Fikih Riba (Bag. 8): Jenis-Jenis Riba (2)

Daftar Isi TogglePerbedaan ulama terkait harta ribawi selain dari yang enam jenisPendapat pertama: Jumhur ulamaPendapat kedua: Pendapat Al-Imam Thawus, Qotadah, mazhab Zahiriyyah, dan Ibnu Aqil dari kalangan mazhab HambaliPada pembahasan sebelumnya, telah dijelaskan tentang riba fadhl dan riba nasi’ah yang termasuk dalam kategori riba buyu’ (jual beli). Telah disebutkan pula jenis-jenis harta ribawi yang enam. Hal ini sebagaimana yang telah jelas dalam hadis-hadis yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya, beliau bersabda dalam hadis ‘Ubadah bin Shamith,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar secara kontan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau menukarnya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” (HR. Muslim no. 1587)Dalam hadis ini, disebutkan enam jenis harta ribawi:EmasPerakGandumSya’ir (salah satu jenis gandum)KurmaGaramTentunya telah jelas hukum dari keenam harta ribawi ini dan bagaimana bertransaksi dengan keenam harta tersebut agar tidak terjatuh dalam riba. Muncul sebuah pertanyaan, apakah harta ribawi hanya sebatas pada keenam jenis barang di atas? Atau apakah ada harta ribawi selain dari keenam harta yang disebutkan di atas?Perbedaan ulama terkait harta ribawi selain dari yang enam jenisPendapat pertama: Jumhur ulamaJumhur ulama berpendapat bahwasanya riba berlaku pada keenam jenis harta ribawi yang telah disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis ‘Ubadah di atas, serta segala sesuatu yang memiliki kesamaan ‘illat (alasan hukum) dengan komoditas tersebut.Terkait dengan hal ini, jumhur ulama berdalil dengan hadis Ma’mar bin Abdillah, beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الطَّعَامُ بالطَّعَامِ مِثْلًا بمِثْلٍ“Bahan makanan (ditukar) dengan bahan makanan, harus sama timbangannya (takarannya).” (HR. Muslim no. 1592)Syekh Khalid Al-Musayqih hafidzahullah berkata, “Lafaz ‘makanan’ lebih umum dibandingkan dari keempat jenis (harta ribawi) yang disebutkan dalam hadis ‘Ubadah.” Artinya, lafaz makanan pada hadis Ma’mar lebih umum konteksnya dibandingkan dengan keempat jenis makanan yang disebutkan dalam hadis ‘Ubadah bin Shamith. Sehingga makanan yang ‘illat-nya sama dengan harta ribawi dihukumi sebagai harta ribawi dan hukumnya pun berlaku sama dengan harta ribawi yang enam.Terdapat pula hadis ‘Abdullah bin ‘Umar radiyallahu ‘anhu terkait dengan muzaabanah,نَهَى رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ عَنِ المُزَابَنَةِ، وَالْمُزَابَنَةُ: بَيْعُ ثَمَرِ النَّخْلِ بالتَّمْرِ كَيْلًا، وَبَيْعُ الزَّبِيبِ بالعِنَبِ كَيْلًا، وَعَنْ كُلِّ ثَمَرٍ بخَرْصِهِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang al-muzabanah. Al-muzabanah adalah menjual buah kurma (yang masih di pohon) dengan kurma kering secara takaran (kailan), menjual kismis dengan anggur (yang masih di pohon) secara takaran, dan (melarang) menjual setiap buah-buahan dengan buah yang sejenis secara takaran/taksiran (kharsan).” (Muttafaqun ‘alaih)Dari hadis ‘Abdullah bin ‘Umar di atas, dapat diketahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk menjual kismis dan juga anggur, padahal keduanya tidak termasuk dari harta ribawi yang enam. Begitupula beliau melarang untuk menjual buah-buahan dengan buah yang sejenis secara takaran/taksiran. Sehingga jumhur ulama mengambil kesimpulan bahwasanya jika suatu barang atau harta itu ‘illat-nya sama dengan harta ribawi, maka berlaku hukum ribawi padanya.Kemudian dalam hadis lain dari Sa’id bin Al-Musayyib secara mursal dan dihasankan oleh Al-Albani [2],نَهَى النَّبِيُّ عَنْ بَيْعِ اللَّحْمِ بِالحَيَوَان“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli daging dengan hewan.” Terdapat catatan dari Ibnul Qayyim rahimahullah terkait hadis di atas, وَالصَّوَابُ فِي هَذَا الْحَدِيثِ – إنْ ثَبَتَ – أَنَّ الْمُرَادَ بِهِ إذَا كَانَ الْحَيَوَانُ مَقْصُودًا لِلَّحْمِ كَشَاةٍ يُقْصَدُ لَحْمُهَا فَتُبَاعُ بِلَحْمٍ؛ فَيَكُونُ قَدْ بَاعَ لَحْمًا بِلَحْمٍ أَكْثَرَ مِنْهُ مِنْ جِنْسٍ وَاحِدٍ، وَاللَّحْمُ قُوتٌ مَوْزُونٌ فَيَدْخُلُهُ رِبَا الْفَضْلِ.“Pendapat yang tepat mengenai hadis ini—jika memang derajatnya tetap (shahih)—adalah bahwa yang dimaksud dengan larangan tersebut adalah apabila hewan tersebut dimaksudkan untuk diambil dagingnya, seperti kambing yang memang dituju dagingnya lalu dijual (ditukar) dengan daging. Dengan demikian, ia telah menjual daging (hewan hidup) dengan daging (yang sudah disembelih) yang lebih banyak darinya dalam satu jenis yang sama. Sedangkan daging adalah bahan makanan (qut) yang ditimbang (mauzun), sehingga masuk ke dalamnya kategori riba al-fadl.” (‘Ilaamul Muwaqi’in, 2: 112)Baca juga: Praktek Riba dalam Transaksi OnlinePendapat kedua: Pendapat Al-Imam Thawus, Qotadah, mazhab Zahiriyyah, dan Ibnu Aqil dari kalangan mazhab HambaliMereka hanya membatasi riba pada keenam jenis harta ribawi saja dan tidak belaku pada yang lainnya walaupun jenis illatnya sama. Di antara pendalilan mereka,Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya mengkhususkan keenam jenis harta ribawi. Hal ini menunjukkan bahwa itulah yang dimaksudkan dengan harta ribawi.Seandainya riba itu berlaku pada setiap barang yang ditakar (makilat) dan ditimbang (mauzunat) selain benda-benda tersebut, niscaya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan bersabda, ‘Janganlah kalian menjual sesuatu yang ditakar dengan yang ditakar, dan yang ditimbang dengan yang ditimbang, kecuali harus semisal (sama berat/ukurannya) dan sama rata.’Firman Allah Ta’ala, وَأَحَلَّ اللهُ البَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا“Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan Riba.” (QS. Al-Baqarah: 275)Ayat ini adalah ayat yang umum, kemudian dikecualikan dengan hadis Nabi yang menjelaskan tentang keenam jenis harta ribawi. Sehingga selain dari harta ribawi yang disebutkan, tidak termasuk dari harta ribawi dan hukumnya pun tidak berlaku.Terdapat beberapa catatan terhadap pendapat kedua [3]:– Jika dikatakan, ayat dalam surah Al-Baqarah dikhususkan dengan hadis tentang enam jenis harta ribawi, maka hal ini kurang tepat. Karena hadis pengharaman tidak hanya satu saja, namun terdapat beberapa hadis dan lafaz yang beragam.Seperti hadis ‘Ubadah yang menyebutkan enam jenis harta ribawi, sebagian lagi seperti hadis Abu Sa’id Al-khudri yang menyebutkan emas dan perak, sebagian lagi hadis ‘Umar yang menyebutkan empat saja, sebagian lagi ada yang lebih umum cakupannya seperti hadis Ma’mar yang telah disebutkan di atas. Sehingga terbatalkan pembatasan yang hanya enam jenis saja.– Syariat Islam adalah syariat yang penuh dengan hikmah dan betul-betul memperhitungkan maslahat hamba-hambanya. Sehingga sangat jauh jika dikatakan harta ribawi hanya terbatas pada enam komoditas saja. Misalnya, gandum; apakah gandum hanya berlaku pada negara yang makanan pokok mereka gandum saja? Lalu bagaimana dengan negara yang makanan pokok mereka beras?Emas misalnya, apakah emas hanya berlaku pada negara yang bertransaksi dengan emas saja? Lalu bagaimana dengan negara yang hari-hari mereka bertransaksi dengan kepingan uang? Apakah tidak ada riba padanya? Jika demikian, maka tidak satupun manfaat dari pengharaman riba tentunya.Sehingga kesimpulannya, bahwa riba tidak hanya berlaku pada keenam jenis harta ribawi saja. Namun, belaku pula pada harta-harta lainnya yang tentunya memiliki kesamaan ‘illat maupun penggunaannya.Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 7 LANJUT KE BAGIAN 9***Depok, 28 Sya’ban 1447/ 16 Februari 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Syarah Ar-Raudhul Murbi’, hal. 453-454.[2] Syarah Ar-Raudhul Murbi’, hal. 454 dan Fiqhul Muamalah Al-Maaliyah Al-Muyassarah, hal. 147.[3] Diringkas dari Syarah Ar-Raudhul Murbi’, hal. 455.Referensi:– Al-Musayqih, Khalid bin ‘Ali. Syarḥ Ar-Raudh al-Murbi‘. Jilid 6. Cetakan ke-1. Riyadh: Dar Rakaiz, 2022.– Al-Muthiri, ‘Abdurrahman bin Hamud. Fiqh al-Mu‘āmalāt al-Māliyah al-Muyassarah. Cetakan ke-3. Kuwait: Maktabah Imam Adz-Dzahabi, 2018.– Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah. I‘lām al-Muwaqqi‘īn ‘an Rabb al-‘Ālamīn. Tahqiq: Muhammad ‘Abdussalam Ibrahim. Jilid 2. Cetakan pertama. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1411 H/1991 M. Diakses melalui: app.turath.io.

Fikih Riba (Bag. 8): Jenis-Jenis Riba (2)

Daftar Isi TogglePerbedaan ulama terkait harta ribawi selain dari yang enam jenisPendapat pertama: Jumhur ulamaPendapat kedua: Pendapat Al-Imam Thawus, Qotadah, mazhab Zahiriyyah, dan Ibnu Aqil dari kalangan mazhab HambaliPada pembahasan sebelumnya, telah dijelaskan tentang riba fadhl dan riba nasi’ah yang termasuk dalam kategori riba buyu’ (jual beli). Telah disebutkan pula jenis-jenis harta ribawi yang enam. Hal ini sebagaimana yang telah jelas dalam hadis-hadis yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya, beliau bersabda dalam hadis ‘Ubadah bin Shamith,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar secara kontan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau menukarnya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” (HR. Muslim no. 1587)Dalam hadis ini, disebutkan enam jenis harta ribawi:EmasPerakGandumSya’ir (salah satu jenis gandum)KurmaGaramTentunya telah jelas hukum dari keenam harta ribawi ini dan bagaimana bertransaksi dengan keenam harta tersebut agar tidak terjatuh dalam riba. Muncul sebuah pertanyaan, apakah harta ribawi hanya sebatas pada keenam jenis barang di atas? Atau apakah ada harta ribawi selain dari keenam harta yang disebutkan di atas?Perbedaan ulama terkait harta ribawi selain dari yang enam jenisPendapat pertama: Jumhur ulamaJumhur ulama berpendapat bahwasanya riba berlaku pada keenam jenis harta ribawi yang telah disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis ‘Ubadah di atas, serta segala sesuatu yang memiliki kesamaan ‘illat (alasan hukum) dengan komoditas tersebut.Terkait dengan hal ini, jumhur ulama berdalil dengan hadis Ma’mar bin Abdillah, beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الطَّعَامُ بالطَّعَامِ مِثْلًا بمِثْلٍ“Bahan makanan (ditukar) dengan bahan makanan, harus sama timbangannya (takarannya).” (HR. Muslim no. 1592)Syekh Khalid Al-Musayqih hafidzahullah berkata, “Lafaz ‘makanan’ lebih umum dibandingkan dari keempat jenis (harta ribawi) yang disebutkan dalam hadis ‘Ubadah.” Artinya, lafaz makanan pada hadis Ma’mar lebih umum konteksnya dibandingkan dengan keempat jenis makanan yang disebutkan dalam hadis ‘Ubadah bin Shamith. Sehingga makanan yang ‘illat-nya sama dengan harta ribawi dihukumi sebagai harta ribawi dan hukumnya pun berlaku sama dengan harta ribawi yang enam.Terdapat pula hadis ‘Abdullah bin ‘Umar radiyallahu ‘anhu terkait dengan muzaabanah,نَهَى رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ عَنِ المُزَابَنَةِ، وَالْمُزَابَنَةُ: بَيْعُ ثَمَرِ النَّخْلِ بالتَّمْرِ كَيْلًا، وَبَيْعُ الزَّبِيبِ بالعِنَبِ كَيْلًا، وَعَنْ كُلِّ ثَمَرٍ بخَرْصِهِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang al-muzabanah. Al-muzabanah adalah menjual buah kurma (yang masih di pohon) dengan kurma kering secara takaran (kailan), menjual kismis dengan anggur (yang masih di pohon) secara takaran, dan (melarang) menjual setiap buah-buahan dengan buah yang sejenis secara takaran/taksiran (kharsan).” (Muttafaqun ‘alaih)Dari hadis ‘Abdullah bin ‘Umar di atas, dapat diketahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk menjual kismis dan juga anggur, padahal keduanya tidak termasuk dari harta ribawi yang enam. Begitupula beliau melarang untuk menjual buah-buahan dengan buah yang sejenis secara takaran/taksiran. Sehingga jumhur ulama mengambil kesimpulan bahwasanya jika suatu barang atau harta itu ‘illat-nya sama dengan harta ribawi, maka berlaku hukum ribawi padanya.Kemudian dalam hadis lain dari Sa’id bin Al-Musayyib secara mursal dan dihasankan oleh Al-Albani [2],نَهَى النَّبِيُّ عَنْ بَيْعِ اللَّحْمِ بِالحَيَوَان“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli daging dengan hewan.” Terdapat catatan dari Ibnul Qayyim rahimahullah terkait hadis di atas, وَالصَّوَابُ فِي هَذَا الْحَدِيثِ – إنْ ثَبَتَ – أَنَّ الْمُرَادَ بِهِ إذَا كَانَ الْحَيَوَانُ مَقْصُودًا لِلَّحْمِ كَشَاةٍ يُقْصَدُ لَحْمُهَا فَتُبَاعُ بِلَحْمٍ؛ فَيَكُونُ قَدْ بَاعَ لَحْمًا بِلَحْمٍ أَكْثَرَ مِنْهُ مِنْ جِنْسٍ وَاحِدٍ، وَاللَّحْمُ قُوتٌ مَوْزُونٌ فَيَدْخُلُهُ رِبَا الْفَضْلِ.“Pendapat yang tepat mengenai hadis ini—jika memang derajatnya tetap (shahih)—adalah bahwa yang dimaksud dengan larangan tersebut adalah apabila hewan tersebut dimaksudkan untuk diambil dagingnya, seperti kambing yang memang dituju dagingnya lalu dijual (ditukar) dengan daging. Dengan demikian, ia telah menjual daging (hewan hidup) dengan daging (yang sudah disembelih) yang lebih banyak darinya dalam satu jenis yang sama. Sedangkan daging adalah bahan makanan (qut) yang ditimbang (mauzun), sehingga masuk ke dalamnya kategori riba al-fadl.” (‘Ilaamul Muwaqi’in, 2: 112)Baca juga: Praktek Riba dalam Transaksi OnlinePendapat kedua: Pendapat Al-Imam Thawus, Qotadah, mazhab Zahiriyyah, dan Ibnu Aqil dari kalangan mazhab HambaliMereka hanya membatasi riba pada keenam jenis harta ribawi saja dan tidak belaku pada yang lainnya walaupun jenis illatnya sama. Di antara pendalilan mereka,Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya mengkhususkan keenam jenis harta ribawi. Hal ini menunjukkan bahwa itulah yang dimaksudkan dengan harta ribawi.Seandainya riba itu berlaku pada setiap barang yang ditakar (makilat) dan ditimbang (mauzunat) selain benda-benda tersebut, niscaya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan bersabda, ‘Janganlah kalian menjual sesuatu yang ditakar dengan yang ditakar, dan yang ditimbang dengan yang ditimbang, kecuali harus semisal (sama berat/ukurannya) dan sama rata.’Firman Allah Ta’ala, وَأَحَلَّ اللهُ البَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا“Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan Riba.” (QS. Al-Baqarah: 275)Ayat ini adalah ayat yang umum, kemudian dikecualikan dengan hadis Nabi yang menjelaskan tentang keenam jenis harta ribawi. Sehingga selain dari harta ribawi yang disebutkan, tidak termasuk dari harta ribawi dan hukumnya pun tidak berlaku.Terdapat beberapa catatan terhadap pendapat kedua [3]:– Jika dikatakan, ayat dalam surah Al-Baqarah dikhususkan dengan hadis tentang enam jenis harta ribawi, maka hal ini kurang tepat. Karena hadis pengharaman tidak hanya satu saja, namun terdapat beberapa hadis dan lafaz yang beragam.Seperti hadis ‘Ubadah yang menyebutkan enam jenis harta ribawi, sebagian lagi seperti hadis Abu Sa’id Al-khudri yang menyebutkan emas dan perak, sebagian lagi hadis ‘Umar yang menyebutkan empat saja, sebagian lagi ada yang lebih umum cakupannya seperti hadis Ma’mar yang telah disebutkan di atas. Sehingga terbatalkan pembatasan yang hanya enam jenis saja.– Syariat Islam adalah syariat yang penuh dengan hikmah dan betul-betul memperhitungkan maslahat hamba-hambanya. Sehingga sangat jauh jika dikatakan harta ribawi hanya terbatas pada enam komoditas saja. Misalnya, gandum; apakah gandum hanya berlaku pada negara yang makanan pokok mereka gandum saja? Lalu bagaimana dengan negara yang makanan pokok mereka beras?Emas misalnya, apakah emas hanya berlaku pada negara yang bertransaksi dengan emas saja? Lalu bagaimana dengan negara yang hari-hari mereka bertransaksi dengan kepingan uang? Apakah tidak ada riba padanya? Jika demikian, maka tidak satupun manfaat dari pengharaman riba tentunya.Sehingga kesimpulannya, bahwa riba tidak hanya berlaku pada keenam jenis harta ribawi saja. Namun, belaku pula pada harta-harta lainnya yang tentunya memiliki kesamaan ‘illat maupun penggunaannya.Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 7 LANJUT KE BAGIAN 9***Depok, 28 Sya’ban 1447/ 16 Februari 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Syarah Ar-Raudhul Murbi’, hal. 453-454.[2] Syarah Ar-Raudhul Murbi’, hal. 454 dan Fiqhul Muamalah Al-Maaliyah Al-Muyassarah, hal. 147.[3] Diringkas dari Syarah Ar-Raudhul Murbi’, hal. 455.Referensi:– Al-Musayqih, Khalid bin ‘Ali. Syarḥ Ar-Raudh al-Murbi‘. Jilid 6. Cetakan ke-1. Riyadh: Dar Rakaiz, 2022.– Al-Muthiri, ‘Abdurrahman bin Hamud. Fiqh al-Mu‘āmalāt al-Māliyah al-Muyassarah. Cetakan ke-3. Kuwait: Maktabah Imam Adz-Dzahabi, 2018.– Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah. I‘lām al-Muwaqqi‘īn ‘an Rabb al-‘Ālamīn. Tahqiq: Muhammad ‘Abdussalam Ibrahim. Jilid 2. Cetakan pertama. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1411 H/1991 M. Diakses melalui: app.turath.io.
Daftar Isi TogglePerbedaan ulama terkait harta ribawi selain dari yang enam jenisPendapat pertama: Jumhur ulamaPendapat kedua: Pendapat Al-Imam Thawus, Qotadah, mazhab Zahiriyyah, dan Ibnu Aqil dari kalangan mazhab HambaliPada pembahasan sebelumnya, telah dijelaskan tentang riba fadhl dan riba nasi’ah yang termasuk dalam kategori riba buyu’ (jual beli). Telah disebutkan pula jenis-jenis harta ribawi yang enam. Hal ini sebagaimana yang telah jelas dalam hadis-hadis yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya, beliau bersabda dalam hadis ‘Ubadah bin Shamith,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar secara kontan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau menukarnya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” (HR. Muslim no. 1587)Dalam hadis ini, disebutkan enam jenis harta ribawi:EmasPerakGandumSya’ir (salah satu jenis gandum)KurmaGaramTentunya telah jelas hukum dari keenam harta ribawi ini dan bagaimana bertransaksi dengan keenam harta tersebut agar tidak terjatuh dalam riba. Muncul sebuah pertanyaan, apakah harta ribawi hanya sebatas pada keenam jenis barang di atas? Atau apakah ada harta ribawi selain dari keenam harta yang disebutkan di atas?Perbedaan ulama terkait harta ribawi selain dari yang enam jenisPendapat pertama: Jumhur ulamaJumhur ulama berpendapat bahwasanya riba berlaku pada keenam jenis harta ribawi yang telah disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis ‘Ubadah di atas, serta segala sesuatu yang memiliki kesamaan ‘illat (alasan hukum) dengan komoditas tersebut.Terkait dengan hal ini, jumhur ulama berdalil dengan hadis Ma’mar bin Abdillah, beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الطَّعَامُ بالطَّعَامِ مِثْلًا بمِثْلٍ“Bahan makanan (ditukar) dengan bahan makanan, harus sama timbangannya (takarannya).” (HR. Muslim no. 1592)Syekh Khalid Al-Musayqih hafidzahullah berkata, “Lafaz ‘makanan’ lebih umum dibandingkan dari keempat jenis (harta ribawi) yang disebutkan dalam hadis ‘Ubadah.” Artinya, lafaz makanan pada hadis Ma’mar lebih umum konteksnya dibandingkan dengan keempat jenis makanan yang disebutkan dalam hadis ‘Ubadah bin Shamith. Sehingga makanan yang ‘illat-nya sama dengan harta ribawi dihukumi sebagai harta ribawi dan hukumnya pun berlaku sama dengan harta ribawi yang enam.Terdapat pula hadis ‘Abdullah bin ‘Umar radiyallahu ‘anhu terkait dengan muzaabanah,نَهَى رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ عَنِ المُزَابَنَةِ، وَالْمُزَابَنَةُ: بَيْعُ ثَمَرِ النَّخْلِ بالتَّمْرِ كَيْلًا، وَبَيْعُ الزَّبِيبِ بالعِنَبِ كَيْلًا، وَعَنْ كُلِّ ثَمَرٍ بخَرْصِهِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang al-muzabanah. Al-muzabanah adalah menjual buah kurma (yang masih di pohon) dengan kurma kering secara takaran (kailan), menjual kismis dengan anggur (yang masih di pohon) secara takaran, dan (melarang) menjual setiap buah-buahan dengan buah yang sejenis secara takaran/taksiran (kharsan).” (Muttafaqun ‘alaih)Dari hadis ‘Abdullah bin ‘Umar di atas, dapat diketahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk menjual kismis dan juga anggur, padahal keduanya tidak termasuk dari harta ribawi yang enam. Begitupula beliau melarang untuk menjual buah-buahan dengan buah yang sejenis secara takaran/taksiran. Sehingga jumhur ulama mengambil kesimpulan bahwasanya jika suatu barang atau harta itu ‘illat-nya sama dengan harta ribawi, maka berlaku hukum ribawi padanya.Kemudian dalam hadis lain dari Sa’id bin Al-Musayyib secara mursal dan dihasankan oleh Al-Albani [2],نَهَى النَّبِيُّ عَنْ بَيْعِ اللَّحْمِ بِالحَيَوَان“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli daging dengan hewan.” Terdapat catatan dari Ibnul Qayyim rahimahullah terkait hadis di atas, وَالصَّوَابُ فِي هَذَا الْحَدِيثِ – إنْ ثَبَتَ – أَنَّ الْمُرَادَ بِهِ إذَا كَانَ الْحَيَوَانُ مَقْصُودًا لِلَّحْمِ كَشَاةٍ يُقْصَدُ لَحْمُهَا فَتُبَاعُ بِلَحْمٍ؛ فَيَكُونُ قَدْ بَاعَ لَحْمًا بِلَحْمٍ أَكْثَرَ مِنْهُ مِنْ جِنْسٍ وَاحِدٍ، وَاللَّحْمُ قُوتٌ مَوْزُونٌ فَيَدْخُلُهُ رِبَا الْفَضْلِ.“Pendapat yang tepat mengenai hadis ini—jika memang derajatnya tetap (shahih)—adalah bahwa yang dimaksud dengan larangan tersebut adalah apabila hewan tersebut dimaksudkan untuk diambil dagingnya, seperti kambing yang memang dituju dagingnya lalu dijual (ditukar) dengan daging. Dengan demikian, ia telah menjual daging (hewan hidup) dengan daging (yang sudah disembelih) yang lebih banyak darinya dalam satu jenis yang sama. Sedangkan daging adalah bahan makanan (qut) yang ditimbang (mauzun), sehingga masuk ke dalamnya kategori riba al-fadl.” (‘Ilaamul Muwaqi’in, 2: 112)Baca juga: Praktek Riba dalam Transaksi OnlinePendapat kedua: Pendapat Al-Imam Thawus, Qotadah, mazhab Zahiriyyah, dan Ibnu Aqil dari kalangan mazhab HambaliMereka hanya membatasi riba pada keenam jenis harta ribawi saja dan tidak belaku pada yang lainnya walaupun jenis illatnya sama. Di antara pendalilan mereka,Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya mengkhususkan keenam jenis harta ribawi. Hal ini menunjukkan bahwa itulah yang dimaksudkan dengan harta ribawi.Seandainya riba itu berlaku pada setiap barang yang ditakar (makilat) dan ditimbang (mauzunat) selain benda-benda tersebut, niscaya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan bersabda, ‘Janganlah kalian menjual sesuatu yang ditakar dengan yang ditakar, dan yang ditimbang dengan yang ditimbang, kecuali harus semisal (sama berat/ukurannya) dan sama rata.’Firman Allah Ta’ala, وَأَحَلَّ اللهُ البَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا“Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan Riba.” (QS. Al-Baqarah: 275)Ayat ini adalah ayat yang umum, kemudian dikecualikan dengan hadis Nabi yang menjelaskan tentang keenam jenis harta ribawi. Sehingga selain dari harta ribawi yang disebutkan, tidak termasuk dari harta ribawi dan hukumnya pun tidak berlaku.Terdapat beberapa catatan terhadap pendapat kedua [3]:– Jika dikatakan, ayat dalam surah Al-Baqarah dikhususkan dengan hadis tentang enam jenis harta ribawi, maka hal ini kurang tepat. Karena hadis pengharaman tidak hanya satu saja, namun terdapat beberapa hadis dan lafaz yang beragam.Seperti hadis ‘Ubadah yang menyebutkan enam jenis harta ribawi, sebagian lagi seperti hadis Abu Sa’id Al-khudri yang menyebutkan emas dan perak, sebagian lagi hadis ‘Umar yang menyebutkan empat saja, sebagian lagi ada yang lebih umum cakupannya seperti hadis Ma’mar yang telah disebutkan di atas. Sehingga terbatalkan pembatasan yang hanya enam jenis saja.– Syariat Islam adalah syariat yang penuh dengan hikmah dan betul-betul memperhitungkan maslahat hamba-hambanya. Sehingga sangat jauh jika dikatakan harta ribawi hanya terbatas pada enam komoditas saja. Misalnya, gandum; apakah gandum hanya berlaku pada negara yang makanan pokok mereka gandum saja? Lalu bagaimana dengan negara yang makanan pokok mereka beras?Emas misalnya, apakah emas hanya berlaku pada negara yang bertransaksi dengan emas saja? Lalu bagaimana dengan negara yang hari-hari mereka bertransaksi dengan kepingan uang? Apakah tidak ada riba padanya? Jika demikian, maka tidak satupun manfaat dari pengharaman riba tentunya.Sehingga kesimpulannya, bahwa riba tidak hanya berlaku pada keenam jenis harta ribawi saja. Namun, belaku pula pada harta-harta lainnya yang tentunya memiliki kesamaan ‘illat maupun penggunaannya.Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 7 LANJUT KE BAGIAN 9***Depok, 28 Sya’ban 1447/ 16 Februari 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Syarah Ar-Raudhul Murbi’, hal. 453-454.[2] Syarah Ar-Raudhul Murbi’, hal. 454 dan Fiqhul Muamalah Al-Maaliyah Al-Muyassarah, hal. 147.[3] Diringkas dari Syarah Ar-Raudhul Murbi’, hal. 455.Referensi:– Al-Musayqih, Khalid bin ‘Ali. Syarḥ Ar-Raudh al-Murbi‘. Jilid 6. Cetakan ke-1. Riyadh: Dar Rakaiz, 2022.– Al-Muthiri, ‘Abdurrahman bin Hamud. Fiqh al-Mu‘āmalāt al-Māliyah al-Muyassarah. Cetakan ke-3. Kuwait: Maktabah Imam Adz-Dzahabi, 2018.– Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah. I‘lām al-Muwaqqi‘īn ‘an Rabb al-‘Ālamīn. Tahqiq: Muhammad ‘Abdussalam Ibrahim. Jilid 2. Cetakan pertama. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1411 H/1991 M. Diakses melalui: app.turath.io.


Daftar Isi TogglePerbedaan ulama terkait harta ribawi selain dari yang enam jenisPendapat pertama: Jumhur ulamaPendapat kedua: Pendapat Al-Imam Thawus, Qotadah, mazhab Zahiriyyah, dan Ibnu Aqil dari kalangan mazhab HambaliPada pembahasan sebelumnya, telah dijelaskan tentang riba fadhl dan riba nasi’ah yang termasuk dalam kategori riba buyu’ (jual beli). Telah disebutkan pula jenis-jenis harta ribawi yang enam. Hal ini sebagaimana yang telah jelas dalam hadis-hadis yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya, beliau bersabda dalam hadis ‘Ubadah bin Shamith,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar secara kontan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau menukarnya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” (HR. Muslim no. 1587)Dalam hadis ini, disebutkan enam jenis harta ribawi:EmasPerakGandumSya’ir (salah satu jenis gandum)KurmaGaramTentunya telah jelas hukum dari keenam harta ribawi ini dan bagaimana bertransaksi dengan keenam harta tersebut agar tidak terjatuh dalam riba. Muncul sebuah pertanyaan, apakah harta ribawi hanya sebatas pada keenam jenis barang di atas? Atau apakah ada harta ribawi selain dari keenam harta yang disebutkan di atas?Perbedaan ulama terkait harta ribawi selain dari yang enam jenisPendapat pertama: Jumhur ulamaJumhur ulama berpendapat bahwasanya riba berlaku pada keenam jenis harta ribawi yang telah disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis ‘Ubadah di atas, serta segala sesuatu yang memiliki kesamaan ‘illat (alasan hukum) dengan komoditas tersebut.Terkait dengan hal ini, jumhur ulama berdalil dengan hadis Ma’mar bin Abdillah, beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الطَّعَامُ بالطَّعَامِ مِثْلًا بمِثْلٍ“Bahan makanan (ditukar) dengan bahan makanan, harus sama timbangannya (takarannya).” (HR. Muslim no. 1592)Syekh Khalid Al-Musayqih hafidzahullah berkata, “Lafaz ‘makanan’ lebih umum dibandingkan dari keempat jenis (harta ribawi) yang disebutkan dalam hadis ‘Ubadah.” Artinya, lafaz makanan pada hadis Ma’mar lebih umum konteksnya dibandingkan dengan keempat jenis makanan yang disebutkan dalam hadis ‘Ubadah bin Shamith. Sehingga makanan yang ‘illat-nya sama dengan harta ribawi dihukumi sebagai harta ribawi dan hukumnya pun berlaku sama dengan harta ribawi yang enam.Terdapat pula hadis ‘Abdullah bin ‘Umar radiyallahu ‘anhu terkait dengan muzaabanah,نَهَى رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ عَنِ المُزَابَنَةِ، وَالْمُزَابَنَةُ: بَيْعُ ثَمَرِ النَّخْلِ بالتَّمْرِ كَيْلًا، وَبَيْعُ الزَّبِيبِ بالعِنَبِ كَيْلًا، وَعَنْ كُلِّ ثَمَرٍ بخَرْصِهِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang al-muzabanah. Al-muzabanah adalah menjual buah kurma (yang masih di pohon) dengan kurma kering secara takaran (kailan), menjual kismis dengan anggur (yang masih di pohon) secara takaran, dan (melarang) menjual setiap buah-buahan dengan buah yang sejenis secara takaran/taksiran (kharsan).” (Muttafaqun ‘alaih)Dari hadis ‘Abdullah bin ‘Umar di atas, dapat diketahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk menjual kismis dan juga anggur, padahal keduanya tidak termasuk dari harta ribawi yang enam. Begitupula beliau melarang untuk menjual buah-buahan dengan buah yang sejenis secara takaran/taksiran. Sehingga jumhur ulama mengambil kesimpulan bahwasanya jika suatu barang atau harta itu ‘illat-nya sama dengan harta ribawi, maka berlaku hukum ribawi padanya.Kemudian dalam hadis lain dari Sa’id bin Al-Musayyib secara mursal dan dihasankan oleh Al-Albani [2],نَهَى النَّبِيُّ عَنْ بَيْعِ اللَّحْمِ بِالحَيَوَان“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli daging dengan hewan.” Terdapat catatan dari Ibnul Qayyim rahimahullah terkait hadis di atas, وَالصَّوَابُ فِي هَذَا الْحَدِيثِ – إنْ ثَبَتَ – أَنَّ الْمُرَادَ بِهِ إذَا كَانَ الْحَيَوَانُ مَقْصُودًا لِلَّحْمِ كَشَاةٍ يُقْصَدُ لَحْمُهَا فَتُبَاعُ بِلَحْمٍ؛ فَيَكُونُ قَدْ بَاعَ لَحْمًا بِلَحْمٍ أَكْثَرَ مِنْهُ مِنْ جِنْسٍ وَاحِدٍ، وَاللَّحْمُ قُوتٌ مَوْزُونٌ فَيَدْخُلُهُ رِبَا الْفَضْلِ.“Pendapat yang tepat mengenai hadis ini—jika memang derajatnya tetap (shahih)—adalah bahwa yang dimaksud dengan larangan tersebut adalah apabila hewan tersebut dimaksudkan untuk diambil dagingnya, seperti kambing yang memang dituju dagingnya lalu dijual (ditukar) dengan daging. Dengan demikian, ia telah menjual daging (hewan hidup) dengan daging (yang sudah disembelih) yang lebih banyak darinya dalam satu jenis yang sama. Sedangkan daging adalah bahan makanan (qut) yang ditimbang (mauzun), sehingga masuk ke dalamnya kategori riba al-fadl.” (‘Ilaamul Muwaqi’in, 2: 112)Baca juga: Praktek Riba dalam Transaksi OnlinePendapat kedua: Pendapat Al-Imam Thawus, Qotadah, mazhab Zahiriyyah, dan Ibnu Aqil dari kalangan mazhab HambaliMereka hanya membatasi riba pada keenam jenis harta ribawi saja dan tidak belaku pada yang lainnya walaupun jenis illatnya sama. Di antara pendalilan mereka,Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya mengkhususkan keenam jenis harta ribawi. Hal ini menunjukkan bahwa itulah yang dimaksudkan dengan harta ribawi.Seandainya riba itu berlaku pada setiap barang yang ditakar (makilat) dan ditimbang (mauzunat) selain benda-benda tersebut, niscaya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan bersabda, ‘Janganlah kalian menjual sesuatu yang ditakar dengan yang ditakar, dan yang ditimbang dengan yang ditimbang, kecuali harus semisal (sama berat/ukurannya) dan sama rata.’Firman Allah Ta’ala, وَأَحَلَّ اللهُ البَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا“Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan Riba.” (QS. Al-Baqarah: 275)Ayat ini adalah ayat yang umum, kemudian dikecualikan dengan hadis Nabi yang menjelaskan tentang keenam jenis harta ribawi. Sehingga selain dari harta ribawi yang disebutkan, tidak termasuk dari harta ribawi dan hukumnya pun tidak berlaku.Terdapat beberapa catatan terhadap pendapat kedua [3]:– Jika dikatakan, ayat dalam surah Al-Baqarah dikhususkan dengan hadis tentang enam jenis harta ribawi, maka hal ini kurang tepat. Karena hadis pengharaman tidak hanya satu saja, namun terdapat beberapa hadis dan lafaz yang beragam.Seperti hadis ‘Ubadah yang menyebutkan enam jenis harta ribawi, sebagian lagi seperti hadis Abu Sa’id Al-khudri yang menyebutkan emas dan perak, sebagian lagi hadis ‘Umar yang menyebutkan empat saja, sebagian lagi ada yang lebih umum cakupannya seperti hadis Ma’mar yang telah disebutkan di atas. Sehingga terbatalkan pembatasan yang hanya enam jenis saja.– Syariat Islam adalah syariat yang penuh dengan hikmah dan betul-betul memperhitungkan maslahat hamba-hambanya. Sehingga sangat jauh jika dikatakan harta ribawi hanya terbatas pada enam komoditas saja. Misalnya, gandum; apakah gandum hanya berlaku pada negara yang makanan pokok mereka gandum saja? Lalu bagaimana dengan negara yang makanan pokok mereka beras?Emas misalnya, apakah emas hanya berlaku pada negara yang bertransaksi dengan emas saja? Lalu bagaimana dengan negara yang hari-hari mereka bertransaksi dengan kepingan uang? Apakah tidak ada riba padanya? Jika demikian, maka tidak satupun manfaat dari pengharaman riba tentunya.Sehingga kesimpulannya, bahwa riba tidak hanya berlaku pada keenam jenis harta ribawi saja. Namun, belaku pula pada harta-harta lainnya yang tentunya memiliki kesamaan ‘illat maupun penggunaannya.Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 7 LANJUT KE BAGIAN 9***Depok, 28 Sya’ban 1447/ 16 Februari 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Syarah Ar-Raudhul Murbi’, hal. 453-454.[2] Syarah Ar-Raudhul Murbi’, hal. 454 dan Fiqhul Muamalah Al-Maaliyah Al-Muyassarah, hal. 147.[3] Diringkas dari Syarah Ar-Raudhul Murbi’, hal. 455.Referensi:– Al-Musayqih, Khalid bin ‘Ali. Syarḥ Ar-Raudh al-Murbi‘. Jilid 6. Cetakan ke-1. Riyadh: Dar Rakaiz, 2022.– Al-Muthiri, ‘Abdurrahman bin Hamud. Fiqh al-Mu‘āmalāt al-Māliyah al-Muyassarah. Cetakan ke-3. Kuwait: Maktabah Imam Adz-Dzahabi, 2018.– Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah. I‘lām al-Muwaqqi‘īn ‘an Rabb al-‘Ālamīn. Tahqiq: Muhammad ‘Abdussalam Ibrahim. Jilid 2. Cetakan pertama. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1411 H/1991 M. Diakses melalui: app.turath.io.

Perang Hunain dalam Tafsir QS. At-Taubah 25–27: Ketika Jumlah Besar Tidak Menjamin Kemenangan

Perang Hunain menjadi pelajaran besar bahwa kemenangan tidak ditentukan oleh jumlah pasukan, tetapi oleh pertolongan Allah. Ketika sebagian kaum Muslimin sempat bangga dengan jumlah mereka, Allah menampakkan kelemahan manusia tanpa taufik-Nya. Namun setelah hati diteguhkan dengan sakinah, pertolongan pun turun, dan pintu tobat tetap Allah bukakan.Baca juga: Perang Hunain: Ketika Jumlah Besar Tidak Menjamin Kemenangan  Daftar Isi tutup 1. Ketika Jumlah Besar Menjadi Sumber Kesombongan 2. Kemenangan Setelah Hati Diteguhkan 3. Pintu Tobat yang Tetap Terbuka 4. Pelajaran Penting dari Perang Hunain  Ketika Jumlah Besar Menjadi Sumber KesombonganAllah Ta’ala berfirman,لَقَدْ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ فِى مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْـًٔا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ ٱلْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.” (QS. At-Taubah: 25)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut. Allah mengingatkan kaum mukminin tentang nikmat pertolongan-Nya dalam berbagai pertempuran dan medan jihad yang telah mereka lalui. Di banyak tempat, Allah memenangkan mereka dan meneguhkan langkah mereka.Baca juga: Tafsir Surah Al-Anfal tentang Perang Badar: Ujian Harta dan Kemenangan dari AllahBahkan pada Perang Hunain pun — saat keadaan begitu genting — Allah tetap memberikan pertolongan, meskipun sebelumnya mereka sempat mengalami guncangan hebat. Ketika itu mereka merasakan kegamangan dan kekalahan yang membuat dada sesak, seakan-akan bumi yang begitu luas terasa menyempit karena tekanan dan ketakutan.Latar Belakang Perang HunainSetelah Rasulullah ﷺ berhasil menaklukkan Makkah, beliau mendengar bahwa kabilah Hawazin telah bersiap untuk memerangi kaum Muslimin. Maka beliau pun berangkat menghadapi mereka bersama para sahabat yang ikut dalam Fathu Makkah, termasuk orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam (disebut thulaqā’).Jumlah pasukan kaum Muslimin saat itu mencapai 12.000 orang, sedangkan jumlah musuh sekitar 4.000 orang. Melihat jumlah yang besar itu, sebagian kaum Muslimin merasa bangga dan percaya diri berlebihan. Bahkan ada yang berkata, “Hari ini kita tidak akan dikalahkan karena jumlah yang sedikit.”Namun, ketika kedua pasukan bertemu, kabilah Hawazin melakukan serangan mendadak secara serempak. Kaum Muslimin pun kocar-kacir. Mereka lari tanpa sempat saling memperhatikan satu sama lain.Yang tetap bertahan bersama Rasulullah ﷺ hanya sekitar seratus orang saja. Mereka berdiri kokoh membela beliau dan terus melawan musuh.Dalam kondisi genting itu, Rasulullah ﷺ maju ke arah musuh sambil menunggangi bagalnya dan berseru dengan penuh keyakinan:أَنَا النَّبِيُّ لَا كَذِبْ، أَنَا ابْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ“Aku adalah Nabi, bukan dusta. Aku adalah putra Abdul Muththalib.”Ketika melihat keadaan pasukan yang tercerai-berai, Nabi ﷺ memerintahkan Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib — yang dikenal memiliki suara sangat lantang — untuk memanggil kaum Anshar dan kaum Muslimin lainnya. Ia pun berseru: “Wahai para sahabat yang pernah berbaiat di bawah pohon (Ashab as-Samurah)! Wahai para penghafal Surah Al-Baqarah!”Begitu mereka mendengar seruan itu, mereka segera berbalik. Dengan semangat yang menyala, mereka kembali bersatu seperti satu tubuh yang kokoh. Mereka menyerang musuh dengan kekuatan penuh.Akhirnya Allah memberikan kemenangan besar. Kaum musyrikin mengalami kekalahan telak. Kaum Muslimin berhasil menguasai perkemahan mereka, serta mendapatkan harta dan tawanan.Itulah yang dimaksud dalam firman Allah:“Sesungguhnya Allah telah menolong kalian di banyak medan peperangan dan pada hari Hunain.”Hunain adalah nama sebuah tempat antara Makkah dan Thaif, lokasi terjadinya pertempuran tersebut.Firman-Nya:“yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun.”Yakni ketika jumlah kalian yang banyak itu membuat kalian merasa kagum dan percaya diri, tetapi ternyata tidak memberi manfaat sedikit pun — baik banyak maupun sedikit.“dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu.”Artinya, bumi terasa sempit bagi kalian karena rasa sedih, takut, dan tekanan batin akibat kekalahan yang kalian alami — padahal bumi itu luas.“kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.”Kemudian kalian berpaling ke belakang dalam keadaan melarikan diri dari medan perang. Kemenangan Setelah Hati DiteguhkanAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ أَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ۚ وَذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلْكَٰفِرِينَ“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 26)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Allah Ta’ala berfirman: “Kemudian Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman.”Yang dimaksud dengan sakinah adalah ketenangan dan keteguhan yang Allah tanamkan ke dalam hati pada saat terjadi kegoncangan, kekacauan, dan situasi yang menakutkan. Dengan sakinah itu, hati menjadi kokoh, tidak mudah goyah, kembali tenang, dan dipenuhi rasa tenteram.Sakinah adalah salah satu nikmat Allah yang sangat besar bagi hamba-hamba-Nya. Ketika keadaan di luar penuh tekanan, Allah menurunkan ketenangan di dalam hati. Itulah kekuatan sejati seorang mukmin.“Dan Allah menurunkan bala tentara yang tidak kalian lihat.”Yang dimaksud adalah para malaikat. Allah menurunkan mereka sebagai bentuk pertolongan kepada kaum Muslimin pada Perang Hunain. Para malaikat itu meneguhkan hati kaum beriman dan memberikan kabar gembira tentang kemenangan.Pertolongan Allah tidak selalu terlihat oleh mata, tetapi dampaknya nyata dalam kemenangan dan perubahan keadaan.“Dan Allah mengazab orang-orang yang kafir.”Azab itu berupa kekalahan, terbunuhnya sebagian dari mereka, serta dikuasainya kaum Muslimin atas wanita, anak-anak, dan harta mereka.“Dan itulah balasan bagi orang-orang kafir.”Di dunia, Allah menghukum mereka dengan kekalahan dan kehinaan. Kemudian di akhirat, mereka akan dikembalikan kepada azab yang jauh lebih berat dan pedih. Pintu Tobat yang Tetap TerbukaAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ يَتُوبُ ٱللَّهُ مِنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 27)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.“Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya.”Setelah kekalahan dan azab yang menimpa orang-orang kafir pada Perang Hunain, Allah masih membuka pintu tobat bagi siapa saja yang Dia kehendaki.Dan memang, Allah menerima tobat banyak dari mereka yang sebelumnya memerangi kaum Muslimin. Mereka kemudian datang kepada Nabi ﷺ dalam keadaan telah masuk Islam dan bertaubat dengan sungguh-sungguh.Rasulullah ﷺ pun mengembalikan kepada mereka wanita dan anak-anak yang sebelumnya menjadi tawanan perang. Ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama rahmat. Ketika seseorang benar-benar bertaubat dan masuk Islam, lembaran masa lalunya dihapuskan.“Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Artinya, Allah memiliki ampunan yang sangat luas dan rahmat yang menyeluruh.Dia mengampuni dosa-dosa yang besar bagi siapa saja yang bertaubat. Dia juga merahmati hamba-hamba-Nya dengan memberi mereka taufik untuk bertaubat dan kembali taat. Bukan hanya mengampuni kesalahan mereka, Allah juga menerima tobat mereka dan menutup aib mereka.Karena itu, jangan pernah ada yang berputus asa dari ampunan dan rahmat Allah. Seberat apa pun dosa dan sebesar apa pun kesalahan yang pernah dilakukan, pintu tobat tetap terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan matahari belum terbit dari barat.Ayat ini menutup kisah Hunain dengan pelajaran agung: Allah memberi kemenangan, Allah memberi azab, dan Allah pula yang membuka pintu ampunan. Dia Mahaperkasa dalam menghukum, namun juga Maha Penyayang dalam mengampuni. Pelajaran Penting dari Perang HunainKemenangan tidak ditentukan oleh jumlah dan kekuatan, tetapi oleh pertolongan Allah semata.Rasa bangga terhadap jumlah dan kemampuan diri dapat menjadi sebab datangnya ujian dan kekalahan.Ketika hati kembali bersandar kepada Allah, sakinah (ketenangan) turun dan keadaan pun berubah.Pertolongan Allah bisa datang melalui cara yang tidak terlihat oleh mata manusia.Kekalahan orang kafir di dunia adalah bagian dari keadilan Allah sebelum azab akhirat.Setelah hukuman dan kekalahan, Allah tetap membuka pintu tobat bagi siapa saja yang mau kembali kepada-Nya.Tidak boleh ada keputusasaan dari rahmat Allah, sebesar apa pun dosa yang pernah dilakukan.Cinta kepada Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya harus lebih besar daripada cinta kepada keluarga, harta, dan dunia.—– Malam Sabtu, 11 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsHarta Rampasan Perang hikmah perang jumlah tidak menjamin kemenangan kisah kemenangan Islam pelajaran Perang Hunain peperangan dalam islam perang hunain pertolongan Allah dalam perang pintu tobat dalam Islam renungan ayat renungan quran sakinah dalam Islam sebab kekalahan kaum Muslimin tafsir Ibnu Sa'di tafsir Surah At-Taubah

Perang Hunain dalam Tafsir QS. At-Taubah 25–27: Ketika Jumlah Besar Tidak Menjamin Kemenangan

Perang Hunain menjadi pelajaran besar bahwa kemenangan tidak ditentukan oleh jumlah pasukan, tetapi oleh pertolongan Allah. Ketika sebagian kaum Muslimin sempat bangga dengan jumlah mereka, Allah menampakkan kelemahan manusia tanpa taufik-Nya. Namun setelah hati diteguhkan dengan sakinah, pertolongan pun turun, dan pintu tobat tetap Allah bukakan.Baca juga: Perang Hunain: Ketika Jumlah Besar Tidak Menjamin Kemenangan  Daftar Isi tutup 1. Ketika Jumlah Besar Menjadi Sumber Kesombongan 2. Kemenangan Setelah Hati Diteguhkan 3. Pintu Tobat yang Tetap Terbuka 4. Pelajaran Penting dari Perang Hunain  Ketika Jumlah Besar Menjadi Sumber KesombonganAllah Ta’ala berfirman,لَقَدْ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ فِى مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْـًٔا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ ٱلْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.” (QS. At-Taubah: 25)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut. Allah mengingatkan kaum mukminin tentang nikmat pertolongan-Nya dalam berbagai pertempuran dan medan jihad yang telah mereka lalui. Di banyak tempat, Allah memenangkan mereka dan meneguhkan langkah mereka.Baca juga: Tafsir Surah Al-Anfal tentang Perang Badar: Ujian Harta dan Kemenangan dari AllahBahkan pada Perang Hunain pun — saat keadaan begitu genting — Allah tetap memberikan pertolongan, meskipun sebelumnya mereka sempat mengalami guncangan hebat. Ketika itu mereka merasakan kegamangan dan kekalahan yang membuat dada sesak, seakan-akan bumi yang begitu luas terasa menyempit karena tekanan dan ketakutan.Latar Belakang Perang HunainSetelah Rasulullah ﷺ berhasil menaklukkan Makkah, beliau mendengar bahwa kabilah Hawazin telah bersiap untuk memerangi kaum Muslimin. Maka beliau pun berangkat menghadapi mereka bersama para sahabat yang ikut dalam Fathu Makkah, termasuk orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam (disebut thulaqā’).Jumlah pasukan kaum Muslimin saat itu mencapai 12.000 orang, sedangkan jumlah musuh sekitar 4.000 orang. Melihat jumlah yang besar itu, sebagian kaum Muslimin merasa bangga dan percaya diri berlebihan. Bahkan ada yang berkata, “Hari ini kita tidak akan dikalahkan karena jumlah yang sedikit.”Namun, ketika kedua pasukan bertemu, kabilah Hawazin melakukan serangan mendadak secara serempak. Kaum Muslimin pun kocar-kacir. Mereka lari tanpa sempat saling memperhatikan satu sama lain.Yang tetap bertahan bersama Rasulullah ﷺ hanya sekitar seratus orang saja. Mereka berdiri kokoh membela beliau dan terus melawan musuh.Dalam kondisi genting itu, Rasulullah ﷺ maju ke arah musuh sambil menunggangi bagalnya dan berseru dengan penuh keyakinan:أَنَا النَّبِيُّ لَا كَذِبْ، أَنَا ابْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ“Aku adalah Nabi, bukan dusta. Aku adalah putra Abdul Muththalib.”Ketika melihat keadaan pasukan yang tercerai-berai, Nabi ﷺ memerintahkan Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib — yang dikenal memiliki suara sangat lantang — untuk memanggil kaum Anshar dan kaum Muslimin lainnya. Ia pun berseru: “Wahai para sahabat yang pernah berbaiat di bawah pohon (Ashab as-Samurah)! Wahai para penghafal Surah Al-Baqarah!”Begitu mereka mendengar seruan itu, mereka segera berbalik. Dengan semangat yang menyala, mereka kembali bersatu seperti satu tubuh yang kokoh. Mereka menyerang musuh dengan kekuatan penuh.Akhirnya Allah memberikan kemenangan besar. Kaum musyrikin mengalami kekalahan telak. Kaum Muslimin berhasil menguasai perkemahan mereka, serta mendapatkan harta dan tawanan.Itulah yang dimaksud dalam firman Allah:“Sesungguhnya Allah telah menolong kalian di banyak medan peperangan dan pada hari Hunain.”Hunain adalah nama sebuah tempat antara Makkah dan Thaif, lokasi terjadinya pertempuran tersebut.Firman-Nya:“yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun.”Yakni ketika jumlah kalian yang banyak itu membuat kalian merasa kagum dan percaya diri, tetapi ternyata tidak memberi manfaat sedikit pun — baik banyak maupun sedikit.“dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu.”Artinya, bumi terasa sempit bagi kalian karena rasa sedih, takut, dan tekanan batin akibat kekalahan yang kalian alami — padahal bumi itu luas.“kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.”Kemudian kalian berpaling ke belakang dalam keadaan melarikan diri dari medan perang. Kemenangan Setelah Hati DiteguhkanAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ أَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ۚ وَذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلْكَٰفِرِينَ“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 26)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Allah Ta’ala berfirman: “Kemudian Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman.”Yang dimaksud dengan sakinah adalah ketenangan dan keteguhan yang Allah tanamkan ke dalam hati pada saat terjadi kegoncangan, kekacauan, dan situasi yang menakutkan. Dengan sakinah itu, hati menjadi kokoh, tidak mudah goyah, kembali tenang, dan dipenuhi rasa tenteram.Sakinah adalah salah satu nikmat Allah yang sangat besar bagi hamba-hamba-Nya. Ketika keadaan di luar penuh tekanan, Allah menurunkan ketenangan di dalam hati. Itulah kekuatan sejati seorang mukmin.“Dan Allah menurunkan bala tentara yang tidak kalian lihat.”Yang dimaksud adalah para malaikat. Allah menurunkan mereka sebagai bentuk pertolongan kepada kaum Muslimin pada Perang Hunain. Para malaikat itu meneguhkan hati kaum beriman dan memberikan kabar gembira tentang kemenangan.Pertolongan Allah tidak selalu terlihat oleh mata, tetapi dampaknya nyata dalam kemenangan dan perubahan keadaan.“Dan Allah mengazab orang-orang yang kafir.”Azab itu berupa kekalahan, terbunuhnya sebagian dari mereka, serta dikuasainya kaum Muslimin atas wanita, anak-anak, dan harta mereka.“Dan itulah balasan bagi orang-orang kafir.”Di dunia, Allah menghukum mereka dengan kekalahan dan kehinaan. Kemudian di akhirat, mereka akan dikembalikan kepada azab yang jauh lebih berat dan pedih. Pintu Tobat yang Tetap TerbukaAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ يَتُوبُ ٱللَّهُ مِنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 27)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.“Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya.”Setelah kekalahan dan azab yang menimpa orang-orang kafir pada Perang Hunain, Allah masih membuka pintu tobat bagi siapa saja yang Dia kehendaki.Dan memang, Allah menerima tobat banyak dari mereka yang sebelumnya memerangi kaum Muslimin. Mereka kemudian datang kepada Nabi ﷺ dalam keadaan telah masuk Islam dan bertaubat dengan sungguh-sungguh.Rasulullah ﷺ pun mengembalikan kepada mereka wanita dan anak-anak yang sebelumnya menjadi tawanan perang. Ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama rahmat. Ketika seseorang benar-benar bertaubat dan masuk Islam, lembaran masa lalunya dihapuskan.“Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Artinya, Allah memiliki ampunan yang sangat luas dan rahmat yang menyeluruh.Dia mengampuni dosa-dosa yang besar bagi siapa saja yang bertaubat. Dia juga merahmati hamba-hamba-Nya dengan memberi mereka taufik untuk bertaubat dan kembali taat. Bukan hanya mengampuni kesalahan mereka, Allah juga menerima tobat mereka dan menutup aib mereka.Karena itu, jangan pernah ada yang berputus asa dari ampunan dan rahmat Allah. Seberat apa pun dosa dan sebesar apa pun kesalahan yang pernah dilakukan, pintu tobat tetap terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan matahari belum terbit dari barat.Ayat ini menutup kisah Hunain dengan pelajaran agung: Allah memberi kemenangan, Allah memberi azab, dan Allah pula yang membuka pintu ampunan. Dia Mahaperkasa dalam menghukum, namun juga Maha Penyayang dalam mengampuni. Pelajaran Penting dari Perang HunainKemenangan tidak ditentukan oleh jumlah dan kekuatan, tetapi oleh pertolongan Allah semata.Rasa bangga terhadap jumlah dan kemampuan diri dapat menjadi sebab datangnya ujian dan kekalahan.Ketika hati kembali bersandar kepada Allah, sakinah (ketenangan) turun dan keadaan pun berubah.Pertolongan Allah bisa datang melalui cara yang tidak terlihat oleh mata manusia.Kekalahan orang kafir di dunia adalah bagian dari keadilan Allah sebelum azab akhirat.Setelah hukuman dan kekalahan, Allah tetap membuka pintu tobat bagi siapa saja yang mau kembali kepada-Nya.Tidak boleh ada keputusasaan dari rahmat Allah, sebesar apa pun dosa yang pernah dilakukan.Cinta kepada Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya harus lebih besar daripada cinta kepada keluarga, harta, dan dunia.—– Malam Sabtu, 11 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsHarta Rampasan Perang hikmah perang jumlah tidak menjamin kemenangan kisah kemenangan Islam pelajaran Perang Hunain peperangan dalam islam perang hunain pertolongan Allah dalam perang pintu tobat dalam Islam renungan ayat renungan quran sakinah dalam Islam sebab kekalahan kaum Muslimin tafsir Ibnu Sa'di tafsir Surah At-Taubah
Perang Hunain menjadi pelajaran besar bahwa kemenangan tidak ditentukan oleh jumlah pasukan, tetapi oleh pertolongan Allah. Ketika sebagian kaum Muslimin sempat bangga dengan jumlah mereka, Allah menampakkan kelemahan manusia tanpa taufik-Nya. Namun setelah hati diteguhkan dengan sakinah, pertolongan pun turun, dan pintu tobat tetap Allah bukakan.Baca juga: Perang Hunain: Ketika Jumlah Besar Tidak Menjamin Kemenangan  Daftar Isi tutup 1. Ketika Jumlah Besar Menjadi Sumber Kesombongan 2. Kemenangan Setelah Hati Diteguhkan 3. Pintu Tobat yang Tetap Terbuka 4. Pelajaran Penting dari Perang Hunain  Ketika Jumlah Besar Menjadi Sumber KesombonganAllah Ta’ala berfirman,لَقَدْ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ فِى مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْـًٔا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ ٱلْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.” (QS. At-Taubah: 25)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut. Allah mengingatkan kaum mukminin tentang nikmat pertolongan-Nya dalam berbagai pertempuran dan medan jihad yang telah mereka lalui. Di banyak tempat, Allah memenangkan mereka dan meneguhkan langkah mereka.Baca juga: Tafsir Surah Al-Anfal tentang Perang Badar: Ujian Harta dan Kemenangan dari AllahBahkan pada Perang Hunain pun — saat keadaan begitu genting — Allah tetap memberikan pertolongan, meskipun sebelumnya mereka sempat mengalami guncangan hebat. Ketika itu mereka merasakan kegamangan dan kekalahan yang membuat dada sesak, seakan-akan bumi yang begitu luas terasa menyempit karena tekanan dan ketakutan.Latar Belakang Perang HunainSetelah Rasulullah ﷺ berhasil menaklukkan Makkah, beliau mendengar bahwa kabilah Hawazin telah bersiap untuk memerangi kaum Muslimin. Maka beliau pun berangkat menghadapi mereka bersama para sahabat yang ikut dalam Fathu Makkah, termasuk orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam (disebut thulaqā’).Jumlah pasukan kaum Muslimin saat itu mencapai 12.000 orang, sedangkan jumlah musuh sekitar 4.000 orang. Melihat jumlah yang besar itu, sebagian kaum Muslimin merasa bangga dan percaya diri berlebihan. Bahkan ada yang berkata, “Hari ini kita tidak akan dikalahkan karena jumlah yang sedikit.”Namun, ketika kedua pasukan bertemu, kabilah Hawazin melakukan serangan mendadak secara serempak. Kaum Muslimin pun kocar-kacir. Mereka lari tanpa sempat saling memperhatikan satu sama lain.Yang tetap bertahan bersama Rasulullah ﷺ hanya sekitar seratus orang saja. Mereka berdiri kokoh membela beliau dan terus melawan musuh.Dalam kondisi genting itu, Rasulullah ﷺ maju ke arah musuh sambil menunggangi bagalnya dan berseru dengan penuh keyakinan:أَنَا النَّبِيُّ لَا كَذِبْ، أَنَا ابْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ“Aku adalah Nabi, bukan dusta. Aku adalah putra Abdul Muththalib.”Ketika melihat keadaan pasukan yang tercerai-berai, Nabi ﷺ memerintahkan Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib — yang dikenal memiliki suara sangat lantang — untuk memanggil kaum Anshar dan kaum Muslimin lainnya. Ia pun berseru: “Wahai para sahabat yang pernah berbaiat di bawah pohon (Ashab as-Samurah)! Wahai para penghafal Surah Al-Baqarah!”Begitu mereka mendengar seruan itu, mereka segera berbalik. Dengan semangat yang menyala, mereka kembali bersatu seperti satu tubuh yang kokoh. Mereka menyerang musuh dengan kekuatan penuh.Akhirnya Allah memberikan kemenangan besar. Kaum musyrikin mengalami kekalahan telak. Kaum Muslimin berhasil menguasai perkemahan mereka, serta mendapatkan harta dan tawanan.Itulah yang dimaksud dalam firman Allah:“Sesungguhnya Allah telah menolong kalian di banyak medan peperangan dan pada hari Hunain.”Hunain adalah nama sebuah tempat antara Makkah dan Thaif, lokasi terjadinya pertempuran tersebut.Firman-Nya:“yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun.”Yakni ketika jumlah kalian yang banyak itu membuat kalian merasa kagum dan percaya diri, tetapi ternyata tidak memberi manfaat sedikit pun — baik banyak maupun sedikit.“dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu.”Artinya, bumi terasa sempit bagi kalian karena rasa sedih, takut, dan tekanan batin akibat kekalahan yang kalian alami — padahal bumi itu luas.“kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.”Kemudian kalian berpaling ke belakang dalam keadaan melarikan diri dari medan perang. Kemenangan Setelah Hati DiteguhkanAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ أَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ۚ وَذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلْكَٰفِرِينَ“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 26)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Allah Ta’ala berfirman: “Kemudian Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman.”Yang dimaksud dengan sakinah adalah ketenangan dan keteguhan yang Allah tanamkan ke dalam hati pada saat terjadi kegoncangan, kekacauan, dan situasi yang menakutkan. Dengan sakinah itu, hati menjadi kokoh, tidak mudah goyah, kembali tenang, dan dipenuhi rasa tenteram.Sakinah adalah salah satu nikmat Allah yang sangat besar bagi hamba-hamba-Nya. Ketika keadaan di luar penuh tekanan, Allah menurunkan ketenangan di dalam hati. Itulah kekuatan sejati seorang mukmin.“Dan Allah menurunkan bala tentara yang tidak kalian lihat.”Yang dimaksud adalah para malaikat. Allah menurunkan mereka sebagai bentuk pertolongan kepada kaum Muslimin pada Perang Hunain. Para malaikat itu meneguhkan hati kaum beriman dan memberikan kabar gembira tentang kemenangan.Pertolongan Allah tidak selalu terlihat oleh mata, tetapi dampaknya nyata dalam kemenangan dan perubahan keadaan.“Dan Allah mengazab orang-orang yang kafir.”Azab itu berupa kekalahan, terbunuhnya sebagian dari mereka, serta dikuasainya kaum Muslimin atas wanita, anak-anak, dan harta mereka.“Dan itulah balasan bagi orang-orang kafir.”Di dunia, Allah menghukum mereka dengan kekalahan dan kehinaan. Kemudian di akhirat, mereka akan dikembalikan kepada azab yang jauh lebih berat dan pedih. Pintu Tobat yang Tetap TerbukaAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ يَتُوبُ ٱللَّهُ مِنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 27)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.“Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya.”Setelah kekalahan dan azab yang menimpa orang-orang kafir pada Perang Hunain, Allah masih membuka pintu tobat bagi siapa saja yang Dia kehendaki.Dan memang, Allah menerima tobat banyak dari mereka yang sebelumnya memerangi kaum Muslimin. Mereka kemudian datang kepada Nabi ﷺ dalam keadaan telah masuk Islam dan bertaubat dengan sungguh-sungguh.Rasulullah ﷺ pun mengembalikan kepada mereka wanita dan anak-anak yang sebelumnya menjadi tawanan perang. Ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama rahmat. Ketika seseorang benar-benar bertaubat dan masuk Islam, lembaran masa lalunya dihapuskan.“Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Artinya, Allah memiliki ampunan yang sangat luas dan rahmat yang menyeluruh.Dia mengampuni dosa-dosa yang besar bagi siapa saja yang bertaubat. Dia juga merahmati hamba-hamba-Nya dengan memberi mereka taufik untuk bertaubat dan kembali taat. Bukan hanya mengampuni kesalahan mereka, Allah juga menerima tobat mereka dan menutup aib mereka.Karena itu, jangan pernah ada yang berputus asa dari ampunan dan rahmat Allah. Seberat apa pun dosa dan sebesar apa pun kesalahan yang pernah dilakukan, pintu tobat tetap terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan matahari belum terbit dari barat.Ayat ini menutup kisah Hunain dengan pelajaran agung: Allah memberi kemenangan, Allah memberi azab, dan Allah pula yang membuka pintu ampunan. Dia Mahaperkasa dalam menghukum, namun juga Maha Penyayang dalam mengampuni. Pelajaran Penting dari Perang HunainKemenangan tidak ditentukan oleh jumlah dan kekuatan, tetapi oleh pertolongan Allah semata.Rasa bangga terhadap jumlah dan kemampuan diri dapat menjadi sebab datangnya ujian dan kekalahan.Ketika hati kembali bersandar kepada Allah, sakinah (ketenangan) turun dan keadaan pun berubah.Pertolongan Allah bisa datang melalui cara yang tidak terlihat oleh mata manusia.Kekalahan orang kafir di dunia adalah bagian dari keadilan Allah sebelum azab akhirat.Setelah hukuman dan kekalahan, Allah tetap membuka pintu tobat bagi siapa saja yang mau kembali kepada-Nya.Tidak boleh ada keputusasaan dari rahmat Allah, sebesar apa pun dosa yang pernah dilakukan.Cinta kepada Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya harus lebih besar daripada cinta kepada keluarga, harta, dan dunia.—– Malam Sabtu, 11 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsHarta Rampasan Perang hikmah perang jumlah tidak menjamin kemenangan kisah kemenangan Islam pelajaran Perang Hunain peperangan dalam islam perang hunain pertolongan Allah dalam perang pintu tobat dalam Islam renungan ayat renungan quran sakinah dalam Islam sebab kekalahan kaum Muslimin tafsir Ibnu Sa'di tafsir Surah At-Taubah


Perang Hunain menjadi pelajaran besar bahwa kemenangan tidak ditentukan oleh jumlah pasukan, tetapi oleh pertolongan Allah. Ketika sebagian kaum Muslimin sempat bangga dengan jumlah mereka, Allah menampakkan kelemahan manusia tanpa taufik-Nya. Namun setelah hati diteguhkan dengan sakinah, pertolongan pun turun, dan pintu tobat tetap Allah bukakan.Baca juga: Perang Hunain: Ketika Jumlah Besar Tidak Menjamin Kemenangan  Daftar Isi tutup 1. Ketika Jumlah Besar Menjadi Sumber Kesombongan 2. Kemenangan Setelah Hati Diteguhkan 3. Pintu Tobat yang Tetap Terbuka 4. Pelajaran Penting dari Perang Hunain  Ketika Jumlah Besar Menjadi Sumber KesombonganAllah Ta’ala berfirman,لَقَدْ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ فِى مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْـًٔا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ ٱلْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.” (QS. At-Taubah: 25)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut. Allah mengingatkan kaum mukminin tentang nikmat pertolongan-Nya dalam berbagai pertempuran dan medan jihad yang telah mereka lalui. Di banyak tempat, Allah memenangkan mereka dan meneguhkan langkah mereka.Baca juga: Tafsir Surah Al-Anfal tentang Perang Badar: Ujian Harta dan Kemenangan dari AllahBahkan pada Perang Hunain pun — saat keadaan begitu genting — Allah tetap memberikan pertolongan, meskipun sebelumnya mereka sempat mengalami guncangan hebat. Ketika itu mereka merasakan kegamangan dan kekalahan yang membuat dada sesak, seakan-akan bumi yang begitu luas terasa menyempit karena tekanan dan ketakutan.Latar Belakang Perang HunainSetelah Rasulullah ﷺ berhasil menaklukkan Makkah, beliau mendengar bahwa kabilah Hawazin telah bersiap untuk memerangi kaum Muslimin. Maka beliau pun berangkat menghadapi mereka bersama para sahabat yang ikut dalam Fathu Makkah, termasuk orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam (disebut thulaqā’).Jumlah pasukan kaum Muslimin saat itu mencapai 12.000 orang, sedangkan jumlah musuh sekitar 4.000 orang. Melihat jumlah yang besar itu, sebagian kaum Muslimin merasa bangga dan percaya diri berlebihan. Bahkan ada yang berkata, “Hari ini kita tidak akan dikalahkan karena jumlah yang sedikit.”Namun, ketika kedua pasukan bertemu, kabilah Hawazin melakukan serangan mendadak secara serempak. Kaum Muslimin pun kocar-kacir. Mereka lari tanpa sempat saling memperhatikan satu sama lain.Yang tetap bertahan bersama Rasulullah ﷺ hanya sekitar seratus orang saja. Mereka berdiri kokoh membela beliau dan terus melawan musuh.Dalam kondisi genting itu, Rasulullah ﷺ maju ke arah musuh sambil menunggangi bagalnya dan berseru dengan penuh keyakinan:أَنَا النَّبِيُّ لَا كَذِبْ، أَنَا ابْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ“Aku adalah Nabi, bukan dusta. Aku adalah putra Abdul Muththalib.”Ketika melihat keadaan pasukan yang tercerai-berai, Nabi ﷺ memerintahkan Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib — yang dikenal memiliki suara sangat lantang — untuk memanggil kaum Anshar dan kaum Muslimin lainnya. Ia pun berseru: “Wahai para sahabat yang pernah berbaiat di bawah pohon (Ashab as-Samurah)! Wahai para penghafal Surah Al-Baqarah!”Begitu mereka mendengar seruan itu, mereka segera berbalik. Dengan semangat yang menyala, mereka kembali bersatu seperti satu tubuh yang kokoh. Mereka menyerang musuh dengan kekuatan penuh.Akhirnya Allah memberikan kemenangan besar. Kaum musyrikin mengalami kekalahan telak. Kaum Muslimin berhasil menguasai perkemahan mereka, serta mendapatkan harta dan tawanan.Itulah yang dimaksud dalam firman Allah:“Sesungguhnya Allah telah menolong kalian di banyak medan peperangan dan pada hari Hunain.”Hunain adalah nama sebuah tempat antara Makkah dan Thaif, lokasi terjadinya pertempuran tersebut.Firman-Nya:“yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun.”Yakni ketika jumlah kalian yang banyak itu membuat kalian merasa kagum dan percaya diri, tetapi ternyata tidak memberi manfaat sedikit pun — baik banyak maupun sedikit.“dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu.”Artinya, bumi terasa sempit bagi kalian karena rasa sedih, takut, dan tekanan batin akibat kekalahan yang kalian alami — padahal bumi itu luas.“kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.”Kemudian kalian berpaling ke belakang dalam keadaan melarikan diri dari medan perang. Kemenangan Setelah Hati DiteguhkanAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ أَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ۚ وَذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلْكَٰفِرِينَ“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 26)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Allah Ta’ala berfirman: “Kemudian Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman.”Yang dimaksud dengan sakinah adalah ketenangan dan keteguhan yang Allah tanamkan ke dalam hati pada saat terjadi kegoncangan, kekacauan, dan situasi yang menakutkan. Dengan sakinah itu, hati menjadi kokoh, tidak mudah goyah, kembali tenang, dan dipenuhi rasa tenteram.Sakinah adalah salah satu nikmat Allah yang sangat besar bagi hamba-hamba-Nya. Ketika keadaan di luar penuh tekanan, Allah menurunkan ketenangan di dalam hati. Itulah kekuatan sejati seorang mukmin.“Dan Allah menurunkan bala tentara yang tidak kalian lihat.”Yang dimaksud adalah para malaikat. Allah menurunkan mereka sebagai bentuk pertolongan kepada kaum Muslimin pada Perang Hunain. Para malaikat itu meneguhkan hati kaum beriman dan memberikan kabar gembira tentang kemenangan.Pertolongan Allah tidak selalu terlihat oleh mata, tetapi dampaknya nyata dalam kemenangan dan perubahan keadaan.“Dan Allah mengazab orang-orang yang kafir.”Azab itu berupa kekalahan, terbunuhnya sebagian dari mereka, serta dikuasainya kaum Muslimin atas wanita, anak-anak, dan harta mereka.“Dan itulah balasan bagi orang-orang kafir.”Di dunia, Allah menghukum mereka dengan kekalahan dan kehinaan. Kemudian di akhirat, mereka akan dikembalikan kepada azab yang jauh lebih berat dan pedih. Pintu Tobat yang Tetap TerbukaAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ يَتُوبُ ٱللَّهُ مِنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 27)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.“Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya.”Setelah kekalahan dan azab yang menimpa orang-orang kafir pada Perang Hunain, Allah masih membuka pintu tobat bagi siapa saja yang Dia kehendaki.Dan memang, Allah menerima tobat banyak dari mereka yang sebelumnya memerangi kaum Muslimin. Mereka kemudian datang kepada Nabi ﷺ dalam keadaan telah masuk Islam dan bertaubat dengan sungguh-sungguh.Rasulullah ﷺ pun mengembalikan kepada mereka wanita dan anak-anak yang sebelumnya menjadi tawanan perang. Ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama rahmat. Ketika seseorang benar-benar bertaubat dan masuk Islam, lembaran masa lalunya dihapuskan.“Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Artinya, Allah memiliki ampunan yang sangat luas dan rahmat yang menyeluruh.Dia mengampuni dosa-dosa yang besar bagi siapa saja yang bertaubat. Dia juga merahmati hamba-hamba-Nya dengan memberi mereka taufik untuk bertaubat dan kembali taat. Bukan hanya mengampuni kesalahan mereka, Allah juga menerima tobat mereka dan menutup aib mereka.Karena itu, jangan pernah ada yang berputus asa dari ampunan dan rahmat Allah. Seberat apa pun dosa dan sebesar apa pun kesalahan yang pernah dilakukan, pintu tobat tetap terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan matahari belum terbit dari barat.Ayat ini menutup kisah Hunain dengan pelajaran agung: Allah memberi kemenangan, Allah memberi azab, dan Allah pula yang membuka pintu ampunan. Dia Mahaperkasa dalam menghukum, namun juga Maha Penyayang dalam mengampuni. Pelajaran Penting dari Perang HunainKemenangan tidak ditentukan oleh jumlah dan kekuatan, tetapi oleh pertolongan Allah semata.Rasa bangga terhadap jumlah dan kemampuan diri dapat menjadi sebab datangnya ujian dan kekalahan.Ketika hati kembali bersandar kepada Allah, sakinah (ketenangan) turun dan keadaan pun berubah.Pertolongan Allah bisa datang melalui cara yang tidak terlihat oleh mata manusia.Kekalahan orang kafir di dunia adalah bagian dari keadilan Allah sebelum azab akhirat.Setelah hukuman dan kekalahan, Allah tetap membuka pintu tobat bagi siapa saja yang mau kembali kepada-Nya.Tidak boleh ada keputusasaan dari rahmat Allah, sebesar apa pun dosa yang pernah dilakukan.Cinta kepada Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya harus lebih besar daripada cinta kepada keluarga, harta, dan dunia.—– Malam Sabtu, 11 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsHarta Rampasan Perang hikmah perang jumlah tidak menjamin kemenangan kisah kemenangan Islam pelajaran Perang Hunain peperangan dalam islam perang hunain pertolongan Allah dalam perang pintu tobat dalam Islam renungan ayat renungan quran sakinah dalam Islam sebab kekalahan kaum Muslimin tafsir Ibnu Sa'di tafsir Surah At-Taubah

Kapan Qadha Puasa Wajib Disertai Fidyah? Waspadai Kelalaian yang Satu Ini!

Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada Anda. Seseorang bertanya mengenai wanita yang belum mengqadha puasa Ramadan tahun lalu dan saat ini ia pun tidak mampu mengqadhanya karena sedang hamil. Lantas, apa yang harus ia lakukan? Apabila ia tidak berpuasa karena adanya suatu uzur, lalu uzur tersebut terus berlanjut, atau muncul uzur-uzur lain yang datang silih berganti, sehingga ia tidak memiliki kesempatan untuk mengqadha puasa tersebut, dan kini ia akan memasuki bulan Ramadan berikutnya dalam keadaan hamil, sehingga ia tidak mampu mengqadha utang puasa yang lama, juga tidak mampu berpuasa Ramadan saat ini, maka kewajiban yang harus ia lakukan kelak ketika uzurnya telah hilang adalah segera mengqadha dan mengganti puasanya. Dan tidak disyaratkan puasanya itu harus berturut-turut harinya. Namun, ia cukup mengganti jumlah harinya saja dan tidak ada kewajiban tambahan lainnya. Sedangkan jika sebenarnya ia ada kesempatan mengqadha, tapi ia sengaja menunda-nundanya, hingga kemudian ia kembali tidak mampu (karena ada uzur baru), maka dalam kondisi ini ia wajib mengqadha seluruh hari yang ia tinggalkan (saat sudah mampu nanti), sekaligus wajib membayar fidyah dengan memberi makan satu orang miskin untuk setiap satu hari utang puasanya. ===== أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ يَقُولُ امْرَأَةٌ لَمْ تَقْضِ صِيَامَ رَمَضَانَ الْمَاضِي وَحَالِيًّا لَا تَسْتَطِيعُ الْقَضَاءَ لِأَنَّهَا حَامِلٌ فَمَاذَا عَلَيْهَا؟ إِنْ كَانَتْ أَفْطَرَتْ لِعُذْرٍ ثُمَّ اسْتَمَرَّ الْعُذْرُأَوْ تَتَالَتْ عَلَيْهَا أَعْذَارٌ فَمَا اسْتَطَاعَتْ أَنْ تَقْضِيَ وَالْآنَ يَدْخُلُ عَلَيْهَا رَمَضَانُ وَهِيَ حَامِلٌ فَلَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تَقْضِيَ وَلَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ فَإِنَّ الْوَاجِبَ عَلَيْهَا مَتَى زَالَ عُذْرُهَا أَنْ تُبَادِرَ إِلَى الْقَضَاءِ وَتَقْضِيَ وَلَا يُشْتَرَطُ يَعْنِي أَنْ تَجْعَلَ الأَيَّامَ مُتَتَابِعَةً لَكِنْ تَقْضِي وَلَا شَيْءَ عَلَيْهَا أَمَّا إِنِ اسْتَطَاعَتِ الْقَضَاءَ لَكِنَّهَا أَخَّرَتْ ثُمَّ أَصْبَحَتْ لَا تَسْتَطِيعُ فَإِنَّ هَذَا يَجِبُ عَلَيْهَا أَنْ تَقْضِيَ كُلَّ يَوْمٍ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ وَتُطْعِمَ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا

Kapan Qadha Puasa Wajib Disertai Fidyah? Waspadai Kelalaian yang Satu Ini!

Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada Anda. Seseorang bertanya mengenai wanita yang belum mengqadha puasa Ramadan tahun lalu dan saat ini ia pun tidak mampu mengqadhanya karena sedang hamil. Lantas, apa yang harus ia lakukan? Apabila ia tidak berpuasa karena adanya suatu uzur, lalu uzur tersebut terus berlanjut, atau muncul uzur-uzur lain yang datang silih berganti, sehingga ia tidak memiliki kesempatan untuk mengqadha puasa tersebut, dan kini ia akan memasuki bulan Ramadan berikutnya dalam keadaan hamil, sehingga ia tidak mampu mengqadha utang puasa yang lama, juga tidak mampu berpuasa Ramadan saat ini, maka kewajiban yang harus ia lakukan kelak ketika uzurnya telah hilang adalah segera mengqadha dan mengganti puasanya. Dan tidak disyaratkan puasanya itu harus berturut-turut harinya. Namun, ia cukup mengganti jumlah harinya saja dan tidak ada kewajiban tambahan lainnya. Sedangkan jika sebenarnya ia ada kesempatan mengqadha, tapi ia sengaja menunda-nundanya, hingga kemudian ia kembali tidak mampu (karena ada uzur baru), maka dalam kondisi ini ia wajib mengqadha seluruh hari yang ia tinggalkan (saat sudah mampu nanti), sekaligus wajib membayar fidyah dengan memberi makan satu orang miskin untuk setiap satu hari utang puasanya. ===== أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ يَقُولُ امْرَأَةٌ لَمْ تَقْضِ صِيَامَ رَمَضَانَ الْمَاضِي وَحَالِيًّا لَا تَسْتَطِيعُ الْقَضَاءَ لِأَنَّهَا حَامِلٌ فَمَاذَا عَلَيْهَا؟ إِنْ كَانَتْ أَفْطَرَتْ لِعُذْرٍ ثُمَّ اسْتَمَرَّ الْعُذْرُأَوْ تَتَالَتْ عَلَيْهَا أَعْذَارٌ فَمَا اسْتَطَاعَتْ أَنْ تَقْضِيَ وَالْآنَ يَدْخُلُ عَلَيْهَا رَمَضَانُ وَهِيَ حَامِلٌ فَلَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تَقْضِيَ وَلَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ فَإِنَّ الْوَاجِبَ عَلَيْهَا مَتَى زَالَ عُذْرُهَا أَنْ تُبَادِرَ إِلَى الْقَضَاءِ وَتَقْضِيَ وَلَا يُشْتَرَطُ يَعْنِي أَنْ تَجْعَلَ الأَيَّامَ مُتَتَابِعَةً لَكِنْ تَقْضِي وَلَا شَيْءَ عَلَيْهَا أَمَّا إِنِ اسْتَطَاعَتِ الْقَضَاءَ لَكِنَّهَا أَخَّرَتْ ثُمَّ أَصْبَحَتْ لَا تَسْتَطِيعُ فَإِنَّ هَذَا يَجِبُ عَلَيْهَا أَنْ تَقْضِيَ كُلَّ يَوْمٍ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ وَتُطْعِمَ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا
Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada Anda. Seseorang bertanya mengenai wanita yang belum mengqadha puasa Ramadan tahun lalu dan saat ini ia pun tidak mampu mengqadhanya karena sedang hamil. Lantas, apa yang harus ia lakukan? Apabila ia tidak berpuasa karena adanya suatu uzur, lalu uzur tersebut terus berlanjut, atau muncul uzur-uzur lain yang datang silih berganti, sehingga ia tidak memiliki kesempatan untuk mengqadha puasa tersebut, dan kini ia akan memasuki bulan Ramadan berikutnya dalam keadaan hamil, sehingga ia tidak mampu mengqadha utang puasa yang lama, juga tidak mampu berpuasa Ramadan saat ini, maka kewajiban yang harus ia lakukan kelak ketika uzurnya telah hilang adalah segera mengqadha dan mengganti puasanya. Dan tidak disyaratkan puasanya itu harus berturut-turut harinya. Namun, ia cukup mengganti jumlah harinya saja dan tidak ada kewajiban tambahan lainnya. Sedangkan jika sebenarnya ia ada kesempatan mengqadha, tapi ia sengaja menunda-nundanya, hingga kemudian ia kembali tidak mampu (karena ada uzur baru), maka dalam kondisi ini ia wajib mengqadha seluruh hari yang ia tinggalkan (saat sudah mampu nanti), sekaligus wajib membayar fidyah dengan memberi makan satu orang miskin untuk setiap satu hari utang puasanya. ===== أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ يَقُولُ امْرَأَةٌ لَمْ تَقْضِ صِيَامَ رَمَضَانَ الْمَاضِي وَحَالِيًّا لَا تَسْتَطِيعُ الْقَضَاءَ لِأَنَّهَا حَامِلٌ فَمَاذَا عَلَيْهَا؟ إِنْ كَانَتْ أَفْطَرَتْ لِعُذْرٍ ثُمَّ اسْتَمَرَّ الْعُذْرُأَوْ تَتَالَتْ عَلَيْهَا أَعْذَارٌ فَمَا اسْتَطَاعَتْ أَنْ تَقْضِيَ وَالْآنَ يَدْخُلُ عَلَيْهَا رَمَضَانُ وَهِيَ حَامِلٌ فَلَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تَقْضِيَ وَلَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ فَإِنَّ الْوَاجِبَ عَلَيْهَا مَتَى زَالَ عُذْرُهَا أَنْ تُبَادِرَ إِلَى الْقَضَاءِ وَتَقْضِيَ وَلَا يُشْتَرَطُ يَعْنِي أَنْ تَجْعَلَ الأَيَّامَ مُتَتَابِعَةً لَكِنْ تَقْضِي وَلَا شَيْءَ عَلَيْهَا أَمَّا إِنِ اسْتَطَاعَتِ الْقَضَاءَ لَكِنَّهَا أَخَّرَتْ ثُمَّ أَصْبَحَتْ لَا تَسْتَطِيعُ فَإِنَّ هَذَا يَجِبُ عَلَيْهَا أَنْ تَقْضِيَ كُلَّ يَوْمٍ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ وَتُطْعِمَ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا


Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada Anda. Seseorang bertanya mengenai wanita yang belum mengqadha puasa Ramadan tahun lalu dan saat ini ia pun tidak mampu mengqadhanya karena sedang hamil. Lantas, apa yang harus ia lakukan? Apabila ia tidak berpuasa karena adanya suatu uzur, lalu uzur tersebut terus berlanjut, atau muncul uzur-uzur lain yang datang silih berganti, sehingga ia tidak memiliki kesempatan untuk mengqadha puasa tersebut, dan kini ia akan memasuki bulan Ramadan berikutnya dalam keadaan hamil, sehingga ia tidak mampu mengqadha utang puasa yang lama, juga tidak mampu berpuasa Ramadan saat ini, maka kewajiban yang harus ia lakukan kelak ketika uzurnya telah hilang adalah segera mengqadha dan mengganti puasanya. Dan tidak disyaratkan puasanya itu harus berturut-turut harinya. Namun, ia cukup mengganti jumlah harinya saja dan tidak ada kewajiban tambahan lainnya. Sedangkan jika sebenarnya ia ada kesempatan mengqadha, tapi ia sengaja menunda-nundanya, hingga kemudian ia kembali tidak mampu (karena ada uzur baru), maka dalam kondisi ini ia wajib mengqadha seluruh hari yang ia tinggalkan (saat sudah mampu nanti), sekaligus wajib membayar fidyah dengan memberi makan satu orang miskin untuk setiap satu hari utang puasanya. ===== أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ يَقُولُ امْرَأَةٌ لَمْ تَقْضِ صِيَامَ رَمَضَانَ الْمَاضِي وَحَالِيًّا لَا تَسْتَطِيعُ الْقَضَاءَ لِأَنَّهَا حَامِلٌ فَمَاذَا عَلَيْهَا؟ إِنْ كَانَتْ أَفْطَرَتْ لِعُذْرٍ ثُمَّ اسْتَمَرَّ الْعُذْرُأَوْ تَتَالَتْ عَلَيْهَا أَعْذَارٌ فَمَا اسْتَطَاعَتْ أَنْ تَقْضِيَ وَالْآنَ يَدْخُلُ عَلَيْهَا رَمَضَانُ وَهِيَ حَامِلٌ فَلَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تَقْضِيَ وَلَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ فَإِنَّ الْوَاجِبَ عَلَيْهَا مَتَى زَالَ عُذْرُهَا أَنْ تُبَادِرَ إِلَى الْقَضَاءِ وَتَقْضِيَ وَلَا يُشْتَرَطُ يَعْنِي أَنْ تَجْعَلَ الأَيَّامَ مُتَتَابِعَةً لَكِنْ تَقْضِي وَلَا شَيْءَ عَلَيْهَا أَمَّا إِنِ اسْتَطَاعَتِ الْقَضَاءَ لَكِنَّهَا أَخَّرَتْ ثُمَّ أَصْبَحَتْ لَا تَسْتَطِيعُ فَإِنَّ هَذَا يَجِبُ عَلَيْهَا أَنْ تَقْضِيَ كُلَّ يَوْمٍ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ وَتُطْعِمَ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا

Tafsir Surah Al-Anfal tentang Perang Badar: Ujian Harta dan Kemenangan dari Allah

Perang Badar bukan sekadar kemenangan militer pertama kaum Muslimin. Surah Al-Anfal (juz kesembilan) mengungkap sisi yang lebih dalam: ujian iman, konflik harta, doa di saat genting, hingga aturan pembagian ghanimah. Dari peristiwa ini, kita belajar bahwa kemenangan sejati lahir dari hati yang bertakwa dan tunduk kepada Allah. Baca juga: Faedah Sirah Nabi: Perang Badar Kubra dan Pelajaran di Dalamnya  Daftar Isi tutup 1. Rebutan Harta atau Perbaikan Hati? 2. Ujian Harta dan Ukuran Iman 3. Ketika Allah Menghendaki yang Lebih Besar dari yang Kita Inginkan 4. Kemenangan Turun Bersama Doa 5. Aturan Pembagian Harta Rampasan 6. Allah yang Mempertemukan Dua Pasukan 7. Pelajaran Menarik dari Ayat-Ayat Perang Badar 8. Doa Penutup  Rebutan Harta atau Perbaikan Hati?Allah Ta’ala berfirman,يَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلْأَنفَالِ ۖ قُلِ ٱلْأَنفَالُ لِلَّهِ وَٱلرَّسُولِ ۖ فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَأَصْلِحُوا۟ ذَاتَ بَيْنِكُمْ ۖ وَأَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ“Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang kepunyaan Allah dan Rasul, oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu; dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman“.” (QS. Al-Anfal: 1) Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.Al-anfāl adalah harta rampasan perang yang Allah anugerahkan kepada umat ini dari harta orang-orang kafir. Ayat-ayat dalam surah ini turun berkaitan dengan peristiwa Perang Badar, yaitu rampasan perang besar pertama yang diperoleh kaum Muslimin dari kaum musyrikin.Saat itu, terjadi perselisihan di antara sebagian kaum Muslimin mengenai pembagian harta rampasan tersebut. Mereka pun bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang bagaimana cara membaginya dan kepada siapa saja harta itu diberikan.Baca juga: Perang Sudan dan Rebutan Gunung Emas: Sebuah Peringatan tentang Fitnah HartaMaka Allah menurunkan firman-Nya, “Mereka bertanya kepadamu tentang al-anfāl…” Maksudnya, mereka bertanya bagaimana harta itu dibagi dan siapa yang berhak menerimanya.Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk menjawab, “Al-anfāl itu milik Allah dan Rasul.” Artinya, penentuan pembagiannya berada di tangan Allah dan Rasul-Nya. Keduanya berhak menempatkannya sesuai kehendak dan kebijaksanaan-Nya. Tidak ada ruang bagi siapa pun untuk memprotes atau menolak keputusan Allah dan Rasul-Nya.Yang seharusnya dilakukan kaum beriman adalah ridha terhadap ketetapan Allah dan Rasul-Nya, serta menyerahkan sepenuhnya urusan itu kepada keduanya. Sikap ini termasuk dalam perintah, “Maka bertakwalah kepada Allah,” yaitu dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.Kemudian Allah berfirman, “Perbaikilah hubungan di antara kalian.” Maksudnya, perbaikilah segala bentuk perselisihan, permusuhan, dan saling membelakangi yang terjadi di antara kalian. Gantilah itu dengan sikap saling mencintai, saling menyayangi, dan saling menyambung hubungan.Dengan memperbaiki hubungan, persatuan akan terwujud. Permusuhan, pertengkaran, dan perselisihan yang muncul akibat perpecahan pun akan sirna.Termasuk dalam memperbaiki hubungan adalah memperindah akhlak kepada sesama, serta memaafkan orang yang berbuat salah. Dengan sikap ini, banyak kebencian dan rasa tidak suka yang tersimpan di dalam hati akan hilang.Semua itu terangkum dalam firman-Nya, “Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya jika kalian benar-benar orang-orang yang beriman.” Iman yang benar akan mendorong seseorang untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebaliknya, siapa yang tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka itu menunjukkan bahwa imannya tidak sempurna, bahkan tidak ada sama sekali. Ujian Harta dan Ukuran ImanPada ayat pertama Surah Al-Anfal, Allah membahas tentang perselisihan kaum Muslimin terkait harta rampasan perang setelah Perang Badar. Di sana Allah menegaskan bahwa al-anfāl adalah milik Allah dan Rasul-Nya. Solusinya bukan sekadar teknis pembagian, tetapi perintah takwa, memperbaiki hubungan, dan menaati Allah serta Rasul-Nya.Lalu mengapa setelah membahas harta rampasan, Allah langsung berbicara tentang ciri-ciri orang beriman sejati?Di sinilah letak keindahan susunan ayat-ayat ini.Perselisihan tentang harta menunjukkan bahwa iman sedang diuji. Ketika harta mulai dibicarakan, hati manusia mudah berubah. Rasa ingin memiliki, merasa paling berhak, atau takut tidak mendapatkan bagian, bisa mengganggu persatuan.Karena itu Allah seakan menegaskan:Jika kalian benar-benar beriman, maka inilah cirinya.Bukan sekadar ikut perang.Bukan sekadar mendapatkan ghanimah.Tetapi:Hatinya bergetar saat nama Allah disebut.Imannya bertambah ketika ayat dibacakan.Ia bertawakal penuh kepada Allah.Ia menegakkan shalat.Ia menginfakkan rezekinya.Artinya, solusi konflik harta bukan pertama-tama pada pembagian angka, tetapi pada kualitas iman.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfal: 2)ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ“(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. Al-Anfal: 3)أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَّهُمْ دَرَجَٰتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ“Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfal: 4)Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.Penjelasan ayat keduaSiapa pun yang ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya berkurang, maka itu menunjukkan bahwa imannya pun berkurang.Karena iman itu terbagi menjadi dua:Iman yang sempurna, yang mendatangkan pujian, sanjungan, dan kemenangan yang sempurna.Iman yang belum sempurna, yang berada di bawah tingkatan tersebut.Dalam ayat ini, Allah menjelaskan tentang iman yang sempurna.Firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman…” Kata “al” pada al-mu’minūn menunjukkan cakupan seluruh sifat dan syariat iman. Artinya, inilah ciri-ciri orang yang benar-benar beriman secara sempurna.“(Yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah, hati mereka bergetar.”Maksudnya, hati mereka merasa takut dan gentar. Rasa takut kepada Allah ini membuat mereka menjauhi segala yang diharamkan. Salah satu tanda terbesar dari rasa takut kepada Allah adalah ketika rasa itu mampu menahan seseorang dari perbuatan dosa.“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka.”Hal ini terjadi karena mereka benar-benar mendengarkan, menghadirkan hati, dan merenungkan ayat-ayat tersebut. Dengan perenungan itulah iman mereka bertambah.Iman bertambah karena beberapa sebab:Tadabbur (merenungkan) ayat-ayat Allah adalah amalan hati.Mereka memahami makna yang sebelumnya belum mereka ketahui.Mereka teringat kembali pada kebenaran yang sempat mereka lupakan.Tumbuh dalam hati mereka keinginan kuat untuk berbuat kebaikan dan kerinduan terhadap kemuliaan dari Rabb mereka.Timbul rasa takut terhadap siksa dan dorongan untuk menjauhi maksiat.Semua hal itu menyebabkan iman semakin bertambah.“Dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.”Artinya, mereka bersandar dengan hati sepenuhnya hanya kepada Allah semata, tanpa menyekutukan-Nya. Mereka bergantung kepada-Nya dalam meraih berbagai kebaikan dan menolak segala keburukan, baik dalam urusan agama maupun urusan dunia. Mereka yakin sepenuhnya bahwa Allah akan mencukupi dan menolong mereka.Tawakal inilah yang menjadi pendorong seluruh amal. Tidak ada satu pun amal yang bisa terwujud dan sempurna kecuali dengan tawakal kepada Allah.Penjelasan ayat ketiga“(Yaitu) orang-orang yang menegakkan shalat…”Maksudnya, mereka melaksanakan shalat, baik yang wajib maupun yang sunnah, dengan menyempurnakan amalan-amalan lahiriah dan batiniahnya. Termasuk di dalamnya adalah menghadirkan hati saat shalat, karena kehadiran hati itulah ruh dan inti shalat. Tanpa kekhusyukan dan perhatian hati, shalat hanya menjadi gerakan tanpa makna.“Dan dari sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, mereka menginfakkan.”Artinya, mereka mengeluarkan sebagian harta yang Allah karuniakan kepada mereka untuk berbagai bentuk pengeluaran yang diperintahkan.Infak tersebut mencakup:Nafkah yang wajib, seperti zakat, kafarat (denda pelanggaran syariat), nafkah untuk istri, kerabat, serta hamba sahaya yang berada di bawah tanggungannya.Nafkah yang sunnah, seperti sedekah dalam berbagai jalan kebaikan.Dengan demikian, mereka adalah orang-orang yang menunaikan hak Allah melalui ibadah shalat dan menunaikan hak sesama manusia melalui infak dan kedermawanan. Penjelasan ayat keempatMereka itulah—yakni orang-orang yang memiliki sifat-sifat mulia yang telah disebutkan sebelumnya—adalah orang-orang yang benar-benar beriman.Mengapa mereka disebut sebagai orang yang beriman dengan sebenar-benarnya? Karena mereka memadukan antara Islam dan iman, antara amal hati dan amal anggota badan, antara ilmu dan pengamalan, serta antara menunaikan hak Allah dan hak sesama manusia.Allah mendahulukan penyebutan amal-amal hati karena amal hati adalah fondasi dari amal anggota badan, bahkan kedudukannya lebih utama. Amal lahiriah tidak akan bernilai tanpa didasari oleh amal batin.Ayat ini juga menunjukkan bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang. Ia bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat. Karena itu, seorang hamba hendaknya selalu menjaga, memelihara, dan menumbuhkan imannya.Sarana utama untuk menumbuhkan iman adalah dengan mentadabburi Kitabullah dan merenungkan makna-maknanya secara mendalam.Kemudian Allah menyebutkan balasan bagi orang-orang yang benar-benar beriman itu:“Bagi mereka derajat-derajat di sisi Tuhan mereka.”Yakni derajat yang tinggi, sesuai dengan tingginya amal dan kualitas iman mereka.“Dan ampunan.”Yaitu pengampunan atas dosa-dosa mereka.“Dan rezeki yang mulia.”Yaitu segala kenikmatan yang Allah siapkan bagi mereka di negeri kemuliaan (surga), berupa kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia.Ayat ini juga menunjukkan bahwa siapa saja yang tidak mencapai tingkatan iman mereka, meskipun ia masuk surga, tidak akan memperoleh kemuliaan yang sempurna sebagaimana yang mereka peroleh. Ketika Allah Menghendaki yang Lebih Besar dari yang Kita InginkanAllah Ta’ala berfirman,كَمَآ أَخْرَجَكَ رَبُّكَ مِنۢ بَيْتِكَ بِٱلْحَقِّ وَإِنَّ فَرِيقًا مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ لَكَٰرِهُونَ“Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dan rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya.” (QS. Al-Anfal: 5)يُجَٰدِلُونَكَ فِى ٱلْحَقِّ بَعْدَمَا تَبَيَّنَ كَأَنَّمَا يُسَاقُونَ إِلَى ٱلْمَوْتِ وَهُمْ يَنظُرُونَ“Mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu).” (QS. Al-Anfal: 6)وَإِذْ يَعِدُكُمُ ٱللَّهُ إِحْدَى ٱلطَّآئِفَتَيْنِ أَنَّهَا لَكُمْ وَتَوَدُّونَ أَنَّ غَيْرَ ذَاتِ ٱلشَّوْكَةِ تَكُونُ لَكُمْ وَيُرِيدُ ٱللَّهُ أَن يُحِقَّ ٱلْحَقَّ بِكَلِمَٰتِهِۦ وَيَقْطَعَ دَابِرَ ٱلْكَٰفِرِينَ“Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir.” (QS. Al-Anfal: 7)لِيُحِقَّ ٱلْحَقَّ وَيُبْطِلَ ٱلْبَٰطِلَ وَلَوْ كَرِهَ ٱلْمُجْرِمُونَ“Agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya.” (QS. Al-Anfal: 8)Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.Sebelum menceritakan perang besar yang penuh keberkahan ini (Perang Badar), Allah terlebih dahulu menyebutkan sifat-sifat yang seharusnya dimiliki oleh kaum mukminin. Sebab, siapa yang menghiasi dirinya dengan sifat-sifat tersebut, maka keadaannya akan lurus dan amal-amalnya akan baik. Di antara amal terbesar itu adalah jihad di jalan Allah.Sebagaimana iman mereka adalah iman yang benar, dan balasan yang dijanjikan Allah kepada mereka adalah benar, demikian pula Allah mengeluarkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dari rumahnya menuju pertemuan dengan kaum musyrikin di Badar dengan membawa kebenaran yang Allah cintai, yang telah Dia tetapkan dan takdirkan.Namun pada awalnya, kaum mukminin tidak menyangka bahwa keberangkatan itu akan berujung pada peperangan melawan musuh. Ketika akhirnya jelas bahwa pertempuran akan terjadi, sebagian dari kaum mukminin mulai berdiskusi dan berdebat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka merasa tidak suka menghadapi musuh, seakan-akan mereka sedang digiring menuju kematian, sementara mereka melihatnya dengan mata kepala sendiri.Padahal sikap seperti itu tidak sepatutnya muncul dari mereka, terlebih setelah jelas bahwa keberangkatan itu adalah atas dasar kebenaran dan merupakan perintah serta keridaan Allah.Dalam kondisi seperti itu, tidak ada lagi ruang untuk perdebatan. Perdebatan hanya relevan ketika kebenaran belum jelas dan perkara masih samar. Adapun ketika kebenaran telah nyata dan terang, maka yang tersisa hanyalah sikap tunduk dan patuh.Perlu diketahui, banyak dari kaum mukminin yang sama sekali tidak terlibat dalam perdebatan tersebut dan tidak merasa keberatan menghadapi musuh. Bahkan mereka yang sempat ditegur oleh Allah pun akhirnya tunduk sepenuhnya untuk berjihad. Allah pun meneguhkan hati mereka dan menyediakan berbagai sebab yang membuat hati mereka menjadi tenang, sebagaimana akan disebutkan kemudian.Awal mula keberangkatan mereka adalah untuk menghadang kafilah dagang Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb menuju Syam. Kafilah itu sangat besar. Ketika terdengar kabar bahwa kafilah tersebut sedang kembali dari Syam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak kaum Muslimin untuk keluar.Maka berangkatlah bersama beliau sekitar tiga ratus lebih sedikit orang. Mereka hanya memiliki tujuh puluh ekor unta yang digunakan secara bergantian, baik untuk ditunggangi maupun membawa perbekalan.Kaum Quraisy mendengar kabar tentang pergerakan kaum Muslimin. Mereka pun keluar untuk melindungi kafilah mereka, dengan jumlah pasukan yang besar dan persenjataan lengkap, terdiri dari sekitar seribu orang dengan perlengkapan senjata dan kuda.Allah menjanjikan kepada kaum mukminin bahwa mereka akan mendapatkan salah satu dari dua kelompok:Entah mereka akan menguasai kafilah,Atau menghadapi pasukan Quraisy.Kaum Muslimin lebih menginginkan kafilah, karena kondisi mereka yang serba terbatas dan karena kafilah itu tidak memiliki kekuatan militer yang besar. Namun Allah menghendaki untuk mereka sesuatu yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada yang mereka inginkan.Allah menghendaki agar mereka berhadapan dengan pasukan Quraisy yang di dalamnya terdapat para pembesar dan tokoh-tokoh utama kaum musyrikin.Allah berfirman, “Dan Allah menghendaki untuk menegakkan kebenaran dengan kalimat-kalimat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir sampai ke akar-akarnya. Agar Dia menegakkan kebenaran dan membatalkan kebatilan, walaupun orang-orang yang berdosa itu tidak menyukainya.”Allah ingin memenangkan kebenaran dan menolong para pembelanya. Dia ingin memusnahkan kebatilan dan para pelakunya hingga ke akar-akarnya. Allah ingin memperlihatkan kepada hamba-hamba-Nya bukti nyata pertolongan-Nya terhadap kebenaran, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terlintas dalam benak mereka.Dengan peristiwa itu, kebenaran semakin jelas melalui tanda-tanda dan bukti-bukti yang nyata. Kebatilan pun tampak kerusakan dan kelemahannya melalui dalil dan peristiwa yang Allah tampakkan, meskipun orang-orang yang berdosa membencinya. Allah tidak memedulikan kebencian mereka terhadap tegaknya kebenaran. Kemenangan Turun Bersama DoaAllah Ta’ala berfirman,إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَٱسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّى مُمِدُّكُم بِأَلْفٍ مِّنَ ٱلْمَلَٰٓئِكَةِ مُرْدِفِينَ“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut”.” (QS. Al-Anfal: 9)Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.Ingatlah nikmat Allah atas kalian, ketika saat pertemuan dengan musuh sudah begitu dekat. Dalam keadaan genting itu, kalian memohon pertolongan kepada Rabb kalian. Kalian berdoa dan merendahkan diri, meminta agar Allah menolong dan menguatkan kalian. Maka Allah pun mengabulkan permohonan kalian. Dia menyelamatkan dan menolong kalian dengan berbagai bentuk pertolongan.Di antara bentuk pertolongan itu adalah Allah mengirimkan kepada kalian seribu malaikat sebagai bala bantuan.Murdifīn artinya para malaikat itu datang secara beriringan, saling menyusul satu sama lain. Mereka turun sebagai pasukan bantuan yang memperkuat barisan kaum mukminin.Ini menunjukkan bahwa kemenangan yang diraih bukan semata-mata karena kekuatan jumlah atau perlengkapan, tetapi karena pertolongan Allah yang turun sebagai jawaban atas doa dan istighatsah (permohonan pertolongan) yang tulus dari kaum beriman. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا جَعَلَهُ ٱللَّهُ إِلَّا بُشْرَىٰ وَلِتَطْمَئِنَّ بِهِۦ قُلُوبُكُمْ ۚ وَمَا ٱلنَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِندِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ“Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfal: 10)Allah tidak menjadikan turunnya para malaikat itu kecuali sebagai kabar gembira bagi kalian, agar jiwa kalian merasa senang dan penuh harapan.Selain itu, Allah juga menjadikannya sebagai sebab agar hati kalian menjadi tenang dan mantap. Dengan mengetahui bahwa bala bantuan dari langit telah datang, rasa gentar dan kekhawatiran pun berubah menjadi keyakinan dan keberanian.Namun hakikatnya, kemenangan bukanlah karena banyaknya jumlah pasukan atau lengkapnya persenjataan. Kemenangan itu semata-mata datang dari sisi Allah.Firman-Nya, “Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah,” menegaskan bahwa sebab-sebab lahiriah hanyalah sarana. Adapun penentu kemenangan yang sebenarnya adalah kehendak dan pertolongan Allah.“Sesungguhnya Allah Mahaperkasa (ʿAzīz).”Tidak ada yang mampu mengalahkan-Nya. Dia Mahakuat dan Mahamengalahkan. Dia dapat menundukkan siapa pun, sekalipun mereka memiliki jumlah besar dan perlengkapan yang lengkap.“Lagi Mahabijaksana (Ḥakīm).”Dia menetapkan segala sesuatu dengan hikmah. Dia mengatur berbagai peristiwa dengan sebab-sebab yang sesuai dan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang tepat.Maka kemenangan di Badar bukan sekadar peristiwa militer, melainkan bukti nyata kekuasaan dan hikmah Allah dalam menolong hamba-hamba-Nya yang beriman.Oleh karenanya, Allah menegaskan di ayat 17,فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ قَتَلَهُمْ ۚ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ رَمَىٰ ۚ وَلِيُبْلِىَ ٱلْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلَآءً حَسَنًا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 17)Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.Allah Ta’ala berfirman tentang peristiwa ketika kaum musyrikin kalah dalam Perang Badar dan banyak dari mereka terbunuh oleh kaum Muslimin:“Maka bukanlah kalian yang membunuh mereka, tetapi Allah-lah yang membunuh mereka.”Artinya, bukan karena kekuatan dan kemampuan kalian semata mereka bisa dikalahkan. Namun Allah-lah yang menolong dan membantu kalian dengan berbagai sebab yang telah disebutkan sebelumnya.Kemudian Allah berfirman,“Dan bukanlah engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah-lah yang melempar.”Peristiwa ini terjadi ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di tengah peperangan, masuk ke dalam tenda (arisy) dan berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah, memohon pertolongan dan kemenangan. Setelah itu, beliau keluar, mengambil segenggam tanah, lalu melemparkannya ke arah wajah kaum musyrikin.Dengan kekuasaan Allah, tanah itu sampai ke wajah-wajah mereka. Tidak ada seorang pun dari mereka kecuali terkena tanah tersebut di wajah, mulut, atau matanya. Saat itulah kekuatan mereka runtuh, semangat mereka melemah, tampak pada diri mereka kegagalan dan kelemahan, lalu mereka pun lari dalam kekalahan.Allah menegaskan kepada Nabi-Nya: bukan dengan kekuatanmu tanah itu sampai ke mata-mata mereka. Kamilah yang menyampaikannya dengan kekuasaan dan kemampuan Kami.Kemudian Allah berfirman,“Dan agar Dia memberikan kepada orang-orang mukmin suatu ujian yang baik.”Maksudnya, Allah sebenarnya mampu memenangkan kaum mukminin tanpa peperangan sama sekali. Namun Allah menghendaki untuk menguji mereka, agar melalui jihad mereka mencapai derajat yang tinggi dan kedudukan yang mulia. Allah ingin memberi mereka pahala yang besar dan balasan yang indah.Dan Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya,“Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”Dia Maha Mendengar apa yang diucapkan hamba, baik yang disembunyikan maupun yang dinyatakan. Dia Maha Mengetahui apa yang ada di dalam hati, baik niat yang baik maupun sebaliknya. Maka Allah menetapkan berbagai ketentuan bagi hamba-hamba-Nya sesuai dengan ilmu, hikmah, dan kemaslahatan mereka. Dan Dia membalas setiap orang sesuai dengan niat dan amalnya. Aturan Pembagian Harta RampasanAllah Ta’ala berfirman,۞ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا غَنِمْتُم مِّن شَىْءٍ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُۥ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ إِن كُنتُمْ ءَامَنتُم بِٱللَّهِ وَمَآ أَنزَلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا يَوْمَ ٱلْفُرْقَانِ يَوْمَ ٱلْتَقَى ٱلْجَمْعَانِ ۗ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ“Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Anfal: 41)Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.Allah Ta’ala berfirman, “Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang kalian peroleh sebagai rampasan perang…”Yakni apa saja yang kalian ambil dari harta orang-orang kafir melalui peperangan yang sah, baik sedikit maupun banyak.“Maka sesungguhnya seperlimanya adalah untuk Allah.”Artinya, seperlima dari harta rampasan itu dikeluarkan terlebih dahulu. Adapun sisanya menjadi hak para pejuang yang ikut dalam peperangan, sebagaimana pembagian yang telah ditetapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: bagi pejalan kaki satu bagian, sedangkan bagi penunggang kuda dua bagian untuk kudanya dan satu bagian untuk dirinya.Adapun seperlima (khumus) tersebut dibagi menjadi lima bagian:1. Bagian untuk Allah dan Rasul-Nya.Maksudnya, digunakan untuk kepentingan umum kaum Muslimin. Karena Allah dan Rasul-Nya tidak membutuhkan harta, maka jelas bahwa bagian ini diperuntukkan bagi kemaslahatan umat secara luas. Ketika Allah tidak merinci penggunaannya, itu menunjukkan bahwa ia dipakai untuk berbagai kebutuhan umum umat Islam.2. Bagian untuk kerabat (dzil qurba).Yaitu kerabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Allah menyebutkan “kerabat” sebagai sebab pemberian tersebut, sehingga kaya maupun miskin, laki-laki maupun perempuan dari kalangan mereka, semuanya berhak atas bagian ini.3. Bagian untuk anak-anak yatim.Yaitu anak-anak yang ditinggal wafat ayahnya dalam keadaan masih kecil. Allah memberikan bagian ini sebagai bentuk kasih sayang kepada mereka, karena mereka belum mampu mengurus kebutuhan diri dan telah kehilangan penanggung nafkahnya.4. Bagian untuk orang-orang miskin.Yaitu kaum fakir yang membutuhkan, baik kecil maupun dewasa, laki-laki maupun perempuan.5. Bagian untuk ibnu sabil.Yaitu musafir yang terputus bekalnya di negeri orang.Sebagian ulama berpendapat bahwa seperlima ini tidak harus dibagi rata kepada semua golongan, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan dan kemaslahatan. Pendapat ini lebih kuat karena pembagian tersebut mengikuti maslahat yang ada.Kemudian Allah menjadikan pelaksanaan pembagian khumus ini sebagai bagian dari konsekuensi iman. Allah berfirman, “Jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami pada hari Furqan.”Yang dimaksud dengan hari Furqan adalah hari Perang Badar, hari ketika Allah membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Pada hari itu, Allah menampakkan kebenaran dan menghancurkan kebatilan.“Yaitu hari bertemunya dua pasukan,” yakni pasukan kaum Muslimin dan pasukan kaum kafir.Seakan-akan Allah berfirman: Jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan kepada wahyu yang diturunkan kepada Rasul-Nya pada hari yang penuh bukti dan tanda kebenaran itu, maka tunaikanlah pembagian ini sebagaimana yang diperintahkan.Dan Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya, “Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” Tidak ada yang mampu mengalahkan-Nya. Siapa pun yang menentang-Nya pasti akan dikalahkan. Dialah yang memenangkan kaum mukminin di Badar dan menegakkan kebenaran dengan kekuasaan-Nya. Allah yang Mempertemukan Dua PasukanAllah Ta’ala berfirman,إِذْ أَنتُم بِٱلْعُدْوَةِ ٱلدُّنْيَا وَهُم بِٱلْعُدْوَةِ ٱلْقُصْوَىٰ وَٱلرَّكْبُ أَسْفَلَ مِنكُمْ ۚ وَلَوْ تَوَاعَدتُّمْ لَٱخْتَلَفْتُمْ فِى ٱلْمِيعَٰدِ ۙ وَلَٰكِن لِّيَقْضِىَ ٱللَّهُ أَمْرًا كَانَ مَفْعُولًا لِّيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنۢ بَيِّنَةٍ وَيَحْيَىٰ مَنْ حَىَّ عَنۢ بَيِّنَةٍ ۗ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَسَمِيعٌ عَلِيمٌ“(Yaitu di hari) ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat dan mereka berada di pinggir lembah yang jauh sedang kafilah itu berada di bawah kamu. Sekiranya kamu mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari pertempuran), pastilah kamu tidak sependapat dalam menentukan hari pertempuran itu, akan tetapi (Allah mempertemukan dua pasukan itu) agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan, yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 42)Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.“(Yaitu) ketika kalian berada di tepi lembah yang dekat…”Maksudnya, di sisi lembah yang lebih dekat ke arah Madinah. Sedangkan mereka (pasukan musyrikin) berada di sisi lembah yang jauh dari Madinah. Dengan demikian, kalian dan mereka berada dalam satu lembah yang sama, hanya berbeda sisi.“Dan kafilah itu berada di bawah kalian…”Yaitu kafilah dagang yang awalnya kalian tuju, tetapi Allah menghendaki selain itu, berada di posisi lebih bawah dari kalian, ke arah pantai laut.“Dan sekiranya kalian mengadakan perjanjian…”Yakni jika kalian dan mereka sepakat untuk menentukan waktu dan tempat pertemuan dalam kondisi seperti itu,“niscaya kalian akan berselisih dalam menentukan waktu.”Artinya, pasti akan terjadi perbedaan—entah ada yang datang lebih awal atau lebih lambat, memilih tempat berbeda, atau terjadi sebab-sebab lain yang menghalangi kalian dari waktu yang telah disepakati.“Tetapi…”Allah-lah yang mempertemukan kalian dalam keadaan seperti itu,“agar Allah menetapkan suatu urusan yang pasti terlaksana.”Yaitu sesuatu yang telah ditakdirkan sejak dahulu dan pasti terjadi.“Agar binasa orang yang binasa dengan bukti yang nyata.”Artinya, agar orang yang tetap dalam kekafiran melakukannya setelah jelas kebenaran di hadapannya. Ia memilih kekafiran dengan sadar dan yakin bahwa itu batil, sehingga tidak tersisa lagi alasan baginya di hadapan Allah.“Dan agar hidup orang yang hidup dengan bukti yang nyata.”Yaitu agar orang beriman semakin bertambah keyakinan dan keteguhan hatinya setelah Allah memperlihatkan kepada kedua kelompok bukti-bukti dan dalil-dalil kebenaran yang nyata. Itu menjadi pelajaran bagi orang-orang yang berakal.“Dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”Dia Maha Mendengar seluruh suara, dalam berbagai bahasa dan dengan berbagai kebutuhan. Dia Maha Mengetahui segala yang tampak maupun yang tersembunyi, apa yang ada dalam hati dan apa yang terlihat, yang gaib maupun yang nyata. Pelajaran Menarik dari Ayat-Ayat Perang Badar1. Ujian Harta Mengungkap Kualitas ImanKemenangan di medan perang langsung diikuti ujian harta. Ketika ghanimah dipersoalkan, Allah tidak langsung membahas teknis pembagian, tetapi memerintahkan takwa dan perbaikan hati. Artinya, konflik harta adalah ujian iman.2. Ciri Mukmin Sejati Bukan Sekadar Ikut BerperangIman yang benar terlihat dari hati yang bergetar saat nama Allah disebut, iman yang bertambah saat ayat dibacakan, tawakal yang kuat, shalat yang ditegakkan, dan infak yang ditunaikan. Kemenangan lahir dari kualitas iman, bukan jumlah pasukan.3. Allah Menghendaki yang Lebih Besar dari Keinginan ManusiaSahabat ingin kafilah yang mudah. Allah menghendaki pertempuran besar untuk menegakkan kebenaran. Terkadang yang kita inginkan bukan yang terbaik menurut Allah.4. Doa adalah Kunci Turunnya PertolonganSeribu malaikat turun bukan karena strategi, tetapi karena istighatsah yang tulus. Kemenangan bukan karena jumlah, tetapi karena pertolongan Allah.5. Pembagian Harta adalah Amanah ImanSeperlima ghanimah diatur secara jelas. Ada hak Allah, Rasul, kerabat, yatim, miskin, dan ibnu sabil. Keadilan dalam distribusi adalah bagian dari konsekuensi iman.6. Allah yang Mengatur Pertemuan dan TakdirPertemuan dua pasukan bukan kebetulan. Allah mempertemukan mereka agar kebenaran tampak jelas dan kebatilan runtuh tanpa alasan tersisa. Doa Penutupاللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ، وَأَنْ تَغْفِرَ لَنَا وَتَرْحَمَنَا، وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةً فِي قَوْمٍ فَتَوَفَّنَا غَيْرَ مَفْتُونِينَ، وَنَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنَا إِلَى حُبِّكَ.Ya Allah, kami memohon kepada-Mu agar Engkau memberi kami kemampuan untuk melakukan berbagai kebaikan, menjauhi segala kemungkaran, dan mencintai orang-orang miskin. Kami juga memohon agar Engkau mengampuni dan merahmati kami. Jika Engkau hendak menimpakan ujian atau fitnah kepada suatu kaum, maka wafatkanlah kami dalam keadaan tidak terkena fitnah tersebut. Dan kami memohon kepada-Mu cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu, serta cinta terhadap amal yang dapat mendekatkan kami kepada cinta-Mu. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Kamis Sore, 9 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsberperang Ghanimah dalam Islam Harta Rampasan Perang hikmah perang Kemenangan dalam Islam Pelajaran Perang Badar Pembagian Khumus perang badar renungan ayat renungan quran Surah Al-Anfal Tafsir Al-Anfal tawakal kepada Allah Ujian Iman

Tafsir Surah Al-Anfal tentang Perang Badar: Ujian Harta dan Kemenangan dari Allah

Perang Badar bukan sekadar kemenangan militer pertama kaum Muslimin. Surah Al-Anfal (juz kesembilan) mengungkap sisi yang lebih dalam: ujian iman, konflik harta, doa di saat genting, hingga aturan pembagian ghanimah. Dari peristiwa ini, kita belajar bahwa kemenangan sejati lahir dari hati yang bertakwa dan tunduk kepada Allah. Baca juga: Faedah Sirah Nabi: Perang Badar Kubra dan Pelajaran di Dalamnya  Daftar Isi tutup 1. Rebutan Harta atau Perbaikan Hati? 2. Ujian Harta dan Ukuran Iman 3. Ketika Allah Menghendaki yang Lebih Besar dari yang Kita Inginkan 4. Kemenangan Turun Bersama Doa 5. Aturan Pembagian Harta Rampasan 6. Allah yang Mempertemukan Dua Pasukan 7. Pelajaran Menarik dari Ayat-Ayat Perang Badar 8. Doa Penutup  Rebutan Harta atau Perbaikan Hati?Allah Ta’ala berfirman,يَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلْأَنفَالِ ۖ قُلِ ٱلْأَنفَالُ لِلَّهِ وَٱلرَّسُولِ ۖ فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَأَصْلِحُوا۟ ذَاتَ بَيْنِكُمْ ۖ وَأَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ“Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang kepunyaan Allah dan Rasul, oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu; dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman“.” (QS. Al-Anfal: 1) Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.Al-anfāl adalah harta rampasan perang yang Allah anugerahkan kepada umat ini dari harta orang-orang kafir. Ayat-ayat dalam surah ini turun berkaitan dengan peristiwa Perang Badar, yaitu rampasan perang besar pertama yang diperoleh kaum Muslimin dari kaum musyrikin.Saat itu, terjadi perselisihan di antara sebagian kaum Muslimin mengenai pembagian harta rampasan tersebut. Mereka pun bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang bagaimana cara membaginya dan kepada siapa saja harta itu diberikan.Baca juga: Perang Sudan dan Rebutan Gunung Emas: Sebuah Peringatan tentang Fitnah HartaMaka Allah menurunkan firman-Nya, “Mereka bertanya kepadamu tentang al-anfāl…” Maksudnya, mereka bertanya bagaimana harta itu dibagi dan siapa yang berhak menerimanya.Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk menjawab, “Al-anfāl itu milik Allah dan Rasul.” Artinya, penentuan pembagiannya berada di tangan Allah dan Rasul-Nya. Keduanya berhak menempatkannya sesuai kehendak dan kebijaksanaan-Nya. Tidak ada ruang bagi siapa pun untuk memprotes atau menolak keputusan Allah dan Rasul-Nya.Yang seharusnya dilakukan kaum beriman adalah ridha terhadap ketetapan Allah dan Rasul-Nya, serta menyerahkan sepenuhnya urusan itu kepada keduanya. Sikap ini termasuk dalam perintah, “Maka bertakwalah kepada Allah,” yaitu dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.Kemudian Allah berfirman, “Perbaikilah hubungan di antara kalian.” Maksudnya, perbaikilah segala bentuk perselisihan, permusuhan, dan saling membelakangi yang terjadi di antara kalian. Gantilah itu dengan sikap saling mencintai, saling menyayangi, dan saling menyambung hubungan.Dengan memperbaiki hubungan, persatuan akan terwujud. Permusuhan, pertengkaran, dan perselisihan yang muncul akibat perpecahan pun akan sirna.Termasuk dalam memperbaiki hubungan adalah memperindah akhlak kepada sesama, serta memaafkan orang yang berbuat salah. Dengan sikap ini, banyak kebencian dan rasa tidak suka yang tersimpan di dalam hati akan hilang.Semua itu terangkum dalam firman-Nya, “Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya jika kalian benar-benar orang-orang yang beriman.” Iman yang benar akan mendorong seseorang untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebaliknya, siapa yang tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka itu menunjukkan bahwa imannya tidak sempurna, bahkan tidak ada sama sekali. Ujian Harta dan Ukuran ImanPada ayat pertama Surah Al-Anfal, Allah membahas tentang perselisihan kaum Muslimin terkait harta rampasan perang setelah Perang Badar. Di sana Allah menegaskan bahwa al-anfāl adalah milik Allah dan Rasul-Nya. Solusinya bukan sekadar teknis pembagian, tetapi perintah takwa, memperbaiki hubungan, dan menaati Allah serta Rasul-Nya.Lalu mengapa setelah membahas harta rampasan, Allah langsung berbicara tentang ciri-ciri orang beriman sejati?Di sinilah letak keindahan susunan ayat-ayat ini.Perselisihan tentang harta menunjukkan bahwa iman sedang diuji. Ketika harta mulai dibicarakan, hati manusia mudah berubah. Rasa ingin memiliki, merasa paling berhak, atau takut tidak mendapatkan bagian, bisa mengganggu persatuan.Karena itu Allah seakan menegaskan:Jika kalian benar-benar beriman, maka inilah cirinya.Bukan sekadar ikut perang.Bukan sekadar mendapatkan ghanimah.Tetapi:Hatinya bergetar saat nama Allah disebut.Imannya bertambah ketika ayat dibacakan.Ia bertawakal penuh kepada Allah.Ia menegakkan shalat.Ia menginfakkan rezekinya.Artinya, solusi konflik harta bukan pertama-tama pada pembagian angka, tetapi pada kualitas iman.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfal: 2)ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ“(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. Al-Anfal: 3)أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَّهُمْ دَرَجَٰتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ“Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfal: 4)Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.Penjelasan ayat keduaSiapa pun yang ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya berkurang, maka itu menunjukkan bahwa imannya pun berkurang.Karena iman itu terbagi menjadi dua:Iman yang sempurna, yang mendatangkan pujian, sanjungan, dan kemenangan yang sempurna.Iman yang belum sempurna, yang berada di bawah tingkatan tersebut.Dalam ayat ini, Allah menjelaskan tentang iman yang sempurna.Firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman…” Kata “al” pada al-mu’minūn menunjukkan cakupan seluruh sifat dan syariat iman. Artinya, inilah ciri-ciri orang yang benar-benar beriman secara sempurna.“(Yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah, hati mereka bergetar.”Maksudnya, hati mereka merasa takut dan gentar. Rasa takut kepada Allah ini membuat mereka menjauhi segala yang diharamkan. Salah satu tanda terbesar dari rasa takut kepada Allah adalah ketika rasa itu mampu menahan seseorang dari perbuatan dosa.“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka.”Hal ini terjadi karena mereka benar-benar mendengarkan, menghadirkan hati, dan merenungkan ayat-ayat tersebut. Dengan perenungan itulah iman mereka bertambah.Iman bertambah karena beberapa sebab:Tadabbur (merenungkan) ayat-ayat Allah adalah amalan hati.Mereka memahami makna yang sebelumnya belum mereka ketahui.Mereka teringat kembali pada kebenaran yang sempat mereka lupakan.Tumbuh dalam hati mereka keinginan kuat untuk berbuat kebaikan dan kerinduan terhadap kemuliaan dari Rabb mereka.Timbul rasa takut terhadap siksa dan dorongan untuk menjauhi maksiat.Semua hal itu menyebabkan iman semakin bertambah.“Dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.”Artinya, mereka bersandar dengan hati sepenuhnya hanya kepada Allah semata, tanpa menyekutukan-Nya. Mereka bergantung kepada-Nya dalam meraih berbagai kebaikan dan menolak segala keburukan, baik dalam urusan agama maupun urusan dunia. Mereka yakin sepenuhnya bahwa Allah akan mencukupi dan menolong mereka.Tawakal inilah yang menjadi pendorong seluruh amal. Tidak ada satu pun amal yang bisa terwujud dan sempurna kecuali dengan tawakal kepada Allah.Penjelasan ayat ketiga“(Yaitu) orang-orang yang menegakkan shalat…”Maksudnya, mereka melaksanakan shalat, baik yang wajib maupun yang sunnah, dengan menyempurnakan amalan-amalan lahiriah dan batiniahnya. Termasuk di dalamnya adalah menghadirkan hati saat shalat, karena kehadiran hati itulah ruh dan inti shalat. Tanpa kekhusyukan dan perhatian hati, shalat hanya menjadi gerakan tanpa makna.“Dan dari sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, mereka menginfakkan.”Artinya, mereka mengeluarkan sebagian harta yang Allah karuniakan kepada mereka untuk berbagai bentuk pengeluaran yang diperintahkan.Infak tersebut mencakup:Nafkah yang wajib, seperti zakat, kafarat (denda pelanggaran syariat), nafkah untuk istri, kerabat, serta hamba sahaya yang berada di bawah tanggungannya.Nafkah yang sunnah, seperti sedekah dalam berbagai jalan kebaikan.Dengan demikian, mereka adalah orang-orang yang menunaikan hak Allah melalui ibadah shalat dan menunaikan hak sesama manusia melalui infak dan kedermawanan. Penjelasan ayat keempatMereka itulah—yakni orang-orang yang memiliki sifat-sifat mulia yang telah disebutkan sebelumnya—adalah orang-orang yang benar-benar beriman.Mengapa mereka disebut sebagai orang yang beriman dengan sebenar-benarnya? Karena mereka memadukan antara Islam dan iman, antara amal hati dan amal anggota badan, antara ilmu dan pengamalan, serta antara menunaikan hak Allah dan hak sesama manusia.Allah mendahulukan penyebutan amal-amal hati karena amal hati adalah fondasi dari amal anggota badan, bahkan kedudukannya lebih utama. Amal lahiriah tidak akan bernilai tanpa didasari oleh amal batin.Ayat ini juga menunjukkan bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang. Ia bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat. Karena itu, seorang hamba hendaknya selalu menjaga, memelihara, dan menumbuhkan imannya.Sarana utama untuk menumbuhkan iman adalah dengan mentadabburi Kitabullah dan merenungkan makna-maknanya secara mendalam.Kemudian Allah menyebutkan balasan bagi orang-orang yang benar-benar beriman itu:“Bagi mereka derajat-derajat di sisi Tuhan mereka.”Yakni derajat yang tinggi, sesuai dengan tingginya amal dan kualitas iman mereka.“Dan ampunan.”Yaitu pengampunan atas dosa-dosa mereka.“Dan rezeki yang mulia.”Yaitu segala kenikmatan yang Allah siapkan bagi mereka di negeri kemuliaan (surga), berupa kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia.Ayat ini juga menunjukkan bahwa siapa saja yang tidak mencapai tingkatan iman mereka, meskipun ia masuk surga, tidak akan memperoleh kemuliaan yang sempurna sebagaimana yang mereka peroleh. Ketika Allah Menghendaki yang Lebih Besar dari yang Kita InginkanAllah Ta’ala berfirman,كَمَآ أَخْرَجَكَ رَبُّكَ مِنۢ بَيْتِكَ بِٱلْحَقِّ وَإِنَّ فَرِيقًا مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ لَكَٰرِهُونَ“Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dan rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya.” (QS. Al-Anfal: 5)يُجَٰدِلُونَكَ فِى ٱلْحَقِّ بَعْدَمَا تَبَيَّنَ كَأَنَّمَا يُسَاقُونَ إِلَى ٱلْمَوْتِ وَهُمْ يَنظُرُونَ“Mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu).” (QS. Al-Anfal: 6)وَإِذْ يَعِدُكُمُ ٱللَّهُ إِحْدَى ٱلطَّآئِفَتَيْنِ أَنَّهَا لَكُمْ وَتَوَدُّونَ أَنَّ غَيْرَ ذَاتِ ٱلشَّوْكَةِ تَكُونُ لَكُمْ وَيُرِيدُ ٱللَّهُ أَن يُحِقَّ ٱلْحَقَّ بِكَلِمَٰتِهِۦ وَيَقْطَعَ دَابِرَ ٱلْكَٰفِرِينَ“Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir.” (QS. Al-Anfal: 7)لِيُحِقَّ ٱلْحَقَّ وَيُبْطِلَ ٱلْبَٰطِلَ وَلَوْ كَرِهَ ٱلْمُجْرِمُونَ“Agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya.” (QS. Al-Anfal: 8)Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.Sebelum menceritakan perang besar yang penuh keberkahan ini (Perang Badar), Allah terlebih dahulu menyebutkan sifat-sifat yang seharusnya dimiliki oleh kaum mukminin. Sebab, siapa yang menghiasi dirinya dengan sifat-sifat tersebut, maka keadaannya akan lurus dan amal-amalnya akan baik. Di antara amal terbesar itu adalah jihad di jalan Allah.Sebagaimana iman mereka adalah iman yang benar, dan balasan yang dijanjikan Allah kepada mereka adalah benar, demikian pula Allah mengeluarkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dari rumahnya menuju pertemuan dengan kaum musyrikin di Badar dengan membawa kebenaran yang Allah cintai, yang telah Dia tetapkan dan takdirkan.Namun pada awalnya, kaum mukminin tidak menyangka bahwa keberangkatan itu akan berujung pada peperangan melawan musuh. Ketika akhirnya jelas bahwa pertempuran akan terjadi, sebagian dari kaum mukminin mulai berdiskusi dan berdebat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka merasa tidak suka menghadapi musuh, seakan-akan mereka sedang digiring menuju kematian, sementara mereka melihatnya dengan mata kepala sendiri.Padahal sikap seperti itu tidak sepatutnya muncul dari mereka, terlebih setelah jelas bahwa keberangkatan itu adalah atas dasar kebenaran dan merupakan perintah serta keridaan Allah.Dalam kondisi seperti itu, tidak ada lagi ruang untuk perdebatan. Perdebatan hanya relevan ketika kebenaran belum jelas dan perkara masih samar. Adapun ketika kebenaran telah nyata dan terang, maka yang tersisa hanyalah sikap tunduk dan patuh.Perlu diketahui, banyak dari kaum mukminin yang sama sekali tidak terlibat dalam perdebatan tersebut dan tidak merasa keberatan menghadapi musuh. Bahkan mereka yang sempat ditegur oleh Allah pun akhirnya tunduk sepenuhnya untuk berjihad. Allah pun meneguhkan hati mereka dan menyediakan berbagai sebab yang membuat hati mereka menjadi tenang, sebagaimana akan disebutkan kemudian.Awal mula keberangkatan mereka adalah untuk menghadang kafilah dagang Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb menuju Syam. Kafilah itu sangat besar. Ketika terdengar kabar bahwa kafilah tersebut sedang kembali dari Syam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak kaum Muslimin untuk keluar.Maka berangkatlah bersama beliau sekitar tiga ratus lebih sedikit orang. Mereka hanya memiliki tujuh puluh ekor unta yang digunakan secara bergantian, baik untuk ditunggangi maupun membawa perbekalan.Kaum Quraisy mendengar kabar tentang pergerakan kaum Muslimin. Mereka pun keluar untuk melindungi kafilah mereka, dengan jumlah pasukan yang besar dan persenjataan lengkap, terdiri dari sekitar seribu orang dengan perlengkapan senjata dan kuda.Allah menjanjikan kepada kaum mukminin bahwa mereka akan mendapatkan salah satu dari dua kelompok:Entah mereka akan menguasai kafilah,Atau menghadapi pasukan Quraisy.Kaum Muslimin lebih menginginkan kafilah, karena kondisi mereka yang serba terbatas dan karena kafilah itu tidak memiliki kekuatan militer yang besar. Namun Allah menghendaki untuk mereka sesuatu yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada yang mereka inginkan.Allah menghendaki agar mereka berhadapan dengan pasukan Quraisy yang di dalamnya terdapat para pembesar dan tokoh-tokoh utama kaum musyrikin.Allah berfirman, “Dan Allah menghendaki untuk menegakkan kebenaran dengan kalimat-kalimat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir sampai ke akar-akarnya. Agar Dia menegakkan kebenaran dan membatalkan kebatilan, walaupun orang-orang yang berdosa itu tidak menyukainya.”Allah ingin memenangkan kebenaran dan menolong para pembelanya. Dia ingin memusnahkan kebatilan dan para pelakunya hingga ke akar-akarnya. Allah ingin memperlihatkan kepada hamba-hamba-Nya bukti nyata pertolongan-Nya terhadap kebenaran, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terlintas dalam benak mereka.Dengan peristiwa itu, kebenaran semakin jelas melalui tanda-tanda dan bukti-bukti yang nyata. Kebatilan pun tampak kerusakan dan kelemahannya melalui dalil dan peristiwa yang Allah tampakkan, meskipun orang-orang yang berdosa membencinya. Allah tidak memedulikan kebencian mereka terhadap tegaknya kebenaran. Kemenangan Turun Bersama DoaAllah Ta’ala berfirman,إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَٱسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّى مُمِدُّكُم بِأَلْفٍ مِّنَ ٱلْمَلَٰٓئِكَةِ مُرْدِفِينَ“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut”.” (QS. Al-Anfal: 9)Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.Ingatlah nikmat Allah atas kalian, ketika saat pertemuan dengan musuh sudah begitu dekat. Dalam keadaan genting itu, kalian memohon pertolongan kepada Rabb kalian. Kalian berdoa dan merendahkan diri, meminta agar Allah menolong dan menguatkan kalian. Maka Allah pun mengabulkan permohonan kalian. Dia menyelamatkan dan menolong kalian dengan berbagai bentuk pertolongan.Di antara bentuk pertolongan itu adalah Allah mengirimkan kepada kalian seribu malaikat sebagai bala bantuan.Murdifīn artinya para malaikat itu datang secara beriringan, saling menyusul satu sama lain. Mereka turun sebagai pasukan bantuan yang memperkuat barisan kaum mukminin.Ini menunjukkan bahwa kemenangan yang diraih bukan semata-mata karena kekuatan jumlah atau perlengkapan, tetapi karena pertolongan Allah yang turun sebagai jawaban atas doa dan istighatsah (permohonan pertolongan) yang tulus dari kaum beriman. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا جَعَلَهُ ٱللَّهُ إِلَّا بُشْرَىٰ وَلِتَطْمَئِنَّ بِهِۦ قُلُوبُكُمْ ۚ وَمَا ٱلنَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِندِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ“Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfal: 10)Allah tidak menjadikan turunnya para malaikat itu kecuali sebagai kabar gembira bagi kalian, agar jiwa kalian merasa senang dan penuh harapan.Selain itu, Allah juga menjadikannya sebagai sebab agar hati kalian menjadi tenang dan mantap. Dengan mengetahui bahwa bala bantuan dari langit telah datang, rasa gentar dan kekhawatiran pun berubah menjadi keyakinan dan keberanian.Namun hakikatnya, kemenangan bukanlah karena banyaknya jumlah pasukan atau lengkapnya persenjataan. Kemenangan itu semata-mata datang dari sisi Allah.Firman-Nya, “Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah,” menegaskan bahwa sebab-sebab lahiriah hanyalah sarana. Adapun penentu kemenangan yang sebenarnya adalah kehendak dan pertolongan Allah.“Sesungguhnya Allah Mahaperkasa (ʿAzīz).”Tidak ada yang mampu mengalahkan-Nya. Dia Mahakuat dan Mahamengalahkan. Dia dapat menundukkan siapa pun, sekalipun mereka memiliki jumlah besar dan perlengkapan yang lengkap.“Lagi Mahabijaksana (Ḥakīm).”Dia menetapkan segala sesuatu dengan hikmah. Dia mengatur berbagai peristiwa dengan sebab-sebab yang sesuai dan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang tepat.Maka kemenangan di Badar bukan sekadar peristiwa militer, melainkan bukti nyata kekuasaan dan hikmah Allah dalam menolong hamba-hamba-Nya yang beriman.Oleh karenanya, Allah menegaskan di ayat 17,فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ قَتَلَهُمْ ۚ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ رَمَىٰ ۚ وَلِيُبْلِىَ ٱلْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلَآءً حَسَنًا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 17)Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.Allah Ta’ala berfirman tentang peristiwa ketika kaum musyrikin kalah dalam Perang Badar dan banyak dari mereka terbunuh oleh kaum Muslimin:“Maka bukanlah kalian yang membunuh mereka, tetapi Allah-lah yang membunuh mereka.”Artinya, bukan karena kekuatan dan kemampuan kalian semata mereka bisa dikalahkan. Namun Allah-lah yang menolong dan membantu kalian dengan berbagai sebab yang telah disebutkan sebelumnya.Kemudian Allah berfirman,“Dan bukanlah engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah-lah yang melempar.”Peristiwa ini terjadi ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di tengah peperangan, masuk ke dalam tenda (arisy) dan berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah, memohon pertolongan dan kemenangan. Setelah itu, beliau keluar, mengambil segenggam tanah, lalu melemparkannya ke arah wajah kaum musyrikin.Dengan kekuasaan Allah, tanah itu sampai ke wajah-wajah mereka. Tidak ada seorang pun dari mereka kecuali terkena tanah tersebut di wajah, mulut, atau matanya. Saat itulah kekuatan mereka runtuh, semangat mereka melemah, tampak pada diri mereka kegagalan dan kelemahan, lalu mereka pun lari dalam kekalahan.Allah menegaskan kepada Nabi-Nya: bukan dengan kekuatanmu tanah itu sampai ke mata-mata mereka. Kamilah yang menyampaikannya dengan kekuasaan dan kemampuan Kami.Kemudian Allah berfirman,“Dan agar Dia memberikan kepada orang-orang mukmin suatu ujian yang baik.”Maksudnya, Allah sebenarnya mampu memenangkan kaum mukminin tanpa peperangan sama sekali. Namun Allah menghendaki untuk menguji mereka, agar melalui jihad mereka mencapai derajat yang tinggi dan kedudukan yang mulia. Allah ingin memberi mereka pahala yang besar dan balasan yang indah.Dan Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya,“Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”Dia Maha Mendengar apa yang diucapkan hamba, baik yang disembunyikan maupun yang dinyatakan. Dia Maha Mengetahui apa yang ada di dalam hati, baik niat yang baik maupun sebaliknya. Maka Allah menetapkan berbagai ketentuan bagi hamba-hamba-Nya sesuai dengan ilmu, hikmah, dan kemaslahatan mereka. Dan Dia membalas setiap orang sesuai dengan niat dan amalnya. Aturan Pembagian Harta RampasanAllah Ta’ala berfirman,۞ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا غَنِمْتُم مِّن شَىْءٍ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُۥ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ إِن كُنتُمْ ءَامَنتُم بِٱللَّهِ وَمَآ أَنزَلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا يَوْمَ ٱلْفُرْقَانِ يَوْمَ ٱلْتَقَى ٱلْجَمْعَانِ ۗ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ“Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Anfal: 41)Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.Allah Ta’ala berfirman, “Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang kalian peroleh sebagai rampasan perang…”Yakni apa saja yang kalian ambil dari harta orang-orang kafir melalui peperangan yang sah, baik sedikit maupun banyak.“Maka sesungguhnya seperlimanya adalah untuk Allah.”Artinya, seperlima dari harta rampasan itu dikeluarkan terlebih dahulu. Adapun sisanya menjadi hak para pejuang yang ikut dalam peperangan, sebagaimana pembagian yang telah ditetapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: bagi pejalan kaki satu bagian, sedangkan bagi penunggang kuda dua bagian untuk kudanya dan satu bagian untuk dirinya.Adapun seperlima (khumus) tersebut dibagi menjadi lima bagian:1. Bagian untuk Allah dan Rasul-Nya.Maksudnya, digunakan untuk kepentingan umum kaum Muslimin. Karena Allah dan Rasul-Nya tidak membutuhkan harta, maka jelas bahwa bagian ini diperuntukkan bagi kemaslahatan umat secara luas. Ketika Allah tidak merinci penggunaannya, itu menunjukkan bahwa ia dipakai untuk berbagai kebutuhan umum umat Islam.2. Bagian untuk kerabat (dzil qurba).Yaitu kerabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Allah menyebutkan “kerabat” sebagai sebab pemberian tersebut, sehingga kaya maupun miskin, laki-laki maupun perempuan dari kalangan mereka, semuanya berhak atas bagian ini.3. Bagian untuk anak-anak yatim.Yaitu anak-anak yang ditinggal wafat ayahnya dalam keadaan masih kecil. Allah memberikan bagian ini sebagai bentuk kasih sayang kepada mereka, karena mereka belum mampu mengurus kebutuhan diri dan telah kehilangan penanggung nafkahnya.4. Bagian untuk orang-orang miskin.Yaitu kaum fakir yang membutuhkan, baik kecil maupun dewasa, laki-laki maupun perempuan.5. Bagian untuk ibnu sabil.Yaitu musafir yang terputus bekalnya di negeri orang.Sebagian ulama berpendapat bahwa seperlima ini tidak harus dibagi rata kepada semua golongan, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan dan kemaslahatan. Pendapat ini lebih kuat karena pembagian tersebut mengikuti maslahat yang ada.Kemudian Allah menjadikan pelaksanaan pembagian khumus ini sebagai bagian dari konsekuensi iman. Allah berfirman, “Jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami pada hari Furqan.”Yang dimaksud dengan hari Furqan adalah hari Perang Badar, hari ketika Allah membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Pada hari itu, Allah menampakkan kebenaran dan menghancurkan kebatilan.“Yaitu hari bertemunya dua pasukan,” yakni pasukan kaum Muslimin dan pasukan kaum kafir.Seakan-akan Allah berfirman: Jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan kepada wahyu yang diturunkan kepada Rasul-Nya pada hari yang penuh bukti dan tanda kebenaran itu, maka tunaikanlah pembagian ini sebagaimana yang diperintahkan.Dan Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya, “Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” Tidak ada yang mampu mengalahkan-Nya. Siapa pun yang menentang-Nya pasti akan dikalahkan. Dialah yang memenangkan kaum mukminin di Badar dan menegakkan kebenaran dengan kekuasaan-Nya. Allah yang Mempertemukan Dua PasukanAllah Ta’ala berfirman,إِذْ أَنتُم بِٱلْعُدْوَةِ ٱلدُّنْيَا وَهُم بِٱلْعُدْوَةِ ٱلْقُصْوَىٰ وَٱلرَّكْبُ أَسْفَلَ مِنكُمْ ۚ وَلَوْ تَوَاعَدتُّمْ لَٱخْتَلَفْتُمْ فِى ٱلْمِيعَٰدِ ۙ وَلَٰكِن لِّيَقْضِىَ ٱللَّهُ أَمْرًا كَانَ مَفْعُولًا لِّيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنۢ بَيِّنَةٍ وَيَحْيَىٰ مَنْ حَىَّ عَنۢ بَيِّنَةٍ ۗ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَسَمِيعٌ عَلِيمٌ“(Yaitu di hari) ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat dan mereka berada di pinggir lembah yang jauh sedang kafilah itu berada di bawah kamu. Sekiranya kamu mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari pertempuran), pastilah kamu tidak sependapat dalam menentukan hari pertempuran itu, akan tetapi (Allah mempertemukan dua pasukan itu) agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan, yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 42)Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.“(Yaitu) ketika kalian berada di tepi lembah yang dekat…”Maksudnya, di sisi lembah yang lebih dekat ke arah Madinah. Sedangkan mereka (pasukan musyrikin) berada di sisi lembah yang jauh dari Madinah. Dengan demikian, kalian dan mereka berada dalam satu lembah yang sama, hanya berbeda sisi.“Dan kafilah itu berada di bawah kalian…”Yaitu kafilah dagang yang awalnya kalian tuju, tetapi Allah menghendaki selain itu, berada di posisi lebih bawah dari kalian, ke arah pantai laut.“Dan sekiranya kalian mengadakan perjanjian…”Yakni jika kalian dan mereka sepakat untuk menentukan waktu dan tempat pertemuan dalam kondisi seperti itu,“niscaya kalian akan berselisih dalam menentukan waktu.”Artinya, pasti akan terjadi perbedaan—entah ada yang datang lebih awal atau lebih lambat, memilih tempat berbeda, atau terjadi sebab-sebab lain yang menghalangi kalian dari waktu yang telah disepakati.“Tetapi…”Allah-lah yang mempertemukan kalian dalam keadaan seperti itu,“agar Allah menetapkan suatu urusan yang pasti terlaksana.”Yaitu sesuatu yang telah ditakdirkan sejak dahulu dan pasti terjadi.“Agar binasa orang yang binasa dengan bukti yang nyata.”Artinya, agar orang yang tetap dalam kekafiran melakukannya setelah jelas kebenaran di hadapannya. Ia memilih kekafiran dengan sadar dan yakin bahwa itu batil, sehingga tidak tersisa lagi alasan baginya di hadapan Allah.“Dan agar hidup orang yang hidup dengan bukti yang nyata.”Yaitu agar orang beriman semakin bertambah keyakinan dan keteguhan hatinya setelah Allah memperlihatkan kepada kedua kelompok bukti-bukti dan dalil-dalil kebenaran yang nyata. Itu menjadi pelajaran bagi orang-orang yang berakal.“Dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”Dia Maha Mendengar seluruh suara, dalam berbagai bahasa dan dengan berbagai kebutuhan. Dia Maha Mengetahui segala yang tampak maupun yang tersembunyi, apa yang ada dalam hati dan apa yang terlihat, yang gaib maupun yang nyata. Pelajaran Menarik dari Ayat-Ayat Perang Badar1. Ujian Harta Mengungkap Kualitas ImanKemenangan di medan perang langsung diikuti ujian harta. Ketika ghanimah dipersoalkan, Allah tidak langsung membahas teknis pembagian, tetapi memerintahkan takwa dan perbaikan hati. Artinya, konflik harta adalah ujian iman.2. Ciri Mukmin Sejati Bukan Sekadar Ikut BerperangIman yang benar terlihat dari hati yang bergetar saat nama Allah disebut, iman yang bertambah saat ayat dibacakan, tawakal yang kuat, shalat yang ditegakkan, dan infak yang ditunaikan. Kemenangan lahir dari kualitas iman, bukan jumlah pasukan.3. Allah Menghendaki yang Lebih Besar dari Keinginan ManusiaSahabat ingin kafilah yang mudah. Allah menghendaki pertempuran besar untuk menegakkan kebenaran. Terkadang yang kita inginkan bukan yang terbaik menurut Allah.4. Doa adalah Kunci Turunnya PertolonganSeribu malaikat turun bukan karena strategi, tetapi karena istighatsah yang tulus. Kemenangan bukan karena jumlah, tetapi karena pertolongan Allah.5. Pembagian Harta adalah Amanah ImanSeperlima ghanimah diatur secara jelas. Ada hak Allah, Rasul, kerabat, yatim, miskin, dan ibnu sabil. Keadilan dalam distribusi adalah bagian dari konsekuensi iman.6. Allah yang Mengatur Pertemuan dan TakdirPertemuan dua pasukan bukan kebetulan. Allah mempertemukan mereka agar kebenaran tampak jelas dan kebatilan runtuh tanpa alasan tersisa. Doa Penutupاللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ، وَأَنْ تَغْفِرَ لَنَا وَتَرْحَمَنَا، وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةً فِي قَوْمٍ فَتَوَفَّنَا غَيْرَ مَفْتُونِينَ، وَنَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنَا إِلَى حُبِّكَ.Ya Allah, kami memohon kepada-Mu agar Engkau memberi kami kemampuan untuk melakukan berbagai kebaikan, menjauhi segala kemungkaran, dan mencintai orang-orang miskin. Kami juga memohon agar Engkau mengampuni dan merahmati kami. Jika Engkau hendak menimpakan ujian atau fitnah kepada suatu kaum, maka wafatkanlah kami dalam keadaan tidak terkena fitnah tersebut. Dan kami memohon kepada-Mu cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu, serta cinta terhadap amal yang dapat mendekatkan kami kepada cinta-Mu. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Kamis Sore, 9 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsberperang Ghanimah dalam Islam Harta Rampasan Perang hikmah perang Kemenangan dalam Islam Pelajaran Perang Badar Pembagian Khumus perang badar renungan ayat renungan quran Surah Al-Anfal Tafsir Al-Anfal tawakal kepada Allah Ujian Iman
Perang Badar bukan sekadar kemenangan militer pertama kaum Muslimin. Surah Al-Anfal (juz kesembilan) mengungkap sisi yang lebih dalam: ujian iman, konflik harta, doa di saat genting, hingga aturan pembagian ghanimah. Dari peristiwa ini, kita belajar bahwa kemenangan sejati lahir dari hati yang bertakwa dan tunduk kepada Allah. Baca juga: Faedah Sirah Nabi: Perang Badar Kubra dan Pelajaran di Dalamnya  Daftar Isi tutup 1. Rebutan Harta atau Perbaikan Hati? 2. Ujian Harta dan Ukuran Iman 3. Ketika Allah Menghendaki yang Lebih Besar dari yang Kita Inginkan 4. Kemenangan Turun Bersama Doa 5. Aturan Pembagian Harta Rampasan 6. Allah yang Mempertemukan Dua Pasukan 7. Pelajaran Menarik dari Ayat-Ayat Perang Badar 8. Doa Penutup  Rebutan Harta atau Perbaikan Hati?Allah Ta’ala berfirman,يَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلْأَنفَالِ ۖ قُلِ ٱلْأَنفَالُ لِلَّهِ وَٱلرَّسُولِ ۖ فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَأَصْلِحُوا۟ ذَاتَ بَيْنِكُمْ ۖ وَأَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ“Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang kepunyaan Allah dan Rasul, oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu; dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman“.” (QS. Al-Anfal: 1) Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.Al-anfāl adalah harta rampasan perang yang Allah anugerahkan kepada umat ini dari harta orang-orang kafir. Ayat-ayat dalam surah ini turun berkaitan dengan peristiwa Perang Badar, yaitu rampasan perang besar pertama yang diperoleh kaum Muslimin dari kaum musyrikin.Saat itu, terjadi perselisihan di antara sebagian kaum Muslimin mengenai pembagian harta rampasan tersebut. Mereka pun bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang bagaimana cara membaginya dan kepada siapa saja harta itu diberikan.Baca juga: Perang Sudan dan Rebutan Gunung Emas: Sebuah Peringatan tentang Fitnah HartaMaka Allah menurunkan firman-Nya, “Mereka bertanya kepadamu tentang al-anfāl…” Maksudnya, mereka bertanya bagaimana harta itu dibagi dan siapa yang berhak menerimanya.Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk menjawab, “Al-anfāl itu milik Allah dan Rasul.” Artinya, penentuan pembagiannya berada di tangan Allah dan Rasul-Nya. Keduanya berhak menempatkannya sesuai kehendak dan kebijaksanaan-Nya. Tidak ada ruang bagi siapa pun untuk memprotes atau menolak keputusan Allah dan Rasul-Nya.Yang seharusnya dilakukan kaum beriman adalah ridha terhadap ketetapan Allah dan Rasul-Nya, serta menyerahkan sepenuhnya urusan itu kepada keduanya. Sikap ini termasuk dalam perintah, “Maka bertakwalah kepada Allah,” yaitu dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.Kemudian Allah berfirman, “Perbaikilah hubungan di antara kalian.” Maksudnya, perbaikilah segala bentuk perselisihan, permusuhan, dan saling membelakangi yang terjadi di antara kalian. Gantilah itu dengan sikap saling mencintai, saling menyayangi, dan saling menyambung hubungan.Dengan memperbaiki hubungan, persatuan akan terwujud. Permusuhan, pertengkaran, dan perselisihan yang muncul akibat perpecahan pun akan sirna.Termasuk dalam memperbaiki hubungan adalah memperindah akhlak kepada sesama, serta memaafkan orang yang berbuat salah. Dengan sikap ini, banyak kebencian dan rasa tidak suka yang tersimpan di dalam hati akan hilang.Semua itu terangkum dalam firman-Nya, “Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya jika kalian benar-benar orang-orang yang beriman.” Iman yang benar akan mendorong seseorang untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebaliknya, siapa yang tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka itu menunjukkan bahwa imannya tidak sempurna, bahkan tidak ada sama sekali. Ujian Harta dan Ukuran ImanPada ayat pertama Surah Al-Anfal, Allah membahas tentang perselisihan kaum Muslimin terkait harta rampasan perang setelah Perang Badar. Di sana Allah menegaskan bahwa al-anfāl adalah milik Allah dan Rasul-Nya. Solusinya bukan sekadar teknis pembagian, tetapi perintah takwa, memperbaiki hubungan, dan menaati Allah serta Rasul-Nya.Lalu mengapa setelah membahas harta rampasan, Allah langsung berbicara tentang ciri-ciri orang beriman sejati?Di sinilah letak keindahan susunan ayat-ayat ini.Perselisihan tentang harta menunjukkan bahwa iman sedang diuji. Ketika harta mulai dibicarakan, hati manusia mudah berubah. Rasa ingin memiliki, merasa paling berhak, atau takut tidak mendapatkan bagian, bisa mengganggu persatuan.Karena itu Allah seakan menegaskan:Jika kalian benar-benar beriman, maka inilah cirinya.Bukan sekadar ikut perang.Bukan sekadar mendapatkan ghanimah.Tetapi:Hatinya bergetar saat nama Allah disebut.Imannya bertambah ketika ayat dibacakan.Ia bertawakal penuh kepada Allah.Ia menegakkan shalat.Ia menginfakkan rezekinya.Artinya, solusi konflik harta bukan pertama-tama pada pembagian angka, tetapi pada kualitas iman.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfal: 2)ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ“(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. Al-Anfal: 3)أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَّهُمْ دَرَجَٰتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ“Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfal: 4)Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.Penjelasan ayat keduaSiapa pun yang ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya berkurang, maka itu menunjukkan bahwa imannya pun berkurang.Karena iman itu terbagi menjadi dua:Iman yang sempurna, yang mendatangkan pujian, sanjungan, dan kemenangan yang sempurna.Iman yang belum sempurna, yang berada di bawah tingkatan tersebut.Dalam ayat ini, Allah menjelaskan tentang iman yang sempurna.Firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman…” Kata “al” pada al-mu’minūn menunjukkan cakupan seluruh sifat dan syariat iman. Artinya, inilah ciri-ciri orang yang benar-benar beriman secara sempurna.“(Yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah, hati mereka bergetar.”Maksudnya, hati mereka merasa takut dan gentar. Rasa takut kepada Allah ini membuat mereka menjauhi segala yang diharamkan. Salah satu tanda terbesar dari rasa takut kepada Allah adalah ketika rasa itu mampu menahan seseorang dari perbuatan dosa.“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka.”Hal ini terjadi karena mereka benar-benar mendengarkan, menghadirkan hati, dan merenungkan ayat-ayat tersebut. Dengan perenungan itulah iman mereka bertambah.Iman bertambah karena beberapa sebab:Tadabbur (merenungkan) ayat-ayat Allah adalah amalan hati.Mereka memahami makna yang sebelumnya belum mereka ketahui.Mereka teringat kembali pada kebenaran yang sempat mereka lupakan.Tumbuh dalam hati mereka keinginan kuat untuk berbuat kebaikan dan kerinduan terhadap kemuliaan dari Rabb mereka.Timbul rasa takut terhadap siksa dan dorongan untuk menjauhi maksiat.Semua hal itu menyebabkan iman semakin bertambah.“Dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.”Artinya, mereka bersandar dengan hati sepenuhnya hanya kepada Allah semata, tanpa menyekutukan-Nya. Mereka bergantung kepada-Nya dalam meraih berbagai kebaikan dan menolak segala keburukan, baik dalam urusan agama maupun urusan dunia. Mereka yakin sepenuhnya bahwa Allah akan mencukupi dan menolong mereka.Tawakal inilah yang menjadi pendorong seluruh amal. Tidak ada satu pun amal yang bisa terwujud dan sempurna kecuali dengan tawakal kepada Allah.Penjelasan ayat ketiga“(Yaitu) orang-orang yang menegakkan shalat…”Maksudnya, mereka melaksanakan shalat, baik yang wajib maupun yang sunnah, dengan menyempurnakan amalan-amalan lahiriah dan batiniahnya. Termasuk di dalamnya adalah menghadirkan hati saat shalat, karena kehadiran hati itulah ruh dan inti shalat. Tanpa kekhusyukan dan perhatian hati, shalat hanya menjadi gerakan tanpa makna.“Dan dari sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, mereka menginfakkan.”Artinya, mereka mengeluarkan sebagian harta yang Allah karuniakan kepada mereka untuk berbagai bentuk pengeluaran yang diperintahkan.Infak tersebut mencakup:Nafkah yang wajib, seperti zakat, kafarat (denda pelanggaran syariat), nafkah untuk istri, kerabat, serta hamba sahaya yang berada di bawah tanggungannya.Nafkah yang sunnah, seperti sedekah dalam berbagai jalan kebaikan.Dengan demikian, mereka adalah orang-orang yang menunaikan hak Allah melalui ibadah shalat dan menunaikan hak sesama manusia melalui infak dan kedermawanan. Penjelasan ayat keempatMereka itulah—yakni orang-orang yang memiliki sifat-sifat mulia yang telah disebutkan sebelumnya—adalah orang-orang yang benar-benar beriman.Mengapa mereka disebut sebagai orang yang beriman dengan sebenar-benarnya? Karena mereka memadukan antara Islam dan iman, antara amal hati dan amal anggota badan, antara ilmu dan pengamalan, serta antara menunaikan hak Allah dan hak sesama manusia.Allah mendahulukan penyebutan amal-amal hati karena amal hati adalah fondasi dari amal anggota badan, bahkan kedudukannya lebih utama. Amal lahiriah tidak akan bernilai tanpa didasari oleh amal batin.Ayat ini juga menunjukkan bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang. Ia bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat. Karena itu, seorang hamba hendaknya selalu menjaga, memelihara, dan menumbuhkan imannya.Sarana utama untuk menumbuhkan iman adalah dengan mentadabburi Kitabullah dan merenungkan makna-maknanya secara mendalam.Kemudian Allah menyebutkan balasan bagi orang-orang yang benar-benar beriman itu:“Bagi mereka derajat-derajat di sisi Tuhan mereka.”Yakni derajat yang tinggi, sesuai dengan tingginya amal dan kualitas iman mereka.“Dan ampunan.”Yaitu pengampunan atas dosa-dosa mereka.“Dan rezeki yang mulia.”Yaitu segala kenikmatan yang Allah siapkan bagi mereka di negeri kemuliaan (surga), berupa kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia.Ayat ini juga menunjukkan bahwa siapa saja yang tidak mencapai tingkatan iman mereka, meskipun ia masuk surga, tidak akan memperoleh kemuliaan yang sempurna sebagaimana yang mereka peroleh. Ketika Allah Menghendaki yang Lebih Besar dari yang Kita InginkanAllah Ta’ala berfirman,كَمَآ أَخْرَجَكَ رَبُّكَ مِنۢ بَيْتِكَ بِٱلْحَقِّ وَإِنَّ فَرِيقًا مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ لَكَٰرِهُونَ“Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dan rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya.” (QS. Al-Anfal: 5)يُجَٰدِلُونَكَ فِى ٱلْحَقِّ بَعْدَمَا تَبَيَّنَ كَأَنَّمَا يُسَاقُونَ إِلَى ٱلْمَوْتِ وَهُمْ يَنظُرُونَ“Mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu).” (QS. Al-Anfal: 6)وَإِذْ يَعِدُكُمُ ٱللَّهُ إِحْدَى ٱلطَّآئِفَتَيْنِ أَنَّهَا لَكُمْ وَتَوَدُّونَ أَنَّ غَيْرَ ذَاتِ ٱلشَّوْكَةِ تَكُونُ لَكُمْ وَيُرِيدُ ٱللَّهُ أَن يُحِقَّ ٱلْحَقَّ بِكَلِمَٰتِهِۦ وَيَقْطَعَ دَابِرَ ٱلْكَٰفِرِينَ“Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir.” (QS. Al-Anfal: 7)لِيُحِقَّ ٱلْحَقَّ وَيُبْطِلَ ٱلْبَٰطِلَ وَلَوْ كَرِهَ ٱلْمُجْرِمُونَ“Agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya.” (QS. Al-Anfal: 8)Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.Sebelum menceritakan perang besar yang penuh keberkahan ini (Perang Badar), Allah terlebih dahulu menyebutkan sifat-sifat yang seharusnya dimiliki oleh kaum mukminin. Sebab, siapa yang menghiasi dirinya dengan sifat-sifat tersebut, maka keadaannya akan lurus dan amal-amalnya akan baik. Di antara amal terbesar itu adalah jihad di jalan Allah.Sebagaimana iman mereka adalah iman yang benar, dan balasan yang dijanjikan Allah kepada mereka adalah benar, demikian pula Allah mengeluarkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dari rumahnya menuju pertemuan dengan kaum musyrikin di Badar dengan membawa kebenaran yang Allah cintai, yang telah Dia tetapkan dan takdirkan.Namun pada awalnya, kaum mukminin tidak menyangka bahwa keberangkatan itu akan berujung pada peperangan melawan musuh. Ketika akhirnya jelas bahwa pertempuran akan terjadi, sebagian dari kaum mukminin mulai berdiskusi dan berdebat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka merasa tidak suka menghadapi musuh, seakan-akan mereka sedang digiring menuju kematian, sementara mereka melihatnya dengan mata kepala sendiri.Padahal sikap seperti itu tidak sepatutnya muncul dari mereka, terlebih setelah jelas bahwa keberangkatan itu adalah atas dasar kebenaran dan merupakan perintah serta keridaan Allah.Dalam kondisi seperti itu, tidak ada lagi ruang untuk perdebatan. Perdebatan hanya relevan ketika kebenaran belum jelas dan perkara masih samar. Adapun ketika kebenaran telah nyata dan terang, maka yang tersisa hanyalah sikap tunduk dan patuh.Perlu diketahui, banyak dari kaum mukminin yang sama sekali tidak terlibat dalam perdebatan tersebut dan tidak merasa keberatan menghadapi musuh. Bahkan mereka yang sempat ditegur oleh Allah pun akhirnya tunduk sepenuhnya untuk berjihad. Allah pun meneguhkan hati mereka dan menyediakan berbagai sebab yang membuat hati mereka menjadi tenang, sebagaimana akan disebutkan kemudian.Awal mula keberangkatan mereka adalah untuk menghadang kafilah dagang Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb menuju Syam. Kafilah itu sangat besar. Ketika terdengar kabar bahwa kafilah tersebut sedang kembali dari Syam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak kaum Muslimin untuk keluar.Maka berangkatlah bersama beliau sekitar tiga ratus lebih sedikit orang. Mereka hanya memiliki tujuh puluh ekor unta yang digunakan secara bergantian, baik untuk ditunggangi maupun membawa perbekalan.Kaum Quraisy mendengar kabar tentang pergerakan kaum Muslimin. Mereka pun keluar untuk melindungi kafilah mereka, dengan jumlah pasukan yang besar dan persenjataan lengkap, terdiri dari sekitar seribu orang dengan perlengkapan senjata dan kuda.Allah menjanjikan kepada kaum mukminin bahwa mereka akan mendapatkan salah satu dari dua kelompok:Entah mereka akan menguasai kafilah,Atau menghadapi pasukan Quraisy.Kaum Muslimin lebih menginginkan kafilah, karena kondisi mereka yang serba terbatas dan karena kafilah itu tidak memiliki kekuatan militer yang besar. Namun Allah menghendaki untuk mereka sesuatu yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada yang mereka inginkan.Allah menghendaki agar mereka berhadapan dengan pasukan Quraisy yang di dalamnya terdapat para pembesar dan tokoh-tokoh utama kaum musyrikin.Allah berfirman, “Dan Allah menghendaki untuk menegakkan kebenaran dengan kalimat-kalimat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir sampai ke akar-akarnya. Agar Dia menegakkan kebenaran dan membatalkan kebatilan, walaupun orang-orang yang berdosa itu tidak menyukainya.”Allah ingin memenangkan kebenaran dan menolong para pembelanya. Dia ingin memusnahkan kebatilan dan para pelakunya hingga ke akar-akarnya. Allah ingin memperlihatkan kepada hamba-hamba-Nya bukti nyata pertolongan-Nya terhadap kebenaran, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terlintas dalam benak mereka.Dengan peristiwa itu, kebenaran semakin jelas melalui tanda-tanda dan bukti-bukti yang nyata. Kebatilan pun tampak kerusakan dan kelemahannya melalui dalil dan peristiwa yang Allah tampakkan, meskipun orang-orang yang berdosa membencinya. Allah tidak memedulikan kebencian mereka terhadap tegaknya kebenaran. Kemenangan Turun Bersama DoaAllah Ta’ala berfirman,إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَٱسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّى مُمِدُّكُم بِأَلْفٍ مِّنَ ٱلْمَلَٰٓئِكَةِ مُرْدِفِينَ“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut”.” (QS. Al-Anfal: 9)Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.Ingatlah nikmat Allah atas kalian, ketika saat pertemuan dengan musuh sudah begitu dekat. Dalam keadaan genting itu, kalian memohon pertolongan kepada Rabb kalian. Kalian berdoa dan merendahkan diri, meminta agar Allah menolong dan menguatkan kalian. Maka Allah pun mengabulkan permohonan kalian. Dia menyelamatkan dan menolong kalian dengan berbagai bentuk pertolongan.Di antara bentuk pertolongan itu adalah Allah mengirimkan kepada kalian seribu malaikat sebagai bala bantuan.Murdifīn artinya para malaikat itu datang secara beriringan, saling menyusul satu sama lain. Mereka turun sebagai pasukan bantuan yang memperkuat barisan kaum mukminin.Ini menunjukkan bahwa kemenangan yang diraih bukan semata-mata karena kekuatan jumlah atau perlengkapan, tetapi karena pertolongan Allah yang turun sebagai jawaban atas doa dan istighatsah (permohonan pertolongan) yang tulus dari kaum beriman. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا جَعَلَهُ ٱللَّهُ إِلَّا بُشْرَىٰ وَلِتَطْمَئِنَّ بِهِۦ قُلُوبُكُمْ ۚ وَمَا ٱلنَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِندِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ“Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfal: 10)Allah tidak menjadikan turunnya para malaikat itu kecuali sebagai kabar gembira bagi kalian, agar jiwa kalian merasa senang dan penuh harapan.Selain itu, Allah juga menjadikannya sebagai sebab agar hati kalian menjadi tenang dan mantap. Dengan mengetahui bahwa bala bantuan dari langit telah datang, rasa gentar dan kekhawatiran pun berubah menjadi keyakinan dan keberanian.Namun hakikatnya, kemenangan bukanlah karena banyaknya jumlah pasukan atau lengkapnya persenjataan. Kemenangan itu semata-mata datang dari sisi Allah.Firman-Nya, “Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah,” menegaskan bahwa sebab-sebab lahiriah hanyalah sarana. Adapun penentu kemenangan yang sebenarnya adalah kehendak dan pertolongan Allah.“Sesungguhnya Allah Mahaperkasa (ʿAzīz).”Tidak ada yang mampu mengalahkan-Nya. Dia Mahakuat dan Mahamengalahkan. Dia dapat menundukkan siapa pun, sekalipun mereka memiliki jumlah besar dan perlengkapan yang lengkap.“Lagi Mahabijaksana (Ḥakīm).”Dia menetapkan segala sesuatu dengan hikmah. Dia mengatur berbagai peristiwa dengan sebab-sebab yang sesuai dan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang tepat.Maka kemenangan di Badar bukan sekadar peristiwa militer, melainkan bukti nyata kekuasaan dan hikmah Allah dalam menolong hamba-hamba-Nya yang beriman.Oleh karenanya, Allah menegaskan di ayat 17,فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ قَتَلَهُمْ ۚ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ رَمَىٰ ۚ وَلِيُبْلِىَ ٱلْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلَآءً حَسَنًا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 17)Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.Allah Ta’ala berfirman tentang peristiwa ketika kaum musyrikin kalah dalam Perang Badar dan banyak dari mereka terbunuh oleh kaum Muslimin:“Maka bukanlah kalian yang membunuh mereka, tetapi Allah-lah yang membunuh mereka.”Artinya, bukan karena kekuatan dan kemampuan kalian semata mereka bisa dikalahkan. Namun Allah-lah yang menolong dan membantu kalian dengan berbagai sebab yang telah disebutkan sebelumnya.Kemudian Allah berfirman,“Dan bukanlah engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah-lah yang melempar.”Peristiwa ini terjadi ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di tengah peperangan, masuk ke dalam tenda (arisy) dan berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah, memohon pertolongan dan kemenangan. Setelah itu, beliau keluar, mengambil segenggam tanah, lalu melemparkannya ke arah wajah kaum musyrikin.Dengan kekuasaan Allah, tanah itu sampai ke wajah-wajah mereka. Tidak ada seorang pun dari mereka kecuali terkena tanah tersebut di wajah, mulut, atau matanya. Saat itulah kekuatan mereka runtuh, semangat mereka melemah, tampak pada diri mereka kegagalan dan kelemahan, lalu mereka pun lari dalam kekalahan.Allah menegaskan kepada Nabi-Nya: bukan dengan kekuatanmu tanah itu sampai ke mata-mata mereka. Kamilah yang menyampaikannya dengan kekuasaan dan kemampuan Kami.Kemudian Allah berfirman,“Dan agar Dia memberikan kepada orang-orang mukmin suatu ujian yang baik.”Maksudnya, Allah sebenarnya mampu memenangkan kaum mukminin tanpa peperangan sama sekali. Namun Allah menghendaki untuk menguji mereka, agar melalui jihad mereka mencapai derajat yang tinggi dan kedudukan yang mulia. Allah ingin memberi mereka pahala yang besar dan balasan yang indah.Dan Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya,“Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”Dia Maha Mendengar apa yang diucapkan hamba, baik yang disembunyikan maupun yang dinyatakan. Dia Maha Mengetahui apa yang ada di dalam hati, baik niat yang baik maupun sebaliknya. Maka Allah menetapkan berbagai ketentuan bagi hamba-hamba-Nya sesuai dengan ilmu, hikmah, dan kemaslahatan mereka. Dan Dia membalas setiap orang sesuai dengan niat dan amalnya. Aturan Pembagian Harta RampasanAllah Ta’ala berfirman,۞ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا غَنِمْتُم مِّن شَىْءٍ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُۥ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ إِن كُنتُمْ ءَامَنتُم بِٱللَّهِ وَمَآ أَنزَلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا يَوْمَ ٱلْفُرْقَانِ يَوْمَ ٱلْتَقَى ٱلْجَمْعَانِ ۗ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ“Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Anfal: 41)Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.Allah Ta’ala berfirman, “Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang kalian peroleh sebagai rampasan perang…”Yakni apa saja yang kalian ambil dari harta orang-orang kafir melalui peperangan yang sah, baik sedikit maupun banyak.“Maka sesungguhnya seperlimanya adalah untuk Allah.”Artinya, seperlima dari harta rampasan itu dikeluarkan terlebih dahulu. Adapun sisanya menjadi hak para pejuang yang ikut dalam peperangan, sebagaimana pembagian yang telah ditetapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: bagi pejalan kaki satu bagian, sedangkan bagi penunggang kuda dua bagian untuk kudanya dan satu bagian untuk dirinya.Adapun seperlima (khumus) tersebut dibagi menjadi lima bagian:1. Bagian untuk Allah dan Rasul-Nya.Maksudnya, digunakan untuk kepentingan umum kaum Muslimin. Karena Allah dan Rasul-Nya tidak membutuhkan harta, maka jelas bahwa bagian ini diperuntukkan bagi kemaslahatan umat secara luas. Ketika Allah tidak merinci penggunaannya, itu menunjukkan bahwa ia dipakai untuk berbagai kebutuhan umum umat Islam.2. Bagian untuk kerabat (dzil qurba).Yaitu kerabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Allah menyebutkan “kerabat” sebagai sebab pemberian tersebut, sehingga kaya maupun miskin, laki-laki maupun perempuan dari kalangan mereka, semuanya berhak atas bagian ini.3. Bagian untuk anak-anak yatim.Yaitu anak-anak yang ditinggal wafat ayahnya dalam keadaan masih kecil. Allah memberikan bagian ini sebagai bentuk kasih sayang kepada mereka, karena mereka belum mampu mengurus kebutuhan diri dan telah kehilangan penanggung nafkahnya.4. Bagian untuk orang-orang miskin.Yaitu kaum fakir yang membutuhkan, baik kecil maupun dewasa, laki-laki maupun perempuan.5. Bagian untuk ibnu sabil.Yaitu musafir yang terputus bekalnya di negeri orang.Sebagian ulama berpendapat bahwa seperlima ini tidak harus dibagi rata kepada semua golongan, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan dan kemaslahatan. Pendapat ini lebih kuat karena pembagian tersebut mengikuti maslahat yang ada.Kemudian Allah menjadikan pelaksanaan pembagian khumus ini sebagai bagian dari konsekuensi iman. Allah berfirman, “Jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami pada hari Furqan.”Yang dimaksud dengan hari Furqan adalah hari Perang Badar, hari ketika Allah membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Pada hari itu, Allah menampakkan kebenaran dan menghancurkan kebatilan.“Yaitu hari bertemunya dua pasukan,” yakni pasukan kaum Muslimin dan pasukan kaum kafir.Seakan-akan Allah berfirman: Jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan kepada wahyu yang diturunkan kepada Rasul-Nya pada hari yang penuh bukti dan tanda kebenaran itu, maka tunaikanlah pembagian ini sebagaimana yang diperintahkan.Dan Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya, “Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” Tidak ada yang mampu mengalahkan-Nya. Siapa pun yang menentang-Nya pasti akan dikalahkan. Dialah yang memenangkan kaum mukminin di Badar dan menegakkan kebenaran dengan kekuasaan-Nya. Allah yang Mempertemukan Dua PasukanAllah Ta’ala berfirman,إِذْ أَنتُم بِٱلْعُدْوَةِ ٱلدُّنْيَا وَهُم بِٱلْعُدْوَةِ ٱلْقُصْوَىٰ وَٱلرَّكْبُ أَسْفَلَ مِنكُمْ ۚ وَلَوْ تَوَاعَدتُّمْ لَٱخْتَلَفْتُمْ فِى ٱلْمِيعَٰدِ ۙ وَلَٰكِن لِّيَقْضِىَ ٱللَّهُ أَمْرًا كَانَ مَفْعُولًا لِّيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنۢ بَيِّنَةٍ وَيَحْيَىٰ مَنْ حَىَّ عَنۢ بَيِّنَةٍ ۗ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَسَمِيعٌ عَلِيمٌ“(Yaitu di hari) ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat dan mereka berada di pinggir lembah yang jauh sedang kafilah itu berada di bawah kamu. Sekiranya kamu mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari pertempuran), pastilah kamu tidak sependapat dalam menentukan hari pertempuran itu, akan tetapi (Allah mempertemukan dua pasukan itu) agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan, yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 42)Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.“(Yaitu) ketika kalian berada di tepi lembah yang dekat…”Maksudnya, di sisi lembah yang lebih dekat ke arah Madinah. Sedangkan mereka (pasukan musyrikin) berada di sisi lembah yang jauh dari Madinah. Dengan demikian, kalian dan mereka berada dalam satu lembah yang sama, hanya berbeda sisi.“Dan kafilah itu berada di bawah kalian…”Yaitu kafilah dagang yang awalnya kalian tuju, tetapi Allah menghendaki selain itu, berada di posisi lebih bawah dari kalian, ke arah pantai laut.“Dan sekiranya kalian mengadakan perjanjian…”Yakni jika kalian dan mereka sepakat untuk menentukan waktu dan tempat pertemuan dalam kondisi seperti itu,“niscaya kalian akan berselisih dalam menentukan waktu.”Artinya, pasti akan terjadi perbedaan—entah ada yang datang lebih awal atau lebih lambat, memilih tempat berbeda, atau terjadi sebab-sebab lain yang menghalangi kalian dari waktu yang telah disepakati.“Tetapi…”Allah-lah yang mempertemukan kalian dalam keadaan seperti itu,“agar Allah menetapkan suatu urusan yang pasti terlaksana.”Yaitu sesuatu yang telah ditakdirkan sejak dahulu dan pasti terjadi.“Agar binasa orang yang binasa dengan bukti yang nyata.”Artinya, agar orang yang tetap dalam kekafiran melakukannya setelah jelas kebenaran di hadapannya. Ia memilih kekafiran dengan sadar dan yakin bahwa itu batil, sehingga tidak tersisa lagi alasan baginya di hadapan Allah.“Dan agar hidup orang yang hidup dengan bukti yang nyata.”Yaitu agar orang beriman semakin bertambah keyakinan dan keteguhan hatinya setelah Allah memperlihatkan kepada kedua kelompok bukti-bukti dan dalil-dalil kebenaran yang nyata. Itu menjadi pelajaran bagi orang-orang yang berakal.“Dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”Dia Maha Mendengar seluruh suara, dalam berbagai bahasa dan dengan berbagai kebutuhan. Dia Maha Mengetahui segala yang tampak maupun yang tersembunyi, apa yang ada dalam hati dan apa yang terlihat, yang gaib maupun yang nyata. Pelajaran Menarik dari Ayat-Ayat Perang Badar1. Ujian Harta Mengungkap Kualitas ImanKemenangan di medan perang langsung diikuti ujian harta. Ketika ghanimah dipersoalkan, Allah tidak langsung membahas teknis pembagian, tetapi memerintahkan takwa dan perbaikan hati. Artinya, konflik harta adalah ujian iman.2. Ciri Mukmin Sejati Bukan Sekadar Ikut BerperangIman yang benar terlihat dari hati yang bergetar saat nama Allah disebut, iman yang bertambah saat ayat dibacakan, tawakal yang kuat, shalat yang ditegakkan, dan infak yang ditunaikan. Kemenangan lahir dari kualitas iman, bukan jumlah pasukan.3. Allah Menghendaki yang Lebih Besar dari Keinginan ManusiaSahabat ingin kafilah yang mudah. Allah menghendaki pertempuran besar untuk menegakkan kebenaran. Terkadang yang kita inginkan bukan yang terbaik menurut Allah.4. Doa adalah Kunci Turunnya PertolonganSeribu malaikat turun bukan karena strategi, tetapi karena istighatsah yang tulus. Kemenangan bukan karena jumlah, tetapi karena pertolongan Allah.5. Pembagian Harta adalah Amanah ImanSeperlima ghanimah diatur secara jelas. Ada hak Allah, Rasul, kerabat, yatim, miskin, dan ibnu sabil. Keadilan dalam distribusi adalah bagian dari konsekuensi iman.6. Allah yang Mengatur Pertemuan dan TakdirPertemuan dua pasukan bukan kebetulan. Allah mempertemukan mereka agar kebenaran tampak jelas dan kebatilan runtuh tanpa alasan tersisa. Doa Penutupاللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ، وَأَنْ تَغْفِرَ لَنَا وَتَرْحَمَنَا، وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةً فِي قَوْمٍ فَتَوَفَّنَا غَيْرَ مَفْتُونِينَ، وَنَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنَا إِلَى حُبِّكَ.Ya Allah, kami memohon kepada-Mu agar Engkau memberi kami kemampuan untuk melakukan berbagai kebaikan, menjauhi segala kemungkaran, dan mencintai orang-orang miskin. Kami juga memohon agar Engkau mengampuni dan merahmati kami. Jika Engkau hendak menimpakan ujian atau fitnah kepada suatu kaum, maka wafatkanlah kami dalam keadaan tidak terkena fitnah tersebut. Dan kami memohon kepada-Mu cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu, serta cinta terhadap amal yang dapat mendekatkan kami kepada cinta-Mu. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Kamis Sore, 9 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsberperang Ghanimah dalam Islam Harta Rampasan Perang hikmah perang Kemenangan dalam Islam Pelajaran Perang Badar Pembagian Khumus perang badar renungan ayat renungan quran Surah Al-Anfal Tafsir Al-Anfal tawakal kepada Allah Ujian Iman


