Benarkah Malas Ibadah Setelah Ramadhan Tanda Amal Kita Ditolak? Jangan Salah Paham! Syaikh Utsaimin

Apakah rasa lesu dalam beramal saleh setelah Ramadhan merupakan tanda bahwa ibadah tidak diterima? Saya merasa lesu dan khawatir Allah tidak menerima ibadah saya. Tidak. Itu bukanlah tanda bahwa Allah tidak menerima amal ibadah Anda. Namun, itu adalah tanda lemahnya tekad dan tidak adanya antusias. Oleh karena itu, setiap insan sepatutnya melatih kesabaran dirinya, serta menuntun dirinya untuk terus beramal saleh. Sebab, Ramadhan pada hakikatnya adalah sebuah madrasah (sekolah). 29 atau 30 hari yang Anda lalui dalam kondisi senantiasa menjalankan berbagai macam ibadah, pastilah memberikan pengaruh positif pada hati dan perjalanan hidup Anda. Maka manfaatkanlah kesempatan tersebut. Adapun anggapan bahwa orang yang kembali bermaksiat setelah Ramadhan, merupakan tanda amalnya tidak diterima, maka kita tidak memiliki wewenang untuk mengatakan demikian. ===== هَلِ الْفُتُورُ فِي عَمَلِ الصَّالِحَاتِ بَعْدَ رَمَضَانَ دَلِيلٌ عَلَى عَدَمِ الْقَبُولِ؟ أَنَا أُحِسُّ بِفُتُورٍ وَأَخْشَى أَلَّا يَكُونَ اللَّهُ قَدْ تَقَبَّلَ مِنِّي إِيَّاهَا فَهَذَا لَا لَيْسَ دَلِيلًا عَلَى أَنَّ اللَّهَ لَمْ يَقْبَلْ مِنْكَ لَكِنَّهُ دَلِيلٌ عَلَى ضَعْفِ الْهِمَّةِ وَعَدَمِ الرَّغْبَةِ وَلِذَلِكَ يَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يُصَبِّرَ نَفْسَهُ وَأَنْ يَحْمِلَهَا عَلَى الْعَمَلِ الصَّالِحِ لِأَنَّ رَمَضَانَ مَدْرَسَةٌ فِي الْوَاقِعِ ثَلَاثُونَ يَوْمًا أَوْ تِسْعَةٌ وَعِشْرُونَ يَوْمًا تَمْضِي وَأَنْتَ مُتَلَبِّسٌ بِالْعِبَادَاتِ الْمُتَنَوِّعَةِ لَا بُدَّ أَنْ يُؤَثِّرَ عَلَى قَلْبِكَ وَعَلَى مَسِيرَتِكَ فَاغْتَنِمْ هَذِهِ الْفُرْصَةَ أَمَّا أَنْ نَقُولَ إِنَّ مَنْ عَادَ إِلَى الْمَعَاصِي بَعْدَ رَمَضَانَ فَإِنَّهُ عَلَامَةٌ عَلَى عَدَمِ الْقَبُولِ فَلَا نَسْتَطِيعُ أَنْ نَقُولَ هَذَا

Benarkah Malas Ibadah Setelah Ramadhan Tanda Amal Kita Ditolak? Jangan Salah Paham! Syaikh Utsaimin

Apakah rasa lesu dalam beramal saleh setelah Ramadhan merupakan tanda bahwa ibadah tidak diterima? Saya merasa lesu dan khawatir Allah tidak menerima ibadah saya. Tidak. Itu bukanlah tanda bahwa Allah tidak menerima amal ibadah Anda. Namun, itu adalah tanda lemahnya tekad dan tidak adanya antusias. Oleh karena itu, setiap insan sepatutnya melatih kesabaran dirinya, serta menuntun dirinya untuk terus beramal saleh. Sebab, Ramadhan pada hakikatnya adalah sebuah madrasah (sekolah). 29 atau 30 hari yang Anda lalui dalam kondisi senantiasa menjalankan berbagai macam ibadah, pastilah memberikan pengaruh positif pada hati dan perjalanan hidup Anda. Maka manfaatkanlah kesempatan tersebut. Adapun anggapan bahwa orang yang kembali bermaksiat setelah Ramadhan, merupakan tanda amalnya tidak diterima, maka kita tidak memiliki wewenang untuk mengatakan demikian. ===== هَلِ الْفُتُورُ فِي عَمَلِ الصَّالِحَاتِ بَعْدَ رَمَضَانَ دَلِيلٌ عَلَى عَدَمِ الْقَبُولِ؟ أَنَا أُحِسُّ بِفُتُورٍ وَأَخْشَى أَلَّا يَكُونَ اللَّهُ قَدْ تَقَبَّلَ مِنِّي إِيَّاهَا فَهَذَا لَا لَيْسَ دَلِيلًا عَلَى أَنَّ اللَّهَ لَمْ يَقْبَلْ مِنْكَ لَكِنَّهُ دَلِيلٌ عَلَى ضَعْفِ الْهِمَّةِ وَعَدَمِ الرَّغْبَةِ وَلِذَلِكَ يَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يُصَبِّرَ نَفْسَهُ وَأَنْ يَحْمِلَهَا عَلَى الْعَمَلِ الصَّالِحِ لِأَنَّ رَمَضَانَ مَدْرَسَةٌ فِي الْوَاقِعِ ثَلَاثُونَ يَوْمًا أَوْ تِسْعَةٌ وَعِشْرُونَ يَوْمًا تَمْضِي وَأَنْتَ مُتَلَبِّسٌ بِالْعِبَادَاتِ الْمُتَنَوِّعَةِ لَا بُدَّ أَنْ يُؤَثِّرَ عَلَى قَلْبِكَ وَعَلَى مَسِيرَتِكَ فَاغْتَنِمْ هَذِهِ الْفُرْصَةَ أَمَّا أَنْ نَقُولَ إِنَّ مَنْ عَادَ إِلَى الْمَعَاصِي بَعْدَ رَمَضَانَ فَإِنَّهُ عَلَامَةٌ عَلَى عَدَمِ الْقَبُولِ فَلَا نَسْتَطِيعُ أَنْ نَقُولَ هَذَا
Apakah rasa lesu dalam beramal saleh setelah Ramadhan merupakan tanda bahwa ibadah tidak diterima? Saya merasa lesu dan khawatir Allah tidak menerima ibadah saya. Tidak. Itu bukanlah tanda bahwa Allah tidak menerima amal ibadah Anda. Namun, itu adalah tanda lemahnya tekad dan tidak adanya antusias. Oleh karena itu, setiap insan sepatutnya melatih kesabaran dirinya, serta menuntun dirinya untuk terus beramal saleh. Sebab, Ramadhan pada hakikatnya adalah sebuah madrasah (sekolah). 29 atau 30 hari yang Anda lalui dalam kondisi senantiasa menjalankan berbagai macam ibadah, pastilah memberikan pengaruh positif pada hati dan perjalanan hidup Anda. Maka manfaatkanlah kesempatan tersebut. Adapun anggapan bahwa orang yang kembali bermaksiat setelah Ramadhan, merupakan tanda amalnya tidak diterima, maka kita tidak memiliki wewenang untuk mengatakan demikian. ===== هَلِ الْفُتُورُ فِي عَمَلِ الصَّالِحَاتِ بَعْدَ رَمَضَانَ دَلِيلٌ عَلَى عَدَمِ الْقَبُولِ؟ أَنَا أُحِسُّ بِفُتُورٍ وَأَخْشَى أَلَّا يَكُونَ اللَّهُ قَدْ تَقَبَّلَ مِنِّي إِيَّاهَا فَهَذَا لَا لَيْسَ دَلِيلًا عَلَى أَنَّ اللَّهَ لَمْ يَقْبَلْ مِنْكَ لَكِنَّهُ دَلِيلٌ عَلَى ضَعْفِ الْهِمَّةِ وَعَدَمِ الرَّغْبَةِ وَلِذَلِكَ يَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يُصَبِّرَ نَفْسَهُ وَأَنْ يَحْمِلَهَا عَلَى الْعَمَلِ الصَّالِحِ لِأَنَّ رَمَضَانَ مَدْرَسَةٌ فِي الْوَاقِعِ ثَلَاثُونَ يَوْمًا أَوْ تِسْعَةٌ وَعِشْرُونَ يَوْمًا تَمْضِي وَأَنْتَ مُتَلَبِّسٌ بِالْعِبَادَاتِ الْمُتَنَوِّعَةِ لَا بُدَّ أَنْ يُؤَثِّرَ عَلَى قَلْبِكَ وَعَلَى مَسِيرَتِكَ فَاغْتَنِمْ هَذِهِ الْفُرْصَةَ أَمَّا أَنْ نَقُولَ إِنَّ مَنْ عَادَ إِلَى الْمَعَاصِي بَعْدَ رَمَضَانَ فَإِنَّهُ عَلَامَةٌ عَلَى عَدَمِ الْقَبُولِ فَلَا نَسْتَطِيعُ أَنْ نَقُولَ هَذَا


Apakah rasa lesu dalam beramal saleh setelah Ramadhan merupakan tanda bahwa ibadah tidak diterima? Saya merasa lesu dan khawatir Allah tidak menerima ibadah saya. Tidak. Itu bukanlah tanda bahwa Allah tidak menerima amal ibadah Anda. Namun, itu adalah tanda lemahnya tekad dan tidak adanya antusias. Oleh karena itu, setiap insan sepatutnya melatih kesabaran dirinya, serta menuntun dirinya untuk terus beramal saleh. Sebab, Ramadhan pada hakikatnya adalah sebuah madrasah (sekolah). 29 atau 30 hari yang Anda lalui dalam kondisi senantiasa menjalankan berbagai macam ibadah, pastilah memberikan pengaruh positif pada hati dan perjalanan hidup Anda. Maka manfaatkanlah kesempatan tersebut. Adapun anggapan bahwa orang yang kembali bermaksiat setelah Ramadhan, merupakan tanda amalnya tidak diterima, maka kita tidak memiliki wewenang untuk mengatakan demikian. ===== هَلِ الْفُتُورُ فِي عَمَلِ الصَّالِحَاتِ بَعْدَ رَمَضَانَ دَلِيلٌ عَلَى عَدَمِ الْقَبُولِ؟ أَنَا أُحِسُّ بِفُتُورٍ وَأَخْشَى أَلَّا يَكُونَ اللَّهُ قَدْ تَقَبَّلَ مِنِّي إِيَّاهَا فَهَذَا لَا لَيْسَ دَلِيلًا عَلَى أَنَّ اللَّهَ لَمْ يَقْبَلْ مِنْكَ لَكِنَّهُ دَلِيلٌ عَلَى ضَعْفِ الْهِمَّةِ وَعَدَمِ الرَّغْبَةِ وَلِذَلِكَ يَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يُصَبِّرَ نَفْسَهُ وَأَنْ يَحْمِلَهَا عَلَى الْعَمَلِ الصَّالِحِ لِأَنَّ رَمَضَانَ مَدْرَسَةٌ فِي الْوَاقِعِ ثَلَاثُونَ يَوْمًا أَوْ تِسْعَةٌ وَعِشْرُونَ يَوْمًا تَمْضِي وَأَنْتَ مُتَلَبِّسٌ بِالْعِبَادَاتِ الْمُتَنَوِّعَةِ لَا بُدَّ أَنْ يُؤَثِّرَ عَلَى قَلْبِكَ وَعَلَى مَسِيرَتِكَ فَاغْتَنِمْ هَذِهِ الْفُرْصَةَ أَمَّا أَنْ نَقُولَ إِنَّ مَنْ عَادَ إِلَى الْمَعَاصِي بَعْدَ رَمَضَانَ فَإِنَّهُ عَلَامَةٌ عَلَى عَدَمِ الْقَبُولِ فَلَا نَسْتَطِيعُ أَنْ نَقُولَ هَذَا

Inilah Tujuh Keutamaan Hari Arafah (Bag. 1)

Daftar Isi ToggleMukadimahKeutamaan pertama: Hari Arafah adalah hari terbaik sepanjang tahunMukadimah Ibadah haji merupakan rukun keempat dari lima rukun Islam. Haji merupakan kewajiban bagi setiap muslim mukallaf yang memiliki kemampuan. Allah berfirman,وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.“ (QS. Ali ‘Imran: 97)Mukallaf maksudnya sudah baligh dan berakal. Memiliki kemampuan mencakup kemampuan badan dan juga harta. Kemampuan badan, yaitu badannya sehat serta mampu melakukan perjalanan jauh dan menunaikan rangkaian kegiatan manasik ibadah haji. Kemampuan harta, yaitu memliki harta untuk melakukan perjalanan dan juga biaya selama haji.Dalam ibadah haji yang agung ini terkandung fadhilah dan keutamaan yang beragam, di antaranya disebutkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ“Tidak ada balasan yang pantas bagi orang yang hajinya mabrur selain surga.” (HR. Muslim no. 1349)Dalam hadis yang lain disebutkan,من حج هذا البيت فلم يرفث، ولم يفسق، رجع كيوم ولدته أمه“Siapa yang berhaji ke Kakbah, lalu tidak berbuat rafats dan tidak berbuat kefasikan, maka dia kembali  sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari no. 1819 dan Muslim no. 1350)Rafats maksudnya adalah melakukan hubungan suami istri dan segala hal yang mengarah kepada perbuatan tersebut, baik berupa perbuatan seperti mencium dan semisalnya, atau berupa perkataan seperti ucapan yang menggoda dan mengandung syahwat.Allah telah mengkhususkan kewajiban ini dengan menjadikan hari-hari pelaksanaan ibadah haji ini menjadi hari-hari yang terbaik sepanjang tahun, sebagaimana dijelaskan dalam hadis,ما من أيام أعظم عند الله ولا أحب إليه من العمل فيهن من هذه الأيام العشر“Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan tidak juga amalan saleh di dalamnya yang lebih dicintai-Nya melebihi sepuluh hari pertama bulan Zulhijah.“ (HR. Ahmad no. 6155, hasan)Allah juga mengistimewakan hari Arafah di antara sepuluh hari ini dengan beberapa keutamaan, dan menjadikan wukuf di Arafah sebagai bagian penting dari rukun ibadah haji, sebagaimana disebutkan,الحجُّ عرفة“Haji adalah Arafah.“ (HR. Abu Dawud no. 1949, shahih)Karena pentingnya hari Arafah, dan agungnya kedudukannya, maka Syekh ‘Abdurrazzaqq hafidzahullah mengumpulkan sejumlah keutamaan yang ditetapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai hari ini, agar orang yang sedang berhaji merasakan betapa besar nikmat ini. Ini merupakan kemuliaan yang besar yang Allah mudahkan ketika bisa bertemu dengan hari ini dan menunaikan ibadah yang agung pula pada hari ini.Keutamaan pertama: Hari Arafah adalah hari terbaik sepanjang tahun Hari Arafah adalah hari kesembilan di bulan Zulhijah. Disebutkan dalam hadis Nabi bahwa sepuluh hari awal bulan Zulhijah adalah hari-hari terbaik dalam satu tahun, dan amal saleh di hari-hari tersebut lebih baik dibandingkan amal di hari-hari lainnya. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما من أيام أعظم عند الله ولا أحب إليه من العمل فيهن من هذه الأيام العشر“Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan tidak juga amalan saleh di dalamnya lebih dicintai-Nya melebihi sepuluh hari pertama bulan Zulhijah.“ (HR. Ahmad no. 6155)Allah telah bersumpah dengan sepuluh hari ini di dalam Al-Qur’an, dan Allah tidaklah bersumpah kecuali dengan sesuatu yang agung. Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Fajr, وَلَيَالٍ عَشْرٍۙ“(Demi malam-malam yang sepuluh).”Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Sesungguhnya sepuluh malam yang Allah sebutkan dalam sumpah pada ayat ini adalah sepuluh malam pertama di bulan Zulhijah.“ Demikian pula hal ini dikatakan oleh ‘Abdullah bin Zubair, Mujahid, Masruq, ‘Ikrimah, Qatadah, Adh-Dhahak, dan para ulama salaf yang lainnya. Hal ini juga dikuatkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabary, dan disebutkan bahwa ini merupakan ijma’ para ulam ahli tafsir.Bahkan Allah bersumpah secara khusus dengan hari Arafah dalam surah Al-Buruj yang menunjukkan ada keistimewaan yang lebih dibanding 10 hari lainnya,وَشَاهِدٍ وَّمَشْهُوْدٍۗ“Demi yang menyaksikan dan yang disaksikan.“ (QS. Al-Buruuj: 3)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,واليوم المشهود يوم عرفة ، والشاهد يوم الجمعة“Hari yang disaksikan adalah hari Arafah. Yang menjadi saksi adalah hari Jumah.” (HR. Tirmizi no. 3339, dihasankan oleh Al-Albani).Hadis inilah yang menjadi dasar dari tafsir yang dijelaskan oleh khalifah ‘Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah, dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penerjemah: Adika MianokiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fadhai-lu Yaumi ‘Arafah, karya Syekh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al-Badr hafidzahullah.

Inilah Tujuh Keutamaan Hari Arafah (Bag. 1)

Daftar Isi ToggleMukadimahKeutamaan pertama: Hari Arafah adalah hari terbaik sepanjang tahunMukadimah Ibadah haji merupakan rukun keempat dari lima rukun Islam. Haji merupakan kewajiban bagi setiap muslim mukallaf yang memiliki kemampuan. Allah berfirman,وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.“ (QS. Ali ‘Imran: 97)Mukallaf maksudnya sudah baligh dan berakal. Memiliki kemampuan mencakup kemampuan badan dan juga harta. Kemampuan badan, yaitu badannya sehat serta mampu melakukan perjalanan jauh dan menunaikan rangkaian kegiatan manasik ibadah haji. Kemampuan harta, yaitu memliki harta untuk melakukan perjalanan dan juga biaya selama haji.Dalam ibadah haji yang agung ini terkandung fadhilah dan keutamaan yang beragam, di antaranya disebutkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ“Tidak ada balasan yang pantas bagi orang yang hajinya mabrur selain surga.” (HR. Muslim no. 1349)Dalam hadis yang lain disebutkan,من حج هذا البيت فلم يرفث، ولم يفسق، رجع كيوم ولدته أمه“Siapa yang berhaji ke Kakbah, lalu tidak berbuat rafats dan tidak berbuat kefasikan, maka dia kembali  sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari no. 1819 dan Muslim no. 1350)Rafats maksudnya adalah melakukan hubungan suami istri dan segala hal yang mengarah kepada perbuatan tersebut, baik berupa perbuatan seperti mencium dan semisalnya, atau berupa perkataan seperti ucapan yang menggoda dan mengandung syahwat.Allah telah mengkhususkan kewajiban ini dengan menjadikan hari-hari pelaksanaan ibadah haji ini menjadi hari-hari yang terbaik sepanjang tahun, sebagaimana dijelaskan dalam hadis,ما من أيام أعظم عند الله ولا أحب إليه من العمل فيهن من هذه الأيام العشر“Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan tidak juga amalan saleh di dalamnya yang lebih dicintai-Nya melebihi sepuluh hari pertama bulan Zulhijah.“ (HR. Ahmad no. 6155, hasan)Allah juga mengistimewakan hari Arafah di antara sepuluh hari ini dengan beberapa keutamaan, dan menjadikan wukuf di Arafah sebagai bagian penting dari rukun ibadah haji, sebagaimana disebutkan,الحجُّ عرفة“Haji adalah Arafah.“ (HR. Abu Dawud no. 1949, shahih)Karena pentingnya hari Arafah, dan agungnya kedudukannya, maka Syekh ‘Abdurrazzaqq hafidzahullah mengumpulkan sejumlah keutamaan yang ditetapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai hari ini, agar orang yang sedang berhaji merasakan betapa besar nikmat ini. Ini merupakan kemuliaan yang besar yang Allah mudahkan ketika bisa bertemu dengan hari ini dan menunaikan ibadah yang agung pula pada hari ini.Keutamaan pertama: Hari Arafah adalah hari terbaik sepanjang tahun Hari Arafah adalah hari kesembilan di bulan Zulhijah. Disebutkan dalam hadis Nabi bahwa sepuluh hari awal bulan Zulhijah adalah hari-hari terbaik dalam satu tahun, dan amal saleh di hari-hari tersebut lebih baik dibandingkan amal di hari-hari lainnya. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما من أيام أعظم عند الله ولا أحب إليه من العمل فيهن من هذه الأيام العشر“Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan tidak juga amalan saleh di dalamnya lebih dicintai-Nya melebihi sepuluh hari pertama bulan Zulhijah.“ (HR. Ahmad no. 6155)Allah telah bersumpah dengan sepuluh hari ini di dalam Al-Qur’an, dan Allah tidaklah bersumpah kecuali dengan sesuatu yang agung. Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Fajr, وَلَيَالٍ عَشْرٍۙ“(Demi malam-malam yang sepuluh).”Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Sesungguhnya sepuluh malam yang Allah sebutkan dalam sumpah pada ayat ini adalah sepuluh malam pertama di bulan Zulhijah.“ Demikian pula hal ini dikatakan oleh ‘Abdullah bin Zubair, Mujahid, Masruq, ‘Ikrimah, Qatadah, Adh-Dhahak, dan para ulama salaf yang lainnya. Hal ini juga dikuatkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabary, dan disebutkan bahwa ini merupakan ijma’ para ulam ahli tafsir.Bahkan Allah bersumpah secara khusus dengan hari Arafah dalam surah Al-Buruj yang menunjukkan ada keistimewaan yang lebih dibanding 10 hari lainnya,وَشَاهِدٍ وَّمَشْهُوْدٍۗ“Demi yang menyaksikan dan yang disaksikan.“ (QS. Al-Buruuj: 3)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,واليوم المشهود يوم عرفة ، والشاهد يوم الجمعة“Hari yang disaksikan adalah hari Arafah. Yang menjadi saksi adalah hari Jumah.” (HR. Tirmizi no. 3339, dihasankan oleh Al-Albani).Hadis inilah yang menjadi dasar dari tafsir yang dijelaskan oleh khalifah ‘Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah, dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penerjemah: Adika MianokiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fadhai-lu Yaumi ‘Arafah, karya Syekh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al-Badr hafidzahullah.
Daftar Isi ToggleMukadimahKeutamaan pertama: Hari Arafah adalah hari terbaik sepanjang tahunMukadimah Ibadah haji merupakan rukun keempat dari lima rukun Islam. Haji merupakan kewajiban bagi setiap muslim mukallaf yang memiliki kemampuan. Allah berfirman,وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.“ (QS. Ali ‘Imran: 97)Mukallaf maksudnya sudah baligh dan berakal. Memiliki kemampuan mencakup kemampuan badan dan juga harta. Kemampuan badan, yaitu badannya sehat serta mampu melakukan perjalanan jauh dan menunaikan rangkaian kegiatan manasik ibadah haji. Kemampuan harta, yaitu memliki harta untuk melakukan perjalanan dan juga biaya selama haji.Dalam ibadah haji yang agung ini terkandung fadhilah dan keutamaan yang beragam, di antaranya disebutkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ“Tidak ada balasan yang pantas bagi orang yang hajinya mabrur selain surga.” (HR. Muslim no. 1349)Dalam hadis yang lain disebutkan,من حج هذا البيت فلم يرفث، ولم يفسق، رجع كيوم ولدته أمه“Siapa yang berhaji ke Kakbah, lalu tidak berbuat rafats dan tidak berbuat kefasikan, maka dia kembali  sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari no. 1819 dan Muslim no. 1350)Rafats maksudnya adalah melakukan hubungan suami istri dan segala hal yang mengarah kepada perbuatan tersebut, baik berupa perbuatan seperti mencium dan semisalnya, atau berupa perkataan seperti ucapan yang menggoda dan mengandung syahwat.Allah telah mengkhususkan kewajiban ini dengan menjadikan hari-hari pelaksanaan ibadah haji ini menjadi hari-hari yang terbaik sepanjang tahun, sebagaimana dijelaskan dalam hadis,ما من أيام أعظم عند الله ولا أحب إليه من العمل فيهن من هذه الأيام العشر“Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan tidak juga amalan saleh di dalamnya yang lebih dicintai-Nya melebihi sepuluh hari pertama bulan Zulhijah.“ (HR. Ahmad no. 6155, hasan)Allah juga mengistimewakan hari Arafah di antara sepuluh hari ini dengan beberapa keutamaan, dan menjadikan wukuf di Arafah sebagai bagian penting dari rukun ibadah haji, sebagaimana disebutkan,الحجُّ عرفة“Haji adalah Arafah.“ (HR. Abu Dawud no. 1949, shahih)Karena pentingnya hari Arafah, dan agungnya kedudukannya, maka Syekh ‘Abdurrazzaqq hafidzahullah mengumpulkan sejumlah keutamaan yang ditetapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai hari ini, agar orang yang sedang berhaji merasakan betapa besar nikmat ini. Ini merupakan kemuliaan yang besar yang Allah mudahkan ketika bisa bertemu dengan hari ini dan menunaikan ibadah yang agung pula pada hari ini.Keutamaan pertama: Hari Arafah adalah hari terbaik sepanjang tahun Hari Arafah adalah hari kesembilan di bulan Zulhijah. Disebutkan dalam hadis Nabi bahwa sepuluh hari awal bulan Zulhijah adalah hari-hari terbaik dalam satu tahun, dan amal saleh di hari-hari tersebut lebih baik dibandingkan amal di hari-hari lainnya. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما من أيام أعظم عند الله ولا أحب إليه من العمل فيهن من هذه الأيام العشر“Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan tidak juga amalan saleh di dalamnya lebih dicintai-Nya melebihi sepuluh hari pertama bulan Zulhijah.“ (HR. Ahmad no. 6155)Allah telah bersumpah dengan sepuluh hari ini di dalam Al-Qur’an, dan Allah tidaklah bersumpah kecuali dengan sesuatu yang agung. Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Fajr, وَلَيَالٍ عَشْرٍۙ“(Demi malam-malam yang sepuluh).”Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Sesungguhnya sepuluh malam yang Allah sebutkan dalam sumpah pada ayat ini adalah sepuluh malam pertama di bulan Zulhijah.“ Demikian pula hal ini dikatakan oleh ‘Abdullah bin Zubair, Mujahid, Masruq, ‘Ikrimah, Qatadah, Adh-Dhahak, dan para ulama salaf yang lainnya. Hal ini juga dikuatkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabary, dan disebutkan bahwa ini merupakan ijma’ para ulam ahli tafsir.Bahkan Allah bersumpah secara khusus dengan hari Arafah dalam surah Al-Buruj yang menunjukkan ada keistimewaan yang lebih dibanding 10 hari lainnya,وَشَاهِدٍ وَّمَشْهُوْدٍۗ“Demi yang menyaksikan dan yang disaksikan.“ (QS. Al-Buruuj: 3)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,واليوم المشهود يوم عرفة ، والشاهد يوم الجمعة“Hari yang disaksikan adalah hari Arafah. Yang menjadi saksi adalah hari Jumah.” (HR. Tirmizi no. 3339, dihasankan oleh Al-Albani).Hadis inilah yang menjadi dasar dari tafsir yang dijelaskan oleh khalifah ‘Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah, dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penerjemah: Adika MianokiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fadhai-lu Yaumi ‘Arafah, karya Syekh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al-Badr hafidzahullah.


Daftar Isi ToggleMukadimahKeutamaan pertama: Hari Arafah adalah hari terbaik sepanjang tahunMukadimah Ibadah haji merupakan rukun keempat dari lima rukun Islam. Haji merupakan kewajiban bagi setiap muslim mukallaf yang memiliki kemampuan. Allah berfirman,وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.“ (QS. Ali ‘Imran: 97)Mukallaf maksudnya sudah baligh dan berakal. Memiliki kemampuan mencakup kemampuan badan dan juga harta. Kemampuan badan, yaitu badannya sehat serta mampu melakukan perjalanan jauh dan menunaikan rangkaian kegiatan manasik ibadah haji. Kemampuan harta, yaitu memliki harta untuk melakukan perjalanan dan juga biaya selama haji.Dalam ibadah haji yang agung ini terkandung fadhilah dan keutamaan yang beragam, di antaranya disebutkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ“Tidak ada balasan yang pantas bagi orang yang hajinya mabrur selain surga.” (HR. Muslim no. 1349)Dalam hadis yang lain disebutkan,من حج هذا البيت فلم يرفث، ولم يفسق، رجع كيوم ولدته أمه“Siapa yang berhaji ke Kakbah, lalu tidak berbuat rafats dan tidak berbuat kefasikan, maka dia kembali  sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari no. 1819 dan Muslim no. 1350)Rafats maksudnya adalah melakukan hubungan suami istri dan segala hal yang mengarah kepada perbuatan tersebut, baik berupa perbuatan seperti mencium dan semisalnya, atau berupa perkataan seperti ucapan yang menggoda dan mengandung syahwat.Allah telah mengkhususkan kewajiban ini dengan menjadikan hari-hari pelaksanaan ibadah haji ini menjadi hari-hari yang terbaik sepanjang tahun, sebagaimana dijelaskan dalam hadis,ما من أيام أعظم عند الله ولا أحب إليه من العمل فيهن من هذه الأيام العشر“Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan tidak juga amalan saleh di dalamnya yang lebih dicintai-Nya melebihi sepuluh hari pertama bulan Zulhijah.“ (HR. Ahmad no. 6155, hasan)Allah juga mengistimewakan hari Arafah di antara sepuluh hari ini dengan beberapa keutamaan, dan menjadikan wukuf di Arafah sebagai bagian penting dari rukun ibadah haji, sebagaimana disebutkan,الحجُّ عرفة“Haji adalah Arafah.“ (HR. Abu Dawud no. 1949, shahih)Karena pentingnya hari Arafah, dan agungnya kedudukannya, maka Syekh ‘Abdurrazzaqq hafidzahullah mengumpulkan sejumlah keutamaan yang ditetapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai hari ini, agar orang yang sedang berhaji merasakan betapa besar nikmat ini. Ini merupakan kemuliaan yang besar yang Allah mudahkan ketika bisa bertemu dengan hari ini dan menunaikan ibadah yang agung pula pada hari ini.Keutamaan pertama: Hari Arafah adalah hari terbaik sepanjang tahun Hari Arafah adalah hari kesembilan di bulan Zulhijah. Disebutkan dalam hadis Nabi bahwa sepuluh hari awal bulan Zulhijah adalah hari-hari terbaik dalam satu tahun, dan amal saleh di hari-hari tersebut lebih baik dibandingkan amal di hari-hari lainnya. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما من أيام أعظم عند الله ولا أحب إليه من العمل فيهن من هذه الأيام العشر“Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan tidak juga amalan saleh di dalamnya lebih dicintai-Nya melebihi sepuluh hari pertama bulan Zulhijah.“ (HR. Ahmad no. 6155)Allah telah bersumpah dengan sepuluh hari ini di dalam Al-Qur’an, dan Allah tidaklah bersumpah kecuali dengan sesuatu yang agung. Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Fajr, وَلَيَالٍ عَشْرٍۙ“(Demi malam-malam yang sepuluh).”Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Sesungguhnya sepuluh malam yang Allah sebutkan dalam sumpah pada ayat ini adalah sepuluh malam pertama di bulan Zulhijah.“ Demikian pula hal ini dikatakan oleh ‘Abdullah bin Zubair, Mujahid, Masruq, ‘Ikrimah, Qatadah, Adh-Dhahak, dan para ulama salaf yang lainnya. Hal ini juga dikuatkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabary, dan disebutkan bahwa ini merupakan ijma’ para ulam ahli tafsir.Bahkan Allah bersumpah secara khusus dengan hari Arafah dalam surah Al-Buruj yang menunjukkan ada keistimewaan yang lebih dibanding 10 hari lainnya,وَشَاهِدٍ وَّمَشْهُوْدٍۗ“Demi yang menyaksikan dan yang disaksikan.“ (QS. Al-Buruuj: 3)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,واليوم المشهود يوم عرفة ، والشاهد يوم الجمعة“Hari yang disaksikan adalah hari Arafah. Yang menjadi saksi adalah hari Jumah.” (HR. Tirmizi no. 3339, dihasankan oleh Al-Albani).Hadis inilah yang menjadi dasar dari tafsir yang dijelaskan oleh khalifah ‘Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah, dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penerjemah: Adika MianokiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fadhai-lu Yaumi ‘Arafah, karya Syekh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al-Badr hafidzahullah.

Tak Banyak yang Tahu: Membatalkan Transaksi Bisa Menghapus Dosa

Tidak semua keuntungan dalam bisnis harus dipertahankan mati-matian. Kadang, justru melepas sedikit hak di dunia menjadi sebab mendapatkan ampunan besar di akhirat. Hadits ini membuka mata kita bahwa sikap lapang dalam transaksi adalah jalan cepat menuju rahmat Allah.  Daftar Isi tutup 1. Muamalah yang Baik 2. Nasihat Penutup  Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَقَالَ مُسْلِمًا بَيْعَتَهُ؛ أَقَالَهُ اللَّهُ عَثْرَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Barang siapa memberi keringanan kepada seorang muslim dengan membatalkan transaksi jual belinya (karena ia menyesal), maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud no. 3460, Ibnu Majah no. 2199, Ahmad dalam Zawa’id, dan Ibnu Hibban; disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 1758).Makna hadits ini:“أقال مسلمًا بيعته” : memberi kesempatan kepada orang lain untuk membatalkan transaksi karena ia merasa rugi atau menyesal“أقاله الله عثرته” : Allah akan memaafkan kesalahan-kesalahannya kelak di hari kiamat Muamalah yang BaikNabi ﷺ mendorong kita untuk saling berinteraksi dengan cara yang baik, penuh kelembutan, dan sikap yang lunak. Beliau juga menjelaskan keutamaan membantu meringankan kesulitan dan beban orang lain.Dalam hadits ini, Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa memberi keringanan kepada seorang muslim dengan membatalkan transaksi jual belinya (karena ia menyesal), maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat.”Makna iqālah (membatalkan transaksi) dalam syariat adalah menghapus akad yang telah terjadi antara dua pihak yang bertransaksi. Hal ini disepakati kebolehannya oleh para ulama (ijma’). Namun, harus ada ungkapan yang menunjukkan hal tersebut, seperti ucapan “aku batalkan” atau ungkapan lain yang dipahami secara umum dengan makna yang sama.Gambaran iqālah dalam jual beli adalah ketika seseorang membeli suatu barang, lalu ia menyesal atas pembelian tersebut. Penyesalan itu bisa karena:merasa dirugikan,kebutuhannya sudah tidak ada,atau karena tidak lagi memiliki uang.Lalu ia mengembalikan barang tersebut kepada penjual, dan penjual menerima pengembalian itu.Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat.”Artinya, Allah akan menghapus dosa dan kesalahannya serta menghilangkan kesulitannya pada hari kiamat. Hal ini karena ia telah berbuat baik kepada pembeli. Sebab, setelah akad jual beli terjadi dan sah, pembeli sebenarnya tidak bisa membatalkannya secara sepihak.Maka balasan yang diberikan adalah sejenis dengan perbuatannya. Ketika seseorang berbuat baik kepada saudaranya dengan memberi keringanan—padahal transaksi sudah sah dan mengikat—dan ia rela mengembalikan uang serta menerima kembali barangnya, maka Allah Yang Maha Mulia akan membalasnya dengan kemurahan yang lebih besar pada hari ketika ia sangat membutuhkan rahmat-Nya.Namun, hal ini tidak bersifat wajib. Seorang penjual tidak berdosa jika menolak membatalkan transaksi. Akan tetapi, yang lebih sempurna, lebih bermanfaat, dan lebih utama adalah memberikan keringanan kepada saudaranya sesama muslim, terutama jika ia sedang membutuhkan.Jika ia memberi keringanan dalam kondisi seperti ini, maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari ketika ia sangat membutuhkan rahmat Allah.Sebagaimana disebutkan dalam hadits lain:«مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ»“Barang siapa membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhannya. Dan barang siapa meringankan kesulitan seorang muslim, maka Allah akan meringankan darinya satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 2442 dan Muslim, no. 2580)Baca juga: Rahasia Masuk Surga, Mudah dalam Jual Beli dan Menagih Hak Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang fokus menang dalam transaksi, tetapi lupa menjaga hati dan hubungan. Jangan sampai kita keras dalam menuntut hak, namun kehilangan keberkahan hidup. Belajarlah memberi ruang, memahami kondisi orang lain, dan tidak kaku dalam muamalah. Bisa jadi, kelonggaran kecil yang kita berikan hari ini menjadi penyelamat besar di akhirat nanti. Referensi: Dorar.Net —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Dzulqa’dah 1447 H, 29 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak bisnis ampunan Allah bisnis berkah etika transaksi hadits jual beli iqalah islam dan muamalah jual beli islam memudahkan orang lain muamalah islami

Tak Banyak yang Tahu: Membatalkan Transaksi Bisa Menghapus Dosa

Tidak semua keuntungan dalam bisnis harus dipertahankan mati-matian. Kadang, justru melepas sedikit hak di dunia menjadi sebab mendapatkan ampunan besar di akhirat. Hadits ini membuka mata kita bahwa sikap lapang dalam transaksi adalah jalan cepat menuju rahmat Allah.  Daftar Isi tutup 1. Muamalah yang Baik 2. Nasihat Penutup  Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَقَالَ مُسْلِمًا بَيْعَتَهُ؛ أَقَالَهُ اللَّهُ عَثْرَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Barang siapa memberi keringanan kepada seorang muslim dengan membatalkan transaksi jual belinya (karena ia menyesal), maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud no. 3460, Ibnu Majah no. 2199, Ahmad dalam Zawa’id, dan Ibnu Hibban; disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 1758).Makna hadits ini:“أقال مسلمًا بيعته” : memberi kesempatan kepada orang lain untuk membatalkan transaksi karena ia merasa rugi atau menyesal“أقاله الله عثرته” : Allah akan memaafkan kesalahan-kesalahannya kelak di hari kiamat Muamalah yang BaikNabi ﷺ mendorong kita untuk saling berinteraksi dengan cara yang baik, penuh kelembutan, dan sikap yang lunak. Beliau juga menjelaskan keutamaan membantu meringankan kesulitan dan beban orang lain.Dalam hadits ini, Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa memberi keringanan kepada seorang muslim dengan membatalkan transaksi jual belinya (karena ia menyesal), maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat.”Makna iqālah (membatalkan transaksi) dalam syariat adalah menghapus akad yang telah terjadi antara dua pihak yang bertransaksi. Hal ini disepakati kebolehannya oleh para ulama (ijma’). Namun, harus ada ungkapan yang menunjukkan hal tersebut, seperti ucapan “aku batalkan” atau ungkapan lain yang dipahami secara umum dengan makna yang sama.Gambaran iqālah dalam jual beli adalah ketika seseorang membeli suatu barang, lalu ia menyesal atas pembelian tersebut. Penyesalan itu bisa karena:merasa dirugikan,kebutuhannya sudah tidak ada,atau karena tidak lagi memiliki uang.Lalu ia mengembalikan barang tersebut kepada penjual, dan penjual menerima pengembalian itu.Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat.”Artinya, Allah akan menghapus dosa dan kesalahannya serta menghilangkan kesulitannya pada hari kiamat. Hal ini karena ia telah berbuat baik kepada pembeli. Sebab, setelah akad jual beli terjadi dan sah, pembeli sebenarnya tidak bisa membatalkannya secara sepihak.Maka balasan yang diberikan adalah sejenis dengan perbuatannya. Ketika seseorang berbuat baik kepada saudaranya dengan memberi keringanan—padahal transaksi sudah sah dan mengikat—dan ia rela mengembalikan uang serta menerima kembali barangnya, maka Allah Yang Maha Mulia akan membalasnya dengan kemurahan yang lebih besar pada hari ketika ia sangat membutuhkan rahmat-Nya.Namun, hal ini tidak bersifat wajib. Seorang penjual tidak berdosa jika menolak membatalkan transaksi. Akan tetapi, yang lebih sempurna, lebih bermanfaat, dan lebih utama adalah memberikan keringanan kepada saudaranya sesama muslim, terutama jika ia sedang membutuhkan.Jika ia memberi keringanan dalam kondisi seperti ini, maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari ketika ia sangat membutuhkan rahmat Allah.Sebagaimana disebutkan dalam hadits lain:«مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ»“Barang siapa membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhannya. Dan barang siapa meringankan kesulitan seorang muslim, maka Allah akan meringankan darinya satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 2442 dan Muslim, no. 2580)Baca juga: Rahasia Masuk Surga, Mudah dalam Jual Beli dan Menagih Hak Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang fokus menang dalam transaksi, tetapi lupa menjaga hati dan hubungan. Jangan sampai kita keras dalam menuntut hak, namun kehilangan keberkahan hidup. Belajarlah memberi ruang, memahami kondisi orang lain, dan tidak kaku dalam muamalah. Bisa jadi, kelonggaran kecil yang kita berikan hari ini menjadi penyelamat besar di akhirat nanti. Referensi: Dorar.Net —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Dzulqa’dah 1447 H, 29 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak bisnis ampunan Allah bisnis berkah etika transaksi hadits jual beli iqalah islam dan muamalah jual beli islam memudahkan orang lain muamalah islami
Tidak semua keuntungan dalam bisnis harus dipertahankan mati-matian. Kadang, justru melepas sedikit hak di dunia menjadi sebab mendapatkan ampunan besar di akhirat. Hadits ini membuka mata kita bahwa sikap lapang dalam transaksi adalah jalan cepat menuju rahmat Allah.  Daftar Isi tutup 1. Muamalah yang Baik 2. Nasihat Penutup  Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَقَالَ مُسْلِمًا بَيْعَتَهُ؛ أَقَالَهُ اللَّهُ عَثْرَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Barang siapa memberi keringanan kepada seorang muslim dengan membatalkan transaksi jual belinya (karena ia menyesal), maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud no. 3460, Ibnu Majah no. 2199, Ahmad dalam Zawa’id, dan Ibnu Hibban; disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 1758).Makna hadits ini:“أقال مسلمًا بيعته” : memberi kesempatan kepada orang lain untuk membatalkan transaksi karena ia merasa rugi atau menyesal“أقاله الله عثرته” : Allah akan memaafkan kesalahan-kesalahannya kelak di hari kiamat Muamalah yang BaikNabi ﷺ mendorong kita untuk saling berinteraksi dengan cara yang baik, penuh kelembutan, dan sikap yang lunak. Beliau juga menjelaskan keutamaan membantu meringankan kesulitan dan beban orang lain.Dalam hadits ini, Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa memberi keringanan kepada seorang muslim dengan membatalkan transaksi jual belinya (karena ia menyesal), maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat.”Makna iqālah (membatalkan transaksi) dalam syariat adalah menghapus akad yang telah terjadi antara dua pihak yang bertransaksi. Hal ini disepakati kebolehannya oleh para ulama (ijma’). Namun, harus ada ungkapan yang menunjukkan hal tersebut, seperti ucapan “aku batalkan” atau ungkapan lain yang dipahami secara umum dengan makna yang sama.Gambaran iqālah dalam jual beli adalah ketika seseorang membeli suatu barang, lalu ia menyesal atas pembelian tersebut. Penyesalan itu bisa karena:merasa dirugikan,kebutuhannya sudah tidak ada,atau karena tidak lagi memiliki uang.Lalu ia mengembalikan barang tersebut kepada penjual, dan penjual menerima pengembalian itu.Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat.”Artinya, Allah akan menghapus dosa dan kesalahannya serta menghilangkan kesulitannya pada hari kiamat. Hal ini karena ia telah berbuat baik kepada pembeli. Sebab, setelah akad jual beli terjadi dan sah, pembeli sebenarnya tidak bisa membatalkannya secara sepihak.Maka balasan yang diberikan adalah sejenis dengan perbuatannya. Ketika seseorang berbuat baik kepada saudaranya dengan memberi keringanan—padahal transaksi sudah sah dan mengikat—dan ia rela mengembalikan uang serta menerima kembali barangnya, maka Allah Yang Maha Mulia akan membalasnya dengan kemurahan yang lebih besar pada hari ketika ia sangat membutuhkan rahmat-Nya.Namun, hal ini tidak bersifat wajib. Seorang penjual tidak berdosa jika menolak membatalkan transaksi. Akan tetapi, yang lebih sempurna, lebih bermanfaat, dan lebih utama adalah memberikan keringanan kepada saudaranya sesama muslim, terutama jika ia sedang membutuhkan.Jika ia memberi keringanan dalam kondisi seperti ini, maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari ketika ia sangat membutuhkan rahmat Allah.Sebagaimana disebutkan dalam hadits lain:«مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ»“Barang siapa membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhannya. Dan barang siapa meringankan kesulitan seorang muslim, maka Allah akan meringankan darinya satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 2442 dan Muslim, no. 2580)Baca juga: Rahasia Masuk Surga, Mudah dalam Jual Beli dan Menagih Hak Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang fokus menang dalam transaksi, tetapi lupa menjaga hati dan hubungan. Jangan sampai kita keras dalam menuntut hak, namun kehilangan keberkahan hidup. Belajarlah memberi ruang, memahami kondisi orang lain, dan tidak kaku dalam muamalah. Bisa jadi, kelonggaran kecil yang kita berikan hari ini menjadi penyelamat besar di akhirat nanti. Referensi: Dorar.Net —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Dzulqa’dah 1447 H, 29 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak bisnis ampunan Allah bisnis berkah etika transaksi hadits jual beli iqalah islam dan muamalah jual beli islam memudahkan orang lain muamalah islami


Tidak semua keuntungan dalam bisnis harus dipertahankan mati-matian. Kadang, justru melepas sedikit hak di dunia menjadi sebab mendapatkan ampunan besar di akhirat. Hadits ini membuka mata kita bahwa sikap lapang dalam transaksi adalah jalan cepat menuju rahmat Allah.  Daftar Isi tutup 1. Muamalah yang Baik 2. Nasihat Penutup  Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَقَالَ مُسْلِمًا بَيْعَتَهُ؛ أَقَالَهُ اللَّهُ عَثْرَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Barang siapa memberi keringanan kepada seorang muslim dengan membatalkan transaksi jual belinya (karena ia menyesal), maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud no. 3460, Ibnu Majah no. 2199, Ahmad dalam Zawa’id, dan Ibnu Hibban; disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 1758).Makna hadits ini:“أقال مسلمًا بيعته” : memberi kesempatan kepada orang lain untuk membatalkan transaksi karena ia merasa rugi atau menyesal“أقاله الله عثرته” : Allah akan memaafkan kesalahan-kesalahannya kelak di hari kiamat Muamalah yang BaikNabi ﷺ mendorong kita untuk saling berinteraksi dengan cara yang baik, penuh kelembutan, dan sikap yang lunak. Beliau juga menjelaskan keutamaan membantu meringankan kesulitan dan beban orang lain.Dalam hadits ini, Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa memberi keringanan kepada seorang muslim dengan membatalkan transaksi jual belinya (karena ia menyesal), maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat.”Makna iqālah (membatalkan transaksi) dalam syariat adalah menghapus akad yang telah terjadi antara dua pihak yang bertransaksi. Hal ini disepakati kebolehannya oleh para ulama (ijma’). Namun, harus ada ungkapan yang menunjukkan hal tersebut, seperti ucapan “aku batalkan” atau ungkapan lain yang dipahami secara umum dengan makna yang sama.Gambaran iqālah dalam jual beli adalah ketika seseorang membeli suatu barang, lalu ia menyesal atas pembelian tersebut. Penyesalan itu bisa karena:merasa dirugikan,kebutuhannya sudah tidak ada,atau karena tidak lagi memiliki uang.Lalu ia mengembalikan barang tersebut kepada penjual, dan penjual menerima pengembalian itu.Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat.”Artinya, Allah akan menghapus dosa dan kesalahannya serta menghilangkan kesulitannya pada hari kiamat. Hal ini karena ia telah berbuat baik kepada pembeli. Sebab, setelah akad jual beli terjadi dan sah, pembeli sebenarnya tidak bisa membatalkannya secara sepihak.Maka balasan yang diberikan adalah sejenis dengan perbuatannya. Ketika seseorang berbuat baik kepada saudaranya dengan memberi keringanan—padahal transaksi sudah sah dan mengikat—dan ia rela mengembalikan uang serta menerima kembali barangnya, maka Allah Yang Maha Mulia akan membalasnya dengan kemurahan yang lebih besar pada hari ketika ia sangat membutuhkan rahmat-Nya.Namun, hal ini tidak bersifat wajib. Seorang penjual tidak berdosa jika menolak membatalkan transaksi. Akan tetapi, yang lebih sempurna, lebih bermanfaat, dan lebih utama adalah memberikan keringanan kepada saudaranya sesama muslim, terutama jika ia sedang membutuhkan.Jika ia memberi keringanan dalam kondisi seperti ini, maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari ketika ia sangat membutuhkan rahmat Allah.Sebagaimana disebutkan dalam hadits lain:«مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ»“Barang siapa membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhannya. Dan barang siapa meringankan kesulitan seorang muslim, maka Allah akan meringankan darinya satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 2442 dan Muslim, no. 2580)Baca juga: Rahasia Masuk Surga, Mudah dalam Jual Beli dan Menagih Hak Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang fokus menang dalam transaksi, tetapi lupa menjaga hati dan hubungan. Jangan sampai kita keras dalam menuntut hak, namun kehilangan keberkahan hidup. Belajarlah memberi ruang, memahami kondisi orang lain, dan tidak kaku dalam muamalah. Bisa jadi, kelonggaran kecil yang kita berikan hari ini menjadi penyelamat besar di akhirat nanti. Referensi: Dorar.Net —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Dzulqa’dah 1447 H, 29 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak bisnis ampunan Allah bisnis berkah etika transaksi hadits jual beli iqalah islam dan muamalah jual beli islam memudahkan orang lain muamalah islami

Rahasia Doa Mustajab: Doakan Saudaramu Diam-Diam, Malaikat Mengaminkan!

