpukan informasi tanpa ruh ilmu.Gunakan AI dengan semestinya. Jadikan AI hanya sebagai alat bantu belajar, bukan pengganti yang mengambil alih prosesnya. Kembalilah kepada guru, kepada kitab, dan kepada adab yang telah diwariskan oleh para ulama salaf (terdahulu).Allah Ta’ala berfirman,وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا“Dan katakanlah, ‘Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.’” (QS. Thaha: 114)Doa ini diajarkan langsung oleh Allah kepada Nabi-Nya yang mulia. Di dalamnya ada pelajaran bahwa ilmu adalah sesuatu yang diminta dengan sungguh-sungguh dan ditempuh dengan penuh kesabaran, bukan sesuatu yang sekadar dicari dengan cara yang paling mudah.وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِBaca juga: AI dan Risiko Bahayanya untuk Anak***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] HR. ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir no. 5764, dari Abu ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu. Disahihkan oleh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadith ash-Shahihah no. 342.[2] Abd al-Fattah Muhammad Misilhi. Risalah fi al-Adab li Ashab at-Talab, hal. 36.[3] Dinukil oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim, 1: 15. Diakses melalui Maktabah Syamilah.[4] Abd ar-Rahim bin Samayil al-Ulayani as-Sulami. Dirasah Mawdu’iyyah lil Ha’iyyah wa Lum’at al-I’tiqad wa al-Wasitiyyah, 12: 2.[5] Muhammad Nasiruddin al-Albani. as-Silsilah ash-Shahihah, 2: 310.[6] Ibn Rajab al-Hanbali. Sharh Ilal at-Tirmidzi, 2: 664.[7] Doshi, A. R., & Hauser, O. P. (2023). Generative AI enhances individual creativity but reduces the collective diversity of novel content. Science Advances, 10(28). https://doi.org/10.1126/sciadv.adn5290[8] HR. Abu Dawud dalam Sunan Abi Dawud no. 3657, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud.[9] Muhammad bin Ahmad as-Saffarini. Ghidha’ al-Albab fi Sharh Manzumat al-Adab, 2: 444.[10] Bakr Abu Zaid. Hilyah Thalib al-Ilm, hal. 35. Riyadh: Dar ar-Rayah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.[11] Dinukil oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim, 1: 14. Diakses melalui Maktabah Syamilah.[12] Asy-Syathibi, Ibrahim bin Musa. al-Muwafaqat fi Ushul asy-Syari’ah, 2: 82. Dar Ibni Affan. Diakses melalui Maktabah Syamilah.[13] HR. Muslim dalam Shahih Muslim no. 2699, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.[14] HR. al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari no. 1 dan Muslim dalam Shahih Muslim no. 1907, dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu.[15] Doshi, A. R., & Hauser, O. P. (2023). Generative AI enhances individual creativity but reduces the collective diversity of novel content. Science Advances, 10(28). https://doi.org/10.1126/sciadv.adn5290[16] Muhammad Salih al-Munajjid. Durus li asy-Syaikh Muhammad al-Munajjid, 14: 196.Daftar PustakaAbu Zaid, Bakr. Hilyah Thalib al-Ilm. Riyadh: Dar ar-Rayah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Albani, Muhammad Nasiruddin. as-Silsilah as-Shahihah. Riyadh: Maktabah al-Ma’arif.al-Munajjid, Muhammad Salih. Durus li asy-Syaikh Muhammad al-Munajjid. Diakses melalui www.islamweb.net.as-Saffarini, Muhammad bin Ahmad bin Salim. Ghidha’ al-Albab fi Sharh Manzumat al-Adab. Diakses melalui www.islamweb.net.as-Sulami, Abd ar-Rahim bin Samayil. Dirasah Mawdu’iyyah lil Ha’iyyah wa Lum’at al-I’tiqad wa al-Wasitiyyah. Diakses melalui www.islamweb.net.asy-Syathibi, Ibrahim bin Musa. al-Muwafaqat fi Ushul asy-Syari’ah. Dar Ibni Affan. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Doshi, A. R., & Hauser, O. P. (2023). Generative AI enhances individual creativity but reduces the collective diversity of novel content. Science Advances, 10(28). https://doi.org/10.1126/sciadv.adn5290Ibn Rajab al-Hanbali, Zayn ad-Din Abd ar-Rahman bin Ahmad. Sharh Ilal at-Tirmidzi. Tahqiq: Hammam Abd ar-Rahim Said. Cet. Ke-1. Zarqa: Maktabat al-Manar, 1407 H – 1987 M.Misilhi, Abd al-Fattah Muhammad. Risalah fi al-Adab li Ashab at-Talab. Cet. Ke-2. asy-Syarqiyyah: Maktabat al-Ulum wa al-Hikam, 1440 H – 2019 M. Diakses melalui Maktabah Syamilah.

Catatan Adab bagi Penuntut Ilmu di Era AI (Artificial Intelligence)