Perang Badar bukan sekadar kemenangan militer pertama kaum Muslimin. Surah Al-Anfal (juz kesembilan) mengungkap sisi yang lebih dalam: ujian iman, konflik harta, doa di saat genting, hingga aturan pembagian ghanimah. Dari peristiwa ini, kita belajar bahwa kemenangan sejati lahir dari hati yang bertakwa dan tunduk kepada Allah. Baca juga: Faedah Sirah Nabi: Perang Badar Kubra dan Pelajaran di Dalamnya  Daftar Isi tutup 1. Rebutan Harta atau Perbaikan Hati? 2. Ujian Harta dan Ukuran Iman 3. Ketika Allah Menghendaki yang Lebih Besar dari yang Kita Inginkan 4. Kemenangan Turun Bersama Doa 5. Aturan Pembagian Harta Rampasan 6. Allah yang Mempertemukan Dua Pasukan 7. Pelajaran Menarik dari Ayat-Ayat Perang Badar 8. Doa Penutup  Rebutan Harta atau Perbaikan Hati?Allah Ta’ala berfirman,يَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلْأَنفَالِ ۖ قُلِ ٱلْأَنفَالُ لِلَّهِ وَٱلرَّسُولِ ۖ فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَأَصْلِحُوا۟ ذَاتَ بَيْنِكُمْ ۖ وَأَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ“Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang kepunyaan Allah dan Rasul, oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu; dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman“.” (QS. Al-Anfal: 1) Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.Al-anfāl adalah harta rampasan perang yang Allah anugerahkan kepada umat ini dari harta orang-orang kafir. Ayat-ayat dalam surah ini turun berkaitan dengan peristiwa Perang Badar, yaitu rampasan perang besar pertama yang diperoleh kaum Muslimin dari kaum musyrikin.Saat itu, terjadi perselisihan di antara sebagian kaum Muslimin mengenai pembagian harta rampasan tersebut. Mereka pun bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang bagaimana cara membaginya dan kepada siapa saja harta itu diberikan.Baca juga: Perang Sudan dan Rebutan Gunung Emas: Sebuah Peringatan tentang Fitnah HartaMaka Allah menurunkan firman-Nya, “Mereka bertanya kepadamu tentang al-anfāl…” Maksudnya, mereka bertanya bagaimana harta itu dibagi dan siapa yang berhak menerimanya.Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk menjawab, “Al-anfāl itu milik Allah dan Rasul.” Artinya, penentuan pembagiannya berada di tangan Allah dan Rasul-Nya. Keduanya berhak menempatkannya sesuai kehendak dan kebijaksanaan-Nya. Tidak ada ruang bagi siapa pun untuk memprotes atau menolak keputusan Allah dan Rasul-Nya.Yang seharusnya dilakukan kaum beriman adalah ridha terhadap ketetapan Allah dan Rasul-Nya, serta menyerahkan sepenuhnya urusan itu kepada keduanya. Sikap ini termasuk dalam perintah, “Maka bertakwalah kepada Allah,” yaitu dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.Kemudian Allah berfirman, “Perbaikilah hubungan di antara kalian.” Maksudnya, perbaikilah segala bentuk perselisihan, permusuhan, dan saling membelakangi yang terjadi di antara kalian. Gantilah itu dengan sikap saling mencintai, saling menyayangi, dan saling menyambung hubungan.Dengan memperbaiki hubungan, persatuan akan terwujud. Permusuhan, pertengkaran, dan perselisihan yang muncul akibat perpecahan pun akan sirna.Termasuk dalam memperbaiki hubungan adalah memperindah akhlak kepada sesama, serta memaafkan orang yang berbuat salah. Dengan sikap ini, banyak kebencian dan rasa tidak suka yang tersimpan di dalam hati akan hilang.Semua itu terangkum dalam firman-Nya, “Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya jika kalian benar-benar orang-orang yang beriman.” Iman yang benar akan mendorong seseorang untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebaliknya, siapa yang tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka itu menunjukkan bahwa imannya tidak sempurna, bahkan tidak ada sama sekali. Ujian Harta dan Ukuran ImanPada ayat pertama Surah Al-Anfal, Allah membahas tentang perselisihan kaum Muslimin terkait harta rampasan perang setelah Perang Badar. Di sana Allah menegaskan bahwa al-anfāl adalah milik Allah dan Rasul-Nya. Solusinya bukan sekadar teknis pembagian, tetapi perintah takwa, memperbaiki hubungan, dan menaati Allah serta Rasul-Nya.Lalu mengapa setelah membahas harta rampasan, Allah langsung berbicara tentang ciri-ciri orang beriman sejati?Di sinilah letak keindahan susunan ayat-ayat ini.Perselisihan tentang harta menunjukkan bahwa iman sedang diuji. Ketika harta mulai dibicarakan, hati manusia mudah berubah. Rasa ingin memiliki, merasa paling berhak, atau takut tidak mendapatkan bagian, bisa mengganggu persatuan.Karena itu Allah seakan menegaskan:Jika kalian benar-benar beriman, maka inilah cirinya.Bukan sekadar ikut perang.Bukan sekadar mendapatkan ghanimah.Tetapi:Hatinya bergetar saat nama Allah disebut.Imannya bertambah ketika ayat dibacakan.Ia bertawakal penuh kepada Allah.Ia menegakkan shalat.Ia menginfakkan rezekinya.Artinya, solusi konflik harta bukan pertama-tama pada pembagian angka, tetapi pada kualitas iman.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfal: 2)ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ“(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. Al-Anfal: 3)أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَّهُمْ دَرَجَٰتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ“Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfal: 4)Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.Penjelasan ayat keduaSiapa pun yang ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya berkurang, maka itu menunjukkan bahwa imannya pun berkurang.Karena iman itu terbagi menjadi dua:Iman yang sempurna, yang mendatangkan pujian, sanjungan, dan kemenangan yang sempurna.Iman yang belum sempurna, yang berada di bawah tingkatan tersebut.Dalam ayat ini, Allah menjelaskan tentang iman yang sempurna.Firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman…” Kata “al” pada al-mu’minūn menunjukkan cakupan seluruh sifat dan syariat iman. Artinya, inilah ciri-ciri orang yang benar-benar beriman secara sempurna.“(Yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah, hati mereka bergetar.”Maksudnya, hati mereka merasa takut dan gentar. Rasa takut kepada Allah ini membuat mereka menjauhi segala yang diharamkan. Salah satu tanda terbesar dari rasa takut kepada Allah adalah ketika rasa itu mampu menahan seseorang dari perbuatan dosa.“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka.”Hal ini terjadi karena mereka benar-benar mendengarkan, menghadirkan hati, dan merenungkan ayat-ayat tersebut. Dengan perenungan itulah iman mereka bertambah.Iman bertambah karena beberapa sebab:Tadabbur (merenungkan) ayat-ayat Allah adalah amalan hati.Mereka memahami makna yang sebelumnya belum mereka ketahui.Mereka teringat kembali pada kebenaran yang sempat mereka lupakan.Tumbuh dalam hati mereka keinginan kuat untuk berbuat kebaikan dan kerinduan terhadap kemuliaan dari Rabb mereka.Timbul rasa takut terhadap siksa dan dorongan untuk menjauhi maksiat.Semua hal itu menyebabkan iman semakin bertambah.“Dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.”Artinya, mereka bersandar dengan hati sepenuhnya hanya kepada Allah semata, tanpa menyekutukan-Nya. Mereka bergantung kepada-Nya dalam meraih berbagai kebaikan dan menolak segala keburukan, baik dalam urusan agama maupun urusan dunia. Mereka yakin sepenuhnya bahwa Allah akan mencukupi dan menolong mereka.Tawakal inilah yang menjadi pendorong seluruh amal. Tidak ada satu pun amal yang bisa terwujud dan sempurna kecuali dengan tawakal kepada Allah.Penjelasan ayat ketiga“(Yaitu) orang-orang yang menegakkan shalat…”Maksudnya, mereka melaksanakan shalat, baik yang wajib maupun yang sunnah, dengan menyempurnakan amalan-amalan lahiriah dan batiniahnya. Termasuk di dalamnya adalah menghadirkan hati saat shalat, karena kehadiran hati itulah ruh dan inti shalat. Tanpa kekhusyukan dan perhatian hati, shalat hanya menjadi gerakan tanpa makna.“Dan dari sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, mereka menginfakkan.”Artinya, mereka mengeluarkan sebagian harta yang Allah karuniakan kepada mereka untuk berbagai bentuk pengeluaran yang diperintahkan.Infak tersebut mencakup:Nafkah yang wajib, seperti zakat, kafarat (denda pelanggaran syariat), nafkah untuk istri, kerabat, serta hamba sahaya yang berada di bawah tanggungannya.Nafkah yang sunnah, seperti sedekah dalam berbagai jalan kebaikan.Dengan demikian, mereka adalah orang-orang yang menunaikan hak Allah melalui ibadah shalat dan menunaikan hak sesama manusia melalui infak dan kedermawanan. Penjelasan ayat keempatMereka itulah—yakni orang-orang yang memiliki sifat-sifat mulia yang telah disebutkan sebelumnya—adalah orang-orang yang benar-benar beriman.Mengapa mereka disebut sebagai orang yang beriman dengan sebenar-benarnya? Karena mereka memadukan antara Islam dan iman, antara amal hati dan amal anggota badan, antara ilmu dan pengamalan, serta antara menunaikan hak Allah dan hak sesama manusia.Allah mendahulukan penyebutan amal-amal hati karena amal hati adalah fondasi dari amal anggota badan, bahkan kedudukannya lebih utama. Amal lahiriah tidak akan bernilai tanpa didasari oleh amal batin.Ayat ini juga menunjukkan bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang. Ia bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat. Karena itu, seorang hamba hendaknya selalu menjaga, memelihara, dan menumbuhkan imannya.Sarana utama untuk menumbuhkan iman adalah dengan mentadabburi Kitabullah dan merenungkan makna-maknanya secara mendalam.Kemudian Allah menyebutkan balasan bagi orang-orang yang benar-benar beriman itu:“Bagi mereka derajat-derajat di sisi Tuhan mereka.”Yakni derajat yang tinggi, sesuai dengan tingginya amal dan kualitas iman mereka.“Dan ampunan.”Yaitu pengampunan atas dosa-dosa mereka.“Dan rezeki yang mulia.”Yaitu segala kenikmatan yang Allah siapkan bagi mereka di negeri kemuliaan (surga), berupa kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia.Ayat ini juga menunjukkan bahwa siapa saja yang tidak mencapai tingkatan iman mereka, meskipun ia masuk surga, tidak akan memperoleh kemuliaan yang sempurna sebagaimana yang mereka peroleh. Ketika Allah Menghendaki yang Lebih Besar dari yang Kita InginkanAllah Ta’ala berfirman,كَمَآ أَخْرَجَكَ رَبُّكَ مِنۢ بَيْتِكَ بِٱلْحَقِّ وَإِنَّ فَرِيقًا مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ لَكَٰرِهُونَ“Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dan rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya.” (QS. Al-Anfal: 5)يُجَٰدِلُونَكَ فِى ٱلْحَقِّ بَعْدَمَا تَبَيَّنَ كَأَنَّمَا يُسَاقُونَ إِلَى ٱلْمَوْتِ وَهُمْ يَنظُرُونَ“Mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu).” (QS. Al-Anfal: 6)وَإِذْ يَعِدُكُمُ ٱللَّهُ إِحْدَى ٱلطَّآئِفَتَيْنِ أَنَّهَا لَكُمْ وَتَوَدُّونَ أَنَّ غَيْرَ ذَاتِ ٱلشَّوْكَةِ تَكُونُ لَكُمْ وَيُرِيدُ ٱللَّهُ أَن يُحِقَّ ٱلْحَقَّ بِكَلِمَٰتِهِۦ وَيَقْطَعَ دَابِرَ ٱلْكَٰفِرِينَ“Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir.” (QS. Al-Anfal: 7)لِيُحِقَّ ٱلْحَقَّ وَيُبْطِلَ ٱلْبَٰطِلَ وَلَوْ كَرِهَ ٱلْمُجْرِمُونَ“Agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya.” (QS. Al-Anfal: 8)Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.Sebelum menceritakan perang besar yang penuh keberkahan ini (Perang Badar), Allah terlebih dahulu menyebutkan sifat-sifat yang seharusnya dimiliki oleh kaum mukminin. Sebab, siapa yang menghiasi dirinya dengan sifat-sifat tersebut, maka keadaannya akan lurus dan amal-amalnya akan baik. Di antara amal terbesar itu adalah jihad di jalan Allah.Sebagaimana iman mereka adalah iman yang benar, dan balasan yang dijanjikan Allah kepada mereka adalah benar, demikian pula Allah mengeluarkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dari rumahnya menuju pertemuan dengan kaum musyrikin di Badar dengan membawa kebenaran yang Allah cintai, yang telah Dia tetapkan dan takdirkan.Namun pada awalnya, kaum mukminin tidak menyangka bahwa keberangkatan itu akan berujung pada peperangan melawan musuh. Ketika akhirnya jelas bahwa pertempuran akan terjadi, sebagian dari kaum mukminin mulai berdiskusi dan berdebat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka merasa tidak suka menghadapi musuh, seakan-akan mereka sedang digiring menuju kematian, sementara mereka melihatnya dengan mata kepala sendiri.Padahal sikap seperti itu tidak sepatutnya muncul dari mereka, terlebih setelah jelas bahwa keberangkatan itu adalah atas dasar kebenaran dan merupakan perintah serta keridaan Allah.Dalam kondisi seperti itu, tidak ada lagi ruang untuk perdebatan. Perdebatan hanya relevan ketika kebenaran belum jelas dan perkara masih samar. Adapun ketika kebenaran telah nyata dan terang, maka yang tersisa hanyalah sikap tunduk dan patuh.Perlu diketahui, banyak dari kaum mukminin yang sama sekali tidak terlibat dalam perdebatan tersebut dan tidak merasa keberatan menghadapi musuh. Bahkan mereka yang sempat ditegur oleh Allah pun akhirnya tunduk sepenuhnya untuk berjihad. Allah pun meneguhkan hati mereka dan menyediakan berbagai sebab yang membuat hati mereka menjadi tenang, sebagaimana akan disebutkan kemudian.Awal mula keberangkatan mereka adalah untuk menghadang kafilah dagang Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb menuju Syam. Kafilah itu sangat besar. Ketika terdengar kabar bahwa kafilah tersebut sedang kembali dari Syam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak kaum Muslimin untuk keluar.Maka berangkatlah bersama beliau sekitar tiga ratus lebih sedikit orang. Mereka hanya memiliki tujuh puluh ekor unta yang digunakan secara bergantian, baik untuk ditunggangi maupun membawa perbekalan.Kaum Quraisy mendengar kabar tentang pergerakan kaum Muslimin. Mereka pun keluar untuk melindungi kafilah mereka, dengan jumlah pasukan yang besar dan persenjataan lengkap, terdiri dari sekitar seribu orang dengan perlengkapan senjata dan kuda.Allah menjanjikan kepada kaum mukminin bahwa mereka akan mendapatkan salah satu dari dua kelompok:Entah mereka akan menguasai kafilah,Atau menghadapi pasukan Quraisy.Kaum Muslimin lebih menginginkan kafilah, karena kondisi mereka yang serba terbatas dan karena kafilah itu tidak memiliki kekuatan militer yang besar. Namun Allah menghendaki untuk mereka sesuatu yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada yang mereka inginkan.Allah menghendaki agar mereka berhadapan dengan pasukan Quraisy yang di dalamnya terdapat para pembesar dan tokoh-tokoh utama kaum musyrikin.Allah berfirman, “Dan Allah menghendaki untuk menegakkan kebenaran dengan kalimat-kalimat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir sampai ke akar-akarnya. Agar Dia menegakkan kebenaran dan membatalkan kebatilan, walaupun orang-orang yang berdosa itu tidak menyukainya.”Allah ingin memenangkan kebenaran dan menolong para pembelanya. Dia ingin memusnahkan kebatilan dan para pelakunya hingga ke akar-akarnya. Allah ingin memperlihatkan kepada hamba-hamba-Nya bukti nyata pertolongan-Nya terhadap kebenaran, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terlintas dalam benak mereka.Dengan peristiwa itu, kebenaran semakin jelas melalui tanda-tanda dan bukti-bukti yang nyata. Kebatilan pun tampak kerusakan dan kelemahannya melalui dalil dan peristiwa yang Allah tampakkan, meskipun orang-orang yang berdosa membencinya. Allah tidak memedulikan kebencian mereka terhadap tegaknya kebenaran. Kemenangan Turun Bersama DoaAllah Ta’ala berfirman,إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَٱسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّى مُمِدُّكُم بِأَلْفٍ مِّنَ ٱلْمَلَٰٓئِكَةِ مُرْدِفِينَ“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut”.” (QS. Al-Anfal: 9)Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.Ingatlah nikmat Allah atas kalian, ketika saat pertemuan dengan musuh sudah begitu dekat. Dalam keadaan genting itu, kalian memohon pertolongan kepada Rabb kalian. Kalian berdoa dan merendahkan diri, meminta agar Allah menolong dan menguatkan kalian. Maka Allah pun mengabulkan permohonan kalian. Dia menyelamatkan dan menolong kalian dengan berbagai bentuk pertolongan.Di antara bentuk pertolongan itu adalah Allah mengirimkan kepada kalian seribu malaikat sebagai bala bantuan.Murdifīn artinya para malaikat itu datang secara beriringan, saling menyusul satu sama lain. Mereka turun sebagai pasukan bantuan yang memperkuat barisan kaum mukminin.Ini menunjukkan bahwa kemenangan yang diraih bukan semata-mata karena kekuatan jumlah atau perlengkapan, tetapi karena pertolongan Allah yang turun sebagai jawaban atas doa dan istighatsah (permohonan pertolongan) yang tulus dari kaum beriman. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا جَعَلَهُ ٱللَّهُ إِلَّا بُشْرَىٰ وَلِتَطْمَئِنَّ بِهِۦ قُلُوبُكُمْ ۚ وَمَا ٱلنَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِندِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ“Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfal: 10)Allah tidak menjadikan turunnya para malaikat itu kecuali sebagai kabar gembira bagi kalian, agar jiwa kalian merasa senang dan penuh harapan.Selain itu, Allah juga menjadikannya sebagai sebab agar hati kalian menjadi tenang dan mantap. Dengan mengetahui bahwa bala bantuan dari langit telah datang, rasa gentar dan kekhawatiran pun berubah menjadi keyakinan dan keberanian.Namun hakikatnya, kemenangan bukanlah karena banyaknya jumlah pasukan atau lengkapnya persenjataan. Kemenangan itu semata-mata datang dari sisi Allah.Firman-Nya, “Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah,” menegaskan bahwa sebab-sebab lahiriah hanyalah sarana. Adapun penentu kemenangan yang sebenarnya adalah kehendak dan pertolongan Allah.“Sesungguhnya Allah Mahaperkasa (ʿAzīz).”Tidak ada yang mampu mengalahkan-Nya. Dia Mahakuat dan Mahamengalahkan. Dia dapat menundukkan siapa pun, sekalipun mereka memiliki jumlah besar dan perlengkapan yang lengkap.“Lagi Mahabijaksana (Ḥakīm).”Dia menetapkan segala sesuatu dengan hikmah. Dia mengatur berbagai peristiwa dengan sebab-sebab yang sesuai dan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang tepat.Maka kemenangan di Badar bukan sekadar peristiwa militer, melainkan bukti nyata kekuasaan dan hikmah Allah dalam menolong hamba-hamba-Nya yang beriman.Oleh karenanya, Allah menegaskan di ayat 17,فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ قَتَلَهُمْ ۚ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ رَمَىٰ ۚ وَلِيُبْلِىَ ٱلْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلَآءً حَسَنًا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 17)Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.Allah Ta’ala berfirman tentang peristiwa ketika kaum musyrikin kalah dalam Perang Badar dan banyak dari mereka terbunuh oleh kaum Muslimin:“Maka bukanlah kalian yang membunuh mereka, tetapi Allah-lah yang membunuh mereka.”Artinya, bukan karena kekuatan dan kemampuan kalian semata mereka bisa dikalahkan. Namun Allah-lah yang menolong dan membantu kalian dengan berbagai sebab yang telah disebutkan sebelumnya.Kemudian Allah berfirman,“Dan bukanlah engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah-lah yang melempar.”Peristiwa ini terjadi ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di tengah peperangan, masuk ke dalam tenda (arisy) dan berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah, memohon pertolongan dan kemenangan. Setelah itu, beliau keluar, mengambil segenggam tanah, lalu melemparkannya ke arah wajah kaum musyrikin.Dengan kekuasaan Allah, tanah itu sampai ke wajah-wajah mereka. Tidak ada seorang pun dari mereka kecuali terkena tanah tersebut di wajah, mulut, atau matanya. Saat itulah kekuatan mereka runtuh, semangat mereka melemah, tampak pada diri mereka kegagalan dan kelemahan, lalu mereka pun lari dalam kekalahan.Allah menegaskan kepada Nabi-Nya: bukan dengan kekuatanmu tanah itu sampai ke mata-mata mereka. Kamilah yang menyampaikannya dengan kekuasaan dan kemampuan Kami.Kemudian Allah berfirman,“Dan agar Dia memberikan kepada orang-orang mukmin suatu ujian yang baik.”Maksudnya, Allah sebenarnya mampu memenangkan kaum mukminin tanpa peperangan sama sekali. Namun Allah menghendaki untuk menguji mereka, agar melalui jihad mereka mencapai derajat yang tinggi dan kedudukan yang mulia. Allah ingin memberi mereka pahala yang besar dan balasan yang indah.Dan Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya,“Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”Dia Maha Mendengar apa yang diucapkan hamba, baik yang disembunyikan maupun yang dinyatakan. Dia Maha Mengetahui apa yang ada di dalam hati, baik niat yang baik maupun sebaliknya. Maka Allah menetapkan berbagai ketentuan bagi hamba-hamba-Nya sesuai dengan ilmu, hikmah, dan kemaslahatan mereka. Dan Dia membalas setiap orang sesuai dengan niat dan amalnya. Aturan Pembagian Harta RampasanAllah Ta’ala berfirman,۞ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا غَنِمْتُم مِّن شَىْءٍ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُۥ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ إِن كُنتُمْ ءَامَنتُم بِٱللَّهِ وَمَآ أَنزَلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا يَوْمَ ٱلْفُرْقَانِ يَوْمَ ٱلْتَقَى ٱلْجَمْعَانِ ۗ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ“Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Anfal: 41)Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.Allah Ta’ala berfirman, “Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang kalian peroleh sebagai rampasan perang…”Yakni apa saja yang kalian ambil dari harta orang-orang kafir melalui peperangan yang sah, baik sedikit maupun banyak.“Maka sesungguhnya seperlimanya adalah untuk Allah.”Artinya, seperlima dari harta rampasan itu dikeluarkan terlebih dahulu. Adapun sisanya menjadi hak para pejuang yang ikut dalam peperangan, sebagaimana pembagian yang telah ditetapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: bagi pejalan kaki satu bagian, sedangkan bagi penunggang kuda dua bagian untuk kudanya dan satu bagian untuk dirinya.Adapun seperlima (khumus) tersebut dibagi menjadi lima bagian:1. Bagian untuk Allah dan Rasul-Nya.Maksudnya, digunakan untuk kepentingan umum kaum Muslimin. Karena Allah dan Rasul-Nya tidak membutuhkan harta, maka jelas bahwa bagian ini diperuntukkan bagi kemaslahatan umat secara luas. Ketika Allah tidak merinci penggunaannya, itu menunjukkan bahwa ia dipakai untuk berbagai kebutuhan umum umat Islam.2. Bagian untuk kerabat (dzil qurba).Yaitu kerabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Allah menyebutkan “kerabat” sebagai sebab pemberian tersebut, sehingga kaya maupun miskin, laki-laki maupun perempuan dari kalangan mereka, semuanya berhak atas bagian ini.3. Bagian untuk anak-anak yatim.Yaitu anak-anak yang ditinggal wafat ayahnya dalam keadaan masih kecil. Allah memberikan bagian ini sebagai bentuk kasih sayang kepada mereka, karena mereka belum mampu mengurus kebutuhan diri dan telah kehilangan penanggung nafkahnya.4. Bagian untuk orang-orang miskin.Yaitu kaum fakir yang membutuhkan, baik kecil maupun dewasa, laki-laki maupun perempuan.5. Bagian untuk ibnu sabil.Yaitu musafir yang terputus bekalnya di negeri orang.Sebagian ulama berpendapat bahwa seperlima ini tidak harus dibagi rata kepada semua golongan, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan dan kemaslahatan. Pendapat ini lebih kuat karena pembagian tersebut mengikuti maslahat yang ada.Kemudian Allah menjadikan pelaksanaan pembagian khumus ini sebagai bagian dari konsekuensi iman. Allah berfirman, “Jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami pada hari Furqan.”Yang dimaksud dengan hari Furqan adalah hari Perang Badar, hari ketika Allah membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Pada hari itu, Allah menampakkan kebenaran dan menghancurkan kebatilan.“Yaitu hari bertemunya dua pasukan,” yakni pasukan kaum Muslimin dan pasukan kaum kafir.Seakan-akan Allah berfirman: Jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan kepada wahyu yang diturunkan kepada Rasul-Nya pada hari yang penuh bukti dan tanda kebenaran itu, maka tunaikanlah pembagian ini sebagaimana yang diperintahkan.Dan Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya, “Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” Tidak ada yang mampu mengalahkan-Nya. Siapa pun yang menentang-Nya pasti akan dikalahkan. Dialah yang memenangkan kaum mukminin di Badar dan menegakkan kebenaran dengan kekuasaan-Nya. Allah yang Mempertemukan Dua PasukanAllah Ta’ala berfirman,إِذْ أَنتُم بِٱلْعُدْوَةِ ٱلدُّنْيَا وَهُم بِٱلْعُدْوَةِ ٱلْقُصْوَىٰ وَٱلرَّكْبُ أَسْفَلَ مِنكُمْ ۚ وَلَوْ تَوَاعَدتُّمْ لَٱخْتَلَفْتُمْ فِى ٱلْمِيعَٰدِ ۙ وَلَٰكِن لِّيَقْضِىَ ٱللَّهُ أَمْرًا كَانَ مَفْعُولًا لِّيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنۢ بَيِّنَةٍ وَيَحْيَىٰ مَنْ حَىَّ عَنۢ بَيِّنَةٍ ۗ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَسَمِيعٌ عَلِيمٌ“(Yaitu di hari) ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat dan mereka berada di pinggir lembah yang jauh sedang kafilah itu berada di bawah kamu. Sekiranya kamu mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari pertempuran), pastilah kamu tidak sependapat dalam menentukan hari pertempuran itu, akan tetapi (Allah mempertemukan dua pasukan itu) agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan, yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 42)Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan sebagai berikut.“(Yaitu) ketika kalian berada di tepi lembah yang dekat…”Maksudnya, di sisi lembah yang lebih dekat ke arah Madinah. Sedangkan mereka (pasukan musyrikin) berada di sisi lembah yang jauh dari Madinah. Dengan demikian, kalian dan mereka berada dalam satu lembah yang sama, hanya berbeda sisi.“Dan kafilah itu berada di bawah kalian…”Yaitu kafilah dagang yang awalnya kalian tuju, tetapi Allah menghendaki selain itu, berada di posisi lebih bawah dari kalian, ke arah pantai laut.“Dan sekiranya kalian mengadakan perjanjian…”Yakni jika kalian dan mereka sepakat untuk menentukan waktu dan tempat pertemuan dalam kondisi seperti itu,“niscaya kalian akan berselisih dalam menentukan waktu.”Artinya, pasti akan terjadi perbedaan—entah ada yang datang lebih awal atau lebih lambat, memilih tempat berbeda, atau terjadi sebab-sebab lain yang menghalangi kalian dari waktu yang telah disepakati.“Tetapi…”Allah-lah yang mempertemukan kalian dalam keadaan seperti itu,“agar Allah menetapkan suatu urusan yang pasti terlaksana.”Yaitu sesuatu yang telah ditakdirkan sejak dahulu dan pasti terjadi.“Agar binasa orang yang binasa dengan bukti yang nyata.”Artinya, agar orang yang tetap dalam kekafiran melakukannya setelah jelas kebenaran di hadapannya. Ia memilih kekafiran dengan sadar dan yakin bahwa itu batil, sehingga tidak tersisa lagi alasan baginya di hadapan Allah.“Dan agar hidup orang yang hidup dengan bukti yang nyata.”Yaitu agar orang beriman semakin bertambah keyakinan dan keteguhan hatinya setelah Allah memperlihatkan kepada kedua kelompok bukti-bukti dan dalil-dalil kebenaran yang nyata. Itu menjadi pelajaran bagi orang-orang yang berakal.“Dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”Dia Maha Mendengar seluruh suara, dalam berbagai bahasa dan dengan berbagai kebutuhan. Dia Maha Mengetahui segala yang tampak maupun yang tersembunyi, apa yang ada dalam hati dan apa yang terlihat, yang gaib maupun yang nyata. Pelajaran Menarik dari Ayat-Ayat Perang Badar1. Ujian Harta Mengungkap Kualitas ImanKemenangan di medan perang langsung diikuti ujian harta. Ketika ghanimah dipersoalkan, Allah tidak langsung membahas teknis pembagian, tetapi memerintahkan takwa dan perbaikan hati. Artinya, konflik harta adalah ujian iman.2. Ciri Mukmin Sejati Bukan Sekadar Ikut BerperangIman yang benar terlihat dari hati yang bergetar saat nama Allah disebut, iman yang bertambah saat ayat dibacakan, tawakal yang kuat, shalat yang ditegakkan, dan infak yang ditunaikan. Kemenangan lahir dari kualitas iman, bukan jumlah pasukan.3. Allah Menghendaki yang Lebih Besar dari Keinginan ManusiaSahabat ingin kafilah yang mudah. Allah menghendaki pertempuran besar untuk menegakkan kebenaran. Terkadang yang kita inginkan bukan yang terbaik menurut Allah.4. Doa adalah Kunci Turunnya PertolonganSeribu malaikat turun bukan karena strategi, tetapi karena istighatsah yang tulus. Kemenangan bukan karena jumlah, tetapi karena pertolongan Allah.5. Pembagian Harta adalah Amanah ImanSeperlima ghanimah diatur secara jelas. Ada hak Allah, Rasul, kerabat, yatim, miskin, dan ibnu sabil. Keadilan dalam distribusi adalah bagian dari konsekuensi iman.6. Allah yang Mengatur Pertemuan dan TakdirPertemuan dua pasukan bukan kebetulan. Allah mempertemukan mereka agar kebenaran tampak jelas dan kebatilan runtuh tanpa alasan tersisa. Doa Penutupاللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ، وَأَنْ تَغْفِرَ لَنَا وَتَرْحَمَنَا، وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةً فِي قَوْمٍ فَتَوَفَّنَا غَيْرَ مَفْتُونِينَ، وَنَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنَا إِلَى حُبِّكَ.Ya Allah, kami memohon kepada-Mu agar Engkau memberi kami kemampuan untuk melakukan berbagai kebaikan, menjauhi segala kemungkaran, dan mencintai orang-orang miskin. Kami juga memohon agar Engkau mengampuni dan merahmati kami. Jika Engkau hendak menimpakan ujian atau fitnah kepada suatu kaum, maka wafatkanlah kami dalam keadaan tidak terkena fitnah tersebut. Dan kami memohon kepada-Mu cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu, serta cinta terhadap amal yang dapat mendekatkan kami kepada cinta-Mu. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Kamis Sore, 9 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsberperang Ghanimah dalam Islam Harta Rampasan Perang hikmah perang Kemenangan dalam Islam Pelajaran Perang Badar Pembagian Khumus perang badar renungan ayat renungan quran Surah Al-Anfal Tafsir Al-Anfal tawakal kepada Allah Ujian Iman

Fatwa Ulama: Hukum Puasa Orang yang Menelan Dahak (Lendir)

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Wahai Syekh kami, Anda pernah menyebutkan — semoga Allah menjaga Anda — dalam fatwa bernomor (737) berjudul “Tentang hal yang dianggap dalam pembatal-pembatal puasa”:“Yang menjadi ukuran batalnya puasa karena makan dan minum adalah sengaja memasukkan sesuatu dari hal-hal yang membatalkan puasa ke dalam rongga tubuh melalui jalan yang biasa, yaitu mulut. Termasuk yang disamakan dengannya adalah hidung, berdasarkan sabda Nabi ﷺ,وَبَالِغْ فِي الِاسْتِنْشَاقِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا‘Bersungguh-sungguhlah dalam menghirup air ke dalam hidung kecuali jika engkau sedang berpuasa.’ [1]Baik sesuatu yang dimasukkan ke dalam rongga tubuh itu bersifat mengenyangkan ataupun tidak, bermanfaat atau membahayakan atau tidak bermanfaat dan tidak pula membahayakan, serta baik terurai di dalam rongga tubuh maupun tidak.”Pertanyaannya: apakah yang termasuk dalam ketentuan tersebut adalah menelan dahak, baik dahak itu ke mulut terlebih dahulu atau langsung ke kerongkongan?Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan dan memberkahi ilmu Anda.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasul yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, kepada keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’du:Apabila dahak atau lendir [2] mengalir dari hidung atau rongga hidung menuju kerongkongan orang yang berpuasa tanpa keluar terlebih dahulu ke mulutnya, maka saya tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat bahwa hal itu tidak membatalkan puasa, karena lendir tersebut belum melewati anak tekak (uvula), yaitu daging kecil yang menggantung sebagai pemisah antara kerongkongan dan mulut. [3]Hukum yang sama berlaku pada dahak (lendir) dan yang semisalnya apabila berupa balgham [4], baik berupa lendir yang encer ataupun mukhāṭ (ingus/lendir hidung) [5] yang cair, yakni tidak membentuk gumpalan yang kental atau berat — sebagaimana keadaan dahak — dan balgham serta lendir hidung biasanya bercampur dengan air liur. Apabila seseorang menelannya bersama air liur, maka hal itu tidak merusak puasanya karena keduanya dihukumi seperti air liur.Terlebih lagi apabila hal itu terjadi tanpa sengaja atau ia menelannya karena lupa dan bukan dengan kesengajaan, maka tidak ada kewajiban apa pun atasnya dalam hal tersebut, bahkan lebih utama lagi (untuk tidak dianggap bermasalah).Makruh bagi seseorang menelan dahak yang berupa gumpalan kental secara sengaja, padahal ia mampu membuang dan meludahkannya apabila ia tidak sedang berpuasa. Hal itu karena dahak pada dasarnya dianggap menjijikkan secara tabiat, dan bisa saja membawa kotoran yang telah dikeluarkan oleh tubuh.Jika seseorang dengan sengaja dan pilihan sendiri mengembalikannya ke dalam rongga tubuh (menelannya) ketika ia sedang berpuasa, maka hal itu membatalkan puasa menurut pendapat yang paling kuat di kalangan ulama, karena dahak tersebut memiliki wujud (materi) yang menyerupai qals [6] atau seperti muntah dalam hukumnya. Maksudnya, apabila seseorang dengan sengaja memasukkan kembali sisa sesuatu yang telah keluar dari rongga perutnya berupa qalṣ atau muntah, padahal ia mampu membuangnya, maka puasanya batal dan tidak ada kewajiban kafarah atasnya.Dalam masalah muntah, tampak jelas dalil yang membedakan antara kesengajaan dan pilihan, dengan lupa atau terpaksa. Hal ini berdasarkan riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda,مَنْ ذَرَعَهُ القَيْءُ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ، وَمَنْ اسْتَقَاءَ عَمْدًا فَلْيَقْضِ“Barang siapa yang muntah tanpa disengaja, maka tidak ada kewajiban qadha atasnya. Dan barang siapa yang sengaja memuntahkan diri, maka hendaklah ia mengqadha (puasanya).” [7]Amalan para ulama didasarkan pada hadis Abu Hurairah dari Nabi ﷺ,أنَّ الصَّائم إذا ذرَعَه القيءُ فلا قضاءَ عليه، وإذا استقاءَ عمدًا فَلْيَقْضِ“Sesungguhnya orang yang berpuasa apabila muntah tanpa sengaja, maka tidak ada qadha atasnya. Dan apabila ia sengaja muntah, maka hendaklah ia mengqadha.’ Pendapat ini dipegang oleh Sufyan Ats-Tsauri, Asy-Syafi‘i, Ahmad, dan Ishaq.”Dan berdasarkan hadis yang sahih dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda,مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ، فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ“Barang siapa lupa ketika ia sedang berpuasa, lalu ia makan atau minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah telah memberinya makan dan minum.” [8]Dan tidak ada kewajiban kafarah bagi orang yang melakukannya dengan sengaja menurut pendapat yang paling kuat di sisi mayoritas ulama, berbeda dengan pendapat ‘Atha’ [9].Dan tidak diragukan lagi bahwa hukum yang telah ditetapkan dalam masalah ini sejalan dengan apa yang telah disebutkan sebelumnya dalam pembahasan, “Hal yang dianggap dalam pembatal-pembatal puasa”, tidak keluar darinya dan tidak pula menyelisihi kaidah-kaidahnya. [10]Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat. Baca juga: Hikmah Diwajibkannya Puasa Ramadan***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel Muslimah.or.id Sumber: https://www.ferkous.app/home/index.php?q=fatwa-1301Catatan kaki:[1] Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Kitab Ath-Thaharah, bab Istintsar (mengeluarkan air dari hidung) no. 142 dan dalam Kitab Ash-Shiyam, bab Orang yang berpuasa menyiramkan air pada dirinya karena haus dan bersungguh-sungguh dalam istinsyaq no. 2366; At-Tirmidzi dalam Kitab Ash-Shiyam, bab Larangan berlebihan dalam istinsyaq bagi orang yang berpuasa no. 788; An-Nasa’i dalam Kitab Ath-Thaharah, bab Bersungguh-sungguh dalam istinsyaq no. 87; dan Ibnu Majah dalam Kitab Ath-Thaharah, bab Bersungguh-sungguh dalam istinsyaq dan istintsar no. 407, dari hadis Laqith bin Shabrah Al-‘Amiri Al-‘Uqaili Al-Muntafiqi radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Irwa’ Al-Ghalil (4: 85) no. 935.[2] Dikatakan bahwa an-nukhā‘ah adalah an-nukhāmah (keduanya bermakna sama). Lihat Ash-Shihah, karya Al-Jauhari (3: 1288 dan 5: 2040); Mukhtar Ash-Shihah, karya Ar-Razi (hal. 307); dan Al-Qamus, karya Al-Fairuzabadi (hal. 765 dan 1161).Al-Laits berkata: an-nukhā‘ah adalah sesuatu yang keluar dari dada dan tenggorokan atau dari dada saja, sedangkan an-nukhāmah adalah sesuatu yang keluar dari kepala (yakni lendir dari hidung). (Lihat Taj Al-‘Arus, 33: 484 dan 22: 236)[3] Lihat An-Nihayah, karya Abu As-Sa‘adat Ibnul Atsir (4: 284); Ash-Shihah (6: 2487); Mukhtar Ash-Shihah, karya Ar-Razi (hal. 286); dan Taj Al-‘Arus, karya Az-Zabidi (39: 499).[4] Balgham adalah salah satu cairan tubuh, yaitu air liur yang bercampur dengan lendir yang keluar dari saluran pernapasan.Lihat Ash-Shihah, karya Al-Jauhari (5: 1874); Mukhtar Ash-Shihah, karya Ar-Razi (hal. 39); Al-Qamus, karya Al-Fairuzabadi (hal. 1081); Taj Al-‘Arus, karya Az-Zabidi (31: 305); dan Al-Mu‘jam Al-Wasith, (1: 70).[5] Al-mukhāṭ adalah sesuatu yang keluar dari hidung sebagaimana air liur keluar dari mulut; bentuk jamaknya amkhiṭah. Dikatakan makhaṭahu min anfihi, yaitu ia mengeluarkannya dari hidung, sedangkan imtakhatha dan tamakhkhaṭa berarti istantsara (mengeluarkan lendir dari hidung).Lihat Ash-Shihah, karya Al-Jauhari (3: 1158); Mukhtar Ash-Shihah, karya Ar-Razi (hal. 291); Al-Qamus, karya Al-Fairuzabadi (hal. 687); dan Taj Al-‘Arus, karya Az-Zabidi (20: 93–94).[6] Al-qalṣ (atau al-qalas) adalah sesuatu yang keluar dari tenggorokan atau perut berupa makanan atau minuman, baik memenuhi mulut maupun kurang dari itu, tetapi bukan muntah. Jika kembali masuk, maka ia menjadi muntah. Bentuk jamaknya aqlās.Lihat Jamhirat Al-‘Arab, karya Al-Azdi (2: 851); Ash-Shihah, karya Al-Jauhari (3: 965); An-Nihayah, karya Ibnul Atsir (4: 100); Mukhtar Ash-Shihah, karya Ar-Razi (hal. 259); Al-Qamus, karya Al-Fairuzabadi (hal. 567); dan Taj Al-‘Arus, karya Az-Zabidi (16: 391).[7] Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Kitab Ash-Shaum, bab Orang yang berpuasa sengaja muntah no. 2380; At-Tirmidzi dalam Kitab Ash-Shaum, bab Tentang orang yang sengaja muntah no. 720; dan Ibnu Majah dalam Kitab Ash-Shiyam, bab Tentang orang yang berpuasa muntah no. 1676, dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami‘ no. 6243.[8] Hadis ini muttafaq ‘alaih: diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Kitab Ash-Shaum, bab Orang yang berpuasa makan atau minum karena lupa no. 1933, dan Muslim dalam Kitab Ash-Shiyam no. 1155, dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.[9] Lihat Ma‘alim As-Sunan, karya Al-Khaththabi (2: 777) dan Al-Istidzkar, karya Ibnu ‘Abdil Barr (3: 326). Lihat juga dua tulisan penulis, “At-Tahrir wal-Bayan fi Hukmi Man Afthara ‘Amdan fi Ramadhan” dan “Al-Muhaqqaq Al-Mad‘um fi Bayan Hadits: ‘Afthara Al-Hajim wal-Mahjum’.” [10] Lihat juga fatwa no. (1257) berjudul, “Penjelasan tentang permasalahan dalam menentukan ‘illat pembatal puasa” di situs resmi penulis.

Fatwa Ulama: Hukum Puasa Orang yang Menelan Dahak (Lendir)

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Wahai Syekh kami, Anda pernah menyebutkan — semoga Allah menjaga Anda — dalam fatwa bernomor (737) berjudul “Tentang hal yang dianggap dalam pembatal-pembatal puasa”:“Yang menjadi ukuran batalnya puasa karena makan dan minum adalah sengaja memasukkan sesuatu dari hal-hal yang membatalkan puasa ke dalam rongga tubuh melalui jalan yang biasa, yaitu mulut. Termasuk yang disamakan dengannya adalah hidung, berdasarkan sabda Nabi ﷺ,وَبَالِغْ فِي الِاسْتِنْشَاقِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا‘Bersungguh-sungguhlah dalam menghirup air ke dalam hidung kecuali jika engkau sedang berpuasa.’ [1]Baik sesuatu yang dimasukkan ke dalam rongga tubuh itu bersifat mengenyangkan ataupun tidak, bermanfaat atau membahayakan atau tidak bermanfaat dan tidak pula membahayakan, serta baik terurai di dalam rongga tubuh maupun tidak.”Pertanyaannya: apakah yang termasuk dalam ketentuan tersebut adalah menelan dahak, baik dahak itu ke mulut terlebih dahulu atau langsung ke kerongkongan?Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan dan memberkahi ilmu Anda.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasul yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, kepada keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’du:Apabila dahak atau lendir [2] mengalir dari hidung atau rongga hidung menuju kerongkongan orang yang berpuasa tanpa keluar terlebih dahulu ke mulutnya, maka saya tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat bahwa hal itu tidak membatalkan puasa, karena lendir tersebut belum melewati anak tekak (uvula), yaitu daging kecil yang menggantung sebagai pemisah antara kerongkongan dan mulut. [3]Hukum yang sama berlaku pada dahak (lendir) dan yang semisalnya apabila berupa balgham [4], baik berupa lendir yang encer ataupun mukhāṭ (ingus/lendir hidung) [5] yang cair, yakni tidak membentuk gumpalan yang kental atau berat — sebagaimana keadaan dahak — dan balgham serta lendir hidung biasanya bercampur dengan air liur. Apabila seseorang menelannya bersama air liur, maka hal itu tidak merusak puasanya karena keduanya dihukumi seperti air liur.Terlebih lagi apabila hal itu terjadi tanpa sengaja atau ia menelannya karena lupa dan bukan dengan kesengajaan, maka tidak ada kewajiban apa pun atasnya dalam hal tersebut, bahkan lebih utama lagi (untuk tidak dianggap bermasalah).Makruh bagi seseorang menelan dahak yang berupa gumpalan kental secara sengaja, padahal ia mampu membuang dan meludahkannya apabila ia tidak sedang berpuasa. Hal itu karena dahak pada dasarnya dianggap menjijikkan secara tabiat, dan bisa saja membawa kotoran yang telah dikeluarkan oleh tubuh.Jika seseorang dengan sengaja dan pilihan sendiri mengembalikannya ke dalam rongga tubuh (menelannya) ketika ia sedang berpuasa, maka hal itu membatalkan puasa menurut pendapat yang paling kuat di kalangan ulama, karena dahak tersebut memiliki wujud (materi) yang menyerupai qals [6] atau seperti muntah dalam hukumnya. Maksudnya, apabila seseorang dengan sengaja memasukkan kembali sisa sesuatu yang telah keluar dari rongga perutnya berupa qalṣ atau muntah, padahal ia mampu membuangnya, maka puasanya batal dan tidak ada kewajiban kafarah atasnya.Dalam masalah muntah, tampak jelas dalil yang membedakan antara kesengajaan dan pilihan, dengan lupa atau terpaksa. Hal ini berdasarkan riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda,مَنْ ذَرَعَهُ القَيْءُ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ، وَمَنْ اسْتَقَاءَ عَمْدًا فَلْيَقْضِ“Barang siapa yang muntah tanpa disengaja, maka tidak ada kewajiban qadha atasnya. Dan barang siapa yang sengaja memuntahkan diri, maka hendaklah ia mengqadha (puasanya).” [7]Amalan para ulama didasarkan pada hadis Abu Hurairah dari Nabi ﷺ,أنَّ الصَّائم إذا ذرَعَه القيءُ فلا قضاءَ عليه، وإذا استقاءَ عمدًا فَلْيَقْضِ“Sesungguhnya orang yang berpuasa apabila muntah tanpa sengaja, maka tidak ada qadha atasnya. Dan apabila ia sengaja muntah, maka hendaklah ia mengqadha.’ Pendapat ini dipegang oleh Sufyan Ats-Tsauri, Asy-Syafi‘i, Ahmad, dan Ishaq.”Dan berdasarkan hadis yang sahih dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda,مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ، فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ“Barang siapa lupa ketika ia sedang berpuasa, lalu ia makan atau minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah telah memberinya makan dan minum.” [8]Dan tidak ada kewajiban kafarah bagi orang yang melakukannya dengan sengaja menurut pendapat yang paling kuat di sisi mayoritas ulama, berbeda dengan pendapat ‘Atha’ [9].Dan tidak diragukan lagi bahwa hukum yang telah ditetapkan dalam masalah ini sejalan dengan apa yang telah disebutkan sebelumnya dalam pembahasan, “Hal yang dianggap dalam pembatal-pembatal puasa”, tidak keluar darinya dan tidak pula menyelisihi kaidah-kaidahnya. [10]Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat. Baca juga: Hikmah Diwajibkannya Puasa Ramadan***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel Muslimah.or.id Sumber: https://www.ferkous.app/home/index.php?q=fatwa-1301Catatan kaki:[1] Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Kitab Ath-Thaharah, bab Istintsar (mengeluarkan air dari hidung) no. 142 dan dalam Kitab Ash-Shiyam, bab Orang yang berpuasa menyiramkan air pada dirinya karena haus dan bersungguh-sungguh dalam istinsyaq no. 2366; At-Tirmidzi dalam Kitab Ash-Shiyam, bab Larangan berlebihan dalam istinsyaq bagi orang yang berpuasa no. 788; An-Nasa’i dalam Kitab Ath-Thaharah, bab Bersungguh-sungguh dalam istinsyaq no. 87; dan Ibnu Majah dalam Kitab Ath-Thaharah, bab Bersungguh-sungguh dalam istinsyaq dan istintsar no. 407, dari hadis Laqith bin Shabrah Al-‘Amiri Al-‘Uqaili Al-Muntafiqi radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Irwa’ Al-Ghalil (4: 85) no. 935.[2] Dikatakan bahwa an-nukhā‘ah adalah an-nukhāmah (keduanya bermakna sama). Lihat Ash-Shihah, karya Al-Jauhari (3: 1288 dan 5: 2040); Mukhtar Ash-Shihah, karya Ar-Razi (hal. 307); dan Al-Qamus, karya Al-Fairuzabadi (hal. 765 dan 1161).Al-Laits berkata: an-nukhā‘ah adalah sesuatu yang keluar dari dada dan tenggorokan atau dari dada saja, sedangkan an-nukhāmah adalah sesuatu yang keluar dari kepala (yakni lendir dari hidung). (Lihat Taj Al-‘Arus, 33: 484 dan 22: 236)[3] Lihat An-Nihayah, karya Abu As-Sa‘adat Ibnul Atsir (4: 284); Ash-Shihah (6: 2487); Mukhtar Ash-Shihah, karya Ar-Razi (hal. 286); dan Taj Al-‘Arus, karya Az-Zabidi (39: 499).[4] Balgham adalah salah satu cairan tubuh, yaitu air liur yang bercampur dengan lendir yang keluar dari saluran pernapasan.Lihat Ash-Shihah, karya Al-Jauhari (5: 1874); Mukhtar Ash-Shihah, karya Ar-Razi (hal. 39); Al-Qamus, karya Al-Fairuzabadi (hal. 1081); Taj Al-‘Arus, karya Az-Zabidi (31: 305); dan Al-Mu‘jam Al-Wasith, (1: 70).[5] Al-mukhāṭ adalah sesuatu yang keluar dari hidung sebagaimana air liur keluar dari mulut; bentuk jamaknya amkhiṭah. Dikatakan makhaṭahu min anfihi, yaitu ia mengeluarkannya dari hidung, sedangkan imtakhatha dan tamakhkhaṭa berarti istantsara (mengeluarkan lendir dari hidung).Lihat Ash-Shihah, karya Al-Jauhari (3: 1158); Mukhtar Ash-Shihah, karya Ar-Razi (hal. 291); Al-Qamus, karya Al-Fairuzabadi (hal. 687); dan Taj Al-‘Arus, karya Az-Zabidi (20: 93–94).[6] Al-qalṣ (atau al-qalas) adalah sesuatu yang keluar dari tenggorokan atau perut berupa makanan atau minuman, baik memenuhi mulut maupun kurang dari itu, tetapi bukan muntah. Jika kembali masuk, maka ia menjadi muntah. Bentuk jamaknya aqlās.Lihat Jamhirat Al-‘Arab, karya Al-Azdi (2: 851); Ash-Shihah, karya Al-Jauhari (3: 965); An-Nihayah, karya Ibnul Atsir (4: 100); Mukhtar Ash-Shihah, karya Ar-Razi (hal. 259); Al-Qamus, karya Al-Fairuzabadi (hal. 567); dan Taj Al-‘Arus, karya Az-Zabidi (16: 391).[7] Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Kitab Ash-Shaum, bab Orang yang berpuasa sengaja muntah no. 2380; At-Tirmidzi dalam Kitab Ash-Shaum, bab Tentang orang yang sengaja muntah no. 720; dan Ibnu Majah dalam Kitab Ash-Shiyam, bab Tentang orang yang berpuasa muntah no. 1676, dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami‘ no. 6243.[8] Hadis ini muttafaq ‘alaih: diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Kitab Ash-Shaum, bab Orang yang berpuasa makan atau minum karena lupa no. 1933, dan Muslim dalam Kitab Ash-Shiyam no. 1155, dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.[9] Lihat Ma‘alim As-Sunan, karya Al-Khaththabi (2: 777) dan Al-Istidzkar, karya Ibnu ‘Abdil Barr (3: 326). Lihat juga dua tulisan penulis, “At-Tahrir wal-Bayan fi Hukmi Man Afthara ‘Amdan fi Ramadhan” dan “Al-Muhaqqaq Al-Mad‘um fi Bayan Hadits: ‘Afthara Al-Hajim wal-Mahjum’.” [10] Lihat juga fatwa no. (1257) berjudul, “Penjelasan tentang permasalahan dalam menentukan ‘illat pembatal puasa” di situs resmi penulis.
Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Wahai Syekh kami, Anda pernah menyebutkan — semoga Allah menjaga Anda — dalam fatwa bernomor (737) berjudul “Tentang hal yang dianggap dalam pembatal-pembatal puasa”:“Yang menjadi ukuran batalnya puasa karena makan dan minum adalah sengaja memasukkan sesuatu dari hal-hal yang membatalkan puasa ke dalam rongga tubuh melalui jalan yang biasa, yaitu mulut. Termasuk yang disamakan dengannya adalah hidung, berdasarkan sabda Nabi ﷺ,وَبَالِغْ فِي الِاسْتِنْشَاقِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا‘Bersungguh-sungguhlah dalam menghirup air ke dalam hidung kecuali jika engkau sedang berpuasa.’ [1]Baik sesuatu yang dimasukkan ke dalam rongga tubuh itu bersifat mengenyangkan ataupun tidak, bermanfaat atau membahayakan atau tidak bermanfaat dan tidak pula membahayakan, serta baik terurai di dalam rongga tubuh maupun tidak.”Pertanyaannya: apakah yang termasuk dalam ketentuan tersebut adalah menelan dahak, baik dahak itu ke mulut terlebih dahulu atau langsung ke kerongkongan?Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan dan memberkahi ilmu Anda.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasul yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, kepada keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’du:Apabila dahak atau lendir [2] mengalir dari hidung atau rongga hidung menuju kerongkongan orang yang berpuasa tanpa keluar terlebih dahulu ke mulutnya, maka saya tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat bahwa hal itu tidak membatalkan puasa, karena lendir tersebut belum melewati anak tekak (uvula), yaitu daging kecil yang menggantung sebagai pemisah antara kerongkongan dan mulut. [3]Hukum yang sama berlaku pada dahak (lendir) dan yang semisalnya apabila berupa balgham [4], baik berupa lendir yang encer ataupun mukhāṭ (ingus/lendir hidung) [5] yang cair, yakni tidak membentuk gumpalan yang kental atau berat — sebagaimana keadaan dahak — dan balgham serta lendir hidung biasanya bercampur dengan air liur. Apabila seseorang menelannya bersama air liur, maka hal itu tidak merusak puasanya karena keduanya dihukumi seperti air liur.Terlebih lagi apabila hal itu terjadi tanpa sengaja atau ia menelannya karena lupa dan bukan dengan kesengajaan, maka tidak ada kewajiban apa pun atasnya dalam hal tersebut, bahkan lebih utama lagi (untuk tidak dianggap bermasalah).Makruh bagi seseorang menelan dahak yang berupa gumpalan kental secara sengaja, padahal ia mampu membuang dan meludahkannya apabila ia tidak sedang berpuasa. Hal itu karena dahak pada dasarnya dianggap menjijikkan secara tabiat, dan bisa saja membawa kotoran yang telah dikeluarkan oleh tubuh.Jika seseorang dengan sengaja dan pilihan sendiri mengembalikannya ke dalam rongga tubuh (menelannya) ketika ia sedang berpuasa, maka hal itu membatalkan puasa menurut pendapat yang paling kuat di kalangan ulama, karena dahak tersebut memiliki wujud (materi) yang menyerupai qals [6] atau seperti muntah dalam hukumnya. Maksudnya, apabila seseorang dengan sengaja memasukkan kembali sisa sesuatu yang telah keluar dari rongga perutnya berupa qalṣ atau muntah, padahal ia mampu membuangnya, maka puasanya batal dan tidak ada kewajiban kafarah atasnya.Dalam masalah muntah, tampak jelas dalil yang membedakan antara kesengajaan dan pilihan, dengan lupa atau terpaksa. Hal ini berdasarkan riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda,مَنْ ذَرَعَهُ القَيْءُ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ، وَمَنْ اسْتَقَاءَ عَمْدًا فَلْيَقْضِ“Barang siapa yang muntah tanpa disengaja, maka tidak ada kewajiban qadha atasnya. Dan barang siapa yang sengaja memuntahkan diri, maka hendaklah ia mengqadha (puasanya).” [7]Amalan para ulama didasarkan pada hadis Abu Hurairah dari Nabi ﷺ,أنَّ الصَّائم إذا ذرَعَه القيءُ فلا قضاءَ عليه، وإذا استقاءَ عمدًا فَلْيَقْضِ“Sesungguhnya orang yang berpuasa apabila muntah tanpa sengaja, maka tidak ada qadha atasnya. Dan apabila ia sengaja muntah, maka hendaklah ia mengqadha.’ Pendapat ini dipegang oleh Sufyan Ats-Tsauri, Asy-Syafi‘i, Ahmad, dan Ishaq.”Dan berdasarkan hadis yang sahih dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda,مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ، فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ“Barang siapa lupa ketika ia sedang berpuasa, lalu ia makan atau minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah telah memberinya makan dan minum.” [8]Dan tidak ada kewajiban kafarah bagi orang yang melakukannya dengan sengaja menurut pendapat yang paling kuat di sisi mayoritas ulama, berbeda dengan pendapat ‘Atha’ [9].Dan tidak diragukan lagi bahwa hukum yang telah ditetapkan dalam masalah ini sejalan dengan apa yang telah disebutkan sebelumnya dalam pembahasan, “Hal yang dianggap dalam pembatal-pembatal puasa”, tidak keluar darinya dan tidak pula menyelisihi kaidah-kaidahnya. [10]Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat. Baca juga: Hikmah Diwajibkannya Puasa Ramadan***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel Muslimah.or.id Sumber: https://www.ferkous.app/home/index.php?q=fatwa-1301Catatan kaki:[1] Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Kitab Ath-Thaharah, bab Istintsar (mengeluarkan air dari hidung) no. 142 dan dalam Kitab Ash-Shiyam, bab Orang yang berpuasa menyiramkan air pada dirinya karena haus dan bersungguh-sungguh dalam istinsyaq no. 2366; At-Tirmidzi dalam Kitab Ash-Shiyam, bab Larangan berlebihan dalam istinsyaq bagi orang yang berpuasa no. 788; An-Nasa’i dalam Kitab Ath-Thaharah, bab Bersungguh-sungguh dalam istinsyaq no. 87; dan Ibnu Majah dalam Kitab Ath-Thaharah, bab Bersungguh-sungguh dalam istinsyaq dan istintsar no. 407, dari hadis Laqith bin Shabrah Al-‘Amiri Al-‘Uqaili Al-Muntafiqi radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Irwa’ Al-Ghalil (4: 85) no. 935.[2] Dikatakan bahwa an-nukhā‘ah adalah an-nukhāmah (keduanya bermakna sama). Lihat Ash-Shihah, karya Al-Jauhari (3: 1288 dan 5: 2040); Mukhtar Ash-Shihah, karya Ar-Razi (hal. 307); dan Al-Qamus, karya Al-Fairuzabadi (hal. 765 dan 1161).Al-Laits berkata: an-nukhā‘ah adalah sesuatu yang keluar dari dada dan tenggorokan atau dari dada saja, sedangkan an-nukhāmah adalah sesuatu yang keluar dari kepala (yakni lendir dari hidung). (Lihat Taj Al-‘Arus, 33: 484 dan 22: 236)[3] Lihat An-Nihayah, karya Abu As-Sa‘adat Ibnul Atsir (4: 284); Ash-Shihah (6: 2487); Mukhtar Ash-Shihah, karya Ar-Razi (hal. 286); dan Taj Al-‘Arus, karya Az-Zabidi (39: 499).[4] Balgham adalah salah satu cairan tubuh, yaitu air liur yang bercampur dengan lendir yang keluar dari saluran pernapasan.Lihat Ash-Shihah, karya Al-Jauhari (5: 1874); Mukhtar Ash-Shihah, karya Ar-Razi (hal. 39); Al-Qamus, karya Al-Fairuzabadi (hal. 1081); Taj Al-‘Arus, karya Az-Zabidi (31: 305); dan Al-Mu‘jam Al-Wasith, (1: 70).[5] Al-mukhāṭ adalah sesuatu yang keluar dari hidung sebagaimana air liur keluar dari mulut; bentuk jamaknya amkhiṭah. Dikatakan makhaṭahu min anfihi, yaitu ia mengeluarkannya dari hidung, sedangkan imtakhatha dan tamakhkhaṭa berarti istantsara (mengeluarkan lendir dari hidung).Lihat Ash-Shihah, karya Al-Jauhari (3: 1158); Mukhtar Ash-Shihah, karya Ar-Razi (hal. 291); Al-Qamus, karya Al-Fairuzabadi (hal. 687); dan Taj Al-‘Arus, karya Az-Zabidi (20: 93–94).[6] Al-qalṣ (atau al-qalas) adalah sesuatu yang keluar dari tenggorokan atau perut berupa makanan atau minuman, baik memenuhi mulut maupun kurang dari itu, tetapi bukan muntah. Jika kembali masuk, maka ia menjadi muntah. Bentuk jamaknya aqlās.Lihat Jamhirat Al-‘Arab, karya Al-Azdi (2: 851); Ash-Shihah, karya Al-Jauhari (3: 965); An-Nihayah, karya Ibnul Atsir (4: 100); Mukhtar Ash-Shihah, karya Ar-Razi (hal. 259); Al-Qamus, karya Al-Fairuzabadi (hal. 567); dan Taj Al-‘Arus, karya Az-Zabidi (16: 391).[7] Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Kitab Ash-Shaum, bab Orang yang berpuasa sengaja muntah no. 2380; At-Tirmidzi dalam Kitab Ash-Shaum, bab Tentang orang yang sengaja muntah no. 720; dan Ibnu Majah dalam Kitab Ash-Shiyam, bab Tentang orang yang berpuasa muntah no. 1676, dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami‘ no. 6243.[8] Hadis ini muttafaq ‘alaih: diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Kitab Ash-Shaum, bab Orang yang berpuasa makan atau minum karena lupa no. 1933, dan Muslim dalam Kitab Ash-Shiyam no. 1155, dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.[9] Lihat Ma‘alim As-Sunan, karya Al-Khaththabi (2: 777) dan Al-Istidzkar, karya Ibnu ‘Abdil Barr (3: 326). Lihat juga dua tulisan penulis, “At-Tahrir wal-Bayan fi Hukmi Man Afthara ‘Amdan fi Ramadhan” dan “Al-Muhaqqaq Al-Mad‘um fi Bayan Hadits: ‘Afthara Al-Hajim wal-Mahjum’.” [10] Lihat juga fatwa no. (1257) berjudul, “Penjelasan tentang permasalahan dalam menentukan ‘illat pembatal puasa” di situs resmi penulis.


Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Wahai Syekh kami, Anda pernah menyebutkan — semoga Allah menjaga Anda — dalam fatwa bernomor (737) berjudul “Tentang hal yang dianggap dalam pembatal-pembatal puasa”:“Yang menjadi ukuran batalnya puasa karena makan dan minum adalah sengaja memasukkan sesuatu dari hal-hal yang membatalkan puasa ke dalam rongga tubuh melalui jalan yang biasa, yaitu mulut. Termasuk yang disamakan dengannya adalah hidung, berdasarkan sabda Nabi ﷺ,وَبَالِغْ فِي الِاسْتِنْشَاقِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا‘Bersungguh-sungguhlah dalam menghirup air ke dalam hidung kecuali jika engkau sedang berpuasa.’ [1]Baik sesuatu yang dimasukkan ke dalam rongga tubuh itu bersifat mengenyangkan ataupun tidak, bermanfaat atau membahayakan atau tidak bermanfaat dan tidak pula membahayakan, serta baik terurai di dalam rongga tubuh maupun tidak.”Pertanyaannya: apakah yang termasuk dalam ketentuan tersebut adalah menelan dahak, baik dahak itu ke mulut terlebih dahulu atau langsung ke kerongkongan?Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan dan memberkahi ilmu Anda.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasul yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, kepada keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’du:Apabila dahak atau lendir [2] mengalir dari hidung atau rongga hidung menuju kerongkongan orang yang berpuasa tanpa keluar terlebih dahulu ke mulutnya, maka saya tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat bahwa hal itu tidak membatalkan puasa, karena lendir tersebut belum melewati anak tekak (uvula), yaitu daging kecil yang menggantung sebagai pemisah antara kerongkongan dan mulut. [3]Hukum yang sama berlaku pada dahak (lendir) dan yang semisalnya apabila berupa balgham [4], baik berupa lendir yang encer ataupun mukhāṭ (ingus/lendir hidung) [5] yang cair, yakni tidak membentuk gumpalan yang kental atau berat — sebagaimana keadaan dahak — dan balgham serta lendir hidung biasanya bercampur dengan air liur. Apabila seseorang menelannya bersama air liur, maka hal itu tidak merusak puasanya karena keduanya dihukumi seperti air liur.Terlebih lagi apabila hal itu terjadi tanpa sengaja atau ia menelannya karena lupa dan bukan dengan kesengajaan, maka tidak ada kewajiban apa pun atasnya dalam hal tersebut, bahkan lebih utama lagi (untuk tidak dianggap bermasalah).Makruh bagi seseorang menelan dahak yang berupa gumpalan kental secara sengaja, padahal ia mampu membuang dan meludahkannya apabila ia tidak sedang berpuasa. Hal itu karena dahak pada dasarnya dianggap menjijikkan secara tabiat, dan bisa saja membawa kotoran yang telah dikeluarkan oleh tubuh.Jika seseorang dengan sengaja dan pilihan sendiri mengembalikannya ke dalam rongga tubuh (menelannya) ketika ia sedang berpuasa, maka hal itu membatalkan puasa menurut pendapat yang paling kuat di kalangan ulama, karena dahak tersebut memiliki wujud (materi) yang menyerupai qals [6] atau seperti muntah dalam hukumnya. Maksudnya, apabila seseorang dengan sengaja memasukkan kembali sisa sesuatu yang telah keluar dari rongga perutnya berupa qalṣ atau muntah, padahal ia mampu membuangnya, maka puasanya batal dan tidak ada kewajiban kafarah atasnya.Dalam masalah muntah, tampak jelas dalil yang membedakan antara kesengajaan dan pilihan, dengan lupa atau terpaksa. Hal ini berdasarkan riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda,مَنْ ذَرَعَهُ القَيْءُ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ، وَمَنْ اسْتَقَاءَ عَمْدًا فَلْيَقْضِ“Barang siapa yang muntah tanpa disengaja, maka tidak ada kewajiban qadha atasnya. Dan barang siapa yang sengaja memuntahkan diri, maka hendaklah ia mengqadha (puasanya).” [7]Amalan para ulama didasarkan pada hadis Abu Hurairah dari Nabi ﷺ,أنَّ الصَّائم إذا ذرَعَه القيءُ فلا قضاءَ عليه، وإذا استقاءَ عمدًا فَلْيَقْضِ“Sesungguhnya orang yang berpuasa apabila muntah tanpa sengaja, maka tidak ada qadha atasnya. Dan apabila ia sengaja muntah, maka hendaklah ia mengqadha.’ Pendapat ini dipegang oleh Sufyan Ats-Tsauri, Asy-Syafi‘i, Ahmad, dan Ishaq.”Dan berdasarkan hadis yang sahih dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda,مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ، فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ“Barang siapa lupa ketika ia sedang berpuasa, lalu ia makan atau minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah telah memberinya makan dan minum.” [8]Dan tidak ada kewajiban kafarah bagi orang yang melakukannya dengan sengaja menurut pendapat yang paling kuat di sisi mayoritas ulama, berbeda dengan pendapat ‘Atha’ [9].Dan tidak diragukan lagi bahwa hukum yang telah ditetapkan dalam masalah ini sejalan dengan apa yang telah disebutkan sebelumnya dalam pembahasan, “Hal yang dianggap dalam pembatal-pembatal puasa”, tidak keluar darinya dan tidak pula menyelisihi kaidah-kaidahnya. [10]Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat. Baca juga: Hikmah Diwajibkannya Puasa Ramadan***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel Muslimah.or.id Sumber: https://www.ferkous.app/home/index.php?q=fatwa-1301Catatan kaki:[1] Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Kitab Ath-Thaharah, bab Istintsar (mengeluarkan air dari hidung) no. 142 dan dalam Kitab Ash-Shiyam, bab Orang yang berpuasa menyiramkan air pada dirinya karena haus dan bersungguh-sungguh dalam istinsyaq no. 2366; At-Tirmidzi dalam Kitab Ash-Shiyam, bab Larangan berlebihan dalam istinsyaq bagi orang yang berpuasa no. 788; An-Nasa’i dalam Kitab Ath-Thaharah, bab Bersungguh-sungguh dalam istinsyaq no. 87; dan Ibnu Majah dalam Kitab Ath-Thaharah, bab Bersungguh-sungguh dalam istinsyaq dan istintsar no. 407, dari hadis Laqith bin Shabrah Al-‘Amiri Al-‘Uqaili Al-Muntafiqi radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Irwa’ Al-Ghalil (4: 85) no. 935.[2] Dikatakan bahwa an-nukhā‘ah adalah an-nukhāmah (keduanya bermakna sama). Lihat Ash-Shihah, karya Al-Jauhari (3: 1288 dan 5: 2040); Mukhtar Ash-Shihah, karya Ar-Razi (hal. 307); dan Al-Qamus, karya Al-Fairuzabadi (hal. 765 dan 1161).Al-Laits berkata: an-nukhā‘ah adalah sesuatu yang keluar dari dada dan tenggorokan atau dari dada saja, sedangkan an-nukhāmah adalah sesuatu yang keluar dari kepala (yakni lendir dari hidung). (Lihat Taj Al-‘Arus, 33: 484 dan 22: 236)[3] Lihat An-Nihayah, karya Abu As-Sa‘adat Ibnul Atsir (4: 284); Ash-Shihah (6: 2487); Mukhtar Ash-Shihah, karya Ar-Razi (hal. 286); dan Taj Al-‘Arus, karya Az-Zabidi (39: 499).[4] Balgham adalah salah satu cairan tubuh, yaitu air liur yang bercampur dengan lendir yang keluar dari saluran pernapasan.Lihat Ash-Shihah, karya Al-Jauhari (5: 1874); Mukhtar Ash-Shihah, karya Ar-Razi (hal. 39); Al-Qamus, karya Al-Fairuzabadi (hal. 1081); Taj Al-‘Arus, karya Az-Zabidi (31: 305); dan Al-Mu‘jam Al-Wasith, (1: 70).[5] Al-mukhāṭ adalah sesuatu yang keluar dari hidung sebagaimana air liur keluar dari mulut; bentuk jamaknya amkhiṭah. Dikatakan makhaṭahu min anfihi, yaitu ia mengeluarkannya dari hidung, sedangkan imtakhatha dan tamakhkhaṭa berarti istantsara (mengeluarkan lendir dari hidung).Lihat Ash-Shihah, karya Al-Jauhari (3: 1158); Mukhtar Ash-Shihah, karya Ar-Razi (hal. 291); Al-Qamus, karya Al-Fairuzabadi (hal. 687); dan Taj Al-‘Arus, karya Az-Zabidi (20: 93–94).[6] Al-qalṣ (atau al-qalas) adalah sesuatu yang keluar dari tenggorokan atau perut berupa makanan atau minuman, baik memenuhi mulut maupun kurang dari itu, tetapi bukan muntah. Jika kembali masuk, maka ia menjadi muntah. Bentuk jamaknya aqlās.Lihat Jamhirat Al-‘Arab, karya Al-Azdi (2: 851); Ash-Shihah, karya Al-Jauhari (3: 965); An-Nihayah, karya Ibnul Atsir (4: 100); Mukhtar Ash-Shihah, karya Ar-Razi (hal. 259); Al-Qamus, karya Al-Fairuzabadi (hal. 567); dan Taj Al-‘Arus, karya Az-Zabidi (16: 391).[7] Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Kitab Ash-Shaum, bab Orang yang berpuasa sengaja muntah no. 2380; At-Tirmidzi dalam Kitab Ash-Shaum, bab Tentang orang yang sengaja muntah no. 720; dan Ibnu Majah dalam Kitab Ash-Shiyam, bab Tentang orang yang berpuasa muntah no. 1676, dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami‘ no. 6243.[8] Hadis ini muttafaq ‘alaih: diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Kitab Ash-Shaum, bab Orang yang berpuasa makan atau minum karena lupa no. 1933, dan Muslim dalam Kitab Ash-Shiyam no. 1155, dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.[9] Lihat Ma‘alim As-Sunan, karya Al-Khaththabi (2: 777) dan Al-Istidzkar, karya Ibnu ‘Abdil Barr (3: 326). Lihat juga dua tulisan penulis, “At-Tahrir wal-Bayan fi Hukmi Man Afthara ‘Amdan fi Ramadhan” dan “Al-Muhaqqaq Al-Mad‘um fi Bayan Hadits: ‘Afthara Al-Hajim wal-Mahjum’.” [10] Lihat juga fatwa no. (1257) berjudul, “Penjelasan tentang permasalahan dalam menentukan ‘illat pembatal puasa” di situs resmi penulis.

