Perang Badar bukan sekadar kemenangan militer pertama kaum Muslimin. Surah Al-Anfal (juz kesembilan) mengungkap sisi yang lebih dalam: ujian iman, konflik harta, doa di saat genting, hingga aturan pembagian ghanimah. Dari peristiwa ini, kita belajar bahwa kemenangan sejati lahir dari hati yang bertakwa dan tunduk kepada Allah. Baca juga: Faedah Sirah Nabi: Perang Badar Kubra dan Pelajaran di Dalamnya Daftar Isi tutup 1. Rebutan Harta atau Perbaikan Hati? 2. Ujian Harta dan Ukuran Iman 3. Ketika Allah Menghendaki yang Lebih Besar dari yang Kita Inginkan 4. Kemenangan Turun Bersama Doa 5. Aturan Pembagian Harta Rampasan 6. Allah yang Mempertemukan Dua Pasukan 7. Pelajaran Menarik dari Ayat-Ayat Perang Badar 8. Doa Penutup Rebutan Harta atau Perbaikan Hati?Allah Ta’ala berfirman,يَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلْأَنفَالِ ۖ قُلِ ٱلْأَنفَالُ لِلَّهِ وَٱلرَّسُولِ ۖ فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَأَصْلِحُوا۟ ذَاتَ بَيْنِكُمْ ۖ وَأَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ“Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang kepunyaan Allah dan Rasul, oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu; dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman“.” (QS. Al-Anfal: 1) Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.Al-anfāl adalah harta rampasan perang yang Allah anugerahkan kepada umat ini dari harta orang-orang kafir. Ayat-ayat dalam surah ini turun berkaitan dengan peristiwa Perang Badar, yaitu rampasan perang besar pertama yang diperoleh kaum Muslimin dari kaum musyrikin.Saat itu, terjadi perselisihan di antara sebagian kaum Muslimin mengenai pembagian harta rampasan tersebut. Mereka pun bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang bagaimana cara membaginya dan kepada siapa saja harta itu diberikan.Baca juga: Perang Sudan dan Rebutan Gunung Emas: Sebuah Peringatan tentang Fitnah HartaMaka Allah menurunkan firman-Nya, “Mereka bertanya kepadamu tentang al-anfāl…” Maksudnya, mereka bertanya bagaimana harta itu dibagi dan siapa yang berhak menerimanya.Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk menjawab, “Al-anfāl itu milik Allah dan Rasul.” Artinya, penentuan pembagiannya berada di tangan Allah dan Rasul-Nya. Keduanya berhak menempatkannya sesuai kehendak dan kebijaksanaan-Nya. Tidak ada ruang bagi siapa pun untuk memprotes atau menolak keputusan Allah dan Rasul-Nya.Yang seharusnya dilakukan kaum beriman adalah ridha terhadap ketetapan Allah dan Rasul-Nya, serta menyerahkan sepenuhnya urusan itu kepada keduanya. Sikap ini termasuk dalam perintah, “Maka bertakwalah kepada Allah,” yaitu dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.Kemudian Allah berfirman, “Perbaikilah hubungan di antara kalian.” Maksudnya, perbaikilah segala bentuk perselisihan, permusuhan, dan saling membelakangi yang terjadi di antara kalian. Gantilah itu dengan sikap saling mencintai, saling menyayangi, dan saling menyambung hubungan.Dengan memperbaiki hubungan, persatuan akan terwujud. Permusuhan, pertengkaran, dan perselisihan yang muncul akibat perpecahan pun akan sirna.Termasuk dalam memperbaiki hubungan adalah memperindah akhlak kepada sesama, serta memaafkan orang yang berbuat salah. Dengan sikap ini, banyak kebencian dan rasa tidak suka yang tersimpan di dalam hati akan hilang.Semua itu terangkum dalam firman-Nya, “Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya jika kalian benar-benar orang-orang yang beriman.” Iman yang benar akan mendorong seseorang untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebaliknya, siapa yang tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka itu menunjukkan bahwa imannya tidak sempurna, bahkan tidak ada sama sekali. Ujian Harta dan Ukuran ImanPada ayat pertama Surah Al-Anfal, Allah membahas tentang perselisihan kaum Muslimin terkait harta rampasan perang setelah Perang Badar. Di sana Allah menegaskan bahwa al-anfāl adalah milik Allah dan Rasul-Nya. Solusinya bukan sekadar teknis pembagian, tetapi perintah takwa, memperbaiki hubungan, dan menaati Allah serta Rasul-Nya.Lalu mengapa setelah membahas harta rampasan, Allah langsung berbicara tentang ciri-ciri orang beriman sejati?Di sinilah letak keindahan susunan ayat-ayat ini.Perselisihan tentang harta menunjukkan bahwa iman sedang diuji. Ketika harta mulai dibicarakan, hati manusia mudah berubah. Rasa ingin memiliki, merasa paling berhak, atau takut tidak mendapatkan bagian, bisa mengganggu persatuan.Karena itu Allah seakan menegaskan:Jika kalian benar-benar beriman, maka inilah cirinya.Bukan sekadar ikut perang.Bukan sekadar mendapatkan ghanimah.Tetapi:Hatinya bergetar saat nama Allah disebut.Imannya bertambah ketika ayat dibacakan.Ia bertawakal penuh kepada Allah.Ia menegakkan shalat.Ia menginfakkan rezekinya.Artinya, solusi konflik harta bukan pertama-tama pada pembagian angka, tetapi pada kualitas iman.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfal: 2)ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ“(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. Al-Anfal: 3)أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَّهُمْ دَرَجَٰتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ“Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfal: 4)Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.Penjelasan ayat keduaSiapa pun yang ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya berkurang, maka itu menunjukkan bahwa imannya pun berkurang.Karena iman itu terbagi menjadi dua:Iman yang sempurna, yang mendatangkan pujian, sanjungan, dan kemenangan yang sempurna.Iman yang belum sempurna, yang berada di bawah tingkatan tersebut.Dalam ayat ini, Allah menjelaskan tentang iman yang sempurna.Firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman…” Kata “al” pada al-mu’minūn menunjukkan cakupan seluruh sifat dan syariat iman. Artinya, inilah ciri-ciri orang yang benar-benar beriman secara sempurna.“(Yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah, hati mereka bergetar.”Maksudnya, hati mereka merasa takut dan gentar. Rasa takut kepada Allah ini membuat mereka menjauhi segala yang diharamkan. Salah satu tanda terbesar dari rasa takut kepada Allah adalah ketika rasa itu mampu menahan seseorang dari perbuatan dosa.“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka.”Hal ini terjadi karena mereka benar-benar mendengarkan, menghadirkan hati, dan merenungkan ayat-ayat tersebut. Dengan perenungan itulah iman mereka bertambah.Iman bertambah karena beberapa sebab:Tadabbur (merenungkan) ayat-ayat Allah adalah amalan hati.Mereka memahami makna yang sebelumnya belum mereka ketahui.Mereka teringat kembali pada kebenaran yang sempat mereka lupakan.Tumbuh dalam hati mereka keinginan kuat untuk berbuat kebaikan dan kerinduan terhadap kemuliaan dari Rabb mereka.Timbul rasa takut terhadap siksa dan dorongan untuk menjauhi maksiat.Semua hal itu menyebabkan iman semakin bertambah.“Dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.”Artinya, mereka bersandar dengan hati sepenuhnya hanya kepada Allah semata, tanpa menyekutukan-Nya. Mereka bergantung kepada-Nya dalam meraih berbagai kebaikan dan menolak segala keburukan, baik dalam urusan agama maupun urusan dunia. Mereka yakin sepenuhnya bahwa Allah akan mencukupi dan menolong mereka.Tawakal inilah yang menjadi pendorong seluruh amal. Tidak ada satu pun amal yang bisa terwujud dan sempurna kecuali dengan tawakal kepada Allah.Penjelasan ayat ketiga“(Yaitu) orang-orang yang menegakkan shalat…”Maksudnya, mereka melaksanakan shalat, baik yang wajib maupun yang sunnah, dengan menyempurnakan amalan-amalan lahiriah dan batiniahnya. Termasuk di dalamnya adalah menghadirkan hati saat shalat, karena kehadiran hati itulah ruh dan inti shalat. Tanpa kekhusyukan dan perhatian hati, shalat hanya menjadi gerakan tanpa makna.