Kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam dalam Surah Yusuf adalah salah satu kisah paling menyentuh tentang ujian kehormatan dan kemenangan iman. Di tengah godaan yang sangat kuat dan ancaman yang nyata, beliau memilih penjara daripada maksiat. Tafsir ayat 22–34 ini mengajarkan tentang ihsan, ketakwaan, dan bagaimana Allah menolong hamba-Nya yang ikhlas. Daftar Isi tutup 1. Balasan Ihsan: Hikmah dan Ilmu untuk Yusuf 2. Ujian Kehormatan: Ketika Yusuf Digoda di Balik Pintu Tertutup 3. Berlomba Menuju Pintu: Tuduhan dan Awal Terbukanya Kebenaran 4. Pembelaan Yusuf dan Tanda Kebenaran dari Allah 5. Robekan di Belakang: Bukti Kejujuran Nabi Yusuf 6. Tipu Daya Terbongkar dan Pengakuan Suami Al-‘Aziz 7. Menutup Aib dan Perintah Taubat 8. Gosip Para Wanita dan Dalamnya Cinta Zulaikha 9. Jamuan dan Ketampanan yang Menggetarkan Hati 10. Ancaman Penjara dan Keteguhan Menjaga Kehormatan 11. Doa Yusuf: Memilih Penjara daripada Maksiat 12. Pertolongan Allah untuk Hamba yang Ikhlas 13. Kiat Agar Selamat dari Zina, Belajar dari Nabi Yusuf 14. Penutup Balasan Ihsan: Hikmah dan Ilmu untuk YusufAllah Ta’ala berfirman,وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آَتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ“Dan tatkala dia cukup dewasa Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 22)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Maksudnya, ketika Yusuf telah mencapai usia dewasa, yaitu kesempurnaan kekuatan lahir dan batinnya, dan telah siap memikul tanggung jawab yang besar seperti kenabian dan risalah, maka Kami memberinya hikmah dan ilmu. Artinya, Kami menjadikannya seorang nabi dan rasul, serta seorang alim rabbani (ulama yang mendalam ilmunya dan dekat dengan Rabbnya). Dan seperti itulah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat ihsan. Yang dimaksud dengan ihsan di sini adalah beribadah kepada Sang Pencipta dengan sungguh-sungguh dan penuh ketulusan, serta berbuat baik kepada hamba-hamba Allah dengan memberikan manfaat dan kebaikan kepada mereka. Sebagai bagian dari balasan atas kebaikan mereka, Kami anugerahkan kepada mereka ilmu yang bermanfaat.Ayat ini menunjukkan bahwa Yusuf benar-benar telah menunaikan kedudukan ihsan dengan sempurna. Karena itu, Allah memberinya kemampuan untuk memutuskan perkara di antara manusia, ilmu yang luas, serta kenabian. Ujian Kehormatan: Ketika Yusuf Digoda di Balik Pintu TertutupAllah Ta’ala berfirman,وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ“Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini.” Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.” (QS. Yusuf: 23)وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (QS. Yusuf: 24)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Ujian besar ini lebih berat bagi Yusuf daripada ujian yang ia alami dari saudara-saudaranya. Kesabarannya dalam menghadapi ujian ini pun lebih besar pahalanya, karena ia bersabar dengan pilihan sendiri, padahal banyak sekali dorongan untuk melakukan perbuatan itu. Namun ia lebih mengutamakan kecintaan kepada Allah.Adapun ujian dari saudara-saudaranya, kesabarannya ketika itu adalah kesabaran karena terpaksa, seperti orang yang tertimpa penyakit atau musibah yang datang tanpa pilihannya. Dalam keadaan seperti itu, seseorang tidak memiliki jalan lain kecuali bersabar, baik dengan rela maupun terpaksa.Yusuf ‘alaihis salam saat itu tinggal dengan penuh kemuliaan di rumah Al-‘Aziz. Ia memiliki ketampanan, kesempurnaan akhlak, dan keelokan rupa yang luar biasa. Karena itu, wanita yang rumahnya ia tinggali menggoda dirinya. Ia adalah budaknya, berada di bawah pengaturannya, tinggal dalam satu rumah, sehingga sangat mudah melakukan perbuatan yang tidak pantas tanpa diketahui siapa pun dan tanpa ada yang merasakan.Bahkan musibah itu semakin berat ketika wanita itu menutup rapat pintu-pintu, sehingga tempat itu menjadi sunyi dan aman dari masuknya orang lain. Ia pun mengajaknya dan berkata, “Marilah kepadaku,” maksudnya lakukanlah perbuatan itu dan mendekatlah kepadaku.Selain itu, Yusuf adalah seorang asing, yang biasanya tidak merasa malu seperti ketika berada di kampung halamannya dan di tengah orang-orang yang dikenalnya. Ia juga seorang tawanan di bawah kekuasaan wanita itu, sementara wanita itu adalah tuannya. Wanita tersebut memiliki kecantikan yang menggoda untuk melakukan perbuatan tersebut. Yusuf saat itu masih muda dan belum menikah. Bahkan wanita itu mengancamnya, jika ia tidak menuruti perintahnya, ia akan dipenjara atau disiksa dengan siksaan yang pedih.Baca juga: 14 Cobaan Berat pada Nabi Yusuf Saat Digoda ZulaikhaNamun Yusuf bersabar dari perbuatan maksiat kepada Allah, meskipun dorongan untuk melakukannya sangat kuat. Ia sempat terlintas keinginan, tetapi ia meninggalkannya karena Allah. Ia lebih mendahulukan kehendak Allah daripada kehendak nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan.Ia melihat bukti dari Tuhannya, yaitu ilmu dan iman yang ada dalam dirinya, yang menuntunnya untuk meninggalkan segala yang diharamkan Allah. Hal itu membuatnya menjauh dan menahan diri dari dosa besar tersebut.Ia berkata, “Ma‘adzallah,” artinya aku berlindung kepada Allah dari melakukan perbuatan yang buruk ini. Sebab perbuatan itu akan mendatangkan murka Allah dan menjauhkan diri dari-Nya. Selain itu, perbuatan itu juga merupakan pengkhianatan terhadap tuannya yang telah memuliakan tempat tinggalnya.Tidak pantas baginya membalas kebaikan tuannya dengan perlakuan paling buruk terhadap keluarganya. Itu termasuk kezaliman yang besar, dan orang yang zalim tidak akan beruntung.Kesimpulannya, yang menghalanginya dari perbuatan itu adalah ketakwaan kepada Allah, menjaga hak tuannya yang telah berbuat baik kepadanya, serta menjaga dirinya