Pertemuan Heraklius dengan Abu Sufyan

Daftar Isi TogglePemanggilan Abu Sufyan oleh HerakliusPertanyaan tentang nasab dan pengikut RasulullahPertanyaan tentang akhlak dan peperanganApa yang diajarkan sang Nabi?Penjelasan Heraklius atas pertanyaannyaKesimpulan Heraklius tentang kenabianPenutupKetika Rasulullah mengirim surat kepada Heraklius, saat itu bertepatan juga ketika Abu Sufyan dan para pedagang dari Quraisy sedang berdagang di Syam. Akhirnya, Heraklius pun menemui Abu Sufyan untuk menggali informasi tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Dari pertemuan Heraklius dengan Abu Sufyan inilah, Heraklius mengetahui tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meyakini bahwa beliau adalah Ahmad, seorang utusan Allah yang sudah dikabarkan oleh Nabi Isa ‘alaihis salam.Kisah pertemuan heraklius dengan Abu Sufyan tersebut diabadikan dalam sebuah hadis dalam Shahih Bukhari. Hadis tersebut merupakan hadis yang cukup panjang dan akan kami tulis dalam beberapa sub bagian agar pembaca lebih mudah untuk membacanya. Berikut ini kisah pertemuan Heraklius dengan Abu sufyan yang terdapat dalam Shahih Bukhari.Pemanggilan Abu Sufyan oleh HerakliusKetika Heraklius menerima surat dari Rasulullah, ia mengetahui bahwa ada rombongan dari Quraisy yang sedang berdagang di Syam. Ia pun mengirim utusan untuk menggali informasi tentang siapa sebenarnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.أن هرقل أرسل إليه في ركب من قريش وكانوا تجارا بالشأم في المدة التي كان رسول الله صلى الله عليه وسلم ماد فيها أبا سفيان وكفار قريش فأتوه وهم بإيلياء فدعاهم في مجلسه وحوله عظماء الروم“Bahwa Heraklius mengirim utusan kepadanya (Abu Sufyan) yang sedang bersama rombongan dagang Quraisy di Syam. Hal ini terjadi pada masa gencatan senjata antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Abu Sufyan dan kafir Quraisy.Mereka kemudian mendatangi Heraklius di Iliya’ (Yerusalem). Heraklius mengundang mereka ke majelisnya, dikelilingi oleh para pembesar Romawi.”ثم دعاهم ودعا بترجمانه فقال أيكم أقرب نسبا بهذا الرجل الذي يزعم أنه نبي فقال أبو سفيان فقلت أنا أقربهم نسبا فقال أدنوه مني وقربوا أصحابه فاجعلوهم عند ظهره ثم قال لترجمانه قل لهم إني سائل هذا عن هذا الرجل فإن كذبني فكذبوه فوالله لولا الحياء من أن يأثروا علي كذبا لكذبت عنه“Ia memanggil mereka beserta penerjemahnya, lalu bertanya, ‘Siapa di antara kalian yang paling dekat nasabnya dengan laki-laki yang mengaku sebagai Nabi itu?’Abu Sufyan menjawab, ‘Akulah yang paling dekat nasabnya.’Heraklius berkata, “Dekatkan dia kepadaku, dan dekatkan juga teman-temannya, jadikan mereka berada di belakangnya.”Kemudian Heraklius berkata kepada penerjemahnya, “Katakan kepada mereka, aku akan bertanya kepada orang ini tentang laki-laki tersebut. Jika ia berdusta kepadaku, maka kalian harus mendustakannya.”(Abu Sufyan berkata), “Demi Allah, seandainya bukan karena rasa malu dituduh berdusta oleh teman-temanku, niscaya aku akan berbohong tentangnya.”Baca juga: Pemerintahan dan Kekuasaan sebelum IslamPertanyaan tentang nasab dan pengikut RasulullahSetelah bertemu dengan rombongan dagang Quraisy dan bertemu dengan Abu Sufyan yang merupakan orang yang paling dekat nasabnya dengan Rasulullah, Heraklius pun mulai menggali informasi tentang Rasulullah. Heraklius memulai dengan melontarkan pertanyaan mengenai nasab dan pengikut Rasulullah.ثم كان أول ما سألني عنه أن قال كيف نسبه فيكم قلت هو فينا ذو نسب قال فهل قال هذا القول منكم أحد قط قبله قلت لا قال فهل كان من آبائه من ملك قلت لا قال فأشراف الناس يتبعونه أم ضعفاؤهم فقلت بل ضعفاؤهم قال أيزيدون أم ينقصون قلت بل يزيدونSelanjutnya, pertanyaan pertama yang ia ajukan kepadaku tentangnya (Rasulullah) adalah, “Bagaimana nasabnya di tengah-tengah kalian?”Aku menjawab, “Dia adalah orang yang memiliki keturunan terhormat di antara kami.”Heraklius bertanya lagi, “Apakah ada yang mengatakan perkataan ini (mengaku sebagai rasul) di antara kalian sebelumnya?”Aku menjawab, “Tidak ada.”Ia bertanya, “Apakah di antara nenek moyangnya ada yang pernah menjadi raja?”Aku menjawab, “Tidak ada.”Ia bertanya lagi, “Apakah orang-orang yang mengikutinya adalah kalangan bangsawan ataukah orang-orang lemah?”Aku menjawab, “Orang-orang lemahlah yang mengikutinya.”Ia bertanya, “Apakah jumlah mereka semakin bertambah atau berkurang?”Aku menjawab, “Mereka semakin bertambah.”Pertanyaan tentang akhlak dan peperanganSetelah bertanya tentang nasab dan siapa pengikut Rasulullah, Heraklius melanjutkan menggali informasi lainnya dari Abu Sufyan tentang akhlak Rasulullah dan peperangan yang terjadi antara Rasulullah dengan kaum Quraisy.قال فهل يرتد أحد منهم سخطة لدينه بعد أن يدخل فيه قلت لا قال فهل كنتم تتهمونه بالكذب قبل أن يقول ما قال قلت لا قال فهل يغدر قلت لا ونحن منه في مدة لا ندري ما هو فاعل فيها قال ولم تمكني كلمة أدخل فيها شيئا غير هذه الكلمة قال فهل قاتلتموه قلت نعم قال فكيف كان قتالكم إياه قلت الحرب بيننا وبينه سجال ينال منا وننال منهHeraklius bertanya, “Apakah ada di antara mereka yang murtad karena benci terhadap agamanya setelah memeluknya?”Aku menjawab, “Tidak ada.”Ia bertanya, “Apakah kalian pernah menuduhnya berdusta sebelum ia mengucapkan apa yang ia ucapkan sekarang?”Aku menjawab, “Tidak pernah.”Ia bertanya, “Apakah dia pernah berkhianat?”Aku menjawab, “Tidak, tetapi saat ini kami sedang berada dalam masa perjanjian damai dengannya, dan kami tidak tahu apa yang akan ia lakukan di masa itu.” (Abu Sufyan berkata, “Tidak ada kesempatan bagiku untuk menyisipkan kata-kata buruk selain pada kalimat ini”).Heraklius bertanya lagi, “Apakah kalian pernah memeranginya?”Aku menjawab, “Ya.”Ia bertanya, “Bagaimana hasil peperangan kalian dengannya?”Aku menjawab, “Peperangan antara kami dan dia silih berganti; terkadang dia mengalahkan kami, dan terkadang kami mengalahkannya.”Apa yang diajarkan sang Nabi?Selanjutnya, Heraklius menggali informasi lebih lanjut dengan menanyakan apa yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.قال ماذا يأمركم قلت يقول اعبدوا الله وحده ولا تشركوا به شيئا واتركوا ما يقول آباؤكم ويأمرنا بالصلاة والزكاة والصدق والعفاف والصلةHeraklius bertanya, “Apa yang ia perintahkan kepada kalian?”Aku menjawab, “Dia berkata, ‘Sembahlah Allah semata dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan tinggalkanlah apa yang diucapkan oleh nenek moyang kalian.’ Dia juga memerintahkan kami untuk mendirikan salat, menunaikan zakat, bersikap jujur, menjaga kesucian diri, dan menyambung tali silaturahmi.”Penjelasan Heraklius atas pertanyaannyaSetelah menggali informasi tentang Nabi Muhammad, Heraklius pun memberikan penjelasan mengenai pertanyaan-pertanyaannya kepada Abu Sufyan.فقال للترجمان قل له سألتك عن نسبه فذكرت أنه فيكم ذو نسب فكذلك الرسل تبعث في نسب قومهاHeraklius pun berkata kepada penerjemahnya, “Katakan kepadanya: Aku bertanya kepadamu tentang nasabnya, engkau menjawab bahwa dia berasal dari keturunan yang terhormat. Begitulah para Rasul, mereka diutus dari kalangan keturunan terbaik kaumnya.وسألتك هل قال أحد منكم هذا القول فذكرت أن لا فقلت لو كان أحد قال هذا القول قبله لقلت رجل يأتسي بقول قيل قبلهAku bertanya kepadamu apakah ada orang di antara kalian yang pernah mengucapkan perkataan ini sebelumnya, engkau menjawab tidak. Aku berpikir, seandainya ada orang yang pernah mengucapkan hal ini sebelumnya, tentu aku akan mengatakan bahwa dia hanyalah meniru ucapan yang pernah dikatakan sebelumnya.وسألتك هل كان من آبائه من ملك فذكرت أن لا قلت فلو كان من آبائه من ملك قلت رجل يطلب ملك أبيهAku bertanya kepadamu apakah ada dari nenek moyangnya yang menjadi raja, engkau menjawab tidak. Aku berpikir, seandainya ada dari nenek moyangnya yang menjadi raja, tentu aku akan menganggapnya sebagai laki-laki yang sedang mencari kembali kerajaan nenek moyangnya.وسألتك هل كنتم تتهمونه بالكذب قبل أن يقول ما قال فذكرت أن لا فقد أعرف أنه لم يكن ليذر الكذب على الناس ويكذب على الله وسألتك أشراف الناس اتبعوه أم ضعفاؤهم فذكرت أن ضعفاءهم اتبعوه وهم أتباع الرسلAku bertanya kepadamu apakah kalian pernah menuduhnya berdusta sebelum dia mengatakan apa yang dikatakannya sekarang, engkau menjawab tidak. Aku pun tahu bahwa tidak mungkin seseorang yang tidak pernah berdusta kepada sesama manusia, lalu tiba-tiba berani berdusta atas nama Allah.Aku bertanya kepadamu apakah yang mengikutinya adalah kalangan bangsawan atau orang-orang lemah, engkau menjawab orang-orang lemahlah yang mengikutinya. Memang merekalah yang biasanya menjadi pengikut para Rasul.وسألتك أيزيدون أم ينقصون فذكرت أنهم يزيدون وكذلك أمر الإيمان حتى يتمAku bertanya kepadamu apakah jumlah mereka bertambah atau berkurang, engkau menjawab bahwa mereka bertambah. Demikianlah perkara keimanan hingga ia menjadi sempurna.وسألتك أيرتد أحد سخطة لدينه بعد أن يدخل فيه فذكرت أن لا وكذلك الإيمان حين تخالط بشاشته القلوبAku bertanya kepadamu apakah ada yang murtad karena benci terhadap agamanya setelah memeluknya, engkau menjawab tidak ada. Demikianlah keimanan, ketika cahayanya telah merasuk dan berakar ke dalam relung hati.وسألتك هل يغدر فذكرت أن لا وكذلك الرسل لا تغدرAku bertanya kepadamu apakah dia pernah berkhianat, engkau menjawab tidak. Demikianlah para Rasul, mereka tidak pernah berkhianat.Kesimpulan Heraklius tentang kenabianDari informasi yang telah ia gali dari Abu Sufyan, Heraklius pun menyimpulkan bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah.وسألتك بما يأمركم فذكرت أنه يأمركم أن تعبدوا الله ولا تشركوا به شيئا وينهاكم عن عبادة الأوثان ويأمركم بالصلاة والصدق والعفاف فإن كان ما تقول حقا فسيملك موضع قدمي هاتينAku bertanya kepadamu tentang apa yang ia perintahkan kepada kalian, engkau menjawab bahwa dia memerintahkan kalian untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, melarang kalian menyembah berhala, serta memerintahkan kalian untuk salat, berlaku jujur, dan menjaga kehormatan diri. Jika apa yang engkau katakan ini benar, niscaya dia akan menguasai tempat di mana kedua kakiku berpijak saat ini.وقد كنت أعلم أنه خارج لم أكن أظن أنه منكم فلو أني أعلم أني أخلص إليه لتجشمت لقاءه ولو كنت عنده لغسلت عن قدمهAku memang sudah tahu bahwa dia akan muncul, tetapi aku tidak menyangka bahwa dia berasal dari kalangan kalian. Seandainya aku tahu bahwa aku bisa sampai kepadanya, tentu aku akan bersusah payah untuk menemuinya. Jika seandainya aku berada di sisinya, tentu aku akan membasuh kedua kakinya.”PenutupItulah kisah pertemuan heraklius dengan Abu Sufyan. Dari pertemuan ini, Heraklius mengetahui bahwa Rasulullah adalah utusan Allah yang sebenar-benarnya. Walaupun demikian, hal tersebut tidak serta merta membuat Heraklius langsung memeluk Islam. Ketika ia menyeru bangsa Romawi untuk beriman kepada Rasulullah, mereka menolaknya. Heraklius pun lebih memilih bersama dengan bangsa Romawi dibandingkan harus beriman kepada Rasulullah.Baca juga: Dua Perang yang Diabadikan Allah dalam Al-Qur’an***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id

Pertemuan Heraklius dengan Abu Sufyan

Daftar Isi TogglePemanggilan Abu Sufyan oleh HerakliusPertanyaan tentang nasab dan pengikut RasulullahPertanyaan tentang akhlak dan peperanganApa yang diajarkan sang Nabi?Penjelasan Heraklius atas pertanyaannyaKesimpulan Heraklius tentang kenabianPenutupKetika Rasulullah mengirim surat kepada Heraklius, saat itu bertepatan juga ketika Abu Sufyan dan para pedagang dari Quraisy sedang berdagang di Syam. Akhirnya, Heraklius pun menemui Abu Sufyan untuk menggali informasi tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Dari pertemuan Heraklius dengan Abu Sufyan inilah, Heraklius mengetahui tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meyakini bahwa beliau adalah Ahmad, seorang utusan Allah yang sudah dikabarkan oleh Nabi Isa ‘alaihis salam.Kisah pertemuan heraklius dengan Abu Sufyan tersebut diabadikan dalam sebuah hadis dalam Shahih Bukhari. Hadis tersebut merupakan hadis yang cukup panjang dan akan kami tulis dalam beberapa sub bagian agar pembaca lebih mudah untuk membacanya. Berikut ini kisah pertemuan Heraklius dengan Abu sufyan yang terdapat dalam Shahih Bukhari.Pemanggilan Abu Sufyan oleh HerakliusKetika Heraklius menerima surat dari Rasulullah, ia mengetahui bahwa ada rombongan dari Quraisy yang sedang berdagang di Syam. Ia pun mengirim utusan untuk menggali informasi tentang siapa sebenarnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.أن هرقل أرسل إليه في ركب من قريش وكانوا تجارا بالشأم في المدة التي كان رسول الله صلى الله عليه وسلم ماد فيها أبا سفيان وكفار قريش فأتوه وهم بإيلياء فدعاهم في مجلسه وحوله عظماء الروم“Bahwa Heraklius mengirim utusan kepadanya (Abu Sufyan) yang sedang bersama rombongan dagang Quraisy di Syam. Hal ini terjadi pada masa gencatan senjata antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Abu Sufyan dan kafir Quraisy.Mereka kemudian mendatangi Heraklius di Iliya’ (Yerusalem). Heraklius mengundang mereka ke majelisnya, dikelilingi oleh para pembesar Romawi.”ثم دعاهم ودعا بترجمانه فقال أيكم أقرب نسبا بهذا الرجل الذي يزعم أنه نبي فقال أبو سفيان فقلت أنا أقربهم نسبا فقال أدنوه مني وقربوا أصحابه فاجعلوهم عند ظهره ثم قال لترجمانه قل لهم إني سائل هذا عن هذا الرجل فإن كذبني فكذبوه فوالله لولا الحياء من أن يأثروا علي كذبا لكذبت عنه“Ia memanggil mereka beserta penerjemahnya, lalu bertanya, ‘Siapa di antara kalian yang paling dekat nasabnya dengan laki-laki yang mengaku sebagai Nabi itu?’Abu Sufyan menjawab, ‘Akulah yang paling dekat nasabnya.’Heraklius berkata, “Dekatkan dia kepadaku, dan dekatkan juga teman-temannya, jadikan mereka berada di belakangnya.”Kemudian Heraklius berkata kepada penerjemahnya, “Katakan kepada mereka, aku akan bertanya kepada orang ini tentang laki-laki tersebut. Jika ia berdusta kepadaku, maka kalian harus mendustakannya.”(Abu Sufyan berkata), “Demi Allah, seandainya bukan karena rasa malu dituduh berdusta oleh teman-temanku, niscaya aku akan berbohong tentangnya.”Baca juga: Pemerintahan dan Kekuasaan sebelum IslamPertanyaan tentang nasab dan pengikut RasulullahSetelah bertemu dengan rombongan dagang Quraisy dan bertemu dengan Abu Sufyan yang merupakan orang yang paling dekat nasabnya dengan Rasulullah, Heraklius pun mulai menggali informasi tentang Rasulullah. Heraklius memulai dengan melontarkan pertanyaan mengenai nasab dan pengikut Rasulullah.ثم كان أول ما سألني عنه أن قال كيف نسبه فيكم قلت هو فينا ذو نسب قال فهل قال هذا القول منكم أحد قط قبله قلت لا قال فهل كان من آبائه من ملك قلت لا قال فأشراف الناس يتبعونه أم ضعفاؤهم فقلت بل ضعفاؤهم قال أيزيدون أم ينقصون قلت بل يزيدونSelanjutnya, pertanyaan pertama yang ia ajukan kepadaku tentangnya (Rasulullah) adalah, “Bagaimana nasabnya di tengah-tengah kalian?”Aku menjawab, “Dia adalah orang yang memiliki keturunan terhormat di antara kami.”Heraklius bertanya lagi, “Apakah ada yang mengatakan perkataan ini (mengaku sebagai rasul) di antara kalian sebelumnya?”Aku menjawab, “Tidak ada.”Ia bertanya, “Apakah di antara nenek moyangnya ada yang pernah menjadi raja?”Aku menjawab, “Tidak ada.”Ia bertanya lagi, “Apakah orang-orang yang mengikutinya adalah kalangan bangsawan ataukah orang-orang lemah?”Aku menjawab, “Orang-orang lemahlah yang mengikutinya.”Ia bertanya, “Apakah jumlah mereka semakin bertambah atau berkurang?”Aku menjawab, “Mereka semakin bertambah.”Pertanyaan tentang akhlak dan peperanganSetelah bertanya tentang nasab dan siapa pengikut Rasulullah, Heraklius melanjutkan menggali informasi lainnya dari Abu Sufyan tentang akhlak Rasulullah dan peperangan yang terjadi antara Rasulullah dengan kaum Quraisy.قال فهل يرتد أحد منهم سخطة لدينه بعد أن يدخل فيه قلت لا قال فهل كنتم تتهمونه بالكذب قبل أن يقول ما قال قلت لا قال فهل يغدر قلت لا ونحن منه في مدة لا ندري ما هو فاعل فيها قال ولم تمكني كلمة أدخل فيها شيئا غير هذه الكلمة قال فهل قاتلتموه قلت نعم قال فكيف كان قتالكم إياه قلت الحرب بيننا وبينه سجال ينال منا وننال منهHeraklius bertanya, “Apakah ada di antara mereka yang murtad karena benci terhadap agamanya setelah memeluknya?”Aku menjawab, “Tidak ada.”Ia bertanya, “Apakah kalian pernah menuduhnya berdusta sebelum ia mengucapkan apa yang ia ucapkan sekarang?”Aku menjawab, “Tidak pernah.”Ia bertanya, “Apakah dia pernah berkhianat?”Aku menjawab, “Tidak, tetapi saat ini kami sedang berada dalam masa perjanjian damai dengannya, dan kami tidak tahu apa yang akan ia lakukan di masa itu.” (Abu Sufyan berkata, “Tidak ada kesempatan bagiku untuk menyisipkan kata-kata buruk selain pada kalimat ini”).Heraklius bertanya lagi, “Apakah kalian pernah memeranginya?”Aku menjawab, “Ya.”Ia bertanya, “Bagaimana hasil peperangan kalian dengannya?”Aku menjawab, “Peperangan antara kami dan dia silih berganti; terkadang dia mengalahkan kami, dan terkadang kami mengalahkannya.”Apa yang diajarkan sang Nabi?Selanjutnya, Heraklius menggali informasi lebih lanjut dengan menanyakan apa yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.قال ماذا يأمركم قلت يقول اعبدوا الله وحده ولا تشركوا به شيئا واتركوا ما يقول آباؤكم ويأمرنا بالصلاة والزكاة والصدق والعفاف والصلةHeraklius bertanya, “Apa yang ia perintahkan kepada kalian?”Aku menjawab, “Dia berkata, ‘Sembahlah Allah semata dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan tinggalkanlah apa yang diucapkan oleh nenek moyang kalian.’ Dia juga memerintahkan kami untuk mendirikan salat, menunaikan zakat, bersikap jujur, menjaga kesucian diri, dan menyambung tali silaturahmi.”Penjelasan Heraklius atas pertanyaannyaSetelah menggali informasi tentang Nabi Muhammad, Heraklius pun memberikan penjelasan mengenai pertanyaan-pertanyaannya kepada Abu Sufyan.فقال للترجمان قل له سألتك عن نسبه فذكرت أنه فيكم ذو نسب فكذلك الرسل تبعث في نسب قومهاHeraklius pun berkata kepada penerjemahnya, “Katakan kepadanya: Aku bertanya kepadamu tentang nasabnya, engkau menjawab bahwa dia berasal dari keturunan yang terhormat. Begitulah para Rasul, mereka diutus dari kalangan keturunan terbaik kaumnya.وسألتك هل قال أحد منكم هذا القول فذكرت أن لا فقلت لو كان أحد قال هذا القول قبله لقلت رجل يأتسي بقول قيل قبلهAku bertanya kepadamu apakah ada orang di antara kalian yang pernah mengucapkan perkataan ini sebelumnya, engkau menjawab tidak. Aku berpikir, seandainya ada orang yang pernah mengucapkan hal ini sebelumnya, tentu aku akan mengatakan bahwa dia hanyalah meniru ucapan yang pernah dikatakan sebelumnya.وسألتك هل كان من آبائه من ملك فذكرت أن لا قلت فلو كان من آبائه من ملك قلت رجل يطلب ملك أبيهAku bertanya kepadamu apakah ada dari nenek moyangnya yang menjadi raja, engkau menjawab tidak. Aku berpikir, seandainya ada dari nenek moyangnya yang menjadi raja, tentu aku akan menganggapnya sebagai laki-laki yang sedang mencari kembali kerajaan nenek moyangnya.وسألتك هل كنتم تتهمونه بالكذب قبل أن يقول ما قال فذكرت أن لا فقد أعرف أنه لم يكن ليذر الكذب على الناس ويكذب على الله وسألتك أشراف الناس اتبعوه أم ضعفاؤهم فذكرت أن ضعفاءهم اتبعوه وهم أتباع الرسلAku bertanya kepadamu apakah kalian pernah menuduhnya berdusta sebelum dia mengatakan apa yang dikatakannya sekarang, engkau menjawab tidak. Aku pun tahu bahwa tidak mungkin seseorang yang tidak pernah berdusta kepada sesama manusia, lalu tiba-tiba berani berdusta atas nama Allah.Aku bertanya kepadamu apakah yang mengikutinya adalah kalangan bangsawan atau orang-orang lemah, engkau menjawab orang-orang lemahlah yang mengikutinya. Memang merekalah yang biasanya menjadi pengikut para Rasul.وسألتك أيزيدون أم ينقصون فذكرت أنهم يزيدون وكذلك أمر الإيمان حتى يتمAku bertanya kepadamu apakah jumlah mereka bertambah atau berkurang, engkau menjawab bahwa mereka bertambah. Demikianlah perkara keimanan hingga ia menjadi sempurna.وسألتك أيرتد أحد سخطة لدينه بعد أن يدخل فيه فذكرت أن لا وكذلك الإيمان حين تخالط بشاشته القلوبAku bertanya kepadamu apakah ada yang murtad karena benci terhadap agamanya setelah memeluknya, engkau menjawab tidak ada. Demikianlah keimanan, ketika cahayanya telah merasuk dan berakar ke dalam relung hati.وسألتك هل يغدر فذكرت أن لا وكذلك الرسل لا تغدرAku bertanya kepadamu apakah dia pernah berkhianat, engkau menjawab tidak. Demikianlah para Rasul, mereka tidak pernah berkhianat.Kesimpulan Heraklius tentang kenabianDari informasi yang telah ia gali dari Abu Sufyan, Heraklius pun menyimpulkan bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah.وسألتك بما يأمركم فذكرت أنه يأمركم أن تعبدوا الله ولا تشركوا به شيئا وينهاكم عن عبادة الأوثان ويأمركم بالصلاة والصدق والعفاف فإن كان ما تقول حقا فسيملك موضع قدمي هاتينAku bertanya kepadamu tentang apa yang ia perintahkan kepada kalian, engkau menjawab bahwa dia memerintahkan kalian untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, melarang kalian menyembah berhala, serta memerintahkan kalian untuk salat, berlaku jujur, dan menjaga kehormatan diri. Jika apa yang engkau katakan ini benar, niscaya dia akan menguasai tempat di mana kedua kakiku berpijak saat ini.وقد كنت أعلم أنه خارج لم أكن أظن أنه منكم فلو أني أعلم أني أخلص إليه لتجشمت لقاءه ولو كنت عنده لغسلت عن قدمهAku memang sudah tahu bahwa dia akan muncul, tetapi aku tidak menyangka bahwa dia berasal dari kalangan kalian. Seandainya aku tahu bahwa aku bisa sampai kepadanya, tentu aku akan bersusah payah untuk menemuinya. Jika seandainya aku berada di sisinya, tentu aku akan membasuh kedua kakinya.”PenutupItulah kisah pertemuan heraklius dengan Abu Sufyan. Dari pertemuan ini, Heraklius mengetahui bahwa Rasulullah adalah utusan Allah yang sebenar-benarnya. Walaupun demikian, hal tersebut tidak serta merta membuat Heraklius langsung memeluk Islam. Ketika ia menyeru bangsa Romawi untuk beriman kepada Rasulullah, mereka menolaknya. Heraklius pun lebih memilih bersama dengan bangsa Romawi dibandingkan harus beriman kepada Rasulullah.Baca juga: Dua Perang yang Diabadikan Allah dalam Al-Qur’an***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi TogglePemanggilan Abu Sufyan oleh HerakliusPertanyaan tentang nasab dan pengikut RasulullahPertanyaan tentang akhlak dan peperanganApa yang diajarkan sang Nabi?Penjelasan Heraklius atas pertanyaannyaKesimpulan Heraklius tentang kenabianPenutupKetika Rasulullah mengirim surat kepada Heraklius, saat itu bertepatan juga ketika Abu Sufyan dan para pedagang dari Quraisy sedang berdagang di Syam. Akhirnya, Heraklius pun menemui Abu Sufyan untuk menggali informasi tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Dari pertemuan Heraklius dengan Abu Sufyan inilah, Heraklius mengetahui tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meyakini bahwa beliau adalah Ahmad, seorang utusan Allah yang sudah dikabarkan oleh Nabi Isa ‘alaihis salam.Kisah pertemuan heraklius dengan Abu Sufyan tersebut diabadikan dalam sebuah hadis dalam Shahih Bukhari. Hadis tersebut merupakan hadis yang cukup panjang dan akan kami tulis dalam beberapa sub bagian agar pembaca lebih mudah untuk membacanya. Berikut ini kisah pertemuan Heraklius dengan Abu sufyan yang terdapat dalam Shahih Bukhari.Pemanggilan Abu Sufyan oleh HerakliusKetika Heraklius menerima surat dari Rasulullah, ia mengetahui bahwa ada rombongan dari Quraisy yang sedang berdagang di Syam. Ia pun mengirim utusan untuk menggali informasi tentang siapa sebenarnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.أن هرقل أرسل إليه في ركب من قريش وكانوا تجارا بالشأم في المدة التي كان رسول الله صلى الله عليه وسلم ماد فيها أبا سفيان وكفار قريش فأتوه وهم بإيلياء فدعاهم في مجلسه وحوله عظماء الروم“Bahwa Heraklius mengirim utusan kepadanya (Abu Sufyan) yang sedang bersama rombongan dagang Quraisy di Syam. Hal ini terjadi pada masa gencatan senjata antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Abu Sufyan dan kafir Quraisy.Mereka kemudian mendatangi Heraklius di Iliya’ (Yerusalem). Heraklius mengundang mereka ke majelisnya, dikelilingi oleh para pembesar Romawi.”ثم دعاهم ودعا بترجمانه فقال أيكم أقرب نسبا بهذا الرجل الذي يزعم أنه نبي فقال أبو سفيان فقلت أنا أقربهم نسبا فقال أدنوه مني وقربوا أصحابه فاجعلوهم عند ظهره ثم قال لترجمانه قل لهم إني سائل هذا عن هذا الرجل فإن كذبني فكذبوه فوالله لولا الحياء من أن يأثروا علي كذبا لكذبت عنه“Ia memanggil mereka beserta penerjemahnya, lalu bertanya, ‘Siapa di antara kalian yang paling dekat nasabnya dengan laki-laki yang mengaku sebagai Nabi itu?’Abu Sufyan menjawab, ‘Akulah yang paling dekat nasabnya.’Heraklius berkata, “Dekatkan dia kepadaku, dan dekatkan juga teman-temannya, jadikan mereka berada di belakangnya.”Kemudian Heraklius berkata kepada penerjemahnya, “Katakan kepada mereka, aku akan bertanya kepada orang ini tentang laki-laki tersebut. Jika ia berdusta kepadaku, maka kalian harus mendustakannya.”(Abu Sufyan berkata), “Demi Allah, seandainya bukan karena rasa malu dituduh berdusta oleh teman-temanku, niscaya aku akan berbohong tentangnya.”Baca juga: Pemerintahan dan Kekuasaan sebelum IslamPertanyaan tentang nasab dan pengikut RasulullahSetelah bertemu dengan rombongan dagang Quraisy dan bertemu dengan Abu Sufyan yang merupakan orang yang paling dekat nasabnya dengan Rasulullah, Heraklius pun mulai menggali informasi tentang Rasulullah. Heraklius memulai dengan melontarkan pertanyaan mengenai nasab dan pengikut Rasulullah.ثم كان أول ما سألني عنه أن قال كيف نسبه فيكم قلت هو فينا ذو نسب قال فهل قال هذا القول منكم أحد قط قبله قلت لا قال فهل كان من آبائه من ملك قلت لا قال فأشراف الناس يتبعونه أم ضعفاؤهم فقلت بل ضعفاؤهم قال أيزيدون أم ينقصون قلت بل يزيدونSelanjutnya, pertanyaan pertama yang ia ajukan kepadaku tentangnya (Rasulullah) adalah, “Bagaimana nasabnya di tengah-tengah kalian?”Aku menjawab, “Dia adalah orang yang memiliki keturunan terhormat di antara kami.”Heraklius bertanya lagi, “Apakah ada yang mengatakan perkataan ini (mengaku sebagai rasul) di antara kalian sebelumnya?”Aku menjawab, “Tidak ada.”Ia bertanya, “Apakah di antara nenek moyangnya ada yang pernah menjadi raja?”Aku menjawab, “Tidak ada.”Ia bertanya lagi, “Apakah orang-orang yang mengikutinya adalah kalangan bangsawan ataukah orang-orang lemah?”Aku menjawab, “Orang-orang lemahlah yang mengikutinya.”Ia bertanya, “Apakah jumlah mereka semakin bertambah atau berkurang?”Aku menjawab, “Mereka semakin bertambah.”Pertanyaan tentang akhlak dan peperanganSetelah bertanya tentang nasab dan siapa pengikut Rasulullah, Heraklius melanjutkan menggali informasi lainnya dari Abu Sufyan tentang akhlak Rasulullah dan peperangan yang terjadi antara Rasulullah dengan kaum Quraisy.قال فهل يرتد أحد منهم سخطة لدينه بعد أن يدخل فيه قلت لا قال فهل كنتم تتهمونه بالكذب قبل أن يقول ما قال قلت لا قال فهل يغدر قلت لا ونحن منه في مدة لا ندري ما هو فاعل فيها قال ولم تمكني كلمة أدخل فيها شيئا غير هذه الكلمة قال فهل قاتلتموه قلت نعم قال فكيف كان قتالكم إياه قلت الحرب بيننا وبينه سجال ينال منا وننال منهHeraklius bertanya, “Apakah ada di antara mereka yang murtad karena benci terhadap agamanya setelah memeluknya?”Aku menjawab, “Tidak ada.”Ia bertanya, “Apakah kalian pernah menuduhnya berdusta sebelum ia mengucapkan apa yang ia ucapkan sekarang?”Aku menjawab, “Tidak pernah.”Ia bertanya, “Apakah dia pernah berkhianat?”Aku menjawab, “Tidak, tetapi saat ini kami sedang berada dalam masa perjanjian damai dengannya, dan kami tidak tahu apa yang akan ia lakukan di masa itu.” (Abu Sufyan berkata, “Tidak ada kesempatan bagiku untuk menyisipkan kata-kata buruk selain pada kalimat ini”).Heraklius bertanya lagi, “Apakah kalian pernah memeranginya?”Aku menjawab, “Ya.”Ia bertanya, “Bagaimana hasil peperangan kalian dengannya?”Aku menjawab, “Peperangan antara kami dan dia silih berganti; terkadang dia mengalahkan kami, dan terkadang kami mengalahkannya.”Apa yang diajarkan sang Nabi?Selanjutnya, Heraklius menggali informasi lebih lanjut dengan menanyakan apa yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.قال ماذا يأمركم قلت يقول اعبدوا الله وحده ولا تشركوا به شيئا واتركوا ما يقول آباؤكم ويأمرنا بالصلاة والزكاة والصدق والعفاف والصلةHeraklius bertanya, “Apa yang ia perintahkan kepada kalian?”Aku menjawab, “Dia berkata, ‘Sembahlah Allah semata dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan tinggalkanlah apa yang diucapkan oleh nenek moyang kalian.’ Dia juga memerintahkan kami untuk mendirikan salat, menunaikan zakat, bersikap jujur, menjaga kesucian diri, dan menyambung tali silaturahmi.”Penjelasan Heraklius atas pertanyaannyaSetelah menggali informasi tentang Nabi Muhammad, Heraklius pun memberikan penjelasan mengenai pertanyaan-pertanyaannya kepada Abu Sufyan.فقال للترجمان قل له سألتك عن نسبه فذكرت أنه فيكم ذو نسب فكذلك الرسل تبعث في نسب قومهاHeraklius pun berkata kepada penerjemahnya, “Katakan kepadanya: Aku bertanya kepadamu tentang nasabnya, engkau menjawab bahwa dia berasal dari keturunan yang terhormat. Begitulah para Rasul, mereka diutus dari kalangan keturunan terbaik kaumnya.وسألتك هل قال أحد منكم هذا القول فذكرت أن لا فقلت لو كان أحد قال هذا القول قبله لقلت رجل يأتسي بقول قيل قبلهAku bertanya kepadamu apakah ada orang di antara kalian yang pernah mengucapkan perkataan ini sebelumnya, engkau menjawab tidak. Aku berpikir, seandainya ada orang yang pernah mengucapkan hal ini sebelumnya, tentu aku akan mengatakan bahwa dia hanyalah meniru ucapan yang pernah dikatakan sebelumnya.وسألتك هل كان من آبائه من ملك فذكرت أن لا قلت فلو كان من آبائه من ملك قلت رجل يطلب ملك أبيهAku bertanya kepadamu apakah ada dari nenek moyangnya yang menjadi raja, engkau menjawab tidak. Aku berpikir, seandainya ada dari nenek moyangnya yang menjadi raja, tentu aku akan menganggapnya sebagai laki-laki yang sedang mencari kembali kerajaan nenek moyangnya.وسألتك هل كنتم تتهمونه بالكذب قبل أن يقول ما قال فذكرت أن لا فقد أعرف أنه لم يكن ليذر الكذب على الناس ويكذب على الله وسألتك أشراف الناس اتبعوه أم ضعفاؤهم فذكرت أن ضعفاءهم اتبعوه وهم أتباع الرسلAku bertanya kepadamu apakah kalian pernah menuduhnya berdusta sebelum dia mengatakan apa yang dikatakannya sekarang, engkau menjawab tidak. Aku pun tahu bahwa tidak mungkin seseorang yang tidak pernah berdusta kepada sesama manusia, lalu tiba-tiba berani berdusta atas nama Allah.Aku bertanya kepadamu apakah yang mengikutinya adalah kalangan bangsawan atau orang-orang lemah, engkau menjawab orang-orang lemahlah yang mengikutinya. Memang merekalah yang biasanya menjadi pengikut para Rasul.وسألتك أيزيدون أم ينقصون فذكرت أنهم يزيدون وكذلك أمر الإيمان حتى يتمAku bertanya kepadamu apakah jumlah mereka bertambah atau berkurang, engkau menjawab bahwa mereka bertambah. Demikianlah perkara keimanan hingga ia menjadi sempurna.وسألتك أيرتد أحد سخطة لدينه بعد أن يدخل فيه فذكرت أن لا وكذلك الإيمان حين تخالط بشاشته القلوبAku bertanya kepadamu apakah ada yang murtad karena benci terhadap agamanya setelah memeluknya, engkau menjawab tidak ada. Demikianlah keimanan, ketika cahayanya telah merasuk dan berakar ke dalam relung hati.وسألتك هل يغدر فذكرت أن لا وكذلك الرسل لا تغدرAku bertanya kepadamu apakah dia pernah berkhianat, engkau menjawab tidak. Demikianlah para Rasul, mereka tidak pernah berkhianat.Kesimpulan Heraklius tentang kenabianDari informasi yang telah ia gali dari Abu Sufyan, Heraklius pun menyimpulkan bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah.وسألتك بما يأمركم فذكرت أنه يأمركم أن تعبدوا الله ولا تشركوا به شيئا وينهاكم عن عبادة الأوثان ويأمركم بالصلاة والصدق والعفاف فإن كان ما تقول حقا فسيملك موضع قدمي هاتينAku bertanya kepadamu tentang apa yang ia perintahkan kepada kalian, engkau menjawab bahwa dia memerintahkan kalian untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, melarang kalian menyembah berhala, serta memerintahkan kalian untuk salat, berlaku jujur, dan menjaga kehormatan diri. Jika apa yang engkau katakan ini benar, niscaya dia akan menguasai tempat di mana kedua kakiku berpijak saat ini.وقد كنت أعلم أنه خارج لم أكن أظن أنه منكم فلو أني أعلم أني أخلص إليه لتجشمت لقاءه ولو كنت عنده لغسلت عن قدمهAku memang sudah tahu bahwa dia akan muncul, tetapi aku tidak menyangka bahwa dia berasal dari kalangan kalian. Seandainya aku tahu bahwa aku bisa sampai kepadanya, tentu aku akan bersusah payah untuk menemuinya. Jika seandainya aku berada di sisinya, tentu aku akan membasuh kedua kakinya.”PenutupItulah kisah pertemuan heraklius dengan Abu Sufyan. Dari pertemuan ini, Heraklius mengetahui bahwa Rasulullah adalah utusan Allah yang sebenar-benarnya. Walaupun demikian, hal tersebut tidak serta merta membuat Heraklius langsung memeluk Islam. Ketika ia menyeru bangsa Romawi untuk beriman kepada Rasulullah, mereka menolaknya. Heraklius pun lebih memilih bersama dengan bangsa Romawi dibandingkan harus beriman kepada Rasulullah.Baca juga: Dua Perang yang Diabadikan Allah dalam Al-Qur’an***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi TogglePemanggilan Abu Sufyan oleh HerakliusPertanyaan tentang nasab dan pengikut RasulullahPertanyaan tentang akhlak dan peperanganApa yang diajarkan sang Nabi?Penjelasan Heraklius atas pertanyaannyaKesimpulan Heraklius tentang kenabianPenutupKetika Rasulullah mengirim surat kepada Heraklius, saat itu bertepatan juga ketika Abu Sufyan dan para pedagang dari Quraisy sedang berdagang di Syam. Akhirnya, Heraklius pun menemui Abu Sufyan untuk menggali informasi tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Dari pertemuan Heraklius dengan Abu Sufyan inilah, Heraklius mengetahui tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meyakini bahwa beliau adalah Ahmad, seorang utusan Allah yang sudah dikabarkan oleh Nabi Isa ‘alaihis salam.Kisah pertemuan heraklius dengan Abu Sufyan tersebut diabadikan dalam sebuah hadis dalam Shahih Bukhari. Hadis tersebut merupakan hadis yang cukup panjang dan akan kami tulis dalam beberapa sub bagian agar pembaca lebih mudah untuk membacanya. Berikut ini kisah pertemuan Heraklius dengan Abu sufyan yang terdapat dalam Shahih Bukhari.Pemanggilan Abu Sufyan oleh HerakliusKetika Heraklius menerima surat dari Rasulullah, ia mengetahui bahwa ada rombongan dari Quraisy yang sedang berdagang di Syam. Ia pun mengirim utusan untuk menggali informasi tentang siapa sebenarnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.أن هرقل أرسل إليه في ركب من قريش وكانوا تجارا بالشأم في المدة التي كان رسول الله صلى الله عليه وسلم ماد فيها أبا سفيان وكفار قريش فأتوه وهم بإيلياء فدعاهم في مجلسه وحوله عظماء الروم“Bahwa Heraklius mengirim utusan kepadanya (Abu Sufyan) yang sedang bersama rombongan dagang Quraisy di Syam. Hal ini terjadi pada masa gencatan senjata antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Abu Sufyan dan kafir Quraisy.Mereka kemudian mendatangi Heraklius di Iliya’ (Yerusalem). Heraklius mengundang mereka ke majelisnya, dikelilingi oleh para pembesar Romawi.”ثم دعاهم ودعا بترجمانه فقال أيكم أقرب نسبا بهذا الرجل الذي يزعم أنه نبي فقال أبو سفيان فقلت أنا أقربهم نسبا فقال أدنوه مني وقربوا أصحابه فاجعلوهم عند ظهره ثم قال لترجمانه قل لهم إني سائل هذا عن هذا الرجل فإن كذبني فكذبوه فوالله لولا الحياء من أن يأثروا علي كذبا لكذبت عنه“Ia memanggil mereka beserta penerjemahnya, lalu bertanya, ‘Siapa di antara kalian yang paling dekat nasabnya dengan laki-laki yang mengaku sebagai Nabi itu?’Abu Sufyan menjawab, ‘Akulah yang paling dekat nasabnya.’Heraklius berkata, “Dekatkan dia kepadaku, dan dekatkan juga teman-temannya, jadikan mereka berada di belakangnya.”Kemudian Heraklius berkata kepada penerjemahnya, “Katakan kepada mereka, aku akan bertanya kepada orang ini tentang laki-laki tersebut. Jika ia berdusta kepadaku, maka kalian harus mendustakannya.”(Abu Sufyan berkata), “Demi Allah, seandainya bukan karena rasa malu dituduh berdusta oleh teman-temanku, niscaya aku akan berbohong tentangnya.”Baca juga: Pemerintahan dan Kekuasaan sebelum IslamPertanyaan tentang nasab dan pengikut RasulullahSetelah bertemu dengan rombongan dagang Quraisy dan bertemu dengan Abu Sufyan yang merupakan orang yang paling dekat nasabnya dengan Rasulullah, Heraklius pun mulai menggali informasi tentang Rasulullah. Heraklius memulai dengan melontarkan pertanyaan mengenai nasab dan pengikut Rasulullah.ثم كان أول ما سألني عنه أن قال كيف نسبه فيكم قلت هو فينا ذو نسب قال فهل قال هذا القول منكم أحد قط قبله قلت لا قال فهل كان من آبائه من ملك قلت لا قال فأشراف الناس يتبعونه أم ضعفاؤهم فقلت بل ضعفاؤهم قال أيزيدون أم ينقصون قلت بل يزيدونSelanjutnya, pertanyaan pertama yang ia ajukan kepadaku tentangnya (Rasulullah) adalah, “Bagaimana nasabnya di tengah-tengah kalian?”Aku menjawab, “Dia adalah orang yang memiliki keturunan terhormat di antara kami.”Heraklius bertanya lagi, “Apakah ada yang mengatakan perkataan ini (mengaku sebagai rasul) di antara kalian sebelumnya?”Aku menjawab, “Tidak ada.”Ia bertanya, “Apakah di antara nenek moyangnya ada yang pernah menjadi raja?”Aku menjawab, “Tidak ada.”Ia bertanya lagi, “Apakah orang-orang yang mengikutinya adalah kalangan bangsawan ataukah orang-orang lemah?”Aku menjawab, “Orang-orang lemahlah yang mengikutinya.”Ia bertanya, “Apakah jumlah mereka semakin bertambah atau berkurang?”Aku menjawab, “Mereka semakin bertambah.”Pertanyaan tentang akhlak dan peperanganSetelah bertanya tentang nasab dan siapa pengikut Rasulullah, Heraklius melanjutkan menggali informasi lainnya dari Abu Sufyan tentang akhlak Rasulullah dan peperangan yang terjadi antara Rasulullah dengan kaum Quraisy.قال فهل يرتد أحد منهم سخطة لدينه بعد أن يدخل فيه قلت لا قال فهل كنتم تتهمونه بالكذب قبل أن يقول ما قال قلت لا قال فهل يغدر قلت لا ونحن منه في مدة لا ندري ما هو فاعل فيها قال ولم تمكني كلمة أدخل فيها شيئا غير هذه الكلمة قال فهل قاتلتموه قلت نعم قال فكيف كان قتالكم إياه قلت الحرب بيننا وبينه سجال ينال منا وننال منهHeraklius bertanya, “Apakah ada di antara mereka yang murtad karena benci terhadap agamanya setelah memeluknya?”Aku menjawab, “Tidak ada.”Ia bertanya, “Apakah kalian pernah menuduhnya berdusta sebelum ia mengucapkan apa yang ia ucapkan sekarang?”Aku menjawab, “Tidak pernah.”Ia bertanya, “Apakah dia pernah berkhianat?”Aku menjawab, “Tidak, tetapi saat ini kami sedang berada dalam masa perjanjian damai dengannya, dan kami tidak tahu apa yang akan ia lakukan di masa itu.” (Abu Sufyan berkata, “Tidak ada kesempatan bagiku untuk menyisipkan kata-kata buruk selain pada kalimat ini”).Heraklius bertanya lagi, “Apakah kalian pernah memeranginya?”Aku menjawab, “Ya.”Ia bertanya, “Bagaimana hasil peperangan kalian dengannya?”Aku menjawab, “Peperangan antara kami dan dia silih berganti; terkadang dia mengalahkan kami, dan terkadang kami mengalahkannya.”Apa yang diajarkan sang Nabi?Selanjutnya, Heraklius menggali informasi lebih lanjut dengan menanyakan apa yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.قال ماذا يأمركم قلت يقول اعبدوا الله وحده ولا تشركوا به شيئا واتركوا ما يقول آباؤكم ويأمرنا بالصلاة والزكاة والصدق والعفاف والصلةHeraklius bertanya, “Apa yang ia perintahkan kepada kalian?”Aku menjawab, “Dia berkata, ‘Sembahlah Allah semata dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan tinggalkanlah apa yang diucapkan oleh nenek moyang kalian.’ Dia juga memerintahkan kami untuk mendirikan salat, menunaikan zakat, bersikap jujur, menjaga kesucian diri, dan menyambung tali silaturahmi.”Penjelasan Heraklius atas pertanyaannyaSetelah menggali informasi tentang Nabi Muhammad, Heraklius pun memberikan penjelasan mengenai pertanyaan-pertanyaannya kepada Abu Sufyan.فقال للترجمان قل له سألتك عن نسبه فذكرت أنه فيكم ذو نسب فكذلك الرسل تبعث في نسب قومهاHeraklius pun berkata kepada penerjemahnya, “Katakan kepadanya: Aku bertanya kepadamu tentang nasabnya, engkau menjawab bahwa dia berasal dari keturunan yang terhormat. Begitulah para Rasul, mereka diutus dari kalangan keturunan terbaik kaumnya.وسألتك هل قال أحد منكم هذا القول فذكرت أن لا فقلت لو كان أحد قال هذا القول قبله لقلت رجل يأتسي بقول قيل قبلهAku bertanya kepadamu apakah ada orang di antara kalian yang pernah mengucapkan perkataan ini sebelumnya, engkau menjawab tidak. Aku berpikir, seandainya ada orang yang pernah mengucapkan hal ini sebelumnya, tentu aku akan mengatakan bahwa dia hanyalah meniru ucapan yang pernah dikatakan sebelumnya.وسألتك هل كان من آبائه من ملك فذكرت أن لا قلت فلو كان من آبائه من ملك قلت رجل يطلب ملك أبيهAku bertanya kepadamu apakah ada dari nenek moyangnya yang menjadi raja, engkau menjawab tidak. Aku berpikir, seandainya ada dari nenek moyangnya yang menjadi raja, tentu aku akan menganggapnya sebagai laki-laki yang sedang mencari kembali kerajaan nenek moyangnya.وسألتك هل كنتم تتهمونه بالكذب قبل أن يقول ما قال فذكرت أن لا فقد أعرف أنه لم يكن ليذر الكذب على الناس ويكذب على الله وسألتك أشراف الناس اتبعوه أم ضعفاؤهم فذكرت أن ضعفاءهم اتبعوه وهم أتباع الرسلAku bertanya kepadamu apakah kalian pernah menuduhnya berdusta sebelum dia mengatakan apa yang dikatakannya sekarang, engkau menjawab tidak. Aku pun tahu bahwa tidak mungkin seseorang yang tidak pernah berdusta kepada sesama manusia, lalu tiba-tiba berani berdusta atas nama Allah.Aku bertanya kepadamu apakah yang mengikutinya adalah kalangan bangsawan atau orang-orang lemah, engkau menjawab orang-orang lemahlah yang mengikutinya. Memang merekalah yang biasanya menjadi pengikut para Rasul.وسألتك أيزيدون أم ينقصون فذكرت أنهم يزيدون وكذلك أمر الإيمان حتى يتمAku bertanya kepadamu apakah jumlah mereka bertambah atau berkurang, engkau menjawab bahwa mereka bertambah. Demikianlah perkara keimanan hingga ia menjadi sempurna.وسألتك أيرتد أحد سخطة لدينه بعد أن يدخل فيه فذكرت أن لا وكذلك الإيمان حين تخالط بشاشته القلوبAku bertanya kepadamu apakah ada yang murtad karena benci terhadap agamanya setelah memeluknya, engkau menjawab tidak ada. Demikianlah keimanan, ketika cahayanya telah merasuk dan berakar ke dalam relung hati.وسألتك هل يغدر فذكرت أن لا وكذلك الرسل لا تغدرAku bertanya kepadamu apakah dia pernah berkhianat, engkau menjawab tidak. Demikianlah para Rasul, mereka tidak pernah berkhianat.Kesimpulan Heraklius tentang kenabianDari informasi yang telah ia gali dari Abu Sufyan, Heraklius pun menyimpulkan bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah.وسألتك بما يأمركم فذكرت أنه يأمركم أن تعبدوا الله ولا تشركوا به شيئا وينهاكم عن عبادة الأوثان ويأمركم بالصلاة والصدق والعفاف فإن كان ما تقول حقا فسيملك موضع قدمي هاتينAku bertanya kepadamu tentang apa yang ia perintahkan kepada kalian, engkau menjawab bahwa dia memerintahkan kalian untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, melarang kalian menyembah berhala, serta memerintahkan kalian untuk salat, berlaku jujur, dan menjaga kehormatan diri. Jika apa yang engkau katakan ini benar, niscaya dia akan menguasai tempat di mana kedua kakiku berpijak saat ini.وقد كنت أعلم أنه خارج لم أكن أظن أنه منكم فلو أني أعلم أني أخلص إليه لتجشمت لقاءه ولو كنت عنده لغسلت عن قدمهAku memang sudah tahu bahwa dia akan muncul, tetapi aku tidak menyangka bahwa dia berasal dari kalangan kalian. Seandainya aku tahu bahwa aku bisa sampai kepadanya, tentu aku akan bersusah payah untuk menemuinya. Jika seandainya aku berada di sisinya, tentu aku akan membasuh kedua kakinya.”PenutupItulah kisah pertemuan heraklius dengan Abu Sufyan. Dari pertemuan ini, Heraklius mengetahui bahwa Rasulullah adalah utusan Allah yang sebenar-benarnya. Walaupun demikian, hal tersebut tidak serta merta membuat Heraklius langsung memeluk Islam. Ketika ia menyeru bangsa Romawi untuk beriman kepada Rasulullah, mereka menolaknya. Heraklius pun lebih memilih bersama dengan bangsa Romawi dibandingkan harus beriman kepada Rasulullah.Baca juga: Dua Perang yang Diabadikan Allah dalam Al-Qur’an***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id

Keutamaan Besar Membaca dan Tadabur Surah Al-Kahfi – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaili #NasehatUlama

Surah Al-Kahfi adalah cahaya bagi seorang mukmin di dunia, dan cahaya baginya pada hari kiamat. Siapa yang membaca sepuluh ayat terakhirnya, lalu Dajjal muncul, niscaya Dajjal tidak dapat membahayakannya. Hadis ini akan disebutkan nanti, insya Allah. Dalam riwayat An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra, juga Al-Hakim, dan beliau mensahihkannya, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang membaca Surah Al-Kahfi sebagaimana ia diturunkan, maka surah itu menjadi cahaya baginya dari tempat ia berada hingga Makkah.” Perhatikan batasan ini: “Siapa yang membaca Surah Al-Kahfi sebagaimana ia diturunkan.” Maksudnya, ia membacanya dengan tilawah sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu membacakannya kepada para sahabatnya. Tujuannya adalah mengharap wajah Allah. Ia juga mentadaburi surah ini, karena surah ini diturunkan untuk ditadaburi. Maka surah itu menjadi cahaya baginya, yang membentang dari tempat ia berada hingga Makkah. “Siapa yang membaca sepuluh ayat terakhirnya, lalu Dajjal muncul, maka Dajjal tidak diberi kuasa untuk menguasainya.” “Dajjal tidak diberi kuasa untuk menguasainya” maksudnya: ia aman dari fitnah Dajjal. Dajjal tidak diberi kuasa untuk menguasainya. Al-Albani berkata tentang hadis ini, “Hadis ini sahih li ghairihi.” Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata… Perhatikan, riwayat ini mauquf. Yang pertama marfu’, sedangkan yang ini mauquf. Abu Sa’id Al-Khudri berkata, “Siapa yang membaca Surah Al-Kahfi sebagaimana ia diturunkan, lalu ia keluar menghadapi Dajjal, maka Dajjal tidak diberi kuasa untuk menguasainya, atau Dajjal tidak memiliki jalan untuk menguasainya.” Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan beliau mensahihkannya.Penilaian ini juga disetujui oleh Adz-Dzahabi. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang membaca Surah Al-Kahfi pada hari Jumat, maka akan dipancarkan cahaya baginya di antara dua Jumat.” Diriwayatkan oleh Al-Hakim, dan beliau berkata, “Hadis ini sahih sanadnya.” Dan hadis ini disahihkan oleh Al-Albani. Jadi, membaca Surah Al-Kahfi adalah cahaya bagi seorang mukmin di dunia. “Siapa yang membaca Surah Al-Kahfi pada hari Jumat…” ===== سُورَةُ الْكَهْفِ نُورٌ لِلْمُؤْمِنِ فِي الدُّنْيَا وَنُورٌ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ قَرَأَ بِعَشْرِ آيَاتٍ مِنْ آخِرِهَا ثُمَّ خَرَجَ الدَّجَّالُ لَمْ يَضُرَّهُ هَذَا سَيَأْتِي لَاحِقًا إِنْ شَاءَ اللَّهُ وَعِنْدَ النَّسَائِيِّ فِي الْكُبْرَى وَالْحَاكِمِ وَصَحَّحَهُ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ كَمَا أُنْزِلَتْ كَانَتْ لَهُ نُورًا مِنْ مَقَامِهِ إِلَى مَكَّةَ وَانْظُرِ الْقَيْدَ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ كَمَا أُنْزِلَتْ فَقَرَأَهَا بِتِلَاوَةٍ كَمَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتْلُوهَا عَلَى أَصْحَابِهِ وَكَانَ قَصْدُهُ وَجْهَ اللَّهِ وَتَدَبَّرَ هَذِهِ السُّورَةَ لِأَنَّهَا لِلتَّدَبُّرِ أُنْزِلَتْ كَانَتْ لَهُ نُورًا مِنْ مَقَامِهِ إِلَى مَكَّةَ وَمَنْ قَرَأَ بِعَشْرِ آيَاتٍ مِنْ آخِرِهَا فَخَرَجَ الدَّجَّالُ لَمْ يُسَلَّطْ عَلَيْهِ لَمْ يُسَلَّطْ عَلَيْهِ يَعْنِي أَمِنَ فِتْنَةَ الدَّجَّالِ وَلَمْ يُسَلَّطْ عَلَيْهِ الدَّجَّالُ وَقَالَ الْأَلْبَانِيُّ عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ صَحِيحٌ لِغَيْرِهِ وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ الْحَظِ الْآنَ هَذَا مَوْقُوفٌ الْأَوَّلُ مَرْفُوعٌ وَهَذَا مَوْقُوفٌ قَالَ: مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ كَمَا أُنْزِلَتْ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الدَّجَّالِ لَمْ يُسَلَّطْ عَلَيْهِ أَوْ لَمْ يَكُنْ لَهُ عَلَيْهِ سَبِيلٌ رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ وَوَافَقَهُ الذَّهَبِيُّ وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَقَالَ: هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ وَصَحَّحَهُ الْأَلْبَانِيُّ فَقِرَاءَةُ سُورَةِ الْكَهْفِ نُورٌ لِلْمُؤْمِنِ فِي الدُّنْيَا مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ

Keutamaan Besar Membaca dan Tadabur Surah Al-Kahfi – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaili #NasehatUlama

Surah Al-Kahfi adalah cahaya bagi seorang mukmin di dunia, dan cahaya baginya pada hari kiamat. Siapa yang membaca sepuluh ayat terakhirnya, lalu Dajjal muncul, niscaya Dajjal tidak dapat membahayakannya. Hadis ini akan disebutkan nanti, insya Allah. Dalam riwayat An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra, juga Al-Hakim, dan beliau mensahihkannya, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang membaca Surah Al-Kahfi sebagaimana ia diturunkan, maka surah itu menjadi cahaya baginya dari tempat ia berada hingga Makkah.” Perhatikan batasan ini: “Siapa yang membaca Surah Al-Kahfi sebagaimana ia diturunkan.” Maksudnya, ia membacanya dengan tilawah sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu membacakannya kepada para sahabatnya. Tujuannya adalah mengharap wajah Allah. Ia juga mentadaburi surah ini, karena surah ini diturunkan untuk ditadaburi. Maka surah itu menjadi cahaya baginya, yang membentang dari tempat ia berada hingga Makkah. “Siapa yang membaca sepuluh ayat terakhirnya, lalu Dajjal muncul, maka Dajjal tidak diberi kuasa untuk menguasainya.” “Dajjal tidak diberi kuasa untuk menguasainya” maksudnya: ia aman dari fitnah Dajjal. Dajjal tidak diberi kuasa untuk menguasainya. Al-Albani berkata tentang hadis ini, “Hadis ini sahih li ghairihi.” Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata… Perhatikan, riwayat ini mauquf. Yang pertama marfu’, sedangkan yang ini mauquf. Abu Sa’id Al-Khudri berkata, “Siapa yang membaca Surah Al-Kahfi sebagaimana ia diturunkan, lalu ia keluar menghadapi Dajjal, maka Dajjal tidak diberi kuasa untuk menguasainya, atau Dajjal tidak memiliki jalan untuk menguasainya.” Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan beliau mensahihkannya.Penilaian ini juga disetujui oleh Adz-Dzahabi. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang membaca Surah Al-Kahfi pada hari Jumat, maka akan dipancarkan cahaya baginya di antara dua Jumat.” Diriwayatkan oleh Al-Hakim, dan beliau berkata, “Hadis ini sahih sanadnya.” Dan hadis ini disahihkan oleh Al-Albani. Jadi, membaca Surah Al-Kahfi adalah cahaya bagi seorang mukmin di dunia. “Siapa yang membaca Surah Al-Kahfi pada hari Jumat…” ===== سُورَةُ الْكَهْفِ نُورٌ لِلْمُؤْمِنِ فِي الدُّنْيَا وَنُورٌ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ قَرَأَ بِعَشْرِ آيَاتٍ مِنْ آخِرِهَا ثُمَّ خَرَجَ الدَّجَّالُ لَمْ يَضُرَّهُ هَذَا سَيَأْتِي لَاحِقًا إِنْ شَاءَ اللَّهُ وَعِنْدَ النَّسَائِيِّ فِي الْكُبْرَى وَالْحَاكِمِ وَصَحَّحَهُ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ كَمَا أُنْزِلَتْ كَانَتْ لَهُ نُورًا مِنْ مَقَامِهِ إِلَى مَكَّةَ وَانْظُرِ الْقَيْدَ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ كَمَا أُنْزِلَتْ فَقَرَأَهَا بِتِلَاوَةٍ كَمَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتْلُوهَا عَلَى أَصْحَابِهِ وَكَانَ قَصْدُهُ وَجْهَ اللَّهِ وَتَدَبَّرَ هَذِهِ السُّورَةَ لِأَنَّهَا لِلتَّدَبُّرِ أُنْزِلَتْ كَانَتْ لَهُ نُورًا مِنْ مَقَامِهِ إِلَى مَكَّةَ وَمَنْ قَرَأَ بِعَشْرِ آيَاتٍ مِنْ آخِرِهَا فَخَرَجَ الدَّجَّالُ لَمْ يُسَلَّطْ عَلَيْهِ لَمْ يُسَلَّطْ عَلَيْهِ يَعْنِي أَمِنَ فِتْنَةَ الدَّجَّالِ وَلَمْ يُسَلَّطْ عَلَيْهِ الدَّجَّالُ وَقَالَ الْأَلْبَانِيُّ عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ صَحِيحٌ لِغَيْرِهِ وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ الْحَظِ الْآنَ هَذَا مَوْقُوفٌ الْأَوَّلُ مَرْفُوعٌ وَهَذَا مَوْقُوفٌ قَالَ: مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ كَمَا أُنْزِلَتْ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الدَّجَّالِ لَمْ يُسَلَّطْ عَلَيْهِ أَوْ لَمْ يَكُنْ لَهُ عَلَيْهِ سَبِيلٌ رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ وَوَافَقَهُ الذَّهَبِيُّ وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَقَالَ: هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ وَصَحَّحَهُ الْأَلْبَانِيُّ فَقِرَاءَةُ سُورَةِ الْكَهْفِ نُورٌ لِلْمُؤْمِنِ فِي الدُّنْيَا مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ
Surah Al-Kahfi adalah cahaya bagi seorang mukmin di dunia, dan cahaya baginya pada hari kiamat. Siapa yang membaca sepuluh ayat terakhirnya, lalu Dajjal muncul, niscaya Dajjal tidak dapat membahayakannya. Hadis ini akan disebutkan nanti, insya Allah. Dalam riwayat An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra, juga Al-Hakim, dan beliau mensahihkannya, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang membaca Surah Al-Kahfi sebagaimana ia diturunkan, maka surah itu menjadi cahaya baginya dari tempat ia berada hingga Makkah.” Perhatikan batasan ini: “Siapa yang membaca Surah Al-Kahfi sebagaimana ia diturunkan.” Maksudnya, ia membacanya dengan tilawah sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu membacakannya kepada para sahabatnya. Tujuannya adalah mengharap wajah Allah. Ia juga mentadaburi surah ini, karena surah ini diturunkan untuk ditadaburi. Maka surah itu menjadi cahaya baginya, yang membentang dari tempat ia berada hingga Makkah. “Siapa yang membaca sepuluh ayat terakhirnya, lalu Dajjal muncul, maka Dajjal tidak diberi kuasa untuk menguasainya.” “Dajjal tidak diberi kuasa untuk menguasainya” maksudnya: ia aman dari fitnah Dajjal. Dajjal tidak diberi kuasa untuk menguasainya. Al-Albani berkata tentang hadis ini, “Hadis ini sahih li ghairihi.” Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata… Perhatikan, riwayat ini mauquf. Yang pertama marfu’, sedangkan yang ini mauquf. Abu Sa’id Al-Khudri berkata, “Siapa yang membaca Surah Al-Kahfi sebagaimana ia diturunkan, lalu ia keluar menghadapi Dajjal, maka Dajjal tidak diberi kuasa untuk menguasainya, atau Dajjal tidak memiliki jalan untuk menguasainya.” Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan beliau mensahihkannya.Penilaian ini juga disetujui oleh Adz-Dzahabi. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang membaca Surah Al-Kahfi pada hari Jumat, maka akan dipancarkan cahaya baginya di antara dua Jumat.” Diriwayatkan oleh Al-Hakim, dan beliau berkata, “Hadis ini sahih sanadnya.” Dan hadis ini disahihkan oleh Al-Albani. Jadi, membaca Surah Al-Kahfi adalah cahaya bagi seorang mukmin di dunia. “Siapa yang membaca Surah Al-Kahfi pada hari Jumat…” ===== سُورَةُ الْكَهْفِ نُورٌ لِلْمُؤْمِنِ فِي الدُّنْيَا وَنُورٌ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ قَرَأَ بِعَشْرِ آيَاتٍ مِنْ آخِرِهَا ثُمَّ خَرَجَ الدَّجَّالُ لَمْ يَضُرَّهُ هَذَا سَيَأْتِي لَاحِقًا إِنْ شَاءَ اللَّهُ وَعِنْدَ النَّسَائِيِّ فِي الْكُبْرَى وَالْحَاكِمِ وَصَحَّحَهُ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ كَمَا أُنْزِلَتْ كَانَتْ لَهُ نُورًا مِنْ مَقَامِهِ إِلَى مَكَّةَ وَانْظُرِ الْقَيْدَ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ كَمَا أُنْزِلَتْ فَقَرَأَهَا بِتِلَاوَةٍ كَمَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتْلُوهَا عَلَى أَصْحَابِهِ وَكَانَ قَصْدُهُ وَجْهَ اللَّهِ وَتَدَبَّرَ هَذِهِ السُّورَةَ لِأَنَّهَا لِلتَّدَبُّرِ أُنْزِلَتْ كَانَتْ لَهُ نُورًا مِنْ مَقَامِهِ إِلَى مَكَّةَ وَمَنْ قَرَأَ بِعَشْرِ آيَاتٍ مِنْ آخِرِهَا فَخَرَجَ الدَّجَّالُ لَمْ يُسَلَّطْ عَلَيْهِ لَمْ يُسَلَّطْ عَلَيْهِ يَعْنِي أَمِنَ فِتْنَةَ الدَّجَّالِ وَلَمْ يُسَلَّطْ عَلَيْهِ الدَّجَّالُ وَقَالَ الْأَلْبَانِيُّ عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ صَحِيحٌ لِغَيْرِهِ وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ الْحَظِ الْآنَ هَذَا مَوْقُوفٌ الْأَوَّلُ مَرْفُوعٌ وَهَذَا مَوْقُوفٌ قَالَ: مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ كَمَا أُنْزِلَتْ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الدَّجَّالِ لَمْ يُسَلَّطْ عَلَيْهِ أَوْ لَمْ يَكُنْ لَهُ عَلَيْهِ سَبِيلٌ رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ وَوَافَقَهُ الذَّهَبِيُّ وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَقَالَ: هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ وَصَحَّحَهُ الْأَلْبَانِيُّ فَقِرَاءَةُ سُورَةِ الْكَهْفِ نُورٌ لِلْمُؤْمِنِ فِي الدُّنْيَا مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ


Surah Al-Kahfi adalah cahaya bagi seorang mukmin di dunia, dan cahaya baginya pada hari kiamat. Siapa yang membaca sepuluh ayat terakhirnya, lalu Dajjal muncul, niscaya Dajjal tidak dapat membahayakannya. Hadis ini akan disebutkan nanti, insya Allah. Dalam riwayat An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra, juga Al-Hakim, dan beliau mensahihkannya, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang membaca Surah Al-Kahfi sebagaimana ia diturunkan, maka surah itu menjadi cahaya baginya dari tempat ia berada hingga Makkah.” Perhatikan batasan ini: “Siapa yang membaca Surah Al-Kahfi sebagaimana ia diturunkan.” Maksudnya, ia membacanya dengan tilawah sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu membacakannya kepada para sahabatnya. Tujuannya adalah mengharap wajah Allah. Ia juga mentadaburi surah ini, karena surah ini diturunkan untuk ditadaburi. Maka surah itu menjadi cahaya baginya, yang membentang dari tempat ia berada hingga Makkah. “Siapa yang membaca sepuluh ayat terakhirnya, lalu Dajjal muncul, maka Dajjal tidak diberi kuasa untuk menguasainya.” “Dajjal tidak diberi kuasa untuk menguasainya” maksudnya: ia aman dari fitnah Dajjal. Dajjal tidak diberi kuasa untuk menguasainya. Al-Albani berkata tentang hadis ini, “Hadis ini sahih li ghairihi.” Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata… Perhatikan, riwayat ini mauquf. Yang pertama marfu’, sedangkan yang ini mauquf. Abu Sa’id Al-Khudri berkata, “Siapa yang membaca Surah Al-Kahfi sebagaimana ia diturunkan, lalu ia keluar menghadapi Dajjal, maka Dajjal tidak diberi kuasa untuk menguasainya, atau Dajjal tidak memiliki jalan untuk menguasainya.” Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan beliau mensahihkannya.Penilaian ini juga disetujui oleh Adz-Dzahabi. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang membaca Surah Al-Kahfi pada hari Jumat, maka akan dipancarkan cahaya baginya di antara dua Jumat.” Diriwayatkan oleh Al-Hakim, dan beliau berkata, “Hadis ini sahih sanadnya.” Dan hadis ini disahihkan oleh Al-Albani. Jadi, membaca Surah Al-Kahfi adalah cahaya bagi seorang mukmin di dunia. “Siapa yang membaca Surah Al-Kahfi pada hari Jumat…” ===== سُورَةُ الْكَهْفِ نُورٌ لِلْمُؤْمِنِ فِي الدُّنْيَا وَنُورٌ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ قَرَأَ بِعَشْرِ آيَاتٍ مِنْ آخِرِهَا ثُمَّ خَرَجَ الدَّجَّالُ لَمْ يَضُرَّهُ هَذَا سَيَأْتِي لَاحِقًا إِنْ شَاءَ اللَّهُ وَعِنْدَ النَّسَائِيِّ فِي الْكُبْرَى وَالْحَاكِمِ وَصَحَّحَهُ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ كَمَا أُنْزِلَتْ كَانَتْ لَهُ نُورًا مِنْ مَقَامِهِ إِلَى مَكَّةَ وَانْظُرِ الْقَيْدَ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ كَمَا أُنْزِلَتْ فَقَرَأَهَا بِتِلَاوَةٍ كَمَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتْلُوهَا عَلَى أَصْحَابِهِ وَكَانَ قَصْدُهُ وَجْهَ اللَّهِ وَتَدَبَّرَ هَذِهِ السُّورَةَ لِأَنَّهَا لِلتَّدَبُّرِ أُنْزِلَتْ كَانَتْ لَهُ نُورًا مِنْ مَقَامِهِ إِلَى مَكَّةَ وَمَنْ قَرَأَ بِعَشْرِ آيَاتٍ مِنْ آخِرِهَا فَخَرَجَ الدَّجَّالُ لَمْ يُسَلَّطْ عَلَيْهِ لَمْ يُسَلَّطْ عَلَيْهِ يَعْنِي أَمِنَ فِتْنَةَ الدَّجَّالِ وَلَمْ يُسَلَّطْ عَلَيْهِ الدَّجَّالُ وَقَالَ الْأَلْبَانِيُّ عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ صَحِيحٌ لِغَيْرِهِ وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ الْحَظِ الْآنَ هَذَا مَوْقُوفٌ الْأَوَّلُ مَرْفُوعٌ وَهَذَا مَوْقُوفٌ قَالَ: مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ كَمَا أُنْزِلَتْ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الدَّجَّالِ لَمْ يُسَلَّطْ عَلَيْهِ أَوْ لَمْ يَكُنْ لَهُ عَلَيْهِ سَبِيلٌ رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ وَوَافَقَهُ الذَّهَبِيُّ وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَقَالَ: هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ وَصَحَّحَهُ الْأَلْبَانِيُّ فَقِرَاءَةُ سُورَةِ الْكَهْفِ نُورٌ لِلْمُؤْمِنِ فِي الدُّنْيَا مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ

Fikih Riba (Bag. 14): Ketentuan-Ketentuan pada Riba Jual Beli (2)

Daftar Isi ToggleKetentuan-ketentuan “sama rata” dalam takaran dan timbangan [1]Para ulama tidak berbeda pendapat tentang wajibnya sama rata dalam jual beli barang ribawi yang sejenis dan sama ‘illat-nyaStandar kesamaan (tamatsul)Di antara ketentuan pada riba buyu’ (jual beli) adalah wajibnya sama rata (tamatsul) dalam takaran dan timbangan. Hal ini khusus untuk barang yang sejenis. Seperti menukar emas dengan emas, kurma dengan kurma, gandum dengan gandum, dan yang lainnya.Sebagaimana yang sudah dijelaskan (pada tulisan Fikih Riba Bag. 9) bahwa pada keadaan ini, wajib sama rata dalam takaran dan timbangan. Jika tidak, maka dikhawatirkan akan terjatuh kepada riba fadhl.Ketentuan-ketentuan “sama rata” dalam takaran dan timbangan [1]Para ulama tidak berbeda pendapat tentang wajibnya sama rata dalam jual beli barang ribawi yang sejenis dan sama ‘illat-nyaAgar transaksi jual beli atau barter terealisasi secara sah, maka harus terwujud kesamaan sesuai standar syar’i. Yaitu, barang yang ditakar harus sama dalam takaran; dan barang yang ditimbang harus sama dalam timbangan. Karena jika tidak ada kesamarataan, akan masuk dalam kategori riba fadhl, dan riba fadhl membuat transaksi jual beli menjadi batal dan tidak sah.Dalam hadis ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ، وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ، وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ، وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ“Emas dengan emas adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya. Gandum dengan gandum adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya. Kurma dengan kurma adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya. Sya’ir dengan sya’ir (sejenis gandum) adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya.” (Muttafaqun ‘alaih)Secara realita, kita tidak dapat mengetahui lebih atau tidaknya antara barang ribawi yang ditukar melainkan dengan cara ditakar atau ditimbang.– Di antara kaidah yang disebutkan oleh para ulama pada permasalahan ini adalah,الجَهْلُ بِالتَّمَاثُلِ كَالْعِلْمِ بِالتَّفَاضُلِ“Ketidaktahuan tentang adanya kesamaan hukumnya seperti mengetahui adanya kelebihan.” Kaidah ini khusus dalam permasalahan ini saja. Maksud dari kaidah ini, tidak ada bedanya antara “mengetahui adanya kelebihan dalam penukaran” dengan “tidak mengetahui adanya kesamarataan dalam penukaran barang ribawi“. Oleh karena itu, jika dua orang yang bertransaksi tidak mengetahui adanya kesamarataan ketika melakukan transaksi tukar menukar barang ribawi yang sejenis dan sama ‘illat-nya, hal ini dapat menyebabkan terjatuh ke dalam riba fadhl.Mengapa? Karena tidak ada kepastian padanya, bisa jadi ada lebih di antara salah satu barang yang ditukar pada takaran atau timbangannya. Sedangkan syarat dalam tukar menukar barang yang sejenis dan sama ‘illat-nya itu diharuskan sama rata dalam takaran dan timbangan. Oleh karena itu, apabila seseorang menjual sebagian barang sejenis dengan sebagian lainnya secara jazaf (tanpa ditakar atau ditimbang secara pasti), atau salah satu dari dua barang yang ditukarkan diberikan secara jazaf, maka hal itu tidak diperbolehkan.Ibnul Mundzir rahimahullah berkata,وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ بَيْعَ الصُّبْرَةِ بِالصُّبْرَةِ مِنَ الطَّعَامِ غَيْرُ جَائِزٍ، إِذَا كَانَ مِنْ صِنْفٍ وَاحِدٍ“Para ulama telah bersepakat bahwa menjual satu tumpukan bahan makanan dengan tumpukan bahan makanan lainnya tidak diperbolehkan apabila keduanya berasal dari satu jenis yang sama.” [2]Hal ini berdasarkan hadis Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, نَهى رَسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم عن بَيعِ الصُّبرةِ مِنَ التَّمرِ، لا يُعلَمُ مَكيلَتُها، بالكَيلِ المُسَمَّى مِنَ التَّمرِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menjual satu tumpukan kurma yang tidak diketahui takarannya dengan sejumlah kurma yang telah diketahui takarannya.” (HR. Muslim)Baca juga: Riba dan PengertiannyaStandar kesamaan (tamatsul)Pertama: Perlu diketahui bahwasanya dalam hal ini ada dua kategori dalam standar kesamaan, yaitu barang ribawi yang ditakar dan barang ribawi yang ditimbang. Kebanyakan dari barang ribawi termasuk kategori yang berbeda antara takaran dan timbangan, sementara kesamaan disyaratkan ketika ditukar dengan jenisnya yang sama. Oleh karena itu, mayoritas ulama berpendapat tidak boleh menjual atau menukar kecuali dengan standar syar’i yang berlaku padanya. Maksudnya, barang yang ditakar ditukar dengan barang yang ditakar, dan yang ditimbang ditukar dengan barang yang ditimbang.Para ulama berkata, “Tidak boleh menjual barang yang asalnya ditakar dengan yang sejenis dengan cara ditimbang, dan tidak boleh menjual barang yang asalnya ditimbang dengan yang sejenis dengan cara ditakar.” Sebab, kesamaan pada barang yang ditakar harus diketahui melalui takaran, sedangkan kesamaan dalam barang yang ditimbang harus diketahui melalui timbangan.Contohnya, seseorang menukar 1 kg beras jenis A dengan 1 kg beras jenis B. Meskipun berat timbangannya sama-sama 1 kg, bisa jadi takaran beras jenis A lebih banyak daripada beras jenis B.Hal ini karena menurut pendapat jumhur (mayoritas) ulama, beras termasuk kategori barang yang standar ukurannya adalah takaran. Karenanya, kesamaan dalam pertukaran beras dengan beras tidak dapat dipastikan hanya dengan menimbangnya. Bisa jadi 1 kg beras jenis A setara dengan 1,5 liter; sedangkan 1 kg beras jenis B setara dengan 1,7 liter. Karena terdapat perbedaan dalam takaran, maka syarat kesamaan (tamatsul) tidak dapat dipastikan terpenuhi.Kedua: Para ulama berbeda pendapat tentang menjual barang ribawi yang ditimbang dengan jenis yang sama melalui perkiraan ketika ada kebutuhan atau kondisi yang mendesak.Maksud dari kebutuhan atau kondisi yang mendesak adalah ketika seseorang sedang safar atau ketika tidak ada timbangan di sisinya yang bisa digunakan untuk menimbang.Jumhur ulama dari kalangan mazhab Hanafi, Syafi’i, Hanbali, Zahiri, dan sebagian pendapat mazhab Maliki melarangnya. Dasarnya adalah hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu, لا تَبيعوا الذَّهَبَ بالذَّهَبِ، إلَّا مِثلًا بمِثلٍ، لا تُشِفُّوا بعضَها على بعضٍ“Janganlah kalian menjual emas dengan emas kecuali sama rata, dan janganlah kalian melebihkan sebagian atas sebagian yang lain.” (Muttafaqun ‘alaih)Menurut pendapat ini, timbangan tidak bisa diperkirakan. Karena pada perkiraan terdapat kemungkinan lebih atau kurang, sehingga syarat berupa “sama rata” tidak dapat terpenuhi dalam kondisi ini.Adapun pendapat Imam Malik dan Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahumallah berpendapat bolehnya melakukan perkiraan dalam timbangan ketika ada kebutuhan.Mereka berdalil bahwa syariat terkadang menjadikan ijtihad dan perkiraan sebagai pengganti ilmu yang pasti. Mereka juga meng-qiyaskan dengan akad ‘araya, yaitu ketika kurma basah yang masih di pohon sulit untuk diketahui ukuran yang pasti. Sehingga caranya adalah dengan diperkirakan taksiran kadarnya untuk ditukar dengan kurma kering yang telah diketahui ukurannya.Dan pendapat ini lebih kuat dalam kondisi ketika dibutuhkan. Sebab terdapat suatu kaidah,الأَمْرُ إِذَا ضَاقَ اِتَّسَعَ“Ketika suatu urusan menjadi sempit, (syariat) memberikan kelonggaran.” Ketiga: Di antara hal yang penting dalam pembahasan ini yaitu, ketika barang yang ditakar atau ditimbang dijual dengan barang yang berbeda jenis.Dalam hal ini diperbolehkan menggunakan ukuran standar selain asalnya, baik dengan takaran maupun timbangan. Karena syarat tamatsul (kesamaan) memang tidak berlaku ketika barang yang dipertukarkan berbeda jenis.Contohnya, satu kilogram gandum ditukar dengan satu kilogram jelai (sya’ir) yang pada asalnya kedua barang ini ditakar. Hal ini diperbolehkan, karena gandum dan jelai adalah dua jenis yang berbeda. Yang disyariatkan dalam hal ini hanyalah serah terima dilakukan secara tunai agar tidak terjadi riba nasi’ah (penundaan serah terima), sedangkan kesamaan kadar tidak disyaratkan jika jenis berbeda.Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 13 LANJUT KE BAGIAN 15***Depok, 20 Zulhijah 1447/ 6 Juni 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Pembahasan ini diambil dari kitab Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 191-193), dengan beberapa perubahan.[2] Al-Ijma’, no. 491 hal. 97.Referensi:– Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fiqih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, 2016.– An-Naisaburi, Muhammad bin Ibrahim bin al-Mundzir. Al-Ijma’. Di-tahqiq oleh Fuad Abdul Mun’im Ahmad. Cetakan ke-1. Riyadh: Dar al-Muslim, 1425 H/2004 M.