Banyak orang sibuk berdoa untuk dirinya sendiri, namun lupa bahwa ada doa yang justru lebih cepat dikabulkan. Doa itu adalah doa untuk orang lain tanpa sepengetahuan mereka. Inilah rahasia amal ringan yang penuh keikhlasan, diam-diam didengar oleh malaikat, dan berbuah kebaikan untuk diri sendiri.  Daftar Isi tutup 1. Doa untuk Saudara Itu Mustajab 2. Malaikat Mengaminkan Doa 3. Jangan Egois dalam Doa 4. Faedah Utama dari Hadits-Hadits Ini 5. Perkataan Ulama Salaf Mengenai Doa Bi Zhahril Ghaib 6. Penutup  Doa untuk Saudara Itu MustajabDari Abu Bakar Ash Shidiq radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,إِنَّ دَعْوَةَ الأَخِ فِي اللَّهِ تُسْتَجَابُ“Sesungguhnya do’a seseorang kepada saudaranya karena Allah adalah do’a yang mustajab (terkabulkan).“(HR. Muslim no. 2732; dinyatakan oleh Az-Zarqani dalam Mukhtashar Al-Maqashid hlm. 458, dengan sedikit perbedaan redaksi) Malaikat Mengaminkan DoaDari Shafwan bin ‘Abdillah bin Shafwan–istrinya adalah Ad-Darda’ binti Abid Darda’–, beliau mengatakan, “Aku tiba di negeri Syam. Kemudian saya bertemu dengan Ummu Ad-Darda’ (ibu mertua Shafwan, pen) di rumah. Namun, saya tidak bertemu dengan Abu Ad-Darda’ (bapak mertua Shafwan, pen). Ummu Ad-Darda’ berkata, “Apakah engkau ingin berhaji tahun ini?” Aku (Shafwan) berkata, “Iya.”Ummu Darda’ pun mengatakan, “Kalau begitu doakanlah kebaikan pada kami karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,”دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ“Sesungguhnya doa seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.”Shafwan pun mengatakan, “Aku pun bertemu Abu Darda’ di pasar, lalu Abu Darda’ mengatakan sebagaimana istrinya tadi. Abu Darda’ mengatakan bahwa dia menukilnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim, no. 2733) Jangan Egois dalam DoaDari ‘Abdullah bin ‘Amr, beliau berkata bahwa seseorang mengatakan,اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى وَلِمُحَمَّدٍ وَحْدَنَا“Ya Allah ampunilah aku dan Muhammad saja!”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda,لَقَدْ حَجَبْتَهَا عَنْ نَاسٍ كَثِيرٍ“Sungguh engkau telah menyempitkan do’amu tadi dari do’a kepada orang banyak.”(HR. Ahmad no. 6849, Al-Adab Al-Mufrad no. 626, dan Al-Mu’jam Al-Kabir no. 14465; dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dalam Shahih Ibnu Hibban no. 986) Faedah Utama dari Hadits-Hadits Ini1. Keutamaan Doa untuk Orang Lain Tanpa Sepengetahuan MerekaDoa bi zhahril ghaib (tanpa diketahui orangnya) termasuk doa yang paling dekat dikabulkan. Ini karena:Tidak ada unsur riya’Murni karena keikhlasan dan cinta karena AllahIni menunjukkan kuatnya ikatan ukhuwah iman.2. Bukti Adanya Malaikat yang Mengaminkan DoaHadits kedua menegaskan:Ada malaikat khusus yang ditugaskanSetiap doa kebaikan akan diaminkanIni menguatkan iman kepada perkara ghaib (iman kepada malaikat), bagian dari akidah Ahlus Sunnah.3. Doa untuk Orang Lain adalah Jalan Mendapatkan Doa untuk Diri SendiriKaedah penting:“Balasan sesuai dengan jenis amal.”Saat kita mendoakan orang lain:Malaikat berkata: “Aamiin, dan bagimu semisal itu.”Ini cara cerdas: Ingin cepat dikabulkan? Perbanyak doa untuk orang lain.4. Larangan Bersikap Egois dalam DoaHadits ketiga memberi pelajaran:Doa hanya untuk diri sendiri → tercelaIslam mengajarkan kelapangan hatiIni menunjukkan:Akhlak seorang mukmin itu luasTidak sempit dan individualis5. Disyariatkan “Titip Doa”Sebagaimana praktik para sahabat:Ummu Ad-Darda’ meminta didoakanAbu Ad-Darda’ menguatkan hadits tersebutFaedah:Boleh meminta doa kepada orang salehTerutama saat safar, ibadah, atau kondisi mustajab6. Tanda Keikhlasan HatiOrang yang suka mendoakan orang lain tanpa diketahui:Tidak menunggu balasanTidak ingin dipujiIni tanda ikhlas dan bersihnya hati dari hasad7. Obat Hasad (Iri Hati)Jika sulit melihat orang lain bahagia:Paksa diri untuk mendoakannyaKarena:Tidak mungkin hasad dan doa kebaikan berkumpul dalam satu hati8. Menguatkan Persatuan UmatJika setiap muslim: Mendoakan saudaranyaMaka:Hilang kebencianTumbuh cinta dan empatiIni solusi konflik sosial dan bahkan konflik keluarga9. Luasnya Rahmat IslamIslam tidak hanya mengajarkan: “Doa untuk diri sendiri”Tapi: Doa untuk orang lainBahkan orang yang tidak hadirIni menunjukkan rahmat Islam bersifat kolektif, bukan individual Perkataan Ulama Salaf Mengenai Doa Bi Zhahril GhaibImam An-Nawawi berkata ketika menjelaskan hadits ini: “(Bi zhahril ghaib) maksudnya adalah mendoakan dalam keadaan orang yang didoakan tidak hadir dan tanpa sepengetahuannya. Ini lebih kuat dalam hal keikhlasan. Jika seseorang mendoakan sekelompok kaum muslimin, maka ia mendapatkan keutamaan ini. Bahkan jika ia mendoakan seluruh kaum muslimin, maka secara lahir juga diharapkan ia mendapatkan keutamaan tersebut. Dahulu sebagian ulama salaf, jika ingin mendoakan dirinya sendiri, ia justru mendoakan saudaranya terlebih dahulu dengan doa yang sama, karena doa tersebut lebih mudah dikabulkan dan ia pun akan mendapatkan yang semisal.”Ibnul Jauzi menyebutkan bahwa Harm bin Hayyan pernah mengunjungi tabi’in mulia, Uwais al-Qarni. Maka Harm berkata: “Wahai Uwais, teruslah menjalin hubungan dengan kami melalui kunjungan.”Uwais menjawab: “Aku telah menjalin hubungan denganmu dengan sesuatu yang lebih bermanfaat daripada sekadar kunjungan dan pertemuan, yaitu doa tanpa sepengetahuanmu. Karena dalam kunjungan dan pertemuan, terkadang bisa muncul sikap berhias diri dan riya’.”Ibnu Jauzi juga menyebutkan bahwa Abu Hamdun memiliki catatan berisi tiga ratus nama sahabatnya. Setiap malam, ia mendoakan mereka satu per satu dengan menyebut nama mereka. Suatu malam ia tertidur dan tidak mendoakan mereka. Lalu dalam mimpinya dikatakan kepadanya: “Wahai Abu Hamdun, mengapa engkau tidak menyalakan lampu-lampumu?” Maka ia pun terbangun dan segera mendoakan mereka.Referensi: Alukah.Net PenutupDi zaman sekarang, banyak orang lebih mudah membicarakan keburukan orang lain daripada mendoakannya. Padahal, mendoakan diam-diam jauh lebih bermanfaat bagi hati dan kehidupan. Jika ingin hidup lebih tenang dan penuh keberkahan, perbanyaklah doa untuk saudara kita. Bisa jadi, jalan keluar masalah kita justru datang dari doa yang kita panjatkan untuk orang lain. Baca juga:Doakanlah Saudaramu di Saat Dia Tidak MengetahuinyaSudah Doakan Saudaramu di Saat Ia Tidak di Hadapanmu?Kumpulan Amalan Ringan #30: Doa Bi Zhahril Ghaib —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Dzulqa’dah 1447 H, 29 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadab berdoa doa mustajab doa untuk saudara hasad ikhlas keutamaan doa malaikat aminkan doa penyakit hati tazkiyatun nafs ukhuwah islamiyah

Rahasia Doa Mustajab: Doakan Saudaramu Diam-Diam, Malaikat Mengaminkan!

Banyak orang sibuk berdoa untuk dirinya sendiri, namun lupa bahwa ada doa yang justru lebih cepat dikabulkan. Doa itu adalah doa untuk orang lain tanpa sepengetahuan mereka. Inilah rahasia amal ringan yang penuh keikhlasan, diam-diam didengar oleh malaikat, dan berbuah kebaikan untuk diri sendiri.  Daftar Isi tutup 1. Doa untuk Saudara Itu Mustajab 2. Malaikat Mengaminkan Doa 3. Jangan Egois dalam Doa 4. Faedah Utama dari Hadits-Hadits Ini 5. Perkataan Ulama Salaf Mengenai Doa Bi Zhahril Ghaib 6. Penutup  Doa untuk Saudara Itu MustajabDari Abu Bakar Ash Shidiq radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,إِنَّ دَعْوَةَ الأَخِ فِي اللَّهِ تُسْتَجَابُ“Sesungguhnya do’a seseorang kepada saudaranya karena Allah adalah do’a yang mustajab (terkabulkan).“(HR. Muslim no. 2732; dinyatakan oleh Az-Zarqani dalam Mukhtashar Al-Maqashid hlm. 458, dengan sedikit perbedaan redaksi) Malaikat Mengaminkan DoaDari Shafwan bin ‘Abdillah bin Shafwan–istrinya adalah Ad-Darda’ binti Abid Darda’–, beliau mengatakan, “Aku tiba di negeri Syam. Kemudian saya bertemu dengan Ummu Ad-Darda’ (ibu mertua Shafwan, pen) di rumah. Namun, saya tidak bertemu dengan Abu Ad-Darda’ (bapak mertua Shafwan, pen). Ummu Ad-Darda’ berkata, “Apakah engkau ingin berhaji tahun ini?” Aku (Shafwan) berkata, “Iya.”Ummu Darda’ pun mengatakan, “Kalau begitu doakanlah kebaikan pada kami karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,”دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ“Sesungguhnya doa seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.”Shafwan pun mengatakan, “Aku pun bertemu Abu Darda’ di pasar, lalu Abu Darda’ mengatakan sebagaimana istrinya tadi. Abu Darda’ mengatakan bahwa dia menukilnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim, no. 2733) Jangan Egois dalam DoaDari ‘Abdullah bin ‘Amr, beliau berkata bahwa seseorang mengatakan,اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى وَلِمُحَمَّدٍ وَحْدَنَا“Ya Allah ampunilah aku dan Muhammad saja!”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda,لَقَدْ حَجَبْتَهَا عَنْ نَاسٍ كَثِيرٍ“Sungguh engkau telah menyempitkan do’amu tadi dari do’a kepada orang banyak.”(HR. Ahmad no. 6849, Al-Adab Al-Mufrad no. 626, dan Al-Mu’jam Al-Kabir no. 14465; dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dalam Shahih Ibnu Hibban no. 986) Faedah Utama dari Hadits-Hadits Ini1. Keutamaan Doa untuk Orang Lain Tanpa Sepengetahuan MerekaDoa bi zhahril ghaib (tanpa diketahui orangnya) termasuk doa yang paling dekat dikabulkan. Ini karena:Tidak ada unsur riya’Murni karena keikhlasan dan cinta karena AllahIni menunjukkan kuatnya ikatan ukhuwah iman.2. Bukti Adanya Malaikat yang Mengaminkan DoaHadits kedua menegaskan:Ada malaikat khusus yang ditugaskanSetiap doa kebaikan akan diaminkanIni menguatkan iman kepada perkara ghaib (iman kepada malaikat), bagian dari akidah Ahlus Sunnah.3. Doa untuk Orang Lain adalah Jalan Mendapatkan Doa untuk Diri SendiriKaedah penting:“Balasan sesuai dengan jenis amal.”Saat kita mendoakan orang lain:Malaikat berkata: “Aamiin, dan bagimu semisal itu.”Ini cara cerdas: Ingin cepat dikabulkan? Perbanyak doa untuk orang lain.4. Larangan Bersikap Egois dalam DoaHadits ketiga memberi pelajaran:Doa hanya untuk diri sendiri → tercelaIslam mengajarkan kelapangan hatiIni menunjukkan:Akhlak seorang mukmin itu luasTidak sempit dan individualis5. Disyariatkan “Titip Doa”Sebagaimana praktik para sahabat:Ummu Ad-Darda’ meminta didoakanAbu Ad-Darda’ menguatkan hadits tersebutFaedah:Boleh meminta doa kepada orang salehTerutama saat safar, ibadah, atau kondisi mustajab6. Tanda Keikhlasan HatiOrang yang suka mendoakan orang lain tanpa diketahui:Tidak menunggu balasanTidak ingin dipujiIni tanda ikhlas dan bersihnya hati dari hasad7. Obat Hasad (Iri Hati)Jika sulit melihat orang lain bahagia:Paksa diri untuk mendoakannyaKarena:Tidak mungkin hasad dan doa kebaikan berkumpul dalam satu hati8. Menguatkan Persatuan UmatJika setiap muslim: Mendoakan saudaranyaMaka:Hilang kebencianTumbuh cinta dan empatiIni solusi konflik sosial dan bahkan konflik keluarga9. Luasnya Rahmat IslamIslam tidak hanya mengajarkan: “Doa untuk diri sendiri”Tapi: Doa untuk orang lainBahkan orang yang tidak hadirIni menunjukkan rahmat Islam bersifat kolektif, bukan individual Perkataan Ulama Salaf Mengenai Doa Bi Zhahril GhaibImam An-Nawawi berkata ketika menjelaskan hadits ini: “(Bi zhahril ghaib) maksudnya adalah mendoakan dalam keadaan orang yang didoakan tidak hadir dan tanpa sepengetahuannya. Ini lebih kuat dalam hal keikhlasan. Jika seseorang mendoakan sekelompok kaum muslimin, maka ia mendapatkan keutamaan ini. Bahkan jika ia mendoakan seluruh kaum muslimin, maka secara lahir juga diharapkan ia mendapatkan keutamaan tersebut. Dahulu sebagian ulama salaf, jika ingin mendoakan dirinya sendiri, ia justru mendoakan saudaranya terlebih dahulu dengan doa yang sama, karena doa tersebut lebih mudah dikabulkan dan ia pun akan mendapatkan yang semisal.”Ibnul Jauzi menyebutkan bahwa Harm bin Hayyan pernah mengunjungi tabi’in mulia, Uwais al-Qarni. Maka Harm berkata: “Wahai Uwais, teruslah menjalin hubungan dengan kami melalui kunjungan.”Uwais menjawab: “Aku telah menjalin hubungan denganmu dengan sesuatu yang lebih bermanfaat daripada sekadar kunjungan dan pertemuan, yaitu doa tanpa sepengetahuanmu. Karena dalam kunjungan dan pertemuan, terkadang bisa muncul sikap berhias diri dan riya’.”Ibnu Jauzi juga menyebutkan bahwa Abu Hamdun memiliki catatan berisi tiga ratus nama sahabatnya. Setiap malam, ia mendoakan mereka satu per satu dengan menyebut nama mereka. Suatu malam ia tertidur dan tidak mendoakan mereka. Lalu dalam mimpinya dikatakan kepadanya: “Wahai Abu Hamdun, mengapa engkau tidak menyalakan lampu-lampumu?” Maka ia pun terbangun dan segera mendoakan mereka.Referensi: Alukah.Net PenutupDi zaman sekarang, banyak orang lebih mudah membicarakan keburukan orang lain daripada mendoakannya. Padahal, mendoakan diam-diam jauh lebih bermanfaat bagi hati dan kehidupan. Jika ingin hidup lebih tenang dan penuh keberkahan, perbanyaklah doa untuk saudara kita. Bisa jadi, jalan keluar masalah kita justru datang dari doa yang kita panjatkan untuk orang lain. Baca juga:Doakanlah Saudaramu di Saat Dia Tidak MengetahuinyaSudah Doakan Saudaramu di Saat Ia Tidak di Hadapanmu?Kumpulan Amalan Ringan #30: Doa Bi Zhahril Ghaib —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Dzulqa’dah 1447 H, 29 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadab berdoa doa mustajab doa untuk saudara hasad ikhlas keutamaan doa malaikat aminkan doa penyakit hati tazkiyatun nafs ukhuwah islamiyah
Banyak orang sibuk berdoa untuk dirinya sendiri, namun lupa bahwa ada doa yang justru lebih cepat dikabulkan. Doa itu adalah doa untuk orang lain tanpa sepengetahuan mereka. Inilah rahasia amal ringan yang penuh keikhlasan, diam-diam didengar oleh malaikat, dan berbuah kebaikan untuk diri sendiri.  Daftar Isi tutup 1. Doa untuk Saudara Itu Mustajab 2. Malaikat Mengaminkan Doa 3. Jangan Egois dalam Doa 4. Faedah Utama dari Hadits-Hadits Ini 5. Perkataan Ulama Salaf Mengenai Doa Bi Zhahril Ghaib 6. Penutup  Doa untuk Saudara Itu MustajabDari Abu Bakar Ash Shidiq radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,إِنَّ دَعْوَةَ الأَخِ فِي اللَّهِ تُسْتَجَابُ“Sesungguhnya do’a seseorang kepada saudaranya karena Allah adalah do’a yang mustajab (terkabulkan).“(HR. Muslim no. 2732; dinyatakan oleh Az-Zarqani dalam Mukhtashar Al-Maqashid hlm. 458, dengan sedikit perbedaan redaksi) Malaikat Mengaminkan DoaDari Shafwan bin ‘Abdillah bin Shafwan–istrinya adalah Ad-Darda’ binti Abid Darda’–, beliau mengatakan, “Aku tiba di negeri Syam. Kemudian saya bertemu dengan Ummu Ad-Darda’ (ibu mertua Shafwan, pen) di rumah. Namun, saya tidak bertemu dengan Abu Ad-Darda’ (bapak mertua Shafwan, pen). Ummu Ad-Darda’ berkata, “Apakah engkau ingin berhaji tahun ini?” Aku (Shafwan) berkata, “Iya.”Ummu Darda’ pun mengatakan, “Kalau begitu doakanlah kebaikan pada kami karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,”دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ“Sesungguhnya doa seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.”Shafwan pun mengatakan, “Aku pun bertemu Abu Darda’ di pasar, lalu Abu Darda’ mengatakan sebagaimana istrinya tadi. Abu Darda’ mengatakan bahwa dia menukilnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim, no. 2733) Jangan Egois dalam DoaDari ‘Abdullah bin ‘Amr, beliau berkata bahwa seseorang mengatakan,اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى وَلِمُحَمَّدٍ وَحْدَنَا“Ya Allah ampunilah aku dan Muhammad saja!”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda,لَقَدْ حَجَبْتَهَا عَنْ نَاسٍ كَثِيرٍ“Sungguh engkau telah menyempitkan do’amu tadi dari do’a kepada orang banyak.”(HR. Ahmad no. 6849, Al-Adab Al-Mufrad no. 626, dan Al-Mu’jam Al-Kabir no. 14465; dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dalam Shahih Ibnu Hibban no. 986) Faedah Utama dari Hadits-Hadits Ini1. Keutamaan Doa untuk Orang Lain Tanpa Sepengetahuan MerekaDoa bi zhahril ghaib (tanpa diketahui orangnya) termasuk doa yang paling dekat dikabulkan. Ini karena:Tidak ada unsur riya’Murni karena keikhlasan dan cinta karena AllahIni menunjukkan kuatnya ikatan ukhuwah iman.2. Bukti Adanya Malaikat yang Mengaminkan DoaHadits kedua menegaskan:Ada malaikat khusus yang ditugaskanSetiap doa kebaikan akan diaminkanIni menguatkan iman kepada perkara ghaib (iman kepada malaikat), bagian dari akidah Ahlus Sunnah.3. Doa untuk Orang Lain adalah Jalan Mendapatkan Doa untuk Diri SendiriKaedah penting:“Balasan sesuai dengan jenis amal.”Saat kita mendoakan orang lain:Malaikat berkata: “Aamiin, dan bagimu semisal itu.”Ini cara cerdas: Ingin cepat dikabulkan? Perbanyak doa untuk orang lain.4. Larangan Bersikap Egois dalam DoaHadits ketiga memberi pelajaran:Doa hanya untuk diri sendiri → tercelaIslam mengajarkan kelapangan hatiIni menunjukkan:Akhlak seorang mukmin itu luasTidak sempit dan individualis5. Disyariatkan “Titip Doa”Sebagaimana praktik para sahabat:Ummu Ad-Darda’ meminta didoakanAbu Ad-Darda’ menguatkan hadits tersebutFaedah:Boleh meminta doa kepada orang salehTerutama saat safar, ibadah, atau kondisi mustajab6. Tanda Keikhlasan HatiOrang yang suka mendoakan orang lain tanpa diketahui:Tidak menunggu balasanTidak ingin dipujiIni tanda ikhlas dan bersihnya hati dari hasad7. Obat Hasad (Iri Hati)Jika sulit melihat orang lain bahagia:Paksa diri untuk mendoakannyaKarena:Tidak mungkin hasad dan doa kebaikan berkumpul dalam satu hati8. Menguatkan Persatuan UmatJika setiap muslim: Mendoakan saudaranyaMaka:Hilang kebencianTumbuh cinta dan empatiIni solusi konflik sosial dan bahkan konflik keluarga9. Luasnya Rahmat IslamIslam tidak hanya mengajarkan: “Doa untuk diri sendiri”Tapi: Doa untuk orang lainBahkan orang yang tidak hadirIni menunjukkan rahmat Islam bersifat kolektif, bukan individual Perkataan Ulama Salaf Mengenai Doa Bi Zhahril GhaibImam An-Nawawi berkata ketika menjelaskan hadits ini: “(Bi zhahril ghaib) maksudnya adalah mendoakan dalam keadaan orang yang didoakan tidak hadir dan tanpa sepengetahuannya. Ini lebih kuat dalam hal keikhlasan. Jika seseorang mendoakan sekelompok kaum muslimin, maka ia mendapatkan keutamaan ini. Bahkan jika ia mendoakan seluruh kaum muslimin, maka secara lahir juga diharapkan ia mendapatkan keutamaan tersebut. Dahulu sebagian ulama salaf, jika ingin mendoakan dirinya sendiri, ia justru mendoakan saudaranya terlebih dahulu dengan doa yang sama, karena doa tersebut lebih mudah dikabulkan dan ia pun akan mendapatkan yang semisal.”Ibnul Jauzi menyebutkan bahwa Harm bin Hayyan pernah mengunjungi tabi’in mulia, Uwais al-Qarni. Maka Harm berkata: “Wahai Uwais, teruslah menjalin hubungan dengan kami melalui kunjungan.”Uwais menjawab: “Aku telah menjalin hubungan denganmu dengan sesuatu yang lebih bermanfaat daripada sekadar kunjungan dan pertemuan, yaitu doa tanpa sepengetahuanmu. Karena dalam kunjungan dan pertemuan, terkadang bisa muncul sikap berhias diri dan riya’.”Ibnu Jauzi juga menyebutkan bahwa Abu Hamdun memiliki catatan berisi tiga ratus nama sahabatnya. Setiap malam, ia mendoakan mereka satu per satu dengan menyebut nama mereka. Suatu malam ia tertidur dan tidak mendoakan mereka. Lalu dalam mimpinya dikatakan kepadanya: “Wahai Abu Hamdun, mengapa engkau tidak menyalakan lampu-lampumu?” Maka ia pun terbangun dan segera mendoakan mereka.Referensi: Alukah.Net PenutupDi zaman sekarang, banyak orang lebih mudah membicarakan keburukan orang lain daripada mendoakannya. Padahal, mendoakan diam-diam jauh lebih bermanfaat bagi hati dan kehidupan. Jika ingin hidup lebih tenang dan penuh keberkahan, perbanyaklah doa untuk saudara kita. Bisa jadi, jalan keluar masalah kita justru datang dari doa yang kita panjatkan untuk orang lain. Baca juga:Doakanlah Saudaramu di Saat Dia Tidak MengetahuinyaSudah Doakan Saudaramu di Saat Ia Tidak di Hadapanmu?Kumpulan Amalan Ringan #30: Doa Bi Zhahril Ghaib —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Dzulqa’dah 1447 H, 29 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadab berdoa doa mustajab doa untuk saudara hasad ikhlas keutamaan doa malaikat aminkan doa penyakit hati tazkiyatun nafs ukhuwah islamiyah


Banyak orang sibuk berdoa untuk dirinya sendiri, namun lupa bahwa ada doa yang justru lebih cepat dikabulkan. Doa itu adalah doa untuk orang lain tanpa sepengetahuan mereka. Inilah rahasia amal ringan yang penuh keikhlasan, diam-diam didengar oleh malaikat, dan berbuah kebaikan untuk diri sendiri.  Daftar Isi tutup 1. Doa untuk Saudara Itu Mustajab 2. Malaikat Mengaminkan Doa 3. Jangan Egois dalam Doa 4. Faedah Utama dari Hadits-Hadits Ini 5. Perkataan Ulama Salaf Mengenai Doa Bi Zhahril Ghaib 6. Penutup  Doa untuk Saudara Itu MustajabDari Abu Bakar Ash Shidiq radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,إِنَّ دَعْوَةَ الأَخِ فِي اللَّهِ تُسْتَجَابُ“Sesungguhnya do’a seseorang kepada saudaranya karena Allah adalah do’a yang mustajab (terkabulkan).“(HR. Muslim no. 2732; dinyatakan oleh Az-Zarqani dalam Mukhtashar Al-Maqashid hlm. 458, dengan sedikit perbedaan redaksi) Malaikat Mengaminkan DoaDari Shafwan bin ‘Abdillah bin Shafwan–istrinya adalah Ad-Darda’ binti Abid Darda’–, beliau mengatakan, “Aku tiba di negeri Syam. Kemudian saya bertemu dengan Ummu Ad-Darda’ (ibu mertua Shafwan, pen) di rumah. Namun, saya tidak bertemu dengan Abu Ad-Darda’ (bapak mertua Shafwan, pen). Ummu Ad-Darda’ berkata, “Apakah engkau ingin berhaji tahun ini?” Aku (Shafwan) berkata, “Iya.”Ummu Darda’ pun mengatakan, “Kalau begitu doakanlah kebaikan pada kami karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,”دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ“Sesungguhnya doa seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.”Shafwan pun mengatakan, “Aku pun bertemu Abu Darda’ di pasar, lalu Abu Darda’ mengatakan sebagaimana istrinya tadi. Abu Darda’ mengatakan bahwa dia menukilnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim, no. 2733) Jangan Egois dalam DoaDari ‘Abdullah bin ‘Amr, beliau berkata bahwa seseorang mengatakan,اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى وَلِمُحَمَّدٍ وَحْدَنَا“Ya Allah ampunilah aku dan Muhammad saja!”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda,لَقَدْ حَجَبْتَهَا عَنْ نَاسٍ كَثِيرٍ“Sungguh engkau telah menyempitkan do’amu tadi dari do’a kepada orang banyak.”(HR. Ahmad no. 6849, Al-Adab Al-Mufrad no. 626, dan Al-Mu’jam Al-Kabir no. 14465; dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dalam Shahih Ibnu Hibban no. 986) Faedah Utama dari Hadits-Hadits Ini1. Keutamaan Doa untuk Orang Lain Tanpa Sepengetahuan MerekaDoa bi zhahril ghaib (tanpa diketahui orangnya) termasuk doa yang paling dekat dikabulkan. Ini karena:Tidak ada unsur riya’Murni karena keikhlasan dan cinta karena AllahIni menunjukkan kuatnya ikatan ukhuwah iman.2. Bukti Adanya Malaikat yang Mengaminkan DoaHadits kedua menegaskan:Ada malaikat khusus yang ditugaskanSetiap doa kebaikan akan diaminkanIni menguatkan iman kepada perkara ghaib (iman kepada malaikat), bagian dari akidah Ahlus Sunnah.3. Doa untuk Orang Lain adalah Jalan Mendapatkan Doa untuk Diri SendiriKaedah penting:“Balasan sesuai dengan jenis amal.”Saat kita mendoakan orang lain:Malaikat berkata: “Aamiin, dan bagimu semisal itu.”Ini cara cerdas: Ingin cepat dikabulkan? Perbanyak doa untuk orang lain.4. Larangan Bersikap Egois dalam DoaHadits ketiga memberi pelajaran:Doa hanya untuk diri sendiri → tercelaIslam mengajarkan kelapangan hatiIni menunjukkan:Akhlak seorang mukmin itu luasTidak sempit dan individualis5. Disyariatkan “Titip Doa”Sebagaimana praktik para sahabat:Ummu Ad-Darda’ meminta didoakanAbu Ad-Darda’ menguatkan hadits tersebutFaedah:Boleh meminta doa kepada orang salehTerutama saat safar, ibadah, atau kondisi mustajab6. Tanda Keikhlasan HatiOrang yang suka mendoakan orang lain tanpa diketahui:Tidak menunggu balasanTidak ingin dipujiIni tanda ikhlas dan bersihnya hati dari hasad7. Obat Hasad (Iri Hati)Jika sulit melihat orang lain bahagia:Paksa diri untuk mendoakannyaKarena:Tidak mungkin hasad dan doa kebaikan berkumpul dalam satu hati8. Menguatkan Persatuan UmatJika setiap muslim: Mendoakan saudaranyaMaka:Hilang kebencianTumbuh cinta dan empatiIni solusi konflik sosial dan bahkan konflik keluarga9. Luasnya Rahmat IslamIslam tidak hanya mengajarkan: “Doa untuk diri sendiri”Tapi: Doa untuk orang lainBahkan orang yang tidak hadirIni menunjukkan rahmat Islam bersifat kolektif, bukan individual Perkataan Ulama Salaf Mengenai Doa Bi Zhahril GhaibImam An-Nawawi berkata ketika menjelaskan hadits ini: “(Bi zhahril ghaib) maksudnya adalah mendoakan dalam keadaan orang yang didoakan tidak hadir dan tanpa sepengetahuannya. Ini lebih kuat dalam hal keikhlasan. Jika seseorang mendoakan sekelompok kaum muslimin, maka ia mendapatkan keutamaan ini. Bahkan jika ia mendoakan seluruh kaum muslimin, maka secara lahir juga diharapkan ia mendapatkan keutamaan tersebut. Dahulu sebagian ulama salaf, jika ingin mendoakan dirinya sendiri, ia justru mendoakan saudaranya terlebih dahulu dengan doa yang sama, karena doa tersebut lebih mudah dikabulkan dan ia pun akan mendapatkan yang semisal.”Ibnul Jauzi menyebutkan bahwa Harm bin Hayyan pernah mengunjungi tabi’in mulia, Uwais al-Qarni. Maka Harm berkata: “Wahai Uwais, teruslah menjalin hubungan dengan kami melalui kunjungan.”Uwais menjawab: “Aku telah menjalin hubungan denganmu dengan sesuatu yang lebih bermanfaat daripada sekadar kunjungan dan pertemuan, yaitu doa tanpa sepengetahuanmu. Karena dalam kunjungan dan pertemuan, terkadang bisa muncul sikap berhias diri dan riya’.”Ibnu Jauzi juga menyebutkan bahwa Abu Hamdun memiliki catatan berisi tiga ratus nama sahabatnya. Setiap malam, ia mendoakan mereka satu per satu dengan menyebut nama mereka. Suatu malam ia tertidur dan tidak mendoakan mereka. Lalu dalam mimpinya dikatakan kepadanya: “Wahai Abu Hamdun, mengapa engkau tidak menyalakan lampu-lampumu?” Maka ia pun terbangun dan segera mendoakan mereka.Referensi: Alukah.Net PenutupDi zaman sekarang, banyak orang lebih mudah membicarakan keburukan orang lain daripada mendoakannya. Padahal, mendoakan diam-diam jauh lebih bermanfaat bagi hati dan kehidupan. Jika ingin hidup lebih tenang dan penuh keberkahan, perbanyaklah doa untuk saudara kita. Bisa jadi, jalan keluar masalah kita justru datang dari doa yang kita panjatkan untuk orang lain. Baca juga:Doakanlah Saudaramu di Saat Dia Tidak MengetahuinyaSudah Doakan Saudaramu di Saat Ia Tidak di Hadapanmu?Kumpulan Amalan Ringan #30: Doa Bi Zhahril Ghaib —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Dzulqa’dah 1447 H, 29 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadab berdoa doa mustajab doa untuk saudara hasad ikhlas keutamaan doa malaikat aminkan doa penyakit hati tazkiyatun nafs ukhuwah islamiyah

3 Orang yang Paling Mudah & Sering Kena Fitnah – Syaikh Abdussalam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Diriwayatkan dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu—dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah dan lainnya—beliau berkata: “Fitnah akan ditimpakan kepada tiga golongan manusia…” Maksudnya, merekalah orang yang paling sering terkena fitnah dan menjadi sebab bergejolaknya fitnah tersebut. Orang yang pertama kali terjerumus ke dalamnya ada tiga golongan. Beliau menyebutkan: “(Pertama), orang yang tegas lagi cerdik. Yaitu orang yang tidak ingin satu pun bangkit menentangnya, melainkan ia akan menindasnya dengan pedang karena keberaniannya.” Beliau melanjutkan: “(Kedua), orator yang pandai menarik perhatian orang dalam berbagai perkara kepada dirinya.” Maksudnya adalah sosok yang selalu diminta oleh masyarakat untuk berbicara. Oleh karena itu, siapa pun yang diuji dengan menjadi pembicara di berbagai majelis maupun mimbar, maka sesungguhnya ia tidak harus mengomentari setiap peristiwa yang terjadi.Ia juga tidak harus mengungkapkan pandangannya terhadap semua berita. Namun, kewajibannya adalah bersikap tenang dan tidak tergesa-gesa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa Allah mencintai sifat tenang dan tidak tergesa-gesa. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu melanjutkan: “Dan (ketiga), tokoh terpandang yang namanya selalu disebut-sebut.” Tokoh terpandang yang selalu disebut-sebut adalah mereka yang memiliki kedudukan tinggi dan menjadi pemimpin bagi kaumnya. Ia sering kali diminta pendapatnya secara terburu-buru sebelum jelas perkara sebenarnya. Fitnah itu apabila baru datang akan tampak samar, dan apabila telah berlalu, barulah jelas hakikatnya. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu lalu berkata: “Adapun orang yang tegas lagi cerdik, maka fitnah akan menumbangkannya. Sedangkan dua golongan lainnya—yaitu sang orator dan tokoh terpandang bagi kaumnya—maka fitnah akan menguji, lalu menampakkan jati diri mereka.” Maksudnya, akan terungkap apakah mereka memiliki ilmu atau tidak, punya akal yang cerdas atau tidak, serta apakah mereka memiliki ketaatan beragama atau justru sebaliknya. ===== وَثَبَتَ عَنْهُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ عِنْدَ ابْنِ أَبِي شَيْبَةَ وَغَيْرِهِ قَالَ وُكِلَتِ الْفِتَنُ بِثَلَاثَةٍ أَيْ أَكْثَرُ مَنْ تُصِيبُهُمُ الْفِتَنُ وَيَكُونُونَ سَبَبًا فِي إِذْكَائِهَا وَأَوَّلُ مَنْ يَقَعُ فِيهَا ثَلَاثَةٌ قَالَ بِالْجَادِّ النِّحْرِيرِالَّذِي لَا يُرِيدُ أَنْ يَرْتَفِعَ لَهُ شَيْءٌ إِلَّا قَمَعَهُ بِالسَّيْفِ لِشَجَاعَتِهِ قَالَ وَبِالْخَطِيبِ الَّذِي يَدْعُو إِلَيْهِ الْأُمُورَ أَي الَّذِي يَطْلُبُ مِنْهُ النَّاسُ الْكَلَامَ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ مَنْ بُلِيَ بِأَنْ يَكُونَ مُتَكَلِّمًا فِي أَيِّ مَحْفَلٍ وَمِنْبَرٍ فَإِنَّهُ لَا يَلْزَمُهُ أَنْ يَتَكَلَّمَ عِنْدَ وُقُوعِ كُلِّ حَدَثٍ وَلَا يَلْزَمُهُ أَنْ يُبْدِيَ الرَّأْيَ عِنْدَ كُلِّ خَبَرٍ وَإِنَّمَا يَجِبُ عَلَيْهِ الْحِلْمُ وَالْأَنَاةُ وَقَدْ بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْحِلْمَ وَالْأَنَاةَ قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَبِالشَّرِيفِ الْمَذْكُورِ وَهُوَ الثَّالِثُ وَالشَّرِيفُ الْمَذْكُورُ هُوَ الَّذِي يَكُونُ عَالِيًا فِي قَوْمِهِ مُتَصَدِّرًا لَهُمْ إِذْ يُطْلَبُ مِنْهُ الرَّأْيُ عَلَى عُجَالَةٍ قَبْلَ الِاسْتِبَانَةِ وَالْفِتَنُ إِذَا أَقْبَلَتْ تَشَابَهَتْ وَإِذَا أَدْبَرَتْ تَمَايَزَتْ قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَأَمَّا الْجَادُّ النِّحْرِيرُ فَتَصْرَعُهُ وَأَمَّا هَذَانِ وَيَعْنِي بِهِ الْخَطِيبَ وَالشَّرِيفَ الْمَذْكُورَ أَي الْمُتَقَدِّمَ فِي قَوْمِهِ فَتَبْحَثُهُمَا فَتَبْلُو مَا عِنْدَهُمَا أَيْ مَا عِنْدَهُمَا مِنَ الْعِلْمِ وَعَدَمِهِ وَالْعَقْلِ وَفَقْدِهِ وَالدِّيَانَةِ وَضِدِّهَا