Daftar Isi ToggleIlmu dalam Islam bukan sekadar informasiAI sebagai alat bantu, bukan sandaranRisiko ketika terlalu bergantung pada AIAdab penuntut ilmu dalam memanfaatkan AIPertama, menggunakannya sebatas alat bantu awalKedua, serahkan kembali kepada para ahli ilmuKetiga, jangan jadikan AI sebagai rujukan dan dalilKeempat, jaga semangat muthala’ah dan duduk bersama guruKelima, perbaiki niat sejak awalKesimpulanDi zaman ini, banyak yang terlena dengan kemudahan mendapatkan jawaban agama dalam hitungan detik. Cukup beberapa ketikan, lalu penjelasan pun datang, ringkas, dan terasa meyakinkan. Kemudahan ini memang menggiurkan; namun di balik kesan tersebut, tersembunyi bahaya besar. Ia bisa membuat seorang penuntut ilmu merasa cukup tanpa melalui proses yang semestinya. Padahal, Rasulullah ﷺ telah bersabda,إِنَّمَا العِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ وَإِنَّمَا الحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ وَمَنْ يَتَحَرَّ الخَيْرَ يُعْطَهُ وَمَنْ يَتَّقِ الشَّرَّ يُوقَهُ“Sesungguhnya ilmu itu didapat dengan belajar, kesabaran itu didapat dengan melatih diri untuk sabar. Barang siapa berusaha mencari kebaikan, ia akan diberi; dan barang siapa menjaga diri dari keburukan, ia akan dilindungi darinya.” [1]Ilmu tidak hadir hanya dengan mendapatkan jawaban, tetapi melalui proses belajar yang panjang duduk bersama guru, membaca, mengulang, dan bersabar. Di sinilah letak perbedaan antara kemudahan akses dan keberkahan ilmu. Maka, ketika AI (Artificial Intelligence) hadir di tengah dunia belajar, seorang penuntut ilmu perlu kembali menata sikap. Jangan menjadikannya sandaran utama yang menggeser talaqqi dan melemahkan semangat muthala’ah.Ilmu dalam Islam bukan sekadar informasiIlmu dalam Islam bukan sekadar kumpulan tulisan atau ucapan yang bisa diakses kapan saja. Ia memiliki ruh yang harus dimuliakan, memiliki adab diindahkan, dan memiliki jalan tempuh yang harus diusahakan. Anas bin Malik rahimahullah berkata kepada murid-muridnya,تَعَلَّمِ الْأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ“Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.” [2]Ini bukan sekadar nasihat tata krama. Ini adalah pernyataan bahwa ilmu yang benar tidak bisa dipisahkan dari cara mendapatkannya. Di sinilah letak pentingnya talaqqi, mengambil ilmu langsung dari guru yang bersanad. Imam Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah berkata,الْإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ وَلَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ“Sanad adalah bagian dari agama. Seandainya bukan karena sanad, niscaya siapa saja akan berkata sesuka hatinya.” [3]Ketika ilmu diambil langsung dari guru yang bersanad, ada proses pemeriksaan, koreksi, dan bimbingan yang menyertai setiap pemahaman yang terbentuk. Inilah yang membuat ilmu itu berkah, bukan hanya benar secara isi, tetapi terjaga secara proses dan tersambung secara sanad kepada para ulama yang mulia.AI sebagai alat bantu, bukan sandaranTidak ada yang salah dengan memanfaatkan sarana yang memudahkan proses belajar. Para ulama di setiap zaman memanfaatkan apa yang tersedia, dari penulisan di pelepah kurma, kertas, hingga percetakan kitab. Teknologi adalah sarana, dan sarana dinilai dari cara penggunaannya.AI boleh dimanfaatkan untuk hal-hal yang bersifat men-support saja, seperti memperbaiki penulisan atau merapikan catatan. Pada batas-batas yang proporsional inilah AI bisa bermanfaat. Masalah muncul ketika AI dijadikan sandaran utama dalam memahami agama. As-Safadi rahimahullah berkata,ولهذا قال العلماء: لا تأخذ العلم من صُحُفِيٍّ ولا مُصْحَفِيٍّ“Karena itu para ulama berkata: janganlah engkau mengambil ilmu dari seorang yang hanya belajar dari lembaran-lembaran, dan jangan pula dari seorang yang hanya berpegang pada tulisan-tulisan (buku-buku).” [4]Apabila kitab tertulis saja tidak cukup tanpa guru, maka AI yang hanya merangkum sebagian teks yang beredar di internet tentu lebih tidak memadai lagi. AI tidak bisa meluruskan niat, tidak bisa membimbing saat salah paham, dan tidak menanggung pertanggungjawaban apa pun atas jawaban yang ia berikan.Satu hal yang perlu dicermati secara khusus adalah penggunaan AI dalam penerjemahan teks-teks agama. Bahasa Arab dalam khazanah keilmuan Islam bukan bahasa percakapan biasa. Ia penuh dengan lapisan makna dan istilah teknis yang hanya bisa dipahami secara tepat oleh mereka yang mempelajarinya dari sumbernya. Satu kata dalam kitab fikih bisa memiliki makna yang berbeda dengan kata yang sama dalam kitab tafsir atau ilmu hadis. Ketika terjemahan diserahkan sepenuhnya kepada AI tanpa peninjauan yang seksama, ada risiko nyata bahwa makna yang sampai kepada pendengar adalah makna yang tidak utuh atau bahkan keliru. Dan jika itu terjadi dalam konteks pengajaran agama, ia tidak sekadar menjadi kesalahan teknis, tetapi berpotensi menjadi sebab pemahaman yang salah bagi orang-orang yang mempercayainya.Risiko ketika terlalu bergantung pada AIBergantung kepada AI memiliki beberapa kelemahan, di antaranya:Pertama, berkurangnya keberkahan talaqqi. Keberkahan talaqqi bukan sekadar soal kebenaran informasi, melainkan juga tentang doa guru kepada murid, keteladanan yang terlihat langsung, dan tarbiyah yang mengalir dalam proses belajar bersama. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,لا يزالُ الناسُ بخيرٍ ما أخذُوا العلمَ عن أكابرِهم فإذا أخذُوه من أصاغرِهم وشرارِهم هلَكوا“Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama ilmu datang kepada mereka dari orang-orang besar mereka. Apabila ilmu datang dari kalangan kecil mereka dan hawa nafsu mereka terpecah-pecah, maka binasalah mereka.” [5]Sumber dan jalur ilmu menentukan keselamatan beragama seseorang. AI tidak memiliki sanad, tidak memiliki guru, dan tidak terbentuk melalui proses talaqqi yang panjang. Ilmu yang diambil darinya pun kehilangan dimensi keberkahan yang seharusnya menyertai setiap ilmu syar’i. Keberkahan ini berlaku pula bagi pengajar. Seorang pengajar yang menyampaikan ilmu dari apa yang ia pelajari langsung dari gurunya, yang ia renungkan sendiri sebelum ia ucapkan, menyampaikan sesuatu yang berbeda kualitasnya dibanding yang hanya meneruskan hasil ringkasan mesin.Kedua, melemahnya semangat muthala’ah. Membaca kitab memerlukan waktu, kesabaran, dan kesiapan untuk bingung, lalu merenungkan, lalu memahami secara bertahap. Proses yang terasa lambat itu justru yang membentuk pemahaman yang kuat dan melekat. Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata,ولا بد في هذا العلم من طول الممارسة، وكثرة المذاكرة؛ فإذا عدم المذاكرة به فليكثر طالبه المطالعة في كلام الأئمة“Dalam ilmu ini, harus ada latihan yang panjang dan banyak saling mengulang. Jika tidak ada kesempatan untuk saling mengulang, maka hendaklah penuntut ilmu memperbanyak membaca perkataan para imam.” [6]Ketika seseorang terbiasa mendapat jawaban dalam hitungan detik, ia kehilangan kemampuan dan kemauan untuk bersabar dalam proses panjang yang membentuk kedalaman pemahaman. Kekhawatiran ini bukan sekadar perasaan, melainkan sudah terkonfirmasi oleh riset ilmiah. Doshi dan Hauser (2023) dalam studi yang dipublikasikan di Science Advances menegaskan bahwa penggunaan AI generatif yang intensif dapat mengurangi keragaman dan orisinalitas pemikiran. Ketika seseorang terlalu bergantung pada jawaban yang dihasilkan AI, kapasitas untuk berpikir kritis dan mandiri (effortful thinking) akan melemah seiring waktu. [7]Ketiga, terasa paham padahal dangkal. AI memberikan jawaban yang terdengar lengkap dan meyakinkan, padahal seringkali hanya permukaan dari pembahasan yang jauh lebih dalam di dalam kitab-kitab ulama. Tidak ada pembahasan ikhtilaf secara menyeluruh, tidak ada penjelasan sebab perbedaan pendapat, dan tidak ada bimbingan penerapan ilmu dalam situasi yang nyata. Rasulullah ﷺ bersabda,مَنْ أُفْتِيَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ إِثْمُهُ عَلَى مَنْ أَفْتَاهُ“Barang siapa diberi fatwa tanpa ilmu, maka dosanya ditanggung oleh orang yang memberi fatwa kepadanya.” [8]Dalam konteks AI, tidak ada yang menanggung dosa itu. AI tidak punya beban pertanggungjawaban. Maka orang yang menyebarkan kesalahan berdasarkan jawaban AI itulah yang menanggung sendiri akibatnya. Ini menjadi lebih serius ketika yang menyampaikan adalah seorang pengajar, karena jemaah atau murid mempercayai bahwa apa yang disampaikan telah melalui proses pemahaman yang mendalam dan pertanggungjawaban yang benar.Keempat, referensi AI hanya sebatas apa yang ada di internet. AI bekerja berdasarkan data teks yang dihimpun dari internet dan sumber-sumber digital. Ia tidak bisa mengakses apa yang tidak tersedia dalam bentuk digital. Kenyataannya, masih sangat banyak kitab-kitab turats yang belum terdigitalisasi hingga hari ini. Ribuan manuskrip tulisan tangan para ulama tersimpan di perpustakaan-perpustakaan di seluruh dunia. Ketika seorang penuntut ilmu hanya mengandalkan AI, ia hanya berputar di sekitar sebagian kecil khazanah ilmu yang sudah ada di internet, sementara lautan ilmu yang sesungguhnya sebagian besar tidak tersentuh.Para ulama salaf justru menempuh perjalanan jauh demi mendapatkan satu hadis dari sumbernya yang asli. As-Safarini dalam kitabnya Ghidha’ al-Albab fi Sharh Manzumat al-Adab mensifati Imam Ahmad dengan perkataannya,أَخَذَ يُحَضُّ عَلَى الاجْتِهَادِ فِي طَلَبِ الْعُلُومِ وَالرِّحْلَةِ فِي إِدْرَاكِ مَنْطُوقِهَا وَالْمَفْهُومِ“Ia mulai mendorong untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan menempuh perjalanan demi memahami ungkapan-ungkapan lahiriahnya dan makna-maknanya.” [9]Semangat mendatangi sumber ilmu, bukan menunggu ilmu datang secara instan, adalah metode yang para ulama jaga untuk menjaga keilmuan Islam yang tidak boleh pudar.Baca juga: Status Fikih Karya yang Dihasilkan AIAdab penuntut ilmu dalam memanfaatkan AIDi era kemudahan akses dan fasilitas, para penuntut ilmu harus memperhatikan beberapa catatan.Pertama, menggunakannya sebatas alat bantu awalAI boleh dimanfaatkan untuk mencari gambaran awal suatu topik atau menerjemahkan kosakata, bukan untuk memahami hukum dan akidah secara mandiri. Sumber utama tetap kitab para ulama yang terpercaya dengan bimbingan guru. Syekh Bakr Abu Zaid rahimahullah dalam Hilyah Thalib al-Ilm mengingatkan,الأصل في الطلب أن يكون بطريق التلقين والتلقي عن الأساتيذ، والمثافنة للأشياخ، والأخذ من أفواه الرجال لا من الصحف وبطون الكتب“Pada dasarnya, dalam menuntut ilmu itu yang pokok adalah belajar dengan bimbingan dan mendengarkan langsung dari para guru, serta duduk bersama para syekh. Dan mengambil ilmu itu dari penjelasan langsung lisan para ulama, bukan hanya dari lembaran-lembaran dan isi kitab.” [10]Jika mengambil ilmu dari seseorang yang hanya belajar melalui buku-buku saja diperingatkan, maka menjadikan mesin yang merangkum internet itu sebagai sumber utama tentu lebih patut untuk diwaspadai. Kewaspadaan itu berlipat ganda ketika apa yang bersumber dari sana kemudian disampaikan kepada orang lain atas nama ilmu agama.Kedua, serahkan kembali kepada para ahli ilmuApa pun yang didapatkan dari AI wajib dikembalikan kepada guru atau ulama yang bisa dipertanggungjawabkan. Allah Ta’ala berfirman,فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ“Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu, jika kalian tidak mengetahui.” (QS. an-Nahl: 43)Imam Malik rahimahullah juga menegaskan,إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” [11]AI bukan ahlul zikr (ahli ilmu). Ia tidak memiliki kapasitas dan tidak menanggung pertanggungjawaban apa pun atas apa yang ia sampaikan. Maka apa pun yang diperoleh darinya, sebelum digunakan apalagi sebelum disampaikan kepada orang lain, semestinya melewati proses verifikasi yang sungguh-sungguh kepada mereka yang memiliki kapasitas keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.Ketiga, jangan jadikan AI sebagai rujukan dan dalilJangan terlena dan terpedaya dengan kemudahan AI dalam mencari sesuatu, lalu mencari referensi potongan bahasan. Buka kitabnya, baca konteksnya, pahami penjelasan lengkapnya, kemudian konsultasikan bersama ulama. Saking berharganya ilmu dan dalam rangka penjagaan ilmu, pemahaman agama harus menggunakan bahasa Arab yang mengerti maksud dan konteks dalam berbahasa. Imam asy-Syathibi rahimahullah dalam al-Muwafaqat menyebutkan,إنه لا بدّ في فهم الشريعة من اتباع معهود الأميين؛ وهم العرب الذين نزل القرآن بلسانهم“Sesungguhnya dalam memahami syariat, wajib mengikuti apa yang dikenal oleh orang-orang Arab (umat yang ummī), yaitu orang-orang Arab yang Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa mereka.” [12]Hal ini berlaku pula dalam urusan penerjemahan. Ketika AI menghasilkan terjemahan suatu teks Arab, terjemahan itu bukan titik akhir, melainkan titik awal yang masih harus diperiksa. Menyampaikan terjemahan yang belum diverifikasi dengan seksama kepada khalayak adalah risiko yang tidak sepele. Karena pemahaman pendengar akan terbentuk dari terjemahan AI itu, bukan dari teks aslinya.Keempat, jaga semangat muthala’ah dan duduk bersama guruKemudahan AI tidak boleh menjadi alasan meninggalkan kebiasaan membaca kitab dan duduk bersama guru. Rasulullah ﷺ bersabda,مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” [13]Jalan yang dimaksud adalah jalan yang benar-benar ditempuh dengan kesungguhan, bukan jalan pintas yang mengandalkan kemudahan teknologi. Bagi seorang pengajar, menjaga semangat muthala’ah adalah bagian dari tanggung jawab kepada mereka yang duduk di hadapannya dengan penuh kepercayaan.Kelima, perbaiki niat sejak awalPertanyaan yang perlu dijawab sebelum membuka AI: apakah saya menggunakannya karena benar-benar ingin memahami dan mengamalkan, ataukah hanya ingin mendapat jawaban cepat? Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى“Sesungguhnya segala amal bergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan apa yang ia niatkan.” [14]Bagi seorang pengajar, pertanyaan ini lebih berat lagi. Apakah materi ini dipersiapkan dengan sungguh-sungguh karena ingin menyampaikan ilmu yang benar, ataukah hanya mengejar kemudahan penyiapan tanpa benar-benar menyelami apa yang akan disampaikan kepada jemaah?KesimpulanUjian penuntut ilmu di zaman ini bukan tidak adanya akses, melainkan berlimpahnya akses yang justru bisa membuat seseorang merasa sudah tahu padahal belum benar-benar belajar. Riset menunjukkan bahwa ketergantungan pada AI melemahkan kemampuan berpikir mandiri. [15] Para ulama pun sudah jauh-jauh hari mengingatkan bahwa ilmu yang tidak ditempuh dengan benar tidak akan menghasilkan buah yang seharusnya. Syekh Munajjid dalam kitabnya menceritakan,وقال ابن المبارك: نحن إلى قليلٍ من الأدب أحوج منا إلى كثيرٍ من العلم“Ibnu al-Mubarak berkata, ‘Kita lebih membutuhkan sedikit adab daripada membutuhkan banyak ilmu.’” [16]Ketika orientasi belajar hanya pada mengumpulkan jawaban sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya tanpa memperhatikan adab, proses, dan keberkahan jalan yang ditempuh, maka yang didapat hanyalah tumpukan informasi tanpa ruh ilmu.Gunakan AI dengan semestinya. Jadikan AI hanya sebagai alat bantu belajar, bukan pengganti yang mengambil alih prosesnya. Kembalilah kepada guru, kepada kitab, dan kepada adab yang telah diwariskan oleh para ulama salaf (terdahulu).Allah Ta’ala berfirman,وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا“Dan katakanlah, ‘Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.’” (QS. Thaha: 114)Doa ini diajarkan langsung oleh Allah kepada Nabi-Nya yang mulia. Di dalamnya ada pelajaran bahwa ilmu adalah sesuatu yang diminta dengan sungguh-sungguh dan ditempuh dengan penuh kesabaran, bukan sesuatu yang sekadar dicari dengan cara yang paling mudah.وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِBaca juga: AI dan Risiko Bahayanya untuk Anak***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] HR. ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir no. 5764, dari Abu ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu. Disahihkan oleh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadith ash-Shahihah no. 342.[2] Abd al-Fattah Muhammad Misilhi. Risalah fi al-Adab li Ashab at-Talab, hal. 36.[3] Dinukil oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim, 1: 15. Diakses melalui Maktabah Syamilah.[4] Abd ar-Rahim bin Samayil al-Ulayani as-Sulami. Dirasah Mawdu’iyyah lil Ha’iyyah wa Lum’at al-I’tiqad wa al-Wasitiyyah, 12: 2.[5] Muhammad Nasiruddin al-Albani. as-Silsilah ash-Shahihah, 2: 310.[6] Ibn Rajab al-Hanbali. Sharh Ilal at-Tirmidzi, 2: 664.[7] Doshi, A. R., & Hauser, O. P. (2023). Generative AI enhances individual creativity but reduces the collective diversity of novel content. Science Advances, 10(28). https://doi.org/10.1126/sciadv.adn5290[8] HR. Abu Dawud dalam Sunan Abi Dawud no. 3657, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud.[9] Muhammad bin Ahmad as-Saffarini. Ghidha’ al-Albab fi Sharh Manzumat al-Adab, 2: 444.[10] Bakr Abu Zaid. Hilyah Thalib al-Ilm, hal. 35. Riyadh: Dar ar-Rayah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.[11] Dinukil oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim, 1: 14. Diakses melalui Maktabah Syamilah.[12] Asy-Syathibi, Ibrahim bin Musa. al-Muwafaqat fi Ushul asy-Syari’ah, 2: 82. Dar Ibni Affan. Diakses melalui Maktabah Syamilah.[13] HR. Muslim dalam Shahih Muslim no. 2699, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.[14] HR. al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari no. 1 dan Muslim dalam Shahih Muslim no. 1907, dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu.[15] Doshi, A. R., & Hauser, O. P. (2023). Generative AI enhances individual creativity but reduces the collective diversity of novel content. Science Advances, 10(28). https://doi.org/10.1126/sciadv.adn5290[16] Muhammad Salih al-Munajjid. Durus li asy-Syaikh Muhammad al-Munajjid, 14: 196.Daftar PustakaAbu Zaid, Bakr. Hilyah Thalib al-Ilm. Riyadh: Dar ar-Rayah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Albani, Muhammad Nasiruddin. as-Silsilah as-Shahihah. Riyadh: Maktabah al-Ma’arif.al-Munajjid, Muhammad Salih. Durus li asy-Syaikh Muhammad al-Munajjid. Diakses melalui www.islamweb.net.as-Saffarini, Muhammad bin Ahmad bin Salim. Ghidha’ al-Albab fi Sharh Manzumat al-Adab. Diakses melalui www.islamweb.net.as-Sulami, Abd ar-Rahim bin Samayil. Dirasah Mawdu’iyyah lil Ha’iyyah wa Lum’at al-I’tiqad wa al-Wasitiyyah. Diakses melalui www.islamweb.net.asy-Syathibi, Ibrahim bin Musa. al-Muwafaqat fi Ushul asy-Syari’ah. Dar Ibni Affan. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Doshi, A. R., & Hauser, O. P. (2023). Generative AI enhances individual creativity but reduces the collective diversity of novel content. Science Advances, 10(28). https://doi.org/10.1126/sciadv.adn5290Ibn Rajab al-Hanbali, Zayn ad-Din Abd ar-Rahman bin Ahmad. Sharh Ilal at-Tirmidzi. Tahqiq: Hammam Abd ar-Rahim Said. Cet. Ke-1. Zarqa: Maktabat al-Manar, 1407 H – 1987 M.Misilhi, Abd al-Fattah Muhammad. Risalah fi al-Adab li Ashab at-Talab. Cet. Ke-2. asy-Syarqiyyah: Maktabat al-Ulum wa al-Hikam, 1440 H – 2019 M. Diakses melalui Maktabah Syamilah.
Daftar Isi ToggleIlmu dalam Islam bukan sekadar informasiAI sebagai alat bantu, bukan sandaranRisiko ketika terlalu bergantung pada AIAdab penuntut ilmu dalam memanfaatkan AIPertama, menggunakannya sebatas alat bantu awalKedua, serahkan kembali kepada para ahli ilmuKetiga, jangan jadikan AI sebagai rujukan dan dalilKeempat, jaga semangat muthala’ah dan duduk bersama guruKelima, perbaiki niat sejak awalKesimpulanDi zaman ini, banyak yang terlena dengan kemudahan mendapatkan jawaban agama dalam hitungan detik. Cukup beberapa ketikan, lalu penjelasan pun datang, ringkas, dan terasa meyakinkan. Kemudahan ini memang menggiurkan; namun di balik kesan tersebut, tersembunyi bahaya besar. Ia bisa membuat seorang penuntut ilmu merasa cukup tanpa melalui proses yang semestinya. Padahal, Rasulullah ﷺ telah bersabda,إِنَّمَا العِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ وَإِنَّمَا الحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ وَمَنْ يَتَحَرَّ الخَيْرَ يُعْطَهُ وَمَنْ يَتَّقِ الشَّرَّ يُوقَهُ“Sesungguhnya ilmu itu didapat dengan belajar, kesabaran itu didapat dengan melatih diri untuk sabar. Barang siapa berusaha mencari kebaikan, ia akan diberi; dan barang siapa menjaga diri dari keburukan, ia akan dilindungi darinya.” [1]Ilmu tidak hadir hanya dengan mendapatkan jawaban, tetapi melalui proses belajar yang panjang duduk bersama guru, membaca, mengulang, dan bersabar. Di sinilah letak perbedaan antara kemudahan akses dan keberkahan ilmu. Maka, ketika AI (Artificial Intelligence) hadir di tengah dunia belajar, seorang penuntut ilmu perlu kembali menata sikap. Jangan menjadikannya sandaran utama yang menggeser talaqqi dan melemahkan semangat muthala’ah.Ilmu dalam Islam bukan sekadar informasiIlmu dalam Islam bukan sekadar kumpulan tulisan atau ucapan yang bisa diakses kapan saja. Ia memiliki ruh yang harus dimuliakan, memiliki adab diindahkan, dan memiliki jalan tempuh yang harus diusahakan. Anas bin Malik rahimahullah berkata kepada murid-muridnya,تَعَلَّمِ الْأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ“Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.” [2]Ini bukan sekadar nasihat tata krama. Ini adalah pernyataan bahwa ilmu yang benar tidak bisa dipisahkan dari cara mendapatkannya. Di sinilah letak pentingnya talaqqi, mengambil ilmu langsung dari guru yang bersanad. Imam Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah berkata,الْإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ وَلَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ“Sanad adalah bagian dari agama. Seandainya bukan karena sanad, niscaya siapa saja akan berkata sesuka hatinya.” [3]Ketika ilmu diambil langsung dari guru yang bersanad, ada proses pemeriksaan, koreksi, dan bimbingan yang menyertai setiap pemahaman yang terbentuk. Inilah yang membuat ilmu itu berkah, bukan hanya benar secara isi, tetapi terjaga secara proses dan tersambung secara sanad kepada para ulama yang mulia.AI sebagai alat bantu, bukan sandaranTidak ada yang salah dengan memanfaatkan sarana yang memudahkan proses belajar. Para ulama di setiap zaman memanfaatkan apa yang tersedia, dari penulisan di pelepah kurma, kertas, hingga percetakan kitab. Teknologi adalah sarana, dan sarana dinilai dari cara penggunaannya.AI boleh dimanfaatkan untuk hal-hal yang bersifat men-support saja, seperti memperbaiki penulisan atau merapikan catatan. Pada batas-batas yang proporsional inilah AI bisa bermanfaat. Masalah muncul ketika AI dijadikan sandaran utama dalam memahami agama. As-Safadi rahimahullah berkata,ولهذا قال العلماء: لا تأخذ العلم من صُحُفِيٍّ ولا مُصْحَفِيٍّ“Karena itu para ulama berkata: janganlah engkau mengambil ilmu dari seorang yang hanya belajar dari lembaran-lembaran, dan jangan pula dari seorang yang hanya berpegang pada tulisan-tulisan (buku-buku).” [4]Apabila kitab tertulis saja tidak cukup tanpa guru, maka AI yang hanya merangkum sebagian teks yang beredar di internet tentu lebih tidak memadai lagi. AI tidak bisa meluruskan niat, tidak bisa membimbing saat salah paham, dan tidak menanggung pertanggungjawaban apa pun atas jawaban yang ia berikan.Satu hal yang perlu dicermati secara khusus adalah penggunaan AI dalam penerjemahan teks-teks agama. Bahasa Arab dalam khazanah keilmuan Islam bukan bahasa percakapan biasa. Ia penuh dengan lapisan makna dan istilah teknis yang hanya bisa dipahami secara tepat oleh mereka yang mempelajarinya dari sumbernya. Satu kata dalam kitab fikih bisa memiliki makna yang berbeda dengan kata yang sama dalam kitab tafsir atau ilmu hadis. Ketika terjemahan diserahkan sepenuhnya kepada AI tanpa peninjauan yang seksama, ada risiko nyata bahwa makna yang sampai kepada pendengar adalah makna yang tidak utuh atau bahkan keliru. Dan jika itu terjadi dalam konteks pengajaran agama, ia tidak sekadar menjadi kesalahan teknis, tetapi berpotensi menjadi sebab pemahaman yang salah bagi orang-orang yang mempercayainya.Risiko ketika terlalu bergantung pada AIBergantung kepada AI memiliki beberapa kelemahan, di antaranya:Pertama, berkurangnya keberkahan talaqqi. Keberkahan talaqqi bukan sekadar soal kebenaran informasi, melainkan juga tentang doa guru kepada murid, keteladanan yang terlihat langsung, dan tarbiyah yang mengalir dalam proses belajar bersama. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,لا يزالُ الناسُ بخيرٍ ما أخذُوا العلمَ عن أكابرِهم فإذا أخذُوه من أصاغرِهم وشرارِهم هلَكوا“Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama ilmu datang kepada mereka dari orang-orang besar mereka. Apabila ilmu datang dari kalangan kecil mereka dan hawa nafsu mereka terpecah-pecah, maka binasalah mereka.” [5]Sumber dan jalur ilmu menentukan keselamatan beragama seseorang. AI tidak memiliki sanad, tidak memiliki guru, dan tidak terbentuk melalui proses talaqqi yang panjang. Ilmu yang diambil darinya pun kehilangan dimensi keberkahan yang seharusnya menyertai setiap ilmu syar’i. Keberkahan ini berlaku pula bagi pengajar. Seorang pengajar yang menyampaikan ilmu dari apa yang ia pelajari langsung dari gurunya, yang ia renungkan sendiri sebelum ia ucapkan, menyampaikan sesuatu yang berbeda kualitasnya dibanding yang hanya meneruskan hasil ringkasan mesin.Kedua, melemahnya semangat muthala’ah. Membaca kitab memerlukan waktu, kesabaran, dan kesiapan untuk bingung, lalu merenungkan, lalu memahami secara bertahap. Proses yang terasa lambat itu justru yang membentuk pemahaman yang kuat dan melekat. Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata,ولا بد في هذا العلم من طول الممارسة، وكثرة المذاكرة؛ فإذا عدم المذاكرة به فليكثر طالبه المطالعة في كلام الأئمة“Dalam ilmu ini, harus ada latihan yang panjang dan banyak saling mengulang. Jika tidak ada kesempatan untuk saling mengulang, maka hendaklah penuntut ilmu memperbanyak membaca perkataan para imam.” [6]Ketika seseorang terbiasa mendapat jawaban dalam hitungan detik, ia kehilangan kemampuan dan kemauan untuk bersabar dalam proses panjang yang membentuk kedalaman pemahaman. Kekhawatiran ini bukan sekadar perasaan, melainkan sudah terkonfirmasi oleh riset ilmiah. Doshi dan Hauser (2023) dalam studi yang dipublikasikan di Science Advances menegaskan bahwa penggunaan AI generatif yang intensif dapat mengurangi keragaman dan orisinalitas pemikiran. Ketika seseorang terlalu bergantung pada jawaban yang dihasilkan AI, kapasitas untuk berpikir kritis dan mandiri (effortful thinking) akan melemah seiring waktu. [7]Ketiga, terasa paham padahal dangkal. AI memberikan jawaban yang terdengar lengkap dan meyakinkan, padahal seringkali hanya permukaan dari pembahasan yang jauh lebih dalam di dalam kitab-kitab ulama. Tidak ada pembahasan ikhtilaf secara menyeluruh, tidak ada penjelasan sebab perbedaan pendapat, dan tidak ada bimbingan penerapan ilmu dalam situasi yang nyata. Rasulullah ﷺ bersabda,مَنْ أُفْتِيَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ إِثْمُهُ عَلَى مَنْ أَفْتَاهُ“Barang siapa diberi fatwa tanpa ilmu, maka dosanya ditanggung oleh orang yang memberi fatwa kepadanya.” [8]Dalam konteks AI, tidak ada yang menanggung dosa itu. AI tidak punya beban pertanggungjawaban. Maka orang yang menyebarkan kesalahan berdasarkan jawaban AI itulah yang menanggung sendiri akibatnya. Ini menjadi lebih serius ketika yang menyampaikan adalah seorang pengajar, karena jemaah atau murid mempercayai bahwa apa yang disampaikan telah melalui proses pemahaman yang mendalam dan pertanggungjawaban yang benar.Keempat, referensi AI hanya sebatas apa yang ada di internet. AI bekerja berdasarkan data teks yang dihimpun dari internet dan sumber-sumber digital. Ia tidak bisa mengakses apa yang tidak tersedia dalam bentuk digital. Kenyataannya, masih sangat banyak kitab-kitab turats yang belum terdigitalisasi hingga hari ini. Ribuan manuskrip tulisan tangan para ulama tersimpan di perpustakaan-perpustakaan di seluruh dunia. Ketika seorang penuntut ilmu hanya mengandalkan AI, ia hanya berputar di sekitar sebagian kecil khazanah ilmu yang sudah ada di internet, sementara lautan ilmu yang sesungguhnya sebagian besar tidak tersentuh.Para ulama salaf justru menempuh perjalanan jauh demi mendapatkan satu hadis dari sumbernya yang asli. As-Safarini dalam kitabnya Ghidha’ al-Albab fi Sharh Manzumat al-Adab mensifati Imam Ahmad dengan perkataannya,أَخَذَ يُحَضُّ عَلَى الاجْتِهَادِ فِي طَلَبِ الْعُلُومِ وَالرِّحْلَةِ فِي إِدْرَاكِ مَنْطُوقِهَا وَالْمَفْهُومِ“Ia mulai mendorong untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan menempuh perjalanan demi memahami ungkapan-ungkapan lahiriahnya dan makna-maknanya.” [9]Semangat mendatangi sumber ilmu, bukan menunggu ilmu datang secara instan, adalah metode yang para ulama jaga untuk menjaga keilmuan Islam yang tidak boleh pudar.Baca juga: Status Fikih Karya yang Dihasilkan AIAdab penuntut ilmu dalam memanfaatkan AIDi era kemudahan akses dan fasilitas, para penuntut ilmu harus memperhatikan beberapa catatan.Pertama, menggunakannya sebatas alat bantu awalAI boleh dimanfaatkan untuk mencari gambaran awal suatu topik atau menerjemahkan kosakata, bukan untuk memahami hukum dan akidah secara mandiri. Sumber utama tetap kitab para ulama yang terpercaya dengan bimbingan guru. Syekh Bakr Abu Zaid rahimahullah dalam Hilyah Thalib al-Ilm mengingatkan,الأصل في الطلب أن يكون بطريق التلقين والتلقي عن الأساتيذ، والمثافنة للأشياخ، والأخذ من أفواه الرجال لا من الصحف وبطون الكتب“Pada dasarnya, dalam menuntut ilmu itu yang pokok adalah belajar dengan bimbingan dan mendengarkan langsung dari para guru, serta duduk bersama para syekh. Dan mengambil ilmu itu dari penjelasan langsung lisan para ulama, bukan hanya dari lembaran-lembaran dan isi kitab.” [10]Jika mengambil ilmu dari seseorang yang hanya belajar melalui buku-buku saja diperingatkan, maka menjadikan mesin yang merangkum internet itu sebagai sumber utama tentu lebih patut untuk diwaspadai. Kewaspadaan itu berlipat ganda ketika apa yang bersumber dari sana kemudian disampaikan kepada orang lain atas nama ilmu agama.Kedua, serahkan kembali kepada para ahli ilmuApa pun yang didapatkan dari AI wajib dikembalikan kepada guru atau ulama yang bisa dipertanggungjawabkan. Allah Ta’ala berfirman,فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ“Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu, jika kalian tidak mengetahui.” (QS. an-Nahl: 43)Imam Malik rahimahullah juga menegaskan,إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” [11]AI bukan ahlul zikr (ahli ilmu). Ia tidak memiliki kapasitas dan tidak menanggung pertanggungjawaban apa pun atas apa yang ia sampaikan. Maka apa pun yang diperoleh darinya, sebelum digunakan apalagi sebelum disampaikan kepada orang lain, semestinya melewati proses verifikasi yang sungguh-sungguh kepada mereka yang memiliki kapasitas keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.Ketiga, jangan jadikan AI sebagai rujukan dan dalilJangan terlena dan terpedaya dengan kemudahan AI dalam mencari sesuatu, lalu mencari referensi potongan bahasan. Buka kitabnya, baca konteksnya, pahami penjelasan lengkapnya, kemudian konsultasikan bersama ulama. Saking berharganya ilmu dan dalam rangka penjagaan ilmu, pemahaman agama harus menggunakan bahasa Arab yang mengerti maksud dan konteks dalam berbahasa. Imam asy-Syathibi rahimahullah dalam al-Muwafaqat menyebutkan,إنه لا بدّ في فهم الشريعة من اتباع معهود الأميين؛ وهم العرب الذين نزل القرآن بلسانهم“Sesungguhnya dalam memahami syariat, wajib mengikuti apa yang dikenal oleh orang-orang Arab (umat yang ummī), yaitu orang-orang Arab yang Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa mereka.” [12]Hal ini berlaku pula dalam urusan penerjemahan. Ketika AI menghasilkan terjemahan suatu teks Arab, terjemahan itu bukan titik akhir, melainkan titik awal yang masih harus diperiksa. Menyampaikan terjemahan yang belum diverifikasi dengan seksama kepada khalayak adalah risiko yang tidak sepele. Karena pemahaman pendengar akan terbentuk dari terjemahan AI itu, bukan dari teks aslinya.Keempat, jaga semangat muthala’ah dan duduk bersama guruKemudahan AI tidak boleh menjadi alasan meninggalkan kebiasaan membaca kitab dan duduk bersama guru. Rasulullah ﷺ bersabda,مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” [13]Jalan yang dimaksud adalah jalan yang benar-benar ditempuh dengan kesungguhan, bukan jalan pintas yang mengandalkan kemudahan teknologi. Bagi seorang pengajar, menjaga semangat muthala’ah adalah bagian dari tanggung jawab kepada mereka yang duduk di hadapannya dengan penuh kepercayaan.Kelima, perbaiki niat sejak awalPertanyaan yang perlu dijawab sebelum membuka AI: apakah saya menggunakannya karena benar-benar ingin memahami dan mengamalkan, ataukah hanya ingin mendapat jawaban cepat? Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى“Sesungguhnya segala amal bergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan apa yang ia niatkan.” [14]Bagi seorang pengajar, pertanyaan ini lebih berat lagi. Apakah materi ini dipersiapkan dengan sungguh-sungguh karena ingin menyampaikan ilmu yang benar, ataukah hanya mengejar kemudahan penyiapan tanpa benar-benar menyelami apa yang akan disampaikan kepada jemaah?KesimpulanUjian penuntut ilmu di zaman ini bukan tidak adanya akses, melainkan berlimpahnya akses yang justru bisa membuat seseorang merasa sudah tahu padahal belum benar-benar belajar. Riset menunjukkan bahwa ketergantungan pada AI melemahkan kemampuan berpikir mandiri. [15] Para ulama pun sudah jauh-jauh hari mengingatkan bahwa ilmu yang tidak ditempuh dengan benar tidak akan menghasilkan buah yang seharusnya. Syekh Munajjid dalam kitabnya menceritakan,وقال ابن المبارك: نحن إلى قليلٍ من الأدب أحوج منا إلى كثيرٍ من العلم“Ibnu al-Mubarak berkata, ‘Kita lebih membutuhkan sedikit adab daripada membutuhkan banyak ilmu.’” [16]Ketika orientasi belajar hanya pada mengumpulkan jawaban sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya tanpa memperhatikan adab, proses, dan keberkahan jalan yang ditempuh, maka yang didapat hanyalah tumpukan informasi tanpa ruh ilmu.Gunakan AI dengan semestinya. Jadikan AI hanya sebagai alat bantu belajar, bukan pengganti yang mengambil alih prosesnya. Kembalilah kepada guru, kepada kitab, dan kepada adab yang telah diwariskan oleh para ulama salaf (terdahulu).Allah Ta’ala berfirman,وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا“Dan katakanlah, ‘Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.’” (QS. Thaha: 114)Doa ini diajarkan langsung oleh Allah kepada Nabi-Nya yang mulia. Di dalamnya ada pelajaran bahwa ilmu adalah sesuatu yang diminta dengan sungguh-sungguh dan ditempuh dengan penuh kesabaran, bukan sesuatu yang sekadar dicari dengan cara yang paling mudah.وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِBaca juga: AI dan Risiko Bahayanya untuk Anak***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] HR. ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir no. 5764, dari Abu ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu. Disahihkan oleh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadith ash-Shahihah no. 342.[2] Abd al-Fattah Muhammad Misilhi. Risalah fi al-Adab li Ashab at-Talab, hal. 36.[3] Dinukil oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim, 1: 15. Diakses melalui Maktabah Syamilah.[4] Abd ar-Rahim bin Samayil al-Ulayani as-Sulami. Dirasah Mawdu’iyyah lil Ha’iyyah wa Lum’at al-I’tiqad wa al-Wasitiyyah, 12: 2.[5] Muhammad Nasiruddin al-Albani. as-Silsilah ash-Shahihah, 2: 310.[6] Ibn Rajab al-Hanbali. Sharh Ilal at-Tirmidzi, 2: 664.[7] Doshi, A. R., & Hauser, O. P. (2023). Generative AI enhances individual creativity but reduces the collective diversity of novel content. Science Advances, 10(28). https://doi.org/10.1126/sciadv.adn5290[8] HR. Abu Dawud dalam Sunan Abi Dawud no. 3657, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud.[9] Muhammad bin Ahmad as-Saffarini. Ghidha’ al-Albab fi Sharh Manzumat al-Adab, 2: 444.[10] Bakr Abu Zaid. Hilyah Thalib al-Ilm, hal. 35. Riyadh: Dar ar-Rayah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.[11] Dinukil oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim, 1: 14. Diakses melalui Maktabah Syamilah.[12] Asy-Syathibi, Ibrahim bin Musa. al-Muwafaqat fi Ushul asy-Syari’ah, 2: 82. Dar Ibni Affan. Diakses melalui Maktabah Syamilah.[13] HR. Muslim dalam Shahih Muslim no. 2699, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.[14] HR. al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari no. 1 dan Muslim dalam Shahih Muslim no. 1907, dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu.[15] Doshi, A. R., & Hauser, O. P. (2023). Generative AI enhances individual creativity but reduces the collective diversity of novel content. Science Advances, 10(28). https://doi.org/10.1126/sciadv.adn5290[16] Muhammad Salih al-Munajjid. Durus li asy-Syaikh Muhammad al-Munajjid, 14: 196.Daftar PustakaAbu Zaid, Bakr. Hilyah Thalib al-Ilm. Riyadh: Dar ar-Rayah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Albani, Muhammad Nasiruddin. as-Silsilah as-Shahihah. Riyadh: Maktabah al-Ma’arif.al-Munajjid, Muhammad Salih. Durus li asy-Syaikh Muhammad al-Munajjid. Diakses melalui www.islamweb.net.as-Saffarini, Muhammad bin Ahmad bin Salim. Ghidha’ al-Albab fi Sharh Manzumat al-Adab. Diakses melalui www.islamweb.net.as-Sulami, Abd ar-Rahim bin Samayil. Dirasah Mawdu’iyyah lil Ha’iyyah wa Lum’at al-I’tiqad wa al-Wasitiyyah. Diakses melalui www.islamweb.net.asy-Syathibi, Ibrahim bin Musa. al-Muwafaqat fi Ushul asy-Syari’ah. Dar Ibni Affan. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Doshi, A. R., & Hauser, O. P. (2023). Generative AI enhances individual creativity but reduces the collective diversity of novel content. Science Advances, 10(28). https://doi.org/10.1126/sciadv.adn5290Ibn Rajab al-Hanbali, Zayn ad-Din Abd ar-Rahman bin Ahmad. Sharh Ilal at-Tirmidzi. Tahqiq: Hammam Abd ar-Rahim Said. Cet. Ke-1. Zarqa: Maktabat al-Manar, 1407 H – 1987 M.Misilhi, Abd al-Fattah Muhammad. Risalah fi al-Adab li Ashab at-Talab. Cet. Ke-2. asy-Syarqiyyah: Maktabat al-Ulum wa al-Hikam, 1440 H – 2019 M. Diakses melalui Maktabah Syamilah.