Fikih Riba (Bag. 14): Ketentuan-Ketentuan pada Riba Jual Beli (2)

Daftar Isi ToggleKetentuan-ketentuan “sama rata” dalam takaran dan timbangan [1]Para ulama tidak berbeda pendapat tentang wajibnya sama rata dalam jual beli barang ribawi yang sejenis dan sama ‘illat-nyaStandar kesamaan (tamatsul)Di antara ketentuan pada riba buyu’ (jual beli) adalah wajibnya sama rata (tamatsul) dalam takaran dan timbangan. Hal ini khusus untuk barang yang sejenis. Seperti menukar emas dengan emas, kurma dengan kurma, gandum dengan gandum, dan yang lainnya.Sebagaimana yang sudah dijelaskan (pada tulisan Fikih Riba Bag. 9) bahwa pada keadaan ini, wajib sama rata dalam takaran dan timbangan. Jika tidak, maka dikhawatirkan akan terjatuh kepada riba fadhl.Ketentuan-ketentuan “sama rata” dalam takaran dan timbangan [1]Para ulama tidak berbeda pendapat tentang wajibnya sama rata dalam jual beli barang ribawi yang sejenis dan sama ‘illat-nyaAgar transaksi jual beli atau barter terealisasi secara sah, maka harus terwujud kesamaan sesuai standar syar’i. Yaitu, barang yang ditakar harus sama dalam takaran; dan barang yang ditimbang harus sama dalam timbangan. Karena jika tidak ada kesamarataan, akan masuk dalam kategori riba fadhl, dan riba fadhl membuat transaksi jual beli menjadi batal dan tidak sah.Dalam hadis ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ، وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ، وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ، وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ“Emas dengan emas adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya. Gandum dengan gandum adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya. Kurma dengan kurma adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya. Sya’ir dengan sya’ir (sejenis gandum) adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya.” (Muttafaqun ‘alaih)Secara realita, kita tidak dapat mengetahui lebih atau tidaknya antara barang ribawi yang ditukar melainkan dengan cara ditakar atau ditimbang.– Di antara kaidah yang disebutkan oleh para ulama pada permasalahan ini adalah,الجَهْلُ بِالتَّمَاثُلِ كَالْعِلْمِ بِالتَّفَاضُلِ“Ketidaktahuan tentang adanya kesamaan hukumnya seperti mengetahui adanya kelebihan.” Kaidah ini khusus dalam permasalahan ini saja. Maksud dari kaidah ini, tidak ada bedanya antara “mengetahui adanya kelebihan dalam penukaran” dengan “tidak mengetahui adanya kesamarataan dalam penukaran barang ribawi“. Oleh karena itu, jika dua orang yang bertransaksi tidak mengetahui adanya kesamarataan ketika melakukan transaksi tukar menukar barang ribawi yang sejenis dan sama ‘illat-nya, hal ini dapat menyebabkan terjatuh ke dalam riba fadhl.Mengapa? Karena tidak ada kepastian padanya, bisa jadi ada lebih di antara salah satu barang yang ditukar pada takaran atau timbangannya. Sedangkan syarat dalam tukar menukar barang yang sejenis dan sama ‘illat-nya itu diharuskan sama rata dalam takaran dan timbangan. Oleh karena itu, apabila seseorang menjual sebagian barang sejenis dengan sebagian lainnya secara jazaf (tanpa ditakar atau ditimbang secara pasti), atau salah satu dari dua barang yang ditukarkan diberikan secara jazaf, maka hal itu tidak diperbolehkan.Ibnul Mundzir rahimahullah berkata,وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ بَيْعَ الصُّبْرَةِ بِالصُّبْرَةِ مِنَ الطَّعَامِ غَيْرُ جَائِزٍ، إِذَا كَانَ مِنْ صِنْفٍ وَاحِدٍ“Para ulama telah bersepakat bahwa menjual satu tumpukan bahan makanan dengan tumpukan bahan makanan lainnya tidak diperbolehkan apabila keduanya berasal dari satu jenis yang sama.” [2]Hal ini berdasarkan hadis Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, نَهى رَسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم عن بَيعِ الصُّبرةِ مِنَ التَّمرِ، لا يُعلَمُ مَكيلَتُها، بالكَيلِ المُسَمَّى مِنَ التَّمرِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menjual satu tumpukan kurma yang tidak diketahui takarannya dengan sejumlah kurma yang telah diketahui takarannya.” (HR. Muslim)Baca juga: Riba dan PengertiannyaStandar kesamaan (tamatsul)Pertama: Perlu diketahui bahwasanya dalam hal ini ada dua kategori dalam standar kesamaan, yaitu barang ribawi yang ditakar dan barang ribawi yang ditimbang. Kebanyakan dari barang ribawi termasuk kategori yang berbeda antara takaran dan timbangan, sementara kesamaan disyaratkan ketika ditukar dengan jenisnya yang sama. Oleh karena itu, mayoritas ulama berpendapat tidak boleh menjual atau menukar kecuali dengan standar syar’i yang berlaku padanya. Maksudnya, barang yang ditakar ditukar dengan barang yang ditakar, dan yang ditimbang ditukar dengan barang yang ditimbang.Para ulama berkata, “Tidak boleh menjual barang yang asalnya ditakar dengan yang sejenis dengan cara ditimbang, dan tidak boleh menjual barang yang asalnya ditimbang dengan yang sejenis dengan cara ditakar.” Sebab, kesamaan pada barang yang ditakar harus diketahui melalui takaran, sedangkan kesamaan dalam barang yang ditimbang harus diketahui melalui timbangan.Contohnya, seseorang menukar 1 kg beras jenis A dengan 1 kg beras jenis B. Meskipun berat timbangannya sama-sama 1 kg, bisa jadi takaran beras jenis A lebih banyak daripada beras jenis B.Hal ini karena menurut pendapat jumhur (mayoritas) ulama, beras termasuk kategori barang yang standar ukurannya adalah takaran. Karenanya, kesamaan dalam pertukaran beras dengan beras tidak dapat dipastikan hanya dengan menimbangnya. Bisa jadi 1 kg beras jenis A setara dengan 1,5 liter; sedangkan 1 kg beras jenis B setara dengan 1,7 liter. Karena terdapat perbedaan dalam takaran, maka syarat kesamaan (tamatsul) tidak dapat dipastikan terpenuhi.Kedua: Para ulama berbeda pendapat tentang menjual barang ribawi yang ditimbang dengan jenis yang sama melalui perkiraan ketika ada kebutuhan atau kondisi yang mendesak.Maksud dari kebutuhan atau kondisi yang mendesak adalah ketika seseorang sedang safar atau ketika tidak ada timbangan di sisinya yang bisa digunakan untuk menimbang.Jumhur ulama dari kalangan mazhab Hanafi, Syafi’i, Hanbali, Zahiri, dan sebagian pendapat mazhab Maliki melarangnya. Dasarnya adalah hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu, لا تَبيعوا الذَّهَبَ بالذَّهَبِ، إلَّا مِثلًا بمِثلٍ، لا تُشِفُّوا بعضَها على بعضٍ“Janganlah kalian menjual emas dengan emas kecuali sama rata, dan janganlah kalian melebihkan sebagian atas sebagian yang lain.” (Muttafaqun ‘alaih)Menurut pendapat ini, timbangan tidak bisa diperkirakan. Karena pada perkiraan terdapat kemungkinan lebih atau kurang, sehingga syarat berupa “sama rata” tidak dapat terpenuhi dalam kondisi ini.Adapun pendapat Imam Malik dan Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahumallah berpendapat bolehnya melakukan perkiraan dalam timbangan ketika ada kebutuhan.Mereka berdalil bahwa syariat terkadang menjadikan ijtihad dan perkiraan sebagai pengganti ilmu yang pasti. Mereka juga meng-qiyaskan dengan akad ‘araya, yaitu ketika kurma basah yang masih di pohon sulit untuk diketahui ukuran yang pasti. Sehingga caranya adalah dengan diperkirakan taksiran kadarnya untuk ditukar dengan kurma kering yang telah diketahui ukurannya.Dan pendapat ini lebih kuat dalam kondisi ketika dibutuhkan. Sebab terdapat suatu kaidah,الأَمْرُ إِذَا ضَاقَ اِتَّسَعَ“Ketika suatu urusan menjadi sempit, (syariat) memberikan kelonggaran.” Ketiga: Di antara hal yang penting dalam pembahasan ini yaitu, ketika barang yang ditakar atau ditimbang dijual dengan barang yang berbeda jenis.Dalam hal ini diperbolehkan menggunakan ukuran standar selain asalnya, baik dengan takaran maupun timbangan. Karena syarat tamatsul (kesamaan) memang tidak berlaku ketika barang yang dipertukarkan berbeda jenis.Contohnya, satu kilogram gandum ditukar dengan satu kilogram jelai (sya’ir) yang pada asalnya kedua barang ini ditakar. Hal ini diperbolehkan, karena gandum dan jelai adalah dua jenis yang berbeda. Yang disyariatkan dalam hal ini hanyalah serah terima dilakukan secara tunai agar tidak terjadi riba nasi’ah (penundaan serah terima), sedangkan kesamaan kadar tidak disyaratkan jika jenis berbeda.Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 13 LANJUT KE BAGIAN 15***Depok, 20 Zulhijah 1447/ 6 Juni 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Pembahasan ini diambil dari kitab Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 191-193), dengan beberapa perubahan.[2] Al-Ijma’, no. 491 hal. 97.Referensi:– Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fiqih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, 2016.– An-Naisaburi, Muhammad bin Ibrahim bin al-Mundzir. Al-Ijma’. Di-tahqiq oleh Fuad Abdul Mun’im Ahmad. Cetakan ke-1. Riyadh: Dar al-Muslim, 1425 H/2004 M.
Daftar Isi ToggleKetentuan-ketentuan “sama rata” dalam takaran dan timbangan [1]Para ulama tidak berbeda pendapat tentang wajibnya sama rata dalam jual beli barang ribawi yang sejenis dan sama ‘illat-nyaStandar kesamaan (tamatsul)Di antara ketentuan pada riba buyu’ (jual beli) adalah wajibnya sama rata (tamatsul) dalam takaran dan timbangan. Hal ini khusus untuk barang yang sejenis. Seperti menukar emas dengan emas, kurma dengan kurma, gandum dengan gandum, dan yang lainnya.Sebagaimana yang sudah dijelaskan (pada tulisan Fikih Riba Bag. 9) bahwa pada keadaan ini, wajib sama rata dalam takaran dan timbangan. Jika tidak, maka dikhawatirkan akan terjatuh kepada riba fadhl.Ketentuan-ketentuan “sama rata” dalam takaran dan timbangan [1]Para ulama tidak berbeda pendapat tentang wajibnya sama rata dalam jual beli barang ribawi yang sejenis dan sama ‘illat-nyaAgar transaksi jual beli atau barter terealisasi secara sah, maka harus terwujud kesamaan sesuai standar syar’i. Yaitu, barang yang ditakar harus sama dalam takaran; dan barang yang ditimbang harus sama dalam timbangan. Karena jika tidak ada kesamarataan, akan masuk dalam kategori riba fadhl, dan riba fadhl membuat transaksi jual beli menjadi batal dan tidak sah.Dalam hadis ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ، وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ، وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ، وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ“Emas dengan emas adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya. Gandum dengan gandum adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya. Kurma dengan kurma adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya. Sya’ir dengan sya’ir (sejenis gandum) adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya.” (Muttafaqun ‘alaih)Secara realita, kita tidak dapat mengetahui lebih atau tidaknya antara barang ribawi yang ditukar melainkan dengan cara ditakar atau ditimbang.– Di antara kaidah yang disebutkan oleh para ulama pada permasalahan ini adalah,الجَهْلُ بِالتَّمَاثُلِ كَالْعِلْمِ بِالتَّفَاضُلِ“Ketidaktahuan tentang adanya kesamaan hukumnya seperti mengetahui adanya kelebihan.” Kaidah ini khusus dalam permasalahan ini saja. Maksud dari kaidah ini, tidak ada bedanya antara “mengetahui adanya kelebihan dalam penukaran” dengan “tidak mengetahui adanya kesamarataan dalam penukaran barang ribawi“. Oleh karena itu, jika dua orang yang bertransaksi tidak mengetahui adanya kesamarataan ketika melakukan transaksi tukar menukar barang ribawi yang sejenis dan sama ‘illat-nya, hal ini dapat menyebabkan terjatuh ke dalam riba fadhl.Mengapa? Karena tidak ada kepastian padanya, bisa jadi ada lebih di antara salah satu barang yang ditukar pada takaran atau timbangannya. Sedangkan syarat dalam tukar menukar barang yang sejenis dan sama ‘illat-nya itu diharuskan sama rata dalam takaran dan timbangan. Oleh karena itu, apabila seseorang menjual sebagian barang sejenis dengan sebagian lainnya secara jazaf (tanpa ditakar atau ditimbang secara pasti), atau salah satu dari dua barang yang ditukarkan diberikan secara jazaf, maka hal itu tidak diperbolehkan.Ibnul Mundzir rahimahullah berkata,وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ بَيْعَ الصُّبْرَةِ بِالصُّبْرَةِ مِنَ الطَّعَامِ غَيْرُ جَائِزٍ، إِذَا كَانَ مِنْ صِنْفٍ وَاحِدٍ“Para ulama telah bersepakat bahwa menjual satu tumpukan bahan makanan dengan tumpukan bahan makanan lainnya tidak diperbolehkan apabila keduanya berasal dari satu jenis yang sama.” [2]Hal ini berdasarkan hadis Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, نَهى رَسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم عن بَيعِ الصُّبرةِ مِنَ التَّمرِ، لا يُعلَمُ مَكيلَتُها، بالكَيلِ المُسَمَّى مِنَ التَّمرِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menjual satu tumpukan kurma yang tidak diketahui takarannya dengan sejumlah kurma yang telah diketahui takarannya.” (HR. Muslim)Baca juga: Riba dan PengertiannyaStandar kesamaan (tamatsul)Pertama: Perlu diketahui bahwasanya dalam hal ini ada dua kategori dalam standar kesamaan, yaitu barang ribawi yang ditakar dan barang ribawi yang ditimbang. Kebanyakan dari barang ribawi termasuk kategori yang berbeda antara takaran dan timbangan, sementara kesamaan disyaratkan ketika ditukar dengan jenisnya yang sama. Oleh karena itu, mayoritas ulama berpendapat tidak boleh menjual atau menukar kecuali dengan standar syar’i yang berlaku padanya. Maksudnya, barang yang ditakar ditukar dengan barang yang ditakar, dan yang ditimbang ditukar dengan barang yang ditimbang.Para ulama berkata, “Tidak boleh menjual barang yang asalnya ditakar dengan yang sejenis dengan cara ditimbang, dan tidak boleh menjual barang yang asalnya ditimbang dengan yang sejenis dengan cara ditakar.” Sebab, kesamaan pada barang yang ditakar harus diketahui melalui takaran, sedangkan kesamaan dalam barang yang ditimbang harus diketahui melalui timbangan.Contohnya, seseorang menukar 1 kg beras jenis A dengan 1 kg beras jenis B. Meskipun berat timbangannya sama-sama 1 kg, bisa jadi takaran beras jenis A lebih banyak daripada beras jenis B.Hal ini karena menurut pendapat jumhur (mayoritas) ulama, beras termasuk kategori barang yang standar ukurannya adalah takaran. Karenanya, kesamaan dalam pertukaran beras dengan beras tidak dapat dipastikan hanya dengan menimbangnya. Bisa jadi 1 kg beras jenis A setara dengan 1,5 liter; sedangkan 1 kg beras jenis B setara dengan 1,7 liter. Karena terdapat perbedaan dalam takaran, maka syarat kesamaan (tamatsul) tidak dapat dipastikan terpenuhi.Kedua: Para ulama berbeda pendapat tentang menjual barang ribawi yang ditimbang dengan jenis yang sama melalui perkiraan ketika ada kebutuhan atau kondisi yang mendesak.Maksud dari kebutuhan atau kondisi yang mendesak adalah ketika seseorang sedang safar atau ketika tidak ada timbangan di sisinya yang bisa digunakan untuk menimbang.Jumhur ulama dari kalangan mazhab Hanafi, Syafi’i, Hanbali, Zahiri, dan sebagian pendapat mazhab Maliki melarangnya. Dasarnya adalah hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu, لا تَبيعوا الذَّهَبَ بالذَّهَبِ، إلَّا مِثلًا بمِثلٍ، لا تُشِفُّوا بعضَها على بعضٍ“Janganlah kalian menjual emas dengan emas kecuali sama rata, dan janganlah kalian melebihkan sebagian atas sebagian yang lain.” (Muttafaqun ‘alaih)Menurut pendapat ini, timbangan tidak bisa diperkirakan. Karena pada perkiraan terdapat kemungkinan lebih atau kurang, sehingga syarat berupa “sama rata” tidak dapat terpenuhi dalam kondisi ini.Adapun pendapat Imam Malik dan Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahumallah berpendapat bolehnya melakukan perkiraan dalam timbangan ketika ada kebutuhan.Mereka berdalil bahwa syariat terkadang menjadikan ijtihad dan perkiraan sebagai pengganti ilmu yang pasti. Mereka juga meng-qiyaskan dengan akad ‘araya, yaitu ketika kurma basah yang masih di pohon sulit untuk diketahui ukuran yang pasti. Sehingga caranya adalah dengan diperkirakan taksiran kadarnya untuk ditukar dengan kurma kering yang telah diketahui ukurannya.Dan pendapat ini lebih kuat dalam kondisi ketika dibutuhkan. Sebab terdapat suatu kaidah,الأَمْرُ إِذَا ضَاقَ اِتَّسَعَ“Ketika suatu urusan menjadi sempit, (syariat) memberikan kelonggaran.” Ketiga: Di antara hal yang penting dalam pembahasan ini yaitu, ketika barang yang ditakar atau ditimbang dijual dengan barang yang berbeda jenis.Dalam hal ini diperbolehkan menggunakan ukuran standar selain asalnya, baik dengan takaran maupun timbangan. Karena syarat tamatsul (kesamaan) memang tidak berlaku ketika barang yang dipertukarkan berbeda jenis.Contohnya, satu kilogram gandum ditukar dengan satu kilogram jelai (sya’ir) yang pada asalnya kedua barang ini ditakar. Hal ini diperbolehkan, karena gandum dan jelai adalah dua jenis yang berbeda. Yang disyariatkan dalam hal ini hanyalah serah terima dilakukan secara tunai agar tidak terjadi riba nasi’ah (penundaan serah terima), sedangkan kesamaan kadar tidak disyaratkan jika jenis berbeda.Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 13 LANJUT KE BAGIAN 15***Depok, 20 Zulhijah 1447/ 6 Juni 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Pembahasan ini diambil dari kitab Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 191-193), dengan beberapa perubahan.[2] Al-Ijma’, no. 491 hal. 97.Referensi:– Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fiqih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, 2016.– An-Naisaburi, Muhammad bin Ibrahim bin al-Mundzir. Al-Ijma’. Di-tahqiq oleh Fuad Abdul Mun’im Ahmad. Cetakan ke-1. Riyadh: Dar al-Muslim, 1425 H/2004 M.


Daftar Isi ToggleKetentuan-ketentuan “sama rata” dalam takaran dan timbangan [1]Para ulama tidak berbeda pendapat tentang wajibnya sama rata dalam jual beli barang ribawi yang sejenis dan sama ‘illat-nyaStandar kesamaan (tamatsul)Di antara ketentuan pada riba buyu’ (jual beli) adalah wajibnya sama rata (tamatsul) dalam takaran dan timbangan. Hal ini khusus untuk barang yang sejenis. Seperti menukar emas dengan emas, kurma dengan kurma, gandum dengan gandum, dan yang lainnya.Sebagaimana yang sudah dijelaskan (pada tulisan Fikih Riba Bag. 9) bahwa pada keadaan ini, wajib sama rata dalam takaran dan timbangan. Jika tidak, maka dikhawatirkan akan terjatuh kepada riba fadhl.Ketentuan-ketentuan “sama rata” dalam takaran dan timbangan [1]Para ulama tidak berbeda pendapat tentang wajibnya sama rata dalam jual beli barang ribawi yang sejenis dan sama ‘illat-nyaAgar transaksi jual beli atau barter terealisasi secara sah, maka harus terwujud kesamaan sesuai standar syar’i. Yaitu, barang yang ditakar harus sama dalam takaran; dan barang yang ditimbang harus sama dalam timbangan. Karena jika tidak ada kesamarataan, akan masuk dalam kategori riba fadhl, dan riba fadhl membuat transaksi jual beli menjadi batal dan tidak sah.Dalam hadis ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ، وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ، وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ، وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ“Emas dengan emas adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya. Gandum dengan gandum adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya. Kurma dengan kurma adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya. Sya’ir dengan sya’ir (sejenis gandum) adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya.” (Muttafaqun ‘alaih)Secara realita, kita tidak dapat mengetahui lebih atau tidaknya antara barang ribawi yang ditukar melainkan dengan cara ditakar atau ditimbang.– Di antara kaidah yang disebutkan oleh para ulama pada permasalahan ini adalah,الجَهْلُ بِالتَّمَاثُلِ كَالْعِلْمِ بِالتَّفَاضُلِ“Ketidaktahuan tentang adanya kesamaan hukumnya seperti mengetahui adanya kelebihan.” Kaidah ini khusus dalam permasalahan ini saja. Maksud dari kaidah ini, tidak ada bedanya antara “mengetahui adanya kelebihan dalam penukaran” dengan “tidak mengetahui adanya kesamarataan dalam penukaran barang ribawi“. Oleh karena itu, jika dua orang yang bertransaksi tidak mengetahui adanya kesamarataan ketika melakukan transaksi tukar menukar barang ribawi yang sejenis dan sama ‘illat-nya, hal ini dapat menyebabkan terjatuh ke dalam riba fadhl.Mengapa? Karena tidak ada kepastian padanya, bisa jadi ada lebih di antara salah satu barang yang ditukar pada takaran atau timbangannya. Sedangkan syarat dalam tukar menukar barang yang sejenis dan sama ‘illat-nya itu diharuskan sama rata dalam takaran dan timbangan. Oleh karena itu, apabila seseorang menjual sebagian barang sejenis dengan sebagian lainnya secara jazaf (tanpa ditakar atau ditimbang secara pasti), atau salah satu dari dua barang yang ditukarkan diberikan secara jazaf, maka hal itu tidak diperbolehkan.Ibnul Mundzir rahimahullah berkata,وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ بَيْعَ الصُّبْرَةِ بِالصُّبْرَةِ مِنَ الطَّعَامِ غَيْرُ جَائِزٍ، إِذَا كَانَ مِنْ صِنْفٍ وَاحِدٍ“Para ulama telah bersepakat bahwa menjual satu tumpukan bahan makanan dengan tumpukan bahan makanan lainnya tidak diperbolehkan apabila keduanya berasal dari satu jenis yang sama.” [2]Hal ini berdasarkan hadis Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, نَهى رَسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم عن بَيعِ الصُّبرةِ مِنَ التَّمرِ، لا يُعلَمُ مَكيلَتُها، بالكَيلِ المُسَمَّى مِنَ التَّمرِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menjual satu tumpukan kurma yang tidak diketahui takarannya dengan sejumlah kurma yang telah diketahui takarannya.” (HR. Muslim)Baca juga: Riba dan PengertiannyaStandar kesamaan (tamatsul)Pertama: Perlu diketahui bahwasanya dalam hal ini ada dua kategori dalam standar kesamaan, yaitu barang ribawi yang ditakar dan barang ribawi yang ditimbang. Kebanyakan dari barang ribawi termasuk kategori yang berbeda antara takaran dan timbangan, sementara kesamaan disyaratkan ketika ditukar dengan jenisnya yang sama. Oleh karena itu, mayoritas ulama berpendapat tidak boleh menjual atau menukar kecuali dengan standar syar’i yang berlaku padanya. Maksudnya, barang yang ditakar ditukar dengan barang yang ditakar, dan yang ditimbang ditukar dengan barang yang ditimbang.Para ulama berkata, “Tidak boleh menjual barang yang asalnya ditakar dengan yang sejenis dengan cara ditimbang, dan tidak boleh menjual barang yang asalnya ditimbang dengan yang sejenis dengan cara ditakar.” Sebab, kesamaan pada barang yang ditakar harus diketahui melalui takaran, sedangkan kesamaan dalam barang yang ditimbang harus diketahui melalui timbangan.Contohnya, seseorang menukar 1 kg beras jenis A dengan 1 kg beras jenis B. Meskipun berat timbangannya sama-sama 1 kg, bisa jadi takaran beras jenis A lebih banyak daripada beras jenis B.Hal ini karena menurut pendapat jumhur (mayoritas) ulama, beras termasuk kategori barang yang standar ukurannya adalah takaran. Karenanya, kesamaan dalam pertukaran beras dengan beras tidak dapat dipastikan hanya dengan menimbangnya. Bisa jadi 1 kg beras jenis A setara dengan 1,5 liter; sedangkan 1 kg beras jenis B setara dengan 1,7 liter. Karena terdapat perbedaan dalam takaran, maka syarat kesamaan (tamatsul) tidak dapat dipastikan terpenuhi.Kedua: Para ulama berbeda pendapat tentang menjual barang ribawi yang ditimbang dengan jenis yang sama melalui perkiraan ketika ada kebutuhan atau kondisi yang mendesak.Maksud dari kebutuhan atau kondisi yang mendesak adalah ketika seseorang sedang safar atau ketika tidak ada timbangan di sisinya yang bisa digunakan untuk menimbang.Jumhur ulama dari kalangan mazhab Hanafi, Syafi’i, Hanbali, Zahiri, dan sebagian pendapat mazhab Maliki melarangnya. Dasarnya adalah hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu, لا تَبيعوا الذَّهَبَ بالذَّهَبِ، إلَّا مِثلًا بمِثلٍ، لا تُشِفُّوا بعضَها على بعضٍ“Janganlah kalian menjual emas dengan emas kecuali sama rata, dan janganlah kalian melebihkan sebagian atas sebagian yang lain.” (Muttafaqun ‘alaih)Menurut pendapat ini, timbangan tidak bisa diperkirakan. Karena pada perkiraan terdapat kemungkinan lebih atau kurang, sehingga syarat berupa “sama rata” tidak dapat terpenuhi dalam kondisi ini.Adapun pendapat Imam Malik dan Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahumallah berpendapat bolehnya melakukan perkiraan dalam timbangan ketika ada kebutuhan.Mereka berdalil bahwa syariat terkadang menjadikan ijtihad dan perkiraan sebagai pengganti ilmu yang pasti. Mereka juga meng-qiyaskan dengan akad ‘araya, yaitu ketika kurma basah yang masih di pohon sulit untuk diketahui ukuran yang pasti. Sehingga caranya adalah dengan diperkirakan taksiran kadarnya untuk ditukar dengan kurma kering yang telah diketahui ukurannya.Dan pendapat ini lebih kuat dalam kondisi ketika dibutuhkan. Sebab terdapat suatu kaidah,الأَمْرُ إِذَا ضَاقَ اِتَّسَعَ“Ketika suatu urusan menjadi sempit, (syariat) memberikan kelonggaran.” Ketiga: Di antara hal yang penting dalam pembahasan ini yaitu, ketika barang yang ditakar atau ditimbang dijual dengan barang yang berbeda jenis.Dalam hal ini diperbolehkan menggunakan ukuran standar selain asalnya, baik dengan takaran maupun timbangan. Karena syarat tamatsul (kesamaan) memang tidak berlaku ketika barang yang dipertukarkan berbeda jenis.Contohnya, satu kilogram gandum ditukar dengan satu kilogram jelai (sya’ir) yang pada asalnya kedua barang ini ditakar. Hal ini diperbolehkan, karena gandum dan jelai adalah dua jenis yang berbeda. Yang disyariatkan dalam hal ini hanyalah serah terima dilakukan secara tunai agar tidak terjadi riba nasi’ah (penundaan serah terima), sedangkan kesamaan kadar tidak disyaratkan jika jenis berbeda.Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 13 LANJUT KE BAGIAN 15***Depok, 20 Zulhijah 1447/ 6 Juni 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Pembahasan ini diambil dari kitab Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 191-193), dengan beberapa perubahan.[2] Al-Ijma’, no. 491 hal. 97.Referensi:– Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fiqih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, 2016.– An-Naisaburi, Muhammad bin Ibrahim bin al-Mundzir. Al-Ijma’. Di-tahqiq oleh Fuad Abdul Mun’im Ahmad. Cetakan ke-1. Riyadh: Dar al-Muslim, 1425 H/2004 M.

Tidak Semua Orang Mampu Rida dengan Musibah – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Derajat rida terhadap qada dan qadar adalah derajat yang sangat tinggi dan derajat yang mulia. Tidaklah seseorang diberi taufik untuk mencapainya, kecuali para wali Allah ‘Azza wa Jalla.Apa makna rida terhadap qada dan qadar? Rida terhadap qada dan qadar maknanya adalah keadaan seseorang setelah tertimpa musibah sama seperti keadaannya sebelum tertimpa musibah, dari sisi rida, tunduk, dan berserah kepada qada dan qadar Allah.Para ulama berbeda pendapat tentang hukum rida saat tertimpa musibah. Pendapat yang lebih kuat, sebagaimana dipilih oleh banyak ulama peneliti, adalah bahwa rida itu mustahab, bukan wajib. Sebab, kebanyakan manusia tidak mampu mencapai derajat ini. Seseorang tertimpa musibah besar, lalu tetap rida terhadap qada dan qadar Allah. Tidak ada yang mampu mencapai derajat itu kecuali orang yang kuat imannya. Mayoritas manusia tidak mampu sampai pada derajat ini.Maka, pendapat yang lebih kuat adalah bahwa rida itu mustahab, bukan wajib. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, dan sejumlah ulama peneliti. ===== مَرْتَبَةُ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ وَالْقَدَرِ هَذِهِ مَرْتَبَةٌ عَلِيَّةٌ وَمَرْتَبَةٌ رَفِيعَةٌ لَا يُوَفَّقُ لَهَا إِلَّا أَوْلِيَاءُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَا مَعْنَى الرِّضَا بِالْقَضَاءِ وَالْقَدَرِ؟ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ وَالْقَدَرِ مَعْنَاهُ أَنْ تَكُونَ حَالُ الْإِنْسَانِ بَعْدَ الْمُصِيبَةِ كَحَالِهِ قَبْلَ الْمُصِيبَةِ مِنْ جِهَةِ الرِّضَا وَالتَّسْلِيمِ وَالِاسْتِسْلَامِ لِقَضَاءِ اللَّهِ وَقَدَرِهِ وَاخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي حُكْمِ الرِّضَا بِالْمُصِيبَةِ وَالْقَوْلُ الرَّاجِحُ الَّذِي عَلَيْهِ كَثِيرٌ مِنَ الْمُحَقِّقِينَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ الرِّضَا مُسْتَحَبٌّ وَلَيْسَ وَاجِبًا لِأَنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَصِلَ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ إِنْسَانٌ يُصَابُ بِمُصِيبَةٍ عَظِيمَةٍ ثُمَّ يَرْضَى بِقَضَاءِ اللَّهِ وَقَدَرِهِ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهِ إِلَّا قَوِيُّ الْإِيمَانِ أَكْثَرُ النَّاسِ مَا يَسْتَطِيعُونَ الْوُصُولَ لِهَذِهِ الْمَرْتَبَةِ فَالْقَوْلُ الرَّاجِحُ أَنَّهَا أَنَّ الرِّضَا مُسْتَحَبٌّ وَلَيْسَ وَاجِبًا اخْتَارَ هَذَا ابْنُ تَيْمِيَّةَ وَابْنُ الْقَيِّمُ وَجَمْعٌ مِنَ الْمُحَقِّقِينَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ

Tidak Semua Orang Mampu Rida dengan Musibah – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Derajat rida terhadap qada dan qadar adalah derajat yang sangat tinggi dan derajat yang mulia. Tidaklah seseorang diberi taufik untuk mencapainya, kecuali para wali Allah ‘Azza wa Jalla.Apa makna rida terhadap qada dan qadar? Rida terhadap qada dan qadar maknanya adalah keadaan seseorang setelah tertimpa musibah sama seperti keadaannya sebelum tertimpa musibah, dari sisi rida, tunduk, dan berserah kepada qada dan qadar Allah.Para ulama berbeda pendapat tentang hukum rida saat tertimpa musibah. Pendapat yang lebih kuat, sebagaimana dipilih oleh banyak ulama peneliti, adalah bahwa rida itu mustahab, bukan wajib. Sebab, kebanyakan manusia tidak mampu mencapai derajat ini. Seseorang tertimpa musibah besar, lalu tetap rida terhadap qada dan qadar Allah. Tidak ada yang mampu mencapai derajat itu kecuali orang yang kuat imannya. Mayoritas manusia tidak mampu sampai pada derajat ini.Maka, pendapat yang lebih kuat adalah bahwa rida itu mustahab, bukan wajib. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, dan sejumlah ulama peneliti. ===== مَرْتَبَةُ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ وَالْقَدَرِ هَذِهِ مَرْتَبَةٌ عَلِيَّةٌ وَمَرْتَبَةٌ رَفِيعَةٌ لَا يُوَفَّقُ لَهَا إِلَّا أَوْلِيَاءُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَا مَعْنَى الرِّضَا بِالْقَضَاءِ وَالْقَدَرِ؟ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ وَالْقَدَرِ مَعْنَاهُ أَنْ تَكُونَ حَالُ الْإِنْسَانِ بَعْدَ الْمُصِيبَةِ كَحَالِهِ قَبْلَ الْمُصِيبَةِ مِنْ جِهَةِ الرِّضَا وَالتَّسْلِيمِ وَالِاسْتِسْلَامِ لِقَضَاءِ اللَّهِ وَقَدَرِهِ وَاخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي حُكْمِ الرِّضَا بِالْمُصِيبَةِ وَالْقَوْلُ الرَّاجِحُ الَّذِي عَلَيْهِ كَثِيرٌ مِنَ الْمُحَقِّقِينَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ الرِّضَا مُسْتَحَبٌّ وَلَيْسَ وَاجِبًا لِأَنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَصِلَ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ إِنْسَانٌ يُصَابُ بِمُصِيبَةٍ عَظِيمَةٍ ثُمَّ يَرْضَى بِقَضَاءِ اللَّهِ وَقَدَرِهِ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهِ إِلَّا قَوِيُّ الْإِيمَانِ أَكْثَرُ النَّاسِ مَا يَسْتَطِيعُونَ الْوُصُولَ لِهَذِهِ الْمَرْتَبَةِ فَالْقَوْلُ الرَّاجِحُ أَنَّهَا أَنَّ الرِّضَا مُسْتَحَبٌّ وَلَيْسَ وَاجِبًا اخْتَارَ هَذَا ابْنُ تَيْمِيَّةَ وَابْنُ الْقَيِّمُ وَجَمْعٌ مِنَ الْمُحَقِّقِينَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ
Derajat rida terhadap qada dan qadar adalah derajat yang sangat tinggi dan derajat yang mulia. Tidaklah seseorang diberi taufik untuk mencapainya, kecuali para wali Allah ‘Azza wa Jalla.Apa makna rida terhadap qada dan qadar? Rida terhadap qada dan qadar maknanya adalah keadaan seseorang setelah tertimpa musibah sama seperti keadaannya sebelum tertimpa musibah, dari sisi rida, tunduk, dan berserah kepada qada dan qadar Allah.Para ulama berbeda pendapat tentang hukum rida saat tertimpa musibah. Pendapat yang lebih kuat, sebagaimana dipilih oleh banyak ulama peneliti, adalah bahwa rida itu mustahab, bukan wajib. Sebab, kebanyakan manusia tidak mampu mencapai derajat ini. Seseorang tertimpa musibah besar, lalu tetap rida terhadap qada dan qadar Allah. Tidak ada yang mampu mencapai derajat itu kecuali orang yang kuat imannya. Mayoritas manusia tidak mampu sampai pada derajat ini.Maka, pendapat yang lebih kuat adalah bahwa rida itu mustahab, bukan wajib. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, dan sejumlah ulama peneliti. ===== مَرْتَبَةُ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ وَالْقَدَرِ هَذِهِ مَرْتَبَةٌ عَلِيَّةٌ وَمَرْتَبَةٌ رَفِيعَةٌ لَا يُوَفَّقُ لَهَا إِلَّا أَوْلِيَاءُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَا مَعْنَى الرِّضَا بِالْقَضَاءِ وَالْقَدَرِ؟ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ وَالْقَدَرِ مَعْنَاهُ أَنْ تَكُونَ حَالُ الْإِنْسَانِ بَعْدَ الْمُصِيبَةِ كَحَالِهِ قَبْلَ الْمُصِيبَةِ مِنْ جِهَةِ الرِّضَا وَالتَّسْلِيمِ وَالِاسْتِسْلَامِ لِقَضَاءِ اللَّهِ وَقَدَرِهِ وَاخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي حُكْمِ الرِّضَا بِالْمُصِيبَةِ وَالْقَوْلُ الرَّاجِحُ الَّذِي عَلَيْهِ كَثِيرٌ مِنَ الْمُحَقِّقِينَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ الرِّضَا مُسْتَحَبٌّ وَلَيْسَ وَاجِبًا لِأَنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَصِلَ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ إِنْسَانٌ يُصَابُ بِمُصِيبَةٍ عَظِيمَةٍ ثُمَّ يَرْضَى بِقَضَاءِ اللَّهِ وَقَدَرِهِ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهِ إِلَّا قَوِيُّ الْإِيمَانِ أَكْثَرُ النَّاسِ مَا يَسْتَطِيعُونَ الْوُصُولَ لِهَذِهِ الْمَرْتَبَةِ فَالْقَوْلُ الرَّاجِحُ أَنَّهَا أَنَّ الرِّضَا مُسْتَحَبٌّ وَلَيْسَ وَاجِبًا اخْتَارَ هَذَا ابْنُ تَيْمِيَّةَ وَابْنُ الْقَيِّمُ وَجَمْعٌ مِنَ الْمُحَقِّقِينَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ


Derajat rida terhadap qada dan qadar adalah derajat yang sangat tinggi dan derajat yang mulia. Tidaklah seseorang diberi taufik untuk mencapainya, kecuali para wali Allah ‘Azza wa Jalla.Apa makna rida terhadap qada dan qadar? Rida terhadap qada dan qadar maknanya adalah keadaan seseorang setelah tertimpa musibah sama seperti keadaannya sebelum tertimpa musibah, dari sisi rida, tunduk, dan berserah kepada qada dan qadar Allah.Para ulama berbeda pendapat tentang hukum rida saat tertimpa musibah. Pendapat yang lebih kuat, sebagaimana dipilih oleh banyak ulama peneliti, adalah bahwa rida itu mustahab, bukan wajib. Sebab, kebanyakan manusia tidak mampu mencapai derajat ini. Seseorang tertimpa musibah besar, lalu tetap rida terhadap qada dan qadar Allah. Tidak ada yang mampu mencapai derajat itu kecuali orang yang kuat imannya. Mayoritas manusia tidak mampu sampai pada derajat ini.Maka, pendapat yang lebih kuat adalah bahwa rida itu mustahab, bukan wajib. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, dan sejumlah ulama peneliti. ===== مَرْتَبَةُ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ وَالْقَدَرِ هَذِهِ مَرْتَبَةٌ عَلِيَّةٌ وَمَرْتَبَةٌ رَفِيعَةٌ لَا يُوَفَّقُ لَهَا إِلَّا أَوْلِيَاءُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَا مَعْنَى الرِّضَا بِالْقَضَاءِ وَالْقَدَرِ؟ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ وَالْقَدَرِ مَعْنَاهُ أَنْ تَكُونَ حَالُ الْإِنْسَانِ بَعْدَ الْمُصِيبَةِ كَحَالِهِ قَبْلَ الْمُصِيبَةِ مِنْ جِهَةِ الرِّضَا وَالتَّسْلِيمِ وَالِاسْتِسْلَامِ لِقَضَاءِ اللَّهِ وَقَدَرِهِ وَاخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي حُكْمِ الرِّضَا بِالْمُصِيبَةِ وَالْقَوْلُ الرَّاجِحُ الَّذِي عَلَيْهِ كَثِيرٌ مِنَ الْمُحَقِّقِينَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ الرِّضَا مُسْتَحَبٌّ وَلَيْسَ وَاجِبًا لِأَنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَصِلَ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ إِنْسَانٌ يُصَابُ بِمُصِيبَةٍ عَظِيمَةٍ ثُمَّ يَرْضَى بِقَضَاءِ اللَّهِ وَقَدَرِهِ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهِ إِلَّا قَوِيُّ الْإِيمَانِ أَكْثَرُ النَّاسِ مَا يَسْتَطِيعُونَ الْوُصُولَ لِهَذِهِ الْمَرْتَبَةِ فَالْقَوْلُ الرَّاجِحُ أَنَّهَا أَنَّ الرِّضَا مُسْتَحَبٌّ وَلَيْسَ وَاجِبًا اخْتَارَ هَذَا ابْنُ تَيْمِيَّةَ وَابْنُ الْقَيِّمُ وَجَمْعٌ مِنَ الْمُحَقِّقِينَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ

Fikih Akikah (Bag. 2): Waktu, Tempat, dan Pihak yang Menanggung Akikah

Daftar Isi ToggleWaktu pelaksanaan akikahTempat penyembelihan akikahSiapa yang melakukan dan menanggung akikah?Apakah seseorang yang masuk Islam perlu melaksanakan akikah untuk dirinya sendiri dan anak-anaknya?Apakah seseorang harus melakukan akikah lagi untuk dirinya sendiri jika ia mengubah namanya?Bagaimana hukum akikah untuk anak yang terlantar?Bagaimana hukum akikah untuk anak yang lahir di luar nikah?Waktu pelaksanaan akikahWaktu akikah disunahkan untuk dilaksanakan pada hari ketujuh setelah bayi tersebut lahir. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Sunahnya adalah menyembelihnya pada hari ketujuh, dan tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama mengenai hal ini berdasarkan hadis Samurah [1].” [2]Jika dianjurkan dilaksanakan pada hari ketujuh, apakah hari kelahiran termasuk dalam hitungannya? Terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama mengenai masalah ini. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa hari kelahiran dihitung. An-Nawawi rahimahullah berkata, “Ada dua pendapat. Pendapat pertama yang lebih sahih adalah hari kelahiran dihitung dan kurban dilaksanakan pada hari ketujuh. Pendapat kedua yaitu dilaksanakan pada hari setelah hari ketujuh. Ini adalah pendapat yang dipegang oleh Al-Buwayti (salah satu murid utama Imam Asy-Syafi’i) dan mazhab Maliki [3]. Namun, pendapat pertama lebih disukai karena didukung oleh makna hadis yang jelas. Apabila anak lahir pada malam hari, maka hari pertama dihitung pada malam itu, dan hal ini tidak ada perbedaan pendapat [4].” Pendapat pertama sejalan dengan Eksilopedia Fikih (30: 279) dan pendapat Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah [5]. Ini adalah masalah pilihan. Jika memungkinkan, lakukan akikah pada hari ketujuh setelah kelahiran anak. Jika tidak memungkinkan hingga setelah hari ketujuh, tidak ada salahnya dan akikah tersebut tetap sah.An-Nawawi rahimahullah berkata, “Jika dilakukan setelah atau sesudah hari ketujuh dan setelah kelahiran langsung, maka sah. Namun, jika dilakukan sebelum kelahiran, maka tidak sah; tidak ada perbedaan pendapat mengenai hal ini dan dianggap hanya sebagai daging biasa (bukan daging akikah).” [6]Tempat penyembelihan akikahPara ulama berbeda pendapat mengenai tempat yang paling baik untuk menyembelih akikah. Apakah lebih baik menyembelihnya di kampung halaman (daerah asal) atau di tempat orang tua jika tinggal di tempat lain, misalnya ayah dan anaknya tinggal di tempat yang berbeda? Misalnya, ayah bekerja di Saudi Arabia, sedangkan anak lahir di Indonesia.Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah menyatakan, “Ada kemungkinan akikah tersebut disembelih di kampung halaman anak tersebut, dengan qiyas (analogi) zakat fitrah yang dibayarkan di negara tempat orang tersebut tinggal. Namun, pendapat yang dipilih ialah menyembelih akikah di tempat orang (orang tua/ayahnya) yang melaksanakan akikah, karena merekalah yang berkewajiban melaksanakannya.” [7]Syekh Ibnu Jibriin rahimahullah berpendapat bahwa lebih baik menyembelihnya di tempat anaknya. Ketika beliau ditanya: haruskah hewan akikah disembelih di negara orang tua tinggal atau di negara tempat anak dilahirkan? Lalu ia meminta bukti jika ada. Ia menjawab, “Sebaiknya dilakukan di negara tempat anak berada. Jika ayah berada di negara lain, ia harus mengirimkan uang untuk akikah, menunjuk seseorang untuk menyembelihnya, serta mengundang orang lain agar doanya lebih dekat dengan bayinya dan memberikan barokah kepadanya, dan seterusnya.“ [8] [9]Diperbolehkan juga menyembelih satu ekor domba di satu negara dan satu ekor lain di negara lain untuk bersuka cita atas keluarganya. [10]Siapa yang melakukan dan menanggung akikah?Prinsip umumnya yaitu akikah dilakukan dan dibayar oleh ayah dari anak itu sendiri, bukan ditanggung oleh ibunya atau uang anaknya. Hal ini karena ayah adalah orang pertama yang disebut dalam hadis-hadis yang berkaitan dengan akikah. Namun, para ulama menyatakan bahwa diperbolehkan bagi seseorang selain ayah untuk menanggung dan melakukan akikah dalam kasus-kasus sebagai berikut:1) Jika ayah lalai dan menolak untuk melaksanakan akikah;2) Jika seseorang meminta izin kepada ayah bayi tersebut untuk melakukan akikah atas bayi tersebut, dan sang ayah mengizinkannya.Dalil yang menunjukkan hal tersebut berasal dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,عَقَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا بِكَبْشَيْنِ كَبْشَيْنِ“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menyembelih (akikah) untuk Hasan dan Husain radhiyallahu ‘anhuma, masing-masing dengan dua ekor domba jantan.” [11]Fakta bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan akikah untuk kedua cucunya merupakan bukti bahwa seorang kerabat selain ayah diperbolehkan melakukan akikah jika mendapat izin dari ayahnya.Apabila seorang ibu sudah bercerai, maka tidak diwajibkan untuk melaksanakan akikah bagi anaknya, tetapi dianjurkan baginya untuk melakukannya apabila sang ayah menolak melakukannya atau tidak mampu karena jarak atau ketidaktahuan tentang kelahiran dan sebagainya. Allah Ta’ala yang akan mencatat pahala dan balasan. [12]Apakah seseorang yang masuk Islam perlu melaksanakan akikah untuk dirinya sendiri dan anak-anaknya?Jika seseorang masuk Islam, tidak ada salahnya melaksanakan akikah untuk dirinya sendiri, jika dia mau; dan begitu pula untuk anak-anaknya yang masuk Islam jika dia mampu secara finansial. Hal ini karena hikmah di baliknya adalah untuk mencari kesejahteraan anak, membebaskannya dari belenggu setan, melindunginya dari setan, dan hal ini tidak dapat dicapai bagi orang kafir. [13]Apakah seseorang harus melakukan akikah lagi untuk dirinya sendiri jika ia mengubah namanya?Mengubah nama tidak mengharuskan seseorang melakukan akikah lagi. Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Mengubah nama itu diperbolehkan, dan lebih baik jika mengubah nama yang tidak pantas.” Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam memperbolehkan mengubah nama. Hal ini tidak mengharuskan seseorang untuk mengulang akikah, sebagaimana pemahaman keliru yang diyakini oleh sebagian orang awam. [14]Bagaimana hukum akikah untuk anak yang terlantar?Abdurrahman Al-Barrak hafizahullah ketika ditanya mengenai hal ini menyatakan, “Ya, dianjurkan untuk melaksanakan akikah karena bermanfaat dan tidak membahayakannya. Ini adalah bagian dari kebaikanmu kepadanya dan mungkin akan menjadi sebab kesalehannya.” [15]Bagaimana hukum akikah untuk anak yang lahir di luar nikah?Sunah menganjurkan akikah untuk semua bayi yang baru lahir tanpa terkecuali, dan anak yang lahir di luar nikah termasuk dalam keumuman hadis-hadis ini sehingga akikah harus dilakukan untuknya. Karena akikah ini merupakan tanggung jawab ibunya, maka ibunyalah yang harus melaksanakan akikah. Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ketika ditanya mengenai ini menjawab, “Ya, diperbolehkan bagi seorang ibu melaksanakan akikah. Dianjurkan agar ia melaksanakannya untuk anaknya dan ia wajib menafkahi anaknya jika mampu. Jika ia tidak mampu, anaknya harus diasuh oleh wali yang disediakan oleh negara. Jika ia mampu, ia harus membesarkannya, memperlakukannya dengan baik, dan melaksanakan akikah untuknya. Ia wajib membesarkannya dan bertobat kepada Allah atas apa yang telah dilakukannya, dan anaknya dinasabkan kepada ibunya.” [16]Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penulis: Luqman Hasan NahariArtikel Muslim.or.id Sumber: Diterjemahkan dari islamqa.info pada bab hukum-hukum akikah.Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2455) dan disahihkan oleh al-Albani.[2] Al-Mughni, 9: 364.[3] Al-Taj wa al-Iklil, 4: 390.[4] Al-Majmu’, 8: 411.[5] Asy-Syarh al-Mumti’, 7: 493.[6] Al-Majmu’, 8: 411.[7] Al-Fatawa al-Kubra, 4: 257.[8] http://www.ibn-jebreen.com/ftawa.php?view=vmasal&subid=5369[9] Lihat islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 132524 dan 202306.[10] Lihat islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 134931.[11] Diriwayatkan oleh An-Nasa’i (no. 4219) dan disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih An-Nasa’i.[12] Lihat islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 162811, 85392.[13] Lihat islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 201479, 12448.[14] Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 10: 850. Lihat juga islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 134931.[15] Lihat islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 262636.[16] Majmu’ Fatawa Syaikh Abdul Aziz bin Baz (28: 124). Lihat juga islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 228538.

Fikih Akikah (Bag. 2): Waktu, Tempat, dan Pihak yang Menanggung Akikah

Daftar Isi ToggleWaktu pelaksanaan akikahTempat penyembelihan akikahSiapa yang melakukan dan menanggung akikah?Apakah seseorang yang masuk Islam perlu melaksanakan akikah untuk dirinya sendiri dan anak-anaknya?Apakah seseorang harus melakukan akikah lagi untuk dirinya sendiri jika ia mengubah namanya?Bagaimana hukum akikah untuk anak yang terlantar?Bagaimana hukum akikah untuk anak yang lahir di luar nikah?Waktu pelaksanaan akikahWaktu akikah disunahkan untuk dilaksanakan pada hari ketujuh setelah bayi tersebut lahir. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Sunahnya adalah menyembelihnya pada hari ketujuh, dan tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama mengenai hal ini berdasarkan hadis Samurah [1].” [2]Jika dianjurkan dilaksanakan pada hari ketujuh, apakah hari kelahiran termasuk dalam hitungannya? Terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama mengenai masalah ini. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa hari kelahiran dihitung. An-Nawawi rahimahullah berkata, “Ada dua pendapat. Pendapat pertama yang lebih sahih adalah hari kelahiran dihitung dan kurban dilaksanakan pada hari ketujuh. Pendapat kedua yaitu dilaksanakan pada hari setelah hari ketujuh. Ini adalah pendapat yang dipegang oleh Al-Buwayti (salah satu murid utama Imam Asy-Syafi’i) dan mazhab Maliki [3]. Namun, pendapat pertama lebih disukai karena didukung oleh makna hadis yang jelas. Apabila anak lahir pada malam hari, maka hari pertama dihitung pada malam itu, dan hal ini tidak ada perbedaan pendapat [4].” Pendapat pertama sejalan dengan Eksilopedia Fikih (30: 279) dan pendapat Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah [5]. Ini adalah masalah pilihan. Jika memungkinkan, lakukan akikah pada hari ketujuh setelah kelahiran anak. Jika tidak memungkinkan hingga setelah hari ketujuh, tidak ada salahnya dan akikah tersebut tetap sah.An-Nawawi rahimahullah berkata, “Jika dilakukan setelah atau sesudah hari ketujuh dan setelah kelahiran langsung, maka sah. Namun, jika dilakukan sebelum kelahiran, maka tidak sah; tidak ada perbedaan pendapat mengenai hal ini dan dianggap hanya sebagai daging biasa (bukan daging akikah).” [6]Tempat penyembelihan akikahPara ulama berbeda pendapat mengenai tempat yang paling baik untuk menyembelih akikah. Apakah lebih baik menyembelihnya di kampung halaman (daerah asal) atau di tempat orang tua jika tinggal di tempat lain, misalnya ayah dan anaknya tinggal di tempat yang berbeda? Misalnya, ayah bekerja di Saudi Arabia, sedangkan anak lahir di Indonesia.Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah menyatakan, “Ada kemungkinan akikah tersebut disembelih di kampung halaman anak tersebut, dengan qiyas (analogi) zakat fitrah yang dibayarkan di negara tempat orang tersebut tinggal. Namun, pendapat yang dipilih ialah menyembelih akikah di tempat orang (orang tua/ayahnya) yang melaksanakan akikah, karena merekalah yang berkewajiban melaksanakannya.” [7]Syekh Ibnu Jibriin rahimahullah berpendapat bahwa lebih baik menyembelihnya di tempat anaknya. Ketika beliau ditanya: haruskah hewan akikah disembelih di negara orang tua tinggal atau di negara tempat anak dilahirkan? Lalu ia meminta bukti jika ada. Ia menjawab, “Sebaiknya dilakukan di negara tempat anak berada. Jika ayah berada di negara lain, ia harus mengirimkan uang untuk akikah, menunjuk seseorang untuk menyembelihnya, serta mengundang orang lain agar doanya lebih dekat dengan bayinya dan memberikan barokah kepadanya, dan seterusnya.“ [8] [9]Diperbolehkan juga menyembelih satu ekor domba di satu negara dan satu ekor lain di negara lain untuk bersuka cita atas keluarganya. [10]Siapa yang melakukan dan menanggung akikah?Prinsip umumnya yaitu akikah dilakukan dan dibayar oleh ayah dari anak itu sendiri, bukan ditanggung oleh ibunya atau uang anaknya. Hal ini karena ayah adalah orang pertama yang disebut dalam hadis-hadis yang berkaitan dengan akikah. Namun, para ulama menyatakan bahwa diperbolehkan bagi seseorang selain ayah untuk menanggung dan melakukan akikah dalam kasus-kasus sebagai berikut:1) Jika ayah lalai dan menolak untuk melaksanakan akikah;2) Jika seseorang meminta izin kepada ayah bayi tersebut untuk melakukan akikah atas bayi tersebut, dan sang ayah mengizinkannya.Dalil yang menunjukkan hal tersebut berasal dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,عَقَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا بِكَبْشَيْنِ كَبْشَيْنِ“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menyembelih (akikah) untuk Hasan dan Husain radhiyallahu ‘anhuma, masing-masing dengan dua ekor domba jantan.” [11]Fakta bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan akikah untuk kedua cucunya merupakan bukti bahwa seorang kerabat selain ayah diperbolehkan melakukan akikah jika mendapat izin dari ayahnya.Apabila seorang ibu sudah bercerai, maka tidak diwajibkan untuk melaksanakan akikah bagi anaknya, tetapi dianjurkan baginya untuk melakukannya apabila sang ayah menolak melakukannya atau tidak mampu karena jarak atau ketidaktahuan tentang kelahiran dan sebagainya. Allah Ta’ala yang akan mencatat pahala dan balasan. [12]Apakah seseorang yang masuk Islam perlu melaksanakan akikah untuk dirinya sendiri dan anak-anaknya?Jika seseorang masuk Islam, tidak ada salahnya melaksanakan akikah untuk dirinya sendiri, jika dia mau; dan begitu pula untuk anak-anaknya yang masuk Islam jika dia mampu secara finansial. Hal ini karena hikmah di baliknya adalah untuk mencari kesejahteraan anak, membebaskannya dari belenggu setan, melindunginya dari setan, dan hal ini tidak dapat dicapai bagi orang kafir. [13]Apakah seseorang harus melakukan akikah lagi untuk dirinya sendiri jika ia mengubah namanya?Mengubah nama tidak mengharuskan seseorang melakukan akikah lagi. Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Mengubah nama itu diperbolehkan, dan lebih baik jika mengubah nama yang tidak pantas.” Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam memperbolehkan mengubah nama. Hal ini tidak mengharuskan seseorang untuk mengulang akikah, sebagaimana pemahaman keliru yang diyakini oleh sebagian orang awam. [14]Bagaimana hukum akikah untuk anak yang terlantar?Abdurrahman Al-Barrak hafizahullah ketika ditanya mengenai hal ini menyatakan, “Ya, dianjurkan untuk melaksanakan akikah karena bermanfaat dan tidak membahayakannya. Ini adalah bagian dari kebaikanmu kepadanya dan mungkin akan menjadi sebab kesalehannya.” [15]Bagaimana hukum akikah untuk anak yang lahir di luar nikah?Sunah menganjurkan akikah untuk semua bayi yang baru lahir tanpa terkecuali, dan anak yang lahir di luar nikah termasuk dalam keumuman hadis-hadis ini sehingga akikah harus dilakukan untuknya. Karena akikah ini merupakan tanggung jawab ibunya, maka ibunyalah yang harus melaksanakan akikah. Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ketika ditanya mengenai ini menjawab, “Ya, diperbolehkan bagi seorang ibu melaksanakan akikah. Dianjurkan agar ia melaksanakannya untuk anaknya dan ia wajib menafkahi anaknya jika mampu. Jika ia tidak mampu, anaknya harus diasuh oleh wali yang disediakan oleh negara. Jika ia mampu, ia harus membesarkannya, memperlakukannya dengan baik, dan melaksanakan akikah untuknya. Ia wajib membesarkannya dan bertobat kepada Allah atas apa yang telah dilakukannya, dan anaknya dinasabkan kepada ibunya.” [16]Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penulis: Luqman Hasan NahariArtikel Muslim.or.id Sumber: Diterjemahkan dari islamqa.info pada bab hukum-hukum akikah.Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2455) dan disahihkan oleh al-Albani.[2] Al-Mughni, 9: 364.[3] Al-Taj wa al-Iklil, 4: 390.[4] Al-Majmu’, 8: 411.[5] Asy-Syarh al-Mumti’, 7: 493.[6] Al-Majmu’, 8: 411.[7] Al-Fatawa al-Kubra, 4: 257.[8] http://www.ibn-jebreen.com/ftawa.php?view=vmasal&subid=5369[9] Lihat islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 132524 dan 202306.[10] Lihat islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 134931.[11] Diriwayatkan oleh An-Nasa’i (no. 4219) dan disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih An-Nasa’i.[12] Lihat islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 162811, 85392.[13] Lihat islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 201479, 12448.[14] Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 10: 850. Lihat juga islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 134931.[15] Lihat islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 262636.[16] Majmu’ Fatawa Syaikh Abdul Aziz bin Baz (28: 124). Lihat juga islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 228538.
Daftar Isi ToggleWaktu pelaksanaan akikahTempat penyembelihan akikahSiapa yang melakukan dan menanggung akikah?Apakah seseorang yang masuk Islam perlu melaksanakan akikah untuk dirinya sendiri dan anak-anaknya?Apakah seseorang harus melakukan akikah lagi untuk dirinya sendiri jika ia mengubah namanya?Bagaimana hukum akikah untuk anak yang terlantar?Bagaimana hukum akikah untuk anak yang lahir di luar nikah?Waktu pelaksanaan akikahWaktu akikah disunahkan untuk dilaksanakan pada hari ketujuh setelah bayi tersebut lahir. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Sunahnya adalah menyembelihnya pada hari ketujuh, dan tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama mengenai hal ini berdasarkan hadis Samurah [1].” [2]Jika dianjurkan dilaksanakan pada hari ketujuh, apakah hari kelahiran termasuk dalam hitungannya? Terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama mengenai masalah ini. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa hari kelahiran dihitung. An-Nawawi rahimahullah berkata, “Ada dua pendapat. Pendapat pertama yang lebih sahih adalah hari kelahiran dihitung dan kurban dilaksanakan pada hari ketujuh. Pendapat kedua yaitu dilaksanakan pada hari setelah hari ketujuh. Ini adalah pendapat yang dipegang oleh Al-Buwayti (salah satu murid utama Imam Asy-Syafi’i) dan mazhab Maliki [3]. Namun, pendapat pertama lebih disukai karena didukung oleh makna hadis yang jelas. Apabila anak lahir pada malam hari, maka hari pertama dihitung pada malam itu, dan hal ini tidak ada perbedaan pendapat [4].” Pendapat pertama sejalan dengan Eksilopedia Fikih (30: 279) dan pendapat Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah [5]. Ini adalah masalah pilihan. Jika memungkinkan, lakukan akikah pada hari ketujuh setelah kelahiran anak. Jika tidak memungkinkan hingga setelah hari ketujuh, tidak ada salahnya dan akikah tersebut tetap sah.An-Nawawi rahimahullah berkata, “Jika dilakukan setelah atau sesudah hari ketujuh dan setelah kelahiran langsung, maka sah. Namun, jika dilakukan sebelum kelahiran, maka tidak sah; tidak ada perbedaan pendapat mengenai hal ini dan dianggap hanya sebagai daging biasa (bukan daging akikah).” [6]Tempat penyembelihan akikahPara ulama berbeda pendapat mengenai tempat yang paling baik untuk menyembelih akikah. Apakah lebih baik menyembelihnya di kampung halaman (daerah asal) atau di tempat orang tua jika tinggal di tempat lain, misalnya ayah dan anaknya tinggal di tempat yang berbeda? Misalnya, ayah bekerja di Saudi Arabia, sedangkan anak lahir di Indonesia.Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah menyatakan, “Ada kemungkinan akikah tersebut disembelih di kampung halaman anak tersebut, dengan qiyas (analogi) zakat fitrah yang dibayarkan di negara tempat orang tersebut tinggal. Namun, pendapat yang dipilih ialah menyembelih akikah di tempat orang (orang tua/ayahnya) yang melaksanakan akikah, karena merekalah yang berkewajiban melaksanakannya.” [7]Syekh Ibnu Jibriin rahimahullah berpendapat bahwa lebih baik menyembelihnya di tempat anaknya. Ketika beliau ditanya: haruskah hewan akikah disembelih di negara orang tua tinggal atau di negara tempat anak dilahirkan? Lalu ia meminta bukti jika ada. Ia menjawab, “Sebaiknya dilakukan di negara tempat anak berada. Jika ayah berada di negara lain, ia harus mengirimkan uang untuk akikah, menunjuk seseorang untuk menyembelihnya, serta mengundang orang lain agar doanya lebih dekat dengan bayinya dan memberikan barokah kepadanya, dan seterusnya.“ [8] [9]Diperbolehkan juga menyembelih satu ekor domba di satu negara dan satu ekor lain di negara lain untuk bersuka cita atas keluarganya. [10]Siapa yang melakukan dan menanggung akikah?Prinsip umumnya yaitu akikah dilakukan dan dibayar oleh ayah dari anak itu sendiri, bukan ditanggung oleh ibunya atau uang anaknya. Hal ini karena ayah adalah orang pertama yang disebut dalam hadis-hadis yang berkaitan dengan akikah. Namun, para ulama menyatakan bahwa diperbolehkan bagi seseorang selain ayah untuk menanggung dan melakukan akikah dalam kasus-kasus sebagai berikut:1) Jika ayah lalai dan menolak untuk melaksanakan akikah;2) Jika seseorang meminta izin kepada ayah bayi tersebut untuk melakukan akikah atas bayi tersebut, dan sang ayah mengizinkannya.Dalil yang menunjukkan hal tersebut berasal dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,عَقَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا بِكَبْشَيْنِ كَبْشَيْنِ“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menyembelih (akikah) untuk Hasan dan Husain radhiyallahu ‘anhuma, masing-masing dengan dua ekor domba jantan.” [11]Fakta bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan akikah untuk kedua cucunya merupakan bukti bahwa seorang kerabat selain ayah diperbolehkan melakukan akikah jika mendapat izin dari ayahnya.Apabila seorang ibu sudah bercerai, maka tidak diwajibkan untuk melaksanakan akikah bagi anaknya, tetapi dianjurkan baginya untuk melakukannya apabila sang ayah menolak melakukannya atau tidak mampu karena jarak atau ketidaktahuan tentang kelahiran dan sebagainya. Allah Ta’ala yang akan mencatat pahala dan balasan. [12]Apakah seseorang yang masuk Islam perlu melaksanakan akikah untuk dirinya sendiri dan anak-anaknya?Jika seseorang masuk Islam, tidak ada salahnya melaksanakan akikah untuk dirinya sendiri, jika dia mau; dan begitu pula untuk anak-anaknya yang masuk Islam jika dia mampu secara finansial. Hal ini karena hikmah di baliknya adalah untuk mencari kesejahteraan anak, membebaskannya dari belenggu setan, melindunginya dari setan, dan hal ini tidak dapat dicapai bagi orang kafir. [13]Apakah seseorang harus melakukan akikah lagi untuk dirinya sendiri jika ia mengubah namanya?Mengubah nama tidak mengharuskan seseorang melakukan akikah lagi. Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Mengubah nama itu diperbolehkan, dan lebih baik jika mengubah nama yang tidak pantas.” Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam memperbolehkan mengubah nama. Hal ini tidak mengharuskan seseorang untuk mengulang akikah, sebagaimana pemahaman keliru yang diyakini oleh sebagian orang awam. [14]Bagaimana hukum akikah untuk anak yang terlantar?Abdurrahman Al-Barrak hafizahullah ketika ditanya mengenai hal ini menyatakan, “Ya, dianjurkan untuk melaksanakan akikah karena bermanfaat dan tidak membahayakannya. Ini adalah bagian dari kebaikanmu kepadanya dan mungkin akan menjadi sebab kesalehannya.” [15]Bagaimana hukum akikah untuk anak yang lahir di luar nikah?Sunah menganjurkan akikah untuk semua bayi yang baru lahir tanpa terkecuali, dan anak yang lahir di luar nikah termasuk dalam keumuman hadis-hadis ini sehingga akikah harus dilakukan untuknya. Karena akikah ini merupakan tanggung jawab ibunya, maka ibunyalah yang harus melaksanakan akikah. Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ketika ditanya mengenai ini menjawab, “Ya, diperbolehkan bagi seorang ibu melaksanakan akikah. Dianjurkan agar ia melaksanakannya untuk anaknya dan ia wajib menafkahi anaknya jika mampu. Jika ia tidak mampu, anaknya harus diasuh oleh wali yang disediakan oleh negara. Jika ia mampu, ia harus membesarkannya, memperlakukannya dengan baik, dan melaksanakan akikah untuknya. Ia wajib membesarkannya dan bertobat kepada Allah atas apa yang telah dilakukannya, dan anaknya dinasabkan kepada ibunya.” [16]Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penulis: Luqman Hasan NahariArtikel Muslim.or.id Sumber: Diterjemahkan dari islamqa.info pada bab hukum-hukum akikah.Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2455) dan disahihkan oleh al-Albani.[2] Al-Mughni, 9: 364.[3] Al-Taj wa al-Iklil, 4: 390.[4] Al-Majmu’, 8: 411.[5] Asy-Syarh al-Mumti’, 7: 493.[6] Al-Majmu’, 8: 411.[7] Al-Fatawa al-Kubra, 4: 257.[8] http://www.ibn-jebreen.com/ftawa.php?view=vmasal&subid=5369[9] Lihat islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 132524 dan 202306.[10] Lihat islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 134931.[11] Diriwayatkan oleh An-Nasa’i (no. 4219) dan disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih An-Nasa’i.[12] Lihat islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 162811, 85392.[13] Lihat islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 201479, 12448.[14] Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 10: 850. Lihat juga islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 134931.[15] Lihat islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 262636.[16] Majmu’ Fatawa Syaikh Abdul Aziz bin Baz (28: 124). Lihat juga islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 228538.


Daftar Isi ToggleWaktu pelaksanaan akikahTempat penyembelihan akikahSiapa yang melakukan dan menanggung akikah?Apakah seseorang yang masuk Islam perlu melaksanakan akikah untuk dirinya sendiri dan anak-anaknya?Apakah seseorang harus melakukan akikah lagi untuk dirinya sendiri jika ia mengubah namanya?Bagaimana hukum akikah untuk anak yang terlantar?Bagaimana hukum akikah untuk anak yang lahir di luar nikah?Waktu pelaksanaan akikahWaktu akikah disunahkan untuk dilaksanakan pada hari ketujuh setelah bayi tersebut lahir. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Sunahnya adalah menyembelihnya pada hari ketujuh, dan tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama mengenai hal ini berdasarkan hadis Samurah [1].” [2]Jika dianjurkan dilaksanakan pada hari ketujuh, apakah hari kelahiran termasuk dalam hitungannya? Terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama mengenai masalah ini. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa hari kelahiran dihitung. An-Nawawi rahimahullah berkata, “Ada dua pendapat. Pendapat pertama yang lebih sahih adalah hari kelahiran dihitung dan kurban dilaksanakan pada hari ketujuh. Pendapat kedua yaitu dilaksanakan pada hari setelah hari ketujuh. Ini adalah pendapat yang dipegang oleh Al-Buwayti (salah satu murid utama Imam Asy-Syafi’i) dan mazhab Maliki [3]. Namun, pendapat pertama lebih disukai karena didukung oleh makna hadis yang jelas. Apabila anak lahir pada malam hari, maka hari pertama dihitung pada malam itu, dan hal ini tidak ada perbedaan pendapat [4].” Pendapat pertama sejalan dengan Eksilopedia Fikih (30: 279) dan pendapat Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah [5]. Ini adalah masalah pilihan. Jika memungkinkan, lakukan akikah pada hari ketujuh setelah kelahiran anak. Jika tidak memungkinkan hingga setelah hari ketujuh, tidak ada salahnya dan akikah tersebut tetap sah.An-Nawawi rahimahullah berkata, “Jika dilakukan setelah atau sesudah hari ketujuh dan setelah kelahiran langsung, maka sah. Namun, jika dilakukan sebelum kelahiran, maka tidak sah; tidak ada perbedaan pendapat mengenai hal ini dan dianggap hanya sebagai daging biasa (bukan daging akikah).” [6]Tempat penyembelihan akikahPara ulama berbeda pendapat mengenai tempat yang paling baik untuk menyembelih akikah. Apakah lebih baik menyembelihnya di kampung halaman (daerah asal) atau di tempat orang tua jika tinggal di tempat lain, misalnya ayah dan anaknya tinggal di tempat yang berbeda? Misalnya, ayah bekerja di Saudi Arabia, sedangkan anak lahir di Indonesia.Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah menyatakan, “Ada kemungkinan akikah tersebut disembelih di kampung halaman anak tersebut, dengan qiyas (analogi) zakat fitrah yang dibayarkan di negara tempat orang tersebut tinggal. Namun, pendapat yang dipilih ialah menyembelih akikah di tempat orang (orang tua/ayahnya) yang melaksanakan akikah, karena merekalah yang berkewajiban melaksanakannya.” [7]Syekh Ibnu Jibriin rahimahullah berpendapat bahwa lebih baik menyembelihnya di tempat anaknya. Ketika beliau ditanya: haruskah hewan akikah disembelih di negara orang tua tinggal atau di negara tempat anak dilahirkan? Lalu ia meminta bukti jika ada. Ia menjawab, “Sebaiknya dilakukan di negara tempat anak berada. Jika ayah berada di negara lain, ia harus mengirimkan uang untuk akikah, menunjuk seseorang untuk menyembelihnya, serta mengundang orang lain agar doanya lebih dekat dengan bayinya dan memberikan barokah kepadanya, dan seterusnya.“ [8] [9]Diperbolehkan juga menyembelih satu ekor domba di satu negara dan satu ekor lain di negara lain untuk bersuka cita atas keluarganya. [10]Siapa yang melakukan dan menanggung akikah?Prinsip umumnya yaitu akikah dilakukan dan dibayar oleh ayah dari anak itu sendiri, bukan ditanggung oleh ibunya atau uang anaknya. Hal ini karena ayah adalah orang pertama yang disebut dalam hadis-hadis yang berkaitan dengan akikah. Namun, para ulama menyatakan bahwa diperbolehkan bagi seseorang selain ayah untuk menanggung dan melakukan akikah dalam kasus-kasus sebagai berikut:1) Jika ayah lalai dan menolak untuk melaksanakan akikah;2) Jika seseorang meminta izin kepada ayah bayi tersebut untuk melakukan akikah atas bayi tersebut, dan sang ayah mengizinkannya.Dalil yang menunjukkan hal tersebut berasal dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,عَقَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا بِكَبْشَيْنِ كَبْشَيْنِ“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menyembelih (akikah) untuk Hasan dan Husain radhiyallahu ‘anhuma, masing-masing dengan dua ekor domba jantan.” [11]Fakta bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan akikah untuk kedua cucunya merupakan bukti bahwa seorang kerabat selain ayah diperbolehkan melakukan akikah jika mendapat izin dari ayahnya.Apabila seorang ibu sudah bercerai, maka tidak diwajibkan untuk melaksanakan akikah bagi anaknya, tetapi dianjurkan baginya untuk melakukannya apabila sang ayah menolak melakukannya atau tidak mampu karena jarak atau ketidaktahuan tentang kelahiran dan sebagainya. Allah Ta’ala yang akan mencatat pahala dan balasan. [12]Apakah seseorang yang masuk Islam perlu melaksanakan akikah untuk dirinya sendiri dan anak-anaknya?Jika seseorang masuk Islam, tidak ada salahnya melaksanakan akikah untuk dirinya sendiri, jika dia mau; dan begitu pula untuk anak-anaknya yang masuk Islam jika dia mampu secara finansial. Hal ini karena hikmah di baliknya adalah untuk mencari kesejahteraan anak, membebaskannya dari belenggu setan, melindunginya dari setan, dan hal ini tidak dapat dicapai bagi orang kafir. [13]Apakah seseorang harus melakukan akikah lagi untuk dirinya sendiri jika ia mengubah namanya?Mengubah nama tidak mengharuskan seseorang melakukan akikah lagi. Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Mengubah nama itu diperbolehkan, dan lebih baik jika mengubah nama yang tidak pantas.” Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam memperbolehkan mengubah nama. Hal ini tidak mengharuskan seseorang untuk mengulang akikah, sebagaimana pemahaman keliru yang diyakini oleh sebagian orang awam. [14]Bagaimana hukum akikah untuk anak yang terlantar?Abdurrahman Al-Barrak hafizahullah ketika ditanya mengenai hal ini menyatakan, “Ya, dianjurkan untuk melaksanakan akikah karena bermanfaat dan tidak membahayakannya. Ini adalah bagian dari kebaikanmu kepadanya dan mungkin akan menjadi sebab kesalehannya.” [15]Bagaimana hukum akikah untuk anak yang lahir di luar nikah?Sunah menganjurkan akikah untuk semua bayi yang baru lahir tanpa terkecuali, dan anak yang lahir di luar nikah termasuk dalam keumuman hadis-hadis ini sehingga akikah harus dilakukan untuknya. Karena akikah ini merupakan tanggung jawab ibunya, maka ibunyalah yang harus melaksanakan akikah. Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ketika ditanya mengenai ini menjawab, “Ya, diperbolehkan bagi seorang ibu melaksanakan akikah. Dianjurkan agar ia melaksanakannya untuk anaknya dan ia wajib menafkahi anaknya jika mampu. Jika ia tidak mampu, anaknya harus diasuh oleh wali yang disediakan oleh negara. Jika ia mampu, ia harus membesarkannya, memperlakukannya dengan baik, dan melaksanakan akikah untuknya. Ia wajib membesarkannya dan bertobat kepada Allah atas apa yang telah dilakukannya, dan anaknya dinasabkan kepada ibunya.” [16]Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penulis: Luqman Hasan NahariArtikel Muslim.or.id Sumber: Diterjemahkan dari islamqa.info pada bab hukum-hukum akikah.Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2455) dan disahihkan oleh al-Albani.[2] Al-Mughni, 9: 364.[3] Al-Taj wa al-Iklil, 4: 390.[4] Al-Majmu’, 8: 411.[5] Asy-Syarh al-Mumti’, 7: 493.[6] Al-Majmu’, 8: 411.[7] Al-Fatawa al-Kubra, 4: 257.[8] http://www.ibn-jebreen.com/ftawa.php?view=vmasal&subid=5369[9] Lihat islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 132524 dan 202306.[10] Lihat islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 134931.[11] Diriwayatkan oleh An-Nasa’i (no. 4219) dan disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih An-Nasa’i.[12] Lihat islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 162811, 85392.[13] Lihat islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 201479, 12448.[14] Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 10: 850. Lihat juga islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 134931.[15] Lihat islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 262636.[16] Majmu’ Fatawa Syaikh Abdul Aziz bin Baz (28: 124). Lihat juga islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 228538.