3 Orang yang Paling Mudah & Sering Kena Fitnah – Syaikh Abdussalam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Diriwayatkan dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu—dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah dan lainnya—beliau berkata: “Fitnah akan ditimpakan kepada tiga golongan manusia…” Maksudnya, merekalah orang yang paling sering terkena fitnah dan menjadi sebab bergejolaknya fitnah tersebut. Orang yang pertama kali terjerumus ke dalamnya ada tiga golongan. Beliau menyebutkan: “(Pertama), orang yang tegas lagi cerdik. Yaitu orang yang tidak ingin satu pun bangkit menentangnya, melainkan ia akan menindasnya dengan pedang karena keberaniannya.” Beliau melanjutkan: “(Kedua), orator yang pandai menarik perhatian orang dalam berbagai perkara kepada dirinya.” Maksudnya adalah sosok yang selalu diminta oleh masyarakat untuk berbicara. Oleh karena itu, siapa pun yang diuji dengan menjadi pembicara di berbagai majelis maupun mimbar, maka sesungguhnya ia tidak harus mengomentari setiap peristiwa yang terjadi.Ia juga tidak harus mengungkapkan pandangannya terhadap semua berita. Namun, kewajibannya adalah bersikap tenang dan tidak tergesa-gesa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa Allah mencintai sifat tenang dan tidak tergesa-gesa. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu melanjutkan: “Dan (ketiga), tokoh terpandang yang namanya selalu disebut-sebut.” Tokoh terpandang yang selalu disebut-sebut adalah mereka yang memiliki kedudukan tinggi dan menjadi pemimpin bagi kaumnya. Ia sering kali diminta pendapatnya secara terburu-buru sebelum jelas perkara sebenarnya. Fitnah itu apabila baru datang akan tampak samar, dan apabila telah berlalu, barulah jelas hakikatnya. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu lalu berkata: “Adapun orang yang tegas lagi cerdik, maka fitnah akan menumbangkannya. Sedangkan dua golongan lainnya—yaitu sang orator dan tokoh terpandang bagi kaumnya—maka fitnah akan menguji, lalu menampakkan jati diri mereka.” Maksudnya, akan terungkap apakah mereka memiliki ilmu atau tidak, punya akal yang cerdas atau tidak, serta apakah mereka memiliki ketaatan beragama atau justru sebaliknya. ===== وَثَبَتَ عَنْهُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ عِنْدَ ابْنِ أَبِي شَيْبَةَ وَغَيْرِهِ قَالَ وُكِلَتِ الْفِتَنُ بِثَلَاثَةٍ أَيْ أَكْثَرُ مَنْ تُصِيبُهُمُ الْفِتَنُ وَيَكُونُونَ سَبَبًا فِي إِذْكَائِهَا وَأَوَّلُ مَنْ يَقَعُ فِيهَا ثَلَاثَةٌ قَالَ بِالْجَادِّ النِّحْرِيرِالَّذِي لَا يُرِيدُ أَنْ يَرْتَفِعَ لَهُ شَيْءٌ إِلَّا قَمَعَهُ بِالسَّيْفِ لِشَجَاعَتِهِ قَالَ وَبِالْخَطِيبِ الَّذِي يَدْعُو إِلَيْهِ الْأُمُورَ أَي الَّذِي يَطْلُبُ مِنْهُ النَّاسُ الْكَلَامَ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ مَنْ بُلِيَ بِأَنْ يَكُونَ مُتَكَلِّمًا فِي أَيِّ مَحْفَلٍ وَمِنْبَرٍ فَإِنَّهُ لَا يَلْزَمُهُ أَنْ يَتَكَلَّمَ عِنْدَ وُقُوعِ كُلِّ حَدَثٍ وَلَا يَلْزَمُهُ أَنْ يُبْدِيَ الرَّأْيَ عِنْدَ كُلِّ خَبَرٍ وَإِنَّمَا يَجِبُ عَلَيْهِ الْحِلْمُ وَالْأَنَاةُ وَقَدْ بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْحِلْمَ وَالْأَنَاةَ قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَبِالشَّرِيفِ الْمَذْكُورِ وَهُوَ الثَّالِثُ وَالشَّرِيفُ الْمَذْكُورُ هُوَ الَّذِي يَكُونُ عَالِيًا فِي قَوْمِهِ مُتَصَدِّرًا لَهُمْ إِذْ يُطْلَبُ مِنْهُ الرَّأْيُ عَلَى عُجَالَةٍ قَبْلَ الِاسْتِبَانَةِ وَالْفِتَنُ إِذَا أَقْبَلَتْ تَشَابَهَتْ وَإِذَا أَدْبَرَتْ تَمَايَزَتْ قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَأَمَّا الْجَادُّ النِّحْرِيرُ فَتَصْرَعُهُ وَأَمَّا هَذَانِ وَيَعْنِي بِهِ الْخَطِيبَ وَالشَّرِيفَ الْمَذْكُورَ أَي الْمُتَقَدِّمَ فِي قَوْمِهِ فَتَبْحَثُهُمَا فَتَبْلُو مَا عِنْدَهُمَا أَيْ مَا عِنْدَهُمَا مِنَ الْعِلْمِ وَعَدَمِهِ وَالْعَقْلِ وَفَقْدِهِ وَالدِّيَانَةِ وَضِدِّهَا
Diriwayatkan dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu—dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah dan lainnya—beliau berkata: “Fitnah akan ditimpakan kepada tiga golongan manusia…” Maksudnya, merekalah orang yang paling sering terkena fitnah dan menjadi sebab bergejolaknya fitnah tersebut. Orang yang pertama kali terjerumus ke dalamnya ada tiga golongan. Beliau menyebutkan: “(Pertama), orang yang tegas lagi cerdik. Yaitu orang yang tidak ingin satu pun bangkit menentangnya, melainkan ia akan menindasnya dengan pedang karena keberaniannya.” Beliau melanjutkan: “(Kedua), orator yang pandai menarik perhatian orang dalam berbagai perkara kepada dirinya.” Maksudnya adalah sosok yang selalu diminta oleh masyarakat untuk berbicara. Oleh karena itu, siapa pun yang diuji dengan menjadi pembicara di berbagai majelis maupun mimbar, maka sesungguhnya ia tidak harus mengomentari setiap peristiwa yang terjadi.Ia juga tidak harus mengungkapkan pandangannya terhadap semua berita. Namun, kewajibannya adalah bersikap tenang dan tidak tergesa-gesa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa Allah mencintai sifat tenang dan tidak tergesa-gesa. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu melanjutkan: “Dan (ketiga), tokoh terpandang yang namanya selalu disebut-sebut.” Tokoh terpandang yang selalu disebut-sebut adalah mereka yang memiliki kedudukan tinggi dan menjadi pemimpin bagi kaumnya. Ia sering kali diminta pendapatnya secara terburu-buru sebelum jelas perkara sebenarnya. Fitnah itu apabila baru datang akan tampak samar, dan apabila telah berlalu, barulah jelas hakikatnya. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu lalu berkata: “Adapun orang yang tegas lagi cerdik, maka fitnah akan menumbangkannya. Sedangkan dua golongan lainnya—yaitu sang orator dan tokoh terpandang bagi kaumnya—maka fitnah akan menguji, lalu menampakkan jati diri mereka.” Maksudnya, akan terungkap apakah mereka memiliki ilmu atau tidak, punya akal yang cerdas atau tidak, serta apakah mereka memiliki ketaatan beragama atau justru sebaliknya. ===== وَثَبَتَ عَنْهُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ عِنْدَ ابْنِ أَبِي شَيْبَةَ وَغَيْرِهِ قَالَ وُكِلَتِ الْفِتَنُ بِثَلَاثَةٍ أَيْ أَكْثَرُ مَنْ تُصِيبُهُمُ الْفِتَنُ وَيَكُونُونَ سَبَبًا فِي إِذْكَائِهَا وَأَوَّلُ مَنْ يَقَعُ فِيهَا ثَلَاثَةٌ قَالَ بِالْجَادِّ النِّحْرِيرِالَّذِي لَا يُرِيدُ أَنْ يَرْتَفِعَ لَهُ شَيْءٌ إِلَّا قَمَعَهُ بِالسَّيْفِ لِشَجَاعَتِهِ قَالَ وَبِالْخَطِيبِ الَّذِي يَدْعُو إِلَيْهِ الْأُمُورَ أَي الَّذِي يَطْلُبُ مِنْهُ النَّاسُ الْكَلَامَ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ مَنْ بُلِيَ بِأَنْ يَكُونَ مُتَكَلِّمًا فِي أَيِّ مَحْفَلٍ وَمِنْبَرٍ فَإِنَّهُ لَا يَلْزَمُهُ أَنْ يَتَكَلَّمَ عِنْدَ وُقُوعِ كُلِّ حَدَثٍ وَلَا يَلْزَمُهُ أَنْ يُبْدِيَ الرَّأْيَ عِنْدَ كُلِّ خَبَرٍ وَإِنَّمَا يَجِبُ عَلَيْهِ الْحِلْمُ وَالْأَنَاةُ وَقَدْ بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْحِلْمَ وَالْأَنَاةَ قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَبِالشَّرِيفِ الْمَذْكُورِ وَهُوَ الثَّالِثُ وَالشَّرِيفُ الْمَذْكُورُ هُوَ الَّذِي يَكُونُ عَالِيًا فِي قَوْمِهِ مُتَصَدِّرًا لَهُمْ إِذْ يُطْلَبُ مِنْهُ الرَّأْيُ عَلَى عُجَالَةٍ قَبْلَ الِاسْتِبَانَةِ وَالْفِتَنُ إِذَا أَقْبَلَتْ تَشَابَهَتْ وَإِذَا أَدْبَرَتْ تَمَايَزَتْ قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَأَمَّا الْجَادُّ النِّحْرِيرُ فَتَصْرَعُهُ وَأَمَّا هَذَانِ وَيَعْنِي بِهِ الْخَطِيبَ وَالشَّرِيفَ الْمَذْكُورَ أَي الْمُتَقَدِّمَ فِي قَوْمِهِ فَتَبْحَثُهُمَا فَتَبْلُو مَا عِنْدَهُمَا أَيْ مَا عِنْدَهُمَا مِنَ الْعِلْمِ وَعَدَمِهِ وَالْعَقْلِ وَفَقْدِهِ وَالدِّيَانَةِ وَضِدِّهَا


Diriwayatkan dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu—dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah dan lainnya—beliau berkata: “Fitnah akan ditimpakan kepada tiga golongan manusia…” Maksudnya, merekalah orang yang paling sering terkena fitnah dan menjadi sebab bergejolaknya fitnah tersebut. Orang yang pertama kali terjerumus ke dalamnya ada tiga golongan. Beliau menyebutkan: “(Pertama), orang yang tegas lagi cerdik. Yaitu orang yang tidak ingin satu pun bangkit menentangnya, melainkan ia akan menindasnya dengan pedang karena keberaniannya.” Beliau melanjutkan: “(Kedua), orator yang pandai menarik perhatian orang dalam berbagai perkara kepada dirinya.” Maksudnya adalah sosok yang selalu diminta oleh masyarakat untuk berbicara. Oleh karena itu, siapa pun yang diuji dengan menjadi pembicara di berbagai majelis maupun mimbar, maka sesungguhnya ia tidak harus mengomentari setiap peristiwa yang terjadi.Ia juga tidak harus mengungkapkan pandangannya terhadap semua berita. Namun, kewajibannya adalah bersikap tenang dan tidak tergesa-gesa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa Allah mencintai sifat tenang dan tidak tergesa-gesa. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu melanjutkan: “Dan (ketiga), tokoh terpandang yang namanya selalu disebut-sebut.” Tokoh terpandang yang selalu disebut-sebut adalah mereka yang memiliki kedudukan tinggi dan menjadi pemimpin bagi kaumnya. Ia sering kali diminta pendapatnya secara terburu-buru sebelum jelas perkara sebenarnya. Fitnah itu apabila baru datang akan tampak samar, dan apabila telah berlalu, barulah jelas hakikatnya. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu lalu berkata: “Adapun orang yang tegas lagi cerdik, maka fitnah akan menumbangkannya. Sedangkan dua golongan lainnya—yaitu sang orator dan tokoh terpandang bagi kaumnya—maka fitnah akan menguji, lalu menampakkan jati diri mereka.” Maksudnya, akan terungkap apakah mereka memiliki ilmu atau tidak, punya akal yang cerdas atau tidak, serta apakah mereka memiliki ketaatan beragama atau justru sebaliknya. ===== وَثَبَتَ عَنْهُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ عِنْدَ ابْنِ أَبِي شَيْبَةَ وَغَيْرِهِ قَالَ وُكِلَتِ الْفِتَنُ بِثَلَاثَةٍ أَيْ أَكْثَرُ مَنْ تُصِيبُهُمُ الْفِتَنُ وَيَكُونُونَ سَبَبًا فِي إِذْكَائِهَا وَأَوَّلُ مَنْ يَقَعُ فِيهَا ثَلَاثَةٌ قَالَ بِالْجَادِّ النِّحْرِيرِالَّذِي لَا يُرِيدُ أَنْ يَرْتَفِعَ لَهُ شَيْءٌ إِلَّا قَمَعَهُ بِالسَّيْفِ لِشَجَاعَتِهِ قَالَ وَبِالْخَطِيبِ الَّذِي يَدْعُو إِلَيْهِ الْأُمُورَ أَي الَّذِي يَطْلُبُ مِنْهُ النَّاسُ الْكَلَامَ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ مَنْ بُلِيَ بِأَنْ يَكُونَ مُتَكَلِّمًا فِي أَيِّ مَحْفَلٍ وَمِنْبَرٍ فَإِنَّهُ لَا يَلْزَمُهُ أَنْ يَتَكَلَّمَ عِنْدَ وُقُوعِ كُلِّ حَدَثٍ وَلَا يَلْزَمُهُ أَنْ يُبْدِيَ الرَّأْيَ عِنْدَ كُلِّ خَبَرٍ وَإِنَّمَا يَجِبُ عَلَيْهِ الْحِلْمُ وَالْأَنَاةُ وَقَدْ بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْحِلْمَ وَالْأَنَاةَ قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَبِالشَّرِيفِ الْمَذْكُورِ وَهُوَ الثَّالِثُ وَالشَّرِيفُ الْمَذْكُورُ هُوَ الَّذِي يَكُونُ عَالِيًا فِي قَوْمِهِ مُتَصَدِّرًا لَهُمْ إِذْ يُطْلَبُ مِنْهُ الرَّأْيُ عَلَى عُجَالَةٍ قَبْلَ الِاسْتِبَانَةِ وَالْفِتَنُ إِذَا أَقْبَلَتْ تَشَابَهَتْ وَإِذَا أَدْبَرَتْ تَمَايَزَتْ قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَأَمَّا الْجَادُّ النِّحْرِيرُ فَتَصْرَعُهُ وَأَمَّا هَذَانِ وَيَعْنِي بِهِ الْخَطِيبَ وَالشَّرِيفَ الْمَذْكُورَ أَي الْمُتَقَدِّمَ فِي قَوْمِهِ فَتَبْحَثُهُمَا فَتَبْلُو مَا عِنْدَهُمَا أَيْ مَا عِنْدَهُمَا مِنَ الْعِلْمِ وَعَدَمِهِ وَالْعَقْلِ وَفَقْدِهِ وَالدِّيَانَةِ وَضِدِّهَا

Rahasia Masuk Surga: Mudah dalam Jual Beli dan Menagih Hak

Sering kali konflik bisnis terjadi bukan karena siapa yang salah, tetapi karena cara menyikapinya. Banyak orang ingin menang dalam transaksi, namun lupa menjaga hati dan hubungan. Kisah Utsman radhiyallahu ‘anhu ini menunjukkan bahwa jalan menuju surga justru dibuka melalui sikap lapang dalam urusan dunia.  Daftar Isi tutup 1. Kisah Utsman: Ketika Berada di Pihak yang Kuat 2. Keterangan Riwayat 3. Inti Pelajaran 4. Renungan dari Hadits Iqaalah 5. Nasihat Penutup  Kisah Utsman: Ketika Berada di Pihak yang KuatDiriwayatkan bahwa suatu ketika Utsman bin Affan membeli sebidang tanah dari seseorang. Namun, penjual tersebut menunda-nunda untuk mengambil uangnya.Suatu hari, Utsman bertemu dengannya lalu berkata, “Apa yang membuatmu belum juga mengambil uangmu?”Orang itu menjawab, “Saya merasa dirugikan dalam transaksi ini. Setiap kali bertemu orang, mereka selalu menyalahkan saya.”Utsman bertanya, “Apakah itu yang menghalangimu?”Ia menjawab, “Ya.”Maka Utsman berkata dengan lapang hati, فَاخْتَرْ بَيْنَ أَرْضِكَ وَمَالِكَ.“Kalau begitu, silakan pilih: engkau ambil kembali tanahmu atau tetap mengambil uangmu.”Kemudian Utsman berkata bahwa Muhammad bersabda:«أَدْخَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ الْجَنَّةَ رَجُلًا سَهْلًا مُشْتَرِيًا وَبَائِعًا وَقَاضِيًا وَمُقْتَضِيًا»“Allah memasukkan ke dalam surga seseorang yang bersikap mudah (lapang) ketika membeli, ketika menjual, ketika menetapkan keputusan, dan ketika menagih haknya.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan An-Nasa’i; dengan beberapa jalur dari Yunus bin ‘Ubaid, dinilai maqbul oleh Ad-Daraquthni). Keterangan RiwayatHadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad melalui jalur lain, serta diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan An-Nasa’i dengan sanad yang serupa.Adapun penjelasan dari Ad-Daraquthni, beliau menyebutkan bahwa hadits ini memiliki beberapa jalur periwayatan dari Yunus bin Ubaid. Di antaranya melalui Atha’ bin Farrukh, melalui Al-Hasan dari Abu Hurairah, dan juga melalui Al-Maqburi dari Abu Hurairah. Seluruh jalur tersebut dinilai terjaga (maqbul) dari Yunus. Inti PelajaranKisah ini menunjukkan bahwa akhlak mulia dalam muamalah bukan sekadar mengambil hak, tetapi juga menjaga hati dan hubungan.Sikap lapang, tidak kaku, dan tidak mempersulit orang lain dalam urusan transaksi adalah sebab besar seseorang dimasukkan ke dalam surga.Bahkan, seseorang yang sebenarnya berada di pihak benar tetap dianjurkan untuk memberi kelonggaran, demi menjaga kebaikan yang lebih besar.Kalau kita ingin bisnis ini bukan sekadar untung dunia, tapi juga jadi jalan ke surga, maka bukan hanya kejujuran yang dijaga—tapi juga kelembutan dalam bersikap. Renungan dari Hadits IqaalahHadits berikut sebenarnya menjadi penjelas langsung dari kisah ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu yang telah disebutkan di atas.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَقَالَ مُسْلِمًا بَيْعَتَهُ؛ أَقَالَهُ اللَّهُ عَثْرَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Barang siapa memberi keringanan kepada seorang muslim dengan membatalkan transaksi jual belinya (karena ia menyesal), maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud no. 3460, Ibnu Majah no. 2199, Ahmad dalam Zawa’id, dan Ibnu Hibban; disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 1758).Makna hadits ini:“أقال مسلمًا بيعته” : memberi kesempatan kepada orang lain untuk membatalkan transaksi karena ia merasa rugi atau menyesal“أقاله الله عثرته” : Allah akan memaafkan kesalahan-kesalahannya kelak di hari kiamatJadi, ketika kita memudahkan urusan orang lain dalam transaksi, Allah akan membalasnya dengan memudahkan urusan kita di akhirat.Sikap Utsman bin ‘Affan hakikatnya adalah bentuk iqālah (membatalkan transaksi)—yaitu memberi kesempatan kepada pihak lain untuk keluar dari akad yang sudah sah. Baca juga: Tak Banyak yang Tahu, Membatalkan Transaksi Bisa Menghapus Dosa Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak konflik langsung dibawa ke jalur hukum tanpa didahului dengan komunikasi yang baik. Padahal, Islam mengajarkan agar kita mendahulukan kelembutan, dialog, dan sikap lapang dalam menyelesaikan masalah. Jangan sampai kita menang secara dunia, tetapi kehilangan keberkahan dan pahala di sisi Allah. Jadikan setiap transaksi bukan hanya mencari untung, tetapi juga jalan menuju surga.Kalau kita ingin bisnis ini bukan sekadar menghasilkan keuntungan dunia, tetapi juga menjadi jalan menuju surga, maka:Jangan hanya menjaga kejujuranTapi juga latih kelembutan, kelapangan, dan kemudahan dalam bersikapKarena bisa jadi, sedikit kelonggaran yang kita berikan di dunia menjadi sebab ampunan besar dari Allah di akhirat. Referensi: Islamweb.net —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Dzulqa’dah 1447 H, 28 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadab menagih utang akhlak bisnis bisnis berkah etika transaksi hadits jual beli jual beli islami kisah sahabat konflik bisnis islam muamalah utsman bin affan

Rahasia Masuk Surga: Mudah dalam Jual Beli dan Menagih Hak

Sering kali konflik bisnis terjadi bukan karena siapa yang salah, tetapi karena cara menyikapinya. Banyak orang ingin menang dalam transaksi, namun lupa menjaga hati dan hubungan. Kisah Utsman radhiyallahu ‘anhu ini menunjukkan bahwa jalan menuju surga justru dibuka melalui sikap lapang dalam urusan dunia.  Daftar Isi tutup 1. Kisah Utsman: Ketika Berada di Pihak yang Kuat 2. Keterangan Riwayat 3. Inti Pelajaran 4. Renungan dari Hadits Iqaalah 5. Nasihat Penutup  Kisah Utsman: Ketika Berada di Pihak yang KuatDiriwayatkan bahwa suatu ketika Utsman bin Affan membeli sebidang tanah dari seseorang. Namun, penjual tersebut menunda-nunda untuk mengambil uangnya.Suatu hari, Utsman bertemu dengannya lalu berkata, “Apa yang membuatmu belum juga mengambil uangmu?”Orang itu menjawab, “Saya merasa dirugikan dalam transaksi ini. Setiap kali bertemu orang, mereka selalu menyalahkan saya.”Utsman bertanya, “Apakah itu yang menghalangimu?”Ia menjawab, “Ya.”Maka Utsman berkata dengan lapang hati, فَاخْتَرْ بَيْنَ أَرْضِكَ وَمَالِكَ.“Kalau begitu, silakan pilih: engkau ambil kembali tanahmu atau tetap mengambil uangmu.”Kemudian Utsman berkata bahwa Muhammad bersabda:«أَدْخَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ الْجَنَّةَ رَجُلًا سَهْلًا مُشْتَرِيًا وَبَائِعًا وَقَاضِيًا وَمُقْتَضِيًا»“Allah memasukkan ke dalam surga seseorang yang bersikap mudah (lapang) ketika membeli, ketika menjual, ketika menetapkan keputusan, dan ketika menagih haknya.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan An-Nasa’i; dengan beberapa jalur dari Yunus bin ‘Ubaid, dinilai maqbul oleh Ad-Daraquthni). Keterangan RiwayatHadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad melalui jalur lain, serta diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan An-Nasa’i dengan sanad yang serupa.Adapun penjelasan dari Ad-Daraquthni, beliau menyebutkan bahwa hadits ini memiliki beberapa jalur periwayatan dari Yunus bin Ubaid. Di antaranya melalui Atha’ bin Farrukh, melalui Al-Hasan dari Abu Hurairah, dan juga melalui Al-Maqburi dari Abu Hurairah. Seluruh jalur tersebut dinilai terjaga (maqbul) dari Yunus. Inti PelajaranKisah ini menunjukkan bahwa akhlak mulia dalam muamalah bukan sekadar mengambil hak, tetapi juga menjaga hati dan hubungan.Sikap lapang, tidak kaku, dan tidak mempersulit orang lain dalam urusan transaksi adalah sebab besar seseorang dimasukkan ke dalam surga.Bahkan, seseorang yang sebenarnya berada di pihak benar tetap dianjurkan untuk memberi kelonggaran, demi menjaga kebaikan yang lebih besar.Kalau kita ingin bisnis ini bukan sekadar untung dunia, tapi juga jadi jalan ke surga, maka bukan hanya kejujuran yang dijaga—tapi juga kelembutan dalam bersikap. Renungan dari Hadits IqaalahHadits berikut sebenarnya menjadi penjelas langsung dari kisah ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu yang telah disebutkan di atas.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَقَالَ مُسْلِمًا بَيْعَتَهُ؛ أَقَالَهُ اللَّهُ عَثْرَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Barang siapa memberi keringanan kepada seorang muslim dengan membatalkan transaksi jual belinya (karena ia menyesal), maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud no. 3460, Ibnu Majah no. 2199, Ahmad dalam Zawa’id, dan Ibnu Hibban; disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 1758).Makna hadits ini:“أقال مسلمًا بيعته” : memberi kesempatan kepada orang lain untuk membatalkan transaksi karena ia merasa rugi atau menyesal“أقاله الله عثرته” : Allah akan memaafkan kesalahan-kesalahannya kelak di hari kiamatJadi, ketika kita memudahkan urusan orang lain dalam transaksi, Allah akan membalasnya dengan memudahkan urusan kita di akhirat.Sikap Utsman bin ‘Affan hakikatnya adalah bentuk iqālah (membatalkan transaksi)—yaitu memberi kesempatan kepada pihak lain untuk keluar dari akad yang sudah sah. Baca juga: Tak Banyak yang Tahu, Membatalkan Transaksi Bisa Menghapus Dosa Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak konflik langsung dibawa ke jalur hukum tanpa didahului dengan komunikasi yang baik. Padahal, Islam mengajarkan agar kita mendahulukan kelembutan, dialog, dan sikap lapang dalam menyelesaikan masalah. Jangan sampai kita menang secara dunia, tetapi kehilangan keberkahan dan pahala di sisi Allah. Jadikan setiap transaksi bukan hanya mencari untung, tetapi juga jalan menuju surga.Kalau kita ingin bisnis ini bukan sekadar menghasilkan keuntungan dunia, tetapi juga menjadi jalan menuju surga, maka:Jangan hanya menjaga kejujuranTapi juga latih kelembutan, kelapangan, dan kemudahan dalam bersikapKarena bisa jadi, sedikit kelonggaran yang kita berikan di dunia menjadi sebab ampunan besar dari Allah di akhirat. Referensi: Islamweb.net —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Dzulqa’dah 1447 H, 28 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadab menagih utang akhlak bisnis bisnis berkah etika transaksi hadits jual beli jual beli islami kisah sahabat konflik bisnis islam muamalah utsman bin affan
Sering kali konflik bisnis terjadi bukan karena siapa yang salah, tetapi karena cara menyikapinya. Banyak orang ingin menang dalam transaksi, namun lupa menjaga hati dan hubungan. Kisah Utsman radhiyallahu ‘anhu ini menunjukkan bahwa jalan menuju surga justru dibuka melalui sikap lapang dalam urusan dunia.  Daftar Isi tutup 1. Kisah Utsman: Ketika Berada di Pihak yang Kuat 2. Keterangan Riwayat 3. Inti Pelajaran 4. Renungan dari Hadits Iqaalah 5. Nasihat Penutup  Kisah Utsman: Ketika Berada di Pihak yang KuatDiriwayatkan bahwa suatu ketika Utsman bin Affan membeli sebidang tanah dari seseorang. Namun, penjual tersebut menunda-nunda untuk mengambil uangnya.Suatu hari, Utsman bertemu dengannya lalu berkata, “Apa yang membuatmu belum juga mengambil uangmu?”Orang itu menjawab, “Saya merasa dirugikan dalam transaksi ini. Setiap kali bertemu orang, mereka selalu menyalahkan saya.”Utsman bertanya, “Apakah itu yang menghalangimu?”Ia menjawab, “Ya.”Maka Utsman berkata dengan lapang hati, فَاخْتَرْ بَيْنَ أَرْضِكَ وَمَالِكَ.“Kalau begitu, silakan pilih: engkau ambil kembali tanahmu atau tetap mengambil uangmu.”Kemudian Utsman berkata bahwa Muhammad bersabda:«أَدْخَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ الْجَنَّةَ رَجُلًا سَهْلًا مُشْتَرِيًا وَبَائِعًا وَقَاضِيًا وَمُقْتَضِيًا»“Allah memasukkan ke dalam surga seseorang yang bersikap mudah (lapang) ketika membeli, ketika menjual, ketika menetapkan keputusan, dan ketika menagih haknya.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan An-Nasa’i; dengan beberapa jalur dari Yunus bin ‘Ubaid, dinilai maqbul oleh Ad-Daraquthni). Keterangan RiwayatHadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad melalui jalur lain, serta diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan An-Nasa’i dengan sanad yang serupa.Adapun penjelasan dari Ad-Daraquthni, beliau menyebutkan bahwa hadits ini memiliki beberapa jalur periwayatan dari Yunus bin Ubaid. Di antaranya melalui Atha’ bin Farrukh, melalui Al-Hasan dari Abu Hurairah, dan juga melalui Al-Maqburi dari Abu Hurairah. Seluruh jalur tersebut dinilai terjaga (maqbul) dari Yunus. Inti PelajaranKisah ini menunjukkan bahwa akhlak mulia dalam muamalah bukan sekadar mengambil hak, tetapi juga menjaga hati dan hubungan.Sikap lapang, tidak kaku, dan tidak mempersulit orang lain dalam urusan transaksi adalah sebab besar seseorang dimasukkan ke dalam surga.Bahkan, seseorang yang sebenarnya berada di pihak benar tetap dianjurkan untuk memberi kelonggaran, demi menjaga kebaikan yang lebih besar.Kalau kita ingin bisnis ini bukan sekadar untung dunia, tapi juga jadi jalan ke surga, maka bukan hanya kejujuran yang dijaga—tapi juga kelembutan dalam bersikap. Renungan dari Hadits IqaalahHadits berikut sebenarnya menjadi penjelas langsung dari kisah ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu yang telah disebutkan di atas.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَقَالَ مُسْلِمًا بَيْعَتَهُ؛ أَقَالَهُ اللَّهُ عَثْرَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Barang siapa memberi keringanan kepada seorang muslim dengan membatalkan transaksi jual belinya (karena ia menyesal), maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud no. 3460, Ibnu Majah no. 2199, Ahmad dalam Zawa’id, dan Ibnu Hibban; disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 1758).Makna hadits ini:“أقال مسلمًا بيعته” : memberi kesempatan kepada orang lain untuk membatalkan transaksi karena ia merasa rugi atau menyesal“أقاله الله عثرته” : Allah akan memaafkan kesalahan-kesalahannya kelak di hari kiamatJadi, ketika kita memudahkan urusan orang lain dalam transaksi, Allah akan membalasnya dengan memudahkan urusan kita di akhirat.Sikap Utsman bin ‘Affan hakikatnya adalah bentuk iqālah (membatalkan transaksi)—yaitu memberi kesempatan kepada pihak lain untuk keluar dari akad yang sudah sah. Baca juga: Tak Banyak yang Tahu, Membatalkan Transaksi Bisa Menghapus Dosa Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak konflik langsung dibawa ke jalur hukum tanpa didahului dengan komunikasi yang baik. Padahal, Islam mengajarkan agar kita mendahulukan kelembutan, dialog, dan sikap lapang dalam menyelesaikan masalah. Jangan sampai kita menang secara dunia, tetapi kehilangan keberkahan dan pahala di sisi Allah. Jadikan setiap transaksi bukan hanya mencari untung, tetapi juga jalan menuju surga.Kalau kita ingin bisnis ini bukan sekadar menghasilkan keuntungan dunia, tetapi juga menjadi jalan menuju surga, maka:Jangan hanya menjaga kejujuranTapi juga latih kelembutan, kelapangan, dan kemudahan dalam bersikapKarena bisa jadi, sedikit kelonggaran yang kita berikan di dunia menjadi sebab ampunan besar dari Allah di akhirat. Referensi: Islamweb.net —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Dzulqa’dah 1447 H, 28 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadab menagih utang akhlak bisnis bisnis berkah etika transaksi hadits jual beli jual beli islami kisah sahabat konflik bisnis islam muamalah utsman bin affan


Sering kali konflik bisnis terjadi bukan karena siapa yang salah, tetapi karena cara menyikapinya. Banyak orang ingin menang dalam transaksi, namun lupa menjaga hati dan hubungan. Kisah Utsman radhiyallahu ‘anhu ini menunjukkan bahwa jalan menuju surga justru dibuka melalui sikap lapang dalam urusan dunia.  Daftar Isi tutup 1. Kisah Utsman: Ketika Berada di Pihak yang Kuat 2. Keterangan Riwayat 3. Inti Pelajaran 4. Renungan dari Hadits Iqaalah 5. Nasihat Penutup  Kisah Utsman: Ketika Berada di Pihak yang KuatDiriwayatkan bahwa suatu ketika Utsman bin Affan membeli sebidang tanah dari seseorang. Namun, penjual tersebut menunda-nunda untuk mengambil uangnya.Suatu hari, Utsman bertemu dengannya lalu berkata, “Apa yang membuatmu belum juga mengambil uangmu?”Orang itu menjawab, “Saya merasa dirugikan dalam transaksi ini. Setiap kali bertemu orang, mereka selalu menyalahkan saya.”Utsman bertanya, “Apakah itu yang menghalangimu?”Ia menjawab, “Ya.”Maka Utsman berkata dengan lapang hati, فَاخْتَرْ بَيْنَ أَرْضِكَ وَمَالِكَ.“Kalau begitu, silakan pilih: engkau ambil kembali tanahmu atau tetap mengambil uangmu.”Kemudian Utsman berkata bahwa Muhammad bersabda:«أَدْخَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ الْجَنَّةَ رَجُلًا سَهْلًا مُشْتَرِيًا وَبَائِعًا وَقَاضِيًا وَمُقْتَضِيًا»“Allah memasukkan ke dalam surga seseorang yang bersikap mudah (lapang) ketika membeli, ketika menjual, ketika menetapkan keputusan, dan ketika menagih haknya.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan An-Nasa’i; dengan beberapa jalur dari Yunus bin ‘Ubaid, dinilai maqbul oleh Ad-Daraquthni). Keterangan RiwayatHadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad melalui jalur lain, serta diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan An-Nasa’i dengan sanad yang serupa.Adapun penjelasan dari Ad-Daraquthni, beliau menyebutkan bahwa hadits ini memiliki beberapa jalur periwayatan dari Yunus bin Ubaid. Di antaranya melalui Atha’ bin Farrukh, melalui Al-Hasan dari Abu Hurairah, dan juga melalui Al-Maqburi dari Abu Hurairah. Seluruh jalur tersebut dinilai terjaga (maqbul) dari Yunus. Inti PelajaranKisah ini menunjukkan bahwa akhlak mulia dalam muamalah bukan sekadar mengambil hak, tetapi juga menjaga hati dan hubungan.Sikap lapang, tidak kaku, dan tidak mempersulit orang lain dalam urusan transaksi adalah sebab besar seseorang dimasukkan ke dalam surga.Bahkan, seseorang yang sebenarnya berada di pihak benar tetap dianjurkan untuk memberi kelonggaran, demi menjaga kebaikan yang lebih besar.Kalau kita ingin bisnis ini bukan sekadar untung dunia, tapi juga jadi jalan ke surga, maka bukan hanya kejujuran yang dijaga—tapi juga kelembutan dalam bersikap. Renungan dari Hadits IqaalahHadits berikut sebenarnya menjadi penjelas langsung dari kisah ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu yang telah disebutkan di atas.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَقَالَ مُسْلِمًا بَيْعَتَهُ؛ أَقَالَهُ اللَّهُ عَثْرَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Barang siapa memberi keringanan kepada seorang muslim dengan membatalkan transaksi jual belinya (karena ia menyesal), maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud no. 3460, Ibnu Majah no. 2199, Ahmad dalam Zawa’id, dan Ibnu Hibban; disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 1758).Makna hadits ini:“أقال مسلمًا بيعته” : memberi kesempatan kepada orang lain untuk membatalkan transaksi karena ia merasa rugi atau menyesal“أقاله الله عثرته” : Allah akan memaafkan kesalahan-kesalahannya kelak di hari kiamatJadi, ketika kita memudahkan urusan orang lain dalam transaksi, Allah akan membalasnya dengan memudahkan urusan kita di akhirat.Sikap Utsman bin ‘Affan hakikatnya adalah bentuk iqālah (membatalkan transaksi)—yaitu memberi kesempatan kepada pihak lain untuk keluar dari akad yang sudah sah. Baca juga: Tak Banyak yang Tahu, Membatalkan Transaksi Bisa Menghapus Dosa Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak konflik langsung dibawa ke jalur hukum tanpa didahului dengan komunikasi yang baik. Padahal, Islam mengajarkan agar kita mendahulukan kelembutan, dialog, dan sikap lapang dalam menyelesaikan masalah. Jangan sampai kita menang secara dunia, tetapi kehilangan keberkahan dan pahala di sisi Allah. Jadikan setiap transaksi bukan hanya mencari untung, tetapi juga jalan menuju surga.Kalau kita ingin bisnis ini bukan sekadar menghasilkan keuntungan dunia, tetapi juga menjadi jalan menuju surga, maka:Jangan hanya menjaga kejujuranTapi juga latih kelembutan, kelapangan, dan kemudahan dalam bersikapKarena bisa jadi, sedikit kelonggaran yang kita berikan di dunia menjadi sebab ampunan besar dari Allah di akhirat. Referensi: Islamweb.net —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Dzulqa’dah 1447 H, 28 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadab menagih utang akhlak bisnis bisnis berkah etika transaksi hadits jual beli jual beli islami kisah sahabat konflik bisnis islam muamalah utsman bin affan

Tujuan-Tujuan Turunnya Musibah

Oleh: Abdul Qadir Daghuti Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji para hamba-Nya dengan berbagai bentuk musibah yang Dia kehendaki, berbagai macam kesulitan dan ujian. Hanya saja itu tidak menjadi tujuan awal dari syariat yang penuh kebijaksanaan ini, tapi merupakan tujuan turunan, atau tujuan yang hanya menjadi sarana bukan tujuan pokok. Sebab, Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Mulia menjadikannya sebagai sarana untuk merealisasikan tujuan-tujuan syariat, dan intinya adalah untuk mewujudkan kebaikan bagi orang-orang beriman, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 216). فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا “Boleh jadi kalian tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya banyak kebaikan.” (QS. An-Nisa: 19). Berikut ini adalah beberapa tujuan dari diturunkannya musibah yang disebutkan secara langsung dalam Kitabullah dan sunah Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam: Menjadi pengingat bagi orang-orang yang lalai Mungkin ada seorang hamba yang lalai dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengabaikan kewajiban-kewajibannya, sibuk dengan perhiasan kehidupan dunia, dan tenggelam dalam syahwat-syahwatnya, tapi apabila musibah turun menimpanya, ia segera tersadar dari kelalaiannya, merasakan kelemahan dan ketidakberdayaannya, sehingga ia kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan penuh keinsafan dan permohonan ampun, berdiri di pintu-Nya mengharapkan rahmat-Nya. Dalam hal ini Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ “Kami menguji mereka dengan kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (QS. Al-A’raf: 168). Yakni Kami menguji mereka dengan kenikmatan dan musibah, kesulitan dan kelapangan, agar mereka berhenti dari kekafiran dan kemaksiatan. (Shafwah At-Tafasir karya Muhammad Ali Ash-Shabuni” jilid 1 hlm. 443). Salah satu tujuan dari ujian adalah menyelamatkan para hamba dari tawanan setan, membebaskan mereka dari belenggu hawa nafsu dan syahwat, membangunkan mereka dari lelapnya kelalaian, sehingga mereka kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mendekat kepada-Nya, dan berusaha memperbaiki hubungan mereka dengan-Nya, sehingga keadaan mereka membaik. Ibnu Athaillah As-Sakandari berkata: “Siapa yang tidak mendekat kepada Allah dengan lembutnya kebaikan, ia akan diseret kepada-Nya dengan rantai-rantai ujian.” (Hikam Ibn Athaillah as-Sakandari hlm. 62). Penyuci orang-orang beriman Di antara bentuk rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para hamba-Nya yang beriman adalah apabila Dia hendak menyucikan mereka dari pengaruh-pengaruh dosa mereka, Dia akan menimpakan mereka dengan sedikit musibah, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis dari Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam: مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ، وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ، وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ “Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, atau kesusahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan dengan itu Allah akan menghapuskan sebagian dosa-dosanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Beliau juga bersabda: مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ، حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ تَعَالَى وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ “Ujian akan terus menimpa seorang mukmin dan mukminah pada dirinya, anaknya, dan hartanya, hingga ia bertemu Allah dalam keadaan tidak memiliki dosa.” (HR. At-Tirmidzi no. 2399). Diriwayatkan dari seorang salaf, ia berkata: “Kalaulah bukan karena musibah-musibah dunia, niscaya kita akan datang pada hari kiamat dalam keadaan bangkrut.” Menyaring orang-orang yang bersabar Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji para hamba-Nya untuk menyaring keimanan mereka, memilah kedudukan mereka, dan menampakkan dari mereka siapa orang yang bersabar ketika musibah menimpa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ “Dan sungguh Kami benar-benar akan menguji kalian, sehingga Kami mengetahui siapa di antara kalian yang berjihad dan bersabar, dan Kami akan menguji (menampakkan) keadaan kalian.” (QS. Muhammad: 31). Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata: “Orang-orang sama pada kondisi penuh kenikmatan, lalu pada saat turun musibah, tersingkap jelaslah hakikat mereka.” (Shaid Al-Khathir karya Imam Ibnu Al-Jauzi hlm. 139). Orang-orang yang bersabar ketika musibah menimpa akan diistimewakan dengan banyak karamah ilahi, dan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang luas, di antaranya: Kecintaan Allah bagi mereka dan mereka senantiasa disertai oleh Allah secara khusus Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ “Karena itu mereka tidak menjadi lemah terhadap apa yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak pula mereka menjadi lemah dan tidak (pula) menyerah; dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran: 146). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153). وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ “Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46). Derajat mereka ditinggikan Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ الرَّجُلَ لَيَكُونُ لَهُ الْمَنْزِلَةُ عِنْدَ اللَّهِ، فَمَا يَبْلُغُهَا بِعَمَلٍ، فَلَا يَزَالُ اللَّهُ يَبْتَلِيهِ بِمَا يَكْرَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ إِيَّاهَا “Sesungguhnya seseorang memiliki kedudukan di sisi Allah yang tidak dapat ia capai dengan amalnya, sehingga Allah terus mengujinya dengan sesuatu yang ia tidak sukai, sampai Dia menyampaikannya kepada kedudukan tersebut.” (Dishahihkan Al-Albani dalam As-Silsilah ash-Shahihah no. 2599). Manusia yang paling dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan paling tinggi derajatnya adalah para nabi dan rasul, karena mereka adalah manusia dengan ujian yang paling berat, sebagaimana yang disampaikan oleh Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam. Mendapatkan kejayaan Ada seorang lelaki yang bertanya kepada Imam asy-Syafi’i: “Wahai Abu Abdillah! Mana yang lebih baik bagi seseorang, apakah diberi kejayaan atau ujian?” Imam asy-Syafi’i lalu menjawab: “Seseorang tidak akan diberi kejayaan hingga ia diberi ujian terlebih dulu. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi ujian bagi Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad Alaihimussalam, dan ketika mereka bersabar, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi mereka kejayaan, maka jangan ada orang yang mengira akan selamat dari rasa sakit sepenuhnya.” (Al-Fawaid karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah hlm. 222). Mendapat ampunan dosa, pelipatgandaan pahala, dan kabar gembira yang membahagiakan mereka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ * أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ “Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.’ Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: لَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ “Kecuali orang-orang yang bersabar dan beramal saleh, mereka itu memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Hud: 11). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: أُولَئِكَ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ بِمَا صَبَرُوا “Mereka itu diberi pahala dua kali lipat karena kesabaran mereka.” (QS. Al-Qasas: 54). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: إِنِّي جَزَيْتُهُمُ الْيَوْمَ بِمَا صَبَرُوا أَنَّهُمْ هُمُ الْفَائِزُونَ “Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka pada hari ini karena kesabaran mereka, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang.” (QS. Al-Mu’minun: 111). Penutup Ada beberapa perkara yang dapat meringankan beban ujian dari seorang mukmin, dan menguatkan ketabahannya yang disertai bersabar, teguh, ridha, dan yakin sehingga ia tidak marah, berkeluh kesah, dan putus asa, yaitu dengan mengetahui hakikat-hakikat penting berikut, yaitu: Musibah yang menimpa hamba Allah tidak akan berlangsung selamanya, ketika musibah itu turun, ia telah ditetapkan waktunya, lalu kembali diangkat dan selesai. Ibnu Al-Jauzi Rahimahullah berkata: “Musibah punya akhir yang waktunya diketahui dengan pasti oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga orang yang diberi musibah harus bersabar hingga waktu musibah itu berakhir.” (Shaid Al-Khathir hlm. 155). Yang memberi ujian kepada seorang hamba adalah Tuhannya Yang Maha Pemurah, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang. Dalam musibah yang diturunkan kepada para hamba-Nya, Dia memberi banyak kebaikan bagi mereka yang tidak mungkin ada yang dapat menghitungnya kecuali Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman: وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 216). فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا “Boleh jadi kalian tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya banyak kebaikan.” (QS. An-Nisa: 19). Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata: “Siapa yang lurus pengetahuannya terhadap Tuhannya, dan memahami makna nama-nama dan sifat-sifat-Nya, niscaya ia mengetahui dengan penuh keyakinan bahwa segala yang ia benci yang menimpanya dan musibah-musibah yang turun kepadanya mengandung banyak bentuk kemaslahatan dan manfaat yang tidak mungkin dapat terhitung olehnya. Bahkan kemaslahatan seorang hamba dalam hal yang ia benci lebih besar daripada kemaslahatan dalam hal yang ia sukai. Apabila seorang hamba telah mampu memahami hakikat ini, niscaya ia akan hidup tenang di dunia sebelum di akhirat di dalam surga, nikmat ketenangan di dunia itu tidak ada tandingannya kecuali dengan nikmat surga di akhirat kelak, ia akan senantiasa merasa ridha dengan Tuhannya, sedangkan keridhaan merupakan surga dunia dan tempat ketenangan bagi orang-orang arif. Keridhaan adalah kepuasan jiwa atas takdir-takdir yang berlaku padanya yang merupakan hakikat dari pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala baginya, dan ketenteraman jiwa dengan hukum-hukum agama-Nya. Inilah yang dimaksud dengan ridha kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Tuhannya, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul.” (Al-Fawaid hlm. 91). Ibnu Athaillah As-Sakandari Rahimahullah berkata: “Untuk meringankan musibah darimu, engkau harus mengetahui bahwa Dialah yang sedang mengujimu dan yang mengarahkan takdir-takdir kepadamu. Dia juga yang membiasakanmu dengan pilihan yang terbaik.” (Hikam Ibn Athaillah as-Sakandari hlm. 90). Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/167699/مقاصد-البلاء/ Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 183 times, 1 visit(s) today Post Views: 169