Daftar Isi ToggleIlmu dalam Islam bukan sekadar informasiAI sebagai alat bantu, bukan sandaranRisiko ketika terlalu bergantung pada AIAdab penuntut ilmu dalam memanfaatkan AIPertama, menggunakannya sebatas alat bantu awalKedua, serahkan kembali kepada para ahli ilmuKetiga, jangan jadikan AI sebagai rujukan dan dalilKeempat, jaga semangat muthala’ah dan duduk bersama guruKelima, perbaiki niat sejak awalKesimpulanDi zaman ini, banyak yang terlena dengan kemudahan mendapatkan jawaban agama dalam hitungan detik. Cukup beberapa ketikan, lalu penjelasan pun datang, ringkas, dan terasa meyakinkan. Kemudahan ini memang menggiurkan; namun di balik kesan tersebut, tersembunyi bahaya besar. Ia bisa membuat seorang penuntut ilmu merasa cukup tanpa melalui proses yang semestinya. Padahal, Rasulullah ﷺ telah bersabda,إِنَّمَا العِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ وَإِنَّمَا الحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ وَمَنْ يَتَحَرَّ الخَيْرَ يُعْطَهُ وَمَنْ يَتَّقِ الشَّرَّ يُوقَهُ“Sesungguhnya ilmu itu didapat dengan belajar, kesabaran itu didapat dengan melatih diri untuk sabar. Barang siapa berusaha mencari kebaikan, ia akan diberi; dan barang siapa menjaga diri dari keburukan, ia akan dilindungi darinya.” [1]Ilmu tidak hadir hanya dengan mendapatkan jawaban, tetapi melalui proses belajar yang panjang duduk bersama guru, membaca, mengulang, dan bersabar. Di sinilah letak perbedaan antara kemudahan akses dan keberkahan ilmu. Maka, ketika AI (Artificial Intelligence) hadir di tengah dunia belajar, seorang penuntut ilmu perlu kembali menata sikap. Jangan menjadikannya sandaran utama yang menggeser talaqqi dan melemahkan semangat muthala’ah.Ilmu dalam Islam bukan sekadar informasiIlmu dalam Islam bukan sekadar kumpulan tulisan atau ucapan yang bisa diakses kapan saja. Ia memiliki ruh yang harus dimuliakan, memiliki adab diindahkan, dan memiliki jalan tempuh yang harus diusahakan. Anas bin Malik rahimahullah berkata kepada murid-muridnya,تَعَلَّمِ الْأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ“Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.” [2]Ini bukan sekadar nasihat tata krama. Ini adalah pernyataan bahwa ilmu yang benar tidak bisa dipisahkan dari cara mendapatkannya. Di sinilah letak pentingnya talaqqi, mengambil ilmu langsung dari guru yang bersanad. Imam Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah berkata,الْإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ وَلَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ“Sanad adalah bagian dari agama. Seandainya bukan karena sanad, niscaya siapa saja akan berkata sesuka hatinya.” [3]Ketika ilmu diambil langsung dari guru yang bersanad, ada proses pemeriksaan, koreksi, dan bimbingan yang menyertai setiap pemahaman yang terbentuk. Inilah yang membuat ilmu itu berkah, bukan hanya benar secara isi, tetapi terjaga secara proses dan tersambung secara sanad kepada para ulama yang mulia.AI sebagai alat bantu, bukan sandaranTidak ada yang salah dengan memanfaatkan sarana yang memudahkan proses belajar. Para ulama di setiap zaman memanfaatkan apa yang tersedia, dari penulisan di pelepah kurma, kertas, hingga percetakan kitab. Teknologi adalah sarana, dan sarana dinilai dari cara penggunaannya.AI boleh dimanfaatkan untuk hal-hal yang bersifat men-support saja, seperti memperbaiki penulisan atau merapikan catatan. Pada batas-batas yang proporsional inilah AI bisa bermanfaat. Masalah muncul ketika AI dijadikan sandaran utama dalam memahami agama. As-Safadi rahimahullah berkata,ولهذا قال العلماء: لا تأخذ العلم من صُحُفِيٍّ ولا مُصْحَفِيٍّ“Karena itu para ulama berkata: janganlah engkau mengambil ilmu dari seorang yang hanya belajar dari lembaran-lembaran, dan jangan pula dari seorang yang hanya berpegang pada tulisan-tulisan (buku-buku).” [4]Apabila kitab tertulis saja tidak cukup tanpa guru, maka AI yang hanya merangkum sebagian teks yang beredar di internet tentu lebih tidak memadai lagi. AI tidak bisa meluruskan niat, tidak bisa membimbing saat salah paham, dan tidak menanggung pertanggungjawaban apa pun atas jawaban yang ia berikan.Satu hal yang perlu dicermati secara khusus adalah penggunaan AI dalam penerjemahan teks-teks agama. Bahasa Arab dalam khazanah keilmuan Islam bukan bahasa percakapan biasa. Ia penuh dengan lapisan makna dan istilah teknis yang hanya bisa dipahami secara tepat oleh mereka yang mempelajarinya dari sumbernya. Satu kata dalam kitab fikih bisa memiliki makna yang berbeda dengan kata yang sama dalam kitab tafsir atau ilmu hadis. Ketika terjemahan diserahkan sepenuhnya kepada AI tanpa peninjauan yang seksama, ada risiko nyata bahwa makna yang sampai kepada pendengar adalah makna yang tidak utuh atau bahkan keliru. Dan jika itu terjadi dalam konteks pengajaran agama, ia tidak sekadar menjadi kesalahan teknis, tetapi berpotensi menjadi sebab pemahaman yang salah bagi orang-orang yang mempercayainya.Risiko ketika terlalu bergantung pada AIBergantung kepada AI memiliki beberapa kelemahan, di antaranya:Pertama, berkurangnya keberkahan talaqqi. Keberkahan talaqqi bukan sekadar soal kebenaran informasi, melainkan juga tentang doa guru kepada murid, keteladanan yang terlihat langsung, dan tarbiyah yang mengalir dalam proses belajar bersama. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,لا يزالُ الناسُ بخيرٍ ما أخذُوا العلمَ عن أكابرِهم فإذا أخذُوه من أصاغرِهم وشرارِهم هلَكوا“Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama ilmu datang kepada mereka dari orang-orang besar mereka. Apabila ilmu datang dari kalangan kecil mereka dan hawa nafsu mereka terpecah-pecah, maka binasalah mereka.” [5]Sumber dan jalur ilmu menentukan keselamatan beragama seseorang. AI tidak memiliki sanad, tidak memiliki guru, dan tidak terbentuk melalui proses talaqqi yang panjang. Ilmu yang diambil darinya pun kehilangan dimensi keberkahan yang seharusnya menyertai setiap ilmu syar’i. Keberkahan ini berlaku pula bagi pengajar. Seorang pengajar yang menyampaikan ilmu dari apa yang ia pelajari langsung dari gurunya, yang ia renungkan sendiri sebelum ia ucapkan, menyampaikan sesuatu yang berbeda kualitasnya dibanding yang hanya meneruskan hasil ringkasan mesin.Kedua, melemahnya semangat muthala’ah. Membaca kitab memerlukan waktu, kesabaran, dan kesiapan untuk bingung, lalu merenungkan, lalu memahami secara bertahap. Proses yang terasa lambat itu justru yang membentuk pemahaman yang kuat dan melekat. Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata,ولا بد في هذا العلم من طول الممارسة، وكثرة المذاكرة؛ فإذا عدم المذاكرة به فليكثر طالبه المطالعة في كلام الأئمة“Dalam ilmu ini, harus ada latihan yang panjang dan banyak saling mengulang. Jika tidak ada kesempatan untuk saling mengulang, maka hendaklah penuntut ilmu memperbanyak membaca perkataan para imam.” [6]Ketika seseorang terbiasa mendapat jawaban dalam hitungan detik, ia kehilangan kemampuan dan kemauan untuk bersabar dalam proses panjang yang membentuk kedalaman pemahaman. Kekhawatiran ini bukan sekadar perasaan, melainkan sudah terkonfirmasi oleh riset ilmiah. Doshi dan Hauser (2023) dalam studi yang dipublikasikan di Science Advances menegaskan bahwa penggunaan AI generatif yang intensif dapat mengurangi keragaman dan orisinalitas pemikiran. Ketika seseorang terlalu bergantung pada jawaban yang dihasilkan AI, kapasitas untuk berpikir kritis dan mandiri (effortful thinking) akan melemah seiring waktu. [7]Ketiga, terasa paham padahal dangkal. AI memberikan jawaban yang terdengar lengkap dan meyakinkan, padahal seringkali hanya permukaan dari pembahasan yang jauh lebih dalam di dalam kitab-kitab ulama. Tidak ada pembahasan ikhtilaf secara menyeluruh, tidak ada penjelasan sebab perbedaan pendapat, dan tidak ada bimbingan penerapan ilmu dalam situasi yang nyata. Rasulullah ﷺ bersabda,مَنْ أُفْتِيَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ إِثْمُهُ عَلَى مَنْ أَفْتَاهُ“Barang siapa diberi fatwa tanpa ilmu, maka dosanya ditanggung oleh orang yang memberi fatwa kepadanya.” [8]Dalam konteks AI, tidak ada yang menanggung dosa itu. AI tidak punya beban pertanggungjawaban. Maka orang yang menyebarkan kesalahan berdasarkan jawaban AI itulah yang menanggung sendiri akibatnya. Ini menjadi lebih serius ketika yang menyampaikan adalah seorang pengajar, karena jemaah atau murid mempercayai bahwa apa yang disampaikan telah melalui proses pemahaman yang mendalam dan pertanggungjawaban yang benar.Keempat, referensi AI hanya sebatas apa yang ada di internet. AI bekerja berdasarkan data teks yang dihimpun dari internet dan sumber-sumber digital. Ia tidak bisa mengakses apa yang tidak tersedia dalam bentuk digital. Kenyataannya, masih sangat banyak kitab-kitab turats yang belum terdigitalisasi hingga hari ini. Ribuan manuskrip tulisan tangan para ulama tersimpan di perpustakaan-perpustakaan di seluruh dunia. Ketika seorang penuntut ilmu hanya mengandalkan AI, ia hanya berputar di sekitar sebagian kecil khazanah ilmu yang sudah ada di internet, sementara lautan ilmu yang sesungguhnya sebagian besar tidak tersentuh.Para ulama salaf justru menempuh perjalanan jauh demi mendapatkan satu hadis dari sumbernya yang asli. As-Safarini dalam kitabnya Ghidha’ al-Albab fi Sharh Manzumat al-Adab mensifati Imam Ahmad dengan perkataannya,أَخَذَ يُحَضُّ عَلَى الاجْتِهَادِ فِي طَلَبِ الْعُلُومِ وَالرِّحْلَةِ فِي إِدْرَاكِ مَنْطُوقِهَا وَالْمَفْهُومِ“Ia mulai mendorong untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan menempuh perjalanan demi memahami ungkapan-ungkapan lahiriahnya dan makna-maknanya.” [9]Semangat mendatangi sumber ilmu, bukan menunggu ilmu datang secara instan, adalah metode yang para ulama jaga untuk menjaga keilmuan Islam yang tidak boleh pudar.Baca juga: Status Fikih Karya yang Dihasilkan AIAdab penuntut ilmu dalam memanfaatkan AIDi era kemudahan akses dan fasilitas, para penuntut ilmu harus memperhatikan beberapa catatan.Pertama, menggunakannya sebatas alat bantu awalAI boleh dimanfaatkan untuk mencari gambaran awal suatu topik atau menerjemahkan kosakata, bukan untuk memahami hukum dan akidah secara mandiri. Sumber utama tetap kitab para ulama yang terpercaya dengan bimbingan guru. Syekh Bakr Abu Zaid rahimahullah dalam Hilyah Thalib al-Ilm mengingatkan,الأصل في الطلب أن يكون بطريق التلقين والتلقي عن الأساتيذ، والمثافنة للأشياخ، والأخذ من أفواه الرجال لا من الصحف وبطون الكتب“Pada dasarnya, dalam menuntut ilmu itu yang pokok adalah belajar dengan bimbingan dan mendengarkan langsung dari para guru, serta duduk bersama para syekh. Dan mengambil ilmu itu dari penjelasan langsung lisan para ulama, bukan hanya dari lembaran-lembaran dan isi kitab.” [10]Jika mengambil ilmu dari seseorang yang hanya belajar melalui buku-buku saja diperingatkan, maka menjadikan mesin yang merangkum internet itu sebagai sumber utama tentu lebih patut untuk diwaspadai. Kewaspadaan itu berlipat ganda ketika apa yang bersumber dari sana kemudian disampaikan kepada orang lain atas nama ilmu agama.Kedua, serahkan kembali kepada para ahli ilmuApa pun yang didapatkan dari AI wajib dikembalikan kepada guru atau ulama yang bisa dipertanggungjawabkan. Allah Ta’ala berfirman,فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ“Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu, jika kalian tidak mengetahui.” (QS. an-Nahl: 43)Imam Malik rahimahullah juga menegaskan,إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” [11]AI bukan ahlul zikr (ahli ilmu). Ia tidak memiliki kapasitas dan tidak menanggung pertanggungjawaban apa pun atas apa yang ia sampaikan. Maka apa pun yang diperoleh darinya, sebelum digunakan apalagi sebelum disampaikan kepada orang lain, semestinya melewati proses verifikasi yang sungguh-sungguh kepada mereka yang memiliki kapasitas keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.Ketiga, jangan jadikan AI sebagai rujukan dan dalilJangan terlena dan terpedaya dengan kemudahan AI dalam mencari sesuatu, lalu mencari referensi potongan bahasan. Buka kitabnya, baca konteksnya, pahami penjelasan lengkapnya, kemudian konsultasikan bersama ulama. Saking berharganya ilmu dan dalam rangka penjagaan ilmu, pemahaman agama harus menggunakan bahasa Arab yang mengerti maksud dan konteks dalam berbahasa. Imam asy-Syathibi rahimahullah dalam al-Muwafaqat menyebutkan,إنه لا بدّ في فهم الشريعة من اتباع معهود الأميين؛ وهم العرب الذين نزل القرآن بلسانهم“Sesungguhnya dalam memahami syariat, wajib mengikuti apa yang dikenal oleh orang-orang Arab (umat yang ummī), yaitu orang-orang Arab yang Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa mereka.” [12]Hal ini berlaku pula dalam urusan penerjemahan. Ketika AI menghasilkan terjemahan suatu teks Arab, terjemahan itu bukan titik akhir, melainkan titik awal yang masih harus diperiksa. Menyampaikan terjemahan yang belum diverifikasi dengan seksama kepada khalayak adalah risiko yang tidak sepele. Karena pemahaman pendengar akan terbentuk dari terjemahan AI itu, bukan dari teks aslinya.Keempat, jaga semangat muthala’ah dan duduk bersama guruKemudahan AI tidak boleh menjadi alasan meninggalkan kebiasaan membaca kitab dan duduk bersama guru. Rasulullah ﷺ bersabda,مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” [13]Jalan yang dimaksud adalah jalan yang benar-benar ditempuh dengan kesungguhan, bukan jalan pintas yang mengandalkan kemudahan teknologi. Bagi seorang pengajar, menjaga semangat muthala’ah adalah bagian dari tanggung jawab kepada mereka yang duduk di hadapannya dengan penuh kepercayaan.Kelima, perbaiki niat sejak awalPertanyaan yang perlu dijawab sebelum membuka AI: apakah saya menggunakannya karena benar-benar ingin memahami dan mengamalkan, ataukah hanya ingin mendapat jawaban cepat? Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى“Sesungguhnya segala amal bergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan apa yang ia niatkan.” [14]Bagi seorang pengajar, pertanyaan ini lebih berat lagi. Apakah materi ini dipersiapkan dengan sungguh-sungguh karena ingin menyampaikan ilmu yang benar, ataukah hanya mengejar kemudahan penyiapan tanpa benar-benar menyelami apa yang akan disampaikan kepada jemaah?KesimpulanUjian penuntut ilmu di zaman ini bukan tidak adanya akses, melainkan berlimpahnya akses yang justru bisa membuat seseorang merasa sudah tahu padahal belum benar-benar belajar. Riset menunjukkan bahwa ketergantungan pada AI melemahkan kemampuan berpikir mandiri. [15] Para ulama pun sudah jauh-jauh hari mengingatkan bahwa ilmu yang tidak ditempuh dengan benar tidak akan menghasilkan buah yang seharusnya. Syekh Munajjid dalam kitabnya menceritakan,وقال ابن المبارك: نحن إلى قليلٍ من الأدب أحوج منا إلى كثيرٍ من العلم“Ibnu al-Mubarak berkata, ‘Kita lebih membutuhkan sedikit adab daripada membutuhkan banyak ilmu.’” [16]Ketika orientasi belajar hanya pada mengumpulkan jawaban sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya tanpa memperhatikan adab, proses, dan keberkahan jalan yang ditempuh, maka yang didapat hanyalah tumpukan informasi tanpa ruh ilmu.Gunakan AI dengan semestinya. Jadikan AI hanya sebagai alat bantu belajar, bukan pengganti yang mengambil alih prosesnya. Kembalilah kepada guru, kepada kitab, dan kepada adab yang telah diwariskan oleh para ulama salaf (terdahulu).Allah Ta’ala berfirman,وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا“Dan katakanlah, ‘Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.’” (QS. Thaha: 114)Doa ini diajarkan langsung oleh Allah kepada Nabi-Nya yang mulia. Di dalamnya ada pelajaran bahwa ilmu adalah sesuatu yang diminta dengan sungguh-sungguh dan ditempuh dengan penuh kesabaran, bukan sesuatu yang sekadar dicari dengan cara yang paling mudah.وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِBaca juga: AI dan Risiko Bahayanya untuk Anak***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] HR. ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir no. 5764, dari Abu ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu. Disahihkan oleh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadith ash-Shahihah no. 342.[2] Abd al-Fattah Muhammad Misilhi. Risalah fi al-Adab li Ashab at-Talab, hal. 36.[3] Dinukil oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim, 1: 15. Diakses melalui Maktabah Syamilah.[4] Abd ar-Rahim bin Samayil al-Ulayani as-Sulami. Dirasah Mawdu’iyyah lil Ha’iyyah wa Lum’at al-I’tiqad wa al-Wasitiyyah, 12: 2.[5] Muhammad Nasiruddin al-Albani. as-Silsilah ash-Shahihah, 2: 310.[6] Ibn Rajab al-Hanbali. Sharh Ilal at-Tirmidzi, 2: 664.[7] Doshi, A. R., & Hauser, O. P. (2023). Generative AI enhances individual creativity but reduces the collective diversity of novel content. Science Advances, 10(28). https://doi.org/10.1126/sciadv.adn5290[8] HR. Abu Dawud dalam Sunan Abi Dawud no. 3657, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud.[9] Muhammad bin Ahmad as-Saffarini. Ghidha’ al-Albab fi Sharh Manzumat al-Adab, 2: 444.[10] Bakr Abu Zaid. Hilyah Thalib al-Ilm, hal. 35. Riyadh: Dar ar-Rayah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.[11] Dinukil oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim, 1: 14. Diakses melalui Maktabah Syamilah.[12] Asy-Syathibi, Ibrahim bin Musa. al-Muwafaqat fi Ushul asy-Syari’ah, 2: 82. Dar Ibni Affan. Diakses melalui Maktabah Syamilah.[13] HR. Muslim dalam Shahih Muslim no. 2699, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.[14] HR. al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari no. 1 dan Muslim dalam Shahih Muslim no. 1907, dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu.[15] Doshi, A. R., & Hauser, O. P. (2023). Generative AI enhances individual creativity but reduces the collective diversity of novel content. Science Advances, 10(28). https://doi.org/10.1126/sciadv.adn5290[16] Muhammad Salih al-Munajjid. Durus li asy-Syaikh Muhammad al-Munajjid, 14: 196.Daftar PustakaAbu Zaid, Bakr. Hilyah Thalib al-Ilm. Riyadh: Dar ar-Rayah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Albani, Muhammad Nasiruddin. as-Silsilah as-Shahihah. Riyadh: Maktabah al-Ma’arif.al-Munajjid, Muhammad Salih. Durus li asy-Syaikh Muhammad al-Munajjid. Diakses melalui www.islamweb.net.as-Saffarini, Muhammad bin Ahmad bin Salim. Ghidha’ al-Albab fi Sharh Manzumat al-Adab. Diakses melalui www.islamweb.net.as-Sulami, Abd ar-Rahim bin Samayil. Dirasah Mawdu’iyyah lil Ha’iyyah wa Lum’at al-I’tiqad wa al-Wasitiyyah. Diakses melalui www.islamweb.net.asy-Syathibi, Ibrahim bin Musa. al-Muwafaqat fi Ushul asy-Syari’ah. Dar Ibni Affan. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Doshi, A. R., & Hauser, O. P. (2023). Generative AI enhances individual creativity but reduces the collective diversity of novel content. Science Advances, 10(28). https://doi.org/10.1126/sciadv.adn5290Ibn Rajab al-Hanbali, Zayn ad-Din Abd ar-Rahman bin Ahmad. Sharh Ilal at-Tirmidzi. Tahqiq: Hammam Abd ar-Rahim Said. Cet. Ke-1. Zarqa: Maktabat al-Manar, 1407 H – 1987 M.Misilhi, Abd al-Fattah Muhammad. Risalah fi al-Adab li Ashab at-Talab. Cet. Ke-2. asy-Syarqiyyah: Maktabat al-Ulum wa al-Hikam, 1440 H – 2019 M. Diakses melalui Maktabah Syamilah.

Malaikat Pencatat Amal: Semua Perbuatan Kita Diawasi

Banyak orang merasa aman ketika berbuat dosa sendirian, padahal tidak pernah benar-benar sendirian. Allah telah menugaskan malaikat-malaikat mulia yang selalu mencatat setiap ucapan dan perbuatan manusia. Tulisan ini akan mengajak kita merenungkan bagaimana rasa malu kepada malaikat pencatat amal bisa menjadi penjaga diri dari dosa dan pengingat untuk memperbanyak istigfar.  Daftar Isi tutup 1. Malaikat yang Tak Pernah Lalai Mengawasi 2. Malaikat Mulia yang Mencatat Semua Amal 3. Tidak Ada Amal yang Bisa Disembunyikan  Malaikat yang Tak Pernah Lalai MengawasiAllah Ta’ala berfirman,وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ ۝١٠“Padahal sesungguhnya bagi kalian ada malaikat-malaikat yang mengawasi.” (QS. Al-Infithar: 10)Firman Allah Ta’ala, “Padahal sesungguhnya bagi kalian ada malaikat-malaikat yang mengawasi,” maksudnya, sesungguhnya di sisi kalian ada para malaikat yang bertugas menjaga dan mencatat amal perbuatan kalian. Mereka senantiasa mengawasi apa yang kalian lakukan, baik berupa kebaikan maupun keburukan. Malaikat Mulia yang Mencatat Semua AmalAllah Ta’ala berfirman,كِرَامًا كَاتِبِينَ ۝١١“Yang mulia lagi mencatat.” (QS. Al-Infithar: 11)Maksudnya, para malaikat itu adalah malaikat yang mulia di sisi Allah. Karena itu, janganlah kalian menghadapkan kepada mereka perbuatan-perbuatan buruk dan maksiat, sebab mereka mencatat seluruh amal yang kalian lakukan.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dengan sanadnya dari Mujahid, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«أَكْرِمُوا الْكِرَامَ الْكَاتِبِينَ الَّذِينَ لَا يُفَارِقُونَكُمْ إِلَّا عِنْدَ إِحْدَى حَالَتَيْنِ: الْجَنَابَةِ وَالْغَائِطِ، فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ بِحَرْمِ حَائِطٍ أَوْ بِبَعِيرِهِ أَوْ لِيَسْتُرْهُ أَخُوهُ»“Muliakanlah para malaikat pencatat amal yang mulia, yang tidak pernah berpisah dari kalian kecuali dalam dua keadaan: ketika junub dan ketika buang hajat. Karena itu, apabila salah seorang dari kalian mandi, hendaklah ia menutup diri di balik dinding, atau di balik untanya, atau ditutupi oleh saudaranya.”Al-Hafizh Abu Bakar Al-Bazzar juga meriwayatkan hadis serupa dengan lafaz lain dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«إِنَّ اللَّهَ يَنْهَاكُمْ عَنِ التَّعَرِّي، فَاسْتَحْيُوا مِنْ مَلَائِكَةِ اللَّهِ الَّذِينَ مَعَكُمُ الْكِرَامِ الْكَاتِبِينَ الَّذِينَ لَا يُفَارِقُونَكُمْ إِلَّا عِنْدَ إِحْدَى ثَلَاثِ حَالَاتٍ: الْغَائِطِ، وَالْجَنَابَةِ، وَالْغُسْلِ، فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ بِالْعَرَاءِ فَلْيَسْتَتِرْ بِثَوْبِهِ أَوْ بِحَرْمِ حَائِطٍ أَوْ بِبَعِيرِهِ»“Sesungguhnya Allah melarang kalian telanjang. Maka malulah kepada malaikat Allah yang bersama kalian, yaitu para malaikat mulia pencatat amal, yang tidak berpisah dari kalian kecuali dalam tiga keadaan: ketika buang hajat, junub, dan mandi. Jika salah seorang dari kalian mandi di tempat terbuka, hendaklah ia menutupi dirinya dengan kain, atau di balik dinding, atau di balik untanya.”Kemudian Al-Bazzar berkata bahwa Hafsh bin Sulaiman termasuk perawi yang lemah hafalannya, meskipun hadisnya masih ditulis dan dipertimbangkan.Al-Bazzar juga meriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«مَا مِنْ حَافِظَيْنِ يَرْفَعَانِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَا حَفِظَا فِي يَوْمٍ، فَيَرَى فِي أَوَّلِ الصَّحِيفَةِ وَفِي آخِرِهَا اسْتِغْفَارًا، إِلَّا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: قَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِي مَا بَيْنَ طَرَفَيِ الصَّحِيفَةِ»“Tidaklah dua malaikat penjaga mengangkat catatan amal seorang hamba kepada Allah dalam satu hari, lalu Allah melihat pada awal dan akhir catatan itu terdapat istigfar, melainkan Allah berfirman: ‘Aku telah mengampuni hamba-Ku atas dosa-dosa di antara awal dan akhir catatan tersebut.’”Kemudian beliau menyebutkan bahwa hadis ini diriwayatkan secara tunggal oleh Tammam bin Najih. Sebagian ulama menilainya baik, namun ada pula yang melemahkannya, bahkan sebagian menuduhnya meriwayatkan hadis-hadis palsu. Imam Ahmad berkata, “Aku belum mengetahui secara jelas keadaan sebenarnya dari dirinya.”Al-Bazzar juga meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً يَعْرِفُونَ بَنِي آدَمَ ـ وَأَحْسَبُهُ قَالَ: وَيَعْرِفُونَ أَعْمَالَهُمْ ـ فَإِذَا نَظَرُوا إِلَى عَبْدٍ يَعْمَلُ بِطَاعَةِ اللَّهِ ذَكَرُوهُ بَيْنَهُمْ وَسَمَّوْهُ وَقَالُوا: أَفْلَحَ اللَّيْلَةَ فُلَانٌ، نَجَا اللَّيْلَةَ فُلَانٌ، وَإِذَا نَظَرُوا إِلَى عَبْدٍ يَعْمَلُ بِمَعْصِيَةِ اللَّهِ ذَكَرُوهُ بَيْنَهُمْ وَسَمَّوْهُ وَقَالُوا: هَلَكَ اللَّيْلَةَ فُلَانٌ»“Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang mengenal anak Adam —dan aku kira beliau juga mengatakan: mereka mengenal amal-amal mereka—. Jika mereka melihat seorang hamba melakukan ketaatan kepada Allah, mereka menyebut namanya di antara sesama malaikat dan berkata: ‘Malam ini si fulan beruntung, malam ini si fulan selamat.’ Sebaliknya, jika mereka melihat seorang hamba melakukan maksiat kepada Allah, mereka menyebut namanya dan berkata: ‘Malam ini si fulan binasa.’”Namun Al-Bazzar menjelaskan bahwa dalam sanad hadis ini terdapat perawi bernama Salam Al-Madaini yang termasuk perawi lemah. Tidak Ada Amal yang Bisa DisembunyikanAllah Ta’ala berfirman,يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ ۝١٢“Mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Infithar: 10)Yakni, para malaikat itu mengetahui seluruh amal yang kalian lakukan. Tidak ada satu pun perbuatan yang tersembunyi dari mereka, baik ucapan maupun tindakan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Karena itu, janganlah kalian membalas keberadaan para malaikat mulia tersebut dengan melakukan perbuatan-perbuatan buruk, sebab mereka mencatat seluruh amal kalian.Demikian penjalasan dari Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya. —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Dzulqa’dah 1447 H, 29 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdosa dan taubat istigfar kajian akidah kiraman katibin malaikat hafazhah malaikat pencatat amal muhasabah diri pengawas amal rasa malu kepada Allah tafsir surat al infithar