Fikih Akikah (Bag. 1): Hukum dan Makna di Balik Akikah

Daftar Isi ToggleDalil akikahHukum akikahMakna akikahPengertian akikah adalah kurban yang disembelih atas nama bayi yang baru lahir. Al-Mawardi rahimahullah berkata bahwa akikah adalah domba yang disembelih saat bayi lahir dan orang-orang Arab biasa melakukan hal tersebut sebelum datangnya Islam. [1]Dalil akikahDalil yang mensyariatkan akikah adalah sebagai berikut,عن بريدة -رضي الله عنه- قال: (كنا في الجاهلية إذا ولد لأحدنا غلام ذبح شاة ولطخ رأسـه بدمهـا، فلما جاء الله بالإسـلام كنا نذبح شاة ونحلق رأسه ونلطخه بزعفران)Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Pada zaman Jahiliyah, ketika seorang bayi lahir dari salah satu kami, kami menyembelih seekor domba dan mengolesi kepala bayinya dengan darahnya. Dan ketika Allah mendatangkan agama Islam, kami biasa menyembelih seekor domba, mencukur kepala bayi, dan mengoleskan kepalanya dengan safron (sejenis parfum).” (HR. Abu Dawud) [2]عن سلمان بن عامر -رضي الله عنه- أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (مع الغلام عقيقة، فأهريقوا عنه دمًا، وأميطوا عنه الأذى)Dari Salman bin Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Anak yang baru lahir terdapat (syariat) akikah, maka tumpahkanlah darah untuknya (yaitu dengan menyembelih domba, pent.) dan hilangkanlah bahaya darinya.” (HR. Bukhari) [3]عن سمرة بن جندب -رضي الله عنه- عن النَّبيِّ صلَّى الله عليه وسلم قال: (كلُّ غلامٍ مرتهن بعقيقته، تُذبح عنه يوم السابع ويحلق رأسه ويسمَّى)Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Setiap anak tergadaikan (terikat) dengan akikahnya; akikah disembelih (domba) untuknya pada hari ketujuh, kepalanya dicukur, dan dia diberi nama.” (HR. At-Tirmidzi) [4]Hukum akikahPara ulama berbeda pendapat mengenai hukum akikah yang terdiri dari tiga pendapat. Sebagian ulama menyimpulkan bahwa akikah itu wajib, sebagian yang lain menyimpulkan sunnah mustahab (yang tidak ditekankan), dan sebagian yang lain mengatakan sunnah muakkad (yang ditekankan). Pandangan yang rajih (kuat) mengenai hal ini adalah sunnah muakkad, yang berarti tidak boleh diabaikan bagi yang mampu, tetapi tidak berdosa bagi yang meninggalkannya.Hal ini didasarkan pada dalil berikut ini,أن رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال: (مَنْ وُلِدَ لَهُ وَلَدٌ فَأَحَبَّ أَنْ يَنْسُكَ عَنْهُ فَلْيَنْسُكْ، عَنْ الْغُلامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ، وَعَنْ الْجَارِيَةِ شَاةٌ)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa memiliki seorang anak dan kecintaan terhadap anaknya, maka hendaklah ia berkurban. Untuk anak laki-laki yaitu dua ekor domba yang nilainya sama, dan untuk anak perempuan yaitu satu ekor domba.” (HR. Abu Dawud) [5]Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan perintah ini didasarkan pada kecintaan yang melakukannya, dan hal ini menunjukkan bahwa amalan ini disunahkan, bukan wajib. [6]Ulama-ulama dari Lajnah Daimah mengatakan, “Akikah itu sunnah muakkad. Untuk anak laki-laki dibutuhkan dua ekor domba yang masing-masing memenuhi syarat untuk kurban. Untuk anak perempuan, dibutuhkan satu ekor domba. Domba tersebut disembelih pada hari ketujuh. Jika ditunda hingga melewati hari ketujuh, diperbolehkan menyembelihnya kapan pun setelahnya dan tidak ada dosa atas penundaan tersebut, tetapi lebih baik melaksanakannya lebih awal jika memungkinkan.” [7]Namun, tidak ada perselisihan bahwa hal itu tidak wajib bagi orang fakir (miskin), apalagi bagi orang yang sedang terlilit utang. Adapun sesuatu yang lebih utama dari akikah, seperti haji, seharusnya tidak didahulukan daripada melunasinya. [8]Lalu bagaimana jika seseorang bernazar untuk melaksanakan akikah (kurban) untuk anaknya, namun kemudian tidak mampu melaksanakannya? Apakah hal ini diwajibkan kepadanya?Telah disebutkan bahwa akikah adalah sunnah muakkad dan tidak boleh diabaikan oleh mereka yang mampu melaksanakannya. Tidak ada kewajiban bagi mereka yang tidak melaksanakannya. Namun, siapa pun yang bernazar untuk melaksanakan akikah bagi anaknya, maka wajib melaksanakannya berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ“Barangsiapa yang bernazar untuk taat kepada Allah, maka hendaklah ia taat kepada-Nya.” (HR. Bukhari) [9]Apabila ia tidak mampu memenuhi nazarnya, maka terdapat dua kemungkinan:Pertama: Dia telah menetapkan waktu tertentu untuk menyembelih akikah, baik secara lisan maupun dalam niatnya, misalnya, berniat menyembelih pada minggu pertama atau bulan pertama setelah kelahiran. Jika waktu yang telah ditentukan tersebut berlalu dan dia tidak mampu memenuhi nazarnya, maka ia wajib membayar tebusan atas pelanggaran nazar. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,كَفَّارَةُ النَّذْرِ كَفَّارَةُ الْيَمِينِ“Tebusan nazar sama besar dengan tebusan sumpah.” (HR. Muslim) [10]Kedua: Dia tidak menetapkan waktu tertentu untuk menyembelih akikah, sehingga akikah tetap menjadi utang sampai dia mampu melunasinya. Akikah tidak memiliki batas waktu tertentu; dia diperbolehkan menyembelihnya kapan saja, bahkan bertahun-tahun setelah lahir. [11]Makna akikahApa makna dari: “Setiap anak tergadaikan (terikat) dengan akikahnya”? [12] Para ulama berbeda pendapat mengenai maknanya: sebagian ulama mengatakan bahwa jika akikah tidak dilakukan dan anaknya meninggal, ia akan terhalang untuk menjadi syafaat bagi orang tuanya. Sebagian lain mengatakan bahwa akikah adalah sarana untuk melindungi anak dari setan dan membebaskannya dari pengaruhnya. Seorang anak mungkin kehilangan kebaikan karena kelalaian orang tuanya, meskipun itu bukan kesalahannya. Demikian pula, jika ayahnya menyebut nama Allah (bismillah) saat ber-jima’ (berhubungan intim), maka setan tidak akan membahayakan anaknya; tetapi jika ia tidak melakukannya, anak tersebut tidak akan mendapatkan perlindungan dari setan. [13]Ibnul Qayyim rahimahullah Ta’ala mengatakan, “Di antara makna akikah yaitu ia merupakan sedekah yang dilakukan untuk bayi yang baru lahir dan membebaskan dari belenggu karena ia terikat oleh akikahnya sampai ia memberi syafaat untuk orang tuanya. Makna lain yaitu sebagai tebusan bagi bayi yang baru lahir, sebagaimana Allah Subhanallahu wa Ta’ala menebus Ismail dengan seekor domba jantan [14]. Makna lain yaitu berkumpulnya kerabat dan teman-teman dalam jamuan tersebut [15]. Hikmah di balik membagikan makanan akikah adalah untuk berbagi suka cita atas nikmat-nikmat yang telah Allah berikan. [16]Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Luqman Hasan NahariArtikel Muslim.or.id Sumber: Diterjemahkan dari islamqa.info pada bab hukum-hukum akikah.Catatan Kaki:[1] Al-Hawi Al-Kabir, 15: 126.[2] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2843) dan disahihkan oleh Al-Albani dalam “Sahih Abi Dawud”.[3] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 5154).[4] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 1522) dan dikatakan hasan shahih oleh Ibnu Majah (no. 3165). Disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah (no. 2563). Lihat juga islamqa.info pada pertanyaan no. 60252.[5] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2842).[6] Lihat Tuhfat Al-Mawdud, hal. 157.[7] Fatwa Lajnah Daimah, 11: 439. Hadis ini dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud.[8] Lihat islamqa.info pada pertanyaan no. 20018.[9] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 6696).[10] Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1645).[11] Lihat jawaban di islamqa.info untuk pertanyaan no. 119562.[12] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 1522) dan dikatakan hadis ini hasan shahih oleh Ibnu Majah (no. 3165). Lihat Shahih Ibnu Majah (no. 2563).[13] Lihat Zad al-Ma’ad (2: 325) dan Syarh al-Mumti’ (7: 535). Lihat juga islamqa.info pada jawaban untuk pertanyaan no. 12448.[14] Tuhfat al-Mawdud, hal. 69.[15] Lihat islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 7889.[16] Lihat islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 205413.

Fikih Akikah (Bag. 1): Hukum dan Makna di Balik Akikah

Daftar Isi ToggleDalil akikahHukum akikahMakna akikahPengertian akikah adalah kurban yang disembelih atas nama bayi yang baru lahir. Al-Mawardi rahimahullah berkata bahwa akikah adalah domba yang disembelih saat bayi lahir dan orang-orang Arab biasa melakukan hal tersebut sebelum datangnya Islam. [1]Dalil akikahDalil yang mensyariatkan akikah adalah sebagai berikut,عن بريدة -رضي الله عنه- قال: (كنا في الجاهلية إذا ولد لأحدنا غلام ذبح شاة ولطخ رأسـه بدمهـا، فلما جاء الله بالإسـلام كنا نذبح شاة ونحلق رأسه ونلطخه بزعفران)Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Pada zaman Jahiliyah, ketika seorang bayi lahir dari salah satu kami, kami menyembelih seekor domba dan mengolesi kepala bayinya dengan darahnya. Dan ketika Allah mendatangkan agama Islam, kami biasa menyembelih seekor domba, mencukur kepala bayi, dan mengoleskan kepalanya dengan safron (sejenis parfum).” (HR. Abu Dawud) [2]عن سلمان بن عامر -رضي الله عنه- أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (مع الغلام عقيقة، فأهريقوا عنه دمًا، وأميطوا عنه الأذى)Dari Salman bin Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Anak yang baru lahir terdapat (syariat) akikah, maka tumpahkanlah darah untuknya (yaitu dengan menyembelih domba, pent.) dan hilangkanlah bahaya darinya.” (HR. Bukhari) [3]عن سمرة بن جندب -رضي الله عنه- عن النَّبيِّ صلَّى الله عليه وسلم قال: (كلُّ غلامٍ مرتهن بعقيقته، تُذبح عنه يوم السابع ويحلق رأسه ويسمَّى)Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Setiap anak tergadaikan (terikat) dengan akikahnya; akikah disembelih (domba) untuknya pada hari ketujuh, kepalanya dicukur, dan dia diberi nama.” (HR. At-Tirmidzi) [4]Hukum akikahPara ulama berbeda pendapat mengenai hukum akikah yang terdiri dari tiga pendapat. Sebagian ulama menyimpulkan bahwa akikah itu wajib, sebagian yang lain menyimpulkan sunnah mustahab (yang tidak ditekankan), dan sebagian yang lain mengatakan sunnah muakkad (yang ditekankan). Pandangan yang rajih (kuat) mengenai hal ini adalah sunnah muakkad, yang berarti tidak boleh diabaikan bagi yang mampu, tetapi tidak berdosa bagi yang meninggalkannya.Hal ini didasarkan pada dalil berikut ini,أن رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال: (مَنْ وُلِدَ لَهُ وَلَدٌ فَأَحَبَّ أَنْ يَنْسُكَ عَنْهُ فَلْيَنْسُكْ، عَنْ الْغُلامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ، وَعَنْ الْجَارِيَةِ شَاةٌ)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa memiliki seorang anak dan kecintaan terhadap anaknya, maka hendaklah ia berkurban. Untuk anak laki-laki yaitu dua ekor domba yang nilainya sama, dan untuk anak perempuan yaitu satu ekor domba.” (HR. Abu Dawud) [5]Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan perintah ini didasarkan pada kecintaan yang melakukannya, dan hal ini menunjukkan bahwa amalan ini disunahkan, bukan wajib. [6]Ulama-ulama dari Lajnah Daimah mengatakan, “Akikah itu sunnah muakkad. Untuk anak laki-laki dibutuhkan dua ekor domba yang masing-masing memenuhi syarat untuk kurban. Untuk anak perempuan, dibutuhkan satu ekor domba. Domba tersebut disembelih pada hari ketujuh. Jika ditunda hingga melewati hari ketujuh, diperbolehkan menyembelihnya kapan pun setelahnya dan tidak ada dosa atas penundaan tersebut, tetapi lebih baik melaksanakannya lebih awal jika memungkinkan.” [7]Namun, tidak ada perselisihan bahwa hal itu tidak wajib bagi orang fakir (miskin), apalagi bagi orang yang sedang terlilit utang. Adapun sesuatu yang lebih utama dari akikah, seperti haji, seharusnya tidak didahulukan daripada melunasinya. [8]Lalu bagaimana jika seseorang bernazar untuk melaksanakan akikah (kurban) untuk anaknya, namun kemudian tidak mampu melaksanakannya? Apakah hal ini diwajibkan kepadanya?Telah disebutkan bahwa akikah adalah sunnah muakkad dan tidak boleh diabaikan oleh mereka yang mampu melaksanakannya. Tidak ada kewajiban bagi mereka yang tidak melaksanakannya. Namun, siapa pun yang bernazar untuk melaksanakan akikah bagi anaknya, maka wajib melaksanakannya berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ“Barangsiapa yang bernazar untuk taat kepada Allah, maka hendaklah ia taat kepada-Nya.” (HR. Bukhari) [9]Apabila ia tidak mampu memenuhi nazarnya, maka terdapat dua kemungkinan:Pertama: Dia telah menetapkan waktu tertentu untuk menyembelih akikah, baik secara lisan maupun dalam niatnya, misalnya, berniat menyembelih pada minggu pertama atau bulan pertama setelah kelahiran. Jika waktu yang telah ditentukan tersebut berlalu dan dia tidak mampu memenuhi nazarnya, maka ia wajib membayar tebusan atas pelanggaran nazar. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,كَفَّارَةُ النَّذْرِ كَفَّارَةُ الْيَمِينِ“Tebusan nazar sama besar dengan tebusan sumpah.” (HR. Muslim) [10]Kedua: Dia tidak menetapkan waktu tertentu untuk menyembelih akikah, sehingga akikah tetap menjadi utang sampai dia mampu melunasinya. Akikah tidak memiliki batas waktu tertentu; dia diperbolehkan menyembelihnya kapan saja, bahkan bertahun-tahun setelah lahir. [11]Makna akikahApa makna dari: “Setiap anak tergadaikan (terikat) dengan akikahnya”? [12] Para ulama berbeda pendapat mengenai maknanya: sebagian ulama mengatakan bahwa jika akikah tidak dilakukan dan anaknya meninggal, ia akan terhalang untuk menjadi syafaat bagi orang tuanya. Sebagian lain mengatakan bahwa akikah adalah sarana untuk melindungi anak dari setan dan membebaskannya dari pengaruhnya. Seorang anak mungkin kehilangan kebaikan karena kelalaian orang tuanya, meskipun itu bukan kesalahannya. Demikian pula, jika ayahnya menyebut nama Allah (bismillah) saat ber-jima’ (berhubungan intim), maka setan tidak akan membahayakan anaknya; tetapi jika ia tidak melakukannya, anak tersebut tidak akan mendapatkan perlindungan dari setan. [13]Ibnul Qayyim rahimahullah Ta’ala mengatakan, “Di antara makna akikah yaitu ia merupakan sedekah yang dilakukan untuk bayi yang baru lahir dan membebaskan dari belenggu karena ia terikat oleh akikahnya sampai ia memberi syafaat untuk orang tuanya. Makna lain yaitu sebagai tebusan bagi bayi yang baru lahir, sebagaimana Allah Subhanallahu wa Ta’ala menebus Ismail dengan seekor domba jantan [14]. Makna lain yaitu berkumpulnya kerabat dan teman-teman dalam jamuan tersebut [15]. Hikmah di balik membagikan makanan akikah adalah untuk berbagi suka cita atas nikmat-nikmat yang telah Allah berikan. [16]Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Luqman Hasan NahariArtikel Muslim.or.id Sumber: Diterjemahkan dari islamqa.info pada bab hukum-hukum akikah.Catatan Kaki:[1] Al-Hawi Al-Kabir, 15: 126.[2] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2843) dan disahihkan oleh Al-Albani dalam “Sahih Abi Dawud”.[3] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 5154).[4] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 1522) dan dikatakan hasan shahih oleh Ibnu Majah (no. 3165). Disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah (no. 2563). Lihat juga islamqa.info pada pertanyaan no. 60252.[5] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2842).[6] Lihat Tuhfat Al-Mawdud, hal. 157.[7] Fatwa Lajnah Daimah, 11: 439. Hadis ini dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud.[8] Lihat islamqa.info pada pertanyaan no. 20018.[9] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 6696).[10] Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1645).[11] Lihat jawaban di islamqa.info untuk pertanyaan no. 119562.[12] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 1522) dan dikatakan hadis ini hasan shahih oleh Ibnu Majah (no. 3165). Lihat Shahih Ibnu Majah (no. 2563).[13] Lihat Zad al-Ma’ad (2: 325) dan Syarh al-Mumti’ (7: 535). Lihat juga islamqa.info pada jawaban untuk pertanyaan no. 12448.[14] Tuhfat al-Mawdud, hal. 69.[15] Lihat islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 7889.[16] Lihat islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 205413.
Daftar Isi ToggleDalil akikahHukum akikahMakna akikahPengertian akikah adalah kurban yang disembelih atas nama bayi yang baru lahir. Al-Mawardi rahimahullah berkata bahwa akikah adalah domba yang disembelih saat bayi lahir dan orang-orang Arab biasa melakukan hal tersebut sebelum datangnya Islam. [1]Dalil akikahDalil yang mensyariatkan akikah adalah sebagai berikut,عن بريدة -رضي الله عنه- قال: (كنا في الجاهلية إذا ولد لأحدنا غلام ذبح شاة ولطخ رأسـه بدمهـا، فلما جاء الله بالإسـلام كنا نذبح شاة ونحلق رأسه ونلطخه بزعفران)Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Pada zaman Jahiliyah, ketika seorang bayi lahir dari salah satu kami, kami menyembelih seekor domba dan mengolesi kepala bayinya dengan darahnya. Dan ketika Allah mendatangkan agama Islam, kami biasa menyembelih seekor domba, mencukur kepala bayi, dan mengoleskan kepalanya dengan safron (sejenis parfum).” (HR. Abu Dawud) [2]عن سلمان بن عامر -رضي الله عنه- أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (مع الغلام عقيقة، فأهريقوا عنه دمًا، وأميطوا عنه الأذى)Dari Salman bin Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Anak yang baru lahir terdapat (syariat) akikah, maka tumpahkanlah darah untuknya (yaitu dengan menyembelih domba, pent.) dan hilangkanlah bahaya darinya.” (HR. Bukhari) [3]عن سمرة بن جندب -رضي الله عنه- عن النَّبيِّ صلَّى الله عليه وسلم قال: (كلُّ غلامٍ مرتهن بعقيقته، تُذبح عنه يوم السابع ويحلق رأسه ويسمَّى)Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Setiap anak tergadaikan (terikat) dengan akikahnya; akikah disembelih (domba) untuknya pada hari ketujuh, kepalanya dicukur, dan dia diberi nama.” (HR. At-Tirmidzi) [4]Hukum akikahPara ulama berbeda pendapat mengenai hukum akikah yang terdiri dari tiga pendapat. Sebagian ulama menyimpulkan bahwa akikah itu wajib, sebagian yang lain menyimpulkan sunnah mustahab (yang tidak ditekankan), dan sebagian yang lain mengatakan sunnah muakkad (yang ditekankan). Pandangan yang rajih (kuat) mengenai hal ini adalah sunnah muakkad, yang berarti tidak boleh diabaikan bagi yang mampu, tetapi tidak berdosa bagi yang meninggalkannya.Hal ini didasarkan pada dalil berikut ini,أن رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال: (مَنْ وُلِدَ لَهُ وَلَدٌ فَأَحَبَّ أَنْ يَنْسُكَ عَنْهُ فَلْيَنْسُكْ، عَنْ الْغُلامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ، وَعَنْ الْجَارِيَةِ شَاةٌ)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa memiliki seorang anak dan kecintaan terhadap anaknya, maka hendaklah ia berkurban. Untuk anak laki-laki yaitu dua ekor domba yang nilainya sama, dan untuk anak perempuan yaitu satu ekor domba.” (HR. Abu Dawud) [5]Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan perintah ini didasarkan pada kecintaan yang melakukannya, dan hal ini menunjukkan bahwa amalan ini disunahkan, bukan wajib. [6]Ulama-ulama dari Lajnah Daimah mengatakan, “Akikah itu sunnah muakkad. Untuk anak laki-laki dibutuhkan dua ekor domba yang masing-masing memenuhi syarat untuk kurban. Untuk anak perempuan, dibutuhkan satu ekor domba. Domba tersebut disembelih pada hari ketujuh. Jika ditunda hingga melewati hari ketujuh, diperbolehkan menyembelihnya kapan pun setelahnya dan tidak ada dosa atas penundaan tersebut, tetapi lebih baik melaksanakannya lebih awal jika memungkinkan.” [7]Namun, tidak ada perselisihan bahwa hal itu tidak wajib bagi orang fakir (miskin), apalagi bagi orang yang sedang terlilit utang. Adapun sesuatu yang lebih utama dari akikah, seperti haji, seharusnya tidak didahulukan daripada melunasinya. [8]Lalu bagaimana jika seseorang bernazar untuk melaksanakan akikah (kurban) untuk anaknya, namun kemudian tidak mampu melaksanakannya? Apakah hal ini diwajibkan kepadanya?Telah disebutkan bahwa akikah adalah sunnah muakkad dan tidak boleh diabaikan oleh mereka yang mampu melaksanakannya. Tidak ada kewajiban bagi mereka yang tidak melaksanakannya. Namun, siapa pun yang bernazar untuk melaksanakan akikah bagi anaknya, maka wajib melaksanakannya berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ“Barangsiapa yang bernazar untuk taat kepada Allah, maka hendaklah ia taat kepada-Nya.” (HR. Bukhari) [9]Apabila ia tidak mampu memenuhi nazarnya, maka terdapat dua kemungkinan:Pertama: Dia telah menetapkan waktu tertentu untuk menyembelih akikah, baik secara lisan maupun dalam niatnya, misalnya, berniat menyembelih pada minggu pertama atau bulan pertama setelah kelahiran. Jika waktu yang telah ditentukan tersebut berlalu dan dia tidak mampu memenuhi nazarnya, maka ia wajib membayar tebusan atas pelanggaran nazar. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,كَفَّارَةُ النَّذْرِ كَفَّارَةُ الْيَمِينِ“Tebusan nazar sama besar dengan tebusan sumpah.” (HR. Muslim) [10]Kedua: Dia tidak menetapkan waktu tertentu untuk menyembelih akikah, sehingga akikah tetap menjadi utang sampai dia mampu melunasinya. Akikah tidak memiliki batas waktu tertentu; dia diperbolehkan menyembelihnya kapan saja, bahkan bertahun-tahun setelah lahir. [11]Makna akikahApa makna dari: “Setiap anak tergadaikan (terikat) dengan akikahnya”? [12] Para ulama berbeda pendapat mengenai maknanya: sebagian ulama mengatakan bahwa jika akikah tidak dilakukan dan anaknya meninggal, ia akan terhalang untuk menjadi syafaat bagi orang tuanya. Sebagian lain mengatakan bahwa akikah adalah sarana untuk melindungi anak dari setan dan membebaskannya dari pengaruhnya. Seorang anak mungkin kehilangan kebaikan karena kelalaian orang tuanya, meskipun itu bukan kesalahannya. Demikian pula, jika ayahnya menyebut nama Allah (bismillah) saat ber-jima’ (berhubungan intim), maka setan tidak akan membahayakan anaknya; tetapi jika ia tidak melakukannya, anak tersebut tidak akan mendapatkan perlindungan dari setan. [13]Ibnul Qayyim rahimahullah Ta’ala mengatakan, “Di antara makna akikah yaitu ia merupakan sedekah yang dilakukan untuk bayi yang baru lahir dan membebaskan dari belenggu karena ia terikat oleh akikahnya sampai ia memberi syafaat untuk orang tuanya. Makna lain yaitu sebagai tebusan bagi bayi yang baru lahir, sebagaimana Allah Subhanallahu wa Ta’ala menebus Ismail dengan seekor domba jantan [14]. Makna lain yaitu berkumpulnya kerabat dan teman-teman dalam jamuan tersebut [15]. Hikmah di balik membagikan makanan akikah adalah untuk berbagi suka cita atas nikmat-nikmat yang telah Allah berikan. [16]Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Luqman Hasan NahariArtikel Muslim.or.id Sumber: Diterjemahkan dari islamqa.info pada bab hukum-hukum akikah.Catatan Kaki:[1] Al-Hawi Al-Kabir, 15: 126.[2] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2843) dan disahihkan oleh Al-Albani dalam “Sahih Abi Dawud”.[3] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 5154).[4] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 1522) dan dikatakan hasan shahih oleh Ibnu Majah (no. 3165). Disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah (no. 2563). Lihat juga islamqa.info pada pertanyaan no. 60252.[5] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2842).[6] Lihat Tuhfat Al-Mawdud, hal. 157.[7] Fatwa Lajnah Daimah, 11: 439. Hadis ini dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud.[8] Lihat islamqa.info pada pertanyaan no. 20018.[9] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 6696).[10] Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1645).[11] Lihat jawaban di islamqa.info untuk pertanyaan no. 119562.[12] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 1522) dan dikatakan hadis ini hasan shahih oleh Ibnu Majah (no. 3165). Lihat Shahih Ibnu Majah (no. 2563).[13] Lihat Zad al-Ma’ad (2: 325) dan Syarh al-Mumti’ (7: 535). Lihat juga islamqa.info pada jawaban untuk pertanyaan no. 12448.[14] Tuhfat al-Mawdud, hal. 69.[15] Lihat islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 7889.[16] Lihat islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 205413.


Daftar Isi ToggleDalil akikahHukum akikahMakna akikahPengertian akikah adalah kurban yang disembelih atas nama bayi yang baru lahir. Al-Mawardi rahimahullah berkata bahwa akikah adalah domba yang disembelih saat bayi lahir dan orang-orang Arab biasa melakukan hal tersebut sebelum datangnya Islam. [1]Dalil akikahDalil yang mensyariatkan akikah adalah sebagai berikut,عن بريدة -رضي الله عنه- قال: (كنا في الجاهلية إذا ولد لأحدنا غلام ذبح شاة ولطخ رأسـه بدمهـا، فلما جاء الله بالإسـلام كنا نذبح شاة ونحلق رأسه ونلطخه بزعفران)Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Pada zaman Jahiliyah, ketika seorang bayi lahir dari salah satu kami, kami menyembelih seekor domba dan mengolesi kepala bayinya dengan darahnya. Dan ketika Allah mendatangkan agama Islam, kami biasa menyembelih seekor domba, mencukur kepala bayi, dan mengoleskan kepalanya dengan safron (sejenis parfum).” (HR. Abu Dawud) [2]عن سلمان بن عامر -رضي الله عنه- أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (مع الغلام عقيقة، فأهريقوا عنه دمًا، وأميطوا عنه الأذى)Dari Salman bin Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Anak yang baru lahir terdapat (syariat) akikah, maka tumpahkanlah darah untuknya (yaitu dengan menyembelih domba, pent.) dan hilangkanlah bahaya darinya.” (HR. Bukhari) [3]عن سمرة بن جندب -رضي الله عنه- عن النَّبيِّ صلَّى الله عليه وسلم قال: (كلُّ غلامٍ مرتهن بعقيقته، تُذبح عنه يوم السابع ويحلق رأسه ويسمَّى)Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Setiap anak tergadaikan (terikat) dengan akikahnya; akikah disembelih (domba) untuknya pada hari ketujuh, kepalanya dicukur, dan dia diberi nama.” (HR. At-Tirmidzi) [4]Hukum akikahPara ulama berbeda pendapat mengenai hukum akikah yang terdiri dari tiga pendapat. Sebagian ulama menyimpulkan bahwa akikah itu wajib, sebagian yang lain menyimpulkan sunnah mustahab (yang tidak ditekankan), dan sebagian yang lain mengatakan sunnah muakkad (yang ditekankan). Pandangan yang rajih (kuat) mengenai hal ini adalah sunnah muakkad, yang berarti tidak boleh diabaikan bagi yang mampu, tetapi tidak berdosa bagi yang meninggalkannya.Hal ini didasarkan pada dalil berikut ini,أن رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال: (مَنْ وُلِدَ لَهُ وَلَدٌ فَأَحَبَّ أَنْ يَنْسُكَ عَنْهُ فَلْيَنْسُكْ، عَنْ الْغُلامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ، وَعَنْ الْجَارِيَةِ شَاةٌ)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa memiliki seorang anak dan kecintaan terhadap anaknya, maka hendaklah ia berkurban. Untuk anak laki-laki yaitu dua ekor domba yang nilainya sama, dan untuk anak perempuan yaitu satu ekor domba.” (HR. Abu Dawud) [5]Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan perintah ini didasarkan pada kecintaan yang melakukannya, dan hal ini menunjukkan bahwa amalan ini disunahkan, bukan wajib. [6]Ulama-ulama dari Lajnah Daimah mengatakan, “Akikah itu sunnah muakkad. Untuk anak laki-laki dibutuhkan dua ekor domba yang masing-masing memenuhi syarat untuk kurban. Untuk anak perempuan, dibutuhkan satu ekor domba. Domba tersebut disembelih pada hari ketujuh. Jika ditunda hingga melewati hari ketujuh, diperbolehkan menyembelihnya kapan pun setelahnya dan tidak ada dosa atas penundaan tersebut, tetapi lebih baik melaksanakannya lebih awal jika memungkinkan.” [7]Namun, tidak ada perselisihan bahwa hal itu tidak wajib bagi orang fakir (miskin), apalagi bagi orang yang sedang terlilit utang. Adapun sesuatu yang lebih utama dari akikah, seperti haji, seharusnya tidak didahulukan daripada melunasinya. [8]Lalu bagaimana jika seseorang bernazar untuk melaksanakan akikah (kurban) untuk anaknya, namun kemudian tidak mampu melaksanakannya? Apakah hal ini diwajibkan kepadanya?Telah disebutkan bahwa akikah adalah sunnah muakkad dan tidak boleh diabaikan oleh mereka yang mampu melaksanakannya. Tidak ada kewajiban bagi mereka yang tidak melaksanakannya. Namun, siapa pun yang bernazar untuk melaksanakan akikah bagi anaknya, maka wajib melaksanakannya berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ“Barangsiapa yang bernazar untuk taat kepada Allah, maka hendaklah ia taat kepada-Nya.” (HR. Bukhari) [9]Apabila ia tidak mampu memenuhi nazarnya, maka terdapat dua kemungkinan:Pertama: Dia telah menetapkan waktu tertentu untuk menyembelih akikah, baik secara lisan maupun dalam niatnya, misalnya, berniat menyembelih pada minggu pertama atau bulan pertama setelah kelahiran. Jika waktu yang telah ditentukan tersebut berlalu dan dia tidak mampu memenuhi nazarnya, maka ia wajib membayar tebusan atas pelanggaran nazar. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,كَفَّارَةُ النَّذْرِ كَفَّارَةُ الْيَمِينِ“Tebusan nazar sama besar dengan tebusan sumpah.” (HR. Muslim) [10]Kedua: Dia tidak menetapkan waktu tertentu untuk menyembelih akikah, sehingga akikah tetap menjadi utang sampai dia mampu melunasinya. Akikah tidak memiliki batas waktu tertentu; dia diperbolehkan menyembelihnya kapan saja, bahkan bertahun-tahun setelah lahir. [11]Makna akikahApa makna dari: “Setiap anak tergadaikan (terikat) dengan akikahnya”? [12] Para ulama berbeda pendapat mengenai maknanya: sebagian ulama mengatakan bahwa jika akikah tidak dilakukan dan anaknya meninggal, ia akan terhalang untuk menjadi syafaat bagi orang tuanya. Sebagian lain mengatakan bahwa akikah adalah sarana untuk melindungi anak dari setan dan membebaskannya dari pengaruhnya. Seorang anak mungkin kehilangan kebaikan karena kelalaian orang tuanya, meskipun itu bukan kesalahannya. Demikian pula, jika ayahnya menyebut nama Allah (bismillah) saat ber-jima’ (berhubungan intim), maka setan tidak akan membahayakan anaknya; tetapi jika ia tidak melakukannya, anak tersebut tidak akan mendapatkan perlindungan dari setan. [13]Ibnul Qayyim rahimahullah Ta’ala mengatakan, “Di antara makna akikah yaitu ia merupakan sedekah yang dilakukan untuk bayi yang baru lahir dan membebaskan dari belenggu karena ia terikat oleh akikahnya sampai ia memberi syafaat untuk orang tuanya. Makna lain yaitu sebagai tebusan bagi bayi yang baru lahir, sebagaimana Allah Subhanallahu wa Ta’ala menebus Ismail dengan seekor domba jantan [14]. Makna lain yaitu berkumpulnya kerabat dan teman-teman dalam jamuan tersebut [15]. Hikmah di balik membagikan makanan akikah adalah untuk berbagi suka cita atas nikmat-nikmat yang telah Allah berikan. [16]Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Luqman Hasan NahariArtikel Muslim.or.id Sumber: Diterjemahkan dari islamqa.info pada bab hukum-hukum akikah.Catatan Kaki:[1] Al-Hawi Al-Kabir, 15: 126.[2] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2843) dan disahihkan oleh Al-Albani dalam “Sahih Abi Dawud”.[3] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 5154).[4] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 1522) dan dikatakan hasan shahih oleh Ibnu Majah (no. 3165). Disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah (no. 2563). Lihat juga islamqa.info pada pertanyaan no. 60252.[5] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2842).[6] Lihat Tuhfat Al-Mawdud, hal. 157.[7] Fatwa Lajnah Daimah, 11: 439. Hadis ini dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud.[8] Lihat islamqa.info pada pertanyaan no. 20018.[9] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 6696).[10] Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1645).[11] Lihat jawaban di islamqa.info untuk pertanyaan no. 119562.[12] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 1522) dan dikatakan hadis ini hasan shahih oleh Ibnu Majah (no. 3165). Lihat Shahih Ibnu Majah (no. 2563).[13] Lihat Zad al-Ma’ad (2: 325) dan Syarh al-Mumti’ (7: 535). Lihat juga islamqa.info pada jawaban untuk pertanyaan no. 12448.[14] Tuhfat al-Mawdud, hal. 69.[15] Lihat islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 7889.[16] Lihat islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 205413.

FOMO: Takut Ketinggalan Tren, Lupa Tujuan Hidup

Banyak orang hari ini tidak benar-benar memilih jalan hidupnya, tetapi hanya ikut arus yang sedang ramai. Ia takut tertinggal tren, takut tidak tahu kabar terbaru, takut tidak ikut pengalaman yang orang lain rasakan. Inilah yang disebut FOMO, dan jika tidak dikendalikan, ia bisa membuat hati lelah, pikiran gelisah, dan hidup kehilangan arah.  Daftar Isi tutup 1. Apa Itu FOMO? 2. FOMO Bukan Sekadar Ikut-Ikutan 3. Mengapa FOMO Banyak Terjadi pada Generasi Saat Ini? 4. Dampak Baik FOMO Jika Diarahkan 5. Dampak Buruk FOMO Jika Tidak Dikendalikan 6. FOMO Belanja: Beli karena Butuh atau karena Takut Tertinggal? 7. FOMO, Media Sosial, dan Perbandingan Hidup 8. FOMO dan Hati yang Gelisah 9. FOMO dan Bahaya Menjadi Pengikut Setiap Seruan 10. Takut Tertinggal dari Tren atau Tertinggal dari Hidayah? 11. Terkait Prinsip Agama: FOMO Menghilangkan Jati Diri Seorang Muslim 12. Cara Mengendalikan FOMO 13. Nasihat Terakhir 13.1. 5 Pertanyaan Anti-FOMO 13.2. Rumus Ringkas Anti-FOMO 14. Referensi  Apa Itu FOMO?FOMO adalah singkatan dari Fear of Missing Out, yaitu rasa takut tertinggal dari sesuatu yang sedang dialami, dibicarakan, atau diikuti oleh orang lain. Dalam riset Przybylski dkk. (2013), FOMO dijelaskan sebagai kekhawatiran bahwa orang lain mungkin sedang mengalami pengalaman berharga sementara dirinya tidak ikut di dalamnya.Dalam bahasa sederhana, FOMO adalah perasaan:“Jangan-jangan saya rugi kalau tidak ikut.”“Jangan-jangan saya tertinggal.”“Jangan-jangan orang lain lebih maju, lebih bahagia, dan lebih seru hidupnya.”Masalahnya, perasaan seperti ini sering membuat seseorang mengambil keputusan bukan karena ilmu, kebutuhan, atau pertimbangan matang, tetapi karena takut dianggap ketinggalan. FOMO Bukan Sekadar Ikut-IkutanSecara ilmiah, FOMO bukan hanya kebiasaan ikut tren. Ia berkaitan dengan kebutuhan psikologis seseorang. Przybylski dkk. (2013) menemukan bahwa FOMO lebih tinggi pada orang yang kebutuhan psikologis dasarnya kurang terpenuhi, seperti kebutuhan merasa mampu, mandiri, dan terhubung dengan orang lain.Ini menunjukkan bahwa FOMO sering muncul dari hati yang merasa kurang. Ia merasa belum cukup diterima, belum cukup dihargai, atau belum cukup punya tempat dalam pergaulan. Akhirnya, seseorang berusaha menambal kekosongan itu dengan terus mengikuti apa yang ramai.Dalam pandangan Islam, hati yang kosong dari qana’ah akan mudah gelisah. Ia mudah silau dengan apa yang ada pada orang lain. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan,وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ“Janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka.” (QS. Thaha: 131)Ayat ini mengajarkan agar hati tidak terus terpaku pada kelebihan duniawi orang lain. Karena terlalu sering melihat nikmat orang lain tanpa iman dan qana’ah bisa membuat hati semakin resah.Baca juga: Mengikuti Gaya Orang Kafir, Tasyabbuh Mengapa FOMO Banyak Terjadi pada Generasi Saat Ini?Generasi saat ini hidup di tengah derasnya arus media sosial. Setiap hari seseorang melihat pencapaian orang lain, liburan orang lain, barang baru orang lain, kajian yang diikuti orang lain, bisnis orang lain, pernikahan orang lain, dan berbagai momen yang tampak indah.Zhang dkk. (2021) dalam meta-analisisnya menemukan adanya hubungan positif antara penggunaan media sosial dan FOMO. Artinya, semakin kuat keterlibatan seseorang dengan media sosial, semakin besar kemungkinan muncul rasa takut tertinggal.Media sosial membuat hidup orang lain terlihat sangat dekat. Namun, yang sering terlihat hanyalah potongan terbaik dari hidup mereka. Jarang orang menampilkan lelahnya, masalahnya, utangnya, konfliknya, air matanya, atau ujian batinnya. Akhirnya, seseorang membandingkan seluruh hidupnya dengan cuplikan terbaik hidup orang lain.Di sinilah FOMO menjadi berbahaya. Ia membuat seseorang lupa bahwa tidak semua yang tampak indah di layar benar-benar indah dalam kenyataan. Dampak Baik FOMO Jika DiarahkanFOMO tidak selalu buruk jika diarahkan kepada kebaikan. Ada bentuk “takut tertinggal” yang justru terpuji, yaitu takut tertinggal dari ilmu, amal saleh, sedekah, majelis ilmu, dakwah, dan kesempatan memperbaiki diri.Di antara dampak baik FOMO jika diarahkan:Pertama, mendorong seseorang mencari ilmu. Melihat orang lain rajin belajar bisa membuat seseorang ikut terdorong belajar. Ini menjadi baik jika yang ditiru adalah kebaikan.Kedua, membangkitkan semangat produktif. Seseorang bisa terpacu untuk menulis, berdakwah, berolahraga, menghafal Al-Qur’an, atau memperbaiki akhlak karena melihat teladan baik.Ketiga, mendorong seseorang masuk ke lingkungan yang saleh. Ia takut tertinggal dari majelis ilmu, takut tertinggal dari teman-teman yang shalih, dan takut tertinggal dari amal yang mendekatkannya kepada Allah.Inilah FOMO yang baik: bukan takut tertinggal dari dunia, tetapi takut tertinggal dari kebaikan akhirat.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ“Berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148)Maka, takut tertinggal dalam urusan akhirat adalah tanda hati yang masih hidup. Yang berbahaya adalah ketika seseorang hanya takut tertinggal dari tren dunia, tetapi tidak takut tertinggal dari shalat, ilmu, taubat, dan amal saleh.Baca juga: Berlomba dalam Meraih Pahala Dampak Buruk FOMO Jika Tidak DikendalikanDampak buruk FOMO lebih banyak muncul ketika seseorang tidak punya prinsip dan mudah terseret arus. Ia ikut karena ramai, bukan karena benar. Ia membeli karena viral, bukan karena butuh. Ia berbicara karena tren, bukan karena ilmu.Di antara dampak buruk FOMO adalah:Pertama, gelisah dan sulit merasa cukup. Gupta dan Sharma (2021) menjelaskan bahwa FOMO berkaitan dengan kesehatan mental. Seseorang yang terus merasa tertinggal akan lebih mudah cemas, tidak puas, dan merasa hidupnya kalah dari orang lain.Kedua, penggunaan internet dan media sosial secara berlebihan. Akbari dkk. (2021) dalam systematic review dan meta-analysis menyebut bahwa FOMO dipandang sebagai salah satu faktor yang berkaitan dengan penggunaan internet berlebihan. Orang yang takut tertinggal akan terus mengecek kabar, status, tren, komentar, dan aktivitas orang lain.Ketiga, membandingkan diri secara berlebihan. Servidio dkk. (2024) menemukan bahwa FOMO berkaitan dengan penggunaan media sosial bermasalah melalui perbandingan sosial dan harga diri. Seseorang melihat orang lain, lalu merasa dirinya kurang. Ia melihat keberhasilan orang lain, lalu merasa gagal. Ia melihat kebahagiaan orang lain, lalu merasa hidupnya hambar.Keempat, lemah dalam mengambil keputusan. Orang yang FOMO sering mengambil keputusan karena tekanan sosial. Ia takut tidak ikut, takut tidak dianggap gaul, takut tidak satu frekuensi, takut dianggap ketinggalan.Kelima, boros dan konsumtif. Banyak orang membeli barang bukan karena perlu, tetapi karena sedang viral. Banyak orang ikut acara bukan karena butuh, tetapi karena takut tidak punya cerita. Banyak orang mengejar gaya hidup bukan karena mampu, tetapi karena takut terlihat kalah.Keenam, hilang arah hidup. Ini bahaya yang paling besar. FOMO membuat seseorang lebih sibuk mengikuti manusia daripada mencari ridha Allah. Ia tidak lagi bertanya, “Apakah ini halal?” tetapi bertanya, “Apakah ini sedang ramai?” Ia tidak lagi bertanya, “Apakah ini bermanfaat?” tetapi bertanya, “Apakah orang lain juga ikut?”Padahal seorang muslim tidak hidup untuk mengejar validasi manusia. Seorang muslim hidup untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.Baca juga: Overthinking dalam Islam, Kapan Berpikir Menjadi Masalah? FOMO Belanja: Beli karena Butuh atau karena Takut Tertinggal?Salah satu bentuk FOMO yang sering terjadi adalah FOMO dalam belanja. Seseorang membeli barang bukan karena benar-benar butuh, tetapi karena barang itu sedang viral. Misalnya, ada barang yang viral di Makkah atau Madinah, lalu banyak orang merasa harus memilikinya, padahal kualitasnya biasa saja dan tidak ada keistimewaan yang berarti.Untuk menilai apakah keputusan membeli itu sehat atau karena FOMO, tanyakan pada diri sendiri:Kalau tidak viral, apakah tetap ingin beli? Jika jawabannya “tidak”, besar kemungkinan itu FOMO.Kalau tidak diposting, apakah tetap terasa berharga? Jika jawabannya “tidak”, mungkin yang dicari bukan barangnya, tetapi validasi.Apakah barang itu benar-benar dibutuhkan? Jika tidak, berarti lebih dekat pada perilaku konsumtif.Apakah harga sebanding dengan manfaat? Jika kualitasnya biasa saja, tetapi dibeli karena ramai, ini tanda keputusan sedang dipimpin tren.Dalam Islam, membeli barang mubah itu boleh. Namun, yang perlu dijaga adalah israf dan tabdzir. Israf adalah berlebihan dalam menggunakan harta, sedangkan tabdzir adalah membelanjakan harta pada hal yang tidak layak atau sia-sia.Maka, jangan sampai seseorang pulang dari Tanah Suci membawa barang viral, tetapi tertinggal dari pelajaran qana’ah. Jangan sampai yang paling diingat dari safar ibadah bukan doa, tawaf, shalat, dan taubat, tetapi barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.Barang viral boleh jadi cepat habis, tetapi qana’ah jangan sampai ikut habis. Baca juga: Inilah 6 Adab Ketika Masuk Pasar Agar Dapat Keberkahan dan Terhindar dari Mara Bahaya FOMO, Media Sosial, dan Perbandingan HidupMedia sosial sering menjadi ladang subur bagi FOMO. Seseorang membuka media sosial sebentar, lalu melihat temannya sudah menikah, temannya sudah punya rumah, temannya sudah punya anak, temannya sudah lulus, temannya sudah punya bisnis, temannya sudah jalan-jalan, temannya sudah ikut kajian besar, temannya sudah punya pencapaian tertentu.Akhirnya muncul bisikan:“Saya kapan?”“Saya kok begini-begini saja?”“Saya tertinggal jauh.”“Hidup orang lain kok lebih mudah?”Maciel-Saldierna dkk. (2024) meneliti penggunaan media sosial dan FOMO pada siswa SMP di Meksiko. Ini menunjukkan bahwa FOMO menjadi perhatian penting pada remaja dan pelajar, karena kelompok ini banyak berinteraksi dengan media sosial dan mudah terpengaruh oleh lingkungan sosialnya.Dalam konteks Indonesia, beberapa penelitian juga menyoroti FOMO pada mahasiswa, pengguna Instagram, pengguna TikTok, regulasi diri, harga diri, dan penggunaan media sosial bermasalah. Ini menunjukkan bahwa FOMO bukan sekadar fenomena luar negeri, tetapi juga terjadi di tengah masyarakat kita.Islam memberi obat penting untuk penyakit membandingkan diri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ“Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian, dan janganlah melihat kepada orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah atas kalian.” (HR. Muslim, no. 2963)Baca juga: Meraih Sifat QanaahHadits ini adalah terapi hati. Jika seseorang terlalu sering melihat yang di atas dalam urusan dunia, ia akan mudah merasa kurang. Namun, jika ia melihat yang di bawah, ia akan lebih mudah bersyukur.Baca juga: Benarkah Banyak Bergaul dan Bermedsos, Makin Banyak Dosa? FOMO dan Hati yang GelisahFOMO sangat dekat dengan overthinking. Seseorang yang FOMO sering memutar banyak pertanyaan dalam pikirannya.“Kalau saya tidak ikut, nanti bagaimana?”“Kalau saya tidak beli sekarang, nanti menyesal?”“Kalau saya tidak datang, nanti saya tidak dianggap?”“Kalau saya tidak update, nanti saya tertinggal?”Berpikir itu baik jika mengantar pada keputusan yang benar. Namun, overthinking membuat seseorang hanya berputar dalam kekhawatiran. Ia tidak semakin dekat kepada solusi, tetapi semakin jauh dari ketenangan.Di sinilah pentingnya tawakal. Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha. Tawakal berarti hati bersandar kepada Allah setelah menempuh sebab yang benar.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)Orang yang bertakwa tidak perlu panik karena manusia sudah lebih dahulu mendapatkan sesuatu. Rezeki tidak akan tertukar. Jalan hidup tidak harus sama. Ukuran sukses tidak ditentukan oleh tren, tetapi oleh ridha Allah.Baca juga: Rezeki Tak Mungkin Tertukar FOMO dan Bahaya Menjadi Pengikut Setiap SeruanFOMO bukan hanya masalah psikologis modern. Dalam bahasa agama, FOMO bisa menjadi tanda lemahnya pijakan ilmu. Orang yang mudah takut tertinggal dari tren biasanya mudah digerakkan oleh apa pun yang sedang ramai. Ia tidak sempat bertanya, “Ini benar atau salah?” Ia hanya bertanya, “Ini sedang diikuti banyak orang atau tidak?”Di sinilah pentingnya nasihat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu kepada Kumail bin Ziyad. Beliau berkata,النَّاسُ ثَلَاثَةٌ؛ فَعَالِمٌ رَبَّانِيٌّ، وَمُتَعَلِّمٌ عَلَى سَبِيلِ نَجَاةٍ، وَهَمَجٌ رَعَاعٌ أَتْبَاعُ كُلِّ نَاعِقٍ، يَمِيلُونَ مَعَ كُلِّ رِيحٍ، لَمْ يَسْتَضِيئُوا بِنُورِ الْعِلْمِ، وَلَمْ يَلْجَؤُوا إِلَى رُكْنٍ وَثِيقٍ.“Manusia terbagi menjadi tiga jenis. Pertama, seorang alim rabbani. Kedua, penuntut ilmu yang berada di jalan keselamatan. Ketiga, massa bodoh yang kacau balau; mereka adalah pengikut setiap penyeru, condong mengikuti setiap arah angin, tidak pernah disinari cahaya ilmu, dan tidak bersandar pada pijakan yang kokoh.”Perkataan ini sangat relevan untuk membaca budaya FOMO hari ini. Orang yang tidak punya cahaya ilmu akan mudah menjadi “pengikut setiap penyeru”. Ketika ada tren baru, ia ikut. Ketika ada opini viral, ia ikut. Ketika ada gaya hidup yang sedang ramai, ia ikut. Ketika ada ajakan yang belum jelas benar-salahnya, ia tetap ikut karena takut tertinggal.Inilah bahaya FOMO: seseorang bisa berubah menjadi manusia yang mudah digiring. Bukan lagi ilmu yang memimpin hidupnya, tetapi suara mayoritas. Bukan lagi petunjuk Allah yang menjadi ukuran, tetapi tren yang sedang ramai. Bukan lagi halal dan haram yang ditimbang, tetapi “orang-orang juga melakukannya.”‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menyebut golongan ketiga sebagai هَمَجٌ رَعَاعٌ, yaitu orang-orang bodoh yang tidak memiliki pegangan kuat. Mereka disebut أَتْبَاعُ كُلِّ نَاعِقٍ, pengikut setiap penyeru. Siapa pun yang bersuara keras, mereka ikuti. Ke mana pun angin opini bertiup, mereka condong ke sana.Ini persis dengan sebagian budaya digital hari ini. Seseorang bisa ikut marah karena semua orang sedang marah. Ikut membeli karena semua orang sedang membeli. Ikut menghina karena semua orang sedang menghina. Ikut menyebarkan berita karena semua orang sedang membagikannya. Padahal belum tentu ia tahu duduk perkara, belum tentu benar, dan belum tentu diridhai Allah.Karena itu, obat FOMO adalah ilmu. ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu juga berkata,العِلْمُ خَيْرٌ مِنَ المَالِ، العِلْمُ يَحْرُسُكَ وَأَنْتَ تَحْرُسُ المَالَ.“Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu akan menjagamu, sedangkan harta harus engkau jaga.”Baca juga: 40 Alasan Ilmu Agama Lebih Baik daripada HartaIlmu menjaga seseorang dari mudah ikut-ikutan. Ilmu membuat seseorang berani berbeda ketika yang ramai ternyata salah. Ilmu membuat seseorang tidak panik saat tertinggal dari tren dunia, karena ia tahu bahwa keselamatan bukan pada mengikuti banyak orang, tetapi pada mengikuti kebenaran.Orang berilmu tidak mudah digoyang oleh “angin” tren. Ia seperti pohon besar yang akarnya kokoh. Adapun orang yang tidak punya ilmu seperti ranting lemah; sedikit saja ada angin opini, ia ikut bergerak. Hari ini ke kanan, besok ke kiri. Hari ini membela, besok mencela. Hari ini ikut tren ini, besok ikut tren lain.Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan,وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ“Jika engkau mengikuti kebanyakan orang di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An’am: 116)Ayat ini mengajarkan bahwa kebenaran tidak selalu diukur dari banyaknya pengikut. Sesuatu yang viral belum tentu benar. Sesuatu yang ramai belum tentu selamat. Sesuatu yang menjadi tren belum tentu membawa berkah.Maka, seorang muslim tidak boleh hidup sebagai pengikut setiap seruan. Ia harus bertanya sebelum mengikuti:Apakah ini sesuai ilmu?Apakah ini halal?Apakah ini membawa manfaat?Apakah ini mendekatkan saya kepada Allah?Apakah ini hanya dorongan gengsi dan takut tertinggal?Jika pertanyaan-pertanyaan ini tidak dijawab, FOMO akan menyeret seseorang menjadi bagian dari hamaj ra’aa’, yaitu orang banyak yang mudah dikendalikan oleh suara, tren, dan arus. Namun, jika ia kembali kepada ilmu, ia akan selamat. Karena manusia yang selamat hanya dua: alim rabbani atau penuntut ilmu yang berjalan menuju keselamatan.Jadi, lawan dari FOMO bukan sekadar “tidak ikut tren”. Lawan dari FOMO adalah hidup dengan ilmu. Karena orang yang berilmu tidak takut tertinggal dari dunia, selama ia tidak tertinggal dari petunjuk Allah.Baca juga: Ilmu Lebih Berharga dari Harta, Inspirasi Parenting dari Kisah Farrukh dan Rabi‘ah Takut Tertinggal dari Tren atau Tertinggal dari Hidayah?Pertanyaan pentingnya bukan: “Apakah saya tertinggal dari tren?”Pertanyaan pentingnya adalah: “Apakah saya tertinggal dari hidayah?”Banyak orang takut tertinggal kabar, tetapi tidak takut tertinggal shalat.Banyak orang takut tidak ikut tren, tetapi tidak takut tidak ikut majelis ilmu.Banyak orang takut tidak punya pengalaman dunia, tetapi tidak takut kehilangan kesempatan taubat.Banyak orang takut tidak diakui manusia, tetapi tidak takut jauh dari Allah.Maka, seorang muslim perlu mengubah arah rasa takutnya. Jangan jadikan FOMO sebagai rasa takut tertinggal dari dunia. Jadikan ia sebagai rasa takut tertinggal dari kebaikan.Takutlah jika umur berjalan, tetapi amal tidak bertambah.Takutlah jika ilmu semakin mudah diakses, tetapi hati tidak semakin tunduk.Takutlah jika media sosial selalu sempat dibuka, tetapi mushaf jarang disentuh.Takutlah jika tren selalu diikuti, tetapi sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diabaikan. Baca juga: Doa Meminta Hidayah dan Istiqamah di Atas Kebenaran Terkait Prinsip Agama: FOMO Menghilangkan Jati Diri Seorang MuslimBahaya lain dari FOMO adalah membuat seseorang kehilangan jati diri. Ia tidak lagi berani tampil sebagai dirinya yang sebenarnya. Ia lebih sibuk menyesuaikan diri dengan tren, gaya hidup, dan standar manusia daripada menjaga identitasnya sebagai seorang muslim.Padahal seorang muslim memiliki jati diri yang jelas. Ia punya iman, ibadah, akhlak, adab, batas halal-haram, dan prinsip hidup yang bersumber dari wahyu. Seorang muslim tidak hidup hanya untuk diterima manusia, tetapi untuk mencari ridha Allah subhanahu wa ta’ala.FOMO bisa merusak jati diri seorang muslim dalam beberapa bentuk.Pertama, FOMO membuat seseorang malu dengan identitas agamanya. Ia malu terlihat berbeda, malu menjaga adab, malu menolak ajakan maksiat, malu tidak ikut gaya hidup yang sedang ramai. Akhirnya, ia lebih takut dianggap aneh oleh manusia daripada takut menyelisihi perintah Allah.Kedua, FOMO membuat seseorang mudah meniru siapa saja yang sedang populer. Jika yang viral adalah gaya hidup orang fasik, ia ikut. Jika yang ramai adalah budaya orang kafir, ia ikut. Jika yang banyak ditonton adalah ahli maksiat, ia pun merasa perlu mengikuti agar tidak tertinggal. Padahal tidak semua yang populer pantas ditiru.Ketiga, FOMO melemahkan prinsip al-wala’ wal-bara’. Seorang muslim semestinya mencintai kebaikan, orang-orang saleh, dan jalan kaum beriman. Ia juga harus menjauh dari kekufuran, kemaksiatan, dan simbol-simbol yang bertentangan dengan Islam. Namun, FOMO membuat sebagian orang tidak lagi peka: selama sesuatu viral, ia ikuti; selama banyak yang melakukan, ia anggap biasa.Keempat, FOMO membuat seorang muslim meniru ahli maksiat. Ia mengikuti cara berpakaian, cara bicara, gaya hiburan, gaya pergaulan, bahkan cara merayakan sesuatu yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Padahal muslim yang baik tidak menjadikan ahli maksiat sebagai teladan hidup. Yang layak diteladani adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, ulama, dan orang-orang saleh.Kelima, FOMO bisa menyeret kepada tasyabbuh dengan orang kafir. Tasyabbuh adalah menyerupai orang kafir dalam perkara yang menjadi ciri khas agama, syiar, atau kebiasaan khusus mereka yang bertentangan dengan Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Daud, no. 4031; Ahmad, 2:50. Dinilai hasan oleh para ulama)Hadits ini menjadi peringatan agar seorang muslim tidak mudah larut meniru identitas umat lain, apalagi dalam perkara yang menjadi ciri khas agama dan budaya mereka yang menyelisihi Islam.Keenam, FOMO membuat seseorang kehilangan keberanian untuk berbeda. Padahal dalam banyak keadaan, seorang muslim memang harus berani berbeda. Berbeda karena menjaga shalat. Berbeda karena menjaga aurat. Berbeda karena menolak riba. Berbeda karena tidak ikut pergaulan bebas. Berbeda karena tidak ikut tren maksiat. Berbeda karena berpegang pada sunnah.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِّنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ“Kemudian Kami jadikan engkau berada di atas suatu syariat dari urusan agama itu. Maka ikutilah syariat itu dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Al-Jatsiyah: 18)Ayat ini menunjukkan bahwa seorang muslim harus mengikuti syariat, bukan mengikuti hawa nafsu manusia. Jika tren bertentangan dengan syariat, maka tren itu harus ditinggalkan. Jika budaya populer mengajak pada maksiat, maka budaya itu tidak boleh diikuti. Jika standar manusia membuat kita jauh dari Allah, maka standar itu harus ditolak.Ketujuh, FOMO membuat ukuran hidup berubah. Orang yang terkena FOMO sering bertanya, “Apakah ini sedang ramai?” Padahal seorang muslim seharusnya bertanya, “Apakah ini benar menurut Allah?” Ia bertanya, “Apakah orang-orang ikut?” Padahal seharusnya ia bertanya, “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meridhai jalan seperti ini?”Karena itu, menjaga jati diri muslim sangat penting di zaman yang penuh tren. Jangan sampai seorang muslim lebih bangga dengan brand, gaya hidup, komunitas, atau simbol dunia daripada bangga dengan Islam. Jangan sampai ia lebih cepat mengikuti suara influencer daripada mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Seorang muslim boleh mengambil manfaat dari kemajuan zaman. Ia boleh memakai teknologi, belajar dari pengalaman orang lain, dan mengikuti hal-hal mubah yang bermanfaat. Namun, ia tidak boleh kehilangan prinsip. Tidak semua yang datang dari luar harus ditolak, tetapi tidak semua yang viral boleh ditiru.FOMO dalam urusan dunia bisa membuat boros. Namun, FOMO dalam urusan akidah bisa membuat seseorang kehilangan arah iman. Cara Mengendalikan FOMOAda beberapa cara sederhana untuk mengendalikan FOMO.Pertama, batasi paparan media sosial. Tidak semua hal perlu diketahui. Tidak semua kabar perlu diikuti. Tidak semua tren perlu dicoba.Kedua, tanyakan sebelum ikut: apakah ini halal, bermanfaat, dan sesuai prioritas hidup? Jika tidak jelas manfaatnya, tinggalkan.Ketiga, perbanyak syukur. FOMO sering muncul karena seseorang terlalu fokus pada apa yang belum dimiliki, bukan pada nikmat yang sudah Allah beri.Keempat, pilih lingkungan yang baik. Jika lingkungan hanya mendorong gengsi, gaya hidup, dan pencitraan, hati akan mudah lelah. Namun, jika lingkungan mengajak kepada ilmu dan amal, rasa takut tertinggal akan berubah menjadi semangat berlomba dalam kebaikan.Kelima, kuatkan qana’ah dan tawakal. Qana’ah membuat hati cukup. Tawakal membuat hati tidak panik.Keenam, ingat tujuan hidup. Hidup bukan untuk selalu update, tetapi untuk beribadah kepada Allah. Hidup bukan untuk selalu terlihat berhasil, tetapi untuk pulang kepada Allah dengan iman dan amal saleh.Baca juga: Tawakal kepada Allah yang Memberi Kecukupan (Perkataan Ibnul Qayyim) Nasihat TerakhirFOMO membuat seseorang takut tertinggal dari manusia, padahal yang lebih berbahaya adalah tertinggal dari petunjuk Allah. Jangan biarkan hidup dipimpin oleh tren, komentar, validasi, dan pencapaian orang lain. Jadikan ilmu sebagai cahaya agar kita tidak menjadi pengikut setiap seruan yang viral. Yang paling penting bukan selalu update terhadap dunia, tetapi tetap kokoh di atas iman, ilmu, amal saleh, dan qana’ah.اللَّهُمَّ اهْدِنَا لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا، وَاجْعَلْ قُلُوبَنَا مُطْمَئِنَّةً بِذِكْرِكَ، وَارْزُقْنَا الْقَنَاعَةَ وَالثَّبَاتَ عَلَى طَاعَتِكَ.Allahummahdinaa li ahsanil akhlaaq, washrif ‘annaa sayyi-ahaa, waj‘al quluubanaa muthma-innatan bi dzikrika, warzuqnal qanaa‘ata wats-tsabaata ‘alaa thaa‘atik.“Ya Allah, tunjukilah kami kepada akhlak yang terbaik, jauhkanlah kami dari akhlak yang buruk, jadikan hati kami tenang dengan mengingat-Mu, dan karuniakan kepada kami sifat qana’ah serta keteguhan di atas ketaatan kepada-Mu.” 5 Pertanyaan Anti-FOMOKalau barang ini tidak viral, apakah saya tetap ingin membelinya?Apakah saya benar-benar membutuhkan barang ini, atau hanya ingin ikut arus?Apakah manfaatnya sebanding dengan harganya?Apakah kualitasnya memang layak, atau hanya terlihat menarik karena ramai dibicarakan?Apakah pembelian ini mengganggu kebutuhan lain yang lebih penting? Rumus Ringkas Anti-FOMOBeli karena butuh, bukan karena gaduh.Pilih karena manfaat, bukan karena viral.Pertimbangkan harga, kualitas, dan prioritas.Jangan sampai tren mengalahkan qana’ah.Baca juga: 5 Manfaat Sifat Qanaah ReferensiAkbari, M., Seydavi, M., Palmieri, S., Mansueto, G., Caselli, G., & Spada, M. M. (2021). Fear of missing out (FoMO) and internet use: A comprehensive systematic review and meta-analysis. Journal of Behavioral Addictions, 10(4), 879–900. https://doi.org/10.1556/2006.2021.00083Gupta, M., & Sharma, A. (2021). Fear of missing out: A brief overview of origin, theoretical underpinnings and relationship with mental health. World Journal of Clinical Cases, 9(19), 4881–4889. https://doi.org/10.12998/wjcc.v9.i19.4881Maciel-Saldierna, M., Méndez, I. R., & Guevara, G. (2024). Social media use and fear of missing out: An exploratory cross-sectional study in junior high students from Western Mexico. Pediatric Reports, 16(4), Article 87. https://doi.org/10.3390/pediatric16040087Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841–1848. https://doi.org/10.1016/j.chb.2013.02.014Servidio, R., Soraci, P., Griffiths, M. D., Boca, S., & Demetrovics, Z. (2024). Fear of missing out and problematic social media use: A serial mediation model of social comparison and self-esteem. Addictive Behaviors Reports, 19, Article 100536. https://doi.org/10.1016/j.abrep.2024.100536Zhang, Y., Li, S., & Yu, G. (2021). The relationship between social media use and fear of missing out: A meta-analysis. Acta Psychologica Sinica, 53(3), 273–290. https://doi.org/10.3724/SP.J.1041.2021.00273 —- Selesai ditulis di Malang Jawa Timur saat liburan, 13 Muharram 1448 H, 28 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfear of missing out FOMO gangguan kesehatan mental ikut tren ilmu agama kesehatan mental media sosial nasihat islam overthinking qanaah tujuan hidup validasi