“Dan dari sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, mereka menginfakkan.”Artinya, mereka mengeluarkan sebagian harta yang Allah karuniakan kepada mereka untuk berbagai bentuk pengeluaran yang diperintahkan.Infak tersebut mencakup:Nafkah yang wajib, seperti zakat, kafarat (denda pelanggaran syariat), nafkah untuk istri, kerabat, serta hamba sahaya yang berada di bawah tanggungannya.Nafkah yang sunnah, seperti sedekah dalam berbagai jalan kebaikan.Dengan demikian, mereka adalah orang-orang yang menunaikan hak Allah melalui ibadah shalat dan menunaikan hak sesama manusia melalui infak dan kedermawanan. Penjelasan ayat keempatMereka itulah—yakni orang-orang yang memiliki sifat-sifat mulia yang telah disebutkan sebelumnya—adalah orang-orang yang benar-benar beriman.Mengapa mereka disebut sebagai orang yang beriman dengan sebenar-benarnya? Karena mereka memadukan antara Islam dan iman, antara amal hati dan amal anggota badan, antara ilmu dan pengamalan, serta antara menunaikan hak Allah dan hak sesama manusia.Allah mendahulukan penyebutan amal-amal hati karena amal hati adalah fondasi dari amal anggota badan, bahkan kedudukannya lebih utama. Amal lahiriah tidak akan bernilai tanpa didasari oleh amal batin.Ayat ini juga menunjukkan bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang. Ia bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat. Karena itu, seorang hamba hendaknya selalu menjaga, memelihara, dan menumbuhkan imannya.Sarana utama untuk menumbuhkan iman adalah dengan mentadabburi Kitabullah dan merenungkan makna-maknanya secara mendalam.Kemudian Allah menyebutkan balasan bagi orang-orang yang benar-benar beriman itu:“Bagi mereka derajat-derajat di sisi Tuhan mereka.”Yakni derajat yang tinggi, sesuai dengan tingginya amal dan kualitas iman mereka.“Dan ampunan.”Yaitu pengampunan atas dosa-dosa mereka.“Dan rezeki yang mulia.”Yaitu segala kenikmatan yang Allah siapkan bagi mereka di negeri kemuliaan (surga), berupa kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia.Ayat ini juga menunjukkan bahwa siapa saja yang tidak mencapai tingkatan iman mereka, meskipun ia masuk surga, tidak akan memperoleh kemuliaan yang sempurna sebagaimana yang mereka peroleh. Ketika Allah Menghendaki yang Lebih Besar dari yang Kita InginkanAllah Ta’ala berfirman,كَمَآ أَخْرَجَكَ رَبُّكَ مِنۢ بَيْتِكَ بِٱلْحَقِّ وَإِنَّ فَرِيقًا مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ لَكَٰرِهُونَ“Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dan rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya.” (QS. Al-Anfal: 5)يُجَٰدِلُونَكَ فِى ٱلْحَقِّ بَعْدَمَا تَبَيَّنَ كَأَنَّمَا يُسَاقُونَ إِلَى ٱلْمَوْتِ وَهُمْ يَنظُرُونَ“Mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu).” (QS. Al-Anfal: 6)وَإِذْ يَعِدُكُمُ ٱللَّهُ إِحْدَى ٱلطَّآئِفَتَيْنِ أَنَّهَا لَكُمْ وَتَوَدُّونَ أَنَّ غَيْرَ ذَاتِ ٱلشَّوْكَةِ تَكُونُ لَكُمْ وَيُرِيدُ ٱللَّهُ أَن يُحِقَّ ٱلْحَقَّ بِكَلِمَٰتِهِۦ وَيَقْطَعَ دَابِرَ ٱلْكَٰفِرِينَ“Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir.” (QS. Al-Anfal: 7)لِيُحِقَّ ٱلْحَقَّ وَيُبْطِلَ ٱلْبَٰطِلَ وَلَوْ كَرِهَ ٱلْمُجْرِمُونَ“Agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya.” (QS. Al-Anfal: 8)Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.Sebelum menceritakan perang besar yang penuh keberkahan ini (Perang Badar), Allah terlebih dahulu menyebutkan sifat-sifat yang seharusnya dimiliki oleh kaum mukminin. Sebab, siapa yang menghiasi dirinya dengan sifat-sifat tersebut, maka keadaannya akan lurus dan amal-amalnya akan baik. Di antara amal terbesar itu adalah jihad di jalan Allah.Sebagaimana iman mereka adalah iman yang benar, dan balasan yang dijanjikan Allah kepada mereka adalah benar, demikian pula Allah mengeluarkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dari rumahnya menuju pertemuan dengan kaum musyrikin di Badar dengan membawa kebenaran yang Allah cintai, yang telah Dia tetapkan dan takdirkan.Namun pada awalnya, kaum mukminin tidak menyangka bahwa keberangkatan itu akan berujung pada peperangan melawan musuh. Ketika akhirnya jelas bahwa pertempuran akan terjadi, sebagian dari kaum mukminin mulai berdiskusi dan berdebat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka merasa tidak suka menghadapi musuh, seakan-akan mereka sedang digiring menuju kematian, sementara mereka melihatnya dengan mata kepala sendiri.Padahal sikap seperti itu tidak sepatutnya muncul dari mereka, terlebih setelah jelas bahwa keberangkatan itu adalah atas dasar kebenaran dan merupakan perintah serta keridaan Allah.Dalam kondisi seperti itu, tidak ada lagi ruang untuk perdebatan. Perdebatan hanya relevan ketika kebenaran belum jelas dan perkara masih samar. Adapun ketika kebenaran telah nyata dan terang, maka yang tersisa hanyalah sikap tunduk dan patuh.Perlu diketahui, banyak dari kaum mukminin yang sama sekali tidak terlibat dalam perdebatan tersebut dan tidak merasa keberatan menghadapi musuh. Bahkan mereka yang sempat ditegur oleh Allah pun akhirnya tunduk sepenuhnya untuk berjihad. Allah pun meneguhkan hati mereka dan menyediakan berbagai sebab yang membuat hati mereka menjadi tenang, sebagaimana akan disebutkan kemudian.Awal mula keberangkatan mereka adalah untuk menghadang kafilah dagang Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb menuju Syam. Kafilah itu sangat besar. Ketika terdengar kabar bahwa kafilah tersebut sedang kembali dari Syam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak kaum Muslimin untuk keluar.Maka berangkatlah bersama beliau sekitar tiga ratus lebih sedikit orang. Mereka hanya memiliki tujuh puluh ekor unta yang digunakan secara bergantian, baik untuk ditunggangi maupun membawa perbekalan.Kaum Quraisy mendengar kabar tentang pergerakan kaum Muslimin. Mereka pun keluar untuk melindungi kafilah mereka, dengan jumlah pasukan yang besar dan persenjataan lengkap, terdiri dari sekitar seribu orang dengan perlengkapan senjata dan kuda.Allah menjanjikan kepada kaum mukminin bahwa mereka akan mendapatkan salah satu dari dua kelompok:Entah mereka akan menguasai kafilah,Atau menghadapi pasukan Quraisy.Kaum Muslimin lebih menginginkan kafilah, karena kondisi mereka yang serba terbatas dan karena kafilah itu tidak memiliki kekuatan militer yang besar. Namun Allah menghendaki untuk mereka sesuatu yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada yang mereka inginkan.Allah menghendaki agar mereka berhadapan dengan pasukan Quraisy yang di dalamnya terdapat para pembesar dan tokoh-tokoh utama kaum musyrikin.Allah berfirman, “Dan Allah menghendaki untuk menegakkan kebenaran dengan kalimat-kalimat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir sampai ke akar-akarnya. Agar Dia menegakkan kebenaran dan membatalkan kebatilan, walaupun orang-orang yang berdosa itu tidak menyukainya.”Allah ingin memenangkan kebenaran dan menolong para pembelanya. Dia ingin memusnahkan kebatilan dan para pelakunya hingga ke akar-akarnya. Allah ingin memperlihatkan kepada hamba-hamba-Nya bukti nyata pertolongan-Nya terhadap