Malaikat Pencatat Amal: Semua Perbuatan Kita Diawasi

Banyak orang merasa aman ketika berbuat dosa sendirian, padahal tidak pernah benar-benar sendirian. Allah telah menugaskan malaikat-malaikat mulia yang selalu mencatat setiap ucapan dan perbuatan manusia. Tulisan ini akan mengajak kita merenungkan bagaimana rasa malu kepada malaikat pencatat amal bisa menjadi penjaga diri dari dosa dan pengingat untuk memperbanyak istigfar.  Daftar Isi tutup 1. Malaikat yang Tak Pernah Lalai Mengawasi 2. Malaikat Mulia yang Mencatat Semua Amal 3. Tidak Ada Amal yang Bisa Disembunyikan  Malaikat yang Tak Pernah Lalai MengawasiAllah Ta’ala berfirman,وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ ۝١٠“Padahal sesungguhnya bagi kalian ada malaikat-malaikat yang mengawasi.” (QS. Al-Infithar: 10)Firman Allah Ta’ala, “Padahal sesungguhnya bagi kalian ada malaikat-malaikat yang mengawasi,” maksudnya, sesungguhnya di sisi kalian ada para malaikat yang bertugas menjaga dan mencatat amal perbuatan kalian. Mereka senantiasa mengawasi apa yang kalian lakukan, baik berupa kebaikan maupun keburukan. Malaikat Mulia yang Mencatat Semua AmalAllah Ta’ala berfirman,كِرَامًا كَاتِبِينَ ۝١١“Yang mulia lagi mencatat.” (QS. Al-Infithar: 11)Maksudnya, para malaikat itu adalah malaikat yang mulia di sisi Allah. Karena itu, janganlah kalian menghadapkan kepada mereka perbuatan-perbuatan buruk dan maksiat, sebab mereka mencatat seluruh amal yang kalian lakukan.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dengan sanadnya dari Mujahid, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«أَكْرِمُوا الْكِرَامَ الْكَاتِبِينَ الَّذِينَ لَا يُفَارِقُونَكُمْ إِلَّا عِنْدَ إِحْدَى حَالَتَيْنِ: الْجَنَابَةِ وَالْغَائِطِ، فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ بِحَرْمِ حَائِطٍ أَوْ بِبَعِيرِهِ أَوْ لِيَسْتُرْهُ أَخُوهُ»“Muliakanlah para malaikat pencatat amal yang mulia, yang tidak pernah berpisah dari kalian kecuali dalam dua keadaan: ketika junub dan ketika buang hajat. Karena itu, apabila salah seorang dari kalian mandi, hendaklah ia menutup diri di balik dinding, atau di balik untanya, atau ditutupi oleh saudaranya.”Al-Hafizh Abu Bakar Al-Bazzar juga meriwayatkan hadis serupa dengan lafaz lain dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«إِنَّ اللَّهَ يَنْهَاكُمْ عَنِ التَّعَرِّي، فَاسْتَحْيُوا مِنْ مَلَائِكَةِ اللَّهِ الَّذِينَ مَعَكُمُ الْكِرَامِ الْكَاتِبِينَ الَّذِينَ لَا يُفَارِقُونَكُمْ إِلَّا عِنْدَ إِحْدَى ثَلَاثِ حَالَاتٍ: الْغَائِطِ، وَالْجَنَابَةِ، وَالْغُسْلِ، فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ بِالْعَرَاءِ فَلْيَسْتَتِرْ بِثَوْبِهِ أَوْ بِحَرْمِ حَائِطٍ أَوْ بِبَعِيرِهِ»“Sesungguhnya Allah melarang kalian telanjang. Maka malulah kepada malaikat Allah yang bersama kalian, yaitu para malaikat mulia pencatat amal, yang tidak berpisah dari kalian kecuali dalam tiga keadaan: ketika buang hajat, junub, dan mandi. Jika salah seorang dari kalian mandi di tempat terbuka, hendaklah ia menutupi dirinya dengan kain, atau di balik dinding, atau di balik untanya.”Kemudian Al-Bazzar berkata bahwa Hafsh bin Sulaiman termasuk perawi yang lemah hafalannya, meskipun hadisnya masih ditulis dan dipertimbangkan.Al-Bazzar juga meriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«مَا مِنْ حَافِظَيْنِ يَرْفَعَانِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَا حَفِظَا فِي يَوْمٍ، فَيَرَى فِي أَوَّلِ الصَّحِيفَةِ وَفِي آخِرِهَا اسْتِغْفَارًا، إِلَّا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: قَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِي مَا بَيْنَ طَرَفَيِ الصَّحِيفَةِ»“Tidaklah dua malaikat penjaga mengangkat catatan amal seorang hamba kepada Allah dalam satu hari, lalu Allah melihat pada awal dan akhir catatan itu terdapat istigfar, melainkan Allah berfirman: ‘Aku telah mengampuni hamba-Ku atas dosa-dosa di antara awal dan akhir catatan tersebut.’”Kemudian beliau menyebutkan bahwa hadis ini diriwayatkan secara tunggal oleh Tammam bin Najih. Sebagian ulama menilainya baik, namun ada pula yang melemahkannya, bahkan sebagian menuduhnya meriwayatkan hadis-hadis palsu. Imam Ahmad berkata, “Aku belum mengetahui secara jelas keadaan sebenarnya dari dirinya.”Al-Bazzar juga meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً يَعْرِفُونَ بَنِي آدَمَ ـ وَأَحْسَبُهُ قَالَ: وَيَعْرِفُونَ أَعْمَالَهُمْ ـ فَإِذَا نَظَرُوا إِلَى عَبْدٍ يَعْمَلُ بِطَاعَةِ اللَّهِ ذَكَرُوهُ بَيْنَهُمْ وَسَمَّوْهُ وَقَالُوا: أَفْلَحَ اللَّيْلَةَ فُلَانٌ، نَجَا اللَّيْلَةَ فُلَانٌ، وَإِذَا نَظَرُوا إِلَى عَبْدٍ يَعْمَلُ بِمَعْصِيَةِ اللَّهِ ذَكَرُوهُ بَيْنَهُمْ وَسَمَّوْهُ وَقَالُوا: هَلَكَ اللَّيْلَةَ فُلَانٌ»“Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang mengenal anak Adam —dan aku kira beliau juga mengatakan: mereka mengenal amal-amal mereka—. Jika mereka melihat seorang hamba melakukan ketaatan kepada Allah, mereka menyebut namanya di antara sesama malaikat dan berkata: ‘Malam ini si fulan beruntung, malam ini si fulan selamat.’ Sebaliknya, jika mereka melihat seorang hamba melakukan maksiat kepada Allah, mereka menyebut namanya dan berkata: ‘Malam ini si fulan binasa.’”Namun Al-Bazzar menjelaskan bahwa dalam sanad hadis ini terdapat perawi bernama Salam Al-Madaini yang termasuk perawi lemah. Tidak Ada Amal yang Bisa DisembunyikanAllah Ta’ala berfirman,يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ ۝١٢“Mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Infithar: 10)Yakni, para malaikat itu mengetahui seluruh amal yang kalian lakukan. Tidak ada satu pun perbuatan yang tersembunyi dari mereka, baik ucapan maupun tindakan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Karena itu, janganlah kalian membalas keberadaan para malaikat mulia tersebut dengan melakukan perbuatan-perbuatan buruk, sebab mereka mencatat seluruh amal kalian.Demikian penjalasan dari Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya. —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Dzulqa’dah 1447 H, 29 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdosa dan taubat istigfar kajian akidah kiraman katibin malaikat hafazhah malaikat pencatat amal muhasabah diri pengawas amal rasa malu kepada Allah tafsir surat al infithar
Banyak orang merasa aman ketika berbuat dosa sendirian, padahal tidak pernah benar-benar sendirian. Allah telah menugaskan malaikat-malaikat mulia yang selalu mencatat setiap ucapan dan perbuatan manusia. Tulisan ini akan mengajak kita merenungkan bagaimana rasa malu kepada malaikat pencatat amal bisa menjadi penjaga diri dari dosa dan pengingat untuk memperbanyak istigfar.  Daftar Isi tutup 1. Malaikat yang Tak Pernah Lalai Mengawasi 2. Malaikat Mulia yang Mencatat Semua Amal 3. Tidak Ada Amal yang Bisa Disembunyikan  Malaikat yang Tak Pernah Lalai MengawasiAllah Ta’ala berfirman,وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ ۝١٠“Padahal sesungguhnya bagi kalian ada malaikat-malaikat yang mengawasi.” (QS. Al-Infithar: 10)Firman Allah Ta’ala, “Padahal sesungguhnya bagi kalian ada malaikat-malaikat yang mengawasi,” maksudnya, sesungguhnya di sisi kalian ada para malaikat yang bertugas menjaga dan mencatat amal perbuatan kalian. Mereka senantiasa mengawasi apa yang kalian lakukan, baik berupa kebaikan maupun keburukan. Malaikat Mulia yang Mencatat Semua AmalAllah Ta’ala berfirman,كِرَامًا كَاتِبِينَ ۝١١“Yang mulia lagi mencatat.” (QS. Al-Infithar: 11)Maksudnya, para malaikat itu adalah malaikat yang mulia di sisi Allah. Karena itu, janganlah kalian menghadapkan kepada mereka perbuatan-perbuatan buruk dan maksiat, sebab mereka mencatat seluruh amal yang kalian lakukan.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dengan sanadnya dari Mujahid, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«أَكْرِمُوا الْكِرَامَ الْكَاتِبِينَ الَّذِينَ لَا يُفَارِقُونَكُمْ إِلَّا عِنْدَ إِحْدَى حَالَتَيْنِ: الْجَنَابَةِ وَالْغَائِطِ، فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ بِحَرْمِ حَائِطٍ أَوْ بِبَعِيرِهِ أَوْ لِيَسْتُرْهُ أَخُوهُ»“Muliakanlah para malaikat pencatat amal yang mulia, yang tidak pernah berpisah dari kalian kecuali dalam dua keadaan: ketika junub dan ketika buang hajat. Karena itu, apabila salah seorang dari kalian mandi, hendaklah ia menutup diri di balik dinding, atau di balik untanya, atau ditutupi oleh saudaranya.”Al-Hafizh Abu Bakar Al-Bazzar juga meriwayatkan hadis serupa dengan lafaz lain dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«إِنَّ اللَّهَ يَنْهَاكُمْ عَنِ التَّعَرِّي، فَاسْتَحْيُوا مِنْ مَلَائِكَةِ اللَّهِ الَّذِينَ مَعَكُمُ الْكِرَامِ الْكَاتِبِينَ الَّذِينَ لَا يُفَارِقُونَكُمْ إِلَّا عِنْدَ إِحْدَى ثَلَاثِ حَالَاتٍ: الْغَائِطِ، وَالْجَنَابَةِ، وَالْغُسْلِ، فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ بِالْعَرَاءِ فَلْيَسْتَتِرْ بِثَوْبِهِ أَوْ بِحَرْمِ حَائِطٍ أَوْ بِبَعِيرِهِ»“Sesungguhnya Allah melarang kalian telanjang. Maka malulah kepada malaikat Allah yang bersama kalian, yaitu para malaikat mulia pencatat amal, yang tidak berpisah dari kalian kecuali dalam tiga keadaan: ketika buang hajat, junub, dan mandi. Jika salah seorang dari kalian mandi di tempat terbuka, hendaklah ia menutupi dirinya dengan kain, atau di balik dinding, atau di balik untanya.”Kemudian Al-Bazzar berkata bahwa Hafsh bin Sulaiman termasuk perawi yang lemah hafalannya, meskipun hadisnya masih ditulis dan dipertimbangkan.Al-Bazzar juga meriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«مَا مِنْ حَافِظَيْنِ يَرْفَعَانِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَا حَفِظَا فِي يَوْمٍ، فَيَرَى فِي أَوَّلِ الصَّحِيفَةِ وَفِي آخِرِهَا اسْتِغْفَارًا، إِلَّا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: قَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِي مَا بَيْنَ طَرَفَيِ الصَّحِيفَةِ»“Tidaklah dua malaikat penjaga mengangkat catatan amal seorang hamba kepada Allah dalam satu hari, lalu Allah melihat pada awal dan akhir catatan itu terdapat istigfar, melainkan Allah berfirman: ‘Aku telah mengampuni hamba-Ku atas dosa-dosa di antara awal dan akhir catatan tersebut.’”Kemudian beliau menyebutkan bahwa hadis ini diriwayatkan secara tunggal oleh Tammam bin Najih. Sebagian ulama menilainya baik, namun ada pula yang melemahkannya, bahkan sebagian menuduhnya meriwayatkan hadis-hadis palsu. Imam Ahmad berkata, “Aku belum mengetahui secara jelas keadaan sebenarnya dari dirinya.”Al-Bazzar juga meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً يَعْرِفُونَ بَنِي آدَمَ ـ وَأَحْسَبُهُ قَالَ: وَيَعْرِفُونَ أَعْمَالَهُمْ ـ فَإِذَا نَظَرُوا إِلَى عَبْدٍ يَعْمَلُ بِطَاعَةِ اللَّهِ ذَكَرُوهُ بَيْنَهُمْ وَسَمَّوْهُ وَقَالُوا: أَفْلَحَ اللَّيْلَةَ فُلَانٌ، نَجَا اللَّيْلَةَ فُلَانٌ، وَإِذَا نَظَرُوا إِلَى عَبْدٍ يَعْمَلُ بِمَعْصِيَةِ اللَّهِ ذَكَرُوهُ بَيْنَهُمْ وَسَمَّوْهُ وَقَالُوا: هَلَكَ اللَّيْلَةَ فُلَانٌ»“Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang mengenal anak Adam —dan aku kira beliau juga mengatakan: mereka mengenal amal-amal mereka—. Jika mereka melihat seorang hamba melakukan ketaatan kepada Allah, mereka menyebut namanya di antara sesama malaikat dan berkata: ‘Malam ini si fulan beruntung, malam ini si fulan selamat.’ Sebaliknya, jika mereka melihat seorang hamba melakukan maksiat kepada Allah, mereka menyebut namanya dan berkata: ‘Malam ini si fulan binasa.’”Namun Al-Bazzar menjelaskan bahwa dalam sanad hadis ini terdapat perawi bernama Salam Al-Madaini yang termasuk perawi lemah. Tidak Ada Amal yang Bisa DisembunyikanAllah Ta’ala berfirman,يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ ۝١٢“Mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Infithar: 10)Yakni, para malaikat itu mengetahui seluruh amal yang kalian lakukan. Tidak ada satu pun perbuatan yang tersembunyi dari mereka, baik ucapan maupun tindakan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Karena itu, janganlah kalian membalas keberadaan para malaikat mulia tersebut dengan melakukan perbuatan-perbuatan buruk, sebab mereka mencatat seluruh amal kalian.Demikian penjalasan dari Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya. —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Dzulqa’dah 1447 H, 29 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdosa dan taubat istigfar kajian akidah kiraman katibin malaikat hafazhah malaikat pencatat amal muhasabah diri pengawas amal rasa malu kepada Allah tafsir surat al infithar


Banyak orang merasa aman ketika berbuat dosa sendirian, padahal tidak pernah benar-benar sendirian. Allah telah menugaskan malaikat-malaikat mulia yang selalu mencatat setiap ucapan dan perbuatan manusia. Tulisan ini akan mengajak kita merenungkan bagaimana rasa malu kepada malaikat pencatat amal bisa menjadi penjaga diri dari dosa dan pengingat untuk memperbanyak istigfar.  Daftar Isi tutup 1. Malaikat yang Tak Pernah Lalai Mengawasi 2. Malaikat Mulia yang Mencatat Semua Amal 3. Tidak Ada Amal yang Bisa Disembunyikan  Malaikat yang Tak Pernah Lalai MengawasiAllah Ta’ala berfirman,وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ ۝١٠“Padahal sesungguhnya bagi kalian ada malaikat-malaikat yang mengawasi.” (QS. Al-Infithar: 10)Firman Allah Ta’ala, “Padahal sesungguhnya bagi kalian ada malaikat-malaikat yang mengawasi,” maksudnya, sesungguhnya di sisi kalian ada para malaikat yang bertugas menjaga dan mencatat amal perbuatan kalian. Mereka senantiasa mengawasi apa yang kalian lakukan, baik berupa kebaikan maupun keburukan. Malaikat Mulia yang Mencatat Semua AmalAllah Ta’ala berfirman,كِرَامًا كَاتِبِينَ ۝١١“Yang mulia lagi mencatat.” (QS. Al-Infithar: 11)Maksudnya, para malaikat itu adalah malaikat yang mulia di sisi Allah. Karena itu, janganlah kalian menghadapkan kepada mereka perbuatan-perbuatan buruk dan maksiat, sebab mereka mencatat seluruh amal yang kalian lakukan.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dengan sanadnya dari Mujahid, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«أَكْرِمُوا الْكِرَامَ الْكَاتِبِينَ الَّذِينَ لَا يُفَارِقُونَكُمْ إِلَّا عِنْدَ إِحْدَى حَالَتَيْنِ: الْجَنَابَةِ وَالْغَائِطِ، فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ بِحَرْمِ حَائِطٍ أَوْ بِبَعِيرِهِ أَوْ لِيَسْتُرْهُ أَخُوهُ»“Muliakanlah para malaikat pencatat amal yang mulia, yang tidak pernah berpisah dari kalian kecuali dalam dua keadaan: ketika junub dan ketika buang hajat. Karena itu, apabila salah seorang dari kalian mandi, hendaklah ia menutup diri di balik dinding, atau di balik untanya, atau ditutupi oleh saudaranya.”Al-Hafizh Abu Bakar Al-Bazzar juga meriwayatkan hadis serupa dengan lafaz lain dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«إِنَّ اللَّهَ يَنْهَاكُمْ عَنِ التَّعَرِّي، فَاسْتَحْيُوا مِنْ مَلَائِكَةِ اللَّهِ الَّذِينَ مَعَكُمُ الْكِرَامِ الْكَاتِبِينَ الَّذِينَ لَا يُفَارِقُونَكُمْ إِلَّا عِنْدَ إِحْدَى ثَلَاثِ حَالَاتٍ: الْغَائِطِ، وَالْجَنَابَةِ، وَالْغُسْلِ، فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ بِالْعَرَاءِ فَلْيَسْتَتِرْ بِثَوْبِهِ أَوْ بِحَرْمِ حَائِطٍ أَوْ بِبَعِيرِهِ»“Sesungguhnya Allah melarang kalian telanjang. Maka malulah kepada malaikat Allah yang bersama kalian, yaitu para malaikat mulia pencatat amal, yang tidak berpisah dari kalian kecuali dalam tiga keadaan: ketika buang hajat, junub, dan mandi. Jika salah seorang dari kalian mandi di tempat terbuka, hendaklah ia menutupi dirinya dengan kain, atau di balik dinding, atau di balik untanya.”Kemudian Al-Bazzar berkata bahwa Hafsh bin Sulaiman termasuk perawi yang lemah hafalannya, meskipun hadisnya masih ditulis dan dipertimbangkan.Al-Bazzar juga meriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«مَا مِنْ حَافِظَيْنِ يَرْفَعَانِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَا حَفِظَا فِي يَوْمٍ، فَيَرَى فِي أَوَّلِ الصَّحِيفَةِ وَفِي آخِرِهَا اسْتِغْفَارًا، إِلَّا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: قَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِي مَا بَيْنَ طَرَفَيِ الصَّحِيفَةِ»“Tidaklah dua malaikat penjaga mengangkat catatan amal seorang hamba kepada Allah dalam satu hari, lalu Allah melihat pada awal dan akhir catatan itu terdapat istigfar, melainkan Allah berfirman: ‘Aku telah mengampuni hamba-Ku atas dosa-dosa di antara awal dan akhir catatan tersebut.’”Kemudian beliau menyebutkan bahwa hadis ini diriwayatkan secara tunggal oleh Tammam bin Najih. Sebagian ulama menilainya baik, namun ada pula yang melemahkannya, bahkan sebagian menuduhnya meriwayatkan hadis-hadis palsu. Imam Ahmad berkata, “Aku belum mengetahui secara jelas keadaan sebenarnya dari dirinya.”Al-Bazzar juga meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً يَعْرِفُونَ بَنِي آدَمَ ـ وَأَحْسَبُهُ قَالَ: وَيَعْرِفُونَ أَعْمَالَهُمْ ـ فَإِذَا نَظَرُوا إِلَى عَبْدٍ يَعْمَلُ بِطَاعَةِ اللَّهِ ذَكَرُوهُ بَيْنَهُمْ وَسَمَّوْهُ وَقَالُوا: أَفْلَحَ اللَّيْلَةَ فُلَانٌ، نَجَا اللَّيْلَةَ فُلَانٌ، وَإِذَا نَظَرُوا إِلَى عَبْدٍ يَعْمَلُ بِمَعْصِيَةِ اللَّهِ ذَكَرُوهُ بَيْنَهُمْ وَسَمَّوْهُ وَقَالُوا: هَلَكَ اللَّيْلَةَ فُلَانٌ»“Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang mengenal anak Adam —dan aku kira beliau juga mengatakan: mereka mengenal amal-amal mereka—. Jika mereka melihat seorang hamba melakukan ketaatan kepada Allah, mereka menyebut namanya di antara sesama malaikat dan berkata: ‘Malam ini si fulan beruntung, malam ini si fulan selamat.’ Sebaliknya, jika mereka melihat seorang hamba melakukan maksiat kepada Allah, mereka menyebut namanya dan berkata: ‘Malam ini si fulan binasa.’”Namun Al-Bazzar menjelaskan bahwa dalam sanad hadis ini terdapat perawi bernama Salam Al-Madaini yang termasuk perawi lemah. Tidak Ada Amal yang Bisa DisembunyikanAllah Ta’ala berfirman,يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ ۝١٢“Mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Infithar: 10)Yakni, para malaikat itu mengetahui seluruh amal yang kalian lakukan. Tidak ada satu pun perbuatan yang tersembunyi dari mereka, baik ucapan maupun tindakan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Karena itu, janganlah kalian membalas keberadaan para malaikat mulia tersebut dengan melakukan perbuatan-perbuatan buruk, sebab mereka mencatat seluruh amal kalian.Demikian penjalasan dari Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya. —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Dzulqa’dah 1447 H, 29 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdosa dan taubat istigfar kajian akidah kiraman katibin malaikat hafazhah malaikat pencatat amal muhasabah diri pengawas amal rasa malu kepada Allah tafsir surat al infithar