FOMO: Takut Ketinggalan Tren, Lupa Tujuan Hidup

Banyak orang hari ini tidak benar-benar memilih jalan hidupnya, tetapi hanya ikut arus yang sedang ramai. Ia takut tertinggal tren, takut tidak tahu kabar terbaru, takut tidak ikut pengalaman yang orang lain rasakan. Inilah yang disebut FOMO, dan jika tidak dikendalikan, ia bisa membuat hati lelah, pikiran gelisah, dan hidup kehilangan arah.  Daftar Isi tutup 1. Apa Itu FOMO? 2. FOMO Bukan Sekadar Ikut-Ikutan 3. Mengapa FOMO Banyak Terjadi pada Generasi Saat Ini? 4. Dampak Baik FOMO Jika Diarahkan 5. Dampak Buruk FOMO Jika Tidak Dikendalikan 6. FOMO Belanja: Beli karena Butuh atau karena Takut Tertinggal? 7. FOMO, Media Sosial, dan Perbandingan Hidup 8. FOMO dan Hati yang Gelisah 9. FOMO dan Bahaya Menjadi Pengikut Setiap Seruan 10. Takut Tertinggal dari Tren atau Tertinggal dari Hidayah? 11. Terkait Prinsip Agama: FOMO Menghilangkan Jati Diri Seorang Muslim 12. Cara Mengendalikan FOMO 13. Nasihat Terakhir 13.1. 5 Pertanyaan Anti-FOMO 13.2. Rumus Ringkas Anti-FOMO 14. Referensi  Apa Itu FOMO?FOMO adalah singkatan dari Fear of Missing Out, yaitu rasa takut tertinggal dari sesuatu yang sedang dialami, dibicarakan, atau diikuti oleh orang lain. Dalam riset Przybylski dkk. (2013), FOMO dijelaskan sebagai kekhawatiran bahwa orang lain mungkin sedang mengalami pengalaman berharga sementara dirinya tidak ikut di dalamnya.Dalam bahasa sederhana, FOMO adalah perasaan:“Jangan-jangan saya rugi kalau tidak ikut.”“Jangan-jangan saya tertinggal.”“Jangan-jangan orang lain lebih maju, lebih bahagia, dan lebih seru hidupnya.”Masalahnya, perasaan seperti ini sering membuat seseorang mengambil keputusan bukan karena ilmu, kebutuhan, atau pertimbangan matang, tetapi karena takut dianggap ketinggalan. FOMO Bukan Sekadar Ikut-IkutanSecara ilmiah, FOMO bukan hanya kebiasaan ikut tren. Ia berkaitan dengan kebutuhan psikologis seseorang. Przybylski dkk. (2013) menemukan bahwa FOMO lebih tinggi pada orang yang kebutuhan psikologis dasarnya kurang terpenuhi, seperti kebutuhan merasa mampu, mandiri, dan terhubung dengan orang lain.Ini menunjukkan bahwa FOMO sering muncul dari hati yang merasa kurang. Ia merasa belum cukup diterima, belum cukup dihargai, atau belum cukup punya tempat dalam pergaulan. Akhirnya, seseorang berusaha menambal kekosongan itu dengan terus mengikuti apa yang ramai.Dalam pandangan Islam, hati yang kosong dari qana’ah akan mudah gelisah. Ia mudah silau dengan apa yang ada pada orang lain. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan,وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ“Janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka.” (QS. Thaha: 131)Ayat ini mengajarkan agar hati tidak terus terpaku pada kelebihan duniawi orang lain. Karena terlalu sering melihat nikmat orang lain tanpa iman dan qana’ah bisa membuat hati semakin resah.Baca juga: Mengikuti Gaya Orang Kafir, Tasyabbuh Mengapa FOMO Banyak Terjadi pada Generasi Saat Ini?Generasi saat ini hidup di tengah derasnya arus media sosial. Setiap hari seseorang melihat pencapaian orang lain, liburan orang lain, barang baru orang lain, kajian yang diikuti orang lain, bisnis orang lain, pernikahan orang lain, dan berbagai momen yang tampak indah.Zhang dkk. (2021) dalam meta-analisisnya menemukan adanya hubungan positif antara penggunaan media sosial dan FOMO. Artinya, semakin kuat keterlibatan seseorang dengan media sosial, semakin besar kemungkinan muncul rasa takut tertinggal.Media sosial membuat hidup orang lain terlihat sangat dekat. Namun, yang sering terlihat hanyalah potongan terbaik dari hidup mereka. Jarang orang menampilkan lelahnya, masalahnya, utangnya, konfliknya, air matanya, atau ujian batinnya. Akhirnya, seseorang membandingkan seluruh hidupnya dengan cuplikan terbaik hidup orang lain.Di sinilah FOMO menjadi berbahaya. Ia membuat seseorang lupa bahwa tidak semua yang tampak indah di layar benar-benar indah dalam kenyataan. Dampak Baik FOMO Jika DiarahkanFOMO tidak selalu buruk jika diarahkan kepada kebaikan. Ada bentuk “takut tertinggal” yang justru terpuji, yaitu takut tertinggal dari ilmu, amal saleh, sedekah, majelis ilmu, dakwah, dan kesempatan memperbaiki diri.Di antara dampak baik FOMO jika diarahkan:Pertama, mendorong seseorang mencari ilmu. Melihat orang lain rajin belajar bisa membuat seseorang ikut terdorong belajar. Ini menjadi baik jika yang ditiru adalah kebaikan.Kedua, membangkitkan semangat produktif. Seseorang bisa terpacu untuk menulis, berdakwah, berolahraga, menghafal Al-Qur’an, atau memperbaiki akhlak karena melihat teladan baik.Ketiga, mendorong seseorang masuk ke lingkungan yang saleh. Ia takut tertinggal dari majelis ilmu, takut tertinggal dari teman-teman yang shalih, dan takut tertinggal dari amal yang mendekatkannya kepada Allah.Inilah FOMO yang baik: bukan takut tertinggal dari dunia, tetapi takut tertinggal dari kebaikan akhirat.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ“Berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148)Maka, takut tertinggal dalam urusan akhirat adalah tanda hati yang masih hidup. Yang berbahaya adalah ketika seseorang hanya takut tertinggal dari tren dunia, tetapi tidak takut tertinggal dari shalat, ilmu, taubat, dan amal saleh.Baca juga: Berlomba dalam Meraih Pahala Dampak Buruk FOMO Jika Tidak DikendalikanDampak buruk FOMO lebih banyak muncul ketika seseorang tidak punya prinsip dan mudah terseret arus. Ia ikut karena ramai, bukan karena benar. Ia membeli karena viral, bukan karena butuh. Ia berbicara karena tren, bukan karena ilmu.Di antara dampak buruk FOMO adalah:Pertama, gelisah dan sulit merasa cukup. Gupta dan Sharma (2021) menjelaskan bahwa FOMO berkaitan dengan kesehatan mental. Seseorang yang terus merasa tertinggal akan lebih mudah cemas, tidak puas, dan merasa hidupnya kalah dari orang lain.Kedua, penggunaan internet dan media sosial secara berlebihan. Akbari dkk. (2021) dalam systematic review dan meta-analysis menyebut bahwa FOMO dipandang sebagai salah satu faktor yang berkaitan dengan penggunaan internet berlebihan. Orang yang takut tertinggal akan terus mengecek kabar, status, tren, komentar, dan aktivitas orang lain.Ketiga, membandingkan diri secara berlebihan. Servidio dkk. (2024) menemukan bahwa FOMO berkaitan dengan penggunaan media sosial bermasalah melalui perbandingan sosial dan harga diri. Seseorang melihat orang lain, lalu merasa dirinya kurang. Ia melihat keberhasilan orang lain, lalu merasa gagal. Ia melihat kebahagiaan orang lain, lalu merasa hidupnya hambar.Keempat, lemah dalam mengambil keputusan. Orang yang FOMO sering mengambil keputusan karena tekanan sosial. Ia takut tidak ikut, takut tidak dianggap gaul, takut tidak satu frekuensi, takut dianggap ketinggalan.Kelima, boros dan konsumtif. Banyak orang membeli barang bukan karena perlu, tetapi karena sedang viral. Banyak orang ikut acara bukan karena butuh, tetapi karena takut tidak punya cerita. Banyak orang mengejar gaya hidup bukan karena mampu, tetapi karena takut terlihat kalah.Keenam, hilang arah hidup. Ini bahaya yang paling besar. FOMO membuat seseorang lebih sibuk mengikuti manusia daripada mencari ridha Allah. Ia tidak lagi bertanya, “Apakah ini halal?” tetapi bertanya, “Apakah ini sedang ramai?” Ia tidak lagi bertanya, “Apakah ini bermanfaat?” tetapi bertanya, “Apakah orang lain juga ikut?”Padahal seorang muslim tidak hidup untuk mengejar validasi manusia. Seorang muslim hidup untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.Baca juga: Overthinking dalam Islam, Kapan Berpikir Menjadi Masalah? FOMO Belanja: Beli karena Butuh atau karena Takut Tertinggal?Salah satu bentuk FOMO yang sering terjadi adalah FOMO dalam belanja. Seseorang membeli barang bukan karena benar-benar butuh, tetapi karena barang itu sedang viral. Misalnya, ada barang yang viral di Makkah atau Madinah, lalu banyak orang merasa harus memilikinya, padahal kualitasnya biasa saja dan tidak ada keistimewaan yang berarti.Untuk menilai apakah keputusan membeli itu sehat atau karena FOMO, tanyakan pada diri sendiri:Kalau tidak viral, apakah tetap ingin beli? Jika jawabannya “tidak”, besar kemungkinan itu FOMO.Kalau tidak diposting, apakah tetap terasa berharga? Jika jawabannya “tidak”, mungkin yang dicari bukan barangnya, tetapi validasi.Apakah barang itu benar-benar dibutuhkan? Jika tidak, berarti lebih dekat pada perilaku konsumtif.Apakah harga sebanding dengan manfaat? Jika kualitasnya biasa saja, tetapi dibeli karena ramai, ini tanda keputusan sedang dipimpin tren.Dalam Islam, membeli barang mubah itu boleh. Namun, yang perlu dijaga adalah israf dan tabdzir. Israf adalah berlebihan dalam menggunakan harta, sedangkan tabdzir adalah membelanjakan harta pada hal yang tidak layak atau sia-sia.Maka, jangan sampai seseorang pulang dari Tanah Suci membawa barang viral, tetapi tertinggal dari pelajaran qana’ah. Jangan sampai yang paling diingat dari safar ibadah bukan doa, tawaf, shalat, dan taubat, tetapi barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.Barang viral boleh jadi cepat habis, tetapi qana’ah jangan sampai ikut habis. Baca juga: Inilah 6 Adab Ketika Masuk Pasar Agar Dapat Keberkahan dan Terhindar dari Mara Bahaya FOMO, Media Sosial, dan Perbandingan HidupMedia sosial sering menjadi ladang subur bagi FOMO. Seseorang membuka media sosial sebentar, lalu melihat temannya sudah menikah, temannya sudah punya rumah, temannya sudah punya anak, temannya sudah lulus, temannya sudah punya bisnis, temannya sudah jalan-jalan, temannya sudah ikut kajian besar, temannya sudah punya pencapaian tertentu.Akhirnya muncul bisikan:“Saya kapan?”“Saya kok begini-begini saja?”“Saya tertinggal jauh.”“Hidup orang lain kok lebih mudah?”Maciel-Saldierna dkk. (2024) meneliti penggunaan media sosial dan FOMO pada siswa SMP di Meksiko. Ini menunjukkan bahwa FOMO menjadi perhatian penting pada remaja dan pelajar, karena kelompok ini banyak berinteraksi dengan media sosial dan mudah terpengaruh oleh lingkungan sosialnya.Dalam konteks Indonesia, beberapa penelitian juga menyoroti FOMO pada mahasiswa, pengguna Instagram, pengguna TikTok, regulasi diri, harga diri, dan penggunaan media sosial bermasalah. Ini menunjukkan bahwa FOMO bukan sekadar fenomena luar negeri, tetapi juga terjadi di tengah masyarakat kita.Islam memberi obat penting untuk penyakit membandingkan diri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ“Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian, dan janganlah melihat kepada orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah atas kalian.” (HR. Muslim, no. 2963)Baca juga: Meraih Sifat QanaahHadits ini adalah terapi hati. Jika seseorang terlalu sering melihat yang di atas dalam urusan dunia, ia akan mudah merasa kurang. Namun, jika ia melihat yang di bawah, ia akan lebih mudah bersyukur.Baca juga: Benarkah Banyak Bergaul dan Bermedsos, Makin Banyak Dosa? FOMO dan Hati yang GelisahFOMO sangat dekat dengan overthinking. Seseorang yang FOMO sering memutar banyak pertanyaan dalam pikirannya.“Kalau saya tidak ikut, nanti bagaimana?”“Kalau saya tidak beli sekarang, nanti menyesal?”“Kalau saya tidak datang, nanti saya tidak dianggap?”“Kalau saya tidak update, nanti saya tertinggal?”Berpikir itu baik jika mengantar pada keputusan yang benar. Namun, overthinking membuat seseorang hanya berputar dalam kekhawatiran. Ia tidak semakin dekat kepada solusi, tetapi semakin jauh dari ketenangan.Di sinilah pentingnya tawakal. Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha. Tawakal berarti hati bersandar kepada Allah setelah menempuh sebab yang benar.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)Orang yang bertakwa tidak perlu panik karena manusia sudah lebih dahulu mendapatkan sesuatu. Rezeki tidak akan tertukar. Jalan hidup tidak harus sama. Ukuran sukses tidak ditentukan oleh tren, tetapi oleh ridha Allah.Baca juga: Rezeki Tak Mungkin Tertukar FOMO dan Bahaya Menjadi Pengikut Setiap SeruanFOMO bukan hanya masalah psikologis modern. Dalam bahasa agama, FOMO bisa menjadi tanda lemahnya pijakan ilmu. Orang yang mudah takut tertinggal dari tren biasanya mudah digerakkan oleh apa pun yang sedang ramai. Ia tidak sempat bertanya, “Ini benar atau salah?” Ia hanya bertanya, “Ini sedang diikuti banyak orang atau tidak?”Di sinilah pentingnya nasihat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu kepada Kumail bin Ziyad. Beliau berkata,النَّاسُ ثَلَاثَةٌ؛ فَعَالِمٌ رَبَّانِيٌّ، وَمُتَعَلِّمٌ عَلَى سَبِيلِ نَجَاةٍ، وَهَمَجٌ رَعَاعٌ أَتْبَاعُ كُلِّ نَاعِقٍ، يَمِيلُونَ مَعَ كُلِّ رِيحٍ، لَمْ يَسْتَضِيئُوا بِنُورِ الْعِلْمِ، وَلَمْ يَلْجَؤُوا إِلَى رُكْنٍ وَثِيقٍ.“Manusia terbagi menjadi tiga jenis. Pertama, seorang alim rabbani. Kedua, penuntut ilmu yang berada di jalan keselamatan. Ketiga, massa bodoh yang kacau balau; mereka adalah pengikut setiap penyeru, condong mengikuti setiap arah angin, tidak pernah disinari cahaya ilmu, dan tidak bersandar pada pijakan yang kokoh.”Perkataan ini sangat relevan untuk membaca budaya FOMO hari ini. Orang yang tidak punya cahaya ilmu akan mudah menjadi “pengikut setiap penyeru”. Ketika ada tren baru, ia ikut. Ketika ada opini viral, ia ikut. Ketika ada gaya hidup yang sedang ramai, ia ikut. Ketika ada ajakan yang belum jelas benar-salahnya, ia tetap ikut karena takut tertinggal.Inilah bahaya FOMO: seseorang bisa berubah menjadi manusia yang mudah digiring. Bukan lagi ilmu yang memimpin hidupnya, tetapi suara mayoritas. Bukan lagi petunjuk Allah yang menjadi ukuran, tetapi tren yang sedang ramai. Bukan lagi halal dan haram yang ditimbang, tetapi “orang-orang juga melakukannya.”‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menyebut golongan ketiga sebagai هَمَجٌ رَعَاعٌ, yaitu orang-orang bodoh yang tidak memiliki pegangan kuat. Mereka disebut أَتْبَاعُ كُلِّ نَاعِقٍ, pengikut setiap penyeru. Siapa pun yang bersuara keras, mereka ikuti. Ke mana pun angin opini bertiup, mereka condong ke sana.Ini persis dengan sebagian budaya digital hari ini. Seseorang bisa ikut marah karena semua orang sedang marah. Ikut membeli karena semua orang sedang membeli. Ikut menghina karena semua orang sedang menghina. Ikut menyebarkan berita karena semua orang sedang membagikannya. Padahal belum tentu ia tahu duduk perkara, belum tentu benar, dan belum tentu diridhai Allah.Karena itu, obat FOMO adalah ilmu. ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu juga berkata,العِلْمُ خَيْرٌ مِنَ المَالِ، العِلْمُ يَحْرُسُكَ وَأَنْتَ تَحْرُسُ المَالَ.“Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu akan menjagamu, sedangkan harta harus engkau jaga.”Baca juga: 40 Alasan Ilmu Agama Lebih Baik daripada HartaIlmu menjaga seseorang dari mudah ikut-ikutan. Ilmu membuat seseorang berani berbeda ketika yang ramai ternyata salah. Ilmu membuat seseorang tidak panik saat tertinggal dari tren dunia, karena ia tahu bahwa keselamatan bukan pada mengikuti banyak orang, tetapi pada mengikuti kebenaran.Orang berilmu tidak mudah digoyang oleh “angin” tren. Ia seperti pohon besar yang akarnya kokoh. Adapun orang yang tidak punya ilmu seperti ranting lemah; sedikit saja ada angin opini, ia ikut bergerak. Hari ini ke kanan, besok ke kiri. Hari ini membela, besok mencela. Hari ini ikut tren ini, besok ikut tren lain.Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan,وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ“Jika engkau mengikuti kebanyakan orang di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An’am: 116)Ayat ini mengajarkan bahwa kebenaran tidak selalu diukur dari banyaknya pengikut. Sesuatu yang viral belum tentu benar. Sesuatu yang ramai belum tentu selamat. Sesuatu yang menjadi tren belum tentu membawa berkah.Maka, seorang muslim tidak boleh hidup sebagai pengikut setiap seruan. Ia harus bertanya sebelum mengikuti:Apakah ini sesuai ilmu?Apakah ini halal?Apakah ini membawa manfaat?Apakah ini mendekatkan saya kepada Allah?Apakah ini hanya dorongan gengsi dan takut tertinggal?Jika pertanyaan-pertanyaan ini tidak dijawab, FOMO akan menyeret seseorang menjadi bagian dari hamaj ra’aa’, yaitu orang banyak yang mudah dikendalikan oleh suara, tren, dan arus. Namun, jika ia kembali kepada ilmu, ia akan selamat. Karena manusia yang selamat hanya dua: alim rabbani atau penuntut ilmu yang berjalan menuju keselamatan.Jadi, lawan dari FOMO bukan sekadar “tidak ikut tren”. Lawan dari FOMO adalah hidup dengan ilmu. Karena orang yang berilmu tidak takut tertinggal dari dunia, selama ia tidak tertinggal dari petunjuk Allah.Baca juga: Ilmu Lebih Berharga dari Harta, Inspirasi Parenting dari Kisah Farrukh dan Rabi‘ah Takut Tertinggal dari Tren atau Tertinggal dari Hidayah?Pertanyaan pentingnya bukan: “Apakah saya tertinggal dari tren?”Pertanyaan pentingnya adalah: “Apakah saya tertinggal dari hidayah?”Banyak orang takut tertinggal kabar, tetapi tidak takut tertinggal shalat.Banyak orang takut tidak ikut tren, tetapi tidak takut tidak ikut majelis ilmu.Banyak orang takut tidak punya pengalaman dunia, tetapi tidak takut kehilangan kesempatan taubat.Banyak orang takut tidak diakui manusia, tetapi tidak takut jauh dari Allah.Maka, seorang muslim perlu mengubah arah rasa takutnya. Jangan jadikan FOMO sebagai rasa takut tertinggal dari dunia. Jadikan ia sebagai rasa takut tertinggal dari kebaikan.Takutlah jika umur berjalan, tetapi amal tidak bertambah.Takutlah jika ilmu semakin mudah diakses, tetapi hati tidak semakin tunduk.Takutlah jika media sosial selalu sempat dibuka, tetapi mushaf jarang disentuh.Takutlah jika tren selalu diikuti, tetapi sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diabaikan. Baca juga: Doa Meminta Hidayah dan Istiqamah di Atas Kebenaran Terkait Prinsip Agama: FOMO Menghilangkan Jati Diri Seorang MuslimBahaya lain dari FOMO adalah membuat seseorang kehilangan jati diri. Ia tidak lagi berani tampil sebagai dirinya yang sebenarnya. Ia lebih sibuk menyesuaikan diri dengan tren, gaya hidup, dan standar manusia daripada menjaga identitasnya sebagai seorang muslim.Padahal seorang muslim memiliki jati diri yang jelas. Ia punya iman, ibadah, akhlak, adab, batas halal-haram, dan prinsip hidup yang bersumber dari wahyu. Seorang muslim tidak hidup hanya untuk diterima manusia, tetapi untuk mencari ridha Allah subhanahu wa ta’ala.FOMO bisa merusak jati diri seorang muslim dalam beberapa bentuk.Pertama, FOMO membuat seseorang malu dengan identitas agamanya. Ia malu terlihat berbeda, malu menjaga adab, malu menolak ajakan maksiat, malu tidak ikut gaya hidup yang sedang ramai. Akhirnya, ia lebih takut dianggap aneh oleh manusia daripada takut menyelisihi perintah Allah.Kedua, FOMO membuat seseorang mudah meniru siapa saja yang sedang populer. Jika yang viral adalah gaya hidup orang fasik, ia ikut. Jika yang ramai adalah budaya orang kafir, ia ikut. Jika yang banyak ditonton adalah ahli maksiat, ia pun merasa perlu mengikuti agar tidak tertinggal. Padahal tidak semua yang populer pantas ditiru.Ketiga, FOMO melemahkan prinsip al-wala’ wal-bara’. Seorang muslim semestinya mencintai kebaikan, orang-orang saleh, dan jalan kaum beriman. Ia juga harus menjauh dari kekufuran, kemaksiatan, dan simbol-simbol yang bertentangan dengan Islam. Namun, FOMO membuat sebagian orang tidak lagi peka: selama sesuatu viral, ia ikuti; selama banyak yang melakukan, ia anggap biasa.Keempat, FOMO membuat seorang muslim meniru ahli maksiat. Ia mengikuti cara berpakaian, cara bicara, gaya hiburan, gaya pergaulan, bahkan cara merayakan sesuatu yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Padahal muslim yang baik tidak menjadikan ahli maksiat sebagai teladan hidup. Yang layak diteladani adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, ulama, dan orang-orang saleh.Kelima, FOMO bisa menyeret kepada tasyabbuh dengan orang kafir. Tasyabbuh adalah menyerupai orang kafir dalam perkara yang menjadi ciri khas agama, syiar, atau kebiasaan khusus mereka yang bertentangan dengan Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Daud, no. 4031; Ahmad, 2:50. Dinilai hasan oleh para ulama)Hadits ini menjadi peringatan agar seorang muslim tidak mudah larut meniru identitas umat lain, apalagi dalam perkara yang menjadi ciri khas agama dan budaya mereka yang menyelisihi Islam.Keenam, FOMO membuat seseorang kehilangan keberanian untuk berbeda. Padahal dalam banyak keadaan, seorang muslim memang harus berani berbeda. Berbeda karena menjaga shalat. Berbeda karena menjaga aurat. Berbeda karena menolak riba. Berbeda karena tidak ikut pergaulan bebas. Berbeda karena tidak ikut tren maksiat. Berbeda karena berpegang pada sunnah.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِّنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ“Kemudian Kami jadikan engkau berada di atas suatu syariat dari urusan agama itu. Maka ikutilah syariat itu dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Al-Jatsiyah: 18)Ayat ini menunjukkan bahwa seorang muslim harus mengikuti syariat, bukan mengikuti hawa nafsu manusia. Jika tren bertentangan dengan syariat, maka tren itu harus ditinggalkan. Jika budaya populer mengajak pada maksiat, maka budaya itu tidak boleh diikuti. Jika standar manusia membuat kita jauh dari Allah, maka standar itu harus ditolak.Ketujuh, FOMO membuat ukuran hidup berubah. Orang yang terkena FOMO sering bertanya, “Apakah ini sedang ramai?” Padahal seorang muslim seharusnya bertanya, “Apakah ini benar menurut Allah?” Ia bertanya, “Apakah orang-orang ikut?” Padahal seharusnya ia bertanya, “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meridhai jalan seperti ini?”Karena itu, menjaga jati diri muslim sangat penting di zaman yang penuh tren. Jangan sampai seorang muslim lebih bangga dengan brand, gaya hidup, komunitas, atau simbol dunia daripada bangga dengan Islam. Jangan sampai ia lebih cepat mengikuti suara influencer daripada mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Seorang muslim boleh mengambil manfaat dari kemajuan zaman. Ia boleh memakai teknologi, belajar dari pengalaman orang lain, dan mengikuti hal-hal mubah yang bermanfaat. Namun, ia tidak boleh kehilangan prinsip. Tidak semua yang datang dari luar harus ditolak, tetapi tidak semua yang viral boleh ditiru.FOMO dalam urusan dunia bisa membuat boros. Namun, FOMO dalam urusan akidah bisa membuat seseorang kehilangan arah iman. Cara Mengendalikan FOMOAda beberapa cara sederhana untuk mengendalikan FOMO.Pertama, batasi paparan media sosial. Tidak semua hal perlu diketahui. Tidak semua kabar perlu diikuti. Tidak semua tren perlu dicoba.Kedua, tanyakan sebelum ikut: apakah ini halal, bermanfaat, dan sesuai prioritas hidup? Jika tidak jelas manfaatnya, tinggalkan.Ketiga, perbanyak syukur. FOMO sering muncul karena seseorang terlalu fokus pada apa yang belum dimiliki, bukan pada nikmat yang sudah Allah beri.Keempat, pilih lingkungan yang baik. Jika lingkungan hanya mendorong gengsi, gaya hidup, dan pencitraan, hati akan mudah lelah. Namun, jika lingkungan mengajak kepada ilmu dan amal, rasa takut tertinggal akan berubah menjadi semangat berlomba dalam kebaikan.Kelima, kuatkan qana’ah dan tawakal. Qana’ah membuat hati cukup. Tawakal membuat hati tidak panik.Keenam, ingat tujuan hidup. Hidup bukan untuk selalu update, tetapi untuk beribadah kepada Allah. Hidup bukan untuk selalu terlihat berhasil, tetapi untuk pulang kepada Allah dengan iman dan amal saleh.Baca juga: Tawakal kepada Allah yang Memberi Kecukupan (Perkataan Ibnul Qayyim) Nasihat TerakhirFOMO membuat seseorang takut tertinggal dari manusia, padahal yang lebih berbahaya adalah tertinggal dari petunjuk Allah. Jangan biarkan hidup dipimpin oleh tren, komentar, validasi, dan pencapaian orang lain. Jadikan ilmu sebagai cahaya agar kita tidak menjadi pengikut setiap seruan yang viral. Yang paling penting bukan selalu update terhadap dunia, tetapi tetap kokoh di atas iman, ilmu, amal saleh, dan qana’ah.اللَّهُمَّ اهْدِنَا لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا، وَاجْعَلْ قُلُوبَنَا مُطْمَئِنَّةً بِذِكْرِكَ، وَارْزُقْنَا الْقَنَاعَةَ وَالثَّبَاتَ عَلَى طَاعَتِكَ.Allahummahdinaa li ahsanil akhlaaq, washrif ‘annaa sayyi-ahaa, waj‘al quluubanaa muthma-innatan bi dzikrika, warzuqnal qanaa‘ata wats-tsabaata ‘alaa thaa‘atik.“Ya Allah, tunjukilah kami kepada akhlak yang terbaik, jauhkanlah kami dari akhlak yang buruk, jadikan hati kami tenang dengan mengingat-Mu, dan karuniakan kepada kami sifat qana’ah serta keteguhan di atas ketaatan kepada-Mu.” 5 Pertanyaan Anti-FOMOKalau barang ini tidak viral, apakah saya tetap ingin membelinya?Apakah saya benar-benar membutuhkan barang ini, atau hanya ingin ikut arus?Apakah manfaatnya sebanding dengan harganya?Apakah kualitasnya memang layak, atau hanya terlihat menarik karena ramai dibicarakan?Apakah pembelian ini mengganggu kebutuhan lain yang lebih penting? Rumus Ringkas Anti-FOMOBeli karena butuh, bukan karena gaduh.Pilih karena manfaat, bukan karena viral.Pertimbangkan harga, kualitas, dan prioritas.Jangan sampai tren mengalahkan qana’ah.Baca juga: 5 Manfaat Sifat Qanaah ReferensiAkbari, M., Seydavi, M., Palmieri, S., Mansueto, G., Caselli, G., & Spada, M. M. (2021). Fear of missing out (FoMO) and internet use: A comprehensive systematic review and meta-analysis. Journal of Behavioral Addictions, 10(4), 879–900. https://doi.org/10.1556/2006.2021.00083Gupta, M., & Sharma, A. (2021). Fear of missing out: A brief overview of origin, theoretical underpinnings and relationship with mental health. World Journal of Clinical Cases, 9(19), 4881–4889. https://doi.org/10.12998/wjcc.v9.i19.4881Maciel-Saldierna, M., Méndez, I. R., & Guevara, G. (2024). Social media use and fear of missing out: An exploratory cross-sectional study in junior high students from Western Mexico. Pediatric Reports, 16(4), Article 87. https://doi.org/10.3390/pediatric16040087Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841–1848. https://doi.org/10.1016/j.chb.2013.02.014Servidio, R., Soraci, P., Griffiths, M. D., Boca, S., & Demetrovics, Z. (2024). Fear of missing out and problematic social media use: A serial mediation model of social comparison and self-esteem. Addictive Behaviors Reports, 19, Article 100536. https://doi.org/10.1016/j.abrep.2024.100536Zhang, Y., Li, S., & Yu, G. (2021). The relationship between social media use and fear of missing out: A meta-analysis. Acta Psychologica Sinica, 53(3), 273–290. https://doi.org/10.3724/SP.J.1041.2021.00273 —- Selesai ditulis di Malang Jawa Timur saat liburan, 13 Muharram 1448 H, 28 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfear of missing out FOMO gangguan kesehatan mental ikut tren ilmu agama kesehatan mental media sosial nasihat islam overthinking qanaah tujuan hidup validasi
Banyak orang hari ini tidak benar-benar memilih jalan hidupnya, tetapi hanya ikut arus yang sedang ramai. Ia takut tertinggal tren, takut tidak tahu kabar terbaru, takut tidak ikut pengalaman yang orang lain rasakan. Inilah yang disebut FOMO, dan jika tidak dikendalikan, ia bisa membuat hati lelah, pikiran gelisah, dan hidup kehilangan arah.  Daftar Isi tutup 1. Apa Itu FOMO? 2. FOMO Bukan Sekadar Ikut-Ikutan 3. Mengapa FOMO Banyak Terjadi pada Generasi Saat Ini? 4. Dampak Baik FOMO Jika Diarahkan 5. Dampak Buruk FOMO Jika Tidak Dikendalikan 6. FOMO Belanja: Beli karena Butuh atau karena Takut Tertinggal? 7. FOMO, Media Sosial, dan Perbandingan Hidup 8. FOMO dan Hati yang Gelisah 9. FOMO dan Bahaya Menjadi Pengikut Setiap Seruan 10. Takut Tertinggal dari Tren atau Tertinggal dari Hidayah? 11. Terkait Prinsip Agama: FOMO Menghilangkan Jati Diri Seorang Muslim 12. Cara Mengendalikan FOMO 13. Nasihat Terakhir 13.1. 5 Pertanyaan Anti-FOMO 13.2. Rumus Ringkas Anti-FOMO 14. Referensi  Apa Itu FOMO?FOMO adalah singkatan dari Fear of Missing Out, yaitu rasa takut tertinggal dari sesuatu yang sedang dialami, dibicarakan, atau diikuti oleh orang lain. Dalam riset Przybylski dkk. (2013), FOMO dijelaskan sebagai kekhawatiran bahwa orang lain mungkin sedang mengalami pengalaman berharga sementara dirinya tidak ikut di dalamnya.Dalam bahasa sederhana, FOMO adalah perasaan:“Jangan-jangan saya rugi kalau tidak ikut.”“Jangan-jangan saya tertinggal.”“Jangan-jangan orang lain lebih maju, lebih bahagia, dan lebih seru hidupnya.”Masalahnya, perasaan seperti ini sering membuat seseorang mengambil keputusan bukan karena ilmu, kebutuhan, atau pertimbangan matang, tetapi karena takut dianggap ketinggalan. FOMO Bukan Sekadar Ikut-IkutanSecara ilmiah, FOMO bukan hanya kebiasaan ikut tren. Ia berkaitan dengan kebutuhan psikologis seseorang. Przybylski dkk. (2013) menemukan bahwa FOMO lebih tinggi pada orang yang kebutuhan psikologis dasarnya kurang terpenuhi, seperti kebutuhan merasa mampu, mandiri, dan terhubung dengan orang lain.Ini menunjukkan bahwa FOMO sering muncul dari hati yang merasa kurang. Ia merasa belum cukup diterima, belum cukup dihargai, atau belum cukup punya tempat dalam pergaulan. Akhirnya, seseorang berusaha menambal kekosongan itu dengan terus mengikuti apa yang ramai.Dalam pandangan Islam, hati yang kosong dari qana’ah akan mudah gelisah. Ia mudah silau dengan apa yang ada pada orang lain. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan,وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ“Janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka.” (QS. Thaha: 131)Ayat ini mengajarkan agar hati tidak terus terpaku pada kelebihan duniawi orang lain. Karena terlalu sering melihat nikmat orang lain tanpa iman dan qana’ah bisa membuat hati semakin resah.Baca juga: Mengikuti Gaya Orang Kafir, Tasyabbuh Mengapa FOMO Banyak Terjadi pada Generasi Saat Ini?Generasi saat ini hidup di tengah derasnya arus media sosial. Setiap hari seseorang melihat pencapaian orang lain, liburan orang lain, barang baru orang lain, kajian yang diikuti orang lain, bisnis orang lain, pernikahan orang lain, dan berbagai momen yang tampak indah.Zhang dkk. (2021) dalam meta-analisisnya menemukan adanya hubungan positif antara penggunaan media sosial dan FOMO. Artinya, semakin kuat keterlibatan seseorang dengan media sosial, semakin besar kemungkinan muncul rasa takut tertinggal.Media sosial membuat hidup orang lain terlihat sangat dekat. Namun, yang sering terlihat hanyalah potongan terbaik dari hidup mereka. Jarang orang menampilkan lelahnya, masalahnya, utangnya, konfliknya, air matanya, atau ujian batinnya. Akhirnya, seseorang membandingkan seluruh hidupnya dengan cuplikan terbaik hidup orang lain.Di sinilah FOMO menjadi berbahaya. Ia membuat seseorang lupa bahwa tidak semua yang tampak indah di layar benar-benar indah dalam kenyataan. Dampak Baik FOMO Jika DiarahkanFOMO tidak selalu buruk jika diarahkan kepada kebaikan. Ada bentuk “takut tertinggal” yang justru terpuji, yaitu takut tertinggal dari ilmu, amal saleh, sedekah, majelis ilmu, dakwah, dan kesempatan memperbaiki diri.Di antara dampak baik FOMO jika diarahkan:Pertama, mendorong seseorang mencari ilmu. Melihat orang lain rajin belajar bisa membuat seseorang ikut terdorong belajar. Ini menjadi baik jika yang ditiru adalah kebaikan.Kedua, membangkitkan semangat produktif. Seseorang bisa terpacu untuk menulis, berdakwah, berolahraga, menghafal Al-Qur’an, atau memperbaiki akhlak karena melihat teladan baik.Ketiga, mendorong seseorang masuk ke lingkungan yang saleh. Ia takut tertinggal dari majelis ilmu, takut tertinggal dari teman-teman yang shalih, dan takut tertinggal dari amal yang mendekatkannya kepada Allah.Inilah FOMO yang baik: bukan takut tertinggal dari dunia, tetapi takut tertinggal dari kebaikan akhirat.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ“Berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148)Maka, takut tertinggal dalam urusan akhirat adalah tanda hati yang masih hidup. Yang berbahaya adalah ketika seseorang hanya takut tertinggal dari tren dunia, tetapi tidak takut tertinggal dari shalat, ilmu, taubat, dan amal saleh.Baca juga: Berlomba dalam Meraih Pahala Dampak Buruk FOMO Jika Tidak DikendalikanDampak buruk FOMO lebih banyak muncul ketika seseorang tidak punya prinsip dan mudah terseret arus. Ia ikut karena ramai, bukan karena benar. Ia membeli karena viral, bukan karena butuh. Ia berbicara karena tren, bukan karena ilmu.Di antara dampak buruk FOMO adalah:Pertama, gelisah dan sulit merasa cukup. Gupta dan Sharma (2021) menjelaskan bahwa FOMO berkaitan dengan kesehatan mental. Seseorang yang terus merasa tertinggal akan lebih mudah cemas, tidak puas, dan merasa hidupnya kalah dari orang lain.Kedua, penggunaan internet dan media sosial secara berlebihan. Akbari dkk. (2021) dalam systematic review dan meta-analysis menyebut bahwa FOMO dipandang sebagai salah satu faktor yang berkaitan dengan penggunaan internet berlebihan. Orang yang takut tertinggal akan terus mengecek kabar, status, tren, komentar, dan aktivitas orang lain.Ketiga, membandingkan diri secara berlebihan. Servidio dkk. (2024) menemukan bahwa FOMO berkaitan dengan penggunaan media sosial bermasalah melalui perbandingan sosial dan harga diri. Seseorang melihat orang lain, lalu merasa dirinya kurang. Ia melihat keberhasilan orang lain, lalu merasa gagal. Ia melihat kebahagiaan orang lain, lalu merasa hidupnya hambar.Keempat, lemah dalam mengambil keputusan. Orang yang FOMO sering mengambil keputusan karena tekanan sosial. Ia takut tidak ikut, takut tidak dianggap gaul, takut tidak satu frekuensi, takut dianggap ketinggalan.Kelima, boros dan konsumtif. Banyak orang membeli barang bukan karena perlu, tetapi karena sedang viral. Banyak orang ikut acara bukan karena butuh, tetapi karena takut tidak punya cerita. Banyak orang mengejar gaya hidup bukan karena mampu, tetapi karena takut terlihat kalah.Keenam, hilang arah hidup. Ini bahaya yang paling besar. FOMO membuat seseorang lebih sibuk mengikuti manusia daripada mencari ridha Allah. Ia tidak lagi bertanya, “Apakah ini halal?” tetapi bertanya, “Apakah ini sedang ramai?” Ia tidak lagi bertanya, “Apakah ini bermanfaat?” tetapi bertanya, “Apakah orang lain juga ikut?”Padahal seorang muslim tidak hidup untuk mengejar validasi manusia. Seorang muslim hidup untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.Baca juga: Overthinking dalam Islam, Kapan Berpikir Menjadi Masalah? FOMO Belanja: Beli karena Butuh atau karena Takut Tertinggal?Salah satu bentuk FOMO yang sering terjadi adalah FOMO dalam belanja. Seseorang membeli barang bukan karena benar-benar butuh, tetapi karena barang itu sedang viral. Misalnya, ada barang yang viral di Makkah atau Madinah, lalu banyak orang merasa harus memilikinya, padahal kualitasnya biasa saja dan tidak ada keistimewaan yang berarti.Untuk menilai apakah keputusan membeli itu sehat atau karena FOMO, tanyakan pada diri sendiri:Kalau tidak viral, apakah tetap ingin beli? Jika jawabannya “tidak”, besar kemungkinan itu FOMO.Kalau tidak diposting, apakah tetap terasa berharga? Jika jawabannya “tidak”, mungkin yang dicari bukan barangnya, tetapi validasi.Apakah barang itu benar-benar dibutuhkan? Jika tidak, berarti lebih dekat pada perilaku konsumtif.Apakah harga sebanding dengan manfaat? Jika kualitasnya biasa saja, tetapi dibeli karena ramai, ini tanda keputusan sedang dipimpin tren.Dalam Islam, membeli barang mubah itu boleh. Namun, yang perlu dijaga adalah israf dan tabdzir. Israf adalah berlebihan dalam menggunakan harta, sedangkan tabdzir adalah membelanjakan harta pada hal yang tidak layak atau sia-sia.Maka, jangan sampai seseorang pulang dari Tanah Suci membawa barang viral, tetapi tertinggal dari pelajaran qana’ah. Jangan sampai yang paling diingat dari safar ibadah bukan doa, tawaf, shalat, dan taubat, tetapi barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.Barang viral boleh jadi cepat habis, tetapi qana’ah jangan sampai ikut habis. Baca juga: Inilah 6 Adab Ketika Masuk Pasar Agar Dapat Keberkahan dan Terhindar dari Mara Bahaya FOMO, Media Sosial, dan Perbandingan HidupMedia sosial sering menjadi ladang subur bagi FOMO. Seseorang membuka media sosial sebentar, lalu melihat temannya sudah menikah, temannya sudah punya rumah, temannya sudah punya anak, temannya sudah lulus, temannya sudah punya bisnis, temannya sudah jalan-jalan, temannya sudah ikut kajian besar, temannya sudah punya pencapaian tertentu.Akhirnya muncul bisikan:“Saya kapan?”“Saya kok begini-begini saja?”“Saya tertinggal jauh.”“Hidup orang lain kok lebih mudah?”Maciel-Saldierna dkk. (2024) meneliti penggunaan media sosial dan FOMO pada siswa SMP di Meksiko. Ini menunjukkan bahwa FOMO menjadi perhatian penting pada remaja dan pelajar, karena kelompok ini banyak berinteraksi dengan media sosial dan mudah terpengaruh oleh lingkungan sosialnya.Dalam konteks Indonesia, beberapa penelitian juga menyoroti FOMO pada mahasiswa, pengguna Instagram, pengguna TikTok, regulasi diri, harga diri, dan penggunaan media sosial bermasalah. Ini menunjukkan bahwa FOMO bukan sekadar fenomena luar negeri, tetapi juga terjadi di tengah masyarakat kita.Islam memberi obat penting untuk penyakit membandingkan diri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ“Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian, dan janganlah melihat kepada orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah atas kalian.” (HR. Muslim, no. 2963)Baca juga: Meraih Sifat QanaahHadits ini adalah terapi hati. Jika seseorang terlalu sering melihat yang di atas dalam urusan dunia, ia akan mudah merasa kurang. Namun, jika ia melihat yang di bawah, ia akan lebih mudah bersyukur.Baca juga: Benarkah Banyak Bergaul dan Bermedsos, Makin Banyak Dosa? FOMO dan Hati yang GelisahFOMO sangat dekat dengan overthinking. Seseorang yang FOMO sering memutar banyak pertanyaan dalam pikirannya.“Kalau saya tidak ikut, nanti bagaimana?”“Kalau saya tidak beli sekarang, nanti menyesal?”“Kalau saya tidak datang, nanti saya tidak dianggap?”“Kalau saya tidak update, nanti saya tertinggal?”Berpikir itu baik jika mengantar pada keputusan yang benar. Namun, overthinking membuat seseorang hanya berputar dalam kekhawatiran. Ia tidak semakin dekat kepada solusi, tetapi semakin jauh dari ketenangan.Di sinilah pentingnya tawakal. Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha. Tawakal berarti hati bersandar kepada Allah setelah menempuh sebab yang benar.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)Orang yang bertakwa tidak perlu panik karena manusia sudah lebih dahulu mendapatkan sesuatu. Rezeki tidak akan tertukar. Jalan hidup tidak harus sama. Ukuran sukses tidak ditentukan oleh tren, tetapi oleh ridha Allah.Baca juga: Rezeki Tak Mungkin Tertukar FOMO dan Bahaya Menjadi Pengikut Setiap SeruanFOMO bukan hanya masalah psikologis modern. Dalam bahasa agama, FOMO bisa menjadi tanda lemahnya pijakan ilmu. Orang yang mudah takut tertinggal dari tren biasanya mudah digerakkan oleh apa pun yang sedang ramai. Ia tidak sempat bertanya, “Ini benar atau salah?” Ia hanya bertanya, “Ini sedang diikuti banyak orang atau tidak?”Di sinilah pentingnya nasihat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu kepada Kumail bin Ziyad. Beliau berkata,النَّاسُ ثَلَاثَةٌ؛ فَعَالِمٌ رَبَّانِيٌّ، وَمُتَعَلِّمٌ عَلَى سَبِيلِ نَجَاةٍ، وَهَمَجٌ رَعَاعٌ أَتْبَاعُ كُلِّ نَاعِقٍ، يَمِيلُونَ مَعَ كُلِّ رِيحٍ، لَمْ يَسْتَضِيئُوا بِنُورِ الْعِلْمِ، وَلَمْ يَلْجَؤُوا إِلَى رُكْنٍ وَثِيقٍ.“Manusia terbagi menjadi tiga jenis. Pertama, seorang alim rabbani. Kedua, penuntut ilmu yang berada di jalan keselamatan. Ketiga, massa bodoh yang kacau balau; mereka adalah pengikut setiap penyeru, condong mengikuti setiap arah angin, tidak pernah disinari cahaya ilmu, dan tidak bersandar pada pijakan yang kokoh.”Perkataan ini sangat relevan untuk membaca budaya FOMO hari ini. Orang yang tidak punya cahaya ilmu akan mudah menjadi “pengikut setiap penyeru”. Ketika ada tren baru, ia ikut. Ketika ada opini viral, ia ikut. Ketika ada gaya hidup yang sedang ramai, ia ikut. Ketika ada ajakan yang belum jelas benar-salahnya, ia tetap ikut karena takut tertinggal.Inilah bahaya FOMO: seseorang bisa berubah menjadi manusia yang mudah digiring. Bukan lagi ilmu yang memimpin hidupnya, tetapi suara mayoritas. Bukan lagi petunjuk Allah yang menjadi ukuran, tetapi tren yang sedang ramai. Bukan lagi halal dan haram yang ditimbang, tetapi “orang-orang juga melakukannya.”‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menyebut golongan ketiga sebagai هَمَجٌ رَعَاعٌ, yaitu orang-orang bodoh yang tidak memiliki pegangan kuat. Mereka disebut أَتْبَاعُ كُلِّ نَاعِقٍ, pengikut setiap penyeru. Siapa pun yang bersuara keras, mereka ikuti. Ke mana pun angin opini bertiup, mereka condong ke sana.Ini persis dengan sebagian budaya digital hari ini. Seseorang bisa ikut marah karena semua orang sedang marah. Ikut membeli karena semua orang sedang membeli. Ikut menghina karena semua orang sedang menghina. Ikut menyebarkan berita karena semua orang sedang membagikannya. Padahal belum tentu ia tahu duduk perkara, belum tentu benar, dan belum tentu diridhai Allah.Karena itu, obat FOMO adalah ilmu. ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu juga berkata,العِلْمُ خَيْرٌ مِنَ المَالِ، العِلْمُ يَحْرُسُكَ وَأَنْتَ تَحْرُسُ المَالَ.“Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu akan menjagamu, sedangkan harta harus engkau jaga.”Baca juga: 40 Alasan Ilmu Agama Lebih Baik daripada HartaIlmu menjaga seseorang dari mudah ikut-ikutan. Ilmu membuat seseorang berani berbeda ketika yang ramai ternyata salah. Ilmu membuat seseorang tidak panik saat tertinggal dari tren dunia, karena ia tahu bahwa keselamatan bukan pada mengikuti banyak orang, tetapi pada mengikuti kebenaran.Orang berilmu tidak mudah digoyang oleh “angin” tren. Ia seperti pohon besar yang akarnya kokoh. Adapun orang yang tidak punya ilmu seperti ranting lemah; sedikit saja ada angin opini, ia ikut bergerak. Hari ini ke kanan, besok ke kiri. Hari ini membela, besok mencela. Hari ini ikut tren ini, besok ikut tren lain.Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan,وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ“Jika engkau mengikuti kebanyakan orang di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An’am: 116)Ayat ini mengajarkan bahwa kebenaran tidak selalu diukur dari banyaknya pengikut. Sesuatu yang viral belum tentu benar. Sesuatu yang ramai belum tentu selamat. Sesuatu yang menjadi tren belum tentu membawa berkah.Maka, seorang muslim tidak boleh hidup sebagai pengikut setiap seruan. Ia harus bertanya sebelum mengikuti:Apakah ini sesuai ilmu?Apakah ini halal?Apakah ini membawa manfaat?Apakah ini mendekatkan saya kepada Allah?Apakah ini hanya dorongan gengsi dan takut tertinggal?Jika pertanyaan-pertanyaan ini tidak dijawab, FOMO akan menyeret seseorang menjadi bagian dari hamaj ra’aa’, yaitu orang banyak yang mudah dikendalikan oleh suara, tren, dan arus. Namun, jika ia kembali kepada ilmu, ia akan selamat. Karena manusia yang selamat hanya dua: alim rabbani atau penuntut ilmu yang berjalan menuju keselamatan.Jadi, lawan dari FOMO bukan sekadar “tidak ikut tren”. Lawan dari FOMO adalah hidup dengan ilmu. Karena orang yang berilmu tidak takut tertinggal dari dunia, selama ia tidak tertinggal dari petunjuk Allah.Baca juga: Ilmu Lebih Berharga dari Harta, Inspirasi Parenting dari Kisah Farrukh dan Rabi‘ah Takut Tertinggal dari Tren atau Tertinggal dari Hidayah?Pertanyaan pentingnya bukan: “Apakah saya tertinggal dari tren?”Pertanyaan pentingnya adalah: “Apakah saya tertinggal dari hidayah?”Banyak orang takut tertinggal kabar, tetapi tidak takut tertinggal shalat.Banyak orang takut tidak ikut tren, tetapi tidak takut tidak ikut majelis ilmu.Banyak orang takut tidak punya pengalaman dunia, tetapi tidak takut kehilangan kesempatan taubat.Banyak orang takut tidak diakui manusia, tetapi tidak takut jauh dari Allah.Maka, seorang muslim perlu mengubah arah rasa takutnya. Jangan jadikan FOMO sebagai rasa takut tertinggal dari dunia. Jadikan ia sebagai rasa takut tertinggal dari kebaikan.Takutlah jika umur berjalan, tetapi amal tidak bertambah.Takutlah jika ilmu semakin mudah diakses, tetapi hati tidak semakin tunduk.Takutlah jika media sosial selalu sempat dibuka, tetapi mushaf jarang disentuh.Takutlah jika tren selalu diikuti, tetapi sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diabaikan. Baca juga: Doa Meminta Hidayah dan Istiqamah di Atas Kebenaran Terkait Prinsip Agama: FOMO Menghilangkan Jati Diri Seorang MuslimBahaya lain dari FOMO adalah membuat seseorang kehilangan jati diri. Ia tidak lagi berani tampil sebagai dirinya yang sebenarnya. Ia lebih sibuk menyesuaikan diri dengan tren, gaya hidup, dan standar manusia daripada menjaga identitasnya sebagai seorang muslim.Padahal seorang muslim memiliki jati diri yang jelas. Ia punya iman, ibadah, akhlak, adab, batas halal-haram, dan prinsip hidup yang bersumber dari wahyu. Seorang muslim tidak hidup hanya untuk diterima manusia, tetapi untuk mencari ridha Allah subhanahu wa ta’ala.FOMO bisa merusak jati diri seorang muslim dalam beberapa bentuk.Pertama, FOMO membuat seseorang malu dengan identitas agamanya. Ia malu terlihat berbeda, malu menjaga adab, malu menolak ajakan maksiat, malu tidak ikut gaya hidup yang sedang ramai. Akhirnya, ia lebih takut dianggap aneh oleh manusia daripada takut menyelisihi perintah Allah.Kedua, FOMO membuat seseorang mudah meniru siapa saja yang sedang populer. Jika yang viral adalah gaya hidup orang fasik, ia ikut. Jika yang ramai adalah budaya orang kafir, ia ikut. Jika yang banyak ditonton adalah ahli maksiat, ia pun merasa perlu mengikuti agar tidak tertinggal. Padahal tidak semua yang populer pantas ditiru.Ketiga, FOMO melemahkan prinsip al-wala’ wal-bara’. Seorang muslim semestinya mencintai kebaikan, orang-orang saleh, dan jalan kaum beriman. Ia juga harus menjauh dari kekufuran, kemaksiatan, dan simbol-simbol yang bertentangan dengan Islam. Namun, FOMO membuat sebagian orang tidak lagi peka: selama sesuatu viral, ia ikuti; selama banyak yang melakukan, ia anggap biasa.Keempat, FOMO membuat seorang muslim meniru ahli maksiat. Ia mengikuti cara berpakaian, cara bicara, gaya hiburan, gaya pergaulan, bahkan cara merayakan sesuatu yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Padahal muslim yang baik tidak menjadikan ahli maksiat sebagai teladan hidup. Yang layak diteladani adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, ulama, dan orang-orang saleh.Kelima, FOMO bisa menyeret kepada tasyabbuh dengan orang kafir. Tasyabbuh adalah menyerupai orang kafir dalam perkara yang menjadi ciri khas agama, syiar, atau kebiasaan khusus mereka yang bertentangan dengan Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Daud, no. 4031; Ahmad, 2:50. Dinilai hasan oleh para ulama)Hadits ini menjadi peringatan agar seorang muslim tidak mudah larut meniru identitas umat lain, apalagi dalam perkara yang menjadi ciri khas agama dan budaya mereka yang menyelisihi Islam.Keenam, FOMO membuat seseorang kehilangan keberanian untuk berbeda. Padahal dalam banyak keadaan, seorang muslim memang harus berani berbeda. Berbeda karena menjaga shalat. Berbeda karena menjaga aurat. Berbeda karena menolak riba. Berbeda karena tidak ikut pergaulan bebas. Berbeda karena tidak ikut tren maksiat. Berbeda karena berpegang pada sunnah.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِّنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ“Kemudian Kami jadikan engkau berada di atas suatu syariat dari urusan agama itu. Maka ikutilah syariat itu dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Al-Jatsiyah: 18)Ayat ini menunjukkan bahwa seorang muslim harus mengikuti syariat, bukan mengikuti hawa nafsu manusia. Jika tren bertentangan dengan syariat, maka tren itu harus ditinggalkan. Jika budaya populer mengajak pada maksiat, maka budaya itu tidak boleh diikuti. Jika standar manusia membuat kita jauh dari Allah, maka standar itu harus ditolak.Ketujuh, FOMO membuat ukuran hidup berubah. Orang yang terkena FOMO sering bertanya, “Apakah ini sedang ramai?” Padahal seorang muslim seharusnya bertanya, “Apakah ini benar menurut Allah?” Ia bertanya, “Apakah orang-orang ikut?” Padahal seharusnya ia bertanya, “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meridhai jalan seperti ini?”Karena itu, menjaga jati diri muslim sangat penting di zaman yang penuh tren. Jangan sampai seorang muslim lebih bangga dengan brand, gaya hidup, komunitas, atau simbol dunia daripada bangga dengan Islam. Jangan sampai ia lebih cepat mengikuti suara influencer daripada mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Seorang muslim boleh mengambil manfaat dari kemajuan zaman. Ia boleh memakai teknologi, belajar dari pengalaman orang lain, dan mengikuti hal-hal mubah yang bermanfaat. Namun, ia tidak boleh kehilangan prinsip. Tidak semua yang datang dari luar harus ditolak, tetapi tidak semua yang viral boleh ditiru.FOMO dalam urusan dunia bisa membuat boros. Namun, FOMO dalam urusan akidah bisa membuat seseorang kehilangan arah iman. Cara Mengendalikan FOMOAda beberapa cara sederhana untuk mengendalikan FOMO.Pertama, batasi paparan media sosial. Tidak semua hal perlu diketahui. Tidak semua kabar perlu diikuti. Tidak semua tren perlu dicoba.Kedua, tanyakan sebelum ikut: apakah ini halal, bermanfaat, dan sesuai prioritas hidup? Jika tidak jelas manfaatnya, tinggalkan.Ketiga, perbanyak syukur. FOMO sering muncul karena seseorang terlalu fokus pada apa yang belum dimiliki, bukan pada nikmat yang sudah Allah beri.Keempat, pilih lingkungan yang baik. Jika lingkungan hanya mendorong gengsi, gaya hidup, dan pencitraan, hati akan mudah lelah. Namun, jika lingkungan mengajak kepada ilmu dan amal, rasa takut tertinggal akan berubah menjadi semangat berlomba dalam kebaikan.Kelima, kuatkan qana’ah dan tawakal. Qana’ah membuat hati cukup. Tawakal membuat hati tidak panik.Keenam, ingat tujuan hidup. Hidup bukan untuk selalu update, tetapi untuk beribadah kepada Allah. Hidup bukan untuk selalu terlihat berhasil, tetapi untuk pulang kepada Allah dengan iman dan amal saleh.Baca juga: Tawakal kepada Allah yang Memberi Kecukupan (Perkataan Ibnul Qayyim) Nasihat TerakhirFOMO membuat seseorang takut tertinggal dari manusia, padahal yang lebih berbahaya adalah tertinggal dari petunjuk Allah. Jangan biarkan hidup dipimpin oleh tren, komentar, validasi, dan pencapaian orang lain. Jadikan ilmu sebagai cahaya agar kita tidak menjadi pengikut setiap seruan yang viral. Yang paling penting bukan selalu update terhadap dunia, tetapi tetap kokoh di atas iman, ilmu, amal saleh, dan qana’ah.اللَّهُمَّ اهْدِنَا لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا، وَاجْعَلْ قُلُوبَنَا مُطْمَئِنَّةً بِذِكْرِكَ، وَارْزُقْنَا الْقَنَاعَةَ وَالثَّبَاتَ عَلَى طَاعَتِكَ.Allahummahdinaa li ahsanil akhlaaq, washrif ‘annaa sayyi-ahaa, waj‘al quluubanaa muthma-innatan bi dzikrika, warzuqnal qanaa‘ata wats-tsabaata ‘alaa thaa‘atik.“Ya Allah, tunjukilah kami kepada akhlak yang terbaik, jauhkanlah kami dari akhlak yang buruk, jadikan hati kami tenang dengan mengingat-Mu, dan karuniakan kepada kami sifat qana’ah serta keteguhan di atas ketaatan kepada-Mu.” 5 Pertanyaan Anti-FOMOKalau barang ini tidak viral, apakah saya tetap ingin membelinya?Apakah saya benar-benar membutuhkan barang ini, atau hanya ingin ikut arus?Apakah manfaatnya sebanding dengan harganya?Apakah kualitasnya memang layak, atau hanya terlihat menarik karena ramai dibicarakan?Apakah pembelian ini mengganggu kebutuhan lain yang lebih penting? Rumus Ringkas Anti-FOMOBeli karena butuh, bukan karena gaduh.Pilih karena manfaat, bukan karena viral.Pertimbangkan harga, kualitas, dan prioritas.Jangan sampai tren mengalahkan qana’ah.Baca juga: 5 Manfaat Sifat Qanaah ReferensiAkbari, M., Seydavi, M., Palmieri, S., Mansueto, G., Caselli, G., & Spada, M. M. (2021). Fear of missing out (FoMO) and internet use: A comprehensive systematic review and meta-analysis. Journal of Behavioral Addictions, 10(4), 879–900. https://doi.org/10.1556/2006.2021.00083Gupta, M., & Sharma, A. (2021). Fear of missing out: A brief overview of origin, theoretical underpinnings and relationship with mental health. World Journal of Clinical Cases, 9(19), 4881–4889. https://doi.org/10.12998/wjcc.v9.i19.4881Maciel-Saldierna, M., Méndez, I. R., & Guevara, G. (2024). Social media use and fear of missing out: An exploratory cross-sectional study in junior high students from Western Mexico. Pediatric Reports, 16(4), Article 87. https://doi.org/10.3390/pediatric16040087Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841–1848. https://doi.org/10.1016/j.chb.2013.02.014Servidio, R., Soraci, P., Griffiths, M. D., Boca, S., & Demetrovics, Z. (2024). Fear of missing out and problematic social media use: A serial mediation model of social comparison and self-esteem. Addictive Behaviors Reports, 19, Article 100536. https://doi.org/10.1016/j.abrep.2024.100536Zhang, Y., Li, S., & Yu, G. (2021). The relationship between social media use and fear of missing out: A meta-analysis. Acta Psychologica Sinica, 53(3), 273–290. https://doi.org/10.3724/SP.J.1041.2021.00273 —- Selesai ditulis di Malang Jawa Timur saat liburan, 13 Muharram 1448 H, 28 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfear of missing out FOMO gangguan kesehatan mental ikut tren ilmu agama kesehatan mental media sosial nasihat islam overthinking qanaah tujuan hidup validasi


Banyak orang hari ini tidak benar-benar memilih jalan hidupnya, tetapi hanya ikut arus yang sedang ramai. Ia takut tertinggal tren, takut tidak tahu kabar terbaru, takut tidak ikut pengalaman yang orang lain rasakan. Inilah yang disebut FOMO, dan jika tidak dikendalikan, ia bisa membuat hati lelah, pikiran gelisah, dan hidup kehilangan arah.  Daftar Isi tutup 1. Apa Itu FOMO? 2. FOMO Bukan Sekadar Ikut-Ikutan 3. Mengapa FOMO Banyak Terjadi pada Generasi Saat Ini? 4. Dampak Baik FOMO Jika Diarahkan 5. Dampak Buruk FOMO Jika Tidak Dikendalikan 6. FOMO Belanja: Beli karena Butuh atau karena Takut Tertinggal? 7. FOMO, Media Sosial, dan Perbandingan Hidup 8. FOMO dan Hati yang Gelisah 9. FOMO dan Bahaya Menjadi Pengikut Setiap Seruan 10. Takut Tertinggal dari Tren atau Tertinggal dari Hidayah? 11. Terkait Prinsip Agama: FOMO Menghilangkan Jati Diri Seorang Muslim 12. Cara Mengendalikan FOMO 13. Nasihat Terakhir 13.1. 5 Pertanyaan Anti-FOMO 13.2. Rumus Ringkas Anti-FOMO 14. Referensi  Apa Itu FOMO?FOMO adalah singkatan dari Fear of Missing Out, yaitu rasa takut tertinggal dari sesuatu yang sedang dialami, dibicarakan, atau diikuti oleh orang lain. Dalam riset Przybylski dkk. (2013), FOMO dijelaskan sebagai kekhawatiran bahwa orang lain mungkin sedang mengalami pengalaman berharga sementara dirinya tidak ikut di dalamnya.Dalam bahasa sederhana, FOMO adalah perasaan:“Jangan-jangan saya rugi kalau tidak ikut.”“Jangan-jangan saya tertinggal.”“Jangan-jangan orang lain lebih maju, lebih bahagia, dan lebih seru hidupnya.”Masalahnya, perasaan seperti ini sering membuat seseorang mengambil keputusan bukan karena ilmu, kebutuhan, atau pertimbangan matang, tetapi karena takut dianggap ketinggalan. FOMO Bukan Sekadar Ikut-IkutanSecara ilmiah, FOMO bukan hanya kebiasaan ikut tren. Ia berkaitan dengan kebutuhan psikologis seseorang. Przybylski dkk. (2013) menemukan bahwa FOMO lebih tinggi pada orang yang kebutuhan psikologis dasarnya kurang terpenuhi, seperti kebutuhan merasa mampu, mandiri, dan terhubung dengan orang lain.Ini menunjukkan bahwa FOMO sering muncul dari hati yang merasa kurang. Ia merasa belum cukup diterima, belum cukup dihargai, atau belum cukup punya tempat dalam pergaulan. Akhirnya, seseorang berusaha menambal kekosongan itu dengan terus mengikuti apa yang ramai.Dalam pandangan Islam, hati yang kosong dari qana’ah akan mudah gelisah. Ia mudah silau dengan apa yang ada pada orang lain. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan,وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ“Janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka.” (QS. Thaha: 131)Ayat ini mengajarkan agar hati tidak terus terpaku pada kelebihan duniawi orang lain. Karena terlalu sering melihat nikmat orang lain tanpa iman dan qana’ah bisa membuat hati semakin resah.Baca juga: Mengikuti Gaya Orang Kafir, Tasyabbuh Mengapa FOMO Banyak Terjadi pada Generasi Saat Ini?Generasi saat ini hidup di tengah derasnya arus media sosial. Setiap hari seseorang melihat pencapaian orang lain, liburan orang lain, barang baru orang lain, kajian yang diikuti orang lain, bisnis orang lain, pernikahan orang lain, dan berbagai momen yang tampak indah.Zhang dkk. (2021) dalam meta-analisisnya menemukan adanya hubungan positif antara penggunaan media sosial dan FOMO. Artinya, semakin kuat keterlibatan seseorang dengan media sosial, semakin besar kemungkinan muncul rasa takut tertinggal.Media sosial membuat hidup orang lain terlihat sangat dekat. Namun, yang sering terlihat hanyalah potongan terbaik dari hidup mereka. Jarang orang menampilkan lelahnya, masalahnya, utangnya, konfliknya, air matanya, atau ujian batinnya. Akhirnya, seseorang membandingkan seluruh hidupnya dengan cuplikan terbaik hidup orang lain.Di sinilah FOMO menjadi berbahaya. Ia membuat seseorang lupa bahwa tidak semua yang tampak indah di layar benar-benar indah dalam kenyataan. Dampak Baik FOMO Jika DiarahkanFOMO tidak selalu buruk jika diarahkan kepada kebaikan. Ada bentuk “takut tertinggal” yang justru terpuji, yaitu takut tertinggal dari ilmu, amal saleh, sedekah, majelis ilmu, dakwah, dan kesempatan memperbaiki diri.Di antara dampak baik FOMO jika diarahkan:Pertama, mendorong seseorang mencari ilmu. Melihat orang lain rajin belajar bisa membuat seseorang ikut terdorong belajar. Ini menjadi baik jika yang ditiru adalah kebaikan.Kedua, membangkitkan semangat produktif. Seseorang bisa terpacu untuk menulis, berdakwah, berolahraga, menghafal Al-Qur’an, atau memperbaiki akhlak karena melihat teladan baik.Ketiga, mendorong seseorang masuk ke lingkungan yang saleh. Ia takut tertinggal dari majelis ilmu, takut tertinggal dari teman-teman yang shalih, dan takut tertinggal dari amal yang mendekatkannya kepada Allah.Inilah FOMO yang baik: bukan takut tertinggal dari dunia, tetapi takut tertinggal dari kebaikan akhirat.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ“Berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148)Maka, takut tertinggal dalam urusan akhirat adalah tanda hati yang masih hidup. Yang berbahaya adalah ketika seseorang hanya takut tertinggal dari tren dunia, tetapi tidak takut tertinggal dari shalat, ilmu, taubat, dan amal saleh.Baca juga: Berlomba dalam Meraih Pahala Dampak Buruk FOMO Jika Tidak DikendalikanDampak buruk FOMO lebih banyak muncul ketika seseorang tidak punya prinsip dan mudah terseret arus. Ia ikut karena ramai, bukan karena benar. Ia membeli karena viral, bukan karena butuh. Ia berbicara karena tren, bukan karena ilmu.Di antara dampak buruk FOMO adalah:Pertama, gelisah dan sulit merasa cukup. Gupta dan Sharma (2021) menjelaskan bahwa FOMO berkaitan dengan kesehatan mental. Seseorang yang terus merasa tertinggal akan lebih mudah cemas, tidak puas, dan merasa hidupnya kalah dari orang lain.Kedua, penggunaan internet dan media sosial secara berlebihan. Akbari dkk. (2021) dalam systematic review dan meta-analysis menyebut bahwa FOMO dipandang sebagai salah satu faktor yang berkaitan dengan penggunaan internet berlebihan. Orang yang takut tertinggal akan terus mengecek kabar, status, tren, komentar, dan aktivitas orang lain.Ketiga, membandingkan diri secara berlebihan. Servidio dkk. (2024) menemukan bahwa FOMO berkaitan dengan penggunaan media sosial bermasalah melalui perbandingan sosial dan harga diri. Seseorang melihat orang lain, lalu merasa dirinya kurang. Ia melihat keberhasilan orang lain, lalu merasa gagal. Ia melihat kebahagiaan orang lain, lalu merasa hidupnya hambar.Keempat, lemah dalam mengambil keputusan. Orang yang FOMO sering mengambil keputusan karena tekanan sosial. Ia takut tidak ikut, takut tidak dianggap gaul, takut tidak satu frekuensi, takut dianggap ketinggalan.Kelima, boros dan konsumtif. Banyak orang membeli barang bukan karena perlu, tetapi karena sedang viral. Banyak orang ikut acara bukan karena butuh, tetapi karena takut tidak punya cerita. Banyak orang mengejar gaya hidup bukan karena mampu, tetapi karena takut terlihat kalah.Keenam, hilang arah hidup. Ini bahaya yang paling besar. FOMO membuat seseorang lebih sibuk mengikuti manusia daripada mencari ridha Allah. Ia tidak lagi bertanya, “Apakah ini halal?” tetapi bertanya, “Apakah ini sedang ramai?” Ia tidak lagi bertanya, “Apakah ini bermanfaat?” tetapi bertanya, “Apakah orang lain juga ikut?”Padahal seorang muslim tidak hidup untuk mengejar validasi manusia. Seorang muslim hidup untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.Baca juga: Overthinking dalam Islam, Kapan Berpikir Menjadi Masalah? FOMO Belanja: Beli karena Butuh atau karena Takut Tertinggal?Salah satu bentuk FOMO yang sering terjadi adalah FOMO dalam belanja. Seseorang membeli barang bukan karena benar-benar butuh, tetapi karena barang itu sedang viral. Misalnya, ada barang yang viral di Makkah atau Madinah, lalu banyak orang merasa harus memilikinya, padahal kualitasnya biasa saja dan tidak ada keistimewaan yang berarti.Untuk menilai apakah keputusan membeli itu sehat atau karena FOMO, tanyakan pada diri sendiri:Kalau tidak viral, apakah tetap ingin beli? Jika jawabannya “tidak”, besar kemungkinan itu FOMO.Kalau tidak diposting, apakah tetap terasa berharga? Jika jawabannya “tidak”, mungkin yang dicari bukan barangnya, tetapi validasi.Apakah barang itu benar-benar dibutuhkan? Jika tidak, berarti lebih dekat pada perilaku konsumtif.Apakah harga sebanding dengan manfaat? Jika kualitasnya biasa saja, tetapi dibeli karena ramai, ini tanda keputusan sedang dipimpin tren.Dalam Islam, membeli barang mubah itu boleh. Namun, yang perlu dijaga adalah israf dan tabdzir. Israf adalah berlebihan dalam menggunakan harta, sedangkan tabdzir adalah membelanjakan harta pada hal yang tidak layak atau sia-sia.Maka, jangan sampai seseorang pulang dari Tanah Suci membawa barang viral, tetapi tertinggal dari pelajaran qana’ah. Jangan sampai yang paling diingat dari safar ibadah bukan doa, tawaf, shalat, dan taubat, tetapi barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.Barang viral boleh jadi cepat habis, tetapi qana’ah jangan sampai ikut habis. Baca juga: Inilah 6 Adab Ketika Masuk Pasar Agar Dapat Keberkahan dan Terhindar dari Mara Bahaya FOMO, Media Sosial, dan Perbandingan HidupMedia sosial sering menjadi ladang subur bagi FOMO. Seseorang membuka media sosial sebentar, lalu melihat temannya sudah menikah, temannya sudah punya rumah, temannya sudah punya anak, temannya sudah lulus, temannya sudah punya bisnis, temannya sudah jalan-jalan, temannya sudah ikut kajian besar, temannya sudah punya pencapaian tertentu.Akhirnya muncul bisikan:“Saya kapan?”“Saya kok begini-begini saja?”“Saya tertinggal jauh.”“Hidup orang lain kok lebih mudah?”Maciel-Saldierna dkk. (2024) meneliti penggunaan media sosial dan FOMO pada siswa SMP di Meksiko. Ini menunjukkan bahwa FOMO menjadi perhatian penting pada remaja dan pelajar, karena kelompok ini banyak berinteraksi dengan media sosial dan mudah terpengaruh oleh lingkungan sosialnya.Dalam konteks Indonesia, beberapa penelitian juga menyoroti FOMO pada mahasiswa, pengguna Instagram, pengguna TikTok, regulasi diri, harga diri, dan penggunaan media sosial bermasalah. Ini menunjukkan bahwa FOMO bukan sekadar fenomena luar negeri, tetapi juga terjadi di tengah masyarakat kita.Islam memberi obat penting untuk penyakit membandingkan diri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ“Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian, dan janganlah melihat kepada orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah atas kalian.” (HR. Muslim, no. 2963)Baca juga: Meraih Sifat QanaahHadits ini adalah terapi hati. Jika seseorang terlalu sering melihat yang di atas dalam urusan dunia, ia akan mudah merasa kurang. Namun, jika ia melihat yang di bawah, ia akan lebih mudah bersyukur.Baca juga: Benarkah Banyak Bergaul dan Bermedsos, Makin Banyak Dosa? FOMO dan Hati yang GelisahFOMO sangat dekat dengan overthinking. Seseorang yang FOMO sering memutar banyak pertanyaan dalam pikirannya.“Kalau saya tidak ikut, nanti bagaimana?”“Kalau saya tidak beli sekarang, nanti menyesal?”“Kalau saya tidak datang, nanti saya tidak dianggap?”“Kalau saya tidak update, nanti saya tertinggal?”Berpikir itu baik jika mengantar pada keputusan yang benar. Namun, overthinking membuat seseorang hanya berputar dalam kekhawatiran. Ia tidak semakin dekat kepada solusi, tetapi semakin jauh dari ketenangan.Di sinilah pentingnya tawakal. Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha. Tawakal berarti hati bersandar kepada Allah setelah menempuh sebab yang benar.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)Orang yang bertakwa tidak perlu panik karena manusia sudah lebih dahulu mendapatkan sesuatu. Rezeki tidak akan tertukar. Jalan hidup tidak harus sama. Ukuran sukses tidak ditentukan oleh tren, tetapi oleh ridha Allah.Baca juga: Rezeki Tak Mungkin Tertukar FOMO dan Bahaya Menjadi Pengikut Setiap SeruanFOMO bukan hanya masalah psikologis modern. Dalam bahasa agama, FOMO bisa menjadi tanda lemahnya pijakan ilmu. Orang yang mudah takut tertinggal dari tren biasanya mudah digerakkan oleh apa pun yang sedang ramai. Ia tidak sempat bertanya, “Ini benar atau salah?” Ia hanya bertanya, “Ini sedang diikuti banyak orang atau tidak?”Di sinilah pentingnya nasihat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu kepada Kumail bin Ziyad. Beliau berkata,النَّاسُ ثَلَاثَةٌ؛ فَعَالِمٌ رَبَّانِيٌّ، وَمُتَعَلِّمٌ عَلَى سَبِيلِ نَجَاةٍ، وَهَمَجٌ رَعَاعٌ أَتْبَاعُ كُلِّ نَاعِقٍ، يَمِيلُونَ مَعَ كُلِّ رِيحٍ، لَمْ يَسْتَضِيئُوا بِنُورِ الْعِلْمِ، وَلَمْ يَلْجَؤُوا إِلَى رُكْنٍ وَثِيقٍ.“Manusia terbagi menjadi tiga jenis. Pertama, seorang alim rabbani. Kedua, penuntut ilmu yang berada di jalan keselamatan. Ketiga, massa bodoh yang kacau balau; mereka adalah pengikut setiap penyeru, condong mengikuti setiap arah angin, tidak pernah disinari cahaya ilmu, dan tidak bersandar pada pijakan yang kokoh.”Perkataan ini sangat relevan untuk membaca budaya FOMO hari ini. Orang yang tidak punya cahaya ilmu akan mudah menjadi “pengikut setiap penyeru”. Ketika ada tren baru, ia ikut. Ketika ada opini viral, ia ikut. Ketika ada gaya hidup yang sedang ramai, ia ikut. Ketika ada ajakan yang belum jelas benar-salahnya, ia tetap ikut karena takut tertinggal.Inilah bahaya FOMO: seseorang bisa berubah menjadi manusia yang mudah digiring. Bukan lagi ilmu yang memimpin hidupnya, tetapi suara mayoritas. Bukan lagi petunjuk Allah yang menjadi ukuran, tetapi tren yang sedang ramai. Bukan lagi halal dan haram yang ditimbang, tetapi “orang-orang juga melakukannya.”‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menyebut golongan ketiga sebagai هَمَجٌ رَعَاعٌ, yaitu orang-orang bodoh yang tidak memiliki pegangan kuat. Mereka disebut أَتْبَاعُ كُلِّ نَاعِقٍ, pengikut setiap penyeru. Siapa pun yang bersuara keras, mereka ikuti. Ke mana pun angin opini bertiup, mereka condong ke sana.Ini persis dengan sebagian budaya digital hari ini. Seseorang bisa ikut marah karena semua orang sedang marah. Ikut membeli karena semua orang sedang membeli. Ikut menghina karena semua orang sedang menghina. Ikut menyebarkan berita karena semua orang sedang membagikannya. Padahal belum tentu ia tahu duduk perkara, belum tentu benar, dan belum tentu diridhai Allah.Karena itu, obat FOMO adalah ilmu. ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu juga berkata,العِلْمُ خَيْرٌ مِنَ المَالِ، العِلْمُ يَحْرُسُكَ وَأَنْتَ تَحْرُسُ المَالَ.“Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu akan menjagamu, sedangkan harta harus engkau jaga.”Baca juga: 40 Alasan Ilmu Agama Lebih Baik daripada HartaIlmu menjaga seseorang dari mudah ikut-ikutan. Ilmu membuat seseorang berani berbeda ketika yang ramai ternyata salah. Ilmu membuat seseorang tidak panik saat tertinggal dari tren dunia, karena ia tahu bahwa keselamatan bukan pada mengikuti banyak orang, tetapi pada mengikuti kebenaran.Orang berilmu tidak mudah digoyang oleh “angin” tren. Ia seperti pohon besar yang akarnya kokoh. Adapun orang yang tidak punya ilmu seperti ranting lemah; sedikit saja ada angin opini, ia ikut bergerak. Hari ini ke kanan, besok ke kiri. Hari ini membela, besok mencela. Hari ini ikut tren ini, besok ikut tren lain.Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan,وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ“Jika engkau mengikuti kebanyakan orang di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An’am: 116)Ayat ini mengajarkan bahwa kebenaran tidak selalu diukur dari banyaknya pengikut. Sesuatu yang viral belum tentu benar. Sesuatu yang ramai belum tentu selamat. Sesuatu yang menjadi tren belum tentu membawa berkah.Maka, seorang muslim tidak boleh hidup sebagai pengikut setiap seruan. Ia harus bertanya sebelum mengikuti:Apakah ini sesuai ilmu?Apakah ini halal?Apakah ini membawa manfaat?Apakah ini mendekatkan saya kepada Allah?Apakah ini hanya dorongan gengsi dan takut tertinggal?Jika pertanyaan-pertanyaan ini tidak dijawab, FOMO akan menyeret seseorang menjadi bagian dari hamaj ra’aa’, yaitu orang banyak yang mudah dikendalikan oleh suara, tren, dan arus. Namun, jika ia kembali kepada ilmu, ia akan selamat. Karena manusia yang selamat hanya dua: alim rabbani atau penuntut ilmu yang berjalan menuju keselamatan.Jadi, lawan dari FOMO bukan sekadar “tidak ikut tren”. Lawan dari FOMO adalah hidup dengan ilmu. Karena orang yang berilmu tidak takut tertinggal dari dunia, selama ia tidak tertinggal dari petunjuk Allah.Baca juga: Ilmu Lebih Berharga dari Harta, Inspirasi Parenting dari Kisah Farrukh dan Rabi‘ah Takut Tertinggal dari Tren atau Tertinggal dari Hidayah?Pertanyaan pentingnya bukan: “Apakah saya tertinggal dari tren?”Pertanyaan pentingnya adalah: “Apakah saya tertinggal dari hidayah?”Banyak orang takut tertinggal kabar, tetapi tidak takut tertinggal shalat.Banyak orang takut tidak ikut tren, tetapi tidak takut tidak ikut majelis ilmu.Banyak orang takut tidak punya pengalaman dunia, tetapi tidak takut kehilangan kesempatan taubat.Banyak orang takut tidak diakui manusia, tetapi tidak takut jauh dari Allah.Maka, seorang muslim perlu mengubah arah rasa takutnya. Jangan jadikan FOMO sebagai rasa takut tertinggal dari dunia. Jadikan ia sebagai rasa takut tertinggal dari kebaikan.Takutlah jika umur berjalan, tetapi amal tidak bertambah.Takutlah jika ilmu semakin mudah diakses, tetapi hati tidak semakin tunduk.Takutlah jika media sosial selalu sempat dibuka, tetapi mushaf jarang disentuh.Takutlah jika tren selalu diikuti, tetapi sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diabaikan. Baca juga: Doa Meminta Hidayah dan Istiqamah di Atas Kebenaran Terkait Prinsip Agama: FOMO Menghilangkan Jati Diri Seorang MuslimBahaya lain dari FOMO adalah membuat seseorang kehilangan jati diri. Ia tidak lagi berani tampil sebagai dirinya yang sebenarnya. Ia lebih sibuk menyesuaikan diri dengan tren, gaya hidup, dan standar manusia daripada menjaga identitasnya sebagai seorang muslim.Padahal seorang muslim memiliki jati diri yang jelas. Ia punya iman, ibadah, akhlak, adab, batas halal-haram, dan prinsip hidup yang bersumber dari wahyu. Seorang muslim tidak hidup hanya untuk diterima manusia, tetapi untuk mencari ridha Allah subhanahu wa ta’ala.FOMO bisa merusak jati diri seorang muslim dalam beberapa bentuk.Pertama, FOMO membuat seseorang malu dengan identitas agamanya. Ia malu terlihat berbeda, malu menjaga adab, malu menolak ajakan maksiat, malu tidak ikut gaya hidup yang sedang ramai. Akhirnya, ia lebih takut dianggap aneh oleh manusia daripada takut menyelisihi perintah Allah.Kedua, FOMO membuat seseorang mudah meniru siapa saja yang sedang populer. Jika yang viral adalah gaya hidup orang fasik, ia ikut. Jika yang ramai adalah budaya orang kafir, ia ikut. Jika yang banyak ditonton adalah ahli maksiat, ia pun merasa perlu mengikuti agar tidak tertinggal. Padahal tidak semua yang populer pantas ditiru.Ketiga, FOMO melemahkan prinsip al-wala’ wal-bara’. Seorang muslim semestinya mencintai kebaikan, orang-orang saleh, dan jalan kaum beriman. Ia juga harus menjauh dari kekufuran, kemaksiatan, dan simbol-simbol yang bertentangan dengan Islam. Namun, FOMO membuat sebagian orang tidak lagi peka: selama sesuatu viral, ia ikuti; selama banyak yang melakukan, ia anggap biasa.Keempat, FOMO membuat seorang muslim meniru ahli maksiat. Ia mengikuti cara berpakaian, cara bicara, gaya hiburan, gaya pergaulan, bahkan cara merayakan sesuatu yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Padahal muslim yang baik tidak menjadikan ahli maksiat sebagai teladan hidup. Yang layak diteladani adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, ulama, dan orang-orang saleh.Kelima, FOMO bisa menyeret kepada tasyabbuh dengan orang kafir. Tasyabbuh adalah menyerupai orang kafir dalam perkara yang menjadi ciri khas agama, syiar, atau kebiasaan khusus mereka yang bertentangan dengan Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Daud, no. 4031; Ahmad, 2:50. Dinilai hasan oleh para ulama)Hadits ini menjadi peringatan agar seorang muslim tidak mudah larut meniru identitas umat lain, apalagi dalam perkara yang menjadi ciri khas agama dan budaya mereka yang menyelisihi Islam.Keenam, FOMO membuat seseorang kehilangan keberanian untuk berbeda. Padahal dalam banyak keadaan, seorang muslim memang harus berani berbeda. Berbeda karena menjaga shalat. Berbeda karena menjaga aurat. Berbeda karena menolak riba. Berbeda karena tidak ikut pergaulan bebas. Berbeda karena tidak ikut tren maksiat. Berbeda karena berpegang pada sunnah.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِّنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ“Kemudian Kami jadikan engkau berada di atas suatu syariat dari urusan agama itu. Maka ikutilah syariat itu dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Al-Jatsiyah: 18)Ayat ini menunjukkan bahwa seorang muslim harus mengikuti syariat, bukan mengikuti hawa nafsu manusia. Jika tren bertentangan dengan syariat, maka tren itu harus ditinggalkan. Jika budaya populer mengajak pada maksiat, maka budaya itu tidak boleh diikuti. Jika standar manusia membuat kita jauh dari Allah, maka standar itu harus ditolak.Ketujuh, FOMO membuat ukuran hidup berubah. Orang yang terkena FOMO sering bertanya, “Apakah ini sedang ramai?” Padahal seorang muslim seharusnya bertanya, “Apakah ini benar menurut Allah?” Ia bertanya, “Apakah orang-orang ikut?” Padahal seharusnya ia bertanya, “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meridhai jalan seperti ini?”Karena itu, menjaga jati diri muslim sangat penting di zaman yang penuh tren. Jangan sampai seorang muslim lebih bangga dengan brand, gaya hidup, komunitas, atau simbol dunia daripada bangga dengan Islam. Jangan sampai ia lebih cepat mengikuti suara influencer daripada mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Seorang muslim boleh mengambil manfaat dari kemajuan zaman. Ia boleh memakai teknologi, belajar dari pengalaman orang lain, dan mengikuti hal-hal mubah yang bermanfaat. Namun, ia tidak boleh kehilangan prinsip. Tidak semua yang datang dari luar harus ditolak, tetapi tidak semua yang viral boleh ditiru.FOMO dalam urusan dunia bisa membuat boros. Namun, FOMO dalam urusan akidah bisa membuat seseorang kehilangan arah iman. Cara Mengendalikan FOMOAda beberapa cara sederhana untuk mengendalikan FOMO.Pertama, batasi paparan media sosial. Tidak semua hal perlu diketahui. Tidak semua kabar perlu diikuti. Tidak semua tren perlu dicoba.Kedua, tanyakan sebelum ikut: apakah ini halal, bermanfaat, dan sesuai prioritas hidup? Jika tidak jelas manfaatnya, tinggalkan.Ketiga, perbanyak syukur. FOMO sering muncul karena seseorang terlalu fokus pada apa yang belum dimiliki, bukan pada nikmat yang sudah Allah beri.Keempat, pilih lingkungan yang baik. Jika lingkungan hanya mendorong gengsi, gaya hidup, dan pencitraan, hati akan mudah lelah. Namun, jika lingkungan mengajak kepada ilmu dan amal, rasa takut tertinggal akan berubah menjadi semangat berlomba dalam kebaikan.Kelima, kuatkan qana’ah dan tawakal. Qana’ah membuat hati cukup. Tawakal membuat hati tidak panik.Keenam, ingat tujuan hidup. Hidup bukan untuk selalu update, tetapi untuk beribadah kepada Allah. Hidup bukan untuk selalu terlihat berhasil, tetapi untuk pulang kepada Allah dengan iman dan amal saleh.Baca juga: Tawakal kepada Allah yang Memberi Kecukupan (Perkataan Ibnul Qayyim) Nasihat TerakhirFOMO membuat seseorang takut tertinggal dari manusia, padahal yang lebih berbahaya adalah tertinggal dari petunjuk Allah. Jangan biarkan hidup dipimpin oleh tren, komentar, validasi, dan pencapaian orang lain. Jadikan ilmu sebagai cahaya agar kita tidak menjadi pengikut setiap seruan yang viral. Yang paling penting bukan selalu update terhadap dunia, tetapi tetap kokoh di atas iman, ilmu, amal saleh, dan qana’ah.اللَّهُمَّ اهْدِنَا لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا، وَاجْعَلْ قُلُوبَنَا مُطْمَئِنَّةً بِذِكْرِكَ، وَارْزُقْنَا الْقَنَاعَةَ وَالثَّبَاتَ عَلَى طَاعَتِكَ.Allahummahdinaa li ahsanil akhlaaq, washrif ‘annaa sayyi-ahaa, waj‘al quluubanaa muthma-innatan bi dzikrika, warzuqnal qanaa‘ata wats-tsabaata ‘alaa thaa‘atik.“Ya Allah, tunjukilah kami kepada akhlak yang terbaik, jauhkanlah kami dari akhlak yang buruk, jadikan hati kami tenang dengan mengingat-Mu, dan karuniakan kepada kami sifat qana’ah serta keteguhan di atas ketaatan kepada-Mu.” 5 Pertanyaan Anti-FOMOKalau barang ini tidak viral, apakah saya tetap ingin membelinya?Apakah saya benar-benar membutuhkan barang ini, atau hanya ingin ikut arus?Apakah manfaatnya sebanding dengan harganya?Apakah kualitasnya memang layak, atau hanya terlihat menarik karena ramai dibicarakan?Apakah pembelian ini mengganggu kebutuhan lain yang lebih penting? Rumus Ringkas Anti-FOMOBeli karena butuh, bukan karena gaduh.Pilih karena manfaat, bukan karena viral.Pertimbangkan harga, kualitas, dan prioritas.Jangan sampai tren mengalahkan qana’ah.Baca juga: 5 Manfaat Sifat Qanaah ReferensiAkbari, M., Seydavi, M., Palmieri, S., Mansueto, G., Caselli, G., & Spada, M. M. (2021). Fear of missing out (FoMO) and internet use: A comprehensive systematic review and meta-analysis. Journal of Behavioral Addictions, 10(4), 879–900. https://doi.org/10.1556/2006.2021.00083Gupta, M., & Sharma, A. (2021). Fear of missing out: A brief overview of origin, theoretical underpinnings and relationship with mental health. World Journal of Clinical Cases, 9(19), 4881–4889. https://doi.org/10.12998/wjcc.v9.i19.4881Maciel-Saldierna, M., Méndez, I. R., & Guevara, G. (2024). Social media use and fear of missing out: An exploratory cross-sectional study in junior high students from Western Mexico. Pediatric Reports, 16(4), Article 87. https://doi.org/10.3390/pediatric16040087Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841–1848. https://doi.org/10.1016/j.chb.2013.02.014Servidio, R., Soraci, P., Griffiths, M. D., Boca, S., & Demetrovics, Z. (2024). Fear of missing out and problematic social media use: A serial mediation model of social comparison and self-esteem. Addictive Behaviors Reports, 19, Article 100536. https://doi.org/10.1016/j.abrep.2024.100536Zhang, Y., Li, S., & Yu, G. (2021). The relationship between social media use and fear of missing out: A meta-analysis. Acta Psychologica Sinica, 53(3), 273–290. https://doi.org/10.3724/SP.J.1041.2021.00273 —- Selesai ditulis di Malang Jawa Timur saat liburan, 13 Muharram 1448 H, 28 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfear of missing out FOMO gangguan kesehatan mental ikut tren ilmu agama kesehatan mental media sosial nasihat islam overthinking qanaah tujuan hidup validasi