kebenaran, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terlintas dalam benak mereka.Dengan peristiwa itu, kebenaran semakin jelas melalui tanda-tanda dan bukti-bukti yang nyata. Kebatilan pun tampak kerusakan dan kelemahannya melalui dalil dan peristiwa yang Allah tampakkan, meskipun orang-orang yang berdosa membencinya. Allah tidak memedulikan kebencian mereka terhadap tegaknya kebenaran. Kemenangan Turun Bersama DoaAllah Ta’ala berfirman,إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَٱسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّى مُمِدُّكُم بِأَلْفٍ مِّنَ ٱلْمَلَٰٓئِكَةِ مُرْدِفِينَ“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut”.” (QS. Al-Anfal: 9)Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.Ingatlah nikmat Allah atas kalian, ketika saat pertemuan dengan musuh sudah begitu dekat. Dalam keadaan genting itu, kalian memohon pertolongan kepada Rabb kalian. Kalian berdoa dan merendahkan diri, meminta agar Allah menolong dan menguatkan kalian. Maka Allah pun mengabulkan permohonan kalian. Dia menyelamatkan dan menolong kalian dengan berbagai bentuk pertolongan.Di antara bentuk pertolongan itu adalah Allah mengirimkan kepada kalian seribu malaikat sebagai bala bantuan.Murdifīn artinya para malaikat itu datang secara beriringan, saling menyusul satu sama lain. Mereka turun sebagai pasukan bantuan yang memperkuat barisan kaum mukminin.Ini menunjukkan bahwa kemenangan yang diraih bukan semata-mata karena kekuatan jumlah atau perlengkapan, tetapi karena pertolongan Allah yang turun sebagai jawaban atas doa dan istighatsah (permohonan pertolongan) yang tulus dari kaum beriman. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا جَعَلَهُ ٱللَّهُ إِلَّا بُشْرَىٰ وَلِتَطْمَئِنَّ بِهِۦ قُلُوبُكُمْ ۚ وَمَا ٱلنَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِندِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ“Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfal: 10)Allah tidak menjadikan turunnya para malaikat itu kecuali sebagai kabar gembira bagi kalian, agar jiwa kalian merasa senang dan penuh harapan.Selain itu, Allah juga menjadikannya sebagai sebab agar hati kalian menjadi tenang dan mantap. Dengan mengetahui bahwa bala bantuan dari langit telah datang, rasa gentar dan kekhawatiran pun berubah menjadi keyakinan dan keberanian.Namun hakikatnya, kemenangan bukanlah karena banyaknya jumlah pasukan atau lengkapnya persenjataan. Kemenangan itu semata-mata datang dari sisi Allah.Firman-Nya, “Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah,” menegaskan bahwa sebab-sebab lahiriah hanyalah sarana. Adapun penentu kemenangan yang sebenarnya adalah kehendak dan pertolongan Allah.“Sesungguhnya Allah Mahaperkasa (ʿAzīz).”Tidak ada yang mampu mengalahkan-Nya. Dia Mahakuat dan Mahamengalahkan. Dia dapat menundukkan siapa pun, sekalipun mereka memiliki jumlah besar dan perlengkapan yang lengkap.“Lagi Mahabijaksana (Ḥakīm).”Dia menetapkan segala sesuatu dengan hikmah. Dia mengatur berbagai peristiwa dengan sebab-sebab yang sesuai dan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang tepat.Maka kemenangan di Badar bukan sekadar peristiwa militer, melainkan bukti nyata kekuasaan dan hikmah Allah dalam menolong hamba-hamba-Nya yang beriman.Oleh karenanya, Allah menegaskan di ayat 17,فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ قَتَلَهُمْ ۚ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ رَمَىٰ ۚ وَلِيُبْلِىَ ٱلْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلَآءً حَسَنًا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 17)Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.Allah Ta’ala berfirman tentang peristiwa ketika kaum musyrikin kalah dalam Perang Badar dan banyak dari mereka terbunuh oleh kaum Muslimin:“Maka bukanlah kalian yang membunuh mereka, tetapi Allah-lah yang membunuh mereka.”Artinya, bukan karena kekuatan dan kemampuan kalian semata mereka bisa dikalahkan. Namun Allah-lah yang menolong dan membantu kalian dengan berbagai sebab yang telah disebutkan sebelumnya.Kemudian Allah berfirman,“Dan bukanlah engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah-lah yang melempar.”Peristiwa ini terjadi ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di tengah peperangan, masuk ke dalam tenda (arisy) dan berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah, memohon pertolongan dan kemenangan. Setelah itu, beliau keluar, mengambil segenggam tanah, lalu melemparkannya ke arah wajah kaum musyrikin.Dengan kekuasaan Allah, tanah itu sampai ke wajah-wajah mereka. Tidak ada seorang pun dari mereka kecuali terkena tanah tersebut di wajah, mulut, atau matanya. Saat itulah kekuatan mereka runtuh, semangat mereka melemah, tampak pada diri mereka kegagalan dan kelemahan, lalu mereka pun lari dalam kekalahan.Allah menegaskan kepada Nabi-Nya: bukan dengan kekuatanmu tanah itu sampai ke mata-mata mereka. Kamilah yang menyampaikannya dengan kekuasaan dan kemampuan Kami.Kemudian Allah berfirman,“Dan agar Dia memberikan kepada orang-orang mukmin suatu ujian yang baik.”Maksudnya, Allah sebenarnya mampu memenangkan kaum mukminin tanpa peperangan sama sekali. Namun Allah menghendaki untuk menguji mereka, agar melalui jihad mereka mencapai derajat yang tinggi dan kedudukan yang mulia. Allah ingin memberi mereka pahala yang besar dan balasan yang indah.Dan Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya,“Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”Dia Maha Mendengar apa yang diucapkan hamba, baik yang disembunyikan maupun yang dinyatakan. Dia Maha Mengetahui apa yang ada di dalam hati, baik niat yang baik maupun sebaliknya. Maka Allah menetapkan berbagai ketentuan bagi hamba-hamba-Nya sesuai dengan ilmu, hikmah, dan kemaslahatan mereka. Dan Dia membalas setiap orang sesuai dengan niat dan amalnya. Aturan Pembagian Harta RampasanAllah Ta’ala berfirman,۞ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا غَنِمْتُم مِّن شَىْءٍ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُۥ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ إِن كُنتُمْ ءَامَنتُم بِٱللَّهِ وَمَآ أَنزَلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا يَوْمَ ٱلْفُرْقَانِ يَوْمَ ٱلْتَقَى ٱلْجَمْعَانِ ۗ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ“Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Anfal: 41)Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.Allah Ta’ala berfirman, “Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang kalian peroleh sebagai rampasan perang…”Yakni apa saja yang kalian ambil dari harta orang-orang kafir melalui peperangan yang sah, baik sedikit maupun banyak.