Agar Para Malaikat Mendoakanmu

Oleh: Husain Ahmad Abdul Qadir Bismillah. Segala puji hanya bagi Allah . Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, juga kepada keluarga dan para sahabat seluruhnya. Amma ba’du: Dalam As-Sunnah An-Nabawiyah terdapat penjelasan agung untuk mengetahui amalan-amalan yang menjadi sebab para malaikat yang mulia mendoakan kita. dan doa dari para malaikat adalah doa yang mustajab dengan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ “Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6). Untuk menjelaskan pentingnya kesungguhan besar dalam menjalankan amalan-amalan yang menjadi sebab doa para malaikat yang mulia, Ibnu Baththal Rahimahullah mengatakan: “Siapa yang banyak dosanya, dan ingin agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menghapus dosa-dosa itu darinya tanpa harus berlelah-lelah, maka hendaklah ia berusaha tetap berada di tempat salatnya setelah melaksanakan salat, agar memperbanyak doa para malaikat yang mulia dan permohonan ampun mereka baginya, karena doa tersebut sangat besar harapannya untuk dikabulkan, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa: ‘Dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang Dia ridhai’ (QS. Al-Anbiya: 28). Rasul Shalallahu Alaihi Wassalam juga telah mengabarkan: ‘Siapa yang ucapan aminnya bersamaan dengan ucapan amin para malaikat, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni’ (HR. Al-Bukhari no. 6402). Dan ucapan amin para malaikat hanya sekali ketika imam mengucapkan amin saja. Sedangkan doa para malaikat bagi orang yang tetap duduk di tempat salatnya akan terus menerus dan berkelanjutan, selagi ia masih duduk di sana, sehingga itu lebih besar harapannya untuk dikabulkan.” (Disadur dari kitab Syarh Shahih Al-Bukhari jilid 2 hlm. 95). Berikut ini adalah penjelasan atas beberapa amalan yang dapat menjadi sebab doa malaikat yang mulia bagi kita. Amalan-amalan agung ini merupakan bekal bagi orang-orang beriman, agar bisa dikejar keutamaannya dan selalu diusahakan untuk diajarkan kepada orang lain: Pertama: Ketika kamu bersedekah Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Ta’ala anhu dari Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bahwa beliau bersabda: مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ، إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ، فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُولُ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا “Tidaklah satu hari para hamba memasuki waktu paginya, kecuali ada dua malaikat yang turun. Salah satunya berkata: ‘Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfak.’ Dan yang lainnya berkata: ‘Ya Allah, berilah kehancuran bagi orang yang pelit.’” (HR. Al-Bukhari no. 1442). Infak merupakan salah satu amalan yang paling agung dan mulia, ia memiliki keutamaan di dunia dan akhirat. Di antara keajaiban keutamaan tersebut adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala menugaskan para malaikat-Nya untuk berdoa bagi orang yang tekun mengerjakan amal saleh ini agar mendapat ganti atas harta yang ia infakkan, dan berdoa bagi orang yang menolak berinfak agar mendapat kehancuran. Dalam hadis tersebut terdapat dorongan besar untuk senantiasa konsisten bersedekah. Sungguh beruntung orang yang selalu yakin dengan ganti di dunia dan akhirat berkat kemurahan Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi orang yang telah bersedekah dan berinfak. Kedua: Ketika engkau menunggu pelaksanaan salat di Masjid Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ، مَا لَمْ يُحْدِثْ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ، لَا يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا دَامَتِ الصَّلَاةُ تَحْبِسُهُ، لَا يَمْنَعُهُ أَنْ يَنْقَلِبَ إِلَى أَهْلِهِ إِلَّا الصَّلَاةُ “Malaikat senantiasa mendoakan salah seorang dari kalian selama ia berada di tempat salatnya, selama ia belum berhadats dengan doa: ‘Ya Allah, ampunilah dia, ya Allah, rahmatilah dia.’ Dan seseorang di antara kalian tetap dianggap mengerjakan salat selama salat itu menahannya (di tempat salatnya), tidak ada yang menahannya untuk kembali kepada keluarganya kecuali salat.” (HR. Al-Bukhari no. 659). Oleh sebab itu, wahai saudaraku yang mulia, barang siapa yang hatinya terpaut dengan Masjid dan sungguh-sungguh dalam memanfaatkan kesempatan menunggu pelaksanaan salat, maka ia telah mengetuk salah satu pintu agung dari pintu-pintu rahmat dan kebaikan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Pemberi rasa aman, Maha Baik, Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang. Ketiga: Ketika engkau mengajarkan kebaikan kepada orang lain Diriwayatkan dari Abu Umamah Al-Bahili Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Pernah disebutkan kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam dua orang, salah satunya ahli ibadah, dan yang lainnya orang berilmu. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bersabda: “Keutamaan orang berilmu atas ahli ibadah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara kalian.” Kemudian beliau menambahkan: “Sesungguhnya Allah, para malaikat, serta penghuni langit dan bumi, bahkan seekor semut di sarangnya dan bahkan juga ikan paus, semuanya bersalawat bagi orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. At-Tirmidzi no. 2685). Mengajarkan kebaikan kepada orang lain adalah jalan hidup seorang Muslim. Siapa yang menghayati kebaikan-kebaikan yang ada pada amalan menunjukkan kebaikan dan berpegang pada perkara-perkara yang utama, maka sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengaruniakannya sungai kebaikan yang terus mengalir, sehingga makhluk-makhluk selalu mendoakannya di setiap pagi dan petang.  Keempat: Ketika menjenguk orang sakit dan mengunjungi saudara karena mengharap ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ عَادَ مَرِيضًا، أَوْ زَارَ أَخًا لَهُ فِي اللَّهِ، نَادَاهُ مُنَادٍ: أَنْ طِبْتَ وَطَابَ مَمْشَاكَ، وَتَبَوَّأْتَ مِنَ الْجَنَّةِ مَنْزِلًا “Barang siapa yang menjenguk orang sakit, atau mengunjungi saudaranya seiman, maka akan ada penyeru yang berseru: ‘Semoga engkau baik, langkahmu baik, dan menempati tempat tinggal di surga.” (HR. At-Tirmidzi no. 2008). Hadis yang mulia ini mendukung penguatan persaudaraan antara kaum Muslimin dan saling mengunjungi. Siapa yang ingin menempati tempat-tempat agung di surga, hendaklah ia tekun mengunjungi saudara dan menjenguk orang sakit. Ada sebagian kaum Muslimin yang pergi ke rumah sakit untuk menjenguk saudaranya seiman yang belum pernah mereka kenal sebelumnya, dan ini merupakan tanda keimanan dan bukti kebaikan. Kelima: Mendoakan orang lain Diriwayatkan dari Shafwan bin Abdullah bin Shafwan Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku sampai di negeri Syam lalu mendatangi Abu Ad-Darda di rumahnya, tapi aku tidak mendapatinya di rumah, dan hanya mendapati Ummu Ad-Darda. Ummu Ad-Darda lalu bertanya kepadaku: ‘Apakah engkau akan pergi haji tahun ini?’ Aku pun menjawab: ‘Ya.’ Ia berkata: ‘Kalau begitu, doakanlah kebaikan untuk kami, karena Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda: دَعْوَةُ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ، كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينَ، وَلَكَ بِمِثْلٍ ‘Doa seorang Muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya adalah doa mustajab. Di dekat kepalanya ada malaikat yang ditugaskan, setiap kali ia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, malaikat itu berkata: ‘Amin, dan bagimu seperti itu pula.’” (HR. Muslim no. 2733). Di antara tanda paling jelas dari hati yang bersih adalah mendoakan kaum Muslimin tanpa sepengetahuan mereka. Seorang mukmin akan selalu berusaha mendoakan saudara-saudaranya agar mendapat jalan keluar dari musibah mereka, hilang kegelisahan mereka, dan ditambah rezeki mereka, mendoakan seluruh kaum Muslimin dan umat Islam dengan kebaikan, dan keselamatan di dunia dan akhirat. Keenam: Ketika engkau makan sahur Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ، فَلَا تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةَ مَاءٍ؛ فَإِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ “Sahur adalah makanan yang diberkahi, maka janganlah kalian meninggalkannya meski hanya dengan meneguk seteguk air, karena Allah dan para malaikat-Nya bersalawat kepada orang-orang yang sahur.” (Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 1070). Termasuk dalam keutamaan hadis yang mulia ini orang yang berkontribusi menyiapkan makanan sahur dan yang membangunkan orang-orang untuk sahur, karena orang yang mengajak kepada kebaikan seperti orang yang melakukan kebaikan itu, sebagaimana yang telah disampaikan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam kepada kita. Ketujuh: ketika engkau salat di shaf pertama Diriwayatkan dari Al-Bara bin Azib Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:  لَا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ، وَكَانَ يَقُولُ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الصُّفُوفِ الْأُوَلِ، لَا تَخْتَلِفْ صُفُوفُكُمْ فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ، إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الصَّفِّ الْأَوَّلِ “Janganlah kalian berselisih, sehingga hati kalian menjadi berselisih.” Dan beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang ada di shaf-shaf pertama. Janganlah barisan kalian tidak beraturan, sehingga hati kalian menjadi saling berselisih. Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang yang ada di shaf yang pertama.” (Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 513). Salat di shaf pertama adalah salah satu bukti terkuat atas tulusnya jawaban seorang hamba terhadap panggilan Tuhannya Subhanahu wa Ta’ala. Barang siapa yang mendapat barisan di shaf pertama ketika salat, maka ia termasuk orang-orang yang beruntung dan meraih rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Pemurah. Kedelapan: Ketika engkau menyambung shaf-shaf salat Diriwayatkan dari Ummul Mu’minin Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الَّذِينَ يَصِلُونَ الصُّفُوفَ، وَمَنْ سَدَّ فُرْجَةً رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang menyambung (merapatkan) shaf. Barang siapa yang menutup celah di shaf, maka Allah akan meninggikan satu derajatnya.” (HR. Ibnu Majah: 821). Menyambung atau merapatkan shaf dalam salat termasuk amalan yang sangat mudah dilakukan, amalan yang membutuhkan konsistensi dalam setiap salat dan para jemaah salat harus diingatkan tentang keutamaan dan besarnya pengaruhnya. Dalam amalan ini terdapat tiga keutamaan besar, yaitu rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, doa para malaikat ‘alaihimussalam, dan peningkatan derajat. Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Mulia lagi Maha Agung agar mengaruniakan kepada kita keridhaan-Nya, memberi kenikmatan kepada kita dengan kebaikan-Nya, dan mengampuni kita, orang tua kita, dan kaum Muslimin seluruhnya.  Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan semesta alam. Salat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam, dan kepada keluarga dan para sahabat beliau semua, serta orang-orang yang mengikuti jejak beliau dengan sebaik-baiknya hingga hari kiamat. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/123338/كيف-تدعو-لك-الملائكة-عليهم-الصلاة-والسلام؟/ Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 183 times, 1 visit(s) today Post Views: 152

Agar Para Malaikat Mendoakanmu

Oleh: Husain Ahmad Abdul Qadir Bismillah. Segala puji hanya bagi Allah . Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, juga kepada keluarga dan para sahabat seluruhnya. Amma ba’du: Dalam As-Sunnah An-Nabawiyah terdapat penjelasan agung untuk mengetahui amalan-amalan yang menjadi sebab para malaikat yang mulia mendoakan kita. dan doa dari para malaikat adalah doa yang mustajab dengan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ “Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6). Untuk menjelaskan pentingnya kesungguhan besar dalam menjalankan amalan-amalan yang menjadi sebab doa para malaikat yang mulia, Ibnu Baththal Rahimahullah mengatakan: “Siapa yang banyak dosanya, dan ingin agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menghapus dosa-dosa itu darinya tanpa harus berlelah-lelah, maka hendaklah ia berusaha tetap berada di tempat salatnya setelah melaksanakan salat, agar memperbanyak doa para malaikat yang mulia dan permohonan ampun mereka baginya, karena doa tersebut sangat besar harapannya untuk dikabulkan, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa: ‘Dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang Dia ridhai’ (QS. Al-Anbiya: 28). Rasul Shalallahu Alaihi Wassalam juga telah mengabarkan: ‘Siapa yang ucapan aminnya bersamaan dengan ucapan amin para malaikat, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni’ (HR. Al-Bukhari no. 6402). Dan ucapan amin para malaikat hanya sekali ketika imam mengucapkan amin saja. Sedangkan doa para malaikat bagi orang yang tetap duduk di tempat salatnya akan terus menerus dan berkelanjutan, selagi ia masih duduk di sana, sehingga itu lebih besar harapannya untuk dikabulkan.” (Disadur dari kitab Syarh Shahih Al-Bukhari jilid 2 hlm. 95). Berikut ini adalah penjelasan atas beberapa amalan yang dapat menjadi sebab doa malaikat yang mulia bagi kita. Amalan-amalan agung ini merupakan bekal bagi orang-orang beriman, agar bisa dikejar keutamaannya dan selalu diusahakan untuk diajarkan kepada orang lain: Pertama: Ketika kamu bersedekah Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Ta’ala anhu dari Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bahwa beliau bersabda: مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ، إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ، فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُولُ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا “Tidaklah satu hari para hamba memasuki waktu paginya, kecuali ada dua malaikat yang turun. Salah satunya berkata: ‘Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfak.’ Dan yang lainnya berkata: ‘Ya Allah, berilah kehancuran bagi orang yang pelit.’” (HR. Al-Bukhari no. 1442). Infak merupakan salah satu amalan yang paling agung dan mulia, ia memiliki keutamaan di dunia dan akhirat. Di antara keajaiban keutamaan tersebut adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala menugaskan para malaikat-Nya untuk berdoa bagi orang yang tekun mengerjakan amal saleh ini agar mendapat ganti atas harta yang ia infakkan, dan berdoa bagi orang yang menolak berinfak agar mendapat kehancuran. Dalam hadis tersebut terdapat dorongan besar untuk senantiasa konsisten bersedekah. Sungguh beruntung orang yang selalu yakin dengan ganti di dunia dan akhirat berkat kemurahan Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi orang yang telah bersedekah dan berinfak. Kedua: Ketika engkau menunggu pelaksanaan salat di Masjid Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ، مَا لَمْ يُحْدِثْ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ، لَا يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا دَامَتِ الصَّلَاةُ تَحْبِسُهُ، لَا يَمْنَعُهُ أَنْ يَنْقَلِبَ إِلَى أَهْلِهِ إِلَّا الصَّلَاةُ “Malaikat senantiasa mendoakan salah seorang dari kalian selama ia berada di tempat salatnya, selama ia belum berhadats dengan doa: ‘Ya Allah, ampunilah dia, ya Allah, rahmatilah dia.’ Dan seseorang di antara kalian tetap dianggap mengerjakan salat selama salat itu menahannya (di tempat salatnya), tidak ada yang menahannya untuk kembali kepada keluarganya kecuali salat.” (HR. Al-Bukhari no. 659). Oleh sebab itu, wahai saudaraku yang mulia, barang siapa yang hatinya terpaut dengan Masjid dan sungguh-sungguh dalam memanfaatkan kesempatan menunggu pelaksanaan salat, maka ia telah mengetuk salah satu pintu agung dari pintu-pintu rahmat dan kebaikan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Pemberi rasa aman, Maha Baik, Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang. Ketiga: Ketika engkau mengajarkan kebaikan kepada orang lain Diriwayatkan dari Abu Umamah Al-Bahili Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Pernah disebutkan kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam dua orang, salah satunya ahli ibadah, dan yang lainnya orang berilmu. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bersabda: “Keutamaan orang berilmu atas ahli ibadah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara kalian.” Kemudian beliau menambahkan: “Sesungguhnya Allah, para malaikat, serta penghuni langit dan bumi, bahkan seekor semut di sarangnya dan bahkan juga ikan paus, semuanya bersalawat bagi orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. At-Tirmidzi no. 2685). Mengajarkan kebaikan kepada orang lain adalah jalan hidup seorang Muslim. Siapa yang menghayati kebaikan-kebaikan yang ada pada amalan menunjukkan kebaikan dan berpegang pada perkara-perkara yang utama, maka sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengaruniakannya sungai kebaikan yang terus mengalir, sehingga makhluk-makhluk selalu mendoakannya di setiap pagi dan petang.  Keempat: Ketika menjenguk orang sakit dan mengunjungi saudara karena mengharap ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ عَادَ مَرِيضًا، أَوْ زَارَ أَخًا لَهُ فِي اللَّهِ، نَادَاهُ مُنَادٍ: أَنْ طِبْتَ وَطَابَ مَمْشَاكَ، وَتَبَوَّأْتَ مِنَ الْجَنَّةِ مَنْزِلًا “Barang siapa yang menjenguk orang sakit, atau mengunjungi saudaranya seiman, maka akan ada penyeru yang berseru: ‘Semoga engkau baik, langkahmu baik, dan menempati tempat tinggal di surga.” (HR. At-Tirmidzi no. 2008). Hadis yang mulia ini mendukung penguatan persaudaraan antara kaum Muslimin dan saling mengunjungi. Siapa yang ingin menempati tempat-tempat agung di surga, hendaklah ia tekun mengunjungi saudara dan menjenguk orang sakit. Ada sebagian kaum Muslimin yang pergi ke rumah sakit untuk menjenguk saudaranya seiman yang belum pernah mereka kenal sebelumnya, dan ini merupakan tanda keimanan dan bukti kebaikan. Kelima: Mendoakan orang lain Diriwayatkan dari Shafwan bin Abdullah bin Shafwan Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku sampai di negeri Syam lalu mendatangi Abu Ad-Darda di rumahnya, tapi aku tidak mendapatinya di rumah, dan hanya mendapati Ummu Ad-Darda. Ummu Ad-Darda lalu bertanya kepadaku: ‘Apakah engkau akan pergi haji tahun ini?’ Aku pun menjawab: ‘Ya.’ Ia berkata: ‘Kalau begitu, doakanlah kebaikan untuk kami, karena Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda: دَعْوَةُ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ، كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينَ، وَلَكَ بِمِثْلٍ ‘Doa seorang Muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya adalah doa mustajab. Di dekat kepalanya ada malaikat yang ditugaskan, setiap kali ia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, malaikat itu berkata: ‘Amin, dan bagimu seperti itu pula.’” (HR. Muslim no. 2733). Di antara tanda paling jelas dari hati yang bersih adalah mendoakan kaum Muslimin tanpa sepengetahuan mereka. Seorang mukmin akan selalu berusaha mendoakan saudara-saudaranya agar mendapat jalan keluar dari musibah mereka, hilang kegelisahan mereka, dan ditambah rezeki mereka, mendoakan seluruh kaum Muslimin dan umat Islam dengan kebaikan, dan keselamatan di dunia dan akhirat. Keenam: Ketika engkau makan sahur Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ، فَلَا تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةَ مَاءٍ؛ فَإِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ “Sahur adalah makanan yang diberkahi, maka janganlah kalian meninggalkannya meski hanya dengan meneguk seteguk air, karena Allah dan para malaikat-Nya bersalawat kepada orang-orang yang sahur.” (Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 1070). Termasuk dalam keutamaan hadis yang mulia ini orang yang berkontribusi menyiapkan makanan sahur dan yang membangunkan orang-orang untuk sahur, karena orang yang mengajak kepada kebaikan seperti orang yang melakukan kebaikan itu, sebagaimana yang telah disampaikan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam kepada kita. Ketujuh: ketika engkau salat di shaf pertama Diriwayatkan dari Al-Bara bin Azib Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:  لَا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ، وَكَانَ يَقُولُ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الصُّفُوفِ الْأُوَلِ، لَا تَخْتَلِفْ صُفُوفُكُمْ فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ، إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الصَّفِّ الْأَوَّلِ “Janganlah kalian berselisih, sehingga hati kalian menjadi berselisih.” Dan beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang ada di shaf-shaf pertama. Janganlah barisan kalian tidak beraturan, sehingga hati kalian menjadi saling berselisih. Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang yang ada di shaf yang pertama.” (Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 513). Salat di shaf pertama adalah salah satu bukti terkuat atas tulusnya jawaban seorang hamba terhadap panggilan Tuhannya Subhanahu wa Ta’ala. Barang siapa yang mendapat barisan di shaf pertama ketika salat, maka ia termasuk orang-orang yang beruntung dan meraih rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Pemurah. Kedelapan: Ketika engkau menyambung shaf-shaf salat Diriwayatkan dari Ummul Mu’minin Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الَّذِينَ يَصِلُونَ الصُّفُوفَ، وَمَنْ سَدَّ فُرْجَةً رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang menyambung (merapatkan) shaf. Barang siapa yang menutup celah di shaf, maka Allah akan meninggikan satu derajatnya.” (HR. Ibnu Majah: 821). Menyambung atau merapatkan shaf dalam salat termasuk amalan yang sangat mudah dilakukan, amalan yang membutuhkan konsistensi dalam setiap salat dan para jemaah salat harus diingatkan tentang keutamaan dan besarnya pengaruhnya. Dalam amalan ini terdapat tiga keutamaan besar, yaitu rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, doa para malaikat ‘alaihimussalam, dan peningkatan derajat. Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Mulia lagi Maha Agung agar mengaruniakan kepada kita keridhaan-Nya, memberi kenikmatan kepada kita dengan kebaikan-Nya, dan mengampuni kita, orang tua kita, dan kaum Muslimin seluruhnya.  Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan semesta alam. Salat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam, dan kepada keluarga dan para sahabat beliau semua, serta orang-orang yang mengikuti jejak beliau dengan sebaik-baiknya hingga hari kiamat. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/123338/كيف-تدعو-لك-الملائكة-عليهم-الصلاة-والسلام؟/ Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 183 times, 1 visit(s) today Post Views: 152
Oleh: Husain Ahmad Abdul Qadir Bismillah. Segala puji hanya bagi Allah . Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, juga kepada keluarga dan para sahabat seluruhnya. Amma ba’du: Dalam As-Sunnah An-Nabawiyah terdapat penjelasan agung untuk mengetahui amalan-amalan yang menjadi sebab para malaikat yang mulia mendoakan kita. dan doa dari para malaikat adalah doa yang mustajab dengan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ “Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6). Untuk menjelaskan pentingnya kesungguhan besar dalam menjalankan amalan-amalan yang menjadi sebab doa para malaikat yang mulia, Ibnu Baththal Rahimahullah mengatakan: “Siapa yang banyak dosanya, dan ingin agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menghapus dosa-dosa itu darinya tanpa harus berlelah-lelah, maka hendaklah ia berusaha tetap berada di tempat salatnya setelah melaksanakan salat, agar memperbanyak doa para malaikat yang mulia dan permohonan ampun mereka baginya, karena doa tersebut sangat besar harapannya untuk dikabulkan, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa: ‘Dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang Dia ridhai’ (QS. Al-Anbiya: 28). Rasul Shalallahu Alaihi Wassalam juga telah mengabarkan: ‘Siapa yang ucapan aminnya bersamaan dengan ucapan amin para malaikat, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni’ (HR. Al-Bukhari no. 6402). Dan ucapan amin para malaikat hanya sekali ketika imam mengucapkan amin saja. Sedangkan doa para malaikat bagi orang yang tetap duduk di tempat salatnya akan terus menerus dan berkelanjutan, selagi ia masih duduk di sana, sehingga itu lebih besar harapannya untuk dikabulkan.” (Disadur dari kitab Syarh Shahih Al-Bukhari jilid 2 hlm. 95). Berikut ini adalah penjelasan atas beberapa amalan yang dapat menjadi sebab doa malaikat yang mulia bagi kita. Amalan-amalan agung ini merupakan bekal bagi orang-orang beriman, agar bisa dikejar keutamaannya dan selalu diusahakan untuk diajarkan kepada orang lain: Pertama: Ketika kamu bersedekah Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Ta’ala anhu dari Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bahwa beliau bersabda: مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ، إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ، فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُولُ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا “Tidaklah satu hari para hamba memasuki waktu paginya, kecuali ada dua malaikat yang turun. Salah satunya berkata: ‘Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfak.’ Dan yang lainnya berkata: ‘Ya Allah, berilah kehancuran bagi orang yang pelit.’” (HR. Al-Bukhari no. 1442). Infak merupakan salah satu amalan yang paling agung dan mulia, ia memiliki keutamaan di dunia dan akhirat. Di antara keajaiban keutamaan tersebut adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala menugaskan para malaikat-Nya untuk berdoa bagi orang yang tekun mengerjakan amal saleh ini agar mendapat ganti atas harta yang ia infakkan, dan berdoa bagi orang yang menolak berinfak agar mendapat kehancuran. Dalam hadis tersebut terdapat dorongan besar untuk senantiasa konsisten bersedekah. Sungguh beruntung orang yang selalu yakin dengan ganti di dunia dan akhirat berkat kemurahan Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi orang yang telah bersedekah dan berinfak. Kedua: Ketika engkau menunggu pelaksanaan salat di Masjid Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ، مَا لَمْ يُحْدِثْ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ، لَا يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا دَامَتِ الصَّلَاةُ تَحْبِسُهُ، لَا يَمْنَعُهُ أَنْ يَنْقَلِبَ إِلَى أَهْلِهِ إِلَّا الصَّلَاةُ “Malaikat senantiasa mendoakan salah seorang dari kalian selama ia berada di tempat salatnya, selama ia belum berhadats dengan doa: ‘Ya Allah, ampunilah dia, ya Allah, rahmatilah dia.’ Dan seseorang di antara kalian tetap dianggap mengerjakan salat selama salat itu menahannya (di tempat salatnya), tidak ada yang menahannya untuk kembali kepada keluarganya kecuali salat.” (HR. Al-Bukhari no. 659). Oleh sebab itu, wahai saudaraku yang mulia, barang siapa yang hatinya terpaut dengan Masjid dan sungguh-sungguh dalam memanfaatkan kesempatan menunggu pelaksanaan salat, maka ia telah mengetuk salah satu pintu agung dari pintu-pintu rahmat dan kebaikan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Pemberi rasa aman, Maha Baik, Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang. Ketiga: Ketika engkau mengajarkan kebaikan kepada orang lain Diriwayatkan dari Abu Umamah Al-Bahili Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Pernah disebutkan kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam dua orang, salah satunya ahli ibadah, dan yang lainnya orang berilmu. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bersabda: “Keutamaan orang berilmu atas ahli ibadah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara kalian.” Kemudian beliau menambahkan: “Sesungguhnya Allah, para malaikat, serta penghuni langit dan bumi, bahkan seekor semut di sarangnya dan bahkan juga ikan paus, semuanya bersalawat bagi orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. At-Tirmidzi no. 2685). Mengajarkan kebaikan kepada orang lain adalah jalan hidup seorang Muslim. Siapa yang menghayati kebaikan-kebaikan yang ada pada amalan menunjukkan kebaikan dan berpegang pada perkara-perkara yang utama, maka sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengaruniakannya sungai kebaikan yang terus mengalir, sehingga makhluk-makhluk selalu mendoakannya di setiap pagi dan petang.  Keempat: Ketika menjenguk orang sakit dan mengunjungi saudara karena mengharap ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ عَادَ مَرِيضًا، أَوْ زَارَ أَخًا لَهُ فِي اللَّهِ، نَادَاهُ مُنَادٍ: أَنْ طِبْتَ وَطَابَ مَمْشَاكَ، وَتَبَوَّأْتَ مِنَ الْجَنَّةِ مَنْزِلًا “Barang siapa yang menjenguk orang sakit, atau mengunjungi saudaranya seiman, maka akan ada penyeru yang berseru: ‘Semoga engkau baik, langkahmu baik, dan menempati tempat tinggal di surga.” (HR. At-Tirmidzi no. 2008). Hadis yang mulia ini mendukung penguatan persaudaraan antara kaum Muslimin dan saling mengunjungi. Siapa yang ingin menempati tempat-tempat agung di surga, hendaklah ia tekun mengunjungi saudara dan menjenguk orang sakit. Ada sebagian kaum Muslimin yang pergi ke rumah sakit untuk menjenguk saudaranya seiman yang belum pernah mereka kenal sebelumnya, dan ini merupakan tanda keimanan dan bukti kebaikan. Kelima: Mendoakan orang lain Diriwayatkan dari Shafwan bin Abdullah bin Shafwan Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku sampai di negeri Syam lalu mendatangi Abu Ad-Darda di rumahnya, tapi aku tidak mendapatinya di rumah, dan hanya mendapati Ummu Ad-Darda. Ummu Ad-Darda lalu bertanya kepadaku: ‘Apakah engkau akan pergi haji tahun ini?’ Aku pun menjawab: ‘Ya.’ Ia berkata: ‘Kalau begitu, doakanlah kebaikan untuk kami, karena Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda: دَعْوَةُ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ، كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينَ، وَلَكَ بِمِثْلٍ ‘Doa seorang Muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya adalah doa mustajab. Di dekat kepalanya ada malaikat yang ditugaskan, setiap kali ia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, malaikat itu berkata: ‘Amin, dan bagimu seperti itu pula.’” (HR. Muslim no. 2733). Di antara tanda paling jelas dari hati yang bersih adalah mendoakan kaum Muslimin tanpa sepengetahuan mereka. Seorang mukmin akan selalu berusaha mendoakan saudara-saudaranya agar mendapat jalan keluar dari musibah mereka, hilang kegelisahan mereka, dan ditambah rezeki mereka, mendoakan seluruh kaum Muslimin dan umat Islam dengan kebaikan, dan keselamatan di dunia dan akhirat. Keenam: Ketika engkau makan sahur Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ، فَلَا تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةَ مَاءٍ؛ فَإِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ “Sahur adalah makanan yang diberkahi, maka janganlah kalian meninggalkannya meski hanya dengan meneguk seteguk air, karena Allah dan para malaikat-Nya bersalawat kepada orang-orang yang sahur.” (Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 1070). Termasuk dalam keutamaan hadis yang mulia ini orang yang berkontribusi menyiapkan makanan sahur dan yang membangunkan orang-orang untuk sahur, karena orang yang mengajak kepada kebaikan seperti orang yang melakukan kebaikan itu, sebagaimana yang telah disampaikan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam kepada kita. Ketujuh: ketika engkau salat di shaf pertama Diriwayatkan dari Al-Bara bin Azib Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:  لَا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ، وَكَانَ يَقُولُ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الصُّفُوفِ الْأُوَلِ، لَا تَخْتَلِفْ صُفُوفُكُمْ فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ، إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الصَّفِّ الْأَوَّلِ “Janganlah kalian berselisih, sehingga hati kalian menjadi berselisih.” Dan beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang ada di shaf-shaf pertama. Janganlah barisan kalian tidak beraturan, sehingga hati kalian menjadi saling berselisih. Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang yang ada di shaf yang pertama.” (Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 513). Salat di shaf pertama adalah salah satu bukti terkuat atas tulusnya jawaban seorang hamba terhadap panggilan Tuhannya Subhanahu wa Ta’ala. Barang siapa yang mendapat barisan di shaf pertama ketika salat, maka ia termasuk orang-orang yang beruntung dan meraih rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Pemurah. Kedelapan: Ketika engkau menyambung shaf-shaf salat Diriwayatkan dari Ummul Mu’minin Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الَّذِينَ يَصِلُونَ الصُّفُوفَ، وَمَنْ سَدَّ فُرْجَةً رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang menyambung (merapatkan) shaf. Barang siapa yang menutup celah di shaf, maka Allah akan meninggikan satu derajatnya.” (HR. Ibnu Majah: 821). Menyambung atau merapatkan shaf dalam salat termasuk amalan yang sangat mudah dilakukan, amalan yang membutuhkan konsistensi dalam setiap salat dan para jemaah salat harus diingatkan tentang keutamaan dan besarnya pengaruhnya. Dalam amalan ini terdapat tiga keutamaan besar, yaitu rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, doa para malaikat ‘alaihimussalam, dan peningkatan derajat. Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Mulia lagi Maha Agung agar mengaruniakan kepada kita keridhaan-Nya, memberi kenikmatan kepada kita dengan kebaikan-Nya, dan mengampuni kita, orang tua kita, dan kaum Muslimin seluruhnya.  Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan semesta alam. Salat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam, dan kepada keluarga dan para sahabat beliau semua, serta orang-orang yang mengikuti jejak beliau dengan sebaik-baiknya hingga hari kiamat. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/123338/كيف-تدعو-لك-الملائكة-عليهم-الصلاة-والسلام؟/ Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 183 times, 1 visit(s) today Post Views: 152


