Sulit Lepas dari Maksiat? Jangan Tinggalkan Doa Ini – Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Abbad

Satu nasihat yang saya harapkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar Allah menjadikannya sangat bermanfaat. Nasihat ini untuk para pelaku maksiat, orang-orang yang menyia-nyiakan dan melalaikan ketaatan kepada Allah. Di antara nasihat terbaik untuk mereka adalah agar memperbanyak doa kepada Allah agar Allah memberinya hidayah. Mereka dinasihati dengan ini. Misalnya, dikatakan kepadanya, “Perbanyaklah membaca doa ini: ALLAAHUMMAHDINII WA SADDID NII ‘Ya Allah, berilah aku hidayah dan bimbinglah aku kepada kelurusan.’” (HR. An-Nasa’i) Dikatakan kepadanya, “Doa ini lafaznya singkat, tetapi merangkum seluruh kebaikan bagimu. Perbanyaklah membaca doa ini! Hadapkan hatimu kepada Allah dan perbanyaklah membaca doa ini: ALLAAHUMMAHDINII WA SADDID NII ‘Ya Allah, berilah aku hidayah dan bimbinglah aku kepada kelurusan.’” (HR. An-Nasa’i) Apa yang Allah firmankan dalam hadis ini? “Mintalah hidayah kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian hidayah.” (HR. Muslim) Artinya, “Mintalah hidayah kepada-Ku.” Arahkanlah ia kepada permohonan ini. Ajarkanlah ia untuk memohon kepada Allah, hingga seorang hamba menyadari kelemahan dan kefakirannya kepada Rabb-nya, agar Allah memberinya hidayah. Sebab, dalam kehidupan ini, berbagai perkara mengepungnya dari banyak arah. Begitu banyak perkara menguasai dan menghimpitnya: dari arah setan dan dari dorongan jiwanya sendiri,dari teman-teman yang buruk dan berbagai fitnah dunia. Begitu banyak perkara menghimpitnya, sementara dirinya berada dalam keadaan yang sangat lemah. Tidak ada yang dapat melindunginya selain Allah, dan tidak ada yang dapat menyelamatkannya dari semua itu selain Allah. Maka arahan terbaik yang dapat diberikan kepadanya adalah berdoa. Ia dinasihati agar memperbanyak doa. Dikatakan kepadanya, “Wahai Fulan, perbanyaklah memohon hidayah kepada Allah. ALLAAHUMMAHDINII ‘Ya Allah, berilah aku hidayah.’ ALLAAHUMMAHDINII FIIMAN HADAITA ‘Ya Allah, berilah aku hidayah bersama orang-orang yang telah Engkau beri hidayah.’ (HR. Abu Daud) ALLAAHUMMA INNII AS ALUKAL HIDAAYAH ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon hidayah kepada-Mu.’ IHDINASH SHIROOTHOL MUSTAQIIM ‘Tunjukilah kami jalan yang lurus.’ (QS. Al-Fatihah: 6) ALLAAHUMMA INNII AS ALUKAL HUDAA WAT TUQOO WAL ‘IFFATA WAL GHINAA ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kehormatan diri, dan kecukupan.’” (HR. Muslim) Ada banyak doa yang memuat permohonan ini. Maka ia diarahkan untuk mengamalkannya. Bersamaan dengan arahan untuk berdoa, dikatakan pula kepadanya, “Bersungguh-sungguhlah menundukkan hawa nafsumu. Iringilah doa dengan kesungguhan dalam melawan hawa nafsu.” Jika ia menggabungkan doa dengan perjuangan menundukkan hawa nafsunya, ia akan diberi hidayah dengan izin Allah. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman dalam hadis ini, “Mintalah hidayah kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian hidayah.” (HR. Muslim) Ini berkaitan dengan memohon hidayah. Adapun tentang bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu, Allah Jalla wa ‘Ala berfirman, “Orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut: 69) ===== نَصِيحَةٌ أَرْجُو اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُعَظِّمَ النَّفْعَ بِهَا وَهِيَ… الْعُصَاةُ الْمُضَيِّعُونَ الْمُفَرِّطُونَ الْمُتَهَاوِنُونَ فِي طَاعَةِ اللهِ مِنْ خَيْرِ مَا يُرْشَدُ إِلَيْهِ وَيُوصَى بِهِ أَنْ يُكْثِرَ مِنْ دُعَاءِ اللهِ أَنْ يَهْدِيَهُ يُنْصَحُ بِهَذَا يُقَالُ لَهُ مَثَلًا: أَكْثِرْ مِنْ هَذَا الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي يُقَالُ: هَذَا دُعَاءٌ مُخْتَصَرَةٌ أَلْفَاظُهُ جَمَعَ لَكَ الْخَيْرَ أَكْثِرْ مِنْ هَذَا الدُّعَاءِ أَقْبِلْ عَلَى اللهِ بِقَلْبِكَ وَأَكْثِرْ مِنْ هَذَا الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي مَاذَا قَالَ اللهُ هُنَا؟ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ يَعْنِي: اطْلُبُوا مِنِّي الْهِدَايَةَ أَرْشِدْهُ إِلَى هَذَا الطَّلَبِ عَلِّمْهُ أَنْ يَطْلُبَ مِنَ اللهِ حَتَّى يَسْتَشْعِرَ الْعَبْدُ ضَعْفَهُ وَفَقْرَهُ إِلَى رَبِّهِ أَنْ يَهْدِيَهُ لِأَنَّهُ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ تَسَلَّطَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ مِنْ جِهَاتٍ تَسَلَّطَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ كَثِيرَةٌ مِنْ جِهَةِ الشَّيْطَانِ مِنْ جِهَةٍ، وَالنَّفْسِ مِنْ جِهَةٍ وَقُرَنَاءِ السُّوءِ مِنْ جِهَةٍ، وَفِتَنِ الدُّنْيَا مِنْ جِهَةٍ تَسَلَّطَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ كَثِيرَةٌ فَهُوَ فِي غَايَةِ الضَّعْفِ لَا عَاصِمَ لَهُ إِلَّا اللهُ وَلَا مُخَلِّصَ لَهُ مِنْ ذَلِكَ إِلَّا اللهُ فَخَيْرُ مَا يُرْشَدُ إِلَيْهِ الدُّعَاءُ يُوصَى بِالدُّعَاءِ، يُقَالُ لَهُ: يَا فُلَانُ، أَكْثِرْ مِنْ سُؤَالِ اللهِ الْهِدَايَةَ اللَّهُمَّ اهْدِنِي اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهِدَايَةَ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعِفَّةَ وَالْغِنَى أَدْعِيَةٌ كَثِيرَةٌ فِي هَذَا الْمَطْلَبِ فَيُرْشَدُ إِلَى ذَلِكَ وَمَعَ إِرْشَادِهِ إِلَى الدُّعَاءِ يُقَالُ لَهُ أَيْضًا وَجَاهِدْ نَفْسَكَ أَتْبِعِ الدُّعَاءَ بِالْمُجَاهَدَةِ فَإِذَا جَمَعَ بَيْنَ الدُّعَاءِ وَالْمُجَاهَدَةِ لِلنَّفْسِ هُدِيَ بِإِذْنِ اللهِ اللهُ جَلَّ وَعَلَا قَالَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ هَذَا فِي السُّؤَالِ وَفِي الْمُجَاهَدَةِ قَالَ جَلَّ وَعَلَا وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

Sulit Lepas dari Maksiat? Jangan Tinggalkan Doa Ini – Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Abbad

Satu nasihat yang saya harapkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar Allah menjadikannya sangat bermanfaat. Nasihat ini untuk para pelaku maksiat, orang-orang yang menyia-nyiakan dan melalaikan ketaatan kepada Allah. Di antara nasihat terbaik untuk mereka adalah agar memperbanyak doa kepada Allah agar Allah memberinya hidayah. Mereka dinasihati dengan ini. Misalnya, dikatakan kepadanya, “Perbanyaklah membaca doa ini: ALLAAHUMMAHDINII WA SADDID NII ‘Ya Allah, berilah aku hidayah dan bimbinglah aku kepada kelurusan.’” (HR. An-Nasa’i) Dikatakan kepadanya, “Doa ini lafaznya singkat, tetapi merangkum seluruh kebaikan bagimu. Perbanyaklah membaca doa ini! Hadapkan hatimu kepada Allah dan perbanyaklah membaca doa ini: ALLAAHUMMAHDINII WA SADDID NII ‘Ya Allah, berilah aku hidayah dan bimbinglah aku kepada kelurusan.’” (HR. An-Nasa’i) Apa yang Allah firmankan dalam hadis ini? “Mintalah hidayah kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian hidayah.” (HR. Muslim) Artinya, “Mintalah hidayah kepada-Ku.” Arahkanlah ia kepada permohonan ini. Ajarkanlah ia untuk memohon kepada Allah, hingga seorang hamba menyadari kelemahan dan kefakirannya kepada Rabb-nya, agar Allah memberinya hidayah. Sebab, dalam kehidupan ini, berbagai perkara mengepungnya dari banyak arah. Begitu banyak perkara menguasai dan menghimpitnya: dari arah setan dan dari dorongan jiwanya sendiri,dari teman-teman yang buruk dan berbagai fitnah dunia. Begitu banyak perkara menghimpitnya, sementara dirinya berada dalam keadaan yang sangat lemah. Tidak ada yang dapat melindunginya selain Allah, dan tidak ada yang dapat menyelamatkannya dari semua itu selain Allah. Maka arahan terbaik yang dapat diberikan kepadanya adalah berdoa. Ia dinasihati agar memperbanyak doa. Dikatakan kepadanya, “Wahai Fulan, perbanyaklah memohon hidayah kepada Allah. ALLAAHUMMAHDINII ‘Ya Allah, berilah aku hidayah.’ ALLAAHUMMAHDINII FIIMAN HADAITA ‘Ya Allah, berilah aku hidayah bersama orang-orang yang telah Engkau beri hidayah.’ (HR. Abu Daud) ALLAAHUMMA INNII AS ALUKAL HIDAAYAH ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon hidayah kepada-Mu.’ IHDINASH SHIROOTHOL MUSTAQIIM ‘Tunjukilah kami jalan yang lurus.’ (QS. Al-Fatihah: 6) ALLAAHUMMA INNII AS ALUKAL HUDAA WAT TUQOO WAL ‘IFFATA WAL GHINAA ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kehormatan diri, dan kecukupan.’” (HR. Muslim) Ada banyak doa yang memuat permohonan ini. Maka ia diarahkan untuk mengamalkannya. Bersamaan dengan arahan untuk berdoa, dikatakan pula kepadanya, “Bersungguh-sungguhlah menundukkan hawa nafsumu. Iringilah doa dengan kesungguhan dalam melawan hawa nafsu.” Jika ia menggabungkan doa dengan perjuangan menundukkan hawa nafsunya, ia akan diberi hidayah dengan izin Allah. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman dalam hadis ini, “Mintalah hidayah kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian hidayah.” (HR. Muslim) Ini berkaitan dengan memohon hidayah. Adapun tentang bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu, Allah Jalla wa ‘Ala berfirman, “Orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut: 69) ===== نَصِيحَةٌ أَرْجُو اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُعَظِّمَ النَّفْعَ بِهَا وَهِيَ… الْعُصَاةُ الْمُضَيِّعُونَ الْمُفَرِّطُونَ الْمُتَهَاوِنُونَ فِي طَاعَةِ اللهِ مِنْ خَيْرِ مَا يُرْشَدُ إِلَيْهِ وَيُوصَى بِهِ أَنْ يُكْثِرَ مِنْ دُعَاءِ اللهِ أَنْ يَهْدِيَهُ يُنْصَحُ بِهَذَا يُقَالُ لَهُ مَثَلًا: أَكْثِرْ مِنْ هَذَا الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي يُقَالُ: هَذَا دُعَاءٌ مُخْتَصَرَةٌ أَلْفَاظُهُ جَمَعَ لَكَ الْخَيْرَ أَكْثِرْ مِنْ هَذَا الدُّعَاءِ أَقْبِلْ عَلَى اللهِ بِقَلْبِكَ وَأَكْثِرْ مِنْ هَذَا الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي مَاذَا قَالَ اللهُ هُنَا؟ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ يَعْنِي: اطْلُبُوا مِنِّي الْهِدَايَةَ أَرْشِدْهُ إِلَى هَذَا الطَّلَبِ عَلِّمْهُ أَنْ يَطْلُبَ مِنَ اللهِ حَتَّى يَسْتَشْعِرَ الْعَبْدُ ضَعْفَهُ وَفَقْرَهُ إِلَى رَبِّهِ أَنْ يَهْدِيَهُ لِأَنَّهُ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ تَسَلَّطَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ مِنْ جِهَاتٍ تَسَلَّطَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ كَثِيرَةٌ مِنْ جِهَةِ الشَّيْطَانِ مِنْ جِهَةٍ، وَالنَّفْسِ مِنْ جِهَةٍ وَقُرَنَاءِ السُّوءِ مِنْ جِهَةٍ، وَفِتَنِ الدُّنْيَا مِنْ جِهَةٍ تَسَلَّطَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ كَثِيرَةٌ فَهُوَ فِي غَايَةِ الضَّعْفِ لَا عَاصِمَ لَهُ إِلَّا اللهُ وَلَا مُخَلِّصَ لَهُ مِنْ ذَلِكَ إِلَّا اللهُ فَخَيْرُ مَا يُرْشَدُ إِلَيْهِ الدُّعَاءُ يُوصَى بِالدُّعَاءِ، يُقَالُ لَهُ: يَا فُلَانُ، أَكْثِرْ مِنْ سُؤَالِ اللهِ الْهِدَايَةَ اللَّهُمَّ اهْدِنِي اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهِدَايَةَ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعِفَّةَ وَالْغِنَى أَدْعِيَةٌ كَثِيرَةٌ فِي هَذَا الْمَطْلَبِ فَيُرْشَدُ إِلَى ذَلِكَ وَمَعَ إِرْشَادِهِ إِلَى الدُّعَاءِ يُقَالُ لَهُ أَيْضًا وَجَاهِدْ نَفْسَكَ أَتْبِعِ الدُّعَاءَ بِالْمُجَاهَدَةِ فَإِذَا جَمَعَ بَيْنَ الدُّعَاءِ وَالْمُجَاهَدَةِ لِلنَّفْسِ هُدِيَ بِإِذْنِ اللهِ اللهُ جَلَّ وَعَلَا قَالَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ هَذَا فِي السُّؤَالِ وَفِي الْمُجَاهَدَةِ قَالَ جَلَّ وَعَلَا وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
Satu nasihat yang saya harapkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar Allah menjadikannya sangat bermanfaat. Nasihat ini untuk para pelaku maksiat, orang-orang yang menyia-nyiakan dan melalaikan ketaatan kepada Allah. Di antara nasihat terbaik untuk mereka adalah agar memperbanyak doa kepada Allah agar Allah memberinya hidayah. Mereka dinasihati dengan ini. Misalnya, dikatakan kepadanya, “Perbanyaklah membaca doa ini: ALLAAHUMMAHDINII WA SADDID NII ‘Ya Allah, berilah aku hidayah dan bimbinglah aku kepada kelurusan.’” (HR. An-Nasa’i) Dikatakan kepadanya, “Doa ini lafaznya singkat, tetapi merangkum seluruh kebaikan bagimu. Perbanyaklah membaca doa ini! Hadapkan hatimu kepada Allah dan perbanyaklah membaca doa ini: ALLAAHUMMAHDINII WA SADDID NII ‘Ya Allah, berilah aku hidayah dan bimbinglah aku kepada kelurusan.’” (HR. An-Nasa’i) Apa yang Allah firmankan dalam hadis ini? “Mintalah hidayah kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian hidayah.” (HR. Muslim) Artinya, “Mintalah hidayah kepada-Ku.” Arahkanlah ia kepada permohonan ini. Ajarkanlah ia untuk memohon kepada Allah, hingga seorang hamba menyadari kelemahan dan kefakirannya kepada Rabb-nya, agar Allah memberinya hidayah. Sebab, dalam kehidupan ini, berbagai perkara mengepungnya dari banyak arah. Begitu banyak perkara menguasai dan menghimpitnya: dari arah setan dan dari dorongan jiwanya sendiri,dari teman-teman yang buruk dan berbagai fitnah dunia. Begitu banyak perkara menghimpitnya, sementara dirinya berada dalam keadaan yang sangat lemah. Tidak ada yang dapat melindunginya selain Allah, dan tidak ada yang dapat menyelamatkannya dari semua itu selain Allah. Maka arahan terbaik yang dapat diberikan kepadanya adalah berdoa. Ia dinasihati agar memperbanyak doa. Dikatakan kepadanya, “Wahai Fulan, perbanyaklah memohon hidayah kepada Allah. ALLAAHUMMAHDINII ‘Ya Allah, berilah aku hidayah.’ ALLAAHUMMAHDINII FIIMAN HADAITA ‘Ya Allah, berilah aku hidayah bersama orang-orang yang telah Engkau beri hidayah.’ (HR. Abu Daud) ALLAAHUMMA INNII AS ALUKAL HIDAAYAH ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon hidayah kepada-Mu.’ IHDINASH SHIROOTHOL MUSTAQIIM ‘Tunjukilah kami jalan yang lurus.’ (QS. Al-Fatihah: 6) ALLAAHUMMA INNII AS ALUKAL HUDAA WAT TUQOO WAL ‘IFFATA WAL GHINAA ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kehormatan diri, dan kecukupan.’” (HR. Muslim) Ada banyak doa yang memuat permohonan ini. Maka ia diarahkan untuk mengamalkannya. Bersamaan dengan arahan untuk berdoa, dikatakan pula kepadanya, “Bersungguh-sungguhlah menundukkan hawa nafsumu. Iringilah doa dengan kesungguhan dalam melawan hawa nafsu.” Jika ia menggabungkan doa dengan perjuangan menundukkan hawa nafsunya, ia akan diberi hidayah dengan izin Allah. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman dalam hadis ini, “Mintalah hidayah kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian hidayah.” (HR. Muslim) Ini berkaitan dengan memohon hidayah. Adapun tentang bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu, Allah Jalla wa ‘Ala berfirman, “Orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut: 69) ===== نَصِيحَةٌ أَرْجُو اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُعَظِّمَ النَّفْعَ بِهَا وَهِيَ… الْعُصَاةُ الْمُضَيِّعُونَ الْمُفَرِّطُونَ الْمُتَهَاوِنُونَ فِي طَاعَةِ اللهِ مِنْ خَيْرِ مَا يُرْشَدُ إِلَيْهِ وَيُوصَى بِهِ أَنْ يُكْثِرَ مِنْ دُعَاءِ اللهِ أَنْ يَهْدِيَهُ يُنْصَحُ بِهَذَا يُقَالُ لَهُ مَثَلًا: أَكْثِرْ مِنْ هَذَا الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي يُقَالُ: هَذَا دُعَاءٌ مُخْتَصَرَةٌ أَلْفَاظُهُ جَمَعَ لَكَ الْخَيْرَ أَكْثِرْ مِنْ هَذَا الدُّعَاءِ أَقْبِلْ عَلَى اللهِ بِقَلْبِكَ وَأَكْثِرْ مِنْ هَذَا الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي مَاذَا قَالَ اللهُ هُنَا؟ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ يَعْنِي: اطْلُبُوا مِنِّي الْهِدَايَةَ أَرْشِدْهُ إِلَى هَذَا الطَّلَبِ عَلِّمْهُ أَنْ يَطْلُبَ مِنَ اللهِ حَتَّى يَسْتَشْعِرَ الْعَبْدُ ضَعْفَهُ وَفَقْرَهُ إِلَى رَبِّهِ أَنْ يَهْدِيَهُ لِأَنَّهُ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ تَسَلَّطَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ مِنْ جِهَاتٍ تَسَلَّطَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ كَثِيرَةٌ مِنْ جِهَةِ الشَّيْطَانِ مِنْ جِهَةٍ، وَالنَّفْسِ مِنْ جِهَةٍ وَقُرَنَاءِ السُّوءِ مِنْ جِهَةٍ، وَفِتَنِ الدُّنْيَا مِنْ جِهَةٍ تَسَلَّطَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ كَثِيرَةٌ فَهُوَ فِي غَايَةِ الضَّعْفِ لَا عَاصِمَ لَهُ إِلَّا اللهُ وَلَا مُخَلِّصَ لَهُ مِنْ ذَلِكَ إِلَّا اللهُ فَخَيْرُ مَا يُرْشَدُ إِلَيْهِ الدُّعَاءُ يُوصَى بِالدُّعَاءِ، يُقَالُ لَهُ: يَا فُلَانُ، أَكْثِرْ مِنْ سُؤَالِ اللهِ الْهِدَايَةَ اللَّهُمَّ اهْدِنِي اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهِدَايَةَ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعِفَّةَ وَالْغِنَى أَدْعِيَةٌ كَثِيرَةٌ فِي هَذَا الْمَطْلَبِ فَيُرْشَدُ إِلَى ذَلِكَ وَمَعَ إِرْشَادِهِ إِلَى الدُّعَاءِ يُقَالُ لَهُ أَيْضًا وَجَاهِدْ نَفْسَكَ أَتْبِعِ الدُّعَاءَ بِالْمُجَاهَدَةِ فَإِذَا جَمَعَ بَيْنَ الدُّعَاءِ وَالْمُجَاهَدَةِ لِلنَّفْسِ هُدِيَ بِإِذْنِ اللهِ اللهُ جَلَّ وَعَلَا قَالَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ هَذَا فِي السُّؤَالِ وَفِي الْمُجَاهَدَةِ قَالَ جَلَّ وَعَلَا وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا


Satu nasihat yang saya harapkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar Allah menjadikannya sangat bermanfaat. Nasihat ini untuk para pelaku maksiat, orang-orang yang menyia-nyiakan dan melalaikan ketaatan kepada Allah. Di antara nasihat terbaik untuk mereka adalah agar memperbanyak doa kepada Allah agar Allah memberinya hidayah. Mereka dinasihati dengan ini. Misalnya, dikatakan kepadanya, “Perbanyaklah membaca doa ini: ALLAAHUMMAHDINII WA SADDID NII ‘Ya Allah, berilah aku hidayah dan bimbinglah aku kepada kelurusan.’” (HR. An-Nasa’i) Dikatakan kepadanya, “Doa ini lafaznya singkat, tetapi merangkum seluruh kebaikan bagimu. Perbanyaklah membaca doa ini! Hadapkan hatimu kepada Allah dan perbanyaklah membaca doa ini: ALLAAHUMMAHDINII WA SADDID NII ‘Ya Allah, berilah aku hidayah dan bimbinglah aku kepada kelurusan.’” (HR. An-Nasa’i) Apa yang Allah firmankan dalam hadis ini? “Mintalah hidayah kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian hidayah.” (HR. Muslim) Artinya, “Mintalah hidayah kepada-Ku.” Arahkanlah ia kepada permohonan ini. Ajarkanlah ia untuk memohon kepada Allah, hingga seorang hamba menyadari kelemahan dan kefakirannya kepada Rabb-nya, agar Allah memberinya hidayah. Sebab, dalam kehidupan ini, berbagai perkara mengepungnya dari banyak arah. Begitu banyak perkara menguasai dan menghimpitnya: dari arah setan dan dari dorongan jiwanya sendiri,dari teman-teman yang buruk dan berbagai fitnah dunia. Begitu banyak perkara menghimpitnya, sementara dirinya berada dalam keadaan yang sangat lemah. Tidak ada yang dapat melindunginya selain Allah, dan tidak ada yang dapat menyelamatkannya dari semua itu selain Allah. Maka arahan terbaik yang dapat diberikan kepadanya adalah berdoa. Ia dinasihati agar memperbanyak doa. Dikatakan kepadanya, “Wahai Fulan, perbanyaklah memohon hidayah kepada Allah. ALLAAHUMMAHDINII ‘Ya Allah, berilah aku hidayah.’ ALLAAHUMMAHDINII FIIMAN HADAITA ‘Ya Allah, berilah aku hidayah bersama orang-orang yang telah Engkau beri hidayah.’ (HR. Abu Daud) ALLAAHUMMA INNII AS ALUKAL HIDAAYAH ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon hidayah kepada-Mu.’ IHDINASH SHIROOTHOL MUSTAQIIM ‘Tunjukilah kami jalan yang lurus.’ (QS. Al-Fatihah: 6) ALLAAHUMMA INNII AS ALUKAL HUDAA WAT TUQOO WAL ‘IFFATA WAL GHINAA ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kehormatan diri, dan kecukupan.’” (HR. Muslim) Ada banyak doa yang memuat permohonan ini. Maka ia diarahkan untuk mengamalkannya. Bersamaan dengan arahan untuk berdoa, dikatakan pula kepadanya, “Bersungguh-sungguhlah menundukkan hawa nafsumu. Iringilah doa dengan kesungguhan dalam melawan hawa nafsu.” Jika ia menggabungkan doa dengan perjuangan menundukkan hawa nafsunya, ia akan diberi hidayah dengan izin Allah. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman dalam hadis ini, “Mintalah hidayah kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian hidayah.” (HR. Muslim) Ini berkaitan dengan memohon hidayah. Adapun tentang bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu, Allah Jalla wa ‘Ala berfirman, “Orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut: 69) ===== نَصِيحَةٌ أَرْجُو اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُعَظِّمَ النَّفْعَ بِهَا وَهِيَ… الْعُصَاةُ الْمُضَيِّعُونَ الْمُفَرِّطُونَ الْمُتَهَاوِنُونَ فِي طَاعَةِ اللهِ مِنْ خَيْرِ مَا يُرْشَدُ إِلَيْهِ وَيُوصَى بِهِ أَنْ يُكْثِرَ مِنْ دُعَاءِ اللهِ أَنْ يَهْدِيَهُ يُنْصَحُ بِهَذَا يُقَالُ لَهُ مَثَلًا: أَكْثِرْ مِنْ هَذَا الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي يُقَالُ: هَذَا دُعَاءٌ مُخْتَصَرَةٌ أَلْفَاظُهُ جَمَعَ لَكَ الْخَيْرَ أَكْثِرْ مِنْ هَذَا الدُّعَاءِ أَقْبِلْ عَلَى اللهِ بِقَلْبِكَ وَأَكْثِرْ مِنْ هَذَا الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي مَاذَا قَالَ اللهُ هُنَا؟ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ يَعْنِي: اطْلُبُوا مِنِّي الْهِدَايَةَ أَرْشِدْهُ إِلَى هَذَا الطَّلَبِ عَلِّمْهُ أَنْ يَطْلُبَ مِنَ اللهِ حَتَّى يَسْتَشْعِرَ الْعَبْدُ ضَعْفَهُ وَفَقْرَهُ إِلَى رَبِّهِ أَنْ يَهْدِيَهُ لِأَنَّهُ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ تَسَلَّطَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ مِنْ جِهَاتٍ تَسَلَّطَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ كَثِيرَةٌ مِنْ جِهَةِ الشَّيْطَانِ مِنْ جِهَةٍ، وَالنَّفْسِ مِنْ جِهَةٍ وَقُرَنَاءِ السُّوءِ مِنْ جِهَةٍ، وَفِتَنِ الدُّنْيَا مِنْ جِهَةٍ تَسَلَّطَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ كَثِيرَةٌ فَهُوَ فِي غَايَةِ الضَّعْفِ لَا عَاصِمَ لَهُ إِلَّا اللهُ وَلَا مُخَلِّصَ لَهُ مِنْ ذَلِكَ إِلَّا اللهُ فَخَيْرُ مَا يُرْشَدُ إِلَيْهِ الدُّعَاءُ يُوصَى بِالدُّعَاءِ، يُقَالُ لَهُ: يَا فُلَانُ، أَكْثِرْ مِنْ سُؤَالِ اللهِ الْهِدَايَةَ اللَّهُمَّ اهْدِنِي اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهِدَايَةَ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعِفَّةَ وَالْغِنَى أَدْعِيَةٌ كَثِيرَةٌ فِي هَذَا الْمَطْلَبِ فَيُرْشَدُ إِلَى ذَلِكَ وَمَعَ إِرْشَادِهِ إِلَى الدُّعَاءِ يُقَالُ لَهُ أَيْضًا وَجَاهِدْ نَفْسَكَ أَتْبِعِ الدُّعَاءَ بِالْمُجَاهَدَةِ فَإِذَا جَمَعَ بَيْنَ الدُّعَاءِ وَالْمُجَاهَدَةِ لِلنَّفْسِ هُدِيَ بِإِذْنِ اللهِ اللهُ جَلَّ وَعَلَا قَالَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ هَذَا فِي السُّؤَالِ وَفِي الْمُجَاهَدَةِ قَالَ جَلَّ وَعَلَا وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

Merenungi Usia yang Tak Pernah Kembali

Daftar Isi ToggleTidak diciptakan sia-siaMaut semakin mendekatBekal sebelum datangnya penyesalanMenjadi orang asing di duniaNikmat yang sering membunuh sisa usiaSebelum nafas sampai di tenggorokanPernahkah Anda berdiri di depan cermin, lalu tertegun sejenak? Sekedar untuk memandangi sosok di hadapan Anda. Adakah yang berbeda?Lihatlah helai-helai rambut yang dahulu hitam pekat, kini mulai disusupi uban. Kulit yang dulu kencang mulai mengendur di sana-sini. Tenaga yang dulunya seolah tak pernah habis, kini mudah terkuras, dan tubuh lebih sering menuntut untuk istirahat. Jika Anda merasakan hal itu semua, sesungguhnya cermin itu sedang menyampaikan suatu pesan yang sering terabaikan oleh kita. Bahwa umur kita tidak lagi muda, dan jatah hidup di dunia kian menyusut.Tentu, kita sering mendengar kabar duka. Tetangga, teman, atau kerabat yang seusia—bahkan lebih muda—telah mendahului kita. Kita hadir di pemakaman, memanjatkan doa, lalu pulang dan sibuk kembali dengan urusan dunia. Padahal, esok atau lusa, telah menjadi suatu keniscayaan bahwa giliran kita pula lah yang akan diturunkan ke liang lahat. Kematian adalah kepastian yang paling nyata, namun kita pun sering melalaikannya seakan-akan mustahil kita menghadapi kematian. Padahal Rasulullah ﷺ mengingatkan,أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ“Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian.” (HR. At-Tirmidzi no. 2307, An-Nasa’i no. 1824, dan disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi)Maka, bagi kita yang rambutnya mulai beruban, yang langkahnya mulai melambat, dan yang napasnya mulai sering tersengal, ini adalah momen paling krusial untuk berhenti sejenak untuk melakukan muhasabah. Melihat diri kemudian bertanya, “Untuk apa sisa usia ini akan aku habiskan?”Tidak diciptakan sia-siaSaudaraku yang dirahmati Allah, pernahkah kita bertanya: Apa sih tujuan kita hidup di dunia? Apakah hanya sekadar untuk lahir, makan, minum, bekerja, menikah, memiliki anak, menua, lalu mati begitu saja? Pasti ada maksud dan tujuan mulia yang lebih besar dari semua ini. Allah Ta’ala tidak mungkin menciptakan manusia dan alam semesta yang begitu megah hanya untuk kesia-siaan. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat [51]: 56)Ayat ini pendek, tetapi pertanggungjawabannya panjang sekali di akhirat kelak. Kita semua dituntut untuk tunduk pada aturan Sang Pencipta sepanjang hidup kita di dunia. Namun, ada fenomena yang mengherankan di tengah kita. Ada orang yang begitu taat dan loyal pada peraturan pekerjaannya. Ia rela bangun dini hari, menerobos kemacetan, dan takut terlambat hanya karena ancaman potongan gaji atau surat peringatan dari atasannya. Ia hafal betul SOP pekerjaannya. Tapi, kepada Allah yang menggenggam nyawanya, yang memberinya rezeki dan kesehatan, ia begitu berani menunda-nunda perintah-Nya. Salat diakhirkan. Tobat ditunda. Al-Qur’an dibiarkan berdebu.Apakah kita mengira akan dibiarkan begitu saja tanpa dimintai pertanggungjawaban?Allah Ta’ala berfirman,أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى“Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al-Qiyamah [75]: 36)Kata “سُدًى” dalam ayat ini berarti sia-sia, tanpa perintah, tanpa larangan, tanpa hisab. Sungguh, ini adalah sanggahan yang sangat keras. Manusia yang lalai mungkin merasa hidupnya bebas, tetapi hakikatnya ia sedang berjalan menuju mahkamah pengadilan Allah yang mahaadil. Di hari itu, tidak ada pengacara. Tidak ada suap. Yang ada hanyalah catatan amal yang akan berbicara. Maka, selagi masih ada waktu, sebelum kita menjadi penghuni liang lahat, mari tanyakan pada diri sendiri: apakah sisa usia yang Allah berikan ini akan saya gunakan untuk mengejar dunia yang pasti saya tinggalkan, ataukah untuk mengejar akhirat yang kekal?Baca juga: Jangan Sampai Susah Payah Beramal, Tetapi Sia-SiaMaut semakin mendekatPernahkah Anda merasakan bahwa hari-hari terasa begitu cepat berlalu? Pagi baru saja berganti siang, tiba-tiba sore sudah menyapa, lalu malam datang, dan tanpa terasa, Subuh kembali berkumandang. Rasanya baru kemarin kita merayakan Ramadan yang lalu, kini Ramadan berikutnya sudah di ambang pintu. Ini bukan sekadar perasaan. Rasulullah ﷺ telah mengabarkan bahwa salah satu tanda dekatnya hari kiamat adalah waktu yang terasa semakin singkat. Beliau bersabda,لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقْبَضَ الْعِلْمُ، وَتَكْثُرَ الزَّلَازِلُ، وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ“Tidak akan terjadi hari kiamat hingga ilmu dicabut, banyak terjadi gempa, dan waktu terasa berdekatan (sangat cepat).” (HR. Al-Bukhari no. 1036)Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bersabda:يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ حَتَّى تَكُونَ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ، وَالشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ، وَالْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ، وَالْيَوْمُ كَالسَّاعَةِ“Waktu akan terasa saling berdekatan, sehingga setahun terasa seperti sebulan, sebulan terasa seperti sepekan, sepekan terasa seperti sehari, dan sehari terasa seperti satu jam.” (HR. Ahmad no. 10943 dan At-Tirmidzi no. 2332, disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 8093)Waktu terasa cepat berlalu dan jatah hidup kita juga lebih cepat habis. Maka, semakin kita sibuk dengan urusan dunia, semakin kita tidak terasa bahwa umur terus terpangkas. Oleh karenanya, sadarilah bahwa tidak ada kata “pensiun” dalam ibadah. Kewajiban kita untuk menyembah Allah melekat hingga malaikat maut datang menjemput. Allah Ta’ala berfirman,وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (kematian).” (QS. Al-Hijr [15]: 99)Lalu, setelah mendengar dalil-dalil mulia ini, masihkah ada alasan bagi kita untuk menunda-nunda tobat? Maut tidak menunggu kita siap. Ia datang tiba-tiba. Bisa jadi malam ini adalah malam terakhir kita. Bisa jadi sujud kita barusan adalah sujud terakhir. Jangan sampai penyesalan datang di waktu yang sudah tidak berguna.Bekal sebelum datangnya penyesalanSalah satu tipu daya setan yang paling sering memakan korban adalah bisikan untuk menunda-nunda amal. “Nanti saja kalau sudah tua, baru fokus ibadah. Sekarang mumpung masih kuat, cari uang dulu, nikmati hidup dulu.”Bisikan ini begitu halus, tetapi mematikan. Padahal, tidak ada satu pun dari kita yang mendapat jaminan akan mencapai masa tua. Dan seandainya pun kita diizinkan Allah mencapai usia senja, beribadah dalam kondisi fisik yang melemah tentu tidak akan seoptimal ketika tubuh masih prima. Salat malam yang dulu sanggup kita lakukan, kini mungkin hanya menjadi kenangan karena lutut sudah berderak saat sujud. Puasa sunnah yang dulu ringan, kini terasa berat karena lambung sudah tak lagi kuat.Oleh karena itulah, Rasulullah ﷺ memberikan wasiat yang sangat agung dan layak kita jadikan sebagai wallpaper hati kita,اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Hakim no. 7846 dalam Al-Mustadrak, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1077)Coba kita telaah satu per satu:1) Masa muda sebelum masa tua. Jika Anda sekarang sudah merasa tidak muda lagi, maka ini semakin mendesak. Sisa kekuatan yang ada, gunakanlah segera. Jangan ditunda.2) Masa sehat sebelum masa sakit. Syukuri kesehatan hari ini, karena besok bisa saja kita terbaring tak berdaya.3) Masa kaya sebelum masa miskin. Harta kita yang sebenarnya bukanlah saldo rekening yang akan diwariskan kepada ahli waris. Harta kita yang sejati adalah yang kita infakkan di jalan Allah saat kita masih hidup.Rasulullah ﷺ pernah bertanya kepada para sahabatnya,أَيُّكُمْ مَالُ وَارِثِهِ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ مَالِهِ؟“Siapakah di antara kalian yang lebih mencintai harta ahli warisnya daripada hartanya sendiri?”Para sahabat menjawab, “Tidak ada, wahai Rasulullah. Setiap kami lebih mencintai hartanya sendiri.”Beliau pun bersabda,فَإِنَّ مَالَهُ مَا قَدَّمَ، وَمَالُ وَارِثِهِ مَا أَخَّرَ“Sesungguhnya hartanya (yang sebenarnya) adalah apa yang ia dahulukan (infakkan), sedangkan harta ahli warisnya adalah apa yang ia tinggalkan.” (HR. Al-Bukhari no. 6442)Hadis ini sering kali membuat penulis terdiam lama. Kita bekerja keras siang dan malam, tapi yang kita kumpulkan justru menjadi milik orang lain. Lalu, berapa banyak yang sudah kita kirimkan lebih dulu ke akhirat?Menjadi orang asing di duniaDunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara. Sayangnya, banyak dari kita yang terbalik dalam menyikapinya. Lihatlah, kita membangun istana di dunia yang akan kita tinggalkan, tetapi lupa membangun rumah di surga yang abadi. Kita mati-matian mencicil KPR rumah di perumahan elit, tetapi lupa mencicil amal untuk istana di surga. Rasulullah ﷺ pernah memegang kedua pundak Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, lalu memberikan nasihat yang demikian membekas,كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ“Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing, atau bahkan seorang pengembara (yang sekadar lewat).” (HR. Al-Bukhari no. 6416)Seorang musafir yang sedang dalam perjalanan jauh tidak akan pernah berpikir untuk membangun rumah permanen di rest area jalan tol. Fokusnya hanya satu, yaitu mengumpulkan perbekalan yang cukup agar selamat sampai ke kampung halaman. Dan kampung halaman kita yang sesungguhnya adalah surga—tempat asal ayah kita, Adam alaihissalam, dahulu tinggal sebelum diturunkan ke bumi.Subhanallah. Petuah ini mengajarkan kita untuk hidup dalam mode urgency—rasa mendesak. Tidak ada waktu untuk bersantai-santai dalam kelalaian. Setiap hembusan napas harus dimaknai sebagai langkah menuju akhirat, bukan sekadar rutinitas yang hampa makna.Nikmat yang sering membunuh sisa usiaDi sisa usia kita, ada dua nikmat besar yang sering kali menjadi jebakan, yaitu kesehatan dan waktu luang. Dua nikmat ini adalah anugerah, tetapi bagi orang yang lalai, keduanya justru menjadi pintu kerugian. Rasulullah ﷺ mengingatkan,نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ“Dua kenikmatan yang banyak manusia merugi di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari no. 6412)Betapa banyak kita saksikan di sekitar kita, anak-anak muda atau orang-orang yang sudah lanjut usia, justru menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang sia-sia. Dari pagi hingga sore, waktunya habis untuk hobi yang tidak mendekatkan diri kepada Allah, seperti memancing yang melalaikan salat, touring yang tidak membawa perubahan iman, atau sekadar nongkrong dan bergosip ria. Mereka seolah-olah hidup seribu tahun lagi. Mereka lupa bahwa malaikat maut tidak pernah pensiun. Ia bekerja 24 jam, tanpa henti, tanpa libur, siap menjemput kapan saja dan di mana saja.Secara khusus, Allah memberikan teguran yang sangat lembut dan mendalam bagi mereka yang usianya telah menginjak 40 tahun. Usia ini adalah masa puncak kedewasaan; masa di mana seseorang seharusnya sudah tidak lagi main-main dengan dunianya. Allah Ta’ala berfirman,حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ“… Sehingga apabila dia telah dewasa dan usianya mencapai empat puluh tahun, ia berdoa, ‘Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat beramal saleh yang Engkau ridai. Dan berilah aku kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu, dan sungguh aku termasuk orang-orang yang berserah diri.'” (QS. Al-Ahqaf [46]: 15).Para ulama tafsir, seperti Imam Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi, menjelaskan bahwa ayat ini adalah bimbingan ilahi bagi mereka yang mencapai usia 40 tahun untuk memperbarui tobatnya, memantapkan inabah (kembali kepada Allah), dan memfokuskan diri pada tiga hal, yaitu: syukur, amal saleh, dan mendidik keturunan. Tidak pantas lagi bagi orang yang sudah berusia 40 tahun ke atas untuk sibuk berkeluh kesah tentang rezeki yang kurang, atau menghabiskan waktu di majelis yang tidak bermanfaat. Ini adalah waktu yang kritis. Sisa umur yang ada harus diisi dengan memperbanyak syukur, memaksimalkan amal, dan meninggalkan warisan iman kepada anak cucu.Sebelum nafas sampai di tenggorokanSaudaraku yang dimuliakan Allah, umur adalah modal utama kita dalam berdagang dengan-Nya. Setiap tarikan napas yang masih kita rasakan hingga detik ini adalah kesempatan emas yang mungkin tidak akan datang lagi esok hari. Barangsiapa yang menghabiskan sisa umurnya dalam ketaatan, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Namun sebaliknya, barangsiapa yang di sisa umurnya masih terus bergelimang dalam kemaksiatan dan kesia-siaan, maka ia akan dimintai pertanggungjawaban atas seluruh usianya: yang telah berlalu dan yang tersisa.Mari kita tata kembali niat dan langkah kaki kita. Jangan biarkan waktu berlalu begitu saja tanpa arti. Matikan layar ponsel sejenak. Ambil mushaf yang mungkin sudah lama tidak disentuh. Sujudlah lebih lama pada malam ini. Karena bisa jadi, ini adalah malam terakhir kita bersimpuh di hadapan-Nya.Wallahu a’lam bish-shawab.Baca juga: Merenungi Sisa-Sisa Umur Kita***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Merenungi Usia yang Tak Pernah Kembali

Daftar Isi ToggleTidak diciptakan sia-siaMaut semakin mendekatBekal sebelum datangnya penyesalanMenjadi orang asing di duniaNikmat yang sering membunuh sisa usiaSebelum nafas sampai di tenggorokanPernahkah Anda berdiri di depan cermin, lalu tertegun sejenak? Sekedar untuk memandangi sosok di hadapan Anda. Adakah yang berbeda?Lihatlah helai-helai rambut yang dahulu hitam pekat, kini mulai disusupi uban. Kulit yang dulu kencang mulai mengendur di sana-sini. Tenaga yang dulunya seolah tak pernah habis, kini mudah terkuras, dan tubuh lebih sering menuntut untuk istirahat. Jika Anda merasakan hal itu semua, sesungguhnya cermin itu sedang menyampaikan suatu pesan yang sering terabaikan oleh kita. Bahwa umur kita tidak lagi muda, dan jatah hidup di dunia kian menyusut.Tentu, kita sering mendengar kabar duka. Tetangga, teman, atau kerabat yang seusia—bahkan lebih muda—telah mendahului kita. Kita hadir di pemakaman, memanjatkan doa, lalu pulang dan sibuk kembali dengan urusan dunia. Padahal, esok atau lusa, telah menjadi suatu keniscayaan bahwa giliran kita pula lah yang akan diturunkan ke liang lahat. Kematian adalah kepastian yang paling nyata, namun kita pun sering melalaikannya seakan-akan mustahil kita menghadapi kematian. Padahal Rasulullah ﷺ mengingatkan,أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ“Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian.” (HR. At-Tirmidzi no. 2307, An-Nasa’i no. 1824, dan disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi)Maka, bagi kita yang rambutnya mulai beruban, yang langkahnya mulai melambat, dan yang napasnya mulai sering tersengal, ini adalah momen paling krusial untuk berhenti sejenak untuk melakukan muhasabah. Melihat diri kemudian bertanya, “Untuk apa sisa usia ini akan aku habiskan?”Tidak diciptakan sia-siaSaudaraku yang dirahmati Allah, pernahkah kita bertanya: Apa sih tujuan kita hidup di dunia? Apakah hanya sekadar untuk lahir, makan, minum, bekerja, menikah, memiliki anak, menua, lalu mati begitu saja? Pasti ada maksud dan tujuan mulia yang lebih besar dari semua ini. Allah Ta’ala tidak mungkin menciptakan manusia dan alam semesta yang begitu megah hanya untuk kesia-siaan. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat [51]: 56)Ayat ini pendek, tetapi pertanggungjawabannya panjang sekali di akhirat kelak. Kita semua dituntut untuk tunduk pada aturan Sang Pencipta sepanjang hidup kita di dunia. Namun, ada fenomena yang mengherankan di tengah kita. Ada orang yang begitu taat dan loyal pada peraturan pekerjaannya. Ia rela bangun dini hari, menerobos kemacetan, dan takut terlambat hanya karena ancaman potongan gaji atau surat peringatan dari atasannya. Ia hafal betul SOP pekerjaannya. Tapi, kepada Allah yang menggenggam nyawanya, yang memberinya rezeki dan kesehatan, ia begitu berani menunda-nunda perintah-Nya. Salat diakhirkan. Tobat ditunda. Al-Qur’an dibiarkan berdebu.Apakah kita mengira akan dibiarkan begitu saja tanpa dimintai pertanggungjawaban?Allah Ta’ala berfirman,أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى“Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al-Qiyamah [75]: 36)Kata “سُدًى” dalam ayat ini berarti sia-sia, tanpa perintah, tanpa larangan, tanpa hisab. Sungguh, ini adalah sanggahan yang sangat keras. Manusia yang lalai mungkin merasa hidupnya bebas, tetapi hakikatnya ia sedang berjalan menuju mahkamah pengadilan Allah yang mahaadil. Di hari itu, tidak ada pengacara. Tidak ada suap. Yang ada hanyalah catatan amal yang akan berbicara. Maka, selagi masih ada waktu, sebelum kita menjadi penghuni liang lahat, mari tanyakan pada diri sendiri: apakah sisa usia yang Allah berikan ini akan saya gunakan untuk mengejar dunia yang pasti saya tinggalkan, ataukah untuk mengejar akhirat yang kekal?Baca juga: Jangan Sampai Susah Payah Beramal, Tetapi Sia-SiaMaut semakin mendekatPernahkah Anda merasakan bahwa hari-hari terasa begitu cepat berlalu? Pagi baru saja berganti siang, tiba-tiba sore sudah menyapa, lalu malam datang, dan tanpa terasa, Subuh kembali berkumandang. Rasanya baru kemarin kita merayakan Ramadan yang lalu, kini Ramadan berikutnya sudah di ambang pintu. Ini bukan sekadar perasaan. Rasulullah ﷺ telah mengabarkan bahwa salah satu tanda dekatnya hari kiamat adalah waktu yang terasa semakin singkat. Beliau bersabda,لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقْبَضَ الْعِلْمُ، وَتَكْثُرَ الزَّلَازِلُ، وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ“Tidak akan terjadi hari kiamat hingga ilmu dicabut, banyak terjadi gempa, dan waktu terasa berdekatan (sangat cepat).” (HR. Al-Bukhari no. 1036)Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bersabda:يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ حَتَّى تَكُونَ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ، وَالشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ، وَالْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ، وَالْيَوْمُ كَالسَّاعَةِ“Waktu akan terasa saling berdekatan, sehingga setahun terasa seperti sebulan, sebulan terasa seperti sepekan, sepekan terasa seperti sehari, dan sehari terasa seperti satu jam.” (HR. Ahmad no. 10943 dan At-Tirmidzi no. 2332, disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 8093)Waktu terasa cepat berlalu dan jatah hidup kita juga lebih cepat habis. Maka, semakin kita sibuk dengan urusan dunia, semakin kita tidak terasa bahwa umur terus terpangkas. Oleh karenanya, sadarilah bahwa tidak ada kata “pensiun” dalam ibadah. Kewajiban kita untuk menyembah Allah melekat hingga malaikat maut datang menjemput. Allah Ta’ala berfirman,وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (kematian).” (QS. Al-Hijr [15]: 99)Lalu, setelah mendengar dalil-dalil mulia ini, masihkah ada alasan bagi kita untuk menunda-nunda tobat? Maut tidak menunggu kita siap. Ia datang tiba-tiba. Bisa jadi malam ini adalah malam terakhir kita. Bisa jadi sujud kita barusan adalah sujud terakhir. Jangan sampai penyesalan datang di waktu yang sudah tidak berguna.Bekal sebelum datangnya penyesalanSalah satu tipu daya setan yang paling sering memakan korban adalah bisikan untuk menunda-nunda amal. “Nanti saja kalau sudah tua, baru fokus ibadah. Sekarang mumpung masih kuat, cari uang dulu, nikmati hidup dulu.”Bisikan ini begitu halus, tetapi mematikan. Padahal, tidak ada satu pun dari kita yang mendapat jaminan akan mencapai masa tua. Dan seandainya pun kita diizinkan Allah mencapai usia senja, beribadah dalam kondisi fisik yang melemah tentu tidak akan seoptimal ketika tubuh masih prima. Salat malam yang dulu sanggup kita lakukan, kini mungkin hanya menjadi kenangan karena lutut sudah berderak saat sujud. Puasa sunnah yang dulu ringan, kini terasa berat karena lambung sudah tak lagi kuat.Oleh karena itulah, Rasulullah ﷺ memberikan wasiat yang sangat agung dan layak kita jadikan sebagai wallpaper hati kita,اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Hakim no. 7846 dalam Al-Mustadrak, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1077)Coba kita telaah satu per satu:1) Masa muda sebelum masa tua. Jika Anda sekarang sudah merasa tidak muda lagi, maka ini semakin mendesak. Sisa kekuatan yang ada, gunakanlah segera. Jangan ditunda.2) Masa sehat sebelum masa sakit. Syukuri kesehatan hari ini, karena besok bisa saja kita terbaring tak berdaya.3) Masa kaya sebelum masa miskin. Harta kita yang sebenarnya bukanlah saldo rekening yang akan diwariskan kepada ahli waris. Harta kita yang sejati adalah yang kita infakkan di jalan Allah saat kita masih hidup.Rasulullah ﷺ pernah bertanya kepada para sahabatnya,أَيُّكُمْ مَالُ وَارِثِهِ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ مَالِهِ؟“Siapakah di antara kalian yang lebih mencintai harta ahli warisnya daripada hartanya sendiri?”Para sahabat menjawab, “Tidak ada, wahai Rasulullah. Setiap kami lebih mencintai hartanya sendiri.”Beliau pun bersabda,فَإِنَّ مَالَهُ مَا قَدَّمَ، وَمَالُ وَارِثِهِ مَا أَخَّرَ“Sesungguhnya hartanya (yang sebenarnya) adalah apa yang ia dahulukan (infakkan), sedangkan harta ahli warisnya adalah apa yang ia tinggalkan.” (HR. Al-Bukhari no. 6442)Hadis ini sering kali membuat penulis terdiam lama. Kita bekerja keras siang dan malam, tapi yang kita kumpulkan justru menjadi milik orang lain. Lalu, berapa banyak yang sudah kita kirimkan lebih dulu ke akhirat?Menjadi orang asing di duniaDunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara. Sayangnya, banyak dari kita yang terbalik dalam menyikapinya. Lihatlah, kita membangun istana di dunia yang akan kita tinggalkan, tetapi lupa membangun rumah di surga yang abadi. Kita mati-matian mencicil KPR rumah di perumahan elit, tetapi lupa mencicil amal untuk istana di surga. Rasulullah ﷺ pernah memegang kedua pundak Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, lalu memberikan nasihat yang demikian membekas,كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ“Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing, atau bahkan seorang pengembara (yang sekadar lewat).” (HR. Al-Bukhari no. 6416)Seorang musafir yang sedang dalam perjalanan jauh tidak akan pernah berpikir untuk membangun rumah permanen di rest area jalan tol. Fokusnya hanya satu, yaitu mengumpulkan perbekalan yang cukup agar selamat sampai ke kampung halaman. Dan kampung halaman kita yang sesungguhnya adalah surga—tempat asal ayah kita, Adam alaihissalam, dahulu tinggal sebelum diturunkan ke bumi.Subhanallah. Petuah ini mengajarkan kita untuk hidup dalam mode urgency—rasa mendesak. Tidak ada waktu untuk bersantai-santai dalam kelalaian. Setiap hembusan napas harus dimaknai sebagai langkah menuju akhirat, bukan sekadar rutinitas yang hampa makna.Nikmat yang sering membunuh sisa usiaDi sisa usia kita, ada dua nikmat besar yang sering kali menjadi jebakan, yaitu kesehatan dan waktu luang. Dua nikmat ini adalah anugerah, tetapi bagi orang yang lalai, keduanya justru menjadi pintu kerugian. Rasulullah ﷺ mengingatkan,نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ“Dua kenikmatan yang banyak manusia merugi di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari no. 6412)Betapa banyak kita saksikan di sekitar kita, anak-anak muda atau orang-orang yang sudah lanjut usia, justru menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang sia-sia. Dari pagi hingga sore, waktunya habis untuk hobi yang tidak mendekatkan diri kepada Allah, seperti memancing yang melalaikan salat, touring yang tidak membawa perubahan iman, atau sekadar nongkrong dan bergosip ria. Mereka seolah-olah hidup seribu tahun lagi. Mereka lupa bahwa malaikat maut tidak pernah pensiun. Ia bekerja 24 jam, tanpa henti, tanpa libur, siap menjemput kapan saja dan di mana saja.Secara khusus, Allah memberikan teguran yang sangat lembut dan mendalam bagi mereka yang usianya telah menginjak 40 tahun. Usia ini adalah masa puncak kedewasaan; masa di mana seseorang seharusnya sudah tidak lagi main-main dengan dunianya. Allah Ta’ala berfirman,حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ“… Sehingga apabila dia telah dewasa dan usianya mencapai empat puluh tahun, ia berdoa, ‘Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat beramal saleh yang Engkau ridai. Dan berilah aku kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu, dan sungguh aku termasuk orang-orang yang berserah diri.'” (QS. Al-Ahqaf [46]: 15).Para ulama tafsir, seperti Imam Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi, menjelaskan bahwa ayat ini adalah bimbingan ilahi bagi mereka yang mencapai usia 40 tahun untuk memperbarui tobatnya, memantapkan inabah (kembali kepada Allah), dan memfokuskan diri pada tiga hal, yaitu: syukur, amal saleh, dan mendidik keturunan. Tidak pantas lagi bagi orang yang sudah berusia 40 tahun ke atas untuk sibuk berkeluh kesah tentang rezeki yang kurang, atau menghabiskan waktu di majelis yang tidak bermanfaat. Ini adalah waktu yang kritis. Sisa umur yang ada harus diisi dengan memperbanyak syukur, memaksimalkan amal, dan meninggalkan warisan iman kepada anak cucu.Sebelum nafas sampai di tenggorokanSaudaraku yang dimuliakan Allah, umur adalah modal utama kita dalam berdagang dengan-Nya. Setiap tarikan napas yang masih kita rasakan hingga detik ini adalah kesempatan emas yang mungkin tidak akan datang lagi esok hari. Barangsiapa yang menghabiskan sisa umurnya dalam ketaatan, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Namun sebaliknya, barangsiapa yang di sisa umurnya masih terus bergelimang dalam kemaksiatan dan kesia-siaan, maka ia akan dimintai pertanggungjawaban atas seluruh usianya: yang telah berlalu dan yang tersisa.Mari kita tata kembali niat dan langkah kaki kita. Jangan biarkan waktu berlalu begitu saja tanpa arti. Matikan layar ponsel sejenak. Ambil mushaf yang mungkin sudah lama tidak disentuh. Sujudlah lebih lama pada malam ini. Karena bisa jadi, ini adalah malam terakhir kita bersimpuh di hadapan-Nya.Wallahu a’lam bish-shawab.Baca juga: Merenungi Sisa-Sisa Umur Kita***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleTidak diciptakan sia-siaMaut semakin mendekatBekal sebelum datangnya penyesalanMenjadi orang asing di duniaNikmat yang sering membunuh sisa usiaSebelum nafas sampai di tenggorokanPernahkah Anda berdiri di depan cermin, lalu tertegun sejenak? Sekedar untuk memandangi sosok di hadapan Anda. Adakah yang berbeda?Lihatlah helai-helai rambut yang dahulu hitam pekat, kini mulai disusupi uban. Kulit yang dulu kencang mulai mengendur di sana-sini. Tenaga yang dulunya seolah tak pernah habis, kini mudah terkuras, dan tubuh lebih sering menuntut untuk istirahat. Jika Anda merasakan hal itu semua, sesungguhnya cermin itu sedang menyampaikan suatu pesan yang sering terabaikan oleh kita. Bahwa umur kita tidak lagi muda, dan jatah hidup di dunia kian menyusut.Tentu, kita sering mendengar kabar duka. Tetangga, teman, atau kerabat yang seusia—bahkan lebih muda—telah mendahului kita. Kita hadir di pemakaman, memanjatkan doa, lalu pulang dan sibuk kembali dengan urusan dunia. Padahal, esok atau lusa, telah menjadi suatu keniscayaan bahwa giliran kita pula lah yang akan diturunkan ke liang lahat. Kematian adalah kepastian yang paling nyata, namun kita pun sering melalaikannya seakan-akan mustahil kita menghadapi kematian. Padahal Rasulullah ﷺ mengingatkan,أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ“Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian.” (HR. At-Tirmidzi no. 2307, An-Nasa’i no. 1824, dan disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi)Maka, bagi kita yang rambutnya mulai beruban, yang langkahnya mulai melambat, dan yang napasnya mulai sering tersengal, ini adalah momen paling krusial untuk berhenti sejenak untuk melakukan muhasabah. Melihat diri kemudian bertanya, “Untuk apa sisa usia ini akan aku habiskan?”Tidak diciptakan sia-siaSaudaraku yang dirahmati Allah, pernahkah kita bertanya: Apa sih tujuan kita hidup di dunia? Apakah hanya sekadar untuk lahir, makan, minum, bekerja, menikah, memiliki anak, menua, lalu mati begitu saja? Pasti ada maksud dan tujuan mulia yang lebih besar dari semua ini. Allah Ta’ala tidak mungkin menciptakan manusia dan alam semesta yang begitu megah hanya untuk kesia-siaan. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat [51]: 56)Ayat ini pendek, tetapi pertanggungjawabannya panjang sekali di akhirat kelak. Kita semua dituntut untuk tunduk pada aturan Sang Pencipta sepanjang hidup kita di dunia. Namun, ada fenomena yang mengherankan di tengah kita. Ada orang yang begitu taat dan loyal pada peraturan pekerjaannya. Ia rela bangun dini hari, menerobos kemacetan, dan takut terlambat hanya karena ancaman potongan gaji atau surat peringatan dari atasannya. Ia hafal betul SOP pekerjaannya. Tapi, kepada Allah yang menggenggam nyawanya, yang memberinya rezeki dan kesehatan, ia begitu berani menunda-nunda perintah-Nya. Salat diakhirkan. Tobat ditunda. Al-Qur’an dibiarkan berdebu.Apakah kita mengira akan dibiarkan begitu saja tanpa dimintai pertanggungjawaban?Allah Ta’ala berfirman,أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى“Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al-Qiyamah [75]: 36)Kata “سُدًى” dalam ayat ini berarti sia-sia, tanpa perintah, tanpa larangan, tanpa hisab. Sungguh, ini adalah sanggahan yang sangat keras. Manusia yang lalai mungkin merasa hidupnya bebas, tetapi hakikatnya ia sedang berjalan menuju mahkamah pengadilan Allah yang mahaadil. Di hari itu, tidak ada pengacara. Tidak ada suap. Yang ada hanyalah catatan amal yang akan berbicara. Maka, selagi masih ada waktu, sebelum kita menjadi penghuni liang lahat, mari tanyakan pada diri sendiri: apakah sisa usia yang Allah berikan ini akan saya gunakan untuk mengejar dunia yang pasti saya tinggalkan, ataukah untuk mengejar akhirat yang kekal?Baca juga: Jangan Sampai Susah Payah Beramal, Tetapi Sia-SiaMaut semakin mendekatPernahkah Anda merasakan bahwa hari-hari terasa begitu cepat berlalu? Pagi baru saja berganti siang, tiba-tiba sore sudah menyapa, lalu malam datang, dan tanpa terasa, Subuh kembali berkumandang. Rasanya baru kemarin kita merayakan Ramadan yang lalu, kini Ramadan berikutnya sudah di ambang pintu. Ini bukan sekadar perasaan. Rasulullah ﷺ telah mengabarkan bahwa salah satu tanda dekatnya hari kiamat adalah waktu yang terasa semakin singkat. Beliau bersabda,لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقْبَضَ الْعِلْمُ، وَتَكْثُرَ الزَّلَازِلُ، وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ“Tidak akan terjadi hari kiamat hingga ilmu dicabut, banyak terjadi gempa, dan waktu terasa berdekatan (sangat cepat).” (HR. Al-Bukhari no. 1036)Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bersabda:يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ حَتَّى تَكُونَ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ، وَالشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ، وَالْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ، وَالْيَوْمُ كَالسَّاعَةِ“Waktu akan terasa saling berdekatan, sehingga setahun terasa seperti sebulan, sebulan terasa seperti sepekan, sepekan terasa seperti sehari, dan sehari terasa seperti satu jam.” (HR. Ahmad no. 10943 dan At-Tirmidzi no. 2332, disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 8093)Waktu terasa cepat berlalu dan jatah hidup kita juga lebih cepat habis. Maka, semakin kita sibuk dengan urusan dunia, semakin kita tidak terasa bahwa umur terus terpangkas. Oleh karenanya, sadarilah bahwa tidak ada kata “pensiun” dalam ibadah. Kewajiban kita untuk menyembah Allah melekat hingga malaikat maut datang menjemput. Allah Ta’ala berfirman,وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (kematian).” (QS. Al-Hijr [15]: 99)Lalu, setelah mendengar dalil-dalil mulia ini, masihkah ada alasan bagi kita untuk menunda-nunda tobat? Maut tidak menunggu kita siap. Ia datang tiba-tiba. Bisa jadi malam ini adalah malam terakhir kita. Bisa jadi sujud kita barusan adalah sujud terakhir. Jangan sampai penyesalan datang di waktu yang sudah tidak berguna.Bekal sebelum datangnya penyesalanSalah satu tipu daya setan yang paling sering memakan korban adalah bisikan untuk menunda-nunda amal. “Nanti saja kalau sudah tua, baru fokus ibadah. Sekarang mumpung masih kuat, cari uang dulu, nikmati hidup dulu.”Bisikan ini begitu halus, tetapi mematikan. Padahal, tidak ada satu pun dari kita yang mendapat jaminan akan mencapai masa tua. Dan seandainya pun kita diizinkan Allah mencapai usia senja, beribadah dalam kondisi fisik yang melemah tentu tidak akan seoptimal ketika tubuh masih prima. Salat malam yang dulu sanggup kita lakukan, kini mungkin hanya menjadi kenangan karena lutut sudah berderak saat sujud. Puasa sunnah yang dulu ringan, kini terasa berat karena lambung sudah tak lagi kuat.Oleh karena itulah, Rasulullah ﷺ memberikan wasiat yang sangat agung dan layak kita jadikan sebagai wallpaper hati kita,اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Hakim no. 7846 dalam Al-Mustadrak, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1077)Coba kita telaah satu per satu:1) Masa muda sebelum masa tua. Jika Anda sekarang sudah merasa tidak muda lagi, maka ini semakin mendesak. Sisa kekuatan yang ada, gunakanlah segera. Jangan ditunda.2) Masa sehat sebelum masa sakit. Syukuri kesehatan hari ini, karena besok bisa saja kita terbaring tak berdaya.3) Masa kaya sebelum masa miskin. Harta kita yang sebenarnya bukanlah saldo rekening yang akan diwariskan kepada ahli waris. Harta kita yang sejati adalah yang kita infakkan di jalan Allah saat kita masih hidup.Rasulullah ﷺ pernah bertanya kepada para sahabatnya,أَيُّكُمْ مَالُ وَارِثِهِ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ مَالِهِ؟“Siapakah di antara kalian yang lebih mencintai harta ahli warisnya daripada hartanya sendiri?”Para sahabat menjawab, “Tidak ada, wahai Rasulullah. Setiap kami lebih mencintai hartanya sendiri.”Beliau pun bersabda,فَإِنَّ مَالَهُ مَا قَدَّمَ، وَمَالُ وَارِثِهِ مَا أَخَّرَ“Sesungguhnya hartanya (yang sebenarnya) adalah apa yang ia dahulukan (infakkan), sedangkan harta ahli warisnya adalah apa yang ia tinggalkan.” (HR. Al-Bukhari no. 6442)Hadis ini sering kali membuat penulis terdiam lama. Kita bekerja keras siang dan malam, tapi yang kita kumpulkan justru menjadi milik orang lain. Lalu, berapa banyak yang sudah kita kirimkan lebih dulu ke akhirat?Menjadi orang asing di duniaDunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara. Sayangnya, banyak dari kita yang terbalik dalam menyikapinya. Lihatlah, kita membangun istana di dunia yang akan kita tinggalkan, tetapi lupa membangun rumah di surga yang abadi. Kita mati-matian mencicil KPR rumah di perumahan elit, tetapi lupa mencicil amal untuk istana di surga. Rasulullah ﷺ pernah memegang kedua pundak Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, lalu memberikan nasihat yang demikian membekas,كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ“Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing, atau bahkan seorang pengembara (yang sekadar lewat).” (HR. Al-Bukhari no. 6416)Seorang musafir yang sedang dalam perjalanan jauh tidak akan pernah berpikir untuk membangun rumah permanen di rest area jalan tol. Fokusnya hanya satu, yaitu mengumpulkan perbekalan yang cukup agar selamat sampai ke kampung halaman. Dan kampung halaman kita yang sesungguhnya adalah surga—tempat asal ayah kita, Adam alaihissalam, dahulu tinggal sebelum diturunkan ke bumi.Subhanallah. Petuah ini mengajarkan kita untuk hidup dalam mode urgency—rasa mendesak. Tidak ada waktu untuk bersantai-santai dalam kelalaian. Setiap hembusan napas harus dimaknai sebagai langkah menuju akhirat, bukan sekadar rutinitas yang hampa makna.Nikmat yang sering membunuh sisa usiaDi sisa usia kita, ada dua nikmat besar yang sering kali menjadi jebakan, yaitu kesehatan dan waktu luang. Dua nikmat ini adalah anugerah, tetapi bagi orang yang lalai, keduanya justru menjadi pintu kerugian. Rasulullah ﷺ mengingatkan,نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ“Dua kenikmatan yang banyak manusia merugi di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari no. 6412)Betapa banyak kita saksikan di sekitar kita, anak-anak muda atau orang-orang yang sudah lanjut usia, justru menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang sia-sia. Dari pagi hingga sore, waktunya habis untuk hobi yang tidak mendekatkan diri kepada Allah, seperti memancing yang melalaikan salat, touring yang tidak membawa perubahan iman, atau sekadar nongkrong dan bergosip ria. Mereka seolah-olah hidup seribu tahun lagi. Mereka lupa bahwa malaikat maut tidak pernah pensiun. Ia bekerja 24 jam, tanpa henti, tanpa libur, siap menjemput kapan saja dan di mana saja.Secara khusus, Allah memberikan teguran yang sangat lembut dan mendalam bagi mereka yang usianya telah menginjak 40 tahun. Usia ini adalah masa puncak kedewasaan; masa di mana seseorang seharusnya sudah tidak lagi main-main dengan dunianya. Allah Ta’ala berfirman,حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ“… Sehingga apabila dia telah dewasa dan usianya mencapai empat puluh tahun, ia berdoa, ‘Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat beramal saleh yang Engkau ridai. Dan berilah aku kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu, dan sungguh aku termasuk orang-orang yang berserah diri.'” (QS. Al-Ahqaf [46]: 15).Para ulama tafsir, seperti Imam Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi, menjelaskan bahwa ayat ini adalah bimbingan ilahi bagi mereka yang mencapai usia 40 tahun untuk memperbarui tobatnya, memantapkan inabah (kembali kepada Allah), dan memfokuskan diri pada tiga hal, yaitu: syukur, amal saleh, dan mendidik keturunan. Tidak pantas lagi bagi orang yang sudah berusia 40 tahun ke atas untuk sibuk berkeluh kesah tentang rezeki yang kurang, atau menghabiskan waktu di majelis yang tidak bermanfaat. Ini adalah waktu yang kritis. Sisa umur yang ada harus diisi dengan memperbanyak syukur, memaksimalkan amal, dan meninggalkan warisan iman kepada anak cucu.Sebelum nafas sampai di tenggorokanSaudaraku yang dimuliakan Allah, umur adalah modal utama kita dalam berdagang dengan-Nya. Setiap tarikan napas yang masih kita rasakan hingga detik ini adalah kesempatan emas yang mungkin tidak akan datang lagi esok hari. Barangsiapa yang menghabiskan sisa umurnya dalam ketaatan, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Namun sebaliknya, barangsiapa yang di sisa umurnya masih terus bergelimang dalam kemaksiatan dan kesia-siaan, maka ia akan dimintai pertanggungjawaban atas seluruh usianya: yang telah berlalu dan yang tersisa.Mari kita tata kembali niat dan langkah kaki kita. Jangan biarkan waktu berlalu begitu saja tanpa arti. Matikan layar ponsel sejenak. Ambil mushaf yang mungkin sudah lama tidak disentuh. Sujudlah lebih lama pada malam ini. Karena bisa jadi, ini adalah malam terakhir kita bersimpuh di hadapan-Nya.Wallahu a’lam bish-shawab.Baca juga: Merenungi Sisa-Sisa Umur Kita***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleTidak diciptakan sia-siaMaut semakin mendekatBekal sebelum datangnya penyesalanMenjadi orang asing di duniaNikmat yang sering membunuh sisa usiaSebelum nafas sampai di tenggorokanPernahkah Anda berdiri di depan cermin, lalu tertegun sejenak? Sekedar untuk memandangi sosok di hadapan Anda. Adakah yang berbeda?Lihatlah helai-helai rambut yang dahulu hitam pekat, kini mulai disusupi uban. Kulit yang dulu kencang mulai mengendur di sana-sini. Tenaga yang dulunya seolah tak pernah habis, kini mudah terkuras, dan tubuh lebih sering menuntut untuk istirahat. Jika Anda merasakan hal itu semua, sesungguhnya cermin itu sedang menyampaikan suatu pesan yang sering terabaikan oleh kita. Bahwa umur kita tidak lagi muda, dan jatah hidup di dunia kian menyusut.Tentu, kita sering mendengar kabar duka. Tetangga, teman, atau kerabat yang seusia—bahkan lebih muda—telah mendahului kita. Kita hadir di pemakaman, memanjatkan doa, lalu pulang dan sibuk kembali dengan urusan dunia. Padahal, esok atau lusa, telah menjadi suatu keniscayaan bahwa giliran kita pula lah yang akan diturunkan ke liang lahat. Kematian adalah kepastian yang paling nyata, namun kita pun sering melalaikannya seakan-akan mustahil kita menghadapi kematian. Padahal Rasulullah ﷺ mengingatkan,أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ“Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian.” (HR. At-Tirmidzi no. 2307, An-Nasa’i no. 1824, dan disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi)Maka, bagi kita yang rambutnya mulai beruban, yang langkahnya mulai melambat, dan yang napasnya mulai sering tersengal, ini adalah momen paling krusial untuk berhenti sejenak untuk melakukan muhasabah. Melihat diri kemudian bertanya, “Untuk apa sisa usia ini akan aku habiskan?”Tidak diciptakan sia-siaSaudaraku yang dirahmati Allah, pernahkah kita bertanya: Apa sih tujuan kita hidup di dunia? Apakah hanya sekadar untuk lahir, makan, minum, bekerja, menikah, memiliki anak, menua, lalu mati begitu saja? Pasti ada maksud dan tujuan mulia yang lebih besar dari semua ini. Allah Ta’ala tidak mungkin menciptakan manusia dan alam semesta yang begitu megah hanya untuk kesia-siaan. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat [51]: 56)Ayat ini pendek, tetapi pertanggungjawabannya panjang sekali di akhirat kelak. Kita semua dituntut untuk tunduk pada aturan Sang Pencipta sepanjang hidup kita di dunia. Namun, ada fenomena yang mengherankan di tengah kita. Ada orang yang begitu taat dan loyal pada peraturan pekerjaannya. Ia rela bangun dini hari, menerobos kemacetan, dan takut terlambat hanya karena ancaman potongan gaji atau surat peringatan dari atasannya. Ia hafal betul SOP pekerjaannya. Tapi, kepada Allah yang menggenggam nyawanya, yang memberinya rezeki dan kesehatan, ia begitu berani menunda-nunda perintah-Nya. Salat diakhirkan. Tobat ditunda. Al-Qur’an dibiarkan berdebu.Apakah kita mengira akan dibiarkan begitu saja tanpa dimintai pertanggungjawaban?Allah Ta’ala berfirman,أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى“Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al-Qiyamah [75]: 36)Kata “سُدًى” dalam ayat ini berarti sia-sia, tanpa perintah, tanpa larangan, tanpa hisab. Sungguh, ini adalah sanggahan yang sangat keras. Manusia yang lalai mungkin merasa hidupnya bebas, tetapi hakikatnya ia sedang berjalan menuju mahkamah pengadilan Allah yang mahaadil. Di hari itu, tidak ada pengacara. Tidak ada suap. Yang ada hanyalah catatan amal yang akan berbicara. Maka, selagi masih ada waktu, sebelum kita menjadi penghuni liang lahat, mari tanyakan pada diri sendiri: apakah sisa usia yang Allah berikan ini akan saya gunakan untuk mengejar dunia yang pasti saya tinggalkan, ataukah untuk mengejar akhirat yang kekal?Baca juga: Jangan Sampai Susah Payah Beramal, Tetapi Sia-SiaMaut semakin mendekatPernahkah Anda merasakan bahwa hari-hari terasa begitu cepat berlalu? Pagi baru saja berganti siang, tiba-tiba sore sudah menyapa, lalu malam datang, dan tanpa terasa, Subuh kembali berkumandang. Rasanya baru kemarin kita merayakan Ramadan yang lalu, kini Ramadan berikutnya sudah di ambang pintu. Ini bukan sekadar perasaan. Rasulullah ﷺ telah mengabarkan bahwa salah satu tanda dekatnya hari kiamat adalah waktu yang terasa semakin singkat. Beliau bersabda,لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقْبَضَ الْعِلْمُ، وَتَكْثُرَ الزَّلَازِلُ، وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ“Tidak akan terjadi hari kiamat hingga ilmu dicabut, banyak terjadi gempa, dan waktu terasa berdekatan (sangat cepat).” (HR. Al-Bukhari no. 1036)Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bersabda:يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ حَتَّى تَكُونَ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ، وَالشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ، وَالْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ، وَالْيَوْمُ كَالسَّاعَةِ“Waktu akan terasa saling berdekatan, sehingga setahun terasa seperti sebulan, sebulan terasa seperti sepekan, sepekan terasa seperti sehari, dan sehari terasa seperti satu jam.” (HR. Ahmad no. 10943 dan At-Tirmidzi no. 2332, disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 8093)Waktu terasa cepat berlalu dan jatah hidup kita juga lebih cepat habis. Maka, semakin kita sibuk dengan urusan dunia, semakin kita tidak terasa bahwa umur terus terpangkas. Oleh karenanya, sadarilah bahwa tidak ada kata “pensiun” dalam ibadah. Kewajiban kita untuk menyembah Allah melekat hingga malaikat maut datang menjemput. Allah Ta’ala berfirman,وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (kematian).” (QS. Al-Hijr [15]: 99)Lalu, setelah mendengar dalil-dalil mulia ini, masihkah ada alasan bagi kita untuk menunda-nunda tobat? Maut tidak menunggu kita siap. Ia datang tiba-tiba. Bisa jadi malam ini adalah malam terakhir kita. Bisa jadi sujud kita barusan adalah sujud terakhir. Jangan sampai penyesalan datang di waktu yang sudah tidak berguna.Bekal sebelum datangnya penyesalanSalah satu tipu daya setan yang paling sering memakan korban adalah bisikan untuk menunda-nunda amal. “Nanti saja kalau sudah tua, baru fokus ibadah. Sekarang mumpung masih kuat, cari uang dulu, nikmati hidup dulu.”Bisikan ini begitu halus, tetapi mematikan. Padahal, tidak ada satu pun dari kita yang mendapat jaminan akan mencapai masa tua. Dan seandainya pun kita diizinkan Allah mencapai usia senja, beribadah dalam kondisi fisik yang melemah tentu tidak akan seoptimal ketika tubuh masih prima. Salat malam yang dulu sanggup kita lakukan, kini mungkin hanya menjadi kenangan karena lutut sudah berderak saat sujud. Puasa sunnah yang dulu ringan, kini terasa berat karena lambung sudah tak lagi kuat.Oleh karena itulah, Rasulullah ﷺ memberikan wasiat yang sangat agung dan layak kita jadikan sebagai wallpaper hati kita,اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Hakim no. 7846 dalam Al-Mustadrak, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1077)Coba kita telaah satu per satu:1) Masa muda sebelum masa tua. Jika Anda sekarang sudah merasa tidak muda lagi, maka ini semakin mendesak. Sisa kekuatan yang ada, gunakanlah segera. Jangan ditunda.2) Masa sehat sebelum masa sakit. Syukuri kesehatan hari ini, karena besok bisa saja kita terbaring tak berdaya.3) Masa kaya sebelum masa miskin. Harta kita yang sebenarnya bukanlah saldo rekening yang akan diwariskan kepada ahli waris. Harta kita yang sejati adalah yang kita infakkan di jalan Allah saat kita masih hidup.Rasulullah ﷺ pernah bertanya kepada para sahabatnya,أَيُّكُمْ مَالُ وَارِثِهِ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ مَالِهِ؟“Siapakah di antara kalian yang lebih mencintai harta ahli warisnya daripada hartanya sendiri?”Para sahabat menjawab, “Tidak ada, wahai Rasulullah. Setiap kami lebih mencintai hartanya sendiri.”Beliau pun bersabda,فَإِنَّ مَالَهُ مَا قَدَّمَ، وَمَالُ وَارِثِهِ مَا أَخَّرَ“Sesungguhnya hartanya (yang sebenarnya) adalah apa yang ia dahulukan (infakkan), sedangkan harta ahli warisnya adalah apa yang ia tinggalkan.” (HR. Al-Bukhari no. 6442)Hadis ini sering kali membuat penulis terdiam lama. Kita bekerja keras siang dan malam, tapi yang kita kumpulkan justru menjadi milik orang lain. Lalu, berapa banyak yang sudah kita kirimkan lebih dulu ke akhirat?Menjadi orang asing di duniaDunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara. Sayangnya, banyak dari kita yang terbalik dalam menyikapinya. Lihatlah, kita membangun istana di dunia yang akan kita tinggalkan, tetapi lupa membangun rumah di surga yang abadi. Kita mati-matian mencicil KPR rumah di perumahan elit, tetapi lupa mencicil amal untuk istana di surga. Rasulullah ﷺ pernah memegang kedua pundak Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, lalu memberikan nasihat yang demikian membekas,كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ“Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing, atau bahkan seorang pengembara (yang sekadar lewat).” (HR. Al-Bukhari no. 6416)Seorang musafir yang sedang dalam perjalanan jauh tidak akan pernah berpikir untuk membangun rumah permanen di rest area jalan tol. Fokusnya hanya satu, yaitu mengumpulkan perbekalan yang cukup agar selamat sampai ke kampung halaman. Dan kampung halaman kita yang sesungguhnya adalah surga—tempat asal ayah kita, Adam alaihissalam, dahulu tinggal sebelum diturunkan ke bumi.Subhanallah. Petuah ini mengajarkan kita untuk hidup dalam mode urgency—rasa mendesak. Tidak ada waktu untuk bersantai-santai dalam kelalaian. Setiap hembusan napas harus dimaknai sebagai langkah menuju akhirat, bukan sekadar rutinitas yang hampa makna.Nikmat yang sering membunuh sisa usiaDi sisa usia kita, ada dua nikmat besar yang sering kali menjadi jebakan, yaitu kesehatan dan waktu luang. Dua nikmat ini adalah anugerah, tetapi bagi orang yang lalai, keduanya justru menjadi pintu kerugian. Rasulullah ﷺ mengingatkan,نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ“Dua kenikmatan yang banyak manusia merugi di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari no. 6412)Betapa banyak kita saksikan di sekitar kita, anak-anak muda atau orang-orang yang sudah lanjut usia, justru menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang sia-sia. Dari pagi hingga sore, waktunya habis untuk hobi yang tidak mendekatkan diri kepada Allah, seperti memancing yang melalaikan salat, touring yang tidak membawa perubahan iman, atau sekadar nongkrong dan bergosip ria. Mereka seolah-olah hidup seribu tahun lagi. Mereka lupa bahwa malaikat maut tidak pernah pensiun. Ia bekerja 24 jam, tanpa henti, tanpa libur, siap menjemput kapan saja dan di mana saja.Secara khusus, Allah memberikan teguran yang sangat lembut dan mendalam bagi mereka yang usianya telah menginjak 40 tahun. Usia ini adalah masa puncak kedewasaan; masa di mana seseorang seharusnya sudah tidak lagi main-main dengan dunianya. Allah Ta’ala berfirman,حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ“… Sehingga apabila dia telah dewasa dan usianya mencapai empat puluh tahun, ia berdoa, ‘Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat beramal saleh yang Engkau ridai. Dan berilah aku kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu, dan sungguh aku termasuk orang-orang yang berserah diri.'” (QS. Al-Ahqaf [46]: 15).Para ulama tafsir, seperti Imam Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi, menjelaskan bahwa ayat ini adalah bimbingan ilahi bagi mereka yang mencapai usia 40 tahun untuk memperbarui tobatnya, memantapkan inabah (kembali kepada Allah), dan memfokuskan diri pada tiga hal, yaitu: syukur, amal saleh, dan mendidik keturunan. Tidak pantas lagi bagi orang yang sudah berusia 40 tahun ke atas untuk sibuk berkeluh kesah tentang rezeki yang kurang, atau menghabiskan waktu di majelis yang tidak bermanfaat. Ini adalah waktu yang kritis. Sisa umur yang ada harus diisi dengan memperbanyak syukur, memaksimalkan amal, dan meninggalkan warisan iman kepada anak cucu.Sebelum nafas sampai di tenggorokanSaudaraku yang dimuliakan Allah, umur adalah modal utama kita dalam berdagang dengan-Nya. Setiap tarikan napas yang masih kita rasakan hingga detik ini adalah kesempatan emas yang mungkin tidak akan datang lagi esok hari. Barangsiapa yang menghabiskan sisa umurnya dalam ketaatan, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Namun sebaliknya, barangsiapa yang di sisa umurnya masih terus bergelimang dalam kemaksiatan dan kesia-siaan, maka ia akan dimintai pertanggungjawaban atas seluruh usianya: yang telah berlalu dan yang tersisa.Mari kita tata kembali niat dan langkah kaki kita. Jangan biarkan waktu berlalu begitu saja tanpa arti. Matikan layar ponsel sejenak. Ambil mushaf yang mungkin sudah lama tidak disentuh. Sujudlah lebih lama pada malam ini. Karena bisa jadi, ini adalah malam terakhir kita bersimpuh di hadapan-Nya.Wallahu a’lam bish-shawab.Baca juga: Merenungi Sisa-Sisa Umur Kita***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Bekal Menjadi Pemimpin Terbaik (Bag. 2): Jauhi Favoritisme