“Maka sesungguhnya seperlimanya adalah untuk Allah.”Artinya, seperlima dari harta rampasan itu dikeluarkan terlebih dahulu. Adapun sisanya menjadi hak para pejuang yang ikut dalam peperangan, sebagaimana pembagian yang telah ditetapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: bagi pejalan kaki satu bagian, sedangkan bagi penunggang kuda dua bagian untuk kudanya dan satu bagian untuk dirinya.Adapun seperlima (khumus) tersebut dibagi menjadi lima bagian:1. Bagian untuk Allah dan Rasul-Nya.Maksudnya, digunakan untuk kepentingan umum kaum Muslimin. Karena Allah dan Rasul-Nya tidak membutuhkan harta, maka jelas bahwa bagian ini diperuntukkan bagi kemaslahatan umat secara luas. Ketika Allah tidak merinci penggunaannya, itu menunjukkan bahwa ia dipakai untuk berbagai kebutuhan umum umat Islam.2. Bagian untuk kerabat (dzil qurba).Yaitu kerabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Allah menyebutkan “kerabat” sebagai sebab pemberian tersebut, sehingga kaya maupun miskin, laki-laki maupun perempuan dari kalangan mereka, semuanya berhak atas bagian ini.3. Bagian untuk anak-anak yatim.Yaitu anak-anak yang ditinggal wafat ayahnya dalam keadaan masih kecil. Allah memberikan bagian ini sebagai bentuk kasih sayang kepada mereka, karena mereka belum mampu mengurus kebutuhan diri dan telah kehilangan penanggung nafkahnya.4. Bagian untuk orang-orang miskin.Yaitu kaum fakir yang membutuhkan, baik kecil maupun dewasa, laki-laki maupun perempuan.5. Bagian untuk ibnu sabil.Yaitu musafir yang terputus bekalnya di negeri orang.Sebagian ulama berpendapat bahwa seperlima ini tidak harus dibagi rata kepada semua golongan, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan dan kemaslahatan. Pendapat ini lebih kuat karena pembagian tersebut mengikuti maslahat yang ada.Kemudian Allah menjadikan pelaksanaan pembagian khumus ini sebagai bagian dari konsekuensi iman. Allah berfirman, “Jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami pada hari Furqan.”Yang dimaksud dengan hari Furqan adalah hari Perang Badar, hari ketika Allah membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Pada hari itu, Allah menampakkan kebenaran dan menghancurkan kebatilan.“Yaitu hari bertemunya dua pasukan,” yakni pasukan kaum Muslimin dan pasukan kaum kafir.Seakan-akan Allah berfirman: Jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan kepada wahyu yang diturunkan kepada Rasul-Nya pada hari yang penuh bukti dan tanda kebenaran itu, maka tunaikanlah pembagian ini sebagaimana yang diperintahkan.Dan Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya, “Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” Tidak ada yang mampu mengalahkan-Nya. Siapa pun yang menentang-Nya pasti akan dikalahkan. Dialah yang memenangkan kaum mukminin di Badar dan menegakkan kebenaran dengan kekuasaan-Nya. Allah yang Mempertemukan Dua PasukanAllah Ta’ala berfirman,إِذْ أَنتُم بِٱلْعُدْوَةِ ٱلدُّنْيَا وَهُم بِٱلْعُدْوَةِ ٱلْقُصْوَىٰ وَٱلرَّكْبُ أَسْفَلَ مِنكُمْ ۚ وَلَوْ تَوَاعَدتُّمْ لَٱخْتَلَفْتُمْ فِى ٱلْمِيعَٰدِ ۙ وَلَٰكِن لِّيَقْضِىَ ٱللَّهُ أَمْرًا كَانَ مَفْعُولًا لِّيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنۢ بَيِّنَةٍ وَيَحْيَىٰ مَنْ حَىَّ عَنۢ بَيِّنَةٍ ۗ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَسَمِيعٌ عَلِيمٌ“(Yaitu di hari) ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat dan mereka berada di pinggir lembah yang jauh sedang kafilah itu berada di bawah kamu. Sekiranya kamu mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari pertempuran), pastilah kamu tidak sependapat dalam menentukan hari pertempuran itu, akan tetapi (Allah mempertemukan dua pasukan itu) agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan, yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 42)Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.“(Yaitu) ketika kalian berada di tepi lembah yang dekat…”Maksudnya, di sisi lembah yang lebih dekat ke arah Madinah. Sedangkan mereka (pasukan musyrikin) berada di sisi lembah yang jauh dari Madinah. Dengan demikian, kalian dan mereka berada dalam satu lembah yang sama, hanya berbeda sisi.“Dan kafilah itu berada di bawah kalian…”Yaitu kafilah dagang yang awalnya kalian tuju, tetapi Allah menghendaki selain itu, berada di posisi lebih bawah dari kalian, ke arah pantai laut.“Dan sekiranya kalian mengadakan perjanjian…”Yakni jika kalian dan mereka sepakat untuk menentukan waktu dan tempat pertemuan dalam kondisi seperti itu,“niscaya kalian akan berselisih dalam menentukan waktu.”Artinya, pasti akan terjadi perbedaan—entah ada yang datang lebih awal atau lebih lambat, memilih tempat berbeda, atau terjadi sebab-sebab lain yang menghalangi kalian dari waktu yang telah disepakati.“Tetapi…”Allah-lah yang mempertemukan kalian dalam keadaan seperti itu,“agar Allah menetapkan suatu urusan yang pasti terlaksana.”Yaitu sesuatu yang telah ditakdirkan sejak dahulu dan pasti terjadi.“Agar binasa orang yang binasa dengan bukti yang nyata.”Artinya, agar orang yang tetap dalam kekafiran melakukannya setelah jelas kebenaran di hadapannya. Ia memilih kekafiran dengan sadar dan yakin bahwa itu batil, sehingga tidak tersisa lagi alasan baginya di hadapan Allah.“Dan agar hidup orang yang hidup dengan bukti yang nyata.”Yaitu agar orang beriman semakin bertambah keyakinan dan keteguhan hatinya setelah Allah memperlihatkan kepada kedua kelompok bukti-bukti dan dalil-dalil kebenaran yang nyata. Itu menjadi pelajaran bagi orang-orang yang berakal.“Dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”Dia Maha Mendengar seluruh suara, dalam berbagai bahasa dan dengan berbagai kebutuhan. Dia Maha Mengetahui segala yang tampak maupun yang tersembunyi, apa yang ada dalam hati dan apa yang terlihat, yang gaib maupun yang nyata. Pelajaran Menarik dari Ayat-Ayat Perang Badar1. Ujian Harta Mengungkap Kualitas ImanKemenangan di medan perang langsung diikuti ujian harta. Ketika ghanimah dipersoalkan, Allah tidak langsung membahas teknis pembagian, tetapi memerintahkan takwa dan perbaikan hati. Artinya, konflik harta adalah ujian iman.2. Ciri Mukmin Sejati Bukan Sekadar Ikut BerperangIman yang benar terlihat dari hati yang bergetar saat nama Allah disebut, iman yang bertambah saat ayat dibacakan, tawakal yang kuat, shalat yang ditegakkan, dan infak yang ditunaikan. Kemenangan lahir dari kualitas iman, bukan jumlah pasukan.3. Allah Menghendaki yang Lebih Besar dari Keinginan ManusiaSahabat ingin kafilah yang mudah. Allah menghendaki pertempuran besar untuk menegakkan kebenaran. Terkadang yang kita inginkan bukan yang terbaik menurut Allah.4. Doa adalah Kunci Turunnya PertolonganSeribu malaikat turun bukan karena strategi, tetapi karena istighatsah yang tulus. Kemenangan bukan karena jumlah, tetapi karena pertolongan Allah.5. Pembagian Harta adalah Amanah ImanSeperlima ghanimah diatur secara jelas. Ada hak Allah, Rasul, kerabat, yatim, miskin, dan ibnu sabil. Keadilan dalam distribusi adalah bagian dari konsekuensi iman.6. Allah yang Mengatur Pertemuan dan TakdirPertemuan dua pasukan bukan kebetulan. Allah mempertemukan mereka agar kebenaran tampak jelas dan kebatilan runtuh tanpa alasan tersisa. Doa Penutupاللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ، وَأَنْ تَغْفِرَ لَنَا وَتَرْحَمَنَا، وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةً فِي قَوْمٍ فَتَوَفَّنَا غَيْرَ مَفْتُونِينَ، وَنَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنَا إِلَى حُبِّكَ.Ya Allah, kami memohon kepada-Mu agar Engkau memberi kami kemampuan untuk melakukan berbagai kebaikan, menjauhi segala kemungkaran, dan mencintai orang-orang miskin. Kami juga memohon agar Engkau mengampuni dan merahmati kami. Jika Engkau hendak menimpakan ujian atau fitnah kepada suatu kaum, maka wafatkanlah kami dalam keadaan tidak terkena fitnah tersebut. Dan kami memohon kepada-Mu cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu, serta cinta terhadap amal yang dapat mendekatkan kami kepada cinta-Mu. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic —– Kamis Sore, 9 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsberperang Ghanimah dalam Islam Harta Rampasan Perang hikmah perang Kemenangan dalam Islam Pelajaran Perang Badar Pembagian Khumus perang badar renungan ayat renungan quran Surah Al-Anfal Tafsir Al-Anfal tawakal kepada Allah Ujian Iman