Oleh: Husain Ahmad Abdul Qadir Bismillah. Segala puji hanya bagi Allah . Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, juga kepada keluarga dan para sahabat seluruhnya. Amma ba’du: Dalam As-Sunnah An-Nabawiyah terdapat penjelasan agung untuk mengetahui amalan-amalan yang menjadi sebab para malaikat yang mulia mendoakan kita. dan doa dari para malaikat adalah doa yang mustajab dengan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ “Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6). Untuk menjelaskan pentingnya kesungguhan besar dalam menjalankan amalan-amalan yang menjadi sebab doa para malaikat yang mulia, Ibnu Baththal Rahimahullah mengatakan: “Siapa yang banyak dosanya, dan ingin agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menghapus dosa-dosa itu darinya tanpa harus berlelah-lelah, maka hendaklah ia berusaha tetap berada di tempat salatnya setelah melaksanakan salat, agar memperbanyak doa para malaikat yang mulia dan permohonan ampun mereka baginya, karena doa tersebut sangat besar harapannya untuk dikabulkan, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa: ‘Dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang Dia ridhai’ (QS. Al-Anbiya: 28). Rasul Shalallahu Alaihi Wassalam juga telah mengabarkan: ‘Siapa yang ucapan aminnya bersamaan dengan ucapan amin para malaikat, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni’ (HR. Al-Bukhari no. 6402). Dan ucapan amin para malaikat hanya sekali ketika imam mengucapkan amin saja. Sedangkan doa para malaikat bagi orang yang tetap duduk di tempat salatnya akan terus menerus dan berkelanjutan, selagi ia masih duduk di sana, sehingga itu lebih besar harapannya untuk dikabulkan.” (Disadur dari kitab Syarh Shahih Al-Bukhari jilid 2 hlm. 95). Berikut ini adalah penjelasan atas beberapa amalan yang dapat menjadi sebab doa malaikat yang mulia bagi kita. Amalan-amalan agung ini merupakan bekal bagi orang-orang beriman, agar bisa dikejar keutamaannya dan selalu diusahakan untuk diajarkan kepada orang lain: Pertama: Ketika kamu bersedekah Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Ta’ala anhu dari Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bahwa beliau bersabda: مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ، إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ، فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُولُ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا “Tidaklah satu hari para hamba memasuki waktu paginya, kecuali ada dua malaikat yang turun. Salah satunya berkata: ‘Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfak.’ Dan yang lainnya berkata: ‘Ya Allah, berilah kehancuran bagi orang yang pelit.’” (HR. Al-Bukhari no. 1442). Infak merupakan salah satu amalan yang paling agung dan mulia, ia memiliki keutamaan di dunia dan akhirat. Di antara keajaiban keutamaan tersebut adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala menugaskan para malaikat-Nya untuk berdoa bagi orang yang tekun mengerjakan amal saleh ini agar mendapat ganti atas harta yang ia infakkan, dan berdoa bagi orang yang menolak berinfak agar mendapat kehancuran. Dalam hadis tersebut terdapat dorongan besar untuk senantiasa konsisten bersedekah. Sungguh beruntung orang yang selalu yakin dengan ganti di dunia dan akhirat berkat kemurahan Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi orang yang telah bersedekah dan berinfak. Kedua: Ketika engkau menunggu pelaksanaan salat di Masjid Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ، مَا لَمْ يُحْدِثْ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ، لَا يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا دَامَتِ الصَّلَاةُ تَحْبِسُهُ، لَا يَمْنَعُهُ أَنْ يَنْقَلِبَ إِلَى أَهْلِهِ إِلَّا الصَّلَاةُ “Malaikat senantiasa mendoakan salah seorang dari kalian selama ia berada di tempat salatnya, selama ia belum berhadats dengan doa: ‘Ya Allah, ampunilah dia, ya Allah, rahmatilah dia.’ Dan seseorang di antara kalian tetap dianggap mengerjakan salat selama salat itu menahannya (di tempat salatnya), tidak ada yang menahannya untuk kembali kepada keluarganya kecuali salat.” (HR. Al-Bukhari no. 659). Oleh sebab itu, wahai saudaraku yang mulia, barang siapa yang hatinya terpaut dengan Masjid dan sungguh-sungguh dalam memanfaatkan kesempatan menunggu pelaksanaan salat, maka ia telah mengetuk salah satu pintu agung dari pintu-pintu rahmat dan kebaikan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Pemberi rasa aman, Maha Baik, Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang. Ketiga: Ketika engkau mengajarkan kebaikan kepada orang lain Diriwayatkan dari Abu Umamah Al-Bahili Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Pernah disebutkan kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam dua orang, salah satunya ahli ibadah, dan yang lainnya orang berilmu. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bersabda: “Keutamaan orang berilmu atas ahli ibadah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara kalian.” Kemudian beliau menambahkan: “Sesungguhnya Allah, para malaikat, serta penghuni langit dan bumi, bahkan seekor semut di sarangnya dan bahkan juga ikan paus, semuanya bersalawat bagi orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. At-Tirmidzi no. 2685). Mengajarkan kebaikan kepada orang lain adalah jalan hidup seorang Muslim. Siapa yang menghayati kebaikan-kebaikan yang ada pada amalan menunjukkan kebaikan dan berpegang pada perkara-perkara yang utama, maka sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengaruniakannya sungai kebaikan yang terus mengalir, sehingga makhluk-makhluk selalu mendoakannya di setiap pagi dan petang.  Keempat: Ketika menjenguk orang sakit dan mengunjungi saudara karena mengharap ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ عَادَ مَرِيضًا، أَوْ زَارَ أَخًا لَهُ فِي اللَّهِ، نَادَاهُ مُنَادٍ: أَنْ طِبْتَ وَطَابَ مَمْشَاكَ، وَتَبَوَّأْتَ مِنَ الْجَنَّةِ مَنْزِلًا “Barang siapa yang menjenguk orang sakit, atau mengunjungi saudaranya seiman, maka akan ada penyeru yang berseru: ‘Semoga engkau baik, langkahmu baik, dan menempati tempat tinggal di surga.” (HR. At-Tirmidzi no. 2008). Hadis yang mulia ini mendukung penguatan persaudaraan antara kaum Muslimin dan saling mengunjungi. Siapa yang ingin menempati tempat-tempat agung di surga, hendaklah ia tekun mengunjungi saudara dan menjenguk orang sakit. Ada sebagian kaum Muslimin yang pergi ke rumah sakit untuk menjenguk saudaranya seiman yang belum pernah mereka kenal sebelumnya, dan ini merupakan tanda keimanan dan bukti kebaikan. Kelima: Mendoakan orang lain Diriwayatkan dari Shafwan bin Abdullah bin Shafwan Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku sampai di negeri Syam lalu mendatangi Abu Ad-Darda di rumahnya, tapi aku tidak mendapatinya di rumah, dan hanya mendapati Ummu Ad-Darda. Ummu Ad-Darda lalu bertanya kepadaku: ‘Apakah engkau akan pergi haji tahun ini?’ Aku pun menjawab: ‘Ya.’ Ia berkata: ‘Kalau begitu, doakanlah kebaikan untuk kami, karena Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda: دَعْوَةُ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ، كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينَ، وَلَكَ بِمِثْلٍ ‘Doa seorang Muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya adalah doa mustajab. Di dekat kepalanya ada malaikat yang ditugaskan, setiap kali ia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, malaikat itu berkata: ‘Amin, dan bagimu seperti itu pula.’” (HR. Muslim no. 2733). Di antara tanda paling jelas dari hati yang bersih adalah mendoakan kaum Muslimin tanpa sepengetahuan mereka. Seorang mukmin akan selalu berusaha mendoakan saudara-saudaranya agar mendapat jalan keluar dari musibah mereka, hilang kegelisahan mereka, dan ditambah rezeki mereka, mendoakan seluruh kaum Muslimin dan umat Islam dengan kebaikan, dan keselamatan di dunia dan akhirat. Keenam: Ketika engkau makan sahur Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ، فَلَا تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةَ مَاءٍ؛ فَإِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ “Sahur adalah makanan yang diberkahi, maka janganlah kalian meninggalkannya meski hanya dengan meneguk seteguk air, karena Allah dan para malaikat-Nya bersalawat kepada orang-orang yang sahur.” (Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 1070). Termasuk dalam keutamaan hadis yang mulia ini orang yang berkontribusi menyiapkan makanan sahur dan yang membangunkan orang-orang untuk sahur, karena orang yang mengajak kepada kebaikan seperti orang yang melakukan kebaikan itu, sebagaimana yang telah disampaikan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam kepada kita. Ketujuh: ketika engkau salat di shaf pertama Diriwayatkan dari Al-Bara bin Azib Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:  لَا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ، وَكَانَ يَقُولُ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الصُّفُوفِ الْأُوَلِ، لَا تَخْتَلِفْ صُفُوفُكُمْ فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ، إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الصَّفِّ الْأَوَّلِ “Janganlah kalian berselisih, sehingga hati kalian menjadi berselisih.” Dan beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang ada di shaf-shaf pertama. Janganlah barisan kalian tidak beraturan, sehingga hati kalian menjadi saling berselisih. Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang yang ada di shaf yang pertama.” (Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 513). Salat di shaf pertama adalah salah satu bukti terkuat atas tulusnya jawaban seorang hamba terhadap panggilan Tuhannya Subhanahu wa Ta’ala. Barang siapa yang mendapat barisan di shaf pertama ketika salat, maka ia termasuk orang-orang yang beruntung dan meraih rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Pemurah. Kedelapan: Ketika engkau menyambung shaf-shaf salat Diriwayatkan dari Ummul Mu’minin Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الَّذِينَ يَصِلُونَ الصُّفُوفَ، وَمَنْ سَدَّ فُرْجَةً رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang menyambung (merapatkan) shaf. Barang siapa yang menutup celah di shaf, maka Allah akan meninggikan satu derajatnya.” (HR. Ibnu Majah: 821). Menyambung atau merapatkan shaf dalam salat termasuk amalan yang sangat mudah dilakukan, amalan yang membutuhkan konsistensi dalam setiap salat dan para jemaah salat harus diingatkan tentang keutamaan dan besarnya pengaruhnya. Dalam amalan ini terdapat tiga keutamaan besar, yaitu rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, doa para malaikat ‘alaihimussalam, dan peningkatan derajat. Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Mulia lagi Maha Agung agar mengaruniakan kepada kita keridhaan-Nya, memberi kenikmatan kepada kita dengan kebaikan-Nya, dan mengampuni kita, orang tua kita, dan kaum Muslimin seluruhnya.  Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan semesta alam. Salat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam, dan kepada keluarga dan para sahabat beliau semua, serta orang-orang yang mengikuti jejak beliau dengan sebaik-baiknya hingga hari kiamat. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/123338/كيف-تدعو-لك-الملائكة-عليهم-الصلاة-والسلام؟/ Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 183 times, 1 visit(s) today Post Views: 152

Saat Hidup Terasa Berat, Dengarkan Penyejuk Hati Ini – Syaikh Muhammad bin Ramzan Al-Hajiri

Oleh karena itu, janganlah engkau berputus asa atas apa pun yang terjadi dalam hidup ini. Apakah kemiskinan menimpamu? Dialah Allah yang akan mencukupimu, ini semua hanyalah ujian-ujian! Tiada orang sakit melainkan ia akan disembuhkan oleh Allah. Kesedihan itu akan berganti menjadi kebahagiaan. Penderitaan pun akan berujung pada suka cita. Pandanglah hidup ini dengan engkau senantiasa bersandar kepada Allah. Janganlah engkau berpaling karena terpengaruh oleh berbagai persoalan duniawi ini, sehingga hatimu mulai tertawan dan terikat pada dunia. Engkau menyangka bahwa manfaat maupun mudaratnya akan menyertaimu selamanya. Padahal, betapa banyak narapidana yang akhirnya dibebaskan, orang yang hilang kembali pulang, dan orang yang hanyut ditemukan. Betapa banyak orang miskin dan orang sakit yang Allah pulihkan keadaannya. Semua itu ujian! “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Mulk: 1). “Allah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2). Amal yang terbaik adalah yang didasari kejujuran dan keikhlasan. Keikhlasan dan mengikuti tuntunan Nabi, itulah yang akan bermanfaat baginya, dengan izin Allah. Adapun orang yang tertawan oleh putus asa, engkau akan mendapatinya terbelenggu oleh keadaan. Ia menyangka ajalnya sudah dekat dan hidupnya terasa gelap gulita. Lalu ia mulai meninggalkan ketaatan, amal kebajikan, zikir, dan silaturahmi. Ia terputus dari Allah hingga akhirnya menjadi tawanan setan. Mengapa engkau menjadi seperti itu? Segala urusanmu ada di tangan Allah, berdoalah kepada-Nya, niscaya Dia mengabulkan doamu. “…dan apabila aku sakit, Dialah Allah yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syu’ara: 80). “Atau siapakah yang memperkenankan doa orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan…” (QS. An-Naml: 62). Dialah Allah, yang di tangan-Nya segala kesulitan akan terurai. “Maka, sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 5 — 6). Dalam hidup ini ada kabar gembira. Maka istiqamahlah dalam ketaatan, niscaya segala kesedihanmu akan sirna. “Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaq: 4) “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. Ath-Thalaq: 2) “Dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 3). Perbaikilah hubunganmu dengan Allah, niscaya segala urusanmu akan dimudahkan. Maka janganlah engkau menjadi tawanan rasa putus asa. Berputus asa dari rahmat Allah termasuk dosa besar, sebagaimana halnya berbuat syirik kepada Allah. Selain itu, berhati-hatilah dari merasa aman terhadap makar Allah (hukuman Allah yang datang tanpa disangka-sangka). ===== وَلِذَلِكَ لَا تَجْزَعْ مِمَّا فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ أَصَابَكَ فَقْرٌ؟ هُوَ الَّذِي يُغْنِيكَ، هَذِهِ ابْتِلَاءَاتٌ مَا مِنْ مَرِيضٍ إِلَّا شُوْفِي وَالْحُزْنُ يَنْقَلِبُ فَرَحًا وَالشَّقَاءُ سَيَأْتِي سَعَادَةً انْظُرْ لِلْحَيَاةِ وَأَنْتَ مُعْتَمِدٌ عَلَى اللهِ لَا تَلْتَفِتْ بِمَا يَحْصُلُ مِنْ هَذِهِ الْأَشْيَاءِ فَيَبْدَأُ قَلْبُكَ أَسِيرًا لَهَا مُتَعَلِّقًا بِهَا ظَنًّا مِنْكَ أَنَّ نَفْعَهَا أَوْ ضَرَّهَا دَائِمٌ مَعَكَ أَبَدَ الْأَبَدِ فَكَمْ مِنْ سَجِينٍ أُفْرِجَ عَنْهُ، وَكَمْ مِنْ غَائِبٍ عَادَ، وَكَمْ مِنْ مَفْقُودٍ وَكَمْ مِنْ فَقِيرٍ، وَكَمْ مِنْ مَرِيضٍ رَدَّ اللهُ لَهُ أَمْرَهُ ابْتِلَاءَاتٌ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَإِحْسَانُ الْعَمَلِ الصِّدْقُ وَالْإِخْلَاصُ الْإِخْلَاصُ وَالْمُتَابَعَةُ، هَذَا يَنْفَعُهُ بِإِذْنِ اللهِ أَمَّا أَسِيرُ الْيَأْسِ فَتَجِدُهُ حَبِيسَ الْمَوْقِفِ فَيَظُنُّ أَنَّ الْأَجَلَ دَنَا وَالْحَيَاةَ مُظْلِمَةٌ فَيَبْدَأُ لَا طَاعَةَ، لَا مَعْرُوفَ، لَا ذِكْرَ، لَا صِلَةَ فَيَنْقَطِعُ عَنِ اللهِ فَيُصْبِحُ أَسِيرًا لِلشَّيْطَانِ لِمَاذَا أَنْتَ هَكَذَا؟ أَنْتَ فِي أَمْرِ اللهِ، اُدْعُهُ يَسْتَجِبْ لَكَ وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ فَاللهُ هُوَ الَّذِي بِيَدِهِ تَنْفَرِجُ الْكُرَبُ فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا وَفِي هَذِهِ الْحَيَاةِ بُشْرَى، فَاسْتَقِمْ عَلَى الطَّاعَةِ تَنْجَلِ عَنْكَ الْأَحْزَانُ وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ أَصْلِحْ أَمْرَكَ مَعَ اللهِ تَتَيَسَّرْ لَكَ الْأُمُورُ فَلَا تَكُنْ أَسِيرًا لِلْيَأْسِ، وَالْيَأْسُ مِنْ رَوْحِ اللهِ مِنَ الْكَبَائِرِكَمَا أَنَّ الشِّرْكَ بِاللهِ كَذَلِكَ وَأَيْضًا اِحْذَرِ الْأَمْنَ مِنْ مَكْرِ اللهِ

Saat Hidup Terasa Berat, Dengarkan Penyejuk Hati Ini – Syaikh Muhammad bin Ramzan Al-Hajiri

