Saat Akal Harus Tunduk kepada Wahyu

Daftar Isi ToggleAkal untuk memahami, bukan untuk menentangSikap ahlus sunnah terhadap sifat Allah dan hal-hal gaibAkal tidak mampu menimbang kadar dosaBahaya menjadikan akal sebagai hakim atas wahyuTundukkan akal, tegakkan imanSalah satu ciri utama orang bertakwa yang disebut dalam Al-Qur’an adalah mereka yang “beriman kepada yang gaib.”  Allah Ta’ala berfirman,ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ“(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. Al-Baqarah: 3)Ayat ini merupakan fondasi akidah seorang Muslim. Sebab, kehidupan manusia tidak hanya terbatas pada dunia yang terlihat, tetapi juga mencakup alam yang tak bisa dijangkau oleh pancaindra, seperti malaikat, surga, neraka, azab kubur, dan sifat-sifat Allah Ta’ala.Beriman kepada hal-hal gaib adalah tanda kerendahan hati di hadapan kebesaran Allah Ta’ala. Seorang mukmin menyadari bahwa ilmunya terbatas, sedangkan ilmu Allah Ta’ala meliputi segala sesuatu. Maka ketika wahyu datang membawa kabar tentang sesuatu yang tak bisa dijangkau akal, ia tidak menolaknya. Ia menerimanya dengan penuh keyakinan, karena yakin bahwa yang berbicara adalah Allah Yang Maha Mengetahui, dan yang menyampaikan adalah Rasul yang jujur lagi terpercaya.Akal untuk memahami, bukan untuk menentangAkal adalah karunia agung dari Allah Ta’ala. Dengannya manusia bisa membedakan yang benar dari yang batil, memahami perintah dan larangan, serta mengenal Tuhannya. Namun, akal bukan sumber kebenaran mutlak. Akal hanya mampu menembus hal-hal yang bisa diindra, sementara perkara gaib berada di luar jangkauannya.Oleh karena itu, para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa akal digunakan untuk memahami dan membenarkan wahyu, bukan untuk menolak dan menyelewengkannya. Imam Ahmad rahimahullah berkata,لا يُوصَفُ اللهُ إلا بما وصف به نفسَهُ أو وصفه به رسولُه… لا يتجاوز القرآن والحديث“Allah tidak boleh disifati kecuali dengan apa yang Dia sifati bagi diri-Nya atau yang Rasul-Nya sifati; tidak boleh melampaui al-Qur’an dan hadis.” (Majmû‘ al-Fatâwâ, 5: 26)Perkataan ini menjadi kaidah agung dalam masalah akidah. Imam Ahmad rahimahullah menegaskan bahwa hal-hal gaib dan sifat-sifat Allah hanya boleh dibicarakan berdasarkan nash yang sahih, dan tidak boleh diukur dengan akal manusia. Sebab, wilayah gaib adalah milik wahyu, bukan ruang untuk spekulasi logika. Barang siapa memaksakan akalnya untuk menembus apa yang Allah Ta’ala sembunyikan, ia akan tersesat dalam keraguan.Sikap ahlus sunnah terhadap sifat Allah dan hal-hal gaibDalam perkara-perkara gaib seperti sifat-sifat Allah (misalnya tangan, wajah, turun ke langit dunia, dan beristiwa di atas ‘Arsy), Ahlus Sunnah wal Jama‘ah bersikap adil dan beradab. Mereka menetapkan sebagaimana datangnya dalam nash, tanpa menyerupakan (tasybîh), tanpa menolak (ta‘thîl), tanpa menyelewengkan makna (tahrîf), dan tanpa menanyakan “bagaimana” (takyîf).Salah satu contoh penerapan prinsip sebagaimana ucapan Imam Ahmad sebelumnya di atas tampak pada ucapan Imam Malik bin Anas rahimahullah. Diriwayatkan secara masyhur bahwa ketika beliau ditanya tentang firman Allah,ٱلرَّحْمَٰنُ عَلَى ٱلْعَرْشِ ٱسْتَوَىٰ“Yang Maha Pengasih beristiwa di atas ‘Arsy” (QS. Thaha: 5),beliau menjawab,الاستواء معلوم، والكيف مجهول، والإيمان به واجب، والسؤال عنه بدعة“Al-istiwa’ itu ma‘lum (maknanya diketahui), kaifiyyah-nya majhûl (tatacaranya tidak diketahui), beriman kepadanya wajib, dan bertanya tentang bagaimana-nya adalah bid‘ah.” (Diriwayatkan dalam Al-Atsar al-Masyhûr ‘an al-Imâm Mâlik fî Sifati al-Istiwa’, hal. 15; lihat juga Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bârî, 13: 406)Ucapan Imam Malik ini menjadi kaidah besar dalam manhaj Ahlus Sunnah wal Jama‘ah. Mereka meyakini bahwa Allah Ta’ala memiliki sifat-sifat sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, namun tidak menyerupai makhluk dalam sifat apa pun, sebagaimana firman-Nya,لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌ ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syûrâ: 11)Karena itu, ketika disebut bahwa Allah beristiwa di atas ‘Arsy, seorang mukmin tidak membayangkan bagaimana caranya. Ia cukup beriman sebagaimana datang dalam nash, karena hakikat “bagaimana” itu hanya diketahui oleh Allah.Demikian pula halnya dengan turunnya Allah ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, keberadaan azab kubur, nikmat surga, dan kedahsyatan neraka, semuanya benar, walaupun akal manusia tidak mampu membayangkannya. Seorang mukmin yang jujur cukup berkata,سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا“Kami dengar dan kami taati.” (QS. Al-Baqarah: 285)Akal tidak mampu menimbang kadar dosaSalah satu bukti paling nyata bahwa akal manusia tidak bisa dijadikan tolok ukur kebenaran adalah ketika menilai besar kecilnya dosa. Secara logika, banyak orang akan mengira bahwa membunuh manusia, mencuri, atau berzina jauh lebih berat dosanya daripada sekadar menyembelih hewan dengan niat selain untuk Allah. Namun, wahyu membalik pandangan itu sepenuhnya.Dalam pandangan syariat, menyembelih hewan bukan karena Allah termasuk dosa syirik akbar, dosa yang paling besar dan tidak akan diampuni jika pelakunya mati tanpa tobat. Adapun pembunuhan, zina, mencuri, dan dosa besar lainnya, meskipun sangat berat, masih mungkin diampuni oleh Allah apabila pelakunya bertobat dengan tulus.Akal mungkin sulit menerima bahwa perbuatan yang tampak ringan, seperti mempersembahkan sembelihan untuk selain Allah, bisa lebih berat daripada membunuh manusia. Namun, di sinilah ujian iman sesungguhnya. Orang beriman menimbang dosa bukan dengan logika, tetapi dengan timbangan wahyu. Ia tunduk kepada keputusan Allah, karena Allah sendiri telah menegaskan,يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ“Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya syirik itu benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqmân: 13)Syirik adalah bentuk kezaliman terbesar, karena menempatkan makhluk sejajar dengan Sang Pencipta. Ia bukan sekadar pelanggaran terhadap aturan, tetapi pengkhianatan terhadap hak Allah untuk disembah semata.Akal manusia tidak mampu menilai kedalaman makna ini, sebab akal hanya melihat dari sisi lahir: penderitaan, kerugian, atau dampak sosial. Sedangkan wahyu melihat dari sisi hakikat: siapa yang dilanggar dan siapa yang dilawan. Dosa terhadap makhluk memang berat, tetapi dosa terhadap Allah, khususnya kesyirikan, jauh lebih dahsyat.Maka, siapa yang memahami hal ini akan sadar bahwa ukuran benar dan salah bukan ditentukan oleh logika, tetapi oleh petunjuk Allah. Seorang mukmin sejati menyerahkan penilaiannya kepada wahyu, karena ia tahu: akal bisa keliru menimbang dosa, tetapi wahyu tidak pernah salah menunjukkan jalan kebenaran.Bahaya menjadikan akal sebagai hakim atas wahyuSejarah menunjukkan banyaknya kelompok sesat yang tersesat karena menjadikan akal sebagai hakim di atas nash. Kaum Mu‘tazilah dan Jahmiyyah, misalnya, mereka menolak ayat-ayat tentang sifat Allah karena dianggap tidak logis. Mereka menakwil maknanya agar sesuai dengan filsafat manusia. Padahal, logika manusia tidak layak menilai wahyu Rabbul ‘alamin.Menolak wahyu karena akal tidak mampu membayangkan hakikatnya adalah bentuk kesombongan terhadap Allah. Bukankah manusia tidak melihat ruhnya sendiri, namun yakin bahwa ia hidup? Bukankah manusia tidak melihat malaikat, namun percaya mereka ada? Maka bagaimana mungkin ia menolak berita dari Allah hanya karena tak sesuai dengan bayangannya?Orang yang mendahulukan iman di atas akal akan merasakan ketenangan yang luar biasa. Ia tidak terseret oleh keraguan, tidak terguncang oleh hal yang tidak bisa dijelaskan secara logika. Ia yakin bahwa kabar dari Allah pasti benar, janji-Nya pasti nyata, dan ancaman-Nya pasti terjadi.Ia beriman bahwa Allah melihatnya walau ia tidak melihat Allah. Ia takut kepada azab kubur walau belum pernah melihat kubur yang terbuka. Ia merindukan surga walau belum mencium harumnya. Inilah ketenangan yang hanya dimiliki orang beriman: keyakinan yang tidak bergantung pada penglihatan, tapi pada kepercayaan penuh kepada Rabbnya.Tundukkan akal, tegakkan imanSaudaraku, akal adalah cahaya, tapi ia hanya bersinar ketika mendapat petunjuk dari wahyu. Jika dijadikan sumber kebenaran, ia akan menyesatkan. Karena itu, dalam urusan yang gaib dan dalam hal-hal yang tak terjangkau logika, seperti sifat-sifat Allah, kehidupan akhirat, dan kadar dosa, maka kedepankan iman, bukan debat akal.Percayalah, bahwa apa yang datang dari Allah pasti benar, meski tak bisa dijangkau oleh nalar manusia. Orang yang menundukkan akalnya di hadapan wahyu akan ditinggikan derajatnya, karena ia menempatkan diri sebagai hamba yang tunduk, bukan hakim atas agama.Dan kelak di akhirat, ketika mata telah melihat kebenaran yang dulu hanya diimani, mereka akan menyesal yang dulu berkata, “Kami tidak percaya sebelum melihat.” Sedangkan orang beriman akan tersenyum, karena ia sudah yakin sejak di dunia.Wallahu a‘lam bish-shawâb.Baca juga: Tuntunan Syariat dalam Menyikapi Perbedaan Akal Manusia***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Saat Akal Harus Tunduk kepada Wahyu

Daftar Isi ToggleAkal untuk memahami, bukan untuk menentangSikap ahlus sunnah terhadap sifat Allah dan hal-hal gaibAkal tidak mampu menimbang kadar dosaBahaya menjadikan akal sebagai hakim atas wahyuTundukkan akal, tegakkan imanSalah satu ciri utama orang bertakwa yang disebut dalam Al-Qur’an adalah mereka yang “beriman kepada yang gaib.”  Allah Ta’ala berfirman,ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ“(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. Al-Baqarah: 3)Ayat ini merupakan fondasi akidah seorang Muslim. Sebab, kehidupan manusia tidak hanya terbatas pada dunia yang terlihat, tetapi juga mencakup alam yang tak bisa dijangkau oleh pancaindra, seperti malaikat, surga, neraka, azab kubur, dan sifat-sifat Allah Ta’ala.Beriman kepada hal-hal gaib adalah tanda kerendahan hati di hadapan kebesaran Allah Ta’ala. Seorang mukmin menyadari bahwa ilmunya terbatas, sedangkan ilmu Allah Ta’ala meliputi segala sesuatu. Maka ketika wahyu datang membawa kabar tentang sesuatu yang tak bisa dijangkau akal, ia tidak menolaknya. Ia menerimanya dengan penuh keyakinan, karena yakin bahwa yang berbicara adalah Allah Yang Maha Mengetahui, dan yang menyampaikan adalah Rasul yang jujur lagi terpercaya.Akal untuk memahami, bukan untuk menentangAkal adalah karunia agung dari Allah Ta’ala. Dengannya manusia bisa membedakan yang benar dari yang batil, memahami perintah dan larangan, serta mengenal Tuhannya. Namun, akal bukan sumber kebenaran mutlak. Akal hanya mampu menembus hal-hal yang bisa diindra, sementara perkara gaib berada di luar jangkauannya.Oleh karena itu, para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa akal digunakan untuk memahami dan membenarkan wahyu, bukan untuk menolak dan menyelewengkannya. Imam Ahmad rahimahullah berkata,لا يُوصَفُ اللهُ إلا بما وصف به نفسَهُ أو وصفه به رسولُه… لا يتجاوز القرآن والحديث“Allah tidak boleh disifati kecuali dengan apa yang Dia sifati bagi diri-Nya atau yang Rasul-Nya sifati; tidak boleh melampaui al-Qur’an dan hadis.” (Majmû‘ al-Fatâwâ, 5: 26)Perkataan ini menjadi kaidah agung dalam masalah akidah. Imam Ahmad rahimahullah menegaskan bahwa hal-hal gaib dan sifat-sifat Allah hanya boleh dibicarakan berdasarkan nash yang sahih, dan tidak boleh diukur dengan akal manusia. Sebab, wilayah gaib adalah milik wahyu, bukan ruang untuk spekulasi logika. Barang siapa memaksakan akalnya untuk menembus apa yang Allah Ta’ala sembunyikan, ia akan tersesat dalam keraguan.Sikap ahlus sunnah terhadap sifat Allah dan hal-hal gaibDalam perkara-perkara gaib seperti sifat-sifat Allah (misalnya tangan, wajah, turun ke langit dunia, dan beristiwa di atas ‘Arsy), Ahlus Sunnah wal Jama‘ah bersikap adil dan beradab. Mereka menetapkan sebagaimana datangnya dalam nash, tanpa menyerupakan (tasybîh), tanpa menolak (ta‘thîl), tanpa menyelewengkan makna (tahrîf), dan tanpa menanyakan “bagaimana” (takyîf).Salah satu contoh penerapan prinsip sebagaimana ucapan Imam Ahmad sebelumnya di atas tampak pada ucapan Imam Malik bin Anas rahimahullah. Diriwayatkan secara masyhur bahwa ketika beliau ditanya tentang firman Allah,ٱلرَّحْمَٰنُ عَلَى ٱلْعَرْشِ ٱسْتَوَىٰ“Yang Maha Pengasih beristiwa di atas ‘Arsy” (QS. Thaha: 5),beliau menjawab,الاستواء معلوم، والكيف مجهول، والإيمان به واجب، والسؤال عنه بدعة“Al-istiwa’ itu ma‘lum (maknanya diketahui), kaifiyyah-nya majhûl (tatacaranya tidak diketahui), beriman kepadanya wajib, dan bertanya tentang bagaimana-nya adalah bid‘ah.” (Diriwayatkan dalam Al-Atsar al-Masyhûr ‘an al-Imâm Mâlik fî Sifati al-Istiwa’, hal. 15; lihat juga Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bârî, 13: 406)Ucapan Imam Malik ini menjadi kaidah besar dalam manhaj Ahlus Sunnah wal Jama‘ah. Mereka meyakini bahwa Allah Ta’ala memiliki sifat-sifat sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, namun tidak menyerupai makhluk dalam sifat apa pun, sebagaimana firman-Nya,لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌ ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syûrâ: 11)Karena itu, ketika disebut bahwa Allah beristiwa di atas ‘Arsy, seorang mukmin tidak membayangkan bagaimana caranya. Ia cukup beriman sebagaimana datang dalam nash, karena hakikat “bagaimana” itu hanya diketahui oleh Allah.Demikian pula halnya dengan turunnya Allah ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, keberadaan azab kubur, nikmat surga, dan kedahsyatan neraka, semuanya benar, walaupun akal manusia tidak mampu membayangkannya. Seorang mukmin yang jujur cukup berkata,سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا“Kami dengar dan kami taati.” (QS. Al-Baqarah: 285)Akal tidak mampu menimbang kadar dosaSalah satu bukti paling nyata bahwa akal manusia tidak bisa dijadikan tolok ukur kebenaran adalah ketika menilai besar kecilnya dosa. Secara logika, banyak orang akan mengira bahwa membunuh manusia, mencuri, atau berzina jauh lebih berat dosanya daripada sekadar menyembelih hewan dengan niat selain untuk Allah. Namun, wahyu membalik pandangan itu sepenuhnya.Dalam pandangan syariat, menyembelih hewan bukan karena Allah termasuk dosa syirik akbar, dosa yang paling besar dan tidak akan diampuni jika pelakunya mati tanpa tobat. Adapun pembunuhan, zina, mencuri, dan dosa besar lainnya, meskipun sangat berat, masih mungkin diampuni oleh Allah apabila pelakunya bertobat dengan tulus.Akal mungkin sulit menerima bahwa perbuatan yang tampak ringan, seperti mempersembahkan sembelihan untuk selain Allah, bisa lebih berat daripada membunuh manusia. Namun, di sinilah ujian iman sesungguhnya. Orang beriman menimbang dosa bukan dengan logika, tetapi dengan timbangan wahyu. Ia tunduk kepada keputusan Allah, karena Allah sendiri telah menegaskan,يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ“Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya syirik itu benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqmân: 13)Syirik adalah bentuk kezaliman terbesar, karena menempatkan makhluk sejajar dengan Sang Pencipta. Ia bukan sekadar pelanggaran terhadap aturan, tetapi pengkhianatan terhadap hak Allah untuk disembah semata.Akal manusia tidak mampu menilai kedalaman makna ini, sebab akal hanya melihat dari sisi lahir: penderitaan, kerugian, atau dampak sosial. Sedangkan wahyu melihat dari sisi hakikat: siapa yang dilanggar dan siapa yang dilawan. Dosa terhadap makhluk memang berat, tetapi dosa terhadap Allah, khususnya kesyirikan, jauh lebih dahsyat.Maka, siapa yang memahami hal ini akan sadar bahwa ukuran benar dan salah bukan ditentukan oleh logika, tetapi oleh petunjuk Allah. Seorang mukmin sejati menyerahkan penilaiannya kepada wahyu, karena ia tahu: akal bisa keliru menimbang dosa, tetapi wahyu tidak pernah salah menunjukkan jalan kebenaran.Bahaya menjadikan akal sebagai hakim atas wahyuSejarah menunjukkan banyaknya kelompok sesat yang tersesat karena menjadikan akal sebagai hakim di atas nash. Kaum Mu‘tazilah dan Jahmiyyah, misalnya, mereka menolak ayat-ayat tentang sifat Allah karena dianggap tidak logis. Mereka menakwil maknanya agar sesuai dengan filsafat manusia. Padahal, logika manusia tidak layak menilai wahyu Rabbul ‘alamin.Menolak wahyu karena akal tidak mampu membayangkan hakikatnya adalah bentuk kesombongan terhadap Allah. Bukankah manusia tidak melihat ruhnya sendiri, namun yakin bahwa ia hidup? Bukankah manusia tidak melihat malaikat, namun percaya mereka ada? Maka bagaimana mungkin ia menolak berita dari Allah hanya karena tak sesuai dengan bayangannya?Orang yang mendahulukan iman di atas akal akan merasakan ketenangan yang luar biasa. Ia tidak terseret oleh keraguan, tidak terguncang oleh hal yang tidak bisa dijelaskan secara logika. Ia yakin bahwa kabar dari Allah pasti benar, janji-Nya pasti nyata, dan ancaman-Nya pasti terjadi.Ia beriman bahwa Allah melihatnya walau ia tidak melihat Allah. Ia takut kepada azab kubur walau belum pernah melihat kubur yang terbuka. Ia merindukan surga walau belum mencium harumnya. Inilah ketenangan yang hanya dimiliki orang beriman: keyakinan yang tidak bergantung pada penglihatan, tapi pada kepercayaan penuh kepada Rabbnya.Tundukkan akal, tegakkan imanSaudaraku, akal adalah cahaya, tapi ia hanya bersinar ketika mendapat petunjuk dari wahyu. Jika dijadikan sumber kebenaran, ia akan menyesatkan. Karena itu, dalam urusan yang gaib dan dalam hal-hal yang tak terjangkau logika, seperti sifat-sifat Allah, kehidupan akhirat, dan kadar dosa, maka kedepankan iman, bukan debat akal.Percayalah, bahwa apa yang datang dari Allah pasti benar, meski tak bisa dijangkau oleh nalar manusia. Orang yang menundukkan akalnya di hadapan wahyu akan ditinggikan derajatnya, karena ia menempatkan diri sebagai hamba yang tunduk, bukan hakim atas agama.Dan kelak di akhirat, ketika mata telah melihat kebenaran yang dulu hanya diimani, mereka akan menyesal yang dulu berkata, “Kami tidak percaya sebelum melihat.” Sedangkan orang beriman akan tersenyum, karena ia sudah yakin sejak di dunia.Wallahu a‘lam bish-shawâb.Baca juga: Tuntunan Syariat dalam Menyikapi Perbedaan Akal Manusia***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleAkal untuk memahami, bukan untuk menentangSikap ahlus sunnah terhadap sifat Allah dan hal-hal gaibAkal tidak mampu menimbang kadar dosaBahaya menjadikan akal sebagai hakim atas wahyuTundukkan akal, tegakkan imanSalah satu ciri utama orang bertakwa yang disebut dalam Al-Qur’an adalah mereka yang “beriman kepada yang gaib.”  Allah Ta’ala berfirman,ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ“(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. Al-Baqarah: 3)Ayat ini merupakan fondasi akidah seorang Muslim. Sebab, kehidupan manusia tidak hanya terbatas pada dunia yang terlihat, tetapi juga mencakup alam yang tak bisa dijangkau oleh pancaindra, seperti malaikat, surga, neraka, azab kubur, dan sifat-sifat Allah Ta’ala.Beriman kepada hal-hal gaib adalah tanda kerendahan hati di hadapan kebesaran Allah Ta’ala. Seorang mukmin menyadari bahwa ilmunya terbatas, sedangkan ilmu Allah Ta’ala meliputi segala sesuatu. Maka ketika wahyu datang membawa kabar tentang sesuatu yang tak bisa dijangkau akal, ia tidak menolaknya. Ia menerimanya dengan penuh keyakinan, karena yakin bahwa yang berbicara adalah Allah Yang Maha Mengetahui, dan yang menyampaikan adalah Rasul yang jujur lagi terpercaya.Akal untuk memahami, bukan untuk menentangAkal adalah karunia agung dari Allah Ta’ala. Dengannya manusia bisa membedakan yang benar dari yang batil, memahami perintah dan larangan, serta mengenal Tuhannya. Namun, akal bukan sumber kebenaran mutlak. Akal hanya mampu menembus hal-hal yang bisa diindra, sementara perkara gaib berada di luar jangkauannya.Oleh karena itu, para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa akal digunakan untuk memahami dan membenarkan wahyu, bukan untuk menolak dan menyelewengkannya. Imam Ahmad rahimahullah berkata,لا يُوصَفُ اللهُ إلا بما وصف به نفسَهُ أو وصفه به رسولُه… لا يتجاوز القرآن والحديث“Allah tidak boleh disifati kecuali dengan apa yang Dia sifati bagi diri-Nya atau yang Rasul-Nya sifati; tidak boleh melampaui al-Qur’an dan hadis.” (Majmû‘ al-Fatâwâ, 5: 26)Perkataan ini menjadi kaidah agung dalam masalah akidah. Imam Ahmad rahimahullah menegaskan bahwa hal-hal gaib dan sifat-sifat Allah hanya boleh dibicarakan berdasarkan nash yang sahih, dan tidak boleh diukur dengan akal manusia. Sebab, wilayah gaib adalah milik wahyu, bukan ruang untuk spekulasi logika. Barang siapa memaksakan akalnya untuk menembus apa yang Allah Ta’ala sembunyikan, ia akan tersesat dalam keraguan.Sikap ahlus sunnah terhadap sifat Allah dan hal-hal gaibDalam perkara-perkara gaib seperti sifat-sifat Allah (misalnya tangan, wajah, turun ke langit dunia, dan beristiwa di atas ‘Arsy), Ahlus Sunnah wal Jama‘ah bersikap adil dan beradab. Mereka menetapkan sebagaimana datangnya dalam nash, tanpa menyerupakan (tasybîh), tanpa menolak (ta‘thîl), tanpa menyelewengkan makna (tahrîf), dan tanpa menanyakan “bagaimana” (takyîf).Salah satu contoh penerapan prinsip sebagaimana ucapan Imam Ahmad sebelumnya di atas tampak pada ucapan Imam Malik bin Anas rahimahullah. Diriwayatkan secara masyhur bahwa ketika beliau ditanya tentang firman Allah,ٱلرَّحْمَٰنُ عَلَى ٱلْعَرْشِ ٱسْتَوَىٰ“Yang Maha Pengasih beristiwa di atas ‘Arsy” (QS. Thaha: 5),beliau menjawab,الاستواء معلوم، والكيف مجهول، والإيمان به واجب، والسؤال عنه بدعة“Al-istiwa’ itu ma‘lum (maknanya diketahui), kaifiyyah-nya majhûl (tatacaranya tidak diketahui), beriman kepadanya wajib, dan bertanya tentang bagaimana-nya adalah bid‘ah.” (Diriwayatkan dalam Al-Atsar al-Masyhûr ‘an al-Imâm Mâlik fî Sifati al-Istiwa’, hal. 15; lihat juga Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bârî, 13: 406)Ucapan Imam Malik ini menjadi kaidah besar dalam manhaj Ahlus Sunnah wal Jama‘ah. Mereka meyakini bahwa Allah Ta’ala memiliki sifat-sifat sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, namun tidak menyerupai makhluk dalam sifat apa pun, sebagaimana firman-Nya,لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌ ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syûrâ: 11)Karena itu, ketika disebut bahwa Allah beristiwa di atas ‘Arsy, seorang mukmin tidak membayangkan bagaimana caranya. Ia cukup beriman sebagaimana datang dalam nash, karena hakikat “bagaimana” itu hanya diketahui oleh Allah.Demikian pula halnya dengan turunnya Allah ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, keberadaan azab kubur, nikmat surga, dan kedahsyatan neraka, semuanya benar, walaupun akal manusia tidak mampu membayangkannya. Seorang mukmin yang jujur cukup berkata,سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا“Kami dengar dan kami taati.” (QS. Al-Baqarah: 285)Akal tidak mampu menimbang kadar dosaSalah satu bukti paling nyata bahwa akal manusia tidak bisa dijadikan tolok ukur kebenaran adalah ketika menilai besar kecilnya dosa. Secara logika, banyak orang akan mengira bahwa membunuh manusia, mencuri, atau berzina jauh lebih berat dosanya daripada sekadar menyembelih hewan dengan niat selain untuk Allah. Namun, wahyu membalik pandangan itu sepenuhnya.Dalam pandangan syariat, menyembelih hewan bukan karena Allah termasuk dosa syirik akbar, dosa yang paling besar dan tidak akan diampuni jika pelakunya mati tanpa tobat. Adapun pembunuhan, zina, mencuri, dan dosa besar lainnya, meskipun sangat berat, masih mungkin diampuni oleh Allah apabila pelakunya bertobat dengan tulus.Akal mungkin sulit menerima bahwa perbuatan yang tampak ringan, seperti mempersembahkan sembelihan untuk selain Allah, bisa lebih berat daripada membunuh manusia. Namun, di sinilah ujian iman sesungguhnya. Orang beriman menimbang dosa bukan dengan logika, tetapi dengan timbangan wahyu. Ia tunduk kepada keputusan Allah, karena Allah sendiri telah menegaskan,يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ“Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya syirik itu benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqmân: 13)Syirik adalah bentuk kezaliman terbesar, karena menempatkan makhluk sejajar dengan Sang Pencipta. Ia bukan sekadar pelanggaran terhadap aturan, tetapi pengkhianatan terhadap hak Allah untuk disembah semata.Akal manusia tidak mampu menilai kedalaman makna ini, sebab akal hanya melihat dari sisi lahir: penderitaan, kerugian, atau dampak sosial. Sedangkan wahyu melihat dari sisi hakikat: siapa yang dilanggar dan siapa yang dilawan. Dosa terhadap makhluk memang berat, tetapi dosa terhadap Allah, khususnya kesyirikan, jauh lebih dahsyat.Maka, siapa yang memahami hal ini akan sadar bahwa ukuran benar dan salah bukan ditentukan oleh logika, tetapi oleh petunjuk Allah. Seorang mukmin sejati menyerahkan penilaiannya kepada wahyu, karena ia tahu: akal bisa keliru menimbang dosa, tetapi wahyu tidak pernah salah menunjukkan jalan kebenaran.Bahaya menjadikan akal sebagai hakim atas wahyuSejarah menunjukkan banyaknya kelompok sesat yang tersesat karena menjadikan akal sebagai hakim di atas nash. Kaum Mu‘tazilah dan Jahmiyyah, misalnya, mereka menolak ayat-ayat tentang sifat Allah karena dianggap tidak logis. Mereka menakwil maknanya agar sesuai dengan filsafat manusia. Padahal, logika manusia tidak layak menilai wahyu Rabbul ‘alamin.Menolak wahyu karena akal tidak mampu membayangkan hakikatnya adalah bentuk kesombongan terhadap Allah. Bukankah manusia tidak melihat ruhnya sendiri, namun yakin bahwa ia hidup? Bukankah manusia tidak melihat malaikat, namun percaya mereka ada? Maka bagaimana mungkin ia menolak berita dari Allah hanya karena tak sesuai dengan bayangannya?Orang yang mendahulukan iman di atas akal akan merasakan ketenangan yang luar biasa. Ia tidak terseret oleh keraguan, tidak terguncang oleh hal yang tidak bisa dijelaskan secara logika. Ia yakin bahwa kabar dari Allah pasti benar, janji-Nya pasti nyata, dan ancaman-Nya pasti terjadi.Ia beriman bahwa Allah melihatnya walau ia tidak melihat Allah. Ia takut kepada azab kubur walau belum pernah melihat kubur yang terbuka. Ia merindukan surga walau belum mencium harumnya. Inilah ketenangan yang hanya dimiliki orang beriman: keyakinan yang tidak bergantung pada penglihatan, tapi pada kepercayaan penuh kepada Rabbnya.Tundukkan akal, tegakkan imanSaudaraku, akal adalah cahaya, tapi ia hanya bersinar ketika mendapat petunjuk dari wahyu. Jika dijadikan sumber kebenaran, ia akan menyesatkan. Karena itu, dalam urusan yang gaib dan dalam hal-hal yang tak terjangkau logika, seperti sifat-sifat Allah, kehidupan akhirat, dan kadar dosa, maka kedepankan iman, bukan debat akal.Percayalah, bahwa apa yang datang dari Allah pasti benar, meski tak bisa dijangkau oleh nalar manusia. Orang yang menundukkan akalnya di hadapan wahyu akan ditinggikan derajatnya, karena ia menempatkan diri sebagai hamba yang tunduk, bukan hakim atas agama.Dan kelak di akhirat, ketika mata telah melihat kebenaran yang dulu hanya diimani, mereka akan menyesal yang dulu berkata, “Kami tidak percaya sebelum melihat.” Sedangkan orang beriman akan tersenyum, karena ia sudah yakin sejak di dunia.Wallahu a‘lam bish-shawâb.Baca juga: Tuntunan Syariat dalam Menyikapi Perbedaan Akal Manusia***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleAkal untuk memahami, bukan untuk menentangSikap ahlus sunnah terhadap sifat Allah dan hal-hal gaibAkal tidak mampu menimbang kadar dosaBahaya menjadikan akal sebagai hakim atas wahyuTundukkan akal, tegakkan imanSalah satu ciri utama orang bertakwa yang disebut dalam Al-Qur’an adalah mereka yang “beriman kepada yang gaib.”  Allah Ta’ala berfirman,ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ“(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. Al-Baqarah: 3)Ayat ini merupakan fondasi akidah seorang Muslim. Sebab, kehidupan manusia tidak hanya terbatas pada dunia yang terlihat, tetapi juga mencakup alam yang tak bisa dijangkau oleh pancaindra, seperti malaikat, surga, neraka, azab kubur, dan sifat-sifat Allah Ta’ala.Beriman kepada hal-hal gaib adalah tanda kerendahan hati di hadapan kebesaran Allah Ta’ala. Seorang mukmin menyadari bahwa ilmunya terbatas, sedangkan ilmu Allah Ta’ala meliputi segala sesuatu. Maka ketika wahyu datang membawa kabar tentang sesuatu yang tak bisa dijangkau akal, ia tidak menolaknya. Ia menerimanya dengan penuh keyakinan, karena yakin bahwa yang berbicara adalah Allah Yang Maha Mengetahui, dan yang menyampaikan adalah Rasul yang jujur lagi terpercaya.Akal untuk memahami, bukan untuk menentangAkal adalah karunia agung dari Allah Ta’ala. Dengannya manusia bisa membedakan yang benar dari yang batil, memahami perintah dan larangan, serta mengenal Tuhannya. Namun, akal bukan sumber kebenaran mutlak. Akal hanya mampu menembus hal-hal yang bisa diindra, sementara perkara gaib berada di luar jangkauannya.Oleh karena itu, para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa akal digunakan untuk memahami dan membenarkan wahyu, bukan untuk menolak dan menyelewengkannya. Imam Ahmad rahimahullah berkata,لا يُوصَفُ اللهُ إلا بما وصف به نفسَهُ أو وصفه به رسولُه… لا يتجاوز القرآن والحديث“Allah tidak boleh disifati kecuali dengan apa yang Dia sifati bagi diri-Nya atau yang Rasul-Nya sifati; tidak boleh melampaui al-Qur’an dan hadis.” (Majmû‘ al-Fatâwâ, 5: 26)Perkataan ini menjadi kaidah agung dalam masalah akidah. Imam Ahmad rahimahullah menegaskan bahwa hal-hal gaib dan sifat-sifat Allah hanya boleh dibicarakan berdasarkan nash yang sahih, dan tidak boleh diukur dengan akal manusia. Sebab, wilayah gaib adalah milik wahyu, bukan ruang untuk spekulasi logika. Barang siapa memaksakan akalnya untuk menembus apa yang Allah Ta’ala sembunyikan, ia akan tersesat dalam keraguan.Sikap ahlus sunnah terhadap sifat Allah dan hal-hal gaibDalam perkara-perkara gaib seperti sifat-sifat Allah (misalnya tangan, wajah, turun ke langit dunia, dan beristiwa di atas ‘Arsy), Ahlus Sunnah wal Jama‘ah bersikap adil dan beradab. Mereka menetapkan sebagaimana datangnya dalam nash, tanpa menyerupakan (tasybîh), tanpa menolak (ta‘thîl), tanpa menyelewengkan makna (tahrîf), dan tanpa menanyakan “bagaimana” (takyîf).Salah satu contoh penerapan prinsip sebagaimana ucapan Imam Ahmad sebelumnya di atas tampak pada ucapan Imam Malik bin Anas rahimahullah. Diriwayatkan secara masyhur bahwa ketika beliau ditanya tentang firman Allah,ٱلرَّحْمَٰنُ عَلَى ٱلْعَرْشِ ٱسْتَوَىٰ“Yang Maha Pengasih beristiwa di atas ‘Arsy” (QS. Thaha: 5),beliau menjawab,الاستواء معلوم، والكيف مجهول، والإيمان به واجب، والسؤال عنه بدعة“Al-istiwa’ itu ma‘lum (maknanya diketahui), kaifiyyah-nya majhûl (tatacaranya tidak diketahui), beriman kepadanya wajib, dan bertanya tentang bagaimana-nya adalah bid‘ah.” (Diriwayatkan dalam Al-Atsar al-Masyhûr ‘an al-Imâm Mâlik fî Sifati al-Istiwa’, hal. 15; lihat juga Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bârî, 13: 406)Ucapan Imam Malik ini menjadi kaidah besar dalam manhaj Ahlus Sunnah wal Jama‘ah. Mereka meyakini bahwa Allah Ta’ala memiliki sifat-sifat sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, namun tidak menyerupai makhluk dalam sifat apa pun, sebagaimana firman-Nya,لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌ ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syûrâ: 11)Karena itu, ketika disebut bahwa Allah beristiwa di atas ‘Arsy, seorang mukmin tidak membayangkan bagaimana caranya. Ia cukup beriman sebagaimana datang dalam nash, karena hakikat “bagaimana” itu hanya diketahui oleh Allah.Demikian pula halnya dengan turunnya Allah ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, keberadaan azab kubur, nikmat surga, dan kedahsyatan neraka, semuanya benar, walaupun akal manusia tidak mampu membayangkannya. Seorang mukmin yang jujur cukup berkata,سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا“Kami dengar dan kami taati.” (QS. Al-Baqarah: 285)Akal tidak mampu menimbang kadar dosaSalah satu bukti paling nyata bahwa akal manusia tidak bisa dijadikan tolok ukur kebenaran adalah ketika menilai besar kecilnya dosa. Secara logika, banyak orang akan mengira bahwa membunuh manusia, mencuri, atau berzina jauh lebih berat dosanya daripada sekadar menyembelih hewan dengan niat selain untuk Allah. Namun, wahyu membalik pandangan itu sepenuhnya.Dalam pandangan syariat, menyembelih hewan bukan karena Allah termasuk dosa syirik akbar, dosa yang paling besar dan tidak akan diampuni jika pelakunya mati tanpa tobat. Adapun pembunuhan, zina, mencuri, dan dosa besar lainnya, meskipun sangat berat, masih mungkin diampuni oleh Allah apabila pelakunya bertobat dengan tulus.Akal mungkin sulit menerima bahwa perbuatan yang tampak ringan, seperti mempersembahkan sembelihan untuk selain Allah, bisa lebih berat daripada membunuh manusia. Namun, di sinilah ujian iman sesungguhnya. Orang beriman menimbang dosa bukan dengan logika, tetapi dengan timbangan wahyu. Ia tunduk kepada keputusan Allah, karena Allah sendiri telah menegaskan,يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ“Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya syirik itu benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqmân: 13)Syirik adalah bentuk kezaliman terbesar, karena menempatkan makhluk sejajar dengan Sang Pencipta. Ia bukan sekadar pelanggaran terhadap aturan, tetapi pengkhianatan terhadap hak Allah untuk disembah semata.Akal manusia tidak mampu menilai kedalaman makna ini, sebab akal hanya melihat dari sisi lahir: penderitaan, kerugian, atau dampak sosial. Sedangkan wahyu melihat dari sisi hakikat: siapa yang dilanggar dan siapa yang dilawan. Dosa terhadap makhluk memang berat, tetapi dosa terhadap Allah, khususnya kesyirikan, jauh lebih dahsyat.Maka, siapa yang memahami hal ini akan sadar bahwa ukuran benar dan salah bukan ditentukan oleh logika, tetapi oleh petunjuk Allah. Seorang mukmin sejati menyerahkan penilaiannya kepada wahyu, karena ia tahu: akal bisa keliru menimbang dosa, tetapi wahyu tidak pernah salah menunjukkan jalan kebenaran.Bahaya menjadikan akal sebagai hakim atas wahyuSejarah menunjukkan banyaknya kelompok sesat yang tersesat karena menjadikan akal sebagai hakim di atas nash. Kaum Mu‘tazilah dan Jahmiyyah, misalnya, mereka menolak ayat-ayat tentang sifat Allah karena dianggap tidak logis. Mereka menakwil maknanya agar sesuai dengan filsafat manusia. Padahal, logika manusia tidak layak menilai wahyu Rabbul ‘alamin.Menolak wahyu karena akal tidak mampu membayangkan hakikatnya adalah bentuk kesombongan terhadap Allah. Bukankah manusia tidak melihat ruhnya sendiri, namun yakin bahwa ia hidup? Bukankah manusia tidak melihat malaikat, namun percaya mereka ada? Maka bagaimana mungkin ia menolak berita dari Allah hanya karena tak sesuai dengan bayangannya?Orang yang mendahulukan iman di atas akal akan merasakan ketenangan yang luar biasa. Ia tidak terseret oleh keraguan, tidak terguncang oleh hal yang tidak bisa dijelaskan secara logika. Ia yakin bahwa kabar dari Allah pasti benar, janji-Nya pasti nyata, dan ancaman-Nya pasti terjadi.Ia beriman bahwa Allah melihatnya walau ia tidak melihat Allah. Ia takut kepada azab kubur walau belum pernah melihat kubur yang terbuka. Ia merindukan surga walau belum mencium harumnya. Inilah ketenangan yang hanya dimiliki orang beriman: keyakinan yang tidak bergantung pada penglihatan, tapi pada kepercayaan penuh kepada Rabbnya.Tundukkan akal, tegakkan imanSaudaraku, akal adalah cahaya, tapi ia hanya bersinar ketika mendapat petunjuk dari wahyu. Jika dijadikan sumber kebenaran, ia akan menyesatkan. Karena itu, dalam urusan yang gaib dan dalam hal-hal yang tak terjangkau logika, seperti sifat-sifat Allah, kehidupan akhirat, dan kadar dosa, maka kedepankan iman, bukan debat akal.Percayalah, bahwa apa yang datang dari Allah pasti benar, meski tak bisa dijangkau oleh nalar manusia. Orang yang menundukkan akalnya di hadapan wahyu akan ditinggikan derajatnya, karena ia menempatkan diri sebagai hamba yang tunduk, bukan hakim atas agama.Dan kelak di akhirat, ketika mata telah melihat kebenaran yang dulu hanya diimani, mereka akan menyesal yang dulu berkata, “Kami tidak percaya sebelum melihat.” Sedangkan orang beriman akan tersenyum, karena ia sudah yakin sejak di dunia.Wallahu a‘lam bish-shawâb.Baca juga: Tuntunan Syariat dalam Menyikapi Perbedaan Akal Manusia***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Sebelum Musibah Menimpa

قبل أن ينزل البلاء Oleh:  Hasan Abdul Hayyi حسن عبدالحي كنت أحدِّث نفسي كثيرًا وأنا حبيس البلاء عن الصَّبر، وضرورتِه للعبد في كلِّ الأحوال والمقامات، وعن الصبر وشدَّتِه على النفس، والحِكْمة من تقديره شاقًّا على العباد. ثم بعدَ حديثِ نفْسٍ طويل عن الصبر، ومع الصبر، وللصبر، أعود فأستغفر اللهَ مِن ضَعْف نفسي عن الصبر، وتقصيرها عن مقامه، وأسأله -تعالى- الصبر والسكينة. وأَخْلُص مِن كلِّ هذا الحديث لحقيقة علمية واحدة، وهي ضرورة الاستعداد بالصَّبْر ليوم البلاء، فنحن جميعًا ندري – عِلميًّا – ما الصبر، وما أنواعه أو أقسامه، ومراتب الناس مع الصبر، و… لكننا نترك كلَّ هذا جانبًا في النهاية، وننتظر “الصبر” في القلوب، وعند مواطن المِحَن ليقول هو عن نفسه وفي نفوسنا ما شاء. Dulu saat tertimpa musibah, saya sering kali menegaskan pada diri sendiri tentang kesabaran dan urgensinya bagi seorang hamba dalam setiap keadaan dan kondisi, tentang kesabaran dan sulitnya bagi jiwa manusia serta hikmah di balik kesulitan itu. Lalu setelah sekian lama memahamkannya pada diri sendiri tentang kesabaran, hidup bersama kesabaran dan bersiap untuk kesabaran, saya harus kembali memohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas kelemahan jiwaku dalam bersabar dan kelalaianku dalam mengamalkannya, kemudian saya pun memohon kepada-Nya kesabaran dan ketenteraman. Yang dapat saya simpulkan dari pembahasan ini adalah tentang satu realitas ilmiah, yaitu pentingnya menyiapkan diri dalam bersabar untuk hari datangnya ujian, karena kita semua mungkin sudah mengetahui apa itu sabar, apa saja jenis dan bentuknya, derajat-derajat manusia dalam bersabar, dan lain sebagainya, tapi pada akhirnya kita akan mengabaikan semua ini, dan hanya dapat menunggu kesabaran hakiki dalam hati pada waktu-waktu datangnya musibah, sehingga kesabaran itu sendiri yang akan menjelaskan dirinya dan menetap dalam jiwa kita sesuka hatinya. والإنسان في هذه الأرض عبْدٌ ولا بدَّ، عبدٌ لله – عزَّ وجلَّ – وحده، أو عبد لغيره مِن العباد المسخَّرين مثله، أو عبدٌ لله -تعالى- ظالِمٌ لنفسه بإشراك غير الله في قلبه، أو في مقاصده، هذه حقيقة شرعية دلَّ عليها كتابُ الله -تعالى- وسُنة نبيِّه -صلَّى الله عليه وسلَّم- كما هي حقيقة مُشاهَدة في واقع الناس ودنيا صراعاتهم على مَرِّ الأزمان. Manusia di dunia ini hanyalah seorang hamba, entah itu menjadi hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala, atau hamba bagi hamba lain sepertinya, atau juga hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala tapi dia menzalimi dirinya sendiri dengan menyekutukan-Nya dengan selain-Nya dalam hatinya atau orientasinya. Inilah hakikat syar’i yang ditegaskan dalam Kitabullah dan Sunnah Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, sekaligus sebagai hakikat yang dapat ditemukan dalam realitas hidup manusia dan medan perjuangan hidup mereka di sepanjang zaman. وكما أن كون “العبد لله وحده” يحتاج لصبر يقطع به الطريق إلى الله -تعالى- وإلى الدار الآخرة، فكذلك كون “العبد لغير الله” يضطره للصبر على مرارة شهوات نفسه، ويضطره للصبر على مرارة متابعة الشيطان، وأوليائه من عُصَاة الإنس، وطواغيتهم المارقين عن الله -عزَّ وجلَّ- وعن منهجه في الأرض. Sebagai “Hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala”, seseorang membutuhkan kesabaran dalam menempuh jalan menuju Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan kehidupan akhirat. Demikian pula sebagai “Hamba selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala”, mau tidak mau juga pasti dipaksa untuk bersabar dalam menghadapi kepahitan syahwat jiwanya, kepahitan mengikuti setan dan bala tentaranya dari manusia-manusia pelaku maksiat dan thaghut yang berpaling dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan agamanya. نَعَم، يصبر المؤمن صبرَ الشاكر، أو الراضي، أو غير السَّاخط، فتملأ السكينةُ قلْبَه، ثم هو يؤْجَر ويُثاب يوم اللقاء، ويصبر غيرُ المؤمن صبرَ مَن لا حيلة له إلا الصبر، وإن سخط قلبه، وملَّت نفْسُه، فيكون صبرُه بلاءً على بلائه. Benar! Orang yang beriman akan bersabar dengan kesabaran orang yang penuh rasa syukur, penuh kerelaan, dan tanpa keluh kesah, sehingga kedamaian akan memenuhi hatinya, lalu mendapat pahala dan balasan baik pada Hari Kiamat. Sedangkan orang yang tidak beriman akan bersabar dengan kesabaran orang yang tidak punya pilihan lain selain bersabar, meskipun hatinya murka dan jiwanya tidak terima, sehingga kesabarannya menjadi musibah lain di atas musibahnya. يصبر المؤمن على طاعة الله، وعلى أقدار الله، وبلائه المُتحتِّم عليه، ويصبر غير المؤمن على هوان نفسه، وذلَّتها في طاعة أسياده، ومتابعة أهوائه. Orang beriman akan bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan dalam menjalani takdir-takdir Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan musibah yang menimpanya. Sedangkan orang yang tidak beriman terpaksa bersabar atas kerendahan dan kehinaan dirinya dalam menaati para tuannya dan menuruti hawa nafsunya. فتحقَّقَ أن الصبر لازم على كلِّ أحد من الخلق في هذه الحياة، لكنه رِفْعة وعُلوٌّ لأقوام من المؤمنين، وذلَّة ومهانة لأقوام آخرين. Dengan demikian, kesabaran memang pasti harus dijalani oleh setiap orang dalam kehidupan ini. Hanya saja, kesabaran akan menjadi ketinggian derajat bagi orang-orang yang beriman, dan menjadi kehinaan bagi selain mereka.  وإذا كان الله -تعالى- ذَكَر الصبر في أكثرَ مِن ثمانين موضعًا من كتابه العزيز؛ فإنما هذا لحاجة العباد إليه في دينهم ودنياهم، ولضعف نفوسهم كذلك عنه. Ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebutkan kata “Sabar” dalam 80 ayat lebih dalam Al-Qur’an, bermakna ini karena hamba-hamba-Nya sangat membutuhkan kesabaran dalam menjalankan agama mereka dan menjalani kehidupan mereka, juga karena jiwa mereka lemah dalam mengamalkannya. وصبر المؤمن لا يتحقق للعبد إلا بعد الدُّربة عليه زمنًا طويلاً؛ لذا كان على العقلاء أن يَنظروا أين الصبْرُ في قلوبهم، وكيف يكون الصبر كما أراده الله -تعالى- وكلُّ هذا من الاستعداد قبل أن ينْزل يوم البلاء، فلا يجدون من العُدَّة ما يَفِي اللقاء، ولا مِن الزَّاد ما يكفي للسفر والمَسِير. Kesabaran seperti kesabaran orang beriman tidak akan dapat terwujud kecuali setelah latihan panjang. Oleh sebab itu, orang yang berakal harus memperhatikan ada di mana kesabaran dalam hatinya dan bagaimana cara agar kesabarannya sesuai dengan yang diharapkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ini semua menjadi persiapan diri sebelum musibah benar-benar datang menghampirinya, karena jika tidak, maka bisa jadi dia tidak punya kesiapan yang memadai untuk melalui perjumpaan dengan musibah, dan bekal yang mencukupi untuk perjalanan melewati cobaan. إذًا نحن بحاجة لتعلُّم الصبر عَمَليًّا، وبحاجة للاستعداد للبلاء بالصبر، وهذا كلُّه ليس بالأمر الهيِّن أو السهل، يقول ربُّنا – تبارك وتعالى -: ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ ﴾ [البقرة: 153]، فأمَرَنا -تعالى- أن نستعين بالصبر؛ ليكون معنا -تعالى- بنُصْرتنا وتأييدنا، وتثبيتنا وترضيتنا، وإنزال السكينة علينا. Kita perlu belajar sabar secara pengamalan, dan menyiapkan kesabaran saat musibah datang, dan ini semua bukan perkara mudah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ “Hai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153). Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kita untuk meminta pertolongan kepada-Nya melalui kesabaran, agar Dia menyertai kita dengan pertolongan dan penguatan, membuat kita teguh dan ridha, dan menurunkan ketenangan kepada kita. والصبر يُتعلَّمُ ويُتدرَّب عليه، تمامًا كما يُتَعلَّم العِلم ويُتذاكَر، يقول – صلَّى الله عليه وسلَّم -: ((من يتصَبَّر يصبِّرْه الله))؛ متفق عليه من حديث أبي سعيد الخدري؛ أيْ: مَن يطلب ويستدعِ الصبرَ يجدْه، وهذا لا يكون إلا بالأسباب الجالبة له في قلوبنا وعلى جوارحنا. Kesabaran harus dipelajari dan dilatih, persis seperti halnya ilmu yang harus dipelajari secara terus menerus. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ “Siapa yang berusaha untuk bersabar, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menjadikannya sabar.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Said Al-Khudri). Yakni siapa yang mencari dan berusaha bersabar, maka dia pasti akan menemukannya. Namun, ini tidak akan terwujud kecuali dengan menjalankan faktor-faktor yang mendatangkan kesabaran dalam hati kita dan pada anggota badan kita. خشن العيش طريق للصبر: ونحن في زمن العجلة هذا، يَشقُّ علينا الصبر أكثر من أي زمن غيره؛ فإننا لم تُعوَّدْ نفوسُنا الصبرَ على أقلِّ شيء؛ إذْ طَغى التَّرَفُ والرَّغد على عيشنا الدنيوي طغيانًا عظيمًا، وفقَدْنا كلَّ مقوِّمات الصبر من خشن العيش وشَظَفِه، وكان لهذا أعظمُ الأثر في ضَعف تربيتنا على الصبر والعزيمة مِن صغرنا حتى كبرنا. Kesulitan hidup adalah jalan pengantar menuju kesabaran Pada zaman yang menuntut serba cepat ini, lebih sulit bagi kita untuk bersabar jika dibandingkan dengan zaman-zaman sebelumnya, karena kita tidak membiasakan diri untuk bersabar bahkan pada perkara remeh sekalipun, karena kemewahan dan kesejahteraan hidup sudah banyak memenuhi kehidupan kita. Kita telah kehilangan semua faktor pembentuk kesabaran dari kesulitan dan kesempitan hidup. Inilah hal terbesar yang mempengaruhi lemahnya pembiasaan kita dalam bersabar dan tabah sedari kecil hingga dewasa. لذا فمَن أراد أن يربِّي نفسه ومَن يعوله ويتولَّى تربيتَه على الصبر، فليستغْنِ عن بعض هذا التَّرف وهو قادر عليه، وليأخُذْ بالعزائم، وهذا من التدرُّب على الصبر؛ حتى إذا كان الإنسان منا في موطن الشدَّة ويوم البلاء، استقوى بما اعتاده من بعض العيش الشديد. إننا في النهاية عبيدٌ لله -تعالى- غايتُنا الآخرةُ، وكلَّما قوِيَ هذا المعنى في قلوبنا هانت علينا الدنيا بكلِّ ما فيها، وكان همّنا غايتنا فحسْب. Oleh sebab itu, siapa yang ingin mendidik jiwanya untuk bersabar, hendaklah dia melepaskan sedikit kehidupan mewahnya yang sebenarnya mampu dia rasakan, dan berusaha sabar atas itu. Ini adalah salah satu cara untuk melatih diri untuk bersabar, sehingga jika ada seseorang dari kita tertimpa kesulitan atau musibah, dirinya kuat menanggungnya karena telah terbiasa menanggung sebagian kesulitan hidup. Pada akhirnya, kita semua adalah hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan tujuan kita adalah akhirat. Semakin kuat definisi ini tertanam dalam hati kita, maka semakin remeh di pandangan kita dunia dan segala isinya, dan yang menjadi fokus kita hanyalah tujuan besar kita itu saja. التدرُّب على الصبر بملازمة الطاعات: الصبر لا يكون إلا على المكاره؛ أي: ما تَكْرهه النفْس ويشقُّ عليها، والنفس تملُّ المحافظة على فعْل الخيرات، كما تكره دوام ترك الشهوات المحرَّمة والملذَّات، وملازمةُ الطاعة قسم من أقسام الصبر، كما أنَّ ترْك المعصية قسْم من أقسامه، ومَن أَلزمَ نفسَه طاعة الله -تعالى- ومنعها حظوظ نفسها المحرَّمة، فقد اكتسب خلق الصبر. Melatih kesabaran dengan konsisten menjalankan ketaatan Kesabaran tidak akan terwujud kecuali pada hal-hal yang tidak disukai, yakni yang tidak disukai jiwa dan terasa berat untuk ditanggungnya. Jiwa manusia punya tabiat bosan untuk terus konsisten di atas ketaatan, sebagaimana ia juga tidak suka konsisten meninggalkan syahwat-syahwat yang diharamkan dan nikmat-nikmat.  Konsisten dalam ketaatan merupakan salah satu bentuk kesabaran, sebagaimana meninggalkan kemaksiatan juga demikian, sehingga barang siapa yang menetapkan dirinya di atas ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan mencegahnya dari dorongan-dorongan hawa nafsu yang diharamkan, maka dia telah memiliki sifat sabar. والنفس بطبيعتها تميل إلى التفلُّت وترك المسؤولية، وخِطامُ استقامتها التي تُقاد به نحو نجاتها وفلاحها الصبْرُ الذي تكتسبه في طريقها؛ مِن ملازمة ما تكرهه، وما يشقُّ عليها من أوامر ونواهٍ، شرعيَّة وقدَريَّة. Sudah menjadi tabiat jiwa manusia juga untuk mangkir dan mengabaikan tanggung jawab. Sedangkan tali kendali untuk menjadikannya tetap di atas jalan kesuksesan dan keberhasilannya adalah kesabaran yang dapat dia bentuk selama dalam perjalanan itu, dengan konsisten menjalankan sesuatu yang tidak disukai dan terasa berat bagi hawa nafsu, berupa segala perintah dan larangan, dan segala ketetapan syariat dan takdir. الاستعانة بالله على تحقيق الصبر قبل وقوع البلاء: إذا كان الله -تعالى- أمرَنا أن نستعين بالصبر على مكاره النفس وما يشقُّ عليها، فإنه -تعالى- وحده مَن بيده مفاتيح الصبر، فلنستعِنْ به – عزَّ وجلَّ – في إلهامنا الصبر، وجعْلِه خُلقًا لنا نستعين به على مُلِمَّات الحياة ومواقع البلاء. Memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk mewujudkan kesabaran dalam diri sebelum musibah itu benar-benar datang Apabila Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kita untuk memohon pertolongan kepada-Nya dengan bersabar atas hal-hal yang tidak disukai dan terasa berat bagi hawa nafsu, maka hanya di tangan-Nya kunci-kunci kesabaran, sehingga kita harus memohon pertolongan kepada-Nya agar mengilhamkan rasa sabar kepada kita, dan menjadikannya sebagai sifat kita yang dapat menjadi penopang segala tuntutan kehidupan dan masa-masa turunnya bala. والاستعانة بالله على تحلِّينا بالصبر ليست كلمةً تقال، أو تُقَرُّ هكذا دون تدبُّر لمقام الربِّ -تعالى- الغنِيِّ القوي العزيز، ودون فَهْم لمقام العبد الفقير، المحتاج لمولاه وسيِّدِه في كلِّ أحواله الدينية والدنيوية. Permohonan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menghiasi diri kita dengan kesabaran bukanlah sekedar kata-kata yang diucapkan atau diikrarkan begitu saja tanpa penghayatan terhadap kedudukan Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Maha Kaya, Maha Kuat, dan Maha Perkasa, juga tanpa penghayatan terhadap kedudukan hamba yang lemah, selalu butuh terhadap Tuhannya dalam segala urusan agama dan dunia. فإذا تحقق في قلب العبد أنه فقير محتاج، وأن الله -تعالى- هو مأواه وركنه وجاره، دعاه واستعان به على قضاء حوائجه الدقيقة قبل الجليلة، حتى يصير الصبر خُلقًا ملازمًا للإنسان في كلِّ شؤونه وأحواله. Apabila telah tertanam di hati seorang hamba bahwa dia makhluk yang lemah dan tidak berdaya, sedangkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah tempatnya berlindung, mengadu, dan memohon pertolongan, maka dia akan berdoa dan memohon pertolongan kepada-Nya dalam memenuhi segala kebutuhannya, bahkan pada kebutuhan-kebutuhan remeh, sehingga kesabaran menjadi sifat yang selalu menyertainya dalam setiap keadaan dan kondisi. فاصبر إن العاقبة للمتقين: أمر الله -عزَّ وجلَّ- عباده بالصبر، ووعدهم بأن العاقبة لهم، فقال: ﴿ فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ ﴾ [هود: 49]، والإنسان إذا استحضر قلبُه حسنَ المآل، هان عليه ما يَبذل في مقامه مِن جهد وتعب، وما ينتابه من مشقة وبلاء. Bersabarlah karena kesudahan yang baik untuk orang-orang yang bertakwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kepada para hamba-Nya untuk bersabar dan menjanjikan bagi mereka balasan yang baik, Dia berfirman: فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ “Maka bersabarlah. Sesungguhnya kesudahan (yang baik) adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Hud: 49). Apabila hati seorang insan telah menyadari adanya kesudahan yang baik, maka akan terasa ringan usaha dan keletihan yang telah ia kerahkan untuk meraihnya, begitu juga terasa mudah kesulitan dan cobaan yang mungkin merintanginya. وقد ابتُلي قبلَنا الصالحون ثُم كانت العاقبة لهم، وفي هذا خيرٌ مُعين لجلب الصبر وإن شقَّ تحمُّلُه على النفس، وكان مِن لطف الله بنا أنْ نوَّع البلاءَ في عباده الصالحين قبلنا، فنوح -عليه السلام- ابتُلي بالابن العاق، وأيوب -عليه السلام- بالمرض، ويعقوب -عليه السلام- بمفارقة المحبوب، وسليمان بالملك العظيم، وهكذا يستحضر العبدُ كلَّ هذا، حتى إذا كان يوم البلاء أحسَنَ التأسِّي بأنبياء الله والصالحين قبله، الذين جعل الله -تعالى- العاقبة لهم بصبرهم. Orang-orang saleh sebelum kita telah mendapatkan ujian, dan pada akhirnya kesudahan yang baik mereka dapatkan. Ini merupakan penyemangat terbaik kita dalam bersabar, meskipun itu terasa berat bagi jiwa. Di antara bentuk kelembutan Allah Subhanahu Wa Ta’ala terhadap kita, Dia memberi ujian yang beraneka ragam kepada orang-orang saleh sebelum kita, Nabi Nuh Alaihissalam diuji dengan anak yang durhaka, Nabi Ayyub Alaihissalam diuji dengan penyakit, Nabi Ya’qub Alaihissalam diuji dengan terpisah dari orang dicintai, Nabi Sulaiman Alaihissalam diuji dengan kerajaan yang besar, dan begitu seterusnya. Ini semua agar seorang hamba senantiasa mengingatnya, agar ketika musibah datang, dia mengambil teladan terbaik dari para Nabi dan orang-orang saleh sebelumnya yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala beri kesudahan yang baik untuk mereka. نحن بحاجة لكي نعايش أنبياء الله -عليهم السلام- والصالحين قبْلنا؛ نعايش بلاءَهم مِن قُرب وكأننا هم، أو على الأقلِّ كأننا معهم، فنتصوَّر في شخص يعقوب – عليه السلام – وهو يعالج مَرارة فِراق يوسف – عليه السلامُ – السِّنينَ الطوَال، فيتحلَّى بالصبر الجميل الذي لا شكوى معه لمخلوق، ثم تكون العاقبة له في النهاية، ويتحقق له لقاء يوسف – عليهما السلام. Suatu hal yang urgen bagi kita untuk hidup bersama kehidupan para Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan orang-orang saleh sebelum kita, merasakan dari dekat ujian mereka seakan-akan kita adalah mereka, atau paling tidak kita sedang bersama mereka, sehingga kita bisa memperoleh gambaran bagaimana pribadi Nabi Ya’qub Alaihissalam – yang ketika itu harus menelan pahitnya perpisahan dengan Nabi Yusuf Alaihissalam bertahun-tahun lamanya. Kemudian beliau bersabar dengan kesabaran indah yang tidak diiringi keluh kesah kepada makhluk, dan pada akhirnya kesudahan yang baik dikaruniakan kepadanya, dan perjumpaan dengan Nabi Yusuf Alaihissalam dapat terwujud baginya.  عَود على بدء: نسيان البلاء وترك التزوُّد له بالصبر، خطرٌ عظيم، خطر لا ندري متى يداهمنا؟ وماذا سيخلف فينا؟ فوجب الاستعداد قبل أن ينْزل البلاء. والحمد لله ربِّ العالمين، وصلِّ اللهم وسلم على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه ومَن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. Kembalilah memulai Lalai dari musibah dan tidak membekali diri dengan kesabaran merupakan bahaya besar, bahaya yang tidak kita ketahui kapan akan menimpa kita dan apa yang sedang menunggu kita, sehingga wajib bagi kita untuk menyiapkan diri sebelum musibah benar-benar turun. Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, dan kepada keluarga dan para sahabat beliau, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan sebaik-baiknya hingga Hari Kiamat. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/168959/قبل-أن-ينزل-البلاء/ Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Orang Haid Masuk Masjid, Ulama Su', Terompet Sangka Kala, Doa Doa Sholat Wajib, Hukum Tukar Kado Dalam Islam Visited 230 times, 1 visit(s) today Post Views: 351 QRIS donasi Yufid