Tujuan-Tujuan Turunnya Musibah

Oleh: Abdul Qadir Daghuti Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji para hamba-Nya dengan berbagai bentuk musibah yang Dia kehendaki, berbagai macam kesulitan dan ujian. Hanya saja itu tidak menjadi tujuan awal dari syariat yang penuh kebijaksanaan ini, tapi merupakan tujuan turunan, atau tujuan yang hanya menjadi sarana bukan tujuan pokok. Sebab, Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Mulia menjadikannya sebagai sarana untuk merealisasikan tujuan-tujuan syariat, dan intinya adalah untuk mewujudkan kebaikan bagi orang-orang beriman, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 216). فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا “Boleh jadi kalian tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya banyak kebaikan.” (QS. An-Nisa: 19). Berikut ini adalah beberapa tujuan dari diturunkannya musibah yang disebutkan secara langsung dalam Kitabullah dan sunah Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam: Menjadi pengingat bagi orang-orang yang lalai Mungkin ada seorang hamba yang lalai dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengabaikan kewajiban-kewajibannya, sibuk dengan perhiasan kehidupan dunia, dan tenggelam dalam syahwat-syahwatnya, tapi apabila musibah turun menimpanya, ia segera tersadar dari kelalaiannya, merasakan kelemahan dan ketidakberdayaannya, sehingga ia kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan penuh keinsafan dan permohonan ampun, berdiri di pintu-Nya mengharapkan rahmat-Nya. Dalam hal ini Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ “Kami menguji mereka dengan kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (QS. Al-A’raf: 168). Yakni Kami menguji mereka dengan kenikmatan dan musibah, kesulitan dan kelapangan, agar mereka berhenti dari kekafiran dan kemaksiatan. (Shafwah At-Tafasir karya Muhammad Ali Ash-Shabuni” jilid 1 hlm. 443). Salah satu tujuan dari ujian adalah menyelamatkan para hamba dari tawanan setan, membebaskan mereka dari belenggu hawa nafsu dan syahwat, membangunkan mereka dari lelapnya kelalaian, sehingga mereka kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mendekat kepada-Nya, dan berusaha memperbaiki hubungan mereka dengan-Nya, sehingga keadaan mereka membaik. Ibnu Athaillah As-Sakandari berkata: “Siapa yang tidak mendekat kepada Allah dengan lembutnya kebaikan, ia akan diseret kepada-Nya dengan rantai-rantai ujian.” (Hikam Ibn Athaillah as-Sakandari hlm. 62). Penyuci orang-orang beriman Di antara bentuk rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para hamba-Nya yang beriman adalah apabila Dia hendak menyucikan mereka dari pengaruh-pengaruh dosa mereka, Dia akan menimpakan mereka dengan sedikit musibah, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis dari Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam: مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ، وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ، وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ “Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, atau kesusahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan dengan itu Allah akan menghapuskan sebagian dosa-dosanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Beliau juga bersabda: مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ، حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ تَعَالَى وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ “Ujian akan terus menimpa seorang mukmin dan mukminah pada dirinya, anaknya, dan hartanya, hingga ia bertemu Allah dalam keadaan tidak memiliki dosa.” (HR. At-Tirmidzi no. 2399). Diriwayatkan dari seorang salaf, ia berkata: “Kalaulah bukan karena musibah-musibah dunia, niscaya kita akan datang pada hari kiamat dalam keadaan bangkrut.” Menyaring orang-orang yang bersabar Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji para hamba-Nya untuk menyaring keimanan mereka, memilah kedudukan mereka, dan menampakkan dari mereka siapa orang yang bersabar ketika musibah menimpa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ “Dan sungguh Kami benar-benar akan menguji kalian, sehingga Kami mengetahui siapa di antara kalian yang berjihad dan bersabar, dan Kami akan menguji (menampakkan) keadaan kalian.” (QS. Muhammad: 31). Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata: “Orang-orang sama pada kondisi penuh kenikmatan, lalu pada saat turun musibah, tersingkap jelaslah hakikat mereka.” (Shaid Al-Khathir karya Imam Ibnu Al-Jauzi hlm. 139). Orang-orang yang bersabar ketika musibah menimpa akan diistimewakan dengan banyak karamah ilahi, dan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang luas, di antaranya: Kecintaan Allah bagi mereka dan mereka senantiasa disertai oleh Allah secara khusus Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ “Karena itu mereka tidak menjadi lemah terhadap apa yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak pula mereka menjadi lemah dan tidak (pula) menyerah; dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran: 146). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153). وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ “Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46). Derajat mereka ditinggikan Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ الرَّجُلَ لَيَكُونُ لَهُ الْمَنْزِلَةُ عِنْدَ اللَّهِ، فَمَا يَبْلُغُهَا بِعَمَلٍ، فَلَا يَزَالُ اللَّهُ يَبْتَلِيهِ بِمَا يَكْرَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ إِيَّاهَا “Sesungguhnya seseorang memiliki kedudukan di sisi Allah yang tidak dapat ia capai dengan amalnya, sehingga Allah terus mengujinya dengan sesuatu yang ia tidak sukai, sampai Dia menyampaikannya kepada kedudukan tersebut.” (Dishahihkan Al-Albani dalam As-Silsilah ash-Shahihah no. 2599). Manusia yang paling dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan paling tinggi derajatnya adalah para nabi dan rasul, karena mereka adalah manusia dengan ujian yang paling berat, sebagaimana yang disampaikan oleh Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam. Mendapatkan kejayaan Ada seorang lelaki yang bertanya kepada Imam asy-Syafi’i: “Wahai Abu Abdillah! Mana yang lebih baik bagi seseorang, apakah diberi kejayaan atau ujian?” Imam asy-Syafi’i lalu menjawab: “Seseorang tidak akan diberi kejayaan hingga ia diberi ujian terlebih dulu. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi ujian bagi Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad Alaihimussalam, dan ketika mereka bersabar, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi mereka kejayaan, maka jangan ada orang yang mengira akan selamat dari rasa sakit sepenuhnya.” (Al-Fawaid karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah hlm. 222). Mendapat ampunan dosa, pelipatgandaan pahala, dan kabar gembira yang membahagiakan mereka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ * أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ “Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.’ Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: لَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ “Kecuali orang-orang yang bersabar dan beramal saleh, mereka itu memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Hud: 11). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: أُولَئِكَ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ بِمَا صَبَرُوا “Mereka itu diberi pahala dua kali lipat karena kesabaran mereka.” (QS. Al-Qasas: 54). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: إِنِّي جَزَيْتُهُمُ الْيَوْمَ بِمَا صَبَرُوا أَنَّهُمْ هُمُ الْفَائِزُونَ “Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka pada hari ini karena kesabaran mereka, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang.” (QS. Al-Mu’minun: 111). Penutup Ada beberapa perkara yang dapat meringankan beban ujian dari seorang mukmin, dan menguatkan ketabahannya yang disertai bersabar, teguh, ridha, dan yakin sehingga ia tidak marah, berkeluh kesah, dan putus asa, yaitu dengan mengetahui hakikat-hakikat penting berikut, yaitu: Musibah yang menimpa hamba Allah tidak akan berlangsung selamanya, ketika musibah itu turun, ia telah ditetapkan waktunya, lalu kembali diangkat dan selesai. Ibnu Al-Jauzi Rahimahullah berkata: “Musibah punya akhir yang waktunya diketahui dengan pasti oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga orang yang diberi musibah harus bersabar hingga waktu musibah itu berakhir.” (Shaid Al-Khathir hlm. 155). Yang memberi ujian kepada seorang hamba adalah Tuhannya Yang Maha Pemurah, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang. Dalam musibah yang diturunkan kepada para hamba-Nya, Dia memberi banyak kebaikan bagi mereka yang tidak mungkin ada yang dapat menghitungnya kecuali Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman: وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 216). فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا “Boleh jadi kalian tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya banyak kebaikan.” (QS. An-Nisa: 19). Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata: “Siapa yang lurus pengetahuannya terhadap Tuhannya, dan memahami makna nama-nama dan sifat-sifat-Nya, niscaya ia mengetahui dengan penuh keyakinan bahwa segala yang ia benci yang menimpanya dan musibah-musibah yang turun kepadanya mengandung banyak bentuk kemaslahatan dan manfaat yang tidak mungkin dapat terhitung olehnya. Bahkan kemaslahatan seorang hamba dalam hal yang ia benci lebih besar daripada kemaslahatan dalam hal yang ia sukai. Apabila seorang hamba telah mampu memahami hakikat ini, niscaya ia akan hidup tenang di dunia sebelum di akhirat di dalam surga, nikmat ketenangan di dunia itu tidak ada tandingannya kecuali dengan nikmat surga di akhirat kelak, ia akan senantiasa merasa ridha dengan Tuhannya, sedangkan keridhaan merupakan surga dunia dan tempat ketenangan bagi orang-orang arif. Keridhaan adalah kepuasan jiwa atas takdir-takdir yang berlaku padanya yang merupakan hakikat dari pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala baginya, dan ketenteraman jiwa dengan hukum-hukum agama-Nya. Inilah yang dimaksud dengan ridha kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Tuhannya, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul.” (Al-Fawaid hlm. 91). Ibnu Athaillah As-Sakandari Rahimahullah berkata: “Untuk meringankan musibah darimu, engkau harus mengetahui bahwa Dialah yang sedang mengujimu dan yang mengarahkan takdir-takdir kepadamu. Dia juga yang membiasakanmu dengan pilihan yang terbaik.” (Hikam Ibn Athaillah as-Sakandari hlm. 90). Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/167699/مقاصد-البلاء/ Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 183 times, 1 visit(s) today Post Views: 169
Oleh: Abdul Qadir Daghuti Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji para hamba-Nya dengan berbagai bentuk musibah yang Dia kehendaki, berbagai macam kesulitan dan ujian. Hanya saja itu tidak menjadi tujuan awal dari syariat yang penuh kebijaksanaan ini, tapi merupakan tujuan turunan, atau tujuan yang hanya menjadi sarana bukan tujuan pokok. Sebab, Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Mulia menjadikannya sebagai sarana untuk merealisasikan tujuan-tujuan syariat, dan intinya adalah untuk mewujudkan kebaikan bagi orang-orang beriman, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 216). فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا “Boleh jadi kalian tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya banyak kebaikan.” (QS. An-Nisa: 19). Berikut ini adalah beberapa tujuan dari diturunkannya musibah yang disebutkan secara langsung dalam Kitabullah dan sunah Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam: Menjadi pengingat bagi orang-orang yang lalai Mungkin ada seorang hamba yang lalai dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengabaikan kewajiban-kewajibannya, sibuk dengan perhiasan kehidupan dunia, dan tenggelam dalam syahwat-syahwatnya, tapi apabila musibah turun menimpanya, ia segera tersadar dari kelalaiannya, merasakan kelemahan dan ketidakberdayaannya, sehingga ia kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan penuh keinsafan dan permohonan ampun, berdiri di pintu-Nya mengharapkan rahmat-Nya. Dalam hal ini Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ “Kami menguji mereka dengan kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (QS. Al-A’raf: 168). Yakni Kami menguji mereka dengan kenikmatan dan musibah, kesulitan dan kelapangan, agar mereka berhenti dari kekafiran dan kemaksiatan. (Shafwah At-Tafasir karya Muhammad Ali Ash-Shabuni” jilid 1 hlm. 443). Salah satu tujuan dari ujian adalah menyelamatkan para hamba dari tawanan setan, membebaskan mereka dari belenggu hawa nafsu dan syahwat, membangunkan mereka dari lelapnya kelalaian, sehingga mereka kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mendekat kepada-Nya, dan berusaha memperbaiki hubungan mereka dengan-Nya, sehingga keadaan mereka membaik. Ibnu Athaillah As-Sakandari berkata: “Siapa yang tidak mendekat kepada Allah dengan lembutnya kebaikan, ia akan diseret kepada-Nya dengan rantai-rantai ujian.” (Hikam Ibn Athaillah as-Sakandari hlm. 62). Penyuci orang-orang beriman Di antara bentuk rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para hamba-Nya yang beriman adalah apabila Dia hendak menyucikan mereka dari pengaruh-pengaruh dosa mereka, Dia akan menimpakan mereka dengan sedikit musibah, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis dari Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam: مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ، وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ، وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ “Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, atau kesusahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan dengan itu Allah akan menghapuskan sebagian dosa-dosanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Beliau juga bersabda: مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ، حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ تَعَالَى وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ “Ujian akan terus menimpa seorang mukmin dan mukminah pada dirinya, anaknya, dan hartanya, hingga ia bertemu Allah dalam keadaan tidak memiliki dosa.” (HR. At-Tirmidzi no. 2399). Diriwayatkan dari seorang salaf, ia berkata: “Kalaulah bukan karena musibah-musibah dunia, niscaya kita akan datang pada hari kiamat dalam keadaan bangkrut.” Menyaring orang-orang yang bersabar Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji para hamba-Nya untuk menyaring keimanan mereka, memilah kedudukan mereka, dan menampakkan dari mereka siapa orang yang bersabar ketika musibah menimpa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ “Dan sungguh Kami benar-benar akan menguji kalian, sehingga Kami mengetahui siapa di antara kalian yang berjihad dan bersabar, dan Kami akan menguji (menampakkan) keadaan kalian.” (QS. Muhammad: 31). Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata: “Orang-orang sama pada kondisi penuh kenikmatan, lalu pada saat turun musibah, tersingkap jelaslah hakikat mereka.” (Shaid Al-Khathir karya Imam Ibnu Al-Jauzi hlm. 139). Orang-orang yang bersabar ketika musibah menimpa akan diistimewakan dengan banyak karamah ilahi, dan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang luas, di antaranya: Kecintaan Allah bagi mereka dan mereka senantiasa disertai oleh Allah secara khusus Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ “Karena itu mereka tidak menjadi lemah terhadap apa yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak pula mereka menjadi lemah dan tidak (pula) menyerah; dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran: 146). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153). وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ “Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46). Derajat mereka ditinggikan Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ الرَّجُلَ لَيَكُونُ لَهُ الْمَنْزِلَةُ عِنْدَ اللَّهِ، فَمَا يَبْلُغُهَا بِعَمَلٍ، فَلَا يَزَالُ اللَّهُ يَبْتَلِيهِ بِمَا يَكْرَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ إِيَّاهَا “Sesungguhnya seseorang memiliki kedudukan di sisi Allah yang tidak dapat ia capai dengan amalnya, sehingga Allah terus mengujinya dengan sesuatu yang ia tidak sukai, sampai Dia menyampaikannya kepada kedudukan tersebut.” (Dishahihkan Al-Albani dalam As-Silsilah ash-Shahihah no. 2599). Manusia yang paling dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan paling tinggi derajatnya adalah para nabi dan rasul, karena mereka adalah manusia dengan ujian yang paling berat, sebagaimana yang disampaikan oleh Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam. Mendapatkan kejayaan Ada seorang lelaki yang bertanya kepada Imam asy-Syafi’i: “Wahai Abu Abdillah! Mana yang lebih baik bagi seseorang, apakah diberi kejayaan atau ujian?” Imam asy-Syafi’i lalu menjawab: “Seseorang tidak akan diberi kejayaan hingga ia diberi ujian terlebih dulu. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi ujian bagi Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad Alaihimussalam, dan ketika mereka bersabar, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi mereka kejayaan, maka jangan ada orang yang mengira akan selamat dari rasa sakit sepenuhnya.” (Al-Fawaid karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah hlm. 222). Mendapat ampunan dosa, pelipatgandaan pahala, dan kabar gembira yang membahagiakan mereka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ * أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ “Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.’ Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: لَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ “Kecuali orang-orang yang bersabar dan beramal saleh, mereka itu memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Hud: 11). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: أُولَئِكَ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ بِمَا صَبَرُوا “Mereka itu diberi pahala dua kali lipat karena kesabaran mereka.” (QS. Al-Qasas: 54). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: إِنِّي جَزَيْتُهُمُ الْيَوْمَ بِمَا صَبَرُوا أَنَّهُمْ هُمُ الْفَائِزُونَ “Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka pada hari ini karena kesabaran mereka, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang.” (QS. Al-Mu’minun: 111). Penutup Ada beberapa perkara yang dapat meringankan beban ujian dari seorang mukmin, dan menguatkan ketabahannya yang disertai bersabar, teguh, ridha, dan yakin sehingga ia tidak marah, berkeluh kesah, dan putus asa, yaitu dengan mengetahui hakikat-hakikat penting berikut, yaitu: Musibah yang menimpa hamba Allah tidak akan berlangsung selamanya, ketika musibah itu turun, ia telah ditetapkan waktunya, lalu kembali diangkat dan selesai. Ibnu Al-Jauzi Rahimahullah berkata: “Musibah punya akhir yang waktunya diketahui dengan pasti oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga orang yang diberi musibah harus bersabar hingga waktu musibah itu berakhir.” (Shaid Al-Khathir hlm. 155). Yang memberi ujian kepada seorang hamba adalah Tuhannya Yang Maha Pemurah, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang. Dalam musibah yang diturunkan kepada para hamba-Nya, Dia memberi banyak kebaikan bagi mereka yang tidak mungkin ada yang dapat menghitungnya kecuali Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman: وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 216). فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا “Boleh jadi kalian tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya banyak kebaikan.” (QS. An-Nisa: 19). Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata: “Siapa yang lurus pengetahuannya terhadap Tuhannya, dan memahami makna nama-nama dan sifat-sifat-Nya, niscaya ia mengetahui dengan penuh keyakinan bahwa segala yang ia benci yang menimpanya dan musibah-musibah yang turun kepadanya mengandung banyak bentuk kemaslahatan dan manfaat yang tidak mungkin dapat terhitung olehnya. Bahkan kemaslahatan seorang hamba dalam hal yang ia benci lebih besar daripada kemaslahatan dalam hal yang ia sukai. Apabila seorang hamba telah mampu memahami hakikat ini, niscaya ia akan hidup tenang di dunia sebelum di akhirat di dalam surga, nikmat ketenangan di dunia itu tidak ada tandingannya kecuali dengan nikmat surga di akhirat kelak, ia akan senantiasa merasa ridha dengan Tuhannya, sedangkan keridhaan merupakan surga dunia dan tempat ketenangan bagi orang-orang arif. Keridhaan adalah kepuasan jiwa atas takdir-takdir yang berlaku padanya yang merupakan hakikat dari pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala baginya, dan ketenteraman jiwa dengan hukum-hukum agama-Nya. Inilah yang dimaksud dengan ridha kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Tuhannya, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul.” (Al-Fawaid hlm. 91). Ibnu Athaillah As-Sakandari Rahimahullah berkata: “Untuk meringankan musibah darimu, engkau harus mengetahui bahwa Dialah yang sedang mengujimu dan yang mengarahkan takdir-takdir kepadamu. Dia juga yang membiasakanmu dengan pilihan yang terbaik.” (Hikam Ibn Athaillah as-Sakandari hlm. 90). Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/167699/مقاصد-البلاء/ Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 183 times, 1 visit(s) today Post Views: 169


Oleh: Abdul Qadir Daghuti Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji para hamba-Nya dengan berbagai bentuk musibah yang Dia kehendaki, berbagai macam kesulitan dan ujian. Hanya saja itu tidak menjadi tujuan awal dari syariat yang penuh kebijaksanaan ini, tapi merupakan tujuan turunan, atau tujuan yang hanya menjadi sarana bukan tujuan pokok. Sebab, Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Mulia menjadikannya sebagai sarana untuk merealisasikan tujuan-tujuan syariat, dan intinya adalah untuk mewujudkan kebaikan bagi orang-orang beriman, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 216). فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا “Boleh jadi kalian tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya banyak kebaikan.” (QS. An-Nisa: 19). Berikut ini adalah beberapa tujuan dari diturunkannya musibah yang disebutkan secara langsung dalam Kitabullah dan sunah Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam: Menjadi pengingat bagi orang-orang yang lalai Mungkin ada seorang hamba yang lalai dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengabaikan kewajiban-kewajibannya, sibuk dengan perhiasan kehidupan dunia, dan tenggelam dalam syahwat-syahwatnya, tapi apabila musibah turun menimpanya, ia segera tersadar dari kelalaiannya, merasakan kelemahan dan ketidakberdayaannya, sehingga ia kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan penuh keinsafan dan permohonan ampun, berdiri di pintu-Nya mengharapkan rahmat-Nya. Dalam hal ini Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ “Kami menguji mereka dengan kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (QS. Al-A’raf: 168). Yakni Kami menguji mereka dengan kenikmatan dan musibah, kesulitan dan kelapangan, agar mereka berhenti dari kekafiran dan kemaksiatan. (Shafwah At-Tafasir karya Muhammad Ali Ash-Shabuni” jilid 1 hlm. 443). Salah satu tujuan dari ujian adalah menyelamatkan para hamba dari tawanan setan, membebaskan mereka dari belenggu hawa nafsu dan syahwat, membangunkan mereka dari lelapnya kelalaian, sehingga mereka kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mendekat kepada-Nya, dan berusaha memperbaiki hubungan mereka dengan-Nya, sehingga keadaan mereka membaik. Ibnu Athaillah As-Sakandari berkata: “Siapa yang tidak mendekat kepada Allah dengan lembutnya kebaikan, ia akan diseret kepada-Nya dengan rantai-rantai ujian.” (Hikam Ibn Athaillah as-Sakandari hlm. 62). Penyuci orang-orang beriman Di antara bentuk rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para hamba-Nya yang beriman adalah apabila Dia hendak menyucikan mereka dari pengaruh-pengaruh dosa mereka, Dia akan menimpakan mereka dengan sedikit musibah, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis dari Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam: مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ، وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ، وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ “Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, atau kesusahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan dengan itu Allah akan menghapuskan sebagian dosa-dosanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Beliau juga bersabda: مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ، حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ تَعَالَى وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ “Ujian akan terus menimpa seorang mukmin dan mukminah pada dirinya, anaknya, dan hartanya, hingga ia bertemu Allah dalam keadaan tidak memiliki dosa.” (HR. At-Tirmidzi no. 2399). Diriwayatkan dari seorang salaf, ia berkata: “Kalaulah bukan karena musibah-musibah dunia, niscaya kita akan datang pada hari kiamat dalam keadaan bangkrut.” Menyaring orang-orang yang bersabar Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji para hamba-Nya untuk menyaring keimanan mereka, memilah kedudukan mereka, dan menampakkan dari mereka siapa orang yang bersabar ketika musibah menimpa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ “Dan sungguh Kami benar-benar akan menguji kalian, sehingga Kami mengetahui siapa di antara kalian yang berjihad dan bersabar, dan Kami akan menguji (menampakkan) keadaan kalian.” (QS. Muhammad: 31). Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata: “Orang-orang sama pada kondisi penuh kenikmatan, lalu pada saat turun musibah, tersingkap jelaslah hakikat mereka.” (Shaid Al-Khathir karya Imam Ibnu Al-Jauzi hlm. 139). Orang-orang yang bersabar ketika musibah menimpa akan diistimewakan dengan banyak karamah ilahi, dan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang luas, di antaranya: Kecintaan Allah bagi mereka dan mereka senantiasa disertai oleh Allah secara khusus Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ “Karena itu mereka tidak menjadi lemah terhadap apa yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak pula mereka menjadi lemah dan tidak (pula) menyerah; dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran: 146). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153). وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ “Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46). Derajat mereka ditinggikan Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ الرَّجُلَ لَيَكُونُ لَهُ الْمَنْزِلَةُ عِنْدَ اللَّهِ، فَمَا يَبْلُغُهَا بِعَمَلٍ، فَلَا يَزَالُ اللَّهُ يَبْتَلِيهِ بِمَا يَكْرَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ إِيَّاهَا “Sesungguhnya seseorang memiliki kedudukan di sisi Allah yang tidak dapat ia capai dengan amalnya, sehingga Allah terus mengujinya dengan sesuatu yang ia tidak sukai, sampai Dia menyampaikannya kepada kedudukan tersebut.” (Dishahihkan Al-Albani dalam As-Silsilah ash-Shahihah no. 2599). Manusia yang paling dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan paling tinggi derajatnya adalah para nabi dan rasul, karena mereka adalah manusia dengan ujian yang paling berat, sebagaimana yang disampaikan oleh Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam. Mendapatkan kejayaan Ada seorang lelaki yang bertanya kepada Imam asy-Syafi’i: “Wahai Abu Abdillah! Mana yang lebih baik bagi seseorang, apakah diberi kejayaan atau ujian?” Imam asy-Syafi’i lalu menjawab: “Seseorang tidak akan diberi kejayaan hingga ia diberi ujian terlebih dulu. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi ujian bagi Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad Alaihimussalam, dan ketika mereka bersabar, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi mereka kejayaan, maka jangan ada orang yang mengira akan selamat dari rasa sakit sepenuhnya.” (Al-Fawaid karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah hlm. 222). Mendapat ampunan dosa, pelipatgandaan pahala, dan kabar gembira yang membahagiakan mereka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ * أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ “Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.’ Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: لَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ “Kecuali orang-orang yang bersabar dan beramal saleh, mereka itu memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Hud: 11). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: أُولَئِكَ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ بِمَا صَبَرُوا “Mereka itu diberi pahala dua kali lipat karena kesabaran mereka.” (QS. Al-Qasas: 54). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: إِنِّي جَزَيْتُهُمُ الْيَوْمَ بِمَا صَبَرُوا أَنَّهُمْ هُمُ الْفَائِزُونَ “Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka pada hari ini karena kesabaran mereka, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang.” (QS. Al-Mu’minun: 111). Penutup Ada beberapa perkara yang dapat meringankan beban ujian dari seorang mukmin, dan menguatkan ketabahannya yang disertai bersabar, teguh, ridha, dan yakin sehingga ia tidak marah, berkeluh kesah, dan putus asa, yaitu dengan mengetahui hakikat-hakikat penting berikut, yaitu: Musibah yang menimpa hamba Allah tidak akan berlangsung selamanya, ketika musibah itu turun, ia telah ditetapkan waktunya, lalu kembali diangkat dan selesai. Ibnu Al-Jauzi Rahimahullah berkata: “Musibah punya akhir yang waktunya diketahui dengan pasti oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga orang yang diberi musibah harus bersabar hingga waktu musibah itu berakhir.” (Shaid Al-Khathir hlm. 155). Yang memberi ujian kepada seorang hamba adalah Tuhannya Yang Maha Pemurah, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang. Dalam musibah yang diturunkan kepada para hamba-Nya, Dia memberi banyak kebaikan bagi mereka yang tidak mungkin ada yang dapat menghitungnya kecuali Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman: وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 216). فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا “Boleh jadi kalian tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya banyak kebaikan.” (QS. An-Nisa: 19). Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata: “Siapa yang lurus pengetahuannya terhadap Tuhannya, dan memahami makna nama-nama dan sifat-sifat-Nya, niscaya ia mengetahui dengan penuh keyakinan bahwa segala yang ia benci yang menimpanya dan musibah-musibah yang turun kepadanya mengandung banyak bentuk kemaslahatan dan manfaat yang tidak mungkin dapat terhitung olehnya. Bahkan kemaslahatan seorang hamba dalam hal yang ia benci lebih besar daripada kemaslahatan dalam hal yang ia sukai. Apabila seorang hamba telah mampu memahami hakikat ini, niscaya ia akan hidup tenang di dunia sebelum di akhirat di dalam surga, nikmat ketenangan di dunia itu tidak ada tandingannya kecuali dengan nikmat surga di akhirat kelak, ia akan senantiasa merasa ridha dengan Tuhannya, sedangkan keridhaan merupakan surga dunia dan tempat ketenangan bagi orang-orang arif. Keridhaan adalah kepuasan jiwa atas takdir-takdir yang berlaku padanya yang merupakan hakikat dari pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala baginya, dan ketenteraman jiwa dengan hukum-hukum agama-Nya. Inilah yang dimaksud dengan ridha kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Tuhannya, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul.” (Al-Fawaid hlm. 91). Ibnu Athaillah As-Sakandari Rahimahullah berkata: “Untuk meringankan musibah darimu, engkau harus mengetahui bahwa Dialah yang sedang mengujimu dan yang mengarahkan takdir-takdir kepadamu. Dia juga yang membiasakanmu dengan pilihan yang terbaik.” (Hikam Ibn Athaillah as-Sakandari hlm. 90). Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/167699/مقاصد-البلاء/ Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 183 times, 1 visit(s) today Post Views: 169

Batasan Hibah dalam Hukum Islam dan Hukum Positif

Daftar Isi ToggleBatasan sepertiga hartaHibah dapat diperhitungkan sebagai warisanMekanisme penyelesaian sengketa hibah di pengadilanDasar pembatalan hibah oleh pengadilanPenerapan pasal 211 KHI sebagai lex specialisMaqashid syari’ah dalam pembatasan hibahSolusi dan rekomendasiKesimpulanSebelumnya sudah dibahas terkait hibah orang tua yang tidak proporsional, dan dari sebab itu akan sangat mungkin terjadi polemik keluarga, baik di waktu itu atau masa yang akan datang ketika orang tua sudah meninggal dunia. Maka pada kesempatan ini, akan dibahas bagaimana menyikapi dan menyelesaikan polemik tersebut, baik dalam tinjauan hukum Islam maupun hukum positif di Indonesia.Batasan sepertiga hartaBaik dalam fikih Islam maupun Kompilasi Hukum Islam (KHI) di Indonesia, terdapat batasan bahwa hibah tidak boleh melebihi sepertiga (1/3) dari total harta yang dimiliki pemberi hibah. Hal ini bertujuan melindungi hak para ahli waris yang akan menerima warisan setelah pewaris meninggal dunia.Pasal 210 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam menyatakan bahwa orang yang hendak berhibah harus memenuhi syarat: berusia minimal 21 tahun, berakal sehat, dan tanpa paksaan. Adapun secara objektif, hibah dibatasi maksimal sepertiga dari total harta dan wajib dilaksanakan di hadapan dua saksi yang sah.[1]Hibah dapat diperhitungkan sebagai warisanPasal 211 KHI menegaskan bahwa hibah dari orang tua kepada anak dapat diperhitungkan sebagai bagian dari warisan (advance inheritance). Ketentuan ini menjadi sangat penting ketika hibah yang diberikan melampaui batas kewajaran dan merugikan hak ahli waris lainnya. [2]Mekanisme penyelesaian sengketa hibah di pengadilanDasar pembatalan hibah oleh pengadilanPengadilan dapat membatalkan hibah yang tidak proporsional dengan beberapa alasan:Pertama, hibah yang merugikan bagian mutlak ahli waris lainnya. Mahkamah Agung dalam Putusan No. 198 PK/Pdt/2019 menegaskan bahwa hibah yang melanggar ketentuan legitieme portie (bagian mutlak ahli waris) dapat dibatalkan. [3]Kedua, hibah yang melebihi batas sepertiga dari total harta pewaris. Dalam Putusan No. 76 K/AG/1992, MA menyatakan bahwa luas tanah hibah tidak boleh melebihi sepertiga luas tanah milik pewaris, karena bertentangan dengan ketentuan hukum. [4]Penerapan pasal 211 KHI sebagai lex specialisDalam sengketa hibah yang melanggar hak ahli waris, Pasal 211 KHI dapat diberlakukan sebagai lex specialis (hukum khusus) untuk mengoreksi ketimpangan. Mekanismenya sebagai berikut:Jika nilai hibah melebihi bagian waris yang seharusnya diterima, maka kelebihannya ditarik dan dialihkan kepada ahli waris lain yang dirugikan.Jika nilai hibah lebih rendah dari hak warisnya, maka kekurangannya dapat ditambahkan dari harta warisan.Putusan Mahkamah Agung No. 391 K/Sip/1969 menyatakan bahwa hibah dari pewaris yang merugikan ahli waris lain tidak sah dan harus dibatalkan demi keadilan. [5]Maqashid syari’ah dalam pembatasan hibahDari perspektif maqashid syari’ah (tujuan-tujuan syariat), pembatasan hibah yang tidak proporsional bertujuan untuk menjaga:1) Hifzh al-mal (menjaga harta): Mencegah pengalihan harta secara tidak adil yang dapat merugikan hak-hak pihak lain.2) Hifzh an-nasl (menjaga keturunan): Menjaga keharmonisan hubungan keluarga dan mencegah permusuhan antar saudara akibat ketidakadilan orang tua.3) Hifzh al-‘aql (menjaga akal): Mencegah timbulnya kedengkian, iri hati, dan konflik berkepanjangan yang dapat mengganggu kesehatan mental anggota keluarga.Kaidah fikih menyatakan:دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ“Menolak kerusakan lebih didahulukan daripada menarik kemaslahatan.”Dalam konteks hibah, mencegah konflik keluarga (mafsadah) lebih utama daripada kebebasan mutlak orang tua dalam membagi harta (maslahah individual).Solusi dan rekomendasiUntuk menghindari sengketa di kemudian hari, beberapa langkah preventif dapat dilakukan:1) Musyawarah keluarga: Orang tua sebaiknya mendiskusikan rencana hibah dengan seluruh anak untuk mencapai kesepakatan bersama.2) Dokumentasi yang sah: Hibah sebaiknya dituangkan dalam akta notaris dan disaksikan oleh para ahli waris untuk menghindari gugatan di masa mendatang.3) Prinsip keadilan: Jika ada alasan syar’i untuk melebihkan sebagian anak (misalnya karena kebutuhan khusus), sebaiknya disertai persetujuan dari anak-anak lainnya.KesimpulanHibah orang tua yang tidak proporsional kepada sebagian anak merupakan tindakan yang bertentangan dengan prinsip keadilan dalam Islam. Meskipun terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama—ada yang mengharamkan dan ada yang memakruhkan—semua sepakat bahwa keadilan sangat dianjurkan dan diskriminasi tanpa alasan yang dibenarkan syariat adalah tercela.Dari sisi hukum positif, hibah yang melampaui batas sepertiga harta atau merugikan hak ahli waris lainnya dapat dibatalkan melalui pengadilan. Mahkamah Agung telah berulang kali menegaskan prinsip ini dalam berbagai putusannya. Oleh karena itu, setiap Muslim hendaknya berhati-hati dalam memberikan hibah dan selalu mengedepankan asas keadilan demi menjaga keharmonisan keluarga.Wallahu Ta’ala a’lam. Semoga bermanfaat.Baca juga: Ringkasan Fikih WasiatPerbedaan Hibah dan Wasiat***Penulis: Junaidi Abu IsaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Marinews.mahkamahagung.go.id[2] Ibid.[3] Hukumonline.com[4] Ibid.[5] Marinews.mahkamahagung.go.id

Batasan Hibah dalam Hukum Islam dan Hukum Positif

Daftar Isi ToggleBatasan sepertiga hartaHibah dapat diperhitungkan sebagai warisanMekanisme penyelesaian sengketa hibah di pengadilanDasar pembatalan hibah oleh pengadilanPenerapan pasal 211 KHI sebagai lex specialisMaqashid syari’ah dalam pembatasan hibahSolusi dan rekomendasiKesimpulanSebelumnya sudah dibahas terkait hibah orang tua yang tidak proporsional, dan dari sebab itu akan sangat mungkin terjadi polemik keluarga, baik di waktu itu atau masa yang akan datang ketika orang tua sudah meninggal dunia. Maka pada kesempatan ini, akan dibahas bagaimana menyikapi dan menyelesaikan polemik tersebut, baik dalam tinjauan hukum Islam maupun hukum positif di Indonesia.Batasan sepertiga hartaBaik dalam fikih Islam maupun Kompilasi Hukum Islam (KHI) di Indonesia, terdapat batasan bahwa hibah tidak boleh melebihi sepertiga (1/3) dari total harta yang dimiliki pemberi hibah. Hal ini bertujuan melindungi hak para ahli waris yang akan menerima warisan setelah pewaris meninggal dunia.Pasal 210 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam menyatakan bahwa orang yang hendak berhibah harus memenuhi syarat: berusia minimal 21 tahun, berakal sehat, dan tanpa paksaan. Adapun secara objektif, hibah dibatasi maksimal sepertiga dari total harta dan wajib dilaksanakan di hadapan dua saksi yang sah.[1]Hibah dapat diperhitungkan sebagai warisanPasal 211 KHI menegaskan bahwa hibah dari orang tua kepada anak dapat diperhitungkan sebagai bagian dari warisan (advance inheritance). Ketentuan ini menjadi sangat penting ketika hibah yang diberikan melampaui batas kewajaran dan merugikan hak ahli waris lainnya. [2]Mekanisme penyelesaian sengketa hibah di pengadilanDasar pembatalan hibah oleh pengadilanPengadilan dapat membatalkan hibah yang tidak proporsional dengan beberapa alasan:Pertama, hibah yang merugikan bagian mutlak ahli waris lainnya. Mahkamah Agung dalam Putusan No. 198 PK/Pdt/2019 menegaskan bahwa hibah yang melanggar ketentuan legitieme portie (bagian mutlak ahli waris) dapat dibatalkan. [3]Kedua, hibah yang melebihi batas sepertiga dari total harta pewaris. Dalam Putusan No. 76 K/AG/1992, MA menyatakan bahwa luas tanah hibah tidak boleh melebihi sepertiga luas tanah milik pewaris, karena bertentangan dengan ketentuan hukum. [4]Penerapan pasal 211 KHI sebagai lex specialisDalam sengketa hibah yang melanggar hak ahli waris, Pasal 211 KHI dapat diberlakukan sebagai lex specialis (hukum khusus) untuk mengoreksi ketimpangan. Mekanismenya sebagai berikut:Jika nilai hibah melebihi bagian waris yang seharusnya diterima, maka kelebihannya ditarik dan dialihkan kepada ahli waris lain yang dirugikan.Jika nilai hibah lebih rendah dari hak warisnya, maka kekurangannya dapat ditambahkan dari harta warisan.Putusan Mahkamah Agung No. 391 K/Sip/1969 menyatakan bahwa hibah dari pewaris yang merugikan ahli waris lain tidak sah dan harus dibatalkan demi keadilan. [5]Maqashid syari’ah dalam pembatasan hibahDari perspektif maqashid syari’ah (tujuan-tujuan syariat), pembatasan hibah yang tidak proporsional bertujuan untuk menjaga:1) Hifzh al-mal (menjaga harta): Mencegah pengalihan harta secara tidak adil yang dapat merugikan hak-hak pihak lain.2) Hifzh an-nasl (menjaga keturunan): Menjaga keharmonisan hubungan keluarga dan mencegah permusuhan antar saudara akibat ketidakadilan orang tua.3) Hifzh al-‘aql (menjaga akal): Mencegah timbulnya kedengkian, iri hati, dan konflik berkepanjangan yang dapat mengganggu kesehatan mental anggota keluarga.Kaidah fikih menyatakan:دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ“Menolak kerusakan lebih didahulukan daripada menarik kemaslahatan.”Dalam konteks hibah, mencegah konflik keluarga (mafsadah) lebih utama daripada kebebasan mutlak orang tua dalam membagi harta (maslahah individual).Solusi dan rekomendasiUntuk menghindari sengketa di kemudian hari, beberapa langkah preventif dapat dilakukan:1) Musyawarah keluarga: Orang tua sebaiknya mendiskusikan rencana hibah dengan seluruh anak untuk mencapai kesepakatan bersama.2) Dokumentasi yang sah: Hibah sebaiknya dituangkan dalam akta notaris dan disaksikan oleh para ahli waris untuk menghindari gugatan di masa mendatang.3) Prinsip keadilan: Jika ada alasan syar’i untuk melebihkan sebagian anak (misalnya karena kebutuhan khusus), sebaiknya disertai persetujuan dari anak-anak lainnya.KesimpulanHibah orang tua yang tidak proporsional kepada sebagian anak merupakan tindakan yang bertentangan dengan prinsip keadilan dalam Islam. Meskipun terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama—ada yang mengharamkan dan ada yang memakruhkan—semua sepakat bahwa keadilan sangat dianjurkan dan diskriminasi tanpa alasan yang dibenarkan syariat adalah tercela.Dari sisi hukum positif, hibah yang melampaui batas sepertiga harta atau merugikan hak ahli waris lainnya dapat dibatalkan melalui pengadilan. Mahkamah Agung telah berulang kali menegaskan prinsip ini dalam berbagai putusannya. Oleh karena itu, setiap Muslim hendaknya berhati-hati dalam memberikan hibah dan selalu mengedepankan asas keadilan demi menjaga keharmonisan keluarga.Wallahu Ta’ala a’lam. Semoga bermanfaat.Baca juga: Ringkasan Fikih WasiatPerbedaan Hibah dan Wasiat***Penulis: Junaidi Abu IsaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Marinews.mahkamahagung.go.id[2] Ibid.[3] Hukumonline.com[4] Ibid.[5] Marinews.mahkamahagung.go.id
Daftar Isi ToggleBatasan sepertiga hartaHibah dapat diperhitungkan sebagai warisanMekanisme penyelesaian sengketa hibah di pengadilanDasar pembatalan hibah oleh pengadilanPenerapan pasal 211 KHI sebagai lex specialisMaqashid syari’ah dalam pembatasan hibahSolusi dan rekomendasiKesimpulanSebelumnya sudah dibahas terkait hibah orang tua yang tidak proporsional, dan dari sebab itu akan sangat mungkin terjadi polemik keluarga, baik di waktu itu atau masa yang akan datang ketika orang tua sudah meninggal dunia. Maka pada kesempatan ini, akan dibahas bagaimana menyikapi dan menyelesaikan polemik tersebut, baik dalam tinjauan hukum Islam maupun hukum positif di Indonesia.Batasan sepertiga hartaBaik dalam fikih Islam maupun Kompilasi Hukum Islam (KHI) di Indonesia, terdapat batasan bahwa hibah tidak boleh melebihi sepertiga (1/3) dari total harta yang dimiliki pemberi hibah. Hal ini bertujuan melindungi hak para ahli waris yang akan menerima warisan setelah pewaris meninggal dunia.Pasal 210 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam menyatakan bahwa orang yang hendak berhibah harus memenuhi syarat: berusia minimal 21 tahun, berakal sehat, dan tanpa paksaan. Adapun secara objektif, hibah dibatasi maksimal sepertiga dari total harta dan wajib dilaksanakan di hadapan dua saksi yang sah.[1]Hibah dapat diperhitungkan sebagai warisanPasal 211 KHI menegaskan bahwa hibah dari orang tua kepada anak dapat diperhitungkan sebagai bagian dari warisan (advance inheritance). Ketentuan ini menjadi sangat penting ketika hibah yang diberikan melampaui batas kewajaran dan merugikan hak ahli waris lainnya. [2]Mekanisme penyelesaian sengketa hibah di pengadilanDasar pembatalan hibah oleh pengadilanPengadilan dapat membatalkan hibah yang tidak proporsional dengan beberapa alasan:Pertama, hibah yang merugikan bagian mutlak ahli waris lainnya. Mahkamah Agung dalam Putusan No. 198 PK/Pdt/2019 menegaskan bahwa hibah yang melanggar ketentuan legitieme portie (bagian mutlak ahli waris) dapat dibatalkan. [3]Kedua, hibah yang melebihi batas sepertiga dari total harta pewaris. Dalam Putusan No. 76 K/AG/1992, MA menyatakan bahwa luas tanah hibah tidak boleh melebihi sepertiga luas tanah milik pewaris, karena bertentangan dengan ketentuan hukum. [4]Penerapan pasal 211 KHI sebagai lex specialisDalam sengketa hibah yang melanggar hak ahli waris, Pasal 211 KHI dapat diberlakukan sebagai lex specialis (hukum khusus) untuk mengoreksi ketimpangan. Mekanismenya sebagai berikut:Jika nilai hibah melebihi bagian waris yang seharusnya diterima, maka kelebihannya ditarik dan dialihkan kepada ahli waris lain yang dirugikan.Jika nilai hibah lebih rendah dari hak warisnya, maka kekurangannya dapat ditambahkan dari harta warisan.Putusan Mahkamah Agung No. 391 K/Sip/1969 menyatakan bahwa hibah dari pewaris yang merugikan ahli waris lain tidak sah dan harus dibatalkan demi keadilan. [5]Maqashid syari’ah dalam pembatasan hibahDari perspektif maqashid syari’ah (tujuan-tujuan syariat), pembatasan hibah yang tidak proporsional bertujuan untuk menjaga:1) Hifzh al-mal (menjaga harta): Mencegah pengalihan harta secara tidak adil yang dapat merugikan hak-hak pihak lain.2) Hifzh an-nasl (menjaga keturunan): Menjaga keharmonisan hubungan keluarga dan mencegah permusuhan antar saudara akibat ketidakadilan orang tua.3) Hifzh al-‘aql (menjaga akal): Mencegah timbulnya kedengkian, iri hati, dan konflik berkepanjangan yang dapat mengganggu kesehatan mental anggota keluarga.Kaidah fikih menyatakan:دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ“Menolak kerusakan lebih didahulukan daripada menarik kemaslahatan.”Dalam konteks hibah, mencegah konflik keluarga (mafsadah) lebih utama daripada kebebasan mutlak orang tua dalam membagi harta (maslahah individual).Solusi dan rekomendasiUntuk menghindari sengketa di kemudian hari, beberapa langkah preventif dapat dilakukan:1) Musyawarah keluarga: Orang tua sebaiknya mendiskusikan rencana hibah dengan seluruh anak untuk mencapai kesepakatan bersama.2) Dokumentasi yang sah: Hibah sebaiknya dituangkan dalam akta notaris dan disaksikan oleh para ahli waris untuk menghindari gugatan di masa mendatang.3) Prinsip keadilan: Jika ada alasan syar’i untuk melebihkan sebagian anak (misalnya karena kebutuhan khusus), sebaiknya disertai persetujuan dari anak-anak lainnya.KesimpulanHibah orang tua yang tidak proporsional kepada sebagian anak merupakan tindakan yang bertentangan dengan prinsip keadilan dalam Islam. Meskipun terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama—ada yang mengharamkan dan ada yang memakruhkan—semua sepakat bahwa keadilan sangat dianjurkan dan diskriminasi tanpa alasan yang dibenarkan syariat adalah tercela.Dari sisi hukum positif, hibah yang melampaui batas sepertiga harta atau merugikan hak ahli waris lainnya dapat dibatalkan melalui pengadilan. Mahkamah Agung telah berulang kali menegaskan prinsip ini dalam berbagai putusannya. Oleh karena itu, setiap Muslim hendaknya berhati-hati dalam memberikan hibah dan selalu mengedepankan asas keadilan demi menjaga keharmonisan keluarga.Wallahu Ta’ala a’lam. Semoga bermanfaat.Baca juga: Ringkasan Fikih WasiatPerbedaan Hibah dan Wasiat***Penulis: Junaidi Abu IsaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Marinews.mahkamahagung.go.id[2] Ibid.[3] Hukumonline.com[4] Ibid.[5] Marinews.mahkamahagung.go.id