dari kezaliman yang tidak akan membawa keberuntungan bagi pelakunya. Di samping itu, Allah telah menganugerahkan kepadanya bukti iman yang kuat di dalam hatinya, yang mendorongnya untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan.Semua itu terangkum dalam satu hal, yaitu bahwa Allah memalingkan darinya keburukan dan perbuatan keji, karena ia termasuk hamba-hamba-Nya yang ikhlas dalam beribadah. Mereka adalah orang-orang yang Allah pilih dan khususkan untuk diri-Nya, yang diberi berbagai kenikmatan dan dijauhkan dari berbagai keburukan, sehingga mereka termasuk makhluk terbaik-Nya. Berlomba Menuju Pintu: Tuduhan dan Awal Terbukanya KebenaranAllah Ta’ala berfirman,وَاسْتَبَقَا الْبَابَ وَقَدَّتْ قَمِيصَهُ مِنْ دُبُرٍ وَأَلْفَيَا سَيِّدَهَا لَدَى الْبَابِ قَالَتْ مَا جَزَاءُ مَنْ أَرَادَ بِأَهْلِكَ سُوءًا إِلَّا أَنْ يُسْجَنَ أَوْ عَذَابٌ أَلِيمٌ“Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. Wanita itu berkata: “Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan isterimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?” (QS. Yusuf: 25)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Ketika Yusuf menolak dengan tegas ajakan wanita itu setelah bujukan yang sangat kuat dan berulang-ulang, ia segera berusaha melarikan diri dan bergegas menuju pintu untuk keluar, agar bisa menyelamatkan diri dan menjauhi fitnah.Wanita itu pun segera mengejarnya, lalu menarik bajunya hingga gamis Yusuf robek dari bagian belakang.Ketika keduanya sampai di pintu dalam keadaan seperti itu, mereka mendapati tuannya, yaitu suami wanita tersebut, berada di depan pintu. Ia melihat suatu keadaan yang membuatnya sangat terkejut dan tersakiti.Wanita itu pun dengan cepat berdusta. Ia menuduh bahwa Yusuflah yang menggoda dirinya. Ia berkata, “Apakah balasan bagi orang yang ingin berbuat buruk terhadap istrimu…”Ia tidak mengatakan, “orang yang telah berbuat buruk terhadap istrimu,” sebagai upaya membersihkan dirinya dan sekaligus membersihkan Yusuf dari tuduhan telah melakukan perbuatan tersebut.Karena yang terjadi sebenarnya hanyalah pada tahap keinginan dan upaya menggoda, belum sampai pada perbuatan itu sendiri.Ia melanjutkan ucapannya, “…selain dipenjara atau mendapat azab yang pedih,” yakni dihukum dengan hukuman yang menyakitkan. Pembelaan Yusuf dan Tanda Kebenaran dari AllahAllah Ta’ala berfirman,قَالَ هِيَ رَاوَدَتْنِي عَنْ نَفْسِي وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ أَهْلِهَا إِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ قُبُلٍ فَصَدَقَتْ وَهُوَ مِنَ الْكَاذِبِينَ“Yusuf berkata: “Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)”, dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: “Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta.” (QS. Yusuf: 26)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Yusuf pun membersihkan dirinya dari tuduhan yang dilontarkan kepadanya. Ia berkata, “Dialah yang menggoda dan merayuku.”Pada saat itu, keadaan masih memungkinkan kedua belah pihak dianggap benar, dan belum jelas siapa yang jujur dan siapa yang berdusta.Namun Allah Ta’ala menjadikan bagi kebenaran dan kejujuran tanda-tanda serta petunjuk yang menunjukkan kepadanya. Tanda-tanda itu terkadang diketahui oleh manusia dan terkadang tidak mereka ketahui.Dalam peristiwa ini, Allah menganugerahkan penyingkapan siapa yang benar di antara keduanya, sebagai bentuk pembelaan terhadap nabi dan hamba pilihan-Nya, Yusuf ‘alaihis salam.Maka bangkitlah seorang saksi dari keluarga wanita itu, yang memberikan kesaksian berdasarkan tanda yang nyata dari keadaan yang mereka dapati. Ia berkata, “Jika baju gamisnya robek di bagian depan, maka perempuan itu benar dan dia termasuk orang-orang yang berdusta.”Sebab jika robekan itu berada di bagian depan, hal itu menunjukkan bahwa Yusuflah yang mendekatinya, menggoda dan berusaha menundukkannya, sedangkan wanita itu berusaha menolak dan membela diri hingga merobek bajunya dari arah tersebut. Robekan di Belakang: Bukti Kejujuran Nabi YusufAllah Ta’ala berfirman,وَإِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ فَكَذَبَتْ وَهُوَ مِنَ الصَّادِقِينَ“Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita itulah yang dusta, dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar.” (QS. Yusuf: 27)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Karena jika robekan itu berada di bagian belakang, hal itu menunjukkan bahwa Yusuf sedang melarikan diri darinya, dan bahwa wanita itulah yang mengejarnya serta menginginkannya. Maka ia menarik bajunya hingga robek dari arah belakang tersebut. Tipu Daya Terbongkar dan Pengakuan Suami Al-‘AzizAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا رَأَى قَمِيصَهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ قَالَ إِنَّهُ مِنْ كَيْدِكُنَّ إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ“Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang berkatalah dia: “Sesungguhnya (kejadian) itu adalah di antara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar.” (QS. Yusuf: 28)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.