6 Ide Sedekah di Bulan Ramadhan – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Syaikh Saad, mari kita awali pembahasan kita dengan ulasan singkat, mengenai keteladanan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bersedekah di bulan Ramadan yang penuh berkah ini. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabat beliau. Serta bagi siapa saja yang mengikuti petunjuknya dan meniti sunnahnya hingga hari kiamat. Amma ba’du. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dermawan. Beliau jauh lebih dermawan lagi saat bulan Ramadan, ketika malaikat Jibril menemui beliau untuk bertadarus Al-Qur’an bersama beliau. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangi oleh Jibril, beliau menjadi jauh lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berembus. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok yang murah hati dan dermawan tapi kedermawanan beliau akan berlipat ganda di bulan yang penuh berkah ini. Maka, sudah sepatutnya kita meneladani beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hendaknya sifat murah hati dan dermawan itu tampak nyata pada diri seseorang, terutama di bulan ini; bulan yang penuh kedermawanan, kebaikan, dan kebajikan. Sebagai langkah awal, seseorang harus memeriksa harta yang ia miliki, lalu menunaikan zakatnya apabila sudah mencapai syarat wajib zakat, dengan hati yang lapang dalam menunaikannya. Setelah itu, ia dapat memperbanyak pemberian, infak, dan sedekah di berbagai jalan kebaikan. Di antara contohnya, memberi buka puasa bagi orang yang berpuasa. “Barang siapa yang memberi buka puasa, maka baginya pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu.” (HR. Ibnu Majah). Hal ini juga mencakup amalan memberi makan secara umum. Contoh lainnya adalah membantu para fakir dan miskin. Termasuk juga melunasi utang orang-orang yang terlilit utang berat (gharimin). Sebab dalam hal ini terdapat pahala yang agung dan ganjaran yang melimpah. Betapa banyak orang yang terlilit utang, hingga beban utang tersebut semakin menumpuk. Betapa banyak orang berutang yang bebannya telah menggunung, hingga mungkin ia harus dipenjara karenanya. Mungkin pula ia terpaksa meninggalkan keluarga serta anak-anaknya, sehingga ia terhalang untuk berkumpul bersama mereka karena jeratan utang ini. Maka, sungguh luar biasa pahala bagi orang yang membantu mereka yang terlilit utang, serta melunasi utang yang mereka pikul, agar mereka bisa berkumpul kembali dengan keluarga mereka, dan berbahagia karena telah terbebas dari penjara. Pahala amalan ini sangatlah agung di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Demikian pula dengan membantu para janda dan anak yatim. “Orang yang menyantuni janda dan orang miskin, pahalanya seperti mujahid di jalan Allah.” (HR. Bukhari & Muslim). “Aku dan pengasuh anak yatim di surga seperti ini (beliau memberi isyarat kedekatan).” (HR. Bukhari). Demikianlah kita dapati bahwa jalan-jalan kebaikan itu banyak dan beragam. Maka, hendaklah setiap orang setelah menunaikan zakat, ia memiliki antusiasme untuk turut bersedekah dan berinfak di berbagai jalan kebaikan. ===== لَوْ نَبْدَأُ الْحَدِيثَ شَيْخَ سَعْدٍ بِحَدِيثٍ قَصِيرٍ عَنْ حَالِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ الصَّدَقَةِ فِي رَمَضَانَ الْمُبَارَكِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهَدْيِهِ وَاتَّبَعَ سُنَّتَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ أَمَّا بَعْدُ فَقَدْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ كَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَرِيمًا جَوَادًا لَكِنْ كَانَ يَتَضَاعَفُ جُودُهُ فِي هَذَا الشَّهْرِ الْمُبَارَكِ فَيَنْبَغِي لَنَا أَنْ نَقْتَدِيَ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنْ يَظْهَرَ الْجُودُ وَالْكَرَمُ عَلَى الْإِنْسَانِ فِي هَذَا الشَّهْرِ شَهْرِ الْجُودِ وَالْخَيْرِ وَالْإِحْسَانِ وَيَتَفَقَّدَ أَوَّلًا الْأَمْوَالَ الَّتِي عِنْدَهُ فَيُخْرِجَ الزَّكَاةَ فِيمَا وَجَبَتْ فِيهِ الزَّكَاةُ طَيِّبَةً بِهَا نَفْسُهُ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ يُكْثِرُ مِنَ الْبَذْلِ وَالْإِنْفَاقِ وَالصَّدَقَاتِ فِي سُبُلِ الْخَيْرِ وَمِنْ ذَلِكَ تَفْطِيرُ الصَّائِمِينَ وَمَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ وَيَدْخُلُ فِيهِ إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَمِنْ ذَلِكَ مُسَاعَدَةُ الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَمِنْ ذَلِكَ تَسْدِيدُ الدُّيُونِ عَنِ الْغَارِمِينَ فَإِنَّ فِي هَذَا أَجْرًا عَظِيمًا وَثَوَابًا جَزِيلًا كَمْ مِنْ إِنْسَانٍ مَدِينٌ تَرَاكَمَتْ عَلَيْهِ الدُّيُونُ كَمْ مِنْ إِنْسَانٍ مَدِينٍ قَدْ تَرَاكَمَتْ عَلَيْهِ الدُّيُونُ وَرُبَّمَا حُبِسَ بِسَبَبِ ذَلِكَ الدَّيْنِ وَرُبَّمَا يَكُونُ مِنْ خَلْفِهِ أُسْرَةٌ وَأَطْفَالٌ وَقَدْ حُرِمَ مِنَ الِاجْتِمَاعِ بِهِمْ بِسَبَبِ هَذِهِ الدُّيُونِ فَمَا أَعْظَمَ أَجْرَ مَنْ سَاعَدَ هَؤُلَاءِ الْمَدِينِينَ وَسَدَّدَ عَنْهُمُ الدُّيُونَ الَّتِي عَلَيْهِمْ وَلِكَيْ يَجْتَمِعُوا بِأُسَرِهِمْ وَيَسْعَدُوا بِالْخُرُوجِ مِنَ السِّجْنِ هَذَا أَجْرُهُ عَظِيمٌ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ هَكَذَا أَيْضًا مُسَاعَدَةُ الْأَرَامِلِ وَالْأَيْتَامِ وَالسَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللهِ وَأَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا وَهَكَذَا نَجِدُ أَنَّ سُبُلَ الْخَيْرِ كَثِيرَةٌ وَمُتَعَدِّدَةٌ فَيَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَحْرِصَ بَعْدَ إِخْرَاجِ الزَّكَاةِ أَنْ يَكُونَ لَهُ بَذْلٌ وَإِنْفَاقٌ فِي سُبُلِ الْخَيْرِ

6 Ide Sedekah di Bulan Ramadhan – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Syaikh Saad, mari kita awali pembahasan kita dengan ulasan singkat, mengenai keteladanan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bersedekah di bulan Ramadan yang penuh berkah ini. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabat beliau. Serta bagi siapa saja yang mengikuti petunjuknya dan meniti sunnahnya hingga hari kiamat. Amma ba’du. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dermawan. Beliau jauh lebih dermawan lagi saat bulan Ramadan, ketika malaikat Jibril menemui beliau untuk bertadarus Al-Qur’an bersama beliau. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangi oleh Jibril, beliau menjadi jauh lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berembus. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok yang murah hati dan dermawan tapi kedermawanan beliau akan berlipat ganda di bulan yang penuh berkah ini. Maka, sudah sepatutnya kita meneladani beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hendaknya sifat murah hati dan dermawan itu tampak nyata pada diri seseorang, terutama di bulan ini; bulan yang penuh kedermawanan, kebaikan, dan kebajikan. Sebagai langkah awal, seseorang harus memeriksa harta yang ia miliki, lalu menunaikan zakatnya apabila sudah mencapai syarat wajib zakat, dengan hati yang lapang dalam menunaikannya. Setelah itu, ia dapat memperbanyak pemberian, infak, dan sedekah di berbagai jalan kebaikan. Di antara contohnya, memberi buka puasa bagi orang yang berpuasa. “Barang siapa yang memberi buka puasa, maka baginya pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu.” (HR. Ibnu Majah). Hal ini juga mencakup amalan memberi makan secara umum. Contoh lainnya adalah membantu para fakir dan miskin. Termasuk juga melunasi utang orang-orang yang terlilit utang berat (gharimin). Sebab dalam hal ini terdapat pahala yang agung dan ganjaran yang melimpah. Betapa banyak orang yang terlilit utang, hingga beban utang tersebut semakin menumpuk. Betapa banyak orang berutang yang bebannya telah menggunung, hingga mungkin ia harus dipenjara karenanya. Mungkin pula ia terpaksa meninggalkan keluarga serta anak-anaknya, sehingga ia terhalang untuk berkumpul bersama mereka karena jeratan utang ini. Maka, sungguh luar biasa pahala bagi orang yang membantu mereka yang terlilit utang, serta melunasi utang yang mereka pikul, agar mereka bisa berkumpul kembali dengan keluarga mereka, dan berbahagia karena telah terbebas dari penjara. Pahala amalan ini sangatlah agung di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Demikian pula dengan membantu para janda dan anak yatim. “Orang yang menyantuni janda dan orang miskin, pahalanya seperti mujahid di jalan Allah.” (HR. Bukhari & Muslim). “Aku dan pengasuh anak yatim di surga seperti ini (beliau memberi isyarat kedekatan).” (HR. Bukhari). Demikianlah kita dapati bahwa jalan-jalan kebaikan itu banyak dan beragam. Maka, hendaklah setiap orang setelah menunaikan zakat, ia memiliki antusiasme untuk turut bersedekah dan berinfak di berbagai jalan kebaikan. ===== لَوْ نَبْدَأُ الْحَدِيثَ شَيْخَ سَعْدٍ بِحَدِيثٍ قَصِيرٍ عَنْ حَالِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ الصَّدَقَةِ فِي رَمَضَانَ الْمُبَارَكِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهَدْيِهِ وَاتَّبَعَ سُنَّتَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ أَمَّا بَعْدُ فَقَدْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ كَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَرِيمًا جَوَادًا لَكِنْ كَانَ يَتَضَاعَفُ جُودُهُ فِي هَذَا الشَّهْرِ الْمُبَارَكِ فَيَنْبَغِي لَنَا أَنْ نَقْتَدِيَ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنْ يَظْهَرَ الْجُودُ وَالْكَرَمُ عَلَى الْإِنْسَانِ فِي هَذَا الشَّهْرِ شَهْرِ الْجُودِ وَالْخَيْرِ وَالْإِحْسَانِ وَيَتَفَقَّدَ أَوَّلًا الْأَمْوَالَ الَّتِي عِنْدَهُ فَيُخْرِجَ الزَّكَاةَ فِيمَا وَجَبَتْ فِيهِ الزَّكَاةُ طَيِّبَةً بِهَا نَفْسُهُ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ يُكْثِرُ مِنَ الْبَذْلِ وَالْإِنْفَاقِ وَالصَّدَقَاتِ فِي سُبُلِ الْخَيْرِ وَمِنْ ذَلِكَ تَفْطِيرُ الصَّائِمِينَ وَمَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ وَيَدْخُلُ فِيهِ إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَمِنْ ذَلِكَ مُسَاعَدَةُ الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَمِنْ ذَلِكَ تَسْدِيدُ الدُّيُونِ عَنِ الْغَارِمِينَ فَإِنَّ فِي هَذَا أَجْرًا عَظِيمًا وَثَوَابًا جَزِيلًا كَمْ مِنْ إِنْسَانٍ مَدِينٌ تَرَاكَمَتْ عَلَيْهِ الدُّيُونُ كَمْ مِنْ إِنْسَانٍ مَدِينٍ قَدْ تَرَاكَمَتْ عَلَيْهِ الدُّيُونُ وَرُبَّمَا حُبِسَ بِسَبَبِ ذَلِكَ الدَّيْنِ وَرُبَّمَا يَكُونُ مِنْ خَلْفِهِ أُسْرَةٌ وَأَطْفَالٌ وَقَدْ حُرِمَ مِنَ الِاجْتِمَاعِ بِهِمْ بِسَبَبِ هَذِهِ الدُّيُونِ فَمَا أَعْظَمَ أَجْرَ مَنْ سَاعَدَ هَؤُلَاءِ الْمَدِينِينَ وَسَدَّدَ عَنْهُمُ الدُّيُونَ الَّتِي عَلَيْهِمْ وَلِكَيْ يَجْتَمِعُوا بِأُسَرِهِمْ وَيَسْعَدُوا بِالْخُرُوجِ مِنَ السِّجْنِ هَذَا أَجْرُهُ عَظِيمٌ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ هَكَذَا أَيْضًا مُسَاعَدَةُ الْأَرَامِلِ وَالْأَيْتَامِ وَالسَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللهِ وَأَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا وَهَكَذَا نَجِدُ أَنَّ سُبُلَ الْخَيْرِ كَثِيرَةٌ وَمُتَعَدِّدَةٌ فَيَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَحْرِصَ بَعْدَ إِخْرَاجِ الزَّكَاةِ أَنْ يَكُونَ لَهُ بَذْلٌ وَإِنْفَاقٌ فِي سُبُلِ الْخَيْرِ
Syaikh Saad, mari kita awali pembahasan kita dengan ulasan singkat, mengenai keteladanan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bersedekah di bulan Ramadan yang penuh berkah ini. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabat beliau. Serta bagi siapa saja yang mengikuti petunjuknya dan meniti sunnahnya hingga hari kiamat. Amma ba’du. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dermawan. Beliau jauh lebih dermawan lagi saat bulan Ramadan, ketika malaikat Jibril menemui beliau untuk bertadarus Al-Qur’an bersama beliau. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangi oleh Jibril, beliau menjadi jauh lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berembus. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok yang murah hati dan dermawan tapi kedermawanan beliau akan berlipat ganda di bulan yang penuh berkah ini. Maka, sudah sepatutnya kita meneladani beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hendaknya sifat murah hati dan dermawan itu tampak nyata pada diri seseorang, terutama di bulan ini; bulan yang penuh kedermawanan, kebaikan, dan kebajikan. Sebagai langkah awal, seseorang harus memeriksa harta yang ia miliki, lalu menunaikan zakatnya apabila sudah mencapai syarat wajib zakat, dengan hati yang lapang dalam menunaikannya. Setelah itu, ia dapat memperbanyak pemberian, infak, dan sedekah di berbagai jalan kebaikan. Di antara contohnya, memberi buka puasa bagi orang yang berpuasa. “Barang siapa yang memberi buka puasa, maka baginya pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu.” (HR. Ibnu Majah). Hal ini juga mencakup amalan memberi makan secara umum. Contoh lainnya adalah membantu para fakir dan miskin. Termasuk juga melunasi utang orang-orang yang terlilit utang berat (gharimin). Sebab dalam hal ini terdapat pahala yang agung dan ganjaran yang melimpah. Betapa banyak orang yang terlilit utang, hingga beban utang tersebut semakin menumpuk. Betapa banyak orang berutang yang bebannya telah menggunung, hingga mungkin ia harus dipenjara karenanya. Mungkin pula ia terpaksa meninggalkan keluarga serta anak-anaknya, sehingga ia terhalang untuk berkumpul bersama mereka karena jeratan utang ini. Maka, sungguh luar biasa pahala bagi orang yang membantu mereka yang terlilit utang, serta melunasi utang yang mereka pikul, agar mereka bisa berkumpul kembali dengan keluarga mereka, dan berbahagia karena telah terbebas dari penjara. Pahala amalan ini sangatlah agung di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Demikian pula dengan membantu para janda dan anak yatim. “Orang yang menyantuni janda dan orang miskin, pahalanya seperti mujahid di jalan Allah.” (HR. Bukhari & Muslim). “Aku dan pengasuh anak yatim di surga seperti ini (beliau memberi isyarat kedekatan).” (HR. Bukhari). Demikianlah kita dapati bahwa jalan-jalan kebaikan itu banyak dan beragam. Maka, hendaklah setiap orang setelah menunaikan zakat, ia memiliki antusiasme untuk turut bersedekah dan berinfak di berbagai jalan kebaikan. ===== لَوْ نَبْدَأُ الْحَدِيثَ شَيْخَ سَعْدٍ بِحَدِيثٍ قَصِيرٍ عَنْ حَالِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ الصَّدَقَةِ فِي رَمَضَانَ الْمُبَارَكِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهَدْيِهِ وَاتَّبَعَ سُنَّتَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ أَمَّا بَعْدُ فَقَدْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ كَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَرِيمًا جَوَادًا لَكِنْ كَانَ يَتَضَاعَفُ جُودُهُ فِي هَذَا الشَّهْرِ الْمُبَارَكِ فَيَنْبَغِي لَنَا أَنْ نَقْتَدِيَ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنْ يَظْهَرَ الْجُودُ وَالْكَرَمُ عَلَى الْإِنْسَانِ فِي هَذَا الشَّهْرِ شَهْرِ الْجُودِ وَالْخَيْرِ وَالْإِحْسَانِ وَيَتَفَقَّدَ أَوَّلًا الْأَمْوَالَ الَّتِي عِنْدَهُ فَيُخْرِجَ الزَّكَاةَ فِيمَا وَجَبَتْ فِيهِ الزَّكَاةُ طَيِّبَةً بِهَا نَفْسُهُ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ يُكْثِرُ مِنَ الْبَذْلِ وَالْإِنْفَاقِ وَالصَّدَقَاتِ فِي سُبُلِ الْخَيْرِ وَمِنْ ذَلِكَ تَفْطِيرُ الصَّائِمِينَ وَمَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ وَيَدْخُلُ فِيهِ إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَمِنْ ذَلِكَ مُسَاعَدَةُ الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَمِنْ ذَلِكَ تَسْدِيدُ الدُّيُونِ عَنِ الْغَارِمِينَ فَإِنَّ فِي هَذَا أَجْرًا عَظِيمًا وَثَوَابًا جَزِيلًا كَمْ مِنْ إِنْسَانٍ مَدِينٌ تَرَاكَمَتْ عَلَيْهِ الدُّيُونُ كَمْ مِنْ إِنْسَانٍ مَدِينٍ قَدْ تَرَاكَمَتْ عَلَيْهِ الدُّيُونُ وَرُبَّمَا حُبِسَ بِسَبَبِ ذَلِكَ الدَّيْنِ وَرُبَّمَا يَكُونُ مِنْ خَلْفِهِ أُسْرَةٌ وَأَطْفَالٌ وَقَدْ حُرِمَ مِنَ الِاجْتِمَاعِ بِهِمْ بِسَبَبِ هَذِهِ الدُّيُونِ فَمَا أَعْظَمَ أَجْرَ مَنْ سَاعَدَ هَؤُلَاءِ الْمَدِينِينَ وَسَدَّدَ عَنْهُمُ الدُّيُونَ الَّتِي عَلَيْهِمْ وَلِكَيْ يَجْتَمِعُوا بِأُسَرِهِمْ وَيَسْعَدُوا بِالْخُرُوجِ مِنَ السِّجْنِ هَذَا أَجْرُهُ عَظِيمٌ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ هَكَذَا أَيْضًا مُسَاعَدَةُ الْأَرَامِلِ وَالْأَيْتَامِ وَالسَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللهِ وَأَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا وَهَكَذَا نَجِدُ أَنَّ سُبُلَ الْخَيْرِ كَثِيرَةٌ وَمُتَعَدِّدَةٌ فَيَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَحْرِصَ بَعْدَ إِخْرَاجِ الزَّكَاةِ أَنْ يَكُونَ لَهُ بَذْلٌ وَإِنْفَاقٌ فِي سُبُلِ الْخَيْرِ


Syaikh Saad, mari kita awali pembahasan kita dengan ulasan singkat, mengenai keteladanan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bersedekah di bulan Ramadan yang penuh berkah ini. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabat beliau. Serta bagi siapa saja yang mengikuti petunjuknya dan meniti sunnahnya hingga hari kiamat. Amma ba’du. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dermawan. Beliau jauh lebih dermawan lagi saat bulan Ramadan, ketika malaikat Jibril menemui beliau untuk bertadarus Al-Qur’an bersama beliau. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangi oleh Jibril, beliau menjadi jauh lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berembus. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok yang murah hati dan dermawan tapi kedermawanan beliau akan berlipat ganda di bulan yang penuh berkah ini. Maka, sudah sepatutnya kita meneladani beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hendaknya sifat murah hati dan dermawan itu tampak nyata pada diri seseorang, terutama di bulan ini; bulan yang penuh kedermawanan, kebaikan, dan kebajikan. Sebagai langkah awal, seseorang harus memeriksa harta yang ia miliki, lalu menunaikan zakatnya apabila sudah mencapai syarat wajib zakat, dengan hati yang lapang dalam menunaikannya. Setelah itu, ia dapat memperbanyak pemberian, infak, dan sedekah di berbagai jalan kebaikan. Di antara contohnya, memberi buka puasa bagi orang yang berpuasa. “Barang siapa yang memberi buka puasa, maka baginya pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu.” (HR. Ibnu Majah). Hal ini juga mencakup amalan memberi makan secara umum. Contoh lainnya adalah membantu para fakir dan miskin. Termasuk juga melunasi utang orang-orang yang terlilit utang berat (gharimin). Sebab dalam hal ini terdapat pahala yang agung dan ganjaran yang melimpah. Betapa banyak orang yang terlilit utang, hingga beban utang tersebut semakin menumpuk. Betapa banyak orang berutang yang bebannya telah menggunung, hingga mungkin ia harus dipenjara karenanya. Mungkin pula ia terpaksa meninggalkan keluarga serta anak-anaknya, sehingga ia terhalang untuk berkumpul bersama mereka karena jeratan utang ini. Maka, sungguh luar biasa pahala bagi orang yang membantu mereka yang terlilit utang, serta melunasi utang yang mereka pikul, agar mereka bisa berkumpul kembali dengan keluarga mereka, dan berbahagia karena telah terbebas dari penjara. Pahala amalan ini sangatlah agung di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Demikian pula dengan membantu para janda dan anak yatim. “Orang yang menyantuni janda dan orang miskin, pahalanya seperti mujahid di jalan Allah.” (HR. Bukhari & Muslim). “Aku dan pengasuh anak yatim di surga seperti ini (beliau memberi isyarat kedekatan).” (HR. Bukhari). Demikianlah kita dapati bahwa jalan-jalan kebaikan itu banyak dan beragam. Maka, hendaklah setiap orang setelah menunaikan zakat, ia memiliki antusiasme untuk turut bersedekah dan berinfak di berbagai jalan kebaikan. ===== لَوْ نَبْدَأُ الْحَدِيثَ شَيْخَ سَعْدٍ بِحَدِيثٍ قَصِيرٍ عَنْ حَالِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ الصَّدَقَةِ فِي رَمَضَانَ الْمُبَارَكِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهَدْيِهِ وَاتَّبَعَ سُنَّتَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ أَمَّا بَعْدُ فَقَدْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ كَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَرِيمًا جَوَادًا لَكِنْ كَانَ يَتَضَاعَفُ جُودُهُ فِي هَذَا الشَّهْرِ الْمُبَارَكِ فَيَنْبَغِي لَنَا أَنْ نَقْتَدِيَ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنْ يَظْهَرَ الْجُودُ وَالْكَرَمُ عَلَى الْإِنْسَانِ فِي هَذَا الشَّهْرِ شَهْرِ الْجُودِ وَالْخَيْرِ وَالْإِحْسَانِ وَيَتَفَقَّدَ أَوَّلًا الْأَمْوَالَ الَّتِي عِنْدَهُ فَيُخْرِجَ الزَّكَاةَ فِيمَا وَجَبَتْ فِيهِ الزَّكَاةُ طَيِّبَةً بِهَا نَفْسُهُ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ يُكْثِرُ مِنَ الْبَذْلِ وَالْإِنْفَاقِ وَالصَّدَقَاتِ فِي سُبُلِ الْخَيْرِ وَمِنْ ذَلِكَ تَفْطِيرُ الصَّائِمِينَ وَمَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ وَيَدْخُلُ فِيهِ إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَمِنْ ذَلِكَ مُسَاعَدَةُ الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَمِنْ ذَلِكَ تَسْدِيدُ الدُّيُونِ عَنِ الْغَارِمِينَ فَإِنَّ فِي هَذَا أَجْرًا عَظِيمًا وَثَوَابًا جَزِيلًا كَمْ مِنْ إِنْسَانٍ مَدِينٌ تَرَاكَمَتْ عَلَيْهِ الدُّيُونُ كَمْ مِنْ إِنْسَانٍ مَدِينٍ قَدْ تَرَاكَمَتْ عَلَيْهِ الدُّيُونُ وَرُبَّمَا حُبِسَ بِسَبَبِ ذَلِكَ الدَّيْنِ وَرُبَّمَا يَكُونُ مِنْ خَلْفِهِ أُسْرَةٌ وَأَطْفَالٌ وَقَدْ حُرِمَ مِنَ الِاجْتِمَاعِ بِهِمْ بِسَبَبِ هَذِهِ الدُّيُونِ فَمَا أَعْظَمَ أَجْرَ مَنْ سَاعَدَ هَؤُلَاءِ الْمَدِينِينَ وَسَدَّدَ عَنْهُمُ الدُّيُونَ الَّتِي عَلَيْهِمْ وَلِكَيْ يَجْتَمِعُوا بِأُسَرِهِمْ وَيَسْعَدُوا بِالْخُرُوجِ مِنَ السِّجْنِ هَذَا أَجْرُهُ عَظِيمٌ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ هَكَذَا أَيْضًا مُسَاعَدَةُ الْأَرَامِلِ وَالْأَيْتَامِ وَالسَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللهِ وَأَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا وَهَكَذَا نَجِدُ أَنَّ سُبُلَ الْخَيْرِ كَثِيرَةٌ وَمُتَعَدِّدَةٌ فَيَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَحْرِصَ بَعْدَ إِخْرَاجِ الزَّكَاةِ أَنْ يَكُونَ لَهُ بَذْلٌ وَإِنْفَاقٌ فِي سُبُلِ الْخَيْرِ

Jangan Lewatkan! Rahasia Doa yang Tidak Akan Tertolak sebelum Berbuka Puasa #NasehatUlama

Doktor, semoga Allah memberkahi Anda. Orang ini bertanya, apa yang sebaiknya diucapkan oleh seorang muslim saat berbuka puasa? Mengingat ada beberapa doa, apakah doa-doa tersebut sahih? Ya. Diriwayatkan secara sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh, bagi orang yang berpuasa, ada doa yang tidak akan tertolak saat ia berbuka.” (HR. Ibnu Majah). Hal ini telah disebutkan dalam hadits yang sahih, dan ini menunjukkan bahwa waktu berbuka adalah salah satu waktu yang mustajab. Waktu itu beberapa saat sebelum berbuka. Beberapa saat sebelum berbuka, hendaknya orang yang berpuasa memanfaatkan waktu tersebut untuk berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, meminta segala kebaikan dunia dan akhirat yang terlintas di hatinya. Memohon surga kepada Allah serta meminta perlindungan kepada-Nya dari api neraka. Hendaknya ia mengutamakan doa-doa yang ringkas namun sarat makna. Seperti doa: ROBBANAA AATINAA FID DUN YAA HASANAH WA FIL AAKHIROTI HASANAH WAQINAA ‘ADZAABAN NAAR (Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka), dan doa semisalnya. Berdoa untuk diri sendiri, untuk anak-anaknya, dan untuk kaum muslimin. Mintalah kepada Allah ‘Azza wa Jalla kebaikan dunia dan akhirat yang Anda sukai. Sebab, doa pada waktu tersebut sangat besar peluangnya untuk dikabulkan. Adapun doa dengan redaksi kalimat tertentu, tidak ada riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini. Sedangkan hadits yang diriwayatkan:ALLAAHUMMA LAKA SHUMTU WA ‘ALAA RIZQIKA AFTHORTU (Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka) FATAQOBBAL MINNII INNAKA ANTAS SAMII-’UL ‘ALIIM (maka terimalah puasa dariku, sungguh Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui), hadits tersebut derajatnya lemah dari sisi sanad. Berdasarkan disiplin ilmu hadits, bukan hadits yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, ada doa yang sahih dibaca setelah berbuka puasa, yaitu jika rasa haus telah hilang, yaitu mengucapkan: DZAHABAZH ZHOMA-U WABTALLATIL ‘URUUQU WA TSABATAL AJRU IN SYAA ALLAAH (Telah hilang rasa haus, telah basah urat-urat, dan telah tetap pahala, insya Allah). Doa ini diucapkan jika seseorang benar-benar merasa haus (dan rasa haus itu telah hilang setelah berbuka). Adapun jika ia tidak merasa haus, maka ia tidak perlu mengucapkan doa tersebut. ===== دُكْتُورُ بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ هَذَا يَسْأَلُ يَقُولُ مَاذَا يَقُولُ الْمُسْلِمُ عِنْدَ إِفْطَارِهِ حَيْثُ أَنَّ هُنَاكَ يَعْنِي بَعْضَ الْأَدْعِيَةِ هَلْ صَحِيحٌ؟ نَعَمْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ دَعْوَةً مَا تُرَدُّ وَهَذَا قَدْ وَرَدَ فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ وَقْتُ الْإِفْطَارِ أَنَّهُ مِنْ أَوْقَاتِ الْإِجَابَةِ وَهُوَ قُبَيْلَ الْإِفْطَارِ قُبَيْلَ الْإِفْطَارِ بِلَحَظَاتٍ يَنْبَغِي أَنْ يَغْتَنِمَ الصَّائِمُ هَذَا الْوَقْتَ وَأَنْ يَدْعُوَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا يَحْضُرُهُ مِنْ خَيْرَيِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ يَسْأَلُ اللهَ الْجَنَّةَ يَسْتَعِيذُ بِاللهِ مِنَ النَّارِ يَحْرِصُ عَلَى الْجَوَامِعِ مِنَ الدُّعَاءِ مِثْلَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَنَحْوِ ذَلِكَ يَدْعُو لِنَفْسِهِ يَدْعُو لِأَوْلَادِهِ يَدْعُو لِلْمُسْلِمِينَ يَدْعُو اللهَ تَعَالَى بِمَا أَعْجَبَهُ مِنْ خَيْرَيِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَهَذَا الدُّعَاءُ فِي هَذَا الْمَوْطِنِ حَرِيٌّ بِالْإِجَابَةِ وَأَمَّا صِيغَةٌ مُعَيَّنَةٌ لَمْ يَثْبُتْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا صِيغَةٌ مُعَيَّنَةٌ وَأَمَّا الْحَدِيثُ الَّذِي يُرْوَى اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ فَهَذَا الْحَدِيثُ ضَعِيفٌ مِنْ جِهَةِ الْإِسْنَادِ فَهُوَ مِنْ جِهَةِ الصِّنَاعَةِ لَا يَثْبُتُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكِنْ ثَبَتَ بَعْدَ الْإِفْطَارِ إِذَا كَانَ قَدْ ظَمِئَ بِالْفِعْلِ أَنْ يَقُولَ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ هَذَا إِذَا كَانَ قَدْ ظَمِئَ بِالْفِعْلِ أَمَّا إِذَا لَمْ يَكُنْ قَدْ ظَمِئَ فَلَا يَقُولُ هَذَا الدُّعَاءَ

Jangan Lewatkan! Rahasia Doa yang Tidak Akan Tertolak sebelum Berbuka Puasa #NasehatUlama

Doktor, semoga Allah memberkahi Anda. Orang ini bertanya, apa yang sebaiknya diucapkan oleh seorang muslim saat berbuka puasa? Mengingat ada beberapa doa, apakah doa-doa tersebut sahih? Ya. Diriwayatkan secara sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh, bagi orang yang berpuasa, ada doa yang tidak akan tertolak saat ia berbuka.” (HR. Ibnu Majah). Hal ini telah disebutkan dalam hadits yang sahih, dan ini menunjukkan bahwa waktu berbuka adalah salah satu waktu yang mustajab. Waktu itu beberapa saat sebelum berbuka. Beberapa saat sebelum berbuka, hendaknya orang yang berpuasa memanfaatkan waktu tersebut untuk berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, meminta segala kebaikan dunia dan akhirat yang terlintas di hatinya. Memohon surga kepada Allah serta meminta perlindungan kepada-Nya dari api neraka. Hendaknya ia mengutamakan doa-doa yang ringkas namun sarat makna. Seperti doa: ROBBANAA AATINAA FID DUN YAA HASANAH WA FIL AAKHIROTI HASANAH WAQINAA ‘ADZAABAN NAAR (Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka), dan doa semisalnya. Berdoa untuk diri sendiri, untuk anak-anaknya, dan untuk kaum muslimin. Mintalah kepada Allah ‘Azza wa Jalla kebaikan dunia dan akhirat yang Anda sukai. Sebab, doa pada waktu tersebut sangat besar peluangnya untuk dikabulkan. Adapun doa dengan redaksi kalimat tertentu, tidak ada riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini. Sedangkan hadits yang diriwayatkan:ALLAAHUMMA LAKA SHUMTU WA ‘ALAA RIZQIKA AFTHORTU (Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka) FATAQOBBAL MINNII INNAKA ANTAS SAMII-’UL ‘ALIIM (maka terimalah puasa dariku, sungguh Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui), hadits tersebut derajatnya lemah dari sisi sanad. Berdasarkan disiplin ilmu hadits, bukan hadits yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, ada doa yang sahih dibaca setelah berbuka puasa, yaitu jika rasa haus telah hilang, yaitu mengucapkan: DZAHABAZH ZHOMA-U WABTALLATIL ‘URUUQU WA TSABATAL AJRU IN SYAA ALLAAH (Telah hilang rasa haus, telah basah urat-urat, dan telah tetap pahala, insya Allah). Doa ini diucapkan jika seseorang benar-benar merasa haus (dan rasa haus itu telah hilang setelah berbuka). Adapun jika ia tidak merasa haus, maka ia tidak perlu mengucapkan doa tersebut. ===== دُكْتُورُ بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ هَذَا يَسْأَلُ يَقُولُ مَاذَا يَقُولُ الْمُسْلِمُ عِنْدَ إِفْطَارِهِ حَيْثُ أَنَّ هُنَاكَ يَعْنِي بَعْضَ الْأَدْعِيَةِ هَلْ صَحِيحٌ؟ نَعَمْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ دَعْوَةً مَا تُرَدُّ وَهَذَا قَدْ وَرَدَ فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ وَقْتُ الْإِفْطَارِ أَنَّهُ مِنْ أَوْقَاتِ الْإِجَابَةِ وَهُوَ قُبَيْلَ الْإِفْطَارِ قُبَيْلَ الْإِفْطَارِ بِلَحَظَاتٍ يَنْبَغِي أَنْ يَغْتَنِمَ الصَّائِمُ هَذَا الْوَقْتَ وَأَنْ يَدْعُوَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا يَحْضُرُهُ مِنْ خَيْرَيِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ يَسْأَلُ اللهَ الْجَنَّةَ يَسْتَعِيذُ بِاللهِ مِنَ النَّارِ يَحْرِصُ عَلَى الْجَوَامِعِ مِنَ الدُّعَاءِ مِثْلَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَنَحْوِ ذَلِكَ يَدْعُو لِنَفْسِهِ يَدْعُو لِأَوْلَادِهِ يَدْعُو لِلْمُسْلِمِينَ يَدْعُو اللهَ تَعَالَى بِمَا أَعْجَبَهُ مِنْ خَيْرَيِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَهَذَا الدُّعَاءُ فِي هَذَا الْمَوْطِنِ حَرِيٌّ بِالْإِجَابَةِ وَأَمَّا صِيغَةٌ مُعَيَّنَةٌ لَمْ يَثْبُتْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا صِيغَةٌ مُعَيَّنَةٌ وَأَمَّا الْحَدِيثُ الَّذِي يُرْوَى اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ فَهَذَا الْحَدِيثُ ضَعِيفٌ مِنْ جِهَةِ الْإِسْنَادِ فَهُوَ مِنْ جِهَةِ الصِّنَاعَةِ لَا يَثْبُتُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكِنْ ثَبَتَ بَعْدَ الْإِفْطَارِ إِذَا كَانَ قَدْ ظَمِئَ بِالْفِعْلِ أَنْ يَقُولَ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ هَذَا إِذَا كَانَ قَدْ ظَمِئَ بِالْفِعْلِ أَمَّا إِذَا لَمْ يَكُنْ قَدْ ظَمِئَ فَلَا يَقُولُ هَذَا الدُّعَاءَ
Doktor, semoga Allah memberkahi Anda. Orang ini bertanya, apa yang sebaiknya diucapkan oleh seorang muslim saat berbuka puasa? Mengingat ada beberapa doa, apakah doa-doa tersebut sahih? Ya. Diriwayatkan secara sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh, bagi orang yang berpuasa, ada doa yang tidak akan tertolak saat ia berbuka.” (HR. Ibnu Majah). Hal ini telah disebutkan dalam hadits yang sahih, dan ini menunjukkan bahwa waktu berbuka adalah salah satu waktu yang mustajab. Waktu itu beberapa saat sebelum berbuka. Beberapa saat sebelum berbuka, hendaknya orang yang berpuasa memanfaatkan waktu tersebut untuk berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, meminta segala kebaikan dunia dan akhirat yang terlintas di hatinya. Memohon surga kepada Allah serta meminta perlindungan kepada-Nya dari api neraka. Hendaknya ia mengutamakan doa-doa yang ringkas namun sarat makna. Seperti doa: ROBBANAA AATINAA FID DUN YAA HASANAH WA FIL AAKHIROTI HASANAH WAQINAA ‘ADZAABAN NAAR (Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka), dan doa semisalnya. Berdoa untuk diri sendiri, untuk anak-anaknya, dan untuk kaum muslimin. Mintalah kepada Allah ‘Azza wa Jalla kebaikan dunia dan akhirat yang Anda sukai. Sebab, doa pada waktu tersebut sangat besar peluangnya untuk dikabulkan. Adapun doa dengan redaksi kalimat tertentu, tidak ada riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini. Sedangkan hadits yang diriwayatkan:ALLAAHUMMA LAKA SHUMTU WA ‘ALAA RIZQIKA AFTHORTU (Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka) FATAQOBBAL MINNII INNAKA ANTAS SAMII-’UL ‘ALIIM (maka terimalah puasa dariku, sungguh Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui), hadits tersebut derajatnya lemah dari sisi sanad. Berdasarkan disiplin ilmu hadits, bukan hadits yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, ada doa yang sahih dibaca setelah berbuka puasa, yaitu jika rasa haus telah hilang, yaitu mengucapkan: DZAHABAZH ZHOMA-U WABTALLATIL ‘URUUQU WA TSABATAL AJRU IN SYAA ALLAAH (Telah hilang rasa haus, telah basah urat-urat, dan telah tetap pahala, insya Allah). Doa ini diucapkan jika seseorang benar-benar merasa haus (dan rasa haus itu telah hilang setelah berbuka). Adapun jika ia tidak merasa haus, maka ia tidak perlu mengucapkan doa tersebut. ===== دُكْتُورُ بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ هَذَا يَسْأَلُ يَقُولُ مَاذَا يَقُولُ الْمُسْلِمُ عِنْدَ إِفْطَارِهِ حَيْثُ أَنَّ هُنَاكَ يَعْنِي بَعْضَ الْأَدْعِيَةِ هَلْ صَحِيحٌ؟ نَعَمْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ دَعْوَةً مَا تُرَدُّ وَهَذَا قَدْ وَرَدَ فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ وَقْتُ الْإِفْطَارِ أَنَّهُ مِنْ أَوْقَاتِ الْإِجَابَةِ وَهُوَ قُبَيْلَ الْإِفْطَارِ قُبَيْلَ الْإِفْطَارِ بِلَحَظَاتٍ يَنْبَغِي أَنْ يَغْتَنِمَ الصَّائِمُ هَذَا الْوَقْتَ وَأَنْ يَدْعُوَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا يَحْضُرُهُ مِنْ خَيْرَيِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ يَسْأَلُ اللهَ الْجَنَّةَ يَسْتَعِيذُ بِاللهِ مِنَ النَّارِ يَحْرِصُ عَلَى الْجَوَامِعِ مِنَ الدُّعَاءِ مِثْلَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَنَحْوِ ذَلِكَ يَدْعُو لِنَفْسِهِ يَدْعُو لِأَوْلَادِهِ يَدْعُو لِلْمُسْلِمِينَ يَدْعُو اللهَ تَعَالَى بِمَا أَعْجَبَهُ مِنْ خَيْرَيِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَهَذَا الدُّعَاءُ فِي هَذَا الْمَوْطِنِ حَرِيٌّ بِالْإِجَابَةِ وَأَمَّا صِيغَةٌ مُعَيَّنَةٌ لَمْ يَثْبُتْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا صِيغَةٌ مُعَيَّنَةٌ وَأَمَّا الْحَدِيثُ الَّذِي يُرْوَى اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ فَهَذَا الْحَدِيثُ ضَعِيفٌ مِنْ جِهَةِ الْإِسْنَادِ فَهُوَ مِنْ جِهَةِ الصِّنَاعَةِ لَا يَثْبُتُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكِنْ ثَبَتَ بَعْدَ الْإِفْطَارِ إِذَا كَانَ قَدْ ظَمِئَ بِالْفِعْلِ أَنْ يَقُولَ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ هَذَا إِذَا كَانَ قَدْ ظَمِئَ بِالْفِعْلِ أَمَّا إِذَا لَمْ يَكُنْ قَدْ ظَمِئَ فَلَا يَقُولُ هَذَا الدُّعَاءَ


Doktor, semoga Allah memberkahi Anda. Orang ini bertanya, apa yang sebaiknya diucapkan oleh seorang muslim saat berbuka puasa? Mengingat ada beberapa doa, apakah doa-doa tersebut sahih? Ya. Diriwayatkan secara sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh, bagi orang yang berpuasa, ada doa yang tidak akan tertolak saat ia berbuka.” (HR. Ibnu Majah). Hal ini telah disebutkan dalam hadits yang sahih, dan ini menunjukkan bahwa waktu berbuka adalah salah satu waktu yang mustajab. Waktu itu beberapa saat sebelum berbuka. Beberapa saat sebelum berbuka, hendaknya orang yang berpuasa memanfaatkan waktu tersebut untuk berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, meminta segala kebaikan dunia dan akhirat yang terlintas di hatinya. Memohon surga kepada Allah serta meminta perlindungan kepada-Nya dari api neraka. Hendaknya ia mengutamakan doa-doa yang ringkas namun sarat makna. Seperti doa: ROBBANAA AATINAA FID DUN YAA HASANAH WA FIL AAKHIROTI HASANAH WAQINAA ‘ADZAABAN NAAR (Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka), dan doa semisalnya. Berdoa untuk diri sendiri, untuk anak-anaknya, dan untuk kaum muslimin. Mintalah kepada Allah ‘Azza wa Jalla kebaikan dunia dan akhirat yang Anda sukai. Sebab, doa pada waktu tersebut sangat besar peluangnya untuk dikabulkan. Adapun doa dengan redaksi kalimat tertentu, tidak ada riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini. Sedangkan hadits yang diriwayatkan:ALLAAHUMMA LAKA SHUMTU WA ‘ALAA RIZQIKA AFTHORTU (Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka) FATAQOBBAL MINNII INNAKA ANTAS SAMII-’UL ‘ALIIM (maka terimalah puasa dariku, sungguh Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui), hadits tersebut derajatnya lemah dari sisi sanad. Berdasarkan disiplin ilmu hadits, bukan hadits yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, ada doa yang sahih dibaca setelah berbuka puasa, yaitu jika rasa haus telah hilang, yaitu mengucapkan: DZAHABAZH ZHOMA-U WABTALLATIL ‘URUUQU WA TSABATAL AJRU IN SYAA ALLAAH (Telah hilang rasa haus, telah basah urat-urat, dan telah tetap pahala, insya Allah). Doa ini diucapkan jika seseorang benar-benar merasa haus (dan rasa haus itu telah hilang setelah berbuka). Adapun jika ia tidak merasa haus, maka ia tidak perlu mengucapkan doa tersebut. ===== دُكْتُورُ بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ هَذَا يَسْأَلُ يَقُولُ مَاذَا يَقُولُ الْمُسْلِمُ عِنْدَ إِفْطَارِهِ حَيْثُ أَنَّ هُنَاكَ يَعْنِي بَعْضَ الْأَدْعِيَةِ هَلْ صَحِيحٌ؟ نَعَمْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ دَعْوَةً مَا تُرَدُّ وَهَذَا قَدْ وَرَدَ فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ وَقْتُ الْإِفْطَارِ أَنَّهُ مِنْ أَوْقَاتِ الْإِجَابَةِ وَهُوَ قُبَيْلَ الْإِفْطَارِ قُبَيْلَ الْإِفْطَارِ بِلَحَظَاتٍ يَنْبَغِي أَنْ يَغْتَنِمَ الصَّائِمُ هَذَا الْوَقْتَ وَأَنْ يَدْعُوَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا يَحْضُرُهُ مِنْ خَيْرَيِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ يَسْأَلُ اللهَ الْجَنَّةَ يَسْتَعِيذُ بِاللهِ مِنَ النَّارِ يَحْرِصُ عَلَى الْجَوَامِعِ مِنَ الدُّعَاءِ مِثْلَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَنَحْوِ ذَلِكَ يَدْعُو لِنَفْسِهِ يَدْعُو لِأَوْلَادِهِ يَدْعُو لِلْمُسْلِمِينَ يَدْعُو اللهَ تَعَالَى بِمَا أَعْجَبَهُ مِنْ خَيْرَيِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَهَذَا الدُّعَاءُ فِي هَذَا الْمَوْطِنِ حَرِيٌّ بِالْإِجَابَةِ وَأَمَّا صِيغَةٌ مُعَيَّنَةٌ لَمْ يَثْبُتْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا صِيغَةٌ مُعَيَّنَةٌ وَأَمَّا الْحَدِيثُ الَّذِي يُرْوَى اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ فَهَذَا الْحَدِيثُ ضَعِيفٌ مِنْ جِهَةِ الْإِسْنَادِ فَهُوَ مِنْ جِهَةِ الصِّنَاعَةِ لَا يَثْبُتُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكِنْ ثَبَتَ بَعْدَ الْإِفْطَارِ إِذَا كَانَ قَدْ ظَمِئَ بِالْفِعْلِ أَنْ يَقُولَ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ هَذَا إِذَا كَانَ قَدْ ظَمِئَ بِالْفِعْلِ أَمَّا إِذَا لَمْ يَكُنْ قَدْ ظَمِئَ فَلَا يَقُولُ هَذَا الدُّعَاءَ

Kisah Ubay bin Ka’ab: Mengapa Beliau Meninggalkan Jamaah Saat Shalat Witir? – Syaikh Abdussalam Asy-Syuwai’ar

Amalan paling utama di bulan Ramadan setelah amalan wajib dan puasa itu sendiri, adalah amalan-amalan yang telah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Amalan pertama, yang tidak diragukan lagi keutamaannya, adalah Salat Malam (Qiyamul Lail/Tarawih). Terkait amalan ini, terdapat dua hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pertama, bahwa barang siapa yang mengerjakan Salat Malam di bulan Ramadan, maka akan diampuni seluruh dosanya. Bahkan dikatakan, orang yang mengerjakan Salat Malam di bulan Ramadan akan diampuni dosanya dua kali. Sebab, pertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa mendirikan Salat Malam di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Lalu, kedua, dalam sabda lainnya, beliau bersabda: “Barang siapa mendirikan Salat Malam pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Ini menunjukkan kepada kita bahwa di antara amalan utama yang paling penting pada bulan ini adalah Salat Malam dan mengisi waktu malamnya dengan ibadah. Oleh karena itu, dulu para ulama bersungguh-sungguh untuk mendirikan Salat Malam. Seolah-olah hal itu sudah menjadi ketetapan bagi mereka, bahkan mereka mengkaji tata cara manakah yang paling utama dalam Salat Malam. Ketika Umar bin Khattab melakukan hal itu, apa yang beliau katakan? Beliau berkata: “Orang yang mengerjakannya di akhir malam itu lebih utama.” Beliau memandang adanya kemaslahatan bagi orang banyak untuk meraih sunnah ini dengan mengerjakannya di awal malam. Namun, bagi siapa pun yang mendirikannya di akhir malam, maka itu jauh lebih utama. Ubay bin Ka’ab ingin menggabungkan dua keutamaan tersebut; beliau shalat bersama jamaah di awal malam, lalu ketika memasuki tiga rakaat terakhir, beliau keluar dan tidak mengikuti Salat Witir bersama mereka. Kemudian beliau melaksanakan Salat Witir sendirian di rumahnya (di akhir malam). Beliau melebihkan amalannya, demi meraih amalan yang paling utama, dan mendahulukannya di atas amalan yang sekadar afdal, yaitu ikut Salat Witir tiga rakaat bersama orang banyak (di awal malam). ===== أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ الَّتِي تُفْعَلُ فِي رَمَضَانَ بَعْدَ الْوَاجِبَاتِ بَعْدَ الصِّيَامِ أُمُورٌ وَرَدَتْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَّلُ هَذِهِ الْأُمُورِ أَنَّ أَفْضَلَ مَا يُفْعَلُ فِيهِ لَا شَكَّ هُوَ قِيَامُ اللَّيْلِ وَلِذَا وَرَدَ حَدِيثَانِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَنَّ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ سَيُغْفَرُ لَهُ ذَنْبُهُ كُلُّهُ حَتَّى قِيلَ إِنَّ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ سَيُغْفَرُ لَهُ الذَّنْبُ مَرَّتَيْنِ فَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَرَّةِ الْأُولَى مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَفِي الثَّانِيَةِ قَالَ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَهَذَا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ مِنْ أَهَمِّ الْأَعْمَالِ الْفَاضِلَةِ فِي هَذَا الشَّهْرِ هُوَ رَمَضَانُ هُوَ قِيَامُهُ وَإِحْيَاءُ لَيْلِهِ وَلِذَا كَانَ الْعُلَمَاءُ يَجْتَهِدُونَ فِي الْقِيَامِ وَكَأَنَّهُ مُسَلَّمٌ عِنْدَهُمْ بَلْ يَجْتَهِدُونَ مَا هِيَ صِفَةٌ أَفْضَلُ فِي الْقِيَامِ لَمَّا فَعَلَ ذَلِكَ عُمَرُ مَاذَا قَالَ قَالَ وَالَّذِي يُصَلِّيهَا فِي آخِرِ اللَّيْلِ أَفْضَلُ فَهُوَ نَظَرَ أَنَّ الْمَصْلَحَةَ لِلْعُمُومِ فِي إِدْرَاكِ هَذِهِ السُّنَّةِ أَنْ يُصَلُّوهَا فِي أَوَّلِهَا لَكِنْ مَنْ صَلَّاهَا فِي آخِرِهَا فَكَانَ أَفْضَلَ أُبَيٌّ أَرَادَ الْجَمْعَ فَكَانَ يُصَلِّي مَعَهُمْ فَإِذَا حَضَرَتِ الثَّلَاثُ الرَّكَعَاتِ الْأَخِيرَةِ خَرَجَ وَلَمْ يُصَلِّ بِهِمُ الْوِتْرَ ثُمَّ صَلَّاهَا فِي بَيْتِهِ وَحْدَهُ فَزَادَ بَعْدَ ذَلِكَ مِنْ بَابِ تَحْقِيقِ الْأَفْضَلِ وَتَقْدِيمِهِ عَلَى الْفَاضِلِ وَهُوَ إِدْرَاكُ رَكَعَاتِ الْوِتْرِ الثَّلَاثِ مَعَ عُمُومِ النَّاسِ

Kisah Ubay bin Ka’ab: Mengapa Beliau Meninggalkan Jamaah Saat Shalat Witir? – Syaikh Abdussalam Asy-Syuwai’ar

Amalan paling utama di bulan Ramadan setelah amalan wajib dan puasa itu sendiri, adalah amalan-amalan yang telah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Amalan pertama, yang tidak diragukan lagi keutamaannya, adalah Salat Malam (Qiyamul Lail/Tarawih). Terkait amalan ini, terdapat dua hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pertama, bahwa barang siapa yang mengerjakan Salat Malam di bulan Ramadan, maka akan diampuni seluruh dosanya. Bahkan dikatakan, orang yang mengerjakan Salat Malam di bulan Ramadan akan diampuni dosanya dua kali. Sebab, pertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa mendirikan Salat Malam di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Lalu, kedua, dalam sabda lainnya, beliau bersabda: “Barang siapa mendirikan Salat Malam pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Ini menunjukkan kepada kita bahwa di antara amalan utama yang paling penting pada bulan ini adalah Salat Malam dan mengisi waktu malamnya dengan ibadah. Oleh karena itu, dulu para ulama bersungguh-sungguh untuk mendirikan Salat Malam. Seolah-olah hal itu sudah menjadi ketetapan bagi mereka, bahkan mereka mengkaji tata cara manakah yang paling utama dalam Salat Malam. Ketika Umar bin Khattab melakukan hal itu, apa yang beliau katakan? Beliau berkata: “Orang yang mengerjakannya di akhir malam itu lebih utama.” Beliau memandang adanya kemaslahatan bagi orang banyak untuk meraih sunnah ini dengan mengerjakannya di awal malam. Namun, bagi siapa pun yang mendirikannya di akhir malam, maka itu jauh lebih utama. Ubay bin Ka’ab ingin menggabungkan dua keutamaan tersebut; beliau shalat bersama jamaah di awal malam, lalu ketika memasuki tiga rakaat terakhir, beliau keluar dan tidak mengikuti Salat Witir bersama mereka. Kemudian beliau melaksanakan Salat Witir sendirian di rumahnya (di akhir malam). Beliau melebihkan amalannya, demi meraih amalan yang paling utama, dan mendahulukannya di atas amalan yang sekadar afdal, yaitu ikut Salat Witir tiga rakaat bersama orang banyak (di awal malam). ===== أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ الَّتِي تُفْعَلُ فِي رَمَضَانَ بَعْدَ الْوَاجِبَاتِ بَعْدَ الصِّيَامِ أُمُورٌ وَرَدَتْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَّلُ هَذِهِ الْأُمُورِ أَنَّ أَفْضَلَ مَا يُفْعَلُ فِيهِ لَا شَكَّ هُوَ قِيَامُ اللَّيْلِ وَلِذَا وَرَدَ حَدِيثَانِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَنَّ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ سَيُغْفَرُ لَهُ ذَنْبُهُ كُلُّهُ حَتَّى قِيلَ إِنَّ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ سَيُغْفَرُ لَهُ الذَّنْبُ مَرَّتَيْنِ فَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَرَّةِ الْأُولَى مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَفِي الثَّانِيَةِ قَالَ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَهَذَا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ مِنْ أَهَمِّ الْأَعْمَالِ الْفَاضِلَةِ فِي هَذَا الشَّهْرِ هُوَ رَمَضَانُ هُوَ قِيَامُهُ وَإِحْيَاءُ لَيْلِهِ وَلِذَا كَانَ الْعُلَمَاءُ يَجْتَهِدُونَ فِي الْقِيَامِ وَكَأَنَّهُ مُسَلَّمٌ عِنْدَهُمْ بَلْ يَجْتَهِدُونَ مَا هِيَ صِفَةٌ أَفْضَلُ فِي الْقِيَامِ لَمَّا فَعَلَ ذَلِكَ عُمَرُ مَاذَا قَالَ قَالَ وَالَّذِي يُصَلِّيهَا فِي آخِرِ اللَّيْلِ أَفْضَلُ فَهُوَ نَظَرَ أَنَّ الْمَصْلَحَةَ لِلْعُمُومِ فِي إِدْرَاكِ هَذِهِ السُّنَّةِ أَنْ يُصَلُّوهَا فِي أَوَّلِهَا لَكِنْ مَنْ صَلَّاهَا فِي آخِرِهَا فَكَانَ أَفْضَلَ أُبَيٌّ أَرَادَ الْجَمْعَ فَكَانَ يُصَلِّي مَعَهُمْ فَإِذَا حَضَرَتِ الثَّلَاثُ الرَّكَعَاتِ الْأَخِيرَةِ خَرَجَ وَلَمْ يُصَلِّ بِهِمُ الْوِتْرَ ثُمَّ صَلَّاهَا فِي بَيْتِهِ وَحْدَهُ فَزَادَ بَعْدَ ذَلِكَ مِنْ بَابِ تَحْقِيقِ الْأَفْضَلِ وَتَقْدِيمِهِ عَلَى الْفَاضِلِ وَهُوَ إِدْرَاكُ رَكَعَاتِ الْوِتْرِ الثَّلَاثِ مَعَ عُمُومِ النَّاسِ
Amalan paling utama di bulan Ramadan setelah amalan wajib dan puasa itu sendiri, adalah amalan-amalan yang telah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Amalan pertama, yang tidak diragukan lagi keutamaannya, adalah Salat Malam (Qiyamul Lail/Tarawih). Terkait amalan ini, terdapat dua hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pertama, bahwa barang siapa yang mengerjakan Salat Malam di bulan Ramadan, maka akan diampuni seluruh dosanya. Bahkan dikatakan, orang yang mengerjakan Salat Malam di bulan Ramadan akan diampuni dosanya dua kali. Sebab, pertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa mendirikan Salat Malam di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Lalu, kedua, dalam sabda lainnya, beliau bersabda: “Barang siapa mendirikan Salat Malam pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Ini menunjukkan kepada kita bahwa di antara amalan utama yang paling penting pada bulan ini adalah Salat Malam dan mengisi waktu malamnya dengan ibadah. Oleh karena itu, dulu para ulama bersungguh-sungguh untuk mendirikan Salat Malam. Seolah-olah hal itu sudah menjadi ketetapan bagi mereka, bahkan mereka mengkaji tata cara manakah yang paling utama dalam Salat Malam. Ketika Umar bin Khattab melakukan hal itu, apa yang beliau katakan? Beliau berkata: “Orang yang mengerjakannya di akhir malam itu lebih utama.” Beliau memandang adanya kemaslahatan bagi orang banyak untuk meraih sunnah ini dengan mengerjakannya di awal malam. Namun, bagi siapa pun yang mendirikannya di akhir malam, maka itu jauh lebih utama. Ubay bin Ka’ab ingin menggabungkan dua keutamaan tersebut; beliau shalat bersama jamaah di awal malam, lalu ketika memasuki tiga rakaat terakhir, beliau keluar dan tidak mengikuti Salat Witir bersama mereka. Kemudian beliau melaksanakan Salat Witir sendirian di rumahnya (di akhir malam). Beliau melebihkan amalannya, demi meraih amalan yang paling utama, dan mendahulukannya di atas amalan yang sekadar afdal, yaitu ikut Salat Witir tiga rakaat bersama orang banyak (di awal malam). ===== أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ الَّتِي تُفْعَلُ فِي رَمَضَانَ بَعْدَ الْوَاجِبَاتِ بَعْدَ الصِّيَامِ أُمُورٌ وَرَدَتْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَّلُ هَذِهِ الْأُمُورِ أَنَّ أَفْضَلَ مَا يُفْعَلُ فِيهِ لَا شَكَّ هُوَ قِيَامُ اللَّيْلِ وَلِذَا وَرَدَ حَدِيثَانِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَنَّ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ سَيُغْفَرُ لَهُ ذَنْبُهُ كُلُّهُ حَتَّى قِيلَ إِنَّ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ سَيُغْفَرُ لَهُ الذَّنْبُ مَرَّتَيْنِ فَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَرَّةِ الْأُولَى مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَفِي الثَّانِيَةِ قَالَ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَهَذَا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ مِنْ أَهَمِّ الْأَعْمَالِ الْفَاضِلَةِ فِي هَذَا الشَّهْرِ هُوَ رَمَضَانُ هُوَ قِيَامُهُ وَإِحْيَاءُ لَيْلِهِ وَلِذَا كَانَ الْعُلَمَاءُ يَجْتَهِدُونَ فِي الْقِيَامِ وَكَأَنَّهُ مُسَلَّمٌ عِنْدَهُمْ بَلْ يَجْتَهِدُونَ مَا هِيَ صِفَةٌ أَفْضَلُ فِي الْقِيَامِ لَمَّا فَعَلَ ذَلِكَ عُمَرُ مَاذَا قَالَ قَالَ وَالَّذِي يُصَلِّيهَا فِي آخِرِ اللَّيْلِ أَفْضَلُ فَهُوَ نَظَرَ أَنَّ الْمَصْلَحَةَ لِلْعُمُومِ فِي إِدْرَاكِ هَذِهِ السُّنَّةِ أَنْ يُصَلُّوهَا فِي أَوَّلِهَا لَكِنْ مَنْ صَلَّاهَا فِي آخِرِهَا فَكَانَ أَفْضَلَ أُبَيٌّ أَرَادَ الْجَمْعَ فَكَانَ يُصَلِّي مَعَهُمْ فَإِذَا حَضَرَتِ الثَّلَاثُ الرَّكَعَاتِ الْأَخِيرَةِ خَرَجَ وَلَمْ يُصَلِّ بِهِمُ الْوِتْرَ ثُمَّ صَلَّاهَا فِي بَيْتِهِ وَحْدَهُ فَزَادَ بَعْدَ ذَلِكَ مِنْ بَابِ تَحْقِيقِ الْأَفْضَلِ وَتَقْدِيمِهِ عَلَى الْفَاضِلِ وَهُوَ إِدْرَاكُ رَكَعَاتِ الْوِتْرِ الثَّلَاثِ مَعَ عُمُومِ النَّاسِ


Amalan paling utama di bulan Ramadan setelah amalan wajib dan puasa itu sendiri, adalah amalan-amalan yang telah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Amalan pertama, yang tidak diragukan lagi keutamaannya, adalah Salat Malam (Qiyamul Lail/Tarawih). Terkait amalan ini, terdapat dua hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pertama, bahwa barang siapa yang mengerjakan Salat Malam di bulan Ramadan, maka akan diampuni seluruh dosanya. Bahkan dikatakan, orang yang mengerjakan Salat Malam di bulan Ramadan akan diampuni dosanya dua kali. Sebab, pertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa mendirikan Salat Malam di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Lalu, kedua, dalam sabda lainnya, beliau bersabda: “Barang siapa mendirikan Salat Malam pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Ini menunjukkan kepada kita bahwa di antara amalan utama yang paling penting pada bulan ini adalah Salat Malam dan mengisi waktu malamnya dengan ibadah. Oleh karena itu, dulu para ulama bersungguh-sungguh untuk mendirikan Salat Malam. Seolah-olah hal itu sudah menjadi ketetapan bagi mereka, bahkan mereka mengkaji tata cara manakah yang paling utama dalam Salat Malam. Ketika Umar bin Khattab melakukan hal itu, apa yang beliau katakan? Beliau berkata: “Orang yang mengerjakannya di akhir malam itu lebih utama.” Beliau memandang adanya kemaslahatan bagi orang banyak untuk meraih sunnah ini dengan mengerjakannya di awal malam. Namun, bagi siapa pun yang mendirikannya di akhir malam, maka itu jauh lebih utama. Ubay bin Ka’ab ingin menggabungkan dua keutamaan tersebut; beliau shalat bersama jamaah di awal malam, lalu ketika memasuki tiga rakaat terakhir, beliau keluar dan tidak mengikuti Salat Witir bersama mereka. Kemudian beliau melaksanakan Salat Witir sendirian di rumahnya (di akhir malam). Beliau melebihkan amalannya, demi meraih amalan yang paling utama, dan mendahulukannya di atas amalan yang sekadar afdal, yaitu ikut Salat Witir tiga rakaat bersama orang banyak (di awal malam). ===== أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ الَّتِي تُفْعَلُ فِي رَمَضَانَ بَعْدَ الْوَاجِبَاتِ بَعْدَ الصِّيَامِ أُمُورٌ وَرَدَتْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَّلُ هَذِهِ الْأُمُورِ أَنَّ أَفْضَلَ مَا يُفْعَلُ فِيهِ لَا شَكَّ هُوَ قِيَامُ اللَّيْلِ وَلِذَا وَرَدَ حَدِيثَانِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَنَّ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ سَيُغْفَرُ لَهُ ذَنْبُهُ كُلُّهُ حَتَّى قِيلَ إِنَّ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ سَيُغْفَرُ لَهُ الذَّنْبُ مَرَّتَيْنِ فَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَرَّةِ الْأُولَى مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَفِي الثَّانِيَةِ قَالَ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَهَذَا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ مِنْ أَهَمِّ الْأَعْمَالِ الْفَاضِلَةِ فِي هَذَا الشَّهْرِ هُوَ رَمَضَانُ هُوَ قِيَامُهُ وَإِحْيَاءُ لَيْلِهِ وَلِذَا كَانَ الْعُلَمَاءُ يَجْتَهِدُونَ فِي الْقِيَامِ وَكَأَنَّهُ مُسَلَّمٌ عِنْدَهُمْ بَلْ يَجْتَهِدُونَ مَا هِيَ صِفَةٌ أَفْضَلُ فِي الْقِيَامِ لَمَّا فَعَلَ ذَلِكَ عُمَرُ مَاذَا قَالَ قَالَ وَالَّذِي يُصَلِّيهَا فِي آخِرِ اللَّيْلِ أَفْضَلُ فَهُوَ نَظَرَ أَنَّ الْمَصْلَحَةَ لِلْعُمُومِ فِي إِدْرَاكِ هَذِهِ السُّنَّةِ أَنْ يُصَلُّوهَا فِي أَوَّلِهَا لَكِنْ مَنْ صَلَّاهَا فِي آخِرِهَا فَكَانَ أَفْضَلَ أُبَيٌّ أَرَادَ الْجَمْعَ فَكَانَ يُصَلِّي مَعَهُمْ فَإِذَا حَضَرَتِ الثَّلَاثُ الرَّكَعَاتِ الْأَخِيرَةِ خَرَجَ وَلَمْ يُصَلِّ بِهِمُ الْوِتْرَ ثُمَّ صَلَّاهَا فِي بَيْتِهِ وَحْدَهُ فَزَادَ بَعْدَ ذَلِكَ مِنْ بَابِ تَحْقِيقِ الْأَفْضَلِ وَتَقْدِيمِهِ عَلَى الْفَاضِلِ وَهُوَ إِدْرَاكُ رَكَعَاتِ الْوِتْرِ الثَّلَاثِ مَعَ عُمُومِ النَّاسِ

Laporan Produksi Yufid Bulan Januari 2026

Laporan Produksi Yufid Bulan Januari 2026 Bismillahirrohmanirrohim… Yayasan Yufid Network telah berkontribusi selama 16 tahun dalam menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis melalui berbagai platform, termasuk channel YouTube seperti Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids yang telah memproduksi 24.244 video dengan total 6.909.686 subscribers. Yufid juga mengelola situs website dan telah mempublikasikan 10.156 artikel yang tersebar di berbagai platform. Melalui laporan produktivitas ini, Yufid berusaha memberikan transparansi terhadap projek dan perkembangan tim, memperkuat keterlibatan pemirsa Yufid dan membangun wadah kreativitas bersama untuk penyebaran dakwah Islam. Yufid telah menjadi kekuatan signifikan dalam memberikan akses luas kepada pengetahuan dan informasi dakwah Islam, mencapai lebih dari 948.087.724 views di platform YouTube. Dengan komitmen pada misi non-profit kami, Yufid terus memberikan dampak positif dan berusaha untuk terus berkembang sembari mempertahankan transparansi dan keterlibatan pemirsa yang kuat. Channel YouTube YUFID.TV Total Video Yufid.TV: 20.022 video Total Subscribers: 4.204.921 subscribers Total Tayangan Video: 746.752.906 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 111 video Produksi Video Januari 2026: 138 video Tayangan Video Januari 2026: 2.871.425 views Waktu Tayang Video Januari 2026: 292.696 jam Penambahan Subscribers Januari 2026: +4.413 Selama bulan Januari 2026 tim Yufid menyiarkan 126 video live. Channel YouTube YUFID EDU Total Video Yufid Edu: 3.243 video Total Subscribers: 335.871 Total Tayangan Video: 23.296.677 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 22 video Produksi Video Januari 2026: 31 video Tayangan Video Januari 2026: 113.521 views Waktu Tayang Video Januari 2026: 6.761 jam Penambahan Subscribers Januari 2026: +967 Channel YouTube YUFID KIDS Total Video Yufid Kids: 95 video Total Subscribers: 555.349 Total Tayangan Video: 173.972.955 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 1 video Produksi Video Januari 2026: 1 video Tayangan Video Januari 2026: 1.657.387 views Waktu Tayang Video Januari 2026: 91.529 jam Penambahan Subscribers Januari 2026: +6.144 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Total Video: 272 Total Subscribers: 5.021 Total Tayangan Video: 482.461 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 3 video Tayangan Video Januari 2026: 862 views Jam Tayang Video Januari 2026: 109 Jam Penambahan Subscribers Januari 2026: 2 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Total Video: 612 Total Subscribers: 58.500 Total Tayangan Video: 3.582.725 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 8 video Produksi Video Januari 2026: 0 video Tayangan Video Januari 2026: 33.060 views Penambahan Subscribers Januari 2026: +300 Instagram Yufid TV & Instagram Yufid Network Instagram Yufid.TV Total Konten: 4933 Postingan Total Pengikut: 1.197.733 followers Konten Bulan Januari 2026: 48 Views Konten Januari: 2.076.777 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Januari 2026: +8.335 Instagram Yufid Network Total Konten: 4842 Postingan Total Pengikut: 552.291 Konten Bulan Januari 2026: 48 Views Konten Januari: 1.664.525 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Januari 2026: +3.414 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV pada tahun 2015 agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, konten Nasehat Ulama di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 23 video. Nasehat Ulama juga membuat konten baru dengan konsep berbeda dengan tetap mengambil penggalan-penggalan nasehat para masyaikh berbahasa Arab dalam bentuk shorts YouTube dan reels Instagram. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, konten Motion Graphics di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 3 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 5.179 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 2.025 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 4 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.146 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk Audio Visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 781 audio dan rata-rata menghasilkan 16 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.323 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 6 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2.508 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel. *Tim artikel Yufid yang terdiri dari penulis, penerjemah, editor, dan admin website menyiapkan konten untuk seluruh website yang dikelola oleh Yufid secara bergantian.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 36.524 file mp3 dengan total ukuran 522 Gb dan pada bulan Januari 2026 ini telah mempublikasikan 1.024 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Januari 2026 ini saja telah didengarkan 16.392 kali dan telah di download sebanyak 340 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 4.712.628 kata dengan rata-rata produksi per bulan 53.552 kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, project terjemahan ini telah menerjemahkan 58.405 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.832 artikel dengan total durasi audio 271 jam dengan rata-rata perekaman 28 artikel per bulan. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, perekaman audio yang telah diproduksi yaitu 15 artikel.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu bertotal 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan Januari 2026. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Sudah Sholat Belum, Insya Allah, Allah In Arabic, Arti Surat Almaidah Ayat 51, Ayat Ayat Rukiah Visited 47 times, 1 visit(s) today Post Views: 237 QRIS donasi Yufid

Laporan Produksi Yufid Bulan Januari 2026

Laporan Produksi Yufid Bulan Januari 2026 Bismillahirrohmanirrohim… Yayasan Yufid Network telah berkontribusi selama 16 tahun dalam menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis melalui berbagai platform, termasuk channel YouTube seperti Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids yang telah memproduksi 24.244 video dengan total 6.909.686 subscribers. Yufid juga mengelola situs website dan telah mempublikasikan 10.156 artikel yang tersebar di berbagai platform. Melalui laporan produktivitas ini, Yufid berusaha memberikan transparansi terhadap projek dan perkembangan tim, memperkuat keterlibatan pemirsa Yufid dan membangun wadah kreativitas bersama untuk penyebaran dakwah Islam. Yufid telah menjadi kekuatan signifikan dalam memberikan akses luas kepada pengetahuan dan informasi dakwah Islam, mencapai lebih dari 948.087.724 views di platform YouTube. Dengan komitmen pada misi non-profit kami, Yufid terus memberikan dampak positif dan berusaha untuk terus berkembang sembari mempertahankan transparansi dan keterlibatan pemirsa yang kuat. Channel YouTube YUFID.TV Total Video Yufid.TV: 20.022 video Total Subscribers: 4.204.921 subscribers Total Tayangan Video: 746.752.906 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 111 video Produksi Video Januari 2026: 138 video Tayangan Video Januari 2026: 2.871.425 views Waktu Tayang Video Januari 2026: 292.696 jam Penambahan Subscribers Januari 2026: +4.413 Selama bulan Januari 2026 tim Yufid menyiarkan 126 video live. Channel YouTube YUFID EDU Total Video Yufid Edu: 3.243 video Total Subscribers: 335.871 Total Tayangan Video: 23.296.677 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 22 video Produksi Video Januari 2026: 31 video Tayangan Video Januari 2026: 113.521 views Waktu Tayang Video Januari 2026: 6.761 jam Penambahan Subscribers Januari 2026: +967 Channel YouTube YUFID KIDS Total Video Yufid Kids: 95 video Total Subscribers: 555.349 Total Tayangan Video: 173.972.955 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 1 video Produksi Video Januari 2026: 1 video Tayangan Video Januari 2026: 1.657.387 views Waktu Tayang Video Januari 2026: 91.529 jam Penambahan Subscribers Januari 2026: +6.144 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Total Video: 272 Total Subscribers: 5.021 Total Tayangan Video: 482.461 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 3 video Tayangan Video Januari 2026: 862 views Jam Tayang Video Januari 2026: 109 Jam Penambahan Subscribers Januari 2026: 2 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Total Video: 612 Total Subscribers: 58.500 Total Tayangan Video: 3.582.725 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 8 video Produksi Video Januari 2026: 0 video Tayangan Video Januari 2026: 33.060 views Penambahan Subscribers Januari 2026: +300 Instagram Yufid TV & Instagram Yufid Network Instagram Yufid.TV Total Konten: 4933 Postingan Total Pengikut: 1.197.733 followers Konten Bulan Januari 2026: 48 Views Konten Januari: 2.076.777 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Januari 2026: +8.335 Instagram Yufid Network Total Konten: 4842 Postingan Total Pengikut: 552.291 Konten Bulan Januari 2026: 48 Views Konten Januari: 1.664.525 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Januari 2026: +3.414 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV pada tahun 2015 agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, konten Nasehat Ulama di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 23 video. Nasehat Ulama juga membuat konten baru dengan konsep berbeda dengan tetap mengambil penggalan-penggalan nasehat para masyaikh berbahasa Arab dalam bentuk shorts YouTube dan reels Instagram. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, konten Motion Graphics di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 3 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 5.179 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 2.025 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 4 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.146 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk Audio Visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 781 audio dan rata-rata menghasilkan 16 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.323 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 6 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2.508 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel. *Tim artikel Yufid yang terdiri dari penulis, penerjemah, editor, dan admin website menyiapkan konten untuk seluruh website yang dikelola oleh Yufid secara bergantian.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 36.524 file mp3 dengan total ukuran 522 Gb dan pada bulan Januari 2026 ini telah mempublikasikan 1.024 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Januari 2026 ini saja telah didengarkan 16.392 kali dan telah di download sebanyak 340 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 4.712.628 kata dengan rata-rata produksi per bulan 53.552 kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, project terjemahan ini telah menerjemahkan 58.405 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.832 artikel dengan total durasi audio 271 jam dengan rata-rata perekaman 28 artikel per bulan. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, perekaman audio yang telah diproduksi yaitu 15 artikel.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu bertotal 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan Januari 2026. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Sudah Sholat Belum, Insya Allah, Allah In Arabic, Arti Surat Almaidah Ayat 51, Ayat Ayat Rukiah Visited 47 times, 1 visit(s) today Post Views: 237 QRIS donasi Yufid
Laporan Produksi Yufid Bulan Januari 2026 Bismillahirrohmanirrohim… Yayasan Yufid Network telah berkontribusi selama 16 tahun dalam menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis melalui berbagai platform, termasuk channel YouTube seperti Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids yang telah memproduksi 24.244 video dengan total 6.909.686 subscribers. Yufid juga mengelola situs website dan telah mempublikasikan 10.156 artikel yang tersebar di berbagai platform. Melalui laporan produktivitas ini, Yufid berusaha memberikan transparansi terhadap projek dan perkembangan tim, memperkuat keterlibatan pemirsa Yufid dan membangun wadah kreativitas bersama untuk penyebaran dakwah Islam. Yufid telah menjadi kekuatan signifikan dalam memberikan akses luas kepada pengetahuan dan informasi dakwah Islam, mencapai lebih dari 948.087.724 views di platform YouTube. Dengan komitmen pada misi non-profit kami, Yufid terus memberikan dampak positif dan berusaha untuk terus berkembang sembari mempertahankan transparansi dan keterlibatan pemirsa yang kuat. Channel YouTube YUFID.TV Total Video Yufid.TV: 20.022 video Total Subscribers: 4.204.921 subscribers Total Tayangan Video: 746.752.906 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 111 video Produksi Video Januari 2026: 138 video Tayangan Video Januari 2026: 2.871.425 views Waktu Tayang Video Januari 2026: 292.696 jam Penambahan Subscribers Januari 2026: +4.413 Selama bulan Januari 2026 tim Yufid menyiarkan 126 video live. Channel YouTube YUFID EDU Total Video Yufid Edu: 3.243 video Total Subscribers: 335.871 Total Tayangan Video: 23.296.677 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 22 video Produksi Video Januari 2026: 31 video Tayangan Video Januari 2026: 113.521 views Waktu Tayang Video Januari 2026: 6.761 jam Penambahan Subscribers Januari 2026: +967 Channel YouTube YUFID KIDS Total Video Yufid Kids: 95 video Total Subscribers: 555.349 Total Tayangan Video: 173.972.955 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 1 video Produksi Video Januari 2026: 1 video Tayangan Video Januari 2026: 1.657.387 views Waktu Tayang Video Januari 2026: 91.529 jam Penambahan Subscribers Januari 2026: +6.144 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Total Video: 272 Total Subscribers: 5.021 Total Tayangan Video: 482.461 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 3 video Tayangan Video Januari 2026: 862 views Jam Tayang Video Januari 2026: 109 Jam Penambahan Subscribers Januari 2026: 2 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Total Video: 612 Total Subscribers: 58.500 Total Tayangan Video: 3.582.725 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 8 video Produksi Video Januari 2026: 0 video Tayangan Video Januari 2026: 33.060 views Penambahan Subscribers Januari 2026: +300 Instagram Yufid TV & Instagram Yufid Network Instagram Yufid.TV Total Konten: 4933 Postingan Total Pengikut: 1.197.733 followers Konten Bulan Januari 2026: 48 Views Konten Januari: 2.076.777 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Januari 2026: +8.335 Instagram Yufid Network Total Konten: 4842 Postingan Total Pengikut: 552.291 Konten Bulan Januari 2026: 48 Views Konten Januari: 1.664.525 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Januari 2026: +3.414 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV pada tahun 2015 agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, konten Nasehat Ulama di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 23 video. Nasehat Ulama juga membuat konten baru dengan konsep berbeda dengan tetap mengambil penggalan-penggalan nasehat para masyaikh berbahasa Arab dalam bentuk shorts YouTube dan reels Instagram. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, konten Motion Graphics di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 3 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 5.179 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 2.025 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 4 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.146 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk Audio Visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 781 audio dan rata-rata menghasilkan 16 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.323 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 6 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2.508 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel. *Tim artikel Yufid yang terdiri dari penulis, penerjemah, editor, dan admin website menyiapkan konten untuk seluruh website yang dikelola oleh Yufid secara bergantian.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 36.524 file mp3 dengan total ukuran 522 Gb dan pada bulan Januari 2026 ini telah mempublikasikan 1.024 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Januari 2026 ini saja telah didengarkan 16.392 kali dan telah di download sebanyak 340 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 4.712.628 kata dengan rata-rata produksi per bulan 53.552 kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, project terjemahan ini telah menerjemahkan 58.405 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.832 artikel dengan total durasi audio 271 jam dengan rata-rata perekaman 28 artikel per bulan. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, perekaman audio yang telah diproduksi yaitu 15 artikel.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu bertotal 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan Januari 2026. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Sudah Sholat Belum, Insya Allah, Allah In Arabic, Arti Surat Almaidah Ayat 51, Ayat Ayat Rukiah Visited 47 times, 1 visit(s) today Post Views: 237 QRIS donasi Yufid