Perang Badar bukan sekadar kemenangan militer pertama kaum Muslimin. Surah Al-Anfal (juz kesembilan) mengungkap sisi yang lebih dalam: ujian iman, konflik harta, doa di saat genting, hingga aturan pembagian ghanimah. Dari peristiwa ini, kita belajar bahwa kemenangan sejati lahir dari hati yang bertakwa dan tunduk kepada Allah. Baca juga: Faedah Sirah Nabi: Perang Badar Kubra dan Pelajaran di Dalamnya Daftar Isi tutup 1. Rebutan Harta atau Perbaikan Hati? 2. Ujian Harta dan Ukuran Iman 3. Ketika Allah Menghendaki yang Lebih Besar dari yang Kita Inginkan 4. Kemenangan Turun Bersama Doa 5. Aturan Pembagian Harta Rampasan 6. Allah yang Mempertemukan Dua Pasukan 7. Pelajaran Menarik dari Ayat-Ayat Perang Badar 8. Doa Penutup Rebutan Harta atau Perbaikan Hati?Allah Ta’ala berfirman,يَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلْأَنفَالِ ۖ قُلِ ٱلْأَنفَالُ لِلَّهِ وَٱلرَّسُولِ ۖ فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَأَصْلِحُوا۟ ذَاتَ بَيْنِكُمْ ۖ وَأَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ“Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang kepunyaan Allah dan Rasul, oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu; dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman“.” (QS. Al-Anfal: 1) Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.Al-anfāl adalah harta rampasan perang yang Allah anugerahkan kepada umat ini dari harta orang-orang kafir. Ayat-ayat dalam surah ini turun berkaitan dengan peristiwa Perang Badar, yaitu rampasan perang besar pertama yang diperoleh kaum Muslimin dari kaum musyrikin.Saat itu, terjadi perselisihan di antara sebagian kaum Muslimin mengenai pembagian harta rampasan tersebut. Mereka pun bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang bagaimana cara membaginya dan kepada siapa saja harta itu diberikan.Baca juga: Perang Sudan dan Rebutan Gunung Emas: Sebuah Peringatan tentang Fitnah HartaMaka Allah menurunkan firman-Nya, “Mereka bertanya kepadamu tentang al-anfāl…” Maksudnya, mereka bertanya bagaimana harta itu dibagi dan siapa yang berhak menerimanya.Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk menjawab, “Al-anfāl itu milik Allah dan Rasul.” Artinya, penentuan pembagiannya berada di tangan Allah dan Rasul-Nya. Keduanya berhak menempatkannya sesuai kehendak dan kebijaksanaan-Nya. Tidak ada ruang bagi siapa pun untuk memprotes atau menolak keputusan Allah dan Rasul-Nya.Yang seharusnya dilakukan kaum beriman adalah ridha terhadap ketetapan Allah dan Rasul-Nya, serta menyerahkan sepenuhnya urusan itu kepada keduanya. Sikap ini termasuk dalam perintah, “Maka bertakwalah kepada Allah,” yaitu dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.Kemudian Allah berfirman, “Perbaikilah hubungan di antara kalian.” Maksudnya, perbaikilah segala bentuk perselisihan, permusuhan, dan saling membelakangi yang terjadi di antara kalian. Gantilah itu dengan sikap saling mencintai, saling menyayangi, dan saling menyambung hubungan.Dengan memperbaiki hubungan, persatuan akan terwujud. Permusuhan, pertengkaran, dan perselisihan yang muncul akibat perpecahan pun akan sirna.Termasuk dalam memperbaiki hubungan adalah memperindah akhlak kepada sesama, serta memaafkan orang yang berbuat salah. Dengan sikap ini, banyak kebencian dan rasa tidak suka yang tersimpan di dalam hati akan hilang.Semua itu terangkum dalam firman-Nya, “Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya jika kalian benar-benar orang-orang yang beriman.” Iman yang benar akan mendorong seseorang untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebaliknya, siapa yang tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka itu menunjukkan bahwa imannya tidak sempurna, bahkan tidak ada sama sekali. Ujian Harta dan Ukuran ImanPada ayat pertama Surah Al-Anfal, Allah membahas tentang perselisihan kaum Muslimin terkait harta rampasan perang setelah Perang Badar. Di sana Allah menegaskan bahwa al-anfāl adalah milik Allah dan Rasul-Nya. Solusinya bukan sekadar teknis pembagian, tetapi perintah takwa, memperbaiki hubungan, dan menaati Allah serta Rasul-Nya.Lalu mengapa setelah membahas harta rampasan, Allah langsung berbicara tentang ciri-ciri orang beriman sejati?Di sinilah letak keindahan susunan ayat-ayat ini.Perselisihan tentang harta menunjukkan bahwa iman sedang diuji. Ketika harta mulai dibicarakan, hati manusia mudah berubah. Rasa ingin memiliki, merasa paling berhak, atau takut tidak mendapatkan bagian, bisa mengganggu persatuan.Karena itu Allah seakan menegaskan:Jika kalian benar-benar beriman, maka inilah cirinya.Bukan sekadar ikut perang.Bukan sekadar mendapatkan ghanimah.Tetapi:Hatinya bergetar saat nama Allah disebut.Imannya bertambah ketika ayat dibacakan.Ia bertawakal penuh kepada Allah.Ia menegakkan shalat.Ia menginfakkan rezekinya.Artinya, solusi konflik harta bukan pertama-tama pada pembagian angka, tetapi pada kualitas iman.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfal: 2)ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ“(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. Al-Anfal: 3)أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَّهُمْ دَرَجَٰتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ“Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfal: 4)Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.Penjelasan ayat keduaSiapa pun yang ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya berkurang, maka itu menunjukkan bahwa imannya pun berkurang.Karena iman itu terbagi menjadi dua:Iman yang sempurna, yang mendatangkan pujian, sanjungan, dan kemenangan yang sempurna.Iman yang belum sempurna, yang berada di bawah tingkatan tersebut.Dalam ayat ini, Allah menjelaskan tentang iman yang sempurna.Firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman…” Kata “al” pada al-mu’minūn menunjukkan cakupan seluruh sifat dan syariat iman. Artinya, inilah ciri-ciri orang yang benar-benar beriman secara sempurna.“(Yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah, hati mereka bergetar.”Maksudnya, hati mereka merasa takut dan gentar. Rasa takut kepada Allah ini membuat mereka menjauhi segala yang diharamkan. Salah satu tanda terbesar dari rasa takut kepada Allah adalah ketika rasa itu mampu menahan seseorang dari perbuatan dosa.“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka.”Hal ini terjadi karena mereka benar-benar mendengarkan, menghadirkan hati, dan merenungkan ayat-ayat tersebut. Dengan perenungan itulah iman mereka bertambah.Iman bertambah karena beberapa sebab:Tadabbur (merenungkan) ayat-ayat Allah adalah amalan hati.Mereka memahami makna yang sebelumnya belum mereka ketahui.Mereka teringat kembali pada kebenaran yang sempat mereka lupakan.Tumbuh dalam hati mereka keinginan kuat untuk berbuat kebaikan dan kerinduan terhadap kemuliaan dari Rabb mereka.Timbul rasa takut terhadap siksa dan dorongan untuk menjauhi maksiat.Semua hal itu menyebabkan iman semakin bertambah.“Dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.”Artinya, mereka bersandar dengan hati sepenuhnya hanya kepada Allah semata, tanpa menyekutukan-Nya. Mereka bergantung kepada-Nya dalam meraih berbagai kebaikan dan menolak segala keburukan, baik dalam urusan agama maupun urusan dunia. Mereka yakin sepenuhnya bahwa Allah akan mencukupi dan menolong mereka.Tawakal inilah yang menjadi pendorong seluruh amal. Tidak ada satu pun amal yang bisa terwujud dan sempurna kecuali dengan tawakal kepada Allah.Penjelasan ayat ketiga“(Yaitu) orang-orang yang menegakkan shalat…”Maksudnya, mereka melaksanakan shalat, baik yang wajib maupun yang sunnah, dengan menyempurnakan amalan-amalan lahiriah dan batiniahnya. Termasuk di dalamnya adalah menghadirkan hati saat shalat, karena kehadiran hati itulah ruh dan inti shalat. Tanpa kekhusyukan dan perhatian hati, shalat hanya menjadi gerakan tanpa makna.