Sebelum Musibah Menimpa

قبل أن ينزل البلاء Oleh:  Hasan Abdul Hayyi حسن عبدالحي كنت أحدِّث نفسي كثيرًا وأنا حبيس البلاء عن الصَّبر، وضرورتِه للعبد في كلِّ الأحوال والمقامات، وعن الصبر وشدَّتِه على النفس، والحِكْمة من تقديره شاقًّا على العباد. ثم بعدَ حديثِ نفْسٍ طويل عن الصبر، ومع الصبر، وللصبر، أعود فأستغفر اللهَ مِن ضَعْف نفسي عن الصبر، وتقصيرها عن مقامه، وأسأله -تعالى- الصبر والسكينة. وأَخْلُص مِن كلِّ هذا الحديث لحقيقة علمية واحدة، وهي ضرورة الاستعداد بالصَّبْر ليوم البلاء، فنحن جميعًا ندري – عِلميًّا – ما الصبر، وما أنواعه أو أقسامه، ومراتب الناس مع الصبر، و… لكننا نترك كلَّ هذا جانبًا في النهاية، وننتظر “الصبر” في القلوب، وعند مواطن المِحَن ليقول هو عن نفسه وفي نفوسنا ما شاء. Dulu saat tertimpa musibah, saya sering kali menegaskan pada diri sendiri tentang kesabaran dan urgensinya bagi seorang hamba dalam setiap keadaan dan kondisi, tentang kesabaran dan sulitnya bagi jiwa manusia serta hikmah di balik kesulitan itu. Lalu setelah sekian lama memahamkannya pada diri sendiri tentang kesabaran, hidup bersama kesabaran dan bersiap untuk kesabaran, saya harus kembali memohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas kelemahan jiwaku dalam bersabar dan kelalaianku dalam mengamalkannya, kemudian saya pun memohon kepada-Nya kesabaran dan ketenteraman. Yang dapat saya simpulkan dari pembahasan ini adalah tentang satu realitas ilmiah, yaitu pentingnya menyiapkan diri dalam bersabar untuk hari datangnya ujian, karena kita semua mungkin sudah mengetahui apa itu sabar, apa saja jenis dan bentuknya, derajat-derajat manusia dalam bersabar, dan lain sebagainya, tapi pada akhirnya kita akan mengabaikan semua ini, dan hanya dapat menunggu kesabaran hakiki dalam hati pada waktu-waktu datangnya musibah, sehingga kesabaran itu sendiri yang akan menjelaskan dirinya dan menetap dalam jiwa kita sesuka hatinya. والإنسان في هذه الأرض عبْدٌ ولا بدَّ، عبدٌ لله – عزَّ وجلَّ – وحده، أو عبد لغيره مِن العباد المسخَّرين مثله، أو عبدٌ لله -تعالى- ظالِمٌ لنفسه بإشراك غير الله في قلبه، أو في مقاصده، هذه حقيقة شرعية دلَّ عليها كتابُ الله -تعالى- وسُنة نبيِّه -صلَّى الله عليه وسلَّم- كما هي حقيقة مُشاهَدة في واقع الناس ودنيا صراعاتهم على مَرِّ الأزمان. Manusia di dunia ini hanyalah seorang hamba, entah itu menjadi hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala, atau hamba bagi hamba lain sepertinya, atau juga hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala tapi dia menzalimi dirinya sendiri dengan menyekutukan-Nya dengan selain-Nya dalam hatinya atau orientasinya. Inilah hakikat syar’i yang ditegaskan dalam Kitabullah dan Sunnah Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, sekaligus sebagai hakikat yang dapat ditemukan dalam realitas hidup manusia dan medan perjuangan hidup mereka di sepanjang zaman. وكما أن كون “العبد لله وحده” يحتاج لصبر يقطع به الطريق إلى الله -تعالى- وإلى الدار الآخرة، فكذلك كون “العبد لغير الله” يضطره للصبر على مرارة شهوات نفسه، ويضطره للصبر على مرارة متابعة الشيطان، وأوليائه من عُصَاة الإنس، وطواغيتهم المارقين عن الله -عزَّ وجلَّ- وعن منهجه في الأرض. Sebagai “Hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala”, seseorang membutuhkan kesabaran dalam menempuh jalan menuju Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan kehidupan akhirat. Demikian pula sebagai “Hamba selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala”, mau tidak mau juga pasti dipaksa untuk bersabar dalam menghadapi kepahitan syahwat jiwanya, kepahitan mengikuti setan dan bala tentaranya dari manusia-manusia pelaku maksiat dan thaghut yang berpaling dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan agamanya. نَعَم، يصبر المؤمن صبرَ الشاكر، أو الراضي، أو غير السَّاخط، فتملأ السكينةُ قلْبَه، ثم هو يؤْجَر ويُثاب يوم اللقاء، ويصبر غيرُ المؤمن صبرَ مَن لا حيلة له إلا الصبر، وإن سخط قلبه، وملَّت نفْسُه، فيكون صبرُه بلاءً على بلائه. Benar! Orang yang beriman akan bersabar dengan kesabaran orang yang penuh rasa syukur, penuh kerelaan, dan tanpa keluh kesah, sehingga kedamaian akan memenuhi hatinya, lalu mendapat pahala dan balasan baik pada Hari Kiamat. Sedangkan orang yang tidak beriman akan bersabar dengan kesabaran orang yang tidak punya pilihan lain selain bersabar, meskipun hatinya murka dan jiwanya tidak terima, sehingga kesabarannya menjadi musibah lain di atas musibahnya. يصبر المؤمن على طاعة الله، وعلى أقدار الله، وبلائه المُتحتِّم عليه، ويصبر غير المؤمن على هوان نفسه، وذلَّتها في طاعة أسياده، ومتابعة أهوائه. Orang beriman akan bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan dalam menjalani takdir-takdir Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan musibah yang menimpanya. Sedangkan orang yang tidak beriman terpaksa bersabar atas kerendahan dan kehinaan dirinya dalam menaati para tuannya dan menuruti hawa nafsunya. فتحقَّقَ أن الصبر لازم على كلِّ أحد من الخلق في هذه الحياة، لكنه رِفْعة وعُلوٌّ لأقوام من المؤمنين، وذلَّة ومهانة لأقوام آخرين. Dengan demikian, kesabaran memang pasti harus dijalani oleh setiap orang dalam kehidupan ini. Hanya saja, kesabaran akan menjadi ketinggian derajat bagi orang-orang yang beriman, dan menjadi kehinaan bagi selain mereka.  وإذا كان الله -تعالى- ذَكَر الصبر في أكثرَ مِن ثمانين موضعًا من كتابه العزيز؛ فإنما هذا لحاجة العباد إليه في دينهم ودنياهم، ولضعف نفوسهم كذلك عنه. Ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebutkan kata “Sabar” dalam 80 ayat lebih dalam Al-Qur’an, bermakna ini karena hamba-hamba-Nya sangat membutuhkan kesabaran dalam menjalankan agama mereka dan menjalani kehidupan mereka, juga karena jiwa mereka lemah dalam mengamalkannya. وصبر المؤمن لا يتحقق للعبد إلا بعد الدُّربة عليه زمنًا طويلاً؛ لذا كان على العقلاء أن يَنظروا أين الصبْرُ في قلوبهم، وكيف يكون الصبر كما أراده الله -تعالى- وكلُّ هذا من الاستعداد قبل أن ينْزل يوم البلاء، فلا يجدون من العُدَّة ما يَفِي اللقاء، ولا مِن الزَّاد ما يكفي للسفر والمَسِير. Kesabaran seperti kesabaran orang beriman tidak akan dapat terwujud kecuali setelah latihan panjang. Oleh sebab itu, orang yang berakal harus memperhatikan ada di mana kesabaran dalam hatinya dan bagaimana cara agar kesabarannya sesuai dengan yang diharapkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ini semua menjadi persiapan diri sebelum musibah benar-benar datang menghampirinya, karena jika tidak, maka bisa jadi dia tidak punya kesiapan yang memadai untuk melalui perjumpaan dengan musibah, dan bekal yang mencukupi untuk perjalanan melewati cobaan. إذًا نحن بحاجة لتعلُّم الصبر عَمَليًّا، وبحاجة للاستعداد للبلاء بالصبر، وهذا كلُّه ليس بالأمر الهيِّن أو السهل، يقول ربُّنا – تبارك وتعالى -: ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ ﴾ [البقرة: 153]، فأمَرَنا -تعالى- أن نستعين بالصبر؛ ليكون معنا -تعالى- بنُصْرتنا وتأييدنا، وتثبيتنا وترضيتنا، وإنزال السكينة علينا. Kita perlu belajar sabar secara pengamalan, dan menyiapkan kesabaran saat musibah datang, dan ini semua bukan perkara mudah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ “Hai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153). Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kita untuk meminta pertolongan kepada-Nya melalui kesabaran, agar Dia menyertai kita dengan pertolongan dan penguatan, membuat kita teguh dan ridha, dan menurunkan ketenangan kepada kita. والصبر يُتعلَّمُ ويُتدرَّب عليه، تمامًا كما يُتَعلَّم العِلم ويُتذاكَر، يقول – صلَّى الله عليه وسلَّم -: ((من يتصَبَّر يصبِّرْه الله))؛ متفق عليه من حديث أبي سعيد الخدري؛ أيْ: مَن يطلب ويستدعِ الصبرَ يجدْه، وهذا لا يكون إلا بالأسباب الجالبة له في قلوبنا وعلى جوارحنا. Kesabaran harus dipelajari dan dilatih, persis seperti halnya ilmu yang harus dipelajari secara terus menerus. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ “Siapa yang berusaha untuk bersabar, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menjadikannya sabar.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Said Al-Khudri). Yakni siapa yang mencari dan berusaha bersabar, maka dia pasti akan menemukannya. Namun, ini tidak akan terwujud kecuali dengan menjalankan faktor-faktor yang mendatangkan kesabaran dalam hati kita dan pada anggota badan kita. خشن العيش طريق للصبر: ونحن في زمن العجلة هذا، يَشقُّ علينا الصبر أكثر من أي زمن غيره؛ فإننا لم تُعوَّدْ نفوسُنا الصبرَ على أقلِّ شيء؛ إذْ طَغى التَّرَفُ والرَّغد على عيشنا الدنيوي طغيانًا عظيمًا، وفقَدْنا كلَّ مقوِّمات الصبر من خشن العيش وشَظَفِه، وكان لهذا أعظمُ الأثر في ضَعف تربيتنا على الصبر والعزيمة مِن صغرنا حتى كبرنا. Kesulitan hidup adalah jalan pengantar menuju kesabaran Pada zaman yang menuntut serba cepat ini, lebih sulit bagi kita untuk bersabar jika dibandingkan dengan zaman-zaman sebelumnya, karena kita tidak membiasakan diri untuk bersabar bahkan pada perkara remeh sekalipun, karena kemewahan dan kesejahteraan hidup sudah banyak memenuhi kehidupan kita. Kita telah kehilangan semua faktor pembentuk kesabaran dari kesulitan dan kesempitan hidup. Inilah hal terbesar yang mempengaruhi lemahnya pembiasaan kita dalam bersabar dan tabah sedari kecil hingga dewasa. لذا فمَن أراد أن يربِّي نفسه ومَن يعوله ويتولَّى تربيتَه على الصبر، فليستغْنِ عن بعض هذا التَّرف وهو قادر عليه، وليأخُذْ بالعزائم، وهذا من التدرُّب على الصبر؛ حتى إذا كان الإنسان منا في موطن الشدَّة ويوم البلاء، استقوى بما اعتاده من بعض العيش الشديد. إننا في النهاية عبيدٌ لله -تعالى- غايتُنا الآخرةُ، وكلَّما قوِيَ هذا المعنى في قلوبنا هانت علينا الدنيا بكلِّ ما فيها، وكان همّنا غايتنا فحسْب. Oleh sebab itu, siapa yang ingin mendidik jiwanya untuk bersabar, hendaklah dia melepaskan sedikit kehidupan mewahnya yang sebenarnya mampu dia rasakan, dan berusaha sabar atas itu. Ini adalah salah satu cara untuk melatih diri untuk bersabar, sehingga jika ada seseorang dari kita tertimpa kesulitan atau musibah, dirinya kuat menanggungnya karena telah terbiasa menanggung sebagian kesulitan hidup. Pada akhirnya, kita semua adalah hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan tujuan kita adalah akhirat. Semakin kuat definisi ini tertanam dalam hati kita, maka semakin remeh di pandangan kita dunia dan segala isinya, dan yang menjadi fokus kita hanyalah tujuan besar kita itu saja. التدرُّب على الصبر بملازمة الطاعات: الصبر لا يكون إلا على المكاره؛ أي: ما تَكْرهه النفْس ويشقُّ عليها، والنفس تملُّ المحافظة على فعْل الخيرات، كما تكره دوام ترك الشهوات المحرَّمة والملذَّات، وملازمةُ الطاعة قسم من أقسام الصبر، كما أنَّ ترْك المعصية قسْم من أقسامه، ومَن أَلزمَ نفسَه طاعة الله -تعالى- ومنعها حظوظ نفسها المحرَّمة، فقد اكتسب خلق الصبر. Melatih kesabaran dengan konsisten menjalankan ketaatan Kesabaran tidak akan terwujud kecuali pada hal-hal yang tidak disukai, yakni yang tidak disukai jiwa dan terasa berat untuk ditanggungnya. Jiwa manusia punya tabiat bosan untuk terus konsisten di atas ketaatan, sebagaimana ia juga tidak suka konsisten meninggalkan syahwat-syahwat yang diharamkan dan nikmat-nikmat.  Konsisten dalam ketaatan merupakan salah satu bentuk kesabaran, sebagaimana meninggalkan kemaksiatan juga demikian, sehingga barang siapa yang menetapkan dirinya di atas ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan mencegahnya dari dorongan-dorongan hawa nafsu yang diharamkan, maka dia telah memiliki sifat sabar. والنفس بطبيعتها تميل إلى التفلُّت وترك المسؤولية، وخِطامُ استقامتها التي تُقاد به نحو نجاتها وفلاحها الصبْرُ الذي تكتسبه في طريقها؛ مِن ملازمة ما تكرهه، وما يشقُّ عليها من أوامر ونواهٍ، شرعيَّة وقدَريَّة. Sudah menjadi tabiat jiwa manusia juga untuk mangkir dan mengabaikan tanggung jawab. Sedangkan tali kendali untuk menjadikannya tetap di atas jalan kesuksesan dan keberhasilannya adalah kesabaran yang dapat dia bentuk selama dalam perjalanan itu, dengan konsisten menjalankan sesuatu yang tidak disukai dan terasa berat bagi hawa nafsu, berupa segala perintah dan larangan, dan segala ketetapan syariat dan takdir. الاستعانة بالله على تحقيق الصبر قبل وقوع البلاء: إذا كان الله -تعالى- أمرَنا أن نستعين بالصبر على مكاره النفس وما يشقُّ عليها، فإنه -تعالى- وحده مَن بيده مفاتيح الصبر، فلنستعِنْ به – عزَّ وجلَّ – في إلهامنا الصبر، وجعْلِه خُلقًا لنا نستعين به على مُلِمَّات الحياة ومواقع البلاء. Memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk mewujudkan kesabaran dalam diri sebelum musibah itu benar-benar datang Apabila Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kita untuk memohon pertolongan kepada-Nya dengan bersabar atas hal-hal yang tidak disukai dan terasa berat bagi hawa nafsu, maka hanya di tangan-Nya kunci-kunci kesabaran, sehingga kita harus memohon pertolongan kepada-Nya agar mengilhamkan rasa sabar kepada kita, dan menjadikannya sebagai sifat kita yang dapat menjadi penopang segala tuntutan kehidupan dan masa-masa turunnya bala. والاستعانة بالله على تحلِّينا بالصبر ليست كلمةً تقال، أو تُقَرُّ هكذا دون تدبُّر لمقام الربِّ -تعالى- الغنِيِّ القوي العزيز، ودون فَهْم لمقام العبد الفقير، المحتاج لمولاه وسيِّدِه في كلِّ أحواله الدينية والدنيوية. Permohonan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menghiasi diri kita dengan kesabaran bukanlah sekedar kata-kata yang diucapkan atau diikrarkan begitu saja tanpa penghayatan terhadap kedudukan Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Maha Kaya, Maha Kuat, dan Maha Perkasa, juga tanpa penghayatan terhadap kedudukan hamba yang lemah, selalu butuh terhadap Tuhannya dalam segala urusan agama dan dunia. فإذا تحقق في قلب العبد أنه فقير محتاج، وأن الله -تعالى- هو مأواه وركنه وجاره، دعاه واستعان به على قضاء حوائجه الدقيقة قبل الجليلة، حتى يصير الصبر خُلقًا ملازمًا للإنسان في كلِّ شؤونه وأحواله. Apabila telah tertanam di hati seorang hamba bahwa dia makhluk yang lemah dan tidak berdaya, sedangkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah tempatnya berlindung, mengadu, dan memohon pertolongan, maka dia akan berdoa dan memohon pertolongan kepada-Nya dalam memenuhi segala kebutuhannya, bahkan pada kebutuhan-kebutuhan remeh, sehingga kesabaran menjadi sifat yang selalu menyertainya dalam setiap keadaan dan kondisi. فاصبر إن العاقبة للمتقين: أمر الله -عزَّ وجلَّ- عباده بالصبر، ووعدهم بأن العاقبة لهم، فقال: ﴿ فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ ﴾ [هود: 49]، والإنسان إذا استحضر قلبُه حسنَ المآل، هان عليه ما يَبذل في مقامه مِن جهد وتعب، وما ينتابه من مشقة وبلاء. Bersabarlah karena kesudahan yang baik untuk orang-orang yang bertakwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kepada para hamba-Nya untuk bersabar dan menjanjikan bagi mereka balasan yang baik, Dia berfirman: فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ “Maka bersabarlah. Sesungguhnya kesudahan (yang baik) adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Hud: 49). Apabila hati seorang insan telah menyadari adanya kesudahan yang baik, maka akan terasa ringan usaha dan keletihan yang telah ia kerahkan untuk meraihnya, begitu juga terasa mudah kesulitan dan cobaan yang mungkin merintanginya. وقد ابتُلي قبلَنا الصالحون ثُم كانت العاقبة لهم، وفي هذا خيرٌ مُعين لجلب الصبر وإن شقَّ تحمُّلُه على النفس، وكان مِن لطف الله بنا أنْ نوَّع البلاءَ في عباده الصالحين قبلنا، فنوح -عليه السلام- ابتُلي بالابن العاق، وأيوب -عليه السلام- بالمرض، ويعقوب -عليه السلام- بمفارقة المحبوب، وسليمان بالملك العظيم، وهكذا يستحضر العبدُ كلَّ هذا، حتى إذا كان يوم البلاء أحسَنَ التأسِّي بأنبياء الله والصالحين قبله، الذين جعل الله -تعالى- العاقبة لهم بصبرهم. Orang-orang saleh sebelum kita telah mendapatkan ujian, dan pada akhirnya kesudahan yang baik mereka dapatkan. Ini merupakan penyemangat terbaik kita dalam bersabar, meskipun itu terasa berat bagi jiwa. Di antara bentuk kelembutan Allah Subhanahu Wa Ta’ala terhadap kita, Dia memberi ujian yang beraneka ragam kepada orang-orang saleh sebelum kita, Nabi Nuh Alaihissalam diuji dengan anak yang durhaka, Nabi Ayyub Alaihissalam diuji dengan penyakit, Nabi Ya’qub Alaihissalam diuji dengan terpisah dari orang dicintai, Nabi Sulaiman Alaihissalam diuji dengan kerajaan yang besar, dan begitu seterusnya. Ini semua agar seorang hamba senantiasa mengingatnya, agar ketika musibah datang, dia mengambil teladan terbaik dari para Nabi dan orang-orang saleh sebelumnya yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala beri kesudahan yang baik untuk mereka. نحن بحاجة لكي نعايش أنبياء الله -عليهم السلام- والصالحين قبْلنا؛ نعايش بلاءَهم مِن قُرب وكأننا هم، أو على الأقلِّ كأننا معهم، فنتصوَّر في شخص يعقوب – عليه السلام – وهو يعالج مَرارة فِراق يوسف – عليه السلامُ – السِّنينَ الطوَال، فيتحلَّى بالصبر الجميل الذي لا شكوى معه لمخلوق، ثم تكون العاقبة له في النهاية، ويتحقق له لقاء يوسف – عليهما السلام. Suatu hal yang urgen bagi kita untuk hidup bersama kehidupan para Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan orang-orang saleh sebelum kita, merasakan dari dekat ujian mereka seakan-akan kita adalah mereka, atau paling tidak kita sedang bersama mereka, sehingga kita bisa memperoleh gambaran bagaimana pribadi Nabi Ya’qub Alaihissalam – yang ketika itu harus menelan pahitnya perpisahan dengan Nabi Yusuf Alaihissalam bertahun-tahun lamanya. Kemudian beliau bersabar dengan kesabaran indah yang tidak diiringi keluh kesah kepada makhluk, dan pada akhirnya kesudahan yang baik dikaruniakan kepadanya, dan perjumpaan dengan Nabi Yusuf Alaihissalam dapat terwujud baginya.  عَود على بدء: نسيان البلاء وترك التزوُّد له بالصبر، خطرٌ عظيم، خطر لا ندري متى يداهمنا؟ وماذا سيخلف فينا؟ فوجب الاستعداد قبل أن ينْزل البلاء. والحمد لله ربِّ العالمين، وصلِّ اللهم وسلم على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه ومَن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. Kembalilah memulai Lalai dari musibah dan tidak membekali diri dengan kesabaran merupakan bahaya besar, bahaya yang tidak kita ketahui kapan akan menimpa kita dan apa yang sedang menunggu kita, sehingga wajib bagi kita untuk menyiapkan diri sebelum musibah benar-benar turun. Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, dan kepada keluarga dan para sahabat beliau, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan sebaik-baiknya hingga Hari Kiamat. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/168959/قبل-أن-ينزل-البلاء/ Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Orang Haid Masuk Masjid, Ulama Su', Terompet Sangka Kala, Doa Doa Sholat Wajib, Hukum Tukar Kado Dalam Islam Visited 230 times, 1 visit(s) today Post Views: 351 QRIS donasi Yufid
قبل أن ينزل البلاء Oleh:  Hasan Abdul Hayyi حسن عبدالحي كنت أحدِّث نفسي كثيرًا وأنا حبيس البلاء عن الصَّبر، وضرورتِه للعبد في كلِّ الأحوال والمقامات، وعن الصبر وشدَّتِه على النفس، والحِكْمة من تقديره شاقًّا على العباد. ثم بعدَ حديثِ نفْسٍ طويل عن الصبر، ومع الصبر، وللصبر، أعود فأستغفر اللهَ مِن ضَعْف نفسي عن الصبر، وتقصيرها عن مقامه، وأسأله -تعالى- الصبر والسكينة. وأَخْلُص مِن كلِّ هذا الحديث لحقيقة علمية واحدة، وهي ضرورة الاستعداد بالصَّبْر ليوم البلاء، فنحن جميعًا ندري – عِلميًّا – ما الصبر، وما أنواعه أو أقسامه، ومراتب الناس مع الصبر، و… لكننا نترك كلَّ هذا جانبًا في النهاية، وننتظر “الصبر” في القلوب، وعند مواطن المِحَن ليقول هو عن نفسه وفي نفوسنا ما شاء. Dulu saat tertimpa musibah, saya sering kali menegaskan pada diri sendiri tentang kesabaran dan urgensinya bagi seorang hamba dalam setiap keadaan dan kondisi, tentang kesabaran dan sulitnya bagi jiwa manusia serta hikmah di balik kesulitan itu. Lalu setelah sekian lama memahamkannya pada diri sendiri tentang kesabaran, hidup bersama kesabaran dan bersiap untuk kesabaran, saya harus kembali memohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas kelemahan jiwaku dalam bersabar dan kelalaianku dalam mengamalkannya, kemudian saya pun memohon kepada-Nya kesabaran dan ketenteraman. Yang dapat saya simpulkan dari pembahasan ini adalah tentang satu realitas ilmiah, yaitu pentingnya menyiapkan diri dalam bersabar untuk hari datangnya ujian, karena kita semua mungkin sudah mengetahui apa itu sabar, apa saja jenis dan bentuknya, derajat-derajat manusia dalam bersabar, dan lain sebagainya, tapi pada akhirnya kita akan mengabaikan semua ini, dan hanya dapat menunggu kesabaran hakiki dalam hati pada waktu-waktu datangnya musibah, sehingga kesabaran itu sendiri yang akan menjelaskan dirinya dan menetap dalam jiwa kita sesuka hatinya. والإنسان في هذه الأرض عبْدٌ ولا بدَّ، عبدٌ لله – عزَّ وجلَّ – وحده، أو عبد لغيره مِن العباد المسخَّرين مثله، أو عبدٌ لله -تعالى- ظالِمٌ لنفسه بإشراك غير الله في قلبه، أو في مقاصده، هذه حقيقة شرعية دلَّ عليها كتابُ الله -تعالى- وسُنة نبيِّه -صلَّى الله عليه وسلَّم- كما هي حقيقة مُشاهَدة في واقع الناس ودنيا صراعاتهم على مَرِّ الأزمان. Manusia di dunia ini hanyalah seorang hamba, entah itu menjadi hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala, atau hamba bagi hamba lain sepertinya, atau juga hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala tapi dia menzalimi dirinya sendiri dengan menyekutukan-Nya dengan selain-Nya dalam hatinya atau orientasinya. Inilah hakikat syar’i yang ditegaskan dalam Kitabullah dan Sunnah Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, sekaligus sebagai hakikat yang dapat ditemukan dalam realitas hidup manusia dan medan perjuangan hidup mereka di sepanjang zaman. وكما أن كون “العبد لله وحده” يحتاج لصبر يقطع به الطريق إلى الله -تعالى- وإلى الدار الآخرة، فكذلك كون “العبد لغير الله” يضطره للصبر على مرارة شهوات نفسه، ويضطره للصبر على مرارة متابعة الشيطان، وأوليائه من عُصَاة الإنس، وطواغيتهم المارقين عن الله -عزَّ وجلَّ- وعن منهجه في الأرض. Sebagai “Hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala”, seseorang membutuhkan kesabaran dalam menempuh jalan menuju Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan kehidupan akhirat. Demikian pula sebagai “Hamba selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala”, mau tidak mau juga pasti dipaksa untuk bersabar dalam menghadapi kepahitan syahwat jiwanya, kepahitan mengikuti setan dan bala tentaranya dari manusia-manusia pelaku maksiat dan thaghut yang berpaling dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan agamanya. نَعَم، يصبر المؤمن صبرَ الشاكر، أو الراضي، أو غير السَّاخط، فتملأ السكينةُ قلْبَه، ثم هو يؤْجَر ويُثاب يوم اللقاء، ويصبر غيرُ المؤمن صبرَ مَن لا حيلة له إلا الصبر، وإن سخط قلبه، وملَّت نفْسُه، فيكون صبرُه بلاءً على بلائه. Benar! Orang yang beriman akan bersabar dengan kesabaran orang yang penuh rasa syukur, penuh kerelaan, dan tanpa keluh kesah, sehingga kedamaian akan memenuhi hatinya, lalu mendapat pahala dan balasan baik pada Hari Kiamat. Sedangkan orang yang tidak beriman akan bersabar dengan kesabaran orang yang tidak punya pilihan lain selain bersabar, meskipun hatinya murka dan jiwanya tidak terima, sehingga kesabarannya menjadi musibah lain di atas musibahnya. يصبر المؤمن على طاعة الله، وعلى أقدار الله، وبلائه المُتحتِّم عليه، ويصبر غير المؤمن على هوان نفسه، وذلَّتها في طاعة أسياده، ومتابعة أهوائه. Orang beriman akan bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan dalam menjalani takdir-takdir Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan musibah yang menimpanya. Sedangkan orang yang tidak beriman terpaksa bersabar atas kerendahan dan kehinaan dirinya dalam menaati para tuannya dan menuruti hawa nafsunya. فتحقَّقَ أن الصبر لازم على كلِّ أحد من الخلق في هذه الحياة، لكنه رِفْعة وعُلوٌّ لأقوام من المؤمنين، وذلَّة ومهانة لأقوام آخرين. Dengan demikian, kesabaran memang pasti harus dijalani oleh setiap orang dalam kehidupan ini. Hanya saja, kesabaran akan menjadi ketinggian derajat bagi orang-orang yang beriman, dan menjadi kehinaan bagi selain mereka.  وإذا كان الله -تعالى- ذَكَر الصبر في أكثرَ مِن ثمانين موضعًا من كتابه العزيز؛ فإنما هذا لحاجة العباد إليه في دينهم ودنياهم، ولضعف نفوسهم كذلك عنه. Ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebutkan kata “Sabar” dalam 80 ayat lebih dalam Al-Qur’an, bermakna ini karena hamba-hamba-Nya sangat membutuhkan kesabaran dalam menjalankan agama mereka dan menjalani kehidupan mereka, juga karena jiwa mereka lemah dalam mengamalkannya. وصبر المؤمن لا يتحقق للعبد إلا بعد الدُّربة عليه زمنًا طويلاً؛ لذا كان على العقلاء أن يَنظروا أين الصبْرُ في قلوبهم، وكيف يكون الصبر كما أراده الله -تعالى- وكلُّ هذا من الاستعداد قبل أن ينْزل يوم البلاء، فلا يجدون من العُدَّة ما يَفِي اللقاء، ولا مِن الزَّاد ما يكفي للسفر والمَسِير. Kesabaran seperti kesabaran orang beriman tidak akan dapat terwujud kecuali setelah latihan panjang. Oleh sebab itu, orang yang berakal harus memperhatikan ada di mana kesabaran dalam hatinya dan bagaimana cara agar kesabarannya sesuai dengan yang diharapkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ini semua menjadi persiapan diri sebelum musibah benar-benar datang menghampirinya, karena jika tidak, maka bisa jadi dia tidak punya kesiapan yang memadai untuk melalui perjumpaan dengan musibah, dan bekal yang mencukupi untuk perjalanan melewati cobaan. إذًا نحن بحاجة لتعلُّم الصبر عَمَليًّا، وبحاجة للاستعداد للبلاء بالصبر، وهذا كلُّه ليس بالأمر الهيِّن أو السهل، يقول ربُّنا – تبارك وتعالى -: ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ ﴾ [البقرة: 153]، فأمَرَنا -تعالى- أن نستعين بالصبر؛ ليكون معنا -تعالى- بنُصْرتنا وتأييدنا، وتثبيتنا وترضيتنا، وإنزال السكينة علينا. Kita perlu belajar sabar secara pengamalan, dan menyiapkan kesabaran saat musibah datang, dan ini semua bukan perkara mudah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ “Hai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153). Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kita untuk meminta pertolongan kepada-Nya melalui kesabaran, agar Dia menyertai kita dengan pertolongan dan penguatan, membuat kita teguh dan ridha, dan menurunkan ketenangan kepada kita. والصبر يُتعلَّمُ ويُتدرَّب عليه، تمامًا كما يُتَعلَّم العِلم ويُتذاكَر، يقول – صلَّى الله عليه وسلَّم -: ((من يتصَبَّر يصبِّرْه الله))؛ متفق عليه من حديث أبي سعيد الخدري؛ أيْ: مَن يطلب ويستدعِ الصبرَ يجدْه، وهذا لا يكون إلا بالأسباب الجالبة له في قلوبنا وعلى جوارحنا. Kesabaran harus dipelajari dan dilatih, persis seperti halnya ilmu yang harus dipelajari secara terus menerus. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ “Siapa yang berusaha untuk bersabar, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menjadikannya sabar.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Said Al-Khudri). Yakni siapa yang mencari dan berusaha bersabar, maka dia pasti akan menemukannya. Namun, ini tidak akan terwujud kecuali dengan menjalankan faktor-faktor yang mendatangkan kesabaran dalam hati kita dan pada anggota badan kita. خشن العيش طريق للصبر: ونحن في زمن العجلة هذا، يَشقُّ علينا الصبر أكثر من أي زمن غيره؛ فإننا لم تُعوَّدْ نفوسُنا الصبرَ على أقلِّ شيء؛ إذْ طَغى التَّرَفُ والرَّغد على عيشنا الدنيوي طغيانًا عظيمًا، وفقَدْنا كلَّ مقوِّمات الصبر من خشن العيش وشَظَفِه، وكان لهذا أعظمُ الأثر في ضَعف تربيتنا على الصبر والعزيمة مِن صغرنا حتى كبرنا. Kesulitan hidup adalah jalan pengantar menuju kesabaran Pada zaman yang menuntut serba cepat ini, lebih sulit bagi kita untuk bersabar jika dibandingkan dengan zaman-zaman sebelumnya, karena kita tidak membiasakan diri untuk bersabar bahkan pada perkara remeh sekalipun, karena kemewahan dan kesejahteraan hidup sudah banyak memenuhi kehidupan kita. Kita telah kehilangan semua faktor pembentuk kesabaran dari kesulitan dan kesempitan hidup. Inilah hal terbesar yang mempengaruhi lemahnya pembiasaan kita dalam bersabar dan tabah sedari kecil hingga dewasa. لذا فمَن أراد أن يربِّي نفسه ومَن يعوله ويتولَّى تربيتَه على الصبر، فليستغْنِ عن بعض هذا التَّرف وهو قادر عليه، وليأخُذْ بالعزائم، وهذا من التدرُّب على الصبر؛ حتى إذا كان الإنسان منا في موطن الشدَّة ويوم البلاء، استقوى بما اعتاده من بعض العيش الشديد. إننا في النهاية عبيدٌ لله -تعالى- غايتُنا الآخرةُ، وكلَّما قوِيَ هذا المعنى في قلوبنا هانت علينا الدنيا بكلِّ ما فيها، وكان همّنا غايتنا فحسْب. Oleh sebab itu, siapa yang ingin mendidik jiwanya untuk bersabar, hendaklah dia melepaskan sedikit kehidupan mewahnya yang sebenarnya mampu dia rasakan, dan berusaha sabar atas itu. Ini adalah salah satu cara untuk melatih diri untuk bersabar, sehingga jika ada seseorang dari kita tertimpa kesulitan atau musibah, dirinya kuat menanggungnya karena telah terbiasa menanggung sebagian kesulitan hidup. Pada akhirnya, kita semua adalah hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan tujuan kita adalah akhirat. Semakin kuat definisi ini tertanam dalam hati kita, maka semakin remeh di pandangan kita dunia dan segala isinya, dan yang menjadi fokus kita hanyalah tujuan besar kita itu saja. التدرُّب على الصبر بملازمة الطاعات: الصبر لا يكون إلا على المكاره؛ أي: ما تَكْرهه النفْس ويشقُّ عليها، والنفس تملُّ المحافظة على فعْل الخيرات، كما تكره دوام ترك الشهوات المحرَّمة والملذَّات، وملازمةُ الطاعة قسم من أقسام الصبر، كما أنَّ ترْك المعصية قسْم من أقسامه، ومَن أَلزمَ نفسَه طاعة الله -تعالى- ومنعها حظوظ نفسها المحرَّمة، فقد اكتسب خلق الصبر. Melatih kesabaran dengan konsisten menjalankan ketaatan Kesabaran tidak akan terwujud kecuali pada hal-hal yang tidak disukai, yakni yang tidak disukai jiwa dan terasa berat untuk ditanggungnya. Jiwa manusia punya tabiat bosan untuk terus konsisten di atas ketaatan, sebagaimana ia juga tidak suka konsisten meninggalkan syahwat-syahwat yang diharamkan dan nikmat-nikmat.  Konsisten dalam ketaatan merupakan salah satu bentuk kesabaran, sebagaimana meninggalkan kemaksiatan juga demikian, sehingga barang siapa yang menetapkan dirinya di atas ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan mencegahnya dari dorongan-dorongan hawa nafsu yang diharamkan, maka dia telah memiliki sifat sabar. والنفس بطبيعتها تميل إلى التفلُّت وترك المسؤولية، وخِطامُ استقامتها التي تُقاد به نحو نجاتها وفلاحها الصبْرُ الذي تكتسبه في طريقها؛ مِن ملازمة ما تكرهه، وما يشقُّ عليها من أوامر ونواهٍ، شرعيَّة وقدَريَّة. Sudah menjadi tabiat jiwa manusia juga untuk mangkir dan mengabaikan tanggung jawab. Sedangkan tali kendali untuk menjadikannya tetap di atas jalan kesuksesan dan keberhasilannya adalah kesabaran yang dapat dia bentuk selama dalam perjalanan itu, dengan konsisten menjalankan sesuatu yang tidak disukai dan terasa berat bagi hawa nafsu, berupa segala perintah dan larangan, dan segala ketetapan syariat dan takdir. الاستعانة بالله على تحقيق الصبر قبل وقوع البلاء: إذا كان الله -تعالى- أمرَنا أن نستعين بالصبر على مكاره النفس وما يشقُّ عليها، فإنه -تعالى- وحده مَن بيده مفاتيح الصبر، فلنستعِنْ به – عزَّ وجلَّ – في إلهامنا الصبر، وجعْلِه خُلقًا لنا نستعين به على مُلِمَّات الحياة ومواقع البلاء. Memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk mewujudkan kesabaran dalam diri sebelum musibah itu benar-benar datang Apabila Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kita untuk memohon pertolongan kepada-Nya dengan bersabar atas hal-hal yang tidak disukai dan terasa berat bagi hawa nafsu, maka hanya di tangan-Nya kunci-kunci kesabaran, sehingga kita harus memohon pertolongan kepada-Nya agar mengilhamkan rasa sabar kepada kita, dan menjadikannya sebagai sifat kita yang dapat menjadi penopang segala tuntutan kehidupan dan masa-masa turunnya bala. والاستعانة بالله على تحلِّينا بالصبر ليست كلمةً تقال، أو تُقَرُّ هكذا دون تدبُّر لمقام الربِّ -تعالى- الغنِيِّ القوي العزيز، ودون فَهْم لمقام العبد الفقير، المحتاج لمولاه وسيِّدِه في كلِّ أحواله الدينية والدنيوية. Permohonan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menghiasi diri kita dengan kesabaran bukanlah sekedar kata-kata yang diucapkan atau diikrarkan begitu saja tanpa penghayatan terhadap kedudukan Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Maha Kaya, Maha Kuat, dan Maha Perkasa, juga tanpa penghayatan terhadap kedudukan hamba yang lemah, selalu butuh terhadap Tuhannya dalam segala urusan agama dan dunia. فإذا تحقق في قلب العبد أنه فقير محتاج، وأن الله -تعالى- هو مأواه وركنه وجاره، دعاه واستعان به على قضاء حوائجه الدقيقة قبل الجليلة، حتى يصير الصبر خُلقًا ملازمًا للإنسان في كلِّ شؤونه وأحواله. Apabila telah tertanam di hati seorang hamba bahwa dia makhluk yang lemah dan tidak berdaya, sedangkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah tempatnya berlindung, mengadu, dan memohon pertolongan, maka dia akan berdoa dan memohon pertolongan kepada-Nya dalam memenuhi segala kebutuhannya, bahkan pada kebutuhan-kebutuhan remeh, sehingga kesabaran menjadi sifat yang selalu menyertainya dalam setiap keadaan dan kondisi. فاصبر إن العاقبة للمتقين: أمر الله -عزَّ وجلَّ- عباده بالصبر، ووعدهم بأن العاقبة لهم، فقال: ﴿ فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ ﴾ [هود: 49]، والإنسان إذا استحضر قلبُه حسنَ المآل، هان عليه ما يَبذل في مقامه مِن جهد وتعب، وما ينتابه من مشقة وبلاء. Bersabarlah karena kesudahan yang baik untuk orang-orang yang bertakwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kepada para hamba-Nya untuk bersabar dan menjanjikan bagi mereka balasan yang baik, Dia berfirman: فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ “Maka bersabarlah. Sesungguhnya kesudahan (yang baik) adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Hud: 49). Apabila hati seorang insan telah menyadari adanya kesudahan yang baik, maka akan terasa ringan usaha dan keletihan yang telah ia kerahkan untuk meraihnya, begitu juga terasa mudah kesulitan dan cobaan yang mungkin merintanginya. وقد ابتُلي قبلَنا الصالحون ثُم كانت العاقبة لهم، وفي هذا خيرٌ مُعين لجلب الصبر وإن شقَّ تحمُّلُه على النفس، وكان مِن لطف الله بنا أنْ نوَّع البلاءَ في عباده الصالحين قبلنا، فنوح -عليه السلام- ابتُلي بالابن العاق، وأيوب -عليه السلام- بالمرض، ويعقوب -عليه السلام- بمفارقة المحبوب، وسليمان بالملك العظيم، وهكذا يستحضر العبدُ كلَّ هذا، حتى إذا كان يوم البلاء أحسَنَ التأسِّي بأنبياء الله والصالحين قبله، الذين جعل الله -تعالى- العاقبة لهم بصبرهم. Orang-orang saleh sebelum kita telah mendapatkan ujian, dan pada akhirnya kesudahan yang baik mereka dapatkan. Ini merupakan penyemangat terbaik kita dalam bersabar, meskipun itu terasa berat bagi jiwa. Di antara bentuk kelembutan Allah Subhanahu Wa Ta’ala terhadap kita, Dia memberi ujian yang beraneka ragam kepada orang-orang saleh sebelum kita, Nabi Nuh Alaihissalam diuji dengan anak yang durhaka, Nabi Ayyub Alaihissalam diuji dengan penyakit, Nabi Ya’qub Alaihissalam diuji dengan terpisah dari orang dicintai, Nabi Sulaiman Alaihissalam diuji dengan kerajaan yang besar, dan begitu seterusnya. Ini semua agar seorang hamba senantiasa mengingatnya, agar ketika musibah datang, dia mengambil teladan terbaik dari para Nabi dan orang-orang saleh sebelumnya yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala beri kesudahan yang baik untuk mereka. نحن بحاجة لكي نعايش أنبياء الله -عليهم السلام- والصالحين قبْلنا؛ نعايش بلاءَهم مِن قُرب وكأننا هم، أو على الأقلِّ كأننا معهم، فنتصوَّر في شخص يعقوب – عليه السلام – وهو يعالج مَرارة فِراق يوسف – عليه السلامُ – السِّنينَ الطوَال، فيتحلَّى بالصبر الجميل الذي لا شكوى معه لمخلوق، ثم تكون العاقبة له في النهاية، ويتحقق له لقاء يوسف – عليهما السلام. Suatu hal yang urgen bagi kita untuk hidup bersama kehidupan para Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan orang-orang saleh sebelum kita, merasakan dari dekat ujian mereka seakan-akan kita adalah mereka, atau paling tidak kita sedang bersama mereka, sehingga kita bisa memperoleh gambaran bagaimana pribadi Nabi Ya’qub Alaihissalam – yang ketika itu harus menelan pahitnya perpisahan dengan Nabi Yusuf Alaihissalam bertahun-tahun lamanya. Kemudian beliau bersabar dengan kesabaran indah yang tidak diiringi keluh kesah kepada makhluk, dan pada akhirnya kesudahan yang baik dikaruniakan kepadanya, dan perjumpaan dengan Nabi Yusuf Alaihissalam dapat terwujud baginya.  عَود على بدء: نسيان البلاء وترك التزوُّد له بالصبر، خطرٌ عظيم، خطر لا ندري متى يداهمنا؟ وماذا سيخلف فينا؟ فوجب الاستعداد قبل أن ينْزل البلاء. والحمد لله ربِّ العالمين، وصلِّ اللهم وسلم على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه ومَن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. Kembalilah memulai Lalai dari musibah dan tidak membekali diri dengan kesabaran merupakan bahaya besar, bahaya yang tidak kita ketahui kapan akan menimpa kita dan apa yang sedang menunggu kita, sehingga wajib bagi kita untuk menyiapkan diri sebelum musibah benar-benar turun. Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, dan kepada keluarga dan para sahabat beliau, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan sebaik-baiknya hingga Hari Kiamat. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/168959/قبل-أن-ينزل-البلاء/ Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Orang Haid Masuk Masjid, Ulama Su', Terompet Sangka Kala, Doa Doa Sholat Wajib, Hukum Tukar Kado Dalam Islam Visited 230 times, 1 visit(s) today Post Views: 351 QRIS donasi Yufid


قبل أن ينزل البلاء Oleh:  Hasan Abdul Hayyi حسن عبدالحي كنت أحدِّث نفسي كثيرًا وأنا حبيس البلاء عن الصَّبر، وضرورتِه للعبد في كلِّ الأحوال والمقامات، وعن الصبر وشدَّتِه على النفس، والحِكْمة من تقديره شاقًّا على العباد. ثم بعدَ حديثِ نفْسٍ طويل عن الصبر، ومع الصبر، وللصبر، أعود فأستغفر اللهَ مِن ضَعْف نفسي عن الصبر، وتقصيرها عن مقامه، وأسأله -تعالى- الصبر والسكينة. وأَخْلُص مِن كلِّ هذا الحديث لحقيقة علمية واحدة، وهي ضرورة الاستعداد بالصَّبْر ليوم البلاء، فنحن جميعًا ندري – عِلميًّا – ما الصبر، وما أنواعه أو أقسامه، ومراتب الناس مع الصبر، و… لكننا نترك كلَّ هذا جانبًا في النهاية، وننتظر “الصبر” في القلوب، وعند مواطن المِحَن ليقول هو عن نفسه وفي نفوسنا ما شاء. Dulu saat tertimpa musibah, saya sering kali menegaskan pada diri sendiri tentang kesabaran dan urgensinya bagi seorang hamba dalam setiap keadaan dan kondisi, tentang kesabaran dan sulitnya bagi jiwa manusia serta hikmah di balik kesulitan itu. Lalu setelah sekian lama memahamkannya pada diri sendiri tentang kesabaran, hidup bersama kesabaran dan bersiap untuk kesabaran, saya harus kembali memohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas kelemahan jiwaku dalam bersabar dan kelalaianku dalam mengamalkannya, kemudian saya pun memohon kepada-Nya kesabaran dan ketenteraman. Yang dapat saya simpulkan dari pembahasan ini adalah tentang satu realitas ilmiah, yaitu pentingnya menyiapkan diri dalam bersabar untuk hari datangnya ujian, karena kita semua mungkin sudah mengetahui apa itu sabar, apa saja jenis dan bentuknya, derajat-derajat manusia dalam bersabar, dan lain sebagainya, tapi pada akhirnya kita akan mengabaikan semua ini, dan hanya dapat menunggu kesabaran hakiki dalam hati pada waktu-waktu datangnya musibah, sehingga kesabaran itu sendiri yang akan menjelaskan dirinya dan menetap dalam jiwa kita sesuka hatinya. والإنسان في هذه الأرض عبْدٌ ولا بدَّ، عبدٌ لله – عزَّ وجلَّ – وحده، أو عبد لغيره مِن العباد المسخَّرين مثله، أو عبدٌ لله -تعالى- ظالِمٌ لنفسه بإشراك غير الله في قلبه، أو في مقاصده، هذه حقيقة شرعية دلَّ عليها كتابُ الله -تعالى- وسُنة نبيِّه -صلَّى الله عليه وسلَّم- كما هي حقيقة مُشاهَدة في واقع الناس ودنيا صراعاتهم على مَرِّ الأزمان. Manusia di dunia ini hanyalah seorang hamba, entah itu menjadi hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala, atau hamba bagi hamba lain sepertinya, atau juga hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala tapi dia menzalimi dirinya sendiri dengan menyekutukan-Nya dengan selain-Nya dalam hatinya atau orientasinya. Inilah hakikat syar’i yang ditegaskan dalam Kitabullah dan Sunnah Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, sekaligus sebagai hakikat yang dapat ditemukan dalam realitas hidup manusia dan medan perjuangan hidup mereka di sepanjang zaman. وكما أن كون “العبد لله وحده” يحتاج لصبر يقطع به الطريق إلى الله -تعالى- وإلى الدار الآخرة، فكذلك كون “العبد لغير الله” يضطره للصبر على مرارة شهوات نفسه، ويضطره للصبر على مرارة متابعة الشيطان، وأوليائه من عُصَاة الإنس، وطواغيتهم المارقين عن الله -عزَّ وجلَّ- وعن منهجه في الأرض. Sebagai “Hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala”, seseorang membutuhkan kesabaran dalam menempuh jalan menuju Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan kehidupan akhirat. Demikian pula sebagai “Hamba selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala”, mau tidak mau juga pasti dipaksa untuk bersabar dalam menghadapi kepahitan syahwat jiwanya, kepahitan mengikuti setan dan bala tentaranya dari manusia-manusia pelaku maksiat dan thaghut yang berpaling dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan agamanya. نَعَم، يصبر المؤمن صبرَ الشاكر، أو الراضي، أو غير السَّاخط، فتملأ السكينةُ قلْبَه، ثم هو يؤْجَر ويُثاب يوم اللقاء، ويصبر غيرُ المؤمن صبرَ مَن لا حيلة له إلا الصبر، وإن سخط قلبه، وملَّت نفْسُه، فيكون صبرُه بلاءً على بلائه. Benar! Orang yang beriman akan bersabar dengan kesabaran orang yang penuh rasa syukur, penuh kerelaan, dan tanpa keluh kesah, sehingga kedamaian akan memenuhi hatinya, lalu mendapat pahala dan balasan baik pada Hari Kiamat. Sedangkan orang yang tidak beriman akan bersabar dengan kesabaran orang yang tidak punya pilihan lain selain bersabar, meskipun hatinya murka dan jiwanya tidak terima, sehingga kesabarannya menjadi musibah lain di atas musibahnya. يصبر المؤمن على طاعة الله، وعلى أقدار الله، وبلائه المُتحتِّم عليه، ويصبر غير المؤمن على هوان نفسه، وذلَّتها في طاعة أسياده، ومتابعة أهوائه. Orang beriman akan bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan dalam menjalani takdir-takdir Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan musibah yang menimpanya. Sedangkan orang yang tidak beriman terpaksa bersabar atas kerendahan dan kehinaan dirinya dalam menaati para tuannya dan menuruti hawa nafsunya. فتحقَّقَ أن الصبر لازم على كلِّ أحد من الخلق في هذه الحياة، لكنه رِفْعة وعُلوٌّ لأقوام من المؤمنين، وذلَّة ومهانة لأقوام آخرين. Dengan demikian, kesabaran memang pasti harus dijalani oleh setiap orang dalam kehidupan ini. Hanya saja, kesabaran akan menjadi ketinggian derajat bagi orang-orang yang beriman, dan menjadi kehinaan bagi selain mereka.  وإذا كان الله -تعالى- ذَكَر الصبر في أكثرَ مِن ثمانين موضعًا من كتابه العزيز؛ فإنما هذا لحاجة العباد إليه في دينهم ودنياهم، ولضعف نفوسهم كذلك عنه. Ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebutkan kata “Sabar” dalam 80 ayat lebih dalam Al-Qur’an, bermakna ini karena hamba-hamba-Nya sangat membutuhkan kesabaran dalam menjalankan agama mereka dan menjalani kehidupan mereka, juga karena jiwa mereka lemah dalam mengamalkannya. وصبر المؤمن لا يتحقق للعبد إلا بعد الدُّربة عليه زمنًا طويلاً؛ لذا كان على العقلاء أن يَنظروا أين الصبْرُ في قلوبهم، وكيف يكون الصبر كما أراده الله -تعالى- وكلُّ هذا من الاستعداد قبل أن ينْزل يوم البلاء، فلا يجدون من العُدَّة ما يَفِي اللقاء، ولا مِن الزَّاد ما يكفي للسفر والمَسِير. Kesabaran seperti kesabaran orang beriman tidak akan dapat terwujud kecuali setelah latihan panjang. Oleh sebab itu, orang yang berakal harus memperhatikan ada di mana kesabaran dalam hatinya dan bagaimana cara agar kesabarannya sesuai dengan yang diharapkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ini semua menjadi persiapan diri sebelum musibah benar-benar datang menghampirinya, karena jika tidak, maka bisa jadi dia tidak punya kesiapan yang memadai untuk melalui perjumpaan dengan musibah, dan bekal yang mencukupi untuk perjalanan melewati cobaan. إذًا نحن بحاجة لتعلُّم الصبر عَمَليًّا، وبحاجة للاستعداد للبلاء بالصبر، وهذا كلُّه ليس بالأمر الهيِّن أو السهل، يقول ربُّنا – تبارك وتعالى -: ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ ﴾ [البقرة: 153]، فأمَرَنا -تعالى- أن نستعين بالصبر؛ ليكون معنا -تعالى- بنُصْرتنا وتأييدنا، وتثبيتنا وترضيتنا، وإنزال السكينة علينا. Kita perlu belajar sabar secara pengamalan, dan menyiapkan kesabaran saat musibah datang, dan ini semua bukan perkara mudah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ “Hai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153). Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kita untuk meminta pertolongan kepada-Nya melalui kesabaran, agar Dia menyertai kita dengan pertolongan dan penguatan, membuat kita teguh dan ridha, dan menurunkan ketenangan kepada kita. والصبر يُتعلَّمُ ويُتدرَّب عليه، تمامًا كما يُتَعلَّم العِلم ويُتذاكَر، يقول – صلَّى الله عليه وسلَّم -: ((من يتصَبَّر يصبِّرْه الله))؛ متفق عليه من حديث أبي سعيد الخدري؛ أيْ: مَن يطلب ويستدعِ الصبرَ يجدْه، وهذا لا يكون إلا بالأسباب الجالبة له في قلوبنا وعلى جوارحنا. Kesabaran harus dipelajari dan dilatih, persis seperti halnya ilmu yang harus dipelajari secara terus menerus. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ “Siapa yang berusaha untuk bersabar, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menjadikannya sabar.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Said Al-Khudri). Yakni siapa yang mencari dan berusaha bersabar, maka dia pasti akan menemukannya. Namun, ini tidak akan terwujud kecuali dengan menjalankan faktor-faktor yang mendatangkan kesabaran dalam hati kita dan pada anggota badan kita. خشن العيش طريق للصبر: ونحن في زمن العجلة هذا، يَشقُّ علينا الصبر أكثر من أي زمن غيره؛ فإننا لم تُعوَّدْ نفوسُنا الصبرَ على أقلِّ شيء؛ إذْ طَغى التَّرَفُ والرَّغد على عيشنا الدنيوي طغيانًا عظيمًا، وفقَدْنا كلَّ مقوِّمات الصبر من خشن العيش وشَظَفِه، وكان لهذا أعظمُ الأثر في ضَعف تربيتنا على الصبر والعزيمة مِن صغرنا حتى كبرنا. Kesulitan hidup adalah jalan pengantar menuju kesabaran Pada zaman yang menuntut serba cepat ini, lebih sulit bagi kita untuk bersabar jika dibandingkan dengan zaman-zaman sebelumnya, karena kita tidak membiasakan diri untuk bersabar bahkan pada perkara remeh sekalipun, karena kemewahan dan kesejahteraan hidup sudah banyak memenuhi kehidupan kita. Kita telah kehilangan semua faktor pembentuk kesabaran dari kesulitan dan kesempitan hidup. Inilah hal terbesar yang mempengaruhi lemahnya pembiasaan kita dalam bersabar dan tabah sedari kecil hingga dewasa. لذا فمَن أراد أن يربِّي نفسه ومَن يعوله ويتولَّى تربيتَه على الصبر، فليستغْنِ عن بعض هذا التَّرف وهو قادر عليه، وليأخُذْ بالعزائم، وهذا من التدرُّب على الصبر؛ حتى إذا كان الإنسان منا في موطن الشدَّة ويوم البلاء، استقوى بما اعتاده من بعض العيش الشديد. إننا في النهاية عبيدٌ لله -تعالى- غايتُنا الآخرةُ، وكلَّما قوِيَ هذا المعنى في قلوبنا هانت علينا الدنيا بكلِّ ما فيها، وكان همّنا غايتنا فحسْب. Oleh sebab itu, siapa yang ingin mendidik jiwanya untuk bersabar, hendaklah dia melepaskan sedikit kehidupan mewahnya yang sebenarnya mampu dia rasakan, dan berusaha sabar atas itu. Ini adalah salah satu cara untuk melatih diri untuk bersabar, sehingga jika ada seseorang dari kita tertimpa kesulitan atau musibah, dirinya kuat menanggungnya karena telah terbiasa menanggung sebagian kesulitan hidup. Pada akhirnya, kita semua adalah hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan tujuan kita adalah akhirat. Semakin kuat definisi ini tertanam dalam hati kita, maka semakin remeh di pandangan kita dunia dan segala isinya, dan yang menjadi fokus kita hanyalah tujuan besar kita itu saja. التدرُّب على الصبر بملازمة الطاعات: الصبر لا يكون إلا على المكاره؛ أي: ما تَكْرهه النفْس ويشقُّ عليها، والنفس تملُّ المحافظة على فعْل الخيرات، كما تكره دوام ترك الشهوات المحرَّمة والملذَّات، وملازمةُ الطاعة قسم من أقسام الصبر، كما أنَّ ترْك المعصية قسْم من أقسامه، ومَن أَلزمَ نفسَه طاعة الله -تعالى- ومنعها حظوظ نفسها المحرَّمة، فقد اكتسب خلق الصبر. Melatih kesabaran dengan konsisten menjalankan ketaatan Kesabaran tidak akan terwujud kecuali pada hal-hal yang tidak disukai, yakni yang tidak disukai jiwa dan terasa berat untuk ditanggungnya. Jiwa manusia punya tabiat bosan untuk terus konsisten di atas ketaatan, sebagaimana ia juga tidak suka konsisten meninggalkan syahwat-syahwat yang diharamkan dan nikmat-nikmat.  Konsisten dalam ketaatan merupakan salah satu bentuk kesabaran, sebagaimana meninggalkan kemaksiatan juga demikian, sehingga barang siapa yang menetapkan dirinya di atas ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan mencegahnya dari dorongan-dorongan hawa nafsu yang diharamkan, maka dia telah memiliki sifat sabar. والنفس بطبيعتها تميل إلى التفلُّت وترك المسؤولية، وخِطامُ استقامتها التي تُقاد به نحو نجاتها وفلاحها الصبْرُ الذي تكتسبه في طريقها؛ مِن ملازمة ما تكرهه، وما يشقُّ عليها من أوامر ونواهٍ، شرعيَّة وقدَريَّة. Sudah menjadi tabiat jiwa manusia juga untuk mangkir dan mengabaikan tanggung jawab. Sedangkan tali kendali untuk menjadikannya tetap di atas jalan kesuksesan dan keberhasilannya adalah kesabaran yang dapat dia bentuk selama dalam perjalanan itu, dengan konsisten menjalankan sesuatu yang tidak disukai dan terasa berat bagi hawa nafsu, berupa segala perintah dan larangan, dan segala ketetapan syariat dan takdir. الاستعانة بالله على تحقيق الصبر قبل وقوع البلاء: إذا كان الله -تعالى- أمرَنا أن نستعين بالصبر على مكاره النفس وما يشقُّ عليها، فإنه -تعالى- وحده مَن بيده مفاتيح الصبر، فلنستعِنْ به – عزَّ وجلَّ – في إلهامنا الصبر، وجعْلِه خُلقًا لنا نستعين به على مُلِمَّات الحياة ومواقع البلاء. Memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk mewujudkan kesabaran dalam diri sebelum musibah itu benar-benar datang Apabila Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kita untuk memohon pertolongan kepada-Nya dengan bersabar atas hal-hal yang tidak disukai dan terasa berat bagi hawa nafsu, maka hanya di tangan-Nya kunci-kunci kesabaran, sehingga kita harus memohon pertolongan kepada-Nya agar mengilhamkan rasa sabar kepada kita, dan menjadikannya sebagai sifat kita yang dapat menjadi penopang segala tuntutan kehidupan dan masa-masa turunnya bala. والاستعانة بالله على تحلِّينا بالصبر ليست كلمةً تقال، أو تُقَرُّ هكذا دون تدبُّر لمقام الربِّ -تعالى- الغنِيِّ القوي العزيز، ودون فَهْم لمقام العبد الفقير، المحتاج لمولاه وسيِّدِه في كلِّ أحواله الدينية والدنيوية. Permohonan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menghiasi diri kita dengan kesabaran bukanlah sekedar kata-kata yang diucapkan atau diikrarkan begitu saja tanpa penghayatan terhadap kedudukan Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Maha Kaya, Maha Kuat, dan Maha Perkasa, juga tanpa penghayatan terhadap kedudukan hamba yang lemah, selalu butuh terhadap Tuhannya dalam segala urusan agama dan dunia. فإذا تحقق في قلب العبد أنه فقير محتاج، وأن الله -تعالى- هو مأواه وركنه وجاره، دعاه واستعان به على قضاء حوائجه الدقيقة قبل الجليلة، حتى يصير الصبر خُلقًا ملازمًا للإنسان في كلِّ شؤونه وأحواله. Apabila telah tertanam di hati seorang hamba bahwa dia makhluk yang lemah dan tidak berdaya, sedangkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah tempatnya berlindung, mengadu, dan memohon pertolongan, maka dia akan berdoa dan memohon pertolongan kepada-Nya dalam memenuhi segala kebutuhannya, bahkan pada kebutuhan-kebutuhan remeh, sehingga kesabaran menjadi sifat yang selalu menyertainya dalam setiap keadaan dan kondisi. فاصبر إن العاقبة للمتقين: أمر الله -عزَّ وجلَّ- عباده بالصبر، ووعدهم بأن العاقبة لهم، فقال: ﴿ فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ ﴾ [هود: 49]، والإنسان إذا استحضر قلبُه حسنَ المآل، هان عليه ما يَبذل في مقامه مِن جهد وتعب، وما ينتابه من مشقة وبلاء. Bersabarlah karena kesudahan yang baik untuk orang-orang yang bertakwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kepada para hamba-Nya untuk bersabar dan menjanjikan bagi mereka balasan yang baik, Dia berfirman: فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ “Maka bersabarlah. Sesungguhnya kesudahan (yang baik) adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Hud: 49). Apabila hati seorang insan telah menyadari adanya kesudahan yang baik, maka akan terasa ringan usaha dan keletihan yang telah ia kerahkan untuk meraihnya, begitu juga terasa mudah kesulitan dan cobaan yang mungkin merintanginya. وقد ابتُلي قبلَنا الصالحون ثُم كانت العاقبة لهم، وفي هذا خيرٌ مُعين لجلب الصبر وإن شقَّ تحمُّلُه على النفس، وكان مِن لطف الله بنا أنْ نوَّع البلاءَ في عباده الصالحين قبلنا، فنوح -عليه السلام- ابتُلي بالابن العاق، وأيوب -عليه السلام- بالمرض، ويعقوب -عليه السلام- بمفارقة المحبوب، وسليمان بالملك العظيم، وهكذا يستحضر العبدُ كلَّ هذا، حتى إذا كان يوم البلاء أحسَنَ التأسِّي بأنبياء الله والصالحين قبله، الذين جعل الله -تعالى- العاقبة لهم بصبرهم. Orang-orang saleh sebelum kita telah mendapatkan ujian, dan pada akhirnya kesudahan yang baik mereka dapatkan. Ini merupakan penyemangat terbaik kita dalam bersabar, meskipun itu terasa berat bagi jiwa. Di antara bentuk kelembutan Allah Subhanahu Wa Ta’ala terhadap kita, Dia memberi ujian yang beraneka ragam kepada orang-orang saleh sebelum kita, Nabi Nuh Alaihissalam diuji dengan anak yang durhaka, Nabi Ayyub Alaihissalam diuji dengan penyakit, Nabi Ya’qub Alaihissalam diuji dengan terpisah dari orang dicintai, Nabi Sulaiman Alaihissalam diuji dengan kerajaan yang besar, dan begitu seterusnya. Ini semua agar seorang hamba senantiasa mengingatnya, agar ketika musibah datang, dia mengambil teladan terbaik dari para Nabi dan orang-orang saleh sebelumnya yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala beri kesudahan yang baik untuk mereka. نحن بحاجة لكي نعايش أنبياء الله -عليهم السلام- والصالحين قبْلنا؛ نعايش بلاءَهم مِن قُرب وكأننا هم، أو على الأقلِّ كأننا معهم، فنتصوَّر في شخص يعقوب – عليه السلام – وهو يعالج مَرارة فِراق يوسف – عليه السلامُ – السِّنينَ الطوَال، فيتحلَّى بالصبر الجميل الذي لا شكوى معه لمخلوق، ثم تكون العاقبة له في النهاية، ويتحقق له لقاء يوسف – عليهما السلام. Suatu hal yang urgen bagi kita untuk hidup bersama kehidupan para Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan orang-orang saleh sebelum kita, merasakan dari dekat ujian mereka seakan-akan kita adalah mereka, atau paling tidak kita sedang bersama mereka, sehingga kita bisa memperoleh gambaran bagaimana pribadi Nabi Ya’qub Alaihissalam – yang ketika itu harus menelan pahitnya perpisahan dengan Nabi Yusuf Alaihissalam bertahun-tahun lamanya. Kemudian beliau bersabar dengan kesabaran indah yang tidak diiringi keluh kesah kepada makhluk, dan pada akhirnya kesudahan yang baik dikaruniakan kepadanya, dan perjumpaan dengan Nabi Yusuf Alaihissalam dapat terwujud baginya.  عَود على بدء: نسيان البلاء وترك التزوُّد له بالصبر، خطرٌ عظيم، خطر لا ندري متى يداهمنا؟ وماذا سيخلف فينا؟ فوجب الاستعداد قبل أن ينْزل البلاء. والحمد لله ربِّ العالمين، وصلِّ اللهم وسلم على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه ومَن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. Kembalilah memulai Lalai dari musibah dan tidak membekali diri dengan kesabaran merupakan bahaya besar, bahaya yang tidak kita ketahui kapan akan menimpa kita dan apa yang sedang menunggu kita, sehingga wajib bagi kita untuk menyiapkan diri sebelum musibah benar-benar turun. Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, dan kepada keluarga dan para sahabat beliau, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan sebaik-baiknya hingga Hari Kiamat. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/168959/قبل-أن-ينزل-البلاء/ Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Orang Haid Masuk Masjid, Ulama Su', Terompet Sangka Kala, Doa Doa Sholat Wajib, Hukum Tukar Kado Dalam Islam Visited 230 times, 1 visit(s) today Post Views: 351 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Dampak Buruk Fitnah (Bag. 1): Menjauhnya Manusia dari Beribadah kepada Allah

Salah satu dampak buruk fitnah adalah membuat seorang hamba berpaling dari ibadah yang sebenarnya menjadi tujuan penciptaannya. Ia menjauh dari ketaatan yang Allah perintahkan untuk diwujudkan, dan lalai dari zikir kepada Allah Tabaraka wa Ta‘ala. Akhirnya, hidupnya, hari demi hari, habis tersibukkan oleh hal-hal yang sia-sia, perkataan yang tak berguna, dan berbagai urusan tak penting sebagai dampak dari fitnah-fitnah yang datang silih berganti.Hatinya pun menjadi gelisah dan kacau, terseret oleh berbagai kesibukan itu. Ia tidak lagi merasakan ketenangan dan ketenteraman, bahkan tidak memperoleh dari zikir kepada Allah Tabaraka wa Ta‘ala itu berupa ketenangan yang seharusnya ia dapatkan. Akibatnya, hatinya goyah, pikirannya semrawut, dan ia terus disibukkan oleh perkara-perkara yang membuatnya lalai.Ini sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis yang sahih,عِبَادَةٌ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ“Beribadah di masa ‘Al-Harj’ itu seperti berhijrah kepadaku” (HR. ath-Thabrani dalam al-Kabir, 20: 213 dari Mi‘qal bin Yasar radhiyallahu ‘anhu dan disahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jami‘ no. 3974)Makna “Al-Harj” adalah keadaan ketika manusia berada dalam kegoncangan dan kegelisahan; saat segala urusan menjadi kacau, tidak stabil, dan fitnah serta pembunuhan tersebar di tengah masyarakat. Siapa saja yang pada masa seperti itu memilih untuk menyibukkan diri dengan ibadah kepada Allah Tabaraka wa Ta‘ala, maka kedudukannya seperti orang yang berhijrah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ini menunjukkan bahwa siapa pun yang hidup di tengah kekacauan, lalu fokus pada ibadah, berarti ia berada pada posisi yang selamat dari berbagai bahaya fitnah. Pada waktu seperti itu juga terdapat isyarat bahwa pilihan terbaik bagi seseorang adalah dengan memperbanyak ibadah dan menjauhi fitnah, agar ia memperoleh kebahagiaan, ketenangan, dan ketenteraman. Ini sebagaimana yang disampaikan juga oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadis,إِنَّ السَّعِيدَ لِمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ“Sesungguhnya orang yang benar-benar bahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah (beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulang ucapan itu hingga tiga kali).” (HR. Abu Dawud no. 423, dari al-Miqdad bin al-Aswad radhiyallahu ‘anhu dan disahihkan al-Albani dalam ash-Shahihah no. 975)Kebahagiaan itu ada pada sikap menjauhi fitnah, memperbanyak ibadah, zikir, dan ketaatan kepada Allah, serta mendekatkan diri kepada-Nya dengan berbagai amal saleh, zikir-zikir, dan berbagai amalan lainnya.Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, istri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu ketika bangun pada malam hari dalam keadaan cemas. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,سُبْحَانَ اللَّهِ! مَاذَا أُنْزِلَ اللَّهُ مِنَ الْخَزَائِنِ!؟ مَاذَا أُنْزِلَ مِنَ الْفِتَنِ!؟ مَنْ يُوقِظُ صَوَاحِبَ الْحُجُرَاتِ لِلصَّلَاةِ؟“Mahasuci Allah! Betapa banyak perbendaharaan (kebaikan) yang Allah turunkan! Dan betapa banyak fitnah yang diturunkan! Siapa yang akan membangunkan para penghuni kamar-kamar ini (istri-istri Nabi) untuk salat?” (HR. al-Bukhari dalam Shahih-nya no.115)Dengannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan umatnya bahwa ketika fitnah itu muncul, manusia hendaknya semakin mendekatkan diri kepada Allah dengan beribadah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ يُوقِظُ صَوَاحِبَ الْحُجُرَاتِ يُصَلِّينَ، رُبَّ كَاسِيَةٍ فِي الدُّنْيَا عَارِيَةٍ فِي الْآخِرَةِ“Siapa yang akan membangunkan para penghuni kamar-kamar (istri-istri Nabi) agar mereka salat? Betapa banyak wanita yang berpakaian di dunia namun telanjang di akhirat.” (HR. Bukhari no. 1126)Dan termasuk dalil yang menunjukkan hal ini juga adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ“Bersegeralah melakukan amal-amal saleh sebelum datangnya fitnah seperti potongan malam yang gelap gulita.” (HR. Muslim no. 118, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)Ini adalah bimbingan agar manusia segera memperbanyak amal saleh, yaitu hendaknya manusia bersegera melakukan ketaatan kepada Allah, seperti salat, zikir, doa, dan membaca Al-Qur’an.Saat fitnah datang bertubi-tubi, manusia cenderung teralihkan dari amal dan ibadah, sehingga hanya sedikit kebaikan yang tercatat untuk mereka. Oleh karena itu, hendaknya mereka segera kembali kepada Allah Tabaraka wa Ta‘ala dengan memohon taufik, pertolongan, dan penjagaan-Nya.Ketika fitnah terjadi pada masa tabi‘in, Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah yang dikenal sebagai sosok yang menjauhi fitnah pernah berkata,يَا أَيُّهَا النَّاسُ! إِنَّهُ وَاللَّهِ مَا سَلَّطَ اللَّهُ الْحَجَّاجَ عَلَيْكُمْ إِلَّا عُقُوبَةً؛ فَلَا تُعَارِضُوا عُقُوبَةَ اللَّهِ بِالسَّيْفِ، وَلَكِنْ عَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ و التَضَرُّعِ“Wahai manusia! Demi Allah, Allah tidaklah menjadikan Al-Hajjaj berkuasa atas kalian kecuali sebagai hukuman. Karena itu, jangan kalian melawan hukuman Allah dengan pedang. Bersikaplah tenang, dan perbanyaklah merendahkan diri dalam doa memohon pertolongan” (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa‘ad dalam ath-Thabaqat al-Kubra, 7: 164, dan oleh Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 12: 178)Karena Allah Ta‘ala telah berfirman,وَلَقَدْ أَخَذْنَاهُم بِالْعَذَابِ فَمَا اسْتَكَانُوا لِرَبِّهِمْ وَمَا يَتَضَرَّعُونَ“Dan sesungguhnya Kami telah pernah menimpakan azab kepada mereka, maka mereka tidak tunduk kepada Tuhan mereka, dan (juga) tidak memohon (kepada-Nya) dengan merendahkan diri.” (QS. Al‑Mu’minun: 76)Kewajiban manusia adalah bersimpuh dan tunduk kepada Allah ‘Azza wa Jalla, merendahkan diri di hadapan-Nya, senantiasa memperbanyak zikir kepada-Nya, serta memperbaiki kondisi dirinya dan keluarganya. Ia juga harus tetap istikamah dalam menaati Rabb-nya dengan cara yang diridai oleh Allah Tabaraka wa Ta‘ala.Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau pernah berkata,تكونُ فِتْنَةٌ لا ينجو منها إلا دعاءٌ كدعاءِ الغريقِ“Akan datang sebuah fitnah (ujian) yang tidak ada yang selamat darinya kecuali orang yang berdoa seperti doa orang yang sedang tenggelam.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Syaibah, 7: 53)Setiap orang tentu mengetahui bagaimana kondisi seorang yang akan tenggelam lalu berdoa; yaitu orang yang telah dikejar oleh tenggelamnya (kematian), bagaimana ia akan berdoa!? Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,تَكُونُ فِتْنَةٌ لَا يُنَجِّي مِنْهَا إِلَّا دُعَاءُ الْغَرِيقِ“Tidak ada yang dapat menyelamatkan darinya kecuali doa seperti doanya orang yang tenggelam.”Maksudnya, di posisi seperti itu engkau akan benar-benar menghadap kepada Allah Tabaraka wa Ta‘ala dengan penuh kejujuran dan keyakinan bahwa Dia akan menyelamatkanmu, menolongmu, memberi jalan keluar bagimu, dan menjagamu.[Bersambung]Lanjut ke bagian 2***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Referensi:Kitab Atsarul Fitan, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 15-20.

Dampak Buruk Fitnah (Bag. 1): Menjauhnya Manusia dari Beribadah kepada Allah

Salah satu dampak buruk fitnah adalah membuat seorang hamba berpaling dari ibadah yang sebenarnya menjadi tujuan penciptaannya. Ia menjauh dari ketaatan yang Allah perintahkan untuk diwujudkan, dan lalai dari zikir kepada Allah Tabaraka wa Ta‘ala. Akhirnya, hidupnya, hari demi hari, habis tersibukkan oleh hal-hal yang sia-sia, perkataan yang tak berguna, dan berbagai urusan tak penting sebagai dampak dari fitnah-fitnah yang datang silih berganti.Hatinya pun menjadi gelisah dan kacau, terseret oleh berbagai kesibukan itu. Ia tidak lagi merasakan ketenangan dan ketenteraman, bahkan tidak memperoleh dari zikir kepada Allah Tabaraka wa Ta‘ala itu berupa ketenangan yang seharusnya ia dapatkan. Akibatnya, hatinya goyah, pikirannya semrawut, dan ia terus disibukkan oleh perkara-perkara yang membuatnya lalai.Ini sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis yang sahih,عِبَادَةٌ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ“Beribadah di masa ‘Al-Harj’ itu seperti berhijrah kepadaku” (HR. ath-Thabrani dalam al-Kabir, 20: 213 dari Mi‘qal bin Yasar radhiyallahu ‘anhu dan disahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jami‘ no. 3974)Makna “Al-Harj” adalah keadaan ketika manusia berada dalam kegoncangan dan kegelisahan; saat segala urusan menjadi kacau, tidak stabil, dan fitnah serta pembunuhan tersebar di tengah masyarakat. Siapa saja yang pada masa seperti itu memilih untuk menyibukkan diri dengan ibadah kepada Allah Tabaraka wa Ta‘ala, maka kedudukannya seperti orang yang berhijrah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ini menunjukkan bahwa siapa pun yang hidup di tengah kekacauan, lalu fokus pada ibadah, berarti ia berada pada posisi yang selamat dari berbagai bahaya fitnah. Pada waktu seperti itu juga terdapat isyarat bahwa pilihan terbaik bagi seseorang adalah dengan memperbanyak ibadah dan menjauhi fitnah, agar ia memperoleh kebahagiaan, ketenangan, dan ketenteraman. Ini sebagaimana yang disampaikan juga oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadis,إِنَّ السَّعِيدَ لِمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ“Sesungguhnya orang yang benar-benar bahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah (beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulang ucapan itu hingga tiga kali).” (HR. Abu Dawud no. 423, dari al-Miqdad bin al-Aswad radhiyallahu ‘anhu dan disahihkan al-Albani dalam ash-Shahihah no. 975)Kebahagiaan itu ada pada sikap menjauhi fitnah, memperbanyak ibadah, zikir, dan ketaatan kepada Allah, serta mendekatkan diri kepada-Nya dengan berbagai amal saleh, zikir-zikir, dan berbagai amalan lainnya.Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, istri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu ketika bangun pada malam hari dalam keadaan cemas. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,سُبْحَانَ اللَّهِ! مَاذَا أُنْزِلَ اللَّهُ مِنَ الْخَزَائِنِ!؟ مَاذَا أُنْزِلَ مِنَ الْفِتَنِ!؟ مَنْ يُوقِظُ صَوَاحِبَ الْحُجُرَاتِ لِلصَّلَاةِ؟“Mahasuci Allah! Betapa banyak perbendaharaan (kebaikan) yang Allah turunkan! Dan betapa banyak fitnah yang diturunkan! Siapa yang akan membangunkan para penghuni kamar-kamar ini (istri-istri Nabi) untuk salat?” (HR. al-Bukhari dalam Shahih-nya no.115)Dengannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan umatnya bahwa ketika fitnah itu muncul, manusia hendaknya semakin mendekatkan diri kepada Allah dengan beribadah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ يُوقِظُ صَوَاحِبَ الْحُجُرَاتِ يُصَلِّينَ، رُبَّ كَاسِيَةٍ فِي الدُّنْيَا عَارِيَةٍ فِي الْآخِرَةِ“Siapa yang akan membangunkan para penghuni kamar-kamar (istri-istri Nabi) agar mereka salat? Betapa banyak wanita yang berpakaian di dunia namun telanjang di akhirat.” (HR. Bukhari no. 1126)Dan termasuk dalil yang menunjukkan hal ini juga adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ“Bersegeralah melakukan amal-amal saleh sebelum datangnya fitnah seperti potongan malam yang gelap gulita.” (HR. Muslim no. 118, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)Ini adalah bimbingan agar manusia segera memperbanyak amal saleh, yaitu hendaknya manusia bersegera melakukan ketaatan kepada Allah, seperti salat, zikir, doa, dan membaca Al-Qur’an.Saat fitnah datang bertubi-tubi, manusia cenderung teralihkan dari amal dan ibadah, sehingga hanya sedikit kebaikan yang tercatat untuk mereka. Oleh karena itu, hendaknya mereka segera kembali kepada Allah Tabaraka wa Ta‘ala dengan memohon taufik, pertolongan, dan penjagaan-Nya.Ketika fitnah terjadi pada masa tabi‘in, Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah yang dikenal sebagai sosok yang menjauhi fitnah pernah berkata,يَا أَيُّهَا النَّاسُ! إِنَّهُ وَاللَّهِ مَا سَلَّطَ اللَّهُ الْحَجَّاجَ عَلَيْكُمْ إِلَّا عُقُوبَةً؛ فَلَا تُعَارِضُوا عُقُوبَةَ اللَّهِ بِالسَّيْفِ، وَلَكِنْ عَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ و التَضَرُّعِ“Wahai manusia! Demi Allah, Allah tidaklah menjadikan Al-Hajjaj berkuasa atas kalian kecuali sebagai hukuman. Karena itu, jangan kalian melawan hukuman Allah dengan pedang. Bersikaplah tenang, dan perbanyaklah merendahkan diri dalam doa memohon pertolongan” (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa‘ad dalam ath-Thabaqat al-Kubra, 7: 164, dan oleh Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 12: 178)Karena Allah Ta‘ala telah berfirman,وَلَقَدْ أَخَذْنَاهُم بِالْعَذَابِ فَمَا اسْتَكَانُوا لِرَبِّهِمْ وَمَا يَتَضَرَّعُونَ“Dan sesungguhnya Kami telah pernah menimpakan azab kepada mereka, maka mereka tidak tunduk kepada Tuhan mereka, dan (juga) tidak memohon (kepada-Nya) dengan merendahkan diri.” (QS. Al‑Mu’minun: 76)Kewajiban manusia adalah bersimpuh dan tunduk kepada Allah ‘Azza wa Jalla, merendahkan diri di hadapan-Nya, senantiasa memperbanyak zikir kepada-Nya, serta memperbaiki kondisi dirinya dan keluarganya. Ia juga harus tetap istikamah dalam menaati Rabb-nya dengan cara yang diridai oleh Allah Tabaraka wa Ta‘ala.Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau pernah berkata,تكونُ فِتْنَةٌ لا ينجو منها إلا دعاءٌ كدعاءِ الغريقِ“Akan datang sebuah fitnah (ujian) yang tidak ada yang selamat darinya kecuali orang yang berdoa seperti doa orang yang sedang tenggelam.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Syaibah, 7: 53)Setiap orang tentu mengetahui bagaimana kondisi seorang yang akan tenggelam lalu berdoa; yaitu orang yang telah dikejar oleh tenggelamnya (kematian), bagaimana ia akan berdoa!? Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,تَكُونُ فِتْنَةٌ لَا يُنَجِّي مِنْهَا إِلَّا دُعَاءُ الْغَرِيقِ“Tidak ada yang dapat menyelamatkan darinya kecuali doa seperti doanya orang yang tenggelam.”Maksudnya, di posisi seperti itu engkau akan benar-benar menghadap kepada Allah Tabaraka wa Ta‘ala dengan penuh kejujuran dan keyakinan bahwa Dia akan menyelamatkanmu, menolongmu, memberi jalan keluar bagimu, dan menjagamu.[Bersambung]Lanjut ke bagian 2***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Referensi:Kitab Atsarul Fitan, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 15-20.
Salah satu dampak buruk fitnah adalah membuat seorang hamba berpaling dari ibadah yang sebenarnya menjadi tujuan penciptaannya. Ia menjauh dari ketaatan yang Allah perintahkan untuk diwujudkan, dan lalai dari zikir kepada Allah Tabaraka wa Ta‘ala. Akhirnya, hidupnya, hari demi hari, habis tersibukkan oleh hal-hal yang sia-sia, perkataan yang tak berguna, dan berbagai urusan tak penting sebagai dampak dari fitnah-fitnah yang datang silih berganti.Hatinya pun menjadi gelisah dan kacau, terseret oleh berbagai kesibukan itu. Ia tidak lagi merasakan ketenangan dan ketenteraman, bahkan tidak memperoleh dari zikir kepada Allah Tabaraka wa Ta‘ala itu berupa ketenangan yang seharusnya ia dapatkan. Akibatnya, hatinya goyah, pikirannya semrawut, dan ia terus disibukkan oleh perkara-perkara yang membuatnya lalai.Ini sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis yang sahih,عِبَادَةٌ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ“Beribadah di masa ‘Al-Harj’ itu seperti berhijrah kepadaku” (HR. ath-Thabrani dalam al-Kabir, 20: 213 dari Mi‘qal bin Yasar radhiyallahu ‘anhu dan disahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jami‘ no. 3974)Makna “Al-Harj” adalah keadaan ketika manusia berada dalam kegoncangan dan kegelisahan; saat segala urusan menjadi kacau, tidak stabil, dan fitnah serta pembunuhan tersebar di tengah masyarakat. Siapa saja yang pada masa seperti itu memilih untuk menyibukkan diri dengan ibadah kepada Allah Tabaraka wa Ta‘ala, maka kedudukannya seperti orang yang berhijrah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ini menunjukkan bahwa siapa pun yang hidup di tengah kekacauan, lalu fokus pada ibadah, berarti ia berada pada posisi yang selamat dari berbagai bahaya fitnah. Pada waktu seperti itu juga terdapat isyarat bahwa pilihan terbaik bagi seseorang adalah dengan memperbanyak ibadah dan menjauhi fitnah, agar ia memperoleh kebahagiaan, ketenangan, dan ketenteraman. Ini sebagaimana yang disampaikan juga oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadis,إِنَّ السَّعِيدَ لِمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ“Sesungguhnya orang yang benar-benar bahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah (beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulang ucapan itu hingga tiga kali).” (HR. Abu Dawud no. 423, dari al-Miqdad bin al-Aswad radhiyallahu ‘anhu dan disahihkan al-Albani dalam ash-Shahihah no. 975)Kebahagiaan itu ada pada sikap menjauhi fitnah, memperbanyak ibadah, zikir, dan ketaatan kepada Allah, serta mendekatkan diri kepada-Nya dengan berbagai amal saleh, zikir-zikir, dan berbagai amalan lainnya.Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, istri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu ketika bangun pada malam hari dalam keadaan cemas. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,سُبْحَانَ اللَّهِ! مَاذَا أُنْزِلَ اللَّهُ مِنَ الْخَزَائِنِ!؟ مَاذَا أُنْزِلَ مِنَ الْفِتَنِ!؟ مَنْ يُوقِظُ صَوَاحِبَ الْحُجُرَاتِ لِلصَّلَاةِ؟“Mahasuci Allah! Betapa banyak perbendaharaan (kebaikan) yang Allah turunkan! Dan betapa banyak fitnah yang diturunkan! Siapa yang akan membangunkan para penghuni kamar-kamar ini (istri-istri Nabi) untuk salat?” (HR. al-Bukhari dalam Shahih-nya no.115)Dengannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan umatnya bahwa ketika fitnah itu muncul, manusia hendaknya semakin mendekatkan diri kepada Allah dengan beribadah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ يُوقِظُ صَوَاحِبَ الْحُجُرَاتِ يُصَلِّينَ، رُبَّ كَاسِيَةٍ فِي الدُّنْيَا عَارِيَةٍ فِي الْآخِرَةِ“Siapa yang akan membangunkan para penghuni kamar-kamar (istri-istri Nabi) agar mereka salat? Betapa banyak wanita yang berpakaian di dunia namun telanjang di akhirat.” (HR. Bukhari no. 1126)Dan termasuk dalil yang menunjukkan hal ini juga adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ“Bersegeralah melakukan amal-amal saleh sebelum datangnya fitnah seperti potongan malam yang gelap gulita.” (HR. Muslim no. 118, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)Ini adalah bimbingan agar manusia segera memperbanyak amal saleh, yaitu hendaknya manusia bersegera melakukan ketaatan kepada Allah, seperti salat, zikir, doa, dan membaca Al-Qur’an.Saat fitnah datang bertubi-tubi, manusia cenderung teralihkan dari amal dan ibadah, sehingga hanya sedikit kebaikan yang tercatat untuk mereka. Oleh karena itu, hendaknya mereka segera kembali kepada Allah Tabaraka wa Ta‘ala dengan memohon taufik, pertolongan, dan penjagaan-Nya.Ketika fitnah terjadi pada masa tabi‘in, Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah yang dikenal sebagai sosok yang menjauhi fitnah pernah berkata,يَا أَيُّهَا النَّاسُ! إِنَّهُ وَاللَّهِ مَا سَلَّطَ اللَّهُ الْحَجَّاجَ عَلَيْكُمْ إِلَّا عُقُوبَةً؛ فَلَا تُعَارِضُوا عُقُوبَةَ اللَّهِ بِالسَّيْفِ، وَلَكِنْ عَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ و التَضَرُّعِ“Wahai manusia! Demi Allah, Allah tidaklah menjadikan Al-Hajjaj berkuasa atas kalian kecuali sebagai hukuman. Karena itu, jangan kalian melawan hukuman Allah dengan pedang. Bersikaplah tenang, dan perbanyaklah merendahkan diri dalam doa memohon pertolongan” (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa‘ad dalam ath-Thabaqat al-Kubra, 7: 164, dan oleh Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 12: 178)Karena Allah Ta‘ala telah berfirman,وَلَقَدْ أَخَذْنَاهُم بِالْعَذَابِ فَمَا اسْتَكَانُوا لِرَبِّهِمْ وَمَا يَتَضَرَّعُونَ“Dan sesungguhnya Kami telah pernah menimpakan azab kepada mereka, maka mereka tidak tunduk kepada Tuhan mereka, dan (juga) tidak memohon (kepada-Nya) dengan merendahkan diri.” (QS. Al‑Mu’minun: 76)Kewajiban manusia adalah bersimpuh dan tunduk kepada Allah ‘Azza wa Jalla, merendahkan diri di hadapan-Nya, senantiasa memperbanyak zikir kepada-Nya, serta memperbaiki kondisi dirinya dan keluarganya. Ia juga harus tetap istikamah dalam menaati Rabb-nya dengan cara yang diridai oleh Allah Tabaraka wa Ta‘ala.Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau pernah berkata,تكونُ فِتْنَةٌ لا ينجو منها إلا دعاءٌ كدعاءِ الغريقِ“Akan datang sebuah fitnah (ujian) yang tidak ada yang selamat darinya kecuali orang yang berdoa seperti doa orang yang sedang tenggelam.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Syaibah, 7: 53)Setiap orang tentu mengetahui bagaimana kondisi seorang yang akan tenggelam lalu berdoa; yaitu orang yang telah dikejar oleh tenggelamnya (kematian), bagaimana ia akan berdoa!? Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,تَكُونُ فِتْنَةٌ لَا يُنَجِّي مِنْهَا إِلَّا دُعَاءُ الْغَرِيقِ“Tidak ada yang dapat menyelamatkan darinya kecuali doa seperti doanya orang yang tenggelam.”Maksudnya, di posisi seperti itu engkau akan benar-benar menghadap kepada Allah Tabaraka wa Ta‘ala dengan penuh kejujuran dan keyakinan bahwa Dia akan menyelamatkanmu, menolongmu, memberi jalan keluar bagimu, dan menjagamu.[Bersambung]Lanjut ke bagian 2***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Referensi:Kitab Atsarul Fitan, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 15-20.


Salah satu dampak buruk fitnah adalah membuat seorang hamba berpaling dari ibadah yang sebenarnya menjadi tujuan penciptaannya. Ia menjauh dari ketaatan yang Allah perintahkan untuk diwujudkan, dan lalai dari zikir kepada Allah Tabaraka wa Ta‘ala. Akhirnya, hidupnya, hari demi hari, habis tersibukkan oleh hal-hal yang sia-sia, perkataan yang tak berguna, dan berbagai urusan tak penting sebagai dampak dari fitnah-fitnah yang datang silih berganti.Hatinya pun menjadi gelisah dan kacau, terseret oleh berbagai kesibukan itu. Ia tidak lagi merasakan ketenangan dan ketenteraman, bahkan tidak memperoleh dari zikir kepada Allah Tabaraka wa Ta‘ala itu berupa ketenangan yang seharusnya ia dapatkan. Akibatnya, hatinya goyah, pikirannya semrawut, dan ia terus disibukkan oleh perkara-perkara yang membuatnya lalai.Ini sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis yang sahih,عِبَادَةٌ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ“Beribadah di masa ‘Al-Harj’ itu seperti berhijrah kepadaku” (HR. ath-Thabrani dalam al-Kabir, 20: 213 dari Mi‘qal bin Yasar radhiyallahu ‘anhu dan disahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jami‘ no. 3974)Makna “Al-Harj” adalah keadaan ketika manusia berada dalam kegoncangan dan kegelisahan; saat segala urusan menjadi kacau, tidak stabil, dan fitnah serta pembunuhan tersebar di tengah masyarakat. Siapa saja yang pada masa seperti itu memilih untuk menyibukkan diri dengan ibadah kepada Allah Tabaraka wa Ta‘ala, maka kedudukannya seperti orang yang berhijrah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ini menunjukkan bahwa siapa pun yang hidup di tengah kekacauan, lalu fokus pada ibadah, berarti ia berada pada posisi yang selamat dari berbagai bahaya fitnah. Pada waktu seperti itu juga terdapat isyarat bahwa pilihan terbaik bagi seseorang adalah dengan memperbanyak ibadah dan menjauhi fitnah, agar ia memperoleh kebahagiaan, ketenangan, dan ketenteraman. Ini sebagaimana yang disampaikan juga oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadis,إِنَّ السَّعِيدَ لِمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ“Sesungguhnya orang yang benar-benar bahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah (beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulang ucapan itu hingga tiga kali).” (HR. Abu Dawud no. 423, dari al-Miqdad bin al-Aswad radhiyallahu ‘anhu dan disahihkan al-Albani dalam ash-Shahihah no. 975)Kebahagiaan itu ada pada sikap menjauhi fitnah, memperbanyak ibadah, zikir, dan ketaatan kepada Allah, serta mendekatkan diri kepada-Nya dengan berbagai amal saleh, zikir-zikir, dan berbagai amalan lainnya.Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, istri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu ketika bangun pada malam hari dalam keadaan cemas. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,سُبْحَانَ اللَّهِ! مَاذَا أُنْزِلَ اللَّهُ مِنَ الْخَزَائِنِ!؟ مَاذَا أُنْزِلَ مِنَ الْفِتَنِ!؟ مَنْ يُوقِظُ صَوَاحِبَ الْحُجُرَاتِ لِلصَّلَاةِ؟“Mahasuci Allah! Betapa banyak perbendaharaan (kebaikan) yang Allah turunkan! Dan betapa banyak fitnah yang diturunkan! Siapa yang akan membangunkan para penghuni kamar-kamar ini (istri-istri Nabi) untuk salat?” (HR. al-Bukhari dalam Shahih-nya no.115)Dengannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan umatnya bahwa ketika fitnah itu muncul, manusia hendaknya semakin mendekatkan diri kepada Allah dengan beribadah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ يُوقِظُ صَوَاحِبَ الْحُجُرَاتِ يُصَلِّينَ، رُبَّ كَاسِيَةٍ فِي الدُّنْيَا عَارِيَةٍ فِي الْآخِرَةِ“Siapa yang akan membangunkan para penghuni kamar-kamar (istri-istri Nabi) agar mereka salat? Betapa banyak wanita yang berpakaian di dunia namun telanjang di akhirat.” (HR. Bukhari no. 1126)Dan termasuk dalil yang menunjukkan hal ini juga adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ“Bersegeralah melakukan amal-amal saleh sebelum datangnya fitnah seperti potongan malam yang gelap gulita.” (HR. Muslim no. 118, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)Ini adalah bimbingan agar manusia segera memperbanyak amal saleh, yaitu hendaknya manusia bersegera melakukan ketaatan kepada Allah, seperti salat, zikir, doa, dan membaca Al-Qur’an.Saat fitnah datang bertubi-tubi, manusia cenderung teralihkan dari amal dan ibadah, sehingga hanya sedikit kebaikan yang tercatat untuk mereka. Oleh karena itu, hendaknya mereka segera kembali kepada Allah Tabaraka wa Ta‘ala dengan memohon taufik, pertolongan, dan penjagaan-Nya.Ketika fitnah terjadi pada masa tabi‘in, Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah yang dikenal sebagai sosok yang menjauhi fitnah pernah berkata,يَا أَيُّهَا النَّاسُ! إِنَّهُ وَاللَّهِ مَا سَلَّطَ اللَّهُ الْحَجَّاجَ عَلَيْكُمْ إِلَّا عُقُوبَةً؛ فَلَا تُعَارِضُوا عُقُوبَةَ اللَّهِ بِالسَّيْفِ، وَلَكِنْ عَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ و التَضَرُّعِ“Wahai manusia! Demi Allah, Allah tidaklah menjadikan Al-Hajjaj berkuasa atas kalian kecuali sebagai hukuman. Karena itu, jangan kalian melawan hukuman Allah dengan pedang. Bersikaplah tenang, dan perbanyaklah merendahkan diri dalam doa memohon pertolongan” (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa‘ad dalam ath-Thabaqat al-Kubra, 7: 164, dan oleh Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 12: 178)Karena Allah Ta‘ala telah berfirman,وَلَقَدْ أَخَذْنَاهُم بِالْعَذَابِ فَمَا اسْتَكَانُوا لِرَبِّهِمْ وَمَا يَتَضَرَّعُونَ“Dan sesungguhnya Kami telah pernah menimpakan azab kepada mereka, maka mereka tidak tunduk kepada Tuhan mereka, dan (juga) tidak memohon (kepada-Nya) dengan merendahkan diri.” (QS. Al‑Mu’minun: 76)Kewajiban manusia adalah bersimpuh dan tunduk kepada Allah ‘Azza wa Jalla, merendahkan diri di hadapan-Nya, senantiasa memperbanyak zikir kepada-Nya, serta memperbaiki kondisi dirinya dan keluarganya. Ia juga harus tetap istikamah dalam menaati Rabb-nya dengan cara yang diridai oleh Allah Tabaraka wa Ta‘ala.Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau pernah berkata,تكونُ فِتْنَةٌ لا ينجو منها إلا دعاءٌ كدعاءِ الغريقِ“Akan datang sebuah fitnah (ujian) yang tidak ada yang selamat darinya kecuali orang yang berdoa seperti doa orang yang sedang tenggelam.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Syaibah, 7: 53)Setiap orang tentu mengetahui bagaimana kondisi seorang yang akan tenggelam lalu berdoa; yaitu orang yang telah dikejar oleh tenggelamnya (kematian), bagaimana ia akan berdoa!? Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,تَكُونُ فِتْنَةٌ لَا يُنَجِّي مِنْهَا إِلَّا دُعَاءُ الْغَرِيقِ“Tidak ada yang dapat menyelamatkan darinya kecuali doa seperti doanya orang yang tenggelam.”Maksudnya, di posisi seperti itu engkau akan benar-benar menghadap kepada Allah Tabaraka wa Ta‘ala dengan penuh kejujuran dan keyakinan bahwa Dia akan menyelamatkanmu, menolongmu, memberi jalan keluar bagimu, dan menjagamu.[Bersambung]Lanjut ke bagian 2***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Referensi:Kitab Atsarul Fitan, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 15-20.