Laporan Produksi Yufid Bulan Januari 2026 Bismillahirrohmanirrohim… Yayasan Yufid Network telah berkontribusi selama 16 tahun dalam menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis melalui berbagai platform, termasuk channel YouTube seperti Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids yang telah memproduksi 24.244 video dengan total 6.909.686 subscribers. Yufid juga mengelola situs website dan telah mempublikasikan 10.156 artikel yang tersebar di berbagai platform. Melalui laporan produktivitas ini, Yufid berusaha memberikan transparansi terhadap projek dan perkembangan tim, memperkuat keterlibatan pemirsa Yufid dan membangun wadah kreativitas bersama untuk penyebaran dakwah Islam. Yufid telah menjadi kekuatan signifikan dalam memberikan akses luas kepada pengetahuan dan informasi dakwah Islam, mencapai lebih dari 948.087.724 views di platform YouTube. Dengan komitmen pada misi non-profit kami, Yufid terus memberikan dampak positif dan berusaha untuk terus berkembang sembari mempertahankan transparansi dan keterlibatan pemirsa yang kuat. Channel YouTube YUFID.TV <img decoding="async" src="https://yufid.org/wp-content/uploads/2026/02/image-2.png" alt="" class="wp-image-556" width="520"/> Total Video Yufid.TV: 20.022 video Total Subscribers: 4.204.921 subscribers Total Tayangan Video: 746.752.906 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 111 video Produksi Video Januari 2026: 138 video Tayangan Video Januari 2026: 2.871.425 views Waktu Tayang Video Januari 2026: 292.696 jam Penambahan Subscribers Januari 2026: +4.413 Selama bulan Januari 2026 tim Yufid menyiarkan 126 video live. Channel YouTube YUFID EDU <img decoding="async" src="https://yufid.org/wp-content/uploads/2026/02/image-1.png" alt="" class="wp-image-555" width="520"/> Total Video Yufid Edu: 3.243 video Total Subscribers: 335.871 Total Tayangan Video: 23.296.677 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 22 video Produksi Video Januari 2026: 31 video Tayangan Video Januari 2026: 113.521 views Waktu Tayang Video Januari 2026: 6.761 jam Penambahan Subscribers Januari 2026: +967 Channel YouTube YUFID KIDS <img decoding="async" src="https://yufid.org/wp-content/uploads/2026/02/image-5.png" alt="" class="wp-image-559" width="520"/> Total Video Yufid Kids: 95 video Total Subscribers: 555.349 Total Tayangan Video: 173.972.955 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 1 video Produksi Video Januari 2026: 1 video Tayangan Video Januari 2026: 1.657.387 views Waktu Tayang Video Januari 2026: 91.529 jam Penambahan Subscribers Januari 2026: +6.144 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Total Video: 272 Total Subscribers: 5.021 Total Tayangan Video: 482.461 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 3 video Tayangan Video Januari 2026: 862 views Jam Tayang Video Januari 2026: 109 Jam Penambahan Subscribers Januari 2026: 2 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Total Video: 612 Total Subscribers: 58.500 Total Tayangan Video: 3.582.725 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 8 video Produksi Video Januari 2026: 0 video Tayangan Video Januari 2026: 33.060 views Penambahan Subscribers Januari 2026: +300 Instagram Yufid TV & Instagram Yufid Network <img decoding="async" src="https://yufid.org/wp-content/uploads/2026/02/image-4.png" alt="" class="wp-image-558" width="520"/> Instagram Yufid.TV Total Konten: 4933 Postingan Total Pengikut: 1.197.733 followers Konten Bulan Januari 2026: 48 Views Konten Januari: 2.076.777 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Januari 2026: +8.335 Instagram Yufid Network Total Konten: 4842 Postingan Total Pengikut: 552.291 Konten Bulan Januari 2026: 48 Views Konten Januari: 1.664.525 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Januari 2026: +3.414 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV pada tahun 2015 agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. <img decoding="async" src="https://yufid.org/wp-content/uploads/2026/02/image.png" alt="" class="wp-image-554" width="520"/>Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, konten Nasehat Ulama di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 23 video. Nasehat Ulama juga membuat konten baru dengan konsep berbeda dengan tetap mengambil penggalan-penggalan nasehat para masyaikh berbahasa Arab dalam bentuk shorts YouTube dan reels Instagram. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. <img decoding="async" src="https://yufid.org/wp-content/uploads/2026/02/image-3.png" alt="" class="wp-image-557" width="520"/>Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, konten Motion Graphics di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 3 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 5.179 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 2.025 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 4 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.146 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk Audio Visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 781 audio dan rata-rata menghasilkan 16 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.323 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 6 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2.508 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel. *Tim artikel Yufid yang terdiri dari penulis, penerjemah, editor, dan admin website menyiapkan konten untuk seluruh website yang dikelola oleh Yufid secara bergantian.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 36.524 file mp3 dengan total ukuran 522 Gb dan pada bulan Januari 2026 ini telah mempublikasikan 1.024 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Januari 2026 ini saja telah didengarkan 16.392 kali dan telah di download sebanyak 340 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 4.712.628 kata dengan rata-rata produksi per bulan 53.552 kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, project terjemahan ini telah menerjemahkan 58.405 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.832 artikel dengan total durasi audio 271 jam dengan rata-rata perekaman 28 artikel per bulan. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, perekaman audio yang telah diproduksi yaitu 15 artikel.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu bertotal 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan Januari 2026. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Sudah Sholat Belum, Insya Allah, Allah In Arabic, Arti Surat Almaidah Ayat 51, Ayat Ayat Rukiah Visited 47 times, 1 visit(s) today Post Views: 237 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Ashabul A’raf: Golongan yang Timbangannya Seimbang, Tertahan di Antara Surga dan Neraka (Surah Al-A’raf ayat 46-49)

Masuk bahasan juz kedelapan, kita ambil dari surah Al-A’raf. Pada hari kiamat, Allah Ta’ala menimbang amal manusia dengan keadilan yang sempurna—tanpa kezaliman sedikit pun. Ada yang berat timbangan kebaikannya lalu beruntung, ada yang ringan timbangan kebaikannya lalu merugi, dan ada pula yang kebaikan serta keburukannya seimbang. Golongan terakhir inilah yang dikenal sebagai Ashabul A’raf, tertahan sementara di tempat tinggi antara surga dan neraka, sebelum akhirnya Allah memasukkan mereka ke dalam surga dengan rahmat-Nya. Baca juga: Siapa Penghuni Al-A’raf? Mereka yang Tertahan di Antara Surga dan Neraka  Daftar Isi tutup 1. Timbangan Amal di Hari Kiamat: Siapa yang Beruntung dan Siapa yang Merugi? 2. Ashabul A’raf: Golongan yang Tertahan di Batas Surga dan Neraka 3. Siapa Sebenarnya Ashabul A’raf Menurut Para Ulama? 4. Tiga Golongan Manusia Saat Amal Ditimbang 4.1. Pertama: Orang yang kebaikannya lebih berat daripada keburukannya. 4.2. Kedua: Orang yang keburukannya lebih berat daripada kebaikannya. 4.3. Ketiga: Orang yang kebaikan dan keburukannya seimbang. 5. Al-A’raf dan Keadilan Allah yang Sempurna  Timbangan Amal di Hari Kiamat: Siapa yang Beruntung dan Siapa yang Merugi?Allah Ta’ala berfirman,وَٱلْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ ٱلْحَقُّ ۚ فَمَن ثَقُلَتْ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ“Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-A’raf: 8) وَمَنْ خَفَّتْ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓا۟ أَنفُسَهُم بِمَا كَانُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا يَظْلِمُونَ“Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf: 9)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat kedelapan, “Penimbangan amal pada hari Kiamat dilakukan dengan penuh keadilan dan keseimbangan yang sempurna. Tidak ada sedikit pun kezaliman dan kecurangan di dalamnya.{ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ }“Maka barang siapa yang berat timbangan (kebaikannya),”Maksudnya, apabila timbangan kebaikannya lebih berat daripada keburukannya.{ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ }“Maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”Yakni, mereka adalah orang-orang yang selamat dari segala hal yang tidak menyenangkan, dan berhasil meraih segala yang mereka cintai. Mereka memperoleh keuntungan yang sangat besar serta kebahagiaan yang abadi.Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat kesembilan,Maksudnya, ketika keburukannya lebih berat daripada kebaikannya, sehingga keputusan berpihak kepada keburukan tersebut.{ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ }“Maka mereka itulah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri.”Karena mereka kehilangan kenikmatan yang kekal, dan justru mendapatkan azab yang sangat pedih.{ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ }“Disebabkan karena mereka selalu menzalimi ayat-ayat Kami.”Yaitu, mereka tidak mau tunduk dan patuh kepada ayat-ayat Allah sebagaimana yang seharusnya mereka lakukan. Ashabul A’raf: Golongan yang Tertahan di Batas Surga dan NerakaAllah Ta‘ala berfirman,وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ ۚ وَعَلَى ٱلْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّۢا بِسِيمَىٰهُمْ ۚ وَنَادَوْا۟ أَصْحَٰبَ ٱلْجَنَّةِ أَن سَلَٰمٌ عَلَيْكُمْ ۚ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ“Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A’raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga: “Salaamun ‘alaikum”. Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya).” (QS. Al-A’raf: 46)Syaikh As-Sa’di rahimahullah memberikan penjelasan.Maknanya: Di antara penghuni surga dan penghuni neraka terdapat suatu pembatas yang disebut { الأَعْرَاف }. Ia bukan bagian dari surga dan bukan pula dari neraka, melainkan suatu tempat yang tinggi yang dapat melihat kedua tempat tersebut.Di atas pembatas itu terdapat sejumlah laki-laki yang mampu mengenali penghuni surga dan penghuni neraka melalui tanda-tanda mereka, yaitu ciri-ciri yang dengan itu mereka bisa dibedakan dan dikenali.Ketika mereka memandang penghuni surga, mereka menyeru kepada mereka dengan ucapan: “Salamun ‘alaikum (semoga keselamatan tercurah atas kalian).”Mereka memberi salam dan menyapa penghuni surga dengan penuh penghormatan.Adapun mereka sendiri, sampai saat itu belum masuk ke dalam surga, namun hati mereka dipenuhi harapan untuk memasukinya. Allah tidaklah menanamkan harapan dalam hati mereka kecuali karena Dia menghendaki kemuliaan dan kebaikan bagi mereka.Allah Ta‘ala berfirman,۞ وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَٰرُهُمْ تِلْقَآءَ أَصْحَٰبِ ٱلنَّارِ قَالُوا۟ رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ“Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu”.” (QS. Al-A’raf: 47)Syaikh As-Sa’di rahimahullah memberikan penjelasan.Artinya, ketika pandangan mereka diarahkan kepada penghuni neraka, lalu mereka menyaksikan pemandangan yang sangat mengerikan dan dahsyat.Mereka pun berdoa, “Ya Rabb kami, jangan Engkau jadikan kami bersama kaum yang zalim.”Adapun ketika mereka melihat penghuni surga, mereka berharap dapat bergabung bersama mereka di dalam surga. Mereka memberi salam dan menyapa mereka dengan penuh penghormatan.Namun ketika pandangan mereka tanpa pilihan mereka sendiri diarahkan kepada penghuni neraka, mereka segera memohon perlindungan kepada Allah dari keadaan mengerikan tersebut, secara umum, agar tidak dijadikan termasuk golongan orang-orang yang zalim itu.Allah Ta‘ala berfirman,وَنَادَىٰٓ أَصْحَٰبُ ٱلْأَعْرَافِ رِجَالًا يَعْرِفُونَهُم بِسِيمَىٰهُمْ قَالُوا۟ مَآ أَغْنَىٰ عَنكُمْ جَمْعُكُمْ وَمَا كُنتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ“Dan orang-orang yang di atas A’raaf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan: “Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu”.” (QS. Al-A’raf: 48)Syaikh As-Sa’di rahimahullah memberikan penjelasan.Kemudian Allah menyebutkan perincian setelah penyebutan secara umum.{ وَنَادَى أَصْحَابُ الْأَعْرَافِ رِجَالًا يَعْرِفُونَهُمْ بِسِيمَاهُمْ }Penghuni Al-A‘raf menyeru sejumlah orang yang mereka kenali dari tanda-tandanya. Mereka adalah bagian dari penghuni neraka. Dahulu ketika di dunia, mereka memiliki kewibawaan, kedudukan terhormat, harta yang banyak, dan anak-anak.Ketika penghuni Al-A‘raf melihat mereka kini menyendiri dalam azab, tanpa penolong dan tanpa siapa pun yang bisa menyelamatkan, mereka berkata:{ مَا أَغْنَى عَنكُمْ جَمْعُكُمْ }“Tidaklah berguna bagi kalian apa yang dahulu kalian kumpulkan.”Yaitu segala yang dahulu kalian kumpulkan di dunia—berupa kekuatan, pengikut, harta, dan sarana untuk menolak berbagai kesulitan serta untuk meraih keinginan-keinginan dunia—pada hari ini semuanya telah lenyap. Tidak satu pun mampu menolong kalian.{ وَمَا كُنتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ }“Dan (tidak pula berguna) kesombongan yang dahulu kalian lakukan.”Apa manfaat kesombongan kalian terhadap kebenaran, terhadap orang yang membawanya, dan terhadap orang-orang yang mengikutinya? Kini semua itu sama sekali tidak memberi faedah.Allah Ta’ala berfirman,أَهَٰٓؤُلَآءِ ٱلَّذِينَ أَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ ٱللَّهُ بِرَحْمَةٍ ۚ ٱدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَآ أَنتُمْ تَحْزَنُونَ“(Orang-orang di atas A’raaf bertanya kepada penghuni neraka): “Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?”. (Kepada orang mukmin itu dikatakan): “Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati”.” (QS. Al-A’raf: 49)Syaikh As-Sa’di rahimahullah memberikan penjelasan.udian mereka (penghuni Al-A‘raf) menunjuk kepada sekelompok orang dari penghuni surga. Dahulu di dunia, mereka adalah orang-orang fakir dan lemah yang sering diejek dan direndahkan oleh penghuni neraka. Mereka berkata kepada penghuni neraka:{ أَهَؤُلَاءِ الَّذِينَ أَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ اللَّهُ بِرَحْمَةٍ }“Apakah mereka ini orang-orang yang dahulu kalian bersumpah bahwa Allah tidak akan melimpahkan rahmat kepada mereka?”Ucapan itu dahulu kalian lontarkan karena meremehkan dan merendahkan mereka, serta karena rasa bangga terhadap diri kalian sendiri. Kini sumpah kalian terbukti dusta, dan tampak bagi kalian dari ketetapan Allah sesuatu yang tidak pernah kalian perhitungkan.Lalu dikatakan kepada orang-orang yang dahulu lemah itu, sebagai bentuk pemuliaan dan penghormatan:{ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ }“Masuklah kalian ke dalam surga,”yakni dengan sebab amal saleh yang dahulu kalian kerjakan.{ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ }“Tidak ada rasa takut atas kalian,”yakni terhadap apa pun yang akan datang dari berbagai hal yang tidak menyenangkan.{ وَلَا أَنْتُمْ تَحْزَنُونَ }“Dan tidak pula kalian bersedih hati,”atas apa yang telah berlalu. Bahkan mereka dalam keadaan aman, tenteram, dan bergembira dengan segala kebaikan.Keadaan ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:{ إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ ۝ وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ }“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa dahulu menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka melewati orang-orang beriman, mereka saling mengedipkan mata (mengolok-olok).”Hingga firman-Nya:{ فَالْيَوْمَ الَّذِينَ آمَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ ۝ عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ }“Maka pada hari ini, orang-orang yang berimanlah yang menertawakan orang-orang kafir. Mereka duduk di atas dipan-dipan sambil memandang.”Para ulama dan ahli tafsir berbeda pendapat tentang siapakah penghuni Al-A‘raf dan bagaimana keadaan amal mereka. Pendapat yang paling tepat adalah bahwa mereka adalah kaum yang kebaikan dan keburukannya seimbang. Keburukan mereka tidak lebih berat yang bisa membuat mereka masuk neraka, dan kebaikan mereka juga tidak lebih berat yang bisa membuat mereka langsung masuk surga.Karena itu, mereka berada di Al-A‘raf selama waktu yang Allah kehendaki. Kemudian Allah memasukkan mereka ke dalam surga dengan rahmat-Nya. Sesungguhnya rahmat Allah mendahului dan mengalahkan murka-Nya, dan rahmat-Nya meliputi segala sesuatu. Siapa Sebenarnya Ashabul A’raf Menurut Para Ulama?Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan:Ibnu Jarir rahimahullah berkata: Al-A‘raf adalah dinding (pembatas) yang disebutkan Allah dalam firman-Nya:{ فَضُرِبَ بَيْنَهُم بِسُورٍ لَّهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِن قِبَلِهِ الْعَذَابُ }“Maka diadakan di antara mereka suatu dinding yang memiliki pintu. Di sebelah dalamnya terdapat rahmat dan di sebelah luarnya, dari arahnya, terdapat azab.” (QS. Al-Hadid: 13)Dinding itulah Al-A‘raf yang disebutkan dalam firman Allah:{ وَعَلَى الْأَعْرَافِ رِجَالٌ }“Dan di atas Al-A‘raf ada orang-orang (laki-laki).”Beliau juga meriwayatkan dengan sanadnya dari As-Suddi bahwa dalam firman Allah:{ وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ }“Dan di antara keduanya ada pembatas,”yang dimaksud adalah dinding tersebut, yaitu Al-A‘raf.Mujahid berkata: Al-A‘raf adalah pembatas antara surga dan neraka, berupa dinding yang memiliki pintu.Ibnu Jarir menjelaskan: Kata “Al-A‘raf” adalah bentuk jamak dari “’urf”. Dalam bahasa Arab, setiap tempat yang tinggi dari permukaan tanah disebut “’urf”. Karena itu, jengger ayam disebut “’urf” disebabkan letaknya yang menonjol dan tinggi.Sufyan bin Waki‘ meriwayatkan dari Ibnu ‘Uyainah, dari ‘Ubaidullah bin Abi Yazid, bahwa ia mendengar Ibnu ‘Abbas berkata: Al-A‘raf adalah sesuatu yang tinggi dan menonjol.Ats-Tsauri meriwayatkan dari Jabir, dari Mujahid, dari Ibnu ‘Abbas, bahwa beliau berkata: Al-A‘raf adalah dinding seperti jengger ayam.Dalam riwayat lain dari Ibnu ‘Abbas disebutkan: Al-A‘raf adalah sebuah bukit antara surga dan neraka. Di atasnya tertahan sejumlah orang yang memiliki dosa, berada di antara surga dan neraka.Dalam riwayat lain lagi dari beliau: Al-A‘raf adalah dinding antara surga dan neraka.Pendapat ini juga dikemukakan oleh Adh-Dhahhak dan sejumlah ahli tafsir lainnya.As-Suddi berkata: Al-A‘raf dinamakan demikian karena para penghuninya dapat mengenali manusia (dari tanda-tandanya).Para ahli tafsir memang berbeda dalam ungkapan tentang siapa penghuni Al-A‘raf itu. Namun, seluruh pendapat tersebut pada hakikatnya kembali kepada satu makna yang sama, yaitu bahwa mereka adalah kaum yang kebaikan dan keburukannya seimbang.Pendapat ini ditegaskan oleh Hudzaifah, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas‘ud, dan sejumlah ulama salaf serta khalaf lainnya, rahimahumullah.Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Penghuni Al-A‘raf adalah kaum yang amal-amal mereka seimbang. Kebaikan mereka tidak cukup untuk memasukkan mereka ke surga, dan keburukan mereka juga tidak cukup untuk memasukkan mereka ke neraka. Maka mereka ditempatkan di Al-A‘raf. Mereka mengenali manusia melalui tanda-tandanya. Ketika Allah telah memutuskan perkara di antara para hamba, mereka diizinkan untuk meminta syafaat. Mereka pun mendatangi Adam ‘alaihis salam dan berkata, ‘Wahai Adam, engkau adalah bapak kami. Berilah kami syafaat di sisi Rabbmu.’Adam menjawab, ‘Apakah kalian mengetahui ada seorang yang Allah ciptakan dengan tangan-Nya, ditiupkan ruh kepadanya, rahmat-Nya mendahului murka-Nya untuknya, dan para malaikat bersujud kepadanya selain aku?’Mereka menjawab, ‘Tidak.’Adam berkata, ‘Aku tidak mengetahui hakikat perkara ini. Aku tidak mampu memberi syafaat untuk kalian. Datangilah Ibrahim.’Mereka pun mendatangi Ibrahim ‘alaihis salam dan memintanya memberi syafaat. Ibrahim berkata, ‘Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang Allah jadikan sebagai khalil (kekasih-Nya) selain aku? Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang dibakar oleh kaumnya karena Allah selain aku?’Mereka menjawab, ‘Tidak.’Ibrahim berkata, ‘Aku tidak mengetahui hakikat perkara ini. Aku tidak mampu memberi syafaat untuk kalian. Datangilah Musa.’Mereka mendatangi Musa ‘alaihis salam dan berkata, ‘Berilah kami syafaat.’Musa berkata, ‘Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang Allah ajak bicara secara langsung dan Dia dekatkan sebagai orang yang diajak berbicara secara khusus selain aku?’Mereka menjawab, ‘Tidak.’Musa berkata, ‘Aku tidak mengetahui hakikat perkara ini. Aku tidak mampu memberi syafaat untuk kalian. Datangilah Isa.’Mereka mendatangi Isa ‘alaihis salam dan berkata, ‘Berilah kami syafaat.’Isa berkata, ‘Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang Allah ciptakan tanpa ayah selain aku? Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang dapat menyembuhkan orang buta dan penderita kusta serta menghidupkan orang mati dengan izin Allah selain aku?’Mereka menjawab, ‘Tidak.’Isa berkata, ‘Aku sibuk dengan urusanku sendiri. Aku tidak mengetahui hakikat perkara ini. Aku tidak mampu memberi syafaat untuk kalian. Datangilah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.’Mereka pun mendatangiku,” kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Aku menepuk dadaku dan berkata, ‘Aku yang akan melakukannya.’Aku berjalan hingga berdiri di hadapan ‘Arsy. Aku menghadap Rabbku ‘Azza wa Jalla. Maka Allah membukakan untukku pujian-pujian yang belum pernah didengar oleh siapa pun sebelumnya. Lalu aku bersujud.Kemudian dikatakan kepadaku, ‘Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu. Mintalah, niscaya engkau diberi. Berilah syafaat, niscaya syafaatmu diterima.’Aku mengangkat kepalaku dan berkata, ‘Wahai Rabbku, umatku.’Allah berfirman, ‘Mereka untukmu.’Tidak ada seorang nabi yang diutus dan tidak pula malaikat yang didekatkan kepada Allah kecuali merasa iri terhadap kedudukanku saat itu. Itulah maqam mahmud (kedudukan terpuji).Aku pun membawa mereka ke surga. Aku meminta agar pintu surga dibukakan, maka dibukakan untukku dan untuk mereka.Mereka kemudian dibawa ke sebuah sungai yang disebut Sungai Al-Hayawan. Di tepinya terdapat mutiara yang tersusun indah. Tanahnya beraroma kasturi dan kerikilnya dari batu yaqut.Mereka mandi di sungai itu, lalu warna tubuh mereka menjadi seperti warna penghuni surga, dan aroma mereka menjadi seperti aroma penghuni surga. Mereka pun menjadi seperti bintang-bintang yang bercahaya.Namun di dada mereka masih terdapat tanda putih yang dengan itu mereka dikenali. Mereka disebut sebagai ‘orang-orang miskin penghuni surga (masaakin ahli Jannah).’” Tiga Golongan Manusia Saat Amal DitimbangJika amal perbuatan telah ditimbang pada hari kiamat, maka manusia terbagi menjadi tiga golongan:Pertama: Orang yang kebaikannya lebih berat daripada keburukannya. Mereka adalah orang-orang yang berbahagia dan beruntung.Allah Ta‘ala berfirman:﴿ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ۝ وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ ﴾“Barang siapa berat timbangan (kebaikannya), maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa ringan timbangan (kebaikannya), maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam.” (QS. Al-Mu’minūn: 102–103)Allah juga berfirman:﴿ فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ ۝ وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ ۝ وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ ۝ نَارٌ حَامِيَةٌ ﴾“Adapun orang yang berat timbangan (kebaikannya), maka ia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikannya), maka tempat kembalinya adalah Hawiyah. Tahukah kamu apakah Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas.” (QS. Al-Qāri‘ah: 6–11)Kedua: Orang yang keburukannya lebih berat daripada kebaikannya.Jika ia seorang muslim, maka ia akan masuk neraka. Setelah dibersihkan dan disucikan dari dosa-dosanya, ia akan dikeluarkan dari neraka lalu dimasukkan ke dalam surga.Namun jika ia seorang kafir, maka ia akan kekal selamanya di dalam neraka, sebagaimana disebutkan dalam ayat Surah Al-Mu’minūn di atas.Catatan:Adapun orang-orang kafir, mereka tidak memiliki amal kebaikan yang sah, karena syarat utamanya adalah iman. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala,وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخَافُ ظُلْمًا وَلَا هَضْمًا“Barang siapa beramal saleh dalam keadaan beriman, maka ia tidak akan takut dizalimi dan tidak akan dirugikan.” (QS. Ṭāhā: 112)Amal orang kafir memang tetap dicatat dan dihitung. Mereka akan ditunjukkan amal-amal itu di hadapan khalayak ramai, agar semakin dipermalukan. Setelah itu, mereka pun disiksa karenanya.Allah Ta’ala berfirman,أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمْ وَلِقَآئِهِۦ فَحَبِطَتْ أَعْمَٰلُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ وَزْنًا“Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.” (QS. Al-Kahfi: 105)Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda,إِنَّهُ لَيَأْتِي الرَّجُلُ الْعَظِيمُ السَّمِينُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، لَا يَزِنُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ“Sungguh, akan datang seseorang pada hari Kiamat, tubuhnya besar dan gemuk, tetapi di sisi Allah ia tidak lebih berat dari sayap seekor nyamuk.”Lalu Rasulullah ﷺ bersabda,اقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْفَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا“Bacalah jika kalian mau: {Maka Kami tidak akan memberikan timbangan bagi mereka di hari Kiamat}.” (HR. Bukhari dan Muslim)Baca juga: Penutup Surah Al-Kahfi: Peringatan Keras dan Janji Mulia dari AllahKetiga: Orang yang kebaikan dan keburukannya seimbang. Mereka adalah Ashabul A‘raf (para penghuni A‘raf). Mereka berada di suatu tempat di antara surga dan neraka. Dari sana mereka dapat melihat kedua golongan tersebut.Allah Ta‘ala berfirman:﴿ وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ ۚ وَعَلَى الْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّا بِسِيمَاهُمْ ۚ وَنَادَوْا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ ۚ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ ۝ وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَارُهُمْ تِلْقَاءَ أَصْحَابِ النَّارِ قَالُوا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ ﴾“Dan di antara keduanya (surga dan neraka) ada dinding pemisah. Dan di atas A‘raf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing (penghuni surga dan neraka) dari tanda-tandanya. Mereka menyeru kepada penghuni surga, ‘Salamun ‘alaikum.’ Mereka belum masuk ke dalamnya, namun mereka sangat ingin (memasukinya). Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, ‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami bersama kaum yang zalim.’” (QS. Al-A‘rāf: 46–47)Adapun akhir perjalanan penghuni A‘raf adalah masuk surga setelah itu.Catatan:Bagaimana pun rahmat Allah tetaplah mendahului murka-Nya.عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِى كِتَابِهِ – هُوَ يَكْتُبُ عَلَى نَفْسِهِ ، وَهْوَ وَضْعٌ عِنْدَهُ عَلَى الْعَرْشِ – إِنَّ رَحْمَتِى تَغْلِبُ غَضَبِى »Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Tatkala Allah menciptakan makhluk-Nya, Dia menulis dalam kitab-Nya, yang kitab itu terletak di sisi-Nya di atas ‘Arsy, “Sesungguhnya rahmat-Ku lebih mengalahkan kemurkaan-Ku.” (HR. Bukhari no. 7404 dan Muslim no. 2751) Al-A’raf dan Keadilan Allah yang SempurnaAl-A‘raf adalah tempat yang tinggi di antara surga dan neraka. Ia berupa dinding atau pembatas (suur) yang memisahkan keduanya, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:{ وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ }“Dan di antara keduanya ada pembatas.”Para ulama tafsir menjelaskan bahwa Al-A‘raf adalah tempat yang menonjol dan tinggi, sehingga orang yang berada di atasnya dapat melihat penghuni surga dan penghuni neraka sekaligus. Kata “Al-A‘raf” sendiri berasal dari kata “‘urf” yang berarti sesuatu yang tinggi dan menonjol. Siapa Ashabul A‘raf?Mereka adalah orang-orang yang kebaikan dan keburukannya seimbang.Kebaikan mereka tidak lebih berat sehingga langsung masuk surga.Keburukan mereka tidak lebih berat sehingga masuk neraka.Maka mereka ditempatkan sementara di Al-A‘raf.Mereka:Mengenali penghuni surga dan neraka dari tanda-tandanya.Memberi salam kepada penghuni surga.Takut ketika melihat penghuni neraka.Berharap masuk surga.Setelah Allah menyelesaikan keputusan di antara para hamba, Allah memasukkan mereka ke dalam surga dengan rahmat-Nya. “Ya Allah, beratkanlah timbangan kebaikan kami, ampuni dan hapuskan keburukan kami. Jangan Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang kebaikan dan keburukannya seimbang. Jangan Engkau tahan kami di Al-A‘raf. Masukkanlah kami ke dalam surga dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic Fatwa 150768 dari Islamqa.Fatwa 98964 dari Islamqa. —– Rabu siang, 7 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsal-a‘raf amal baik dan buruk as-suyuthi hari kiamat ibnul qayyim keadilan Allah manusia di hari kiamat renungan ayat renungan quran surga dan neraka tafsir al-qur’an tafsir surat al-a‘raf

Ashabul A’raf: Golongan yang Timbangannya Seimbang, Tertahan di Antara Surga dan Neraka (Surah Al-A’raf ayat 46-49)

Masuk bahasan juz kedelapan, kita ambil dari surah Al-A’raf. Pada hari kiamat, Allah Ta’ala menimbang amal manusia dengan keadilan yang sempurna—tanpa kezaliman sedikit pun. Ada yang berat timbangan kebaikannya lalu beruntung, ada yang ringan timbangan kebaikannya lalu merugi, dan ada pula yang kebaikan serta keburukannya seimbang. Golongan terakhir inilah yang dikenal sebagai Ashabul A’raf, tertahan sementara di tempat tinggi antara surga dan neraka, sebelum akhirnya Allah memasukkan mereka ke dalam surga dengan rahmat-Nya. Baca juga: Siapa Penghuni Al-A’raf? Mereka yang Tertahan di Antara Surga dan Neraka  Daftar Isi tutup 1. Timbangan Amal di Hari Kiamat: Siapa yang Beruntung dan Siapa yang Merugi? 2. Ashabul A’raf: Golongan yang Tertahan di Batas Surga dan Neraka 3. Siapa Sebenarnya Ashabul A’raf Menurut Para Ulama? 4. Tiga Golongan Manusia Saat Amal Ditimbang 4.1. Pertama: Orang yang kebaikannya lebih berat daripada keburukannya. 4.2. Kedua: Orang yang keburukannya lebih berat daripada kebaikannya. 4.3. Ketiga: Orang yang kebaikan dan keburukannya seimbang. 5. Al-A’raf dan Keadilan Allah yang Sempurna  Timbangan Amal di Hari Kiamat: Siapa yang Beruntung dan Siapa yang Merugi?Allah Ta’ala berfirman,وَٱلْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ ٱلْحَقُّ ۚ فَمَن ثَقُلَتْ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ“Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-A’raf: 8) وَمَنْ خَفَّتْ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓا۟ أَنفُسَهُم بِمَا كَانُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا يَظْلِمُونَ“Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf: 9)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat kedelapan, “Penimbangan amal pada hari Kiamat dilakukan dengan penuh keadilan dan keseimbangan yang sempurna. Tidak ada sedikit pun kezaliman dan kecurangan di dalamnya.{ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ }“Maka barang siapa yang berat timbangan (kebaikannya),”Maksudnya, apabila timbangan kebaikannya lebih berat daripada keburukannya.{ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ }“Maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”Yakni, mereka adalah orang-orang yang selamat dari segala hal yang tidak menyenangkan, dan berhasil meraih segala yang mereka cintai. Mereka memperoleh keuntungan yang sangat besar serta kebahagiaan yang abadi.Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat kesembilan,Maksudnya, ketika keburukannya lebih berat daripada kebaikannya, sehingga keputusan berpihak kepada keburukan tersebut.{ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ }“Maka mereka itulah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri.”Karena mereka kehilangan kenikmatan yang kekal, dan justru mendapatkan azab yang sangat pedih.{ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ }“Disebabkan karena mereka selalu menzalimi ayat-ayat Kami.”Yaitu, mereka tidak mau tunduk dan patuh kepada ayat-ayat Allah sebagaimana yang seharusnya mereka lakukan. Ashabul A’raf: Golongan yang Tertahan di Batas Surga dan NerakaAllah Ta‘ala berfirman,وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ ۚ وَعَلَى ٱلْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّۢا بِسِيمَىٰهُمْ ۚ وَنَادَوْا۟ أَصْحَٰبَ ٱلْجَنَّةِ أَن سَلَٰمٌ عَلَيْكُمْ ۚ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ“Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A’raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga: “Salaamun ‘alaikum”. Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya).” (QS. Al-A’raf: 46)Syaikh As-Sa’di rahimahullah memberikan penjelasan.Maknanya: Di antara penghuni surga dan penghuni neraka terdapat suatu pembatas yang disebut { الأَعْرَاف }. Ia bukan bagian dari surga dan bukan pula dari neraka, melainkan suatu tempat yang tinggi yang dapat melihat kedua tempat tersebut.Di atas pembatas itu terdapat sejumlah laki-laki yang mampu mengenali penghuni surga dan penghuni neraka melalui tanda-tanda mereka, yaitu ciri-ciri yang dengan itu mereka bisa dibedakan dan dikenali.Ketika mereka memandang penghuni surga, mereka menyeru kepada mereka dengan ucapan: “Salamun ‘alaikum (semoga keselamatan tercurah atas kalian).”Mereka memberi salam dan menyapa penghuni surga dengan penuh penghormatan.Adapun mereka sendiri, sampai saat itu belum masuk ke dalam surga, namun hati mereka dipenuhi harapan untuk memasukinya. Allah tidaklah menanamkan harapan dalam hati mereka kecuali karena Dia menghendaki kemuliaan dan kebaikan bagi mereka.Allah Ta‘ala berfirman,۞ وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَٰرُهُمْ تِلْقَآءَ أَصْحَٰبِ ٱلنَّارِ قَالُوا۟ رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ“Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu”.” (QS. Al-A’raf: 47)Syaikh As-Sa’di rahimahullah memberikan penjelasan.Artinya, ketika pandangan mereka diarahkan kepada penghuni neraka, lalu mereka menyaksikan pemandangan yang sangat mengerikan dan dahsyat.Mereka pun berdoa, “Ya Rabb kami, jangan Engkau jadikan kami bersama kaum yang zalim.”Adapun ketika mereka melihat penghuni surga, mereka berharap dapat bergabung bersama mereka di dalam surga. Mereka memberi salam dan menyapa mereka dengan penuh penghormatan.Namun ketika pandangan mereka tanpa pilihan mereka sendiri diarahkan kepada penghuni neraka, mereka segera memohon perlindungan kepada Allah dari keadaan mengerikan tersebut, secara umum, agar tidak dijadikan termasuk golongan orang-orang yang zalim itu.Allah Ta‘ala berfirman,وَنَادَىٰٓ أَصْحَٰبُ ٱلْأَعْرَافِ رِجَالًا يَعْرِفُونَهُم بِسِيمَىٰهُمْ قَالُوا۟ مَآ أَغْنَىٰ عَنكُمْ جَمْعُكُمْ وَمَا كُنتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ“Dan orang-orang yang di atas A’raaf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan: “Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu”.” (QS. Al-A’raf: 48)Syaikh As-Sa’di rahimahullah memberikan penjelasan.Kemudian Allah menyebutkan perincian setelah penyebutan secara umum.{ وَنَادَى أَصْحَابُ الْأَعْرَافِ رِجَالًا يَعْرِفُونَهُمْ بِسِيمَاهُمْ }Penghuni Al-A‘raf menyeru sejumlah orang yang mereka kenali dari tanda-tandanya. Mereka adalah bagian dari penghuni neraka. Dahulu ketika di dunia, mereka memiliki kewibawaan, kedudukan terhormat, harta yang banyak, dan anak-anak.Ketika penghuni Al-A‘raf melihat mereka kini menyendiri dalam azab, tanpa penolong dan tanpa siapa pun yang bisa menyelamatkan, mereka berkata:{ مَا أَغْنَى عَنكُمْ جَمْعُكُمْ }“Tidaklah berguna bagi kalian apa yang dahulu kalian kumpulkan.”Yaitu segala yang dahulu kalian kumpulkan di dunia—berupa kekuatan, pengikut, harta, dan sarana untuk menolak berbagai kesulitan serta untuk meraih keinginan-keinginan dunia—pada hari ini semuanya telah lenyap. Tidak satu pun mampu menolong kalian.{ وَمَا كُنتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ }“Dan (tidak pula berguna) kesombongan yang dahulu kalian lakukan.”Apa manfaat kesombongan kalian terhadap kebenaran, terhadap orang yang membawanya, dan terhadap orang-orang yang mengikutinya? Kini semua itu sama sekali tidak memberi faedah.Allah Ta’ala berfirman,أَهَٰٓؤُلَآءِ ٱلَّذِينَ أَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ ٱللَّهُ بِرَحْمَةٍ ۚ ٱدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَآ أَنتُمْ تَحْزَنُونَ“(Orang-orang di atas A’raaf bertanya kepada penghuni neraka): “Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?”. (Kepada orang mukmin itu dikatakan): “Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati”.” (QS. Al-A’raf: 49)Syaikh As-Sa’di rahimahullah memberikan penjelasan.udian mereka (penghuni Al-A‘raf) menunjuk kepada sekelompok orang dari penghuni surga. Dahulu di dunia, mereka adalah orang-orang fakir dan lemah yang sering diejek dan direndahkan oleh penghuni neraka. Mereka berkata kepada penghuni neraka:{ أَهَؤُلَاءِ الَّذِينَ أَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ اللَّهُ بِرَحْمَةٍ }“Apakah mereka ini orang-orang yang dahulu kalian bersumpah bahwa Allah tidak akan melimpahkan rahmat kepada mereka?”Ucapan itu dahulu kalian lontarkan karena meremehkan dan merendahkan mereka, serta karena rasa bangga terhadap diri kalian sendiri. Kini sumpah kalian terbukti dusta, dan tampak bagi kalian dari ketetapan Allah sesuatu yang tidak pernah kalian perhitungkan.Lalu dikatakan kepada orang-orang yang dahulu lemah itu, sebagai bentuk pemuliaan dan penghormatan:{ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ }“Masuklah kalian ke dalam surga,”yakni dengan sebab amal saleh yang dahulu kalian kerjakan.{ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ }“Tidak ada rasa takut atas kalian,”yakni terhadap apa pun yang akan datang dari berbagai hal yang tidak menyenangkan.{ وَلَا أَنْتُمْ تَحْزَنُونَ }“Dan tidak pula kalian bersedih hati,”atas apa yang telah berlalu. Bahkan mereka dalam keadaan aman, tenteram, dan bergembira dengan segala kebaikan.Keadaan ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:{ إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ ۝ وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ }“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa dahulu menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka melewati orang-orang beriman, mereka saling mengedipkan mata (mengolok-olok).”Hingga firman-Nya:{ فَالْيَوْمَ الَّذِينَ آمَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ ۝ عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ }“Maka pada hari ini, orang-orang yang berimanlah yang menertawakan orang-orang kafir. Mereka duduk di atas dipan-dipan sambil memandang.”Para ulama dan ahli tafsir berbeda pendapat tentang siapakah penghuni Al-A‘raf dan bagaimana keadaan amal mereka. Pendapat yang paling tepat adalah bahwa mereka adalah kaum yang kebaikan dan keburukannya seimbang. Keburukan mereka tidak lebih berat yang bisa membuat mereka masuk neraka, dan kebaikan mereka juga tidak lebih berat yang bisa membuat mereka langsung masuk surga.Karena itu, mereka berada di Al-A‘raf selama waktu yang Allah kehendaki. Kemudian Allah memasukkan mereka ke dalam surga dengan rahmat-Nya. Sesungguhnya rahmat Allah mendahului dan mengalahkan murka-Nya, dan rahmat-Nya meliputi segala sesuatu. Siapa Sebenarnya Ashabul A’raf Menurut Para Ulama?Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan:Ibnu Jarir rahimahullah berkata: Al-A‘raf adalah dinding (pembatas) yang disebutkan Allah dalam firman-Nya:{ فَضُرِبَ بَيْنَهُم بِسُورٍ لَّهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِن قِبَلِهِ الْعَذَابُ }“Maka diadakan di antara mereka suatu dinding yang memiliki pintu. Di sebelah dalamnya terdapat rahmat dan di sebelah luarnya, dari arahnya, terdapat azab.” (QS. Al-Hadid: 13)Dinding itulah Al-A‘raf yang disebutkan dalam firman Allah:{ وَعَلَى الْأَعْرَافِ رِجَالٌ }“Dan di atas Al-A‘raf ada orang-orang (laki-laki).”Beliau juga meriwayatkan dengan sanadnya dari As-Suddi bahwa dalam firman Allah:{ وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ }“Dan di antara keduanya ada pembatas,”yang dimaksud adalah dinding tersebut, yaitu Al-A‘raf.Mujahid berkata: Al-A‘raf adalah pembatas antara surga dan neraka, berupa dinding yang memiliki pintu.Ibnu Jarir menjelaskan: Kata “Al-A‘raf” adalah bentuk jamak dari “’urf”. Dalam bahasa Arab, setiap tempat yang tinggi dari permukaan tanah disebut “’urf”. Karena itu, jengger ayam disebut “’urf” disebabkan letaknya yang menonjol dan tinggi.Sufyan bin Waki‘ meriwayatkan dari Ibnu ‘Uyainah, dari ‘Ubaidullah bin Abi Yazid, bahwa ia mendengar Ibnu ‘Abbas berkata: Al-A‘raf adalah sesuatu yang tinggi dan menonjol.Ats-Tsauri meriwayatkan dari Jabir, dari Mujahid, dari Ibnu ‘Abbas, bahwa beliau berkata: Al-A‘raf adalah dinding seperti jengger ayam.Dalam riwayat lain dari Ibnu ‘Abbas disebutkan: Al-A‘raf adalah sebuah bukit antara surga dan neraka. Di atasnya tertahan sejumlah orang yang memiliki dosa, berada di antara surga dan neraka.Dalam riwayat lain lagi dari beliau: Al-A‘raf adalah dinding antara surga dan neraka.Pendapat ini juga dikemukakan oleh Adh-Dhahhak dan sejumlah ahli tafsir lainnya.As-Suddi berkata: Al-A‘raf dinamakan demikian karena para penghuninya dapat mengenali manusia (dari tanda-tandanya).Para ahli tafsir memang berbeda dalam ungkapan tentang siapa penghuni Al-A‘raf itu. Namun, seluruh pendapat tersebut pada hakikatnya kembali kepada satu makna yang sama, yaitu bahwa mereka adalah kaum yang kebaikan dan keburukannya seimbang.Pendapat ini ditegaskan oleh Hudzaifah, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas‘ud, dan sejumlah ulama salaf serta khalaf lainnya, rahimahumullah.Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Penghuni Al-A‘raf adalah kaum yang amal-amal mereka seimbang. Kebaikan mereka tidak cukup untuk memasukkan mereka ke surga, dan keburukan mereka juga tidak cukup untuk memasukkan mereka ke neraka. Maka mereka ditempatkan di Al-A‘raf. Mereka mengenali manusia melalui tanda-tandanya. Ketika Allah telah memutuskan perkara di antara para hamba, mereka diizinkan untuk meminta syafaat. Mereka pun mendatangi Adam ‘alaihis salam dan berkata, ‘Wahai Adam, engkau adalah bapak kami. Berilah kami syafaat di sisi Rabbmu.’Adam menjawab, ‘Apakah kalian mengetahui ada seorang yang Allah ciptakan dengan tangan-Nya, ditiupkan ruh kepadanya, rahmat-Nya mendahului murka-Nya untuknya, dan para malaikat bersujud kepadanya selain aku?’Mereka menjawab, ‘Tidak.’Adam berkata, ‘Aku tidak mengetahui hakikat perkara ini. Aku tidak mampu memberi syafaat untuk kalian. Datangilah Ibrahim.’Mereka pun mendatangi Ibrahim ‘alaihis salam dan memintanya memberi syafaat. Ibrahim berkata, ‘Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang Allah jadikan sebagai khalil (kekasih-Nya) selain aku? Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang dibakar oleh kaumnya karena Allah selain aku?’Mereka menjawab, ‘Tidak.’Ibrahim berkata, ‘Aku tidak mengetahui hakikat perkara ini. Aku tidak mampu memberi syafaat untuk kalian. Datangilah Musa.’Mereka mendatangi Musa ‘alaihis salam dan berkata, ‘Berilah kami syafaat.’Musa berkata, ‘Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang Allah ajak bicara secara langsung dan Dia dekatkan sebagai orang yang diajak berbicara secara khusus selain aku?’Mereka menjawab, ‘Tidak.’Musa berkata, ‘Aku tidak mengetahui hakikat perkara ini. Aku tidak mampu memberi syafaat untuk kalian. Datangilah Isa.’Mereka mendatangi Isa ‘alaihis salam dan berkata, ‘Berilah kami syafaat.’Isa berkata, ‘Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang Allah ciptakan tanpa ayah selain aku? Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang dapat menyembuhkan orang buta dan penderita kusta serta menghidupkan orang mati dengan izin Allah selain aku?’Mereka menjawab, ‘Tidak.’Isa berkata, ‘Aku sibuk dengan urusanku sendiri. Aku tidak mengetahui hakikat perkara ini. Aku tidak mampu memberi syafaat untuk kalian. Datangilah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.’Mereka pun mendatangiku,” kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Aku menepuk dadaku dan berkata, ‘Aku yang akan melakukannya.’Aku berjalan hingga berdiri di hadapan ‘Arsy. Aku menghadap Rabbku ‘Azza wa Jalla. Maka Allah membukakan untukku pujian-pujian yang belum pernah didengar oleh siapa pun sebelumnya. Lalu aku bersujud.Kemudian dikatakan kepadaku, ‘Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu. Mintalah, niscaya engkau diberi. Berilah syafaat, niscaya syafaatmu diterima.’Aku mengangkat kepalaku dan berkata, ‘Wahai Rabbku, umatku.’Allah berfirman, ‘Mereka untukmu.’Tidak ada seorang nabi yang diutus dan tidak pula malaikat yang didekatkan kepada Allah kecuali merasa iri terhadap kedudukanku saat itu. Itulah maqam mahmud (kedudukan terpuji).Aku pun membawa mereka ke surga. Aku meminta agar pintu surga dibukakan, maka dibukakan untukku dan untuk mereka.Mereka kemudian dibawa ke sebuah sungai yang disebut Sungai Al-Hayawan. Di tepinya terdapat mutiara yang tersusun indah. Tanahnya beraroma kasturi dan kerikilnya dari batu yaqut.Mereka mandi di sungai itu, lalu warna tubuh mereka menjadi seperti warna penghuni surga, dan aroma mereka menjadi seperti aroma penghuni surga. Mereka pun menjadi seperti bintang-bintang yang bercahaya.Namun di dada mereka masih terdapat tanda putih yang dengan itu mereka dikenali. Mereka disebut sebagai ‘orang-orang miskin penghuni surga (masaakin ahli Jannah).’” Tiga Golongan Manusia Saat Amal DitimbangJika amal perbuatan telah ditimbang pada hari kiamat, maka manusia terbagi menjadi tiga golongan:Pertama: Orang yang kebaikannya lebih berat daripada keburukannya. Mereka adalah orang-orang yang berbahagia dan beruntung.Allah Ta‘ala berfirman:﴿ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ۝ وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ ﴾“Barang siapa berat timbangan (kebaikannya), maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa ringan timbangan (kebaikannya), maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam.” (QS. Al-Mu’minūn: 102–103)Allah juga berfirman:﴿ فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ ۝ وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ ۝ وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ ۝ نَارٌ حَامِيَةٌ ﴾“Adapun orang yang berat timbangan (kebaikannya), maka ia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikannya), maka tempat kembalinya adalah Hawiyah. Tahukah kamu apakah Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas.” (QS. Al-Qāri‘ah: 6–11)Kedua: Orang yang keburukannya lebih berat daripada kebaikannya.Jika ia seorang muslim, maka ia akan masuk neraka. Setelah dibersihkan dan disucikan dari dosa-dosanya, ia akan dikeluarkan dari neraka lalu dimasukkan ke dalam surga.Namun jika ia seorang kafir, maka ia akan kekal selamanya di dalam neraka, sebagaimana disebutkan dalam ayat Surah Al-Mu’minūn di atas.Catatan:Adapun orang-orang kafir, mereka tidak memiliki amal kebaikan yang sah, karena syarat utamanya adalah iman. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala,وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخَافُ ظُلْمًا وَلَا هَضْمًا“Barang siapa beramal saleh dalam keadaan beriman, maka ia tidak akan takut dizalimi dan tidak akan dirugikan.” (QS. Ṭāhā: 112)Amal orang kafir memang tetap dicatat dan dihitung. Mereka akan ditunjukkan amal-amal itu di hadapan khalayak ramai, agar semakin dipermalukan. Setelah itu, mereka pun disiksa karenanya.Allah Ta’ala berfirman,أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمْ وَلِقَآئِهِۦ فَحَبِطَتْ أَعْمَٰلُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ وَزْنًا“Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.” (QS. Al-Kahfi: 105)Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda,إِنَّهُ لَيَأْتِي الرَّجُلُ الْعَظِيمُ السَّمِينُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، لَا يَزِنُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ“Sungguh, akan datang seseorang pada hari Kiamat, tubuhnya besar dan gemuk, tetapi di sisi Allah ia tidak lebih berat dari sayap seekor nyamuk.”Lalu Rasulullah ﷺ bersabda,اقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْفَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا“Bacalah jika kalian mau: {Maka Kami tidak akan memberikan timbangan bagi mereka di hari Kiamat}.” (HR. Bukhari dan Muslim)Baca juga: Penutup Surah Al-Kahfi: Peringatan Keras dan Janji Mulia dari AllahKetiga: Orang yang kebaikan dan keburukannya seimbang. Mereka adalah Ashabul A‘raf (para penghuni A‘raf). Mereka berada di suatu tempat di antara surga dan neraka. Dari sana mereka dapat melihat kedua golongan tersebut.Allah Ta‘ala berfirman:﴿ وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ ۚ وَعَلَى الْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّا بِسِيمَاهُمْ ۚ وَنَادَوْا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ ۚ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ ۝ وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَارُهُمْ تِلْقَاءَ أَصْحَابِ النَّارِ قَالُوا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ ﴾“Dan di antara keduanya (surga dan neraka) ada dinding pemisah. Dan di atas A‘raf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing (penghuni surga dan neraka) dari tanda-tandanya. Mereka menyeru kepada penghuni surga, ‘Salamun ‘alaikum.’ Mereka belum masuk ke dalamnya, namun mereka sangat ingin (memasukinya). Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, ‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami bersama kaum yang zalim.’” (QS. Al-A‘rāf: 46–47)Adapun akhir perjalanan penghuni A‘raf adalah masuk surga setelah itu.Catatan:Bagaimana pun rahmat Allah tetaplah mendahului murka-Nya.عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِى كِتَابِهِ – هُوَ يَكْتُبُ عَلَى نَفْسِهِ ، وَهْوَ وَضْعٌ عِنْدَهُ عَلَى الْعَرْشِ – إِنَّ رَحْمَتِى تَغْلِبُ غَضَبِى »Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Tatkala Allah menciptakan makhluk-Nya, Dia menulis dalam kitab-Nya, yang kitab itu terletak di sisi-Nya di atas ‘Arsy, “Sesungguhnya rahmat-Ku lebih mengalahkan kemurkaan-Ku.” (HR. Bukhari no. 7404 dan Muslim no. 2751) Al-A’raf dan Keadilan Allah yang SempurnaAl-A‘raf adalah tempat yang tinggi di antara surga dan neraka. Ia berupa dinding atau pembatas (suur) yang memisahkan keduanya, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:{ وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ }“Dan di antara keduanya ada pembatas.”Para ulama tafsir menjelaskan bahwa Al-A‘raf adalah tempat yang menonjol dan tinggi, sehingga orang yang berada di atasnya dapat melihat penghuni surga dan penghuni neraka sekaligus. Kata “Al-A‘raf” sendiri berasal dari kata “‘urf” yang berarti sesuatu yang tinggi dan menonjol. Siapa Ashabul A‘raf?Mereka adalah orang-orang yang kebaikan dan keburukannya seimbang.Kebaikan mereka tidak lebih berat sehingga langsung masuk surga.Keburukan mereka tidak lebih berat sehingga masuk neraka.Maka mereka ditempatkan sementara di Al-A‘raf.Mereka:Mengenali penghuni surga dan neraka dari tanda-tandanya.Memberi salam kepada penghuni surga.Takut ketika melihat penghuni neraka.Berharap masuk surga.Setelah Allah menyelesaikan keputusan di antara para hamba, Allah memasukkan mereka ke dalam surga dengan rahmat-Nya. “Ya Allah, beratkanlah timbangan kebaikan kami, ampuni dan hapuskan keburukan kami. Jangan Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang kebaikan dan keburukannya seimbang. Jangan Engkau tahan kami di Al-A‘raf. Masukkanlah kami ke dalam surga dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic Fatwa 150768 dari Islamqa.Fatwa 98964 dari Islamqa. —– Rabu siang, 7 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsal-a‘raf amal baik dan buruk as-suyuthi hari kiamat ibnul qayyim keadilan Allah manusia di hari kiamat renungan ayat renungan quran surga dan neraka tafsir al-qur’an tafsir surat al-a‘raf
Masuk bahasan juz kedelapan, kita ambil dari surah Al-A’raf. Pada hari kiamat, Allah Ta’ala menimbang amal manusia dengan keadilan yang sempurna—tanpa kezaliman sedikit pun. Ada yang berat timbangan kebaikannya lalu beruntung, ada yang ringan timbangan kebaikannya lalu merugi, dan ada pula yang kebaikan serta keburukannya seimbang. Golongan terakhir inilah yang dikenal sebagai Ashabul A’raf, tertahan sementara di tempat tinggi antara surga dan neraka, sebelum akhirnya Allah memasukkan mereka ke dalam surga dengan rahmat-Nya. Baca juga: Siapa Penghuni Al-A’raf? Mereka yang Tertahan di Antara Surga dan Neraka  Daftar Isi tutup 1. Timbangan Amal di Hari Kiamat: Siapa yang Beruntung dan Siapa yang Merugi? 2. Ashabul A’raf: Golongan yang Tertahan di Batas Surga dan Neraka 3. Siapa Sebenarnya Ashabul A’raf Menurut Para Ulama? 4. Tiga Golongan Manusia Saat Amal Ditimbang 4.1. Pertama: Orang yang kebaikannya lebih berat daripada keburukannya. 4.2. Kedua: Orang yang keburukannya lebih berat daripada kebaikannya. 4.3. Ketiga: Orang yang kebaikan dan keburukannya seimbang. 5. Al-A’raf dan Keadilan Allah yang Sempurna  Timbangan Amal di Hari Kiamat: Siapa yang Beruntung dan Siapa yang Merugi?Allah Ta’ala berfirman,وَٱلْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ ٱلْحَقُّ ۚ فَمَن ثَقُلَتْ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ“Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-A’raf: 8) وَمَنْ خَفَّتْ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓا۟ أَنفُسَهُم بِمَا كَانُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا يَظْلِمُونَ“Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf: 9)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat kedelapan, “Penimbangan amal pada hari Kiamat dilakukan dengan penuh keadilan dan keseimbangan yang sempurna. Tidak ada sedikit pun kezaliman dan kecurangan di dalamnya.{ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ }“Maka barang siapa yang berat timbangan (kebaikannya),”Maksudnya, apabila timbangan kebaikannya lebih berat daripada keburukannya.{ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ }“Maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”Yakni, mereka adalah orang-orang yang selamat dari segala hal yang tidak menyenangkan, dan berhasil meraih segala yang mereka cintai. Mereka memperoleh keuntungan yang sangat besar serta kebahagiaan yang abadi.Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat kesembilan,Maksudnya, ketika keburukannya lebih berat daripada kebaikannya, sehingga keputusan berpihak kepada keburukan tersebut.{ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ }“Maka mereka itulah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri.”Karena mereka kehilangan kenikmatan yang kekal, dan justru mendapatkan azab yang sangat pedih.{ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ }“Disebabkan karena mereka selalu menzalimi ayat-ayat Kami.”Yaitu, mereka tidak mau tunduk dan patuh kepada ayat-ayat Allah sebagaimana yang seharusnya mereka lakukan. Ashabul A’raf: Golongan yang Tertahan di Batas Surga dan NerakaAllah Ta‘ala berfirman,وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ ۚ وَعَلَى ٱلْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّۢا بِسِيمَىٰهُمْ ۚ وَنَادَوْا۟ أَصْحَٰبَ ٱلْجَنَّةِ أَن سَلَٰمٌ عَلَيْكُمْ ۚ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ“Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A’raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga: “Salaamun ‘alaikum”. Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya).” (QS. Al-A’raf: 46)Syaikh As-Sa’di rahimahullah memberikan penjelasan.Maknanya: Di antara penghuni surga dan penghuni neraka terdapat suatu pembatas yang disebut { الأَعْرَاف }. Ia bukan bagian dari surga dan bukan pula dari neraka, melainkan suatu tempat yang tinggi yang dapat melihat kedua tempat tersebut.Di atas pembatas itu terdapat sejumlah laki-laki yang mampu mengenali penghuni surga dan penghuni neraka melalui tanda-tanda mereka, yaitu ciri-ciri yang dengan itu mereka bisa dibedakan dan dikenali.Ketika mereka memandang penghuni surga, mereka menyeru kepada mereka dengan ucapan: “Salamun ‘alaikum (semoga keselamatan tercurah atas kalian).”Mereka memberi salam dan menyapa penghuni surga dengan penuh penghormatan.Adapun mereka sendiri, sampai saat itu belum masuk ke dalam surga, namun hati mereka dipenuhi harapan untuk memasukinya. Allah tidaklah menanamkan harapan dalam hati mereka kecuali karena Dia menghendaki kemuliaan dan kebaikan bagi mereka.Allah Ta‘ala berfirman,۞ وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَٰرُهُمْ تِلْقَآءَ أَصْحَٰبِ ٱلنَّارِ قَالُوا۟ رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ“Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu”.” (QS. Al-A’raf: 47)Syaikh As-Sa’di rahimahullah memberikan penjelasan.Artinya, ketika pandangan mereka diarahkan kepada penghuni neraka, lalu mereka menyaksikan pemandangan yang sangat mengerikan dan dahsyat.Mereka pun berdoa, “Ya Rabb kami, jangan Engkau jadikan kami bersama kaum yang zalim.”Adapun ketika mereka melihat penghuni surga, mereka berharap dapat bergabung bersama mereka di dalam surga. Mereka memberi salam dan menyapa mereka dengan penuh penghormatan.Namun ketika pandangan mereka tanpa pilihan mereka sendiri diarahkan kepada penghuni neraka, mereka segera memohon perlindungan kepada Allah dari keadaan mengerikan tersebut, secara umum, agar tidak dijadikan termasuk golongan orang-orang yang zalim itu.Allah Ta‘ala berfirman,وَنَادَىٰٓ أَصْحَٰبُ ٱلْأَعْرَافِ رِجَالًا يَعْرِفُونَهُم بِسِيمَىٰهُمْ قَالُوا۟ مَآ أَغْنَىٰ عَنكُمْ جَمْعُكُمْ وَمَا كُنتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ“Dan orang-orang yang di atas A’raaf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan: “Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu”.” (QS. Al-A’raf: 48)Syaikh As-Sa’di rahimahullah memberikan penjelasan.Kemudian Allah menyebutkan perincian setelah penyebutan secara umum.{ وَنَادَى أَصْحَابُ الْأَعْرَافِ رِجَالًا يَعْرِفُونَهُمْ بِسِيمَاهُمْ }Penghuni Al-A‘raf menyeru sejumlah orang yang mereka kenali dari tanda-tandanya. Mereka adalah bagian dari penghuni neraka. Dahulu ketika di dunia, mereka memiliki kewibawaan, kedudukan terhormat, harta yang banyak, dan anak-anak.Ketika penghuni Al-A‘raf melihat mereka kini menyendiri dalam azab, tanpa penolong dan tanpa siapa pun yang bisa menyelamatkan, mereka berkata:{ مَا أَغْنَى عَنكُمْ جَمْعُكُمْ }“Tidaklah berguna bagi kalian apa yang dahulu kalian kumpulkan.”Yaitu segala yang dahulu kalian kumpulkan di dunia—berupa kekuatan, pengikut, harta, dan sarana untuk menolak berbagai kesulitan serta untuk meraih keinginan-keinginan dunia—pada hari ini semuanya telah lenyap. Tidak satu pun mampu menolong kalian.{ وَمَا كُنتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ }“Dan (tidak pula berguna) kesombongan yang dahulu kalian lakukan.”Apa manfaat kesombongan kalian terhadap kebenaran, terhadap orang yang membawanya, dan terhadap orang-orang yang mengikutinya? Kini semua itu sama sekali tidak memberi faedah.Allah Ta’ala berfirman,أَهَٰٓؤُلَآءِ ٱلَّذِينَ أَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ ٱللَّهُ بِرَحْمَةٍ ۚ ٱدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَآ أَنتُمْ تَحْزَنُونَ“(Orang-orang di atas A’raaf bertanya kepada penghuni neraka): “Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?”. (Kepada orang mukmin itu dikatakan): “Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati”.” (QS. Al-A’raf: 49)Syaikh As-Sa’di rahimahullah memberikan penjelasan.udian mereka (penghuni Al-A‘raf) menunjuk kepada sekelompok orang dari penghuni surga. Dahulu di dunia, mereka adalah orang-orang fakir dan lemah yang sering diejek dan direndahkan oleh penghuni neraka. Mereka berkata kepada penghuni neraka:{ أَهَؤُلَاءِ الَّذِينَ أَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ اللَّهُ بِرَحْمَةٍ }“Apakah mereka ini orang-orang yang dahulu kalian bersumpah bahwa Allah tidak akan melimpahkan rahmat kepada mereka?”Ucapan itu dahulu kalian lontarkan karena meremehkan dan merendahkan mereka, serta karena rasa bangga terhadap diri kalian sendiri. Kini sumpah kalian terbukti dusta, dan tampak bagi kalian dari ketetapan Allah sesuatu yang tidak pernah kalian perhitungkan.Lalu dikatakan kepada orang-orang yang dahulu lemah itu, sebagai bentuk pemuliaan dan penghormatan:{ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ }“Masuklah kalian ke dalam surga,”yakni dengan sebab amal saleh yang dahulu kalian kerjakan.{ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ }“Tidak ada rasa takut atas kalian,”yakni terhadap apa pun yang akan datang dari berbagai hal yang tidak menyenangkan.{ وَلَا أَنْتُمْ تَحْزَنُونَ }“Dan tidak pula kalian bersedih hati,”atas apa yang telah berlalu. Bahkan mereka dalam keadaan aman, tenteram, dan bergembira dengan segala kebaikan.Keadaan ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:{ إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ ۝ وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ }“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa dahulu menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka melewati orang-orang beriman, mereka saling mengedipkan mata (mengolok-olok).”Hingga firman-Nya:{ فَالْيَوْمَ الَّذِينَ آمَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ ۝ عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ }“Maka pada hari ini, orang-orang yang berimanlah yang menertawakan orang-orang kafir. Mereka duduk di atas dipan-dipan sambil memandang.”Para ulama dan ahli tafsir berbeda pendapat tentang siapakah penghuni Al-A‘raf dan bagaimana keadaan amal mereka. Pendapat yang paling tepat adalah bahwa mereka adalah kaum yang kebaikan dan keburukannya seimbang. Keburukan mereka tidak lebih berat yang bisa membuat mereka masuk neraka, dan kebaikan mereka juga tidak lebih berat yang bisa membuat mereka langsung masuk surga.Karena itu, mereka berada di Al-A‘raf selama waktu yang Allah kehendaki. Kemudian Allah memasukkan mereka ke dalam surga dengan rahmat-Nya. Sesungguhnya rahmat Allah mendahului dan mengalahkan murka-Nya, dan rahmat-Nya meliputi segala sesuatu. Siapa Sebenarnya Ashabul A’raf Menurut Para Ulama?Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan:Ibnu Jarir rahimahullah berkata: Al-A‘raf adalah dinding (pembatas) yang disebutkan Allah dalam firman-Nya:{ فَضُرِبَ بَيْنَهُم بِسُورٍ لَّهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِن قِبَلِهِ الْعَذَابُ }“Maka diadakan di antara mereka suatu dinding yang memiliki pintu. Di sebelah dalamnya terdapat rahmat dan di sebelah luarnya, dari arahnya, terdapat azab.” (QS. Al-Hadid: 13)Dinding itulah Al-A‘raf yang disebutkan dalam firman Allah:{ وَعَلَى الْأَعْرَافِ رِجَالٌ }“Dan di atas Al-A‘raf ada orang-orang (laki-laki).”Beliau juga meriwayatkan dengan sanadnya dari As-Suddi bahwa dalam firman Allah:{ وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ }“Dan di antara keduanya ada pembatas,”yang dimaksud adalah dinding tersebut, yaitu Al-A‘raf.Mujahid berkata: Al-A‘raf adalah pembatas antara surga dan neraka, berupa dinding yang memiliki pintu.Ibnu Jarir menjelaskan: Kata “Al-A‘raf” adalah bentuk jamak dari “’urf”. Dalam bahasa Arab, setiap tempat yang tinggi dari permukaan tanah disebut “’urf”. Karena itu, jengger ayam disebut “’urf” disebabkan letaknya yang menonjol dan tinggi.Sufyan bin Waki‘ meriwayatkan dari Ibnu ‘Uyainah, dari ‘Ubaidullah bin Abi Yazid, bahwa ia mendengar Ibnu ‘Abbas berkata: Al-A‘raf adalah sesuatu yang tinggi dan menonjol.Ats-Tsauri meriwayatkan dari Jabir, dari Mujahid, dari Ibnu ‘Abbas, bahwa beliau berkata: Al-A‘raf adalah dinding seperti jengger ayam.Dalam riwayat lain dari Ibnu ‘Abbas disebutkan: Al-A‘raf adalah sebuah bukit antara surga dan neraka. Di atasnya tertahan sejumlah orang yang memiliki dosa, berada di antara surga dan neraka.Dalam riwayat lain lagi dari beliau: Al-A‘raf adalah dinding antara surga dan neraka.Pendapat ini juga dikemukakan oleh Adh-Dhahhak dan sejumlah ahli tafsir lainnya.As-Suddi berkata: Al-A‘raf dinamakan demikian karena para penghuninya dapat mengenali manusia (dari tanda-tandanya).Para ahli tafsir memang berbeda dalam ungkapan tentang siapa penghuni Al-A‘raf itu. Namun, seluruh pendapat tersebut pada hakikatnya kembali kepada satu makna yang sama, yaitu bahwa mereka adalah kaum yang kebaikan dan keburukannya seimbang.Pendapat ini ditegaskan oleh Hudzaifah, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas‘ud, dan sejumlah ulama salaf serta khalaf lainnya, rahimahumullah.Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Penghuni Al-A‘raf adalah kaum yang amal-amal mereka seimbang. Kebaikan mereka tidak cukup untuk memasukkan mereka ke surga, dan keburukan mereka juga tidak cukup untuk memasukkan mereka ke neraka. Maka mereka ditempatkan di Al-A‘raf. Mereka mengenali manusia melalui tanda-tandanya. Ketika Allah telah memutuskan perkara di antara para hamba, mereka diizinkan untuk meminta syafaat. Mereka pun mendatangi Adam ‘alaihis salam dan berkata, ‘Wahai Adam, engkau adalah bapak kami. Berilah kami syafaat di sisi Rabbmu.’Adam menjawab, ‘Apakah kalian mengetahui ada seorang yang Allah ciptakan dengan tangan-Nya, ditiupkan ruh kepadanya, rahmat-Nya mendahului murka-Nya untuknya, dan para malaikat bersujud kepadanya selain aku?’Mereka menjawab, ‘Tidak.’Adam berkata, ‘Aku tidak mengetahui hakikat perkara ini. Aku tidak mampu memberi syafaat untuk kalian. Datangilah Ibrahim.’Mereka pun mendatangi Ibrahim ‘alaihis salam dan memintanya memberi syafaat. Ibrahim berkata, ‘Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang Allah jadikan sebagai khalil (kekasih-Nya) selain aku? Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang dibakar oleh kaumnya karena Allah selain aku?’Mereka menjawab, ‘Tidak.’Ibrahim berkata, ‘Aku tidak mengetahui hakikat perkara ini. Aku tidak mampu memberi syafaat untuk kalian. Datangilah Musa.’Mereka mendatangi Musa ‘alaihis salam dan berkata, ‘Berilah kami syafaat.’Musa berkata, ‘Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang Allah ajak bicara secara langsung dan Dia dekatkan sebagai orang yang diajak berbicara secara khusus selain aku?’Mereka menjawab, ‘Tidak.’Musa berkata, ‘Aku tidak mengetahui hakikat perkara ini. Aku tidak mampu memberi syafaat untuk kalian. Datangilah Isa.’Mereka mendatangi Isa ‘alaihis salam dan berkata, ‘Berilah kami syafaat.’Isa berkata, ‘Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang Allah ciptakan tanpa ayah selain aku? Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang dapat menyembuhkan orang buta dan penderita kusta serta menghidupkan orang mati dengan izin Allah selain aku?’Mereka menjawab, ‘Tidak.’Isa berkata, ‘Aku sibuk dengan urusanku sendiri. Aku tidak mengetahui hakikat perkara ini. Aku tidak mampu memberi syafaat untuk kalian. Datangilah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.’Mereka pun mendatangiku,” kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Aku menepuk dadaku dan berkata, ‘Aku yang akan melakukannya.’Aku berjalan hingga berdiri di hadapan ‘Arsy. Aku menghadap Rabbku ‘Azza wa Jalla. Maka Allah membukakan untukku pujian-pujian yang belum pernah didengar oleh siapa pun sebelumnya. Lalu aku bersujud.Kemudian dikatakan kepadaku, ‘Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu. Mintalah, niscaya engkau diberi. Berilah syafaat, niscaya syafaatmu diterima.’Aku mengangkat kepalaku dan berkata, ‘Wahai Rabbku, umatku.’Allah berfirman, ‘Mereka untukmu.’Tidak ada seorang nabi yang diutus dan tidak pula malaikat yang didekatkan kepada Allah kecuali merasa iri terhadap kedudukanku saat itu. Itulah maqam mahmud (kedudukan terpuji).Aku pun membawa mereka ke surga. Aku meminta agar pintu surga dibukakan, maka dibukakan untukku dan untuk mereka.Mereka kemudian dibawa ke sebuah sungai yang disebut Sungai Al-Hayawan. Di tepinya terdapat mutiara yang tersusun indah. Tanahnya beraroma kasturi dan kerikilnya dari batu yaqut.Mereka mandi di sungai itu, lalu warna tubuh mereka menjadi seperti warna penghuni surga, dan aroma mereka menjadi seperti aroma penghuni surga. Mereka pun menjadi seperti bintang-bintang yang bercahaya.Namun di dada mereka masih terdapat tanda putih yang dengan itu mereka dikenali. Mereka disebut sebagai ‘orang-orang miskin penghuni surga (masaakin ahli Jannah).’” Tiga Golongan Manusia Saat Amal DitimbangJika amal perbuatan telah ditimbang pada hari kiamat, maka manusia terbagi menjadi tiga golongan:Pertama: Orang yang kebaikannya lebih berat daripada keburukannya. Mereka adalah orang-orang yang berbahagia dan beruntung.Allah Ta‘ala berfirman:﴿ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ۝ وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ ﴾“Barang siapa berat timbangan (kebaikannya), maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa ringan timbangan (kebaikannya), maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam.” (QS. Al-Mu’minūn: 102–103)Allah juga berfirman:﴿ فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ ۝ وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ ۝ وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ ۝ نَارٌ حَامِيَةٌ ﴾“Adapun orang yang berat timbangan (kebaikannya), maka ia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikannya), maka tempat kembalinya adalah Hawiyah. Tahukah kamu apakah Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas.” (QS. Al-Qāri‘ah: 6–11)Kedua: Orang yang keburukannya lebih berat daripada kebaikannya.Jika ia seorang muslim, maka ia akan masuk neraka. Setelah dibersihkan dan disucikan dari dosa-dosanya, ia akan dikeluarkan dari neraka lalu dimasukkan ke dalam surga.Namun jika ia seorang kafir, maka ia akan kekal selamanya di dalam neraka, sebagaimana disebutkan dalam ayat Surah Al-Mu’minūn di atas.Catatan:Adapun orang-orang kafir, mereka tidak memiliki amal kebaikan yang sah, karena syarat utamanya adalah iman. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala,وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخَافُ ظُلْمًا وَلَا هَضْمًا“Barang siapa beramal saleh dalam keadaan beriman, maka ia tidak akan takut dizalimi dan tidak akan dirugikan.” (QS. Ṭāhā: 112)Amal orang kafir memang tetap dicatat dan dihitung. Mereka akan ditunjukkan amal-amal itu di hadapan khalayak ramai, agar semakin dipermalukan. Setelah itu, mereka pun disiksa karenanya.Allah Ta’ala berfirman,أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمْ وَلِقَآئِهِۦ فَحَبِطَتْ أَعْمَٰلُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ وَزْنًا“Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.” (QS. Al-Kahfi: 105)Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda,إِنَّهُ لَيَأْتِي الرَّجُلُ الْعَظِيمُ السَّمِينُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، لَا يَزِنُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ“Sungguh, akan datang seseorang pada hari Kiamat, tubuhnya besar dan gemuk, tetapi di sisi Allah ia tidak lebih berat dari sayap seekor nyamuk.”Lalu Rasulullah ﷺ bersabda,اقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْفَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا“Bacalah jika kalian mau: {Maka Kami tidak akan memberikan timbangan bagi mereka di hari Kiamat}.” (HR. Bukhari dan Muslim)Baca juga: Penutup Surah Al-Kahfi: Peringatan Keras dan Janji Mulia dari AllahKetiga: Orang yang kebaikan dan keburukannya seimbang. Mereka adalah Ashabul A‘raf (para penghuni A‘raf). Mereka berada di suatu tempat di antara surga dan neraka. Dari sana mereka dapat melihat kedua golongan tersebut.Allah Ta‘ala berfirman:﴿ وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ ۚ وَعَلَى الْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّا بِسِيمَاهُمْ ۚ وَنَادَوْا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ ۚ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ ۝ وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَارُهُمْ تِلْقَاءَ أَصْحَابِ النَّارِ قَالُوا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ ﴾“Dan di antara keduanya (surga dan neraka) ada dinding pemisah. Dan di atas A‘raf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing (penghuni surga dan neraka) dari tanda-tandanya. Mereka menyeru kepada penghuni surga, ‘Salamun ‘alaikum.’ Mereka belum masuk ke dalamnya, namun mereka sangat ingin (memasukinya). Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, ‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami bersama kaum yang zalim.’” (QS. Al-A‘rāf: 46–47)Adapun akhir perjalanan penghuni A‘raf adalah masuk surga setelah itu.Catatan:Bagaimana pun rahmat Allah tetaplah mendahului murka-Nya.عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِى كِتَابِهِ – هُوَ يَكْتُبُ عَلَى نَفْسِهِ ، وَهْوَ وَضْعٌ عِنْدَهُ عَلَى الْعَرْشِ – إِنَّ رَحْمَتِى تَغْلِبُ غَضَبِى »Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Tatkala Allah menciptakan makhluk-Nya, Dia menulis dalam kitab-Nya, yang kitab itu terletak di sisi-Nya di atas ‘Arsy, “Sesungguhnya rahmat-Ku lebih mengalahkan kemurkaan-Ku.” (HR. Bukhari no. 7404 dan Muslim no. 2751) Al-A’raf dan Keadilan Allah yang SempurnaAl-A‘raf adalah tempat yang tinggi di antara surga dan neraka. Ia berupa dinding atau pembatas (suur) yang memisahkan keduanya, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:{ وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ }“Dan di antara keduanya ada pembatas.”Para ulama tafsir menjelaskan bahwa Al-A‘raf adalah tempat yang menonjol dan tinggi, sehingga orang yang berada di atasnya dapat melihat penghuni surga dan penghuni neraka sekaligus. Kata “Al-A‘raf” sendiri berasal dari kata “‘urf” yang berarti sesuatu yang tinggi dan menonjol. Siapa Ashabul A‘raf?Mereka adalah orang-orang yang kebaikan dan keburukannya seimbang.Kebaikan mereka tidak lebih berat sehingga langsung masuk surga.Keburukan mereka tidak lebih berat sehingga masuk neraka.Maka mereka ditempatkan sementara di Al-A‘raf.Mereka:Mengenali penghuni surga dan neraka dari tanda-tandanya.Memberi salam kepada penghuni surga.Takut ketika melihat penghuni neraka.Berharap masuk surga.Setelah Allah menyelesaikan keputusan di antara para hamba, Allah memasukkan mereka ke dalam surga dengan rahmat-Nya. “Ya Allah, beratkanlah timbangan kebaikan kami, ampuni dan hapuskan keburukan kami. Jangan Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang kebaikan dan keburukannya seimbang. Jangan Engkau tahan kami di Al-A‘raf. Masukkanlah kami ke dalam surga dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic Fatwa 150768 dari Islamqa.Fatwa 98964 dari Islamqa. —– Rabu siang, 7 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsal-a‘raf amal baik dan buruk as-suyuthi hari kiamat ibnul qayyim keadilan Allah manusia di hari kiamat renungan ayat renungan quran surga dan neraka tafsir al-qur’an tafsir surat al-a‘raf