Daftar Isi ToggleJauhi favoritismeMuliakan ilmu agama dan ulama, niscaya Engkau termuliakanBersikaplah moderat (pertengahan) dalam segala halPemimpin tidak boleh kalah dalam perlombaan menuju akhiratHusnuzhan dan meminta pertolongan Allah ﷻ dalam mengurus rakyatJauhi favoritismeThahir memberikan wasiat,ولا تمل عن العدل فيما أحببت أو كرهت لقريب من الناس أو بعيد“Jangan sekali-kali menyimpang dari keadilan dalam hal yang engkau cintai atau benci, hanya karena kedekatanmu dengan sebagian orang.”Wasiat ini ringkas, di awal paragraf, tetapi mengandung hikmah besar yang sangat relevan dengan kita di hari ini. Jangan sampai kita menjadi pemimpin yang bertindak berdasarkan favoritisme. Hanya karena orang tersebut adalah sosok yang kita sukai, lantas kita mengutamakannya dan memaklumi kesalahannya. Sedangkan orang yang kita benci, kita halangi dia dari haknya dan menyalahkan perbuatannya yang benar.Hal ini selaras dengan firman Allah ﷻ,وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)Wasiat Thahir ini sangat relevan dengan fenomena di masa kini. Favoritisme menjadi isu besar di model kepemimpinan lintas organisasi. Mulai dari sistem kecil seperti di lembaga maupun perkantoran, hingga pada level tertinggi. Relevansi pembahasan Thahir menambah semangat kita untuk mengkajinya sehingga menjadi sangat bermanfaat bagi kita pribadi maupun orang-orang khusus yang ingin kita berikan wejangan terbaik.Muliakan ilmu agama dan ulama, niscaya Engkau termuliakanUtamakanlah fikih dan para ahlinya, agama dan para pembawanya, kitabullah dan orang-orang yang mengamalkannya. Karena sebaik-baik perhiasan seseorang adalah pemahaman terhadap agama-Nya, semangat mencarinya, mendorong manusia kepadanya, dan mengetahui perkara-perkara yang dapat mendekatkan diri kepada Allah ﷻ.Sesungguhnya fikih atau ilmu agama adalah penunjuk kepada seluruh kebaikan, pemimpin menuju kebaikan, yang memerintahkan kepadanya dan melarang dari segala maksiat serta dosa-dosa besar. Dengannya pula, bersama taufik Allah, para hamba semakin mengenal Allah ﷻ, semakin mengagungkan-Nya, dan semakin meraih derajat-derajat tinggi di akhirat.Tidak hanya itu, kebersamaan pemimpin dengan ilmu dan ahlinya akan menunjukkan kewibawaannya.مع مافى ظهوره للناس من التوقير لأمرك والهيبة لسلطانك والأنسة بك والثقة بعدلكDi samping itu, tampaknya ilmu di hadapan manusia akan menambah kewibawaan perintahmu, menghadirkan wibawa bagi kekuasaanmu, membuat manusia merasa dekat dan tenteram denganmu, serta percaya kepada keadilanmu.Inilah yang selaras dengan kepemimpinan modern yang dikenal dengan kepemimpinan berbasis ilmu pengetahuan atau teknokrasi. Lembaga kepemimpinan diisi oleh ahlinya, yakni para teknokrat. Kabinet pemerintahan diisi oleh para pakar yang disebut sebagai kabinet zaken. Inilah kepemimpinan yang ideal. Kepemimpinan semacam ini akan menghasilkan kebijakan yang presisi dan kepercayaan masyarakat yang tinggi.Bersikaplah moderat (pertengahan) dalam segala halHendaklah engkau bersikap moderat (iqtishad) dalam segala hal. Tak ada apa pun yang lebih jelas manfaatnya, lebih aman, dan lebih komprehensif, ketimbang sikap moderat.والقصد داعية إلى الرشد والرشد دليل على التوفيق والتوفيق قائد إلى السعادةSikap moderat mengantarkan kepada petunjuk yang benar. Petunjuk yang benar membawa kepada keberhasilan, dan keberhasilan menyebabkan kebahagiaan.Tentu sikap moderat yang dimaksudkan Thahir adalah sikap moderat dalam naungan syariat Islam, sebagaimana disebutkan. Penegakan agama dan sunah-sunah Nabi yang memberi petunjuk dicapai melalui sikap moderat. Maka dahulukanlah atas yang lainnya, bersikaplah moderat dalam urusan duniamu semuanya.Ketahuilah, bersikap moderat dalam urusan dunia dapat mewariskan kemuliaan dan membersihkan dosa. Engkau tak memiliki apa pun yang lebih utama dari (sikap moderat) yang akan dapat melindungi dirimu dari orang yang suka mengata-ngatai, dan yang akan membuat urusanmu menjadi baik. Maka gunakanlah ia, berpandulah dengannya, niscaya urusanmu akan tuntas, kemampuanmu akan meningkat, serta masalah pribadi dan publikmu akan membaik.Pemimpin tidak boleh kalah dalam perlombaan menuju akhiratJanganlah tertinggal dalam mencari akhirat, pahala, amal saleh, sunah yang dikenal baik, dan hidayah petunjuk. Jangan segan untuk memberi pertolongan dan memperbanyak kebaikan serta mengusahakannya, jika dengannya dapat diperoleh wajah Allah dan rida-Nya serta dapat menemani para wali Allah di darul karamah atau negeri kemuliaan, yakni surga.Husnuzhan dan meminta pertolongan Allah ﷻ dalam mengurus rakyatKunci dari pertalian hubungan pemimpin dan rakyat yang harmonis adalah memperbaiki hubungan dengan Allah ﷻ. Thahir mewasiatkan,وأحسن الظن بالله عز وجل تستقم لك رعيتك والتمس الوسيلة إليه في الأمور كلها تستدم به النعمة عليكHendaklah engkau berbaik sangka kepada Allah ﷻ, niscaya rakyatmu pun akan istikamah membantumu. Cobalah senantiasa berhubungan dengan-Nya dalam semua urusan, niscaya nikmat selalu diberikan padamu.Prinsip berhusnuzhan kepada Allah ﷻ akan mengantarkan seorang pemimpin untuk mendapatkan pertolongan-Nya. Sebagaimana dalam hadis qudsi, Nabi ﷺ menyampaikan wahyu Allah ﷻ,ِأَنَا عِنْدَ حُسْنِ ظَنِّ عَبْدِي بِي، فَلْيَظُنَّ بِي مَا شَاءَ“Aku sesuai dengan persangkaan baik hamba-Ku. Maka hendaklah ia berprasangka kepada-Ku sebagaimana yang ia mau.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, Ath-Thabrani dinilai sahih)Orang yang paling membutuhkan pertolongan Allah ﷻ adalah para pemimpin yang mengurusi banyak orang. Tiada yang dapat menolongnya dalam kepemimpinan kecuali Allah ﷻ. Cara terbaik yang Allah ﷻ ajarkan agar seorang pemimpin mendapatkan pertolongan-Nya adalah dengan berhusnuzhan kepada Allah ﷻ sembari mengambil sebab.Pada bagian ini, wasiat Thahir berkorelasi dengan bagian sebelumnya yang mengingatkan seorang pemimpin untuk memperbanyak istikharah. Karena seorang pemimpin akan menghadapi masalah yang amat kompleks. Terkadang sampai tak tahu di mana pangkal masalah, apalagi ujung solusinya. Demikian pula mengkondisikan masyarakat agar tetap mendukung niatan baiknya, hal ini lebih sulit lagi. Maka, jika hendak mendapatkan pertolongan dan dukungan, hendaklah sang pemimpin tersebut banyak berprasangka baik dengan Allah ﷻ.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id

Bekal Menjadi Pemimpin Terbaik (Bag. 2): Jauhi Favoritisme

Daftar Isi ToggleJauhi favoritismeMuliakan ilmu agama dan ulama, niscaya Engkau termuliakanBersikaplah moderat (pertengahan) dalam segala halPemimpin tidak boleh kalah dalam perlombaan menuju akhiratHusnuzhan dan meminta pertolongan Allah ﷻ dalam mengurus rakyatJauhi favoritismeThahir memberikan wasiat,ولا تمل عن العدل فيما أحببت أو كرهت لقريب من الناس أو بعيد“Jangan sekali-kali menyimpang dari keadilan dalam hal yang engkau cintai atau benci, hanya karena kedekatanmu dengan sebagian orang.”Wasiat ini ringkas, di awal paragraf, tetapi mengandung hikmah besar yang sangat relevan dengan kita di hari ini. Jangan sampai kita menjadi pemimpin yang bertindak berdasarkan favoritisme. Hanya karena orang tersebut adalah sosok yang kita sukai, lantas kita mengutamakannya dan memaklumi kesalahannya. Sedangkan orang yang kita benci, kita halangi dia dari haknya dan menyalahkan perbuatannya yang benar.Hal ini selaras dengan firman Allah ﷻ,وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)Wasiat Thahir ini sangat relevan dengan fenomena di masa kini. Favoritisme menjadi isu besar di model kepemimpinan lintas organisasi. Mulai dari sistem kecil seperti di lembaga maupun perkantoran, hingga pada level tertinggi. Relevansi pembahasan Thahir menambah semangat kita untuk mengkajinya sehingga menjadi sangat bermanfaat bagi kita pribadi maupun orang-orang khusus yang ingin kita berikan wejangan terbaik.Muliakan ilmu agama dan ulama, niscaya Engkau termuliakanUtamakanlah fikih dan para ahlinya, agama dan para pembawanya, kitabullah dan orang-orang yang mengamalkannya. Karena sebaik-baik perhiasan seseorang adalah pemahaman terhadap agama-Nya, semangat mencarinya, mendorong manusia kepadanya, dan mengetahui perkara-perkara yang dapat mendekatkan diri kepada Allah ﷻ.Sesungguhnya fikih atau ilmu agama adalah penunjuk kepada seluruh kebaikan, pemimpin menuju kebaikan, yang memerintahkan kepadanya dan melarang dari segala maksiat serta dosa-dosa besar. Dengannya pula, bersama taufik Allah, para hamba semakin mengenal Allah ﷻ, semakin mengagungkan-Nya, dan semakin meraih derajat-derajat tinggi di akhirat.Tidak hanya itu, kebersamaan pemimpin dengan ilmu dan ahlinya akan menunjukkan kewibawaannya.مع مافى ظهوره للناس من التوقير لأمرك والهيبة لسلطانك والأنسة بك والثقة بعدلكDi samping itu, tampaknya ilmu di hadapan manusia akan menambah kewibawaan perintahmu, menghadirkan wibawa bagi kekuasaanmu, membuat manusia merasa dekat dan tenteram denganmu, serta percaya kepada keadilanmu.Inilah yang selaras dengan kepemimpinan modern yang dikenal dengan kepemimpinan berbasis ilmu pengetahuan atau teknokrasi. Lembaga kepemimpinan diisi oleh ahlinya, yakni para teknokrat. Kabinet pemerintahan diisi oleh para pakar yang disebut sebagai kabinet zaken. Inilah kepemimpinan yang ideal. Kepemimpinan semacam ini akan menghasilkan kebijakan yang presisi dan kepercayaan masyarakat yang tinggi.Bersikaplah moderat (pertengahan) dalam segala halHendaklah engkau bersikap moderat (iqtishad) dalam segala hal. Tak ada apa pun yang lebih jelas manfaatnya, lebih aman, dan lebih komprehensif, ketimbang sikap moderat.والقصد داعية إلى الرشد والرشد دليل على التوفيق والتوفيق قائد إلى السعادةSikap moderat mengantarkan kepada petunjuk yang benar. Petunjuk yang benar membawa kepada keberhasilan, dan keberhasilan menyebabkan kebahagiaan.Tentu sikap moderat yang dimaksudkan Thahir adalah sikap moderat dalam naungan syariat Islam, sebagaimana disebutkan. Penegakan agama dan sunah-sunah Nabi yang memberi petunjuk dicapai melalui sikap moderat. Maka dahulukanlah atas yang lainnya, bersikaplah moderat dalam urusan duniamu semuanya.Ketahuilah, bersikap moderat dalam urusan dunia dapat mewariskan kemuliaan dan membersihkan dosa. Engkau tak memiliki apa pun yang lebih utama dari (sikap moderat) yang akan dapat melindungi dirimu dari orang yang suka mengata-ngatai, dan yang akan membuat urusanmu menjadi baik. Maka gunakanlah ia, berpandulah dengannya, niscaya urusanmu akan tuntas, kemampuanmu akan meningkat, serta masalah pribadi dan publikmu akan membaik.Pemimpin tidak boleh kalah dalam perlombaan menuju akhiratJanganlah tertinggal dalam mencari akhirat, pahala, amal saleh, sunah yang dikenal baik, dan hidayah petunjuk. Jangan segan untuk memberi pertolongan dan memperbanyak kebaikan serta mengusahakannya, jika dengannya dapat diperoleh wajah Allah dan rida-Nya serta dapat menemani para wali Allah di darul karamah atau negeri kemuliaan, yakni surga.Husnuzhan dan meminta pertolongan Allah ﷻ dalam mengurus rakyatKunci dari pertalian hubungan pemimpin dan rakyat yang harmonis adalah memperbaiki hubungan dengan Allah ﷻ. Thahir mewasiatkan,وأحسن الظن بالله عز وجل تستقم لك رعيتك والتمس الوسيلة إليه في الأمور كلها تستدم به النعمة عليكHendaklah engkau berbaik sangka kepada Allah ﷻ, niscaya rakyatmu pun akan istikamah membantumu. Cobalah senantiasa berhubungan dengan-Nya dalam semua urusan, niscaya nikmat selalu diberikan padamu.Prinsip berhusnuzhan kepada Allah ﷻ akan mengantarkan seorang pemimpin untuk mendapatkan pertolongan-Nya. Sebagaimana dalam hadis qudsi, Nabi ﷺ menyampaikan wahyu Allah ﷻ,ِأَنَا عِنْدَ حُسْنِ ظَنِّ عَبْدِي بِي، فَلْيَظُنَّ بِي مَا شَاءَ“Aku sesuai dengan persangkaan baik hamba-Ku. Maka hendaklah ia berprasangka kepada-Ku sebagaimana yang ia mau.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, Ath-Thabrani dinilai sahih)Orang yang paling membutuhkan pertolongan Allah ﷻ adalah para pemimpin yang mengurusi banyak orang. Tiada yang dapat menolongnya dalam kepemimpinan kecuali Allah ﷻ. Cara terbaik yang Allah ﷻ ajarkan agar seorang pemimpin mendapatkan pertolongan-Nya adalah dengan berhusnuzhan kepada Allah ﷻ sembari mengambil sebab.Pada bagian ini, wasiat Thahir berkorelasi dengan bagian sebelumnya yang mengingatkan seorang pemimpin untuk memperbanyak istikharah. Karena seorang pemimpin akan menghadapi masalah yang amat kompleks. Terkadang sampai tak tahu di mana pangkal masalah, apalagi ujung solusinya. Demikian pula mengkondisikan masyarakat agar tetap mendukung niatan baiknya, hal ini lebih sulit lagi. Maka, jika hendak mendapatkan pertolongan dan dukungan, hendaklah sang pemimpin tersebut banyak berprasangka baik dengan Allah ﷻ.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleJauhi favoritismeMuliakan ilmu agama dan ulama, niscaya Engkau termuliakanBersikaplah moderat (pertengahan) dalam segala halPemimpin tidak boleh kalah dalam perlombaan menuju akhiratHusnuzhan dan meminta pertolongan Allah ﷻ dalam mengurus rakyatJauhi favoritismeThahir memberikan wasiat,ولا تمل عن العدل فيما أحببت أو كرهت لقريب من الناس أو بعيد“Jangan sekali-kali menyimpang dari keadilan dalam hal yang engkau cintai atau benci, hanya karena kedekatanmu dengan sebagian orang.”Wasiat ini ringkas, di awal paragraf, tetapi mengandung hikmah besar yang sangat relevan dengan kita di hari ini. Jangan sampai kita menjadi pemimpin yang bertindak berdasarkan favoritisme. Hanya karena orang tersebut adalah sosok yang kita sukai, lantas kita mengutamakannya dan memaklumi kesalahannya. Sedangkan orang yang kita benci, kita halangi dia dari haknya dan menyalahkan perbuatannya yang benar.Hal ini selaras dengan firman Allah ﷻ,وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)Wasiat Thahir ini sangat relevan dengan fenomena di masa kini. Favoritisme menjadi isu besar di model kepemimpinan lintas organisasi. Mulai dari sistem kecil seperti di lembaga maupun perkantoran, hingga pada level tertinggi. Relevansi pembahasan Thahir menambah semangat kita untuk mengkajinya sehingga menjadi sangat bermanfaat bagi kita pribadi maupun orang-orang khusus yang ingin kita berikan wejangan terbaik.Muliakan ilmu agama dan ulama, niscaya Engkau termuliakanUtamakanlah fikih dan para ahlinya, agama dan para pembawanya, kitabullah dan orang-orang yang mengamalkannya. Karena sebaik-baik perhiasan seseorang adalah pemahaman terhadap agama-Nya, semangat mencarinya, mendorong manusia kepadanya, dan mengetahui perkara-perkara yang dapat mendekatkan diri kepada Allah ﷻ.Sesungguhnya fikih atau ilmu agama adalah penunjuk kepada seluruh kebaikan, pemimpin menuju kebaikan, yang memerintahkan kepadanya dan melarang dari segala maksiat serta dosa-dosa besar. Dengannya pula, bersama taufik Allah, para hamba semakin mengenal Allah ﷻ, semakin mengagungkan-Nya, dan semakin meraih derajat-derajat tinggi di akhirat.Tidak hanya itu, kebersamaan pemimpin dengan ilmu dan ahlinya akan menunjukkan kewibawaannya.مع مافى ظهوره للناس من التوقير لأمرك والهيبة لسلطانك والأنسة بك والثقة بعدلكDi samping itu, tampaknya ilmu di hadapan manusia akan menambah kewibawaan perintahmu, menghadirkan wibawa bagi kekuasaanmu, membuat manusia merasa dekat dan tenteram denganmu, serta percaya kepada keadilanmu.Inilah yang selaras dengan kepemimpinan modern yang dikenal dengan kepemimpinan berbasis ilmu pengetahuan atau teknokrasi. Lembaga kepemimpinan diisi oleh ahlinya, yakni para teknokrat. Kabinet pemerintahan diisi oleh para pakar yang disebut sebagai kabinet zaken. Inilah kepemimpinan yang ideal. Kepemimpinan semacam ini akan menghasilkan kebijakan yang presisi dan kepercayaan masyarakat yang tinggi.Bersikaplah moderat (pertengahan) dalam segala halHendaklah engkau bersikap moderat (iqtishad) dalam segala hal. Tak ada apa pun yang lebih jelas manfaatnya, lebih aman, dan lebih komprehensif, ketimbang sikap moderat.والقصد داعية إلى الرشد والرشد دليل على التوفيق والتوفيق قائد إلى السعادةSikap moderat mengantarkan kepada petunjuk yang benar. Petunjuk yang benar membawa kepada keberhasilan, dan keberhasilan menyebabkan kebahagiaan.Tentu sikap moderat yang dimaksudkan Thahir adalah sikap moderat dalam naungan syariat Islam, sebagaimana disebutkan. Penegakan agama dan sunah-sunah Nabi yang memberi petunjuk dicapai melalui sikap moderat. Maka dahulukanlah atas yang lainnya, bersikaplah moderat dalam urusan duniamu semuanya.Ketahuilah, bersikap moderat dalam urusan dunia dapat mewariskan kemuliaan dan membersihkan dosa. Engkau tak memiliki apa pun yang lebih utama dari (sikap moderat) yang akan dapat melindungi dirimu dari orang yang suka mengata-ngatai, dan yang akan membuat urusanmu menjadi baik. Maka gunakanlah ia, berpandulah dengannya, niscaya urusanmu akan tuntas, kemampuanmu akan meningkat, serta masalah pribadi dan publikmu akan membaik.Pemimpin tidak boleh kalah dalam perlombaan menuju akhiratJanganlah tertinggal dalam mencari akhirat, pahala, amal saleh, sunah yang dikenal baik, dan hidayah petunjuk. Jangan segan untuk memberi pertolongan dan memperbanyak kebaikan serta mengusahakannya, jika dengannya dapat diperoleh wajah Allah dan rida-Nya serta dapat menemani para wali Allah di darul karamah atau negeri kemuliaan, yakni surga.Husnuzhan dan meminta pertolongan Allah ﷻ dalam mengurus rakyatKunci dari pertalian hubungan pemimpin dan rakyat yang harmonis adalah memperbaiki hubungan dengan Allah ﷻ. Thahir mewasiatkan,وأحسن الظن بالله عز وجل تستقم لك رعيتك والتمس الوسيلة إليه في الأمور كلها تستدم به النعمة عليكHendaklah engkau berbaik sangka kepada Allah ﷻ, niscaya rakyatmu pun akan istikamah membantumu. Cobalah senantiasa berhubungan dengan-Nya dalam semua urusan, niscaya nikmat selalu diberikan padamu.Prinsip berhusnuzhan kepada Allah ﷻ akan mengantarkan seorang pemimpin untuk mendapatkan pertolongan-Nya. Sebagaimana dalam hadis qudsi, Nabi ﷺ menyampaikan wahyu Allah ﷻ,ِأَنَا عِنْدَ حُسْنِ ظَنِّ عَبْدِي بِي، فَلْيَظُنَّ بِي مَا شَاءَ“Aku sesuai dengan persangkaan baik hamba-Ku. Maka hendaklah ia berprasangka kepada-Ku sebagaimana yang ia mau.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, Ath-Thabrani dinilai sahih)Orang yang paling membutuhkan pertolongan Allah ﷻ adalah para pemimpin yang mengurusi banyak orang. Tiada yang dapat menolongnya dalam kepemimpinan kecuali Allah ﷻ. Cara terbaik yang Allah ﷻ ajarkan agar seorang pemimpin mendapatkan pertolongan-Nya adalah dengan berhusnuzhan kepada Allah ﷻ sembari mengambil sebab.Pada bagian ini, wasiat Thahir berkorelasi dengan bagian sebelumnya yang mengingatkan seorang pemimpin untuk memperbanyak istikharah. Karena seorang pemimpin akan menghadapi masalah yang amat kompleks. Terkadang sampai tak tahu di mana pangkal masalah, apalagi ujung solusinya. Demikian pula mengkondisikan masyarakat agar tetap mendukung niatan baiknya, hal ini lebih sulit lagi. Maka, jika hendak mendapatkan pertolongan dan dukungan, hendaklah sang pemimpin tersebut banyak berprasangka baik dengan Allah ﷻ.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleJauhi favoritismeMuliakan ilmu agama dan ulama, niscaya Engkau termuliakanBersikaplah moderat (pertengahan) dalam segala halPemimpin tidak boleh kalah dalam perlombaan menuju akhiratHusnuzhan dan meminta pertolongan Allah ﷻ dalam mengurus rakyatJauhi favoritismeThahir memberikan wasiat,ولا تمل عن العدل فيما أحببت أو كرهت لقريب من الناس أو بعيد“Jangan sekali-kali menyimpang dari keadilan dalam hal yang engkau cintai atau benci, hanya karena kedekatanmu dengan sebagian orang.”Wasiat ini ringkas, di awal paragraf, tetapi mengandung hikmah besar yang sangat relevan dengan kita di hari ini. Jangan sampai kita menjadi pemimpin yang bertindak berdasarkan favoritisme. Hanya karena orang tersebut adalah sosok yang kita sukai, lantas kita mengutamakannya dan memaklumi kesalahannya. Sedangkan orang yang kita benci, kita halangi dia dari haknya dan menyalahkan perbuatannya yang benar.Hal ini selaras dengan firman Allah ﷻ,وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)Wasiat Thahir ini sangat relevan dengan fenomena di masa kini. Favoritisme menjadi isu besar di model kepemimpinan lintas organisasi. Mulai dari sistem kecil seperti di lembaga maupun perkantoran, hingga pada level tertinggi. Relevansi pembahasan Thahir menambah semangat kita untuk mengkajinya sehingga menjadi sangat bermanfaat bagi kita pribadi maupun orang-orang khusus yang ingin kita berikan wejangan terbaik.Muliakan ilmu agama dan ulama, niscaya Engkau termuliakanUtamakanlah fikih dan para ahlinya, agama dan para pembawanya, kitabullah dan orang-orang yang mengamalkannya. Karena sebaik-baik perhiasan seseorang adalah pemahaman terhadap agama-Nya, semangat mencarinya, mendorong manusia kepadanya, dan mengetahui perkara-perkara yang dapat mendekatkan diri kepada Allah ﷻ.Sesungguhnya fikih atau ilmu agama adalah penunjuk kepada seluruh kebaikan, pemimpin menuju kebaikan, yang memerintahkan kepadanya dan melarang dari segala maksiat serta dosa-dosa besar. Dengannya pula, bersama taufik Allah, para hamba semakin mengenal Allah ﷻ, semakin mengagungkan-Nya, dan semakin meraih derajat-derajat tinggi di akhirat.Tidak hanya itu, kebersamaan pemimpin dengan ilmu dan ahlinya akan menunjukkan kewibawaannya.مع مافى ظهوره للناس من التوقير لأمرك والهيبة لسلطانك والأنسة بك والثقة بعدلكDi samping itu, tampaknya ilmu di hadapan manusia akan menambah kewibawaan perintahmu, menghadirkan wibawa bagi kekuasaanmu, membuat manusia merasa dekat dan tenteram denganmu, serta percaya kepada keadilanmu.Inilah yang selaras dengan kepemimpinan modern yang dikenal dengan kepemimpinan berbasis ilmu pengetahuan atau teknokrasi. Lembaga kepemimpinan diisi oleh ahlinya, yakni para teknokrat. Kabinet pemerintahan diisi oleh para pakar yang disebut sebagai kabinet zaken. Inilah kepemimpinan yang ideal. Kepemimpinan semacam ini akan menghasilkan kebijakan yang presisi dan kepercayaan masyarakat yang tinggi.Bersikaplah moderat (pertengahan) dalam segala halHendaklah engkau bersikap moderat (iqtishad) dalam segala hal. Tak ada apa pun yang lebih jelas manfaatnya, lebih aman, dan lebih komprehensif, ketimbang sikap moderat.والقصد داعية إلى الرشد والرشد دليل على التوفيق والتوفيق قائد إلى السعادةSikap moderat mengantarkan kepada petunjuk yang benar. Petunjuk yang benar membawa kepada keberhasilan, dan keberhasilan menyebabkan kebahagiaan.Tentu sikap moderat yang dimaksudkan Thahir adalah sikap moderat dalam naungan syariat Islam, sebagaimana disebutkan. Penegakan agama dan sunah-sunah Nabi yang memberi petunjuk dicapai melalui sikap moderat. Maka dahulukanlah atas yang lainnya, bersikaplah moderat dalam urusan duniamu semuanya.Ketahuilah, bersikap moderat dalam urusan dunia dapat mewariskan kemuliaan dan membersihkan dosa. Engkau tak memiliki apa pun yang lebih utama dari (sikap moderat) yang akan dapat melindungi dirimu dari orang yang suka mengata-ngatai, dan yang akan membuat urusanmu menjadi baik. Maka gunakanlah ia, berpandulah dengannya, niscaya urusanmu akan tuntas, kemampuanmu akan meningkat, serta masalah pribadi dan publikmu akan membaik.Pemimpin tidak boleh kalah dalam perlombaan menuju akhiratJanganlah tertinggal dalam mencari akhirat, pahala, amal saleh, sunah yang dikenal baik, dan hidayah petunjuk. Jangan segan untuk memberi pertolongan dan memperbanyak kebaikan serta mengusahakannya, jika dengannya dapat diperoleh wajah Allah dan rida-Nya serta dapat menemani para wali Allah di darul karamah atau negeri kemuliaan, yakni surga.Husnuzhan dan meminta pertolongan Allah ﷻ dalam mengurus rakyatKunci dari pertalian hubungan pemimpin dan rakyat yang harmonis adalah memperbaiki hubungan dengan Allah ﷻ. Thahir mewasiatkan,وأحسن الظن بالله عز وجل تستقم لك رعيتك والتمس الوسيلة إليه في الأمور كلها تستدم به النعمة عليكHendaklah engkau berbaik sangka kepada Allah ﷻ, niscaya rakyatmu pun akan istikamah membantumu. Cobalah senantiasa berhubungan dengan-Nya dalam semua urusan, niscaya nikmat selalu diberikan padamu.Prinsip berhusnuzhan kepada Allah ﷻ akan mengantarkan seorang pemimpin untuk mendapatkan pertolongan-Nya. Sebagaimana dalam hadis qudsi, Nabi ﷺ menyampaikan wahyu Allah ﷻ,ِأَنَا عِنْدَ حُسْنِ ظَنِّ عَبْدِي بِي، فَلْيَظُنَّ بِي مَا شَاءَ“Aku sesuai dengan persangkaan baik hamba-Ku. Maka hendaklah ia berprasangka kepada-Ku sebagaimana yang ia mau.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, Ath-Thabrani dinilai sahih)Orang yang paling membutuhkan pertolongan Allah ﷻ adalah para pemimpin yang mengurusi banyak orang. Tiada yang dapat menolongnya dalam kepemimpinan kecuali Allah ﷻ. Cara terbaik yang Allah ﷻ ajarkan agar seorang pemimpin mendapatkan pertolongan-Nya adalah dengan berhusnuzhan kepada Allah ﷻ sembari mengambil sebab.Pada bagian ini, wasiat Thahir berkorelasi dengan bagian sebelumnya yang mengingatkan seorang pemimpin untuk memperbanyak istikharah. Karena seorang pemimpin akan menghadapi masalah yang amat kompleks. Terkadang sampai tak tahu di mana pangkal masalah, apalagi ujung solusinya. Demikian pula mengkondisikan masyarakat agar tetap mendukung niatan baiknya, hal ini lebih sulit lagi. Maka, jika hendak mendapatkan pertolongan dan dukungan, hendaklah sang pemimpin tersebut banyak berprasangka baik dengan Allah ﷻ.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id

Takut dan Berharap kepada Allah, Keduanya Harus Seimbang

Seorang mukmin tidak boleh merasa terlalu aman dari azab Allah, tetapi juga tidak boleh berputus asa dari rahmat-Nya. Al-Qur’an dan Sunnah mendidik kita untuk berjalan menuju Allah dengan dua bekal: rasa takut (khauf) dan penuh harap (raja’). Keseimbangan keduanya akan membuat seseorang serius beramal tanpa kehilangan harapan terhadap luasnya rahmat Allah.  Daftar Isi tutup 1. Takut kepada Allah, tetapi Jangan Berputus Asa 1.1. Pelajaran dari Ayat 2. Riyadhus Sholihin 1/443: Takut kepada Azab Allah dan Berharap kepada Rahmat-Nya 2.1. Faedah hadits 3. Riyadhus Sholihin 2/444: Jenazah yang Saleh Ingin Segera Bertemu Rabbnya 3.1. Kosakata hadits 3.2. Faedah hadits 3.3. Catatan: Hukum Membawa Jenazah dengan Mobil 4. Riyadhus Sholihin 3/445: Surga dan Neraka Sangat Dekat dengan Kita 4.1. Kosakata hadits 4.2. Faedah hadits  Takut kepada Allah, tetapi Jangan Berputus AsaKetahuilah, keadaan yang paling baik bagi seorang hamba ketika sehat adalah memiliki rasa takut dan harap kepada Allah secara seimbang. Rasa takut dan harapnya hendaknya sama kuat. Adapun ketika sedang sakit, hendaknya ia lebih menguatkan harapannya kepada Allah.Kaidah-kaidah syariat yang terdapat dalam Al-Qur’an, As-Sunnah, dan dalil-dalil lainnya menunjukkan hal tersebut.Allah Ta’ala berfirman,﴿فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ﴾“Maka tidak ada yang merasa aman dari azab Allah selain orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 99)Allah Ta’ala juga berfirman,﴿إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ﴾“Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah selain kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)Allah Ta’ala juga berfirman,﴿يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ﴾“Pada hari ketika ada wajah yang menjadi putih berseri dan ada pula wajah yang menjadi hitam muram.” (QS. Ali ‘Imran: 106)Allah Ta’ala juga berfirman,﴿إِنَّ رَبَّكَ لَسَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ﴾“Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat siksa-Nya, tetapi sungguh Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-A’raf: 167)Allah Ta’ala juga berfirman,﴿إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ ۝ وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ﴾“Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam kenikmatan. Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” (QS. Al-Infithar: 13–14)Allah Ta’ala juga berfirman,﴿فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ ۝ وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ﴾“Adapun orang yang berat timbangan kebaikannya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang yang ringan timbangan kebaikannya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.” (QS. Al-Qari’ah: 6–9)Ayat-ayat yang semakna dengan ini sangat banyak. Terkadang Allah menggabungkan rasa takut dan harap dalam dua ayat yang berurutan, beberapa ayat, bahkan dalam satu ayat sekaligus. Pelajaran dari Ayat1. Seorang hamba hendaknya menjadi “dokter” bagi dirinya sendiri. Jika ia melihat dirinya merasa aman dari makar Allah karena terus-menerus melakukan maksiat, maka ia harus meninggalkan keadaan itu dan menempuh jalan yang menumbuhkan rasa takut kepada Allah. Sebaliknya, jika ia mendapati dirinya dikuasai waswas dan rasa takut yang berlebihan, maka hendaknya ia lebih menguatkan harapan kepada Allah hingga rasa takut dan harapnya kembali seimbang.2. Metode Al-Qur’an adalah selalu memadukan rasa takut dan harap. Inilah jalan yang ditempuh oleh seorang mukmin yang jujur, memiliki ilmu dan pandangan yang benar, serta mendapatkan petunjuk dari Al-Qur’an yang mulia. Riyadhus Sholihin 1/443: Takut kepada Azab Allah dan Berharap kepada Rahmat-NyaDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«لَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الْعُقُوبَةِ مَا طَمِعَ بِجَنَّتِهِ أَحَدٌ، وَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الرَّحْمَةِ مَا قَنِطَ مِنْ جَنَّتِهِ أَحَدٌ»“Seandainya seorang mukmin mengetahui besarnya azab yang ada di sisi Allah, niscaya tidak seorang pun akan berani berharap memperoleh surga-Nya. Sebaliknya, seandainya seorang kafir mengetahui betapa luas rahmat yang ada di sisi Allah, niscaya tidak seorang pun akan berputus asa dari memperoleh surga-Nya.” (HR. Muslim) Faedah hadits1. Besarnya kemuliaan seorang mukmin di sisi Allah. Allah menumbuhkan harapan dalam dirinya untuk meraih surga, sekaligus memberikan taufik sehingga ia mampu mengerjakan amal-amal saleh.2. Hinanya orang kafir di hadapan Allah. Ia dihalangi dari amal saleh karena berpaling dari Allah Ta’ala serta tertipu oleh angan-angan kosong dan mengikuti hawa nafsunya. Riyadhus Sholihin 2/444: Jenazah yang Saleh Ingin Segera Bertemu RabbnyaDari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«إِذَا وُضِعَتِ الْجِنَازَةُ، وَاحْتَمَلَهَا النَّاسُ أَوِ الرِّجَالُ عَلَى أَعْنَاقِهِمْ، فَإِنْ كَانَتْ صَالِحَةً قَالَتْ: قَدِّمُونِي قَدِّمُونِي، وَإِنْ كَانَتْ غَيْرَ صَالِحَةٍ قَالَتْ: يَا وَيْلَهَا! أَيْنَ تَذْهَبُونَ بِهَا؟ يَسْمَعُ صَوْتَهَا كُلُّ شَيْءٍ إِلَّا الْإِنْسَانُ، وَلَوْ سَمِعَهُ صَعِقَ»“Apabila jenazah telah diletakkan di atas usungan lalu dipikul oleh orang-orang di atas pundak mereka, jika ia adalah orang yang saleh, ia akan berkata, ‘Cepatlah bawa aku! Cepatlah bawa aku!’ Namun jika ia bukan orang yang saleh, ia akan berkata, ‘Celakalah aku! Ke mana kalian membawaku?’ Suaranya didengar oleh semua makhluk selain manusia. Seandainya manusia mendengarnya, niscaya mereka akan pingsan.” (HR. Bukhari)Kosakata haditsوُضِعَتِ الْجِنَازَةُ: Jenazah telah diletakkan di atas usungan (keranda) untuk dibawa menuju pemakaman. Faedah hadits1. Jenazah orang saleh sangat berharap kepada rahmat Allah. Ia mengetahui berbagai kenikmatan dan kebaikan yang telah Allah siapkan untuknya, sehingga ia ingin segera sampai ke tempat peristirahatan terakhirnya.2. Hadis ini menunjukkan metode pendidikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menggabungkan rasa takut dan harap. Orang saleh dibuat semakin berharap kepada rahmat Allah, sedangkan orang yang durhaka diperingatkan agar takut terhadap azab-Nya. Catatan: Hukum Membawa Jenazah dengan MobilDalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,«وَاحْتَمَلَهَا النَّاسُ أَوِ الرِّجَالُ عَلَى أَعْنَاقِهِمْ»“…lalu dipikul oleh orang-orang di atas pundak mereka…”Dari petunjuk Nabi ini, penulis kitab mengambil faedah bahwa jenazah tidak semestinya diletakkan di dalam mobil ketika dibawa ke pemakaman, dengan beberapa alasan berikut.Hal itu merupakan kebiasaan orang-orang kafir. Syariat melarang kaum muslimin meniru dan menyerupai mereka.Cara tersebut menyelisihi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengusung jenazah.Menghilangkan hikmah dan pelajaran dari mengusung jenazah dengan tangan sehingga orang-orang dapat melihatnya, mengingat kematian, dan mengambil ibrah.Ketahuilah, saudaraku seiman, ketika bangsa-bangsa kafir telah melupakan kematian dan tenggelam dalam kenikmatan dunia serta syahwat, mereka menjauh dari segala sesuatu yang mengingatkan kepada kematian. Karena itu, mereka meletakkan jenazah di dalam peti-peti tertutup yang dibawa dengan mobil.Cara tersebut dapat mengurangi jumlah orang yang mengiringi jenazah dan ingin memperoleh pahala, karena tidak semua orang dapat ikut mengantarkan jenazah jika menggunakan cara seperti itu.Mengiringi jenazah dengan iring-iringan mobil dan prosesi yang bersifat seremonial tidak sejalan dengan kemudahan dan kesederhanaan syariat Islam yang menjauhkan umatnya dari formalitas yang berlebihan dalam urusan kematian.Pengecualian: Larangan tersebut tidak berlaku apabila ada kebutuhan yang mendesak, misalnya jarak menuju pemakaman sangat jauh. Dalam kondisi seperti ini, penggunaan kendaraan dibolehkan sebatas kebutuhan, tanpa berlebihan dalam unsur seremonial dan formalitas. Riyadhus Sholihin 3/445: Surga dan Neraka Sangat Dekat dengan KitaDari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«الْجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ، وَالنَّارُ مِثْلُ ذَلِكَ»“Surga itu lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian daripada tali sandalnya. Demikian pula neraka.” (HR. Bukhari) Kosakata haditsشِرَاكُ نَعْلِهِ: Tali sandal yang mengikat sandal pada kaki. Ungkapan ini digunakan sebagai perumpamaan tentang sesuatu yang sangat dekat, karena seseorang mengenakan sandalnya setiap saat ketika berjalan. Faedah hadits1. Seorang hamba harus terus memperbaiki kekurangan dalam dirinya, baik dalam sisi rasa takut kepada Allah maupun harapan kepada-Nya. Jangan sampai rasa takut membuatnya berputus asa, dan jangan pula rasa berharap membuatnya merasa aman dari azab Allah.2. Setiap manusia sedang menempuh perjalanan menuju salah satu dari dua tujuan: surga atau neraka. Karena itu, berbahagialah orang yang Allah beri taufik untuk memperbanyak amal-amal saleh yang pahalanya kekal dan terus mengantarkannya menuju surga. Referensi:Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-nazhirin syarh Riyadh ash-shalihin (Jilid 2, Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-shalihin (Cet. 3). Damaskus. —- Selesai ditulis di perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin, 10 Agustus 2026,  28 Safar 1448 HPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal saleh Azab Allah berharap kepada Allah jangan putus asa khauf dan raja nasihat iman Rahmat Allah riyadhus sholihin surga dan neraka takut kepada Allah

Takut dan Berharap kepada Allah, Keduanya Harus Seimbang

Seorang mukmin tidak boleh merasa terlalu aman dari azab Allah, tetapi juga tidak boleh berputus asa dari rahmat-Nya. Al-Qur’an dan Sunnah mendidik kita untuk berjalan menuju Allah dengan dua bekal: rasa takut (khauf) dan penuh harap (raja’). Keseimbangan keduanya akan membuat seseorang serius beramal tanpa kehilangan harapan terhadap luasnya rahmat Allah.  Daftar Isi tutup 1. Takut kepada Allah, tetapi Jangan Berputus Asa 1.1. Pelajaran dari Ayat 2. Riyadhus Sholihin 1/443: Takut kepada Azab Allah dan Berharap kepada Rahmat-Nya 2.1. Faedah hadits 3. Riyadhus Sholihin 2/444: Jenazah yang Saleh Ingin Segera Bertemu Rabbnya 3.1. Kosakata hadits 3.2. Faedah hadits 3.3. Catatan: Hukum Membawa Jenazah dengan Mobil 4. Riyadhus Sholihin 3/445: Surga dan Neraka Sangat Dekat dengan Kita 4.1. Kosakata hadits 4.2. Faedah hadits  Takut kepada Allah, tetapi Jangan Berputus AsaKetahuilah, keadaan yang paling baik bagi seorang hamba ketika sehat adalah memiliki rasa takut dan harap kepada Allah secara seimbang. Rasa takut dan harapnya hendaknya sama kuat. Adapun ketika sedang sakit, hendaknya ia lebih menguatkan harapannya kepada Allah.Kaidah-kaidah syariat yang terdapat dalam Al-Qur’an, As-Sunnah, dan dalil-dalil lainnya menunjukkan hal tersebut.Allah Ta’ala berfirman,﴿فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ﴾“Maka tidak ada yang merasa aman dari azab Allah selain orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 99)Allah Ta’ala juga berfirman,﴿إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ﴾“Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah selain kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)Allah Ta’ala juga berfirman,﴿يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ﴾“Pada hari ketika ada wajah yang menjadi putih berseri dan ada pula wajah yang menjadi hitam muram.” (QS. Ali ‘Imran: 106)Allah Ta’ala juga berfirman,﴿إِنَّ رَبَّكَ لَسَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ﴾“Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat siksa-Nya, tetapi sungguh Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-A’raf: 167)Allah Ta’ala juga berfirman,﴿إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ ۝ وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ﴾“Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam kenikmatan. Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” (QS. Al-Infithar: 13–14)Allah Ta’ala juga berfirman,﴿فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ ۝ وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ﴾“Adapun orang yang berat timbangan kebaikannya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang yang ringan timbangan kebaikannya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.” (QS. Al-Qari’ah: 6–9)Ayat-ayat yang semakna dengan ini sangat banyak. Terkadang Allah menggabungkan rasa takut dan harap dalam dua ayat yang berurutan, beberapa ayat, bahkan dalam satu ayat sekaligus. Pelajaran dari Ayat1. Seorang hamba hendaknya menjadi “dokter” bagi dirinya sendiri. Jika ia melihat dirinya merasa aman dari makar Allah karena terus-menerus melakukan maksiat, maka ia harus meninggalkan keadaan itu dan menempuh jalan yang menumbuhkan rasa takut kepada Allah. Sebaliknya, jika ia mendapati dirinya dikuasai waswas dan rasa takut yang berlebihan, maka hendaknya ia lebih menguatkan harapan kepada Allah hingga rasa takut dan harapnya kembali seimbang.2. Metode Al-Qur’an adalah selalu memadukan rasa takut dan harap. Inilah jalan yang ditempuh oleh seorang mukmin yang jujur, memiliki ilmu dan pandangan yang benar, serta mendapatkan petunjuk dari Al-Qur’an yang mulia. Riyadhus Sholihin 1/443: Takut kepada Azab Allah dan Berharap kepada Rahmat-NyaDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«لَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الْعُقُوبَةِ مَا طَمِعَ بِجَنَّتِهِ أَحَدٌ، وَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الرَّحْمَةِ مَا قَنِطَ مِنْ جَنَّتِهِ أَحَدٌ»“Seandainya seorang mukmin mengetahui besarnya azab yang ada di sisi Allah, niscaya tidak seorang pun akan berani berharap memperoleh surga-Nya. Sebaliknya, seandainya seorang kafir mengetahui betapa luas rahmat yang ada di sisi Allah, niscaya tidak seorang pun akan berputus asa dari memperoleh surga-Nya.” (HR. Muslim) Faedah hadits1. Besarnya kemuliaan seorang mukmin di sisi Allah. Allah menumbuhkan harapan dalam dirinya untuk meraih surga, sekaligus memberikan taufik sehingga ia mampu mengerjakan amal-amal saleh.2. Hinanya orang kafir di hadapan Allah. Ia dihalangi dari amal saleh karena berpaling dari Allah Ta’ala serta tertipu oleh angan-angan kosong dan mengikuti hawa nafsunya. Riyadhus Sholihin 2/444: Jenazah yang Saleh Ingin Segera Bertemu RabbnyaDari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«إِذَا وُضِعَتِ الْجِنَازَةُ، وَاحْتَمَلَهَا النَّاسُ أَوِ الرِّجَالُ عَلَى أَعْنَاقِهِمْ، فَإِنْ كَانَتْ صَالِحَةً قَالَتْ: قَدِّمُونِي قَدِّمُونِي، وَإِنْ كَانَتْ غَيْرَ صَالِحَةٍ قَالَتْ: يَا وَيْلَهَا! أَيْنَ تَذْهَبُونَ بِهَا؟ يَسْمَعُ صَوْتَهَا كُلُّ شَيْءٍ إِلَّا الْإِنْسَانُ، وَلَوْ سَمِعَهُ صَعِقَ»“Apabila jenazah telah diletakkan di atas usungan lalu dipikul oleh orang-orang di atas pundak mereka, jika ia adalah orang yang saleh, ia akan berkata, ‘Cepatlah bawa aku! Cepatlah bawa aku!’ Namun jika ia bukan orang yang saleh, ia akan berkata, ‘Celakalah aku! Ke mana kalian membawaku?’ Suaranya didengar oleh semua makhluk selain manusia. Seandainya manusia mendengarnya, niscaya mereka akan pingsan.” (HR. Bukhari)Kosakata haditsوُضِعَتِ الْجِنَازَةُ: Jenazah telah diletakkan di atas usungan (keranda) untuk dibawa menuju pemakaman. Faedah hadits1. Jenazah orang saleh sangat berharap kepada rahmat Allah. Ia mengetahui berbagai kenikmatan dan kebaikan yang telah Allah siapkan untuknya, sehingga ia ingin segera sampai ke tempat peristirahatan terakhirnya.2. Hadis ini menunjukkan metode pendidikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menggabungkan rasa takut dan harap. Orang saleh dibuat semakin berharap kepada rahmat Allah, sedangkan orang yang durhaka diperingatkan agar takut terhadap azab-Nya. Catatan: Hukum Membawa Jenazah dengan MobilDalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,«وَاحْتَمَلَهَا النَّاسُ أَوِ الرِّجَالُ عَلَى أَعْنَاقِهِمْ»“…lalu dipikul oleh orang-orang di atas pundak mereka…”Dari petunjuk Nabi ini, penulis kitab mengambil faedah bahwa jenazah tidak semestinya diletakkan di dalam mobil ketika dibawa ke pemakaman, dengan beberapa alasan berikut.Hal itu merupakan kebiasaan orang-orang kafir. Syariat melarang kaum muslimin meniru dan menyerupai mereka.Cara tersebut menyelisihi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengusung jenazah.Menghilangkan hikmah dan pelajaran dari mengusung jenazah dengan tangan sehingga orang-orang dapat melihatnya, mengingat kematian, dan mengambil ibrah.Ketahuilah, saudaraku seiman, ketika bangsa-bangsa kafir telah melupakan kematian dan tenggelam dalam kenikmatan dunia serta syahwat, mereka menjauh dari segala sesuatu yang mengingatkan kepada kematian. Karena itu, mereka meletakkan jenazah di dalam peti-peti tertutup yang dibawa dengan mobil.Cara tersebut dapat mengurangi jumlah orang yang mengiringi jenazah dan ingin memperoleh pahala, karena tidak semua orang dapat ikut mengantarkan jenazah jika menggunakan cara seperti itu.Mengiringi jenazah dengan iring-iringan mobil dan prosesi yang bersifat seremonial tidak sejalan dengan kemudahan dan kesederhanaan syariat Islam yang menjauhkan umatnya dari formalitas yang berlebihan dalam urusan kematian.Pengecualian: Larangan tersebut tidak berlaku apabila ada kebutuhan yang mendesak, misalnya jarak menuju pemakaman sangat jauh. Dalam kondisi seperti ini, penggunaan kendaraan dibolehkan sebatas kebutuhan, tanpa berlebihan dalam unsur seremonial dan formalitas. Riyadhus Sholihin 3/445: Surga dan Neraka Sangat Dekat dengan KitaDari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«الْجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ، وَالنَّارُ مِثْلُ ذَلِكَ»“Surga itu lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian daripada tali sandalnya. Demikian pula neraka.” (HR. Bukhari) Kosakata haditsشِرَاكُ نَعْلِهِ: Tali sandal yang mengikat sandal pada kaki. Ungkapan ini digunakan sebagai perumpamaan tentang sesuatu yang sangat dekat, karena seseorang mengenakan sandalnya setiap saat ketika berjalan. Faedah hadits1. Seorang hamba harus terus memperbaiki kekurangan dalam dirinya, baik dalam sisi rasa takut kepada Allah maupun harapan kepada-Nya. Jangan sampai rasa takut membuatnya berputus asa, dan jangan pula rasa berharap membuatnya merasa aman dari azab Allah.2. Setiap manusia sedang menempuh perjalanan menuju salah satu dari dua tujuan: surga atau neraka. Karena itu, berbahagialah orang yang Allah beri taufik untuk memperbanyak amal-amal saleh yang pahalanya kekal dan terus mengantarkannya menuju surga. Referensi:Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-nazhirin syarh Riyadh ash-shalihin (Jilid 2, Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-shalihin (Cet. 3). Damaskus. —- Selesai ditulis di perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin, 10 Agustus 2026,  28 Safar 1448 HPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal saleh Azab Allah berharap kepada Allah jangan putus asa khauf dan raja nasihat iman Rahmat Allah riyadhus sholihin surga dan neraka takut kepada Allah
Seorang mukmin tidak boleh merasa terlalu aman dari azab Allah, tetapi juga tidak boleh berputus asa dari rahmat-Nya. Al-Qur’an dan Sunnah mendidik kita untuk berjalan menuju Allah dengan dua bekal: rasa takut (khauf) dan penuh harap (raja’). Keseimbangan keduanya akan membuat seseorang serius beramal tanpa kehilangan harapan terhadap luasnya rahmat Allah.  Daftar Isi tutup 1. Takut kepada Allah, tetapi Jangan Berputus Asa 1.1. Pelajaran dari Ayat 2. Riyadhus Sholihin 1/443: Takut kepada Azab Allah dan Berharap kepada Rahmat-Nya 2.1. Faedah hadits 3. Riyadhus Sholihin 2/444: Jenazah yang Saleh Ingin Segera Bertemu Rabbnya 3.1. Kosakata hadits 3.2. Faedah hadits 3.3. Catatan: Hukum Membawa Jenazah dengan Mobil 4. Riyadhus Sholihin 3/445: Surga dan Neraka Sangat Dekat dengan Kita 4.1. Kosakata hadits 4.2. Faedah hadits  Takut kepada Allah, tetapi Jangan Berputus AsaKetahuilah, keadaan yang paling baik bagi seorang hamba ketika sehat adalah memiliki rasa takut dan harap kepada Allah secara seimbang. Rasa takut dan harapnya hendaknya sama kuat. Adapun ketika sedang sakit, hendaknya ia lebih menguatkan harapannya kepada Allah.Kaidah-kaidah syariat yang terdapat dalam Al-Qur’an, As-Sunnah, dan dalil-dalil lainnya menunjukkan hal tersebut.Allah Ta’ala berfirman,﴿فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ﴾“Maka tidak ada yang merasa aman dari azab Allah selain orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 99)Allah Ta’ala juga berfirman,﴿إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ﴾“Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah selain kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)Allah Ta’ala juga berfirman,﴿يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ﴾“Pada hari ketika ada wajah yang menjadi putih berseri dan ada pula wajah yang menjadi hitam muram.” (QS. Ali ‘Imran: 106)Allah Ta’ala juga berfirman,﴿إِنَّ رَبَّكَ لَسَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ﴾“Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat siksa-Nya, tetapi sungguh Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-A’raf: 167)Allah Ta’ala juga berfirman,﴿إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ ۝ وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ﴾“Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam kenikmatan. Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” (QS. Al-Infithar: 13–14)Allah Ta’ala juga berfirman,﴿فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ ۝ وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ﴾“Adapun orang yang berat timbangan kebaikannya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang yang ringan timbangan kebaikannya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.” (QS. Al-Qari’ah: 6–9)Ayat-ayat yang semakna dengan ini sangat banyak. Terkadang Allah menggabungkan rasa takut dan harap dalam dua ayat yang berurutan, beberapa ayat, bahkan dalam satu ayat sekaligus. Pelajaran dari Ayat1. Seorang hamba hendaknya menjadi “dokter” bagi dirinya sendiri. Jika ia melihat dirinya merasa aman dari makar Allah karena terus-menerus melakukan maksiat, maka ia harus meninggalkan keadaan itu dan menempuh jalan yang menumbuhkan rasa takut kepada Allah. Sebaliknya, jika ia mendapati dirinya dikuasai waswas dan rasa takut yang berlebihan, maka hendaknya ia lebih menguatkan harapan kepada Allah hingga rasa takut dan harapnya kembali seimbang.2. Metode Al-Qur’an adalah selalu memadukan rasa takut dan harap. Inilah jalan yang ditempuh oleh seorang mukmin yang jujur, memiliki ilmu dan pandangan yang benar, serta mendapatkan petunjuk dari Al-Qur’an yang mulia. Riyadhus Sholihin 1/443: Takut kepada Azab Allah dan Berharap kepada Rahmat-NyaDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«لَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الْعُقُوبَةِ مَا طَمِعَ بِجَنَّتِهِ أَحَدٌ، وَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الرَّحْمَةِ مَا قَنِطَ مِنْ جَنَّتِهِ أَحَدٌ»“Seandainya seorang mukmin mengetahui besarnya azab yang ada di sisi Allah, niscaya tidak seorang pun akan berani berharap memperoleh surga-Nya. Sebaliknya, seandainya seorang kafir mengetahui betapa luas rahmat yang ada di sisi Allah, niscaya tidak seorang pun akan berputus asa dari memperoleh surga-Nya.” (HR. Muslim) Faedah hadits1. Besarnya kemuliaan seorang mukmin di sisi Allah. Allah menumbuhkan harapan dalam dirinya untuk meraih surga, sekaligus memberikan taufik sehingga ia mampu mengerjakan amal-amal saleh.2. Hinanya orang kafir di hadapan Allah. Ia dihalangi dari amal saleh karena berpaling dari Allah Ta’ala serta tertipu oleh angan-angan kosong dan mengikuti hawa nafsunya. Riyadhus Sholihin 2/444: Jenazah yang Saleh Ingin Segera Bertemu RabbnyaDari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«إِذَا وُضِعَتِ الْجِنَازَةُ، وَاحْتَمَلَهَا النَّاسُ أَوِ الرِّجَالُ عَلَى أَعْنَاقِهِمْ، فَإِنْ كَانَتْ صَالِحَةً قَالَتْ: قَدِّمُونِي قَدِّمُونِي، وَإِنْ كَانَتْ غَيْرَ صَالِحَةٍ قَالَتْ: يَا وَيْلَهَا! أَيْنَ تَذْهَبُونَ بِهَا؟ يَسْمَعُ صَوْتَهَا كُلُّ شَيْءٍ إِلَّا الْإِنْسَانُ، وَلَوْ سَمِعَهُ صَعِقَ»“Apabila jenazah telah diletakkan di atas usungan lalu dipikul oleh orang-orang di atas pundak mereka, jika ia adalah orang yang saleh, ia akan berkata, ‘Cepatlah bawa aku! Cepatlah bawa aku!’ Namun jika ia bukan orang yang saleh, ia akan berkata, ‘Celakalah aku! Ke mana kalian membawaku?’ Suaranya didengar oleh semua makhluk selain manusia. Seandainya manusia mendengarnya, niscaya mereka akan pingsan.” (HR. Bukhari)Kosakata haditsوُضِعَتِ الْجِنَازَةُ: Jenazah telah diletakkan di atas usungan (keranda) untuk dibawa menuju pemakaman. Faedah hadits1. Jenazah orang saleh sangat berharap kepada rahmat Allah. Ia mengetahui berbagai kenikmatan dan kebaikan yang telah Allah siapkan untuknya, sehingga ia ingin segera sampai ke tempat peristirahatan terakhirnya.2. Hadis ini menunjukkan metode pendidikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menggabungkan rasa takut dan harap. Orang saleh dibuat semakin berharap kepada rahmat Allah, sedangkan orang yang durhaka diperingatkan agar takut terhadap azab-Nya. Catatan: Hukum Membawa Jenazah dengan MobilDalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,«وَاحْتَمَلَهَا النَّاسُ أَوِ الرِّجَالُ عَلَى أَعْنَاقِهِمْ»“…lalu dipikul oleh orang-orang di atas pundak mereka…”Dari petunjuk Nabi ini, penulis kitab mengambil faedah bahwa jenazah tidak semestinya diletakkan di dalam mobil ketika dibawa ke pemakaman, dengan beberapa alasan berikut.Hal itu merupakan kebiasaan orang-orang kafir. Syariat melarang kaum muslimin meniru dan menyerupai mereka.Cara tersebut menyelisihi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengusung jenazah.Menghilangkan hikmah dan pelajaran dari mengusung jenazah dengan tangan sehingga orang-orang dapat melihatnya, mengingat kematian, dan mengambil ibrah.Ketahuilah, saudaraku seiman, ketika bangsa-bangsa kafir telah melupakan kematian dan tenggelam dalam kenikmatan dunia serta syahwat, mereka menjauh dari segala sesuatu yang mengingatkan kepada kematian. Karena itu, mereka meletakkan jenazah di dalam peti-peti tertutup yang dibawa dengan mobil.Cara tersebut dapat mengurangi jumlah orang yang mengiringi jenazah dan ingin memperoleh pahala, karena tidak semua orang dapat ikut mengantarkan jenazah jika menggunakan cara seperti itu.Mengiringi jenazah dengan iring-iringan mobil dan prosesi yang bersifat seremonial tidak sejalan dengan kemudahan dan kesederhanaan syariat Islam yang menjauhkan umatnya dari formalitas yang berlebihan dalam urusan kematian.Pengecualian: Larangan tersebut tidak berlaku apabila ada kebutuhan yang mendesak, misalnya jarak menuju pemakaman sangat jauh. Dalam kondisi seperti ini, penggunaan kendaraan dibolehkan sebatas kebutuhan, tanpa berlebihan dalam unsur seremonial dan formalitas. Riyadhus Sholihin 3/445: Surga dan Neraka Sangat Dekat dengan KitaDari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«الْجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ، وَالنَّارُ مِثْلُ ذَلِكَ»“Surga itu lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian daripada tali sandalnya. Demikian pula neraka.” (HR. Bukhari) Kosakata haditsشِرَاكُ نَعْلِهِ: Tali sandal yang mengikat sandal pada kaki. Ungkapan ini digunakan sebagai perumpamaan tentang sesuatu yang sangat dekat, karena seseorang mengenakan sandalnya setiap saat ketika berjalan. Faedah hadits1. Seorang hamba harus terus memperbaiki kekurangan dalam dirinya, baik dalam sisi rasa takut kepada Allah maupun harapan kepada-Nya. Jangan sampai rasa takut membuatnya berputus asa, dan jangan pula rasa berharap membuatnya merasa aman dari azab Allah.2. Setiap manusia sedang menempuh perjalanan menuju salah satu dari dua tujuan: surga atau neraka. Karena itu, berbahagialah orang yang Allah beri taufik untuk memperbanyak amal-amal saleh yang pahalanya kekal dan terus mengantarkannya menuju surga. Referensi:Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-nazhirin syarh Riyadh ash-shalihin (Jilid 2, Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-shalihin (Cet. 3). Damaskus. —- Selesai ditulis di perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin, 10 Agustus 2026,  28 Safar 1448 HPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal saleh Azab Allah berharap kepada Allah jangan putus asa khauf dan raja nasihat iman Rahmat Allah riyadhus sholihin surga dan neraka takut kepada Allah


Seorang mukmin tidak boleh merasa terlalu aman dari azab Allah, tetapi juga tidak boleh berputus asa dari rahmat-Nya. Al-Qur’an dan Sunnah mendidik kita untuk berjalan menuju Allah dengan dua bekal: rasa takut (khauf) dan penuh harap (raja’). Keseimbangan keduanya akan membuat seseorang serius beramal tanpa kehilangan harapan terhadap luasnya rahmat Allah.  Daftar Isi tutup 1. Takut kepada Allah, tetapi Jangan Berputus Asa 1.1. Pelajaran dari Ayat 2. Riyadhus Sholihin 1/443: Takut kepada Azab Allah dan Berharap kepada Rahmat-Nya 2.1. Faedah hadits 3. Riyadhus Sholihin 2/444: Jenazah yang Saleh Ingin Segera Bertemu Rabbnya 3.1. Kosakata hadits 3.2. Faedah hadits 3.3. Catatan: Hukum Membawa Jenazah dengan Mobil 4. Riyadhus Sholihin 3/445: Surga dan Neraka Sangat Dekat dengan Kita 4.1. Kosakata hadits 4.2. Faedah hadits  Takut kepada Allah, tetapi Jangan Berputus AsaKetahuilah, keadaan yang paling baik bagi seorang hamba ketika sehat adalah memiliki rasa takut dan harap kepada Allah secara seimbang. Rasa takut dan harapnya hendaknya sama kuat. Adapun ketika sedang sakit, hendaknya ia lebih menguatkan harapannya kepada Allah.Kaidah-kaidah syariat yang terdapat dalam Al-Qur’an, As-Sunnah, dan dalil-dalil lainnya menunjukkan hal tersebut.Allah Ta’ala berfirman,﴿فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ﴾“Maka tidak ada yang merasa aman dari azab Allah selain orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 99)Allah Ta’ala juga berfirman,﴿إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ﴾“Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah selain kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)Allah Ta’ala juga berfirman,﴿يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ﴾“Pada hari ketika ada wajah yang menjadi putih berseri dan ada pula wajah yang menjadi hitam muram.” (QS. Ali ‘Imran: 106)Allah Ta’ala juga berfirman,﴿إِنَّ رَبَّكَ لَسَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ﴾“Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat siksa-Nya, tetapi sungguh Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-A’raf: 167)Allah Ta’ala juga berfirman,﴿إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ ۝ وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ﴾“Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam kenikmatan. Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” (QS. Al-Infithar: 13–14)Allah Ta’ala juga berfirman,﴿فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ ۝ وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ﴾“Adapun orang yang berat timbangan kebaikannya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang yang ringan timbangan kebaikannya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.” (QS. Al-Qari’ah: 6–9)Ayat-ayat yang semakna dengan ini sangat banyak. Terkadang Allah menggabungkan rasa takut dan harap dalam dua ayat yang berurutan, beberapa ayat, bahkan dalam satu ayat sekaligus. Pelajaran dari Ayat1. Seorang hamba hendaknya menjadi “dokter” bagi dirinya sendiri. Jika ia melihat dirinya merasa aman dari makar Allah karena terus-menerus melakukan maksiat, maka ia harus meninggalkan keadaan itu dan menempuh jalan yang menumbuhkan rasa takut kepada Allah. Sebaliknya, jika ia mendapati dirinya dikuasai waswas dan rasa takut yang berlebihan, maka hendaknya ia lebih menguatkan harapan kepada Allah hingga rasa takut dan harapnya kembali seimbang.2. Metode Al-Qur’an adalah selalu memadukan rasa takut dan harap. Inilah jalan yang ditempuh oleh seorang mukmin yang jujur, memiliki ilmu dan pandangan yang benar, serta mendapatkan petunjuk dari Al-Qur’an yang mulia. Riyadhus Sholihin 1/443: Takut kepada Azab Allah dan Berharap kepada Rahmat-NyaDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«لَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الْعُقُوبَةِ مَا طَمِعَ بِجَنَّتِهِ أَحَدٌ، وَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الرَّحْمَةِ مَا قَنِطَ مِنْ جَنَّتِهِ أَحَدٌ»“Seandainya seorang mukmin mengetahui besarnya azab yang ada di sisi Allah, niscaya tidak seorang pun akan berani berharap memperoleh surga-Nya. Sebaliknya, seandainya seorang kafir mengetahui betapa luas rahmat yang ada di sisi Allah, niscaya tidak seorang pun akan berputus asa dari memperoleh surga-Nya.” (HR. Muslim) Faedah hadits1. Besarnya kemuliaan seorang mukmin di sisi Allah. Allah menumbuhkan harapan dalam dirinya untuk meraih surga, sekaligus memberikan taufik sehingga ia mampu mengerjakan amal-amal saleh.2. Hinanya orang kafir di hadapan Allah. Ia dihalangi dari amal saleh karena berpaling dari Allah Ta’ala serta tertipu oleh angan-angan kosong dan mengikuti hawa nafsunya. Riyadhus Sholihin 2/444: Jenazah yang Saleh Ingin Segera Bertemu RabbnyaDari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«إِذَا وُضِعَتِ الْجِنَازَةُ، وَاحْتَمَلَهَا النَّاسُ أَوِ الرِّجَالُ عَلَى أَعْنَاقِهِمْ، فَإِنْ كَانَتْ صَالِحَةً قَالَتْ: قَدِّمُونِي قَدِّمُونِي، وَإِنْ كَانَتْ غَيْرَ صَالِحَةٍ قَالَتْ: يَا وَيْلَهَا! أَيْنَ تَذْهَبُونَ بِهَا؟ يَسْمَعُ صَوْتَهَا كُلُّ شَيْءٍ إِلَّا الْإِنْسَانُ، وَلَوْ سَمِعَهُ صَعِقَ»“Apabila jenazah telah diletakkan di atas usungan lalu dipikul oleh orang-orang di atas pundak mereka, jika ia adalah orang yang saleh, ia akan berkata, ‘Cepatlah bawa aku! Cepatlah bawa aku!’ Namun jika ia bukan orang yang saleh, ia akan berkata, ‘Celakalah aku! Ke mana kalian membawaku?’ Suaranya didengar oleh semua makhluk selain manusia. Seandainya manusia mendengarnya, niscaya mereka akan pingsan.” (HR. Bukhari)Kosakata haditsوُضِعَتِ الْجِنَازَةُ: Jenazah telah diletakkan di atas usungan (keranda) untuk dibawa menuju pemakaman. Faedah hadits1. Jenazah orang saleh sangat berharap kepada rahmat Allah. Ia mengetahui berbagai kenikmatan dan kebaikan yang telah Allah siapkan untuknya, sehingga ia ingin segera sampai ke tempat peristirahatan terakhirnya.2. Hadis ini menunjukkan metode pendidikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menggabungkan rasa takut dan harap. Orang saleh dibuat semakin berharap kepada rahmat Allah, sedangkan orang yang durhaka diperingatkan agar takut terhadap azab-Nya. Catatan: Hukum Membawa Jenazah dengan MobilDalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,«وَاحْتَمَلَهَا النَّاسُ أَوِ الرِّجَالُ عَلَى أَعْنَاقِهِمْ»“…lalu dipikul oleh orang-orang di atas pundak mereka…”Dari petunjuk Nabi ini, penulis kitab mengambil faedah bahwa jenazah tidak semestinya diletakkan di dalam mobil ketika dibawa ke pemakaman, dengan beberapa alasan berikut.Hal itu merupakan kebiasaan orang-orang kafir. Syariat melarang kaum muslimin meniru dan menyerupai mereka.Cara tersebut menyelisihi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengusung jenazah.Menghilangkan hikmah dan pelajaran dari mengusung jenazah dengan tangan sehingga orang-orang dapat melihatnya, mengingat kematian, dan mengambil ibrah.Ketahuilah, saudaraku seiman, ketika bangsa-bangsa kafir telah melupakan kematian dan tenggelam dalam kenikmatan dunia serta syahwat, mereka menjauh dari segala sesuatu yang mengingatkan kepada kematian. Karena itu, mereka meletakkan jenazah di dalam peti-peti tertutup yang dibawa dengan mobil.Cara tersebut dapat mengurangi jumlah orang yang mengiringi jenazah dan ingin memperoleh pahala, karena tidak semua orang dapat ikut mengantarkan jenazah jika menggunakan cara seperti itu.Mengiringi jenazah dengan iring-iringan mobil dan prosesi yang bersifat seremonial tidak sejalan dengan kemudahan dan kesederhanaan syariat Islam yang menjauhkan umatnya dari formalitas yang berlebihan dalam urusan kematian.Pengecualian: Larangan tersebut tidak berlaku apabila ada kebutuhan yang mendesak, misalnya jarak menuju pemakaman sangat jauh. Dalam kondisi seperti ini, penggunaan kendaraan dibolehkan sebatas kebutuhan, tanpa berlebihan dalam unsur seremonial dan formalitas. Riyadhus Sholihin 3/445: Surga dan Neraka Sangat Dekat dengan KitaDari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«الْجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ، وَالنَّارُ مِثْلُ ذَلِكَ»“Surga itu lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian daripada tali sandalnya. Demikian pula neraka.” (HR. Bukhari) Kosakata haditsشِرَاكُ نَعْلِهِ: Tali sandal yang mengikat sandal pada kaki. Ungkapan ini digunakan sebagai perumpamaan tentang sesuatu yang sangat dekat, karena seseorang mengenakan sandalnya setiap saat ketika berjalan. Faedah hadits1. Seorang hamba harus terus memperbaiki kekurangan dalam dirinya, baik dalam sisi rasa takut kepada Allah maupun harapan kepada-Nya. Jangan sampai rasa takut membuatnya berputus asa, dan jangan pula rasa berharap membuatnya merasa aman dari azab Allah.2. Setiap manusia sedang menempuh perjalanan menuju salah satu dari dua tujuan: surga atau neraka. Karena itu, berbahagialah orang yang Allah beri taufik untuk memperbanyak amal-amal saleh yang pahalanya kekal dan terus mengantarkannya menuju surga. Referensi:Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-nazhirin syarh Riyadh ash-shalihin (Jilid 2, Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-shalihin (Cet. 3). Damaskus. —- Selesai ditulis di perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin, 10 Agustus 2026,  28 Safar 1448 HPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal saleh Azab Allah berharap kepada Allah jangan putus asa khauf dan raja nasihat iman Rahmat Allah riyadhus sholihin surga dan neraka takut kepada Allah

Tafsir Surah At-Takwir (Bag. 2): Allah Bersumpah Atas Benarnya Al-Qur’an dan Rasul-Nya

Pada penggalan tafsir sebelumnya, kita telah melihat bagaimana keadaan menjelang dan ketika hari kiamat terjadi. Huru-hara serta berbagai hal mengerikan yang membuat takut manusia, bahkan hewan yang tidak berakal juga ketakutan. Setelah itu, manusia akan ingat semua yang telah dia kerjakan, dirinya kemudian menanti apakah akan dilemparkan ke dalam neraka yang sangat dalam atau didekatkan dengan surga penuh kenikmatan, sebagaimana akhir potongan ayat.Setelah itu, Allah berbicara kepada kita tentang benarnya Al-Qur’an dan jujurnya Rasulullah sebagai penyampai wahyu kepada manusia. Pembuktian kebenaran ini sangat penting karena banyak manusia mendustakan huru-hara hari kiamat, tidak percaya bahwa kiamat akan terjadi. Maka, Allah memulai potongan ayat ini dengan sumpah untuk menegaskan kebenaran Al-Qur’an.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَلَآ اُقْسِمُ بِالْخُنَّسِۙ , الْجَوَارِ الْكُنَّسِۙ“Aku bersumpah demi bintang-bintang yang beredar lagi terbenam.” (QS. At-Takwīr [81]:15-16)Pada ayat ini, Allah Ta’ala membuka firman-Nya dengan bersumpah dengan benda-benda langit yang sangat menakjubkan. Allah bersumpah dengan menyebut “al-khunnas”, yaitu benda langit yang memiliki sifat takhnis atau hilang dan bersembunyi ketika siang hari dikarenakan cahayanya tertutup oleh terangnya cahaya matahari. Sedangkan ketika malam hari, benda langit ini akan muncul karena hilangnya cahaya matahari. Maka sumpah ini mencakup semua benda langit, baik yang memancarkan cahaya sendiri seperti bintang atau yang tidak memancarkan, tetapi hanya memantulkan seperti planet dan bulan.Terdapat kalimat menarik pada ayat ini, yaitu Allah bersumpah dengan kata “فَلَآ اُقْسِمُ” yang secara harfiah maknanya adalah “tidak bersumpah”, akan tetapi bentuk kalimat ini digunakan secara fasih oleh orang Arab sebagai bentuk sumpah dan penegasan atas sumpah tersebut. Hal ini karena saking jelasnya kabar tersebut, bahkan tidak perlu kita bersumpah untuk menegaskannya, karena setiap person yang melihat dan merenungi pasti akan mengetahui bahwa obyek sumpah adalah benar adanya.Terdapat rahasia menarik mengapa Allah bersumpah dengan benda-benda langit ini, yaitu adalah untuk menunjukkan sifat Maha Kuasa Allah, dimana Allah mampu untuk memperjalankan benda-benda langit raksasa tersebut sesuai garis edar mereka di alam semesta, serta mampu untuk mengadakan serta menghilangkan cahaya mereka kapanpun Dia kehendaki. Lebih jauh lagi, sumpah ini menepis kebodohan manusia yang menjadikan benda langit sebagai sesembahan, padahal mereka adalah makhluk Allah yang selalu tunduk kepada-Nya, bergerak sesuai kehendak-Nya, serta dapat dimatikan dan dihancurkan seketika oleh Rabb yang Maha Kuasa.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَالَّيْلِ اِذَا عَسْعَسَۙ“Demi malam apabila telah larut.” (QS. At-Takwīr [81]: 17)Allah bersumpah dengan malam hari. Kata “عَسْعَسَۙ” dalam bahasa Arab adalah kalimat musytarok atau kalimat yang memiliki dua makna atau lebih, dimana kedua makna ini adalah makna hakiki yang bukan majas, serta dapat digunakan bersamaan dalam satu keadaan yang sama. Makna kata ini adalah datang atau pergi. Oleh karena itu, ulama berbeda pendapat bagian malam mana yang Allah bersumpah dengannya..Sebagian ulama berpendapat bahwa Allah besumpah dengan awal waktu malam, yang menunjukkan kebutuhan manusia atas pertolongan Allah karena datangnya waktu malam yang mencekam dan diliputi oleh kejahatan manusia dan jin. Sebagian lainnya berpendapat bahwa malam di sini adalah akhir malam, yaitu pada waktu sahur menjelang subuh, karena di dalamnya terdapat momen tersibaknya ketakutan manusia dan bersiap untuk mengawali hari dengan ibadah di waktu sepertiga malam yang akhir. Sebagian ulama lainnya memaknai sumpah di sini dengan awal dan akhir malam sekaligus karena menggunakan kedua makna musytarok bersamaan.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَالصُّبْحِ اِذَا تَنَفَّسَۙ“Demi subuh apabila (fajar) telah menyingsing.” (QS. At-Takwīr [81]: 18)Allah bersumpah dengan waktu subuh, di mana waktu subuh adalah waktu manusia untuk memulai aktifitas mereka, di sana terdapat semangat dan kebaikan yang besar, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendoakan umat ini mendapatkan berkah yang melimpah di waktu pagi mereka. Waktu subuh yang datang, membawa nafas kehidupan, manusia bangun dari tidurnya setelah sebelumnya dimatikan oleh Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍۙ“Sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril).” (QS. At-Takwīr [81]: 19)Ketiga sumpah yang Allah sebutkan di atas adalah untuk menegaskan kalimat ini, yaitu bahwa Al-Qur’an adalah benar-benar firman Allah, yang dibawa oleh malaikat Jibril, diterima oleh Rasulullah, dan disampaikan kepada umat. Sumpah tersebut juga menegaskan bahwa berbagai kabar tentang hari kiamat yang disampaikan setiap hari oleh Nabi kepada kaum Quraisy, beliau dakwahkan dengan sepenuh jiwa raga agar manusia beriman dan sadar, adalah benar dari Allah Ta’ala, bukan merupakan perkara perdukunan dan berita palsu buatan manusia.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ذِيْ قُوَّةٍ عِنْدَ ذِى الْعَرْشِ مَكِيْنٍۙ , مُّطَاعٍ ثَمَّ اَمِيْنٍۗ“Yang memiliki kekuatan dan kedudukan tinggi di sisi (Allah) yang memiliki ʻArsy, yang di sana (Jibril) ditaati lagi dipercaya.” (QS. At-Takwīr [81]: 20-21)Allah Ta’ala menyifati malaikat Jibril dengan lima sifat mulia, dengannya hilanglah keraguan bahwa wahyu yang dikirimkan tidak tersampaikan dengan baik atau terpotong di tengah perjalanan. Namun, wahyu tersebut sampai dengan utuh kepada Rasulullah tanpa ada yang hilang ataupun tercampur dengan hal lain.Pertama, adalah sifat “karim” atau sifat mulia di sisi Allah Ta’ala, terbukti dengan Allah memberikannya hidayah serta memberikan tugas paling muliax, yaitu mengantarkan wahyu. Kedua, sifat kekuatan yang besar, di mana beliau mampu untuk menjaga wahyu tersebut dengan aman sampai kepada Rasulullah. Ketiga, memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah dengan menjalankan segala apa yang Allah perintahkan. Keempat, malaikat Jibril adalah sosok yang dipatuhi okeh malaikat muqarrabin. Kelima, jujur dan terpercaya, ini adalah sifat inti dan terluhur dari malaikat Jibril, terpercaya dan tidak pernah sekalipun berbohong atas wahyu yang dibawa.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُوْنٍۚ“Temanmu (Nabi Muhammad) itu bukanlah orang gila.” (QS. At-Takwīr [81]: 22)Kemudian, risalah kenabian dan wahyu diberikan kepada Rasulullah Muhammad bin Abdillah, seorang pilihan Allah yang paling terpuji di bumi dan langit. Allah sebutkan Muhammad dengan kata “shahib” atau diartikan “temanmu” adalah karena sedari kecil, Nabi Muhammad telah hidup di tengah-tengah suku Quraisy, seorang anak dan remaja terbaik dalam suku tersebut.Dirinya bukan orang asing yang turun dari langit atau muncul dari antah berantah kemudian membawa berita yang besar, bukan demikian. Akan tetapi, Muhammad adalah seseorang yang kalian kenal kebaikannya, keluarganya adalah keluarga terbaik di tengah bangsa Arab, bahkan kalian menyebutnya Muhammad Al-Amin, seseorang yang jujur lagi terpercaya. Kalian telah melihat bagaimana akhlaknya ketika tumbuh bersama kalian, kalian tidak pernah melihat keburukannya. Lantas mengapa setelah dia menjadi Nabi, malah kalian dustakan dan menuduhnya orang gila? Ini adalah suatu kebodohan nyata dari kaum musyrik Quraisy.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ رَاٰهُ بِالْاُفُقِ الْمُبِيْنِۚ“Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (Jibril) di ufuk yang terang.” (QS. At-Takwīr [81]: 23)Peristiwa penglihatan malaikat Jibril di ufuk yang terang ini terjadi setelah beliau melihat Jibril pada fase awal turunnya wahyu di dekat Gua Hira. Ketika itu, beliau melihat Jibril sedang duduk di atas kursi di antara langit dan bumi dalam wujud aslinya yang memiliki enam ratus sayap.Malaikat Jibril memiliki bentuk yang sangat luar biasa besar, memiliki 600 sayap yang sangat indah, sampai menutupi seluruh ufuk dan menghalangi cahaya matahari. Peristiwa Nabi melihat langsung malaikat Jibril ini menjadikan ilmu beliau terhadap malaikat dan wahyu menjadi ilmu yang aksiomatis, melahirkan keyakinan mutlak dengan mata panca indra dan mata hati bahwa yang dilihat adalah benar-benar sesesok malaikat yang dekat dengan Allah. Allah berikan pada malaikat fisik yang sempurna dan indah, serta adanya rasa tenang saat turunnya wahyu, untuk meyakinkan bahwa yang menjumpai adalah malaikat, dan bukan setan yang terkutuk.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِيْنٍۚ“Dia (Nabi Muhammad) bukanlah seorang yang kikir (enggan) untuk menerangkan yang gaib.” (QS. At-Takwīr [81]: 24)Ayat ini adalah pujian yang sangat tinggi bagi Rasulullah, beliau mendapatkan kabar-kabar gaib tentang kiamat, surga, dan neraka, serta mendapatkan ilmu bagaimana untuk dapat menghindari neraka serta mendapatkan kesenangan abadi di surga. Semua hal tersebut tidak disembunyikan oleh Nabi, bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dakwahkan seluas-luasnya kepada semua orang.Ayat ini juga menunjukkan kepedulian besar dari Nabi terhadap kita umatnya. Kalau seandainya Nabi merasa berat dan enggan menyampaikan risalah, beliau jengah dengan sikap umatnya yang membangkang, maka beliau tidak akan sampaikan jalan menuju kebahagiaan kepada umatnya. Rasanya biarlah disimpan sendiri saja agar yang selamat hanya orang dekat beliau, dan biarlah para pembangkang itu disiksa sampai habis di neraka.Namun, tidaklah demikian, beliau adalah orang yang sangat peduli dengan umatnya. Semua jalan menuju surga telah Nabi sampaikan kepada kita dengan bentuk penyampaian terbaik. Seratus persen waktu dan tenaga beliau digunakan untuk menyamaikan risalah ilahi, berliau bersusah payah menyampaikan kebaikan agar kita semua selamat, bisa bertemu dengan beliau kelak di surga. Meskipun kadang, kita menjadi umat yang ngeyel dan mbalelo.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطٰنٍ رَّجِيْمٍۚ“(Al-Qur’an) itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk.” (QS. At-Takwīr [81]: 25)Allah juga membantah orang musyrik Quraisy yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah perkataan setan. Dikarenakan mereka mengatakan bahwa setan dari kalangan jin di langit bisa mencuri-curi dengar wahyu yang turun, kemudian juga mampu untuk mengganggu wahyu yang turun sehingga rusak dan sampai dalam keadaan cacat. Kebodohan kaum musyrik ini dibantah dengan keras oleh Allah langsung. Bahkan Allah siapkan panah api yang sangat panas dan membakar bagi jin yang berusaha mencuri berita langit.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاَيْنَ تَذْهَبُوْنَۗ“Maka, ke manakah kamu akan pergi?” (QS. At-Takwīr [81]: 26)Setelah diterangkan bahwa Al-Qur’an itu benar-benar datang dari Allah dan di dalamnya ada hidayah dan petunjuk yang memimpin manusia ke jalan yang lurus, ditanyakanlah kepada orang-orang kafir itu, “Jalan manakah yang akan kamu tempuh?” Apakah tetap akan menempuh jalan kesesatan, jalan kezaliman sehingga berakhir dalam neraka, atau mengikuti jalan petunjuk ini untuk menjadi sebaik-baiknya manusia di bumi dan bisa beristirahat tenang di surga kelak.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعٰلَمِيْنَۙ“(Al-Qur’an) itu tidak lain, kecuali peringatan bagi semesta alam.” (QS. At-Takwīr [81]: 27)Al-Qur’an adalah nasihat dan pengingat bagi seluruh makhluk yang ada di alam ini.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,لِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ اَنْ يَّسْتَقِيْمَۗ“(Yaitu) bagi siapa di antaramu yang hendak menempuh jalan yang lurus.” (QS. At-Takwīr [81]: 28)Allah telah berikan jalan serta kesempatan untuk menuju kebaikan atau menuju kepada kehancuran. Siapa saja yang mengikuti jalan kebenaran, beriman dengan benar, menjalankan syariat-Nya, serta memiliki akhlak yang mulia, maka dia telah berada di jalan yang lurus, yang mengantarkan kepada kebahagiaan dunia dan kebahagiaan abadi di akhirat.Kalimat “لِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ” adalah badal atau kata ganti dari “لِّلْعٰلَمِيْنَۙ” yang bermakna bahwa Al-Qur’an menjadi nasihat dan petunjuk bagi orang-orang yang menerima dan mempelajarinya. Adapun orang yang merasa acuh dari Al-Qur’an, maka dirinya berada dalam kerugian dan kegelapan yang sangat gelap.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ ࣖ“Kamu tidak dapat berkehendak, kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At-Takwīr [81]: 29)Surah At-Takwir ditutup dengan khawatimus suwar atau penutup yang sangat indah, yaitu istikamah menempuh jalan kebenaran tidaklah dapat diwujudkan kecuali dengan kehendak dan taufik dari Allah Ta’ala, Rabb semesta alam. Maka janganlah jumawa jika pada saat ini kita berada dalam keimanan, teruslah berdoa kepada Allah agar tetap memberikan iman kepada kita. Sebaliknya, terus doakan saudara-saudara kita yang belum beriman, doakan dan dakwahkan, agar mereka mendapatkan hidayah dari Allah.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/