Dua Jenis Zuhud yang Bikin Allah dan Manusia Cinta Padamu – Syaikh Abdussalam Asy-Syuwai’ar

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah mendatangi para muridnya, lalu berkata: “Kalian hari ini lebih banyak shalat dan puasanya daripada para Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi dulu mereka lebih baik daripada kalian.” Para muridnya bertanya, “Mengapa bisa demikian, wahai Abu Abdurrahman?” Ibnu Mas’ud menjawab, “Karena dulu mereka lebih zuhud terhadap dunia daripada kalian, dan lebih mengharapkan akhirat.” Maka, zuhud bukan sekadar banyak beramal dengan anggota badan, melainkan terletak pada amalan hati. Oleh sebab itu, di antara hal terpenting adalah perhatian terhadap amalan hati. Banyak ulama menyebutkan bahwa orang yang sibuk mempelajari kitab-kitab fikih dan ushul fikih sering kali membuatnya sibuk dengan amalan lahiriah hingga melupakan amalan hati. Tidak ada yang mampu mengembalikannya kepada amalan hati kecuali Al-Qur’an. Maka, memperbanyak membaca Al-Qur’an, merenungkan maknanya, serta membaca sirah para Sahabat radhiyallahu ‘anhum —dan sebelum itu semua, tentu membaca sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—adalah perkara yang melembutkan hati, dan menjadikan seseorang zuhud terhadap dunia. Dalam hadis ini dijelaskan bahwa zuhud ada dua jenis: zuhud terhadap dunia, dan zuhud terhadap apa yang dimiliki orang lain. Adapun zuhud terhadap dunia, maka siapa yang melakukannya dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Makna zuhud terhadap dunia ialah hati tidak terpaut pada dunia, melainkan hanya terpaut kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Bisa jadi seseorang memiliki harta yang melimpah ruah, seperti halnya beberapa Sahabat, seperti Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, dan lainnya, atau seperti ulama generasi berikutnya, seperti Abdullah bin Al-Mubarak yang telah disebutkan. Abdullah bin Al-Mubarak termasuk orang paling zuhud di zamannya. Beliau juga menulis kitab tebal yang telah dicetak sejak lama, dengan judul “Kitab Az-Zuhd”. Para ulama dan ahli fikih dari generasi setelahnya sangat takjub dengan kezuhudan Abdullah bin Al-Mubarak, karena beliau memiliki harta, tetapi tetap zuhud. Ciri orang zuhud terhadap harta adalah: ketika muncul kesempatan untuk bersedekah, ia segera melakukannya tanpa pelit. Inilah orang yang zuhud. Zuhud bukan pada ketidakmampuan mencari harta, melainkan pada kemudahan dan kerelaannya menginfakkan hartanya. Jenis zuhud yang kedua adalah zuhud terhadap apa yang dimiliki manusia. Siapa yang zuhud terhadap apa yang dimiliki orang lain, maka manusia akan mencintainya. Makna zuhud terhadap apa yang dimiliki orang lain, yang pertama, ialah meninggalkan rasa iri terhadap harta mereka. Barang siapa memiliki harta atau kenikmatan duniawi (maka jangan kamu iri kepada mereka), “Dan janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada apa yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka sebagai perhiasan kehidupan dunia…” (QS. Thaha: 131). Zuhud dan ketidaktertarikan terhadap hal itu merupakan sebab utama kezuhudan terhadap apa yang dimiliki orang lain. Kedua, zuhud terhadap hal-hal yang diperebutkan manusia dalam urusan kemuliaan dan jabatan. Siapa yang zuhud terhadap kedudukan dan penghormatan, di mana seseorang dihormati, seperti menjadi khatib ulung, sebab menjadi khatib adalah salah satu bentuk kemuliaan: orang-orang berkumpul di hadapanmu, berdesakan di sekitarmu, dan diam mendengarkanmu saat kamu berbicara. Siapa yang zuhud terhadap hal itu, maka manusia akan mencintainya. Namun, terkadang seseorang memang ditakdirkan mengemban jabatan tersebut. Misalnya, si Ahmad berkata: “Aku ditakdirkan menjabat ini, bukan karena permintaanku.” Jika kamu memang diberi tanggung jawab tanpa memintanya, maka ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jabatan itu mendatangimu tanpa kamu meminta dan mengharapkannya.” Siapa yang mengamalkan kedua jenis zuhud ini, maka Allah ‘Azza wa Jalla akan mencintainya, dan manusia juga mencintainya karenanya. ===== عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ أَتَى أَصْحَابَهُ فَقَالَ أَنْتُمُ الْيَوْمَ أَكْثَرُ صَلاةً وَصِيَامًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُمْ كَانُوا خَيْرًا مِنْكُمْ فَقَالُوا لِمَ ذَلِكَ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ؟ فَقَالَ إِنَّهُمْ كَانُوا أَزْهَدَ فِي الدُّنْيَا مِنْكُمْ وَأَرْغَبَ فِي الْآخِرَةِ فَلَيْسَ الزُّهْدُ بِمُجَرَّدِ الْأَعْمَالِ وَإِنَّمَا هُوَ فِعْلُ الْقَلْبِ وَذَلِكَ مِنْ أَهَمِّ الْأُمُورِ الْعِنَايَةُ بِفِعْلِ الْقَلْبِ وَقَدْ ذَكَرَ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ الَّذِي يُعْنَى بِكُتُبِ الْفِقْهِ وَالْأُصُولِ رُبَّمَا انْشَغَلَ بِأَعْمَالِ الْجَوَارِحِ عَنْ أَفْعَالِ الْقُلُوبِ وَلَا يُرْجِعُهُ لِأَفْعَالِ الْقُلُوبِ إِلَّا الْقُرْآنُ فَالْإِكْثَارُ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَالتَّأَمُّلِ فِي مَعَانِيهِ وَالنَّظَرُ فِي سِيَرِ الْأَوَائِلِ مِنَ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ وَقَبْلَ ذَلِكَ سِيْرَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالِاطِّلَاعُ عَلَيْهَا هِيَ الَّتِي تُرَقِّقُ الْقَلْبَ هِيَ الَّتِي تُزَهِّدُ فِي الدُّنْيَا وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ بَيَانٌ أَنَّ الزُّهْدَ نَوْعَانِ زُهْدٌ فِي الدُّنْيَا وَزُهْدٌ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ فَأَمَّا الزُّهْدُ فِي الدُّنْيَا فَمَنْ فَعَلَهُ أَحَبَّهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مَعْنَى الزُّهْدِ فِي الدُّنْيَا أَنْ لَا يَتَعَلَّقَ الْقَلْبُ بِالدُّنْيَا وَإِنَّمَا يَتَعَلَّقُ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ يَكُونُ الْمَرْءُ قَدْ امْتَلَأَتْ يَدَاهُ مِنَ الدُّنْيَا كَحَالِ بَعْضِ الصَّحَابَةِ كَعُثْمَانَ وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ وَغَيْرِهِمْ وَمِنْ الْمُتَأَخِّرِينَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ الَّذِي تَقَدَّمَ ذِكْرُهُ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ كَانَ مِنْ أَزْهَدِ أَهْلِ عَصْرِهِ وَقَدْ أَلَّفَ كِتَابًا ضَخْمًا طُبِعَ مُنْذُ فَتَرَاتٍ طَوِيلَةٍ بِاسْمِ كِتَابِ الزُّهْدِ وَكَانَ الْعُلَمَاءُ الْفُقَهَاءُ يُعْجِبُهُمْ زُهْدُ عَبْدِاللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ مِنَ الْمُتَأَخِّرِينَ لِأَنَّهُ فِي يَدِهِ مَالٌ وَمَعَ ذَلِكَ زَهَدَ الزَّاهِدُ هَذَا يَدُلُّ عَلَى زُهْدِهِ فِي الْمَالِ أَنَّهُ إِذَا جَاءَ سَبَبُ الصَّدَقَةِ تَصَدَّقَ وَلَمْ يَبْخَلْ بِهِ هَذَا هُوَ الزَّاهِدُ لَيْسَ فِي عَدَمِ كَسْبِهِ وَإِنَّمَا فِي بَذْلِهِ وَسُهُولَةِ بَذْلِهِ لِلْمَالِ النَّوْعُ الثَّانِي مِنْ الزُّهْدِ الزُّهْدُ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ وَمَنْ زَهِدَ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ أَحَبَّهُ النَّاسُ مَعْنَى الزُّهْدِ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ أَوَّلًا تَرْكُ الْحَسَدِ فِي أَمْوَالِهِمْ فَمَنْ مَلَكَ مَالًا أَوْ مَلَكَ مَتَاعًا مِنْ مَتَاعِ الدُّنْيَا وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا هَذَا الزُّهْدُ فِيهِ وَعَدَمُ الْإِقْبَالِ عَلَيْهِ سَبَبٌ لِلزُّهْدِ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ الْأَمْرُ الثَّانِي الزُّهْدُ فِيمَا يَتَنَافَسُ فِيهِ النَّاسُ فِي أُمُورِ الشَّرَفِ وَالْوِلَايَاتِ فَمَنْ زَهِدَ فِي الْوِلَايَاتِ وَالشَّرَفِ الَّتِي يُشْرِفُونَ فِيهَا كَأَنْ يَكُونَ خَطِيبًا مِصْقَعًا إِذْ مِنَ الشَّرَفِ أَنْ تَكُونَ خَطِيبًا فَيَجْتَمِعُ النَّاسُ إِلَيْكَ وَيَتَكَاثَرُونَ عِنْدَكَ وَيُنْصِتُونَ لَكَ إِذَا تَكَلَّمْتَ مَنْ زَهِدَ فِي ذَلِكَ أَحَبَّهُ النَّاسُ لَكِنْ قَدْ يُبْتَلَى بَعْضُ النَّاسِ أَحْمَدُ يَقُولُ أَنَا رَجُلٌ بُلِيْتُ أَنَا بُلِيْتُ بِذَلِكَ لَكِنْ إِذَا اُبْتُلِيْتَ فَإِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَمَا جَاءَ فِي حَدِيثِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَاءَكَ مِن غَيْرِ طَلَبٍ وَلَا اسْتِشْرَافِ نَفْسٍ مَنْ فَعَلَ الثِّنْتَيْنِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّهُ وَيُحِبُّهُ النَّاسُ لِأَجْلِ ذَلِكَ

Dua Jenis Zuhud yang Bikin Allah dan Manusia Cinta Padamu – Syaikh Abdussalam Asy-Syuwai’ar

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah mendatangi para muridnya, lalu berkata: “Kalian hari ini lebih banyak shalat dan puasanya daripada para Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi dulu mereka lebih baik daripada kalian.” Para muridnya bertanya, “Mengapa bisa demikian, wahai Abu Abdurrahman?” Ibnu Mas’ud menjawab, “Karena dulu mereka lebih zuhud terhadap dunia daripada kalian, dan lebih mengharapkan akhirat.” Maka, zuhud bukan sekadar banyak beramal dengan anggota badan, melainkan terletak pada amalan hati. Oleh sebab itu, di antara hal terpenting adalah perhatian terhadap amalan hati. Banyak ulama menyebutkan bahwa orang yang sibuk mempelajari kitab-kitab fikih dan ushul fikih sering kali membuatnya sibuk dengan amalan lahiriah hingga melupakan amalan hati. Tidak ada yang mampu mengembalikannya kepada amalan hati kecuali Al-Qur’an. Maka, memperbanyak membaca Al-Qur’an, merenungkan maknanya, serta membaca sirah para Sahabat radhiyallahu ‘anhum —dan sebelum itu semua, tentu membaca sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—adalah perkara yang melembutkan hati, dan menjadikan seseorang zuhud terhadap dunia. Dalam hadis ini dijelaskan bahwa zuhud ada dua jenis: zuhud terhadap dunia, dan zuhud terhadap apa yang dimiliki orang lain. Adapun zuhud terhadap dunia, maka siapa yang melakukannya dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Makna zuhud terhadap dunia ialah hati tidak terpaut pada dunia, melainkan hanya terpaut kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Bisa jadi seseorang memiliki harta yang melimpah ruah, seperti halnya beberapa Sahabat, seperti Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, dan lainnya, atau seperti ulama generasi berikutnya, seperti Abdullah bin Al-Mubarak yang telah disebutkan. Abdullah bin Al-Mubarak termasuk orang paling zuhud di zamannya. Beliau juga menulis kitab tebal yang telah dicetak sejak lama, dengan judul “Kitab Az-Zuhd”. Para ulama dan ahli fikih dari generasi setelahnya sangat takjub dengan kezuhudan Abdullah bin Al-Mubarak, karena beliau memiliki harta, tetapi tetap zuhud. Ciri orang zuhud terhadap harta adalah: ketika muncul kesempatan untuk bersedekah, ia segera melakukannya tanpa pelit. Inilah orang yang zuhud. Zuhud bukan pada ketidakmampuan mencari harta, melainkan pada kemudahan dan kerelaannya menginfakkan hartanya. Jenis zuhud yang kedua adalah zuhud terhadap apa yang dimiliki manusia. Siapa yang zuhud terhadap apa yang dimiliki orang lain, maka manusia akan mencintainya. Makna zuhud terhadap apa yang dimiliki orang lain, yang pertama, ialah meninggalkan rasa iri terhadap harta mereka. Barang siapa memiliki harta atau kenikmatan duniawi (maka jangan kamu iri kepada mereka), “Dan janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada apa yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka sebagai perhiasan kehidupan dunia…” (QS. Thaha: 131). Zuhud dan ketidaktertarikan terhadap hal itu merupakan sebab utama kezuhudan terhadap apa yang dimiliki orang lain. Kedua, zuhud terhadap hal-hal yang diperebutkan manusia dalam urusan kemuliaan dan jabatan. Siapa yang zuhud terhadap kedudukan dan penghormatan, di mana seseorang dihormati, seperti menjadi khatib ulung, sebab menjadi khatib adalah salah satu bentuk kemuliaan: orang-orang berkumpul di hadapanmu, berdesakan di sekitarmu, dan diam mendengarkanmu saat kamu berbicara. Siapa yang zuhud terhadap hal itu, maka manusia akan mencintainya. Namun, terkadang seseorang memang ditakdirkan mengemban jabatan tersebut. Misalnya, si Ahmad berkata: “Aku ditakdirkan menjabat ini, bukan karena permintaanku.” Jika kamu memang diberi tanggung jawab tanpa memintanya, maka ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jabatan itu mendatangimu tanpa kamu meminta dan mengharapkannya.” Siapa yang mengamalkan kedua jenis zuhud ini, maka Allah ‘Azza wa Jalla akan mencintainya, dan manusia juga mencintainya karenanya. ===== عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ أَتَى أَصْحَابَهُ فَقَالَ أَنْتُمُ الْيَوْمَ أَكْثَرُ صَلاةً وَصِيَامًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُمْ كَانُوا خَيْرًا مِنْكُمْ فَقَالُوا لِمَ ذَلِكَ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ؟ فَقَالَ إِنَّهُمْ كَانُوا أَزْهَدَ فِي الدُّنْيَا مِنْكُمْ وَأَرْغَبَ فِي الْآخِرَةِ فَلَيْسَ الزُّهْدُ بِمُجَرَّدِ الْأَعْمَالِ وَإِنَّمَا هُوَ فِعْلُ الْقَلْبِ وَذَلِكَ مِنْ أَهَمِّ الْأُمُورِ الْعِنَايَةُ بِفِعْلِ الْقَلْبِ وَقَدْ ذَكَرَ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ الَّذِي يُعْنَى بِكُتُبِ الْفِقْهِ وَالْأُصُولِ رُبَّمَا انْشَغَلَ بِأَعْمَالِ الْجَوَارِحِ عَنْ أَفْعَالِ الْقُلُوبِ وَلَا يُرْجِعُهُ لِأَفْعَالِ الْقُلُوبِ إِلَّا الْقُرْآنُ فَالْإِكْثَارُ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَالتَّأَمُّلِ فِي مَعَانِيهِ وَالنَّظَرُ فِي سِيَرِ الْأَوَائِلِ مِنَ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ وَقَبْلَ ذَلِكَ سِيْرَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالِاطِّلَاعُ عَلَيْهَا هِيَ الَّتِي تُرَقِّقُ الْقَلْبَ هِيَ الَّتِي تُزَهِّدُ فِي الدُّنْيَا وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ بَيَانٌ أَنَّ الزُّهْدَ نَوْعَانِ زُهْدٌ فِي الدُّنْيَا وَزُهْدٌ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ فَأَمَّا الزُّهْدُ فِي الدُّنْيَا فَمَنْ فَعَلَهُ أَحَبَّهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مَعْنَى الزُّهْدِ فِي الدُّنْيَا أَنْ لَا يَتَعَلَّقَ الْقَلْبُ بِالدُّنْيَا وَإِنَّمَا يَتَعَلَّقُ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ يَكُونُ الْمَرْءُ قَدْ امْتَلَأَتْ يَدَاهُ مِنَ الدُّنْيَا كَحَالِ بَعْضِ الصَّحَابَةِ كَعُثْمَانَ وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ وَغَيْرِهِمْ وَمِنْ الْمُتَأَخِّرِينَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ الَّذِي تَقَدَّمَ ذِكْرُهُ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ كَانَ مِنْ أَزْهَدِ أَهْلِ عَصْرِهِ وَقَدْ أَلَّفَ كِتَابًا ضَخْمًا طُبِعَ مُنْذُ فَتَرَاتٍ طَوِيلَةٍ بِاسْمِ كِتَابِ الزُّهْدِ وَكَانَ الْعُلَمَاءُ الْفُقَهَاءُ يُعْجِبُهُمْ زُهْدُ عَبْدِاللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ مِنَ الْمُتَأَخِّرِينَ لِأَنَّهُ فِي يَدِهِ مَالٌ وَمَعَ ذَلِكَ زَهَدَ الزَّاهِدُ هَذَا يَدُلُّ عَلَى زُهْدِهِ فِي الْمَالِ أَنَّهُ إِذَا جَاءَ سَبَبُ الصَّدَقَةِ تَصَدَّقَ وَلَمْ يَبْخَلْ بِهِ هَذَا هُوَ الزَّاهِدُ لَيْسَ فِي عَدَمِ كَسْبِهِ وَإِنَّمَا فِي بَذْلِهِ وَسُهُولَةِ بَذْلِهِ لِلْمَالِ النَّوْعُ الثَّانِي مِنْ الزُّهْدِ الزُّهْدُ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ وَمَنْ زَهِدَ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ أَحَبَّهُ النَّاسُ مَعْنَى الزُّهْدِ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ أَوَّلًا تَرْكُ الْحَسَدِ فِي أَمْوَالِهِمْ فَمَنْ مَلَكَ مَالًا أَوْ مَلَكَ مَتَاعًا مِنْ مَتَاعِ الدُّنْيَا وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا هَذَا الزُّهْدُ فِيهِ وَعَدَمُ الْإِقْبَالِ عَلَيْهِ سَبَبٌ لِلزُّهْدِ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ الْأَمْرُ الثَّانِي الزُّهْدُ فِيمَا يَتَنَافَسُ فِيهِ النَّاسُ فِي أُمُورِ الشَّرَفِ وَالْوِلَايَاتِ فَمَنْ زَهِدَ فِي الْوِلَايَاتِ وَالشَّرَفِ الَّتِي يُشْرِفُونَ فِيهَا كَأَنْ يَكُونَ خَطِيبًا مِصْقَعًا إِذْ مِنَ الشَّرَفِ أَنْ تَكُونَ خَطِيبًا فَيَجْتَمِعُ النَّاسُ إِلَيْكَ وَيَتَكَاثَرُونَ عِنْدَكَ وَيُنْصِتُونَ لَكَ إِذَا تَكَلَّمْتَ مَنْ زَهِدَ فِي ذَلِكَ أَحَبَّهُ النَّاسُ لَكِنْ قَدْ يُبْتَلَى بَعْضُ النَّاسِ أَحْمَدُ يَقُولُ أَنَا رَجُلٌ بُلِيْتُ أَنَا بُلِيْتُ بِذَلِكَ لَكِنْ إِذَا اُبْتُلِيْتَ فَإِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَمَا جَاءَ فِي حَدِيثِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَاءَكَ مِن غَيْرِ طَلَبٍ وَلَا اسْتِشْرَافِ نَفْسٍ مَنْ فَعَلَ الثِّنْتَيْنِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّهُ وَيُحِبُّهُ النَّاسُ لِأَجْلِ ذَلِكَ
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah mendatangi para muridnya, lalu berkata: “Kalian hari ini lebih banyak shalat dan puasanya daripada para Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi dulu mereka lebih baik daripada kalian.” Para muridnya bertanya, “Mengapa bisa demikian, wahai Abu Abdurrahman?” Ibnu Mas’ud menjawab, “Karena dulu mereka lebih zuhud terhadap dunia daripada kalian, dan lebih mengharapkan akhirat.” Maka, zuhud bukan sekadar banyak beramal dengan anggota badan, melainkan terletak pada amalan hati. Oleh sebab itu, di antara hal terpenting adalah perhatian terhadap amalan hati. Banyak ulama menyebutkan bahwa orang yang sibuk mempelajari kitab-kitab fikih dan ushul fikih sering kali membuatnya sibuk dengan amalan lahiriah hingga melupakan amalan hati. Tidak ada yang mampu mengembalikannya kepada amalan hati kecuali Al-Qur’an. Maka, memperbanyak membaca Al-Qur’an, merenungkan maknanya, serta membaca sirah para Sahabat radhiyallahu ‘anhum —dan sebelum itu semua, tentu membaca sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—adalah perkara yang melembutkan hati, dan menjadikan seseorang zuhud terhadap dunia. Dalam hadis ini dijelaskan bahwa zuhud ada dua jenis: zuhud terhadap dunia, dan zuhud terhadap apa yang dimiliki orang lain. Adapun zuhud terhadap dunia, maka siapa yang melakukannya dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Makna zuhud terhadap dunia ialah hati tidak terpaut pada dunia, melainkan hanya terpaut kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Bisa jadi seseorang memiliki harta yang melimpah ruah, seperti halnya beberapa Sahabat, seperti Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, dan lainnya, atau seperti ulama generasi berikutnya, seperti Abdullah bin Al-Mubarak yang telah disebutkan. Abdullah bin Al-Mubarak termasuk orang paling zuhud di zamannya. Beliau juga menulis kitab tebal yang telah dicetak sejak lama, dengan judul “Kitab Az-Zuhd”. Para ulama dan ahli fikih dari generasi setelahnya sangat takjub dengan kezuhudan Abdullah bin Al-Mubarak, karena beliau memiliki harta, tetapi tetap zuhud. Ciri orang zuhud terhadap harta adalah: ketika muncul kesempatan untuk bersedekah, ia segera melakukannya tanpa pelit. Inilah orang yang zuhud. Zuhud bukan pada ketidakmampuan mencari harta, melainkan pada kemudahan dan kerelaannya menginfakkan hartanya. Jenis zuhud yang kedua adalah zuhud terhadap apa yang dimiliki manusia. Siapa yang zuhud terhadap apa yang dimiliki orang lain, maka manusia akan mencintainya. Makna zuhud terhadap apa yang dimiliki orang lain, yang pertama, ialah meninggalkan rasa iri terhadap harta mereka. Barang siapa memiliki harta atau kenikmatan duniawi (maka jangan kamu iri kepada mereka), “Dan janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada apa yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka sebagai perhiasan kehidupan dunia…” (QS. Thaha: 131). Zuhud dan ketidaktertarikan terhadap hal itu merupakan sebab utama kezuhudan terhadap apa yang dimiliki orang lain. Kedua, zuhud terhadap hal-hal yang diperebutkan manusia dalam urusan kemuliaan dan jabatan. Siapa yang zuhud terhadap kedudukan dan penghormatan, di mana seseorang dihormati, seperti menjadi khatib ulung, sebab menjadi khatib adalah salah satu bentuk kemuliaan: orang-orang berkumpul di hadapanmu, berdesakan di sekitarmu, dan diam mendengarkanmu saat kamu berbicara. Siapa yang zuhud terhadap hal itu, maka manusia akan mencintainya. Namun, terkadang seseorang memang ditakdirkan mengemban jabatan tersebut. Misalnya, si Ahmad berkata: “Aku ditakdirkan menjabat ini, bukan karena permintaanku.” Jika kamu memang diberi tanggung jawab tanpa memintanya, maka ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jabatan itu mendatangimu tanpa kamu meminta dan mengharapkannya.” Siapa yang mengamalkan kedua jenis zuhud ini, maka Allah ‘Azza wa Jalla akan mencintainya, dan manusia juga mencintainya karenanya. ===== عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ أَتَى أَصْحَابَهُ فَقَالَ أَنْتُمُ الْيَوْمَ أَكْثَرُ صَلاةً وَصِيَامًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُمْ كَانُوا خَيْرًا مِنْكُمْ فَقَالُوا لِمَ ذَلِكَ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ؟ فَقَالَ إِنَّهُمْ كَانُوا أَزْهَدَ فِي الدُّنْيَا مِنْكُمْ وَأَرْغَبَ فِي الْآخِرَةِ فَلَيْسَ الزُّهْدُ بِمُجَرَّدِ الْأَعْمَالِ وَإِنَّمَا هُوَ فِعْلُ الْقَلْبِ وَذَلِكَ مِنْ أَهَمِّ الْأُمُورِ الْعِنَايَةُ بِفِعْلِ الْقَلْبِ وَقَدْ ذَكَرَ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ الَّذِي يُعْنَى بِكُتُبِ الْفِقْهِ وَالْأُصُولِ رُبَّمَا انْشَغَلَ بِأَعْمَالِ الْجَوَارِحِ عَنْ أَفْعَالِ الْقُلُوبِ وَلَا يُرْجِعُهُ لِأَفْعَالِ الْقُلُوبِ إِلَّا الْقُرْآنُ فَالْإِكْثَارُ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَالتَّأَمُّلِ فِي مَعَانِيهِ وَالنَّظَرُ فِي سِيَرِ الْأَوَائِلِ مِنَ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ وَقَبْلَ ذَلِكَ سِيْرَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالِاطِّلَاعُ عَلَيْهَا هِيَ الَّتِي تُرَقِّقُ الْقَلْبَ هِيَ الَّتِي تُزَهِّدُ فِي الدُّنْيَا وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ بَيَانٌ أَنَّ الزُّهْدَ نَوْعَانِ زُهْدٌ فِي الدُّنْيَا وَزُهْدٌ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ فَأَمَّا الزُّهْدُ فِي الدُّنْيَا فَمَنْ فَعَلَهُ أَحَبَّهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مَعْنَى الزُّهْدِ فِي الدُّنْيَا أَنْ لَا يَتَعَلَّقَ الْقَلْبُ بِالدُّنْيَا وَإِنَّمَا يَتَعَلَّقُ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ يَكُونُ الْمَرْءُ قَدْ امْتَلَأَتْ يَدَاهُ مِنَ الدُّنْيَا كَحَالِ بَعْضِ الصَّحَابَةِ كَعُثْمَانَ وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ وَغَيْرِهِمْ وَمِنْ الْمُتَأَخِّرِينَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ الَّذِي تَقَدَّمَ ذِكْرُهُ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ كَانَ مِنْ أَزْهَدِ أَهْلِ عَصْرِهِ وَقَدْ أَلَّفَ كِتَابًا ضَخْمًا طُبِعَ مُنْذُ فَتَرَاتٍ طَوِيلَةٍ بِاسْمِ كِتَابِ الزُّهْدِ وَكَانَ الْعُلَمَاءُ الْفُقَهَاءُ يُعْجِبُهُمْ زُهْدُ عَبْدِاللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ مِنَ الْمُتَأَخِّرِينَ لِأَنَّهُ فِي يَدِهِ مَالٌ وَمَعَ ذَلِكَ زَهَدَ الزَّاهِدُ هَذَا يَدُلُّ عَلَى زُهْدِهِ فِي الْمَالِ أَنَّهُ إِذَا جَاءَ سَبَبُ الصَّدَقَةِ تَصَدَّقَ وَلَمْ يَبْخَلْ بِهِ هَذَا هُوَ الزَّاهِدُ لَيْسَ فِي عَدَمِ كَسْبِهِ وَإِنَّمَا فِي بَذْلِهِ وَسُهُولَةِ بَذْلِهِ لِلْمَالِ النَّوْعُ الثَّانِي مِنْ الزُّهْدِ الزُّهْدُ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ وَمَنْ زَهِدَ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ أَحَبَّهُ النَّاسُ مَعْنَى الزُّهْدِ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ أَوَّلًا تَرْكُ الْحَسَدِ فِي أَمْوَالِهِمْ فَمَنْ مَلَكَ مَالًا أَوْ مَلَكَ مَتَاعًا مِنْ مَتَاعِ الدُّنْيَا وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا هَذَا الزُّهْدُ فِيهِ وَعَدَمُ الْإِقْبَالِ عَلَيْهِ سَبَبٌ لِلزُّهْدِ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ الْأَمْرُ الثَّانِي الزُّهْدُ فِيمَا يَتَنَافَسُ فِيهِ النَّاسُ فِي أُمُورِ الشَّرَفِ وَالْوِلَايَاتِ فَمَنْ زَهِدَ فِي الْوِلَايَاتِ وَالشَّرَفِ الَّتِي يُشْرِفُونَ فِيهَا كَأَنْ يَكُونَ خَطِيبًا مِصْقَعًا إِذْ مِنَ الشَّرَفِ أَنْ تَكُونَ خَطِيبًا فَيَجْتَمِعُ النَّاسُ إِلَيْكَ وَيَتَكَاثَرُونَ عِنْدَكَ وَيُنْصِتُونَ لَكَ إِذَا تَكَلَّمْتَ مَنْ زَهِدَ فِي ذَلِكَ أَحَبَّهُ النَّاسُ لَكِنْ قَدْ يُبْتَلَى بَعْضُ النَّاسِ أَحْمَدُ يَقُولُ أَنَا رَجُلٌ بُلِيْتُ أَنَا بُلِيْتُ بِذَلِكَ لَكِنْ إِذَا اُبْتُلِيْتَ فَإِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَمَا جَاءَ فِي حَدِيثِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَاءَكَ مِن غَيْرِ طَلَبٍ وَلَا اسْتِشْرَافِ نَفْسٍ مَنْ فَعَلَ الثِّنْتَيْنِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّهُ وَيُحِبُّهُ النَّاسُ لِأَجْلِ ذَلِكَ


Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah mendatangi para muridnya, lalu berkata: “Kalian hari ini lebih banyak shalat dan puasanya daripada para Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi dulu mereka lebih baik daripada kalian.” Para muridnya bertanya, “Mengapa bisa demikian, wahai Abu Abdurrahman?” Ibnu Mas’ud menjawab, “Karena dulu mereka lebih zuhud terhadap dunia daripada kalian, dan lebih mengharapkan akhirat.” Maka, zuhud bukan sekadar banyak beramal dengan anggota badan, melainkan terletak pada amalan hati. Oleh sebab itu, di antara hal terpenting adalah perhatian terhadap amalan hati. Banyak ulama menyebutkan bahwa orang yang sibuk mempelajari kitab-kitab fikih dan ushul fikih sering kali membuatnya sibuk dengan amalan lahiriah hingga melupakan amalan hati. Tidak ada yang mampu mengembalikannya kepada amalan hati kecuali Al-Qur’an. Maka, memperbanyak membaca Al-Qur’an, merenungkan maknanya, serta membaca sirah para Sahabat radhiyallahu ‘anhum —dan sebelum itu semua, tentu membaca sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—adalah perkara yang melembutkan hati, dan menjadikan seseorang zuhud terhadap dunia. Dalam hadis ini dijelaskan bahwa zuhud ada dua jenis: zuhud terhadap dunia, dan zuhud terhadap apa yang dimiliki orang lain. Adapun zuhud terhadap dunia, maka siapa yang melakukannya dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Makna zuhud terhadap dunia ialah hati tidak terpaut pada dunia, melainkan hanya terpaut kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Bisa jadi seseorang memiliki harta yang melimpah ruah, seperti halnya beberapa Sahabat, seperti Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, dan lainnya, atau seperti ulama generasi berikutnya, seperti Abdullah bin Al-Mubarak yang telah disebutkan. Abdullah bin Al-Mubarak termasuk orang paling zuhud di zamannya. Beliau juga menulis kitab tebal yang telah dicetak sejak lama, dengan judul “Kitab Az-Zuhd”. Para ulama dan ahli fikih dari generasi setelahnya sangat takjub dengan kezuhudan Abdullah bin Al-Mubarak, karena beliau memiliki harta, tetapi tetap zuhud. Ciri orang zuhud terhadap harta adalah: ketika muncul kesempatan untuk bersedekah, ia segera melakukannya tanpa pelit. Inilah orang yang zuhud. Zuhud bukan pada ketidakmampuan mencari harta, melainkan pada kemudahan dan kerelaannya menginfakkan hartanya. Jenis zuhud yang kedua adalah zuhud terhadap apa yang dimiliki manusia. Siapa yang zuhud terhadap apa yang dimiliki orang lain, maka manusia akan mencintainya. Makna zuhud terhadap apa yang dimiliki orang lain, yang pertama, ialah meninggalkan rasa iri terhadap harta mereka. Barang siapa memiliki harta atau kenikmatan duniawi (maka jangan kamu iri kepada mereka), “Dan janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada apa yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka sebagai perhiasan kehidupan dunia…” (QS. Thaha: 131). Zuhud dan ketidaktertarikan terhadap hal itu merupakan sebab utama kezuhudan terhadap apa yang dimiliki orang lain. Kedua, zuhud terhadap hal-hal yang diperebutkan manusia dalam urusan kemuliaan dan jabatan. Siapa yang zuhud terhadap kedudukan dan penghormatan, di mana seseorang dihormati, seperti menjadi khatib ulung, sebab menjadi khatib adalah salah satu bentuk kemuliaan: orang-orang berkumpul di hadapanmu, berdesakan di sekitarmu, dan diam mendengarkanmu saat kamu berbicara. Siapa yang zuhud terhadap hal itu, maka manusia akan mencintainya. Namun, terkadang seseorang memang ditakdirkan mengemban jabatan tersebut. Misalnya, si Ahmad berkata: “Aku ditakdirkan menjabat ini, bukan karena permintaanku.” Jika kamu memang diberi tanggung jawab tanpa memintanya, maka ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jabatan itu mendatangimu tanpa kamu meminta dan mengharapkannya.” Siapa yang mengamalkan kedua jenis zuhud ini, maka Allah ‘Azza wa Jalla akan mencintainya, dan manusia juga mencintainya karenanya. ===== عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ أَتَى أَصْحَابَهُ فَقَالَ أَنْتُمُ الْيَوْمَ أَكْثَرُ صَلاةً وَصِيَامًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُمْ كَانُوا خَيْرًا مِنْكُمْ فَقَالُوا لِمَ ذَلِكَ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ؟ فَقَالَ إِنَّهُمْ كَانُوا أَزْهَدَ فِي الدُّنْيَا مِنْكُمْ وَأَرْغَبَ فِي الْآخِرَةِ فَلَيْسَ الزُّهْدُ بِمُجَرَّدِ الْأَعْمَالِ وَإِنَّمَا هُوَ فِعْلُ الْقَلْبِ وَذَلِكَ مِنْ أَهَمِّ الْأُمُورِ الْعِنَايَةُ بِفِعْلِ الْقَلْبِ وَقَدْ ذَكَرَ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ الَّذِي يُعْنَى بِكُتُبِ الْفِقْهِ وَالْأُصُولِ رُبَّمَا انْشَغَلَ بِأَعْمَالِ الْجَوَارِحِ عَنْ أَفْعَالِ الْقُلُوبِ وَلَا يُرْجِعُهُ لِأَفْعَالِ الْقُلُوبِ إِلَّا الْقُرْآنُ فَالْإِكْثَارُ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَالتَّأَمُّلِ فِي مَعَانِيهِ وَالنَّظَرُ فِي سِيَرِ الْأَوَائِلِ مِنَ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ وَقَبْلَ ذَلِكَ سِيْرَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالِاطِّلَاعُ عَلَيْهَا هِيَ الَّتِي تُرَقِّقُ الْقَلْبَ هِيَ الَّتِي تُزَهِّدُ فِي الدُّنْيَا وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ بَيَانٌ أَنَّ الزُّهْدَ نَوْعَانِ زُهْدٌ فِي الدُّنْيَا وَزُهْدٌ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ فَأَمَّا الزُّهْدُ فِي الدُّنْيَا فَمَنْ فَعَلَهُ أَحَبَّهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مَعْنَى الزُّهْدِ فِي الدُّنْيَا أَنْ لَا يَتَعَلَّقَ الْقَلْبُ بِالدُّنْيَا وَإِنَّمَا يَتَعَلَّقُ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ يَكُونُ الْمَرْءُ قَدْ امْتَلَأَتْ يَدَاهُ مِنَ الدُّنْيَا كَحَالِ بَعْضِ الصَّحَابَةِ كَعُثْمَانَ وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ وَغَيْرِهِمْ وَمِنْ الْمُتَأَخِّرِينَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ الَّذِي تَقَدَّمَ ذِكْرُهُ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ كَانَ مِنْ أَزْهَدِ أَهْلِ عَصْرِهِ وَقَدْ أَلَّفَ كِتَابًا ضَخْمًا طُبِعَ مُنْذُ فَتَرَاتٍ طَوِيلَةٍ بِاسْمِ كِتَابِ الزُّهْدِ وَكَانَ الْعُلَمَاءُ الْفُقَهَاءُ يُعْجِبُهُمْ زُهْدُ عَبْدِاللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ مِنَ الْمُتَأَخِّرِينَ لِأَنَّهُ فِي يَدِهِ مَالٌ وَمَعَ ذَلِكَ زَهَدَ الزَّاهِدُ هَذَا يَدُلُّ عَلَى زُهْدِهِ فِي الْمَالِ أَنَّهُ إِذَا جَاءَ سَبَبُ الصَّدَقَةِ تَصَدَّقَ وَلَمْ يَبْخَلْ بِهِ هَذَا هُوَ الزَّاهِدُ لَيْسَ فِي عَدَمِ كَسْبِهِ وَإِنَّمَا فِي بَذْلِهِ وَسُهُولَةِ بَذْلِهِ لِلْمَالِ النَّوْعُ الثَّانِي مِنْ الزُّهْدِ الزُّهْدُ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ وَمَنْ زَهِدَ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ أَحَبَّهُ النَّاسُ مَعْنَى الزُّهْدِ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ أَوَّلًا تَرْكُ الْحَسَدِ فِي أَمْوَالِهِمْ فَمَنْ مَلَكَ مَالًا أَوْ مَلَكَ مَتَاعًا مِنْ مَتَاعِ الدُّنْيَا وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا هَذَا الزُّهْدُ فِيهِ وَعَدَمُ الْإِقْبَالِ عَلَيْهِ سَبَبٌ لِلزُّهْدِ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ الْأَمْرُ الثَّانِي الزُّهْدُ فِيمَا يَتَنَافَسُ فِيهِ النَّاسُ فِي أُمُورِ الشَّرَفِ وَالْوِلَايَاتِ فَمَنْ زَهِدَ فِي الْوِلَايَاتِ وَالشَّرَفِ الَّتِي يُشْرِفُونَ فِيهَا كَأَنْ يَكُونَ خَطِيبًا مِصْقَعًا إِذْ مِنَ الشَّرَفِ أَنْ تَكُونَ خَطِيبًا فَيَجْتَمِعُ النَّاسُ إِلَيْكَ وَيَتَكَاثَرُونَ عِنْدَكَ وَيُنْصِتُونَ لَكَ إِذَا تَكَلَّمْتَ مَنْ زَهِدَ فِي ذَلِكَ أَحَبَّهُ النَّاسُ لَكِنْ قَدْ يُبْتَلَى بَعْضُ النَّاسِ أَحْمَدُ يَقُولُ أَنَا رَجُلٌ بُلِيْتُ أَنَا بُلِيْتُ بِذَلِكَ لَكِنْ إِذَا اُبْتُلِيْتَ فَإِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَمَا جَاءَ فِي حَدِيثِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَاءَكَ مِن غَيْرِ طَلَبٍ وَلَا اسْتِشْرَافِ نَفْسٍ مَنْ فَعَلَ الثِّنْتَيْنِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّهُ وَيُحِبُّهُ النَّاسُ لِأَجْلِ ذَلِكَ

Kaidah Fikih: Segala Sesuatu Tergantung Tujuannya (Bag. 1)

Daftar Isi ToggleKedudukan dan urgensi kaidah iniMakna kaidahDalil-dalil dari kaidah iniMenjadi kaidah pembuka dalam pembahasan kaidah fikih yaitu salah satu kaidah di antara kaidah kubra, kaidah tersebut berbunyi:الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا“Segala sesuatu tergantung pada tujuannya.” Kedudukan dan urgensi kaidah iniKaidah ini merupakan kaidah yang sangat agung kedudukannya. Dalam kaidah ini, terkandung pondasi amalan-amalan hati, yang dengannya dapat diketahui sah atau tidaknya amalan-amalan yang dikerjakan. Sebagaimana pula pahala dan hukuman berputar pembahasannya pada kaidah ini.Terlebih kaidah ini menjadi semakin penting kedudukannya dikarenakan kaidah ini bersandar kepada hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya amalan itu tergantung dari niatnya.” (Muttafaqun ‘alaih)Para ulama menyebutkan bahwa hadis di atas adalah sepertiga ilmu. Sebagian ulama menjelaskan tentang mengapa disebut sepertiga ilmu, yaitu karena amalan seorang hamba terdapat pada tiga hal:Amalan hatiAmalan lisanAmalan anggota tubuhSehingga niat termasuk dari salah satu dari tiga amalan di atas, yaitu “amalan hati”.Sebagian ulama, ada pula yang menjelaskan bahwasanya hadis di atas adalah salah satu dari tiga hadis yang menjadi dasar kembalinya segala hukum. Kendati para ulama berselisih perihal hadis-hadis yang dimaksud, namun mereka bersepakat pada satu hadis, yaitu hadis yang telah disebutkan di atas. Artinya, hadis di atas adalah sebagai landasan kembalinya segala hukum yang ada di dalam agama Islam.Bahkan, telah dinukil sebuah statement (perkataan) dari Imam Asy-Syafi’i bahwasanya hadis di atas masuk dalam tujuh puluh bab di antara bab-bab ilmu yang ada. Hal tersebut menunjukkan pentingnya masalah niat dan tujuan dalam segala aktivitas yang ada.Makna kaidahSecara umum, makna dari kaidah الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا adalah,“Bahwasanya segala bentuk aktivitas mukallaf (hamba), baik berupa ucapan, perbuatan, atau keyakinan, masing-masing dapat berbeda (hasilnya) tergantung dari tujuan dan niatnya.” Mungkin terbesit sebuah pertanyaan, mengapa para ulama tidak menggunakan saja istilah atau lafaz yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu sebagaimana hadis di atas.Jawabannya, mengapa para ulama tidak menggunakan lafadz إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ saja dibandingkan lafaz الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا, dikarenakan menggunakan kata الأمور  (segala perkara) lebih umum dibandingkan menggunakan lafaz الأعمال (amalan-amalan).Sebab الأمور (segala perkara) mencakup segala perbuatan, ucapan, dan keyakinan. Adapun lafaz الأعمال lebih khusus cakupannya dibandingkan dengan الأمور. Tidak berbeda halnya dengan lafaz المقاصد (tujuan-tujuan) dengan النيات (niat). Mengapa para ulama tidak menggunakan lafaz niat dalam kaidah kubra ini, dikarenakan lafaz المقاصد lebih umum pula cakupannya.Karena sebab itulah, para ulama menggunakan lafaz الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا, mengingat cakupannya lebih umum dan lebih mengarah kepada hal-hal yang dimaksud.Dalil-dalil dari kaidah iniKaidah ini sejatinya didukung oleh dalil-dalil yang lain dari Al-Qur’an dan As-Sunnah beserta ijma’. Namun, pondasi utama kaidah ini adalah hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah disebutkan di atas. Yaitu hadis dari Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنَّما الأعمالُ بالنِّيَّاتِ وإنَّما لِكلِّ امرئٍ ما نوى فمن كانت هجرتُهُ إلى اللَّهِ ورسولِهِ فَهجرتُهُ إلى اللَّهِ ورسولِهِ ومن كانت هجرتُهُ إلى دنيا يصيبُها أو امرأةٍ ينْكحُها فَهجرتُهُ إلى ما هاجرَ إليْهِ“Sesungguhnya amalan-amalan tergantung dari niatnya, dan sesungguhnya seseorang akan dibalas sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya terhitung karena Allah dan Rasul-Nya. Namun barangsiapa yang hijrah karena dunia yang ingin diperolehnya, atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya terhitung hanya sebatas dari tujuannya itu.” (Muttafaqun ‘alaih)Di antara dalil akan kaidah ini adalah firman Allah Ta’ala, وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدٰوةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ“Bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Rabbnya pada pagi dan petang hari dengan mengharap wajah-Nya.” (QS. Al-Kahfi: 28)Pada ayat di atas, terdapat dalil agar seseorang senantiasa memperhatikan tujuan dan niatnya dalam beramal, yaitu dalam bentuk “mengharap wajah Allah dalam beramal”. Pada penggunaan kata “mengharap” terdapat maksud dari niat dan tujuan. Sehingga tujuan dan niat dalam ibadah hendaknya hanya diserahkan kepada Allah semata dan tidak kepada yang lainnya.Di antaranya pula firman Allah Ta’ala, ۞ وَمَنْ يُّهَاجِرْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ يَجِدْ فِى الْاَرْضِ مُرٰغَمًا كَثِيْرًا وَّسَعَةً ۗوَمَنْ يَّخْرُجْ مِنْۢ بَيْتِهٖ مُهَاجِرًا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ اَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِ ۗوَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا ࣖ“Siapa yang berhijrah di jalan Allah, niscaya akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang banyak dan kelapangan (rezeki dan hidup). Siapa yang keluar dari rumahnya untuk berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian meninggal (sebelum sampai ke tempat tujuan), sungguh pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa:100)Pada ayat di atas, terdapat petunjuk akan pentingnya masalah ikhlas dalam niat pada suatu amal. Terdapat kisah menarik pada ayat ini, yang dibawakan oleh Al-Imam Ath-Thabari rahimahullah dalam tafsirnya.Kisahnya ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke kota Madinah, ada seorang kakek tua yang telah masuk Islam. Ia berasal dari Bani Laits. Kakek tua tersebut tinggal di Makkah dan belum sempat ikut hijrah ke Madinah. Suatu hari, beliau mengatakan kepada keluarganya,مَا أَنَا بِبَائِتٍ اللَّيْلَة بِمَكَّة“Saya tidak bisa sama sekali tidur malam di Makkah!” Hal ini disebabkan kecintaannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudan beliau pun memaksakan diri untuk keluar dari Makkah dan hijrah ke Madinah dalam keadaan sakit. Tatkala beliau sampai di Tan’im dalam perjalanan menuju Madinah, beliaupun wafat. Kemudian turunlah ayat di atas.Pelajaran yang dapat dipetik, betapa besarnya perkara niat dalam agama Islam. Orang tua tersebut belum sampai, bahkan bisa dikatakan masih sangat jauh untuk sampai ke Madinah. Namun, ia mendapatkan pahala hijrah disebabkan niatnya yang jujur dan tulus, karena kecintaannya kepada agama Islam dan kepada Nabinya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.[Bersambung]Lanjut ke bagian 2***Depok, 20 Jumadal Akhirah 1447/ 23 November 2025Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Al-Wajiz fi Idaahi Qowa’id Al-Fiqhi Al-Kulliyah, karya Dr. Muhammad Shidqi bin Ahmad, dan beberapa referensi lainnya.

Kaidah Fikih: Segala Sesuatu Tergantung Tujuannya (Bag. 1)

Daftar Isi ToggleKedudukan dan urgensi kaidah iniMakna kaidahDalil-dalil dari kaidah iniMenjadi kaidah pembuka dalam pembahasan kaidah fikih yaitu salah satu kaidah di antara kaidah kubra, kaidah tersebut berbunyi:الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا“Segala sesuatu tergantung pada tujuannya.” Kedudukan dan urgensi kaidah iniKaidah ini merupakan kaidah yang sangat agung kedudukannya. Dalam kaidah ini, terkandung pondasi amalan-amalan hati, yang dengannya dapat diketahui sah atau tidaknya amalan-amalan yang dikerjakan. Sebagaimana pula pahala dan hukuman berputar pembahasannya pada kaidah ini.Terlebih kaidah ini menjadi semakin penting kedudukannya dikarenakan kaidah ini bersandar kepada hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya amalan itu tergantung dari niatnya.” (Muttafaqun ‘alaih)Para ulama menyebutkan bahwa hadis di atas adalah sepertiga ilmu. Sebagian ulama menjelaskan tentang mengapa disebut sepertiga ilmu, yaitu karena amalan seorang hamba terdapat pada tiga hal:Amalan hatiAmalan lisanAmalan anggota tubuhSehingga niat termasuk dari salah satu dari tiga amalan di atas, yaitu “amalan hati”.Sebagian ulama, ada pula yang menjelaskan bahwasanya hadis di atas adalah salah satu dari tiga hadis yang menjadi dasar kembalinya segala hukum. Kendati para ulama berselisih perihal hadis-hadis yang dimaksud, namun mereka bersepakat pada satu hadis, yaitu hadis yang telah disebutkan di atas. Artinya, hadis di atas adalah sebagai landasan kembalinya segala hukum yang ada di dalam agama Islam.Bahkan, telah dinukil sebuah statement (perkataan) dari Imam Asy-Syafi’i bahwasanya hadis di atas masuk dalam tujuh puluh bab di antara bab-bab ilmu yang ada. Hal tersebut menunjukkan pentingnya masalah niat dan tujuan dalam segala aktivitas yang ada.Makna kaidahSecara umum, makna dari kaidah الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا adalah,“Bahwasanya segala bentuk aktivitas mukallaf (hamba), baik berupa ucapan, perbuatan, atau keyakinan, masing-masing dapat berbeda (hasilnya) tergantung dari tujuan dan niatnya.” Mungkin terbesit sebuah pertanyaan, mengapa para ulama tidak menggunakan saja istilah atau lafaz yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu sebagaimana hadis di atas.Jawabannya, mengapa para ulama tidak menggunakan lafadz إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ saja dibandingkan lafaz الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا, dikarenakan menggunakan kata الأمور  (segala perkara) lebih umum dibandingkan menggunakan lafaz الأعمال (amalan-amalan).Sebab الأمور (segala perkara) mencakup segala perbuatan, ucapan, dan keyakinan. Adapun lafaz الأعمال lebih khusus cakupannya dibandingkan dengan الأمور. Tidak berbeda halnya dengan lafaz المقاصد (tujuan-tujuan) dengan النيات (niat). Mengapa para ulama tidak menggunakan lafaz niat dalam kaidah kubra ini, dikarenakan lafaz المقاصد lebih umum pula cakupannya.Karena sebab itulah, para ulama menggunakan lafaz الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا, mengingat cakupannya lebih umum dan lebih mengarah kepada hal-hal yang dimaksud.Dalil-dalil dari kaidah iniKaidah ini sejatinya didukung oleh dalil-dalil yang lain dari Al-Qur’an dan As-Sunnah beserta ijma’. Namun, pondasi utama kaidah ini adalah hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah disebutkan di atas. Yaitu hadis dari Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنَّما الأعمالُ بالنِّيَّاتِ وإنَّما لِكلِّ امرئٍ ما نوى فمن كانت هجرتُهُ إلى اللَّهِ ورسولِهِ فَهجرتُهُ إلى اللَّهِ ورسولِهِ ومن كانت هجرتُهُ إلى دنيا يصيبُها أو امرأةٍ ينْكحُها فَهجرتُهُ إلى ما هاجرَ إليْهِ“Sesungguhnya amalan-amalan tergantung dari niatnya, dan sesungguhnya seseorang akan dibalas sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya terhitung karena Allah dan Rasul-Nya. Namun barangsiapa yang hijrah karena dunia yang ingin diperolehnya, atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya terhitung hanya sebatas dari tujuannya itu.” (Muttafaqun ‘alaih)Di antara dalil akan kaidah ini adalah firman Allah Ta’ala, وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدٰوةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ“Bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Rabbnya pada pagi dan petang hari dengan mengharap wajah-Nya.” (QS. Al-Kahfi: 28)Pada ayat di atas, terdapat dalil agar seseorang senantiasa memperhatikan tujuan dan niatnya dalam beramal, yaitu dalam bentuk “mengharap wajah Allah dalam beramal”. Pada penggunaan kata “mengharap” terdapat maksud dari niat dan tujuan. Sehingga tujuan dan niat dalam ibadah hendaknya hanya diserahkan kepada Allah semata dan tidak kepada yang lainnya.Di antaranya pula firman Allah Ta’ala, ۞ وَمَنْ يُّهَاجِرْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ يَجِدْ فِى الْاَرْضِ مُرٰغَمًا كَثِيْرًا وَّسَعَةً ۗوَمَنْ يَّخْرُجْ مِنْۢ بَيْتِهٖ مُهَاجِرًا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ اَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِ ۗوَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا ࣖ“Siapa yang berhijrah di jalan Allah, niscaya akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang banyak dan kelapangan (rezeki dan hidup). Siapa yang keluar dari rumahnya untuk berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian meninggal (sebelum sampai ke tempat tujuan), sungguh pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa:100)Pada ayat di atas, terdapat petunjuk akan pentingnya masalah ikhlas dalam niat pada suatu amal. Terdapat kisah menarik pada ayat ini, yang dibawakan oleh Al-Imam Ath-Thabari rahimahullah dalam tafsirnya.Kisahnya ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke kota Madinah, ada seorang kakek tua yang telah masuk Islam. Ia berasal dari Bani Laits. Kakek tua tersebut tinggal di Makkah dan belum sempat ikut hijrah ke Madinah. Suatu hari, beliau mengatakan kepada keluarganya,مَا أَنَا بِبَائِتٍ اللَّيْلَة بِمَكَّة“Saya tidak bisa sama sekali tidur malam di Makkah!” Hal ini disebabkan kecintaannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudan beliau pun memaksakan diri untuk keluar dari Makkah dan hijrah ke Madinah dalam keadaan sakit. Tatkala beliau sampai di Tan’im dalam perjalanan menuju Madinah, beliaupun wafat. Kemudian turunlah ayat di atas.Pelajaran yang dapat dipetik, betapa besarnya perkara niat dalam agama Islam. Orang tua tersebut belum sampai, bahkan bisa dikatakan masih sangat jauh untuk sampai ke Madinah. Namun, ia mendapatkan pahala hijrah disebabkan niatnya yang jujur dan tulus, karena kecintaannya kepada agama Islam dan kepada Nabinya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.[Bersambung]Lanjut ke bagian 2***Depok, 20 Jumadal Akhirah 1447/ 23 November 2025Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Al-Wajiz fi Idaahi Qowa’id Al-Fiqhi Al-Kulliyah, karya Dr. Muhammad Shidqi bin Ahmad, dan beberapa referensi lainnya.
Daftar Isi ToggleKedudukan dan urgensi kaidah iniMakna kaidahDalil-dalil dari kaidah iniMenjadi kaidah pembuka dalam pembahasan kaidah fikih yaitu salah satu kaidah di antara kaidah kubra, kaidah tersebut berbunyi:الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا“Segala sesuatu tergantung pada tujuannya.” Kedudukan dan urgensi kaidah iniKaidah ini merupakan kaidah yang sangat agung kedudukannya. Dalam kaidah ini, terkandung pondasi amalan-amalan hati, yang dengannya dapat diketahui sah atau tidaknya amalan-amalan yang dikerjakan. Sebagaimana pula pahala dan hukuman berputar pembahasannya pada kaidah ini.Terlebih kaidah ini menjadi semakin penting kedudukannya dikarenakan kaidah ini bersandar kepada hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya amalan itu tergantung dari niatnya.” (Muttafaqun ‘alaih)Para ulama menyebutkan bahwa hadis di atas adalah sepertiga ilmu. Sebagian ulama menjelaskan tentang mengapa disebut sepertiga ilmu, yaitu karena amalan seorang hamba terdapat pada tiga hal:Amalan hatiAmalan lisanAmalan anggota tubuhSehingga niat termasuk dari salah satu dari tiga amalan di atas, yaitu “amalan hati”.Sebagian ulama, ada pula yang menjelaskan bahwasanya hadis di atas adalah salah satu dari tiga hadis yang menjadi dasar kembalinya segala hukum. Kendati para ulama berselisih perihal hadis-hadis yang dimaksud, namun mereka bersepakat pada satu hadis, yaitu hadis yang telah disebutkan di atas. Artinya, hadis di atas adalah sebagai landasan kembalinya segala hukum yang ada di dalam agama Islam.Bahkan, telah dinukil sebuah statement (perkataan) dari Imam Asy-Syafi’i bahwasanya hadis di atas masuk dalam tujuh puluh bab di antara bab-bab ilmu yang ada. Hal tersebut menunjukkan pentingnya masalah niat dan tujuan dalam segala aktivitas yang ada.Makna kaidahSecara umum, makna dari kaidah الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا adalah,“Bahwasanya segala bentuk aktivitas mukallaf (hamba), baik berupa ucapan, perbuatan, atau keyakinan, masing-masing dapat berbeda (hasilnya) tergantung dari tujuan dan niatnya.” Mungkin terbesit sebuah pertanyaan, mengapa para ulama tidak menggunakan saja istilah atau lafaz yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu sebagaimana hadis di atas.Jawabannya, mengapa para ulama tidak menggunakan lafadz إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ saja dibandingkan lafaz الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا, dikarenakan menggunakan kata الأمور  (segala perkara) lebih umum dibandingkan menggunakan lafaz الأعمال (amalan-amalan).Sebab الأمور (segala perkara) mencakup segala perbuatan, ucapan, dan keyakinan. Adapun lafaz الأعمال lebih khusus cakupannya dibandingkan dengan الأمور. Tidak berbeda halnya dengan lafaz المقاصد (tujuan-tujuan) dengan النيات (niat). Mengapa para ulama tidak menggunakan lafaz niat dalam kaidah kubra ini, dikarenakan lafaz المقاصد lebih umum pula cakupannya.Karena sebab itulah, para ulama menggunakan lafaz الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا, mengingat cakupannya lebih umum dan lebih mengarah kepada hal-hal yang dimaksud.Dalil-dalil dari kaidah iniKaidah ini sejatinya didukung oleh dalil-dalil yang lain dari Al-Qur’an dan As-Sunnah beserta ijma’. Namun, pondasi utama kaidah ini adalah hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah disebutkan di atas. Yaitu hadis dari Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنَّما الأعمالُ بالنِّيَّاتِ وإنَّما لِكلِّ امرئٍ ما نوى فمن كانت هجرتُهُ إلى اللَّهِ ورسولِهِ فَهجرتُهُ إلى اللَّهِ ورسولِهِ ومن كانت هجرتُهُ إلى دنيا يصيبُها أو امرأةٍ ينْكحُها فَهجرتُهُ إلى ما هاجرَ إليْهِ“Sesungguhnya amalan-amalan tergantung dari niatnya, dan sesungguhnya seseorang akan dibalas sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya terhitung karena Allah dan Rasul-Nya. Namun barangsiapa yang hijrah karena dunia yang ingin diperolehnya, atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya terhitung hanya sebatas dari tujuannya itu.” (Muttafaqun ‘alaih)Di antara dalil akan kaidah ini adalah firman Allah Ta’ala, وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدٰوةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ“Bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Rabbnya pada pagi dan petang hari dengan mengharap wajah-Nya.” (QS. Al-Kahfi: 28)Pada ayat di atas, terdapat dalil agar seseorang senantiasa memperhatikan tujuan dan niatnya dalam beramal, yaitu dalam bentuk “mengharap wajah Allah dalam beramal”. Pada penggunaan kata “mengharap” terdapat maksud dari niat dan tujuan. Sehingga tujuan dan niat dalam ibadah hendaknya hanya diserahkan kepada Allah semata dan tidak kepada yang lainnya.Di antaranya pula firman Allah Ta’ala, ۞ وَمَنْ يُّهَاجِرْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ يَجِدْ فِى الْاَرْضِ مُرٰغَمًا كَثِيْرًا وَّسَعَةً ۗوَمَنْ يَّخْرُجْ مِنْۢ بَيْتِهٖ مُهَاجِرًا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ اَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِ ۗوَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا ࣖ“Siapa yang berhijrah di jalan Allah, niscaya akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang banyak dan kelapangan (rezeki dan hidup). Siapa yang keluar dari rumahnya untuk berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian meninggal (sebelum sampai ke tempat tujuan), sungguh pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa:100)Pada ayat di atas, terdapat petunjuk akan pentingnya masalah ikhlas dalam niat pada suatu amal. Terdapat kisah menarik pada ayat ini, yang dibawakan oleh Al-Imam Ath-Thabari rahimahullah dalam tafsirnya.Kisahnya ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke kota Madinah, ada seorang kakek tua yang telah masuk Islam. Ia berasal dari Bani Laits. Kakek tua tersebut tinggal di Makkah dan belum sempat ikut hijrah ke Madinah. Suatu hari, beliau mengatakan kepada keluarganya,مَا أَنَا بِبَائِتٍ اللَّيْلَة بِمَكَّة“Saya tidak bisa sama sekali tidur malam di Makkah!” Hal ini disebabkan kecintaannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudan beliau pun memaksakan diri untuk keluar dari Makkah dan hijrah ke Madinah dalam keadaan sakit. Tatkala beliau sampai di Tan’im dalam perjalanan menuju Madinah, beliaupun wafat. Kemudian turunlah ayat di atas.Pelajaran yang dapat dipetik, betapa besarnya perkara niat dalam agama Islam. Orang tua tersebut belum sampai, bahkan bisa dikatakan masih sangat jauh untuk sampai ke Madinah. Namun, ia mendapatkan pahala hijrah disebabkan niatnya yang jujur dan tulus, karena kecintaannya kepada agama Islam dan kepada Nabinya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.[Bersambung]Lanjut ke bagian 2***Depok, 20 Jumadal Akhirah 1447/ 23 November 2025Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Al-Wajiz fi Idaahi Qowa’id Al-Fiqhi Al-Kulliyah, karya Dr. Muhammad Shidqi bin Ahmad, dan beberapa referensi lainnya.


Daftar Isi ToggleKedudukan dan urgensi kaidah iniMakna kaidahDalil-dalil dari kaidah iniMenjadi kaidah pembuka dalam pembahasan kaidah fikih yaitu salah satu kaidah di antara kaidah kubra, kaidah tersebut berbunyi:الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا“Segala sesuatu tergantung pada tujuannya.” Kedudukan dan urgensi kaidah iniKaidah ini merupakan kaidah yang sangat agung kedudukannya. Dalam kaidah ini, terkandung pondasi amalan-amalan hati, yang dengannya dapat diketahui sah atau tidaknya amalan-amalan yang dikerjakan. Sebagaimana pula pahala dan hukuman berputar pembahasannya pada kaidah ini.Terlebih kaidah ini menjadi semakin penting kedudukannya dikarenakan kaidah ini bersandar kepada hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya amalan itu tergantung dari niatnya.” (Muttafaqun ‘alaih)Para ulama menyebutkan bahwa hadis di atas adalah sepertiga ilmu. Sebagian ulama menjelaskan tentang mengapa disebut sepertiga ilmu, yaitu karena amalan seorang hamba terdapat pada tiga hal:Amalan hatiAmalan lisanAmalan anggota tubuhSehingga niat termasuk dari salah satu dari tiga amalan di atas, yaitu “amalan hati”.Sebagian ulama, ada pula yang menjelaskan bahwasanya hadis di atas adalah salah satu dari tiga hadis yang menjadi dasar kembalinya segala hukum. Kendati para ulama berselisih perihal hadis-hadis yang dimaksud, namun mereka bersepakat pada satu hadis, yaitu hadis yang telah disebutkan di atas. Artinya, hadis di atas adalah sebagai landasan kembalinya segala hukum yang ada di dalam agama Islam.Bahkan, telah dinukil sebuah statement (perkataan) dari Imam Asy-Syafi’i bahwasanya hadis di atas masuk dalam tujuh puluh bab di antara bab-bab ilmu yang ada. Hal tersebut menunjukkan pentingnya masalah niat dan tujuan dalam segala aktivitas yang ada.Makna kaidahSecara umum, makna dari kaidah الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا adalah,“Bahwasanya segala bentuk aktivitas mukallaf (hamba), baik berupa ucapan, perbuatan, atau keyakinan, masing-masing dapat berbeda (hasilnya) tergantung dari tujuan dan niatnya.” Mungkin terbesit sebuah pertanyaan, mengapa para ulama tidak menggunakan saja istilah atau lafaz yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu sebagaimana hadis di atas.Jawabannya, mengapa para ulama tidak menggunakan lafadz إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ saja dibandingkan lafaz الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا, dikarenakan menggunakan kata الأمور  (segala perkara) lebih umum dibandingkan menggunakan lafaz الأعمال (amalan-amalan).Sebab الأمور (segala perkara) mencakup segala perbuatan, ucapan, dan keyakinan. Adapun lafaz الأعمال lebih khusus cakupannya dibandingkan dengan الأمور. Tidak berbeda halnya dengan lafaz المقاصد (tujuan-tujuan) dengan النيات (niat). Mengapa para ulama tidak menggunakan lafaz niat dalam kaidah kubra ini, dikarenakan lafaz المقاصد lebih umum pula cakupannya.Karena sebab itulah, para ulama menggunakan lafaz الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا, mengingat cakupannya lebih umum dan lebih mengarah kepada hal-hal yang dimaksud.Dalil-dalil dari kaidah iniKaidah ini sejatinya didukung oleh dalil-dalil yang lain dari Al-Qur’an dan As-Sunnah beserta ijma’. Namun, pondasi utama kaidah ini adalah hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah disebutkan di atas. Yaitu hadis dari Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنَّما الأعمالُ بالنِّيَّاتِ وإنَّما لِكلِّ امرئٍ ما نوى فمن كانت هجرتُهُ إلى اللَّهِ ورسولِهِ فَهجرتُهُ إلى اللَّهِ ورسولِهِ ومن كانت هجرتُهُ إلى دنيا يصيبُها أو امرأةٍ ينْكحُها فَهجرتُهُ إلى ما هاجرَ إليْهِ“Sesungguhnya amalan-amalan tergantung dari niatnya, dan sesungguhnya seseorang akan dibalas sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya terhitung karena Allah dan Rasul-Nya. Namun barangsiapa yang hijrah karena dunia yang ingin diperolehnya, atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya terhitung hanya sebatas dari tujuannya itu.” (Muttafaqun ‘alaih)Di antara dalil akan kaidah ini adalah firman Allah Ta’ala, وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدٰوةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ“Bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Rabbnya pada pagi dan petang hari dengan mengharap wajah-Nya.” (QS. Al-Kahfi: 28)Pada ayat di atas, terdapat dalil agar seseorang senantiasa memperhatikan tujuan dan niatnya dalam beramal, yaitu dalam bentuk “mengharap wajah Allah dalam beramal”. Pada penggunaan kata “mengharap” terdapat maksud dari niat dan tujuan. Sehingga tujuan dan niat dalam ibadah hendaknya hanya diserahkan kepada Allah semata dan tidak kepada yang lainnya.Di antaranya pula firman Allah Ta’ala, ۞ وَمَنْ يُّهَاجِرْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ يَجِدْ فِى الْاَرْضِ مُرٰغَمًا كَثِيْرًا وَّسَعَةً ۗوَمَنْ يَّخْرُجْ مِنْۢ بَيْتِهٖ مُهَاجِرًا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ اَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِ ۗوَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا ࣖ“Siapa yang berhijrah di jalan Allah, niscaya akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang banyak dan kelapangan (rezeki dan hidup). Siapa yang keluar dari rumahnya untuk berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian meninggal (sebelum sampai ke tempat tujuan), sungguh pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa:100)Pada ayat di atas, terdapat petunjuk akan pentingnya masalah ikhlas dalam niat pada suatu amal. Terdapat kisah menarik pada ayat ini, yang dibawakan oleh Al-Imam Ath-Thabari rahimahullah dalam tafsirnya.Kisahnya ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke kota Madinah, ada seorang kakek tua yang telah masuk Islam. Ia berasal dari Bani Laits. Kakek tua tersebut tinggal di Makkah dan belum sempat ikut hijrah ke Madinah. Suatu hari, beliau mengatakan kepada keluarganya,مَا أَنَا بِبَائِتٍ اللَّيْلَة بِمَكَّة“Saya tidak bisa sama sekali tidur malam di Makkah!” Hal ini disebabkan kecintaannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudan beliau pun memaksakan diri untuk keluar dari Makkah dan hijrah ke Madinah dalam keadaan sakit. Tatkala beliau sampai di Tan’im dalam perjalanan menuju Madinah, beliaupun wafat. Kemudian turunlah ayat di atas.Pelajaran yang dapat dipetik, betapa besarnya perkara niat dalam agama Islam. Orang tua tersebut belum sampai, bahkan bisa dikatakan masih sangat jauh untuk sampai ke Madinah. Namun, ia mendapatkan pahala hijrah disebabkan niatnya yang jujur dan tulus, karena kecintaannya kepada agama Islam dan kepada Nabinya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.[Bersambung]Lanjut ke bagian 2***Depok, 20 Jumadal Akhirah 1447/ 23 November 2025Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Al-Wajiz fi Idaahi Qowa’id Al-Fiqhi Al-Kulliyah, karya Dr. Muhammad Shidqi bin Ahmad, dan beberapa referensi lainnya.