Masuk bahasan juz kedelapan, kita ambil dari surah Al-A’raf. Pada hari kiamat, Allah Ta’ala menimbang amal manusia dengan keadilan yang sempurna—tanpa kezaliman sedikit pun. Ada yang berat timbangan kebaikannya lalu beruntung, ada yang ringan timbangan kebaikannya lalu merugi, dan ada pula yang kebaikan serta keburukannya seimbang. Golongan terakhir inilah yang dikenal sebagai Ashabul A’raf, tertahan sementara di tempat tinggi antara surga dan neraka, sebelum akhirnya Allah memasukkan mereka ke dalam surga dengan rahmat-Nya. Baca juga: Siapa Penghuni Al-A’raf? Mereka yang Tertahan di Antara Surga dan Neraka  Daftar Isi tutup 1. Timbangan Amal di Hari Kiamat: Siapa yang Beruntung dan Siapa yang Merugi? 2. Ashabul A’raf: Golongan yang Tertahan di Batas Surga dan Neraka 3. Siapa Sebenarnya Ashabul A’raf Menurut Para Ulama? 4. Tiga Golongan Manusia Saat Amal Ditimbang 4.1. Pertama: Orang yang kebaikannya lebih berat daripada keburukannya. 4.2. Kedua: Orang yang keburukannya lebih berat daripada kebaikannya. 4.3. Ketiga: Orang yang kebaikan dan keburukannya seimbang. 5. Al-A’raf dan Keadilan Allah yang Sempurna  Timbangan Amal di Hari Kiamat: Siapa yang Beruntung dan Siapa yang Merugi?Allah Ta’ala berfirman,وَٱلْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ ٱلْحَقُّ ۚ فَمَن ثَقُلَتْ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ“Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-A’raf: 8) وَمَنْ خَفَّتْ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓا۟ أَنفُسَهُم بِمَا كَانُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا يَظْلِمُونَ“Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf: 9)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat kedelapan, “Penimbangan amal pada hari Kiamat dilakukan dengan penuh keadilan dan keseimbangan yang sempurna. Tidak ada sedikit pun kezaliman dan kecurangan di dalamnya.{ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ }“Maka barang siapa yang berat timbangan (kebaikannya),”Maksudnya, apabila timbangan kebaikannya lebih berat daripada keburukannya.{ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ }“Maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”Yakni, mereka adalah orang-orang yang selamat dari segala hal yang tidak menyenangkan, dan berhasil meraih segala yang mereka cintai. Mereka memperoleh keuntungan yang sangat besar serta kebahagiaan yang abadi.Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat kesembilan,Maksudnya, ketika keburukannya lebih berat daripada kebaikannya, sehingga keputusan berpihak kepada keburukan tersebut.{ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ }“Maka mereka itulah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri.”Karena mereka kehilangan kenikmatan yang kekal, dan justru mendapatkan azab yang sangat pedih.{ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ }“Disebabkan karena mereka selalu menzalimi ayat-ayat Kami.”Yaitu, mereka tidak mau tunduk dan patuh kepada ayat-ayat Allah sebagaimana yang seharusnya mereka lakukan. Ashabul A’raf: Golongan yang Tertahan di Batas Surga dan NerakaAllah Ta‘ala berfirman,وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ ۚ وَعَلَى ٱلْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّۢا بِسِيمَىٰهُمْ ۚ وَنَادَوْا۟ أَصْحَٰبَ ٱلْجَنَّةِ أَن سَلَٰمٌ عَلَيْكُمْ ۚ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ“Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A’raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga: “Salaamun ‘alaikum”. Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya).” (QS. Al-A’raf: 46)Syaikh As-Sa’di rahimahullah memberikan penjelasan.Maknanya: Di antara penghuni surga dan penghuni neraka terdapat suatu pembatas yang disebut { الأَعْرَاف }. Ia bukan bagian dari surga dan bukan pula dari neraka, melainkan suatu tempat yang tinggi yang dapat melihat kedua tempat tersebut.Di atas pembatas itu terdapat sejumlah laki-laki yang mampu mengenali penghuni surga dan penghuni neraka melalui tanda-tanda mereka, yaitu ciri-ciri yang dengan itu mereka bisa dibedakan dan dikenali.Ketika mereka memandang penghuni surga, mereka menyeru kepada mereka dengan ucapan: “Salamun ‘alaikum (semoga keselamatan tercurah atas kalian).”Mereka memberi salam dan menyapa penghuni surga dengan penuh penghormatan.Adapun mereka sendiri, sampai saat itu belum masuk ke dalam surga, namun hati mereka dipenuhi harapan untuk memasukinya. Allah tidaklah menanamkan harapan dalam hati mereka kecuali karena Dia menghendaki kemuliaan dan kebaikan bagi mereka.Allah Ta‘ala berfirman,۞ وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَٰرُهُمْ تِلْقَآءَ أَصْحَٰبِ ٱلنَّارِ قَالُوا۟ رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ“Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu”.” (QS. Al-A’raf: 47)Syaikh As-Sa’di rahimahullah memberikan penjelasan.Artinya, ketika pandangan mereka diarahkan kepada penghuni neraka, lalu mereka menyaksikan pemandangan yang sangat mengerikan dan dahsyat.Mereka pun berdoa, “Ya Rabb kami, jangan Engkau jadikan kami bersama kaum yang zalim.”Adapun ketika mereka melihat penghuni surga, mereka berharap dapat bergabung bersama mereka di dalam surga. Mereka memberi salam dan menyapa mereka dengan penuh penghormatan.Namun ketika pandangan mereka tanpa pilihan mereka sendiri diarahkan kepada penghuni neraka, mereka segera memohon perlindungan kepada Allah dari keadaan mengerikan tersebut, secara umum, agar tidak dijadikan termasuk golongan orang-orang yang zalim itu.Allah Ta‘ala berfirman,وَنَادَىٰٓ أَصْحَٰبُ ٱلْأَعْرَافِ رِجَالًا يَعْرِفُونَهُم بِسِيمَىٰهُمْ قَالُوا۟ مَآ أَغْنَىٰ عَنكُمْ جَمْعُكُمْ وَمَا كُنتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ“Dan orang-orang yang di atas A’raaf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan: “Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu”.” (QS. Al-A’raf: 48)Syaikh As-Sa’di rahimahullah memberikan penjelasan.Kemudian Allah menyebutkan perincian setelah penyebutan secara umum.{ وَنَادَى أَصْحَابُ الْأَعْرَافِ رِجَالًا يَعْرِفُونَهُمْ بِسِيمَاهُمْ }Penghuni Al-A‘raf menyeru sejumlah orang yang mereka kenali dari tanda-tandanya. Mereka adalah bagian dari penghuni neraka. Dahulu ketika di dunia, mereka memiliki kewibawaan, kedudukan terhormat, harta yang banyak, dan anak-anak.Ketika penghuni Al-A‘raf melihat mereka kini menyendiri dalam azab, tanpa penolong dan tanpa siapa pun yang bisa menyelamatkan, mereka berkata:{ مَا أَغْنَى عَنكُمْ جَمْعُكُمْ }“Tidaklah berguna bagi kalian apa yang dahulu kalian kumpulkan.”Yaitu segala yang dahulu kalian kumpulkan di dunia—berupa kekuatan, pengikut, harta, dan sarana untuk menolak berbagai kesulitan serta untuk meraih keinginan-keinginan dunia—pada hari ini semuanya telah lenyap. Tidak satu pun mampu menolong kalian.{ وَمَا كُنتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ }“Dan (tidak pula berguna) kesombongan yang dahulu kalian lakukan.”Apa manfaat kesombongan kalian terhadap kebenaran, terhadap orang yang membawanya, dan terhadap orang-orang yang mengikutinya? Kini semua itu sama sekali tidak memberi faedah.Allah Ta’ala berfirman,أَهَٰٓؤُلَآءِ ٱلَّذِينَ أَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ ٱللَّهُ بِرَحْمَةٍ ۚ ٱدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَآ أَنتُمْ تَحْزَنُونَ“(Orang-orang di atas A’raaf bertanya kepada penghuni neraka): “Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?”. (Kepada orang mukmin itu dikatakan): “Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati”.” (QS. Al-A’raf: 49)Syaikh As-Sa’di rahimahullah memberikan penjelasan.udian mereka (penghuni Al-A‘raf) menunjuk kepada sekelompok orang dari penghuni surga. Dahulu di dunia, mereka adalah orang-orang fakir dan lemah yang sering diejek dan direndahkan oleh penghuni neraka. Mereka berkata kepada penghuni neraka:{ أَهَؤُلَاءِ الَّذِينَ أَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ اللَّهُ بِرَحْمَةٍ }“Apakah mereka ini orang-orang yang dahulu kalian bersumpah bahwa Allah tidak akan melimpahkan rahmat kepada mereka?”Ucapan itu dahulu kalian lontarkan karena meremehkan dan merendahkan mereka, serta karena rasa bangga terhadap diri kalian sendiri. Kini sumpah kalian terbukti dusta, dan tampak bagi kalian dari ketetapan Allah sesuatu yang tidak pernah kalian perhitungkan.Lalu dikatakan kepada orang-orang yang dahulu lemah itu, sebagai bentuk pemuliaan dan penghormatan:{ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ }“Masuklah kalian ke dalam surga,”yakni dengan sebab amal saleh yang dahulu kalian kerjakan.{ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ }“Tidak ada rasa takut atas kalian,”yakni terhadap apa pun yang akan datang dari berbagai hal yang tidak menyenangkan.{ وَلَا أَنْتُمْ تَحْزَنُونَ }“Dan tidak pula kalian bersedih hati,”atas apa yang telah berlalu. Bahkan mereka dalam keadaan aman, tenteram, dan bergembira dengan segala kebaikan.Keadaan ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:{ إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ ۝ وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ }“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa dahulu menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka melewati orang-orang beriman, mereka saling mengedipkan mata (mengolok-olok).”Hingga firman-Nya:{ فَالْيَوْمَ الَّذِينَ آمَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ ۝ عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ }“Maka pada hari ini, orang-orang yang berimanlah yang menertawakan orang-orang kafir. Mereka duduk di atas dipan-dipan sambil memandang.”Para ulama dan ahli tafsir berbeda pendapat tentang siapakah penghuni Al-A‘raf dan bagaimana keadaan amal mereka. Pendapat yang paling tepat adalah bahwa mereka adalah kaum yang kebaikan dan keburukannya seimbang. Keburukan mereka tidak lebih berat yang bisa membuat mereka masuk neraka, dan kebaikan mereka juga tidak lebih berat yang bisa membuat mereka langsung masuk surga.Karena itu, mereka berada di Al-A‘raf selama waktu yang Allah kehendaki. Kemudian Allah memasukkan mereka ke dalam surga dengan rahmat-Nya. Sesungguhnya rahmat Allah mendahului dan mengalahkan murka-Nya, dan rahmat-Nya meliputi segala sesuatu. Siapa Sebenarnya Ashabul A’raf Menurut Para Ulama?Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan:Ibnu Jarir rahimahullah berkata: Al-A‘raf adalah dinding (pembatas) yang disebutkan Allah dalam firman-Nya:{ فَضُرِبَ بَيْنَهُم بِسُورٍ لَّهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِن قِبَلِهِ الْعَذَابُ }“Maka diadakan di antara mereka suatu dinding yang memiliki pintu. Di sebelah dalamnya terdapat rahmat dan di sebelah luarnya, dari arahnya, terdapat azab.” (QS. Al-Hadid: 13)Dinding itulah Al-A‘raf yang disebutkan dalam firman Allah:{ وَعَلَى الْأَعْرَافِ رِجَالٌ }“Dan di atas Al-A‘raf ada orang-orang (laki-laki).”Beliau juga meriwayatkan dengan sanadnya dari As-Suddi bahwa dalam firman Allah:{ وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ }“Dan di antara keduanya ada pembatas,”yang dimaksud adalah dinding tersebut, yaitu Al-A‘raf.Mujahid berkata: Al-A‘raf adalah pembatas antara surga dan neraka, berupa dinding yang memiliki pintu.Ibnu Jarir menjelaskan: Kata “Al-A‘raf” adalah bentuk jamak dari “’urf”. Dalam bahasa Arab, setiap tempat yang tinggi dari permukaan tanah disebut “’urf”. Karena itu, jengger ayam disebut “’urf” disebabkan letaknya yang menonjol dan tinggi.Sufyan bin Waki‘ meriwayatkan dari Ibnu ‘Uyainah, dari ‘Ubaidullah bin Abi Yazid, bahwa ia mendengar Ibnu ‘Abbas berkata: Al-A‘raf adalah sesuatu yang tinggi dan menonjol.Ats-Tsauri meriwayatkan dari Jabir, dari Mujahid, dari Ibnu ‘Abbas, bahwa beliau berkata: Al-A‘raf adalah dinding seperti jengger ayam.Dalam riwayat lain dari Ibnu ‘Abbas disebutkan: Al-A‘raf adalah sebuah bukit antara surga dan neraka. Di atasnya tertahan sejumlah orang yang memiliki dosa, berada di antara surga dan neraka.Dalam riwayat lain lagi dari beliau: Al-A‘raf adalah dinding antara surga dan neraka.Pendapat ini juga dikemukakan oleh Adh-Dhahhak dan sejumlah ahli tafsir lainnya.As-Suddi berkata: Al-A‘raf dinamakan demikian karena para penghuninya dapat mengenali manusia (dari tanda-tandanya).Para ahli tafsir memang berbeda dalam ungkapan tentang siapa penghuni Al-A‘raf itu. Namun, seluruh pendapat tersebut pada hakikatnya kembali kepada satu makna yang sama, yaitu bahwa mereka adalah kaum yang kebaikan dan keburukannya seimbang.Pendapat ini ditegaskan oleh Hudzaifah, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas‘ud, dan sejumlah ulama salaf serta khalaf lainnya, rahimahumullah.Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Penghuni Al-A‘raf adalah kaum yang amal-amal mereka seimbang. Kebaikan mereka tidak cukup untuk memasukkan mereka ke surga, dan keburukan mereka juga tidak cukup untuk memasukkan mereka ke neraka. Maka mereka ditempatkan di Al-A‘raf. Mereka mengenali manusia melalui tanda-tandanya. Ketika Allah telah memutuskan perkara di antara para hamba, mereka diizinkan untuk meminta syafaat. Mereka pun mendatangi Adam ‘alaihis salam dan berkata, ‘Wahai Adam, engkau adalah bapak kami. Berilah kami syafaat di sisi Rabbmu.’Adam menjawab, ‘Apakah kalian mengetahui ada seorang yang Allah ciptakan dengan tangan-Nya, ditiupkan ruh kepadanya, rahmat-Nya mendahului murka-Nya untuknya, dan para malaikat bersujud kepadanya selain aku?’Mereka menjawab, ‘Tidak.’Adam berkata, ‘Aku tidak mengetahui hakikat perkara ini. Aku tidak mampu memberi syafaat untuk kalian. Datangilah Ibrahim.’Mereka pun mendatangi Ibrahim ‘alaihis salam dan memintanya memberi syafaat. Ibrahim berkata, ‘Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang Allah jadikan sebagai khalil (kekasih-Nya) selain aku? Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang dibakar oleh kaumnya karena Allah selain aku?’Mereka menjawab, ‘Tidak.’Ibrahim berkata, ‘Aku tidak mengetahui hakikat perkara ini. Aku tidak mampu memberi syafaat untuk kalian. Datangilah Musa.’Mereka mendatangi Musa ‘alaihis salam dan berkata, ‘Berilah kami syafaat.’Musa berkata, ‘Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang Allah ajak bicara secara langsung dan Dia dekatkan sebagai orang yang diajak berbicara secara khusus selain aku?’Mereka menjawab, ‘Tidak.’Musa berkata, ‘Aku tidak mengetahui hakikat perkara ini. Aku tidak mampu memberi syafaat untuk kalian. Datangilah Isa.’Mereka mendatangi Isa ‘alaihis salam dan berkata, ‘Berilah kami syafaat.’Isa berkata, ‘Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang Allah ciptakan tanpa ayah selain aku? Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang dapat menyembuhkan orang buta dan penderita kusta serta menghidupkan orang mati dengan izin Allah selain aku?’Mereka menjawab, ‘Tidak.’Isa berkata, ‘Aku sibuk dengan urusanku sendiri. Aku tidak mengetahui hakikat perkara ini. Aku tidak mampu memberi syafaat untuk kalian. Datangilah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.’Mereka pun mendatangiku,” kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Aku menepuk dadaku dan berkata, ‘Aku yang akan melakukannya.’Aku berjalan hingga berdiri di hadapan ‘Arsy. Aku menghadap Rabbku ‘Azza wa Jalla. Maka Allah membukakan untukku pujian-pujian yang belum pernah didengar oleh siapa pun sebelumnya. Lalu aku bersujud.Kemudian dikatakan kepadaku, ‘Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu. Mintalah, niscaya engkau diberi. Berilah syafaat, niscaya syafaatmu diterima.’Aku mengangkat kepalaku dan berkata, ‘Wahai Rabbku, umatku.’Allah berfirman, ‘Mereka untukmu.’Tidak ada seorang nabi yang diutus dan tidak pula malaikat yang didekatkan kepada Allah kecuali merasa iri terhadap kedudukanku saat itu. Itulah maqam mahmud (kedudukan terpuji).Aku pun membawa mereka ke surga. Aku meminta agar pintu surga dibukakan, maka dibukakan untukku dan untuk mereka.Mereka kemudian dibawa ke sebuah sungai yang disebut Sungai Al-Hayawan. Di tepinya terdapat mutiara yang tersusun indah. Tanahnya beraroma kasturi dan kerikilnya dari batu yaqut.Mereka mandi di sungai itu, lalu warna tubuh mereka menjadi seperti warna penghuni surga, dan aroma mereka menjadi seperti aroma penghuni surga. Mereka pun menjadi seperti bintang-bintang yang bercahaya.Namun di dada mereka masih terdapat tanda putih yang dengan itu mereka dikenali. Mereka disebut sebagai ‘orang-orang miskin penghuni surga (masaakin ahli Jannah).’” Tiga Golongan Manusia Saat Amal DitimbangJika amal perbuatan telah ditimbang pada hari kiamat, maka manusia terbagi menjadi tiga golongan:Pertama: Orang yang kebaikannya lebih berat daripada keburukannya. Mereka adalah orang-orang yang berbahagia dan beruntung.Allah Ta‘ala berfirman:﴿ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ۝ وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ ﴾“Barang siapa berat timbangan (kebaikannya), maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa ringan timbangan (kebaikannya), maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam.” (QS. Al-Mu’minūn: 102–103)Allah juga berfirman:﴿ فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ ۝ وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ ۝ وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ ۝ نَارٌ حَامِيَةٌ ﴾“Adapun orang yang berat timbangan (kebaikannya), maka ia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikannya), maka tempat kembalinya adalah Hawiyah. Tahukah kamu apakah Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas.” (QS. Al-Qāri‘ah: 6–11)Kedua: Orang yang keburukannya lebih berat daripada kebaikannya.Jika ia seorang muslim, maka ia akan masuk neraka. Setelah dibersihkan dan disucikan dari dosa-dosanya, ia akan dikeluarkan dari neraka lalu dimasukkan ke dalam surga.Namun jika ia seorang kafir, maka ia akan kekal selamanya di dalam neraka, sebagaimana disebutkan dalam ayat Surah Al-Mu’minūn di atas.Catatan:Adapun orang-orang kafir, mereka tidak memiliki amal kebaikan yang sah, karena syarat utamanya adalah iman. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala,وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخَافُ ظُلْمًا وَلَا هَضْمًا“Barang siapa beramal saleh dalam keadaan beriman, maka ia tidak akan takut dizalimi dan tidak akan dirugikan.” (QS. Ṭāhā: 112)Amal orang kafir memang tetap dicatat dan dihitung. Mereka akan ditunjukkan amal-amal itu di hadapan khalayak ramai, agar semakin dipermalukan. Setelah itu, mereka pun disiksa karenanya.Allah Ta’ala berfirman,أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمْ وَلِقَآئِهِۦ فَحَبِطَتْ أَعْمَٰلُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ وَزْنًا“Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.” (QS. Al-Kahfi: 105)Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda,إِنَّهُ لَيَأْتِي الرَّجُلُ الْعَظِيمُ السَّمِينُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، لَا يَزِنُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ“Sungguh, akan datang seseorang pada hari Kiamat, tubuhnya besar dan gemuk, tetapi di sisi Allah ia tidak lebih berat dari sayap seekor nyamuk.”Lalu Rasulullah ﷺ bersabda,اقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْفَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا“Bacalah jika kalian mau: {Maka Kami tidak akan memberikan timbangan bagi mereka di hari Kiamat}.” (HR. Bukhari dan Muslim)Baca juga: Penutup Surah Al-Kahfi: Peringatan Keras dan Janji Mulia dari AllahKetiga: Orang yang kebaikan dan keburukannya seimbang. Mereka adalah Ashabul A‘raf (para penghuni A‘raf). Mereka berada di suatu tempat di antara surga dan neraka. Dari sana mereka dapat melihat kedua golongan tersebut.Allah Ta‘ala berfirman:﴿ وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ ۚ وَعَلَى الْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّا بِسِيمَاهُمْ ۚ وَنَادَوْا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ ۚ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ ۝ وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَارُهُمْ تِلْقَاءَ أَصْحَابِ النَّارِ قَالُوا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ ﴾“Dan di antara keduanya (surga dan neraka) ada dinding pemisah. Dan di atas A‘raf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing (penghuni surga dan neraka) dari tanda-tandanya. Mereka menyeru kepada penghuni surga, ‘Salamun ‘alaikum.’ Mereka belum masuk ke dalamnya, namun mereka sangat ingin (memasukinya). Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, ‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami bersama kaum yang zalim.’” (QS. Al-A‘rāf: 46–47)Adapun akhir perjalanan penghuni A‘raf adalah masuk surga setelah itu.Catatan:Bagaimana pun rahmat Allah tetaplah mendahului murka-Nya.عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِى كِتَابِهِ – هُوَ يَكْتُبُ عَلَى نَفْسِهِ ، وَهْوَ وَضْعٌ عِنْدَهُ عَلَى الْعَرْشِ – إِنَّ رَحْمَتِى تَغْلِبُ غَضَبِى »Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Tatkala Allah menciptakan makhluk-Nya, Dia menulis dalam kitab-Nya, yang kitab itu terletak di sisi-Nya di atas ‘Arsy, “Sesungguhnya rahmat-Ku lebih mengalahkan kemurkaan-Ku.” (HR. Bukhari no. 7404 dan Muslim no. 2751) Al-A’raf dan Keadilan Allah yang SempurnaAl-A‘raf adalah tempat yang tinggi di antara surga dan neraka. Ia berupa dinding atau pembatas (suur) yang memisahkan keduanya, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:{ وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ }“Dan di antara keduanya ada pembatas.”Para ulama tafsir menjelaskan bahwa Al-A‘raf adalah tempat yang menonjol dan tinggi, sehingga orang yang berada di atasnya dapat melihat penghuni surga dan penghuni neraka sekaligus. Kata “Al-A‘raf” sendiri berasal dari kata “‘urf” yang berarti sesuatu yang tinggi dan menonjol. Siapa Ashabul A‘raf?Mereka adalah orang-orang yang kebaikan dan keburukannya seimbang.Kebaikan mereka tidak lebih berat sehingga langsung masuk surga.Keburukan mereka tidak lebih berat sehingga masuk neraka.Maka mereka ditempatkan sementara di Al-A‘raf.Mereka:Mengenali penghuni surga dan neraka dari tanda-tandanya.Memberi salam kepada penghuni surga.Takut ketika melihat penghuni neraka.Berharap masuk surga.Setelah Allah menyelesaikan keputusan di antara para hamba, Allah memasukkan mereka ke dalam surga dengan rahmat-Nya. “Ya Allah, beratkanlah timbangan kebaikan kami, ampuni dan hapuskan keburukan kami. Jangan Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang kebaikan dan keburukannya seimbang. Jangan Engkau tahan kami di Al-A‘raf. Masukkanlah kami ke dalam surga dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic Fatwa 150768 dari Islamqa.Fatwa 98964 dari Islamqa. —– Rabu siang, 7 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsal-a‘raf amal baik dan buruk as-suyuthi hari kiamat ibnul qayyim keadilan Allah manusia di hari kiamat renungan ayat renungan quran surga dan neraka tafsir al-qur’an tafsir surat al-a‘raf

Upaya Mencegah Diri Dari Fitnah Dajjal

Daftar Isi ToggleBerpegang teguh kepada Islam dan menguatkan imanDajjal adalah manusia biasaDajjal memiliki cacat fisikManusia tidak akan melihat Tuhannya di duniaMemohon perlindungan kepada Allah dari fitnah Dajjal (terutama dalam salat)Menghafal dan membaca ayat-ayat surah al-KahfiMenjauhi Dajjal dan tidak mendekatinya dan yang paling utama tinggal di Makkah atau MadinahFitnah Dajjal adalah ancaman nyata yang wajib dipelajariFitnah al-Masih ad-Dajjal merupakan fitnah paling dahsyat yang akan menimpa manusia sejak Allah menciptakan Adam hingga hari kiamat. Para ulama menegaskan bahwa tidak ada fitnah yang lebih besar, lebih mengerikan, dan lebih menyesatkan darinya. Oleh karena itu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perhatian yang sangat besar dalam memperingatkan umatnya, lebih dari perhatian para Nabi sebelumnya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan umat ini di atas jalan kebenaran yang begitu jelas. Beliau menggambarkannya,تركتُكم على البيضاءِ ليلِها كنهارِها لا يزيغُ عنها بعدي إلا هالِكٌ“Aku tinggalkan kalian di atas jalan yang putih bersih, malamnya seperti siangnya. Tidak ada yang menyimpang darinya kecuali orang yang binasa.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)Seluruh Nabi telah memperingatkan umatnya mengenai fitnah ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما من نبيٍّ إلا وأنذر قومَه الأعْوَرَ الدَّجَّالَ، ألا إنه أَعْوَرُ، وإنَّ ربَّكم ليس بأعْوَرَ، ومكتوبٌ بين عَيْنَيْهِ ك ف ر“Tidak ada seorang Nabi pun melainkan telah memperingatkan kaumnya tentang si buta sebelah, yakni Dajjal. Ketahuilah, ia benar-benar buta sebelah, sedangkan Rabb kalian tidaklah buta sebelah. Dan tertulis di antara kedua matanya huruf: ك ف ر (kaf – fa’ – ra’).” (HR. Bukhari dan Muslim)Namun, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diberikan keutamaan memberikan peringatan yang paling rinci, karena beliau adalah penutup para Nabi dan umat ini adalah umat terakhir yang akan menghadapi fitnah tersebut. Tidaklah mengherankan jika beliau memberikan rincian yang sangat lengkap tentang Dajjal. Ciri fisiknya, cara kerjanya, tipu dayanya, kota-kota yang ia masuki, bahkan siapa orang pertama yang akan dibunuhnya.Berikut adalah beberapa petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar umatnya selamat dari fitnah besar ini. Kita memohon kepada Allah Yang Maha Agung agar melindungi kita darinya.Berpegang teguh kepada Islam dan menguatkan imanLandasan pertama dan terpenting untuk menghadapi fitnah Dajjal adalah ilmu dan akidah yang benar. Seorang muslim harus memahami tauhid dengan baik, terutama mengenal nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya yang sempurna. Inilah benteng paling kuat agar tidak tertipu oleh klaim ketuhanan Dajjal. Dengan memahami tauhid yang benar, seseorang mengetahui bahwa:Dajjal adalah manusia biasaIa makan, minum, tidur, buang hajat, dan memiliki banyak kekurangan. Allah tidak memiliki sifat-sifat itu. Firman Allah Azza wa Jalla,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.” (QS. Asy-Syura: 11)Dajjal memiliki cacat fisikRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ألا إنه أَعْوَرُ، وإنَّ ربَّكم ليس بأعْوَرَ“Ketahuilah, ia benar-benar buta sebelah, sedangkan Rabb kalian tidaklah buta sebelah.” (HR. Bukhari dan Muslim)Sangat tidak mungkin seorang makhluk cacat mengaku sebagai Tuhan.Manusia tidak akan melihat Tuhannya di duniaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لن تروا ربَّكم حتى تموتوا“Kalian tidak akan melihat Rabb kalian hingga kalian meninggal.” (HR. Abu Daud)Maka, siapa pun yang mengaku sebagai Tuhan dan terlihat oleh mata manusia, pasti dia adalah seorang pendusta. Akidah yang benar inilah yang menjadi fondasi utama agar umat Islam selamat dari tipu daya Dajjal.Memohon perlindungan kepada Allah dari fitnah Dajjal (terutama dalam salat)Salah satu bentuk kasih sayang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya adalah beliau mengajarkan doa khusus yang dibaca setiap salat, sebagai perlindungan dari fitnah Dajjal.Aisyah radhiyallahu ‘anha menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa dalam salatnya,اللَّهُمَّ إنِّي أعوذ بك من عذاب القبر، وأعوذ بك من فتنة المسيح الدَّجَّال … الحديث“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah al-Masih ad-Dajjal….” (HR. al-Bukhari, Muslim, dan An Nasa’i)Dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إذا تشهَّد أحدُكُم؛ فليستعذ بالله من أربع، يقول: اللَّهُمَّ إنِّي أعوذُ بك من عذاب جهنَّم، ومن عذاب القبر، ومن فتنة المحيا والممات، ومن شرِّ فتنة المسيح الدَّجَّال “Apabila salah seorang di antara kalian bertasyahud, maka hendaklah ia meminta perlindungan kepada Allah dari empat perkara. Hendaklah ia mengucapkan: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab neraka Jahanam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari kejahatan fitnah al-Masih ad-Dajjal.’”Para ulama salaf sangat menekankan doa ini. Imam Ṭhawus rahimahullah bahkan memerintahkan putranya mengulang salat apabila lupa membaca doa ini.Ulama besar al-Saffarini rahimahullah berkata,ممّا ينبغي لكل عالم أن يبثَّ أحاديث الدَّجَّال بين الأولاد والنساء والرجال … وقد ورد أن من علامات خروجه نسيان ذكره على المنابر“Termasuk hal yang sepatutnya dilakukan oleh setiap ulama adalah menyebarkan hadis-hadis tentang Dajjal kepada anak-anak, para wanita, dan kaum laki-laki… Dan telah disebutkan bahwa di antara tanda dekatnya kemunculannya adalah mulai dilupakannya penyebutannya dari mimbar-mimbar.”ولا سيما في زماننا هذا الّذي اشرأبَّت فيه الفتن، وكَثُرت فيه المحن، واندرست فيه معالم السنن، وصارت السنن فيه كالبدع، والبدعة شرعٌ يُتَّبع، ولا حول ولا قوَّة إِلَّا بالله العلّي العظيم“Terlebih lagi pada zaman kita sekarang ini, ketika berbagai fitnah muncul menjulang, berbagai ujian semakin banyak, tanda-tanda sunah mulai hilang, sunah menjadi tampak seperti bid‘ah, sementara bid‘ah dianggap sebagai syariat yang harus diikuti. Dan tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.”Menghafal dan membaca ayat-ayat surah al-KahfiNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar membaca awal-awal surah al-Kahfi ketika berhadapan dengan Dajjal. Dalam sebagian riwayat disebutkan akhir-akhir surah tersebut, yaitu membaca sepuluh ayat pertama atau sepuluh ayat terakhir.Di antara hadis-hadis sahih tentang hal ini adalah:Pertama, hadis riwayat Muslim dari an-Nawwas bin Sam‘an yang panjang, di dalamnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من أدركه منكم؛ فليقرأ عليه فواتح سورة الكهف“Siapa di antara kalian yang menemui Dajjal, hendaklah ia membaca awal surah al-Kahfi.”Kedua, hadis riwayat Muslim dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من حفظ عشر آيات من أول سورة الكهف؛ عُصِمَ من الدَّجال؛ أي: من فتنته“Barang siapa menghafal sepuluh ayat pertama dari surah al-Kahfi, ia akan terlindungi dari Dajjal” maksudnya: terlindungi dari fitnah dan tipu daya Dajjal.Imam Muslim rahimahullah menambahkan,قال شعبة: من آخر الكهف، وقال همام: من أول الكهف“Syu’bah berkata: (yang dimaksud adalah) sepuluh ayat terakhir surah al-Kahfi, sedangkan Hammām berkata: sepuluh ayat pertama.”An-Nawawi rahimahullah menjelaskan,سبب ذلك ما في أولها من العجائب والآيات، فمَن تدبَّرَها؛ لم يفتتن بالدَّجَّال“Sebabnya adalah karena pada awal surah ini terdapat keajaiban-keajaiban dan tanda-tanda kekuasaan Allah. Barang siapa merenungi ayat-ayat itu, ia tidak akan tertipu oleh Dajjal.”Membaca surah al-Kahfi merupakan salah satu keistimewaan yang khusus dianjurkan dalam syariat, dan berbagai hadis menganjurkan untuk membacanya—terutama pada hari Jumat. Dalam riwayat al-Hakim dari Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن من قرأ سورة الكهف يوم الجمعة؛ أضاء له من النور ما بين الجمعتين“Siapa yang membaca surah al-Kahfi pada hari Jumat, akan dianugerahi cahaya yang meneranginya di antara dua Jumat.”Tidak diragukan lagi bahwa surah al-Kahfi memiliki kedudukan yang sangat agung. Di dalamnya terdapat ayat-ayat yang penuh keajaiban dan pelajaran: kisah para pemuda Ashabul Kahfi yang diberi keteguhan iman, perjalanan Nabi Musa bersama Khidr yang sarat hikmah, kisah Dzulqarnain dan pembangunan dinding besar penghalang Ya’juj dan Ma’juj, penegasan tentang hari kebangkitan, tiupan sangkakala, serta gambaran orang-orang yang paling merugi amalnya—mereka yang menyangka berada di atas petunjuk, padahal berada dalam kesesatan dan kebutaan.Oleh karena itu, seorang Muslim selayaknya menjaga kebiasaan membaca surah ini, menghafalnya, dan mengulang-ulangnya—terutama pada hari terbaik yang disinari matahari, yaitu hari Jumat. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa mengambil petunjuk dari kitab-Nya.Menjauhi Dajjal dan tidak mendekatinya dan yang paling utama tinggal di Makkah atau MadinahKetika Dajjal keluar, seorang Muslim tidak diperintahkan untuk melihat, menantang, atau mengujinya. Justru Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar menjauh. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim dari Abu ad-Dahmā’, ia berkata, “Aku mendengar ‘Imrān bin Husain menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من سمع بالدَّجَّال؛ فلينأَ عنه، فوالله إن الرَّجل ليأتيه وهو يحسب أنّه مؤمن، فيتبعه ممّا يبعث به من الشُّبهات، أو لما يبعث به من الشبهات“Siapa yang mendengar (kabar) tentang Dajjal, hendaklah ia menjauh darinya. Demi Allah, ada seseorang yang mendatanginya dalam keadaan merasa bahwa dirinya beriman, namun akhirnya ia mengikuti Dajjal karena berbagai syubhat (kerancuan) yang dibawanya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim)Dajjal membawa fitnah yang nyata:Ia mampu menyuruh langit menurunkan hujan;Membuat bumi mengeluarkan tanaman;Menghidupkan orang tampak mati yang hakikatnya bukan hidup yang sebenarnya;Membawa surga dan neraka palsu;Menipu manusia dengan kekuatan gaib.Banyak orang yang awalnya tidak meyakininya, pada akhirnya hancur karena tidak kuat menghadapi tipuannya. Namun, Dajjal tidak dapat memasuki Makkah dan Madinah. Dalam hadis sahih disebutkan,عَلَى أَنْقَابِ المَدِينَةِ مَلَائِكَةٌ، لَا يَدْخُلُهَا الطَّاعُونُ، وَلَا الدَّجَّالُ“Di pintu-pintu (perbatasan) Madinah terdapat para malaikat; tidak akan masuk ke dalamnya tha‘un (wabah mematikan), dan tidak pula Dajjal.” (HR. Muslim)Dalam hadis lain disebutkan,لَيْسَ مِنْ بَلَدٍ إِلَّا سَيَطَؤُهُ الدَّجَّالُ ، إِلَّا مَكَّةَ ، وَالمَدِينَةَ ، لَيْسَ لَهُ مِنْ نِقَابِهَا نَقْبٌ ، إِلَّا عَلَيْهِ المَلاَئِكَةُ صَافِّينَ يَحْرُسُونَهَا“Tidak ada suatu negeri pun kecuali pasti akan diinjak (dimasuki) oleh Dajjal, kecuali Makkah dan Madinah. Tidak ada satu celah pun dari celah-celah keduanya yang dapat ia masuki, kecuali di situ para malaikat berbaris menjaga keduanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Fitnah Dajjal adalah ancaman nyata yang wajib dipelajariDajjal adalah fitnah terbesar dalam sejarah manusia. Oleh karena itu, mempelajarinya termasuk bagian dari iman, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Upaya pencegahannya sudah dijelaskan dengan terang:Memahami tauhid dan memperkuat iman;Membaca doa perlindungan dalam salat;Menghafal ayat-ayat surah al-Kahfi;Menjauhi Dajjal dan tidak mendekatinya.Semoga Allah Azza wa Jalla menjaga kita, keluarga kita, dan seluruh umat Islam dari fitnah Dajjal, dari fitnah dunia, dan dari segala tipu daya setan yang tampak maupun tersembunyi.Amin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu Ta’ala a’lam.***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Referensi:Diterjemahkan dan ditulis ulang dengan penambahan dari kitab Asyraathu As-Saa’ah, karya Syekh Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, hal. 282-287.

Upaya Mencegah Diri Dari Fitnah Dajjal

Daftar Isi ToggleBerpegang teguh kepada Islam dan menguatkan imanDajjal adalah manusia biasaDajjal memiliki cacat fisikManusia tidak akan melihat Tuhannya di duniaMemohon perlindungan kepada Allah dari fitnah Dajjal (terutama dalam salat)Menghafal dan membaca ayat-ayat surah al-KahfiMenjauhi Dajjal dan tidak mendekatinya dan yang paling utama tinggal di Makkah atau MadinahFitnah Dajjal adalah ancaman nyata yang wajib dipelajariFitnah al-Masih ad-Dajjal merupakan fitnah paling dahsyat yang akan menimpa manusia sejak Allah menciptakan Adam hingga hari kiamat. Para ulama menegaskan bahwa tidak ada fitnah yang lebih besar, lebih mengerikan, dan lebih menyesatkan darinya. Oleh karena itu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perhatian yang sangat besar dalam memperingatkan umatnya, lebih dari perhatian para Nabi sebelumnya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan umat ini di atas jalan kebenaran yang begitu jelas. Beliau menggambarkannya,تركتُكم على البيضاءِ ليلِها كنهارِها لا يزيغُ عنها بعدي إلا هالِكٌ“Aku tinggalkan kalian di atas jalan yang putih bersih, malamnya seperti siangnya. Tidak ada yang menyimpang darinya kecuali orang yang binasa.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)Seluruh Nabi telah memperingatkan umatnya mengenai fitnah ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما من نبيٍّ إلا وأنذر قومَه الأعْوَرَ الدَّجَّالَ، ألا إنه أَعْوَرُ، وإنَّ ربَّكم ليس بأعْوَرَ، ومكتوبٌ بين عَيْنَيْهِ ك ف ر“Tidak ada seorang Nabi pun melainkan telah memperingatkan kaumnya tentang si buta sebelah, yakni Dajjal. Ketahuilah, ia benar-benar buta sebelah, sedangkan Rabb kalian tidaklah buta sebelah. Dan tertulis di antara kedua matanya huruf: ك ف ر (kaf – fa’ – ra’).” (HR. Bukhari dan Muslim)Namun, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diberikan keutamaan memberikan peringatan yang paling rinci, karena beliau adalah penutup para Nabi dan umat ini adalah umat terakhir yang akan menghadapi fitnah tersebut. Tidaklah mengherankan jika beliau memberikan rincian yang sangat lengkap tentang Dajjal. Ciri fisiknya, cara kerjanya, tipu dayanya, kota-kota yang ia masuki, bahkan siapa orang pertama yang akan dibunuhnya.Berikut adalah beberapa petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar umatnya selamat dari fitnah besar ini. Kita memohon kepada Allah Yang Maha Agung agar melindungi kita darinya.Berpegang teguh kepada Islam dan menguatkan imanLandasan pertama dan terpenting untuk menghadapi fitnah Dajjal adalah ilmu dan akidah yang benar. Seorang muslim harus memahami tauhid dengan baik, terutama mengenal nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya yang sempurna. Inilah benteng paling kuat agar tidak tertipu oleh klaim ketuhanan Dajjal. Dengan memahami tauhid yang benar, seseorang mengetahui bahwa:Dajjal adalah manusia biasaIa makan, minum, tidur, buang hajat, dan memiliki banyak kekurangan. Allah tidak memiliki sifat-sifat itu. Firman Allah Azza wa Jalla,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.” (QS. Asy-Syura: 11)Dajjal memiliki cacat fisikRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ألا إنه أَعْوَرُ، وإنَّ ربَّكم ليس بأعْوَرَ“Ketahuilah, ia benar-benar buta sebelah, sedangkan Rabb kalian tidaklah buta sebelah.” (HR. Bukhari dan Muslim)Sangat tidak mungkin seorang makhluk cacat mengaku sebagai Tuhan.Manusia tidak akan melihat Tuhannya di duniaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لن تروا ربَّكم حتى تموتوا“Kalian tidak akan melihat Rabb kalian hingga kalian meninggal.” (HR. Abu Daud)Maka, siapa pun yang mengaku sebagai Tuhan dan terlihat oleh mata manusia, pasti dia adalah seorang pendusta. Akidah yang benar inilah yang menjadi fondasi utama agar umat Islam selamat dari tipu daya Dajjal.Memohon perlindungan kepada Allah dari fitnah Dajjal (terutama dalam salat)Salah satu bentuk kasih sayang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya adalah beliau mengajarkan doa khusus yang dibaca setiap salat, sebagai perlindungan dari fitnah Dajjal.Aisyah radhiyallahu ‘anha menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa dalam salatnya,اللَّهُمَّ إنِّي أعوذ بك من عذاب القبر، وأعوذ بك من فتنة المسيح الدَّجَّال … الحديث“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah al-Masih ad-Dajjal….” (HR. al-Bukhari, Muslim, dan An Nasa’i)Dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إذا تشهَّد أحدُكُم؛ فليستعذ بالله من أربع، يقول: اللَّهُمَّ إنِّي أعوذُ بك من عذاب جهنَّم، ومن عذاب القبر، ومن فتنة المحيا والممات، ومن شرِّ فتنة المسيح الدَّجَّال “Apabila salah seorang di antara kalian bertasyahud, maka hendaklah ia meminta perlindungan kepada Allah dari empat perkara. Hendaklah ia mengucapkan: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab neraka Jahanam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari kejahatan fitnah al-Masih ad-Dajjal.’”Para ulama salaf sangat menekankan doa ini. Imam Ṭhawus rahimahullah bahkan memerintahkan putranya mengulang salat apabila lupa membaca doa ini.Ulama besar al-Saffarini rahimahullah berkata,ممّا ينبغي لكل عالم أن يبثَّ أحاديث الدَّجَّال بين الأولاد والنساء والرجال … وقد ورد أن من علامات خروجه نسيان ذكره على المنابر“Termasuk hal yang sepatutnya dilakukan oleh setiap ulama adalah menyebarkan hadis-hadis tentang Dajjal kepada anak-anak, para wanita, dan kaum laki-laki… Dan telah disebutkan bahwa di antara tanda dekatnya kemunculannya adalah mulai dilupakannya penyebutannya dari mimbar-mimbar.”ولا سيما في زماننا هذا الّذي اشرأبَّت فيه الفتن، وكَثُرت فيه المحن، واندرست فيه معالم السنن، وصارت السنن فيه كالبدع، والبدعة شرعٌ يُتَّبع، ولا حول ولا قوَّة إِلَّا بالله العلّي العظيم“Terlebih lagi pada zaman kita sekarang ini, ketika berbagai fitnah muncul menjulang, berbagai ujian semakin banyak, tanda-tanda sunah mulai hilang, sunah menjadi tampak seperti bid‘ah, sementara bid‘ah dianggap sebagai syariat yang harus diikuti. Dan tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.”Menghafal dan membaca ayat-ayat surah al-KahfiNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar membaca awal-awal surah al-Kahfi ketika berhadapan dengan Dajjal. Dalam sebagian riwayat disebutkan akhir-akhir surah tersebut, yaitu membaca sepuluh ayat pertama atau sepuluh ayat terakhir.Di antara hadis-hadis sahih tentang hal ini adalah:Pertama, hadis riwayat Muslim dari an-Nawwas bin Sam‘an yang panjang, di dalamnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من أدركه منكم؛ فليقرأ عليه فواتح سورة الكهف“Siapa di antara kalian yang menemui Dajjal, hendaklah ia membaca awal surah al-Kahfi.”Kedua, hadis riwayat Muslim dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من حفظ عشر آيات من أول سورة الكهف؛ عُصِمَ من الدَّجال؛ أي: من فتنته“Barang siapa menghafal sepuluh ayat pertama dari surah al-Kahfi, ia akan terlindungi dari Dajjal” maksudnya: terlindungi dari fitnah dan tipu daya Dajjal.Imam Muslim rahimahullah menambahkan,قال شعبة: من آخر الكهف، وقال همام: من أول الكهف“Syu’bah berkata: (yang dimaksud adalah) sepuluh ayat terakhir surah al-Kahfi, sedangkan Hammām berkata: sepuluh ayat pertama.”An-Nawawi rahimahullah menjelaskan,سبب ذلك ما في أولها من العجائب والآيات، فمَن تدبَّرَها؛ لم يفتتن بالدَّجَّال“Sebabnya adalah karena pada awal surah ini terdapat keajaiban-keajaiban dan tanda-tanda kekuasaan Allah. Barang siapa merenungi ayat-ayat itu, ia tidak akan tertipu oleh Dajjal.”Membaca surah al-Kahfi merupakan salah satu keistimewaan yang khusus dianjurkan dalam syariat, dan berbagai hadis menganjurkan untuk membacanya—terutama pada hari Jumat. Dalam riwayat al-Hakim dari Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن من قرأ سورة الكهف يوم الجمعة؛ أضاء له من النور ما بين الجمعتين“Siapa yang membaca surah al-Kahfi pada hari Jumat, akan dianugerahi cahaya yang meneranginya di antara dua Jumat.”Tidak diragukan lagi bahwa surah al-Kahfi memiliki kedudukan yang sangat agung. Di dalamnya terdapat ayat-ayat yang penuh keajaiban dan pelajaran: kisah para pemuda Ashabul Kahfi yang diberi keteguhan iman, perjalanan Nabi Musa bersama Khidr yang sarat hikmah, kisah Dzulqarnain dan pembangunan dinding besar penghalang Ya’juj dan Ma’juj, penegasan tentang hari kebangkitan, tiupan sangkakala, serta gambaran orang-orang yang paling merugi amalnya—mereka yang menyangka berada di atas petunjuk, padahal berada dalam kesesatan dan kebutaan.Oleh karena itu, seorang Muslim selayaknya menjaga kebiasaan membaca surah ini, menghafalnya, dan mengulang-ulangnya—terutama pada hari terbaik yang disinari matahari, yaitu hari Jumat. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa mengambil petunjuk dari kitab-Nya.Menjauhi Dajjal dan tidak mendekatinya dan yang paling utama tinggal di Makkah atau MadinahKetika Dajjal keluar, seorang Muslim tidak diperintahkan untuk melihat, menantang, atau mengujinya. Justru Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar menjauh. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim dari Abu ad-Dahmā’, ia berkata, “Aku mendengar ‘Imrān bin Husain menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من سمع بالدَّجَّال؛ فلينأَ عنه، فوالله إن الرَّجل ليأتيه وهو يحسب أنّه مؤمن، فيتبعه ممّا يبعث به من الشُّبهات، أو لما يبعث به من الشبهات“Siapa yang mendengar (kabar) tentang Dajjal, hendaklah ia menjauh darinya. Demi Allah, ada seseorang yang mendatanginya dalam keadaan merasa bahwa dirinya beriman, namun akhirnya ia mengikuti Dajjal karena berbagai syubhat (kerancuan) yang dibawanya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim)Dajjal membawa fitnah yang nyata:Ia mampu menyuruh langit menurunkan hujan;Membuat bumi mengeluarkan tanaman;Menghidupkan orang tampak mati yang hakikatnya bukan hidup yang sebenarnya;Membawa surga dan neraka palsu;Menipu manusia dengan kekuatan gaib.Banyak orang yang awalnya tidak meyakininya, pada akhirnya hancur karena tidak kuat menghadapi tipuannya. Namun, Dajjal tidak dapat memasuki Makkah dan Madinah. Dalam hadis sahih disebutkan,عَلَى أَنْقَابِ المَدِينَةِ مَلَائِكَةٌ، لَا يَدْخُلُهَا الطَّاعُونُ، وَلَا الدَّجَّالُ“Di pintu-pintu (perbatasan) Madinah terdapat para malaikat; tidak akan masuk ke dalamnya tha‘un (wabah mematikan), dan tidak pula Dajjal.” (HR. Muslim)Dalam hadis lain disebutkan,لَيْسَ مِنْ بَلَدٍ إِلَّا سَيَطَؤُهُ الدَّجَّالُ ، إِلَّا مَكَّةَ ، وَالمَدِينَةَ ، لَيْسَ لَهُ مِنْ نِقَابِهَا نَقْبٌ ، إِلَّا عَلَيْهِ المَلاَئِكَةُ صَافِّينَ يَحْرُسُونَهَا“Tidak ada suatu negeri pun kecuali pasti akan diinjak (dimasuki) oleh Dajjal, kecuali Makkah dan Madinah. Tidak ada satu celah pun dari celah-celah keduanya yang dapat ia masuki, kecuali di situ para malaikat berbaris menjaga keduanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Fitnah Dajjal adalah ancaman nyata yang wajib dipelajariDajjal adalah fitnah terbesar dalam sejarah manusia. Oleh karena itu, mempelajarinya termasuk bagian dari iman, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Upaya pencegahannya sudah dijelaskan dengan terang:Memahami tauhid dan memperkuat iman;Membaca doa perlindungan dalam salat;Menghafal ayat-ayat surah al-Kahfi;Menjauhi Dajjal dan tidak mendekatinya.Semoga Allah Azza wa Jalla menjaga kita, keluarga kita, dan seluruh umat Islam dari fitnah Dajjal, dari fitnah dunia, dan dari segala tipu daya setan yang tampak maupun tersembunyi.Amin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu Ta’ala a’lam.***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Referensi:Diterjemahkan dan ditulis ulang dengan penambahan dari kitab Asyraathu As-Saa’ah, karya Syekh Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, hal. 282-287.
Daftar Isi ToggleBerpegang teguh kepada Islam dan menguatkan imanDajjal adalah manusia biasaDajjal memiliki cacat fisikManusia tidak akan melihat Tuhannya di duniaMemohon perlindungan kepada Allah dari fitnah Dajjal (terutama dalam salat)Menghafal dan membaca ayat-ayat surah al-KahfiMenjauhi Dajjal dan tidak mendekatinya dan yang paling utama tinggal di Makkah atau MadinahFitnah Dajjal adalah ancaman nyata yang wajib dipelajariFitnah al-Masih ad-Dajjal merupakan fitnah paling dahsyat yang akan menimpa manusia sejak Allah menciptakan Adam hingga hari kiamat. Para ulama menegaskan bahwa tidak ada fitnah yang lebih besar, lebih mengerikan, dan lebih menyesatkan darinya. Oleh karena itu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perhatian yang sangat besar dalam memperingatkan umatnya, lebih dari perhatian para Nabi sebelumnya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan umat ini di atas jalan kebenaran yang begitu jelas. Beliau menggambarkannya,تركتُكم على البيضاءِ ليلِها كنهارِها لا يزيغُ عنها بعدي إلا هالِكٌ“Aku tinggalkan kalian di atas jalan yang putih bersih, malamnya seperti siangnya. Tidak ada yang menyimpang darinya kecuali orang yang binasa.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)Seluruh Nabi telah memperingatkan umatnya mengenai fitnah ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما من نبيٍّ إلا وأنذر قومَه الأعْوَرَ الدَّجَّالَ، ألا إنه أَعْوَرُ، وإنَّ ربَّكم ليس بأعْوَرَ، ومكتوبٌ بين عَيْنَيْهِ ك ف ر“Tidak ada seorang Nabi pun melainkan telah memperingatkan kaumnya tentang si buta sebelah, yakni Dajjal. Ketahuilah, ia benar-benar buta sebelah, sedangkan Rabb kalian tidaklah buta sebelah. Dan tertulis di antara kedua matanya huruf: ك ف ر (kaf – fa’ – ra’).” (HR. Bukhari dan Muslim)Namun, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diberikan keutamaan memberikan peringatan yang paling rinci, karena beliau adalah penutup para Nabi dan umat ini adalah umat terakhir yang akan menghadapi fitnah tersebut. Tidaklah mengherankan jika beliau memberikan rincian yang sangat lengkap tentang Dajjal. Ciri fisiknya, cara kerjanya, tipu dayanya, kota-kota yang ia masuki, bahkan siapa orang pertama yang akan dibunuhnya.Berikut adalah beberapa petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar umatnya selamat dari fitnah besar ini. Kita memohon kepada Allah Yang Maha Agung agar melindungi kita darinya.Berpegang teguh kepada Islam dan menguatkan imanLandasan pertama dan terpenting untuk menghadapi fitnah Dajjal adalah ilmu dan akidah yang benar. Seorang muslim harus memahami tauhid dengan baik, terutama mengenal nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya yang sempurna. Inilah benteng paling kuat agar tidak tertipu oleh klaim ketuhanan Dajjal. Dengan memahami tauhid yang benar, seseorang mengetahui bahwa:Dajjal adalah manusia biasaIa makan, minum, tidur, buang hajat, dan memiliki banyak kekurangan. Allah tidak memiliki sifat-sifat itu. Firman Allah Azza wa Jalla,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.” (QS. Asy-Syura: 11)Dajjal memiliki cacat fisikRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ألا إنه أَعْوَرُ، وإنَّ ربَّكم ليس بأعْوَرَ“Ketahuilah, ia benar-benar buta sebelah, sedangkan Rabb kalian tidaklah buta sebelah.” (HR. Bukhari dan Muslim)Sangat tidak mungkin seorang makhluk cacat mengaku sebagai Tuhan.Manusia tidak akan melihat Tuhannya di duniaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لن تروا ربَّكم حتى تموتوا“Kalian tidak akan melihat Rabb kalian hingga kalian meninggal.” (HR. Abu Daud)Maka, siapa pun yang mengaku sebagai Tuhan dan terlihat oleh mata manusia, pasti dia adalah seorang pendusta. Akidah yang benar inilah yang menjadi fondasi utama agar umat Islam selamat dari tipu daya Dajjal.Memohon perlindungan kepada Allah dari fitnah Dajjal (terutama dalam salat)Salah satu bentuk kasih sayang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya adalah beliau mengajarkan doa khusus yang dibaca setiap salat, sebagai perlindungan dari fitnah Dajjal.Aisyah radhiyallahu ‘anha menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa dalam salatnya,اللَّهُمَّ إنِّي أعوذ بك من عذاب القبر، وأعوذ بك من فتنة المسيح الدَّجَّال … الحديث“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah al-Masih ad-Dajjal….” (HR. al-Bukhari, Muslim, dan An Nasa’i)Dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إذا تشهَّد أحدُكُم؛ فليستعذ بالله من أربع، يقول: اللَّهُمَّ إنِّي أعوذُ بك من عذاب جهنَّم، ومن عذاب القبر، ومن فتنة المحيا والممات، ومن شرِّ فتنة المسيح الدَّجَّال “Apabila salah seorang di antara kalian bertasyahud, maka hendaklah ia meminta perlindungan kepada Allah dari empat perkara. Hendaklah ia mengucapkan: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab neraka Jahanam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari kejahatan fitnah al-Masih ad-Dajjal.’”Para ulama salaf sangat menekankan doa ini. Imam Ṭhawus rahimahullah bahkan memerintahkan putranya mengulang salat apabila lupa membaca doa ini.Ulama besar al-Saffarini rahimahullah berkata,ممّا ينبغي لكل عالم أن يبثَّ أحاديث الدَّجَّال بين الأولاد والنساء والرجال … وقد ورد أن من علامات خروجه نسيان ذكره على المنابر“Termasuk hal yang sepatutnya dilakukan oleh setiap ulama adalah menyebarkan hadis-hadis tentang Dajjal kepada anak-anak, para wanita, dan kaum laki-laki… Dan telah disebutkan bahwa di antara tanda dekatnya kemunculannya adalah mulai dilupakannya penyebutannya dari mimbar-mimbar.”ولا سيما في زماننا هذا الّذي اشرأبَّت فيه الفتن، وكَثُرت فيه المحن، واندرست فيه معالم السنن، وصارت السنن فيه كالبدع، والبدعة شرعٌ يُتَّبع، ولا حول ولا قوَّة إِلَّا بالله العلّي العظيم“Terlebih lagi pada zaman kita sekarang ini, ketika berbagai fitnah muncul menjulang, berbagai ujian semakin banyak, tanda-tanda sunah mulai hilang, sunah menjadi tampak seperti bid‘ah, sementara bid‘ah dianggap sebagai syariat yang harus diikuti. Dan tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.”Menghafal dan membaca ayat-ayat surah al-KahfiNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar membaca awal-awal surah al-Kahfi ketika berhadapan dengan Dajjal. Dalam sebagian riwayat disebutkan akhir-akhir surah tersebut, yaitu membaca sepuluh ayat pertama atau sepuluh ayat terakhir.Di antara hadis-hadis sahih tentang hal ini adalah:Pertama, hadis riwayat Muslim dari an-Nawwas bin Sam‘an yang panjang, di dalamnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من أدركه منكم؛ فليقرأ عليه فواتح سورة الكهف“Siapa di antara kalian yang menemui Dajjal, hendaklah ia membaca awal surah al-Kahfi.”Kedua, hadis riwayat Muslim dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من حفظ عشر آيات من أول سورة الكهف؛ عُصِمَ من الدَّجال؛ أي: من فتنته“Barang siapa menghafal sepuluh ayat pertama dari surah al-Kahfi, ia akan terlindungi dari Dajjal” maksudnya: terlindungi dari fitnah dan tipu daya Dajjal.Imam Muslim rahimahullah menambahkan,قال شعبة: من آخر الكهف، وقال همام: من أول الكهف“Syu’bah berkata: (yang dimaksud adalah) sepuluh ayat terakhir surah al-Kahfi, sedangkan Hammām berkata: sepuluh ayat pertama.”An-Nawawi rahimahullah menjelaskan,سبب ذلك ما في أولها من العجائب والآيات، فمَن تدبَّرَها؛ لم يفتتن بالدَّجَّال“Sebabnya adalah karena pada awal surah ini terdapat keajaiban-keajaiban dan tanda-tanda kekuasaan Allah. Barang siapa merenungi ayat-ayat itu, ia tidak akan tertipu oleh Dajjal.”Membaca surah al-Kahfi merupakan salah satu keistimewaan yang khusus dianjurkan dalam syariat, dan berbagai hadis menganjurkan untuk membacanya—terutama pada hari Jumat. Dalam riwayat al-Hakim dari Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن من قرأ سورة الكهف يوم الجمعة؛ أضاء له من النور ما بين الجمعتين“Siapa yang membaca surah al-Kahfi pada hari Jumat, akan dianugerahi cahaya yang meneranginya di antara dua Jumat.”Tidak diragukan lagi bahwa surah al-Kahfi memiliki kedudukan yang sangat agung. Di dalamnya terdapat ayat-ayat yang penuh keajaiban dan pelajaran: kisah para pemuda Ashabul Kahfi yang diberi keteguhan iman, perjalanan Nabi Musa bersama Khidr yang sarat hikmah, kisah Dzulqarnain dan pembangunan dinding besar penghalang Ya’juj dan Ma’juj, penegasan tentang hari kebangkitan, tiupan sangkakala, serta gambaran orang-orang yang paling merugi amalnya—mereka yang menyangka berada di atas petunjuk, padahal berada dalam kesesatan dan kebutaan.Oleh karena itu, seorang Muslim selayaknya menjaga kebiasaan membaca surah ini, menghafalnya, dan mengulang-ulangnya—terutama pada hari terbaik yang disinari matahari, yaitu hari Jumat. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa mengambil petunjuk dari kitab-Nya.Menjauhi Dajjal dan tidak mendekatinya dan yang paling utama tinggal di Makkah atau MadinahKetika Dajjal keluar, seorang Muslim tidak diperintahkan untuk melihat, menantang, atau mengujinya. Justru Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar menjauh. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim dari Abu ad-Dahmā’, ia berkata, “Aku mendengar ‘Imrān bin Husain menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من سمع بالدَّجَّال؛ فلينأَ عنه، فوالله إن الرَّجل ليأتيه وهو يحسب أنّه مؤمن، فيتبعه ممّا يبعث به من الشُّبهات، أو لما يبعث به من الشبهات“Siapa yang mendengar (kabar) tentang Dajjal, hendaklah ia menjauh darinya. Demi Allah, ada seseorang yang mendatanginya dalam keadaan merasa bahwa dirinya beriman, namun akhirnya ia mengikuti Dajjal karena berbagai syubhat (kerancuan) yang dibawanya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim)Dajjal membawa fitnah yang nyata:Ia mampu menyuruh langit menurunkan hujan;Membuat bumi mengeluarkan tanaman;Menghidupkan orang tampak mati yang hakikatnya bukan hidup yang sebenarnya;Membawa surga dan neraka palsu;Menipu manusia dengan kekuatan gaib.Banyak orang yang awalnya tidak meyakininya, pada akhirnya hancur karena tidak kuat menghadapi tipuannya. Namun, Dajjal tidak dapat memasuki Makkah dan Madinah. Dalam hadis sahih disebutkan,عَلَى أَنْقَابِ المَدِينَةِ مَلَائِكَةٌ، لَا يَدْخُلُهَا الطَّاعُونُ، وَلَا الدَّجَّالُ“Di pintu-pintu (perbatasan) Madinah terdapat para malaikat; tidak akan masuk ke dalamnya tha‘un (wabah mematikan), dan tidak pula Dajjal.” (HR. Muslim)Dalam hadis lain disebutkan,لَيْسَ مِنْ بَلَدٍ إِلَّا سَيَطَؤُهُ الدَّجَّالُ ، إِلَّا مَكَّةَ ، وَالمَدِينَةَ ، لَيْسَ لَهُ مِنْ نِقَابِهَا نَقْبٌ ، إِلَّا عَلَيْهِ المَلاَئِكَةُ صَافِّينَ يَحْرُسُونَهَا“Tidak ada suatu negeri pun kecuali pasti akan diinjak (dimasuki) oleh Dajjal, kecuali Makkah dan Madinah. Tidak ada satu celah pun dari celah-celah keduanya yang dapat ia masuki, kecuali di situ para malaikat berbaris menjaga keduanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Fitnah Dajjal adalah ancaman nyata yang wajib dipelajariDajjal adalah fitnah terbesar dalam sejarah manusia. Oleh karena itu, mempelajarinya termasuk bagian dari iman, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Upaya pencegahannya sudah dijelaskan dengan terang:Memahami tauhid dan memperkuat iman;Membaca doa perlindungan dalam salat;Menghafal ayat-ayat surah al-Kahfi;Menjauhi Dajjal dan tidak mendekatinya.Semoga Allah Azza wa Jalla menjaga kita, keluarga kita, dan seluruh umat Islam dari fitnah Dajjal, dari fitnah dunia, dan dari segala tipu daya setan yang tampak maupun tersembunyi.Amin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu Ta’ala a’lam.***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Referensi:Diterjemahkan dan ditulis ulang dengan penambahan dari kitab Asyraathu As-Saa’ah, karya Syekh Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, hal. 282-287.


Daftar Isi ToggleBerpegang teguh kepada Islam dan menguatkan imanDajjal adalah manusia biasaDajjal memiliki cacat fisikManusia tidak akan melihat Tuhannya di duniaMemohon perlindungan kepada Allah dari fitnah Dajjal (terutama dalam salat)Menghafal dan membaca ayat-ayat surah al-KahfiMenjauhi Dajjal dan tidak mendekatinya dan yang paling utama tinggal di Makkah atau MadinahFitnah Dajjal adalah ancaman nyata yang wajib dipelajariFitnah al-Masih ad-Dajjal merupakan fitnah paling dahsyat yang akan menimpa manusia sejak Allah menciptakan Adam hingga hari kiamat. Para ulama menegaskan bahwa tidak ada fitnah yang lebih besar, lebih mengerikan, dan lebih menyesatkan darinya. Oleh karena itu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perhatian yang sangat besar dalam memperingatkan umatnya, lebih dari perhatian para Nabi sebelumnya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan umat ini di atas jalan kebenaran yang begitu jelas. Beliau menggambarkannya,تركتُكم على البيضاءِ ليلِها كنهارِها لا يزيغُ عنها بعدي إلا هالِكٌ“Aku tinggalkan kalian di atas jalan yang putih bersih, malamnya seperti siangnya. Tidak ada yang menyimpang darinya kecuali orang yang binasa.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)Seluruh Nabi telah memperingatkan umatnya mengenai fitnah ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما من نبيٍّ إلا وأنذر قومَه الأعْوَرَ الدَّجَّالَ، ألا إنه أَعْوَرُ، وإنَّ ربَّكم ليس بأعْوَرَ، ومكتوبٌ بين عَيْنَيْهِ ك ف ر“Tidak ada seorang Nabi pun melainkan telah memperingatkan kaumnya tentang si buta sebelah, yakni Dajjal. Ketahuilah, ia benar-benar buta sebelah, sedangkan Rabb kalian tidaklah buta sebelah. Dan tertulis di antara kedua matanya huruf: ك ف ر (kaf – fa’ – ra’).” (HR. Bukhari dan Muslim)Namun, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diberikan keutamaan memberikan peringatan yang paling rinci, karena beliau adalah penutup para Nabi dan umat ini adalah umat terakhir yang akan menghadapi fitnah tersebut. Tidaklah mengherankan jika beliau memberikan rincian yang sangat lengkap tentang Dajjal. Ciri fisiknya, cara kerjanya, tipu dayanya, kota-kota yang ia masuki, bahkan siapa orang pertama yang akan dibunuhnya.Berikut adalah beberapa petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar umatnya selamat dari fitnah besar ini. Kita memohon kepada Allah Yang Maha Agung agar melindungi kita darinya.Berpegang teguh kepada Islam dan menguatkan imanLandasan pertama dan terpenting untuk menghadapi fitnah Dajjal adalah ilmu dan akidah yang benar. Seorang muslim harus memahami tauhid dengan baik, terutama mengenal nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya yang sempurna. Inilah benteng paling kuat agar tidak tertipu oleh klaim ketuhanan Dajjal. Dengan memahami tauhid yang benar, seseorang mengetahui bahwa:Dajjal adalah manusia biasaIa makan, minum, tidur, buang hajat, dan memiliki banyak kekurangan. Allah tidak memiliki sifat-sifat itu. Firman Allah Azza wa Jalla,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.” (QS. Asy-Syura: 11)Dajjal memiliki cacat fisikRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ألا إنه أَعْوَرُ، وإنَّ ربَّكم ليس بأعْوَرَ“Ketahuilah, ia benar-benar buta sebelah, sedangkan Rabb kalian tidaklah buta sebelah.” (HR. Bukhari dan Muslim)Sangat tidak mungkin seorang makhluk cacat mengaku sebagai Tuhan.Manusia tidak akan melihat Tuhannya di duniaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لن تروا ربَّكم حتى تموتوا“Kalian tidak akan melihat Rabb kalian hingga kalian meninggal.” (HR. Abu Daud)Maka, siapa pun yang mengaku sebagai Tuhan dan terlihat oleh mata manusia, pasti dia adalah seorang pendusta. Akidah yang benar inilah yang menjadi fondasi utama agar umat Islam selamat dari tipu daya Dajjal.Memohon perlindungan kepada Allah dari fitnah Dajjal (terutama dalam salat)Salah satu bentuk kasih sayang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya adalah beliau mengajarkan doa khusus yang dibaca setiap salat, sebagai perlindungan dari fitnah Dajjal.Aisyah radhiyallahu ‘anha menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa dalam salatnya,اللَّهُمَّ إنِّي أعوذ بك من عذاب القبر، وأعوذ بك من فتنة المسيح الدَّجَّال … الحديث“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah al-Masih ad-Dajjal….” (HR. al-Bukhari, Muslim, dan An Nasa’i)Dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إذا تشهَّد أحدُكُم؛ فليستعذ بالله من أربع، يقول: اللَّهُمَّ إنِّي أعوذُ بك من عذاب جهنَّم، ومن عذاب القبر، ومن فتنة المحيا والممات، ومن شرِّ فتنة المسيح الدَّجَّال “Apabila salah seorang di antara kalian bertasyahud, maka hendaklah ia meminta perlindungan kepada Allah dari empat perkara. Hendaklah ia mengucapkan: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab neraka Jahanam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari kejahatan fitnah al-Masih ad-Dajjal.’”Para ulama salaf sangat menekankan doa ini. Imam Ṭhawus rahimahullah bahkan memerintahkan putranya mengulang salat apabila lupa membaca doa ini.Ulama besar al-Saffarini rahimahullah berkata,ممّا ينبغي لكل عالم أن يبثَّ أحاديث الدَّجَّال بين الأولاد والنساء والرجال … وقد ورد أن من علامات خروجه نسيان ذكره على المنابر“Termasuk hal yang sepatutnya dilakukan oleh setiap ulama adalah menyebarkan hadis-hadis tentang Dajjal kepada anak-anak, para wanita, dan kaum laki-laki… Dan telah disebutkan bahwa di antara tanda dekatnya kemunculannya adalah mulai dilupakannya penyebutannya dari mimbar-mimbar.”ولا سيما في زماننا هذا الّذي اشرأبَّت فيه الفتن، وكَثُرت فيه المحن، واندرست فيه معالم السنن، وصارت السنن فيه كالبدع، والبدعة شرعٌ يُتَّبع، ولا حول ولا قوَّة إِلَّا بالله العلّي العظيم“Terlebih lagi pada zaman kita sekarang ini, ketika berbagai fitnah muncul menjulang, berbagai ujian semakin banyak, tanda-tanda sunah mulai hilang, sunah menjadi tampak seperti bid‘ah, sementara bid‘ah dianggap sebagai syariat yang harus diikuti. Dan tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.”Menghafal dan membaca ayat-ayat surah al-KahfiNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar membaca awal-awal surah al-Kahfi ketika berhadapan dengan Dajjal. Dalam sebagian riwayat disebutkan akhir-akhir surah tersebut, yaitu membaca sepuluh ayat pertama atau sepuluh ayat terakhir.Di antara hadis-hadis sahih tentang hal ini adalah:Pertama, hadis riwayat Muslim dari an-Nawwas bin Sam‘an yang panjang, di dalamnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من أدركه منكم؛ فليقرأ عليه فواتح سورة الكهف“Siapa di antara kalian yang menemui Dajjal, hendaklah ia membaca awal surah al-Kahfi.”Kedua, hadis riwayat Muslim dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من حفظ عشر آيات من أول سورة الكهف؛ عُصِمَ من الدَّجال؛ أي: من فتنته“Barang siapa menghafal sepuluh ayat pertama dari surah al-Kahfi, ia akan terlindungi dari Dajjal” maksudnya: terlindungi dari fitnah dan tipu daya Dajjal.Imam Muslim rahimahullah menambahkan,قال شعبة: من آخر الكهف، وقال همام: من أول الكهف“Syu’bah berkata: (yang dimaksud adalah) sepuluh ayat terakhir surah al-Kahfi, sedangkan Hammām berkata: sepuluh ayat pertama.”An-Nawawi rahimahullah menjelaskan,سبب ذلك ما في أولها من العجائب والآيات، فمَن تدبَّرَها؛ لم يفتتن بالدَّجَّال“Sebabnya adalah karena pada awal surah ini terdapat keajaiban-keajaiban dan tanda-tanda kekuasaan Allah. Barang siapa merenungi ayat-ayat itu, ia tidak akan tertipu oleh Dajjal.”Membaca surah al-Kahfi merupakan salah satu keistimewaan yang khusus dianjurkan dalam syariat, dan berbagai hadis menganjurkan untuk membacanya—terutama pada hari Jumat. Dalam riwayat al-Hakim dari Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن من قرأ سورة الكهف يوم الجمعة؛ أضاء له من النور ما بين الجمعتين“Siapa yang membaca surah al-Kahfi pada hari Jumat, akan dianugerahi cahaya yang meneranginya di antara dua Jumat.”Tidak diragukan lagi bahwa surah al-Kahfi memiliki kedudukan yang sangat agung. Di dalamnya terdapat ayat-ayat yang penuh keajaiban dan pelajaran: kisah para pemuda Ashabul Kahfi yang diberi keteguhan iman, perjalanan Nabi Musa bersama Khidr yang sarat hikmah, kisah Dzulqarnain dan pembangunan dinding besar penghalang Ya’juj dan Ma’juj, penegasan tentang hari kebangkitan, tiupan sangkakala, serta gambaran orang-orang yang paling merugi amalnya—mereka yang menyangka berada di atas petunjuk, padahal berada dalam kesesatan dan kebutaan.Oleh karena itu, seorang Muslim selayaknya menjaga kebiasaan membaca surah ini, menghafalnya, dan mengulang-ulangnya—terutama pada hari terbaik yang disinari matahari, yaitu hari Jumat. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa mengambil petunjuk dari kitab-Nya.Menjauhi Dajjal dan tidak mendekatinya dan yang paling utama tinggal di Makkah atau MadinahKetika Dajjal keluar, seorang Muslim tidak diperintahkan untuk melihat, menantang, atau mengujinya. Justru Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar menjauh. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim dari Abu ad-Dahmā’, ia berkata, “Aku mendengar ‘Imrān bin Husain menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من سمع بالدَّجَّال؛ فلينأَ عنه، فوالله إن الرَّجل ليأتيه وهو يحسب أنّه مؤمن، فيتبعه ممّا يبعث به من الشُّبهات، أو لما يبعث به من الشبهات“Siapa yang mendengar (kabar) tentang Dajjal, hendaklah ia menjauh darinya. Demi Allah, ada seseorang yang mendatanginya dalam keadaan merasa bahwa dirinya beriman, namun akhirnya ia mengikuti Dajjal karena berbagai syubhat (kerancuan) yang dibawanya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim)Dajjal membawa fitnah yang nyata:Ia mampu menyuruh langit menurunkan hujan;Membuat bumi mengeluarkan tanaman;Menghidupkan orang tampak mati yang hakikatnya bukan hidup yang sebenarnya;Membawa surga dan neraka palsu;Menipu manusia dengan kekuatan gaib.Banyak orang yang awalnya tidak meyakininya, pada akhirnya hancur karena tidak kuat menghadapi tipuannya. Namun, Dajjal tidak dapat memasuki Makkah dan Madinah. Dalam hadis sahih disebutkan,عَلَى أَنْقَابِ المَدِينَةِ مَلَائِكَةٌ، لَا يَدْخُلُهَا الطَّاعُونُ، وَلَا الدَّجَّالُ“Di pintu-pintu (perbatasan) Madinah terdapat para malaikat; tidak akan masuk ke dalamnya tha‘un (wabah mematikan), dan tidak pula Dajjal.” (HR. Muslim)Dalam hadis lain disebutkan,لَيْسَ مِنْ بَلَدٍ إِلَّا سَيَطَؤُهُ الدَّجَّالُ ، إِلَّا مَكَّةَ ، وَالمَدِينَةَ ، لَيْسَ لَهُ مِنْ نِقَابِهَا نَقْبٌ ، إِلَّا عَلَيْهِ المَلاَئِكَةُ صَافِّينَ يَحْرُسُونَهَا“Tidak ada suatu negeri pun kecuali pasti akan diinjak (dimasuki) oleh Dajjal, kecuali Makkah dan Madinah. Tidak ada satu celah pun dari celah-celah keduanya yang dapat ia masuki, kecuali di situ para malaikat berbaris menjaga keduanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Fitnah Dajjal adalah ancaman nyata yang wajib dipelajariDajjal adalah fitnah terbesar dalam sejarah manusia. Oleh karena itu, mempelajarinya termasuk bagian dari iman, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Upaya pencegahannya sudah dijelaskan dengan terang:Memahami tauhid dan memperkuat iman;Membaca doa perlindungan dalam salat;Menghafal ayat-ayat surah al-Kahfi;Menjauhi Dajjal dan tidak mendekatinya.Semoga Allah Azza wa Jalla menjaga kita, keluarga kita, dan seluruh umat Islam dari fitnah Dajjal, dari fitnah dunia, dan dari segala tipu daya setan yang tampak maupun tersembunyi.Amin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu Ta’ala a’lam.***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Referensi:Diterjemahkan dan ditulis ulang dengan penambahan dari kitab Asyraathu As-Saa’ah, karya Syekh Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, hal. 282-287.

Allah akan Ganti yang Lebih Baik

Oleh: Dr. Amir bin Muhammad al-Mudari Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi dan Rasul yang paling mulia, Nabi Muhammad, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Amma ba’du: Wahai saudara-saudaraku tercinta! Berapa kali kita melalui momen-momen yang memaksa kita untuk meninggalkan sesuatu yang kita sukai atau kita sudah nyaman dengan hal itu, dan kita mungkin sudah meninggalkannya dengan rasa harap mendapat keridhaan Allah? Apakah kita pernah memikirkan tentang ganti yang Allah janjikan kepada kita atas kehilangan itu? Seperti yang disebutkan dalam satu atsar:  مَنْ تَرَكَ شَيْئًا لِلَّهِ عَوَّضَهُ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ “Barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya.” Wahai saudara-saudaraku yang saya cintai karena Allah! Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menjanjikan bagi para hamba-Nya yang saleh, siapa yang meninggalkan sesuatu di jalan-Nya, baik itu berupa harta, gejolak nafsu, kebiasaan, atau dosa, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberinya ganti dengan sesuatu yang lebih baik, ganti yang tidak tertandingi nilainya daripada dengan sesuatu yang hilang. Bisa jadi ganti itu diberikan di dunia atau di akhirat, dan ganti terbaiknya selalu kita harapkan berupa ganjaran terbesar di surga. Diriwayatkan dalam hadis shahih dari Abu Qatadah dan Abu Ad-Dahma’ bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah bersabda: إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا اتِّقَاءَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا أَعْطَاكَ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ “Sungguh tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, melainkan Allah akan memberimu yang lebih baik darinya.” (Musnad Imam Ahmad jilid 5 hlm. 363). Wahai saudara-saudara! Janji yang agung ini memberi kita semangat untuk bersabar dan berani berkorban dalam menjauhi hal-hal yang diharamkan dan menjauhi syahwat-syahwat yang menjauhkan kita dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebesar apa pun kerugian duniawi yang dapat menimpa kita, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan ganjaran orang yang berbuat baik. Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim terdapat riwayat dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: إِذَا أَرَادَ عَبْدِي أَنْ يَعْمَلَ سَيِّئَةً فَلَا تَكْتُبُوهَا عَلَيْهِ حَتَّى يَعْمَلَهَا، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا بِمِثْلِهَا، وَإِنْ تَرَكَهَا مِنْ أَجْلِي فَاكْتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً. وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَعْمَلَ حَسَنَةً فَلَمْ يَعْمَلْهَا فَاكْتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا لَهُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ “Allah berfirman: ‘Apabila hamba-Ku berniat melakukan kejahatan, maka janganlah kalian mencatatnya hingga ia melakukannya. Jika ia melakukannya, catatlah satu kejahatan yang sepadan. Namun jika ia meninggalkannya karena Aku, catatlah baginya satu kebaikan. Dan apabila ia berniat melakukan kebaikan tapi belum melakukannya, catatlah baginya satu kebaikan. Jika ia benar-benar melakukannya, catatlah baginya sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Inilah janji dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang akan mengganti dengan kebaikan yang melimpah bagi hamba yang meninggalkan dosa karena mengharap keridhaan-Nya. Inilah bentuk kemurahan agung dari Tuhan kita. Diriwayatkan juga dari Sahal bin Muadz bin Anas Al-Juhani dari ayahnya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَنْ تَرَكَ اللِّبَاسَ تَوَاضُعًا لِلَّهِ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهِ، دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُؤُوسِ الْخَلَائِقِ، حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنْ أَيِّ حُلَلِ الْإِيمَانِ شَاءَ يَلْبَسُهَا “Barang siapa meninggalkan pakaian (yang mewah) karena tunduk kepada Allah padahal ia mampu memakainya, Allah akan memanggilnya pada hari Kiamat di hadapan seluruh makhluk, lalu memberinya pilihan dari pakaian-pakaian iman mana saja yang ingin ia kenakan.” (HR. At-Tirmidzi 2/79, Al-Hakim 4/183, Ahmad 3/439).  Diriwayatkan dari Sahal juga dari ayahnya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَنْ تَرَكَ شَهْوَةً وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهَا تَوَاضُعًا لِلَّهِ، دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُؤُوسِ الْخَلَائِقِ “Barang siapa meninggalkan suatu syahwat padahal ia mampu melakukannya, karena tunduk kepada Allah, niscaya Allah akan memanggilnya pada hari Kiamat di hadapan seluruh makhluk.” (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitabnya At-Tarikh 6/2/101). Diriwayatkan juga dari Hudzaifah bin Al-Yaman bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: النَّظْرَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ مَسْمُومٌ، مَنْ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللَّهِ أَثَابَهُ اللَّهُ إِيمَانًا يَجِدُ حَلَاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ “Pandangan kepada perempuan adalah salah satu anak panah Iblis yang beracun; siapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, niscaya Allah akan memberinya iman yang ia merasakan manisnya di dalam hatinya.” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak jilid 4 hlm. 313, Al-Qudha’i dalam kitabnya Al-Musnad jilid 1 hlm. 195, dan Ath-Thabrani dalam Al-Kabir no. 10362). Wahai saudara-saudaraku tercinta! Perhatikanlah kisah seorang sahabat Nabi yang mulia ini, Shuhaib Ar-Rumi Radhiyallahu ‘anhu, seorang lelaki yang punya harta melimpah ketika di Makkah. Ketika kaum Musyrikin semakin gencar menzaliminya, ia memutuskan untuk berhijrah ke Madinah, meninggalkan harta dan keluarganya di Makkah karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan keridhaan-Nya. Allah memberinya ganti yang lebih baik di akhirat, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikannya termasuk penghuni surga, dengan karunia dan rahmat-Nya. Ada beberapa ayat Al-Qur’an yang diturunkan berkaitan dengan shuhaib dan orang-orang yang berhijrah lainnya, yang meninggalkan dunia demi meraih keridhaan Allah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya demi mencari keridhaan Allah.” (QS. Al-Baqarah: 207). Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam pun bersabda kepadanya: “Wahai Abu Yahya, ini jual beli yang menguntungkan!” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dan beliau menilai hadis ini sahih memenuhi syarat keshahihan Imam Muslim). Perhatikanlah kisah Nabi Yusuf Alaihissalam yang meninggalkan kenikmatan dan perhiasan dunia, menolak untuk terjerumus ke dalam kemaksiatan meskipun godaannya begitu besar, dan beliau lebih memilih dipenjara daripada mengkhianati amanah yang diembannya. Beliau berkata:  قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ … فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ “Dia (Yusuf) berkata: ‘Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada apa yang mereka ajak aku kepadanya.’ maka Tuhannya mengabulkan doanya.” (QS. Yusuf: 33-34). Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengabulkan doa beliau dan memberi ganti bagi beliau dengan hal yang lebih baik, memberinya kekuasaan di bumi dan kedudukan yang tinggi. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَكَذَلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الأَرْضِ … وَلاَ نُضِيعُ أَجْرَ المُحْسِنِينَ “Dan demikianlah Kami memberi kedudukan (kekuasaan) kepada Yusuf di negeri itu, dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 56). Memberi kelonggaran bagi orang yang kesulitan, maka Allah memberi ampunan baginya Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bahwa beliau bersabda: كَانَ رَجُلٌ يُدَايِنُ النَّاسَ، فَكَانَ يَقُولُ لِفَتَاهُ: إِذَا جِئْتَ مُعْسِرًا فَتَجَاوَزْ عَنْهُ، لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَتَجَاوَزَ عَنَّا. قَالَ: فَلَقِيَ اللَّهَ فَتَجَاوَزَ عَنْهُ “Dahulu ada seorang lelaki yang memberi pinjaman kepada orang-orang. Ia berkata kepada pembantunya: ‘Jika engkau mendatangi orang yang kesulitan (tidak mampu membayar utangnya), maka maafkanlah dia, semoga Allah memaafkan kita.’ Maka ketika ia telah berjumpa dengan Allah, Allah pun memaafkannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain, dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: إِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَلَقَّتْ رُوحَ رَجُلٍ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَقَالُوا لَهُ: هَلْ عَمِلْتَ خَيْرًا قَطُّ؟ قَالَ: لَا. قَالُوا: تَذَكَّرْ. قَالَ: لَا، إِلَّا أَنِّي كُنْتُ أُدَايِنُ النَّاسَ، فَكُنْتُ آمُرُ فِتْيَانِي أَنْ يُنْظِرُوا الْمُوسِرَ، وَيَتَجَاوَزُوا عَنِ الْمُعْسِرِ. قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: تَجَاوَزُوا عَنْهُ “Sungguh para malaikat menyambut ruh seorang lelaki dari umat sebelum kalian. Mereka berkata kepadanya: ‘Apakah engkau pernah melakukan suatu kebaikan?’ Ia menjawab: ‘Tidak.’ Mereka berkata: ‘Coba ingat kembali.’ Ia menjawab: ‘Tidak, kecuali aku dahulu memberi pinjaman kepada orang-orang, aku memerintahkan para pembantuku agar memberi kelonggaran kepada orang yang mampu dan memaafkan orang yang kesulitan membayar.’ Lalu Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: ‘Maafkanlah dia.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Wahai saudara-saudaraku yang tercinta! Janganlah takut meninggalkan sesuatu karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena Allah tidak akan mengecewakan harapan orang yang telah bertawakal kepada-Nya. Dia tidak akan memberi ganti bagi hamba-Nya kecuali dengan yang lebih baik, maka kuatkanlah tekad kita dalam meninggalkan hal-hal yang mengundang kemurkaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan besarkanlah keyakinanmu bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberi ganti bagi kita dengan sesuatu yang lebih baik daripada yang telah hilang dari kita. Kita memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang memperhatikan ucapan dan mengikuti yang terbaiknya, menolong kita dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya, dan mengaruniakan kepada kita surga tertinggi, surga Firdaus tanpa hisab. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa melimpahkan salawat dan salam kepada Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/1001/180455/من-ترك-شيئا-لله-عوضه-الله-خيرا-منه/ Sumber artikel PDF 🔍 Sudah Sholat Belum, Insya Allah, Allah In Arabic, Arti Surat Almaidah Ayat 51, Ayat Ayat Rukiah Visited 1,628 times, 3 visit(s) today Post Views: 248 QRIS donasi Yufid