Sikap Anak Ketika Orang Tua Bercerai

Daftar Isi ToggleMemahami perceraian sebagai bagian dari takdir AllahPerceraian mengakhiri pernikahan, bukan hubungan orang tua dan anakTidak memihak secara zalimMenjaga lisan dan rahasia keluargaMengelola emosi dengan imanBersabar dalam ujianJangan jadikan luka sebagai alasan untuk rusakMenguatkan hubungan dengan AllahMenjadi anak yang lebih baikSaatnya bangkitPerceraian adalah salah satu peristiwa yang paling mengguncang dalam kehidupan keluarga. Ia bukan hanya tentang suami istri yang berpisah, tetapi tentang perubahan besar dalam kehidupan seorang anak. Rumah yang dulu terasa utuh, kini terbelah. Rutinitas berubah. Suasana berbeda. Kehangatan mungkin terasa berkurang.Bagi orang tua, perceraian mungkin adalah akhir dari sebuah hubungan. Namun bagi anak, perceraian bisa menjadi awal dari kebingungan batin: sedih, marah, kecewa, bahkan merasa kehilangan arah.Seorang anak mungkin bertanya dalam hatinya: Mengapa ini terjadi? Apakah aku penyebabnya? Haruskah aku memilih salah satu? Apakah keluargaku sudah tidak normal lagi? Apa yang harus aku perbuat setelah ini?Islam sebagai agama yang sempurna tidak mengabaikan realitas ini. Syariat mengakui bahwa perceraian bisa terjadi. Namun, Islam juga menegaskan bahwa perceraian tidak boleh merusak akhlak, tidak boleh menghancurkan hubungan orang tua dan anak, serta tidak boleh menghilangkan kewajiban berbakti. Dan ada satu hal yang sangat penting untuk dipahami, yaitu perceraian tidak menghapus kewajiban anak untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَوَصَّيْنَا الإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا“Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al-Ahqaf: 15)Ayat ini tidak memberi pengecualian. Tidak ada keterangan “selama mereka rukun” atau “selama mereka tinggal bersama.” Artinya, dalam kondisi apa pun, termasuk setelah perceraian, kewajiban birrul walidain tetap berlaku.Memahami perceraian sebagai bagian dari takdir AllahLangkah pertama bagi anak adalah memahami bahwa perceraian adalah bagian dari takdir Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ“Tidak ada musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah.” (QS. At-Taghabun: 11)Ini bukan berarti perceraian adalah sesuatu yang ringan atau tidak menyakitkan. Ia tetap musibah. Namun sebagai seorang mukmin, kita meyakini bahwa setiap peristiwa terjadi dalam ilmu dan hikmah Allah.Terkadang, rumah tangga yang dipenuhi pertengkaran, kekerasan, atau keburukan justru lebih merusak jiwa anak dibandingkan perpisahan itu sendiri. Allah lebih mengetahui apa yang terbaik, meskipun manusia tidak selalu memahami hikmahnya.Yang sangat penting untuk dipahami, anak bukan penyebab perceraian. Allah Azza wa Jalla menegaskan,وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ“Seseorang tidak akan memikul dosa orang lain.” (QS. Al-An’am: 164)Anak tidak memikul kesalahan orang tua. Ia tidak menanggung dosa keputusan yang bukan miliknya.Perceraian mengakhiri pernikahan, bukan hubungan orang tua dan anakPerceraian hanya mengakhiri hubungan suami dan istri. Ia tidak menghapus status ayah dan ibu. Seorang ayah tetap ayah, meskipun tidak lagi tinggal satu rumah. Seorang ibu tetap ibu, meskipun telah menikah lagi.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا“Pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang baik.” (QS. Luqman: 15)Berbakti tidak bergantung pada keadaan hubungan mereka satu sama lain. Bahkan jika orang tua memiliki kekurangan atau kesalahan, anak tetap diperintahkan untuk menjaga adab, tidak membentak, tidak merendahkan, dan tetap berbicara dengan sopan.Baca juga: Jangan Mudah Ucapkan Kata “Cerai..”Tidak memihak secara zalimSalah satu ujian terbesar anak setelah perceraian adalah tekanan untuk memihak. Kadang salah satu orang tua menceritakan kesalahan pasangannya. Kadang keluarga besar ikut mempengaruhi. Anak bisa terbawa arus kebencian.Namun, Allah Azza wa Jalla berfirman,اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ“Berlaku adillah, itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)Anak tidak boleh menzalimi salah satu orang tua hanya karena cerita sepihak atau emosi sesaat. Bersikap adil bukan berarti menutup mata dari kesalahan, tetapi tidak membenci secara membabi buta dan tidak memutus hubungan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ“Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)Memutus hubungan dengan ayah atau ibu karena perceraian adalah kesalahan besar.Begitu pula orang tua yang telah bercerai juga harus bisa bersikap adil kepada anak-anaknya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اعدلوا بينَ أبنائِكُم ، اعدلوا بينَ أبنائِكُم“Berlaku adillah di antara anak-anak kalian, berlaku adillah di antara anak-anak kalian.” (HR. Abu Daud, An-Nasa’i, dan Ahmad)Menjaga lisan dan rahasia keluargaDi era media sosial, sering kali masalah keluarga diumbar ke publik. Padahal, Islam sangat menjaga kehormatan keluarga. Perceraian bukan bahan cerita publik. Anak yang bijak menjaga kehormatan keluarganya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من ستر مسلمًا سترهُ اللهُ يومَ القيامةِ“Barang siapa menutup aib seorang Muslim, maka Allah akan menutup aibnya di hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)Meski orang tua telah berpisah, menjaga kehormatan keluarga tetap menjadi bagian dari akhlak mulia.Mengelola emosi dengan imanPerceraian bisa saja melahirkan rasa marah kepada ayah, kekecewaan kepada ibu, kebencian terhadap keadaan, bahkan trauma terhadap pernikahan. Kesedihan dan marah adalah perasaan manusiawi. Namun kebencian yang terus dipendam dan dipelihara akan melukai diri sendiri.Ingatlah kabar gembira dari Allah, bahwa Allah mencintai orang-orang yang bisa menahan amarah dan memiliki sifat pemaaf,الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134)Menahan amarah bukan berarti menutup luka, tetapi mengelola emosi agar tidak merusak diri sendiri.Bersabar dalam ujianAllah Ta’ala menjanjikan kabar gembira bagi orang yang sabar,وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Dan Allah juga berfirman,إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan diberi pahala tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)Kesabaran dalam kondisi seperti ini bukan kesabaran yang lemah. Ia adalah kesabaran yang menguatkan iman.Jangan jadikan luka sebagai alasan untuk rusakSebagian anak yang tumbuh dalam keluarga bercerai berubah menjadi keras, pemberontak, jauh dari agama, atau membenci pernikahan karena pengalaman orang tuanya. Padahal, kesalahan orang tua bukan alasan untuk menghancurkan masa depan sendiri.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ“Janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195)Allah Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)Menguatkan hubungan dengan AllahKetika rasa aman dari keluarga terguncang, tempat sandaran yang paling kokoh adalah Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.” (QS. At-Talaq: 3)Doa menjadi kekuatan besar,رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا“Wahai Rabbku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil.” (QS. Al-Isra’: 24)Doa tetap dibaca, meskipun orang tua telah berpisah.Menjadi anak yang lebih baikPerceraian bisa membentuk dua jenis anak: 1) anak yang patah dan penuh luka; atau 2) anak yang matang dan bijak.Ingatlah firman Allah Azza wa Jalla,إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)Jadikan pengalaman pahit sebagai pelajaran untuk membangun masa depan yang lebih baik.Saatnya bangkitPerceraian orang tua memang bukan pilihan seorang anak, dan rasa sedih, kecewa, atau kehilangan adalah hal yang manusiawi. Namun jangan biarkan luka itu mengubahmu menjadi pribadi yang keras, putus asa, atau jauh dari kebaikan. Nilai dirimu tidak ditentukan oleh keadaan keluargamu, melainkan oleh sikapmu dalam menghadapi ujian tersebut. Jika engkau tetap berbakti meski hatimu terluka, tetap menjaga adab meski keadaan tidak mudah, dan tetap mendekat kepada Allah di saat rasa aman terasa goyah, maka sesungguhnya engkau sedang meninggikan derajatmu di sisi-Nya. Bisa jadi dari ujian ini Allah sedang membentukmu menjadi pribadi yang lebih matang, lebih bijak, dan lebih kuat. Jangan biarkan kesedihan menghancurkan masa depanmu, tetapi jadikan ia sebagai pijakan untuk tumbuh menjadi insan yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah. Wallāhu Ta‘ālā a‘lam.Baca juga: Sikap Terhadap Ibu yang Zalim dan Cara Menasihatinya***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Sikap Anak Ketika Orang Tua Bercerai

Daftar Isi ToggleMemahami perceraian sebagai bagian dari takdir AllahPerceraian mengakhiri pernikahan, bukan hubungan orang tua dan anakTidak memihak secara zalimMenjaga lisan dan rahasia keluargaMengelola emosi dengan imanBersabar dalam ujianJangan jadikan luka sebagai alasan untuk rusakMenguatkan hubungan dengan AllahMenjadi anak yang lebih baikSaatnya bangkitPerceraian adalah salah satu peristiwa yang paling mengguncang dalam kehidupan keluarga. Ia bukan hanya tentang suami istri yang berpisah, tetapi tentang perubahan besar dalam kehidupan seorang anak. Rumah yang dulu terasa utuh, kini terbelah. Rutinitas berubah. Suasana berbeda. Kehangatan mungkin terasa berkurang.Bagi orang tua, perceraian mungkin adalah akhir dari sebuah hubungan. Namun bagi anak, perceraian bisa menjadi awal dari kebingungan batin: sedih, marah, kecewa, bahkan merasa kehilangan arah.Seorang anak mungkin bertanya dalam hatinya: Mengapa ini terjadi? Apakah aku penyebabnya? Haruskah aku memilih salah satu? Apakah keluargaku sudah tidak normal lagi? Apa yang harus aku perbuat setelah ini?Islam sebagai agama yang sempurna tidak mengabaikan realitas ini. Syariat mengakui bahwa perceraian bisa terjadi. Namun, Islam juga menegaskan bahwa perceraian tidak boleh merusak akhlak, tidak boleh menghancurkan hubungan orang tua dan anak, serta tidak boleh menghilangkan kewajiban berbakti. Dan ada satu hal yang sangat penting untuk dipahami, yaitu perceraian tidak menghapus kewajiban anak untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَوَصَّيْنَا الإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا“Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al-Ahqaf: 15)Ayat ini tidak memberi pengecualian. Tidak ada keterangan “selama mereka rukun” atau “selama mereka tinggal bersama.” Artinya, dalam kondisi apa pun, termasuk setelah perceraian, kewajiban birrul walidain tetap berlaku.Memahami perceraian sebagai bagian dari takdir AllahLangkah pertama bagi anak adalah memahami bahwa perceraian adalah bagian dari takdir Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ“Tidak ada musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah.” (QS. At-Taghabun: 11)Ini bukan berarti perceraian adalah sesuatu yang ringan atau tidak menyakitkan. Ia tetap musibah. Namun sebagai seorang mukmin, kita meyakini bahwa setiap peristiwa terjadi dalam ilmu dan hikmah Allah.Terkadang, rumah tangga yang dipenuhi pertengkaran, kekerasan, atau keburukan justru lebih merusak jiwa anak dibandingkan perpisahan itu sendiri. Allah lebih mengetahui apa yang terbaik, meskipun manusia tidak selalu memahami hikmahnya.Yang sangat penting untuk dipahami, anak bukan penyebab perceraian. Allah Azza wa Jalla menegaskan,وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ“Seseorang tidak akan memikul dosa orang lain.” (QS. Al-An’am: 164)Anak tidak memikul kesalahan orang tua. Ia tidak menanggung dosa keputusan yang bukan miliknya.Perceraian mengakhiri pernikahan, bukan hubungan orang tua dan anakPerceraian hanya mengakhiri hubungan suami dan istri. Ia tidak menghapus status ayah dan ibu. Seorang ayah tetap ayah, meskipun tidak lagi tinggal satu rumah. Seorang ibu tetap ibu, meskipun telah menikah lagi.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا“Pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang baik.” (QS. Luqman: 15)Berbakti tidak bergantung pada keadaan hubungan mereka satu sama lain. Bahkan jika orang tua memiliki kekurangan atau kesalahan, anak tetap diperintahkan untuk menjaga adab, tidak membentak, tidak merendahkan, dan tetap berbicara dengan sopan.Baca juga: Jangan Mudah Ucapkan Kata “Cerai..”Tidak memihak secara zalimSalah satu ujian terbesar anak setelah perceraian adalah tekanan untuk memihak. Kadang salah satu orang tua menceritakan kesalahan pasangannya. Kadang keluarga besar ikut mempengaruhi. Anak bisa terbawa arus kebencian.Namun, Allah Azza wa Jalla berfirman,اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ“Berlaku adillah, itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)Anak tidak boleh menzalimi salah satu orang tua hanya karena cerita sepihak atau emosi sesaat. Bersikap adil bukan berarti menutup mata dari kesalahan, tetapi tidak membenci secara membabi buta dan tidak memutus hubungan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ“Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)Memutus hubungan dengan ayah atau ibu karena perceraian adalah kesalahan besar.Begitu pula orang tua yang telah bercerai juga harus bisa bersikap adil kepada anak-anaknya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اعدلوا بينَ أبنائِكُم ، اعدلوا بينَ أبنائِكُم“Berlaku adillah di antara anak-anak kalian, berlaku adillah di antara anak-anak kalian.” (HR. Abu Daud, An-Nasa’i, dan Ahmad)Menjaga lisan dan rahasia keluargaDi era media sosial, sering kali masalah keluarga diumbar ke publik. Padahal, Islam sangat menjaga kehormatan keluarga. Perceraian bukan bahan cerita publik. Anak yang bijak menjaga kehormatan keluarganya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من ستر مسلمًا سترهُ اللهُ يومَ القيامةِ“Barang siapa menutup aib seorang Muslim, maka Allah akan menutup aibnya di hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)Meski orang tua telah berpisah, menjaga kehormatan keluarga tetap menjadi bagian dari akhlak mulia.Mengelola emosi dengan imanPerceraian bisa saja melahirkan rasa marah kepada ayah, kekecewaan kepada ibu, kebencian terhadap keadaan, bahkan trauma terhadap pernikahan. Kesedihan dan marah adalah perasaan manusiawi. Namun kebencian yang terus dipendam dan dipelihara akan melukai diri sendiri.Ingatlah kabar gembira dari Allah, bahwa Allah mencintai orang-orang yang bisa menahan amarah dan memiliki sifat pemaaf,الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134)Menahan amarah bukan berarti menutup luka, tetapi mengelola emosi agar tidak merusak diri sendiri.Bersabar dalam ujianAllah Ta’ala menjanjikan kabar gembira bagi orang yang sabar,وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Dan Allah juga berfirman,إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan diberi pahala tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)Kesabaran dalam kondisi seperti ini bukan kesabaran yang lemah. Ia adalah kesabaran yang menguatkan iman.Jangan jadikan luka sebagai alasan untuk rusakSebagian anak yang tumbuh dalam keluarga bercerai berubah menjadi keras, pemberontak, jauh dari agama, atau membenci pernikahan karena pengalaman orang tuanya. Padahal, kesalahan orang tua bukan alasan untuk menghancurkan masa depan sendiri.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ“Janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195)Allah Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)Menguatkan hubungan dengan AllahKetika rasa aman dari keluarga terguncang, tempat sandaran yang paling kokoh adalah Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.” (QS. At-Talaq: 3)Doa menjadi kekuatan besar,رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا“Wahai Rabbku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil.” (QS. Al-Isra’: 24)Doa tetap dibaca, meskipun orang tua telah berpisah.Menjadi anak yang lebih baikPerceraian bisa membentuk dua jenis anak: 1) anak yang patah dan penuh luka; atau 2) anak yang matang dan bijak.Ingatlah firman Allah Azza wa Jalla,إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)Jadikan pengalaman pahit sebagai pelajaran untuk membangun masa depan yang lebih baik.Saatnya bangkitPerceraian orang tua memang bukan pilihan seorang anak, dan rasa sedih, kecewa, atau kehilangan adalah hal yang manusiawi. Namun jangan biarkan luka itu mengubahmu menjadi pribadi yang keras, putus asa, atau jauh dari kebaikan. Nilai dirimu tidak ditentukan oleh keadaan keluargamu, melainkan oleh sikapmu dalam menghadapi ujian tersebut. Jika engkau tetap berbakti meski hatimu terluka, tetap menjaga adab meski keadaan tidak mudah, dan tetap mendekat kepada Allah di saat rasa aman terasa goyah, maka sesungguhnya engkau sedang meninggikan derajatmu di sisi-Nya. Bisa jadi dari ujian ini Allah sedang membentukmu menjadi pribadi yang lebih matang, lebih bijak, dan lebih kuat. Jangan biarkan kesedihan menghancurkan masa depanmu, tetapi jadikan ia sebagai pijakan untuk tumbuh menjadi insan yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah. Wallāhu Ta‘ālā a‘lam.Baca juga: Sikap Terhadap Ibu yang Zalim dan Cara Menasihatinya***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleMemahami perceraian sebagai bagian dari takdir AllahPerceraian mengakhiri pernikahan, bukan hubungan orang tua dan anakTidak memihak secara zalimMenjaga lisan dan rahasia keluargaMengelola emosi dengan imanBersabar dalam ujianJangan jadikan luka sebagai alasan untuk rusakMenguatkan hubungan dengan AllahMenjadi anak yang lebih baikSaatnya bangkitPerceraian adalah salah satu peristiwa yang paling mengguncang dalam kehidupan keluarga. Ia bukan hanya tentang suami istri yang berpisah, tetapi tentang perubahan besar dalam kehidupan seorang anak. Rumah yang dulu terasa utuh, kini terbelah. Rutinitas berubah. Suasana berbeda. Kehangatan mungkin terasa berkurang.Bagi orang tua, perceraian mungkin adalah akhir dari sebuah hubungan. Namun bagi anak, perceraian bisa menjadi awal dari kebingungan batin: sedih, marah, kecewa, bahkan merasa kehilangan arah.Seorang anak mungkin bertanya dalam hatinya: Mengapa ini terjadi? Apakah aku penyebabnya? Haruskah aku memilih salah satu? Apakah keluargaku sudah tidak normal lagi? Apa yang harus aku perbuat setelah ini?Islam sebagai agama yang sempurna tidak mengabaikan realitas ini. Syariat mengakui bahwa perceraian bisa terjadi. Namun, Islam juga menegaskan bahwa perceraian tidak boleh merusak akhlak, tidak boleh menghancurkan hubungan orang tua dan anak, serta tidak boleh menghilangkan kewajiban berbakti. Dan ada satu hal yang sangat penting untuk dipahami, yaitu perceraian tidak menghapus kewajiban anak untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَوَصَّيْنَا الإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا“Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al-Ahqaf: 15)Ayat ini tidak memberi pengecualian. Tidak ada keterangan “selama mereka rukun” atau “selama mereka tinggal bersama.” Artinya, dalam kondisi apa pun, termasuk setelah perceraian, kewajiban birrul walidain tetap berlaku.Memahami perceraian sebagai bagian dari takdir AllahLangkah pertama bagi anak adalah memahami bahwa perceraian adalah bagian dari takdir Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ“Tidak ada musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah.” (QS. At-Taghabun: 11)Ini bukan berarti perceraian adalah sesuatu yang ringan atau tidak menyakitkan. Ia tetap musibah. Namun sebagai seorang mukmin, kita meyakini bahwa setiap peristiwa terjadi dalam ilmu dan hikmah Allah.Terkadang, rumah tangga yang dipenuhi pertengkaran, kekerasan, atau keburukan justru lebih merusak jiwa anak dibandingkan perpisahan itu sendiri. Allah lebih mengetahui apa yang terbaik, meskipun manusia tidak selalu memahami hikmahnya.Yang sangat penting untuk dipahami, anak bukan penyebab perceraian. Allah Azza wa Jalla menegaskan,وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ“Seseorang tidak akan memikul dosa orang lain.” (QS. Al-An’am: 164)Anak tidak memikul kesalahan orang tua. Ia tidak menanggung dosa keputusan yang bukan miliknya.Perceraian mengakhiri pernikahan, bukan hubungan orang tua dan anakPerceraian hanya mengakhiri hubungan suami dan istri. Ia tidak menghapus status ayah dan ibu. Seorang ayah tetap ayah, meskipun tidak lagi tinggal satu rumah. Seorang ibu tetap ibu, meskipun telah menikah lagi.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا“Pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang baik.” (QS. Luqman: 15)Berbakti tidak bergantung pada keadaan hubungan mereka satu sama lain. Bahkan jika orang tua memiliki kekurangan atau kesalahan, anak tetap diperintahkan untuk menjaga adab, tidak membentak, tidak merendahkan, dan tetap berbicara dengan sopan.Baca juga: Jangan Mudah Ucapkan Kata “Cerai..”Tidak memihak secara zalimSalah satu ujian terbesar anak setelah perceraian adalah tekanan untuk memihak. Kadang salah satu orang tua menceritakan kesalahan pasangannya. Kadang keluarga besar ikut mempengaruhi. Anak bisa terbawa arus kebencian.Namun, Allah Azza wa Jalla berfirman,اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ“Berlaku adillah, itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)Anak tidak boleh menzalimi salah satu orang tua hanya karena cerita sepihak atau emosi sesaat. Bersikap adil bukan berarti menutup mata dari kesalahan, tetapi tidak membenci secara membabi buta dan tidak memutus hubungan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ“Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)Memutus hubungan dengan ayah atau ibu karena perceraian adalah kesalahan besar.Begitu pula orang tua yang telah bercerai juga harus bisa bersikap adil kepada anak-anaknya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اعدلوا بينَ أبنائِكُم ، اعدلوا بينَ أبنائِكُم“Berlaku adillah di antara anak-anak kalian, berlaku adillah di antara anak-anak kalian.” (HR. Abu Daud, An-Nasa’i, dan Ahmad)Menjaga lisan dan rahasia keluargaDi era media sosial, sering kali masalah keluarga diumbar ke publik. Padahal, Islam sangat menjaga kehormatan keluarga. Perceraian bukan bahan cerita publik. Anak yang bijak menjaga kehormatan keluarganya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من ستر مسلمًا سترهُ اللهُ يومَ القيامةِ“Barang siapa menutup aib seorang Muslim, maka Allah akan menutup aibnya di hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)Meski orang tua telah berpisah, menjaga kehormatan keluarga tetap menjadi bagian dari akhlak mulia.Mengelola emosi dengan imanPerceraian bisa saja melahirkan rasa marah kepada ayah, kekecewaan kepada ibu, kebencian terhadap keadaan, bahkan trauma terhadap pernikahan. Kesedihan dan marah adalah perasaan manusiawi. Namun kebencian yang terus dipendam dan dipelihara akan melukai diri sendiri.Ingatlah kabar gembira dari Allah, bahwa Allah mencintai orang-orang yang bisa menahan amarah dan memiliki sifat pemaaf,الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134)Menahan amarah bukan berarti menutup luka, tetapi mengelola emosi agar tidak merusak diri sendiri.Bersabar dalam ujianAllah Ta’ala menjanjikan kabar gembira bagi orang yang sabar,وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Dan Allah juga berfirman,إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan diberi pahala tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)Kesabaran dalam kondisi seperti ini bukan kesabaran yang lemah. Ia adalah kesabaran yang menguatkan iman.Jangan jadikan luka sebagai alasan untuk rusakSebagian anak yang tumbuh dalam keluarga bercerai berubah menjadi keras, pemberontak, jauh dari agama, atau membenci pernikahan karena pengalaman orang tuanya. Padahal, kesalahan orang tua bukan alasan untuk menghancurkan masa depan sendiri.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ“Janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195)Allah Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)Menguatkan hubungan dengan AllahKetika rasa aman dari keluarga terguncang, tempat sandaran yang paling kokoh adalah Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.” (QS. At-Talaq: 3)Doa menjadi kekuatan besar,رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا“Wahai Rabbku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil.” (QS. Al-Isra’: 24)Doa tetap dibaca, meskipun orang tua telah berpisah.Menjadi anak yang lebih baikPerceraian bisa membentuk dua jenis anak: 1) anak yang patah dan penuh luka; atau 2) anak yang matang dan bijak.Ingatlah firman Allah Azza wa Jalla,إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)Jadikan pengalaman pahit sebagai pelajaran untuk membangun masa depan yang lebih baik.Saatnya bangkitPerceraian orang tua memang bukan pilihan seorang anak, dan rasa sedih, kecewa, atau kehilangan adalah hal yang manusiawi. Namun jangan biarkan luka itu mengubahmu menjadi pribadi yang keras, putus asa, atau jauh dari kebaikan. Nilai dirimu tidak ditentukan oleh keadaan keluargamu, melainkan oleh sikapmu dalam menghadapi ujian tersebut. Jika engkau tetap berbakti meski hatimu terluka, tetap menjaga adab meski keadaan tidak mudah, dan tetap mendekat kepada Allah di saat rasa aman terasa goyah, maka sesungguhnya engkau sedang meninggikan derajatmu di sisi-Nya. Bisa jadi dari ujian ini Allah sedang membentukmu menjadi pribadi yang lebih matang, lebih bijak, dan lebih kuat. Jangan biarkan kesedihan menghancurkan masa depanmu, tetapi jadikan ia sebagai pijakan untuk tumbuh menjadi insan yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah. Wallāhu Ta‘ālā a‘lam.Baca juga: Sikap Terhadap Ibu yang Zalim dan Cara Menasihatinya***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleMemahami perceraian sebagai bagian dari takdir AllahPerceraian mengakhiri pernikahan, bukan hubungan orang tua dan anakTidak memihak secara zalimMenjaga lisan dan rahasia keluargaMengelola emosi dengan imanBersabar dalam ujianJangan jadikan luka sebagai alasan untuk rusakMenguatkan hubungan dengan AllahMenjadi anak yang lebih baikSaatnya bangkitPerceraian adalah salah satu peristiwa yang paling mengguncang dalam kehidupan keluarga. Ia bukan hanya tentang suami istri yang berpisah, tetapi tentang perubahan besar dalam kehidupan seorang anak. Rumah yang dulu terasa utuh, kini terbelah. Rutinitas berubah. Suasana berbeda. Kehangatan mungkin terasa berkurang.Bagi orang tua, perceraian mungkin adalah akhir dari sebuah hubungan. Namun bagi anak, perceraian bisa menjadi awal dari kebingungan batin: sedih, marah, kecewa, bahkan merasa kehilangan arah.Seorang anak mungkin bertanya dalam hatinya: Mengapa ini terjadi? Apakah aku penyebabnya? Haruskah aku memilih salah satu? Apakah keluargaku sudah tidak normal lagi? Apa yang harus aku perbuat setelah ini?Islam sebagai agama yang sempurna tidak mengabaikan realitas ini. Syariat mengakui bahwa perceraian bisa terjadi. Namun, Islam juga menegaskan bahwa perceraian tidak boleh merusak akhlak, tidak boleh menghancurkan hubungan orang tua dan anak, serta tidak boleh menghilangkan kewajiban berbakti. Dan ada satu hal yang sangat penting untuk dipahami, yaitu perceraian tidak menghapus kewajiban anak untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَوَصَّيْنَا الإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا“Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al-Ahqaf: 15)Ayat ini tidak memberi pengecualian. Tidak ada keterangan “selama mereka rukun” atau “selama mereka tinggal bersama.” Artinya, dalam kondisi apa pun, termasuk setelah perceraian, kewajiban birrul walidain tetap berlaku.Memahami perceraian sebagai bagian dari takdir AllahLangkah pertama bagi anak adalah memahami bahwa perceraian adalah bagian dari takdir Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ“Tidak ada musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah.” (QS. At-Taghabun: 11)Ini bukan berarti perceraian adalah sesuatu yang ringan atau tidak menyakitkan. Ia tetap musibah. Namun sebagai seorang mukmin, kita meyakini bahwa setiap peristiwa terjadi dalam ilmu dan hikmah Allah.Terkadang, rumah tangga yang dipenuhi pertengkaran, kekerasan, atau keburukan justru lebih merusak jiwa anak dibandingkan perpisahan itu sendiri. Allah lebih mengetahui apa yang terbaik, meskipun manusia tidak selalu memahami hikmahnya.Yang sangat penting untuk dipahami, anak bukan penyebab perceraian. Allah Azza wa Jalla menegaskan,وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ“Seseorang tidak akan memikul dosa orang lain.” (QS. Al-An’am: 164)Anak tidak memikul kesalahan orang tua. Ia tidak menanggung dosa keputusan yang bukan miliknya.Perceraian mengakhiri pernikahan, bukan hubungan orang tua dan anakPerceraian hanya mengakhiri hubungan suami dan istri. Ia tidak menghapus status ayah dan ibu. Seorang ayah tetap ayah, meskipun tidak lagi tinggal satu rumah. Seorang ibu tetap ibu, meskipun telah menikah lagi.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا“Pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang baik.” (QS. Luqman: 15)Berbakti tidak bergantung pada keadaan hubungan mereka satu sama lain. Bahkan jika orang tua memiliki kekurangan atau kesalahan, anak tetap diperintahkan untuk menjaga adab, tidak membentak, tidak merendahkan, dan tetap berbicara dengan sopan.Baca juga: Jangan Mudah Ucapkan Kata “Cerai..”Tidak memihak secara zalimSalah satu ujian terbesar anak setelah perceraian adalah tekanan untuk memihak. Kadang salah satu orang tua menceritakan kesalahan pasangannya. Kadang keluarga besar ikut mempengaruhi. Anak bisa terbawa arus kebencian.Namun, Allah Azza wa Jalla berfirman,اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ“Berlaku adillah, itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)Anak tidak boleh menzalimi salah satu orang tua hanya karena cerita sepihak atau emosi sesaat. Bersikap adil bukan berarti menutup mata dari kesalahan, tetapi tidak membenci secara membabi buta dan tidak memutus hubungan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ“Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)Memutus hubungan dengan ayah atau ibu karena perceraian adalah kesalahan besar.Begitu pula orang tua yang telah bercerai juga harus bisa bersikap adil kepada anak-anaknya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اعدلوا بينَ أبنائِكُم ، اعدلوا بينَ أبنائِكُم“Berlaku adillah di antara anak-anak kalian, berlaku adillah di antara anak-anak kalian.” (HR. Abu Daud, An-Nasa’i, dan Ahmad)Menjaga lisan dan rahasia keluargaDi era media sosial, sering kali masalah keluarga diumbar ke publik. Padahal, Islam sangat menjaga kehormatan keluarga. Perceraian bukan bahan cerita publik. Anak yang bijak menjaga kehormatan keluarganya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من ستر مسلمًا سترهُ اللهُ يومَ القيامةِ“Barang siapa menutup aib seorang Muslim, maka Allah akan menutup aibnya di hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)Meski orang tua telah berpisah, menjaga kehormatan keluarga tetap menjadi bagian dari akhlak mulia.Mengelola emosi dengan imanPerceraian bisa saja melahirkan rasa marah kepada ayah, kekecewaan kepada ibu, kebencian terhadap keadaan, bahkan trauma terhadap pernikahan. Kesedihan dan marah adalah perasaan manusiawi. Namun kebencian yang terus dipendam dan dipelihara akan melukai diri sendiri.Ingatlah kabar gembira dari Allah, bahwa Allah mencintai orang-orang yang bisa menahan amarah dan memiliki sifat pemaaf,الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134)Menahan amarah bukan berarti menutup luka, tetapi mengelola emosi agar tidak merusak diri sendiri.Bersabar dalam ujianAllah Ta’ala menjanjikan kabar gembira bagi orang yang sabar,وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Dan Allah juga berfirman,إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan diberi pahala tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)Kesabaran dalam kondisi seperti ini bukan kesabaran yang lemah. Ia adalah kesabaran yang menguatkan iman.Jangan jadikan luka sebagai alasan untuk rusakSebagian anak yang tumbuh dalam keluarga bercerai berubah menjadi keras, pemberontak, jauh dari agama, atau membenci pernikahan karena pengalaman orang tuanya. Padahal, kesalahan orang tua bukan alasan untuk menghancurkan masa depan sendiri.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ“Janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195)Allah Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)Menguatkan hubungan dengan AllahKetika rasa aman dari keluarga terguncang, tempat sandaran yang paling kokoh adalah Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.” (QS. At-Talaq: 3)Doa menjadi kekuatan besar,رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا“Wahai Rabbku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil.” (QS. Al-Isra’: 24)Doa tetap dibaca, meskipun orang tua telah berpisah.Menjadi anak yang lebih baikPerceraian bisa membentuk dua jenis anak: 1) anak yang patah dan penuh luka; atau 2) anak yang matang dan bijak.Ingatlah firman Allah Azza wa Jalla,إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)Jadikan pengalaman pahit sebagai pelajaran untuk membangun masa depan yang lebih baik.Saatnya bangkitPerceraian orang tua memang bukan pilihan seorang anak, dan rasa sedih, kecewa, atau kehilangan adalah hal yang manusiawi. Namun jangan biarkan luka itu mengubahmu menjadi pribadi yang keras, putus asa, atau jauh dari kebaikan. Nilai dirimu tidak ditentukan oleh keadaan keluargamu, melainkan oleh sikapmu dalam menghadapi ujian tersebut. Jika engkau tetap berbakti meski hatimu terluka, tetap menjaga adab meski keadaan tidak mudah, dan tetap mendekat kepada Allah di saat rasa aman terasa goyah, maka sesungguhnya engkau sedang meninggikan derajatmu di sisi-Nya. Bisa jadi dari ujian ini Allah sedang membentukmu menjadi pribadi yang lebih matang, lebih bijak, dan lebih kuat. Jangan biarkan kesedihan menghancurkan masa depanmu, tetapi jadikan ia sebagai pijakan untuk tumbuh menjadi insan yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah. Wallāhu Ta‘ālā a‘lam.Baca juga: Sikap Terhadap Ibu yang Zalim dan Cara Menasihatinya***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

NPD: Bahaya Narsistik dan Cinta Pujian

Di zaman media sosial, banyak orang tidak sadar bahwa dirinya sedang memberi makan ego lewat pujian, tampilan, dan validasi manusia. NPD atau gangguan kepribadian narsistik bukan sekadar suka tampil, tetapi bisa menjadi pola kepribadian yang merusak hubungan dan membuat seseorang sulit berempati. Islam sejak awal sudah mengingatkan bahaya kibr, ‘ujub, riya’, cinta pujian, dan merendahkan manusia.  Daftar Isi tutup 1. Apa itu NPD? 2. Ciri-Ciri NPD yang Perlu Diwaspadai 3. Apa Penyebab NPD? 4. Media Sosial dan Budaya Validasi 5. Bagaimana Mengetahui Orang Terkena NPD? 6. Beda Percaya Diri, Sombong, dan NPD 7. Penanganan untuk Diri Sendiri 8. Penanganan untuk Orang Sekitar 9. Nasihat Alim Ulama untuk Sisi Penyakit Hati 10. Dalil Al-Qur’an yang Mengkritik Sifat Narsistik 11. Dalil Hadits yang Mengkritik Sifat Narsistik 12. Dalil yang Menunjukkan Obat Sifat Narsistik  Apa itu NPD?NPD adalah gangguan kepribadian yang membuat seseorang sangat terpusat pada dirinya, haus pujian, merasa paling penting, sulit berempati, dan mudah merendahkan orang lain. Dalam tinjauan Islam, gejala-gejala ini sangat dekat dengan penyakit hati seperti kibr, ‘ujub, fakhr, khuyala’, cinta kedudukan, dan menolak nasihat. Media sosial bukan penyebab tunggal NPD, tetapi dapat memperkuat sifat narsistik ketika seseorang menjadikan popularitas, pujian, dan citra diri sebagai ukuran nilai dirinya. Solusinya harus menyatukan dua jalan: terapi psikologis oleh ahlinya dan tazkiyatun nafs melalui tawadhu, muhasabah, menerima nasihat, amal tersembunyi, serta memperbaiki hubungan dengan Allah dan manusia.NPD adalah singkatan dari Narcissistic Personality Disorder, dalam bahasa Indonesia biasa diterjemahkan sebagai gangguan kepribadian narsistik.Secara klinis, NPD adalah pola kepribadian yang menetap, ditandai oleh rasa diri yang sangat penting atau grandiositas, kebutuhan kuat untuk dikagumi, kurang empati, rasa berhak, dan pola relasi yang sering eksploitatif atau bermasalah. Dalam DSM-5/DSM-5-TR, NPD termasuk gangguan kepribadian Cluster B, yaitu kelompok gangguan yang sering tampak dramatis, emosional, atau tidak stabil; diagnosis mensyaratkan pola yang menetap, kaku, maladaptif, dan menimbulkan gangguan fungsi atau penderitaan, bukan sekadar percaya diri tinggi. Ciri-Ciri NPD yang Perlu DiwaspadaiCiri yang sering disebut dalam literatur klinis adalah:merasa diri sangat penting atau istimewa,sibuk dengan fantasi sukses, kekuasaan, kecerdasan, kecantikan, atau status,merasa hanya bisa dipahami oleh orang-orang “level tinggi”,membutuhkan kekaguman berlebihan,merasa berhak mendapatkan perlakuan khusus,mengeksploitasi orang lain,kurang empati,iri kepada orang lain atau yakin orang lain iri kepadanya,bersikap arogan atau merendahkan.Namun, catatan pentingnya: diagnosis tidak boleh dibuat dari satu-dua ciri saja, apalagi dari konflik rumah tangga semata. Diagnosis NPD memerlukan asesmen klinis oleh psikolog klinis/psikiater, wawancara mendalam, riwayat jangka panjang, dan pembedaan dari gangguan lain seperti bipolar mania, borderline personality disorder, antisocial personality disorder, depresi, trauma, atau sekadar gaya komunikasi buruk. Apa Penyebab NPD?Penyebab NPD tidak tunggal. Biasanya gabungan dari beberapa faktor:Pertama: faktor bawaan dan temperamen.Sebagian orang sejak kecil memiliki temperamen lebih dominan, sensitif terhadap penilaian, atau sangat butuh pengakuan.Kedua: pola asuh yang keliru.Dua pola yang sering dibahas dalam riset: anak terlalu dipuja seakan selalu istimewa, atau sebaliknya anak terlalu sering direndahkan sehingga ia membangun “topeng kebesaran” untuk menutup rasa rapuh.Ketiga: pengalaman masa kecil yang buruk.Trauma, penolakan, pengabaian, kekerasan emosional, keluarga tidak stabil, atau tuntutan berlebihan dapat menjadi faktor risiko. Review 2024 menyebut adverse childhood experiences sebagai faktor risiko penting dalam perkembangan NPD pada masa dewasa.Keempat: lingkungan sosial yang memberi hadiah pada pamer diri.Budaya yang terlalu mengukur nilai manusia dari popularitas, penampilan, kekayaan, jabatan, jumlah followers, dan pujian bisa memperkuat sifat narsistik. Media Sosial dan Budaya ValidasiMedia sosial tidak otomatis menyebabkan NPD, tetapi dapat menjadi ruang yang memperkuat sifat narsistik. Sistem like, komentar, follower, view, dan algoritma popularitas dapat membuat seseorang semakin haus validasi, ingin selalu tampil, sulit menerima kritik, dan membangun citra diri yang berlebihan. Dalam perspektif Islam, kondisi ini perlu diwaspadai karena dekat dengan penyakit hati seperti riya’, sum’ah, ujub, cinta pujian, sombong, dan merendahkan manusia. Karena itu, pengguna media sosial perlu terus meluruskan niat: apakah ia sedang mencari ridha Allah dan manfaat bagi manusia, atau sedang memberi makan ego dirinya sendiri?Media sosial memberi ruang besar untuk:mencari validasi,mengejar likes dan komentar,membangun citra diri palsu,membandingkan diri,ingin terkenal,merasa hidup harus selalu terlihat hebat.Media sosial tidak otomatis membuat orang menjadi NPD, tetapi budaya pamer, validasi, dan ingin viral dapat memperkuat sifat narsistik pada orang yang sudah punya kecenderungan ke arah itu.Dalam bahasa syariat: medsos bisa menjadi ladang riya’, sum‘ah, ‘ujub, fakhr, hasad, dan hubbuzh zhuhur bila tidak dijaga dengan takwa. Bagaimana Mengetahui Orang Terkena NPD?Jangan langsung melabeli. Tetapi ciri-ciri yang perlu diwaspadai:Selalu ingin jadi pusat perhatian.Sulit menerima kritik, bahkan nasihat lembut pun dianggap serangan.Merasa dirinya paling berjasa, paling benar, paling pintar, atau paling layak dihormati.Sering merendahkan orang lain, tetapi sangat marah jika dirinya direndahkan.Butuh pujian terus-menerus.Tidak mudah meminta maaf, atau meminta maaf hanya untuk mengendalikan situasi.Kurang empati terhadap perasaan pasangan, anak, keluarga, atau teman.Suka memanipulasi: membuat orang merasa bersalah, takut, atau bergantung kepadanya.Relasi dekatnya sering rusak karena kontrol, penghinaan, atau drama.Harga dirinya rapuh; kritik kecil bisa membuatnya marah besar, diam menghukum, atau menyerang balik.Dalam istilah syariat, tanda yang paling jelas adalah dua hal dalam hadits:بَطَرُ الْحَقِّ: menolak kebenaran.غَمْطُ النَّاسِ: merendahkan manusia.Dua hal ini sangat penting untuk membedakan antara percaya diri yang sehat dan kesombongan yang rusak. Beda Percaya Diri, Sombong, dan NPDPercaya diri sehat: tahu kelebihan diri, tetapi tetap mau belajar, menerima nasihat, dan menghargai orang lain.Sombong/kibr: merasa lebih tinggi, menolak kebenaran, merendahkan orang lain.NPD: pola kepribadian yang menetap, berat, berulang, mengganggu relasi, pekerjaan, keluarga, dan biasanya sulit disadari oleh pelakunya sendiri. Penanganan untuk Diri SendiriBila seseorang merasa punya gejala narsistik, langkahnya:Pertama: jangan bangga dengan label “narsis”.Ini bukan identitas keren. Ini sinyal untuk muhasabah.Kedua: belajar menerima kritik kecil.Latih diri untuk diam dulu ketika dikoreksi. Jangan langsung membela diri.Ketiga: catat pola diri.Misalnya: “Kapan saya marah? Ketika tidak dipuji? Ketika dikritik? Ketika orang lain lebih berhasil?”Keempat: latih empati.Tanyakan: “Apa dampak ucapanku bagi orang lain? Apakah aku sedang ingin benar atau ingin menang?”Kelima: kurangi panggung validasi.Batasi kebiasaan mengecek likes, komentar, pujian, dan respons orang.Keenam: perbanyak amal yang tidak diketahui orang.Ini terapi syar’i yang sangat kuat untuk melawan cinta popularitas.Ketujuh: cari bantuan profesional.Terapi untuk NPD biasanya bukan obat utama, tetapi psikoterapi: membangun kesadaran diri, memperbaiki empati, mengatur emosi, dan memperbaiki relasi. Review klinis menyebut terapi NPD memang menantang karena ada pola kontrol, agresivitas, penghindaran, dan sulit membangun hubungan terapi, tetapi perubahan tetap mungkin dengan proses yang tepat. Penanganan untuk Orang SekitarBila menghadapi orang dengan sifat narsistik berat:Jangan mudah terpancing debat panjang.Tetapkan batasan yang jelas.Jangan terus-menerus memberi “bahan bakar” berupa pujian palsu.Jangan membalas penghinaan dengan penghinaan.Pisahkan antara menghormati orang dan membiarkan kezaliman.Dokumentasikan bila ada kekerasan, ancaman, atau manipulasi berat.Ajak konsultasi ke ahli bila memungkinkan.Dalam rumah tangga, libatkan mediator yang adil dan matang.Jika ada kekerasan fisik atau ancaman serius, keselamatan korban harus didahulukan.Dalam syariat, sabar bukan berarti membiarkan kezaliman. Tawadhu bukan berarti boleh diinjak-injak. Berbuat baik bukan berarti membenarkan perilaku merusak. Nasihat Alim Ulama untuk Sisi Penyakit HatiTerapi kibr (sombong) adalah menyadari bahwa manusia sama-sama berasal dari ayah dan ibu, standar kemuliaan hanyalah takwa, mengingat kelemahan diri, dan memahami bahwa manusia membenci orang kasar lagi sombong, sedangkan Allah mencintai tawadhu.Baca juga: Bahaya Sombong, Akhlak Iblis yang Menghalangi Surga ‘Ujub dan fakhr (bangga diri), obatnya adalah menerima nasihat, tidak marah ketika dikoreksi, membaca kitab akhlak, mengambil pelajaran dari kesalahan orang lain, menyadari bahwa kemuliaan bukan dengan pujian manusia, dan berdoa agar diberi akhlak yang baik.Baca juga: Awas Ujub! Amal Bisa Rusak karena Bangga Diri Nasihat praktisnya:Pertama: biasakan berkata, “Mungkin saya salah.”Kedua: biasakan menerima nasihat tanpa langsung membantah.Ketiga: sembunyikan sebagian amal.Keempat: berteman dengan orang saleh yang berani menasihati.Kelima: baca sirah Nabi ﷺ tentang tawadhu.Keenam: ingat kematian, karena semua pangkat, popularitas, dan pujian akan selesai. Dalil Al-Qur’an yang Mengkritik Sifat Narsistik1. Larangan sombong, merendahkan orang, dan membanggakan diriAllah Ta’ala berfirman,وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ“Janganlah engkau memalingkan wajahmu dari manusia karena sombong, dan janganlah berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak mencintai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)Ayat ini sangat dekat dengan kritik terhadap sifat narsistik: merasa diri lebih tinggi, merendahkan orang lain, dan ingin tampak hebat di hadapan manusia.2. Allah tidak mencintai orang sombong dan membanggakan diriAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا“Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. An-Nisa’: 36)Sifat mukhtal adalah merasa besar dalam diri, sedangkan fakhur adalah suka menampakkan kelebihan diri kepada orang lain. Dua sifat ini sangat dekat dengan perilaku haus pengakuan dan cinta pujian.3. Jangan merasa diri paling suciAllah Ta’ala berfirman,فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى“Maka janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang benar-benar bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)Ini adalah dalil penting untuk mengkritik orang yang merasa dirinya paling baik, paling benar, paling saleh, paling berjasa, atau paling layak dipuji.4. Jangan berjalan di bumi dengan angkuhAllah Ta’ala berfirman,وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا“Janganlah engkau berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya engkau tidak akan mampu menembus bumi dan tidak pula akan setinggi gunung.” (QS. Al-Isra’: 37)Ayat ini menghancurkan ilusi kebesaran diri. Sehebat apa pun manusia, ia tetap lemah, terbatas, dan tidak pantas menyombongkan diri.5. Kisah Qarun: sombong karena prestasi dan kekayaanAllah Ta’ala berfirman tentang Qarun,قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي“Qarun berkata, ‘Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.’” (QS. Al-Qashash: 78)Ini adalah contoh sikap narsistik dalam bentuk merasa semua keberhasilan berasal dari kehebatan diri sendiri. Ia lupa bahwa nikmat itu dari Allah.Allah juga berfirman,فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ“Maka Kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi.” (QS. Al-Qashash: 81)Ini menunjukkan bahaya besar ketika kekayaan, jabatan, ilmu, atau popularitas membuat seseorang merasa dirinya istimewa dan lebih tinggi dari orang lain.6. Jangan mencela dan merendahkan orang lainAllah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain. Boleh jadi mereka yang direndahkan itu lebih baik daripada yang merendahkan.” (QS. Al-Hujurat: 11)Orang yang narsistik sering merasa dirinya lebih tinggi dan mudah merendahkan orang lain. Ayat ini mengingatkan bahwa bisa jadi orang yang ia rendahkan justru lebih mulia di sisi Allah.7. Celaka bagi pencela dan pembanggakan hartaAllah Ta’ala berfirman,وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ ۝ الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ ۝ يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ“Celakalah bagi setiap pencela dan pengumpat, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Ia mengira bahwa hartanya dapat membuatnya kekal.” (QS. Al-Humazah: 1–3)Ayat ini mencela orang yang suka merendahkan orang lain, membanggakan hartanya, dan merasa dirinya aman karena apa yang ia miliki.8. Orang yang ingin dipuji atas sesuatu yang tidak ia lakukanAllah Ta’ala berfirman,وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ“Mereka suka dipuji atas sesuatu yang tidak mereka lakukan. Maka janganlah engkau mengira mereka akan selamat dari azab.” (QS. Ali ‘Imran: 188)Ini sangat relevan dengan budaya pencitraan: ingin dipuji, ingin terlihat berjasa, ingin dianggap hebat, padahal tidak sesuai kenyataan. Dalil Hadits yang Mengkritik Sifat Narsistik1. Kibr adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusiaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ.“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi.”Ada seseorang bertanya, “Sesungguhnya seseorang suka memakai pakaian yang bagus dan sandal yang bagus.”Beliau bersabda,إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ.“Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim)Ini dalil paling utama. Sifat narsistik yang paling berbahaya adalah dua hal ini: tidak mau menerima kebenaran dan mudah merendahkan orang lain.2. Larangan bangga diri dan merasa lebih tinggi dari orang lainRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا، حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ، وَلَا يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ.“Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap tawadhu, sampai tidak ada seorang pun yang membanggakan diri atas orang lain, dan tidak ada seorang pun yang berbuat zalim kepada orang lain.” (HR. Muslim)Hadits ini mengajarkan dua obat besar untuk sifat narsistik: tawadhu dan tidak menzalimi orang lain.3. Orang sombong akan dihinakan pada hari kiamatRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُوَرِ الرِّجَالِ، يَغْشَاهُمُ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ.“Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut kecil dalam rupa manusia. Kehinaan meliputi mereka dari segala arah.” (HR. At-Tirmidzi)Di dunia ia ingin terlihat besar. Pada hari kiamat, Allah hinakan ia menjadi sangat kecil.4. Bahaya ‘ujub: kagum kepada diri sendiriRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ.“Tiga perkara yang membinasakan: sifat pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan seseorang kagum kepada dirinya sendiri.” (HR. Al-Baihaqi dan lainnya)‘Ujub adalah penyakit inti dalam narsistik: seseorang terpukau dengan dirinya sendiri, kelebihan dirinya, pendapatnya, ilmunya, amalnya, atau statusnya.5. Larangan merendahkan sesama muslimRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ.“Cukuplah seseorang dianggap buruk ketika ia merendahkan saudaranya sesama muslim.” (HR. Muslim)Ini dalil tegas bahwa merendahkan orang lain sudah cukup menjadi tanda buruknya akhlak seseorang.6. Larangan hasad, saling membenci, dan saling menjatuhkanRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا.“Janganlah kalian saling hasad, jangan saling menipu dalam jual beli, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, jangan sebagian kalian menjual di atas jualan sebagian yang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim)Orang yang narsistik sering sulit melihat orang lain berhasil. Ia mudah iri, merasa tersaingi, lalu ingin menjatuhkan. Hadits ini menutup jalan menuju kerusakan itu.7. Larangan riya’ dan mencari pujian manusiaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ.“Siapa yang memperdengarkan amalnya agar dipuji, Allah akan membongkar niatnya. Siapa yang berbuat riya, Allah akan menampakkan riya’nya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ini sangat relevan dengan narsistik spiritual: ibadah, ilmu, dakwah, sedekah, atau amal sosial dilakukan agar terlihat hebat di mata manusia.8. Orang yang beramal besar tetapi niatnya ingin dipujiRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang orang yang belajar ilmu dan membaca Al-Qur’an, orang yang berjihad, dan orang yang bersedekah. Mereka ditanya tentang amalnya, lalu masing-masing mengaku beramal karena Allah. Namun dikatakan kepada mereka,كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ.“Engkau dusta. Engkau melakukannya agar dikatakan, ‘Ia seorang qari.’ Dan pujian itu telah dikatakan.”Dalam riwayat tentang orang yang berjihad,وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِيُقَالَ: جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ.“Engkau berperang agar dikatakan, ‘Ia pemberani.’ Dan pujian itu telah dikatakan.”Dalam riwayat tentang orang yang bersedekah,وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ.“Engkau melakukannya agar dikatakan, ‘Ia dermawan.’ Dan pujian itu telah dikatakan.” (HR. Muslim)Hadits ini sangat tajam untuk mengkritik orang yang menjadikan amal sebagai panggung pencitraan.9. Orang yang tampil seolah memiliki sesuatu yang sebenarnya tidak ia milikiRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ.“Orang yang berpura-pura memiliki sesuatu yang tidak diberikan kepadanya seperti orang yang memakai dua pakaian kedustaan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ini relevan dengan pencitraan palsu: ingin tampak kaya, tampak alim, tampak sukses, tampak berjasa, tampak saleh, padahal kenyataannya tidak demikian.10. Orang yang berjalan dengan kagum pada dirinya sendiriRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي فِي حُلَّةٍ تُعْجِبُهُ نَفْسُهُ، مُرَجِّلٌ جُمَّتَهُ، إِذْ خَسَفَ اللَّهُ بِهِ، فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.“Ketika ada seseorang berjalan dengan pakaian indah yang membuat dirinya kagum, rambutnya tersisir rapi, tiba-tiba Allah membenamkannya ke dalam bumi. Ia terus terbenam di dalamnya sampai hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadits ini menunjukkan bahaya ketika penampilan membuat seseorang kagum kepada diri sendiri dan merasa lebih tinggi dari orang lain. Dalil yang Menunjukkan Obat Sifat Narsistik1. Tawadhu karena AllahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ.“Tidaklah seseorang bersikap tawadhu karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim)Orang yang ingin diangkat manusia sering jatuh dalam kesombongan. Orang yang merendahkan diri karena Allah justru akan diangkat oleh Allah.2. Mencintai kebaikan untuk orang lainRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ.“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ini obat besar untuk kurang empati. Orang yang sehat imannya tidak hanya memikirkan dirinya, tetapi juga mencintai kebaikan untuk orang lain.3. Doa berlindung dari syirik tersembunyiDoa yang sangat relevan untuk membersihkan hati dari riya’, sum‘ah, dan ‘ujub adalah:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ.“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari berbuat syirik kepada-Mu dalam keadaan aku mengetahuinya. Aku juga memohon ampun kepada-Mu atas dosa syirik yang tidak aku ketahui.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani)Doa ini sangat penting karena penyakit hati kadang sangat halus. Seseorang bisa merasa ikhlas, padahal sedang mencari pujian. Ia bisa merasa berdakwah, padahal sedang membangun citra diri. Ia bisa merasa menasihati, padahal sedang menunjukkan kehebatan dirinya. —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 11 Muharram 1448 H, 26 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsbangga diri gangguan kesehatan mental media sosial muhasabah diri narsis narsistik npd penyakit hati riya sombong syirik tawadhu tazkiyatun nafs ujub