Kalimat Para Salaf tentang Anak Yatim

من أقوال السلف في اليتيم Oleh: Fahd bin Abdul Aziz Abdullah asy-Syuwairikh فهد بن عبدالعزيز عبدالله الشويرخ الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين، وبعد: فقد أمر الإسلام بالإحسان إلى اليتيم، ورعايته، وكفالته، ورتَّب على ذلك الأجور العظيمة، قال الرسول صلى الله عليه وسلم: «أنا وكافل اليتم في الجنة هكذا» وقال: بإصبعيه السبابة والوسطى؛ [صححه العلامة الألباني في صحيح الأدب المفرد للإمام البخاري]. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Nabi dan Rasul paling mulia, Nabi kita, Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, dan kepada keluarga serta para sahabat seluruhnya. Amma ba’du: Agama Islam memerintahkan untuk berbuat baik kepada anak yatim, mengasuh, dan menanggung kebutuhannya. Lalu memberi balasan atas itu berupa pahala-pahala besar. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا “Aku dan penanggung anak yatim di surga seperti ini, (dan beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan tengah).” (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adab Al-Mufrad karya Imam Al-Bukhari). وكما أمر بالإحسان إلى اليتيم فقد حذر من ظلمه، وأكل ماله، قال الله سبحانه وتعالى: ﴿ إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا ﴾ [النساء: 10]. للسلف رحمهم الله أقوال عن اليتيم، يسَّر الله الكريم فجمعت بعضًا منها، أسأل الله أن ينفع بها الجميع. Selain memerintahkan untuk berbuat baik kepada anak yatim, agama Islam juga memberi peringatan terhadap kezaliman kepadanya dan memakan hartanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. An-Nisa: 10). Para Salaf rahimahumullah punya banyak untaian kalimat yang berkaitan dengan anak yatim. Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Maha Pemurah memberi kemudahan kepadaku sehingga saya dapat menghimpun sebagiannya. Saya memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menjadikannya bermanfaat bagi semua orang. الحذر من ظلم اليتيم: قال قوام السنة الأصبهاني رحمه الله: قال الله تعالى: ﴿ وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ ﴾ [إبراهيم: 42]، وهذا وعيد للظالم، وتعزية للمظلوم، ولا أحد أظلم ممن ظلم الضعيف واليتيم. Peringatan berbuat zalim terhadap anak yatim Ulama penegak sunnah, Al-Ashfahani Rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, ‘Janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang orang-orang zalim perbuat.’ (QS. Ibrahim: 42). Ini merupakan ancaman bagi orang yang zalim dan penghibur bagi orang yang terzalimi, dan tidaklah ada yang lebih zalim daripada orang yang menzalimi orang lemah dan anak yatim.” دعوة اليتيم: قال أبو الدرداء رضي الله عنه: إياكم ودعوة اليتيم، ودعوة المظلوم؛ فإنها تسري بالليل والناس نيام. Doa anak yatim Abu Ad-Darda Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Berhati-hatilah dari doa anak yatim dan orang terzalimi, karena doa-doa itu teruntai pada malam hari ketika orang-orang sedang tidur.” مال اليتيم: قال عبدالله بن مسعود رضي الله عنه: شر المأكل مال اليتيم. Harta anak yatim Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Makanan yang paling buruk adalah dari harta anak yatim (yang diambil secara zalim).” حكم أكل مال اليتيم: قال الإمام القرطبي رحمه الله: دلَّ الكتاب والسُّنَّة على أن أكل مال اليتيم من الكبائر، قال صلى الله عليه وسلم: «اجتنبوا السبع الموبقات» وذكر فيها «أكل مال اليتيم». Hukum memakan harta anak yatim Imam Al-Qurthubi Rahimahullah berkata: “Al-Quran dan As-Sunnah menegaskan bahwa memakan harta anak yatim adalah dosa besar. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, ‘Jauhilah tujuh amalan yang membinasakan.’ Lalu beliau menyebutkan salah satunya, ‘Memakan harta anak yatim.’”  حال آكل مال اليتيم في البرزخ: قال العلامة ابن القيم رحمه الله: ينعم المؤمن في البرزخ على حسب أعماله، ويُعذَّب الفاجر فيه على حسب أعماله، ويختص كل عضو بعذاب يليق بجناية ذلك العضو…وتُسجر بطون أكلة أموال اليتامى بالنار. Keadaan pemakan harta anak yatim di alam Barzakh Imam Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata: “Orang beriman akan mendapat kenikmatan di alam Barzakh sesuai dengan amalannya. Sedangkan pelaku maksiat akan mendapat azab sesuai dengan amalannya juga, setiap anggota badannya akan mendapatkan azab khusus sesuai dengan kejahatan yang dilakukan dengan anggota badan itu, dan perut para pemakan anak yatim akan dibakar dengan api.”  حال آكل مال اليتيم في الآخرة: قال الإمام السدي رحمه الله: يبعث آكل مال اليتيم ظلمًا، ولهب النار يخرج بين فيه، ومن مسامعه، وأذنيه، وأنفه، وعينيه، يعرفه من رآه بآكل مال اليتيم. عن عبيدالله بن أبي جعفر رحمه الله قال: من أكل مال اليتيم فإنه يؤخذ بمشفره يوم القيامة فيُملأ فوه جمرًا، فيُقال له: كل كما أكلته في الدنيا، ثم يدخل السعير الكبرى. قال الحافظ ابن كثير رحمه الله: قوله تعالى: ﴿ إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا ﴾ [النساء: 10]؛ أي: إذا أكلوا أموال اليتامى بلا سبب فإنما يأكلون نارًا تتأجَّج في بطونهم يوم القيامة. Keadaan pemakan harta anak yatim di akhirat Imam As-Suddi Rahimahullah berkata: “Pemakan harta anak yatim secara zalim akan dibangkitkan sedangkan kobaran api keluar dari mulutnya, juga dari kedua telinga, hidung, dan kedua matanya, dan orang yang melihatnya akan mengetahui bahwa dia pemakan harta anak yatim.” Ubaidullah bin Abi Ja’far Rahimahullah berkata: “Siapa yang memakan harta anak yatim akan ditarik bibirnya pada Hari Kiamat lalu mulutnya diisi dengan bara api. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Makanlah ini seperti halnya kamu memakannya di dunia!’ Lalu dia dimasukkan ke dalam neraka terbesar.” Al-Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah berkata: “Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ‘Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).’ (QS. An-Nisa: 10). Yakni apabila mereka memakan harta anak yatim tanpa alasan yang dibenarkan sebenarnya dia sedang memakan api yang berkobar-kobar di perut mereka pada Hari Kiamat.” إهانة من لا يكرم اليتيم: قال الإمام ابن جرير الطبري رحمه الله: ﴿ بَلْ لَا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ ﴾ [الفجر: 17]، يقول تعالى ذكره: بل أهنت من أهنت من أجل أنه لا يكرم اليتيم. Kehinaan bagi orang yang tidak memuliakan anak yatim Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari Rahimahullah berkata: “Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ‘Sekali-kali tidak! Sebaliknya, kamu tidak memuliakan anak yatim.’ (QS. Al-Fajr: 17). Yakni, ‘Justru kamu dihinakan seperti ini karena tidak memuliakan anak yatim.’”  ذلُّ اليتيم: قال أكثم بن صيفي رحمه الله: الأذلاء أربعة: النمَّام، والكذَّاب، والمديون، واليتيم. Kerendahan anak yatim Aktsam bin Shaifi Rahimahullah berkata: “Orang yang rendah ada empat, pelaku namimah, pendusta, orang yang berutang, dan anak yatim.”  كافل اليتيم: قال الإمام النووي رحمه الله: كافل اليتيم القائم بأموره، من نفقة وكسوة، وتأديب وتربية، وغير ذلك. Penanggung anak yatim Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata: “Penanggung hidup anak yatim adalah yang mengurusi berbagai kebutuhannya, seperti nafkah, pakaian, pendidikan dan pengasuhan, dan lain sebagainya.”  قضاء حاجة اليتيم: قال العلامة ابن القيم: من هديه صلى الله عليه وسلم…. كان يأكل مع الخادم، ويجالس المساكين، ويمشي مع الأرملة واليتيم في حاجتهما. Memenuhi kebutuhan anak yatim Imam Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata: “Di antara tuntunan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah dulu beliau makan bersama pelayan beliau, duduk bersama orang-orang miskin, dan mengusahakan memenuhi kebutuhan para janda dan anak yatim.” الأكل مع اليتيم:

Kalimat Para Salaf tentang Anak Yatim

من أقوال السلف في اليتيم Oleh: Fahd bin Abdul Aziz Abdullah asy-Syuwairikh فهد بن عبدالعزيز عبدالله الشويرخ الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين، وبعد: فقد أمر الإسلام بالإحسان إلى اليتيم، ورعايته، وكفالته، ورتَّب على ذلك الأجور العظيمة، قال الرسول صلى الله عليه وسلم: «أنا وكافل اليتم في الجنة هكذا» وقال: بإصبعيه السبابة والوسطى؛ [صححه العلامة الألباني في صحيح الأدب المفرد للإمام البخاري]. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Nabi dan Rasul paling mulia, Nabi kita, Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, dan kepada keluarga serta para sahabat seluruhnya. Amma ba’du: Agama Islam memerintahkan untuk berbuat baik kepada anak yatim, mengasuh, dan menanggung kebutuhannya. Lalu memberi balasan atas itu berupa pahala-pahala besar. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا “Aku dan penanggung anak yatim di surga seperti ini, (dan beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan tengah).” (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adab Al-Mufrad karya Imam Al-Bukhari). وكما أمر بالإحسان إلى اليتيم فقد حذر من ظلمه، وأكل ماله، قال الله سبحانه وتعالى: ﴿ إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا ﴾ [النساء: 10]. للسلف رحمهم الله أقوال عن اليتيم، يسَّر الله الكريم فجمعت بعضًا منها، أسأل الله أن ينفع بها الجميع. Selain memerintahkan untuk berbuat baik kepada anak yatim, agama Islam juga memberi peringatan terhadap kezaliman kepadanya dan memakan hartanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. An-Nisa: 10). Para Salaf rahimahumullah punya banyak untaian kalimat yang berkaitan dengan anak yatim. Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Maha Pemurah memberi kemudahan kepadaku sehingga saya dapat menghimpun sebagiannya. Saya memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menjadikannya bermanfaat bagi semua orang. الحذر من ظلم اليتيم: قال قوام السنة الأصبهاني رحمه الله: قال الله تعالى: ﴿ وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ ﴾ [إبراهيم: 42]، وهذا وعيد للظالم، وتعزية للمظلوم، ولا أحد أظلم ممن ظلم الضعيف واليتيم. Peringatan berbuat zalim terhadap anak yatim Ulama penegak sunnah, Al-Ashfahani Rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, ‘Janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang orang-orang zalim perbuat.’ (QS. Ibrahim: 42). Ini merupakan ancaman bagi orang yang zalim dan penghibur bagi orang yang terzalimi, dan tidaklah ada yang lebih zalim daripada orang yang menzalimi orang lemah dan anak yatim.” دعوة اليتيم: قال أبو الدرداء رضي الله عنه: إياكم ودعوة اليتيم، ودعوة المظلوم؛ فإنها تسري بالليل والناس نيام. Doa anak yatim Abu Ad-Darda Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Berhati-hatilah dari doa anak yatim dan orang terzalimi, karena doa-doa itu teruntai pada malam hari ketika orang-orang sedang tidur.” مال اليتيم: قال عبدالله بن مسعود رضي الله عنه: شر المأكل مال اليتيم. Harta anak yatim Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Makanan yang paling buruk adalah dari harta anak yatim (yang diambil secara zalim).” حكم أكل مال اليتيم: قال الإمام القرطبي رحمه الله: دلَّ الكتاب والسُّنَّة على أن أكل مال اليتيم من الكبائر، قال صلى الله عليه وسلم: «اجتنبوا السبع الموبقات» وذكر فيها «أكل مال اليتيم». Hukum memakan harta anak yatim Imam Al-Qurthubi Rahimahullah berkata: “Al-Quran dan As-Sunnah menegaskan bahwa memakan harta anak yatim adalah dosa besar. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, ‘Jauhilah tujuh amalan yang membinasakan.’ Lalu beliau menyebutkan salah satunya, ‘Memakan harta anak yatim.’”  حال آكل مال اليتيم في البرزخ: قال العلامة ابن القيم رحمه الله: ينعم المؤمن في البرزخ على حسب أعماله، ويُعذَّب الفاجر فيه على حسب أعماله، ويختص كل عضو بعذاب يليق بجناية ذلك العضو…وتُسجر بطون أكلة أموال اليتامى بالنار. Keadaan pemakan harta anak yatim di alam Barzakh Imam Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata: “Orang beriman akan mendapat kenikmatan di alam Barzakh sesuai dengan amalannya. Sedangkan pelaku maksiat akan mendapat azab sesuai dengan amalannya juga, setiap anggota badannya akan mendapatkan azab khusus sesuai dengan kejahatan yang dilakukan dengan anggota badan itu, dan perut para pemakan anak yatim akan dibakar dengan api.”  حال آكل مال اليتيم في الآخرة: قال الإمام السدي رحمه الله: يبعث آكل مال اليتيم ظلمًا، ولهب النار يخرج بين فيه، ومن مسامعه، وأذنيه، وأنفه، وعينيه، يعرفه من رآه بآكل مال اليتيم. عن عبيدالله بن أبي جعفر رحمه الله قال: من أكل مال اليتيم فإنه يؤخذ بمشفره يوم القيامة فيُملأ فوه جمرًا، فيُقال له: كل كما أكلته في الدنيا، ثم يدخل السعير الكبرى. قال الحافظ ابن كثير رحمه الله: قوله تعالى: ﴿ إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا ﴾ [النساء: 10]؛ أي: إذا أكلوا أموال اليتامى بلا سبب فإنما يأكلون نارًا تتأجَّج في بطونهم يوم القيامة. Keadaan pemakan harta anak yatim di akhirat Imam As-Suddi Rahimahullah berkata: “Pemakan harta anak yatim secara zalim akan dibangkitkan sedangkan kobaran api keluar dari mulutnya, juga dari kedua telinga, hidung, dan kedua matanya, dan orang yang melihatnya akan mengetahui bahwa dia pemakan harta anak yatim.” Ubaidullah bin Abi Ja’far Rahimahullah berkata: “Siapa yang memakan harta anak yatim akan ditarik bibirnya pada Hari Kiamat lalu mulutnya diisi dengan bara api. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Makanlah ini seperti halnya kamu memakannya di dunia!’ Lalu dia dimasukkan ke dalam neraka terbesar.” Al-Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah berkata: “Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ‘Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).’ (QS. An-Nisa: 10). Yakni apabila mereka memakan harta anak yatim tanpa alasan yang dibenarkan sebenarnya dia sedang memakan api yang berkobar-kobar di perut mereka pada Hari Kiamat.” إهانة من لا يكرم اليتيم: قال الإمام ابن جرير الطبري رحمه الله: ﴿ بَلْ لَا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ ﴾ [الفجر: 17]، يقول تعالى ذكره: بل أهنت من أهنت من أجل أنه لا يكرم اليتيم. Kehinaan bagi orang yang tidak memuliakan anak yatim Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari Rahimahullah berkata: “Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ‘Sekali-kali tidak! Sebaliknya, kamu tidak memuliakan anak yatim.’ (QS. Al-Fajr: 17). Yakni, ‘Justru kamu dihinakan seperti ini karena tidak memuliakan anak yatim.’”  ذلُّ اليتيم: قال أكثم بن صيفي رحمه الله: الأذلاء أربعة: النمَّام، والكذَّاب، والمديون، واليتيم. Kerendahan anak yatim Aktsam bin Shaifi Rahimahullah berkata: “Orang yang rendah ada empat, pelaku namimah, pendusta, orang yang berutang, dan anak yatim.”  كافل اليتيم: قال الإمام النووي رحمه الله: كافل اليتيم القائم بأموره، من نفقة وكسوة، وتأديب وتربية، وغير ذلك. Penanggung anak yatim Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata: “Penanggung hidup anak yatim adalah yang mengurusi berbagai kebutuhannya, seperti nafkah, pakaian, pendidikan dan pengasuhan, dan lain sebagainya.”  قضاء حاجة اليتيم: قال العلامة ابن القيم: من هديه صلى الله عليه وسلم…. كان يأكل مع الخادم، ويجالس المساكين، ويمشي مع الأرملة واليتيم في حاجتهما. Memenuhi kebutuhan anak yatim Imam Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata: “Di antara tuntunan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah dulu beliau makan bersama pelayan beliau, duduk bersama orang-orang miskin, dan mengusahakan memenuhi kebutuhan para janda dan anak yatim.” الأكل مع اليتيم:
من أقوال السلف في اليتيم Oleh: Fahd bin Abdul Aziz Abdullah asy-Syuwairikh فهد بن عبدالعزيز عبدالله الشويرخ الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين، وبعد: فقد أمر الإسلام بالإحسان إلى اليتيم، ورعايته، وكفالته، ورتَّب على ذلك الأجور العظيمة، قال الرسول صلى الله عليه وسلم: «أنا وكافل اليتم في الجنة هكذا» وقال: بإصبعيه السبابة والوسطى؛ [صححه العلامة الألباني في صحيح الأدب المفرد للإمام البخاري]. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Nabi dan Rasul paling mulia, Nabi kita, Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, dan kepada keluarga serta para sahabat seluruhnya. Amma ba’du: Agama Islam memerintahkan untuk berbuat baik kepada anak yatim, mengasuh, dan menanggung kebutuhannya. Lalu memberi balasan atas itu berupa pahala-pahala besar. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا “Aku dan penanggung anak yatim di surga seperti ini, (dan beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan tengah).” (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adab Al-Mufrad karya Imam Al-Bukhari). وكما أمر بالإحسان إلى اليتيم فقد حذر من ظلمه، وأكل ماله، قال الله سبحانه وتعالى: ﴿ إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا ﴾ [النساء: 10]. للسلف رحمهم الله أقوال عن اليتيم، يسَّر الله الكريم فجمعت بعضًا منها، أسأل الله أن ينفع بها الجميع. Selain memerintahkan untuk berbuat baik kepada anak yatim, agama Islam juga memberi peringatan terhadap kezaliman kepadanya dan memakan hartanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. An-Nisa: 10). Para Salaf rahimahumullah punya banyak untaian kalimat yang berkaitan dengan anak yatim. Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Maha Pemurah memberi kemudahan kepadaku sehingga saya dapat menghimpun sebagiannya. Saya memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menjadikannya bermanfaat bagi semua orang. الحذر من ظلم اليتيم: قال قوام السنة الأصبهاني رحمه الله: قال الله تعالى: ﴿ وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ ﴾ [إبراهيم: 42]، وهذا وعيد للظالم، وتعزية للمظلوم، ولا أحد أظلم ممن ظلم الضعيف واليتيم. Peringatan berbuat zalim terhadap anak yatim Ulama penegak sunnah, Al-Ashfahani Rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, ‘Janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang orang-orang zalim perbuat.’ (QS. Ibrahim: 42). Ini merupakan ancaman bagi orang yang zalim dan penghibur bagi orang yang terzalimi, dan tidaklah ada yang lebih zalim daripada orang yang menzalimi orang lemah dan anak yatim.” دعوة اليتيم: قال أبو الدرداء رضي الله عنه: إياكم ودعوة اليتيم، ودعوة المظلوم؛ فإنها تسري بالليل والناس نيام. Doa anak yatim Abu Ad-Darda Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Berhati-hatilah dari doa anak yatim dan orang terzalimi, karena doa-doa itu teruntai pada malam hari ketika orang-orang sedang tidur.” مال اليتيم: قال عبدالله بن مسعود رضي الله عنه: شر المأكل مال اليتيم. Harta anak yatim Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Makanan yang paling buruk adalah dari harta anak yatim (yang diambil secara zalim).” حكم أكل مال اليتيم: قال الإمام القرطبي رحمه الله: دلَّ الكتاب والسُّنَّة على أن أكل مال اليتيم من الكبائر، قال صلى الله عليه وسلم: «اجتنبوا السبع الموبقات» وذكر فيها «أكل مال اليتيم». Hukum memakan harta anak yatim Imam Al-Qurthubi Rahimahullah berkata: “Al-Quran dan As-Sunnah menegaskan bahwa memakan harta anak yatim adalah dosa besar. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, ‘Jauhilah tujuh amalan yang membinasakan.’ Lalu beliau menyebutkan salah satunya, ‘Memakan harta anak yatim.’”  حال آكل مال اليتيم في البرزخ: قال العلامة ابن القيم رحمه الله: ينعم المؤمن في البرزخ على حسب أعماله، ويُعذَّب الفاجر فيه على حسب أعماله، ويختص كل عضو بعذاب يليق بجناية ذلك العضو…وتُسجر بطون أكلة أموال اليتامى بالنار. Keadaan pemakan harta anak yatim di alam Barzakh Imam Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata: “Orang beriman akan mendapat kenikmatan di alam Barzakh sesuai dengan amalannya. Sedangkan pelaku maksiat akan mendapat azab sesuai dengan amalannya juga, setiap anggota badannya akan mendapatkan azab khusus sesuai dengan kejahatan yang dilakukan dengan anggota badan itu, dan perut para pemakan anak yatim akan dibakar dengan api.”  حال آكل مال اليتيم في الآخرة: قال الإمام السدي رحمه الله: يبعث آكل مال اليتيم ظلمًا، ولهب النار يخرج بين فيه، ومن مسامعه، وأذنيه، وأنفه، وعينيه، يعرفه من رآه بآكل مال اليتيم. عن عبيدالله بن أبي جعفر رحمه الله قال: من أكل مال اليتيم فإنه يؤخذ بمشفره يوم القيامة فيُملأ فوه جمرًا، فيُقال له: كل كما أكلته في الدنيا، ثم يدخل السعير الكبرى. قال الحافظ ابن كثير رحمه الله: قوله تعالى: ﴿ إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا ﴾ [النساء: 10]؛ أي: إذا أكلوا أموال اليتامى بلا سبب فإنما يأكلون نارًا تتأجَّج في بطونهم يوم القيامة. Keadaan pemakan harta anak yatim di akhirat Imam As-Suddi Rahimahullah berkata: “Pemakan harta anak yatim secara zalim akan dibangkitkan sedangkan kobaran api keluar dari mulutnya, juga dari kedua telinga, hidung, dan kedua matanya, dan orang yang melihatnya akan mengetahui bahwa dia pemakan harta anak yatim.” Ubaidullah bin Abi Ja’far Rahimahullah berkata: “Siapa yang memakan harta anak yatim akan ditarik bibirnya pada Hari Kiamat lalu mulutnya diisi dengan bara api. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Makanlah ini seperti halnya kamu memakannya di dunia!’ Lalu dia dimasukkan ke dalam neraka terbesar.” Al-Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah berkata: “Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ‘Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).’ (QS. An-Nisa: 10). Yakni apabila mereka memakan harta anak yatim tanpa alasan yang dibenarkan sebenarnya dia sedang memakan api yang berkobar-kobar di perut mereka pada Hari Kiamat.” إهانة من لا يكرم اليتيم: قال الإمام ابن جرير الطبري رحمه الله: ﴿ بَلْ لَا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ ﴾ [الفجر: 17]، يقول تعالى ذكره: بل أهنت من أهنت من أجل أنه لا يكرم اليتيم. Kehinaan bagi orang yang tidak memuliakan anak yatim Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari Rahimahullah berkata: “Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ‘Sekali-kali tidak! Sebaliknya, kamu tidak memuliakan anak yatim.’ (QS. Al-Fajr: 17). Yakni, ‘Justru kamu dihinakan seperti ini karena tidak memuliakan anak yatim.’”  ذلُّ اليتيم: قال أكثم بن صيفي رحمه الله: الأذلاء أربعة: النمَّام، والكذَّاب، والمديون، واليتيم. Kerendahan anak yatim Aktsam bin Shaifi Rahimahullah berkata: “Orang yang rendah ada empat, pelaku namimah, pendusta, orang yang berutang, dan anak yatim.”  كافل اليتيم: قال الإمام النووي رحمه الله: كافل اليتيم القائم بأموره، من نفقة وكسوة، وتأديب وتربية، وغير ذلك. Penanggung anak yatim Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata: “Penanggung hidup anak yatim adalah yang mengurusi berbagai kebutuhannya, seperti nafkah, pakaian, pendidikan dan pengasuhan, dan lain sebagainya.”  قضاء حاجة اليتيم: قال العلامة ابن القيم: من هديه صلى الله عليه وسلم…. كان يأكل مع الخادم، ويجالس المساكين، ويمشي مع الأرملة واليتيم في حاجتهما. Memenuhi kebutuhan anak yatim Imam Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata: “Di antara tuntunan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah dulu beliau makan bersama pelayan beliau, duduk bersama orang-orang miskin, dan mengusahakan memenuhi kebutuhan para janda dan anak yatim.” الأكل مع اليتيم:


من أقوال السلف في اليتيم Oleh: Fahd bin Abdul Aziz Abdullah asy-Syuwairikh فهد بن عبدالعزيز عبدالله الشويرخ الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين، وبعد: فقد أمر الإسلام بالإحسان إلى اليتيم، ورعايته، وكفالته، ورتَّب على ذلك الأجور العظيمة، قال الرسول صلى الله عليه وسلم: «أنا وكافل اليتم في الجنة هكذا» وقال: بإصبعيه السبابة والوسطى؛ [صححه العلامة الألباني في صحيح الأدب المفرد للإمام البخاري]. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Nabi dan Rasul paling mulia, Nabi kita, Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, dan kepada keluarga serta para sahabat seluruhnya. Amma ba’du: Agama Islam memerintahkan untuk berbuat baik kepada anak yatim, mengasuh, dan menanggung kebutuhannya. Lalu memberi balasan atas itu berupa pahala-pahala besar. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا “Aku dan penanggung anak yatim di surga seperti ini, (dan beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan tengah).” (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adab Al-Mufrad karya Imam Al-Bukhari). وكما أمر بالإحسان إلى اليتيم فقد حذر من ظلمه، وأكل ماله، قال الله سبحانه وتعالى: ﴿ إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا ﴾ [النساء: 10]. للسلف رحمهم الله أقوال عن اليتيم، يسَّر الله الكريم فجمعت بعضًا منها، أسأل الله أن ينفع بها الجميع. Selain memerintahkan untuk berbuat baik kepada anak yatim, agama Islam juga memberi peringatan terhadap kezaliman kepadanya dan memakan hartanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. An-Nisa: 10). Para Salaf rahimahumullah punya banyak untaian kalimat yang berkaitan dengan anak yatim. Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Maha Pemurah memberi kemudahan kepadaku sehingga saya dapat menghimpun sebagiannya. Saya memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menjadikannya bermanfaat bagi semua orang. الحذر من ظلم اليتيم: قال قوام السنة الأصبهاني رحمه الله: قال الله تعالى: ﴿ وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ ﴾ [إبراهيم: 42]، وهذا وعيد للظالم، وتعزية للمظلوم، ولا أحد أظلم ممن ظلم الضعيف واليتيم. Peringatan berbuat zalim terhadap anak yatim Ulama penegak sunnah, Al-Ashfahani Rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, ‘Janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang orang-orang zalim perbuat.’ (QS. Ibrahim: 42). Ini merupakan ancaman bagi orang yang zalim dan penghibur bagi orang yang terzalimi, dan tidaklah ada yang lebih zalim daripada orang yang menzalimi orang lemah dan anak yatim.” دعوة اليتيم: قال أبو الدرداء رضي الله عنه: إياكم ودعوة اليتيم، ودعوة المظلوم؛ فإنها تسري بالليل والناس نيام. Doa anak yatim Abu Ad-Darda Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Berhati-hatilah dari doa anak yatim dan orang terzalimi, karena doa-doa itu teruntai pada malam hari ketika orang-orang sedang tidur.” مال اليتيم: قال عبدالله بن مسعود رضي الله عنه: شر المأكل مال اليتيم. Harta anak yatim Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Makanan yang paling buruk adalah dari harta anak yatim (yang diambil secara zalim).” حكم أكل مال اليتيم: قال الإمام القرطبي رحمه الله: دلَّ الكتاب والسُّنَّة على أن أكل مال اليتيم من الكبائر، قال صلى الله عليه وسلم: «اجتنبوا السبع الموبقات» وذكر فيها «أكل مال اليتيم». Hukum memakan harta anak yatim Imam Al-Qurthubi Rahimahullah berkata: “Al-Quran dan As-Sunnah menegaskan bahwa memakan harta anak yatim adalah dosa besar. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, ‘Jauhilah tujuh amalan yang membinasakan.’ Lalu beliau menyebutkan salah satunya, ‘Memakan harta anak yatim.’”  حال آكل مال اليتيم في البرزخ: قال العلامة ابن القيم رحمه الله: ينعم المؤمن في البرزخ على حسب أعماله، ويُعذَّب الفاجر فيه على حسب أعماله، ويختص كل عضو بعذاب يليق بجناية ذلك العضو…وتُسجر بطون أكلة أموال اليتامى بالنار. Keadaan pemakan harta anak yatim di alam Barzakh Imam Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata: “Orang beriman akan mendapat kenikmatan di alam Barzakh sesuai dengan amalannya. Sedangkan pelaku maksiat akan mendapat azab sesuai dengan amalannya juga, setiap anggota badannya akan mendapatkan azab khusus sesuai dengan kejahatan yang dilakukan dengan anggota badan itu, dan perut para pemakan anak yatim akan dibakar dengan api.”  حال آكل مال اليتيم في الآخرة: قال الإمام السدي رحمه الله: يبعث آكل مال اليتيم ظلمًا، ولهب النار يخرج بين فيه، ومن مسامعه، وأذنيه، وأنفه، وعينيه، يعرفه من رآه بآكل مال اليتيم. عن عبيدالله بن أبي جعفر رحمه الله قال: من أكل مال اليتيم فإنه يؤخذ بمشفره يوم القيامة فيُملأ فوه جمرًا، فيُقال له: كل كما أكلته في الدنيا، ثم يدخل السعير الكبرى. قال الحافظ ابن كثير رحمه الله: قوله تعالى: ﴿ إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا ﴾ [النساء: 10]؛ أي: إذا أكلوا أموال اليتامى بلا سبب فإنما يأكلون نارًا تتأجَّج في بطونهم يوم القيامة. Keadaan pemakan harta anak yatim di akhirat Imam As-Suddi Rahimahullah berkata: “Pemakan harta anak yatim secara zalim akan dibangkitkan sedangkan kobaran api keluar dari mulutnya, juga dari kedua telinga, hidung, dan kedua matanya, dan orang yang melihatnya akan mengetahui bahwa dia pemakan harta anak yatim.” Ubaidullah bin Abi Ja’far Rahimahullah berkata: “Siapa yang memakan harta anak yatim akan ditarik bibirnya pada Hari Kiamat lalu mulutnya diisi dengan bara api. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Makanlah ini seperti halnya kamu memakannya di dunia!’ Lalu dia dimasukkan ke dalam neraka terbesar.” Al-Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah berkata: “Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ‘Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).’ (QS. An-Nisa: 10). Yakni apabila mereka memakan harta anak yatim tanpa alasan yang dibenarkan sebenarnya dia sedang memakan api yang berkobar-kobar di perut mereka pada Hari Kiamat.” إهانة من لا يكرم اليتيم: قال الإمام ابن جرير الطبري رحمه الله: ﴿ بَلْ لَا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ ﴾ [الفجر: 17]، يقول تعالى ذكره: بل أهنت من أهنت من أجل أنه لا يكرم اليتيم. Kehinaan bagi orang yang tidak memuliakan anak yatim Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari Rahimahullah berkata: “Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ‘Sekali-kali tidak! Sebaliknya, kamu tidak memuliakan anak yatim.’ (QS. Al-Fajr: 17). Yakni, ‘Justru kamu dihinakan seperti ini karena tidak memuliakan anak yatim.’”  ذلُّ اليتيم: قال أكثم بن صيفي رحمه الله: الأذلاء أربعة: النمَّام، والكذَّاب، والمديون، واليتيم. Kerendahan anak yatim Aktsam bin Shaifi Rahimahullah berkata: “Orang yang rendah ada empat, pelaku namimah, pendusta, orang yang berutang, dan anak yatim.”  كافل اليتيم: قال الإمام النووي رحمه الله: كافل اليتيم القائم بأموره، من نفقة وكسوة، وتأديب وتربية، وغير ذلك. Penanggung anak yatim Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata: “Penanggung hidup anak yatim adalah yang mengurusi berbagai kebutuhannya, seperti nafkah, pakaian, pendidikan dan pengasuhan, dan lain sebagainya.”  قضاء حاجة اليتيم: قال العلامة ابن القيم: من هديه صلى الله عليه وسلم…. كان يأكل مع الخادم، ويجالس المساكين، ويمشي مع الأرملة واليتيم في حاجتهما. Memenuhi kebutuhan anak yatim Imam Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata: “Di antara tuntunan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah dulu beliau makan bersama pelayan beliau, duduk bersama orang-orang miskin, dan mengusahakan memenuhi kebutuhan para janda dan anak yatim.” الأكل مع اليتيم:

Asas Dakwah dan Menghadapi Perselisihan (Bag. 12): Tatsabbut dan Mengakui Kesalahan

Daftar Isi ToggleKapan harus tatsabbut wa tabayyun?Dampak dari tidak crosscheckKeteladanan dalam tatsabbut wa tabayyunSiap mengakui kesalahanHikmah tatsabbutCepatnya informasi berkembang menuntut seorang muslim, khususnya para dai, untuk merespon beragam perkara. Jelas di dalamnya terdapat urgensi karena umat menuntut jawaban atas kerancuan atau juga pemberitaan akan seseorang. Namun, di satu sisi ada racun yang teramat bahaya dalam keadaan ini jika seorang dai tidak berhati-hati. Informasi yang tidak valid, atau bukan realitas yang terdistorsi, tentu akan berdampak kepada respon yang dikeluarkan. Oleh karena itu, penting sekali bagi seorang muslim khususnya yang terjun di medan dakwah untuk mengenal manhaj at-tatsabbut ini.Kapan harus tatsabbut wa tabayyun?Dalam Syarah Hilyah Thalibil Ilmi, Syekh Utsaimin rahimahullah menjelaskan,هذا أهم ما يكون في هذه الآداب، وهو التثبت فيما يُنْقَلُ من الأَخْبَارِ، والتثبت فيما يصدرُ مِنْكَ من الأحكام، فالأَخْبَارُ إذا نُقِلَتْ فَلا بُدَّ أن تَتَثَبَّتَ أولا : هل صَحَتْ عَمَّنْ نُقِلَتْ إليه أو لا؟ ثم إذا صَحَّتْ فلا تَحْكُم بل تَتَبَّتْ في الحكم، فربما يكون الخبرُ مَبْنِيًّا على أَصْلٍ تَجْهَلُهُ أَنْتَ، فتحكم أنه خطأ، والواقع أنه ليس خطأ“Ini adalah perkara terpenting dalam adab-adab tersebut, yaitu ber-tatsabbut (meneliti dan memastikan) terhadap berita yang disampaikan, serta ber-tatsabbut terhadap keputusan yang keluar darimu. Ketika sebuah berita disampaikan, maka engkau harus terlebih dahulu memastikan: apakah berita tentang seseorang itu memang benar? Kemudian, bila ternyata berita itu benar, engkau tetap tidak boleh langsung memutuskan hukum, tetapi harus ber-tatsabbut dalam menetapkan hukum. Sebab boleh jadi berita tersebut dibangun di atas suatu dasar yang tidak engkau ketahui, lalu engkau menyimpulkan bahwa hal itu salah, padahal kenyataannya tidak salah.”Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa tatsabbut itu setidaknya pada dua tempat: (1) berita dan pembawa beritanya, (2) cara menghukuminya. Solusinya menurut beliau adalah hendaknya kita menghubungi orang yang dikabarkan tersebut dan lakukan verifikasi padanya (tabayyun). Dengan demikian, kita akan mengetahui alasan di balik “mengapa orang tersebut melakukannya?”Dampak dari tidak crosscheckAllah ﷻ mengaitkan perintah untuk tatsabbut wa tabayyun dengan konsekuensi fatal jika hal ini tidak dilakukan. Dua dampak besar yang dapat ditimbulkan dari hal ini adalah:1) Menimpakan kezaliman kepada orang lain.2) Menimbulkan penyesalan di kemudian hari.Syekh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bentuk riil dari dua konsekuensi tersebut. Beliau menerangkan dalam tafsirnya bahwa tatsabbut wa tabayyun adalah akhlak orang yang cerdas. Jika hal ini tidak dilakukan, maka konsekuensinya besar sekali. Konsekuensi tersebut dapat berupa tumpahnya darah kaum muslimin semisal qadzaf (tuduhan zina) ataupun peperangan. Tentu hal ini akan menimbulkan penyesalan luar biasa.Berikut penjelasannya,من الآداب التي على أولي الألباب، التأدب بها واستعمالها، وهو أنه إذا أخبرهم فاسق بخبر أن يتثبتوا في خبره، ولا يأخذوه مجردًا، فإن في ذلك خطرًا كبيرًا، ووقوعًا في الإثم،Di antara adab yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang berakal –yang wajib mereka terapkan dan amalkan–adalah bahwa apabila seorang fasik mengabarkan suatu berita, mereka harus ber-tatsabbut (meneliti dan memastikan) terhadap beritanya. Mereka tidak boleh menerimanya begitu saja, karena dalam hal itu terdapat bahaya besar dan dapat menjerumuskan pada dosa.فإن خبره إذا جعل بمنزلة خبر الصادق العدل، حكم بموجب ذلك ومقتضاه، فحصل من تلف النفوس والأموال، بغير حق، بسبب ذلك الخبر ما يكون سببًا للندامة،Sebab jika berita orang fasik diperlakukan seperti berita orang yang jujur dan adil, lalu diputuskan hukum berdasarkan berita itu dan konsekuensinya, maka dapat terjadi hilangnya nyawa atau harta tanpa hak hanya karena berita tersebut, yang pada akhirnya menjadi sebab penyesalan.Hal ini sebagaimana konteks diturunkannya QS. Al-Hujurat: 6 yang dinukilkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Kisah tersebut berkaitan dengan Al-Walid bin Uqbah yang diutus untuk mengambil zakat dari Bani Mustaliq. Dia melihat bahwa Bani Mustaliq telah mempersiapkan hewan ternak ketika ia datang. Ia kembali ke sisi Nabi ﷺ dan mengatakan bahwa Bani Mustaliq telah bersiap perang dengan Nabi ﷺ. Lalu, Nabi ﷺ melakukan crosscheck dengan mengirim Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu. Kemudian, Nabi ﷺ pun mendapatkan kabar dari Khalid bahwa berita itu tidak valid. Bani Mustaliq ternyata justru menyiapkan hewan ternak itu untuk dijadikan harta zakat.Bayangkan apa yang terjadi jika Nabi ﷺ menerima mentah-mentah berita dari Al-Walid bin Uqbah?! Tentu bisa saja terjadi pertumpahan darah dan peperangan di antara kaum muslimin. Namun, Nabi ﷺ tidak semata-mata polos dan menerima begitu saja. Beliau bahkan mengirimkan utusan lain untuk mengecek kebenaran berita itu. Lihatlah betapa besar usaha Nabi ﷺ untuk melakukan crosscheck atas berita tersebut?! Maka, inilah harga validitas berita. Ia dibayar dengan perjalanan panjang, harta, dan waktu yang lama.Sangat berbeda keadaan Nabi ﷺ dengan realitas di zaman ini. Dimana berita sensasional cepat sekali diterima dan disebarkan hanya karena sesuai dengan hawa nafsu. Tidak dilakukan proses crosscheck terlebih dahulu. Akhirnya, timbul banyak berita simpang siur, hoax, dan fitnah yang menyebabkan perselisihan luar biasa di kalangan kaum muslimin.Apalagi dengan kemajuan zaman yang menjadikan teknologi saat ini dapat membuat tampilan berita sangat realistis. Ada teknologi AI, editing canggih, dan lain sebagainya yang sangat sulit untuk dibedakan antara kebenaran dengan kebohongan. Hal yang lebih aneh lagi adalah tren “timpa teks” di kalangan anak muda dalam rangka bercanda. Mereka akan mengedit sebuah berita atau gambar asli dengan teks yang sudah dimanipulasi tetapi dengan desain yang sangat mirip, lalu menyebarkannya seakan-akan ini berita asli. Hal ini adalah kedustaan yang teramat buruk. Rasulullah ﷺ bersabda,وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ“Celakalah bagi yang berbicara lantas berdusta hanya karena ingin membuat suatu kaum tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Daud no. 4990 dan Tirmidzi no. 3315. Al-Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadis ini hasan)Realita zaman ini, semakin menekankan wajibnya manhaj tatsabbut wa tabayyun dalam berbagai perkara. Khususnya para dai dan penuntut ilmu umumnya, karena kebanyakan dari mereka adalah corong umat. Jangan sampai terjebak kepada semangat ingin mengikuti tren, sehingga mengorbankan kevalidan berita yang sedang dibahas. Di era disrupsi, berita cepat sekali menyebar dan juga berubah. Kita sangat sulit untuk melihat mana yang benar dan yang salah. Maka, berhati-hatilah dalam merespon berita yang ada.Keteladanan dalam tatsabbut wa tabayyunTeladanilah Syekh Bin Baz rahimahullah dalam hal ini! Apabila Syekh hendak menjawab sebuah konsultasi semisal pengaduan seorang suami tentang istrinya, atau sebaliknya, beliau sebelum menjawab akan menyatakan, “Jika memang benar apa yang disampaikan, maka….” Artinya, Syekh memberi persyaratan bahwa arahan ini untuk kondisi jika memang benar itu yang terjadi. Karena Syekh Bin Baz tidak mengambil keputusan dan bersikap hanya berdasarkan pengakuan satu pihak saja.Beliau juga terkenal sebagai mufti yang apabila mendapati sebuah perkataan dari seseorang, semisal alim yang menurut beliau tidak tepat, maka beliau pastikan terlebih dahulu perkataan tersebut. Setelah dipastikan bahwa memang tidak tepat, kemudian beliau mengirimkan nasihat dengan penuh lemah lembut. Adapun jika beliau tidak mampu menjangkau ulama tersebut, maka beliau akan memaknainya dengan makna paling positif. (Biografi Imam Ibn Baz terbitan Salaf lil Buhuts wad Dirasah https://salafcenter.org/6121/)Keteladanan yang paling utama tentu datang dari Nabi ﷺ. Ketika menghadapi kasus Maiz yang berzina, beliau terus memastikan pengakuan Maiz tersebut. Hal ini dalam konteks kehakiman adalah karena hukuman yang ditegakkan sangat bergantung kepada pengakuan maupun bukti. Sedangkan konsekuensi hukumannya tak main-main, yakni eksekusi mati. Qadhi ‘Iyadh menjelaskan riwayat Maiz tersebut,وكان ترديدُ النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم له إذا لم يَقُمْ عليه بيِّنةٌ إلَّا لإقرارِه واستِبرائِه في إقرارِه، وتَثَبُّتًا في أمرِه، ورجاءً لرُجوعِه عن قَولِه، أو لتمامِ اعتِرافِهـ“Pengulangan pertanyaan Nabi ﷺ kepadanya, ketika tidak ada bukti yang menegakkan (perkara tersebut) kecuali pengakuannya, hanyalah untuk memastikan (kebenaran) pengakuannya, membersihkan (kemungkinan keraguan) dalam pengakuannya, melakukan tsabbut (penelitian dan kehati-hatian) dalam urusannya, serta berharap agar ia menarik kembali ucapannya atau agar pengakuannya menjadi sempurna. (Ikmalul Mulim Syarah Shahih Muslim, 5: 516)Tentu Nabi ﷺ adalah orang yang paling valid informasinya di dunia ini. Karena satu-satunya yang punya jalinan komunikasi khusus kepada Al-Haq adalah Nabi ﷺ. Namun, dalam banyak perkara, Allah ﷻ menyuruh Nabi ﷺ atau menggerakkan Nabi ﷺ untuk ber-tatsabbut wa tabayyun. Contoh dalam kasus Maiz ini, juga kisah haditsul ifki kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha, dan lainnya. Tujuannya agar memberikan keteladanan kepada umat untuk bersikap tatsabbut dalam berkehidupan.Siap mengakui kesalahanSalah satu hal penting yang patut kita pegang dari penjelasan Ibnu Utsaimin adalah hal berikut,فإن كان على حَقٌّ وصواب فترجع إليه. أو يكون الصواب معك فيرجع إليك“Apabila orang itu yang benar, maka anda harus kembali (rujuk) kepada kebenaran yang ada padanya. Atau bisa jadi kebenaran bersama anda, maka orang itu pun harus kembali (rujuk) kepada kebenaran yang bersama anda itu.” (Syarah Hilyah Thalibil Ilmi, cet. Muassasah Syekh Ibnu Utsaimin, hal. 74)Kita pasti melakukan kesalahan sebagai Bani Adam. Termasuk dalam merespon suatu perkara. Sebaik apapun kita menjalankan kehidupan dengan berasaskan tatsabbut wa tabayyun, pasti adakalanya kita akan terjegal dengan kelalaian. Maka, penting sekali bagi kita dan lisan kita untuk mengakui kesalahan.Tujuan seorang muslim berdakwah atau sampai berselisih adalah untuk meraih kebenaran. Termasuk sikap adil adalah mengakui kebenaran dimanapun ia berada. Baik kebenaran itu ada di diri sendiri, maupun berada di pihak lain. Maka, wajib bagi seorang muslim untuk rela rujuk dari kesalahan.Sebagian dari kita tentu merasa sulit mengakui kesalahan sendiri. Karena hal ini memalukan, menunjukkan kelalaian dan kelemahan kita. Namun, mental seorang muslim tidaklah demikian. Perhatikanlah! Mengapa Allah ﷻ melalui lisan Nabi ﷺ harus menyampaikan hadis ini kepada umat?كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ“Semua Bani Adam sering melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang sering melakukan kesalahan adalah yang sering bertobat.” (HR. Ibnu Majah, at-Tirmidzi, dan lain-lain. Hadis ini hasan, menurut penilaian al-Albani rahimahullah)Allah ﷻ menetapkan sifat esensial dari manusia adalah melakukan kesalahan. Tujuannya adalah agar kita memaklumi dan merasa lebih ringan ketika melakukan kesalahan. Tujuan lainnya adalah agar kita tidak tenggelam dalam keputusasaan. Sehingga kita mudah rujuk dari kesalahan dan mengakui kebenaran meski pahit untuk melakukannya.Akan tetapi, faktor hasrat manusia yang menghalangi dari sikap rujuk ini, yaitu ego yang tinggi. Para dai atau yang dikenal berilmu di kalangan masyarakat, tentu tantangannya lebih berat untuk mengakui kesalahan. Karena mereka dipandang masyarakat sebagai rujukan, juga memiliki kedudukan di masyarakat. Tentu bebannya lebih berat untuk mengakui kesalahan.Wahai para penyeru kebenaran! Ketahuilah bahwa mengakui kesalahan tidak akan membuat diri rendah. Mengapa? Karena memang demikianlah sifat dasar manusia: melakukan kesalahan. Bacalah kelanjutan dari hadis tersebut,وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ“Dan sebaik-baik yang melakukan kesalahan adalah yang bertobat.”Konsekuensi dari tobat adalah mengakui kesalahan, baik di hadapan Allah ﷻ apalagi yang berkaitan haknya dengan manusia. Kepada kedua pihak sama-sama dituntut untuk mengakui kesalahan. Dan jalan mengakui kesalahan ini adalah jalan yang baik sebagaimana yang disebutkan dalam hadis.Oleh karena itu, seseorang yang melakukan kesalahan setelah tatsabbut terhadap suatu perkara, maka bisa jadi ia mendapatkan dua peluang kebaikan. Dua peluang kebaikan itu adalah:Pertama: Menjalankan perintah tatsabbut dalam merespons.Kedua: Menjalankan perintah mengakui kesalahan.Dan memang tidak ada jaminan bagi orang yang ber-tatsabbut akan selalu benar hasilnya. Karena bisa jadi ada fakta dan realita yang terlewat atau belum tersingkap ketika ia meneliti permasalahan itu. Atau ada faktor kesalahan dirinya yang tak mampu memahami dengan benar jalinan korelasi informasi yang didapatkannya, sementara dirinya telah berusaha keras. Tentu Allah ﷻ tetap akan memberikan nilai atas usaha ini.Hikmah tatsabbutAsas tatsabbut sangat penting sekali bagi seorang muslim utamanya yang berada di garis terdepan menyerukan Islam. Hikmah yang agung di dalamnya semoga dapat menjadi motivasi bagi kita untuk memperjuangkannya:1) Sikap tatsabbut adalah tanda-tanda seorang beriman, sebagaimana yang disebut dalam QS. Al-Hujurat: 62) Meminimalisir kesalahan dan perselisihan dalam kehidupan;3) Menghindarkan diri dari penyesalan karena salah langkah;4) Membuat diri yakin akan keputusan yang diambil;5) Menjaga harta dan darah kaum muslimin;6) Membuat jiwa lebih tenang dan sehat secara psikologis;7) Mengenyahkan takhayul dan asumsi nisbi.Dan tentu saja masih banyak hikmah lainnya dari asas ini. Tentu saja penulis mengajak seluruh pembaca untuk menerapkan asas ini dalam berkehidupan, terlebih lagi dalam konteks dakwah dan menghadapi perselisihan. Dengan menahan diri untuk bersikap reaktif, kita berarti mencegah munculnya permasalahan atau setidaknya meminimalisir dampak. Jangan tergoda dengan manisnya viral dan perputaran uang di dalamnya. Hanya karena mengejar momen viral, berita ramai, dan juga gosip terpanas, kita semangat meresponnya tanpa melakukan tatsabbut wa tabayyun. Kalaupun Allah takdirkan kita jatuh ke dalam kesalahan ketika merespons, maka bersegeralah kembali rujuk kepada kebenaran. Karena rujuk kepada kebenaran itu lebih dekat kepada kebaikan.[Bersambung]Kembali ke bagian 11 Lanjut ke bagian 13***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id

Asas Dakwah dan Menghadapi Perselisihan (Bag. 12): Tatsabbut dan Mengakui Kesalahan

Daftar Isi ToggleKapan harus tatsabbut wa tabayyun?Dampak dari tidak crosscheckKeteladanan dalam tatsabbut wa tabayyunSiap mengakui kesalahanHikmah tatsabbutCepatnya informasi berkembang menuntut seorang muslim, khususnya para dai, untuk merespon beragam perkara. Jelas di dalamnya terdapat urgensi karena umat menuntut jawaban atas kerancuan atau juga pemberitaan akan seseorang. Namun, di satu sisi ada racun yang teramat bahaya dalam keadaan ini jika seorang dai tidak berhati-hati. Informasi yang tidak valid, atau bukan realitas yang terdistorsi, tentu akan berdampak kepada respon yang dikeluarkan. Oleh karena itu, penting sekali bagi seorang muslim khususnya yang terjun di medan dakwah untuk mengenal manhaj at-tatsabbut ini.Kapan harus tatsabbut wa tabayyun?Dalam Syarah Hilyah Thalibil Ilmi, Syekh Utsaimin rahimahullah menjelaskan,هذا أهم ما يكون في هذه الآداب، وهو التثبت فيما يُنْقَلُ من الأَخْبَارِ، والتثبت فيما يصدرُ مِنْكَ من الأحكام، فالأَخْبَارُ إذا نُقِلَتْ فَلا بُدَّ أن تَتَثَبَّتَ أولا : هل صَحَتْ عَمَّنْ نُقِلَتْ إليه أو لا؟ ثم إذا صَحَّتْ فلا تَحْكُم بل تَتَبَّتْ في الحكم، فربما يكون الخبرُ مَبْنِيًّا على أَصْلٍ تَجْهَلُهُ أَنْتَ، فتحكم أنه خطأ، والواقع أنه ليس خطأ“Ini adalah perkara terpenting dalam adab-adab tersebut, yaitu ber-tatsabbut (meneliti dan memastikan) terhadap berita yang disampaikan, serta ber-tatsabbut terhadap keputusan yang keluar darimu. Ketika sebuah berita disampaikan, maka engkau harus terlebih dahulu memastikan: apakah berita tentang seseorang itu memang benar? Kemudian, bila ternyata berita itu benar, engkau tetap tidak boleh langsung memutuskan hukum, tetapi harus ber-tatsabbut dalam menetapkan hukum. Sebab boleh jadi berita tersebut dibangun di atas suatu dasar yang tidak engkau ketahui, lalu engkau menyimpulkan bahwa hal itu salah, padahal kenyataannya tidak salah.”Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa tatsabbut itu setidaknya pada dua tempat: (1) berita dan pembawa beritanya, (2) cara menghukuminya. Solusinya menurut beliau adalah hendaknya kita menghubungi orang yang dikabarkan tersebut dan lakukan verifikasi padanya (tabayyun). Dengan demikian, kita akan mengetahui alasan di balik “mengapa orang tersebut melakukannya?”Dampak dari tidak crosscheckAllah ﷻ mengaitkan perintah untuk tatsabbut wa tabayyun dengan konsekuensi fatal jika hal ini tidak dilakukan. Dua dampak besar yang dapat ditimbulkan dari hal ini adalah:1) Menimpakan kezaliman kepada orang lain.2) Menimbulkan penyesalan di kemudian hari.Syekh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bentuk riil dari dua konsekuensi tersebut. Beliau menerangkan dalam tafsirnya bahwa tatsabbut wa tabayyun adalah akhlak orang yang cerdas. Jika hal ini tidak dilakukan, maka konsekuensinya besar sekali. Konsekuensi tersebut dapat berupa tumpahnya darah kaum muslimin semisal qadzaf (tuduhan zina) ataupun peperangan. Tentu hal ini akan menimbulkan penyesalan luar biasa.Berikut penjelasannya,من الآداب التي على أولي الألباب، التأدب بها واستعمالها، وهو أنه إذا أخبرهم فاسق بخبر أن يتثبتوا في خبره، ولا يأخذوه مجردًا، فإن في ذلك خطرًا كبيرًا، ووقوعًا في الإثم،Di antara adab yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang berakal –yang wajib mereka terapkan dan amalkan–adalah bahwa apabila seorang fasik mengabarkan suatu berita, mereka harus ber-tatsabbut (meneliti dan memastikan) terhadap beritanya. Mereka tidak boleh menerimanya begitu saja, karena dalam hal itu terdapat bahaya besar dan dapat menjerumuskan pada dosa.فإن خبره إذا جعل بمنزلة خبر الصادق العدل، حكم بموجب ذلك ومقتضاه، فحصل من تلف النفوس والأموال، بغير حق، بسبب ذلك الخبر ما يكون سببًا للندامة،Sebab jika berita orang fasik diperlakukan seperti berita orang yang jujur dan adil, lalu diputuskan hukum berdasarkan berita itu dan konsekuensinya, maka dapat terjadi hilangnya nyawa atau harta tanpa hak hanya karena berita tersebut, yang pada akhirnya menjadi sebab penyesalan.Hal ini sebagaimana konteks diturunkannya QS. Al-Hujurat: 6 yang dinukilkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Kisah tersebut berkaitan dengan Al-Walid bin Uqbah yang diutus untuk mengambil zakat dari Bani Mustaliq. Dia melihat bahwa Bani Mustaliq telah mempersiapkan hewan ternak ketika ia datang. Ia kembali ke sisi Nabi ﷺ dan mengatakan bahwa Bani Mustaliq telah bersiap perang dengan Nabi ﷺ. Lalu, Nabi ﷺ melakukan crosscheck dengan mengirim Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu. Kemudian, Nabi ﷺ pun mendapatkan kabar dari Khalid bahwa berita itu tidak valid. Bani Mustaliq ternyata justru menyiapkan hewan ternak itu untuk dijadikan harta zakat.Bayangkan apa yang terjadi jika Nabi ﷺ menerima mentah-mentah berita dari Al-Walid bin Uqbah?! Tentu bisa saja terjadi pertumpahan darah dan peperangan di antara kaum muslimin. Namun, Nabi ﷺ tidak semata-mata polos dan menerima begitu saja. Beliau bahkan mengirimkan utusan lain untuk mengecek kebenaran berita itu. Lihatlah betapa besar usaha Nabi ﷺ untuk melakukan crosscheck atas berita tersebut?! Maka, inilah harga validitas berita. Ia dibayar dengan perjalanan panjang, harta, dan waktu yang lama.Sangat berbeda keadaan Nabi ﷺ dengan realitas di zaman ini. Dimana berita sensasional cepat sekali diterima dan disebarkan hanya karena sesuai dengan hawa nafsu. Tidak dilakukan proses crosscheck terlebih dahulu. Akhirnya, timbul banyak berita simpang siur, hoax, dan fitnah yang menyebabkan perselisihan luar biasa di kalangan kaum muslimin.Apalagi dengan kemajuan zaman yang menjadikan teknologi saat ini dapat membuat tampilan berita sangat realistis. Ada teknologi AI, editing canggih, dan lain sebagainya yang sangat sulit untuk dibedakan antara kebenaran dengan kebohongan. Hal yang lebih aneh lagi adalah tren “timpa teks” di kalangan anak muda dalam rangka bercanda. Mereka akan mengedit sebuah berita atau gambar asli dengan teks yang sudah dimanipulasi tetapi dengan desain yang sangat mirip, lalu menyebarkannya seakan-akan ini berita asli. Hal ini adalah kedustaan yang teramat buruk. Rasulullah ﷺ bersabda,وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ“Celakalah bagi yang berbicara lantas berdusta hanya karena ingin membuat suatu kaum tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Daud no. 4990 dan Tirmidzi no. 3315. Al-Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadis ini hasan)Realita zaman ini, semakin menekankan wajibnya manhaj tatsabbut wa tabayyun dalam berbagai perkara. Khususnya para dai dan penuntut ilmu umumnya, karena kebanyakan dari mereka adalah corong umat. Jangan sampai terjebak kepada semangat ingin mengikuti tren, sehingga mengorbankan kevalidan berita yang sedang dibahas. Di era disrupsi, berita cepat sekali menyebar dan juga berubah. Kita sangat sulit untuk melihat mana yang benar dan yang salah. Maka, berhati-hatilah dalam merespon berita yang ada.Keteladanan dalam tatsabbut wa tabayyunTeladanilah Syekh Bin Baz rahimahullah dalam hal ini! Apabila Syekh hendak menjawab sebuah konsultasi semisal pengaduan seorang suami tentang istrinya, atau sebaliknya, beliau sebelum menjawab akan menyatakan, “Jika memang benar apa yang disampaikan, maka….” Artinya, Syekh memberi persyaratan bahwa arahan ini untuk kondisi jika memang benar itu yang terjadi. Karena Syekh Bin Baz tidak mengambil keputusan dan bersikap hanya berdasarkan pengakuan satu pihak saja.Beliau juga terkenal sebagai mufti yang apabila mendapati sebuah perkataan dari seseorang, semisal alim yang menurut beliau tidak tepat, maka beliau pastikan terlebih dahulu perkataan tersebut. Setelah dipastikan bahwa memang tidak tepat, kemudian beliau mengirimkan nasihat dengan penuh lemah lembut. Adapun jika beliau tidak mampu menjangkau ulama tersebut, maka beliau akan memaknainya dengan makna paling positif. (Biografi Imam Ibn Baz terbitan Salaf lil Buhuts wad Dirasah https://salafcenter.org/6121/)Keteladanan yang paling utama tentu datang dari Nabi ﷺ. Ketika menghadapi kasus Maiz yang berzina, beliau terus memastikan pengakuan Maiz tersebut. Hal ini dalam konteks kehakiman adalah karena hukuman yang ditegakkan sangat bergantung kepada pengakuan maupun bukti. Sedangkan konsekuensi hukumannya tak main-main, yakni eksekusi mati. Qadhi ‘Iyadh menjelaskan riwayat Maiz tersebut,وكان ترديدُ النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم له إذا لم يَقُمْ عليه بيِّنةٌ إلَّا لإقرارِه واستِبرائِه في إقرارِه، وتَثَبُّتًا في أمرِه، ورجاءً لرُجوعِه عن قَولِه، أو لتمامِ اعتِرافِهـ“Pengulangan pertanyaan Nabi ﷺ kepadanya, ketika tidak ada bukti yang menegakkan (perkara tersebut) kecuali pengakuannya, hanyalah untuk memastikan (kebenaran) pengakuannya, membersihkan (kemungkinan keraguan) dalam pengakuannya, melakukan tsabbut (penelitian dan kehati-hatian) dalam urusannya, serta berharap agar ia menarik kembali ucapannya atau agar pengakuannya menjadi sempurna. (Ikmalul Mulim Syarah Shahih Muslim, 5: 516)Tentu Nabi ﷺ adalah orang yang paling valid informasinya di dunia ini. Karena satu-satunya yang punya jalinan komunikasi khusus kepada Al-Haq adalah Nabi ﷺ. Namun, dalam banyak perkara, Allah ﷻ menyuruh Nabi ﷺ atau menggerakkan Nabi ﷺ untuk ber-tatsabbut wa tabayyun. Contoh dalam kasus Maiz ini, juga kisah haditsul ifki kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha, dan lainnya. Tujuannya agar memberikan keteladanan kepada umat untuk bersikap tatsabbut dalam berkehidupan.Siap mengakui kesalahanSalah satu hal penting yang patut kita pegang dari penjelasan Ibnu Utsaimin adalah hal berikut,فإن كان على حَقٌّ وصواب فترجع إليه. أو يكون الصواب معك فيرجع إليك“Apabila orang itu yang benar, maka anda harus kembali (rujuk) kepada kebenaran yang ada padanya. Atau bisa jadi kebenaran bersama anda, maka orang itu pun harus kembali (rujuk) kepada kebenaran yang bersama anda itu.” (Syarah Hilyah Thalibil Ilmi, cet. Muassasah Syekh Ibnu Utsaimin, hal. 74)Kita pasti melakukan kesalahan sebagai Bani Adam. Termasuk dalam merespon suatu perkara. Sebaik apapun kita menjalankan kehidupan dengan berasaskan tatsabbut wa tabayyun, pasti adakalanya kita akan terjegal dengan kelalaian. Maka, penting sekali bagi kita dan lisan kita untuk mengakui kesalahan.Tujuan seorang muslim berdakwah atau sampai berselisih adalah untuk meraih kebenaran. Termasuk sikap adil adalah mengakui kebenaran dimanapun ia berada. Baik kebenaran itu ada di diri sendiri, maupun berada di pihak lain. Maka, wajib bagi seorang muslim untuk rela rujuk dari kesalahan.Sebagian dari kita tentu merasa sulit mengakui kesalahan sendiri. Karena hal ini memalukan, menunjukkan kelalaian dan kelemahan kita. Namun, mental seorang muslim tidaklah demikian. Perhatikanlah! Mengapa Allah ﷻ melalui lisan Nabi ﷺ harus menyampaikan hadis ini kepada umat?كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ“Semua Bani Adam sering melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang sering melakukan kesalahan adalah yang sering bertobat.” (HR. Ibnu Majah, at-Tirmidzi, dan lain-lain. Hadis ini hasan, menurut penilaian al-Albani rahimahullah)Allah ﷻ menetapkan sifat esensial dari manusia adalah melakukan kesalahan. Tujuannya adalah agar kita memaklumi dan merasa lebih ringan ketika melakukan kesalahan. Tujuan lainnya adalah agar kita tidak tenggelam dalam keputusasaan. Sehingga kita mudah rujuk dari kesalahan dan mengakui kebenaran meski pahit untuk melakukannya.Akan tetapi, faktor hasrat manusia yang menghalangi dari sikap rujuk ini, yaitu ego yang tinggi. Para dai atau yang dikenal berilmu di kalangan masyarakat, tentu tantangannya lebih berat untuk mengakui kesalahan. Karena mereka dipandang masyarakat sebagai rujukan, juga memiliki kedudukan di masyarakat. Tentu bebannya lebih berat untuk mengakui kesalahan.Wahai para penyeru kebenaran! Ketahuilah bahwa mengakui kesalahan tidak akan membuat diri rendah. Mengapa? Karena memang demikianlah sifat dasar manusia: melakukan kesalahan. Bacalah kelanjutan dari hadis tersebut,وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ“Dan sebaik-baik yang melakukan kesalahan adalah yang bertobat.”Konsekuensi dari tobat adalah mengakui kesalahan, baik di hadapan Allah ﷻ apalagi yang berkaitan haknya dengan manusia. Kepada kedua pihak sama-sama dituntut untuk mengakui kesalahan. Dan jalan mengakui kesalahan ini adalah jalan yang baik sebagaimana yang disebutkan dalam hadis.Oleh karena itu, seseorang yang melakukan kesalahan setelah tatsabbut terhadap suatu perkara, maka bisa jadi ia mendapatkan dua peluang kebaikan. Dua peluang kebaikan itu adalah:Pertama: Menjalankan perintah tatsabbut dalam merespons.Kedua: Menjalankan perintah mengakui kesalahan.Dan memang tidak ada jaminan bagi orang yang ber-tatsabbut akan selalu benar hasilnya. Karena bisa jadi ada fakta dan realita yang terlewat atau belum tersingkap ketika ia meneliti permasalahan itu. Atau ada faktor kesalahan dirinya yang tak mampu memahami dengan benar jalinan korelasi informasi yang didapatkannya, sementara dirinya telah berusaha keras. Tentu Allah ﷻ tetap akan memberikan nilai atas usaha ini.Hikmah tatsabbutAsas tatsabbut sangat penting sekali bagi seorang muslim utamanya yang berada di garis terdepan menyerukan Islam. Hikmah yang agung di dalamnya semoga dapat menjadi motivasi bagi kita untuk memperjuangkannya:1) Sikap tatsabbut adalah tanda-tanda seorang beriman, sebagaimana yang disebut dalam QS. Al-Hujurat: 62) Meminimalisir kesalahan dan perselisihan dalam kehidupan;3) Menghindarkan diri dari penyesalan karena salah langkah;4) Membuat diri yakin akan keputusan yang diambil;5) Menjaga harta dan darah kaum muslimin;6) Membuat jiwa lebih tenang dan sehat secara psikologis;7) Mengenyahkan takhayul dan asumsi nisbi.Dan tentu saja masih banyak hikmah lainnya dari asas ini. Tentu saja penulis mengajak seluruh pembaca untuk menerapkan asas ini dalam berkehidupan, terlebih lagi dalam konteks dakwah dan menghadapi perselisihan. Dengan menahan diri untuk bersikap reaktif, kita berarti mencegah munculnya permasalahan atau setidaknya meminimalisir dampak. Jangan tergoda dengan manisnya viral dan perputaran uang di dalamnya. Hanya karena mengejar momen viral, berita ramai, dan juga gosip terpanas, kita semangat meresponnya tanpa melakukan tatsabbut wa tabayyun. Kalaupun Allah takdirkan kita jatuh ke dalam kesalahan ketika merespons, maka bersegeralah kembali rujuk kepada kebenaran. Karena rujuk kepada kebenaran itu lebih dekat kepada kebaikan.[Bersambung]Kembali ke bagian 11 Lanjut ke bagian 13***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleKapan harus tatsabbut wa tabayyun?Dampak dari tidak crosscheckKeteladanan dalam tatsabbut wa tabayyunSiap mengakui kesalahanHikmah tatsabbutCepatnya informasi berkembang menuntut seorang muslim, khususnya para dai, untuk merespon beragam perkara. Jelas di dalamnya terdapat urgensi karena umat menuntut jawaban atas kerancuan atau juga pemberitaan akan seseorang. Namun, di satu sisi ada racun yang teramat bahaya dalam keadaan ini jika seorang dai tidak berhati-hati. Informasi yang tidak valid, atau bukan realitas yang terdistorsi, tentu akan berdampak kepada respon yang dikeluarkan. Oleh karena itu, penting sekali bagi seorang muslim khususnya yang terjun di medan dakwah untuk mengenal manhaj at-tatsabbut ini.Kapan harus tatsabbut wa tabayyun?Dalam Syarah Hilyah Thalibil Ilmi, Syekh Utsaimin rahimahullah menjelaskan,هذا أهم ما يكون في هذه الآداب، وهو التثبت فيما يُنْقَلُ من الأَخْبَارِ، والتثبت فيما يصدرُ مِنْكَ من الأحكام، فالأَخْبَارُ إذا نُقِلَتْ فَلا بُدَّ أن تَتَثَبَّتَ أولا : هل صَحَتْ عَمَّنْ نُقِلَتْ إليه أو لا؟ ثم إذا صَحَّتْ فلا تَحْكُم بل تَتَبَّتْ في الحكم، فربما يكون الخبرُ مَبْنِيًّا على أَصْلٍ تَجْهَلُهُ أَنْتَ، فتحكم أنه خطأ، والواقع أنه ليس خطأ“Ini adalah perkara terpenting dalam adab-adab tersebut, yaitu ber-tatsabbut (meneliti dan memastikan) terhadap berita yang disampaikan, serta ber-tatsabbut terhadap keputusan yang keluar darimu. Ketika sebuah berita disampaikan, maka engkau harus terlebih dahulu memastikan: apakah berita tentang seseorang itu memang benar? Kemudian, bila ternyata berita itu benar, engkau tetap tidak boleh langsung memutuskan hukum, tetapi harus ber-tatsabbut dalam menetapkan hukum. Sebab boleh jadi berita tersebut dibangun di atas suatu dasar yang tidak engkau ketahui, lalu engkau menyimpulkan bahwa hal itu salah, padahal kenyataannya tidak salah.”Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa tatsabbut itu setidaknya pada dua tempat: (1) berita dan pembawa beritanya, (2) cara menghukuminya. Solusinya menurut beliau adalah hendaknya kita menghubungi orang yang dikabarkan tersebut dan lakukan verifikasi padanya (tabayyun). Dengan demikian, kita akan mengetahui alasan di balik “mengapa orang tersebut melakukannya?”Dampak dari tidak crosscheckAllah ﷻ mengaitkan perintah untuk tatsabbut wa tabayyun dengan konsekuensi fatal jika hal ini tidak dilakukan. Dua dampak besar yang dapat ditimbulkan dari hal ini adalah:1) Menimpakan kezaliman kepada orang lain.2) Menimbulkan penyesalan di kemudian hari.Syekh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bentuk riil dari dua konsekuensi tersebut. Beliau menerangkan dalam tafsirnya bahwa tatsabbut wa tabayyun adalah akhlak orang yang cerdas. Jika hal ini tidak dilakukan, maka konsekuensinya besar sekali. Konsekuensi tersebut dapat berupa tumpahnya darah kaum muslimin semisal qadzaf (tuduhan zina) ataupun peperangan. Tentu hal ini akan menimbulkan penyesalan luar biasa.Berikut penjelasannya,من الآداب التي على أولي الألباب، التأدب بها واستعمالها، وهو أنه إذا أخبرهم فاسق بخبر أن يتثبتوا في خبره، ولا يأخذوه مجردًا، فإن في ذلك خطرًا كبيرًا، ووقوعًا في الإثم،Di antara adab yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang berakal –yang wajib mereka terapkan dan amalkan–adalah bahwa apabila seorang fasik mengabarkan suatu berita, mereka harus ber-tatsabbut (meneliti dan memastikan) terhadap beritanya. Mereka tidak boleh menerimanya begitu saja, karena dalam hal itu terdapat bahaya besar dan dapat menjerumuskan pada dosa.فإن خبره إذا جعل بمنزلة خبر الصادق العدل، حكم بموجب ذلك ومقتضاه، فحصل من تلف النفوس والأموال، بغير حق، بسبب ذلك الخبر ما يكون سببًا للندامة،Sebab jika berita orang fasik diperlakukan seperti berita orang yang jujur dan adil, lalu diputuskan hukum berdasarkan berita itu dan konsekuensinya, maka dapat terjadi hilangnya nyawa atau harta tanpa hak hanya karena berita tersebut, yang pada akhirnya menjadi sebab penyesalan.Hal ini sebagaimana konteks diturunkannya QS. Al-Hujurat: 6 yang dinukilkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Kisah tersebut berkaitan dengan Al-Walid bin Uqbah yang diutus untuk mengambil zakat dari Bani Mustaliq. Dia melihat bahwa Bani Mustaliq telah mempersiapkan hewan ternak ketika ia datang. Ia kembali ke sisi Nabi ﷺ dan mengatakan bahwa Bani Mustaliq telah bersiap perang dengan Nabi ﷺ. Lalu, Nabi ﷺ melakukan crosscheck dengan mengirim Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu. Kemudian, Nabi ﷺ pun mendapatkan kabar dari Khalid bahwa berita itu tidak valid. Bani Mustaliq ternyata justru menyiapkan hewan ternak itu untuk dijadikan harta zakat.Bayangkan apa yang terjadi jika Nabi ﷺ menerima mentah-mentah berita dari Al-Walid bin Uqbah?! Tentu bisa saja terjadi pertumpahan darah dan peperangan di antara kaum muslimin. Namun, Nabi ﷺ tidak semata-mata polos dan menerima begitu saja. Beliau bahkan mengirimkan utusan lain untuk mengecek kebenaran berita itu. Lihatlah betapa besar usaha Nabi ﷺ untuk melakukan crosscheck atas berita tersebut?! Maka, inilah harga validitas berita. Ia dibayar dengan perjalanan panjang, harta, dan waktu yang lama.Sangat berbeda keadaan Nabi ﷺ dengan realitas di zaman ini. Dimana berita sensasional cepat sekali diterima dan disebarkan hanya karena sesuai dengan hawa nafsu. Tidak dilakukan proses crosscheck terlebih dahulu. Akhirnya, timbul banyak berita simpang siur, hoax, dan fitnah yang menyebabkan perselisihan luar biasa di kalangan kaum muslimin.Apalagi dengan kemajuan zaman yang menjadikan teknologi saat ini dapat membuat tampilan berita sangat realistis. Ada teknologi AI, editing canggih, dan lain sebagainya yang sangat sulit untuk dibedakan antara kebenaran dengan kebohongan. Hal yang lebih aneh lagi adalah tren “timpa teks” di kalangan anak muda dalam rangka bercanda. Mereka akan mengedit sebuah berita atau gambar asli dengan teks yang sudah dimanipulasi tetapi dengan desain yang sangat mirip, lalu menyebarkannya seakan-akan ini berita asli. Hal ini adalah kedustaan yang teramat buruk. Rasulullah ﷺ bersabda,وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ“Celakalah bagi yang berbicara lantas berdusta hanya karena ingin membuat suatu kaum tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Daud no. 4990 dan Tirmidzi no. 3315. Al-Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadis ini hasan)Realita zaman ini, semakin menekankan wajibnya manhaj tatsabbut wa tabayyun dalam berbagai perkara. Khususnya para dai dan penuntut ilmu umumnya, karena kebanyakan dari mereka adalah corong umat. Jangan sampai terjebak kepada semangat ingin mengikuti tren, sehingga mengorbankan kevalidan berita yang sedang dibahas. Di era disrupsi, berita cepat sekali menyebar dan juga berubah. Kita sangat sulit untuk melihat mana yang benar dan yang salah. Maka, berhati-hatilah dalam merespon berita yang ada.Keteladanan dalam tatsabbut wa tabayyunTeladanilah Syekh Bin Baz rahimahullah dalam hal ini! Apabila Syekh hendak menjawab sebuah konsultasi semisal pengaduan seorang suami tentang istrinya, atau sebaliknya, beliau sebelum menjawab akan menyatakan, “Jika memang benar apa yang disampaikan, maka….” Artinya, Syekh memberi persyaratan bahwa arahan ini untuk kondisi jika memang benar itu yang terjadi. Karena Syekh Bin Baz tidak mengambil keputusan dan bersikap hanya berdasarkan pengakuan satu pihak saja.Beliau juga terkenal sebagai mufti yang apabila mendapati sebuah perkataan dari seseorang, semisal alim yang menurut beliau tidak tepat, maka beliau pastikan terlebih dahulu perkataan tersebut. Setelah dipastikan bahwa memang tidak tepat, kemudian beliau mengirimkan nasihat dengan penuh lemah lembut. Adapun jika beliau tidak mampu menjangkau ulama tersebut, maka beliau akan memaknainya dengan makna paling positif. (Biografi Imam Ibn Baz terbitan Salaf lil Buhuts wad Dirasah https://salafcenter.org/6121/)Keteladanan yang paling utama tentu datang dari Nabi ﷺ. Ketika menghadapi kasus Maiz yang berzina, beliau terus memastikan pengakuan Maiz tersebut. Hal ini dalam konteks kehakiman adalah karena hukuman yang ditegakkan sangat bergantung kepada pengakuan maupun bukti. Sedangkan konsekuensi hukumannya tak main-main, yakni eksekusi mati. Qadhi ‘Iyadh menjelaskan riwayat Maiz tersebut,وكان ترديدُ النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم له إذا لم يَقُمْ عليه بيِّنةٌ إلَّا لإقرارِه واستِبرائِه في إقرارِه، وتَثَبُّتًا في أمرِه، ورجاءً لرُجوعِه عن قَولِه، أو لتمامِ اعتِرافِهـ“Pengulangan pertanyaan Nabi ﷺ kepadanya, ketika tidak ada bukti yang menegakkan (perkara tersebut) kecuali pengakuannya, hanyalah untuk memastikan (kebenaran) pengakuannya, membersihkan (kemungkinan keraguan) dalam pengakuannya, melakukan tsabbut (penelitian dan kehati-hatian) dalam urusannya, serta berharap agar ia menarik kembali ucapannya atau agar pengakuannya menjadi sempurna. (Ikmalul Mulim Syarah Shahih Muslim, 5: 516)Tentu Nabi ﷺ adalah orang yang paling valid informasinya di dunia ini. Karena satu-satunya yang punya jalinan komunikasi khusus kepada Al-Haq adalah Nabi ﷺ. Namun, dalam banyak perkara, Allah ﷻ menyuruh Nabi ﷺ atau menggerakkan Nabi ﷺ untuk ber-tatsabbut wa tabayyun. Contoh dalam kasus Maiz ini, juga kisah haditsul ifki kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha, dan lainnya. Tujuannya agar memberikan keteladanan kepada umat untuk bersikap tatsabbut dalam berkehidupan.Siap mengakui kesalahanSalah satu hal penting yang patut kita pegang dari penjelasan Ibnu Utsaimin adalah hal berikut,فإن كان على حَقٌّ وصواب فترجع إليه. أو يكون الصواب معك فيرجع إليك“Apabila orang itu yang benar, maka anda harus kembali (rujuk) kepada kebenaran yang ada padanya. Atau bisa jadi kebenaran bersama anda, maka orang itu pun harus kembali (rujuk) kepada kebenaran yang bersama anda itu.” (Syarah Hilyah Thalibil Ilmi, cet. Muassasah Syekh Ibnu Utsaimin, hal. 74)Kita pasti melakukan kesalahan sebagai Bani Adam. Termasuk dalam merespon suatu perkara. Sebaik apapun kita menjalankan kehidupan dengan berasaskan tatsabbut wa tabayyun, pasti adakalanya kita akan terjegal dengan kelalaian. Maka, penting sekali bagi kita dan lisan kita untuk mengakui kesalahan.Tujuan seorang muslim berdakwah atau sampai berselisih adalah untuk meraih kebenaran. Termasuk sikap adil adalah mengakui kebenaran dimanapun ia berada. Baik kebenaran itu ada di diri sendiri, maupun berada di pihak lain. Maka, wajib bagi seorang muslim untuk rela rujuk dari kesalahan.Sebagian dari kita tentu merasa sulit mengakui kesalahan sendiri. Karena hal ini memalukan, menunjukkan kelalaian dan kelemahan kita. Namun, mental seorang muslim tidaklah demikian. Perhatikanlah! Mengapa Allah ﷻ melalui lisan Nabi ﷺ harus menyampaikan hadis ini kepada umat?كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ“Semua Bani Adam sering melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang sering melakukan kesalahan adalah yang sering bertobat.” (HR. Ibnu Majah, at-Tirmidzi, dan lain-lain. Hadis ini hasan, menurut penilaian al-Albani rahimahullah)Allah ﷻ menetapkan sifat esensial dari manusia adalah melakukan kesalahan. Tujuannya adalah agar kita memaklumi dan merasa lebih ringan ketika melakukan kesalahan. Tujuan lainnya adalah agar kita tidak tenggelam dalam keputusasaan. Sehingga kita mudah rujuk dari kesalahan dan mengakui kebenaran meski pahit untuk melakukannya.Akan tetapi, faktor hasrat manusia yang menghalangi dari sikap rujuk ini, yaitu ego yang tinggi. Para dai atau yang dikenal berilmu di kalangan masyarakat, tentu tantangannya lebih berat untuk mengakui kesalahan. Karena mereka dipandang masyarakat sebagai rujukan, juga memiliki kedudukan di masyarakat. Tentu bebannya lebih berat untuk mengakui kesalahan.Wahai para penyeru kebenaran! Ketahuilah bahwa mengakui kesalahan tidak akan membuat diri rendah. Mengapa? Karena memang demikianlah sifat dasar manusia: melakukan kesalahan. Bacalah kelanjutan dari hadis tersebut,وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ“Dan sebaik-baik yang melakukan kesalahan adalah yang bertobat.”Konsekuensi dari tobat adalah mengakui kesalahan, baik di hadapan Allah ﷻ apalagi yang berkaitan haknya dengan manusia. Kepada kedua pihak sama-sama dituntut untuk mengakui kesalahan. Dan jalan mengakui kesalahan ini adalah jalan yang baik sebagaimana yang disebutkan dalam hadis.Oleh karena itu, seseorang yang melakukan kesalahan setelah tatsabbut terhadap suatu perkara, maka bisa jadi ia mendapatkan dua peluang kebaikan. Dua peluang kebaikan itu adalah:Pertama: Menjalankan perintah tatsabbut dalam merespons.Kedua: Menjalankan perintah mengakui kesalahan.Dan memang tidak ada jaminan bagi orang yang ber-tatsabbut akan selalu benar hasilnya. Karena bisa jadi ada fakta dan realita yang terlewat atau belum tersingkap ketika ia meneliti permasalahan itu. Atau ada faktor kesalahan dirinya yang tak mampu memahami dengan benar jalinan korelasi informasi yang didapatkannya, sementara dirinya telah berusaha keras. Tentu Allah ﷻ tetap akan memberikan nilai atas usaha ini.Hikmah tatsabbutAsas tatsabbut sangat penting sekali bagi seorang muslim utamanya yang berada di garis terdepan menyerukan Islam. Hikmah yang agung di dalamnya semoga dapat menjadi motivasi bagi kita untuk memperjuangkannya:1) Sikap tatsabbut adalah tanda-tanda seorang beriman, sebagaimana yang disebut dalam QS. Al-Hujurat: 62) Meminimalisir kesalahan dan perselisihan dalam kehidupan;3) Menghindarkan diri dari penyesalan karena salah langkah;4) Membuat diri yakin akan keputusan yang diambil;5) Menjaga harta dan darah kaum muslimin;6) Membuat jiwa lebih tenang dan sehat secara psikologis;7) Mengenyahkan takhayul dan asumsi nisbi.Dan tentu saja masih banyak hikmah lainnya dari asas ini. Tentu saja penulis mengajak seluruh pembaca untuk menerapkan asas ini dalam berkehidupan, terlebih lagi dalam konteks dakwah dan menghadapi perselisihan. Dengan menahan diri untuk bersikap reaktif, kita berarti mencegah munculnya permasalahan atau setidaknya meminimalisir dampak. Jangan tergoda dengan manisnya viral dan perputaran uang di dalamnya. Hanya karena mengejar momen viral, berita ramai, dan juga gosip terpanas, kita semangat meresponnya tanpa melakukan tatsabbut wa tabayyun. Kalaupun Allah takdirkan kita jatuh ke dalam kesalahan ketika merespons, maka bersegeralah kembali rujuk kepada kebenaran. Karena rujuk kepada kebenaran itu lebih dekat kepada kebaikan.[Bersambung]Kembali ke bagian 11 Lanjut ke bagian 13***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleKapan harus tatsabbut wa tabayyun?Dampak dari tidak crosscheckKeteladanan dalam tatsabbut wa tabayyunSiap mengakui kesalahanHikmah tatsabbutCepatnya informasi berkembang menuntut seorang muslim, khususnya para dai, untuk merespon beragam perkara. Jelas di dalamnya terdapat urgensi karena umat menuntut jawaban atas kerancuan atau juga pemberitaan akan seseorang. Namun, di satu sisi ada racun yang teramat bahaya dalam keadaan ini jika seorang dai tidak berhati-hati. Informasi yang tidak valid, atau bukan realitas yang terdistorsi, tentu akan berdampak kepada respon yang dikeluarkan. Oleh karena itu, penting sekali bagi seorang muslim khususnya yang terjun di medan dakwah untuk mengenal manhaj at-tatsabbut ini.Kapan harus tatsabbut wa tabayyun?Dalam Syarah Hilyah Thalibil Ilmi, Syekh Utsaimin rahimahullah menjelaskan,هذا أهم ما يكون في هذه الآداب، وهو التثبت فيما يُنْقَلُ من الأَخْبَارِ، والتثبت فيما يصدرُ مِنْكَ من الأحكام، فالأَخْبَارُ إذا نُقِلَتْ فَلا بُدَّ أن تَتَثَبَّتَ أولا : هل صَحَتْ عَمَّنْ نُقِلَتْ إليه أو لا؟ ثم إذا صَحَّتْ فلا تَحْكُم بل تَتَبَّتْ في الحكم، فربما يكون الخبرُ مَبْنِيًّا على أَصْلٍ تَجْهَلُهُ أَنْتَ، فتحكم أنه خطأ، والواقع أنه ليس خطأ“Ini adalah perkara terpenting dalam adab-adab tersebut, yaitu ber-tatsabbut (meneliti dan memastikan) terhadap berita yang disampaikan, serta ber-tatsabbut terhadap keputusan yang keluar darimu. Ketika sebuah berita disampaikan, maka engkau harus terlebih dahulu memastikan: apakah berita tentang seseorang itu memang benar? Kemudian, bila ternyata berita itu benar, engkau tetap tidak boleh langsung memutuskan hukum, tetapi harus ber-tatsabbut dalam menetapkan hukum. Sebab boleh jadi berita tersebut dibangun di atas suatu dasar yang tidak engkau ketahui, lalu engkau menyimpulkan bahwa hal itu salah, padahal kenyataannya tidak salah.”Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa tatsabbut itu setidaknya pada dua tempat: (1) berita dan pembawa beritanya, (2) cara menghukuminya. Solusinya menurut beliau adalah hendaknya kita menghubungi orang yang dikabarkan tersebut dan lakukan verifikasi padanya (tabayyun). Dengan demikian, kita akan mengetahui alasan di balik “mengapa orang tersebut melakukannya?”Dampak dari tidak crosscheckAllah ﷻ mengaitkan perintah untuk tatsabbut wa tabayyun dengan konsekuensi fatal jika hal ini tidak dilakukan. Dua dampak besar yang dapat ditimbulkan dari hal ini adalah:1) Menimpakan kezaliman kepada orang lain.2) Menimbulkan penyesalan di kemudian hari.Syekh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bentuk riil dari dua konsekuensi tersebut. Beliau menerangkan dalam tafsirnya bahwa tatsabbut wa tabayyun adalah akhlak orang yang cerdas. Jika hal ini tidak dilakukan, maka konsekuensinya besar sekali. Konsekuensi tersebut dapat berupa tumpahnya darah kaum muslimin semisal qadzaf (tuduhan zina) ataupun peperangan. Tentu hal ini akan menimbulkan penyesalan luar biasa.Berikut penjelasannya,من الآداب التي على أولي الألباب، التأدب بها واستعمالها، وهو أنه إذا أخبرهم فاسق بخبر أن يتثبتوا في خبره، ولا يأخذوه مجردًا، فإن في ذلك خطرًا كبيرًا، ووقوعًا في الإثم،Di antara adab yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang berakal –yang wajib mereka terapkan dan amalkan–adalah bahwa apabila seorang fasik mengabarkan suatu berita, mereka harus ber-tatsabbut (meneliti dan memastikan) terhadap beritanya. Mereka tidak boleh menerimanya begitu saja, karena dalam hal itu terdapat bahaya besar dan dapat menjerumuskan pada dosa.فإن خبره إذا جعل بمنزلة خبر الصادق العدل، حكم بموجب ذلك ومقتضاه، فحصل من تلف النفوس والأموال، بغير حق، بسبب ذلك الخبر ما يكون سببًا للندامة،Sebab jika berita orang fasik diperlakukan seperti berita orang yang jujur dan adil, lalu diputuskan hukum berdasarkan berita itu dan konsekuensinya, maka dapat terjadi hilangnya nyawa atau harta tanpa hak hanya karena berita tersebut, yang pada akhirnya menjadi sebab penyesalan.Hal ini sebagaimana konteks diturunkannya QS. Al-Hujurat: 6 yang dinukilkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Kisah tersebut berkaitan dengan Al-Walid bin Uqbah yang diutus untuk mengambil zakat dari Bani Mustaliq. Dia melihat bahwa Bani Mustaliq telah mempersiapkan hewan ternak ketika ia datang. Ia kembali ke sisi Nabi ﷺ dan mengatakan bahwa Bani Mustaliq telah bersiap perang dengan Nabi ﷺ. Lalu, Nabi ﷺ melakukan crosscheck dengan mengirim Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu. Kemudian, Nabi ﷺ pun mendapatkan kabar dari Khalid bahwa berita itu tidak valid. Bani Mustaliq ternyata justru menyiapkan hewan ternak itu untuk dijadikan harta zakat.Bayangkan apa yang terjadi jika Nabi ﷺ menerima mentah-mentah berita dari Al-Walid bin Uqbah?! Tentu bisa saja terjadi pertumpahan darah dan peperangan di antara kaum muslimin. Namun, Nabi ﷺ tidak semata-mata polos dan menerima begitu saja. Beliau bahkan mengirimkan utusan lain untuk mengecek kebenaran berita itu. Lihatlah betapa besar usaha Nabi ﷺ untuk melakukan crosscheck atas berita tersebut?! Maka, inilah harga validitas berita. Ia dibayar dengan perjalanan panjang, harta, dan waktu yang lama.Sangat berbeda keadaan Nabi ﷺ dengan realitas di zaman ini. Dimana berita sensasional cepat sekali diterima dan disebarkan hanya karena sesuai dengan hawa nafsu. Tidak dilakukan proses crosscheck terlebih dahulu. Akhirnya, timbul banyak berita simpang siur, hoax, dan fitnah yang menyebabkan perselisihan luar biasa di kalangan kaum muslimin.Apalagi dengan kemajuan zaman yang menjadikan teknologi saat ini dapat membuat tampilan berita sangat realistis. Ada teknologi AI, editing canggih, dan lain sebagainya yang sangat sulit untuk dibedakan antara kebenaran dengan kebohongan. Hal yang lebih aneh lagi adalah tren “timpa teks” di kalangan anak muda dalam rangka bercanda. Mereka akan mengedit sebuah berita atau gambar asli dengan teks yang sudah dimanipulasi tetapi dengan desain yang sangat mirip, lalu menyebarkannya seakan-akan ini berita asli. Hal ini adalah kedustaan yang teramat buruk. Rasulullah ﷺ bersabda,وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ“Celakalah bagi yang berbicara lantas berdusta hanya karena ingin membuat suatu kaum tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Daud no. 4990 dan Tirmidzi no. 3315. Al-Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadis ini hasan)Realita zaman ini, semakin menekankan wajibnya manhaj tatsabbut wa tabayyun dalam berbagai perkara. Khususnya para dai dan penuntut ilmu umumnya, karena kebanyakan dari mereka adalah corong umat. Jangan sampai terjebak kepada semangat ingin mengikuti tren, sehingga mengorbankan kevalidan berita yang sedang dibahas. Di era disrupsi, berita cepat sekali menyebar dan juga berubah. Kita sangat sulit untuk melihat mana yang benar dan yang salah. Maka, berhati-hatilah dalam merespon berita yang ada.Keteladanan dalam tatsabbut wa tabayyunTeladanilah Syekh Bin Baz rahimahullah dalam hal ini! Apabila Syekh hendak menjawab sebuah konsultasi semisal pengaduan seorang suami tentang istrinya, atau sebaliknya, beliau sebelum menjawab akan menyatakan, “Jika memang benar apa yang disampaikan, maka….” Artinya, Syekh memberi persyaratan bahwa arahan ini untuk kondisi jika memang benar itu yang terjadi. Karena Syekh Bin Baz tidak mengambil keputusan dan bersikap hanya berdasarkan pengakuan satu pihak saja.Beliau juga terkenal sebagai mufti yang apabila mendapati sebuah perkataan dari seseorang, semisal alim yang menurut beliau tidak tepat, maka beliau pastikan terlebih dahulu perkataan tersebut. Setelah dipastikan bahwa memang tidak tepat, kemudian beliau mengirimkan nasihat dengan penuh lemah lembut. Adapun jika beliau tidak mampu menjangkau ulama tersebut, maka beliau akan memaknainya dengan makna paling positif. (Biografi Imam Ibn Baz terbitan Salaf lil Buhuts wad Dirasah https://salafcenter.org/6121/)Keteladanan yang paling utama tentu datang dari Nabi ﷺ. Ketika menghadapi kasus Maiz yang berzina, beliau terus memastikan pengakuan Maiz tersebut. Hal ini dalam konteks kehakiman adalah karena hukuman yang ditegakkan sangat bergantung kepada pengakuan maupun bukti. Sedangkan konsekuensi hukumannya tak main-main, yakni eksekusi mati. Qadhi ‘Iyadh menjelaskan riwayat Maiz tersebut,وكان ترديدُ النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم له إذا لم يَقُمْ عليه بيِّنةٌ إلَّا لإقرارِه واستِبرائِه في إقرارِه، وتَثَبُّتًا في أمرِه، ورجاءً لرُجوعِه عن قَولِه، أو لتمامِ اعتِرافِهـ“Pengulangan pertanyaan Nabi ﷺ kepadanya, ketika tidak ada bukti yang menegakkan (perkara tersebut) kecuali pengakuannya, hanyalah untuk memastikan (kebenaran) pengakuannya, membersihkan (kemungkinan keraguan) dalam pengakuannya, melakukan tsabbut (penelitian dan kehati-hatian) dalam urusannya, serta berharap agar ia menarik kembali ucapannya atau agar pengakuannya menjadi sempurna. (Ikmalul Mulim Syarah Shahih Muslim, 5: 516)Tentu Nabi ﷺ adalah orang yang paling valid informasinya di dunia ini. Karena satu-satunya yang punya jalinan komunikasi khusus kepada Al-Haq adalah Nabi ﷺ. Namun, dalam banyak perkara, Allah ﷻ menyuruh Nabi ﷺ atau menggerakkan Nabi ﷺ untuk ber-tatsabbut wa tabayyun. Contoh dalam kasus Maiz ini, juga kisah haditsul ifki kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha, dan lainnya. Tujuannya agar memberikan keteladanan kepada umat untuk bersikap tatsabbut dalam berkehidupan.Siap mengakui kesalahanSalah satu hal penting yang patut kita pegang dari penjelasan Ibnu Utsaimin adalah hal berikut,فإن كان على حَقٌّ وصواب فترجع إليه. أو يكون الصواب معك فيرجع إليك“Apabila orang itu yang benar, maka anda harus kembali (rujuk) kepada kebenaran yang ada padanya. Atau bisa jadi kebenaran bersama anda, maka orang itu pun harus kembali (rujuk) kepada kebenaran yang bersama anda itu.” (Syarah Hilyah Thalibil Ilmi, cet. Muassasah Syekh Ibnu Utsaimin, hal. 74)Kita pasti melakukan kesalahan sebagai Bani Adam. Termasuk dalam merespon suatu perkara. Sebaik apapun kita menjalankan kehidupan dengan berasaskan tatsabbut wa tabayyun, pasti adakalanya kita akan terjegal dengan kelalaian. Maka, penting sekali bagi kita dan lisan kita untuk mengakui kesalahan.Tujuan seorang muslim berdakwah atau sampai berselisih adalah untuk meraih kebenaran. Termasuk sikap adil adalah mengakui kebenaran dimanapun ia berada. Baik kebenaran itu ada di diri sendiri, maupun berada di pihak lain. Maka, wajib bagi seorang muslim untuk rela rujuk dari kesalahan.Sebagian dari kita tentu merasa sulit mengakui kesalahan sendiri. Karena hal ini memalukan, menunjukkan kelalaian dan kelemahan kita. Namun, mental seorang muslim tidaklah demikian. Perhatikanlah! Mengapa Allah ﷻ melalui lisan Nabi ﷺ harus menyampaikan hadis ini kepada umat?كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ“Semua Bani Adam sering melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang sering melakukan kesalahan adalah yang sering bertobat.” (HR. Ibnu Majah, at-Tirmidzi, dan lain-lain. Hadis ini hasan, menurut penilaian al-Albani rahimahullah)Allah ﷻ menetapkan sifat esensial dari manusia adalah melakukan kesalahan. Tujuannya adalah agar kita memaklumi dan merasa lebih ringan ketika melakukan kesalahan. Tujuan lainnya adalah agar kita tidak tenggelam dalam keputusasaan. Sehingga kita mudah rujuk dari kesalahan dan mengakui kebenaran meski pahit untuk melakukannya.Akan tetapi, faktor hasrat manusia yang menghalangi dari sikap rujuk ini, yaitu ego yang tinggi. Para dai atau yang dikenal berilmu di kalangan masyarakat, tentu tantangannya lebih berat untuk mengakui kesalahan. Karena mereka dipandang masyarakat sebagai rujukan, juga memiliki kedudukan di masyarakat. Tentu bebannya lebih berat untuk mengakui kesalahan.Wahai para penyeru kebenaran! Ketahuilah bahwa mengakui kesalahan tidak akan membuat diri rendah. Mengapa? Karena memang demikianlah sifat dasar manusia: melakukan kesalahan. Bacalah kelanjutan dari hadis tersebut,وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ“Dan sebaik-baik yang melakukan kesalahan adalah yang bertobat.”Konsekuensi dari tobat adalah mengakui kesalahan, baik di hadapan Allah ﷻ apalagi yang berkaitan haknya dengan manusia. Kepada kedua pihak sama-sama dituntut untuk mengakui kesalahan. Dan jalan mengakui kesalahan ini adalah jalan yang baik sebagaimana yang disebutkan dalam hadis.Oleh karena itu, seseorang yang melakukan kesalahan setelah tatsabbut terhadap suatu perkara, maka bisa jadi ia mendapatkan dua peluang kebaikan. Dua peluang kebaikan itu adalah:Pertama: Menjalankan perintah tatsabbut dalam merespons.Kedua: Menjalankan perintah mengakui kesalahan.Dan memang tidak ada jaminan bagi orang yang ber-tatsabbut akan selalu benar hasilnya. Karena bisa jadi ada fakta dan realita yang terlewat atau belum tersingkap ketika ia meneliti permasalahan itu. Atau ada faktor kesalahan dirinya yang tak mampu memahami dengan benar jalinan korelasi informasi yang didapatkannya, sementara dirinya telah berusaha keras. Tentu Allah ﷻ tetap akan memberikan nilai atas usaha ini.Hikmah tatsabbutAsas tatsabbut sangat penting sekali bagi seorang muslim utamanya yang berada di garis terdepan menyerukan Islam. Hikmah yang agung di dalamnya semoga dapat menjadi motivasi bagi kita untuk memperjuangkannya:1) Sikap tatsabbut adalah tanda-tanda seorang beriman, sebagaimana yang disebut dalam QS. Al-Hujurat: 62) Meminimalisir kesalahan dan perselisihan dalam kehidupan;3) Menghindarkan diri dari penyesalan karena salah langkah;4) Membuat diri yakin akan keputusan yang diambil;5) Menjaga harta dan darah kaum muslimin;6) Membuat jiwa lebih tenang dan sehat secara psikologis;7) Mengenyahkan takhayul dan asumsi nisbi.Dan tentu saja masih banyak hikmah lainnya dari asas ini. Tentu saja penulis mengajak seluruh pembaca untuk menerapkan asas ini dalam berkehidupan, terlebih lagi dalam konteks dakwah dan menghadapi perselisihan. Dengan menahan diri untuk bersikap reaktif, kita berarti mencegah munculnya permasalahan atau setidaknya meminimalisir dampak. Jangan tergoda dengan manisnya viral dan perputaran uang di dalamnya. Hanya karena mengejar momen viral, berita ramai, dan juga gosip terpanas, kita semangat meresponnya tanpa melakukan tatsabbut wa tabayyun. Kalaupun Allah takdirkan kita jatuh ke dalam kesalahan ketika merespons, maka bersegeralah kembali rujuk kepada kebenaran. Karena rujuk kepada kebenaran itu lebih dekat kepada kebaikan.[Bersambung]Kembali ke bagian 11 Lanjut ke bagian 13***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id