“Maka ketika dia melihat bahwa baju gamisnya robek di bagian belakang…”Dengan melihat keadaan itu, jelaslah baginya kebenaran Yusuf dan terbukti pula kebersihannya dari tuduhan, serta tampak bahwa wanita itulah yang berdusta.Lalu suaminya berkata kepadanya:“Sesungguhnya ini adalah bagian dari tipu daya kalian. Sungguh, tipu daya kalian itu besar.”Adakah tipu daya yang lebih besar daripada ini? Ia membersihkan dirinya dari perbuatan yang sebenarnya ia kehendaki dan ia lakukan, lalu justru menuduh Nabi Allah, Yusuf ‘alaihis salam, sebagai pelakunya. Menutup Aib dan Perintah TaubatAllah Ta’ala berfirman,يُوسُفُ أَعْرِضْ عَنْ هَذَا وَاسْتَغْفِرِي لِذَنْبِكِ إِنَّكِ كُنْتِ مِنَ الْخَاطِئِينَ“(Hai) Yusuf: “Berpalinglah dari ini, dan (kamu hai isteriku) mohon ampunlah atas dosamu itu, karena kamu sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah.” (QS. Yusuf: 29)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Setelah suaminya memastikan hakikat perkara itu, ia berkata kepada Yusuf, “Wahai Yusuf, berpalinglah dari urusan ini,” maksudnya, tinggalkan pembicaraan tentangnya, lupakanlah, dan jangan engkau ceritakan kepada siapa pun, demi menjaga kehormatan keluarganya.Kemudian ia berkata kepada istrinya, “Mohonlah ampun atas dosamu. Sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang bersalah.”Dengan demikian, Yusuf diperintahkan untuk tidak membicarakan perkara tersebut, sedangkan wanita itu diperintahkan untuk memohon ampun dan bertaubat atas kesalahannya. Gosip Para Wanita dan Dalamnya Cinta ZulaikhaAllah Ta’ala berfirman,وَقَالَ نِسْوَةٌ فِي الْمَدِينَةِ امْرَأَةُ الْعَزِيزِ تُرَاوِدُ فَتَاهَا عَنْ نَفْسِهِ قَدْ شَغَفَهَا حُبًّا إِنَّا لَنَرَاهَا فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ“Dan wanita-wanita di kota berkata: “Isteri Al Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Yusuf: 30)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Maksudnya, berita itu telah tersebar luas dan menjadi perbincangan di kota. Para wanita pun membicarakannya. Mereka mencelanya seraya berkata, “Istri Al-‘Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya. Cintanya kepadanya benar-benar telah mendalam.”Perbuatan itu dipandang sangat tercela. Ia adalah seorang wanita terpandang, dan suaminya pun orang besar kedudukannya. Namun demikian, ia terus-menerus menggoda seorang pemuda yang berada di bawah kekuasaannya dan menjadi pelayannya.Bahkan, rasa cintanya telah mencapai tingkatan yang sangat dalam.قَدْ شَغَفَهَا حُبًّاArtinya, cintanya telah sampai ke syaghaf hatinya, yaitu bagian terdalam dan inti hati. Itulah puncak kecintaan yang paling tinggi.Mereka berkata, “Kami benar-benar memandangnya dalam kesesatan yang nyata,” karena telah muncul darinya keadaan yang tidak pantas, yang merendahkan kedudukannya dan menjatuhkan martabatnya di mata manusia.Namun ucapan mereka itu adalah tipu daya. Tujuan mereka bukan sekadar mencela dan menjatuhkannya, tetapi mereka ingin menjadikan pembicaraan itu sebagai jalan untuk melihat Yusuf, pemuda yang telah membuat istri Al-‘Aziz tergila-gila.Mereka ingin memancing kemarahan istri Al-‘Aziz agar ia memperlihatkan Yusuf kepada mereka, sehingga setelah melihatnya, mereka akan memakluminya.Karena itulah Allah menyebutnya sebagai tipu daya, sebagaimana firman-Nya di ayat berikutnya:فَلَمَّا سَمِعَتْ بِمَكْرِهِنَّ أَرْسَلَتْ إِلَيْهِنَّ“Maka ketika ia mendengar tipu daya mereka, ia pun mengundang mereka.” Jamuan dan Ketampanan yang Menggetarkan HatiAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا سَمِعَتْ بِمَكْرِهِنَّ أَرْسَلَتْ إِلَيْهِنَّ وَأَعْتَدَتْ لَهُنَّ مُتَّكَأً وَآَتَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ سِكِّينًا وَقَالَتِ اخْرُجْ عَلَيْهِنَّ فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ وَقُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا هَذَا بَشَرًا إِنْ هَذَا إِلَّا مَلَكٌ كَرِيمٌ“Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf): “Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka.” Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa) nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: “Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia.” (QS. Yusuf: 31)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Ia mengundang para wanita itu ke rumahnya untuk menjamu mereka.وَأَعْتَدَتْ لَهُنَّ مُتَّكَأً“Dan ia menyediakan untuk mereka tempat duduk yang nyaman.”Artinya, ia menyiapkan tempat yang dihias dengan berbagai hamparan dan bantal, serta berbagai hidangan lezat yang biasa disajikan dalam jamuan.Di antara makanan yang ia hidangkan terdapat makanan yang membutuhkan pisau untuk memotongnya, seperti buah atruj (sejenis jeruk besar) atau yang semisalnya.وَآتَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ سِكِّينًا“Dan ia memberikan kepada masing-masing dari mereka sebuah pisau.”Agar mereka memotong makanan tersebut.Kemudian ia berkata kepada Yusuf:اخْرُجْ عَلَيْهِنَّ“Keluarlah dan tampakkan dirimu kepada mereka.”Yaitu dalam keadaan penuh dengan keindahan dan ketampanannya.فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ“Maka ketika mereka melihatnya, mereka mengagungkannya.”Artinya, mereka memandangnya sangat luar biasa dalam hati mereka. Mereka melihat pemandangan yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya.وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ“Dan mereka melukai tangan mereka.”Karena rasa takjub dan keterkejutan, mereka tanpa sadar mengiris tangan mereka sendiri dengan pisau yang ada di tangan mereka.وَقُلْنَ حَاشَ لِلَّهِDan mereka berkata, “Mahasuci Allah.”Sebagai bentuk penyucian kepada Allah.مَا هَذَا بَشَرًا إِنْ هَذَا إِلَّا مَلَكٌ كَرِيمٌ“Ini bukanlah manusia. Ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia.”Sebab Yusuf dianugerahi ketampanan yang luar biasa, cahaya wajah, dan keelokan rupa yang menjadikannya tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang memandangnya, serta pelajaran bagi orang-orang yang mau merenungkannya. Ancaman Penjara dan Keteguhan Menjaga KehormatanAllah Ta’ala berfirman,قَالَتْ فَذَلِكُنَّ الَّذِي لُمْتُنَّنِي فِيهِ وَلَقَدْ رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ فَاسْتَعْصَمَ وَلَئِنْ لَمْ يَفْعَلْ مَا آَمُرُهُ لَيُسْجَنَنَّ وَلَيَكُونَنْ مِنَ الصَّاغِرِينَ“Wanita itu berkata: “Itulah dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina.” (QS. Yusuf: 32)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Setelah para wanita itu menyaksikan sendiri ketampanan lahiriah Yusuf dan sangat terpesona olehnya, serta mulai memahami alasan istri Al-‘Aziz, ia ingin memperlihatkan kepada mereka pula keindahan batin Yusuf berupa kesucian dan penjagaan dirinya yang sempurna.Maka ia berkata secara terang-terangan, mengakui cintanya yang besar tanpa rasa peduli, karena celaan para wanita itu telah terhenti darinya:“Sungguh, aku telah merayunya, tetapi ia menolak dengan tegas.”Artinya, Yusuf menahan diri dan tetap menjaga kehormatannya, sementara ia terus-menerus merayunya. Bahkan berlalunya waktu tidak menambah apa pun pada dirinya selain kegelisahan, cinta yang semakin mendalam, kerinduan untuk bersatu dengannya, dan hasrat yang terus membara.Karena itu, ia berkata di hadapan mereka semua:“Dan jika ia tidak melakukan apa yang aku perintahkan kepadanya, pasti ia akan dipenjara dan termasuk orang-orang yang hina.”Ia bermaksud menekan Yusuf dengan ancaman tersebut agar keinginannya tercapai.Pada saat itulah Yusuf berlindung kepada Rabbnya dan memohon pertolongan-Nya untuk menghadapi tipu daya mereka. Doa Yusuf: Memilih Penjara daripada MaksiatAllah Ta’ala berfirman,قَالَ رَبِّ ٱلسِّجْنُ أَحَبُّ إِلَىَّ مِمَّا يَدْعُونَنِىٓ إِلَيْهِ ۖ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّى كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُن مِّنَ ٱلْجَٰهِلِينَ“Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh”.” (QS. Yusuf: 33)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Ayat ini menunjukkan bahwa para wanita itu turut mendorong Yusuf agar menuruti keinginan tuannya. Mereka pun ikut menggoda dan menekannya dalam perkara tersebut.Maka Yusuf lebih memilih penjara dan penderitaan di dunia daripada kenikmatan sesaat yang akan berujung pada azab yang berat.Ia berkata, “Dan jika Engkau tidak memalingkan tipu daya mereka dariku, niscaya aku akan condong kepada mereka.”Artinya, aku bisa saja cenderung kepada mereka, karena aku ini lemah dan tidak berdaya jika Engkau tidak melindungiku dari keburukan.“Dan aku akan termasuk orang-orang yang jahil.”Sebab perbuatan itu adalah kebodohan. Ia berarti lebih mengutamakan kenikmatan kecil yang bercampur dengan kepedihan, daripada kenikmatan yang terus-menerus dan berbagai kesenangan di surga kenikmatan.Siapa yang mengutamakan yang sedikit dan fana dibandingkan yang besar dan kekal, maka tidak ada yang lebih bodoh darinya. Karena ilmu dan akal yang sehat mengajak untuk mendahulukan dua maslahat yang lebih besar dan dua kenikmatan yang lebih tinggi, serta memilih apa yang baik akibat dan akhirnya. Pertolongan Allah untuk Hamba yang IkhlasAllah Ta’ala berfirman,فَٱسْتَجَابَ لَهُۥ رَبُّهُۥ فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ“Maka Tuhannya memperkenankan doa Yusuf dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Yusuf: 34)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Maka Rabbnya pun mengabulkan doanya ketika ia berdoa kepada-Nya. Allah memalingkan dari dirinya tipu daya para wanita itu.Wanita tersebut terus-menerus merayunya dan menggunakan berbagai cara yang mampu ia lakukan untuk menundukkannya, hingga akhirnya ia berputus asa. Allah pun melindungi Yusuf dari tipu dayanya.Sesungguhnya Dia Maha Mendengar doa orang yang berdoa, dan Maha Mengetahui niatnya yang baik, serta mengetahui kelemahan dirinya yang menuntut pertolongan dan limpahan bantuan serta kelembutan dari-Nya.Inilah sebab Allah menyelamatkan Yusuf dari fitnah besar dan ujian berat tersebut.Adapun tuannya, ketika berita itu telah tersebar dan menjadi jelas, serta manusia mulai membicarakannya—ada yang membela, ada yang mencela, dan ada pula yang mencibir—maka terjadilah peristiwa selanjutnya. Kiat Agar Selamat dari Zina, Belajar dari Nabi YusufJangan pernah merasa aman dari godaan. Yusuf ‘alaihis salam tetap berdoa agar dijaga dari tipu daya, padahal beliau seorang nabi. Ini menunjukkan bahwa siapa pun bisa tergelincir jika merasa kebal. Rendahkan hati, akui kelemahan diri, dan selalu minta perlindungan Allah.Jauhi situasi yang membuka peluang maksiat. Godaan datang ketika pintu tertutup. Di zaman sekarang, itu bisa berupa chat pribadi yang intens, video call larut malam, atau pertemuan berdua tanpa batas. Jangan uji iman di tempat yang jelas melemahkan.Segera menjauh ketika mulai condong. Yusuf langsung berlari, bukan berlama-lama. Jika sudah mulai baper, terlalu dekat, atau hubungan makin intim, ambil jarak sebelum perasaan makin dalam dan sulit dihentikan.Berani kehilangan demi menjaga kehormatan. Yusuf memilih penjara daripada zina. Hari ini mungkin bentuknya adalah kehilangan pasangan, dijauhi teman, atau dianggap tidak gaul. Namun harga diri dan masa depan jauh lebih berharga daripada kesenangan sesaat.Pikirkan akibat jangka panjang, bukan rasa sesaat. Zina menawarkan sensasi cepat, tetapi meninggalkan luka, rasa bersalah, dan dampak sosial yang panjang, apalagi di era digital. Pilih jalan yang menjaga hati, masa depan, dan keberkahan hidup. Penutupاللَّهُمَّ اغْفِرْ ذُنُوبَنَا، وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا، وَحَصِّنْ فُرُوجَنَا.“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, sucikanlah hati-hati kami, dan jagalah kehormatan kami.”Semoga Allah menjaga kita dari segala sebab yang mengantarkan kepada zina, membersihkan hati kita dari syahwat yang haram, dan menetapkan kita di atas kesucian hingga akhir hayat. Aamiin. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic —– Senin Sore, 13 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsgodaan zulaikha Kisah dalam Al-Qur'an kisah nabi kisah nabi yusuf memilih penjara daripada maksiat nabi yusuf dan zulaikha pelajaran dari nabi yusuf pelajaran ihsan renungan ayat renungan quran tafsir as-sa'di tafsir surah yusuf ujian keimanan
Kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam dalam Surah Yusuf adalah salah satu kisah paling menyentuh tentang ujian kehormatan dan kemenangan iman. Di tengah godaan yang sangat kuat dan ancaman yang nyata, beliau memilih penjara daripada maksiat. Tafsir ayat 22–34 ini mengajarkan tentang ihsan, ketakwaan, dan bagaimana Allah menolong hamba-Nya yang ikhlas. Daftar Isi tutup 1. Balasan Ihsan: Hikmah dan Ilmu untuk Yusuf 2. Ujian Kehormatan: Ketika Yusuf Digoda di Balik Pintu Tertutup 3. Berlomba Menuju Pintu: Tuduhan dan Awal Terbukanya Kebenaran 4. Pembelaan Yusuf dan Tanda Kebenaran dari Allah 5. Robekan di Belakang: Bukti Kejujuran Nabi Yusuf 6. Tipu Daya Terbongkar dan Pengakuan Suami Al-‘Aziz 7. Menutup Aib dan Perintah Taubat 8. Gosip Para Wanita dan Dalamnya Cinta Zulaikha 9. Jamuan dan Ketampanan yang Menggetarkan Hati 10. Ancaman Penjara dan Keteguhan Menjaga Kehormatan 11. Doa Yusuf: Memilih Penjara daripada Maksiat 12. Pertolongan Allah untuk Hamba yang Ikhlas 13. Kiat Agar Selamat dari Zina, Belajar dari Nabi Yusuf 14. Penutup Balasan Ihsan: Hikmah dan Ilmu untuk YusufAllah Ta’ala berfirman,وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آَتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ“Dan tatkala dia cukup dewasa Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 22)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Maksudnya, ketika Yusuf telah mencapai usia dewasa, yaitu kesempurnaan kekuatan lahir dan batinnya, dan telah siap memikul tanggung jawab yang besar seperti kenabian dan risalah, maka Kami memberinya hikmah dan ilmu. Artinya, Kami menjadikannya seorang nabi dan rasul, serta seorang alim rabbani (ulama yang mendalam ilmunya dan dekat dengan Rabbnya). Dan seperti itulah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat ihsan. Yang dimaksud dengan ihsan di sini adalah beribadah kepada Sang Pencipta dengan sungguh-sungguh dan penuh ketulusan, serta berbuat baik kepada hamba-hamba Allah dengan memberikan manfaat dan kebaikan kepada mereka. Sebagai bagian dari balasan atas kebaikan mereka, Kami anugerahkan kepada mereka ilmu yang bermanfaat.Ayat ini menunjukkan bahwa Yusuf benar-benar telah menunaikan kedudukan ihsan dengan sempurna. Karena itu, Allah memberinya kemampuan untuk memutuskan perkara di antara manusia, ilmu yang luas, serta kenabian. Ujian Kehormatan: Ketika Yusuf Digoda di Balik Pintu TertutupAllah Ta’ala berfirman,وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ“Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini.” Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.” (QS. Yusuf: 23)وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (QS. Yusuf: 24)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Ujian besar ini lebih berat bagi Yusuf daripada ujian yang ia alami dari saudara-saudaranya. Kesabarannya dalam menghadapi ujian ini pun lebih besar pahalanya, karena ia bersabar dengan pilihan sendiri, padahal banyak sekali dorongan untuk melakukan perbuatan itu. Namun ia lebih mengutamakan kecintaan kepada Allah.Adapun ujian dari saudara-saudaranya, kesabarannya ketika itu adalah kesabaran karena terpaksa, seperti orang yang tertimpa penyakit atau musibah yang datang tanpa pilihannya. Dalam keadaan seperti itu, seseorang tidak memiliki jalan lain kecuali bersabar, baik dengan rela maupun terpaksa.Yusuf ‘alaihis salam saat itu tinggal dengan penuh kemuliaan di rumah Al-‘Aziz. Ia memiliki ketampanan, kesempurnaan akhlak, dan keelokan rupa yang luar biasa. Karena itu, wanita yang rumahnya ia tinggali menggoda dirinya. Ia adalah budaknya, berada di bawah pengaturannya, tinggal dalam satu rumah, sehingga sangat mudah melakukan perbuatan yang tidak pantas tanpa diketahui siapa pun dan tanpa ada yang merasakan.Bahkan musibah itu semakin berat ketika wanita itu menutup rapat pintu-pintu, sehingga tempat itu menjadi sunyi dan aman dari masuknya orang lain. Ia pun mengajaknya dan berkata, “Marilah kepadaku,” maksudnya lakukanlah perbuatan itu dan mendekatlah kepadaku.Selain itu, Yusuf adalah seorang asing, yang biasanya tidak merasa malu seperti ketika berada di kampung halamannya dan di tengah orang-orang yang dikenalnya. Ia juga seorang tawanan di bawah kekuasaan wanita itu, sementara wanita itu adalah tuannya. Wanita tersebut memiliki kecantikan yang menggoda untuk melakukan perbuatan tersebut. Yusuf saat itu masih muda dan belum menikah. Bahkan wanita itu mengancamnya, jika ia tidak menuruti perintahnya, ia akan dipenjara atau disiksa dengan siksaan yang pedih.Baca juga: 14 Cobaan Berat pada Nabi Yusuf Saat Digoda ZulaikhaNamun Yusuf bersabar dari perbuatan maksiat kepada Allah, meskipun dorongan untuk melakukannya sangat kuat. Ia sempat terlintas keinginan, tetapi ia meninggalkannya karena Allah. Ia lebih mendahulukan kehendak Allah daripada kehendak nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan.Ia melihat bukti dari Tuhannya, yaitu ilmu dan iman yang ada dalam dirinya, yang menuntunnya untuk meninggalkan segala yang diharamkan Allah. Hal itu membuatnya menjauh dan menahan diri dari dosa besar tersebut.Ia berkata, “Ma‘adzallah,” artinya aku berlindung kepada Allah dari melakukan perbuatan yang buruk ini. Sebab perbuatan itu akan mendatangkan murka Allah dan menjauhkan diri dari-Nya. Selain itu, perbuatan itu juga merupakan pengkhianatan terhadap tuannya yang telah memuliakan tempat tinggalnya.Tidak pantas baginya membalas kebaikan tuannya dengan perlakuan paling buruk terhadap keluarganya. Itu termasuk kezaliman yang besar, dan orang yang zalim tidak akan beruntung.Kesimpulannya, yang menghalanginya dari perbuatan itu adalah ketakwaan kepada Allah, menjaga hak tuannya yang telah berbuat baik kepadanya, serta menjaga dirinya