Tafsir Surah At-Takwir (Bag. 2): Allah Bersumpah Atas Benarnya Al-Qur’an dan Rasul-Nya

Pada penggalan tafsir sebelumnya, kita telah melihat bagaimana keadaan menjelang dan ketika hari kiamat terjadi. Huru-hara serta berbagai hal mengerikan yang membuat takut manusia, bahkan hewan yang tidak berakal juga ketakutan. Setelah itu, manusia akan ingat semua yang telah dia kerjakan, dirinya kemudian menanti apakah akan dilemparkan ke dalam neraka yang sangat dalam atau didekatkan dengan surga penuh kenikmatan, sebagaimana akhir potongan ayat.Setelah itu, Allah berbicara kepada kita tentang benarnya Al-Qur’an dan jujurnya Rasulullah sebagai penyampai wahyu kepada manusia. Pembuktian kebenaran ini sangat penting karena banyak manusia mendustakan huru-hara hari kiamat, tidak percaya bahwa kiamat akan terjadi. Maka, Allah memulai potongan ayat ini dengan sumpah untuk menegaskan kebenaran Al-Qur’an.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَلَآ اُقْسِمُ بِالْخُنَّسِۙ , الْجَوَارِ الْكُنَّسِۙ“Aku bersumpah demi bintang-bintang yang beredar lagi terbenam.” (QS. At-Takwīr [81]:15-16)Pada ayat ini, Allah Ta’ala membuka firman-Nya dengan bersumpah dengan benda-benda langit yang sangat menakjubkan. Allah bersumpah dengan menyebut “al-khunnas”, yaitu benda langit yang memiliki sifat takhnis atau hilang dan bersembunyi ketika siang hari dikarenakan cahayanya tertutup oleh terangnya cahaya matahari. Sedangkan ketika malam hari, benda langit ini akan muncul karena hilangnya cahaya matahari. Maka sumpah ini mencakup semua benda langit, baik yang memancarkan cahaya sendiri seperti bintang atau yang tidak memancarkan, tetapi hanya memantulkan seperti planet dan bulan.Terdapat kalimat menarik pada ayat ini, yaitu Allah bersumpah dengan kata “فَلَآ اُقْسِمُ” yang secara harfiah maknanya adalah “tidak bersumpah”, akan tetapi bentuk kalimat ini digunakan secara fasih oleh orang Arab sebagai bentuk sumpah dan penegasan atas sumpah tersebut. Hal ini karena saking jelasnya kabar tersebut, bahkan tidak perlu kita bersumpah untuk menegaskannya, karena setiap person yang melihat dan merenungi pasti akan mengetahui bahwa obyek sumpah adalah benar adanya.Terdapat rahasia menarik mengapa Allah bersumpah dengan benda-benda langit ini, yaitu adalah untuk menunjukkan sifat Maha Kuasa Allah, dimana Allah mampu untuk memperjalankan benda-benda langit raksasa tersebut sesuai garis edar mereka di alam semesta, serta mampu untuk mengadakan serta menghilangkan cahaya mereka kapanpun Dia kehendaki. Lebih jauh lagi, sumpah ini menepis kebodohan manusia yang menjadikan benda langit sebagai sesembahan, padahal mereka adalah makhluk Allah yang selalu tunduk kepada-Nya, bergerak sesuai kehendak-Nya, serta dapat dimatikan dan dihancurkan seketika oleh Rabb yang Maha Kuasa.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَالَّيْلِ اِذَا عَسْعَسَۙ“Demi malam apabila telah larut.” (QS. At-Takwīr [81]: 17)Allah bersumpah dengan malam hari. Kata “عَسْعَسَۙ” dalam bahasa Arab adalah kalimat musytarok atau kalimat yang memiliki dua makna atau lebih, dimana kedua makna ini adalah makna hakiki yang bukan majas, serta dapat digunakan bersamaan dalam satu keadaan yang sama. Makna kata ini adalah datang atau pergi. Oleh karena itu, ulama berbeda pendapat bagian malam mana yang Allah bersumpah dengannya..Sebagian ulama berpendapat bahwa Allah besumpah dengan awal waktu malam, yang menunjukkan kebutuhan manusia atas pertolongan Allah karena datangnya waktu malam yang mencekam dan diliputi oleh kejahatan manusia dan jin. Sebagian lainnya berpendapat bahwa malam di sini adalah akhir malam, yaitu pada waktu sahur menjelang subuh, karena di dalamnya terdapat momen tersibaknya ketakutan manusia dan bersiap untuk mengawali hari dengan ibadah di waktu sepertiga malam yang akhir. Sebagian ulama lainnya memaknai sumpah di sini dengan awal dan akhir malam sekaligus karena menggunakan kedua makna musytarok bersamaan.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَالصُّبْحِ اِذَا تَنَفَّسَۙ“Demi subuh apabila (fajar) telah menyingsing.” (QS. At-Takwīr [81]: 18)Allah bersumpah dengan waktu subuh, di mana waktu subuh adalah waktu manusia untuk memulai aktifitas mereka, di sana terdapat semangat dan kebaikan yang besar, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendoakan umat ini mendapatkan berkah yang melimpah di waktu pagi mereka. Waktu subuh yang datang, membawa nafas kehidupan, manusia bangun dari tidurnya setelah sebelumnya dimatikan oleh Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍۙ“Sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril).” (QS. At-Takwīr [81]: 19)Ketiga sumpah yang Allah sebutkan di atas adalah untuk menegaskan kalimat ini, yaitu bahwa Al-Qur’an adalah benar-benar firman Allah, yang dibawa oleh malaikat Jibril, diterima oleh Rasulullah, dan disampaikan kepada umat. Sumpah tersebut juga menegaskan bahwa berbagai kabar tentang hari kiamat yang disampaikan setiap hari oleh Nabi kepada kaum Quraisy, beliau dakwahkan dengan sepenuh jiwa raga agar manusia beriman dan sadar, adalah benar dari Allah Ta’ala, bukan merupakan perkara perdukunan dan berita palsu buatan manusia.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ذِيْ قُوَّةٍ عِنْدَ ذِى الْعَرْشِ مَكِيْنٍۙ , مُّطَاعٍ ثَمَّ اَمِيْنٍۗ“Yang memiliki kekuatan dan kedudukan tinggi di sisi (Allah) yang memiliki ʻArsy, yang di sana (Jibril) ditaati lagi dipercaya.” (QS. At-Takwīr [81]: 20-21)Allah Ta’ala menyifati malaikat Jibril dengan lima sifat mulia, dengannya hilanglah keraguan bahwa wahyu yang dikirimkan tidak tersampaikan dengan baik atau terpotong di tengah perjalanan. Namun, wahyu tersebut sampai dengan utuh kepada Rasulullah tanpa ada yang hilang ataupun tercampur dengan hal lain.Pertama, adalah sifat “karim” atau sifat mulia di sisi Allah Ta’ala, terbukti dengan Allah memberikannya hidayah serta memberikan tugas paling muliax, yaitu mengantarkan wahyu. Kedua, sifat kekuatan yang besar, di mana beliau mampu untuk menjaga wahyu tersebut dengan aman sampai kepada Rasulullah. Ketiga, memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah dengan menjalankan segala apa yang Allah perintahkan. Keempat, malaikat Jibril adalah sosok yang dipatuhi okeh malaikat muqarrabin. Kelima, jujur dan terpercaya, ini adalah sifat inti dan terluhur dari malaikat Jibril, terpercaya dan tidak pernah sekalipun berbohong atas wahyu yang dibawa.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُوْنٍۚ“Temanmu (Nabi Muhammad) itu bukanlah orang gila.” (QS. At-Takwīr [81]: 22)Kemudian, risalah kenabian dan wahyu diberikan kepada Rasulullah Muhammad bin Abdillah, seorang pilihan Allah yang paling terpuji di bumi dan langit. Allah sebutkan Muhammad dengan kata “shahib” atau diartikan “temanmu” adalah karena sedari kecil, Nabi Muhammad telah hidup di tengah-tengah suku Quraisy, seorang anak dan remaja terbaik dalam suku tersebut.Dirinya bukan orang asing yang turun dari langit atau muncul dari antah berantah kemudian membawa berita yang besar, bukan demikian. Akan tetapi, Muhammad adalah seseorang yang kalian kenal kebaikannya, keluarganya adalah keluarga terbaik di tengah bangsa Arab, bahkan kalian menyebutnya Muhammad Al-Amin, seseorang yang jujur lagi terpercaya. Kalian telah melihat bagaimana akhlaknya ketika tumbuh bersama kalian, kalian tidak pernah melihat keburukannya. Lantas mengapa setelah dia menjadi Nabi, malah kalian dustakan dan menuduhnya orang gila? Ini adalah suatu kebodohan nyata dari kaum musyrik Quraisy.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ رَاٰهُ بِالْاُفُقِ الْمُبِيْنِۚ“Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (Jibril) di ufuk yang terang.” (QS. At-Takwīr [81]: 23)Peristiwa penglihatan malaikat Jibril di ufuk yang terang ini terjadi setelah beliau melihat Jibril pada fase awal turunnya wahyu di dekat Gua Hira. Ketika itu, beliau melihat Jibril sedang duduk di atas kursi di antara langit dan bumi dalam wujud aslinya yang memiliki enam ratus sayap.Malaikat Jibril memiliki bentuk yang sangat luar biasa besar, memiliki 600 sayap yang sangat indah, sampai menutupi seluruh ufuk dan menghalangi cahaya matahari. Peristiwa Nabi melihat langsung malaikat Jibril ini menjadikan ilmu beliau terhadap malaikat dan wahyu menjadi ilmu yang aksiomatis, melahirkan keyakinan mutlak dengan mata panca indra dan mata hati bahwa yang dilihat adalah benar-benar sesesok malaikat yang dekat dengan Allah. Allah berikan pada malaikat fisik yang sempurna dan indah, serta adanya rasa tenang saat turunnya wahyu, untuk meyakinkan bahwa yang menjumpai adalah malaikat, dan bukan setan yang terkutuk.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِيْنٍۚ“Dia (Nabi Muhammad) bukanlah seorang yang kikir (enggan) untuk menerangkan yang gaib.” (QS. At-Takwīr [81]: 24)Ayat ini adalah pujian yang sangat tinggi bagi Rasulullah, beliau mendapatkan kabar-kabar gaib tentang kiamat, surga, dan neraka, serta mendapatkan ilmu bagaimana untuk dapat menghindari neraka serta mendapatkan kesenangan abadi di surga. Semua hal tersebut tidak disembunyikan oleh Nabi, bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dakwahkan seluas-luasnya kepada semua orang.Ayat ini juga menunjukkan kepedulian besar dari Nabi terhadap kita umatnya. Kalau seandainya Nabi merasa berat dan enggan menyampaikan risalah, beliau jengah dengan sikap umatnya yang membangkang, maka beliau tidak akan sampaikan jalan menuju kebahagiaan kepada umatnya. Rasanya biarlah disimpan sendiri saja agar yang selamat hanya orang dekat beliau, dan biarlah para pembangkang itu disiksa sampai habis di neraka.Namun, tidaklah demikian, beliau adalah orang yang sangat peduli dengan umatnya. Semua jalan menuju surga telah Nabi sampaikan kepada kita dengan bentuk penyampaian terbaik. Seratus persen waktu dan tenaga beliau digunakan untuk menyamaikan risalah ilahi, berliau bersusah payah menyampaikan kebaikan agar kita semua selamat, bisa bertemu dengan beliau kelak di surga. Meskipun kadang, kita menjadi umat yang ngeyel dan mbalelo.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطٰنٍ رَّجِيْمٍۚ“(Al-Qur’an) itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk.” (QS. At-Takwīr [81]: 25)Allah juga membantah orang musyrik Quraisy yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah perkataan setan. Dikarenakan mereka mengatakan bahwa setan dari kalangan jin di langit bisa mencuri-curi dengar wahyu yang turun, kemudian juga mampu untuk mengganggu wahyu yang turun sehingga rusak dan sampai dalam keadaan cacat. Kebodohan kaum musyrik ini dibantah dengan keras oleh Allah langsung. Bahkan Allah siapkan panah api yang sangat panas dan membakar bagi jin yang berusaha mencuri berita langit.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاَيْنَ تَذْهَبُوْنَۗ“Maka, ke manakah kamu akan pergi?” (QS. At-Takwīr [81]: 26)Setelah diterangkan bahwa Al-Qur’an itu benar-benar datang dari Allah dan di dalamnya ada hidayah dan petunjuk yang memimpin manusia ke jalan yang lurus, ditanyakanlah kepada orang-orang kafir itu, “Jalan manakah yang akan kamu tempuh?” Apakah tetap akan menempuh jalan kesesatan, jalan kezaliman sehingga berakhir dalam neraka, atau mengikuti jalan petunjuk ini untuk menjadi sebaik-baiknya manusia di bumi dan bisa beristirahat tenang di surga kelak.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعٰلَمِيْنَۙ“(Al-Qur’an) itu tidak lain, kecuali peringatan bagi semesta alam.” (QS. At-Takwīr [81]: 27)Al-Qur’an adalah nasihat dan pengingat bagi seluruh makhluk yang ada di alam ini.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,لِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ اَنْ يَّسْتَقِيْمَۗ“(Yaitu) bagi siapa di antaramu yang hendak menempuh jalan yang lurus.” (QS. At-Takwīr [81]: 28)Allah telah berikan jalan serta kesempatan untuk menuju kebaikan atau menuju kepada kehancuran. Siapa saja yang mengikuti jalan kebenaran, beriman dengan benar, menjalankan syariat-Nya, serta memiliki akhlak yang mulia, maka dia telah berada di jalan yang lurus, yang mengantarkan kepada kebahagiaan dunia dan kebahagiaan abadi di akhirat.Kalimat “لِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ” adalah badal atau kata ganti dari “لِّلْعٰلَمِيْنَۙ” yang bermakna bahwa Al-Qur’an menjadi nasihat dan petunjuk bagi orang-orang yang menerima dan mempelajarinya. Adapun orang yang merasa acuh dari Al-Qur’an, maka dirinya berada dalam kerugian dan kegelapan yang sangat gelap.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ ࣖ“Kamu tidak dapat berkehendak, kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At-Takwīr [81]: 29)Surah At-Takwir ditutup dengan khawatimus suwar atau penutup yang sangat indah, yaitu istikamah menempuh jalan kebenaran tidaklah dapat diwujudkan kecuali dengan kehendak dan taufik dari Allah Ta’ala, Rabb semesta alam. Maka janganlah jumawa jika pada saat ini kita berada dalam keimanan, teruslah berdoa kepada Allah agar tetap memberikan iman kepada kita. Sebaliknya, terus doakan saudara-saudara kita yang belum beriman, doakan dan dakwahkan, agar mereka mendapatkan hidayah dari Allah.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/
Pada penggalan tafsir sebelumnya, kita telah melihat bagaimana keadaan menjelang dan ketika hari kiamat terjadi. Huru-hara serta berbagai hal mengerikan yang membuat takut manusia, bahkan hewan yang tidak berakal juga ketakutan. Setelah itu, manusia akan ingat semua yang telah dia kerjakan, dirinya kemudian menanti apakah akan dilemparkan ke dalam neraka yang sangat dalam atau didekatkan dengan surga penuh kenikmatan, sebagaimana akhir potongan ayat.Setelah itu, Allah berbicara kepada kita tentang benarnya Al-Qur’an dan jujurnya Rasulullah sebagai penyampai wahyu kepada manusia. Pembuktian kebenaran ini sangat penting karena banyak manusia mendustakan huru-hara hari kiamat, tidak percaya bahwa kiamat akan terjadi. Maka, Allah memulai potongan ayat ini dengan sumpah untuk menegaskan kebenaran Al-Qur’an.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَلَآ اُقْسِمُ بِالْخُنَّسِۙ , الْجَوَارِ الْكُنَّسِۙ“Aku bersumpah demi bintang-bintang yang beredar lagi terbenam.” (QS. At-Takwīr [81]:15-16)Pada ayat ini, Allah Ta’ala membuka firman-Nya dengan bersumpah dengan benda-benda langit yang sangat menakjubkan. Allah bersumpah dengan menyebut “al-khunnas”, yaitu benda langit yang memiliki sifat takhnis atau hilang dan bersembunyi ketika siang hari dikarenakan cahayanya tertutup oleh terangnya cahaya matahari. Sedangkan ketika malam hari, benda langit ini akan muncul karena hilangnya cahaya matahari. Maka sumpah ini mencakup semua benda langit, baik yang memancarkan cahaya sendiri seperti bintang atau yang tidak memancarkan, tetapi hanya memantulkan seperti planet dan bulan.Terdapat kalimat menarik pada ayat ini, yaitu Allah bersumpah dengan kata “فَلَآ اُقْسِمُ” yang secara harfiah maknanya adalah “tidak bersumpah”, akan tetapi bentuk kalimat ini digunakan secara fasih oleh orang Arab sebagai bentuk sumpah dan penegasan atas sumpah tersebut. Hal ini karena saking jelasnya kabar tersebut, bahkan tidak perlu kita bersumpah untuk menegaskannya, karena setiap person yang melihat dan merenungi pasti akan mengetahui bahwa obyek sumpah adalah benar adanya.Terdapat rahasia menarik mengapa Allah bersumpah dengan benda-benda langit ini, yaitu adalah untuk menunjukkan sifat Maha Kuasa Allah, dimana Allah mampu untuk memperjalankan benda-benda langit raksasa tersebut sesuai garis edar mereka di alam semesta, serta mampu untuk mengadakan serta menghilangkan cahaya mereka kapanpun Dia kehendaki. Lebih jauh lagi, sumpah ini menepis kebodohan manusia yang menjadikan benda langit sebagai sesembahan, padahal mereka adalah makhluk Allah yang selalu tunduk kepada-Nya, bergerak sesuai kehendak-Nya, serta dapat dimatikan dan dihancurkan seketika oleh Rabb yang Maha Kuasa.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَالَّيْلِ اِذَا عَسْعَسَۙ“Demi malam apabila telah larut.” (QS. At-Takwīr [81]: 17)Allah bersumpah dengan malam hari. Kata “عَسْعَسَۙ” dalam bahasa Arab adalah kalimat musytarok atau kalimat yang memiliki dua makna atau lebih, dimana kedua makna ini adalah makna hakiki yang bukan majas, serta dapat digunakan bersamaan dalam satu keadaan yang sama. Makna kata ini adalah datang atau pergi. Oleh karena itu, ulama berbeda pendapat bagian malam mana yang Allah bersumpah dengannya..Sebagian ulama berpendapat bahwa Allah besumpah dengan awal waktu malam, yang menunjukkan kebutuhan manusia atas pertolongan Allah karena datangnya waktu malam yang mencekam dan diliputi oleh kejahatan manusia dan jin. Sebagian lainnya berpendapat bahwa malam di sini adalah akhir malam, yaitu pada waktu sahur menjelang subuh, karena di dalamnya terdapat momen tersibaknya ketakutan manusia dan bersiap untuk mengawali hari dengan ibadah di waktu sepertiga malam yang akhir. Sebagian ulama lainnya memaknai sumpah di sini dengan awal dan akhir malam sekaligus karena menggunakan kedua makna musytarok bersamaan.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَالصُّبْحِ اِذَا تَنَفَّسَۙ“Demi subuh apabila (fajar) telah menyingsing.” (QS. At-Takwīr [81]: 18)Allah bersumpah dengan waktu subuh, di mana waktu subuh adalah waktu manusia untuk memulai aktifitas mereka, di sana terdapat semangat dan kebaikan yang besar, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendoakan umat ini mendapatkan berkah yang melimpah di waktu pagi mereka. Waktu subuh yang datang, membawa nafas kehidupan, manusia bangun dari tidurnya setelah sebelumnya dimatikan oleh Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍۙ“Sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril).” (QS. At-Takwīr [81]: 19)Ketiga sumpah yang Allah sebutkan di atas adalah untuk menegaskan kalimat ini, yaitu bahwa Al-Qur’an adalah benar-benar firman Allah, yang dibawa oleh malaikat Jibril, diterima oleh Rasulullah, dan disampaikan kepada umat. Sumpah tersebut juga menegaskan bahwa berbagai kabar tentang hari kiamat yang disampaikan setiap hari oleh Nabi kepada kaum Quraisy, beliau dakwahkan dengan sepenuh jiwa raga agar manusia beriman dan sadar, adalah benar dari Allah Ta’ala, bukan merupakan perkara perdukunan dan berita palsu buatan manusia.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ذِيْ قُوَّةٍ عِنْدَ ذِى الْعَرْشِ مَكِيْنٍۙ , مُّطَاعٍ ثَمَّ اَمِيْنٍۗ“Yang memiliki kekuatan dan kedudukan tinggi di sisi (Allah) yang memiliki ʻArsy, yang di sana (Jibril) ditaati lagi dipercaya.” (QS. At-Takwīr [81]: 20-21)Allah Ta’ala menyifati malaikat Jibril dengan lima sifat mulia, dengannya hilanglah keraguan bahwa wahyu yang dikirimkan tidak tersampaikan dengan baik atau terpotong di tengah perjalanan. Namun, wahyu tersebut sampai dengan utuh kepada Rasulullah tanpa ada yang hilang ataupun tercampur dengan hal lain.Pertama, adalah sifat “karim” atau sifat mulia di sisi Allah Ta’ala, terbukti dengan Allah memberikannya hidayah serta memberikan tugas paling muliax, yaitu mengantarkan wahyu. Kedua, sifat kekuatan yang besar, di mana beliau mampu untuk menjaga wahyu tersebut dengan aman sampai kepada Rasulullah. Ketiga, memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah dengan menjalankan segala apa yang Allah perintahkan. Keempat, malaikat Jibril adalah sosok yang dipatuhi okeh malaikat muqarrabin. Kelima, jujur dan terpercaya, ini adalah sifat inti dan terluhur dari malaikat Jibril, terpercaya dan tidak pernah sekalipun berbohong atas wahyu yang dibawa.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُوْنٍۚ“Temanmu (Nabi Muhammad) itu bukanlah orang gila.” (QS. At-Takwīr [81]: 22)Kemudian, risalah kenabian dan wahyu diberikan kepada Rasulullah Muhammad bin Abdillah, seorang pilihan Allah yang paling terpuji di bumi dan langit. Allah sebutkan Muhammad dengan kata “shahib” atau diartikan “temanmu” adalah karena sedari kecil, Nabi Muhammad telah hidup di tengah-tengah suku Quraisy, seorang anak dan remaja terbaik dalam suku tersebut.Dirinya bukan orang asing yang turun dari langit atau muncul dari antah berantah kemudian membawa berita yang besar, bukan demikian. Akan tetapi, Muhammad adalah seseorang yang kalian kenal kebaikannya, keluarganya adalah keluarga terbaik di tengah bangsa Arab, bahkan kalian menyebutnya Muhammad Al-Amin, seseorang yang jujur lagi terpercaya. Kalian telah melihat bagaimana akhlaknya ketika tumbuh bersama kalian, kalian tidak pernah melihat keburukannya. Lantas mengapa setelah dia menjadi Nabi, malah kalian dustakan dan menuduhnya orang gila? Ini adalah suatu kebodohan nyata dari kaum musyrik Quraisy.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ رَاٰهُ بِالْاُفُقِ الْمُبِيْنِۚ“Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (Jibril) di ufuk yang terang.” (QS. At-Takwīr [81]: 23)Peristiwa penglihatan malaikat Jibril di ufuk yang terang ini terjadi setelah beliau melihat Jibril pada fase awal turunnya wahyu di dekat Gua Hira. Ketika itu, beliau melihat Jibril sedang duduk di atas kursi di antara langit dan bumi dalam wujud aslinya yang memiliki enam ratus sayap.Malaikat Jibril memiliki bentuk yang sangat luar biasa besar, memiliki 600 sayap yang sangat indah, sampai menutupi seluruh ufuk dan menghalangi cahaya matahari. Peristiwa Nabi melihat langsung malaikat Jibril ini menjadikan ilmu beliau terhadap malaikat dan wahyu menjadi ilmu yang aksiomatis, melahirkan keyakinan mutlak dengan mata panca indra dan mata hati bahwa yang dilihat adalah benar-benar sesesok malaikat yang dekat dengan Allah. Allah berikan pada malaikat fisik yang sempurna dan indah, serta adanya rasa tenang saat turunnya wahyu, untuk meyakinkan bahwa yang menjumpai adalah malaikat, dan bukan setan yang terkutuk.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِيْنٍۚ“Dia (Nabi Muhammad) bukanlah seorang yang kikir (enggan) untuk menerangkan yang gaib.” (QS. At-Takwīr [81]: 24)Ayat ini adalah pujian yang sangat tinggi bagi Rasulullah, beliau mendapatkan kabar-kabar gaib tentang kiamat, surga, dan neraka, serta mendapatkan ilmu bagaimana untuk dapat menghindari neraka serta mendapatkan kesenangan abadi di surga. Semua hal tersebut tidak disembunyikan oleh Nabi, bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dakwahkan seluas-luasnya kepada semua orang.Ayat ini juga menunjukkan kepedulian besar dari Nabi terhadap kita umatnya. Kalau seandainya Nabi merasa berat dan enggan menyampaikan risalah, beliau jengah dengan sikap umatnya yang membangkang, maka beliau tidak akan sampaikan jalan menuju kebahagiaan kepada umatnya. Rasanya biarlah disimpan sendiri saja agar yang selamat hanya orang dekat beliau, dan biarlah para pembangkang itu disiksa sampai habis di neraka.Namun, tidaklah demikian, beliau adalah orang yang sangat peduli dengan umatnya. Semua jalan menuju surga telah Nabi sampaikan kepada kita dengan bentuk penyampaian terbaik. Seratus persen waktu dan tenaga beliau digunakan untuk menyamaikan risalah ilahi, berliau bersusah payah menyampaikan kebaikan agar kita semua selamat, bisa bertemu dengan beliau kelak di surga. Meskipun kadang, kita menjadi umat yang ngeyel dan mbalelo.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطٰنٍ رَّجِيْمٍۚ“(Al-Qur’an) itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk.” (QS. At-Takwīr [81]: 25)Allah juga membantah orang musyrik Quraisy yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah perkataan setan. Dikarenakan mereka mengatakan bahwa setan dari kalangan jin di langit bisa mencuri-curi dengar wahyu yang turun, kemudian juga mampu untuk mengganggu wahyu yang turun sehingga rusak dan sampai dalam keadaan cacat. Kebodohan kaum musyrik ini dibantah dengan keras oleh Allah langsung. Bahkan Allah siapkan panah api yang sangat panas dan membakar bagi jin yang berusaha mencuri berita langit.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاَيْنَ تَذْهَبُوْنَۗ“Maka, ke manakah kamu akan pergi?” (QS. At-Takwīr [81]: 26)Setelah diterangkan bahwa Al-Qur’an itu benar-benar datang dari Allah dan di dalamnya ada hidayah dan petunjuk yang memimpin manusia ke jalan yang lurus, ditanyakanlah kepada orang-orang kafir itu, “Jalan manakah yang akan kamu tempuh?” Apakah tetap akan menempuh jalan kesesatan, jalan kezaliman sehingga berakhir dalam neraka, atau mengikuti jalan petunjuk ini untuk menjadi sebaik-baiknya manusia di bumi dan bisa beristirahat tenang di surga kelak.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعٰلَمِيْنَۙ“(Al-Qur’an) itu tidak lain, kecuali peringatan bagi semesta alam.” (QS. At-Takwīr [81]: 27)Al-Qur’an adalah nasihat dan pengingat bagi seluruh makhluk yang ada di alam ini.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,لِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ اَنْ يَّسْتَقِيْمَۗ“(Yaitu) bagi siapa di antaramu yang hendak menempuh jalan yang lurus.” (QS. At-Takwīr [81]: 28)Allah telah berikan jalan serta kesempatan untuk menuju kebaikan atau menuju kepada kehancuran. Siapa saja yang mengikuti jalan kebenaran, beriman dengan benar, menjalankan syariat-Nya, serta memiliki akhlak yang mulia, maka dia telah berada di jalan yang lurus, yang mengantarkan kepada kebahagiaan dunia dan kebahagiaan abadi di akhirat.Kalimat “لِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ” adalah badal atau kata ganti dari “لِّلْعٰلَمِيْنَۙ” yang bermakna bahwa Al-Qur’an menjadi nasihat dan petunjuk bagi orang-orang yang menerima dan mempelajarinya. Adapun orang yang merasa acuh dari Al-Qur’an, maka dirinya berada dalam kerugian dan kegelapan yang sangat gelap.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ ࣖ“Kamu tidak dapat berkehendak, kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At-Takwīr [81]: 29)Surah At-Takwir ditutup dengan khawatimus suwar atau penutup yang sangat indah, yaitu istikamah menempuh jalan kebenaran tidaklah dapat diwujudkan kecuali dengan kehendak dan taufik dari Allah Ta’ala, Rabb semesta alam. Maka janganlah jumawa jika pada saat ini kita berada dalam keimanan, teruslah berdoa kepada Allah agar tetap memberikan iman kepada kita. Sebaliknya, terus doakan saudara-saudara kita yang belum beriman, doakan dan dakwahkan, agar mereka mendapatkan hidayah dari Allah.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/


Pada penggalan tafsir sebelumnya, kita telah melihat bagaimana keadaan menjelang dan ketika hari kiamat terjadi. Huru-hara serta berbagai hal mengerikan yang membuat takut manusia, bahkan hewan yang tidak berakal juga ketakutan. Setelah itu, manusia akan ingat semua yang telah dia kerjakan, dirinya kemudian menanti apakah akan dilemparkan ke dalam neraka yang sangat dalam atau didekatkan dengan surga penuh kenikmatan, sebagaimana akhir potongan ayat.Setelah itu, Allah berbicara kepada kita tentang benarnya Al-Qur’an dan jujurnya Rasulullah sebagai penyampai wahyu kepada manusia. Pembuktian kebenaran ini sangat penting karena banyak manusia mendustakan huru-hara hari kiamat, tidak percaya bahwa kiamat akan terjadi. Maka, Allah memulai potongan ayat ini dengan sumpah untuk menegaskan kebenaran Al-Qur’an.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَلَآ اُقْسِمُ بِالْخُنَّسِۙ , الْجَوَارِ الْكُنَّسِۙ“Aku bersumpah demi bintang-bintang yang beredar lagi terbenam.” (QS. At-Takwīr [81]:15-16)Pada ayat ini, Allah Ta’ala membuka firman-Nya dengan bersumpah dengan benda-benda langit yang sangat menakjubkan. Allah bersumpah dengan menyebut “al-khunnas”, yaitu benda langit yang memiliki sifat takhnis atau hilang dan bersembunyi ketika siang hari dikarenakan cahayanya tertutup oleh terangnya cahaya matahari. Sedangkan ketika malam hari, benda langit ini akan muncul karena hilangnya cahaya matahari. Maka sumpah ini mencakup semua benda langit, baik yang memancarkan cahaya sendiri seperti bintang atau yang tidak memancarkan, tetapi hanya memantulkan seperti planet dan bulan.Terdapat kalimat menarik pada ayat ini, yaitu Allah bersumpah dengan kata “فَلَآ اُقْسِمُ” yang secara harfiah maknanya adalah “tidak bersumpah”, akan tetapi bentuk kalimat ini digunakan secara fasih oleh orang Arab sebagai bentuk sumpah dan penegasan atas sumpah tersebut. Hal ini karena saking jelasnya kabar tersebut, bahkan tidak perlu kita bersumpah untuk menegaskannya, karena setiap person yang melihat dan merenungi pasti akan mengetahui bahwa obyek sumpah adalah benar adanya.Terdapat rahasia menarik mengapa Allah bersumpah dengan benda-benda langit ini, yaitu adalah untuk menunjukkan sifat Maha Kuasa Allah, dimana Allah mampu untuk memperjalankan benda-benda langit raksasa tersebut sesuai garis edar mereka di alam semesta, serta mampu untuk mengadakan serta menghilangkan cahaya mereka kapanpun Dia kehendaki. Lebih jauh lagi, sumpah ini menepis kebodohan manusia yang menjadikan benda langit sebagai sesembahan, padahal mereka adalah makhluk Allah yang selalu tunduk kepada-Nya, bergerak sesuai kehendak-Nya, serta dapat dimatikan dan dihancurkan seketika oleh Rabb yang Maha Kuasa.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَالَّيْلِ اِذَا عَسْعَسَۙ“Demi malam apabila telah larut.” (QS. At-Takwīr [81]: 17)Allah bersumpah dengan malam hari. Kata “عَسْعَسَۙ” dalam bahasa Arab adalah kalimat musytarok atau kalimat yang memiliki dua makna atau lebih, dimana kedua makna ini adalah makna hakiki yang bukan majas, serta dapat digunakan bersamaan dalam satu keadaan yang sama. Makna kata ini adalah datang atau pergi. Oleh karena itu, ulama berbeda pendapat bagian malam mana yang Allah bersumpah dengannya..Sebagian ulama berpendapat bahwa Allah besumpah dengan awal waktu malam, yang menunjukkan kebutuhan manusia atas pertolongan Allah karena datangnya waktu malam yang mencekam dan diliputi oleh kejahatan manusia dan jin. Sebagian lainnya berpendapat bahwa malam di sini adalah akhir malam, yaitu pada waktu sahur menjelang subuh, karena di dalamnya terdapat momen tersibaknya ketakutan manusia dan bersiap untuk mengawali hari dengan ibadah di waktu sepertiga malam yang akhir. Sebagian ulama lainnya memaknai sumpah di sini dengan awal dan akhir malam sekaligus karena menggunakan kedua makna musytarok bersamaan.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَالصُّبْحِ اِذَا تَنَفَّسَۙ“Demi subuh apabila (fajar) telah menyingsing.” (QS. At-Takwīr [81]: 18)Allah bersumpah dengan waktu subuh, di mana waktu subuh adalah waktu manusia untuk memulai aktifitas mereka, di sana terdapat semangat dan kebaikan yang besar, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendoakan umat ini mendapatkan berkah yang melimpah di waktu pagi mereka. Waktu subuh yang datang, membawa nafas kehidupan, manusia bangun dari tidurnya setelah sebelumnya dimatikan oleh Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍۙ“Sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril).” (QS. At-Takwīr [81]: 19)Ketiga sumpah yang Allah sebutkan di atas adalah untuk menegaskan kalimat ini, yaitu bahwa Al-Qur’an adalah benar-benar firman Allah, yang dibawa oleh malaikat Jibril, diterima oleh Rasulullah, dan disampaikan kepada umat. Sumpah tersebut juga menegaskan bahwa berbagai kabar tentang hari kiamat yang disampaikan setiap hari oleh Nabi kepada kaum Quraisy, beliau dakwahkan dengan sepenuh jiwa raga agar manusia beriman dan sadar, adalah benar dari Allah Ta’ala, bukan merupakan perkara perdukunan dan berita palsu buatan manusia.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ذِيْ قُوَّةٍ عِنْدَ ذِى الْعَرْشِ مَكِيْنٍۙ , مُّطَاعٍ ثَمَّ اَمِيْنٍۗ“Yang memiliki kekuatan dan kedudukan tinggi di sisi (Allah) yang memiliki ʻArsy, yang di sana (Jibril) ditaati lagi dipercaya.” (QS. At-Takwīr [81]: 20-21)Allah Ta’ala menyifati malaikat Jibril dengan lima sifat mulia, dengannya hilanglah keraguan bahwa wahyu yang dikirimkan tidak tersampaikan dengan baik atau terpotong di tengah perjalanan. Namun, wahyu tersebut sampai dengan utuh kepada Rasulullah tanpa ada yang hilang ataupun tercampur dengan hal lain.Pertama, adalah sifat “karim” atau sifat mulia di sisi Allah Ta’ala, terbukti dengan Allah memberikannya hidayah serta memberikan tugas paling muliax, yaitu mengantarkan wahyu. Kedua, sifat kekuatan yang besar, di mana beliau mampu untuk menjaga wahyu tersebut dengan aman sampai kepada Rasulullah. Ketiga, memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah dengan menjalankan segala apa yang Allah perintahkan. Keempat, malaikat Jibril adalah sosok yang dipatuhi okeh malaikat muqarrabin. Kelima, jujur dan terpercaya, ini adalah sifat inti dan terluhur dari malaikat Jibril, terpercaya dan tidak pernah sekalipun berbohong atas wahyu yang dibawa.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُوْنٍۚ“Temanmu (Nabi Muhammad) itu bukanlah orang gila.” (QS. At-Takwīr [81]: 22)Kemudian, risalah kenabian dan wahyu diberikan kepada Rasulullah Muhammad bin Abdillah, seorang pilihan Allah yang paling terpuji di bumi dan langit. Allah sebutkan Muhammad dengan kata “shahib” atau diartikan “temanmu” adalah karena sedari kecil, Nabi Muhammad telah hidup di tengah-tengah suku Quraisy, seorang anak dan remaja terbaik dalam suku tersebut.Dirinya bukan orang asing yang turun dari langit atau muncul dari antah berantah kemudian membawa berita yang besar, bukan demikian. Akan tetapi, Muhammad adalah seseorang yang kalian kenal kebaikannya, keluarganya adalah keluarga terbaik di tengah bangsa Arab, bahkan kalian menyebutnya Muhammad Al-Amin, seseorang yang jujur lagi terpercaya. Kalian telah melihat bagaimana akhlaknya ketika tumbuh bersama kalian, kalian tidak pernah melihat keburukannya. Lantas mengapa setelah dia menjadi Nabi, malah kalian dustakan dan menuduhnya orang gila? Ini adalah suatu kebodohan nyata dari kaum musyrik Quraisy.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ رَاٰهُ بِالْاُفُقِ الْمُبِيْنِۚ“Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (Jibril) di ufuk yang terang.” (QS. At-Takwīr [81]: 23)Peristiwa penglihatan malaikat Jibril di ufuk yang terang ini terjadi setelah beliau melihat Jibril pada fase awal turunnya wahyu di dekat Gua Hira. Ketika itu, beliau melihat Jibril sedang duduk di atas kursi di antara langit dan bumi dalam wujud aslinya yang memiliki enam ratus sayap.Malaikat Jibril memiliki bentuk yang sangat luar biasa besar, memiliki 600 sayap yang sangat indah, sampai menutupi seluruh ufuk dan menghalangi cahaya matahari. Peristiwa Nabi melihat langsung malaikat Jibril ini menjadikan ilmu beliau terhadap malaikat dan wahyu menjadi ilmu yang aksiomatis, melahirkan keyakinan mutlak dengan mata panca indra dan mata hati bahwa yang dilihat adalah benar-benar sesesok malaikat yang dekat dengan Allah. Allah berikan pada malaikat fisik yang sempurna dan indah, serta adanya rasa tenang saat turunnya wahyu, untuk meyakinkan bahwa yang menjumpai adalah malaikat, dan bukan setan yang terkutuk.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِيْنٍۚ“Dia (Nabi Muhammad) bukanlah seorang yang kikir (enggan) untuk menerangkan yang gaib.” (QS. At-Takwīr [81]: 24)Ayat ini adalah pujian yang sangat tinggi bagi Rasulullah, beliau mendapatkan kabar-kabar gaib tentang kiamat, surga, dan neraka, serta mendapatkan ilmu bagaimana untuk dapat menghindari neraka serta mendapatkan kesenangan abadi di surga. Semua hal tersebut tidak disembunyikan oleh Nabi, bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dakwahkan seluas-luasnya kepada semua orang.Ayat ini juga menunjukkan kepedulian besar dari Nabi terhadap kita umatnya. Kalau seandainya Nabi merasa berat dan enggan menyampaikan risalah, beliau jengah dengan sikap umatnya yang membangkang, maka beliau tidak akan sampaikan jalan menuju kebahagiaan kepada umatnya. Rasanya biarlah disimpan sendiri saja agar yang selamat hanya orang dekat beliau, dan biarlah para pembangkang itu disiksa sampai habis di neraka.Namun, tidaklah demikian, beliau adalah orang yang sangat peduli dengan umatnya. Semua jalan menuju surga telah Nabi sampaikan kepada kita dengan bentuk penyampaian terbaik. Seratus persen waktu dan tenaga beliau digunakan untuk menyamaikan risalah ilahi, berliau bersusah payah menyampaikan kebaikan agar kita semua selamat, bisa bertemu dengan beliau kelak di surga. Meskipun kadang, kita menjadi umat yang ngeyel dan mbalelo.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطٰنٍ رَّجِيْمٍۚ“(Al-Qur’an) itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk.” (QS. At-Takwīr [81]: 25)Allah juga membantah orang musyrik Quraisy yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah perkataan setan. Dikarenakan mereka mengatakan bahwa setan dari kalangan jin di langit bisa mencuri-curi dengar wahyu yang turun, kemudian juga mampu untuk mengganggu wahyu yang turun sehingga rusak dan sampai dalam keadaan cacat. Kebodohan kaum musyrik ini dibantah dengan keras oleh Allah langsung. Bahkan Allah siapkan panah api yang sangat panas dan membakar bagi jin yang berusaha mencuri berita langit.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاَيْنَ تَذْهَبُوْنَۗ“Maka, ke manakah kamu akan pergi?” (QS. At-Takwīr [81]: 26)Setelah diterangkan bahwa Al-Qur’an itu benar-benar datang dari Allah dan di dalamnya ada hidayah dan petunjuk yang memimpin manusia ke jalan yang lurus, ditanyakanlah kepada orang-orang kafir itu, “Jalan manakah yang akan kamu tempuh?” Apakah tetap akan menempuh jalan kesesatan, jalan kezaliman sehingga berakhir dalam neraka, atau mengikuti jalan petunjuk ini untuk menjadi sebaik-baiknya manusia di bumi dan bisa beristirahat tenang di surga kelak.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعٰلَمِيْنَۙ“(Al-Qur’an) itu tidak lain, kecuali peringatan bagi semesta alam.” (QS. At-Takwīr [81]: 27)Al-Qur’an adalah nasihat dan pengingat bagi seluruh makhluk yang ada di alam ini.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,لِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ اَنْ يَّسْتَقِيْمَۗ“(Yaitu) bagi siapa di antaramu yang hendak menempuh jalan yang lurus.” (QS. At-Takwīr [81]: 28)Allah telah berikan jalan serta kesempatan untuk menuju kebaikan atau menuju kepada kehancuran. Siapa saja yang mengikuti jalan kebenaran, beriman dengan benar, menjalankan syariat-Nya, serta memiliki akhlak yang mulia, maka dia telah berada di jalan yang lurus, yang mengantarkan kepada kebahagiaan dunia dan kebahagiaan abadi di akhirat.Kalimat “لِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ” adalah badal atau kata ganti dari “لِّلْعٰلَمِيْنَۙ” yang bermakna bahwa Al-Qur’an menjadi nasihat dan petunjuk bagi orang-orang yang menerima dan mempelajarinya. Adapun orang yang merasa acuh dari Al-Qur’an, maka dirinya berada dalam kerugian dan kegelapan yang sangat gelap.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ ࣖ“Kamu tidak dapat berkehendak, kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At-Takwīr [81]: 29)Surah At-Takwir ditutup dengan khawatimus suwar atau penutup yang sangat indah, yaitu istikamah menempuh jalan kebenaran tidaklah dapat diwujudkan kecuali dengan kehendak dan taufik dari Allah Ta’ala, Rabb semesta alam. Maka janganlah jumawa jika pada saat ini kita berada dalam keimanan, teruslah berdoa kepada Allah agar tetap memberikan iman kepada kita. Sebaliknya, terus doakan saudara-saudara kita yang belum beriman, doakan dan dakwahkan, agar mereka mendapatkan hidayah dari Allah.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/

Hanya dalam 3 Kondisi Ini Berdusta Diperbolehkan – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili #NasehatUlama

Tidak ada yang dikecualikan dari keharaman berdusta, kecuali tiga perkara saja. Pertama, berdusta untuk mendamaikan manusia yang berselisih. Misalnya, engkau mengetahui dua saudaramu sedang bertikai. Lalu engkau mendatangi salah seorang dari keduanya dan berkata, “Demi Allah, si Fulan mencintaimu dan sangat ingin berdamai denganmu. Ia berkata, ‘Aku merasa gelisah sejak berselisih dengan saudaraku.’” Padahal sebenarnya ia tidak pernah mengatakan itu. Kemudian engkau mendatangi orang yang kedua dan berkata, “Si Fulan mencintaimu dan ia merasa sedih karena sedang bertikai denganmu Ia ingin berdamai denganmu.” Padahal sebenarnya ia tidak mengatakan itu. Orang seperti ini tidak disebut sebagai pendusta. “Bukanlah pendusta orang yang mendamaikan manusia, lalu menumbuhkan kebaikan.” Perkara kedua: Kedustaan salah seorang suami atau istri kepada pasangannya, dalam hal yang memperbaiki kehidupan rumah tangga dan tidak menghilangkan hak pasangannya. Kedustaan salah seorang suami atau istri kepada pasangannya, dalam hal yang memperbaiki kehidupan rumah tangga, dan tidak menghilangkan hak pasangannya. Misalnya, seorang suami berkata kepada istrinya, “Bagiku, engkau adalah wanita tercantik.” Padahal mungkin ia tidak menganggap istrinya cantik. Mungkin ia memang tidak menganggapnya cantik. Namun ia berkata, “Bagiku, engkau adalah wanita tercantik.” Atau seorang istri meminta suaminya membawakan sesuatu dari pasar, sementara suaminya tidak mampu membawakannya, atau tidak ingin membawakannya, sementara hal itu bukan termasuk hak istrinya. Lalu ia berkata kepada istrinya, misalnya, “Aku tidak menemukannya di pasar.” Atau ia berkata, “Saldo yang kumiliki tidak mencukupi.” Padahal ia berdusta. Karena, dalam hal ini ia ingin menjaga kebaikan kehidupan dan rumah tangganya. Sebab, jika ia berkata kepada istrinya, “Aku tidak mau membawakan barang itu untukmu,” mungkin istrinya akan marah, dan mungkin timbul masalah dalam rumah tangga. Namun, wahai saudara-saudaraku, ada kaidah yang ditetapkan para ulama: berdusta antara suami dan istri dalam perkara yang berkaitan dengan hak pasangan tidaklah diperbolehkan. Misalnya, seorang suami berdusta kepada istrinya untuk menggugurkan hak nafkah istrinya. Misalnya ia berkata pada istrinya, “Bulan ini, separuh gajiku dipotong di tempat kerja,” agar ia dapat mengurangi separuh nafkah yang wajib diberikan kepada istrinya. Ini tidak boleh. Adapun berdusta untuk memperbaiki kehidupan rumah tangga antara suami dan istri, selama tidak menghilangkan suatu hak, maka hal itu diperbolehkan, baik dilakukan istri kepada suaminya maupun suami kepada istrinya. Adapun perkara ketiga: berdusta (kepada musuh) dalam peperangan. Adapun selain ketiga perkara tersebut, maka berdusta tidak diperbolehkan. ===== وَلَا يُسْتَثْنَى مِنْ تَحْرِيمِ الْكَذِبِ شَيْءٌ إِلَّا ثَلَاثَةٌ فَقَطْ الْكَذِبُ لِلْإِصْلَاحِ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَعْرِفَ أَخَوَيْنِ لَكَ مُتَخَاصِمَيْنِ فَتَأْتِيَ لِهَذَا الْأَخِ وَتَقُولَ وَاللَّهِ فُلَانٌ يُحِبُّكَ وَيَتَمَنَّى أَنْ يَصْطَلِحَ مَعَكَ وَيَقُولُ أَنَا فِي قَلَقٍ مُنْذُ أَنْ خَاصَمْتُ أَخِي وَهُوَ مَا قَالَ ثُمَّ يَذْهَبُ إِلَى الثَّانِي وَيَقُولُ فُلَانٌ يُحِبُّكَ وَزَعْلَانُ أَنَّهُ مُتَخَاصِمٌ مَعَكَ وَيُرِيدُ الصُّلْحَ مَعَكَ وَهُوَ مَا قَالَ هَذَا لَيْسَ كَذَّابًا لَيْسَ الْكَذَّابُ الَّذِي يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ فَيُنْمِي خَيْرًا وَالْأَمْرُ الثَّانِي كَذِبُ أَحَدِ الزَّوْجَيْنِ عَلَى الْآخَرِ بِمَا يُصْلِحُ الْحَيَاةَ وَلَا يُفَوِّتُ حَقًّا كَذِبُ أَحَدِ الزَّوْجَيْنِ عَلَى الْآخَرِ بِمَا يُصْلِحُ الْحَيَاةَ وَلَا يُفَوِّتُ حَقًّا مِثْلَ أَنْ يَقُولَ الرَّجُلُ لِامْرَأَتِهِ مَثَلًا أَنْتِ عِنْدِي أَجْمَلُ النِّسَاءِ وَهُوَ رُبَّمَا مَا يَرَاهَا جَمِيلَةً رُبَّمَا مَا يَرَاهَا جَمِيلَةً لَكِنْ يَقُولُ أَنْتِ عِنْدِي أَجْمَلُ النِّسَاءِ أَوْ تَطْلُبُ الْمَرْأَةُ مِنْ زَوْجِهَا أَنْ يُحْضِرَ لَهَا شَيْئًا مِنَ السُّوقِ وَهُوَ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُحْضِرَهُ أَوْ لَا يُرِيدُ أَنْ يُحْضِرَهُ وَهُوَ لَيْسَ مِنَ الْحُقُوقِ فَيَقُولُ لَهَا مَثَلًا لَمْ أَجِدْهُ فِي السُّوقِ أَوْ يَقُولُ مَا عِنْدِي فِي الرَّصِيدِ مَا يَكْفِي وَهُوَ يَكْذِبُ لِأَنَّهُ هُنَا يُرِيدُ أَنْ يُصْلِحَ حَيَاتَهُ وَبَيْتَهُ لِأَنَّهُ لَوْ قَالَ لَهَا مَا آتِيكِ بِهَذَا الشَّيْءِ رُبَّمَا غَضِبَتْ وَرُبَّمَا وَقَعَ فِي الْبَيْتِ شَيْءٌ مِنَ الْمَشَاكِلِ لَكِنْ يَا إِخْوَةُ الْقَاعِدَةُ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ الْكَذِبَ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ فِي الْحُقُوقِ لَا يَجُوزُ أَنْ يَكْذِبَ عَلَيْهَا لِيُفَوِّتَ عَلَيْهَا حَقَّهَا فِي النَّفَقَةِ فَيَقُولُ لَهَا مَثَلًا يَعْنِي هَذَا الشَّهْرُ خُصِمَ عَلَيَّ فِي الْوَظِيفَةِ نِصْفُ الرَّاتِبِ مِنْ أَجْلِ أَنْ يُسْقِطَ نِصْفَ نَفَقَتِهَا الْوَاجِبَةِ هَذَا مَا يَجُوزُ أَمَّا الْكَذِبُ لِإِصْلَاحِ الْحَيَاةِ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ وَلَا يُفَوِّتُ حَقًّا فَهَذَا جَائِزٌ مِنَ الزَّوْجَةِ عَلَى زَوْجِهَا وَمِنَ الزَّوْجِ عَلَى زَوْجَتِهِ وَأَمَّا الْأَمْرُ الثَّالِثُ فَهُوَ الْكَذِبُ فِي الْحَرْبِ وَمَا عَدَا ذَلِكَ فَإِنَّهُ لَا يَجُوزُ

Hanya dalam 3 Kondisi Ini Berdusta Diperbolehkan – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili #NasehatUlama

Tidak ada yang dikecualikan dari keharaman berdusta, kecuali tiga perkara saja. Pertama, berdusta untuk mendamaikan manusia yang berselisih. Misalnya, engkau mengetahui dua saudaramu sedang bertikai. Lalu engkau mendatangi salah seorang dari keduanya dan berkata, “Demi Allah, si Fulan mencintaimu dan sangat ingin berdamai denganmu. Ia berkata, ‘Aku merasa gelisah sejak berselisih dengan saudaraku.’” Padahal sebenarnya ia tidak pernah mengatakan itu. Kemudian engkau mendatangi orang yang kedua dan berkata, “Si Fulan mencintaimu dan ia merasa sedih karena sedang bertikai denganmu Ia ingin berdamai denganmu.” Padahal sebenarnya ia tidak mengatakan itu. Orang seperti ini tidak disebut sebagai pendusta. “Bukanlah pendusta orang yang mendamaikan manusia, lalu menumbuhkan kebaikan.” Perkara kedua: Kedustaan salah seorang suami atau istri kepada pasangannya, dalam hal yang memperbaiki kehidupan rumah tangga dan tidak menghilangkan hak pasangannya. Kedustaan salah seorang suami atau istri kepada pasangannya, dalam hal yang memperbaiki kehidupan rumah tangga, dan tidak menghilangkan hak pasangannya. Misalnya, seorang suami berkata kepada istrinya, “Bagiku, engkau adalah wanita tercantik.” Padahal mungkin ia tidak menganggap istrinya cantik. Mungkin ia memang tidak menganggapnya cantik. Namun ia berkata, “Bagiku, engkau adalah wanita tercantik.” Atau seorang istri meminta suaminya membawakan sesuatu dari pasar, sementara suaminya tidak mampu membawakannya, atau tidak ingin membawakannya, sementara hal itu bukan termasuk hak istrinya. Lalu ia berkata kepada istrinya, misalnya, “Aku tidak menemukannya di pasar.” Atau ia berkata, “Saldo yang kumiliki tidak mencukupi.” Padahal ia berdusta. Karena, dalam hal ini ia ingin menjaga kebaikan kehidupan dan rumah tangganya. Sebab, jika ia berkata kepada istrinya, “Aku tidak mau membawakan barang itu untukmu,” mungkin istrinya akan marah, dan mungkin timbul masalah dalam rumah tangga. Namun, wahai saudara-saudaraku, ada kaidah yang ditetapkan para ulama: berdusta antara suami dan istri dalam perkara yang berkaitan dengan hak pasangan tidaklah diperbolehkan. Misalnya, seorang suami berdusta kepada istrinya untuk menggugurkan hak nafkah istrinya. Misalnya ia berkata pada istrinya, “Bulan ini, separuh gajiku dipotong di tempat kerja,” agar ia dapat mengurangi separuh nafkah yang wajib diberikan kepada istrinya. Ini tidak boleh. Adapun berdusta untuk memperbaiki kehidupan rumah tangga antara suami dan istri, selama tidak menghilangkan suatu hak, maka hal itu diperbolehkan, baik dilakukan istri kepada suaminya maupun suami kepada istrinya. Adapun perkara ketiga: berdusta (kepada musuh) dalam peperangan. Adapun selain ketiga perkara tersebut, maka berdusta tidak diperbolehkan. ===== وَلَا يُسْتَثْنَى مِنْ تَحْرِيمِ الْكَذِبِ شَيْءٌ إِلَّا ثَلَاثَةٌ فَقَطْ الْكَذِبُ لِلْإِصْلَاحِ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَعْرِفَ أَخَوَيْنِ لَكَ مُتَخَاصِمَيْنِ فَتَأْتِيَ لِهَذَا الْأَخِ وَتَقُولَ وَاللَّهِ فُلَانٌ يُحِبُّكَ وَيَتَمَنَّى أَنْ يَصْطَلِحَ مَعَكَ وَيَقُولُ أَنَا فِي قَلَقٍ مُنْذُ أَنْ خَاصَمْتُ أَخِي وَهُوَ مَا قَالَ ثُمَّ يَذْهَبُ إِلَى الثَّانِي وَيَقُولُ فُلَانٌ يُحِبُّكَ وَزَعْلَانُ أَنَّهُ مُتَخَاصِمٌ مَعَكَ وَيُرِيدُ الصُّلْحَ مَعَكَ وَهُوَ مَا قَالَ هَذَا لَيْسَ كَذَّابًا لَيْسَ الْكَذَّابُ الَّذِي يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ فَيُنْمِي خَيْرًا وَالْأَمْرُ الثَّانِي كَذِبُ أَحَدِ الزَّوْجَيْنِ عَلَى الْآخَرِ بِمَا يُصْلِحُ الْحَيَاةَ وَلَا يُفَوِّتُ حَقًّا كَذِبُ أَحَدِ الزَّوْجَيْنِ عَلَى الْآخَرِ بِمَا يُصْلِحُ الْحَيَاةَ وَلَا يُفَوِّتُ حَقًّا مِثْلَ أَنْ يَقُولَ الرَّجُلُ لِامْرَأَتِهِ مَثَلًا أَنْتِ عِنْدِي أَجْمَلُ النِّسَاءِ وَهُوَ رُبَّمَا مَا يَرَاهَا جَمِيلَةً رُبَّمَا مَا يَرَاهَا جَمِيلَةً لَكِنْ يَقُولُ أَنْتِ عِنْدِي أَجْمَلُ النِّسَاءِ أَوْ تَطْلُبُ الْمَرْأَةُ مِنْ زَوْجِهَا أَنْ يُحْضِرَ لَهَا شَيْئًا مِنَ السُّوقِ وَهُوَ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُحْضِرَهُ أَوْ لَا يُرِيدُ أَنْ يُحْضِرَهُ وَهُوَ لَيْسَ مِنَ الْحُقُوقِ فَيَقُولُ لَهَا مَثَلًا لَمْ أَجِدْهُ فِي السُّوقِ أَوْ يَقُولُ مَا عِنْدِي فِي الرَّصِيدِ مَا يَكْفِي وَهُوَ يَكْذِبُ لِأَنَّهُ هُنَا يُرِيدُ أَنْ يُصْلِحَ حَيَاتَهُ وَبَيْتَهُ لِأَنَّهُ لَوْ قَالَ لَهَا مَا آتِيكِ بِهَذَا الشَّيْءِ رُبَّمَا غَضِبَتْ وَرُبَّمَا وَقَعَ فِي الْبَيْتِ شَيْءٌ مِنَ الْمَشَاكِلِ لَكِنْ يَا إِخْوَةُ الْقَاعِدَةُ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ الْكَذِبَ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ فِي الْحُقُوقِ لَا يَجُوزُ أَنْ يَكْذِبَ عَلَيْهَا لِيُفَوِّتَ عَلَيْهَا حَقَّهَا فِي النَّفَقَةِ فَيَقُولُ لَهَا مَثَلًا يَعْنِي هَذَا الشَّهْرُ خُصِمَ عَلَيَّ فِي الْوَظِيفَةِ نِصْفُ الرَّاتِبِ مِنْ أَجْلِ أَنْ يُسْقِطَ نِصْفَ نَفَقَتِهَا الْوَاجِبَةِ هَذَا مَا يَجُوزُ أَمَّا الْكَذِبُ لِإِصْلَاحِ الْحَيَاةِ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ وَلَا يُفَوِّتُ حَقًّا فَهَذَا جَائِزٌ مِنَ الزَّوْجَةِ عَلَى زَوْجِهَا وَمِنَ الزَّوْجِ عَلَى زَوْجَتِهِ وَأَمَّا الْأَمْرُ الثَّالِثُ فَهُوَ الْكَذِبُ فِي الْحَرْبِ وَمَا عَدَا ذَلِكَ فَإِنَّهُ لَا يَجُوزُ
Tidak ada yang dikecualikan dari keharaman berdusta, kecuali tiga perkara saja. Pertama, berdusta untuk mendamaikan manusia yang berselisih. Misalnya, engkau mengetahui dua saudaramu sedang bertikai. Lalu engkau mendatangi salah seorang dari keduanya dan berkata, “Demi Allah, si Fulan mencintaimu dan sangat ingin berdamai denganmu. Ia berkata, ‘Aku merasa gelisah sejak berselisih dengan saudaraku.’” Padahal sebenarnya ia tidak pernah mengatakan itu. Kemudian engkau mendatangi orang yang kedua dan berkata, “Si Fulan mencintaimu dan ia merasa sedih karena sedang bertikai denganmu Ia ingin berdamai denganmu.” Padahal sebenarnya ia tidak mengatakan itu. Orang seperti ini tidak disebut sebagai pendusta. “Bukanlah pendusta orang yang mendamaikan manusia, lalu menumbuhkan kebaikan.” Perkara kedua: Kedustaan salah seorang suami atau istri kepada pasangannya, dalam hal yang memperbaiki kehidupan rumah tangga dan tidak menghilangkan hak pasangannya. Kedustaan salah seorang suami atau istri kepada pasangannya, dalam hal yang memperbaiki kehidupan rumah tangga, dan tidak menghilangkan hak pasangannya. Misalnya, seorang suami berkata kepada istrinya, “Bagiku, engkau adalah wanita tercantik.” Padahal mungkin ia tidak menganggap istrinya cantik. Mungkin ia memang tidak menganggapnya cantik. Namun ia berkata, “Bagiku, engkau adalah wanita tercantik.” Atau seorang istri meminta suaminya membawakan sesuatu dari pasar, sementara suaminya tidak mampu membawakannya, atau tidak ingin membawakannya, sementara hal itu bukan termasuk hak istrinya. Lalu ia berkata kepada istrinya, misalnya, “Aku tidak menemukannya di pasar.” Atau ia berkata, “Saldo yang kumiliki tidak mencukupi.” Padahal ia berdusta. Karena, dalam hal ini ia ingin menjaga kebaikan kehidupan dan rumah tangganya. Sebab, jika ia berkata kepada istrinya, “Aku tidak mau membawakan barang itu untukmu,” mungkin istrinya akan marah, dan mungkin timbul masalah dalam rumah tangga. Namun, wahai saudara-saudaraku, ada kaidah yang ditetapkan para ulama: berdusta antara suami dan istri dalam perkara yang berkaitan dengan hak pasangan tidaklah diperbolehkan. Misalnya, seorang suami berdusta kepada istrinya untuk menggugurkan hak nafkah istrinya. Misalnya ia berkata pada istrinya, “Bulan ini, separuh gajiku dipotong di tempat kerja,” agar ia dapat mengurangi separuh nafkah yang wajib diberikan kepada istrinya. Ini tidak boleh. Adapun berdusta untuk memperbaiki kehidupan rumah tangga antara suami dan istri, selama tidak menghilangkan suatu hak, maka hal itu diperbolehkan, baik dilakukan istri kepada suaminya maupun suami kepada istrinya. Adapun perkara ketiga: berdusta (kepada musuh) dalam peperangan. Adapun selain ketiga perkara tersebut, maka berdusta tidak diperbolehkan. ===== وَلَا يُسْتَثْنَى مِنْ تَحْرِيمِ الْكَذِبِ شَيْءٌ إِلَّا ثَلَاثَةٌ فَقَطْ الْكَذِبُ لِلْإِصْلَاحِ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَعْرِفَ أَخَوَيْنِ لَكَ مُتَخَاصِمَيْنِ فَتَأْتِيَ لِهَذَا الْأَخِ وَتَقُولَ وَاللَّهِ فُلَانٌ يُحِبُّكَ وَيَتَمَنَّى أَنْ يَصْطَلِحَ مَعَكَ وَيَقُولُ أَنَا فِي قَلَقٍ مُنْذُ أَنْ خَاصَمْتُ أَخِي وَهُوَ مَا قَالَ ثُمَّ يَذْهَبُ إِلَى الثَّانِي وَيَقُولُ فُلَانٌ يُحِبُّكَ وَزَعْلَانُ أَنَّهُ مُتَخَاصِمٌ مَعَكَ وَيُرِيدُ الصُّلْحَ مَعَكَ وَهُوَ مَا قَالَ هَذَا لَيْسَ كَذَّابًا لَيْسَ الْكَذَّابُ الَّذِي يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ فَيُنْمِي خَيْرًا وَالْأَمْرُ الثَّانِي كَذِبُ أَحَدِ الزَّوْجَيْنِ عَلَى الْآخَرِ بِمَا يُصْلِحُ الْحَيَاةَ وَلَا يُفَوِّتُ حَقًّا كَذِبُ أَحَدِ الزَّوْجَيْنِ عَلَى الْآخَرِ بِمَا يُصْلِحُ الْحَيَاةَ وَلَا يُفَوِّتُ حَقًّا مِثْلَ أَنْ يَقُولَ الرَّجُلُ لِامْرَأَتِهِ مَثَلًا أَنْتِ عِنْدِي أَجْمَلُ النِّسَاءِ وَهُوَ رُبَّمَا مَا يَرَاهَا جَمِيلَةً رُبَّمَا مَا يَرَاهَا جَمِيلَةً لَكِنْ يَقُولُ أَنْتِ عِنْدِي أَجْمَلُ النِّسَاءِ أَوْ تَطْلُبُ الْمَرْأَةُ مِنْ زَوْجِهَا أَنْ يُحْضِرَ لَهَا شَيْئًا مِنَ السُّوقِ وَهُوَ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُحْضِرَهُ أَوْ لَا يُرِيدُ أَنْ يُحْضِرَهُ وَهُوَ لَيْسَ مِنَ الْحُقُوقِ فَيَقُولُ لَهَا مَثَلًا لَمْ أَجِدْهُ فِي السُّوقِ أَوْ يَقُولُ مَا عِنْدِي فِي الرَّصِيدِ مَا يَكْفِي وَهُوَ يَكْذِبُ لِأَنَّهُ هُنَا يُرِيدُ أَنْ يُصْلِحَ حَيَاتَهُ وَبَيْتَهُ لِأَنَّهُ لَوْ قَالَ لَهَا مَا آتِيكِ بِهَذَا الشَّيْءِ رُبَّمَا غَضِبَتْ وَرُبَّمَا وَقَعَ فِي الْبَيْتِ شَيْءٌ مِنَ الْمَشَاكِلِ لَكِنْ يَا إِخْوَةُ الْقَاعِدَةُ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ الْكَذِبَ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ فِي الْحُقُوقِ لَا يَجُوزُ أَنْ يَكْذِبَ عَلَيْهَا لِيُفَوِّتَ عَلَيْهَا حَقَّهَا فِي النَّفَقَةِ فَيَقُولُ لَهَا مَثَلًا يَعْنِي هَذَا الشَّهْرُ خُصِمَ عَلَيَّ فِي الْوَظِيفَةِ نِصْفُ الرَّاتِبِ مِنْ أَجْلِ أَنْ يُسْقِطَ نِصْفَ نَفَقَتِهَا الْوَاجِبَةِ هَذَا مَا يَجُوزُ أَمَّا الْكَذِبُ لِإِصْلَاحِ الْحَيَاةِ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ وَلَا يُفَوِّتُ حَقًّا فَهَذَا جَائِزٌ مِنَ الزَّوْجَةِ عَلَى زَوْجِهَا وَمِنَ الزَّوْجِ عَلَى زَوْجَتِهِ وَأَمَّا الْأَمْرُ الثَّالِثُ فَهُوَ الْكَذِبُ فِي الْحَرْبِ وَمَا عَدَا ذَلِكَ فَإِنَّهُ لَا يَجُوزُ


Tidak ada yang dikecualikan dari keharaman berdusta, kecuali tiga perkara saja. Pertama, berdusta untuk mendamaikan manusia yang berselisih. Misalnya, engkau mengetahui dua saudaramu sedang bertikai. Lalu engkau mendatangi salah seorang dari keduanya dan berkata, “Demi Allah, si Fulan mencintaimu dan sangat ingin berdamai denganmu. Ia berkata, ‘Aku merasa gelisah sejak berselisih dengan saudaraku.’” Padahal sebenarnya ia tidak pernah mengatakan itu. Kemudian engkau mendatangi orang yang kedua dan berkata, “Si Fulan mencintaimu dan ia merasa sedih karena sedang bertikai denganmu Ia ingin berdamai denganmu.” Padahal sebenarnya ia tidak mengatakan itu. Orang seperti ini tidak disebut sebagai pendusta. “Bukanlah pendusta orang yang mendamaikan manusia, lalu menumbuhkan kebaikan.” Perkara kedua: Kedustaan salah seorang suami atau istri kepada pasangannya, dalam hal yang memperbaiki kehidupan rumah tangga dan tidak menghilangkan hak pasangannya. Kedustaan salah seorang suami atau istri kepada pasangannya, dalam hal yang memperbaiki kehidupan rumah tangga, dan tidak menghilangkan hak pasangannya. Misalnya, seorang suami berkata kepada istrinya, “Bagiku, engkau adalah wanita tercantik.” Padahal mungkin ia tidak menganggap istrinya cantik. Mungkin ia memang tidak menganggapnya cantik. Namun ia berkata, “Bagiku, engkau adalah wanita tercantik.” Atau seorang istri meminta suaminya membawakan sesuatu dari pasar, sementara suaminya tidak mampu membawakannya, atau tidak ingin membawakannya, sementara hal itu bukan termasuk hak istrinya. Lalu ia berkata kepada istrinya, misalnya, “Aku tidak menemukannya di pasar.” Atau ia berkata, “Saldo yang kumiliki tidak mencukupi.” Padahal ia berdusta. Karena, dalam hal ini ia ingin menjaga kebaikan kehidupan dan rumah tangganya. Sebab, jika ia berkata kepada istrinya, “Aku tidak mau membawakan barang itu untukmu,” mungkin istrinya akan marah, dan mungkin timbul masalah dalam rumah tangga. Namun, wahai saudara-saudaraku, ada kaidah yang ditetapkan para ulama: berdusta antara suami dan istri dalam perkara yang berkaitan dengan hak pasangan tidaklah diperbolehkan. Misalnya, seorang suami berdusta kepada istrinya untuk menggugurkan hak nafkah istrinya. Misalnya ia berkata pada istrinya, “Bulan ini, separuh gajiku dipotong di tempat kerja,” agar ia dapat mengurangi separuh nafkah yang wajib diberikan kepada istrinya. Ini tidak boleh. Adapun berdusta untuk memperbaiki kehidupan rumah tangga antara suami dan istri, selama tidak menghilangkan suatu hak, maka hal itu diperbolehkan, baik dilakukan istri kepada suaminya maupun suami kepada istrinya. Adapun perkara ketiga: berdusta (kepada musuh) dalam peperangan. Adapun selain ketiga perkara tersebut, maka berdusta tidak diperbolehkan. ===== وَلَا يُسْتَثْنَى مِنْ تَحْرِيمِ الْكَذِبِ شَيْءٌ إِلَّا ثَلَاثَةٌ فَقَطْ الْكَذِبُ لِلْإِصْلَاحِ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَعْرِفَ أَخَوَيْنِ لَكَ مُتَخَاصِمَيْنِ فَتَأْتِيَ لِهَذَا الْأَخِ وَتَقُولَ وَاللَّهِ فُلَانٌ يُحِبُّكَ وَيَتَمَنَّى أَنْ يَصْطَلِحَ مَعَكَ وَيَقُولُ أَنَا فِي قَلَقٍ مُنْذُ أَنْ خَاصَمْتُ أَخِي وَهُوَ مَا قَالَ ثُمَّ يَذْهَبُ إِلَى الثَّانِي وَيَقُولُ فُلَانٌ يُحِبُّكَ وَزَعْلَانُ أَنَّهُ مُتَخَاصِمٌ مَعَكَ وَيُرِيدُ الصُّلْحَ مَعَكَ وَهُوَ مَا قَالَ هَذَا لَيْسَ كَذَّابًا لَيْسَ الْكَذَّابُ الَّذِي يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ فَيُنْمِي خَيْرًا وَالْأَمْرُ الثَّانِي كَذِبُ أَحَدِ الزَّوْجَيْنِ عَلَى الْآخَرِ بِمَا يُصْلِحُ الْحَيَاةَ وَلَا يُفَوِّتُ حَقًّا كَذِبُ أَحَدِ الزَّوْجَيْنِ عَلَى الْآخَرِ بِمَا يُصْلِحُ الْحَيَاةَ وَلَا يُفَوِّتُ حَقًّا مِثْلَ أَنْ يَقُولَ الرَّجُلُ لِامْرَأَتِهِ مَثَلًا أَنْتِ عِنْدِي أَجْمَلُ النِّسَاءِ وَهُوَ رُبَّمَا مَا يَرَاهَا جَمِيلَةً رُبَّمَا مَا يَرَاهَا جَمِيلَةً لَكِنْ يَقُولُ أَنْتِ عِنْدِي أَجْمَلُ النِّسَاءِ أَوْ تَطْلُبُ الْمَرْأَةُ مِنْ زَوْجِهَا أَنْ يُحْضِرَ لَهَا شَيْئًا مِنَ السُّوقِ وَهُوَ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُحْضِرَهُ أَوْ لَا يُرِيدُ أَنْ يُحْضِرَهُ وَهُوَ لَيْسَ مِنَ الْحُقُوقِ فَيَقُولُ لَهَا مَثَلًا لَمْ أَجِدْهُ فِي السُّوقِ أَوْ يَقُولُ مَا عِنْدِي فِي الرَّصِيدِ مَا يَكْفِي وَهُوَ يَكْذِبُ لِأَنَّهُ هُنَا يُرِيدُ أَنْ يُصْلِحَ حَيَاتَهُ وَبَيْتَهُ لِأَنَّهُ لَوْ قَالَ لَهَا مَا آتِيكِ بِهَذَا الشَّيْءِ رُبَّمَا غَضِبَتْ وَرُبَّمَا وَقَعَ فِي الْبَيْتِ شَيْءٌ مِنَ الْمَشَاكِلِ لَكِنْ يَا إِخْوَةُ الْقَاعِدَةُ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ الْكَذِبَ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ فِي الْحُقُوقِ لَا يَجُوزُ أَنْ يَكْذِبَ عَلَيْهَا لِيُفَوِّتَ عَلَيْهَا حَقَّهَا فِي النَّفَقَةِ فَيَقُولُ لَهَا مَثَلًا يَعْنِي هَذَا الشَّهْرُ خُصِمَ عَلَيَّ فِي الْوَظِيفَةِ نِصْفُ الرَّاتِبِ مِنْ أَجْلِ أَنْ يُسْقِطَ نِصْفَ نَفَقَتِهَا الْوَاجِبَةِ هَذَا مَا يَجُوزُ أَمَّا الْكَذِبُ لِإِصْلَاحِ الْحَيَاةِ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ وَلَا يُفَوِّتُ حَقًّا فَهَذَا جَائِزٌ مِنَ الزَّوْجَةِ عَلَى زَوْجِهَا وَمِنَ الزَّوْجِ عَلَى زَوْجَتِهِ وَأَمَّا الْأَمْرُ الثَّالِثُ فَهُوَ الْكَذِبُ فِي الْحَرْبِ وَمَا عَدَا ذَلِكَ فَإِنَّهُ لَا يَجُوزُ

Prinsip-Prinsip Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (Bag. 3)

Berikut adalah beberapa prinsip atau karakteristik manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang sangat nampak dalam kehidupan mereka:Pertama, sangat perhatian dalam masalah akidah dan tauhidDi antara prinsip pertama manhaj ini adalah bahwa mereka sangat menaruh perhatian besar kepada tauhid dan akidah yang benar. Mereka mempelajarinya, mengajarkannya, berpegang teguh kepadanya, dan mengajak manusia untuk berpegang teguh kepadanya.Inilah ciri pertama yang sangat nampak pada manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu perhatian terhadap akidah tauhid, baik dengan mempelajari, mengamalkan, mengajarkan, maupun mendakwahkannya. Ini juga merupakan metode atau jalan dakwah seluruh Rasul yang Allah Subhanahu wa Ta’ala utus.Setiap Rasul yang telah Allah ‘Azza wa Jalla utus memulai dakwahnya dengan mengajak manusia kepada tauhid dan memperbaiki keyakinan mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan ucapan para Rasul kepada kaumnya dalam firman-Nya,يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ“Wahai kaumku, sembahlah Allah. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia.” (QS. Al-A’raf: 65)Demikian pula ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz bin Jabbal radhiyallahu ‘anhu untuk berdakwah ke Yaman, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ، فَادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ فِي فُقَرَائِهِمْ“Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari kalangan Ahli Kitab. Maka serulah mereka terlebih dahulu untuk bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah. Jika mereka telah menaati seruan itu, maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka salat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka telah menaatinya, maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka sedekah (zakat) yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka lalu diberikan kepada orang-orang fakir di antara mereka.” (HR. Muslim no. 19)Hadis ini menunjukkan bahwa tauhid atau pengesaan Allah ‘Azza wa Jalla dalam ibadah merupakan pondasi utama dalam syariat ini. Perbaikan akidah didahulukan sebelum penyampaian kewajiban-kewajiban syariat lainnya seperti salat dan zakat. Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu untuk mendakwahkan tauhid sebelum mendakwahkan yang lainnya.Inilah manhaj yang ditempuh oleh generasi salaf, seluruh Nabi, dan penutup para Nabi, yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka memulai dakwahnya dengan memperbaiki akidah, mengajak manusia kepada tauhid, berdiri dan kokoh di atasnya, serta menjelaskan segala sesuatu yang bertentangan dengan tauhid atau yang dapat merusaknya, seperti berbagai macam kesyirikan. Mereka juga menjelaskan hal-hal yang dapat mengurangi kesempurnaan tauhid, seperti kemaksiatan, bidah, dan berbagai perkara baru dalam masalah agama.Tauhid, sebagaimana telah dijelaskan, adalah mengesakan Allah ‘Azza wa Jalla dalam seluruh ibadah, meninggalkan penyembahan kepada selain-Nya, serta berlepas diri darinya dan dari para pelakunya. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ“Sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang Rasul (yang menyerukan), ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut’.” (QS. An-Nahl: 36)Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman,وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا“Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya.” (QS. An-Nisa’: 36)Di ayat yang lain juga disebutkan,وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ“Tuhanmu telah menetapkan agar kalian tidak menyembah kepada selain Dia.” (QS. Al-Isra’: 23)Di ayat lain, Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan ucapan kekasih-Nya Al-Khalil (Nabi Ibrahim ‘alaihis salam) kepada ayahnya dan kaumnya,إِنَّنِي بَرَاءٌ مِّمَّا تَعْبُدُونَ، إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي“Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah, kecuali (Allah) yang telah menciptakanku.” (QS. Az-Zukhruf: 26–27)Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama pengikutnya yang beriman lainnya juga mengatakan,إِنَّا بُرَآءُ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ“Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)Para ulama melalui berbagai kajian ilmu yang mendalam, mereka menjelaskan pembahasan tauhid dibagi menjadi tiga bagian:Pertama, tauhid ar-rububiyyah, yaitu mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap perbuatan-Nya, seperti menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan, dan mengatur segala urusan di alam semesta ini.Kedua, tauhid al-uluhiyyah, yaitu mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh setiap hamba-Nya, yang telah Allah ‘Azza wa Jalla syariatkan supaya mereka bisa beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya sesuai dengan tuntunan syariat. Mereka tidak mempersekutukan Allah ‘Azza wa Jalla dengan sesuatu apapun, sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla juga tidak memiliki sekutu dalam hal rububiyyah-Nya.Ketiga, tauhid al-asma’ wa as-sifat, yaitu menetapkan nama dan sifat Allah sesuai dengan yang Allah ‘Azza wa Jalla tetapkan bagi diri-Nya, atau yang Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapkan bagi-Nya dalam sunahnya, tanpa tahrif (mengubah makna), tanpa ta’thil (meniadakan), tanpa tasybih (menyerupakan), dan tanpa tamtsil (mengumpamakan).Ketiga macam tauhid ini telah Allah ‘Azza wa Jalla terangkan di dalam Al-Qur’an pada banyak tempat, di antaranya firman Allah ‘Azza wa Jalla,رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ ۚ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا“Dialah Tuhan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya. Maka sembahlah Dia dan bersabarlah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang setara dengan-Nya?” (QS. Maryam: 65)Ayat ini mencakup ketiga jenis tauhid tersebut. Tauhid ar-rububiyyah ditunjukkan pada bagian,رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ“Tuhan langit dan bumi…”Lalu, tauhid al-uluhiyyah pada bagian,فَاعْبُدْهُ“Maka sembahlah Dia…”Dan tauhid al-asma’ wa as-sifat pada bagian,هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا“Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang setara dengan-Nya?”Inilah manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam masalah tauhid. Adapun perbedaan antara mereka dengan golongan-golongan yang menyimpang dalam akidah adalah bahwa ada orang yang berbuat syirik kepada Allah; di lisanya ia mengucapkan kalimat tauhid atau La ilaaha illallah, akan tetapi ia menyembah kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla. Ia mengakui tauhid dengan lisannya, tetapi membatalkannya dengan ucapan dan perbuatan syiriknya.Ada pula orang-orang yang mengubah makna nama-nama dan sifat-sifat Allah, meniadakannya, atau menakwilkannya tanpa ilmu. Ada pula yang menyerupakan nama-nama dan sifat-sifat Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat makhluk-Nya.Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam manhaj mereka, mereka adalah golongan yang berada di tengah-tengah kaum yang menolak nama dan sifat Allah (al-mu’aththilah) dan kaum yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya (al-mumatstsilah). Mereka juga menetapkan seluruh nama dan sifat Allah Ta’ala sebagaimana yang ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menyerupakan dengan makhluk-Nya, dan menyucikan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari segala kekurangan dan penyerupaan dengan makhluk-Nya, tanpa menolak atau mengingkari seluruh nama dan sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 2***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Ma’alim Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah, karya Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 17-19.