Daftar Isi ToggleBatasan sepertiga hartaHibah dapat diperhitungkan sebagai warisanMekanisme penyelesaian sengketa hibah di pengadilanDasar pembatalan hibah oleh pengadilanPenerapan pasal 211 KHI sebagai lex specialisMaqashid syari’ah dalam pembatasan hibahSolusi dan rekomendasiKesimpulanSebelumnya sudah dibahas terkait hibah orang tua yang tidak proporsional, dan dari sebab itu akan sangat mungkin terjadi polemik keluarga, baik di waktu itu atau masa yang akan datang ketika orang tua sudah meninggal dunia. Maka pada kesempatan ini, akan dibahas bagaimana menyikapi dan menyelesaikan polemik tersebut, baik dalam tinjauan hukum Islam maupun hukum positif di Indonesia.Batasan sepertiga hartaBaik dalam fikih Islam maupun Kompilasi Hukum Islam (KHI) di Indonesia, terdapat batasan bahwa hibah tidak boleh melebihi sepertiga (1/3) dari total harta yang dimiliki pemberi hibah. Hal ini bertujuan melindungi hak para ahli waris yang akan menerima warisan setelah pewaris meninggal dunia.Pasal 210 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam menyatakan bahwa orang yang hendak berhibah harus memenuhi syarat: berusia minimal 21 tahun, berakal sehat, dan tanpa paksaan. Adapun secara objektif, hibah dibatasi maksimal sepertiga dari total harta dan wajib dilaksanakan di hadapan dua saksi yang sah.[1]Hibah dapat diperhitungkan sebagai warisanPasal 211 KHI menegaskan bahwa hibah dari orang tua kepada anak dapat diperhitungkan sebagai bagian dari warisan (advance inheritance). Ketentuan ini menjadi sangat penting ketika hibah yang diberikan melampaui batas kewajaran dan merugikan hak ahli waris lainnya. [2]Mekanisme penyelesaian sengketa hibah di pengadilanDasar pembatalan hibah oleh pengadilanPengadilan dapat membatalkan hibah yang tidak proporsional dengan beberapa alasan:Pertama, hibah yang merugikan bagian mutlak ahli waris lainnya. Mahkamah Agung dalam Putusan No. 198 PK/Pdt/2019 menegaskan bahwa hibah yang melanggar ketentuan legitieme portie (bagian mutlak ahli waris) dapat dibatalkan. [3]Kedua, hibah yang melebihi batas sepertiga dari total harta pewaris. Dalam Putusan No. 76 K/AG/1992, MA menyatakan bahwa luas tanah hibah tidak boleh melebihi sepertiga luas tanah milik pewaris, karena bertentangan dengan ketentuan hukum. [4]Penerapan pasal 211 KHI sebagai lex specialisDalam sengketa hibah yang melanggar hak ahli waris, Pasal 211 KHI dapat diberlakukan sebagai lex specialis (hukum khusus) untuk mengoreksi ketimpangan. Mekanismenya sebagai berikut:Jika nilai hibah melebihi bagian waris yang seharusnya diterima, maka kelebihannya ditarik dan dialihkan kepada ahli waris lain yang dirugikan.Jika nilai hibah lebih rendah dari hak warisnya, maka kekurangannya dapat ditambahkan dari harta warisan.Putusan Mahkamah Agung No. 391 K/Sip/1969 menyatakan bahwa hibah dari pewaris yang merugikan ahli waris lain tidak sah dan harus dibatalkan demi keadilan. [5]Maqashid syari’ah dalam pembatasan hibahDari perspektif maqashid syari’ah (tujuan-tujuan syariat), pembatasan hibah yang tidak proporsional bertujuan untuk menjaga:1) Hifzh al-mal (menjaga harta): Mencegah pengalihan harta secara tidak adil yang dapat merugikan hak-hak pihak lain.2) Hifzh an-nasl (menjaga keturunan): Menjaga keharmonisan hubungan keluarga dan mencegah permusuhan antar saudara akibat ketidakadilan orang tua.3) Hifzh al-‘aql (menjaga akal): Mencegah timbulnya kedengkian, iri hati, dan konflik berkepanjangan yang dapat mengganggu kesehatan mental anggota keluarga.Kaidah fikih menyatakan:دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ“Menolak kerusakan lebih didahulukan daripada menarik kemaslahatan.”Dalam konteks hibah, mencegah konflik keluarga (mafsadah) lebih utama daripada kebebasan mutlak orang tua dalam membagi harta (maslahah individual).Solusi dan rekomendasiUntuk menghindari sengketa di kemudian hari, beberapa langkah preventif dapat dilakukan:1) Musyawarah keluarga: Orang tua sebaiknya mendiskusikan rencana hibah dengan seluruh anak untuk mencapai kesepakatan bersama.2) Dokumentasi yang sah: Hibah sebaiknya dituangkan dalam akta notaris dan disaksikan oleh para ahli waris untuk menghindari gugatan di masa mendatang.3) Prinsip keadilan: Jika ada alasan syar’i untuk melebihkan sebagian anak (misalnya karena kebutuhan khusus), sebaiknya disertai persetujuan dari anak-anak lainnya.KesimpulanHibah orang tua yang tidak proporsional kepada sebagian anak merupakan tindakan yang bertentangan dengan prinsip keadilan dalam Islam. Meskipun terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama—ada yang mengharamkan dan ada yang memakruhkan—semua sepakat bahwa keadilan sangat dianjurkan dan diskriminasi tanpa alasan yang dibenarkan syariat adalah tercela.Dari sisi hukum positif, hibah yang melampaui batas sepertiga harta atau merugikan hak ahli waris lainnya dapat dibatalkan melalui pengadilan. Mahkamah Agung telah berulang kali menegaskan prinsip ini dalam berbagai putusannya. Oleh karena itu, setiap Muslim hendaknya berhati-hati dalam memberikan hibah dan selalu mengedepankan asas keadilan demi menjaga keharmonisan keluarga.Wallahu Ta’ala a’lam. Semoga bermanfaat.Baca juga: Ringkasan Fikih WasiatPerbedaan Hibah dan Wasiat***Penulis: Junaidi Abu IsaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Marinews.mahkamahagung.go.id[2] Ibid.[3] Hukumonline.com[4] Ibid.[5] Marinews.mahkamahagung.go.id

Rahasia di Balik 13 Tahun Dakwah Nabi ﷺ : Mengapa Tauhid Begitu Lama? – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

Tauhid merupakan tujuan utama Allah dalam mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab-Nya. Sesungguhnya Allah Ta’ala mengutus para rasul kepada kaum-kaum yang sebenarnya sudah mengakui bahwa Allah ‘Azza wa Jalla adalah Pencipta, Pemberi rezeki, dan Pengatur alam semesta ini. “Dan jika kamu bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan mereka?’ niscaya mereka akan menjawab, ‘Allah.’” (QS. Az-Zukhruf: 87). “Dan jika kamu bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ niscaya mereka akan menjawab, ‘Allah.’” (QS. Az-Zumar: 38). Masalah utama mereka sebenarnya adalah penyimpangan dalam akidah. Mereka menetapkan perantara di antara mereka dengan Allah ‘Azza wa Jalla, baik berupa berhala, kuburan, maupun perantara lainnya. Mereka mengatakan, “Para perantara ini dapat lebih mendekatkan kami kepada Allah.” “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata): ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’” (QS. Az-Zumar: 3). Maka Allah mengutus para rasul untuk menjelaskan kepada umat-umat tersebut mengenai besarnya kesalahan penyimpangan ini, serta menegaskan bahwa kewajiban manusia adalah beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla secara langsung, tanpa perlu membuat perantara apa pun antara dirinya dengan Sang Pencipta. Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, diutus menjadi rasul pada usia 40 tahun, dan beliau wafat pada usia 63 tahun. Artinya, masa kenabian dan risalah beliau berlangsung selama 23 tahun saja. Beliau menghabiskan 13 tahun di antaranya di kota Makkah, untuk mengajak manusia mewujudkan tauhid dan memurnikan agama semata-mata karena Allah ‘Azza wa Jalla. Barulah setelah beliau berhijrah ke Madinah, selama 10 tahun sisanya, beliau menyeru manusia untuk menjalankan syariat-syariat Islam lainnya. Perhatikanlah betapa agungnya kedudukan tauhid. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencurahkan 13 tahun dari total 23 tahun masa dakwahnya khusus untuk mengajak manusia mewujudkan tauhid dan memurnikan ketaatan hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Oleh karena itu, sepatutnya kita mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan seluruh rasul lainnya, dalam memberikan perhatian besar terhadap pemurnian tauhid dan ketaatan hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sebab jika seseorang wafat dalam keadaan bertauhid, maka ia berada dalam kebaikan dan akan menuju kebaikan. Bahkan jika ia termasuk pelaku dosa besar, lalu masuk dan diazab di dalam neraka, pada akhirnya tempat kembalinya tetaplah ke surga. Keyakinan Ahlussunnah wal jamaah menegaskan bahwa pelaku dosa besar yang wafat dalam keadaan bertauhid, apabila mereka masuk neraka, mereka tidak akan kekal di dalamnya. Namun mereka akan dikeluarkan dari neraka berkat rahmat Allah Yang Maha Pengasih, lalu mereka masuk ke dalam surga. Jadi, siapa pun yang wafat di atas ketauhidan, akhir perjalanannya adalah surga, meski mungkin harus diazab di neraka terlebih dahulu. Musibah yang sebenarnya adalah bagi mereka yang wafat dalam keadaan musyrik, karena Allah telah mengharamkan surga baginya. “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah maka pasti Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka…” (QS. Al-Maidah: 72). “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa: 116). “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang sangat besar.” (QS. An-Nisa: 48). ===== التَّوْحِيدُ هُوَ الَّذِي لِأَجْلِهِ أَرْسَلَ اللَّهُ الرُّسُلَ وَأَنْزَلَ الْكُتُبَ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَرْسَلَ الرُّسُلَ إِلَى أَقْوَامٍ مُقِرِّيْنَ بِأَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ الْخَالِقُ الرَّازِقُ الْمُدَبِّرُ لِهَذَا الْكَوْنِ وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ الْمُشْكِلَةُ عِنْدَهُمْ انْحِرَافٌ فِي الْعَقِيدَةِ جَعَلُوا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَسَائِطَ مِنْ أَصْنَامٍ أَوْ مِنْ قُبُورٍ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ وَقَالُوا هَذِهِ الْوَسَائِطُ تُقَرِّبُنَا إلَى اللَّهِ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ فَأَرْسَلَ اللَّهُ الرُّسُلَ لِتُبَيِّنَ لِهَذِهِ الْأُمَمِ خَطَأَ هَذَا الِانْحِرَافِ وَأَنَّ الْوَاجِبَ عَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يَعْبُدَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ مُبَاشَرَةً مِنْ غَيْرِ أَنْ يَجْعَلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ وَسَائِطَ وَنَبِيُّنَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُعِثَ وَعُمْرُهُ أَرْبَعُونَ وَمَاتَ وَعُمْرُهُ ثَلَاثٌ وَسِتُّونَ أَيْ أَنَّهُ بَقِيَ فِي الْبِعْثَةِ وَالرِّسَالَةِ ثَلَاثًا وَعِشْرِينَ سَنَةً فَقَط أَمْضَى مِنْهَا ثَلَاثَ عَشْرَةَ سَنَةً فِي مَكَّةَ يَدْعُو النَّاسَ إِلَى تَحْقِيْقِ التَّوْحِيدِ وَإِخْلَاصِ الدِّينِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ لَمَّا هَاجَرَ إِلَى الْمَدِينَةِ فِي الْعَشْرِ السَّنَوَاتِ الْمُتَبَقِّيَةِ دَعَا النَّاسَ إلَى بَقِيَّةِ شَرَائِعِ الْإِسْلَامِ فَانْظُرُوا إِلَى عَظِيمِ شَأْنِ التَّوْحِيد بَقِيَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ثَلَاثَ عَشْرَةَ سَنَةً مِنْ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ يَدْعُو النَّاسَ إِلَى تَحْقِيْقِ التَّوْحِيدِ وَإِخْلَاصِ الدِّينِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيَنْبَغِي لَنَا أَنْ نَقْتَدِيَ بِرَسُولِنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبِالرُّسُلِ جَمِيعًا فِي الْعِنَايَةِ بِتَحْقِيقِ التَّوْحِيدِ وَإِخْلَاصِ الدِّينِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْإِنْسَانُ إِذَا مَاتَ عَلَى التَّوْحِيدِ فَهُوَ عَلَى خَيْرٍ وَإِلَى خَيْرٍ حَتَّى وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْكَبَائِرِ وَدَخَل النَّارَ وَعُذِّبَ فِي النَّارِ فَإِنَّ مَآلَهُ يَكُونُ بَعْدَ ذَلِكَ إِلَى الْجَنَّةِ وَمُعْتَقَدُ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ أَنَّ مَنْ مَاتَ عَلَى التَّوْحِيدِ مِنْ أَهْلِ الْكَبَائِرِ إِذَا دَخَلُوا النَّارَ لَا يُخَلَّدُونَ فِيهَا بَلْ يُخْرَجُونَ مِنْهَا بِرَحْمَةِ أَرْحَمِ الرَّاحِمِينَ وَيَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ فَمَنْ مَاتَ عَلَى التَّوْحِيدِ فَمَآلُهُ لِلْجَنَّةِ حَتَّى وَإِنْ عُذِّبَ فِي النَّارِ وَإِنَّمَا الْمُصِيبَةُ فِي مَنْ مَاتَ عَلَى الشِّرْكِ فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

Rahasia di Balik 13 Tahun Dakwah Nabi ﷺ : Mengapa Tauhid Begitu Lama? – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

Tauhid merupakan tujuan utama Allah dalam mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab-Nya. Sesungguhnya Allah Ta’ala mengutus para rasul kepada kaum-kaum yang sebenarnya sudah mengakui bahwa Allah ‘Azza wa Jalla adalah Pencipta, Pemberi rezeki, dan Pengatur alam semesta ini. “Dan jika kamu bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan mereka?’ niscaya mereka akan menjawab, ‘Allah.’” (QS. Az-Zukhruf: 87). “Dan jika kamu bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ niscaya mereka akan menjawab, ‘Allah.’” (QS. Az-Zumar: 38). Masalah utama mereka sebenarnya adalah penyimpangan dalam akidah. Mereka menetapkan perantara di antara mereka dengan Allah ‘Azza wa Jalla, baik berupa berhala, kuburan, maupun perantara lainnya. Mereka mengatakan, “Para perantara ini dapat lebih mendekatkan kami kepada Allah.” “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata): ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’” (QS. Az-Zumar: 3). Maka Allah mengutus para rasul untuk menjelaskan kepada umat-umat tersebut mengenai besarnya kesalahan penyimpangan ini, serta menegaskan bahwa kewajiban manusia adalah beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla secara langsung, tanpa perlu membuat perantara apa pun antara dirinya dengan Sang Pencipta. Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, diutus menjadi rasul pada usia 40 tahun, dan beliau wafat pada usia 63 tahun. Artinya, masa kenabian dan risalah beliau berlangsung selama 23 tahun saja. Beliau menghabiskan 13 tahun di antaranya di kota Makkah, untuk mengajak manusia mewujudkan tauhid dan memurnikan agama semata-mata karena Allah ‘Azza wa Jalla. Barulah setelah beliau berhijrah ke Madinah, selama 10 tahun sisanya, beliau menyeru manusia untuk menjalankan syariat-syariat Islam lainnya. Perhatikanlah betapa agungnya kedudukan tauhid. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencurahkan 13 tahun dari total 23 tahun masa dakwahnya khusus untuk mengajak manusia mewujudkan tauhid dan memurnikan ketaatan hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Oleh karena itu, sepatutnya kita mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan seluruh rasul lainnya, dalam memberikan perhatian besar terhadap pemurnian tauhid dan ketaatan hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sebab jika seseorang wafat dalam keadaan bertauhid, maka ia berada dalam kebaikan dan akan menuju kebaikan. Bahkan jika ia termasuk pelaku dosa besar, lalu masuk dan diazab di dalam neraka, pada akhirnya tempat kembalinya tetaplah ke surga. Keyakinan Ahlussunnah wal jamaah menegaskan bahwa pelaku dosa besar yang wafat dalam keadaan bertauhid, apabila mereka masuk neraka, mereka tidak akan kekal di dalamnya. Namun mereka akan dikeluarkan dari neraka berkat rahmat Allah Yang Maha Pengasih, lalu mereka masuk ke dalam surga. Jadi, siapa pun yang wafat di atas ketauhidan, akhir perjalanannya adalah surga, meski mungkin harus diazab di neraka terlebih dahulu. Musibah yang sebenarnya adalah bagi mereka yang wafat dalam keadaan musyrik, karena Allah telah mengharamkan surga baginya. “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah maka pasti Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka…” (QS. Al-Maidah: 72). “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa: 116). “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang sangat besar.” (QS. An-Nisa: 48). ===== التَّوْحِيدُ هُوَ الَّذِي لِأَجْلِهِ أَرْسَلَ اللَّهُ الرُّسُلَ وَأَنْزَلَ الْكُتُبَ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَرْسَلَ الرُّسُلَ إِلَى أَقْوَامٍ مُقِرِّيْنَ بِأَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ الْخَالِقُ الرَّازِقُ الْمُدَبِّرُ لِهَذَا الْكَوْنِ وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ الْمُشْكِلَةُ عِنْدَهُمْ انْحِرَافٌ فِي الْعَقِيدَةِ جَعَلُوا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَسَائِطَ مِنْ أَصْنَامٍ أَوْ مِنْ قُبُورٍ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ وَقَالُوا هَذِهِ الْوَسَائِطُ تُقَرِّبُنَا إلَى اللَّهِ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ فَأَرْسَلَ اللَّهُ الرُّسُلَ لِتُبَيِّنَ لِهَذِهِ الْأُمَمِ خَطَأَ هَذَا الِانْحِرَافِ وَأَنَّ الْوَاجِبَ عَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يَعْبُدَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ مُبَاشَرَةً مِنْ غَيْرِ أَنْ يَجْعَلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ وَسَائِطَ وَنَبِيُّنَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُعِثَ وَعُمْرُهُ أَرْبَعُونَ وَمَاتَ وَعُمْرُهُ ثَلَاثٌ وَسِتُّونَ أَيْ أَنَّهُ بَقِيَ فِي الْبِعْثَةِ وَالرِّسَالَةِ ثَلَاثًا وَعِشْرِينَ سَنَةً فَقَط أَمْضَى مِنْهَا ثَلَاثَ عَشْرَةَ سَنَةً فِي مَكَّةَ يَدْعُو النَّاسَ إِلَى تَحْقِيْقِ التَّوْحِيدِ وَإِخْلَاصِ الدِّينِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ لَمَّا هَاجَرَ إِلَى الْمَدِينَةِ فِي الْعَشْرِ السَّنَوَاتِ الْمُتَبَقِّيَةِ دَعَا النَّاسَ إلَى بَقِيَّةِ شَرَائِعِ الْإِسْلَامِ فَانْظُرُوا إِلَى عَظِيمِ شَأْنِ التَّوْحِيد بَقِيَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ثَلَاثَ عَشْرَةَ سَنَةً مِنْ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ يَدْعُو النَّاسَ إِلَى تَحْقِيْقِ التَّوْحِيدِ وَإِخْلَاصِ الدِّينِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيَنْبَغِي لَنَا أَنْ نَقْتَدِيَ بِرَسُولِنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبِالرُّسُلِ جَمِيعًا فِي الْعِنَايَةِ بِتَحْقِيقِ التَّوْحِيدِ وَإِخْلَاصِ الدِّينِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْإِنْسَانُ إِذَا مَاتَ عَلَى التَّوْحِيدِ فَهُوَ عَلَى خَيْرٍ وَإِلَى خَيْرٍ حَتَّى وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْكَبَائِرِ وَدَخَل النَّارَ وَعُذِّبَ فِي النَّارِ فَإِنَّ مَآلَهُ يَكُونُ بَعْدَ ذَلِكَ إِلَى الْجَنَّةِ وَمُعْتَقَدُ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ أَنَّ مَنْ مَاتَ عَلَى التَّوْحِيدِ مِنْ أَهْلِ الْكَبَائِرِ إِذَا دَخَلُوا النَّارَ لَا يُخَلَّدُونَ فِيهَا بَلْ يُخْرَجُونَ مِنْهَا بِرَحْمَةِ أَرْحَمِ الرَّاحِمِينَ وَيَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ فَمَنْ مَاتَ عَلَى التَّوْحِيدِ فَمَآلُهُ لِلْجَنَّةِ حَتَّى وَإِنْ عُذِّبَ فِي النَّارِ وَإِنَّمَا الْمُصِيبَةُ فِي مَنْ مَاتَ عَلَى الشِّرْكِ فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا
Tauhid merupakan tujuan utama Allah dalam mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab-Nya. Sesungguhnya Allah Ta’ala mengutus para rasul kepada kaum-kaum yang sebenarnya sudah mengakui bahwa Allah ‘Azza wa Jalla adalah Pencipta, Pemberi rezeki, dan Pengatur alam semesta ini. “Dan jika kamu bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan mereka?’ niscaya mereka akan menjawab, ‘Allah.’” (QS. Az-Zukhruf: 87). “Dan jika kamu bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ niscaya mereka akan menjawab, ‘Allah.’” (QS. Az-Zumar: 38). Masalah utama mereka sebenarnya adalah penyimpangan dalam akidah. Mereka menetapkan perantara di antara mereka dengan Allah ‘Azza wa Jalla, baik berupa berhala, kuburan, maupun perantara lainnya. Mereka mengatakan, “Para perantara ini dapat lebih mendekatkan kami kepada Allah.” “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata): ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’” (QS. Az-Zumar: 3). Maka Allah mengutus para rasul untuk menjelaskan kepada umat-umat tersebut mengenai besarnya kesalahan penyimpangan ini, serta menegaskan bahwa kewajiban manusia adalah beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla secara langsung, tanpa perlu membuat perantara apa pun antara dirinya dengan Sang Pencipta. Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, diutus menjadi rasul pada usia 40 tahun, dan beliau wafat pada usia 63 tahun. Artinya, masa kenabian dan risalah beliau berlangsung selama 23 tahun saja. Beliau menghabiskan 13 tahun di antaranya di kota Makkah, untuk mengajak manusia mewujudkan tauhid dan memurnikan agama semata-mata karena Allah ‘Azza wa Jalla. Barulah setelah beliau berhijrah ke Madinah, selama 10 tahun sisanya, beliau menyeru manusia untuk menjalankan syariat-syariat Islam lainnya. Perhatikanlah betapa agungnya kedudukan tauhid. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencurahkan 13 tahun dari total 23 tahun masa dakwahnya khusus untuk mengajak manusia mewujudkan tauhid dan memurnikan ketaatan hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Oleh karena itu, sepatutnya kita mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan seluruh rasul lainnya, dalam memberikan perhatian besar terhadap pemurnian tauhid dan ketaatan hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sebab jika seseorang wafat dalam keadaan bertauhid, maka ia berada dalam kebaikan dan akan menuju kebaikan. Bahkan jika ia termasuk pelaku dosa besar, lalu masuk dan diazab di dalam neraka, pada akhirnya tempat kembalinya tetaplah ke surga. Keyakinan Ahlussunnah wal jamaah menegaskan bahwa pelaku dosa besar yang wafat dalam keadaan bertauhid, apabila mereka masuk neraka, mereka tidak akan kekal di dalamnya. Namun mereka akan dikeluarkan dari neraka berkat rahmat Allah Yang Maha Pengasih, lalu mereka masuk ke dalam surga. Jadi, siapa pun yang wafat di atas ketauhidan, akhir perjalanannya adalah surga, meski mungkin harus diazab di neraka terlebih dahulu. Musibah yang sebenarnya adalah bagi mereka yang wafat dalam keadaan musyrik, karena Allah telah mengharamkan surga baginya. “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah maka pasti Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka…” (QS. Al-Maidah: 72). “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa: 116). “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang sangat besar.” (QS. An-Nisa: 48). ===== التَّوْحِيدُ هُوَ الَّذِي لِأَجْلِهِ أَرْسَلَ اللَّهُ الرُّسُلَ وَأَنْزَلَ الْكُتُبَ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَرْسَلَ الرُّسُلَ إِلَى أَقْوَامٍ مُقِرِّيْنَ بِأَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ الْخَالِقُ الرَّازِقُ الْمُدَبِّرُ لِهَذَا الْكَوْنِ وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ الْمُشْكِلَةُ عِنْدَهُمْ انْحِرَافٌ فِي الْعَقِيدَةِ جَعَلُوا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَسَائِطَ مِنْ أَصْنَامٍ أَوْ مِنْ قُبُورٍ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ وَقَالُوا هَذِهِ الْوَسَائِطُ تُقَرِّبُنَا إلَى اللَّهِ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ فَأَرْسَلَ اللَّهُ الرُّسُلَ لِتُبَيِّنَ لِهَذِهِ الْأُمَمِ خَطَأَ هَذَا الِانْحِرَافِ وَأَنَّ الْوَاجِبَ عَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يَعْبُدَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ مُبَاشَرَةً مِنْ غَيْرِ أَنْ يَجْعَلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ وَسَائِطَ وَنَبِيُّنَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُعِثَ وَعُمْرُهُ أَرْبَعُونَ وَمَاتَ وَعُمْرُهُ ثَلَاثٌ وَسِتُّونَ أَيْ أَنَّهُ بَقِيَ فِي الْبِعْثَةِ وَالرِّسَالَةِ ثَلَاثًا وَعِشْرِينَ سَنَةً فَقَط أَمْضَى مِنْهَا ثَلَاثَ عَشْرَةَ سَنَةً فِي مَكَّةَ يَدْعُو النَّاسَ إِلَى تَحْقِيْقِ التَّوْحِيدِ وَإِخْلَاصِ الدِّينِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ لَمَّا هَاجَرَ إِلَى الْمَدِينَةِ فِي الْعَشْرِ السَّنَوَاتِ الْمُتَبَقِّيَةِ دَعَا النَّاسَ إلَى بَقِيَّةِ شَرَائِعِ الْإِسْلَامِ فَانْظُرُوا إِلَى عَظِيمِ شَأْنِ التَّوْحِيد بَقِيَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ثَلَاثَ عَشْرَةَ سَنَةً مِنْ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ يَدْعُو النَّاسَ إِلَى تَحْقِيْقِ التَّوْحِيدِ وَإِخْلَاصِ الدِّينِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيَنْبَغِي لَنَا أَنْ نَقْتَدِيَ بِرَسُولِنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبِالرُّسُلِ جَمِيعًا فِي الْعِنَايَةِ بِتَحْقِيقِ التَّوْحِيدِ وَإِخْلَاصِ الدِّينِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْإِنْسَانُ إِذَا مَاتَ عَلَى التَّوْحِيدِ فَهُوَ عَلَى خَيْرٍ وَإِلَى خَيْرٍ حَتَّى وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْكَبَائِرِ وَدَخَل النَّارَ وَعُذِّبَ فِي النَّارِ فَإِنَّ مَآلَهُ يَكُونُ بَعْدَ ذَلِكَ إِلَى الْجَنَّةِ وَمُعْتَقَدُ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ أَنَّ مَنْ مَاتَ عَلَى التَّوْحِيدِ مِنْ أَهْلِ الْكَبَائِرِ إِذَا دَخَلُوا النَّارَ لَا يُخَلَّدُونَ فِيهَا بَلْ يُخْرَجُونَ مِنْهَا بِرَحْمَةِ أَرْحَمِ الرَّاحِمِينَ وَيَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ فَمَنْ مَاتَ عَلَى التَّوْحِيدِ فَمَآلُهُ لِلْجَنَّةِ حَتَّى وَإِنْ عُذِّبَ فِي النَّارِ وَإِنَّمَا الْمُصِيبَةُ فِي مَنْ مَاتَ عَلَى الشِّرْكِ فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا


Tauhid merupakan tujuan utama Allah dalam mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab-Nya. Sesungguhnya Allah Ta’ala mengutus para rasul kepada kaum-kaum yang sebenarnya sudah mengakui bahwa Allah ‘Azza wa Jalla adalah Pencipta, Pemberi rezeki, dan Pengatur alam semesta ini. “Dan jika kamu bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan mereka?’ niscaya mereka akan menjawab, ‘Allah.’” (QS. Az-Zukhruf: 87). “Dan jika kamu bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ niscaya mereka akan menjawab, ‘Allah.’” (QS. Az-Zumar: 38). Masalah utama mereka sebenarnya adalah penyimpangan dalam akidah. Mereka menetapkan perantara di antara mereka dengan Allah ‘Azza wa Jalla, baik berupa berhala, kuburan, maupun perantara lainnya. Mereka mengatakan, “Para perantara ini dapat lebih mendekatkan kami kepada Allah.” “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata): ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’” (QS. Az-Zumar: 3). Maka Allah mengutus para rasul untuk menjelaskan kepada umat-umat tersebut mengenai besarnya kesalahan penyimpangan ini, serta menegaskan bahwa kewajiban manusia adalah beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla secara langsung, tanpa perlu membuat perantara apa pun antara dirinya dengan Sang Pencipta. Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, diutus menjadi rasul pada usia 40 tahun, dan beliau wafat pada usia 63 tahun. Artinya, masa kenabian dan risalah beliau berlangsung selama 23 tahun saja. Beliau menghabiskan 13 tahun di antaranya di kota Makkah, untuk mengajak manusia mewujudkan tauhid dan memurnikan agama semata-mata karena Allah ‘Azza wa Jalla. Barulah setelah beliau berhijrah ke Madinah, selama 10 tahun sisanya, beliau menyeru manusia untuk menjalankan syariat-syariat Islam lainnya. Perhatikanlah betapa agungnya kedudukan tauhid. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencurahkan 13 tahun dari total 23 tahun masa dakwahnya khusus untuk mengajak manusia mewujudkan tauhid dan memurnikan ketaatan hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Oleh karena itu, sepatutnya kita mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan seluruh rasul lainnya, dalam memberikan perhatian besar terhadap pemurnian tauhid dan ketaatan hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sebab jika seseorang wafat dalam keadaan bertauhid, maka ia berada dalam kebaikan dan akan menuju kebaikan. Bahkan jika ia termasuk pelaku dosa besar, lalu masuk dan diazab di dalam neraka, pada akhirnya tempat kembalinya tetaplah ke surga. Keyakinan Ahlussunnah wal jamaah menegaskan bahwa pelaku dosa besar yang wafat dalam keadaan bertauhid, apabila mereka masuk neraka, mereka tidak akan kekal di dalamnya. Namun mereka akan dikeluarkan dari neraka berkat rahmat Allah Yang Maha Pengasih, lalu mereka masuk ke dalam surga. Jadi, siapa pun yang wafat di atas ketauhidan, akhir perjalanannya adalah surga, meski mungkin harus diazab di neraka terlebih dahulu. Musibah yang sebenarnya adalah bagi mereka yang wafat dalam keadaan musyrik, karena Allah telah mengharamkan surga baginya. “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah maka pasti Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka…” (QS. Al-Maidah: 72). “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa: 116). “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang sangat besar.” (QS. An-Nisa: 48). ===== التَّوْحِيدُ هُوَ الَّذِي لِأَجْلِهِ أَرْسَلَ اللَّهُ الرُّسُلَ وَأَنْزَلَ الْكُتُبَ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَرْسَلَ الرُّسُلَ إِلَى أَقْوَامٍ مُقِرِّيْنَ بِأَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ الْخَالِقُ الرَّازِقُ الْمُدَبِّرُ لِهَذَا الْكَوْنِ وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ الْمُشْكِلَةُ عِنْدَهُمْ انْحِرَافٌ فِي الْعَقِيدَةِ جَعَلُوا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَسَائِطَ مِنْ أَصْنَامٍ أَوْ مِنْ قُبُورٍ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ وَقَالُوا هَذِهِ الْوَسَائِطُ تُقَرِّبُنَا إلَى اللَّهِ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ فَأَرْسَلَ اللَّهُ الرُّسُلَ لِتُبَيِّنَ لِهَذِهِ الْأُمَمِ خَطَأَ هَذَا الِانْحِرَافِ وَأَنَّ الْوَاجِبَ عَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يَعْبُدَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ مُبَاشَرَةً مِنْ غَيْرِ أَنْ يَجْعَلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ وَسَائِطَ وَنَبِيُّنَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُعِثَ وَعُمْرُهُ أَرْبَعُونَ وَمَاتَ وَعُمْرُهُ ثَلَاثٌ وَسِتُّونَ أَيْ أَنَّهُ بَقِيَ فِي الْبِعْثَةِ وَالرِّسَالَةِ ثَلَاثًا وَعِشْرِينَ سَنَةً فَقَط أَمْضَى مِنْهَا ثَلَاثَ عَشْرَةَ سَنَةً فِي مَكَّةَ يَدْعُو النَّاسَ إِلَى تَحْقِيْقِ التَّوْحِيدِ وَإِخْلَاصِ الدِّينِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ لَمَّا هَاجَرَ إِلَى الْمَدِينَةِ فِي الْعَشْرِ السَّنَوَاتِ الْمُتَبَقِّيَةِ دَعَا النَّاسَ إلَى بَقِيَّةِ شَرَائِعِ الْإِسْلَامِ فَانْظُرُوا إِلَى عَظِيمِ شَأْنِ التَّوْحِيد بَقِيَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ثَلَاثَ عَشْرَةَ سَنَةً مِنْ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ يَدْعُو النَّاسَ إِلَى تَحْقِيْقِ التَّوْحِيدِ وَإِخْلَاصِ الدِّينِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيَنْبَغِي لَنَا أَنْ نَقْتَدِيَ بِرَسُولِنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبِالرُّسُلِ جَمِيعًا فِي الْعِنَايَةِ بِتَحْقِيقِ التَّوْحِيدِ وَإِخْلَاصِ الدِّينِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْإِنْسَانُ إِذَا مَاتَ عَلَى التَّوْحِيدِ فَهُوَ عَلَى خَيْرٍ وَإِلَى خَيْرٍ حَتَّى وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْكَبَائِرِ وَدَخَل النَّارَ وَعُذِّبَ فِي النَّارِ فَإِنَّ مَآلَهُ يَكُونُ بَعْدَ ذَلِكَ إِلَى الْجَنَّةِ وَمُعْتَقَدُ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ أَنَّ مَنْ مَاتَ عَلَى التَّوْحِيدِ مِنْ أَهْلِ الْكَبَائِرِ إِذَا دَخَلُوا النَّارَ لَا يُخَلَّدُونَ فِيهَا بَلْ يُخْرَجُونَ مِنْهَا بِرَحْمَةِ أَرْحَمِ الرَّاحِمِينَ وَيَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ فَمَنْ مَاتَ عَلَى التَّوْحِيدِ فَمَآلُهُ لِلْجَنَّةِ حَتَّى وَإِنْ عُذِّبَ فِي النَّارِ وَإِنَّمَا الْمُصِيبَةُ فِي مَنْ مَاتَ عَلَى الشِّرْكِ فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

Hadits Tauhid: Kunci Surga dengan Hati yang Yakin

Banyak orang mengucapkan “lā ilāha illallāh”, tetapi tidak semua benar-benar meresap dalam hati. Hadits ini menjelaskan syarat penting agar kalimat tauhid benar-benar mengantarkan ke surga. Di dalamnya juga tampak betapa besar cinta para sahabat kepada Nabi ﷺ dan bagaimana Islam membuka pintu harapan bagi setiap hamba.  Daftar Isi tutup 1. Hadits #424 dari Kitab Riyadhus Sholihin, Kitab Ar-Raja’ (Berharap kepada Allah) 2. Faedah Hadits 3. Penutup  Hadits #424 dari Kitab Riyadhus Sholihin, Kitab Ar-Raja’ (Berharap kepada Allah)ــ وعن أبي هريرةَ رضي الله عنه قال:كُنَّا قُعُوداً مَعَ رسولِ الله صلى الله عليه وسلم، مَعَنَا أَبُو بكر وعُمَرُ رضي الله عنهم في نَفَرٍ، فَقَامَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم مِنْ بَيْنِ أَظْهُرِنَا، فَأَبْطَأَ عَلَيْنَا، فَخَشِينَا أنْ يُقْتَطَعَ دُوننا، فَفَزِعْنَا، فَقُمْنَا، فَكُنْتُ أَوَّلَ مَنْ فَزِعَ، فَخَرَجْتُ أَبْتَغِي رسولَ الله صلى الله عليه وسلم، حَتَّىٰ أَتَيْتُ حَائِطاً لِلأَنْصَارِ ـ وَذَكَرَ بطُولِه إلىٰ قوله: ـ فقال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: «اذْهَبْ فَمَنْ لَقِيتَ وَرَاءَ هذَا الحَائِط يَشْهَدُ أَنْ لا إلهَ إلَّا الله، مُسْتَيْقِناً بِهَا قَلْبُهُ، فَبَشِّرْهُ بِالجَنَّةِ». رواه مسلم.Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:“Kami pernah duduk bersama Rasulullah ﷺ. Saat itu bersama kami ada Abu Bakar dan Umar radhiyallāhu ‘anhumā dalam satu rombongan. Lalu Rasulullah ﷺ berdiri meninggalkan kami. Beliau agak lama tidak kembali, sehingga kami khawatir beliau diambil dari kami atau ditimpa sesuatu yang membahayakan. Kami pun panik dan berdiri mencarinya. Akulah orang pertama yang panik. Aku keluar mencari Rasulullah ﷺ hingga sampai di sebuah kebun milik kaum Anshar.”Abu Hurairah lalu menyebutkan kisah ini secara panjang, sampai pada sabda Rasulullah ﷺ:“Pergilah. Siapa saja yang engkau temui di balik kebun ini, yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, sementara hatinya benar-benar yakin dengan kalimat itu, maka berilah kabar gembira kepadanya dengan surga.” (HR. Muslim, no. 31) Faedah HaditsHadits ini menunjukkan besarnya cinta para sahabat radhiyallāhu ‘anhum kepada Rasulullah ﷺ. Mereka sangat menjaga keselamatan beliau dari segala hal yang tidak disukai ketika beliau masih hidup. Adapun setelah wafatnya beliau ﷺ, bentuk penjagaan ahli tauhid dan pengikut sunnah adalah menjaga kemurnian sunnah beliau serta membelanya dari penyimpangan.Dianjurkan memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman dan membuka pintu harapan bagi mereka.Tauhid adalah kunci pintu surga. Karena itu, seorang hamba hendaknya benar-benar menjaga kemurnian dan kebenaran tauhidnya.Iman yang benar akan mengantarkan seseorang masuk surga, bisa jadi langsung sejak awal karena ampunan Allah, atau setelah sebelumnya ia masuk neraka (karena dosa) lalu kemudian dimasukkan ke dalam surga. PenutupDi zaman sekarang, banyak orang mengaku bertauhid, tetapi hatinya masih bergantung pada selain Allah. Kalimat tauhid sering diucapkan, namun belum sepenuhnya diyakini dan diamalkan. Karena itu, penting bagi kita untuk terus memperbaiki tauhid—bukan hanya dalam lisan, tetapi juga dalam hati dan perbuatan. Semoga kita termasuk hamba yang benar-benar jujur dalam tauhid dan diberi kabar gembira dengan surga. Referensi:Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-Nazhirin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 3). Damaskus.Baca Juga:Syarat Kalimat Laa Ilaha Illallah Yang Harus DipenuhiKeutamaan “Kalimat Laa Ilaha Illallah”—- Selesai ditulis di perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin, 11 Dzulqa’dah 1447 H, 27 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsaqidah islam Hadits Nabi iman keyakinan hati la ilaha illallah masuk surga motivasi iman riyadhus sholihin sahabat nabi sunnah nabi tauhid