NPD: Bahaya Narsistik dan Cinta Pujian

Di zaman media sosial, banyak orang tidak sadar bahwa dirinya sedang memberi makan ego lewat pujian, tampilan, dan validasi manusia. NPD atau gangguan kepribadian narsistik bukan sekadar suka tampil, tetapi bisa menjadi pola kepribadian yang merusak hubungan dan membuat seseorang sulit berempati. Islam sejak awal sudah mengingatkan bahaya kibr, ‘ujub, riya’, cinta pujian, dan merendahkan manusia.  Daftar Isi tutup 1. Apa itu NPD? 2. Ciri-Ciri NPD yang Perlu Diwaspadai 3. Apa Penyebab NPD? 4. Media Sosial dan Budaya Validasi 5. Bagaimana Mengetahui Orang Terkena NPD? 6. Beda Percaya Diri, Sombong, dan NPD 7. Penanganan untuk Diri Sendiri 8. Penanganan untuk Orang Sekitar 9. Nasihat Alim Ulama untuk Sisi Penyakit Hati 10. Dalil Al-Qur’an yang Mengkritik Sifat Narsistik 11. Dalil Hadits yang Mengkritik Sifat Narsistik 12. Dalil yang Menunjukkan Obat Sifat Narsistik  Apa itu NPD?NPD adalah gangguan kepribadian yang membuat seseorang sangat terpusat pada dirinya, haus pujian, merasa paling penting, sulit berempati, dan mudah merendahkan orang lain. Dalam tinjauan Islam, gejala-gejala ini sangat dekat dengan penyakit hati seperti kibr, ‘ujub, fakhr, khuyala’, cinta kedudukan, dan menolak nasihat. Media sosial bukan penyebab tunggal NPD, tetapi dapat memperkuat sifat narsistik ketika seseorang menjadikan popularitas, pujian, dan citra diri sebagai ukuran nilai dirinya. Solusinya harus menyatukan dua jalan: terapi psikologis oleh ahlinya dan tazkiyatun nafs melalui tawadhu, muhasabah, menerima nasihat, amal tersembunyi, serta memperbaiki hubungan dengan Allah dan manusia.NPD adalah singkatan dari Narcissistic Personality Disorder, dalam bahasa Indonesia biasa diterjemahkan sebagai gangguan kepribadian narsistik.Secara klinis, NPD adalah pola kepribadian yang menetap, ditandai oleh rasa diri yang sangat penting atau grandiositas, kebutuhan kuat untuk dikagumi, kurang empati, rasa berhak, dan pola relasi yang sering eksploitatif atau bermasalah. Dalam DSM-5/DSM-5-TR, NPD termasuk gangguan kepribadian Cluster B, yaitu kelompok gangguan yang sering tampak dramatis, emosional, atau tidak stabil; diagnosis mensyaratkan pola yang menetap, kaku, maladaptif, dan menimbulkan gangguan fungsi atau penderitaan, bukan sekadar percaya diri tinggi. Ciri-Ciri NPD yang Perlu DiwaspadaiCiri yang sering disebut dalam literatur klinis adalah:merasa diri sangat penting atau istimewa,sibuk dengan fantasi sukses, kekuasaan, kecerdasan, kecantikan, atau status,merasa hanya bisa dipahami oleh orang-orang “level tinggi”,membutuhkan kekaguman berlebihan,merasa berhak mendapatkan perlakuan khusus,mengeksploitasi orang lain,kurang empati,iri kepada orang lain atau yakin orang lain iri kepadanya,bersikap arogan atau merendahkan.Namun, catatan pentingnya: diagnosis tidak boleh dibuat dari satu-dua ciri saja, apalagi dari konflik rumah tangga semata. Diagnosis NPD memerlukan asesmen klinis oleh psikolog klinis/psikiater, wawancara mendalam, riwayat jangka panjang, dan pembedaan dari gangguan lain seperti bipolar mania, borderline personality disorder, antisocial personality disorder, depresi, trauma, atau sekadar gaya komunikasi buruk. Apa Penyebab NPD?Penyebab NPD tidak tunggal. Biasanya gabungan dari beberapa faktor:Pertama: faktor bawaan dan temperamen.Sebagian orang sejak kecil memiliki temperamen lebih dominan, sensitif terhadap penilaian, atau sangat butuh pengakuan.Kedua: pola asuh yang keliru.Dua pola yang sering dibahas dalam riset: anak terlalu dipuja seakan selalu istimewa, atau sebaliknya anak terlalu sering direndahkan sehingga ia membangun “topeng kebesaran” untuk menutup rasa rapuh.Ketiga: pengalaman masa kecil yang buruk.Trauma, penolakan, pengabaian, kekerasan emosional, keluarga tidak stabil, atau tuntutan berlebihan dapat menjadi faktor risiko. Review 2024 menyebut adverse childhood experiences sebagai faktor risiko penting dalam perkembangan NPD pada masa dewasa.Keempat: lingkungan sosial yang memberi hadiah pada pamer diri.Budaya yang terlalu mengukur nilai manusia dari popularitas, penampilan, kekayaan, jabatan, jumlah followers, dan pujian bisa memperkuat sifat narsistik. Media Sosial dan Budaya ValidasiMedia sosial tidak otomatis menyebabkan NPD, tetapi dapat menjadi ruang yang memperkuat sifat narsistik. Sistem like, komentar, follower, view, dan algoritma popularitas dapat membuat seseorang semakin haus validasi, ingin selalu tampil, sulit menerima kritik, dan membangun citra diri yang berlebihan. Dalam perspektif Islam, kondisi ini perlu diwaspadai karena dekat dengan penyakit hati seperti riya’, sum’ah, ujub, cinta pujian, sombong, dan merendahkan manusia. Karena itu, pengguna media sosial perlu terus meluruskan niat: apakah ia sedang mencari ridha Allah dan manfaat bagi manusia, atau sedang memberi makan ego dirinya sendiri?Media sosial memberi ruang besar untuk:mencari validasi,mengejar likes dan komentar,membangun citra diri palsu,membandingkan diri,ingin terkenal,merasa hidup harus selalu terlihat hebat.Media sosial tidak otomatis membuat orang menjadi NPD, tetapi budaya pamer, validasi, dan ingin viral dapat memperkuat sifat narsistik pada orang yang sudah punya kecenderungan ke arah itu.Dalam bahasa syariat: medsos bisa menjadi ladang riya’, sum‘ah, ‘ujub, fakhr, hasad, dan hubbuzh zhuhur bila tidak dijaga dengan takwa. Bagaimana Mengetahui Orang Terkena NPD?Jangan langsung melabeli. Tetapi ciri-ciri yang perlu diwaspadai:Selalu ingin jadi pusat perhatian.Sulit menerima kritik, bahkan nasihat lembut pun dianggap serangan.Merasa dirinya paling berjasa, paling benar, paling pintar, atau paling layak dihormati.Sering merendahkan orang lain, tetapi sangat marah jika dirinya direndahkan.Butuh pujian terus-menerus.Tidak mudah meminta maaf, atau meminta maaf hanya untuk mengendalikan situasi.Kurang empati terhadap perasaan pasangan, anak, keluarga, atau teman.Suka memanipulasi: membuat orang merasa bersalah, takut, atau bergantung kepadanya.Relasi dekatnya sering rusak karena kontrol, penghinaan, atau drama.Harga dirinya rapuh; kritik kecil bisa membuatnya marah besar, diam menghukum, atau menyerang balik.Dalam istilah syariat, tanda yang paling jelas adalah dua hal dalam hadits:بَطَرُ الْحَقِّ: menolak kebenaran.غَمْطُ النَّاسِ: merendahkan manusia.Dua hal ini sangat penting untuk membedakan antara percaya diri yang sehat dan kesombongan yang rusak. Beda Percaya Diri, Sombong, dan NPDPercaya diri sehat: tahu kelebihan diri, tetapi tetap mau belajar, menerima nasihat, dan menghargai orang lain.Sombong/kibr: merasa lebih tinggi, menolak kebenaran, merendahkan orang lain.NPD: pola kepribadian yang menetap, berat, berulang, mengganggu relasi, pekerjaan, keluarga, dan biasanya sulit disadari oleh pelakunya sendiri. Penanganan untuk Diri SendiriBila seseorang merasa punya gejala narsistik, langkahnya:Pertama: jangan bangga dengan label “narsis”.Ini bukan identitas keren. Ini sinyal untuk muhasabah.Kedua: belajar menerima kritik kecil.Latih diri untuk diam dulu ketika dikoreksi. Jangan langsung membela diri.Ketiga: catat pola diri.Misalnya: “Kapan saya marah? Ketika tidak dipuji? Ketika dikritik? Ketika orang lain lebih berhasil?”Keempat: latih empati.Tanyakan: “Apa dampak ucapanku bagi orang lain? Apakah aku sedang ingin benar atau ingin menang?”Kelima: kurangi panggung validasi.Batasi kebiasaan mengecek likes, komentar, pujian, dan respons orang.Keenam: perbanyak amal yang tidak diketahui orang.Ini terapi syar’i yang sangat kuat untuk melawan cinta popularitas.Ketujuh: cari bantuan profesional.Terapi untuk NPD biasanya bukan obat utama, tetapi psikoterapi: membangun kesadaran diri, memperbaiki empati, mengatur emosi, dan memperbaiki relasi. Review klinis menyebut terapi NPD memang menantang karena ada pola kontrol, agresivitas, penghindaran, dan sulit membangun hubungan terapi, tetapi perubahan tetap mungkin dengan proses yang tepat. Penanganan untuk Orang SekitarBila menghadapi orang dengan sifat narsistik berat:Jangan mudah terpancing debat panjang.Tetapkan batasan yang jelas.Jangan terus-menerus memberi “bahan bakar” berupa pujian palsu.Jangan membalas penghinaan dengan penghinaan.Pisahkan antara menghormati orang dan membiarkan kezaliman.Dokumentasikan bila ada kekerasan, ancaman, atau manipulasi berat.Ajak konsultasi ke ahli bila memungkinkan.Dalam rumah tangga, libatkan mediator yang adil dan matang.Jika ada kekerasan fisik atau ancaman serius, keselamatan korban harus didahulukan.Dalam syariat, sabar bukan berarti membiarkan kezaliman. Tawadhu bukan berarti boleh diinjak-injak. Berbuat baik bukan berarti membenarkan perilaku merusak. Nasihat Alim Ulama untuk Sisi Penyakit HatiTerapi kibr (sombong) adalah menyadari bahwa manusia sama-sama berasal dari ayah dan ibu, standar kemuliaan hanyalah takwa, mengingat kelemahan diri, dan memahami bahwa manusia membenci orang kasar lagi sombong, sedangkan Allah mencintai tawadhu.Baca juga: Bahaya Sombong, Akhlak Iblis yang Menghalangi Surga ‘Ujub dan fakhr (bangga diri), obatnya adalah menerima nasihat, tidak marah ketika dikoreksi, membaca kitab akhlak, mengambil pelajaran dari kesalahan orang lain, menyadari bahwa kemuliaan bukan dengan pujian manusia, dan berdoa agar diberi akhlak yang baik.Baca juga: Awas Ujub! Amal Bisa Rusak karena Bangga Diri Nasihat praktisnya:Pertama: biasakan berkata, “Mungkin saya salah.”Kedua: biasakan menerima nasihat tanpa langsung membantah.Ketiga: sembunyikan sebagian amal.Keempat: berteman dengan orang saleh yang berani menasihati.Kelima: baca sirah Nabi ﷺ tentang tawadhu.Keenam: ingat kematian, karena semua pangkat, popularitas, dan pujian akan selesai. Dalil Al-Qur’an yang Mengkritik Sifat Narsistik1. Larangan sombong, merendahkan orang, dan membanggakan diriAllah Ta’ala berfirman,وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ“Janganlah engkau memalingkan wajahmu dari manusia karena sombong, dan janganlah berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak mencintai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)Ayat ini sangat dekat dengan kritik terhadap sifat narsistik: merasa diri lebih tinggi, merendahkan orang lain, dan ingin tampak hebat di hadapan manusia.2. Allah tidak mencintai orang sombong dan membanggakan diriAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا“Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. An-Nisa’: 36)Sifat mukhtal adalah merasa besar dalam diri, sedangkan fakhur adalah suka menampakkan kelebihan diri kepada orang lain. Dua sifat ini sangat dekat dengan perilaku haus pengakuan dan cinta pujian.3. Jangan merasa diri paling suciAllah Ta’ala berfirman,فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى“Maka janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang benar-benar bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)Ini adalah dalil penting untuk mengkritik orang yang merasa dirinya paling baik, paling benar, paling saleh, paling berjasa, atau paling layak dipuji.4. Jangan berjalan di bumi dengan angkuhAllah Ta’ala berfirman,وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا“Janganlah engkau berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya engkau tidak akan mampu menembus bumi dan tidak pula akan setinggi gunung.” (QS. Al-Isra’: 37)Ayat ini menghancurkan ilusi kebesaran diri. Sehebat apa pun manusia, ia tetap lemah, terbatas, dan tidak pantas menyombongkan diri.5. Kisah Qarun: sombong karena prestasi dan kekayaanAllah Ta’ala berfirman tentang Qarun,قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي“Qarun berkata, ‘Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.’” (QS. Al-Qashash: 78)Ini adalah contoh sikap narsistik dalam bentuk merasa semua keberhasilan berasal dari kehebatan diri sendiri. Ia lupa bahwa nikmat itu dari Allah.Allah juga berfirman,فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ“Maka Kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi.” (QS. Al-Qashash: 81)Ini menunjukkan bahaya besar ketika kekayaan, jabatan, ilmu, atau popularitas membuat seseorang merasa dirinya istimewa dan lebih tinggi dari orang lain.6. Jangan mencela dan merendahkan orang lainAllah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain. Boleh jadi mereka yang direndahkan itu lebih baik daripada yang merendahkan.” (QS. Al-Hujurat: 11)Orang yang narsistik sering merasa dirinya lebih tinggi dan mudah merendahkan orang lain. Ayat ini mengingatkan bahwa bisa jadi orang yang ia rendahkan justru lebih mulia di sisi Allah.7. Celaka bagi pencela dan pembanggakan hartaAllah Ta’ala berfirman,وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ ۝ الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ ۝ يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ“Celakalah bagi setiap pencela dan pengumpat, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Ia mengira bahwa hartanya dapat membuatnya kekal.” (QS. Al-Humazah: 1–3)Ayat ini mencela orang yang suka merendahkan orang lain, membanggakan hartanya, dan merasa dirinya aman karena apa yang ia miliki.8. Orang yang ingin dipuji atas sesuatu yang tidak ia lakukanAllah Ta’ala berfirman,وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ“Mereka suka dipuji atas sesuatu yang tidak mereka lakukan. Maka janganlah engkau mengira mereka akan selamat dari azab.” (QS. Ali ‘Imran: 188)Ini sangat relevan dengan budaya pencitraan: ingin dipuji, ingin terlihat berjasa, ingin dianggap hebat, padahal tidak sesuai kenyataan. Dalil Hadits yang Mengkritik Sifat Narsistik1. Kibr adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusiaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ.“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi.”Ada seseorang bertanya, “Sesungguhnya seseorang suka memakai pakaian yang bagus dan sandal yang bagus.”Beliau bersabda,إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ.“Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim)Ini dalil paling utama. Sifat narsistik yang paling berbahaya adalah dua hal ini: tidak mau menerima kebenaran dan mudah merendahkan orang lain.2. Larangan bangga diri dan merasa lebih tinggi dari orang lainRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا، حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ، وَلَا يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ.“Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap tawadhu, sampai tidak ada seorang pun yang membanggakan diri atas orang lain, dan tidak ada seorang pun yang berbuat zalim kepada orang lain.” (HR. Muslim)Hadits ini mengajarkan dua obat besar untuk sifat narsistik: tawadhu dan tidak menzalimi orang lain.3. Orang sombong akan dihinakan pada hari kiamatRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُوَرِ الرِّجَالِ، يَغْشَاهُمُ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ.“Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut kecil dalam rupa manusia. Kehinaan meliputi mereka dari segala arah.” (HR. At-Tirmidzi)Di dunia ia ingin terlihat besar. Pada hari kiamat, Allah hinakan ia menjadi sangat kecil.4. Bahaya ‘ujub: kagum kepada diri sendiriRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ.“Tiga perkara yang membinasakan: sifat pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan seseorang kagum kepada dirinya sendiri.” (HR. Al-Baihaqi dan lainnya)‘Ujub adalah penyakit inti dalam narsistik: seseorang terpukau dengan dirinya sendiri, kelebihan dirinya, pendapatnya, ilmunya, amalnya, atau statusnya.5. Larangan merendahkan sesama muslimRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ.“Cukuplah seseorang dianggap buruk ketika ia merendahkan saudaranya sesama muslim.” (HR. Muslim)Ini dalil tegas bahwa merendahkan orang lain sudah cukup menjadi tanda buruknya akhlak seseorang.6. Larangan hasad, saling membenci, dan saling menjatuhkanRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا.“Janganlah kalian saling hasad, jangan saling menipu dalam jual beli, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, jangan sebagian kalian menjual di atas jualan sebagian yang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim)Orang yang narsistik sering sulit melihat orang lain berhasil. Ia mudah iri, merasa tersaingi, lalu ingin menjatuhkan. Hadits ini menutup jalan menuju kerusakan itu.7. Larangan riya’ dan mencari pujian manusiaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ.“Siapa yang memperdengarkan amalnya agar dipuji, Allah akan membongkar niatnya. Siapa yang berbuat riya, Allah akan menampakkan riya’nya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ini sangat relevan dengan narsistik spiritual: ibadah, ilmu, dakwah, sedekah, atau amal sosial dilakukan agar terlihat hebat di mata manusia.8. Orang yang beramal besar tetapi niatnya ingin dipujiRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang orang yang belajar ilmu dan membaca Al-Qur’an, orang yang berjihad, dan orang yang bersedekah. Mereka ditanya tentang amalnya, lalu masing-masing mengaku beramal karena Allah. Namun dikatakan kepada mereka,كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ.“Engkau dusta. Engkau melakukannya agar dikatakan, ‘Ia seorang qari.’ Dan pujian itu telah dikatakan.”Dalam riwayat tentang orang yang berjihad,وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِيُقَالَ: جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ.“Engkau berperang agar dikatakan, ‘Ia pemberani.’ Dan pujian itu telah dikatakan.”Dalam riwayat tentang orang yang bersedekah,وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ.“Engkau melakukannya agar dikatakan, ‘Ia dermawan.’ Dan pujian itu telah dikatakan.” (HR. Muslim)Hadits ini sangat tajam untuk mengkritik orang yang menjadikan amal sebagai panggung pencitraan.9. Orang yang tampil seolah memiliki sesuatu yang sebenarnya tidak ia milikiRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ.“Orang yang berpura-pura memiliki sesuatu yang tidak diberikan kepadanya seperti orang yang memakai dua pakaian kedustaan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ini relevan dengan pencitraan palsu: ingin tampak kaya, tampak alim, tampak sukses, tampak berjasa, tampak saleh, padahal kenyataannya tidak demikian.10. Orang yang berjalan dengan kagum pada dirinya sendiriRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي فِي حُلَّةٍ تُعْجِبُهُ نَفْسُهُ، مُرَجِّلٌ جُمَّتَهُ، إِذْ خَسَفَ اللَّهُ بِهِ، فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.“Ketika ada seseorang berjalan dengan pakaian indah yang membuat dirinya kagum, rambutnya tersisir rapi, tiba-tiba Allah membenamkannya ke dalam bumi. Ia terus terbenam di dalamnya sampai hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadits ini menunjukkan bahaya ketika penampilan membuat seseorang kagum kepada diri sendiri dan merasa lebih tinggi dari orang lain. Dalil yang Menunjukkan Obat Sifat Narsistik1. Tawadhu karena AllahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ.“Tidaklah seseorang bersikap tawadhu karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim)Orang yang ingin diangkat manusia sering jatuh dalam kesombongan. Orang yang merendahkan diri karena Allah justru akan diangkat oleh Allah.2. Mencintai kebaikan untuk orang lainRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ.“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ini obat besar untuk kurang empati. Orang yang sehat imannya tidak hanya memikirkan dirinya, tetapi juga mencintai kebaikan untuk orang lain.3. Doa berlindung dari syirik tersembunyiDoa yang sangat relevan untuk membersihkan hati dari riya’, sum‘ah, dan ‘ujub adalah:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ.“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari berbuat syirik kepada-Mu dalam keadaan aku mengetahuinya. Aku juga memohon ampun kepada-Mu atas dosa syirik yang tidak aku ketahui.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani)Doa ini sangat penting karena penyakit hati kadang sangat halus. Seseorang bisa merasa ikhlas, padahal sedang mencari pujian. Ia bisa merasa berdakwah, padahal sedang membangun citra diri. Ia bisa merasa menasihati, padahal sedang menunjukkan kehebatan dirinya. —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 11 Muharram 1448 H, 26 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsbangga diri gangguan kesehatan mental media sosial muhasabah diri narsis narsistik npd penyakit hati riya sombong syirik tawadhu tazkiyatun nafs ujub
Di zaman media sosial, banyak orang tidak sadar bahwa dirinya sedang memberi makan ego lewat pujian, tampilan, dan validasi manusia. NPD atau gangguan kepribadian narsistik bukan sekadar suka tampil, tetapi bisa menjadi pola kepribadian yang merusak hubungan dan membuat seseorang sulit berempati. Islam sejak awal sudah mengingatkan bahaya kibr, ‘ujub, riya’, cinta pujian, dan merendahkan manusia.  Daftar Isi tutup 1. Apa itu NPD? 2. Ciri-Ciri NPD yang Perlu Diwaspadai 3. Apa Penyebab NPD? 4. Media Sosial dan Budaya Validasi 5. Bagaimana Mengetahui Orang Terkena NPD? 6. Beda Percaya Diri, Sombong, dan NPD 7. Penanganan untuk Diri Sendiri 8. Penanganan untuk Orang Sekitar 9. Nasihat Alim Ulama untuk Sisi Penyakit Hati 10. Dalil Al-Qur’an yang Mengkritik Sifat Narsistik 11. Dalil Hadits yang Mengkritik Sifat Narsistik 12. Dalil yang Menunjukkan Obat Sifat Narsistik  Apa itu NPD?NPD adalah gangguan kepribadian yang membuat seseorang sangat terpusat pada dirinya, haus pujian, merasa paling penting, sulit berempati, dan mudah merendahkan orang lain. Dalam tinjauan Islam, gejala-gejala ini sangat dekat dengan penyakit hati seperti kibr, ‘ujub, fakhr, khuyala’, cinta kedudukan, dan menolak nasihat. Media sosial bukan penyebab tunggal NPD, tetapi dapat memperkuat sifat narsistik ketika seseorang menjadikan popularitas, pujian, dan citra diri sebagai ukuran nilai dirinya. Solusinya harus menyatukan dua jalan: terapi psikologis oleh ahlinya dan tazkiyatun nafs melalui tawadhu, muhasabah, menerima nasihat, amal tersembunyi, serta memperbaiki hubungan dengan Allah dan manusia.NPD adalah singkatan dari Narcissistic Personality Disorder, dalam bahasa Indonesia biasa diterjemahkan sebagai gangguan kepribadian narsistik.Secara klinis, NPD adalah pola kepribadian yang menetap, ditandai oleh rasa diri yang sangat penting atau grandiositas, kebutuhan kuat untuk dikagumi, kurang empati, rasa berhak, dan pola relasi yang sering eksploitatif atau bermasalah. Dalam DSM-5/DSM-5-TR, NPD termasuk gangguan kepribadian Cluster B, yaitu kelompok gangguan yang sering tampak dramatis, emosional, atau tidak stabil; diagnosis mensyaratkan pola yang menetap, kaku, maladaptif, dan menimbulkan gangguan fungsi atau penderitaan, bukan sekadar percaya diri tinggi. Ciri-Ciri NPD yang Perlu DiwaspadaiCiri yang sering disebut dalam literatur klinis adalah:merasa diri sangat penting atau istimewa,sibuk dengan fantasi sukses, kekuasaan, kecerdasan, kecantikan, atau status,merasa hanya bisa dipahami oleh orang-orang “level tinggi”,membutuhkan kekaguman berlebihan,merasa berhak mendapatkan perlakuan khusus,mengeksploitasi orang lain,kurang empati,iri kepada orang lain atau yakin orang lain iri kepadanya,bersikap arogan atau merendahkan.Namun, catatan pentingnya: diagnosis tidak boleh dibuat dari satu-dua ciri saja, apalagi dari konflik rumah tangga semata. Diagnosis NPD memerlukan asesmen klinis oleh psikolog klinis/psikiater, wawancara mendalam, riwayat jangka panjang, dan pembedaan dari gangguan lain seperti bipolar mania, borderline personality disorder, antisocial personality disorder, depresi, trauma, atau sekadar gaya komunikasi buruk. Apa Penyebab NPD?Penyebab NPD tidak tunggal. Biasanya gabungan dari beberapa faktor:Pertama: faktor bawaan dan temperamen.Sebagian orang sejak kecil memiliki temperamen lebih dominan, sensitif terhadap penilaian, atau sangat butuh pengakuan.Kedua: pola asuh yang keliru.Dua pola yang sering dibahas dalam riset: anak terlalu dipuja seakan selalu istimewa, atau sebaliknya anak terlalu sering direndahkan sehingga ia membangun “topeng kebesaran” untuk menutup rasa rapuh.Ketiga: pengalaman masa kecil yang buruk.Trauma, penolakan, pengabaian, kekerasan emosional, keluarga tidak stabil, atau tuntutan berlebihan dapat menjadi faktor risiko. Review 2024 menyebut adverse childhood experiences sebagai faktor risiko penting dalam perkembangan NPD pada masa dewasa.Keempat: lingkungan sosial yang memberi hadiah pada pamer diri.Budaya yang terlalu mengukur nilai manusia dari popularitas, penampilan, kekayaan, jabatan, jumlah followers, dan pujian bisa memperkuat sifat narsistik. Media Sosial dan Budaya ValidasiMedia sosial tidak otomatis menyebabkan NPD, tetapi dapat menjadi ruang yang memperkuat sifat narsistik. Sistem like, komentar, follower, view, dan algoritma popularitas dapat membuat seseorang semakin haus validasi, ingin selalu tampil, sulit menerima kritik, dan membangun citra diri yang berlebihan. Dalam perspektif Islam, kondisi ini perlu diwaspadai karena dekat dengan penyakit hati seperti riya’, sum’ah, ujub, cinta pujian, sombong, dan merendahkan manusia. Karena itu, pengguna media sosial perlu terus meluruskan niat: apakah ia sedang mencari ridha Allah dan manfaat bagi manusia, atau sedang memberi makan ego dirinya sendiri?Media sosial memberi ruang besar untuk:mencari validasi,mengejar likes dan komentar,membangun citra diri palsu,membandingkan diri,ingin terkenal,merasa hidup harus selalu terlihat hebat.Media sosial tidak otomatis membuat orang menjadi NPD, tetapi budaya pamer, validasi, dan ingin viral dapat memperkuat sifat narsistik pada orang yang sudah punya kecenderungan ke arah itu.Dalam bahasa syariat: medsos bisa menjadi ladang riya’, sum‘ah, ‘ujub, fakhr, hasad, dan hubbuzh zhuhur bila tidak dijaga dengan takwa. Bagaimana Mengetahui Orang Terkena NPD?Jangan langsung melabeli. Tetapi ciri-ciri yang perlu diwaspadai:Selalu ingin jadi pusat perhatian.Sulit menerima kritik, bahkan nasihat lembut pun dianggap serangan.Merasa dirinya paling berjasa, paling benar, paling pintar, atau paling layak dihormati.Sering merendahkan orang lain, tetapi sangat marah jika dirinya direndahkan.Butuh pujian terus-menerus.Tidak mudah meminta maaf, atau meminta maaf hanya untuk mengendalikan situasi.Kurang empati terhadap perasaan pasangan, anak, keluarga, atau teman.Suka memanipulasi: membuat orang merasa bersalah, takut, atau bergantung kepadanya.Relasi dekatnya sering rusak karena kontrol, penghinaan, atau drama.Harga dirinya rapuh; kritik kecil bisa membuatnya marah besar, diam menghukum, atau menyerang balik.Dalam istilah syariat, tanda yang paling jelas adalah dua hal dalam hadits:بَطَرُ الْحَقِّ: menolak kebenaran.غَمْطُ النَّاسِ: merendahkan manusia.Dua hal ini sangat penting untuk membedakan antara percaya diri yang sehat dan kesombongan yang rusak. Beda Percaya Diri, Sombong, dan NPDPercaya diri sehat: tahu kelebihan diri, tetapi tetap mau belajar, menerima nasihat, dan menghargai orang lain.Sombong/kibr: merasa lebih tinggi, menolak kebenaran, merendahkan orang lain.NPD: pola kepribadian yang menetap, berat, berulang, mengganggu relasi, pekerjaan, keluarga, dan biasanya sulit disadari oleh pelakunya sendiri. Penanganan untuk Diri SendiriBila seseorang merasa punya gejala narsistik, langkahnya:Pertama: jangan bangga dengan label “narsis”.Ini bukan identitas keren. Ini sinyal untuk muhasabah.Kedua: belajar menerima kritik kecil.Latih diri untuk diam dulu ketika dikoreksi. Jangan langsung membela diri.Ketiga: catat pola diri.Misalnya: “Kapan saya marah? Ketika tidak dipuji? Ketika dikritik? Ketika orang lain lebih berhasil?”Keempat: latih empati.Tanyakan: “Apa dampak ucapanku bagi orang lain? Apakah aku sedang ingin benar atau ingin menang?”Kelima: kurangi panggung validasi.Batasi kebiasaan mengecek likes, komentar, pujian, dan respons orang.Keenam: perbanyak amal yang tidak diketahui orang.Ini terapi syar’i yang sangat kuat untuk melawan cinta popularitas.Ketujuh: cari bantuan profesional.Terapi untuk NPD biasanya bukan obat utama, tetapi psikoterapi: membangun kesadaran diri, memperbaiki empati, mengatur emosi, dan memperbaiki relasi. Review klinis menyebut terapi NPD memang menantang karena ada pola kontrol, agresivitas, penghindaran, dan sulit membangun hubungan terapi, tetapi perubahan tetap mungkin dengan proses yang tepat. Penanganan untuk Orang SekitarBila menghadapi orang dengan sifat narsistik berat:Jangan mudah terpancing debat panjang.Tetapkan batasan yang jelas.Jangan terus-menerus memberi “bahan bakar” berupa pujian palsu.Jangan membalas penghinaan dengan penghinaan.Pisahkan antara menghormati orang dan membiarkan kezaliman.Dokumentasikan bila ada kekerasan, ancaman, atau manipulasi berat.Ajak konsultasi ke ahli bila memungkinkan.Dalam rumah tangga, libatkan mediator yang adil dan matang.Jika ada kekerasan fisik atau ancaman serius, keselamatan korban harus didahulukan.Dalam syariat, sabar bukan berarti membiarkan kezaliman. Tawadhu bukan berarti boleh diinjak-injak. Berbuat baik bukan berarti membenarkan perilaku merusak. Nasihat Alim Ulama untuk Sisi Penyakit HatiTerapi kibr (sombong) adalah menyadari bahwa manusia sama-sama berasal dari ayah dan ibu, standar kemuliaan hanyalah takwa, mengingat kelemahan diri, dan memahami bahwa manusia membenci orang kasar lagi sombong, sedangkan Allah mencintai tawadhu.Baca juga: Bahaya Sombong, Akhlak Iblis yang Menghalangi Surga ‘Ujub dan fakhr (bangga diri), obatnya adalah menerima nasihat, tidak marah ketika dikoreksi, membaca kitab akhlak, mengambil pelajaran dari kesalahan orang lain, menyadari bahwa kemuliaan bukan dengan pujian manusia, dan berdoa agar diberi akhlak yang baik.Baca juga: Awas Ujub! Amal Bisa Rusak karena Bangga Diri Nasihat praktisnya:Pertama: biasakan berkata, “Mungkin saya salah.”Kedua: biasakan menerima nasihat tanpa langsung membantah.Ketiga: sembunyikan sebagian amal.Keempat: berteman dengan orang saleh yang berani menasihati.Kelima: baca sirah Nabi ﷺ tentang tawadhu.Keenam: ingat kematian, karena semua pangkat, popularitas, dan pujian akan selesai. Dalil Al-Qur’an yang Mengkritik Sifat Narsistik1. Larangan sombong, merendahkan orang, dan membanggakan diriAllah Ta’ala berfirman,وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ“Janganlah engkau memalingkan wajahmu dari manusia karena sombong, dan janganlah berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak mencintai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)Ayat ini sangat dekat dengan kritik terhadap sifat narsistik: merasa diri lebih tinggi, merendahkan orang lain, dan ingin tampak hebat di hadapan manusia.2. Allah tidak mencintai orang sombong dan membanggakan diriAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا“Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. An-Nisa’: 36)Sifat mukhtal adalah merasa besar dalam diri, sedangkan fakhur adalah suka menampakkan kelebihan diri kepada orang lain. Dua sifat ini sangat dekat dengan perilaku haus pengakuan dan cinta pujian.3. Jangan merasa diri paling suciAllah Ta’ala berfirman,فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى“Maka janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang benar-benar bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)Ini adalah dalil penting untuk mengkritik orang yang merasa dirinya paling baik, paling benar, paling saleh, paling berjasa, atau paling layak dipuji.4. Jangan berjalan di bumi dengan angkuhAllah Ta’ala berfirman,وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا“Janganlah engkau berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya engkau tidak akan mampu menembus bumi dan tidak pula akan setinggi gunung.” (QS. Al-Isra’: 37)Ayat ini menghancurkan ilusi kebesaran diri. Sehebat apa pun manusia, ia tetap lemah, terbatas, dan tidak pantas menyombongkan diri.5. Kisah Qarun: sombong karena prestasi dan kekayaanAllah Ta’ala berfirman tentang Qarun,قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي“Qarun berkata, ‘Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.’” (QS. Al-Qashash: 78)Ini adalah contoh sikap narsistik dalam bentuk merasa semua keberhasilan berasal dari kehebatan diri sendiri. Ia lupa bahwa nikmat itu dari Allah.Allah juga berfirman,فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ“Maka Kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi.” (QS. Al-Qashash: 81)Ini menunjukkan bahaya besar ketika kekayaan, jabatan, ilmu, atau popularitas membuat seseorang merasa dirinya istimewa dan lebih tinggi dari orang lain.6. Jangan mencela dan merendahkan orang lainAllah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain. Boleh jadi mereka yang direndahkan itu lebih baik daripada yang merendahkan.” (QS. Al-Hujurat: 11)Orang yang narsistik sering merasa dirinya lebih tinggi dan mudah merendahkan orang lain. Ayat ini mengingatkan bahwa bisa jadi orang yang ia rendahkan justru lebih mulia di sisi Allah.7. Celaka bagi pencela dan pembanggakan hartaAllah Ta’ala berfirman,وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ ۝ الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ ۝ يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ“Celakalah bagi setiap pencela dan pengumpat, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Ia mengira bahwa hartanya dapat membuatnya kekal.” (QS. Al-Humazah: 1–3)Ayat ini mencela orang yang suka merendahkan orang lain, membanggakan hartanya, dan merasa dirinya aman karena apa yang ia miliki.8. Orang yang ingin dipuji atas sesuatu yang tidak ia lakukanAllah Ta’ala berfirman,وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ“Mereka suka dipuji atas sesuatu yang tidak mereka lakukan. Maka janganlah engkau mengira mereka akan selamat dari azab.” (QS. Ali ‘Imran: 188)Ini sangat relevan dengan budaya pencitraan: ingin dipuji, ingin terlihat berjasa, ingin dianggap hebat, padahal tidak sesuai kenyataan. Dalil Hadits yang Mengkritik Sifat Narsistik1. Kibr adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusiaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ.“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi.”Ada seseorang bertanya, “Sesungguhnya seseorang suka memakai pakaian yang bagus dan sandal yang bagus.”Beliau bersabda,إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ.“Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim)Ini dalil paling utama. Sifat narsistik yang paling berbahaya adalah dua hal ini: tidak mau menerima kebenaran dan mudah merendahkan orang lain.2. Larangan bangga diri dan merasa lebih tinggi dari orang lainRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا، حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ، وَلَا يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ.“Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap tawadhu, sampai tidak ada seorang pun yang membanggakan diri atas orang lain, dan tidak ada seorang pun yang berbuat zalim kepada orang lain.” (HR. Muslim)Hadits ini mengajarkan dua obat besar untuk sifat narsistik: tawadhu dan tidak menzalimi orang lain.3. Orang sombong akan dihinakan pada hari kiamatRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُوَرِ الرِّجَالِ، يَغْشَاهُمُ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ.“Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut kecil dalam rupa manusia. Kehinaan meliputi mereka dari segala arah.” (HR. At-Tirmidzi)Di dunia ia ingin terlihat besar. Pada hari kiamat, Allah hinakan ia menjadi sangat kecil.4. Bahaya ‘ujub: kagum kepada diri sendiriRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ.“Tiga perkara yang membinasakan: sifat pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan seseorang kagum kepada dirinya sendiri.” (HR. Al-Baihaqi dan lainnya)‘Ujub adalah penyakit inti dalam narsistik: seseorang terpukau dengan dirinya sendiri, kelebihan dirinya, pendapatnya, ilmunya, amalnya, atau statusnya.5. Larangan merendahkan sesama muslimRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ.“Cukuplah seseorang dianggap buruk ketika ia merendahkan saudaranya sesama muslim.” (HR. Muslim)Ini dalil tegas bahwa merendahkan orang lain sudah cukup menjadi tanda buruknya akhlak seseorang.6. Larangan hasad, saling membenci, dan saling menjatuhkanRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا.“Janganlah kalian saling hasad, jangan saling menipu dalam jual beli, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, jangan sebagian kalian menjual di atas jualan sebagian yang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim)Orang yang narsistik sering sulit melihat orang lain berhasil. Ia mudah iri, merasa tersaingi, lalu ingin menjatuhkan. Hadits ini menutup jalan menuju kerusakan itu.7. Larangan riya’ dan mencari pujian manusiaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ.“Siapa yang memperdengarkan amalnya agar dipuji, Allah akan membongkar niatnya. Siapa yang berbuat riya, Allah akan menampakkan riya’nya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ini sangat relevan dengan narsistik spiritual: ibadah, ilmu, dakwah, sedekah, atau amal sosial dilakukan agar terlihat hebat di mata manusia.8. Orang yang beramal besar tetapi niatnya ingin dipujiRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang orang yang belajar ilmu dan membaca Al-Qur’an, orang yang berjihad, dan orang yang bersedekah. Mereka ditanya tentang amalnya, lalu masing-masing mengaku beramal karena Allah. Namun dikatakan kepada mereka,كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ.“Engkau dusta. Engkau melakukannya agar dikatakan, ‘Ia seorang qari.’ Dan pujian itu telah dikatakan.”Dalam riwayat tentang orang yang berjihad,وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِيُقَالَ: جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ.“Engkau berperang agar dikatakan, ‘Ia pemberani.’ Dan pujian itu telah dikatakan.”Dalam riwayat tentang orang yang bersedekah,وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ.“Engkau melakukannya agar dikatakan, ‘Ia dermawan.’ Dan pujian itu telah dikatakan.” (HR. Muslim)Hadits ini sangat tajam untuk mengkritik orang yang menjadikan amal sebagai panggung pencitraan.9. Orang yang tampil seolah memiliki sesuatu yang sebenarnya tidak ia milikiRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ.“Orang yang berpura-pura memiliki sesuatu yang tidak diberikan kepadanya seperti orang yang memakai dua pakaian kedustaan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ini relevan dengan pencitraan palsu: ingin tampak kaya, tampak alim, tampak sukses, tampak berjasa, tampak saleh, padahal kenyataannya tidak demikian.10. Orang yang berjalan dengan kagum pada dirinya sendiriRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي فِي حُلَّةٍ تُعْجِبُهُ نَفْسُهُ، مُرَجِّلٌ جُمَّتَهُ، إِذْ خَسَفَ اللَّهُ بِهِ، فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.“Ketika ada seseorang berjalan dengan pakaian indah yang membuat dirinya kagum, rambutnya tersisir rapi, tiba-tiba Allah membenamkannya ke dalam bumi. Ia terus terbenam di dalamnya sampai hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadits ini menunjukkan bahaya ketika penampilan membuat seseorang kagum kepada diri sendiri dan merasa lebih tinggi dari orang lain. Dalil yang Menunjukkan Obat Sifat Narsistik1. Tawadhu karena AllahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ.“Tidaklah seseorang bersikap tawadhu karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim)Orang yang ingin diangkat manusia sering jatuh dalam kesombongan. Orang yang merendahkan diri karena Allah justru akan diangkat oleh Allah.2. Mencintai kebaikan untuk orang lainRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ.“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ini obat besar untuk kurang empati. Orang yang sehat imannya tidak hanya memikirkan dirinya, tetapi juga mencintai kebaikan untuk orang lain.3. Doa berlindung dari syirik tersembunyiDoa yang sangat relevan untuk membersihkan hati dari riya’, sum‘ah, dan ‘ujub adalah:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ.“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari berbuat syirik kepada-Mu dalam keadaan aku mengetahuinya. Aku juga memohon ampun kepada-Mu atas dosa syirik yang tidak aku ketahui.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani)Doa ini sangat penting karena penyakit hati kadang sangat halus. Seseorang bisa merasa ikhlas, padahal sedang mencari pujian. Ia bisa merasa berdakwah, padahal sedang membangun citra diri. Ia bisa merasa menasihati, padahal sedang menunjukkan kehebatan dirinya. —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 11 Muharram 1448 H, 26 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsbangga diri gangguan kesehatan mental media sosial muhasabah diri narsis narsistik npd penyakit hati riya sombong syirik tawadhu tazkiyatun nafs ujub


Di zaman media sosial, banyak orang tidak sadar bahwa dirinya sedang memberi makan ego lewat pujian, tampilan, dan validasi manusia. NPD atau gangguan kepribadian narsistik bukan sekadar suka tampil, tetapi bisa menjadi pola kepribadian yang merusak hubungan dan membuat seseorang sulit berempati. Islam sejak awal sudah mengingatkan bahaya kibr, ‘ujub, riya’, cinta pujian, dan merendahkan manusia.  Daftar Isi tutup 1. Apa itu NPD? 2. Ciri-Ciri NPD yang Perlu Diwaspadai 3. Apa Penyebab NPD? 4. Media Sosial dan Budaya Validasi 5. Bagaimana Mengetahui Orang Terkena NPD? 6. Beda Percaya Diri, Sombong, dan NPD 7. Penanganan untuk Diri Sendiri 8. Penanganan untuk Orang Sekitar 9. Nasihat Alim Ulama untuk Sisi Penyakit Hati 10. Dalil Al-Qur’an yang Mengkritik Sifat Narsistik 11. Dalil Hadits yang Mengkritik Sifat Narsistik 12. Dalil yang Menunjukkan Obat Sifat Narsistik  Apa itu NPD?NPD adalah gangguan kepribadian yang membuat seseorang sangat terpusat pada dirinya, haus pujian, merasa paling penting, sulit berempati, dan mudah merendahkan orang lain. Dalam tinjauan Islam, gejala-gejala ini sangat dekat dengan penyakit hati seperti kibr, ‘ujub, fakhr, khuyala’, cinta kedudukan, dan menolak nasihat. Media sosial bukan penyebab tunggal NPD, tetapi dapat memperkuat sifat narsistik ketika seseorang menjadikan popularitas, pujian, dan citra diri sebagai ukuran nilai dirinya. Solusinya harus menyatukan dua jalan: terapi psikologis oleh ahlinya dan tazkiyatun nafs melalui tawadhu, muhasabah, menerima nasihat, amal tersembunyi, serta memperbaiki hubungan dengan Allah dan manusia.NPD adalah singkatan dari Narcissistic Personality Disorder, dalam bahasa Indonesia biasa diterjemahkan sebagai gangguan kepribadian narsistik.Secara klinis, NPD adalah pola kepribadian yang menetap, ditandai oleh rasa diri yang sangat penting atau grandiositas, kebutuhan kuat untuk dikagumi, kurang empati, rasa berhak, dan pola relasi yang sering eksploitatif atau bermasalah. Dalam DSM-5/DSM-5-TR, NPD termasuk gangguan kepribadian Cluster B, yaitu kelompok gangguan yang sering tampak dramatis, emosional, atau tidak stabil; diagnosis mensyaratkan pola yang menetap, kaku, maladaptif, dan menimbulkan gangguan fungsi atau penderitaan, bukan sekadar percaya diri tinggi. Ciri-Ciri NPD yang Perlu DiwaspadaiCiri yang sering disebut dalam literatur klinis adalah:merasa diri sangat penting atau istimewa,sibuk dengan fantasi sukses, kekuasaan, kecerdasan, kecantikan, atau status,merasa hanya bisa dipahami oleh orang-orang “level tinggi”,membutuhkan kekaguman berlebihan,merasa berhak mendapatkan perlakuan khusus,mengeksploitasi orang lain,kurang empati,iri kepada orang lain atau yakin orang lain iri kepadanya,bersikap arogan atau merendahkan.Namun, catatan pentingnya: diagnosis tidak boleh dibuat dari satu-dua ciri saja, apalagi dari konflik rumah tangga semata. Diagnosis NPD memerlukan asesmen klinis oleh psikolog klinis/psikiater, wawancara mendalam, riwayat jangka panjang, dan pembedaan dari gangguan lain seperti bipolar mania, borderline personality disorder, antisocial personality disorder, depresi, trauma, atau sekadar gaya komunikasi buruk. Apa Penyebab NPD?Penyebab NPD tidak tunggal. Biasanya gabungan dari beberapa faktor:Pertama: faktor bawaan dan temperamen.Sebagian orang sejak kecil memiliki temperamen lebih dominan, sensitif terhadap penilaian, atau sangat butuh pengakuan.Kedua: pola asuh yang keliru.Dua pola yang sering dibahas dalam riset: anak terlalu dipuja seakan selalu istimewa, atau sebaliknya anak terlalu sering direndahkan sehingga ia membangun “topeng kebesaran” untuk menutup rasa rapuh.Ketiga: pengalaman masa kecil yang buruk.Trauma, penolakan, pengabaian, kekerasan emosional, keluarga tidak stabil, atau tuntutan berlebihan dapat menjadi faktor risiko. Review 2024 menyebut adverse childhood experiences sebagai faktor risiko penting dalam perkembangan NPD pada masa dewasa.Keempat: lingkungan sosial yang memberi hadiah pada pamer diri.Budaya yang terlalu mengukur nilai manusia dari popularitas, penampilan, kekayaan, jabatan, jumlah followers, dan pujian bisa memperkuat sifat narsistik. Media Sosial dan Budaya ValidasiMedia sosial tidak otomatis menyebabkan NPD, tetapi dapat menjadi ruang yang memperkuat sifat narsistik. Sistem like, komentar, follower, view, dan algoritma popularitas dapat membuat seseorang semakin haus validasi, ingin selalu tampil, sulit menerima kritik, dan membangun citra diri yang berlebihan. Dalam perspektif Islam, kondisi ini perlu diwaspadai karena dekat dengan penyakit hati seperti riya’, sum’ah, ujub, cinta pujian, sombong, dan merendahkan manusia. Karena itu, pengguna media sosial perlu terus meluruskan niat: apakah ia sedang mencari ridha Allah dan manfaat bagi manusia, atau sedang memberi makan ego dirinya sendiri?Media sosial memberi ruang besar untuk:mencari validasi,mengejar likes dan komentar,membangun citra diri palsu,membandingkan diri,ingin terkenal,merasa hidup harus selalu terlihat hebat.Media sosial tidak otomatis membuat orang menjadi NPD, tetapi budaya pamer, validasi, dan ingin viral dapat memperkuat sifat narsistik pada orang yang sudah punya kecenderungan ke arah itu.Dalam bahasa syariat: medsos bisa menjadi ladang riya’, sum‘ah, ‘ujub, fakhr, hasad, dan hubbuzh zhuhur bila tidak dijaga dengan takwa. Bagaimana Mengetahui Orang Terkena NPD?Jangan langsung melabeli. Tetapi ciri-ciri yang perlu diwaspadai:Selalu ingin jadi pusat perhatian.Sulit menerima kritik, bahkan nasihat lembut pun dianggap serangan.Merasa dirinya paling berjasa, paling benar, paling pintar, atau paling layak dihormati.Sering merendahkan orang lain, tetapi sangat marah jika dirinya direndahkan.Butuh pujian terus-menerus.Tidak mudah meminta maaf, atau meminta maaf hanya untuk mengendalikan situasi.Kurang empati terhadap perasaan pasangan, anak, keluarga, atau teman.Suka memanipulasi: membuat orang merasa bersalah, takut, atau bergantung kepadanya.Relasi dekatnya sering rusak karena kontrol, penghinaan, atau drama.Harga dirinya rapuh; kritik kecil bisa membuatnya marah besar, diam menghukum, atau menyerang balik.Dalam istilah syariat, tanda yang paling jelas adalah dua hal dalam hadits:بَطَرُ الْحَقِّ: menolak kebenaran.غَمْطُ النَّاسِ: merendahkan manusia.Dua hal ini sangat penting untuk membedakan antara percaya diri yang sehat dan kesombongan yang rusak. Beda Percaya Diri, Sombong, dan NPDPercaya diri sehat: tahu kelebihan diri, tetapi tetap mau belajar, menerima nasihat, dan menghargai orang lain.Sombong/kibr: merasa lebih tinggi, menolak kebenaran, merendahkan orang lain.NPD: pola kepribadian yang menetap, berat, berulang, mengganggu relasi, pekerjaan, keluarga, dan biasanya sulit disadari oleh pelakunya sendiri. Penanganan untuk Diri SendiriBila seseorang merasa punya gejala narsistik, langkahnya:Pertama: jangan bangga dengan label “narsis”.Ini bukan identitas keren. Ini sinyal untuk muhasabah.Kedua: belajar menerima kritik kecil.Latih diri untuk diam dulu ketika dikoreksi. Jangan langsung membela diri.Ketiga: catat pola diri.Misalnya: “Kapan saya marah? Ketika tidak dipuji? Ketika dikritik? Ketika orang lain lebih berhasil?”Keempat: latih empati.Tanyakan: “Apa dampak ucapanku bagi orang lain? Apakah aku sedang ingin benar atau ingin menang?”Kelima: kurangi panggung validasi.Batasi kebiasaan mengecek likes, komentar, pujian, dan respons orang.Keenam: perbanyak amal yang tidak diketahui orang.Ini terapi syar’i yang sangat kuat untuk melawan cinta popularitas.Ketujuh: cari bantuan profesional.Terapi untuk NPD biasanya bukan obat utama, tetapi psikoterapi: membangun kesadaran diri, memperbaiki empati, mengatur emosi, dan memperbaiki relasi. Review klinis menyebut terapi NPD memang menantang karena ada pola kontrol, agresivitas, penghindaran, dan sulit membangun hubungan terapi, tetapi perubahan tetap mungkin dengan proses yang tepat. Penanganan untuk Orang SekitarBila menghadapi orang dengan sifat narsistik berat:Jangan mudah terpancing debat panjang.Tetapkan batasan yang jelas.Jangan terus-menerus memberi “bahan bakar” berupa pujian palsu.Jangan membalas penghinaan dengan penghinaan.Pisahkan antara menghormati orang dan membiarkan kezaliman.Dokumentasikan bila ada kekerasan, ancaman, atau manipulasi berat.Ajak konsultasi ke ahli bila memungkinkan.Dalam rumah tangga, libatkan mediator yang adil dan matang.Jika ada kekerasan fisik atau ancaman serius, keselamatan korban harus didahulukan.Dalam syariat, sabar bukan berarti membiarkan kezaliman. Tawadhu bukan berarti boleh diinjak-injak. Berbuat baik bukan berarti membenarkan perilaku merusak. Nasihat Alim Ulama untuk Sisi Penyakit HatiTerapi kibr (sombong) adalah menyadari bahwa manusia sama-sama berasal dari ayah dan ibu, standar kemuliaan hanyalah takwa, mengingat kelemahan diri, dan memahami bahwa manusia membenci orang kasar lagi sombong, sedangkan Allah mencintai tawadhu.Baca juga: Bahaya Sombong, Akhlak Iblis yang Menghalangi Surga ‘Ujub dan fakhr (bangga diri), obatnya adalah menerima nasihat, tidak marah ketika dikoreksi, membaca kitab akhlak, mengambil pelajaran dari kesalahan orang lain, menyadari bahwa kemuliaan bukan dengan pujian manusia, dan berdoa agar diberi akhlak yang baik.Baca juga: Awas Ujub! Amal Bisa Rusak karena Bangga Diri Nasihat praktisnya:Pertama: biasakan berkata, “Mungkin saya salah.”Kedua: biasakan menerima nasihat tanpa langsung membantah.Ketiga: sembunyikan sebagian amal.Keempat: berteman dengan orang saleh yang berani menasihati.Kelima: baca sirah Nabi ﷺ tentang tawadhu.Keenam: ingat kematian, karena semua pangkat, popularitas, dan pujian akan selesai. Dalil Al-Qur’an yang Mengkritik Sifat Narsistik1. Larangan sombong, merendahkan orang, dan membanggakan diriAllah Ta’ala berfirman,وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ“Janganlah engkau memalingkan wajahmu dari manusia karena sombong, dan janganlah berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak mencintai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)Ayat ini sangat dekat dengan kritik terhadap sifat narsistik: merasa diri lebih tinggi, merendahkan orang lain, dan ingin tampak hebat di hadapan manusia.2. Allah tidak mencintai orang sombong dan membanggakan diriAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا“Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. An-Nisa’: 36)Sifat mukhtal adalah merasa besar dalam diri, sedangkan fakhur adalah suka menampakkan kelebihan diri kepada orang lain. Dua sifat ini sangat dekat dengan perilaku haus pengakuan dan cinta pujian.3. Jangan merasa diri paling suciAllah Ta’ala berfirman,فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى“Maka janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang benar-benar bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)Ini adalah dalil penting untuk mengkritik orang yang merasa dirinya paling baik, paling benar, paling saleh, paling berjasa, atau paling layak dipuji.4. Jangan berjalan di bumi dengan angkuhAllah Ta’ala berfirman,وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا“Janganlah engkau berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya engkau tidak akan mampu menembus bumi dan tidak pula akan setinggi gunung.” (QS. Al-Isra’: 37)Ayat ini menghancurkan ilusi kebesaran diri. Sehebat apa pun manusia, ia tetap lemah, terbatas, dan tidak pantas menyombongkan diri.5. Kisah Qarun: sombong karena prestasi dan kekayaanAllah Ta’ala berfirman tentang Qarun,قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي“Qarun berkata, ‘Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.’” (QS. Al-Qashash: 78)Ini adalah contoh sikap narsistik dalam bentuk merasa semua keberhasilan berasal dari kehebatan diri sendiri. Ia lupa bahwa nikmat itu dari Allah.Allah juga berfirman,فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ“Maka Kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi.” (QS. Al-Qashash: 81)Ini menunjukkan bahaya besar ketika kekayaan, jabatan, ilmu, atau popularitas membuat seseorang merasa dirinya istimewa dan lebih tinggi dari orang lain.6. Jangan mencela dan merendahkan orang lainAllah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain. Boleh jadi mereka yang direndahkan itu lebih baik daripada yang merendahkan.” (QS. Al-Hujurat: 11)Orang yang narsistik sering merasa dirinya lebih tinggi dan mudah merendahkan orang lain. Ayat ini mengingatkan bahwa bisa jadi orang yang ia rendahkan justru lebih mulia di sisi Allah.7. Celaka bagi pencela dan pembanggakan hartaAllah Ta’ala berfirman,وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ ۝ الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ ۝ يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ“Celakalah bagi setiap pencela dan pengumpat, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Ia mengira bahwa hartanya dapat membuatnya kekal.” (QS. Al-Humazah: 1–3)Ayat ini mencela orang yang suka merendahkan orang lain, membanggakan hartanya, dan merasa dirinya aman karena apa yang ia miliki.8. Orang yang ingin dipuji atas sesuatu yang tidak ia lakukanAllah Ta’ala berfirman,وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ“Mereka suka dipuji atas sesuatu yang tidak mereka lakukan. Maka janganlah engkau mengira mereka akan selamat dari azab.” (QS. Ali ‘Imran: 188)Ini sangat relevan dengan budaya pencitraan: ingin dipuji, ingin terlihat berjasa, ingin dianggap hebat, padahal tidak sesuai kenyataan. Dalil Hadits yang Mengkritik Sifat Narsistik1. Kibr adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusiaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ.“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi.”Ada seseorang bertanya, “Sesungguhnya seseorang suka memakai pakaian yang bagus dan sandal yang bagus.”Beliau bersabda,إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ.“Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim)Ini dalil paling utama. Sifat narsistik yang paling berbahaya adalah dua hal ini: tidak mau menerima kebenaran dan mudah merendahkan orang lain.2. Larangan bangga diri dan merasa lebih tinggi dari orang lainRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا، حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ، وَلَا يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ.“Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap tawadhu, sampai tidak ada seorang pun yang membanggakan diri atas orang lain, dan tidak ada seorang pun yang berbuat zalim kepada orang lain.” (HR. Muslim)Hadits ini mengajarkan dua obat besar untuk sifat narsistik: tawadhu dan tidak menzalimi orang lain.3. Orang sombong akan dihinakan pada hari kiamatRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُوَرِ الرِّجَالِ، يَغْشَاهُمُ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ.“Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut kecil dalam rupa manusia. Kehinaan meliputi mereka dari segala arah.” (HR. At-Tirmidzi)Di dunia ia ingin terlihat besar. Pada hari kiamat, Allah hinakan ia menjadi sangat kecil.4. Bahaya ‘ujub: kagum kepada diri sendiriRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ.“Tiga perkara yang membinasakan: sifat pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan seseorang kagum kepada dirinya sendiri.” (HR. Al-Baihaqi dan lainnya)‘Ujub adalah penyakit inti dalam narsistik: seseorang terpukau dengan dirinya sendiri, kelebihan dirinya, pendapatnya, ilmunya, amalnya, atau statusnya.5. Larangan merendahkan sesama muslimRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ.“Cukuplah seseorang dianggap buruk ketika ia merendahkan saudaranya sesama muslim.” (HR. Muslim)Ini dalil tegas bahwa merendahkan orang lain sudah cukup menjadi tanda buruknya akhlak seseorang.6. Larangan hasad, saling membenci, dan saling menjatuhkanRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا.“Janganlah kalian saling hasad, jangan saling menipu dalam jual beli, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, jangan sebagian kalian menjual di atas jualan sebagian yang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim)Orang yang narsistik sering sulit melihat orang lain berhasil. Ia mudah iri, merasa tersaingi, lalu ingin menjatuhkan. Hadits ini menutup jalan menuju kerusakan itu.7. Larangan riya’ dan mencari pujian manusiaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ.“Siapa yang memperdengarkan amalnya agar dipuji, Allah akan membongkar niatnya. Siapa yang berbuat riya, Allah akan menampakkan riya’nya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ini sangat relevan dengan narsistik spiritual: ibadah, ilmu, dakwah, sedekah, atau amal sosial dilakukan agar terlihat hebat di mata manusia.8. Orang yang beramal besar tetapi niatnya ingin dipujiRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang orang yang belajar ilmu dan membaca Al-Qur’an, orang yang berjihad, dan orang yang bersedekah. Mereka ditanya tentang amalnya, lalu masing-masing mengaku beramal karena Allah. Namun dikatakan kepada mereka,كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ.“Engkau dusta. Engkau melakukannya agar dikatakan, ‘Ia seorang qari.’ Dan pujian itu telah dikatakan.”Dalam riwayat tentang orang yang berjihad,وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِيُقَالَ: جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ.“Engkau berperang agar dikatakan, ‘Ia pemberani.’ Dan pujian itu telah dikatakan.”Dalam riwayat tentang orang yang bersedekah,وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ.“Engkau melakukannya agar dikatakan, ‘Ia dermawan.’ Dan pujian itu telah dikatakan.” (HR. Muslim)Hadits ini sangat tajam untuk mengkritik orang yang menjadikan amal sebagai panggung pencitraan.9. Orang yang tampil seolah memiliki sesuatu yang sebenarnya tidak ia milikiRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ.“Orang yang berpura-pura memiliki sesuatu yang tidak diberikan kepadanya seperti orang yang memakai dua pakaian kedustaan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ini relevan dengan pencitraan palsu: ingin tampak kaya, tampak alim, tampak sukses, tampak berjasa, tampak saleh, padahal kenyataannya tidak demikian.10. Orang yang berjalan dengan kagum pada dirinya sendiriRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي فِي حُلَّةٍ تُعْجِبُهُ نَفْسُهُ، مُرَجِّلٌ جُمَّتَهُ، إِذْ خَسَفَ اللَّهُ بِهِ، فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.“Ketika ada seseorang berjalan dengan pakaian indah yang membuat dirinya kagum, rambutnya tersisir rapi, tiba-tiba Allah membenamkannya ke dalam bumi. Ia terus terbenam di dalamnya sampai hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadits ini menunjukkan bahaya ketika penampilan membuat seseorang kagum kepada diri sendiri dan merasa lebih tinggi dari orang lain. Dalil yang Menunjukkan Obat Sifat Narsistik1. Tawadhu karena AllahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ.“Tidaklah seseorang bersikap tawadhu karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim)Orang yang ingin diangkat manusia sering jatuh dalam kesombongan. Orang yang merendahkan diri karena Allah justru akan diangkat oleh Allah.2. Mencintai kebaikan untuk orang lainRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ.“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ini obat besar untuk kurang empati. Orang yang sehat imannya tidak hanya memikirkan dirinya, tetapi juga mencintai kebaikan untuk orang lain.3. Doa berlindung dari syirik tersembunyiDoa yang sangat relevan untuk membersihkan hati dari riya’, sum‘ah, dan ‘ujub adalah:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ.“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari berbuat syirik kepada-Mu dalam keadaan aku mengetahuinya. Aku juga memohon ampun kepada-Mu atas dosa syirik yang tidak aku ketahui.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani)Doa ini sangat penting karena penyakit hati kadang sangat halus. Seseorang bisa merasa ikhlas, padahal sedang mencari pujian. Ia bisa merasa berdakwah, padahal sedang membangun citra diri. Ia bisa merasa menasihati, padahal sedang menunjukkan kehebatan dirinya. —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 11 Muharram 1448 H, 26 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsbangga diri gangguan kesehatan mental media sosial muhasabah diri narsis narsistik npd penyakit hati riya sombong syirik tawadhu tazkiyatun nafs ujub

Awas Ujub! Amal Bisa Rusak karena Bangga Diri

Ada penyakit hati yang sering tidak terasa, tetapi pelan-pelan merusak amal dan hubungan kita dengan sesama. Itulah ujub, sombong, angkuh, dan suka membanggakan diri. Tulisan ini mengajak kita mengenali penyakit tersebut, memahami bahayanya, lalu belajar cara membersihkan hati darinya.  Daftar Isi tutup 1. Apa Itu Ujub, Khuyala’, Fakhr, dan Sombong? 2. Ujub dan Sombong Sering Disebut Bersamaan dalam Al-Qur’an 3. Semua Penyakit Ini Bersumber dari Kesombongan 4. Penyakit Hati Bisa Menjadi Karakter 5. Hukuman bagi Orang yang Sombong dan Membanggakan Diri 6. Akibat Buruk Ujub: Dibinasakan oleh Allah 7. Cara Mengenali Penyakit Hati dalam Diri dan Jalan untuk Menghilangkannya 8. Nasihat Terakhir  Apa Itu Ujub, Khuyala’, Fakhr, dan Sombong?Ujub adalah rasa sangat senang seseorang terhadap kelebihan yang ada pada dirinya.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata tentang ujub,رُؤْيَةُ نَفْسِهِ، وَغَيْبَتُهُ عَنْ شُهُودِ مِنَّةِ رَبِّهِ وَتَوْفِيقِهِ.“Asalnya adalah seseorang memandang dirinya sendiri, sementara ia lalai dari menyaksikan karunia Rabbnya dan taufik-Nya.” (Al-Fawā’id, hlm. 152)Khuyala’ adalah seseorang memandang dirinya lebih tinggi daripada keadaan sebenarnya, atau lebih tinggi daripada yang layak ia dapatkan, atau ia menampakkan kepada manusia keagungan dirinya.Fakhr adalah membanggakan diri dengan berbagai kelebihan dan menyebut-nyebut keutamaan, dengan menganggap dirinya lebih unggul daripada orang lain. Ujub dan Sombong Sering Disebut Bersamaan dalam Al-Qur’anSifat-sifat ini saling beririsan sehingga membuatnya sangat berkaitan satu sama lain, terutama fakhr dan khuyala’. Hampir tidak ada orang yang memiliki salah satu dari sifat tersebut, lalu ia selamat dari sifat yang menjadi saudaranya.Seakan-akan sifat-sifat ini adalah saluran-saluran yang memancar dari satu sumber yang sama, yaitu kesombongan. Sumbernya adalah bayangan tentang kebesaran diri dan keutamaannya, serta keinginan agar makhluk mengagungkannya dan memujinya.Karena itu, kita sering mendapati sifat-sifat ini disebutkan secara beriringan, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. An-Nisa’: 36)Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ“Dan janganlah memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ“Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid: 23)Ibnu ‘Athiyyah rahimahullah berkata, “Dikatakan: khāla ar-rajulu yakhūlu khaulan, yaitu ketika seseorang sombong dan merasa kagum terhadap dirinya sendiri.” Demikian dalam Al-Muḥarrar Al-Wajīz, 2/51.Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang firman Allah Ta’ala,إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.”Maksudnya adalah orang yang sombong dalam dirinya, merasa kagum terhadap dirinya, bersikap angkuh, dan membanggakan diri di hadapan manusia. Ia memandang dirinya lebih baik daripada mereka. Dalam pandangannya sendiri, ia adalah orang besar. Namun di sisi Allah, ia hina, dan di tengah manusia, ia dibenci. Demikian dalam Tafsīr Ibnu Katsīr, 2:301. Semua Penyakit Ini Bersumber dari KesombonganIbnul Qayyim rahimahullah berkata,فَالْفَخْرُ وَالْبَطَرُ وَالْأَشَرُ وَالْعُجْبُ وَالْحَسَدُ وَالْبَغْيُ وَالْخُيَلَاءُ وَالظُّلْمُ وَالْقَسْوَةُ وَالتَّجَبُّرُ وَالْإِعْرَاضُ وَإِبَاءُ قَبُولِ النَّصِيحَةِ وَالِاسْتِئْثَارُ وَطَلَبُ الْعُلُوِّ وَحُبُّ الْجَاهِ وَالرِّيَاسَةِ وَأَنْ يُحْمَدَ بِمَا لَمْ يَفْعَلْ، وَأَمْثَالُ ذَلِكَ؛ كُلُّهَا نَاشِئَةٌ مِنَ الْكِبْرِ.“Fakhr, bathar, asyar, ujub, hasad, melampaui batas, khuyala’, zalim, keras hati, sewenang-wenang, berpaling, enggan menerima nasihat, mementingkan diri sendiri, mencari kedudukan tinggi, cinta kedudukan dan kepemimpinan, ingin dipuji atas sesuatu yang tidak ia lakukan, dan hal-hal semisal itu, semuanya lahir dari kesombongan.” (Al-Fawā’id, hlm. 209).Baca juga: Bahaya Sombong, Akhlak Iblis yang Menghalangi Surga Penyakit Hati Bisa Menjadi KarakterDi antara manusia ada yang memang memiliki bawaan sebagian sifat buruk, seperti khuyala’ (angkuh), ujub, fakhr (membanggakan diri), sombong, dan sifat buruk lainnya. Namun ia terus melawan sifat-sifat tersebut hingga Allah menyembuhkannya darinya.Ada pula orang yang semula selamat dari sifat-sifat buruk itu, tetapi ia terus berjalan di jalan yang membuatnya memiliki sifat tersebut, serta berteman dengan orang-orang yang memilikinya, hingga akhirnya sifat itu menjadi karakter yang melekat pada dirinya.Tidak ada satu hati pun yang benar-benar kosong dari penyakit. Jika penyakit hati itu dibiarkan, ia akan menumpuk dan saling bertambah. Setiap manusia memiliki sebagian sifat baik dan sebagian sifat buruk. Ada orang yang menumbuhkan sifat-sifat baik dalam dirinya dan membersihkan dirinya dari sifat-sifat buruk, hingga ia menjadi seperti emas yang murni. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا“Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu).” (QS. Asy-Syams: 9)Ada pula yang sebaliknya. Allah Ta’ala berfirman tentang mereka,وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا“Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 10) Hukuman bagi Orang yang Sombong dan Membanggakan DiriKesombongan adalah salah satu sifat yang tidak layak dimiliki kecuali oleh Allah Ta’ala. Siapa saja yang menyaingi Allah dalam sifat tersebut, Allah akan membinasakannya, mematahkannya, dan menyempitkan urusannya. Karena fakhr dan khuyala’ sama-sama termasuk cabang kesombongan, maka setiap orang yang memiliki salah satu dari sifat tersebut akan mendapatkan bagian dari ancaman yang disebutkan tentang kesombongan.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman,الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي، وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي، فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا قَذَفْتُهُ فِي النَّارِ.“Kebesaran adalah selendang-Ku, dan keagungan adalah sarung-Ku. Siapa saja yang menyaingi-Ku dalam salah satu dari keduanya, Aku akan melemparkannya ke dalam neraka.” (HR. Muslim, no. 2620 dan Abu Daud, no. 4090; lafaz ini milik Abu Daud).Setiap orang yang berusaha sombong dan meninggikan diri, Allah Ta’ala akan merendahkannya ke tempat yang paling bawah dan menjadikannya termasuk orang yang paling hina.Orang yang sombong kepada manusia kelak pada hari kiamat akan diinjak di bawah telapak kaki manusia. Allah Ta’ala akan menghinakannya sebagai balasan atas kesombongan yang dahulu ia lakukan.Dari ‘Amr bin Syu‘aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda,يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُورَةِ الرِّجَالِ، يَغْشَاهُمُ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ، يُسَاقُونَ إِلَى سِجْنٍ مِنْ جَهَنَّمَ يُسَمَّى: بُولَسُ، تَعْلُوهُمْ نَارُ الْأَنْيَارِ، وَيُسْقَوْنَ مِنْ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ؛ طِينَةَ الْخَبَالِ.“Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut-semut kecil dalam rupa manusia. Kehinaan meliputi mereka dari segala arah. Mereka digiring menuju sebuah penjara di Jahanam yang bernama Bulas. Api yang sangat panas menyelimuti mereka dari atas. Mereka diberi minum dari perasan penghuni neraka, yaitu thinatul khabal.” Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, no. 2492 dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi, no. 2025. Akibat Buruk Ujub: Dibinasakan oleh AllahDi antara dalil yang menyebutkan hukuman bagi orang yang kagum terhadap dirinya sendiri adalah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau bersabda,بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي فِي حُلَّةٍ تُعْجِبُهُ نَفْسُهُ، مُرَجِّلٌ رَأْسَهُ، يَخْتَالُ فِي مِشْيَتِهِ، إِذْ خَسَفَ اللهُ بِهِ، فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِي الْأَرْضِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.“Ketika ada seorang laki-laki berjalan dengan mengenakan pakaian indah yang membuat dirinya kagum, rambutnya tersisir rapi, dan ia berjalan dengan penuh keangkuhan, tiba-tiba Allah membenamkannya ke dalam bumi. Ia terus terbenam di dalam bumi hingga hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 3297 dan Muslim, no. 2088). Cara Mengenali Penyakit Hati dalam Diri dan Jalan untuk MenghilangkannyaBanyak orang tidak mengetahui aib dirinya sendiri. Seseorang bisa melihat kotoran kecil di mata saudaranya, tetapi tidak melihat batang besar di matanya sendiri. Karena itu, siapa yang ingin mengenal dirinya—apakah ia memiliki sifat-sifat buruk ini atau tidak—dan ingin membersihkan diri darinya, maka ada beberapa cara yang dapat ditempuh, di antaranya:Hendaknya ia memiliki seorang guru yang berilmu, mendidik, dan membimbing. Guru tersebut menunjukkan aib dirinya, membantunya meninggalkan akhlak yang rendah dan buruk, serta membimbingnya untuk berhias dengan adab dan akhlak yang mulia.Hendaknya ia memperhatikan aib dirinya melalui nasihat orang-orang yang menasihatinya, arahan saudara-saudaranya, serta orang-orang yang bergaul dan berinteraksi dengannya. Jangan sampai kemarahannya demi membela diri dan keinginannya untuk menang membuatnya mengingkari kebenaran dan meninggalkan nasihat orang yang menasihatinya. Umar radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,رَحِمَ اللهُ امْرَأً أَهْدَى إِلَيَّ عُيُوبِي.“Semoga Allah merahmati orang yang menunjukkan kepadaku aib-aibku.”Hendaknya ia membaca buku-buku tentang akhlak. Dari buku-buku itu, ia mengenal sifat-sifat orang yang sombong dan kagum terhadap dirinya sendiri, mengetahui perbuatan-perbuatan mereka, lalu mengukurnya pada dirinya. Bisa jadi sebagian sifat tersebut ada pada dirinya, sementara ia tidak menyadarinya.Hendaknya ia mengambil manfaat untuk mengenal aib dirinya dari ucapan musuh-musuhnya. Bisa jadi seseorang lebih banyak mengambil manfaat dari musuh yang sedang berseteru dengannya dan mengingatkan aib-aibnya, daripada dari teman yang suka berbasa-basi, memujinya, menyanjungnya, dan menyembunyikan aibnya.Hendaknya ia bergaul dengan manusia. Setiap kali ia melihat sesuatu yang tercela dari akhlak dan perilaku manusia, hendaknya ia menuntut dirinya sendiri untuk menjauhinya. Pernah dikatakan kepada ‘Isa ‘alaihis salam, “Siapakah yang mendidikmu?” Beliau menjawab, “Tidak ada seorang pun yang mendidikku. Aku melihat kebodohan orang bodoh sebagai sesuatu yang buruk, maka aku pun menjauhinya.”Hendaknya ia memandang dirinya seperti manusia lainnya. Mereka sama seperti dirinya; lahir dari ayah dan ibu sebagaimana ia juga lahir. Tolok ukur yang benar hanyalah takwa. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)Hendaknya ia mengetahui bahwa hak Allah ‘azza wa jalla jauh lebih besar daripada amal yang telah ia lakukan. Seandainya seluruh amalnya ditimbang pada hari kiamat, niscaya amal itu tidak akan sebanding dengan satu nikmat saja, seperti nikmat penglihatan. Lalu bagaimana dengan nikmat hidayah? Bagaimana pula dengan nikmat iman? Ia juga harus mengetahui bahwa Allah-lah yang memberinya taufik untuk melakukan amal tersebut. Lantas, mengapa ia harus ujub?Hendaknya ia banyak berdoa kepada Allah Ta’ala agar diberi hidayah dan taufik untuk memiliki akhlak yang baik serta dijauhkan dari akhlak yang buruk. Di antara doa Nabi ﷺ adalah,وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ.WAHDINII LI AHSANIL AKHLAAQ, LAA YAHDII LI AHSANIHAA ILLAA ANTA, WASHRIF ‘ANNII SAYYI-AHAA, LAA YASHRIFU ‘ANNII SAYYI-AHAA ILLAA ANTA.“Berilah aku petunjuk kepada akhlak yang paling baik. Tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepada akhlak yang paling baik selain Engkau. Jauhkanlah dariku akhlak yang buruk. Tidak ada yang dapat menjauhkan akhlak yang buruk dariku selain Engkau.” (HR. Muslim, no. 771) Nasihat TerakhirDi zaman media sosial, ujub dan sombong bisa tumbuh sangat halus melalui pujian, angka penonton, jumlah pengikut, dan komentar manusia. Seorang hamba perlu sering memeriksa niatnya, karena amal yang tampak besar bisa rusak ketika hati ingin dipuji. Jangan takut menerima nasihat, sebab orang yang menunjukkan aib kita bisa menjadi sebab keselamatan hati kita. Mintalah kepada Allah agar hati tetap rendah, amal diterima, dan diri dijauhkan dari bangga terhadap kelebihan sendiri.اللَّهُمَّ اهْدِنَا لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ عَنَّا سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ.ALLAAHUMMAHDINAA LI AHSANIL AKHLAAQ, LAA YAHDII LI AHSANIHAA ILLAA ANTA, WASHRIF ‘ANNAA SAYYI-AHAA, LAA YASHRIFU ‘ANNAA SAYYI-AHAA ILLAA ANTA.“Ya Allah, tunjukilah kami kepada akhlak yang paling baik. Tidak ada yang dapat menunjuki kepada akhlak yang paling baik selain Engkau. Jauhkanlah kami dari akhlak yang buruk. Tidak ada yang dapat menjauhkan kami dari akhlak yang buruk selain Engkau.” Referensi: Islamqa, no. 260962 —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 11 Muharram 1448 H, 26 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak mulia akhlak tercela bahaya sombong fakhr khuyala nasihat hati penyakit hati sombong tazkiyatun nafs ujub

Awas Ujub! Amal Bisa Rusak karena Bangga Diri

Ada penyakit hati yang sering tidak terasa, tetapi pelan-pelan merusak amal dan hubungan kita dengan sesama. Itulah ujub, sombong, angkuh, dan suka membanggakan diri. Tulisan ini mengajak kita mengenali penyakit tersebut, memahami bahayanya, lalu belajar cara membersihkan hati darinya.  Daftar Isi tutup 1. Apa Itu Ujub, Khuyala’, Fakhr, dan Sombong? 2. Ujub dan Sombong Sering Disebut Bersamaan dalam Al-Qur’an 3. Semua Penyakit Ini Bersumber dari Kesombongan 4. Penyakit Hati Bisa Menjadi Karakter 5. Hukuman bagi Orang yang Sombong dan Membanggakan Diri 6. Akibat Buruk Ujub: Dibinasakan oleh Allah 7. Cara Mengenali Penyakit Hati dalam Diri dan Jalan untuk Menghilangkannya 8. Nasihat Terakhir  Apa Itu Ujub, Khuyala’, Fakhr, dan Sombong?Ujub adalah rasa sangat senang seseorang terhadap kelebihan yang ada pada dirinya.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata tentang ujub,رُؤْيَةُ نَفْسِهِ، وَغَيْبَتُهُ عَنْ شُهُودِ مِنَّةِ رَبِّهِ وَتَوْفِيقِهِ.“Asalnya adalah seseorang memandang dirinya sendiri, sementara ia lalai dari menyaksikan karunia Rabbnya dan taufik-Nya.” (Al-Fawā’id, hlm. 152)Khuyala’ adalah seseorang memandang dirinya lebih tinggi daripada keadaan sebenarnya, atau lebih tinggi daripada yang layak ia dapatkan, atau ia menampakkan kepada manusia keagungan dirinya.Fakhr adalah membanggakan diri dengan berbagai kelebihan dan menyebut-nyebut keutamaan, dengan menganggap dirinya lebih unggul daripada orang lain. Ujub dan Sombong Sering Disebut Bersamaan dalam Al-Qur’anSifat-sifat ini saling beririsan sehingga membuatnya sangat berkaitan satu sama lain, terutama fakhr dan khuyala’. Hampir tidak ada orang yang memiliki salah satu dari sifat tersebut, lalu ia selamat dari sifat yang menjadi saudaranya.Seakan-akan sifat-sifat ini adalah saluran-saluran yang memancar dari satu sumber yang sama, yaitu kesombongan. Sumbernya adalah bayangan tentang kebesaran diri dan keutamaannya, serta keinginan agar makhluk mengagungkannya dan memujinya.Karena itu, kita sering mendapati sifat-sifat ini disebutkan secara beriringan, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. An-Nisa’: 36)Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ“Dan janganlah memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ“Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid: 23)Ibnu ‘Athiyyah rahimahullah berkata, “Dikatakan: khāla ar-rajulu yakhūlu khaulan, yaitu ketika seseorang sombong dan merasa kagum terhadap dirinya sendiri.” Demikian dalam Al-Muḥarrar Al-Wajīz, 2/51.Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang firman Allah Ta’ala,إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.”Maksudnya adalah orang yang sombong dalam dirinya, merasa kagum terhadap dirinya, bersikap angkuh, dan membanggakan diri di hadapan manusia. Ia memandang dirinya lebih baik daripada mereka. Dalam pandangannya sendiri, ia adalah orang besar. Namun di sisi Allah, ia hina, dan di tengah manusia, ia dibenci. Demikian dalam Tafsīr Ibnu Katsīr, 2:301. Semua Penyakit Ini Bersumber dari KesombonganIbnul Qayyim rahimahullah berkata,فَالْفَخْرُ وَالْبَطَرُ وَالْأَشَرُ وَالْعُجْبُ وَالْحَسَدُ وَالْبَغْيُ وَالْخُيَلَاءُ وَالظُّلْمُ وَالْقَسْوَةُ وَالتَّجَبُّرُ وَالْإِعْرَاضُ وَإِبَاءُ قَبُولِ النَّصِيحَةِ وَالِاسْتِئْثَارُ وَطَلَبُ الْعُلُوِّ وَحُبُّ الْجَاهِ وَالرِّيَاسَةِ وَأَنْ يُحْمَدَ بِمَا لَمْ يَفْعَلْ، وَأَمْثَالُ ذَلِكَ؛ كُلُّهَا نَاشِئَةٌ مِنَ الْكِبْرِ.“Fakhr, bathar, asyar, ujub, hasad, melampaui batas, khuyala’, zalim, keras hati, sewenang-wenang, berpaling, enggan menerima nasihat, mementingkan diri sendiri, mencari kedudukan tinggi, cinta kedudukan dan kepemimpinan, ingin dipuji atas sesuatu yang tidak ia lakukan, dan hal-hal semisal itu, semuanya lahir dari kesombongan.” (Al-Fawā’id, hlm. 209).Baca juga: Bahaya Sombong, Akhlak Iblis yang Menghalangi Surga Penyakit Hati Bisa Menjadi KarakterDi antara manusia ada yang memang memiliki bawaan sebagian sifat buruk, seperti khuyala’ (angkuh), ujub, fakhr (membanggakan diri), sombong, dan sifat buruk lainnya. Namun ia terus melawan sifat-sifat tersebut hingga Allah menyembuhkannya darinya.Ada pula orang yang semula selamat dari sifat-sifat buruk itu, tetapi ia terus berjalan di jalan yang membuatnya memiliki sifat tersebut, serta berteman dengan orang-orang yang memilikinya, hingga akhirnya sifat itu menjadi karakter yang melekat pada dirinya.Tidak ada satu hati pun yang benar-benar kosong dari penyakit. Jika penyakit hati itu dibiarkan, ia akan menumpuk dan saling bertambah. Setiap manusia memiliki sebagian sifat baik dan sebagian sifat buruk. Ada orang yang menumbuhkan sifat-sifat baik dalam dirinya dan membersihkan dirinya dari sifat-sifat buruk, hingga ia menjadi seperti emas yang murni. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا“Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu).” (QS. Asy-Syams: 9)Ada pula yang sebaliknya. Allah Ta’ala berfirman tentang mereka,وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا“Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 10) Hukuman bagi Orang yang Sombong dan Membanggakan DiriKesombongan adalah salah satu sifat yang tidak layak dimiliki kecuali oleh Allah Ta’ala. Siapa saja yang menyaingi Allah dalam sifat tersebut, Allah akan membinasakannya, mematahkannya, dan menyempitkan urusannya. Karena fakhr dan khuyala’ sama-sama termasuk cabang kesombongan, maka setiap orang yang memiliki salah satu dari sifat tersebut akan mendapatkan bagian dari ancaman yang disebutkan tentang kesombongan.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman,الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي، وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي، فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا قَذَفْتُهُ فِي النَّارِ.“Kebesaran adalah selendang-Ku, dan keagungan adalah sarung-Ku. Siapa saja yang menyaingi-Ku dalam salah satu dari keduanya, Aku akan melemparkannya ke dalam neraka.” (HR. Muslim, no. 2620 dan Abu Daud, no. 4090; lafaz ini milik Abu Daud).Setiap orang yang berusaha sombong dan meninggikan diri, Allah Ta’ala akan merendahkannya ke tempat yang paling bawah dan menjadikannya termasuk orang yang paling hina.Orang yang sombong kepada manusia kelak pada hari kiamat akan diinjak di bawah telapak kaki manusia. Allah Ta’ala akan menghinakannya sebagai balasan atas kesombongan yang dahulu ia lakukan.Dari ‘Amr bin Syu‘aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda,يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُورَةِ الرِّجَالِ، يَغْشَاهُمُ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ، يُسَاقُونَ إِلَى سِجْنٍ مِنْ جَهَنَّمَ يُسَمَّى: بُولَسُ، تَعْلُوهُمْ نَارُ الْأَنْيَارِ، وَيُسْقَوْنَ مِنْ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ؛ طِينَةَ الْخَبَالِ.“Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut-semut kecil dalam rupa manusia. Kehinaan meliputi mereka dari segala arah. Mereka digiring menuju sebuah penjara di Jahanam yang bernama Bulas. Api yang sangat panas menyelimuti mereka dari atas. Mereka diberi minum dari perasan penghuni neraka, yaitu thinatul khabal.” Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, no. 2492 dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi, no. 2025. Akibat Buruk Ujub: Dibinasakan oleh AllahDi antara dalil yang menyebutkan hukuman bagi orang yang kagum terhadap dirinya sendiri adalah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau bersabda,بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي فِي حُلَّةٍ تُعْجِبُهُ نَفْسُهُ، مُرَجِّلٌ رَأْسَهُ، يَخْتَالُ فِي مِشْيَتِهِ، إِذْ خَسَفَ اللهُ بِهِ، فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِي الْأَرْضِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.“Ketika ada seorang laki-laki berjalan dengan mengenakan pakaian indah yang membuat dirinya kagum, rambutnya tersisir rapi, dan ia berjalan dengan penuh keangkuhan, tiba-tiba Allah membenamkannya ke dalam bumi. Ia terus terbenam di dalam bumi hingga hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 3297 dan Muslim, no. 2088). Cara Mengenali Penyakit Hati dalam Diri dan Jalan untuk MenghilangkannyaBanyak orang tidak mengetahui aib dirinya sendiri. Seseorang bisa melihat kotoran kecil di mata saudaranya, tetapi tidak melihat batang besar di matanya sendiri. Karena itu, siapa yang ingin mengenal dirinya—apakah ia memiliki sifat-sifat buruk ini atau tidak—dan ingin membersihkan diri darinya, maka ada beberapa cara yang dapat ditempuh, di antaranya:Hendaknya ia memiliki seorang guru yang berilmu, mendidik, dan membimbing. Guru tersebut menunjukkan aib dirinya, membantunya meninggalkan akhlak yang rendah dan buruk, serta membimbingnya untuk berhias dengan adab dan akhlak yang mulia.Hendaknya ia memperhatikan aib dirinya melalui nasihat orang-orang yang menasihatinya, arahan saudara-saudaranya, serta orang-orang yang bergaul dan berinteraksi dengannya. Jangan sampai kemarahannya demi membela diri dan keinginannya untuk menang membuatnya mengingkari kebenaran dan meninggalkan nasihat orang yang menasihatinya. Umar radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,رَحِمَ اللهُ امْرَأً أَهْدَى إِلَيَّ عُيُوبِي.“Semoga Allah merahmati orang yang menunjukkan kepadaku aib-aibku.”Hendaknya ia membaca buku-buku tentang akhlak. Dari buku-buku itu, ia mengenal sifat-sifat orang yang sombong dan kagum terhadap dirinya sendiri, mengetahui perbuatan-perbuatan mereka, lalu mengukurnya pada dirinya. Bisa jadi sebagian sifat tersebut ada pada dirinya, sementara ia tidak menyadarinya.Hendaknya ia mengambil manfaat untuk mengenal aib dirinya dari ucapan musuh-musuhnya. Bisa jadi seseorang lebih banyak mengambil manfaat dari musuh yang sedang berseteru dengannya dan mengingatkan aib-aibnya, daripada dari teman yang suka berbasa-basi, memujinya, menyanjungnya, dan menyembunyikan aibnya.Hendaknya ia bergaul dengan manusia. Setiap kali ia melihat sesuatu yang tercela dari akhlak dan perilaku manusia, hendaknya ia menuntut dirinya sendiri untuk menjauhinya. Pernah dikatakan kepada ‘Isa ‘alaihis salam, “Siapakah yang mendidikmu?” Beliau menjawab, “Tidak ada seorang pun yang mendidikku. Aku melihat kebodohan orang bodoh sebagai sesuatu yang buruk, maka aku pun menjauhinya.”Hendaknya ia memandang dirinya seperti manusia lainnya. Mereka sama seperti dirinya; lahir dari ayah dan ibu sebagaimana ia juga lahir. Tolok ukur yang benar hanyalah takwa. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)Hendaknya ia mengetahui bahwa hak Allah ‘azza wa jalla jauh lebih besar daripada amal yang telah ia lakukan. Seandainya seluruh amalnya ditimbang pada hari kiamat, niscaya amal itu tidak akan sebanding dengan satu nikmat saja, seperti nikmat penglihatan. Lalu bagaimana dengan nikmat hidayah? Bagaimana pula dengan nikmat iman? Ia juga harus mengetahui bahwa Allah-lah yang memberinya taufik untuk melakukan amal tersebut. Lantas, mengapa ia harus ujub?Hendaknya ia banyak berdoa kepada Allah Ta’ala agar diberi hidayah dan taufik untuk memiliki akhlak yang baik serta dijauhkan dari akhlak yang buruk. Di antara doa Nabi ﷺ adalah,وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ.WAHDINII LI AHSANIL AKHLAAQ, LAA YAHDII LI AHSANIHAA ILLAA ANTA, WASHRIF ‘ANNII SAYYI-AHAA, LAA YASHRIFU ‘ANNII SAYYI-AHAA ILLAA ANTA.“Berilah aku petunjuk kepada akhlak yang paling baik. Tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepada akhlak yang paling baik selain Engkau. Jauhkanlah dariku akhlak yang buruk. Tidak ada yang dapat menjauhkan akhlak yang buruk dariku selain Engkau.” (HR. Muslim, no. 771) Nasihat TerakhirDi zaman media sosial, ujub dan sombong bisa tumbuh sangat halus melalui pujian, angka penonton, jumlah pengikut, dan komentar manusia. Seorang hamba perlu sering memeriksa niatnya, karena amal yang tampak besar bisa rusak ketika hati ingin dipuji. Jangan takut menerima nasihat, sebab orang yang menunjukkan aib kita bisa menjadi sebab keselamatan hati kita. Mintalah kepada Allah agar hati tetap rendah, amal diterima, dan diri dijauhkan dari bangga terhadap kelebihan sendiri.اللَّهُمَّ اهْدِنَا لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ عَنَّا سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ.ALLAAHUMMAHDINAA LI AHSANIL AKHLAAQ, LAA YAHDII LI AHSANIHAA ILLAA ANTA, WASHRIF ‘ANNAA SAYYI-AHAA, LAA YASHRIFU ‘ANNAA SAYYI-AHAA ILLAA ANTA.“Ya Allah, tunjukilah kami kepada akhlak yang paling baik. Tidak ada yang dapat menunjuki kepada akhlak yang paling baik selain Engkau. Jauhkanlah kami dari akhlak yang buruk. Tidak ada yang dapat menjauhkan kami dari akhlak yang buruk selain Engkau.” Referensi: Islamqa, no. 260962 —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 11 Muharram 1448 H, 26 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak mulia akhlak tercela bahaya sombong fakhr khuyala nasihat hati penyakit hati sombong tazkiyatun nafs ujub
Ada penyakit hati yang sering tidak terasa, tetapi pelan-pelan merusak amal dan hubungan kita dengan sesama. Itulah ujub, sombong, angkuh, dan suka membanggakan diri. Tulisan ini mengajak kita mengenali penyakit tersebut, memahami bahayanya, lalu belajar cara membersihkan hati darinya.  Daftar Isi tutup 1. Apa Itu Ujub, Khuyala’, Fakhr, dan Sombong? 2. Ujub dan Sombong Sering Disebut Bersamaan dalam Al-Qur’an 3. Semua Penyakit Ini Bersumber dari Kesombongan 4. Penyakit Hati Bisa Menjadi Karakter 5. Hukuman bagi Orang yang Sombong dan Membanggakan Diri 6. Akibat Buruk Ujub: Dibinasakan oleh Allah 7. Cara Mengenali Penyakit Hati dalam Diri dan Jalan untuk Menghilangkannya 8. Nasihat Terakhir  Apa Itu Ujub, Khuyala’, Fakhr, dan Sombong?Ujub adalah rasa sangat senang seseorang terhadap kelebihan yang ada pada dirinya.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata tentang ujub,رُؤْيَةُ نَفْسِهِ، وَغَيْبَتُهُ عَنْ شُهُودِ مِنَّةِ رَبِّهِ وَتَوْفِيقِهِ.“Asalnya adalah seseorang memandang dirinya sendiri, sementara ia lalai dari menyaksikan karunia Rabbnya dan taufik-Nya.” (Al-Fawā’id, hlm. 152)Khuyala’ adalah seseorang memandang dirinya lebih tinggi daripada keadaan sebenarnya, atau lebih tinggi daripada yang layak ia dapatkan, atau ia menampakkan kepada manusia keagungan dirinya.Fakhr adalah membanggakan diri dengan berbagai kelebihan dan menyebut-nyebut keutamaan, dengan menganggap dirinya lebih unggul daripada orang lain. Ujub dan Sombong Sering Disebut Bersamaan dalam Al-Qur’anSifat-sifat ini saling beririsan sehingga membuatnya sangat berkaitan satu sama lain, terutama fakhr dan khuyala’. Hampir tidak ada orang yang memiliki salah satu dari sifat tersebut, lalu ia selamat dari sifat yang menjadi saudaranya.Seakan-akan sifat-sifat ini adalah saluran-saluran yang memancar dari satu sumber yang sama, yaitu kesombongan. Sumbernya adalah bayangan tentang kebesaran diri dan keutamaannya, serta keinginan agar makhluk mengagungkannya dan memujinya.Karena itu, kita sering mendapati sifat-sifat ini disebutkan secara beriringan, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. An-Nisa’: 36)Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ“Dan janganlah memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ“Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid: 23)Ibnu ‘Athiyyah rahimahullah berkata, “Dikatakan: khāla ar-rajulu yakhūlu khaulan, yaitu ketika seseorang sombong dan merasa kagum terhadap dirinya sendiri.” Demikian dalam Al-Muḥarrar Al-Wajīz, 2/51.Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang firman Allah Ta’ala,إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.”Maksudnya adalah orang yang sombong dalam dirinya, merasa kagum terhadap dirinya, bersikap angkuh, dan membanggakan diri di hadapan manusia. Ia memandang dirinya lebih baik daripada mereka. Dalam pandangannya sendiri, ia adalah orang besar. Namun di sisi Allah, ia hina, dan di tengah manusia, ia dibenci. Demikian dalam Tafsīr Ibnu Katsīr, 2:301. Semua Penyakit Ini Bersumber dari KesombonganIbnul Qayyim rahimahullah berkata,فَالْفَخْرُ وَالْبَطَرُ وَالْأَشَرُ وَالْعُجْبُ وَالْحَسَدُ وَالْبَغْيُ وَالْخُيَلَاءُ وَالظُّلْمُ وَالْقَسْوَةُ وَالتَّجَبُّرُ وَالْإِعْرَاضُ وَإِبَاءُ قَبُولِ النَّصِيحَةِ وَالِاسْتِئْثَارُ وَطَلَبُ الْعُلُوِّ وَحُبُّ الْجَاهِ وَالرِّيَاسَةِ وَأَنْ يُحْمَدَ بِمَا لَمْ يَفْعَلْ، وَأَمْثَالُ ذَلِكَ؛ كُلُّهَا نَاشِئَةٌ مِنَ الْكِبْرِ.“Fakhr, bathar, asyar, ujub, hasad, melampaui batas, khuyala’, zalim, keras hati, sewenang-wenang, berpaling, enggan menerima nasihat, mementingkan diri sendiri, mencari kedudukan tinggi, cinta kedudukan dan kepemimpinan, ingin dipuji atas sesuatu yang tidak ia lakukan, dan hal-hal semisal itu, semuanya lahir dari kesombongan.” (Al-Fawā’id, hlm. 209).Baca juga: Bahaya Sombong, Akhlak Iblis yang Menghalangi Surga Penyakit Hati Bisa Menjadi KarakterDi antara manusia ada yang memang memiliki bawaan sebagian sifat buruk, seperti khuyala’ (angkuh), ujub, fakhr (membanggakan diri), sombong, dan sifat buruk lainnya. Namun ia terus melawan sifat-sifat tersebut hingga Allah menyembuhkannya darinya.Ada pula orang yang semula selamat dari sifat-sifat buruk itu, tetapi ia terus berjalan di jalan yang membuatnya memiliki sifat tersebut, serta berteman dengan orang-orang yang memilikinya, hingga akhirnya sifat itu menjadi karakter yang melekat pada dirinya.Tidak ada satu hati pun yang benar-benar kosong dari penyakit. Jika penyakit hati itu dibiarkan, ia akan menumpuk dan saling bertambah. Setiap manusia memiliki sebagian sifat baik dan sebagian sifat buruk. Ada orang yang menumbuhkan sifat-sifat baik dalam dirinya dan membersihkan dirinya dari sifat-sifat buruk, hingga ia menjadi seperti emas yang murni. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا“Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu).” (QS. Asy-Syams: 9)Ada pula yang sebaliknya. Allah Ta’ala berfirman tentang mereka,وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا“Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 10) Hukuman bagi Orang yang Sombong dan Membanggakan DiriKesombongan adalah salah satu sifat yang tidak layak dimiliki kecuali oleh Allah Ta’ala. Siapa saja yang menyaingi Allah dalam sifat tersebut, Allah akan membinasakannya, mematahkannya, dan menyempitkan urusannya. Karena fakhr dan khuyala’ sama-sama termasuk cabang kesombongan, maka setiap orang yang memiliki salah satu dari sifat tersebut akan mendapatkan bagian dari ancaman yang disebutkan tentang kesombongan.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman,الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي، وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي، فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا قَذَفْتُهُ فِي النَّارِ.“Kebesaran adalah selendang-Ku, dan keagungan adalah sarung-Ku. Siapa saja yang menyaingi-Ku dalam salah satu dari keduanya, Aku akan melemparkannya ke dalam neraka.” (HR. Muslim, no. 2620 dan Abu Daud, no. 4090; lafaz ini milik Abu Daud).Setiap orang yang berusaha sombong dan meninggikan diri, Allah Ta’ala akan merendahkannya ke tempat yang paling bawah dan menjadikannya termasuk orang yang paling hina.Orang yang sombong kepada manusia kelak pada hari kiamat akan diinjak di bawah telapak kaki manusia. Allah Ta’ala akan menghinakannya sebagai balasan atas kesombongan yang dahulu ia lakukan.Dari ‘Amr bin Syu‘aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda,يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُورَةِ الرِّجَالِ، يَغْشَاهُمُ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ، يُسَاقُونَ إِلَى سِجْنٍ مِنْ جَهَنَّمَ يُسَمَّى: بُولَسُ، تَعْلُوهُمْ نَارُ الْأَنْيَارِ، وَيُسْقَوْنَ مِنْ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ؛ طِينَةَ الْخَبَالِ.“Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut-semut kecil dalam rupa manusia. Kehinaan meliputi mereka dari segala arah. Mereka digiring menuju sebuah penjara di Jahanam yang bernama Bulas. Api yang sangat panas menyelimuti mereka dari atas. Mereka diberi minum dari perasan penghuni neraka, yaitu thinatul khabal.” Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, no. 2492 dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi, no. 2025. Akibat Buruk Ujub: Dibinasakan oleh AllahDi antara dalil yang menyebutkan hukuman bagi orang yang kagum terhadap dirinya sendiri adalah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau bersabda,بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي فِي حُلَّةٍ تُعْجِبُهُ نَفْسُهُ، مُرَجِّلٌ رَأْسَهُ، يَخْتَالُ فِي مِشْيَتِهِ، إِذْ خَسَفَ اللهُ بِهِ، فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِي الْأَرْضِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.“Ketika ada seorang laki-laki berjalan dengan mengenakan pakaian indah yang membuat dirinya kagum, rambutnya tersisir rapi, dan ia berjalan dengan penuh keangkuhan, tiba-tiba Allah membenamkannya ke dalam bumi. Ia terus terbenam di dalam bumi hingga hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 3297 dan Muslim, no. 2088). Cara Mengenali Penyakit Hati dalam Diri dan Jalan untuk MenghilangkannyaBanyak orang tidak mengetahui aib dirinya sendiri. Seseorang bisa melihat kotoran kecil di mata saudaranya, tetapi tidak melihat batang besar di matanya sendiri. Karena itu, siapa yang ingin mengenal dirinya—apakah ia memiliki sifat-sifat buruk ini atau tidak—dan ingin membersihkan diri darinya, maka ada beberapa cara yang dapat ditempuh, di antaranya:Hendaknya ia memiliki seorang guru yang berilmu, mendidik, dan membimbing. Guru tersebut menunjukkan aib dirinya, membantunya meninggalkan akhlak yang rendah dan buruk, serta membimbingnya untuk berhias dengan adab dan akhlak yang mulia.Hendaknya ia memperhatikan aib dirinya melalui nasihat orang-orang yang menasihatinya, arahan saudara-saudaranya, serta orang-orang yang bergaul dan berinteraksi dengannya. Jangan sampai kemarahannya demi membela diri dan keinginannya untuk menang membuatnya mengingkari kebenaran dan meninggalkan nasihat orang yang menasihatinya. Umar radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,رَحِمَ اللهُ امْرَأً أَهْدَى إِلَيَّ عُيُوبِي.“Semoga Allah merahmati orang yang menunjukkan kepadaku aib-aibku.”Hendaknya ia membaca buku-buku tentang akhlak. Dari buku-buku itu, ia mengenal sifat-sifat orang yang sombong dan kagum terhadap dirinya sendiri, mengetahui perbuatan-perbuatan mereka, lalu mengukurnya pada dirinya. Bisa jadi sebagian sifat tersebut ada pada dirinya, sementara ia tidak menyadarinya.Hendaknya ia mengambil manfaat untuk mengenal aib dirinya dari ucapan musuh-musuhnya. Bisa jadi seseorang lebih banyak mengambil manfaat dari musuh yang sedang berseteru dengannya dan mengingatkan aib-aibnya, daripada dari teman yang suka berbasa-basi, memujinya, menyanjungnya, dan menyembunyikan aibnya.Hendaknya ia bergaul dengan manusia. Setiap kali ia melihat sesuatu yang tercela dari akhlak dan perilaku manusia, hendaknya ia menuntut dirinya sendiri untuk menjauhinya. Pernah dikatakan kepada ‘Isa ‘alaihis salam, “Siapakah yang mendidikmu?” Beliau menjawab, “Tidak ada seorang pun yang mendidikku. Aku melihat kebodohan orang bodoh sebagai sesuatu yang buruk, maka aku pun menjauhinya.”Hendaknya ia memandang dirinya seperti manusia lainnya. Mereka sama seperti dirinya; lahir dari ayah dan ibu sebagaimana ia juga lahir. Tolok ukur yang benar hanyalah takwa. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)Hendaknya ia mengetahui bahwa hak Allah ‘azza wa jalla jauh lebih besar daripada amal yang telah ia lakukan. Seandainya seluruh amalnya ditimbang pada hari kiamat, niscaya amal itu tidak akan sebanding dengan satu nikmat saja, seperti nikmat penglihatan. Lalu bagaimana dengan nikmat hidayah? Bagaimana pula dengan nikmat iman? Ia juga harus mengetahui bahwa Allah-lah yang memberinya taufik untuk melakukan amal tersebut. Lantas, mengapa ia harus ujub?Hendaknya ia banyak berdoa kepada Allah Ta’ala agar diberi hidayah dan taufik untuk memiliki akhlak yang baik serta dijauhkan dari akhlak yang buruk. Di antara doa Nabi ﷺ adalah,وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ.WAHDINII LI AHSANIL AKHLAAQ, LAA YAHDII LI AHSANIHAA ILLAA ANTA, WASHRIF ‘ANNII SAYYI-AHAA, LAA YASHRIFU ‘ANNII SAYYI-AHAA ILLAA ANTA.“Berilah aku petunjuk kepada akhlak yang paling baik. Tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepada akhlak yang paling baik selain Engkau. Jauhkanlah dariku akhlak yang buruk. Tidak ada yang dapat menjauhkan akhlak yang buruk dariku selain Engkau.” (HR. Muslim, no. 771) Nasihat TerakhirDi zaman media sosial, ujub dan sombong bisa tumbuh sangat halus melalui pujian, angka penonton, jumlah pengikut, dan komentar manusia. Seorang hamba perlu sering memeriksa niatnya, karena amal yang tampak besar bisa rusak ketika hati ingin dipuji. Jangan takut menerima nasihat, sebab orang yang menunjukkan aib kita bisa menjadi sebab keselamatan hati kita. Mintalah kepada Allah agar hati tetap rendah, amal diterima, dan diri dijauhkan dari bangga terhadap kelebihan sendiri.اللَّهُمَّ اهْدِنَا لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ عَنَّا سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ.ALLAAHUMMAHDINAA LI AHSANIL AKHLAAQ, LAA YAHDII LI AHSANIHAA ILLAA ANTA, WASHRIF ‘ANNAA SAYYI-AHAA, LAA YASHRIFU ‘ANNAA SAYYI-AHAA ILLAA ANTA.“Ya Allah, tunjukilah kami kepada akhlak yang paling baik. Tidak ada yang dapat menunjuki kepada akhlak yang paling baik selain Engkau. Jauhkanlah kami dari akhlak yang buruk. Tidak ada yang dapat menjauhkan kami dari akhlak yang buruk selain Engkau.” Referensi: Islamqa, no. 260962 —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 11 Muharram 1448 H, 26 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak mulia akhlak tercela bahaya sombong fakhr khuyala nasihat hati penyakit hati sombong tazkiyatun nafs ujub