Oleh karena itu, janganlah engkau berputus asa atas apa pun yang terjadi dalam hidup ini. Apakah kemiskinan menimpamu? Dialah Allah yang akan mencukupimu, ini semua hanyalah ujian-ujian! Tiada orang sakit melainkan ia akan disembuhkan oleh Allah. Kesedihan itu akan berganti menjadi kebahagiaan. Penderitaan pun akan berujung pada suka cita. Pandanglah hidup ini dengan engkau senantiasa bersandar kepada Allah. Janganlah engkau berpaling karena terpengaruh oleh berbagai persoalan duniawi ini, sehingga hatimu mulai tertawan dan terikat pada dunia. Engkau menyangka bahwa manfaat maupun mudaratnya akan menyertaimu selamanya. Padahal, betapa banyak narapidana yang akhirnya dibebaskan, orang yang hilang kembali pulang, dan orang yang hanyut ditemukan. Betapa banyak orang miskin dan orang sakit yang Allah pulihkan keadaannya. Semua itu ujian! “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Mulk: 1). “Allah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2). Amal yang terbaik adalah yang didasari kejujuran dan keikhlasan. Keikhlasan dan mengikuti tuntunan Nabi, itulah yang akan bermanfaat baginya, dengan izin Allah. Adapun orang yang tertawan oleh putus asa, engkau akan mendapatinya terbelenggu oleh keadaan. Ia menyangka ajalnya sudah dekat dan hidupnya terasa gelap gulita. Lalu ia mulai meninggalkan ketaatan, amal kebajikan, zikir, dan silaturahmi. Ia terputus dari Allah hingga akhirnya menjadi tawanan setan. Mengapa engkau menjadi seperti itu? Segala urusanmu ada di tangan Allah, berdoalah kepada-Nya, niscaya Dia mengabulkan doamu. “…dan apabila aku sakit, Dialah Allah yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syu’ara: 80). “Atau siapakah yang memperkenankan doa orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan…” (QS. An-Naml: 62). Dialah Allah, yang di tangan-Nya segala kesulitan akan terurai. “Maka, sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 5 — 6). Dalam hidup ini ada kabar gembira. Maka istiqamahlah dalam ketaatan, niscaya segala kesedihanmu akan sirna. “Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaq: 4) “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. Ath-Thalaq: 2) “Dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 3). Perbaikilah hubunganmu dengan Allah, niscaya segala urusanmu akan dimudahkan. Maka janganlah engkau menjadi tawanan rasa putus asa. Berputus asa dari rahmat Allah termasuk dosa besar, sebagaimana halnya berbuat syirik kepada Allah. Selain itu, berhati-hatilah dari merasa aman terhadap makar Allah (hukuman Allah yang datang tanpa disangka-sangka). ===== وَلِذَلِكَ لَا تَجْزَعْ مِمَّا فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ أَصَابَكَ فَقْرٌ؟ هُوَ الَّذِي يُغْنِيكَ، هَذِهِ ابْتِلَاءَاتٌ مَا مِنْ مَرِيضٍ إِلَّا شُوْفِي وَالْحُزْنُ يَنْقَلِبُ فَرَحًا وَالشَّقَاءُ سَيَأْتِي سَعَادَةً انْظُرْ لِلْحَيَاةِ وَأَنْتَ مُعْتَمِدٌ عَلَى اللهِ لَا تَلْتَفِتْ بِمَا يَحْصُلُ مِنْ هَذِهِ الْأَشْيَاءِ فَيَبْدَأُ قَلْبُكَ أَسِيرًا لَهَا مُتَعَلِّقًا بِهَا ظَنًّا مِنْكَ أَنَّ نَفْعَهَا أَوْ ضَرَّهَا دَائِمٌ مَعَكَ أَبَدَ الْأَبَدِ فَكَمْ مِنْ سَجِينٍ أُفْرِجَ عَنْهُ، وَكَمْ مِنْ غَائِبٍ عَادَ، وَكَمْ مِنْ مَفْقُودٍ وَكَمْ مِنْ فَقِيرٍ، وَكَمْ مِنْ مَرِيضٍ رَدَّ اللهُ لَهُ أَمْرَهُ ابْتِلَاءَاتٌ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَإِحْسَانُ الْعَمَلِ الصِّدْقُ وَالْإِخْلَاصُ الْإِخْلَاصُ وَالْمُتَابَعَةُ، هَذَا يَنْفَعُهُ بِإِذْنِ اللهِ أَمَّا أَسِيرُ الْيَأْسِ فَتَجِدُهُ حَبِيسَ الْمَوْقِفِ فَيَظُنُّ أَنَّ الْأَجَلَ دَنَا وَالْحَيَاةَ مُظْلِمَةٌ فَيَبْدَأُ لَا طَاعَةَ، لَا مَعْرُوفَ، لَا ذِكْرَ، لَا صِلَةَ فَيَنْقَطِعُ عَنِ اللهِ فَيُصْبِحُ أَسِيرًا لِلشَّيْطَانِ لِمَاذَا أَنْتَ هَكَذَا؟ أَنْتَ فِي أَمْرِ اللهِ، اُدْعُهُ يَسْتَجِبْ لَكَ وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ فَاللهُ هُوَ الَّذِي بِيَدِهِ تَنْفَرِجُ الْكُرَبُ فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا وَفِي هَذِهِ الْحَيَاةِ بُشْرَى، فَاسْتَقِمْ عَلَى الطَّاعَةِ تَنْجَلِ عَنْكَ الْأَحْزَانُ وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ أَصْلِحْ أَمْرَكَ مَعَ اللهِ تَتَيَسَّرْ لَكَ الْأُمُورُ فَلَا تَكُنْ أَسِيرًا لِلْيَأْسِ، وَالْيَأْسُ مِنْ رَوْحِ اللهِ مِنَ الْكَبَائِرِكَمَا أَنَّ الشِّرْكَ بِاللهِ كَذَلِكَ وَأَيْضًا اِحْذَرِ الْأَمْنَ مِنْ مَكْرِ اللهِ
Oleh karena itu, janganlah engkau berputus asa atas apa pun yang terjadi dalam hidup ini. Apakah kemiskinan menimpamu? Dialah Allah yang akan mencukupimu, ini semua hanyalah ujian-ujian! Tiada orang sakit melainkan ia akan disembuhkan oleh Allah. Kesedihan itu akan berganti menjadi kebahagiaan. Penderitaan pun akan berujung pada suka cita. Pandanglah hidup ini dengan engkau senantiasa bersandar kepada Allah. Janganlah engkau berpaling karena terpengaruh oleh berbagai persoalan duniawi ini, sehingga hatimu mulai tertawan dan terikat pada dunia. Engkau menyangka bahwa manfaat maupun mudaratnya akan menyertaimu selamanya. Padahal, betapa banyak narapidana yang akhirnya dibebaskan, orang yang hilang kembali pulang, dan orang yang hanyut ditemukan. Betapa banyak orang miskin dan orang sakit yang Allah pulihkan keadaannya. Semua itu ujian! “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Mulk: 1). “Allah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2). Amal yang terbaik adalah yang didasari kejujuran dan keikhlasan. Keikhlasan dan mengikuti tuntunan Nabi, itulah yang akan bermanfaat baginya, dengan izin Allah. Adapun orang yang tertawan oleh putus asa, engkau akan mendapatinya terbelenggu oleh keadaan. Ia menyangka ajalnya sudah dekat dan hidupnya terasa gelap gulita. Lalu ia mulai meninggalkan ketaatan, amal kebajikan, zikir, dan silaturahmi. Ia terputus dari Allah hingga akhirnya menjadi tawanan setan. Mengapa engkau menjadi seperti itu? Segala urusanmu ada di tangan Allah, berdoalah kepada-Nya, niscaya Dia mengabulkan doamu. “…dan apabila aku sakit, Dialah Allah yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syu’ara: 80). “Atau siapakah yang memperkenankan doa orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan…” (QS. An-Naml: 62). Dialah Allah, yang di tangan-Nya segala kesulitan akan terurai. “Maka, sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 5 — 6). Dalam hidup ini ada kabar gembira. Maka istiqamahlah dalam ketaatan, niscaya segala kesedihanmu akan sirna. “Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaq: 4) “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. Ath-Thalaq: 2) “Dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 3). Perbaikilah hubunganmu dengan Allah, niscaya segala urusanmu akan dimudahkan. Maka janganlah engkau menjadi tawanan rasa putus asa. Berputus asa dari rahmat Allah termasuk dosa besar, sebagaimana halnya berbuat syirik kepada Allah. Selain itu, berhati-hatilah dari merasa aman terhadap makar Allah (hukuman Allah yang datang tanpa disangka-sangka). ===== وَلِذَلِكَ لَا تَجْزَعْ مِمَّا فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ أَصَابَكَ فَقْرٌ؟ هُوَ الَّذِي يُغْنِيكَ، هَذِهِ ابْتِلَاءَاتٌ مَا مِنْ مَرِيضٍ إِلَّا شُوْفِي وَالْحُزْنُ يَنْقَلِبُ فَرَحًا وَالشَّقَاءُ سَيَأْتِي سَعَادَةً انْظُرْ لِلْحَيَاةِ وَأَنْتَ مُعْتَمِدٌ عَلَى اللهِ لَا تَلْتَفِتْ بِمَا يَحْصُلُ مِنْ هَذِهِ الْأَشْيَاءِ فَيَبْدَأُ قَلْبُكَ أَسِيرًا لَهَا مُتَعَلِّقًا بِهَا ظَنًّا مِنْكَ أَنَّ نَفْعَهَا أَوْ ضَرَّهَا دَائِمٌ مَعَكَ أَبَدَ الْأَبَدِ فَكَمْ مِنْ سَجِينٍ أُفْرِجَ عَنْهُ، وَكَمْ مِنْ غَائِبٍ عَادَ، وَكَمْ مِنْ مَفْقُودٍ وَكَمْ مِنْ فَقِيرٍ، وَكَمْ مِنْ مَرِيضٍ رَدَّ اللهُ لَهُ أَمْرَهُ ابْتِلَاءَاتٌ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَإِحْسَانُ الْعَمَلِ الصِّدْقُ وَالْإِخْلَاصُ الْإِخْلَاصُ وَالْمُتَابَعَةُ، هَذَا يَنْفَعُهُ بِإِذْنِ اللهِ أَمَّا أَسِيرُ الْيَأْسِ فَتَجِدُهُ حَبِيسَ الْمَوْقِفِ فَيَظُنُّ أَنَّ الْأَجَلَ دَنَا وَالْحَيَاةَ مُظْلِمَةٌ فَيَبْدَأُ لَا طَاعَةَ، لَا مَعْرُوفَ، لَا ذِكْرَ، لَا صِلَةَ فَيَنْقَطِعُ عَنِ اللهِ فَيُصْبِحُ أَسِيرًا لِلشَّيْطَانِ لِمَاذَا أَنْتَ هَكَذَا؟ أَنْتَ فِي أَمْرِ اللهِ، اُدْعُهُ يَسْتَجِبْ لَكَ وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ فَاللهُ هُوَ الَّذِي بِيَدِهِ تَنْفَرِجُ الْكُرَبُ فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا وَفِي هَذِهِ الْحَيَاةِ بُشْرَى، فَاسْتَقِمْ عَلَى الطَّاعَةِ تَنْجَلِ عَنْكَ الْأَحْزَانُ وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ أَصْلِحْ أَمْرَكَ مَعَ اللهِ تَتَيَسَّرْ لَكَ الْأُمُورُ فَلَا تَكُنْ أَسِيرًا لِلْيَأْسِ، وَالْيَأْسُ مِنْ رَوْحِ اللهِ مِنَ الْكَبَائِرِكَمَا أَنَّ الشِّرْكَ بِاللهِ كَذَلِكَ وَأَيْضًا اِحْذَرِ الْأَمْنَ مِنْ مَكْرِ اللهِ


Oleh karena itu, janganlah engkau berputus asa atas apa pun yang terjadi dalam hidup ini. Apakah kemiskinan menimpamu? Dialah Allah yang akan mencukupimu, ini semua hanyalah ujian-ujian! Tiada orang sakit melainkan ia akan disembuhkan oleh Allah. Kesedihan itu akan berganti menjadi kebahagiaan. Penderitaan pun akan berujung pada suka cita. Pandanglah hidup ini dengan engkau senantiasa bersandar kepada Allah. Janganlah engkau berpaling karena terpengaruh oleh berbagai persoalan duniawi ini, sehingga hatimu mulai tertawan dan terikat pada dunia. Engkau menyangka bahwa manfaat maupun mudaratnya akan menyertaimu selamanya. Padahal, betapa banyak narapidana yang akhirnya dibebaskan, orang yang hilang kembali pulang, dan orang yang hanyut ditemukan. Betapa banyak orang miskin dan orang sakit yang Allah pulihkan keadaannya. Semua itu ujian! “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Mulk: 1). “Allah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2). Amal yang terbaik adalah yang didasari kejujuran dan keikhlasan. Keikhlasan dan mengikuti tuntunan Nabi, itulah yang akan bermanfaat baginya, dengan izin Allah. Adapun orang yang tertawan oleh putus asa, engkau akan mendapatinya terbelenggu oleh keadaan. Ia menyangka ajalnya sudah dekat dan hidupnya terasa gelap gulita. Lalu ia mulai meninggalkan ketaatan, amal kebajikan, zikir, dan silaturahmi. Ia terputus dari Allah hingga akhirnya menjadi tawanan setan. Mengapa engkau menjadi seperti itu? Segala urusanmu ada di tangan Allah, berdoalah kepada-Nya, niscaya Dia mengabulkan doamu. “…dan apabila aku sakit, Dialah Allah yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syu’ara: 80). “Atau siapakah yang memperkenankan doa orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan…” (QS. An-Naml: 62). Dialah Allah, yang di tangan-Nya segala kesulitan akan terurai. “Maka, sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 5 — 6). Dalam hidup ini ada kabar gembira. Maka istiqamahlah dalam ketaatan, niscaya segala kesedihanmu akan sirna. “Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaq: 4) “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. Ath-Thalaq: 2) “Dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 3). Perbaikilah hubunganmu dengan Allah, niscaya segala urusanmu akan dimudahkan. Maka janganlah engkau menjadi tawanan rasa putus asa. Berputus asa dari rahmat Allah termasuk dosa besar, sebagaimana halnya berbuat syirik kepada Allah. Selain itu, berhati-hatilah dari merasa aman terhadap makar Allah (hukuman Allah yang datang tanpa disangka-sangka). ===== وَلِذَلِكَ لَا تَجْزَعْ مِمَّا فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ أَصَابَكَ فَقْرٌ؟ هُوَ الَّذِي يُغْنِيكَ، هَذِهِ ابْتِلَاءَاتٌ مَا مِنْ مَرِيضٍ إِلَّا شُوْفِي وَالْحُزْنُ يَنْقَلِبُ فَرَحًا وَالشَّقَاءُ سَيَأْتِي سَعَادَةً انْظُرْ لِلْحَيَاةِ وَأَنْتَ مُعْتَمِدٌ عَلَى اللهِ لَا تَلْتَفِتْ بِمَا يَحْصُلُ مِنْ هَذِهِ الْأَشْيَاءِ فَيَبْدَأُ قَلْبُكَ أَسِيرًا لَهَا مُتَعَلِّقًا بِهَا ظَنًّا مِنْكَ أَنَّ نَفْعَهَا أَوْ ضَرَّهَا دَائِمٌ مَعَكَ أَبَدَ الْأَبَدِ فَكَمْ مِنْ سَجِينٍ أُفْرِجَ عَنْهُ، وَكَمْ مِنْ غَائِبٍ عَادَ، وَكَمْ مِنْ مَفْقُودٍ وَكَمْ مِنْ فَقِيرٍ، وَكَمْ مِنْ مَرِيضٍ رَدَّ اللهُ لَهُ أَمْرَهُ ابْتِلَاءَاتٌ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَإِحْسَانُ الْعَمَلِ الصِّدْقُ وَالْإِخْلَاصُ الْإِخْلَاصُ وَالْمُتَابَعَةُ، هَذَا يَنْفَعُهُ بِإِذْنِ اللهِ أَمَّا أَسِيرُ الْيَأْسِ فَتَجِدُهُ حَبِيسَ الْمَوْقِفِ فَيَظُنُّ أَنَّ الْأَجَلَ دَنَا وَالْحَيَاةَ مُظْلِمَةٌ فَيَبْدَأُ لَا طَاعَةَ، لَا مَعْرُوفَ، لَا ذِكْرَ، لَا صِلَةَ فَيَنْقَطِعُ عَنِ اللهِ فَيُصْبِحُ أَسِيرًا لِلشَّيْطَانِ لِمَاذَا أَنْتَ هَكَذَا؟ أَنْتَ فِي أَمْرِ اللهِ، اُدْعُهُ يَسْتَجِبْ لَكَ وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ فَاللهُ هُوَ الَّذِي بِيَدِهِ تَنْفَرِجُ الْكُرَبُ فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا وَفِي هَذِهِ الْحَيَاةِ بُشْرَى، فَاسْتَقِمْ عَلَى الطَّاعَةِ تَنْجَلِ عَنْكَ الْأَحْزَانُ وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ أَصْلِحْ أَمْرَكَ مَعَ اللهِ تَتَيَسَّرْ لَكَ الْأُمُورُ فَلَا تَكُنْ أَسِيرًا لِلْيَأْسِ، وَالْيَأْسُ مِنْ رَوْحِ اللهِ مِنَ الْكَبَائِرِكَمَا أَنَّ الشِّرْكَ بِاللهِ كَذَلِكَ وَأَيْضًا اِحْذَرِ الْأَمْنَ مِنْ مَكْرِ اللهِ

Mengenali Diri Sendiri, Jalan Menuju Ketenangan Hati

Daftar Isi TogglePertama, mengetahui unsur dasar penciptaan diriUnsur jasad (lahir)Unsur ruh (batin)Kedua, mengenali kebutuhan pokok diriKetiga, mengenali hal-hal yang merusak diriDosa dan maksiatLalai dari zikir dan ibadahSyubhat, syahwat, dan hawa nafsuTidak menuntut ilmu agamaBuruknya teman dan lingkunganPerjalanan mengenal diri adalah perjalanan pulangDalam perjalanan hidup yang penuh liku, manusia kerap tersesat bukan karena gelapnya jalan, tetapi karena tidak mengenal dirinya sendiri. Kita berjalan jauh, mencari makna ke berbagai arah, padahal kunci ketenangan itu bersemayam di dalam diri.Saat seseorang mulai mengenali dirinya, ia tidak lagi asing dengan asal-usulnya, mengerti apa yang benar-benar ia butuhkan, dan mampu membedakan mana yang menguatkan serta mana yang perlahan merusaknya. Dari situlah lahir sebuah kompas batin yang menuntun langkah agar tidak mudah goyah oleh berbagai fitnah.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,مَنْ عرف نفسه بالضعف عرف ربه بالقوة، ومن عرفها بالعجز عرف ربه بالقدرة، ومن عرفها بالذل، عرف ربه بالعز، ومن عرفها بالجهل، عرف ربه بالعلم“Barang siapa mengenal dirinya sebagai makhluk yang lemah, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Kuat.Barang siapa mengenal dirinya sebagai tidak mampu, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Berkuasa.Barang siapa mengenal dirinya sebagai hina, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Mulia.Barang siapa mengenal dirinya sebagai bodoh, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Mengetahui.” (Madarijus Salikin, 1: 427)Mengenal diri bukan sekadar memahami kelebihan, tetapi juga berani menatap kelemahan dengan jujur. Dalam kejujuran itu, hati menjadi lebih lapang, lebih lembut, dan membuat kita menyadari kelemahan, kebutuhan, dan ketergantungan total kepada Allah Ta’ala.Ada beberapa cara agar kita dapat mengenali diri sendiri lebih dalam.Pertama, mengetahui unsur dasar penciptaan diriManusia adalah makhluk istimewa (mulia), diberi akal, diberi amanah, dan dijadikan khalifah di bumi. Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ“Sungguh Kami telah memuliakan anak Adam…” (QS. Al-Isra’: 70)Kemuliaan itu bukan tanpa alasan. Salah satunya adalah karena manusia diciptakan dari dua unsur besar, yaitu jasad dan ruh.Unsur jasad (lahir)Allah Ta’ala berfirman,وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah.” (QS. Ar-Rum: 20)Jasad manusia berasal dari tanah, membutuhkan makanan, pakaian, tempat tinggal, istirahat, dan perawatan. Semua itu adalah tanda bahwa manusia lemah dan bergantung pada pemberian Allah.Unsur ruh (batin)Allah Ta’ala juga berfirman mengenai ruh,وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِ ۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّى“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu urusan Rabb-ku…” (QS. Al-Isra’: 85)Ruh adalah tiupan kemuliaan dari Allah Ta’ala. Ia tidak terlihat, tidak tersentuh, tetapi ia yang menggerakkan hati, iman, dan arah hidup kita.Oleh karena itu, siapa saja yang hanya memperhatikan jasadnya, tetapi membiarkan ruhnya kelaparan, ia telah merusak keseimbangan terhadap dirinya sendiri.Baca juga: Dua Hikmah Penciptaan ManusiaKedua, mengenali kebutuhan pokok diriKetika kita telah mengetahui bahwa manusia diciptakan dari dua unsur (jasmani dan rohani), maka selanjutnya untuk bisa mengenal diri sendiri perlu juga untuk mengetahui kebutuhan pokok atas jasmani dan rohani tersebut.Kebutuhan pokok jasad meliputi pangan (makanan), sandang (pakaian), dan papan (tempat tinggal), karena ketiganya adalah kebutuhan dasar yang membuat manusia mampu bertahan hidup.Allah Ta’ala berfirman,وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan…” (QS. Al-A‘raf: 31)Oleh karena itu, kebutuhan jasad memang harus dipenuhi, namun tidak boleh dituruti secara berlebihan atau tanpa batas.Kemudian adalah kebutuhan ruh. Ruh adalah inti kehidupan. Ia hidup bukan dari makan dan minum, tetapi dari ilmu dan ibadah.Imam Ahmad rahimahullah berkata,الناس إلى العلم أحوج منهم إلى الطعام والشراب. لأن الرجل يحتاج إلى الطعام والشراب في اليوم مرة أو مرتين. وحاجته إلى العلم بعدد أنفاسه“Manusia lebih butuh kepada ilmu (agama), dibandingkan kebutuhan terhadap makanan dan minuman. Karena seseorang dalam sehari hanya membutuhkan makan dan minum sekali atau dua kali. Sedangkan ia membutuhkan ilmu dalam setiap helaan nafasnya.” (Madarijus Salikin, 2: 440)Tanpa ilmu, seseorang akan tersesat. Tanpa ibadah, ruh menjadi hampa. Allah Ta’ala menegaskan tujuan penciptaan manusia,وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Inilah makanan bagi ruh, yakni dengan salat, zikir, membaca Al-Qur’an, menuntut ilmu, dan mendekat kepada Allah dalam setiap keadaan.Ketiga, mengenali hal-hal yang merusak diriSetelah mengetahui dari apa kita diciptakan dan apa kebutuhan utama diri, kita juga wajib mengenali apa saja yang dapat merusak kita, baik jasmani maupun rohani.Hal-hal yang dapat merusak jasad di antaranya adalah mengonsumsi makanan haram atau berbahaya, melakukan kebiasaan yang merusak kesehatan, serta bersikap malas dan tidak menjaga amanah tubuh.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا“Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atas dirimu.” (HR. Bukhari)Sehingga jasad ini adalah amanah dari Allah yang wajib dijaga dan tidak boleh disia-siakan.Selain perusak jasad, ada pula hal-hal yang merusak ruh. Kerusakan ruh jauh lebih berbahaya daripada kerusakan jasad, karena ruh adalah pusat keimanan, ketenangan, dan arah hidup. Jika ruh rusak, maka seluruh kehidupan ikut rusak. Berikut ini beberapa hal yang paling merusak ruh seorang hamba:Dosa dan maksiatDosa adalah racun bagi hati. Setiap kali seseorang berbuat maksiat, maka ia sedang menambah noda yang menggelapkan hatinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ: {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}“Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristigfar, dan bertobat; niscaya noda itu akan dihapus. Tapi jika dia kembali berbuat dosa, niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya. Itulah penutup yang difirmankan Allah, “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka” (QS. Al-Muthaffifin: 14).” (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu. Hadis ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzi)Semakin banyak noda itu dibiarkan, semakin gelap hati seseorang, sehingga sulit menerima nasihat dan cahaya hidayah. Dosa membuat ruh melemah, iman menurun, dan hati menjadi keras.Lalai dari zikir dan ibadahRuh yang tidak diberi makanan berupa zikir, doa, dan ibadah akan menjadi lemah seperti halnya jasad. Allah Ta’ala memperingatkan,وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ نَسُوا۟ ٱللَّهَ فَأَنسَىٰهُمْ أَنفُسَهُمْ ۚ“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, maka Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.” (QS. Al-Hasyr: 19)Ketika seseorang melupakan Allah, ia kehilangan arah hidup. Ia lupa tujuan penciptaannya, lupa kewajibannya, dan akhirnya justru merugikan dirinya sendiri.Syubhat, syahwat, dan hawa nafsuSyubhat merusak pemikiran. Syahwat merusak keinginan dan tindakan. Hawa nafsu merusak keteguhan hati.Tiga hal ini adalah musuh besar ruh. Allah Ta’ala menyebut bahwa mengikuti hawa nafsu akan menyesatkan dari jalan yang benar,وَلَا تَتَّبِعِ ٱلْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ“Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan dari jalan Allah.” (QS. Shad: 26)Syubhat membuat seseorang ragu terhadap agama, syahwat membuatnya mudah tergelincir, dan hawa nafsu membuatnya membenarkan kesalahan.Tidak menuntut ilmu agamaHati tanpa ilmu akan kosong dan mudah disusupi kebodohan, syubhat, serta bisikan setan. Ilmu adalah cahaya, dan kebodohan adalah kegelapan. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ“Apakah sama orang-orang yang mengetahui dan yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)Buruknya teman dan lingkunganRuh sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan. Teman yang buruk bisa menyeret seseorang kepada kelalaian dan dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل“Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat, siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Lihat Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)Lingkungan buruk membuat ruh sulit berkembang, sementara teman saleh adalah penolong bagi iman dan ketenangan hati.Perjalanan mengenal diri adalah perjalanan pulangMengenal diri bukan sekadar mengetahui kelemahan diri, tapi memahami dari mana kita berasal dan ke mana kita akan kembali. Allah Ta’ala berfirman,قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ“Sesungguhnya kami milik Allah, dan kepada-Nya kami akan kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156)Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengenali diri, memperbaiki diri, dan mendekat kepada-Nya dengan segenap hati. Aamiin.Baca juga: Faktor Internal Perusak Iman***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id