Bertobat Sebelum Terlambat

Daftar Isi ToggleAllah menanti tobat kita setiap saatKisah seorang pembunuh seratus jiwaBahaya menunda tobatSyarat dan tanda tobat yang diterimaKeutamaan tobat di sisi AllahAllah mencintai orang yang bertobatDosa sebesar apa pun dihapuskanTobat mengangkat derajat dan mengubah dosa menjadi amal baikTobat membuka pintu rahmat dan keberuntunganPenyesalan yang tidak ada artinyaSaatnya kembali kepada AllahSetiap manusia pernah salah. Tidak ada satu pun yang benar-benar bersih dari dosa. Namun, perbedaan antara orang yang baik dan yang lalai terletak pada seberapa cepat ia kembali kepada Allah setelah jatuh dalam kesalahan.Dosa sekecil apa pun adalah noda yang menutupi cahaya hati. Ia membuat hati gelap, kaku, dan jauh dari rasa nikmat dalam ibadah. Tetapi, kabar gembiranya: Allah tidak menutup pintu ampunan, tidak peduli sebesar apa dosa itu, selama kita mau kembali kepada-Nya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,قُلْ يَا عِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ“Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sungguh, Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)Ayat ini seperti air sejuk bagi jiwa yang haus ampunan. Ia memeluk orang yang paling berdosa sekalipun, dan berkata, “Selama engkau masih hidup, pulanglah, pintu itu belum tertutup.”Namun, ayat ini juga membawa peringatan lembut, yaitu jangan menunda tobat. Karena waktu tidak akan menunggu kita sadar.Allah menanti tobat kita setiap saatRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di waktu malam agar orang yang berbuat dosa di siang hari bertobat; dan membentangkan tangan-Nya di waktu siang agar orang yang berbuat dosa di malam hari bertobat, hingga matahari terbit dari arah barat.” (HR. Muslim)Bayangkan Tuhan semesta alam, yang tidak butuh apa pun dari kita, justru menanti kita untuk kembali, siang dan malam. Bukankah itu bentuk kasih sayang yang tak terbayangkan?Allah tidak menutup pintu itu. Tapi manusialah yang sering menutupnya sendiri dengan rasa malas, dengan menunda, dengan berkata “nanti saja”.Kisah seorang pembunuh seratus jiwaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan sebuah kisah luar biasa dan kisah ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam Shahihain. Ada seseorang yang telah membunuh 99 jiwa. Ia ingin bertobat, lalu bertanya kepada seorang rahib, “Apakah ada jalan tobat bagiku?”Rahib itu menjawab, “Tidak ada.”Lelaki itu pun membunuhnya, genaplah seratus orang yang ia bunuh.Namun, hatinya belum mati. Ia bertanya lagi tentang orang yang paling alim, dan ditunjukkan kepada seorang ulama. Ulama itu berkata, “Ya, masih ada tobat bagimu! Siapa yang bisa menghalangimu dari rahmat Allah? Tapi tinggalkanlah negerimu yang penuh dosa ini dan pergilah ke negeri lain di mana orang-orangnya beribadah kepada Allah.”Ia pun berangkat. Tapi di tengah jalan, ajal menjemputnya. Malaikat rahmat dan malaikat azab berselisih. Lalu, Allah memerintahkan bumi untuk mendekatkan jasadnya ke arah negeri tujuan. Dan karena ia lebih dekat sejengkal ke arah negeri tobat itu, maka Allah memasukkannya ke dalam rahmat-Nya.Masya Allah… bahkan niat untuk tobat pun memiliki nilai yang besar di sisi Allah.Bahaya menunda tobatMenunda tobat adalah bentuk penipuan terbesar terhadap diri sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ“Sesungguhnya Allah menerima tobat seorang hamba selama nyawa belum sampai di tenggorokan.” (HR. At-Tirmidzi)Kematian tidak memberi peringatan. Ia datang di waktu yang paling tidak kita duga di tengah tawa, di sela rencana, atau bahkan di puncak cita-cita duniawi.Syarat dan tanda tobat yang diterimaPara ulama menjelaskan bahwa tobat yang diterima memiliki beberapa syarat:1) An-Nadam (الندم), yaitu menyesali dosa yang telah dilakukan.2) At-Tark (الترك), yaitu meninggalkan dosa tersebut dengan segera.3) Al-‘Azm (العزم), yaitu bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi.4) Jika dosa berkaitan dengan hak manusia, maka wajib mengembalikan haknya atau meminta maaf.Keutamaan tobat di sisi AllahAllah mencintai orang yang bertobatAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)Dosa sebesar apa pun dihapuskanRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ“Orang yang bertobat dari dosa bagaikan orang yang tidak memiliki dosa sama sekali.” (HR. Ibnu Majah)Tobat mengangkat derajat dan mengubah dosa menjadi amal baikAllah Ta’ala berfirman,فَأُو۟لَٰٓئِكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِهِمْ حَسَنَـٰتٍ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًۭا رَّحِيمًۭا“Maka mereka itu, Allah akan mengganti keburukan-keburukan mereka dengan kebaikan.” (QS. Al-Furqan: 70)Tobat membuka pintu rahmat dan keberuntunganAllah Ta’ala berfirman,وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Bertobatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang beriman, agar kalian beruntung.” (QS. An-Nur: 31)Penyesalan yang tidak ada artinyaAllah menggambarkan penyesalan orang yang terlambat bertobat dalam firman-Nya,رَبِّ لَوْلَآ أَخَّرْتَنِي إِلَىٰٓ أَجَلٍۢ قَرِيبٍۢ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ“Ya Rabbku, sekiranya Engkau beri tangguh aku sedikit waktu lagi, niscaya aku akan bersedekah dan termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al-Munafiqun: 10)Namun, penyesalan itu datang ketika pintu tobat telah tertutup. Sungguh, tidak ada penyesalan yang lebih pedih daripada menyadari kesempatan sudah berlalu selamanya.Saatnya kembali kepada AllahKita tidak tahu kapan ajal menjemput. Mungkin besok. Mungkin malam ini. Oleh karena itu, jangan menunggu “sempat”, “nanti”, atau “sudah tua”. Tobat itu sekarang.Tobat bukan tanda kelemahan, tapi tanda kesadaran dan keberanian spiritual. Ia adalah bukti cinta kepada Allah, bukti bahwa hati masih hidup. Maka, pulanglah sebelum terlambat.Air mata penyesalan yang jatuh hari ini, bisa jadi penyelamat kita di hari akhir.اللهم تب علينا توبةً نصوحًا، تمحو بها ذنوبنا، وتُطهِّر بها قلوبنا، وتختم بها حياتنا بحسن الخاتمة.“Ya Allah, terimalah tobat kami dengan taubat nasuha. Hapuslah dosa-dosa kami, sucikan hati kami, dan tutuplah hidup kami dengan husnul khatimah.”Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Apakah Tobatnya Pembunuh Diterima oleh Allah?***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Bertobat Sebelum Terlambat

Daftar Isi ToggleAllah menanti tobat kita setiap saatKisah seorang pembunuh seratus jiwaBahaya menunda tobatSyarat dan tanda tobat yang diterimaKeutamaan tobat di sisi AllahAllah mencintai orang yang bertobatDosa sebesar apa pun dihapuskanTobat mengangkat derajat dan mengubah dosa menjadi amal baikTobat membuka pintu rahmat dan keberuntunganPenyesalan yang tidak ada artinyaSaatnya kembali kepada AllahSetiap manusia pernah salah. Tidak ada satu pun yang benar-benar bersih dari dosa. Namun, perbedaan antara orang yang baik dan yang lalai terletak pada seberapa cepat ia kembali kepada Allah setelah jatuh dalam kesalahan.Dosa sekecil apa pun adalah noda yang menutupi cahaya hati. Ia membuat hati gelap, kaku, dan jauh dari rasa nikmat dalam ibadah. Tetapi, kabar gembiranya: Allah tidak menutup pintu ampunan, tidak peduli sebesar apa dosa itu, selama kita mau kembali kepada-Nya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,قُلْ يَا عِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ“Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sungguh, Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)Ayat ini seperti air sejuk bagi jiwa yang haus ampunan. Ia memeluk orang yang paling berdosa sekalipun, dan berkata, “Selama engkau masih hidup, pulanglah, pintu itu belum tertutup.”Namun, ayat ini juga membawa peringatan lembut, yaitu jangan menunda tobat. Karena waktu tidak akan menunggu kita sadar.Allah menanti tobat kita setiap saatRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di waktu malam agar orang yang berbuat dosa di siang hari bertobat; dan membentangkan tangan-Nya di waktu siang agar orang yang berbuat dosa di malam hari bertobat, hingga matahari terbit dari arah barat.” (HR. Muslim)Bayangkan Tuhan semesta alam, yang tidak butuh apa pun dari kita, justru menanti kita untuk kembali, siang dan malam. Bukankah itu bentuk kasih sayang yang tak terbayangkan?Allah tidak menutup pintu itu. Tapi manusialah yang sering menutupnya sendiri dengan rasa malas, dengan menunda, dengan berkata “nanti saja”.Kisah seorang pembunuh seratus jiwaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan sebuah kisah luar biasa dan kisah ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam Shahihain. Ada seseorang yang telah membunuh 99 jiwa. Ia ingin bertobat, lalu bertanya kepada seorang rahib, “Apakah ada jalan tobat bagiku?”Rahib itu menjawab, “Tidak ada.”Lelaki itu pun membunuhnya, genaplah seratus orang yang ia bunuh.Namun, hatinya belum mati. Ia bertanya lagi tentang orang yang paling alim, dan ditunjukkan kepada seorang ulama. Ulama itu berkata, “Ya, masih ada tobat bagimu! Siapa yang bisa menghalangimu dari rahmat Allah? Tapi tinggalkanlah negerimu yang penuh dosa ini dan pergilah ke negeri lain di mana orang-orangnya beribadah kepada Allah.”Ia pun berangkat. Tapi di tengah jalan, ajal menjemputnya. Malaikat rahmat dan malaikat azab berselisih. Lalu, Allah memerintahkan bumi untuk mendekatkan jasadnya ke arah negeri tujuan. Dan karena ia lebih dekat sejengkal ke arah negeri tobat itu, maka Allah memasukkannya ke dalam rahmat-Nya.Masya Allah… bahkan niat untuk tobat pun memiliki nilai yang besar di sisi Allah.Bahaya menunda tobatMenunda tobat adalah bentuk penipuan terbesar terhadap diri sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ“Sesungguhnya Allah menerima tobat seorang hamba selama nyawa belum sampai di tenggorokan.” (HR. At-Tirmidzi)Kematian tidak memberi peringatan. Ia datang di waktu yang paling tidak kita duga di tengah tawa, di sela rencana, atau bahkan di puncak cita-cita duniawi.Syarat dan tanda tobat yang diterimaPara ulama menjelaskan bahwa tobat yang diterima memiliki beberapa syarat:1) An-Nadam (الندم), yaitu menyesali dosa yang telah dilakukan.2) At-Tark (الترك), yaitu meninggalkan dosa tersebut dengan segera.3) Al-‘Azm (العزم), yaitu bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi.4) Jika dosa berkaitan dengan hak manusia, maka wajib mengembalikan haknya atau meminta maaf.Keutamaan tobat di sisi AllahAllah mencintai orang yang bertobatAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)Dosa sebesar apa pun dihapuskanRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ“Orang yang bertobat dari dosa bagaikan orang yang tidak memiliki dosa sama sekali.” (HR. Ibnu Majah)Tobat mengangkat derajat dan mengubah dosa menjadi amal baikAllah Ta’ala berfirman,فَأُو۟لَٰٓئِكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِهِمْ حَسَنَـٰتٍ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًۭا رَّحِيمًۭا“Maka mereka itu, Allah akan mengganti keburukan-keburukan mereka dengan kebaikan.” (QS. Al-Furqan: 70)Tobat membuka pintu rahmat dan keberuntunganAllah Ta’ala berfirman,وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Bertobatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang beriman, agar kalian beruntung.” (QS. An-Nur: 31)Penyesalan yang tidak ada artinyaAllah menggambarkan penyesalan orang yang terlambat bertobat dalam firman-Nya,رَبِّ لَوْلَآ أَخَّرْتَنِي إِلَىٰٓ أَجَلٍۢ قَرِيبٍۢ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ“Ya Rabbku, sekiranya Engkau beri tangguh aku sedikit waktu lagi, niscaya aku akan bersedekah dan termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al-Munafiqun: 10)Namun, penyesalan itu datang ketika pintu tobat telah tertutup. Sungguh, tidak ada penyesalan yang lebih pedih daripada menyadari kesempatan sudah berlalu selamanya.Saatnya kembali kepada AllahKita tidak tahu kapan ajal menjemput. Mungkin besok. Mungkin malam ini. Oleh karena itu, jangan menunggu “sempat”, “nanti”, atau “sudah tua”. Tobat itu sekarang.Tobat bukan tanda kelemahan, tapi tanda kesadaran dan keberanian spiritual. Ia adalah bukti cinta kepada Allah, bukti bahwa hati masih hidup. Maka, pulanglah sebelum terlambat.Air mata penyesalan yang jatuh hari ini, bisa jadi penyelamat kita di hari akhir.اللهم تب علينا توبةً نصوحًا، تمحو بها ذنوبنا، وتُطهِّر بها قلوبنا، وتختم بها حياتنا بحسن الخاتمة.“Ya Allah, terimalah tobat kami dengan taubat nasuha. Hapuslah dosa-dosa kami, sucikan hati kami, dan tutuplah hidup kami dengan husnul khatimah.”Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Apakah Tobatnya Pembunuh Diterima oleh Allah?***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleAllah menanti tobat kita setiap saatKisah seorang pembunuh seratus jiwaBahaya menunda tobatSyarat dan tanda tobat yang diterimaKeutamaan tobat di sisi AllahAllah mencintai orang yang bertobatDosa sebesar apa pun dihapuskanTobat mengangkat derajat dan mengubah dosa menjadi amal baikTobat membuka pintu rahmat dan keberuntunganPenyesalan yang tidak ada artinyaSaatnya kembali kepada AllahSetiap manusia pernah salah. Tidak ada satu pun yang benar-benar bersih dari dosa. Namun, perbedaan antara orang yang baik dan yang lalai terletak pada seberapa cepat ia kembali kepada Allah setelah jatuh dalam kesalahan.Dosa sekecil apa pun adalah noda yang menutupi cahaya hati. Ia membuat hati gelap, kaku, dan jauh dari rasa nikmat dalam ibadah. Tetapi, kabar gembiranya: Allah tidak menutup pintu ampunan, tidak peduli sebesar apa dosa itu, selama kita mau kembali kepada-Nya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,قُلْ يَا عِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ“Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sungguh, Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)Ayat ini seperti air sejuk bagi jiwa yang haus ampunan. Ia memeluk orang yang paling berdosa sekalipun, dan berkata, “Selama engkau masih hidup, pulanglah, pintu itu belum tertutup.”Namun, ayat ini juga membawa peringatan lembut, yaitu jangan menunda tobat. Karena waktu tidak akan menunggu kita sadar.Allah menanti tobat kita setiap saatRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di waktu malam agar orang yang berbuat dosa di siang hari bertobat; dan membentangkan tangan-Nya di waktu siang agar orang yang berbuat dosa di malam hari bertobat, hingga matahari terbit dari arah barat.” (HR. Muslim)Bayangkan Tuhan semesta alam, yang tidak butuh apa pun dari kita, justru menanti kita untuk kembali, siang dan malam. Bukankah itu bentuk kasih sayang yang tak terbayangkan?Allah tidak menutup pintu itu. Tapi manusialah yang sering menutupnya sendiri dengan rasa malas, dengan menunda, dengan berkata “nanti saja”.Kisah seorang pembunuh seratus jiwaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan sebuah kisah luar biasa dan kisah ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam Shahihain. Ada seseorang yang telah membunuh 99 jiwa. Ia ingin bertobat, lalu bertanya kepada seorang rahib, “Apakah ada jalan tobat bagiku?”Rahib itu menjawab, “Tidak ada.”Lelaki itu pun membunuhnya, genaplah seratus orang yang ia bunuh.Namun, hatinya belum mati. Ia bertanya lagi tentang orang yang paling alim, dan ditunjukkan kepada seorang ulama. Ulama itu berkata, “Ya, masih ada tobat bagimu! Siapa yang bisa menghalangimu dari rahmat Allah? Tapi tinggalkanlah negerimu yang penuh dosa ini dan pergilah ke negeri lain di mana orang-orangnya beribadah kepada Allah.”Ia pun berangkat. Tapi di tengah jalan, ajal menjemputnya. Malaikat rahmat dan malaikat azab berselisih. Lalu, Allah memerintahkan bumi untuk mendekatkan jasadnya ke arah negeri tujuan. Dan karena ia lebih dekat sejengkal ke arah negeri tobat itu, maka Allah memasukkannya ke dalam rahmat-Nya.Masya Allah… bahkan niat untuk tobat pun memiliki nilai yang besar di sisi Allah.Bahaya menunda tobatMenunda tobat adalah bentuk penipuan terbesar terhadap diri sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ“Sesungguhnya Allah menerima tobat seorang hamba selama nyawa belum sampai di tenggorokan.” (HR. At-Tirmidzi)Kematian tidak memberi peringatan. Ia datang di waktu yang paling tidak kita duga di tengah tawa, di sela rencana, atau bahkan di puncak cita-cita duniawi.Syarat dan tanda tobat yang diterimaPara ulama menjelaskan bahwa tobat yang diterima memiliki beberapa syarat:1) An-Nadam (الندم), yaitu menyesali dosa yang telah dilakukan.2) At-Tark (الترك), yaitu meninggalkan dosa tersebut dengan segera.3) Al-‘Azm (العزم), yaitu bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi.4) Jika dosa berkaitan dengan hak manusia, maka wajib mengembalikan haknya atau meminta maaf.Keutamaan tobat di sisi AllahAllah mencintai orang yang bertobatAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)Dosa sebesar apa pun dihapuskanRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ“Orang yang bertobat dari dosa bagaikan orang yang tidak memiliki dosa sama sekali.” (HR. Ibnu Majah)Tobat mengangkat derajat dan mengubah dosa menjadi amal baikAllah Ta’ala berfirman,فَأُو۟لَٰٓئِكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِهِمْ حَسَنَـٰتٍ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًۭا رَّحِيمًۭا“Maka mereka itu, Allah akan mengganti keburukan-keburukan mereka dengan kebaikan.” (QS. Al-Furqan: 70)Tobat membuka pintu rahmat dan keberuntunganAllah Ta’ala berfirman,وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Bertobatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang beriman, agar kalian beruntung.” (QS. An-Nur: 31)Penyesalan yang tidak ada artinyaAllah menggambarkan penyesalan orang yang terlambat bertobat dalam firman-Nya,رَبِّ لَوْلَآ أَخَّرْتَنِي إِلَىٰٓ أَجَلٍۢ قَرِيبٍۢ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ“Ya Rabbku, sekiranya Engkau beri tangguh aku sedikit waktu lagi, niscaya aku akan bersedekah dan termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al-Munafiqun: 10)Namun, penyesalan itu datang ketika pintu tobat telah tertutup. Sungguh, tidak ada penyesalan yang lebih pedih daripada menyadari kesempatan sudah berlalu selamanya.Saatnya kembali kepada AllahKita tidak tahu kapan ajal menjemput. Mungkin besok. Mungkin malam ini. Oleh karena itu, jangan menunggu “sempat”, “nanti”, atau “sudah tua”. Tobat itu sekarang.Tobat bukan tanda kelemahan, tapi tanda kesadaran dan keberanian spiritual. Ia adalah bukti cinta kepada Allah, bukti bahwa hati masih hidup. Maka, pulanglah sebelum terlambat.Air mata penyesalan yang jatuh hari ini, bisa jadi penyelamat kita di hari akhir.اللهم تب علينا توبةً نصوحًا، تمحو بها ذنوبنا، وتُطهِّر بها قلوبنا، وتختم بها حياتنا بحسن الخاتمة.“Ya Allah, terimalah tobat kami dengan taubat nasuha. Hapuslah dosa-dosa kami, sucikan hati kami, dan tutuplah hidup kami dengan husnul khatimah.”Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Apakah Tobatnya Pembunuh Diterima oleh Allah?***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleAllah menanti tobat kita setiap saatKisah seorang pembunuh seratus jiwaBahaya menunda tobatSyarat dan tanda tobat yang diterimaKeutamaan tobat di sisi AllahAllah mencintai orang yang bertobatDosa sebesar apa pun dihapuskanTobat mengangkat derajat dan mengubah dosa menjadi amal baikTobat membuka pintu rahmat dan keberuntunganPenyesalan yang tidak ada artinyaSaatnya kembali kepada AllahSetiap manusia pernah salah. Tidak ada satu pun yang benar-benar bersih dari dosa. Namun, perbedaan antara orang yang baik dan yang lalai terletak pada seberapa cepat ia kembali kepada Allah setelah jatuh dalam kesalahan.Dosa sekecil apa pun adalah noda yang menutupi cahaya hati. Ia membuat hati gelap, kaku, dan jauh dari rasa nikmat dalam ibadah. Tetapi, kabar gembiranya: Allah tidak menutup pintu ampunan, tidak peduli sebesar apa dosa itu, selama kita mau kembali kepada-Nya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,قُلْ يَا عِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ“Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sungguh, Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)Ayat ini seperti air sejuk bagi jiwa yang haus ampunan. Ia memeluk orang yang paling berdosa sekalipun, dan berkata, “Selama engkau masih hidup, pulanglah, pintu itu belum tertutup.”Namun, ayat ini juga membawa peringatan lembut, yaitu jangan menunda tobat. Karena waktu tidak akan menunggu kita sadar.Allah menanti tobat kita setiap saatRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di waktu malam agar orang yang berbuat dosa di siang hari bertobat; dan membentangkan tangan-Nya di waktu siang agar orang yang berbuat dosa di malam hari bertobat, hingga matahari terbit dari arah barat.” (HR. Muslim)Bayangkan Tuhan semesta alam, yang tidak butuh apa pun dari kita, justru menanti kita untuk kembali, siang dan malam. Bukankah itu bentuk kasih sayang yang tak terbayangkan?Allah tidak menutup pintu itu. Tapi manusialah yang sering menutupnya sendiri dengan rasa malas, dengan menunda, dengan berkata “nanti saja”.Kisah seorang pembunuh seratus jiwaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan sebuah kisah luar biasa dan kisah ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam Shahihain. Ada seseorang yang telah membunuh 99 jiwa. Ia ingin bertobat, lalu bertanya kepada seorang rahib, “Apakah ada jalan tobat bagiku?”Rahib itu menjawab, “Tidak ada.”Lelaki itu pun membunuhnya, genaplah seratus orang yang ia bunuh.Namun, hatinya belum mati. Ia bertanya lagi tentang orang yang paling alim, dan ditunjukkan kepada seorang ulama. Ulama itu berkata, “Ya, masih ada tobat bagimu! Siapa yang bisa menghalangimu dari rahmat Allah? Tapi tinggalkanlah negerimu yang penuh dosa ini dan pergilah ke negeri lain di mana orang-orangnya beribadah kepada Allah.”Ia pun berangkat. Tapi di tengah jalan, ajal menjemputnya. Malaikat rahmat dan malaikat azab berselisih. Lalu, Allah memerintahkan bumi untuk mendekatkan jasadnya ke arah negeri tujuan. Dan karena ia lebih dekat sejengkal ke arah negeri tobat itu, maka Allah memasukkannya ke dalam rahmat-Nya.Masya Allah… bahkan niat untuk tobat pun memiliki nilai yang besar di sisi Allah.Bahaya menunda tobatMenunda tobat adalah bentuk penipuan terbesar terhadap diri sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ“Sesungguhnya Allah menerima tobat seorang hamba selama nyawa belum sampai di tenggorokan.” (HR. At-Tirmidzi)Kematian tidak memberi peringatan. Ia datang di waktu yang paling tidak kita duga di tengah tawa, di sela rencana, atau bahkan di puncak cita-cita duniawi.Syarat dan tanda tobat yang diterimaPara ulama menjelaskan bahwa tobat yang diterima memiliki beberapa syarat:1) An-Nadam (الندم), yaitu menyesali dosa yang telah dilakukan.2) At-Tark (الترك), yaitu meninggalkan dosa tersebut dengan segera.3) Al-‘Azm (العزم), yaitu bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi.4) Jika dosa berkaitan dengan hak manusia, maka wajib mengembalikan haknya atau meminta maaf.Keutamaan tobat di sisi AllahAllah mencintai orang yang bertobatAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)Dosa sebesar apa pun dihapuskanRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ“Orang yang bertobat dari dosa bagaikan orang yang tidak memiliki dosa sama sekali.” (HR. Ibnu Majah)Tobat mengangkat derajat dan mengubah dosa menjadi amal baikAllah Ta’ala berfirman,فَأُو۟لَٰٓئِكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِهِمْ حَسَنَـٰتٍ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًۭا رَّحِيمًۭا“Maka mereka itu, Allah akan mengganti keburukan-keburukan mereka dengan kebaikan.” (QS. Al-Furqan: 70)Tobat membuka pintu rahmat dan keberuntunganAllah Ta’ala berfirman,وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Bertobatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang beriman, agar kalian beruntung.” (QS. An-Nur: 31)Penyesalan yang tidak ada artinyaAllah menggambarkan penyesalan orang yang terlambat bertobat dalam firman-Nya,رَبِّ لَوْلَآ أَخَّرْتَنِي إِلَىٰٓ أَجَلٍۢ قَرِيبٍۢ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ“Ya Rabbku, sekiranya Engkau beri tangguh aku sedikit waktu lagi, niscaya aku akan bersedekah dan termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al-Munafiqun: 10)Namun, penyesalan itu datang ketika pintu tobat telah tertutup. Sungguh, tidak ada penyesalan yang lebih pedih daripada menyadari kesempatan sudah berlalu selamanya.Saatnya kembali kepada AllahKita tidak tahu kapan ajal menjemput. Mungkin besok. Mungkin malam ini. Oleh karena itu, jangan menunggu “sempat”, “nanti”, atau “sudah tua”. Tobat itu sekarang.Tobat bukan tanda kelemahan, tapi tanda kesadaran dan keberanian spiritual. Ia adalah bukti cinta kepada Allah, bukti bahwa hati masih hidup. Maka, pulanglah sebelum terlambat.Air mata penyesalan yang jatuh hari ini, bisa jadi penyelamat kita di hari akhir.اللهم تب علينا توبةً نصوحًا، تمحو بها ذنوبنا، وتُطهِّر بها قلوبنا، وتختم بها حياتنا بحسن الخاتمة.“Ya Allah, terimalah tobat kami dengan taubat nasuha. Hapuslah dosa-dosa kami, sucikan hati kami, dan tutuplah hidup kami dengan husnul khatimah.”Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Apakah Tobatnya Pembunuh Diterima oleh Allah?***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Empat Kebahagiaan dan Empat Kesengsaraan

أربع من السعادة .. وأربع من الشقاء Oleh: Hasan Abdul Hayyi حسن عبدالحي روى ابنُ حبَّان في “صحيحه”، والحاكمُ في “المستدرك”، والطبراني في “الكبير” و”الأوسط”، والبيهقيُّ في “الشُّعَب”، وغيرُهم عن سعد بن أبي وقاص – رضِي الله عنه – عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أنه قال: ((أربعٌ من السعادة: المرأةُ الصالحة، والمسكنُ الواسِع، والجارُ الصالح، والمَرْكَب الهنيء، وأربعٌ من الشقاء: المرأة السوء، والجار السوء، والمركب السوء، والمسكن الضيِّق))، وأخرَجَه كذلك أحمد مُختَصَرًا، وقال الألباني في “السلسلة الصحيحة” مُعَلِّقًا على رواية ابن حبَّان: هذا سند صحيح على شرط الشيخين. وهذا الخبر النبوي الكريم قد تضمَّن جُمَلاً من الفوائد والمعارف، كما حثَّ على بعض الأمور الجالِبَة للفرح والسعادة، وحذَّر من أضدادها المقتضِيَة للمَتاعِب والشَّقاوَة. Ibnu Hibban meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih, Al-Hakim dalam kitabnya Al-Mustadrak, Ath-Thabrani dalam kitabnya Al-Kabir dan Al-Awsath, Al-Baihaqi dalam kitabnya Asy-Syu’ab, dan perawi lainnya, dari Saad bin Abi Waqqash Radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bahwa beliau bersabda: أَرْبَعٌ مِنْ السَّعَادَةِ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ، وَأَرْبَعٌ مِنْ الشَّقَاءِ: الْمَرْأَةُ السُّوءُ، وَالْجَارُ السُّوءُ، وَالْمَرْكَبُ السُّوءُ، وَالْمَسْكَنُ الضَّيِّقُ “Ada empat hal yang termasuk kebahagiaan, istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang saleh, dan kendaraan yang nyaman, dan ada empat hal yang termasuk kesengsaraan, istri yang berperangai buruk, tetangga yang berperangai buruk, kendaraan yang buruk, dan tempat tinggal yang sempit.” Hadis ini diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad secara singkat. Al-Albani mengatakan dalam kitab As-Silsilah ash-Shahihah saat mengomentari riwayat Ibnu Hibban, “Hadis ini sanadnya shahih sesuai dengan kriteria Al-Bukhari dan Muslim.” Hadis Nabi yang mulia ini mengandung beberapa faedah dan ilmu, juga mengandung dorongan untuk berusaha meraih hal-hal yang dapat mengundang kebahagiaan dan kesenangan, sekaligus peringatan dari hal-hal sebaliknya yang dapat menyebabkan penderitaan dan kesengsaraan. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((أربعٌ من السعادة))؛ أي: كلُّ أمرٍ من هذه الأمور الأربعة فيه سعادةٌ لصاحبه، وسرُّ هذه السعادة أنَّ كلَّ أمرٍ من هذه الأمور الأربعة مُلازِم للإنسان؛ فلا يُفارِقه الإنسان تقريبًا إلا ويَعُود إليه مرَّة أخرى، فصُحبة الزوجة أو المسكن، أو الجار أو المركب، صُحبة حياة وملازمة دائمة. وهذه السعادة وإن كانت سعادة دنيويَّة وثمرتها عاجلة، إلاَّ أنَّ أسبابها ووجودها من أعظم ما يُعِين العبدَ على أمرِ دينه وآخرته Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam “Ada empat hal yang termasuk kebahagiaan” yakni empat perkara ini masing-masing mengandung kebahagiaan bagi pemiliknya. Rahasia dari kebahagiaan ini adalah karena setiap perkara tersebut senantiasa menyertai manusia. Hampir setiap orang yang meninggalkan perkara-perkara itu melainkan akan menyertainya kembali, penyertaan istri, tempat tinggal, tetangga, atau kendaraan terhadap seseorang adalah penyertaan sepanjang hidup dan terus menerus. Meskipun kebahagiaan ini merupakan kebahagiaan duniawi dan manfaatnya hanya sementara, hanya saja keberadaannya menjadi salah satu faktor terbesar dalam menyokong seorang hamba dalam menjalankan urusan agama dan akhiratnya. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((المرأة الصالحة)): فالمرأة الصالحة خيرُ مَتاع الدنيا، كما قال – صلى الله عليه وسلم -: ((الدنيا كلُّها مَتاع، وخير مَتاع الدنيا المرأة الصالحة))؛ أخرجه مسلم وغيره من حديث عبدالله بن عمرو، وفي رواية النسائي وابن ماجه: ((إنما الدنيا مَتاع، وليس من مَتاع الدنيا شيء أفضل من المرأة الصالحة))؛ صحَّحه الألباني في “صحيح الجامع”. فمع كون المرأة الصالحة مَتاعًا دنيويًّا بما تُدخِله على زوجها من سُرُور وبهجة، وبما تحمل معه من هُمُوم ومَشاكِل، فهي كذلك تُعِين زوجَها على أمر الآخرة. وفي رواية الحاكم – رحمه الله تعالى – لهذا الحديث وصَفَها – صلى الله عليه وسلم – بقوله: ((فمن السعادة: المرأة الصالحة، تراها فتُعجِبك، وتَغِيب عنها فتأمنها على نفسها ومالك))؛ أخرجه الحاكم، وحسَّنه الألباني في “صحيح الجامع”. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “istri yang shalihah”. Istri yang shalihah merupakan sebaik-baik kenikmatan dunia, sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam: الدُّنْيَا كُلُُّهَا مَتَاعٌ، وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ “Dunia itu seluruhnya kenikmatan, dan sebaik-baik kenikmatan dunia adalah istri shalihah.” (HR. Muslim dan lainnya dari Abdullah bin Amru. Sedangkan dalam riwayat An-Nasa’i dan Ibnu Majah disebutkan: إنَّمَا الدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَلَيْسَ مِنْ مَتَاعِ الدُّنْيَا شَيْءٌ أَفْضَلُ مِنْ الْمَرْأَةِ الصَّالِحَةِ “Dunia itu isinya kenikmatan, dan tidak ada kenikmatan dunia yang lebih baik daripada istri yang shalihah.” (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). Selain istri yang shalihah itu menjadi kenikmatan duniawi yang dapat menghadirkan kebahagiaan dan keindahan hidup bagi suaminya dan turut membantunya untuk memikul beban dan masalah, ia juga dapat menyokong suaminya untuk menjalankan urusan akhirat. Dalam riwayat Al-Hakim Rahimahullah, disebutkan dalam hadis ini bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam menyebutkan sifat istri shalihah dengan bersabda: فَمِنَ السَّعَادَةِ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، تَرَاهَا فَتُعْجِبُكَ، وَتَغِيبُ عَنْهَا فَتَأْمَنُهَا عَلَى نَفْسِهَا وَمَالِكَ “Di antara kebahagiaan adalah istri shalihah, saat kamu menatapnya, dia membuatmu senang, dan saat kamu tidak ada di sisinya, dia menjaga dirinya dan hartamu.” (HR. Al-Hakim. Dihasankan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). ووصَفَها – صلى الله عليه وسلم – في حديثٍ آخر بقوله: ((خير النساء التي تسرُّه إذا نظر، وتُطِيعه إذا أمر، ولا تُخالِفه في نفسها ولا مالها بما يكره))؛ أخرجه أحمد والنسائي والحاكم من حديث أبي هريرة، وصحَّحه الألباني في “صحيح الجامع”. ووَصَفَها – صلى الله عليه وسلم – كذلك بقوله: ((تزوَّجوا الوَدودَ الوَلودَ؛ فإنِّي مُكاثِرٌ بكم))؛ أخرجه أبو داود والنسائي من حديث مَعقِل بن يَسار، وصحَّحه الألباني في “صحيح الجامع”. Sedangkan dalam hadis yang lain, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam menyebutkan sifatnya dengan bersabda: خَيْرُ النِّسَاءِ الَّتِي تَسُرُّهُ إذَا نَظَرَ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَلَا مَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ “Sebaik-baik istri adalah yang membuat bahagia suami saat dia melihatnya, menaatinya saat dia menyuruhnya, dan tidak menyelisihinya pada diri dan hartanya dengan sesuatu yang dia (suami) benci.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i, dan Al-Hakim dari Abu Hurairah. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam juga menyebutkan sifatnya melalui sabda beliau: تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ؛ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ “Menikahlah dengan wanita yang penyayang dan subur, karena aku bangga dengan banyaknya jumlah kalian.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i dari Ma’qil bin Yasar. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). فخيرُ النِّساء التي تسرُّ زوجَها بهيئتها الجميلة إذا نظر إليها، وتُطِيعه إذا أمَرَها بشيء غير محرَّم، ولا تُخالِفه في نفسها – بل ولا في مالها – بما يكره، وهي الوَدُود التي تُكثِر التودُّد والتحبُّب لزوجها، هي تلك المرأة التي قال فيها – صلى الله عليه وسلم -: ((ألاَ أُخبِركم بنسائكم من أهل الجنة؟ الوَدُود الوَلُود العؤود، التي إذا ظُلِمت قالت: هذه يدي في يدك، لا أذوق غَمْضًا حتى ترضى))؛ أخرجه الدارقطني في “الأفراد”، والطبراني، وحسَّنه الألباني في “صحيح الجامع”. وكذلك من سعادة المرأة المسلمة الزوج الصالح، وهو الذي يَكفِي امرأتَه مُؤَنَ الحياة، ويُعِينها على أمر دينها. Sebaik-baik istri adalah yang dapat membuat suaminya bahagia dengan penampilannya yang cantik jika dipandang suami, selalu menaatinya saat menyuruhnya melakukan sesuatu yang tidak    diharamkan, dan tidak menyelisihi suami dalam perkara dirinya – dan bahkan hartanya – dengan sesuatu yang tidak disukai suami. Dia adalah wanita penyayang yang penuh kasih kepada suaminya, wanita yang disebutkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam dalam sabda beliau: ألَا أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ الْوَدُودُ الْوَلُودُ الْعَؤُودُ، الَّتِي إِذَا ظُلِمَتْ قَالَتْ: هَذِهِ يَدِي فِي يَدِكَ، لَا أَذُوقُ غُمْضًا حَتَّى تَرْضَى “Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang istri kalian dari penghuni surga? Yaitu istri yang penyayang, melahirkan banyak anak, dan mendatangkan banyak manfaat bagi suaminya, yang apabila terzalimi (oleh suaminya dengan nafkah yang kurang atau lainnya) ia berkata kepada suaminya, ‘Ini tanganku di genggamanmu. Aku tidak akan dapat merasakan tidur yang nyenyak hingga kamu ridha kepadaku.’” (HR. Ad-Daruquthni dalam kitab Al-Afrad dan Ath-Thabrani. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). Demikian juga salah satu bentuk kebahagiaan bagi wanita muslimah adalah suami yang saleh, yaitu suami yang mencukupi kebutuhan hidupnya dan menyokongnya dalam menjalankan urusan agamanya. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والمسكن الواسِع)): زادَ في رواية الحاكم: ((والدار تكون واسعة كثيرة المَرافِق))، فالمسكن الواسِع أبهج للنفوس وأحبُّ إليها؛ لأنَّ في السعة عامَّة راحةً نفسيَّة، كما أن الدار الواسِعَة أجمع لحاجات أصحابها. Sabda beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “Tempat tinggal yang luas”, dan dalam riwayat Al-Hakim terdapat tambahan kalimat, “Rumah yang luas dan punya banyak perabot.” Tempat tinggal yang luas lebih menyenangkan dan disukai jiwa manusia, karena secara umum, tempat tinggal yang luas dapat memberi kenyamanan jiwa, juga lebih fungsional untuk berbagai kebutuhan pemiliknya. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والجار الصالح)): فهو الذي يكفُّ أذاه عن جِيرانه، ويُحسِن إليهم في مَعاشِهم وآخرتهم، وقد وصَّانا ربُّنا – تبارك وتعالى – بالجار فقال: ﴿ وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ ﴾ [النساء: 36]. وفي الصحيحين من حديث عائشة وعبدالله بن عمر – رضي الله عنهم جميعًا – أنَّ النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: ((ما زال جبريل يُوصِيني بالجار حتى ظننت أنَّه سيُورِّثه))، وبالَغ – صلى الله عليه وسلم – في حقوق الجار فقال: ((ما آمَن بي مَن بات شبعان وجارُه جائِع إلى جنبه وهو يعلم به))؛ أخرجه البزَّار والطبراني، وصحَّحه الألباني في “صحيح الجامع”. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “Tetangga yang saleh”, yakni tetangga yang tidak mengganggu para tetangganya, dan bersikap baik kepada mereka dalam urusan hidup sehari-hari dan urusan akhirat. Tuhan kita Tabaraka wa Ta’ala telah berwasiat kepada kita untuk bersikap baik terhadap tetangga melalui firman-Nya: وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh.” (QS. An-Nisa: 36). Dalam Ash-Shahihain disebutkan hadis riwayat Aisyah dan Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhum bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ “Jibril selalu mewasiatkan kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga, hingga aku mengira bahwa dia akan menjadikannya termasuk orang yang berhak mendapat warisan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Beliau juga sangat menekankan pemenuhan hak-hak tetangga dengan bersabda: مَا أمَنَ بِي مَنْ بَاتَ شَبْعَانَ وَجَارُهُ جَائِعٌ إلَى جَنْبِهِ وَهُوَ يَعْلَمُ بِهِ “Tidaklah beriman kepadaku orang yang melewati malam dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangganya kelaparan, padahal dia mengetahui hal itu.” (HR. Al-Bazzar dan Ath-Thabrani. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والمركب الهَنِيء)): في رواية الحاكم تفسير له: ((والدابَّة تكون وَطِيئة فتُلحِقك بأصحابك))، وفي زماننا هذا اختلفت المراكب، لكن منها كذلك ما هو هَنِيء مُرِيح لصاحبه، ومنها ما هو سيِّئ مُتعب. والمركب الهَنِيء عادة لا يُؤَخِّر صاحبه عن مقصده وحاجته، كما لا يلحق به مَتاعِب الطريق المعوج غير المُذَلَّل، واليوم المركب الهَنِيء لا يشعر صاحبه بِمَتاعِب الجوِّ، سواء أكان الجوُّ حارًّا أم باردًا، كما يكون سهلاً في قيادته، وكلُّ هذا لا شكَّ من السعادة الدنيويَّة ومن راحة الإنسان في هذه الحياة الدنيا. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “dan kendaraan yang nyaman.” Dan dalam riwayat Al-Hakim terdapat penafsiran kalimat ini, “dan hewan tunggangan nyaman yang mampu membawamu menyusul teman-temanmu.” Adapun di zaman kita, kendaraan sudah beraneka ragamnya, tapi ada yang nyaman bagi penggunanya dan ada juga yang membuat lelah. Kendaraan yang nyaman biasanya tidak membuat pemiliknya terhambat dari tujuan dan urusannya, juga tidak membuatnya pegal-pegal saat melalui jalan yang berkelok dan terjal. Kendaraan yang nyaman pada zaman ini tidak membuat pemiliknya merasakan gangguan cuaca, baik itu saat cuaca panas atau dingin, serta lebih mudah dikendarai. Tidak diragukan lagi bahwa itu semua termasuk kebahagiaan duniawi dan menjadi sebab kedamaian seseorang dalam menjalani kehidupan dunia ini. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((وأربعٌ من الشَّقَاء)): وهي بضدِّ الأولى، والشَّقاء هنا هو المشقَّة والتَّعَب، وهذا الشقاء يَكُون للمؤمن الديِّن بلاء واختبارًا من الله – عزَّ وجلَّ – يرفع به درجته، ويحطُّ به خطيئته، ولغير المؤمن جزاء وعقابًا. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “Dan empat hal yang termasuk kesengsaraan”. Ini merupakan kebalikan dari yang pertama, dan yang dimaksud di sini adalah kesulitan dan keletihan. Kesengsaraan ini bagi seorang mukmin yang teguh agamanya merupakan ujian dan cobaan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, untuk mengangkat derajatnya dan menggugurkan dosanya. Sedangkan bagi selain orang mukmin merupakan balasan dan siksaan. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((المرأة السوء)): وفي رواية الحاكم وصفٌ لها بأنها: ((تراها فتَسُوءُك، وتحمل لسانها عليك، وإن غبتَ عنها لم تأمنها على نفسها ومالك))، فمنظرها عند زوجها قبيح، ولسانها عليه حادٌّ، ولنفسها وماله غير حافظة. وصِفة واحدة من هذه الصفات في المرأة مُؤذِنة بكراهية زوجها لها وشقائه بها، فكيف إذا جمعت هذه الصفات كلها أو زادت عليها؟! Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “istri yang berperangai buruk.” Dalam riwayat Al-Hakim disebutkan ciri-cirinya, yaitu, “Jika kamu melihatnya, dia membuatmu tidak senang, suka memberi celaan kepadamu, dan ketika kamu jauh darinya, dia tidak amanah dalam dirinya dan hartamu.” Penampilannya jelek menurut suaminya, lisannya tajam terhadapnya, dan tidak dapat menjaga dirinya dan harta keluarganya. Salah satu sifat ini jika ada pada seorang wanita sudah menjadi tanda kebencian dan penderitaan suaminya terhadapnya. Apalagi jika ada wanita yang memiliki semua sifat ini atau bahkan ditambah sifat-sifat buruk lainnya?! قوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والجار السوء)): فهو السيِّئ الأخلاق، الذي لا يكفُّ أذاه عن جارِه، ولا يَعرِف حقوقَه عليه، وفي حديث فَضالَة بن عبيد عند الطبراني: أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: ((ثلاثة من الفواقر))، وذكر منها: ((وجار إن رأى خيرًا دفَنَه، وإن رأى شرًّا أشاعَه))؛ ضعَّفه الألباني في “ضعيف الجامع”. وقد قال – صلى الله عليه وسلم -: ((تعوَّذوا بالله من جار السوء في دار المقام، فإن الجار البادِي يَتحوَّل عنك))؛ أخرجه النسائي من حديث أبي هريرة، وصحَّحه الألباني في “صحيح الجامع”. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “tetangga yang berperangai buruk.” Yakni yang buruk akhlaknya, yang tidak berhenti mengganggu tetangganya, dan tidak peduli terhadap hak-hak orang lain atasnya. Dalam hadis Fadhalah bin Ubaid yang diriwayatkan Ath-Thabrani disebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Ada tiga perkara yang termasuk musibah besar.” Dan beliau menyebutkan salah satunya, “Dan tetangga yang jika melihat kebaikan, dia menutup mata, dan jika melihat keburukan, dia menyebarkannya.” (HR. Ath-Thabrani dilemahkan Al-Albani dalam Dhaif Al-Jami). Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam telah bersabda: تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ جَارٍ السُّوءِ فِي دَارِ الْمَقَامِ، فَإِنَّ الْجَارَّ الْبَادِي يَتَحَوَّل عَنْك “Berlindunglah kepada Allah dari tetangga yang buruk di rumah menetap, karena jika tetangga rumah sementara, akan pergi darimu.” (HR. An-Nasa’i dari Abu Hurairah. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والمركب السوء)): في رواية الحاكم: ((والدابَّة تكون قَطوفًا؛ فإن ضربتها أتعبَتْك، وإن تركتها لم تُلحقك بأصحابك))؛ أي: تكون بطيئة السير، والسيارة السيِّئة في أيامنا نحن، إن تركتها على ما هي عليه أتعبَتْك، وإن حاوَلتَ إصلاحها كلَّفَتْك المال والجهد، ولم تستَقِم لك كما تريد. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “kendaraan yang buruk.” Dan dalam riwayat Al-Hakim disebutkan, “Hewan tunggangan yang lamban; jika kamu memukulnya, itu hanya membuatmu lelah, dan jika kamu membiarkannya, maka tidak mampu membawamu menyusul teman-temanmu.” Yakni hewan itu lamban saat berjalan, atau mobil jelek di zaman kita sekarang, jika kamu membiarkannya seperti itu, itu akan membuatmu lelah, dan jika kamu berusaha membenahinya, itu akan membebani biaya dan usahamu, tapi setelah itu tetap tidak bisa sesuai dengan apa yang kamu harapkan. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والمسكن الضيِّق)): في رواية الحاكم: ((قليلة المَرافِق))، وشقاؤه في أنَّه لا يسع أهله ولا يَفِي بأغراضهم Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “Dan tempat tinggal yang sempit.” Dalam riwayat Al-Hakim disebutkan, “Perabotnya sedikit.” Rumah seperti ini dapat menimbulkan kesengsaraan karena tidak lapang bagi pemiliknya dan tidak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. والحمد لله ربِّ العالمين، وصلِّ اللهمَّ وسلِّم على نبيِّنا محمد، وعلى آله وصحبه ومَن تَبِعَهم بإحسانٍ إلى يوم الدين Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Tuhan semesta alam.  Ya Allah, limpahkanlah salawat dan salam kepada Nabi kita, Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, dan kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan sebaik-baiknya hingga Hari Kiamat. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/47519/أربع-من-السعادة-..-وأربع-من-الشقاء/ Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Orang Haid Masuk Masjid, Ulama Su', Terompet Sangka Kala, Doa Doa Sholat Wajib, Hukum Tukar Kado Dalam Islam Visited 440 times, 18 visit(s) today Post Views: 277 QRIS donasi Yufid