“Dan dari sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, mereka menginfakkan.”Artinya, mereka mengeluarkan sebagian harta yang Allah karuniakan kepada mereka untuk berbagai bentuk pengeluaran yang diperintahkan.Infak tersebut mencakup:Nafkah yang wajib, seperti zakat, kafarat (denda pelanggaran syariat), nafkah untuk istri, kerabat, serta hamba sahaya yang berada di bawah tanggungannya.Nafkah yang sunnah, seperti sedekah dalam berbagai jalan kebaikan.Dengan demikian, mereka adalah orang-orang yang menunaikan hak Allah melalui ibadah shalat dan menunaikan hak sesama manusia melalui infak dan kedermawanan. Penjelasan ayat keempatMereka itulah—yakni orang-orang yang memiliki sifat-sifat mulia yang telah disebutkan sebelumnya—adalah orang-orang yang benar-benar beriman.Mengapa mereka disebut sebagai orang yang beriman dengan sebenar-benarnya? Karena mereka memadukan antara Islam dan iman, antara amal hati dan amal anggota badan, antara ilmu dan pengamalan, serta antara menunaikan hak Allah dan hak sesama manusia.Allah mendahulukan penyebutan amal-amal hati karena amal hati adalah fondasi dari amal anggota badan, bahkan kedudukannya lebih utama. Amal lahiriah tidak akan bernilai tanpa didasari oleh amal batin.Ayat ini juga menunjukkan bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang. Ia bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat. Karena itu, seorang hamba hendaknya selalu menjaga, memelihara, dan menumbuhkan imannya.Sarana utama untuk menumbuhkan iman adalah dengan mentadabburi Kitabullah dan merenungkan makna-maknanya secara mendalam.Kemudian Allah menyebutkan balasan bagi orang-orang yang benar-benar beriman itu:“Bagi mereka derajat-derajat di sisi Tuhan mereka.”Yakni derajat yang tinggi, sesuai dengan tingginya amal dan kualitas iman mereka.“Dan ampunan.”Yaitu pengampunan atas dosa-dosa mereka.“Dan rezeki yang mulia.”Yaitu segala kenikmatan yang Allah siapkan bagi mereka di negeri kemuliaan (surga), berupa kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia.Ayat ini juga menunjukkan bahwa siapa saja yang tidak mencapai tingkatan iman mereka, meskipun ia masuk surga, tidak akan memperoleh kemuliaan yang sempurna sebagaimana yang mereka peroleh. Ketika Allah Menghendaki yang Lebih Besar dari yang Kita InginkanAllah Ta’ala berfirman,كَمَآ أَخْرَجَكَ رَبُّكَ مِنۢ بَيْتِكَ بِٱلْحَقِّ وَإِنَّ فَرِيقًا مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ لَكَٰرِهُونَ“Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dan rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya.” (QS. Al-Anfal: 5)يُجَٰدِلُونَكَ فِى ٱلْحَقِّ بَعْدَمَا تَبَيَّنَ كَأَنَّمَا يُسَاقُونَ إِلَى ٱلْمَوْتِ وَهُمْ يَنظُرُونَ“Mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu).” (QS. Al-Anfal: 6)وَإِذْ يَعِدُكُمُ ٱللَّهُ إِحْدَى ٱلطَّآئِفَتَيْنِ أَنَّهَا لَكُمْ وَتَوَدُّونَ أَنَّ غَيْرَ ذَاتِ ٱلشَّوْكَةِ تَكُونُ لَكُمْ وَيُرِيدُ ٱللَّهُ أَن يُحِقَّ ٱلْحَقَّ بِكَلِمَٰتِهِۦ وَيَقْطَعَ دَابِرَ ٱلْكَٰفِرِينَ“Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir.” (QS. Al-Anfal: 7)لِيُحِقَّ ٱلْحَقَّ وَيُبْطِلَ ٱلْبَٰطِلَ وَلَوْ كَرِهَ ٱلْمُجْرِمُونَ“Agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya.” (QS. Al-Anfal: 8)Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.Sebelum menceritakan perang besar yang penuh keberkahan ini (Perang Badar), Allah terlebih dahulu menyebutkan sifat-sifat yang seharusnya dimiliki oleh kaum mukminin. Sebab, siapa yang menghiasi dirinya dengan sifat-sifat tersebut, maka keadaannya akan lurus dan amal-amalnya akan baik. Di antara amal terbesar itu adalah jihad di jalan Allah.Sebagaimana iman mereka adalah iman yang benar, dan balasan yang dijanjikan Allah kepada mereka adalah benar, demikian pula Allah mengeluarkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dari rumahnya menuju pertemuan dengan kaum musyrikin di Badar dengan membawa kebenaran yang Allah cintai, yang telah Dia tetapkan dan takdirkan.Namun pada awalnya, kaum mukminin tidak menyangka bahwa keberangkatan itu akan berujung pada peperangan melawan musuh. Ketika akhirnya jelas bahwa pertempuran akan terjadi, sebagian dari kaum mukminin mulai berdiskusi dan berdebat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka merasa tidak suka menghadapi musuh, seakan-akan mereka sedang digiring menuju kematian, sementara mereka melihatnya dengan mata kepala sendiri.Padahal sikap seperti itu tidak sepatutnya muncul dari mereka, terlebih setelah jelas bahwa keberangkatan itu adalah atas dasar kebenaran dan merupakan perintah serta keridaan Allah.Dalam kondisi seperti itu, tidak ada lagi ruang untuk perdebatan. Perdebatan hanya relevan ketika kebenaran belum jelas dan perkara masih samar. Adapun ketika kebenaran telah nyata dan terang, maka yang tersisa hanyalah sikap tunduk dan patuh.Perlu diketahui, banyak dari kaum mukminin yang sama sekali tidak terlibat dalam perdebatan tersebut dan tidak merasa keberatan menghadapi musuh. Bahkan mereka yang sempat ditegur oleh Allah pun akhirnya tunduk sepenuhnya untuk berjihad. Allah pun meneguhkan hati mereka dan menyediakan berbagai sebab yang membuat hati mereka menjadi tenang, sebagaimana akan disebutkan kemudian.Awal mula keberangkatan mereka adalah untuk menghadang kafilah dagang Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb menuju Syam. Kafilah itu sangat besar. Ketika terdengar kabar bahwa kafilah tersebut sedang kembali dari Syam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak kaum Muslimin untuk keluar.Maka berangkatlah bersama beliau sekitar tiga ratus lebih sedikit orang. Mereka hanya memiliki tujuh puluh ekor unta yang digunakan secara bergantian, baik untuk ditunggangi maupun membawa perbekalan.Kaum Quraisy mendengar kabar tentang pergerakan kaum Muslimin. Mereka pun keluar untuk melindungi kafilah mereka, dengan jumlah pasukan yang besar dan persenjataan lengkap, terdiri dari sekitar seribu orang dengan perlengkapan senjata dan kuda.Allah menjanjikan kepada kaum mukminin bahwa mereka akan mendapatkan salah satu dari dua kelompok:Entah mereka akan menguasai kafilah,Atau menghadapi pasukan Quraisy.Kaum Muslimin lebih menginginkan kafilah, karena kondisi mereka yang serba terbatas dan karena kafilah itu tidak memiliki kekuatan militer yang besar. Namun Allah menghendaki untuk mereka sesuatu yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada yang mereka inginkan.Allah menghendaki agar mereka berhadapan dengan pasukan Quraisy yang di dalamnya terdapat para pembesar dan tokoh-tokoh utama kaum musyrikin.Allah berfirman, “Dan Allah menghendaki untuk menegakkan kebenaran dengan kalimat-kalimat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir sampai ke akar-akarnya. Agar Dia menegakkan kebenaran dan membatalkan kebatilan, walaupun orang-orang yang berdosa itu tidak menyukainya.”Allah ingin memenangkan kebenaran dan menolong para pembelanya. Dia ingin memusnahkan kebatilan dan para pelakunya hingga ke akar-akarnya. Allah ingin memperlihatkan kepada hamba-hamba-Nya bukti nyata pertolongan-Nya terhadap