Prinsip-Prinsip Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (Bag. 3)

Berikut adalah beberapa prinsip atau karakteristik manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang sangat nampak dalam kehidupan mereka:Pertama, sangat perhatian dalam masalah akidah dan tauhidDi antara prinsip pertama manhaj ini adalah bahwa mereka sangat menaruh perhatian besar kepada tauhid dan akidah yang benar. Mereka mempelajarinya, mengajarkannya, berpegang teguh kepadanya, dan mengajak manusia untuk berpegang teguh kepadanya.Inilah ciri pertama yang sangat nampak pada manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu perhatian terhadap akidah tauhid, baik dengan mempelajari, mengamalkan, mengajarkan, maupun mendakwahkannya. Ini juga merupakan metode atau jalan dakwah seluruh Rasul yang Allah Subhanahu wa Ta’ala utus.Setiap Rasul yang telah Allah ‘Azza wa Jalla utus memulai dakwahnya dengan mengajak manusia kepada tauhid dan memperbaiki keyakinan mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan ucapan para Rasul kepada kaumnya dalam firman-Nya,يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ“Wahai kaumku, sembahlah Allah. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia.” (QS. Al-A’raf: 65)Demikian pula ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz bin Jabbal radhiyallahu ‘anhu untuk berdakwah ke Yaman, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ، فَادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ فِي فُقَرَائِهِمْ“Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari kalangan Ahli Kitab. Maka serulah mereka terlebih dahulu untuk bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah. Jika mereka telah menaati seruan itu, maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka salat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka telah menaatinya, maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka sedekah (zakat) yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka lalu diberikan kepada orang-orang fakir di antara mereka.” (HR. Muslim no. 19)Hadis ini menunjukkan bahwa tauhid atau pengesaan Allah ‘Azza wa Jalla dalam ibadah merupakan pondasi utama dalam syariat ini. Perbaikan akidah didahulukan sebelum penyampaian kewajiban-kewajiban syariat lainnya seperti salat dan zakat. Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu untuk mendakwahkan tauhid sebelum mendakwahkan yang lainnya.Inilah manhaj yang ditempuh oleh generasi salaf, seluruh Nabi, dan penutup para Nabi, yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka memulai dakwahnya dengan memperbaiki akidah, mengajak manusia kepada tauhid, berdiri dan kokoh di atasnya, serta menjelaskan segala sesuatu yang bertentangan dengan tauhid atau yang dapat merusaknya, seperti berbagai macam kesyirikan. Mereka juga menjelaskan hal-hal yang dapat mengurangi kesempurnaan tauhid, seperti kemaksiatan, bidah, dan berbagai perkara baru dalam masalah agama.Tauhid, sebagaimana telah dijelaskan, adalah mengesakan Allah ‘Azza wa Jalla dalam seluruh ibadah, meninggalkan penyembahan kepada selain-Nya, serta berlepas diri darinya dan dari para pelakunya. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ“Sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang Rasul (yang menyerukan), ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut’.” (QS. An-Nahl: 36)Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman,وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا“Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya.” (QS. An-Nisa’: 36)Di ayat yang lain juga disebutkan,وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ“Tuhanmu telah menetapkan agar kalian tidak menyembah kepada selain Dia.” (QS. Al-Isra’: 23)Di ayat lain, Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan ucapan kekasih-Nya Al-Khalil (Nabi Ibrahim ‘alaihis salam) kepada ayahnya dan kaumnya,إِنَّنِي بَرَاءٌ مِّمَّا تَعْبُدُونَ، إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي“Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah, kecuali (Allah) yang telah menciptakanku.” (QS. Az-Zukhruf: 26–27)Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama pengikutnya yang beriman lainnya juga mengatakan,إِنَّا بُرَآءُ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ“Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)Para ulama melalui berbagai kajian ilmu yang mendalam, mereka menjelaskan pembahasan tauhid dibagi menjadi tiga bagian:Pertama, tauhid ar-rububiyyah, yaitu mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap perbuatan-Nya, seperti menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan, dan mengatur segala urusan di alam semesta ini.Kedua, tauhid al-uluhiyyah, yaitu mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh setiap hamba-Nya, yang telah Allah ‘Azza wa Jalla syariatkan supaya mereka bisa beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya sesuai dengan tuntunan syariat. Mereka tidak mempersekutukan Allah ‘Azza wa Jalla dengan sesuatu apapun, sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla juga tidak memiliki sekutu dalam hal rububiyyah-Nya.Ketiga, tauhid al-asma’ wa as-sifat, yaitu menetapkan nama dan sifat Allah sesuai dengan yang Allah ‘Azza wa Jalla tetapkan bagi diri-Nya, atau yang Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapkan bagi-Nya dalam sunahnya, tanpa tahrif (mengubah makna), tanpa ta’thil (meniadakan), tanpa tasybih (menyerupakan), dan tanpa tamtsil (mengumpamakan).Ketiga macam tauhid ini telah Allah ‘Azza wa Jalla terangkan di dalam Al-Qur’an pada banyak tempat, di antaranya firman Allah ‘Azza wa Jalla,رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ ۚ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا“Dialah Tuhan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya. Maka sembahlah Dia dan bersabarlah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang setara dengan-Nya?” (QS. Maryam: 65)Ayat ini mencakup ketiga jenis tauhid tersebut. Tauhid ar-rububiyyah ditunjukkan pada bagian,رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ“Tuhan langit dan bumi…”Lalu, tauhid al-uluhiyyah pada bagian,فَاعْبُدْهُ“Maka sembahlah Dia…”Dan tauhid al-asma’ wa as-sifat pada bagian,هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا“Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang setara dengan-Nya?”Inilah manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam masalah tauhid. Adapun perbedaan antara mereka dengan golongan-golongan yang menyimpang dalam akidah adalah bahwa ada orang yang berbuat syirik kepada Allah; di lisanya ia mengucapkan kalimat tauhid atau La ilaaha illallah, akan tetapi ia menyembah kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla. Ia mengakui tauhid dengan lisannya, tetapi membatalkannya dengan ucapan dan perbuatan syiriknya.Ada pula orang-orang yang mengubah makna nama-nama dan sifat-sifat Allah, meniadakannya, atau menakwilkannya tanpa ilmu. Ada pula yang menyerupakan nama-nama dan sifat-sifat Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat makhluk-Nya.Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam manhaj mereka, mereka adalah golongan yang berada di tengah-tengah kaum yang menolak nama dan sifat Allah (al-mu’aththilah) dan kaum yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya (al-mumatstsilah). Mereka juga menetapkan seluruh nama dan sifat Allah Ta’ala sebagaimana yang ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menyerupakan dengan makhluk-Nya, dan menyucikan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari segala kekurangan dan penyerupaan dengan makhluk-Nya, tanpa menolak atau mengingkari seluruh nama dan sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 2***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Ma’alim Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah, karya Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 17-19.
Berikut adalah beberapa prinsip atau karakteristik manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang sangat nampak dalam kehidupan mereka:Pertama, sangat perhatian dalam masalah akidah dan tauhidDi antara prinsip pertama manhaj ini adalah bahwa mereka sangat menaruh perhatian besar kepada tauhid dan akidah yang benar. Mereka mempelajarinya, mengajarkannya, berpegang teguh kepadanya, dan mengajak manusia untuk berpegang teguh kepadanya.Inilah ciri pertama yang sangat nampak pada manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu perhatian terhadap akidah tauhid, baik dengan mempelajari, mengamalkan, mengajarkan, maupun mendakwahkannya. Ini juga merupakan metode atau jalan dakwah seluruh Rasul yang Allah Subhanahu wa Ta’ala utus.Setiap Rasul yang telah Allah ‘Azza wa Jalla utus memulai dakwahnya dengan mengajak manusia kepada tauhid dan memperbaiki keyakinan mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan ucapan para Rasul kepada kaumnya dalam firman-Nya,يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ“Wahai kaumku, sembahlah Allah. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia.” (QS. Al-A’raf: 65)Demikian pula ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz bin Jabbal radhiyallahu ‘anhu untuk berdakwah ke Yaman, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ، فَادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ فِي فُقَرَائِهِمْ“Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari kalangan Ahli Kitab. Maka serulah mereka terlebih dahulu untuk bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah. Jika mereka telah menaati seruan itu, maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka salat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka telah menaatinya, maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka sedekah (zakat) yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka lalu diberikan kepada orang-orang fakir di antara mereka.” (HR. Muslim no. 19)Hadis ini menunjukkan bahwa tauhid atau pengesaan Allah ‘Azza wa Jalla dalam ibadah merupakan pondasi utama dalam syariat ini. Perbaikan akidah didahulukan sebelum penyampaian kewajiban-kewajiban syariat lainnya seperti salat dan zakat. Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu untuk mendakwahkan tauhid sebelum mendakwahkan yang lainnya.Inilah manhaj yang ditempuh oleh generasi salaf, seluruh Nabi, dan penutup para Nabi, yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka memulai dakwahnya dengan memperbaiki akidah, mengajak manusia kepada tauhid, berdiri dan kokoh di atasnya, serta menjelaskan segala sesuatu yang bertentangan dengan tauhid atau yang dapat merusaknya, seperti berbagai macam kesyirikan. Mereka juga menjelaskan hal-hal yang dapat mengurangi kesempurnaan tauhid, seperti kemaksiatan, bidah, dan berbagai perkara baru dalam masalah agama.Tauhid, sebagaimana telah dijelaskan, adalah mengesakan Allah ‘Azza wa Jalla dalam seluruh ibadah, meninggalkan penyembahan kepada selain-Nya, serta berlepas diri darinya dan dari para pelakunya. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ“Sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang Rasul (yang menyerukan), ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut’.” (QS. An-Nahl: 36)Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman,وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا“Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya.” (QS. An-Nisa’: 36)Di ayat yang lain juga disebutkan,وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ“Tuhanmu telah menetapkan agar kalian tidak menyembah kepada selain Dia.” (QS. Al-Isra’: 23)Di ayat lain, Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan ucapan kekasih-Nya Al-Khalil (Nabi Ibrahim ‘alaihis salam) kepada ayahnya dan kaumnya,إِنَّنِي بَرَاءٌ مِّمَّا تَعْبُدُونَ، إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي“Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah, kecuali (Allah) yang telah menciptakanku.” (QS. Az-Zukhruf: 26–27)Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama pengikutnya yang beriman lainnya juga mengatakan,إِنَّا بُرَآءُ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ“Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)Para ulama melalui berbagai kajian ilmu yang mendalam, mereka menjelaskan pembahasan tauhid dibagi menjadi tiga bagian:Pertama, tauhid ar-rububiyyah, yaitu mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap perbuatan-Nya, seperti menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan, dan mengatur segala urusan di alam semesta ini.Kedua, tauhid al-uluhiyyah, yaitu mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh setiap hamba-Nya, yang telah Allah ‘Azza wa Jalla syariatkan supaya mereka bisa beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya sesuai dengan tuntunan syariat. Mereka tidak mempersekutukan Allah ‘Azza wa Jalla dengan sesuatu apapun, sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla juga tidak memiliki sekutu dalam hal rububiyyah-Nya.Ketiga, tauhid al-asma’ wa as-sifat, yaitu menetapkan nama dan sifat Allah sesuai dengan yang Allah ‘Azza wa Jalla tetapkan bagi diri-Nya, atau yang Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapkan bagi-Nya dalam sunahnya, tanpa tahrif (mengubah makna), tanpa ta’thil (meniadakan), tanpa tasybih (menyerupakan), dan tanpa tamtsil (mengumpamakan).Ketiga macam tauhid ini telah Allah ‘Azza wa Jalla terangkan di dalam Al-Qur’an pada banyak tempat, di antaranya firman Allah ‘Azza wa Jalla,رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ ۚ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا“Dialah Tuhan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya. Maka sembahlah Dia dan bersabarlah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang setara dengan-Nya?” (QS. Maryam: 65)Ayat ini mencakup ketiga jenis tauhid tersebut. Tauhid ar-rububiyyah ditunjukkan pada bagian,رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ“Tuhan langit dan bumi…”Lalu, tauhid al-uluhiyyah pada bagian,فَاعْبُدْهُ“Maka sembahlah Dia…”Dan tauhid al-asma’ wa as-sifat pada bagian,هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا“Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang setara dengan-Nya?”Inilah manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam masalah tauhid. Adapun perbedaan antara mereka dengan golongan-golongan yang menyimpang dalam akidah adalah bahwa ada orang yang berbuat syirik kepada Allah; di lisanya ia mengucapkan kalimat tauhid atau La ilaaha illallah, akan tetapi ia menyembah kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla. Ia mengakui tauhid dengan lisannya, tetapi membatalkannya dengan ucapan dan perbuatan syiriknya.Ada pula orang-orang yang mengubah makna nama-nama dan sifat-sifat Allah, meniadakannya, atau menakwilkannya tanpa ilmu. Ada pula yang menyerupakan nama-nama dan sifat-sifat Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat makhluk-Nya.Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam manhaj mereka, mereka adalah golongan yang berada di tengah-tengah kaum yang menolak nama dan sifat Allah (al-mu’aththilah) dan kaum yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya (al-mumatstsilah). Mereka juga menetapkan seluruh nama dan sifat Allah Ta’ala sebagaimana yang ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menyerupakan dengan makhluk-Nya, dan menyucikan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari segala kekurangan dan penyerupaan dengan makhluk-Nya, tanpa menolak atau mengingkari seluruh nama dan sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 2***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Ma’alim Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah, karya Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 17-19.


Berikut adalah beberapa prinsip atau karakteristik manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang sangat nampak dalam kehidupan mereka:Pertama, sangat perhatian dalam masalah akidah dan tauhidDi antara prinsip pertama manhaj ini adalah bahwa mereka sangat menaruh perhatian besar kepada tauhid dan akidah yang benar. Mereka mempelajarinya, mengajarkannya, berpegang teguh kepadanya, dan mengajak manusia untuk berpegang teguh kepadanya.Inilah ciri pertama yang sangat nampak pada manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu perhatian terhadap akidah tauhid, baik dengan mempelajari, mengamalkan, mengajarkan, maupun mendakwahkannya. Ini juga merupakan metode atau jalan dakwah seluruh Rasul yang Allah Subhanahu wa Ta’ala utus.Setiap Rasul yang telah Allah ‘Azza wa Jalla utus memulai dakwahnya dengan mengajak manusia kepada tauhid dan memperbaiki keyakinan mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan ucapan para Rasul kepada kaumnya dalam firman-Nya,يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ“Wahai kaumku, sembahlah Allah. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia.” (QS. Al-A’raf: 65)Demikian pula ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz bin Jabbal radhiyallahu ‘anhu untuk berdakwah ke Yaman, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ، فَادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ فِي فُقَرَائِهِمْ“Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari kalangan Ahli Kitab. Maka serulah mereka terlebih dahulu untuk bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah. Jika mereka telah menaati seruan itu, maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka salat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka telah menaatinya, maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka sedekah (zakat) yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka lalu diberikan kepada orang-orang fakir di antara mereka.” (HR. Muslim no. 19)Hadis ini menunjukkan bahwa tauhid atau pengesaan Allah ‘Azza wa Jalla dalam ibadah merupakan pondasi utama dalam syariat ini. Perbaikan akidah didahulukan sebelum penyampaian kewajiban-kewajiban syariat lainnya seperti salat dan zakat. Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu untuk mendakwahkan tauhid sebelum mendakwahkan yang lainnya.Inilah manhaj yang ditempuh oleh generasi salaf, seluruh Nabi, dan penutup para Nabi, yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka memulai dakwahnya dengan memperbaiki akidah, mengajak manusia kepada tauhid, berdiri dan kokoh di atasnya, serta menjelaskan segala sesuatu yang bertentangan dengan tauhid atau yang dapat merusaknya, seperti berbagai macam kesyirikan. Mereka juga menjelaskan hal-hal yang dapat mengurangi kesempurnaan tauhid, seperti kemaksiatan, bidah, dan berbagai perkara baru dalam masalah agama.Tauhid, sebagaimana telah dijelaskan, adalah mengesakan Allah ‘Azza wa Jalla dalam seluruh ibadah, meninggalkan penyembahan kepada selain-Nya, serta berlepas diri darinya dan dari para pelakunya. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ“Sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang Rasul (yang menyerukan), ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut’.” (QS. An-Nahl: 36)Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman,وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا“Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya.” (QS. An-Nisa’: 36)Di ayat yang lain juga disebutkan,وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ“Tuhanmu telah menetapkan agar kalian tidak menyembah kepada selain Dia.” (QS. Al-Isra’: 23)Di ayat lain, Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan ucapan kekasih-Nya Al-Khalil (Nabi Ibrahim ‘alaihis salam) kepada ayahnya dan kaumnya,إِنَّنِي بَرَاءٌ مِّمَّا تَعْبُدُونَ، إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي“Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah, kecuali (Allah) yang telah menciptakanku.” (QS. Az-Zukhruf: 26–27)Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama pengikutnya yang beriman lainnya juga mengatakan,إِنَّا بُرَآءُ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ“Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)Para ulama melalui berbagai kajian ilmu yang mendalam, mereka menjelaskan pembahasan tauhid dibagi menjadi tiga bagian:Pertama, tauhid ar-rububiyyah, yaitu mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap perbuatan-Nya, seperti menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan, dan mengatur segala urusan di alam semesta ini.Kedua, tauhid al-uluhiyyah, yaitu mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh setiap hamba-Nya, yang telah Allah ‘Azza wa Jalla syariatkan supaya mereka bisa beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya sesuai dengan tuntunan syariat. Mereka tidak mempersekutukan Allah ‘Azza wa Jalla dengan sesuatu apapun, sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla juga tidak memiliki sekutu dalam hal rububiyyah-Nya.Ketiga, tauhid al-asma’ wa as-sifat, yaitu menetapkan nama dan sifat Allah sesuai dengan yang Allah ‘Azza wa Jalla tetapkan bagi diri-Nya, atau yang Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapkan bagi-Nya dalam sunahnya, tanpa tahrif (mengubah makna), tanpa ta’thil (meniadakan), tanpa tasybih (menyerupakan), dan tanpa tamtsil (mengumpamakan).Ketiga macam tauhid ini telah Allah ‘Azza wa Jalla terangkan di dalam Al-Qur’an pada banyak tempat, di antaranya firman Allah ‘Azza wa Jalla,رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ ۚ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا“Dialah Tuhan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya. Maka sembahlah Dia dan bersabarlah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang setara dengan-Nya?” (QS. Maryam: 65)Ayat ini mencakup ketiga jenis tauhid tersebut. Tauhid ar-rububiyyah ditunjukkan pada bagian,رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ“Tuhan langit dan bumi…”Lalu, tauhid al-uluhiyyah pada bagian,فَاعْبُدْهُ“Maka sembahlah Dia…”Dan tauhid al-asma’ wa as-sifat pada bagian,هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا“Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang setara dengan-Nya?”Inilah manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam masalah tauhid. Adapun perbedaan antara mereka dengan golongan-golongan yang menyimpang dalam akidah adalah bahwa ada orang yang berbuat syirik kepada Allah; di lisanya ia mengucapkan kalimat tauhid atau La ilaaha illallah, akan tetapi ia menyembah kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla. Ia mengakui tauhid dengan lisannya, tetapi membatalkannya dengan ucapan dan perbuatan syiriknya.Ada pula orang-orang yang mengubah makna nama-nama dan sifat-sifat Allah, meniadakannya, atau menakwilkannya tanpa ilmu. Ada pula yang menyerupakan nama-nama dan sifat-sifat Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat makhluk-Nya.Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam manhaj mereka, mereka adalah golongan yang berada di tengah-tengah kaum yang menolak nama dan sifat Allah (al-mu’aththilah) dan kaum yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya (al-mumatstsilah). Mereka juga menetapkan seluruh nama dan sifat Allah Ta’ala sebagaimana yang ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menyerupakan dengan makhluk-Nya, dan menyucikan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari segala kekurangan dan penyerupaan dengan makhluk-Nya, tanpa menolak atau mengingkari seluruh nama dan sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 2***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Ma’alim Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah, karya Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 17-19.

Bekal Menjadi Pemimpin Terbaik (Bag. 1): Wasiat Thahir bin Al-Husain

Daftar Isi ToggleBekal kepemimpinan terlengkap dalam sejarah IslamMengenal Thahir bin Al-Husain Abu ThayyibMetode pembahasanNasihat agar mensyukuri nikmat kepemimpinan dan bertakwa menjalaninyaKewajiban seorang pemimpin terhadap rakyatnyaFokuslah terhadap amanah kepemimpinanLangkah pertama dalam memimpin rakyat: Ajak salat berjemaah!Ikuti sunah Nabi dan jalan para salafPolitik merupakan permasalahan yang amat pelik, tetapi memiliki urgensi sangat tinggi. Ia menjadi struktur tatanan kehidupan manusia. Hal sepenting ini tentu saja tidak terlewatkan dalam khazanah ilmu Islam. Bekal kepemimpinan politik pun menjadi sangat penting, agar urusan orang jamak ini bisa diurus dengan baik. Bukan hanya bagi pemimpin publik, tetapi juga penting bagi masing-masing kita. Karena Nabi ﷺ bersabda,كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)Bekal kepemimpinan terlengkap dalam sejarah IslamDalam sejarah literatur Islam, ada banyak wasiat politik dan kepemimpinan yang mengandung hikmah bagi kita. Salah satu wasiat terbaik dan paling komprehensif adalah surat yang ditulis oleh Thahir bin Al-Husain kepada anaknya yang menjadi gubernur di masa Khalifah Al-Ma’mun.Ibnu Khaldun rahimahullah menjelaskan ketika surat ini muncul dan tersebar luas, masyarakat takjub padanya. Imam Thabari rahimahullah mengatakan bahwa surat ini begitu fenomenal dan dikaji oleh masyarakat luas. Bahkan surat ini juga sampai kepada Khalifah al-Ma’mun. Ketika surat itu dibacakan kepadanya, ia pun berkata,ما أبقى أبو الطيب – يعني طاهراً – شيئاً من أمور الدنيا والدين، والتدبير والرأي والسياسة، وصلاح المُلكِ والرَّعيَّة، وحفظ السلطان وطاعة الخلفاء وتقويم الخلافة، إلا وقد أحكمه وأوصى به“Abu Thayyib, yakni Thahir, tidak menyisakan satu pun permasalahan dunia, agama, administrasi, pemikiran, politik, kemaslahatan kerajaan dan rakyat, penjagaan pemerintahan, ketaatan kepada para khalifah, dan penegakan khilafah, kecuali beliau telah menegaskannya dan memberikan arahan tentangnya.”Al-Ma’mun kemudian memerintahkan agar surat tersebut disalin dan dikirim ke semua pejabat di berbagai daerah, sehingga mereka bisa menggunakannya sebagai contoh, dan melaksanakan apa yang terkandung di dalamnya. Ibnu Khaldun rahimahullah menilai wasiat Thahir ini adalah wasiat terbaik dalam masalah politik yang ia ketahui.Mengenal Thahir bin Al-Husain Abu ThayyibThahir bin al-Husain bin Mush’ab bin Ruzaiq (159–207 H/775–822 M) ialah seorang amir, panglima tertinggi pasukan, yang dijuluki Dzul Yaminain (Pemilik Dua Tangan/Kedua Kekuatan), kunyahnya Abu Thalhah al-Khuza‘i. Ia adalah tokoh yang menegakkan dan memenangkan kekhalifahan al-Ma’mun.Sebab, al-Ma’mun menugaskannya untuk memerangi saudara seayahnya, yakni al-Amin, pada Perang Saudara Abbasiyah (811–813 M). Dia pun berangkat memimpin pasukan yang sangat besar, lalu mengepung al-Amin. Ia berhasil mengalahkannya dan membunuhnya setelah al-Amin tertawan. Ia pun mendapatkan posisi gubernur seperti di Khurasan.Ia adalah seorang yang berani, berwibawa, cerdas, dan lihai dalam berstrategi, dermawan, serta banyak dipuji. Ia meriwayatkan hadis dari Abdullah bin al-Mubarak dan riwayatnya pun diteruskan oleh putranya, Abdullah (penerima surat) serta Thalhah.Thahir juga seorang yang berilmu, orator yang fasih, sangat pandai berbicara, serta penyair yang mumpuni. Ia mencapai kedudukan yang sangat tinggi, kemudian wafat pada usia 48 tahun pada tahun 207 H.Dari biografi Thahir dalam Siyar A’lam An-Nubala (10: 108-109), cukup bagi kita untuk semakin merasakan pentingnya mempelajari wasiat beliau dalam kepemimpinan. Karena wasiat ini datang dari seorang pemimpin dan pelaku wasiatnya sendiri. Tidak hanya berbasis pengalaman, tetapi hasilnya juga sudah terbukti. Termasuk pengejawantahan oleh Abdullah, penerima surat, yang berjaya di negeri kekuasaannya.Metode pembahasanArtikel ini akan ditulis dengan menukil secara umum wasiat Thahir yang cukup panjang. Kurang lebih surat ini berisi 2500 kata dalam versi arabnya, tentu dalam bahasa Indonesia akan lebih panjang dari itu. Oleh karena itu, pada beberapa bagian akan dipotong dan diambilkan faidah intinya. Kemudian ditambahkan faidah ataupun nukilan ayat dan hadis yang relevan dengan wasiatnya.Setiap potongan wasiat akan diberikan subjudul yang memudahkan untuk mengambil pesan inti dari paragraf tersebut. Tulisan ini diambil dari berbagai sumber dengan keterbatasan penulis, di antaranya:1) Muqaddimah Ibnu Khaldun, cet. Muassasah Risalah, ed. Musthafa Syaikh Musthafa.2) Wasiat Thahir bin Al-Husain dalam Tarikh Thabari dari net.3) Muntakhab Washaya Aba lil Abna’, karya Wail Hafizh Khalaf sebagai acuan penataan paragraf.Terjemahan dicek dengan acuan:4) Muqaddimah Ibnu Khaldun, cet. Wali Pustaka, pent. Ahmadie Thaha.5) Serta dibantu Google dan ChatGPT untuk memahami frasa yang tidak dipahami.Wasiat Thahir ini sangat penting untuk diketahui khalayak ramai karena faidahnya yang banyak sekali. Namun sayangnya, belum ada artikel berbahasa Indonesia di internet yang menyajikan ini. Semoga tulisan ini menjadi wasilah untuk kita semua dapat mempelajarinya.Nasihat agar mensyukuri nikmat kepemimpinan dan bertakwa menjalaninyaDengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Amma ba’du.Hendaklah seorang pemimpin bertakwa kepada Allah semata, sebab tiada sekutu bagi-Nya. Takutlah kepada-Nya, hendaklah selalu merasa diawasi oleh-Nya, menjauhi segala yang mendatangkan kemurkaan-Nya, serta menjaga rakyatmu. Peliharalah selalu kesehatan yang telah diberikan Allah kepadamu, dengan mengingat tempatmu kembali dan ke mana engkau akan pergi, serta hal-hal yang akan menjadi perhatianmu dan yang akan engkau pertanggungjawabkan. Juga, pastikan dirimu untuk melakukan semua itu sedemikian rupa, sehingga pada hari kiamat, Allah akan melindungimu dan menyelamatkanmu dari siksaan-Nya dan kepedihan azab-Nya. Sungguh, Allah ﷻ telah berbuat baik kepadamu, dan mewajibkan engkau memberikan kasih sayang kepada orang-orang di antara hamba-Nya yang memintamu mengatur urusan mereka.Kewajiban seorang pemimpin terhadap rakyatnyaAllah ﷻ telah mewajibkan seorang pemimpin kepada rakyatnya untuk berlaku seperti berikut ini:Memberikan kasih sayang,Berbuat adil,Menegakkan hak-Nya dan hukum-Nya pada rakyat,Membela, melindungi keluarga dan istri mereka,Mencegah pertumpahan darah,Memastikan jalan mereka aman,Menghadirkan kenyamanan dalam penghidupan mereka.Thahir akan banyak menyebutkan poin nasihat secara berurutan seperti ini dan mengulanginya beberapa kali. Kami berusaha menyusunnya sesuai dengan tema pembahasan tanpa mengurangi esensi pesannya.Setelah menyampaikan kewajiban-kewajiban ini, Thahir bin Al-Husain menyampaikan pengingat bahwa amanah ini akan dipertanggungjawabkan:ومؤاخذك بما فرض عليك من ذلك وموقفك عليه ومسائلك عنه ومثيبك عليه بما قدمت وأخرتAllah ﷻ akan meminta pertanggungjawabanmu atas apa yang telah Allah ﷻ wajibkan kepadamu dalam hal ini. Dan Allah ﷻ akan menanyaimu tentang hal itu dan memberimu pahala atas apa yang telah kamu lakukan dan apa yang belum kamu lakukan.Fokuslah terhadap amanah kepemimpinanKonsentrasikanlah pikiran, otak, dan penglihatanmu untuk memimpin rakyat. Jangan sampai ada gangguan yang menarik perhatianmu dari itu. Inilah tugasmu yang pokok dan penting. Inilah hal pertama yang dengannya Allah akan memberikan bimbingan sukses kepadamu.Langkah pertama dalam memimpin rakyat: Ajak salat berjemaah!Selanjutnya, hendaklah hal pertama yang diwajibkan atas diri seorang pemimpin adalah senantiasa menjalankan salat lima waktu dengan berjemaah bersama orang yang dipimpin. Bahkan, Thahir bin Al-Husain merincikan seluruh tata cara yang hendaknya dilakukan, yakni:Berwudu sebelum salat,Memulai salat dengan bertakbir,Membaca ayat dengan tartil,Menyempurnakan rukuk, sujud, dan tasyahud,Senantiasa meluruskan niat salat,Mengajak orang-orang, khususnya di ring-1 nya untuk salat berjemaah.Apa hikmahnya? Thahir bin Al-Husain membawakan ayat,ٱتْلُ مَآ أُوحِىَ إِلَيْكَ مِنَ ٱلْكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ ٱللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al Quran) dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ankabut: 45)Ikuti sunah Nabi dan jalan para salafثم أتبع ذلك الأخذ بسنن رسول الله صلى الله عليه وسلم والمثابرة على خلائقه واقتفاء آثار السلف الصالح من بعدهKemudian, hendaklah ini diikuti dengan mengadopsi sunah-sunah Rasulullah ﷺ, selalu menerapkan akhlak-akhlaknya, dan mengikuti tradisi para salaf saleh setelah beliau.Apabila datang kepadamu suatu urusan, maka mintalah pertolongan kepada Allah dengan istikharah, ketakwaan kepada-Nya, serta berpegang teguh kepada apa yang Allah turunkan dalam kitab-Nya berupa perintah, larangan, halal, dan haram. Ikutilah pula apa yang datang dalam atsar-atsar dari Nabi ﷺ, kemudian tegakkanlah dalam perkara itu apa yang menjadi hak Allah atasmu.Bagian awal dari wasiat Thahir ini menjadi keistimewaannya dibandingkan wejangan politik lainnya. Thahir memulai panduannya dengan penekanan pada bekal ketakwaan. Tidak hanya pengaplikasian pada gagasan dan filosofi, tetapi juga pada level praktikal, yakni mengajak rakyat untuk salat berjemaah. Tentu saja hal ini tidak ditemukan pada wejangan politik dari peradaban lain.Tidak hanya itu, wasiat Thahir juga menekankan untuk berpegang pada sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan jalan para salaf. Hal ini tentu merupakan bawaan dari pribadinya yang hidup dalam tradisi ahli hadis. Sehingga semangat kembali kepada sunah terus diwariskan dalam paradigma kepemimpinan pada anaknya. Wasiat ini menjadi keistimewaan tersendiri. Lebih daripada itu, tentu saja pesan utamanya adalah para pemimpin hendaknya memperhatikan urusan ketakwaan dan kecocokan kepada sunah dalam kepemimpinannya. Wallahu a’lam.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id

Bekal Menjadi Pemimpin Terbaik (Bag. 1): Wasiat Thahir bin Al-Husain

Daftar Isi ToggleBekal kepemimpinan terlengkap dalam sejarah IslamMengenal Thahir bin Al-Husain Abu ThayyibMetode pembahasanNasihat agar mensyukuri nikmat kepemimpinan dan bertakwa menjalaninyaKewajiban seorang pemimpin terhadap rakyatnyaFokuslah terhadap amanah kepemimpinanLangkah pertama dalam memimpin rakyat: Ajak salat berjemaah!Ikuti sunah Nabi dan jalan para salafPolitik merupakan permasalahan yang amat pelik, tetapi memiliki urgensi sangat tinggi. Ia menjadi struktur tatanan kehidupan manusia. Hal sepenting ini tentu saja tidak terlewatkan dalam khazanah ilmu Islam. Bekal kepemimpinan politik pun menjadi sangat penting, agar urusan orang jamak ini bisa diurus dengan baik. Bukan hanya bagi pemimpin publik, tetapi juga penting bagi masing-masing kita. Karena Nabi ﷺ bersabda,كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)Bekal kepemimpinan terlengkap dalam sejarah IslamDalam sejarah literatur Islam, ada banyak wasiat politik dan kepemimpinan yang mengandung hikmah bagi kita. Salah satu wasiat terbaik dan paling komprehensif adalah surat yang ditulis oleh Thahir bin Al-Husain kepada anaknya yang menjadi gubernur di masa Khalifah Al-Ma’mun.Ibnu Khaldun rahimahullah menjelaskan ketika surat ini muncul dan tersebar luas, masyarakat takjub padanya. Imam Thabari rahimahullah mengatakan bahwa surat ini begitu fenomenal dan dikaji oleh masyarakat luas. Bahkan surat ini juga sampai kepada Khalifah al-Ma’mun. Ketika surat itu dibacakan kepadanya, ia pun berkata,ما أبقى أبو الطيب – يعني طاهراً – شيئاً من أمور الدنيا والدين، والتدبير والرأي والسياسة، وصلاح المُلكِ والرَّعيَّة، وحفظ السلطان وطاعة الخلفاء وتقويم الخلافة، إلا وقد أحكمه وأوصى به“Abu Thayyib, yakni Thahir, tidak menyisakan satu pun permasalahan dunia, agama, administrasi, pemikiran, politik, kemaslahatan kerajaan dan rakyat, penjagaan pemerintahan, ketaatan kepada para khalifah, dan penegakan khilafah, kecuali beliau telah menegaskannya dan memberikan arahan tentangnya.”Al-Ma’mun kemudian memerintahkan agar surat tersebut disalin dan dikirim ke semua pejabat di berbagai daerah, sehingga mereka bisa menggunakannya sebagai contoh, dan melaksanakan apa yang terkandung di dalamnya. Ibnu Khaldun rahimahullah menilai wasiat Thahir ini adalah wasiat terbaik dalam masalah politik yang ia ketahui.Mengenal Thahir bin Al-Husain Abu ThayyibThahir bin al-Husain bin Mush’ab bin Ruzaiq (159–207 H/775–822 M) ialah seorang amir, panglima tertinggi pasukan, yang dijuluki Dzul Yaminain (Pemilik Dua Tangan/Kedua Kekuatan), kunyahnya Abu Thalhah al-Khuza‘i. Ia adalah tokoh yang menegakkan dan memenangkan kekhalifahan al-Ma’mun.Sebab, al-Ma’mun menugaskannya untuk memerangi saudara seayahnya, yakni al-Amin, pada Perang Saudara Abbasiyah (811–813 M). Dia pun berangkat memimpin pasukan yang sangat besar, lalu mengepung al-Amin. Ia berhasil mengalahkannya dan membunuhnya setelah al-Amin tertawan. Ia pun mendapatkan posisi gubernur seperti di Khurasan.Ia adalah seorang yang berani, berwibawa, cerdas, dan lihai dalam berstrategi, dermawan, serta banyak dipuji. Ia meriwayatkan hadis dari Abdullah bin al-Mubarak dan riwayatnya pun diteruskan oleh putranya, Abdullah (penerima surat) serta Thalhah.Thahir juga seorang yang berilmu, orator yang fasih, sangat pandai berbicara, serta penyair yang mumpuni. Ia mencapai kedudukan yang sangat tinggi, kemudian wafat pada usia 48 tahun pada tahun 207 H.Dari biografi Thahir dalam Siyar A’lam An-Nubala (10: 108-109), cukup bagi kita untuk semakin merasakan pentingnya mempelajari wasiat beliau dalam kepemimpinan. Karena wasiat ini datang dari seorang pemimpin dan pelaku wasiatnya sendiri. Tidak hanya berbasis pengalaman, tetapi hasilnya juga sudah terbukti. Termasuk pengejawantahan oleh Abdullah, penerima surat, yang berjaya di negeri kekuasaannya.Metode pembahasanArtikel ini akan ditulis dengan menukil secara umum wasiat Thahir yang cukup panjang. Kurang lebih surat ini berisi 2500 kata dalam versi arabnya, tentu dalam bahasa Indonesia akan lebih panjang dari itu. Oleh karena itu, pada beberapa bagian akan dipotong dan diambilkan faidah intinya. Kemudian ditambahkan faidah ataupun nukilan ayat dan hadis yang relevan dengan wasiatnya.Setiap potongan wasiat akan diberikan subjudul yang memudahkan untuk mengambil pesan inti dari paragraf tersebut. Tulisan ini diambil dari berbagai sumber dengan keterbatasan penulis, di antaranya:1) Muqaddimah Ibnu Khaldun, cet. Muassasah Risalah, ed. Musthafa Syaikh Musthafa.2) Wasiat Thahir bin Al-Husain dalam Tarikh Thabari dari net.3) Muntakhab Washaya Aba lil Abna’, karya Wail Hafizh Khalaf sebagai acuan penataan paragraf.Terjemahan dicek dengan acuan:4) Muqaddimah Ibnu Khaldun, cet. Wali Pustaka, pent. Ahmadie Thaha.5) Serta dibantu Google dan ChatGPT untuk memahami frasa yang tidak dipahami.Wasiat Thahir ini sangat penting untuk diketahui khalayak ramai karena faidahnya yang banyak sekali. Namun sayangnya, belum ada artikel berbahasa Indonesia di internet yang menyajikan ini. Semoga tulisan ini menjadi wasilah untuk kita semua dapat mempelajarinya.Nasihat agar mensyukuri nikmat kepemimpinan dan bertakwa menjalaninyaDengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Amma ba’du.Hendaklah seorang pemimpin bertakwa kepada Allah semata, sebab tiada sekutu bagi-Nya. Takutlah kepada-Nya, hendaklah selalu merasa diawasi oleh-Nya, menjauhi segala yang mendatangkan kemurkaan-Nya, serta menjaga rakyatmu. Peliharalah selalu kesehatan yang telah diberikan Allah kepadamu, dengan mengingat tempatmu kembali dan ke mana engkau akan pergi, serta hal-hal yang akan menjadi perhatianmu dan yang akan engkau pertanggungjawabkan. Juga, pastikan dirimu untuk melakukan semua itu sedemikian rupa, sehingga pada hari kiamat, Allah akan melindungimu dan menyelamatkanmu dari siksaan-Nya dan kepedihan azab-Nya. Sungguh, Allah ﷻ telah berbuat baik kepadamu, dan mewajibkan engkau memberikan kasih sayang kepada orang-orang di antara hamba-Nya yang memintamu mengatur urusan mereka.Kewajiban seorang pemimpin terhadap rakyatnyaAllah ﷻ telah mewajibkan seorang pemimpin kepada rakyatnya untuk berlaku seperti berikut ini:Memberikan kasih sayang,Berbuat adil,Menegakkan hak-Nya dan hukum-Nya pada rakyat,Membela, melindungi keluarga dan istri mereka,Mencegah pertumpahan darah,Memastikan jalan mereka aman,Menghadirkan kenyamanan dalam penghidupan mereka.Thahir akan banyak menyebutkan poin nasihat secara berurutan seperti ini dan mengulanginya beberapa kali. Kami berusaha menyusunnya sesuai dengan tema pembahasan tanpa mengurangi esensi pesannya.Setelah menyampaikan kewajiban-kewajiban ini, Thahir bin Al-Husain menyampaikan pengingat bahwa amanah ini akan dipertanggungjawabkan:ومؤاخذك بما فرض عليك من ذلك وموقفك عليه ومسائلك عنه ومثيبك عليه بما قدمت وأخرتAllah ﷻ akan meminta pertanggungjawabanmu atas apa yang telah Allah ﷻ wajibkan kepadamu dalam hal ini. Dan Allah ﷻ akan menanyaimu tentang hal itu dan memberimu pahala atas apa yang telah kamu lakukan dan apa yang belum kamu lakukan.Fokuslah terhadap amanah kepemimpinanKonsentrasikanlah pikiran, otak, dan penglihatanmu untuk memimpin rakyat. Jangan sampai ada gangguan yang menarik perhatianmu dari itu. Inilah tugasmu yang pokok dan penting. Inilah hal pertama yang dengannya Allah akan memberikan bimbingan sukses kepadamu.Langkah pertama dalam memimpin rakyat: Ajak salat berjemaah!Selanjutnya, hendaklah hal pertama yang diwajibkan atas diri seorang pemimpin adalah senantiasa menjalankan salat lima waktu dengan berjemaah bersama orang yang dipimpin. Bahkan, Thahir bin Al-Husain merincikan seluruh tata cara yang hendaknya dilakukan, yakni:Berwudu sebelum salat,Memulai salat dengan bertakbir,Membaca ayat dengan tartil,Menyempurnakan rukuk, sujud, dan tasyahud,Senantiasa meluruskan niat salat,Mengajak orang-orang, khususnya di ring-1 nya untuk salat berjemaah.Apa hikmahnya? Thahir bin Al-Husain membawakan ayat,ٱتْلُ مَآ أُوحِىَ إِلَيْكَ مِنَ ٱلْكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ ٱللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al Quran) dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ankabut: 45)Ikuti sunah Nabi dan jalan para salafثم أتبع ذلك الأخذ بسنن رسول الله صلى الله عليه وسلم والمثابرة على خلائقه واقتفاء آثار السلف الصالح من بعدهKemudian, hendaklah ini diikuti dengan mengadopsi sunah-sunah Rasulullah ﷺ, selalu menerapkan akhlak-akhlaknya, dan mengikuti tradisi para salaf saleh setelah beliau.Apabila datang kepadamu suatu urusan, maka mintalah pertolongan kepada Allah dengan istikharah, ketakwaan kepada-Nya, serta berpegang teguh kepada apa yang Allah turunkan dalam kitab-Nya berupa perintah, larangan, halal, dan haram. Ikutilah pula apa yang datang dalam atsar-atsar dari Nabi ﷺ, kemudian tegakkanlah dalam perkara itu apa yang menjadi hak Allah atasmu.Bagian awal dari wasiat Thahir ini menjadi keistimewaannya dibandingkan wejangan politik lainnya. Thahir memulai panduannya dengan penekanan pada bekal ketakwaan. Tidak hanya pengaplikasian pada gagasan dan filosofi, tetapi juga pada level praktikal, yakni mengajak rakyat untuk salat berjemaah. Tentu saja hal ini tidak ditemukan pada wejangan politik dari peradaban lain.Tidak hanya itu, wasiat Thahir juga menekankan untuk berpegang pada sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan jalan para salaf. Hal ini tentu merupakan bawaan dari pribadinya yang hidup dalam tradisi ahli hadis. Sehingga semangat kembali kepada sunah terus diwariskan dalam paradigma kepemimpinan pada anaknya. Wasiat ini menjadi keistimewaan tersendiri. Lebih daripada itu, tentu saja pesan utamanya adalah para pemimpin hendaknya memperhatikan urusan ketakwaan dan kecocokan kepada sunah dalam kepemimpinannya. Wallahu a’lam.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleBekal kepemimpinan terlengkap dalam sejarah IslamMengenal Thahir bin Al-Husain Abu ThayyibMetode pembahasanNasihat agar mensyukuri nikmat kepemimpinan dan bertakwa menjalaninyaKewajiban seorang pemimpin terhadap rakyatnyaFokuslah terhadap amanah kepemimpinanLangkah pertama dalam memimpin rakyat: Ajak salat berjemaah!Ikuti sunah Nabi dan jalan para salafPolitik merupakan permasalahan yang amat pelik, tetapi memiliki urgensi sangat tinggi. Ia menjadi struktur tatanan kehidupan manusia. Hal sepenting ini tentu saja tidak terlewatkan dalam khazanah ilmu Islam. Bekal kepemimpinan politik pun menjadi sangat penting, agar urusan orang jamak ini bisa diurus dengan baik. Bukan hanya bagi pemimpin publik, tetapi juga penting bagi masing-masing kita. Karena Nabi ﷺ bersabda,كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)Bekal kepemimpinan terlengkap dalam sejarah IslamDalam sejarah literatur Islam, ada banyak wasiat politik dan kepemimpinan yang mengandung hikmah bagi kita. Salah satu wasiat terbaik dan paling komprehensif adalah surat yang ditulis oleh Thahir bin Al-Husain kepada anaknya yang menjadi gubernur di masa Khalifah Al-Ma’mun.Ibnu Khaldun rahimahullah menjelaskan ketika surat ini muncul dan tersebar luas, masyarakat takjub padanya. Imam Thabari rahimahullah mengatakan bahwa surat ini begitu fenomenal dan dikaji oleh masyarakat luas. Bahkan surat ini juga sampai kepada Khalifah al-Ma’mun. Ketika surat itu dibacakan kepadanya, ia pun berkata,ما أبقى أبو الطيب – يعني طاهراً – شيئاً من أمور الدنيا والدين، والتدبير والرأي والسياسة، وصلاح المُلكِ والرَّعيَّة، وحفظ السلطان وطاعة الخلفاء وتقويم الخلافة، إلا وقد أحكمه وأوصى به“Abu Thayyib, yakni Thahir, tidak menyisakan satu pun permasalahan dunia, agama, administrasi, pemikiran, politik, kemaslahatan kerajaan dan rakyat, penjagaan pemerintahan, ketaatan kepada para khalifah, dan penegakan khilafah, kecuali beliau telah menegaskannya dan memberikan arahan tentangnya.”Al-Ma’mun kemudian memerintahkan agar surat tersebut disalin dan dikirim ke semua pejabat di berbagai daerah, sehingga mereka bisa menggunakannya sebagai contoh, dan melaksanakan apa yang terkandung di dalamnya. Ibnu Khaldun rahimahullah menilai wasiat Thahir ini adalah wasiat terbaik dalam masalah politik yang ia ketahui.Mengenal Thahir bin Al-Husain Abu ThayyibThahir bin al-Husain bin Mush’ab bin Ruzaiq (159–207 H/775–822 M) ialah seorang amir, panglima tertinggi pasukan, yang dijuluki Dzul Yaminain (Pemilik Dua Tangan/Kedua Kekuatan), kunyahnya Abu Thalhah al-Khuza‘i. Ia adalah tokoh yang menegakkan dan memenangkan kekhalifahan al-Ma’mun.Sebab, al-Ma’mun menugaskannya untuk memerangi saudara seayahnya, yakni al-Amin, pada Perang Saudara Abbasiyah (811–813 M). Dia pun berangkat memimpin pasukan yang sangat besar, lalu mengepung al-Amin. Ia berhasil mengalahkannya dan membunuhnya setelah al-Amin tertawan. Ia pun mendapatkan posisi gubernur seperti di Khurasan.Ia adalah seorang yang berani, berwibawa, cerdas, dan lihai dalam berstrategi, dermawan, serta banyak dipuji. Ia meriwayatkan hadis dari Abdullah bin al-Mubarak dan riwayatnya pun diteruskan oleh putranya, Abdullah (penerima surat) serta Thalhah.Thahir juga seorang yang berilmu, orator yang fasih, sangat pandai berbicara, serta penyair yang mumpuni. Ia mencapai kedudukan yang sangat tinggi, kemudian wafat pada usia 48 tahun pada tahun 207 H.Dari biografi Thahir dalam Siyar A’lam An-Nubala (10: 108-109), cukup bagi kita untuk semakin merasakan pentingnya mempelajari wasiat beliau dalam kepemimpinan. Karena wasiat ini datang dari seorang pemimpin dan pelaku wasiatnya sendiri. Tidak hanya berbasis pengalaman, tetapi hasilnya juga sudah terbukti. Termasuk pengejawantahan oleh Abdullah, penerima surat, yang berjaya di negeri kekuasaannya.Metode pembahasanArtikel ini akan ditulis dengan menukil secara umum wasiat Thahir yang cukup panjang. Kurang lebih surat ini berisi 2500 kata dalam versi arabnya, tentu dalam bahasa Indonesia akan lebih panjang dari itu. Oleh karena itu, pada beberapa bagian akan dipotong dan diambilkan faidah intinya. Kemudian ditambahkan faidah ataupun nukilan ayat dan hadis yang relevan dengan wasiatnya.Setiap potongan wasiat akan diberikan subjudul yang memudahkan untuk mengambil pesan inti dari paragraf tersebut. Tulisan ini diambil dari berbagai sumber dengan keterbatasan penulis, di antaranya:1) Muqaddimah Ibnu Khaldun, cet. Muassasah Risalah, ed. Musthafa Syaikh Musthafa.2) Wasiat Thahir bin Al-Husain dalam Tarikh Thabari dari net.3) Muntakhab Washaya Aba lil Abna’, karya Wail Hafizh Khalaf sebagai acuan penataan paragraf.Terjemahan dicek dengan acuan:4) Muqaddimah Ibnu Khaldun, cet. Wali Pustaka, pent. Ahmadie Thaha.5) Serta dibantu Google dan ChatGPT untuk memahami frasa yang tidak dipahami.Wasiat Thahir ini sangat penting untuk diketahui khalayak ramai karena faidahnya yang banyak sekali. Namun sayangnya, belum ada artikel berbahasa Indonesia di internet yang menyajikan ini. Semoga tulisan ini menjadi wasilah untuk kita semua dapat mempelajarinya.Nasihat agar mensyukuri nikmat kepemimpinan dan bertakwa menjalaninyaDengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Amma ba’du.Hendaklah seorang pemimpin bertakwa kepada Allah semata, sebab tiada sekutu bagi-Nya. Takutlah kepada-Nya, hendaklah selalu merasa diawasi oleh-Nya, menjauhi segala yang mendatangkan kemurkaan-Nya, serta menjaga rakyatmu. Peliharalah selalu kesehatan yang telah diberikan Allah kepadamu, dengan mengingat tempatmu kembali dan ke mana engkau akan pergi, serta hal-hal yang akan menjadi perhatianmu dan yang akan engkau pertanggungjawabkan. Juga, pastikan dirimu untuk melakukan semua itu sedemikian rupa, sehingga pada hari kiamat, Allah akan melindungimu dan menyelamatkanmu dari siksaan-Nya dan kepedihan azab-Nya. Sungguh, Allah ﷻ telah berbuat baik kepadamu, dan mewajibkan engkau memberikan kasih sayang kepada orang-orang di antara hamba-Nya yang memintamu mengatur urusan mereka.Kewajiban seorang pemimpin terhadap rakyatnyaAllah ﷻ telah mewajibkan seorang pemimpin kepada rakyatnya untuk berlaku seperti berikut ini:Memberikan kasih sayang,Berbuat adil,Menegakkan hak-Nya dan hukum-Nya pada rakyat,Membela, melindungi keluarga dan istri mereka,Mencegah pertumpahan darah,Memastikan jalan mereka aman,Menghadirkan kenyamanan dalam penghidupan mereka.Thahir akan banyak menyebutkan poin nasihat secara berurutan seperti ini dan mengulanginya beberapa kali. Kami berusaha menyusunnya sesuai dengan tema pembahasan tanpa mengurangi esensi pesannya.Setelah menyampaikan kewajiban-kewajiban ini, Thahir bin Al-Husain menyampaikan pengingat bahwa amanah ini akan dipertanggungjawabkan:ومؤاخذك بما فرض عليك من ذلك وموقفك عليه ومسائلك عنه ومثيبك عليه بما قدمت وأخرتAllah ﷻ akan meminta pertanggungjawabanmu atas apa yang telah Allah ﷻ wajibkan kepadamu dalam hal ini. Dan Allah ﷻ akan menanyaimu tentang hal itu dan memberimu pahala atas apa yang telah kamu lakukan dan apa yang belum kamu lakukan.Fokuslah terhadap amanah kepemimpinanKonsentrasikanlah pikiran, otak, dan penglihatanmu untuk memimpin rakyat. Jangan sampai ada gangguan yang menarik perhatianmu dari itu. Inilah tugasmu yang pokok dan penting. Inilah hal pertama yang dengannya Allah akan memberikan bimbingan sukses kepadamu.Langkah pertama dalam memimpin rakyat: Ajak salat berjemaah!Selanjutnya, hendaklah hal pertama yang diwajibkan atas diri seorang pemimpin adalah senantiasa menjalankan salat lima waktu dengan berjemaah bersama orang yang dipimpin. Bahkan, Thahir bin Al-Husain merincikan seluruh tata cara yang hendaknya dilakukan, yakni:Berwudu sebelum salat,Memulai salat dengan bertakbir,Membaca ayat dengan tartil,Menyempurnakan rukuk, sujud, dan tasyahud,Senantiasa meluruskan niat salat,Mengajak orang-orang, khususnya di ring-1 nya untuk salat berjemaah.Apa hikmahnya? Thahir bin Al-Husain membawakan ayat,ٱتْلُ مَآ أُوحِىَ إِلَيْكَ مِنَ ٱلْكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ ٱللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al Quran) dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ankabut: 45)Ikuti sunah Nabi dan jalan para salafثم أتبع ذلك الأخذ بسنن رسول الله صلى الله عليه وسلم والمثابرة على خلائقه واقتفاء آثار السلف الصالح من بعدهKemudian, hendaklah ini diikuti dengan mengadopsi sunah-sunah Rasulullah ﷺ, selalu menerapkan akhlak-akhlaknya, dan mengikuti tradisi para salaf saleh setelah beliau.Apabila datang kepadamu suatu urusan, maka mintalah pertolongan kepada Allah dengan istikharah, ketakwaan kepada-Nya, serta berpegang teguh kepada apa yang Allah turunkan dalam kitab-Nya berupa perintah, larangan, halal, dan haram. Ikutilah pula apa yang datang dalam atsar-atsar dari Nabi ﷺ, kemudian tegakkanlah dalam perkara itu apa yang menjadi hak Allah atasmu.Bagian awal dari wasiat Thahir ini menjadi keistimewaannya dibandingkan wejangan politik lainnya. Thahir memulai panduannya dengan penekanan pada bekal ketakwaan. Tidak hanya pengaplikasian pada gagasan dan filosofi, tetapi juga pada level praktikal, yakni mengajak rakyat untuk salat berjemaah. Tentu saja hal ini tidak ditemukan pada wejangan politik dari peradaban lain.Tidak hanya itu, wasiat Thahir juga menekankan untuk berpegang pada sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan jalan para salaf. Hal ini tentu merupakan bawaan dari pribadinya yang hidup dalam tradisi ahli hadis. Sehingga semangat kembali kepada sunah terus diwariskan dalam paradigma kepemimpinan pada anaknya. Wasiat ini menjadi keistimewaan tersendiri. Lebih daripada itu, tentu saja pesan utamanya adalah para pemimpin hendaknya memperhatikan urusan ketakwaan dan kecocokan kepada sunah dalam kepemimpinannya. Wallahu a’lam.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleBekal kepemimpinan terlengkap dalam sejarah IslamMengenal Thahir bin Al-Husain Abu ThayyibMetode pembahasanNasihat agar mensyukuri nikmat kepemimpinan dan bertakwa menjalaninyaKewajiban seorang pemimpin terhadap rakyatnyaFokuslah terhadap amanah kepemimpinanLangkah pertama dalam memimpin rakyat: Ajak salat berjemaah!Ikuti sunah Nabi dan jalan para salafPolitik merupakan permasalahan yang amat pelik, tetapi memiliki urgensi sangat tinggi. Ia menjadi struktur tatanan kehidupan manusia. Hal sepenting ini tentu saja tidak terlewatkan dalam khazanah ilmu Islam. Bekal kepemimpinan politik pun menjadi sangat penting, agar urusan orang jamak ini bisa diurus dengan baik. Bukan hanya bagi pemimpin publik, tetapi juga penting bagi masing-masing kita. Karena Nabi ﷺ bersabda,كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)Bekal kepemimpinan terlengkap dalam sejarah IslamDalam sejarah literatur Islam, ada banyak wasiat politik dan kepemimpinan yang mengandung hikmah bagi kita. Salah satu wasiat terbaik dan paling komprehensif adalah surat yang ditulis oleh Thahir bin Al-Husain kepada anaknya yang menjadi gubernur di masa Khalifah Al-Ma’mun.Ibnu Khaldun rahimahullah menjelaskan ketika surat ini muncul dan tersebar luas, masyarakat takjub padanya. Imam Thabari rahimahullah mengatakan bahwa surat ini begitu fenomenal dan dikaji oleh masyarakat luas. Bahkan surat ini juga sampai kepada Khalifah al-Ma’mun. Ketika surat itu dibacakan kepadanya, ia pun berkata,ما أبقى أبو الطيب – يعني طاهراً – شيئاً من أمور الدنيا والدين، والتدبير والرأي والسياسة، وصلاح المُلكِ والرَّعيَّة، وحفظ السلطان وطاعة الخلفاء وتقويم الخلافة، إلا وقد أحكمه وأوصى به“Abu Thayyib, yakni Thahir, tidak menyisakan satu pun permasalahan dunia, agama, administrasi, pemikiran, politik, kemaslahatan kerajaan dan rakyat, penjagaan pemerintahan, ketaatan kepada para khalifah, dan penegakan khilafah, kecuali beliau telah menegaskannya dan memberikan arahan tentangnya.”Al-Ma’mun kemudian memerintahkan agar surat tersebut disalin dan dikirim ke semua pejabat di berbagai daerah, sehingga mereka bisa menggunakannya sebagai contoh, dan melaksanakan apa yang terkandung di dalamnya. Ibnu Khaldun rahimahullah menilai wasiat Thahir ini adalah wasiat terbaik dalam masalah politik yang ia ketahui.Mengenal Thahir bin Al-Husain Abu ThayyibThahir bin al-Husain bin Mush’ab bin Ruzaiq (159–207 H/775–822 M) ialah seorang amir, panglima tertinggi pasukan, yang dijuluki Dzul Yaminain (Pemilik Dua Tangan/Kedua Kekuatan), kunyahnya Abu Thalhah al-Khuza‘i. Ia adalah tokoh yang menegakkan dan memenangkan kekhalifahan al-Ma’mun.Sebab, al-Ma’mun menugaskannya untuk memerangi saudara seayahnya, yakni al-Amin, pada Perang Saudara Abbasiyah (811–813 M). Dia pun berangkat memimpin pasukan yang sangat besar, lalu mengepung al-Amin. Ia berhasil mengalahkannya dan membunuhnya setelah al-Amin tertawan. Ia pun mendapatkan posisi gubernur seperti di Khurasan.Ia adalah seorang yang berani, berwibawa, cerdas, dan lihai dalam berstrategi, dermawan, serta banyak dipuji. Ia meriwayatkan hadis dari Abdullah bin al-Mubarak dan riwayatnya pun diteruskan oleh putranya, Abdullah (penerima surat) serta Thalhah.Thahir juga seorang yang berilmu, orator yang fasih, sangat pandai berbicara, serta penyair yang mumpuni. Ia mencapai kedudukan yang sangat tinggi, kemudian wafat pada usia 48 tahun pada tahun 207 H.Dari biografi Thahir dalam Siyar A’lam An-Nubala (10: 108-109), cukup bagi kita untuk semakin merasakan pentingnya mempelajari wasiat beliau dalam kepemimpinan. Karena wasiat ini datang dari seorang pemimpin dan pelaku wasiatnya sendiri. Tidak hanya berbasis pengalaman, tetapi hasilnya juga sudah terbukti. Termasuk pengejawantahan oleh Abdullah, penerima surat, yang berjaya di negeri kekuasaannya.Metode pembahasanArtikel ini akan ditulis dengan menukil secara umum wasiat Thahir yang cukup panjang. Kurang lebih surat ini berisi 2500 kata dalam versi arabnya, tentu dalam bahasa Indonesia akan lebih panjang dari itu. Oleh karena itu, pada beberapa bagian akan dipotong dan diambilkan faidah intinya. Kemudian ditambahkan faidah ataupun nukilan ayat dan hadis yang relevan dengan wasiatnya.Setiap potongan wasiat akan diberikan subjudul yang memudahkan untuk mengambil pesan inti dari paragraf tersebut. Tulisan ini diambil dari berbagai sumber dengan keterbatasan penulis, di antaranya:1) Muqaddimah Ibnu Khaldun, cet. Muassasah Risalah, ed. Musthafa Syaikh Musthafa.2) Wasiat Thahir bin Al-Husain dalam Tarikh Thabari dari net.3) Muntakhab Washaya Aba lil Abna’, karya Wail Hafizh Khalaf sebagai acuan penataan paragraf.Terjemahan dicek dengan acuan:4) Muqaddimah Ibnu Khaldun, cet. Wali Pustaka, pent. Ahmadie Thaha.5) Serta dibantu Google dan ChatGPT untuk memahami frasa yang tidak dipahami.Wasiat Thahir ini sangat penting untuk diketahui khalayak ramai karena faidahnya yang banyak sekali. Namun sayangnya, belum ada artikel berbahasa Indonesia di internet yang menyajikan ini. Semoga tulisan ini menjadi wasilah untuk kita semua dapat mempelajarinya.Nasihat agar mensyukuri nikmat kepemimpinan dan bertakwa menjalaninyaDengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Amma ba’du.Hendaklah seorang pemimpin bertakwa kepada Allah semata, sebab tiada sekutu bagi-Nya. Takutlah kepada-Nya, hendaklah selalu merasa diawasi oleh-Nya, menjauhi segala yang mendatangkan kemurkaan-Nya, serta menjaga rakyatmu. Peliharalah selalu kesehatan yang telah diberikan Allah kepadamu, dengan mengingat tempatmu kembali dan ke mana engkau akan pergi, serta hal-hal yang akan menjadi perhatianmu dan yang akan engkau pertanggungjawabkan. Juga, pastikan dirimu untuk melakukan semua itu sedemikian rupa, sehingga pada hari kiamat, Allah akan melindungimu dan menyelamatkanmu dari siksaan-Nya dan kepedihan azab-Nya. Sungguh, Allah ﷻ telah berbuat baik kepadamu, dan mewajibkan engkau memberikan kasih sayang kepada orang-orang di antara hamba-Nya yang memintamu mengatur urusan mereka.Kewajiban seorang pemimpin terhadap rakyatnyaAllah ﷻ telah mewajibkan seorang pemimpin kepada rakyatnya untuk berlaku seperti berikut ini:Memberikan kasih sayang,Berbuat adil,Menegakkan hak-Nya dan hukum-Nya pada rakyat,Membela, melindungi keluarga dan istri mereka,Mencegah pertumpahan darah,Memastikan jalan mereka aman,Menghadirkan kenyamanan dalam penghidupan mereka.Thahir akan banyak menyebutkan poin nasihat secara berurutan seperti ini dan mengulanginya beberapa kali. Kami berusaha menyusunnya sesuai dengan tema pembahasan tanpa mengurangi esensi pesannya.Setelah menyampaikan kewajiban-kewajiban ini, Thahir bin Al-Husain menyampaikan pengingat bahwa amanah ini akan dipertanggungjawabkan:ومؤاخذك بما فرض عليك من ذلك وموقفك عليه ومسائلك عنه ومثيبك عليه بما قدمت وأخرتAllah ﷻ akan meminta pertanggungjawabanmu atas apa yang telah Allah ﷻ wajibkan kepadamu dalam hal ini. Dan Allah ﷻ akan menanyaimu tentang hal itu dan memberimu pahala atas apa yang telah kamu lakukan dan apa yang belum kamu lakukan.Fokuslah terhadap amanah kepemimpinanKonsentrasikanlah pikiran, otak, dan penglihatanmu untuk memimpin rakyat. Jangan sampai ada gangguan yang menarik perhatianmu dari itu. Inilah tugasmu yang pokok dan penting. Inilah hal pertama yang dengannya Allah akan memberikan bimbingan sukses kepadamu.Langkah pertama dalam memimpin rakyat: Ajak salat berjemaah!Selanjutnya, hendaklah hal pertama yang diwajibkan atas diri seorang pemimpin adalah senantiasa menjalankan salat lima waktu dengan berjemaah bersama orang yang dipimpin. Bahkan, Thahir bin Al-Husain merincikan seluruh tata cara yang hendaknya dilakukan, yakni:Berwudu sebelum salat,Memulai salat dengan bertakbir,Membaca ayat dengan tartil,Menyempurnakan rukuk, sujud, dan tasyahud,Senantiasa meluruskan niat salat,Mengajak orang-orang, khususnya di ring-1 nya untuk salat berjemaah.Apa hikmahnya? Thahir bin Al-Husain membawakan ayat,ٱتْلُ مَآ أُوحِىَ إِلَيْكَ مِنَ ٱلْكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ ٱللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al Quran) dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ankabut: 45)Ikuti sunah Nabi dan jalan para salafثم أتبع ذلك الأخذ بسنن رسول الله صلى الله عليه وسلم والمثابرة على خلائقه واقتفاء آثار السلف الصالح من بعدهKemudian, hendaklah ini diikuti dengan mengadopsi sunah-sunah Rasulullah ﷺ, selalu menerapkan akhlak-akhlaknya, dan mengikuti tradisi para salaf saleh setelah beliau.Apabila datang kepadamu suatu urusan, maka mintalah pertolongan kepada Allah dengan istikharah, ketakwaan kepada-Nya, serta berpegang teguh kepada apa yang Allah turunkan dalam kitab-Nya berupa perintah, larangan, halal, dan haram. Ikutilah pula apa yang datang dalam atsar-atsar dari Nabi ﷺ, kemudian tegakkanlah dalam perkara itu apa yang menjadi hak Allah atasmu.Bagian awal dari wasiat Thahir ini menjadi keistimewaannya dibandingkan wejangan politik lainnya. Thahir memulai panduannya dengan penekanan pada bekal ketakwaan. Tidak hanya pengaplikasian pada gagasan dan filosofi, tetapi juga pada level praktikal, yakni mengajak rakyat untuk salat berjemaah. Tentu saja hal ini tidak ditemukan pada wejangan politik dari peradaban lain.Tidak hanya itu, wasiat Thahir juga menekankan untuk berpegang pada sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan jalan para salaf. Hal ini tentu merupakan bawaan dari pribadinya yang hidup dalam tradisi ahli hadis. Sehingga semangat kembali kepada sunah terus diwariskan dalam paradigma kepemimpinan pada anaknya. Wasiat ini menjadi keistimewaan tersendiri. Lebih daripada itu, tentu saja pesan utamanya adalah para pemimpin hendaknya memperhatikan urusan ketakwaan dan kecocokan kepada sunah dalam kepemimpinannya. Wallahu a’lam.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id

Khutbah Jumat: Jangan Wariskan Permusuhan, Teladan Rasulullah kepada Anak Tokoh Munafik

Sering kali permusuhan tidak berhenti pada satu orang. Dendam diwariskan kepada anak, keluarga, bahkan keturunan, seolah-olah semua harus ikut menanggung kesalahan orang tuanya. Padahal Rasulullah ﷺ mengajarkan sesuatu yang sangat berbeda: tetap adil kepada anak seorang musuh, membalas kebaikan dengan kebaikan, dan tidak membiarkan kebencian mengalahkan akhlak mulia.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Siapakah Abdullah bin Ubay bin Salul? 3. Putra Seorang Munafik, tetapi Seorang Mukmin Sejati 4. Saat Abdullah bin Ubay Meninggal Dunia 5. Umar radhiyallahu ‘anhu Berusaha Mencegah 6. Mengapa Rasulullah ﷺ Memberikan Gamis Beliau? 7. Pelajaran Besar dari Kisah Ini 8. Penutup 9. Khutbah Kedua 10. Catatan: 10.1. Kronologi Peristiwanya 10.2. Abdullah bin Ubay Memanfaatkan Kesempatan 10.3. Didengar oleh Seorang Sahabat Muda  Khutbah Pertamaإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَي مُحَمَّد وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا أَمَّا بَعْدُ، فَأُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِلْعَبْدِ فِي دِينِهِ وَدُنْيَاهُ وَأُخْرَاهُ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾ (آل عمران: ١٠٢) أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ مَا جَاءَ بِهِ الْإِسْلَامُ تَحْقِيقُ الْعَدْلِ، وَإِقَامَةُ الْإِحْسَانِ، وَتَرْكُ الظُّلْمِ وَالْبَغْيِ. وَلَا يَجُوزُ لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَجْعَلَ الْعَدَاوَةَ تُورَثُ بَيْنَ الْآبَاءِ وَالْأَبْنَاءِ، أَوْ بَيْنَ الْعَائِلَاتِ وَالْأَجْيَالِ، فَإِنَّ كُلَّ نَفْسٍ تُحَاسَبُ عَلَى عَمَلِهَا، وَلَا تُؤَاخَذُ بِذَنْبِ غَيْرِهَا. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى﴾ وَقَالَ سُبْحَانَهُ: ﴿وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى﴾ Jamaah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah,Segala puji bagi Allah atas segala nikmat-Nya. Shalawat serta salam semoga tercurah pada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Jamaah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah,Bagaimana sikap kita jika berhadapan dengan anak dari seseorang yang pernah menyakiti kita? Tidak sedikit orang yang masih menyimpan dendam hingga merembet kepada anak, keluarga, bahkan keturunannya. Padahal Islam mengajarkan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas amalnya sendiri, bukan atas dosa keluarganya.Kisah Rasulullah ﷺ bersama Abdullah bin Ubay bin Salul merupakan salah satu contoh akhlak paling agung dalam sejarah Islam. Tokoh munafik terbesar di Madinah itu berkali-kali menyakiti Nabi ﷺ. Namun ketika ia meninggal dunia, putranya yang merupakan seorang sahabat saleh datang meminta bantuan kepada Rasulullah ﷺ. Sikap Nabi ﷺ dalam peristiwa ini menjadi pelajaran besar tentang keadilan, kelapangan hati, dan kemuliaan akhlak. Jamaah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah,Siapakah Abdullah bin Ubay bin Salul?Abdullah bin Ubay bin Salul adalah pemimpin kabilah Khazraj di Madinah. Sebelum Rasulullah ﷺ hijrah, penduduk Yatsrib hampir sepakat mengangkatnya sebagai raja mereka. Namun, ketika Rasulullah ﷺ datang ke Madinah, masyarakat berbondong-bondong memeluk Islam dan memberikan baiat kepada beliau. Harapan Abdullah bin Ubay untuk menjadi pemimpin pun sirna.Sejak saat itu ia menampakkan keislaman, tetapi menyembunyikan kekafiran. Al-Qur’an mengabadikan berbagai perbuatannya sehingga ia dikenal sebagai pemimpin kaum munafik.Di antara kejahatan yang pernah dilakukannya ialah:Mengajak sekitar tiga ratus orang mundur dari Perang Uhud sehingga melemahkan barisan kaum muslimin.Menyebarkan fitnah besar terhadap Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam peristiwa Haditsul Ifk.Menghasut kaum Anshar dengan mengatakan,﴿لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ﴾“Apabila kita kembali ke Madinah, pasti orang yang mulia akan mengusir orang yang hina.” (QS. Al-Munafiqun: 8)Ucapan itu ditujukan kepada Rasulullah ﷺ.Baca juga: Perang Bani Musthaliq (Muraisi’), Rasulullah Menikah dengan Juwairiyyah, Kisah Haditsul Ifki (Aisyah Difitnah Selingkuh)Meskipun demikian, Rasulullah ﷺ tetap bersabar menghadapi gangguannya demi menjaga persatuan kaum muslimin dan agar tidak muncul anggapan bahwa Muhammad membunuh para sahabatnya sendiri. Putra Seorang Munafik, tetapi Seorang Mukmin SejatiDi balik sosok Abdullah bin Ubay yang munafik, Allah menganugerahkan seorang putra yang sangat saleh, yaitu Abdullah bin Abdullah bin Ubay radhiyallahu ‘anhu.Ia termasuk sahabat Nabi ﷺ yang sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya.Ketika ayahnya menghina Rasulullah ﷺ dalam Perang Bani Musthaliq, Abdullah bin Abdullah bahkan berkata kepada Nabi ﷺ, “Wahai Rasulullah, jika engkau hendak membunuh ayahku, serahkanlah tugas itu kepadaku. Aku khawatir jika orang lain yang membunuhnya, aku tidak mampu menahan diriku sehingga membunuh seorang mukmin karena membalas kematian ayahku.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«إِنَّا لَا نَقْتُلُهُ، بَلْ نَتَرَفَّقُ بِهِ، وَنُحْسِنُ صُحْبَتَهُ مَا بَقِيَ مَعَنَا»“Kita tidak akan membunuhnya. Bahkan kita akan tetap bersikap lembut kepadanya dan memperlakukannya dengan baik selama ia masih hidup bersama kita.”Penulis kitab Al-Qaul Al-Mubīn fī Sīrati Sayyidil Mursalīn memberikan komentar yang sangat indah terhadap jawaban Nabi ﷺ tersebut:«وَكَانَتْ إِجَابَةُ الرَّسُولِ ﷺ بَعْدَ ذَلِكَ هِيَ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي الْعَفْوِ وَالصَّفْحِ الْجَمِيلِ، وَهِيَ النِّبْرَاسُ الَّذِي يُضِيءُ طُرُقَ الْخَيْرِ وَيَهْدِي إِلَى سَوَاءِ السَّبِيلِ، وَهِيَ خَيْرُ مُكَافَأَةٍ لِكُلِّ مُؤْمِنٍ يَرْتَفِعُ بِإِخْلَاصِهِ إِلَى هَذَا الْمُسْتَوَى الْكَرِيمِ.»“Jawaban Rasulullah ﷺ tersebut merupakan teladan tertinggi dalam memberi maaf dan berlapang dada. Ia menjadi cahaya yang menerangi jalan-jalan kebaikan dan membimbing manusia menuju jalan yang lurus. Jawaban itu juga merupakan penghargaan terbaik bagi setiap mukmin yang dengan keikhlasannya mampu mencapai derajat akhlak yang mulia seperti itu.” (Al-Qaul Al-Mubīn fī Sīrati Sayyidil Mursalīn, hlm. 302).Inilah akhlak seorang nabi.Saat Abdullah bin Ubay Meninggal DuniaKetika Abdullah bin Ubay meninggal, putranya datang menemui Rasulullah ﷺ dengan penuh harap.Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan,لَمَّا تُوُفِّيَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ جَاءَ ابْنُهُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَقَالَ: أَعْطِنِي قَمِيصَكَ أُكَفِّنْهُ فِيهِ، فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ“Ketika Abdullah bin Ubay meninggal dunia, putranya datang kepada Rasulullah ﷺ seraya berkata, ‘Berikanlah kepadaku gamismu agar aku mengafaninya dengan gamis itu.’ Maka Rasulullah ﷺ memberikannya.” (HR. Bukhari, no. 1269 dan Muslim, no. 2400)Dalam riwayat lain disebutkan bahwa putranya juga meminta agar Rasulullah ﷺ menyalatkan jenazah ayahnya dan memohonkan ampun untuknya. Umar radhiyallahu ‘anhu Berusaha MencegahKetika Rasulullah ﷺ hendak menyalatkan jenazah Abdullah bin Ubay, Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berdiri dan berkata, “Bukankah Allah telah melarang engkau menyalatkan orang-orang munafik?”Rasulullah ﷺ menjawab,«إِنِّي خُيِّرْتُ»“Aku diberi pilihan.”Beliau mengacu pada firman Allah,﴿اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ﴾“Engkau memohonkan ampun bagi mereka atau tidak memohonkan ampun bagi mereka…” (QS. At-Taubah: 80)Pada saat itu larangan yang tegas belum turun. Ayat tersebut masih dipahami sebagai pemberian pilihan kepada Rasulullah ﷺ.Beliau bahkan bersabda, “Seandainya aku mengetahui bahwa apabila aku memohonkan ampun lebih dari tujuh puluh kali ia akan diampuni, niscaya aku akan melakukannya.”Setelah Rasulullah ﷺ selesai menyalatkan jenazah Abdullah bin Ubay, Allah kemudian menurunkan firman-Nya,﴿وَلَا تُصَلِّ عَلَىٰ أَحَدٍ مِّنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَىٰ قَبْرِهِ﴾“Janganlah engkau sekali-kali menyalatkan seorang pun di antara mereka yang mati dan jangan pula berdiri di atas kuburnya.” (QS. At-Taubah: 84)Sejak saat itu, Nabi ﷺ tidak lagi menyalatkan orang-orang munafik yang diketahui hakikatnya. Jamaah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah,Mengapa Rasulullah ﷺ Memberikan Gamis Beliau?Para ulama menjelaskan beberapa hikmah.Pertama: Membalas kebaikanPada Perang Badar, Al-Abbas—paman Nabi ﷺ—ditawan dalam keadaan tidak memiliki pakaian yang sesuai. Abdullah bin Ubay memberikan gamisnya kepada Al-Abbas.Nabi ﷺ tidak melupakan jasa tersebut.Sufyan bin ‘Uyainah berkata,كَانَتْ لَهُ عِنْدَ النَّبِيِّ ﷺ يَدٌ، فَأَحَبَّ أَنْ يُكَافِئَهُ. “Abdullah bin Ubay pernah memiliki suatu jasa kepada Nabi ﷺ, sehingga beliau ingin membalas kebaikannya.”Ini menunjukkan bahwa seorang muslim tidak boleh melupakan jasa orang lain, sekalipun orang tersebut memiliki banyak kesalahan.Kedua: Menghibur hati putranyaAbdullah bin Abdullah adalah sahabat yang saleh. Nabi ﷺ memenuhi permintaannya sebagai bentuk penghormatan kepada seorang mukmin yang bertakwa. Beliau tidak ingin seorang anak yang saleh menanggung kesedihan lebih dalam karena kehilangan ayahnya. Pelajaran Besar dari Kisah Ini1. Jangan mewariskan permusuhanInilah pelajaran paling besar. Abdullah bin Ubay adalah musuh Rasulullah ﷺ. Namun Nabi ﷺ tidak memusuhi putranya. Beliau tidak berkata, “Engkau anak musuhku.” Beliau justru menghormatinya sebagai seorang sahabat. Betapa banyak manusia hari ini yang masih memusuhi anak karena kesalahan ayahnya, atau membenci keluarga seseorang karena pernah berselisih dengan salah satu anggotanya.Padahal Allah berfirman,﴿وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى﴾“Seseorang tidak akan memikul dosa orang lain.” (QS. Al-An’am: 164)2. Nilailah manusia berdasarkan dirinyaIslam tidak mengenal dosa turunan. Anak seorang munafik bisa menjadi penghuni surga. Sebaliknya, anak seorang nabi pun bisa menjadi penghuni neraka apabila memilih kekufuran. Yang dinilai Allah bukanlah keluarga, melainkan iman dan amal.3. Kebencian tidak boleh menghilangkan keadilanAllah Ta’ala berfirman,﴿وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى﴾“Janganlah kebencianmu kepada suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8) Nabi ﷺ membuktikan ayat ini dalam kehidupan nyata.4. Balas budi adalah akhlak para nabiIslam tidak mengajarkan melupakan jasa orang lain. Sekalipun Abdullah bin Ubay memiliki dosa yang sangat besar, Rasulullah ﷺ tetap mengingat satu kebaikan yang pernah ia lakukan.Ini mengajarkan kepada kita agar tidak mudah menghapus seluruh kebaikan seseorang hanya karena satu kesalahan.5. Akhlak yang mulia lebih kuat daripada dendamNabi ﷺ mampu membalas keburukan dengan kemuliaan akhlak. Beliau tidak pernah membiarkan dendam menguasai keputusan-keputusannya. Beliau selalu bertindak berdasarkan wahyu, keadilan, dan kasih sayang.Inilah akhlak yang seharusnya hidup di tengah keluarga, masyarakat, bahkan di media sosial. Jamaah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah,PenutupKisah Abdullah bin Ubay bin Salul mengajarkan bahwa Islam bukan agama yang membangun hubungan di atas dendam, tetapi di atas keadilan dan akhlak mulia. Rasulullah ﷺ tidak pernah mewariskan permusuhan kepada anak-anak atau keluarga orang yang memusuhinya. Beliau tetap membalas kebaikan, menjaga perasaan seorang sahabat yang saleh, dan berlaku adil sekalipun terhadap keluarga musuhnya.Di zaman ketika permusuhan sering diwariskan antargenerasi, kisah ini menjadi pengingat bahwa kemuliaan seorang mukmin bukan terletak pada kemampuannya membalas dendam, melainkan pada kemampuannya menjaga keadilan dan akhlak. Sebagaimana Rasulullah ﷺ, marilah kita menilai setiap orang berdasarkan iman, amal, dan akhlaknya, bukan berdasarkan keburukan keluarganya. Itulah akhlak kenabian yang patut kita teladani.أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الْجَلِيلَ لِي وَلَكُمْ، وَلِوَالِدِينَا، وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ وَتُوبُوا إِلَيْهِ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ. Khutbah Keduaالْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَاتَّقُوا اللَّهَ عِبَادَ اللَّهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ مِنْ أَعْظَمِ الْقُرُبَاتِ إِلَى اللَّهِ حُسْنُ الْخُلُقِ، وَالْعَدْلُ بَيْنَ النَّاسِ، وَأَنْ لَا يَحْمِلَنَا الْغَضَبُ وَلَا الْعَدَاوَةُ عَلَى الظُّلْمِ وَالْبَغْيِ. فَكُونُوا مِمَّنْ يَعْفُونَ وَيُحْسِنُونَ، وَاذْكُرُوا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ أَعْظَمَ النَّاسِ خُلُقًا، وَأَكْمَلَهُمْ عَدْلًا، وَأَوْفَاهُمْ بِالْمَعْرُوفِ، فَاقْتَدُوا بِهِ، وَتَمَسَّكُوا بِسُنَّتِهِ، تَفُوزُوا بِخَيْرَيِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعْمَتِكَ، مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمَّهَا عَلَيْنَا. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللَّهِ، ﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ﴾ فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ. Catatan:Allah Ta’ala berfirman,﴿لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ﴾“Apabila kita kembali ke Madinah, pasti orang yang mulia akan mengusir orang yang hina.” (QS. Al-Munafiqun: 8). Perkataan itu terjadi pada Perang (Ghazwah) Bani Musthaliq atau disebut juga Perang Al-Muraisi’ pada tahun 5 H (sebagian ulama mengatakan 6 H). Kronologi PeristiwanyaSetelah kaum muslimin memenangkan Perang Bani Musthaliq, mereka singgah di sebuah mata air bernama Al-Muraisi’.Di sana terjadi perselisihan kecil antara:Jahjah bin Sa’id (dari Muhajirin)Sinan bin Wabar Al-Juhani (sekutu Anshar)Keduanya berebut air hingga saling memanggil kaumnya: “Wahai kaum Muhajirin!” dan “Wahai kaum Anshar!” Rasulullah ﷺ segera menegur,«دَعُوهَا، فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ»“Tinggalkan fanatisme seperti itu, karena ia adalah seruan yang busuk.” (HR. Bukhari dan Muslim) Abdullah bin Ubay Memanfaatkan KesempatanMelihat ada sedikit gesekan antara Muhajirin dan Anshar, Abdullah bin Ubay menganggap ini kesempatan untuk memecah belah kaum muslimin. Ia berkata kepada pengikutnya,لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ“Apabila kita kembali ke Madinah, pasti orang yang mulia akan mengusir orang yang hina.”Yang ia maksud:“Orang yang mulia” adalah dirinya dan kaum Anshar.“Orang yang hina” adalah Rasulullah ﷺ dan kaum Muhajirin.Ucapan ini diabadikan Allah dalam Surah Al-Munafiqun ayat 8. Didengar oleh Seorang Sahabat MudaUcapan tersebut didengar oleh Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu, yang saat itu masih sangat muda. Ia segera melaporkannya kepada Rasulullah ﷺ. Awalnya Abdullah bin Ubay bersumpah bahwa ia tidak pernah mengucapkannya. Sebagian orang bahkan sempat membela Abdullah bin Ubay sehingga Zaid merasa sedih karena laporannya dianggap tidak benar. Namun tidak lama kemudian Allah menurunkan Surah Al-Munafiqun yang membenarkan laporan Zaid dan membongkar kedok Abdullah bin Ubay.  —– Jumat, 7 Agustus 2027@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsAbdullah bin Ubay adab Islam akhlak islam akhlak Rasulullah balas budi khutbah jumat kisah sahabat peperangan dalam islam peperangan di masa Rasulullah perang perang bani musthaliq perang muraisi rumaysho sirah nabawiyah Tafsir At-Taubah

