Maksiat Menghilangkan Keberkahan Umur: Penjelasan Ibnul Qayyim

Setiap orang berharap diberi umur panjang. Namun, Islam mengajarkan bahwa yang paling berharga bukan sekadar panjangnya umur, melainkan keberkahannya. Tulisan Ibnul Qayyim rahimahullah berikut menjelaskan bagaimana maksiat dapat menghilangkan keberkahan hidup, bahkan menjadi sebab pendeknya umur dalam makna yang sangat mendalam.  Daftar Isi tutup 1. Maksiat Menghilangkan Keberkahan Umur 1.1. Pendapat Pertama: Maksiat Menghilangkan Berkah Umur 1.2. Pendapat Kedua: Maksiat Benar-Benar Mengurangi Umur Secara Hakiki 1.3. Pendapat Ketiga: Maksiat Mengurangi Hakikat Umur karena Hakikat Umur atau Umur Sejati adalah Hidupnya Hati 2. Umur Sejati adalah Waktu yang Dihabiskan Bersama Allah 3. Penyesalan Orang yang Menyia-nyiakan Umurnya 4. Rahasia Keberkahan Umur Menurut Ibnul Qayyim 5. Renungan Tahapan Usia Manusia dari Ibnul Jauzi 6. Doa Agar Mendapat Umur yang Berkah 6.1. Doa Meminta Panjang Umur dan Diberkahi 6.2. Doa untuk Usia 40: Syukur, Amal Saleh, dan Keturunan Baik 7. Apa Itu Berkah (Barakah)? 8. Pelajaran Berharga dari Perkataan Ibnul Qayyim 9. Penutup: Jagalah Umur Sebelum Penyesalan Datang  Maksiat Menghilangkan Keberkahan UmurIbnul Qayyim rahimahullah berkata,أَنَّ الْمَعَاصِيَ تُقَصِّرُ الْعُمُرَ وَتَمْحَقُ بَرَكَتَهُ وَلَا بُدَّ، فَإِنَّ الْبِرَّ كَمَا يَزِيدُ فِي الْعُمُرِ، فَالْفُجُورُ يُقَصِّرُالْعُمُرَ.Di antara dampak maksiat adalah memperpendek umur dan menghilangkan keberkahannya[1]. Sebagaimana kebaikan dapat menambah umur, keburukan justru memperpendeknya. Pendapat Pertama: Maksiat Menghilangkan Berkah Umurفَقَالَتْ طَائِفَةٌ: نُقْصَانُ عُمُرِ الْعَاصِي هُوَ ذَهَابُ بَرَكَةِ عُمُرِهِ وَمَحْقُهَا عَلَيْهِ، وَهَذَا حَقٌّ، وَهُوَ بَعْضُ تَأْثِيرِالْمَعَاصِي.Sebagian ulama mengatakan bahwa berkurangnya umur pelaku maksiat berarti hilangnya keberkahan dalam hidupnya. Ini benar adanya, dan merupakan salah satu dampak dari maksiat. Pendapat Kedua: Maksiat Benar-Benar Mengurangi Umur Secara Hakikiوَقَالَتْ طَائِفَةٌ: بَلْ تُنْقِصُهُ حَقِيقَةً، كَمَا تُنْقِصُ الرِّزْقَ، فَجَعَلَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ لِلْبَرَكَةِ فِي الرِّزْقِ أَسْبَابًاكَثِيرَةً تُكَثِّرُهُ وَتَزِيدُهُ، وَلِلْبَرَكَةِ فِي الْعُمُرِ أَسْبَابًا تُكَثِّرُهُ وَتَزِيدُهُ.Sebagian ulama berpendapat bahwa dosa benar-benar mengurangi umur secara hakiki, sebagaimana dosa juga dapat mengurangi rezeki. Allah, Mahasuci Dia, telah menetapkan banyak sebab yang dapat mendatangkan keberkahan dalam rezeki sehingga rezeki itu bertambah dan meningkat. Demikian pula, Allah menetapkan sebab-sebab yang dapat mendatangkan keberkahan dalam umur, yang menjadikannya lebih panjang dan penuh manfaat.قَالُوا وَلَا تُمْنَعُ زِيَادَةُ الْعُمُرِ بِأَسْبَابٍ كَمَا يُنْقَصُ بِأَسْبَابٍ، فَالْأَرْزَاقُ وَالْآجَالُ، وَالسَّعَادَةُ وَالشَّقَاوَةُ،وَالصِّحَّةُ وَالْمَرَضُ، وَالْغِنَى وَالْفَقْرُ، وَإِنْ كَانَتْ بِقَضَاءِ الرَّبِّ عَزَّ وَجَلَّ، فَهُوَ يَقْضِي مَا يَشَاءُ بِأَسْبَابٍجَعَلَهَا مُوجِبَةً لِمُسَبَّبَاتِهَا مُقْتَضِيَةً لَهَا.Mereka mengatakan bahwa bertambahnya umur tidak terhalang oleh sebab-sebab tertentu, sebagaimana berkurangnya umur juga terjadi karena sebab-sebab tertentu. Hal ini serupa dengan rezeki dan ajal, kebahagiaan dan kesengsaraan, kesehatan dan penyakit, serta kekayaan dan kemiskinan. Semua itu, meskipun ditetapkan oleh keputusan Allah yang Mahaagung, tetap terjadi melalui sebab-sebab yang telah Allah tetapkan sebagai faktor penyebab bagi akibat-akibatnya, yang saling berkaitan dan sesuai dengan hikmah-Nya. Pendapat Ketiga: Maksiat Mengurangi Hakikat Umur karena Hakikat Umur atau Umur Sejati adalah Hidupnya Hatiوَقَالَتْ طَائِفَةٌ أُخْرَى: تَأْثِيرُ الْمَعَاصِي فِي مَحْقِ الْعُمُرِ إِنَّمَا هُوَ بِأَنَّ حَقِيقَةَ الْحَيَاةِ هِيَ حَيَاةُ الْقَلْبِ،وَلِهَذَا جَعَلَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ الْكَافِرَ مَيِّتًا غَيْرَ حَيٍّ، كَمَا قَالَ تَعَالَى، {أَمْوَاتٌ غَيْرُ أَحْيَاءٍ} [سُورَةُ النَّحْلِ: ٢١] .Sebagian ulama lain berpendapat bahwa pengaruh maksiat dalam menghilangkan umur terletak pada hakikat kehidupan itu sendiri, yaitu kehidupan hati. Karena itulah Allah, Mahasuci Dia, menyebut orang kafir sebagai makhluk yang mati, bukan hidup, sebagaimana firman-Nya: “Mereka itu mati, tidak hidup.” (QS. An-Nahl: 21). Umur Sejati adalah Waktu yang Dihabiskan Bersama Allahفَالْحَيَاةُ فِي الْحَقِيقَةِ حَيَاةُ الْقَلْبِ، وَعُمُرُ الْإِنْسَانِ مُدَّةُ حَيَّاتِهِ فَلَيْسَ عُمُرُهُ إِلَّا أَوْقَاتَ حَيَاتِهِ بِاللَّهِ، فَتِلْكَسَاعَاتُ عُمُرِهِ، فَالْبِرُّ وَالتَّقْوَى وَالطَّاعَةُ تَزِيدُ فِي هَذِهِ الْأَوْقَاتِ الَّتِي هِيَ حَقِيقَةُ عُمُرِهِ، وَلَا عُمُرَ لَهُسِوَاهَا.Hakikat kehidupan sejati adalah kehidupan hati. Umur manusia pada hakikatnya adalah masa hidup hatinya. Tidak ada umur yang sebenarnya kecuali waktu-waktu yang ia jalani bersama Allah. Itulah jam-jam kehidupannya yang sejati. Kebaikan, ketakwaan, dan ketaatan menambah waktu-waktu ini, yang merupakan hakikat umur seseorang. Selain itu, tidak ada umur lain baginya selain waktu-waktu tersebut. Penyesalan Orang yang Menyia-nyiakan Umurnyaوَبِالْجُمْلَةِ، فَالْعَبْدُ إِذَا أَعْرَضَ عَنِ اللَّهِ وَاشْتَغَلَ بِالْمَعَاصِي ضَاعَتْ عَلَيْهِ أَيَّامُ حَيَاتِهِ الْحَقِيقِيَّةُ الَّتِييَجِدُ غِبَّ إِضَاعَتِهَا يَوْمَ يَقُولُ: {يَالَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي} [سُورَةُ الْفَجْرِ: ٢٤] .Secara keseluruhan, jika seorang hamba berpaling dari Allah dan sibuk dengan maksiat, maka ia telah menyia-nyiakan hari-hari dari kehidupannya yang sejati. Ia akan merasakan penyesalan atas waktu-waktu yang disia-siakan itu pada hari ketika ia berkata: “Alangkah baiknya jika aku dahulu mempersembahkan sesuatu untuk kehidupanku ini.” (QS. Al-Fajr: 24).فَلَا يَخْلُو إِمَّا أَنْ يَكُونَ لَهُ مَعَ ذَلِكَ تَطَلُّعٌ إِلَى مَصَالِحِهِ الدُّنْيَوِيَّةِ وَالْأُخْرَوِيَّةِ أَوْ لَا، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ تَطَلُّعٌإِلَى ذَلِكَ فَقَدْ ضَاعَ عَلَيْهِ عُمُرُهُ كُلُّهُ، وَذَهَبَتْ حَيَاتُهُ بَاطِلًا، وَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَلُّعٌ إِلَى ذَلِكَ طَالَتْ عَلَيْهِالطَّرِيقُ بِسَبَبِ الْعَوَائِقِ، وَتَعَسَّرَتْ عَلَيْهِ أَسْبَابُ الْخَيْرِ بِحَسْبِ اشْتِغَالِهِ بِأَضْدَادِهَا، وَذَلِكَ نُقْصَانٌحَقِيقِيٌّ مِنْ عُمُرِهِ.Keadaan seseorang yang berpaling dari Allah akan terbagi menjadi dua: apakah ia masih memiliki perhatian terhadap kepentingan dunia dan akhiratnya, atau tidak. Jika ia sama sekali tidak memiliki perhatian terhadap hal itu, maka seluruh umurnya akan terbuang sia-sia, dan kehidupannya menjadi kosong tanpa makna. Namun, jika ia masih memiliki perhatian terhadap hal tersebut, jalannya akan terasa panjang karena berbagai penghalang, dan sebab-sebab kebaikan menjadi sulit baginya, sebanding dengan kesibukannya pada hal-hal yang bertentangan dengan kebaikan itu. Ini adalah bentuk nyata dari berkurangnya umur secara hakiki. Rahasia Keberkahan Umur Menurut Ibnul Qayyimوَسِرُّ الْمَسْأَلَةِ أَنَّ عُمُرَ الْإِنْسَانِ مُدَّةُ حَيَّاتِهِ وَلَا حَيَاةَ لَهُ إِلَّا بِإِقْبَالِهِ عَلَى رَبِّهِ، وَالتَّنَعُّمِ بِحُبِّهِ وَذِكْرِهِ،وَإِيثَارِ مَرْضَاتِهِ.Inti dari permasalahan ini adalah bahwa umur manusia sejatinya adalah masa hidupnya, dan tidak ada kehidupan yang sebenarnya kecuali dengan mendekat kepada Rabb-nya, menikmati cinta dan dzikir kepada-Nya, serta mengutamakan keridaan-Nya.(Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa‘, hlm. 87-88) Renungan Tahapan Usia Manusia dari Ibnul JauziImam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata dalam kitab Shaid Al-Khathir:اَلْعَاقِلُ مَنْ فَهِمَ مَقَادِيرَ الزَّمَانِ؛ فَإِنَّهُ فِيمَا قَبْلَ الْبُلُوغِ صَبِيٌّ، لَيْسَ عَلَى عُمُرِهِ عِيَارٌ. “Orang yang berakal adalah orang yang memahami tahapan-tahapan usianya. Sebelum balig, seseorang masih anak-anak sehingga usianya belum menjadi ukuran yang berarti.فَإِذَا بَلَغَ، فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ زَمَانُ الْمُجَاهَدَةِ لِلْهَوَى، وَتَعَلُّمِ الْعِلْمِ. Ketika telah baligh, ia harus menyadari bahwa inilah masa untuk melawan hawa nafsu dan menuntut ilmu.فَإِذَا رُزِقَ الْأَوْلَادَ، فَهُوَ زَمَانُ الْكَسْبِ لِلْمَعَاشِ.Setelah Allah menganugerahinya anak-anak, maka itulah masa untuk bekerja dan mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan hidup.فَإِذَا بَلَغَ الْأَرْبَعِينَ، انْتَهَى تَمَامُهُ، وَقَضَى مَنَاسِكَ الْأَجَلِ، وَلَمْ يَبْقَ إِلَّا الِانْحِدَارُ إِلَى الْوَطَنِ. Apabila telah mencapai usia empat puluh tahun, berarti masa kesempurnaannya telah berlalu. Ia telah menempuh sebagian besar perjalanan hidupnya, dan setelah itu tinggal menuruni perjalanan menuju kampung akhirat.كَأَنَّ الْفَتَى يَرْقَى مِنَ الْعُمْرِ سُلَّمًا … إِلَى أَنْ يُجَاوِزَ الْأَرْبَعِينَ وَيَنْحَطَّ Seakan-akan seseorang menaiki tangga demi tangga sepanjang usianya, hingga ketika melewati usia empat puluh tahun, ia mulai menuruni tangga tersebut.فَيَنْبَغِي لَهُ عِنْدَ تَمَامِ الْأَرْبَعِينَ أَنْ يَجْعَلَ جُلَّ هِمَّتِهِ التَّزَوُّدَ لِلْآخِرَةِ، وَيَكُونَ كُلُّ تَلَمُّحِهِ لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ، وَيَأْخُذَ فِي الِاسْتِعْدَادِ لِلرَّحِيلِ، وَإِنْ كَانَ الْخِطَابُ بِهَذَا لِابْنِ عِشْرِينَ، إِلَّا أَنَّ رَجَاءَ التَّدَارُكِ فِي حَقِّ الصَّغِيرِ، لَا فِي حَقِّ الْكَبِيرِ. Karena itu, ketika genap berusia empat puluh tahun, hendaknya sebagian besar perhatian dan cita-citanya diarahkan untuk memperbanyak bekal menuju akhirat. Pandangannya hendaknya lebih banyak tertuju kepada kehidupan yang akan dihadapinya nanti, lalu mulai bersiap-siap untuk perjalanan menuju akhirat. Nasihat ini sebenarnya juga berlaku bagi orang yang berusia dua puluh tahun. Hanya saja, kesempatan untuk memperbaiki diri masih lebih luas bagi orang yang muda dibandingkan orang yang sudah tua.فَإِذَا بَلَغَ السِّتِّينَ؛ فَقَدْ أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَيْهِ فِي الْأَجَلِ، وَجَازَ مِنَ الزَّمَنِ، فَلْيُقْبِلْ بِكُلِّيَّتِهِ عَلَى جَمْعِ زَادِهِ، وَتَهْيِئَةِ آلَاتِ السَّفَرِ، وَلْيَعْتَقِدْ أَنَّ كُلَّ يَوْمٍ يَحْيَا فِيهِ غَنِيمَةٌ، مَا هِيَ فِي الْحِسَابِ، خُصُوصًا إِذَا قَوِيَ عَلَيْهِ الضَّعْفُ وَزَادَ. وَكُلَّمَا عَلَتْ سِنُّهُ، فَيَنْبَغِي أَنْ يَزِيدَ اجْتِهَادُهُ. Apabila seseorang telah mencapai usia enam puluh tahun, berarti Allah telah memberikan kesempatan yang panjang kepadanya. Hendaklah ia benar-benar memusatkan seluruh perhatiannya untuk mengumpulkan bekal akhirat dan mempersiapkan perjalanan menuju kehidupan setelah mati. Hendaknya ia meyakini bahwa setiap hari tambahan umur yang masih Allah berikan adalah keuntungan besar yang tidak ternilai, terlebih ketika kelemahan fisik semakin terasa.Semakin bertambah usianya, hendaknya semakin besar pula kesungguhannya dalam beribadah.فَإِذَا دَخَلَ فِي عَشْرِ الثَّمَانِينَ، لَيْسَ إِلَّا الْوَدَاعُ، وَمَا بَقِيَ مِنَ الْعُمْرِ إِلَّا أَسَفٌ عَلَى تَفْرِيطٍ، أَوْ تَعَبُّدٌ عَلَى ضَعْفٍ. Apabila seseorang telah memasuki usia delapan puluh tahun, maka yang tersisa hanyalah menanti perpisahan dengan dunia. Sisa usianya biasanya hanya diisi oleh penyesalan atas kelalaian yang telah lalu atau beribadah dalam keadaan fisik yang telah lemah.نَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقَظَةً تَامَّةً، تَصْرِفُ عَنَّا رُقَادَ الْغَفَلَاتِ، وَعَمَلًا صَالِحًا نَأْمَنُ مَعَهُ مِنَ النَّدَمِ يَوْمَ الِانْتِقَالِ، وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ.Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menganugerahkan kepada kita hati yang selalu terjaga sehingga terhindar dari kelalaian, serta amal saleh yang membuat kita selamat dari penyesalan ketika tiba saat meninggalkan dunia. Hanya Allah-lah yang memberikan taufik.” Doa Agar Mendapat Umur yang BerkahDoa Meminta Panjang Umur dan Diberkahiاللَّهُمَّ أكْثِرْ مَالِي، وَوَلَدِي، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أعْطَيْتَنِي وَأطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأحْسِنْ عَمَلِي وَاغْفِرْ لِيALLOOHUMMA AK-TSIR MAALII WA WALADII, WA BAARIK LII FIIMAA A’THOYTANII WA ATHIL HAYAATII ‘ALA THOO’ATIK WA AHSIN ‘AMALII WAGH-FIR LIIArtinya: Ya Allah perbanyaklah hartaku dan anakku serta berkahilah karunia yang Engkau berikan kepadaku. Panjangkanlah umurku dalam ketaatan kepada-Mu, perbaguslah amalku, dan ampunilah dosa-dosaku.Baca juga: Doa Meminta Panjang Umur dan Banyak Harta Doa untuk Usia 40: Syukur, Amal Saleh, dan Keturunan Baikرَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ ROBBI AWZI’NII AN ASYKURO NI’MATAKALLATII AN ‘AMTA ‘ALAYYA. WA ‘ALAA WAALIDAYYA WA AN A’MALA SHOOLIHAN TARDHOOHU, WA ASHLIH LII FII DZURRIYATII, INNII TUBTU ILAIKA WA INNII MINAL MUSLIMIINArtinya: Wahai Rabb-ku, ilhamkanlah kepadaku untuk bersyukur atas nikmat yang telah Engkau karuniakan kepadaku dan kepada orang tuaku. Ilhamkan pula kepadaku untuk melakukan amal shalih yang Engkau ridhai, dan perbaikilah keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. (QS. Al-Ahqaf ayat 15)Baca juga: Apa yang Harus Dilakukan di Usia 40 Tahun Menurut Islam?Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata dalam tafsirnya: فِي هَذِهِ الْآيَةِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُ يَنْبَغِي لِمَنْ بَلَغَ عُمْرُهُ أَرْبَعِينَ سَنَةً أَنْ يَسْتَكْثِرَ مِنْ هَذِهِ الدَّعَوَاتِ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.“Pada ayat ini terdapat petunjuk bahwa seseorang yang telah mencapai usia empat puluh tahun hendaknya memperbanyak doa-doa yang disebutkan dalam ayat tersebut. Dan Allah-lah Yang Maha Mengetahui.”Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya, “Ayat ini mengandung bimbingan bagi siapa saja yang telah mencapai usia empat puluh tahun agar ia memperbarui tobatnya, semakin kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan bertekad kuat untuk terus istiqamah di atas jalan tersebut.”Namun, ayat ini tidak menunjukkan bahwa membaca doa ini hukumnya wajib. Sebagian ulama menjelaskan bahwa tidak ada doa yang wajib dibaca selain doa memohon hidayah, yaitu doa yang kita baca dalam Surah Al-Fatihah pada setiap rakaat shalat. Apa Itu Berkah (Barakah)?[1] Berkah adalah konsep penting dalam Islam yang berkaitan dengan kelanggengan dan bertambahnya kebaikan dalam kehidupan seseorang. Pemahaman yang benar mengenai berkah akan membantu kita meraih manfaat yang lebih besar dari setiap nikmat yang Allah berikan.Dalam bahasa Arab, berkah atau barakah bermakna tetapnya sesuatu dan juga dapat diartikan sebagai bertambah atau berkembangnya suatu hal. Tabriik merujuk pada doa agar seseorang mendapatkan keberkahan, sedangkan tabarruk adalah usaha untuk memperoleh keberkahan atau yang biasa dikenal sebagai “ngalap berkah.”Dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, barakah bermakna kelanggengan kebaikan, kadang juga berarti bertambahnya kebaikan, atau bahkan mencakup kedua makna tersebut sekaligus. Hal ini dapat kita temukan dalam doa keberkahan yang sering dibaca saat tasyahud, yang ditujukan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,هٰذَا ٱلدُّعَاءُ يَتَضَمَّنُ إِعْطَاءَهُ مِنَ ٱلْخَيْرِ مَا أَعْطَاهُ لِآلِ إِبْرَاهِيمَ وَإِدَامَتَهُ وَثُبُوتَهُ لَهُ، وَمُضَاعَفَتَهُ لَهُ وَزِيَادَتَهُ، هٰذَا حَقِيقَةُ ٱلْبَرَكَةِ.“Doa ini mencakup permohonan agar diberikan kebaikan sebagaimana yang diberikan kepada keluarga Ibrahim, serta agar kebaikan tersebut tetap ada, terus berlangsung, berlipat ganda, dan semakin bertambah. Inilah hakikat keberkahan.”وَبِهٰذَا يَتَّضِحُ أَنَّ ٱلْبَرَكَةَ هِيَ ثُبُوتُ ٱلْخَيْرِ وَدَوَامُهُ، أَوْ كَثْرَةُ ٱلْخَيْرِ وَزِيَادَتُهُ، أَوْ هُمَا مَعًا.Dari sini dapat dipahami bahwa berkah berarti:Kebaikan yang tetap dan terus berlangsung,Kebaikan yang banyak dan bertambah,Atau mencakup keduanya sekaligus.Dalam salah satu doa iftitah yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, disebutkan:وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِى يَدَيْكَ“Seluruh kebaikan berada di tangan-Mu.” (HR. Muslim, no. 771) Pelajaran Berharga dari Perkataan Ibnul Qayyim“Bukan panjangnya umur yang menentukan nilai hidup seseorang, tetapi keberkahannya. Dan keberkahan itu lahir dari ketaatan, sedangkan maksiat perlahan menghabiskan umur yang sebenarnya.” Penutup: Jagalah Umur Sebelum Penyesalan DatangDi zaman sekarang, banyak orang sibuk mengejar usia panjang, kesehatan, dan kesuksesan, tetapi lalai menjaga keberkahan hidupnya. Maksiat yang dianggap sepele ternyata dapat menggerogoti nilai umur sedikit demi sedikit. Karena itu, jangan hanya menghitung berapa lama kita hidup, tetapi hitunglah berapa banyak waktu yang benar-benar kita gunakan untuk mendekat kepada Allah. Semoga Allah menjadikan sisa umur kita penuh keberkahan, dipenuhi amal saleh, dan ditutup dengan husnul khatimah.اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا، وَوَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْحُسْنَىAllāhumma bārik lanā fī a‘mārinā, wa waffiqnā li ṭā‘atika, wakhtim lanā bil-ḥusnā.“Ya Allah, berkahilah umur kami, berilah kami taufik untuk selalu taat kepada-Mu, dan tutuplah kehidupan kami dengan akhir yang terbaik.” Sebagian bahasan ini diambil dari buku DOSA ITU CANDU dan kumpulan doa dalam 50 DOA MENGATASI PROBLEM HIDUP. Untuk memesan buku-buku karya kami, bisa dapatkan di Rumaysho Store wa.me/6282120000454 atau wa.me/6282136267701, di shopee dan tokopedia Rumayshostore, atau Rumaysho Digital. —- Selesai ditulis dari Pondok Pesantren Darush Sholihin  dalam perjalanan menuju Sekar Kedhaton (Majelis Shafiyah Shalehah), Rabu, 20 Safar 1448 H, 5 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsAd-Daa wad Dawaa barakah dosa dosa itu candu faedah dari Ibnul Qayyim ibnul qayyim keberkahan maksiat nasihat islam taubat tazkiyatun nafs umur

Maksiat Menghilangkan Keberkahan Umur: Penjelasan Ibnul Qayyim

Setiap orang berharap diberi umur panjang. Namun, Islam mengajarkan bahwa yang paling berharga bukan sekadar panjangnya umur, melainkan keberkahannya. Tulisan Ibnul Qayyim rahimahullah berikut menjelaskan bagaimana maksiat dapat menghilangkan keberkahan hidup, bahkan menjadi sebab pendeknya umur dalam makna yang sangat mendalam.  Daftar Isi tutup 1. Maksiat Menghilangkan Keberkahan Umur 1.1. Pendapat Pertama: Maksiat Menghilangkan Berkah Umur 1.2. Pendapat Kedua: Maksiat Benar-Benar Mengurangi Umur Secara Hakiki 1.3. Pendapat Ketiga: Maksiat Mengurangi Hakikat Umur karena Hakikat Umur atau Umur Sejati adalah Hidupnya Hati 2. Umur Sejati adalah Waktu yang Dihabiskan Bersama Allah 3. Penyesalan Orang yang Menyia-nyiakan Umurnya 4. Rahasia Keberkahan Umur Menurut Ibnul Qayyim 5. Renungan Tahapan Usia Manusia dari Ibnul Jauzi 6. Doa Agar Mendapat Umur yang Berkah 6.1. Doa Meminta Panjang Umur dan Diberkahi 6.2. Doa untuk Usia 40: Syukur, Amal Saleh, dan Keturunan Baik 7. Apa Itu Berkah (Barakah)? 8. Pelajaran Berharga dari Perkataan Ibnul Qayyim 9. Penutup: Jagalah Umur Sebelum Penyesalan Datang  Maksiat Menghilangkan Keberkahan UmurIbnul Qayyim rahimahullah berkata,أَنَّ الْمَعَاصِيَ تُقَصِّرُ الْعُمُرَ وَتَمْحَقُ بَرَكَتَهُ وَلَا بُدَّ، فَإِنَّ الْبِرَّ كَمَا يَزِيدُ فِي الْعُمُرِ، فَالْفُجُورُ يُقَصِّرُالْعُمُرَ.Di antara dampak maksiat adalah memperpendek umur dan menghilangkan keberkahannya[1]. Sebagaimana kebaikan dapat menambah umur, keburukan justru memperpendeknya. Pendapat Pertama: Maksiat Menghilangkan Berkah Umurفَقَالَتْ طَائِفَةٌ: نُقْصَانُ عُمُرِ الْعَاصِي هُوَ ذَهَابُ بَرَكَةِ عُمُرِهِ وَمَحْقُهَا عَلَيْهِ، وَهَذَا حَقٌّ، وَهُوَ بَعْضُ تَأْثِيرِالْمَعَاصِي.Sebagian ulama mengatakan bahwa berkurangnya umur pelaku maksiat berarti hilangnya keberkahan dalam hidupnya. Ini benar adanya, dan merupakan salah satu dampak dari maksiat. Pendapat Kedua: Maksiat Benar-Benar Mengurangi Umur Secara Hakikiوَقَالَتْ طَائِفَةٌ: بَلْ تُنْقِصُهُ حَقِيقَةً، كَمَا تُنْقِصُ الرِّزْقَ، فَجَعَلَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ لِلْبَرَكَةِ فِي الرِّزْقِ أَسْبَابًاكَثِيرَةً تُكَثِّرُهُ وَتَزِيدُهُ، وَلِلْبَرَكَةِ فِي الْعُمُرِ أَسْبَابًا تُكَثِّرُهُ وَتَزِيدُهُ.Sebagian ulama berpendapat bahwa dosa benar-benar mengurangi umur secara hakiki, sebagaimana dosa juga dapat mengurangi rezeki. Allah, Mahasuci Dia, telah menetapkan banyak sebab yang dapat mendatangkan keberkahan dalam rezeki sehingga rezeki itu bertambah dan meningkat. Demikian pula, Allah menetapkan sebab-sebab yang dapat mendatangkan keberkahan dalam umur, yang menjadikannya lebih panjang dan penuh manfaat.قَالُوا وَلَا تُمْنَعُ زِيَادَةُ الْعُمُرِ بِأَسْبَابٍ كَمَا يُنْقَصُ بِأَسْبَابٍ، فَالْأَرْزَاقُ وَالْآجَالُ، وَالسَّعَادَةُ وَالشَّقَاوَةُ،وَالصِّحَّةُ وَالْمَرَضُ، وَالْغِنَى وَالْفَقْرُ، وَإِنْ كَانَتْ بِقَضَاءِ الرَّبِّ عَزَّ وَجَلَّ، فَهُوَ يَقْضِي مَا يَشَاءُ بِأَسْبَابٍجَعَلَهَا مُوجِبَةً لِمُسَبَّبَاتِهَا مُقْتَضِيَةً لَهَا.Mereka mengatakan bahwa bertambahnya umur tidak terhalang oleh sebab-sebab tertentu, sebagaimana berkurangnya umur juga terjadi karena sebab-sebab tertentu. Hal ini serupa dengan rezeki dan ajal, kebahagiaan dan kesengsaraan, kesehatan dan penyakit, serta kekayaan dan kemiskinan. Semua itu, meskipun ditetapkan oleh keputusan Allah yang Mahaagung, tetap terjadi melalui sebab-sebab yang telah Allah tetapkan sebagai faktor penyebab bagi akibat-akibatnya, yang saling berkaitan dan sesuai dengan hikmah-Nya. Pendapat Ketiga: Maksiat Mengurangi Hakikat Umur karena Hakikat Umur atau Umur Sejati adalah Hidupnya Hatiوَقَالَتْ طَائِفَةٌ أُخْرَى: تَأْثِيرُ الْمَعَاصِي فِي مَحْقِ الْعُمُرِ إِنَّمَا هُوَ بِأَنَّ حَقِيقَةَ الْحَيَاةِ هِيَ حَيَاةُ الْقَلْبِ،وَلِهَذَا جَعَلَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ الْكَافِرَ مَيِّتًا غَيْرَ حَيٍّ، كَمَا قَالَ تَعَالَى، {أَمْوَاتٌ غَيْرُ أَحْيَاءٍ} [سُورَةُ النَّحْلِ: ٢١] .Sebagian ulama lain berpendapat bahwa pengaruh maksiat dalam menghilangkan umur terletak pada hakikat kehidupan itu sendiri, yaitu kehidupan hati. Karena itulah Allah, Mahasuci Dia, menyebut orang kafir sebagai makhluk yang mati, bukan hidup, sebagaimana firman-Nya: “Mereka itu mati, tidak hidup.” (QS. An-Nahl: 21). Umur Sejati adalah Waktu yang Dihabiskan Bersama Allahفَالْحَيَاةُ فِي الْحَقِيقَةِ حَيَاةُ الْقَلْبِ، وَعُمُرُ الْإِنْسَانِ مُدَّةُ حَيَّاتِهِ فَلَيْسَ عُمُرُهُ إِلَّا أَوْقَاتَ حَيَاتِهِ بِاللَّهِ، فَتِلْكَسَاعَاتُ عُمُرِهِ، فَالْبِرُّ وَالتَّقْوَى وَالطَّاعَةُ تَزِيدُ فِي هَذِهِ الْأَوْقَاتِ الَّتِي هِيَ حَقِيقَةُ عُمُرِهِ، وَلَا عُمُرَ لَهُسِوَاهَا.Hakikat kehidupan sejati adalah kehidupan hati. Umur manusia pada hakikatnya adalah masa hidup hatinya. Tidak ada umur yang sebenarnya kecuali waktu-waktu yang ia jalani bersama Allah. Itulah jam-jam kehidupannya yang sejati. Kebaikan, ketakwaan, dan ketaatan menambah waktu-waktu ini, yang merupakan hakikat umur seseorang. Selain itu, tidak ada umur lain baginya selain waktu-waktu tersebut. Penyesalan Orang yang Menyia-nyiakan Umurnyaوَبِالْجُمْلَةِ، فَالْعَبْدُ إِذَا أَعْرَضَ عَنِ اللَّهِ وَاشْتَغَلَ بِالْمَعَاصِي ضَاعَتْ عَلَيْهِ أَيَّامُ حَيَاتِهِ الْحَقِيقِيَّةُ الَّتِييَجِدُ غِبَّ إِضَاعَتِهَا يَوْمَ يَقُولُ: {يَالَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي} [سُورَةُ الْفَجْرِ: ٢٤] .Secara keseluruhan, jika seorang hamba berpaling dari Allah dan sibuk dengan maksiat, maka ia telah menyia-nyiakan hari-hari dari kehidupannya yang sejati. Ia akan merasakan penyesalan atas waktu-waktu yang disia-siakan itu pada hari ketika ia berkata: “Alangkah baiknya jika aku dahulu mempersembahkan sesuatu untuk kehidupanku ini.” (QS. Al-Fajr: 24).فَلَا يَخْلُو إِمَّا أَنْ يَكُونَ لَهُ مَعَ ذَلِكَ تَطَلُّعٌ إِلَى مَصَالِحِهِ الدُّنْيَوِيَّةِ وَالْأُخْرَوِيَّةِ أَوْ لَا، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ تَطَلُّعٌإِلَى ذَلِكَ فَقَدْ ضَاعَ عَلَيْهِ عُمُرُهُ كُلُّهُ، وَذَهَبَتْ حَيَاتُهُ بَاطِلًا، وَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَلُّعٌ إِلَى ذَلِكَ طَالَتْ عَلَيْهِالطَّرِيقُ بِسَبَبِ الْعَوَائِقِ، وَتَعَسَّرَتْ عَلَيْهِ أَسْبَابُ الْخَيْرِ بِحَسْبِ اشْتِغَالِهِ بِأَضْدَادِهَا، وَذَلِكَ نُقْصَانٌحَقِيقِيٌّ مِنْ عُمُرِهِ.Keadaan seseorang yang berpaling dari Allah akan terbagi menjadi dua: apakah ia masih memiliki perhatian terhadap kepentingan dunia dan akhiratnya, atau tidak. Jika ia sama sekali tidak memiliki perhatian terhadap hal itu, maka seluruh umurnya akan terbuang sia-sia, dan kehidupannya menjadi kosong tanpa makna. Namun, jika ia masih memiliki perhatian terhadap hal tersebut, jalannya akan terasa panjang karena berbagai penghalang, dan sebab-sebab kebaikan menjadi sulit baginya, sebanding dengan kesibukannya pada hal-hal yang bertentangan dengan kebaikan itu. Ini adalah bentuk nyata dari berkurangnya umur secara hakiki. Rahasia Keberkahan Umur Menurut Ibnul Qayyimوَسِرُّ الْمَسْأَلَةِ أَنَّ عُمُرَ الْإِنْسَانِ مُدَّةُ حَيَّاتِهِ وَلَا حَيَاةَ لَهُ إِلَّا بِإِقْبَالِهِ عَلَى رَبِّهِ، وَالتَّنَعُّمِ بِحُبِّهِ وَذِكْرِهِ،وَإِيثَارِ مَرْضَاتِهِ.Inti dari permasalahan ini adalah bahwa umur manusia sejatinya adalah masa hidupnya, dan tidak ada kehidupan yang sebenarnya kecuali dengan mendekat kepada Rabb-nya, menikmati cinta dan dzikir kepada-Nya, serta mengutamakan keridaan-Nya.(Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa‘, hlm. 87-88) Renungan Tahapan Usia Manusia dari Ibnul JauziImam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata dalam kitab Shaid Al-Khathir:اَلْعَاقِلُ مَنْ فَهِمَ مَقَادِيرَ الزَّمَانِ؛ فَإِنَّهُ فِيمَا قَبْلَ الْبُلُوغِ صَبِيٌّ، لَيْسَ عَلَى عُمُرِهِ عِيَارٌ. “Orang yang berakal adalah orang yang memahami tahapan-tahapan usianya. Sebelum balig, seseorang masih anak-anak sehingga usianya belum menjadi ukuran yang berarti.