Hadits Tauhid: Kunci Surga dengan Hati yang Yakin

Banyak orang mengucapkan “lā ilāha illallāh”, tetapi tidak semua benar-benar meresap dalam hati. Hadits ini menjelaskan syarat penting agar kalimat tauhid benar-benar mengantarkan ke surga. Di dalamnya juga tampak betapa besar cinta para sahabat kepada Nabi ﷺ dan bagaimana Islam membuka pintu harapan bagi setiap hamba.  Daftar Isi tutup 1. Hadits #424 dari Kitab Riyadhus Sholihin, Kitab Ar-Raja’ (Berharap kepada Allah) 2. Faedah Hadits 3. Penutup  Hadits #424 dari Kitab Riyadhus Sholihin, Kitab Ar-Raja’ (Berharap kepada Allah)ــ وعن أبي هريرةَ رضي الله عنه قال:كُنَّا قُعُوداً مَعَ رسولِ الله صلى الله عليه وسلم، مَعَنَا أَبُو بكر وعُمَرُ رضي الله عنهم في نَفَرٍ، فَقَامَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم مِنْ بَيْنِ أَظْهُرِنَا، فَأَبْطَأَ عَلَيْنَا، فَخَشِينَا أنْ يُقْتَطَعَ دُوننا، فَفَزِعْنَا، فَقُمْنَا، فَكُنْتُ أَوَّلَ مَنْ فَزِعَ، فَخَرَجْتُ أَبْتَغِي رسولَ الله صلى الله عليه وسلم، حَتَّىٰ أَتَيْتُ حَائِطاً لِلأَنْصَارِ ـ وَذَكَرَ بطُولِه إلىٰ قوله: ـ فقال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: «اذْهَبْ فَمَنْ لَقِيتَ وَرَاءَ هذَا الحَائِط يَشْهَدُ أَنْ لا إلهَ إلَّا الله، مُسْتَيْقِناً بِهَا قَلْبُهُ، فَبَشِّرْهُ بِالجَنَّةِ». رواه مسلم.Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:“Kami pernah duduk bersama Rasulullah ﷺ. Saat itu bersama kami ada Abu Bakar dan Umar radhiyallāhu ‘anhumā dalam satu rombongan. Lalu Rasulullah ﷺ berdiri meninggalkan kami. Beliau agak lama tidak kembali, sehingga kami khawatir beliau diambil dari kami atau ditimpa sesuatu yang membahayakan. Kami pun panik dan berdiri mencarinya. Akulah orang pertama yang panik. Aku keluar mencari Rasulullah ﷺ hingga sampai di sebuah kebun milik kaum Anshar.”Abu Hurairah lalu menyebutkan kisah ini secara panjang, sampai pada sabda Rasulullah ﷺ:“Pergilah. Siapa saja yang engkau temui di balik kebun ini, yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, sementara hatinya benar-benar yakin dengan kalimat itu, maka berilah kabar gembira kepadanya dengan surga.” (HR. Muslim, no. 31) Faedah HaditsHadits ini menunjukkan besarnya cinta para sahabat radhiyallāhu ‘anhum kepada Rasulullah ﷺ. Mereka sangat menjaga keselamatan beliau dari segala hal yang tidak disukai ketika beliau masih hidup. Adapun setelah wafatnya beliau ﷺ, bentuk penjagaan ahli tauhid dan pengikut sunnah adalah menjaga kemurnian sunnah beliau serta membelanya dari penyimpangan.Dianjurkan memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman dan membuka pintu harapan bagi mereka.Tauhid adalah kunci pintu surga. Karena itu, seorang hamba hendaknya benar-benar menjaga kemurnian dan kebenaran tauhidnya.Iman yang benar akan mengantarkan seseorang masuk surga, bisa jadi langsung sejak awal karena ampunan Allah, atau setelah sebelumnya ia masuk neraka (karena dosa) lalu kemudian dimasukkan ke dalam surga. PenutupDi zaman sekarang, banyak orang mengaku bertauhid, tetapi hatinya masih bergantung pada selain Allah. Kalimat tauhid sering diucapkan, namun belum sepenuhnya diyakini dan diamalkan. Karena itu, penting bagi kita untuk terus memperbaiki tauhid—bukan hanya dalam lisan, tetapi juga dalam hati dan perbuatan. Semoga kita termasuk hamba yang benar-benar jujur dalam tauhid dan diberi kabar gembira dengan surga. Referensi:Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-Nazhirin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 3). Damaskus.Baca Juga:Syarat Kalimat Laa Ilaha Illallah Yang Harus DipenuhiKeutamaan “Kalimat Laa Ilaha Illallah”—- Selesai ditulis di perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin, 11 Dzulqa’dah 1447 H, 27 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsaqidah islam Hadits Nabi iman keyakinan hati la ilaha illallah masuk surga motivasi iman riyadhus sholihin sahabat nabi sunnah nabi tauhid
Banyak orang mengucapkan “lā ilāha illallāh”, tetapi tidak semua benar-benar meresap dalam hati. Hadits ini menjelaskan syarat penting agar kalimat tauhid benar-benar mengantarkan ke surga. Di dalamnya juga tampak betapa besar cinta para sahabat kepada Nabi ﷺ dan bagaimana Islam membuka pintu harapan bagi setiap hamba.  Daftar Isi tutup 1. Hadits #424 dari Kitab Riyadhus Sholihin, Kitab Ar-Raja’ (Berharap kepada Allah) 2. Faedah Hadits 3. Penutup  Hadits #424 dari Kitab Riyadhus Sholihin, Kitab Ar-Raja’ (Berharap kepada Allah)ــ وعن أبي هريرةَ رضي الله عنه قال:كُنَّا قُعُوداً مَعَ رسولِ الله صلى الله عليه وسلم، مَعَنَا أَبُو بكر وعُمَرُ رضي الله عنهم في نَفَرٍ، فَقَامَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم مِنْ بَيْنِ أَظْهُرِنَا، فَأَبْطَأَ عَلَيْنَا، فَخَشِينَا أنْ يُقْتَطَعَ دُوننا، فَفَزِعْنَا، فَقُمْنَا، فَكُنْتُ أَوَّلَ مَنْ فَزِعَ، فَخَرَجْتُ أَبْتَغِي رسولَ الله صلى الله عليه وسلم، حَتَّىٰ أَتَيْتُ حَائِطاً لِلأَنْصَارِ ـ وَذَكَرَ بطُولِه إلىٰ قوله: ـ فقال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: «اذْهَبْ فَمَنْ لَقِيتَ وَرَاءَ هذَا الحَائِط يَشْهَدُ أَنْ لا إلهَ إلَّا الله، مُسْتَيْقِناً بِهَا قَلْبُهُ، فَبَشِّرْهُ بِالجَنَّةِ». رواه مسلم.Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:“Kami pernah duduk bersama Rasulullah ﷺ. Saat itu bersama kami ada Abu Bakar dan Umar radhiyallāhu ‘anhumā dalam satu rombongan. Lalu Rasulullah ﷺ berdiri meninggalkan kami. Beliau agak lama tidak kembali, sehingga kami khawatir beliau diambil dari kami atau ditimpa sesuatu yang membahayakan. Kami pun panik dan berdiri mencarinya. Akulah orang pertama yang panik. Aku keluar mencari Rasulullah ﷺ hingga sampai di sebuah kebun milik kaum Anshar.”Abu Hurairah lalu menyebutkan kisah ini secara panjang, sampai pada sabda Rasulullah ﷺ:“Pergilah. Siapa saja yang engkau temui di balik kebun ini, yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, sementara hatinya benar-benar yakin dengan kalimat itu, maka berilah kabar gembira kepadanya dengan surga.” (HR. Muslim, no. 31) Faedah HaditsHadits ini menunjukkan besarnya cinta para sahabat radhiyallāhu ‘anhum kepada Rasulullah ﷺ. Mereka sangat menjaga keselamatan beliau dari segala hal yang tidak disukai ketika beliau masih hidup. Adapun setelah wafatnya beliau ﷺ, bentuk penjagaan ahli tauhid dan pengikut sunnah adalah menjaga kemurnian sunnah beliau serta membelanya dari penyimpangan.Dianjurkan memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman dan membuka pintu harapan bagi mereka.Tauhid adalah kunci pintu surga. Karena itu, seorang hamba hendaknya benar-benar menjaga kemurnian dan kebenaran tauhidnya.Iman yang benar akan mengantarkan seseorang masuk surga, bisa jadi langsung sejak awal karena ampunan Allah, atau setelah sebelumnya ia masuk neraka (karena dosa) lalu kemudian dimasukkan ke dalam surga. PenutupDi zaman sekarang, banyak orang mengaku bertauhid, tetapi hatinya masih bergantung pada selain Allah. Kalimat tauhid sering diucapkan, namun belum sepenuhnya diyakini dan diamalkan. Karena itu, penting bagi kita untuk terus memperbaiki tauhid—bukan hanya dalam lisan, tetapi juga dalam hati dan perbuatan. Semoga kita termasuk hamba yang benar-benar jujur dalam tauhid dan diberi kabar gembira dengan surga. Referensi:Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-Nazhirin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 3). Damaskus.Baca Juga:Syarat Kalimat Laa Ilaha Illallah Yang Harus DipenuhiKeutamaan “Kalimat Laa Ilaha Illallah”—- Selesai ditulis di perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin, 11 Dzulqa’dah 1447 H, 27 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsaqidah islam Hadits Nabi iman keyakinan hati la ilaha illallah masuk surga motivasi iman riyadhus sholihin sahabat nabi sunnah nabi tauhid


Banyak orang mengucapkan “lā ilāha illallāh”, tetapi tidak semua benar-benar meresap dalam hati. Hadits ini menjelaskan syarat penting agar kalimat tauhid benar-benar mengantarkan ke surga. Di dalamnya juga tampak betapa besar cinta para sahabat kepada Nabi ﷺ dan bagaimana Islam membuka pintu harapan bagi setiap hamba.  Daftar Isi tutup 1. Hadits #424 dari Kitab Riyadhus Sholihin, Kitab Ar-Raja’ (Berharap kepada Allah) 2. Faedah Hadits 3. Penutup  Hadits #424 dari Kitab Riyadhus Sholihin, Kitab Ar-Raja’ (Berharap kepada Allah)ــ وعن أبي هريرةَ رضي الله عنه قال:كُنَّا قُعُوداً مَعَ رسولِ الله صلى الله عليه وسلم، مَعَنَا أَبُو بكر وعُمَرُ رضي الله عنهم في نَفَرٍ، فَقَامَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم مِنْ بَيْنِ أَظْهُرِنَا، فَأَبْطَأَ عَلَيْنَا، فَخَشِينَا أنْ يُقْتَطَعَ دُوننا، فَفَزِعْنَا، فَقُمْنَا، فَكُنْتُ أَوَّلَ مَنْ فَزِعَ، فَخَرَجْتُ أَبْتَغِي رسولَ الله صلى الله عليه وسلم، حَتَّىٰ أَتَيْتُ حَائِطاً لِلأَنْصَارِ ـ وَذَكَرَ بطُولِه إلىٰ قوله: ـ فقال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: «اذْهَبْ فَمَنْ لَقِيتَ وَرَاءَ هذَا الحَائِط يَشْهَدُ أَنْ لا إلهَ إلَّا الله، مُسْتَيْقِناً بِهَا قَلْبُهُ، فَبَشِّرْهُ بِالجَنَّةِ». رواه مسلم.Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:“Kami pernah duduk bersama Rasulullah ﷺ. Saat itu bersama kami ada Abu Bakar dan Umar radhiyallāhu ‘anhumā dalam satu rombongan. Lalu Rasulullah ﷺ berdiri meninggalkan kami. Beliau agak lama tidak kembali, sehingga kami khawatir beliau diambil dari kami atau ditimpa sesuatu yang membahayakan. Kami pun panik dan berdiri mencarinya. Akulah orang pertama yang panik. Aku keluar mencari Rasulullah ﷺ hingga sampai di sebuah kebun milik kaum Anshar.”Abu Hurairah lalu menyebutkan kisah ini secara panjang, sampai pada sabda Rasulullah ﷺ:“Pergilah. Siapa saja yang engkau temui di balik kebun ini, yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, sementara hatinya benar-benar yakin dengan kalimat itu, maka berilah kabar gembira kepadanya dengan surga.” (HR. Muslim, no. 31) Faedah HaditsHadits ini menunjukkan besarnya cinta para sahabat radhiyallāhu ‘anhum kepada Rasulullah ﷺ. Mereka sangat menjaga keselamatan beliau dari segala hal yang tidak disukai ketika beliau masih hidup. Adapun setelah wafatnya beliau ﷺ, bentuk penjagaan ahli tauhid dan pengikut sunnah adalah menjaga kemurnian sunnah beliau serta membelanya dari penyimpangan.Dianjurkan memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman dan membuka pintu harapan bagi mereka.Tauhid adalah kunci pintu surga. Karena itu, seorang hamba hendaknya benar-benar menjaga kemurnian dan kebenaran tauhidnya.Iman yang benar akan mengantarkan seseorang masuk surga, bisa jadi langsung sejak awal karena ampunan Allah, atau setelah sebelumnya ia masuk neraka (karena dosa) lalu kemudian dimasukkan ke dalam surga. PenutupDi zaman sekarang, banyak orang mengaku bertauhid, tetapi hatinya masih bergantung pada selain Allah. Kalimat tauhid sering diucapkan, namun belum sepenuhnya diyakini dan diamalkan. Karena itu, penting bagi kita untuk terus memperbaiki tauhid—bukan hanya dalam lisan, tetapi juga dalam hati dan perbuatan. Semoga kita termasuk hamba yang benar-benar jujur dalam tauhid dan diberi kabar gembira dengan surga. Referensi:Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-Nazhirin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 3). Damaskus.Baca Juga:Syarat Kalimat Laa Ilaha Illallah Yang Harus DipenuhiKeutamaan “Kalimat Laa Ilaha Illallah”—- Selesai ditulis di perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin, 11 Dzulqa’dah 1447 H, 27 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsaqidah islam Hadits Nabi iman keyakinan hati la ilaha illallah masuk surga motivasi iman riyadhus sholihin sahabat nabi sunnah nabi tauhid

Hidup Hemat di Tengah Zaman Konsumtif

Daftar Isi ToggleLarangan israf dan tabdzirBahaya bermegah-megahanQana’ah dan rasa cukupDunia di tangan, bukan di hatiZaman ini bukan hanya zaman kemudahan, tetapi juga zaman yang penuh dengan ujian yang tersirat dan tak terasa. Ujian itu tidak selalu datang dalam bentuk kekurangan dan kesulitan, justru sering datang dalam bentuk kelapangan dan kemudahan. Apa yang dahulu sulit didapat, kini begitu mudah dibeli. Apa yang dahulu harus ditunggu, kini bisa diperoleh dalam hitungan detik. Manusia tidak lagi kesulitan mencari barang, tetapi kesulitan menahan diri.Allah mengingatkan,كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَىٰ أَن رَّآهُ اسْتَغْنَىٰ“Ketahuilah, sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas ketika ia merasa cukup.” (QS. Al-‘Alaq: 6–7)Allah Azza wa Jalla telah mengingatkan hakikat dunia sejak awal,اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kalian, dan berlomba-lomba dalam harta dan anak.” (QS. Al-Hadid: 20)Perhatikan susunan ayat ini. Allah menyebut permainan, hiburan, perhiasan, kebanggaan, lalu perlombaan dalam harta dan anak keturunan. Seakan Allah menggambarkan fase demi fase manusia yang larut dalam dunia hingga lupa bahwa ia sedang berjalan menuju akhirat.Syekh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan dengan sangat jelas dan panjang lebar dalam kitab tafsirnya, kemudian memberikan nasihat yang begitu indah dan berkata,وهذا مصداقه وقوعه من محبي الدنيا والمطمئنين إليها؛ بخلاف من عرفت الدنيا وحقيقتها، فجعلها معبراً، ولم يجعلها مستقراً، فنافس فيما يقربه إلى الله، واتخذ الوسائل التي توصله إلى دار كرامته، وإذا رأى من يكاثره وينافسه في الأموال والأولاد؛ نافسه بالأعمال الصالحة“Hal ini terbukti terjadi pada orang-orang yang mencintai dunia dan merasa tenang dengannya. Berbeda dengan orang yang mengenal dunia dan hakikatnya. Ia menjadikannya hanya sebagai tempat persinggahan, bukan sebagai tempat menetap. Maka ia berlomba dalam hal-hal yang mendekatkannya kepada Allah, dan mengambil berbagai sarana yang dapat mengantarkannya menuju negeri kemuliaan-Nya. Dan apabila ia melihat orang lain saling berlomba serta berbangga-bangga dalam harta dan anak-anak, maka ia menyaingi mereka dengan amal-amal saleh.” [1]Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ“Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Ali ‘Imran: 185)Larangan israf dan tabdzirDi antara sifat tercela yang dilarang oleh syariat adalah sifat israf (berlebihan) dan tabdzir (boros). Ar-Raghib rahimahullah berkata,هو تجاوُز الحدِّ في كل فعل يفعله الإنسان، وإن كان ذلك في الإنفاق أَشْهَرَ“Israf adalah melampaui batas dalam setiap perbuatan yang dilakukan manusia, meskipun istilah ini lebih sering digunakan dalam konteks pengeluaran harta.” [2]Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata,ما أنفقتَ في غير طاعة الله سَرفٌ، وإن كان ذلك قليلًا“Apa saja yang engkau infakkan bukan dalam ketaatan kepada Allah adalah pemborosan (israf), walaupun jumlahnya sedikit.” [3]Sebagian ulama membedakan antara tabdzir (menghambur-hamburkan harta) dan israf (berlebihan).Tabdzir adalah mengeluarkan harta bukan pada tempatnya baik dalam maksiat atau tanpa manfaat, karena bermain-main dan meremehkan harta.Adapun israf adalah berlebihan dalam makanan, minuman, dan pakaian, tanpa kebutuhan.Islam bukan agama yang memusuhi kenikmatan, tetapi ia mengatur agar kenikmatan tidak berubah menjadi kebinasaan.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A‘raf: 31)Sebagian salaf berkata,جَمَعَ اللَّهُ الطِّبَّ في نصف آية:  وكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا“Allah telah menghimpun ilmu kesehatan dalam setengah ayat, ‘Makan dan minumlah, dan jangan berlebihan.’” [4]Allah juga berfirman,وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ“Dan tunaikanlah haknya pada hari memetik hasilnya, dan janganlah berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-An’am: 141)‘Atha’ bin Abi Rabah berkata,نُهُوا عن الإسراف في كلِّ شيءٍ“Mereka dilarang berlebihan dalam segala sesuatu.” [5]Ibnu Katsir menjelaskan,ولا تسرفوا في الأكل؛ لِمَا فيه من مضرَّة العقل والبَدَن“Yakni jangan berlebihan dalam makan, karena hal itu membahayakan akal dan badan.” [6] Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya radhiyallahu ‘anhum, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كُلُوا، وتصدَّقوا، والبسوا، في غير إسرافٍ ولا مَخِيلَةٍ“Makanlah, bersedekahlah, dan berpakaianlah, tanpa berlebihan dan tanpa kesombongan.” (HR. An-Nasa’i)Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,كُلْ ما شئتَ، والْبَسْ ما شئتَ، ما أخطأَتْكَ اثنتانِ: سَرفٌ أو مَخِيلَةٌ“Makanlah apa yang engkau mau, dan pakailah apa yang engkau mau, selama terhindar dari dua hal: berlebihan dan sombong.” [7]Dari Miqdam bin Ma‘di Karib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما مَلأَ آدميٌّ وِعاءً شرًّا مِن بطنه، بحسْبِ ابن آدم أُكُلاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَه، فإن كان لا محالة، فثُلُثٌ لطعامه، وثُلُثٌ لِشَرَابه، وثُلُثٌ لِنَفَسِه“Tidaklah anak Adam memenuhi suatu wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika harus lebih, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya, dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. At-Tirmidzi dan berkata: hadis hasan shahih)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا“Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra’: 27)Bahaya bermegah-megahanAllah Azza wa Jalla berfirman,أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ۝ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian sampai kalian masuk kubur.” (QS. At-Takatsur: 1–2)Bermegah-megahan bisa dalam jumlah harta, kendaraan, rumah, bahkan dalam gaya hidup.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima tobat orang-orang yang bertobat.” (Muttafaqun ‘alaih)Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam  juga bersabda,فواللهِ ما الفَقرَ أخشى علَيكُم، ولَكِنِّي أخشى أن تُبسَطَ عليكُمُ الدُّنيا كما بُسِطَت على مَن كان قَبلَكُم، فتَنافَسوها كما تَنافَسوها، وتُهلِكَكُم كما أهلَكَتْهم“Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian, tetapi aku khawatir dunia dibentangkan untuk kalian sebagaimana dibentangkan untuk orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba padanya sebagaimana mereka berlomba-lomba, sehingga ia membinasakan kalian sebagaimana membinasakan mereka.” (HR. Bukhari)Qana’ah dan rasa cukupAllah juga memuji hamba-hamba-Nya yang pertengahan,وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta, mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir, tetapi berada di tengah-tengah antara keduanya.” (QS. Al-Furqan: 67)Ibnu Katsir menjelaskan,ليسوا بمبذِّرين في إنفاقهم، فيَصْرِفون فوق الحاجة، ولا بُخلاء على أهليهم، فيُقصِّرون في حقِّهم، فلا يكْفُونَهم؛ بل عدلًا خيارًا، وخير الأمور أوسطها، لا هذا ولا هذا“Mereka tidak menghamburkan harta melampaui kebutuhan, dan tidak pula bakhil terhadap keluarga sehingga mengurangi hak mereka. Mereka bersikap adil dan pilihan terbaik, dan sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan.”Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,قَدْ أَفْلَحَ مَنْ هُدِىَ إِلَى الإِسْلاَمِ وَرُزِقَ الْكَفَافَ وَقَنِعَ بِهِ”Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi rezeki yang cukup, dan qana’ah (merasa cukup) dengan rezeki tersebut.” (HR. Ibnu Majah, Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini shahih)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْبِ وَالْفَقْرُ فَقْرُ الْقَلْبِ“Sesungguhnya kekayaan itu adalah kekayaan hati, dan kefakiran itu adalah kefakiran hati.” (HR. An-Nasa’i, Ibnu Hibban, disahihkan Al-Albani)Dunia di tangan, bukan di hatiAllah Azza wa Jalla berfirman,مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ وَمَا عِندَ اللَّهِ بَاقٍ“Apa yang ada di sisi kalian akan habis, dan apa yang ada di sisi Allah akan kekal.” (QS. An-Nahl: 96)Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah.” (QS. Al-Munafiqun: 9)Harta bukan musuh. Tetapi ketika ia melalaikan, ia menjadi bahaya.Hemat adalah bentuk kesadaran.Hemat adalah latihan menahan nafsu.Hemat adalah bukti bahwa akhirat lebih kita cintai daripada dunia.Karena pada akhirnya, ketika kita berdiri di hadapan Allah, yang ditanya bukan apa yang kita miliki, tetapi bagaimana kita menggunakannya.Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata,ما أنفقتَ على نفسِكَ وأهلِ بيتكَ، في غير سَرفٍ ولا تبذير، وما تصدَّقتَ به، فهو لك. وما أنفقتَ رياءً وسمعةً، فذلك حظُّ الشيطان“Apa yang engkau infakkan untuk dirimu dan keluargamu tanpa berlebihan dan tanpa pemborosan, serta apa yang engkau sedekahkan, maka itu menjadi milikmu (di akhirat). Adapun yang engkau infakkan karena riya dan ingin dipuji, maka itu bagian setan.” [8]Ibnu al-Jauzi rahimahullah berkata,العاقل يُدبِّر بعقله معيشتَه في الدنيا، فإن كان فقيرًا اجتهَد في كسبٍ وصناعةٍ تَكُفُّهُ عن الذُّلِّ للخَلْق، وقلَّل العلائقَ، واستعملَ القَناعة؛ فعاش سليمًا من مِنَن الناس، عزيزًا بينهم، وإن كان غنيًّا، فينبغي له أن يُدبِّر في نَفَقَتِه؛ خوفَ أن يفتقر، فيحتاج إلى الذُّلِّ للخَلْق“Orang berakal mengatur kehidupannya dengan akalnya. Jika ia miskin, ia berusaha mencari nafkah agar tidak hina di hadapan manusia. Jika ia kaya, ia mengatur pengeluarannya agar tidak jatuh miskin dan terhina.” [9]Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْس”Yang namanya kaya bukanlah dengan memiliki banyak harta, akan tetapi yang namanya kaya adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)Semoga Allah menjadikan dunia di tangan kita, bukan di hati kita.Wallahu Ta‘ala a‘lam.***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Referensi:[1] Tafsir Al-Kariim Ar-Rahman fii Tafsiri Kalam Al-Mannan, hal. 1001.[2] Mausu’ah Nadhrotu An-Na’iim, 9: 3994.[3] Ibid.[4] Tafsir Ibnu Katsir, 2: 210.[5] Ibid, 2: 182.[6] Ibid, 2: 182.[7] Shahih Bukhari, 4: 53.[8] Ad-Dar Al-Mantsur, 5: 275.[9] Shaid Al-Khathir, hal. 404.

Hidup Hemat di Tengah Zaman Konsumtif

Daftar Isi ToggleLarangan israf dan tabdzirBahaya bermegah-megahanQana’ah dan rasa cukupDunia di tangan, bukan di hatiZaman ini bukan hanya zaman kemudahan, tetapi juga zaman yang penuh dengan ujian yang tersirat dan tak terasa. Ujian itu tidak selalu datang dalam bentuk kekurangan dan kesulitan, justru sering datang dalam bentuk kelapangan dan kemudahan. Apa yang dahulu sulit didapat, kini begitu mudah dibeli. Apa yang dahulu harus ditunggu, kini bisa diperoleh dalam hitungan detik. Manusia tidak lagi kesulitan mencari barang, tetapi kesulitan menahan diri.Allah mengingatkan,كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَىٰ أَن رَّآهُ اسْتَغْنَىٰ“Ketahuilah, sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas ketika ia merasa cukup.” (QS. Al-‘Alaq: 6–7)Allah Azza wa Jalla telah mengingatkan hakikat dunia sejak awal,اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kalian, dan berlomba-lomba dalam harta dan anak.” (QS. Al-Hadid: 20)Perhatikan susunan ayat ini. Allah menyebut permainan, hiburan, perhiasan, kebanggaan, lalu perlombaan dalam harta dan anak keturunan. Seakan Allah menggambarkan fase demi fase manusia yang larut dalam dunia hingga lupa bahwa ia sedang berjalan menuju akhirat.Syekh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan dengan sangat jelas dan panjang lebar dalam kitab tafsirnya, kemudian memberikan nasihat yang begitu indah dan berkata,وهذا مصداقه وقوعه من محبي الدنيا والمطمئنين إليها؛ بخلاف من عرفت الدنيا وحقيقتها، فجعلها معبراً، ولم يجعلها مستقراً، فنافس فيما يقربه إلى الله، واتخذ الوسائل التي توصله إلى دار كرامته، وإذا رأى من يكاثره وينافسه في الأموال والأولاد؛ نافسه بالأعمال الصالحة“Hal ini terbukti terjadi pada orang-orang yang mencintai dunia dan merasa tenang dengannya. Berbeda dengan orang yang mengenal dunia dan hakikatnya. Ia menjadikannya hanya sebagai tempat persinggahan, bukan sebagai tempat menetap. Maka ia berlomba dalam hal-hal yang mendekatkannya kepada Allah, dan mengambil berbagai sarana yang dapat mengantarkannya menuju negeri kemuliaan-Nya. Dan apabila ia melihat orang lain saling berlomba serta berbangga-bangga dalam harta dan anak-anak, maka ia menyaingi mereka dengan amal-amal saleh.” [1]Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ“Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Ali ‘Imran: 185)Larangan israf dan tabdzirDi antara sifat tercela yang dilarang oleh syariat adalah sifat israf (berlebihan) dan tabdzir (boros). Ar-Raghib rahimahullah berkata,هو تجاوُز الحدِّ في كل فعل يفعله الإنسان، وإن كان ذلك في الإنفاق أَشْهَرَ“Israf adalah melampaui batas dalam setiap perbuatan yang dilakukan manusia, meskipun istilah ini lebih sering digunakan dalam konteks pengeluaran harta.” [2]Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata,ما أنفقتَ في غير طاعة الله سَرفٌ، وإن كان ذلك قليلًا“Apa saja yang engkau infakkan bukan dalam ketaatan kepada Allah adalah pemborosan (israf), walaupun jumlahnya sedikit.” [3]Sebagian ulama membedakan antara tabdzir (menghambur-hamburkan harta) dan israf (berlebihan).Tabdzir adalah mengeluarkan harta bukan pada tempatnya baik dalam maksiat atau tanpa manfaat, karena bermain-main dan meremehkan harta.Adapun israf adalah berlebihan dalam makanan, minuman, dan pakaian, tanpa kebutuhan.Islam bukan agama yang memusuhi kenikmatan, tetapi ia mengatur agar kenikmatan tidak berubah menjadi kebinasaan.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A‘raf: 31)Sebagian salaf berkata,جَمَعَ اللَّهُ الطِّبَّ في نصف آية:  وكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا“Allah telah menghimpun ilmu kesehatan dalam setengah ayat, ‘Makan dan minumlah, dan jangan berlebihan.’” [4]Allah juga berfirman,وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ“Dan tunaikanlah haknya pada hari memetik hasilnya, dan janganlah berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-An’am: 141)‘Atha’ bin Abi Rabah berkata,نُهُوا عن الإسراف في كلِّ شيءٍ“Mereka dilarang berlebihan dalam segala sesuatu.” [5]Ibnu Katsir menjelaskan,ولا تسرفوا في الأكل؛ لِمَا فيه من مضرَّة العقل والبَدَن“Yakni jangan berlebihan dalam makan, karena hal itu membahayakan akal dan badan.” [6] Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya radhiyallahu ‘anhum, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كُلُوا، وتصدَّقوا، والبسوا، في غير إسرافٍ ولا مَخِيلَةٍ“Makanlah, bersedekahlah, dan berpakaianlah, tanpa berlebihan dan tanpa kesombongan.” (HR. An-Nasa’i)Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,كُلْ ما شئتَ، والْبَسْ ما شئتَ، ما أخطأَتْكَ اثنتانِ: سَرفٌ أو مَخِيلَةٌ“Makanlah apa yang engkau mau, dan pakailah apa yang engkau mau, selama terhindar dari dua hal: berlebihan dan sombong.” [7]Dari Miqdam bin Ma‘di Karib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما مَلأَ آدميٌّ وِعاءً شرًّا مِن بطنه، بحسْبِ ابن آدم أُكُلاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَه، فإن كان لا محالة، فثُلُثٌ لطعامه، وثُلُثٌ لِشَرَابه، وثُلُثٌ لِنَفَسِه“Tidaklah anak Adam memenuhi suatu wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika harus lebih, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya, dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. At-Tirmidzi dan berkata: hadis hasan shahih)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا“Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra’: 27)Bahaya bermegah-megahanAllah Azza wa Jalla berfirman,أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ۝ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian sampai kalian masuk kubur.” (QS. At-Takatsur: 1–2)Bermegah-megahan bisa dalam jumlah harta, kendaraan, rumah, bahkan dalam gaya hidup.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima tobat orang-orang yang bertobat.” (Muttafaqun ‘alaih)Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam  juga bersabda,فواللهِ ما الفَقرَ أخشى علَيكُم، ولَكِنِّي أخشى أن تُبسَطَ عليكُمُ الدُّنيا كما بُسِطَت على مَن كان قَبلَكُم، فتَنافَسوها كما تَنافَسوها، وتُهلِكَكُم كما أهلَكَتْهم“Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian, tetapi aku khawatir dunia dibentangkan untuk kalian sebagaimana dibentangkan untuk orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba padanya sebagaimana mereka berlomba-lomba, sehingga ia membinasakan kalian sebagaimana membinasakan mereka.” (HR. Bukhari)Qana’ah dan rasa cukupAllah juga memuji hamba-hamba-Nya yang pertengahan,وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta, mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir, tetapi berada di tengah-tengah antara keduanya.” (QS. Al-Furqan: 67)Ibnu Katsir menjelaskan,ليسوا بمبذِّرين في إنفاقهم، فيَصْرِفون فوق الحاجة، ولا بُخلاء على أهليهم، فيُقصِّرون في حقِّهم، فلا يكْفُونَهم؛ بل عدلًا خيارًا، وخير الأمور أوسطها، لا هذا ولا هذا“Mereka tidak menghamburkan harta melampaui kebutuhan, dan tidak pula bakhil terhadap keluarga sehingga mengurangi hak mereka. Mereka bersikap adil dan pilihan terbaik, dan sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan.”Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,قَدْ أَفْلَحَ مَنْ هُدِىَ إِلَى الإِسْلاَمِ وَرُزِقَ الْكَفَافَ وَقَنِعَ بِهِ”Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi rezeki yang cukup, dan qana’ah (merasa cukup) dengan rezeki tersebut.” (HR. Ibnu Majah, Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini shahih)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْبِ وَالْفَقْرُ فَقْرُ الْقَلْبِ“Sesungguhnya kekayaan itu adalah kekayaan hati, dan kefakiran itu adalah kefakiran hati.” (HR. An-Nasa’i, Ibnu Hibban, disahihkan Al-Albani)Dunia di tangan, bukan di hatiAllah Azza wa Jalla berfirman,مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ وَمَا عِندَ اللَّهِ بَاقٍ“Apa yang ada di sisi kalian akan habis, dan apa yang ada di sisi Allah akan kekal.” (QS. An-Nahl: 96)Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah.” (QS. Al-Munafiqun: 9)Harta bukan musuh. Tetapi ketika ia melalaikan, ia menjadi bahaya.Hemat adalah bentuk kesadaran.Hemat adalah latihan menahan nafsu.Hemat adalah bukti bahwa akhirat lebih kita cintai daripada dunia.Karena pada akhirnya, ketika kita berdiri di hadapan Allah, yang ditanya bukan apa yang kita miliki, tetapi bagaimana kita menggunakannya.Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata,ما أنفقتَ على نفسِكَ وأهلِ بيتكَ، في غير سَرفٍ ولا تبذير، وما تصدَّقتَ به، فهو لك. وما أنفقتَ رياءً وسمعةً، فذلك حظُّ الشيطان“Apa yang engkau infakkan untuk dirimu dan keluargamu tanpa berlebihan dan tanpa pemborosan, serta apa yang engkau sedekahkan, maka itu menjadi milikmu (di akhirat). Adapun yang engkau infakkan karena riya dan ingin dipuji, maka itu bagian setan.” [8]Ibnu al-Jauzi rahimahullah berkata,العاقل يُدبِّر بعقله معيشتَه في الدنيا، فإن كان فقيرًا اجتهَد في كسبٍ وصناعةٍ تَكُفُّهُ عن الذُّلِّ للخَلْق، وقلَّل العلائقَ، واستعملَ القَناعة؛ فعاش سليمًا من مِنَن الناس، عزيزًا بينهم، وإن كان غنيًّا، فينبغي له أن يُدبِّر في نَفَقَتِه؛ خوفَ أن يفتقر، فيحتاج إلى الذُّلِّ للخَلْق“Orang berakal mengatur kehidupannya dengan akalnya. Jika ia miskin, ia berusaha mencari nafkah agar tidak hina di hadapan manusia. Jika ia kaya, ia mengatur pengeluarannya agar tidak jatuh miskin dan terhina.” [9]Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْس”Yang namanya kaya bukanlah dengan memiliki banyak harta, akan tetapi yang namanya kaya adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)Semoga Allah menjadikan dunia di tangan kita, bukan di hati kita.Wallahu Ta‘ala a‘lam.***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Referensi:[1] Tafsir Al-Kariim Ar-Rahman fii Tafsiri Kalam Al-Mannan, hal. 1001.[2] Mausu’ah Nadhrotu An-Na’iim, 9: 3994.[3] Ibid.[4] Tafsir Ibnu Katsir, 2: 210.[5] Ibid, 2: 182.[6] Ibid, 2: 182.[7] Shahih Bukhari, 4: 53.[8] Ad-Dar Al-Mantsur, 5: 275.[9] Shaid Al-Khathir, hal. 404.
Daftar Isi ToggleLarangan israf dan tabdzirBahaya bermegah-megahanQana’ah dan rasa cukupDunia di tangan, bukan di hatiZaman ini bukan hanya zaman kemudahan, tetapi juga zaman yang penuh dengan ujian yang tersirat dan tak terasa. Ujian itu tidak selalu datang dalam bentuk kekurangan dan kesulitan, justru sering datang dalam bentuk kelapangan dan kemudahan. Apa yang dahulu sulit didapat, kini begitu mudah dibeli. Apa yang dahulu harus ditunggu, kini bisa diperoleh dalam hitungan detik. Manusia tidak lagi kesulitan mencari barang, tetapi kesulitan menahan diri.Allah mengingatkan,كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَىٰ أَن رَّآهُ اسْتَغْنَىٰ“Ketahuilah, sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas ketika ia merasa cukup.” (QS. Al-‘Alaq: 6–7)Allah Azza wa Jalla telah mengingatkan hakikat dunia sejak awal,اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kalian, dan berlomba-lomba dalam harta dan anak.” (QS. Al-Hadid: 20)Perhatikan susunan ayat ini. Allah menyebut permainan, hiburan, perhiasan, kebanggaan, lalu perlombaan dalam harta dan anak keturunan. Seakan Allah menggambarkan fase demi fase manusia yang larut dalam dunia hingga lupa bahwa ia sedang berjalan menuju akhirat.Syekh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan dengan sangat jelas dan panjang lebar dalam kitab tafsirnya, kemudian memberikan nasihat yang begitu indah dan berkata,وهذا مصداقه وقوعه من محبي الدنيا والمطمئنين إليها؛ بخلاف من عرفت الدنيا وحقيقتها، فجعلها معبراً، ولم يجعلها مستقراً، فنافس فيما يقربه إلى الله، واتخذ الوسائل التي توصله إلى دار كرامته، وإذا رأى من يكاثره وينافسه في الأموال والأولاد؛ نافسه بالأعمال الصالحة“Hal ini terbukti terjadi pada orang-orang yang mencintai dunia dan merasa tenang dengannya. Berbeda dengan orang yang mengenal dunia dan hakikatnya. Ia menjadikannya hanya sebagai tempat persinggahan, bukan sebagai tempat menetap. Maka ia berlomba dalam hal-hal yang mendekatkannya kepada Allah, dan mengambil berbagai sarana yang dapat mengantarkannya menuju negeri kemuliaan-Nya. Dan apabila ia melihat orang lain saling berlomba serta berbangga-bangga dalam harta dan anak-anak, maka ia menyaingi mereka dengan amal-amal saleh.” [1]Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ“Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Ali ‘Imran: 185)Larangan israf dan tabdzirDi antara sifat tercela yang dilarang oleh syariat adalah sifat israf (berlebihan) dan tabdzir (boros). Ar-Raghib rahimahullah berkata,هو تجاوُز الحدِّ في كل فعل يفعله الإنسان، وإن كان ذلك في الإنفاق أَشْهَرَ“Israf adalah melampaui batas dalam setiap perbuatan yang dilakukan manusia, meskipun istilah ini lebih sering digunakan dalam konteks pengeluaran harta.” [2]Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata,ما أنفقتَ في غير طاعة الله سَرفٌ، وإن كان ذلك قليلًا“Apa saja yang engkau infakkan bukan dalam ketaatan kepada Allah adalah pemborosan (israf), walaupun jumlahnya sedikit.” [3]Sebagian ulama membedakan antara tabdzir (menghambur-hamburkan harta) dan israf (berlebihan).Tabdzir adalah mengeluarkan harta bukan pada tempatnya baik dalam maksiat atau tanpa manfaat, karena bermain-main dan meremehkan harta.Adapun israf adalah berlebihan dalam makanan, minuman, dan pakaian, tanpa kebutuhan.Islam bukan agama yang memusuhi kenikmatan, tetapi ia mengatur agar kenikmatan tidak berubah menjadi kebinasaan.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A‘raf: 31)Sebagian salaf berkata,جَمَعَ اللَّهُ الطِّبَّ في نصف آية:  وكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا“Allah telah menghimpun ilmu kesehatan dalam setengah ayat, ‘Makan dan minumlah, dan jangan berlebihan.’” [4]Allah juga berfirman,وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ“Dan tunaikanlah haknya pada hari memetik hasilnya, dan janganlah berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-An’am: 141)‘Atha’ bin Abi Rabah berkata,نُهُوا عن الإسراف في كلِّ شيءٍ“Mereka dilarang berlebihan dalam segala sesuatu.” [5]Ibnu Katsir menjelaskan,ولا تسرفوا في الأكل؛ لِمَا فيه من مضرَّة العقل والبَدَن“Yakni jangan berlebihan dalam makan, karena hal itu membahayakan akal dan badan.” [6] Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya radhiyallahu ‘anhum, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كُلُوا، وتصدَّقوا، والبسوا، في غير إسرافٍ ولا مَخِيلَةٍ“Makanlah, bersedekahlah, dan berpakaianlah, tanpa berlebihan dan tanpa kesombongan.” (HR. An-Nasa’i)Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,كُلْ ما شئتَ، والْبَسْ ما شئتَ، ما أخطأَتْكَ اثنتانِ: سَرفٌ أو مَخِيلَةٌ“Makanlah apa yang engkau mau, dan pakailah apa yang engkau mau, selama terhindar dari dua hal: berlebihan dan sombong.” [7]Dari Miqdam bin Ma‘di Karib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما مَلأَ آدميٌّ وِعاءً شرًّا مِن بطنه، بحسْبِ ابن آدم أُكُلاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَه، فإن كان لا محالة، فثُلُثٌ لطعامه، وثُلُثٌ لِشَرَابه، وثُلُثٌ لِنَفَسِه“Tidaklah anak Adam memenuhi suatu wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika harus lebih, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya, dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. At-Tirmidzi dan berkata: hadis hasan shahih)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا“Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra’: 27)Bahaya bermegah-megahanAllah Azza wa Jalla berfirman,أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ۝ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian sampai kalian masuk kubur.” (QS. At-Takatsur: 1–2)Bermegah-megahan bisa dalam jumlah harta, kendaraan, rumah, bahkan dalam gaya hidup.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima tobat orang-orang yang bertobat.” (Muttafaqun ‘alaih)Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam  juga bersabda,فواللهِ ما الفَقرَ أخشى علَيكُم، ولَكِنِّي أخشى أن تُبسَطَ عليكُمُ الدُّنيا كما بُسِطَت على مَن كان قَبلَكُم، فتَنافَسوها كما تَنافَسوها، وتُهلِكَكُم كما أهلَكَتْهم“Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian, tetapi aku khawatir dunia dibentangkan untuk kalian sebagaimana dibentangkan untuk orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba padanya sebagaimana mereka berlomba-lomba, sehingga ia membinasakan kalian sebagaimana membinasakan mereka.” (HR. Bukhari)Qana’ah dan rasa cukupAllah juga memuji hamba-hamba-Nya yang pertengahan,وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta, mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir, tetapi berada di tengah-tengah antara keduanya.” (QS. Al-Furqan: 67)Ibnu Katsir menjelaskan,ليسوا بمبذِّرين في إنفاقهم، فيَصْرِفون فوق الحاجة، ولا بُخلاء على أهليهم، فيُقصِّرون في حقِّهم، فلا يكْفُونَهم؛ بل عدلًا خيارًا، وخير الأمور أوسطها، لا هذا ولا هذا“Mereka tidak menghamburkan harta melampaui kebutuhan, dan tidak pula bakhil terhadap keluarga sehingga mengurangi hak mereka. Mereka bersikap adil dan pilihan terbaik, dan sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan.”Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,قَدْ أَفْلَحَ مَنْ هُدِىَ إِلَى الإِسْلاَمِ وَرُزِقَ الْكَفَافَ وَقَنِعَ بِهِ”Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi rezeki yang cukup, dan qana’ah (merasa cukup) dengan rezeki tersebut.” (HR. Ibnu Majah, Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini shahih)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْبِ وَالْفَقْرُ فَقْرُ الْقَلْبِ“Sesungguhnya kekayaan itu adalah kekayaan hati, dan kefakiran itu adalah kefakiran hati.” (HR. An-Nasa’i, Ibnu Hibban, disahihkan Al-Albani)Dunia di tangan, bukan di hatiAllah Azza wa Jalla berfirman,مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ وَمَا عِندَ اللَّهِ بَاقٍ“Apa yang ada di sisi kalian akan habis, dan apa yang ada di sisi Allah akan kekal.” (QS. An-Nahl: 96)Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah.” (QS. Al-Munafiqun: 9)Harta bukan musuh. Tetapi ketika ia melalaikan, ia menjadi bahaya.Hemat adalah bentuk kesadaran.Hemat adalah latihan menahan nafsu.Hemat adalah bukti bahwa akhirat lebih kita cintai daripada dunia.Karena pada akhirnya, ketika kita berdiri di hadapan Allah, yang ditanya bukan apa yang kita miliki, tetapi bagaimana kita menggunakannya.Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata,ما أنفقتَ على نفسِكَ وأهلِ بيتكَ، في غير سَرفٍ ولا تبذير، وما تصدَّقتَ به، فهو لك. وما أنفقتَ رياءً وسمعةً، فذلك حظُّ الشيطان“Apa yang engkau infakkan untuk dirimu dan keluargamu tanpa berlebihan dan tanpa pemborosan, serta apa yang engkau sedekahkan, maka itu menjadi milikmu (di akhirat). Adapun yang engkau infakkan karena riya dan ingin dipuji, maka itu bagian setan.” [8]Ibnu al-Jauzi rahimahullah berkata,العاقل يُدبِّر بعقله معيشتَه في الدنيا، فإن كان فقيرًا اجتهَد في كسبٍ وصناعةٍ تَكُفُّهُ عن الذُّلِّ للخَلْق، وقلَّل العلائقَ، واستعملَ القَناعة؛ فعاش سليمًا من مِنَن الناس، عزيزًا بينهم، وإن كان غنيًّا، فينبغي له أن يُدبِّر في نَفَقَتِه؛ خوفَ أن يفتقر، فيحتاج إلى الذُّلِّ للخَلْق“Orang berakal mengatur kehidupannya dengan akalnya. Jika ia miskin, ia berusaha mencari nafkah agar tidak hina di hadapan manusia. Jika ia kaya, ia mengatur pengeluarannya agar tidak jatuh miskin dan terhina.” [9]Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْس”Yang namanya kaya bukanlah dengan memiliki banyak harta, akan tetapi yang namanya kaya adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)Semoga Allah menjadikan dunia di tangan kita, bukan di hati kita.Wallahu Ta‘ala a‘lam.***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Referensi:[1] Tafsir Al-Kariim Ar-Rahman fii Tafsiri Kalam Al-Mannan, hal. 1001.[2] Mausu’ah Nadhrotu An-Na’iim, 9: 3994.[3] Ibid.[4] Tafsir Ibnu Katsir, 2: 210.[5] Ibid, 2: 182.[6] Ibid, 2: 182.[7] Shahih Bukhari, 4: 53.[8] Ad-Dar Al-Mantsur, 5: 275.[9] Shaid Al-Khathir, hal. 404.