Ada penyakit hati yang sering tidak terasa, tetapi pelan-pelan merusak amal dan hubungan kita dengan sesama. Itulah ujub, sombong, angkuh, dan suka membanggakan diri. Tulisan ini mengajak kita mengenali penyakit tersebut, memahami bahayanya, lalu belajar cara membersihkan hati darinya.  Daftar Isi tutup 1. Apa Itu Ujub, Khuyala’, Fakhr, dan Sombong? 2. Ujub dan Sombong Sering Disebut Bersamaan dalam Al-Qur’an 3. Semua Penyakit Ini Bersumber dari Kesombongan 4. Penyakit Hati Bisa Menjadi Karakter 5. Hukuman bagi Orang yang Sombong dan Membanggakan Diri 6. Akibat Buruk Ujub: Dibinasakan oleh Allah 7. Cara Mengenali Penyakit Hati dalam Diri dan Jalan untuk Menghilangkannya 8. Nasihat Terakhir  Apa Itu Ujub, Khuyala’, Fakhr, dan Sombong?Ujub adalah rasa sangat senang seseorang terhadap kelebihan yang ada pada dirinya.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata tentang ujub,رُؤْيَةُ نَفْسِهِ، وَغَيْبَتُهُ عَنْ شُهُودِ مِنَّةِ رَبِّهِ وَتَوْفِيقِهِ.“Asalnya adalah seseorang memandang dirinya sendiri, sementara ia lalai dari menyaksikan karunia Rabbnya dan taufik-Nya.” (Al-Fawā’id, hlm. 152)Khuyala’ adalah seseorang memandang dirinya lebih tinggi daripada keadaan sebenarnya, atau lebih tinggi daripada yang layak ia dapatkan, atau ia menampakkan kepada manusia keagungan dirinya.Fakhr adalah membanggakan diri dengan berbagai kelebihan dan menyebut-nyebut keutamaan, dengan menganggap dirinya lebih unggul daripada orang lain. Ujub dan Sombong Sering Disebut Bersamaan dalam Al-Qur’anSifat-sifat ini saling beririsan sehingga membuatnya sangat berkaitan satu sama lain, terutama fakhr dan khuyala’. Hampir tidak ada orang yang memiliki salah satu dari sifat tersebut, lalu ia selamat dari sifat yang menjadi saudaranya.Seakan-akan sifat-sifat ini adalah saluran-saluran yang memancar dari satu sumber yang sama, yaitu kesombongan. Sumbernya adalah bayangan tentang kebesaran diri dan keutamaannya, serta keinginan agar makhluk mengagungkannya dan memujinya.Karena itu, kita sering mendapati sifat-sifat ini disebutkan secara beriringan, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. An-Nisa’: 36)Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ“Dan janganlah memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ“Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid: 23)Ibnu ‘Athiyyah rahimahullah berkata, “Dikatakan: khāla ar-rajulu yakhūlu khaulan, yaitu ketika seseorang sombong dan merasa kagum terhadap dirinya sendiri.” Demikian dalam Al-Muḥarrar Al-Wajīz, 2/51.Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang firman Allah Ta’ala,إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.”Maksudnya adalah orang yang sombong dalam dirinya, merasa kagum terhadap dirinya, bersikap angkuh, dan membanggakan diri di hadapan manusia. Ia memandang dirinya lebih baik daripada mereka. Dalam pandangannya sendiri, ia adalah orang besar. Namun di sisi Allah, ia hina, dan di tengah manusia, ia dibenci. Demikian dalam Tafsīr Ibnu Katsīr, 2:301. Semua Penyakit Ini Bersumber dari KesombonganIbnul Qayyim rahimahullah berkata,فَالْفَخْرُ وَالْبَطَرُ وَالْأَشَرُ وَالْعُجْبُ وَالْحَسَدُ وَالْبَغْيُ وَالْخُيَلَاءُ وَالظُّلْمُ وَالْقَسْوَةُ وَالتَّجَبُّرُ وَالْإِعْرَاضُ وَإِبَاءُ قَبُولِ النَّصِيحَةِ وَالِاسْتِئْثَارُ وَطَلَبُ الْعُلُوِّ وَحُبُّ الْجَاهِ وَالرِّيَاسَةِ وَأَنْ يُحْمَدَ بِمَا لَمْ يَفْعَلْ، وَأَمْثَالُ ذَلِكَ؛ كُلُّهَا نَاشِئَةٌ مِنَ الْكِبْرِ.“Fakhr, bathar, asyar, ujub, hasad, melampaui batas, khuyala’, zalim, keras hati, sewenang-wenang, berpaling, enggan menerima nasihat, mementingkan diri sendiri, mencari kedudukan tinggi, cinta kedudukan dan kepemimpinan, ingin dipuji atas sesuatu yang tidak ia lakukan, dan hal-hal semisal itu, semuanya lahir dari kesombongan.” (Al-Fawā’id, hlm. 209).Baca juga: Bahaya Sombong, Akhlak Iblis yang Menghalangi Surga Penyakit Hati Bisa Menjadi KarakterDi antara manusia ada yang memang memiliki bawaan sebagian sifat buruk, seperti khuyala’ (angkuh), ujub, fakhr (membanggakan diri), sombong, dan sifat buruk lainnya. Namun ia terus melawan sifat-sifat tersebut hingga Allah menyembuhkannya darinya.Ada pula orang yang semula selamat dari sifat-sifat buruk itu, tetapi ia terus berjalan di jalan yang membuatnya memiliki sifat tersebut, serta berteman dengan orang-orang yang memilikinya, hingga akhirnya sifat itu menjadi karakter yang melekat pada dirinya.Tidak ada satu hati pun yang benar-benar kosong dari penyakit. Jika penyakit hati itu dibiarkan, ia akan menumpuk dan saling bertambah. Setiap manusia memiliki sebagian sifat baik dan sebagian sifat buruk. Ada orang yang menumbuhkan sifat-sifat baik dalam dirinya dan membersihkan dirinya dari sifat-sifat buruk, hingga ia menjadi seperti emas yang murni. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا“Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu).” (QS. Asy-Syams: 9)Ada pula yang sebaliknya. Allah Ta’ala berfirman tentang mereka,وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا“Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 10) Hukuman bagi Orang yang Sombong dan Membanggakan DiriKesombongan adalah salah satu sifat yang tidak layak dimiliki kecuali oleh Allah Ta’ala. Siapa saja yang menyaingi Allah dalam sifat tersebut, Allah akan membinasakannya, mematahkannya, dan menyempitkan urusannya. Karena fakhr dan khuyala’ sama-sama termasuk cabang kesombongan, maka setiap orang yang memiliki salah satu dari sifat tersebut akan mendapatkan bagian dari ancaman yang disebutkan tentang kesombongan.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman,الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي، وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي، فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا قَذَفْتُهُ فِي النَّارِ.“Kebesaran adalah selendang-Ku, dan keagungan adalah sarung-Ku. Siapa saja yang menyaingi-Ku dalam salah satu dari keduanya, Aku akan melemparkannya ke dalam neraka.” (HR. Muslim, no. 2620 dan Abu Daud, no. 4090; lafaz ini milik Abu Daud).Setiap orang yang berusaha sombong dan meninggikan diri, Allah Ta’ala akan merendahkannya ke tempat yang paling bawah dan menjadikannya termasuk orang yang paling hina.Orang yang sombong kepada manusia kelak pada hari kiamat akan diinjak di bawah telapak kaki manusia. Allah Ta’ala akan menghinakannya sebagai balasan atas kesombongan yang dahulu ia lakukan.Dari ‘Amr bin Syu‘aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda,يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُورَةِ الرِّجَالِ، يَغْشَاهُمُ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ، يُسَاقُونَ إِلَى سِجْنٍ مِنْ جَهَنَّمَ يُسَمَّى: بُولَسُ، تَعْلُوهُمْ نَارُ الْأَنْيَارِ، وَيُسْقَوْنَ مِنْ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ؛ طِينَةَ الْخَبَالِ.“Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut-semut kecil dalam rupa manusia. Kehinaan meliputi mereka dari segala arah. Mereka digiring menuju sebuah penjara di Jahanam yang bernama Bulas. Api yang sangat panas menyelimuti mereka dari atas. Mereka diberi minum dari perasan penghuni neraka, yaitu thinatul khabal.” Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, no. 2492 dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi, no. 2025. Akibat Buruk Ujub: Dibinasakan oleh AllahDi antara dalil yang menyebutkan hukuman bagi orang yang kagum terhadap dirinya sendiri adalah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau bersabda,بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي فِي حُلَّةٍ تُعْجِبُهُ نَفْسُهُ، مُرَجِّلٌ رَأْسَهُ، يَخْتَالُ فِي مِشْيَتِهِ، إِذْ خَسَفَ اللهُ بِهِ، فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِي الْأَرْضِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.“Ketika ada seorang laki-laki berjalan dengan mengenakan pakaian indah yang membuat dirinya kagum, rambutnya tersisir rapi, dan ia berjalan dengan penuh keangkuhan, tiba-tiba Allah membenamkannya ke dalam bumi. Ia terus terbenam di dalam bumi hingga hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 3297 dan Muslim, no. 2088). Cara Mengenali Penyakit Hati dalam Diri dan Jalan untuk MenghilangkannyaBanyak orang tidak mengetahui aib dirinya sendiri. Seseorang bisa melihat kotoran kecil di mata saudaranya, tetapi tidak melihat batang besar di matanya sendiri. Karena itu, siapa yang ingin mengenal dirinya—apakah ia memiliki sifat-sifat buruk ini atau tidak—dan ingin membersihkan diri darinya, maka ada beberapa cara yang dapat ditempuh, di antaranya:Hendaknya ia memiliki seorang guru yang berilmu, mendidik, dan membimbing. Guru tersebut menunjukkan aib dirinya, membantunya meninggalkan akhlak yang rendah dan buruk, serta membimbingnya untuk berhias dengan adab dan akhlak yang mulia.Hendaknya ia memperhatikan aib dirinya melalui nasihat orang-orang yang menasihatinya, arahan saudara-saudaranya, serta orang-orang yang bergaul dan berinteraksi dengannya. Jangan sampai kemarahannya demi membela diri dan keinginannya untuk menang membuatnya mengingkari kebenaran dan meninggalkan nasihat orang yang menasihatinya. Umar radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,رَحِمَ اللهُ امْرَأً أَهْدَى إِلَيَّ عُيُوبِي.“Semoga Allah merahmati orang yang menunjukkan kepadaku aib-aibku.”Hendaknya ia membaca buku-buku tentang akhlak. Dari buku-buku itu, ia mengenal sifat-sifat orang yang sombong dan kagum terhadap dirinya sendiri, mengetahui perbuatan-perbuatan mereka, lalu mengukurnya pada dirinya. Bisa jadi sebagian sifat tersebut ada pada dirinya, sementara ia tidak menyadarinya.Hendaknya ia mengambil manfaat untuk mengenal aib dirinya dari ucapan musuh-musuhnya. Bisa jadi seseorang lebih banyak mengambil manfaat dari musuh yang sedang berseteru dengannya dan mengingatkan aib-aibnya, daripada dari teman yang suka berbasa-basi, memujinya, menyanjungnya, dan menyembunyikan aibnya.Hendaknya ia bergaul dengan manusia. Setiap kali ia melihat sesuatu yang tercela dari akhlak dan perilaku manusia, hendaknya ia menuntut dirinya sendiri untuk menjauhinya. Pernah dikatakan kepada ‘Isa ‘alaihis salam, “Siapakah yang mendidikmu?” Beliau menjawab, “Tidak ada seorang pun yang mendidikku. Aku melihat kebodohan orang bodoh sebagai sesuatu yang buruk, maka aku pun menjauhinya.”Hendaknya ia memandang dirinya seperti manusia lainnya. Mereka sama seperti dirinya; lahir dari ayah dan ibu sebagaimana ia juga lahir. Tolok ukur yang benar hanyalah takwa. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)Hendaknya ia mengetahui bahwa hak Allah ‘azza wa jalla jauh lebih besar daripada amal yang telah ia lakukan. Seandainya seluruh amalnya ditimbang pada hari kiamat, niscaya amal itu tidak akan sebanding dengan satu nikmat saja, seperti nikmat penglihatan. Lalu bagaimana dengan nikmat hidayah? Bagaimana pula dengan nikmat iman? Ia juga harus mengetahui bahwa Allah-lah yang memberinya taufik untuk melakukan amal tersebut. Lantas, mengapa ia harus ujub?Hendaknya ia banyak berdoa kepada Allah Ta’ala agar diberi hidayah dan taufik untuk memiliki akhlak yang baik serta dijauhkan dari akhlak yang buruk. Di antara doa Nabi ﷺ adalah,وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ.WAHDINII LI AHSANIL AKHLAAQ, LAA YAHDII LI AHSANIHAA ILLAA ANTA, WASHRIF ‘ANNII SAYYI-AHAA, LAA YASHRIFU ‘ANNII SAYYI-AHAA ILLAA ANTA.“Berilah aku petunjuk kepada akhlak yang paling baik. Tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepada akhlak yang paling baik selain Engkau. Jauhkanlah dariku akhlak yang buruk. Tidak ada yang dapat menjauhkan akhlak yang buruk dariku selain Engkau.” (HR. Muslim, no. 771) Nasihat TerakhirDi zaman media sosial, ujub dan sombong bisa tumbuh sangat halus melalui pujian, angka penonton, jumlah pengikut, dan komentar manusia. Seorang hamba perlu sering memeriksa niatnya, karena amal yang tampak besar bisa rusak ketika hati ingin dipuji. Jangan takut menerima nasihat, sebab orang yang menunjukkan aib kita bisa menjadi sebab keselamatan hati kita. Mintalah kepada Allah agar hati tetap rendah, amal diterima, dan diri dijauhkan dari bangga terhadap kelebihan sendiri.اللَّهُمَّ اهْدِنَا لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ عَنَّا سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ.ALLAAHUMMAHDINAA LI AHSANIL AKHLAAQ, LAA YAHDII LI AHSANIHAA ILLAA ANTA, WASHRIF ‘ANNAA SAYYI-AHAA, LAA YASHRIFU ‘ANNAA SAYYI-AHAA ILLAA ANTA.“Ya Allah, tunjukilah kami kepada akhlak yang paling baik. Tidak ada yang dapat menunjuki kepada akhlak yang paling baik selain Engkau. Jauhkanlah kami dari akhlak yang buruk. Tidak ada yang dapat menjauhkan kami dari akhlak yang buruk selain Engkau.” Referensi: Islamqa, no. 260962 —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 11 Muharram 1448 H, 26 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak mulia akhlak tercela bahaya sombong fakhr khuyala nasihat hati penyakit hati sombong tazkiyatun nafs ujub

Bahaya Sombong: Akhlak Iblis yang Menghalangi Surga

Sombong bukan sekadar merasa diri lebih hebat, tetapi penyakit hati yang pertama kali menyeret Iblis pada pembangkangan. Banyak orang tampak baik secara lahir, tetapi rusak karena menolak kebenaran dan merendahkan manusia. Tulisan ini mengingatkan kita bahwa kesombongan bisa menghalangi surga, mengundang kehinaan, dan hanya bisa diobati dengan tawaduk kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Sombong adalah Akhlak Iblis 2. Sombong Menghalangi Seseorang dari Surga 3. Sombong dalam Pakaian dan Penampilan 4. Kesombongan Hanya Layak bagi Allah 5. Orang Sombong akan Direndahkan 6. Obat Kesombongan: Sadar bahwa Takwa yang Menjadi Ukuran 7. Jangan Berjalan dengan Angkuh 8. Ingat Asal dan Akhir Manusia 9. Nasihat Penutup  Sombong adalah sifat tercela. Sifat ini dimiliki oleh Iblis dan bala tentaranya dari kalangan penduduk dunia, yaitu orang-orang yang hatinya telah ditutup oleh Allah Ta’ala. Sombong adalah Akhlak IblisMakhluk pertama yang sombong kepada Allah dan kepada makhluk-Nya adalah Iblis yang terlaknat. Ketika Allah Ta’ala memerintahkannya untuk sujud kepada Adam, ia menolak dan menyombongkan diri. Ia berkata, “Aku lebih baik daripada dia. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan Engkau menciptakannya dari tanah.”Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ لَمْ يَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ ۝ قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ“Sungguh, Kami telah menciptakan kamu, kemudian membentuk (tubuh)-mu. Kemudian Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Bersujudlah kamu kepada Adam.’ Maka mereka pun sujud, kecuali Iblis. Ia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud ketika Aku menyuruhmu?’ Iblis menjawab, ‘Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’” (QS. Al-A’raf: 11–12)Kesombongan adalah salah satu akhlak Iblis. Siapa saja yang ingin bersikap sombong, hendaklah ia sadar bahwa dirinya sedang meniru akhlak setan. Ia tidak sedang meneladani akhlak para malaikat yang mulia, yang taat kepada Rabb mereka lalu segera bersujud. Sombong Menghalangi Seseorang dari SurgaBelum lagi, kesombongan menjadi sebab seseorang terhalang masuk surga. Kesombongan juga membuat dirinya terhalang dari pandangan Rabb Yang Mahaperkasa kepadanya, sebagaimana disebutkan dalam dua hadis berikut.Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ، قَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً، قَالَ: إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ: بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ.“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat zarrah.” Ada seseorang bertanya, “Sesungguhnya seseorang suka jika pakaiannya bagus dan sandalnya bagus.” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu Mahindah dan mencintai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim, no. 91)بَطَرُ الْحَقِّ artinya menolak kebenaran setelah mengetahuinya.غَمْطُ النَّاسِ artinya merendahkan manusia. Sombong dalam Pakaian dan PenampilanDari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرِ اللهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ ثَوْبِي يَسْتَرْخِي إِلَّا أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّكَ لَسْتَ تَصْنَعُ ذَلِكَ خُيَلَاءَ.“Siapa saja yang menyeret pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari Kiamat.” Abu Bakr berkata, “Sesungguhnya salah satu sisi kainku kadang turun, kecuali jika aku terus menjaganya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya engkau tidak melakukan hal itu karena sombong.” (HR. Bukhari, no. 3465) Kesombongan Hanya Layak bagi AllahSombong adalah salah satu sifat yang tidak layak dimiliki kecuali oleh Allah Ta’ala. Siapa saja yang menyaingi Allah dalam sifat ini, Allah akan membinasakannya, mematahkannya, dan menyempitkan hidupnya.Dari Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma, keduanya berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,الْعِزُّ إِزَارُهُ، وَالْكِبْرِيَاءُ رِدَاؤُهُ، فَمَنْ يُنَازِعُنِي عَذَّبْتُهُ.“Kemuliaan adalah kain-Nya, dan kebesaran adalah selendang-Nya. Siapa saja yang menyaingi-Ku dalam hal itu, Aku akan menyiksanya.” (HR. Muslim, no. 2620)Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Demikianlah redaksi hadits ini dalam seluruh naskah. Kata ganti pada kalimat إِزَارُهُ dan رِدَاؤُهُ kembali kepada Allah Ta’ala karena hal itu sudah diketahui. Dalam hadis ini ada bagian yang tidak disebutkan secara tersurat. Perkiraannya adalah, ‘Allah Ta’ala berfirman, “Siapa saja yang menyaingi-Ku dalam hal itu, Aku akan menyiksanya.”’Makna يُنَازِعُنِي adalah seseorang berakhlak dengan sifat tersebut, sehingga ia seakan-akan menjadi pihak yang ikut memiliki sifat itu.Hadis ini berisi ancaman yang sangat keras terhadap kesombongan dan secara tegas menunjukkan haramnya sifat tersebut.” Syarh Muslim (16:173). Orang Sombong akan DirendahkanSiapa saja yang berusaha sombong dan meninggikan diri, Allah Ta’ala akan merendahkannya ke tempat yang paling bawah dan menjadikannya termasuk orang-orang yang paling hina. Sebab, ia telah menyelisihi ketentuan asalnya, maka Allah membalasnya dengan kebalikan dari tujuan yang ia inginkan. Ada ungkapan, “Balasan itu sesuai dengan jenis perbuatan.”Orang yang sombong kepada manusia, pada hari Kiamat akan diinjak-injak di bawah kaki manusia. Allah Ta’ala akan menghinakannya sebagai balasan atas kesombongan yang dahulu ia lakukan.Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُوَرِ الرِّجَالِ، يَغْشَاهُمُ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ، فَيُسَاقُونَ إِلَى سِجْنٍ فِي جَهَنَّمَ يُسَمَّى بُولَسَ، تَعْلُوهُمْ نَارُ الْأَنْيَارِ، يُسْقَوْنَ مِنْ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ طِينَةَ الْخَبَالِ.“Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari Kiamat seperti semut-semut kecil, tetapi dalam bentuk manusia. Kehinaan meliputi mereka dari segala arah. Mereka kemudian digiring menuju sebuah penjara di Jahannam yang bernama Bulas. Api yang sangat panas berada di atas mereka. Mereka diberi minum dari perasan penduduk neraka, yaitu thinah al-khabal.” (HR. Tirmidzi, no. 2492; dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi, no. 2025)“Mereka diberi minum” dalam bentuk kalimat pasif, maksudnya para malaikat penjaga Jahannam memberi mereka minum dengan perintah Rabb mereka, “dari perasan penduduk neraka”, yaitu cairan yang mengalir dari darah, nanah, dan cairan busuk penduduk neraka, serta bau busuk mereka. Perasan ini disebut “thinah al-khabal”, yaitu kerusakan yang membuat tubuh menjadi rusak.Obat Kesombongan: Sadar bahwa Takwa yang Menjadi UkuranDi antara cara mengobati kesombongan adalah hendaklah seseorang memandang dirinya sama seperti manusia yang lain. Mereka sama seperti dirinya; lahir dari ibu dan ayah, sebagaimana ia juga lahir dari ibu dan ayah. Hendaklah ia menyadari bahwa takwa adalah ukuran yang sebenarnya.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)Hendaklah seorang muslim yang sombong menyadari bahwa setinggi apa pun kedudukannya, ia tetap terlalu lemah untuk dapat setinggi gunung atau menembus bumi, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ ۝ وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ ۚ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ“Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia karena sombong dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri. Berlakulah wajar dalam berjalan dan lembutkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Luqman: 18–19) Jangan Berjalan dengan AngkuhImam Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Firman Allah Ta’ala, وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ‘dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh,’ adalah larangan dari sikap congkak dan perintah untuk bersikap tawaduk.Al-marh maknanya adalah sangat gembira. Ada yang mengatakan bahwa maknanya adalah sombong ketika berjalan. Ada pula yang mengatakan bahwa maknanya adalah seseorang melampaui batas kedudukannya.Qatadah berkata, ‘Maknanya adalah congkak ketika berjalan.’Ada pula yang mengatakan bahwa maknanya adalah sombong dan melampaui batas. Ada juga yang mengatakan bahwa maknanya adalah semangat.Semua pendapat ini saling berdekatan, tetapi terbagi menjadi dua bagian:Pertama, makna yang tercela. Kedua, makna yang terpuji.Sombong, melampaui batas, congkak, dan seseorang melampaui batas kedudukannya adalah makna yang tercela.Adapun gembira dan semangat adalah makna yang terpuji.”Tafsir Al-Qurthubi (10:260).Baca juga: Memiliki Sifat Tawadhu’ Ingat Asal dan Akhir ManusiaDi antara obat kesombongan adalah hendaklah seseorang mengetahui bahwa orang yang sombong pada hari Kiamat akan dikumpulkan dalam keadaan kecil seperti semut-semut kecil, lalu diinjak oleh kaki manusia.Orang yang sombong dibenci oleh manusia, sebagaimana ia juga dibenci oleh Allah Ta’ala. Manusia mencintai orang yang tawaduk, mudah bergaul, lembut, dan ringan dalam bermuamalah. Sebaliknya, mereka membenci orang yang kasar dan keras.Di antara obat kesombongan pula adalah hendaklah seseorang mengingat bahwa dirinya dan air seni keluar dari tempat yang sama. Awal penciptaannya hanyalah setetes mani yang hina. Akhir keadaannya adalah bangkai yang busuk. Di antara awal dan akhir itu, ia membawa kotoran dalam perutnya. Lalu, dengan apa ia hendak menyombongkan diri?!Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar melindungi kita dari kesombongan dan menganugerahkan kepada kita sifat tawaduk.Baca juga: Merasa Yang Lain Lebih Mulia Dari Diri Sendiri Nasihat PenutupDi zaman media sosial, kesombongan bisa muncul dalam bentuk merasa paling benar, paling berilmu, paling saleh, paling berhasil, atau paling layak dipuji. Kadang seseorang tidak merasa sedang sombong, padahal ia sulit menerima nasihat dan mudah merendahkan orang lain. Maka, ukuran kemuliaan bukanlah pengikut, jabatan, harta, ilmu, atau penampilan, tetapi takwa kepada Allah. Semoga Allah membersihkan hati kita dari kesombongan dan menjadikan kita hamba yang tawaduk.اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْكِبْرِ وَالْعُجْبِ وَالرِّيَاءِ، وَارْزُقْنَا التَّوَاضُعَ لَكَ وَلِعِبَادِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُتَّقِينَ.ALLAAHUMMA THAHHIR QULUUBANAA MINAL KIBRI WAL ‘UJBI WAR RIYAA’, WARZUQNAT TAWAADHU‘A LAKA WA LI‘IBAADIK, WAJ‘ALNAA MIN ‘IBAADIKAL MUTTAQIIN.“Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari kesombongan, ujub, dan riya. Anugerahkanlah kepada kami sifat tawaduk kepada-Mu dan kepada hamba-hamba-Mu. Jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang bertakwa.” Referensi: Islamqa no. 9229Dorar.net —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 11 Muharram 1448 H, 26 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak Iblis bahaya sombong menolak kebenaran merendahkan orang lain nasihat islam penyakit hati rendah hati sombong takwa tawadhu tawaduk

Bahaya Sombong: Akhlak Iblis yang Menghalangi Surga

Sombong bukan sekadar merasa diri lebih hebat, tetapi penyakit hati yang pertama kali menyeret Iblis pada pembangkangan. Banyak orang tampak baik secara lahir, tetapi rusak karena menolak kebenaran dan merendahkan manusia. Tulisan ini mengingatkan kita bahwa kesombongan bisa menghalangi surga, mengundang kehinaan, dan hanya bisa diobati dengan tawaduk kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Sombong adalah Akhlak Iblis 2. Sombong Menghalangi Seseorang dari Surga 3. Sombong dalam Pakaian dan Penampilan 4. Kesombongan Hanya Layak bagi Allah 5. Orang Sombong akan Direndahkan 6. Obat Kesombongan: Sadar bahwa Takwa yang Menjadi Ukuran 7. Jangan Berjalan dengan Angkuh 8. Ingat Asal dan Akhir Manusia 9. Nasihat Penutup  Sombong adalah sifat tercela. Sifat ini dimiliki oleh Iblis dan bala tentaranya dari kalangan penduduk dunia, yaitu orang-orang yang hatinya telah ditutup oleh Allah Ta’ala. Sombong adalah Akhlak IblisMakhluk pertama yang sombong kepada Allah dan kepada makhluk-Nya adalah Iblis yang terlaknat. Ketika Allah Ta’ala memerintahkannya untuk sujud kepada Adam, ia menolak dan menyombongkan diri. Ia berkata, “Aku lebih baik daripada dia. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan Engkau menciptakannya dari tanah.”Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ لَمْ يَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ ۝ قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ“Sungguh, Kami telah menciptakan kamu, kemudian membentuk (tubuh)-mu. Kemudian Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Bersujudlah kamu kepada Adam.’ Maka mereka pun sujud, kecuali Iblis. Ia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud ketika Aku menyuruhmu?’ Iblis menjawab, ‘Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’” (QS. Al-A’raf: 11–12)Kesombongan adalah salah satu akhlak Iblis. Siapa saja yang ingin bersikap sombong, hendaklah ia sadar bahwa dirinya sedang meniru akhlak setan. Ia tidak sedang meneladani akhlak para malaikat yang mulia, yang taat kepada Rabb mereka lalu segera bersujud. Sombong Menghalangi Seseorang dari SurgaBelum lagi, kesombongan menjadi sebab seseorang terhalang masuk surga. Kesombongan juga membuat dirinya terhalang dari pandangan Rabb Yang Mahaperkasa kepadanya, sebagaimana disebutkan dalam dua hadis berikut.Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ، قَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً، قَالَ: إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ: بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ.“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat zarrah.” Ada seseorang bertanya, “Sesungguhnya seseorang suka jika pakaiannya bagus dan sandalnya bagus.” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu Mahindah dan mencintai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim, no. 91)بَطَرُ الْحَقِّ artinya menolak kebenaran setelah mengetahuinya.غَمْطُ النَّاسِ artinya merendahkan manusia. Sombong dalam Pakaian dan PenampilanDari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرِ اللهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ ثَوْبِي يَسْتَرْخِي إِلَّا أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّكَ لَسْتَ تَصْنَعُ ذَلِكَ خُيَلَاءَ.“Siapa saja yang menyeret pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari Kiamat.” Abu Bakr berkata, “Sesungguhnya salah satu sisi kainku kadang turun, kecuali jika aku terus menjaganya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya engkau tidak melakukan hal itu karena sombong.” (HR. Bukhari, no. 3465) Kesombongan Hanya Layak bagi AllahSombong adalah salah satu sifat yang tidak layak dimiliki kecuali oleh Allah Ta’ala. Siapa saja yang menyaingi Allah dalam sifat ini, Allah akan membinasakannya, mematahkannya, dan menyempitkan hidupnya.Dari Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma, keduanya berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,الْعِزُّ إِزَارُهُ، وَالْكِبْرِيَاءُ رِدَاؤُهُ، فَمَنْ يُنَازِعُنِي عَذَّبْتُهُ.“Kemuliaan adalah kain-Nya, dan kebesaran adalah selendang-Nya. Siapa saja yang menyaingi-Ku dalam hal itu, Aku akan menyiksanya.” (HR. Muslim, no. 2620)Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Demikianlah redaksi hadits ini dalam seluruh naskah. Kata ganti pada kalimat إِزَارُهُ dan رِدَاؤُهُ kembali kepada Allah Ta’ala karena hal itu sudah diketahui. Dalam hadis ini ada bagian yang tidak disebutkan secara tersurat. Perkiraannya adalah, ‘Allah Ta’ala berfirman, “Siapa saja yang menyaingi-Ku dalam hal itu, Aku akan menyiksanya.”’Makna يُنَازِعُنِي adalah seseorang berakhlak dengan sifat tersebut, sehingga ia seakan-akan menjadi pihak yang ikut memiliki sifat itu.Hadis ini berisi ancaman yang sangat keras terhadap kesombongan dan secara tegas menunjukkan haramnya sifat tersebut.” Syarh Muslim (16:173). Orang Sombong akan DirendahkanSiapa saja yang berusaha sombong dan meninggikan diri, Allah Ta’ala akan merendahkannya ke tempat yang paling bawah dan menjadikannya termasuk orang-orang yang paling hina. Sebab, ia telah menyelisihi ketentuan asalnya, maka Allah membalasnya dengan kebalikan dari tujuan yang ia inginkan. Ada ungkapan, “Balasan itu sesuai dengan jenis perbuatan.”Orang yang sombong kepada manusia, pada hari Kiamat akan diinjak-injak di bawah kaki manusia. Allah Ta’ala akan menghinakannya sebagai balasan atas kesombongan yang dahulu ia lakukan.Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُوَرِ الرِّجَالِ، يَغْشَاهُمُ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ، فَيُسَاقُونَ إِلَى سِجْنٍ فِي جَهَنَّمَ يُسَمَّى بُولَسَ، تَعْلُوهُمْ نَارُ الْأَنْيَارِ، يُسْقَوْنَ مِنْ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ طِينَةَ الْخَبَالِ.“Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari Kiamat seperti semut-semut kecil, tetapi dalam bentuk manusia. Kehinaan meliputi mereka dari segala arah. Mereka kemudian digiring menuju sebuah penjara di Jahannam yang bernama Bulas. Api yang sangat panas berada di atas mereka. Mereka diberi minum dari perasan penduduk neraka, yaitu thinah al-khabal.” (HR. Tirmidzi, no. 2492; dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi, no. 2025)“Mereka diberi minum” dalam bentuk kalimat pasif, maksudnya para malaikat penjaga Jahannam memberi mereka minum dengan perintah Rabb mereka, “dari perasan penduduk neraka”, yaitu cairan yang mengalir dari darah, nanah, dan cairan busuk penduduk neraka, serta bau busuk mereka. Perasan ini disebut “thinah al-khabal”, yaitu kerusakan yang membuat tubuh menjadi rusak.Obat Kesombongan: Sadar bahwa Takwa yang Menjadi UkuranDi antara cara mengobati kesombongan adalah hendaklah seseorang memandang dirinya sama seperti manusia yang lain. Mereka sama seperti dirinya; lahir dari ibu dan ayah, sebagaimana ia juga lahir dari ibu dan ayah. Hendaklah ia menyadari bahwa takwa adalah ukuran yang sebenarnya.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)Hendaklah seorang muslim yang sombong menyadari bahwa setinggi apa pun kedudukannya, ia tetap terlalu lemah untuk dapat setinggi gunung atau menembus bumi, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ ۝ وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ ۚ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ“Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia karena sombong dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri. Berlakulah wajar dalam berjalan dan lembutkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Luqman: 18–19) Jangan Berjalan dengan AngkuhImam Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Firman Allah Ta’ala, وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ‘dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh,’ adalah larangan dari sikap congkak dan perintah untuk bersikap tawaduk.Al-marh maknanya adalah sangat gembira. Ada yang mengatakan bahwa maknanya adalah sombong ketika berjalan. Ada pula yang mengatakan bahwa maknanya adalah seseorang melampaui batas kedudukannya.Qatadah berkata, ‘Maknanya adalah congkak ketika berjalan.’Ada pula yang mengatakan bahwa maknanya adalah sombong dan melampaui batas. Ada juga yang mengatakan bahwa maknanya adalah semangat.Semua pendapat ini saling berdekatan, tetapi terbagi menjadi dua bagian:Pertama, makna yang tercela. Kedua, makna yang terpuji.Sombong, melampaui batas, congkak, dan seseorang melampaui batas kedudukannya adalah makna yang tercela.Adapun gembira dan semangat adalah makna yang terpuji.”Tafsir Al-Qurthubi (10:260).Baca juga: Memiliki Sifat Tawadhu’ Ingat Asal dan Akhir ManusiaDi antara obat kesombongan adalah hendaklah seseorang mengetahui bahwa orang yang sombong pada hari Kiamat akan dikumpulkan dalam keadaan kecil seperti semut-semut kecil, lalu diinjak oleh kaki manusia.Orang yang sombong dibenci oleh manusia, sebagaimana ia juga dibenci oleh Allah Ta’ala. Manusia mencintai orang yang tawaduk, mudah bergaul, lembut, dan ringan dalam bermuamalah. Sebaliknya, mereka membenci orang yang kasar dan keras.Di antara obat kesombongan pula adalah hendaklah seseorang mengingat bahwa dirinya dan air seni keluar dari tempat yang sama. Awal penciptaannya hanyalah setetes mani yang hina. Akhir keadaannya adalah bangkai yang busuk. Di antara awal dan akhir itu, ia membawa kotoran dalam perutnya. Lalu, dengan apa ia hendak menyombongkan diri?!Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar melindungi kita dari kesombongan dan menganugerahkan kepada kita sifat tawaduk.Baca juga: Merasa Yang Lain Lebih Mulia Dari Diri Sendiri Nasihat PenutupDi zaman media sosial, kesombongan bisa muncul dalam bentuk merasa paling benar, paling berilmu, paling saleh, paling berhasil, atau paling layak dipuji. Kadang seseorang tidak merasa sedang sombong, padahal ia sulit menerima nasihat dan mudah merendahkan orang lain. Maka, ukuran kemuliaan bukanlah pengikut, jabatan, harta, ilmu, atau penampilan, tetapi takwa kepada Allah. Semoga Allah membersihkan hati kita dari kesombongan dan menjadikan kita hamba yang tawaduk.اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْكِبْرِ وَالْعُجْبِ وَالرِّيَاءِ، وَارْزُقْنَا التَّوَاضُعَ لَكَ وَلِعِبَادِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُتَّقِينَ.ALLAAHUMMA THAHHIR QULUUBANAA MINAL KIBRI WAL ‘UJBI WAR RIYAA’, WARZUQNAT TAWAADHU‘A LAKA WA LI‘IBAADIK, WAJ‘ALNAA MIN ‘IBAADIKAL MUTTAQIIN.“Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari kesombongan, ujub, dan riya. Anugerahkanlah kepada kami sifat tawaduk kepada-Mu dan kepada hamba-hamba-Mu. Jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang bertakwa.” Referensi: Islamqa no. 9229Dorar.net —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 11 Muharram 1448 H, 26 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak Iblis bahaya sombong menolak kebenaran merendahkan orang lain nasihat islam penyakit hati rendah hati sombong takwa tawadhu tawaduk
Sombong bukan sekadar merasa diri lebih hebat, tetapi penyakit hati yang pertama kali menyeret Iblis pada pembangkangan. Banyak orang tampak baik secara lahir, tetapi rusak karena menolak kebenaran dan merendahkan manusia. Tulisan ini mengingatkan kita bahwa kesombongan bisa menghalangi surga, mengundang kehinaan, dan hanya bisa diobati dengan tawaduk kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Sombong adalah Akhlak Iblis 2. Sombong Menghalangi Seseorang dari Surga 3. Sombong dalam Pakaian dan Penampilan 4. Kesombongan Hanya Layak bagi Allah 5. Orang Sombong akan Direndahkan 6. Obat Kesombongan: Sadar bahwa Takwa yang Menjadi Ukuran 7. Jangan Berjalan dengan Angkuh 8. Ingat Asal dan Akhir Manusia 9. Nasihat Penutup  Sombong adalah sifat tercela. Sifat ini dimiliki oleh Iblis dan bala tentaranya dari kalangan penduduk dunia, yaitu orang-orang yang hatinya telah ditutup oleh Allah Ta’ala. Sombong adalah Akhlak IblisMakhluk pertama yang sombong kepada Allah dan kepada makhluk-Nya adalah Iblis yang terlaknat. Ketika Allah Ta’ala memerintahkannya untuk sujud kepada Adam, ia menolak dan menyombongkan diri. Ia berkata, “Aku lebih baik daripada dia. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan Engkau menciptakannya dari tanah.”Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ لَمْ يَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ ۝ قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ“Sungguh, Kami telah menciptakan kamu, kemudian membentuk (tubuh)-mu. Kemudian Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Bersujudlah kamu kepada Adam.’ Maka mereka pun sujud, kecuali Iblis. Ia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud ketika Aku menyuruhmu?’ Iblis menjawab, ‘Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’” (QS. Al-A’raf: 11–12)Kesombongan adalah salah satu akhlak Iblis. Siapa saja yang ingin bersikap sombong, hendaklah ia sadar bahwa dirinya sedang meniru akhlak setan. Ia tidak sedang meneladani akhlak para malaikat yang mulia, yang taat kepada Rabb mereka lalu segera bersujud. Sombong Menghalangi Seseorang dari SurgaBelum lagi, kesombongan menjadi sebab seseorang terhalang masuk surga. Kesombongan juga membuat dirinya terhalang dari pandangan Rabb Yang Mahaperkasa kepadanya, sebagaimana disebutkan dalam dua hadis berikut.Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ، قَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً، قَالَ: إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ: بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ.“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat zarrah.” Ada seseorang bertanya, “Sesungguhnya seseorang suka jika pakaiannya bagus dan sandalnya bagus.” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu Mahindah dan mencintai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim, no. 91)بَطَرُ الْحَقِّ artinya menolak kebenaran setelah mengetahuinya.غَمْطُ النَّاسِ artinya merendahkan manusia. Sombong dalam Pakaian dan PenampilanDari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرِ اللهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ ثَوْبِي يَسْتَرْخِي إِلَّا أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّكَ لَسْتَ تَصْنَعُ ذَلِكَ خُيَلَاءَ.“Siapa saja yang menyeret pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari Kiamat.” Abu Bakr berkata, “Sesungguhnya salah satu sisi kainku kadang turun, kecuali jika aku terus menjaganya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya engkau tidak melakukan hal itu karena sombong.” (HR. Bukhari, no. 3465) Kesombongan Hanya Layak bagi AllahSombong adalah salah satu sifat yang tidak layak dimiliki kecuali oleh Allah Ta’ala. Siapa saja yang menyaingi Allah dalam sifat ini, Allah akan membinasakannya, mematahkannya, dan menyempitkan hidupnya.Dari Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma, keduanya berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,الْعِزُّ إِزَارُهُ، وَالْكِبْرِيَاءُ رِدَاؤُهُ، فَمَنْ يُنَازِعُنِي عَذَّبْتُهُ.“Kemuliaan adalah kain-Nya, dan kebesaran adalah selendang-Nya. Siapa saja yang menyaingi-Ku dalam hal itu, Aku akan menyiksanya.” (HR. Muslim, no. 2620)Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Demikianlah redaksi hadits ini dalam seluruh naskah. Kata ganti pada kalimat إِزَارُهُ dan رِدَاؤُهُ kembali kepada Allah Ta’ala karena hal itu sudah diketahui. Dalam hadis ini ada bagian yang tidak disebutkan secara tersurat. Perkiraannya adalah, ‘Allah Ta’ala berfirman, “Siapa saja yang menyaingi-Ku dalam hal itu, Aku akan menyiksanya.”’Makna يُنَازِعُنِي adalah seseorang berakhlak dengan sifat tersebut, sehingga ia seakan-akan menjadi pihak yang ikut memiliki sifat itu.Hadis ini berisi ancaman yang sangat keras terhadap kesombongan dan secara tegas menunjukkan haramnya sifat tersebut.” Syarh Muslim (16:173). Orang Sombong akan DirendahkanSiapa saja yang berusaha sombong dan meninggikan diri, Allah Ta’ala akan merendahkannya ke tempat yang paling bawah dan menjadikannya termasuk orang-orang yang paling hina. Sebab, ia telah menyelisihi ketentuan asalnya, maka Allah membalasnya dengan kebalikan dari tujuan yang ia inginkan. Ada ungkapan, “Balasan itu sesuai dengan jenis perbuatan.”Orang yang sombong kepada manusia, pada hari Kiamat akan diinjak-injak di bawah kaki manusia. Allah Ta’ala akan menghinakannya sebagai balasan atas kesombongan yang dahulu ia lakukan.Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُوَرِ الرِّجَالِ، يَغْشَاهُمُ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ، فَيُسَاقُونَ إِلَى سِجْنٍ فِي جَهَنَّمَ يُسَمَّى بُولَسَ، تَعْلُوهُمْ نَارُ الْأَنْيَارِ، يُسْقَوْنَ مِنْ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ طِينَةَ الْخَبَالِ.“Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari Kiamat seperti semut-semut kecil, tetapi dalam bentuk manusia. Kehinaan meliputi mereka dari segala arah. Mereka kemudian digiring menuju sebuah penjara di Jahannam yang bernama Bulas. Api yang sangat panas berada di atas mereka. Mereka diberi minum dari perasan penduduk neraka, yaitu thinah al-khabal.” (HR. Tirmidzi, no. 2492; dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi, no. 2025)“Mereka diberi minum” dalam bentuk kalimat pasif, maksudnya para malaikat penjaga Jahannam memberi mereka minum dengan perintah Rabb mereka, “dari perasan penduduk neraka”, yaitu cairan yang mengalir dari darah, nanah, dan cairan busuk penduduk neraka, serta bau busuk mereka. Perasan ini disebut “thinah al-khabal”, yaitu kerusakan yang membuat tubuh menjadi rusak.Obat Kesombongan: Sadar bahwa Takwa yang Menjadi UkuranDi antara cara mengobati kesombongan adalah hendaklah seseorang memandang dirinya sama seperti manusia yang lain. Mereka sama seperti dirinya; lahir dari ibu dan ayah, sebagaimana ia juga lahir dari ibu dan ayah. Hendaklah ia menyadari bahwa takwa adalah ukuran yang sebenarnya.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)Hendaklah seorang muslim yang sombong menyadari bahwa setinggi apa pun kedudukannya, ia tetap terlalu lemah untuk dapat setinggi gunung atau menembus bumi, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ ۝ وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ ۚ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ“Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia karena sombong dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri. Berlakulah wajar dalam berjalan dan lembutkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Luqman: 18–19) Jangan Berjalan dengan AngkuhImam Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Firman Allah Ta’ala, وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ‘dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh,’ adalah larangan dari sikap congkak dan perintah untuk bersikap tawaduk.Al-marh maknanya adalah sangat gembira. Ada yang mengatakan bahwa maknanya adalah sombong ketika berjalan. Ada pula yang mengatakan bahwa maknanya adalah seseorang melampaui batas kedudukannya.Qatadah berkata, ‘Maknanya adalah congkak ketika berjalan.’Ada pula yang mengatakan bahwa maknanya adalah sombong dan melampaui batas. Ada juga yang mengatakan bahwa maknanya adalah semangat.Semua pendapat ini saling berdekatan, tetapi terbagi menjadi dua bagian:Pertama, makna yang tercela. Kedua, makna yang terpuji.Sombong, melampaui batas, congkak, dan seseorang melampaui batas kedudukannya adalah makna yang tercela.Adapun gembira dan semangat adalah makna yang terpuji.”Tafsir Al-Qurthubi (10:260).Baca juga: Memiliki Sifat Tawadhu’ Ingat Asal dan Akhir ManusiaDi antara obat kesombongan adalah hendaklah seseorang mengetahui bahwa orang yang sombong pada hari Kiamat akan dikumpulkan dalam keadaan kecil seperti semut-semut kecil, lalu diinjak oleh kaki manusia.Orang yang sombong dibenci oleh manusia, sebagaimana ia juga dibenci oleh Allah Ta’ala. Manusia mencintai orang yang tawaduk, mudah bergaul, lembut, dan ringan dalam bermuamalah. Sebaliknya, mereka membenci orang yang kasar dan keras.Di antara obat kesombongan pula adalah hendaklah seseorang mengingat bahwa dirinya dan air seni keluar dari tempat yang sama. Awal penciptaannya hanyalah setetes mani yang hina. Akhir keadaannya adalah bangkai yang busuk. Di antara awal dan akhir itu, ia membawa kotoran dalam perutnya. Lalu, dengan apa ia hendak menyombongkan diri?!Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar melindungi kita dari kesombongan dan menganugerahkan kepada kita sifat tawaduk.Baca juga: Merasa Yang Lain Lebih Mulia Dari Diri Sendiri Nasihat PenutupDi zaman media sosial, kesombongan bisa muncul dalam bentuk merasa paling benar, paling berilmu, paling saleh, paling berhasil, atau paling layak dipuji. Kadang seseorang tidak merasa sedang sombong, padahal ia sulit menerima nasihat dan mudah merendahkan orang lain. Maka, ukuran kemuliaan bukanlah pengikut, jabatan, harta, ilmu, atau penampilan, tetapi takwa kepada Allah. Semoga Allah membersihkan hati kita dari kesombongan dan menjadikan kita hamba yang tawaduk.اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْكِبْرِ وَالْعُجْبِ وَالرِّيَاءِ، وَارْزُقْنَا التَّوَاضُعَ لَكَ وَلِعِبَادِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُتَّقِينَ.ALLAAHUMMA THAHHIR QULUUBANAA MINAL KIBRI WAL ‘UJBI WAR RIYAA’, WARZUQNAT TAWAADHU‘A LAKA WA LI‘IBAADIK, WAJ‘ALNAA MIN ‘IBAADIKAL MUTTAQIIN.“Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari kesombongan, ujub, dan riya. Anugerahkanlah kepada kami sifat tawaduk kepada-Mu dan kepada hamba-hamba-Mu. Jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang bertakwa.” Referensi: Islamqa no. 9229Dorar.net —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 11 Muharram 1448 H, 26 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak Iblis bahaya sombong menolak kebenaran merendahkan orang lain nasihat islam penyakit hati rendah hati sombong takwa tawadhu tawaduk


Sombong bukan sekadar merasa diri lebih hebat, tetapi penyakit hati yang pertama kali menyeret Iblis pada pembangkangan. Banyak orang tampak baik secara lahir, tetapi rusak karena menolak kebenaran dan merendahkan manusia. Tulisan ini mengingatkan kita bahwa kesombongan bisa menghalangi surga, mengundang kehinaan, dan hanya bisa diobati dengan tawaduk kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Sombong adalah Akhlak Iblis 2. Sombong Menghalangi Seseorang dari Surga 3. Sombong dalam Pakaian dan Penampilan 4. Kesombongan Hanya Layak bagi Allah 5. Orang Sombong akan Direndahkan 6. Obat Kesombongan: Sadar bahwa Takwa yang Menjadi Ukuran 7. Jangan Berjalan dengan Angkuh 8. Ingat Asal dan Akhir Manusia 9. Nasihat Penutup  Sombong adalah sifat tercela. Sifat ini dimiliki oleh Iblis dan bala tentaranya dari kalangan penduduk dunia, yaitu orang-orang yang hatinya telah ditutup oleh Allah Ta’ala. Sombong adalah Akhlak IblisMakhluk pertama yang sombong kepada Allah dan kepada makhluk-Nya adalah Iblis yang terlaknat. Ketika Allah Ta’ala memerintahkannya untuk sujud kepada Adam, ia menolak dan menyombongkan diri. Ia berkata, “Aku lebih baik daripada dia. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan Engkau menciptakannya dari tanah.”Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ لَمْ يَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ ۝ قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ“Sungguh, Kami telah menciptakan kamu, kemudian membentuk (tubuh)-mu. Kemudian Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Bersujudlah kamu kepada Adam.’ Maka mereka pun sujud, kecuali Iblis. Ia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud ketika Aku menyuruhmu?’ Iblis menjawab, ‘Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’” (QS. Al-A’raf: 11–12)Kesombongan adalah salah satu akhlak Iblis. Siapa saja yang ingin bersikap sombong, hendaklah ia sadar bahwa dirinya sedang meniru akhlak setan. Ia tidak sedang meneladani akhlak para malaikat yang mulia, yang taat kepada Rabb mereka lalu segera bersujud. Sombong Menghalangi Seseorang dari SurgaBelum lagi, kesombongan menjadi sebab seseorang terhalang masuk surga. Kesombongan juga membuat dirinya terhalang dari pandangan Rabb Yang Mahaperkasa kepadanya, sebagaimana disebutkan dalam dua hadis berikut.Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ، قَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً، قَالَ: إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ: بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ.“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat zarrah.” Ada seseorang bertanya, “Sesungguhnya seseorang suka jika pakaiannya bagus dan sandalnya bagus.” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu Mahindah dan mencintai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim, no. 91)بَطَرُ الْحَقِّ artinya menolak kebenaran setelah mengetahuinya.غَمْطُ النَّاسِ artinya merendahkan manusia. Sombong dalam Pakaian dan PenampilanDari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرِ اللهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ ثَوْبِي يَسْتَرْخِي إِلَّا أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّكَ لَسْتَ تَصْنَعُ ذَلِكَ خُيَلَاءَ.“Siapa saja yang menyeret pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari Kiamat.” Abu Bakr berkata, “Sesungguhnya salah satu sisi kainku kadang turun, kecuali jika aku terus menjaganya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya engkau tidak melakukan hal itu karena sombong.” (HR. Bukhari, no. 3465) Kesombongan Hanya Layak bagi AllahSombong adalah salah satu sifat yang tidak layak dimiliki kecuali oleh Allah Ta’ala. Siapa saja yang menyaingi Allah dalam sifat ini, Allah akan membinasakannya, mematahkannya, dan menyempitkan hidupnya.Dari Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma, keduanya berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,الْعِزُّ إِزَارُهُ، وَالْكِبْرِيَاءُ رِدَاؤُهُ، فَمَنْ يُنَازِعُنِي عَذَّبْتُهُ.“Kemuliaan adalah kain-Nya, dan kebesaran adalah selendang-Nya. Siapa saja yang menyaingi-Ku dalam hal itu, Aku akan menyiksanya.” (HR. Muslim, no. 2620)Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Demikianlah redaksi hadits ini dalam seluruh naskah. Kata ganti pada kalimat إِزَارُهُ dan رِدَاؤُهُ kembali kepada Allah Ta’ala karena hal itu sudah diketahui. Dalam hadis ini ada bagian yang tidak disebutkan secara tersurat. Perkiraannya adalah, ‘Allah Ta’ala berfirman, “Siapa saja yang menyaingi-Ku dalam hal itu, Aku akan menyiksanya.”’Makna يُنَازِعُنِي adalah seseorang berakhlak dengan sifat tersebut, sehingga ia seakan-akan menjadi pihak yang ikut memiliki sifat itu.Hadis ini berisi ancaman yang sangat keras terhadap kesombongan dan secara tegas menunjukkan haramnya sifat tersebut.” Syarh Muslim (16:173). Orang Sombong akan DirendahkanSiapa saja yang berusaha sombong dan meninggikan diri, Allah Ta’ala akan merendahkannya ke tempat yang paling bawah dan menjadikannya termasuk orang-orang yang paling hina. Sebab, ia telah menyelisihi ketentuan asalnya, maka Allah membalasnya dengan kebalikan dari tujuan yang ia inginkan. Ada ungkapan, “Balasan itu sesuai dengan jenis perbuatan.”Orang yang sombong kepada manusia, pada hari Kiamat akan diinjak-injak di bawah kaki manusia. Allah Ta’ala akan menghinakannya sebagai balasan atas kesombongan yang dahulu ia lakukan.Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُوَرِ الرِّجَالِ، يَغْشَاهُمُ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ، فَيُسَاقُونَ إِلَى سِجْنٍ فِي جَهَنَّمَ يُسَمَّى بُولَسَ، تَعْلُوهُمْ نَارُ الْأَنْيَارِ، يُسْقَوْنَ مِنْ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ طِينَةَ الْخَبَالِ.“Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari Kiamat seperti semut-semut kecil, tetapi dalam bentuk manusia. Kehinaan meliputi mereka dari segala arah. Mereka kemudian digiring menuju sebuah penjara di Jahannam yang bernama Bulas. Api yang sangat panas berada di atas mereka. Mereka diberi minum dari perasan penduduk neraka, yaitu thinah al-khabal.” (HR. Tirmidzi, no. 2492; dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi, no. 2025)“Mereka diberi minum” dalam bentuk kalimat pasif, maksudnya para malaikat penjaga Jahannam memberi mereka minum dengan perintah Rabb mereka, “dari perasan penduduk neraka”, yaitu cairan yang mengalir dari darah, nanah, dan cairan busuk penduduk neraka, serta bau busuk mereka. Perasan ini disebut “thinah al-khabal”, yaitu kerusakan yang membuat tubuh menjadi rusak.Obat Kesombongan: Sadar bahwa Takwa yang Menjadi UkuranDi antara cara mengobati kesombongan adalah hendaklah seseorang memandang dirinya sama seperti manusia yang lain. Mereka sama seperti dirinya; lahir dari ibu dan ayah, sebagaimana ia juga lahir dari ibu dan ayah. Hendaklah ia menyadari bahwa takwa adalah ukuran yang sebenarnya.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)Hendaklah seorang muslim yang sombong menyadari bahwa setinggi apa pun kedudukannya, ia tetap terlalu lemah untuk dapat setinggi gunung atau menembus bumi, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ ۝ وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ ۚ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ“Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia karena sombong dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri. Berlakulah wajar dalam berjalan dan lembutkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Luqman: 18–19) Jangan Berjalan dengan AngkuhImam Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Firman Allah Ta’ala, وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ‘dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh,’ adalah larangan dari sikap congkak dan perintah untuk bersikap tawaduk.Al-marh maknanya adalah sangat gembira. Ada yang mengatakan bahwa maknanya adalah sombong ketika berjalan. Ada pula yang mengatakan bahwa maknanya adalah seseorang melampaui batas kedudukannya.Qatadah berkata, ‘Maknanya adalah congkak ketika berjalan.’Ada pula yang mengatakan bahwa maknanya adalah sombong dan melampaui batas. Ada juga yang mengatakan bahwa maknanya adalah semangat.Semua pendapat ini saling berdekatan, tetapi terbagi menjadi dua bagian:Pertama, makna yang tercela. Kedua, makna yang terpuji.Sombong, melampaui batas, congkak, dan seseorang melampaui batas kedudukannya adalah makna yang tercela.Adapun gembira dan semangat adalah makna yang terpuji.”Tafsir Al-Qurthubi (10:260).Baca juga: Memiliki Sifat Tawadhu’ Ingat Asal dan Akhir ManusiaDi antara obat kesombongan adalah hendaklah seseorang mengetahui bahwa orang yang sombong pada hari Kiamat akan dikumpulkan dalam keadaan kecil seperti semut-semut kecil, lalu diinjak oleh kaki manusia.Orang yang sombong dibenci oleh manusia, sebagaimana ia juga dibenci oleh Allah Ta’ala. Manusia mencintai orang yang tawaduk, mudah bergaul, lembut, dan ringan dalam bermuamalah. Sebaliknya, mereka membenci orang yang kasar dan keras.Di antara obat kesombongan pula adalah hendaklah seseorang mengingat bahwa dirinya dan air seni keluar dari tempat yang sama. Awal penciptaannya hanyalah setetes mani yang hina. Akhir keadaannya adalah bangkai yang busuk. Di antara awal dan akhir itu, ia membawa kotoran dalam perutnya. Lalu, dengan apa ia hendak menyombongkan diri?!Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar melindungi kita dari kesombongan dan menganugerahkan kepada kita sifat tawaduk.Baca juga: Merasa Yang Lain Lebih Mulia Dari Diri Sendiri Nasihat PenutupDi zaman media sosial, kesombongan bisa muncul dalam bentuk merasa paling benar, paling berilmu, paling saleh, paling berhasil, atau paling layak dipuji. Kadang seseorang tidak merasa sedang sombong, padahal ia sulit menerima nasihat dan mudah merendahkan orang lain. Maka, ukuran kemuliaan bukanlah pengikut, jabatan, harta, ilmu, atau penampilan, tetapi takwa kepada Allah. Semoga Allah membersihkan hati kita dari kesombongan dan menjadikan kita hamba yang tawaduk.اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْكِبْرِ وَالْعُجْبِ وَالرِّيَاءِ، وَارْزُقْنَا التَّوَاضُعَ لَكَ وَلِعِبَادِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُتَّقِينَ.ALLAAHUMMA THAHHIR QULUUBANAA MINAL KIBRI WAL ‘UJBI WAR RIYAA’, WARZUQNAT TAWAADHU‘A LAKA WA LI‘IBAADIK, WAJ‘ALNAA MIN ‘IBAADIKAL MUTTAQIIN.“Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari kesombongan, ujub, dan riya. Anugerahkanlah kepada kami sifat tawaduk kepada-Mu dan kepada hamba-hamba-Mu. Jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang bertakwa.” Referensi: Islamqa no. 9229Dorar.net —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 11 Muharram 1448 H, 26 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak Iblis bahaya sombong menolak kebenaran merendahkan orang lain nasihat islam penyakit hati rendah hati sombong takwa tawadhu tawaduk

Mengingat Kembali Keutamaan Muharam, Bulan Haram yang Dimuliakan Allah

Daftar Isi ToggleHari ‘Asyura dan peristiwa agung di dalamnyaPuasa ‘Asyura menghapuskan dosa-dosa setahun yang laluAnjuran berpuasa pada tanggal 9 MuharamPenyimpangan pada hari ‘AsyuraPenutupDalam Islam, bulan Muharam memiliki kedudukan yang sangat agung dan istimewa. Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36)Selain itu, bulan ini menjadi salah satu bulan yang paling utama untuk memperbanyak amal saleh, terutama puasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebut bulan Muharam ini dengan ‘syahrullah al-muharram’ atau bulan Allah, yang menunjukkan kemuliaan dan keagungannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,أَفْضَلُ الصِّيَامِ، بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharam.” (HR. Muslim)Hadis ini menunjukkan bahwa tidak ada bulan dalam setahun setelah Ramadan yang lebih utama untuk memperbanyak ibadah puasa daripada bulan Muharam. Oleh karena itu, datangnya bulan Muharam merupakan kesempatan yang sangat berharga bagi setiap muslim untuk lebih meningkatkan ketakwaan, memperbanyak amal kebaikan, dan mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Dengan memahami kemuliaan bulan ini, seorang muslim hendaknya menyambut bulan Muharam dengan semangat beribadah serta memanfaatkan hari-harinya untuk meraih pahala dan keutamaan dari Allah ‘Azza wa Jalla.Berikut ini adalah keutamaan yang lainnya pada bulan Muharam sehingga membuat kita lebih bersemangat dalam beramal saleh:Hari ‘Asyura dan peristiwa agung di dalamnyaDi antara hari yang paling utama pada bulan Muharam adalah hari ‘Asyura, yaitu tanggal 10 Muharam. Hari ini memiliki nilai sejarah yang sangat agung, karena Allah ‘Azza wa Jalla memberikan kemenangan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam dan orang-orang yang beriman dari kezaliman Fir‘aun.Atas perintah Allah ‘Azza wa Jalla, Musa memukulkan tongkatnya ke laut. Laut pun terbelah menjadi jalan-jalan kering. Nabi Musa ‘alaihis salam dan pengikutnya selamat, sedangkan Fir‘aun beserta bala tentaranya ditenggelamkan.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَأَغْرَقْنَاهُمْ أَجْمَعِينَ“Lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya.” (QS. Asy-Syu‘ara: 66)Peristiwa inilah yang terjadi pada tanggal sepuluh Muharam dan menjadi sebab disyariatkannya puasa ‘Asyura.Peristiwa besar ini menunjukkan bahwa pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu bersama orang-orang yang beriman dan bertakwa. Sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla menyelamatkan Nabi Musa ‘alaihis salam dari musuh-musuhnya, demikian pula Allah akan memberikan pertolongan kepada hamba-hamba-Nya yang berpegang teguh kepada kebenaran.Puasa ‘Asyura menghapuskan dosa-dosa setahun yang laluSetelah mengetahui puncak dari keutamaan bulan ini terletak pada hari kesepuluhnya (hari ‘Asyura) dimana terjadi peristiwa besar antara kebenaran melawan kezaliman, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun sangat menganjurkan umatnya untuk berpuasa pada hari itu atau yang dikenal dengan puasa ‘Asyura. Hal ini sebagaimana hadis dari Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu,وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ. قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya tentang keutamaan puasa Arafah. Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya tentang keistimewaan puasa ’Asyura. Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)Menurut An-Nawawi rahimahullah, penghapusan dosa yang dimaksud dalam hadis ini adalah dosa-dosa kecil yang dilakukan selama satu tahun sebelumnya. Adapun dosa-dosa besar, bisa saja diringankan; tetapi jika ingin Allah Ta’ala hapuskan, maka memerlukan tobat yang sungguh-sungguh kepada Allah. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 46)Keutamaan ini menunjukkan betapa luas rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya. Dengan melaksanakan puasa pada hari ‘Asyura (10 Muharam), seorang muslim dapat memperoleh ampunan atas dosa-dosa kecil yang telah lalu. Oleh sebab itu, para ulama sangat menganjurkan kaum muslimin untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang penuh keberkahan ini.Anjuran berpuasa pada tanggal 9 MuharamDi samping keutamaan puasa pada hari ‘Asyura yang sangat luar biasa, ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah berkeinginan berpuasa pada hari kesembilan Muharam atau dikenal dengan puasa Tasu’a. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkeinginan melakukan puasa tersebut karena beliau ingin menyelisihi kebiasaan orang-orang Yahudi yang berpuasa pada hari kesepuluh saja. Hal ini sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya beliau berkata,حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِع.“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa pada hari itu, para sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jika tahun depan tiba, insyaallah, kita akan berpuasa juga pada hari kesembilannya.’”Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ“Namun, belum sempat datang tahun berikutnya hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat.” (HR. Muslim no. 1134)Para ulama sangat menganjurkan kaum muslimin untuk melaksanakan puasa di dua hari tersebut (tanggal 9 dan 10 Muharam) karena melihat begitu gigihnya tekad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ingin menyelisihi orang-orang Yahudi dan Nasrani yang hanya mengagungkan hari ‘Asyura saja.Penyimpangan pada hari ‘AsyuraPara ulama menjelaskan bahwa setelah wafatnya Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma di Karbala, muncul berbagai penyimpangan dalam memperingati hari ‘Asyura. Sebagian kelompok menjadikan hari ‘Asyura sebagai hari ratapan, tangisan, dan hari melukai diri sendiri (secara fisik) sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Syi’ah Rafidhah. Sebagian lainnya menjadikannya sebagai hari pesta dan perayaan. Kedua sikap ini tidak memiliki landasan dalam syariat.Islam melarang meratapi kematian dengan cara-cara jahiliah. Demikian pula tidak ada dalil sahih yang menjadikan hari ‘Asyura sebagai hari raya selain dua hari raya yang telah disyariatkan, yati Idulfitri dan Iduladha. Sikap yang benar adalah mengikuti tuntunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu menghidupkan hari ‘Asyura dengan ibadah puasa sebagai bentuk syukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla.PenutupBulan Muharam adalah salah satu bulan paling mulia dalam Islam dan termasuk bulan haram yang memiliki keutamaan yang sangat besar. Di dalamnya terdapat hari ‘Asyura, hari bersejarah yang menjadi tanda kemenangan Nabi Musa ‘alaihis salam atas kezaliman Fir‘aun, sekaligus hari yang dianjurkan untuk berpuasa karena pahala dan keutamaannya yang agung.Puasa ‘Asyura merupakan sunah yang sangat dianjurkan dan menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil selama setahun yang lalu. Oleh karena itu, kaum muslimin hendaknya menyambut bulan Muharam dengan memperbanyak amal saleh, menjauhi kemaksiatan, dan menghidupkan sunah puasa ‘Asyura.Semoga Allah Subhanahu wa Ta‘ala memberikan taufik kepada kita semua untuk memanfaatkan bulan Muharam dengan sebaik-baiknya dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Wallahu a’lam bisshawab.***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id