dari kezaliman yang tidak akan membawa keberuntungan bagi pelakunya. Di samping itu, Allah telah menganugerahkan kepadanya bukti iman yang kuat di dalam hatinya, yang mendorongnya untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan.Semua itu terangkum dalam satu hal, yaitu bahwa Allah memalingkan darinya keburukan dan perbuatan keji, karena ia termasuk hamba-hamba-Nya yang ikhlas dalam beribadah. Mereka adalah orang-orang yang Allah pilih dan khususkan untuk diri-Nya, yang diberi berbagai kenikmatan dan dijauhkan dari berbagai keburukan, sehingga mereka termasuk makhluk terbaik-Nya. Berlomba Menuju Pintu: Tuduhan dan Awal Terbukanya KebenaranAllah Ta’ala berfirman,وَاسْتَبَقَا الْبَابَ وَقَدَّتْ قَمِيصَهُ مِنْ دُبُرٍ وَأَلْفَيَا سَيِّدَهَا لَدَى الْبَابِ قَالَتْ مَا جَزَاءُ مَنْ أَرَادَ بِأَهْلِكَ سُوءًا إِلَّا أَنْ يُسْجَنَ أَوْ عَذَابٌ أَلِيمٌ“Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. Wanita itu berkata: “Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan isterimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?” (QS. Yusuf: 25)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Ketika Yusuf menolak dengan tegas ajakan wanita itu setelah bujukan yang sangat kuat dan berulang-ulang, ia segera berusaha melarikan diri dan bergegas menuju pintu untuk keluar, agar bisa menyelamatkan diri dan menjauhi fitnah.Wanita itu pun segera mengejarnya, lalu menarik bajunya hingga gamis Yusuf robek dari bagian belakang.Ketika keduanya sampai di pintu dalam keadaan seperti itu, mereka mendapati tuannya, yaitu suami wanita tersebut, berada di depan pintu. Ia melihat suatu keadaan yang membuatnya sangat terkejut dan tersakiti.Wanita itu pun dengan cepat berdusta. Ia menuduh bahwa Yusuflah yang menggoda dirinya. Ia berkata, “Apakah balasan bagi orang yang ingin berbuat buruk terhadap istrimu…”Ia tidak mengatakan, “orang yang telah berbuat buruk terhadap istrimu,” sebagai upaya membersihkan dirinya dan sekaligus membersihkan Yusuf dari tuduhan telah melakukan perbuatan tersebut.Karena yang terjadi sebenarnya hanyalah pada tahap keinginan dan upaya menggoda, belum sampai pada perbuatan itu sendiri.Ia melanjutkan ucapannya, “…selain dipenjara atau mendapat azab yang pedih,” yakni dihukum dengan hukuman yang menyakitkan. Pembelaan Yusuf dan Tanda Kebenaran dari AllahAllah Ta’ala berfirman,قَالَ هِيَ رَاوَدَتْنِي عَنْ نَفْسِي وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ أَهْلِهَا إِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ قُبُلٍ فَصَدَقَتْ وَهُوَ مِنَ الْكَاذِبِينَ“Yusuf berkata: “Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)”, dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: “Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta.” (QS. Yusuf: 26)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Yusuf pun membersihkan dirinya dari tuduhan yang dilontarkan kepadanya. Ia berkata, “Dialah yang menggoda dan merayuku.”Pada saat itu, keadaan masih memungkinkan kedua belah pihak dianggap benar, dan belum jelas siapa yang jujur dan siapa yang berdusta.Namun Allah Ta’ala menjadikan bagi kebenaran dan kejujuran tanda-tanda serta petunjuk yang menunjukkan kepadanya. Tanda-tanda itu terkadang diketahui oleh manusia dan terkadang tidak mereka ketahui.Dalam peristiwa ini, Allah menganugerahkan penyingkapan siapa yang benar di antara keduanya, sebagai bentuk pembelaan terhadap nabi dan hamba pilihan-Nya, Yusuf ‘alaihis salam.Maka bangkitlah seorang saksi dari keluarga wanita itu, yang memberikan kesaksian berdasarkan tanda yang nyata dari keadaan yang mereka dapati. Ia berkata, “Jika baju gamisnya robek di bagian depan, maka perempuan itu benar dan dia termasuk orang-orang yang berdusta.”Sebab jika robekan itu berada di bagian depan, hal itu menunjukkan bahwa Yusuflah yang mendekatinya, menggoda dan berusaha menundukkannya, sedangkan wanita itu berusaha menolak dan membela diri hingga merobek bajunya dari arah tersebut. Robekan di Belakang: Bukti Kejujuran Nabi YusufAllah Ta’ala berfirman,وَإِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ فَكَذَبَتْ وَهُوَ مِنَ الصَّادِقِينَ“Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita itulah yang dusta, dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar.” (QS. Yusuf: 27)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Karena jika robekan itu berada di bagian belakang, hal itu menunjukkan bahwa Yusuf sedang melarikan diri darinya, dan bahwa wanita itulah yang mengejarnya serta menginginkannya. Maka ia menarik bajunya hingga robek dari arah belakang tersebut. Tipu Daya Terbongkar dan Pengakuan Suami Al-‘AzizAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا رَأَى قَمِيصَهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ قَالَ إِنَّهُ مِنْ كَيْدِكُنَّ إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ“Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang berkatalah dia: “Sesungguhnya (kejadian) itu adalah di antara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar.” (QS. Yusuf: 28)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.