kebenaran, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terlintas dalam benak mereka.Dengan peristiwa itu, kebenaran semakin jelas melalui tanda-tanda dan bukti-bukti yang nyata. Kebatilan pun tampak kerusakan dan kelemahannya melalui dalil dan peristiwa yang Allah tampakkan, meskipun orang-orang yang berdosa membencinya. Allah tidak memedulikan kebencian mereka terhadap tegaknya kebenaran. Kemenangan Turun Bersama DoaAllah Ta’ala berfirman,إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَٱسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّى مُمِدُّكُم بِأَلْفٍ مِّنَ ٱلْمَلَٰٓئِكَةِ مُرْدِفِينَ“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut”.” (QS. Al-Anfal: 9)Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.Ingatlah nikmat Allah atas kalian, ketika saat pertemuan dengan musuh sudah begitu dekat. Dalam keadaan genting itu, kalian memohon pertolongan kepada Rabb kalian. Kalian berdoa dan merendahkan diri, meminta agar Allah menolong dan menguatkan kalian. Maka Allah pun mengabulkan permohonan kalian. Dia menyelamatkan dan menolong kalian dengan berbagai bentuk pertolongan.Di antara bentuk pertolongan itu adalah Allah mengirimkan kepada kalian seribu malaikat sebagai bala bantuan.Murdifīn artinya para malaikat itu datang secara beriringan, saling menyusul satu sama lain. Mereka turun sebagai pasukan bantuan yang memperkuat barisan kaum mukminin.Ini menunjukkan bahwa kemenangan yang diraih bukan semata-mata karena kekuatan jumlah atau perlengkapan, tetapi karena pertolongan Allah yang turun sebagai jawaban atas doa dan istighatsah (permohonan pertolongan) yang tulus dari kaum beriman. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا جَعَلَهُ ٱللَّهُ إِلَّا بُشْرَىٰ وَلِتَطْمَئِنَّ بِهِۦ قُلُوبُكُمْ ۚ وَمَا ٱلنَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِندِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ“Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfal: 10)Allah tidak menjadikan turunnya para malaikat itu kecuali sebagai kabar gembira bagi kalian, agar jiwa kalian merasa senang dan penuh harapan.Selain itu, Allah juga menjadikannya sebagai sebab agar hati kalian menjadi tenang dan mantap. Dengan mengetahui bahwa bala bantuan dari langit telah datang, rasa gentar dan kekhawatiran pun berubah menjadi keyakinan dan keberanian.Namun hakikatnya, kemenangan bukanlah karena banyaknya jumlah pasukan atau lengkapnya persenjataan. Kemenangan itu semata-mata datang dari sisi Allah.Firman-Nya, “Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah,” menegaskan bahwa sebab-sebab lahiriah hanyalah sarana. Adapun penentu kemenangan yang sebenarnya adalah kehendak dan pertolongan Allah.“Sesungguhnya Allah Mahaperkasa (ʿAzīz).”Tidak ada yang mampu mengalahkan-Nya. Dia Mahakuat dan Mahamengalahkan. Dia dapat menundukkan siapa pun, sekalipun mereka memiliki jumlah besar dan perlengkapan yang lengkap.“Lagi Mahabijaksana (Ḥakīm).”Dia menetapkan segala sesuatu dengan hikmah. Dia mengatur berbagai peristiwa dengan sebab-sebab yang sesuai dan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang tepat.Maka kemenangan di Badar bukan sekadar peristiwa militer, melainkan bukti nyata kekuasaan dan hikmah Allah dalam menolong hamba-hamba-Nya yang beriman.Oleh karenanya, Allah menegaskan di ayat 17,فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ قَتَلَهُمْ ۚ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ رَمَىٰ ۚ وَلِيُبْلِىَ ٱلْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلَآءً حَسَنًا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 17)Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.Allah Ta’ala berfirman tentang peristiwa ketika kaum musyrikin kalah dalam Perang Badar dan banyak dari mereka terbunuh oleh kaum Muslimin:“Maka bukanlah kalian yang membunuh mereka, tetapi Allah-lah yang membunuh mereka.”Artinya, bukan karena kekuatan dan kemampuan kalian semata mereka bisa dikalahkan. Namun Allah-lah yang menolong dan membantu kalian dengan berbagai sebab yang telah disebutkan sebelumnya.Kemudian Allah berfirman,“Dan bukanlah engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah-lah yang melempar.”Peristiwa ini terjadi ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di tengah peperangan, masuk ke dalam tenda (arisy) dan berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah, memohon pertolongan dan kemenangan. Setelah itu, beliau keluar, mengambil segenggam tanah, lalu melemparkannya ke arah wajah kaum musyrikin.Dengan kekuasaan Allah, tanah itu sampai ke wajah-wajah mereka. Tidak ada seorang pun dari mereka kecuali terkena tanah tersebut di wajah, mulut, atau matanya. Saat itulah kekuatan mereka runtuh, semangat mereka melemah, tampak pada diri mereka kegagalan dan kelemahan, lalu mereka pun lari dalam kekalahan.Allah menegaskan kepada Nabi-Nya: bukan dengan kekuatanmu tanah itu sampai ke mata-mata mereka. Kamilah yang menyampaikannya dengan kekuasaan dan kemampuan Kami.Kemudian Allah berfirman,“Dan agar Dia memberikan kepada orang-orang mukmin suatu ujian yang baik.”Maksudnya, Allah sebenarnya mampu memenangkan kaum mukminin tanpa peperangan sama sekali. Namun Allah menghendaki untuk menguji mereka, agar melalui jihad mereka mencapai derajat yang tinggi dan kedudukan yang mulia. Allah ingin memberi mereka pahala yang besar dan balasan yang indah.Dan Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya,“Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”Dia Maha Mendengar apa yang diucapkan hamba, baik yang disembunyikan maupun yang dinyatakan. Dia Maha Mengetahui apa yang ada di dalam hati, baik niat yang baik maupun sebaliknya. Maka Allah menetapkan berbagai ketentuan bagi hamba-hamba-Nya sesuai dengan ilmu, hikmah, dan kemaslahatan mereka. Dan Dia membalas setiap orang sesuai dengan niat dan amalnya. Aturan Pembagian Harta RampasanAllah Ta’ala berfirman,۞ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا غَنِمْتُم مِّن شَىْءٍ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُۥ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ إِن كُنتُمْ ءَامَنتُم بِٱللَّهِ وَمَآ أَنزَلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا يَوْمَ ٱلْفُرْقَانِ يَوْمَ ٱلْتَقَى ٱلْجَمْعَانِ ۗ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ“Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Anfal: 41)Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.Allah Ta’ala berfirman, “Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang kalian peroleh sebagai rampasan perang…”Yakni apa saja yang kalian ambil dari harta orang-orang kafir melalui peperangan yang sah, baik sedikit maupun banyak.