فَإِذَا بَلَغَ، فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ زَمَانُ الْمُجَاهَدَةِ لِلْهَوَى، وَتَعَلُّمِ الْعِلْمِ. Ketika telah baligh, ia harus menyadari bahwa inilah masa untuk melawan hawa nafsu dan menuntut ilmu.فَإِذَا رُزِقَ الْأَوْلَادَ، فَهُوَ زَمَانُ الْكَسْبِ لِلْمَعَاشِ.Setelah Allah menganugerahinya anak-anak, maka itulah masa untuk bekerja dan mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan hidup.فَإِذَا بَلَغَ الْأَرْبَعِينَ، انْتَهَى تَمَامُهُ، وَقَضَى مَنَاسِكَ الْأَجَلِ، وَلَمْ يَبْقَ إِلَّا الِانْحِدَارُ إِلَى الْوَطَنِ. Apabila telah mencapai usia empat puluh tahun, berarti masa kesempurnaannya telah berlalu. Ia telah menempuh sebagian besar perjalanan hidupnya, dan setelah itu tinggal menuruni perjalanan menuju kampung akhirat.كَأَنَّ الْفَتَى يَرْقَى مِنَ الْعُمْرِ سُلَّمًا … إِلَى أَنْ يُجَاوِزَ الْأَرْبَعِينَ وَيَنْحَطَّ Seakan-akan seseorang menaiki tangga demi tangga sepanjang usianya, hingga ketika melewati usia empat puluh tahun, ia mulai menuruni tangga tersebut.فَيَنْبَغِي لَهُ عِنْدَ تَمَامِ الْأَرْبَعِينَ أَنْ يَجْعَلَ جُلَّ هِمَّتِهِ التَّزَوُّدَ لِلْآخِرَةِ، وَيَكُونَ كُلُّ تَلَمُّحِهِ لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ، وَيَأْخُذَ فِي الِاسْتِعْدَادِ لِلرَّحِيلِ، وَإِنْ كَانَ الْخِطَابُ بِهَذَا لِابْنِ عِشْرِينَ، إِلَّا أَنَّ رَجَاءَ التَّدَارُكِ فِي حَقِّ الصَّغِيرِ، لَا فِي حَقِّ الْكَبِيرِ. Karena itu, ketika genap berusia empat puluh tahun, hendaknya sebagian besar perhatian dan cita-citanya diarahkan untuk memperbanyak bekal menuju akhirat. Pandangannya hendaknya lebih banyak tertuju kepada kehidupan yang akan dihadapinya nanti, lalu mulai bersiap-siap untuk perjalanan menuju akhirat. Nasihat ini sebenarnya juga berlaku bagi orang yang berusia dua puluh tahun. Hanya saja, kesempatan untuk memperbaiki diri masih lebih luas bagi orang yang muda dibandingkan orang yang sudah tua.فَإِذَا بَلَغَ السِّتِّينَ؛ فَقَدْ أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَيْهِ فِي الْأَجَلِ، وَجَازَ مِنَ الزَّمَنِ، فَلْيُقْبِلْ بِكُلِّيَّتِهِ عَلَى جَمْعِ زَادِهِ، وَتَهْيِئَةِ آلَاتِ السَّفَرِ، وَلْيَعْتَقِدْ أَنَّ كُلَّ يَوْمٍ يَحْيَا فِيهِ غَنِيمَةٌ، مَا هِيَ فِي الْحِسَابِ، خُصُوصًا إِذَا قَوِيَ عَلَيْهِ الضَّعْفُ وَزَادَ. وَكُلَّمَا عَلَتْ سِنُّهُ، فَيَنْبَغِي أَنْ يَزِيدَ اجْتِهَادُهُ. Apabila seseorang telah mencapai usia enam puluh tahun, berarti Allah telah memberikan kesempatan yang panjang kepadanya. Hendaklah ia benar-benar memusatkan seluruh perhatiannya untuk mengumpulkan bekal akhirat dan mempersiapkan perjalanan menuju kehidupan setelah mati. Hendaknya ia meyakini bahwa setiap hari tambahan umur yang masih Allah berikan adalah keuntungan besar yang tidak ternilai, terlebih ketika kelemahan fisik semakin terasa.Semakin bertambah usianya, hendaknya semakin besar pula kesungguhannya dalam beribadah.فَإِذَا دَخَلَ فِي عَشْرِ الثَّمَانِينَ، لَيْسَ إِلَّا الْوَدَاعُ، وَمَا بَقِيَ مِنَ الْعُمْرِ إِلَّا أَسَفٌ عَلَى تَفْرِيطٍ، أَوْ تَعَبُّدٌ عَلَى ضَعْفٍ. Apabila seseorang telah memasuki usia delapan puluh tahun, maka yang tersisa hanyalah menanti perpisahan dengan dunia. Sisa usianya biasanya hanya diisi oleh penyesalan atas kelalaian yang telah lalu atau beribadah dalam keadaan fisik yang telah lemah.نَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقَظَةً تَامَّةً، تَصْرِفُ عَنَّا رُقَادَ الْغَفَلَاتِ، وَعَمَلًا صَالِحًا نَأْمَنُ مَعَهُ مِنَ النَّدَمِ يَوْمَ الِانْتِقَالِ، وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ.Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menganugerahkan kepada kita hati yang selalu terjaga sehingga terhindar dari kelalaian, serta amal saleh yang membuat kita selamat dari penyesalan ketika tiba saat meninggalkan dunia. Hanya Allah-lah yang memberikan taufik.” Doa Agar Mendapat Umur yang BerkahDoa Meminta Panjang Umur dan Diberkahiاللَّهُمَّ أكْثِرْ مَالِي، وَوَلَدِي، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أعْطَيْتَنِي وَأطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأحْسِنْ عَمَلِي وَاغْفِرْ لِيALLOOHUMMA AK-TSIR MAALII WA WALADII, WA BAARIK LII FIIMAA A’THOYTANII WA ATHIL HAYAATII ‘ALA THOO’ATIK WA AHSIN ‘AMALII WAGH-FIR LIIArtinya: Ya Allah perbanyaklah hartaku dan anakku serta berkahilah karunia yang Engkau berikan kepadaku. Panjangkanlah umurku dalam ketaatan kepada-Mu, perbaguslah amalku, dan ampunilah dosa-dosaku.Baca juga: Doa Meminta Panjang Umur dan Banyak Harta Doa untuk Usia 40: Syukur, Amal Saleh, dan Keturunan Baikرَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ ROBBI AWZI’NII AN ASYKURO NI’MATAKALLATII AN ‘AMTA ‘ALAYYA. WA ‘ALAA WAALIDAYYA WA AN A’MALA SHOOLIHAN TARDHOOHU, WA ASHLIH LII FII DZURRIYATII, INNII TUBTU ILAIKA WA INNII MINAL MUSLIMIINArtinya: Wahai Rabb-ku, ilhamkanlah kepadaku untuk bersyukur atas nikmat yang telah Engkau karuniakan kepadaku dan kepada orang tuaku. Ilhamkan pula kepadaku untuk melakukan amal shalih yang Engkau ridhai, dan perbaikilah keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. (QS. Al-Ahqaf ayat 15)Baca juga: Apa yang Harus Dilakukan di Usia 40 Tahun Menurut Islam?Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata dalam tafsirnya: فِي هَذِهِ الْآيَةِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُ يَنْبَغِي لِمَنْ بَلَغَ عُمْرُهُ أَرْبَعِينَ سَنَةً أَنْ يَسْتَكْثِرَ مِنْ هَذِهِ الدَّعَوَاتِ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.“Pada ayat ini terdapat petunjuk bahwa seseorang yang telah mencapai usia empat puluh tahun hendaknya memperbanyak doa-doa yang disebutkan dalam ayat tersebut. Dan Allah-lah Yang Maha Mengetahui.”Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya, “Ayat ini mengandung bimbingan bagi siapa saja yang telah mencapai usia empat puluh tahun agar ia memperbarui tobatnya, semakin kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan bertekad kuat untuk terus istiqamah di atas jalan tersebut.”Namun, ayat ini tidak menunjukkan bahwa membaca doa ini hukumnya wajib. Sebagian ulama menjelaskan bahwa tidak ada doa yang wajib dibaca selain doa memohon hidayah, yaitu doa yang kita baca dalam Surah Al-Fatihah pada setiap rakaat shalat. Apa Itu Berkah (Barakah)?[1] Berkah adalah konsep penting dalam Islam yang berkaitan dengan kelanggengan dan bertambahnya kebaikan dalam kehidupan seseorang. Pemahaman yang benar mengenai berkah akan membantu kita meraih manfaat yang lebih besar dari setiap nikmat yang Allah berikan.Dalam bahasa Arab, berkah atau barakah bermakna tetapnya sesuatu dan juga dapat diartikan sebagai bertambah atau berkembangnya suatu hal. Tabriik merujuk pada doa agar seseorang mendapatkan keberkahan, sedangkan tabarruk adalah usaha untuk memperoleh keberkahan atau yang biasa dikenal sebagai “ngalap berkah.”Dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, barakah bermakna kelanggengan kebaikan, kadang juga berarti bertambahnya kebaikan, atau bahkan mencakup kedua makna tersebut sekaligus. Hal ini dapat kita temukan dalam doa keberkahan yang sering dibaca saat tasyahud, yang ditujukan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,هٰذَا ٱلدُّعَاءُ يَتَضَمَّنُ إِعْطَاءَهُ مِنَ ٱلْخَيْرِ مَا أَعْطَاهُ لِآلِ إِبْرَاهِيمَ وَإِدَامَتَهُ وَثُبُوتَهُ لَهُ، وَمُضَاعَفَتَهُ لَهُ وَزِيَادَتَهُ، هٰذَا حَقِيقَةُ ٱلْبَرَكَةِ.“Doa ini mencakup permohonan agar diberikan kebaikan sebagaimana yang diberikan kepada keluarga Ibrahim, serta agar kebaikan tersebut tetap ada, terus berlangsung, berlipat ganda, dan semakin bertambah. Inilah hakikat keberkahan.”وَبِهٰذَا يَتَّضِحُ أَنَّ ٱلْبَرَكَةَ هِيَ ثُبُوتُ ٱلْخَيْرِ وَدَوَامُهُ، أَوْ كَثْرَةُ ٱلْخَيْرِ وَزِيَادَتُهُ، أَوْ هُمَا مَعًا.Dari sini dapat dipahami bahwa berkah berarti:Kebaikan yang tetap dan terus berlangsung,Kebaikan yang banyak dan bertambah,Atau mencakup keduanya sekaligus.Dalam salah satu doa iftitah yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, disebutkan:وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِى يَدَيْكَ“Seluruh kebaikan berada di tangan-Mu.” (HR. Muslim, no. 771) Pelajaran Berharga dari Perkataan Ibnul Qayyim“Bukan panjangnya umur yang menentukan nilai hidup seseorang, tetapi keberkahannya. Dan keberkahan itu lahir dari ketaatan, sedangkan maksiat perlahan menghabiskan umur yang sebenarnya.” Penutup: Jagalah Umur Sebelum Penyesalan DatangDi zaman sekarang, banyak orang sibuk mengejar usia panjang, kesehatan, dan kesuksesan, tetapi lalai menjaga keberkahan hidupnya. Maksiat yang dianggap sepele ternyata dapat menggerogoti nilai umur sedikit demi sedikit. Karena itu, jangan hanya menghitung berapa lama kita hidup, tetapi hitunglah berapa banyak waktu yang benar-benar kita gunakan untuk mendekat kepada Allah. Semoga Allah menjadikan sisa umur kita penuh keberkahan, dipenuhi amal saleh, dan ditutup dengan husnul khatimah.اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا، وَوَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْحُسْنَىAllāhumma bārik lanā fī a‘mārinā, wa waffiqnā li ṭā‘atika, wakhtim lanā bil-ḥusnā.“Ya Allah, berkahilah umur kami, berilah kami taufik untuk selalu taat kepada-Mu, dan tutuplah kehidupan kami dengan akhir yang terbaik.” Sebagian bahasan ini diambil dari buku DOSA ITU CANDU dan kumpulan doa dalam 50 DOA MENGATASI PROBLEM HIDUP. Untuk memesan buku-buku karya kami, bisa dapatkan di Rumaysho Store wa.me/6282120000454 atau wa.me/6282136267701, di shopee dan tokopedia Rumayshostore, atau Rumaysho Digital. —- Selesai ditulis dari Pondok Pesantren Darush Sholihin  dalam perjalanan menuju Sekar Kedhaton (Majelis Shafiyah Shalehah), Rabu, 20 Safar 1448 H, 5 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsAd-Daa wad Dawaa barakah dosa dosa itu candu faedah dari Ibnul Qayyim ibnul qayyim keberkahan maksiat nasihat islam taubat tazkiyatun nafs umur
Setiap orang berharap diberi umur panjang. Namun, Islam mengajarkan bahwa yang paling berharga bukan sekadar panjangnya umur, melainkan keberkahannya. Tulisan Ibnul Qayyim rahimahullah berikut menjelaskan bagaimana maksiat dapat menghilangkan keberkahan hidup, bahkan menjadi sebab pendeknya umur dalam makna yang sangat mendalam.  Daftar Isi tutup 1. Maksiat Menghilangkan Keberkahan Umur 1.1. Pendapat Pertama: Maksiat Menghilangkan Berkah Umur 1.2. Pendapat Kedua: Maksiat Benar-Benar Mengurangi Umur Secara Hakiki 1.3. Pendapat Ketiga: Maksiat Mengurangi Hakikat Umur karena Hakikat Umur atau Umur Sejati adalah Hidupnya Hati 2. Umur Sejati adalah Waktu yang Dihabiskan Bersama Allah 3. Penyesalan Orang yang Menyia-nyiakan Umurnya 4. Rahasia Keberkahan Umur Menurut Ibnul Qayyim 5. Renungan Tahapan Usia Manusia dari Ibnul Jauzi 6. Doa Agar Mendapat Umur yang Berkah 6.1. Doa Meminta Panjang Umur dan Diberkahi 6.2. Doa untuk Usia 40: Syukur, Amal Saleh, dan Keturunan Baik 7. Apa Itu Berkah (Barakah)? 8. Pelajaran Berharga dari Perkataan Ibnul Qayyim 9. Penutup: Jagalah Umur Sebelum Penyesalan Datang  Maksiat Menghilangkan Keberkahan UmurIbnul Qayyim rahimahullah berkata,أَنَّ الْمَعَاصِيَ تُقَصِّرُ الْعُمُرَ وَتَمْحَقُ بَرَكَتَهُ وَلَا بُدَّ، فَإِنَّ الْبِرَّ كَمَا يَزِيدُ فِي الْعُمُرِ، فَالْفُجُورُ يُقَصِّرُالْعُمُرَ.Di antara dampak maksiat adalah memperpendek umur dan menghilangkan keberkahannya[1]. Sebagaimana kebaikan dapat menambah umur, keburukan justru memperpendeknya. Pendapat Pertama: Maksiat Menghilangkan Berkah Umurفَقَالَتْ طَائِفَةٌ: نُقْصَانُ عُمُرِ الْعَاصِي هُوَ ذَهَابُ بَرَكَةِ عُمُرِهِ وَمَحْقُهَا عَلَيْهِ، وَهَذَا حَقٌّ، وَهُوَ بَعْضُ تَأْثِيرِالْمَعَاصِي.Sebagian ulama mengatakan bahwa berkurangnya umur pelaku maksiat berarti hilangnya keberkahan dalam hidupnya. Ini benar adanya, dan merupakan salah satu dampak dari maksiat. Pendapat Kedua: Maksiat Benar-Benar Mengurangi Umur Secara Hakikiوَقَالَتْ طَائِفَةٌ: بَلْ تُنْقِصُهُ حَقِيقَةً، كَمَا تُنْقِصُ الرِّزْقَ، فَجَعَلَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ لِلْبَرَكَةِ فِي الرِّزْقِ أَسْبَابًاكَثِيرَةً تُكَثِّرُهُ وَتَزِيدُهُ، وَلِلْبَرَكَةِ فِي الْعُمُرِ أَسْبَابًا تُكَثِّرُهُ وَتَزِيدُهُ.Sebagian ulama berpendapat bahwa dosa benar-benar mengurangi umur secara hakiki, sebagaimana dosa juga dapat mengurangi rezeki. Allah, Mahasuci Dia, telah menetapkan banyak sebab yang dapat mendatangkan keberkahan dalam rezeki sehingga rezeki itu bertambah dan meningkat. Demikian pula, Allah menetapkan sebab-sebab yang dapat mendatangkan keberkahan dalam umur, yang menjadikannya lebih panjang dan penuh manfaat.