Khutbah Jumat: Jangan Wariskan Permusuhan, Teladan Rasulullah kepada Anak Tokoh Munafik

Sering kali permusuhan tidak berhenti pada satu orang. Dendam diwariskan kepada anak, keluarga, bahkan keturunan, seolah-olah semua harus ikut menanggung kesalahan orang tuanya. Padahal Rasulullah ﷺ mengajarkan sesuatu yang sangat berbeda: tetap adil kepada anak seorang musuh, membalas kebaikan dengan kebaikan, dan tidak membiarkan kebencian mengalahkan akhlak mulia.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Siapakah Abdullah bin Ubay bin Salul? 3. Putra Seorang Munafik, tetapi Seorang Mukmin Sejati 4. Saat Abdullah bin Ubay Meninggal Dunia 5. Umar radhiyallahu ‘anhu Berusaha Mencegah 6. Mengapa Rasulullah ﷺ Memberikan Gamis Beliau? 7. Pelajaran Besar dari Kisah Ini 8. Penutup 9. Khutbah Kedua 10. Catatan: 10.1. Kronologi Peristiwanya 10.2. Abdullah bin Ubay Memanfaatkan Kesempatan 10.3. Didengar oleh Seorang Sahabat Muda  Khutbah Pertamaإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَي مُحَمَّد وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا أَمَّا بَعْدُ، فَأُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِلْعَبْدِ فِي دِينِهِ وَدُنْيَاهُ وَأُخْرَاهُ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾ (آل عمران: ١٠٢) أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ مَا جَاءَ بِهِ الْإِسْلَامُ تَحْقِيقُ الْعَدْلِ، وَإِقَامَةُ الْإِحْسَانِ، وَتَرْكُ الظُّلْمِ وَالْبَغْيِ. وَلَا يَجُوزُ لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَجْعَلَ الْعَدَاوَةَ تُورَثُ بَيْنَ الْآبَاءِ وَالْأَبْنَاءِ، أَوْ بَيْنَ الْعَائِلَاتِ وَالْأَجْيَالِ، فَإِنَّ كُلَّ نَفْسٍ تُحَاسَبُ عَلَى عَمَلِهَا، وَلَا تُؤَاخَذُ بِذَنْبِ غَيْرِهَا. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى﴾ وَقَالَ سُبْحَانَهُ: ﴿وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى﴾ Jamaah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah,Segala puji bagi Allah atas segala nikmat-Nya. Shalawat serta salam semoga tercurah pada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Jamaah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah,Bagaimana sikap kita jika berhadapan dengan anak dari seseorang yang pernah menyakiti kita? Tidak sedikit orang yang masih menyimpan dendam hingga merembet kepada anak, keluarga, bahkan keturunannya. Padahal Islam mengajarkan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas amalnya sendiri, bukan atas dosa keluarganya.Kisah Rasulullah ﷺ bersama Abdullah bin Ubay bin Salul merupakan salah satu contoh akhlak paling agung dalam sejarah Islam. Tokoh munafik terbesar di Madinah itu berkali-kali menyakiti Nabi ﷺ. Namun ketika ia meninggal dunia, putranya yang merupakan seorang sahabat saleh datang meminta bantuan kepada Rasulullah ﷺ. Sikap Nabi ﷺ dalam peristiwa ini menjadi pelajaran besar tentang keadilan, kelapangan hati, dan kemuliaan akhlak. Jamaah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah,Siapakah Abdullah bin Ubay bin Salul?Abdullah bin Ubay bin Salul adalah pemimpin kabilah Khazraj di Madinah. Sebelum Rasulullah ﷺ hijrah, penduduk Yatsrib hampir sepakat mengangkatnya sebagai raja mereka. Namun, ketika Rasulullah ﷺ datang ke Madinah, masyarakat berbondong-bondong memeluk Islam dan memberikan baiat kepada beliau. Harapan Abdullah bin Ubay untuk menjadi pemimpin pun sirna.Sejak saat itu ia menampakkan keislaman, tetapi menyembunyikan kekafiran. Al-Qur’an mengabadikan berbagai perbuatannya sehingga ia dikenal sebagai pemimpin kaum munafik.Di antara kejahatan yang pernah dilakukannya ialah:Mengajak sekitar tiga ratus orang mundur dari Perang Uhud sehingga melemahkan barisan kaum muslimin.Menyebarkan fitnah besar terhadap Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam peristiwa Haditsul Ifk.Menghasut kaum Anshar dengan mengatakan,﴿لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ﴾“Apabila kita kembali ke Madinah, pasti orang yang mulia akan mengusir orang yang hina.” (QS. Al-Munafiqun: 8)Ucapan itu ditujukan kepada Rasulullah ﷺ.Baca juga: Perang Bani Musthaliq (Muraisi’), Rasulullah Menikah dengan Juwairiyyah, Kisah Haditsul Ifki (Aisyah Difitnah Selingkuh)Meskipun demikian, Rasulullah ﷺ tetap bersabar menghadapi gangguannya demi menjaga persatuan kaum muslimin dan agar tidak muncul anggapan bahwa Muhammad membunuh para sahabatnya sendiri. Putra Seorang Munafik, tetapi Seorang Mukmin SejatiDi balik sosok Abdullah bin Ubay yang munafik, Allah menganugerahkan seorang putra yang sangat saleh, yaitu Abdullah bin Abdullah bin Ubay radhiyallahu ‘anhu.Ia termasuk sahabat Nabi ﷺ yang sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya.Ketika ayahnya menghina Rasulullah ﷺ dalam Perang Bani Musthaliq, Abdullah bin Abdullah bahkan berkata kepada Nabi ﷺ, “Wahai Rasulullah, jika engkau hendak membunuh ayahku, serahkanlah tugas itu kepadaku. Aku khawatir jika orang lain yang membunuhnya, aku tidak mampu menahan diriku sehingga membunuh seorang mukmin karena membalas kematian ayahku.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«إِنَّا لَا نَقْتُلُهُ، بَلْ نَتَرَفَّقُ بِهِ، وَنُحْسِنُ صُحْبَتَهُ مَا بَقِيَ مَعَنَا»“Kita tidak akan membunuhnya. Bahkan kita akan tetap bersikap lembut kepadanya dan memperlakukannya dengan baik selama ia masih hidup bersama kita.”Penulis kitab Al-Qaul Al-Mubīn fī Sīrati Sayyidil Mursalīn memberikan komentar yang sangat indah terhadap jawaban Nabi ﷺ tersebut:«وَكَانَتْ إِجَابَةُ الرَّسُولِ ﷺ بَعْدَ ذَلِكَ هِيَ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي الْعَفْوِ وَالصَّفْحِ الْجَمِيلِ، وَهِيَ النِّبْرَاسُ الَّذِي يُضِيءُ طُرُقَ الْخَيْرِ وَيَهْدِي إِلَى سَوَاءِ السَّبِيلِ، وَهِيَ خَيْرُ مُكَافَأَةٍ لِكُلِّ مُؤْمِنٍ يَرْتَفِعُ بِإِخْلَاصِهِ إِلَى هَذَا الْمُسْتَوَى الْكَرِيمِ.»“Jawaban Rasulullah ﷺ tersebut merupakan teladan tertinggi dalam memberi maaf dan berlapang dada. Ia menjadi cahaya yang menerangi jalan-jalan kebaikan dan membimbing manusia menuju jalan yang lurus. Jawaban itu juga merupakan penghargaan terbaik bagi setiap mukmin yang dengan keikhlasannya mampu mencapai derajat akhlak yang mulia seperti itu.” (Al-Qaul Al-Mubīn fī Sīrati Sayyidil Mursalīn, hlm. 302).Inilah akhlak seorang nabi.Saat Abdullah bin Ubay Meninggal DuniaKetika Abdullah bin Ubay meninggal, putranya datang menemui Rasulullah ﷺ dengan penuh harap.Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan,لَمَّا تُوُفِّيَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ جَاءَ ابْنُهُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَقَالَ: أَعْطِنِي قَمِيصَكَ أُكَفِّنْهُ فِيهِ، فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ“Ketika Abdullah bin Ubay meninggal dunia, putranya datang kepada Rasulullah ﷺ seraya berkata, ‘Berikanlah kepadaku gamismu agar aku mengafaninya dengan gamis itu.’ Maka Rasulullah ﷺ memberikannya.” (HR. Bukhari, no. 1269 dan Muslim, no. 2400)Dalam riwayat lain disebutkan bahwa putranya juga meminta agar Rasulullah ﷺ menyalatkan jenazah ayahnya dan memohonkan ampun untuknya. Umar radhiyallahu ‘anhu Berusaha MencegahKetika Rasulullah ﷺ hendak menyalatkan jenazah Abdullah bin Ubay, Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berdiri dan berkata, “Bukankah Allah telah melarang engkau menyalatkan orang-orang munafik?”Rasulullah ﷺ menjawab,«إِنِّي خُيِّرْتُ»“Aku diberi pilihan.”Beliau mengacu pada firman Allah,﴿اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ﴾“Engkau memohonkan ampun bagi mereka atau tidak memohonkan ampun bagi mereka…” (QS. At-Taubah: 80)Pada saat itu larangan yang tegas belum turun. Ayat tersebut masih dipahami sebagai pemberian pilihan kepada Rasulullah ﷺ.Beliau bahkan bersabda, “Seandainya aku mengetahui bahwa apabila aku memohonkan ampun lebih dari tujuh puluh kali ia akan diampuni, niscaya aku akan melakukannya.”Setelah Rasulullah ﷺ selesai menyalatkan jenazah Abdullah bin Ubay, Allah kemudian menurunkan firman-Nya,﴿وَلَا تُصَلِّ عَلَىٰ أَحَدٍ مِّنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَىٰ قَبْرِهِ﴾“Janganlah engkau sekali-kali menyalatkan seorang pun di antara mereka yang mati dan jangan pula berdiri di atas kuburnya.” (QS. At-Taubah: 84)Sejak saat itu, Nabi ﷺ tidak lagi menyalatkan orang-orang munafik yang diketahui hakikatnya. Jamaah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah,Mengapa Rasulullah ﷺ Memberikan Gamis Beliau?Para ulama menjelaskan beberapa hikmah.Pertama: Membalas kebaikanPada Perang Badar, Al-Abbas—paman Nabi ﷺ—ditawan dalam keadaan tidak memiliki pakaian yang sesuai. Abdullah bin Ubay memberikan gamisnya kepada Al-Abbas.Nabi ﷺ tidak melupakan jasa tersebut.Sufyan bin ‘Uyainah berkata,كَانَتْ لَهُ عِنْدَ النَّبِيِّ ﷺ يَدٌ، فَأَحَبَّ أَنْ يُكَافِئَهُ. “Abdullah bin Ubay pernah memiliki suatu jasa kepada Nabi ﷺ, sehingga beliau ingin membalas kebaikannya.”Ini menunjukkan bahwa seorang muslim tidak boleh melupakan jasa orang lain, sekalipun orang tersebut memiliki banyak kesalahan.Kedua: Menghibur hati putranyaAbdullah bin Abdullah adalah sahabat yang saleh. Nabi ﷺ memenuhi permintaannya sebagai bentuk penghormatan kepada seorang mukmin yang bertakwa. Beliau tidak ingin seorang anak yang saleh menanggung kesedihan lebih dalam karena kehilangan ayahnya. Pelajaran Besar dari Kisah Ini1. Jangan mewariskan permusuhanInilah pelajaran paling besar. Abdullah bin Ubay adalah musuh Rasulullah ﷺ. Namun Nabi ﷺ tidak memusuhi putranya. Beliau tidak berkata, “Engkau anak musuhku.” Beliau justru menghormatinya sebagai seorang sahabat. Betapa banyak manusia hari ini yang masih memusuhi anak karena kesalahan ayahnya, atau membenci keluarga seseorang karena pernah berselisih dengan salah satu anggotanya.Padahal Allah berfirman,﴿وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى﴾“Seseorang tidak akan memikul dosa orang lain.” (QS. Al-An’am: 164)2. Nilailah manusia berdasarkan dirinyaIslam tidak mengenal dosa turunan. Anak seorang munafik bisa menjadi penghuni surga. Sebaliknya, anak seorang nabi pun bisa menjadi penghuni neraka apabila memilih kekufuran. Yang dinilai Allah bukanlah keluarga, melainkan iman dan amal.3. Kebencian tidak boleh menghilangkan keadilanAllah Ta’ala berfirman,﴿وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى﴾“Janganlah kebencianmu kepada suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8) Nabi ﷺ membuktikan ayat ini dalam kehidupan nyata.4. Balas budi adalah akhlak para nabiIslam tidak mengajarkan melupakan jasa orang lain. Sekalipun Abdullah bin Ubay memiliki dosa yang sangat besar, Rasulullah ﷺ tetap mengingat satu kebaikan yang pernah ia lakukan.Ini mengajarkan kepada kita agar tidak mudah menghapus seluruh kebaikan seseorang hanya karena satu kesalahan.5. Akhlak yang mulia lebih kuat daripada dendamNabi ﷺ mampu membalas keburukan dengan kemuliaan akhlak. Beliau tidak pernah membiarkan dendam menguasai keputusan-keputusannya. Beliau selalu bertindak berdasarkan wahyu, keadilan, dan kasih sayang.Inilah akhlak yang seharusnya hidup di tengah keluarga, masyarakat, bahkan di media sosial. Jamaah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah,PenutupKisah Abdullah bin Ubay bin Salul mengajarkan bahwa Islam bukan agama yang membangun hubungan di atas dendam, tetapi di atas keadilan dan akhlak mulia. Rasulullah ﷺ tidak pernah mewariskan permusuhan kepada anak-anak atau keluarga orang yang memusuhinya. Beliau tetap membalas kebaikan, menjaga perasaan seorang sahabat yang saleh, dan berlaku adil sekalipun terhadap keluarga musuhnya.Di zaman ketika permusuhan sering diwariskan antargenerasi, kisah ini menjadi pengingat bahwa kemuliaan seorang mukmin bukan terletak pada kemampuannya membalas dendam, melainkan pada kemampuannya menjaga keadilan dan akhlak. Sebagaimana Rasulullah ﷺ, marilah kita menilai setiap orang berdasarkan iman, amal, dan akhlaknya, bukan berdasarkan keburukan keluarganya. Itulah akhlak kenabian yang patut kita teladani.أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الْجَلِيلَ لِي وَلَكُمْ، وَلِوَالِدِينَا، وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ وَتُوبُوا إِلَيْهِ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ. Khutbah Keduaالْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَاتَّقُوا اللَّهَ عِبَادَ اللَّهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ مِنْ أَعْظَمِ الْقُرُبَاتِ إِلَى اللَّهِ حُسْنُ الْخُلُقِ، وَالْعَدْلُ بَيْنَ النَّاسِ، وَأَنْ لَا يَحْمِلَنَا الْغَضَبُ وَلَا الْعَدَاوَةُ عَلَى الظُّلْمِ وَالْبَغْيِ. فَكُونُوا مِمَّنْ يَعْفُونَ وَيُحْسِنُونَ، وَاذْكُرُوا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ أَعْظَمَ النَّاسِ خُلُقًا، وَأَكْمَلَهُمْ عَدْلًا، وَأَوْفَاهُمْ بِالْمَعْرُوفِ، فَاقْتَدُوا بِهِ، وَتَمَسَّكُوا بِسُنَّتِهِ، تَفُوزُوا بِخَيْرَيِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعْمَتِكَ، مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمَّهَا عَلَيْنَا. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللَّهِ، ﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ﴾ فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ. Catatan:Allah Ta’ala berfirman,﴿لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ﴾“Apabila kita kembali ke Madinah, pasti orang yang mulia akan mengusir orang yang hina.” (QS. Al-Munafiqun: 8). Perkataan itu terjadi pada Perang (Ghazwah) Bani Musthaliq atau disebut juga Perang Al-Muraisi’ pada tahun 5 H (sebagian ulama mengatakan 6 H). Kronologi PeristiwanyaSetelah kaum muslimin memenangkan Perang Bani Musthaliq, mereka singgah di sebuah mata air bernama Al-Muraisi’.Di sana terjadi perselisihan kecil antara:Jahjah bin Sa’id (dari Muhajirin)Sinan bin Wabar Al-Juhani (sekutu Anshar)Keduanya berebut air hingga saling memanggil kaumnya: “Wahai kaum Muhajirin!” dan “Wahai kaum Anshar!” Rasulullah ﷺ segera menegur,«دَعُوهَا، فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ»“Tinggalkan fanatisme seperti itu, karena ia adalah seruan yang busuk.” (HR. Bukhari dan Muslim) Abdullah bin Ubay Memanfaatkan KesempatanMelihat ada sedikit gesekan antara Muhajirin dan Anshar, Abdullah bin Ubay menganggap ini kesempatan untuk memecah belah kaum muslimin. Ia berkata kepada pengikutnya,لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ“Apabila kita kembali ke Madinah, pasti orang yang mulia akan mengusir orang yang hina.”Yang ia maksud:“Orang yang mulia” adalah dirinya dan kaum Anshar.“Orang yang hina” adalah Rasulullah ﷺ dan kaum Muhajirin.Ucapan ini diabadikan Allah dalam Surah Al-Munafiqun ayat 8. Didengar oleh Seorang Sahabat MudaUcapan tersebut didengar oleh Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu, yang saat itu masih sangat muda. Ia segera melaporkannya kepada Rasulullah ﷺ. Awalnya Abdullah bin Ubay bersumpah bahwa ia tidak pernah mengucapkannya. Sebagian orang bahkan sempat membela Abdullah bin Ubay sehingga Zaid merasa sedih karena laporannya dianggap tidak benar. Namun tidak lama kemudian Allah menurunkan Surah Al-Munafiqun yang membenarkan laporan Zaid dan membongkar kedok Abdullah bin Ubay.  —– Jumat, 7 Agustus 2027@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsAbdullah bin Ubay adab Islam akhlak islam akhlak Rasulullah balas budi khutbah jumat kisah sahabat peperangan dalam islam peperangan di masa Rasulullah perang perang bani musthaliq perang muraisi rumaysho sirah nabawiyah Tafsir At-Taubah
Sering kali permusuhan tidak berhenti pada satu orang. Dendam diwariskan kepada anak, keluarga, bahkan keturunan, seolah-olah semua harus ikut menanggung kesalahan orang tuanya. Padahal Rasulullah ﷺ mengajarkan sesuatu yang sangat berbeda: tetap adil kepada anak seorang musuh, membalas kebaikan dengan kebaikan, dan tidak membiarkan kebencian mengalahkan akhlak mulia.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Siapakah Abdullah bin Ubay bin Salul? 3. Putra Seorang Munafik, tetapi Seorang Mukmin Sejati 4. Saat Abdullah bin Ubay Meninggal Dunia 5. Umar radhiyallahu ‘anhu Berusaha Mencegah 6. Mengapa Rasulullah ﷺ Memberikan Gamis Beliau? 7. Pelajaran Besar dari Kisah Ini 8. Penutup 9. Khutbah Kedua 10. Catatan: 10.1. Kronologi Peristiwanya 10.2. Abdullah bin Ubay Memanfaatkan Kesempatan 10.3. Didengar oleh Seorang Sahabat Muda  Khutbah Pertamaإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَي مُحَمَّد وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا أَمَّا بَعْدُ، فَأُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِلْعَبْدِ فِي دِينِهِ وَدُنْيَاهُ وَأُخْرَاهُ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾ (آل عمران: ١٠٢) أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ مَا جَاءَ بِهِ الْإِسْلَامُ تَحْقِيقُ الْعَدْلِ، وَإِقَامَةُ الْإِحْسَانِ، وَتَرْكُ الظُّلْمِ وَالْبَغْيِ. وَلَا يَجُوزُ لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَجْعَلَ الْعَدَاوَةَ تُورَثُ بَيْنَ الْآبَاءِ وَالْأَبْنَاءِ، أَوْ بَيْنَ الْعَائِلَاتِ وَالْأَجْيَالِ، فَإِنَّ كُلَّ نَفْسٍ تُحَاسَبُ عَلَى عَمَلِهَا، وَلَا تُؤَاخَذُ بِذَنْبِ غَيْرِهَا. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى﴾ وَقَالَ سُبْحَانَهُ: ﴿وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى﴾ Jamaah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah,Segala puji bagi Allah atas segala nikmat-Nya. Shalawat serta salam semoga tercurah pada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Jamaah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah,Bagaimana sikap kita jika berhadapan dengan anak dari seseorang yang pernah menyakiti kita? Tidak sedikit orang yang masih menyimpan dendam hingga merembet kepada anak, keluarga, bahkan keturunannya. Padahal Islam mengajarkan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas amalnya sendiri, bukan atas dosa keluarganya.Kisah Rasulullah ﷺ bersama Abdullah bin Ubay bin Salul merupakan salah satu contoh akhlak paling agung dalam sejarah Islam. Tokoh munafik terbesar di Madinah itu berkali-kali menyakiti Nabi ﷺ. Namun ketika ia meninggal dunia, putranya yang merupakan seorang sahabat saleh datang meminta bantuan kepada Rasulullah ﷺ. Sikap Nabi ﷺ dalam peristiwa ini menjadi pelajaran besar tentang keadilan, kelapangan hati, dan kemuliaan akhlak. Jamaah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah,Siapakah Abdullah bin Ubay bin Salul?Abdullah bin Ubay bin Salul adalah pemimpin kabilah Khazraj di Madinah. Sebelum Rasulullah ﷺ hijrah, penduduk Yatsrib hampir sepakat mengangkatnya sebagai raja mereka. Namun, ketika Rasulullah ﷺ datang ke Madinah, masyarakat berbondong-bondong memeluk Islam dan memberikan baiat kepada beliau. Harapan Abdullah bin Ubay untuk menjadi pemimpin pun sirna.Sejak saat itu ia menampakkan keislaman, tetapi menyembunyikan kekafiran. Al-Qur’an mengabadikan berbagai perbuatannya sehingga ia dikenal sebagai pemimpin kaum munafik.Di antara kejahatan yang pernah dilakukannya ialah:Mengajak sekitar tiga ratus orang mundur dari Perang Uhud sehingga melemahkan barisan kaum muslimin.Menyebarkan fitnah besar terhadap Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam peristiwa Haditsul Ifk.Menghasut kaum Anshar dengan mengatakan,﴿لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ﴾“Apabila kita kembali ke Madinah, pasti orang yang mulia akan mengusir orang yang hina.” (QS. Al-Munafiqun: 8)Ucapan itu ditujukan kepada Rasulullah ﷺ.Baca juga: Perang Bani Musthaliq (Muraisi’), Rasulullah Menikah dengan Juwairiyyah, Kisah Haditsul Ifki (Aisyah Difitnah Selingkuh)Meskipun demikian, Rasulullah ﷺ tetap bersabar menghadapi gangguannya demi menjaga persatuan kaum muslimin dan agar tidak muncul anggapan bahwa Muhammad membunuh para sahabatnya sendiri. Putra Seorang Munafik, tetapi Seorang Mukmin SejatiDi balik sosok Abdullah bin Ubay yang munafik, Allah menganugerahkan seorang putra yang sangat saleh, yaitu Abdullah bin Abdullah bin Ubay radhiyallahu ‘anhu.Ia termasuk sahabat Nabi ﷺ yang sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya.Ketika ayahnya menghina Rasulullah ﷺ dalam Perang Bani Musthaliq, Abdullah bin Abdullah bahkan berkata kepada Nabi ﷺ, “Wahai Rasulullah, jika engkau hendak membunuh ayahku, serahkanlah tugas itu kepadaku. Aku khawatir jika orang lain yang membunuhnya, aku tidak mampu menahan diriku sehingga membunuh seorang mukmin karena membalas kematian ayahku.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«إِنَّا لَا نَقْتُلُهُ، بَلْ نَتَرَفَّقُ بِهِ، وَنُحْسِنُ صُحْبَتَهُ مَا بَقِيَ مَعَنَا»“Kita tidak akan membunuhnya. Bahkan kita akan tetap bersikap lembut kepadanya dan memperlakukannya dengan baik selama ia masih hidup bersama kita.”Penulis kitab Al-Qaul Al-Mubīn fī Sīrati Sayyidil Mursalīn memberikan komentar yang sangat indah terhadap jawaban Nabi ﷺ tersebut:«وَكَانَتْ إِجَابَةُ الرَّسُولِ ﷺ بَعْدَ ذَلِكَ هِيَ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي الْعَفْوِ وَالصَّفْحِ الْجَمِيلِ، وَهِيَ النِّبْرَاسُ الَّذِي يُضِيءُ طُرُقَ الْخَيْرِ وَيَهْدِي إِلَى سَوَاءِ السَّبِيلِ، وَهِيَ خَيْرُ مُكَافَأَةٍ لِكُلِّ مُؤْمِنٍ يَرْتَفِعُ بِإِخْلَاصِهِ إِلَى هَذَا الْمُسْتَوَى الْكَرِيمِ.»“Jawaban Rasulullah ﷺ tersebut merupakan teladan tertinggi dalam memberi maaf dan berlapang dada. Ia menjadi cahaya yang menerangi jalan-jalan kebaikan dan membimbing manusia menuju jalan yang lurus. Jawaban itu juga merupakan penghargaan terbaik bagi setiap mukmin yang dengan keikhlasannya mampu mencapai derajat akhlak yang mulia seperti itu.” (Al-Qaul Al-Mubīn fī Sīrati Sayyidil Mursalīn, hlm. 302).Inilah akhlak seorang nabi.Saat Abdullah bin Ubay Meninggal DuniaKetika Abdullah bin Ubay meninggal, putranya datang menemui Rasulullah ﷺ dengan penuh harap.Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan,لَمَّا تُوُفِّيَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ جَاءَ ابْنُهُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَقَالَ: أَعْطِنِي قَمِيصَكَ أُكَفِّنْهُ فِيهِ، فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ“Ketika Abdullah bin Ubay meninggal dunia, putranya datang kepada Rasulullah ﷺ seraya berkata, ‘Berikanlah kepadaku gamismu agar aku mengafaninya dengan gamis itu.’ Maka Rasulullah ﷺ memberikannya.” (HR. Bukhari, no. 1269 dan Muslim, no. 2400)Dalam riwayat lain disebutkan bahwa putranya juga meminta agar Rasulullah ﷺ menyalatkan jenazah ayahnya dan memohonkan ampun untuknya. Umar radhiyallahu ‘anhu Berusaha MencegahKetika Rasulullah ﷺ hendak menyalatkan jenazah Abdullah bin Ubay, Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berdiri dan berkata, “Bukankah Allah telah melarang engkau menyalatkan orang-orang munafik?”Rasulullah ﷺ menjawab,«إِنِّي خُيِّرْتُ»“Aku diberi pilihan.”Beliau mengacu pada firman Allah,﴿اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ﴾“Engkau memohonkan ampun bagi mereka atau tidak memohonkan ampun bagi mereka…” (QS. At-Taubah: 80)Pada saat itu larangan yang tegas belum turun. Ayat tersebut masih dipahami sebagai pemberian pilihan kepada Rasulullah ﷺ.Beliau bahkan bersabda, “Seandainya aku mengetahui bahwa apabila aku memohonkan ampun lebih dari tujuh puluh kali ia akan diampuni, niscaya aku akan melakukannya.”Setelah Rasulullah ﷺ selesai menyalatkan jenazah Abdullah bin Ubay, Allah kemudian menurunkan firman-Nya,﴿وَلَا تُصَلِّ عَلَىٰ أَحَدٍ مِّنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَىٰ قَبْرِهِ﴾“Janganlah engkau sekali-kali menyalatkan seorang pun di antara mereka yang mati dan jangan pula berdiri di atas kuburnya.” (QS. At-Taubah: 84)Sejak saat itu, Nabi ﷺ tidak lagi menyalatkan orang-orang munafik yang diketahui hakikatnya. Jamaah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah,Mengapa Rasulullah ﷺ Memberikan Gamis Beliau?Para ulama menjelaskan beberapa hikmah.Pertama: Membalas kebaikanPada Perang Badar, Al-Abbas—paman Nabi ﷺ—ditawan dalam keadaan tidak memiliki pakaian yang sesuai. Abdullah bin Ubay memberikan gamisnya kepada Al-Abbas.Nabi ﷺ tidak melupakan jasa tersebut.Sufyan bin ‘Uyainah berkata,كَانَتْ لَهُ عِنْدَ النَّبِيِّ ﷺ يَدٌ، فَأَحَبَّ أَنْ يُكَافِئَهُ. “Abdullah bin Ubay pernah memiliki suatu jasa kepada Nabi ﷺ, sehingga beliau ingin membalas kebaikannya.”Ini menunjukkan bahwa seorang muslim tidak boleh melupakan jasa orang lain, sekalipun orang tersebut memiliki banyak kesalahan.Kedua: Menghibur hati putranyaAbdullah bin Abdullah adalah sahabat yang saleh. Nabi ﷺ memenuhi permintaannya sebagai bentuk penghormatan kepada seorang mukmin yang bertakwa. Beliau tidak ingin seorang anak yang saleh menanggung kesedihan lebih dalam karena kehilangan ayahnya. Pelajaran Besar dari Kisah Ini1. Jangan mewariskan permusuhanInilah pelajaran paling besar. Abdullah bin Ubay adalah musuh Rasulullah ﷺ. Namun Nabi ﷺ tidak memusuhi putranya. Beliau tidak berkata, “Engkau anak musuhku.” Beliau justru menghormatinya sebagai seorang sahabat. Betapa banyak manusia hari ini yang masih memusuhi anak karena kesalahan ayahnya, atau membenci keluarga seseorang karena pernah berselisih dengan salah satu anggotanya.Padahal Allah berfirman,﴿وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى﴾“Seseorang tidak akan memikul dosa orang lain.” (QS. Al-An’am: 164)2. Nilailah manusia berdasarkan dirinyaIslam tidak mengenal dosa turunan. Anak seorang munafik bisa menjadi penghuni surga. Sebaliknya, anak seorang nabi pun bisa menjadi penghuni neraka apabila memilih kekufuran. Yang dinilai Allah bukanlah keluarga, melainkan iman dan amal.3. Kebencian tidak boleh menghilangkan keadilanAllah Ta’ala berfirman,﴿وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى﴾“Janganlah kebencianmu kepada suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8) Nabi ﷺ membuktikan ayat ini dalam kehidupan nyata.4. Balas budi adalah akhlak para nabiIslam tidak mengajarkan melupakan jasa orang lain. Sekalipun Abdullah bin Ubay memiliki dosa yang sangat besar, Rasulullah ﷺ tetap mengingat satu kebaikan yang pernah ia lakukan.Ini mengajarkan kepada kita agar tidak mudah menghapus seluruh kebaikan seseorang hanya karena satu kesalahan.5. Akhlak yang mulia lebih kuat daripada dendamNabi ﷺ mampu membalas keburukan dengan kemuliaan akhlak. Beliau tidak pernah membiarkan dendam menguasai keputusan-keputusannya. Beliau selalu bertindak berdasarkan wahyu, keadilan, dan kasih sayang.Inilah akhlak yang seharusnya hidup di tengah keluarga, masyarakat, bahkan di media sosial. Jamaah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah,PenutupKisah Abdullah bin Ubay bin Salul mengajarkan bahwa Islam bukan agama yang membangun hubungan di atas dendam, tetapi di atas keadilan dan akhlak mulia. Rasulullah ﷺ tidak pernah mewariskan permusuhan kepada anak-anak atau keluarga orang yang memusuhinya. Beliau tetap membalas kebaikan, menjaga perasaan seorang sahabat yang saleh, dan berlaku adil sekalipun terhadap keluarga musuhnya.Di zaman ketika permusuhan sering diwariskan antargenerasi, kisah ini menjadi pengingat bahwa kemuliaan seorang mukmin bukan terletak pada kemampuannya membalas dendam, melainkan pada kemampuannya menjaga keadilan dan akhlak. Sebagaimana Rasulullah ﷺ, marilah kita menilai setiap orang berdasarkan iman, amal, dan akhlaknya, bukan berdasarkan keburukan keluarganya. Itulah akhlak kenabian yang patut kita teladani.أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الْجَلِيلَ لِي وَلَكُمْ، وَلِوَالِدِينَا، وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ وَتُوبُوا إِلَيْهِ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ. Khutbah Keduaالْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَاتَّقُوا اللَّهَ عِبَادَ اللَّهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ مِنْ أَعْظَمِ الْقُرُبَاتِ إِلَى اللَّهِ حُسْنُ الْخُلُقِ، وَالْعَدْلُ بَيْنَ النَّاسِ، وَأَنْ لَا يَحْمِلَنَا الْغَضَبُ وَلَا الْعَدَاوَةُ عَلَى الظُّلْمِ وَالْبَغْيِ. فَكُونُوا مِمَّنْ يَعْفُونَ وَيُحْسِنُونَ، وَاذْكُرُوا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ أَعْظَمَ النَّاسِ خُلُقًا، وَأَكْمَلَهُمْ عَدْلًا، وَأَوْفَاهُمْ بِالْمَعْرُوفِ، فَاقْتَدُوا بِهِ، وَتَمَسَّكُوا بِسُنَّتِهِ، تَفُوزُوا بِخَيْرَيِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعْمَتِكَ، مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمَّهَا عَلَيْنَا. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللَّهِ، ﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ﴾ فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ. Catatan:Allah Ta’ala berfirman,﴿لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ﴾“Apabila kita kembali ke Madinah, pasti orang yang mulia akan mengusir orang yang hina.” (QS. Al-Munafiqun: 8). Perkataan itu terjadi pada Perang (Ghazwah) Bani Musthaliq atau disebut juga Perang Al-Muraisi’ pada tahun 5 H (sebagian ulama mengatakan 6 H). Kronologi PeristiwanyaSetelah kaum muslimin memenangkan Perang Bani Musthaliq, mereka singgah di sebuah mata air bernama Al-Muraisi’.Di sana terjadi perselisihan kecil antara:Jahjah bin Sa’id (dari Muhajirin)Sinan bin Wabar Al-Juhani (sekutu Anshar)Keduanya berebut air hingga saling memanggil kaumnya: “Wahai kaum Muhajirin!” dan “Wahai kaum Anshar!” Rasulullah ﷺ segera menegur,«دَعُوهَا، فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ»“Tinggalkan fanatisme seperti itu, karena ia adalah seruan yang busuk.” (HR. Bukhari dan Muslim) Abdullah bin Ubay Memanfaatkan KesempatanMelihat ada sedikit gesekan antara Muhajirin dan Anshar, Abdullah bin Ubay menganggap ini kesempatan untuk memecah belah kaum muslimin. Ia berkata kepada pengikutnya,لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ“Apabila kita kembali ke Madinah, pasti orang yang mulia akan mengusir orang yang hina.”Yang ia maksud:“Orang yang mulia” adalah dirinya dan kaum Anshar.“Orang yang hina” adalah Rasulullah ﷺ dan kaum Muhajirin.Ucapan ini diabadikan Allah dalam Surah Al-Munafiqun ayat 8. Didengar oleh Seorang Sahabat MudaUcapan tersebut didengar oleh Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu, yang saat itu masih sangat muda. Ia segera melaporkannya kepada Rasulullah ﷺ. Awalnya Abdullah bin Ubay bersumpah bahwa ia tidak pernah mengucapkannya. Sebagian orang bahkan sempat membela Abdullah bin Ubay sehingga Zaid merasa sedih karena laporannya dianggap tidak benar. Namun tidak lama kemudian Allah menurunkan Surah Al-Munafiqun yang membenarkan laporan Zaid dan membongkar kedok Abdullah bin Ubay.  —– Jumat, 7 Agustus 2027@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsAbdullah bin Ubay adab Islam akhlak islam akhlak Rasulullah balas budi khutbah jumat kisah sahabat peperangan dalam islam peperangan di masa Rasulullah perang perang bani musthaliq perang muraisi rumaysho sirah nabawiyah Tafsir At-Taubah


Sering kali permusuhan tidak berhenti pada satu orang. Dendam diwariskan kepada anak, keluarga, bahkan keturunan, seolah-olah semua harus ikut menanggung kesalahan orang tuanya. Padahal Rasulullah ﷺ mengajarkan sesuatu yang sangat berbeda: tetap adil kepada anak seorang musuh, membalas kebaikan dengan kebaikan, dan tidak membiarkan kebencian mengalahkan akhlak mulia.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Siapakah Abdullah bin Ubay bin Salul? 3. Putra Seorang Munafik, tetapi Seorang Mukmin Sejati 4. Saat Abdullah bin Ubay Meninggal Dunia 5. Umar radhiyallahu ‘anhu Berusaha Mencegah 6. Mengapa Rasulullah ﷺ Memberikan Gamis Beliau? 7. Pelajaran Besar dari Kisah Ini 8. Penutup 9. Khutbah Kedua 10. Catatan: 10.1. Kronologi Peristiwanya 10.2. Abdullah bin Ubay Memanfaatkan Kesempatan 10.3. Didengar oleh Seorang Sahabat Muda  Khutbah Pertamaإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَي مُحَمَّد وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا أَمَّا بَعْدُ، فَأُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِلْعَبْدِ فِي دِينِهِ وَدُنْيَاهُ وَأُخْرَاهُ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾ (آل عمران: ١٠٢) أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ مَا جَاءَ بِهِ الْإِسْلَامُ تَحْقِيقُ الْعَدْلِ، وَإِقَامَةُ الْإِحْسَانِ، وَتَرْكُ الظُّلْمِ وَالْبَغْيِ. وَلَا يَجُوزُ لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَجْعَلَ الْعَدَاوَةَ تُورَثُ بَيْنَ الْآبَاءِ وَالْأَبْنَاءِ، أَوْ بَيْنَ الْعَائِلَاتِ وَالْأَجْيَالِ، فَإِنَّ كُلَّ نَفْسٍ تُحَاسَبُ عَلَى عَمَلِهَا، وَلَا تُؤَاخَذُ بِذَنْبِ غَيْرِهَا. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى﴾ وَقَالَ سُبْحَانَهُ: ﴿وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى﴾ Jamaah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah,Segala puji bagi Allah atas segala nikmat-Nya. Shalawat serta salam semoga tercurah pada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Jamaah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah,Bagaimana sikap kita jika berhadapan dengan anak dari seseorang yang pernah menyakiti kita? Tidak sedikit orang yang masih menyimpan dendam hingga merembet kepada anak, keluarga, bahkan keturunannya. Padahal Islam mengajarkan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas amalnya sendiri, bukan atas dosa keluarganya.Kisah Rasulullah ﷺ bersama Abdullah bin Ubay bin Salul merupakan salah satu contoh akhlak paling agung dalam sejarah Islam. Tokoh munafik terbesar di Madinah itu berkali-kali menyakiti Nabi ﷺ. Namun ketika ia meninggal dunia, putranya yang merupakan seorang sahabat saleh datang meminta bantuan kepada Rasulullah ﷺ. Sikap Nabi ﷺ dalam peristiwa ini menjadi pelajaran besar tentang keadilan, kelapangan hati, dan kemuliaan akhlak. Jamaah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah,Siapakah Abdullah bin Ubay bin Salul?Abdullah bin Ubay bin Salul adalah pemimpin kabilah Khazraj di Madinah. Sebelum Rasulullah ﷺ hijrah, penduduk Yatsrib hampir sepakat mengangkatnya sebagai raja mereka. Namun, ketika Rasulullah ﷺ datang ke Madinah, masyarakat berbondong-bondong memeluk Islam dan memberikan baiat kepada beliau. Harapan Abdullah bin Ubay untuk menjadi pemimpin pun sirna.Sejak saat itu ia menampakkan keislaman, tetapi menyembunyikan kekafiran. Al-Qur’an mengabadikan berbagai perbuatannya sehingga ia dikenal sebagai pemimpin kaum munafik.Di antara kejahatan yang pernah dilakukannya ialah:Mengajak sekitar tiga ratus orang mundur dari Perang Uhud sehingga melemahkan barisan kaum muslimin.Menyebarkan fitnah besar terhadap Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam peristiwa Haditsul Ifk.Menghasut kaum Anshar dengan mengatakan,﴿لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ﴾“Apabila kita kembali ke Madinah, pasti orang yang mulia akan mengusir orang yang hina.” (QS. Al-Munafiqun: 8)Ucapan itu ditujukan kepada Rasulullah ﷺ.Baca juga: Perang Bani Musthaliq (Muraisi’), Rasulullah Menikah dengan Juwairiyyah, Kisah Haditsul Ifki (Aisyah Difitnah Selingkuh)Meskipun demikian, Rasulullah ﷺ tetap bersabar menghadapi gangguannya demi menjaga persatuan kaum muslimin dan agar tidak muncul anggapan bahwa Muhammad membunuh para sahabatnya sendiri. Putra Seorang Munafik, tetapi Seorang Mukmin SejatiDi balik sosok Abdullah bin Ubay yang munafik, Allah menganugerahkan seorang putra yang sangat saleh, yaitu Abdullah bin Abdullah bin Ubay radhiyallahu ‘anhu.Ia termasuk sahabat Nabi ﷺ yang sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya.Ketika ayahnya menghina Rasulullah ﷺ dalam Perang Bani Musthaliq, Abdullah bin Abdullah bahkan berkata kepada Nabi ﷺ, “Wahai Rasulullah, jika engkau hendak membunuh ayahku, serahkanlah tugas itu kepadaku. Aku khawatir jika orang lain yang membunuhnya, aku tidak mampu menahan diriku sehingga membunuh seorang mukmin karena membalas kematian ayahku.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«إِنَّا لَا نَقْتُلُهُ، بَلْ نَتَرَفَّقُ بِهِ، وَنُحْسِنُ صُحْبَتَهُ مَا بَقِيَ مَعَنَا»“Kita tidak akan membunuhnya. Bahkan kita akan tetap bersikap lembut kepadanya dan memperlakukannya dengan baik selama ia masih hidup bersama kita.”Penulis kitab Al-Qaul Al-Mubīn fī Sīrati Sayyidil Mursalīn memberikan komentar yang sangat indah terhadap jawaban Nabi ﷺ tersebut:«وَكَانَتْ إِجَابَةُ الرَّسُولِ ﷺ بَعْدَ ذَلِكَ هِيَ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي الْعَفْوِ وَالصَّفْحِ الْجَمِيلِ، وَهِيَ النِّبْرَاسُ الَّذِي يُضِيءُ طُرُقَ الْخَيْرِ وَيَهْدِي إِلَى سَوَاءِ السَّبِيلِ، وَهِيَ خَيْرُ مُكَافَأَةٍ لِكُلِّ مُؤْمِنٍ يَرْتَفِعُ بِإِخْلَاصِهِ إِلَى هَذَا الْمُسْتَوَى الْكَرِيمِ.»“Jawaban Rasulullah ﷺ tersebut merupakan teladan tertinggi dalam memberi maaf dan berlapang dada. Ia menjadi cahaya yang menerangi jalan-jalan kebaikan dan membimbing manusia menuju jalan yang lurus. Jawaban itu juga merupakan penghargaan terbaik bagi setiap mukmin yang dengan keikhlasannya mampu mencapai derajat akhlak yang mulia seperti itu.” (Al-Qaul Al-Mubīn fī Sīrati Sayyidil Mursalīn, hlm. 302).Inilah akhlak seorang nabi.Saat Abdullah bin Ubay Meninggal DuniaKetika Abdullah bin Ubay meninggal, putranya datang menemui Rasulullah ﷺ dengan penuh harap.Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan,لَمَّا تُوُفِّيَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ جَاءَ ابْنُهُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَقَالَ: أَعْطِنِي قَمِيصَكَ أُكَفِّنْهُ فِيهِ، فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ“Ketika Abdullah bin Ubay meninggal dunia, putranya datang kepada Rasulullah ﷺ seraya berkata, ‘Berikanlah kepadaku gamismu agar aku mengafaninya dengan gamis itu.’ Maka Rasulullah ﷺ memberikannya.” (HR. Bukhari, no. 1269 dan Muslim, no. 2400)Dalam riwayat lain disebutkan bahwa putranya juga meminta agar Rasulullah ﷺ menyalatkan jenazah ayahnya dan memohonkan ampun untuknya. Umar radhiyallahu ‘anhu Berusaha MencegahKetika Rasulullah ﷺ hendak menyalatkan jenazah Abdullah bin Ubay, Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berdiri dan berkata, “Bukankah Allah telah melarang engkau menyalatkan orang-orang munafik?”Rasulullah ﷺ menjawab,«إِنِّي خُيِّرْتُ»“Aku diberi pilihan.”Beliau mengacu pada firman Allah,﴿اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ﴾“Engkau memohonkan ampun bagi mereka atau tidak memohonkan ampun bagi mereka…” (QS. At-Taubah: 80)Pada saat itu larangan yang tegas belum turun. Ayat tersebut masih dipahami sebagai pemberian pilihan kepada Rasulullah ﷺ.Beliau bahkan bersabda, “Seandainya aku mengetahui bahwa apabila aku memohonkan ampun lebih dari tujuh puluh kali ia akan diampuni, niscaya aku akan melakukannya.”Setelah Rasulullah ﷺ selesai menyalatkan jenazah Abdullah bin Ubay, Allah kemudian menurunkan firman-Nya,﴿وَلَا تُصَلِّ عَلَىٰ أَحَدٍ مِّنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَىٰ قَبْرِهِ﴾“Janganlah engkau sekali-kali menyalatkan seorang pun di antara mereka yang mati dan jangan pula berdiri di atas kuburnya.” (QS. At-Taubah: 84)Sejak saat itu, Nabi ﷺ tidak lagi menyalatkan orang-orang munafik yang diketahui hakikatnya. Jamaah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah,Mengapa Rasulullah ﷺ Memberikan Gamis Beliau?Para ulama menjelaskan beberapa hikmah.Pertama: Membalas kebaikanPada Perang Badar, Al-Abbas—paman Nabi ﷺ—ditawan dalam keadaan tidak memiliki pakaian yang sesuai. Abdullah bin Ubay memberikan gamisnya kepada Al-Abbas.Nabi ﷺ tidak melupakan jasa tersebut.Sufyan bin ‘Uyainah berkata,كَانَتْ لَهُ عِنْدَ النَّبِيِّ ﷺ يَدٌ، فَأَحَبَّ أَنْ يُكَافِئَهُ. “Abdullah bin Ubay pernah memiliki suatu jasa kepada Nabi ﷺ, sehingga beliau ingin membalas kebaikannya.”Ini menunjukkan bahwa seorang muslim tidak boleh melupakan jasa orang lain, sekalipun orang tersebut memiliki banyak kesalahan.Kedua: Menghibur hati putranyaAbdullah bin Abdullah adalah sahabat yang saleh. Nabi ﷺ memenuhi permintaannya sebagai bentuk penghormatan kepada seorang mukmin yang bertakwa. Beliau tidak ingin seorang anak yang saleh menanggung kesedihan lebih dalam karena kehilangan ayahnya. Pelajaran Besar dari Kisah Ini1. Jangan mewariskan permusuhanInilah pelajaran paling besar. Abdullah bin Ubay adalah musuh Rasulullah ﷺ. Namun Nabi ﷺ tidak memusuhi putranya. Beliau tidak berkata, “Engkau anak musuhku.” Beliau justru menghormatinya sebagai seorang sahabat. Betapa banyak manusia hari ini yang masih memusuhi anak karena kesalahan ayahnya, atau membenci keluarga seseorang karena pernah berselisih dengan salah satu anggotanya.Padahal Allah berfirman,﴿وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى﴾“Seseorang tidak akan memikul dosa orang lain.” (QS. Al-An’am: 164)2. Nilailah manusia berdasarkan dirinyaIslam tidak mengenal dosa turunan. Anak seorang munafik bisa menjadi penghuni surga. Sebaliknya, anak seorang nabi pun bisa menjadi penghuni neraka apabila memilih kekufuran. Yang dinilai Allah bukanlah keluarga, melainkan iman dan amal.3. Kebencian tidak boleh menghilangkan keadilanAllah Ta’ala berfirman,﴿وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى﴾“Janganlah kebencianmu kepada suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8) Nabi ﷺ membuktikan ayat ini dalam kehidupan nyata.4. Balas budi adalah akhlak para nabiIslam tidak mengajarkan melupakan jasa orang lain. Sekalipun Abdullah bin Ubay memiliki dosa yang sangat besar, Rasulullah ﷺ tetap mengingat satu kebaikan yang pernah ia lakukan.Ini mengajarkan kepada kita agar tidak mudah menghapus seluruh kebaikan seseorang hanya karena satu kesalahan.5. Akhlak yang mulia lebih kuat daripada dendamNabi ﷺ mampu membalas keburukan dengan kemuliaan akhlak. Beliau tidak pernah membiarkan dendam menguasai keputusan-keputusannya. Beliau selalu bertindak berdasarkan wahyu, keadilan, dan kasih sayang.Inilah akhlak yang seharusnya hidup di tengah keluarga, masyarakat, bahkan di media sosial. Jamaah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah,PenutupKisah Abdullah bin Ubay bin Salul mengajarkan bahwa Islam bukan agama yang membangun hubungan di atas dendam, tetapi di atas keadilan dan akhlak mulia. Rasulullah ﷺ tidak pernah mewariskan permusuhan kepada anak-anak atau keluarga orang yang memusuhinya. Beliau tetap membalas kebaikan, menjaga perasaan seorang sahabat yang saleh, dan berlaku adil sekalipun terhadap keluarga musuhnya.Di zaman ketika permusuhan sering diwariskan antargenerasi, kisah ini menjadi pengingat bahwa kemuliaan seorang mukmin bukan terletak pada kemampuannya membalas dendam, melainkan pada kemampuannya menjaga keadilan dan akhlak. Sebagaimana Rasulullah ﷺ, marilah kita menilai setiap orang berdasarkan iman, amal, dan akhlaknya, bukan berdasarkan keburukan keluarganya. Itulah akhlak kenabian yang patut kita teladani.أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الْجَلِيلَ لِي وَلَكُمْ، وَلِوَالِدِينَا، وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ وَتُوبُوا إِلَيْهِ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ. Khutbah Keduaالْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَاتَّقُوا اللَّهَ عِبَادَ اللَّهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ مِنْ أَعْظَمِ الْقُرُبَاتِ إِلَى اللَّهِ حُسْنُ الْخُلُقِ، وَالْعَدْلُ بَيْنَ النَّاسِ، وَأَنْ لَا يَحْمِلَنَا الْغَضَبُ وَلَا الْعَدَاوَةُ عَلَى الظُّلْمِ وَالْبَغْيِ. فَكُونُوا مِمَّنْ يَعْفُونَ وَيُحْسِنُونَ، وَاذْكُرُوا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ أَعْظَمَ النَّاسِ خُلُقًا، وَأَكْمَلَهُمْ عَدْلًا، وَأَوْفَاهُمْ بِالْمَعْرُوفِ، فَاقْتَدُوا بِهِ، وَتَمَسَّكُوا بِسُنَّتِهِ، تَفُوزُوا بِخَيْرَيِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعْمَتِكَ، مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمَّهَا عَلَيْنَا. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللَّهِ، ﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ﴾ فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ. Catatan:Allah Ta’ala berfirman,﴿لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ﴾“Apabila kita kembali ke Madinah, pasti orang yang mulia akan mengusir orang yang hina.” (QS. Al-Munafiqun: 8). Perkataan itu terjadi pada Perang (Ghazwah) Bani Musthaliq atau disebut juga Perang Al-Muraisi’ pada tahun 5 H (sebagian ulama mengatakan 6 H). Kronologi PeristiwanyaSetelah kaum muslimin memenangkan Perang Bani Musthaliq, mereka singgah di sebuah mata air bernama Al-Muraisi’.Di sana terjadi perselisihan kecil antara:Jahjah bin Sa’id (dari Muhajirin)Sinan bin Wabar Al-Juhani (sekutu Anshar)Keduanya berebut air hingga saling memanggil kaumnya: “Wahai kaum Muhajirin!” dan “Wahai kaum Anshar!” Rasulullah ﷺ segera menegur,«دَعُوهَا، فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ»“Tinggalkan fanatisme seperti itu, karena ia adalah seruan yang busuk.” (HR. Bukhari dan Muslim) Abdullah bin Ubay Memanfaatkan KesempatanMelihat ada sedikit gesekan antara Muhajirin dan Anshar, Abdullah bin Ubay menganggap ini kesempatan untuk memecah belah kaum muslimin. Ia berkata kepada pengikutnya,لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ“Apabila kita kembali ke Madinah, pasti orang yang mulia akan mengusir orang yang hina.”Yang ia maksud:“Orang yang mulia” adalah dirinya dan kaum Anshar.“Orang yang hina” adalah Rasulullah ﷺ dan kaum Muhajirin.Ucapan ini diabadikan Allah dalam Surah Al-Munafiqun ayat 8. Didengar oleh Seorang Sahabat MudaUcapan tersebut didengar oleh Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu, yang saat itu masih sangat muda. Ia segera melaporkannya kepada Rasulullah ﷺ. Awalnya Abdullah bin Ubay bersumpah bahwa ia tidak pernah mengucapkannya. Sebagian orang bahkan sempat membela Abdullah bin Ubay sehingga Zaid merasa sedih karena laporannya dianggap tidak benar. Namun tidak lama kemudian Allah menurunkan Surah Al-Munafiqun yang membenarkan laporan Zaid dan membongkar kedok Abdullah bin Ubay.  —– Jumat, 7 Agustus 2027@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsAbdullah bin Ubay adab Islam akhlak islam akhlak Rasulullah balas budi khutbah jumat kisah sahabat peperangan dalam islam peperangan di masa Rasulullah perang perang bani musthaliq perang muraisi rumaysho sirah nabawiyah Tafsir At-Taubah

Tafsir Surah At-Takwir (Bag. 1): Kiamat Datang dan Manusia Ingat Segala Amalnya

Surah At-Takwir adalah surah ke-81 dalam Al-Qur’an, sebuah surat Makiyah yang banyak berbicara tentang kejadian-kejadian luar biasa pada hari kiamat, kejadian besar yang menggemparkan manusia, yang dapat mereka saksikan di bumi maupun di langit.Setelah membahas hari kiamat, kemudian Allah berbicara tentang keagungan Al-Qur’an, dibawa oleh malaikat Jibril dari langit, disampaikan kepada Manusia paling mulia, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Setelah itu, Allah berbicara tentang keadaan kaum musyrikin yang menentang Al-Qur’an.Salah satu keutamaan dari surat ini adalah gambarannya yang sangat mendetail tentang kejadian di hari kiamat, sehingga Nabi sendiri pernah mengatakan bahwa siapa saja yang ingin mengetahui bagaimana kiamat terjadi, maka baca dan renungilah surah ini.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ“Apabila matahari digulung.” (QS. At-Takwīr [81]: 1)Allah Subhanahu wa Ta’ala memulai dengan kalimat “idza” yang artinya “ketika” atau “apabila” sebanyak 12 kali, sebagai bentuk tasywiq, yaitu mencari perhatian pembaca, agar benar-benar menyimak apa yang Allah sampaikan dan merasa penasaran atas apa akhir dari pembicaraan ini.Allah sampaikan bahwa pada hari kiamat, matahari akan dihilangkan pancaran cahayanya, padahal dahulu telah bersinar cemerlang selama ribuan tahun.Lafal “kuwwirat” atau dengan mashdar “takwir” bermakna menggulung atau digulung. Makna pertama dari matahari digulung adalah digulung seperti digulungnya sorban, yang bermakna matahari digulung sedemikian rupa sehingga sirna pancarannya dari segala penjuru. Ungkapan ini bermakna bahwa matahari akan hancur dan hilang eksistensinya. Sehingga tafsiran ini bermakna bahwa matahari akan hilang, baik benda maupun cahayanya.Adapun makna kedua, digulung adalah seperti digulungnya selembar pakaian ketika sudah tidak digunakan lagi. Ungkapan ini bermakna bahwa matahari masih akan tetap ada pada tempatnya; akan tetapi, cahayanya saat ini sudah hilang dan sudah tidak menerangi.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا النُّجُوْمُ انْكَدَرَتْ“Apabila bintang-bintang berjatuhan.” (QS. At-Takwīr [81]: 2)Kejadian berikutnya pada hari kiamat adalah bintang-bintang berjatuhan. Makna dari berjatuhan di sini mencakup dua makna: pertama adalah meredup dan perlahan-lahan hilang pancaran serta fisik bintang tersebut. Makna kedua adalah hancur dan berguguran dengan cepat.Jika kita lihat dari langit dunia, bintang seakan “ditempelkan” ke langit, menempel dengan kuat selama ribuan tahun, menjadi pelita dan kompas manusia di kegelapan malam hari. Jika ditinjau dari ilmu fisika, sejatinya bintang adalah benda langit super raksasa yang ukurannya bisa miliaran kali ukuran bumi; akan tetapi karena sangat jauhnya, maka terlihat kecil dan seperti lentera di gelapnya malam. Maka bintang-bintang yang raksasa ini akan Allah “copot” dari bingkai alam semesta, diredupkan, kemudian dihancurkan. Sebagai tanda betapa kuasanya Allah atas semesta alam.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ“Apabila gunung-gunung dihancurkan.” (QS. At-Takwīr [81]: 3)Pada hari kiamat, Allah mencabut gunung-gunung yang ada di dunia dari tempat pancangnya, menggerakkannya, kemudian menerbangkannya ke udara, serta menabrakkannya satu dengan yang lain, sehingga berubah wujud menjadi debu yang beterbangan.Hal ini bisa kita tadabburi ketika melihat suatu gunung meletus, dia meletus dengan dahsyat, menyemburkan awan dan debu vulkanis jauh ke udara. Gunung yang kelihatan kokoh, seakan berubah menjadi debu-debu kecil yang mudah diterbangkan oleh angin.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ“Apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak terurus).” (QS. At-Takwīr [81]: 4)Melihat kengerian berbagai kejadian hari kiamat, dimana matahari tergulung, bintang berjatuhan, serta gunung hancur, maka manusia akan merasa ketakutan yang sangat takut. Manusia akan berlari meninggalkan semua hal yang mereka anggap berharga, tidak peduli lagi selain pada keselamatan jiwa mereka, berlarian mencari tempat berlindung.Ketakukan inilah yang Allah gambarkan pada ayat ini. Orang-orang berlari meninggalkan unta gembalaannya yang sedang mengandung anak. Padahal pada zaman dahulu, unta bunting adalah harta terbesar orang Arab. Artinya, mereka tidak peduli lagi dengan hartanya, hanya peduli dengan keselamatannya.Allah ingin mendekatkan pemahaman kepada orang-orang Arab yang hidup bersama Nabi pada saat itu, dengan suatu hal yang mereka mengerti dengan mudah, yaitu dengan gambaran mereka lari meninggalkan unta mereka yang hamil tidak terurus. Pesan dan makna dalam Al-Qur’an bukanlah pesan berhenti di satu masa tertentu dan dikhususkan untuk kaum tertentu; akan tetapi, pesan Al-Qur’an adalah pesan yang abadi, dimana pesan yang terkandung bisa dimengerti sampai hari kiamat bagi mereka yang melakukan tadabbur.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الْوُحُوْشُ حُشِرَتْ“Apabila binatang-binatang liar dikumpulkan.” (QS. At-Takwīr [81]: 5)Kemudian bagaimana dengan hewan-hewan liar, apakah mereka juga merasakan ketakutan? Jawabannya adalah iya, mereka juga merasakan ketakutan yang sangat ketika melihat berbagai peristiwa mengerikan ini. Digambarkan bahwa saking takutnya hewan-hewan ini, mereka berkumpul di suatu tempat yang sama untuk menguatkan diri mereka. Bahkan ditafsirkan bahwa hewan buas pemangsa akan berkumpul dengan mangsanya, dalam keadaan takut, bukan untuk saling memangsa, akan tetapi untuk mencari perlindungan satu sama lain.Pendapat lain mengatakan bahwa “dikumpulkan” dalam makna ayat adalah bahwa hewan-hewan liar akan mati bersamaan, karena ketakutan yang luar biasa.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ“Apabila lautan dipanaskan.” (QS. At-Takwīr [81]: 6)Pada hari kiamat, lautan yang tadinya berisi air yang sangat banyak akan berubah menjadi lautan api yang sangat panas. Lautan dan samudra akan digoncangkan sisi dasarnya, membuka retakan-retakan raksasa yang mengekspos isi perut bumi yang amat panas, lalu api akan berkobar dari retakan tersebut. Air laut dalam yang tadinya sangat dingin mendekati titik beku, akan memanas, kemudian menguap karena melewati titik didih. Air laut akan habis tanpa sisa, tidak ada lagi air di muka bumi, sehingga semua wajah bumi saat ini adalah dataran yang sangat luas dan disiapkan untuk menjadi madang mahsyar, menjadi tempat berkumpul semua manusia.Ulama berbeda pendapat tentang padang mahsyar, apakah berada di bumi yang saat ini kita tempati atau berada pada bumi yang lain. Dari ayat ini, didapatkan salah satu tafsiran tentang di manakah letak padang masyhar, yaitu di bumi yang sama dengan yang kita tempati hari ini. Akan tetapi, bumi telah diubah, semuanya dijadikan dataran dan hamparan karena laut telah hilang karena dinyalakan oleh api yang sangat panas. Suatu dataran yang amat luas tanpa bukit dan lembah karena semua gunung telah dihancurkan dan dijadikan debu yang beterbangan.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا النُّفُوْسُ زُوِّجَتْ“Apabila roh-roh dipertemukan (dengan tubuh).” (QS. At-Takwīr [81]:7)Allah kemudian membangkitkan jasad dari dalam kubur, digabungkan tulang-tulang yang berjarak ribuan kilometer, kemudian daging tumbuh dari tulang tersebut, semua manusia bangkit dari kubur dalam keadaan tidak menggunakan pakaian apapun.Setelah tubuh selesai dibangkitkan, lalu Allah pertemukan lagi ruh dengan jasadnya, tanpa ada yang tertukar. Semua ruh masuk kembali ke jasad untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di dunia.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الْمَوْءٗدَةُ سُىِٕلَتْۖ , بِاَيِّ ذَنْۢبٍ قُتِلَتْ“Apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, ‘Karena dosa apa dia dibunuh?'” (QS. At-Takwīr [81]: 8-9)Ibnu Juzay dalam At-Tashil menjelaskan bahwa sebagian suku Arab yang ada pada zaman Rasulullah memiliki kebiasaan untuk membunuh anak perempuan mereka yang masih kecil, dibunuh dengan cara dikubur hidup-hidup. Hal ini karena mereka tidak menyukai memiliki keturunan perempuan. Pada zaman dahulu, peperangan antar suku masih sering terjadi, perempuan-perempuan di masa itu dianggap sebagai aib karena tidak biasa diajak berperang, serta dianggap sebagai beban karena hanya akan menjadi tawanan dan budak ketika suku mereka kalah.Dengan pemikiran yang “bodoh”, mereka berpikir bahwa sebaiknya dibunuh sekarang saja saat masih kecil, tidak perlu repot-repot mengurus dan memberi makan sampai dewasa, toh saat dewasa juga tidak ada gunanya, tidak bisa diajak berperang. Itu sebagian pikiran bodoh mereka.Pemikiran ini kemudian dihapus oleh Islam. Islam memuliakan para wanita dengan kewajiban pada laki-laki untuk menjaga mereka. Ayah menjaga anak perempuan mereka, suami menjaga istri mereka, saudara laki-laki menjaga saudari mereka. Dijaga dengan bentuk menutup aurat, menjaga agar tidak terkena pergaulan bebas yang bisa merusak mereka dan merusak keturunan. Islam adalah agama yang paling memuliakan wanita, baik sebagai anak ataupun sebagai ibu.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتْ“Apabila lembaran-lembaran (catatan amal) telah dibuka lebar-lebar.” (QS. At-Takwīr [81]:10)Setelah itu, datanglah catatan amal yang merupakan bukti kuat atas segala hal yang telah dikerjakan di dunia. Catatan tersebut diberikan dan dibuka lebar-lebar ketika terjadi hisab atau pertanggungjawaban amal perbuatan.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا السَّمَاۤءُ كُشِطَتْ“Apabila langit dilenyapkan.” (QS. At-Takwīr [81]: 11)Sebelum melanjutkan bagaimana keadaan manusia, Allah mengingatkan kembali tentang dahsyatnya hari kiamat. Hari kiamat, sebuah hari dimana langit lenyap, dicopot dari “bingkainya”, seakan dicopotnya kulit dari binatang yang telah disembelih.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الْجَحِيْمُ سُعِّرَتْ“Apabila (neraka) Jahim dinyalakan.” (QS. At-Takwīr [81]: 12)Yaitu, ketika neraka dipanaskan dan dikobarkan apinya dengan sangat panas untuk menyiksa orang-orang kafir dan para pendosa.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الْجَنَّةُ اُزْلِفَتْ“Dan apabila surga didekatkan.” (QS. At-Takwīr [81]: 13)Ketika surga didekatkan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan beramal saleh, serta senantiasa berbuat kebaikan kepada sesama makhluk Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّآ اَحْضَرَتْ“Setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.” (QS. At-Takwīr [81]: 14)Maka ketika itu semua terjadi, dari hancurnya matahari, hancurnya gunung-gunung, lautan dinyalakan, sampai manusia melihat neraka dan surga, pada saat itulah manusia mengetahui dan ingat kembali setiap detik apa yang telah dia lakukan di dunia berupa amal baik atau amal keburukan, dia ingat dari mana setiap harta yang dia dapatkan dan untuk apa, dia ingat mayoritas waktu yang dia lakukan untuk menyembah atau mendurhakai Allah, manusia, yaitu kita semua, akan ingat.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/

Tafsir Surah At-Takwir (Bag. 1): Kiamat Datang dan Manusia Ingat Segala Amalnya

Surah At-Takwir adalah surah ke-81 dalam Al-Qur’an, sebuah surat Makiyah yang banyak berbicara tentang kejadian-kejadian luar biasa pada hari kiamat, kejadian besar yang menggemparkan manusia, yang dapat mereka saksikan di bumi maupun di langit.Setelah membahas hari kiamat, kemudian Allah berbicara tentang keagungan Al-Qur’an, dibawa oleh malaikat Jibril dari langit, disampaikan kepada Manusia paling mulia, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Setelah itu, Allah berbicara tentang keadaan kaum musyrikin yang menentang Al-Qur’an.Salah satu keutamaan dari surat ini adalah gambarannya yang sangat mendetail tentang kejadian di hari kiamat, sehingga Nabi sendiri pernah mengatakan bahwa siapa saja yang ingin mengetahui bagaimana kiamat terjadi, maka baca dan renungilah surah ini.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ“Apabila matahari digulung.” (QS. At-Takwīr [81]: 1)Allah Subhanahu wa Ta’ala memulai dengan kalimat “idza” yang artinya “ketika” atau “apabila” sebanyak 12 kali, sebagai bentuk tasywiq, yaitu mencari perhatian pembaca, agar benar-benar menyimak apa yang Allah sampaikan dan merasa penasaran atas apa akhir dari pembicaraan ini.Allah sampaikan bahwa pada hari kiamat, matahari akan dihilangkan pancaran cahayanya, padahal dahulu telah bersinar cemerlang selama ribuan tahun.Lafal “kuwwirat” atau dengan mashdar “takwir” bermakna menggulung atau digulung. Makna pertama dari matahari digulung adalah digulung seperti digulungnya sorban, yang bermakna matahari digulung sedemikian rupa sehingga sirna pancarannya dari segala penjuru. Ungkapan ini bermakna bahwa matahari akan hancur dan hilang eksistensinya. Sehingga tafsiran ini bermakna bahwa matahari akan hilang, baik benda maupun cahayanya.Adapun makna kedua, digulung adalah seperti digulungnya selembar pakaian ketika sudah tidak digunakan lagi. Ungkapan ini bermakna bahwa matahari masih akan tetap ada pada tempatnya; akan tetapi, cahayanya saat ini sudah hilang dan sudah tidak menerangi.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا النُّجُوْمُ انْكَدَرَتْ“Apabila bintang-bintang berjatuhan.” (QS. At-Takwīr [81]: 2)Kejadian berikutnya pada hari kiamat adalah bintang-bintang berjatuhan. Makna dari berjatuhan di sini mencakup dua makna: pertama adalah meredup dan perlahan-lahan hilang pancaran serta fisik bintang tersebut. Makna kedua adalah hancur dan berguguran dengan cepat.Jika kita lihat dari langit dunia, bintang seakan “ditempelkan” ke langit, menempel dengan kuat selama ribuan tahun, menjadi pelita dan kompas manusia di kegelapan malam hari. Jika ditinjau dari ilmu fisika, sejatinya bintang adalah benda langit super raksasa yang ukurannya bisa miliaran kali ukuran bumi; akan tetapi karena sangat jauhnya, maka terlihat kecil dan seperti lentera di gelapnya malam. Maka bintang-bintang yang raksasa ini akan Allah “copot” dari bingkai alam semesta, diredupkan, kemudian dihancurkan. Sebagai tanda betapa kuasanya Allah atas semesta alam.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ“Apabila gunung-gunung dihancurkan.” (QS. At-Takwīr [81]: 3)Pada hari kiamat, Allah mencabut gunung-gunung yang ada di dunia dari tempat pancangnya, menggerakkannya, kemudian menerbangkannya ke udara, serta menabrakkannya satu dengan yang lain, sehingga berubah wujud menjadi debu yang beterbangan.Hal ini bisa kita tadabburi ketika melihat suatu gunung meletus, dia meletus dengan dahsyat, menyemburkan awan dan debu vulkanis jauh ke udara. Gunung yang kelihatan kokoh, seakan berubah menjadi debu-debu kecil yang mudah diterbangkan oleh angin.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ“Apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak terurus).” (QS. At-Takwīr [81]: 4)Melihat kengerian berbagai kejadian hari kiamat, dimana matahari tergulung, bintang berjatuhan, serta gunung hancur, maka manusia akan merasa ketakutan yang sangat takut. Manusia akan berlari meninggalkan semua hal yang mereka anggap berharga, tidak peduli lagi selain pada keselamatan jiwa mereka, berlarian mencari tempat berlindung.Ketakukan inilah yang Allah gambarkan pada ayat ini. Orang-orang berlari meninggalkan unta gembalaannya yang sedang mengandung anak. Padahal pada zaman dahulu, unta bunting adalah harta terbesar orang Arab. Artinya, mereka tidak peduli lagi dengan hartanya, hanya peduli dengan keselamatannya.Allah ingin mendekatkan pemahaman kepada orang-orang Arab yang hidup bersama Nabi pada saat itu, dengan suatu hal yang mereka mengerti dengan mudah, yaitu dengan gambaran mereka lari meninggalkan unta mereka yang hamil tidak terurus. Pesan dan makna dalam Al-Qur’an bukanlah pesan berhenti di satu masa tertentu dan dikhususkan untuk kaum tertentu; akan tetapi, pesan Al-Qur’an adalah pesan yang abadi, dimana pesan yang terkandung bisa dimengerti sampai hari kiamat bagi mereka yang melakukan tadabbur.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الْوُحُوْشُ حُشِرَتْ“Apabila binatang-binatang liar dikumpulkan.” (QS. At-Takwīr [81]: 5)Kemudian bagaimana dengan hewan-hewan liar, apakah mereka juga merasakan ketakutan? Jawabannya adalah iya, mereka juga merasakan ketakutan yang sangat ketika melihat berbagai peristiwa mengerikan ini. Digambarkan bahwa saking takutnya hewan-hewan ini, mereka berkumpul di suatu tempat yang sama untuk menguatkan diri mereka. Bahkan ditafsirkan bahwa hewan buas pemangsa akan berkumpul dengan mangsanya, dalam keadaan takut, bukan untuk saling memangsa, akan tetapi untuk mencari perlindungan satu sama lain.Pendapat lain mengatakan bahwa “dikumpulkan” dalam makna ayat adalah bahwa hewan-hewan liar akan mati bersamaan, karena ketakutan yang luar biasa.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ“Apabila lautan dipanaskan.” (QS. At-Takwīr [81]: 6)Pada hari kiamat, lautan yang tadinya berisi air yang sangat banyak akan berubah menjadi lautan api yang sangat panas. Lautan dan samudra akan digoncangkan sisi dasarnya, membuka retakan-retakan raksasa yang mengekspos isi perut bumi yang amat panas, lalu api akan berkobar dari retakan tersebut. Air laut dalam yang tadinya sangat dingin mendekati titik beku, akan memanas, kemudian menguap karena melewati titik didih. Air laut akan habis tanpa sisa, tidak ada lagi air di muka bumi, sehingga semua wajah bumi saat ini adalah dataran yang sangat luas dan disiapkan untuk menjadi madang mahsyar, menjadi tempat berkumpul semua manusia.Ulama berbeda pendapat tentang padang mahsyar, apakah berada di bumi yang saat ini kita tempati atau berada pada bumi yang lain. Dari ayat ini, didapatkan salah satu tafsiran tentang di manakah letak padang masyhar, yaitu di bumi yang sama dengan yang kita tempati hari ini. Akan tetapi, bumi telah diubah, semuanya dijadikan dataran dan hamparan karena laut telah hilang karena dinyalakan oleh api yang sangat panas. Suatu dataran yang amat luas tanpa bukit dan lembah karena semua gunung telah dihancurkan dan dijadikan debu yang beterbangan.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا النُّفُوْسُ زُوِّجَتْ“Apabila roh-roh dipertemukan (dengan tubuh).” (QS. At-Takwīr [81]:7)Allah kemudian membangkitkan jasad dari dalam kubur, digabungkan tulang-tulang yang berjarak ribuan kilometer, kemudian daging tumbuh dari tulang tersebut, semua manusia bangkit dari kubur dalam keadaan tidak menggunakan pakaian apapun.Setelah tubuh selesai dibangkitkan, lalu Allah pertemukan lagi ruh dengan jasadnya, tanpa ada yang tertukar. Semua ruh masuk kembali ke jasad untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di dunia.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الْمَوْءٗدَةُ سُىِٕلَتْۖ , بِاَيِّ ذَنْۢبٍ قُتِلَتْ“Apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, ‘Karena dosa apa dia dibunuh?'” (QS. At-Takwīr [81]: 8-9)Ibnu Juzay dalam At-Tashil menjelaskan bahwa sebagian suku Arab yang ada pada zaman Rasulullah memiliki kebiasaan untuk membunuh anak perempuan mereka yang masih kecil, dibunuh dengan cara dikubur hidup-hidup. Hal ini karena mereka tidak menyukai memiliki keturunan perempuan. Pada zaman dahulu, peperangan antar suku masih sering terjadi, perempuan-perempuan di masa itu dianggap sebagai aib karena tidak biasa diajak berperang, serta dianggap sebagai beban karena hanya akan menjadi tawanan dan budak ketika suku mereka kalah.Dengan pemikiran yang “bodoh”, mereka berpikir bahwa sebaiknya dibunuh sekarang saja saat masih kecil, tidak perlu repot-repot mengurus dan memberi makan sampai dewasa, toh saat dewasa juga tidak ada gunanya, tidak bisa diajak berperang. Itu sebagian pikiran bodoh mereka.Pemikiran ini kemudian dihapus oleh Islam. Islam memuliakan para wanita dengan kewajiban pada laki-laki untuk menjaga mereka. Ayah menjaga anak perempuan mereka, suami menjaga istri mereka, saudara laki-laki menjaga saudari mereka. Dijaga dengan bentuk menutup aurat, menjaga agar tidak terkena pergaulan bebas yang bisa merusak mereka dan merusak keturunan. Islam adalah agama yang paling memuliakan wanita, baik sebagai anak ataupun sebagai ibu.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتْ“Apabila lembaran-lembaran (catatan amal) telah dibuka lebar-lebar.” (QS. At-Takwīr [81]:10)Setelah itu, datanglah catatan amal yang merupakan bukti kuat atas segala hal yang telah dikerjakan di dunia. Catatan tersebut diberikan dan dibuka lebar-lebar ketika terjadi hisab atau pertanggungjawaban amal perbuatan.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا السَّمَاۤءُ كُشِطَتْ“Apabila langit dilenyapkan.” (QS. At-Takwīr [81]: 11)Sebelum melanjutkan bagaimana keadaan manusia, Allah mengingatkan kembali tentang dahsyatnya hari kiamat. Hari kiamat, sebuah hari dimana langit lenyap, dicopot dari “bingkainya”, seakan dicopotnya kulit dari binatang yang telah disembelih.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الْجَحِيْمُ سُعِّرَتْ“Apabila (neraka) Jahim dinyalakan.” (QS. At-Takwīr [81]: 12)Yaitu, ketika neraka dipanaskan dan dikobarkan apinya dengan sangat panas untuk menyiksa orang-orang kafir dan para pendosa.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الْجَنَّةُ اُزْلِفَتْ“Dan apabila surga didekatkan.” (QS. At-Takwīr [81]: 13)Ketika surga didekatkan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan beramal saleh, serta senantiasa berbuat kebaikan kepada sesama makhluk Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّآ اَحْضَرَتْ“Setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.” (QS. At-Takwīr [81]: 14)Maka ketika itu semua terjadi, dari hancurnya matahari, hancurnya gunung-gunung, lautan dinyalakan, sampai manusia melihat neraka dan surga, pada saat itulah manusia mengetahui dan ingat kembali setiap detik apa yang telah dia lakukan di dunia berupa amal baik atau amal keburukan, dia ingat dari mana setiap harta yang dia dapatkan dan untuk apa, dia ingat mayoritas waktu yang dia lakukan untuk menyembah atau mendurhakai Allah, manusia, yaitu kita semua, akan ingat.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/
Surah At-Takwir adalah surah ke-81 dalam Al-Qur’an, sebuah surat Makiyah yang banyak berbicara tentang kejadian-kejadian luar biasa pada hari kiamat, kejadian besar yang menggemparkan manusia, yang dapat mereka saksikan di bumi maupun di langit.Setelah membahas hari kiamat, kemudian Allah berbicara tentang keagungan Al-Qur’an, dibawa oleh malaikat Jibril dari langit, disampaikan kepada Manusia paling mulia, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Setelah itu, Allah berbicara tentang keadaan kaum musyrikin yang menentang Al-Qur’an.Salah satu keutamaan dari surat ini adalah gambarannya yang sangat mendetail tentang kejadian di hari kiamat, sehingga Nabi sendiri pernah mengatakan bahwa siapa saja yang ingin mengetahui bagaimana kiamat terjadi, maka baca dan renungilah surah ini.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ“Apabila matahari digulung.” (QS. At-Takwīr [81]: 1)Allah Subhanahu wa Ta’ala memulai dengan kalimat “idza” yang artinya “ketika” atau “apabila” sebanyak 12 kali, sebagai bentuk tasywiq, yaitu mencari perhatian pembaca, agar benar-benar menyimak apa yang Allah sampaikan dan merasa penasaran atas apa akhir dari pembicaraan ini.Allah sampaikan bahwa pada hari kiamat, matahari akan dihilangkan pancaran cahayanya, padahal dahulu telah bersinar cemerlang selama ribuan tahun.Lafal “kuwwirat” atau dengan mashdar “takwir” bermakna menggulung atau digulung. Makna pertama dari matahari digulung adalah digulung seperti digulungnya sorban, yang bermakna matahari digulung sedemikian rupa sehingga sirna pancarannya dari segala penjuru. Ungkapan ini bermakna bahwa matahari akan hancur dan hilang eksistensinya. Sehingga tafsiran ini bermakna bahwa matahari akan hilang, baik benda maupun cahayanya.Adapun makna kedua, digulung adalah seperti digulungnya selembar pakaian ketika sudah tidak digunakan lagi. Ungkapan ini bermakna bahwa matahari masih akan tetap ada pada tempatnya; akan tetapi, cahayanya saat ini sudah hilang dan sudah tidak menerangi.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا النُّجُوْمُ انْكَدَرَتْ“Apabila bintang-bintang berjatuhan.” (QS. At-Takwīr [81]: 2)Kejadian berikutnya pada hari kiamat adalah bintang-bintang berjatuhan. Makna dari berjatuhan di sini mencakup dua makna: pertama adalah meredup dan perlahan-lahan hilang pancaran serta fisik bintang tersebut. Makna kedua adalah hancur dan berguguran dengan cepat.Jika kita lihat dari langit dunia, bintang seakan “ditempelkan” ke langit, menempel dengan kuat selama ribuan tahun, menjadi pelita dan kompas manusia di kegelapan malam hari. Jika ditinjau dari ilmu fisika, sejatinya bintang adalah benda langit super raksasa yang ukurannya bisa miliaran kali ukuran bumi; akan tetapi karena sangat jauhnya, maka terlihat kecil dan seperti lentera di gelapnya malam. Maka bintang-bintang yang raksasa ini akan Allah “copot” dari bingkai alam semesta, diredupkan, kemudian dihancurkan. Sebagai tanda betapa kuasanya Allah atas semesta alam.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ“Apabila gunung-gunung dihancurkan.” (QS. At-Takwīr [81]: 3)Pada hari kiamat, Allah mencabut gunung-gunung yang ada di dunia dari tempat pancangnya, menggerakkannya, kemudian menerbangkannya ke udara, serta menabrakkannya satu dengan yang lain, sehingga berubah wujud menjadi debu yang beterbangan.Hal ini bisa kita tadabburi ketika melihat suatu gunung meletus, dia meletus dengan dahsyat, menyemburkan awan dan debu vulkanis jauh ke udara. Gunung yang kelihatan kokoh, seakan berubah menjadi debu-debu kecil yang mudah diterbangkan oleh angin.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ“Apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak terurus).” (QS. At-Takwīr [81]: 4)Melihat kengerian berbagai kejadian hari kiamat, dimana matahari tergulung, bintang berjatuhan, serta gunung hancur, maka manusia akan merasa ketakutan yang sangat takut. Manusia akan berlari meninggalkan semua hal yang mereka anggap berharga, tidak peduli lagi selain pada keselamatan jiwa mereka, berlarian mencari tempat berlindung.Ketakukan inilah yang Allah gambarkan pada ayat ini. Orang-orang berlari meninggalkan unta gembalaannya yang sedang mengandung anak. Padahal pada zaman dahulu, unta bunting adalah harta terbesar orang Arab. Artinya, mereka tidak peduli lagi dengan hartanya, hanya peduli dengan keselamatannya.Allah ingin mendekatkan pemahaman kepada orang-orang Arab yang hidup bersama Nabi pada saat itu, dengan suatu hal yang mereka mengerti dengan mudah, yaitu dengan gambaran mereka lari meninggalkan unta mereka yang hamil tidak terurus. Pesan dan makna dalam Al-Qur’an bukanlah pesan berhenti di satu masa tertentu dan dikhususkan untuk kaum tertentu; akan tetapi, pesan Al-Qur’an adalah pesan yang abadi, dimana pesan yang terkandung bisa dimengerti sampai hari kiamat bagi mereka yang melakukan tadabbur.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الْوُحُوْشُ حُشِرَتْ“Apabila binatang-binatang liar dikumpulkan.” (QS. At-Takwīr [81]: 5)Kemudian bagaimana dengan hewan-hewan liar, apakah mereka juga merasakan ketakutan? Jawabannya adalah iya, mereka juga merasakan ketakutan yang sangat ketika melihat berbagai peristiwa mengerikan ini. Digambarkan bahwa saking takutnya hewan-hewan ini, mereka berkumpul di suatu tempat yang sama untuk menguatkan diri mereka. Bahkan ditafsirkan bahwa hewan buas pemangsa akan berkumpul dengan mangsanya, dalam keadaan takut, bukan untuk saling memangsa, akan tetapi untuk mencari perlindungan satu sama lain.Pendapat lain mengatakan bahwa “dikumpulkan” dalam makna ayat adalah bahwa hewan-hewan liar akan mati bersamaan, karena ketakutan yang luar biasa.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ“Apabila lautan dipanaskan.” (QS. At-Takwīr [81]: 6)Pada hari kiamat, lautan yang tadinya berisi air yang sangat banyak akan berubah menjadi lautan api yang sangat panas. Lautan dan samudra akan digoncangkan sisi dasarnya, membuka retakan-retakan raksasa yang mengekspos isi perut bumi yang amat panas, lalu api akan berkobar dari retakan tersebut. Air laut dalam yang tadinya sangat dingin mendekati titik beku, akan memanas, kemudian menguap karena melewati titik didih. Air laut akan habis tanpa sisa, tidak ada lagi air di muka bumi, sehingga semua wajah bumi saat ini adalah dataran yang sangat luas dan disiapkan untuk menjadi madang mahsyar, menjadi tempat berkumpul semua manusia.Ulama berbeda pendapat tentang padang mahsyar, apakah berada di bumi yang saat ini kita tempati atau berada pada bumi yang lain. Dari ayat ini, didapatkan salah satu tafsiran tentang di manakah letak padang masyhar, yaitu di bumi yang sama dengan yang kita tempati hari ini. Akan tetapi, bumi telah diubah, semuanya dijadikan dataran dan hamparan karena laut telah hilang karena dinyalakan oleh api yang sangat panas. Suatu dataran yang amat luas tanpa bukit dan lembah karena semua gunung telah dihancurkan dan dijadikan debu yang beterbangan.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا النُّفُوْسُ زُوِّجَتْ“Apabila roh-roh dipertemukan (dengan tubuh).” (QS. At-Takwīr [81]:7)Allah kemudian membangkitkan jasad dari dalam kubur, digabungkan tulang-tulang yang berjarak ribuan kilometer, kemudian daging tumbuh dari tulang tersebut, semua manusia bangkit dari kubur dalam keadaan tidak menggunakan pakaian apapun.Setelah tubuh selesai dibangkitkan, lalu Allah pertemukan lagi ruh dengan jasadnya, tanpa ada yang tertukar. Semua ruh masuk kembali ke jasad untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di dunia.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الْمَوْءٗدَةُ سُىِٕلَتْۖ , بِاَيِّ ذَنْۢبٍ قُتِلَتْ“Apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, ‘Karena dosa apa dia dibunuh?'” (QS. At-Takwīr [81]: 8-9)Ibnu Juzay dalam At-Tashil menjelaskan bahwa sebagian suku Arab yang ada pada zaman Rasulullah memiliki kebiasaan untuk membunuh anak perempuan mereka yang masih kecil, dibunuh dengan cara dikubur hidup-hidup. Hal ini karena mereka tidak menyukai memiliki keturunan perempuan. Pada zaman dahulu, peperangan antar suku masih sering terjadi, perempuan-perempuan di masa itu dianggap sebagai aib karena tidak biasa diajak berperang, serta dianggap sebagai beban karena hanya akan menjadi tawanan dan budak ketika suku mereka kalah.Dengan pemikiran yang “bodoh”, mereka berpikir bahwa sebaiknya dibunuh sekarang saja saat masih kecil, tidak perlu repot-repot mengurus dan memberi makan sampai dewasa, toh saat dewasa juga tidak ada gunanya, tidak bisa diajak berperang. Itu sebagian pikiran bodoh mereka.Pemikiran ini kemudian dihapus oleh Islam. Islam memuliakan para wanita dengan kewajiban pada laki-laki untuk menjaga mereka. Ayah menjaga anak perempuan mereka, suami menjaga istri mereka, saudara laki-laki menjaga saudari mereka. Dijaga dengan bentuk menutup aurat, menjaga agar tidak terkena pergaulan bebas yang bisa merusak mereka dan merusak keturunan. Islam adalah agama yang paling memuliakan wanita, baik sebagai anak ataupun sebagai ibu.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتْ“Apabila lembaran-lembaran (catatan amal) telah dibuka lebar-lebar.” (QS. At-Takwīr [81]:10)Setelah itu, datanglah catatan amal yang merupakan bukti kuat atas segala hal yang telah dikerjakan di dunia. Catatan tersebut diberikan dan dibuka lebar-lebar ketika terjadi hisab atau pertanggungjawaban amal perbuatan.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا السَّمَاۤءُ كُشِطَتْ“Apabila langit dilenyapkan.” (QS. At-Takwīr [81]: 11)Sebelum melanjutkan bagaimana keadaan manusia, Allah mengingatkan kembali tentang dahsyatnya hari kiamat. Hari kiamat, sebuah hari dimana langit lenyap, dicopot dari “bingkainya”, seakan dicopotnya kulit dari binatang yang telah disembelih.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الْجَحِيْمُ سُعِّرَتْ“Apabila (neraka) Jahim dinyalakan.” (QS. At-Takwīr [81]: 12)Yaitu, ketika neraka dipanaskan dan dikobarkan apinya dengan sangat panas untuk menyiksa orang-orang kafir dan para pendosa.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الْجَنَّةُ اُزْلِفَتْ“Dan apabila surga didekatkan.” (QS. At-Takwīr [81]: 13)Ketika surga didekatkan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan beramal saleh, serta senantiasa berbuat kebaikan kepada sesama makhluk Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّآ اَحْضَرَتْ“Setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.” (QS. At-Takwīr [81]: 14)Maka ketika itu semua terjadi, dari hancurnya matahari, hancurnya gunung-gunung, lautan dinyalakan, sampai manusia melihat neraka dan surga, pada saat itulah manusia mengetahui dan ingat kembali setiap detik apa yang telah dia lakukan di dunia berupa amal baik atau amal keburukan, dia ingat dari mana setiap harta yang dia dapatkan dan untuk apa, dia ingat mayoritas waktu yang dia lakukan untuk menyembah atau mendurhakai Allah, manusia, yaitu kita semua, akan ingat.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/