Daftar Isi ToggleLarangan israf dan tabdzirBahaya bermegah-megahanQana’ah dan rasa cukupDunia di tangan, bukan di hatiZaman ini bukan hanya zaman kemudahan, tetapi juga zaman yang penuh dengan ujian yang tersirat dan tak terasa. Ujian itu tidak selalu datang dalam bentuk kekurangan dan kesulitan, justru sering datang dalam bentuk kelapangan dan kemudahan. Apa yang dahulu sulit didapat, kini begitu mudah dibeli. Apa yang dahulu harus ditunggu, kini bisa diperoleh dalam hitungan detik. Manusia tidak lagi kesulitan mencari barang, tetapi kesulitan menahan diri.Allah mengingatkan,كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَىٰ أَن رَّآهُ اسْتَغْنَىٰ“Ketahuilah, sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas ketika ia merasa cukup.” (QS. Al-‘Alaq: 6–7)Allah Azza wa Jalla telah mengingatkan hakikat dunia sejak awal,اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kalian, dan berlomba-lomba dalam harta dan anak.” (QS. Al-Hadid: 20)Perhatikan susunan ayat ini. Allah menyebut permainan, hiburan, perhiasan, kebanggaan, lalu perlombaan dalam harta dan anak keturunan. Seakan Allah menggambarkan fase demi fase manusia yang larut dalam dunia hingga lupa bahwa ia sedang berjalan menuju akhirat.Syekh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan dengan sangat jelas dan panjang lebar dalam kitab tafsirnya, kemudian memberikan nasihat yang begitu indah dan berkata,وهذا مصداقه وقوعه من محبي الدنيا والمطمئنين إليها؛ بخلاف من عرفت الدنيا وحقيقتها، فجعلها معبراً، ولم يجعلها مستقراً، فنافس فيما يقربه إلى الله، واتخذ الوسائل التي توصله إلى دار كرامته، وإذا رأى من يكاثره وينافسه في الأموال والأولاد؛ نافسه بالأعمال الصالحة“Hal ini terbukti terjadi pada orang-orang yang mencintai dunia dan merasa tenang dengannya. Berbeda dengan orang yang mengenal dunia dan hakikatnya. Ia menjadikannya hanya sebagai tempat persinggahan, bukan sebagai tempat menetap. Maka ia berlomba dalam hal-hal yang mendekatkannya kepada Allah, dan mengambil berbagai sarana yang dapat mengantarkannya menuju negeri kemuliaan-Nya. Dan apabila ia melihat orang lain saling berlomba serta berbangga-bangga dalam harta dan anak-anak, maka ia menyaingi mereka dengan amal-amal saleh.” [1]Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ“Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Ali ‘Imran: 185)Larangan israf dan tabdzirDi antara sifat tercela yang dilarang oleh syariat adalah sifat israf (berlebihan) dan tabdzir (boros). Ar-Raghib rahimahullah berkata,هو تجاوُز الحدِّ في كل فعل يفعله الإنسان، وإن كان ذلك في الإنفاق أَشْهَرَ“Israf adalah melampaui batas dalam setiap perbuatan yang dilakukan manusia, meskipun istilah ini lebih sering digunakan dalam konteks pengeluaran harta.” [2]Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata,ما أنفقتَ في غير طاعة الله سَرفٌ، وإن كان ذلك قليلًا“Apa saja yang engkau infakkan bukan dalam ketaatan kepada Allah adalah pemborosan (israf), walaupun jumlahnya sedikit.” [3]Sebagian ulama membedakan antara tabdzir (menghambur-hamburkan harta) dan israf (berlebihan).Tabdzir adalah mengeluarkan harta bukan pada tempatnya baik dalam maksiat atau tanpa manfaat, karena bermain-main dan meremehkan harta.Adapun israf adalah berlebihan dalam makanan, minuman, dan pakaian, tanpa kebutuhan.Islam bukan agama yang memusuhi kenikmatan, tetapi ia mengatur agar kenikmatan tidak berubah menjadi kebinasaan.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A‘raf: 31)Sebagian salaf berkata,جَمَعَ اللَّهُ الطِّبَّ في نصف آية:  وكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا“Allah telah menghimpun ilmu kesehatan dalam setengah ayat, ‘Makan dan minumlah, dan jangan berlebihan.’” [4]Allah juga berfirman,وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ“Dan tunaikanlah haknya pada hari memetik hasilnya, dan janganlah berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-An’am: 141)‘Atha’ bin Abi Rabah berkata,نُهُوا عن الإسراف في كلِّ شيءٍ“Mereka dilarang berlebihan dalam segala sesuatu.” [5]Ibnu Katsir menjelaskan,ولا تسرفوا في الأكل؛ لِمَا فيه من مضرَّة العقل والبَدَن“Yakni jangan berlebihan dalam makan, karena hal itu membahayakan akal dan badan.” [6] Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya radhiyallahu ‘anhum, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كُلُوا، وتصدَّقوا، والبسوا، في غير إسرافٍ ولا مَخِيلَةٍ“Makanlah, bersedekahlah, dan berpakaianlah, tanpa berlebihan dan tanpa kesombongan.” (HR. An-Nasa’i)Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,كُلْ ما شئتَ، والْبَسْ ما شئتَ، ما أخطأَتْكَ اثنتانِ: سَرفٌ أو مَخِيلَةٌ“Makanlah apa yang engkau mau, dan pakailah apa yang engkau mau, selama terhindar dari dua hal: berlebihan dan sombong.” [7]Dari Miqdam bin Ma‘di Karib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما مَلأَ آدميٌّ وِعاءً شرًّا مِن بطنه، بحسْبِ ابن آدم أُكُلاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَه، فإن كان لا محالة، فثُلُثٌ لطعامه، وثُلُثٌ لِشَرَابه، وثُلُثٌ لِنَفَسِه“Tidaklah anak Adam memenuhi suatu wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika harus lebih, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya, dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. At-Tirmidzi dan berkata: hadis hasan shahih)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا“Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra’: 27)Bahaya bermegah-megahanAllah Azza wa Jalla berfirman,أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ۝ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian sampai kalian masuk kubur.” (QS. At-Takatsur: 1–2)Bermegah-megahan bisa dalam jumlah harta, kendaraan, rumah, bahkan dalam gaya hidup.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima tobat orang-orang yang bertobat.” (Muttafaqun ‘alaih)Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam  juga bersabda,فواللهِ ما الفَقرَ أخشى علَيكُم، ولَكِنِّي أخشى أن تُبسَطَ عليكُمُ الدُّنيا كما بُسِطَت على مَن كان قَبلَكُم، فتَنافَسوها كما تَنافَسوها، وتُهلِكَكُم كما أهلَكَتْهم“Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian, tetapi aku khawatir dunia dibentangkan untuk kalian sebagaimana dibentangkan untuk orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba padanya sebagaimana mereka berlomba-lomba, sehingga ia membinasakan kalian sebagaimana membinasakan mereka.” (HR. Bukhari)Qana’ah dan rasa cukupAllah juga memuji hamba-hamba-Nya yang pertengahan,وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta, mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir, tetapi berada di tengah-tengah antara keduanya.” (QS. Al-Furqan: 67)Ibnu Katsir menjelaskan,ليسوا بمبذِّرين في إنفاقهم، فيَصْرِفون فوق الحاجة، ولا بُخلاء على أهليهم، فيُقصِّرون في حقِّهم، فلا يكْفُونَهم؛ بل عدلًا خيارًا، وخير الأمور أوسطها، لا هذا ولا هذا“Mereka tidak menghamburkan harta melampaui kebutuhan, dan tidak pula bakhil terhadap keluarga sehingga mengurangi hak mereka. Mereka bersikap adil dan pilihan terbaik, dan sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan.”Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,قَدْ أَفْلَحَ مَنْ هُدِىَ إِلَى الإِسْلاَمِ وَرُزِقَ الْكَفَافَ وَقَنِعَ بِهِ”Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi rezeki yang cukup, dan qana’ah (merasa cukup) dengan rezeki tersebut.” (HR. Ibnu Majah, Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini shahih)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْبِ وَالْفَقْرُ فَقْرُ الْقَلْبِ“Sesungguhnya kekayaan itu adalah kekayaan hati, dan kefakiran itu adalah kefakiran hati.” (HR. An-Nasa’i, Ibnu Hibban, disahihkan Al-Albani)Dunia di tangan, bukan di hatiAllah Azza wa Jalla berfirman,مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ وَمَا عِندَ اللَّهِ بَاقٍ“Apa yang ada di sisi kalian akan habis, dan apa yang ada di sisi Allah akan kekal.” (QS. An-Nahl: 96)Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah.” (QS. Al-Munafiqun: 9)Harta bukan musuh. Tetapi ketika ia melalaikan, ia menjadi bahaya.Hemat adalah bentuk kesadaran.Hemat adalah latihan menahan nafsu.Hemat adalah bukti bahwa akhirat lebih kita cintai daripada dunia.Karena pada akhirnya, ketika kita berdiri di hadapan Allah, yang ditanya bukan apa yang kita miliki, tetapi bagaimana kita menggunakannya.Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata,ما أنفقتَ على نفسِكَ وأهلِ بيتكَ، في غير سَرفٍ ولا تبذير، وما تصدَّقتَ به، فهو لك. وما أنفقتَ رياءً وسمعةً، فذلك حظُّ الشيطان“Apa yang engkau infakkan untuk dirimu dan keluargamu tanpa berlebihan dan tanpa pemborosan, serta apa yang engkau sedekahkan, maka itu menjadi milikmu (di akhirat). Adapun yang engkau infakkan karena riya dan ingin dipuji, maka itu bagian setan.” [8]Ibnu al-Jauzi rahimahullah berkata,العاقل يُدبِّر بعقله معيشتَه في الدنيا، فإن كان فقيرًا اجتهَد في كسبٍ وصناعةٍ تَكُفُّهُ عن الذُّلِّ للخَلْق، وقلَّل العلائقَ، واستعملَ القَناعة؛ فعاش سليمًا من مِنَن الناس، عزيزًا بينهم، وإن كان غنيًّا، فينبغي له أن يُدبِّر في نَفَقَتِه؛ خوفَ أن يفتقر، فيحتاج إلى الذُّلِّ للخَلْق“Orang berakal mengatur kehidupannya dengan akalnya. Jika ia miskin, ia berusaha mencari nafkah agar tidak hina di hadapan manusia. Jika ia kaya, ia mengatur pengeluarannya agar tidak jatuh miskin dan terhina.” [9]Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْس”Yang namanya kaya bukanlah dengan memiliki banyak harta, akan tetapi yang namanya kaya adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)Semoga Allah menjadikan dunia di tangan kita, bukan di hati kita.Wallahu Ta‘ala a‘lam.***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Referensi:[1] Tafsir Al-Kariim Ar-Rahman fii Tafsiri Kalam Al-Mannan, hal. 1001.[2] Mausu’ah Nadhrotu An-Na’iim, 9: 3994.[3] Ibid.[4] Tafsir Ibnu Katsir, 2: 210.[5] Ibid, 2: 182.[6] Ibid, 2: 182.[7] Shahih Bukhari, 4: 53.[8] Ad-Dar Al-Mantsur, 5: 275.[9] Shaid Al-Khathir, hal. 404.

Orang yang Allah Kehendaki Mendapat Kebaikan

Oleh: Fahd bin Abdul Aziz Abdullah asy-Syuwairikh Iradah (Kehendak) merupakan salah satu sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang selalu ada pada-Nya. Para salaf telah menyepakati bahwa iradah merupakan sifat-Nya yang tetap dan ia merupakan kehendak hakiki yang sesuai dengan keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia terbagi menjadi dua jenis: Pertama: Iradah kauniyyah (kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala yang pasti berlaku di alam semesta) atau disebut juga dengan masyi’ah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:  فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ “Barang siapa yang Allah kehendaki untuk diberi petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk) Islam.” (QS. Al-An’am: 125). Kehendak jenis ini pasti terjadi, baik itu dalam hal yang disukai Allah Subhanahu wa Ta’ala maupun tidak. Kedua: Iradah syar’iyyah (kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sesuai dengan syariat-Nya). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ “Dan Allah hendak menerima taubat kalian.” (QS. An-Nisa: 27). Kehendak jenis ini tidak harus terjadi, dan hanya berupa hal yang disukai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Terdapat banyak faedah dalam hidup seorang hamba ketika dia mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki kehendak hakiki yang sesuai dengan keagungan-Nya. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah berkata: Kita dapat memperoleh dua faidah dari pengetahuan kita tentang kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kehidupan kita: Faedah pertama: Kita menggantungkan harapan, rasa takut, serta seluruh keadaan dan amalan kita hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena segala hal terjadi dengan kehendak-Nya. Hal ini akan mewujudkan sikap tawakal kita. Faedah kedua: Kita melaksanakan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki secara syariat. Apabila kita mengetahui bahwa suatu hal merupakan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam syariatnya dan Dia cintai, maka itu akan memperkuat keteguhan kita dalam melaksanakannya. Ada banyak nash yang menyatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki kebaikan bagi beberapa golongan manusia dan seorang hamba hendaknya berusaha dan berdoa kepada Tuhannya agar termasuk dari golongan tersebut, serta tetap bersabar dan ridha ketika terjadi hal yang tidak dia sukai selagi Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menakdirkannya dan menghendaki kebaikan baginya. Dan di antara golongan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki kebaikan bagi mereka adalah: 1. Orang yang lapang dada dalam menjalankan syiar-syiar Islam dengan sukacita dan bahagia:  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ “Barang siapa yang Allah kehendaki untuk diberi petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk) Islam. Dan barang siapa yang Dia kehendaki untuk disesatkan, niscaya Dia menjadikan dadanya sempit lagi sesak, seakan-akan dia sedang naik ke langit.” (QS. Al-An’am: 125). Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata: “Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ‘Barang siapa yang Allah kehendaki untuk diberi petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk) Islam’ Yakni dimaksud kehendak di sini adalah iradah kauniyyah, dan yang dimaksud dengan petunjuk adalah hidayah taufiq (hidayah yang membuat seseorang menerima jalan yang benar), sehingga engkau mendapatinya lapang dada terhadap syariat dan syiar-syiar Islam, menjalankannya dengan senang, bahagia, dan ringan. Apabila engkau mendapati hal ini dalam dirimu, maka ketahuilah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala sedang menghendaki kebaikan bagimu, menghendaki hidayah untukmu. Namun, barang siapa yang sempit hatinya –nau’dzubillah– maka ini adalah tanda Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menghendaki hidayah baginya, karena seandainya tidak demikian niscaya akan lapang dadanya.” 2. Orang yang diberi taufik untuk bertaubat dari dosa-dosanya sebelum meninggal dunia, serta semangat melakukan amal ketaatan lalu wafat dalam keadaan itu Diriwayatkan dari Abu Umamah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا طَهَّرَهُ قَبْلَ مَوْتِهِ، قَالُوا: وَمَا طُهُورُ الْعَبْدِ؟ قَالَ: عَمَلٌ صَالِحٌ يُلْهِمُهُ إِيَّاهُ حَتَّى يَقْبِضَهُ عَلَيْهِ “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia akan menyucikannya sebelum meninggal dunia.” Para sahabat bertanya: “Apa itu penyucian seorang hamba?” Beliau menjawab: “Yaitu amal saleh yang Allah ilhamkan kepadanya hingga Dia mewafatkannya di atas amalan itu.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Kabir). Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ، قِيلَ: وَكَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ؟ قَالَ: يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ الْمَوْتِ “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia akan menggunakannya.” Beliau lalu ditanya: “Bagaimana Allah menggunakannya?” Dan beliau menjawab: “Dia memberinya taufik untuk melakukan amal saleh sebelum kematian.” (HR. At-Tirmidzi). Para ulama menjelaskan: “Yakni memberinya taufik sebelum kematiannya untuk bertaubat dan konsisten menjalankan amal shaleh serta menjauhi hal-hal yang melanggar agama, lalu dia diwafatkan di atas hal itu, dia diberi karunia yang besar atas amalannya yang sedikit.” 3. Keluarga yang lembut dalam ucapan dan perbuatan Diriwayatkan dari Ummul Mu’minin Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِأَهْلِ بَيْتٍ خَيْرًا أَدْخَلَ عَلَيْهِمُ الرِّفْقَ “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi suatu keluarga, maka Dia akan memasukkan kelembutan pada mereka.” (HR. Ahmad). Imam Al-Munawi Rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala memasukkan pada mereka sikap lembut, yaitu mereka menjadi saling berlemah lembut satu sama lain. Dan makna sikap lembut adalah sikap lunak, penuh kasih, mudah memaklumi, dan berbuat baik.” 4. Pemimpin yang punya teman yang saleh, apabila pemimpin itu lalai, ia mengingatkannya, apabila telah ingat, ia membantunya Diriwayatkan dari Ummul Mu’minin Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Subhanahu wa Ta’ala bersabda: إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِالْأَمِيرِ خَيْرًا جَعَلَ لَهُ وَزِيرَ صِدْقٍ؛ إِنْ نَسِيَ ذَكَّرَهُ، وَإِنْ ذَكَرَ أَعَانَهُ، وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهِ غَيْرَ ذَلِكَ جَعَلَ لَهُ وَزِيرَ سُوءٍ؛ إِنْ نَسِيَ لَمْ يُذَكِّرْهُ، وَإِنْ ذَكَرَ لَمْ يُعِنْهُ “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang pemimpin, Dia akan memberinya menteri yang jujur, jika pemimpin itu lupa, penasihat itu mengingatkannya, dan jika sudah ingat, ia membantunya. Namun apabila Allah menghendaki selain itu, Dia akan memberinya menteri yang buruk, jika ia lupa, ia tidak mengingatkannya, dan jika ia ingat, ia tidak membantunya.” (HR. Abu Dawud).  Para ulama menjelaskan: Yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya menteri yang saleh, jujur, dan senantiasa menasihatinya dan rakyatnya. 5. Orang yang paham agama Allah Subhanahu wa Ta’ala Diriwayatkan dari Muawiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Dia akan memberinya pemahaman dalam agama.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rRahimahullah berkata: “Yang dipahami dari hadis ini adalah barang siapa yang tidak diberi pemahaman dalam agama – yakni dengan mempelajari kaidah-kaidah agama Islam dan ilmu-ilmu turunannya yang berkaitan dengannya – maka ia telah terhalang dari kebaikan.” 3. Orang yang hukumannya disegerakan di dunia Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Subhanahu wa Ta’ala bersabda: إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا، وَإِذَا أَرَادَ بِعَبْدِهِ شَرًّا أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَهُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia menyegerakan baginya hukuman di dunia. Dan apabila Dia menghendaki keburukan bagi seorang hamba, Dia menahan (hukuman) atas dosanya hingga Dia membalasnya pada hari kiamat.” (HR. At-Tirmidzi). Para ulama mengatakan: “Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, Dia akan menyegerakan hukumannya dengan berbagai hal yang tidak ia sukai, dan menimpakan berbagai musibah dan cobaan kepadanya di dunia, agar ia keluar dari dunia tanpa membawa dosa lagi. Barang siapa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perlakukan seperti itu, maka sungguh Dia telah memberinya kelembutan dan karunia yang besar.” Diriwayatkan juga dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Dia akan menimpakan musibah kepadanya.” (HR. Al-Bukhari). Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: “Maknanya adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya musibah-musibah untuk memberinya pahala atas musibah itu. Dalam hadis-hadis tersebut terdapat kabar gembira yang besar bagi setiap mukmin, karena manusia pada umumnya tidak terlepas dari rasa sakit akibat penyakit, kegelisahan, dan lain sebagainya, sedangkan penyakit, serta rasa sakit dan perih baik itu pada jiwa maupun raga dapat menggugurkan dosa-dosa orang yang mengalaminya.” Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan orang-orang yang Engkau kehendaki kebaikan kepada mereka, wahai Yang Maha Pengasih. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/123798/من-أراد-الله-بهم-خيرا/ Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 203 times, 1 visit(s) today Post Views: 179

Orang yang Allah Kehendaki Mendapat Kebaikan

Oleh: Fahd bin Abdul Aziz Abdullah asy-Syuwairikh Iradah (Kehendak) merupakan salah satu sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang selalu ada pada-Nya. Para salaf telah menyepakati bahwa iradah merupakan sifat-Nya yang tetap dan ia merupakan kehendak hakiki yang sesuai dengan keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia terbagi menjadi dua jenis: Pertama: Iradah kauniyyah (kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala yang pasti berlaku di alam semesta) atau disebut juga dengan masyi’ah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:  فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ “Barang siapa yang Allah kehendaki untuk diberi petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk) Islam.” (QS. Al-An’am: 125). Kehendak jenis ini pasti terjadi, baik itu dalam hal yang disukai Allah Subhanahu wa Ta’ala maupun tidak. Kedua: Iradah syar’iyyah (kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sesuai dengan syariat-Nya). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ “Dan Allah hendak menerima taubat kalian.” (QS. An-Nisa: 27). Kehendak jenis ini tidak harus terjadi, dan hanya berupa hal yang disukai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Terdapat banyak faedah dalam hidup seorang hamba ketika dia mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki kehendak hakiki yang sesuai dengan keagungan-Nya. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah berkata: Kita dapat memperoleh dua faidah dari pengetahuan kita tentang kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kehidupan kita: Faedah pertama: Kita menggantungkan harapan, rasa takut, serta seluruh keadaan dan amalan kita hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena segala hal terjadi dengan kehendak-Nya. Hal ini akan mewujudkan sikap tawakal kita. Faedah kedua: Kita melaksanakan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki secara syariat. Apabila kita mengetahui bahwa suatu hal merupakan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam syariatnya dan Dia cintai, maka itu akan memperkuat keteguhan kita dalam melaksanakannya. Ada banyak nash yang menyatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki kebaikan bagi beberapa golongan manusia dan seorang hamba hendaknya berusaha dan berdoa kepada Tuhannya agar termasuk dari golongan tersebut, serta tetap bersabar dan ridha ketika terjadi hal yang tidak dia sukai selagi Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menakdirkannya dan menghendaki kebaikan baginya. Dan di antara golongan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki kebaikan bagi mereka adalah: 1. Orang yang lapang dada dalam menjalankan syiar-syiar Islam dengan sukacita dan bahagia:  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ “Barang siapa yang Allah kehendaki untuk diberi petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk) Islam. Dan barang siapa yang Dia kehendaki untuk disesatkan, niscaya Dia menjadikan dadanya sempit lagi sesak, seakan-akan dia sedang naik ke langit.” (QS. Al-An’am: 125). Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata: “Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ‘Barang siapa yang Allah kehendaki untuk diberi petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk) Islam’ Yakni dimaksud kehendak di sini adalah iradah kauniyyah, dan yang dimaksud dengan petunjuk adalah hidayah taufiq (hidayah yang membuat seseorang menerima jalan yang benar), sehingga engkau mendapatinya lapang dada terhadap syariat dan syiar-syiar Islam, menjalankannya dengan senang, bahagia, dan ringan. Apabila engkau mendapati hal ini dalam dirimu, maka ketahuilah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala sedang menghendaki kebaikan bagimu, menghendaki hidayah untukmu. Namun, barang siapa yang sempit hatinya –nau’dzubillah– maka ini adalah tanda Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menghendaki hidayah baginya, karena seandainya tidak demikian niscaya akan lapang dadanya.” 2. Orang yang diberi taufik untuk bertaubat dari dosa-dosanya sebelum meninggal dunia, serta semangat melakukan amal ketaatan lalu wafat dalam keadaan itu Diriwayatkan dari Abu Umamah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا طَهَّرَهُ قَبْلَ مَوْتِهِ، قَالُوا: وَمَا طُهُورُ الْعَبْدِ؟ قَالَ: عَمَلٌ صَالِحٌ يُلْهِمُهُ إِيَّاهُ حَتَّى يَقْبِضَهُ عَلَيْهِ “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia akan menyucikannya sebelum meninggal dunia.” Para sahabat bertanya: “Apa itu penyucian seorang hamba?” Beliau menjawab: “Yaitu amal saleh yang Allah ilhamkan kepadanya hingga Dia mewafatkannya di atas amalan itu.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Kabir). Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ، قِيلَ: وَكَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ؟ قَالَ: يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ الْمَوْتِ “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia akan menggunakannya.” Beliau lalu ditanya: “Bagaimana Allah menggunakannya?” Dan beliau menjawab: “Dia memberinya taufik untuk melakukan amal saleh sebelum kematian.” (HR. At-Tirmidzi). Para ulama menjelaskan: “Yakni memberinya taufik sebelum kematiannya untuk bertaubat dan konsisten menjalankan amal shaleh serta menjauhi hal-hal yang melanggar agama, lalu dia diwafatkan di atas hal itu, dia diberi karunia yang besar atas amalannya yang sedikit.” 3. Keluarga yang lembut dalam ucapan dan perbuatan Diriwayatkan dari Ummul Mu’minin Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِأَهْلِ بَيْتٍ خَيْرًا أَدْخَلَ عَلَيْهِمُ الرِّفْقَ “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi suatu keluarga, maka Dia akan memasukkan kelembutan pada mereka.” (HR. Ahmad). Imam Al-Munawi Rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala memasukkan pada mereka sikap lembut, yaitu mereka menjadi saling berlemah lembut satu sama lain. Dan makna sikap lembut adalah sikap lunak, penuh kasih, mudah memaklumi, dan berbuat baik.” 4. Pemimpin yang punya teman yang saleh, apabila pemimpin itu lalai, ia mengingatkannya, apabila telah ingat, ia membantunya Diriwayatkan dari Ummul Mu’minin Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Subhanahu wa Ta’ala bersabda: إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِالْأَمِيرِ خَيْرًا جَعَلَ لَهُ وَزِيرَ صِدْقٍ؛ إِنْ نَسِيَ ذَكَّرَهُ، وَإِنْ ذَكَرَ أَعَانَهُ، وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهِ غَيْرَ ذَلِكَ جَعَلَ لَهُ وَزِيرَ سُوءٍ؛ إِنْ نَسِيَ لَمْ يُذَكِّرْهُ، وَإِنْ ذَكَرَ لَمْ يُعِنْهُ “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang pemimpin, Dia akan memberinya menteri yang jujur, jika pemimpin itu lupa, penasihat itu mengingatkannya, dan jika sudah ingat, ia membantunya. Namun apabila Allah menghendaki selain itu, Dia akan memberinya menteri yang buruk, jika ia lupa, ia tidak mengingatkannya, dan jika ia ingat, ia tidak membantunya.” (HR. Abu Dawud).  Para ulama menjelaskan: Yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya menteri yang saleh, jujur, dan senantiasa menasihatinya dan rakyatnya. 5. Orang yang paham agama Allah Subhanahu wa Ta’ala Diriwayatkan dari Muawiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Dia akan memberinya pemahaman dalam agama.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rRahimahullah berkata: “Yang dipahami dari hadis ini adalah barang siapa yang tidak diberi pemahaman dalam agama – yakni dengan mempelajari kaidah-kaidah agama Islam dan ilmu-ilmu turunannya yang berkaitan dengannya – maka ia telah terhalang dari kebaikan.” 3. Orang yang hukumannya disegerakan di dunia Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Subhanahu wa Ta’ala bersabda: إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا، وَإِذَا أَرَادَ بِعَبْدِهِ شَرًّا أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَهُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia menyegerakan baginya hukuman di dunia. Dan apabila Dia menghendaki keburukan bagi seorang hamba, Dia menahan (hukuman) atas dosanya hingga Dia membalasnya pada hari kiamat.” (HR. At-Tirmidzi). Para ulama mengatakan: “Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, Dia akan menyegerakan hukumannya dengan berbagai hal yang tidak ia sukai, dan menimpakan berbagai musibah dan cobaan kepadanya di dunia, agar ia keluar dari dunia tanpa membawa dosa lagi. Barang siapa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perlakukan seperti itu, maka sungguh Dia telah memberinya kelembutan dan karunia yang besar.” Diriwayatkan juga dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Dia akan menimpakan musibah kepadanya.” (HR. Al-Bukhari). Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: “Maknanya adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya musibah-musibah untuk memberinya pahala atas musibah itu. Dalam hadis-hadis tersebut terdapat kabar gembira yang besar bagi setiap mukmin, karena manusia pada umumnya tidak terlepas dari rasa sakit akibat penyakit, kegelisahan, dan lain sebagainya, sedangkan penyakit, serta rasa sakit dan perih baik itu pada jiwa maupun raga dapat menggugurkan dosa-dosa orang yang mengalaminya.” Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan orang-orang yang Engkau kehendaki kebaikan kepada mereka, wahai Yang Maha Pengasih. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/123798/من-أراد-الله-بهم-خيرا/ Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 203 times, 1 visit(s) today Post Views: 179
Oleh: Fahd bin Abdul Aziz Abdullah asy-Syuwairikh Iradah (Kehendak) merupakan salah satu sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang selalu ada pada-Nya. Para salaf telah menyepakati bahwa iradah merupakan sifat-Nya yang tetap dan ia merupakan kehendak hakiki yang sesuai dengan keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia terbagi menjadi dua jenis: Pertama: Iradah kauniyyah (kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala yang pasti berlaku di alam semesta) atau disebut juga dengan masyi’ah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:  فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ “Barang siapa yang Allah kehendaki untuk diberi petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk) Islam.” (QS. Al-An’am: 125). Kehendak jenis ini pasti terjadi, baik itu dalam hal yang disukai Allah Subhanahu wa Ta’ala maupun tidak. Kedua: Iradah syar’iyyah (kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sesuai dengan syariat-Nya). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ “Dan Allah hendak menerima taubat kalian.” (QS. An-Nisa: 27). Kehendak jenis ini tidak harus terjadi, dan hanya berupa hal yang disukai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Terdapat banyak faedah dalam hidup seorang hamba ketika dia mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki kehendak hakiki yang sesuai dengan keagungan-Nya. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah berkata: Kita dapat memperoleh dua faidah dari pengetahuan kita tentang kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kehidupan kita: Faedah pertama: Kita menggantungkan harapan, rasa takut, serta seluruh keadaan dan amalan kita hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena segala hal terjadi dengan kehendak-Nya. Hal ini akan mewujudkan sikap tawakal kita. Faedah kedua: Kita melaksanakan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki secara syariat. Apabila kita mengetahui bahwa suatu hal merupakan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam syariatnya dan Dia cintai, maka itu akan memperkuat keteguhan kita dalam melaksanakannya. Ada banyak nash yang menyatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki kebaikan bagi beberapa golongan manusia dan seorang hamba hendaknya berusaha dan berdoa kepada Tuhannya agar termasuk dari golongan tersebut, serta tetap bersabar dan ridha ketika terjadi hal yang tidak dia sukai selagi Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menakdirkannya dan menghendaki kebaikan baginya. Dan di antara golongan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki kebaikan bagi mereka adalah: 1. Orang yang lapang dada dalam menjalankan syiar-syiar Islam dengan sukacita dan bahagia:  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ “Barang siapa yang Allah kehendaki untuk diberi petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk) Islam. Dan barang siapa yang Dia kehendaki untuk disesatkan, niscaya Dia menjadikan dadanya sempit lagi sesak, seakan-akan dia sedang naik ke langit.” (QS. Al-An’am: 125). Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata: “Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ‘Barang siapa yang Allah kehendaki untuk diberi petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk) Islam’ Yakni dimaksud kehendak di sini adalah iradah kauniyyah, dan yang dimaksud dengan petunjuk adalah hidayah taufiq (hidayah yang membuat seseorang menerima jalan yang benar), sehingga engkau mendapatinya lapang dada terhadap syariat dan syiar-syiar Islam, menjalankannya dengan senang, bahagia, dan ringan. Apabila engkau mendapati hal ini dalam dirimu, maka ketahuilah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala sedang menghendaki kebaikan bagimu, menghendaki hidayah untukmu. Namun, barang siapa yang sempit hatinya –nau’dzubillah– maka ini adalah tanda Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menghendaki hidayah baginya, karena seandainya tidak demikian niscaya akan lapang dadanya.” 2. Orang yang diberi taufik untuk bertaubat dari dosa-dosanya sebelum meninggal dunia, serta semangat melakukan amal ketaatan lalu wafat dalam keadaan itu Diriwayatkan dari Abu Umamah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا طَهَّرَهُ قَبْلَ مَوْتِهِ، قَالُوا: وَمَا طُهُورُ الْعَبْدِ؟ قَالَ: عَمَلٌ صَالِحٌ يُلْهِمُهُ إِيَّاهُ حَتَّى يَقْبِضَهُ عَلَيْهِ “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia akan menyucikannya sebelum meninggal dunia.” Para sahabat bertanya: “Apa itu penyucian seorang hamba?” Beliau menjawab: “Yaitu amal saleh yang Allah ilhamkan kepadanya hingga Dia mewafatkannya di atas amalan itu.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Kabir). Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ، قِيلَ: وَكَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ؟ قَالَ: يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ الْمَوْتِ “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia akan menggunakannya.” Beliau lalu ditanya: “Bagaimana Allah menggunakannya?” Dan beliau menjawab: “Dia memberinya taufik untuk melakukan amal saleh sebelum kematian.” (HR. At-Tirmidzi). Para ulama menjelaskan: “Yakni memberinya taufik sebelum kematiannya untuk bertaubat dan konsisten menjalankan amal shaleh serta menjauhi hal-hal yang melanggar agama, lalu dia diwafatkan di atas hal itu, dia diberi karunia yang besar atas amalannya yang sedikit.” 3. Keluarga yang lembut dalam ucapan dan perbuatan Diriwayatkan dari Ummul Mu’minin Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِأَهْلِ بَيْتٍ خَيْرًا أَدْخَلَ عَلَيْهِمُ الرِّفْقَ “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi suatu keluarga, maka Dia akan memasukkan kelembutan pada mereka.” (HR. Ahmad). Imam Al-Munawi Rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala memasukkan pada mereka sikap lembut, yaitu mereka menjadi saling berlemah lembut satu sama lain. Dan makna sikap lembut adalah sikap lunak, penuh kasih, mudah memaklumi, dan berbuat baik.” 4. Pemimpin yang punya teman yang saleh, apabila pemimpin itu lalai, ia mengingatkannya, apabila telah ingat, ia membantunya Diriwayatkan dari Ummul Mu’minin Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Subhanahu wa Ta’ala bersabda: إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِالْأَمِيرِ خَيْرًا جَعَلَ لَهُ وَزِيرَ صِدْقٍ؛ إِنْ نَسِيَ ذَكَّرَهُ، وَإِنْ ذَكَرَ أَعَانَهُ، وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهِ غَيْرَ ذَلِكَ جَعَلَ لَهُ وَزِيرَ سُوءٍ؛ إِنْ نَسِيَ لَمْ يُذَكِّرْهُ، وَإِنْ ذَكَرَ لَمْ يُعِنْهُ “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang pemimpin, Dia akan memberinya menteri yang jujur, jika pemimpin itu lupa, penasihat itu mengingatkannya, dan jika sudah ingat, ia membantunya. Namun apabila Allah menghendaki selain itu, Dia akan memberinya menteri yang buruk, jika ia lupa, ia tidak mengingatkannya, dan jika ia ingat, ia tidak membantunya.” (HR. Abu Dawud).  Para ulama menjelaskan: Yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya menteri yang saleh, jujur, dan senantiasa menasihatinya dan rakyatnya. 5. Orang yang paham agama Allah Subhanahu wa Ta’ala Diriwayatkan dari Muawiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Dia akan memberinya pemahaman dalam agama.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rRahimahullah berkata: “Yang dipahami dari hadis ini adalah barang siapa yang tidak diberi pemahaman dalam agama – yakni dengan mempelajari kaidah-kaidah agama Islam dan ilmu-ilmu turunannya yang berkaitan dengannya – maka ia telah terhalang dari kebaikan.” 3. Orang yang hukumannya disegerakan di dunia Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Subhanahu wa Ta’ala bersabda: إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا، وَإِذَا أَرَادَ بِعَبْدِهِ شَرًّا أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَهُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia menyegerakan baginya hukuman di dunia. Dan apabila Dia menghendaki keburukan bagi seorang hamba, Dia menahan (hukuman) atas dosanya hingga Dia membalasnya pada hari kiamat.” (HR. At-Tirmidzi). Para ulama mengatakan: “Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, Dia akan menyegerakan hukumannya dengan berbagai hal yang tidak ia sukai, dan menimpakan berbagai musibah dan cobaan kepadanya di dunia, agar ia keluar dari dunia tanpa membawa dosa lagi. Barang siapa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perlakukan seperti itu, maka sungguh Dia telah memberinya kelembutan dan karunia yang besar.” Diriwayatkan juga dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Dia akan menimpakan musibah kepadanya.” (HR. Al-Bukhari). Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: “Maknanya adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya musibah-musibah untuk memberinya pahala atas musibah itu. Dalam hadis-hadis tersebut terdapat kabar gembira yang besar bagi setiap mukmin, karena manusia pada umumnya tidak terlepas dari rasa sakit akibat penyakit, kegelisahan, dan lain sebagainya, sedangkan penyakit, serta rasa sakit dan perih baik itu pada jiwa maupun raga dapat menggugurkan dosa-dosa orang yang mengalaminya.” Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan orang-orang yang Engkau kehendaki kebaikan kepada mereka, wahai Yang Maha Pengasih. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/123798/من-أراد-الله-بهم-خيرا/ Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 203 times, 1 visit(s) today Post Views: 179