Mengingat Kembali Keutamaan Muharam, Bulan Haram yang Dimuliakan Allah

Daftar Isi ToggleHari ‘Asyura dan peristiwa agung di dalamnyaPuasa ‘Asyura menghapuskan dosa-dosa setahun yang laluAnjuran berpuasa pada tanggal 9 MuharamPenyimpangan pada hari ‘AsyuraPenutupDalam Islam, bulan Muharam memiliki kedudukan yang sangat agung dan istimewa. Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36)Selain itu, bulan ini menjadi salah satu bulan yang paling utama untuk memperbanyak amal saleh, terutama puasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebut bulan Muharam ini dengan ‘syahrullah al-muharram’ atau bulan Allah, yang menunjukkan kemuliaan dan keagungannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,أَفْضَلُ الصِّيَامِ، بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharam.” (HR. Muslim)Hadis ini menunjukkan bahwa tidak ada bulan dalam setahun setelah Ramadan yang lebih utama untuk memperbanyak ibadah puasa daripada bulan Muharam. Oleh karena itu, datangnya bulan Muharam merupakan kesempatan yang sangat berharga bagi setiap muslim untuk lebih meningkatkan ketakwaan, memperbanyak amal kebaikan, dan mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Dengan memahami kemuliaan bulan ini, seorang muslim hendaknya menyambut bulan Muharam dengan semangat beribadah serta memanfaatkan hari-harinya untuk meraih pahala dan keutamaan dari Allah ‘Azza wa Jalla.Berikut ini adalah keutamaan yang lainnya pada bulan Muharam sehingga membuat kita lebih bersemangat dalam beramal saleh:Hari ‘Asyura dan peristiwa agung di dalamnyaDi antara hari yang paling utama pada bulan Muharam adalah hari ‘Asyura, yaitu tanggal 10 Muharam. Hari ini memiliki nilai sejarah yang sangat agung, karena Allah ‘Azza wa Jalla memberikan kemenangan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam dan orang-orang yang beriman dari kezaliman Fir‘aun.Atas perintah Allah ‘Azza wa Jalla, Musa memukulkan tongkatnya ke laut. Laut pun terbelah menjadi jalan-jalan kering. Nabi Musa ‘alaihis salam dan pengikutnya selamat, sedangkan Fir‘aun beserta bala tentaranya ditenggelamkan.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَأَغْرَقْنَاهُمْ أَجْمَعِينَ“Lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya.” (QS. Asy-Syu‘ara: 66)Peristiwa inilah yang terjadi pada tanggal sepuluh Muharam dan menjadi sebab disyariatkannya puasa ‘Asyura.Peristiwa besar ini menunjukkan bahwa pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu bersama orang-orang yang beriman dan bertakwa. Sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla menyelamatkan Nabi Musa ‘alaihis salam dari musuh-musuhnya, demikian pula Allah akan memberikan pertolongan kepada hamba-hamba-Nya yang berpegang teguh kepada kebenaran.Puasa ‘Asyura menghapuskan dosa-dosa setahun yang laluSetelah mengetahui puncak dari keutamaan bulan ini terletak pada hari kesepuluhnya (hari ‘Asyura) dimana terjadi peristiwa besar antara kebenaran melawan kezaliman, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun sangat menganjurkan umatnya untuk berpuasa pada hari itu atau yang dikenal dengan puasa ‘Asyura. Hal ini sebagaimana hadis dari Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu,وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ. قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya tentang keutamaan puasa Arafah. Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya tentang keistimewaan puasa ’Asyura. Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)Menurut An-Nawawi rahimahullah, penghapusan dosa yang dimaksud dalam hadis ini adalah dosa-dosa kecil yang dilakukan selama satu tahun sebelumnya. Adapun dosa-dosa besar, bisa saja diringankan; tetapi jika ingin Allah Ta’ala hapuskan, maka memerlukan tobat yang sungguh-sungguh kepada Allah. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 46)Keutamaan ini menunjukkan betapa luas rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya. Dengan melaksanakan puasa pada hari ‘Asyura (10 Muharam), seorang muslim dapat memperoleh ampunan atas dosa-dosa kecil yang telah lalu. Oleh sebab itu, para ulama sangat menganjurkan kaum muslimin untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang penuh keberkahan ini.Anjuran berpuasa pada tanggal 9 MuharamDi samping keutamaan puasa pada hari ‘Asyura yang sangat luar biasa, ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah berkeinginan berpuasa pada hari kesembilan Muharam atau dikenal dengan puasa Tasu’a. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkeinginan melakukan puasa tersebut karena beliau ingin menyelisihi kebiasaan orang-orang Yahudi yang berpuasa pada hari kesepuluh saja. Hal ini sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya beliau berkata,حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِع.“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa pada hari itu, para sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jika tahun depan tiba, insyaallah, kita akan berpuasa juga pada hari kesembilannya.’”Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ“Namun, belum sempat datang tahun berikutnya hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat.” (HR. Muslim no. 1134)Para ulama sangat menganjurkan kaum muslimin untuk melaksanakan puasa di dua hari tersebut (tanggal 9 dan 10 Muharam) karena melihat begitu gigihnya tekad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ingin menyelisihi orang-orang Yahudi dan Nasrani yang hanya mengagungkan hari ‘Asyura saja.Penyimpangan pada hari ‘AsyuraPara ulama menjelaskan bahwa setelah wafatnya Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma di Karbala, muncul berbagai penyimpangan dalam memperingati hari ‘Asyura. Sebagian kelompok menjadikan hari ‘Asyura sebagai hari ratapan, tangisan, dan hari melukai diri sendiri (secara fisik) sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Syi’ah Rafidhah. Sebagian lainnya menjadikannya sebagai hari pesta dan perayaan. Kedua sikap ini tidak memiliki landasan dalam syariat.Islam melarang meratapi kematian dengan cara-cara jahiliah. Demikian pula tidak ada dalil sahih yang menjadikan hari ‘Asyura sebagai hari raya selain dua hari raya yang telah disyariatkan, yati Idulfitri dan Iduladha. Sikap yang benar adalah mengikuti tuntunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu menghidupkan hari ‘Asyura dengan ibadah puasa sebagai bentuk syukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla.PenutupBulan Muharam adalah salah satu bulan paling mulia dalam Islam dan termasuk bulan haram yang memiliki keutamaan yang sangat besar. Di dalamnya terdapat hari ‘Asyura, hari bersejarah yang menjadi tanda kemenangan Nabi Musa ‘alaihis salam atas kezaliman Fir‘aun, sekaligus hari yang dianjurkan untuk berpuasa karena pahala dan keutamaannya yang agung.Puasa ‘Asyura merupakan sunah yang sangat dianjurkan dan menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil selama setahun yang lalu. Oleh karena itu, kaum muslimin hendaknya menyambut bulan Muharam dengan memperbanyak amal saleh, menjauhi kemaksiatan, dan menghidupkan sunah puasa ‘Asyura.Semoga Allah Subhanahu wa Ta‘ala memberikan taufik kepada kita semua untuk memanfaatkan bulan Muharam dengan sebaik-baiknya dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Wallahu a’lam bisshawab.***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleHari ‘Asyura dan peristiwa agung di dalamnyaPuasa ‘Asyura menghapuskan dosa-dosa setahun yang laluAnjuran berpuasa pada tanggal 9 MuharamPenyimpangan pada hari ‘AsyuraPenutupDalam Islam, bulan Muharam memiliki kedudukan yang sangat agung dan istimewa. Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36)Selain itu, bulan ini menjadi salah satu bulan yang paling utama untuk memperbanyak amal saleh, terutama puasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebut bulan Muharam ini dengan ‘syahrullah al-muharram’ atau bulan Allah, yang menunjukkan kemuliaan dan keagungannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,أَفْضَلُ الصِّيَامِ، بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharam.” (HR. Muslim)Hadis ini menunjukkan bahwa tidak ada bulan dalam setahun setelah Ramadan yang lebih utama untuk memperbanyak ibadah puasa daripada bulan Muharam. Oleh karena itu, datangnya bulan Muharam merupakan kesempatan yang sangat berharga bagi setiap muslim untuk lebih meningkatkan ketakwaan, memperbanyak amal kebaikan, dan mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Dengan memahami kemuliaan bulan ini, seorang muslim hendaknya menyambut bulan Muharam dengan semangat beribadah serta memanfaatkan hari-harinya untuk meraih pahala dan keutamaan dari Allah ‘Azza wa Jalla.Berikut ini adalah keutamaan yang lainnya pada bulan Muharam sehingga membuat kita lebih bersemangat dalam beramal saleh:Hari ‘Asyura dan peristiwa agung di dalamnyaDi antara hari yang paling utama pada bulan Muharam adalah hari ‘Asyura, yaitu tanggal 10 Muharam. Hari ini memiliki nilai sejarah yang sangat agung, karena Allah ‘Azza wa Jalla memberikan kemenangan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam dan orang-orang yang beriman dari kezaliman Fir‘aun.Atas perintah Allah ‘Azza wa Jalla, Musa memukulkan tongkatnya ke laut. Laut pun terbelah menjadi jalan-jalan kering. Nabi Musa ‘alaihis salam dan pengikutnya selamat, sedangkan Fir‘aun beserta bala tentaranya ditenggelamkan.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَأَغْرَقْنَاهُمْ أَجْمَعِينَ“Lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya.” (QS. Asy-Syu‘ara: 66)Peristiwa inilah yang terjadi pada tanggal sepuluh Muharam dan menjadi sebab disyariatkannya puasa ‘Asyura.Peristiwa besar ini menunjukkan bahwa pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu bersama orang-orang yang beriman dan bertakwa. Sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla menyelamatkan Nabi Musa ‘alaihis salam dari musuh-musuhnya, demikian pula Allah akan memberikan pertolongan kepada hamba-hamba-Nya yang berpegang teguh kepada kebenaran.Puasa ‘Asyura menghapuskan dosa-dosa setahun yang laluSetelah mengetahui puncak dari keutamaan bulan ini terletak pada hari kesepuluhnya (hari ‘Asyura) dimana terjadi peristiwa besar antara kebenaran melawan kezaliman, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun sangat menganjurkan umatnya untuk berpuasa pada hari itu atau yang dikenal dengan puasa ‘Asyura. Hal ini sebagaimana hadis dari Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu,وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ. قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya tentang keutamaan puasa Arafah. Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya tentang keistimewaan puasa ’Asyura. Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)Menurut An-Nawawi rahimahullah, penghapusan dosa yang dimaksud dalam hadis ini adalah dosa-dosa kecil yang dilakukan selama satu tahun sebelumnya. Adapun dosa-dosa besar, bisa saja diringankan; tetapi jika ingin Allah Ta’ala hapuskan, maka memerlukan tobat yang sungguh-sungguh kepada Allah. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 46)Keutamaan ini menunjukkan betapa luas rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya. Dengan melaksanakan puasa pada hari ‘Asyura (10 Muharam), seorang muslim dapat memperoleh ampunan atas dosa-dosa kecil yang telah lalu. Oleh sebab itu, para ulama sangat menganjurkan kaum muslimin untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang penuh keberkahan ini.Anjuran berpuasa pada tanggal 9 MuharamDi samping keutamaan puasa pada hari ‘Asyura yang sangat luar biasa, ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah berkeinginan berpuasa pada hari kesembilan Muharam atau dikenal dengan puasa Tasu’a. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkeinginan melakukan puasa tersebut karena beliau ingin menyelisihi kebiasaan orang-orang Yahudi yang berpuasa pada hari kesepuluh saja. Hal ini sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya beliau berkata,حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِع.“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa pada hari itu, para sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jika tahun depan tiba, insyaallah, kita akan berpuasa juga pada hari kesembilannya.’”Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ“Namun, belum sempat datang tahun berikutnya hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat.” (HR. Muslim no. 1134)Para ulama sangat menganjurkan kaum muslimin untuk melaksanakan puasa di dua hari tersebut (tanggal 9 dan 10 Muharam) karena melihat begitu gigihnya tekad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ingin menyelisihi orang-orang Yahudi dan Nasrani yang hanya mengagungkan hari ‘Asyura saja.Penyimpangan pada hari ‘AsyuraPara ulama menjelaskan bahwa setelah wafatnya Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma di Karbala, muncul berbagai penyimpangan dalam memperingati hari ‘Asyura. Sebagian kelompok menjadikan hari ‘Asyura sebagai hari ratapan, tangisan, dan hari melukai diri sendiri (secara fisik) sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Syi’ah Rafidhah. Sebagian lainnya menjadikannya sebagai hari pesta dan perayaan. Kedua sikap ini tidak memiliki landasan dalam syariat.Islam melarang meratapi kematian dengan cara-cara jahiliah. Demikian pula tidak ada dalil sahih yang menjadikan hari ‘Asyura sebagai hari raya selain dua hari raya yang telah disyariatkan, yati Idulfitri dan Iduladha. Sikap yang benar adalah mengikuti tuntunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu menghidupkan hari ‘Asyura dengan ibadah puasa sebagai bentuk syukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla.PenutupBulan Muharam adalah salah satu bulan paling mulia dalam Islam dan termasuk bulan haram yang memiliki keutamaan yang sangat besar. Di dalamnya terdapat hari ‘Asyura, hari bersejarah yang menjadi tanda kemenangan Nabi Musa ‘alaihis salam atas kezaliman Fir‘aun, sekaligus hari yang dianjurkan untuk berpuasa karena pahala dan keutamaannya yang agung.Puasa ‘Asyura merupakan sunah yang sangat dianjurkan dan menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil selama setahun yang lalu. Oleh karena itu, kaum muslimin hendaknya menyambut bulan Muharam dengan memperbanyak amal saleh, menjauhi kemaksiatan, dan menghidupkan sunah puasa ‘Asyura.Semoga Allah Subhanahu wa Ta‘ala memberikan taufik kepada kita semua untuk memanfaatkan bulan Muharam dengan sebaik-baiknya dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Wallahu a’lam bisshawab.***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleHari ‘Asyura dan peristiwa agung di dalamnyaPuasa ‘Asyura menghapuskan dosa-dosa setahun yang laluAnjuran berpuasa pada tanggal 9 MuharamPenyimpangan pada hari ‘AsyuraPenutupDalam Islam, bulan Muharam memiliki kedudukan yang sangat agung dan istimewa. Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36)Selain itu, bulan ini menjadi salah satu bulan yang paling utama untuk memperbanyak amal saleh, terutama puasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebut bulan Muharam ini dengan ‘syahrullah al-muharram’ atau bulan Allah, yang menunjukkan kemuliaan dan keagungannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,أَفْضَلُ الصِّيَامِ، بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharam.” (HR. Muslim)Hadis ini menunjukkan bahwa tidak ada bulan dalam setahun setelah Ramadan yang lebih utama untuk memperbanyak ibadah puasa daripada bulan Muharam. Oleh karena itu, datangnya bulan Muharam merupakan kesempatan yang sangat berharga bagi setiap muslim untuk lebih meningkatkan ketakwaan, memperbanyak amal kebaikan, dan mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Dengan memahami kemuliaan bulan ini, seorang muslim hendaknya menyambut bulan Muharam dengan semangat beribadah serta memanfaatkan hari-harinya untuk meraih pahala dan keutamaan dari Allah ‘Azza wa Jalla.Berikut ini adalah keutamaan yang lainnya pada bulan Muharam sehingga membuat kita lebih bersemangat dalam beramal saleh:Hari ‘Asyura dan peristiwa agung di dalamnyaDi antara hari yang paling utama pada bulan Muharam adalah hari ‘Asyura, yaitu tanggal 10 Muharam. Hari ini memiliki nilai sejarah yang sangat agung, karena Allah ‘Azza wa Jalla memberikan kemenangan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam dan orang-orang yang beriman dari kezaliman Fir‘aun.Atas perintah Allah ‘Azza wa Jalla, Musa memukulkan tongkatnya ke laut. Laut pun terbelah menjadi jalan-jalan kering. Nabi Musa ‘alaihis salam dan pengikutnya selamat, sedangkan Fir‘aun beserta bala tentaranya ditenggelamkan.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَأَغْرَقْنَاهُمْ أَجْمَعِينَ“Lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya.” (QS. Asy-Syu‘ara: 66)Peristiwa inilah yang terjadi pada tanggal sepuluh Muharam dan menjadi sebab disyariatkannya puasa ‘Asyura.Peristiwa besar ini menunjukkan bahwa pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu bersama orang-orang yang beriman dan bertakwa. Sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla menyelamatkan Nabi Musa ‘alaihis salam dari musuh-musuhnya, demikian pula Allah akan memberikan pertolongan kepada hamba-hamba-Nya yang berpegang teguh kepada kebenaran.Puasa ‘Asyura menghapuskan dosa-dosa setahun yang laluSetelah mengetahui puncak dari keutamaan bulan ini terletak pada hari kesepuluhnya (hari ‘Asyura) dimana terjadi peristiwa besar antara kebenaran melawan kezaliman, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun sangat menganjurkan umatnya untuk berpuasa pada hari itu atau yang dikenal dengan puasa ‘Asyura. Hal ini sebagaimana hadis dari Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu,وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ. قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya tentang keutamaan puasa Arafah. Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya tentang keistimewaan puasa ’Asyura. Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)Menurut An-Nawawi rahimahullah, penghapusan dosa yang dimaksud dalam hadis ini adalah dosa-dosa kecil yang dilakukan selama satu tahun sebelumnya. Adapun dosa-dosa besar, bisa saja diringankan; tetapi jika ingin Allah Ta’ala hapuskan, maka memerlukan tobat yang sungguh-sungguh kepada Allah. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 46)Keutamaan ini menunjukkan betapa luas rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya. Dengan melaksanakan puasa pada hari ‘Asyura (10 Muharam), seorang muslim dapat memperoleh ampunan atas dosa-dosa kecil yang telah lalu. Oleh sebab itu, para ulama sangat menganjurkan kaum muslimin untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang penuh keberkahan ini.Anjuran berpuasa pada tanggal 9 MuharamDi samping keutamaan puasa pada hari ‘Asyura yang sangat luar biasa, ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah berkeinginan berpuasa pada hari kesembilan Muharam atau dikenal dengan puasa Tasu’a. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkeinginan melakukan puasa tersebut karena beliau ingin menyelisihi kebiasaan orang-orang Yahudi yang berpuasa pada hari kesepuluh saja. Hal ini sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya beliau berkata,حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِع.“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa pada hari itu, para sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jika tahun depan tiba, insyaallah, kita akan berpuasa juga pada hari kesembilannya.’”Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ“Namun, belum sempat datang tahun berikutnya hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat.” (HR. Muslim no. 1134)Para ulama sangat menganjurkan kaum muslimin untuk melaksanakan puasa di dua hari tersebut (tanggal 9 dan 10 Muharam) karena melihat begitu gigihnya tekad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ingin menyelisihi orang-orang Yahudi dan Nasrani yang hanya mengagungkan hari ‘Asyura saja.Penyimpangan pada hari ‘AsyuraPara ulama menjelaskan bahwa setelah wafatnya Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma di Karbala, muncul berbagai penyimpangan dalam memperingati hari ‘Asyura. Sebagian kelompok menjadikan hari ‘Asyura sebagai hari ratapan, tangisan, dan hari melukai diri sendiri (secara fisik) sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Syi’ah Rafidhah. Sebagian lainnya menjadikannya sebagai hari pesta dan perayaan. Kedua sikap ini tidak memiliki landasan dalam syariat.Islam melarang meratapi kematian dengan cara-cara jahiliah. Demikian pula tidak ada dalil sahih yang menjadikan hari ‘Asyura sebagai hari raya selain dua hari raya yang telah disyariatkan, yati Idulfitri dan Iduladha. Sikap yang benar adalah mengikuti tuntunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu menghidupkan hari ‘Asyura dengan ibadah puasa sebagai bentuk syukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla.PenutupBulan Muharam adalah salah satu bulan paling mulia dalam Islam dan termasuk bulan haram yang memiliki keutamaan yang sangat besar. Di dalamnya terdapat hari ‘Asyura, hari bersejarah yang menjadi tanda kemenangan Nabi Musa ‘alaihis salam atas kezaliman Fir‘aun, sekaligus hari yang dianjurkan untuk berpuasa karena pahala dan keutamaannya yang agung.Puasa ‘Asyura merupakan sunah yang sangat dianjurkan dan menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil selama setahun yang lalu. Oleh karena itu, kaum muslimin hendaknya menyambut bulan Muharam dengan memperbanyak amal saleh, menjauhi kemaksiatan, dan menghidupkan sunah puasa ‘Asyura.Semoga Allah Subhanahu wa Ta‘ala memberikan taufik kepada kita semua untuk memanfaatkan bulan Muharam dengan sebaik-baiknya dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Wallahu a’lam bisshawab.***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id

Senjata Mengusir Setan Saat Ibadah – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Pertanyaan. Saudara kita, Muhammad, memiliki sebuah kemusykilan. Apakah amal ketaatan dihadiri malaikat dan juga setan? Maksudnya, apakah setan juga hadir pada sebagian amal ketaatan? Ya, setan bisa saja hadir pada sebagian amal ketaatan. Karena itu, ketika orang yang salat mengucapkan takbiratul ihram dalam salatnya, setan datang untuk membisikkan waswas kepadanya, padahal salat adalah ketaatan. Setan juga bisa hadir pada amal ketaatan lain untuk mengacaukannya. Karena itulah Allah Ta’ala memerintahkan orang yang membaca Al-Qur’an agar berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk (membaca ta’awudz). “Apabila engkau membaca Al-Qur’an, berlindunglah kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98) Dengan demikian, yang dapat mengusir setan adalah berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. “Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 200) Jika godaan setan datang kepada seseorang saat ia sedang berbuat taat, baik dalam salat maupun selainnya, hendaklah ia mengucapkan: A-’UUDZU BILLAAHI MINASY SYAITHOONIR ROJIIMAku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Jika ia mengucapkannya, setan akan lari darinya, dan godaan setan langsung tersingkir darinya. Bahkan, jika ia sedang salat, lalu godaan dan bisikan setan semakin banyak mengganggunya, disyariatkan baginya meludah ringan (ke kiri) sebanyak tiga kali, lalu mengucapkan: A-’UUDZU BILLAAHI MINASY SYAITHOONIR ROJIIM. Sebagaimana tuntunan yang diberikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, setan bisa hadir pada sebagian ibadah untuk merusaknya bagi seorang muslim. Seorang muslim harus waspada dan selalu sadar bahwa setan adalah musuhnya, dan selalu mengintainya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya setan itu musuh bagi kalian, maka jadikanlah ia musuh.” (QS. Fathir: 6) “Jadikanlah ia musuh,” yaitu dengan selalu menyadari bahwa musuh ini terus mengintai kalian. Tidaklah seorang muslim menempuh jalan kebaikan, melainkan setan menghadangnya. Setan berusaha melemahkan semangatnya dari jalan itu. Serta berusaha menghiasi maksiat agar tampak indah baginya. Setan adalah musuh manusia. “Sesungguhnya setan itu musuh bagi kalian, maka jadikanlah ia musuh. Sesungguhnya ia hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6) Di antara rahmat Allah Ta’ala, Allah Ta’ala menjadikan bagi seorang muslim senjata untuk membela dan melindungi dirinya, yaitu zikir-zikir. Di antaranya adalah berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Maka, perkara terbesar yang mengusir setan adalah berlindung kepada Allah. Setiap kali setan datang, ucapkanlah: A-’UUDZU BILLAAHI MINASY SYAITHOONIR ROJIIM.Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. ROBBI A-’UUDZUBIKA MIN HAMAZAATISY SYAYAATHIIN WA A-’UUDZUBIKA ROBBI AY-YAHDHURUUN Ya Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan, dan aku berlindung kepada-Mu, ya Rabbku, dari kedatangan mereka kepadaku. (QS. Al-Mukminun: 97–98) Demikian. ===== الْأَسْئِلَةُ، أَخُونَا مُحَمَّدٌ عِنْدَهُ إِشْكَالِيَّةٌ أَوِ اسْتِشْكَالٌ هَلِ الطَّاعَةُ يَحْضُرُهَا الْمَلَكُ وَالشَّيْطَانُ أَيْضًا؟ يَعْنِي: الشَّيْطَانُ يَحْضُرُ بَعْضَ الطَّاعَاتِ؟ نَعَمْ، الشَّيْطَانُ قَدْ يَحْضُرُ بَعْضَ الطَّاعَاتِ لِذَلِكَ إِذَا كَبَّرَ الْمُصَلِّي فِي صَلَاتِهِ أَتَى يُوَسْوِسُ لِلْمُصَلِّي مَعَ كَوْنِ الصَّلَاةِ طَاعَةً وَقَدْ أَيْضًا يَحْضُرُ طَاعَاتٍ أُخْرَى أَيْضًا لِأَجْلِ التَّشْوِيشِ وَلِهَذَا أَمَرَ اللَّهُ تَعَالَى مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ بِالِاسْتِعَاذَةِ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَعَلَى ذَلِكَ فَالَّذِي يَطْرُدُ الشَّيْطَانَ هُوَ الِاسْتِعَاذَةُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ فَإِذَا أَتَتْ وَسَاوِسُ الشَّيْطَانِ لِلْإِنْسَانِ فِي الطَّاعَةِ، سَوَاءٌ كَانَ فِي الصَّلَاةِ أَوْ فِي غَيْرِهَا، يَقُولُ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ فَإِذَا قَالَ ذَلِكَ سَيَجِدُ أَنَّ الشَّيْطَانَ يَهْرُبُ مِنْهُ وَتَنْقَشِعُ عَنْهُ وَسَاوِسُ الشَّيْطَانِ مُبَاشَرَةً بَلْ إِنَّهُ إِذَا كَانَ فِي صَلَاتِهِ وَكَثُرَتْ عَلَيْهِ الْوَسَاوِسُ وَالْهَوَاجِسُ يُشْرَعُ لَهُ أَنْ يَنْفُثَ ثَلَاثًا وَأَنْ يَقُولَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ كَمَا أَرْشَدَ لِذَلِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَالشَّيْطَانُ قَدْ يَحْضُرُ بَعْضَ الْعِبَادَاتِ لِأَجْلِ إِفْسَادِهَا عَلَى الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَكُونَ حَذِرًا وَأَنْ يَسْتَحْضِرَ أَنَّ هَذَا الشَّيْطَانَ عَدُوٌّ لَهُ وَأَنَّهُ لَهُ بِالْمِرْصَادِ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا، وَذَلِكَ بِاسْتِحْضَارِ أَنَّ هَذَا الْعَدُوَّ أَنَّهُ مُتَرَبِّصٌ بِكُمْ مَا أَنْ يَسْلُكَ الْمُسْلِمُ طَرِيقَ الْخَيْرِ إِلَّا وَيَقِفُ لَهُ بِالْمِرْصَادِ وَيُحَاوِلُ أَنْ يُثَبِّطَهُ عَنْ هَذَا الطَّرِيقِ وَيُحَاوِلُ أَنْ يُزَيِّنَ لَهُ الْمَعْصِيَةَ فَهُوَ عَدُوٌّ لِلْإِنْسَانِ: إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ وَمِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ تَعَالَى أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِ أَسْلِحَةً يَتَسَلَّحُ بِهَا وَيَتَحَصَّنُ بِهَا، وَهِيَ الْأَذْكَارُ وَمِنْ ذَلِكَ الِاسْتِعَاذَةُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ فَأَعْظَمُ مَا يَطْرُدُ الشَّيْطَانَ الِاسْتِعَاذَةُ بِاللَّهِ كُلَّمَا أَتَى الشَّيْطَانُ يَقُولُ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ رَّبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَن يَحْضُرُونِ نَعَمْ

Senjata Mengusir Setan Saat Ibadah – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Pertanyaan. Saudara kita, Muhammad, memiliki sebuah kemusykilan. Apakah amal ketaatan dihadiri malaikat dan juga setan? Maksudnya, apakah setan juga hadir pada sebagian amal ketaatan? Ya, setan bisa saja hadir pada sebagian amal ketaatan. Karena itu, ketika orang yang salat mengucapkan takbiratul ihram dalam salatnya, setan datang untuk membisikkan waswas kepadanya, padahal salat adalah ketaatan. Setan juga bisa hadir pada amal ketaatan lain untuk mengacaukannya. Karena itulah Allah Ta’ala memerintahkan orang yang membaca Al-Qur’an agar berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk (membaca ta’awudz). “Apabila engkau membaca Al-Qur’an, berlindunglah kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98) Dengan demikian, yang dapat mengusir setan adalah berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. “Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 200) Jika godaan setan datang kepada seseorang saat ia sedang berbuat taat, baik dalam salat maupun selainnya, hendaklah ia mengucapkan: A-’UUDZU BILLAAHI MINASY SYAITHOONIR ROJIIMAku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Jika ia mengucapkannya, setan akan lari darinya, dan godaan setan langsung tersingkir darinya. Bahkan, jika ia sedang salat, lalu godaan dan bisikan setan semakin banyak mengganggunya, disyariatkan baginya meludah ringan (ke kiri) sebanyak tiga kali, lalu mengucapkan: A-’UUDZU BILLAAHI MINASY SYAITHOONIR ROJIIM. Sebagaimana tuntunan yang diberikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, setan bisa hadir pada sebagian ibadah untuk merusaknya bagi seorang muslim. Seorang muslim harus waspada dan selalu sadar bahwa setan adalah musuhnya, dan selalu mengintainya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya setan itu musuh bagi kalian, maka jadikanlah ia musuh.” (QS. Fathir: 6) “Jadikanlah ia musuh,” yaitu dengan selalu menyadari bahwa musuh ini terus mengintai kalian. Tidaklah seorang muslim menempuh jalan kebaikan, melainkan setan menghadangnya. Setan berusaha melemahkan semangatnya dari jalan itu. Serta berusaha menghiasi maksiat agar tampak indah baginya. Setan adalah musuh manusia. “Sesungguhnya setan itu musuh bagi kalian, maka jadikanlah ia musuh. Sesungguhnya ia hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6) Di antara rahmat Allah Ta’ala, Allah Ta’ala menjadikan bagi seorang muslim senjata untuk membela dan melindungi dirinya, yaitu zikir-zikir. Di antaranya adalah berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Maka, perkara terbesar yang mengusir setan adalah berlindung kepada Allah. Setiap kali setan datang, ucapkanlah: A-’UUDZU BILLAAHI MINASY SYAITHOONIR ROJIIM.Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. ROBBI A-’UUDZUBIKA MIN HAMAZAATISY SYAYAATHIIN WA A-’UUDZUBIKA ROBBI AY-YAHDHURUUN Ya Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan, dan aku berlindung kepada-Mu, ya Rabbku, dari kedatangan mereka kepadaku. (QS. Al-Mukminun: 97–98) Demikian. ===== الْأَسْئِلَةُ، أَخُونَا مُحَمَّدٌ عِنْدَهُ إِشْكَالِيَّةٌ أَوِ اسْتِشْكَالٌ هَلِ الطَّاعَةُ يَحْضُرُهَا الْمَلَكُ وَالشَّيْطَانُ أَيْضًا؟ يَعْنِي: الشَّيْطَانُ يَحْضُرُ بَعْضَ الطَّاعَاتِ؟ نَعَمْ، الشَّيْطَانُ قَدْ يَحْضُرُ بَعْضَ الطَّاعَاتِ لِذَلِكَ إِذَا كَبَّرَ الْمُصَلِّي فِي صَلَاتِهِ أَتَى يُوَسْوِسُ لِلْمُصَلِّي مَعَ كَوْنِ الصَّلَاةِ طَاعَةً وَقَدْ أَيْضًا يَحْضُرُ طَاعَاتٍ أُخْرَى أَيْضًا لِأَجْلِ التَّشْوِيشِ وَلِهَذَا أَمَرَ اللَّهُ تَعَالَى مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ بِالِاسْتِعَاذَةِ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَعَلَى ذَلِكَ فَالَّذِي يَطْرُدُ الشَّيْطَانَ هُوَ الِاسْتِعَاذَةُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ فَإِذَا أَتَتْ وَسَاوِسُ الشَّيْطَانِ لِلْإِنْسَانِ فِي الطَّاعَةِ، سَوَاءٌ كَانَ فِي الصَّلَاةِ أَوْ فِي غَيْرِهَا، يَقُولُ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ فَإِذَا قَالَ ذَلِكَ سَيَجِدُ أَنَّ الشَّيْطَانَ يَهْرُبُ مِنْهُ وَتَنْقَشِعُ عَنْهُ وَسَاوِسُ الشَّيْطَانِ مُبَاشَرَةً بَلْ إِنَّهُ إِذَا كَانَ فِي صَلَاتِهِ وَكَثُرَتْ عَلَيْهِ الْوَسَاوِسُ وَالْهَوَاجِسُ يُشْرَعُ لَهُ أَنْ يَنْفُثَ ثَلَاثًا وَأَنْ يَقُولَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ كَمَا أَرْشَدَ لِذَلِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَالشَّيْطَانُ قَدْ يَحْضُرُ بَعْضَ الْعِبَادَاتِ لِأَجْلِ إِفْسَادِهَا عَلَى الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَكُونَ حَذِرًا وَأَنْ يَسْتَحْضِرَ أَنَّ هَذَا الشَّيْطَانَ عَدُوٌّ لَهُ وَأَنَّهُ لَهُ بِالْمِرْصَادِ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا، وَذَلِكَ بِاسْتِحْضَارِ أَنَّ هَذَا الْعَدُوَّ أَنَّهُ مُتَرَبِّصٌ بِكُمْ مَا أَنْ يَسْلُكَ الْمُسْلِمُ طَرِيقَ الْخَيْرِ إِلَّا وَيَقِفُ لَهُ بِالْمِرْصَادِ وَيُحَاوِلُ أَنْ يُثَبِّطَهُ عَنْ هَذَا الطَّرِيقِ وَيُحَاوِلُ أَنْ يُزَيِّنَ لَهُ الْمَعْصِيَةَ فَهُوَ عَدُوٌّ لِلْإِنْسَانِ: إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ وَمِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ تَعَالَى أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِ أَسْلِحَةً يَتَسَلَّحُ بِهَا وَيَتَحَصَّنُ بِهَا، وَهِيَ الْأَذْكَارُ وَمِنْ ذَلِكَ الِاسْتِعَاذَةُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ فَأَعْظَمُ مَا يَطْرُدُ الشَّيْطَانَ الِاسْتِعَاذَةُ بِاللَّهِ كُلَّمَا أَتَى الشَّيْطَانُ يَقُولُ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ رَّبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَن يَحْضُرُونِ نَعَمْ
Pertanyaan. Saudara kita, Muhammad, memiliki sebuah kemusykilan. Apakah amal ketaatan dihadiri malaikat dan juga setan? Maksudnya, apakah setan juga hadir pada sebagian amal ketaatan? Ya, setan bisa saja hadir pada sebagian amal ketaatan. Karena itu, ketika orang yang salat mengucapkan takbiratul ihram dalam salatnya, setan datang untuk membisikkan waswas kepadanya, padahal salat adalah ketaatan. Setan juga bisa hadir pada amal ketaatan lain untuk mengacaukannya. Karena itulah Allah Ta’ala memerintahkan orang yang membaca Al-Qur’an agar berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk (membaca ta’awudz). “Apabila engkau membaca Al-Qur’an, berlindunglah kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98) Dengan demikian, yang dapat mengusir setan adalah berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. “Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 200) Jika godaan setan datang kepada seseorang saat ia sedang berbuat taat, baik dalam salat maupun selainnya, hendaklah ia mengucapkan: A-’UUDZU BILLAAHI MINASY SYAITHOONIR ROJIIMAku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Jika ia mengucapkannya, setan akan lari darinya, dan godaan setan langsung tersingkir darinya. Bahkan, jika ia sedang salat, lalu godaan dan bisikan setan semakin banyak mengganggunya, disyariatkan baginya meludah ringan (ke kiri) sebanyak tiga kali, lalu mengucapkan: A-’UUDZU BILLAAHI MINASY SYAITHOONIR ROJIIM. Sebagaimana tuntunan yang diberikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, setan bisa hadir pada sebagian ibadah untuk merusaknya bagi seorang muslim. Seorang muslim harus waspada dan selalu sadar bahwa setan adalah musuhnya, dan selalu mengintainya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya setan itu musuh bagi kalian, maka jadikanlah ia musuh.” (QS. Fathir: 6) “Jadikanlah ia musuh,” yaitu dengan selalu menyadari bahwa musuh ini terus mengintai kalian. Tidaklah seorang muslim menempuh jalan kebaikan, melainkan setan menghadangnya. Setan berusaha melemahkan semangatnya dari jalan itu. Serta berusaha menghiasi maksiat agar tampak indah baginya. Setan adalah musuh manusia. “Sesungguhnya setan itu musuh bagi kalian, maka jadikanlah ia musuh. Sesungguhnya ia hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6) Di antara rahmat Allah Ta’ala, Allah Ta’ala menjadikan bagi seorang muslim senjata untuk membela dan melindungi dirinya, yaitu zikir-zikir. Di antaranya adalah berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Maka, perkara terbesar yang mengusir setan adalah berlindung kepada Allah. Setiap kali setan datang, ucapkanlah: A-’UUDZU BILLAAHI MINASY SYAITHOONIR ROJIIM.Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. ROBBI A-’UUDZUBIKA MIN HAMAZAATISY SYAYAATHIIN WA A-’UUDZUBIKA ROBBI AY-YAHDHURUUN Ya Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan, dan aku berlindung kepada-Mu, ya Rabbku, dari kedatangan mereka kepadaku. (QS. Al-Mukminun: 97–98) Demikian. ===== الْأَسْئِلَةُ، أَخُونَا مُحَمَّدٌ عِنْدَهُ إِشْكَالِيَّةٌ أَوِ اسْتِشْكَالٌ هَلِ الطَّاعَةُ يَحْضُرُهَا الْمَلَكُ وَالشَّيْطَانُ أَيْضًا؟ يَعْنِي: الشَّيْطَانُ يَحْضُرُ بَعْضَ الطَّاعَاتِ؟ نَعَمْ، الشَّيْطَانُ قَدْ يَحْضُرُ بَعْضَ الطَّاعَاتِ لِذَلِكَ إِذَا كَبَّرَ الْمُصَلِّي فِي صَلَاتِهِ أَتَى يُوَسْوِسُ لِلْمُصَلِّي مَعَ كَوْنِ الصَّلَاةِ طَاعَةً وَقَدْ أَيْضًا يَحْضُرُ طَاعَاتٍ أُخْرَى أَيْضًا لِأَجْلِ التَّشْوِيشِ وَلِهَذَا أَمَرَ اللَّهُ تَعَالَى مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ بِالِاسْتِعَاذَةِ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَعَلَى ذَلِكَ فَالَّذِي يَطْرُدُ الشَّيْطَانَ هُوَ الِاسْتِعَاذَةُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ فَإِذَا أَتَتْ وَسَاوِسُ الشَّيْطَانِ لِلْإِنْسَانِ فِي الطَّاعَةِ، سَوَاءٌ كَانَ فِي الصَّلَاةِ أَوْ فِي غَيْرِهَا، يَقُولُ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ فَإِذَا قَالَ ذَلِكَ سَيَجِدُ أَنَّ الشَّيْطَانَ يَهْرُبُ مِنْهُ وَتَنْقَشِعُ عَنْهُ وَسَاوِسُ الشَّيْطَانِ مُبَاشَرَةً بَلْ إِنَّهُ إِذَا كَانَ فِي صَلَاتِهِ وَكَثُرَتْ عَلَيْهِ الْوَسَاوِسُ وَالْهَوَاجِسُ يُشْرَعُ لَهُ أَنْ يَنْفُثَ ثَلَاثًا وَأَنْ يَقُولَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ كَمَا أَرْشَدَ لِذَلِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَالشَّيْطَانُ قَدْ يَحْضُرُ بَعْضَ الْعِبَادَاتِ لِأَجْلِ إِفْسَادِهَا عَلَى الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَكُونَ حَذِرًا وَأَنْ يَسْتَحْضِرَ أَنَّ هَذَا الشَّيْطَانَ عَدُوٌّ لَهُ وَأَنَّهُ لَهُ بِالْمِرْصَادِ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا، وَذَلِكَ بِاسْتِحْضَارِ أَنَّ هَذَا الْعَدُوَّ أَنَّهُ مُتَرَبِّصٌ بِكُمْ مَا أَنْ يَسْلُكَ الْمُسْلِمُ طَرِيقَ الْخَيْرِ إِلَّا وَيَقِفُ لَهُ بِالْمِرْصَادِ وَيُحَاوِلُ أَنْ يُثَبِّطَهُ عَنْ هَذَا الطَّرِيقِ وَيُحَاوِلُ أَنْ يُزَيِّنَ لَهُ الْمَعْصِيَةَ فَهُوَ عَدُوٌّ لِلْإِنْسَانِ: إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ وَمِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ تَعَالَى أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِ أَسْلِحَةً يَتَسَلَّحُ بِهَا وَيَتَحَصَّنُ بِهَا، وَهِيَ الْأَذْكَارُ وَمِنْ ذَلِكَ الِاسْتِعَاذَةُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ فَأَعْظَمُ مَا يَطْرُدُ الشَّيْطَانَ الِاسْتِعَاذَةُ بِاللَّهِ كُلَّمَا أَتَى الشَّيْطَانُ يَقُولُ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ رَّبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَن يَحْضُرُونِ نَعَمْ


Pertanyaan. Saudara kita, Muhammad, memiliki sebuah kemusykilan. Apakah amal ketaatan dihadiri malaikat dan juga setan? Maksudnya, apakah setan juga hadir pada sebagian amal ketaatan? Ya, setan bisa saja hadir pada sebagian amal ketaatan. Karena itu, ketika orang yang salat mengucapkan takbiratul ihram dalam salatnya, setan datang untuk membisikkan waswas kepadanya, padahal salat adalah ketaatan. Setan juga bisa hadir pada amal ketaatan lain untuk mengacaukannya. Karena itulah Allah Ta’ala memerintahkan orang yang membaca Al-Qur’an agar berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk (membaca ta’awudz). “Apabila engkau membaca Al-Qur’an, berlindunglah kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98) Dengan demikian, yang dapat mengusir setan adalah berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. “Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 200) Jika godaan setan datang kepada seseorang saat ia sedang berbuat taat, baik dalam salat maupun selainnya, hendaklah ia mengucapkan: A-’UUDZU BILLAAHI MINASY SYAITHOONIR ROJIIMAku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Jika ia mengucapkannya, setan akan lari darinya, dan godaan setan langsung tersingkir darinya. Bahkan, jika ia sedang salat, lalu godaan dan bisikan setan semakin banyak mengganggunya, disyariatkan baginya meludah ringan (ke kiri) sebanyak tiga kali, lalu mengucapkan: A-’UUDZU BILLAAHI MINASY SYAITHOONIR ROJIIM. Sebagaimana tuntunan yang diberikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, setan bisa hadir pada sebagian ibadah untuk merusaknya bagi seorang muslim. Seorang muslim harus waspada dan selalu sadar bahwa setan adalah musuhnya, dan selalu mengintainya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya setan itu musuh bagi kalian, maka jadikanlah ia musuh.” (QS. Fathir: 6) “Jadikanlah ia musuh,” yaitu dengan selalu menyadari bahwa musuh ini terus mengintai kalian. Tidaklah seorang muslim menempuh jalan kebaikan, melainkan setan menghadangnya. Setan berusaha melemahkan semangatnya dari jalan itu. Serta berusaha menghiasi maksiat agar tampak indah baginya. Setan adalah musuh manusia. “Sesungguhnya setan itu musuh bagi kalian, maka jadikanlah ia musuh. Sesungguhnya ia hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6) Di antara rahmat Allah Ta’ala, Allah Ta’ala menjadikan bagi seorang muslim senjata untuk membela dan melindungi dirinya, yaitu zikir-zikir. Di antaranya adalah berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Maka, perkara terbesar yang mengusir setan adalah berlindung kepada Allah. Setiap kali setan datang, ucapkanlah: A-’UUDZU BILLAAHI MINASY SYAITHOONIR ROJIIM.Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. ROBBI A-’UUDZUBIKA MIN HAMAZAATISY SYAYAATHIIN WA A-’UUDZUBIKA ROBBI AY-YAHDHURUUN Ya Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan, dan aku berlindung kepada-Mu, ya Rabbku, dari kedatangan mereka kepadaku. (QS. Al-Mukminun: 97–98) Demikian. ===== الْأَسْئِلَةُ، أَخُونَا مُحَمَّدٌ عِنْدَهُ إِشْكَالِيَّةٌ أَوِ اسْتِشْكَالٌ هَلِ الطَّاعَةُ يَحْضُرُهَا الْمَلَكُ وَالشَّيْطَانُ أَيْضًا؟ يَعْنِي: الشَّيْطَانُ يَحْضُرُ بَعْضَ الطَّاعَاتِ؟ نَعَمْ، الشَّيْطَانُ قَدْ يَحْضُرُ بَعْضَ الطَّاعَاتِ لِذَلِكَ إِذَا كَبَّرَ الْمُصَلِّي فِي صَلَاتِهِ أَتَى يُوَسْوِسُ لِلْمُصَلِّي مَعَ كَوْنِ الصَّلَاةِ طَاعَةً وَقَدْ أَيْضًا يَحْضُرُ طَاعَاتٍ أُخْرَى أَيْضًا لِأَجْلِ التَّشْوِيشِ وَلِهَذَا أَمَرَ اللَّهُ تَعَالَى مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ بِالِاسْتِعَاذَةِ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَعَلَى ذَلِكَ فَالَّذِي يَطْرُدُ الشَّيْطَانَ هُوَ الِاسْتِعَاذَةُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ فَإِذَا أَتَتْ وَسَاوِسُ الشَّيْطَانِ لِلْإِنْسَانِ فِي الطَّاعَةِ، سَوَاءٌ كَانَ فِي الصَّلَاةِ أَوْ فِي غَيْرِهَا، يَقُولُ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ فَإِذَا قَالَ ذَلِكَ سَيَجِدُ أَنَّ الشَّيْطَانَ يَهْرُبُ مِنْهُ وَتَنْقَشِعُ عَنْهُ وَسَاوِسُ الشَّيْطَانِ مُبَاشَرَةً بَلْ إِنَّهُ إِذَا كَانَ فِي صَلَاتِهِ وَكَثُرَتْ عَلَيْهِ الْوَسَاوِسُ وَالْهَوَاجِسُ يُشْرَعُ لَهُ أَنْ يَنْفُثَ ثَلَاثًا وَأَنْ يَقُولَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ كَمَا أَرْشَدَ لِذَلِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَالشَّيْطَانُ قَدْ يَحْضُرُ بَعْضَ الْعِبَادَاتِ لِأَجْلِ إِفْسَادِهَا عَلَى الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَكُونَ حَذِرًا وَأَنْ يَسْتَحْضِرَ أَنَّ هَذَا الشَّيْطَانَ عَدُوٌّ لَهُ وَأَنَّهُ لَهُ بِالْمِرْصَادِ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا، وَذَلِكَ بِاسْتِحْضَارِ أَنَّ هَذَا الْعَدُوَّ أَنَّهُ مُتَرَبِّصٌ بِكُمْ مَا أَنْ يَسْلُكَ الْمُسْلِمُ طَرِيقَ الْخَيْرِ إِلَّا وَيَقِفُ لَهُ بِالْمِرْصَادِ وَيُحَاوِلُ أَنْ يُثَبِّطَهُ عَنْ هَذَا الطَّرِيقِ وَيُحَاوِلُ أَنْ يُزَيِّنَ لَهُ الْمَعْصِيَةَ فَهُوَ عَدُوٌّ لِلْإِنْسَانِ: إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ وَمِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ تَعَالَى أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِ أَسْلِحَةً يَتَسَلَّحُ بِهَا وَيَتَحَصَّنُ بِهَا، وَهِيَ الْأَذْكَارُ وَمِنْ ذَلِكَ الِاسْتِعَاذَةُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ فَأَعْظَمُ مَا يَطْرُدُ الشَّيْطَانَ الِاسْتِعَاذَةُ بِاللَّهِ كُلَّمَا أَتَى الشَّيْطَانُ يَقُولُ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ رَّبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَن يَحْضُرُونِ نَعَمْ

Surat Rasulullah Kepada Heraklius

Daftar Isi ToggleIsi surat Rasulullah kepada HerakliusJawaban Heraklius terhadap surat RasulullahPertemuan Heraklius dengan Abu SufyanPenutupSalah satu keistimewaan yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam dari Nabi yang lainnya adalah beliau Allah utus untuk seluruh bangsa. Tidak terkhusus bangsa Arab saja, tapi seluruh penduduk bumi merupakan target dakwah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.Oleh karena itu, upaya beliau berdakwah tidak hanya sebatas pada bangsa Arab saja, tapi ke seluruh bangsa. Salah satu upaya awal beliau untuk mendakwahi bangsa-bangsa lain adalah dengan mengirim surat kepada penguasa mereka. Salah satu surat tersebut adalah surat Rasulullah kepada Heraklius, kaisar Romawi (Bizantium).Isi surat Rasulullah kepada HerakliusIsi surat Rasulullah kepada Heraklius sebagaimana yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim adalah sebagai berikut,بسم الله الرحمن الرحيم، من محمد رسول الله إلى هرقل عظيم الروم سلام على من اتبع الهدى أما بعد، فإني أدعوك بدعاية الإسلام أسلم تسلم، وأسلم يؤتك الله أجرك مرتين، وإن توليت فإن عليك إثم الأريسيين، و﴿ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad, utusan Allah, kepada Heraklius, penguasa besar Romawi. Keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk.Amma ba‘du, sesungguhnya aku mengajakmu dengan seruan Islam. Masuk Islamlah, niscaya engkau akan selamat. Masuk Islamlah, niscaya Allah akan memberimu pahala dua kali lipat. Namun jika engkau berpaling, maka engkau akan menanggung dosa rakyatmu (para pengikutmu).‘Wahai Ahli Kitab, marilah kepada satu kalimat yang sama antara kami dan kalian, bahwa kita tidak menyembah selain Allah, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan tidak menjadikan sebagian kita sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah, “Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang muslim (yang berserah diri kepada Allah).”’ (QS. Ali Imran: 64)” (HR. Muslim)Itulah isi surat Rasulullah kepada Heraklius, sebuah surat ringkas dengan isi yang tegas dan jelas, menyerukan dakwah Islam kepada penduduk Romawi.Pada surat ini, Rasulullah dengan jelas menyebut dirinya sebagai utusan Allah (Rasulullah), bukan sebagai Nabi. Mengapa? Hal tersebut agar Heraklius memahami bahwasanya Rasulullah adalah utusan Allah yang diutus untuk seluruh bangsa, bukan seorang Nabi yang hanya ditugaskan berdakwah kepada bangsanya saja.Surat ini juga ditutup dengan sebuah ayat yang agung, yaitu surah Ali-Imran ayat ke-64. Hal tersebut dikarenakan orang Nasrani yang berilmu bisa membedakan mana firman Allah dan mana yang bukan karena wawasan mereka, pengalaman, serta pengetahuan tentang Injil. Hal tersebut sebagaimana yang sebelumnya pernah Rasulullah alami bersama Waraqah bin Naufal.Ayat tersebut juga merupakan sebuah ayat yang menyoroti masalah pada kaum Nasrani. Mereka menjadikan selain Allah sebagai sesembahan, mulai dari menyatakan Nabi Isa adalah anak Allah sekaligus tuhan, Allah adalah satu dari yang tiga, dan lain sebagainya.Baca juga: Lima Rahasia Di Balik Kalender MasehiJawaban Heraklius terhadap surat RasulullahSurat yang ditulis oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai kepada Heraklius. Heraklius pun menjawab surat dari Rasulullah,إلى أحمد رسول الله الذي بشر به عيسى؛ من قيصر ملك الروم، إنه جاءني كتابك مع رسولك، وإني أشهد أنك رسول الله، نجدك عندنا في الإنجيل، بشرنا بك عيسى بن مريم، وإني دعوت الروم إلى أن يؤمنوا بك فأبوا، ولو أطاعوني لكان خيراً لهم، ولوددت أني عندك فأخدمك وأغسل قدميك“Kepada Ahmad, utusan Allah yang telah diberitakan oleh Isa, dari Kaisar, raja Romawi. Sungguh telah sampai kepadaku suratmu melalui utusanmu. Dan aku bersaksi bahwa engkau benar-benar utusan Allah. Kami mendapati sifatmu tertulis di sisi kami dalam Injil. Isa putra Maryam telah memberi kabar gembira tentang kedatanganmu.Sungguh, aku telah mengajak bangsa Romawi agar beriman kepadamu, namun mereka menolak. Seandainya mereka menaatiku, tentu itu lebih baik bagi mereka. Sungguh, aku berharap dapat berada di sisimu, lalu melayanimu dan membasuh kedua kakimu.” (Majmu’ah al-Watsa’iq as-Siyasiyyah lil-‘Ahd an-Nabawi wal-Khilafah ar-Rasyidah)Ternyata, surat Rasulullah kepada Heraklius disambut positif oleh Heraklius dan tidak diabaikan. Padahal, jika kita lihat pada waktu itu, Arab bukanlah suatu daerah yang kekuatannya diperhitungkan dan Romawi ketika itu merupakan salah satu kerajaan adi daya yang besar. Akan tetapi, Heraklius ketika itu mengetahui bahwa Rasulullah merupakan seorang Rasul yang telah dikabarkan oleh Nabi Isa ‘alaihis salam sehingga Heraklius pun menyambut dan menjawab surat dari Rasulullah.Heraklius juga menyebutkan dan mengaku bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Heraklius pun menyebutkan nama Rasulullah terlebih dahulu sebelum namanya sendiri sebagai bentuk penghormatan.Akan tetapi, mengapa Heraklius menyebut nama Rasulullah dengan Ahmad dan bukan Muhammad? Hal tersebut dikarenakan nama Ahmad adalah nama yang dikabarkan oleh Nabi Isa ‘alaihis salam kepada para pengikutnya. Ahmad juga tentunya adalah nama lain dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Akan tetapi, walaupun Heraklius mengetahui bahwa Rasulullah adalah utusan Allah, ia tidak lantas menjadi seorang muslim. Heraklius memilih untuk tetap pada agama Nasrani karena bangsa Romawi tidak mau beriman kepada Rasulullah sehingga ia pun memilih untuk bersama dengan bangsanya.Pertemuan Heraklius dengan Abu SufyanMengapa Heraklius bisa mengetahui bahwa Rasulullah merupakan seorang utusan Allah? Ternyata ketika itu, Allah takdirkan Heraklius bertemu dengan Abu Sufyan yang sedang berdagang. Hal tersebut sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadis,أنَّ هِرَقلَ أرسَلَ إليه في رَكبٍ مِن قُرَيشٍ كانوا تِجارًا بالشَّأمِ، في المُدَّةِ التي مادَّ فيها رَسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم أبا سُفيانَ في كُفَّارِ قُرَيشٍ“Bahwa Heraklius mengutus seseorang kepadanya (Abu Sufyan) yang sedang berada dalam rombongan kaum Quraisy. Mereka sedang berdagang di negeri Syam, pada masa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang mengadakan perjanjian gencatan senjata dengan Abu Sufyan dan orang-orang kafir Quraisy.” (HR. Bukhari)Dari pertemuan dengan Abu Sufyan ini, Heraklius bertanya kepada Abu Sufyan tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Uniknya ketika itu, Abu Sufyan belum masuk Islam dan merupakan sosok yang memusuhi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi beliau tidak serta merta menjelek-jelekkan Rasulullah di hadapan Heraklius. Abu Sufyan pun menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Heraklius secara apa adanya.Persaksian yang diberikan oleh Abu Sufyan tentang Rasulullah inilah yang menjadikan Heraklius mengetahui siapa sebenarnya Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Heraklius pun menyadari bahwa sifat-sifat Rasulullah yang disampaikan oleh Abu Sufyan merupakan sifat kenabian yang telah dikabarkan oleh Nabi Isa ‘alaihis salam.PenutupDari surat Rasulullah kepada Heraklius, kita bisa menyimpulkan bahwa sifat-sifat yang dimiliki oleh Rasulullah benar-benar sifat kenabian. Sehingga kita jangan sampai ragu terhadap Islam kita, karena mereka yang berperang terhadap Rasulullah tidak semuanya dikarenakan tidak tahu, tidak percaya, dan semisalnya. Akan tetapi, ada alasan lain yang menyebabkan mereka menolak dakwah Rasulullah, mulai dari kekuasaan, martabat, dan menjaga tradisi nenek moyang.Baca juga: Pemerintahan dan Kekuasaan sebelum Islam***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Sumber: https://www.alukah.net/spotlight

Surat Rasulullah Kepada Heraklius

Daftar Isi ToggleIsi surat Rasulullah kepada HerakliusJawaban Heraklius terhadap surat RasulullahPertemuan Heraklius dengan Abu SufyanPenutupSalah satu keistimewaan yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam dari Nabi yang lainnya adalah beliau Allah utus untuk seluruh bangsa. Tidak terkhusus bangsa Arab saja, tapi seluruh penduduk bumi merupakan target dakwah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.Oleh karena itu, upaya beliau berdakwah tidak hanya sebatas pada bangsa Arab saja, tapi ke seluruh bangsa. Salah satu upaya awal beliau untuk mendakwahi bangsa-bangsa lain adalah dengan mengirim surat kepada penguasa mereka. Salah satu surat tersebut adalah surat Rasulullah kepada Heraklius, kaisar Romawi (Bizantium).Isi surat Rasulullah kepada HerakliusIsi surat Rasulullah kepada Heraklius sebagaimana yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim adalah sebagai berikut,بسم الله الرحمن الرحيم، من محمد رسول الله إلى هرقل عظيم الروم سلام على من اتبع الهدى أما بعد، فإني أدعوك بدعاية الإسلام أسلم تسلم، وأسلم يؤتك الله أجرك مرتين، وإن توليت فإن عليك إثم الأريسيين، و﴿ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad, utusan Allah, kepada Heraklius, penguasa besar Romawi. Keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk.Amma ba‘du, sesungguhnya aku mengajakmu dengan seruan Islam. Masuk Islamlah, niscaya engkau akan selamat. Masuk Islamlah, niscaya Allah akan memberimu pahala dua kali lipat. Namun jika engkau berpaling, maka engkau akan menanggung dosa rakyatmu (para pengikutmu).‘Wahai Ahli Kitab, marilah kepada satu kalimat yang sama antara kami dan kalian, bahwa kita tidak menyembah selain Allah, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan tidak menjadikan sebagian kita sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah, “Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang muslim (yang berserah diri kepada Allah).”’ (QS. Ali Imran: 64)” (HR. Muslim)Itulah isi surat Rasulullah kepada Heraklius, sebuah surat ringkas dengan isi yang tegas dan jelas, menyerukan dakwah Islam kepada penduduk Romawi.Pada surat ini, Rasulullah dengan jelas menyebut dirinya sebagai utusan Allah (Rasulullah), bukan sebagai Nabi. Mengapa? Hal tersebut agar Heraklius memahami bahwasanya Rasulullah adalah utusan Allah yang diutus untuk seluruh bangsa, bukan seorang Nabi yang hanya ditugaskan berdakwah kepada bangsanya saja.Surat ini juga ditutup dengan sebuah ayat yang agung, yaitu surah Ali-Imran ayat ke-64. Hal tersebut dikarenakan orang Nasrani yang berilmu bisa membedakan mana firman Allah dan mana yang bukan karena wawasan mereka, pengalaman, serta pengetahuan tentang Injil. Hal tersebut sebagaimana yang sebelumnya pernah Rasulullah alami bersama Waraqah bin Naufal.Ayat tersebut juga merupakan sebuah ayat yang menyoroti masalah pada kaum Nasrani. Mereka menjadikan selain Allah sebagai sesembahan, mulai dari menyatakan Nabi Isa adalah anak Allah sekaligus tuhan, Allah adalah satu dari yang tiga, dan lain sebagainya.Baca juga: Lima Rahasia Di Balik Kalender MasehiJawaban Heraklius terhadap surat RasulullahSurat yang ditulis oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai kepada Heraklius. Heraklius pun menjawab surat dari Rasulullah,إلى أحمد رسول الله الذي بشر به عيسى؛ من قيصر ملك الروم، إنه جاءني كتابك مع رسولك، وإني أشهد أنك رسول الله، نجدك عندنا في الإنجيل، بشرنا بك عيسى بن مريم، وإني دعوت الروم إلى أن يؤمنوا بك فأبوا، ولو أطاعوني لكان خيراً لهم، ولوددت أني عندك فأخدمك وأغسل قدميك“Kepada Ahmad, utusan Allah yang telah diberitakan oleh Isa, dari Kaisar, raja Romawi. Sungguh telah sampai kepadaku suratmu melalui utusanmu. Dan aku bersaksi bahwa engkau benar-benar utusan Allah. Kami mendapati sifatmu tertulis di sisi kami dalam Injil. Isa putra Maryam telah memberi kabar gembira tentang kedatanganmu.Sungguh, aku telah mengajak bangsa Romawi agar beriman kepadamu, namun mereka menolak. Seandainya mereka menaatiku, tentu itu lebih baik bagi mereka. Sungguh, aku berharap dapat berada di sisimu, lalu melayanimu dan membasuh kedua kakimu.” (Majmu’ah al-Watsa’iq as-Siyasiyyah lil-‘Ahd an-Nabawi wal-Khilafah ar-Rasyidah)Ternyata, surat Rasulullah kepada Heraklius disambut positif oleh Heraklius dan tidak diabaikan. Padahal, jika kita lihat pada waktu itu, Arab bukanlah suatu daerah yang kekuatannya diperhitungkan dan Romawi ketika itu merupakan salah satu kerajaan adi daya yang besar. Akan tetapi, Heraklius ketika itu mengetahui bahwa Rasulullah merupakan seorang Rasul yang telah dikabarkan oleh Nabi Isa ‘alaihis salam sehingga Heraklius pun menyambut dan menjawab surat dari Rasulullah.Heraklius juga menyebutkan dan mengaku bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Heraklius pun menyebutkan nama Rasulullah terlebih dahulu sebelum namanya sendiri sebagai bentuk penghormatan.Akan tetapi, mengapa Heraklius menyebut nama Rasulullah dengan Ahmad dan bukan Muhammad? Hal tersebut dikarenakan nama Ahmad adalah nama yang dikabarkan oleh Nabi Isa ‘alaihis salam kepada para pengikutnya. Ahmad juga tentunya adalah nama lain dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Akan tetapi, walaupun Heraklius mengetahui bahwa Rasulullah adalah utusan Allah, ia tidak lantas menjadi seorang muslim. Heraklius memilih untuk tetap pada agama Nasrani karena bangsa Romawi tidak mau beriman kepada Rasulullah sehingga ia pun memilih untuk bersama dengan bangsanya.Pertemuan Heraklius dengan Abu SufyanMengapa Heraklius bisa mengetahui bahwa Rasulullah merupakan seorang utusan Allah? Ternyata ketika itu, Allah takdirkan Heraklius bertemu dengan Abu Sufyan yang sedang berdagang. Hal tersebut sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadis,أنَّ هِرَقلَ أرسَلَ إليه في رَكبٍ مِن قُرَيشٍ كانوا تِجارًا بالشَّأمِ، في المُدَّةِ التي مادَّ فيها رَسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم أبا سُفيانَ في كُفَّارِ قُرَيشٍ“Bahwa Heraklius mengutus seseorang kepadanya (Abu Sufyan) yang sedang berada dalam rombongan kaum Quraisy. Mereka sedang berdagang di negeri Syam, pada masa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang mengadakan perjanjian gencatan senjata dengan Abu Sufyan dan orang-orang kafir Quraisy.” (HR. Bukhari)Dari pertemuan dengan Abu Sufyan ini, Heraklius bertanya kepada Abu Sufyan tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Uniknya ketika itu, Abu Sufyan belum masuk Islam dan merupakan sosok yang memusuhi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi beliau tidak serta merta menjelek-jelekkan Rasulullah di hadapan Heraklius. Abu Sufyan pun menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Heraklius secara apa adanya.Persaksian yang diberikan oleh Abu Sufyan tentang Rasulullah inilah yang menjadikan Heraklius mengetahui siapa sebenarnya Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Heraklius pun menyadari bahwa sifat-sifat Rasulullah yang disampaikan oleh Abu Sufyan merupakan sifat kenabian yang telah dikabarkan oleh Nabi Isa ‘alaihis salam.PenutupDari surat Rasulullah kepada Heraklius, kita bisa menyimpulkan bahwa sifat-sifat yang dimiliki oleh Rasulullah benar-benar sifat kenabian. Sehingga kita jangan sampai ragu terhadap Islam kita, karena mereka yang berperang terhadap Rasulullah tidak semuanya dikarenakan tidak tahu, tidak percaya, dan semisalnya. Akan tetapi, ada alasan lain yang menyebabkan mereka menolak dakwah Rasulullah, mulai dari kekuasaan, martabat, dan menjaga tradisi nenek moyang.Baca juga: Pemerintahan dan Kekuasaan sebelum Islam***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Sumber: https://www.alukah.net/spotlight
Daftar Isi ToggleIsi surat Rasulullah kepada HerakliusJawaban Heraklius terhadap surat RasulullahPertemuan Heraklius dengan Abu SufyanPenutupSalah satu keistimewaan yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam dari Nabi yang lainnya adalah beliau Allah utus untuk seluruh bangsa. Tidak terkhusus bangsa Arab saja, tapi seluruh penduduk bumi merupakan target dakwah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.Oleh karena itu, upaya beliau berdakwah tidak hanya sebatas pada bangsa Arab saja, tapi ke seluruh bangsa. Salah satu upaya awal beliau untuk mendakwahi bangsa-bangsa lain adalah dengan mengirim surat kepada penguasa mereka. Salah satu surat tersebut adalah surat Rasulullah kepada Heraklius, kaisar Romawi (Bizantium).Isi surat Rasulullah kepada HerakliusIsi surat Rasulullah kepada Heraklius sebagaimana yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim adalah sebagai berikut,بسم الله الرحمن الرحيم، من محمد رسول الله إلى هرقل عظيم الروم سلام على من اتبع الهدى أما بعد، فإني أدعوك بدعاية الإسلام أسلم تسلم، وأسلم يؤتك الله أجرك مرتين، وإن توليت فإن عليك إثم الأريسيين، و﴿ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad, utusan Allah, kepada Heraklius, penguasa besar Romawi. Keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk.Amma ba‘du, sesungguhnya aku mengajakmu dengan seruan Islam. Masuk Islamlah, niscaya engkau akan selamat. Masuk Islamlah, niscaya Allah akan memberimu pahala dua kali lipat. Namun jika engkau berpaling, maka engkau akan menanggung dosa rakyatmu (para pengikutmu).‘Wahai Ahli Kitab, marilah kepada satu kalimat yang sama antara kami dan kalian, bahwa kita tidak menyembah selain Allah, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan tidak menjadikan sebagian kita sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah, “Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang muslim (yang berserah diri kepada Allah).”’ (QS. Ali Imran: 64)” (HR. Muslim)Itulah isi surat Rasulullah kepada Heraklius, sebuah surat ringkas dengan isi yang tegas dan jelas, menyerukan dakwah Islam kepada penduduk Romawi.Pada surat ini, Rasulullah dengan jelas menyebut dirinya sebagai utusan Allah (Rasulullah), bukan sebagai Nabi. Mengapa? Hal tersebut agar Heraklius memahami bahwasanya Rasulullah adalah utusan Allah yang diutus untuk seluruh bangsa, bukan seorang Nabi yang hanya ditugaskan berdakwah kepada bangsanya saja.Surat ini juga ditutup dengan sebuah ayat yang agung, yaitu surah Ali-Imran ayat ke-64. Hal tersebut dikarenakan orang Nasrani yang berilmu bisa membedakan mana firman Allah dan mana yang bukan karena wawasan mereka, pengalaman, serta pengetahuan tentang Injil. Hal tersebut sebagaimana yang sebelumnya pernah Rasulullah alami bersama Waraqah bin Naufal.Ayat tersebut juga merupakan sebuah ayat yang menyoroti masalah pada kaum Nasrani. Mereka menjadikan selain Allah sebagai sesembahan, mulai dari menyatakan Nabi Isa adalah anak Allah sekaligus tuhan, Allah adalah satu dari yang tiga, dan lain sebagainya.Baca juga: Lima Rahasia Di Balik Kalender MasehiJawaban Heraklius terhadap surat RasulullahSurat yang ditulis oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai kepada Heraklius. Heraklius pun menjawab surat dari Rasulullah,إلى أحمد رسول الله الذي بشر به عيسى؛ من قيصر ملك الروم، إنه جاءني كتابك مع رسولك، وإني أشهد أنك رسول الله، نجدك عندنا في الإنجيل، بشرنا بك عيسى بن مريم، وإني دعوت الروم إلى أن يؤمنوا بك فأبوا، ولو أطاعوني لكان خيراً لهم، ولوددت أني عندك فأخدمك وأغسل قدميك“Kepada Ahmad, utusan Allah yang telah diberitakan oleh Isa, dari Kaisar, raja Romawi. Sungguh telah sampai kepadaku suratmu melalui utusanmu. Dan aku bersaksi bahwa engkau benar-benar utusan Allah. Kami mendapati sifatmu tertulis di sisi kami dalam Injil. Isa putra Maryam telah memberi kabar gembira tentang kedatanganmu.Sungguh, aku telah mengajak bangsa Romawi agar beriman kepadamu, namun mereka menolak. Seandainya mereka menaatiku, tentu itu lebih baik bagi mereka. Sungguh, aku berharap dapat berada di sisimu, lalu melayanimu dan membasuh kedua kakimu.” (Majmu’ah al-Watsa’iq as-Siyasiyyah lil-‘Ahd an-Nabawi wal-Khilafah ar-Rasyidah)Ternyata, surat Rasulullah kepada Heraklius disambut positif oleh Heraklius dan tidak diabaikan. Padahal, jika kita lihat pada waktu itu, Arab bukanlah suatu daerah yang kekuatannya diperhitungkan dan Romawi ketika itu merupakan salah satu kerajaan adi daya yang besar. Akan tetapi, Heraklius ketika itu mengetahui bahwa Rasulullah merupakan seorang Rasul yang telah dikabarkan oleh Nabi Isa ‘alaihis salam sehingga Heraklius pun menyambut dan menjawab surat dari Rasulullah.Heraklius juga menyebutkan dan mengaku bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Heraklius pun menyebutkan nama Rasulullah terlebih dahulu sebelum namanya sendiri sebagai bentuk penghormatan.Akan tetapi, mengapa Heraklius menyebut nama Rasulullah dengan Ahmad dan bukan Muhammad? Hal tersebut dikarenakan nama Ahmad adalah nama yang dikabarkan oleh Nabi Isa ‘alaihis salam kepada para pengikutnya. Ahmad juga tentunya adalah nama lain dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Akan tetapi, walaupun Heraklius mengetahui bahwa Rasulullah adalah utusan Allah, ia tidak lantas menjadi seorang muslim. Heraklius memilih untuk tetap pada agama Nasrani karena bangsa Romawi tidak mau beriman kepada Rasulullah sehingga ia pun memilih untuk bersama dengan bangsanya.Pertemuan Heraklius dengan Abu SufyanMengapa Heraklius bisa mengetahui bahwa Rasulullah merupakan seorang utusan Allah? Ternyata ketika itu, Allah takdirkan Heraklius bertemu dengan Abu Sufyan yang sedang berdagang. Hal tersebut sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadis,أنَّ هِرَقلَ أرسَلَ إليه في رَكبٍ مِن قُرَيشٍ كانوا تِجارًا بالشَّأمِ، في المُدَّةِ التي مادَّ فيها رَسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم أبا سُفيانَ في كُفَّارِ قُرَيشٍ“Bahwa Heraklius mengutus seseorang kepadanya (Abu Sufyan) yang sedang berada dalam rombongan kaum Quraisy. Mereka sedang berdagang di negeri Syam, pada masa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang mengadakan perjanjian gencatan senjata dengan Abu Sufyan dan orang-orang kafir Quraisy.” (HR. Bukhari)Dari pertemuan dengan Abu Sufyan ini, Heraklius bertanya kepada Abu Sufyan tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Uniknya ketika itu, Abu Sufyan belum masuk Islam dan merupakan sosok yang memusuhi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi beliau tidak serta merta menjelek-jelekkan Rasulullah di hadapan Heraklius. Abu Sufyan pun menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Heraklius secara apa adanya.Persaksian yang diberikan oleh Abu Sufyan tentang Rasulullah inilah yang menjadikan Heraklius mengetahui siapa sebenarnya Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Heraklius pun menyadari bahwa sifat-sifat Rasulullah yang disampaikan oleh Abu Sufyan merupakan sifat kenabian yang telah dikabarkan oleh Nabi Isa ‘alaihis salam.PenutupDari surat Rasulullah kepada Heraklius, kita bisa menyimpulkan bahwa sifat-sifat yang dimiliki oleh Rasulullah benar-benar sifat kenabian. Sehingga kita jangan sampai ragu terhadap Islam kita, karena mereka yang berperang terhadap Rasulullah tidak semuanya dikarenakan tidak tahu, tidak percaya, dan semisalnya. Akan tetapi, ada alasan lain yang menyebabkan mereka menolak dakwah Rasulullah, mulai dari kekuasaan, martabat, dan menjaga tradisi nenek moyang.Baca juga: Pemerintahan dan Kekuasaan sebelum Islam***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Sumber: https://www.alukah.net/spotlight


Daftar Isi ToggleIsi surat Rasulullah kepada HerakliusJawaban Heraklius terhadap surat RasulullahPertemuan Heraklius dengan Abu SufyanPenutupSalah satu keistimewaan yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam dari Nabi yang lainnya adalah beliau Allah utus untuk seluruh bangsa. Tidak terkhusus bangsa Arab saja, tapi seluruh penduduk bumi merupakan target dakwah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.Oleh karena itu, upaya beliau berdakwah tidak hanya sebatas pada bangsa Arab saja, tapi ke seluruh bangsa. Salah satu upaya awal beliau untuk mendakwahi bangsa-bangsa lain adalah dengan mengirim surat kepada penguasa mereka. Salah satu surat tersebut adalah surat Rasulullah kepada Heraklius, kaisar Romawi (Bizantium).Isi surat Rasulullah kepada HerakliusIsi surat Rasulullah kepada Heraklius sebagaimana yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim adalah sebagai berikut,بسم الله الرحمن الرحيم، من محمد رسول الله إلى هرقل عظيم الروم سلام على من اتبع الهدى أما بعد، فإني أدعوك بدعاية الإسلام أسلم تسلم، وأسلم يؤتك الله أجرك مرتين، وإن توليت فإن عليك إثم الأريسيين، و﴿ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad, utusan Allah, kepada Heraklius, penguasa besar Romawi. Keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk.Amma ba‘du, sesungguhnya aku mengajakmu dengan seruan Islam. Masuk Islamlah, niscaya engkau akan selamat. Masuk Islamlah, niscaya Allah akan memberimu pahala dua kali lipat. Namun jika engkau berpaling, maka engkau akan menanggung dosa rakyatmu (para pengikutmu).‘Wahai Ahli Kitab, marilah kepada satu kalimat yang sama antara kami dan kalian, bahwa kita tidak menyembah selain Allah, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan tidak menjadikan sebagian kita sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah, “Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang muslim (yang berserah diri kepada Allah).”’ (QS. Ali Imran: 64)” (HR. Muslim)Itulah isi surat Rasulullah kepada Heraklius, sebuah surat ringkas dengan isi yang tegas dan jelas, menyerukan dakwah Islam kepada penduduk Romawi.Pada surat ini, Rasulullah dengan jelas menyebut dirinya sebagai utusan Allah (Rasulullah), bukan sebagai Nabi. Mengapa? Hal tersebut agar Heraklius memahami bahwasanya Rasulullah adalah utusan Allah yang diutus untuk seluruh bangsa, bukan seorang Nabi yang hanya ditugaskan berdakwah kepada bangsanya saja.Surat ini juga ditutup dengan sebuah ayat yang agung, yaitu surah Ali-Imran ayat ke-64. Hal tersebut dikarenakan orang Nasrani yang berilmu bisa membedakan mana firman Allah dan mana yang bukan karena wawasan mereka, pengalaman, serta pengetahuan tentang Injil. Hal tersebut sebagaimana yang sebelumnya pernah Rasulullah alami bersama Waraqah bin Naufal.Ayat tersebut juga merupakan sebuah ayat yang menyoroti masalah pada kaum Nasrani. Mereka menjadikan selain Allah sebagai sesembahan, mulai dari menyatakan Nabi Isa adalah anak Allah sekaligus tuhan, Allah adalah satu dari yang tiga, dan lain sebagainya.Baca juga: Lima Rahasia Di Balik Kalender MasehiJawaban Heraklius terhadap surat RasulullahSurat yang ditulis oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai kepada Heraklius. Heraklius pun menjawab surat dari Rasulullah,إلى أحمد رسول الله الذي بشر به عيسى؛ من قيصر ملك الروم، إنه جاءني كتابك مع رسولك، وإني أشهد أنك رسول الله، نجدك عندنا في الإنجيل، بشرنا بك عيسى بن مريم، وإني دعوت الروم إلى أن يؤمنوا بك فأبوا، ولو أطاعوني لكان خيراً لهم، ولوددت أني عندك فأخدمك وأغسل قدميك“Kepada Ahmad, utusan Allah yang telah diberitakan oleh Isa, dari Kaisar, raja Romawi. Sungguh telah sampai kepadaku suratmu melalui utusanmu. Dan aku bersaksi bahwa engkau benar-benar utusan Allah. Kami mendapati sifatmu tertulis di sisi kami dalam Injil. Isa putra Maryam telah memberi kabar gembira tentang kedatanganmu.Sungguh, aku telah mengajak bangsa Romawi agar beriman kepadamu, namun mereka menolak. Seandainya mereka menaatiku, tentu itu lebih baik bagi mereka. Sungguh, aku berharap dapat berada di sisimu, lalu melayanimu dan membasuh kedua kakimu.” (Majmu’ah al-Watsa’iq as-Siyasiyyah lil-‘Ahd an-Nabawi wal-Khilafah ar-Rasyidah)Ternyata, surat Rasulullah kepada Heraklius disambut positif oleh Heraklius dan tidak diabaikan. Padahal, jika kita lihat pada waktu itu, Arab bukanlah suatu daerah yang kekuatannya diperhitungkan dan Romawi ketika itu merupakan salah satu kerajaan adi daya yang besar. Akan tetapi, Heraklius ketika itu mengetahui bahwa Rasulullah merupakan seorang Rasul yang telah dikabarkan oleh Nabi Isa ‘alaihis salam sehingga Heraklius pun menyambut dan menjawab surat dari Rasulullah.Heraklius juga menyebutkan dan mengaku bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Heraklius pun menyebutkan nama Rasulullah terlebih dahulu sebelum namanya sendiri sebagai bentuk penghormatan.Akan tetapi, mengapa Heraklius menyebut nama Rasulullah dengan Ahmad dan bukan Muhammad? Hal tersebut dikarenakan nama Ahmad adalah nama yang dikabarkan oleh Nabi Isa ‘alaihis salam kepada para pengikutnya. Ahmad juga tentunya adalah nama lain dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Akan tetapi, walaupun Heraklius mengetahui bahwa Rasulullah adalah utusan Allah, ia tidak lantas menjadi seorang muslim. Heraklius memilih untuk tetap pada agama Nasrani karena bangsa Romawi tidak mau beriman kepada Rasulullah sehingga ia pun memilih untuk bersama dengan bangsanya.Pertemuan Heraklius dengan Abu SufyanMengapa Heraklius bisa mengetahui bahwa Rasulullah merupakan seorang utusan Allah? Ternyata ketika itu, Allah takdirkan Heraklius bertemu dengan Abu Sufyan yang sedang berdagang. Hal tersebut sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadis,أنَّ هِرَقلَ أرسَلَ إليه في رَكبٍ مِن قُرَيشٍ كانوا تِجارًا بالشَّأمِ، في المُدَّةِ التي مادَّ فيها رَسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم أبا سُفيانَ في كُفَّارِ قُرَيشٍ“Bahwa Heraklius mengutus seseorang kepadanya (Abu Sufyan) yang sedang berada dalam rombongan kaum Quraisy. Mereka sedang berdagang di negeri Syam, pada masa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang mengadakan perjanjian gencatan senjata dengan Abu Sufyan dan orang-orang kafir Quraisy.” (HR. Bukhari)Dari pertemuan dengan Abu Sufyan ini, Heraklius bertanya kepada Abu Sufyan tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Uniknya ketika itu, Abu Sufyan belum masuk Islam dan merupakan sosok yang memusuhi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi beliau tidak serta merta menjelek-jelekkan Rasulullah di hadapan Heraklius. Abu Sufyan pun menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Heraklius secara apa adanya.Persaksian yang diberikan oleh Abu Sufyan tentang Rasulullah inilah yang menjadikan Heraklius mengetahui siapa sebenarnya Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Heraklius pun menyadari bahwa sifat-sifat Rasulullah yang disampaikan oleh Abu Sufyan merupakan sifat kenabian yang telah dikabarkan oleh Nabi Isa ‘alaihis salam.PenutupDari surat Rasulullah kepada Heraklius, kita bisa menyimpulkan bahwa sifat-sifat yang dimiliki oleh Rasulullah benar-benar sifat kenabian. Sehingga kita jangan sampai ragu terhadap Islam kita, karena mereka yang berperang terhadap Rasulullah tidak semuanya dikarenakan tidak tahu, tidak percaya, dan semisalnya. Akan tetapi, ada alasan lain yang menyebabkan mereka menolak dakwah Rasulullah, mulai dari kekuasaan, martabat, dan menjaga tradisi nenek moyang.Baca juga: Pemerintahan dan Kekuasaan sebelum Islam***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Sumber: https://www.alukah.net/spotlight
Prev     Next