Surah At-Takwir adalah surah ke-81 dalam Al-Qur’an, sebuah surat Makiyah yang banyak berbicara tentang kejadian-kejadian luar biasa pada hari kiamat, kejadian besar yang menggemparkan manusia, yang dapat mereka saksikan di bumi maupun di langit.Setelah membahas hari kiamat, kemudian Allah berbicara tentang keagungan Al-Qur’an, dibawa oleh malaikat Jibril dari langit, disampaikan kepada Manusia paling mulia, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Setelah itu, Allah berbicara tentang keadaan kaum musyrikin yang menentang Al-Qur’an.Salah satu keutamaan dari surat ini adalah gambarannya yang sangat mendetail tentang kejadian di hari kiamat, sehingga Nabi sendiri pernah mengatakan bahwa siapa saja yang ingin mengetahui bagaimana kiamat terjadi, maka baca dan renungilah surah ini.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ“Apabila matahari digulung.” (QS. At-Takwīr [81]: 1)Allah Subhanahu wa Ta’ala memulai dengan kalimat “idza” yang artinya “ketika” atau “apabila” sebanyak 12 kali, sebagai bentuk tasywiq, yaitu mencari perhatian pembaca, agar benar-benar menyimak apa yang Allah sampaikan dan merasa penasaran atas apa akhir dari pembicaraan ini.Allah sampaikan bahwa pada hari kiamat, matahari akan dihilangkan pancaran cahayanya, padahal dahulu telah bersinar cemerlang selama ribuan tahun.Lafal “kuwwirat” atau dengan mashdar “takwir” bermakna menggulung atau digulung. Makna pertama dari matahari digulung adalah digulung seperti digulungnya sorban, yang bermakna matahari digulung sedemikian rupa sehingga sirna pancarannya dari segala penjuru. Ungkapan ini bermakna bahwa matahari akan hancur dan hilang eksistensinya. Sehingga tafsiran ini bermakna bahwa matahari akan hilang, baik benda maupun cahayanya.Adapun makna kedua, digulung adalah seperti digulungnya selembar pakaian ketika sudah tidak digunakan lagi. Ungkapan ini bermakna bahwa matahari masih akan tetap ada pada tempatnya; akan tetapi, cahayanya saat ini sudah hilang dan sudah tidak menerangi.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا النُّجُوْمُ انْكَدَرَتْ“Apabila bintang-bintang berjatuhan.” (QS. At-Takwīr [81]: 2)Kejadian berikutnya pada hari kiamat adalah bintang-bintang berjatuhan. Makna dari berjatuhan di sini mencakup dua makna: pertama adalah meredup dan perlahan-lahan hilang pancaran serta fisik bintang tersebut. Makna kedua adalah hancur dan berguguran dengan cepat.Jika kita lihat dari langit dunia, bintang seakan “ditempelkan” ke langit, menempel dengan kuat selama ribuan tahun, menjadi pelita dan kompas manusia di kegelapan malam hari. Jika ditinjau dari ilmu fisika, sejatinya bintang adalah benda langit super raksasa yang ukurannya bisa miliaran kali ukuran bumi; akan tetapi karena sangat jauhnya, maka terlihat kecil dan seperti lentera di gelapnya malam. Maka bintang-bintang yang raksasa ini akan Allah “copot” dari bingkai alam semesta, diredupkan, kemudian dihancurkan. Sebagai tanda betapa kuasanya Allah atas semesta alam.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ“Apabila gunung-gunung dihancurkan.” (QS. At-Takwīr [81]: 3)Pada hari kiamat, Allah mencabut gunung-gunung yang ada di dunia dari tempat pancangnya, menggerakkannya, kemudian menerbangkannya ke udara, serta menabrakkannya satu dengan yang lain, sehingga berubah wujud menjadi debu yang beterbangan.Hal ini bisa kita tadabburi ketika melihat suatu gunung meletus, dia meletus dengan dahsyat, menyemburkan awan dan debu vulkanis jauh ke udara. Gunung yang kelihatan kokoh, seakan berubah menjadi debu-debu kecil yang mudah diterbangkan oleh angin.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ“Apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak terurus).” (QS. At-Takwīr [81]: 4)Melihat kengerian berbagai kejadian hari kiamat, dimana matahari tergulung, bintang berjatuhan, serta gunung hancur, maka manusia akan merasa ketakutan yang sangat takut. Manusia akan berlari meninggalkan semua hal yang mereka anggap berharga, tidak peduli lagi selain pada keselamatan jiwa mereka, berlarian mencari tempat berlindung.Ketakukan inilah yang Allah gambarkan pada ayat ini. Orang-orang berlari meninggalkan unta gembalaannya yang sedang mengandung anak. Padahal pada zaman dahulu, unta bunting adalah harta terbesar orang Arab. Artinya, mereka tidak peduli lagi dengan hartanya, hanya peduli dengan keselamatannya.Allah ingin mendekatkan pemahaman kepada orang-orang Arab yang hidup bersama Nabi pada saat itu, dengan suatu hal yang mereka mengerti dengan mudah, yaitu dengan gambaran mereka lari meninggalkan unta mereka yang hamil tidak terurus. Pesan dan makna dalam Al-Qur’an bukanlah pesan berhenti di satu masa tertentu dan dikhususkan untuk kaum tertentu; akan tetapi, pesan Al-Qur’an adalah pesan yang abadi, dimana pesan yang terkandung bisa dimengerti sampai hari kiamat bagi mereka yang melakukan tadabbur.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الْوُحُوْشُ حُشِرَتْ“Apabila binatang-binatang liar dikumpulkan.” (QS. At-Takwīr [81]: 5)Kemudian bagaimana dengan hewan-hewan liar, apakah mereka juga merasakan ketakutan? Jawabannya adalah iya, mereka juga merasakan ketakutan yang sangat ketika melihat berbagai peristiwa mengerikan ini. Digambarkan bahwa saking takutnya hewan-hewan ini, mereka berkumpul di suatu tempat yang sama untuk menguatkan diri mereka. Bahkan ditafsirkan bahwa hewan buas pemangsa akan berkumpul dengan mangsanya, dalam keadaan takut, bukan untuk saling memangsa, akan tetapi untuk mencari perlindungan satu sama lain.Pendapat lain mengatakan bahwa “dikumpulkan” dalam makna ayat adalah bahwa hewan-hewan liar akan mati bersamaan, karena ketakutan yang luar biasa.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ“Apabila lautan dipanaskan.” (QS. At-Takwīr [81]: 6)Pada hari kiamat, lautan yang tadinya berisi air yang sangat banyak akan berubah menjadi lautan api yang sangat panas. Lautan dan samudra akan digoncangkan sisi dasarnya, membuka retakan-retakan raksasa yang mengekspos isi perut bumi yang amat panas, lalu api akan berkobar dari retakan tersebut. Air laut dalam yang tadinya sangat dingin mendekati titik beku, akan memanas, kemudian menguap karena melewati titik didih. Air laut akan habis tanpa sisa, tidak ada lagi air di muka bumi, sehingga semua wajah bumi saat ini adalah dataran yang sangat luas dan disiapkan untuk menjadi madang mahsyar, menjadi tempat berkumpul semua manusia.Ulama berbeda pendapat tentang padang mahsyar, apakah berada di bumi yang saat ini kita tempati atau berada pada bumi yang lain. Dari ayat ini, didapatkan salah satu tafsiran tentang di manakah letak padang masyhar, yaitu di bumi yang sama dengan yang kita tempati hari ini. Akan tetapi, bumi telah diubah, semuanya dijadikan dataran dan hamparan karena laut telah hilang karena dinyalakan oleh api yang sangat panas. Suatu dataran yang amat luas tanpa bukit dan lembah karena semua gunung telah dihancurkan dan dijadikan debu yang beterbangan.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا النُّفُوْسُ زُوِّجَتْ“Apabila roh-roh dipertemukan (dengan tubuh).” (QS. At-Takwīr [81]:7)Allah kemudian membangkitkan jasad dari dalam kubur, digabungkan tulang-tulang yang berjarak ribuan kilometer, kemudian daging tumbuh dari tulang tersebut, semua manusia bangkit dari kubur dalam keadaan tidak menggunakan pakaian apapun.Setelah tubuh selesai dibangkitkan, lalu Allah pertemukan lagi ruh dengan jasadnya, tanpa ada yang tertukar. Semua ruh masuk kembali ke jasad untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di dunia.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الْمَوْءٗدَةُ سُىِٕلَتْۖ , بِاَيِّ ذَنْۢبٍ قُتِلَتْ“Apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, ‘Karena dosa apa dia dibunuh?'” (QS. At-Takwīr [81]: 8-9)Ibnu Juzay dalam At-Tashil menjelaskan bahwa sebagian suku Arab yang ada pada zaman Rasulullah memiliki kebiasaan untuk membunuh anak perempuan mereka yang masih kecil, dibunuh dengan cara dikubur hidup-hidup. Hal ini karena mereka tidak menyukai memiliki keturunan perempuan. Pada zaman dahulu, peperangan antar suku masih sering terjadi, perempuan-perempuan di masa itu dianggap sebagai aib karena tidak biasa diajak berperang, serta dianggap sebagai beban karena hanya akan menjadi tawanan dan budak ketika suku mereka kalah.Dengan pemikiran yang “bodoh”, mereka berpikir bahwa sebaiknya dibunuh sekarang saja saat masih kecil, tidak perlu repot-repot mengurus dan memberi makan sampai dewasa, toh saat dewasa juga tidak ada gunanya, tidak bisa diajak berperang. Itu sebagian pikiran bodoh mereka.Pemikiran ini kemudian dihapus oleh Islam. Islam memuliakan para wanita dengan kewajiban pada laki-laki untuk menjaga mereka. Ayah menjaga anak perempuan mereka, suami menjaga istri mereka, saudara laki-laki menjaga saudari mereka. Dijaga dengan bentuk menutup aurat, menjaga agar tidak terkena pergaulan bebas yang bisa merusak mereka dan merusak keturunan. Islam adalah agama yang paling memuliakan wanita, baik sebagai anak ataupun sebagai ibu.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتْ“Apabila lembaran-lembaran (catatan amal) telah dibuka lebar-lebar.” (QS. At-Takwīr [81]:10)Setelah itu, datanglah catatan amal yang merupakan bukti kuat atas segala hal yang telah dikerjakan di dunia. Catatan tersebut diberikan dan dibuka lebar-lebar ketika terjadi hisab atau pertanggungjawaban amal perbuatan.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا السَّمَاۤءُ كُشِطَتْ“Apabila langit dilenyapkan.” (QS. At-Takwīr [81]: 11)Sebelum melanjutkan bagaimana keadaan manusia, Allah mengingatkan kembali tentang dahsyatnya hari kiamat. Hari kiamat, sebuah hari dimana langit lenyap, dicopot dari “bingkainya”, seakan dicopotnya kulit dari binatang yang telah disembelih.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الْجَحِيْمُ سُعِّرَتْ“Apabila (neraka) Jahim dinyalakan.” (QS. At-Takwīr [81]: 12)Yaitu, ketika neraka dipanaskan dan dikobarkan apinya dengan sangat panas untuk menyiksa orang-orang kafir dan para pendosa.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا الْجَنَّةُ اُزْلِفَتْ“Dan apabila surga didekatkan.” (QS. At-Takwīr [81]: 13)Ketika surga didekatkan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan beramal saleh, serta senantiasa berbuat kebaikan kepada sesama makhluk Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّآ اَحْضَرَتْ“Setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.” (QS. At-Takwīr [81]: 14)Maka ketika itu semua terjadi, dari hancurnya matahari, hancurnya gunung-gunung, lautan dinyalakan, sampai manusia melihat neraka dan surga, pada saat itulah manusia mengetahui dan ingat kembali setiap detik apa yang telah dia lakukan di dunia berupa amal baik atau amal keburukan, dia ingat dari mana setiap harta yang dia dapatkan dan untuk apa, dia ingat mayoritas waktu yang dia lakukan untuk menyembah atau mendurhakai Allah, manusia, yaitu kita semua, akan ingat.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/

Keutamaan Shalat Lima Waktu, Penghapus Dosa Setiap Hari

Setiap hari kita tidak lepas dari dosa, baik yang disadari maupun yang luput dari perhatian. Namun, Allah Ta’ala memberikan sarana yang luar biasa untuk membersihkannya, yaitu shalat lima waktu yang dikerjakan dengan benar. Dalam hadis-hadis berikut, Rasulullah ﷺ menggambarkan shalat seperti mandi lima kali sehari yang menghilangkan seluruh kotoran dari tubuh.  Daftar Isi tutup 1. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi – Bab 187: Keutamaan Shalat 1.1. Shalat itu Mencegah dari Perbuatan Keji dan Mungkar 1.2. Pelajaran dari Ayat 1.3. Hadits 1042 dan 1043: Shalat Lima Waktu Menghapus Dosa 1.4. Kosakata Hadits 1.5. Faedah Hadits 2. Hadits 1044: Amal Saleh Menghapus Dosa 2.1. Faedah Hadits 3. Hadits 1045: Shalat Lima Waktu dan Jumat Penghapus Dosa 3.1. Faedah Hadits 4. Hadits 1046: Shalat Khusyuk Menghapus Dosa 4.1. Faedah Hadits  Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi – Bab 187: Keutamaan Shalat Shalat itu Mencegah dari Perbuatan Keji dan MungkarAllah Ta’ala berfirman, ﴿إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَاءِ وَٱلْمُنكَرِ﴾“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45) Pelajaran dari Ayat1. Shalat yang benar-benar dapat mencegah seseorang dari perbuatan keji dan mungkar adalah shalat yang ditegakkan dengan sebaik-baiknya, lahir maupun batin, sesuai tuntunan tata cara shalat Nabi ﷺ. Orang yang melaksanakannya menghadirkan hati ketika shalat, lalu menunaikannya dengan menyempurnakan seluruh rukun, syarat, kewajiban, dan sunnah-sunnahnya.2. Terus-menerus melakukan dosa dan kemungkaran dapat menjadi penyebab seseorang terhalang dari shalat. Sebagaimana shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar, demikian pula perbuatan keji dan mungkar dapat menjauhkan seseorang dari shalat, menghilangkan kecintaan terhadapnya, serta mengurangi kenikmatan dalam menunaikannya.Baca juga: Kapan Shalat Bisa Mencegah dari Perbuatan Keji dan Mungkar? Hadits 1042 dan 1043: Shalat Lima Waktu Menghapus DosaHadits 1042عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: «أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ، هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ؟» قَالُوا: لَا يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ، قَالَ: «فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، يَمْحُو اللَّهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا».Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Bagaimana pendapat kalian jika di depan pintu rumah salah seorang di antara kalian terdapat sebuah sungai, lalu ia mandi di dalamnya lima kali setiap hari, apakah masih tersisa sedikit pun kotoran pada tubuhnya?'”Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.”Beliau bersabda, “Demikianlah perumpamaan shalat lima waktu. Dengan shalat-shalat itu Allah menghapus dosa-dosa.” (Muttafaq ‘alaih). Hadits 1043وَعَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ كَمَثَلِ نَهْرٍ جَارٍ غَمْرٍ عَلَى بَابِ أَحَدِكُمْ، يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ».Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, “Perumpamaan shalat lima waktu adalah seperti sebuah sungai yang mengalir deras di depan pintu salah seorang di antara kalian. Ia mandi di sungai itu lima kali setiap hari.” (HR. Muslim). Kosakata Haditsغَمْرٌ (ghamr): sungai yang airnya banyak dan melimpah.دَرَنُهُ (daranuhu): kotoran yang melekat pada tubuh; yakni noda dan daki. Faedah Hadits1. Shalat lima waktu merupakan sebab dihapuskannya dosa-dosa. Dengan menjaganya secara istiqamah, seorang hamba akan dibersihkan dari dosa-dosa sehingga menjadi suci dan bersih, sebagaimana tubuh yang selalu dibersihkan dengan mandi berulang kali.2. Memberikan perumpamaan ketika mengajar merupakan metode pendidikan yang sangat efektif. Perumpamaan membuat suatu konsep menjadi lebih mudah dipahami dan lebih kuat tertanam dalam ingatan.3. Besarnya penghapusan dosa bergantung pada kualitas shalat yang dikerjakan. Semakin sempurna seorang hamba menunaikan shalat sesuai tuntunan syariat dan tata cara shalat Nabi ﷺ, semakin besar pula pahala dan penghapusan dosa yang ia peroleh. Karena itu, setiap muslim hendaknya bersungguh-sungguh mempelajari tata cara shalat Nabi ﷺ agar shalatnya menjadi sebab dihapuskannya berbagai kesalahan dan dosa. Hadits 1044: Amal Saleh Menghapus Dosaــ عَنْ ابن مسعود رضي الله عنه: أنَّ رجُلاً أصَابَ مِن امرأةٍ قُبْلَةً، فأتَىٰ النَّبيَّ صلى الله عليه وسلم، فأخبرَهُ، فأنزلَ الله تعالىٰ: {وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَيِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفا مِّنَ ٱلَّيلِ إِنَّ ٱلحَسَنَٰتِ يُذهِبنَ ٱلسَّيِّ‍َٔاتِ} [هود: 114] فقال الرَّجُلُ: أليَ هذا؟ قَالَ: «لِجَميعِ أمَّتي كُلِّهمْ». متفق عليه.Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang laki-laki yang mencium seorang wanita. Lalu ia datang kepada Nabi ﷺ dan menceritakan perbuatannya. Kemudian Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya:﴿وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَيِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ ٱلَّيْلِ ۚ إِنَّ ٱلْحَسَنَٰتِ يُذْهِبْنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ﴾“Dan laksanakanlah shalat pada kedua tepi siang dan pada bagian-bagian awal malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan.” (QS. Hud: 114)Laki-laki itu bertanya, “Apakah ayat ini khusus untuk saya?”Beliau menjawab,“Untuk seluruh umatku.” (Muttafaq ‘alaih) Faedah HaditsHadis ini menunjukkan besarnya rahmat Allah Ta’ala kepada umat Nabi Muhammad ﷺ. Allah mensyariatkan berbagai amal saleh yang dapat menghapus dosa dan menutupi kesalahan. Segala puji hanya milik Allah, di awal maupun di akhir, lahir maupun batin.Hukum asal seluruh syariat Islam berlaku umum bagi seluruh umat, kecuali jika ada dalil yang menunjukkan kekhususan bagi seseorang. Seperti firman Allah Ta’ala,﴿خَالِصَةً لَّكَ مِن دُونِ ٱلْمُؤْمِنِينَ﴾ dan ayat-ayat semisalnya. Oleh karena itu, yang menjadi pegangan adalah keumuman lafaz, bukan kekhususan sebab turunnya. Hadits 1045: Shalat Lima Waktu dan Jumat Penghapus Dosaــ عَنْ أبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: «الصَّلوَاتُ الخمْسُ، والجُمُعَةُ إلىٰ الجُمُعَةِ، كفَّارَةٌ لما بينَهُنَّ، مَا لَمْ تُغشَ الكَبَائر». رواه مسلم.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, “Shalat lima waktu dan shalat Jumat hingga Jumat berikutnya menjadi penghapus dosa di antara keduanya, selama dosa-dosa besar tidak dilakukan.” (HR. Muslim) Faedah HaditsDosa-dosa besar tidak dapat dihapus hanya dengan amal-amal kebajikan secara umum, tetapi harus disertai tobat yang sungguh-sungguh. Adapun dosa-dosa kecil dapat dihapus dengan shalat dan berbagai amal saleh lainnya.Hadis ini menunjukkan agungnya kedudukan shalat Jumat dan shalat berjamaah, karena keduanya termasuk sebab turunnya rahmat Allah dan penghapus dosa. Hadits 1046: Shalat Khusyuk Menghapus Dosaــ وعن عثمانَ بنِ عفّانَ رضي الله عنه قالَ: سَمِعْتُ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم يقول: «ما مِنِ امرئ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلاةٌ مَكْتُوبَةٌ، فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا، إلَّا كانَت كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوبِ، ما لَمْ تُؤْتَ كَبِيرَةٌ، وذلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ». رواه مسلم.Dari Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah seorang muslim didatangi waktu shalat wajib, lalu ia menyempurnakan wudhunya, menghadirkan kekhusyukan, dan menyempurnakan rukuknya, melainkan shalat itu menjadi penghapus dosa-dosa yang telah lalu, selama ia tidak melakukan dosa besar. Hal itu berlaku sepanjang masa.” (HR. Muslim) Faedah HaditsMenyempurnakan wudhu dan melaksanakan shalat dengan baik merupakan sebab yang sangat besar untuk menghapus dosa-dosa kecil.Rasulullah ﷺ secara khusus menyebutkan kekhusyukan untuk menunjukkan betapa pentingnya khusyuk dalam shalat. Khusyuk adalah ruh shalat. Allah Ta’ala berfirman:﴿قَدْ أَفْلَحَ ٱلْمُؤْمِنُونَ ۝ ٱلَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ﴾“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1-2) Referensi:Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-nazhirin syarh Riyadh ash-shalihin (Jilid 2, Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-shalihin (Cet. 3). Damaskus. Ini adalah materi kajian rutin di Masjid Pogung Dalangan Yogyakarta pada setiap Malam Jumat bakda Maghrib – Isyak, bisa saksikan di Youtube Rumaysho TV. —– Kamis, 6 Agustus 2027@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdosa hadis Nabi ibadah Imam Nawawi kajian islam keutamaan shalat Khusyuk dalam Shalat penghapus dosa Riyadhus Shalihin riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail Shalat Lima Waktu

Keutamaan Shalat Lima Waktu, Penghapus Dosa Setiap Hari

Setiap hari kita tidak lepas dari dosa, baik yang disadari maupun yang luput dari perhatian. Namun, Allah Ta’ala memberikan sarana yang luar biasa untuk membersihkannya, yaitu shalat lima waktu yang dikerjakan dengan benar. Dalam hadis-hadis berikut, Rasulullah ﷺ menggambarkan shalat seperti mandi lima kali sehari yang menghilangkan seluruh kotoran dari tubuh.  Daftar Isi tutup 1. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi – Bab 187: Keutamaan Shalat 1.1. Shalat itu Mencegah dari Perbuatan Keji dan Mungkar 1.2. Pelajaran dari Ayat 1.3. Hadits 1042 dan 1043: Shalat Lima Waktu Menghapus Dosa 1.4. Kosakata Hadits 1.5. Faedah Hadits 2. Hadits 1044: Amal Saleh Menghapus Dosa 2.1. Faedah Hadits 3. Hadits 1045: Shalat Lima Waktu dan Jumat Penghapus Dosa 3.1. Faedah Hadits 4. Hadits 1046: Shalat Khusyuk Menghapus Dosa 4.1. Faedah Hadits  Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi – Bab 187: Keutamaan Shalat Shalat itu Mencegah dari Perbuatan Keji dan MungkarAllah Ta’ala berfirman, ﴿إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَاءِ وَٱلْمُنكَرِ﴾“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45) Pelajaran dari Ayat1. Shalat yang benar-benar dapat mencegah seseorang dari perbuatan keji dan mungkar adalah shalat yang ditegakkan dengan sebaik-baiknya, lahir maupun batin, sesuai tuntunan tata cara shalat Nabi ﷺ. Orang yang melaksanakannya menghadirkan hati ketika shalat, lalu menunaikannya dengan menyempurnakan seluruh rukun, syarat, kewajiban, dan sunnah-sunnahnya.2. Terus-menerus melakukan dosa dan kemungkaran dapat menjadi penyebab seseorang terhalang dari shalat. Sebagaimana shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar, demikian pula perbuatan keji dan mungkar dapat menjauhkan seseorang dari shalat, menghilangkan kecintaan terhadapnya, serta mengurangi kenikmatan dalam menunaikannya.Baca juga: Kapan Shalat Bisa Mencegah dari Perbuatan Keji dan Mungkar? Hadits 1042 dan 1043: Shalat Lima Waktu Menghapus DosaHadits 1042عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: «أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ، هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ؟» قَالُوا: لَا يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ، قَالَ: «فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، يَمْحُو اللَّهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا».Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Bagaimana pendapat kalian jika di depan pintu rumah salah seorang di antara kalian terdapat sebuah sungai, lalu ia mandi di dalamnya lima kali setiap hari, apakah masih tersisa sedikit pun kotoran pada tubuhnya?'”Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.”Beliau bersabda, “Demikianlah perumpamaan shalat lima waktu. Dengan shalat-shalat itu Allah menghapus dosa-dosa.” (Muttafaq ‘alaih). Hadits 1043وَعَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ كَمَثَلِ نَهْرٍ جَارٍ غَمْرٍ عَلَى بَابِ أَحَدِكُمْ، يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ».Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, “Perumpamaan shalat lima waktu adalah seperti sebuah sungai yang mengalir deras di depan pintu salah seorang di antara kalian. Ia mandi di sungai itu lima kali setiap hari.” (HR. Muslim). Kosakata Haditsغَمْرٌ (ghamr): sungai yang airnya banyak dan melimpah.دَرَنُهُ (daranuhu): kotoran yang melekat pada tubuh; yakni noda dan daki. Faedah Hadits1. Shalat lima waktu merupakan sebab dihapuskannya dosa-dosa. Dengan menjaganya secara istiqamah, seorang hamba akan dibersihkan dari dosa-dosa sehingga menjadi suci dan bersih, sebagaimana tubuh yang selalu dibersihkan dengan mandi berulang kali.2. Memberikan perumpamaan ketika mengajar merupakan metode pendidikan yang sangat efektif. Perumpamaan membuat suatu konsep menjadi lebih mudah dipahami dan lebih kuat tertanam dalam ingatan.3. Besarnya penghapusan dosa bergantung pada kualitas shalat yang dikerjakan. Semakin sempurna seorang hamba menunaikan shalat sesuai tuntunan syariat dan tata cara shalat Nabi ﷺ, semakin besar pula pahala dan penghapusan dosa yang ia peroleh. Karena itu, setiap muslim hendaknya bersungguh-sungguh mempelajari tata cara shalat Nabi ﷺ agar shalatnya menjadi sebab dihapuskannya berbagai kesalahan dan dosa. Hadits 1044: Amal Saleh Menghapus Dosaــ عَنْ ابن مسعود رضي الله عنه: أنَّ رجُلاً أصَابَ مِن امرأةٍ قُبْلَةً، فأتَىٰ النَّبيَّ صلى الله عليه وسلم، فأخبرَهُ، فأنزلَ الله تعالىٰ: {وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَيِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفا مِّنَ ٱلَّيلِ إِنَّ ٱلحَسَنَٰتِ يُذهِبنَ ٱلسَّيِّ‍َٔاتِ} [هود: 114] فقال الرَّجُلُ: أليَ هذا؟ قَالَ: «لِجَميعِ أمَّتي كُلِّهمْ». متفق عليه.Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang laki-laki yang mencium seorang wanita. Lalu ia datang kepada Nabi ﷺ dan menceritakan perbuatannya. Kemudian Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya:﴿وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَيِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ ٱلَّيْلِ ۚ إِنَّ ٱلْحَسَنَٰتِ يُذْهِبْنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ﴾“Dan laksanakanlah shalat pada kedua tepi siang dan pada bagian-bagian awal malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan.” (QS. Hud: 114)Laki-laki itu bertanya, “Apakah ayat ini khusus untuk saya?”Beliau menjawab,“Untuk seluruh umatku.” (Muttafaq ‘alaih) Faedah HaditsHadis ini menunjukkan besarnya rahmat Allah Ta’ala kepada umat Nabi Muhammad ﷺ. Allah mensyariatkan berbagai amal saleh yang dapat menghapus dosa dan menutupi kesalahan. Segala puji hanya milik Allah, di awal maupun di akhir, lahir maupun batin.Hukum asal seluruh syariat Islam berlaku umum bagi seluruh umat, kecuali jika ada dalil yang menunjukkan kekhususan bagi seseorang. Seperti firman Allah Ta’ala,﴿خَالِصَةً لَّكَ مِن دُونِ ٱلْمُؤْمِنِينَ﴾ dan ayat-ayat semisalnya. Oleh karena itu, yang menjadi pegangan adalah keumuman lafaz, bukan kekhususan sebab turunnya. Hadits 1045: Shalat Lima Waktu dan Jumat Penghapus Dosaــ عَنْ أبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: «الصَّلوَاتُ الخمْسُ، والجُمُعَةُ إلىٰ الجُمُعَةِ، كفَّارَةٌ لما بينَهُنَّ، مَا لَمْ تُغشَ الكَبَائر». رواه مسلم.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, “Shalat lima waktu dan shalat Jumat hingga Jumat berikutnya menjadi penghapus dosa di antara keduanya, selama dosa-dosa besar tidak dilakukan.” (HR. Muslim) Faedah HaditsDosa-dosa besar tidak dapat dihapus hanya dengan amal-amal kebajikan secara umum, tetapi harus disertai tobat yang sungguh-sungguh. Adapun dosa-dosa kecil dapat dihapus dengan shalat dan berbagai amal saleh lainnya.Hadis ini menunjukkan agungnya kedudukan shalat Jumat dan shalat berjamaah, karena keduanya termasuk sebab turunnya rahmat Allah dan penghapus dosa. Hadits 1046: Shalat Khusyuk Menghapus Dosaــ وعن عثمانَ بنِ عفّانَ رضي الله عنه قالَ: سَمِعْتُ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم يقول: «ما مِنِ امرئ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلاةٌ مَكْتُوبَةٌ، فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا، إلَّا كانَت كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوبِ، ما لَمْ تُؤْتَ كَبِيرَةٌ، وذلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ». رواه مسلم.Dari Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah seorang muslim didatangi waktu shalat wajib, lalu ia menyempurnakan wudhunya, menghadirkan kekhusyukan, dan menyempurnakan rukuknya, melainkan shalat itu menjadi penghapus dosa-dosa yang telah lalu, selama ia tidak melakukan dosa besar. Hal itu berlaku sepanjang masa.” (HR. Muslim) Faedah HaditsMenyempurnakan wudhu dan melaksanakan shalat dengan baik merupakan sebab yang sangat besar untuk menghapus dosa-dosa kecil.Rasulullah ﷺ secara khusus menyebutkan kekhusyukan untuk menunjukkan betapa pentingnya khusyuk dalam shalat. Khusyuk adalah ruh shalat. Allah Ta’ala berfirman:﴿قَدْ أَفْلَحَ ٱلْمُؤْمِنُونَ ۝ ٱلَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ﴾“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1-2) Referensi:Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-nazhirin syarh Riyadh ash-shalihin (Jilid 2, Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-shalihin (Cet. 3). Damaskus. Ini adalah materi kajian rutin di Masjid Pogung Dalangan Yogyakarta pada setiap Malam Jumat bakda Maghrib – Isyak, bisa saksikan di Youtube Rumaysho TV. —– Kamis, 6 Agustus 2027@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdosa hadis Nabi ibadah Imam Nawawi kajian islam keutamaan shalat Khusyuk dalam Shalat penghapus dosa Riyadhus Shalihin riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail Shalat Lima Waktu
Setiap hari kita tidak lepas dari dosa, baik yang disadari maupun yang luput dari perhatian. Namun, Allah Ta’ala memberikan sarana yang luar biasa untuk membersihkannya, yaitu shalat lima waktu yang dikerjakan dengan benar. Dalam hadis-hadis berikut, Rasulullah ﷺ menggambarkan shalat seperti mandi lima kali sehari yang menghilangkan seluruh kotoran dari tubuh.  Daftar Isi tutup 1. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi – Bab 187: Keutamaan Shalat 1.1. Shalat itu Mencegah dari Perbuatan Keji dan Mungkar 1.2. Pelajaran dari Ayat 1.3. Hadits 1042 dan 1043: Shalat Lima Waktu Menghapus Dosa 1.4. Kosakata Hadits 1.5. Faedah Hadits 2. Hadits 1044: Amal Saleh Menghapus Dosa 2.1. Faedah Hadits 3. Hadits 1045: Shalat Lima Waktu dan Jumat Penghapus Dosa 3.1. Faedah Hadits 4. Hadits 1046: Shalat Khusyuk Menghapus Dosa 4.1. Faedah Hadits  Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi – Bab 187: Keutamaan Shalat Shalat itu Mencegah dari Perbuatan Keji dan MungkarAllah Ta’ala berfirman, ﴿إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَاءِ وَٱلْمُنكَرِ﴾“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45) Pelajaran dari Ayat1. Shalat yang benar-benar dapat mencegah seseorang dari perbuatan keji dan mungkar adalah shalat yang ditegakkan dengan sebaik-baiknya, lahir maupun batin, sesuai tuntunan tata cara shalat Nabi ﷺ. Orang yang melaksanakannya menghadirkan hati ketika shalat, lalu menunaikannya dengan menyempurnakan seluruh rukun, syarat, kewajiban, dan sunnah-sunnahnya.2. Terus-menerus melakukan dosa dan kemungkaran dapat menjadi penyebab seseorang terhalang dari shalat. Sebagaimana shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar, demikian pula perbuatan keji dan mungkar dapat menjauhkan seseorang dari shalat, menghilangkan kecintaan terhadapnya, serta mengurangi kenikmatan dalam menunaikannya.Baca juga: Kapan Shalat Bisa Mencegah dari Perbuatan Keji dan Mungkar? Hadits 1042 dan 1043: Shalat Lima Waktu Menghapus DosaHadits 1042عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: «أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ، هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ؟» قَالُوا: لَا يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ، قَالَ: «فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، يَمْحُو اللَّهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا».Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Bagaimana pendapat kalian jika di depan pintu rumah salah seorang di antara kalian terdapat sebuah sungai, lalu ia mandi di dalamnya lima kali setiap hari, apakah masih tersisa sedikit pun kotoran pada tubuhnya?'”Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.”Beliau bersabda, “Demikianlah perumpamaan shalat lima waktu. Dengan shalat-shalat itu Allah menghapus dosa-dosa.” (Muttafaq ‘alaih). Hadits 1043وَعَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ كَمَثَلِ نَهْرٍ جَارٍ غَمْرٍ عَلَى بَابِ أَحَدِكُمْ، يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ».Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, “Perumpamaan shalat lima waktu adalah seperti sebuah sungai yang mengalir deras di depan pintu salah seorang di antara kalian. Ia mandi di sungai itu lima kali setiap hari.” (HR. Muslim). Kosakata Haditsغَمْرٌ (ghamr): sungai yang airnya banyak dan melimpah.دَرَنُهُ (daranuhu): kotoran yang melekat pada tubuh; yakni noda dan daki. Faedah Hadits1. Shalat lima waktu merupakan sebab dihapuskannya dosa-dosa. Dengan menjaganya secara istiqamah, seorang hamba akan dibersihkan dari dosa-dosa sehingga menjadi suci dan bersih, sebagaimana tubuh yang selalu dibersihkan dengan mandi berulang kali.2. Memberikan perumpamaan ketika mengajar merupakan metode pendidikan yang sangat efektif. Perumpamaan membuat suatu konsep menjadi lebih mudah dipahami dan lebih kuat tertanam dalam ingatan.3. Besarnya penghapusan dosa bergantung pada kualitas shalat yang dikerjakan. Semakin sempurna seorang hamba menunaikan shalat sesuai tuntunan syariat dan tata cara shalat Nabi ﷺ, semakin besar pula pahala dan penghapusan dosa yang ia peroleh. Karena itu, setiap muslim hendaknya bersungguh-sungguh mempelajari tata cara shalat Nabi ﷺ agar shalatnya menjadi sebab dihapuskannya berbagai kesalahan dan dosa. Hadits 1044: Amal Saleh Menghapus Dosaــ عَنْ ابن مسعود رضي الله عنه: أنَّ رجُلاً أصَابَ مِن امرأةٍ قُبْلَةً، فأتَىٰ النَّبيَّ صلى الله عليه وسلم، فأخبرَهُ، فأنزلَ الله تعالىٰ: {وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَيِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفا مِّنَ ٱلَّيلِ إِنَّ ٱلحَسَنَٰتِ يُذهِبنَ ٱلسَّيِّ‍َٔاتِ} [هود: 114] فقال الرَّجُلُ: أليَ هذا؟ قَالَ: «لِجَميعِ أمَّتي كُلِّهمْ». متفق عليه.Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang laki-laki yang mencium seorang wanita. Lalu ia datang kepada Nabi ﷺ dan menceritakan perbuatannya. Kemudian Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya:﴿وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَيِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ ٱلَّيْلِ ۚ إِنَّ ٱلْحَسَنَٰتِ يُذْهِبْنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ﴾“Dan laksanakanlah shalat pada kedua tepi siang dan pada bagian-bagian awal malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan.” (QS. Hud: 114)Laki-laki itu bertanya, “Apakah ayat ini khusus untuk saya?”Beliau menjawab,“Untuk seluruh umatku.” (Muttafaq ‘alaih) Faedah HaditsHadis ini menunjukkan besarnya rahmat Allah Ta’ala kepada umat Nabi Muhammad ﷺ. Allah mensyariatkan berbagai amal saleh yang dapat menghapus dosa dan menutupi kesalahan. Segala puji hanya milik Allah, di awal maupun di akhir, lahir maupun batin.Hukum asal seluruh syariat Islam berlaku umum bagi seluruh umat, kecuali jika ada dalil yang menunjukkan kekhususan bagi seseorang. Seperti firman Allah Ta’ala,﴿خَالِصَةً لَّكَ مِن دُونِ ٱلْمُؤْمِنِينَ﴾ dan ayat-ayat semisalnya. Oleh karena itu, yang menjadi pegangan adalah keumuman lafaz, bukan kekhususan sebab turunnya. Hadits 1045: Shalat Lima Waktu dan Jumat Penghapus Dosaــ عَنْ أبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: «الصَّلوَاتُ الخمْسُ، والجُمُعَةُ إلىٰ الجُمُعَةِ، كفَّارَةٌ لما بينَهُنَّ، مَا لَمْ تُغشَ الكَبَائر». رواه مسلم.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, “Shalat lima waktu dan shalat Jumat hingga Jumat berikutnya menjadi penghapus dosa di antara keduanya, selama dosa-dosa besar tidak dilakukan.” (HR. Muslim) Faedah HaditsDosa-dosa besar tidak dapat dihapus hanya dengan amal-amal kebajikan secara umum, tetapi harus disertai tobat yang sungguh-sungguh. Adapun dosa-dosa kecil dapat dihapus dengan shalat dan berbagai amal saleh lainnya.Hadis ini menunjukkan agungnya kedudukan shalat Jumat dan shalat berjamaah, karena keduanya termasuk sebab turunnya rahmat Allah dan penghapus dosa. Hadits 1046: Shalat Khusyuk Menghapus Dosaــ وعن عثمانَ بنِ عفّانَ رضي الله عنه قالَ: سَمِعْتُ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم يقول: «ما مِنِ امرئ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلاةٌ مَكْتُوبَةٌ، فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا، إلَّا كانَت كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوبِ، ما لَمْ تُؤْتَ كَبِيرَةٌ، وذلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ». رواه مسلم.Dari Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah seorang muslim didatangi waktu shalat wajib, lalu ia menyempurnakan wudhunya, menghadirkan kekhusyukan, dan menyempurnakan rukuknya, melainkan shalat itu menjadi penghapus dosa-dosa yang telah lalu, selama ia tidak melakukan dosa besar. Hal itu berlaku sepanjang masa.” (HR. Muslim) Faedah HaditsMenyempurnakan wudhu dan melaksanakan shalat dengan baik merupakan sebab yang sangat besar untuk menghapus dosa-dosa kecil.Rasulullah ﷺ secara khusus menyebutkan kekhusyukan untuk menunjukkan betapa pentingnya khusyuk dalam shalat. Khusyuk adalah ruh shalat. Allah Ta’ala berfirman:﴿قَدْ أَفْلَحَ ٱلْمُؤْمِنُونَ ۝ ٱلَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ﴾“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1-2) Referensi:Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-nazhirin syarh Riyadh ash-shalihin (Jilid 2, Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-shalihin (Cet. 3). Damaskus. Ini adalah materi kajian rutin di Masjid Pogung Dalangan Yogyakarta pada setiap Malam Jumat bakda Maghrib – Isyak, bisa saksikan di Youtube Rumaysho TV. —– Kamis, 6 Agustus 2027@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdosa hadis Nabi ibadah Imam Nawawi kajian islam keutamaan shalat Khusyuk dalam Shalat penghapus dosa Riyadhus Shalihin riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail Shalat Lima Waktu


Setiap hari kita tidak lepas dari dosa, baik yang disadari maupun yang luput dari perhatian. Namun, Allah Ta’ala memberikan sarana yang luar biasa untuk membersihkannya, yaitu shalat lima waktu yang dikerjakan dengan benar. Dalam hadis-hadis berikut, Rasulullah ﷺ menggambarkan shalat seperti mandi lima kali sehari yang menghilangkan seluruh kotoran dari tubuh.  Daftar Isi tutup 1. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi – Bab 187: Keutamaan Shalat 1.1. Shalat itu Mencegah dari Perbuatan Keji dan Mungkar 1.2. Pelajaran dari Ayat 1.3. Hadits 1042 dan 1043: Shalat Lima Waktu Menghapus Dosa 1.4. Kosakata Hadits 1.5. Faedah Hadits 2. Hadits 1044: Amal Saleh Menghapus Dosa 2.1. Faedah Hadits 3. Hadits 1045: Shalat Lima Waktu dan Jumat Penghapus Dosa 3.1. Faedah Hadits 4. Hadits 1046: Shalat Khusyuk Menghapus Dosa 4.1. Faedah Hadits  Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi – Bab 187: Keutamaan Shalat Shalat itu Mencegah dari Perbuatan Keji dan MungkarAllah Ta’ala berfirman, ﴿إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَاءِ وَٱلْمُنكَرِ﴾“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45) Pelajaran dari Ayat1. Shalat yang benar-benar dapat mencegah seseorang dari perbuatan keji dan mungkar adalah shalat yang ditegakkan dengan sebaik-baiknya, lahir maupun batin, sesuai tuntunan tata cara shalat Nabi ﷺ. Orang yang melaksanakannya menghadirkan hati ketika shalat, lalu menunaikannya dengan menyempurnakan seluruh rukun, syarat, kewajiban, dan sunnah-sunnahnya.2. Terus-menerus melakukan dosa dan kemungkaran dapat menjadi penyebab seseorang terhalang dari shalat. Sebagaimana shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar, demikian pula perbuatan keji dan mungkar dapat menjauhkan seseorang dari shalat, menghilangkan kecintaan terhadapnya, serta mengurangi kenikmatan dalam menunaikannya.Baca juga: Kapan Shalat Bisa Mencegah dari Perbuatan Keji dan Mungkar? Hadits 1042 dan 1043: Shalat Lima Waktu Menghapus DosaHadits 1042عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: «أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ، هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ؟» قَالُوا: لَا يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ، قَالَ: «فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، يَمْحُو اللَّهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا».Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Bagaimana pendapat kalian jika di depan pintu rumah salah seorang di antara kalian terdapat sebuah sungai, lalu ia mandi di dalamnya lima kali setiap hari, apakah masih tersisa sedikit pun kotoran pada tubuhnya?'”Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.”Beliau bersabda, “Demikianlah perumpamaan shalat lima waktu. Dengan shalat-shalat itu Allah menghapus dosa-dosa.” (Muttafaq ‘alaih). Hadits 1043وَعَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ كَمَثَلِ نَهْرٍ جَارٍ غَمْرٍ عَلَى بَابِ أَحَدِكُمْ، يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ».Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, “Perumpamaan shalat lima waktu adalah seperti sebuah sungai yang mengalir deras di depan pintu salah seorang di antara kalian. Ia mandi di sungai itu lima kali setiap hari.” (HR. Muslim). Kosakata Haditsغَمْرٌ (ghamr): sungai yang airnya banyak dan melimpah.دَرَنُهُ (daranuhu): kotoran yang melekat pada tubuh; yakni noda dan daki. Faedah Hadits1. Shalat lima waktu merupakan sebab dihapuskannya dosa-dosa. Dengan menjaganya secara istiqamah, seorang hamba akan dibersihkan dari dosa-dosa sehingga menjadi suci dan bersih, sebagaimana tubuh yang selalu dibersihkan dengan mandi berulang kali.2. Memberikan perumpamaan ketika mengajar merupakan metode pendidikan yang sangat efektif. Perumpamaan membuat suatu konsep menjadi lebih mudah dipahami dan lebih kuat tertanam dalam ingatan.3. Besarnya penghapusan dosa bergantung pada kualitas shalat yang dikerjakan. Semakin sempurna seorang hamba menunaikan shalat sesuai tuntunan syariat dan tata cara shalat Nabi ﷺ, semakin besar pula pahala dan penghapusan dosa yang ia peroleh. Karena itu, setiap muslim hendaknya bersungguh-sungguh mempelajari tata cara shalat Nabi ﷺ agar shalatnya menjadi sebab dihapuskannya berbagai kesalahan dan dosa. Hadits 1044: Amal Saleh Menghapus Dosaــ عَنْ ابن مسعود رضي الله عنه: أنَّ رجُلاً أصَابَ مِن امرأةٍ قُبْلَةً، فأتَىٰ النَّبيَّ صلى الله عليه وسلم، فأخبرَهُ، فأنزلَ الله تعالىٰ: {وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَيِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفا مِّنَ ٱلَّيلِ إِنَّ ٱلحَسَنَٰتِ يُذهِبنَ ٱلسَّيِّ‍َٔاتِ} [هود: 114] فقال الرَّجُلُ: أليَ هذا؟ قَالَ: «لِجَميعِ أمَّتي كُلِّهمْ». متفق عليه.Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang laki-laki yang mencium seorang wanita. Lalu ia datang kepada Nabi ﷺ dan menceritakan perbuatannya. Kemudian Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya:﴿وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَيِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ ٱلَّيْلِ ۚ إِنَّ ٱلْحَسَنَٰتِ يُذْهِبْنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ﴾“Dan laksanakanlah shalat pada kedua tepi siang dan pada bagian-bagian awal malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan.” (QS. Hud: 114)Laki-laki itu bertanya, “Apakah ayat ini khusus untuk saya?”Beliau menjawab,“Untuk seluruh umatku.” (Muttafaq ‘alaih) Faedah HaditsHadis ini menunjukkan besarnya rahmat Allah Ta’ala kepada umat Nabi Muhammad ﷺ. Allah mensyariatkan berbagai amal saleh yang dapat menghapus dosa dan menutupi kesalahan. Segala puji hanya milik Allah, di awal maupun di akhir, lahir maupun batin.Hukum asal seluruh syariat Islam berlaku umum bagi seluruh umat, kecuali jika ada dalil yang menunjukkan kekhususan bagi seseorang. Seperti firman Allah Ta’ala,﴿خَالِصَةً لَّكَ مِن دُونِ ٱلْمُؤْمِنِينَ﴾ dan ayat-ayat semisalnya. Oleh karena itu, yang menjadi pegangan adalah keumuman lafaz, bukan kekhususan sebab turunnya. Hadits 1045: Shalat Lima Waktu dan Jumat Penghapus Dosaــ عَنْ أبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: «الصَّلوَاتُ الخمْسُ، والجُمُعَةُ إلىٰ الجُمُعَةِ، كفَّارَةٌ لما بينَهُنَّ، مَا لَمْ تُغشَ الكَبَائر». رواه مسلم.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, “Shalat lima waktu dan shalat Jumat hingga Jumat berikutnya menjadi penghapus dosa di antara keduanya, selama dosa-dosa besar tidak dilakukan.” (HR. Muslim) Faedah HaditsDosa-dosa besar tidak dapat dihapus hanya dengan amal-amal kebajikan secara umum, tetapi harus disertai tobat yang sungguh-sungguh. Adapun dosa-dosa kecil dapat dihapus dengan shalat dan berbagai amal saleh lainnya.Hadis ini menunjukkan agungnya kedudukan shalat Jumat dan shalat berjamaah, karena keduanya termasuk sebab turunnya rahmat Allah dan penghapus dosa. Hadits 1046: Shalat Khusyuk Menghapus Dosaــ وعن عثمانَ بنِ عفّانَ رضي الله عنه قالَ: سَمِعْتُ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم يقول: «ما مِنِ امرئ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلاةٌ مَكْتُوبَةٌ، فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا، إلَّا كانَت كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوبِ، ما لَمْ تُؤْتَ كَبِيرَةٌ، وذلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ». رواه مسلم.Dari Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah seorang muslim didatangi waktu shalat wajib, lalu ia menyempurnakan wudhunya, menghadirkan kekhusyukan, dan menyempurnakan rukuknya, melainkan shalat itu menjadi penghapus dosa-dosa yang telah lalu, selama ia tidak melakukan dosa besar. Hal itu berlaku sepanjang masa.” (HR. Muslim) Faedah HaditsMenyempurnakan wudhu dan melaksanakan shalat dengan baik merupakan sebab yang sangat besar untuk menghapus dosa-dosa kecil.Rasulullah ﷺ secara khusus menyebutkan kekhusyukan untuk menunjukkan betapa pentingnya khusyuk dalam shalat. Khusyuk adalah ruh shalat. Allah Ta’ala berfirman:﴿قَدْ أَفْلَحَ ٱلْمُؤْمِنُونَ ۝ ٱلَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ﴾“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1-2) Referensi:Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-nazhirin syarh Riyadh ash-shalihin (Jilid 2, Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-shalihin (Cet. 3). Damaskus. Ini adalah materi kajian rutin di Masjid Pogung Dalangan Yogyakarta pada setiap Malam Jumat bakda Maghrib – Isyak, bisa saksikan di Youtube Rumaysho TV. —– Kamis, 6 Agustus 2027@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdosa hadis Nabi ibadah Imam Nawawi kajian islam keutamaan shalat Khusyuk dalam Shalat penghapus dosa Riyadhus Shalihin riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail Shalat Lima Waktu

Kisah Jin Mendengar Al-Qur’an: Apakah Nabi ﷺ Melihat Mereka?

Banyak orang mengira Nabi Muhammad ﷺ langsung bertemu dan berbicara dengan para jin ketika awal Surah Al-Jinn turun. Ternyata, hadits-hadits sahih menunjukkan bahwa peristiwa pertama terjadi tanpa sepengetahuan beliau; para jin hanya mendengar bacaan Al-Qur’an ketika beliau mengimami shalat Subuh. Lalu bagaimana sebenarnya kronologi lengkapnya, dan mengapa kisah ini juga disebut dalam Surah Al-Ahqaf? Simak penjelasannya hingga akhir.  Daftar Isi tutup 1. Peristiwa di Nakhlah: Jin Mendengar Bacaan Al-Qur’an Saat Shalat Subuh 2. Apakah Nabi ﷺ Melihat Jin? 3. Hubungan dengan Surah Al-Ahqaf 4. Peristiwa di Nakhlah: Jin Mendengar Bacaan Al-Qur’an Saat Shalat Shubuh 5. Jin Mendengarkan Al-Qur’an Lebih Dari Satu Kali 6. Surah Apa yang Dibacakan Nabi ﷺ kepada Para Jin? 7. Pelajaran Penting dari Kisah Jin Mendengar Al-Qur’an  Peristiwa di Nakhlah: Jin Mendengar Bacaan Al-Qur’an Saat Shalat SubuhKisah jin yang disebut dalam Surah Al-Jinn terutama terjadi di Nakhlah (نَخْلَة), sebuah daerah di jalur menuju Pasar ‘Ukazh. Saat itu Rasulullah ﷺ sedang bepergian bersama beberapa sahabat menuju Pasar ‘Ukazh dan melaksanakan shalat Subuh. Sekelompok jin yang sedang mencari sebab terhalangnya mereka dari mencuri berita langit mendengar bacaan Al-Qur’an Nabi ﷺ. Mereka pun menyimak, beriman, lalu kembali kepada kaumnya untuk berdakwah.Hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menyebutkan:وَهُوَ بِنَخْلَةَ، عَامِدِينَ إِلَى سُوقِ عُكَاظٍ، وَهُوَ يُصَلِّي بِأَصْحَابِهِ صَلَاةَ الْفَجْرِ، فَلَمَّا سَمِعُوا الْقُرْآنَ اسْتَمَعُوا لَهُ“Ketika beliau berada di Nakhlah dalam perjalanan menuju Pasar ‘Ukazh dan sedang mengimami para sahabat dalam shalat Shubuh, tatkala jin mendengar Al-Qur’an, mereka pun menyimaknya.” Apakah Nabi ﷺ Melihat Jin?Pada peristiwa pertama ini, menurut riwayat Ibnu ‘Abbas, Nabi ﷺ tidak sengaja pergi menemui mereka dan tidak melihat mereka. Jin mendengar bacaan beliau tanpa beliau sadari. Setelah itu, Allah mewahyukan perkataan mereka:قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ“Katakanlah, telah diwahyukan kepadaku bahwa sekelompok jin telah mendengarkan.”Namun, pertemuan Nabi ﷺ dengan jin tampaknya terjadi lebih dari sekali. Setelah peristiwa pertama di Nakhlah, terdapat riwayat sahih bahwa utusan jin datang kepada beliau. Nabi ﷺ kemudian pergi bersama mereka dan membacakan Al-Qur’an kepada mereka. Riwayat Muslim menyebutkan:أَتَانِي دَاعِي الْجِنِّ، فَذَهَبْتُ مَعَهُ، فَقَرَأْتُ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنَ“Utusan jin datang kepadaku. Aku pergi bersamanya, lalu aku membacakan Al-Qur’an kepada mereka.”Jadi, dua kisah ini perlu dibedakan:1. Pertemuan pertama di Nakhlah: jin mendengar bacaan Nabi ﷺ ketika shalat Subuh tanpa beliau menyadari kehadiran mereka. Inilah sebab utama turunnya awal Surah Al-Jinn.2. Pertemuan berikutnya atau Lailatul-Jinn: Nabi ﷺ sengaja mendatangi mereka dan membacakan Al-Qur’an kepada mereka.Dalil yang paling jelas bahwa jin dapat melihat manusia, sedangkan manusia pada asalnya tidak dapat melihat jin, adalah firman Allah Ta’ala:إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ“Sesungguhnya ia (Iblis) dan golongannya melihat kalian dari suatu tempat yang kalian tidak dapat melihat mereka.” (QS. Al-A’raf: 27) Ayat ini merupakan dalil yang sangat tegas bahwa:Jin dan setan dapat melihat manusia.Manusia pada asalnya tidak dapat melihat jin dalam wujud asli mereka. Hubungan dengan Surah Al-AhqafKisah yang sama juga disebut dalam:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ“Dan ingatlah ketika Kami menghadapkan kepadamu sekelompok jin yang mendengarkan Al-Qur’an.” (QS. Al-Ahqaf: 29)Surah Al-Ahqaf menceritakan peristiwanya dari sisi kedatangan jin, penyimakan mereka, dan kepulangan mereka untuk memperingatkan kaumnya. Adapun Surah Al-Jinn banyak mengutip perkataan, pengakuan iman, dan keyakinan mereka setelah mendengar Al-Qur’an. Peristiwa di Nakhlah: Jin Mendengar Bacaan Al-Qur’an Saat Shalat ShubuhImam Al-Bukhari (no. 773) dan Muslim (no. 449) meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Rasulullah ﷺ berangkat bersama sekelompok sahabat menuju Pasar ‘Ukazh. Pada saat itu, para setan telah dihalangi untuk mencuri berita dari langit, dan mereka dilempari dengan bintang-bintang yang menyala (meteor). Maka para setan kembali kepada kaumnya. Kaum mereka bertanya, “Apa yang terjadi dengan kalian?”Mereka menjawab, “Kami telah dihalangi dari berita langit dan kami dilempari dengan bintang-bintang yang menyala.”Kaum mereka berkata, “Tidak mungkin ada sesuatu yang menghalangi kalian dari berita langit kecuali telah terjadi suatu peristiwa besar. Karena itu, pergilah ke seluruh penjuru bumi, ke timur maupun ke barat, lalu cari tahu apa yang telah menyebabkan kalian terhalang dari berita langit.”Maka sekelompok jin yang menuju daerah Tihamah bertemu dengan Rasulullah ﷺ yang sedang berada di Nakhlah, dalam perjalanan menuju Pasar ‘Ukazh. Saat itu beliau sedang mengimami para sahabat melaksanakan shalat Subuh.Ketika mereka mendengar bacaan Al-Qur’an, mereka berhenti dan menyimaknya dengan penuh perhatian.Lalu mereka berkata, “Demi Allah, inilah yang menyebabkan kalian terhalang dari berita langit.”Setelah itu mereka kembali kepada kaumnya dan berkata,قُلْ أُوحِىَ إِلَىَّ أَنَّهُ ٱسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ ٱلْجِنِّ فَقَالُوٓا۟ إِنَّا سَمِعْنَا قُرْءَانًا عَجَبًايَهْدِىٓ إِلَى ٱلرُّشْدِ فَـَٔامَنَّا بِهِۦ ۖ وَلَن نُّشْرِكَ بِرَبِّنَآ أَحَدًا“Wahai kaum kami! Sesungguhnya kami telah mendengar bacaan Al-Qur’an yang sangat menakjubkan. Ia memberi petunjuk kepada jalan yang benar. Maka kami pun beriman kepadanya dan kami tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Rabb kami.” (QS. Al-Jinn: 1–2)Lalu Allah menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya ﷺ:قُلْ أُوحِىَ إِلَىَّ أَنَّهُ ٱسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ ٱلْجِنِّ فَقَالُوٓا۟ إِنَّا سَمِعْنَا قُرْءَانًا عَجَبًا“Katakanlah (Muhammad), telah diwahyukan kepadaku bahwa sekelompok jin telah mendengarkan (bacaan Al-Qur’an).” (QS. Al-Jinn: 1). Yang diwahyukan kepada beliau adalah ucapan para jin tersebut.Dalam riwayat Muslim dari Ibnu Abbas disebutkan: “Rasulullah ﷺ tidak pernah membacakan Al-Qur’an kepada jin pada peristiwa itu dan beliau juga tidak melihat mereka.”Kemudian Ibnu Abbas menyebutkan hadits yang sama, yaitu ketika Rasulullah ﷺ berangkat bersama para sahabat menuju Pasar ‘Ukazh sementara para setan telah dihalangi dari berita langit. Jin Mendengarkan Al-Qur’an Lebih Dari Satu KaliPeristiwa jin mendengar bacaan Al-Qur’an ternyata terjadi lebih dari sekali, sebagaimana disebutkan dalam berbagai hadits. Mereka mendengar bacaan Al-Qur’an dari Nabi ﷺ pada beberapa kesempatan.Ibnu Katsir ketika menjelaskan salah satu riwayat berkata, “Riwayat ini menunjukkan bahwa pada kesempatan tersebut Rasulullah ﷺ tidak menyadari kehadiran mereka. Jin hanya mendengarkan bacaan beliau, kemudian kembali kepada kaumnya. Setelah itu mereka datang lagi kepada beliau secara bergelombang, rombongan demi rombongan, sebagaimana akan disebutkan dalam riwayat-riwayat berikutnya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/291).Imam Ibnu Katsir juga membawakan beberapa hadits tentang jin mendengarkan Al-Qur’an ketika menafsirkan firman Allah:وَإِذْ صَرَفْنَآ إِلَيْكَ نَفَرًا مِّنَ ٱلْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ ٱلْقُرْءَانَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوٓا۟ أَنصِتُوا۟ ۖ فَلَمَّا قُضِىَ وَلَّوْا۟ إِلَىٰ قَوْمِهِم مُّنذِرِينَ“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan kepadamu sekelompok jin yang mendengarkan Al-Qur’an. Ketika mereka menghadirinya, mereka berkata, ‘Diamlah dan dengarkan!’ Setelah bacaan itu selesai, mereka kembali kepada kaumnya sebagai pemberi peringatan.” (QS. Al-Ahqaf: 29). Liha Tafsir Ibnu Katsir (7/289).Selanjutnya beliau berkata (7/296): “Seluruh jalur riwayat ini menunjukkan bahwa pada kesempatan lain Rasulullah ﷺ memang sengaja mendatangi para jin. Beliau membacakan Al-Qur’an kepada mereka, mengajak mereka kepada Allah, serta mengajarkan syariat yang mereka perlukan pada waktu itu. Sangat mungkin bahwa pada pertemuan pertama mereka hanya mendengar bacaan Al-Qur’an tanpa disadari oleh Nabi ﷺ, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Abbas. Setelah itu mereka datang kembali kepada beliau, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud.” Surah Apa yang Dibacakan Nabi ﷺ kepada Para Jin?Dalam beberapa hadits disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ membacakan Surah Ar-Rahman kepada mereka. Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:Ketika Rasulullah ﷺ selesai membacakan Surah Ar-Rahman kepada para sahabat, beliau bersabda,“Mengapa aku melihat kalian diam saja? Sungguh, jawaban para jin lebih baik daripada jawaban kalian. Setiap kali aku membacakan kepada mereka ayat:فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ‘Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu berdua dustakan?’ (QS. Ar-Rahman: 13), mereka selalu menjawab: ‘Tidak ada satu pun nikmat-Mu, wahai Rabb kami, yang kami dustakan. Segala puji hanya bagi-Mu.'” Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (no. 3766) dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman (4/115, no. 2264).Namun, hadits ini tidak menafikan bahwa Nabi ﷺ juga pernah membacakan surah-surah lain kepada para jin. Sebab, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, mereka mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari Nabi ﷺ dalam beberapa kesempatan yang berbeda, bukan hanya sekali. Pelajaran Penting dari Kisah Jin Mendengar Al-Qur’anAl-Qur’an adalah sumber hidayah bagi semua makhluk, bukan hanya manusia, tetapi juga jin.Hidayah datang kepada siapa saja yang mau mendengar dengan sungguh-sungguh. Jin beriman karena mereka menyimak Al-Qur’an dengan penuh perhatian.Keimanan sejati melahirkan dakwah. Setelah beriman, para jin segera kembali mengajak kaumnya kepada tauhid.Tauhid adalah pesan pertama Al-Qur’an. Hal pertama yang mereka nyatakan adalah tidak mempersekutukan Allah.Mendengarkan Al-Qur’an lebih utama daripada sekadar mendengarnya lewat lalu. Jin berhenti dan fokus mendengarkan bacaan Nabi ﷺ.Kemuliaan Al-Qur’an diakui bahkan oleh jin. Mereka menyebutnya Qur’ānan ‘ajabā (bacaan yang menakjubkan).Petunjuk Al-Qur’an mengantarkan kepada jalan yang lurus, bukan sekadar menambah pengetahuan.Seorang dai tidak selalu mengetahui siapa yang mendapat hidayah melalui dakwahnya. Nabi ﷺ tidak menyadari para jin sedang mendengarkan bacaan beliau.Jangan meremehkan amal yang ikhlas. Bacaan Al-Qur’an Nabi ﷺ dalam shalat Subuh menjadi sebab masuk Islamnya sekelompok jin.Ilmu yang benar mendorong penyebaran kebaikan. Para jin tidak menyimpan hidayah untuk diri mereka sendiri, tetapi segera menyampaikannya kepada kaumnya.Al-Qur’an menjadi pembeda antara kebenaran dan kebatilan. Jin langsung mengetahui bahwa Al-Qur’an berasal dari Allah, bukan perkataan makhluk.Kesibukan mencari dunia tidak boleh melalaikan dari mendengarkan Al-Qur’an. Para jin yang sedang menjalankan misi justru menghentikan perjalanan mereka ketika mendengar firman Allah.اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوبِنَا، وَنُورَ صُدُورِنَا، وَهُدًى لَنَا إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيمِAllāhumma ij‘alil-Qur’āna rabī‘a qulūbinā, wa nūra ṣudūrinā, wa hudan lanā ilā ṣirāṭikal-mustaqīm.“Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyejuk hati kami, cahaya bagi dada kami, dan petunjuk yang mengantarkan kami menuju jalan-Mu yang lurus.” Referensi: Islamqa.ComBaca Juga:Kisah Jin Mendengar Al-Qur’an dan Dakwah Rasulullah ﷺ kepada Mereka (Tafsir Surah Al-Ahqaf: 29-32)Jin dan Setan itu Ada— Ditulis pada Rabu pagi @ Kediaman di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 20 Safar 1448 H, 5 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com TagsIbnu Katsir jin kisah jin Nakhlah rasulullah Surah Al-Ahqaf Surah Al-Jinn tadabbur al-quran tafsir al-qur’an

Kisah Jin Mendengar Al-Qur’an: Apakah Nabi ﷺ Melihat Mereka?