قَالُوا وَلَا تُمْنَعُ زِيَادَةُ الْعُمُرِ بِأَسْبَابٍ كَمَا يُنْقَصُ بِأَسْبَابٍ، فَالْأَرْزَاقُ وَالْآجَالُ، وَالسَّعَادَةُ وَالشَّقَاوَةُ،وَالصِّحَّةُ وَالْمَرَضُ، وَالْغِنَى وَالْفَقْرُ، وَإِنْ كَانَتْ بِقَضَاءِ الرَّبِّ عَزَّ وَجَلَّ، فَهُوَ يَقْضِي مَا يَشَاءُ بِأَسْبَابٍجَعَلَهَا مُوجِبَةً لِمُسَبَّبَاتِهَا مُقْتَضِيَةً لَهَا.Mereka mengatakan bahwa bertambahnya umur tidak terhalang oleh sebab-sebab tertentu, sebagaimana berkurangnya umur juga terjadi karena sebab-sebab tertentu. Hal ini serupa dengan rezeki dan ajal, kebahagiaan dan kesengsaraan, kesehatan dan penyakit, serta kekayaan dan kemiskinan. Semua itu, meskipun ditetapkan oleh keputusan Allah yang Mahaagung, tetap terjadi melalui sebab-sebab yang telah Allah tetapkan sebagai faktor penyebab bagi akibat-akibatnya, yang saling berkaitan dan sesuai dengan hikmah-Nya. Pendapat Ketiga: Maksiat Mengurangi Hakikat Umur karena Hakikat Umur atau Umur Sejati adalah Hidupnya Hatiوَقَالَتْ طَائِفَةٌ أُخْرَى: تَأْثِيرُ الْمَعَاصِي فِي مَحْقِ الْعُمُرِ إِنَّمَا هُوَ بِأَنَّ حَقِيقَةَ الْحَيَاةِ هِيَ حَيَاةُ الْقَلْبِ،وَلِهَذَا جَعَلَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ الْكَافِرَ مَيِّتًا غَيْرَ حَيٍّ، كَمَا قَالَ تَعَالَى، {أَمْوَاتٌ غَيْرُ أَحْيَاءٍ} [سُورَةُ النَّحْلِ: ٢١] .Sebagian ulama lain berpendapat bahwa pengaruh maksiat dalam menghilangkan umur terletak pada hakikat kehidupan itu sendiri, yaitu kehidupan hati. Karena itulah Allah, Mahasuci Dia, menyebut orang kafir sebagai makhluk yang mati, bukan hidup, sebagaimana firman-Nya: “Mereka itu mati, tidak hidup.” (QS. An-Nahl: 21). Umur Sejati adalah Waktu yang Dihabiskan Bersama Allahفَالْحَيَاةُ فِي الْحَقِيقَةِ حَيَاةُ الْقَلْبِ، وَعُمُرُ الْإِنْسَانِ مُدَّةُ حَيَّاتِهِ فَلَيْسَ عُمُرُهُ إِلَّا أَوْقَاتَ حَيَاتِهِ بِاللَّهِ، فَتِلْكَسَاعَاتُ عُمُرِهِ، فَالْبِرُّ وَالتَّقْوَى وَالطَّاعَةُ تَزِيدُ فِي هَذِهِ الْأَوْقَاتِ الَّتِي هِيَ حَقِيقَةُ عُمُرِهِ، وَلَا عُمُرَ لَهُسِوَاهَا.Hakikat kehidupan sejati adalah kehidupan hati. Umur manusia pada hakikatnya adalah masa hidup hatinya. Tidak ada umur yang sebenarnya kecuali waktu-waktu yang ia jalani bersama Allah. Itulah jam-jam kehidupannya yang sejati. Kebaikan, ketakwaan, dan ketaatan menambah waktu-waktu ini, yang merupakan hakikat umur seseorang. Selain itu, tidak ada umur lain baginya selain waktu-waktu tersebut. Penyesalan Orang yang Menyia-nyiakan Umurnyaوَبِالْجُمْلَةِ، فَالْعَبْدُ إِذَا أَعْرَضَ عَنِ اللَّهِ وَاشْتَغَلَ بِالْمَعَاصِي ضَاعَتْ عَلَيْهِ أَيَّامُ حَيَاتِهِ الْحَقِيقِيَّةُ الَّتِييَجِدُ غِبَّ إِضَاعَتِهَا يَوْمَ يَقُولُ: {يَالَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي} [سُورَةُ الْفَجْرِ: ٢٤] .Secara keseluruhan, jika seorang hamba berpaling dari Allah dan sibuk dengan maksiat, maka ia telah menyia-nyiakan hari-hari dari kehidupannya yang sejati. Ia akan merasakan penyesalan atas waktu-waktu yang disia-siakan itu pada hari ketika ia berkata: “Alangkah baiknya jika aku dahulu mempersembahkan sesuatu untuk kehidupanku ini.” (QS. Al-Fajr: 24).فَلَا يَخْلُو إِمَّا أَنْ يَكُونَ لَهُ مَعَ ذَلِكَ تَطَلُّعٌ إِلَى مَصَالِحِهِ الدُّنْيَوِيَّةِ وَالْأُخْرَوِيَّةِ أَوْ لَا، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ تَطَلُّعٌإِلَى ذَلِكَ فَقَدْ ضَاعَ عَلَيْهِ عُمُرُهُ كُلُّهُ، وَذَهَبَتْ حَيَاتُهُ بَاطِلًا، وَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَلُّعٌ إِلَى ذَلِكَ طَالَتْ عَلَيْهِالطَّرِيقُ بِسَبَبِ الْعَوَائِقِ، وَتَعَسَّرَتْ عَلَيْهِ أَسْبَابُ الْخَيْرِ بِحَسْبِ اشْتِغَالِهِ بِأَضْدَادِهَا، وَذَلِكَ نُقْصَانٌحَقِيقِيٌّ مِنْ عُمُرِهِ.Keadaan seseorang yang berpaling dari Allah akan terbagi menjadi dua: apakah ia masih memiliki perhatian terhadap kepentingan dunia dan akhiratnya, atau tidak. Jika ia sama sekali tidak memiliki perhatian terhadap hal itu, maka seluruh umurnya akan terbuang sia-sia, dan kehidupannya menjadi kosong tanpa makna. Namun, jika ia masih memiliki perhatian terhadap hal tersebut, jalannya akan terasa panjang karena berbagai penghalang, dan sebab-sebab kebaikan menjadi sulit baginya, sebanding dengan kesibukannya pada hal-hal yang bertentangan dengan kebaikan itu. Ini adalah bentuk nyata dari berkurangnya umur secara hakiki. Rahasia Keberkahan Umur Menurut Ibnul Qayyimوَسِرُّ الْمَسْأَلَةِ أَنَّ عُمُرَ الْإِنْسَانِ مُدَّةُ حَيَّاتِهِ وَلَا حَيَاةَ لَهُ إِلَّا بِإِقْبَالِهِ عَلَى رَبِّهِ، وَالتَّنَعُّمِ بِحُبِّهِ وَذِكْرِهِ،وَإِيثَارِ مَرْضَاتِهِ.Inti dari permasalahan ini adalah bahwa umur manusia sejatinya adalah masa hidupnya, dan tidak ada kehidupan yang sebenarnya kecuali dengan mendekat kepada Rabb-nya, menikmati cinta dan dzikir kepada-Nya, serta mengutamakan keridaan-Nya.(Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa‘, hlm. 87-88) Renungan Tahapan Usia Manusia dari Ibnul JauziImam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata dalam kitab Shaid Al-Khathir:اَلْعَاقِلُ مَنْ فَهِمَ مَقَادِيرَ الزَّمَانِ؛ فَإِنَّهُ فِيمَا قَبْلَ الْبُلُوغِ صَبِيٌّ، لَيْسَ عَلَى عُمُرِهِ عِيَارٌ. “Orang yang berakal adalah orang yang memahami tahapan-tahapan usianya. Sebelum balig, seseorang masih anak-anak sehingga usianya belum menjadi ukuran yang berarti.فَإِذَا بَلَغَ، فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ زَمَانُ الْمُجَاهَدَةِ لِلْهَوَى، وَتَعَلُّمِ الْعِلْمِ. Ketika telah baligh, ia harus menyadari bahwa inilah masa untuk melawan hawa nafsu dan menuntut ilmu.فَإِذَا رُزِقَ الْأَوْلَادَ، فَهُوَ زَمَانُ الْكَسْبِ لِلْمَعَاشِ.Setelah Allah menganugerahinya anak-anak, maka itulah masa untuk bekerja dan mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan hidup.فَإِذَا بَلَغَ الْأَرْبَعِينَ، انْتَهَى تَمَامُهُ، وَقَضَى مَنَاسِكَ الْأَجَلِ، وَلَمْ يَبْقَ إِلَّا الِانْحِدَارُ إِلَى الْوَطَنِ. Apabila telah mencapai usia empat puluh tahun, berarti masa kesempurnaannya telah berlalu. Ia telah menempuh sebagian besar perjalanan hidupnya, dan setelah itu tinggal menuruni perjalanan menuju kampung akhirat.كَأَنَّ الْفَتَى يَرْقَى مِنَ الْعُمْرِ سُلَّمًا … إِلَى أَنْ يُجَاوِزَ الْأَرْبَعِينَ وَيَنْحَطَّ Seakan-akan seseorang menaiki tangga demi tangga sepanjang usianya, hingga ketika melewati usia empat puluh tahun, ia mulai menuruni tangga tersebut.فَيَنْبَغِي لَهُ عِنْدَ تَمَامِ الْأَرْبَعِينَ أَنْ يَجْعَلَ جُلَّ هِمَّتِهِ التَّزَوُّدَ لِلْآخِرَةِ، وَيَكُونَ كُلُّ تَلَمُّحِهِ لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ، وَيَأْخُذَ فِي الِاسْتِعْدَادِ لِلرَّحِيلِ، وَإِنْ كَانَ الْخِطَابُ بِهَذَا لِابْنِ عِشْرِينَ، إِلَّا أَنَّ رَجَاءَ التَّدَارُكِ فِي حَقِّ الصَّغِيرِ، لَا فِي حَقِّ الْكَبِيرِ. Karena itu, ketika genap berusia empat puluh tahun, hendaknya sebagian besar perhatian dan cita-citanya diarahkan untuk memperbanyak bekal menuju akhirat. Pandangannya hendaknya lebih banyak tertuju kepada kehidupan yang akan dihadapinya nanti, lalu mulai bersiap-siap untuk perjalanan menuju akhirat. Nasihat ini sebenarnya juga berlaku bagi orang yang berusia dua puluh tahun. Hanya saja, kesempatan untuk memperbaiki diri masih lebih luas bagi orang yang muda dibandingkan orang yang sudah tua.فَإِذَا بَلَغَ السِّتِّينَ؛ فَقَدْ أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَيْهِ فِي الْأَجَلِ، وَجَازَ مِنَ الزَّمَنِ، فَلْيُقْبِلْ بِكُلِّيَّتِهِ عَلَى جَمْعِ زَادِهِ، وَتَهْيِئَةِ آلَاتِ السَّفَرِ، وَلْيَعْتَقِدْ أَنَّ كُلَّ يَوْمٍ يَحْيَا فِيهِ غَنِيمَةٌ، مَا هِيَ فِي الْحِسَابِ، خُصُوصًا إِذَا قَوِيَ عَلَيْهِ الضَّعْفُ وَزَادَ. وَكُلَّمَا عَلَتْ سِنُّهُ، فَيَنْبَغِي أَنْ يَزِيدَ اجْتِهَادُهُ. Apabila seseorang telah mencapai usia enam puluh tahun, berarti Allah telah memberikan kesempatan yang panjang kepadanya. Hendaklah ia benar-benar memusatkan seluruh perhatiannya untuk mengumpulkan bekal akhirat dan mempersiapkan perjalanan menuju kehidupan setelah mati. Hendaknya ia meyakini bahwa setiap hari tambahan umur yang masih Allah berikan adalah keuntungan besar yang tidak ternilai, terlebih ketika kelemahan fisik semakin terasa.Semakin bertambah usianya, hendaknya semakin besar pula kesungguhannya dalam beribadah.فَإِذَا دَخَلَ فِي عَشْرِ الثَّمَانِينَ، لَيْسَ إِلَّا الْوَدَاعُ، وَمَا بَقِيَ مِنَ الْعُمْرِ إِلَّا أَسَفٌ عَلَى تَفْرِيطٍ، أَوْ تَعَبُّدٌ عَلَى ضَعْفٍ. Apabila seseorang telah memasuki usia delapan puluh tahun, maka yang tersisa hanyalah menanti perpisahan dengan dunia. Sisa usianya biasanya hanya diisi oleh penyesalan atas kelalaian yang telah lalu atau beribadah dalam keadaan fisik yang telah lemah.نَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقَظَةً تَامَّةً، تَصْرِفُ عَنَّا رُقَادَ الْغَفَلَاتِ، وَعَمَلًا صَالِحًا نَأْمَنُ مَعَهُ مِنَ النَّدَمِ يَوْمَ الِانْتِقَالِ، وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ.Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menganugerahkan kepada kita hati yang selalu terjaga sehingga terhindar dari kelalaian, serta amal saleh yang membuat kita selamat dari penyesalan ketika tiba saat meninggalkan dunia. Hanya Allah-lah yang memberikan taufik.” Doa Agar Mendapat Umur yang BerkahDoa Meminta Panjang Umur dan Diberkahiاللَّهُمَّ أكْثِرْ مَالِي، وَوَلَدِي، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أعْطَيْتَنِي وَأطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأحْسِنْ عَمَلِي وَاغْفِرْ لِيALLOOHUMMA AK-TSIR MAALII WA WALADII, WA BAARIK LII FIIMAA A’THOYTANII WA ATHIL HAYAATII ‘ALA THOO’ATIK WA AHSIN ‘AMALII WAGH-FIR LIIArtinya: Ya Allah perbanyaklah hartaku dan anakku serta berkahilah karunia yang Engkau berikan kepadaku. Panjangkanlah umurku dalam ketaatan kepada-Mu, perbaguslah amalku, dan ampunilah dosa-dosaku.Baca juga: Doa Meminta Panjang Umur dan Banyak Harta Doa untuk Usia 40: Syukur, Amal Saleh, dan Keturunan Baikرَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ ROBBI AWZI’NII AN ASYKURO NI’MATAKALLATII AN ‘AMTA ‘ALAYYA. WA ‘ALAA WAALIDAYYA WA AN A’MALA SHOOLIHAN TARDHOOHU, WA ASHLIH LII FII DZURRIYATII, INNII TUBTU ILAIKA WA INNII MINAL MUSLIMIINArtinya: Wahai Rabb-ku, ilhamkanlah kepadaku untuk bersyukur atas nikmat yang telah Engkau karuniakan kepadaku dan kepada orang tuaku. Ilhamkan pula kepadaku untuk melakukan amal shalih yang Engkau ridhai, dan perbaikilah keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. (QS. Al-Ahqaf ayat 15)Baca juga: Apa yang Harus Dilakukan di Usia 40 Tahun Menurut Islam?Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata dalam tafsirnya: فِي هَذِهِ الْآيَةِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُ يَنْبَغِي لِمَنْ بَلَغَ عُمْرُهُ أَرْبَعِينَ سَنَةً أَنْ يَسْتَكْثِرَ مِنْ هَذِهِ الدَّعَوَاتِ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.“Pada ayat ini terdapat petunjuk bahwa seseorang yang telah mencapai usia empat puluh tahun hendaknya memperbanyak doa-doa yang disebutkan dalam ayat tersebut. Dan Allah-lah Yang Maha Mengetahui.”Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya, “Ayat ini mengandung bimbingan bagi siapa saja yang telah mencapai usia empat puluh tahun agar ia memperbarui tobatnya, semakin kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan bertekad kuat untuk terus istiqamah di atas jalan tersebut.”Namun, ayat ini tidak menunjukkan bahwa membaca doa ini hukumnya wajib. Sebagian ulama menjelaskan bahwa tidak ada doa yang wajib dibaca selain doa memohon hidayah, yaitu doa yang kita baca dalam Surah Al-Fatihah pada setiap rakaat shalat. Apa Itu Berkah (Barakah)?[1] Berkah adalah konsep penting dalam Islam yang berkaitan dengan kelanggengan dan bertambahnya kebaikan dalam kehidupan seseorang. Pemahaman yang benar mengenai berkah akan membantu kita meraih manfaat yang lebih besar dari setiap nikmat yang Allah berikan.Dalam bahasa Arab, berkah atau barakah bermakna tetapnya sesuatu dan juga dapat diartikan sebagai bertambah atau berkembangnya suatu hal. Tabriik merujuk pada doa agar seseorang mendapatkan keberkahan, sedangkan tabarruk adalah usaha untuk memperoleh keberkahan atau yang biasa dikenal sebagai “ngalap berkah.”Dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, barakah bermakna kelanggengan kebaikan, kadang juga berarti bertambahnya kebaikan, atau bahkan mencakup kedua makna tersebut sekaligus. Hal ini dapat kita temukan dalam doa keberkahan yang sering dibaca saat tasyahud, yang ditujukan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,هٰذَا ٱلدُّعَاءُ يَتَضَمَّنُ إِعْطَاءَهُ مِنَ ٱلْخَيْرِ مَا أَعْطَاهُ لِآلِ إِبْرَاهِيمَ وَإِدَامَتَهُ وَثُبُوتَهُ لَهُ، وَمُضَاعَفَتَهُ لَهُ وَزِيَادَتَهُ، هٰذَا حَقِيقَةُ ٱلْبَرَكَةِ.“Doa ini mencakup permohonan agar diberikan kebaikan sebagaimana yang diberikan kepada keluarga Ibrahim, serta agar kebaikan tersebut tetap ada, terus berlangsung, berlipat ganda, dan semakin bertambah. Inilah hakikat keberkahan.”