Empat Kebahagiaan dan Empat Kesengsaraan

أربع من السعادة .. وأربع من الشقاء Oleh: Hasan Abdul Hayyi حسن عبدالحي روى ابنُ حبَّان في “صحيحه”، والحاكمُ في “المستدرك”، والطبراني في “الكبير” و”الأوسط”، والبيهقيُّ في “الشُّعَب”، وغيرُهم عن سعد بن أبي وقاص – رضِي الله عنه – عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أنه قال: ((أربعٌ من السعادة: المرأةُ الصالحة، والمسكنُ الواسِع، والجارُ الصالح، والمَرْكَب الهنيء، وأربعٌ من الشقاء: المرأة السوء، والجار السوء، والمركب السوء، والمسكن الضيِّق))، وأخرَجَه كذلك أحمد مُختَصَرًا، وقال الألباني في “السلسلة الصحيحة” مُعَلِّقًا على رواية ابن حبَّان: هذا سند صحيح على شرط الشيخين. وهذا الخبر النبوي الكريم قد تضمَّن جُمَلاً من الفوائد والمعارف، كما حثَّ على بعض الأمور الجالِبَة للفرح والسعادة، وحذَّر من أضدادها المقتضِيَة للمَتاعِب والشَّقاوَة. Ibnu Hibban meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih, Al-Hakim dalam kitabnya Al-Mustadrak, Ath-Thabrani dalam kitabnya Al-Kabir dan Al-Awsath, Al-Baihaqi dalam kitabnya Asy-Syu’ab, dan perawi lainnya, dari Saad bin Abi Waqqash Radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bahwa beliau bersabda: أَرْبَعٌ مِنْ السَّعَادَةِ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ، وَأَرْبَعٌ مِنْ الشَّقَاءِ: الْمَرْأَةُ السُّوءُ، وَالْجَارُ السُّوءُ، وَالْمَرْكَبُ السُّوءُ، وَالْمَسْكَنُ الضَّيِّقُ “Ada empat hal yang termasuk kebahagiaan, istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang saleh, dan kendaraan yang nyaman, dan ada empat hal yang termasuk kesengsaraan, istri yang berperangai buruk, tetangga yang berperangai buruk, kendaraan yang buruk, dan tempat tinggal yang sempit.” Hadis ini diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad secara singkat. Al-Albani mengatakan dalam kitab As-Silsilah ash-Shahihah saat mengomentari riwayat Ibnu Hibban, “Hadis ini sanadnya shahih sesuai dengan kriteria Al-Bukhari dan Muslim.” Hadis Nabi yang mulia ini mengandung beberapa faedah dan ilmu, juga mengandung dorongan untuk berusaha meraih hal-hal yang dapat mengundang kebahagiaan dan kesenangan, sekaligus peringatan dari hal-hal sebaliknya yang dapat menyebabkan penderitaan dan kesengsaraan. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((أربعٌ من السعادة))؛ أي: كلُّ أمرٍ من هذه الأمور الأربعة فيه سعادةٌ لصاحبه، وسرُّ هذه السعادة أنَّ كلَّ أمرٍ من هذه الأمور الأربعة مُلازِم للإنسان؛ فلا يُفارِقه الإنسان تقريبًا إلا ويَعُود إليه مرَّة أخرى، فصُحبة الزوجة أو المسكن، أو الجار أو المركب، صُحبة حياة وملازمة دائمة. وهذه السعادة وإن كانت سعادة دنيويَّة وثمرتها عاجلة، إلاَّ أنَّ أسبابها ووجودها من أعظم ما يُعِين العبدَ على أمرِ دينه وآخرته Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam “Ada empat hal yang termasuk kebahagiaan” yakni empat perkara ini masing-masing mengandung kebahagiaan bagi pemiliknya. Rahasia dari kebahagiaan ini adalah karena setiap perkara tersebut senantiasa menyertai manusia. Hampir setiap orang yang meninggalkan perkara-perkara itu melainkan akan menyertainya kembali, penyertaan istri, tempat tinggal, tetangga, atau kendaraan terhadap seseorang adalah penyertaan sepanjang hidup dan terus menerus. Meskipun kebahagiaan ini merupakan kebahagiaan duniawi dan manfaatnya hanya sementara, hanya saja keberadaannya menjadi salah satu faktor terbesar dalam menyokong seorang hamba dalam menjalankan urusan agama dan akhiratnya. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((المرأة الصالحة)): فالمرأة الصالحة خيرُ مَتاع الدنيا، كما قال – صلى الله عليه وسلم -: ((الدنيا كلُّها مَتاع، وخير مَتاع الدنيا المرأة الصالحة))؛ أخرجه مسلم وغيره من حديث عبدالله بن عمرو، وفي رواية النسائي وابن ماجه: ((إنما الدنيا مَتاع، وليس من مَتاع الدنيا شيء أفضل من المرأة الصالحة))؛ صحَّحه الألباني في “صحيح الجامع”. فمع كون المرأة الصالحة مَتاعًا دنيويًّا بما تُدخِله على زوجها من سُرُور وبهجة، وبما تحمل معه من هُمُوم ومَشاكِل، فهي كذلك تُعِين زوجَها على أمر الآخرة. وفي رواية الحاكم – رحمه الله تعالى – لهذا الحديث وصَفَها – صلى الله عليه وسلم – بقوله: ((فمن السعادة: المرأة الصالحة، تراها فتُعجِبك، وتَغِيب عنها فتأمنها على نفسها ومالك))؛ أخرجه الحاكم، وحسَّنه الألباني في “صحيح الجامع”. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “istri yang shalihah”. Istri yang shalihah merupakan sebaik-baik kenikmatan dunia, sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam: الدُّنْيَا كُلُُّهَا مَتَاعٌ، وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ “Dunia itu seluruhnya kenikmatan, dan sebaik-baik kenikmatan dunia adalah istri shalihah.” (HR. Muslim dan lainnya dari Abdullah bin Amru. Sedangkan dalam riwayat An-Nasa’i dan Ibnu Majah disebutkan: إنَّمَا الدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَلَيْسَ مِنْ مَتَاعِ الدُّنْيَا شَيْءٌ أَفْضَلُ مِنْ الْمَرْأَةِ الصَّالِحَةِ “Dunia itu isinya kenikmatan, dan tidak ada kenikmatan dunia yang lebih baik daripada istri yang shalihah.” (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). Selain istri yang shalihah itu menjadi kenikmatan duniawi yang dapat menghadirkan kebahagiaan dan keindahan hidup bagi suaminya dan turut membantunya untuk memikul beban dan masalah, ia juga dapat menyokong suaminya untuk menjalankan urusan akhirat. Dalam riwayat Al-Hakim Rahimahullah, disebutkan dalam hadis ini bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam menyebutkan sifat istri shalihah dengan bersabda: فَمِنَ السَّعَادَةِ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، تَرَاهَا فَتُعْجِبُكَ، وَتَغِيبُ عَنْهَا فَتَأْمَنُهَا عَلَى نَفْسِهَا وَمَالِكَ “Di antara kebahagiaan adalah istri shalihah, saat kamu menatapnya, dia membuatmu senang, dan saat kamu tidak ada di sisinya, dia menjaga dirinya dan hartamu.” (HR. Al-Hakim. Dihasankan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). ووصَفَها – صلى الله عليه وسلم – في حديثٍ آخر بقوله: ((خير النساء التي تسرُّه إذا نظر، وتُطِيعه إذا أمر، ولا تُخالِفه في نفسها ولا مالها بما يكره))؛ أخرجه أحمد والنسائي والحاكم من حديث أبي هريرة، وصحَّحه الألباني في “صحيح الجامع”. ووَصَفَها – صلى الله عليه وسلم – كذلك بقوله: ((تزوَّجوا الوَدودَ الوَلودَ؛ فإنِّي مُكاثِرٌ بكم))؛ أخرجه أبو داود والنسائي من حديث مَعقِل بن يَسار، وصحَّحه الألباني في “صحيح الجامع”. Sedangkan dalam hadis yang lain, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam menyebutkan sifatnya dengan bersabda: خَيْرُ النِّسَاءِ الَّتِي تَسُرُّهُ إذَا نَظَرَ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَلَا مَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ “Sebaik-baik istri adalah yang membuat bahagia suami saat dia melihatnya, menaatinya saat dia menyuruhnya, dan tidak menyelisihinya pada diri dan hartanya dengan sesuatu yang dia (suami) benci.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i, dan Al-Hakim dari Abu Hurairah. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam juga menyebutkan sifatnya melalui sabda beliau: تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ؛ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ “Menikahlah dengan wanita yang penyayang dan subur, karena aku bangga dengan banyaknya jumlah kalian.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i dari Ma’qil bin Yasar. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). فخيرُ النِّساء التي تسرُّ زوجَها بهيئتها الجميلة إذا نظر إليها، وتُطِيعه إذا أمَرَها بشيء غير محرَّم، ولا تُخالِفه في نفسها – بل ولا في مالها – بما يكره، وهي الوَدُود التي تُكثِر التودُّد والتحبُّب لزوجها، هي تلك المرأة التي قال فيها – صلى الله عليه وسلم -: ((ألاَ أُخبِركم بنسائكم من أهل الجنة؟ الوَدُود الوَلُود العؤود، التي إذا ظُلِمت قالت: هذه يدي في يدك، لا أذوق غَمْضًا حتى ترضى))؛ أخرجه الدارقطني في “الأفراد”، والطبراني، وحسَّنه الألباني في “صحيح الجامع”. وكذلك من سعادة المرأة المسلمة الزوج الصالح، وهو الذي يَكفِي امرأتَه مُؤَنَ الحياة، ويُعِينها على أمر دينها. Sebaik-baik istri adalah yang dapat membuat suaminya bahagia dengan penampilannya yang cantik jika dipandang suami, selalu menaatinya saat menyuruhnya melakukan sesuatu yang tidak    diharamkan, dan tidak menyelisihi suami dalam perkara dirinya – dan bahkan hartanya – dengan sesuatu yang tidak disukai suami. Dia adalah wanita penyayang yang penuh kasih kepada suaminya, wanita yang disebutkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam dalam sabda beliau: ألَا أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ الْوَدُودُ الْوَلُودُ الْعَؤُودُ، الَّتِي إِذَا ظُلِمَتْ قَالَتْ: هَذِهِ يَدِي فِي يَدِكَ، لَا أَذُوقُ غُمْضًا حَتَّى تَرْضَى “Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang istri kalian dari penghuni surga? Yaitu istri yang penyayang, melahirkan banyak anak, dan mendatangkan banyak manfaat bagi suaminya, yang apabila terzalimi (oleh suaminya dengan nafkah yang kurang atau lainnya) ia berkata kepada suaminya, ‘Ini tanganku di genggamanmu. Aku tidak akan dapat merasakan tidur yang nyenyak hingga kamu ridha kepadaku.’” (HR. Ad-Daruquthni dalam kitab Al-Afrad dan Ath-Thabrani. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). Demikian juga salah satu bentuk kebahagiaan bagi wanita muslimah adalah suami yang saleh, yaitu suami yang mencukupi kebutuhan hidupnya dan menyokongnya dalam menjalankan urusan agamanya. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والمسكن الواسِع)): زادَ في رواية الحاكم: ((والدار تكون واسعة كثيرة المَرافِق))، فالمسكن الواسِع أبهج للنفوس وأحبُّ إليها؛ لأنَّ في السعة عامَّة راحةً نفسيَّة، كما أن الدار الواسِعَة أجمع لحاجات أصحابها. Sabda beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “Tempat tinggal yang luas”, dan dalam riwayat Al-Hakim terdapat tambahan kalimat, “Rumah yang luas dan punya banyak perabot.” Tempat tinggal yang luas lebih menyenangkan dan disukai jiwa manusia, karena secara umum, tempat tinggal yang luas dapat memberi kenyamanan jiwa, juga lebih fungsional untuk berbagai kebutuhan pemiliknya. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والجار الصالح)): فهو الذي يكفُّ أذاه عن جِيرانه، ويُحسِن إليهم في مَعاشِهم وآخرتهم، وقد وصَّانا ربُّنا – تبارك وتعالى – بالجار فقال: ﴿ وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ ﴾ [النساء: 36]. وفي الصحيحين من حديث عائشة وعبدالله بن عمر – رضي الله عنهم جميعًا – أنَّ النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: ((ما زال جبريل يُوصِيني بالجار حتى ظننت أنَّه سيُورِّثه))، وبالَغ – صلى الله عليه وسلم – في حقوق الجار فقال: ((ما آمَن بي مَن بات شبعان وجارُه جائِع إلى جنبه وهو يعلم به))؛ أخرجه البزَّار والطبراني، وصحَّحه الألباني في “صحيح الجامع”. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “Tetangga yang saleh”, yakni tetangga yang tidak mengganggu para tetangganya, dan bersikap baik kepada mereka dalam urusan hidup sehari-hari dan urusan akhirat. Tuhan kita Tabaraka wa Ta’ala telah berwasiat kepada kita untuk bersikap baik terhadap tetangga melalui firman-Nya: وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh.” (QS. An-Nisa: 36). Dalam Ash-Shahihain disebutkan hadis riwayat Aisyah dan Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhum bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ “Jibril selalu mewasiatkan kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga, hingga aku mengira bahwa dia akan menjadikannya termasuk orang yang berhak mendapat warisan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Beliau juga sangat menekankan pemenuhan hak-hak tetangga dengan bersabda: مَا أمَنَ بِي مَنْ بَاتَ شَبْعَانَ وَجَارُهُ جَائِعٌ إلَى جَنْبِهِ وَهُوَ يَعْلَمُ بِهِ “Tidaklah beriman kepadaku orang yang melewati malam dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangganya kelaparan, padahal dia mengetahui hal itu.” (HR. Al-Bazzar dan Ath-Thabrani. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والمركب الهَنِيء)): في رواية الحاكم تفسير له: ((والدابَّة تكون وَطِيئة فتُلحِقك بأصحابك))، وفي زماننا هذا اختلفت المراكب، لكن منها كذلك ما هو هَنِيء مُرِيح لصاحبه، ومنها ما هو سيِّئ مُتعب. والمركب الهَنِيء عادة لا يُؤَخِّر صاحبه عن مقصده وحاجته، كما لا يلحق به مَتاعِب الطريق المعوج غير المُذَلَّل، واليوم المركب الهَنِيء لا يشعر صاحبه بِمَتاعِب الجوِّ، سواء أكان الجوُّ حارًّا أم باردًا، كما يكون سهلاً في قيادته، وكلُّ هذا لا شكَّ من السعادة الدنيويَّة ومن راحة الإنسان في هذه الحياة الدنيا. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “dan kendaraan yang nyaman.” Dan dalam riwayat Al-Hakim terdapat penafsiran kalimat ini, “dan hewan tunggangan nyaman yang mampu membawamu menyusul teman-temanmu.” Adapun di zaman kita, kendaraan sudah beraneka ragamnya, tapi ada yang nyaman bagi penggunanya dan ada juga yang membuat lelah. Kendaraan yang nyaman biasanya tidak membuat pemiliknya terhambat dari tujuan dan urusannya, juga tidak membuatnya pegal-pegal saat melalui jalan yang berkelok dan terjal. Kendaraan yang nyaman pada zaman ini tidak membuat pemiliknya merasakan gangguan cuaca, baik itu saat cuaca panas atau dingin, serta lebih mudah dikendarai. Tidak diragukan lagi bahwa itu semua termasuk kebahagiaan duniawi dan menjadi sebab kedamaian seseorang dalam menjalani kehidupan dunia ini. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((وأربعٌ من الشَّقَاء)): وهي بضدِّ الأولى، والشَّقاء هنا هو المشقَّة والتَّعَب، وهذا الشقاء يَكُون للمؤمن الديِّن بلاء واختبارًا من الله – عزَّ وجلَّ – يرفع به درجته، ويحطُّ به خطيئته، ولغير المؤمن جزاء وعقابًا. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “Dan empat hal yang termasuk kesengsaraan”. Ini merupakan kebalikan dari yang pertama, dan yang dimaksud di sini adalah kesulitan dan keletihan. Kesengsaraan ini bagi seorang mukmin yang teguh agamanya merupakan ujian dan cobaan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, untuk mengangkat derajatnya dan menggugurkan dosanya. Sedangkan bagi selain orang mukmin merupakan balasan dan siksaan. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((المرأة السوء)): وفي رواية الحاكم وصفٌ لها بأنها: ((تراها فتَسُوءُك، وتحمل لسانها عليك، وإن غبتَ عنها لم تأمنها على نفسها ومالك))، فمنظرها عند زوجها قبيح، ولسانها عليه حادٌّ، ولنفسها وماله غير حافظة. وصِفة واحدة من هذه الصفات في المرأة مُؤذِنة بكراهية زوجها لها وشقائه بها، فكيف إذا جمعت هذه الصفات كلها أو زادت عليها؟! Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “istri yang berperangai buruk.” Dalam riwayat Al-Hakim disebutkan ciri-cirinya, yaitu, “Jika kamu melihatnya, dia membuatmu tidak senang, suka memberi celaan kepadamu, dan ketika kamu jauh darinya, dia tidak amanah dalam dirinya dan hartamu.” Penampilannya jelek menurut suaminya, lisannya tajam terhadapnya, dan tidak dapat menjaga dirinya dan harta keluarganya. Salah satu sifat ini jika ada pada seorang wanita sudah menjadi tanda kebencian dan penderitaan suaminya terhadapnya. Apalagi jika ada wanita yang memiliki semua sifat ini atau bahkan ditambah sifat-sifat buruk lainnya?! قوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والجار السوء)): فهو السيِّئ الأخلاق، الذي لا يكفُّ أذاه عن جارِه، ولا يَعرِف حقوقَه عليه، وفي حديث فَضالَة بن عبيد عند الطبراني: أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: ((ثلاثة من الفواقر))، وذكر منها: ((وجار إن رأى خيرًا دفَنَه، وإن رأى شرًّا أشاعَه))؛ ضعَّفه الألباني في “ضعيف الجامع”. وقد قال – صلى الله عليه وسلم -: ((تعوَّذوا بالله من جار السوء في دار المقام، فإن الجار البادِي يَتحوَّل عنك))؛ أخرجه النسائي من حديث أبي هريرة، وصحَّحه الألباني في “صحيح الجامع”. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “tetangga yang berperangai buruk.” Yakni yang buruk akhlaknya, yang tidak berhenti mengganggu tetangganya, dan tidak peduli terhadap hak-hak orang lain atasnya. Dalam hadis Fadhalah bin Ubaid yang diriwayatkan Ath-Thabrani disebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Ada tiga perkara yang termasuk musibah besar.” Dan beliau menyebutkan salah satunya, “Dan tetangga yang jika melihat kebaikan, dia menutup mata, dan jika melihat keburukan, dia menyebarkannya.” (HR. Ath-Thabrani dilemahkan Al-Albani dalam Dhaif Al-Jami). Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam telah bersabda: تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ جَارٍ السُّوءِ فِي دَارِ الْمَقَامِ، فَإِنَّ الْجَارَّ الْبَادِي يَتَحَوَّل عَنْك “Berlindunglah kepada Allah dari tetangga yang buruk di rumah menetap, karena jika tetangga rumah sementara, akan pergi darimu.” (HR. An-Nasa’i dari Abu Hurairah. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والمركب السوء)): في رواية الحاكم: ((والدابَّة تكون قَطوفًا؛ فإن ضربتها أتعبَتْك، وإن تركتها لم تُلحقك بأصحابك))؛ أي: تكون بطيئة السير، والسيارة السيِّئة في أيامنا نحن، إن تركتها على ما هي عليه أتعبَتْك، وإن حاوَلتَ إصلاحها كلَّفَتْك المال والجهد، ولم تستَقِم لك كما تريد. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “kendaraan yang buruk.” Dan dalam riwayat Al-Hakim disebutkan, “Hewan tunggangan yang lamban; jika kamu memukulnya, itu hanya membuatmu lelah, dan jika kamu membiarkannya, maka tidak mampu membawamu menyusul teman-temanmu.” Yakni hewan itu lamban saat berjalan, atau mobil jelek di zaman kita sekarang, jika kamu membiarkannya seperti itu, itu akan membuatmu lelah, dan jika kamu berusaha membenahinya, itu akan membebani biaya dan usahamu, tapi setelah itu tetap tidak bisa sesuai dengan apa yang kamu harapkan. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والمسكن الضيِّق)): في رواية الحاكم: ((قليلة المَرافِق))، وشقاؤه في أنَّه لا يسع أهله ولا يَفِي بأغراضهم Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “Dan tempat tinggal yang sempit.” Dalam riwayat Al-Hakim disebutkan, “Perabotnya sedikit.” Rumah seperti ini dapat menimbulkan kesengsaraan karena tidak lapang bagi pemiliknya dan tidak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. والحمد لله ربِّ العالمين، وصلِّ اللهمَّ وسلِّم على نبيِّنا محمد، وعلى آله وصحبه ومَن تَبِعَهم بإحسانٍ إلى يوم الدين Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Tuhan semesta alam.  Ya Allah, limpahkanlah salawat dan salam kepada Nabi kita, Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, dan kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan sebaik-baiknya hingga Hari Kiamat. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/47519/أربع-من-السعادة-..-وأربع-من-الشقاء/ Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Orang Haid Masuk Masjid, Ulama Su', Terompet Sangka Kala, Doa Doa Sholat Wajib, Hukum Tukar Kado Dalam Islam Visited 440 times, 18 visit(s) today Post Views: 277 QRIS donasi Yufid
أربع من السعادة .. وأربع من الشقاء Oleh: Hasan Abdul Hayyi حسن عبدالحي روى ابنُ حبَّان في “صحيحه”، والحاكمُ في “المستدرك”، والطبراني في “الكبير” و”الأوسط”، والبيهقيُّ في “الشُّعَب”، وغيرُهم عن سعد بن أبي وقاص – رضِي الله عنه – عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أنه قال: ((أربعٌ من السعادة: المرأةُ الصالحة، والمسكنُ الواسِع، والجارُ الصالح، والمَرْكَب الهنيء، وأربعٌ من الشقاء: المرأة السوء، والجار السوء، والمركب السوء، والمسكن الضيِّق))، وأخرَجَه كذلك أحمد مُختَصَرًا، وقال الألباني في “السلسلة الصحيحة” مُعَلِّقًا على رواية ابن حبَّان: هذا سند صحيح على شرط الشيخين. وهذا الخبر النبوي الكريم قد تضمَّن جُمَلاً من الفوائد والمعارف، كما حثَّ على بعض الأمور الجالِبَة للفرح والسعادة، وحذَّر من أضدادها المقتضِيَة للمَتاعِب والشَّقاوَة. Ibnu Hibban meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih, Al-Hakim dalam kitabnya Al-Mustadrak, Ath-Thabrani dalam kitabnya Al-Kabir dan Al-Awsath, Al-Baihaqi dalam kitabnya Asy-Syu’ab, dan perawi lainnya, dari Saad bin Abi Waqqash Radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bahwa beliau bersabda: أَرْبَعٌ مِنْ السَّعَادَةِ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ، وَأَرْبَعٌ مِنْ الشَّقَاءِ: الْمَرْأَةُ السُّوءُ، وَالْجَارُ السُّوءُ، وَالْمَرْكَبُ السُّوءُ، وَالْمَسْكَنُ الضَّيِّقُ “Ada empat hal yang termasuk kebahagiaan, istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang saleh, dan kendaraan yang nyaman, dan ada empat hal yang termasuk kesengsaraan, istri yang berperangai buruk, tetangga yang berperangai buruk, kendaraan yang buruk, dan tempat tinggal yang sempit.” Hadis ini diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad secara singkat. Al-Albani mengatakan dalam kitab As-Silsilah ash-Shahihah saat mengomentari riwayat Ibnu Hibban, “Hadis ini sanadnya shahih sesuai dengan kriteria Al-Bukhari dan Muslim.” Hadis Nabi yang mulia ini mengandung beberapa faedah dan ilmu, juga mengandung dorongan untuk berusaha meraih hal-hal yang dapat mengundang kebahagiaan dan kesenangan, sekaligus peringatan dari hal-hal sebaliknya yang dapat menyebabkan penderitaan dan kesengsaraan. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((أربعٌ من السعادة))؛ أي: كلُّ أمرٍ من هذه الأمور الأربعة فيه سعادةٌ لصاحبه، وسرُّ هذه السعادة أنَّ كلَّ أمرٍ من هذه الأمور الأربعة مُلازِم للإنسان؛ فلا يُفارِقه الإنسان تقريبًا إلا ويَعُود إليه مرَّة أخرى، فصُحبة الزوجة أو المسكن، أو الجار أو المركب، صُحبة حياة وملازمة دائمة. وهذه السعادة وإن كانت سعادة دنيويَّة وثمرتها عاجلة، إلاَّ أنَّ أسبابها ووجودها من أعظم ما يُعِين العبدَ على أمرِ دينه وآخرته Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam “Ada empat hal yang termasuk kebahagiaan” yakni empat perkara ini masing-masing mengandung kebahagiaan bagi pemiliknya. Rahasia dari kebahagiaan ini adalah karena setiap perkara tersebut senantiasa menyertai manusia. Hampir setiap orang yang meninggalkan perkara-perkara itu melainkan akan menyertainya kembali, penyertaan istri, tempat tinggal, tetangga, atau kendaraan terhadap seseorang adalah penyertaan sepanjang hidup dan terus menerus. Meskipun kebahagiaan ini merupakan kebahagiaan duniawi dan manfaatnya hanya sementara, hanya saja keberadaannya menjadi salah satu faktor terbesar dalam menyokong seorang hamba dalam menjalankan urusan agama dan akhiratnya. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((المرأة الصالحة)): فالمرأة الصالحة خيرُ مَتاع الدنيا، كما قال – صلى الله عليه وسلم -: ((الدنيا كلُّها مَتاع، وخير مَتاع الدنيا المرأة الصالحة))؛ أخرجه مسلم وغيره من حديث عبدالله بن عمرو، وفي رواية النسائي وابن ماجه: ((إنما الدنيا مَتاع، وليس من مَتاع الدنيا شيء أفضل من المرأة الصالحة))؛ صحَّحه الألباني في “صحيح الجامع”. فمع كون المرأة الصالحة مَتاعًا دنيويًّا بما تُدخِله على زوجها من سُرُور وبهجة، وبما تحمل معه من هُمُوم ومَشاكِل، فهي كذلك تُعِين زوجَها على أمر الآخرة. وفي رواية الحاكم – رحمه الله تعالى – لهذا الحديث وصَفَها – صلى الله عليه وسلم – بقوله: ((فمن السعادة: المرأة الصالحة، تراها فتُعجِبك، وتَغِيب عنها فتأمنها على نفسها ومالك))؛ أخرجه الحاكم، وحسَّنه الألباني في “صحيح الجامع”. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “istri yang shalihah”. Istri yang shalihah merupakan sebaik-baik kenikmatan dunia, sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam: الدُّنْيَا كُلُُّهَا مَتَاعٌ، وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ “Dunia itu seluruhnya kenikmatan, dan sebaik-baik kenikmatan dunia adalah istri shalihah.” (HR. Muslim dan lainnya dari Abdullah bin Amru. Sedangkan dalam riwayat An-Nasa’i dan Ibnu Majah disebutkan: إنَّمَا الدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَلَيْسَ مِنْ مَتَاعِ الدُّنْيَا شَيْءٌ أَفْضَلُ مِنْ الْمَرْأَةِ الصَّالِحَةِ “Dunia itu isinya kenikmatan, dan tidak ada kenikmatan dunia yang lebih baik daripada istri yang shalihah.” (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). Selain istri yang shalihah itu menjadi kenikmatan duniawi yang dapat menghadirkan kebahagiaan dan keindahan hidup bagi suaminya dan turut membantunya untuk memikul beban dan masalah, ia juga dapat menyokong suaminya untuk menjalankan urusan akhirat. Dalam riwayat Al-Hakim Rahimahullah, disebutkan dalam hadis ini bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam menyebutkan sifat istri shalihah dengan bersabda: فَمِنَ السَّعَادَةِ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، تَرَاهَا فَتُعْجِبُكَ، وَتَغِيبُ عَنْهَا فَتَأْمَنُهَا عَلَى نَفْسِهَا وَمَالِكَ “Di antara kebahagiaan adalah istri shalihah, saat kamu menatapnya, dia membuatmu senang, dan saat kamu tidak ada di sisinya, dia menjaga dirinya dan hartamu.” (HR. Al-Hakim. Dihasankan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). ووصَفَها – صلى الله عليه وسلم – في حديثٍ آخر بقوله: ((خير النساء التي تسرُّه إذا نظر، وتُطِيعه إذا أمر، ولا تُخالِفه في نفسها ولا مالها بما يكره))؛ أخرجه أحمد والنسائي والحاكم من حديث أبي هريرة، وصحَّحه الألباني في “صحيح الجامع”. ووَصَفَها – صلى الله عليه وسلم – كذلك بقوله: ((تزوَّجوا الوَدودَ الوَلودَ؛ فإنِّي مُكاثِرٌ بكم))؛ أخرجه أبو داود والنسائي من حديث مَعقِل بن يَسار، وصحَّحه الألباني في “صحيح الجامع”. Sedangkan dalam hadis yang lain, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam menyebutkan sifatnya dengan bersabda: خَيْرُ النِّسَاءِ الَّتِي تَسُرُّهُ إذَا نَظَرَ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَلَا مَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ “Sebaik-baik istri adalah yang membuat bahagia suami saat dia melihatnya, menaatinya saat dia menyuruhnya, dan tidak menyelisihinya pada diri dan hartanya dengan sesuatu yang dia (suami) benci.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i, dan Al-Hakim dari Abu Hurairah. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam juga menyebutkan sifatnya melalui sabda beliau: تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ؛ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ “Menikahlah dengan wanita yang penyayang dan subur, karena aku bangga dengan banyaknya jumlah kalian.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i dari Ma’qil bin Yasar. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). فخيرُ النِّساء التي تسرُّ زوجَها بهيئتها الجميلة إذا نظر إليها، وتُطِيعه إذا أمَرَها بشيء غير محرَّم، ولا تُخالِفه في نفسها – بل ولا في مالها – بما يكره، وهي الوَدُود التي تُكثِر التودُّد والتحبُّب لزوجها، هي تلك المرأة التي قال فيها – صلى الله عليه وسلم -: ((ألاَ أُخبِركم بنسائكم من أهل الجنة؟ الوَدُود الوَلُود العؤود، التي إذا ظُلِمت قالت: هذه يدي في يدك، لا أذوق غَمْضًا حتى ترضى))؛ أخرجه الدارقطني في “الأفراد”، والطبراني، وحسَّنه الألباني في “صحيح الجامع”. وكذلك من سعادة المرأة المسلمة الزوج الصالح، وهو الذي يَكفِي امرأتَه مُؤَنَ الحياة، ويُعِينها على أمر دينها. Sebaik-baik istri adalah yang dapat membuat suaminya bahagia dengan penampilannya yang cantik jika dipandang suami, selalu menaatinya saat menyuruhnya melakukan sesuatu yang tidak    diharamkan, dan tidak menyelisihi suami dalam perkara dirinya – dan bahkan hartanya – dengan sesuatu yang tidak disukai suami. Dia adalah wanita penyayang yang penuh kasih kepada suaminya, wanita yang disebutkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam dalam sabda beliau: ألَا أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ الْوَدُودُ الْوَلُودُ الْعَؤُودُ، الَّتِي إِذَا ظُلِمَتْ قَالَتْ: هَذِهِ يَدِي فِي يَدِكَ، لَا أَذُوقُ غُمْضًا حَتَّى تَرْضَى “Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang istri kalian dari penghuni surga? Yaitu istri yang penyayang, melahirkan banyak anak, dan mendatangkan banyak manfaat bagi suaminya, yang apabila terzalimi (oleh suaminya dengan nafkah yang kurang atau lainnya) ia berkata kepada suaminya, ‘Ini tanganku di genggamanmu. Aku tidak akan dapat merasakan tidur yang nyenyak hingga kamu ridha kepadaku.’” (HR. Ad-Daruquthni dalam kitab Al-Afrad dan Ath-Thabrani. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). Demikian juga salah satu bentuk kebahagiaan bagi wanita muslimah adalah suami yang saleh, yaitu suami yang mencukupi kebutuhan hidupnya dan menyokongnya dalam menjalankan urusan agamanya. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والمسكن الواسِع)): زادَ في رواية الحاكم: ((والدار تكون واسعة كثيرة المَرافِق))، فالمسكن الواسِع أبهج للنفوس وأحبُّ إليها؛ لأنَّ في السعة عامَّة راحةً نفسيَّة، كما أن الدار الواسِعَة أجمع لحاجات أصحابها. Sabda beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “Tempat tinggal yang luas”, dan dalam riwayat Al-Hakim terdapat tambahan kalimat, “Rumah yang luas dan punya banyak perabot.” Tempat tinggal yang luas lebih menyenangkan dan disukai jiwa manusia, karena secara umum, tempat tinggal yang luas dapat memberi kenyamanan jiwa, juga lebih fungsional untuk berbagai kebutuhan pemiliknya. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والجار الصالح)): فهو الذي يكفُّ أذاه عن جِيرانه، ويُحسِن إليهم في مَعاشِهم وآخرتهم، وقد وصَّانا ربُّنا – تبارك وتعالى – بالجار فقال: ﴿ وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ ﴾ [النساء: 36]. وفي الصحيحين من حديث عائشة وعبدالله بن عمر – رضي الله عنهم جميعًا – أنَّ النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: ((ما زال جبريل يُوصِيني بالجار حتى ظننت أنَّه سيُورِّثه))، وبالَغ – صلى الله عليه وسلم – في حقوق الجار فقال: ((ما آمَن بي مَن بات شبعان وجارُه جائِع إلى جنبه وهو يعلم به))؛ أخرجه البزَّار والطبراني، وصحَّحه الألباني في “صحيح الجامع”. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “Tetangga yang saleh”, yakni tetangga yang tidak mengganggu para tetangganya, dan bersikap baik kepada mereka dalam urusan hidup sehari-hari dan urusan akhirat. Tuhan kita Tabaraka wa Ta’ala telah berwasiat kepada kita untuk bersikap baik terhadap tetangga melalui firman-Nya: وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh.” (QS. An-Nisa: 36). Dalam Ash-Shahihain disebutkan hadis riwayat Aisyah dan Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhum bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ “Jibril selalu mewasiatkan kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga, hingga aku mengira bahwa dia akan menjadikannya termasuk orang yang berhak mendapat warisan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Beliau juga sangat menekankan pemenuhan hak-hak tetangga dengan bersabda: مَا أمَنَ بِي مَنْ بَاتَ شَبْعَانَ وَجَارُهُ جَائِعٌ إلَى جَنْبِهِ وَهُوَ يَعْلَمُ بِهِ “Tidaklah beriman kepadaku orang yang melewati malam dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangganya kelaparan, padahal dia mengetahui hal itu.” (HR. Al-Bazzar dan Ath-Thabrani. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والمركب الهَنِيء)): في رواية الحاكم تفسير له: ((والدابَّة تكون وَطِيئة فتُلحِقك بأصحابك))، وفي زماننا هذا اختلفت المراكب، لكن منها كذلك ما هو هَنِيء مُرِيح لصاحبه، ومنها ما هو سيِّئ مُتعب. والمركب الهَنِيء عادة لا يُؤَخِّر صاحبه عن مقصده وحاجته، كما لا يلحق به مَتاعِب الطريق المعوج غير المُذَلَّل، واليوم المركب الهَنِيء لا يشعر صاحبه بِمَتاعِب الجوِّ، سواء أكان الجوُّ حارًّا أم باردًا، كما يكون سهلاً في قيادته، وكلُّ هذا لا شكَّ من السعادة الدنيويَّة ومن راحة الإنسان في هذه الحياة الدنيا. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “dan kendaraan yang nyaman.” Dan dalam riwayat Al-Hakim terdapat penafsiran kalimat ini, “dan hewan tunggangan nyaman yang mampu membawamu menyusul teman-temanmu.” Adapun di zaman kita, kendaraan sudah beraneka ragamnya, tapi ada yang nyaman bagi penggunanya dan ada juga yang membuat lelah. Kendaraan yang nyaman biasanya tidak membuat pemiliknya terhambat dari tujuan dan urusannya, juga tidak membuatnya pegal-pegal saat melalui jalan yang berkelok dan terjal. Kendaraan yang nyaman pada zaman ini tidak membuat pemiliknya merasakan gangguan cuaca, baik itu saat cuaca panas atau dingin, serta lebih mudah dikendarai. Tidak diragukan lagi bahwa itu semua termasuk kebahagiaan duniawi dan menjadi sebab kedamaian seseorang dalam menjalani kehidupan dunia ini. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((وأربعٌ من الشَّقَاء)): وهي بضدِّ الأولى، والشَّقاء هنا هو المشقَّة والتَّعَب، وهذا الشقاء يَكُون للمؤمن الديِّن بلاء واختبارًا من الله – عزَّ وجلَّ – يرفع به درجته، ويحطُّ به خطيئته، ولغير المؤمن جزاء وعقابًا. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “Dan empat hal yang termasuk kesengsaraan”. Ini merupakan kebalikan dari yang pertama, dan yang dimaksud di sini adalah kesulitan dan keletihan. Kesengsaraan ini bagi seorang mukmin yang teguh agamanya merupakan ujian dan cobaan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, untuk mengangkat derajatnya dan menggugurkan dosanya. Sedangkan bagi selain orang mukmin merupakan balasan dan siksaan. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((المرأة السوء)): وفي رواية الحاكم وصفٌ لها بأنها: ((تراها فتَسُوءُك، وتحمل لسانها عليك، وإن غبتَ عنها لم تأمنها على نفسها ومالك))، فمنظرها عند زوجها قبيح، ولسانها عليه حادٌّ، ولنفسها وماله غير حافظة. وصِفة واحدة من هذه الصفات في المرأة مُؤذِنة بكراهية زوجها لها وشقائه بها، فكيف إذا جمعت هذه الصفات كلها أو زادت عليها؟! Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “istri yang berperangai buruk.” Dalam riwayat Al-Hakim disebutkan ciri-cirinya, yaitu, “Jika kamu melihatnya, dia membuatmu tidak senang, suka memberi celaan kepadamu, dan ketika kamu jauh darinya, dia tidak amanah dalam dirinya dan hartamu.” Penampilannya jelek menurut suaminya, lisannya tajam terhadapnya, dan tidak dapat menjaga dirinya dan harta keluarganya. Salah satu sifat ini jika ada pada seorang wanita sudah menjadi tanda kebencian dan penderitaan suaminya terhadapnya. Apalagi jika ada wanita yang memiliki semua sifat ini atau bahkan ditambah sifat-sifat buruk lainnya?! قوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والجار السوء)): فهو السيِّئ الأخلاق، الذي لا يكفُّ أذاه عن جارِه، ولا يَعرِف حقوقَه عليه، وفي حديث فَضالَة بن عبيد عند الطبراني: أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: ((ثلاثة من الفواقر))، وذكر منها: ((وجار إن رأى خيرًا دفَنَه، وإن رأى شرًّا أشاعَه))؛ ضعَّفه الألباني في “ضعيف الجامع”. وقد قال – صلى الله عليه وسلم -: ((تعوَّذوا بالله من جار السوء في دار المقام، فإن الجار البادِي يَتحوَّل عنك))؛ أخرجه النسائي من حديث أبي هريرة، وصحَّحه الألباني في “صحيح الجامع”. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “tetangga yang berperangai buruk.” Yakni yang buruk akhlaknya, yang tidak berhenti mengganggu tetangganya, dan tidak peduli terhadap hak-hak orang lain atasnya. Dalam hadis Fadhalah bin Ubaid yang diriwayatkan Ath-Thabrani disebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Ada tiga perkara yang termasuk musibah besar.” Dan beliau menyebutkan salah satunya, “Dan tetangga yang jika melihat kebaikan, dia menutup mata, dan jika melihat keburukan, dia menyebarkannya.” (HR. Ath-Thabrani dilemahkan Al-Albani dalam Dhaif Al-Jami). Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam telah bersabda: تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ جَارٍ السُّوءِ فِي دَارِ الْمَقَامِ، فَإِنَّ الْجَارَّ الْبَادِي يَتَحَوَّل عَنْك “Berlindunglah kepada Allah dari tetangga yang buruk di rumah menetap, karena jika tetangga rumah sementara, akan pergi darimu.” (HR. An-Nasa’i dari Abu Hurairah. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والمركب السوء)): في رواية الحاكم: ((والدابَّة تكون قَطوفًا؛ فإن ضربتها أتعبَتْك، وإن تركتها لم تُلحقك بأصحابك))؛ أي: تكون بطيئة السير، والسيارة السيِّئة في أيامنا نحن، إن تركتها على ما هي عليه أتعبَتْك، وإن حاوَلتَ إصلاحها كلَّفَتْك المال والجهد، ولم تستَقِم لك كما تريد. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “kendaraan yang buruk.” Dan dalam riwayat Al-Hakim disebutkan, “Hewan tunggangan yang lamban; jika kamu memukulnya, itu hanya membuatmu lelah, dan jika kamu membiarkannya, maka tidak mampu membawamu menyusul teman-temanmu.” Yakni hewan itu lamban saat berjalan, atau mobil jelek di zaman kita sekarang, jika kamu membiarkannya seperti itu, itu akan membuatmu lelah, dan jika kamu berusaha membenahinya, itu akan membebani biaya dan usahamu, tapi setelah itu tetap tidak bisa sesuai dengan apa yang kamu harapkan. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والمسكن الضيِّق)): في رواية الحاكم: ((قليلة المَرافِق))، وشقاؤه في أنَّه لا يسع أهله ولا يَفِي بأغراضهم Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “Dan tempat tinggal yang sempit.” Dalam riwayat Al-Hakim disebutkan, “Perabotnya sedikit.” Rumah seperti ini dapat menimbulkan kesengsaraan karena tidak lapang bagi pemiliknya dan tidak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. والحمد لله ربِّ العالمين، وصلِّ اللهمَّ وسلِّم على نبيِّنا محمد، وعلى آله وصحبه ومَن تَبِعَهم بإحسانٍ إلى يوم الدين Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Tuhan semesta alam.  Ya Allah, limpahkanlah salawat dan salam kepada Nabi kita, Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, dan kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan sebaik-baiknya hingga Hari Kiamat. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/47519/أربع-من-السعادة-..-وأربع-من-الشقاء/ Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Orang Haid Masuk Masjid, Ulama Su', Terompet Sangka Kala, Doa Doa Sholat Wajib, Hukum Tukar Kado Dalam Islam Visited 440 times, 18 visit(s) today Post Views: 277 QRIS donasi Yufid


أربع من السعادة .. وأربع من الشقاء Oleh: Hasan Abdul Hayyi حسن عبدالحي روى ابنُ حبَّان في “صحيحه”، والحاكمُ في “المستدرك”، والطبراني في “الكبير” و”الأوسط”، والبيهقيُّ في “الشُّعَب”، وغيرُهم عن سعد بن أبي وقاص – رضِي الله عنه – عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أنه قال: ((أربعٌ من السعادة: المرأةُ الصالحة، والمسكنُ الواسِع، والجارُ الصالح، والمَرْكَب الهنيء، وأربعٌ من الشقاء: المرأة السوء، والجار السوء، والمركب السوء، والمسكن الضيِّق))، وأخرَجَه كذلك أحمد مُختَصَرًا، وقال الألباني في “السلسلة الصحيحة” مُعَلِّقًا على رواية ابن حبَّان: هذا سند صحيح على شرط الشيخين. وهذا الخبر النبوي الكريم قد تضمَّن جُمَلاً من الفوائد والمعارف، كما حثَّ على بعض الأمور الجالِبَة للفرح والسعادة، وحذَّر من أضدادها المقتضِيَة للمَتاعِب والشَّقاوَة. Ibnu Hibban meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih, Al-Hakim dalam kitabnya Al-Mustadrak, Ath-Thabrani dalam kitabnya Al-Kabir dan Al-Awsath, Al-Baihaqi dalam kitabnya Asy-Syu’ab, dan perawi lainnya, dari Saad bin Abi Waqqash Radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bahwa beliau bersabda: أَرْبَعٌ مِنْ السَّعَادَةِ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ، وَأَرْبَعٌ مِنْ الشَّقَاءِ: الْمَرْأَةُ السُّوءُ، وَالْجَارُ السُّوءُ، وَالْمَرْكَبُ السُّوءُ، وَالْمَسْكَنُ الضَّيِّقُ “Ada empat hal yang termasuk kebahagiaan, istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang saleh, dan kendaraan yang nyaman, dan ada empat hal yang termasuk kesengsaraan, istri yang berperangai buruk, tetangga yang berperangai buruk, kendaraan yang buruk, dan tempat tinggal yang sempit.” Hadis ini diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad secara singkat. Al-Albani mengatakan dalam kitab As-Silsilah ash-Shahihah saat mengomentari riwayat Ibnu Hibban, “Hadis ini sanadnya shahih sesuai dengan kriteria Al-Bukhari dan Muslim.” Hadis Nabi yang mulia ini mengandung beberapa faedah dan ilmu, juga mengandung dorongan untuk berusaha meraih hal-hal yang dapat mengundang kebahagiaan dan kesenangan, sekaligus peringatan dari hal-hal sebaliknya yang dapat menyebabkan penderitaan dan kesengsaraan. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((أربعٌ من السعادة))؛ أي: كلُّ أمرٍ من هذه الأمور الأربعة فيه سعادةٌ لصاحبه، وسرُّ هذه السعادة أنَّ كلَّ أمرٍ من هذه الأمور الأربعة مُلازِم للإنسان؛ فلا يُفارِقه الإنسان تقريبًا إلا ويَعُود إليه مرَّة أخرى، فصُحبة الزوجة أو المسكن، أو الجار أو المركب، صُحبة حياة وملازمة دائمة. وهذه السعادة وإن كانت سعادة دنيويَّة وثمرتها عاجلة، إلاَّ أنَّ أسبابها ووجودها من أعظم ما يُعِين العبدَ على أمرِ دينه وآخرته Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam “Ada empat hal yang termasuk kebahagiaan” yakni empat perkara ini masing-masing mengandung kebahagiaan bagi pemiliknya. Rahasia dari kebahagiaan ini adalah karena setiap perkara tersebut senantiasa menyertai manusia. Hampir setiap orang yang meninggalkan perkara-perkara itu melainkan akan menyertainya kembali, penyertaan istri, tempat tinggal, tetangga, atau kendaraan terhadap seseorang adalah penyertaan sepanjang hidup dan terus menerus. Meskipun kebahagiaan ini merupakan kebahagiaan duniawi dan manfaatnya hanya sementara, hanya saja keberadaannya menjadi salah satu faktor terbesar dalam menyokong seorang hamba dalam menjalankan urusan agama dan akhiratnya. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((المرأة الصالحة)): فالمرأة الصالحة خيرُ مَتاع الدنيا، كما قال – صلى الله عليه وسلم -: ((الدنيا كلُّها مَتاع، وخير مَتاع الدنيا المرأة الصالحة))؛ أخرجه مسلم وغيره من حديث عبدالله بن عمرو، وفي رواية النسائي وابن ماجه: ((إنما الدنيا مَتاع، وليس من مَتاع الدنيا شيء أفضل من المرأة الصالحة))؛ صحَّحه الألباني في “صحيح الجامع”. فمع كون المرأة الصالحة مَتاعًا دنيويًّا بما تُدخِله على زوجها من سُرُور وبهجة، وبما تحمل معه من هُمُوم ومَشاكِل، فهي كذلك تُعِين زوجَها على أمر الآخرة. وفي رواية الحاكم – رحمه الله تعالى – لهذا الحديث وصَفَها – صلى الله عليه وسلم – بقوله: ((فمن السعادة: المرأة الصالحة، تراها فتُعجِبك، وتَغِيب عنها فتأمنها على نفسها ومالك))؛ أخرجه الحاكم، وحسَّنه الألباني في “صحيح الجامع”. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “istri yang shalihah”. Istri yang shalihah merupakan sebaik-baik kenikmatan dunia, sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam: الدُّنْيَا كُلُُّهَا مَتَاعٌ، وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ “Dunia itu seluruhnya kenikmatan, dan sebaik-baik kenikmatan dunia adalah istri shalihah.” (HR. Muslim dan lainnya dari Abdullah bin Amru. Sedangkan dalam riwayat An-Nasa’i dan Ibnu Majah disebutkan: إنَّمَا الدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَلَيْسَ مِنْ مَتَاعِ الدُّنْيَا شَيْءٌ أَفْضَلُ مِنْ الْمَرْأَةِ الصَّالِحَةِ “Dunia itu isinya kenikmatan, dan tidak ada kenikmatan dunia yang lebih baik daripada istri yang shalihah.” (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). Selain istri yang shalihah itu menjadi kenikmatan duniawi yang dapat menghadirkan kebahagiaan dan keindahan hidup bagi suaminya dan turut membantunya untuk memikul beban dan masalah, ia juga dapat menyokong suaminya untuk menjalankan urusan akhirat. Dalam riwayat Al-Hakim Rahimahullah, disebutkan dalam hadis ini bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam menyebutkan sifat istri shalihah dengan bersabda: فَمِنَ السَّعَادَةِ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، تَرَاهَا فَتُعْجِبُكَ، وَتَغِيبُ عَنْهَا فَتَأْمَنُهَا عَلَى نَفْسِهَا وَمَالِكَ “Di antara kebahagiaan adalah istri shalihah, saat kamu menatapnya, dia membuatmu senang, dan saat kamu tidak ada di sisinya, dia menjaga dirinya dan hartamu.” (HR. Al-Hakim. Dihasankan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). ووصَفَها – صلى الله عليه وسلم – في حديثٍ آخر بقوله: ((خير النساء التي تسرُّه إذا نظر، وتُطِيعه إذا أمر، ولا تُخالِفه في نفسها ولا مالها بما يكره))؛ أخرجه أحمد والنسائي والحاكم من حديث أبي هريرة، وصحَّحه الألباني في “صحيح الجامع”. ووَصَفَها – صلى الله عليه وسلم – كذلك بقوله: ((تزوَّجوا الوَدودَ الوَلودَ؛ فإنِّي مُكاثِرٌ بكم))؛ أخرجه أبو داود والنسائي من حديث مَعقِل بن يَسار، وصحَّحه الألباني في “صحيح الجامع”. Sedangkan dalam hadis yang lain, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam menyebutkan sifatnya dengan bersabda: خَيْرُ النِّسَاءِ الَّتِي تَسُرُّهُ إذَا نَظَرَ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَلَا مَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ “Sebaik-baik istri adalah yang membuat bahagia suami saat dia melihatnya, menaatinya saat dia menyuruhnya, dan tidak menyelisihinya pada diri dan hartanya dengan sesuatu yang dia (suami) benci.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i, dan Al-Hakim dari Abu Hurairah. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam juga menyebutkan sifatnya melalui sabda beliau: تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ؛ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ “Menikahlah dengan wanita yang penyayang dan subur, karena aku bangga dengan banyaknya jumlah kalian.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i dari Ma’qil bin Yasar. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). فخيرُ النِّساء التي تسرُّ زوجَها بهيئتها الجميلة إذا نظر إليها، وتُطِيعه إذا أمَرَها بشيء غير محرَّم، ولا تُخالِفه في نفسها – بل ولا في مالها – بما يكره، وهي الوَدُود التي تُكثِر التودُّد والتحبُّب لزوجها، هي تلك المرأة التي قال فيها – صلى الله عليه وسلم -: ((ألاَ أُخبِركم بنسائكم من أهل الجنة؟ الوَدُود الوَلُود العؤود، التي إذا ظُلِمت قالت: هذه يدي في يدك، لا أذوق غَمْضًا حتى ترضى))؛ أخرجه الدارقطني في “الأفراد”، والطبراني، وحسَّنه الألباني في “صحيح الجامع”. وكذلك من سعادة المرأة المسلمة الزوج الصالح، وهو الذي يَكفِي امرأتَه مُؤَنَ الحياة، ويُعِينها على أمر دينها. Sebaik-baik istri adalah yang dapat membuat suaminya bahagia dengan penampilannya yang cantik jika dipandang suami, selalu menaatinya saat menyuruhnya melakukan sesuatu yang tidak    diharamkan, dan tidak menyelisihi suami dalam perkara dirinya – dan bahkan hartanya – dengan sesuatu yang tidak disukai suami. Dia adalah wanita penyayang yang penuh kasih kepada suaminya, wanita yang disebutkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam dalam sabda beliau: ألَا أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ الْوَدُودُ الْوَلُودُ الْعَؤُودُ، الَّتِي إِذَا ظُلِمَتْ قَالَتْ: هَذِهِ يَدِي فِي يَدِكَ، لَا أَذُوقُ غُمْضًا حَتَّى تَرْضَى “Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang istri kalian dari penghuni surga? Yaitu istri yang penyayang, melahirkan banyak anak, dan mendatangkan banyak manfaat bagi suaminya, yang apabila terzalimi (oleh suaminya dengan nafkah yang kurang atau lainnya) ia berkata kepada suaminya, ‘Ini tanganku di genggamanmu. Aku tidak akan dapat merasakan tidur yang nyenyak hingga kamu ridha kepadaku.’” (HR. Ad-Daruquthni dalam kitab Al-Afrad dan Ath-Thabrani. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). Demikian juga salah satu bentuk kebahagiaan bagi wanita muslimah adalah suami yang saleh, yaitu suami yang mencukupi kebutuhan hidupnya dan menyokongnya dalam menjalankan urusan agamanya. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والمسكن الواسِع)): زادَ في رواية الحاكم: ((والدار تكون واسعة كثيرة المَرافِق))، فالمسكن الواسِع أبهج للنفوس وأحبُّ إليها؛ لأنَّ في السعة عامَّة راحةً نفسيَّة، كما أن الدار الواسِعَة أجمع لحاجات أصحابها. Sabda beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “Tempat tinggal yang luas”, dan dalam riwayat Al-Hakim terdapat tambahan kalimat, “Rumah yang luas dan punya banyak perabot.” Tempat tinggal yang luas lebih menyenangkan dan disukai jiwa manusia, karena secara umum, tempat tinggal yang luas dapat memberi kenyamanan jiwa, juga lebih fungsional untuk berbagai kebutuhan pemiliknya. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والجار الصالح)): فهو الذي يكفُّ أذاه عن جِيرانه، ويُحسِن إليهم في مَعاشِهم وآخرتهم، وقد وصَّانا ربُّنا – تبارك وتعالى – بالجار فقال: ﴿ وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ ﴾ [النساء: 36]. وفي الصحيحين من حديث عائشة وعبدالله بن عمر – رضي الله عنهم جميعًا – أنَّ النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: ((ما زال جبريل يُوصِيني بالجار حتى ظننت أنَّه سيُورِّثه))، وبالَغ – صلى الله عليه وسلم – في حقوق الجار فقال: ((ما آمَن بي مَن بات شبعان وجارُه جائِع إلى جنبه وهو يعلم به))؛ أخرجه البزَّار والطبراني، وصحَّحه الألباني في “صحيح الجامع”. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “Tetangga yang saleh”, yakni tetangga yang tidak mengganggu para tetangganya, dan bersikap baik kepada mereka dalam urusan hidup sehari-hari dan urusan akhirat. Tuhan kita Tabaraka wa Ta’ala telah berwasiat kepada kita untuk bersikap baik terhadap tetangga melalui firman-Nya: وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh.” (QS. An-Nisa: 36). Dalam Ash-Shahihain disebutkan hadis riwayat Aisyah dan Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhum bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ “Jibril selalu mewasiatkan kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga, hingga aku mengira bahwa dia akan menjadikannya termasuk orang yang berhak mendapat warisan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Beliau juga sangat menekankan pemenuhan hak-hak tetangga dengan bersabda: مَا أمَنَ بِي مَنْ بَاتَ شَبْعَانَ وَجَارُهُ جَائِعٌ إلَى جَنْبِهِ وَهُوَ يَعْلَمُ بِهِ “Tidaklah beriman kepadaku orang yang melewati malam dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangganya kelaparan, padahal dia mengetahui hal itu.” (HR. Al-Bazzar dan Ath-Thabrani. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والمركب الهَنِيء)): في رواية الحاكم تفسير له: ((والدابَّة تكون وَطِيئة فتُلحِقك بأصحابك))، وفي زماننا هذا اختلفت المراكب، لكن منها كذلك ما هو هَنِيء مُرِيح لصاحبه، ومنها ما هو سيِّئ مُتعب. والمركب الهَنِيء عادة لا يُؤَخِّر صاحبه عن مقصده وحاجته، كما لا يلحق به مَتاعِب الطريق المعوج غير المُذَلَّل، واليوم المركب الهَنِيء لا يشعر صاحبه بِمَتاعِب الجوِّ، سواء أكان الجوُّ حارًّا أم باردًا، كما يكون سهلاً في قيادته، وكلُّ هذا لا شكَّ من السعادة الدنيويَّة ومن راحة الإنسان في هذه الحياة الدنيا. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “dan kendaraan yang nyaman.” Dan dalam riwayat Al-Hakim terdapat penafsiran kalimat ini, “dan hewan tunggangan nyaman yang mampu membawamu menyusul teman-temanmu.” Adapun di zaman kita, kendaraan sudah beraneka ragamnya, tapi ada yang nyaman bagi penggunanya dan ada juga yang membuat lelah. Kendaraan yang nyaman biasanya tidak membuat pemiliknya terhambat dari tujuan dan urusannya, juga tidak membuatnya pegal-pegal saat melalui jalan yang berkelok dan terjal. Kendaraan yang nyaman pada zaman ini tidak membuat pemiliknya merasakan gangguan cuaca, baik itu saat cuaca panas atau dingin, serta lebih mudah dikendarai. Tidak diragukan lagi bahwa itu semua termasuk kebahagiaan duniawi dan menjadi sebab kedamaian seseorang dalam menjalani kehidupan dunia ini. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((وأربعٌ من الشَّقَاء)): وهي بضدِّ الأولى، والشَّقاء هنا هو المشقَّة والتَّعَب، وهذا الشقاء يَكُون للمؤمن الديِّن بلاء واختبارًا من الله – عزَّ وجلَّ – يرفع به درجته، ويحطُّ به خطيئته، ولغير المؤمن جزاء وعقابًا. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “Dan empat hal yang termasuk kesengsaraan”. Ini merupakan kebalikan dari yang pertama, dan yang dimaksud di sini adalah kesulitan dan keletihan. Kesengsaraan ini bagi seorang mukmin yang teguh agamanya merupakan ujian dan cobaan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, untuk mengangkat derajatnya dan menggugurkan dosanya. Sedangkan bagi selain orang mukmin merupakan balasan dan siksaan. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((المرأة السوء)): وفي رواية الحاكم وصفٌ لها بأنها: ((تراها فتَسُوءُك، وتحمل لسانها عليك، وإن غبتَ عنها لم تأمنها على نفسها ومالك))، فمنظرها عند زوجها قبيح، ولسانها عليه حادٌّ، ولنفسها وماله غير حافظة. وصِفة واحدة من هذه الصفات في المرأة مُؤذِنة بكراهية زوجها لها وشقائه بها، فكيف إذا جمعت هذه الصفات كلها أو زادت عليها؟! Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “istri yang berperangai buruk.” Dalam riwayat Al-Hakim disebutkan ciri-cirinya, yaitu, “Jika kamu melihatnya, dia membuatmu tidak senang, suka memberi celaan kepadamu, dan ketika kamu jauh darinya, dia tidak amanah dalam dirinya dan hartamu.” Penampilannya jelek menurut suaminya, lisannya tajam terhadapnya, dan tidak dapat menjaga dirinya dan harta keluarganya. Salah satu sifat ini jika ada pada seorang wanita sudah menjadi tanda kebencian dan penderitaan suaminya terhadapnya. Apalagi jika ada wanita yang memiliki semua sifat ini atau bahkan ditambah sifat-sifat buruk lainnya?! قوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والجار السوء)): فهو السيِّئ الأخلاق، الذي لا يكفُّ أذاه عن جارِه، ولا يَعرِف حقوقَه عليه، وفي حديث فَضالَة بن عبيد عند الطبراني: أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: ((ثلاثة من الفواقر))، وذكر منها: ((وجار إن رأى خيرًا دفَنَه، وإن رأى شرًّا أشاعَه))؛ ضعَّفه الألباني في “ضعيف الجامع”. وقد قال – صلى الله عليه وسلم -: ((تعوَّذوا بالله من جار السوء في دار المقام، فإن الجار البادِي يَتحوَّل عنك))؛ أخرجه النسائي من حديث أبي هريرة، وصحَّحه الألباني في “صحيح الجامع”. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “tetangga yang berperangai buruk.” Yakni yang buruk akhlaknya, yang tidak berhenti mengganggu tetangganya, dan tidak peduli terhadap hak-hak orang lain atasnya. Dalam hadis Fadhalah bin Ubaid yang diriwayatkan Ath-Thabrani disebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Ada tiga perkara yang termasuk musibah besar.” Dan beliau menyebutkan salah satunya, “Dan tetangga yang jika melihat kebaikan, dia menutup mata, dan jika melihat keburukan, dia menyebarkannya.” (HR. Ath-Thabrani dilemahkan Al-Albani dalam Dhaif Al-Jami). Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam telah bersabda: تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ جَارٍ السُّوءِ فِي دَارِ الْمَقَامِ، فَإِنَّ الْجَارَّ الْبَادِي يَتَحَوَّل عَنْك “Berlindunglah kepada Allah dari tetangga yang buruk di rumah menetap, karena jika tetangga rumah sementara, akan pergi darimu.” (HR. An-Nasa’i dari Abu Hurairah. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والمركب السوء)): في رواية الحاكم: ((والدابَّة تكون قَطوفًا؛ فإن ضربتها أتعبَتْك، وإن تركتها لم تُلحقك بأصحابك))؛ أي: تكون بطيئة السير، والسيارة السيِّئة في أيامنا نحن، إن تركتها على ما هي عليه أتعبَتْك، وإن حاوَلتَ إصلاحها كلَّفَتْك المال والجهد، ولم تستَقِم لك كما تريد. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “kendaraan yang buruk.” Dan dalam riwayat Al-Hakim disebutkan, “Hewan tunggangan yang lamban; jika kamu memukulnya, itu hanya membuatmu lelah, dan jika kamu membiarkannya, maka tidak mampu membawamu menyusul teman-temanmu.” Yakni hewan itu lamban saat berjalan, atau mobil jelek di zaman kita sekarang, jika kamu membiarkannya seperti itu, itu akan membuatmu lelah, dan jika kamu berusaha membenahinya, itu akan membebani biaya dan usahamu, tapi setelah itu tetap tidak bisa sesuai dengan apa yang kamu harapkan. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والمسكن الضيِّق)): في رواية الحاكم: ((قليلة المَرافِق))، وشقاؤه في أنَّه لا يسع أهله ولا يَفِي بأغراضهم Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “Dan tempat tinggal yang sempit.” Dalam riwayat Al-Hakim disebutkan, “Perabotnya sedikit.” Rumah seperti ini dapat menimbulkan kesengsaraan karena tidak lapang bagi pemiliknya dan tidak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. والحمد لله ربِّ العالمين، وصلِّ اللهمَّ وسلِّم على نبيِّنا محمد، وعلى آله وصحبه ومَن تَبِعَهم بإحسانٍ إلى يوم الدين Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Tuhan semesta alam.  Ya Allah, limpahkanlah salawat dan salam kepada Nabi kita, Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, dan kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan sebaik-baiknya hingga Hari Kiamat. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/47519/أربع-من-السعادة-..-وأربع-من-الشقاء/ Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Orang Haid Masuk Masjid, Ulama Su', Terompet Sangka Kala, Doa Doa Sholat Wajib, Hukum Tukar Kado Dalam Islam Visited 440 times, 18 visit(s) today Post Views: 277 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

8 Sifat Ahlul Qur’an Sejati – Apakah Kamu Termasuk? – Syaikh Abdussalam Asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Sifat-sifat hati Ahlul Qur’an. Hati Ahlul Qur’an memiliki kedudukan yang agung. Karena ia punya keadaan yang berbeda daripada hati yang lain. [SIFAT PERTAMA]Ahlul Qur’an itu, jika diingatkan dengan Al-Qur’an, langsung teringat. [SIFAT KEDUA]Jika dinasihati dengan Al-Qur’an, mereka segera sadar. [SIFAT KETIGA]Jika diperingatkan dengan Al-Qur’an, mereka pun takut. [SIFAT KEEMPAT]Mata mereka mudah menangis, [SIFAT KELIMA]hati mereka lembut, [SIFAT KEENAM]dan perangai mereka santun. Inilah sifat-sifat Ahlul Qur’an yang sebenarnya. Oleh sebab itu, Allah Jalla wa ‘Ala berfirman: bahwa Ahlul Qur’an itu, “…gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah…” (QS. Az-Zumar: 23). Qatadah radhiyallahu ‘anhu berkata setelah menyebutkan ayat ini: “Inilah sifat para wali Allah dalam Kitab-Nya: hati mereka bergetar, dan mata mereka menangis karena Allah Jalla wa ‘Ala.” Qatadah menambahkan: “Allah ‘Azza wa Jalla tidak menyebut di antara sifat mereka bahwa mereka berteriak, atau pingsan (saat mendengar Al-Qur’an).” Qatadah menegaskan: “Justru ini adalah sifat setan-setan para pelaku bid’ah.” Jadi, hati orang-orang beriman akan menjadi lembut karena Al-Qur’an, dan merasa takut saat diingatkan dengan Al-Qur’an. Mata mereka pun berlinang air mata ketika mendengar ayat-ayat agung ini. Demikian pula seluruh amalan hati dalam kategori ini berkaitan erat dengan hati semacam itu. Karena hati adalah gumpalan daging dalam tubuh. Jika ia baik, maka seluruh tubuh menjadi baik. Di antara sifat Ahlul Qur’an—dan saya cukupkan pada sifat ini untuk mempersingkat waktu— [SIFAT KETUJUH & KEDELAPAN]adalah tabiatnya yang tawadhu dan khusyuk kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Sebab, di antara dampak terbesar kekhusyukan adalah tawadhu (rendah hati). Karena itulah, ketika Abu Bakar Al-Ajurri rahimahullahu Ta’ala menyebutkan sifat Ahlul Qur’an, beliau berkata: “…dan mereka bersikap tawadhu kepada sesama Ahlul Qur’an dan kepada orang yang mempelajari Al-Qur’an.” Adapun ketika beliau menyebutkan sifat orang yang mempelajari Al-Qur’an demi kepentingan dunia, beliau mengatakan: “…dan di antara sifat mereka adalah bersikap sombong…” “…Mereka bersikap sombong terhadap orang lain setelah membaca Al-Qur’an dan tidak bersikap tawadhu terhadapnya…” “Mereka juga senang tampil di depan dan merasa lebih tinggi daripada orang lain.” Maka, inilah amalan-amalan hati yang hendaknya seorang Muslim jadikan cermin bagi dirinya. Hendaklah ia memeriksa: apakah dirinya benar-benar termasuk Ahlul Qur’an yang sejati, atau tidak? Oleh sebab itu, diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu Ta‘ala bahwa seorang Mukmin harus menimbang dirinya dengan Al-Qur’an. Jika hasilnya menunjukkan bahwa dia termasuk Ahlul Qur’an, hendaklah ia bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla, memuji-Nya, dan memohon tambahan karunia. Namun, jika keadaannya tidak demikian, hendaklah ia segera meninjau kembali dirinya dan menghisabnya, sebelum Allah ‘Azza wa Jalla yang menghisabnya. ===== صِفَاتُ قُلُوبِ أَهْلِ الْقُرْآنِ إِنَّ لِقُلُوبِ أَهْلِ الْقُرْآنِ شَأْنًا عَظِيمًا فَإِنَّ لَهَا أَمْرًا مُخْتَلِفًا عَنْ غَيْرِهَا فَإِنَّ أَهْلَ الْقُرْآنِ إِذَا ذُكِّرُوا بِالْقُرْآنِ تَذَكَّرُوا وَإِذَا وُعِظُوا بِالْقُرْآنِ انْزَجَرُوا وَإِذَا خُوِّفُوا بِالْقُرْآنِ خَافُوا حَاضِرُ الدَّمْعَةِ رَقِيقُ الْقَلْبِ لَيِّنُ الْجَانِبِ كُلُّ هَذِهِ صِفَاتُ صَاحِبِ الْقُرْآنِ عَلَى الْحَقِيْقَةِ وَلِذَلِكَ ذَكَرَ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا أَنَّ أَصْحَابَ الْقُرْآنِ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَقَالَ قَتَادَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حِينَمَا ذَكَرَ هَذِهِ الْآيَةَ قَالَ هَذَا نَعْتُ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ فِي كِتَابِ اللَّهِ أَنَّهُ تَقْشَعِرُّ قُلُوبُهُمْ وَتَدْمَعُ أَعْيُنُهُمْ لِلَّهِ جَلَّ وَعَلَا قَالَ قَتَادَةُ وَلَمْ يَذْكُرِ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ نَعْتِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا يَصْرَخُونَ وَلَا أَنَّهُ كَانَ يُغْشَى عَلَيْهِمْ قَالَ قَتَادَةُ وَإِنَّمَا هَذَا نَعْتُ أَهْلِ الْبِدَعِ مِنَ الشَّيْطَانِ إِذًا فَقُلُوبُ الْمُؤْمِنِينَ تَلِينُ لِلْقُرْآنِ وَتَخَافُ إِذَا ذُكِّرُوا بِهِ وَتَدْمَعُ أَعْيُنُهُمْ إِذَا مَرَّتْ عَلَيْهِمْ آيَاتٌ مِنْ هَذِهِ الْآيَاتِ الْعَظِيمَةِ كَذَلِكَ كُلُّ أَفْعَالِ الْقُلُوبِ مِنْ هَذَا الْبَابِ مُتَعَلِّقَةٌ بِهَذَا الْقَلْبِ إِذِ الْقَلْبُ هُوَ المُضْغَةُ الَّتِي فِي الْبَدَنِ إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ مِنْ صِفَاتِ صَاحِبِ الْقُرْآنِ وَأَقِفُ عِنْدَ هَذِهِ الصِّفَةِ اخْتِصَارًا لِلْوَقْتِ أَنَّ صَاحِبَ الْقُرْآنِ مِنْ طَبْعِهِ التَّوَاضُعُ وَالْخُشُوعُ لِلَّهِ جَلَّ وَعَلَا فَإِنَّ الْخُشُوعَ مِنْ أَعْظَمِ آثَارِهِ التَّوَاضُعُ وَلِذَلِكَ لَمَّا ذَكَرَ أَبُو بَكْرٍ الْآجُرِّيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى صِفَاتِ أَهْلِ الْقُرْآنِ قَالَ وَيَتَوَاضَعُونَ لِأَهْلِهِ وَلِمَنْ تَعَلَّمَهُ وَلَمَّا ذَكَرَ صِفَةَ الَّذِينَ يَتَعَلَّمُونَ الْقُرْآنَ لِلدُّنْيَا قَالَ وَمِنْ صِفَاتِهِمْ أَنَّهُمْ يَتَكَبَّرُونَ أَنَّهُمْ يَتَكَبَّرُونَ بَعْدَ قِرَاءَتِهِ عَلَى خَلْقِ اللَّهِ وَلَا يَتَوَاضَعُونَ فِيه وَيُحِبُّونَ أَنْ يَتَصَدَّرُوا وَأَنْ يَعْلُو عَلَى غَيْرِهِمْ إِذًا هَذِهِ مِنْ أَفْعَالِ الْقُلُوبِ الَّتِي يَمْتَحِنُ الْمُسْلِمُ نَفْسَهُ وَلْيَنْظُرْ أَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ عَلَى الْحَقِيقَةِ أَمْ أَنَّهُ لَيْسَ كَذَلِكَ وَلِذَلِكَ جَاءَ عَنِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَّ الْمُؤْمِنَ يَخْتَبِرُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْقُرْآنِ فَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ شَكَرَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَحَمِدَهُ وَسَأَلَهُ الزِّيَادَةَ وَإِنْ كَانَ عَلَى غَيْرِ ذَلِكَ النَّعْتِ فَإِنَّهُ حِينَئِذٍ يُرَاجِعُ نَفْسَهُ وَيُحَاسِبُهَا قَبْلَ أَنْ يُحَاسِبَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهَا

8 Sifat Ahlul Qur’an Sejati – Apakah Kamu Termasuk? – Syaikh Abdussalam Asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Sifat-sifat hati Ahlul Qur’an. Hati Ahlul Qur’an memiliki kedudukan yang agung. Karena ia punya keadaan yang berbeda daripada hati yang lain. [SIFAT PERTAMA]Ahlul Qur’an itu, jika diingatkan dengan Al-Qur’an, langsung teringat. [SIFAT KEDUA]Jika dinasihati dengan Al-Qur’an, mereka segera sadar. [SIFAT KETIGA]Jika diperingatkan dengan Al-Qur’an, mereka pun takut. [SIFAT KEEMPAT]Mata mereka mudah menangis, [SIFAT KELIMA]hati mereka lembut, [SIFAT KEENAM]dan perangai mereka santun. Inilah sifat-sifat Ahlul Qur’an yang sebenarnya. Oleh sebab itu, Allah Jalla wa ‘Ala berfirman: bahwa Ahlul Qur’an itu, “…gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah…” (QS. Az-Zumar: 23). Qatadah radhiyallahu ‘anhu berkata setelah menyebutkan ayat ini: “Inilah sifat para wali Allah dalam Kitab-Nya: hati mereka bergetar, dan mata mereka menangis karena Allah Jalla wa ‘Ala.” Qatadah menambahkan: “Allah ‘Azza wa Jalla tidak menyebut di antara sifat mereka bahwa mereka berteriak, atau pingsan (saat mendengar Al-Qur’an).” Qatadah menegaskan: “Justru ini adalah sifat setan-setan para pelaku bid’ah.” Jadi, hati orang-orang beriman akan menjadi lembut karena Al-Qur’an, dan merasa takut saat diingatkan dengan Al-Qur’an. Mata mereka pun berlinang air mata ketika mendengar ayat-ayat agung ini. Demikian pula seluruh amalan hati dalam kategori ini berkaitan erat dengan hati semacam itu. Karena hati adalah gumpalan daging dalam tubuh. Jika ia baik, maka seluruh tubuh menjadi baik. Di antara sifat Ahlul Qur’an—dan saya cukupkan pada sifat ini untuk mempersingkat waktu— [SIFAT KETUJUH & KEDELAPAN]adalah tabiatnya yang tawadhu dan khusyuk kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Sebab, di antara dampak terbesar kekhusyukan adalah tawadhu (rendah hati). Karena itulah, ketika Abu Bakar Al-Ajurri rahimahullahu Ta’ala menyebutkan sifat Ahlul Qur’an, beliau berkata: “…dan mereka bersikap tawadhu kepada sesama Ahlul Qur’an dan kepada orang yang mempelajari Al-Qur’an.” Adapun ketika beliau menyebutkan sifat orang yang mempelajari Al-Qur’an demi kepentingan dunia, beliau mengatakan: “…dan di antara sifat mereka adalah bersikap sombong…” “…Mereka bersikap sombong terhadap orang lain setelah membaca Al-Qur’an dan tidak bersikap tawadhu terhadapnya…” “Mereka juga senang tampil di depan dan merasa lebih tinggi daripada orang lain.” Maka, inilah amalan-amalan hati yang hendaknya seorang Muslim jadikan cermin bagi dirinya. Hendaklah ia memeriksa: apakah dirinya benar-benar termasuk Ahlul Qur’an yang sejati, atau tidak? Oleh sebab itu, diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu Ta‘ala bahwa seorang Mukmin harus menimbang dirinya dengan Al-Qur’an. Jika hasilnya menunjukkan bahwa dia termasuk Ahlul Qur’an, hendaklah ia bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla, memuji-Nya, dan memohon tambahan karunia. Namun, jika keadaannya tidak demikian, hendaklah ia segera meninjau kembali dirinya dan menghisabnya, sebelum Allah ‘Azza wa Jalla yang menghisabnya. ===== صِفَاتُ قُلُوبِ أَهْلِ الْقُرْآنِ إِنَّ لِقُلُوبِ أَهْلِ الْقُرْآنِ شَأْنًا عَظِيمًا فَإِنَّ لَهَا أَمْرًا مُخْتَلِفًا عَنْ غَيْرِهَا فَإِنَّ أَهْلَ الْقُرْآنِ إِذَا ذُكِّرُوا بِالْقُرْآنِ تَذَكَّرُوا وَإِذَا وُعِظُوا بِالْقُرْآنِ انْزَجَرُوا وَإِذَا خُوِّفُوا بِالْقُرْآنِ خَافُوا حَاضِرُ الدَّمْعَةِ رَقِيقُ الْقَلْبِ لَيِّنُ الْجَانِبِ كُلُّ هَذِهِ صِفَاتُ صَاحِبِ الْقُرْآنِ عَلَى الْحَقِيْقَةِ وَلِذَلِكَ ذَكَرَ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا أَنَّ أَصْحَابَ الْقُرْآنِ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَقَالَ قَتَادَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حِينَمَا ذَكَرَ هَذِهِ الْآيَةَ قَالَ هَذَا نَعْتُ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ فِي كِتَابِ اللَّهِ أَنَّهُ تَقْشَعِرُّ قُلُوبُهُمْ وَتَدْمَعُ أَعْيُنُهُمْ لِلَّهِ جَلَّ وَعَلَا قَالَ قَتَادَةُ وَلَمْ يَذْكُرِ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ نَعْتِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا يَصْرَخُونَ وَلَا أَنَّهُ كَانَ يُغْشَى عَلَيْهِمْ قَالَ قَتَادَةُ وَإِنَّمَا هَذَا نَعْتُ أَهْلِ الْبِدَعِ مِنَ الشَّيْطَانِ إِذًا فَقُلُوبُ الْمُؤْمِنِينَ تَلِينُ لِلْقُرْآنِ وَتَخَافُ إِذَا ذُكِّرُوا بِهِ وَتَدْمَعُ أَعْيُنُهُمْ إِذَا مَرَّتْ عَلَيْهِمْ آيَاتٌ مِنْ هَذِهِ الْآيَاتِ الْعَظِيمَةِ كَذَلِكَ كُلُّ أَفْعَالِ الْقُلُوبِ مِنْ هَذَا الْبَابِ مُتَعَلِّقَةٌ بِهَذَا الْقَلْبِ إِذِ الْقَلْبُ هُوَ المُضْغَةُ الَّتِي فِي الْبَدَنِ إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ مِنْ صِفَاتِ صَاحِبِ الْقُرْآنِ وَأَقِفُ عِنْدَ هَذِهِ الصِّفَةِ اخْتِصَارًا لِلْوَقْتِ أَنَّ صَاحِبَ الْقُرْآنِ مِنْ طَبْعِهِ التَّوَاضُعُ وَالْخُشُوعُ لِلَّهِ جَلَّ وَعَلَا فَإِنَّ الْخُشُوعَ مِنْ أَعْظَمِ آثَارِهِ التَّوَاضُعُ وَلِذَلِكَ لَمَّا ذَكَرَ أَبُو بَكْرٍ الْآجُرِّيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى صِفَاتِ أَهْلِ الْقُرْآنِ قَالَ وَيَتَوَاضَعُونَ لِأَهْلِهِ وَلِمَنْ تَعَلَّمَهُ وَلَمَّا ذَكَرَ صِفَةَ الَّذِينَ يَتَعَلَّمُونَ الْقُرْآنَ لِلدُّنْيَا قَالَ وَمِنْ صِفَاتِهِمْ أَنَّهُمْ يَتَكَبَّرُونَ أَنَّهُمْ يَتَكَبَّرُونَ بَعْدَ قِرَاءَتِهِ عَلَى خَلْقِ اللَّهِ وَلَا يَتَوَاضَعُونَ فِيه وَيُحِبُّونَ أَنْ يَتَصَدَّرُوا وَأَنْ يَعْلُو عَلَى غَيْرِهِمْ إِذًا هَذِهِ مِنْ أَفْعَالِ الْقُلُوبِ الَّتِي يَمْتَحِنُ الْمُسْلِمُ نَفْسَهُ وَلْيَنْظُرْ أَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ عَلَى الْحَقِيقَةِ أَمْ أَنَّهُ لَيْسَ كَذَلِكَ وَلِذَلِكَ جَاءَ عَنِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَّ الْمُؤْمِنَ يَخْتَبِرُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْقُرْآنِ فَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ شَكَرَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَحَمِدَهُ وَسَأَلَهُ الزِّيَادَةَ وَإِنْ كَانَ عَلَى غَيْرِ ذَلِكَ النَّعْتِ فَإِنَّهُ حِينَئِذٍ يُرَاجِعُ نَفْسَهُ وَيُحَاسِبُهَا قَبْلَ أَنْ يُحَاسِبَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهَا
Sifat-sifat hati Ahlul Qur’an. Hati Ahlul Qur’an memiliki kedudukan yang agung. Karena ia punya keadaan yang berbeda daripada hati yang lain. [SIFAT PERTAMA]Ahlul Qur’an itu, jika diingatkan dengan Al-Qur’an, langsung teringat. [SIFAT KEDUA]Jika dinasihati dengan Al-Qur’an, mereka segera sadar. [SIFAT KETIGA]Jika diperingatkan dengan Al-Qur’an, mereka pun takut. [SIFAT KEEMPAT]Mata mereka mudah menangis, [SIFAT KELIMA]hati mereka lembut, [SIFAT KEENAM]dan perangai mereka santun. Inilah sifat-sifat Ahlul Qur’an yang sebenarnya. Oleh sebab itu, Allah Jalla wa ‘Ala berfirman: bahwa Ahlul Qur’an itu, “…gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah…” (QS. Az-Zumar: 23). Qatadah radhiyallahu ‘anhu berkata setelah menyebutkan ayat ini: “Inilah sifat para wali Allah dalam Kitab-Nya: hati mereka bergetar, dan mata mereka menangis karena Allah Jalla wa ‘Ala.” Qatadah menambahkan: “Allah ‘Azza wa Jalla tidak menyebut di antara sifat mereka bahwa mereka berteriak, atau pingsan (saat mendengar Al-Qur’an).” Qatadah menegaskan: “Justru ini adalah sifat setan-setan para pelaku bid’ah.” Jadi, hati orang-orang beriman akan menjadi lembut karena Al-Qur’an, dan merasa takut saat diingatkan dengan Al-Qur’an. Mata mereka pun berlinang air mata ketika mendengar ayat-ayat agung ini. Demikian pula seluruh amalan hati dalam kategori ini berkaitan erat dengan hati semacam itu. Karena hati adalah gumpalan daging dalam tubuh. Jika ia baik, maka seluruh tubuh menjadi baik. Di antara sifat Ahlul Qur’an—dan saya cukupkan pada sifat ini untuk mempersingkat waktu— [SIFAT KETUJUH & KEDELAPAN]adalah tabiatnya yang tawadhu dan khusyuk kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Sebab, di antara dampak terbesar kekhusyukan adalah tawadhu (rendah hati). Karena itulah, ketika Abu Bakar Al-Ajurri rahimahullahu Ta’ala menyebutkan sifat Ahlul Qur’an, beliau berkata: “…dan mereka bersikap tawadhu kepada sesama Ahlul Qur’an dan kepada orang yang mempelajari Al-Qur’an.” Adapun ketika beliau menyebutkan sifat orang yang mempelajari Al-Qur’an demi kepentingan dunia, beliau mengatakan: “…dan di antara sifat mereka adalah bersikap sombong…” “…Mereka bersikap sombong terhadap orang lain setelah membaca Al-Qur’an dan tidak bersikap tawadhu terhadapnya…” “Mereka juga senang tampil di depan dan merasa lebih tinggi daripada orang lain.” Maka, inilah amalan-amalan hati yang hendaknya seorang Muslim jadikan cermin bagi dirinya. Hendaklah ia memeriksa: apakah dirinya benar-benar termasuk Ahlul Qur’an yang sejati, atau tidak? Oleh sebab itu, diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu Ta‘ala bahwa seorang Mukmin harus menimbang dirinya dengan Al-Qur’an. Jika hasilnya menunjukkan bahwa dia termasuk Ahlul Qur’an, hendaklah ia bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla, memuji-Nya, dan memohon tambahan karunia. Namun, jika keadaannya tidak demikian, hendaklah ia segera meninjau kembali dirinya dan menghisabnya, sebelum Allah ‘Azza wa Jalla yang menghisabnya. ===== صِفَاتُ قُلُوبِ أَهْلِ الْقُرْآنِ إِنَّ لِقُلُوبِ أَهْلِ الْقُرْآنِ شَأْنًا عَظِيمًا فَإِنَّ لَهَا أَمْرًا مُخْتَلِفًا عَنْ غَيْرِهَا فَإِنَّ أَهْلَ الْقُرْآنِ إِذَا ذُكِّرُوا بِالْقُرْآنِ تَذَكَّرُوا وَإِذَا وُعِظُوا بِالْقُرْآنِ انْزَجَرُوا وَإِذَا خُوِّفُوا بِالْقُرْآنِ خَافُوا حَاضِرُ الدَّمْعَةِ رَقِيقُ الْقَلْبِ لَيِّنُ الْجَانِبِ كُلُّ هَذِهِ صِفَاتُ صَاحِبِ الْقُرْآنِ عَلَى الْحَقِيْقَةِ وَلِذَلِكَ ذَكَرَ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا أَنَّ أَصْحَابَ الْقُرْآنِ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَقَالَ قَتَادَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حِينَمَا ذَكَرَ هَذِهِ الْآيَةَ قَالَ هَذَا نَعْتُ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ فِي كِتَابِ اللَّهِ أَنَّهُ تَقْشَعِرُّ قُلُوبُهُمْ وَتَدْمَعُ أَعْيُنُهُمْ لِلَّهِ جَلَّ وَعَلَا قَالَ قَتَادَةُ وَلَمْ يَذْكُرِ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ نَعْتِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا يَصْرَخُونَ وَلَا أَنَّهُ كَانَ يُغْشَى عَلَيْهِمْ قَالَ قَتَادَةُ وَإِنَّمَا هَذَا نَعْتُ أَهْلِ الْبِدَعِ مِنَ الشَّيْطَانِ إِذًا فَقُلُوبُ الْمُؤْمِنِينَ تَلِينُ لِلْقُرْآنِ وَتَخَافُ إِذَا ذُكِّرُوا بِهِ وَتَدْمَعُ أَعْيُنُهُمْ إِذَا مَرَّتْ عَلَيْهِمْ آيَاتٌ مِنْ هَذِهِ الْآيَاتِ الْعَظِيمَةِ كَذَلِكَ كُلُّ أَفْعَالِ الْقُلُوبِ مِنْ هَذَا الْبَابِ مُتَعَلِّقَةٌ بِهَذَا الْقَلْبِ إِذِ الْقَلْبُ هُوَ المُضْغَةُ الَّتِي فِي الْبَدَنِ إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ مِنْ صِفَاتِ صَاحِبِ الْقُرْآنِ وَأَقِفُ عِنْدَ هَذِهِ الصِّفَةِ اخْتِصَارًا لِلْوَقْتِ أَنَّ صَاحِبَ الْقُرْآنِ مِنْ طَبْعِهِ التَّوَاضُعُ وَالْخُشُوعُ لِلَّهِ جَلَّ وَعَلَا فَإِنَّ الْخُشُوعَ مِنْ أَعْظَمِ آثَارِهِ التَّوَاضُعُ وَلِذَلِكَ لَمَّا ذَكَرَ أَبُو بَكْرٍ الْآجُرِّيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى صِفَاتِ أَهْلِ الْقُرْآنِ قَالَ وَيَتَوَاضَعُونَ لِأَهْلِهِ وَلِمَنْ تَعَلَّمَهُ وَلَمَّا ذَكَرَ صِفَةَ الَّذِينَ يَتَعَلَّمُونَ الْقُرْآنَ لِلدُّنْيَا قَالَ وَمِنْ صِفَاتِهِمْ أَنَّهُمْ يَتَكَبَّرُونَ أَنَّهُمْ يَتَكَبَّرُونَ بَعْدَ قِرَاءَتِهِ عَلَى خَلْقِ اللَّهِ وَلَا يَتَوَاضَعُونَ فِيه وَيُحِبُّونَ أَنْ يَتَصَدَّرُوا وَأَنْ يَعْلُو عَلَى غَيْرِهِمْ إِذًا هَذِهِ مِنْ أَفْعَالِ الْقُلُوبِ الَّتِي يَمْتَحِنُ الْمُسْلِمُ نَفْسَهُ وَلْيَنْظُرْ أَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ عَلَى الْحَقِيقَةِ أَمْ أَنَّهُ لَيْسَ كَذَلِكَ وَلِذَلِكَ جَاءَ عَنِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَّ الْمُؤْمِنَ يَخْتَبِرُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْقُرْآنِ فَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ شَكَرَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَحَمِدَهُ وَسَأَلَهُ الزِّيَادَةَ وَإِنْ كَانَ عَلَى غَيْرِ ذَلِكَ النَّعْتِ فَإِنَّهُ حِينَئِذٍ يُرَاجِعُ نَفْسَهُ وَيُحَاسِبُهَا قَبْلَ أَنْ يُحَاسِبَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهَا


Sifat-sifat hati Ahlul Qur’an. Hati Ahlul Qur’an memiliki kedudukan yang agung. Karena ia punya keadaan yang berbeda daripada hati yang lain. [SIFAT PERTAMA]Ahlul Qur’an itu, jika diingatkan dengan Al-Qur’an, langsung teringat. [SIFAT KEDUA]Jika dinasihati dengan Al-Qur’an, mereka segera sadar. [SIFAT KETIGA]Jika diperingatkan dengan Al-Qur’an, mereka pun takut. [SIFAT KEEMPAT]Mata mereka mudah menangis, [SIFAT KELIMA]hati mereka lembut, [SIFAT KEENAM]dan perangai mereka santun. Inilah sifat-sifat Ahlul Qur’an yang sebenarnya. Oleh sebab itu, Allah Jalla wa ‘Ala berfirman: bahwa Ahlul Qur’an itu, “…gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah…” (QS. Az-Zumar: 23). Qatadah radhiyallahu ‘anhu berkata setelah menyebutkan ayat ini: “Inilah sifat para wali Allah dalam Kitab-Nya: hati mereka bergetar, dan mata mereka menangis karena Allah Jalla wa ‘Ala.” Qatadah menambahkan: “Allah ‘Azza wa Jalla tidak menyebut di antara sifat mereka bahwa mereka berteriak, atau pingsan (saat mendengar Al-Qur’an).” Qatadah menegaskan: “Justru ini adalah sifat setan-setan para pelaku bid’ah.” Jadi, hati orang-orang beriman akan menjadi lembut karena Al-Qur’an, dan merasa takut saat diingatkan dengan Al-Qur’an. Mata mereka pun berlinang air mata ketika mendengar ayat-ayat agung ini. Demikian pula seluruh amalan hati dalam kategori ini berkaitan erat dengan hati semacam itu. Karena hati adalah gumpalan daging dalam tubuh. Jika ia baik, maka seluruh tubuh menjadi baik. Di antara sifat Ahlul Qur’an—dan saya cukupkan pada sifat ini untuk mempersingkat waktu— [SIFAT KETUJUH & KEDELAPAN]adalah tabiatnya yang tawadhu dan khusyuk kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Sebab, di antara dampak terbesar kekhusyukan adalah tawadhu (rendah hati). Karena itulah, ketika Abu Bakar Al-Ajurri rahimahullahu Ta’ala menyebutkan sifat Ahlul Qur’an, beliau berkata: “…dan mereka bersikap tawadhu kepada sesama Ahlul Qur’an dan kepada orang yang mempelajari Al-Qur’an.” Adapun ketika beliau menyebutkan sifat orang yang mempelajari Al-Qur’an demi kepentingan dunia, beliau mengatakan: “…dan di antara sifat mereka adalah bersikap sombong…” “…Mereka bersikap sombong terhadap orang lain setelah membaca Al-Qur’an dan tidak bersikap tawadhu terhadapnya…” “Mereka juga senang tampil di depan dan merasa lebih tinggi daripada orang lain.” Maka, inilah amalan-amalan hati yang hendaknya seorang Muslim jadikan cermin bagi dirinya. Hendaklah ia memeriksa: apakah dirinya benar-benar termasuk Ahlul Qur’an yang sejati, atau tidak? Oleh sebab itu, diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu Ta‘ala bahwa seorang Mukmin harus menimbang dirinya dengan Al-Qur’an. Jika hasilnya menunjukkan bahwa dia termasuk Ahlul Qur’an, hendaklah ia bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla, memuji-Nya, dan memohon tambahan karunia. Namun, jika keadaannya tidak demikian, hendaklah ia segera meninjau kembali dirinya dan menghisabnya, sebelum Allah ‘Azza wa Jalla yang menghisabnya. ===== صِفَاتُ قُلُوبِ أَهْلِ الْقُرْآنِ إِنَّ لِقُلُوبِ أَهْلِ الْقُرْآنِ شَأْنًا عَظِيمًا فَإِنَّ لَهَا أَمْرًا مُخْتَلِفًا عَنْ غَيْرِهَا فَإِنَّ أَهْلَ الْقُرْآنِ إِذَا ذُكِّرُوا بِالْقُرْآنِ تَذَكَّرُوا وَإِذَا وُعِظُوا بِالْقُرْآنِ انْزَجَرُوا وَإِذَا خُوِّفُوا بِالْقُرْآنِ خَافُوا حَاضِرُ الدَّمْعَةِ رَقِيقُ الْقَلْبِ لَيِّنُ الْجَانِبِ كُلُّ هَذِهِ صِفَاتُ صَاحِبِ الْقُرْآنِ عَلَى الْحَقِيْقَةِ وَلِذَلِكَ ذَكَرَ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا أَنَّ أَصْحَابَ الْقُرْآنِ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَقَالَ قَتَادَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حِينَمَا ذَكَرَ هَذِهِ الْآيَةَ قَالَ هَذَا نَعْتُ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ فِي كِتَابِ اللَّهِ أَنَّهُ تَقْشَعِرُّ قُلُوبُهُمْ وَتَدْمَعُ أَعْيُنُهُمْ لِلَّهِ جَلَّ وَعَلَا قَالَ قَتَادَةُ وَلَمْ يَذْكُرِ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ نَعْتِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا يَصْرَخُونَ وَلَا أَنَّهُ كَانَ يُغْشَى عَلَيْهِمْ قَالَ قَتَادَةُ وَإِنَّمَا هَذَا نَعْتُ أَهْلِ الْبِدَعِ مِنَ الشَّيْطَانِ إِذًا فَقُلُوبُ الْمُؤْمِنِينَ تَلِينُ لِلْقُرْآنِ وَتَخَافُ إِذَا ذُكِّرُوا بِهِ وَتَدْمَعُ أَعْيُنُهُمْ إِذَا مَرَّتْ عَلَيْهِمْ آيَاتٌ مِنْ هَذِهِ الْآيَاتِ الْعَظِيمَةِ كَذَلِكَ كُلُّ أَفْعَالِ الْقُلُوبِ مِنْ هَذَا الْبَابِ مُتَعَلِّقَةٌ بِهَذَا الْقَلْبِ إِذِ الْقَلْبُ هُوَ المُضْغَةُ الَّتِي فِي الْبَدَنِ إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ مِنْ صِفَاتِ صَاحِبِ الْقُرْآنِ وَأَقِفُ عِنْدَ هَذِهِ الصِّفَةِ اخْتِصَارًا لِلْوَقْتِ أَنَّ صَاحِبَ الْقُرْآنِ مِنْ طَبْعِهِ التَّوَاضُعُ وَالْخُشُوعُ لِلَّهِ جَلَّ وَعَلَا فَإِنَّ الْخُشُوعَ مِنْ أَعْظَمِ آثَارِهِ التَّوَاضُعُ وَلِذَلِكَ لَمَّا ذَكَرَ أَبُو بَكْرٍ الْآجُرِّيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى صِفَاتِ أَهْلِ الْقُرْآنِ قَالَ وَيَتَوَاضَعُونَ لِأَهْلِهِ وَلِمَنْ تَعَلَّمَهُ وَلَمَّا ذَكَرَ صِفَةَ الَّذِينَ يَتَعَلَّمُونَ الْقُرْآنَ لِلدُّنْيَا قَالَ وَمِنْ صِفَاتِهِمْ أَنَّهُمْ يَتَكَبَّرُونَ أَنَّهُمْ يَتَكَبَّرُونَ بَعْدَ قِرَاءَتِهِ عَلَى خَلْقِ اللَّهِ وَلَا يَتَوَاضَعُونَ فِيه وَيُحِبُّونَ أَنْ يَتَصَدَّرُوا وَأَنْ يَعْلُو عَلَى غَيْرِهِمْ إِذًا هَذِهِ مِنْ أَفْعَالِ الْقُلُوبِ الَّتِي يَمْتَحِنُ الْمُسْلِمُ نَفْسَهُ وَلْيَنْظُرْ أَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ عَلَى الْحَقِيقَةِ أَمْ أَنَّهُ لَيْسَ كَذَلِكَ وَلِذَلِكَ جَاءَ عَنِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَّ الْمُؤْمِنَ يَخْتَبِرُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْقُرْآنِ فَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ شَكَرَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَحَمِدَهُ وَسَأَلَهُ الزِّيَادَةَ وَإِنْ كَانَ عَلَى غَيْرِ ذَلِكَ النَّعْتِ فَإِنَّهُ حِينَئِذٍ يُرَاجِعُ نَفْسَهُ وَيُحَاسِبُهَا قَبْلَ أَنْ يُحَاسِبَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهَا

Bahaya Mencari Petunjuk di Luar Syariat Islam

Daftar Isi ToggleIslam tidak butuh tambahanMengapa Nabi Marah?Syariat Nabi me-nasakh (menghapus) semua syariat sebelumnyaBahaya mengagungkan ajaran di luar IslamMenjaga kemurnian tauhid dan syariatPenangkal keraguanDiriwayatkan dalam hadis sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah marah kepada Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu ketika beliau mendapati Umar membaca lembaran-lembaran Taurat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,[ أَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا بْنَ الخَطَّابِ؟ أَلَمْ آتِ بِهَا بَيْضَاءُ نَقِيَّةٌ؟! لَوْ كَانَ أَخِيْ مُوْسَى حَيًّا مَا وَسَعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِي [رواه أحمد والدارمي وغيرهما.“Apakah engkau ragu, wahai Ibnul Khaththab? Apakah dalam Taurat ada ajaran yang lebih putih dan lebih bersih (daripada yang aku bawa)? Seandainya saudaraku Musa hidup, niscaya tidak ada pilihan baginya kecuali mengikutiku.” (HR. Ahmad, 3: 387; Ad-Darimi, 1: 115–116; Al-Bazzar; Ibnu Abi ‘Ashim; dan Ibnu ‘Abdil Barr, dalam Jâmi‘ Bayânil ‘Ilmi wa Fadhlih, 1: 24)Hadis ini menunjukkan betapa tegasnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menjaga kemurnian wahyu dan melarang umatnya mencari petunjuk di luar syariat Islam. Meski Umar radhiyallahu ‘anhu dikenal dengan kecerdasan dan keikhlasannya, Rasulullah tetap menegur dengan keras demi menutup pintu keraguan terhadap kesempurnaan Islam.Islam tidak butuh tambahanAllah Ta‘ala berfirman,ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan telah Aku ridai Islam sebagai agama kalian.” (QS. al-Mâ’idah: 3)Ayat ini adalah dalil yang paling tegas tentang kesempurnaan agama ini. Setelah turunnya ayat tersebut, wahyu syariat telah selesai. Tidak ada lagi agama baru, tidak ada tambahan ajaran, dan tidak ada petunjuk lain yang diperlukan manusia di luar Islam.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini, “Terimalah oleh kalian dengan rela Islam sebagai agama kali­an, karena sesungguhnya Islam adalah agama yang disukai dan diridai Allah, dan Dia telah mengutus rasul yang paling utama dan terhor­mat sebagai pembawanya, dan menurunkan Kitab-Nya yang paling mulia dengan melaluinya.”Maka, ketika Umar membaca Taurat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membiarkannya. Karena hal itu — walaupun tampak ringan — mengandung isyarat bahwa mungkin ada petunjuk lain selain al-Qur’an dan Sunnah yang bisa dijadikan pegangan. Padahal, mencari petunjuk di luar Islam berarti menuduh agama ini belum sempurna.Mengapa Nabi Marah?Sabda Nabi, أَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا بْنَ الخَطَّابِ؟“Apakah dalam hatimu ada keraguan, wahai Ibnul Khaththab?”Ini adalah bentuk teguran keras agar setiap Muslim tidak membuka pintu keraguan terhadap Islam. Karena keraguan, meskipun kecil, bisa menjadi benih kesesatan yang tumbuh besar bila dibiarkan.Keraguan terhadap kesempurnaan Islam bisa muncul dalam banyak bentuk, seperti:Menganggap hukum selain Islam lebih adil.Menganggap syariat tidak cocok untuk zaman modern.Mencari ajaran moral atau spiritualitas dari agama atau sistem lain.Semua bentuk ini termasuk isyarat lemahnya keyakinan terhadap kesempurnaan wahyu Allah.Syariat Nabi me-nasakh (menghapus) semua syariat sebelumnyaSabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,لَوْ كَانَ أَخِيْ مُوْسَى حَيًّا مَا وَسَعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِي“Seandainya Musa hidup, niscaya tidak ada pilihan baginya kecuali mengikutiku.” Oleh karenanya, jelas bahwa syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam me-nasakh (menghapus) seluruh syariat sebelumnya. Para Nabi terdahulu datang untuk kaum tertentu, sedangkan Nabi Muhammad diutus untuk seluruh umat manusia sampai hari kiamat.Allah berfirman,قُلْ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّى رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا“Katakanlah (wahai Muhammad): Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua.” (QS. al-A‘râf: 158)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam tafsir ayat ini, “Ayat ini adalah perintah dari Allah kepada Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar beliau memberitahukan kepada seluruh manusia bahwa beliau adalah utusan Allah kepada mereka semuanya.” (Tafsîr Ibnu Katsîr, 3: 426)Jadi, tidak ada satu pun manusia setelah diutusnya Rasulullah yang boleh mengikuti syariat selain syariat beliau. Bahkan jika Nabi Musa ‘alaihis salam masih hidup, beliau pun akan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Bahaya mengagungkan ajaran di luar IslamRealitas hari ini menunjukkan bahwa banyak kaum Muslim terpesona oleh sistem dan konsep di luar Islam. Ada yang mengagungkan filosofi Barat, teori psikologi sekuler, sistem ekonomi kapitalis, atau ajaran spiritual non-Islam. Semuanya berangkat dari satu akar: merasa bahwa Islam belum cukup menjawab tantangan zaman.Padahal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ  . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ  وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“ (HR. Bukhari no. 7319, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)Betapa benar sabda beliau. Banyak umat Islam yang lebih percaya kepada teori manusia daripada wahyu Allah. Padahal, sistem dan ideologi manusia penuh keterbatasan dan hawa nafsu. Sementara wahyu Allah bersumber dari ilmu dan hikmah yang sempurna.Menjaga kemurnian tauhid dan syariatHadis ini juga mengandung pesan penting tentang menjaga kemurnian tauhid. Tauhid bukan hanya dalam aspek ibadah seperti salat dan doa, tetapi juga dalam keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak mengatur kehidupan manusia melalui wahyu dan hukum-Nya.Dengan demikian, seorang Muslim harus meyakini bahwa syariat Islam merupakan satu-satunya pedoman hidup yang paling benar dan paling adil, karena bersumber dari Allah Yang Maha Mengetahui. Meyakini adanya sistem atau aturan yang lebih baik dari syariat berarti telah menyimpang dari prinsip tauhid uluhiyah, yaitu hanya tunduk dan patuh kepada hukum Allah.Menjaga kemurnian tauhid berarti menjaga agar seluruh aspek kehidupan, baik ibadah, hukum, maupun muamalah, tetap berporos kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Inilah bentuk nyata dari penghambaan yang murni kepada Allah semata, tanpa menduakan-Nya dengan sistem atau hukum buatan manusia.Penangkal keraguanSumber utama munculnya keraguan adalah kebodohan terhadap agama. Orang yang tidak mengenal al-Qur’an dan Sunnah dengan baik, dia akan mudah terkagum-kagum dengan teori dari luar Islam.Sadarilah bahwa sumber ilmu agama dari luar wahyu justru menimbulkan keraguan, bukan menambah keyakinan. Maka, seorang Muslim harus belajar agama dari sumber yang benar: al-Qur’an, Sunnah, dan penjelasan ulama Ahlus Sunnah.Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu menerima teguran Nabi dengan lapang dada. Setelah itu, beliau tidak lagi membaca kitab-kitab terdahulu, dan justru menjadi sahabat yang paling keras dalam menjaga kemurnian tauhid dan syariat.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ“Aku telah tinggalkan kepada kalian dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik, Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Nashr, dan Ibnu Hazm. Hadis ini disahihkan oleh Syekh Salim Al-Hilali di dalam At-Ta’zhim wa Al-Minnah fi Al-Intishar As-Sunnah, hal. 12-13)Inilah kunci keselamatan umat Islam hingga akhir zaman. Siapa saja yang berpegang teguh kepada al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman salaf, dia akan selamat. Sebaliknya, siapa saja yang mencari petunjuk di luar wahyu, maka ia membuka pintu kesesatan bagi dirinya sendiri.“Apakah engkau ragu, wahai Ibnul Khaththab? Bukankah aku telah datang membawa ajaran yang putih bersih?”Saudaraku, cukupkanlah dirimu dengan wahyu! Semoga Allah meneguhkan kita di atas Islam yang murni hingga akhir hayat.Wallahu a‘lam bish-shawâb.Baca juga: Doa Memohon Petunjuk Ibadah Terbaik***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Bahaya Mencari Petunjuk di Luar Syariat Islam

Daftar Isi ToggleIslam tidak butuh tambahanMengapa Nabi Marah?Syariat Nabi me-nasakh (menghapus) semua syariat sebelumnyaBahaya mengagungkan ajaran di luar IslamMenjaga kemurnian tauhid dan syariatPenangkal keraguanDiriwayatkan dalam hadis sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah marah kepada Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu ketika beliau mendapati Umar membaca lembaran-lembaran Taurat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,[ أَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا بْنَ الخَطَّابِ؟ أَلَمْ آتِ بِهَا بَيْضَاءُ نَقِيَّةٌ؟! لَوْ كَانَ أَخِيْ مُوْسَى حَيًّا مَا وَسَعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِي [رواه أحمد والدارمي وغيرهما.“Apakah engkau ragu, wahai Ibnul Khaththab? Apakah dalam Taurat ada ajaran yang lebih putih dan lebih bersih (daripada yang aku bawa)? Seandainya saudaraku Musa hidup, niscaya tidak ada pilihan baginya kecuali mengikutiku.” (HR. Ahmad, 3: 387; Ad-Darimi, 1: 115–116; Al-Bazzar; Ibnu Abi ‘Ashim; dan Ibnu ‘Abdil Barr, dalam Jâmi‘ Bayânil ‘Ilmi wa Fadhlih, 1: 24)Hadis ini menunjukkan betapa tegasnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menjaga kemurnian wahyu dan melarang umatnya mencari petunjuk di luar syariat Islam. Meski Umar radhiyallahu ‘anhu dikenal dengan kecerdasan dan keikhlasannya, Rasulullah tetap menegur dengan keras demi menutup pintu keraguan terhadap kesempurnaan Islam.Islam tidak butuh tambahanAllah Ta‘ala berfirman,ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan telah Aku ridai Islam sebagai agama kalian.” (QS. al-Mâ’idah: 3)Ayat ini adalah dalil yang paling tegas tentang kesempurnaan agama ini. Setelah turunnya ayat tersebut, wahyu syariat telah selesai. Tidak ada lagi agama baru, tidak ada tambahan ajaran, dan tidak ada petunjuk lain yang diperlukan manusia di luar Islam.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini, “Terimalah oleh kalian dengan rela Islam sebagai agama kali­an, karena sesungguhnya Islam adalah agama yang disukai dan diridai Allah, dan Dia telah mengutus rasul yang paling utama dan terhor­mat sebagai pembawanya, dan menurunkan Kitab-Nya yang paling mulia dengan melaluinya.”Maka, ketika Umar membaca Taurat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membiarkannya. Karena hal itu — walaupun tampak ringan — mengandung isyarat bahwa mungkin ada petunjuk lain selain al-Qur’an dan Sunnah yang bisa dijadikan pegangan. Padahal, mencari petunjuk di luar Islam berarti menuduh agama ini belum sempurna.Mengapa Nabi Marah?Sabda Nabi, أَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا بْنَ الخَطَّابِ؟“Apakah dalam hatimu ada keraguan, wahai Ibnul Khaththab?”Ini adalah bentuk teguran keras agar setiap Muslim tidak membuka pintu keraguan terhadap Islam. Karena keraguan, meskipun kecil, bisa menjadi benih kesesatan yang tumbuh besar bila dibiarkan.Keraguan terhadap kesempurnaan Islam bisa muncul dalam banyak bentuk, seperti:Menganggap hukum selain Islam lebih adil.Menganggap syariat tidak cocok untuk zaman modern.Mencari ajaran moral atau spiritualitas dari agama atau sistem lain.Semua bentuk ini termasuk isyarat lemahnya keyakinan terhadap kesempurnaan wahyu Allah.Syariat Nabi me-nasakh (menghapus) semua syariat sebelumnyaSabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,لَوْ كَانَ أَخِيْ مُوْسَى حَيًّا مَا وَسَعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِي“Seandainya Musa hidup, niscaya tidak ada pilihan baginya kecuali mengikutiku.” Oleh karenanya, jelas bahwa syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam me-nasakh (menghapus) seluruh syariat sebelumnya. Para Nabi terdahulu datang untuk kaum tertentu, sedangkan Nabi Muhammad diutus untuk seluruh umat manusia sampai hari kiamat.Allah berfirman,قُلْ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّى رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا“Katakanlah (wahai Muhammad): Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua.” (QS. al-A‘râf: 158)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam tafsir ayat ini, “Ayat ini adalah perintah dari Allah kepada Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar beliau memberitahukan kepada seluruh manusia bahwa beliau adalah utusan Allah kepada mereka semuanya.” (Tafsîr Ibnu Katsîr, 3: 426)Jadi, tidak ada satu pun manusia setelah diutusnya Rasulullah yang boleh mengikuti syariat selain syariat beliau. Bahkan jika Nabi Musa ‘alaihis salam masih hidup, beliau pun akan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Bahaya mengagungkan ajaran di luar IslamRealitas hari ini menunjukkan bahwa banyak kaum Muslim terpesona oleh sistem dan konsep di luar Islam. Ada yang mengagungkan filosofi Barat, teori psikologi sekuler, sistem ekonomi kapitalis, atau ajaran spiritual non-Islam. Semuanya berangkat dari satu akar: merasa bahwa Islam belum cukup menjawab tantangan zaman.Padahal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ  . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ  وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“ (HR. Bukhari no. 7319, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)Betapa benar sabda beliau. Banyak umat Islam yang lebih percaya kepada teori manusia daripada wahyu Allah. Padahal, sistem dan ideologi manusia penuh keterbatasan dan hawa nafsu. Sementara wahyu Allah bersumber dari ilmu dan hikmah yang sempurna.Menjaga kemurnian tauhid dan syariatHadis ini juga mengandung pesan penting tentang menjaga kemurnian tauhid. Tauhid bukan hanya dalam aspek ibadah seperti salat dan doa, tetapi juga dalam keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak mengatur kehidupan manusia melalui wahyu dan hukum-Nya.Dengan demikian, seorang Muslim harus meyakini bahwa syariat Islam merupakan satu-satunya pedoman hidup yang paling benar dan paling adil, karena bersumber dari Allah Yang Maha Mengetahui. Meyakini adanya sistem atau aturan yang lebih baik dari syariat berarti telah menyimpang dari prinsip tauhid uluhiyah, yaitu hanya tunduk dan patuh kepada hukum Allah.Menjaga kemurnian tauhid berarti menjaga agar seluruh aspek kehidupan, baik ibadah, hukum, maupun muamalah, tetap berporos kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Inilah bentuk nyata dari penghambaan yang murni kepada Allah semata, tanpa menduakan-Nya dengan sistem atau hukum buatan manusia.Penangkal keraguanSumber utama munculnya keraguan adalah kebodohan terhadap agama. Orang yang tidak mengenal al-Qur’an dan Sunnah dengan baik, dia akan mudah terkagum-kagum dengan teori dari luar Islam.Sadarilah bahwa sumber ilmu agama dari luar wahyu justru menimbulkan keraguan, bukan menambah keyakinan. Maka, seorang Muslim harus belajar agama dari sumber yang benar: al-Qur’an, Sunnah, dan penjelasan ulama Ahlus Sunnah.Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu menerima teguran Nabi dengan lapang dada. Setelah itu, beliau tidak lagi membaca kitab-kitab terdahulu, dan justru menjadi sahabat yang paling keras dalam menjaga kemurnian tauhid dan syariat.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ“Aku telah tinggalkan kepada kalian dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik, Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Nashr, dan Ibnu Hazm. Hadis ini disahihkan oleh Syekh Salim Al-Hilali di dalam At-Ta’zhim wa Al-Minnah fi Al-Intishar As-Sunnah, hal. 12-13)Inilah kunci keselamatan umat Islam hingga akhir zaman. Siapa saja yang berpegang teguh kepada al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman salaf, dia akan selamat. Sebaliknya, siapa saja yang mencari petunjuk di luar wahyu, maka ia membuka pintu kesesatan bagi dirinya sendiri.“Apakah engkau ragu, wahai Ibnul Khaththab? Bukankah aku telah datang membawa ajaran yang putih bersih?”Saudaraku, cukupkanlah dirimu dengan wahyu! Semoga Allah meneguhkan kita di atas Islam yang murni hingga akhir hayat.Wallahu a‘lam bish-shawâb.Baca juga: Doa Memohon Petunjuk Ibadah Terbaik***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleIslam tidak butuh tambahanMengapa Nabi Marah?Syariat Nabi me-nasakh (menghapus) semua syariat sebelumnyaBahaya mengagungkan ajaran di luar IslamMenjaga kemurnian tauhid dan syariatPenangkal keraguanDiriwayatkan dalam hadis sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah marah kepada Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu ketika beliau mendapati Umar membaca lembaran-lembaran Taurat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,[ أَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا بْنَ الخَطَّابِ؟ أَلَمْ آتِ بِهَا بَيْضَاءُ نَقِيَّةٌ؟! لَوْ كَانَ أَخِيْ مُوْسَى حَيًّا مَا وَسَعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِي [رواه أحمد والدارمي وغيرهما.“Apakah engkau ragu, wahai Ibnul Khaththab? Apakah dalam Taurat ada ajaran yang lebih putih dan lebih bersih (daripada yang aku bawa)? Seandainya saudaraku Musa hidup, niscaya tidak ada pilihan baginya kecuali mengikutiku.” (HR. Ahmad, 3: 387; Ad-Darimi, 1: 115–116; Al-Bazzar; Ibnu Abi ‘Ashim; dan Ibnu ‘Abdil Barr, dalam Jâmi‘ Bayânil ‘Ilmi wa Fadhlih, 1: 24)Hadis ini menunjukkan betapa tegasnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menjaga kemurnian wahyu dan melarang umatnya mencari petunjuk di luar syariat Islam. Meski Umar radhiyallahu ‘anhu dikenal dengan kecerdasan dan keikhlasannya, Rasulullah tetap menegur dengan keras demi menutup pintu keraguan terhadap kesempurnaan Islam.Islam tidak butuh tambahanAllah Ta‘ala berfirman,ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan telah Aku ridai Islam sebagai agama kalian.” (QS. al-Mâ’idah: 3)Ayat ini adalah dalil yang paling tegas tentang kesempurnaan agama ini. Setelah turunnya ayat tersebut, wahyu syariat telah selesai. Tidak ada lagi agama baru, tidak ada tambahan ajaran, dan tidak ada petunjuk lain yang diperlukan manusia di luar Islam.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini, “Terimalah oleh kalian dengan rela Islam sebagai agama kali­an, karena sesungguhnya Islam adalah agama yang disukai dan diridai Allah, dan Dia telah mengutus rasul yang paling utama dan terhor­mat sebagai pembawanya, dan menurunkan Kitab-Nya yang paling mulia dengan melaluinya.”Maka, ketika Umar membaca Taurat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membiarkannya. Karena hal itu — walaupun tampak ringan — mengandung isyarat bahwa mungkin ada petunjuk lain selain al-Qur’an dan Sunnah yang bisa dijadikan pegangan. Padahal, mencari petunjuk di luar Islam berarti menuduh agama ini belum sempurna.Mengapa Nabi Marah?Sabda Nabi, أَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا بْنَ الخَطَّابِ؟“Apakah dalam hatimu ada keraguan, wahai Ibnul Khaththab?”Ini adalah bentuk teguran keras agar setiap Muslim tidak membuka pintu keraguan terhadap Islam. Karena keraguan, meskipun kecil, bisa menjadi benih kesesatan yang tumbuh besar bila dibiarkan.Keraguan terhadap kesempurnaan Islam bisa muncul dalam banyak bentuk, seperti:Menganggap hukum selain Islam lebih adil.Menganggap syariat tidak cocok untuk zaman modern.Mencari ajaran moral atau spiritualitas dari agama atau sistem lain.Semua bentuk ini termasuk isyarat lemahnya keyakinan terhadap kesempurnaan wahyu Allah.Syariat Nabi me-nasakh (menghapus) semua syariat sebelumnyaSabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,لَوْ كَانَ أَخِيْ مُوْسَى حَيًّا مَا وَسَعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِي“Seandainya Musa hidup, niscaya tidak ada pilihan baginya kecuali mengikutiku.” Oleh karenanya, jelas bahwa syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam me-nasakh (menghapus) seluruh syariat sebelumnya. Para Nabi terdahulu datang untuk kaum tertentu, sedangkan Nabi Muhammad diutus untuk seluruh umat manusia sampai hari kiamat.Allah berfirman,قُلْ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّى رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا“Katakanlah (wahai Muhammad): Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua.” (QS. al-A‘râf: 158)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam tafsir ayat ini, “Ayat ini adalah perintah dari Allah kepada Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar beliau memberitahukan kepada seluruh manusia bahwa beliau adalah utusan Allah kepada mereka semuanya.” (Tafsîr Ibnu Katsîr, 3: 426)Jadi, tidak ada satu pun manusia setelah diutusnya Rasulullah yang boleh mengikuti syariat selain syariat beliau. Bahkan jika Nabi Musa ‘alaihis salam masih hidup, beliau pun akan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Bahaya mengagungkan ajaran di luar IslamRealitas hari ini menunjukkan bahwa banyak kaum Muslim terpesona oleh sistem dan konsep di luar Islam. Ada yang mengagungkan filosofi Barat, teori psikologi sekuler, sistem ekonomi kapitalis, atau ajaran spiritual non-Islam. Semuanya berangkat dari satu akar: merasa bahwa Islam belum cukup menjawab tantangan zaman.Padahal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ  . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ  وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“ (HR. Bukhari no. 7319, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)Betapa benar sabda beliau. Banyak umat Islam yang lebih percaya kepada teori manusia daripada wahyu Allah. Padahal, sistem dan ideologi manusia penuh keterbatasan dan hawa nafsu. Sementara wahyu Allah bersumber dari ilmu dan hikmah yang sempurna.Menjaga kemurnian tauhid dan syariatHadis ini juga mengandung pesan penting tentang menjaga kemurnian tauhid. Tauhid bukan hanya dalam aspek ibadah seperti salat dan doa, tetapi juga dalam keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak mengatur kehidupan manusia melalui wahyu dan hukum-Nya.Dengan demikian, seorang Muslim harus meyakini bahwa syariat Islam merupakan satu-satunya pedoman hidup yang paling benar dan paling adil, karena bersumber dari Allah Yang Maha Mengetahui. Meyakini adanya sistem atau aturan yang lebih baik dari syariat berarti telah menyimpang dari prinsip tauhid uluhiyah, yaitu hanya tunduk dan patuh kepada hukum Allah.Menjaga kemurnian tauhid berarti menjaga agar seluruh aspek kehidupan, baik ibadah, hukum, maupun muamalah, tetap berporos kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Inilah bentuk nyata dari penghambaan yang murni kepada Allah semata, tanpa menduakan-Nya dengan sistem atau hukum buatan manusia.Penangkal keraguanSumber utama munculnya keraguan adalah kebodohan terhadap agama. Orang yang tidak mengenal al-Qur’an dan Sunnah dengan baik, dia akan mudah terkagum-kagum dengan teori dari luar Islam.Sadarilah bahwa sumber ilmu agama dari luar wahyu justru menimbulkan keraguan, bukan menambah keyakinan. Maka, seorang Muslim harus belajar agama dari sumber yang benar: al-Qur’an, Sunnah, dan penjelasan ulama Ahlus Sunnah.Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu menerima teguran Nabi dengan lapang dada. Setelah itu, beliau tidak lagi membaca kitab-kitab terdahulu, dan justru menjadi sahabat yang paling keras dalam menjaga kemurnian tauhid dan syariat.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ“Aku telah tinggalkan kepada kalian dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik, Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Nashr, dan Ibnu Hazm. Hadis ini disahihkan oleh Syekh Salim Al-Hilali di dalam At-Ta’zhim wa Al-Minnah fi Al-Intishar As-Sunnah, hal. 12-13)Inilah kunci keselamatan umat Islam hingga akhir zaman. Siapa saja yang berpegang teguh kepada al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman salaf, dia akan selamat. Sebaliknya, siapa saja yang mencari petunjuk di luar wahyu, maka ia membuka pintu kesesatan bagi dirinya sendiri.“Apakah engkau ragu, wahai Ibnul Khaththab? Bukankah aku telah datang membawa ajaran yang putih bersih?”Saudaraku, cukupkanlah dirimu dengan wahyu! Semoga Allah meneguhkan kita di atas Islam yang murni hingga akhir hayat.Wallahu a‘lam bish-shawâb.Baca juga: Doa Memohon Petunjuk Ibadah Terbaik***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleIslam tidak butuh tambahanMengapa Nabi Marah?Syariat Nabi me-nasakh (menghapus) semua syariat sebelumnyaBahaya mengagungkan ajaran di luar IslamMenjaga kemurnian tauhid dan syariatPenangkal keraguanDiriwayatkan dalam hadis sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah marah kepada Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu ketika beliau mendapati Umar membaca lembaran-lembaran Taurat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,[ أَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا بْنَ الخَطَّابِ؟ أَلَمْ آتِ بِهَا بَيْضَاءُ نَقِيَّةٌ؟! لَوْ كَانَ أَخِيْ مُوْسَى حَيًّا مَا وَسَعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِي [رواه أحمد والدارمي وغيرهما.“Apakah engkau ragu, wahai Ibnul Khaththab? Apakah dalam Taurat ada ajaran yang lebih putih dan lebih bersih (daripada yang aku bawa)? Seandainya saudaraku Musa hidup, niscaya tidak ada pilihan baginya kecuali mengikutiku.” (HR. Ahmad, 3: 387; Ad-Darimi, 1: 115–116; Al-Bazzar; Ibnu Abi ‘Ashim; dan Ibnu ‘Abdil Barr, dalam Jâmi‘ Bayânil ‘Ilmi wa Fadhlih, 1: 24)Hadis ini menunjukkan betapa tegasnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menjaga kemurnian wahyu dan melarang umatnya mencari petunjuk di luar syariat Islam. Meski Umar radhiyallahu ‘anhu dikenal dengan kecerdasan dan keikhlasannya, Rasulullah tetap menegur dengan keras demi menutup pintu keraguan terhadap kesempurnaan Islam.Islam tidak butuh tambahanAllah Ta‘ala berfirman,ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan telah Aku ridai Islam sebagai agama kalian.” (QS. al-Mâ’idah: 3)Ayat ini adalah dalil yang paling tegas tentang kesempurnaan agama ini. Setelah turunnya ayat tersebut, wahyu syariat telah selesai. Tidak ada lagi agama baru, tidak ada tambahan ajaran, dan tidak ada petunjuk lain yang diperlukan manusia di luar Islam.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini, “Terimalah oleh kalian dengan rela Islam sebagai agama kali­an, karena sesungguhnya Islam adalah agama yang disukai dan diridai Allah, dan Dia telah mengutus rasul yang paling utama dan terhor­mat sebagai pembawanya, dan menurunkan Kitab-Nya yang paling mulia dengan melaluinya.”Maka, ketika Umar membaca Taurat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membiarkannya. Karena hal itu — walaupun tampak ringan — mengandung isyarat bahwa mungkin ada petunjuk lain selain al-Qur’an dan Sunnah yang bisa dijadikan pegangan. Padahal, mencari petunjuk di luar Islam berarti menuduh agama ini belum sempurna.Mengapa Nabi Marah?Sabda Nabi, أَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا بْنَ الخَطَّابِ؟“Apakah dalam hatimu ada keraguan, wahai Ibnul Khaththab?”Ini adalah bentuk teguran keras agar setiap Muslim tidak membuka pintu keraguan terhadap Islam. Karena keraguan, meskipun kecil, bisa menjadi benih kesesatan yang tumbuh besar bila dibiarkan.Keraguan terhadap kesempurnaan Islam bisa muncul dalam banyak bentuk, seperti:Menganggap hukum selain Islam lebih adil.Menganggap syariat tidak cocok untuk zaman modern.Mencari ajaran moral atau spiritualitas dari agama atau sistem lain.Semua bentuk ini termasuk isyarat lemahnya keyakinan terhadap kesempurnaan wahyu Allah.Syariat Nabi me-nasakh (menghapus) semua syariat sebelumnyaSabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,لَوْ كَانَ أَخِيْ مُوْسَى حَيًّا مَا وَسَعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِي“Seandainya Musa hidup, niscaya tidak ada pilihan baginya kecuali mengikutiku.” Oleh karenanya, jelas bahwa syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam me-nasakh (menghapus) seluruh syariat sebelumnya. Para Nabi terdahulu datang untuk kaum tertentu, sedangkan Nabi Muhammad diutus untuk seluruh umat manusia sampai hari kiamat.Allah berfirman,قُلْ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّى رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا“Katakanlah (wahai Muhammad): Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua.” (QS. al-A‘râf: 158)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam tafsir ayat ini, “Ayat ini adalah perintah dari Allah kepada Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar beliau memberitahukan kepada seluruh manusia bahwa beliau adalah utusan Allah kepada mereka semuanya.” (Tafsîr Ibnu Katsîr, 3: 426)Jadi, tidak ada satu pun manusia setelah diutusnya Rasulullah yang boleh mengikuti syariat selain syariat beliau. Bahkan jika Nabi Musa ‘alaihis salam masih hidup, beliau pun akan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Bahaya mengagungkan ajaran di luar IslamRealitas hari ini menunjukkan bahwa banyak kaum Muslim terpesona oleh sistem dan konsep di luar Islam. Ada yang mengagungkan filosofi Barat, teori psikologi sekuler, sistem ekonomi kapitalis, atau ajaran spiritual non-Islam. Semuanya berangkat dari satu akar: merasa bahwa Islam belum cukup menjawab tantangan zaman.Padahal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ  . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ  وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“ (HR. Bukhari no. 7319, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)Betapa benar sabda beliau. Banyak umat Islam yang lebih percaya kepada teori manusia daripada wahyu Allah. Padahal, sistem dan ideologi manusia penuh keterbatasan dan hawa nafsu. Sementara wahyu Allah bersumber dari ilmu dan hikmah yang sempurna.Menjaga kemurnian tauhid dan syariatHadis ini juga mengandung pesan penting tentang menjaga kemurnian tauhid. Tauhid bukan hanya dalam aspek ibadah seperti salat dan doa, tetapi juga dalam keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak mengatur kehidupan manusia melalui wahyu dan hukum-Nya.Dengan demikian, seorang Muslim harus meyakini bahwa syariat Islam merupakan satu-satunya pedoman hidup yang paling benar dan paling adil, karena bersumber dari Allah Yang Maha Mengetahui. Meyakini adanya sistem atau aturan yang lebih baik dari syariat berarti telah menyimpang dari prinsip tauhid uluhiyah, yaitu hanya tunduk dan patuh kepada hukum Allah.Menjaga kemurnian tauhid berarti menjaga agar seluruh aspek kehidupan, baik ibadah, hukum, maupun muamalah, tetap berporos kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Inilah bentuk nyata dari penghambaan yang murni kepada Allah semata, tanpa menduakan-Nya dengan sistem atau hukum buatan manusia.Penangkal keraguanSumber utama munculnya keraguan adalah kebodohan terhadap agama. Orang yang tidak mengenal al-Qur’an dan Sunnah dengan baik, dia akan mudah terkagum-kagum dengan teori dari luar Islam.Sadarilah bahwa sumber ilmu agama dari luar wahyu justru menimbulkan keraguan, bukan menambah keyakinan. Maka, seorang Muslim harus belajar agama dari sumber yang benar: al-Qur’an, Sunnah, dan penjelasan ulama Ahlus Sunnah.Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu menerima teguran Nabi dengan lapang dada. Setelah itu, beliau tidak lagi membaca kitab-kitab terdahulu, dan justru menjadi sahabat yang paling keras dalam menjaga kemurnian tauhid dan syariat.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ“Aku telah tinggalkan kepada kalian dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik, Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Nashr, dan Ibnu Hazm. Hadis ini disahihkan oleh Syekh Salim Al-Hilali di dalam At-Ta’zhim wa Al-Minnah fi Al-Intishar As-Sunnah, hal. 12-13)Inilah kunci keselamatan umat Islam hingga akhir zaman. Siapa saja yang berpegang teguh kepada al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman salaf, dia akan selamat. Sebaliknya, siapa saja yang mencari petunjuk di luar wahyu, maka ia membuka pintu kesesatan bagi dirinya sendiri.“Apakah engkau ragu, wahai Ibnul Khaththab? Bukankah aku telah datang membawa ajaran yang putih bersih?”Saudaraku, cukupkanlah dirimu dengan wahyu! Semoga Allah meneguhkan kita di atas Islam yang murni hingga akhir hayat.Wallahu a‘lam bish-shawâb.Baca juga: Doa Memohon Petunjuk Ibadah Terbaik***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Laporan Produksi Yufid Bulan Oktober 2025

Laporan Produksi Yufid Bulan Oktober 2025 Bismillahirrohmanirrohim… Yayasan Yufid Network telah berkontribusi selama 16 tahun dalam menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis melalui berbagai platform, termasuk channel YouTube seperti Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids yang telah memproduksi 23.769 video dengan total 6.846.244 subscribers. Yufid juga mengelola situs website dan telah mempublikasikan 10.110 artikel yang tersebar di berbagai platform. Melalui laporan produktivitas ini, Yufid berusaha memberikan transparansi terhadap projek dan perkembangan tim, memperkuat keterlibatan pemirsa Yufid dan membangun wadah kreativitas bersama untuk penyebaran dakwah Islam. Yufid telah menjadi kekuatan signifikan dalam memberikan akses luas kepada pengetahuan dan informasi dakwah Islam, mencapai lebih dari 934.816.874 views di platform YouTube. Dengan komitmen pada misi non-profit kami, Yufid terus memberikan dampak positif dan berusaha untuk terus berkembang sembari mempertahankan transparansi dan keterlibatan pemirsa yang kuat. Channel YouTube YUFID.TV Total Video Yufid.TV: 19.656 video Total Subscribers: 4.191.935 subscribers Total Tayangan Video: 738.531.480 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 111 video Produksi Video Oktober 2025: 126 video Tayangan Video Oktober 2025: 2.922.110 views Waktu Tayang Video Oktober 2025: 293.583 jam Penambahan Subscribers Oktober 2025: +6.752 Selama bulan Oktober 2025 tim Yufid menyiarkan 136 video live. Channel YouTube YUFID EDU Total Video Yufid Edu: 3.135 video Total Subscribers: 333.360 Total Tayangan Video: 22.974.356 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 22 video Produksi Video Oktober 2025: 48 video Tayangan Video Oktober 2025: 173.683 views Waktu Tayang Video Oktober 2025: 9.676 jam Penambahan Subscribers Oktober 2025: +1.569 Channel YouTube YUFID KIDS Total Video Yufid Kids: 94 video Total Subscribers: 542.951 Total Tayangan Video: 169.347.512 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 1 video Produksi Video Oktober 2025: 1 video Tayangan Video Oktober 2025: 1.843.506 views Waktu Tayang Video Oktober 2025: 101.463 jam Penambahan Subscribers Oktober 2025: +5.299 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Total Video: 272 Total Subscribers: 5.015 Total Tayangan Video: 480.239 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 3 video Tayangan Video Oktober 2025: 925 views Jam Tayang Video Oktober 2025: 119 Jam Penambahan Subscribers Oktober 2025: 0 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Total Video: 612 Total Subscribers: 57.800 Total Tayangan Video: 3.485.429 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 8 video Produksi Video Oktober 2025: 0 video Tayangan Video Oktober 2025: 31.349 views Penambahan Subscribers Oktober 2025: +200 Instagram Yufid TV & Instagram Yufid Network Instagram Yufid.TV Total Konten: 4.768 Postingan Total Pengikut: 1.194.228 followers Konten Bulan Oktober 2025: 66 Views Konten Oktober: 3.117.302 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Oktober 2025: +8.568 Instagram Yufid Network Total Konten: 4.679 Postingan Total Pengikut: 520.955 Konten Bulan Oktober 2025: 66 Views Konten Oktober: 22.496 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Oktober 2025: +3.932 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV pada tahun 2015 agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, konten Nasehat Ulama di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 22 video. Nasehat Ulama juga membuat konten baru dengan konsep berbeda dengan tetap mengambil penggalan-penggalan nasehat para masyaikh berbahasa Arab dalam bentuk shorts YouTube dan reels Instagram. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, konten Motion Graphics di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 7 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 5.153 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 2.025 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 12 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.141 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk Audio Visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 730 audio dan rata-rata menghasilkan 16 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 2 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.310 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 6 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2.508 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 2 artikel. *Tim artikel Yufid yang terdiri dari penulis, penerjemah, editor, dan admin website menyiapkan konten untuk seluruh website yang dikelola oleh Yufid secara bergantian.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 34.566 file mp3 dengan total ukuran 487 Gb dan pada bulan Oktober 2025 ini telah mempublikasikan 529 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Oktober 2025 ini saja telah didengarkan 18.475 kali dan telah di download sebanyak 122 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 4.534.984 kata dengan rata-rata produksi per bulan 53.352 kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, project terjemahan ini telah menerjemahkan 45.357 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.767 artikel dengan total durasi audio 264 jam dengan rata-rata perekaman 28 artikel per bulan. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, perekaman audio yang telah diproduksi yaitu 20 artikel.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu bertotal 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan Oktober 2025. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Hukum Orang Haid Masuk Masjid, Ulama Su', Terompet Sangka Kala, Doa Doa Sholat Wajib, Hukum Tukar Kado Dalam Islam Visited 28 times, 1 visit(s) today Post Views: 257 QRIS donasi Yufid

Laporan Produksi Yufid Bulan Oktober 2025

Laporan Produksi Yufid Bulan Oktober 2025 Bismillahirrohmanirrohim… Yayasan Yufid Network telah berkontribusi selama 16 tahun dalam menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis melalui berbagai platform, termasuk channel YouTube seperti Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids yang telah memproduksi 23.769 video dengan total 6.846.244 subscribers. Yufid juga mengelola situs website dan telah mempublikasikan 10.110 artikel yang tersebar di berbagai platform. Melalui laporan produktivitas ini, Yufid berusaha memberikan transparansi terhadap projek dan perkembangan tim, memperkuat keterlibatan pemirsa Yufid dan membangun wadah kreativitas bersama untuk penyebaran dakwah Islam. Yufid telah menjadi kekuatan signifikan dalam memberikan akses luas kepada pengetahuan dan informasi dakwah Islam, mencapai lebih dari 934.816.874 views di platform YouTube. Dengan komitmen pada misi non-profit kami, Yufid terus memberikan dampak positif dan berusaha untuk terus berkembang sembari mempertahankan transparansi dan keterlibatan pemirsa yang kuat. Channel YouTube YUFID.TV Total Video Yufid.TV: 19.656 video Total Subscribers: 4.191.935 subscribers Total Tayangan Video: 738.531.480 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 111 video Produksi Video Oktober 2025: 126 video Tayangan Video Oktober 2025: 2.922.110 views Waktu Tayang Video Oktober 2025: 293.583 jam Penambahan Subscribers Oktober 2025: +6.752 Selama bulan Oktober 2025 tim Yufid menyiarkan 136 video live. Channel YouTube YUFID EDU Total Video Yufid Edu: 3.135 video Total Subscribers: 333.360 Total Tayangan Video: 22.974.356 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 22 video Produksi Video Oktober 2025: 48 video Tayangan Video Oktober 2025: 173.683 views Waktu Tayang Video Oktober 2025: 9.676 jam Penambahan Subscribers Oktober 2025: +1.569 Channel YouTube YUFID KIDS Total Video Yufid Kids: 94 video Total Subscribers: 542.951 Total Tayangan Video: 169.347.512 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 1 video Produksi Video Oktober 2025: 1 video Tayangan Video Oktober 2025: 1.843.506 views Waktu Tayang Video Oktober 2025: 101.463 jam Penambahan Subscribers Oktober 2025: +5.299 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Total Video: 272 Total Subscribers: 5.015 Total Tayangan Video: 480.239 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 3 video Tayangan Video Oktober 2025: 925 views Jam Tayang Video Oktober 2025: 119 Jam Penambahan Subscribers Oktober 2025: 0 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Total Video: 612 Total Subscribers: 57.800 Total Tayangan Video: 3.485.429 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 8 video Produksi Video Oktober 2025: 0 video Tayangan Video Oktober 2025: 31.349 views Penambahan Subscribers Oktober 2025: +200 Instagram Yufid TV & Instagram Yufid Network Instagram Yufid.TV Total Konten: 4.768 Postingan Total Pengikut: 1.194.228 followers Konten Bulan Oktober 2025: 66 Views Konten Oktober: 3.117.302 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Oktober 2025: +8.568 Instagram Yufid Network Total Konten: 4.679 Postingan Total Pengikut: 520.955 Konten Bulan Oktober 2025: 66 Views Konten Oktober: 22.496 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Oktober 2025: +3.932 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV pada tahun 2015 agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, konten Nasehat Ulama di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 22 video. Nasehat Ulama juga membuat konten baru dengan konsep berbeda dengan tetap mengambil penggalan-penggalan nasehat para masyaikh berbahasa Arab dalam bentuk shorts YouTube dan reels Instagram. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, konten Motion Graphics di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 7 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 5.153 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 2.025 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 12 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.141 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk Audio Visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 730 audio dan rata-rata menghasilkan 16 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 2 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.310 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 6 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2.508 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 2 artikel. *Tim artikel Yufid yang terdiri dari penulis, penerjemah, editor, dan admin website menyiapkan konten untuk seluruh website yang dikelola oleh Yufid secara bergantian.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 34.566 file mp3 dengan total ukuran 487 Gb dan pada bulan Oktober 2025 ini telah mempublikasikan 529 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Oktober 2025 ini saja telah didengarkan 18.475 kali dan telah di download sebanyak 122 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 4.534.984 kata dengan rata-rata produksi per bulan 53.352 kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, project terjemahan ini telah menerjemahkan 45.357 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.767 artikel dengan total durasi audio 264 jam dengan rata-rata perekaman 28 artikel per bulan. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, perekaman audio yang telah diproduksi yaitu 20 artikel.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu bertotal 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan Oktober 2025. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Hukum Orang Haid Masuk Masjid, Ulama Su', Terompet Sangka Kala, Doa Doa Sholat Wajib, Hukum Tukar Kado Dalam Islam Visited 28 times, 1 visit(s) today Post Views: 257 QRIS donasi Yufid
Laporan Produksi Yufid Bulan Oktober 2025 Bismillahirrohmanirrohim… Yayasan Yufid Network telah berkontribusi selama 16 tahun dalam menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis melalui berbagai platform, termasuk channel YouTube seperti Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids yang telah memproduksi 23.769 video dengan total 6.846.244 subscribers. Yufid juga mengelola situs website dan telah mempublikasikan 10.110 artikel yang tersebar di berbagai platform. Melalui laporan produktivitas ini, Yufid berusaha memberikan transparansi terhadap projek dan perkembangan tim, memperkuat keterlibatan pemirsa Yufid dan membangun wadah kreativitas bersama untuk penyebaran dakwah Islam. Yufid telah menjadi kekuatan signifikan dalam memberikan akses luas kepada pengetahuan dan informasi dakwah Islam, mencapai lebih dari 934.816.874 views di platform YouTube. Dengan komitmen pada misi non-profit kami, Yufid terus memberikan dampak positif dan berusaha untuk terus berkembang sembari mempertahankan transparansi dan keterlibatan pemirsa yang kuat. Channel YouTube YUFID.TV Total Video Yufid.TV: 19.656 video Total Subscribers: 4.191.935 subscribers Total Tayangan Video: 738.531.480 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 111 video Produksi Video Oktober 2025: 126 video Tayangan Video Oktober 2025: 2.922.110 views Waktu Tayang Video Oktober 2025: 293.583 jam Penambahan Subscribers Oktober 2025: +6.752 Selama bulan Oktober 2025 tim Yufid menyiarkan 136 video live. Channel YouTube YUFID EDU Total Video Yufid Edu: 3.135 video Total Subscribers: 333.360 Total Tayangan Video: 22.974.356 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 22 video Produksi Video Oktober 2025: 48 video Tayangan Video Oktober 2025: 173.683 views Waktu Tayang Video Oktober 2025: 9.676 jam Penambahan Subscribers Oktober 2025: +1.569 Channel YouTube YUFID KIDS Total Video Yufid Kids: 94 video Total Subscribers: 542.951 Total Tayangan Video: 169.347.512 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 1 video Produksi Video Oktober 2025: 1 video Tayangan Video Oktober 2025: 1.843.506 views Waktu Tayang Video Oktober 2025: 101.463 jam Penambahan Subscribers Oktober 2025: +5.299 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Total Video: 272 Total Subscribers: 5.015 Total Tayangan Video: 480.239 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 3 video Tayangan Video Oktober 2025: 925 views Jam Tayang Video Oktober 2025: 119 Jam Penambahan Subscribers Oktober 2025: 0 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Total Video: 612 Total Subscribers: 57.800 Total Tayangan Video: 3.485.429 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 8 video Produksi Video Oktober 2025: 0 video Tayangan Video Oktober 2025: 31.349 views Penambahan Subscribers Oktober 2025: +200 Instagram Yufid TV & Instagram Yufid Network Instagram Yufid.TV Total Konten: 4.768 Postingan Total Pengikut: 1.194.228 followers Konten Bulan Oktober 2025: 66 Views Konten Oktober: 3.117.302 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Oktober 2025: +8.568 Instagram Yufid Network Total Konten: 4.679 Postingan Total Pengikut: 520.955 Konten Bulan Oktober 2025: 66 Views Konten Oktober: 22.496 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Oktober 2025: +3.932 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV pada tahun 2015 agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, konten Nasehat Ulama di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 22 video. Nasehat Ulama juga membuat konten baru dengan konsep berbeda dengan tetap mengambil penggalan-penggalan nasehat para masyaikh berbahasa Arab dalam bentuk shorts YouTube dan reels Instagram. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, konten Motion Graphics di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 7 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 5.153 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 2.025 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 12 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.141 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk Audio Visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 730 audio dan rata-rata menghasilkan 16 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 2 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.310 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 6 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2.508 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 2 artikel. *Tim artikel Yufid yang terdiri dari penulis, penerjemah, editor, dan admin website menyiapkan konten untuk seluruh website yang dikelola oleh Yufid secara bergantian.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 34.566 file mp3 dengan total ukuran 487 Gb dan pada bulan Oktober 2025 ini telah mempublikasikan 529 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Oktober 2025 ini saja telah didengarkan 18.475 kali dan telah di download sebanyak 122 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 4.534.984 kata dengan rata-rata produksi per bulan 53.352 kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, project terjemahan ini telah menerjemahkan 45.357 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.767 artikel dengan total durasi audio 264 jam dengan rata-rata perekaman 28 artikel per bulan. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, perekaman audio yang telah diproduksi yaitu 20 artikel.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu bertotal 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan Oktober 2025. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Hukum Orang Haid Masuk Masjid, Ulama Su', Terompet Sangka Kala, Doa Doa Sholat Wajib, Hukum Tukar Kado Dalam Islam Visited 28 times, 1 visit(s) today Post Views: 257 QRIS donasi Yufid


Laporan Produksi Yufid Bulan Oktober 2025 Bismillahirrohmanirrohim… Yayasan Yufid Network telah berkontribusi selama 16 tahun dalam menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis melalui berbagai platform, termasuk channel YouTube seperti Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids yang telah memproduksi 23.769 video dengan total 6.846.244 subscribers. Yufid juga mengelola situs website dan telah mempublikasikan 10.110 artikel yang tersebar di berbagai platform. Melalui laporan produktivitas ini, Yufid berusaha memberikan transparansi terhadap projek dan perkembangan tim, memperkuat keterlibatan pemirsa Yufid dan membangun wadah kreativitas bersama untuk penyebaran dakwah Islam. Yufid telah menjadi kekuatan signifikan dalam memberikan akses luas kepada pengetahuan dan informasi dakwah Islam, mencapai lebih dari 934.816.874 views di platform YouTube. Dengan komitmen pada misi non-profit kami, Yufid terus memberikan dampak positif dan berusaha untuk terus berkembang sembari mempertahankan transparansi dan keterlibatan pemirsa yang kuat. Channel YouTube YUFID.TV <img decoding="async" src="https://yufid.org/wp-content/uploads/2025/11/image.png" alt="" class="wp-image-525"/> Total Video Yufid.TV: 19.656 video Total Subscribers: 4.191.935 subscribers Total Tayangan Video: 738.531.480 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 111 video Produksi Video Oktober 2025: 126 video Tayangan Video Oktober 2025: 2.922.110 views Waktu Tayang Video Oktober 2025: 293.583 jam Penambahan Subscribers Oktober 2025: +6.752 Selama bulan Oktober 2025 tim Yufid menyiarkan 136 video live. Channel YouTube YUFID EDU <img decoding="async" src="https://yufid.org/wp-content/uploads/2025/11/image-3.png" alt="" class="wp-image-528"/> Total Video Yufid Edu: 3.135 video Total Subscribers: 333.360 Total Tayangan Video: 22.974.356 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 22 video Produksi Video Oktober 2025: 48 video Tayangan Video Oktober 2025: 173.683 views Waktu Tayang Video Oktober 2025: 9.676 jam Penambahan Subscribers Oktober 2025: +1.569 Channel YouTube YUFID KIDS <img decoding="async" src="https://yufid.org/wp-content/uploads/2025/11/image-4.png" alt="" class="wp-image-529"/> Total Video Yufid Kids: 94 video Total Subscribers: 542.951 Total Tayangan Video: 169.347.512 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 1 video Produksi Video Oktober 2025: 1 video Tayangan Video Oktober 2025: 1.843.506 views Waktu Tayang Video Oktober 2025: 101.463 jam Penambahan Subscribers Oktober 2025: +5.299 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Total Video: 272 Total Subscribers: 5.015 Total Tayangan Video: 480.239 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 3 video Tayangan Video Oktober 2025: 925 views Jam Tayang Video Oktober 2025: 119 Jam Penambahan Subscribers Oktober 2025: 0 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Total Video: 612 Total Subscribers: 57.800 Total Tayangan Video: 3.485.429 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 8 video Produksi Video Oktober 2025: 0 video Tayangan Video Oktober 2025: 31.349 views Penambahan Subscribers Oktober 2025: +200 Instagram Yufid TV & Instagram Yufid Network <img decoding="async" src="https://yufid.org/wp-content/uploads/2025/11/image-5.png" alt="" class="wp-image-530"/> Instagram Yufid.TV Total Konten: 4.768 Postingan Total Pengikut: 1.194.228 followers Konten Bulan Oktober 2025: 66 Views Konten Oktober: 3.117.302 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Oktober 2025: +8.568 Instagram Yufid Network Total Konten: 4.679 Postingan Total Pengikut: 520.955 Konten Bulan Oktober 2025: 66 Views Konten Oktober: 22.496 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Oktober 2025: +3.932 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV pada tahun 2015 agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. <img decoding="async" src="https://yufid.org/wp-content/uploads/2025/11/image-2.png" alt="" class="wp-image-527"/>Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, konten Nasehat Ulama di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 22 video. Nasehat Ulama juga membuat konten baru dengan konsep berbeda dengan tetap mengambil penggalan-penggalan nasehat para masyaikh berbahasa Arab dalam bentuk shorts YouTube dan reels Instagram. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. <img decoding="async" src="https://yufid.org/wp-content/uploads/2025/11/image-1.png" alt="" class="wp-image-526"/>Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, konten Motion Graphics di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 7 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 5.153 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 2.025 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 12 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.141 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk Audio Visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 730 audio dan rata-rata menghasilkan 16 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 2 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.310 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 6 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2.508 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 2 artikel. *Tim artikel Yufid yang terdiri dari penulis, penerjemah, editor, dan admin website menyiapkan konten untuk seluruh website yang dikelola oleh Yufid secara bergantian.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 34.566 file mp3 dengan total ukuran 487 Gb dan pada bulan Oktober 2025 ini telah mempublikasikan 529 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Oktober 2025 ini saja telah didengarkan 18.475 kali dan telah di download sebanyak 122 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 4.534.984 kata dengan rata-rata produksi per bulan 53.352 kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, project terjemahan ini telah menerjemahkan 45.357 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.767 artikel dengan total durasi audio 264 jam dengan rata-rata perekaman 28 artikel per bulan. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, perekaman audio yang telah diproduksi yaitu 20 artikel.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu bertotal 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan Oktober 2025. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Hukum Orang Haid Masuk Masjid, Ulama Su', Terompet Sangka Kala, Doa Doa Sholat Wajib, Hukum Tukar Kado Dalam Islam Visited 28 times, 1 visit(s) today Post Views: 257 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Kamu Tidak Merasakan Manisnya Iman? – Ini Dua Sebabnya! – Syaikh Abdussalam Asy -Syuwai’ar

Wahai hadirin yang mulia, menundukkan pandangan adalah perkara yang diperintahkan Allah ‘Azza wa Jalla dalam Kitab-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepada kaum laki-laki: “Katakanlah kepada orang-orang yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya…’” (QS. An-Nur: 30). Kemudian Allah berfirman kepada kaum perempuan: “Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya…’” (QS. An-Nur: 31). Menundukkan pandangan adalah perkara yang berpengaruh besar pada hati. Oleh sebab itu, Allah ‘Azza wa Jalla menyandingkan antara menundukan pandangan dengan amalan hati. Allah berfirman: “Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh dada.” (QS. Ghafir: 19). Sebab, mungkin saja kamu sedang berjalan bersama temanmu, lalu mungkin kamu melihat sesuatu, tapi dia tidak tahu apa yang sedang kamu lihat, dan mungkin kamu curi-curi pandang kepada hal yang haram, padahal ia mengawasimu, tapi tidak tahu apa yang sedang kamu lihat. Karena itulah, dalam riwayat Imam Ahmad dan Al-Hakim dari hadis Ibnu Mas’ud, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa menundukkan pandangannya dari apa yang diharamkan Allah, padahal ia mampu melihatnya, semata-mata karena mengharapkan ridha Allah ‘Azza wa Jalla, Allah akan menjadikan dalam hatinya rasa manisnya iman.” Para ulama berkata bahwa manisnya iman ini sebabnya adalah setelah tauhid kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan keikhlasan dalam beribadah kepada-Nya, yakni ketika hati kosong dari keterikatan dengan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta menaruh perhatian penuh pada ibadah-ibadah rahasia. Karena itulah, seorang hamba tidak akan merasakan manisnya iman seperti yang ia rasakan dalam Shalat Malam dan sedekah secara sembunyi. Dalam riwayat Ibnu Majah disebutkan: “Ada tiga amalan, siapa yang mengamalkannya pasti merasakan manisnya iman.” Salah satunya adalah: “Orang yang membayar zakat hartanya, dan tidak membayar dengan hewan yang sakit atau cacat.” Karena menginfakkan harta secara rahasia tidak diketahui siapa pun selain Allah ‘Azza wa Jalla. Selain itu, harta juga terasa manis di hati dan disukai. Di antara amalannya juga adalah menundukkan pandangan. Pada zaman ini, menundukkan pandangan menjadi perkara yang sulit dilakukan. Bahkan, seseorang bisa berada di rumahnya sendiri, dengan mengunci pintunya dan menutup gordennya rapat-rapat. sehingga tidak ada satu pun yang melihatnya di tempat itu, kecuali Allah ‘Azza wa Jalla. Namun, begitu ia membuka gawai di tangannya, atau menatap layar di hadapannya, ia bisa melihat hal-hal haram yang tidak mungkin ia tonton di hadapan orang lain. Namun, jika ia mengingat balasan yang ada di sisi Allah ‘Azza wa Jalla, lalu ia menundukkan pandangannya ketika itu, karena mengharap pahala di sisi Allah ‘Azza wa Jalla, maka berbahagialah, karena ia akan merasakan manisnya iman. Demikianlah yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Banyak orang yang mengatakan: “Aku pernah dengar Sufyan berkata bahwa menuntut ilmu itu sangat nikmat, tapi mengapa aku tidak merasakannya? Aku juga dengar Ibrahim bin Adham berkata, ‘Kami merasakan kenikmatan luar biasa saat Shalat Malam. Andai putra-putra raja mengetahuinya, mereka pasti akan menebas kami dengan pedang untuk merebutnya.’ Namun, kok aku tidak merasakannya? Aku juga dengar kisah Abdullah bin Zubair, jika ia sudah berdiri untuk shalat, ia larut dalam ibadah hingga tidak sadar siapa yang ada di sampingnya. Bahkan saat lebah mendatanginya, lalu lebah itu menyengatnya berkali-kali, ia tetap tidak bergerak. Setelah selesai, ia berkata, ‘Tadi aku sedang sibuk darinya.’ Dalam Sunan Abi Dawud juga disebutkan bahwa pernah ada anak panah nyasar mengenai seorang Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi ia tidak membatalkan shalatnya. Ia berkata: ‘Tadi aku sedang membaca surat yang lebih kucintai daripada dunia dan seisinya. Andai Nabi tidak memerintahkan kami berjaga, aku tidak akan berhenti membacanya.’ Ini semua, mungkin bisa kita lakukan juga seperti mereka. Hanya saja, hati kita tidak merasakan apa yang mereka rasakan.” Hal ini disebabkan dua hal. Pertama: berkaitan dengan amalan hati yang telah saya sebutkan, yaitu keterpautan sepenuhnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dengan menafikan sekutu bagi-Nya Subhanahu wa Ta’ala dan mengikhlaskan seluruh ibadah. Di antara bentuk keikhlasan ibadah adalah keikhlasan dalam amalan hati: tidak bertawakal, tidak memohon pertolongan, tidak takut, tidak berharap, dan tidak mencintai kecuali hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Kedua: memberi perhatian besar pada ibadah-ibadah rahasia. Syaikh Taqiyuddin memiliki ungkapan sangat berharga tentang ibadah rahasia, yang termuat dalam beberapa pembahasan bukunya Al-Istiqamah. Beliau menjelaskan bahwa setiap orang bisa dibukakan pintu dalam ibadah rahasia yang tidak selalu dibukakan bagi orang lain. Oleh sebab itu, perhatian terhadap ibadah rahasia amat penting. Dalam konteks ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “…karena (menikah) itu lebih menundukkan pandangan…” Maka, seorang hamba, selain berjuang melawan hawa nafsunya, juga wajib mengambil sebab-sebab yang memudahkan ketaatan, di antaranya adalah menikah. ===== غَضُّ الْبَصَرِ أَيُّهَا الْأَفَاضِلُ هَذِهِ مِنْ الْأُمُورِ الَّتِي أَمَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا فِي كِتَابِهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ مُخَاطِبًا الرِّجَالَ قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ثُمَّ خَاطَبَ النِّسَاءَ فَقَالَ وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ هَذَا غَضُّ الْبَصَرِ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي لَهَا وَقْعٌ فِي الْقَلْبِ وَلِذَا فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَرَنَ بَيْنَ غَضِّ الْبَصَرِ وَفِعْلِ الْقَلْبِ فَقَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ وَذَلِكَ أَنَّكَ رُبَّمَا تَكُونُ مَعَ صَاحِبِكَ تَمْشِيَانِ فَلَرُبَّمَا نَظَرْتَ إِلَى أَمْرٍ وَهُوَ لَا يَعْلَمُ بِمَا تَنْظُرُ إِلَيْهِ وَلَرُبَّمَا اسْتَرَقْتَ الْبَصَرَ إِلَى شَيْءٍ مَمْنُوعٍ وَهُوَ يَرْقُبُكَ وَلَا يَدْرِي بِمَا تَنْظُرُ إِلَيْهِ وَلِذَا جَاءَ فِي حَدِيثٍ عِنْدَ أَحْمَدَ وَالْحَاكِمِ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ غَضَّ بَصَرَهُ عَمَّا حَرَّمَ اللَّهُ وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى النَّظَرِ ابْتِغَاءَ مَا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَعْقَبَ اللَّهُ فِي قَلْبِهِ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ وَهَذِه حَلَاوَةُ الْإِيمَانِ يَقُولُ أَهْلُ الْعِلْمِ إِنَّ سَبَبَهَا بَعْدَ تَوْحِيدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِخْلَاصِ الْعِبَادَةِ لَهُ حَيْثُ يَكُونُ الْقَلْبُ فَارِغًا مِنَ التَّعَلُّقِ بِغَيْرِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْعِنَايَةُ بِعِبَادَاتِ السِّرِّ وَلِذَا فَإِنَّ الْمَرْءَ لَنْ يَجِدَ عِبَادَةً يَجِدُ فِيهَا حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ مِثْلَ قِيَامِ اللَّيْلِ وَمِثْلَ الْإِنْفَاقِ فِي السِّرِّ وَلِذَا جَاءَ عِنْدَ ابْنِ مَاجَهْ ثَلَاثٌ مَنْ فَعَلَهُنَّ ذَاقَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ وَذَكَرَ مِنْهَا وَأَخْرَجَ زَكَاةَ مَالِهِ وَلَمْ يَخْرُجِ الْمَرِيضَةَ وَلَا ذَاتَ الشَّرَطِ لِأَنَّ بَذْلَ الْمَالِ فِي السِّرِّ لَا يَعْلَمُ بِهِ إِلَّا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَالْمَالُ لَهُ حَلَاوَةٌ فِي الْقَلْبِ وَمَحَبَّةٌ وَمِنْهَا غَضُّ الْبَصَرِ وَهُوَ الِانْكِفَافُ وَفِي هَذَا الْوَقْتِ أَصْبَحَ غَضُّ الْبَصَرِ مِنَ الْأُمُورِ الصِّعَابِ حَتَّى إِنَّ الْمَرْءَ رُبَّمَا يَكُونُ فِي بَيْتِهِ مُغْلِقًا عَلَيْهِ بَابَهُ وَمُرْخِيًا عَلَيْهِ سِتَارَهُ وَلَا يَعْلَمُ بِهِ فِي هَذَا الْمَكَانِ أَحَدٌ إِلَّا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ مَا إِنْ يَنْظُرُ فِي هَاتِفِهِ النَّقَّالِ مَعَهُ أَوْ يَنْظُرُ فِي الشَّاشَةِ الَّتِي أَمَامَهُ فَيَنْظُرُ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي لَا يُمْكِنُ أَنْ يَنْظُرَ لَهَا غَيْرُهَا مِنَ الْأُمُورِ الْمُحَرَّمَةِ لَكِنْ إِذَا تَذَكَّرَ مَا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ غَضَّ بَصَرَهُ حِينَذاكَ رَجَاءَ مَا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَلْيَبْشِرْ بِأَنَّهُ سَيَجِدُ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ هَكَذَا أَخْبَرَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ يَقُولُ أَسْمَعُ أَنَّ سُفْيَانَ يَقُولُ إِنَّ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ لَذَّةٌ عَظِيمَةٌ جِدًّا لَا أَجِدُهَا وَأَسْمَعُ أَنَّ إِبْرَاهِيمَ بْنَ أَدْهَمَ يَقُولُ إِنَّنَا فِي قِيَامِ اللَّيْلِ فِي لَذَّةٍ لَوْ عَلِمَ عَنْهَا أَبْنَاءُ الْمُلُوكِ لَجَلَدَنَا عَلَيْهَا بِالسُّيُوفِ وَلَكِنِّي لَا أَجِدُهَا وَأَسْمَعُ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الزُّبَيْرِ كَانَ إِذَا قَامَ فِي صَلَاتِهِ اشْتَغَلَ بِالْعِبَادَةِ حَتَّى لَا يَدْرِي مَنْ بِجَانِبِهِ حَتَّى يَأْتِيَهُ الزُّنْبُورُ فَرُبَّمَا لَسَعَهُ مَرَّاتٍ كَثِيرَاتٍثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ لَا يَتَحَرَّكُ ثُمَّ يَقُولُ كُنْتُ فِي شُغْلٍ عَنْهَا وَفِي سُنَنِ أَبِي دَاوُدَ أَنَّ سَهْمًا غَرْبًا أَصَابَ أَحَدَ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَا انْبَطَلَ مِنْ صَلَاتِهِ قَالَ كُنْتُ أَقْرَأُ سُورَةً أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا لَوْلَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَنَا بِالْحِرَاسَةِ هَذِهِ الْأُمُورُ قَدْ نَفْعَلُ مِثْلَ أَفْعَالِ أُولَئِكَ الْقَوْمِ لَكِنَّنَا لَا نَجِدُ فِي قُلُوبِنَا مَا وَجَدُوا لِسَبَبَيْنِ ذَكَرْتُ لَكَ قَبْلَ قَلِيلٍ وَهُوَ قَضِيَّةُ أَفْعَالِ الْقُلُوبِ التَّعَلُّقُ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ نَفْيِ الشَّرِيكِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَنْهُ وَإِخْلَاصِ الْعِبَادَةِ وَمِنْ أَنْوَاعِ إِخْلَاصِ الْعِبَادَةِ إِخْلَاصُ أَفْعَالِ الْقُلُوبِ فَلَا تَوَكُّلَ وَلَا اسْتِعَانَةَ وَلَا خَوْفَ وَلَا رَجَاءَ وَلَا مَحَبَّةَ إِلَّا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْأَمْرُ الثَّانِي الْعِنَايَةُ بِعِبَادَاتِ السِّرِّ وَلِلشَّيْخِ تَقِيُّ الدِّيْنِ كَلَامٌ نَفِيسٌ جِدًّا فِي عِبَادَةِ السِّرِّ ضَمَّنَهُ بَعْضُ مَبَاحِثِ كِتَابِهِ الِاسْتِقَامَةِ وَكَيْفَ أَنَّ لِكُلِّ وَاحِدٍ يُفْتَحُ لَهُ فِي بَابٍ لَا يُفْتَحُ عَلَى الْآخَرِ فِي عِبَادَاتِ السِّرِّ وَلِذَا الْعِنَايَةُ بِعِبَادَاتِ السِّرِّ مُهِمٌّ نَاسَبَ ذَلِكَ قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ فَالْإِنْسَانُ مَعَ مُجَاهَدَةِ نَفْسَهُ وَمُجَالَدَتِهِ لَهَا يَبْذُلُ الْأَسْبَابَ وَمِنْهَا الزَّوَاجُ

Kamu Tidak Merasakan Manisnya Iman? – Ini Dua Sebabnya! – Syaikh Abdussalam Asy -Syuwai’ar