Banyak orang mengira Nabi Muhammad ﷺ langsung bertemu dan berbicara dengan para jin ketika awal Surah Al-Jinn turun. Ternyata, hadits-hadits sahih menunjukkan bahwa peristiwa pertama terjadi tanpa sepengetahuan beliau; para jin hanya mendengar bacaan Al-Qur’an ketika beliau mengimami shalat Subuh. Lalu bagaimana sebenarnya kronologi lengkapnya, dan mengapa kisah ini juga disebut dalam Surah Al-Ahqaf? Simak penjelasannya hingga akhir.  Daftar Isi tutup 1. Peristiwa di Nakhlah: Jin Mendengar Bacaan Al-Qur’an Saat Shalat Subuh 2. Apakah Nabi ﷺ Melihat Jin? 3. Hubungan dengan Surah Al-Ahqaf 4. Peristiwa di Nakhlah: Jin Mendengar Bacaan Al-Qur’an Saat Shalat Shubuh 5. Jin Mendengarkan Al-Qur’an Lebih Dari Satu Kali 6. Surah Apa yang Dibacakan Nabi ﷺ kepada Para Jin? 7. Pelajaran Penting dari Kisah Jin Mendengar Al-Qur’an  Peristiwa di Nakhlah: Jin Mendengar Bacaan Al-Qur’an Saat Shalat SubuhKisah jin yang disebut dalam Surah Al-Jinn terutama terjadi di Nakhlah (نَخْلَة), sebuah daerah di jalur menuju Pasar ‘Ukazh. Saat itu Rasulullah ﷺ sedang bepergian bersama beberapa sahabat menuju Pasar ‘Ukazh dan melaksanakan shalat Subuh. Sekelompok jin yang sedang mencari sebab terhalangnya mereka dari mencuri berita langit mendengar bacaan Al-Qur’an Nabi ﷺ. Mereka pun menyimak, beriman, lalu kembali kepada kaumnya untuk berdakwah.Hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menyebutkan:وَهُوَ بِنَخْلَةَ، عَامِدِينَ إِلَى سُوقِ عُكَاظٍ، وَهُوَ يُصَلِّي بِأَصْحَابِهِ صَلَاةَ الْفَجْرِ، فَلَمَّا سَمِعُوا الْقُرْآنَ اسْتَمَعُوا لَهُ“Ketika beliau berada di Nakhlah dalam perjalanan menuju Pasar ‘Ukazh dan sedang mengimami para sahabat dalam shalat Shubuh, tatkala jin mendengar Al-Qur’an, mereka pun menyimaknya.” Apakah Nabi ﷺ Melihat Jin?Pada peristiwa pertama ini, menurut riwayat Ibnu ‘Abbas, Nabi ﷺ tidak sengaja pergi menemui mereka dan tidak melihat mereka. Jin mendengar bacaan beliau tanpa beliau sadari. Setelah itu, Allah mewahyukan perkataan mereka:قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ“Katakanlah, telah diwahyukan kepadaku bahwa sekelompok jin telah mendengarkan.”Namun, pertemuan Nabi ﷺ dengan jin tampaknya terjadi lebih dari sekali. Setelah peristiwa pertama di Nakhlah, terdapat riwayat sahih bahwa utusan jin datang kepada beliau. Nabi ﷺ kemudian pergi bersama mereka dan membacakan Al-Qur’an kepada mereka. Riwayat Muslim menyebutkan:أَتَانِي دَاعِي الْجِنِّ، فَذَهَبْتُ مَعَهُ، فَقَرَأْتُ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنَ“Utusan jin datang kepadaku. Aku pergi bersamanya, lalu aku membacakan Al-Qur’an kepada mereka.”Jadi, dua kisah ini perlu dibedakan:1. Pertemuan pertama di Nakhlah: jin mendengar bacaan Nabi ﷺ ketika shalat Subuh tanpa beliau menyadari kehadiran mereka. Inilah sebab utama turunnya awal Surah Al-Jinn.2. Pertemuan berikutnya atau Lailatul-Jinn: Nabi ﷺ sengaja mendatangi mereka dan membacakan Al-Qur’an kepada mereka.Dalil yang paling jelas bahwa jin dapat melihat manusia, sedangkan manusia pada asalnya tidak dapat melihat jin, adalah firman Allah Ta’ala:إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ“Sesungguhnya ia (Iblis) dan golongannya melihat kalian dari suatu tempat yang kalian tidak dapat melihat mereka.” (QS. Al-A’raf: 27) Ayat ini merupakan dalil yang sangat tegas bahwa:Jin dan setan dapat melihat manusia.Manusia pada asalnya tidak dapat melihat jin dalam wujud asli mereka. Hubungan dengan Surah Al-AhqafKisah yang sama juga disebut dalam:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ“Dan ingatlah ketika Kami menghadapkan kepadamu sekelompok jin yang mendengarkan Al-Qur’an.” (QS. Al-Ahqaf: 29)Surah Al-Ahqaf menceritakan peristiwanya dari sisi kedatangan jin, penyimakan mereka, dan kepulangan mereka untuk memperingatkan kaumnya. Adapun Surah Al-Jinn banyak mengutip perkataan, pengakuan iman, dan keyakinan mereka setelah mendengar Al-Qur’an. Peristiwa di Nakhlah: Jin Mendengar Bacaan Al-Qur’an Saat Shalat ShubuhImam Al-Bukhari (no. 773) dan Muslim (no. 449) meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Rasulullah ﷺ berangkat bersama sekelompok sahabat menuju Pasar ‘Ukazh. Pada saat itu, para setan telah dihalangi untuk mencuri berita dari langit, dan mereka dilempari dengan bintang-bintang yang menyala (meteor). Maka para setan kembali kepada kaumnya. Kaum mereka bertanya, “Apa yang terjadi dengan kalian?”Mereka menjawab, “Kami telah dihalangi dari berita langit dan kami dilempari dengan bintang-bintang yang menyala.”Kaum mereka berkata, “Tidak mungkin ada sesuatu yang menghalangi kalian dari berita langit kecuali telah terjadi suatu peristiwa besar. Karena itu, pergilah ke seluruh penjuru bumi, ke timur maupun ke barat, lalu cari tahu apa yang telah menyebabkan kalian terhalang dari berita langit.”Maka sekelompok jin yang menuju daerah Tihamah bertemu dengan Rasulullah ﷺ yang sedang berada di Nakhlah, dalam perjalanan menuju Pasar ‘Ukazh. Saat itu beliau sedang mengimami para sahabat melaksanakan shalat Subuh.Ketika mereka mendengar bacaan Al-Qur’an, mereka berhenti dan menyimaknya dengan penuh perhatian.Lalu mereka berkata, “Demi Allah, inilah yang menyebabkan kalian terhalang dari berita langit.”Setelah itu mereka kembali kepada kaumnya dan berkata,قُلْ أُوحِىَ إِلَىَّ أَنَّهُ ٱسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ ٱلْجِنِّ فَقَالُوٓا۟ إِنَّا سَمِعْنَا قُرْءَانًا عَجَبًايَهْدِىٓ إِلَى ٱلرُّشْدِ فَـَٔامَنَّا بِهِۦ ۖ وَلَن نُّشْرِكَ بِرَبِّنَآ أَحَدًا“Wahai kaum kami! Sesungguhnya kami telah mendengar bacaan Al-Qur’an yang sangat menakjubkan. Ia memberi petunjuk kepada jalan yang benar. Maka kami pun beriman kepadanya dan kami tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Rabb kami.” (QS. Al-Jinn: 1–2)Lalu Allah menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya ﷺ:قُلْ أُوحِىَ إِلَىَّ أَنَّهُ ٱسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ ٱلْجِنِّ فَقَالُوٓا۟ إِنَّا سَمِعْنَا قُرْءَانًا عَجَبًا“Katakanlah (Muhammad), telah diwahyukan kepadaku bahwa sekelompok jin telah mendengarkan (bacaan Al-Qur’an).” (QS. Al-Jinn: 1). Yang diwahyukan kepada beliau adalah ucapan para jin tersebut.Dalam riwayat Muslim dari Ibnu Abbas disebutkan: “Rasulullah ﷺ tidak pernah membacakan Al-Qur’an kepada jin pada peristiwa itu dan beliau juga tidak melihat mereka.”Kemudian Ibnu Abbas menyebutkan hadits yang sama, yaitu ketika Rasulullah ﷺ berangkat bersama para sahabat menuju Pasar ‘Ukazh sementara para setan telah dihalangi dari berita langit. Jin Mendengarkan Al-Qur’an Lebih Dari Satu KaliPeristiwa jin mendengar bacaan Al-Qur’an ternyata terjadi lebih dari sekali, sebagaimana disebutkan dalam berbagai hadits. Mereka mendengar bacaan Al-Qur’an dari Nabi ﷺ pada beberapa kesempatan.Ibnu Katsir ketika menjelaskan salah satu riwayat berkata, “Riwayat ini menunjukkan bahwa pada kesempatan tersebut Rasulullah ﷺ tidak menyadari kehadiran mereka. Jin hanya mendengarkan bacaan beliau, kemudian kembali kepada kaumnya. Setelah itu mereka datang lagi kepada beliau secara bergelombang, rombongan demi rombongan, sebagaimana akan disebutkan dalam riwayat-riwayat berikutnya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/291).Imam Ibnu Katsir juga membawakan beberapa hadits tentang jin mendengarkan Al-Qur’an ketika menafsirkan firman Allah:وَإِذْ صَرَفْنَآ إِلَيْكَ نَفَرًا مِّنَ ٱلْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ ٱلْقُرْءَانَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوٓا۟ أَنصِتُوا۟ ۖ فَلَمَّا قُضِىَ وَلَّوْا۟ إِلَىٰ قَوْمِهِم مُّنذِرِينَ“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan kepadamu sekelompok jin yang mendengarkan Al-Qur’an. Ketika mereka menghadirinya, mereka berkata, ‘Diamlah dan dengarkan!’ Setelah bacaan itu selesai, mereka kembali kepada kaumnya sebagai pemberi peringatan.” (QS. Al-Ahqaf: 29). Liha Tafsir Ibnu Katsir (7/289).Selanjutnya beliau berkata (7/296): “Seluruh jalur riwayat ini menunjukkan bahwa pada kesempatan lain Rasulullah ﷺ memang sengaja mendatangi para jin. Beliau membacakan Al-Qur’an kepada mereka, mengajak mereka kepada Allah, serta mengajarkan syariat yang mereka perlukan pada waktu itu. Sangat mungkin bahwa pada pertemuan pertama mereka hanya mendengar bacaan Al-Qur’an tanpa disadari oleh Nabi ﷺ, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Abbas. Setelah itu mereka datang kembali kepada beliau, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud.” Surah Apa yang Dibacakan Nabi ﷺ kepada Para Jin?Dalam beberapa hadits disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ membacakan Surah Ar-Rahman kepada mereka. Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:Ketika Rasulullah ﷺ selesai membacakan Surah Ar-Rahman kepada para sahabat, beliau bersabda,“Mengapa aku melihat kalian diam saja? Sungguh, jawaban para jin lebih baik daripada jawaban kalian. Setiap kali aku membacakan kepada mereka ayat:فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ‘Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu berdua dustakan?’ (QS. Ar-Rahman: 13), mereka selalu menjawab: ‘Tidak ada satu pun nikmat-Mu, wahai Rabb kami, yang kami dustakan. Segala puji hanya bagi-Mu.'” Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (no. 3766) dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman (4/115, no. 2264).Namun, hadits ini tidak menafikan bahwa Nabi ﷺ juga pernah membacakan surah-surah lain kepada para jin. Sebab, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, mereka mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari Nabi ﷺ dalam beberapa kesempatan yang berbeda, bukan hanya sekali. Pelajaran Penting dari Kisah Jin Mendengar Al-Qur’anAl-Qur’an adalah sumber hidayah bagi semua makhluk, bukan hanya manusia, tetapi juga jin.Hidayah datang kepada siapa saja yang mau mendengar dengan sungguh-sungguh. Jin beriman karena mereka menyimak Al-Qur’an dengan penuh perhatian.Keimanan sejati melahirkan dakwah. Setelah beriman, para jin segera kembali mengajak kaumnya kepada tauhid.Tauhid adalah pesan pertama Al-Qur’an. Hal pertama yang mereka nyatakan adalah tidak mempersekutukan Allah.Mendengarkan Al-Qur’an lebih utama daripada sekadar mendengarnya lewat lalu. Jin berhenti dan fokus mendengarkan bacaan Nabi ﷺ.Kemuliaan Al-Qur’an diakui bahkan oleh jin. Mereka menyebutnya Qur’ānan ‘ajabā (bacaan yang menakjubkan).Petunjuk Al-Qur’an mengantarkan kepada jalan yang lurus, bukan sekadar menambah pengetahuan.Seorang dai tidak selalu mengetahui siapa yang mendapat hidayah melalui dakwahnya. Nabi ﷺ tidak menyadari para jin sedang mendengarkan bacaan beliau.Jangan meremehkan amal yang ikhlas. Bacaan Al-Qur’an Nabi ﷺ dalam shalat Subuh menjadi sebab masuk Islamnya sekelompok jin.Ilmu yang benar mendorong penyebaran kebaikan. Para jin tidak menyimpan hidayah untuk diri mereka sendiri, tetapi segera menyampaikannya kepada kaumnya.Al-Qur’an menjadi pembeda antara kebenaran dan kebatilan. Jin langsung mengetahui bahwa Al-Qur’an berasal dari Allah, bukan perkataan makhluk.Kesibukan mencari dunia tidak boleh melalaikan dari mendengarkan Al-Qur’an. Para jin yang sedang menjalankan misi justru menghentikan perjalanan mereka ketika mendengar firman Allah.اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوبِنَا، وَنُورَ صُدُورِنَا، وَهُدًى لَنَا إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيمِAllāhumma ij‘alil-Qur’āna rabī‘a qulūbinā, wa nūra ṣudūrinā, wa hudan lanā ilā ṣirāṭikal-mustaqīm.“Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyejuk hati kami, cahaya bagi dada kami, dan petunjuk yang mengantarkan kami menuju jalan-Mu yang lurus.” Referensi: Islamqa.ComBaca Juga:Kisah Jin Mendengar Al-Qur’an dan Dakwah Rasulullah ﷺ kepada Mereka (Tafsir Surah Al-Ahqaf: 29-32)Jin dan Setan itu Ada— Ditulis pada Rabu pagi @ Kediaman di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 20 Safar 1448 H, 5 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com TagsIbnu Katsir jin kisah jin Nakhlah rasulullah Surah Al-Ahqaf Surah Al-Jinn tadabbur al-quran tafsir al-qur’an
Banyak orang mengira Nabi Muhammad ﷺ langsung bertemu dan berbicara dengan para jin ketika awal Surah Al-Jinn turun. Ternyata, hadits-hadits sahih menunjukkan bahwa peristiwa pertama terjadi tanpa sepengetahuan beliau; para jin hanya mendengar bacaan Al-Qur’an ketika beliau mengimami shalat Subuh. Lalu bagaimana sebenarnya kronologi lengkapnya, dan mengapa kisah ini juga disebut dalam Surah Al-Ahqaf? Simak penjelasannya hingga akhir.  Daftar Isi tutup 1. Peristiwa di Nakhlah: Jin Mendengar Bacaan Al-Qur’an Saat Shalat Subuh 2. Apakah Nabi ﷺ Melihat Jin? 3. Hubungan dengan Surah Al-Ahqaf 4. Peristiwa di Nakhlah: Jin Mendengar Bacaan Al-Qur’an Saat Shalat Shubuh 5. Jin Mendengarkan Al-Qur’an Lebih Dari Satu Kali 6. Surah Apa yang Dibacakan Nabi ﷺ kepada Para Jin? 7. Pelajaran Penting dari Kisah Jin Mendengar Al-Qur’an  Peristiwa di Nakhlah: Jin Mendengar Bacaan Al-Qur’an Saat Shalat SubuhKisah jin yang disebut dalam Surah Al-Jinn terutama terjadi di Nakhlah (نَخْلَة), sebuah daerah di jalur menuju Pasar ‘Ukazh. Saat itu Rasulullah ﷺ sedang bepergian bersama beberapa sahabat menuju Pasar ‘Ukazh dan melaksanakan shalat Subuh. Sekelompok jin yang sedang mencari sebab terhalangnya mereka dari mencuri berita langit mendengar bacaan Al-Qur’an Nabi ﷺ. Mereka pun menyimak, beriman, lalu kembali kepada kaumnya untuk berdakwah.Hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menyebutkan:وَهُوَ بِنَخْلَةَ، عَامِدِينَ إِلَى سُوقِ عُكَاظٍ، وَهُوَ يُصَلِّي بِأَصْحَابِهِ صَلَاةَ الْفَجْرِ، فَلَمَّا سَمِعُوا الْقُرْآنَ اسْتَمَعُوا لَهُ“Ketika beliau berada di Nakhlah dalam perjalanan menuju Pasar ‘Ukazh dan sedang mengimami para sahabat dalam shalat Shubuh, tatkala jin mendengar Al-Qur’an, mereka pun menyimaknya.” Apakah Nabi ﷺ Melihat Jin?Pada peristiwa pertama ini, menurut riwayat Ibnu ‘Abbas, Nabi ﷺ tidak sengaja pergi menemui mereka dan tidak melihat mereka. Jin mendengar bacaan beliau tanpa beliau sadari. Setelah itu, Allah mewahyukan perkataan mereka:قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ“Katakanlah, telah diwahyukan kepadaku bahwa sekelompok jin telah mendengarkan.”Namun, pertemuan Nabi ﷺ dengan jin tampaknya terjadi lebih dari sekali. Setelah peristiwa pertama di Nakhlah, terdapat riwayat sahih bahwa utusan jin datang kepada beliau. Nabi ﷺ kemudian pergi bersama mereka dan membacakan Al-Qur’an kepada mereka. Riwayat Muslim menyebutkan:أَتَانِي دَاعِي الْجِنِّ، فَذَهَبْتُ مَعَهُ، فَقَرَأْتُ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنَ“Utusan jin datang kepadaku. Aku pergi bersamanya, lalu aku membacakan Al-Qur’an kepada mereka.”Jadi, dua kisah ini perlu dibedakan:1. Pertemuan pertama di Nakhlah: jin mendengar bacaan Nabi ﷺ ketika shalat Subuh tanpa beliau menyadari kehadiran mereka. Inilah sebab utama turunnya awal Surah Al-Jinn.2. Pertemuan berikutnya atau Lailatul-Jinn: Nabi ﷺ sengaja mendatangi mereka dan membacakan Al-Qur’an kepada mereka.Dalil yang paling jelas bahwa jin dapat melihat manusia, sedangkan manusia pada asalnya tidak dapat melihat jin, adalah firman Allah Ta’ala:إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ“Sesungguhnya ia (Iblis) dan golongannya melihat kalian dari suatu tempat yang kalian tidak dapat melihat mereka.” (QS. Al-A’raf: 27) Ayat ini merupakan dalil yang sangat tegas bahwa:Jin dan setan dapat melihat manusia.Manusia pada asalnya tidak dapat melihat jin dalam wujud asli mereka. Hubungan dengan Surah Al-AhqafKisah yang sama juga disebut dalam:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ“Dan ingatlah ketika Kami menghadapkan kepadamu sekelompok jin yang mendengarkan Al-Qur’an.” (QS. Al-Ahqaf: 29)Surah Al-Ahqaf menceritakan peristiwanya dari sisi kedatangan jin, penyimakan mereka, dan kepulangan mereka untuk memperingatkan kaumnya. Adapun Surah Al-Jinn banyak mengutip perkataan, pengakuan iman, dan keyakinan mereka setelah mendengar Al-Qur’an. Peristiwa di Nakhlah: Jin Mendengar Bacaan Al-Qur’an Saat Shalat ShubuhImam Al-Bukhari (no. 773) dan Muslim (no. 449) meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Rasulullah ﷺ berangkat bersama sekelompok sahabat menuju Pasar ‘Ukazh. Pada saat itu, para setan telah dihalangi untuk mencuri berita dari langit, dan mereka dilempari dengan bintang-bintang yang menyala (meteor). Maka para setan kembali kepada kaumnya. Kaum mereka bertanya, “Apa yang terjadi dengan kalian?”Mereka menjawab, “Kami telah dihalangi dari berita langit dan kami dilempari dengan bintang-bintang yang menyala.”Kaum mereka berkata, “Tidak mungkin ada sesuatu yang menghalangi kalian dari berita langit kecuali telah terjadi suatu peristiwa besar. Karena itu, pergilah ke seluruh penjuru bumi, ke timur maupun ke barat, lalu cari tahu apa yang telah menyebabkan kalian terhalang dari berita langit.”Maka sekelompok jin yang menuju daerah Tihamah bertemu dengan Rasulullah ﷺ yang sedang berada di Nakhlah, dalam perjalanan menuju Pasar ‘Ukazh. Saat itu beliau sedang mengimami para sahabat melaksanakan shalat Subuh.Ketika mereka mendengar bacaan Al-Qur’an, mereka berhenti dan menyimaknya dengan penuh perhatian.Lalu mereka berkata, “Demi Allah, inilah yang menyebabkan kalian terhalang dari berita langit.”Setelah itu mereka kembali kepada kaumnya dan berkata,قُلْ أُوحِىَ إِلَىَّ أَنَّهُ ٱسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ ٱلْجِنِّ فَقَالُوٓا۟ إِنَّا سَمِعْنَا قُرْءَانًا عَجَبًايَهْدِىٓ إِلَى ٱلرُّشْدِ فَـَٔامَنَّا بِهِۦ ۖ وَلَن نُّشْرِكَ بِرَبِّنَآ أَحَدًا“Wahai kaum kami! Sesungguhnya kami telah mendengar bacaan Al-Qur’an yang sangat menakjubkan. Ia memberi petunjuk kepada jalan yang benar. Maka kami pun beriman kepadanya dan kami tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Rabb kami.” (QS. Al-Jinn: 1–2)Lalu Allah menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya ﷺ:قُلْ أُوحِىَ إِلَىَّ أَنَّهُ ٱسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ ٱلْجِنِّ فَقَالُوٓا۟ إِنَّا سَمِعْنَا قُرْءَانًا عَجَبًا“Katakanlah (Muhammad), telah diwahyukan kepadaku bahwa sekelompok jin telah mendengarkan (bacaan Al-Qur’an).” (QS. Al-Jinn: 1). Yang diwahyukan kepada beliau adalah ucapan para jin tersebut.Dalam riwayat Muslim dari Ibnu Abbas disebutkan: “Rasulullah ﷺ tidak pernah membacakan Al-Qur’an kepada jin pada peristiwa itu dan beliau juga tidak melihat mereka.”Kemudian Ibnu Abbas menyebutkan hadits yang sama, yaitu ketika Rasulullah ﷺ berangkat bersama para sahabat menuju Pasar ‘Ukazh sementara para setan telah dihalangi dari berita langit. Jin Mendengarkan Al-Qur’an Lebih Dari Satu KaliPeristiwa jin mendengar bacaan Al-Qur’an ternyata terjadi lebih dari sekali, sebagaimana disebutkan dalam berbagai hadits. Mereka mendengar bacaan Al-Qur’an dari Nabi ﷺ pada beberapa kesempatan.Ibnu Katsir ketika menjelaskan salah satu riwayat berkata, “Riwayat ini menunjukkan bahwa pada kesempatan tersebut Rasulullah ﷺ tidak menyadari kehadiran mereka. Jin hanya mendengarkan bacaan beliau, kemudian kembali kepada kaumnya. Setelah itu mereka datang lagi kepada beliau secara bergelombang, rombongan demi rombongan, sebagaimana akan disebutkan dalam riwayat-riwayat berikutnya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/291).Imam Ibnu Katsir juga membawakan beberapa hadits tentang jin mendengarkan Al-Qur’an ketika menafsirkan firman Allah:وَإِذْ صَرَفْنَآ إِلَيْكَ نَفَرًا مِّنَ ٱلْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ ٱلْقُرْءَانَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوٓا۟ أَنصِتُوا۟ ۖ فَلَمَّا قُضِىَ وَلَّوْا۟ إِلَىٰ قَوْمِهِم مُّنذِرِينَ“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan kepadamu sekelompok jin yang mendengarkan Al-Qur’an. Ketika mereka menghadirinya, mereka berkata, ‘Diamlah dan dengarkan!’ Setelah bacaan itu selesai, mereka kembali kepada kaumnya sebagai pemberi peringatan.” (QS. Al-Ahqaf: 29). Liha Tafsir Ibnu Katsir (7/289).Selanjutnya beliau berkata (7/296): “Seluruh jalur riwayat ini menunjukkan bahwa pada kesempatan lain Rasulullah ﷺ memang sengaja mendatangi para jin. Beliau membacakan Al-Qur’an kepada mereka, mengajak mereka kepada Allah, serta mengajarkan syariat yang mereka perlukan pada waktu itu. Sangat mungkin bahwa pada pertemuan pertama mereka hanya mendengar bacaan Al-Qur’an tanpa disadari oleh Nabi ﷺ, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Abbas. Setelah itu mereka datang kembali kepada beliau, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud.” Surah Apa yang Dibacakan Nabi ﷺ kepada Para Jin?Dalam beberapa hadits disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ membacakan Surah Ar-Rahman kepada mereka. Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:Ketika Rasulullah ﷺ selesai membacakan Surah Ar-Rahman kepada para sahabat, beliau bersabda,“Mengapa aku melihat kalian diam saja? Sungguh, jawaban para jin lebih baik daripada jawaban kalian. Setiap kali aku membacakan kepada mereka ayat:فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ‘Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu berdua dustakan?’ (QS. Ar-Rahman: 13), mereka selalu menjawab: ‘Tidak ada satu pun nikmat-Mu, wahai Rabb kami, yang kami dustakan. Segala puji hanya bagi-Mu.'” Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (no. 3766) dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman (4/115, no. 2264).Namun, hadits ini tidak menafikan bahwa Nabi ﷺ juga pernah membacakan surah-surah lain kepada para jin. Sebab, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, mereka mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari Nabi ﷺ dalam beberapa kesempatan yang berbeda, bukan hanya sekali. Pelajaran Penting dari Kisah Jin Mendengar Al-Qur’anAl-Qur’an adalah sumber hidayah bagi semua makhluk, bukan hanya manusia, tetapi juga jin.Hidayah datang kepada siapa saja yang mau mendengar dengan sungguh-sungguh. Jin beriman karena mereka menyimak Al-Qur’an dengan penuh perhatian.Keimanan sejati melahirkan dakwah. Setelah beriman, para jin segera kembali mengajak kaumnya kepada tauhid.Tauhid adalah pesan pertama Al-Qur’an. Hal pertama yang mereka nyatakan adalah tidak mempersekutukan Allah.Mendengarkan Al-Qur’an lebih utama daripada sekadar mendengarnya lewat lalu. Jin berhenti dan fokus mendengarkan bacaan Nabi ﷺ.Kemuliaan Al-Qur’an diakui bahkan oleh jin. Mereka menyebutnya Qur’ānan ‘ajabā (bacaan yang menakjubkan).Petunjuk Al-Qur’an mengantarkan kepada jalan yang lurus, bukan sekadar menambah pengetahuan.Seorang dai tidak selalu mengetahui siapa yang mendapat hidayah melalui dakwahnya. Nabi ﷺ tidak menyadari para jin sedang mendengarkan bacaan beliau.Jangan meremehkan amal yang ikhlas. Bacaan Al-Qur’an Nabi ﷺ dalam shalat Subuh menjadi sebab masuk Islamnya sekelompok jin.Ilmu yang benar mendorong penyebaran kebaikan. Para jin tidak menyimpan hidayah untuk diri mereka sendiri, tetapi segera menyampaikannya kepada kaumnya.Al-Qur’an menjadi pembeda antara kebenaran dan kebatilan. Jin langsung mengetahui bahwa Al-Qur’an berasal dari Allah, bukan perkataan makhluk.Kesibukan mencari dunia tidak boleh melalaikan dari mendengarkan Al-Qur’an. Para jin yang sedang menjalankan misi justru menghentikan perjalanan mereka ketika mendengar firman Allah.اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوبِنَا، وَنُورَ صُدُورِنَا، وَهُدًى لَنَا إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيمِAllāhumma ij‘alil-Qur’āna rabī‘a qulūbinā, wa nūra ṣudūrinā, wa hudan lanā ilā ṣirāṭikal-mustaqīm.“Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyejuk hati kami, cahaya bagi dada kami, dan petunjuk yang mengantarkan kami menuju jalan-Mu yang lurus.” Referensi: Islamqa.ComBaca Juga:Kisah Jin Mendengar Al-Qur’an dan Dakwah Rasulullah ﷺ kepada Mereka (Tafsir Surah Al-Ahqaf: 29-32)Jin dan Setan itu Ada— Ditulis pada Rabu pagi @ Kediaman di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 20 Safar 1448 H, 5 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com TagsIbnu Katsir jin kisah jin Nakhlah rasulullah Surah Al-Ahqaf Surah Al-Jinn tadabbur al-quran tafsir al-qur’an


Banyak orang mengira Nabi Muhammad ﷺ langsung bertemu dan berbicara dengan para jin ketika awal Surah Al-Jinn turun. Ternyata, hadits-hadits sahih menunjukkan bahwa peristiwa pertama terjadi tanpa sepengetahuan beliau; para jin hanya mendengar bacaan Al-Qur’an ketika beliau mengimami shalat Subuh. Lalu bagaimana sebenarnya kronologi lengkapnya, dan mengapa kisah ini juga disebut dalam Surah Al-Ahqaf? Simak penjelasannya hingga akhir.  Daftar Isi tutup 1. Peristiwa di Nakhlah: Jin Mendengar Bacaan Al-Qur’an Saat Shalat Subuh 2. Apakah Nabi ﷺ Melihat Jin? 3. Hubungan dengan Surah Al-Ahqaf 4. Peristiwa di Nakhlah: Jin Mendengar Bacaan Al-Qur’an Saat Shalat Shubuh 5. Jin Mendengarkan Al-Qur’an Lebih Dari Satu Kali 6. Surah Apa yang Dibacakan Nabi ﷺ kepada Para Jin? 7. Pelajaran Penting dari Kisah Jin Mendengar Al-Qur’an  Peristiwa di Nakhlah: Jin Mendengar Bacaan Al-Qur’an Saat Shalat SubuhKisah jin yang disebut dalam Surah Al-Jinn terutama terjadi di Nakhlah (نَخْلَة), sebuah daerah di jalur menuju Pasar ‘Ukazh. Saat itu Rasulullah ﷺ sedang bepergian bersama beberapa sahabat menuju Pasar ‘Ukazh dan melaksanakan shalat Subuh. Sekelompok jin yang sedang mencari sebab terhalangnya mereka dari mencuri berita langit mendengar bacaan Al-Qur’an Nabi ﷺ. Mereka pun menyimak, beriman, lalu kembali kepada kaumnya untuk berdakwah.Hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menyebutkan:وَهُوَ بِنَخْلَةَ، عَامِدِينَ إِلَى سُوقِ عُكَاظٍ، وَهُوَ يُصَلِّي بِأَصْحَابِهِ صَلَاةَ الْفَجْرِ، فَلَمَّا سَمِعُوا الْقُرْآنَ اسْتَمَعُوا لَهُ“Ketika beliau berada di Nakhlah dalam perjalanan menuju Pasar ‘Ukazh dan sedang mengimami para sahabat dalam shalat Shubuh, tatkala jin mendengar Al-Qur’an, mereka pun menyimaknya.” Apakah Nabi ﷺ Melihat Jin?Pada peristiwa pertama ini, menurut riwayat Ibnu ‘Abbas, Nabi ﷺ tidak sengaja pergi menemui mereka dan tidak melihat mereka. Jin mendengar bacaan beliau tanpa beliau sadari. Setelah itu, Allah mewahyukan perkataan mereka:قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ“Katakanlah, telah diwahyukan kepadaku bahwa sekelompok jin telah mendengarkan.”Namun, pertemuan Nabi ﷺ dengan jin tampaknya terjadi lebih dari sekali. Setelah peristiwa pertama di Nakhlah, terdapat riwayat sahih bahwa utusan jin datang kepada beliau. Nabi ﷺ kemudian pergi bersama mereka dan membacakan Al-Qur’an kepada mereka. Riwayat Muslim menyebutkan:أَتَانِي دَاعِي الْجِنِّ، فَذَهَبْتُ مَعَهُ، فَقَرَأْتُ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنَ“Utusan jin datang kepadaku. Aku pergi bersamanya, lalu aku membacakan Al-Qur’an kepada mereka.”Jadi, dua kisah ini perlu dibedakan:1. Pertemuan pertama di Nakhlah: jin mendengar bacaan Nabi ﷺ ketika shalat Subuh tanpa beliau menyadari kehadiran mereka. Inilah sebab utama turunnya awal Surah Al-Jinn.2. Pertemuan berikutnya atau Lailatul-Jinn: Nabi ﷺ sengaja mendatangi mereka dan membacakan Al-Qur’an kepada mereka.Dalil yang paling jelas bahwa jin dapat melihat manusia, sedangkan manusia pada asalnya tidak dapat melihat jin, adalah firman Allah Ta’ala:إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ“Sesungguhnya ia (Iblis) dan golongannya melihat kalian dari suatu tempat yang kalian tidak dapat melihat mereka.” (QS. Al-A’raf: 27) Ayat ini merupakan dalil yang sangat tegas bahwa:Jin dan setan dapat melihat manusia.Manusia pada asalnya tidak dapat melihat jin dalam wujud asli mereka. Hubungan dengan Surah Al-AhqafKisah yang sama juga disebut dalam:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ“Dan ingatlah ketika Kami menghadapkan kepadamu sekelompok jin yang mendengarkan Al-Qur’an.” (QS. Al-Ahqaf: 29)Surah Al-Ahqaf menceritakan peristiwanya dari sisi kedatangan jin, penyimakan mereka, dan kepulangan mereka untuk memperingatkan kaumnya. Adapun Surah Al-Jinn banyak mengutip perkataan, pengakuan iman, dan keyakinan mereka setelah mendengar Al-Qur’an. Peristiwa di Nakhlah: Jin Mendengar Bacaan Al-Qur’an Saat Shalat ShubuhImam Al-Bukhari (no. 773) dan Muslim (no. 449) meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Rasulullah ﷺ berangkat bersama sekelompok sahabat menuju Pasar ‘Ukazh. Pada saat itu, para setan telah dihalangi untuk mencuri berita dari langit, dan mereka dilempari dengan bintang-bintang yang menyala (meteor). Maka para setan kembali kepada kaumnya. Kaum mereka bertanya, “Apa yang terjadi dengan kalian?”Mereka menjawab, “Kami telah dihalangi dari berita langit dan kami dilempari dengan bintang-bintang yang menyala.”Kaum mereka berkata, “Tidak mungkin ada sesuatu yang menghalangi kalian dari berita langit kecuali telah terjadi suatu peristiwa besar. Karena itu, pergilah ke seluruh penjuru bumi, ke timur maupun ke barat, lalu cari tahu apa yang telah menyebabkan kalian terhalang dari berita langit.”Maka sekelompok jin yang menuju daerah Tihamah bertemu dengan Rasulullah ﷺ yang sedang berada di Nakhlah, dalam perjalanan menuju Pasar ‘Ukazh. Saat itu beliau sedang mengimami para sahabat melaksanakan shalat Subuh.Ketika mereka mendengar bacaan Al-Qur’an, mereka berhenti dan menyimaknya dengan penuh perhatian.Lalu mereka berkata, “Demi Allah, inilah yang menyebabkan kalian terhalang dari berita langit.”Setelah itu mereka kembali kepada kaumnya dan berkata,قُلْ أُوحِىَ إِلَىَّ أَنَّهُ ٱسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ ٱلْجِنِّ فَقَالُوٓا۟ إِنَّا سَمِعْنَا قُرْءَانًا عَجَبًايَهْدِىٓ إِلَى ٱلرُّشْدِ فَـَٔامَنَّا بِهِۦ ۖ وَلَن نُّشْرِكَ بِرَبِّنَآ أَحَدًا“Wahai kaum kami! Sesungguhnya kami telah mendengar bacaan Al-Qur’an yang sangat menakjubkan. Ia memberi petunjuk kepada jalan yang benar. Maka kami pun beriman kepadanya dan kami tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Rabb kami.” (QS. Al-Jinn: 1–2)Lalu Allah menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya ﷺ:قُلْ أُوحِىَ إِلَىَّ أَنَّهُ ٱسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ ٱلْجِنِّ فَقَالُوٓا۟ إِنَّا سَمِعْنَا قُرْءَانًا عَجَبًا“Katakanlah (Muhammad), telah diwahyukan kepadaku bahwa sekelompok jin telah mendengarkan (bacaan Al-Qur’an).” (QS. Al-Jinn: 1). Yang diwahyukan kepada beliau adalah ucapan para jin tersebut.Dalam riwayat Muslim dari Ibnu Abbas disebutkan: “Rasulullah ﷺ tidak pernah membacakan Al-Qur’an kepada jin pada peristiwa itu dan beliau juga tidak melihat mereka.”Kemudian Ibnu Abbas menyebutkan hadits yang sama, yaitu ketika Rasulullah ﷺ berangkat bersama para sahabat menuju Pasar ‘Ukazh sementara para setan telah dihalangi dari berita langit. Jin Mendengarkan Al-Qur’an Lebih Dari Satu KaliPeristiwa jin mendengar bacaan Al-Qur’an ternyata terjadi lebih dari sekali, sebagaimana disebutkan dalam berbagai hadits. Mereka mendengar bacaan Al-Qur’an dari Nabi ﷺ pada beberapa kesempatan.Ibnu Katsir ketika menjelaskan salah satu riwayat berkata, “Riwayat ini menunjukkan bahwa pada kesempatan tersebut Rasulullah ﷺ tidak menyadari kehadiran mereka. Jin hanya mendengarkan bacaan beliau, kemudian kembali kepada kaumnya. Setelah itu mereka datang lagi kepada beliau secara bergelombang, rombongan demi rombongan, sebagaimana akan disebutkan dalam riwayat-riwayat berikutnya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/291).Imam Ibnu Katsir juga membawakan beberapa hadits tentang jin mendengarkan Al-Qur’an ketika menafsirkan firman Allah:وَإِذْ صَرَفْنَآ إِلَيْكَ نَفَرًا مِّنَ ٱلْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ ٱلْقُرْءَانَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوٓا۟ أَنصِتُوا۟ ۖ فَلَمَّا قُضِىَ وَلَّوْا۟ إِلَىٰ قَوْمِهِم مُّنذِرِينَ“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan kepadamu sekelompok jin yang mendengarkan Al-Qur’an. Ketika mereka menghadirinya, mereka berkata, ‘Diamlah dan dengarkan!’ Setelah bacaan itu selesai, mereka kembali kepada kaumnya sebagai pemberi peringatan.” (QS. Al-Ahqaf: 29). Liha Tafsir Ibnu Katsir (7/289).Selanjutnya beliau berkata (7/296): “Seluruh jalur riwayat ini menunjukkan bahwa pada kesempatan lain Rasulullah ﷺ memang sengaja mendatangi para jin. Beliau membacakan Al-Qur’an kepada mereka, mengajak mereka kepada Allah, serta mengajarkan syariat yang mereka perlukan pada waktu itu. Sangat mungkin bahwa pada pertemuan pertama mereka hanya mendengar bacaan Al-Qur’an tanpa disadari oleh Nabi ﷺ, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Abbas. Setelah itu mereka datang kembali kepada beliau, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud.” Surah Apa yang Dibacakan Nabi ﷺ kepada Para Jin?Dalam beberapa hadits disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ membacakan Surah Ar-Rahman kepada mereka. Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:Ketika Rasulullah ﷺ selesai membacakan Surah Ar-Rahman kepada para sahabat, beliau bersabda,“Mengapa aku melihat kalian diam saja? Sungguh, jawaban para jin lebih baik daripada jawaban kalian. Setiap kali aku membacakan kepada mereka ayat:فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ‘Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu berdua dustakan?’ (QS. Ar-Rahman: 13), mereka selalu menjawab: ‘Tidak ada satu pun nikmat-Mu, wahai Rabb kami, yang kami dustakan. Segala puji hanya bagi-Mu.'” Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (no. 3766) dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman (4/115, no. 2264).Namun, hadits ini tidak menafikan bahwa Nabi ﷺ juga pernah membacakan surah-surah lain kepada para jin. Sebab, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, mereka mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari Nabi ﷺ dalam beberapa kesempatan yang berbeda, bukan hanya sekali. Pelajaran Penting dari Kisah Jin Mendengar Al-Qur’anAl-Qur’an adalah sumber hidayah bagi semua makhluk, bukan hanya manusia, tetapi juga jin.Hidayah datang kepada siapa saja yang mau mendengar dengan sungguh-sungguh. Jin beriman karena mereka menyimak Al-Qur’an dengan penuh perhatian.Keimanan sejati melahirkan dakwah. Setelah beriman, para jin segera kembali mengajak kaumnya kepada tauhid.Tauhid adalah pesan pertama Al-Qur’an. Hal pertama yang mereka nyatakan adalah tidak mempersekutukan Allah.Mendengarkan Al-Qur’an lebih utama daripada sekadar mendengarnya lewat lalu. Jin berhenti dan fokus mendengarkan bacaan Nabi ﷺ.Kemuliaan Al-Qur’an diakui bahkan oleh jin. Mereka menyebutnya Qur’ānan ‘ajabā (bacaan yang menakjubkan).Petunjuk Al-Qur’an mengantarkan kepada jalan yang lurus, bukan sekadar menambah pengetahuan.Seorang dai tidak selalu mengetahui siapa yang mendapat hidayah melalui dakwahnya. Nabi ﷺ tidak menyadari para jin sedang mendengarkan bacaan beliau.Jangan meremehkan amal yang ikhlas. Bacaan Al-Qur’an Nabi ﷺ dalam shalat Subuh menjadi sebab masuk Islamnya sekelompok jin.Ilmu yang benar mendorong penyebaran kebaikan. Para jin tidak menyimpan hidayah untuk diri mereka sendiri, tetapi segera menyampaikannya kepada kaumnya.Al-Qur’an menjadi pembeda antara kebenaran dan kebatilan. Jin langsung mengetahui bahwa Al-Qur’an berasal dari Allah, bukan perkataan makhluk.Kesibukan mencari dunia tidak boleh melalaikan dari mendengarkan Al-Qur’an. Para jin yang sedang menjalankan misi justru menghentikan perjalanan mereka ketika mendengar firman Allah.اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوبِنَا، وَنُورَ صُدُورِنَا، وَهُدًى لَنَا إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيمِAllāhumma ij‘alil-Qur’āna rabī‘a qulūbinā, wa nūra ṣudūrinā, wa hudan lanā ilā ṣirāṭikal-mustaqīm.“Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyejuk hati kami, cahaya bagi dada kami, dan petunjuk yang mengantarkan kami menuju jalan-Mu yang lurus.” Referensi: Islamqa.ComBaca Juga:Kisah Jin Mendengar Al-Qur’an dan Dakwah Rasulullah ﷺ kepada Mereka (Tafsir Surah Al-Ahqaf: 29-32)Jin dan Setan itu Ada— Ditulis pada Rabu pagi @ Kediaman di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 20 Safar 1448 H, 5 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com TagsIbnu Katsir jin kisah jin Nakhlah rasulullah Surah Al-Ahqaf Surah Al-Jinn tadabbur al-quran tafsir al-qur’an

Maksiat Menghilangkan Keberkahan Umur: Penjelasan Ibnul Qayyim

Setiap orang berharap diberi umur panjang. Namun, Islam mengajarkan bahwa yang paling berharga bukan sekadar panjangnya umur, melainkan keberkahannya. Tulisan Ibnul Qayyim rahimahullah berikut menjelaskan bagaimana maksiat dapat menghilangkan keberkahan hidup, bahkan menjadi sebab pendeknya umur dalam makna yang sangat mendalam.  Daftar Isi tutup 1. Maksiat Menghilangkan Keberkahan Umur 1.1. Pendapat Pertama: Maksiat Menghilangkan Berkah Umur 1.2. Pendapat Kedua: Maksiat Benar-Benar Mengurangi Umur Secara Hakiki 1.3. Pendapat Ketiga: Maksiat Mengurangi Hakikat Umur karena Hakikat Umur atau Umur Sejati adalah Hidupnya Hati 2. Umur Sejati adalah Waktu yang Dihabiskan Bersama Allah 3. Penyesalan Orang yang Menyia-nyiakan Umurnya 4. Rahasia Keberkahan Umur Menurut Ibnul Qayyim 5. Renungan Tahapan Usia Manusia dari Ibnul Jauzi 6. Doa Agar Mendapat Umur yang Berkah 6.1. Doa Meminta Panjang Umur dan Diberkahi 6.2. Doa untuk Usia 40: Syukur, Amal Saleh, dan Keturunan Baik 7. Apa Itu Berkah (Barakah)? 8. Pelajaran Berharga dari Perkataan Ibnul Qayyim 9. Penutup: Jagalah Umur Sebelum Penyesalan Datang  Maksiat Menghilangkan Keberkahan UmurIbnul Qayyim rahimahullah berkata,أَنَّ الْمَعَاصِيَ تُقَصِّرُ الْعُمُرَ وَتَمْحَقُ بَرَكَتَهُ وَلَا بُدَّ، فَإِنَّ الْبِرَّ كَمَا يَزِيدُ فِي الْعُمُرِ، فَالْفُجُورُ يُقَصِّرُالْعُمُرَ.Di antara dampak maksiat adalah memperpendek umur dan menghilangkan keberkahannya[1]. Sebagaimana kebaikan dapat menambah umur, keburukan justru memperpendeknya. Pendapat Pertama: Maksiat Menghilangkan Berkah Umurفَقَالَتْ طَائِفَةٌ: نُقْصَانُ عُمُرِ الْعَاصِي هُوَ ذَهَابُ بَرَكَةِ عُمُرِهِ وَمَحْقُهَا عَلَيْهِ، وَهَذَا حَقٌّ، وَهُوَ بَعْضُ تَأْثِيرِالْمَعَاصِي.Sebagian ulama mengatakan bahwa berkurangnya umur pelaku maksiat berarti hilangnya keberkahan dalam hidupnya. Ini benar adanya, dan merupakan salah satu dampak dari maksiat. Pendapat Kedua: Maksiat Benar-Benar Mengurangi Umur Secara Hakikiوَقَالَتْ طَائِفَةٌ: بَلْ تُنْقِصُهُ حَقِيقَةً، كَمَا تُنْقِصُ الرِّزْقَ، فَجَعَلَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ لِلْبَرَكَةِ فِي الرِّزْقِ أَسْبَابًاكَثِيرَةً تُكَثِّرُهُ وَتَزِيدُهُ، وَلِلْبَرَكَةِ فِي الْعُمُرِ أَسْبَابًا تُكَثِّرُهُ وَتَزِيدُهُ.Sebagian ulama berpendapat bahwa dosa benar-benar mengurangi umur secara hakiki, sebagaimana dosa juga dapat mengurangi rezeki. Allah, Mahasuci Dia, telah menetapkan banyak sebab yang dapat mendatangkan keberkahan dalam rezeki sehingga rezeki itu bertambah dan meningkat. Demikian pula, Allah menetapkan sebab-sebab yang dapat mendatangkan keberkahan dalam umur, yang menjadikannya lebih panjang dan penuh manfaat.قَالُوا وَلَا تُمْنَعُ زِيَادَةُ الْعُمُرِ بِأَسْبَابٍ كَمَا يُنْقَصُ بِأَسْبَابٍ، فَالْأَرْزَاقُ وَالْآجَالُ، وَالسَّعَادَةُ وَالشَّقَاوَةُ،وَالصِّحَّةُ وَالْمَرَضُ، وَالْغِنَى وَالْفَقْرُ، وَإِنْ كَانَتْ بِقَضَاءِ الرَّبِّ عَزَّ وَجَلَّ، فَهُوَ يَقْضِي مَا يَشَاءُ بِأَسْبَابٍجَعَلَهَا مُوجِبَةً لِمُسَبَّبَاتِهَا مُقْتَضِيَةً لَهَا.Mereka mengatakan bahwa bertambahnya umur tidak terhalang oleh sebab-sebab tertentu, sebagaimana berkurangnya umur juga terjadi karena sebab-sebab tertentu. Hal ini serupa dengan rezeki dan ajal, kebahagiaan dan kesengsaraan, kesehatan dan penyakit, serta kekayaan dan kemiskinan. Semua itu, meskipun ditetapkan oleh keputusan Allah yang Mahaagung, tetap terjadi melalui sebab-sebab yang telah Allah tetapkan sebagai faktor penyebab bagi akibat-akibatnya, yang saling berkaitan dan sesuai dengan hikmah-Nya. Pendapat Ketiga: Maksiat Mengurangi Hakikat Umur karena Hakikat Umur atau Umur Sejati adalah Hidupnya Hatiوَقَالَتْ طَائِفَةٌ أُخْرَى: تَأْثِيرُ الْمَعَاصِي فِي مَحْقِ الْعُمُرِ إِنَّمَا هُوَ بِأَنَّ حَقِيقَةَ الْحَيَاةِ هِيَ حَيَاةُ الْقَلْبِ،وَلِهَذَا جَعَلَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ الْكَافِرَ مَيِّتًا غَيْرَ حَيٍّ، كَمَا قَالَ تَعَالَى، {أَمْوَاتٌ غَيْرُ أَحْيَاءٍ} [سُورَةُ النَّحْلِ: ٢١] .Sebagian ulama lain berpendapat bahwa pengaruh maksiat dalam menghilangkan umur terletak pada hakikat kehidupan itu sendiri, yaitu kehidupan hati. Karena itulah Allah, Mahasuci Dia, menyebut orang kafir sebagai makhluk yang mati, bukan hidup, sebagaimana firman-Nya: “Mereka itu mati, tidak hidup.” (QS. An-Nahl: 21). Umur Sejati adalah Waktu yang Dihabiskan Bersama Allahفَالْحَيَاةُ فِي الْحَقِيقَةِ حَيَاةُ الْقَلْبِ، وَعُمُرُ الْإِنْسَانِ مُدَّةُ حَيَّاتِهِ فَلَيْسَ عُمُرُهُ إِلَّا أَوْقَاتَ حَيَاتِهِ بِاللَّهِ، فَتِلْكَسَاعَاتُ عُمُرِهِ، فَالْبِرُّ وَالتَّقْوَى وَالطَّاعَةُ تَزِيدُ فِي هَذِهِ الْأَوْقَاتِ الَّتِي هِيَ حَقِيقَةُ عُمُرِهِ، وَلَا عُمُرَ لَهُسِوَاهَا.Hakikat kehidupan sejati adalah kehidupan hati. Umur manusia pada hakikatnya adalah masa hidup hatinya. Tidak ada umur yang sebenarnya kecuali waktu-waktu yang ia jalani bersama Allah. Itulah jam-jam kehidupannya yang sejati. Kebaikan, ketakwaan, dan ketaatan menambah waktu-waktu ini, yang merupakan hakikat umur seseorang. Selain itu, tidak ada umur lain baginya selain waktu-waktu tersebut. Penyesalan Orang yang Menyia-nyiakan Umurnyaوَبِالْجُمْلَةِ، فَالْعَبْدُ إِذَا أَعْرَضَ عَنِ اللَّهِ وَاشْتَغَلَ بِالْمَعَاصِي ضَاعَتْ عَلَيْهِ أَيَّامُ حَيَاتِهِ الْحَقِيقِيَّةُ الَّتِييَجِدُ غِبَّ إِضَاعَتِهَا يَوْمَ يَقُولُ: {يَالَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي} [سُورَةُ الْفَجْرِ: ٢٤] .Secara keseluruhan, jika seorang hamba berpaling dari Allah dan sibuk dengan maksiat, maka ia telah menyia-nyiakan hari-hari dari kehidupannya yang sejati. Ia akan merasakan penyesalan atas waktu-waktu yang disia-siakan itu pada hari ketika ia berkata: “Alangkah baiknya jika aku dahulu mempersembahkan sesuatu untuk kehidupanku ini.” (QS. Al-Fajr: 24).فَلَا يَخْلُو إِمَّا أَنْ يَكُونَ لَهُ مَعَ ذَلِكَ تَطَلُّعٌ إِلَى مَصَالِحِهِ الدُّنْيَوِيَّةِ وَالْأُخْرَوِيَّةِ أَوْ لَا، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ تَطَلُّعٌإِلَى ذَلِكَ فَقَدْ ضَاعَ عَلَيْهِ عُمُرُهُ كُلُّهُ، وَذَهَبَتْ حَيَاتُهُ بَاطِلًا، وَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَلُّعٌ إِلَى ذَلِكَ طَالَتْ عَلَيْهِالطَّرِيقُ بِسَبَبِ الْعَوَائِقِ، وَتَعَسَّرَتْ عَلَيْهِ أَسْبَابُ الْخَيْرِ بِحَسْبِ اشْتِغَالِهِ بِأَضْدَادِهَا، وَذَلِكَ نُقْصَانٌحَقِيقِيٌّ مِنْ عُمُرِهِ.Keadaan seseorang yang berpaling dari Allah akan terbagi menjadi dua: apakah ia masih memiliki perhatian terhadap kepentingan dunia dan akhiratnya, atau tidak. Jika ia sama sekali tidak memiliki perhatian terhadap hal itu, maka seluruh umurnya akan terbuang sia-sia, dan kehidupannya menjadi kosong tanpa makna. Namun, jika ia masih memiliki perhatian terhadap hal tersebut, jalannya akan terasa panjang karena berbagai penghalang, dan sebab-sebab kebaikan menjadi sulit baginya, sebanding dengan kesibukannya pada hal-hal yang bertentangan dengan kebaikan itu. Ini adalah bentuk nyata dari berkurangnya umur secara hakiki. Rahasia Keberkahan Umur Menurut Ibnul Qayyimوَسِرُّ الْمَسْأَلَةِ أَنَّ عُمُرَ الْإِنْسَانِ مُدَّةُ حَيَّاتِهِ وَلَا حَيَاةَ لَهُ إِلَّا بِإِقْبَالِهِ عَلَى رَبِّهِ، وَالتَّنَعُّمِ بِحُبِّهِ وَذِكْرِهِ،وَإِيثَارِ مَرْضَاتِهِ.Inti dari permasalahan ini adalah bahwa umur manusia sejatinya adalah masa hidupnya, dan tidak ada kehidupan yang sebenarnya kecuali dengan mendekat kepada Rabb-nya, menikmati cinta dan dzikir kepada-Nya, serta mengutamakan keridaan-Nya.(Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa‘, hlm. 87-88) Renungan Tahapan Usia Manusia dari Ibnul JauziImam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata dalam kitab Shaid Al-Khathir:اَلْعَاقِلُ مَنْ فَهِمَ مَقَادِيرَ الزَّمَانِ؛ فَإِنَّهُ فِيمَا قَبْلَ الْبُلُوغِ صَبِيٌّ، لَيْسَ عَلَى عُمُرِهِ عِيَارٌ. “Orang yang berakal adalah orang yang memahami tahapan-tahapan usianya. Sebelum balig, seseorang masih anak-anak sehingga usianya belum menjadi ukuran yang berarti.فَإِذَا بَلَغَ، فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ زَمَانُ الْمُجَاهَدَةِ لِلْهَوَى، وَتَعَلُّمِ الْعِلْمِ. Ketika telah baligh, ia harus menyadari bahwa inilah masa untuk melawan hawa nafsu dan menuntut ilmu.فَإِذَا رُزِقَ الْأَوْلَادَ، فَهُوَ زَمَانُ الْكَسْبِ لِلْمَعَاشِ.Setelah Allah menganugerahinya anak-anak, maka itulah masa untuk bekerja dan mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan hidup.فَإِذَا بَلَغَ الْأَرْبَعِينَ، انْتَهَى تَمَامُهُ، وَقَضَى مَنَاسِكَ الْأَجَلِ، وَلَمْ يَبْقَ إِلَّا الِانْحِدَارُ إِلَى الْوَطَنِ. Apabila telah mencapai usia empat puluh tahun, berarti masa kesempurnaannya telah berlalu. Ia telah menempuh sebagian besar perjalanan hidupnya, dan setelah itu tinggal menuruni perjalanan menuju kampung akhirat.كَأَنَّ الْفَتَى يَرْقَى مِنَ الْعُمْرِ سُلَّمًا … إِلَى أَنْ يُجَاوِزَ الْأَرْبَعِينَ وَيَنْحَطَّ Seakan-akan seseorang menaiki tangga demi tangga sepanjang usianya, hingga ketika melewati usia empat puluh tahun, ia mulai menuruni tangga tersebut.فَيَنْبَغِي لَهُ عِنْدَ تَمَامِ الْأَرْبَعِينَ أَنْ يَجْعَلَ جُلَّ هِمَّتِهِ التَّزَوُّدَ لِلْآخِرَةِ، وَيَكُونَ كُلُّ تَلَمُّحِهِ لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ، وَيَأْخُذَ فِي الِاسْتِعْدَادِ لِلرَّحِيلِ، وَإِنْ كَانَ الْخِطَابُ بِهَذَا لِابْنِ عِشْرِينَ، إِلَّا أَنَّ رَجَاءَ التَّدَارُكِ فِي حَقِّ الصَّغِيرِ، لَا فِي حَقِّ الْكَبِيرِ. Karena itu, ketika genap berusia empat puluh tahun, hendaknya sebagian besar perhatian dan cita-citanya diarahkan untuk memperbanyak bekal menuju akhirat. Pandangannya hendaknya lebih banyak tertuju kepada kehidupan yang akan dihadapinya nanti, lalu mulai bersiap-siap untuk perjalanan menuju akhirat. Nasihat ini sebenarnya juga berlaku bagi orang yang berusia dua puluh tahun. Hanya saja, kesempatan untuk memperbaiki diri masih lebih luas bagi orang yang muda dibandingkan orang yang sudah tua.فَإِذَا بَلَغَ السِّتِّينَ؛ فَقَدْ أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَيْهِ فِي الْأَجَلِ، وَجَازَ مِنَ الزَّمَنِ، فَلْيُقْبِلْ بِكُلِّيَّتِهِ عَلَى جَمْعِ زَادِهِ، وَتَهْيِئَةِ آلَاتِ السَّفَرِ، وَلْيَعْتَقِدْ أَنَّ كُلَّ يَوْمٍ يَحْيَا فِيهِ غَنِيمَةٌ، مَا هِيَ فِي الْحِسَابِ، خُصُوصًا إِذَا قَوِيَ عَلَيْهِ الضَّعْفُ وَزَادَ. وَكُلَّمَا عَلَتْ سِنُّهُ، فَيَنْبَغِي أَنْ يَزِيدَ اجْتِهَادُهُ. Apabila seseorang telah mencapai usia enam puluh tahun, berarti Allah telah memberikan kesempatan yang panjang kepadanya. Hendaklah ia benar-benar memusatkan seluruh perhatiannya untuk mengumpulkan bekal akhirat dan mempersiapkan perjalanan menuju kehidupan setelah mati. Hendaknya ia meyakini bahwa setiap hari tambahan umur yang masih Allah berikan adalah keuntungan besar yang tidak ternilai, terlebih ketika kelemahan fisik semakin terasa.Semakin bertambah usianya, hendaknya semakin besar pula kesungguhannya dalam beribadah.فَإِذَا دَخَلَ فِي عَشْرِ الثَّمَانِينَ، لَيْسَ إِلَّا الْوَدَاعُ، وَمَا بَقِيَ مِنَ الْعُمْرِ إِلَّا أَسَفٌ عَلَى تَفْرِيطٍ، أَوْ تَعَبُّدٌ عَلَى ضَعْفٍ. Apabila seseorang telah memasuki usia delapan puluh tahun, maka yang tersisa hanyalah menanti perpisahan dengan dunia. Sisa usianya biasanya hanya diisi oleh penyesalan atas kelalaian yang telah lalu atau beribadah dalam keadaan fisik yang telah lemah.نَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقَظَةً تَامَّةً، تَصْرِفُ عَنَّا رُقَادَ الْغَفَلَاتِ، وَعَمَلًا صَالِحًا نَأْمَنُ مَعَهُ مِنَ النَّدَمِ يَوْمَ الِانْتِقَالِ، وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ.Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menganugerahkan kepada kita hati yang selalu terjaga sehingga terhindar dari kelalaian, serta amal saleh yang membuat kita selamat dari penyesalan ketika tiba saat meninggalkan dunia. Hanya Allah-lah yang memberikan taufik.” Doa Agar Mendapat Umur yang BerkahDoa Meminta Panjang Umur dan Diberkahiاللَّهُمَّ أكْثِرْ مَالِي، وَوَلَدِي، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أعْطَيْتَنِي وَأطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأحْسِنْ عَمَلِي وَاغْفِرْ لِيALLOOHUMMA AK-TSIR MAALII WA WALADII, WA BAARIK LII FIIMAA A’THOYTANII WA ATHIL HAYAATII ‘ALA THOO’ATIK WA AHSIN ‘AMALII WAGH-FIR LIIArtinya: Ya Allah perbanyaklah hartaku dan anakku serta berkahilah karunia yang Engkau berikan kepadaku. Panjangkanlah umurku dalam ketaatan kepada-Mu, perbaguslah amalku, dan ampunilah dosa-dosaku.Baca juga: Doa Meminta Panjang Umur dan Banyak Harta Doa untuk Usia 40: Syukur, Amal Saleh, dan Keturunan Baikرَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ ROBBI AWZI’NII AN ASYKURO NI’MATAKALLATII AN ‘AMTA ‘ALAYYA. WA ‘ALAA WAALIDAYYA WA AN A’MALA SHOOLIHAN TARDHOOHU, WA ASHLIH LII FII DZURRIYATII, INNII TUBTU ILAIKA WA INNII MINAL MUSLIMIINArtinya: Wahai Rabb-ku, ilhamkanlah kepadaku untuk bersyukur atas nikmat yang telah Engkau karuniakan kepadaku dan kepada orang tuaku. Ilhamkan pula kepadaku untuk melakukan amal shalih yang Engkau ridhai, dan perbaikilah keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. (QS. Al-Ahqaf ayat 15)Baca juga: Apa yang Harus Dilakukan di Usia 40 Tahun Menurut Islam?Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata dalam tafsirnya: فِي هَذِهِ الْآيَةِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُ يَنْبَغِي لِمَنْ بَلَغَ عُمْرُهُ أَرْبَعِينَ سَنَةً أَنْ يَسْتَكْثِرَ مِنْ هَذِهِ الدَّعَوَاتِ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.“Pada ayat ini terdapat petunjuk bahwa seseorang yang telah mencapai usia empat puluh tahun hendaknya memperbanyak doa-doa yang disebutkan dalam ayat tersebut. Dan Allah-lah Yang Maha Mengetahui.”Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya, “Ayat ini mengandung bimbingan bagi siapa saja yang telah mencapai usia empat puluh tahun agar ia memperbarui tobatnya, semakin kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan bertekad kuat untuk terus istiqamah di atas jalan tersebut.”Namun, ayat ini tidak menunjukkan bahwa membaca doa ini hukumnya wajib. Sebagian ulama menjelaskan bahwa tidak ada doa yang wajib dibaca selain doa memohon hidayah, yaitu doa yang kita baca dalam Surah Al-Fatihah pada setiap rakaat shalat. Apa Itu Berkah (Barakah)?[1] Berkah adalah konsep penting dalam Islam yang berkaitan dengan kelanggengan dan bertambahnya kebaikan dalam kehidupan seseorang. Pemahaman yang benar mengenai berkah akan membantu kita meraih manfaat yang lebih besar dari setiap nikmat yang Allah berikan.Dalam bahasa Arab, berkah atau barakah bermakna tetapnya sesuatu dan juga dapat diartikan sebagai bertambah atau berkembangnya suatu hal. Tabriik merujuk pada doa agar seseorang mendapatkan keberkahan, sedangkan tabarruk adalah usaha untuk memperoleh keberkahan atau yang biasa dikenal sebagai “ngalap berkah.”Dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, barakah bermakna kelanggengan kebaikan, kadang juga berarti bertambahnya kebaikan, atau bahkan mencakup kedua makna tersebut sekaligus. Hal ini dapat kita temukan dalam doa keberkahan yang sering dibaca saat tasyahud, yang ditujukan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,هٰذَا ٱلدُّعَاءُ يَتَضَمَّنُ إِعْطَاءَهُ مِنَ ٱلْخَيْرِ مَا أَعْطَاهُ لِآلِ إِبْرَاهِيمَ وَإِدَامَتَهُ وَثُبُوتَهُ لَهُ، وَمُضَاعَفَتَهُ لَهُ وَزِيَادَتَهُ، هٰذَا حَقِيقَةُ ٱلْبَرَكَةِ.“Doa ini mencakup permohonan agar diberikan kebaikan sebagaimana yang diberikan kepada keluarga Ibrahim, serta agar kebaikan tersebut tetap ada, terus berlangsung, berlipat ganda, dan semakin bertambah. Inilah hakikat keberkahan.”وَبِهٰذَا يَتَّضِحُ أَنَّ ٱلْبَرَكَةَ هِيَ ثُبُوتُ ٱلْخَيْرِ وَدَوَامُهُ، أَوْ كَثْرَةُ ٱلْخَيْرِ وَزِيَادَتُهُ، أَوْ هُمَا مَعًا.Dari sini dapat dipahami bahwa berkah berarti:Kebaikan yang tetap dan terus berlangsung,Kebaikan yang banyak dan bertambah,Atau mencakup keduanya sekaligus.Dalam salah satu doa iftitah yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, disebutkan:وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِى يَدَيْكَ“Seluruh kebaikan berada di tangan-Mu.” (HR. Muslim, no. 771) Pelajaran Berharga dari Perkataan Ibnul Qayyim“Bukan panjangnya umur yang menentukan nilai hidup seseorang, tetapi keberkahannya. Dan keberkahan itu lahir dari ketaatan, sedangkan maksiat perlahan menghabiskan umur yang sebenarnya.” Penutup: Jagalah Umur Sebelum Penyesalan DatangDi zaman sekarang, banyak orang sibuk mengejar usia panjang, kesehatan, dan kesuksesan, tetapi lalai menjaga keberkahan hidupnya. Maksiat yang dianggap sepele ternyata dapat menggerogoti nilai umur sedikit demi sedikit. Karena itu, jangan hanya menghitung berapa lama kita hidup, tetapi hitunglah berapa banyak waktu yang benar-benar kita gunakan untuk mendekat kepada Allah. Semoga Allah menjadikan sisa umur kita penuh keberkahan, dipenuhi amal saleh, dan ditutup dengan husnul khatimah.اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا، وَوَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْحُسْنَىAllāhumma bārik lanā fī a‘mārinā, wa waffiqnā li ṭā‘atika, wakhtim lanā bil-ḥusnā.“Ya Allah, berkahilah umur kami, berilah kami taufik untuk selalu taat kepada-Mu, dan tutuplah kehidupan kami dengan akhir yang terbaik.” Sebagian bahasan ini diambil dari buku DOSA ITU CANDU dan kumpulan doa dalam 50 DOA MENGATASI PROBLEM HIDUP. Untuk memesan buku-buku karya kami, bisa dapatkan di Rumaysho Store wa.me/6282120000454 atau wa.me/6282136267701, di shopee dan tokopedia Rumayshostore, atau Rumaysho Digital. —- Selesai ditulis dari Pondok Pesantren Darush Sholihin  dalam perjalanan menuju Sekar Kedhaton (Majelis Shafiyah Shalehah), Rabu, 20 Safar 1448 H, 5 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsAd-Daa wad Dawaa barakah dosa dosa itu candu faedah dari Ibnul Qayyim ibnul qayyim keberkahan maksiat nasihat islam taubat tazkiyatun nafs umur

Maksiat Menghilangkan Keberkahan Umur: Penjelasan Ibnul Qayyim

Setiap orang berharap diberi umur panjang. Namun, Islam mengajarkan bahwa yang paling berharga bukan sekadar panjangnya umur, melainkan keberkahannya. Tulisan Ibnul Qayyim rahimahullah berikut menjelaskan bagaimana maksiat dapat menghilangkan keberkahan hidup, bahkan menjadi sebab pendeknya umur dalam makna yang sangat mendalam.  Daftar Isi tutup 1. Maksiat Menghilangkan Keberkahan Umur 1.1. Pendapat Pertama: Maksiat Menghilangkan Berkah Umur 1.2. Pendapat Kedua: Maksiat Benar-Benar Mengurangi Umur Secara Hakiki 1.3. Pendapat Ketiga: Maksiat Mengurangi Hakikat Umur karena Hakikat Umur atau Umur Sejati adalah Hidupnya Hati 2. Umur Sejati adalah Waktu yang Dihabiskan Bersama Allah 3. Penyesalan Orang yang Menyia-nyiakan Umurnya 4. Rahasia Keberkahan Umur Menurut Ibnul Qayyim 5. Renungan Tahapan Usia Manusia dari Ibnul Jauzi 6. Doa Agar Mendapat Umur yang Berkah 6.1. Doa Meminta Panjang Umur dan Diberkahi 6.2. Doa untuk Usia 40: Syukur, Amal Saleh, dan Keturunan Baik 7. Apa Itu Berkah (Barakah)? 8. Pelajaran Berharga dari Perkataan Ibnul Qayyim 9. Penutup: Jagalah Umur Sebelum Penyesalan Datang  Maksiat Menghilangkan Keberkahan UmurIbnul Qayyim rahimahullah berkata,أَنَّ الْمَعَاصِيَ تُقَصِّرُ الْعُمُرَ وَتَمْحَقُ بَرَكَتَهُ وَلَا بُدَّ، فَإِنَّ الْبِرَّ كَمَا يَزِيدُ فِي الْعُمُرِ، فَالْفُجُورُ يُقَصِّرُالْعُمُرَ.Di antara dampak maksiat adalah memperpendek umur dan menghilangkan keberkahannya[1]. Sebagaimana kebaikan dapat menambah umur, keburukan justru memperpendeknya. Pendapat Pertama: Maksiat Menghilangkan Berkah Umurفَقَالَتْ طَائِفَةٌ: نُقْصَانُ عُمُرِ الْعَاصِي هُوَ ذَهَابُ بَرَكَةِ عُمُرِهِ وَمَحْقُهَا عَلَيْهِ، وَهَذَا حَقٌّ، وَهُوَ بَعْضُ تَأْثِيرِالْمَعَاصِي.Sebagian ulama mengatakan bahwa berkurangnya umur pelaku maksiat berarti hilangnya keberkahan dalam hidupnya. Ini benar adanya, dan merupakan salah satu dampak dari maksiat. Pendapat Kedua: Maksiat Benar-Benar Mengurangi Umur Secara Hakikiوَقَالَتْ طَائِفَةٌ: بَلْ تُنْقِصُهُ حَقِيقَةً، كَمَا تُنْقِصُ الرِّزْقَ، فَجَعَلَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ لِلْبَرَكَةِ فِي الرِّزْقِ أَسْبَابًاكَثِيرَةً تُكَثِّرُهُ وَتَزِيدُهُ، وَلِلْبَرَكَةِ فِي الْعُمُرِ أَسْبَابًا تُكَثِّرُهُ وَتَزِيدُهُ.Sebagian ulama berpendapat bahwa dosa benar-benar mengurangi umur secara hakiki, sebagaimana dosa juga dapat mengurangi rezeki. Allah, Mahasuci Dia, telah menetapkan banyak sebab yang dapat mendatangkan keberkahan dalam rezeki sehingga rezeki itu bertambah dan meningkat. Demikian pula, Allah menetapkan sebab-sebab yang dapat mendatangkan keberkahan dalam umur, yang menjadikannya lebih panjang dan penuh manfaat.قَالُوا وَلَا تُمْنَعُ زِيَادَةُ الْعُمُرِ بِأَسْبَابٍ كَمَا يُنْقَصُ بِأَسْبَابٍ، فَالْأَرْزَاقُ وَالْآجَالُ، وَالسَّعَادَةُ وَالشَّقَاوَةُ،وَالصِّحَّةُ وَالْمَرَضُ، وَالْغِنَى وَالْفَقْرُ، وَإِنْ كَانَتْ بِقَضَاءِ الرَّبِّ عَزَّ وَجَلَّ، فَهُوَ يَقْضِي مَا يَشَاءُ بِأَسْبَابٍجَعَلَهَا مُوجِبَةً لِمُسَبَّبَاتِهَا مُقْتَضِيَةً لَهَا.Mereka mengatakan bahwa bertambahnya umur tidak terhalang oleh sebab-sebab tertentu, sebagaimana berkurangnya umur juga terjadi karena sebab-sebab tertentu. Hal ini serupa dengan rezeki dan ajal, kebahagiaan dan kesengsaraan, kesehatan dan penyakit, serta kekayaan dan kemiskinan. Semua itu, meskipun ditetapkan oleh keputusan Allah yang Mahaagung, tetap terjadi melalui sebab-sebab yang telah Allah tetapkan sebagai faktor penyebab bagi akibat-akibatnya, yang saling berkaitan dan sesuai dengan hikmah-Nya. Pendapat Ketiga: Maksiat Mengurangi Hakikat Umur karena Hakikat Umur atau Umur Sejati adalah Hidupnya Hatiوَقَالَتْ طَائِفَةٌ أُخْرَى: تَأْثِيرُ الْمَعَاصِي فِي مَحْقِ الْعُمُرِ إِنَّمَا هُوَ بِأَنَّ حَقِيقَةَ الْحَيَاةِ هِيَ حَيَاةُ الْقَلْبِ،وَلِهَذَا جَعَلَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ الْكَافِرَ مَيِّتًا غَيْرَ حَيٍّ، كَمَا قَالَ تَعَالَى، {أَمْوَاتٌ غَيْرُ أَحْيَاءٍ} [سُورَةُ النَّحْلِ: ٢١] .Sebagian ulama lain berpendapat bahwa pengaruh maksiat dalam menghilangkan umur terletak pada hakikat kehidupan itu sendiri, yaitu kehidupan hati. Karena itulah Allah, Mahasuci Dia, menyebut orang kafir sebagai makhluk yang mati, bukan hidup, sebagaimana firman-Nya: “Mereka itu mati, tidak hidup.” (QS. An-Nahl: 21). Umur Sejati adalah Waktu yang Dihabiskan Bersama Allahفَالْحَيَاةُ فِي الْحَقِيقَةِ حَيَاةُ الْقَلْبِ، وَعُمُرُ الْإِنْسَانِ مُدَّةُ حَيَّاتِهِ فَلَيْسَ عُمُرُهُ إِلَّا أَوْقَاتَ حَيَاتِهِ بِاللَّهِ، فَتِلْكَسَاعَاتُ عُمُرِهِ، فَالْبِرُّ وَالتَّقْوَى وَالطَّاعَةُ تَزِيدُ فِي هَذِهِ الْأَوْقَاتِ الَّتِي هِيَ حَقِيقَةُ عُمُرِهِ، وَلَا عُمُرَ لَهُسِوَاهَا.Hakikat kehidupan sejati adalah kehidupan hati. Umur manusia pada hakikatnya adalah masa hidup hatinya. Tidak ada umur yang sebenarnya kecuali waktu-waktu yang ia jalani bersama Allah. Itulah jam-jam kehidupannya yang sejati. Kebaikan, ketakwaan, dan ketaatan menambah waktu-waktu ini, yang merupakan hakikat umur seseorang. Selain itu, tidak ada umur lain baginya selain waktu-waktu tersebut. Penyesalan Orang yang Menyia-nyiakan Umurnyaوَبِالْجُمْلَةِ، فَالْعَبْدُ إِذَا أَعْرَضَ عَنِ اللَّهِ وَاشْتَغَلَ بِالْمَعَاصِي ضَاعَتْ عَلَيْهِ أَيَّامُ حَيَاتِهِ الْحَقِيقِيَّةُ الَّتِييَجِدُ غِبَّ إِضَاعَتِهَا يَوْمَ يَقُولُ: {يَالَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي} [سُورَةُ الْفَجْرِ: ٢٤] .Secara keseluruhan, jika seorang hamba berpaling dari Allah dan sibuk dengan maksiat, maka ia telah menyia-nyiakan hari-hari dari kehidupannya yang sejati. Ia akan merasakan penyesalan atas waktu-waktu yang disia-siakan itu pada hari ketika ia berkata: “Alangkah baiknya jika aku dahulu mempersembahkan sesuatu untuk kehidupanku ini.” (QS. Al-Fajr: 24).فَلَا يَخْلُو إِمَّا أَنْ يَكُونَ لَهُ مَعَ ذَلِكَ تَطَلُّعٌ إِلَى مَصَالِحِهِ الدُّنْيَوِيَّةِ وَالْأُخْرَوِيَّةِ أَوْ لَا، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ تَطَلُّعٌإِلَى ذَلِكَ فَقَدْ ضَاعَ عَلَيْهِ عُمُرُهُ كُلُّهُ، وَذَهَبَتْ حَيَاتُهُ بَاطِلًا، وَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَلُّعٌ إِلَى ذَلِكَ طَالَتْ عَلَيْهِالطَّرِيقُ بِسَبَبِ الْعَوَائِقِ، وَتَعَسَّرَتْ عَلَيْهِ أَسْبَابُ الْخَيْرِ بِحَسْبِ اشْتِغَالِهِ بِأَضْدَادِهَا، وَذَلِكَ نُقْصَانٌحَقِيقِيٌّ مِنْ عُمُرِهِ.Keadaan seseorang yang berpaling dari Allah akan terbagi menjadi dua: apakah ia masih memiliki perhatian terhadap kepentingan dunia dan akhiratnya, atau tidak. Jika ia sama sekali tidak memiliki perhatian terhadap hal itu, maka seluruh umurnya akan terbuang sia-sia, dan kehidupannya menjadi kosong tanpa makna. Namun, jika ia masih memiliki perhatian terhadap hal tersebut, jalannya akan terasa panjang karena berbagai penghalang, dan sebab-sebab kebaikan menjadi sulit baginya, sebanding dengan kesibukannya pada hal-hal yang bertentangan dengan kebaikan itu. Ini adalah bentuk nyata dari berkurangnya umur secara hakiki. Rahasia Keberkahan Umur Menurut Ibnul Qayyimوَسِرُّ الْمَسْأَلَةِ أَنَّ عُمُرَ الْإِنْسَانِ مُدَّةُ حَيَّاتِهِ وَلَا حَيَاةَ لَهُ إِلَّا بِإِقْبَالِهِ عَلَى رَبِّهِ، وَالتَّنَعُّمِ بِحُبِّهِ وَذِكْرِهِ،وَإِيثَارِ مَرْضَاتِهِ.Inti dari permasalahan ini adalah bahwa umur manusia sejatinya adalah masa hidupnya, dan tidak ada kehidupan yang sebenarnya kecuali dengan mendekat kepada Rabb-nya, menikmati cinta dan dzikir kepada-Nya, serta mengutamakan keridaan-Nya.(Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa‘, hlm. 87-88) Renungan Tahapan Usia Manusia dari Ibnul JauziImam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata dalam kitab Shaid Al-Khathir:اَلْعَاقِلُ مَنْ فَهِمَ مَقَادِيرَ الزَّمَانِ؛ فَإِنَّهُ فِيمَا قَبْلَ الْبُلُوغِ صَبِيٌّ، لَيْسَ عَلَى عُمُرِهِ عِيَارٌ. “Orang yang berakal adalah orang yang memahami tahapan-tahapan usianya. Sebelum balig, seseorang masih anak-anak sehingga usianya belum menjadi ukuran yang berarti.فَإِذَا بَلَغَ، فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ زَمَانُ الْمُجَاهَدَةِ لِلْهَوَى، وَتَعَلُّمِ الْعِلْمِ. Ketika telah baligh, ia harus menyadari bahwa inilah masa untuk melawan hawa nafsu dan menuntut ilmu.فَإِذَا رُزِقَ الْأَوْلَادَ، فَهُوَ زَمَانُ الْكَسْبِ لِلْمَعَاشِ.Setelah Allah menganugerahinya anak-anak, maka itulah masa untuk bekerja dan mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan hidup.فَإِذَا بَلَغَ الْأَرْبَعِينَ، انْتَهَى تَمَامُهُ، وَقَضَى مَنَاسِكَ الْأَجَلِ، وَلَمْ يَبْقَ إِلَّا الِانْحِدَارُ إِلَى الْوَطَنِ. Apabila telah mencapai usia empat puluh tahun, berarti masa kesempurnaannya telah berlalu. Ia telah menempuh sebagian besar perjalanan hidupnya, dan setelah itu tinggal menuruni perjalanan menuju kampung akhirat.كَأَنَّ الْفَتَى يَرْقَى مِنَ الْعُمْرِ سُلَّمًا … إِلَى أَنْ يُجَاوِزَ الْأَرْبَعِينَ وَيَنْحَطَّ Seakan-akan seseorang menaiki tangga demi tangga sepanjang usianya, hingga ketika melewati usia empat puluh tahun, ia mulai menuruni tangga tersebut.فَيَنْبَغِي لَهُ عِنْدَ تَمَامِ الْأَرْبَعِينَ أَنْ يَجْعَلَ جُلَّ هِمَّتِهِ التَّزَوُّدَ لِلْآخِرَةِ، وَيَكُونَ كُلُّ تَلَمُّحِهِ لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ، وَيَأْخُذَ فِي الِاسْتِعْدَادِ لِلرَّحِيلِ، وَإِنْ كَانَ الْخِطَابُ بِهَذَا لِابْنِ عِشْرِينَ، إِلَّا أَنَّ رَجَاءَ التَّدَارُكِ فِي حَقِّ الصَّغِيرِ، لَا فِي حَقِّ الْكَبِيرِ. Karena itu, ketika genap berusia empat puluh tahun, hendaknya sebagian besar perhatian dan cita-citanya diarahkan untuk memperbanyak bekal menuju akhirat. Pandangannya hendaknya lebih banyak tertuju kepada kehidupan yang akan dihadapinya nanti, lalu mulai bersiap-siap untuk perjalanan menuju akhirat. Nasihat ini sebenarnya juga berlaku bagi orang yang berusia dua puluh tahun. Hanya saja, kesempatan untuk memperbaiki diri masih lebih luas bagi orang yang muda dibandingkan orang yang sudah tua.فَإِذَا بَلَغَ السِّتِّينَ؛ فَقَدْ أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَيْهِ فِي الْأَجَلِ، وَجَازَ مِنَ الزَّمَنِ، فَلْيُقْبِلْ بِكُلِّيَّتِهِ عَلَى جَمْعِ زَادِهِ، وَتَهْيِئَةِ آلَاتِ السَّفَرِ، وَلْيَعْتَقِدْ أَنَّ كُلَّ يَوْمٍ يَحْيَا فِيهِ غَنِيمَةٌ، مَا هِيَ فِي الْحِسَابِ، خُصُوصًا إِذَا قَوِيَ عَلَيْهِ الضَّعْفُ وَزَادَ. وَكُلَّمَا عَلَتْ سِنُّهُ، فَيَنْبَغِي أَنْ يَزِيدَ اجْتِهَادُهُ. Apabila seseorang telah mencapai usia enam puluh tahun, berarti Allah telah memberikan kesempatan yang panjang kepadanya. Hendaklah ia benar-benar memusatkan seluruh perhatiannya untuk mengumpulkan bekal akhirat dan mempersiapkan perjalanan menuju kehidupan setelah mati. Hendaknya ia meyakini bahwa setiap hari tambahan umur yang masih Allah berikan adalah keuntungan besar yang tidak ternilai, terlebih ketika kelemahan fisik semakin terasa.Semakin bertambah usianya, hendaknya semakin besar pula kesungguhannya dalam beribadah.فَإِذَا دَخَلَ فِي عَشْرِ الثَّمَانِينَ، لَيْسَ إِلَّا الْوَدَاعُ، وَمَا بَقِيَ مِنَ الْعُمْرِ إِلَّا أَسَفٌ عَلَى تَفْرِيطٍ، أَوْ تَعَبُّدٌ عَلَى ضَعْفٍ. Apabila seseorang telah memasuki usia delapan puluh tahun, maka yang tersisa hanyalah menanti perpisahan dengan dunia. Sisa usianya biasanya hanya diisi oleh penyesalan atas kelalaian yang telah lalu atau beribadah dalam keadaan fisik yang telah lemah.نَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقَظَةً تَامَّةً، تَصْرِفُ عَنَّا رُقَادَ الْغَفَلَاتِ، وَعَمَلًا صَالِحًا نَأْمَنُ مَعَهُ مِنَ النَّدَمِ يَوْمَ الِانْتِقَالِ، وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ.Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menganugerahkan kepada kita hati yang selalu terjaga sehingga terhindar dari kelalaian, serta amal saleh yang membuat kita selamat dari penyesalan ketika tiba saat meninggalkan dunia. Hanya Allah-lah yang memberikan taufik.” Doa Agar Mendapat Umur yang BerkahDoa Meminta Panjang Umur dan Diberkahiاللَّهُمَّ أكْثِرْ مَالِي، وَوَلَدِي، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أعْطَيْتَنِي وَأطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأحْسِنْ عَمَلِي وَاغْفِرْ لِيALLOOHUMMA AK-TSIR MAALII WA WALADII, WA BAARIK LII FIIMAA A’THOYTANII WA ATHIL HAYAATII ‘ALA THOO’ATIK WA AHSIN ‘AMALII WAGH-FIR LIIArtinya: Ya Allah perbanyaklah hartaku dan anakku serta berkahilah karunia yang Engkau berikan kepadaku. Panjangkanlah umurku dalam ketaatan kepada-Mu, perbaguslah amalku, dan ampunilah dosa-dosaku.Baca juga: Doa Meminta Panjang Umur dan Banyak Harta Doa untuk Usia 40: Syukur, Amal Saleh, dan Keturunan Baikرَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ ROBBI AWZI’NII AN ASYKURO NI’MATAKALLATII AN ‘AMTA ‘ALAYYA. WA ‘ALAA WAALIDAYYA WA AN A’MALA SHOOLIHAN TARDHOOHU, WA ASHLIH LII FII DZURRIYATII, INNII TUBTU ILAIKA WA INNII MINAL MUSLIMIINArtinya: Wahai Rabb-ku, ilhamkanlah kepadaku untuk bersyukur atas nikmat yang telah Engkau karuniakan kepadaku dan kepada orang tuaku. Ilhamkan pula kepadaku untuk melakukan amal shalih yang Engkau ridhai, dan perbaikilah keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. (QS. Al-Ahqaf ayat 15)Baca juga: Apa yang Harus Dilakukan di Usia 40 Tahun Menurut Islam?Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata dalam tafsirnya: فِي هَذِهِ الْآيَةِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُ يَنْبَغِي لِمَنْ بَلَغَ عُمْرُهُ أَرْبَعِينَ سَنَةً أَنْ يَسْتَكْثِرَ مِنْ هَذِهِ الدَّعَوَاتِ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.“Pada ayat ini terdapat petunjuk bahwa seseorang yang telah mencapai usia empat puluh tahun hendaknya memperbanyak doa-doa yang disebutkan dalam ayat tersebut. Dan Allah-lah Yang Maha Mengetahui.”Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya, “Ayat ini mengandung bimbingan bagi siapa saja yang telah mencapai usia empat puluh tahun agar ia memperbarui tobatnya, semakin kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan bertekad kuat untuk terus istiqamah di atas jalan tersebut.”Namun, ayat ini tidak menunjukkan bahwa membaca doa ini hukumnya wajib. Sebagian ulama menjelaskan bahwa tidak ada doa yang wajib dibaca selain doa memohon hidayah, yaitu doa yang kita baca dalam Surah Al-Fatihah pada setiap rakaat shalat. Apa Itu Berkah (Barakah)?[1] Berkah adalah konsep penting dalam Islam yang berkaitan dengan kelanggengan dan bertambahnya kebaikan dalam kehidupan seseorang. Pemahaman yang benar mengenai berkah akan membantu kita meraih manfaat yang lebih besar dari setiap nikmat yang Allah berikan.Dalam bahasa Arab, berkah atau barakah bermakna tetapnya sesuatu dan juga dapat diartikan sebagai bertambah atau berkembangnya suatu hal. Tabriik merujuk pada doa agar seseorang mendapatkan keberkahan, sedangkan tabarruk adalah usaha untuk memperoleh keberkahan atau yang biasa dikenal sebagai “ngalap berkah.”Dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, barakah bermakna kelanggengan kebaikan, kadang juga berarti bertambahnya kebaikan, atau bahkan mencakup kedua makna tersebut sekaligus. Hal ini dapat kita temukan dalam doa keberkahan yang sering dibaca saat tasyahud, yang ditujukan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,هٰذَا ٱلدُّعَاءُ يَتَضَمَّنُ إِعْطَاءَهُ مِنَ ٱلْخَيْرِ مَا أَعْطَاهُ لِآلِ إِبْرَاهِيمَ وَإِدَامَتَهُ وَثُبُوتَهُ لَهُ، وَمُضَاعَفَتَهُ لَهُ وَزِيَادَتَهُ، هٰذَا حَقِيقَةُ ٱلْبَرَكَةِ.“Doa ini mencakup permohonan agar diberikan kebaikan sebagaimana yang diberikan kepada keluarga Ibrahim, serta agar kebaikan tersebut tetap ada, terus berlangsung, berlipat ganda, dan semakin bertambah. Inilah hakikat keberkahan.”وَبِهٰذَا يَتَّضِحُ أَنَّ ٱلْبَرَكَةَ هِيَ ثُبُوتُ ٱلْخَيْرِ وَدَوَامُهُ، أَوْ كَثْرَةُ ٱلْخَيْرِ وَزِيَادَتُهُ، أَوْ هُمَا مَعًا.Dari sini dapat dipahami bahwa berkah berarti:Kebaikan yang tetap dan terus berlangsung,Kebaikan yang banyak dan bertambah,Atau mencakup keduanya sekaligus.Dalam salah satu doa iftitah yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, disebutkan:وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِى يَدَيْكَ“Seluruh kebaikan berada di tangan-Mu.” (HR. Muslim, no. 771) Pelajaran Berharga dari Perkataan Ibnul Qayyim“Bukan panjangnya umur yang menentukan nilai hidup seseorang, tetapi keberkahannya. Dan keberkahan itu lahir dari ketaatan, sedangkan maksiat perlahan menghabiskan umur yang sebenarnya.” Penutup: Jagalah Umur Sebelum Penyesalan DatangDi zaman sekarang, banyak orang sibuk mengejar usia panjang, kesehatan, dan kesuksesan, tetapi lalai menjaga keberkahan hidupnya. Maksiat yang dianggap sepele ternyata dapat menggerogoti nilai umur sedikit demi sedikit. Karena itu, jangan hanya menghitung berapa lama kita hidup, tetapi hitunglah berapa banyak waktu yang benar-benar kita gunakan untuk mendekat kepada Allah. Semoga Allah menjadikan sisa umur kita penuh keberkahan, dipenuhi amal saleh, dan ditutup dengan husnul khatimah.اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا، وَوَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْحُسْنَىAllāhumma bārik lanā fī a‘mārinā, wa waffiqnā li ṭā‘atika, wakhtim lanā bil-ḥusnā.“Ya Allah, berkahilah umur kami, berilah kami taufik untuk selalu taat kepada-Mu, dan tutuplah kehidupan kami dengan akhir yang terbaik.” Sebagian bahasan ini diambil dari buku DOSA ITU CANDU dan kumpulan doa dalam 50 DOA MENGATASI PROBLEM HIDUP. Untuk memesan buku-buku karya kami, bisa dapatkan di Rumaysho Store wa.me/6282120000454 atau wa.me/6282136267701, di shopee dan tokopedia Rumayshostore, atau Rumaysho Digital. —- Selesai ditulis dari Pondok Pesantren Darush Sholihin  dalam perjalanan menuju Sekar Kedhaton (Majelis Shafiyah Shalehah), Rabu, 20 Safar 1448 H, 5 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsAd-Daa wad Dawaa barakah dosa dosa itu candu faedah dari Ibnul Qayyim ibnul qayyim keberkahan maksiat nasihat islam taubat tazkiyatun nafs umur
Setiap orang berharap diberi umur panjang. Namun, Islam mengajarkan bahwa yang paling berharga bukan sekadar panjangnya umur, melainkan keberkahannya. Tulisan Ibnul Qayyim rahimahullah berikut menjelaskan bagaimana maksiat dapat menghilangkan keberkahan hidup, bahkan menjadi sebab pendeknya umur dalam makna yang sangat mendalam.  Daftar Isi tutup 1. Maksiat Menghilangkan Keberkahan Umur 1.1. Pendapat Pertama: Maksiat Menghilangkan Berkah Umur 1.2. Pendapat Kedua: Maksiat Benar-Benar Mengurangi Umur Secara Hakiki 1.3. Pendapat Ketiga: Maksiat Mengurangi Hakikat Umur karena Hakikat Umur atau Umur Sejati adalah Hidupnya Hati 2. Umur Sejati adalah Waktu yang Dihabiskan Bersama Allah 3. Penyesalan Orang yang Menyia-nyiakan Umurnya 4. Rahasia Keberkahan Umur Menurut Ibnul Qayyim 5. Renungan Tahapan Usia Manusia dari Ibnul Jauzi 6. Doa Agar Mendapat Umur yang Berkah 6.1. Doa Meminta Panjang Umur dan Diberkahi 6.2. Doa untuk Usia 40: Syukur, Amal Saleh, dan Keturunan Baik 7. Apa Itu Berkah (Barakah)? 8. Pelajaran Berharga dari Perkataan Ibnul Qayyim 9. Penutup: Jagalah Umur Sebelum Penyesalan Datang  Maksiat Menghilangkan Keberkahan UmurIbnul Qayyim rahimahullah berkata,أَنَّ الْمَعَاصِيَ تُقَصِّرُ الْعُمُرَ وَتَمْحَقُ بَرَكَتَهُ وَلَا بُدَّ، فَإِنَّ الْبِرَّ كَمَا يَزِيدُ فِي الْعُمُرِ، فَالْفُجُورُ يُقَصِّرُالْعُمُرَ.Di antara dampak maksiat adalah memperpendek umur dan menghilangkan keberkahannya[1]. Sebagaimana kebaikan dapat menambah umur, keburukan justru memperpendeknya. Pendapat Pertama: Maksiat Menghilangkan Berkah Umurفَقَالَتْ طَائِفَةٌ: نُقْصَانُ عُمُرِ الْعَاصِي هُوَ ذَهَابُ بَرَكَةِ عُمُرِهِ وَمَحْقُهَا عَلَيْهِ، وَهَذَا حَقٌّ، وَهُوَ بَعْضُ تَأْثِيرِالْمَعَاصِي.Sebagian ulama mengatakan bahwa berkurangnya umur pelaku maksiat berarti hilangnya keberkahan dalam hidupnya. Ini benar adanya, dan merupakan salah satu dampak dari maksiat. Pendapat Kedua: Maksiat Benar-Benar Mengurangi Umur Secara Hakikiوَقَالَتْ طَائِفَةٌ: بَلْ تُنْقِصُهُ حَقِيقَةً، كَمَا تُنْقِصُ الرِّزْقَ، فَجَعَلَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ لِلْبَرَكَةِ فِي الرِّزْقِ أَسْبَابًاكَثِيرَةً تُكَثِّرُهُ وَتَزِيدُهُ، وَلِلْبَرَكَةِ فِي الْعُمُرِ أَسْبَابًا تُكَثِّرُهُ وَتَزِيدُهُ.Sebagian ulama berpendapat bahwa dosa benar-benar mengurangi umur secara hakiki, sebagaimana dosa juga dapat mengurangi rezeki. Allah, Mahasuci Dia, telah menetapkan banyak sebab yang dapat mendatangkan keberkahan dalam rezeki sehingga rezeki itu bertambah dan meningkat. Demikian pula, Allah menetapkan sebab-sebab yang dapat mendatangkan keberkahan dalam umur, yang menjadikannya lebih panjang dan penuh manfaat.قَالُوا وَلَا تُمْنَعُ زِيَادَةُ الْعُمُرِ بِأَسْبَابٍ كَمَا يُنْقَصُ بِأَسْبَابٍ، فَالْأَرْزَاقُ وَالْآجَالُ، وَالسَّعَادَةُ وَالشَّقَاوَةُ،وَالصِّحَّةُ وَالْمَرَضُ، وَالْغِنَى وَالْفَقْرُ، وَإِنْ كَانَتْ بِقَضَاءِ الرَّبِّ عَزَّ وَجَلَّ، فَهُوَ يَقْضِي مَا يَشَاءُ بِأَسْبَابٍجَعَلَهَا مُوجِبَةً لِمُسَبَّبَاتِهَا مُقْتَضِيَةً لَهَا.Mereka mengatakan bahwa bertambahnya umur tidak terhalang oleh sebab-sebab tertentu, sebagaimana berkurangnya umur juga terjadi karena sebab-sebab tertentu. Hal ini serupa dengan rezeki dan ajal, kebahagiaan dan kesengsaraan, kesehatan dan penyakit, serta kekayaan dan kemiskinan. Semua itu, meskipun ditetapkan oleh keputusan Allah yang Mahaagung, tetap terjadi melalui sebab-sebab yang telah Allah tetapkan sebagai faktor penyebab bagi akibat-akibatnya, yang saling berkaitan dan sesuai dengan hikmah-Nya. Pendapat Ketiga: Maksiat Mengurangi Hakikat Umur karena Hakikat Umur atau Umur Sejati adalah Hidupnya Hatiوَقَالَتْ طَائِفَةٌ أُخْرَى: تَأْثِيرُ الْمَعَاصِي فِي مَحْقِ الْعُمُرِ إِنَّمَا هُوَ بِأَنَّ حَقِيقَةَ الْحَيَاةِ هِيَ حَيَاةُ الْقَلْبِ،وَلِهَذَا جَعَلَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ الْكَافِرَ مَيِّتًا غَيْرَ حَيٍّ، كَمَا قَالَ تَعَالَى، {أَمْوَاتٌ غَيْرُ أَحْيَاءٍ} [سُورَةُ النَّحْلِ: ٢١] .Sebagian ulama lain berpendapat bahwa pengaruh maksiat dalam menghilangkan umur terletak pada hakikat kehidupan itu sendiri, yaitu kehidupan hati. Karena itulah Allah, Mahasuci Dia, menyebut orang kafir sebagai makhluk yang mati, bukan hidup, sebagaimana firman-Nya: “Mereka itu mati, tidak hidup.” (QS. An-Nahl: 21). Umur Sejati adalah Waktu yang Dihabiskan Bersama Allahفَالْحَيَاةُ فِي الْحَقِيقَةِ حَيَاةُ الْقَلْبِ، وَعُمُرُ الْإِنْسَانِ مُدَّةُ حَيَّاتِهِ فَلَيْسَ عُمُرُهُ إِلَّا أَوْقَاتَ حَيَاتِهِ بِاللَّهِ، فَتِلْكَسَاعَاتُ عُمُرِهِ، فَالْبِرُّ وَالتَّقْوَى وَالطَّاعَةُ تَزِيدُ فِي هَذِهِ الْأَوْقَاتِ الَّتِي هِيَ حَقِيقَةُ عُمُرِهِ، وَلَا عُمُرَ لَهُسِوَاهَا.Hakikat kehidupan sejati adalah kehidupan hati. Umur manusia pada hakikatnya adalah masa hidup hatinya. Tidak ada umur yang sebenarnya kecuali waktu-waktu yang ia jalani bersama Allah. Itulah jam-jam kehidupannya yang sejati. Kebaikan, ketakwaan, dan ketaatan menambah waktu-waktu ini, yang merupakan hakikat umur seseorang. Selain itu, tidak ada umur lain baginya selain waktu-waktu tersebut. Penyesalan Orang yang Menyia-nyiakan Umurnyaوَبِالْجُمْلَةِ، فَالْعَبْدُ إِذَا أَعْرَضَ عَنِ اللَّهِ وَاشْتَغَلَ بِالْمَعَاصِي ضَاعَتْ عَلَيْهِ أَيَّامُ حَيَاتِهِ الْحَقِيقِيَّةُ الَّتِييَجِدُ غِبَّ إِضَاعَتِهَا يَوْمَ يَقُولُ: {يَالَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي} [سُورَةُ الْفَجْرِ: ٢٤] .Secara keseluruhan, jika seorang hamba berpaling dari Allah dan sibuk dengan maksiat, maka ia telah menyia-nyiakan hari-hari dari kehidupannya yang sejati. Ia akan merasakan penyesalan atas waktu-waktu yang disia-siakan itu pada hari ketika ia berkata: “Alangkah baiknya jika aku dahulu mempersembahkan sesuatu untuk kehidupanku ini.” (QS. Al-Fajr: 24).فَلَا يَخْلُو إِمَّا أَنْ يَكُونَ لَهُ مَعَ ذَلِكَ تَطَلُّعٌ إِلَى مَصَالِحِهِ الدُّنْيَوِيَّةِ وَالْأُخْرَوِيَّةِ أَوْ لَا، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ تَطَلُّعٌإِلَى ذَلِكَ فَقَدْ ضَاعَ عَلَيْهِ عُمُرُهُ كُلُّهُ، وَذَهَبَتْ حَيَاتُهُ بَاطِلًا، وَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَلُّعٌ إِلَى ذَلِكَ طَالَتْ عَلَيْهِالطَّرِيقُ بِسَبَبِ الْعَوَائِقِ، وَتَعَسَّرَتْ عَلَيْهِ أَسْبَابُ الْخَيْرِ بِحَسْبِ اشْتِغَالِهِ بِأَضْدَادِهَا، وَذَلِكَ نُقْصَانٌحَقِيقِيٌّ مِنْ عُمُرِهِ.Keadaan seseorang yang berpaling dari Allah akan terbagi menjadi dua: apakah ia masih memiliki perhatian terhadap kepentingan dunia dan akhiratnya, atau tidak. Jika ia sama sekali tidak memiliki perhatian terhadap hal itu, maka seluruh umurnya akan terbuang sia-sia, dan kehidupannya menjadi kosong tanpa makna. Namun, jika ia masih memiliki perhatian terhadap hal tersebut, jalannya akan terasa panjang karena berbagai penghalang, dan sebab-sebab kebaikan menjadi sulit baginya, sebanding dengan kesibukannya pada hal-hal yang bertentangan dengan kebaikan itu. Ini adalah bentuk nyata dari berkurangnya umur secara hakiki. Rahasia Keberkahan Umur Menurut Ibnul Qayyimوَسِرُّ الْمَسْأَلَةِ أَنَّ عُمُرَ الْإِنْسَانِ مُدَّةُ حَيَّاتِهِ وَلَا حَيَاةَ لَهُ إِلَّا بِإِقْبَالِهِ عَلَى رَبِّهِ، وَالتَّنَعُّمِ بِحُبِّهِ وَذِكْرِهِ،وَإِيثَارِ مَرْضَاتِهِ.Inti dari permasalahan ini adalah bahwa umur manusia sejatinya adalah masa hidupnya, dan tidak ada kehidupan yang sebenarnya kecuali dengan mendekat kepada Rabb-nya, menikmati cinta dan dzikir kepada-Nya, serta mengutamakan keridaan-Nya.(Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa‘, hlm. 87-88) Renungan Tahapan Usia Manusia dari Ibnul JauziImam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata dalam kitab Shaid Al-Khathir:اَلْعَاقِلُ مَنْ فَهِمَ مَقَادِيرَ الزَّمَانِ؛ فَإِنَّهُ فِيمَا قَبْلَ الْبُلُوغِ صَبِيٌّ، لَيْسَ عَلَى عُمُرِهِ عِيَارٌ. “Orang yang berakal adalah orang yang memahami tahapan-tahapan usianya. Sebelum balig, seseorang masih anak-anak sehingga usianya belum menjadi ukuran yang berarti.فَإِذَا بَلَغَ، فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ زَمَانُ الْمُجَاهَدَةِ لِلْهَوَى، وَتَعَلُّمِ الْعِلْمِ. Ketika telah baligh, ia harus menyadari bahwa inilah masa untuk melawan hawa nafsu dan menuntut ilmu.فَإِذَا رُزِقَ الْأَوْلَادَ، فَهُوَ زَمَانُ الْكَسْبِ لِلْمَعَاشِ.Setelah Allah menganugerahinya anak-anak, maka itulah masa untuk bekerja dan mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan hidup.فَإِذَا بَلَغَ الْأَرْبَعِينَ، انْتَهَى تَمَامُهُ، وَقَضَى مَنَاسِكَ الْأَجَلِ، وَلَمْ يَبْقَ إِلَّا الِانْحِدَارُ إِلَى الْوَطَنِ. Apabila telah mencapai usia empat puluh tahun, berarti masa kesempurnaannya telah berlalu. Ia telah menempuh sebagian besar perjalanan hidupnya, dan setelah itu tinggal menuruni perjalanan menuju kampung akhirat.كَأَنَّ الْفَتَى يَرْقَى مِنَ الْعُمْرِ سُلَّمًا … إِلَى أَنْ يُجَاوِزَ الْأَرْبَعِينَ وَيَنْحَطَّ Seakan-akan seseorang menaiki tangga demi tangga sepanjang usianya, hingga ketika melewati usia empat puluh tahun, ia mulai menuruni tangga tersebut.فَيَنْبَغِي لَهُ عِنْدَ تَمَامِ الْأَرْبَعِينَ أَنْ يَجْعَلَ جُلَّ هِمَّتِهِ التَّزَوُّدَ لِلْآخِرَةِ، وَيَكُونَ كُلُّ تَلَمُّحِهِ لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ، وَيَأْخُذَ فِي الِاسْتِعْدَادِ لِلرَّحِيلِ، وَإِنْ كَانَ الْخِطَابُ بِهَذَا لِابْنِ عِشْرِينَ، إِلَّا أَنَّ رَجَاءَ التَّدَارُكِ فِي حَقِّ الصَّغِيرِ، لَا فِي حَقِّ الْكَبِيرِ. Karena itu, ketika genap berusia empat puluh tahun, hendaknya sebagian besar perhatian dan cita-citanya diarahkan untuk memperbanyak bekal menuju akhirat. Pandangannya hendaknya lebih banyak tertuju kepada kehidupan yang akan dihadapinya nanti, lalu mulai bersiap-siap untuk perjalanan menuju akhirat. Nasihat ini sebenarnya juga berlaku bagi orang yang berusia dua puluh tahun. Hanya saja, kesempatan untuk memperbaiki diri masih lebih luas bagi orang yang muda dibandingkan orang yang sudah tua.فَإِذَا بَلَغَ السِّتِّينَ؛ فَقَدْ أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَيْهِ فِي الْأَجَلِ، وَجَازَ مِنَ الزَّمَنِ، فَلْيُقْبِلْ بِكُلِّيَّتِهِ عَلَى جَمْعِ زَادِهِ، وَتَهْيِئَةِ آلَاتِ السَّفَرِ، وَلْيَعْتَقِدْ أَنَّ كُلَّ يَوْمٍ يَحْيَا فِيهِ غَنِيمَةٌ، مَا هِيَ فِي الْحِسَابِ، خُصُوصًا إِذَا قَوِيَ عَلَيْهِ الضَّعْفُ وَزَادَ. وَكُلَّمَا عَلَتْ سِنُّهُ، فَيَنْبَغِي أَنْ يَزِيدَ اجْتِهَادُهُ. Apabila seseorang telah mencapai usia enam puluh tahun, berarti Allah telah memberikan kesempatan yang panjang kepadanya. Hendaklah ia benar-benar memusatkan seluruh perhatiannya untuk mengumpulkan bekal akhirat dan mempersiapkan perjalanan menuju kehidupan setelah mati. Hendaknya ia meyakini bahwa setiap hari tambahan umur yang masih Allah berikan adalah keuntungan besar yang tidak ternilai, terlebih ketika kelemahan fisik semakin terasa.Semakin bertambah usianya, hendaknya semakin besar pula kesungguhannya dalam beribadah.فَإِذَا دَخَلَ فِي عَشْرِ الثَّمَانِينَ، لَيْسَ إِلَّا الْوَدَاعُ، وَمَا بَقِيَ مِنَ الْعُمْرِ إِلَّا أَسَفٌ عَلَى تَفْرِيطٍ، أَوْ تَعَبُّدٌ عَلَى ضَعْفٍ. Apabila seseorang telah memasuki usia delapan puluh tahun, maka yang tersisa hanyalah menanti perpisahan dengan dunia. Sisa usianya biasanya hanya diisi oleh penyesalan atas kelalaian yang telah lalu atau beribadah dalam keadaan fisik yang telah lemah.نَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقَظَةً تَامَّةً، تَصْرِفُ عَنَّا رُقَادَ الْغَفَلَاتِ، وَعَمَلًا صَالِحًا نَأْمَنُ مَعَهُ مِنَ النَّدَمِ يَوْمَ الِانْتِقَالِ، وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ.Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menganugerahkan kepada kita hati yang selalu terjaga sehingga terhindar dari kelalaian, serta amal saleh yang membuat kita selamat dari penyesalan ketika tiba saat meninggalkan dunia. Hanya Allah-lah yang memberikan taufik.” Doa Agar Mendapat Umur yang BerkahDoa Meminta Panjang Umur dan Diberkahiاللَّهُمَّ أكْثِرْ مَالِي، وَوَلَدِي، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أعْطَيْتَنِي وَأطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأحْسِنْ عَمَلِي وَاغْفِرْ لِيALLOOHUMMA AK-TSIR MAALII WA WALADII, WA BAARIK LII FIIMAA A’THOYTANII WA ATHIL HAYAATII ‘ALA THOO’ATIK WA AHSIN ‘AMALII WAGH-FIR LIIArtinya: Ya Allah perbanyaklah hartaku dan anakku serta berkahilah karunia yang Engkau berikan kepadaku. Panjangkanlah umurku dalam ketaatan kepada-Mu, perbaguslah amalku, dan ampunilah dosa-dosaku.Baca juga: Doa Meminta Panjang Umur dan Banyak Harta Doa untuk Usia 40: Syukur, Amal Saleh, dan Keturunan Baikرَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ ROBBI AWZI’NII AN ASYKURO NI’MATAKALLATII AN ‘AMTA ‘ALAYYA. WA ‘ALAA WAALIDAYYA WA AN A’MALA SHOOLIHAN TARDHOOHU, WA ASHLIH LII FII DZURRIYATII, INNII TUBTU ILAIKA WA INNII MINAL MUSLIMIINArtinya: Wahai Rabb-ku, ilhamkanlah kepadaku untuk bersyukur atas nikmat yang telah Engkau karuniakan kepadaku dan kepada orang tuaku. Ilhamkan pula kepadaku untuk melakukan amal shalih yang Engkau ridhai, dan perbaikilah keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. (QS. Al-Ahqaf ayat 15)Baca juga: Apa yang Harus Dilakukan di Usia 40 Tahun Menurut Islam?Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata dalam tafsirnya: فِي هَذِهِ الْآيَةِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُ يَنْبَغِي لِمَنْ بَلَغَ عُمْرُهُ أَرْبَعِينَ سَنَةً أَنْ يَسْتَكْثِرَ مِنْ هَذِهِ الدَّعَوَاتِ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.“Pada ayat ini terdapat petunjuk bahwa seseorang yang telah mencapai usia empat puluh tahun hendaknya memperbanyak doa-doa yang disebutkan dalam ayat tersebut. Dan Allah-lah Yang Maha Mengetahui.”Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya, “Ayat ini mengandung bimbingan bagi siapa saja yang telah mencapai usia empat puluh tahun agar ia memperbarui tobatnya, semakin kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan bertekad kuat untuk terus istiqamah di atas jalan tersebut.”Namun, ayat ini tidak menunjukkan bahwa membaca doa ini hukumnya wajib. Sebagian ulama menjelaskan bahwa tidak ada doa yang wajib dibaca selain doa memohon hidayah, yaitu doa yang kita baca dalam Surah Al-Fatihah pada setiap rakaat shalat. Apa Itu Berkah (Barakah)?[1] Berkah adalah konsep penting dalam Islam yang berkaitan dengan kelanggengan dan bertambahnya kebaikan dalam kehidupan seseorang. Pemahaman yang benar mengenai berkah akan membantu kita meraih manfaat yang lebih besar dari setiap nikmat yang Allah berikan.Dalam bahasa Arab, berkah atau barakah bermakna tetapnya sesuatu dan juga dapat diartikan sebagai bertambah atau berkembangnya suatu hal. Tabriik merujuk pada doa agar seseorang mendapatkan keberkahan, sedangkan tabarruk adalah usaha untuk memperoleh keberkahan atau yang biasa dikenal sebagai “ngalap berkah.”Dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, barakah bermakna kelanggengan kebaikan, kadang juga berarti bertambahnya kebaikan, atau bahkan mencakup kedua makna tersebut sekaligus. Hal ini dapat kita temukan dalam doa keberkahan yang sering dibaca saat tasyahud, yang ditujukan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,هٰذَا ٱلدُّعَاءُ يَتَضَمَّنُ إِعْطَاءَهُ مِنَ ٱلْخَيْرِ مَا أَعْطَاهُ لِآلِ إِبْرَاهِيمَ وَإِدَامَتَهُ وَثُبُوتَهُ لَهُ، وَمُضَاعَفَتَهُ لَهُ وَزِيَادَتَهُ، هٰذَا حَقِيقَةُ ٱلْبَرَكَةِ.“Doa ini mencakup permohonan agar diberikan kebaikan sebagaimana yang diberikan kepada keluarga Ibrahim, serta agar kebaikan tersebut tetap ada, terus berlangsung, berlipat ganda, dan semakin bertambah. Inilah hakikat keberkahan.”وَبِهٰذَا يَتَّضِحُ أَنَّ ٱلْبَرَكَةَ هِيَ ثُبُوتُ ٱلْخَيْرِ وَدَوَامُهُ، أَوْ كَثْرَةُ ٱلْخَيْرِ وَزِيَادَتُهُ، أَوْ هُمَا مَعًا.Dari sini dapat dipahami bahwa berkah berarti:Kebaikan yang tetap dan terus berlangsung,Kebaikan yang banyak dan bertambah,Atau mencakup keduanya sekaligus.Dalam salah satu doa iftitah yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, disebutkan:وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِى يَدَيْكَ“Seluruh kebaikan berada di tangan-Mu.” (HR. Muslim, no. 771) Pelajaran Berharga dari Perkataan Ibnul Qayyim“Bukan panjangnya umur yang menentukan nilai hidup seseorang, tetapi keberkahannya. Dan keberkahan itu lahir dari ketaatan, sedangkan maksiat perlahan menghabiskan umur yang sebenarnya.” Penutup: Jagalah Umur Sebelum Penyesalan DatangDi zaman sekarang, banyak orang sibuk mengejar usia panjang, kesehatan, dan kesuksesan, tetapi lalai menjaga keberkahan hidupnya. Maksiat yang dianggap sepele ternyata dapat menggerogoti nilai umur sedikit demi sedikit. Karena itu, jangan hanya menghitung berapa lama kita hidup, tetapi hitunglah berapa banyak waktu yang benar-benar kita gunakan untuk mendekat kepada Allah. Semoga Allah menjadikan sisa umur kita penuh keberkahan, dipenuhi amal saleh, dan ditutup dengan husnul khatimah.اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا، وَوَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْحُسْنَىAllāhumma bārik lanā fī a‘mārinā, wa waffiqnā li ṭā‘atika, wakhtim lanā bil-ḥusnā.“Ya Allah, berkahilah umur kami, berilah kami taufik untuk selalu taat kepada-Mu, dan tutuplah kehidupan kami dengan akhir yang terbaik.” Sebagian bahasan ini diambil dari buku DOSA ITU CANDU dan kumpulan doa dalam 50 DOA MENGATASI PROBLEM HIDUP. Untuk memesan buku-buku karya kami, bisa dapatkan di Rumaysho Store wa.me/6282120000454 atau wa.me/6282136267701, di shopee dan tokopedia Rumayshostore, atau Rumaysho Digital. —- Selesai ditulis dari Pondok Pesantren Darush Sholihin  dalam perjalanan menuju Sekar Kedhaton (Majelis Shafiyah Shalehah), Rabu, 20 Safar 1448 H, 5 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsAd-Daa wad Dawaa barakah dosa dosa itu candu faedah dari Ibnul Qayyim ibnul qayyim keberkahan maksiat nasihat islam taubat tazkiyatun nafs umur