وَبِهٰذَا يَتَّضِحُ أَنَّ ٱلْبَرَكَةَ هِيَ ثُبُوتُ ٱلْخَيْرِ وَدَوَامُهُ، أَوْ كَثْرَةُ ٱلْخَيْرِ وَزِيَادَتُهُ، أَوْ هُمَا مَعًا.Dari sini dapat dipahami bahwa berkah berarti:Kebaikan yang tetap dan terus berlangsung,Kebaikan yang banyak dan bertambah,Atau mencakup keduanya sekaligus.Dalam salah satu doa iftitah yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, disebutkan:وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِى يَدَيْكَ“Seluruh kebaikan berada di tangan-Mu.” (HR. Muslim, no. 771) Pelajaran Berharga dari Perkataan Ibnul Qayyim“Bukan panjangnya umur yang menentukan nilai hidup seseorang, tetapi keberkahannya. Dan keberkahan itu lahir dari ketaatan, sedangkan maksiat perlahan menghabiskan umur yang sebenarnya.” Penutup: Jagalah Umur Sebelum Penyesalan DatangDi zaman sekarang, banyak orang sibuk mengejar usia panjang, kesehatan, dan kesuksesan, tetapi lalai menjaga keberkahan hidupnya. Maksiat yang dianggap sepele ternyata dapat menggerogoti nilai umur sedikit demi sedikit. Karena itu, jangan hanya menghitung berapa lama kita hidup, tetapi hitunglah berapa banyak waktu yang benar-benar kita gunakan untuk mendekat kepada Allah. Semoga Allah menjadikan sisa umur kita penuh keberkahan, dipenuhi amal saleh, dan ditutup dengan husnul khatimah.اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا، وَوَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْحُسْنَىAllāhumma bārik lanā fī a‘mārinā, wa waffiqnā li ṭā‘atika, wakhtim lanā bil-ḥusnā.“Ya Allah, berkahilah umur kami, berilah kami taufik untuk selalu taat kepada-Mu, dan tutuplah kehidupan kami dengan akhir yang terbaik.” Sebagian bahasan ini diambil dari buku DOSA ITU CANDU dan kumpulan doa dalam 50 DOA MENGATASI PROBLEM HIDUP. Untuk memesan buku-buku karya kami, bisa dapatkan di Rumaysho Store wa.me/6282120000454 atau wa.me/6282136267701, di shopee dan tokopedia Rumayshostore, atau Rumaysho Digital. —- Selesai ditulis dari Pondok Pesantren Darush Sholihin  dalam perjalanan menuju Sekar Kedhaton (Majelis Shafiyah Shalehah), Rabu, 20 Safar 1448 H, 5 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsAd-Daa wad Dawaa barakah dosa dosa itu candu faedah dari Ibnul Qayyim ibnul qayyim keberkahan maksiat nasihat islam taubat tazkiyatun nafs umur


Setiap orang berharap diberi umur panjang. Namun, Islam mengajarkan bahwa yang paling berharga bukan sekadar panjangnya umur, melainkan keberkahannya. Tulisan Ibnul Qayyim rahimahullah berikut menjelaskan bagaimana maksiat dapat menghilangkan keberkahan hidup, bahkan menjadi sebab pendeknya umur dalam makna yang sangat mendalam.  Daftar Isi tutup 1. Maksiat Menghilangkan Keberkahan Umur 1.1. Pendapat Pertama: Maksiat Menghilangkan Berkah Umur 1.2. Pendapat Kedua: Maksiat Benar-Benar Mengurangi Umur Secara Hakiki 1.3. Pendapat Ketiga: Maksiat Mengurangi Hakikat Umur karena Hakikat Umur atau Umur Sejati adalah Hidupnya Hati 2. Umur Sejati adalah Waktu yang Dihabiskan Bersama Allah 3. Penyesalan Orang yang Menyia-nyiakan Umurnya 4. Rahasia Keberkahan Umur Menurut Ibnul Qayyim 5. Renungan Tahapan Usia Manusia dari Ibnul Jauzi 6. Doa Agar Mendapat Umur yang Berkah 6.1. Doa Meminta Panjang Umur dan Diberkahi 6.2. Doa untuk Usia 40: Syukur, Amal Saleh, dan Keturunan Baik 7. Apa Itu Berkah (Barakah)? 8. Pelajaran Berharga dari Perkataan Ibnul Qayyim 9. Penutup: Jagalah Umur Sebelum Penyesalan Datang  Maksiat Menghilangkan Keberkahan UmurIbnul Qayyim rahimahullah berkata,أَنَّ الْمَعَاصِيَ تُقَصِّرُ الْعُمُرَ وَتَمْحَقُ بَرَكَتَهُ وَلَا بُدَّ، فَإِنَّ الْبِرَّ كَمَا يَزِيدُ فِي الْعُمُرِ، فَالْفُجُورُ يُقَصِّرُالْعُمُرَ.Di antara dampak maksiat adalah memperpendek umur dan menghilangkan keberkahannya[1]. Sebagaimana kebaikan dapat menambah umur, keburukan justru memperpendeknya. Pendapat Pertama: Maksiat Menghilangkan Berkah Umurفَقَالَتْ طَائِفَةٌ: نُقْصَانُ عُمُرِ الْعَاصِي هُوَ ذَهَابُ بَرَكَةِ عُمُرِهِ وَمَحْقُهَا عَلَيْهِ، وَهَذَا حَقٌّ، وَهُوَ بَعْضُ تَأْثِيرِالْمَعَاصِي.Sebagian ulama mengatakan bahwa berkurangnya umur pelaku maksiat berarti hilangnya keberkahan dalam hidupnya. Ini benar adanya, dan merupakan salah satu dampak dari maksiat. Pendapat Kedua: Maksiat Benar-Benar Mengurangi Umur Secara Hakikiوَقَالَتْ طَائِفَةٌ: بَلْ تُنْقِصُهُ حَقِيقَةً، كَمَا تُنْقِصُ الرِّزْقَ، فَجَعَلَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ لِلْبَرَكَةِ فِي الرِّزْقِ أَسْبَابًاكَثِيرَةً تُكَثِّرُهُ وَتَزِيدُهُ، وَلِلْبَرَكَةِ فِي الْعُمُرِ أَسْبَابًا تُكَثِّرُهُ وَتَزِيدُهُ.Sebagian ulama berpendapat bahwa dosa benar-benar mengurangi umur secara hakiki, sebagaimana dosa juga dapat mengurangi rezeki. Allah, Mahasuci Dia, telah menetapkan banyak sebab yang dapat mendatangkan keberkahan dalam rezeki sehingga rezeki itu bertambah dan meningkat. Demikian pula, Allah menetapkan sebab-sebab yang dapat mendatangkan keberkahan dalam umur, yang menjadikannya lebih panjang dan penuh manfaat.قَالُوا وَلَا تُمْنَعُ زِيَادَةُ الْعُمُرِ بِأَسْبَابٍ كَمَا يُنْقَصُ بِأَسْبَابٍ، فَالْأَرْزَاقُ وَالْآجَالُ، وَالسَّعَادَةُ وَالشَّقَاوَةُ،وَالصِّحَّةُ وَالْمَرَضُ، وَالْغِنَى وَالْفَقْرُ، وَإِنْ كَانَتْ بِقَضَاءِ الرَّبِّ عَزَّ وَجَلَّ، فَهُوَ يَقْضِي مَا يَشَاءُ بِأَسْبَابٍجَعَلَهَا مُوجِبَةً لِمُسَبَّبَاتِهَا مُقْتَضِيَةً لَهَا.Mereka mengatakan bahwa bertambahnya umur tidak terhalang oleh sebab-sebab tertentu, sebagaimana berkurangnya umur juga terjadi karena sebab-sebab tertentu. Hal ini serupa dengan rezeki dan ajal, kebahagiaan dan kesengsaraan, kesehatan dan penyakit, serta kekayaan dan kemiskinan. Semua itu, meskipun ditetapkan oleh keputusan Allah yang Mahaagung, tetap terjadi melalui sebab-sebab yang telah Allah tetapkan sebagai faktor penyebab bagi akibat-akibatnya, yang saling berkaitan dan sesuai dengan hikmah-Nya. Pendapat Ketiga: Maksiat Mengurangi Hakikat Umur karena Hakikat Umur atau Umur Sejati adalah Hidupnya Hatiوَقَالَتْ طَائِفَةٌ أُخْرَى: تَأْثِيرُ الْمَعَاصِي فِي مَحْقِ الْعُمُرِ إِنَّمَا هُوَ بِأَنَّ حَقِيقَةَ الْحَيَاةِ هِيَ حَيَاةُ الْقَلْبِ،وَلِهَذَا جَعَلَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ الْكَافِرَ مَيِّتًا غَيْرَ حَيٍّ، كَمَا قَالَ تَعَالَى، {أَمْوَاتٌ غَيْرُ أَحْيَاءٍ} [سُورَةُ النَّحْلِ: ٢١] .Sebagian ulama lain berpendapat bahwa pengaruh maksiat dalam menghilangkan umur terletak pada hakikat kehidupan itu sendiri, yaitu kehidupan hati. Karena itulah Allah, Mahasuci Dia, menyebut orang kafir sebagai makhluk yang mati, bukan hidup, sebagaimana firman-Nya: “Mereka itu mati, tidak hidup.” (QS. An-Nahl: 21). Umur Sejati adalah Waktu yang Dihabiskan Bersama Allahفَالْحَيَاةُ فِي الْحَقِيقَةِ حَيَاةُ الْقَلْبِ، وَعُمُرُ الْإِنْسَانِ مُدَّةُ حَيَّاتِهِ فَلَيْسَ عُمُرُهُ إِلَّا أَوْقَاتَ حَيَاتِهِ بِاللَّهِ، فَتِلْكَسَاعَاتُ عُمُرِهِ، فَالْبِرُّ وَالتَّقْوَى وَالطَّاعَةُ تَزِيدُ فِي هَذِهِ الْأَوْقَاتِ الَّتِي هِيَ حَقِيقَةُ عُمُرِهِ، وَلَا عُمُرَ لَهُسِوَاهَا.Hakikat kehidupan sejati adalah kehidupan hati. Umur manusia pada hakikatnya adalah masa hidup hatinya. Tidak ada umur yang sebenarnya kecuali waktu-waktu yang ia jalani bersama Allah. Itulah jam-jam kehidupannya yang sejati. Kebaikan, ketakwaan, dan ketaatan menambah waktu-waktu ini, yang merupakan hakikat umur seseorang. Selain itu, tidak ada umur lain baginya selain waktu-waktu tersebut. Penyesalan Orang yang Menyia-nyiakan Umurnyaوَبِالْجُمْلَةِ، فَالْعَبْدُ إِذَا أَعْرَضَ عَنِ اللَّهِ وَاشْتَغَلَ بِالْمَعَاصِي ضَاعَتْ عَلَيْهِ أَيَّامُ حَيَاتِهِ الْحَقِيقِيَّةُ الَّتِييَجِدُ غِبَّ إِضَاعَتِهَا يَوْمَ يَقُولُ: {يَالَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي} [سُورَةُ الْفَجْرِ: ٢٤] .Secara keseluruhan, jika seorang hamba berpaling dari Allah dan sibuk dengan maksiat, maka ia telah menyia-nyiakan hari-hari dari kehidupannya yang sejati. Ia akan merasakan penyesalan atas waktu-waktu yang disia-siakan itu pada hari ketika ia berkata: “Alangkah baiknya jika aku dahulu mempersembahkan sesuatu untuk kehidupanku ini.” (QS. Al-Fajr: 24).فَلَا يَخْلُو إِمَّا أَنْ يَكُونَ لَهُ مَعَ ذَلِكَ تَطَلُّعٌ إِلَى مَصَالِحِهِ الدُّنْيَوِيَّةِ وَالْأُخْرَوِيَّةِ أَوْ لَا، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ تَطَلُّعٌإِلَى ذَلِكَ فَقَدْ ضَاعَ عَلَيْهِ عُمُرُهُ كُلُّهُ، وَذَهَبَتْ حَيَاتُهُ بَاطِلًا، وَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَلُّعٌ إِلَى ذَلِكَ طَالَتْ عَلَيْهِالطَّرِيقُ بِسَبَبِ الْعَوَائِقِ، وَتَعَسَّرَتْ عَلَيْهِ أَسْبَابُ الْخَيْرِ بِحَسْبِ اشْتِغَالِهِ بِأَضْدَادِهَا، وَذَلِكَ نُقْصَانٌحَقِيقِيٌّ مِنْ عُمُرِهِ.Keadaan seseorang yang berpaling dari Allah akan terbagi menjadi dua: apakah ia masih memiliki perhatian terhadap kepentingan dunia dan akhiratnya, atau tidak. Jika ia sama sekali tidak memiliki perhatian terhadap hal itu, maka seluruh umurnya akan terbuang sia-sia, dan kehidupannya menjadi kosong tanpa makna. Namun, jika ia masih memiliki perhatian terhadap hal tersebut, jalannya akan terasa panjang karena berbagai penghalang, dan sebab-sebab kebaikan menjadi sulit baginya, sebanding dengan kesibukannya pada hal-hal yang bertentangan dengan kebaikan itu. Ini adalah bentuk nyata dari berkurangnya umur secara hakiki. Rahasia Keberkahan Umur Menurut Ibnul Qayyimوَسِرُّ الْمَسْأَلَةِ أَنَّ عُمُرَ الْإِنْسَانِ مُدَّةُ حَيَّاتِهِ وَلَا حَيَاةَ لَهُ إِلَّا بِإِقْبَالِهِ عَلَى رَبِّهِ، وَالتَّنَعُّمِ بِحُبِّهِ وَذِكْرِهِ،وَإِيثَارِ مَرْضَاتِهِ.Inti dari permasalahan ini adalah bahwa umur manusia sejatinya adalah masa hidupnya, dan tidak ada kehidupan yang sebenarnya kecuali dengan mendekat kepada Rabb-nya, menikmati cinta dan dzikir kepada-Nya, serta mengutamakan keridaan-Nya.(Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa‘, hlm. 87-88) Renungan Tahapan Usia Manusia dari Ibnul JauziImam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata dalam kitab Shaid Al-Khathir:اَلْعَاقِلُ مَنْ فَهِمَ مَقَادِيرَ الزَّمَانِ؛ فَإِنَّهُ فِيمَا قَبْلَ الْبُلُوغِ صَبِيٌّ، لَيْسَ عَلَى عُمُرِهِ عِيَارٌ. “Orang yang berakal adalah orang yang memahami tahapan-tahapan usianya. Sebelum balig, seseorang masih anak-anak sehingga usianya belum menjadi ukuran yang berarti.فَإِذَا بَلَغَ، فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ زَمَانُ الْمُجَاهَدَةِ لِلْهَوَى، وَتَعَلُّمِ الْعِلْمِ. Ketika telah baligh, ia harus menyadari bahwa inilah masa untuk melawan hawa nafsu dan menuntut ilmu.فَإِذَا رُزِقَ الْأَوْلَادَ، فَهُوَ زَمَانُ الْكَسْبِ لِلْمَعَاشِ.Setelah Allah menganugerahinya anak-anak, maka itulah masa untuk bekerja dan mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan hidup.فَإِذَا بَلَغَ الْأَرْبَعِينَ، انْتَهَى تَمَامُهُ، وَقَضَى مَنَاسِكَ الْأَجَلِ، وَلَمْ يَبْقَ إِلَّا الِانْحِدَارُ إِلَى الْوَطَنِ. Apabila telah mencapai usia empat puluh tahun, berarti masa kesempurnaannya telah berlalu. Ia telah menempuh sebagian besar perjalanan hidupnya, dan setelah itu tinggal menuruni perjalanan menuju kampung akhirat.كَأَنَّ الْفَتَى يَرْقَى مِنَ الْعُمْرِ سُلَّمًا … إِلَى أَنْ يُجَاوِزَ الْأَرْبَعِينَ وَيَنْحَطَّ Seakan-akan seseorang menaiki tangga demi tangga sepanjang usianya, hingga ketika melewati usia empat puluh tahun, ia mulai menuruni tangga tersebut.فَيَنْبَغِي لَهُ عِنْدَ تَمَامِ الْأَرْبَعِينَ أَنْ يَجْعَلَ جُلَّ هِمَّتِهِ التَّزَوُّدَ لِلْآخِرَةِ، وَيَكُونَ كُلُّ تَلَمُّحِهِ لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ، وَيَأْخُذَ فِي الِاسْتِعْدَادِ لِلرَّحِيلِ، وَإِنْ كَانَ الْخِطَابُ بِهَذَا لِابْنِ عِشْرِينَ، إِلَّا أَنَّ رَجَاءَ التَّدَارُكِ فِي حَقِّ الصَّغِيرِ، لَا فِي حَقِّ الْكَبِيرِ. Karena itu, ketika genap berusia empat puluh tahun, hendaknya sebagian besar perhatian dan cita-citanya diarahkan untuk memperbanyak bekal menuju akhirat. Pandangannya hendaknya lebih banyak tertuju kepada kehidupan yang akan dihadapinya nanti, lalu mulai bersiap-siap untuk perjalanan menuju akhirat. Nasihat ini sebenarnya juga berlaku bagi orang yang berusia dua puluh tahun. Hanya saja, kesempatan untuk memperbaiki diri masih lebih luas bagi orang yang muda dibandingkan orang yang sudah tua.فَإِذَا بَلَغَ السِّتِّينَ؛ فَقَدْ أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَيْهِ فِي الْأَجَلِ، وَجَازَ مِنَ الزَّمَنِ، فَلْيُقْبِلْ بِكُلِّيَّتِهِ عَلَى جَمْعِ زَادِهِ، وَتَهْيِئَةِ آلَاتِ السَّفَرِ، وَلْيَعْتَقِدْ أَنَّ كُلَّ يَوْمٍ يَحْيَا فِيهِ غَنِيمَةٌ، مَا هِيَ فِي الْحِسَابِ، خُصُوصًا إِذَا قَوِيَ عَلَيْهِ الضَّعْفُ وَزَادَ. وَكُلَّمَا عَلَتْ سِنُّهُ، فَيَنْبَغِي أَنْ يَزِيدَ اجْتِهَادُهُ. Apabila seseorang telah mencapai usia enam puluh tahun, berarti Allah telah memberikan kesempatan yang panjang kepadanya. Hendaklah ia benar-benar memusatkan seluruh perhatiannya untuk mengumpulkan bekal akhirat dan mempersiapkan perjalanan menuju kehidupan setelah mati. Hendaknya ia meyakini bahwa setiap hari tambahan umur yang masih Allah berikan adalah keuntungan besar yang tidak ternilai, terlebih ketika kelemahan fisik semakin terasa.Semakin bertambah usianya, hendaknya semakin besar pula kesungguhannya dalam beribadah.