Oleh: Fahd bin Abdul Aziz Abdullah asy-Syuwairikh Iradah (Kehendak) merupakan salah satu sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang selalu ada pada-Nya. Para salaf telah menyepakati bahwa iradah merupakan sifat-Nya yang tetap dan ia merupakan kehendak hakiki yang sesuai dengan keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia terbagi menjadi dua jenis: Pertama: Iradah kauniyyah (kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala yang pasti berlaku di alam semesta) atau disebut juga dengan masyi’ah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:  فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ “Barang siapa yang Allah kehendaki untuk diberi petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk) Islam.” (QS. Al-An’am: 125). Kehendak jenis ini pasti terjadi, baik itu dalam hal yang disukai Allah Subhanahu wa Ta’ala maupun tidak. Kedua: Iradah syar’iyyah (kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sesuai dengan syariat-Nya). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ “Dan Allah hendak menerima taubat kalian.” (QS. An-Nisa: 27). Kehendak jenis ini tidak harus terjadi, dan hanya berupa hal yang disukai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Terdapat banyak faedah dalam hidup seorang hamba ketika dia mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki kehendak hakiki yang sesuai dengan keagungan-Nya. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah berkata: Kita dapat memperoleh dua faidah dari pengetahuan kita tentang kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kehidupan kita: Faedah pertama: Kita menggantungkan harapan, rasa takut, serta seluruh keadaan dan amalan kita hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena segala hal terjadi dengan kehendak-Nya. Hal ini akan mewujudkan sikap tawakal kita. Faedah kedua: Kita melaksanakan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki secara syariat. Apabila kita mengetahui bahwa suatu hal merupakan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam syariatnya dan Dia cintai, maka itu akan memperkuat keteguhan kita dalam melaksanakannya. Ada banyak nash yang menyatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki kebaikan bagi beberapa golongan manusia dan seorang hamba hendaknya berusaha dan berdoa kepada Tuhannya agar termasuk dari golongan tersebut, serta tetap bersabar dan ridha ketika terjadi hal yang tidak dia sukai selagi Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menakdirkannya dan menghendaki kebaikan baginya. Dan di antara golongan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki kebaikan bagi mereka adalah: 1. Orang yang lapang dada dalam menjalankan syiar-syiar Islam dengan sukacita dan bahagia:  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ “Barang siapa yang Allah kehendaki untuk diberi petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk) Islam. Dan barang siapa yang Dia kehendaki untuk disesatkan, niscaya Dia menjadikan dadanya sempit lagi sesak, seakan-akan dia sedang naik ke langit.” (QS. Al-An’am: 125). Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata: “Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ‘Barang siapa yang Allah kehendaki untuk diberi petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk) Islam’ Yakni dimaksud kehendak di sini adalah iradah kauniyyah, dan yang dimaksud dengan petunjuk adalah hidayah taufiq (hidayah yang membuat seseorang menerima jalan yang benar), sehingga engkau mendapatinya lapang dada terhadap syariat dan syiar-syiar Islam, menjalankannya dengan senang, bahagia, dan ringan. Apabila engkau mendapati hal ini dalam dirimu, maka ketahuilah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala sedang menghendaki kebaikan bagimu, menghendaki hidayah untukmu. Namun, barang siapa yang sempit hatinya –nau’dzubillah– maka ini adalah tanda Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menghendaki hidayah baginya, karena seandainya tidak demikian niscaya akan lapang dadanya.” 2. Orang yang diberi taufik untuk bertaubat dari dosa-dosanya sebelum meninggal dunia, serta semangat melakukan amal ketaatan lalu wafat dalam keadaan itu Diriwayatkan dari Abu Umamah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا طَهَّرَهُ قَبْلَ مَوْتِهِ، قَالُوا: وَمَا طُهُورُ الْعَبْدِ؟ قَالَ: عَمَلٌ صَالِحٌ يُلْهِمُهُ إِيَّاهُ حَتَّى يَقْبِضَهُ عَلَيْهِ “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia akan menyucikannya sebelum meninggal dunia.” Para sahabat bertanya: “Apa itu penyucian seorang hamba?” Beliau menjawab: “Yaitu amal saleh yang Allah ilhamkan kepadanya hingga Dia mewafatkannya di atas amalan itu.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Kabir). Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ، قِيلَ: وَكَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ؟ قَالَ: يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ الْمَوْتِ “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia akan menggunakannya.” Beliau lalu ditanya: “Bagaimana Allah menggunakannya?” Dan beliau menjawab: “Dia memberinya taufik untuk melakukan amal saleh sebelum kematian.” (HR. At-Tirmidzi). Para ulama menjelaskan: “Yakni memberinya taufik sebelum kematiannya untuk bertaubat dan konsisten menjalankan amal shaleh serta menjauhi hal-hal yang melanggar agama, lalu dia diwafatkan di atas hal itu, dia diberi karunia yang besar atas amalannya yang sedikit.” 3. Keluarga yang lembut dalam ucapan dan perbuatan Diriwayatkan dari Ummul Mu’minin Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِأَهْلِ بَيْتٍ خَيْرًا أَدْخَلَ عَلَيْهِمُ الرِّفْقَ “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi suatu keluarga, maka Dia akan memasukkan kelembutan pada mereka.” (HR. Ahmad). Imam Al-Munawi Rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala memasukkan pada mereka sikap lembut, yaitu mereka menjadi saling berlemah lembut satu sama lain. Dan makna sikap lembut adalah sikap lunak, penuh kasih, mudah memaklumi, dan berbuat baik.” 4. Pemimpin yang punya teman yang saleh, apabila pemimpin itu lalai, ia mengingatkannya, apabila telah ingat, ia membantunya Diriwayatkan dari Ummul Mu’minin Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Subhanahu wa Ta’ala bersabda: إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِالْأَمِيرِ خَيْرًا جَعَلَ لَهُ وَزِيرَ صِدْقٍ؛ إِنْ نَسِيَ ذَكَّرَهُ، وَإِنْ ذَكَرَ أَعَانَهُ، وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهِ غَيْرَ ذَلِكَ جَعَلَ لَهُ وَزِيرَ سُوءٍ؛ إِنْ نَسِيَ لَمْ يُذَكِّرْهُ، وَإِنْ ذَكَرَ لَمْ يُعِنْهُ “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang pemimpin, Dia akan memberinya menteri yang jujur, jika pemimpin itu lupa, penasihat itu mengingatkannya, dan jika sudah ingat, ia membantunya. Namun apabila Allah menghendaki selain itu, Dia akan memberinya menteri yang buruk, jika ia lupa, ia tidak mengingatkannya, dan jika ia ingat, ia tidak membantunya.” (HR. Abu Dawud).  Para ulama menjelaskan: Yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya menteri yang saleh, jujur, dan senantiasa menasihatinya dan rakyatnya. 5. Orang yang paham agama Allah Subhanahu wa Ta’ala Diriwayatkan dari Muawiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Dia akan memberinya pemahaman dalam agama.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rRahimahullah berkata: “Yang dipahami dari hadis ini adalah barang siapa yang tidak diberi pemahaman dalam agama – yakni dengan mempelajari kaidah-kaidah agama Islam dan ilmu-ilmu turunannya yang berkaitan dengannya – maka ia telah terhalang dari kebaikan.” 3. Orang yang hukumannya disegerakan di dunia Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Subhanahu wa Ta’ala bersabda: إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا، وَإِذَا أَرَادَ بِعَبْدِهِ شَرًّا أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَهُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia menyegerakan baginya hukuman di dunia. Dan apabila Dia menghendaki keburukan bagi seorang hamba, Dia menahan (hukuman) atas dosanya hingga Dia membalasnya pada hari kiamat.” (HR. At-Tirmidzi). Para ulama mengatakan: “Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, Dia akan menyegerakan hukumannya dengan berbagai hal yang tidak ia sukai, dan menimpakan berbagai musibah dan cobaan kepadanya di dunia, agar ia keluar dari dunia tanpa membawa dosa lagi. Barang siapa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perlakukan seperti itu, maka sungguh Dia telah memberinya kelembutan dan karunia yang besar.” Diriwayatkan juga dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Dia akan menimpakan musibah kepadanya.” (HR. Al-Bukhari). Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: “Maknanya adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya musibah-musibah untuk memberinya pahala atas musibah itu. Dalam hadis-hadis tersebut terdapat kabar gembira yang besar bagi setiap mukmin, karena manusia pada umumnya tidak terlepas dari rasa sakit akibat penyakit, kegelisahan, dan lain sebagainya, sedangkan penyakit, serta rasa sakit dan perih baik itu pada jiwa maupun raga dapat menggugurkan dosa-dosa orang yang mengalaminya.” Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan orang-orang yang Engkau kehendaki kebaikan kepada mereka, wahai Yang Maha Pengasih. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/123798/من-أراد-الله-بهم-خيرا/ Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 203 times, 1 visit(s) today Post Views: 179

Cara Membentengi Harta dengan Zikir – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan #NasehatUlama

Pertanyaan ketiganya adalah mengenai cara membentengi mobil atau barang-barang milik pribadi lainnya dengan zikir. Tidak mengapa jika seseorang membentengi harta bendanya, sebagaimana ia membentengi diri sendiri maupun anak-anaknya. Sebab, memohon perlindungan semacam ini disyariatkan, yaitu dengan membentengi mereka melalui zikir-zikir. “Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala memasuki kebunmu: ‘Maa syaa Allaah, laa quwwata illaa billaah’.” (QS. Al-Kahfi: 39). Bahkan, saat seseorang melihat sesuatu yang membuatnya takjub, ia dianjurkan mengucapkan: “Maa syaa Allaah, laa quwwata illaa billaah”. Jika ia melihat hartanya yang membuatnya takjub, disyariatkan baginya untuk mengucapkan: “Maa syaa Allaah, laa quwwata illaa billaah”. Namun, jika ia melihat harta orang lain yang membuatnya takjub, hendaknya ia mendoakan keberkahan bagi pemiliknya, dengan mengucapkan: “Tabaarokallaah” atau ucapan sejenisnya. Tidak mengapa juga ia membentengi hartanya, dengan mengucapkan: “U-’iidzuka bikalimaatillaahittaammah min kulli ‘ainin laammah”. “Aku melindungimu dengan Kalimat-Kalimat Allah yang sempurna dari setiap mata yang membawa keburukan.” Maksudnya, ia membentengi harta tersebut dari kedengkian (hasad) atau hal serupa lainnya. Jadi, membentengi harta itu serupa dengan membentengi anak-anak. Mengenai membentengi anak-anak, hal ini telah disebutkan dalam hadis Nabi. Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa membentengi Al-Hasan dan Al-Husain, dengan bersabda: U-’iidzukumaa bikalimaatillaahittaammah min kulli syaithoonin wa haammah wa min kulli ‘ainin laammah“Aku melindungi kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap gangguan setan, hewan berbisa, dan setiap mata jahat yang mendatangkan keburukan.” Jadi, membentengi harta benda, terutama dari pengaruh buruk hasad dan ain, diperbolehkan. ===== أَيْضًا سُؤَالُهَا الثَّالِثُ تَقُولُ عَنْ تَحْصِينِ السَّيَّارَاتِ أَوْ غَيْرِهَا مِنْ مُمْتَلَكَاتِ الشَّخْصِ لَا بَأْسَ لَا بَأْسَ أَنْ يُحَصِّنَ الْإِنْسَانُ أَمْوَالَهُ كَمَا يُحَصِّنُ نَفْسَهُ يُحَصِّنُ أَوْلَادَهُ فَالتَّحْصِينُ مَشْرُوعٌ يُحَصِّنُهُمْ بِالْأَذْكَارِ وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ حَتَّى الْإِنْسَانُ إِذَا رَأَى شَيْئًا يُعْجِبُهُ يَقُولُ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِذَا رَأَى شَيْئًا مِنْ مَالِهِ أَعْجَبَهُ يُشْرَعُ لَهُ أَنْ يَقُولَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ وَإِذَا رَأَى شَيْئًا أَعْجَبَهُ مِنْ مَالِ غَيْرِهِ يُبَرِّكُ عَلَيْهِ يَقُولُ تَبَارَكَ وَنَحْوِ ذَلِكَ وَلَا بَأْسَ أَنْ يُحَصِّنَ أَمْوَالَهُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مَثَلًا مِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ يُحَصِّنُهَا مِنَ الْحَسَدِ مَثَلًا وَنَحْوِ ذَلِكَ فَتَحْصِينُ الْأَمْوَالِ هُوَ كَتَحْصِينِ الْأَوْلَادِ وَتَحْصِينُ الْأَوْلَادِ قَدْ وَرَدَ بِهِ السُّنَّةُ قَدْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَصِّنُ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ يَقُولُ أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِن كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ فَتَحْصِينُ الْأَمْوَالِ خَاصَّةً مِنَ الْحَسَدِ وَمِنَ الْعَيْنِ لَا بَأْسَ بِهِ

Cara Membentengi Harta dengan Zikir – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan #NasehatUlama

Pertanyaan ketiganya adalah mengenai cara membentengi mobil atau barang-barang milik pribadi lainnya dengan zikir. Tidak mengapa jika seseorang membentengi harta bendanya, sebagaimana ia membentengi diri sendiri maupun anak-anaknya. Sebab, memohon perlindungan semacam ini disyariatkan, yaitu dengan membentengi mereka melalui zikir-zikir. “Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala memasuki kebunmu: ‘Maa syaa Allaah, laa quwwata illaa billaah’.” (QS. Al-Kahfi: 39). Bahkan, saat seseorang melihat sesuatu yang membuatnya takjub, ia dianjurkan mengucapkan: “Maa syaa Allaah, laa quwwata illaa billaah”. Jika ia melihat hartanya yang membuatnya takjub, disyariatkan baginya untuk mengucapkan: “Maa syaa Allaah, laa quwwata illaa billaah”. Namun, jika ia melihat harta orang lain yang membuatnya takjub, hendaknya ia mendoakan keberkahan bagi pemiliknya, dengan mengucapkan: “Tabaarokallaah” atau ucapan sejenisnya. Tidak mengapa juga ia membentengi hartanya, dengan mengucapkan: “U-’iidzuka bikalimaatillaahittaammah min kulli ‘ainin laammah”. “Aku melindungimu dengan Kalimat-Kalimat Allah yang sempurna dari setiap mata yang membawa keburukan.” Maksudnya, ia membentengi harta tersebut dari kedengkian (hasad) atau hal serupa lainnya. Jadi, membentengi harta itu serupa dengan membentengi anak-anak. Mengenai membentengi anak-anak, hal ini telah disebutkan dalam hadis Nabi. Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa membentengi Al-Hasan dan Al-Husain, dengan bersabda: U-’iidzukumaa bikalimaatillaahittaammah min kulli syaithoonin wa haammah wa min kulli ‘ainin laammah“Aku melindungi kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap gangguan setan, hewan berbisa, dan setiap mata jahat yang mendatangkan keburukan.” Jadi, membentengi harta benda, terutama dari pengaruh buruk hasad dan ain, diperbolehkan. ===== أَيْضًا سُؤَالُهَا الثَّالِثُ تَقُولُ عَنْ تَحْصِينِ السَّيَّارَاتِ أَوْ غَيْرِهَا مِنْ مُمْتَلَكَاتِ الشَّخْصِ لَا بَأْسَ لَا بَأْسَ أَنْ يُحَصِّنَ الْإِنْسَانُ أَمْوَالَهُ كَمَا يُحَصِّنُ نَفْسَهُ يُحَصِّنُ أَوْلَادَهُ فَالتَّحْصِينُ مَشْرُوعٌ يُحَصِّنُهُمْ بِالْأَذْكَارِ وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ حَتَّى الْإِنْسَانُ إِذَا رَأَى شَيْئًا يُعْجِبُهُ يَقُولُ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِذَا رَأَى شَيْئًا مِنْ مَالِهِ أَعْجَبَهُ يُشْرَعُ لَهُ أَنْ يَقُولَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ وَإِذَا رَأَى شَيْئًا أَعْجَبَهُ مِنْ مَالِ غَيْرِهِ يُبَرِّكُ عَلَيْهِ يَقُولُ تَبَارَكَ وَنَحْوِ ذَلِكَ وَلَا بَأْسَ أَنْ يُحَصِّنَ أَمْوَالَهُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مَثَلًا مِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ يُحَصِّنُهَا مِنَ الْحَسَدِ مَثَلًا وَنَحْوِ ذَلِكَ فَتَحْصِينُ الْأَمْوَالِ هُوَ كَتَحْصِينِ الْأَوْلَادِ وَتَحْصِينُ الْأَوْلَادِ قَدْ وَرَدَ بِهِ السُّنَّةُ قَدْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَصِّنُ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ يَقُولُ أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِن كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ فَتَحْصِينُ الْأَمْوَالِ خَاصَّةً مِنَ الْحَسَدِ وَمِنَ الْعَيْنِ لَا بَأْسَ بِهِ
Pertanyaan ketiganya adalah mengenai cara membentengi mobil atau barang-barang milik pribadi lainnya dengan zikir. Tidak mengapa jika seseorang membentengi harta bendanya, sebagaimana ia membentengi diri sendiri maupun anak-anaknya. Sebab, memohon perlindungan semacam ini disyariatkan, yaitu dengan membentengi mereka melalui zikir-zikir. “Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala memasuki kebunmu: ‘Maa syaa Allaah, laa quwwata illaa billaah’.” (QS. Al-Kahfi: 39). Bahkan, saat seseorang melihat sesuatu yang membuatnya takjub, ia dianjurkan mengucapkan: “Maa syaa Allaah, laa quwwata illaa billaah”. Jika ia melihat hartanya yang membuatnya takjub, disyariatkan baginya untuk mengucapkan: “Maa syaa Allaah, laa quwwata illaa billaah”. Namun, jika ia melihat harta orang lain yang membuatnya takjub, hendaknya ia mendoakan keberkahan bagi pemiliknya, dengan mengucapkan: “Tabaarokallaah” atau ucapan sejenisnya. Tidak mengapa juga ia membentengi hartanya, dengan mengucapkan: “U-’iidzuka bikalimaatillaahittaammah min kulli ‘ainin laammah”. “Aku melindungimu dengan Kalimat-Kalimat Allah yang sempurna dari setiap mata yang membawa keburukan.” Maksudnya, ia membentengi harta tersebut dari kedengkian (hasad) atau hal serupa lainnya. Jadi, membentengi harta itu serupa dengan membentengi anak-anak. Mengenai membentengi anak-anak, hal ini telah disebutkan dalam hadis Nabi. Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa membentengi Al-Hasan dan Al-Husain, dengan bersabda: U-’iidzukumaa bikalimaatillaahittaammah min kulli syaithoonin wa haammah wa min kulli ‘ainin laammah“Aku melindungi kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap gangguan setan, hewan berbisa, dan setiap mata jahat yang mendatangkan keburukan.” Jadi, membentengi harta benda, terutama dari pengaruh buruk hasad dan ain, diperbolehkan. ===== أَيْضًا سُؤَالُهَا الثَّالِثُ تَقُولُ عَنْ تَحْصِينِ السَّيَّارَاتِ أَوْ غَيْرِهَا مِنْ مُمْتَلَكَاتِ الشَّخْصِ لَا بَأْسَ لَا بَأْسَ أَنْ يُحَصِّنَ الْإِنْسَانُ أَمْوَالَهُ كَمَا يُحَصِّنُ نَفْسَهُ يُحَصِّنُ أَوْلَادَهُ فَالتَّحْصِينُ مَشْرُوعٌ يُحَصِّنُهُمْ بِالْأَذْكَارِ وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ حَتَّى الْإِنْسَانُ إِذَا رَأَى شَيْئًا يُعْجِبُهُ يَقُولُ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِذَا رَأَى شَيْئًا مِنْ مَالِهِ أَعْجَبَهُ يُشْرَعُ لَهُ أَنْ يَقُولَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ وَإِذَا رَأَى شَيْئًا أَعْجَبَهُ مِنْ مَالِ غَيْرِهِ يُبَرِّكُ عَلَيْهِ يَقُولُ تَبَارَكَ وَنَحْوِ ذَلِكَ وَلَا بَأْسَ أَنْ يُحَصِّنَ أَمْوَالَهُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مَثَلًا مِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ يُحَصِّنُهَا مِنَ الْحَسَدِ مَثَلًا وَنَحْوِ ذَلِكَ فَتَحْصِينُ الْأَمْوَالِ هُوَ كَتَحْصِينِ الْأَوْلَادِ وَتَحْصِينُ الْأَوْلَادِ قَدْ وَرَدَ بِهِ السُّنَّةُ قَدْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَصِّنُ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ يَقُولُ أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِن كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ فَتَحْصِينُ الْأَمْوَالِ خَاصَّةً مِنَ الْحَسَدِ وَمِنَ الْعَيْنِ لَا بَأْسَ بِهِ


Pertanyaan ketiganya adalah mengenai cara membentengi mobil atau barang-barang milik pribadi lainnya dengan zikir. Tidak mengapa jika seseorang membentengi harta bendanya, sebagaimana ia membentengi diri sendiri maupun anak-anaknya. Sebab, memohon perlindungan semacam ini disyariatkan, yaitu dengan membentengi mereka melalui zikir-zikir. “Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala memasuki kebunmu: ‘Maa syaa Allaah, laa quwwata illaa billaah’.” (QS. Al-Kahfi: 39). Bahkan, saat seseorang melihat sesuatu yang membuatnya takjub, ia dianjurkan mengucapkan: “Maa syaa Allaah, laa quwwata illaa billaah”. Jika ia melihat hartanya yang membuatnya takjub, disyariatkan baginya untuk mengucapkan: “Maa syaa Allaah, laa quwwata illaa billaah”. Namun, jika ia melihat harta orang lain yang membuatnya takjub, hendaknya ia mendoakan keberkahan bagi pemiliknya, dengan mengucapkan: “Tabaarokallaah” atau ucapan sejenisnya. Tidak mengapa juga ia membentengi hartanya, dengan mengucapkan: “U-’iidzuka bikalimaatillaahittaammah min kulli ‘ainin laammah”. “Aku melindungimu dengan Kalimat-Kalimat Allah yang sempurna dari setiap mata yang membawa keburukan.” Maksudnya, ia membentengi harta tersebut dari kedengkian (hasad) atau hal serupa lainnya. Jadi, membentengi harta itu serupa dengan membentengi anak-anak. Mengenai membentengi anak-anak, hal ini telah disebutkan dalam hadis Nabi. Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa membentengi Al-Hasan dan Al-Husain, dengan bersabda: U-’iidzukumaa bikalimaatillaahittaammah min kulli syaithoonin wa haammah wa min kulli ‘ainin laammah“Aku melindungi kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap gangguan setan, hewan berbisa, dan setiap mata jahat yang mendatangkan keburukan.” Jadi, membentengi harta benda, terutama dari pengaruh buruk hasad dan ain, diperbolehkan. ===== أَيْضًا سُؤَالُهَا الثَّالِثُ تَقُولُ عَنْ تَحْصِينِ السَّيَّارَاتِ أَوْ غَيْرِهَا مِنْ مُمْتَلَكَاتِ الشَّخْصِ لَا بَأْسَ لَا بَأْسَ أَنْ يُحَصِّنَ الْإِنْسَانُ أَمْوَالَهُ كَمَا يُحَصِّنُ نَفْسَهُ يُحَصِّنُ أَوْلَادَهُ فَالتَّحْصِينُ مَشْرُوعٌ يُحَصِّنُهُمْ بِالْأَذْكَارِ وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ حَتَّى الْإِنْسَانُ إِذَا رَأَى شَيْئًا يُعْجِبُهُ يَقُولُ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِذَا رَأَى شَيْئًا مِنْ مَالِهِ أَعْجَبَهُ يُشْرَعُ لَهُ أَنْ يَقُولَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ وَإِذَا رَأَى شَيْئًا أَعْجَبَهُ مِنْ مَالِ غَيْرِهِ يُبَرِّكُ عَلَيْهِ يَقُولُ تَبَارَكَ وَنَحْوِ ذَلِكَ وَلَا بَأْسَ أَنْ يُحَصِّنَ أَمْوَالَهُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مَثَلًا مِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ يُحَصِّنُهَا مِنَ الْحَسَدِ مَثَلًا وَنَحْوِ ذَلِكَ فَتَحْصِينُ الْأَمْوَالِ هُوَ كَتَحْصِينِ الْأَوْلَادِ وَتَحْصِينُ الْأَوْلَادِ قَدْ وَرَدَ بِهِ السُّنَّةُ قَدْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَصِّنُ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ يَقُولُ أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِن كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ فَتَحْصِينُ الْأَمْوَالِ خَاصَّةً مِنَ الْحَسَدِ وَمِنَ الْعَيْنِ لَا بَأْسَ بِهِ

Kenapa Allah Ciptakan Manusia Berdosa? Ini Jawaban Hadits Nabi

Pernah merasa dosa terlalu banyak hingga sulit berharap ampunan? Hadits ini justru membuka harapan besar bahwa Allah sangat mencintai hamba yang kembali kepada-Nya. Bahkan, keberadaan dosa bisa menjadi jalan menuju ampunan jika diiringi dengan tobat dan istigfar.  Daftar Isi tutup 1. Hadits #422-423 dari Kitab Riyadhus Sholihin, Kitab Ar-Raja’ (Berharap kepada Allah) 1.1. Hadits Pertama: Hikmah Adanya Dosa dan Istigfar 1.2. Hadits Kedua: Pintu Ampunan Selalu Terbuka 2. Faedah Hadits 3. Penutup  Hadits #422-423 dari Kitab Riyadhus Sholihin, Kitab Ar-Raja’ (Berharap kepada Allah) Hadits Pertama: Hikmah Adanya Dosa dan Istigfar ـ وعنه قال: قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: «وَالَّذي نَفْسي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللهُ بِكُمْ، وَلَجَاءَ بقَوم يُذْنِبُونَ، فَيَسْتَغْفِرُونَ اللهَ تعالىٰ، فَيَغْفِرُ لَهُمْ». رواه مسلم.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan melenyapkan kalian dan mendatangkan suatu kaum yang mereka berbuat dosa, lalu mereka memohon ampun kepada Allah Ta’ala, maka Dia pun mengampuni mereka.” (HR. Muslim, no. 2749) Hadits Kedua: Pintu Ampunan Selalu Terbuka وعن أبي أيُّوبَ خَالدِ بنِ زيد رضي الله عنه، قال: سمعتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «لَوْلاَ أَنَّكُمْ تُذْنِبُونَ لَخَلَق الله خَلْقاً يُذْنِبُونَ، فَيَسْتَغْفِرُونَ، فَيَغْفِرُ لَهُمْ». رواه مسلم.Dari Abu Ayyub Khalid bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:“Seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan menciptakan suatu kaum yang mereka berbuat dosa, lalu mereka memohon ampun, maka Dia pun mengampuni mereka.” (HR. Muslim, no. 2748) Faedah HaditsHadits ini mendorong seorang hamba untuk berharap besar kepada rahmat Allah Ta’ala. Hal itu karena Allah telah membuka pintu harapan melalui istigfar dan tobat dari berbagai dosa.Kedekatan seorang hamba dengan Rabb-nya melalui tobat yang terus-menerus, memperbanyak istigfar, serta merendahkan diri di hadapan Allah Yang Maha Pengampun, termasuk amalan yang dicintai oleh Allah Ta’ala. Sungguh beruntung seorang hamba yang senantiasa mengetuk pintu langit dengan tobat dan doa.Hadits ini menjelaskan besarnya karunia Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya, berupa ampunan dan penghapusan dosa.Setiap anak Adam pasti pernah berbuat salah. Karena itu, seorang hamba hendaknya segera bergegas untuk beristigfar dan bertobat.Di antara hikmah adanya taklif (beban syariat) adalah tampaknya nama-nama Allah yang mengandung makna rahmat-Nya, ampunan-Nya, penutupan aib, pemaafan-Nya, serta pembebasan dari neraka terhadap kesalahan hamba yang Dia kehendaki.Dari sinilah tampak hikmah Allah dalam menciptakan makhluk yang melakukan sebab-sebab (perbuatan) yang mengantarkan pada tampaknya pengaruh dari nama-nama tersebut. Seandainya tidak ada itu, seperti pada makhluk yang tidak berbuat dosa (misalnya Iblis sebelum membangkang), niscaya hikmah dan manfaat ini tidak akan tampak.Hadits ini bukanlah dorongan untuk melakukan maksiat. Akan tetapi, ia mengandung kabar gembira tentang ampunan serta menghilangkan rasa takut berlebihan dan putus asa.Para sahabat Rasulullah ﷺ dahulu sangat kuat rasa takutnya, sampai-sampai mereka memandang gunung seakan di hadapan mata dan seolah-olah mereka hampir meninggalkan kehidupan karena besarnya rasa takut tersebut. Maka hadits ini menjadi penyejuk bagi mereka, menumbuhkan ketenangan dan harapan terhadap ampunan Allah. Catatan PentingHadits ini mengandung kabar gembira berupa ampunan bagi orang yang berbuat dosa lalu memohon ampun. Namun, jangan sampai ada yang beranggapan bahwa hadits ini mendorong untuk sengaja melakukan maksiat. PenutupHari ini, banyak orang merasa terlalu kotor karena dosa masa lalu, hingga enggan kembali kepada Allah. Di sisi lain, ada juga yang meremehkan dosa karena merasa selalu bisa bertobat. Keduanya keliru, karena Islam mengajarkan keseimbangan antara takut dan harap. Jadikan setiap dosa sebagai pengingat untuk segera kembali, bukan alasan untuk terus menjauh. Referensi:Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-Nazhirin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 3). Damaskus.Baca juga:Melebur Dosa dengan Taubat yang TulusSyarat, Tanda Diterima, dan Bahaya Menunda TaubatAllah Maha Menerima Taubat, Berkali-Kali Tanpa Batas—- Selesai ditulis di perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin, 11 Dzulqa’dah 1447 H, 27 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsampunan Allah dosa manusia hadits muslim istigfar jangan putus asa kajian hadits motivasi islami Rahmat Allah riyadhus sholihin taubat taubat nasuha

Kenapa Allah Ciptakan Manusia Berdosa? Ini Jawaban Hadits Nabi

Pernah merasa dosa terlalu banyak hingga sulit berharap ampunan? Hadits ini justru membuka harapan besar bahwa Allah sangat mencintai hamba yang kembali kepada-Nya. Bahkan, keberadaan dosa bisa menjadi jalan menuju ampunan jika diiringi dengan tobat dan istigfar.  Daftar Isi tutup 1. Hadits #422-423 dari Kitab Riyadhus Sholihin, Kitab Ar-Raja’ (Berharap kepada Allah) 1.1. Hadits Pertama: Hikmah Adanya Dosa dan Istigfar 1.2. Hadits Kedua: Pintu Ampunan Selalu Terbuka 2. Faedah Hadits 3. Penutup  Hadits #422-423 dari Kitab Riyadhus Sholihin, Kitab Ar-Raja’ (Berharap kepada Allah) Hadits Pertama: Hikmah Adanya Dosa dan Istigfar ـ وعنه قال: قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: «وَالَّذي نَفْسي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللهُ بِكُمْ، وَلَجَاءَ بقَوم يُذْنِبُونَ، فَيَسْتَغْفِرُونَ اللهَ تعالىٰ، فَيَغْفِرُ لَهُمْ». رواه مسلم.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan melenyapkan kalian dan mendatangkan suatu kaum yang mereka berbuat dosa, lalu mereka memohon ampun kepada Allah Ta’ala, maka Dia pun mengampuni mereka.” (HR. Muslim, no. 2749) Hadits Kedua: Pintu Ampunan Selalu Terbuka وعن أبي أيُّوبَ خَالدِ بنِ زيد رضي الله عنه، قال: سمعتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «لَوْلاَ أَنَّكُمْ تُذْنِبُونَ لَخَلَق الله خَلْقاً يُذْنِبُونَ، فَيَسْتَغْفِرُونَ، فَيَغْفِرُ لَهُمْ». رواه مسلم.Dari Abu Ayyub Khalid bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:“Seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan menciptakan suatu kaum yang mereka berbuat dosa, lalu mereka memohon ampun, maka Dia pun mengampuni mereka.” (HR. Muslim, no. 2748) Faedah HaditsHadits ini mendorong seorang hamba untuk berharap besar kepada rahmat Allah Ta’ala. Hal itu karena Allah telah membuka pintu harapan melalui istigfar dan tobat dari berbagai dosa.Kedekatan seorang hamba dengan Rabb-nya melalui tobat yang terus-menerus, memperbanyak istigfar, serta merendahkan diri di hadapan Allah Yang Maha Pengampun, termasuk amalan yang dicintai oleh Allah Ta’ala. Sungguh beruntung seorang hamba yang senantiasa mengetuk pintu langit dengan tobat dan doa.Hadits ini menjelaskan besarnya karunia Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya, berupa ampunan dan penghapusan dosa.Setiap anak Adam pasti pernah berbuat salah. Karena itu, seorang hamba hendaknya segera bergegas untuk beristigfar dan bertobat.Di antara hikmah adanya taklif (beban syariat) adalah tampaknya nama-nama Allah yang mengandung makna rahmat-Nya, ampunan-Nya, penutupan aib, pemaafan-Nya, serta pembebasan dari neraka terhadap kesalahan hamba yang Dia kehendaki.Dari sinilah tampak hikmah Allah dalam menciptakan makhluk yang melakukan sebab-sebab (perbuatan) yang mengantarkan pada tampaknya pengaruh dari nama-nama tersebut. Seandainya tidak ada itu, seperti pada makhluk yang tidak berbuat dosa (misalnya Iblis sebelum membangkang), niscaya hikmah dan manfaat ini tidak akan tampak.Hadits ini bukanlah dorongan untuk melakukan maksiat. Akan tetapi, ia mengandung kabar gembira tentang ampunan serta menghilangkan rasa takut berlebihan dan putus asa.Para sahabat Rasulullah ﷺ dahulu sangat kuat rasa takutnya, sampai-sampai mereka memandang gunung seakan di hadapan mata dan seolah-olah mereka hampir meninggalkan kehidupan karena besarnya rasa takut tersebut. Maka hadits ini menjadi penyejuk bagi mereka, menumbuhkan ketenangan dan harapan terhadap ampunan Allah. Catatan PentingHadits ini mengandung kabar gembira berupa ampunan bagi orang yang berbuat dosa lalu memohon ampun. Namun, jangan sampai ada yang beranggapan bahwa hadits ini mendorong untuk sengaja melakukan maksiat. PenutupHari ini, banyak orang merasa terlalu kotor karena dosa masa lalu, hingga enggan kembali kepada Allah. Di sisi lain, ada juga yang meremehkan dosa karena merasa selalu bisa bertobat. Keduanya keliru, karena Islam mengajarkan keseimbangan antara takut dan harap. Jadikan setiap dosa sebagai pengingat untuk segera kembali, bukan alasan untuk terus menjauh. Referensi:Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-Nazhirin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 3). Damaskus.Baca juga:Melebur Dosa dengan Taubat yang TulusSyarat, Tanda Diterima, dan Bahaya Menunda TaubatAllah Maha Menerima Taubat, Berkali-Kali Tanpa Batas—- Selesai ditulis di perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin, 11 Dzulqa’dah 1447 H, 27 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsampunan Allah dosa manusia hadits muslim istigfar jangan putus asa kajian hadits motivasi islami Rahmat Allah riyadhus sholihin taubat taubat nasuha
Pernah merasa dosa terlalu banyak hingga sulit berharap ampunan? Hadits ini justru membuka harapan besar bahwa Allah sangat mencintai hamba yang kembali kepada-Nya. Bahkan, keberadaan dosa bisa menjadi jalan menuju ampunan jika diiringi dengan tobat dan istigfar.  Daftar Isi tutup 1. Hadits #422-423 dari Kitab Riyadhus Sholihin, Kitab Ar-Raja’ (Berharap kepada Allah) 1.1. Hadits Pertama: Hikmah Adanya Dosa dan Istigfar 1.2. Hadits Kedua: Pintu Ampunan Selalu Terbuka 2. Faedah Hadits 3. Penutup  Hadits #422-423 dari Kitab Riyadhus Sholihin, Kitab Ar-Raja’ (Berharap kepada Allah) Hadits Pertama: Hikmah Adanya Dosa dan Istigfar ـ وعنه قال: قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: «وَالَّذي نَفْسي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللهُ بِكُمْ، وَلَجَاءَ بقَوم يُذْنِبُونَ، فَيَسْتَغْفِرُونَ اللهَ تعالىٰ، فَيَغْفِرُ لَهُمْ». رواه مسلم.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan melenyapkan kalian dan mendatangkan suatu kaum yang mereka berbuat dosa, lalu mereka memohon ampun kepada Allah Ta’ala, maka Dia pun mengampuni mereka.” (HR. Muslim, no. 2749) Hadits Kedua: Pintu Ampunan Selalu Terbuka وعن أبي أيُّوبَ خَالدِ بنِ زيد رضي الله عنه، قال: سمعتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «لَوْلاَ أَنَّكُمْ تُذْنِبُونَ لَخَلَق الله خَلْقاً يُذْنِبُونَ، فَيَسْتَغْفِرُونَ، فَيَغْفِرُ لَهُمْ». رواه مسلم.Dari Abu Ayyub Khalid bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:“Seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan menciptakan suatu kaum yang mereka berbuat dosa, lalu mereka memohon ampun, maka Dia pun mengampuni mereka.” (HR. Muslim, no. 2748) Faedah HaditsHadits ini mendorong seorang hamba untuk berharap besar kepada rahmat Allah Ta’ala. Hal itu karena Allah telah membuka pintu harapan melalui istigfar dan tobat dari berbagai dosa.Kedekatan seorang hamba dengan Rabb-nya melalui tobat yang terus-menerus, memperbanyak istigfar, serta merendahkan diri di hadapan Allah Yang Maha Pengampun, termasuk amalan yang dicintai oleh Allah Ta’ala. Sungguh beruntung seorang hamba yang senantiasa mengetuk pintu langit dengan tobat dan doa.Hadits ini menjelaskan besarnya karunia Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya, berupa ampunan dan penghapusan dosa.Setiap anak Adam pasti pernah berbuat salah. Karena itu, seorang hamba hendaknya segera bergegas untuk beristigfar dan bertobat.Di antara hikmah adanya taklif (beban syariat) adalah tampaknya nama-nama Allah yang mengandung makna rahmat-Nya, ampunan-Nya, penutupan aib, pemaafan-Nya, serta pembebasan dari neraka terhadap kesalahan hamba yang Dia kehendaki.Dari sinilah tampak hikmah Allah dalam menciptakan makhluk yang melakukan sebab-sebab (perbuatan) yang mengantarkan pada tampaknya pengaruh dari nama-nama tersebut. Seandainya tidak ada itu, seperti pada makhluk yang tidak berbuat dosa (misalnya Iblis sebelum membangkang), niscaya hikmah dan manfaat ini tidak akan tampak.Hadits ini bukanlah dorongan untuk melakukan maksiat. Akan tetapi, ia mengandung kabar gembira tentang ampunan serta menghilangkan rasa takut berlebihan dan putus asa.Para sahabat Rasulullah ﷺ dahulu sangat kuat rasa takutnya, sampai-sampai mereka memandang gunung seakan di hadapan mata dan seolah-olah mereka hampir meninggalkan kehidupan karena besarnya rasa takut tersebut. Maka hadits ini menjadi penyejuk bagi mereka, menumbuhkan ketenangan dan harapan terhadap ampunan Allah. Catatan PentingHadits ini mengandung kabar gembira berupa ampunan bagi orang yang berbuat dosa lalu memohon ampun. Namun, jangan sampai ada yang beranggapan bahwa hadits ini mendorong untuk sengaja melakukan maksiat. PenutupHari ini, banyak orang merasa terlalu kotor karena dosa masa lalu, hingga enggan kembali kepada Allah. Di sisi lain, ada juga yang meremehkan dosa karena merasa selalu bisa bertobat. Keduanya keliru, karena Islam mengajarkan keseimbangan antara takut dan harap. Jadikan setiap dosa sebagai pengingat untuk segera kembali, bukan alasan untuk terus menjauh. Referensi:Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-Nazhirin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 3). Damaskus.Baca juga:Melebur Dosa dengan Taubat yang TulusSyarat, Tanda Diterima, dan Bahaya Menunda TaubatAllah Maha Menerima Taubat, Berkali-Kali Tanpa Batas—- Selesai ditulis di perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin, 11 Dzulqa’dah 1447 H, 27 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsampunan Allah dosa manusia hadits muslim istigfar jangan putus asa kajian hadits motivasi islami Rahmat Allah riyadhus sholihin taubat taubat nasuha


Pernah merasa dosa terlalu banyak hingga sulit berharap ampunan? Hadits ini justru membuka harapan besar bahwa Allah sangat mencintai hamba yang kembali kepada-Nya. Bahkan, keberadaan dosa bisa menjadi jalan menuju ampunan jika diiringi dengan tobat dan istigfar.  Daftar Isi tutup 1. Hadits #422-423 dari Kitab Riyadhus Sholihin, Kitab Ar-Raja’ (Berharap kepada Allah) 1.1. Hadits Pertama: Hikmah Adanya Dosa dan Istigfar 1.2. Hadits Kedua: Pintu Ampunan Selalu Terbuka 2. Faedah Hadits 3. Penutup  Hadits #422-423 dari Kitab Riyadhus Sholihin, Kitab Ar-Raja’ (Berharap kepada Allah) Hadits Pertama: Hikmah Adanya Dosa dan Istigfar ـ وعنه قال: قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: «وَالَّذي نَفْسي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللهُ بِكُمْ، وَلَجَاءَ بقَوم يُذْنِبُونَ، فَيَسْتَغْفِرُونَ اللهَ تعالىٰ، فَيَغْفِرُ لَهُمْ». رواه مسلم.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan melenyapkan kalian dan mendatangkan suatu kaum yang mereka berbuat dosa, lalu mereka memohon ampun kepada Allah Ta’ala, maka Dia pun mengampuni mereka.” (HR. Muslim, no. 2749) Hadits Kedua: Pintu Ampunan Selalu Terbuka وعن أبي أيُّوبَ خَالدِ بنِ زيد رضي الله عنه، قال: سمعتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «لَوْلاَ أَنَّكُمْ تُذْنِبُونَ لَخَلَق الله خَلْقاً يُذْنِبُونَ، فَيَسْتَغْفِرُونَ، فَيَغْفِرُ لَهُمْ». رواه مسلم.Dari Abu Ayyub Khalid bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:“Seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan menciptakan suatu kaum yang mereka berbuat dosa, lalu mereka memohon ampun, maka Dia pun mengampuni mereka.” (HR. Muslim, no. 2748) Faedah HaditsHadits ini mendorong seorang hamba untuk berharap besar kepada rahmat Allah Ta’ala. Hal itu karena Allah telah membuka pintu harapan melalui istigfar dan tobat dari berbagai dosa.Kedekatan seorang hamba dengan Rabb-nya melalui tobat yang terus-menerus, memperbanyak istigfar, serta merendahkan diri di hadapan Allah Yang Maha Pengampun, termasuk amalan yang dicintai oleh Allah Ta’ala. Sungguh beruntung seorang hamba yang senantiasa mengetuk pintu langit dengan tobat dan doa.Hadits ini menjelaskan besarnya karunia Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya, berupa ampunan dan penghapusan dosa.Setiap anak Adam pasti pernah berbuat salah. Karena itu, seorang hamba hendaknya segera bergegas untuk beristigfar dan bertobat.Di antara hikmah adanya taklif (beban syariat) adalah tampaknya nama-nama Allah yang mengandung makna rahmat-Nya, ampunan-Nya, penutupan aib, pemaafan-Nya, serta pembebasan dari neraka terhadap kesalahan hamba yang Dia kehendaki.Dari sinilah tampak hikmah Allah dalam menciptakan makhluk yang melakukan sebab-sebab (perbuatan) yang mengantarkan pada tampaknya pengaruh dari nama-nama tersebut. Seandainya tidak ada itu, seperti pada makhluk yang tidak berbuat dosa (misalnya Iblis sebelum membangkang), niscaya hikmah dan manfaat ini tidak akan tampak.Hadits ini bukanlah dorongan untuk melakukan maksiat. Akan tetapi, ia mengandung kabar gembira tentang ampunan serta menghilangkan rasa takut berlebihan dan putus asa.Para sahabat Rasulullah ﷺ dahulu sangat kuat rasa takutnya, sampai-sampai mereka memandang gunung seakan di hadapan mata dan seolah-olah mereka hampir meninggalkan kehidupan karena besarnya rasa takut tersebut. Maka hadits ini menjadi penyejuk bagi mereka, menumbuhkan ketenangan dan harapan terhadap ampunan Allah. Catatan PentingHadits ini mengandung kabar gembira berupa ampunan bagi orang yang berbuat dosa lalu memohon ampun. Namun, jangan sampai ada yang beranggapan bahwa hadits ini mendorong untuk sengaja melakukan maksiat. PenutupHari ini, banyak orang merasa terlalu kotor karena dosa masa lalu, hingga enggan kembali kepada Allah. Di sisi lain, ada juga yang meremehkan dosa karena merasa selalu bisa bertobat. Keduanya keliru, karena Islam mengajarkan keseimbangan antara takut dan harap. Jadikan setiap dosa sebagai pengingat untuk segera kembali, bukan alasan untuk terus menjauh. Referensi:Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-Nazhirin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 3). Damaskus.Baca juga:Melebur Dosa dengan Taubat yang TulusSyarat, Tanda Diterima, dan Bahaya Menunda TaubatAllah Maha Menerima Taubat, Berkali-Kali Tanpa Batas—- Selesai ditulis di perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin, 11 Dzulqa’dah 1447 H, 27 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsampunan Allah dosa manusia hadits muslim istigfar jangan putus asa kajian hadits motivasi islami Rahmat Allah riyadhus sholihin taubat taubat nasuha
Prev     Next