Wahai hadirin yang mulia, menundukkan pandangan adalah perkara yang diperintahkan Allah ‘Azza wa Jalla dalam Kitab-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepada kaum laki-laki: “Katakanlah kepada orang-orang yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya…’” (QS. An-Nur: 30). Kemudian Allah berfirman kepada kaum perempuan: “Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya…’” (QS. An-Nur: 31). Menundukkan pandangan adalah perkara yang berpengaruh besar pada hati. Oleh sebab itu, Allah ‘Azza wa Jalla menyandingkan antara menundukan pandangan dengan amalan hati. Allah berfirman: “Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh dada.” (QS. Ghafir: 19). Sebab, mungkin saja kamu sedang berjalan bersama temanmu, lalu mungkin kamu melihat sesuatu, tapi dia tidak tahu apa yang sedang kamu lihat, dan mungkin kamu curi-curi pandang kepada hal yang haram, padahal ia mengawasimu, tapi tidak tahu apa yang sedang kamu lihat. Karena itulah, dalam riwayat Imam Ahmad dan Al-Hakim dari hadis Ibnu Mas’ud, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa menundukkan pandangannya dari apa yang diharamkan Allah, padahal ia mampu melihatnya, semata-mata karena mengharapkan ridha Allah ‘Azza wa Jalla, Allah akan menjadikan dalam hatinya rasa manisnya iman.” Para ulama berkata bahwa manisnya iman ini sebabnya adalah setelah tauhid kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan keikhlasan dalam beribadah kepada-Nya, yakni ketika hati kosong dari keterikatan dengan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta menaruh perhatian penuh pada ibadah-ibadah rahasia. Karena itulah, seorang hamba tidak akan merasakan manisnya iman seperti yang ia rasakan dalam Shalat Malam dan sedekah secara sembunyi. Dalam riwayat Ibnu Majah disebutkan: “Ada tiga amalan, siapa yang mengamalkannya pasti merasakan manisnya iman.” Salah satunya adalah: “Orang yang membayar zakat hartanya, dan tidak membayar dengan hewan yang sakit atau cacat.” Karena menginfakkan harta secara rahasia tidak diketahui siapa pun selain Allah ‘Azza wa Jalla. Selain itu, harta juga terasa manis di hati dan disukai. Di antara amalannya juga adalah menundukkan pandangan. Pada zaman ini, menundukkan pandangan menjadi perkara yang sulit dilakukan. Bahkan, seseorang bisa berada di rumahnya sendiri, dengan mengunci pintunya dan menutup gordennya rapat-rapat. sehingga tidak ada satu pun yang melihatnya di tempat itu, kecuali Allah ‘Azza wa Jalla. Namun, begitu ia membuka gawai di tangannya, atau menatap layar di hadapannya, ia bisa melihat hal-hal haram yang tidak mungkin ia tonton di hadapan orang lain. Namun, jika ia mengingat balasan yang ada di sisi Allah ‘Azza wa Jalla, lalu ia menundukkan pandangannya ketika itu, karena mengharap pahala di sisi Allah ‘Azza wa Jalla, maka berbahagialah, karena ia akan merasakan manisnya iman. Demikianlah yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Banyak orang yang mengatakan: “Aku pernah dengar Sufyan berkata bahwa menuntut ilmu itu sangat nikmat, tapi mengapa aku tidak merasakannya? Aku juga dengar Ibrahim bin Adham berkata, ‘Kami merasakan kenikmatan luar biasa saat Shalat Malam. Andai putra-putra raja mengetahuinya, mereka pasti akan menebas kami dengan pedang untuk merebutnya.’ Namun, kok aku tidak merasakannya? Aku juga dengar kisah Abdullah bin Zubair, jika ia sudah berdiri untuk shalat, ia larut dalam ibadah hingga tidak sadar siapa yang ada di sampingnya. Bahkan saat lebah mendatanginya, lalu lebah itu menyengatnya berkali-kali, ia tetap tidak bergerak. Setelah selesai, ia berkata, ‘Tadi aku sedang sibuk darinya.’ Dalam Sunan Abi Dawud juga disebutkan bahwa pernah ada anak panah nyasar mengenai seorang Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi ia tidak membatalkan shalatnya. Ia berkata: ‘Tadi aku sedang membaca surat yang lebih kucintai daripada dunia dan seisinya. Andai Nabi tidak memerintahkan kami berjaga, aku tidak akan berhenti membacanya.’ Ini semua, mungkin bisa kita lakukan juga seperti mereka. Hanya saja, hati kita tidak merasakan apa yang mereka rasakan.” Hal ini disebabkan dua hal. Pertama: berkaitan dengan amalan hati yang telah saya sebutkan, yaitu keterpautan sepenuhnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dengan menafikan sekutu bagi-Nya Subhanahu wa Ta’ala dan mengikhlaskan seluruh ibadah. Di antara bentuk keikhlasan ibadah adalah keikhlasan dalam amalan hati: tidak bertawakal, tidak memohon pertolongan, tidak takut, tidak berharap, dan tidak mencintai kecuali hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Kedua: memberi perhatian besar pada ibadah-ibadah rahasia. Syaikh Taqiyuddin memiliki ungkapan sangat berharga tentang ibadah rahasia, yang termuat dalam beberapa pembahasan bukunya Al-Istiqamah. Beliau menjelaskan bahwa setiap orang bisa dibukakan pintu dalam ibadah rahasia yang tidak selalu dibukakan bagi orang lain. Oleh sebab itu, perhatian terhadap ibadah rahasia amat penting. Dalam konteks ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “…karena (menikah) itu lebih menundukkan pandangan…” Maka, seorang hamba, selain berjuang melawan hawa nafsunya, juga wajib mengambil sebab-sebab yang memudahkan ketaatan, di antaranya adalah menikah. ===== غَضُّ الْبَصَرِ أَيُّهَا الْأَفَاضِلُ هَذِهِ مِنْ الْأُمُورِ الَّتِي أَمَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا فِي كِتَابِهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ مُخَاطِبًا الرِّجَالَ قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ثُمَّ خَاطَبَ النِّسَاءَ فَقَالَ وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ هَذَا غَضُّ الْبَصَرِ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي لَهَا وَقْعٌ فِي الْقَلْبِ وَلِذَا فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَرَنَ بَيْنَ غَضِّ الْبَصَرِ وَفِعْلِ الْقَلْبِ فَقَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ وَذَلِكَ أَنَّكَ رُبَّمَا تَكُونُ مَعَ صَاحِبِكَ تَمْشِيَانِ فَلَرُبَّمَا نَظَرْتَ إِلَى أَمْرٍ وَهُوَ لَا يَعْلَمُ بِمَا تَنْظُرُ إِلَيْهِ وَلَرُبَّمَا اسْتَرَقْتَ الْبَصَرَ إِلَى شَيْءٍ مَمْنُوعٍ وَهُوَ يَرْقُبُكَ وَلَا يَدْرِي بِمَا تَنْظُرُ إِلَيْهِ وَلِذَا جَاءَ فِي حَدِيثٍ عِنْدَ أَحْمَدَ وَالْحَاكِمِ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ غَضَّ بَصَرَهُ عَمَّا حَرَّمَ اللَّهُ وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى النَّظَرِ ابْتِغَاءَ مَا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَعْقَبَ اللَّهُ فِي قَلْبِهِ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ وَهَذِه حَلَاوَةُ الْإِيمَانِ يَقُولُ أَهْلُ الْعِلْمِ إِنَّ سَبَبَهَا بَعْدَ تَوْحِيدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِخْلَاصِ الْعِبَادَةِ لَهُ حَيْثُ يَكُونُ الْقَلْبُ فَارِغًا مِنَ التَّعَلُّقِ بِغَيْرِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْعِنَايَةُ بِعِبَادَاتِ السِّرِّ وَلِذَا فَإِنَّ الْمَرْءَ لَنْ يَجِدَ عِبَادَةً يَجِدُ فِيهَا حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ مِثْلَ قِيَامِ اللَّيْلِ وَمِثْلَ الْإِنْفَاقِ فِي السِّرِّ وَلِذَا جَاءَ عِنْدَ ابْنِ مَاجَهْ ثَلَاثٌ مَنْ فَعَلَهُنَّ ذَاقَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ وَذَكَرَ مِنْهَا وَأَخْرَجَ زَكَاةَ مَالِهِ وَلَمْ يَخْرُجِ الْمَرِيضَةَ وَلَا ذَاتَ الشَّرَطِ لِأَنَّ بَذْلَ الْمَالِ فِي السِّرِّ لَا يَعْلَمُ بِهِ إِلَّا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَالْمَالُ لَهُ حَلَاوَةٌ فِي الْقَلْبِ وَمَحَبَّةٌ وَمِنْهَا غَضُّ الْبَصَرِ وَهُوَ الِانْكِفَافُ وَفِي هَذَا الْوَقْتِ أَصْبَحَ غَضُّ الْبَصَرِ مِنَ الْأُمُورِ الصِّعَابِ حَتَّى إِنَّ الْمَرْءَ رُبَّمَا يَكُونُ فِي بَيْتِهِ مُغْلِقًا عَلَيْهِ بَابَهُ وَمُرْخِيًا عَلَيْهِ سِتَارَهُ وَلَا يَعْلَمُ بِهِ فِي هَذَا الْمَكَانِ أَحَدٌ إِلَّا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ مَا إِنْ يَنْظُرُ فِي هَاتِفِهِ النَّقَّالِ مَعَهُ أَوْ يَنْظُرُ فِي الشَّاشَةِ الَّتِي أَمَامَهُ فَيَنْظُرُ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي لَا يُمْكِنُ أَنْ يَنْظُرَ لَهَا غَيْرُهَا مِنَ الْأُمُورِ الْمُحَرَّمَةِ لَكِنْ إِذَا تَذَكَّرَ مَا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ غَضَّ بَصَرَهُ حِينَذاكَ رَجَاءَ مَا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَلْيَبْشِرْ بِأَنَّهُ سَيَجِدُ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ هَكَذَا أَخْبَرَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ يَقُولُ أَسْمَعُ أَنَّ سُفْيَانَ يَقُولُ إِنَّ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ لَذَّةٌ عَظِيمَةٌ جِدًّا لَا أَجِدُهَا وَأَسْمَعُ أَنَّ إِبْرَاهِيمَ بْنَ أَدْهَمَ يَقُولُ إِنَّنَا فِي قِيَامِ اللَّيْلِ فِي لَذَّةٍ لَوْ عَلِمَ عَنْهَا أَبْنَاءُ الْمُلُوكِ لَجَلَدَنَا عَلَيْهَا بِالسُّيُوفِ وَلَكِنِّي لَا أَجِدُهَا وَأَسْمَعُ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الزُّبَيْرِ كَانَ إِذَا قَامَ فِي صَلَاتِهِ اشْتَغَلَ بِالْعِبَادَةِ حَتَّى لَا يَدْرِي مَنْ بِجَانِبِهِ حَتَّى يَأْتِيَهُ الزُّنْبُورُ فَرُبَّمَا لَسَعَهُ مَرَّاتٍ كَثِيرَاتٍثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ لَا يَتَحَرَّكُ ثُمَّ يَقُولُ كُنْتُ فِي شُغْلٍ عَنْهَا وَفِي سُنَنِ أَبِي دَاوُدَ أَنَّ سَهْمًا غَرْبًا أَصَابَ أَحَدَ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَا انْبَطَلَ مِنْ صَلَاتِهِ قَالَ كُنْتُ أَقْرَأُ سُورَةً أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا لَوْلَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَنَا بِالْحِرَاسَةِ هَذِهِ الْأُمُورُ قَدْ نَفْعَلُ مِثْلَ أَفْعَالِ أُولَئِكَ الْقَوْمِ لَكِنَّنَا لَا نَجِدُ فِي قُلُوبِنَا مَا وَجَدُوا لِسَبَبَيْنِ ذَكَرْتُ لَكَ قَبْلَ قَلِيلٍ وَهُوَ قَضِيَّةُ أَفْعَالِ الْقُلُوبِ التَّعَلُّقُ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ نَفْيِ الشَّرِيكِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَنْهُ وَإِخْلَاصِ الْعِبَادَةِ وَمِنْ أَنْوَاعِ إِخْلَاصِ الْعِبَادَةِ إِخْلَاصُ أَفْعَالِ الْقُلُوبِ فَلَا تَوَكُّلَ وَلَا اسْتِعَانَةَ وَلَا خَوْفَ وَلَا رَجَاءَ وَلَا مَحَبَّةَ إِلَّا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْأَمْرُ الثَّانِي الْعِنَايَةُ بِعِبَادَاتِ السِّرِّ وَلِلشَّيْخِ تَقِيُّ الدِّيْنِ كَلَامٌ نَفِيسٌ جِدًّا فِي عِبَادَةِ السِّرِّ ضَمَّنَهُ بَعْضُ مَبَاحِثِ كِتَابِهِ الِاسْتِقَامَةِ وَكَيْفَ أَنَّ لِكُلِّ وَاحِدٍ يُفْتَحُ لَهُ فِي بَابٍ لَا يُفْتَحُ عَلَى الْآخَرِ فِي عِبَادَاتِ السِّرِّ وَلِذَا الْعِنَايَةُ بِعِبَادَاتِ السِّرِّ مُهِمٌّ نَاسَبَ ذَلِكَ قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ فَالْإِنْسَانُ مَعَ مُجَاهَدَةِ نَفْسَهُ وَمُجَالَدَتِهِ لَهَا يَبْذُلُ الْأَسْبَابَ وَمِنْهَا الزَّوَاجُ
Wahai hadirin yang mulia, menundukkan pandangan adalah perkara yang diperintahkan Allah ‘Azza wa Jalla dalam Kitab-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepada kaum laki-laki: “Katakanlah kepada orang-orang yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya…’” (QS. An-Nur: 30). Kemudian Allah berfirman kepada kaum perempuan: “Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya…’” (QS. An-Nur: 31). Menundukkan pandangan adalah perkara yang berpengaruh besar pada hati. Oleh sebab itu, Allah ‘Azza wa Jalla menyandingkan antara menundukan pandangan dengan amalan hati. Allah berfirman: “Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh dada.” (QS. Ghafir: 19). Sebab, mungkin saja kamu sedang berjalan bersama temanmu, lalu mungkin kamu melihat sesuatu, tapi dia tidak tahu apa yang sedang kamu lihat, dan mungkin kamu curi-curi pandang kepada hal yang haram, padahal ia mengawasimu, tapi tidak tahu apa yang sedang kamu lihat. Karena itulah, dalam riwayat Imam Ahmad dan Al-Hakim dari hadis Ibnu Mas’ud, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa menundukkan pandangannya dari apa yang diharamkan Allah, padahal ia mampu melihatnya, semata-mata karena mengharapkan ridha Allah ‘Azza wa Jalla, Allah akan menjadikan dalam hatinya rasa manisnya iman.” Para ulama berkata bahwa manisnya iman ini sebabnya adalah setelah tauhid kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan keikhlasan dalam beribadah kepada-Nya, yakni ketika hati kosong dari keterikatan dengan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta menaruh perhatian penuh pada ibadah-ibadah rahasia. Karena itulah, seorang hamba tidak akan merasakan manisnya iman seperti yang ia rasakan dalam Shalat Malam dan sedekah secara sembunyi. Dalam riwayat Ibnu Majah disebutkan: “Ada tiga amalan, siapa yang mengamalkannya pasti merasakan manisnya iman.” Salah satunya adalah: “Orang yang membayar zakat hartanya, dan tidak membayar dengan hewan yang sakit atau cacat.” Karena menginfakkan harta secara rahasia tidak diketahui siapa pun selain Allah ‘Azza wa Jalla. Selain itu, harta juga terasa manis di hati dan disukai. Di antara amalannya juga adalah menundukkan pandangan. Pada zaman ini, menundukkan pandangan menjadi perkara yang sulit dilakukan. Bahkan, seseorang bisa berada di rumahnya sendiri, dengan mengunci pintunya dan menutup gordennya rapat-rapat. sehingga tidak ada satu pun yang melihatnya di tempat itu, kecuali Allah ‘Azza wa Jalla. Namun, begitu ia membuka gawai di tangannya, atau menatap layar di hadapannya, ia bisa melihat hal-hal haram yang tidak mungkin ia tonton di hadapan orang lain. Namun, jika ia mengingat balasan yang ada di sisi Allah ‘Azza wa Jalla, lalu ia menundukkan pandangannya ketika itu, karena mengharap pahala di sisi Allah ‘Azza wa Jalla, maka berbahagialah, karena ia akan merasakan manisnya iman. Demikianlah yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Banyak orang yang mengatakan: “Aku pernah dengar Sufyan berkata bahwa menuntut ilmu itu sangat nikmat, tapi mengapa aku tidak merasakannya? Aku juga dengar Ibrahim bin Adham berkata, ‘Kami merasakan kenikmatan luar biasa saat Shalat Malam. Andai putra-putra raja mengetahuinya, mereka pasti akan menebas kami dengan pedang untuk merebutnya.’ Namun, kok aku tidak merasakannya? Aku juga dengar kisah Abdullah bin Zubair, jika ia sudah berdiri untuk shalat, ia larut dalam ibadah hingga tidak sadar siapa yang ada di sampingnya. Bahkan saat lebah mendatanginya, lalu lebah itu menyengatnya berkali-kali, ia tetap tidak bergerak. Setelah selesai, ia berkata, ‘Tadi aku sedang sibuk darinya.’ Dalam Sunan Abi Dawud juga disebutkan bahwa pernah ada anak panah nyasar mengenai seorang Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi ia tidak membatalkan shalatnya. Ia berkata: ‘Tadi aku sedang membaca surat yang lebih kucintai daripada dunia dan seisinya. Andai Nabi tidak memerintahkan kami berjaga, aku tidak akan berhenti membacanya.’ Ini semua, mungkin bisa kita lakukan juga seperti mereka. Hanya saja, hati kita tidak merasakan apa yang mereka rasakan.” Hal ini disebabkan dua hal. Pertama: berkaitan dengan amalan hati yang telah saya sebutkan, yaitu keterpautan sepenuhnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dengan menafikan sekutu bagi-Nya Subhanahu wa Ta’ala dan mengikhlaskan seluruh ibadah. Di antara bentuk keikhlasan ibadah adalah keikhlasan dalam amalan hati: tidak bertawakal, tidak memohon pertolongan, tidak takut, tidak berharap, dan tidak mencintai kecuali hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Kedua: memberi perhatian besar pada ibadah-ibadah rahasia. Syaikh Taqiyuddin memiliki ungkapan sangat berharga tentang ibadah rahasia, yang termuat dalam beberapa pembahasan bukunya Al-Istiqamah. Beliau menjelaskan bahwa setiap orang bisa dibukakan pintu dalam ibadah rahasia yang tidak selalu dibukakan bagi orang lain. Oleh sebab itu, perhatian terhadap ibadah rahasia amat penting. Dalam konteks ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “…karena (menikah) itu lebih menundukkan pandangan…” Maka, seorang hamba, selain berjuang melawan hawa nafsunya, juga wajib mengambil sebab-sebab yang memudahkan ketaatan, di antaranya adalah menikah. ===== غَضُّ الْبَصَرِ أَيُّهَا الْأَفَاضِلُ هَذِهِ مِنْ الْأُمُورِ الَّتِي أَمَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا فِي كِتَابِهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ مُخَاطِبًا الرِّجَالَ قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ثُمَّ خَاطَبَ النِّسَاءَ فَقَالَ وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ هَذَا غَضُّ الْبَصَرِ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي لَهَا وَقْعٌ فِي الْقَلْبِ وَلِذَا فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَرَنَ بَيْنَ غَضِّ الْبَصَرِ وَفِعْلِ الْقَلْبِ فَقَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ وَذَلِكَ أَنَّكَ رُبَّمَا تَكُونُ مَعَ صَاحِبِكَ تَمْشِيَانِ فَلَرُبَّمَا نَظَرْتَ إِلَى أَمْرٍ وَهُوَ لَا يَعْلَمُ بِمَا تَنْظُرُ إِلَيْهِ وَلَرُبَّمَا اسْتَرَقْتَ الْبَصَرَ إِلَى شَيْءٍ مَمْنُوعٍ وَهُوَ يَرْقُبُكَ وَلَا يَدْرِي بِمَا تَنْظُرُ إِلَيْهِ وَلِذَا جَاءَ فِي حَدِيثٍ عِنْدَ أَحْمَدَ وَالْحَاكِمِ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ غَضَّ بَصَرَهُ عَمَّا حَرَّمَ اللَّهُ وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى النَّظَرِ ابْتِغَاءَ مَا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَعْقَبَ اللَّهُ فِي قَلْبِهِ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ وَهَذِه حَلَاوَةُ الْإِيمَانِ يَقُولُ أَهْلُ الْعِلْمِ إِنَّ سَبَبَهَا بَعْدَ تَوْحِيدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِخْلَاصِ الْعِبَادَةِ لَهُ حَيْثُ يَكُونُ الْقَلْبُ فَارِغًا مِنَ التَّعَلُّقِ بِغَيْرِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْعِنَايَةُ بِعِبَادَاتِ السِّرِّ وَلِذَا فَإِنَّ الْمَرْءَ لَنْ يَجِدَ عِبَادَةً يَجِدُ فِيهَا حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ مِثْلَ قِيَامِ اللَّيْلِ وَمِثْلَ الْإِنْفَاقِ فِي السِّرِّ وَلِذَا جَاءَ عِنْدَ ابْنِ مَاجَهْ ثَلَاثٌ مَنْ فَعَلَهُنَّ ذَاقَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ وَذَكَرَ مِنْهَا وَأَخْرَجَ زَكَاةَ مَالِهِ وَلَمْ يَخْرُجِ الْمَرِيضَةَ وَلَا ذَاتَ الشَّرَطِ لِأَنَّ بَذْلَ الْمَالِ فِي السِّرِّ لَا يَعْلَمُ بِهِ إِلَّا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَالْمَالُ لَهُ حَلَاوَةٌ فِي الْقَلْبِ وَمَحَبَّةٌ وَمِنْهَا غَضُّ الْبَصَرِ وَهُوَ الِانْكِفَافُ وَفِي هَذَا الْوَقْتِ أَصْبَحَ غَضُّ الْبَصَرِ مِنَ الْأُمُورِ الصِّعَابِ حَتَّى إِنَّ الْمَرْءَ رُبَّمَا يَكُونُ فِي بَيْتِهِ مُغْلِقًا عَلَيْهِ بَابَهُ وَمُرْخِيًا عَلَيْهِ سِتَارَهُ وَلَا يَعْلَمُ بِهِ فِي هَذَا الْمَكَانِ أَحَدٌ إِلَّا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ مَا إِنْ يَنْظُرُ فِي هَاتِفِهِ النَّقَّالِ مَعَهُ أَوْ يَنْظُرُ فِي الشَّاشَةِ الَّتِي أَمَامَهُ فَيَنْظُرُ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي لَا يُمْكِنُ أَنْ يَنْظُرَ لَهَا غَيْرُهَا مِنَ الْأُمُورِ الْمُحَرَّمَةِ لَكِنْ إِذَا تَذَكَّرَ مَا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ غَضَّ بَصَرَهُ حِينَذاكَ رَجَاءَ مَا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَلْيَبْشِرْ بِأَنَّهُ سَيَجِدُ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ هَكَذَا أَخْبَرَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ يَقُولُ أَسْمَعُ أَنَّ سُفْيَانَ يَقُولُ إِنَّ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ لَذَّةٌ عَظِيمَةٌ جِدًّا لَا أَجِدُهَا وَأَسْمَعُ أَنَّ إِبْرَاهِيمَ بْنَ أَدْهَمَ يَقُولُ إِنَّنَا فِي قِيَامِ اللَّيْلِ فِي لَذَّةٍ لَوْ عَلِمَ عَنْهَا أَبْنَاءُ الْمُلُوكِ لَجَلَدَنَا عَلَيْهَا بِالسُّيُوفِ وَلَكِنِّي لَا أَجِدُهَا وَأَسْمَعُ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الزُّبَيْرِ كَانَ إِذَا قَامَ فِي صَلَاتِهِ اشْتَغَلَ بِالْعِبَادَةِ حَتَّى لَا يَدْرِي مَنْ بِجَانِبِهِ حَتَّى يَأْتِيَهُ الزُّنْبُورُ فَرُبَّمَا لَسَعَهُ مَرَّاتٍ كَثِيرَاتٍثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ لَا يَتَحَرَّكُ ثُمَّ يَقُولُ كُنْتُ فِي شُغْلٍ عَنْهَا وَفِي سُنَنِ أَبِي دَاوُدَ أَنَّ سَهْمًا غَرْبًا أَصَابَ أَحَدَ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَا انْبَطَلَ مِنْ صَلَاتِهِ قَالَ كُنْتُ أَقْرَأُ سُورَةً أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا لَوْلَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَنَا بِالْحِرَاسَةِ هَذِهِ الْأُمُورُ قَدْ نَفْعَلُ مِثْلَ أَفْعَالِ أُولَئِكَ الْقَوْمِ لَكِنَّنَا لَا نَجِدُ فِي قُلُوبِنَا مَا وَجَدُوا لِسَبَبَيْنِ ذَكَرْتُ لَكَ قَبْلَ قَلِيلٍ وَهُوَ قَضِيَّةُ أَفْعَالِ الْقُلُوبِ التَّعَلُّقُ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ نَفْيِ الشَّرِيكِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَنْهُ وَإِخْلَاصِ الْعِبَادَةِ وَمِنْ أَنْوَاعِ إِخْلَاصِ الْعِبَادَةِ إِخْلَاصُ أَفْعَالِ الْقُلُوبِ فَلَا تَوَكُّلَ وَلَا اسْتِعَانَةَ وَلَا خَوْفَ وَلَا رَجَاءَ وَلَا مَحَبَّةَ إِلَّا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْأَمْرُ الثَّانِي الْعِنَايَةُ بِعِبَادَاتِ السِّرِّ وَلِلشَّيْخِ تَقِيُّ الدِّيْنِ كَلَامٌ نَفِيسٌ جِدًّا فِي عِبَادَةِ السِّرِّ ضَمَّنَهُ بَعْضُ مَبَاحِثِ كِتَابِهِ الِاسْتِقَامَةِ وَكَيْفَ أَنَّ لِكُلِّ وَاحِدٍ يُفْتَحُ لَهُ فِي بَابٍ لَا يُفْتَحُ عَلَى الْآخَرِ فِي عِبَادَاتِ السِّرِّ وَلِذَا الْعِنَايَةُ بِعِبَادَاتِ السِّرِّ مُهِمٌّ نَاسَبَ ذَلِكَ قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ فَالْإِنْسَانُ مَعَ مُجَاهَدَةِ نَفْسَهُ وَمُجَالَدَتِهِ لَهَا يَبْذُلُ الْأَسْبَابَ وَمِنْهَا الزَّوَاجُ


Wahai hadirin yang mulia, menundukkan pandangan adalah perkara yang diperintahkan Allah ‘Azza wa Jalla dalam Kitab-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepada kaum laki-laki: “Katakanlah kepada orang-orang yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya…’” (QS. An-Nur: 30). Kemudian Allah berfirman kepada kaum perempuan: “Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya…’” (QS. An-Nur: 31). Menundukkan pandangan adalah perkara yang berpengaruh besar pada hati. Oleh sebab itu, Allah ‘Azza wa Jalla menyandingkan antara menundukan pandangan dengan amalan hati. Allah berfirman: “Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh dada.” (QS. Ghafir: 19). Sebab, mungkin saja kamu sedang berjalan bersama temanmu, lalu mungkin kamu melihat sesuatu, tapi dia tidak tahu apa yang sedang kamu lihat, dan mungkin kamu curi-curi pandang kepada hal yang haram, padahal ia mengawasimu, tapi tidak tahu apa yang sedang kamu lihat. Karena itulah, dalam riwayat Imam Ahmad dan Al-Hakim dari hadis Ibnu Mas’ud, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa menundukkan pandangannya dari apa yang diharamkan Allah, padahal ia mampu melihatnya, semata-mata karena mengharapkan ridha Allah ‘Azza wa Jalla, Allah akan menjadikan dalam hatinya rasa manisnya iman.” Para ulama berkata bahwa manisnya iman ini sebabnya adalah setelah tauhid kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan keikhlasan dalam beribadah kepada-Nya, yakni ketika hati kosong dari keterikatan dengan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta menaruh perhatian penuh pada ibadah-ibadah rahasia. Karena itulah, seorang hamba tidak akan merasakan manisnya iman seperti yang ia rasakan dalam Shalat Malam dan sedekah secara sembunyi. Dalam riwayat Ibnu Majah disebutkan: “Ada tiga amalan, siapa yang mengamalkannya pasti merasakan manisnya iman.” Salah satunya adalah: “Orang yang membayar zakat hartanya, dan tidak membayar dengan hewan yang sakit atau cacat.” Karena menginfakkan harta secara rahasia tidak diketahui siapa pun selain Allah ‘Azza wa Jalla. Selain itu, harta juga terasa manis di hati dan disukai. Di antara amalannya juga adalah menundukkan pandangan. Pada zaman ini, menundukkan pandangan menjadi perkara yang sulit dilakukan. Bahkan, seseorang bisa berada di rumahnya sendiri, dengan mengunci pintunya dan menutup gordennya rapat-rapat. sehingga tidak ada satu pun yang melihatnya di tempat itu, kecuali Allah ‘Azza wa Jalla. Namun, begitu ia membuka gawai di tangannya, atau menatap layar di hadapannya, ia bisa melihat hal-hal haram yang tidak mungkin ia tonton di hadapan orang lain. Namun, jika ia mengingat balasan yang ada di sisi Allah ‘Azza wa Jalla, lalu ia menundukkan pandangannya ketika itu, karena mengharap pahala di sisi Allah ‘Azza wa Jalla, maka berbahagialah, karena ia akan merasakan manisnya iman. Demikianlah yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Banyak orang yang mengatakan: “Aku pernah dengar Sufyan berkata bahwa menuntut ilmu itu sangat nikmat, tapi mengapa aku tidak merasakannya? Aku juga dengar Ibrahim bin Adham berkata, ‘Kami merasakan kenikmatan luar biasa saat Shalat Malam. Andai putra-putra raja mengetahuinya, mereka pasti akan menebas kami dengan pedang untuk merebutnya.’ Namun, kok aku tidak merasakannya? Aku juga dengar kisah Abdullah bin Zubair, jika ia sudah berdiri untuk shalat, ia larut dalam ibadah hingga tidak sadar siapa yang ada di sampingnya. Bahkan saat lebah mendatanginya, lalu lebah itu menyengatnya berkali-kali, ia tetap tidak bergerak. Setelah selesai, ia berkata, ‘Tadi aku sedang sibuk darinya.’ Dalam Sunan Abi Dawud juga disebutkan bahwa pernah ada anak panah nyasar mengenai seorang Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi ia tidak membatalkan shalatnya. Ia berkata: ‘Tadi aku sedang membaca surat yang lebih kucintai daripada dunia dan seisinya. Andai Nabi tidak memerintahkan kami berjaga, aku tidak akan berhenti membacanya.’ Ini semua, mungkin bisa kita lakukan juga seperti mereka. Hanya saja, hati kita tidak merasakan apa yang mereka rasakan.” Hal ini disebabkan dua hal. Pertama: berkaitan dengan amalan hati yang telah saya sebutkan, yaitu keterpautan sepenuhnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dengan menafikan sekutu bagi-Nya Subhanahu wa Ta’ala dan mengikhlaskan seluruh ibadah. Di antara bentuk keikhlasan ibadah adalah keikhlasan dalam amalan hati: tidak bertawakal, tidak memohon pertolongan, tidak takut, tidak berharap, dan tidak mencintai kecuali hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Kedua: memberi perhatian besar pada ibadah-ibadah rahasia. Syaikh Taqiyuddin memiliki ungkapan sangat berharga tentang ibadah rahasia, yang termuat dalam beberapa pembahasan bukunya Al-Istiqamah. Beliau menjelaskan bahwa setiap orang bisa dibukakan pintu dalam ibadah rahasia yang tidak selalu dibukakan bagi orang lain. Oleh sebab itu, perhatian terhadap ibadah rahasia amat penting. Dalam konteks ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “…karena (menikah) itu lebih menundukkan pandangan…” Maka, seorang hamba, selain berjuang melawan hawa nafsunya, juga wajib mengambil sebab-sebab yang memudahkan ketaatan, di antaranya adalah menikah. ===== غَضُّ الْبَصَرِ أَيُّهَا الْأَفَاضِلُ هَذِهِ مِنْ الْأُمُورِ الَّتِي أَمَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا فِي كِتَابِهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ مُخَاطِبًا الرِّجَالَ قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ثُمَّ خَاطَبَ النِّسَاءَ فَقَالَ وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ هَذَا غَضُّ الْبَصَرِ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي لَهَا وَقْعٌ فِي الْقَلْبِ وَلِذَا فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَرَنَ بَيْنَ غَضِّ الْبَصَرِ وَفِعْلِ الْقَلْبِ فَقَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ وَذَلِكَ أَنَّكَ رُبَّمَا تَكُونُ مَعَ صَاحِبِكَ تَمْشِيَانِ فَلَرُبَّمَا نَظَرْتَ إِلَى أَمْرٍ وَهُوَ لَا يَعْلَمُ بِمَا تَنْظُرُ إِلَيْهِ وَلَرُبَّمَا اسْتَرَقْتَ الْبَصَرَ إِلَى شَيْءٍ مَمْنُوعٍ وَهُوَ يَرْقُبُكَ وَلَا يَدْرِي بِمَا تَنْظُرُ إِلَيْهِ وَلِذَا جَاءَ فِي حَدِيثٍ عِنْدَ أَحْمَدَ وَالْحَاكِمِ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ غَضَّ بَصَرَهُ عَمَّا حَرَّمَ اللَّهُ وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى النَّظَرِ ابْتِغَاءَ مَا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَعْقَبَ اللَّهُ فِي قَلْبِهِ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ وَهَذِه حَلَاوَةُ الْإِيمَانِ يَقُولُ أَهْلُ الْعِلْمِ إِنَّ سَبَبَهَا بَعْدَ تَوْحِيدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِخْلَاصِ الْعِبَادَةِ لَهُ حَيْثُ يَكُونُ الْقَلْبُ فَارِغًا مِنَ التَّعَلُّقِ بِغَيْرِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْعِنَايَةُ بِعِبَادَاتِ السِّرِّ وَلِذَا فَإِنَّ الْمَرْءَ لَنْ يَجِدَ عِبَادَةً يَجِدُ فِيهَا حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ مِثْلَ قِيَامِ اللَّيْلِ وَمِثْلَ الْإِنْفَاقِ فِي السِّرِّ وَلِذَا جَاءَ عِنْدَ ابْنِ مَاجَهْ ثَلَاثٌ مَنْ فَعَلَهُنَّ ذَاقَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ وَذَكَرَ مِنْهَا وَأَخْرَجَ زَكَاةَ مَالِهِ وَلَمْ يَخْرُجِ الْمَرِيضَةَ وَلَا ذَاتَ الشَّرَطِ لِأَنَّ بَذْلَ الْمَالِ فِي السِّرِّ لَا يَعْلَمُ بِهِ إِلَّا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَالْمَالُ لَهُ حَلَاوَةٌ فِي الْقَلْبِ وَمَحَبَّةٌ وَمِنْهَا غَضُّ الْبَصَرِ وَهُوَ الِانْكِفَافُ وَفِي هَذَا الْوَقْتِ أَصْبَحَ غَضُّ الْبَصَرِ مِنَ الْأُمُورِ الصِّعَابِ حَتَّى إِنَّ الْمَرْءَ رُبَّمَا يَكُونُ فِي بَيْتِهِ مُغْلِقًا عَلَيْهِ بَابَهُ وَمُرْخِيًا عَلَيْهِ سِتَارَهُ وَلَا يَعْلَمُ بِهِ فِي هَذَا الْمَكَانِ أَحَدٌ إِلَّا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ مَا إِنْ يَنْظُرُ فِي هَاتِفِهِ النَّقَّالِ مَعَهُ أَوْ يَنْظُرُ فِي الشَّاشَةِ الَّتِي أَمَامَهُ فَيَنْظُرُ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي لَا يُمْكِنُ أَنْ يَنْظُرَ لَهَا غَيْرُهَا مِنَ الْأُمُورِ الْمُحَرَّمَةِ لَكِنْ إِذَا تَذَكَّرَ مَا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ غَضَّ بَصَرَهُ حِينَذاكَ رَجَاءَ مَا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَلْيَبْشِرْ بِأَنَّهُ سَيَجِدُ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ هَكَذَا أَخْبَرَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ يَقُولُ أَسْمَعُ أَنَّ سُفْيَانَ يَقُولُ إِنَّ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ لَذَّةٌ عَظِيمَةٌ جِدًّا لَا أَجِدُهَا وَأَسْمَعُ أَنَّ إِبْرَاهِيمَ بْنَ أَدْهَمَ يَقُولُ إِنَّنَا فِي قِيَامِ اللَّيْلِ فِي لَذَّةٍ لَوْ عَلِمَ عَنْهَا أَبْنَاءُ الْمُلُوكِ لَجَلَدَنَا عَلَيْهَا بِالسُّيُوفِ وَلَكِنِّي لَا أَجِدُهَا وَأَسْمَعُ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الزُّبَيْرِ كَانَ إِذَا قَامَ فِي صَلَاتِهِ اشْتَغَلَ بِالْعِبَادَةِ حَتَّى لَا يَدْرِي مَنْ بِجَانِبِهِ حَتَّى يَأْتِيَهُ الزُّنْبُورُ فَرُبَّمَا لَسَعَهُ مَرَّاتٍ كَثِيرَاتٍثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ لَا يَتَحَرَّكُ ثُمَّ يَقُولُ كُنْتُ فِي شُغْلٍ عَنْهَا وَفِي سُنَنِ أَبِي دَاوُدَ أَنَّ سَهْمًا غَرْبًا أَصَابَ أَحَدَ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَا انْبَطَلَ مِنْ صَلَاتِهِ قَالَ كُنْتُ أَقْرَأُ سُورَةً أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا لَوْلَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَنَا بِالْحِرَاسَةِ هَذِهِ الْأُمُورُ قَدْ نَفْعَلُ مِثْلَ أَفْعَالِ أُولَئِكَ الْقَوْمِ لَكِنَّنَا لَا نَجِدُ فِي قُلُوبِنَا مَا وَجَدُوا لِسَبَبَيْنِ ذَكَرْتُ لَكَ قَبْلَ قَلِيلٍ وَهُوَ قَضِيَّةُ أَفْعَالِ الْقُلُوبِ التَّعَلُّقُ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ نَفْيِ الشَّرِيكِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَنْهُ وَإِخْلَاصِ الْعِبَادَةِ وَمِنْ أَنْوَاعِ إِخْلَاصِ الْعِبَادَةِ إِخْلَاصُ أَفْعَالِ الْقُلُوبِ فَلَا تَوَكُّلَ وَلَا اسْتِعَانَةَ وَلَا خَوْفَ وَلَا رَجَاءَ وَلَا مَحَبَّةَ إِلَّا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْأَمْرُ الثَّانِي الْعِنَايَةُ بِعِبَادَاتِ السِّرِّ وَلِلشَّيْخِ تَقِيُّ الدِّيْنِ كَلَامٌ نَفِيسٌ جِدًّا فِي عِبَادَةِ السِّرِّ ضَمَّنَهُ بَعْضُ مَبَاحِثِ كِتَابِهِ الِاسْتِقَامَةِ وَكَيْفَ أَنَّ لِكُلِّ وَاحِدٍ يُفْتَحُ لَهُ فِي بَابٍ لَا يُفْتَحُ عَلَى الْآخَرِ فِي عِبَادَاتِ السِّرِّ وَلِذَا الْعِنَايَةُ بِعِبَادَاتِ السِّرِّ مُهِمٌّ نَاسَبَ ذَلِكَ قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ فَالْإِنْسَانُ مَعَ مُجَاهَدَةِ نَفْسَهُ وَمُجَالَدَتِهِ لَهَا يَبْذُلُ الْأَسْبَابَ وَمِنْهَا الزَّوَاجُ

Hukum Shalat Berjamaah: Fardhu ataukah Sunnah? Lengkap dengan Dalil dan Penjelasan

Shalat berjamaah adalah syiar agung dalam Islam yang menunjukkan kekuatan ukhuwah dan ketaatan kepada Allah. Para ulama dalam madzhab Syafi’i memberikan perhatian khusus terhadap hukum, keutamaan, dan tata cara mendapati jamaah dalam shalat. Tulisan ini membahas secara ringkas namun komprehensif tentang hukum shalat berjamaah, kondisi wajibnya, hingga berbagai bentuk idrak (ketepatan ikut jamaah) yang perlu diketahui setiap muslim. Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib berkata,وَصَلَاةُ‭ ‬الْجَمَاعَةِ‭ ‬سُنَّةٌ‭ ‬مُؤَكَّدَةٌ،‭ ‬وَعَلَى‭ ‬الْمَأْمُومِ‭ ‬أَنْ‭ ‬يَنْوِيَ‭ ‬الِائْتِمَامَ‭ ‬دُونَ‭ ‬الْإِمَامِ‭.‬Shalat berjamaah hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan), dan bagi makmum wajib berniat untuk mengikuti (imam), sedangkan imam tidak perlu berniat menjadi imam.* Daftar Isi buka 1. Penjelasan 2. Rincian Hukum Shalat Berjamaah 3. Argumen Berbagai Pendapat Mengenai Hukum Shalat Berjamaah 3.1. Alasan hukum shalat berjamaah itu sunnah 3.2. Alasan hukum shalat berjamaah itu fardhu kifayah 3.3. Alasan hukum shalat berjamaah itu fardhu ‘ain 4. Berbagai Bentuk Idrok (Ketepatan Ikut Jamaah) 5. Shalat di Rumah Berjamaah PenjelasanHukum shalat berjamaah menurut pendapat mu’tamad dalam madzhab Syafi‘i adalah fardhu kifayah (wajib untuk sebagian orang), kecuali shalat Jum’at, hukumnya Fardhu ‘Ain (wajib untuk individu).Hukum fardhu kifayah berlaku untuk:Laki-laki, hukum bagi perempuan: sunnah.Orang merdeka, hukum bagi budak: sunnah.Mukim, hukum bagi musafir: sunnah.Tidak punya uzur; uzur untuk tidak berjamaah: hujan, sangat dingin, sakit, darurat buang hajat, dll.Wajib tampak syiar (agama) dengan menegakkan (shalat berjamaah), maka tidak cukup melakukannya di rumah-rumah. Minimal berjamaah adalah: seorang imam dan satu makmum. Rincian Hukum Shalat BerjamaahFardhu ‘ain dan syarat sahnya: berjamaah dalam shalat Jum’at.Fardhu kifayah: untuk berjamaah dalam shalat wajib lima waktu.Sunnah: shalat dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha), shalat kusuf (gerhana), istisqa’ (minta hujan), tarawih, dan witir di bulan Ramadhan.Khilaful aula: shalat rawatib dan dhuhaMakruh: shalat di belakang imam yang fasik.Haram: bermakmum di belakang imam yang shalatnya berbeda, misalnya shalat Shubuh di belakang shalat jenazah. (Bidayah Al-Fiqh Asy-Syafi’i, hlm. 275-276)Shalat berjamaah di masjid–untuk selain wanita–lebih utama, kecuali jika didapatkan jamaah di rumah lebih banyak, maka di rumah lebih afdal.Dalam Fathul Qarib disebutkan: Shalat berjamaah bagi laki-laki dalam shalat-shalat wajib selain Jum’at hukumnya sunnah muakkadah menurut penulis dan Ar-Rafi‘i. Pendapat yang lebih kuat menurut An-Nawawi: fardhu kifayah. Makmum dianggap mendapatkan jamaah bersama imam dalam shalat selain Jum’at selama imam belum mengucapkan salam pertama, meskipun ia belum sempat duduk bersamanya. Argumen Berbagai Pendapat Mengenai Hukum Shalat BerjamaahDalam Fathul Qarib disebutkan: (Dan) wajib (bagi makmum untuk berniat mengikuti) atau bermakmum kepada imam. Tidak wajib menyebutkan siapa imamnya secara spesifik; cukup berniat mengikuti imam yang ada jika ia tidak mengenalnya. Jika ia menetapkan imam tertentu lalu keliru, maka batal shalatnya, kecuali jika ada isyarat yang menyertainya, seperti ia berkata: ‘Aku berniat mengikuti Zaid ini,’ ternyata yang dimaksud adalah ‘Amr, maka shalatnya tetap sah.(Adapun imam), tidak wajib baginya berniat menjadi imam untuk sahnya makmum bermakmum kepadanya selain pada shalat Jumat. Niat imam hanya sunnah baginya. Jika ia tidak berniat sebagai imam, maka shalatnya dihukumi shalat sendiri (munfarid).”Dalam Kifayatul Akhyar disebutkan: Dasar disyariatkannya shalat berjamaah adalah Al-Qur’an, hadits, dan ijmak ulama. Allah Ta‘ala berfirman:﴿ وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ ﴾“Dan apabila engkau (wahai Muhammad) berada di tengah-tengah mereka lalu engkau hendak mendirikan salat bersama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri bersamamu.” (QS. An-Nisaa’: 102)Ayat ini menunjukkan perintah berjamaah dalam firman-Nya ‘maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri bersamamu.’ Maka pada kondisi aman tentu lebih utama.Shalat berjamaah adalah fardhu ‘ain pada shalat Jumat. Adapun selain shalat Jumat, terdapat perbedaan pendapat.Menurut pendapat yang sahih menurut Ar-Rafi‘i, hukumnya adalah sunnah. Ada pula yang berpendapat bahwa hukumnya fardu kifayah, dan pendapat ini dinilai sahih oleh An-Nawawi. Ada pula yang berpendapat fardu ‘ain, dan pendapat ini dinilai sahih oleh Ibnul Mundzir dan Ibnu Khuzaimah. Alasan hukum shalat berjamaah itu sunnahAdapun dalil bagi mereka yang mengatakan bahwa shalat berjamaah itu sunnah adalah sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam: Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan keutamaan dua puluh tujuh derajat). Al-Bukhari meriwayatkan dengan lafaz dua puluh lima derajat dari riwayat Abu Sa‘id. Sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam ‘lebih utama’ menunjukkan bolehnya kedua cara (shalat berjamaah dan shalat sendirian), karena bentuk perbandingan keutamaan menuntut demikian. Seandainya salah satu dari keduanya terlarang, tentu tidak akan datang dalam bentuk lafaz seperti ini. Alasan hukum shalat berjamaah itu fardhu kifayahAdapun dalil bagi mereka yang berpendapat bahwa salat berjamaah itu fardu kifayah adalah sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam: “Tidaklah ada tiga orang di suatu kampung atau di pedalaman yang tidak ditegakkan salat di tengah-tengah mereka, kecuali setan akan menguasai mereka. Maka hendaklah kalian berjamaah, karena serigala hanya memakan kambing yang jauh dari kawanannya.” Alasan hukum shalat berjamaah itu fardhu ‘ainDan dalil bagi mereka yang berpendapat bahwa shalat berjamaah itu fardu ‘ain adalah sejumlah hadits, di antaranya sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam: “Sungguh, aku hampir memerintahkan untuk mendirikan salat, lalu salat ditegakkan. Kemudian aku memerintahkan seorang lelaki untuk mengimami manusia, lalu aku pergi bersama beberapa orang yang membawa ikatan kayu bakar menuju suatu kaum yang tidak menghadiri salat, lalu aku akan membakar rumah-rumah mereka dengan api).Jawabannya: Nabi tidak jadi membakar rumah mereka, dan hal ini terjadi pada kaum munafik. Berbagai Bentuk Idrok (Ketepatan Ikut Jamaah)1. Mendapati SATU RAKAAT ketika mendapati rukuk, di mana makmum rukuk secara thumakninah sebelum imam bangkit.Makmum masbuk dikatakan mendapatkan rukuk bersama imam dengan dua hal: (1) takbiratul ihram lalu bertakbir untuk turun rukuk, tetapi jika mencukupkan satu kali takbir disyaratkan ia melakukan takbiratul ihram, (2) mendapati rukuk bersama imam secara sempurna dan yakin sebelum imam bangkit dari rukuk di mana makmum mendapatinya dengan melakukanya dengan thumakninah dan masih mendapatkan minimal rukuk, yaitu telapak tangannya mendapati lutut. (Lihat Fath Al-Mu’in, hlm. 199).2. Mendapati SHALAT BERJAMAAH dengan mendapati bagian shalat dari imam. Ada perselisihan pendapat dalam madzhab dalam hal kapan mendapati bagian shalat dari imam: – Menurut Imam Ar-Ramli sebelum imam mulai salam pertama. – Menurut Ibnu Hajar Al-Haitami sebelum pengucapan mim pada kalimat salam “As-salaamu ‘alaikum”.3. Mendapati FADHILAH BERJAMAAH (mendapati takbir pertama bersama imam) di mana makmum mengucapkan takbiratul ihram setelah takbiratul ihram dari imam. Karena hadits:‎فإذا‭ ‬كبر‭ ‬فكبرواس‭ ‬والفاء‭ ‬للتعقيب‭.‬“Jika imam bertakbir, barulah makmum bertakbir.” Hadits ini bermakna ta’qib berurutan dan menunjukkan setelah. Itulah makna huruf fa’.4. Mendapati SHALAT JUMAT BERSAMA IMAM ketika makmum mendapati rukuk imam secara thumakninah sebelum imam bangkit.Hal ini berdasarkan hadits:‎من‭ ‬أدرك‭ ‬من‭ ‬الجمعة‭ ‬ركعة‭ ‬فليصل‭ ‬معها‭ ‬أخرى“Siapa mendapati satu rakaat shalat Jumat bersama imam, maka hendaklah ia melanjutkan rakaat yang tersisa.”5. Mendapati WAKTU SHALAT ADA’AN (masih shalat di waktunya) dengan mendapati satu rakaat secara sempurna. Misal ia bangkit dari sujud kedua sebelum matahari tenggelam, berarti ia telah mendapati shalat Ashar di waktunya.Hal ini berdasarkan hadits:‎من‭ ‬أدرك‭ ‬ركعة‭ ‬من‭ ‬العصر‭ ‬قبل‭ ‬أن‭ ‬تغرب‭ ‬الشمس‭ ‬فقد‭ ‬أدرك‭ ‬العصر“Siapa yang mendapati satu rakaat dari shalat Ashar sebelum tenggelam matahari, berarti ia telah mendapati shalat Ashar di waktunya.”Baca juga: Berbagai Bentuk Idrok dalam Shalat Berjamaah Shalat di Rumah BerjamaahKetahuilah bahwa pelaksanaan shalat berjamaah sudah teranggap sah meskipun seorang laki-laki shalat di rumah bersama istrinya atau anggota keluarganya yang lain. Namun demikian, shalat berjamaah di masjid tetap lebih utama. Semakin banyak jamaah yang berkumpul di sebuah masjid, maka semakin utama pula shalat berjamaah di sana.Karena itu, jika dekat rumah terdapat masjid dengan jumlah jamaah sedikit, sedangkan ada masjid lain yang lebih jauh namun jamaahnya lebih banyak, maka shalat di masjid yang jauh lebih utama—kecuali dalam dua kondisi:Bila berpindah ke masjid yang jauh menyebabkan jamaah di masjid terdekat menjadi terbengkalai atau tidak terselenggara.Bila imam di masjid yang jauh tersebut adalah seorang ahli bid’ah, seperti penganut ajaran Mu‘tazilah atau kelompok menyimpang lainnya. Referensi: Matan Taqrib, Fathul Qarib, dan Kifayatul Akhyar Ditulis saat perjalanan Darush Sholihin – Masjid Pogung Dalangan, 8 Jumadilakhir 1447 H, 27 November 2025Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsmatan abu syuja matan taqrib matan taqrib kitab shalat matan taqrib shalat shalat berjamaah shalat jamaah

Hukum Shalat Berjamaah: Fardhu ataukah Sunnah? Lengkap dengan Dalil dan Penjelasan

Shalat berjamaah adalah syiar agung dalam Islam yang menunjukkan kekuatan ukhuwah dan ketaatan kepada Allah. Para ulama dalam madzhab Syafi’i memberikan perhatian khusus terhadap hukum, keutamaan, dan tata cara mendapati jamaah dalam shalat. Tulisan ini membahas secara ringkas namun komprehensif tentang hukum shalat berjamaah, kondisi wajibnya, hingga berbagai bentuk idrak (ketepatan ikut jamaah) yang perlu diketahui setiap muslim. Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib berkata,وَصَلَاةُ‭ ‬الْجَمَاعَةِ‭ ‬سُنَّةٌ‭ ‬مُؤَكَّدَةٌ،‭ ‬وَعَلَى‭ ‬الْمَأْمُومِ‭ ‬أَنْ‭ ‬يَنْوِيَ‭ ‬الِائْتِمَامَ‭ ‬دُونَ‭ ‬الْإِمَامِ‭.‬Shalat berjamaah hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan), dan bagi makmum wajib berniat untuk mengikuti (imam), sedangkan imam tidak perlu berniat menjadi imam.* Daftar Isi buka 1. Penjelasan 2. Rincian Hukum Shalat Berjamaah 3. Argumen Berbagai Pendapat Mengenai Hukum Shalat Berjamaah 3.1. Alasan hukum shalat berjamaah itu sunnah 3.2. Alasan hukum shalat berjamaah itu fardhu kifayah 3.3. Alasan hukum shalat berjamaah itu fardhu ‘ain 4. Berbagai Bentuk Idrok (Ketepatan Ikut Jamaah) 5. Shalat di Rumah Berjamaah PenjelasanHukum shalat berjamaah menurut pendapat mu’tamad dalam madzhab Syafi‘i adalah fardhu kifayah (wajib untuk sebagian orang), kecuali shalat Jum’at, hukumnya Fardhu ‘Ain (wajib untuk individu).Hukum fardhu kifayah berlaku untuk:Laki-laki, hukum bagi perempuan: sunnah.Orang merdeka, hukum bagi budak: sunnah.Mukim, hukum bagi musafir: sunnah.Tidak punya uzur; uzur untuk tidak berjamaah: hujan, sangat dingin, sakit, darurat buang hajat, dll.Wajib tampak syiar (agama) dengan menegakkan (shalat berjamaah), maka tidak cukup melakukannya di rumah-rumah. Minimal berjamaah adalah: seorang imam dan satu makmum. Rincian Hukum Shalat BerjamaahFardhu ‘ain dan syarat sahnya: berjamaah dalam shalat Jum’at.Fardhu kifayah: untuk berjamaah dalam shalat wajib lima waktu.Sunnah: shalat dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha), shalat kusuf (gerhana), istisqa’ (minta hujan), tarawih, dan witir di bulan Ramadhan.Khilaful aula: shalat rawatib dan dhuhaMakruh: shalat di belakang imam yang fasik.Haram: bermakmum di belakang imam yang shalatnya berbeda, misalnya shalat Shubuh di belakang shalat jenazah. (Bidayah Al-Fiqh Asy-Syafi’i, hlm. 275-276)Shalat berjamaah di masjid–untuk selain wanita–lebih utama, kecuali jika didapatkan jamaah di rumah lebih banyak, maka di rumah lebih afdal.Dalam Fathul Qarib disebutkan: Shalat berjamaah bagi laki-laki dalam shalat-shalat wajib selain Jum’at hukumnya sunnah muakkadah menurut penulis dan Ar-Rafi‘i. Pendapat yang lebih kuat menurut An-Nawawi: fardhu kifayah. Makmum dianggap mendapatkan jamaah bersama imam dalam shalat selain Jum’at selama imam belum mengucapkan salam pertama, meskipun ia belum sempat duduk bersamanya. Argumen Berbagai Pendapat Mengenai Hukum Shalat BerjamaahDalam Fathul Qarib disebutkan: (Dan) wajib (bagi makmum untuk berniat mengikuti) atau bermakmum kepada imam. Tidak wajib menyebutkan siapa imamnya secara spesifik; cukup berniat mengikuti imam yang ada jika ia tidak mengenalnya. Jika ia menetapkan imam tertentu lalu keliru, maka batal shalatnya, kecuali jika ada isyarat yang menyertainya, seperti ia berkata: ‘Aku berniat mengikuti Zaid ini,’ ternyata yang dimaksud adalah ‘Amr, maka shalatnya tetap sah.(Adapun imam), tidak wajib baginya berniat menjadi imam untuk sahnya makmum bermakmum kepadanya selain pada shalat Jumat. Niat imam hanya sunnah baginya. Jika ia tidak berniat sebagai imam, maka shalatnya dihukumi shalat sendiri (munfarid).”Dalam Kifayatul Akhyar disebutkan: Dasar disyariatkannya shalat berjamaah adalah Al-Qur’an, hadits, dan ijmak ulama. Allah Ta‘ala berfirman:﴿ وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ ﴾“Dan apabila engkau (wahai Muhammad) berada di tengah-tengah mereka lalu engkau hendak mendirikan salat bersama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri bersamamu.” (QS. An-Nisaa’: 102)Ayat ini menunjukkan perintah berjamaah dalam firman-Nya ‘maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri bersamamu.’ Maka pada kondisi aman tentu lebih utama.Shalat berjamaah adalah fardhu ‘ain pada shalat Jumat. Adapun selain shalat Jumat, terdapat perbedaan pendapat.Menurut pendapat yang sahih menurut Ar-Rafi‘i, hukumnya adalah sunnah. Ada pula yang berpendapat bahwa hukumnya fardu kifayah, dan pendapat ini dinilai sahih oleh An-Nawawi. Ada pula yang berpendapat fardu ‘ain, dan pendapat ini dinilai sahih oleh Ibnul Mundzir dan Ibnu Khuzaimah. Alasan hukum shalat berjamaah itu sunnahAdapun dalil bagi mereka yang mengatakan bahwa shalat berjamaah itu sunnah adalah sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam: Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan keutamaan dua puluh tujuh derajat). Al-Bukhari meriwayatkan dengan lafaz dua puluh lima derajat dari riwayat Abu Sa‘id. Sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam ‘lebih utama’ menunjukkan bolehnya kedua cara (shalat berjamaah dan shalat sendirian), karena bentuk perbandingan keutamaan menuntut demikian. Seandainya salah satu dari keduanya terlarang, tentu tidak akan datang dalam bentuk lafaz seperti ini. Alasan hukum shalat berjamaah itu fardhu kifayahAdapun dalil bagi mereka yang berpendapat bahwa salat berjamaah itu fardu kifayah adalah sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam: “Tidaklah ada tiga orang di suatu kampung atau di pedalaman yang tidak ditegakkan salat di tengah-tengah mereka, kecuali setan akan menguasai mereka. Maka hendaklah kalian berjamaah, karena serigala hanya memakan kambing yang jauh dari kawanannya.” Alasan hukum shalat berjamaah itu fardhu ‘ainDan dalil bagi mereka yang berpendapat bahwa shalat berjamaah itu fardu ‘ain adalah sejumlah hadits, di antaranya sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam: “Sungguh, aku hampir memerintahkan untuk mendirikan salat, lalu salat ditegakkan. Kemudian aku memerintahkan seorang lelaki untuk mengimami manusia, lalu aku pergi bersama beberapa orang yang membawa ikatan kayu bakar menuju suatu kaum yang tidak menghadiri salat, lalu aku akan membakar rumah-rumah mereka dengan api).Jawabannya: Nabi tidak jadi membakar rumah mereka, dan hal ini terjadi pada kaum munafik. Berbagai Bentuk Idrok (Ketepatan Ikut Jamaah)1. Mendapati SATU RAKAAT ketika mendapati rukuk, di mana makmum rukuk secara thumakninah sebelum imam bangkit.Makmum masbuk dikatakan mendapatkan rukuk bersama imam dengan dua hal: (1) takbiratul ihram lalu bertakbir untuk turun rukuk, tetapi jika mencukupkan satu kali takbir disyaratkan ia melakukan takbiratul ihram, (2) mendapati rukuk bersama imam secara sempurna dan yakin sebelum imam bangkit dari rukuk di mana makmum mendapatinya dengan melakukanya dengan thumakninah dan masih mendapatkan minimal rukuk, yaitu telapak tangannya mendapati lutut. (Lihat Fath Al-Mu’in, hlm. 199).2. Mendapati SHALAT BERJAMAAH dengan mendapati bagian shalat dari imam. Ada perselisihan pendapat dalam madzhab dalam hal kapan mendapati bagian shalat dari imam: – Menurut Imam Ar-Ramli sebelum imam mulai salam pertama. – Menurut Ibnu Hajar Al-Haitami sebelum pengucapan mim pada kalimat salam “As-salaamu ‘alaikum”.3. Mendapati FADHILAH BERJAMAAH (mendapati takbir pertama bersama imam) di mana makmum mengucapkan takbiratul ihram setelah takbiratul ihram dari imam. Karena hadits:‎فإذا‭ ‬كبر‭ ‬فكبرواس‭ ‬والفاء‭ ‬للتعقيب‭.‬“Jika imam bertakbir, barulah makmum bertakbir.” Hadits ini bermakna ta’qib berurutan dan menunjukkan setelah. Itulah makna huruf fa’.4. Mendapati SHALAT JUMAT BERSAMA IMAM ketika makmum mendapati rukuk imam secara thumakninah sebelum imam bangkit.Hal ini berdasarkan hadits:‎من‭ ‬أدرك‭ ‬من‭ ‬الجمعة‭ ‬ركعة‭ ‬فليصل‭ ‬معها‭ ‬أخرى“Siapa mendapati satu rakaat shalat Jumat bersama imam, maka hendaklah ia melanjutkan rakaat yang tersisa.”5. Mendapati WAKTU SHALAT ADA’AN (masih shalat di waktunya) dengan mendapati satu rakaat secara sempurna. Misal ia bangkit dari sujud kedua sebelum matahari tenggelam, berarti ia telah mendapati shalat Ashar di waktunya.Hal ini berdasarkan hadits:‎من‭ ‬أدرك‭ ‬ركعة‭ ‬من‭ ‬العصر‭ ‬قبل‭ ‬أن‭ ‬تغرب‭ ‬الشمس‭ ‬فقد‭ ‬أدرك‭ ‬العصر“Siapa yang mendapati satu rakaat dari shalat Ashar sebelum tenggelam matahari, berarti ia telah mendapati shalat Ashar di waktunya.”Baca juga: Berbagai Bentuk Idrok dalam Shalat Berjamaah Shalat di Rumah BerjamaahKetahuilah bahwa pelaksanaan shalat berjamaah sudah teranggap sah meskipun seorang laki-laki shalat di rumah bersama istrinya atau anggota keluarganya yang lain. Namun demikian, shalat berjamaah di masjid tetap lebih utama. Semakin banyak jamaah yang berkumpul di sebuah masjid, maka semakin utama pula shalat berjamaah di sana.Karena itu, jika dekat rumah terdapat masjid dengan jumlah jamaah sedikit, sedangkan ada masjid lain yang lebih jauh namun jamaahnya lebih banyak, maka shalat di masjid yang jauh lebih utama—kecuali dalam dua kondisi:Bila berpindah ke masjid yang jauh menyebabkan jamaah di masjid terdekat menjadi terbengkalai atau tidak terselenggara.Bila imam di masjid yang jauh tersebut adalah seorang ahli bid’ah, seperti penganut ajaran Mu‘tazilah atau kelompok menyimpang lainnya. Referensi: Matan Taqrib, Fathul Qarib, dan Kifayatul Akhyar Ditulis saat perjalanan Darush Sholihin – Masjid Pogung Dalangan, 8 Jumadilakhir 1447 H, 27 November 2025Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsmatan abu syuja matan taqrib matan taqrib kitab shalat matan taqrib shalat shalat berjamaah shalat jamaah
Shalat berjamaah adalah syiar agung dalam Islam yang menunjukkan kekuatan ukhuwah dan ketaatan kepada Allah. Para ulama dalam madzhab Syafi’i memberikan perhatian khusus terhadap hukum, keutamaan, dan tata cara mendapati jamaah dalam shalat. Tulisan ini membahas secara ringkas namun komprehensif tentang hukum shalat berjamaah, kondisi wajibnya, hingga berbagai bentuk idrak (ketepatan ikut jamaah) yang perlu diketahui setiap muslim. Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib berkata,وَصَلَاةُ‭ ‬الْجَمَاعَةِ‭ ‬سُنَّةٌ‭ ‬مُؤَكَّدَةٌ،‭ ‬وَعَلَى‭ ‬الْمَأْمُومِ‭ ‬أَنْ‭ ‬يَنْوِيَ‭ ‬الِائْتِمَامَ‭ ‬دُونَ‭ ‬الْإِمَامِ‭.‬Shalat berjamaah hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan), dan bagi makmum wajib berniat untuk mengikuti (imam), sedangkan imam tidak perlu berniat menjadi imam.* Daftar Isi buka 1. Penjelasan 2. Rincian Hukum Shalat Berjamaah 3. Argumen Berbagai Pendapat Mengenai Hukum Shalat Berjamaah 3.1. Alasan hukum shalat berjamaah itu sunnah 3.2. Alasan hukum shalat berjamaah itu fardhu kifayah 3.3. Alasan hukum shalat berjamaah itu fardhu ‘ain 4. Berbagai Bentuk Idrok (Ketepatan Ikut Jamaah) 5. Shalat di Rumah Berjamaah PenjelasanHukum shalat berjamaah menurut pendapat mu’tamad dalam madzhab Syafi‘i adalah fardhu kifayah (wajib untuk sebagian orang), kecuali shalat Jum’at, hukumnya Fardhu ‘Ain (wajib untuk individu).Hukum fardhu kifayah berlaku untuk:Laki-laki, hukum bagi perempuan: sunnah.Orang merdeka, hukum bagi budak: sunnah.Mukim, hukum bagi musafir: sunnah.Tidak punya uzur; uzur untuk tidak berjamaah: hujan, sangat dingin, sakit, darurat buang hajat, dll.Wajib tampak syiar (agama) dengan menegakkan (shalat berjamaah), maka tidak cukup melakukannya di rumah-rumah. Minimal berjamaah adalah: seorang imam dan satu makmum. Rincian Hukum Shalat BerjamaahFardhu ‘ain dan syarat sahnya: berjamaah dalam shalat Jum’at.Fardhu kifayah: untuk berjamaah dalam shalat wajib lima waktu.Sunnah: shalat dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha), shalat kusuf (gerhana), istisqa’ (minta hujan), tarawih, dan witir di bulan Ramadhan.Khilaful aula: shalat rawatib dan dhuhaMakruh: shalat di belakang imam yang fasik.Haram: bermakmum di belakang imam yang shalatnya berbeda, misalnya shalat Shubuh di belakang shalat jenazah. (Bidayah Al-Fiqh Asy-Syafi’i, hlm. 275-276)Shalat berjamaah di masjid–untuk selain wanita–lebih utama, kecuali jika didapatkan jamaah di rumah lebih banyak, maka di rumah lebih afdal.Dalam Fathul Qarib disebutkan: Shalat berjamaah bagi laki-laki dalam shalat-shalat wajib selain Jum’at hukumnya sunnah muakkadah menurut penulis dan Ar-Rafi‘i. Pendapat yang lebih kuat menurut An-Nawawi: fardhu kifayah. Makmum dianggap mendapatkan jamaah bersama imam dalam shalat selain Jum’at selama imam belum mengucapkan salam pertama, meskipun ia belum sempat duduk bersamanya. Argumen Berbagai Pendapat Mengenai Hukum Shalat BerjamaahDalam Fathul Qarib disebutkan: (Dan) wajib (bagi makmum untuk berniat mengikuti) atau bermakmum kepada imam. Tidak wajib menyebutkan siapa imamnya secara spesifik; cukup berniat mengikuti imam yang ada jika ia tidak mengenalnya. Jika ia menetapkan imam tertentu lalu keliru, maka batal shalatnya, kecuali jika ada isyarat yang menyertainya, seperti ia berkata: ‘Aku berniat mengikuti Zaid ini,’ ternyata yang dimaksud adalah ‘Amr, maka shalatnya tetap sah.(Adapun imam), tidak wajib baginya berniat menjadi imam untuk sahnya makmum bermakmum kepadanya selain pada shalat Jumat. Niat imam hanya sunnah baginya. Jika ia tidak berniat sebagai imam, maka shalatnya dihukumi shalat sendiri (munfarid).”Dalam Kifayatul Akhyar disebutkan: Dasar disyariatkannya shalat berjamaah adalah Al-Qur’an, hadits, dan ijmak ulama. Allah Ta‘ala berfirman:﴿ وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ ﴾“Dan apabila engkau (wahai Muhammad) berada di tengah-tengah mereka lalu engkau hendak mendirikan salat bersama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri bersamamu.” (QS. An-Nisaa’: 102)Ayat ini menunjukkan perintah berjamaah dalam firman-Nya ‘maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri bersamamu.’ Maka pada kondisi aman tentu lebih utama.Shalat berjamaah adalah fardhu ‘ain pada shalat Jumat. Adapun selain shalat Jumat, terdapat perbedaan pendapat.Menurut pendapat yang sahih menurut Ar-Rafi‘i, hukumnya adalah sunnah. Ada pula yang berpendapat bahwa hukumnya fardu kifayah, dan pendapat ini dinilai sahih oleh An-Nawawi. Ada pula yang berpendapat fardu ‘ain, dan pendapat ini dinilai sahih oleh Ibnul Mundzir dan Ibnu Khuzaimah. Alasan hukum shalat berjamaah itu sunnahAdapun dalil bagi mereka yang mengatakan bahwa shalat berjamaah itu sunnah adalah sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam: Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan keutamaan dua puluh tujuh derajat). Al-Bukhari meriwayatkan dengan lafaz dua puluh lima derajat dari riwayat Abu Sa‘id. Sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam ‘lebih utama’ menunjukkan bolehnya kedua cara (shalat berjamaah dan shalat sendirian), karena bentuk perbandingan keutamaan menuntut demikian. Seandainya salah satu dari keduanya terlarang, tentu tidak akan datang dalam bentuk lafaz seperti ini. Alasan hukum shalat berjamaah itu fardhu kifayahAdapun dalil bagi mereka yang berpendapat bahwa salat berjamaah itu fardu kifayah adalah sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam: “Tidaklah ada tiga orang di suatu kampung atau di pedalaman yang tidak ditegakkan salat di tengah-tengah mereka, kecuali setan akan menguasai mereka. Maka hendaklah kalian berjamaah, karena serigala hanya memakan kambing yang jauh dari kawanannya.” Alasan hukum shalat berjamaah itu fardhu ‘ainDan dalil bagi mereka yang berpendapat bahwa shalat berjamaah itu fardu ‘ain adalah sejumlah hadits, di antaranya sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam: “Sungguh, aku hampir memerintahkan untuk mendirikan salat, lalu salat ditegakkan. Kemudian aku memerintahkan seorang lelaki untuk mengimami manusia, lalu aku pergi bersama beberapa orang yang membawa ikatan kayu bakar menuju suatu kaum yang tidak menghadiri salat, lalu aku akan membakar rumah-rumah mereka dengan api).Jawabannya: Nabi tidak jadi membakar rumah mereka, dan hal ini terjadi pada kaum munafik. Berbagai Bentuk Idrok (Ketepatan Ikut Jamaah)1. Mendapati SATU RAKAAT ketika mendapati rukuk, di mana makmum rukuk secara thumakninah sebelum imam bangkit.Makmum masbuk dikatakan mendapatkan rukuk bersama imam dengan dua hal: (1) takbiratul ihram lalu bertakbir untuk turun rukuk, tetapi jika mencukupkan satu kali takbir disyaratkan ia melakukan takbiratul ihram, (2) mendapati rukuk bersama imam secara sempurna dan yakin sebelum imam bangkit dari rukuk di mana makmum mendapatinya dengan melakukanya dengan thumakninah dan masih mendapatkan minimal rukuk, yaitu telapak tangannya mendapati lutut. (Lihat Fath Al-Mu’in, hlm. 199).2. Mendapati SHALAT BERJAMAAH dengan mendapati bagian shalat dari imam. Ada perselisihan pendapat dalam madzhab dalam hal kapan mendapati bagian shalat dari imam: – Menurut Imam Ar-Ramli sebelum imam mulai salam pertama. – Menurut Ibnu Hajar Al-Haitami sebelum pengucapan mim pada kalimat salam “As-salaamu ‘alaikum”.3. Mendapati FADHILAH BERJAMAAH (mendapati takbir pertama bersama imam) di mana makmum mengucapkan takbiratul ihram setelah takbiratul ihram dari imam. Karena hadits:‎فإذا‭ ‬كبر‭ ‬فكبرواس‭ ‬والفاء‭ ‬للتعقيب‭.‬“Jika imam bertakbir, barulah makmum bertakbir.” Hadits ini bermakna ta’qib berurutan dan menunjukkan setelah. Itulah makna huruf fa’.4. Mendapati SHALAT JUMAT BERSAMA IMAM ketika makmum mendapati rukuk imam secara thumakninah sebelum imam bangkit.Hal ini berdasarkan hadits:‎من‭ ‬أدرك‭ ‬من‭ ‬الجمعة‭ ‬ركعة‭ ‬فليصل‭ ‬معها‭ ‬أخرى“Siapa mendapati satu rakaat shalat Jumat bersama imam, maka hendaklah ia melanjutkan rakaat yang tersisa.”5. Mendapati WAKTU SHALAT ADA’AN (masih shalat di waktunya) dengan mendapati satu rakaat secara sempurna. Misal ia bangkit dari sujud kedua sebelum matahari tenggelam, berarti ia telah mendapati shalat Ashar di waktunya.Hal ini berdasarkan hadits:‎من‭ ‬أدرك‭ ‬ركعة‭ ‬من‭ ‬العصر‭ ‬قبل‭ ‬أن‭ ‬تغرب‭ ‬الشمس‭ ‬فقد‭ ‬أدرك‭ ‬العصر“Siapa yang mendapati satu rakaat dari shalat Ashar sebelum tenggelam matahari, berarti ia telah mendapati shalat Ashar di waktunya.”Baca juga: Berbagai Bentuk Idrok dalam Shalat Berjamaah Shalat di Rumah BerjamaahKetahuilah bahwa pelaksanaan shalat berjamaah sudah teranggap sah meskipun seorang laki-laki shalat di rumah bersama istrinya atau anggota keluarganya yang lain. Namun demikian, shalat berjamaah di masjid tetap lebih utama. Semakin banyak jamaah yang berkumpul di sebuah masjid, maka semakin utama pula shalat berjamaah di sana.Karena itu, jika dekat rumah terdapat masjid dengan jumlah jamaah sedikit, sedangkan ada masjid lain yang lebih jauh namun jamaahnya lebih banyak, maka shalat di masjid yang jauh lebih utama—kecuali dalam dua kondisi:Bila berpindah ke masjid yang jauh menyebabkan jamaah di masjid terdekat menjadi terbengkalai atau tidak terselenggara.Bila imam di masjid yang jauh tersebut adalah seorang ahli bid’ah, seperti penganut ajaran Mu‘tazilah atau kelompok menyimpang lainnya. Referensi: Matan Taqrib, Fathul Qarib, dan Kifayatul Akhyar Ditulis saat perjalanan Darush Sholihin – Masjid Pogung Dalangan, 8 Jumadilakhir 1447 H, 27 November 2025Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsmatan abu syuja matan taqrib matan taqrib kitab shalat matan taqrib shalat shalat berjamaah shalat jamaah


Shalat berjamaah adalah syiar agung dalam Islam yang menunjukkan kekuatan ukhuwah dan ketaatan kepada Allah. Para ulama dalam madzhab Syafi’i memberikan perhatian khusus terhadap hukum, keutamaan, dan tata cara mendapati jamaah dalam shalat. Tulisan ini membahas secara ringkas namun komprehensif tentang hukum shalat berjamaah, kondisi wajibnya, hingga berbagai bentuk idrak (ketepatan ikut jamaah) yang perlu diketahui setiap muslim. Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib berkata,وَصَلَاةُ‭ ‬الْجَمَاعَةِ‭ ‬سُنَّةٌ‭ ‬مُؤَكَّدَةٌ،‭ ‬وَعَلَى‭ ‬الْمَأْمُومِ‭ ‬أَنْ‭ ‬يَنْوِيَ‭ ‬الِائْتِمَامَ‭ ‬دُونَ‭ ‬الْإِمَامِ‭.‬Shalat berjamaah hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan), dan bagi makmum wajib berniat untuk mengikuti (imam), sedangkan imam tidak perlu berniat menjadi imam.* Daftar Isi buka 1. Penjelasan 2. Rincian Hukum Shalat Berjamaah 3. Argumen Berbagai Pendapat Mengenai Hukum Shalat Berjamaah 3.1. Alasan hukum shalat berjamaah itu sunnah 3.2. Alasan hukum shalat berjamaah itu fardhu kifayah 3.3. Alasan hukum shalat berjamaah itu fardhu ‘ain 4. Berbagai Bentuk Idrok (Ketepatan Ikut Jamaah) 5. Shalat di Rumah Berjamaah PenjelasanHukum shalat berjamaah menurut pendapat mu’tamad dalam madzhab Syafi‘i adalah fardhu kifayah (wajib untuk sebagian orang), kecuali shalat Jum’at, hukumnya Fardhu ‘Ain (wajib untuk individu).Hukum fardhu kifayah berlaku untuk:Laki-laki, hukum bagi perempuan: sunnah.Orang merdeka, hukum bagi budak: sunnah.Mukim, hukum bagi musafir: sunnah.Tidak punya uzur; uzur untuk tidak berjamaah: hujan, sangat dingin, sakit, darurat buang hajat, dll.Wajib tampak syiar (agama) dengan menegakkan (shalat berjamaah), maka tidak cukup melakukannya di rumah-rumah. Minimal berjamaah adalah: seorang imam dan satu makmum. Rincian Hukum Shalat BerjamaahFardhu ‘ain dan syarat sahnya: berjamaah dalam shalat Jum’at.Fardhu kifayah: untuk berjamaah dalam shalat wajib lima waktu.Sunnah: shalat dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha), shalat kusuf (gerhana), istisqa’ (minta hujan), tarawih, dan witir di bulan Ramadhan.Khilaful aula: shalat rawatib dan dhuhaMakruh: shalat di belakang imam yang fasik.Haram: bermakmum di belakang imam yang shalatnya berbeda, misalnya shalat Shubuh di belakang shalat jenazah. (Bidayah Al-Fiqh Asy-Syafi’i, hlm. 275-276)Shalat berjamaah di masjid–untuk selain wanita–lebih utama, kecuali jika didapatkan jamaah di rumah lebih banyak, maka di rumah lebih afdal.Dalam Fathul Qarib disebutkan: Shalat berjamaah bagi laki-laki dalam shalat-shalat wajib selain Jum’at hukumnya sunnah muakkadah menurut penulis dan Ar-Rafi‘i. Pendapat yang lebih kuat menurut An-Nawawi: fardhu kifayah. Makmum dianggap mendapatkan jamaah bersama imam dalam shalat selain Jum’at selama imam belum mengucapkan salam pertama, meskipun ia belum sempat duduk bersamanya. Argumen Berbagai Pendapat Mengenai Hukum Shalat BerjamaahDalam Fathul Qarib disebutkan: (Dan) wajib (bagi makmum untuk berniat mengikuti) atau bermakmum kepada imam. Tidak wajib menyebutkan siapa imamnya secara spesifik; cukup berniat mengikuti imam yang ada jika ia tidak mengenalnya. Jika ia menetapkan imam tertentu lalu keliru, maka batal shalatnya, kecuali jika ada isyarat yang menyertainya, seperti ia berkata: ‘Aku berniat mengikuti Zaid ini,’ ternyata yang dimaksud adalah ‘Amr, maka shalatnya tetap sah.(Adapun imam), tidak wajib baginya berniat menjadi imam untuk sahnya makmum bermakmum kepadanya selain pada shalat Jumat. Niat imam hanya sunnah baginya. Jika ia tidak berniat sebagai imam, maka shalatnya dihukumi shalat sendiri (munfarid).”Dalam Kifayatul Akhyar disebutkan: Dasar disyariatkannya shalat berjamaah adalah Al-Qur’an, hadits, dan ijmak ulama. Allah Ta‘ala berfirman:﴿ وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ ﴾“Dan apabila engkau (wahai Muhammad) berada di tengah-tengah mereka lalu engkau hendak mendirikan salat bersama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri bersamamu.” (QS. An-Nisaa’: 102)Ayat ini menunjukkan perintah berjamaah dalam firman-Nya ‘maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri bersamamu.’ Maka pada kondisi aman tentu lebih utama.Shalat berjamaah adalah fardhu ‘ain pada shalat Jumat. Adapun selain shalat Jumat, terdapat perbedaan pendapat.Menurut pendapat yang sahih menurut Ar-Rafi‘i, hukumnya adalah sunnah. Ada pula yang berpendapat bahwa hukumnya fardu kifayah, dan pendapat ini dinilai sahih oleh An-Nawawi. Ada pula yang berpendapat fardu ‘ain, dan pendapat ini dinilai sahih oleh Ibnul Mundzir dan Ibnu Khuzaimah. Alasan hukum shalat berjamaah itu sunnahAdapun dalil bagi mereka yang mengatakan bahwa shalat berjamaah itu sunnah adalah sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam: Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan keutamaan dua puluh tujuh derajat). Al-Bukhari meriwayatkan dengan lafaz dua puluh lima derajat dari riwayat Abu Sa‘id. Sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam ‘lebih utama’ menunjukkan bolehnya kedua cara (shalat berjamaah dan shalat sendirian), karena bentuk perbandingan keutamaan menuntut demikian. Seandainya salah satu dari keduanya terlarang, tentu tidak akan datang dalam bentuk lafaz seperti ini. Alasan hukum shalat berjamaah itu fardhu kifayahAdapun dalil bagi mereka yang berpendapat bahwa salat berjamaah itu fardu kifayah adalah sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam: “Tidaklah ada tiga orang di suatu kampung atau di pedalaman yang tidak ditegakkan salat di tengah-tengah mereka, kecuali setan akan menguasai mereka. Maka hendaklah kalian berjamaah, karena serigala hanya memakan kambing yang jauh dari kawanannya.” Alasan hukum shalat berjamaah itu fardhu ‘ainDan dalil bagi mereka yang berpendapat bahwa shalat berjamaah itu fardu ‘ain adalah sejumlah hadits, di antaranya sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam: “Sungguh, aku hampir memerintahkan untuk mendirikan salat, lalu salat ditegakkan. Kemudian aku memerintahkan seorang lelaki untuk mengimami manusia, lalu aku pergi bersama beberapa orang yang membawa ikatan kayu bakar menuju suatu kaum yang tidak menghadiri salat, lalu aku akan membakar rumah-rumah mereka dengan api).Jawabannya: Nabi tidak jadi membakar rumah mereka, dan hal ini terjadi pada kaum munafik. Berbagai Bentuk Idrok (Ketepatan Ikut Jamaah)1. Mendapati SATU RAKAAT ketika mendapati rukuk, di mana makmum rukuk secara thumakninah sebelum imam bangkit.Makmum masbuk dikatakan mendapatkan rukuk bersama imam dengan dua hal: (1) takbiratul ihram lalu bertakbir untuk turun rukuk, tetapi jika mencukupkan satu kali takbir disyaratkan ia melakukan takbiratul ihram, (2) mendapati rukuk bersama imam secara sempurna dan yakin sebelum imam bangkit dari rukuk di mana makmum mendapatinya dengan melakukanya dengan thumakninah dan masih mendapatkan minimal rukuk, yaitu telapak tangannya mendapati lutut. (Lihat Fath Al-Mu’in, hlm. 199).2. Mendapati SHALAT BERJAMAAH dengan mendapati bagian shalat dari imam. Ada perselisihan pendapat dalam madzhab dalam hal kapan mendapati bagian shalat dari imam: – Menurut Imam Ar-Ramli sebelum imam mulai salam pertama. – Menurut Ibnu Hajar Al-Haitami sebelum pengucapan mim pada kalimat salam “As-salaamu ‘alaikum”.3. Mendapati FADHILAH BERJAMAAH (mendapati takbir pertama bersama imam) di mana makmum mengucapkan takbiratul ihram setelah takbiratul ihram dari imam. Karena hadits:‎فإذا‭ ‬كبر‭ ‬فكبرواس‭ ‬والفاء‭ ‬للتعقيب‭.‬“Jika imam bertakbir, barulah makmum bertakbir.” Hadits ini bermakna ta’qib berurutan dan menunjukkan setelah. Itulah makna huruf fa’.4. Mendapati SHALAT JUMAT BERSAMA IMAM ketika makmum mendapati rukuk imam secara thumakninah sebelum imam bangkit.Hal ini berdasarkan hadits:‎من‭ ‬أدرك‭ ‬من‭ ‬الجمعة‭ ‬ركعة‭ ‬فليصل‭ ‬معها‭ ‬أخرى“Siapa mendapati satu rakaat shalat Jumat bersama imam, maka hendaklah ia melanjutkan rakaat yang tersisa.”5. Mendapati WAKTU SHALAT ADA’AN (masih shalat di waktunya) dengan mendapati satu rakaat secara sempurna. Misal ia bangkit dari sujud kedua sebelum matahari tenggelam, berarti ia telah mendapati shalat Ashar di waktunya.Hal ini berdasarkan hadits:‎من‭ ‬أدرك‭ ‬ركعة‭ ‬من‭ ‬العصر‭ ‬قبل‭ ‬أن‭ ‬تغرب‭ ‬الشمس‭ ‬فقد‭ ‬أدرك‭ ‬العصر“Siapa yang mendapati satu rakaat dari shalat Ashar sebelum tenggelam matahari, berarti ia telah mendapati shalat Ashar di waktunya.”Baca juga: Berbagai Bentuk Idrok dalam Shalat Berjamaah Shalat di Rumah BerjamaahKetahuilah bahwa pelaksanaan shalat berjamaah sudah teranggap sah meskipun seorang laki-laki shalat di rumah bersama istrinya atau anggota keluarganya yang lain. Namun demikian, shalat berjamaah di masjid tetap lebih utama. Semakin banyak jamaah yang berkumpul di sebuah masjid, maka semakin utama pula shalat berjamaah di sana.Karena itu, jika dekat rumah terdapat masjid dengan jumlah jamaah sedikit, sedangkan ada masjid lain yang lebih jauh namun jamaahnya lebih banyak, maka shalat di masjid yang jauh lebih utama—kecuali dalam dua kondisi:Bila berpindah ke masjid yang jauh menyebabkan jamaah di masjid terdekat menjadi terbengkalai atau tidak terselenggara.Bila imam di masjid yang jauh tersebut adalah seorang ahli bid’ah, seperti penganut ajaran Mu‘tazilah atau kelompok menyimpang lainnya. Referensi: Matan Taqrib, Fathul Qarib, dan Kifayatul Akhyar Ditulis saat perjalanan Darush Sholihin – Masjid Pogung Dalangan, 8 Jumadilakhir 1447 H, 27 November 2025Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsmatan abu syuja matan taqrib matan taqrib kitab shalat matan taqrib shalat shalat berjamaah shalat jamaah
Prev     Next