فَإِذَا دَخَلَ فِي عَشْرِ الثَّمَانِينَ، لَيْسَ إِلَّا الْوَدَاعُ، وَمَا بَقِيَ مِنَ الْعُمْرِ إِلَّا أَسَفٌ عَلَى تَفْرِيطٍ، أَوْ تَعَبُّدٌ عَلَى ضَعْفٍ. Apabila seseorang telah memasuki usia delapan puluh tahun, maka yang tersisa hanyalah menanti perpisahan dengan dunia. Sisa usianya biasanya hanya diisi oleh penyesalan atas kelalaian yang telah lalu atau beribadah dalam keadaan fisik yang telah lemah.نَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقَظَةً تَامَّةً، تَصْرِفُ عَنَّا رُقَادَ الْغَفَلَاتِ، وَعَمَلًا صَالِحًا نَأْمَنُ مَعَهُ مِنَ النَّدَمِ يَوْمَ الِانْتِقَالِ، وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ.Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menganugerahkan kepada kita hati yang selalu terjaga sehingga terhindar dari kelalaian, serta amal saleh yang membuat kita selamat dari penyesalan ketika tiba saat meninggalkan dunia. Hanya Allah-lah yang memberikan taufik.” Doa Agar Mendapat Umur yang BerkahDoa Meminta Panjang Umur dan Diberkahiاللَّهُمَّ أكْثِرْ مَالِي، وَوَلَدِي، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أعْطَيْتَنِي وَأطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأحْسِنْ عَمَلِي وَاغْفِرْ لِيALLOOHUMMA AK-TSIR MAALII WA WALADII, WA BAARIK LII FIIMAA A’THOYTANII WA ATHIL HAYAATII ‘ALA THOO’ATIK WA AHSIN ‘AMALII WAGH-FIR LIIArtinya: Ya Allah perbanyaklah hartaku dan anakku serta berkahilah karunia yang Engkau berikan kepadaku. Panjangkanlah umurku dalam ketaatan kepada-Mu, perbaguslah amalku, dan ampunilah dosa-dosaku.Baca juga: Doa Meminta Panjang Umur dan Banyak Harta Doa untuk Usia 40: Syukur, Amal Saleh, dan Keturunan Baikرَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ ROBBI AWZI’NII AN ASYKURO NI’MATAKALLATII AN ‘AMTA ‘ALAYYA. WA ‘ALAA WAALIDAYYA WA AN A’MALA SHOOLIHAN TARDHOOHU, WA ASHLIH LII FII DZURRIYATII, INNII TUBTU ILAIKA WA INNII MINAL MUSLIMIINArtinya: Wahai Rabb-ku, ilhamkanlah kepadaku untuk bersyukur atas nikmat yang telah Engkau karuniakan kepadaku dan kepada orang tuaku. Ilhamkan pula kepadaku untuk melakukan amal shalih yang Engkau ridhai, dan perbaikilah keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. (QS. Al-Ahqaf ayat 15)Baca juga: Apa yang Harus Dilakukan di Usia 40 Tahun Menurut Islam?Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata dalam tafsirnya: فِي هَذِهِ الْآيَةِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُ يَنْبَغِي لِمَنْ بَلَغَ عُمْرُهُ أَرْبَعِينَ سَنَةً أَنْ يَسْتَكْثِرَ مِنْ هَذِهِ الدَّعَوَاتِ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.“Pada ayat ini terdapat petunjuk bahwa seseorang yang telah mencapai usia empat puluh tahun hendaknya memperbanyak doa-doa yang disebutkan dalam ayat tersebut. Dan Allah-lah Yang Maha Mengetahui.”Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya, “Ayat ini mengandung bimbingan bagi siapa saja yang telah mencapai usia empat puluh tahun agar ia memperbarui tobatnya, semakin kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan bertekad kuat untuk terus istiqamah di atas jalan tersebut.”Namun, ayat ini tidak menunjukkan bahwa membaca doa ini hukumnya wajib. Sebagian ulama menjelaskan bahwa tidak ada doa yang wajib dibaca selain doa memohon hidayah, yaitu doa yang kita baca dalam Surah Al-Fatihah pada setiap rakaat shalat. Apa Itu Berkah (Barakah)?[1] Berkah adalah konsep penting dalam Islam yang berkaitan dengan kelanggengan dan bertambahnya kebaikan dalam kehidupan seseorang. Pemahaman yang benar mengenai berkah akan membantu kita meraih manfaat yang lebih besar dari setiap nikmat yang Allah berikan.Dalam bahasa Arab, berkah atau barakah bermakna tetapnya sesuatu dan juga dapat diartikan sebagai bertambah atau berkembangnya suatu hal. Tabriik merujuk pada doa agar seseorang mendapatkan keberkahan, sedangkan tabarruk adalah usaha untuk memperoleh keberkahan atau yang biasa dikenal sebagai “ngalap berkah.”Dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, barakah bermakna kelanggengan kebaikan, kadang juga berarti bertambahnya kebaikan, atau bahkan mencakup kedua makna tersebut sekaligus. Hal ini dapat kita temukan dalam doa keberkahan yang sering dibaca saat tasyahud, yang ditujukan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,هٰذَا ٱلدُّعَاءُ يَتَضَمَّنُ إِعْطَاءَهُ مِنَ ٱلْخَيْرِ مَا أَعْطَاهُ لِآلِ إِبْرَاهِيمَ وَإِدَامَتَهُ وَثُبُوتَهُ لَهُ، وَمُضَاعَفَتَهُ لَهُ وَزِيَادَتَهُ، هٰذَا حَقِيقَةُ ٱلْبَرَكَةِ.“Doa ini mencakup permohonan agar diberikan kebaikan sebagaimana yang diberikan kepada keluarga Ibrahim, serta agar kebaikan tersebut tetap ada, terus berlangsung, berlipat ganda, dan semakin bertambah. Inilah hakikat keberkahan.”وَبِهٰذَا يَتَّضِحُ أَنَّ ٱلْبَرَكَةَ هِيَ ثُبُوتُ ٱلْخَيْرِ وَدَوَامُهُ، أَوْ كَثْرَةُ ٱلْخَيْرِ وَزِيَادَتُهُ، أَوْ هُمَا مَعًا.Dari sini dapat dipahami bahwa berkah berarti:Kebaikan yang tetap dan terus berlangsung,Kebaikan yang banyak dan bertambah,Atau mencakup keduanya sekaligus.Dalam salah satu doa iftitah yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, disebutkan:وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِى يَدَيْكَ“Seluruh kebaikan berada di tangan-Mu.” (HR. Muslim, no. 771) Pelajaran Berharga dari Perkataan Ibnul Qayyim“Bukan panjangnya umur yang menentukan nilai hidup seseorang, tetapi keberkahannya. Dan keberkahan itu lahir dari ketaatan, sedangkan maksiat perlahan menghabiskan umur yang sebenarnya.” Penutup: Jagalah Umur Sebelum Penyesalan DatangDi zaman sekarang, banyak orang sibuk mengejar usia panjang, kesehatan, dan kesuksesan, tetapi lalai menjaga keberkahan hidupnya. Maksiat yang dianggap sepele ternyata dapat menggerogoti nilai umur sedikit demi sedikit. Karena itu, jangan hanya menghitung berapa lama kita hidup, tetapi hitunglah berapa banyak waktu yang benar-benar kita gunakan untuk mendekat kepada Allah. Semoga Allah menjadikan sisa umur kita penuh keberkahan, dipenuhi amal saleh, dan ditutup dengan husnul khatimah.اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا، وَوَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْحُسْنَىAllāhumma bārik lanā fī a‘mārinā, wa waffiqnā li ṭā‘atika, wakhtim lanā bil-ḥusnā.“Ya Allah, berkahilah umur kami, berilah kami taufik untuk selalu taat kepada-Mu, dan tutuplah kehidupan kami dengan akhir yang terbaik.” Sebagian bahasan ini diambil dari buku DOSA ITU CANDU dan kumpulan doa dalam 50 DOA MENGATASI PROBLEM HIDUP. Untuk memesan buku-buku karya kami, bisa dapatkan di Rumaysho Store wa.me/6282120000454 atau wa.me/6282136267701, di shopee dan tokopedia Rumayshostore, atau Rumaysho Digital. —- Selesai ditulis dari Pondok Pesantren Darush Sholihin  dalam perjalanan menuju Sekar Kedhaton (Majelis Shafiyah Shalehah), Rabu, 20 Safar 1448 H, 5 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsAd-Daa wad Dawaa barakah dosa dosa itu candu faedah dari Ibnul Qayyim ibnul qayyim keberkahan maksiat nasihat islam taubat tazkiyatun nafs umur

Biografi Al-Hasan Al-Bashri (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleIbadah Al-Hasan Al-BashriJihad Al-Hasan Al-BashriSikap Al-Hasan Al-Bashri dalam perang fitnahAllah menjaga Al-Hasan dari kezaliman Al-HajjajAl-Hasan menjadi qadhi (hakim)Nasihat Al-Hasan kepada Khalifah Umar bin Abdul AzizPerkataan ulama salaf tentang Al-Hasan Al-BashriWasiat Hasan Al-Bashri sebelum wafatWafatnya Al-Hasan Al-BashriIbadah Al-Hasan Al-BashriAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله dikenal sebagai seorang yang tekun beribadah dan sangat menjaga hubungannya dengan Allah.As-Sarri bin Yahya berkata,كان الحسن يصومُ مِن السنة أيام البيض، وأشهر الحرم، والاثنين والخميس“Al-Hasan biasa berpuasa dalam setahun pada Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriyah), pada bulan-bulan haram, serta pada hari Senin dan Kamis.”Al-Fasawi meriwayatkan dari Ibnu Syauzab, dari Mathar, bahwa ia berkata,كان الحسن البصري صاحبَ ليلٍ“Al-Hasan Al-Bashri adalah seorang yang memiliki malam.”Maksudnya, beliau adalah orang yang banyak menghidupkan malam dengan ibadah, terutama salat malam. Ini menunjukkan kesungguhan dan ketekunan beliau dalam beribadah serta kedekatannya dengan Allah pada waktu-waktu sunyi.Humaid Ath-Thawil berkata,لم يحجَّ الحسنُ إلا حجتينِ: حجة في أول عمره، وأخرى في آخر عمره“Al-Hasan tidak menunaikan haji kecuali dua kali: satu kali di awal kehidupannya dan satu kali lagi di akhir kehidupannya.”Alqamah bin Martsad berkata,انتهى الزهد إلى ثمانيةٍ مِن التابعين؛ فمنهم الحسن بن أبي الحسن، فما رأينا أحدًا من الناس كان أطول حزنًا منه، ما كنا نراه إلا أنه حديث عهد بمصيبة“Kezuhudan mencapai puncaknya pada delapan orang dari kalangan tabi‘in, dan di antaranya adalah Al-Hasan bin Abi Al-Hasan. Kami tidak pernah melihat seseorang yang lebih panjang rasa sedihnya daripada dia. Kami melihatnya seakan-akan ia baru saja tertimpa musibah.”Jihad Al-Hasan Al-BashriAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله bukan hanya dikenal sebagai ulama dan ahli ibadah, tetapi juga pernah ikut berjihad di medan perang.Abu ‘Ubaidah meriwayatkan bahwa ia mendengar seseorang bertanya kepada Al-Hasan, “Wahai Abu Sa‘id, apakah engkau pernah ikut berperang?” Beliau menjawab,نعم، غزوة كَابُلَ مع عبدالرحمن بن سَمُرَة رضي الله عنه“Ya, aku pernah mengikuti perang Kabul bersama Abdurrahman bin Samurah رضي الله عنه.”Hisyam bin Hassan berkata,كان الحسن أشجع أهل زمانه“Al-Hasan adalah orang yang paling berani di zamannya.”Ja‘far bin Sulaiman juga berkata bahwa Al-Hasan termasuk orang yang paling tegar ketika berada di tengah manusia. Ia adalah orang yang paling tampan, paling luas ilmunya, paling dermawan, dan paling fasih berbicara. Ketika Al-Muhallab bin Abi Shufrah memerangi kaum musyrikin, Al-Hasan termasuk di antara para kesatria yang berada di barisan depan.Sikap Al-Hasan Al-Bashri dalam perang fitnahAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله dikenal memiliki sikap yang tegas dan penuh pertimbangan dalam menghadapi konflik dan pemberontakan di masa fitnah, khususnya pada peristiwa pemberontakan Ibnu Al-Asy‘ats melawan Al-Hajjaj bin Yusuf.Ketika terjadi fitnah tersebut, sekelompok orang datang kepada Al-Hasan dan bertanya tentang hukum memerangi Al-Hajjaj, yang mereka sebut sebagai penguasa zalim karena menumpahkan darah dan melakukan berbagai pelanggaran. Al-Hasan menjawab agar mereka tidak memeranginya. Beliau berkata bahwa jika apa yang terjadi adalah hukuman dari Allah, maka mereka tidak akan mampu menolaknya dengan pedang. Dan jika itu adalah ujian, maka hendaknya mereka bersabar sampai Allah memberi keputusan, karena Allah adalah sebaik-baik Hakim. Namun orang-orang itu tidak menerima nasihatnya, bahkan meremehkannya, lalu mereka tetap ikut berperang bersama Ibnu Al-Asy‘ats dan akhirnya terbunuh semuanya.Dalam kesempatan lain, ketika ada yang berkata kepadanya, “Mengapa engkau tidak keluar untuk mengubah keadaan (dengan perang)?”; beliau pun menjawab,إن الله إنما يُغيِّر بالتوبة، ولا يُغيِّر بالسيف“Sesungguhnya Allah mengubah keadaan dengan tobat, bukan dengan pedang.”Ini menunjukkan bahwa menurut beliau, perbaikan umat harus dimulai dari perbaikan diri dan kembali kepada Allah, bukan dengan kekerasan.Pernah pula seseorang bertanya tentang sikap dalam fitnah seperti yang melibatkan Yazid bin Al-Muhallab dan Ibnu Al-Asy‘ats. Al-Hasan menjawab agar tidak berpihak kepada salah satu dari mereka. Ketika ditanya lagi, “Tidak juga bersama Amirul Mukminin?” beliau menegaskan, “Tidak juga bersama Amirul Mukminin.” Maksudnya, beliau memilih menjauh dari keterlibatan dalam konflik bersenjata yang membawa pertumpahan darah di antara kaum muslimin.Beliau juga berkata bahwa jika manusia bersabar ketika diuji oleh penguasa mereka, niscaya Allah akan segera memberi jalan keluar. Tetapi jika mereka tergesa-gesa mengambil pedang, maka mereka akan diserahkan kepada pedang itu sendiri. Dan beliau menegaskan bahwa tindakan seperti itu tidak pernah mendatangkan kebaikan.Allah menjaga Al-Hasan dari kezaliman Al-HajjajDiriwayatkan bahwa Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi beberapa kali berniat membunuh Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله. Namun, Allah melindunginya dari kejahatan tersebut. Pernah suatu waktu Al-Hasan bersembunyi selama dua tahun di rumah Ali bin Zaid bin Jud‘an, dan di waktu lain ia bersembunyi di sebuah penggilingan milik Abu Muhammad Al-Bazzaz. Setiap kali itu pula Allah menyelamatkannya.Suatu hari yang sangat panas di musim panas, Al-Hajjaj