Allah akan Ganti yang Lebih Baik

Oleh: Dr. Amir bin Muhammad al-Mudari Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi dan Rasul yang paling mulia, Nabi Muhammad, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Amma ba’du: Wahai saudara-saudaraku tercinta! Berapa kali kita melalui momen-momen yang memaksa kita untuk meninggalkan sesuatu yang kita sukai atau kita sudah nyaman dengan hal itu, dan kita mungkin sudah meninggalkannya dengan rasa harap mendapat keridhaan Allah? Apakah kita pernah memikirkan tentang ganti yang Allah janjikan kepada kita atas kehilangan itu? Seperti yang disebutkan dalam satu atsar:  مَنْ تَرَكَ شَيْئًا لِلَّهِ عَوَّضَهُ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ “Barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya.” Wahai saudara-saudaraku yang saya cintai karena Allah! Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menjanjikan bagi para hamba-Nya yang saleh, siapa yang meninggalkan sesuatu di jalan-Nya, baik itu berupa harta, gejolak nafsu, kebiasaan, atau dosa, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberinya ganti dengan sesuatu yang lebih baik, ganti yang tidak tertandingi nilainya daripada dengan sesuatu yang hilang. Bisa jadi ganti itu diberikan di dunia atau di akhirat, dan ganti terbaiknya selalu kita harapkan berupa ganjaran terbesar di surga. Diriwayatkan dalam hadis shahih dari Abu Qatadah dan Abu Ad-Dahma’ bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah bersabda: إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا اتِّقَاءَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا أَعْطَاكَ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ “Sungguh tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, melainkan Allah akan memberimu yang lebih baik darinya.” (Musnad Imam Ahmad jilid 5 hlm. 363). Wahai saudara-saudara! Janji yang agung ini memberi kita semangat untuk bersabar dan berani berkorban dalam menjauhi hal-hal yang diharamkan dan menjauhi syahwat-syahwat yang menjauhkan kita dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebesar apa pun kerugian duniawi yang dapat menimpa kita, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan ganjaran orang yang berbuat baik. Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim terdapat riwayat dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: إِذَا أَرَادَ عَبْدِي أَنْ يَعْمَلَ سَيِّئَةً فَلَا تَكْتُبُوهَا عَلَيْهِ حَتَّى يَعْمَلَهَا، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا بِمِثْلِهَا، وَإِنْ تَرَكَهَا مِنْ أَجْلِي فَاكْتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً. وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَعْمَلَ حَسَنَةً فَلَمْ يَعْمَلْهَا فَاكْتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا لَهُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ “Allah berfirman: ‘Apabila hamba-Ku berniat melakukan kejahatan, maka janganlah kalian mencatatnya hingga ia melakukannya. Jika ia melakukannya, catatlah satu kejahatan yang sepadan. Namun jika ia meninggalkannya karena Aku, catatlah baginya satu kebaikan. Dan apabila ia berniat melakukan kebaikan tapi belum melakukannya, catatlah baginya satu kebaikan. Jika ia benar-benar melakukannya, catatlah baginya sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Inilah janji dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang akan mengganti dengan kebaikan yang melimpah bagi hamba yang meninggalkan dosa karena mengharap keridhaan-Nya. Inilah bentuk kemurahan agung dari Tuhan kita. Diriwayatkan juga dari Sahal bin Muadz bin Anas Al-Juhani dari ayahnya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَنْ تَرَكَ اللِّبَاسَ تَوَاضُعًا لِلَّهِ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهِ، دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُؤُوسِ الْخَلَائِقِ، حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنْ أَيِّ حُلَلِ الْإِيمَانِ شَاءَ يَلْبَسُهَا “Barang siapa meninggalkan pakaian (yang mewah) karena tunduk kepada Allah padahal ia mampu memakainya, Allah akan memanggilnya pada hari Kiamat di hadapan seluruh makhluk, lalu memberinya pilihan dari pakaian-pakaian iman mana saja yang ingin ia kenakan.” (HR. At-Tirmidzi 2/79, Al-Hakim 4/183, Ahmad 3/439).  Diriwayatkan dari Sahal juga dari ayahnya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَنْ تَرَكَ شَهْوَةً وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهَا تَوَاضُعًا لِلَّهِ، دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُؤُوسِ الْخَلَائِقِ “Barang siapa meninggalkan suatu syahwat padahal ia mampu melakukannya, karena tunduk kepada Allah, niscaya Allah akan memanggilnya pada hari Kiamat di hadapan seluruh makhluk.” (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitabnya At-Tarikh 6/2/101). Diriwayatkan juga dari Hudzaifah bin Al-Yaman bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: النَّظْرَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ مَسْمُومٌ، مَنْ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللَّهِ أَثَابَهُ اللَّهُ إِيمَانًا يَجِدُ حَلَاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ “Pandangan kepada perempuan adalah salah satu anak panah Iblis yang beracun; siapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, niscaya Allah akan memberinya iman yang ia merasakan manisnya di dalam hatinya.” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak jilid 4 hlm. 313, Al-Qudha’i dalam kitabnya Al-Musnad jilid 1 hlm. 195, dan Ath-Thabrani dalam Al-Kabir no. 10362). Wahai saudara-saudaraku tercinta! Perhatikanlah kisah seorang sahabat Nabi yang mulia ini, Shuhaib Ar-Rumi Radhiyallahu ‘anhu, seorang lelaki yang punya harta melimpah ketika di Makkah. Ketika kaum Musyrikin semakin gencar menzaliminya, ia memutuskan untuk berhijrah ke Madinah, meninggalkan harta dan keluarganya di Makkah karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan keridhaan-Nya. Allah memberinya ganti yang lebih baik di akhirat, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikannya termasuk penghuni surga, dengan karunia dan rahmat-Nya. Ada beberapa ayat Al-Qur’an yang diturunkan berkaitan dengan shuhaib dan orang-orang yang berhijrah lainnya, yang meninggalkan dunia demi meraih keridhaan Allah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya demi mencari keridhaan Allah.” (QS. Al-Baqarah: 207). Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam pun bersabda kepadanya: “Wahai Abu Yahya, ini jual beli yang menguntungkan!” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dan beliau menilai hadis ini sahih memenuhi syarat keshahihan Imam Muslim). Perhatikanlah kisah Nabi Yusuf Alaihissalam yang meninggalkan kenikmatan dan perhiasan dunia, menolak untuk terjerumus ke dalam kemaksiatan meskipun godaannya begitu besar, dan beliau lebih memilih dipenjara daripada mengkhianati amanah yang diembannya. Beliau berkata:  قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ … فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ “Dia (Yusuf) berkata: ‘Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada apa yang mereka ajak aku kepadanya.’ maka Tuhannya mengabulkan doanya.” (QS. Yusuf: 33-34). Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengabulkan doa beliau dan memberi ganti bagi beliau dengan hal yang lebih baik, memberinya kekuasaan di bumi dan kedudukan yang tinggi. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَكَذَلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الأَرْضِ … وَلاَ نُضِيعُ أَجْرَ المُحْسِنِينَ “Dan demikianlah Kami memberi kedudukan (kekuasaan) kepada Yusuf di negeri itu, dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 56). Memberi kelonggaran bagi orang yang kesulitan, maka Allah memberi ampunan baginya Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bahwa beliau bersabda: كَانَ رَجُلٌ يُدَايِنُ النَّاسَ، فَكَانَ يَقُولُ لِفَتَاهُ: إِذَا جِئْتَ مُعْسِرًا فَتَجَاوَزْ عَنْهُ، لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَتَجَاوَزَ عَنَّا. قَالَ: فَلَقِيَ اللَّهَ فَتَجَاوَزَ عَنْهُ “Dahulu ada seorang lelaki yang memberi pinjaman kepada orang-orang. Ia berkata kepada pembantunya: ‘Jika engkau mendatangi orang yang kesulitan (tidak mampu membayar utangnya), maka maafkanlah dia, semoga Allah memaafkan kita.’ Maka ketika ia telah berjumpa dengan Allah, Allah pun memaafkannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain, dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: إِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَلَقَّتْ رُوحَ رَجُلٍ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَقَالُوا لَهُ: هَلْ عَمِلْتَ خَيْرًا قَطُّ؟ قَالَ: لَا. قَالُوا: تَذَكَّرْ. قَالَ: لَا، إِلَّا أَنِّي كُنْتُ أُدَايِنُ النَّاسَ، فَكُنْتُ آمُرُ فِتْيَانِي أَنْ يُنْظِرُوا الْمُوسِرَ، وَيَتَجَاوَزُوا عَنِ الْمُعْسِرِ. قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: تَجَاوَزُوا عَنْهُ “Sungguh para malaikat menyambut ruh seorang lelaki dari umat sebelum kalian. Mereka berkata kepadanya: ‘Apakah engkau pernah melakukan suatu kebaikan?’ Ia menjawab: ‘Tidak.’ Mereka berkata: ‘Coba ingat kembali.’ Ia menjawab: ‘Tidak, kecuali aku dahulu memberi pinjaman kepada orang-orang, aku memerintahkan para pembantuku agar memberi kelonggaran kepada orang yang mampu dan memaafkan orang yang kesulitan membayar.’ Lalu Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: ‘Maafkanlah dia.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Wahai saudara-saudaraku yang tercinta! Janganlah takut meninggalkan sesuatu karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena Allah tidak akan mengecewakan harapan orang yang telah bertawakal kepada-Nya. Dia tidak akan memberi ganti bagi hamba-Nya kecuali dengan yang lebih baik, maka kuatkanlah tekad kita dalam meninggalkan hal-hal yang mengundang kemurkaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan besarkanlah keyakinanmu bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberi ganti bagi kita dengan sesuatu yang lebih baik daripada yang telah hilang dari kita. Kita memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang memperhatikan ucapan dan mengikuti yang terbaiknya, menolong kita dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya, dan mengaruniakan kepada kita surga tertinggi, surga Firdaus tanpa hisab. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa melimpahkan salawat dan salam kepada Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/1001/180455/من-ترك-شيئا-لله-عوضه-الله-خيرا-منه/ Sumber artikel PDF 🔍 Sudah Sholat Belum, Insya Allah, Allah In Arabic, Arti Surat Almaidah Ayat 51, Ayat Ayat Rukiah Visited 1,628 times, 3 visit(s) today Post Views: 248 QRIS donasi Yufid
Oleh: Dr. Amir bin Muhammad al-Mudari Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi dan Rasul yang paling mulia, Nabi Muhammad, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Amma ba’du: Wahai saudara-saudaraku tercinta! Berapa kali kita melalui momen-momen yang memaksa kita untuk meninggalkan sesuatu yang kita sukai atau kita sudah nyaman dengan hal itu, dan kita mungkin sudah meninggalkannya dengan rasa harap mendapat keridhaan Allah? Apakah kita pernah memikirkan tentang ganti yang Allah janjikan kepada kita atas kehilangan itu? Seperti yang disebutkan dalam satu atsar:  مَنْ تَرَكَ شَيْئًا لِلَّهِ عَوَّضَهُ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ “Barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya.” Wahai saudara-saudaraku yang saya cintai karena Allah! Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menjanjikan bagi para hamba-Nya yang saleh, siapa yang meninggalkan sesuatu di jalan-Nya, baik itu berupa harta, gejolak nafsu, kebiasaan, atau dosa, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberinya ganti dengan sesuatu yang lebih baik, ganti yang tidak tertandingi nilainya daripada dengan sesuatu yang hilang. Bisa jadi ganti itu diberikan di dunia atau di akhirat, dan ganti terbaiknya selalu kita harapkan berupa ganjaran terbesar di surga. Diriwayatkan dalam hadis shahih dari Abu Qatadah dan Abu Ad-Dahma’ bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah bersabda: إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا اتِّقَاءَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا أَعْطَاكَ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ “Sungguh tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, melainkan Allah akan memberimu yang lebih baik darinya.” (Musnad Imam Ahmad jilid 5 hlm. 363). Wahai saudara-saudara! Janji yang agung ini memberi kita semangat untuk bersabar dan berani berkorban dalam menjauhi hal-hal yang diharamkan dan menjauhi syahwat-syahwat yang menjauhkan kita dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebesar apa pun kerugian duniawi yang dapat menimpa kita, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan ganjaran orang yang berbuat baik. Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim terdapat riwayat dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: إِذَا أَرَادَ عَبْدِي أَنْ يَعْمَلَ سَيِّئَةً فَلَا تَكْتُبُوهَا عَلَيْهِ حَتَّى يَعْمَلَهَا، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا بِمِثْلِهَا، وَإِنْ تَرَكَهَا مِنْ أَجْلِي فَاكْتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً. وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَعْمَلَ حَسَنَةً فَلَمْ يَعْمَلْهَا فَاكْتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا لَهُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ “Allah berfirman: ‘Apabila hamba-Ku berniat melakukan kejahatan, maka janganlah kalian mencatatnya hingga ia melakukannya. Jika ia melakukannya, catatlah satu kejahatan yang sepadan. Namun jika ia meninggalkannya karena Aku, catatlah baginya satu kebaikan. Dan apabila ia berniat melakukan kebaikan tapi belum melakukannya, catatlah baginya satu kebaikan. Jika ia benar-benar melakukannya, catatlah baginya sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Inilah janji dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang akan mengganti dengan kebaikan yang melimpah bagi hamba yang meninggalkan dosa karena mengharap keridhaan-Nya. Inilah bentuk kemurahan agung dari Tuhan kita. Diriwayatkan juga dari Sahal bin Muadz bin Anas Al-Juhani dari ayahnya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَنْ تَرَكَ اللِّبَاسَ تَوَاضُعًا لِلَّهِ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهِ، دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُؤُوسِ الْخَلَائِقِ، حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنْ أَيِّ حُلَلِ الْإِيمَانِ شَاءَ يَلْبَسُهَا “Barang siapa meninggalkan pakaian (yang mewah) karena tunduk kepada Allah padahal ia mampu memakainya, Allah akan memanggilnya pada hari Kiamat di hadapan seluruh makhluk, lalu memberinya pilihan dari pakaian-pakaian iman mana saja yang ingin ia kenakan.” (HR. At-Tirmidzi 2/79, Al-Hakim 4/183, Ahmad 3/439).  Diriwayatkan dari Sahal juga dari ayahnya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَنْ تَرَكَ شَهْوَةً وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهَا تَوَاضُعًا لِلَّهِ، دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُؤُوسِ الْخَلَائِقِ “Barang siapa meninggalkan suatu syahwat padahal ia mampu melakukannya, karena tunduk kepada Allah, niscaya Allah akan memanggilnya pada hari Kiamat di hadapan seluruh makhluk.” (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitabnya At-Tarikh 6/2/101). Diriwayatkan juga dari Hudzaifah bin Al-Yaman bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: النَّظْرَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ مَسْمُومٌ، مَنْ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللَّهِ أَثَابَهُ اللَّهُ إِيمَانًا يَجِدُ حَلَاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ “Pandangan kepada perempuan adalah salah satu anak panah Iblis yang beracun; siapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, niscaya Allah akan memberinya iman yang ia merasakan manisnya di dalam hatinya.” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak jilid 4 hlm. 313, Al-Qudha’i dalam kitabnya Al-Musnad jilid 1 hlm. 195, dan Ath-Thabrani dalam Al-Kabir no. 10362). Wahai saudara-saudaraku tercinta! Perhatikanlah kisah seorang sahabat Nabi yang mulia ini, Shuhaib Ar-Rumi Radhiyallahu ‘anhu, seorang lelaki yang punya harta melimpah ketika di Makkah. Ketika kaum Musyrikin semakin gencar menzaliminya, ia memutuskan untuk berhijrah ke Madinah, meninggalkan harta dan keluarganya di Makkah karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan keridhaan-Nya. Allah memberinya ganti yang lebih baik di akhirat, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikannya termasuk penghuni surga, dengan karunia dan rahmat-Nya. Ada beberapa ayat Al-Qur’an yang diturunkan berkaitan dengan shuhaib dan orang-orang yang berhijrah lainnya, yang meninggalkan dunia demi meraih keridhaan Allah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya demi mencari keridhaan Allah.” (QS. Al-Baqarah: 207). Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam pun bersabda kepadanya: “Wahai Abu Yahya, ini jual beli yang menguntungkan!” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dan beliau menilai hadis ini sahih memenuhi syarat keshahihan Imam Muslim). Perhatikanlah kisah Nabi Yusuf Alaihissalam yang meninggalkan kenikmatan dan perhiasan dunia, menolak untuk terjerumus ke dalam kemaksiatan meskipun godaannya begitu besar, dan beliau lebih memilih dipenjara daripada mengkhianati amanah yang diembannya. Beliau berkata:  قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ … فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ “Dia (Yusuf) berkata: ‘Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada apa yang mereka ajak aku kepadanya.’ maka Tuhannya mengabulkan doanya.” (QS. Yusuf: 33-34). Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengabulkan doa beliau dan memberi ganti bagi beliau dengan hal yang lebih baik, memberinya kekuasaan di bumi dan kedudukan yang tinggi. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَكَذَلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الأَرْضِ … وَلاَ نُضِيعُ أَجْرَ المُحْسِنِينَ “Dan demikianlah Kami memberi kedudukan (kekuasaan) kepada Yusuf di negeri itu, dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 56). Memberi kelonggaran bagi orang yang kesulitan, maka Allah memberi ampunan baginya Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bahwa beliau bersabda: كَانَ رَجُلٌ يُدَايِنُ النَّاسَ، فَكَانَ يَقُولُ لِفَتَاهُ: إِذَا جِئْتَ مُعْسِرًا فَتَجَاوَزْ عَنْهُ، لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَتَجَاوَزَ عَنَّا. قَالَ: فَلَقِيَ اللَّهَ فَتَجَاوَزَ عَنْهُ “Dahulu ada seorang lelaki yang memberi pinjaman kepada orang-orang. Ia berkata kepada pembantunya: ‘Jika engkau mendatangi orang yang kesulitan (tidak mampu membayar utangnya), maka maafkanlah dia, semoga Allah memaafkan kita.’ Maka ketika ia telah berjumpa dengan Allah, Allah pun memaafkannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain, dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: إِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَلَقَّتْ رُوحَ رَجُلٍ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَقَالُوا لَهُ: هَلْ عَمِلْتَ خَيْرًا قَطُّ؟ قَالَ: لَا. قَالُوا: تَذَكَّرْ. قَالَ: لَا، إِلَّا أَنِّي كُنْتُ أُدَايِنُ النَّاسَ، فَكُنْتُ آمُرُ فِتْيَانِي أَنْ يُنْظِرُوا الْمُوسِرَ، وَيَتَجَاوَزُوا عَنِ الْمُعْسِرِ. قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: تَجَاوَزُوا عَنْهُ “Sungguh para malaikat menyambut ruh seorang lelaki dari umat sebelum kalian. Mereka berkata kepadanya: ‘Apakah engkau pernah melakukan suatu kebaikan?’ Ia menjawab: ‘Tidak.’ Mereka berkata: ‘Coba ingat kembali.’ Ia menjawab: ‘Tidak, kecuali aku dahulu memberi pinjaman kepada orang-orang, aku memerintahkan para pembantuku agar memberi kelonggaran kepada orang yang mampu dan memaafkan orang yang kesulitan membayar.’ Lalu Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: ‘Maafkanlah dia.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Wahai saudara-saudaraku yang tercinta! Janganlah takut meninggalkan sesuatu karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena Allah tidak akan mengecewakan harapan orang yang telah bertawakal kepada-Nya. Dia tidak akan memberi ganti bagi hamba-Nya kecuali dengan yang lebih baik, maka kuatkanlah tekad kita dalam meninggalkan hal-hal yang mengundang kemurkaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan besarkanlah keyakinanmu bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberi ganti bagi kita dengan sesuatu yang lebih baik daripada yang telah hilang dari kita. Kita memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang memperhatikan ucapan dan mengikuti yang terbaiknya, menolong kita dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya, dan mengaruniakan kepada kita surga tertinggi, surga Firdaus tanpa hisab. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa melimpahkan salawat dan salam kepada Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/1001/180455/من-ترك-شيئا-لله-عوضه-الله-خيرا-منه/ Sumber artikel PDF 🔍 Sudah Sholat Belum, Insya Allah, Allah In Arabic, Arti Surat Almaidah Ayat 51, Ayat Ayat Rukiah Visited 1,628 times, 3 visit(s) today Post Views: 248 QRIS donasi Yufid


Oleh: Dr. Amir bin Muhammad al-Mudari Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi dan Rasul yang paling mulia, Nabi Muhammad, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Amma ba’du: Wahai saudara-saudaraku tercinta! Berapa kali kita melalui momen-momen yang memaksa kita untuk meninggalkan sesuatu yang kita sukai atau kita sudah nyaman dengan hal itu, dan kita mungkin sudah meninggalkannya dengan rasa harap mendapat keridhaan Allah? Apakah kita pernah memikirkan tentang ganti yang Allah janjikan kepada kita atas kehilangan itu? Seperti yang disebutkan dalam satu atsar:  مَنْ تَرَكَ شَيْئًا لِلَّهِ عَوَّضَهُ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ “Barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya.” Wahai saudara-saudaraku yang saya cintai karena Allah! Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menjanjikan bagi para hamba-Nya yang saleh, siapa yang meninggalkan sesuatu di jalan-Nya, baik itu berupa harta, gejolak nafsu, kebiasaan, atau dosa, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberinya ganti dengan sesuatu yang lebih baik, ganti yang tidak tertandingi nilainya daripada dengan sesuatu yang hilang. Bisa jadi ganti itu diberikan di dunia atau di akhirat, dan ganti terbaiknya selalu kita harapkan berupa ganjaran terbesar di surga. Diriwayatkan dalam hadis shahih dari Abu Qatadah dan Abu Ad-Dahma’ bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah bersabda: إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا اتِّقَاءَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا أَعْطَاكَ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ “Sungguh tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, melainkan Allah akan memberimu yang lebih baik darinya.” (Musnad Imam Ahmad jilid 5 hlm. 363). Wahai saudara-saudara! Janji yang agung ini memberi kita semangat untuk bersabar dan berani berkorban dalam menjauhi hal-hal yang diharamkan dan menjauhi syahwat-syahwat yang menjauhkan kita dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebesar apa pun kerugian duniawi yang dapat menimpa kita, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan ganjaran orang yang berbuat baik. Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim terdapat riwayat dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: إِذَا أَرَادَ عَبْدِي أَنْ يَعْمَلَ سَيِّئَةً فَلَا تَكْتُبُوهَا عَلَيْهِ حَتَّى يَعْمَلَهَا، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا بِمِثْلِهَا، وَإِنْ تَرَكَهَا مِنْ أَجْلِي فَاكْتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً. وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَعْمَلَ حَسَنَةً فَلَمْ يَعْمَلْهَا فَاكْتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا لَهُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ “Allah berfirman: ‘Apabila hamba-Ku berniat melakukan kejahatan, maka janganlah kalian mencatatnya hingga ia melakukannya. Jika ia melakukannya, catatlah satu kejahatan yang sepadan. Namun jika ia meninggalkannya karena Aku, catatlah baginya satu kebaikan. Dan apabila ia berniat melakukan kebaikan tapi belum melakukannya, catatlah baginya satu kebaikan. Jika ia benar-benar melakukannya, catatlah baginya sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Inilah janji dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang akan mengganti dengan kebaikan yang melimpah bagi hamba yang meninggalkan dosa karena mengharap keridhaan-Nya. Inilah bentuk kemurahan agung dari Tuhan kita. Diriwayatkan juga dari Sahal bin Muadz bin Anas Al-Juhani dari ayahnya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَنْ تَرَكَ اللِّبَاسَ تَوَاضُعًا لِلَّهِ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهِ، دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُؤُوسِ الْخَلَائِقِ، حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنْ أَيِّ حُلَلِ الْإِيمَانِ شَاءَ يَلْبَسُهَا “Barang siapa meninggalkan pakaian (yang mewah) karena tunduk kepada Allah padahal ia mampu memakainya, Allah akan memanggilnya pada hari Kiamat di hadapan seluruh makhluk, lalu memberinya pilihan dari pakaian-pakaian iman mana saja yang ingin ia kenakan.” (HR. At-Tirmidzi 2/79, Al-Hakim 4/183, Ahmad 3/439).  Diriwayatkan dari Sahal juga dari ayahnya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَنْ تَرَكَ شَهْوَةً وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهَا تَوَاضُعًا لِلَّهِ، دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُؤُوسِ الْخَلَائِقِ “Barang siapa meninggalkan suatu syahwat padahal ia mampu melakukannya, karena tunduk kepada Allah, niscaya Allah akan memanggilnya pada hari Kiamat di hadapan seluruh makhluk.” (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitabnya At-Tarikh 6/2/101). Diriwayatkan juga dari Hudzaifah bin Al-Yaman bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: النَّظْرَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ مَسْمُومٌ، مَنْ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللَّهِ أَثَابَهُ اللَّهُ إِيمَانًا يَجِدُ حَلَاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ “Pandangan kepada perempuan adalah salah satu anak panah Iblis yang beracun; siapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, niscaya Allah akan memberinya iman yang ia merasakan manisnya di dalam hatinya.” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak jilid 4 hlm. 313, Al-Qudha’i dalam kitabnya Al-Musnad jilid 1 hlm. 195, dan Ath-Thabrani dalam Al-Kabir no. 10362). Wahai saudara-saudaraku tercinta! Perhatikanlah kisah seorang sahabat Nabi yang mulia ini, Shuhaib Ar-Rumi Radhiyallahu ‘anhu, seorang lelaki yang punya harta melimpah ketika di Makkah. Ketika kaum Musyrikin semakin gencar menzaliminya, ia memutuskan untuk berhijrah ke Madinah, meninggalkan harta dan keluarganya di Makkah karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan keridhaan-Nya. Allah memberinya ganti yang lebih baik di akhirat, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikannya termasuk penghuni surga, dengan karunia dan rahmat-Nya. Ada beberapa ayat Al-Qur’an yang diturunkan berkaitan dengan shuhaib dan orang-orang yang berhijrah lainnya, yang meninggalkan dunia demi meraih keridhaan Allah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya demi mencari keridhaan Allah.” (QS. Al-Baqarah: 207). Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam pun bersabda kepadanya: “Wahai Abu Yahya, ini jual beli yang menguntungkan!” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dan beliau menilai hadis ini sahih memenuhi syarat keshahihan Imam Muslim). Perhatikanlah kisah Nabi Yusuf Alaihissalam yang meninggalkan kenikmatan dan perhiasan dunia, menolak untuk terjerumus ke dalam kemaksiatan meskipun godaannya begitu besar, dan beliau lebih memilih dipenjara daripada mengkhianati amanah yang diembannya. Beliau berkata:  قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ … فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ “Dia (Yusuf) berkata: ‘Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada apa yang mereka ajak aku kepadanya.’ maka Tuhannya mengabulkan doanya.” (QS. Yusuf: 33-34). Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengabulkan doa beliau dan memberi ganti bagi beliau dengan hal yang lebih baik, memberinya kekuasaan di bumi dan kedudukan yang tinggi. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَكَذَلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الأَرْضِ … وَلاَ نُضِيعُ أَجْرَ المُحْسِنِينَ “Dan demikianlah Kami memberi kedudukan (kekuasaan) kepada Yusuf di negeri itu, dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 56). Memberi kelonggaran bagi orang yang kesulitan, maka Allah memberi ampunan baginya Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bahwa beliau bersabda: كَانَ رَجُلٌ يُدَايِنُ النَّاسَ، فَكَانَ يَقُولُ لِفَتَاهُ: إِذَا جِئْتَ مُعْسِرًا فَتَجَاوَزْ عَنْهُ، لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَتَجَاوَزَ عَنَّا. قَالَ: فَلَقِيَ اللَّهَ فَتَجَاوَزَ عَنْهُ “Dahulu ada seorang lelaki yang memberi pinjaman kepada orang-orang. Ia berkata kepada pembantunya: ‘Jika engkau mendatangi orang yang kesulitan (tidak mampu membayar utangnya), maka maafkanlah dia, semoga Allah memaafkan kita.’ Maka ketika ia telah berjumpa dengan Allah, Allah pun memaafkannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain, dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: إِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَلَقَّتْ رُوحَ رَجُلٍ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَقَالُوا لَهُ: هَلْ عَمِلْتَ خَيْرًا قَطُّ؟ قَالَ: لَا. قَالُوا: تَذَكَّرْ. قَالَ: لَا، إِلَّا أَنِّي كُنْتُ أُدَايِنُ النَّاسَ، فَكُنْتُ آمُرُ فِتْيَانِي أَنْ يُنْظِرُوا الْمُوسِرَ، وَيَتَجَاوَزُوا عَنِ الْمُعْسِرِ. قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: تَجَاوَزُوا عَنْهُ “Sungguh para malaikat menyambut ruh seorang lelaki dari umat sebelum kalian. Mereka berkata kepadanya: ‘Apakah engkau pernah melakukan suatu kebaikan?’ Ia menjawab: ‘Tidak.’ Mereka berkata: ‘Coba ingat kembali.’ Ia menjawab: ‘Tidak, kecuali aku dahulu memberi pinjaman kepada orang-orang, aku memerintahkan para pembantuku agar memberi kelonggaran kepada orang yang mampu dan memaafkan orang yang kesulitan membayar.’ Lalu Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: ‘Maafkanlah dia.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Wahai saudara-saudaraku yang tercinta! Janganlah takut meninggalkan sesuatu karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena Allah tidak akan mengecewakan harapan orang yang telah bertawakal kepada-Nya. Dia tidak akan memberi ganti bagi hamba-Nya kecuali dengan yang lebih baik, maka kuatkanlah tekad kita dalam meninggalkan hal-hal yang mengundang kemurkaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan besarkanlah keyakinanmu bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberi ganti bagi kita dengan sesuatu yang lebih baik daripada yang telah hilang dari kita. Kita memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang memperhatikan ucapan dan mengikuti yang terbaiknya, menolong kita dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya, dan mengaruniakan kepada kita surga tertinggi, surga Firdaus tanpa hisab. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa melimpahkan salawat dan salam kepada Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/1001/180455/من-ترك-شيئا-لله-عوضه-الله-خيرا-منه/ Sumber artikel PDF 🔍 Sudah Sholat Belum, Insya Allah, Allah In Arabic, Arti Surat Almaidah Ayat 51, Ayat Ayat Rukiah Visited 1,628 times, 3 visit(s) today Post Views: 248 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Mendidik Jiwa Sosial di Bulan Ramadan

Daftar Isi ToggleKeteladanan jiwa sosial Nabi ﷺ di bulan RamadanRamadan mendidik kita untuk semangat berbagiMembantu orang-orang yang sedang berpuasa, salat, dan berzikir agar ibadah mereka semakin lancarBulan Ramadan adalah bulan di mana Allah melimpahkan pemberian-Nya kepada para hamba-NyaMenggabungkan puasa dengan sedekah merupakan faktor masuknya seseorang ke surgaMenolong sesama muslim agar bisa fokus beribadah dengan memenuhi kebutuhan duniawinyaPendidikan empati dengan berbuka puasa bersamaJiwa sosial para salaf di bulan RamadanBulan Ramadan mengandung banyak keberkahan dan juga tuntutan pendidikan. Salah satu hasil dari madrasah Ramadan adalah tumbuhnya jiwa sosial dan semangat kedermawanan bagi para ahli Ramadan. Menumbuhkan empati dan jiwa sosial adalah salah satu tujuan dari diistimewakannya bulan Ramadan. Salah seorang salaf pernah ditanya, “Mengapa puasa disyariatkan?” la lantas menjawab,ليذوق الغني طعم الجوع فلا ينسى الجائع“Agar orang yang kaya dapat merasakan lapar, sehingga ia tidak lupa kepada orang yang lapar.” (Lathaiful Maarif, hal. 168)Ini termasuk salah satu hikmah dan faidah puasa. Sebagaimana dalam hadis dari Salman yang dinilai lemah, tetapi diambil sebagian ulama untuk menjelaskan Ramadan, yang mana disebutkan,وهو شهر المواساة“Ramadan adalah bulan empati.”Hadis Salman ini adalah hadis yang banyak disebutkan dalam motivasi meningkatkan kedermawanan dan jiwa sosial di bulan Ramadan. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya, dari Salman secara marfu’, perihal keutamaan bulan Ramadan,وهو شهر المواساة وشهر يزاد فيه في رزق المؤمن من فطر فيه صائما كان مغفرة لذنوبه وعتق رقبته من النار وكان له مثل أجره من غير أن ينقص من أجره شيء“Ia adalah bulan empati (terhadap fakir miskin). Bulan di mana rezeki orang mukmin ditambah. Siapa saja yang memberi makan (untuk buka puasa) bagi orang berpuasa di bulan tersebut, itu akan menjadi pengampunan bagi dosa-dosanya dan pembebas dari api neraka. la mendapatkan pahala orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang puasa itu sedikit pun.”Hadis ini secara sanadnya lemah, sehingga tidak bisa disandarkan kepada Nabi ﷺ. Namun, masing-masing isi hadis di atas didukung oleh riwayat yang lainnya. Termasuk Syekh Bin Baz rahimahullah, ketika beliau menjelaskan hadis ini, beliau menggunakan ungkapan berikut dalam keterangannya,فقد ثبت عن رسول الله ﷺ في هذا الشهر الكريم -شهر رمضان- من الأحاديث الكثيرة ما يدل على عظم شأنه، وأنه شهر المواساة، وشهر الإحسان، وشهر الصدقات، وشهر المسارعة إلى الطاعات والمنافسة في أنواع الخير“Telah diriwayatkan secara sahih dari Rasulullah ﷺ mengenai bulan yang diberkahi, yakni Ramadan, bahwa terdapat banyak hadis yang menunjukkan betapa pentingnya bulan ini, dan bahwa bulan ini adalah bulan kasih sayang, bulan kebajikan, bulan sedekah, dan bulan untuk bersegera melaksanakan amal ketaatan dan berlomba-lomba dalam segala macam perbuatan baik.” (Syarah Wazhaif Ramadan 01) [1]Sebelumnya, Syekh Bin Baz rahimahullah memberikan keterangan,وهكذا ما جاء في حديث سلمان أن الرسول الكريم كان يبشر أصحابه له شواهد، وإن كان في حديث سلمان انقطاع وضعف لكن له شواهد تقدم بعضها“Oleh karena itu, apa yang disebutkan dalam hadis Salman (dalam riwayat Ibnu Khuzaimah), bahwa Rasulullah ﷺ biasa menyampaikan kabar gembira kepada para sahabatnya, memiliki bukti pendukung. Meskipun hadis Salman tersebut terputus dan lemah, tetapi tetap memiliki bukti pendukung, sebagian di antaranya telah disebutkan sebelumnya.”Keteladanan jiwa sosial Nabi ﷺ di bulan RamadanSuri tauladan kita, Rasulullah ﷺ juga meningkatkan kedermawanan beliau di bulan Ramadan, disebabkan beliau banyak bertemu dengan Jibril alaihissalam untuk belajar Al-Qur’an. Sedangkan Al-Qur’an adalah kitab yang menghimbau kepada akhlak-akhlak mulia dan sifat dermawan.كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم أجودَ الناسِ بالخيرِ ، وكان أجودَ ما يكون في شهرِ رمضانَ حتى ينسلِخَ ، فيأتيه جبريلُ فيعرضُ عليه القرآنَ ، فإذا لقِيَه جبريلُ كان رسولُ اللهِ أجودَ بالخيرِ من الرِّيحِ الْمُرسَلَةِ“Baginda Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan–bersemangat dalam menebar kebaikan. Dan kedermawanan beliau ﷺ memuncak pada bulan Ramadan hingga berakhir ketika Jibril datang kepadanya dan membacakan Al-Quran kepadanya. Ketika Jibril bertemu dengannya, Rasulullah ﷺ menjadi begitu dermawan melebihi hembusan angin kencang.” (HR. Bukhari dan Muslim)Bahkan levelnya Nabi ﷺ itu tidak sekadar semangat berbagi, tetapi juga berbahagia ketika berbagi. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan sifat Nabi ﷺ,وَكَانَ الْعَطَاءُ وَالصَّدَقَةُ أَحَبَّ شَيْءٍ إِلَيْهِ، وَكَانَ سُرُورُهُ وَفَرَحُهُ بِمَا يُعْطِيهِ أَعْظَمَ مِنْ سُرُورِ الْآخِذِ بِمَا يَأْخُذُهُ“Memberi dan bersedekah adalah perkara yang paling Nabi ﷺ sukai. Dan kegembiraan serta kebahagiaan Nabi ﷺ ketika memberi lebih besar daripada kegembiraan si penerima atas apa yang ia terima.” (Zaadul Ma’ad, 2: 22) [2]Inilah satu level yang perlu kita capai: menjadi orang yang berbahagia ketika berbagi. Bagi kita, ada banyak letak kebahagiaan yang diraih di sana. Salah satunya juga adalah kebahagiaan mencocoki sunah Nabi ﷺ dalam bersemangat berkontribusi sosial dan berbahagia dengan hal tersebut.Ramadan mendidik kita untuk semangat berbagiAda banyak motivasi yang tersebar dalam bulan Ramadan agar manusia meningkatkan jiwa sosialnya. Ibnu Rajab rahimahullah mengumpulkan beberapa di antaranya yang akan disebutkan setelah ini. Salah satunya adalah mengenai momentum bulan Ramadan yang istimewa. Bulan Ramadan adalah bulan mulia, ketika semua amal dilipatgandakan pahalanya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Anas secara marfu’ disebutkan,أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ صَدَقَةٌ فِي رَمَضَانَ“Sebaik-baik sedekah adalah sedekah di bulan Ramadan.”Hadis ini dinilai lemah oleh para ulama, di antaranya oleh Al-Albani dalam Dha’if Al-Jami’ Ash-Shagir (no. 1117), kami tidak temukan satupun riwayat yang berderajat lebih tinggi. Namun, riwayat ini berselarasan dengan hadis yang sahih dalam Ash-Shahihain, berkaitan dengan sifat kedermawanan Nabi ﷺ yang memuncak di bulan Ramadan. Menurut Syekh Shalih Al-Ushaimy hafizhahullah, kandungan hadis riwayat Tirmidzi ini berselarasan dengan praktik Nabi ﷺ di bulan Ramadan; dan karena itu, seorang muslim dianjurkan untuk memperbanyak amalan sedekah di bulan Ramadan. [3]Membantu orang-orang yang sedang berpuasa, salat, dan berzikir agar ibadah mereka semakin lancarSebagaimana orang yang membantu menyiapkan bekal orang yang berangkat berperang, sama saja ia telah ikut berperang. Begitu juga, siapa saja yang menjaga keluarga orang yang berperang dengan baik, sama saja ia telah ikut berperang. Perbuatan inilah yang kita harapkan pahalanya selama bulan Ramadan. Dalam sebuah hadis dari Zaid bin Khalid, Nabi ﷺ bersabda,مَنْ فَطَرَ صَائِمًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ“Barangsiapa memberi makanan buka untuk orang yang berpuasa, ia juga mendapatkan pahala seperti pahala orang puasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang puasa itu sedikit pun.” (HR. Ahmad no. 116 dan Tirmidzi, dinilai hasan shahih)Bulan Ramadan adalah bulan di mana Allah melimpahkan pemberian-Nya kepada para hamba-NyaPemberian itu berupa rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Terlebih pada saat Lailatul Qadar tiba. Allah juga mengasihi para hamba-Nya yang mau memberi kasih sayang kepada orang lain. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ,إنما يرحم الله من عباده الرحماء“Sesungguhnya yang Allah kasihi hanyalah para hamba-Nya yang pengasih.”Barangsiapa gemar memberi kepada sesama hamba Allah, Allah pun akan banyak memberikan rahmat dan karunia kepadanya. Dan ganjaran itu sesuai dengan jenis amal.Menggabungkan puasa dengan sedekah merupakan faktor masuknya seseorang ke surgaSebagaimana disebutkan dalam hadis, Nabi ﷺ bersabda,إن في الجنة غرفا الجنة غرفا يرى ظهورها من بطونها من ظهورها قالوا: لمن هي يا رسول الله؟ قال: لمن طيب الكلام وأطعم الطعام وأدام الصيام وصلى بالليل والناس نيام“Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya terlihat dari dalam dan bagian dalamnya terlihat dari luar.” Para sahabat lantas bertanya, “Wahai Rasulullah, untuk siapakah bilik-bilik kamar itu?” Beliau bersabda, “Bagi siapa saja yang baik tutur katanya, suka memberi makan orang lain, rajin berpuasa, dan salat malam di saat manusia tidur.” (HR. Tirmidzi no. 1985, Adz-Dzahabi menilainya sahih)Menolong sesama muslim agar bisa fokus beribadah dengan memenuhi kebutuhan duniawinyaImam Asy-Syafii rahimahullah berkata,أحب للرجل الزيادة في الجود في شهر رمضان اقتداء برسول الله صلى الله عليه وسلم ولحاجة الناس فيه إلى مصالحهم ولتشاغل كثير منهم بالصوم والصلاة عن مكاسبهم“Aku menyukai seseorang meningkatkan kedermawanannya di bulan Ramadan dalam rangka meneladani Rasulullah ﷺ, dikarenakan manusia pada bulan tersebut memiliki banyak kebutuhan. Sementara manusia tersibukkan dengan berpuasa dan salat, sehingga tidak fokus terhadap pekerjaan mereka.” (Lathaiful Maarif, hal. 169)Ini juga merupakan pendapat yang disetujui oleh Al-Qadhi Abu Ya’la dari kalangan Hanabilah.Pendidikan empati dengan berbuka puasa bersamaIbnu Rajab rahimahullah dalam keterangan yang panjang menjelaskan bahwa dianjurkan untuk memberi menu berbuka kepada orang yang berpuasa dan dianjurkan untuk ikut berbuka bersamanya. Hal itu akan menumbuhkan empati yang lebih besar ditinjau dari dampak perbuatan tersebut kepada hati. Berbuka bersama dengan makanan yang disedekahkan menunjukkan bahwa makanan yang ia sedekahkan tersebut adalah makanan yang ia sukai, sehingga menghibur hati orang yang diberi. Dengan demikian, dia termasuk golongan orang-orang yang bersedekah dengan harta yang ia sukai.Hal itu juga sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah atas nikmat dibolehkannya kembali menikmati makanan dan minuman setelah sebelumnya terlarang, sebab nikmat makan dan minum itu benar-benar dapat dirasakan nilainya ketika kita dilarang menikmatinya. Contoh ini datang dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma; apabila beliau berpuasa, beliau tidak berbuka kecuali bersama orang-orang miskin. Jika keluarganya menghalanginya, ia pun tidak makan pada malam itu. Inilah derajat amalan berempati kepada orang lain.Jiwa sosial para salaf di bulan RamadanAda derajat yang lebih tinggi lagi dari sebuah empati, yakni mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingan pribadinya (itsar). Banyak sekali kaum salaf yang mengutamakan orang lain berbuka, meskipun mereka sendiri lapar. [4]Salah satu contohnya adalah kisah Imam Ahmad rahimahullah yang didatangi seorang pengemis ketika beliau berpuasa. Pengemis itu meminta makanan kepada Imam Ahmad. Imam Ahmad lantas memberikan kepadanya dua potong roti yang telah ia persiapkan untuk berbuka. Kemudian ia menahan lapar dan pagi harinya ia melanjutkan berpuasa.Pada riwayat lain dikisahkan, ketika Ibnu Umar radhiyallahu anhuma dimintai makanan yang sedang ia makan, ia lantas berdiri dan memberikan makanannya yang masih tersisa kepada peminta-minta tersebut. Kemudian ia pulang di saat keluarganya telah makan makanan yang tersisa dalam wadah. Lantas pagi harinya ia berpuasa, padahal malamnya ia tidak makan apa-apa.Dalam riwayat lain, Hasan biasa memberi makan saudara-saudaranya secara sukarela ketika ia berpuasa. la juga ikut duduk menyenangkan hati mereka di saat mereka makan. Ibnul Mubarak memberi makan saudara-saudaranya dalam perjalanan, seperti manisan dan lainnya; sementara dia sendiri berpuasa.Ada seorang saleh sedang menginginkan suatu makanan saat berpuasa. Tatkala berbuka, makanan yang ia inginkan itu dihidangkan di hadapannya. Tiba-tiba, ia mendengar seorang peminta-minta berkata, “Siapa yang mau meminjamkan hartanya kepada Yang Mahacepat Menepati, Yang Maha Melunasi, dan Mahakaya?”Orang saleh tersebut menjawab, “Hamba-Nya yang tidak memiliki amal kebaikan.” Kemudian ia berdiri mengambil piring makanan itu dan memberikannya kepada si peminta-minta. Sementara ia sendiri menjalani malam harinya dalam keadaan lapar.Semua ini didasarkan oleh semangat berbagi yang tumbuh atas dasar iman yang kuat dari para salaf terdahulu. Kita semua pasti merasakan beratnya melakukan apa yang diteladankan para salaf ini. Siapa di antara kita yang ketika ada makanan yang sudah kita nantikan sejak lama, terlebih di hari itu kita berpuasa, tetapi ketika kita hendak menikmatinya, ada orang yang menginginkannya, lantas kita memberikan makanan tersebut? Penulis rasa, jarang sekali yang berada di level demikian di hari ini. Namun, itulah esensi Ramadan yang diteladankan oleh baginda Nabi ﷺ, diikuti oleh para salaf, dan harusnya tertanam pada diri kita hari ini.Di masa kini, mudah bagi kita untuk melakukan kedermawanan. Upaya kebaikan itu dapat kita lakukan bahkan dari genggaman kita, berupa sedekah maupun semangat menebar kebaikan yang lain. Ini adalah zaman di mana amal perbuatan dipermudah, tetapi godaan untuk melalaikan kita pun besar pula. Maka, ini adalah bentuk jihad tersendiri bagi kita hari ini. Sebuah jihad melawan nafsu kita untuk menyepelekan amalan-amalan yang bisa kita kerjakan. Spirit menebar kebermanfaatan itu menuntut perwujudan amal dari kita semua.***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://binbaz.org.sa[2] https://www.islamweb.net/ar[3] Diambil dari status twitter resmi beliau https://x.com/Osaimi0543/status/1382474171691728897[4] Semua riwayat dalam subpembahasan ini dinukil dari Lathaiful Maarif, karya Ibnu Rajab rahimahullah.

Mendidik Jiwa Sosial di Bulan Ramadan

Daftar Isi ToggleKeteladanan jiwa sosial Nabi ﷺ di bulan RamadanRamadan mendidik kita untuk semangat berbagiMembantu orang-orang yang sedang berpuasa, salat, dan berzikir agar ibadah mereka semakin lancarBulan Ramadan adalah bulan di mana Allah melimpahkan pemberian-Nya kepada para hamba-NyaMenggabungkan puasa dengan sedekah merupakan faktor masuknya seseorang ke surgaMenolong sesama muslim agar bisa fokus beribadah dengan memenuhi kebutuhan duniawinyaPendidikan empati dengan berbuka puasa bersamaJiwa sosial para salaf di bulan RamadanBulan Ramadan mengandung banyak keberkahan dan juga tuntutan pendidikan. Salah satu hasil dari madrasah Ramadan adalah tumbuhnya jiwa sosial dan semangat kedermawanan bagi para ahli Ramadan. Menumbuhkan empati dan jiwa sosial adalah salah satu tujuan dari diistimewakannya bulan Ramadan. Salah seorang salaf pernah ditanya, “Mengapa puasa disyariatkan?” la lantas menjawab,ليذوق الغني طعم الجوع فلا ينسى الجائع“Agar orang yang kaya dapat merasakan lapar, sehingga ia tidak lupa kepada orang yang lapar.” (Lathaiful Maarif, hal. 168)Ini termasuk salah satu hikmah dan faidah puasa. Sebagaimana dalam hadis dari Salman yang dinilai lemah, tetapi diambil sebagian ulama untuk menjelaskan Ramadan, yang mana disebutkan,وهو شهر المواساة“Ramadan adalah bulan empati.”Hadis Salman ini adalah hadis yang banyak disebutkan dalam motivasi meningkatkan kedermawanan dan jiwa sosial di bulan Ramadan. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya, dari Salman secara marfu’, perihal keutamaan bulan Ramadan,وهو شهر المواساة وشهر يزاد فيه في رزق المؤمن من فطر فيه صائما كان مغفرة لذنوبه وعتق رقبته من النار وكان له مثل أجره من غير أن ينقص من أجره شيء“Ia adalah bulan empati (terhadap fakir miskin). Bulan di mana rezeki orang mukmin ditambah. Siapa saja yang memberi makan (untuk buka puasa) bagi orang berpuasa di bulan tersebut, itu akan menjadi pengampunan bagi dosa-dosanya dan pembebas dari api neraka. la mendapatkan pahala orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang puasa itu sedikit pun.”Hadis ini secara sanadnya lemah, sehingga tidak bisa disandarkan kepada Nabi ﷺ. Namun, masing-masing isi hadis di atas didukung oleh riwayat yang lainnya. Termasuk Syekh Bin Baz rahimahullah, ketika beliau menjelaskan hadis ini, beliau menggunakan ungkapan berikut dalam keterangannya,فقد ثبت عن رسول الله ﷺ في هذا الشهر الكريم -شهر رمضان- من الأحاديث الكثيرة ما يدل على عظم شأنه، وأنه شهر المواساة، وشهر الإحسان، وشهر الصدقات، وشهر المسارعة إلى الطاعات والمنافسة في أنواع الخير“Telah diriwayatkan secara sahih dari Rasulullah ﷺ mengenai bulan yang diberkahi, yakni Ramadan, bahwa terdapat banyak hadis yang menunjukkan betapa pentingnya bulan ini, dan bahwa bulan ini adalah bulan kasih sayang, bulan kebajikan, bulan sedekah, dan bulan untuk bersegera melaksanakan amal ketaatan dan berlomba-lomba dalam segala macam perbuatan baik.” (Syarah Wazhaif Ramadan 01) [1]Sebelumnya, Syekh Bin Baz rahimahullah memberikan keterangan,وهكذا ما جاء في حديث سلمان أن الرسول الكريم كان يبشر أصحابه له شواهد، وإن كان في حديث سلمان انقطاع وضعف لكن له شواهد تقدم بعضها“Oleh karena itu, apa yang disebutkan dalam hadis Salman (dalam riwayat Ibnu Khuzaimah), bahwa Rasulullah ﷺ biasa menyampaikan kabar gembira kepada para sahabatnya, memiliki bukti pendukung. Meskipun hadis Salman tersebut terputus dan lemah, tetapi tetap memiliki bukti pendukung, sebagian di antaranya telah disebutkan sebelumnya.”Keteladanan jiwa sosial Nabi ﷺ di bulan RamadanSuri tauladan kita, Rasulullah ﷺ juga meningkatkan kedermawanan beliau di bulan Ramadan, disebabkan beliau banyak bertemu dengan Jibril alaihissalam untuk belajar Al-Qur’an. Sedangkan Al-Qur’an adalah kitab yang menghimbau kepada akhlak-akhlak mulia dan sifat dermawan.كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم أجودَ الناسِ بالخيرِ ، وكان أجودَ ما يكون في شهرِ رمضانَ حتى ينسلِخَ ، فيأتيه جبريلُ فيعرضُ عليه القرآنَ ، فإذا لقِيَه جبريلُ كان رسولُ اللهِ أجودَ بالخيرِ من الرِّيحِ الْمُرسَلَةِ“Baginda Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan–bersemangat dalam menebar kebaikan. Dan kedermawanan beliau ﷺ memuncak pada bulan Ramadan hingga berakhir ketika Jibril datang kepadanya dan membacakan Al-Quran kepadanya. Ketika Jibril bertemu dengannya, Rasulullah ﷺ menjadi begitu dermawan melebihi hembusan angin kencang.” (HR. Bukhari dan Muslim)Bahkan levelnya Nabi ﷺ itu tidak sekadar semangat berbagi, tetapi juga berbahagia ketika berbagi. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan sifat Nabi ﷺ,وَكَانَ الْعَطَاءُ وَالصَّدَقَةُ أَحَبَّ شَيْءٍ إِلَيْهِ، وَكَانَ سُرُورُهُ وَفَرَحُهُ بِمَا يُعْطِيهِ أَعْظَمَ مِنْ سُرُورِ الْآخِذِ بِمَا يَأْخُذُهُ“Memberi dan bersedekah adalah perkara yang paling Nabi ﷺ sukai. Dan kegembiraan serta kebahagiaan Nabi ﷺ ketika memberi lebih besar daripada kegembiraan si penerima atas apa yang ia terima.” (Zaadul Ma’ad, 2: 22) [2]Inilah satu level yang perlu kita capai: menjadi orang yang berbahagia ketika berbagi. Bagi kita, ada banyak letak kebahagiaan yang diraih di sana. Salah satunya juga adalah kebahagiaan mencocoki sunah Nabi ﷺ dalam bersemangat berkontribusi sosial dan berbahagia dengan hal tersebut.Ramadan mendidik kita untuk semangat berbagiAda banyak motivasi yang tersebar dalam bulan Ramadan agar manusia meningkatkan jiwa sosialnya. Ibnu Rajab rahimahullah mengumpulkan beberapa di antaranya yang akan disebutkan setelah ini. Salah satunya adalah mengenai momentum bulan Ramadan yang istimewa. Bulan Ramadan adalah bulan mulia, ketika semua amal dilipatgandakan pahalanya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Anas secara marfu’ disebutkan,أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ صَدَقَةٌ فِي رَمَضَانَ“Sebaik-baik sedekah adalah sedekah di bulan Ramadan.”Hadis ini dinilai lemah oleh para ulama, di antaranya oleh Al-Albani dalam Dha’if Al-Jami’ Ash-Shagir (no. 1117), kami tidak temukan satupun riwayat yang berderajat lebih tinggi. Namun, riwayat ini berselarasan dengan hadis yang sahih dalam Ash-Shahihain, berkaitan dengan sifat kedermawanan Nabi ﷺ yang memuncak di bulan Ramadan. Menurut Syekh Shalih Al-Ushaimy hafizhahullah, kandungan hadis riwayat Tirmidzi ini berselarasan dengan praktik Nabi ﷺ di bulan Ramadan; dan karena itu, seorang muslim dianjurkan untuk memperbanyak amalan sedekah di bulan Ramadan. [3]Membantu orang-orang yang sedang berpuasa, salat, dan berzikir agar ibadah mereka semakin lancarSebagaimana orang yang membantu menyiapkan bekal orang yang berangkat berperang, sama saja ia telah ikut berperang. Begitu juga, siapa saja yang menjaga keluarga orang yang berperang dengan baik, sama saja ia telah ikut berperang. Perbuatan inilah yang kita harapkan pahalanya selama bulan Ramadan. Dalam sebuah hadis dari Zaid bin Khalid, Nabi ﷺ bersabda,مَنْ فَطَرَ صَائِمًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ“Barangsiapa memberi makanan buka untuk orang yang berpuasa, ia juga mendapatkan pahala seperti pahala orang puasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang puasa itu sedikit pun.” (HR. Ahmad no. 116 dan Tirmidzi, dinilai hasan shahih)Bulan Ramadan adalah bulan di mana Allah melimpahkan pemberian-Nya kepada para hamba-NyaPemberian itu berupa rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Terlebih pada saat Lailatul Qadar tiba. Allah juga mengasihi para hamba-Nya yang mau memberi kasih sayang kepada orang lain. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ,إنما يرحم الله من عباده الرحماء“Sesungguhnya yang Allah kasihi hanyalah para hamba-Nya yang pengasih.”Barangsiapa gemar memberi kepada sesama hamba Allah, Allah pun akan banyak memberikan rahmat dan karunia kepadanya. Dan ganjaran itu sesuai dengan jenis amal.Menggabungkan puasa dengan sedekah merupakan faktor masuknya seseorang ke surgaSebagaimana disebutkan dalam hadis, Nabi ﷺ bersabda,إن في الجنة غرفا الجنة غرفا يرى ظهورها من بطونها من ظهورها قالوا: لمن هي يا رسول الله؟ قال: لمن طيب الكلام وأطعم الطعام وأدام الصيام وصلى بالليل والناس نيام“Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya terlihat dari dalam dan bagian dalamnya terlihat dari luar.” Para sahabat lantas bertanya, “Wahai Rasulullah, untuk siapakah bilik-bilik kamar itu?” Beliau bersabda, “Bagi siapa saja yang baik tutur katanya, suka memberi makan orang lain, rajin berpuasa, dan salat malam di saat manusia tidur.” (HR. Tirmidzi no. 1985, Adz-Dzahabi menilainya sahih)Menolong sesama muslim agar bisa fokus beribadah dengan memenuhi kebutuhan duniawinyaImam Asy-Syafii rahimahullah berkata,أحب للرجل الزيادة في الجود في شهر رمضان اقتداء برسول الله صلى الله عليه وسلم ولحاجة الناس فيه إلى مصالحهم ولتشاغل كثير منهم بالصوم والصلاة عن مكاسبهم“Aku menyukai seseorang meningkatkan kedermawanannya di bulan Ramadan dalam rangka meneladani Rasulullah ﷺ, dikarenakan manusia pada bulan tersebut memiliki banyak kebutuhan. Sementara manusia tersibukkan dengan berpuasa dan salat, sehingga tidak fokus terhadap pekerjaan mereka.” (Lathaiful Maarif, hal. 169)Ini juga merupakan pendapat yang disetujui oleh Al-Qadhi Abu Ya’la dari kalangan Hanabilah.Pendidikan empati dengan berbuka puasa bersamaIbnu Rajab rahimahullah dalam keterangan yang panjang menjelaskan bahwa dianjurkan untuk memberi menu berbuka kepada orang yang berpuasa dan dianjurkan untuk ikut berbuka bersamanya. Hal itu akan menumbuhkan empati yang lebih besar ditinjau dari dampak perbuatan tersebut kepada hati. Berbuka bersama dengan makanan yang disedekahkan menunjukkan bahwa makanan yang ia sedekahkan tersebut adalah makanan yang ia sukai, sehingga menghibur hati orang yang diberi. Dengan demikian, dia termasuk golongan orang-orang yang bersedekah dengan harta yang ia sukai.Hal itu juga sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah atas nikmat dibolehkannya kembali menikmati makanan dan minuman setelah sebelumnya terlarang, sebab nikmat makan dan minum itu benar-benar dapat dirasakan nilainya ketika kita dilarang menikmatinya. Contoh ini datang dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma; apabila beliau berpuasa, beliau tidak berbuka kecuali bersama orang-orang miskin. Jika keluarganya menghalanginya, ia pun tidak makan pada malam itu. Inilah derajat amalan berempati kepada orang lain.Jiwa sosial para salaf di bulan RamadanAda derajat yang lebih tinggi lagi dari sebuah empati, yakni mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingan pribadinya (itsar). Banyak sekali kaum salaf yang mengutamakan orang lain berbuka, meskipun mereka sendiri lapar. [4]Salah satu contohnya adalah kisah Imam Ahmad rahimahullah yang didatangi seorang pengemis ketika beliau berpuasa. Pengemis itu meminta makanan kepada Imam Ahmad. Imam Ahmad lantas memberikan kepadanya dua potong roti yang telah ia persiapkan untuk berbuka. Kemudian ia menahan lapar dan pagi harinya ia melanjutkan berpuasa.Pada riwayat lain dikisahkan, ketika Ibnu Umar radhiyallahu anhuma dimintai makanan yang sedang ia makan, ia lantas berdiri dan memberikan makanannya yang masih tersisa kepada peminta-minta tersebut. Kemudian ia pulang di saat keluarganya telah makan makanan yang tersisa dalam wadah. Lantas pagi harinya ia berpuasa, padahal malamnya ia tidak makan apa-apa.Dalam riwayat lain, Hasan biasa memberi makan saudara-saudaranya secara sukarela ketika ia berpuasa. la juga ikut duduk menyenangkan hati mereka di saat mereka makan. Ibnul Mubarak memberi makan saudara-saudaranya dalam perjalanan, seperti manisan dan lainnya; sementara dia sendiri berpuasa.Ada seorang saleh sedang menginginkan suatu makanan saat berpuasa. Tatkala berbuka, makanan yang ia inginkan itu dihidangkan di hadapannya. Tiba-tiba, ia mendengar seorang peminta-minta berkata, “Siapa yang mau meminjamkan hartanya kepada Yang Mahacepat Menepati, Yang Maha Melunasi, dan Mahakaya?”Orang saleh tersebut menjawab, “Hamba-Nya yang tidak memiliki amal kebaikan.” Kemudian ia berdiri mengambil piring makanan itu dan memberikannya kepada si peminta-minta. Sementara ia sendiri menjalani malam harinya dalam keadaan lapar.Semua ini didasarkan oleh semangat berbagi yang tumbuh atas dasar iman yang kuat dari para salaf terdahulu. Kita semua pasti merasakan beratnya melakukan apa yang diteladankan para salaf ini. Siapa di antara kita yang ketika ada makanan yang sudah kita nantikan sejak lama, terlebih di hari itu kita berpuasa, tetapi ketika kita hendak menikmatinya, ada orang yang menginginkannya, lantas kita memberikan makanan tersebut? Penulis rasa, jarang sekali yang berada di level demikian di hari ini. Namun, itulah esensi Ramadan yang diteladankan oleh baginda Nabi ﷺ, diikuti oleh para salaf, dan harusnya tertanam pada diri kita hari ini.Di masa kini, mudah bagi kita untuk melakukan kedermawanan. Upaya kebaikan itu dapat kita lakukan bahkan dari genggaman kita, berupa sedekah maupun semangat menebar kebaikan yang lain. Ini adalah zaman di mana amal perbuatan dipermudah, tetapi godaan untuk melalaikan kita pun besar pula. Maka, ini adalah bentuk jihad tersendiri bagi kita hari ini. Sebuah jihad melawan nafsu kita untuk menyepelekan amalan-amalan yang bisa kita kerjakan. Spirit menebar kebermanfaatan itu menuntut perwujudan amal dari kita semua.***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://binbaz.org.sa[2] https://www.islamweb.net/ar[3] Diambil dari status twitter resmi beliau https://x.com/Osaimi0543/status/1382474171691728897[4] Semua riwayat dalam subpembahasan ini dinukil dari Lathaiful Maarif, karya Ibnu Rajab rahimahullah.
Daftar Isi ToggleKeteladanan jiwa sosial Nabi ﷺ di bulan RamadanRamadan mendidik kita untuk semangat berbagiMembantu orang-orang yang sedang berpuasa, salat, dan berzikir agar ibadah mereka semakin lancarBulan Ramadan adalah bulan di mana Allah melimpahkan pemberian-Nya kepada para hamba-NyaMenggabungkan puasa dengan sedekah merupakan faktor masuknya seseorang ke surgaMenolong sesama muslim agar bisa fokus beribadah dengan memenuhi kebutuhan duniawinyaPendidikan empati dengan berbuka puasa bersamaJiwa sosial para salaf di bulan RamadanBulan Ramadan mengandung banyak keberkahan dan juga tuntutan pendidikan. Salah satu hasil dari madrasah Ramadan adalah tumbuhnya jiwa sosial dan semangat kedermawanan bagi para ahli Ramadan. Menumbuhkan empati dan jiwa sosial adalah salah satu tujuan dari diistimewakannya bulan Ramadan. Salah seorang salaf pernah ditanya, “Mengapa puasa disyariatkan?” la lantas menjawab,ليذوق الغني طعم الجوع فلا ينسى الجائع“Agar orang yang kaya dapat merasakan lapar, sehingga ia tidak lupa kepada orang yang lapar.” (Lathaiful Maarif, hal. 168)Ini termasuk salah satu hikmah dan faidah puasa. Sebagaimana dalam hadis dari Salman yang dinilai lemah, tetapi diambil sebagian ulama untuk menjelaskan Ramadan, yang mana disebutkan,وهو شهر المواساة“Ramadan adalah bulan empati.”Hadis Salman ini adalah hadis yang banyak disebutkan dalam motivasi meningkatkan kedermawanan dan jiwa sosial di bulan Ramadan. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya, dari Salman secara marfu’, perihal keutamaan bulan Ramadan,وهو شهر المواساة وشهر يزاد فيه في رزق المؤمن من فطر فيه صائما كان مغفرة لذنوبه وعتق رقبته من النار وكان له مثل أجره من غير أن ينقص من أجره شيء“Ia adalah bulan empati (terhadap fakir miskin). Bulan di mana rezeki orang mukmin ditambah. Siapa saja yang memberi makan (untuk buka puasa) bagi orang berpuasa di bulan tersebut, itu akan menjadi pengampunan bagi dosa-dosanya dan pembebas dari api neraka. la mendapatkan pahala orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang puasa itu sedikit pun.”Hadis ini secara sanadnya lemah, sehingga tidak bisa disandarkan kepada Nabi ﷺ. Namun, masing-masing isi hadis di atas didukung oleh riwayat yang lainnya. Termasuk Syekh Bin Baz rahimahullah, ketika beliau menjelaskan hadis ini, beliau menggunakan ungkapan berikut dalam keterangannya,فقد ثبت عن رسول الله ﷺ في هذا الشهر الكريم -شهر رمضان- من الأحاديث الكثيرة ما يدل على عظم شأنه، وأنه شهر المواساة، وشهر الإحسان، وشهر الصدقات، وشهر المسارعة إلى الطاعات والمنافسة في أنواع الخير“Telah diriwayatkan secara sahih dari Rasulullah ﷺ mengenai bulan yang diberkahi, yakni Ramadan, bahwa terdapat banyak hadis yang menunjukkan betapa pentingnya bulan ini, dan bahwa bulan ini adalah bulan kasih sayang, bulan kebajikan, bulan sedekah, dan bulan untuk bersegera melaksanakan amal ketaatan dan berlomba-lomba dalam segala macam perbuatan baik.” (Syarah Wazhaif Ramadan 01) [1]Sebelumnya, Syekh Bin Baz rahimahullah memberikan keterangan,وهكذا ما جاء في حديث سلمان أن الرسول الكريم كان يبشر أصحابه له شواهد، وإن كان في حديث سلمان انقطاع وضعف لكن له شواهد تقدم بعضها“Oleh karena itu, apa yang disebutkan dalam hadis Salman (dalam riwayat Ibnu Khuzaimah), bahwa Rasulullah ﷺ biasa menyampaikan kabar gembira kepada para sahabatnya, memiliki bukti pendukung. Meskipun hadis Salman tersebut terputus dan lemah, tetapi tetap memiliki bukti pendukung, sebagian di antaranya telah disebutkan sebelumnya.”Keteladanan jiwa sosial Nabi ﷺ di bulan RamadanSuri tauladan kita, Rasulullah ﷺ juga meningkatkan kedermawanan beliau di bulan Ramadan, disebabkan beliau banyak bertemu dengan Jibril alaihissalam untuk belajar Al-Qur’an. Sedangkan Al-Qur’an adalah kitab yang menghimbau kepada akhlak-akhlak mulia dan sifat dermawan.كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم أجودَ الناسِ بالخيرِ ، وكان أجودَ ما يكون في شهرِ رمضانَ حتى ينسلِخَ ، فيأتيه جبريلُ فيعرضُ عليه القرآنَ ، فإذا لقِيَه جبريلُ كان رسولُ اللهِ أجودَ بالخيرِ من الرِّيحِ الْمُرسَلَةِ“Baginda Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan–bersemangat dalam menebar kebaikan. Dan kedermawanan beliau ﷺ memuncak pada bulan Ramadan hingga berakhir ketika Jibril datang kepadanya dan membacakan Al-Quran kepadanya. Ketika Jibril bertemu dengannya, Rasulullah ﷺ menjadi begitu dermawan melebihi hembusan angin kencang.” (HR. Bukhari dan Muslim)Bahkan levelnya Nabi ﷺ itu tidak sekadar semangat berbagi, tetapi juga berbahagia ketika berbagi. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan sifat Nabi ﷺ,وَكَانَ الْعَطَاءُ وَالصَّدَقَةُ أَحَبَّ شَيْءٍ إِلَيْهِ، وَكَانَ سُرُورُهُ وَفَرَحُهُ بِمَا يُعْطِيهِ أَعْظَمَ مِنْ سُرُورِ الْآخِذِ بِمَا يَأْخُذُهُ“Memberi dan bersedekah adalah perkara yang paling Nabi ﷺ sukai. Dan kegembiraan serta kebahagiaan Nabi ﷺ ketika memberi lebih besar daripada kegembiraan si penerima atas apa yang ia terima.” (Zaadul Ma’ad, 2: 22) [2]Inilah satu level yang perlu kita capai: menjadi orang yang berbahagia ketika berbagi. Bagi kita, ada banyak letak kebahagiaan yang diraih di sana. Salah satunya juga adalah kebahagiaan mencocoki sunah Nabi ﷺ dalam bersemangat berkontribusi sosial dan berbahagia dengan hal tersebut.Ramadan mendidik kita untuk semangat berbagiAda banyak motivasi yang tersebar dalam bulan Ramadan agar manusia meningkatkan jiwa sosialnya. Ibnu Rajab rahimahullah mengumpulkan beberapa di antaranya yang akan disebutkan setelah ini. Salah satunya adalah mengenai momentum bulan Ramadan yang istimewa. Bulan Ramadan adalah bulan mulia, ketika semua amal dilipatgandakan pahalanya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Anas secara marfu’ disebutkan,أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ صَدَقَةٌ فِي رَمَضَانَ“Sebaik-baik sedekah adalah sedekah di bulan Ramadan.”Hadis ini dinilai lemah oleh para ulama, di antaranya oleh Al-Albani dalam Dha’if Al-Jami’ Ash-Shagir (no. 1117), kami tidak temukan satupun riwayat yang berderajat lebih tinggi. Namun, riwayat ini berselarasan dengan hadis yang sahih dalam Ash-Shahihain, berkaitan dengan sifat kedermawanan Nabi ﷺ yang memuncak di bulan Ramadan. Menurut Syekh Shalih Al-Ushaimy hafizhahullah, kandungan hadis riwayat Tirmidzi ini berselarasan dengan praktik Nabi ﷺ di bulan Ramadan; dan karena itu, seorang muslim dianjurkan untuk memperbanyak amalan sedekah di bulan Ramadan. [3]Membantu orang-orang yang sedang berpuasa, salat, dan berzikir agar ibadah mereka semakin lancarSebagaimana orang yang membantu menyiapkan bekal orang yang berangkat berperang, sama saja ia telah ikut berperang. Begitu juga, siapa saja yang menjaga keluarga orang yang berperang dengan baik, sama saja ia telah ikut berperang. Perbuatan inilah yang kita harapkan pahalanya selama bulan Ramadan. Dalam sebuah hadis dari Zaid bin Khalid, Nabi ﷺ bersabda,مَنْ فَطَرَ صَائِمًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ“Barangsiapa memberi makanan buka untuk orang yang berpuasa, ia juga mendapatkan pahala seperti pahala orang puasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang puasa itu sedikit pun.” (HR. Ahmad no. 116 dan Tirmidzi, dinilai hasan shahih)Bulan Ramadan adalah bulan di mana Allah melimpahkan pemberian-Nya kepada para hamba-NyaPemberian itu berupa rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Terlebih pada saat Lailatul Qadar tiba. Allah juga mengasihi para hamba-Nya yang mau memberi kasih sayang kepada orang lain. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ,إنما يرحم الله من عباده الرحماء“Sesungguhnya yang Allah kasihi hanyalah para hamba-Nya yang pengasih.”Barangsiapa gemar memberi kepada sesama hamba Allah, Allah pun akan banyak memberikan rahmat dan karunia kepadanya. Dan ganjaran itu sesuai dengan jenis amal.Menggabungkan puasa dengan sedekah merupakan faktor masuknya seseorang ke surgaSebagaimana disebutkan dalam hadis, Nabi ﷺ bersabda,إن في الجنة غرفا الجنة غرفا يرى ظهورها من بطونها من ظهورها قالوا: لمن هي يا رسول الله؟ قال: لمن طيب الكلام وأطعم الطعام وأدام الصيام وصلى بالليل والناس نيام“Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya terlihat dari dalam dan bagian dalamnya terlihat dari luar.” Para sahabat lantas bertanya, “Wahai Rasulullah, untuk siapakah bilik-bilik kamar itu?” Beliau bersabda, “Bagi siapa saja yang baik tutur katanya, suka memberi makan orang lain, rajin berpuasa, dan salat malam di saat manusia tidur.” (HR. Tirmidzi no. 1985, Adz-Dzahabi menilainya sahih)Menolong sesama muslim agar bisa fokus beribadah dengan memenuhi kebutuhan duniawinyaImam Asy-Syafii rahimahullah berkata,أحب للرجل الزيادة في الجود في شهر رمضان اقتداء برسول الله صلى الله عليه وسلم ولحاجة الناس فيه إلى مصالحهم ولتشاغل كثير منهم بالصوم والصلاة عن مكاسبهم“Aku menyukai seseorang meningkatkan kedermawanannya di bulan Ramadan dalam rangka meneladani Rasulullah ﷺ, dikarenakan manusia pada bulan tersebut memiliki banyak kebutuhan. Sementara manusia tersibukkan dengan berpuasa dan salat, sehingga tidak fokus terhadap pekerjaan mereka.” (Lathaiful Maarif, hal. 169)Ini juga merupakan pendapat yang disetujui oleh Al-Qadhi Abu Ya’la dari kalangan Hanabilah.Pendidikan empati dengan berbuka puasa bersamaIbnu Rajab rahimahullah dalam keterangan yang panjang menjelaskan bahwa dianjurkan untuk memberi menu berbuka kepada orang yang berpuasa dan dianjurkan untuk ikut berbuka bersamanya. Hal itu akan menumbuhkan empati yang lebih besar ditinjau dari dampak perbuatan tersebut kepada hati. Berbuka bersama dengan makanan yang disedekahkan menunjukkan bahwa makanan yang ia sedekahkan tersebut adalah makanan yang ia sukai, sehingga menghibur hati orang yang diberi. Dengan demikian, dia termasuk golongan orang-orang yang bersedekah dengan harta yang ia sukai.Hal itu juga sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah atas nikmat dibolehkannya kembali menikmati makanan dan minuman setelah sebelumnya terlarang, sebab nikmat makan dan minum itu benar-benar dapat dirasakan nilainya ketika kita dilarang menikmatinya. Contoh ini datang dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma; apabila beliau berpuasa, beliau tidak berbuka kecuali bersama orang-orang miskin. Jika keluarganya menghalanginya, ia pun tidak makan pada malam itu. Inilah derajat amalan berempati kepada orang lain.Jiwa sosial para salaf di bulan RamadanAda derajat yang lebih tinggi lagi dari sebuah empati, yakni mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingan pribadinya (itsar). Banyak sekali kaum salaf yang mengutamakan orang lain berbuka, meskipun mereka sendiri lapar. [4]Salah satu contohnya adalah kisah Imam Ahmad rahimahullah yang didatangi seorang pengemis ketika beliau berpuasa. Pengemis itu meminta makanan kepada Imam Ahmad. Imam Ahmad lantas memberikan kepadanya dua potong roti yang telah ia persiapkan untuk berbuka. Kemudian ia menahan lapar dan pagi harinya ia melanjutkan berpuasa.Pada riwayat lain dikisahkan, ketika Ibnu Umar radhiyallahu anhuma dimintai makanan yang sedang ia makan, ia lantas berdiri dan memberikan makanannya yang masih tersisa kepada peminta-minta tersebut. Kemudian ia pulang di saat keluarganya telah makan makanan yang tersisa dalam wadah. Lantas pagi harinya ia berpuasa, padahal malamnya ia tidak makan apa-apa.Dalam riwayat lain, Hasan biasa memberi makan saudara-saudaranya secara sukarela ketika ia berpuasa. la juga ikut duduk menyenangkan hati mereka di saat mereka makan. Ibnul Mubarak memberi makan saudara-saudaranya dalam perjalanan, seperti manisan dan lainnya; sementara dia sendiri berpuasa.Ada seorang saleh sedang menginginkan suatu makanan saat berpuasa. Tatkala berbuka, makanan yang ia inginkan itu dihidangkan di hadapannya. Tiba-tiba, ia mendengar seorang peminta-minta berkata, “Siapa yang mau meminjamkan hartanya kepada Yang Mahacepat Menepati, Yang Maha Melunasi, dan Mahakaya?”Orang saleh tersebut menjawab, “Hamba-Nya yang tidak memiliki amal kebaikan.” Kemudian ia berdiri mengambil piring makanan itu dan memberikannya kepada si peminta-minta. Sementara ia sendiri menjalani malam harinya dalam keadaan lapar.Semua ini didasarkan oleh semangat berbagi yang tumbuh atas dasar iman yang kuat dari para salaf terdahulu. Kita semua pasti merasakan beratnya melakukan apa yang diteladankan para salaf ini. Siapa di antara kita yang ketika ada makanan yang sudah kita nantikan sejak lama, terlebih di hari itu kita berpuasa, tetapi ketika kita hendak menikmatinya, ada orang yang menginginkannya, lantas kita memberikan makanan tersebut? Penulis rasa, jarang sekali yang berada di level demikian di hari ini. Namun, itulah esensi Ramadan yang diteladankan oleh baginda Nabi ﷺ, diikuti oleh para salaf, dan harusnya tertanam pada diri kita hari ini.Di masa kini, mudah bagi kita untuk melakukan kedermawanan. Upaya kebaikan itu dapat kita lakukan bahkan dari genggaman kita, berupa sedekah maupun semangat menebar kebaikan yang lain. Ini adalah zaman di mana amal perbuatan dipermudah, tetapi godaan untuk melalaikan kita pun besar pula. Maka, ini adalah bentuk jihad tersendiri bagi kita hari ini. Sebuah jihad melawan nafsu kita untuk menyepelekan amalan-amalan yang bisa kita kerjakan. Spirit menebar kebermanfaatan itu menuntut perwujudan amal dari kita semua.***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://binbaz.org.sa[2] https://www.islamweb.net/ar[3] Diambil dari status twitter resmi beliau https://x.com/Osaimi0543/status/1382474171691728897[4] Semua riwayat dalam subpembahasan ini dinukil dari Lathaiful Maarif, karya Ibnu Rajab rahimahullah.


Daftar Isi ToggleKeteladanan jiwa sosial Nabi ﷺ di bulan RamadanRamadan mendidik kita untuk semangat berbagiMembantu orang-orang yang sedang berpuasa, salat, dan berzikir agar ibadah mereka semakin lancarBulan Ramadan adalah bulan di mana Allah melimpahkan pemberian-Nya kepada para hamba-NyaMenggabungkan puasa dengan sedekah merupakan faktor masuknya seseorang ke surgaMenolong sesama muslim agar bisa fokus beribadah dengan memenuhi kebutuhan duniawinyaPendidikan empati dengan berbuka puasa bersamaJiwa sosial para salaf di bulan RamadanBulan Ramadan mengandung banyak keberkahan dan juga tuntutan pendidikan. Salah satu hasil dari madrasah Ramadan adalah tumbuhnya jiwa sosial dan semangat kedermawanan bagi para ahli Ramadan. Menumbuhkan empati dan jiwa sosial adalah salah satu tujuan dari diistimewakannya bulan Ramadan. Salah seorang salaf pernah ditanya, “Mengapa puasa disyariatkan?” la lantas menjawab,ليذوق الغني طعم الجوع فلا ينسى الجائع“Agar orang yang kaya dapat merasakan lapar, sehingga ia tidak lupa kepada orang yang lapar.” (Lathaiful Maarif, hal. 168)Ini termasuk salah satu hikmah dan faidah puasa. Sebagaimana dalam hadis dari Salman yang dinilai lemah, tetapi diambil sebagian ulama untuk menjelaskan Ramadan, yang mana disebutkan,وهو شهر المواساة“Ramadan adalah bulan empati.”Hadis Salman ini adalah hadis yang banyak disebutkan dalam motivasi meningkatkan kedermawanan dan jiwa sosial di bulan Ramadan. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya, dari Salman secara marfu’, perihal keutamaan bulan Ramadan,وهو شهر المواساة وشهر يزاد فيه في رزق المؤمن من فطر فيه صائما كان مغفرة لذنوبه وعتق رقبته من النار وكان له مثل أجره من غير أن ينقص من أجره شيء“Ia adalah bulan empati (terhadap fakir miskin). Bulan di mana rezeki orang mukmin ditambah. Siapa saja yang memberi makan (untuk buka puasa) bagi orang berpuasa di bulan tersebut, itu akan menjadi pengampunan bagi dosa-dosanya dan pembebas dari api neraka. la mendapatkan pahala orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang puasa itu sedikit pun.”Hadis ini secara sanadnya lemah, sehingga tidak bisa disandarkan kepada Nabi ﷺ. Namun, masing-masing isi hadis di atas didukung oleh riwayat yang lainnya. Termasuk Syekh Bin Baz rahimahullah, ketika beliau menjelaskan hadis ini, beliau menggunakan ungkapan berikut dalam keterangannya,فقد ثبت عن رسول الله ﷺ في هذا الشهر الكريم -شهر رمضان- من الأحاديث الكثيرة ما يدل على عظم شأنه، وأنه شهر المواساة، وشهر الإحسان، وشهر الصدقات، وشهر المسارعة إلى الطاعات والمنافسة في أنواع الخير“Telah diriwayatkan secara sahih dari Rasulullah ﷺ mengenai bulan yang diberkahi, yakni Ramadan, bahwa terdapat banyak hadis yang menunjukkan betapa pentingnya bulan ini, dan bahwa bulan ini adalah bulan kasih sayang, bulan kebajikan, bulan sedekah, dan bulan untuk bersegera melaksanakan amal ketaatan dan berlomba-lomba dalam segala macam perbuatan baik.” (Syarah Wazhaif Ramadan 01) [1]Sebelumnya, Syekh Bin Baz rahimahullah memberikan keterangan,وهكذا ما جاء في حديث سلمان أن الرسول الكريم كان يبشر أصحابه له شواهد، وإن كان في حديث سلمان انقطاع وضعف لكن له شواهد تقدم بعضها“Oleh karena itu, apa yang disebutkan dalam hadis Salman (dalam riwayat Ibnu Khuzaimah), bahwa Rasulullah ﷺ biasa menyampaikan kabar gembira kepada para sahabatnya, memiliki bukti pendukung. Meskipun hadis Salman tersebut terputus dan lemah, tetapi tetap memiliki bukti pendukung, sebagian di antaranya telah disebutkan sebelumnya.”Keteladanan jiwa sosial Nabi ﷺ di bulan RamadanSuri tauladan kita, Rasulullah ﷺ juga meningkatkan kedermawanan beliau di bulan Ramadan, disebabkan beliau banyak bertemu dengan Jibril alaihissalam untuk belajar Al-Qur’an. Sedangkan Al-Qur’an adalah kitab yang menghimbau kepada akhlak-akhlak mulia dan sifat dermawan.كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم أجودَ الناسِ بالخيرِ ، وكان أجودَ ما يكون في شهرِ رمضانَ حتى ينسلِخَ ، فيأتيه جبريلُ فيعرضُ عليه القرآنَ ، فإذا لقِيَه جبريلُ كان رسولُ اللهِ أجودَ بالخيرِ من الرِّيحِ الْمُرسَلَةِ“Baginda Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan–bersemangat dalam menebar kebaikan. Dan kedermawanan beliau ﷺ memuncak pada bulan Ramadan hingga berakhir ketika Jibril datang kepadanya dan membacakan Al-Quran kepadanya. Ketika Jibril bertemu dengannya, Rasulullah ﷺ menjadi begitu dermawan melebihi hembusan angin kencang.” (HR. Bukhari dan Muslim)Bahkan levelnya Nabi ﷺ itu tidak sekadar semangat berbagi, tetapi juga berbahagia ketika berbagi. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan sifat Nabi ﷺ,وَكَانَ الْعَطَاءُ وَالصَّدَقَةُ أَحَبَّ شَيْءٍ إِلَيْهِ، وَكَانَ سُرُورُهُ وَفَرَحُهُ بِمَا يُعْطِيهِ أَعْظَمَ مِنْ سُرُورِ الْآخِذِ بِمَا يَأْخُذُهُ“Memberi dan bersedekah adalah perkara yang paling Nabi ﷺ sukai. Dan kegembiraan serta kebahagiaan Nabi ﷺ ketika memberi lebih besar daripada kegembiraan si penerima atas apa yang ia terima.” (Zaadul Ma’ad, 2: 22) [2]Inilah satu level yang perlu kita capai: menjadi orang yang berbahagia ketika berbagi. Bagi kita, ada banyak letak kebahagiaan yang diraih di sana. Salah satunya juga adalah kebahagiaan mencocoki sunah Nabi ﷺ dalam bersemangat berkontribusi sosial dan berbahagia dengan hal tersebut.Ramadan mendidik kita untuk semangat berbagiAda banyak motivasi yang tersebar dalam bulan Ramadan agar manusia meningkatkan jiwa sosialnya. Ibnu Rajab rahimahullah mengumpulkan beberapa di antaranya yang akan disebutkan setelah ini. Salah satunya adalah mengenai momentum bulan Ramadan yang istimewa. Bulan Ramadan adalah bulan mulia, ketika semua amal dilipatgandakan pahalanya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Anas secara marfu’ disebutkan,أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ صَدَقَةٌ فِي رَمَضَانَ“Sebaik-baik sedekah adalah sedekah di bulan Ramadan.”Hadis ini dinilai lemah oleh para ulama, di antaranya oleh Al-Albani dalam Dha’if Al-Jami’ Ash-Shagir (no. 1117), kami tidak temukan satupun riwayat yang berderajat lebih tinggi. Namun, riwayat ini berselarasan dengan hadis yang sahih dalam Ash-Shahihain, berkaitan dengan sifat kedermawanan Nabi ﷺ yang memuncak di bulan Ramadan. Menurut Syekh Shalih Al-Ushaimy hafizhahullah, kandungan hadis riwayat Tirmidzi ini berselarasan dengan praktik Nabi ﷺ di bulan Ramadan; dan karena itu, seorang muslim dianjurkan untuk memperbanyak amalan sedekah di bulan Ramadan. [3]Membantu orang-orang yang sedang berpuasa, salat, dan berzikir agar ibadah mereka semakin lancarSebagaimana orang yang membantu menyiapkan bekal orang yang berangkat berperang, sama saja ia telah ikut berperang. Begitu juga, siapa saja yang menjaga keluarga orang yang berperang dengan baik, sama saja ia telah ikut berperang. Perbuatan inilah yang kita harapkan pahalanya selama bulan Ramadan. Dalam sebuah hadis dari Zaid bin Khalid, Nabi ﷺ bersabda,مَنْ فَطَرَ صَائِمًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ“Barangsiapa memberi makanan buka untuk orang yang berpuasa, ia juga mendapatkan pahala seperti pahala orang puasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang puasa itu sedikit pun.” (HR. Ahmad no. 116 dan Tirmidzi, dinilai hasan shahih)Bulan Ramadan adalah bulan di mana Allah melimpahkan pemberian-Nya kepada para hamba-NyaPemberian itu berupa rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Terlebih pada saat Lailatul Qadar tiba. Allah juga mengasihi para hamba-Nya yang mau memberi kasih sayang kepada orang lain. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ,إنما يرحم الله من عباده الرحماء“Sesungguhnya yang Allah kasihi hanyalah para hamba-Nya yang pengasih.”Barangsiapa gemar memberi kepada sesama hamba Allah, Allah pun akan banyak memberikan rahmat dan karunia kepadanya. Dan ganjaran itu sesuai dengan jenis amal.Menggabungkan puasa dengan sedekah merupakan faktor masuknya seseorang ke surgaSebagaimana disebutkan dalam hadis, Nabi ﷺ bersabda,إن في الجنة غرفا الجنة غرفا يرى ظهورها من بطونها من ظهورها قالوا: لمن هي يا رسول الله؟ قال: لمن طيب الكلام وأطعم الطعام وأدام الصيام وصلى بالليل والناس نيام“Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya terlihat dari dalam dan bagian dalamnya terlihat dari luar.” Para sahabat lantas bertanya, “Wahai Rasulullah, untuk siapakah bilik-bilik kamar itu?” Beliau bersabda, “Bagi siapa saja yang baik tutur katanya, suka memberi makan orang lain, rajin berpuasa, dan salat malam di saat manusia tidur.” (HR. Tirmidzi no. 1985, Adz-Dzahabi menilainya sahih)Menolong sesama muslim agar bisa fokus beribadah dengan memenuhi kebutuhan duniawinyaImam Asy-Syafii rahimahullah berkata,أحب للرجل الزيادة في الجود في شهر رمضان اقتداء برسول الله صلى الله عليه وسلم ولحاجة الناس فيه إلى مصالحهم ولتشاغل كثير منهم بالصوم والصلاة عن مكاسبهم“Aku menyukai seseorang meningkatkan kedermawanannya di bulan Ramadan dalam rangka meneladani Rasulullah ﷺ, dikarenakan manusia pada bulan tersebut memiliki banyak kebutuhan. Sementara manusia tersibukkan dengan berpuasa dan salat, sehingga tidak fokus terhadap pekerjaan mereka.” (Lathaiful Maarif, hal. 169)Ini juga merupakan pendapat yang disetujui oleh Al-Qadhi Abu Ya’la dari kalangan Hanabilah.Pendidikan empati dengan berbuka puasa bersamaIbnu Rajab rahimahullah dalam keterangan yang panjang menjelaskan bahwa dianjurkan untuk memberi menu berbuka kepada orang yang berpuasa dan dianjurkan untuk ikut berbuka bersamanya. Hal itu akan menumbuhkan empati yang lebih besar ditinjau dari dampak perbuatan tersebut kepada hati. Berbuka bersama dengan makanan yang disedekahkan menunjukkan bahwa makanan yang ia sedekahkan tersebut adalah makanan yang ia sukai, sehingga menghibur hati orang yang diberi. Dengan demikian, dia termasuk golongan orang-orang yang bersedekah dengan harta yang ia sukai.Hal itu juga sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah atas nikmat dibolehkannya kembali menikmati makanan dan minuman setelah sebelumnya terlarang, sebab nikmat makan dan minum itu benar-benar dapat dirasakan nilainya ketika kita dilarang menikmatinya. Contoh ini datang dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma; apabila beliau berpuasa, beliau tidak berbuka kecuali bersama orang-orang miskin. Jika keluarganya menghalanginya, ia pun tidak makan pada malam itu. Inilah derajat amalan berempati kepada orang lain.Jiwa sosial para salaf di bulan RamadanAda derajat yang lebih tinggi lagi dari sebuah empati, yakni mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingan pribadinya (itsar). Banyak sekali kaum salaf yang mengutamakan orang lain berbuka, meskipun mereka sendiri lapar. [4]Salah satu contohnya adalah kisah Imam Ahmad rahimahullah yang didatangi seorang pengemis ketika beliau berpuasa. Pengemis itu meminta makanan kepada Imam Ahmad. Imam Ahmad lantas memberikan kepadanya dua potong roti yang telah ia persiapkan untuk berbuka. Kemudian ia menahan lapar dan pagi harinya ia melanjutkan berpuasa.Pada riwayat lain dikisahkan, ketika Ibnu Umar radhiyallahu anhuma dimintai makanan yang sedang ia makan, ia lantas berdiri dan memberikan makanannya yang masih tersisa kepada peminta-minta tersebut. Kemudian ia pulang di saat keluarganya telah makan makanan yang tersisa dalam wadah. Lantas pagi harinya ia berpuasa, padahal malamnya ia tidak makan apa-apa.Dalam riwayat lain, Hasan biasa memberi makan saudara-saudaranya secara sukarela ketika ia berpuasa. la juga ikut duduk menyenangkan hati mereka di saat mereka makan. Ibnul Mubarak memberi makan saudara-saudaranya dalam perjalanan, seperti manisan dan lainnya; sementara dia sendiri berpuasa.Ada seorang saleh sedang menginginkan suatu makanan saat berpuasa. Tatkala berbuka, makanan yang ia inginkan itu dihidangkan di hadapannya. Tiba-tiba, ia mendengar seorang peminta-minta berkata, “Siapa yang mau meminjamkan hartanya kepada Yang Mahacepat Menepati, Yang Maha Melunasi, dan Mahakaya?”Orang saleh tersebut menjawab, “Hamba-Nya yang tidak memiliki amal kebaikan.” Kemudian ia berdiri mengambil piring makanan itu dan memberikannya kepada si peminta-minta. Sementara ia sendiri menjalani malam harinya dalam keadaan lapar.Semua ini didasarkan oleh semangat berbagi yang tumbuh atas dasar iman yang kuat dari para salaf terdahulu. Kita semua pasti merasakan beratnya melakukan apa yang diteladankan para salaf ini. Siapa di antara kita yang ketika ada makanan yang sudah kita nantikan sejak lama, terlebih di hari itu kita berpuasa, tetapi ketika kita hendak menikmatinya, ada orang yang menginginkannya, lantas kita memberikan makanan tersebut? Penulis rasa, jarang sekali yang berada di level demikian di hari ini. Namun, itulah esensi Ramadan yang diteladankan oleh baginda Nabi ﷺ, diikuti oleh para salaf, dan harusnya tertanam pada diri kita hari ini.Di masa kini, mudah bagi kita untuk melakukan kedermawanan. Upaya kebaikan itu dapat kita lakukan bahkan dari genggaman kita, berupa sedekah maupun semangat menebar kebaikan yang lain. Ini adalah zaman di mana amal perbuatan dipermudah, tetapi godaan untuk melalaikan kita pun besar pula. Maka, ini adalah bentuk jihad tersendiri bagi kita hari ini. Sebuah jihad melawan nafsu kita untuk menyepelekan amalan-amalan yang bisa kita kerjakan. Spirit menebar kebermanfaatan itu menuntut perwujudan amal dari kita semua.***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://binbaz.org.sa[2] https://www.islamweb.net/ar[3] Diambil dari status twitter resmi beliau https://x.com/Osaimi0543/status/1382474171691728897[4] Semua riwayat dalam subpembahasan ini dinukil dari Lathaiful Maarif, karya Ibnu Rajab rahimahullah.