“Maka sesungguhnya seperlimanya adalah untuk Allah.”Artinya, seperlima dari harta rampasan itu dikeluarkan terlebih dahulu. Adapun sisanya menjadi hak para pejuang yang ikut dalam peperangan, sebagaimana pembagian yang telah ditetapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: bagi pejalan kaki satu bagian, sedangkan bagi penunggang kuda dua bagian untuk kudanya dan satu bagian untuk dirinya.Adapun seperlima (khumus) tersebut dibagi menjadi lima bagian:1. Bagian untuk Allah dan Rasul-Nya.Maksudnya, digunakan untuk kepentingan umum kaum Muslimin. Karena Allah dan Rasul-Nya tidak membutuhkan harta, maka jelas bahwa bagian ini diperuntukkan bagi kemaslahatan umat secara luas. Ketika Allah tidak merinci penggunaannya, itu menunjukkan bahwa ia dipakai untuk berbagai kebutuhan umum umat Islam.2. Bagian untuk kerabat (dzil qurba).Yaitu kerabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Allah menyebutkan “kerabat” sebagai sebab pemberian tersebut, sehingga kaya maupun miskin, laki-laki maupun perempuan dari kalangan mereka, semuanya berhak atas bagian ini.3. Bagian untuk anak-anak yatim.Yaitu anak-anak yang ditinggal wafat ayahnya dalam keadaan masih kecil. Allah memberikan bagian ini sebagai bentuk kasih sayang kepada mereka, karena mereka belum mampu mengurus kebutuhan diri dan telah kehilangan penanggung nafkahnya.4. Bagian untuk orang-orang miskin.Yaitu kaum fakir yang membutuhkan, baik kecil maupun dewasa, laki-laki maupun perempuan.5. Bagian untuk ibnu sabil.Yaitu musafir yang terputus bekalnya di negeri orang.Sebagian ulama berpendapat bahwa seperlima ini tidak harus dibagi rata kepada semua golongan, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan dan kemaslahatan. Pendapat ini lebih kuat karena pembagian tersebut mengikuti maslahat yang ada.Kemudian Allah menjadikan pelaksanaan pembagian khumus ini sebagai bagian dari konsekuensi iman. Allah berfirman, “Jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami pada hari Furqan.”Yang dimaksud dengan hari Furqan adalah hari Perang Badar, hari ketika Allah membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Pada hari itu, Allah menampakkan kebenaran dan menghancurkan kebatilan.“Yaitu hari bertemunya dua pasukan,” yakni pasukan kaum Muslimin dan pasukan kaum kafir.Seakan-akan Allah berfirman: Jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan kepada wahyu yang diturunkan kepada Rasul-Nya pada hari yang penuh bukti dan tanda kebenaran itu, maka tunaikanlah pembagian ini sebagaimana yang diperintahkan.Dan Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya, “Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” Tidak ada yang mampu mengalahkan-Nya. Siapa pun yang menentang-Nya pasti akan dikalahkan. Dialah yang memenangkan kaum mukminin di Badar dan menegakkan kebenaran dengan kekuasaan-Nya. Allah yang Mempertemukan Dua PasukanAllah Ta’ala berfirman,إِذْ أَنتُم بِٱلْعُدْوَةِ ٱلدُّنْيَا وَهُم بِٱلْعُدْوَةِ ٱلْقُصْوَىٰ وَٱلرَّكْبُ أَسْفَلَ مِنكُمْ ۚ وَلَوْ تَوَاعَدتُّمْ لَٱخْتَلَفْتُمْ فِى ٱلْمِيعَٰدِ ۙ وَلَٰكِن لِّيَقْضِىَ ٱللَّهُ أَمْرًا كَانَ مَفْعُولًا لِّيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنۢ بَيِّنَةٍ وَيَحْيَىٰ مَنْ حَىَّ عَنۢ بَيِّنَةٍ ۗ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَسَمِيعٌ عَلِيمٌ“(Yaitu di hari) ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat dan mereka berada di pinggir lembah yang jauh sedang kafilah itu berada di bawah kamu. Sekiranya kamu mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari pertempuran), pastilah kamu tidak sependapat dalam menentukan hari pertempuran itu, akan tetapi (Allah mempertemukan dua pasukan itu) agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan, yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 42)Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.“(Yaitu) ketika kalian berada di tepi lembah yang dekat…”Maksudnya, di sisi lembah yang lebih dekat ke arah Madinah. Sedangkan mereka (pasukan musyrikin) berada di sisi lembah yang jauh dari Madinah. Dengan demikian, kalian dan mereka berada dalam satu lembah yang sama, hanya berbeda sisi.“Dan kafilah itu berada di bawah kalian…”Yaitu kafilah dagang yang awalnya kalian tuju, tetapi Allah menghendaki selain itu, berada di posisi lebih bawah dari kalian, ke arah pantai laut.“Dan sekiranya kalian mengadakan perjanjian…”Yakni jika kalian dan mereka sepakat untuk menentukan waktu dan tempat pertemuan dalam kondisi seperti itu,“niscaya kalian akan berselisih dalam menentukan waktu.”Artinya, pasti akan terjadi perbedaan—entah ada yang datang lebih awal atau lebih lambat, memilih tempat berbeda, atau terjadi sebab-sebab lain yang menghalangi kalian dari waktu yang telah disepakati.“Tetapi…”Allah-lah yang mempertemukan kalian dalam keadaan seperti itu,“agar Allah menetapkan suatu urusan yang pasti terlaksana.”Yaitu sesuatu yang telah ditakdirkan sejak dahulu dan pasti terjadi.“Agar binasa orang yang binasa dengan bukti yang nyata.”Artinya, agar orang yang tetap dalam kekafiran melakukannya setelah jelas kebenaran di hadapannya. Ia memilih kekafiran dengan sadar dan yakin bahwa itu batil, sehingga tidak tersisa lagi alasan baginya di hadapan Allah.“Dan agar hidup orang yang hidup dengan bukti yang nyata.”Yaitu agar orang beriman semakin bertambah keyakinan dan keteguhan hatinya setelah Allah memperlihatkan kepada kedua kelompok bukti-bukti dan dalil-dalil kebenaran yang nyata. Itu menjadi pelajaran bagi orang-orang yang berakal.“Dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”Dia Maha Mendengar seluruh suara, dalam berbagai bahasa dan dengan berbagai kebutuhan. Dia Maha Mengetahui segala yang tampak maupun yang tersembunyi, apa yang ada dalam hati dan apa yang terlihat, yang gaib maupun yang nyata. Pelajaran Menarik dari Ayat-Ayat Perang Badar1. Ujian Harta Mengungkap Kualitas ImanKemenangan di medan perang langsung diikuti ujian harta. Ketika ghanimah dipersoalkan, Allah tidak langsung membahas teknis pembagian, tetapi memerintahkan takwa dan perbaikan hati. Artinya, konflik harta adalah ujian iman.2. Ciri Mukmin Sejati Bukan Sekadar Ikut BerperangIman yang benar terlihat dari hati yang bergetar saat nama Allah disebut, iman yang bertambah saat ayat dibacakan, tawakal yang kuat, shalat yang ditegakkan, dan infak yang ditunaikan. Kemenangan lahir dari kualitas iman, bukan jumlah pasukan.3. Allah Menghendaki yang Lebih Besar dari Keinginan ManusiaSahabat ingin kafilah yang mudah. Allah menghendaki pertempuran besar untuk menegakkan kebenaran. Terkadang yang kita inginkan bukan yang terbaik menurut Allah.4. Doa adalah Kunci Turunnya PertolonganSeribu malaikat turun bukan karena strategi, tetapi karena istighatsah yang tulus. Kemenangan bukan karena jumlah, tetapi karena pertolongan Allah.5. Pembagian Harta adalah Amanah ImanSeperlima ghanimah diatur secara jelas. Ada hak Allah, Rasul, kerabat, yatim, miskin, dan ibnu sabil. Keadilan dalam distribusi adalah bagian dari konsekuensi iman.6. Allah yang Mengatur Pertemuan dan TakdirPertemuan dua pasukan bukan kebetulan. Allah mempertemukan mereka agar kebenaran tampak jelas dan kebatilan runtuh tanpa alasan tersisa. Doa Penutupاللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ، وَأَنْ تَغْفِرَ لَنَا وَتَرْحَمَنَا، وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةً فِي قَوْمٍ فَتَوَفَّنَا غَيْرَ مَفْتُونِينَ، وَنَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنَا إِلَى حُبِّكَ.Ya Allah, kami memohon kepada-Mu agar Engkau memberi kami kemampuan untuk melakukan berbagai kebaikan, menjauhi segala kemungkaran, dan mencintai orang-orang miskin. Kami juga memohon agar Engkau mengampuni dan merahmati kami. Jika Engkau hendak menimpakan ujian atau fitnah kepada suatu kaum, maka wafatkanlah kami dalam keadaan tidak terkena fitnah tersebut. Dan kami memohon kepada-Mu cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu, serta cinta terhadap amal yang dapat mendekatkan kami kepada cinta-Mu. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic —– Kamis Sore, 9 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsberperang Ghanimah dalam Islam Harta Rampasan Perang hikmah perang Kemenangan dalam Islam Pelajaran Perang Badar Pembagian Khumus perang badar renungan ayat renungan quran Surah Al-Anfal Tafsir Al-Anfal tawakal kepada Allah Ujian Iman