tiba-tiba mengirim pasukan untuk menangkap Al-Hasan pada waktu yang tidak terduga. Enam orang pengawal masuk dan membawanya dengan perlakuan kasar. Ketika kabar itu sampai kepada para muridnya, seperti Ayyub, Tsabit Al-Bunani, dan lainnya, mereka segera menuju istana dengan membawa kain kafan dan kapur barus, karena mereka yakin Al-Hasan akan dibunuh.Namun setelah beberapa waktu, Al-Hasan keluar dari istana dalam keadaan tersenyum. Mereka pun memuji Allah atas keselamatannya.Al-Hasan kemudian menceritakan bahwa ketika ia masuk menemui Al-Hajjaj, ia berada di sebuah ruangan yang sejuk dengan es di atapnya untuk mengurangi panas. Al-Hajjaj bertanya, “Engkaukah yang mengatakan ucapan-ucapan tentang kami seperti yang sampai kepadaku?” Ucapan itu berisi kritik keras terhadap para penguasa yang menjadikan hamba Allah sebagai pelayan mereka, mempermainkan Kitab Allah, dan mempergunakan harta Allah untuk kepentingan yang tidak benar, serta mengingatkan bahwa kelak ada hari perhitungan di hadapan Allah.Al-Hasan menjawab dengan tegas bahwa ia memang mengatakan hal itu, karena Allah telah mengambil janji dari para ulama untuk menjelaskan kebenaran dan tidak menyembunyikannya. Mendengar jawaban itu, Al-Hajjaj terdiam sejenak, lalu memerintahkan agar kepala dan janggut Al-Hasan diberi minyak wangi sebagai bentuk penghormatan. Ia kemudian menasihati Al-Hasan agar tidak menyebut para penguasa kecuali dengan kebaikan.Al-Hasan menjawab dengan menyampaikan hadis tentang menghormati pemimpin, namun ia juga menegaskan syarat keadilan. Pada akhirnya, Al-Hajjaj tidak jadi mencelakainya dan bahkan mempersilahkannya pulang dengan baik.Al-Hasan menjadi qadhi (hakim)Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله pernah menjabat sebagai qadhi (hakim) di Bashrah pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz رحمه الله.Abu Harrah Ar-Raqasyi berkata,كان الحسنُ لا يأخذ على قضائه أجرًا“Al-Hasan tidak mengambil upah atas tugasnya sebagai hakim.”Nasihat Al-Hasan kepada Khalifah Umar bin Abdul AzizDiriwayatkan bahwa ketika Umar bin Abdul Aziz رحمه الله diangkat menjadi khalifah, Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله menulis surat nasihat kepadanya. Dalam surat itu ia berkata,أما بعد، فإن الدنيا دارٌ مُخيفة، إنما أُهبِط آدم من الجنة إليها عقوبةً، واعلَمْ أن صرعتها ليست كالصرعة، مَن أكرمها يُهَنْ، ولها في كل حينٍ قتيل، فكن فيها يا أمير المؤمنين كالمداوي جرحَه؛ يصبِرُ على شدة الدواء؛ خيفةَ طول البلاء، والسلام“Amma ba‘du. Sesungguhnya dunia adalah negeri yang penuh bahaya dan ketakutan. Adam diturunkan dari surga ke dunia sebagai bentuk hukuman. Ketahuilah, jatuhnya seseorang di dunia bukanlah seperti jatuh biasa; siapa yang memuliakannya (terlalu mencintainya), ia akan dihinakan olehnya. Dunia ini setiap saat memiliki korban.Maka jadilah engkau di dunia ini, wahai Amirul Mukminin, seperti orang yang mengobati lukanya; ia bersabar menghadapi pahitnya obat karena takut penyakitnya akan semakin parah. Wassalam.”Perkataan ulama salaf tentang Al-Hasan Al-BashriAbu Burdah bin Abi Musa Al-Asy‘ari berkata,ما رأيتُ رجلًا قط لم يصحَبِ النبيَّ صلى الله عليه وسلم أشبهَ بأصحاب رسولِ الله صلى الله عليه وسلم، مِن هذا الشيخ؛ يعني الحسن“Aku tidak pernah melihat seorang pun yang tidak bersahabat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi lebih mirip dengan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada syekh ini, yakni Al-Hasan.”Asy-Sya‘bi menyebut Al-Hasan Al-Bashri lalu berkata,ما رأيتُ مِن أهل تلك البلاد رجلًا قطُّ أفضلَ منه“Aku tidak pernah melihat seorang pun dari penduduk negeri itu yang lebih utama daripadanya.”Al-‘Ala’ bin Ziyad berkata,ما أُحِبُّ أن أؤمِّن على دعاء أحدٍ حتى أسمع دعاءه إلا الحسن“Aku tidak suka mengaminkan doa seseorang sampai aku mendengar doanya terlebih dahulu kecuali doa Al-Hasan.”Ayyub As-Sikhtiyani berkata,كان الرجلُ يجلس إلى الحسن ثلاثَ حِجَجٍ، ما يسأله عن المسألة هيبةً له“Seorang lelaki bisa duduk belajar kepada Al-Hasan selama tiga tahun, tetapi tidak berani bertanya tentang suatu masalah karena rasa segan dan hormat kepadanya.”Qatadah berkata,ما جلستُ إلى أحدٍ، ثم جلست إلى الحسن، إلا عرَفتُ فضلَ الحسن عليه“Aku tidak pernah duduk bersama seorang pun (dari kalangan ulama), kemudian aku duduk bersama Al-Hasan, melainkan aku melihat keunggulan Al-Hasan atas orang tersebut.”Yunus bin ‘Ubaid berkata,كان الرجلُ إذا نظر إلى الحسنِ البصري انتفع به، وإن لم يسمَعْ كلامه، ولم يرَ عملَه“Seseorang yang hanya melihat Al-Hasan Al-Bashri saja sudah bisa mengambil manfaat darinya, meskipun ia tidak mendengar ucapannya dan tidak melihat amalnya.”Wasiat Hasan Al-Bashri sebelum wafatAbu Thariq As-Sa‘di berkata,شهِدتُ الحسن عند موتِه يُوصِي، فقال لكاتبٍ: اكتُبْ، هذا ما يشهَدُ به الحسن بن أبي الحسن، يشهد أن لا إله إلا الله، وأن محمدًا رسول الله، مَن شهِد بها صادقًا عند موته دخل الجنة“Aku menyaksikan Al-Hasan ketika menjelang wafatnya sedang berwasiat. Ia berkata kepada seorang penulis, ‘Tulislah: Inilah yang disaksikan oleh Al-Hasan bin Abi Al-Hasan. Ia bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Barang siapa bersaksi dengan kalimat ini secara jujur ketika menjelang kematiannya, maka ia akan masuk surga.’”Wafatnya Al-Hasan Al-BashriAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله wafat pada malam Jumat di bulan Rajab tahun 110 Hijriah, dalam usia 89 tahun.Jenazahnya dihadiri oleh banyak sekali orang. Ia disalatkan setelah salat Jumat di Bashrah. Begitu besar jumlah manusia yang mengiringi pemakamannya hingga terjadi kepadatan yang luar biasa, bahkan disebutkan bahwa salat Asar di masjid jami‘ tidak dapat ditegakkan karena seluruh orang sibuk menghadiri dan mengiringi jenazahnya.Baca juga: Kisah Menawan Al Hasan Al Bashri[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Gazzetta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dan disusun ulang oleh penulis dari: https://www.alukah.net/culture/1186

Biografi Al-Hasan Al-Bashri (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleIbadah Al-Hasan Al-BashriJihad Al-Hasan Al-BashriSikap Al-Hasan Al-Bashri dalam perang fitnahAllah menjaga Al-Hasan dari kezaliman Al-HajjajAl-Hasan menjadi qadhi (hakim)Nasihat Al-Hasan kepada Khalifah Umar bin Abdul AzizPerkataan ulama salaf tentang Al-Hasan Al-BashriWasiat Hasan Al-Bashri sebelum wafatWafatnya Al-Hasan Al-BashriIbadah Al-Hasan Al-BashriAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله dikenal sebagai seorang yang tekun beribadah dan sangat menjaga hubungannya dengan Allah.As-Sarri bin Yahya berkata,كان الحسن يصومُ مِن السنة أيام البيض، وأشهر الحرم، والاثنين والخميس“Al-Hasan biasa berpuasa dalam setahun pada Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriyah), pada bulan-bulan haram, serta pada hari Senin dan Kamis.”Al-Fasawi meriwayatkan dari Ibnu Syauzab, dari Mathar, bahwa ia berkata,كان الحسن البصري صاحبَ ليلٍ“Al-Hasan Al-Bashri adalah seorang yang memiliki malam.”Maksudnya, beliau adalah orang yang banyak menghidupkan malam dengan ibadah, terutama salat malam. Ini menunjukkan kesungguhan dan ketekunan beliau dalam beribadah serta kedekatannya dengan Allah pada waktu-waktu sunyi.Humaid Ath-Thawil berkata,لم يحجَّ الحسنُ إلا حجتينِ: حجة في أول عمره، وأخرى في آخر عمره“Al-Hasan tidak menunaikan haji kecuali dua kali: satu kali di awal kehidupannya dan satu kali lagi di akhir kehidupannya.”Alqamah bin Martsad berkata,انتهى الزهد إلى ثمانيةٍ مِن التابعين؛ فمنهم الحسن بن أبي الحسن، فما رأينا أحدًا من الناس كان أطول حزنًا منه، ما كنا نراه إلا أنه حديث عهد بمصيبة“Kezuhudan mencapai puncaknya pada delapan orang dari kalangan tabi‘in, dan di antaranya adalah Al-Hasan bin Abi Al-Hasan. Kami tidak pernah melihat seseorang yang lebih panjang rasa sedihnya daripada dia. Kami melihatnya seakan-akan ia baru saja tertimpa musibah.”Jihad Al-Hasan Al-BashriAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله bukan hanya dikenal sebagai ulama dan ahli ibadah, tetapi juga pernah ikut berjihad di medan perang.Abu ‘Ubaidah meriwayatkan bahwa ia mendengar seseorang bertanya kepada Al-Hasan, “Wahai Abu Sa‘id, apakah engkau pernah ikut berperang?” Beliau menjawab,نعم، غزوة كَابُلَ مع عبدالرحمن بن سَمُرَة رضي الله عنه“Ya, aku pernah mengikuti perang Kabul bersama Abdurrahman bin Samurah رضي الله عنه.”Hisyam bin Hassan berkata,كان الحسن أشجع أهل زمانه“Al-Hasan adalah orang yang paling berani di zamannya.”Ja‘far bin Sulaiman juga berkata bahwa Al-Hasan termasuk orang yang paling tegar ketika berada di tengah manusia. Ia adalah orang yang paling tampan, paling luas ilmunya, paling dermawan, dan paling fasih berbicara. Ketika Al-Muhallab bin Abi Shufrah memerangi kaum musyrikin, Al-Hasan termasuk di antara para kesatria yang berada di barisan depan.Sikap Al-Hasan Al-Bashri dalam perang fitnahAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله dikenal memiliki sikap yang tegas dan penuh pertimbangan dalam menghadapi konflik dan pemberontakan di masa fitnah, khususnya pada peristiwa pemberontakan Ibnu Al-Asy‘ats melawan Al-Hajjaj bin Yusuf.Ketika terjadi fitnah tersebut, sekelompok orang datang kepada Al-Hasan dan bertanya tentang hukum memerangi Al-Hajjaj, yang mereka sebut sebagai penguasa zalim karena menumpahkan darah dan melakukan berbagai pelanggaran. Al-Hasan menjawab agar mereka tidak memeranginya. Beliau berkata bahwa jika apa yang terjadi adalah hukuman dari Allah, maka mereka tidak akan mampu menolaknya dengan pedang. Dan jika itu adalah ujian, maka hendaknya mereka bersabar sampai Allah memberi keputusan, karena Allah adalah sebaik-baik Hakim. Namun orang-orang itu tidak menerima nasihatnya, bahkan meremehkannya, lalu mereka tetap ikut berperang bersama Ibnu Al-Asy‘ats dan akhirnya terbunuh semuanya.Dalam kesempatan lain, ketika ada yang berkata kepadanya, “Mengapa engkau tidak keluar untuk mengubah keadaan (dengan perang)?”; beliau pun menjawab,إن الله إنما يُغيِّر بالتوبة، ولا يُغيِّر بالسيف“Sesungguhnya Allah mengubah keadaan dengan tobat, bukan dengan pedang.”Ini menunjukkan bahwa menurut beliau, perbaikan umat harus dimulai dari perbaikan diri dan kembali kepada Allah, bukan dengan kekerasan.Pernah pula seseorang bertanya tentang sikap dalam fitnah seperti yang melibatkan Yazid bin Al-Muhallab dan Ibnu Al-Asy‘ats. Al-Hasan menjawab agar tidak berpihak kepada salah satu dari mereka. Ketika ditanya lagi, “Tidak juga bersama Amirul Mukminin?” beliau menegaskan, “Tidak juga bersama Amirul Mukminin.” Maksudnya, beliau memilih menjauh dari keterlibatan dalam konflik bersenjata yang membawa pertumpahan darah di antara kaum muslimin.Beliau juga berkata bahwa jika manusia bersabar ketika diuji oleh penguasa mereka, niscaya Allah akan segera memberi jalan keluar. Tetapi jika mereka tergesa-gesa mengambil pedang, maka mereka akan diserahkan kepada pedang itu sendiri. Dan beliau menegaskan bahwa tindakan seperti itu tidak pernah mendatangkan kebaikan.Allah menjaga Al-Hasan dari kezaliman Al-HajjajDiriwayatkan bahwa Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi beberapa kali berniat membunuh Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله. Namun, Allah melindunginya dari kejahatan tersebut. Pernah suatu waktu Al-Hasan bersembunyi selama dua tahun di rumah Ali bin Zaid bin Jud‘an, dan di waktu lain ia bersembunyi di sebuah penggilingan milik Abu Muhammad Al-Bazzaz. Setiap kali itu pula Allah menyelamatkannya.Suatu hari yang sangat panas di musim panas, Al-Hajjaj tiba-tiba mengirim pasukan untuk menangkap Al-Hasan pada waktu yang tidak terduga. Enam orang pengawal masuk dan membawanya dengan perlakuan kasar. Ketika kabar itu sampai kepada para muridnya, seperti Ayyub, Tsabit Al-Bunani, dan lainnya, mereka segera menuju istana dengan membawa kain kafan dan kapur barus, karena mereka yakin Al-Hasan akan dibunuh.Namun setelah beberapa waktu, Al-Hasan keluar dari istana dalam keadaan tersenyum. Mereka pun memuji Allah atas keselamatannya.Al-Hasan kemudian menceritakan bahwa ketika ia masuk menemui Al-Hajjaj, ia berada di sebuah ruangan yang sejuk dengan es di atapnya untuk mengurangi panas. Al-Hajjaj bertanya, “Engkaukah yang mengatakan ucapan-ucapan tentang kami seperti yang sampai kepadaku?” Ucapan itu berisi kritik keras terhadap para penguasa yang menjadikan hamba Allah sebagai pelayan mereka, mempermainkan Kitab Allah, dan mempergunakan harta Allah untuk kepentingan yang tidak benar, serta mengingatkan bahwa kelak ada hari perhitungan di hadapan Allah.Al-Hasan menjawab dengan tegas bahwa ia memang mengatakan hal itu, karena Allah telah mengambil janji dari para ulama untuk menjelaskan kebenaran dan tidak menyembunyikannya. Mendengar jawaban itu, Al-Hajjaj terdiam