“Maka ketika dia melihat bahwa baju gamisnya robek di bagian belakang…”Dengan melihat keadaan itu, jelaslah baginya kebenaran Yusuf dan terbukti pula kebersihannya dari tuduhan, serta tampak bahwa wanita itulah yang berdusta.Lalu suaminya berkata kepadanya:“Sesungguhnya ini adalah bagian dari tipu daya kalian. Sungguh, tipu daya kalian itu besar.”Adakah tipu daya yang lebih besar daripada ini? Ia membersihkan dirinya dari perbuatan yang sebenarnya ia kehendaki dan ia lakukan, lalu justru menuduh Nabi Allah, Yusuf ‘alaihis salam, sebagai pelakunya. Menutup Aib dan Perintah TaubatAllah Ta’ala berfirman,يُوسُفُ أَعْرِضْ عَنْ هَذَا وَاسْتَغْفِرِي لِذَنْبِكِ إِنَّكِ كُنْتِ مِنَ الْخَاطِئِينَ“(Hai) Yusuf: “Berpalinglah dari ini, dan (kamu hai isteriku) mohon ampunlah atas dosamu itu, karena kamu sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah.” (QS. Yusuf: 29)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Setelah suaminya memastikan hakikat perkara itu, ia berkata kepada Yusuf, “Wahai Yusuf, berpalinglah dari urusan ini,” maksudnya, tinggalkan pembicaraan tentangnya, lupakanlah, dan jangan engkau ceritakan kepada siapa pun, demi menjaga kehormatan keluarganya.Kemudian ia berkata kepada istrinya, “Mohonlah ampun atas dosamu. Sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang bersalah.”Dengan demikian, Yusuf diperintahkan untuk tidak membicarakan perkara tersebut, sedangkan wanita itu diperintahkan untuk memohon ampun dan bertaubat atas kesalahannya. Gosip Para Wanita dan Dalamnya Cinta ZulaikhaAllah Ta’ala berfirman,وَقَالَ نِسْوَةٌ فِي الْمَدِينَةِ امْرَأَةُ الْعَزِيزِ تُرَاوِدُ فَتَاهَا عَنْ نَفْسِهِ قَدْ شَغَفَهَا حُبًّا إِنَّا لَنَرَاهَا فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ“Dan wanita-wanita di kota berkata: “Isteri Al Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Yusuf: 30)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Maksudnya, berita itu telah tersebar luas dan menjadi perbincangan di kota. Para wanita pun membicarakannya. Mereka mencelanya seraya berkata, “Istri Al-‘Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya. Cintanya kepadanya benar-benar telah mendalam.”Perbuatan itu dipandang sangat tercela. Ia adalah seorang wanita terpandang, dan suaminya pun orang besar kedudukannya. Namun demikian, ia terus-menerus menggoda seorang pemuda yang berada di bawah kekuasaannya dan menjadi pelayannya.Bahkan, rasa cintanya telah mencapai tingkatan yang sangat dalam.قَدْ شَغَفَهَا حُبًّاArtinya, cintanya telah sampai ke syaghaf hatinya, yaitu bagian terdalam dan inti hati. Itulah puncak kecintaan yang paling tinggi.Mereka berkata, “Kami benar-benar memandangnya dalam kesesatan yang nyata,” karena telah muncul darinya keadaan yang tidak pantas, yang merendahkan kedudukannya dan menjatuhkan martabatnya di mata manusia.Namun ucapan mereka itu adalah tipu daya. Tujuan mereka bukan sekadar mencela dan menjatuhkannya, tetapi mereka ingin menjadikan pembicaraan itu sebagai jalan untuk melihat Yusuf, pemuda yang telah membuat istri Al-‘Aziz tergila-gila.Mereka ingin memancing kemarahan istri Al-‘Aziz agar ia memperlihatkan Yusuf kepada mereka, sehingga setelah melihatnya, mereka akan memakluminya.Karena itulah Allah menyebutnya sebagai tipu daya, sebagaimana firman-Nya di ayat berikutnya:فَلَمَّا سَمِعَتْ بِمَكْرِهِنَّ أَرْسَلَتْ إِلَيْهِنَّ“Maka ketika ia mendengar tipu daya mereka, ia pun mengundang mereka.” Jamuan dan Ketampanan yang Menggetarkan HatiAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا سَمِعَتْ بِمَكْرِهِنَّ أَرْسَلَتْ إِلَيْهِنَّ وَأَعْتَدَتْ لَهُنَّ مُتَّكَأً وَآَتَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ سِكِّينًا وَقَالَتِ اخْرُجْ عَلَيْهِنَّ فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ وَقُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا هَذَا بَشَرًا إِنْ هَذَا إِلَّا مَلَكٌ كَرِيمٌ“Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf): “Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka.” Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa) nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: “Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia.” (QS. Yusuf: 31)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Ia mengundang para wanita itu ke rumahnya untuk menjamu mereka.وَأَعْتَدَتْ لَهُنَّ مُتَّكَأً“Dan ia menyediakan untuk mereka tempat duduk yang nyaman.”Artinya, ia menyiapkan tempat yang dihias dengan berbagai hamparan dan bantal, serta berbagai hidangan lezat yang biasa disajikan dalam jamuan.Di antara makanan yang ia hidangkan terdapat makanan yang membutuhkan pisau untuk memotongnya, seperti buah atruj (sejenis jeruk besar) atau yang semisalnya.وَآتَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ سِكِّينًا“Dan ia memberikan kepada masing-masing dari mereka sebuah pisau.”Agar mereka memotong makanan tersebut.Kemudian ia berkata kepada Yusuf:اخْرُجْ عَلَيْهِنَّ“Keluarlah dan tampakkan dirimu kepada mereka.”Yaitu dalam keadaan penuh dengan keindahan dan ketampanannya.فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ“Maka ketika mereka melihatnya, mereka mengagungkannya.”Artinya, mereka memandangnya sangat luar biasa dalam hati mereka. Mereka melihat pemandangan yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya.وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ“Dan mereka melukai tangan mereka.”Karena rasa takjub dan keterkejutan, mereka tanpa sadar mengiris tangan mereka sendiri dengan pisau yang ada di tangan mereka.وَقُلْنَ حَاشَ لِلَّهِDan mereka berkata, “Mahasuci Allah.”Sebagai bentuk penyucian kepada Allah.مَا هَذَا بَشَرًا إِنْ هَذَا إِلَّا مَلَكٌ كَرِيمٌ“Ini bukanlah manusia. Ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia.”Sebab Yusuf dianugerahi ketampanan yang luar biasa, cahaya wajah, dan keelokan rupa yang menjadikannya tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang memandangnya, serta pelajaran bagi orang-orang yang mau merenungkannya. Ancaman Penjara dan Keteguhan Menjaga KehormatanAllah Ta’ala berfirman,قَالَتْ فَذَلِكُنَّ الَّذِي لُمْتُنَّنِي فِيهِ وَلَقَدْ رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ فَاسْتَعْصَمَ وَلَئِنْ لَمْ يَفْعَلْ مَا آَمُرُهُ لَيُسْجَنَنَّ وَلَيَكُونَنْ مِنَ الصَّاغِرِينَ“Wanita itu berkata: “Itulah dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina.” (QS. Yusuf: 32)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Setelah para wanita itu menyaksikan sendiri ketampanan lahiriah Yusuf dan sangat terpesona olehnya, serta mulai memahami alasan istri Al-‘Aziz, ia ingin memperlihatkan kepada mereka pula keindahan batin Yusuf berupa kesucian dan penjagaan dirinya yang sempurna.Maka ia berkata secara terang-terangan, mengakui cintanya yang besar tanpa rasa peduli, karena celaan para wanita itu telah terhenti darinya:“Sungguh, aku telah merayunya, tetapi ia menolak dengan tegas.”Artinya, Yusuf menahan diri dan tetap menjaga kehormatannya, sementara ia terus-menerus merayunya. Bahkan berlalunya waktu tidak menambah apa pun pada dirinya selain kegelisahan, cinta yang semakin mendalam, kerinduan untuk bersatu dengannya, dan hasrat yang terus membara.Karena itu, ia berkata di hadapan mereka semua:“Dan jika ia tidak melakukan apa yang aku perintahkan kepadanya, pasti ia akan dipenjara dan termasuk orang-orang yang hina.”Ia bermaksud menekan Yusuf dengan ancaman tersebut agar keinginannya tercapai.Pada saat itulah Yusuf berlindung kepada Rabbnya dan memohon pertolongan-Nya untuk menghadapi tipu daya mereka. Doa Yusuf: Memilih Penjara daripada MaksiatAllah Ta’ala berfirman,قَالَ رَبِّ ٱلسِّجْنُ أَحَبُّ إِلَىَّ مِمَّا يَدْعُونَنِىٓ إِلَيْهِ ۖ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّى كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُن مِّنَ ٱلْجَٰهِلِينَ“Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh”.” (QS. Yusuf: 33)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Ayat ini menunjukkan bahwa para wanita itu turut mendorong Yusuf agar menuruti keinginan tuannya. Mereka pun ikut menggoda dan menekannya dalam perkara tersebut.Maka Yusuf lebih memilih penjara dan penderitaan di dunia daripada kenikmatan sesaat yang akan berujung pada azab yang berat.Ia berkata, “Dan jika Engkau tidak memalingkan tipu daya mereka dariku, niscaya aku akan condong kepada mereka.”Artinya, aku bisa saja cenderung kepada mereka, karena aku ini lemah dan tidak berdaya jika Engkau tidak melindungiku dari keburukan.“Dan aku akan termasuk orang-orang yang jahil.”Sebab perbuatan itu adalah kebodohan. Ia berarti lebih mengutamakan kenikmatan kecil yang bercampur dengan kepedihan, daripada kenikmatan yang terus-menerus dan berbagai kesenangan di surga kenikmatan.Siapa yang mengutamakan yang sedikit dan fana dibandingkan yang besar dan kekal, maka tidak ada yang lebih bodoh darinya. Karena ilmu dan akal yang sehat mengajak untuk mendahulukan dua maslahat yang lebih besar dan dua kenikmatan yang lebih tinggi, serta memilih apa yang baik akibat dan akhirnya. Pertolongan Allah untuk Hamba yang IkhlasAllah Ta’ala berfirman,فَٱسْتَجَابَ لَهُۥ رَبُّهُۥ فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ“Maka Tuhannya memperkenankan doa Yusuf dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Yusuf: 34)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Maka Rabbnya pun mengabulkan doanya ketika ia berdoa kepada-Nya. Allah memalingkan dari dirinya tipu daya para wanita itu.Wanita tersebut terus-menerus merayunya dan menggunakan berbagai cara yang mampu ia lakukan untuk menundukkannya, hingga akhirnya ia berputus asa. Allah pun melindungi Yusuf dari tipu dayanya.Sesungguhnya Dia Maha Mendengar doa orang yang berdoa, dan Maha Mengetahui niatnya yang baik, serta mengetahui kelemahan dirinya yang menuntut pertolongan dan limpahan bantuan serta kelembutan dari-Nya.Inilah sebab Allah menyelamatkan Yusuf dari fitnah besar dan ujian berat tersebut.Adapun tuannya, ketika berita itu telah tersebar dan menjadi jelas, serta manusia mulai membicarakannya—ada yang membela, ada yang mencela, dan ada pula yang mencibir—maka terjadilah peristiwa selanjutnya. Kiat Agar Selamat dari Zina, Belajar dari Nabi YusufJangan pernah merasa aman dari godaan. Yusuf ‘alaihis salam tetap berdoa agar dijaga dari tipu daya, padahal beliau seorang nabi. Ini menunjukkan bahwa siapa pun bisa tergelincir jika merasa kebal. Rendahkan hati, akui kelemahan diri, dan selalu minta perlindungan Allah.Jauhi situasi yang membuka peluang maksiat. Godaan datang ketika pintu tertutup. Di zaman sekarang, itu bisa berupa chat pribadi yang intens, video call larut malam, atau pertemuan berdua tanpa batas. Jangan uji iman di tempat yang jelas melemahkan.Segera menjauh ketika mulai condong. Yusuf langsung berlari, bukan berlama-lama. Jika sudah mulai baper, terlalu dekat, atau hubungan makin intim, ambil jarak sebelum perasaan makin dalam dan sulit dihentikan.Berani kehilangan demi menjaga kehormatan. Yusuf memilih penjara daripada zina. Hari ini mungkin bentuknya adalah kehilangan pasangan, dijauhi teman, atau dianggap tidak gaul. Namun harga diri dan masa depan jauh lebih berharga daripada kesenangan sesaat.Pikirkan akibat jangka panjang, bukan rasa sesaat. Zina menawarkan sensasi cepat, tetapi meninggalkan luka, rasa bersalah, dan dampak sosial yang panjang, apalagi di era digital. Pilih jalan yang menjaga hati, masa depan, dan keberkahan hidup. Penutupاللَّهُمَّ اغْفِرْ ذُنُوبَنَا، وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا، وَحَصِّنْ فُرُوجَنَا.“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, sucikanlah hati-hati kami, dan jagalah kehormatan kami.”Semoga Allah menjaga kita dari segala sebab yang mengantarkan kepada zina, membersihkan hati kita dari syahwat yang haram, dan menetapkan kita di atas kesucian hingga akhir hayat. Aamiin. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic —– Senin Sore, 13 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsgodaan zulaikha Kisah dalam Al-Qur'an kisah nabi kisah nabi yusuf memilih penjara daripada maksiat nabi yusuf dan zulaikha pelajaran dari nabi yusuf pelajaran ihsan renungan ayat renungan quran tafsir as-sa'di tafsir surah yusuf ujian keimanan