Mengenali Diri Sendiri, Jalan Menuju Ketenangan Hati

Daftar Isi TogglePertama, mengetahui unsur dasar penciptaan diriUnsur jasad (lahir)Unsur ruh (batin)Kedua, mengenali kebutuhan pokok diriKetiga, mengenali hal-hal yang merusak diriDosa dan maksiatLalai dari zikir dan ibadahSyubhat, syahwat, dan hawa nafsuTidak menuntut ilmu agamaBuruknya teman dan lingkunganPerjalanan mengenal diri adalah perjalanan pulangDalam perjalanan hidup yang penuh liku, manusia kerap tersesat bukan karena gelapnya jalan, tetapi karena tidak mengenal dirinya sendiri. Kita berjalan jauh, mencari makna ke berbagai arah, padahal kunci ketenangan itu bersemayam di dalam diri.Saat seseorang mulai mengenali dirinya, ia tidak lagi asing dengan asal-usulnya, mengerti apa yang benar-benar ia butuhkan, dan mampu membedakan mana yang menguatkan serta mana yang perlahan merusaknya. Dari situlah lahir sebuah kompas batin yang menuntun langkah agar tidak mudah goyah oleh berbagai fitnah.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,مَنْ عرف نفسه بالضعف عرف ربه بالقوة، ومن عرفها بالعجز عرف ربه بالقدرة، ومن عرفها بالذل، عرف ربه بالعز، ومن عرفها بالجهل، عرف ربه بالعلم“Barang siapa mengenal dirinya sebagai makhluk yang lemah, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Kuat.Barang siapa mengenal dirinya sebagai tidak mampu, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Berkuasa.Barang siapa mengenal dirinya sebagai hina, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Mulia.Barang siapa mengenal dirinya sebagai bodoh, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Mengetahui.” (Madarijus Salikin, 1: 427)Mengenal diri bukan sekadar memahami kelebihan, tetapi juga berani menatap kelemahan dengan jujur. Dalam kejujuran itu, hati menjadi lebih lapang, lebih lembut, dan membuat kita menyadari kelemahan, kebutuhan, dan ketergantungan total kepada Allah Ta’ala.Ada beberapa cara agar kita dapat mengenali diri sendiri lebih dalam.Pertama, mengetahui unsur dasar penciptaan diriManusia adalah makhluk istimewa (mulia), diberi akal, diberi amanah, dan dijadikan khalifah di bumi. Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ“Sungguh Kami telah memuliakan anak Adam…” (QS. Al-Isra’: 70)Kemuliaan itu bukan tanpa alasan. Salah satunya adalah karena manusia diciptakan dari dua unsur besar, yaitu jasad dan ruh.Unsur jasad (lahir)Allah Ta’ala berfirman,وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah.” (QS. Ar-Rum: 20)Jasad manusia berasal dari tanah, membutuhkan makanan, pakaian, tempat tinggal, istirahat, dan perawatan. Semua itu adalah tanda bahwa manusia lemah dan bergantung pada pemberian Allah.Unsur ruh (batin)Allah Ta’ala juga berfirman mengenai ruh,وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِ ۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّى“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu urusan Rabb-ku…” (QS. Al-Isra’: 85)Ruh adalah tiupan kemuliaan dari Allah Ta’ala. Ia tidak terlihat, tidak tersentuh, tetapi ia yang menggerakkan hati, iman, dan arah hidup kita.Oleh karena itu, siapa saja yang hanya memperhatikan jasadnya, tetapi membiarkan ruhnya kelaparan, ia telah merusak keseimbangan terhadap dirinya sendiri.Baca juga: Dua Hikmah Penciptaan ManusiaKedua, mengenali kebutuhan pokok diriKetika kita telah mengetahui bahwa manusia diciptakan dari dua unsur (jasmani dan rohani), maka selanjutnya untuk bisa mengenal diri sendiri perlu juga untuk mengetahui kebutuhan pokok atas jasmani dan rohani tersebut.Kebutuhan pokok jasad meliputi pangan (makanan), sandang (pakaian), dan papan (tempat tinggal), karena ketiganya adalah kebutuhan dasar yang membuat manusia mampu bertahan hidup.Allah Ta’ala berfirman,وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan…” (QS. Al-A‘raf: 31)Oleh karena itu, kebutuhan jasad memang harus dipenuhi, namun tidak boleh dituruti secara berlebihan atau tanpa batas.Kemudian adalah kebutuhan ruh. Ruh adalah inti kehidupan. Ia hidup bukan dari makan dan minum, tetapi dari ilmu dan ibadah.Imam Ahmad rahimahullah berkata,الناس إلى العلم أحوج منهم إلى الطعام والشراب. لأن الرجل يحتاج إلى الطعام والشراب في اليوم مرة أو مرتين. وحاجته إلى العلم بعدد أنفاسه“Manusia lebih butuh kepada ilmu (agama), dibandingkan kebutuhan terhadap makanan dan minuman. Karena seseorang dalam sehari hanya membutuhkan makan dan minum sekali atau dua kali. Sedangkan ia membutuhkan ilmu dalam setiap helaan nafasnya.” (Madarijus Salikin, 2: 440)Tanpa ilmu, seseorang akan tersesat. Tanpa ibadah, ruh menjadi hampa. Allah Ta’ala menegaskan tujuan penciptaan manusia,وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Inilah makanan bagi ruh, yakni dengan salat, zikir, membaca Al-Qur’an, menuntut ilmu, dan mendekat kepada Allah dalam setiap keadaan.Ketiga, mengenali hal-hal yang merusak diriSetelah mengetahui dari apa kita diciptakan dan apa kebutuhan utama diri, kita juga wajib mengenali apa saja yang dapat merusak kita, baik jasmani maupun rohani.Hal-hal yang dapat merusak jasad di antaranya adalah mengonsumsi makanan haram atau berbahaya, melakukan kebiasaan yang merusak kesehatan, serta bersikap malas dan tidak menjaga amanah tubuh.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا“Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atas dirimu.” (HR. Bukhari)Sehingga jasad ini adalah amanah dari Allah yang wajib dijaga dan tidak boleh disia-siakan.Selain perusak jasad, ada pula hal-hal yang merusak ruh. Kerusakan ruh jauh lebih berbahaya daripada kerusakan jasad, karena ruh adalah pusat keimanan, ketenangan, dan arah hidup. Jika ruh rusak, maka seluruh kehidupan ikut rusak. Berikut ini beberapa hal yang paling merusak ruh seorang hamba:Dosa dan maksiatDosa adalah racun bagi hati. Setiap kali seseorang berbuat maksiat, maka ia sedang menambah noda yang menggelapkan hatinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ: {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}“Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristigfar, dan bertobat; niscaya noda itu akan dihapus. Tapi jika dia kembali berbuat dosa, niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya. Itulah penutup yang difirmankan Allah, “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka” (QS. Al-Muthaffifin: 14).” (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu. Hadis ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzi)Semakin banyak noda itu dibiarkan, semakin gelap hati seseorang, sehingga sulit menerima nasihat dan cahaya hidayah. Dosa membuat ruh melemah, iman menurun, dan hati menjadi keras.Lalai dari zikir dan ibadahRuh yang tidak diberi makanan berupa zikir, doa, dan ibadah akan menjadi lemah seperti halnya jasad. Allah Ta’ala memperingatkan,وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ نَسُوا۟ ٱللَّهَ فَأَنسَىٰهُمْ أَنفُسَهُمْ ۚ“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, maka Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.” (QS. Al-Hasyr: 19)Ketika seseorang melupakan Allah, ia kehilangan arah hidup. Ia lupa tujuan penciptaannya, lupa kewajibannya, dan akhirnya justru merugikan dirinya sendiri.Syubhat, syahwat, dan hawa nafsuSyubhat merusak pemikiran. Syahwat merusak keinginan dan tindakan. Hawa nafsu merusak keteguhan hati.Tiga hal ini adalah musuh besar ruh. Allah Ta’ala menyebut bahwa mengikuti hawa nafsu akan menyesatkan dari jalan yang benar,وَلَا تَتَّبِعِ ٱلْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ“Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan dari jalan Allah.” (QS. Shad: 26)Syubhat membuat seseorang ragu terhadap agama, syahwat membuatnya mudah tergelincir, dan hawa nafsu membuatnya membenarkan kesalahan.Tidak menuntut ilmu agamaHati tanpa ilmu akan kosong dan mudah disusupi kebodohan, syubhat, serta bisikan setan. Ilmu adalah cahaya, dan kebodohan adalah kegelapan. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ“Apakah sama orang-orang yang mengetahui dan yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)Buruknya teman dan lingkunganRuh sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan. Teman yang buruk bisa menyeret seseorang kepada kelalaian dan dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل“Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat, siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Lihat Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)Lingkungan buruk membuat ruh sulit berkembang, sementara teman saleh adalah penolong bagi iman dan ketenangan hati.Perjalanan mengenal diri adalah perjalanan pulangMengenal diri bukan sekadar mengetahui kelemahan diri, tapi memahami dari mana kita berasal dan ke mana kita akan kembali. Allah Ta’ala berfirman,قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ“Sesungguhnya kami milik Allah, dan kepada-Nya kami akan kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156)Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengenali diri, memperbaiki diri, dan mendekat kepada-Nya dengan segenap hati. Aamiin.Baca juga: Faktor Internal Perusak Iman***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi TogglePertama, mengetahui unsur dasar penciptaan diriUnsur jasad (lahir)Unsur ruh (batin)Kedua, mengenali kebutuhan pokok diriKetiga, mengenali hal-hal yang merusak diriDosa dan maksiatLalai dari zikir dan ibadahSyubhat, syahwat, dan hawa nafsuTidak menuntut ilmu agamaBuruknya teman dan lingkunganPerjalanan mengenal diri adalah perjalanan pulangDalam perjalanan hidup yang penuh liku, manusia kerap tersesat bukan karena gelapnya jalan, tetapi karena tidak mengenal dirinya sendiri. Kita berjalan jauh, mencari makna ke berbagai arah, padahal kunci ketenangan itu bersemayam di dalam diri.Saat seseorang mulai mengenali dirinya, ia tidak lagi asing dengan asal-usulnya, mengerti apa yang benar-benar ia butuhkan, dan mampu membedakan mana yang menguatkan serta mana yang perlahan merusaknya. Dari situlah lahir sebuah kompas batin yang menuntun langkah agar tidak mudah goyah oleh berbagai fitnah.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,مَنْ عرف نفسه بالضعف عرف ربه بالقوة، ومن عرفها بالعجز عرف ربه بالقدرة، ومن عرفها بالذل، عرف ربه بالعز، ومن عرفها بالجهل، عرف ربه بالعلم“Barang siapa mengenal dirinya sebagai makhluk yang lemah, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Kuat.Barang siapa mengenal dirinya sebagai tidak mampu, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Berkuasa.Barang siapa mengenal dirinya sebagai hina, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Mulia.Barang siapa mengenal dirinya sebagai bodoh, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Mengetahui.” (Madarijus Salikin, 1: 427)Mengenal diri bukan sekadar memahami kelebihan, tetapi juga berani menatap kelemahan dengan jujur. Dalam kejujuran itu, hati menjadi lebih lapang, lebih lembut, dan membuat kita menyadari kelemahan, kebutuhan, dan ketergantungan total kepada Allah Ta’ala.Ada beberapa cara agar kita dapat mengenali diri sendiri lebih dalam.Pertama, mengetahui unsur dasar penciptaan diriManusia adalah makhluk istimewa (mulia), diberi akal, diberi amanah, dan dijadikan khalifah di bumi. Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ“Sungguh Kami telah memuliakan anak Adam…” (QS. Al-Isra’: 70)Kemuliaan itu bukan tanpa alasan. Salah satunya adalah karena manusia diciptakan dari dua unsur besar, yaitu jasad dan ruh.Unsur jasad (lahir)Allah Ta’ala berfirman,وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah.” (QS. Ar-Rum: 20)Jasad manusia berasal dari tanah, membutuhkan makanan, pakaian, tempat tinggal, istirahat, dan perawatan. Semua itu adalah tanda bahwa manusia lemah dan bergantung pada pemberian Allah.Unsur ruh (batin)Allah Ta’ala juga berfirman mengenai ruh,وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِ ۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّى“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu urusan Rabb-ku…” (QS. Al-Isra’: 85)Ruh adalah tiupan kemuliaan dari Allah Ta’ala. Ia tidak terlihat, tidak tersentuh, tetapi ia yang menggerakkan hati, iman, dan arah hidup kita.Oleh karena itu, siapa saja yang hanya memperhatikan jasadnya, tetapi membiarkan ruhnya kelaparan, ia telah merusak keseimbangan terhadap dirinya sendiri.Baca juga: Dua Hikmah Penciptaan ManusiaKedua, mengenali kebutuhan pokok diriKetika kita telah mengetahui bahwa manusia diciptakan dari dua unsur (jasmani dan rohani), maka selanjutnya untuk bisa mengenal diri sendiri perlu juga untuk mengetahui kebutuhan pokok atas jasmani dan rohani tersebut.Kebutuhan pokok jasad meliputi pangan (makanan), sandang (pakaian), dan papan (tempat tinggal), karena ketiganya adalah kebutuhan dasar yang membuat manusia mampu bertahan hidup.Allah Ta’ala berfirman,وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan…” (QS. Al-A‘raf: 31)Oleh karena itu, kebutuhan jasad memang harus dipenuhi, namun tidak boleh dituruti secara berlebihan atau tanpa batas.Kemudian adalah kebutuhan ruh. Ruh adalah inti kehidupan. Ia hidup bukan dari makan dan minum, tetapi dari ilmu dan ibadah.Imam Ahmad rahimahullah berkata,الناس إلى العلم أحوج منهم إلى الطعام والشراب. لأن الرجل يحتاج إلى الطعام والشراب في اليوم مرة أو مرتين. وحاجته إلى العلم بعدد أنفاسه“Manusia lebih butuh kepada ilmu (agama), dibandingkan kebutuhan terhadap makanan dan minuman. Karena seseorang dalam sehari hanya membutuhkan makan dan minum sekali atau dua kali. Sedangkan ia membutuhkan ilmu dalam setiap helaan nafasnya.” (Madarijus Salikin, 2: 440)Tanpa ilmu, seseorang akan tersesat. Tanpa ibadah, ruh menjadi hampa. Allah Ta’ala menegaskan tujuan penciptaan manusia,وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Inilah makanan bagi ruh, yakni dengan salat, zikir, membaca Al-Qur’an, menuntut ilmu, dan mendekat kepada Allah dalam setiap keadaan.Ketiga, mengenali hal-hal yang merusak diriSetelah mengetahui dari apa kita diciptakan dan apa kebutuhan utama diri, kita juga wajib mengenali apa saja yang dapat merusak kita, baik jasmani maupun rohani.Hal-hal yang dapat merusak jasad di antaranya adalah mengonsumsi makanan haram atau berbahaya, melakukan kebiasaan yang merusak kesehatan, serta bersikap malas dan tidak menjaga amanah tubuh.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا“Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atas dirimu.” (HR. Bukhari)Sehingga jasad ini adalah amanah dari Allah yang wajib dijaga dan tidak boleh disia-siakan.Selain perusak jasad, ada pula hal-hal yang merusak ruh. Kerusakan ruh jauh lebih berbahaya daripada kerusakan jasad, karena ruh adalah pusat keimanan, ketenangan, dan arah hidup. Jika ruh rusak, maka seluruh kehidupan ikut rusak. Berikut ini beberapa hal yang paling merusak ruh seorang hamba:Dosa dan maksiatDosa adalah racun bagi hati. Setiap kali seseorang berbuat maksiat, maka ia sedang menambah noda yang menggelapkan hatinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ: {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}“Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristigfar, dan bertobat; niscaya noda itu akan dihapus. Tapi jika dia kembali berbuat dosa, niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya. Itulah penutup yang difirmankan Allah, “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka” (QS. Al-Muthaffifin: 14).” (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu. Hadis ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzi)Semakin banyak noda itu dibiarkan, semakin gelap hati seseorang, sehingga sulit menerima nasihat dan cahaya hidayah. Dosa membuat ruh melemah, iman menurun, dan hati menjadi keras.Lalai dari zikir dan ibadahRuh yang tidak diberi makanan berupa zikir, doa, dan ibadah akan menjadi lemah seperti halnya jasad. Allah Ta’ala memperingatkan,وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ نَسُوا۟ ٱللَّهَ فَأَنسَىٰهُمْ أَنفُسَهُمْ ۚ“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, maka Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.” (QS. Al-Hasyr: 19)Ketika seseorang melupakan Allah, ia kehilangan arah hidup. Ia lupa tujuan penciptaannya, lupa kewajibannya, dan akhirnya justru merugikan dirinya sendiri.Syubhat, syahwat, dan hawa nafsuSyubhat merusak pemikiran. Syahwat merusak keinginan dan tindakan. Hawa nafsu merusak keteguhan hati.Tiga hal ini adalah musuh besar ruh. Allah Ta’ala menyebut bahwa mengikuti hawa nafsu akan menyesatkan dari jalan yang benar,وَلَا تَتَّبِعِ ٱلْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ“Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan dari jalan Allah.” (QS. Shad: 26)Syubhat membuat seseorang ragu terhadap agama, syahwat membuatnya mudah tergelincir, dan hawa nafsu membuatnya membenarkan kesalahan.Tidak menuntut ilmu agamaHati tanpa ilmu akan kosong dan mudah disusupi kebodohan, syubhat, serta bisikan setan. Ilmu adalah cahaya, dan kebodohan adalah kegelapan. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ“Apakah sama orang-orang yang mengetahui dan yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)Buruknya teman dan lingkunganRuh sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan. Teman yang buruk bisa menyeret seseorang kepada kelalaian dan dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل“Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat, siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Lihat Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)Lingkungan buruk membuat ruh sulit berkembang, sementara teman saleh adalah penolong bagi iman dan ketenangan hati.Perjalanan mengenal diri adalah perjalanan pulangMengenal diri bukan sekadar mengetahui kelemahan diri, tapi memahami dari mana kita berasal dan ke mana kita akan kembali. Allah Ta’ala berfirman,قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ“Sesungguhnya kami milik Allah, dan kepada-Nya kami akan kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156)Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengenali diri, memperbaiki diri, dan mendekat kepada-Nya dengan segenap hati. Aamiin.Baca juga: Faktor Internal Perusak Iman***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi TogglePertama, mengetahui unsur dasar penciptaan diriUnsur jasad (lahir)Unsur ruh (batin)Kedua, mengenali kebutuhan pokok diriKetiga, mengenali hal-hal yang merusak diriDosa dan maksiatLalai dari zikir dan ibadahSyubhat, syahwat, dan hawa nafsuTidak menuntut ilmu agamaBuruknya teman dan lingkunganPerjalanan mengenal diri adalah perjalanan pulangDalam perjalanan hidup yang penuh liku, manusia kerap tersesat bukan karena gelapnya jalan, tetapi karena tidak mengenal dirinya sendiri. Kita berjalan jauh, mencari makna ke berbagai arah, padahal kunci ketenangan itu bersemayam di dalam diri.Saat seseorang mulai mengenali dirinya, ia tidak lagi asing dengan asal-usulnya, mengerti apa yang benar-benar ia butuhkan, dan mampu membedakan mana yang menguatkan serta mana yang perlahan merusaknya. Dari situlah lahir sebuah kompas batin yang menuntun langkah agar tidak mudah goyah oleh berbagai fitnah.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,مَنْ عرف نفسه بالضعف عرف ربه بالقوة، ومن عرفها بالعجز عرف ربه بالقدرة، ومن عرفها بالذل، عرف ربه بالعز، ومن عرفها بالجهل، عرف ربه بالعلم“Barang siapa mengenal dirinya sebagai makhluk yang lemah, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Kuat.Barang siapa mengenal dirinya sebagai tidak mampu, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Berkuasa.Barang siapa mengenal dirinya sebagai hina, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Mulia.Barang siapa mengenal dirinya sebagai bodoh, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Mengetahui.” (Madarijus Salikin, 1: 427)Mengenal diri bukan sekadar memahami kelebihan, tetapi juga berani menatap kelemahan dengan jujur. Dalam kejujuran itu, hati menjadi lebih lapang, lebih lembut, dan membuat kita menyadari kelemahan, kebutuhan, dan ketergantungan total kepada Allah Ta’ala.Ada beberapa cara agar kita dapat mengenali diri sendiri lebih dalam.Pertama, mengetahui unsur dasar penciptaan diriManusia adalah makhluk istimewa (mulia), diberi akal, diberi amanah, dan dijadikan khalifah di bumi. Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ“Sungguh Kami telah memuliakan anak Adam…” (QS. Al-Isra’: 70)Kemuliaan itu bukan tanpa alasan. Salah satunya adalah karena manusia diciptakan dari dua unsur besar, yaitu jasad dan ruh.Unsur jasad (lahir)Allah Ta’ala berfirman,وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah.” (QS. Ar-Rum: 20)Jasad manusia berasal dari tanah, membutuhkan makanan, pakaian, tempat tinggal, istirahat, dan perawatan. Semua itu adalah tanda bahwa manusia lemah dan bergantung pada pemberian Allah.Unsur ruh (batin)Allah Ta’ala juga berfirman mengenai ruh,وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِ ۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّى“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu urusan Rabb-ku…” (QS. Al-Isra’: 85)Ruh adalah tiupan kemuliaan dari Allah Ta’ala. Ia tidak terlihat, tidak tersentuh, tetapi ia yang menggerakkan hati, iman, dan arah hidup kita.Oleh karena itu, siapa saja yang hanya memperhatikan jasadnya, tetapi membiarkan ruhnya kelaparan, ia telah merusak keseimbangan terhadap dirinya sendiri.Baca juga: Dua Hikmah Penciptaan ManusiaKedua, mengenali kebutuhan pokok diriKetika kita telah mengetahui bahwa manusia diciptakan dari dua unsur (jasmani dan rohani), maka selanjutnya untuk bisa mengenal diri sendiri perlu juga untuk mengetahui kebutuhan pokok atas jasmani dan rohani tersebut.Kebutuhan pokok jasad meliputi pangan (makanan), sandang (pakaian), dan papan (tempat tinggal), karena ketiganya adalah kebutuhan dasar yang membuat manusia mampu bertahan hidup.Allah Ta’ala berfirman,وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan…” (QS. Al-A‘raf: 31)Oleh karena itu, kebutuhan jasad memang harus dipenuhi, namun tidak boleh dituruti secara berlebihan atau tanpa batas.Kemudian adalah kebutuhan ruh. Ruh adalah inti kehidupan. Ia hidup bukan dari makan dan minum, tetapi dari ilmu dan ibadah.Imam Ahmad rahimahullah berkata,الناس إلى العلم أحوج منهم إلى الطعام والشراب. لأن الرجل يحتاج إلى الطعام والشراب في اليوم مرة أو مرتين. وحاجته إلى العلم بعدد أنفاسه“Manusia lebih butuh kepada ilmu (agama), dibandingkan kebutuhan terhadap makanan dan minuman. Karena seseorang dalam sehari hanya membutuhkan makan dan minum sekali atau dua kali. Sedangkan ia membutuhkan ilmu dalam setiap helaan nafasnya.” (Madarijus Salikin, 2: 440)Tanpa ilmu, seseorang akan tersesat. Tanpa ibadah, ruh menjadi hampa. Allah Ta’ala menegaskan tujuan penciptaan manusia,وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Inilah makanan bagi ruh, yakni dengan salat, zikir, membaca Al-Qur’an, menuntut ilmu, dan mendekat kepada Allah dalam setiap keadaan.Ketiga, mengenali hal-hal yang merusak diriSetelah mengetahui dari apa kita diciptakan dan apa kebutuhan utama diri, kita juga wajib mengenali apa saja yang dapat merusak kita, baik jasmani maupun rohani.Hal-hal yang dapat merusak jasad di antaranya adalah mengonsumsi makanan haram atau berbahaya, melakukan kebiasaan yang merusak kesehatan, serta bersikap malas dan tidak menjaga amanah tubuh.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا“Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atas dirimu.” (HR. Bukhari)Sehingga jasad ini adalah amanah dari Allah yang wajib dijaga dan tidak boleh disia-siakan.Selain perusak jasad, ada pula hal-hal yang merusak ruh. Kerusakan ruh jauh lebih berbahaya daripada kerusakan jasad, karena ruh adalah pusat keimanan, ketenangan, dan arah hidup. Jika ruh rusak, maka seluruh kehidupan ikut rusak. Berikut ini beberapa hal yang paling merusak ruh seorang hamba:Dosa dan maksiatDosa adalah racun bagi hati. Setiap kali seseorang berbuat maksiat, maka ia sedang menambah noda yang menggelapkan hatinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ: {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}“Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristigfar, dan bertobat; niscaya noda itu akan dihapus. Tapi jika dia kembali berbuat dosa, niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya. Itulah penutup yang difirmankan Allah, “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka” (QS. Al-Muthaffifin: 14).” (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu. Hadis ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzi)Semakin banyak noda itu dibiarkan, semakin gelap hati seseorang, sehingga sulit menerima nasihat dan cahaya hidayah. Dosa membuat ruh melemah, iman menurun, dan hati menjadi keras.Lalai dari zikir dan ibadahRuh yang tidak diberi makanan berupa zikir, doa, dan ibadah akan menjadi lemah seperti halnya jasad. Allah Ta’ala memperingatkan,وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ نَسُوا۟ ٱللَّهَ فَأَنسَىٰهُمْ أَنفُسَهُمْ ۚ“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, maka Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.” (QS. Al-Hasyr: 19)Ketika seseorang melupakan Allah, ia kehilangan arah hidup. Ia lupa tujuan penciptaannya, lupa kewajibannya, dan akhirnya justru merugikan dirinya sendiri.Syubhat, syahwat, dan hawa nafsuSyubhat merusak pemikiran. Syahwat merusak keinginan dan tindakan. Hawa nafsu merusak keteguhan hati.Tiga hal ini adalah musuh besar ruh. Allah Ta’ala menyebut bahwa mengikuti hawa nafsu akan menyesatkan dari jalan yang benar,وَلَا تَتَّبِعِ ٱلْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ“Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan dari jalan Allah.” (QS. Shad: 26)Syubhat membuat seseorang ragu terhadap agama, syahwat membuatnya mudah tergelincir, dan hawa nafsu membuatnya membenarkan kesalahan.Tidak menuntut ilmu agamaHati tanpa ilmu akan kosong dan mudah disusupi kebodohan, syubhat, serta bisikan setan. Ilmu adalah cahaya, dan kebodohan adalah kegelapan. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ“Apakah sama orang-orang yang mengetahui dan yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)Buruknya teman dan lingkunganRuh sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan. Teman yang buruk bisa menyeret seseorang kepada kelalaian dan dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل“Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat, siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Lihat Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)Lingkungan buruk membuat ruh sulit berkembang, sementara teman saleh adalah penolong bagi iman dan ketenangan hati.Perjalanan mengenal diri adalah perjalanan pulangMengenal diri bukan sekadar mengetahui kelemahan diri, tapi memahami dari mana kita berasal dan ke mana kita akan kembali. Allah Ta’ala berfirman,قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ“Sesungguhnya kami milik Allah, dan kepada-Nya kami akan kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156)Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengenali diri, memperbaiki diri, dan mendekat kepada-Nya dengan segenap hati. Aamiin.Baca juga: Faktor Internal Perusak Iman***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id
Prev     Next