Setiap orang berharap diberi umur panjang. Namun, Islam mengajarkan bahwa yang paling berharga bukan sekadar panjangnya umur, melainkan keberkahannya. Tulisan Ibnul Qayyim rahimahullah berikut menjelaskan bagaimana maksiat dapat menghilangkan keberkahan hidup, bahkan menjadi sebab pendeknya umur dalam makna yang sangat mendalam.  Daftar Isi tutup 1. Maksiat Menghilangkan Keberkahan Umur 1.1. Pendapat Pertama: Maksiat Menghilangkan Berkah Umur 1.2. Pendapat Kedua: Maksiat Benar-Benar Mengurangi Umur Secara Hakiki 1.3. Pendapat Ketiga: Maksiat Mengurangi Hakikat Umur karena Hakikat Umur atau Umur Sejati adalah Hidupnya Hati 2. Umur Sejati adalah Waktu yang Dihabiskan Bersama Allah 3. Penyesalan Orang yang Menyia-nyiakan Umurnya 4. Rahasia Keberkahan Umur Menurut Ibnul Qayyim 5. Renungan Tahapan Usia Manusia dari Ibnul Jauzi 6. Doa Agar Mendapat Umur yang Berkah 6.1. Doa Meminta Panjang Umur dan Diberkahi 6.2. Doa untuk Usia 40: Syukur, Amal Saleh, dan Keturunan Baik 7. Apa Itu Berkah (Barakah)? 8. Pelajaran Berharga dari Perkataan Ibnul Qayyim 9. Penutup: Jagalah Umur Sebelum Penyesalan Datang  Maksiat Menghilangkan Keberkahan UmurIbnul Qayyim rahimahullah berkata,أَنَّ الْمَعَاصِيَ تُقَصِّرُ الْعُمُرَ وَتَمْحَقُ بَرَكَتَهُ وَلَا بُدَّ، فَإِنَّ الْبِرَّ كَمَا يَزِيدُ فِي الْعُمُرِ، فَالْفُجُورُ يُقَصِّرُالْعُمُرَ.Di antara dampak maksiat adalah memperpendek umur dan menghilangkan keberkahannya[1]. Sebagaimana kebaikan dapat menambah umur, keburukan justru memperpendeknya. Pendapat Pertama: Maksiat Menghilangkan Berkah Umurفَقَالَتْ طَائِفَةٌ: نُقْصَانُ عُمُرِ الْعَاصِي هُوَ ذَهَابُ بَرَكَةِ عُمُرِهِ وَمَحْقُهَا عَلَيْهِ، وَهَذَا حَقٌّ، وَهُوَ بَعْضُ تَأْثِيرِالْمَعَاصِي.Sebagian ulama mengatakan bahwa berkurangnya umur pelaku maksiat berarti hilangnya keberkahan dalam hidupnya. Ini benar adanya, dan merupakan salah satu dampak dari maksiat. Pendapat Kedua: Maksiat Benar-Benar Mengurangi Umur Secara Hakikiوَقَالَتْ طَائِفَةٌ: بَلْ تُنْقِصُهُ حَقِيقَةً، كَمَا تُنْقِصُ الرِّزْقَ، فَجَعَلَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ لِلْبَرَكَةِ فِي الرِّزْقِ أَسْبَابًاكَثِيرَةً تُكَثِّرُهُ وَتَزِيدُهُ، وَلِلْبَرَكَةِ فِي الْعُمُرِ أَسْبَابًا تُكَثِّرُهُ وَتَزِيدُهُ.Sebagian ulama berpendapat bahwa dosa benar-benar mengurangi umur secara hakiki, sebagaimana dosa juga dapat mengurangi rezeki. Allah, Mahasuci Dia, telah menetapkan banyak sebab yang dapat mendatangkan keberkahan dalam rezeki sehingga rezeki itu bertambah dan meningkat. Demikian pula, Allah menetapkan sebab-sebab yang dapat mendatangkan keberkahan dalam umur, yang menjadikannya lebih panjang dan penuh manfaat.قَالُوا وَلَا تُمْنَعُ زِيَادَةُ الْعُمُرِ بِأَسْبَابٍ كَمَا يُنْقَصُ بِأَسْبَابٍ، فَالْأَرْزَاقُ وَالْآجَالُ، وَالسَّعَادَةُ وَالشَّقَاوَةُ،وَالصِّحَّةُ وَالْمَرَضُ، وَالْغِنَى وَالْفَقْرُ، وَإِنْ كَانَتْ بِقَضَاءِ الرَّبِّ عَزَّ وَجَلَّ، فَهُوَ يَقْضِي مَا يَشَاءُ بِأَسْبَابٍجَعَلَهَا مُوجِبَةً لِمُسَبَّبَاتِهَا مُقْتَضِيَةً لَهَا.Mereka mengatakan bahwa bertambahnya umur tidak terhalang oleh sebab-sebab tertentu, sebagaimana berkurangnya umur juga terjadi karena sebab-sebab tertentu. Hal ini serupa dengan rezeki dan ajal, kebahagiaan dan kesengsaraan, kesehatan dan penyakit, serta kekayaan dan kemiskinan. Semua itu, meskipun ditetapkan oleh keputusan Allah yang Mahaagung, tetap terjadi melalui sebab-sebab yang telah Allah tetapkan sebagai faktor penyebab bagi akibat-akibatnya, yang saling berkaitan dan sesuai dengan hikmah-Nya. Pendapat Ketiga: Maksiat Mengurangi Hakikat Umur karena Hakikat Umur atau Umur Sejati adalah Hidupnya Hatiوَقَالَتْ طَائِفَةٌ أُخْرَى: تَأْثِيرُ الْمَعَاصِي فِي مَحْقِ الْعُمُرِ إِنَّمَا هُوَ بِأَنَّ حَقِيقَةَ الْحَيَاةِ هِيَ حَيَاةُ الْقَلْبِ،وَلِهَذَا جَعَلَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ الْكَافِرَ مَيِّتًا غَيْرَ حَيٍّ، كَمَا قَالَ تَعَالَى، {أَمْوَاتٌ غَيْرُ أَحْيَاءٍ} [سُورَةُ النَّحْلِ: ٢١] .Sebagian ulama lain berpendapat bahwa pengaruh maksiat dalam menghilangkan umur terletak pada hakikat kehidupan itu sendiri, yaitu kehidupan hati. Karena itulah Allah, Mahasuci Dia, menyebut orang kafir sebagai makhluk yang mati, bukan hidup, sebagaimana firman-Nya: “Mereka itu mati, tidak hidup.” (QS. An-Nahl: 21). Umur Sejati adalah Waktu yang Dihabiskan Bersama Allahفَالْحَيَاةُ فِي الْحَقِيقَةِ حَيَاةُ الْقَلْبِ، وَعُمُرُ الْإِنْسَانِ مُدَّةُ حَيَّاتِهِ فَلَيْسَ عُمُرُهُ إِلَّا أَوْقَاتَ حَيَاتِهِ بِاللَّهِ، فَتِلْكَسَاعَاتُ عُمُرِهِ، فَالْبِرُّ وَالتَّقْوَى وَالطَّاعَةُ تَزِيدُ فِي هَذِهِ الْأَوْقَاتِ الَّتِي هِيَ حَقِيقَةُ عُمُرِهِ، وَلَا عُمُرَ لَهُسِوَاهَا.Hakikat kehidupan sejati adalah kehidupan hati. Umur manusia pada hakikatnya adalah masa hidup hatinya. Tidak ada umur yang sebenarnya kecuali waktu-waktu yang ia jalani bersama Allah. Itulah jam-jam kehidupannya yang sejati. Kebaikan, ketakwaan, dan ketaatan menambah waktu-waktu ini, yang merupakan hakikat umur seseorang. Selain itu, tidak ada umur lain baginya selain waktu-waktu tersebut. Penyesalan Orang yang Menyia-nyiakan Umurnyaوَبِالْجُمْلَةِ، فَالْعَبْدُ إِذَا أَعْرَضَ عَنِ اللَّهِ وَاشْتَغَلَ بِالْمَعَاصِي ضَاعَتْ عَلَيْهِ أَيَّامُ حَيَاتِهِ الْحَقِيقِيَّةُ الَّتِييَجِدُ غِبَّ إِضَاعَتِهَا يَوْمَ يَقُولُ: {يَالَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي} [سُورَةُ الْفَجْرِ: ٢٤] .Secara keseluruhan, jika seorang hamba berpaling dari Allah dan sibuk dengan maksiat, maka ia telah menyia-nyiakan hari-hari dari kehidupannya yang sejati. Ia akan merasakan penyesalan atas waktu-waktu yang disia-siakan itu pada hari ketika ia berkata: “Alangkah baiknya jika aku dahulu mempersembahkan sesuatu untuk kehidupanku ini.” (QS. Al-Fajr: 24).فَلَا يَخْلُو إِمَّا أَنْ يَكُونَ لَهُ مَعَ ذَلِكَ تَطَلُّعٌ إِلَى مَصَالِحِهِ الدُّنْيَوِيَّةِ وَالْأُخْرَوِيَّةِ أَوْ لَا، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ تَطَلُّعٌإِلَى ذَلِكَ فَقَدْ ضَاعَ عَلَيْهِ عُمُرُهُ كُلُّهُ، وَذَهَبَتْ حَيَاتُهُ بَاطِلًا، وَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَلُّعٌ إِلَى ذَلِكَ طَالَتْ عَلَيْهِالطَّرِيقُ بِسَبَبِ الْعَوَائِقِ، وَتَعَسَّرَتْ عَلَيْهِ أَسْبَابُ الْخَيْرِ بِحَسْبِ اشْتِغَالِهِ بِأَضْدَادِهَا، وَذَلِكَ نُقْصَانٌحَقِيقِيٌّ مِنْ عُمُرِهِ.Keadaan seseorang yang berpaling dari Allah akan terbagi menjadi dua: apakah ia masih memiliki perhatian terhadap kepentingan dunia dan akhiratnya, atau tidak. Jika ia sama sekali tidak memiliki perhatian terhadap hal itu, maka seluruh umurnya akan terbuang sia-sia, dan kehidupannya menjadi kosong tanpa makna. Namun, jika ia masih memiliki perhatian terhadap hal tersebut, jalannya akan terasa panjang karena berbagai penghalang, dan sebab-sebab kebaikan menjadi sulit baginya, sebanding dengan kesibukannya pada hal-hal yang bertentangan dengan kebaikan itu. Ini adalah bentuk nyata dari berkurangnya umur secara hakiki. Rahasia Keberkahan Umur Menurut Ibnul Qayyimوَسِرُّ الْمَسْأَلَةِ أَنَّ عُمُرَ الْإِنْسَانِ مُدَّةُ حَيَّاتِهِ وَلَا حَيَاةَ لَهُ إِلَّا بِإِقْبَالِهِ عَلَى رَبِّهِ، وَالتَّنَعُّمِ بِحُبِّهِ وَذِكْرِهِ،وَإِيثَارِ مَرْضَاتِهِ.Inti dari permasalahan ini adalah bahwa umur manusia sejatinya adalah masa hidupnya, dan tidak ada kehidupan yang sebenarnya kecuali dengan mendekat kepada Rabb-nya, menikmati cinta dan dzikir kepada-Nya, serta mengutamakan keridaan-Nya.(Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa‘, hlm. 87-88) Renungan Tahapan Usia Manusia dari Ibnul JauziImam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata dalam kitab Shaid Al-Khathir:اَلْعَاقِلُ مَنْ فَهِمَ مَقَادِيرَ الزَّمَانِ؛ فَإِنَّهُ فِيمَا قَبْلَ الْبُلُوغِ صَبِيٌّ، لَيْسَ عَلَى عُمُرِهِ عِيَارٌ. “Orang yang berakal adalah orang yang memahami tahapan-tahapan usianya. Sebelum balig, seseorang masih anak-anak sehingga usianya belum menjadi ukuran yang berarti.فَإِذَا بَلَغَ، فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ زَمَانُ الْمُجَاهَدَةِ لِلْهَوَى، وَتَعَلُّمِ الْعِلْمِ. Ketika telah baligh, ia harus menyadari bahwa inilah masa untuk melawan hawa nafsu dan menuntut ilmu.فَإِذَا رُزِقَ الْأَوْلَادَ، فَهُوَ زَمَانُ الْكَسْبِ لِلْمَعَاشِ.Setelah Allah menganugerahinya anak-anak, maka itulah masa untuk bekerja dan mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan hidup.فَإِذَا بَلَغَ الْأَرْبَعِينَ، انْتَهَى تَمَامُهُ، وَقَضَى مَنَاسِكَ الْأَجَلِ، وَلَمْ يَبْقَ إِلَّا الِانْحِدَارُ إِلَى الْوَطَنِ. Apabila telah mencapai usia empat puluh tahun, berarti masa kesempurnaannya telah berlalu. Ia telah menempuh sebagian besar perjalanan hidupnya, dan setelah itu tinggal menuruni perjalanan menuju kampung akhirat.كَأَنَّ الْفَتَى يَرْقَى مِنَ الْعُمْرِ سُلَّمًا … إِلَى أَنْ يُجَاوِزَ الْأَرْبَعِينَ وَيَنْحَطَّ Seakan-akan seseorang menaiki tangga demi tangga sepanjang usianya, hingga ketika melewati usia empat puluh tahun, ia mulai menuruni tangga tersebut.فَيَنْبَغِي لَهُ عِنْدَ تَمَامِ الْأَرْبَعِينَ أَنْ يَجْعَلَ جُلَّ هِمَّتِهِ التَّزَوُّدَ لِلْآخِرَةِ، وَيَكُونَ كُلُّ تَلَمُّحِهِ لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ، وَيَأْخُذَ فِي الِاسْتِعْدَادِ لِلرَّحِيلِ، وَإِنْ كَانَ الْخِطَابُ بِهَذَا لِابْنِ عِشْرِينَ، إِلَّا أَنَّ رَجَاءَ التَّدَارُكِ فِي حَقِّ الصَّغِيرِ، لَا فِي حَقِّ الْكَبِيرِ. Karena itu, ketika genap berusia empat puluh tahun, hendaknya sebagian besar perhatian dan cita-citanya diarahkan untuk memperbanyak bekal menuju akhirat. Pandangannya hendaknya lebih banyak tertuju kepada kehidupan yang akan dihadapinya nanti, lalu mulai bersiap-siap untuk perjalanan menuju akhirat. Nasihat ini sebenarnya juga berlaku bagi orang yang berusia dua puluh tahun. Hanya saja, kesempatan untuk memperbaiki diri masih lebih luas bagi orang yang muda dibandingkan orang yang sudah tua.فَإِذَا بَلَغَ السِّتِّينَ؛ فَقَدْ أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَيْهِ فِي الْأَجَلِ، وَجَازَ مِنَ الزَّمَنِ، فَلْيُقْبِلْ بِكُلِّيَّتِهِ عَلَى جَمْعِ زَادِهِ، وَتَهْيِئَةِ آلَاتِ السَّفَرِ، وَلْيَعْتَقِدْ أَنَّ كُلَّ يَوْمٍ يَحْيَا فِيهِ غَنِيمَةٌ، مَا هِيَ فِي الْحِسَابِ، خُصُوصًا إِذَا قَوِيَ عَلَيْهِ الضَّعْفُ وَزَادَ. وَكُلَّمَا عَلَتْ سِنُّهُ، فَيَنْبَغِي أَنْ يَزِيدَ اجْتِهَادُهُ. Apabila seseorang telah mencapai usia enam puluh tahun, berarti Allah telah memberikan kesempatan yang panjang kepadanya. Hendaklah ia benar-benar memusatkan seluruh perhatiannya untuk mengumpulkan bekal akhirat dan mempersiapkan perjalanan menuju kehidupan setelah mati. Hendaknya ia meyakini bahwa setiap hari tambahan umur yang masih Allah berikan adalah keuntungan besar yang tidak ternilai, terlebih ketika kelemahan fisik semakin terasa.Semakin bertambah usianya, hendaknya semakin besar pula kesungguhannya dalam beribadah.فَإِذَا دَخَلَ فِي عَشْرِ الثَّمَانِينَ، لَيْسَ إِلَّا الْوَدَاعُ، وَمَا بَقِيَ مِنَ الْعُمْرِ إِلَّا أَسَفٌ عَلَى تَفْرِيطٍ، أَوْ تَعَبُّدٌ عَلَى ضَعْفٍ. Apabila seseorang telah memasuki usia delapan puluh tahun, maka yang tersisa hanyalah menanti perpisahan dengan dunia. Sisa usianya biasanya hanya diisi oleh penyesalan atas kelalaian yang telah lalu atau beribadah dalam keadaan fisik yang telah lemah.نَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقَظَةً تَامَّةً، تَصْرِفُ عَنَّا رُقَادَ الْغَفَلَاتِ، وَعَمَلًا صَالِحًا نَأْمَنُ مَعَهُ مِنَ النَّدَمِ يَوْمَ الِانْتِقَالِ، وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ.Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menganugerahkan kepada kita hati yang selalu terjaga sehingga terhindar dari kelalaian, serta amal saleh yang membuat kita selamat dari penyesalan ketika tiba saat meninggalkan dunia. Hanya Allah-lah yang memberikan taufik.” Doa Agar Mendapat Umur yang BerkahDoa Meminta Panjang Umur dan Diberkahiاللَّهُمَّ أكْثِرْ مَالِي، وَوَلَدِي، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أعْطَيْتَنِي وَأطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأحْسِنْ عَمَلِي وَاغْفِرْ لِيALLOOHUMMA AK-TSIR MAALII WA WALADII, WA BAARIK LII FIIMAA A’THOYTANII WA ATHIL HAYAATII ‘ALA THOO’ATIK WA AHSIN ‘AMALII WAGH-FIR LIIArtinya: Ya Allah perbanyaklah hartaku dan anakku serta berkahilah karunia yang Engkau berikan kepadaku. Panjangkanlah umurku dalam ketaatan kepada-Mu, perbaguslah amalku, dan ampunilah dosa-dosaku.Baca juga: Doa Meminta Panjang Umur dan Banyak Harta Doa untuk Usia 40: Syukur, Amal Saleh, dan Keturunan Baikرَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ ROBBI AWZI’NII AN ASYKURO NI’MATAKALLATII AN ‘AMTA ‘ALAYYA. WA ‘ALAA WAALIDAYYA WA AN A’MALA SHOOLIHAN TARDHOOHU, WA ASHLIH LII FII DZURRIYATII, INNII TUBTU ILAIKA WA INNII MINAL MUSLIMIINArtinya: Wahai Rabb-ku, ilhamkanlah kepadaku untuk bersyukur atas nikmat yang telah Engkau karuniakan kepadaku dan kepada orang tuaku. Ilhamkan pula kepadaku untuk melakukan amal shalih yang Engkau ridhai, dan perbaikilah keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. (QS. Al-Ahqaf ayat 15)Baca juga: Apa yang Harus Dilakukan di Usia 40 Tahun Menurut Islam?Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata dalam tafsirnya: فِي هَذِهِ الْآيَةِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُ يَنْبَغِي لِمَنْ بَلَغَ عُمْرُهُ أَرْبَعِينَ سَنَةً أَنْ يَسْتَكْثِرَ مِنْ هَذِهِ الدَّعَوَاتِ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.“Pada ayat ini terdapat petunjuk bahwa seseorang yang telah mencapai usia empat puluh tahun hendaknya memperbanyak doa-doa yang disebutkan dalam ayat tersebut. Dan Allah-lah Yang Maha Mengetahui.”Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya, “Ayat ini mengandung bimbingan bagi siapa saja yang telah mencapai usia empat puluh tahun agar ia memperbarui tobatnya, semakin kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan bertekad kuat untuk terus istiqamah di atas jalan tersebut.”Namun, ayat ini tidak menunjukkan bahwa membaca doa ini hukumnya wajib. Sebagian ulama menjelaskan bahwa tidak ada doa yang wajib dibaca selain doa memohon hidayah, yaitu doa yang kita baca dalam Surah Al-Fatihah pada setiap rakaat shalat. Apa Itu Berkah (Barakah)?[1] Berkah adalah konsep penting dalam Islam yang berkaitan dengan kelanggengan dan bertambahnya kebaikan dalam kehidupan seseorang. Pemahaman yang benar mengenai berkah akan membantu kita meraih manfaat yang lebih besar dari setiap nikmat yang Allah berikan.Dalam bahasa Arab, berkah atau barakah bermakna tetapnya sesuatu dan juga dapat diartikan sebagai bertambah atau berkembangnya suatu hal. Tabriik merujuk pada doa agar seseorang mendapatkan keberkahan, sedangkan tabarruk adalah usaha untuk memperoleh keberkahan atau yang biasa dikenal sebagai “ngalap berkah.”Dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, barakah bermakna kelanggengan kebaikan, kadang juga berarti bertambahnya kebaikan, atau bahkan mencakup kedua makna tersebut sekaligus. Hal ini dapat kita temukan dalam doa keberkahan yang sering dibaca saat tasyahud, yang ditujukan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,هٰذَا ٱلدُّعَاءُ يَتَضَمَّنُ إِعْطَاءَهُ مِنَ ٱلْخَيْرِ مَا أَعْطَاهُ لِآلِ إِبْرَاهِيمَ وَإِدَامَتَهُ وَثُبُوتَهُ لَهُ، وَمُضَاعَفَتَهُ لَهُ وَزِيَادَتَهُ، هٰذَا حَقِيقَةُ ٱلْبَرَكَةِ.“Doa ini mencakup permohonan agar diberikan kebaikan sebagaimana yang diberikan kepada keluarga Ibrahim, serta agar kebaikan tersebut tetap ada, terus berlangsung, berlipat ganda, dan semakin bertambah. Inilah hakikat keberkahan.”وَبِهٰذَا يَتَّضِحُ أَنَّ ٱلْبَرَكَةَ هِيَ ثُبُوتُ ٱلْخَيْرِ وَدَوَامُهُ، أَوْ كَثْرَةُ ٱلْخَيْرِ وَزِيَادَتُهُ، أَوْ هُمَا مَعًا.Dari sini dapat dipahami bahwa berkah berarti:Kebaikan yang tetap dan terus berlangsung,Kebaikan yang banyak dan bertambah,Atau mencakup keduanya sekaligus.Dalam salah satu doa iftitah yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, disebutkan:وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِى يَدَيْكَ“Seluruh kebaikan berada di tangan-Mu.” (HR. Muslim, no. 771) Pelajaran Berharga dari Perkataan Ibnul Qayyim“Bukan panjangnya umur yang menentukan nilai hidup seseorang, tetapi keberkahannya. Dan keberkahan itu lahir dari ketaatan, sedangkan maksiat perlahan menghabiskan umur yang sebenarnya.” Penutup: Jagalah Umur Sebelum Penyesalan DatangDi zaman sekarang, banyak orang sibuk mengejar usia panjang, kesehatan, dan kesuksesan, tetapi lalai menjaga keberkahan hidupnya. Maksiat yang dianggap sepele ternyata dapat menggerogoti nilai umur sedikit demi sedikit. Karena itu, jangan hanya menghitung berapa lama kita hidup, tetapi hitunglah berapa banyak waktu yang benar-benar kita gunakan untuk mendekat kepada Allah. Semoga Allah menjadikan sisa umur kita penuh keberkahan, dipenuhi amal saleh, dan ditutup dengan husnul khatimah.اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا، وَوَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْحُسْنَىAllāhumma bārik lanā fī a‘mārinā, wa waffiqnā li ṭā‘atika, wakhtim lanā bil-ḥusnā.“Ya Allah, berkahilah umur kami, berilah kami taufik untuk selalu taat kepada-Mu, dan tutuplah kehidupan kami dengan akhir yang terbaik.” Sebagian bahasan ini diambil dari buku DOSA ITU CANDU dan kumpulan doa dalam 50 DOA MENGATASI PROBLEM HIDUP. Untuk memesan buku-buku karya kami, bisa dapatkan di Rumaysho Store wa.me/6282120000454 atau wa.me/6282136267701, di shopee dan tokopedia Rumayshostore, atau Rumaysho Digital. —- Selesai ditulis dari Pondok Pesantren Darush Sholihin  dalam perjalanan menuju Sekar Kedhaton (Majelis Shafiyah Shalehah), Rabu, 20 Safar 1448 H, 5 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsAd-Daa wad Dawaa barakah dosa dosa itu candu faedah dari Ibnul Qayyim ibnul qayyim keberkahan maksiat nasihat islam taubat tazkiyatun nafs umur

Kaidah Fikih: Hukum Asalnya adalah Tetap Dalam Keadaan Semula

Daftar Isi ToggleTentang kaidah iniLafaz kaidahMakna kaidahPertama, makna perkataan:Kedua, maka secara umum:Contoh penerapan kaidahKeterkaitan kaidah ini dengan kaidah kubraSeringkali dalam suatu keadaan, kita dituntut untuk mengetahui secara cepat dan praktis dalam memahami suatu hukum. Apakah hukumnya sah atau tidak? Halal atau haram? Ketika terdapat suatu keadaan yang berubah disebabkan hal-hal yang mengharuskan untuk mengubahnya, apakah hukum tersebut ikut berubah? Ataukah tetap pada hukum asalnya?Pembahasan kaidah fikih kali ini akan menjawab seputar pertanyaan di atas. Kaidah ini berbunyi,الأَصْلُ بَقَاءُ مَا كَانَ عَلَى مَا كَانَ“Hukum asal segala sesuatu adalah tetap dalam keadaan seperti semula.” Kaidah ini ditempatkan oleh sebagian besar ulama sebagai kaidah yang sejenis dengan kaidah kubra yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu,اليَقِيْنُ لَا يَزُوْلُ بِالشَّكِ“Keyakinan tidak dapat dihilangkan oleh keraguan.” Oleh karena itu, dalil-dalil yang disebutkan pada kaidah ini tidak jauh berbeda dengan dalil-dalil yang disebutkan pada kaidah kubra di atas. Mengingat secara makna, kaidah ini sama dengan kaidah kubra tersebut.Sebagian ulama ada yang menjadikan kaidah ini sebagai turunan atau cabang dari kaidah kubra. [1]Tentang kaidah iniSyekh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menuturkan, “Kaidah ini merupakan landasan yang agung, yang ditunjukkan dengan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis yang sahih bahwa tatkala seseorang mendapati sesuatu, sedang ia dalam keadaan salat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَنْصَرِف حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيْحاً“Janganlah ia beranjak (dari salatnya) sampai ia mendengar suara (kentut), atau ia mencium aroma.” Beliau rahimahullah melanjutkan,“Maksudnya adalah, sampai dia yakin bahwasanya dia telah berhadas. Maka, kapanpun seseorang yakin pada suatu perkara, atau dia telah berpegang pada suatu hukum asal, maka hukum asalnya adalah tetap pada perkara yang diyakini (sejak awal). Hukum asalnya adalah tetap dalam keadaan semula, hukum tersebut tidak berpindah atau berganti hanya karena adanya keraguan sampai ia yakin hal tersebut telah hilang atau tiada.” [2]Perlu diketahui pula, di dalam ilmu ushul fikih terdapat suatu pembahasan yang bernama “al-istishab.” Dalam ilmu ushul fikih, al-istishab dikategorikan oleh para ulama ushul fikih sebagai “al-adillah al-mukhtalaf fiha”, yaitu dalil-dalil yang diperselisihkan status ke-hujjah-annya (apakah bisa berfungsi sebagai dalil ataukah tidak).Secara makna, al-istishab kurang lebih sama maknanya dengan kaidah ini. Bahkan sering kali kaidah ini dijadikan sebagai dalil untuk menguatkan pembahasan al-istishab. [3] Rincian pembahasan al-istishab bisa dilihat dalam ilmu ushul fikih. Adapun kaidah ini, secara umum dapat digunakan untuk berdalil dalam permasalahan-permasalahan fikih. [4]Lafaz kaidahTerdapat beberapa lafaz dari kaidah ini. Di antaranya,الأَصْلُ بَقَاءُ مَا كَانَ عَلَى مَا كَانَ“Hukum asal segala sesuatu adalah tetap dalam keadaan semula.” [5]Di antara lafaz lain dari kaidah ini,مَا ثَبَتَ بِزَمَانٍ يُحْكُمُ بِبَقَائِهِ مَا لَمْ يُوْجَدْ دَلِيْلٌ عَلَى خِلَافِهِ“Sesuatu yang telah ditetapkan pada suatu waktu, maka dihukumi tetap keberadaannya selama tidak ditemukan dalil (bukti) yang menunjukkan sebaliknya.” [6]  Makna kaidahPertama, makna perkataan: الأَصْلُLafaz atau kata “al-ashlu” dalam kaidah fikih mengandung beberapa makna. Di antaranya,Sesuatu yang terus-menerus atau tetap dalam syariat;Sesuatu yang umum atau mayoritas dalam syariat;Sesuatu yang kuat (rajih) dalam syariat.Inilah di antara beberapa makna dari lafaz atau kata “al-ashlu”. Lafaz selanjutnya,(بَقَاءُ مَا كَانَ)Artinya, menetapkan sesuatu di masa sekarang.(عَلَى مَا كَانَ)Artinya, berdasarkan apa yang telah ditetapkan pada masa lalu.Kedua, maka secara umum:Syekh Musallam bin Muhammad berkata,أَنَّ الشَّيْءَ إِذَا ثَبَتَ عَلَى حَالٍ مِنَ الْأَحْوَالِ فِي زَمَانٍ مَا، فَإِنَّهُ يُحْكَمُ بِبَقَائِهِ وَدَوَامِ ثُبُوتِهِ فِي الزَّمَانِ التَّالِي، حَتَّى يَأْتِيَ الْمُغَيِّرُ الْمُعْتَبَرُ شَرْعًا فَيُؤْخَذَ بِمُقْتَضَاهُ حِينَئِذٍ“Sesuatu, jika telah ditetapkan berada dalam suatu keadaan tertentu pada suatu waktu, maka hukumnya ditetapkan tetap ada dan terus belaku pada masa berikutnya, sampai datang perubahan yang diakui secara syariat, yang kemudian konsekuensinya diberlakukan saat itu juga.” [7]Mudahnya, kaidah ini menerangkan bahwa suatu hal atau perkara tetap berada pada hukum asalnya selama tidak ada yang mengubahnya.Contoh penerapan kaidahTerdapat contoh-contoh penerapan kaidah ini dalam beberapa permasalahan fikih. Berikut di antaranya:– Jika ada seseorang yang yakin ia berada dalam keadaan suci, setelah itu ia ragu apakah sudah berhadas atau belum, maka dapat dihukumi ia tetap berada dalam keadaan bersuci. Karena hukum asalnya adalah suci.Sebaliknya, jika ada seseorang yang yakin ia berada dalam keadaan hadas, kemudian ia ragu apakah ia sudah bersuci atau belum, maka dapat dihukumi ia tetap berada dalam keadaan hadas. Karena pada asalnya ia berhadas.– Jika ada seseorang yang ingin berpuasa, kemudian ia makan di penghujung malam hari, kemudian ia ragu apakah sudah terbit fajar atau belum, maka puasanya dihukumi sah. Karena tetap berada pada malam hari merupakan hukum asalnya.– Seorang wanita yang ragu, apakah ia sudah selesai masa ‘iddah dari suaminya atau belum, maka kembali kepada hukum asal yang ia yakini. Yaitu, ia masih berada di masa ‘iddah.– Seorang wanita yang ragu, berapa kali ia menyusui, apakah sudah lima kali menyusui atau lebih sedikit. Maka dalam hal ini, pilihlah jumlah yang lebih sedikit, sampai ia yakin telah menyusui sampai lima kali bahkan lebih.Syekh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Maka, segala sesuatu yang kita ragu akan keberadaannya, maka asalnya adalah tidak ada. Dan segala sesuatu yang kita ragu pada jumlah bilangannya, maka tentukanlah jumlah yang paling sedikit. Masuk pada kaidah ini contoh permasalahan fikih yang begitu banyak.” [8]Keterkaitan kaidah ini dengan kaidah kubraSyekh Musallam bin Muhammad berkata, “Kaidah ini menjelaskan bahwa menetapkan sesuatu pada keadaan sebelumnya yang telah pasti (yakin) adalah perkara yang yakin, sedangkan perubahannya setelah ditetapkan adalah perkara yang diragukan. Maka, kita mengambil perkara yang yakin, yaitu tetapnya keadaan (sebelumnya), dan kita meninggalkan perkara yang diragukan, yaitu perubahan (pada keadaan tersebut). Inilah yang dijelaskan oleh kaidah kubra tersebut.” [9]Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.Baca juga: Mengenal 6 Kaidah Dasar Masalah Fiqih***Depok, 30 Muharam 1448/ 15 Juli 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah, hal. 110.[2] Al-Qawa’id wal Ushul Al-Jami’ah (kaidah 11).[3] Al-Wajiz fi Idhaahi Qawa’id Al-Fiqhi Al-Kulliyah, hal. 172.[4] Al-Qawa’id Al-Fiqhiyyah bayna Al-Ashalah wat Taujiih, 6: 1.[5] Al-Asybah wan Nazair, hal. 51.[6] Al-Wajiz fi Idhaahi Qawa’id Al-Fiqhi Al-Kulliyah, hal. 172.[7] Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah, hal. 111.[8] Al-Qawa’id wal Ushul Al-Jami’ah (kaidah 11).[9] Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah, hal. 112.Referensi:Ad-Dusary, Musallam bin Muhammad. Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah. Riyadh: Maktabah al-Malik Fahd, 1441 H/2020 M.Al-Ghazziy, Muhammad Shidqi bin Ahmad. Al-Wajiz fi Idhaahi Qawa’id Al-Fiqhi Al-Kulliyah. Beirut: Dar Ar-Risalah Al-Alamiyah, 1422 H/2002M.As-Sa’di, Abdurrahman bin Nashir. Al-Qawa’id wal Ushul Al-Jami’ah wat Taqasim al-Badi’ah an-Nafi’ah. Dalam Majmu’ah Muallafat Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Jilid 7. Cetakan pertama, Qatar: Wizaratul Awqaf Was Syu’un Al-Islamiyah, 1432 H/2011 M.As-Suyuthi, Jalaluddin Abdurrahman. Al-Asybah wan Nazair fi Qawa’id wa Furu’ Fiqh asy-Syafi’iyyah. Cetakan pertama, Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyyah (diakses melalui turath.io), 1403 H/1983 M.Abdul Ghaffar, Muhammad Hasan. Al-Qawa’id Al-Fiqhiyyah bayna Al-Ashalah wat Taujiih. Sumber: Transkrip pelajaran audio situs Islamweb.net (terdiri dari 20 pelajaran). (diakses melalui shamela.ws)

Kaidah Fikih: Hukum Asalnya adalah Tetap Dalam Keadaan Semula

Daftar Isi ToggleTentang kaidah iniLafaz kaidahMakna kaidahPertama, makna perkataan:Kedua, maka secara umum:Contoh penerapan kaidahKeterkaitan kaidah ini dengan kaidah kubraSeringkali dalam suatu keadaan, kita dituntut untuk mengetahui secara cepat dan praktis dalam memahami suatu hukum. Apakah hukumnya sah atau tidak? Halal atau haram? Ketika terdapat suatu keadaan yang berubah disebabkan hal-hal yang mengharuskan untuk mengubahnya, apakah hukum tersebut ikut berubah? Ataukah tetap pada hukum asalnya?Pembahasan kaidah fikih kali ini akan menjawab seputar pertanyaan di atas. Kaidah ini berbunyi,الأَصْلُ بَقَاءُ مَا كَانَ عَلَى مَا كَانَ“Hukum asal segala sesuatu adalah tetap dalam keadaan seperti semula.” Kaidah ini ditempatkan oleh sebagian besar ulama sebagai kaidah yang sejenis dengan kaidah kubra yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu,اليَقِيْنُ لَا يَزُوْلُ بِالشَّكِ“Keyakinan tidak dapat dihilangkan oleh keraguan.” Oleh karena itu, dalil-dalil yang disebutkan pada kaidah ini tidak jauh berbeda dengan dalil-dalil yang disebutkan pada kaidah kubra di atas. Mengingat secara makna, kaidah ini sama dengan kaidah kubra tersebut.Sebagian ulama ada yang menjadikan kaidah ini sebagai turunan atau cabang dari kaidah kubra. [1]Tentang kaidah iniSyekh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menuturkan, “Kaidah ini merupakan landasan yang agung, yang ditunjukkan dengan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis yang sahih bahwa tatkala seseorang mendapati sesuatu, sedang ia dalam keadaan salat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَنْصَرِف حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيْحاً“Janganlah ia beranjak (dari salatnya) sampai ia mendengar suara (kentut), atau ia mencium aroma.” Beliau rahimahullah melanjutkan,“Maksudnya adalah, sampai dia yakin bahwasanya dia telah berhadas. Maka, kapanpun seseorang yakin pada suatu perkara, atau dia telah berpegang pada suatu hukum asal, maka hukum asalnya adalah tetap pada perkara yang diyakini (sejak awal). Hukum asalnya adalah tetap dalam keadaan semula, hukum tersebut tidak berpindah atau berganti hanya karena adanya keraguan sampai ia yakin hal tersebut telah hilang atau tiada.” [2]Perlu diketahui pula, di dalam ilmu ushul fikih terdapat suatu pembahasan yang bernama “al-istishab.” Dalam ilmu ushul fikih, al-istishab dikategorikan oleh para ulama ushul fikih sebagai “al-adillah al-mukhtalaf fiha”, yaitu dalil-dalil yang diperselisihkan status ke-hujjah-annya (apakah bisa berfungsi sebagai dalil ataukah tidak).Secara makna, al-istishab kurang lebih sama maknanya dengan kaidah ini. Bahkan sering kali kaidah ini dijadikan sebagai dalil untuk menguatkan pembahasan al-istishab. [3] Rincian pembahasan al-istishab bisa dilihat dalam ilmu ushul fikih. Adapun kaidah ini, secara umum dapat digunakan untuk berdalil dalam permasalahan-permasalahan fikih. [4]Lafaz kaidahTerdapat beberapa lafaz dari kaidah ini. Di antaranya,الأَصْلُ بَقَاءُ مَا كَانَ عَلَى مَا كَانَ“Hukum asal segala sesuatu adalah tetap dalam keadaan semula.” [5]Di antara lafaz lain dari kaidah ini,مَا ثَبَتَ بِزَمَانٍ يُحْكُمُ بِبَقَائِهِ مَا لَمْ يُوْجَدْ دَلِيْلٌ عَلَى خِلَافِهِ“Sesuatu yang telah ditetapkan pada suatu waktu, maka dihukumi tetap keberadaannya selama tidak ditemukan dalil (bukti) yang menunjukkan sebaliknya.” [6]  Makna kaidahPertama, makna perkataan: الأَصْلُLafaz atau kata “al-ashlu” dalam kaidah fikih mengandung beberapa makna. Di antaranya,Sesuatu yang terus-menerus atau tetap dalam syariat;Sesuatu yang umum atau mayoritas dalam syariat;Sesuatu yang kuat (rajih) dalam syariat.Inilah di antara beberapa makna dari lafaz atau kata “al-ashlu”. Lafaz selanjutnya,(بَقَاءُ مَا كَانَ)Artinya, menetapkan sesuatu di masa sekarang.(عَلَى مَا كَانَ)Artinya, berdasarkan apa yang telah ditetapkan pada masa lalu.Kedua, maka secara umum:Syekh Musallam bin Muhammad berkata,أَنَّ الشَّيْءَ إِذَا ثَبَتَ عَلَى حَالٍ مِنَ الْأَحْوَالِ فِي زَمَانٍ مَا، فَإِنَّهُ يُحْكَمُ بِبَقَائِهِ وَدَوَامِ ثُبُوتِهِ فِي الزَّمَانِ التَّالِي، حَتَّى يَأْتِيَ الْمُغَيِّرُ الْمُعْتَبَرُ شَرْعًا فَيُؤْخَذَ بِمُقْتَضَاهُ حِينَئِذٍ“Sesuatu, jika telah ditetapkan berada dalam suatu keadaan tertentu pada suatu waktu, maka hukumnya ditetapkan tetap ada dan terus belaku pada masa berikutnya, sampai datang perubahan yang diakui secara syariat, yang kemudian konsekuensinya diberlakukan saat itu juga.” [7]Mudahnya, kaidah ini menerangkan bahwa suatu hal atau perkara tetap berada pada hukum asalnya selama tidak ada yang mengubahnya.Contoh penerapan kaidahTerdapat contoh-contoh penerapan kaidah ini dalam beberapa permasalahan fikih. Berikut di antaranya:– Jika ada seseorang yang yakin ia berada dalam keadaan suci, setelah itu ia ragu apakah sudah berhadas atau belum, maka dapat dihukumi ia tetap berada dalam keadaan bersuci. Karena hukum asalnya adalah suci.Sebaliknya, jika ada seseorang yang yakin ia berada dalam keadaan hadas, kemudian ia ragu apakah ia sudah bersuci atau belum, maka dapat dihukumi ia tetap berada dalam keadaan hadas. Karena pada asalnya ia berhadas.– Jika ada seseorang yang ingin berpuasa, kemudian ia makan di penghujung malam hari, kemudian ia ragu apakah sudah terbit fajar atau belum, maka puasanya dihukumi sah. Karena tetap berada pada malam hari merupakan hukum asalnya.– Seorang wanita yang ragu, apakah ia sudah selesai masa ‘iddah dari suaminya atau belum, maka kembali kepada hukum asal yang ia yakini. Yaitu, ia masih berada di masa ‘iddah.– Seorang wanita yang ragu, berapa kali ia menyusui, apakah sudah lima kali menyusui atau lebih sedikit. Maka dalam hal ini, pilihlah jumlah yang lebih sedikit, sampai ia yakin telah menyusui sampai lima kali bahkan lebih.Syekh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Maka, segala sesuatu yang kita ragu akan keberadaannya, maka asalnya adalah tidak ada. Dan segala sesuatu yang kita ragu pada jumlah bilangannya, maka tentukanlah jumlah yang paling sedikit. Masuk pada kaidah ini contoh permasalahan fikih yang begitu banyak.” [8]Keterkaitan kaidah ini dengan kaidah kubraSyekh Musallam bin Muhammad berkata, “Kaidah ini menjelaskan bahwa menetapkan sesuatu pada keadaan sebelumnya yang telah pasti (yakin) adalah perkara yang yakin, sedangkan perubahannya setelah ditetapkan adalah perkara yang diragukan. Maka, kita mengambil perkara yang yakin, yaitu tetapnya keadaan (sebelumnya), dan kita meninggalkan perkara yang diragukan, yaitu perubahan (pada keadaan tersebut). Inilah yang dijelaskan oleh kaidah kubra tersebut.” [9]Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.Baca juga: Mengenal 6 Kaidah Dasar Masalah Fiqih***Depok, 30 Muharam 1448/ 15 Juli 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah, hal. 110.[2] Al-Qawa’id wal Ushul Al-Jami’ah (kaidah 11).[3] Al-Wajiz fi Idhaahi Qawa’id Al-Fiqhi Al-Kulliyah, hal. 172.[4] Al-Qawa’id Al-Fiqhiyyah bayna Al-Ashalah wat Taujiih, 6: 1.[5] Al-Asybah wan Nazair, hal. 51.[6] Al-Wajiz fi Idhaahi Qawa’id Al-Fiqhi Al-Kulliyah, hal. 172.[7] Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah, hal. 111.[8] Al-Qawa’id wal Ushul Al-Jami’ah (kaidah 11).[9] Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah, hal. 112.Referensi:Ad-Dusary, Musallam bin Muhammad. Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah. Riyadh: Maktabah al-Malik Fahd, 1441 H/2020 M.Al-Ghazziy, Muhammad Shidqi bin Ahmad. Al-Wajiz fi Idhaahi Qawa’id Al-Fiqhi Al-Kulliyah. Beirut: Dar Ar-Risalah Al-Alamiyah, 1422 H/2002M.As-Sa’di, Abdurrahman bin Nashir. Al-Qawa’id wal Ushul Al-Jami’ah wat Taqasim al-Badi’ah an-Nafi’ah. Dalam Majmu’ah Muallafat Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Jilid 7. Cetakan pertama, Qatar: Wizaratul Awqaf Was Syu’un Al-Islamiyah, 1432 H/2011 M.As-Suyuthi, Jalaluddin Abdurrahman. Al-Asybah wan Nazair fi Qawa’id wa Furu’ Fiqh asy-Syafi’iyyah. Cetakan pertama, Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyyah (diakses melalui turath.io), 1403 H/1983 M.Abdul Ghaffar, Muhammad Hasan. Al-Qawa’id Al-Fiqhiyyah bayna Al-Ashalah wat Taujiih. Sumber: Transkrip pelajaran audio situs Islamweb.net (terdiri dari 20 pelajaran). (diakses melalui shamela.ws)
Daftar Isi ToggleTentang kaidah iniLafaz kaidahMakna kaidahPertama, makna perkataan:Kedua, maka secara umum:Contoh penerapan kaidahKeterkaitan kaidah ini dengan kaidah kubraSeringkali dalam suatu keadaan, kita dituntut untuk mengetahui secara cepat dan praktis dalam memahami suatu hukum. Apakah hukumnya sah atau tidak? Halal atau haram? Ketika terdapat suatu keadaan yang berubah disebabkan hal-hal yang mengharuskan untuk mengubahnya, apakah hukum tersebut ikut berubah? Ataukah tetap pada hukum asalnya?Pembahasan kaidah fikih kali ini akan menjawab seputar pertanyaan di atas. Kaidah ini berbunyi,الأَصْلُ بَقَاءُ مَا كَانَ عَلَى مَا كَانَ“Hukum asal segala sesuatu adalah tetap dalam keadaan seperti semula.” Kaidah ini ditempatkan oleh sebagian besar ulama sebagai kaidah yang sejenis dengan kaidah kubra yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu,اليَقِيْنُ لَا يَزُوْلُ بِالشَّكِ“Keyakinan tidak dapat dihilangkan oleh keraguan.” Oleh karena itu, dalil-dalil yang disebutkan pada kaidah ini tidak jauh berbeda dengan dalil-dalil yang disebutkan pada kaidah kubra di atas. Mengingat secara makna, kaidah ini sama dengan kaidah kubra tersebut.Sebagian ulama ada yang menjadikan kaidah ini sebagai turunan atau cabang dari kaidah kubra. [1]Tentang kaidah iniSyekh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menuturkan, “Kaidah ini merupakan landasan yang agung, yang ditunjukkan dengan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis yang sahih bahwa tatkala seseorang mendapati sesuatu, sedang ia dalam keadaan salat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَنْصَرِف حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيْحاً“Janganlah ia beranjak (dari salatnya) sampai ia mendengar suara (kentut), atau ia mencium aroma.” Beliau rahimahullah melanjutkan,“Maksudnya adalah, sampai dia yakin bahwasanya dia telah berhadas. Maka, kapanpun seseorang yakin pada suatu perkara, atau dia telah berpegang pada suatu hukum asal, maka hukum asalnya adalah tetap pada perkara yang diyakini (sejak awal). Hukum asalnya adalah tetap dalam keadaan semula, hukum tersebut tidak berpindah atau berganti hanya karena adanya keraguan sampai ia yakin hal tersebut telah hilang atau tiada.” [2]Perlu diketahui pula, di dalam ilmu ushul fikih terdapat suatu pembahasan yang bernama “al-istishab.” Dalam ilmu ushul fikih, al-istishab dikategorikan oleh para ulama ushul fikih sebagai “al-adillah al-mukhtalaf fiha”, yaitu dalil-dalil yang diperselisihkan status ke-hujjah-annya (apakah bisa berfungsi sebagai dalil ataukah tidak).Secara makna, al-istishab kurang lebih sama maknanya dengan kaidah ini. Bahkan sering kali kaidah ini dijadikan sebagai dalil untuk menguatkan pembahasan al-istishab. [3] Rincian pembahasan al-istishab bisa dilihat dalam ilmu ushul fikih. Adapun kaidah ini, secara umum dapat digunakan untuk berdalil dalam permasalahan-permasalahan fikih. [4]Lafaz kaidahTerdapat beberapa lafaz dari kaidah ini. Di antaranya,الأَصْلُ بَقَاءُ مَا كَانَ عَلَى مَا كَانَ“Hukum asal segala sesuatu adalah tetap dalam keadaan semula.” [5]Di antara lafaz lain dari kaidah ini,مَا ثَبَتَ بِزَمَانٍ يُحْكُمُ بِبَقَائِهِ مَا لَمْ يُوْجَدْ دَلِيْلٌ عَلَى خِلَافِهِ“Sesuatu yang telah ditetapkan pada suatu waktu, maka dihukumi tetap keberadaannya selama tidak ditemukan dalil (bukti) yang menunjukkan sebaliknya.” [6]  Makna kaidahPertama, makna perkataan: الأَصْلُLafaz atau kata “al-ashlu” dalam kaidah fikih mengandung beberapa makna. Di antaranya,Sesuatu yang terus-menerus atau tetap dalam syariat;Sesuatu yang umum atau mayoritas dalam syariat;Sesuatu yang kuat (rajih) dalam syariat.Inilah di antara beberapa makna dari lafaz atau kata “al-ashlu”. Lafaz selanjutnya,(بَقَاءُ مَا كَانَ)Artinya, menetapkan sesuatu di masa sekarang.(عَلَى مَا كَانَ)Artinya, berdasarkan apa yang telah ditetapkan pada masa lalu.Kedua, maka secara umum:Syekh Musallam bin Muhammad berkata,أَنَّ الشَّيْءَ إِذَا ثَبَتَ عَلَى حَالٍ مِنَ الْأَحْوَالِ فِي زَمَانٍ مَا، فَإِنَّهُ يُحْكَمُ بِبَقَائِهِ وَدَوَامِ ثُبُوتِهِ فِي الزَّمَانِ التَّالِي، حَتَّى يَأْتِيَ الْمُغَيِّرُ الْمُعْتَبَرُ شَرْعًا فَيُؤْخَذَ بِمُقْتَضَاهُ حِينَئِذٍ“Sesuatu, jika telah ditetapkan berada dalam suatu keadaan tertentu pada suatu waktu, maka hukumnya ditetapkan tetap ada dan terus belaku pada masa berikutnya, sampai datang perubahan yang diakui secara syariat, yang kemudian konsekuensinya diberlakukan saat itu juga.” [7]Mudahnya, kaidah ini menerangkan bahwa suatu hal atau perkara tetap berada pada hukum asalnya selama tidak ada yang mengubahnya.Contoh penerapan kaidahTerdapat contoh-contoh penerapan kaidah ini dalam beberapa permasalahan fikih. Berikut di antaranya:– Jika ada seseorang yang yakin ia berada dalam keadaan suci, setelah itu ia ragu apakah sudah berhadas atau belum, maka dapat dihukumi ia tetap berada dalam keadaan bersuci. Karena hukum asalnya adalah suci.Sebaliknya, jika ada seseorang yang yakin ia berada dalam keadaan hadas, kemudian ia ragu apakah ia sudah bersuci atau belum, maka dapat dihukumi ia tetap berada dalam keadaan hadas. Karena pada asalnya ia berhadas.– Jika ada seseorang yang ingin berpuasa, kemudian ia makan di penghujung malam hari, kemudian ia ragu apakah sudah terbit fajar atau belum, maka puasanya dihukumi sah. Karena tetap berada pada malam hari merupakan hukum asalnya.– Seorang wanita yang ragu, apakah ia sudah selesai masa ‘iddah dari suaminya atau belum, maka kembali kepada hukum asal yang ia yakini. Yaitu, ia masih berada di masa ‘iddah.– Seorang wanita yang ragu, berapa kali ia menyusui, apakah sudah lima kali menyusui atau lebih sedikit. Maka dalam hal ini, pilihlah jumlah yang lebih sedikit, sampai ia yakin telah menyusui sampai lima kali bahkan lebih.Syekh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Maka, segala sesuatu yang kita ragu akan keberadaannya, maka asalnya adalah tidak ada. Dan segala sesuatu yang kita ragu pada jumlah bilangannya, maka tentukanlah jumlah yang paling sedikit. Masuk pada kaidah ini contoh permasalahan fikih yang begitu banyak.” [8]Keterkaitan kaidah ini dengan kaidah kubraSyekh Musallam bin Muhammad berkata, “Kaidah ini menjelaskan bahwa menetapkan sesuatu pada keadaan sebelumnya yang telah pasti (yakin) adalah perkara yang yakin, sedangkan perubahannya setelah ditetapkan adalah perkara yang diragukan. Maka, kita mengambil perkara yang yakin, yaitu tetapnya keadaan (sebelumnya), dan kita meninggalkan perkara yang diragukan, yaitu perubahan (pada keadaan tersebut). Inilah yang dijelaskan oleh kaidah kubra tersebut.” [9]Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.Baca juga: Mengenal 6 Kaidah Dasar Masalah Fiqih***Depok, 30 Muharam 1448/ 15 Juli 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah, hal. 110.[2] Al-Qawa’id wal Ushul Al-Jami’ah (kaidah 11).[3] Al-Wajiz fi Idhaahi Qawa’id Al-Fiqhi Al-Kulliyah, hal. 172.[4] Al-Qawa’id Al-Fiqhiyyah bayna Al-Ashalah wat Taujiih, 6: 1.[5] Al-Asybah wan Nazair, hal. 51.[6] Al-Wajiz fi Idhaahi Qawa’id Al-Fiqhi Al-Kulliyah, hal. 172.[7] Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah, hal. 111.[8] Al-Qawa’id wal Ushul Al-Jami’ah (kaidah 11).[9] Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah, hal. 112.Referensi:Ad-Dusary, Musallam bin Muhammad. Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah. Riyadh: Maktabah al-Malik Fahd, 1441 H/2020 M.Al-Ghazziy, Muhammad Shidqi bin Ahmad. Al-Wajiz fi Idhaahi Qawa’id Al-Fiqhi Al-Kulliyah. Beirut: Dar Ar-Risalah Al-Alamiyah, 1422 H/2002M.As-Sa’di, Abdurrahman bin Nashir. Al-Qawa’id wal Ushul Al-Jami’ah wat Taqasim al-Badi’ah an-Nafi’ah. Dalam Majmu’ah Muallafat Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Jilid 7. Cetakan pertama, Qatar: Wizaratul Awqaf Was Syu’un Al-Islamiyah, 1432 H/2011 M.As-Suyuthi, Jalaluddin Abdurrahman. Al-Asybah wan Nazair fi Qawa’id wa Furu’ Fiqh asy-Syafi’iyyah. Cetakan pertama, Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyyah (diakses melalui turath.io), 1403 H/1983 M.Abdul Ghaffar, Muhammad Hasan. Al-Qawa’id Al-Fiqhiyyah bayna Al-Ashalah wat Taujiih. Sumber: Transkrip pelajaran audio situs Islamweb.net (terdiri dari 20 pelajaran). (diakses melalui shamela.ws)


Daftar Isi ToggleTentang kaidah iniLafaz kaidahMakna kaidahPertama, makna perkataan:Kedua, maka secara umum:Contoh penerapan kaidahKeterkaitan kaidah ini dengan kaidah kubraSeringkali dalam suatu keadaan, kita dituntut untuk mengetahui secara cepat dan praktis dalam memahami suatu hukum. Apakah hukumnya sah atau tidak? Halal atau haram? Ketika terdapat suatu keadaan yang berubah disebabkan hal-hal yang mengharuskan untuk mengubahnya, apakah hukum tersebut ikut berubah? Ataukah tetap pada hukum asalnya?Pembahasan kaidah fikih kali ini akan menjawab seputar pertanyaan di atas. Kaidah ini berbunyi,الأَصْلُ بَقَاءُ مَا كَانَ عَلَى مَا كَانَ“Hukum asal segala sesuatu adalah tetap dalam keadaan seperti semula.” Kaidah ini ditempatkan oleh sebagian besar ulama sebagai kaidah yang sejenis dengan kaidah kubra yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu,اليَقِيْنُ لَا يَزُوْلُ بِالشَّكِ“Keyakinan tidak dapat dihilangkan oleh keraguan.” Oleh karena itu, dalil-dalil yang disebutkan pada kaidah ini tidak jauh berbeda dengan dalil-dalil yang disebutkan pada kaidah kubra di atas. Mengingat secara makna, kaidah ini sama dengan kaidah kubra tersebut.Sebagian ulama ada yang menjadikan kaidah ini sebagai turunan atau cabang dari kaidah kubra. [1]Tentang kaidah iniSyekh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menuturkan, “Kaidah ini merupakan landasan yang agung, yang ditunjukkan dengan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis yang sahih bahwa tatkala seseorang mendapati sesuatu, sedang ia dalam keadaan salat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَنْصَرِف حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيْحاً“Janganlah ia beranjak (dari salatnya) sampai ia mendengar suara (kentut), atau ia mencium aroma.” Beliau rahimahullah melanjutkan,“Maksudnya adalah, sampai dia yakin bahwasanya dia telah berhadas. Maka, kapanpun seseorang yakin pada suatu perkara, atau dia telah berpegang pada suatu hukum asal, maka hukum asalnya adalah tetap pada perkara yang diyakini (sejak awal). Hukum asalnya adalah tetap dalam keadaan semula, hukum tersebut tidak berpindah atau berganti hanya karena adanya keraguan sampai ia yakin hal tersebut telah hilang atau tiada.” [2]Perlu diketahui pula, di dalam ilmu ushul fikih terdapat suatu pembahasan yang bernama “al-istishab.” Dalam ilmu ushul fikih, al-istishab dikategorikan oleh para ulama ushul fikih sebagai “al-adillah al-mukhtalaf fiha”, yaitu dalil-dalil yang diperselisihkan status ke-hujjah-annya (apakah bisa berfungsi sebagai dalil ataukah tidak).Secara makna, al-istishab kurang lebih sama maknanya dengan kaidah ini. Bahkan sering kali kaidah ini dijadikan sebagai dalil untuk menguatkan pembahasan al-istishab. [3] Rincian pembahasan al-istishab bisa dilihat dalam ilmu ushul fikih. Adapun kaidah ini, secara umum dapat digunakan untuk berdalil dalam permasalahan-permasalahan fikih. [4]Lafaz kaidahTerdapat beberapa lafaz dari kaidah ini. Di antaranya,الأَصْلُ بَقَاءُ مَا كَانَ عَلَى مَا كَانَ“Hukum asal segala sesuatu adalah tetap dalam keadaan semula.” [5]Di antara lafaz lain dari kaidah ini,مَا ثَبَتَ بِزَمَانٍ يُحْكُمُ بِبَقَائِهِ مَا لَمْ يُوْجَدْ دَلِيْلٌ عَلَى خِلَافِهِ“Sesuatu yang telah ditetapkan pada suatu waktu, maka dihukumi tetap keberadaannya selama tidak ditemukan dalil (bukti) yang menunjukkan sebaliknya.” [6]  Makna kaidahPertama, makna perkataan: الأَصْلُLafaz atau kata “al-ashlu” dalam kaidah fikih mengandung beberapa makna. Di antaranya,Sesuatu yang terus-menerus atau tetap dalam syariat;Sesuatu yang umum atau mayoritas dalam syariat;Sesuatu yang kuat (rajih) dalam syariat.Inilah di antara beberapa makna dari lafaz atau kata “al-ashlu”. Lafaz selanjutnya,(بَقَاءُ مَا كَانَ)Artinya, menetapkan sesuatu di masa sekarang.(عَلَى مَا كَانَ)Artinya, berdasarkan apa yang telah ditetapkan pada masa lalu.Kedua, maka secara umum:Syekh Musallam bin Muhammad berkata,أَنَّ الشَّيْءَ إِذَا ثَبَتَ عَلَى حَالٍ مِنَ الْأَحْوَالِ فِي زَمَانٍ مَا، فَإِنَّهُ يُحْكَمُ بِبَقَائِهِ وَدَوَامِ ثُبُوتِهِ فِي الزَّمَانِ التَّالِي، حَتَّى يَأْتِيَ الْمُغَيِّرُ الْمُعْتَبَرُ شَرْعًا فَيُؤْخَذَ بِمُقْتَضَاهُ حِينَئِذٍ“Sesuatu, jika telah ditetapkan berada dalam suatu keadaan tertentu pada suatu waktu, maka hukumnya ditetapkan tetap ada dan terus belaku pada masa berikutnya, sampai datang perubahan yang diakui secara syariat, yang kemudian konsekuensinya diberlakukan saat itu juga.” [7]Mudahnya, kaidah ini menerangkan bahwa suatu hal atau perkara tetap berada pada hukum asalnya selama tidak ada yang mengubahnya.Contoh penerapan kaidahTerdapat contoh-contoh penerapan kaidah ini dalam beberapa permasalahan fikih. Berikut di antaranya:– Jika ada seseorang yang yakin ia berada dalam keadaan suci, setelah itu ia ragu apakah sudah berhadas atau belum, maka dapat dihukumi ia tetap berada dalam keadaan bersuci. Karena hukum asalnya adalah suci.Sebaliknya, jika ada seseorang yang yakin ia berada dalam keadaan hadas, kemudian ia ragu apakah ia sudah bersuci atau belum, maka dapat dihukumi ia tetap berada dalam keadaan hadas. Karena pada asalnya ia berhadas.– Jika ada seseorang yang ingin berpuasa, kemudian ia makan di penghujung malam hari, kemudian ia ragu apakah sudah terbit fajar atau belum, maka puasanya dihukumi sah. Karena tetap berada pada malam hari merupakan hukum asalnya.– Seorang wanita yang ragu, apakah ia sudah selesai masa ‘iddah dari suaminya atau belum, maka kembali kepada hukum asal yang ia yakini. Yaitu, ia masih berada di masa ‘iddah.– Seorang wanita yang ragu, berapa kali ia menyusui, apakah sudah lima kali menyusui atau lebih sedikit. Maka dalam hal ini, pilihlah jumlah yang lebih sedikit, sampai ia yakin telah menyusui sampai lima kali bahkan lebih.Syekh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Maka, segala sesuatu yang kita ragu akan keberadaannya, maka asalnya adalah tidak ada. Dan segala sesuatu yang kita ragu pada jumlah bilangannya, maka tentukanlah jumlah yang paling sedikit. Masuk pada kaidah ini contoh permasalahan fikih yang begitu banyak.” [8]Keterkaitan kaidah ini dengan kaidah kubraSyekh Musallam bin Muhammad berkata, “Kaidah ini menjelaskan bahwa menetapkan sesuatu pada keadaan sebelumnya yang telah pasti (yakin) adalah perkara yang yakin, sedangkan perubahannya setelah ditetapkan adalah perkara yang diragukan. Maka, kita mengambil perkara yang yakin, yaitu tetapnya keadaan (sebelumnya), dan kita meninggalkan perkara yang diragukan, yaitu perubahan (pada keadaan tersebut). Inilah yang dijelaskan oleh kaidah kubra tersebut.” [9]Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.Baca juga: Mengenal 6 Kaidah Dasar Masalah Fiqih***Depok, 30 Muharam 1448/ 15 Juli 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah, hal. 110.[2] Al-Qawa’id wal Ushul Al-Jami’ah (kaidah 11).[3] Al-Wajiz fi Idhaahi Qawa’id Al-Fiqhi Al-Kulliyah, hal. 172.[4] Al-Qawa’id Al-Fiqhiyyah bayna Al-Ashalah wat Taujiih, 6: 1.[5] Al-Asybah wan Nazair, hal. 51.[6] Al-Wajiz fi Idhaahi Qawa’id Al-Fiqhi Al-Kulliyah, hal. 172.[7] Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah, hal. 111.[8] Al-Qawa’id wal Ushul Al-Jami’ah (kaidah 11).[9] Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah, hal. 112.Referensi:Ad-Dusary, Musallam bin Muhammad. Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah. Riyadh: Maktabah al-Malik Fahd, 1441 H/2020 M.Al-Ghazziy, Muhammad Shidqi bin Ahmad. Al-Wajiz fi Idhaahi Qawa’id Al-Fiqhi Al-Kulliyah. Beirut: Dar Ar-Risalah Al-Alamiyah, 1422 H/2002M.As-Sa’di, Abdurrahman bin Nashir. Al-Qawa’id wal Ushul Al-Jami’ah wat Taqasim al-Badi’ah an-Nafi’ah. Dalam Majmu’ah Muallafat Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Jilid 7. Cetakan pertama, Qatar: Wizaratul Awqaf Was Syu’un Al-Islamiyah, 1432 H/2011 M.As-Suyuthi, Jalaluddin Abdurrahman. Al-Asybah wan Nazair fi Qawa’id wa Furu’ Fiqh asy-Syafi’iyyah. Cetakan pertama, Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyyah (diakses melalui turath.io), 1403 H/1983 M.Abdul Ghaffar, Muhammad Hasan. Al-Qawa’id Al-Fiqhiyyah bayna Al-Ashalah wat Taujiih. Sumber: Transkrip pelajaran audio situs Islamweb.net (terdiri dari 20 pelajaran). (diakses melalui shamela.ws)
Prev     Next