Bukan Mencari Tuhan! Nabi Ibrahim Sedang Menghancurkan Logika Syirik Kaumnya (Tafsir Surah Al-An’am ayat 74-80)

Lanjut lagi bahasan dari juz ketujuh, dari surah Al-An’am. Banyak orang memahami kisah bintang, bulan, dan matahari dalam QS. Al-An‘am seakan-akan Nabi Ibrahim ‘alaihissalām sedang “mencari Tuhan”. Padahal, para ulama tafsir menjelaskan bahwa konteksnya adalah dialog dan debat untuk membongkar kesyirikan kaumnya. Nabi Ibrahim tidak sedang ragu, tetapi sedang menuntun kaumnya dengan hujah yang mereka pahami: menunjukkan bahwa benda-benda langit yang terbit lalu terbenam adalah makhluk yang diatur, bukan Tuhan yang disembah.Inilah pelajaran besar bagi kita: tauhid bukan sekadar keyakinan di hati, tetapi juga kejernihan logika dalam menilai apa yang layak disembah. Jika sesuatu hilang, berubah, lemah, dan tidak mengurus hamba—maka ia tidak pantas menjadi ilah (sesembahan). Karena itu, puncak kisah ini bukan pada “pencarian”, melainkan pada deklarasi berlepas diri dari syirik dan menghadap total kepada Pencipta langit dan bumi: “Inni wajjahtu wajhiya…”.  Daftar Isi tutup 1. Ketika Nabi Ibrahim Membongkar Akar Kesyirikan Kaumnya 2. Allah Meneguhkan Keyakinan Nabi Ibrahim dengan Ayat-Ayat Kauniyah 3. Bukan Mencari Tuhan, Tetapi Membongkar Kesyirikan Kaumnya 4. Bantahan Ulama terhadap Anggapan Ibrahim Pernah Mencari Tuhan 5. Kesimpulan  Ketika Nabi Ibrahim Membongkar Akar Kesyirikan KaumnyaAllah Ta’ala berfirman,۞ وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ ءَازَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا ءَالِهَةً ۖ إِنِّىٓ أَرَىٰكَ وَقَوْمَكَ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ“Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”.” (QS. Al-An’am: 74)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut. Allah Ta’ala berfirman: Ingatlah kisah Ibrahim ‘alaihisshalatu wassalam, dengan memuji dan mengagungkannya dalam dakwahnya kepada tauhid serta dalam upayanya melarang dari kesyirikan.Ketika ia berkata kepada ayahnya, “Azar, apakah engkau menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?” Padahal berhala-berhala itu tidak mampu memberi manfaat dan tidak pula menimbulkan mudarat. Ia sama sekali tidak memiliki kekuasaan atas apa pun.Kemudian Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu berada dalam kesesatan yang nyata.” Karena kalian menyembah sesuatu yang sama sekali tidak berhak untuk disembah, dan kalian meninggalkan ibadah kepada Pencipta kalian, Pemberi rezeki kalian, dan Pengatur seluruh urusan kalian. Allah Meneguhkan Keyakinan Nabi Ibrahim dengan Ayat-Ayat KauniyahAllah Ta’ala berfirman,وَكَذَٰلِكَ نُرِىٓ إِبْرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلْمُوقِنِينَ“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.” (QS. Al-An’am: 75)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Makna firman-Nya, “Dan demikianlah”, yaitu sebagaimana Kami telah memberi taufik kepadanya untuk mentauhidkan Allah dan berdakwah kepada tauhid.“Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kerajaan langit dan bumi”, maksudnya agar ia menyaksikan dengan mata hatinya berbagai tanda dan bukti yang tegas, serta dalil-dalil yang terang, yang terdapat di langit dan di bumi.“Dan agar ia termasuk orang-orang yang yakin.” Karena dengan tegaknya dalil-dalil dan kuatnya bukti-bukti itu, lahirlah keyakinan yang sempurna dan ilmu yang mendalam tentang seluruh perkara yang menjadi tujuan iman. Bukan Mencari Tuhan, Tetapi Membongkar Kesyirikan KaumnyaAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ ٱلَّيْلُ رَءَا كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّى ۖ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَآ أُحِبُّ ٱلْءَافِلِينَ“Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”.” (QS. Al-An’am: 76)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.“Ketika malam telah gelap menutupinya”, yaitu ketika malam menjadi gelap gulita.“Ia melihat sebuah bintang”, kemungkinan besar adalah bintang yang sangat terang, karena penyebutan khusus terhadapnya menunjukkan bahwa ia lebih menonjol dibanding bintang-bintang lainnya. Oleh karena itu—wallahu a‘lam—sebagian ulama berpendapat bahwa bintang tersebut adalah Venus.Ia berkata, “Inilah Tuhanku.” Ucapan ini disampaikan dalam rangka berdialog dan mengikuti alur berpikir kaumnya, seakan-akan ia berkata, “Baiklah, ini Tuhanku. Mari kita perhatikan, apakah ia memang layak menjadi Tuhan? Apakah ada bukti dan dalil yang menunjukkan bahwa ia pantas disembah?” Karena tidak sepantasnya orang yang berakal menjadikan sesuatu sebagai tuhan hanya berdasarkan hawa nafsu, tanpa hujah dan tanpa bukti.“Ketika bintang itu terbenam”, yakni ketika bintang tersebut menghilang dan tidak tampak lagi.Ia berkata, “Aku tidak menyukai sesuatu yang terbenam.” Maksudnya, sesuatu yang menghilang dan tidak tampak dari para penyembahnya tidak layak untuk disembah. Sesembahan yang benar seharusnya selalu mengurusi kepentingan hamba yang menyembahnya, mengatur seluruh urusannya setiap waktu. Adapun sesuatu yang dalam waktu lama menghilang dan tidak terlihat, bagaimana mungkin ia pantas menjadi Tuhan?Menjadikannya sebagai sesembahan hanyalah bentuk kebodohan yang paling nyata dan kesesatan yang paling batil.Allah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا رَءَا ٱلْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّى ۖ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمْ يَهْدِنِى رَبِّى لَأَكُونَنَّ مِنَ ٱلْقَوْمِ ٱلضَّآلِّينَ“Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat”.” (QS. Al-An’am: 77)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.“Ketika ia melihat bulan terbit”, yaitu ketika bulan muncul dan bersinar. Ia melihat bahwa cahaya bulan lebih besar dibandingkan cahaya bintang-bintang, dan berbeda dari yang lainnya.Ia berkata, “Inilah Tuhanku,” sebagai bentuk mengikuti alur berpikir kaumnya dalam berdialog dengan mereka.“Ketika bulan itu terbenam”, ia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pasti aku termasuk orang-orang yang sesat.”Dalam ucapan ini tampak betapa ia sangat membutuhkan petunjuk dari Rabbnya. Ia benar-benar menunjukkan ketergantungan yang sempurna kepada Allah. Ia menyadari bahwa jika Allah tidak memberinya hidayah, maka tidak ada seorang pun yang mampu memberinya petunjuk. Jika Allah tidak menolongnya dalam ketaatan, maka tidak ada penolong baginya.Allah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا رَءَا ٱلشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّى هَٰذَآ أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّآ أَفَلَتْ قَالَ يَٰقَوْمِ إِنِّى بَرِىٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ“Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS. Al-An’am: 78)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.“Ketika ia melihat matahari terbit”, ia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar,” yakni lebih besar daripada bintang dan bulan.Namun ketika matahari itu terbenam, saat itulah kebenaran semakin jelas dan kesesatan pun sirna. Maka ia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan.”Karena telah tegak dalil yang benar dan nyata, yang menunjukkan batilnya apa yang mereka sembah. Dengan demikian, jelaslah bahwa semua benda langit itu tidak layak menjadi sesembahan.Allah Ta’ala berfirman,إِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS. Al-An’am: 79)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Maknanya: Aku memurnikan ibadahku hanya kepada Allah semata, menghadapkan diri sepenuhnya kepada-Nya, dan berpaling dari segala sesuatu selain-Nya.“Dalam keadaan hanif”, yaitu lurus di atas tauhid, condong kepada kebenaran dan menjauhi kesyirikan.“Dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” Dengan pernyataan ini, ia berlepas diri dari kesyirikan, tunduk sepenuhnya kepada tauhid, dan menegakkan hujah yang jelas atas kebenaran tersebut.Penjelasan yang telah disebutkan dalam menafsirkan ayat-ayat ini adalah pendapat yang benar, yaitu bahwa konteksnya adalah dialog dan perdebatan Nabi Ibrahim dengan kaumnya untuk menjelaskan batilnya penyembahan terhadap benda-benda langit dan selainnya.Adapun pendapat yang mengatakan bahwa ini adalah proses pencarian Ibrahim ketika masa kecilnya, maka pendapat tersebut tidak memiliki dalil yang kuat. Bantahan Ulama terhadap Anggapan Ibrahim Pernah Mencari TuhanBerikut adalah penjelasan dari Imam Ibnu Katsir dari kitab tafsinya.Yang benar adalah bahwa Ibrahim ‘alaihisshalatu wassalam pada saat itu sedang berdialog dan berdebat dengan kaumnya. Ia menjelaskan batilnya ajaran yang mereka anut, yaitu menyembah bangunan-bangunan suci dan patung-patung.Pada kesempatan sebelumnya bersama ayahnya, ia telah menjelaskan kesalahan mereka dalam menyembah patung-patung di bumi, yang dibuat menyerupai malaikat-malaikat di langit. Mereka menjadikannya sebagai perantara agar dapat memberi syafaat kepada mereka di sisi Sang Pencipta Yang Mahaagung. Menurut anggapan mereka, diri mereka terlalu rendah untuk langsung menyembah Allah. Karena itu, mereka bertawasul dengan menyembah para malaikat, agar malaikat-malaikat tersebut memberi syafaat kepada mereka dalam hal rezeki, kemenangan, dan berbagai kebutuhan lainnya.Dalam peristiwa ini, Ibrahim juga menjelaskan kesalahan dan kesesatan mereka dalam menyembah bangunan-bangunan yang berkaitan dengan tujuh benda langit yang bergerak, yaitu: bulan, Merkurius, Venus, matahari, Mars, Jupiter, dan Saturnus. Benda yang paling terang dan paling bersinar menurut mereka adalah matahari, kemudian bulan, lalu Venus.Maka Ibrahim pertama-tama menjelaskan bahwa Venus tidak pantas dijadikan tuhan. Ia hanyalah makhluk yang ditundukkan dan diatur dalam orbit tertentu. Ia tidak menyimpang sedikit pun ke kanan atau ke kiri, dan tidak memiliki kuasa atas dirinya sendiri. Ia hanyalah salah satu benda langit yang Allah ciptakan bercahaya, karena hikmah-hikmah besar yang Dia kehendaki. Ia terbit dari timur, bergerak hingga ke barat, lalu menghilang dari pandangan, dan muncul kembali pada malam berikutnya dengan pola yang sama. Sesuatu yang seperti ini jelas tidak layak untuk disembah.Kemudian ia berpindah kepada bulan, dan menjelaskan hal yang sama sebagaimana ia jelaskan tentang bintang.Lalu ia berpindah kepada matahari. Ketika ketiga benda langit tersebut—yang merupakan benda paling terang yang dapat dilihat mata—telah jelas tidak layak menjadi sesembahan dengan dalil yang tegas, maka ia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan.” Maksudnya, aku berlepas diri dari menyembah dan loyalitas kepada benda-benda itu. Jika memang mereka adalah tuhan-tuhan, maka silakan kalian bersama-sama mencelakakanku dengan mereka tanpa memberi penangguhan sedikit pun.Kemudian ia menegaskan, “Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus (hanif), dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik.” Maksudnya, aku hanya menyembah Pencipta semua benda itu, yang mengadakannya, menundukkannya, mengaturnya, dan menetapkan peredarannya. Dia-lah yang di tangan-Nya kerajaan segala sesuatu, Pencipta dan Pemilik segala sesuatu, Rabb dan Ilah seluruh makhluk.Sebagaimana firman Allah Ta’ala:إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ يُغْشِى ٱلَّيْلَ ٱلنَّهَارَ يَطْلُبُهُۥ حَثِيثًا وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ مُسَخَّرَٰتٍۭ بِأَمْرِهِۦٓ ۗ أَلَا لَهُ ٱلْخَلْقُ وَٱلْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-A’raf: 54)Bagaimana mungkin Ibrahim Al-Khalil berada dalam posisi mencari-cari kebenaran pada saat itu, padahal Allah telah berfirman tentangnya:۞ وَلَقَدْ ءَاتَيْنَآ إِبْرَٰهِيمَ رُشْدَهُۥ مِن قَبْلُ وَكُنَّا بِهِۦ عَٰلِمِينَإِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ٱلَّتِىٓ أَنتُمْ لَهَا عَٰكِفُونَ“Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?” (QS. Al-Anbiya: 51-52)Allah juga berfirman,إِنَّ إِبْرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَشَاكِرًا لِّأَنْعُمِهِ ۚ ٱجْتَبَىٰهُ وَهَدَىٰهُ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍوَءَاتَيْنَٰهُ فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً ۖ وَإِنَّهُۥ فِى ٱلْءَاخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. An-Nahl: 120–123)Dan Allah berfirman:قُلْ إِنَّنِى هَدَىٰنِى رَبِّىٓ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِّلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًا ۚ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ“Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik”.” (QS. Al-An‘am: 161)Telah sahih dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah.”Dalam Shahih Muslim dari ‘Iyadh bin Himar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah berfirman:إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ“Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif.”Dan Allah berfirman:فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Ruum: 30)Dan firman-Nya:وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.” (QS. Al-A‘raf: 172)Makna ayat ini menurut salah satu pendapat sejalan dengan firman-Nya, “Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu,” sebagaimana akan dijelaskan.Jika demikian keadaan seluruh makhluk pada asal penciptaannya, maka bagaimana mungkin Ibrahim Al-Khalil—yang Allah jadikan sebagai “seorang imam yang patuh kepada Allah, hanif, dan tidak termasuk orang-orang musyrik”—dalam posisi sedang mencari-cari kebenaran pada saat itu?Justru ia adalah manusia yang paling layak memiliki fitrah yang lurus dan tabiat yang benar, setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa ada keraguan sedikit pun.Di antara dalil yang menguatkan bahwa pada saat itu ia sedang berdialog dan berdebat dengan kaumnya—bukan sedang mencari kebenaran—adalah firman Allah Ta’ala berikutnya.وَحَآجَّهُۥ قَوْمُهُۥ ۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّى فِى ٱللَّهِ وَقَدْ هَدَىٰنِ ۚ وَلَآ أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِۦٓ إِلَّآ أَن يَشَآءَ رَبِّى شَيْـًٔا ۗ وَسِعَ رَبِّى كُلَّ شَىْءٍ عِلْمًا ۗ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ“Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: “Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku”. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)?” (QS. Al-An’am: 80)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai surah Al-An’am ayat 80 sebagai berikut.Ibrahim berkata, “Apakah kalian membantahku tentang Allah, padahal Dia telah memberiku petunjuk?” Maksudnya, apakah kalian masih juga memperdebatkanku tentang keesaan Allah, bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, padahal Allah telah membukakan hatiku, memberiku petunjuk kepada kebenaran, dan aku berada di atas dalil yang jelas? Lalu bagaimana mungkin aku berpaling kepada ucapan-ucapan kalian yang rusak dan syubhat-syubhat kalian yang batil?Kemudian ia berkata, “Aku tidak takut kepada apa yang kalian persekutukan dengan-Nya, kecuali jika Rabbku menghendaki sesuatu.” Ini juga menjadi bukti atas batilnya keyakinan mereka. Sesembahan yang mereka agungkan itu sama sekali tidak memiliki pengaruh apa pun. Ibrahim tidak takut kepadanya dan tidak memedulikannya. Seandainya sesembahan-sesembahan itu benar-benar memiliki kekuatan, maka silakan mereka mencelakakannya segera tanpa ditunda-tunda.Adapun ucapannya, “kecuali jika Rabbku menghendaki sesuatu,” merupakan pengecualian yang terputus maknanya. Artinya, tidak ada yang mampu memberi mudarat atau manfaat selain Allah semata.Lalu ia menegaskan, “Ilmu Rabbku meliputi segala sesuatu.” Maksudnya, pengetahuan Allah mencakup seluruh makhluk dan seluruh keadaan mereka; tidak ada satu pun yang tersembunyi dari-Nya.Kemudian ia berkata, “Tidakkah kalian mengambil pelajaran?” Maksudnya, tidakkah kalian merenungkan penjelasan yang telah aku sampaikan, sehingga kalian menyadari bahwa sesembahan-sesembahan itu batil, lalu berhenti dari menyembahnya?Hujah yang disampaikan Ibrahim ini serupa dengan hujah yang disampaikan Nabi Hud ‘alaihissalam kepada kaumnya, kaum ‘Ad. Sebagaimana Allah kisahkan dalam Al-Qur’an,قَالُوا۟ يَٰهُودُ مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَمَا نَحْنُ بِتَارِكِىٓ ءَالِهَتِنَا عَن قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ“Kaum ‘Ad berkata: “Hai Huud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu.” (QS. Hud: 53)إِن نَّقُولُ إِلَّا ٱعْتَرَىٰكَ بَعْضُ ءَالِهَتِنَا بِسُوٓءٍ ۗ قَالَ إِنِّىٓ أُشْهِدُ ٱللَّهَ وَٱشْهَدُوٓا۟ أَنِّى بَرِىٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ“Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu”. Huud menjawab: “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS. Hud: 54)مِن دُونِهِۦ ۖ فَكِيدُونِى جَمِيعًا ثُمَّ لَا تُنظِرُونِ“Dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.” (QS. Hud: 55)إِنِّى تَوَكَّلْتُ عَلَى ٱللَّهِ رَبِّى وَرَبِّكُم ۚ مَّا مِن دَآبَّةٍ إِلَّا هُوَ ءَاخِذٌۢ بِنَاصِيَتِهَآ ۚ إِنَّ رَبِّى عَلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ“Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus“.” (QS. Hud: 56) KesimpulanDari seluruh dialog ini lahir kaidah besar:Setiap yang lemah, berubah, hilang, diatur, dan tidak berkuasa — bukan ilah yang berhak disembah.Karena itu Ibrahim menutup dengan deklarasi:إِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ“Aku menghadapkan diriku hanya kepada Pencipta langit dan bumi.”Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalām dalam QS. Al-An‘am (74–80) menegaskan bahwa akar kesesatan kaumnya adalah kesyirikan: menyembah patung dan benda-benda langit sebagai perantara, padahal semuanya makhluk yang tidak kuasa memberi manfaat dan mudarat. Allah meneguhkan Ibrahim dengan “malakūt” langit dan bumi agar keyakinannya sempurna, lalu Ibrahim membantah keyakinan kaumnya dengan hujah yang terang: bintang, bulan, dan matahari terbit dan tenggelam, sehingga tidak layak jadi sesembahan. Maka Ibrahim menutupnya dengan bara’ (berlepas diri) dari syirik dan itsbāt (menetapkan) tauhid: hanya Allah Pencipta dan Pengatur semesta yang berhak diibadahi. Ini juga membantah anggapan bahwa Ibrahim pernah “mencari Tuhan”; yang benar, beliau menghancurkan logika syirik kaumnya melalui dialog yang cerdas dan tegas.اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ التَّوْحِيدِ وَالْيَقِينِ“Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang bertauhid dan memiliki keyakinan yang kokoh.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Selasa siang, 7 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsayat tentang tauhid bantahan kesyirikan belajar tauhid dakwah tauhid para nabi dialog tauhid Ibrahim kisah Nabi Ibrahim logika tauhid dalam Islam makna hanif dalam Islam nabi ibrahim nabi Ibrahim dan penyembahan berhala pelajaran tauhid Al-Quran renungan ayat renungan quran tafsir Al-Anam tauhid tauhid Nabi Ibrahim

Bukan Mencari Tuhan! Nabi Ibrahim Sedang Menghancurkan Logika Syirik Kaumnya (Tafsir Surah Al-An’am ayat 74-80)

Lanjut lagi bahasan dari juz ketujuh, dari surah Al-An’am. Banyak orang memahami kisah bintang, bulan, dan matahari dalam QS. Al-An‘am seakan-akan Nabi Ibrahim ‘alaihissalām sedang “mencari Tuhan”. Padahal, para ulama tafsir menjelaskan bahwa konteksnya adalah dialog dan debat untuk membongkar kesyirikan kaumnya. Nabi Ibrahim tidak sedang ragu, tetapi sedang menuntun kaumnya dengan hujah yang mereka pahami: menunjukkan bahwa benda-benda langit yang terbit lalu terbenam adalah makhluk yang diatur, bukan Tuhan yang disembah.Inilah pelajaran besar bagi kita: tauhid bukan sekadar keyakinan di hati, tetapi juga kejernihan logika dalam menilai apa yang layak disembah. Jika sesuatu hilang, berubah, lemah, dan tidak mengurus hamba—maka ia tidak pantas menjadi ilah (sesembahan). Karena itu, puncak kisah ini bukan pada “pencarian”, melainkan pada deklarasi berlepas diri dari syirik dan menghadap total kepada Pencipta langit dan bumi: “Inni wajjahtu wajhiya…”.  Daftar Isi tutup 1. Ketika Nabi Ibrahim Membongkar Akar Kesyirikan Kaumnya 2. Allah Meneguhkan Keyakinan Nabi Ibrahim dengan Ayat-Ayat Kauniyah 3. Bukan Mencari Tuhan, Tetapi Membongkar Kesyirikan Kaumnya 4. Bantahan Ulama terhadap Anggapan Ibrahim Pernah Mencari Tuhan 5. Kesimpulan  Ketika Nabi Ibrahim Membongkar Akar Kesyirikan KaumnyaAllah Ta’ala berfirman,۞ وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ ءَازَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا ءَالِهَةً ۖ إِنِّىٓ أَرَىٰكَ وَقَوْمَكَ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ“Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”.” (QS. Al-An’am: 74)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut. Allah Ta’ala berfirman: Ingatlah kisah Ibrahim ‘alaihisshalatu wassalam, dengan memuji dan mengagungkannya dalam dakwahnya kepada tauhid serta dalam upayanya melarang dari kesyirikan.Ketika ia berkata kepada ayahnya, “Azar, apakah engkau menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?” Padahal berhala-berhala itu tidak mampu memberi manfaat dan tidak pula menimbulkan mudarat. Ia sama sekali tidak memiliki kekuasaan atas apa pun.Kemudian Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu berada dalam kesesatan yang nyata.” Karena kalian menyembah sesuatu yang sama sekali tidak berhak untuk disembah, dan kalian meninggalkan ibadah kepada Pencipta kalian, Pemberi rezeki kalian, dan Pengatur seluruh urusan kalian. Allah Meneguhkan Keyakinan Nabi Ibrahim dengan Ayat-Ayat KauniyahAllah Ta’ala berfirman,وَكَذَٰلِكَ نُرِىٓ إِبْرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلْمُوقِنِينَ“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.” (QS. Al-An’am: 75)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Makna firman-Nya, “Dan demikianlah”, yaitu sebagaimana Kami telah memberi taufik kepadanya untuk mentauhidkan Allah dan berdakwah kepada tauhid.“Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kerajaan langit dan bumi”, maksudnya agar ia menyaksikan dengan mata hatinya berbagai tanda dan bukti yang tegas, serta dalil-dalil yang terang, yang terdapat di langit dan di bumi.“Dan agar ia termasuk orang-orang yang yakin.” Karena dengan tegaknya dalil-dalil dan kuatnya bukti-bukti itu, lahirlah keyakinan yang sempurna dan ilmu yang mendalam tentang seluruh perkara yang menjadi tujuan iman. Bukan Mencari Tuhan, Tetapi Membongkar Kesyirikan KaumnyaAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ ٱلَّيْلُ رَءَا كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّى ۖ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَآ أُحِبُّ ٱلْءَافِلِينَ“Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”.” (QS. Al-An’am: 76)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.“Ketika malam telah gelap menutupinya”, yaitu ketika malam menjadi gelap gulita.“Ia melihat sebuah bintang”, kemungkinan besar adalah bintang yang sangat terang, karena penyebutan khusus terhadapnya menunjukkan bahwa ia lebih menonjol dibanding bintang-bintang lainnya. Oleh karena itu—wallahu a‘lam—sebagian ulama berpendapat bahwa bintang tersebut adalah Venus.Ia berkata, “Inilah Tuhanku.” Ucapan ini disampaikan dalam rangka berdialog dan mengikuti alur berpikir kaumnya, seakan-akan ia berkata, “Baiklah, ini Tuhanku. Mari kita perhatikan, apakah ia memang layak menjadi Tuhan? Apakah ada bukti dan dalil yang menunjukkan bahwa ia pantas disembah?” Karena tidak sepantasnya orang yang berakal menjadikan sesuatu sebagai tuhan hanya berdasarkan hawa nafsu, tanpa hujah dan tanpa bukti.“Ketika bintang itu terbenam”, yakni ketika bintang tersebut menghilang dan tidak tampak lagi.Ia berkata, “Aku tidak menyukai sesuatu yang terbenam.” Maksudnya, sesuatu yang menghilang dan tidak tampak dari para penyembahnya tidak layak untuk disembah. Sesembahan yang benar seharusnya selalu mengurusi kepentingan hamba yang menyembahnya, mengatur seluruh urusannya setiap waktu. Adapun sesuatu yang dalam waktu lama menghilang dan tidak terlihat, bagaimana mungkin ia pantas menjadi Tuhan?Menjadikannya sebagai sesembahan hanyalah bentuk kebodohan yang paling nyata dan kesesatan yang paling batil.Allah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا رَءَا ٱلْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّى ۖ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمْ يَهْدِنِى رَبِّى لَأَكُونَنَّ مِنَ ٱلْقَوْمِ ٱلضَّآلِّينَ“Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat”.” (QS. Al-An’am: 77)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.“Ketika ia melihat bulan terbit”, yaitu ketika bulan muncul dan bersinar. Ia melihat bahwa cahaya bulan lebih besar dibandingkan cahaya bintang-bintang, dan berbeda dari yang lainnya.Ia berkata, “Inilah Tuhanku,” sebagai bentuk mengikuti alur berpikir kaumnya dalam berdialog dengan mereka.“Ketika bulan itu terbenam”, ia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pasti aku termasuk orang-orang yang sesat.”Dalam ucapan ini tampak betapa ia sangat membutuhkan petunjuk dari Rabbnya. Ia benar-benar menunjukkan ketergantungan yang sempurna kepada Allah. Ia menyadari bahwa jika Allah tidak memberinya hidayah, maka tidak ada seorang pun yang mampu memberinya petunjuk. Jika Allah tidak menolongnya dalam ketaatan, maka tidak ada penolong baginya.Allah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا رَءَا ٱلشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّى هَٰذَآ أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّآ أَفَلَتْ قَالَ يَٰقَوْمِ إِنِّى بَرِىٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ“Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS. Al-An’am: 78)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.“Ketika ia melihat matahari terbit”, ia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar,” yakni lebih besar daripada bintang dan bulan.Namun ketika matahari itu terbenam, saat itulah kebenaran semakin jelas dan kesesatan pun sirna. Maka ia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan.”Karena telah tegak dalil yang benar dan nyata, yang menunjukkan batilnya apa yang mereka sembah. Dengan demikian, jelaslah bahwa semua benda langit itu tidak layak menjadi sesembahan.Allah Ta’ala berfirman,إِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS. Al-An’am: 79)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Maknanya: Aku memurnikan ibadahku hanya kepada Allah semata, menghadapkan diri sepenuhnya kepada-Nya, dan berpaling dari segala sesuatu selain-Nya.“Dalam keadaan hanif”, yaitu lurus di atas tauhid, condong kepada kebenaran dan menjauhi kesyirikan.“Dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” Dengan pernyataan ini, ia berlepas diri dari kesyirikan, tunduk sepenuhnya kepada tauhid, dan menegakkan hujah yang jelas atas kebenaran tersebut.Penjelasan yang telah disebutkan dalam menafsirkan ayat-ayat ini adalah pendapat yang benar, yaitu bahwa konteksnya adalah dialog dan perdebatan Nabi Ibrahim dengan kaumnya untuk menjelaskan batilnya penyembahan terhadap benda-benda langit dan selainnya.Adapun pendapat yang mengatakan bahwa ini adalah proses pencarian Ibrahim ketika masa kecilnya, maka pendapat tersebut tidak memiliki dalil yang kuat. Bantahan Ulama terhadap Anggapan Ibrahim Pernah Mencari TuhanBerikut adalah penjelasan dari Imam Ibnu Katsir dari kitab tafsinya.Yang benar adalah bahwa Ibrahim ‘alaihisshalatu wassalam pada saat itu sedang berdialog dan berdebat dengan kaumnya. Ia menjelaskan batilnya ajaran yang mereka anut, yaitu menyembah bangunan-bangunan suci dan patung-patung.Pada kesempatan sebelumnya bersama ayahnya, ia telah menjelaskan kesalahan mereka dalam menyembah patung-patung di bumi, yang dibuat menyerupai malaikat-malaikat di langit. Mereka menjadikannya sebagai perantara agar dapat memberi syafaat kepada mereka di sisi Sang Pencipta Yang Mahaagung. Menurut anggapan mereka, diri mereka terlalu rendah untuk langsung menyembah Allah. Karena itu, mereka bertawasul dengan menyembah para malaikat, agar malaikat-malaikat tersebut memberi syafaat kepada mereka dalam hal rezeki, kemenangan, dan berbagai kebutuhan lainnya.Dalam peristiwa ini, Ibrahim juga menjelaskan kesalahan dan kesesatan mereka dalam menyembah bangunan-bangunan yang berkaitan dengan tujuh benda langit yang bergerak, yaitu: bulan, Merkurius, Venus, matahari, Mars, Jupiter, dan Saturnus. Benda yang paling terang dan paling bersinar menurut mereka adalah matahari, kemudian bulan, lalu Venus.Maka Ibrahim pertama-tama menjelaskan bahwa Venus tidak pantas dijadikan tuhan. Ia hanyalah makhluk yang ditundukkan dan diatur dalam orbit tertentu. Ia tidak menyimpang sedikit pun ke kanan atau ke kiri, dan tidak memiliki kuasa atas dirinya sendiri. Ia hanyalah salah satu benda langit yang Allah ciptakan bercahaya, karena hikmah-hikmah besar yang Dia kehendaki. Ia terbit dari timur, bergerak hingga ke barat, lalu menghilang dari pandangan, dan muncul kembali pada malam berikutnya dengan pola yang sama. Sesuatu yang seperti ini jelas tidak layak untuk disembah.Kemudian ia berpindah kepada bulan, dan menjelaskan hal yang sama sebagaimana ia jelaskan tentang bintang.Lalu ia berpindah kepada matahari. Ketika ketiga benda langit tersebut—yang merupakan benda paling terang yang dapat dilihat mata—telah jelas tidak layak menjadi sesembahan dengan dalil yang tegas, maka ia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan.” Maksudnya, aku berlepas diri dari menyembah dan loyalitas kepada benda-benda itu. Jika memang mereka adalah tuhan-tuhan, maka silakan kalian bersama-sama mencelakakanku dengan mereka tanpa memberi penangguhan sedikit pun.Kemudian ia menegaskan, “Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus (hanif), dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik.” Maksudnya, aku hanya menyembah Pencipta semua benda itu, yang mengadakannya, menundukkannya, mengaturnya, dan menetapkan peredarannya. Dia-lah yang di tangan-Nya kerajaan segala sesuatu, Pencipta dan Pemilik segala sesuatu, Rabb dan Ilah seluruh makhluk.Sebagaimana firman Allah Ta’ala:إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ يُغْشِى ٱلَّيْلَ ٱلنَّهَارَ يَطْلُبُهُۥ حَثِيثًا وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ مُسَخَّرَٰتٍۭ بِأَمْرِهِۦٓ ۗ أَلَا لَهُ ٱلْخَلْقُ وَٱلْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-A’raf: 54)Bagaimana mungkin Ibrahim Al-Khalil berada dalam posisi mencari-cari kebenaran pada saat itu, padahal Allah telah berfirman tentangnya:۞ وَلَقَدْ ءَاتَيْنَآ إِبْرَٰهِيمَ رُشْدَهُۥ مِن قَبْلُ وَكُنَّا بِهِۦ عَٰلِمِينَإِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ٱلَّتِىٓ أَنتُمْ لَهَا عَٰكِفُونَ“Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?” (QS. Al-Anbiya: 51-52)Allah juga berfirman,إِنَّ إِبْرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَشَاكِرًا لِّأَنْعُمِهِ ۚ ٱجْتَبَىٰهُ وَهَدَىٰهُ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍوَءَاتَيْنَٰهُ فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً ۖ وَإِنَّهُۥ فِى ٱلْءَاخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. An-Nahl: 120–123)Dan Allah berfirman:قُلْ إِنَّنِى هَدَىٰنِى رَبِّىٓ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِّلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًا ۚ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ“Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik”.” (QS. Al-An‘am: 161)Telah sahih dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah.”Dalam Shahih Muslim dari ‘Iyadh bin Himar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah berfirman:إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ“Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif.”Dan Allah berfirman:فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Ruum: 30)Dan firman-Nya:وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.” (QS. Al-A‘raf: 172)Makna ayat ini menurut salah satu pendapat sejalan dengan firman-Nya, “Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu,” sebagaimana akan dijelaskan.Jika demikian keadaan seluruh makhluk pada asal penciptaannya, maka bagaimana mungkin Ibrahim Al-Khalil—yang Allah jadikan sebagai “seorang imam yang patuh kepada Allah, hanif, dan tidak termasuk orang-orang musyrik”—dalam posisi sedang mencari-cari kebenaran pada saat itu?Justru ia adalah manusia yang paling layak memiliki fitrah yang lurus dan tabiat yang benar, setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa ada keraguan sedikit pun.Di antara dalil yang menguatkan bahwa pada saat itu ia sedang berdialog dan berdebat dengan kaumnya—bukan sedang mencari kebenaran—adalah firman Allah Ta’ala berikutnya.وَحَآجَّهُۥ قَوْمُهُۥ ۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّى فِى ٱللَّهِ وَقَدْ هَدَىٰنِ ۚ وَلَآ أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِۦٓ إِلَّآ أَن يَشَآءَ رَبِّى شَيْـًٔا ۗ وَسِعَ رَبِّى كُلَّ شَىْءٍ عِلْمًا ۗ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ“Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: “Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku”. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)?” (QS. Al-An’am: 80)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai surah Al-An’am ayat 80 sebagai berikut.Ibrahim berkata, “Apakah kalian membantahku tentang Allah, padahal Dia telah memberiku petunjuk?” Maksudnya, apakah kalian masih juga memperdebatkanku tentang keesaan Allah, bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, padahal Allah telah membukakan hatiku, memberiku petunjuk kepada kebenaran, dan aku berada di atas dalil yang jelas? Lalu bagaimana mungkin aku berpaling kepada ucapan-ucapan kalian yang rusak dan syubhat-syubhat kalian yang batil?Kemudian ia berkata, “Aku tidak takut kepada apa yang kalian persekutukan dengan-Nya, kecuali jika Rabbku menghendaki sesuatu.” Ini juga menjadi bukti atas batilnya keyakinan mereka. Sesembahan yang mereka agungkan itu sama sekali tidak memiliki pengaruh apa pun. Ibrahim tidak takut kepadanya dan tidak memedulikannya. Seandainya sesembahan-sesembahan itu benar-benar memiliki kekuatan, maka silakan mereka mencelakakannya segera tanpa ditunda-tunda.Adapun ucapannya, “kecuali jika Rabbku menghendaki sesuatu,” merupakan pengecualian yang terputus maknanya. Artinya, tidak ada yang mampu memberi mudarat atau manfaat selain Allah semata.Lalu ia menegaskan, “Ilmu Rabbku meliputi segala sesuatu.” Maksudnya, pengetahuan Allah mencakup seluruh makhluk dan seluruh keadaan mereka; tidak ada satu pun yang tersembunyi dari-Nya.Kemudian ia berkata, “Tidakkah kalian mengambil pelajaran?” Maksudnya, tidakkah kalian merenungkan penjelasan yang telah aku sampaikan, sehingga kalian menyadari bahwa sesembahan-sesembahan itu batil, lalu berhenti dari menyembahnya?Hujah yang disampaikan Ibrahim ini serupa dengan hujah yang disampaikan Nabi Hud ‘alaihissalam kepada kaumnya, kaum ‘Ad. Sebagaimana Allah kisahkan dalam Al-Qur’an,قَالُوا۟ يَٰهُودُ مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَمَا نَحْنُ بِتَارِكِىٓ ءَالِهَتِنَا عَن قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ“Kaum ‘Ad berkata: “Hai Huud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu.” (QS. Hud: 53)إِن نَّقُولُ إِلَّا ٱعْتَرَىٰكَ بَعْضُ ءَالِهَتِنَا بِسُوٓءٍ ۗ قَالَ إِنِّىٓ أُشْهِدُ ٱللَّهَ وَٱشْهَدُوٓا۟ أَنِّى بَرِىٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ“Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu”. Huud menjawab: “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS. Hud: 54)مِن دُونِهِۦ ۖ فَكِيدُونِى جَمِيعًا ثُمَّ لَا تُنظِرُونِ“Dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.” (QS. Hud: 55)إِنِّى تَوَكَّلْتُ عَلَى ٱللَّهِ رَبِّى وَرَبِّكُم ۚ مَّا مِن دَآبَّةٍ إِلَّا هُوَ ءَاخِذٌۢ بِنَاصِيَتِهَآ ۚ إِنَّ رَبِّى عَلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ“Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus“.” (QS. Hud: 56) KesimpulanDari seluruh dialog ini lahir kaidah besar:Setiap yang lemah, berubah, hilang, diatur, dan tidak berkuasa — bukan ilah yang berhak disembah.Karena itu Ibrahim menutup dengan deklarasi:إِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ“Aku menghadapkan diriku hanya kepada Pencipta langit dan bumi.”Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalām dalam QS. Al-An‘am (74–80) menegaskan bahwa akar kesesatan kaumnya adalah kesyirikan: menyembah patung dan benda-benda langit sebagai perantara, padahal semuanya makhluk yang tidak kuasa memberi manfaat dan mudarat. Allah meneguhkan Ibrahim dengan “malakūt” langit dan bumi agar keyakinannya sempurna, lalu Ibrahim membantah keyakinan kaumnya dengan hujah yang terang: bintang, bulan, dan matahari terbit dan tenggelam, sehingga tidak layak jadi sesembahan. Maka Ibrahim menutupnya dengan bara’ (berlepas diri) dari syirik dan itsbāt (menetapkan) tauhid: hanya Allah Pencipta dan Pengatur semesta yang berhak diibadahi. Ini juga membantah anggapan bahwa Ibrahim pernah “mencari Tuhan”; yang benar, beliau menghancurkan logika syirik kaumnya melalui dialog yang cerdas dan tegas.اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ التَّوْحِيدِ وَالْيَقِينِ“Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang bertauhid dan memiliki keyakinan yang kokoh.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Selasa siang, 7 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsayat tentang tauhid bantahan kesyirikan belajar tauhid dakwah tauhid para nabi dialog tauhid Ibrahim kisah Nabi Ibrahim logika tauhid dalam Islam makna hanif dalam Islam nabi ibrahim nabi Ibrahim dan penyembahan berhala pelajaran tauhid Al-Quran renungan ayat renungan quran tafsir Al-Anam tauhid tauhid Nabi Ibrahim
Lanjut lagi bahasan dari juz ketujuh, dari surah Al-An’am. Banyak orang memahami kisah bintang, bulan, dan matahari dalam QS. Al-An‘am seakan-akan Nabi Ibrahim ‘alaihissalām sedang “mencari Tuhan”. Padahal, para ulama tafsir menjelaskan bahwa konteksnya adalah dialog dan debat untuk membongkar kesyirikan kaumnya. Nabi Ibrahim tidak sedang ragu, tetapi sedang menuntun kaumnya dengan hujah yang mereka pahami: menunjukkan bahwa benda-benda langit yang terbit lalu terbenam adalah makhluk yang diatur, bukan Tuhan yang disembah.Inilah pelajaran besar bagi kita: tauhid bukan sekadar keyakinan di hati, tetapi juga kejernihan logika dalam menilai apa yang layak disembah. Jika sesuatu hilang, berubah, lemah, dan tidak mengurus hamba—maka ia tidak pantas menjadi ilah (sesembahan). Karena itu, puncak kisah ini bukan pada “pencarian”, melainkan pada deklarasi berlepas diri dari syirik dan menghadap total kepada Pencipta langit dan bumi: “Inni wajjahtu wajhiya…”.  Daftar Isi tutup 1. Ketika Nabi Ibrahim Membongkar Akar Kesyirikan Kaumnya 2. Allah Meneguhkan Keyakinan Nabi Ibrahim dengan Ayat-Ayat Kauniyah 3. Bukan Mencari Tuhan, Tetapi Membongkar Kesyirikan Kaumnya 4. Bantahan Ulama terhadap Anggapan Ibrahim Pernah Mencari Tuhan 5. Kesimpulan  Ketika Nabi Ibrahim Membongkar Akar Kesyirikan KaumnyaAllah Ta’ala berfirman,۞ وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ ءَازَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا ءَالِهَةً ۖ إِنِّىٓ أَرَىٰكَ وَقَوْمَكَ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ“Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”.” (QS. Al-An’am: 74)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut. Allah Ta’ala berfirman: Ingatlah kisah Ibrahim ‘alaihisshalatu wassalam, dengan memuji dan mengagungkannya dalam dakwahnya kepada tauhid serta dalam upayanya melarang dari kesyirikan.Ketika ia berkata kepada ayahnya, “Azar, apakah engkau menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?” Padahal berhala-berhala itu tidak mampu memberi manfaat dan tidak pula menimbulkan mudarat. Ia sama sekali tidak memiliki kekuasaan atas apa pun.Kemudian Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu berada dalam kesesatan yang nyata.” Karena kalian menyembah sesuatu yang sama sekali tidak berhak untuk disembah, dan kalian meninggalkan ibadah kepada Pencipta kalian, Pemberi rezeki kalian, dan Pengatur seluruh urusan kalian. Allah Meneguhkan Keyakinan Nabi Ibrahim dengan Ayat-Ayat KauniyahAllah Ta’ala berfirman,وَكَذَٰلِكَ نُرِىٓ إِبْرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلْمُوقِنِينَ“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.” (QS. Al-An’am: 75)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Makna firman-Nya, “Dan demikianlah”, yaitu sebagaimana Kami telah memberi taufik kepadanya untuk mentauhidkan Allah dan berdakwah kepada tauhid.“Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kerajaan langit dan bumi”, maksudnya agar ia menyaksikan dengan mata hatinya berbagai tanda dan bukti yang tegas, serta dalil-dalil yang terang, yang terdapat di langit dan di bumi.“Dan agar ia termasuk orang-orang yang yakin.” Karena dengan tegaknya dalil-dalil dan kuatnya bukti-bukti itu, lahirlah keyakinan yang sempurna dan ilmu yang mendalam tentang seluruh perkara yang menjadi tujuan iman. Bukan Mencari Tuhan, Tetapi Membongkar Kesyirikan KaumnyaAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ ٱلَّيْلُ رَءَا كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّى ۖ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَآ أُحِبُّ ٱلْءَافِلِينَ“Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”.” (QS. Al-An’am: 76)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.“Ketika malam telah gelap menutupinya”, yaitu ketika malam menjadi gelap gulita.“Ia melihat sebuah bintang”, kemungkinan besar adalah bintang yang sangat terang, karena penyebutan khusus terhadapnya menunjukkan bahwa ia lebih menonjol dibanding bintang-bintang lainnya. Oleh karena itu—wallahu a‘lam—sebagian ulama berpendapat bahwa bintang tersebut adalah Venus.Ia berkata, “Inilah Tuhanku.” Ucapan ini disampaikan dalam rangka berdialog dan mengikuti alur berpikir kaumnya, seakan-akan ia berkata, “Baiklah, ini Tuhanku. Mari kita perhatikan, apakah ia memang layak menjadi Tuhan? Apakah ada bukti dan dalil yang menunjukkan bahwa ia pantas disembah?” Karena tidak sepantasnya orang yang berakal menjadikan sesuatu sebagai tuhan hanya berdasarkan hawa nafsu, tanpa hujah dan tanpa bukti.“Ketika bintang itu terbenam”, yakni ketika bintang tersebut menghilang dan tidak tampak lagi.Ia berkata, “Aku tidak menyukai sesuatu yang terbenam.” Maksudnya, sesuatu yang menghilang dan tidak tampak dari para penyembahnya tidak layak untuk disembah. Sesembahan yang benar seharusnya selalu mengurusi kepentingan hamba yang menyembahnya, mengatur seluruh urusannya setiap waktu. Adapun sesuatu yang dalam waktu lama menghilang dan tidak terlihat, bagaimana mungkin ia pantas menjadi Tuhan?Menjadikannya sebagai sesembahan hanyalah bentuk kebodohan yang paling nyata dan kesesatan yang paling batil.Allah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا رَءَا ٱلْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّى ۖ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمْ يَهْدِنِى رَبِّى لَأَكُونَنَّ مِنَ ٱلْقَوْمِ ٱلضَّآلِّينَ“Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat”.” (QS. Al-An’am: 77)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.“Ketika ia melihat bulan terbit”, yaitu ketika bulan muncul dan bersinar. Ia melihat bahwa cahaya bulan lebih besar dibandingkan cahaya bintang-bintang, dan berbeda dari yang lainnya.Ia berkata, “Inilah Tuhanku,” sebagai bentuk mengikuti alur berpikir kaumnya dalam berdialog dengan mereka.“Ketika bulan itu terbenam”, ia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pasti aku termasuk orang-orang yang sesat.”Dalam ucapan ini tampak betapa ia sangat membutuhkan petunjuk dari Rabbnya. Ia benar-benar menunjukkan ketergantungan yang sempurna kepada Allah. Ia menyadari bahwa jika Allah tidak memberinya hidayah, maka tidak ada seorang pun yang mampu memberinya petunjuk. Jika Allah tidak menolongnya dalam ketaatan, maka tidak ada penolong baginya.Allah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا رَءَا ٱلشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّى هَٰذَآ أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّآ أَفَلَتْ قَالَ يَٰقَوْمِ إِنِّى بَرِىٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ“Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS. Al-An’am: 78)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.“Ketika ia melihat matahari terbit”, ia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar,” yakni lebih besar daripada bintang dan bulan.Namun ketika matahari itu terbenam, saat itulah kebenaran semakin jelas dan kesesatan pun sirna. Maka ia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan.”Karena telah tegak dalil yang benar dan nyata, yang menunjukkan batilnya apa yang mereka sembah. Dengan demikian, jelaslah bahwa semua benda langit itu tidak layak menjadi sesembahan.Allah Ta’ala berfirman,إِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS. Al-An’am: 79)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Maknanya: Aku memurnikan ibadahku hanya kepada Allah semata, menghadapkan diri sepenuhnya kepada-Nya, dan berpaling dari segala sesuatu selain-Nya.“Dalam keadaan hanif”, yaitu lurus di atas tauhid, condong kepada kebenaran dan menjauhi kesyirikan.“Dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” Dengan pernyataan ini, ia berlepas diri dari kesyirikan, tunduk sepenuhnya kepada tauhid, dan menegakkan hujah yang jelas atas kebenaran tersebut.Penjelasan yang telah disebutkan dalam menafsirkan ayat-ayat ini adalah pendapat yang benar, yaitu bahwa konteksnya adalah dialog dan perdebatan Nabi Ibrahim dengan kaumnya untuk menjelaskan batilnya penyembahan terhadap benda-benda langit dan selainnya.Adapun pendapat yang mengatakan bahwa ini adalah proses pencarian Ibrahim ketika masa kecilnya, maka pendapat tersebut tidak memiliki dalil yang kuat. Bantahan Ulama terhadap Anggapan Ibrahim Pernah Mencari TuhanBerikut adalah penjelasan dari Imam Ibnu Katsir dari kitab tafsinya.Yang benar adalah bahwa Ibrahim ‘alaihisshalatu wassalam pada saat itu sedang berdialog dan berdebat dengan kaumnya. Ia menjelaskan batilnya ajaran yang mereka anut, yaitu menyembah bangunan-bangunan suci dan patung-patung.Pada kesempatan sebelumnya bersama ayahnya, ia telah menjelaskan kesalahan mereka dalam menyembah patung-patung di bumi, yang dibuat menyerupai malaikat-malaikat di langit. Mereka menjadikannya sebagai perantara agar dapat memberi syafaat kepada mereka di sisi Sang Pencipta Yang Mahaagung. Menurut anggapan mereka, diri mereka terlalu rendah untuk langsung menyembah Allah. Karena itu, mereka bertawasul dengan menyembah para malaikat, agar malaikat-malaikat tersebut memberi syafaat kepada mereka dalam hal rezeki, kemenangan, dan berbagai kebutuhan lainnya.Dalam peristiwa ini, Ibrahim juga menjelaskan kesalahan dan kesesatan mereka dalam menyembah bangunan-bangunan yang berkaitan dengan tujuh benda langit yang bergerak, yaitu: bulan, Merkurius, Venus, matahari, Mars, Jupiter, dan Saturnus. Benda yang paling terang dan paling bersinar menurut mereka adalah matahari, kemudian bulan, lalu Venus.Maka Ibrahim pertama-tama menjelaskan bahwa Venus tidak pantas dijadikan tuhan. Ia hanyalah makhluk yang ditundukkan dan diatur dalam orbit tertentu. Ia tidak menyimpang sedikit pun ke kanan atau ke kiri, dan tidak memiliki kuasa atas dirinya sendiri. Ia hanyalah salah satu benda langit yang Allah ciptakan bercahaya, karena hikmah-hikmah besar yang Dia kehendaki. Ia terbit dari timur, bergerak hingga ke barat, lalu menghilang dari pandangan, dan muncul kembali pada malam berikutnya dengan pola yang sama. Sesuatu yang seperti ini jelas tidak layak untuk disembah.Kemudian ia berpindah kepada bulan, dan menjelaskan hal yang sama sebagaimana ia jelaskan tentang bintang.Lalu ia berpindah kepada matahari. Ketika ketiga benda langit tersebut—yang merupakan benda paling terang yang dapat dilihat mata—telah jelas tidak layak menjadi sesembahan dengan dalil yang tegas, maka ia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan.” Maksudnya, aku berlepas diri dari menyembah dan loyalitas kepada benda-benda itu. Jika memang mereka adalah tuhan-tuhan, maka silakan kalian bersama-sama mencelakakanku dengan mereka tanpa memberi penangguhan sedikit pun.Kemudian ia menegaskan, “Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus (hanif), dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik.” Maksudnya, aku hanya menyembah Pencipta semua benda itu, yang mengadakannya, menundukkannya, mengaturnya, dan menetapkan peredarannya. Dia-lah yang di tangan-Nya kerajaan segala sesuatu, Pencipta dan Pemilik segala sesuatu, Rabb dan Ilah seluruh makhluk.Sebagaimana firman Allah Ta’ala:إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ يُغْشِى ٱلَّيْلَ ٱلنَّهَارَ يَطْلُبُهُۥ حَثِيثًا وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ مُسَخَّرَٰتٍۭ بِأَمْرِهِۦٓ ۗ أَلَا لَهُ ٱلْخَلْقُ وَٱلْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-A’raf: 54)Bagaimana mungkin Ibrahim Al-Khalil berada dalam posisi mencari-cari kebenaran pada saat itu, padahal Allah telah berfirman tentangnya:۞ وَلَقَدْ ءَاتَيْنَآ إِبْرَٰهِيمَ رُشْدَهُۥ مِن قَبْلُ وَكُنَّا بِهِۦ عَٰلِمِينَإِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ٱلَّتِىٓ أَنتُمْ لَهَا عَٰكِفُونَ“Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?” (QS. Al-Anbiya: 51-52)Allah juga berfirman,إِنَّ إِبْرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَشَاكِرًا لِّأَنْعُمِهِ ۚ ٱجْتَبَىٰهُ وَهَدَىٰهُ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍوَءَاتَيْنَٰهُ فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً ۖ وَإِنَّهُۥ فِى ٱلْءَاخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. An-Nahl: 120–123)Dan Allah berfirman:قُلْ إِنَّنِى هَدَىٰنِى رَبِّىٓ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِّلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًا ۚ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ“Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik”.” (QS. Al-An‘am: 161)Telah sahih dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah.”Dalam Shahih Muslim dari ‘Iyadh bin Himar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah berfirman:إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ“Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif.”Dan Allah berfirman:فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Ruum: 30)Dan firman-Nya:وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.” (QS. Al-A‘raf: 172)Makna ayat ini menurut salah satu pendapat sejalan dengan firman-Nya, “Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu,” sebagaimana akan dijelaskan.Jika demikian keadaan seluruh makhluk pada asal penciptaannya, maka bagaimana mungkin Ibrahim Al-Khalil—yang Allah jadikan sebagai “seorang imam yang patuh kepada Allah, hanif, dan tidak termasuk orang-orang musyrik”—dalam posisi sedang mencari-cari kebenaran pada saat itu?Justru ia adalah manusia yang paling layak memiliki fitrah yang lurus dan tabiat yang benar, setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa ada keraguan sedikit pun.Di antara dalil yang menguatkan bahwa pada saat itu ia sedang berdialog dan berdebat dengan kaumnya—bukan sedang mencari kebenaran—adalah firman Allah Ta’ala berikutnya.وَحَآجَّهُۥ قَوْمُهُۥ ۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّى فِى ٱللَّهِ وَقَدْ هَدَىٰنِ ۚ وَلَآ أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِۦٓ إِلَّآ أَن يَشَآءَ رَبِّى شَيْـًٔا ۗ وَسِعَ رَبِّى كُلَّ شَىْءٍ عِلْمًا ۗ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ“Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: “Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku”. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)?” (QS. Al-An’am: 80)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai surah Al-An’am ayat 80 sebagai berikut.Ibrahim berkata, “Apakah kalian membantahku tentang Allah, padahal Dia telah memberiku petunjuk?” Maksudnya, apakah kalian masih juga memperdebatkanku tentang keesaan Allah, bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, padahal Allah telah membukakan hatiku, memberiku petunjuk kepada kebenaran, dan aku berada di atas dalil yang jelas? Lalu bagaimana mungkin aku berpaling kepada ucapan-ucapan kalian yang rusak dan syubhat-syubhat kalian yang batil?Kemudian ia berkata, “Aku tidak takut kepada apa yang kalian persekutukan dengan-Nya, kecuali jika Rabbku menghendaki sesuatu.” Ini juga menjadi bukti atas batilnya keyakinan mereka. Sesembahan yang mereka agungkan itu sama sekali tidak memiliki pengaruh apa pun. Ibrahim tidak takut kepadanya dan tidak memedulikannya. Seandainya sesembahan-sesembahan itu benar-benar memiliki kekuatan, maka silakan mereka mencelakakannya segera tanpa ditunda-tunda.Adapun ucapannya, “kecuali jika Rabbku menghendaki sesuatu,” merupakan pengecualian yang terputus maknanya. Artinya, tidak ada yang mampu memberi mudarat atau manfaat selain Allah semata.Lalu ia menegaskan, “Ilmu Rabbku meliputi segala sesuatu.” Maksudnya, pengetahuan Allah mencakup seluruh makhluk dan seluruh keadaan mereka; tidak ada satu pun yang tersembunyi dari-Nya.Kemudian ia berkata, “Tidakkah kalian mengambil pelajaran?” Maksudnya, tidakkah kalian merenungkan penjelasan yang telah aku sampaikan, sehingga kalian menyadari bahwa sesembahan-sesembahan itu batil, lalu berhenti dari menyembahnya?Hujah yang disampaikan Ibrahim ini serupa dengan hujah yang disampaikan Nabi Hud ‘alaihissalam kepada kaumnya, kaum ‘Ad. Sebagaimana Allah kisahkan dalam Al-Qur’an,قَالُوا۟ يَٰهُودُ مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَمَا نَحْنُ بِتَارِكِىٓ ءَالِهَتِنَا عَن قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ“Kaum ‘Ad berkata: “Hai Huud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu.” (QS. Hud: 53)إِن نَّقُولُ إِلَّا ٱعْتَرَىٰكَ بَعْضُ ءَالِهَتِنَا بِسُوٓءٍ ۗ قَالَ إِنِّىٓ أُشْهِدُ ٱللَّهَ وَٱشْهَدُوٓا۟ أَنِّى بَرِىٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ“Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu”. Huud menjawab: “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS. Hud: 54)مِن دُونِهِۦ ۖ فَكِيدُونِى جَمِيعًا ثُمَّ لَا تُنظِرُونِ“Dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.” (QS. Hud: 55)إِنِّى تَوَكَّلْتُ عَلَى ٱللَّهِ رَبِّى وَرَبِّكُم ۚ مَّا مِن دَآبَّةٍ إِلَّا هُوَ ءَاخِذٌۢ بِنَاصِيَتِهَآ ۚ إِنَّ رَبِّى عَلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ“Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus“.” (QS. Hud: 56) KesimpulanDari seluruh dialog ini lahir kaidah besar:Setiap yang lemah, berubah, hilang, diatur, dan tidak berkuasa — bukan ilah yang berhak disembah.Karena itu Ibrahim menutup dengan deklarasi:إِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ“Aku menghadapkan diriku hanya kepada Pencipta langit dan bumi.”Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalām dalam QS. Al-An‘am (74–80) menegaskan bahwa akar kesesatan kaumnya adalah kesyirikan: menyembah patung dan benda-benda langit sebagai perantara, padahal semuanya makhluk yang tidak kuasa memberi manfaat dan mudarat. Allah meneguhkan Ibrahim dengan “malakūt” langit dan bumi agar keyakinannya sempurna, lalu Ibrahim membantah keyakinan kaumnya dengan hujah yang terang: bintang, bulan, dan matahari terbit dan tenggelam, sehingga tidak layak jadi sesembahan. Maka Ibrahim menutupnya dengan bara’ (berlepas diri) dari syirik dan itsbāt (menetapkan) tauhid: hanya Allah Pencipta dan Pengatur semesta yang berhak diibadahi. Ini juga membantah anggapan bahwa Ibrahim pernah “mencari Tuhan”; yang benar, beliau menghancurkan logika syirik kaumnya melalui dialog yang cerdas dan tegas.اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ التَّوْحِيدِ وَالْيَقِينِ“Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang bertauhid dan memiliki keyakinan yang kokoh.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Selasa siang, 7 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsayat tentang tauhid bantahan kesyirikan belajar tauhid dakwah tauhid para nabi dialog tauhid Ibrahim kisah Nabi Ibrahim logika tauhid dalam Islam makna hanif dalam Islam nabi ibrahim nabi Ibrahim dan penyembahan berhala pelajaran tauhid Al-Quran renungan ayat renungan quran tafsir Al-Anam tauhid tauhid Nabi Ibrahim


Lanjut lagi bahasan dari juz ketujuh, dari surah Al-An’am. Banyak orang memahami kisah bintang, bulan, dan matahari dalam QS. Al-An‘am seakan-akan Nabi Ibrahim ‘alaihissalām sedang “mencari Tuhan”. Padahal, para ulama tafsir menjelaskan bahwa konteksnya adalah dialog dan debat untuk membongkar kesyirikan kaumnya. Nabi Ibrahim tidak sedang ragu, tetapi sedang menuntun kaumnya dengan hujah yang mereka pahami: menunjukkan bahwa benda-benda langit yang terbit lalu terbenam adalah makhluk yang diatur, bukan Tuhan yang disembah.Inilah pelajaran besar bagi kita: tauhid bukan sekadar keyakinan di hati, tetapi juga kejernihan logika dalam menilai apa yang layak disembah. Jika sesuatu hilang, berubah, lemah, dan tidak mengurus hamba—maka ia tidak pantas menjadi ilah (sesembahan). Karena itu, puncak kisah ini bukan pada “pencarian”, melainkan pada deklarasi berlepas diri dari syirik dan menghadap total kepada Pencipta langit dan bumi: “Inni wajjahtu wajhiya…”.  Daftar Isi tutup 1. Ketika Nabi Ibrahim Membongkar Akar Kesyirikan Kaumnya 2. Allah Meneguhkan Keyakinan Nabi Ibrahim dengan Ayat-Ayat Kauniyah 3. Bukan Mencari Tuhan, Tetapi Membongkar Kesyirikan Kaumnya 4. Bantahan Ulama terhadap Anggapan Ibrahim Pernah Mencari Tuhan 5. Kesimpulan  Ketika Nabi Ibrahim Membongkar Akar Kesyirikan KaumnyaAllah Ta’ala berfirman,۞ وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ ءَازَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا ءَالِهَةً ۖ إِنِّىٓ أَرَىٰكَ وَقَوْمَكَ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ“Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”.” (QS. Al-An’am: 74)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut. Allah Ta’ala berfirman: Ingatlah kisah Ibrahim ‘alaihisshalatu wassalam, dengan memuji dan mengagungkannya dalam dakwahnya kepada tauhid serta dalam upayanya melarang dari kesyirikan.Ketika ia berkata kepada ayahnya, “Azar, apakah engkau menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?” Padahal berhala-berhala itu tidak mampu memberi manfaat dan tidak pula menimbulkan mudarat. Ia sama sekali tidak memiliki kekuasaan atas apa pun.Kemudian Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu berada dalam kesesatan yang nyata.” Karena kalian menyembah sesuatu yang sama sekali tidak berhak untuk disembah, dan kalian meninggalkan ibadah kepada Pencipta kalian, Pemberi rezeki kalian, dan Pengatur seluruh urusan kalian. Allah Meneguhkan Keyakinan Nabi Ibrahim dengan Ayat-Ayat KauniyahAllah Ta’ala berfirman,وَكَذَٰلِكَ نُرِىٓ إِبْرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلْمُوقِنِينَ“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.” (QS. Al-An’am: 75)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Makna firman-Nya, “Dan demikianlah”, yaitu sebagaimana Kami telah memberi taufik kepadanya untuk mentauhidkan Allah dan berdakwah kepada tauhid.“Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kerajaan langit dan bumi”, maksudnya agar ia menyaksikan dengan mata hatinya berbagai tanda dan bukti yang tegas, serta dalil-dalil yang terang, yang terdapat di langit dan di bumi.“Dan agar ia termasuk orang-orang yang yakin.” Karena dengan tegaknya dalil-dalil dan kuatnya bukti-bukti itu, lahirlah keyakinan yang sempurna dan ilmu yang mendalam tentang seluruh perkara yang menjadi tujuan iman. Bukan Mencari Tuhan, Tetapi Membongkar Kesyirikan KaumnyaAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ ٱلَّيْلُ رَءَا كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّى ۖ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَآ أُحِبُّ ٱلْءَافِلِينَ“Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”.” (QS. Al-An’am: 76)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.“Ketika malam telah gelap menutupinya”, yaitu ketika malam menjadi gelap gulita.“Ia melihat sebuah bintang”, kemungkinan besar adalah bintang yang sangat terang, karena penyebutan khusus terhadapnya menunjukkan bahwa ia lebih menonjol dibanding bintang-bintang lainnya. Oleh karena itu—wallahu a‘lam—sebagian ulama berpendapat bahwa bintang tersebut adalah Venus.Ia berkata, “Inilah Tuhanku.” Ucapan ini disampaikan dalam rangka berdialog dan mengikuti alur berpikir kaumnya, seakan-akan ia berkata, “Baiklah, ini Tuhanku. Mari kita perhatikan, apakah ia memang layak menjadi Tuhan? Apakah ada bukti dan dalil yang menunjukkan bahwa ia pantas disembah?” Karena tidak sepantasnya orang yang berakal menjadikan sesuatu sebagai tuhan hanya berdasarkan hawa nafsu, tanpa hujah dan tanpa bukti.“Ketika bintang itu terbenam”, yakni ketika bintang tersebut menghilang dan tidak tampak lagi.Ia berkata, “Aku tidak menyukai sesuatu yang terbenam.” Maksudnya, sesuatu yang menghilang dan tidak tampak dari para penyembahnya tidak layak untuk disembah. Sesembahan yang benar seharusnya selalu mengurusi kepentingan hamba yang menyembahnya, mengatur seluruh urusannya setiap waktu. Adapun sesuatu yang dalam waktu lama menghilang dan tidak terlihat, bagaimana mungkin ia pantas menjadi Tuhan?Menjadikannya sebagai sesembahan hanyalah bentuk kebodohan yang paling nyata dan kesesatan yang paling batil.Allah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا رَءَا ٱلْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّى ۖ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمْ يَهْدِنِى رَبِّى لَأَكُونَنَّ مِنَ ٱلْقَوْمِ ٱلضَّآلِّينَ“Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat”.” (QS. Al-An’am: 77)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.“Ketika ia melihat bulan terbit”, yaitu ketika bulan muncul dan bersinar. Ia melihat bahwa cahaya bulan lebih besar dibandingkan cahaya bintang-bintang, dan berbeda dari yang lainnya.Ia berkata, “Inilah Tuhanku,” sebagai bentuk mengikuti alur berpikir kaumnya dalam berdialog dengan mereka.“Ketika bulan itu terbenam”, ia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pasti aku termasuk orang-orang yang sesat.”Dalam ucapan ini tampak betapa ia sangat membutuhkan petunjuk dari Rabbnya. Ia benar-benar menunjukkan ketergantungan yang sempurna kepada Allah. Ia menyadari bahwa jika Allah tidak memberinya hidayah, maka tidak ada seorang pun yang mampu memberinya petunjuk. Jika Allah tidak menolongnya dalam ketaatan, maka tidak ada penolong baginya.Allah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا رَءَا ٱلشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّى هَٰذَآ أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّآ أَفَلَتْ قَالَ يَٰقَوْمِ إِنِّى بَرِىٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ“Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS. Al-An’am: 78)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.“Ketika ia melihat matahari terbit”, ia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar,” yakni lebih besar daripada bintang dan bulan.Namun ketika matahari itu terbenam, saat itulah kebenaran semakin jelas dan kesesatan pun sirna. Maka ia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan.”Karena telah tegak dalil yang benar dan nyata, yang menunjukkan batilnya apa yang mereka sembah. Dengan demikian, jelaslah bahwa semua benda langit itu tidak layak menjadi sesembahan.Allah Ta’ala berfirman,إِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS. Al-An’am: 79)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Maknanya: Aku memurnikan ibadahku hanya kepada Allah semata, menghadapkan diri sepenuhnya kepada-Nya, dan berpaling dari segala sesuatu selain-Nya.“Dalam keadaan hanif”, yaitu lurus di atas tauhid, condong kepada kebenaran dan menjauhi kesyirikan.“Dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” Dengan pernyataan ini, ia berlepas diri dari kesyirikan, tunduk sepenuhnya kepada tauhid, dan menegakkan hujah yang jelas atas kebenaran tersebut.Penjelasan yang telah disebutkan dalam menafsirkan ayat-ayat ini adalah pendapat yang benar, yaitu bahwa konteksnya adalah dialog dan perdebatan Nabi Ibrahim dengan kaumnya untuk menjelaskan batilnya penyembahan terhadap benda-benda langit dan selainnya.Adapun pendapat yang mengatakan bahwa ini adalah proses pencarian Ibrahim ketika masa kecilnya, maka pendapat tersebut tidak memiliki dalil yang kuat. Bantahan Ulama terhadap Anggapan Ibrahim Pernah Mencari TuhanBerikut adalah penjelasan dari Imam Ibnu Katsir dari kitab tafsinya.Yang benar adalah bahwa Ibrahim ‘alaihisshalatu wassalam pada saat itu sedang berdialog dan berdebat dengan kaumnya. Ia menjelaskan batilnya ajaran yang mereka anut, yaitu menyembah bangunan-bangunan suci dan patung-patung.Pada kesempatan sebelumnya bersama ayahnya, ia telah menjelaskan kesalahan mereka dalam menyembah patung-patung di bumi, yang dibuat menyerupai malaikat-malaikat di langit. Mereka menjadikannya sebagai perantara agar dapat memberi syafaat kepada mereka di sisi Sang Pencipta Yang Mahaagung. Menurut anggapan mereka, diri mereka terlalu rendah untuk langsung menyembah Allah. Karena itu, mereka bertawasul dengan menyembah para malaikat, agar malaikat-malaikat tersebut memberi syafaat kepada mereka dalam hal rezeki, kemenangan, dan berbagai kebutuhan lainnya.Dalam peristiwa ini, Ibrahim juga menjelaskan kesalahan dan kesesatan mereka dalam menyembah bangunan-bangunan yang berkaitan dengan tujuh benda langit yang bergerak, yaitu: bulan, Merkurius, Venus, matahari, Mars, Jupiter, dan Saturnus. Benda yang paling terang dan paling bersinar menurut mereka adalah matahari, kemudian bulan, lalu Venus.Maka Ibrahim pertama-tama menjelaskan bahwa Venus tidak pantas dijadikan tuhan. Ia hanyalah makhluk yang ditundukkan dan diatur dalam orbit tertentu. Ia tidak menyimpang sedikit pun ke kanan atau ke kiri, dan tidak memiliki kuasa atas dirinya sendiri. Ia hanyalah salah satu benda langit yang Allah ciptakan bercahaya, karena hikmah-hikmah besar yang Dia kehendaki. Ia terbit dari timur, bergerak hingga ke barat, lalu menghilang dari pandangan, dan muncul kembali pada malam berikutnya dengan pola yang sama. Sesuatu yang seperti ini jelas tidak layak untuk disembah.Kemudian ia berpindah kepada bulan, dan menjelaskan hal yang sama sebagaimana ia jelaskan tentang bintang.Lalu ia berpindah kepada matahari. Ketika ketiga benda langit tersebut—yang merupakan benda paling terang yang dapat dilihat mata—telah jelas tidak layak menjadi sesembahan dengan dalil yang tegas, maka ia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan.” Maksudnya, aku berlepas diri dari menyembah dan loyalitas kepada benda-benda itu. Jika memang mereka adalah tuhan-tuhan, maka silakan kalian bersama-sama mencelakakanku dengan mereka tanpa memberi penangguhan sedikit pun.Kemudian ia menegaskan, “Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus (hanif), dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik.” Maksudnya, aku hanya menyembah Pencipta semua benda itu, yang mengadakannya, menundukkannya, mengaturnya, dan menetapkan peredarannya. Dia-lah yang di tangan-Nya kerajaan segala sesuatu, Pencipta dan Pemilik segala sesuatu, Rabb dan Ilah seluruh makhluk.Sebagaimana firman Allah Ta’ala:إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ يُغْشِى ٱلَّيْلَ ٱلنَّهَارَ يَطْلُبُهُۥ حَثِيثًا وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ مُسَخَّرَٰتٍۭ بِأَمْرِهِۦٓ ۗ أَلَا لَهُ ٱلْخَلْقُ وَٱلْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-A’raf: 54)Bagaimana mungkin Ibrahim Al-Khalil berada dalam posisi mencari-cari kebenaran pada saat itu, padahal Allah telah berfirman tentangnya:۞ وَلَقَدْ ءَاتَيْنَآ إِبْرَٰهِيمَ رُشْدَهُۥ مِن قَبْلُ وَكُنَّا بِهِۦ عَٰلِمِينَإِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ٱلَّتِىٓ أَنتُمْ لَهَا عَٰكِفُونَ“Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?” (QS. Al-Anbiya: 51-52)Allah juga berfirman,إِنَّ إِبْرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَشَاكِرًا لِّأَنْعُمِهِ ۚ ٱجْتَبَىٰهُ وَهَدَىٰهُ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍوَءَاتَيْنَٰهُ فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً ۖ وَإِنَّهُۥ فِى ٱلْءَاخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. An-Nahl: 120–123)Dan Allah berfirman:قُلْ إِنَّنِى هَدَىٰنِى رَبِّىٓ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِّلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًا ۚ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ“Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik”.” (QS. Al-An‘am: 161)Telah sahih dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah.”Dalam Shahih Muslim dari ‘Iyadh bin Himar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah berfirman:إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ“Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif.”Dan Allah berfirman:فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Ruum: 30)Dan firman-Nya:وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.” (QS. Al-A‘raf: 172)Makna ayat ini menurut salah satu pendapat sejalan dengan firman-Nya, “Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu,” sebagaimana akan dijelaskan.Jika demikian keadaan seluruh makhluk pada asal penciptaannya, maka bagaimana mungkin Ibrahim Al-Khalil—yang Allah jadikan sebagai “seorang imam yang patuh kepada Allah, hanif, dan tidak termasuk orang-orang musyrik”—dalam posisi sedang mencari-cari kebenaran pada saat itu?Justru ia adalah manusia yang paling layak memiliki fitrah yang lurus dan tabiat yang benar, setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa ada keraguan sedikit pun.Di antara dalil yang menguatkan bahwa pada saat itu ia sedang berdialog dan berdebat dengan kaumnya—bukan sedang mencari kebenaran—adalah firman Allah Ta’ala berikutnya.وَحَآجَّهُۥ قَوْمُهُۥ ۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّى فِى ٱللَّهِ وَقَدْ هَدَىٰنِ ۚ وَلَآ أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِۦٓ إِلَّآ أَن يَشَآءَ رَبِّى شَيْـًٔا ۗ وَسِعَ رَبِّى كُلَّ شَىْءٍ عِلْمًا ۗ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ“Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: “Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku”. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)?” (QS. Al-An’am: 80)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai surah Al-An’am ayat 80 sebagai berikut.Ibrahim berkata, “Apakah kalian membantahku tentang Allah, padahal Dia telah memberiku petunjuk?” Maksudnya, apakah kalian masih juga memperdebatkanku tentang keesaan Allah, bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, padahal Allah telah membukakan hatiku, memberiku petunjuk kepada kebenaran, dan aku berada di atas dalil yang jelas? Lalu bagaimana mungkin aku berpaling kepada ucapan-ucapan kalian yang rusak dan syubhat-syubhat kalian yang batil?Kemudian ia berkata, “Aku tidak takut kepada apa yang kalian persekutukan dengan-Nya, kecuali jika Rabbku menghendaki sesuatu.” Ini juga menjadi bukti atas batilnya keyakinan mereka. Sesembahan yang mereka agungkan itu sama sekali tidak memiliki pengaruh apa pun. Ibrahim tidak takut kepadanya dan tidak memedulikannya. Seandainya sesembahan-sesembahan itu benar-benar memiliki kekuatan, maka silakan mereka mencelakakannya segera tanpa ditunda-tunda.Adapun ucapannya, “kecuali jika Rabbku menghendaki sesuatu,” merupakan pengecualian yang terputus maknanya. Artinya, tidak ada yang mampu memberi mudarat atau manfaat selain Allah semata.Lalu ia menegaskan, “Ilmu Rabbku meliputi segala sesuatu.” Maksudnya, pengetahuan Allah mencakup seluruh makhluk dan seluruh keadaan mereka; tidak ada satu pun yang tersembunyi dari-Nya.Kemudian ia berkata, “Tidakkah kalian mengambil pelajaran?” Maksudnya, tidakkah kalian merenungkan penjelasan yang telah aku sampaikan, sehingga kalian menyadari bahwa sesembahan-sesembahan itu batil, lalu berhenti dari menyembahnya?Hujah yang disampaikan Ibrahim ini serupa dengan hujah yang disampaikan Nabi Hud ‘alaihissalam kepada kaumnya, kaum ‘Ad. Sebagaimana Allah kisahkan dalam Al-Qur’an,قَالُوا۟ يَٰهُودُ مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَمَا نَحْنُ بِتَارِكِىٓ ءَالِهَتِنَا عَن قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ“Kaum ‘Ad berkata: “Hai Huud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu.” (QS. Hud: 53)إِن نَّقُولُ إِلَّا ٱعْتَرَىٰكَ بَعْضُ ءَالِهَتِنَا بِسُوٓءٍ ۗ قَالَ إِنِّىٓ أُشْهِدُ ٱللَّهَ وَٱشْهَدُوٓا۟ أَنِّى بَرِىٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ“Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu”. Huud menjawab: “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS. Hud: 54)مِن دُونِهِۦ ۖ فَكِيدُونِى جَمِيعًا ثُمَّ لَا تُنظِرُونِ“Dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.” (QS. Hud: 55)إِنِّى تَوَكَّلْتُ عَلَى ٱللَّهِ رَبِّى وَرَبِّكُم ۚ مَّا مِن دَآبَّةٍ إِلَّا هُوَ ءَاخِذٌۢ بِنَاصِيَتِهَآ ۚ إِنَّ رَبِّى عَلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ“Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus“.” (QS. Hud: 56) KesimpulanDari seluruh dialog ini lahir kaidah besar:Setiap yang lemah, berubah, hilang, diatur, dan tidak berkuasa — bukan ilah yang berhak disembah.Karena itu Ibrahim menutup dengan deklarasi:إِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ“Aku menghadapkan diriku hanya kepada Pencipta langit dan bumi.”Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalām dalam QS. Al-An‘am (74–80) menegaskan bahwa akar kesesatan kaumnya adalah kesyirikan: menyembah patung dan benda-benda langit sebagai perantara, padahal semuanya makhluk yang tidak kuasa memberi manfaat dan mudarat. Allah meneguhkan Ibrahim dengan “malakūt” langit dan bumi agar keyakinannya sempurna, lalu Ibrahim membantah keyakinan kaumnya dengan hujah yang terang: bintang, bulan, dan matahari terbit dan tenggelam, sehingga tidak layak jadi sesembahan. Maka Ibrahim menutupnya dengan bara’ (berlepas diri) dari syirik dan itsbāt (menetapkan) tauhid: hanya Allah Pencipta dan Pengatur semesta yang berhak diibadahi. Ini juga membantah anggapan bahwa Ibrahim pernah “mencari Tuhan”; yang benar, beliau menghancurkan logika syirik kaumnya melalui dialog yang cerdas dan tegas.اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ التَّوْحِيدِ وَالْيَقِينِ“Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang bertauhid dan memiliki keyakinan yang kokoh.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Selasa siang, 7 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsayat tentang tauhid bantahan kesyirikan belajar tauhid dakwah tauhid para nabi dialog tauhid Ibrahim kisah Nabi Ibrahim logika tauhid dalam Islam makna hanif dalam Islam nabi ibrahim nabi Ibrahim dan penyembahan berhala pelajaran tauhid Al-Quran renungan ayat renungan quran tafsir Al-Anam tauhid tauhid Nabi Ibrahim
Prev     Next