sejenak, lalu memerintahkan agar kepala dan janggut Al-Hasan diberi minyak wangi sebagai bentuk penghormatan. Ia kemudian menasihati Al-Hasan agar tidak menyebut para penguasa kecuali dengan kebaikan.Al-Hasan menjawab dengan menyampaikan hadis tentang menghormati pemimpin, namun ia juga menegaskan syarat keadilan. Pada akhirnya, Al-Hajjaj tidak jadi mencelakainya dan bahkan mempersilahkannya pulang dengan baik.Al-Hasan menjadi qadhi (hakim)Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله pernah menjabat sebagai qadhi (hakim) di Bashrah pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz رحمه الله.Abu Harrah Ar-Raqasyi berkata,كان الحسنُ لا يأخذ على قضائه أجرًا“Al-Hasan tidak mengambil upah atas tugasnya sebagai hakim.”Nasihat Al-Hasan kepada Khalifah Umar bin Abdul AzizDiriwayatkan bahwa ketika Umar bin Abdul Aziz رحمه الله diangkat menjadi khalifah, Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله menulis surat nasihat kepadanya. Dalam surat itu ia berkata,أما بعد، فإن الدنيا دارٌ مُخيفة، إنما أُهبِط آدم من الجنة إليها عقوبةً، واعلَمْ أن صرعتها ليست كالصرعة، مَن أكرمها يُهَنْ، ولها في كل حينٍ قتيل، فكن فيها يا أمير المؤمنين كالمداوي جرحَه؛ يصبِرُ على شدة الدواء؛ خيفةَ طول البلاء، والسلام“Amma ba‘du. Sesungguhnya dunia adalah negeri yang penuh bahaya dan ketakutan. Adam diturunkan dari surga ke dunia sebagai bentuk hukuman. Ketahuilah, jatuhnya seseorang di dunia bukanlah seperti jatuh biasa; siapa yang memuliakannya (terlalu mencintainya), ia akan dihinakan olehnya. Dunia ini setiap saat memiliki korban.Maka jadilah engkau di dunia ini, wahai Amirul Mukminin, seperti orang yang mengobati lukanya; ia bersabar menghadapi pahitnya obat karena takut penyakitnya akan semakin parah. Wassalam.”Perkataan ulama salaf tentang Al-Hasan Al-BashriAbu Burdah bin Abi Musa Al-Asy‘ari berkata,ما رأيتُ رجلًا قط لم يصحَبِ النبيَّ صلى الله عليه وسلم أشبهَ بأصحاب رسولِ الله صلى الله عليه وسلم، مِن هذا الشيخ؛ يعني الحسن“Aku tidak pernah melihat seorang pun yang tidak bersahabat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi lebih mirip dengan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada syekh ini, yakni Al-Hasan.”Asy-Sya‘bi menyebut Al-Hasan Al-Bashri lalu berkata,ما رأيتُ مِن أهل تلك البلاد رجلًا قطُّ أفضلَ منه“Aku tidak pernah melihat seorang pun dari penduduk negeri itu yang lebih utama daripadanya.”Al-‘Ala’ bin Ziyad berkata,ما أُحِبُّ أن أؤمِّن على دعاء أحدٍ حتى أسمع دعاءه إلا الحسن“Aku tidak suka mengaminkan doa seseorang sampai aku mendengar doanya terlebih dahulu kecuali doa Al-Hasan.”Ayyub As-Sikhtiyani berkata,كان الرجلُ يجلس إلى الحسن ثلاثَ حِجَجٍ، ما يسأله عن المسألة هيبةً له“Seorang lelaki bisa duduk belajar kepada Al-Hasan selama tiga tahun, tetapi tidak berani bertanya tentang suatu masalah karena rasa segan dan hormat kepadanya.”Qatadah berkata,ما جلستُ إلى أحدٍ، ثم جلست إلى الحسن، إلا عرَفتُ فضلَ الحسن عليه“Aku tidak pernah duduk bersama seorang pun (dari kalangan ulama), kemudian aku duduk bersama Al-Hasan, melainkan aku melihat keunggulan Al-Hasan atas orang tersebut.”Yunus bin ‘Ubaid berkata,كان الرجلُ إذا نظر إلى الحسنِ البصري انتفع به، وإن لم يسمَعْ كلامه، ولم يرَ عملَه“Seseorang yang hanya melihat Al-Hasan Al-Bashri saja sudah bisa mengambil manfaat darinya, meskipun ia tidak mendengar ucapannya dan tidak melihat amalnya.”Wasiat Hasan Al-Bashri sebelum wafatAbu Thariq As-Sa‘di berkata,شهِدتُ الحسن عند موتِه يُوصِي، فقال لكاتبٍ: اكتُبْ، هذا ما يشهَدُ به الحسن بن أبي الحسن، يشهد أن لا إله إلا الله، وأن محمدًا رسول الله، مَن شهِد بها صادقًا عند موته دخل الجنة“Aku menyaksikan Al-Hasan ketika menjelang wafatnya sedang berwasiat. Ia berkata kepada seorang penulis, ‘Tulislah: Inilah yang disaksikan oleh Al-Hasan bin Abi Al-Hasan. Ia bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Barang siapa bersaksi dengan kalimat ini secara jujur ketika menjelang kematiannya, maka ia akan masuk surga.’”Wafatnya Al-Hasan Al-BashriAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله wafat pada malam Jumat di bulan Rajab tahun 110 Hijriah, dalam usia 89 tahun.Jenazahnya dihadiri oleh banyak sekali orang. Ia disalatkan setelah salat Jumat di Bashrah. Begitu besar jumlah manusia yang mengiringi pemakamannya hingga terjadi kepadatan yang luar biasa, bahkan disebutkan bahwa salat Asar di masjid jami‘ tidak dapat ditegakkan karena seluruh orang sibuk menghadiri dan mengiringi jenazahnya.Baca juga: Kisah Menawan Al Hasan Al Bashri[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Gazzetta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dan disusun ulang oleh penulis dari: https://www.alukah.net/culture/1186
Daftar Isi ToggleIbadah Al-Hasan Al-BashriJihad Al-Hasan Al-BashriSikap Al-Hasan Al-Bashri dalam perang fitnahAllah menjaga Al-Hasan dari kezaliman Al-HajjajAl-Hasan menjadi qadhi (hakim)Nasihat Al-Hasan kepada Khalifah Umar bin Abdul AzizPerkataan ulama salaf tentang Al-Hasan Al-BashriWasiat Hasan Al-Bashri sebelum wafatWafatnya Al-Hasan Al-BashriIbadah Al-Hasan Al-BashriAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله dikenal sebagai seorang yang tekun beribadah dan sangat menjaga hubungannya dengan Allah.As-Sarri bin Yahya berkata,كان الحسن يصومُ مِن السنة أيام البيض، وأشهر الحرم، والاثنين والخميس“Al-Hasan biasa berpuasa dalam setahun pada Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriyah), pada bulan-bulan haram, serta pada hari Senin dan Kamis.”Al-Fasawi meriwayatkan dari Ibnu Syauzab, dari Mathar, bahwa ia berkata,كان الحسن البصري صاحبَ ليلٍ“Al-Hasan Al-Bashri adalah seorang yang memiliki malam.”Maksudnya, beliau adalah orang yang banyak menghidupkan malam dengan ibadah, terutama salat malam. Ini menunjukkan kesungguhan dan ketekunan beliau dalam beribadah serta kedekatannya dengan Allah pada waktu-waktu sunyi.Humaid Ath-Thawil berkata,لم يحجَّ الحسنُ إلا حجتينِ: حجة في أول عمره، وأخرى في آخر عمره“Al-Hasan tidak menunaikan haji kecuali dua kali: satu kali di awal kehidupannya dan satu kali lagi di akhir kehidupannya.”Alqamah bin Martsad berkata,انتهى الزهد إلى ثمانيةٍ مِن التابعين؛ فمنهم الحسن بن أبي الحسن، فما رأينا أحدًا من الناس كان أطول حزنًا منه، ما كنا نراه إلا أنه حديث عهد بمصيبة“Kezuhudan mencapai puncaknya pada delapan orang dari kalangan tabi‘in, dan di antaranya adalah Al-Hasan bin Abi Al-Hasan. Kami tidak pernah melihat seseorang yang lebih panjang rasa sedihnya daripada dia. Kami melihatnya seakan-akan ia baru saja tertimpa musibah.”Jihad Al-Hasan Al-BashriAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله bukan hanya dikenal sebagai ulama dan ahli ibadah, tetapi juga pernah ikut berjihad di medan perang.Abu ‘Ubaidah meriwayatkan bahwa ia mendengar seseorang bertanya kepada Al-Hasan, “Wahai Abu Sa‘id, apakah engkau pernah ikut berperang?” Beliau menjawab,نعم، غزوة كَابُلَ مع عبدالرحمن بن سَمُرَة رضي الله عنه“Ya, aku pernah mengikuti perang Kabul bersama Abdurrahman bin Samurah رضي الله عنه.”Hisyam bin Hassan berkata,كان الحسن أشجع أهل زمانه“Al-Hasan adalah orang yang paling berani di zamannya.”Ja‘far bin Sulaiman juga berkata bahwa Al-Hasan termasuk orang yang paling tegar ketika berada di tengah manusia. Ia adalah orang yang paling tampan, paling luas ilmunya, paling dermawan, dan paling fasih berbicara. Ketika Al-Muhallab bin Abi Shufrah memerangi kaum musyrikin, Al-Hasan termasuk di antara para kesatria yang berada di barisan depan.Sikap Al-Hasan Al-Bashri dalam perang fitnahAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله dikenal memiliki sikap yang tegas dan penuh pertimbangan dalam menghadapi konflik dan pemberontakan di masa fitnah, khususnya pada peristiwa pemberontakan Ibnu Al-Asy‘ats melawan Al-Hajjaj bin Yusuf.Ketika terjadi fitnah tersebut, sekelompok orang datang kepada Al-Hasan dan bertanya tentang hukum memerangi Al-Hajjaj, yang mereka sebut sebagai penguasa zalim karena menumpahkan darah dan melakukan berbagai pelanggaran. Al-Hasan menjawab agar mereka tidak memeranginya. Beliau berkata bahwa jika apa yang terjadi adalah hukuman dari Allah, maka mereka tidak akan mampu menolaknya dengan pedang. Dan jika itu adalah ujian, maka hendaknya mereka bersabar sampai Allah memberi keputusan, karena Allah adalah sebaik-baik Hakim. Namun orang-orang itu tidak menerima nasihatnya, bahkan meremehkannya, lalu mereka tetap ikut berperang bersama Ibnu Al-Asy‘ats dan akhirnya terbunuh semuanya.Dalam kesempatan lain, ketika ada yang berkata kepadanya, “Mengapa engkau tidak keluar untuk mengubah keadaan (dengan perang)?”; beliau pun menjawab,إن الله إنما يُغيِّر بالتوبة، ولا يُغيِّر بالسيف“Sesungguhnya Allah mengubah keadaan dengan tobat, bukan dengan pedang.”Ini menunjukkan bahwa menurut beliau, perbaikan umat harus dimulai dari perbaikan diri dan kembali kepada Allah, bukan dengan kekerasan.Pernah pula seseorang bertanya tentang sikap dalam fitnah seperti yang melibatkan Yazid bin Al-Muhallab dan Ibnu Al-Asy‘ats. Al-Hasan menjawab agar tidak berpihak kepada salah satu dari mereka. Ketika ditanya lagi, “Tidak juga bersama Amirul Mukminin?” beliau menegaskan, “Tidak juga bersama Amirul Mukminin.” Maksudnya, beliau memilih menjauh dari keterlibatan dalam konflik bersenjata yang membawa pertumpahan darah di antara kaum muslimin.Beliau juga berkata bahwa jika manusia bersabar ketika diuji oleh penguasa mereka, niscaya Allah akan segera memberi jalan keluar. Tetapi jika mereka tergesa-gesa mengambil pedang, maka mereka akan diserahkan kepada pedang itu sendiri. Dan beliau menegaskan bahwa tindakan seperti itu tidak pernah mendatangkan kebaikan.Allah menjaga Al-Hasan dari kezaliman Al-HajjajDiriwayatkan bahwa Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi beberapa kali berniat membunuh Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله. Namun, Allah melindunginya dari kejahatan tersebut. Pernah suatu waktu Al-Hasan bersembunyi selama dua tahun di rumah Ali bin Zaid bin Jud‘an, dan di waktu lain ia bersembunyi di sebuah penggilingan milik Abu Muhammad Al-Bazzaz. Setiap kali itu pula Allah menyelamatkannya.Suatu hari yang sangat panas di musim panas, Al-Hajjaj tiba-tiba mengirim pasukan untuk menangkap Al-Hasan pada waktu yang tidak terduga. Enam orang pengawal masuk dan membawanya dengan perlakuan kasar. Ketika kabar itu sampai kepada para muridnya, seperti Ayyub, Tsabit Al-Bunani, dan lainnya, mereka segera menuju istana dengan membawa kain kafan dan kapur barus, karena mereka yakin Al-Hasan akan dibunuh.Namun setelah beberapa waktu, Al-Hasan keluar dari istana dalam keadaan tersenyum. Mereka pun memuji Allah atas keselamatannya.Al-Hasan kemudian menceritakan bahwa ketika ia masuk menemui Al-Hajjaj, ia berada di sebuah ruangan yang sejuk dengan es di atapnya untuk mengurangi panas. Al-Hajjaj bertanya, “Engkaukah yang mengatakan ucapan-ucapan tentang kami seperti yang sampai kepadaku?” Ucapan itu berisi kritik keras terhadap para penguasa yang menjadikan hamba Allah sebagai pelayan mereka, mempermainkan Kitab Allah, dan mempergunakan harta Allah untuk kepentingan yang tidak benar, serta mengingatkan bahwa kelak ada hari perhitungan di hadapan Allah.Al-Hasan menjawab dengan tegas bahwa ia memang mengatakan hal itu, karena Allah telah mengambil janji dari para ulama untuk menjelaskan kebenaran dan tidak menyembunyikannya. Mendengar jawaban itu, Al-Hajjaj terdiam sejenak, lalu memerintahkan agar kepala dan janggut Al-Hasan diberi minyak wangi sebagai bentuk penghormatan. Ia kemudian menasihati Al-Hasan agar tidak menyebut para penguasa kecuali dengan kebaikan.Al-Hasan menjawab dengan menyampaikan hadis tentang menghormati pemimpin, namun ia juga menegaskan syarat keadilan. Pada akhirnya, Al-Hajjaj tidak jadi mencelakainya dan bahkan mempersilahkannya pulang dengan baik.Al-Hasan menjadi qadhi (hakim)Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله pernah menjabat sebagai qadhi (hakim) di Bashrah pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz رحمه الله.Abu Harrah Ar-Raqasyi berkata,كان الحسنُ لا يأخذ على قضائه أجرًا“Al-Hasan tidak mengambil upah atas tugasnya sebagai hakim.”Nasihat Al-Hasan kepada Khalifah Umar bin Abdul AzizDiriwayatkan bahwa ketika Umar bin Abdul Aziz رحمه الله diangkat menjadi khalifah, Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله menulis surat nasihat kepadanya. Dalam surat itu ia berkata,أما بعد، فإن الدنيا دارٌ مُخيفة، إنما أُهبِط آدم من الجنة إليها عقوبةً، واعلَمْ أن صرعتها ليست كالصرعة، مَن أكرمها يُهَنْ، ولها في كل حينٍ قتيل، فكن فيها يا أمير المؤمنين كالمداوي جرحَه؛ يصبِرُ على شدة الدواء؛ خيفةَ طول البلاء، والسلام“Amma ba‘du. Sesungguhnya dunia adalah negeri yang penuh bahaya dan ketakutan. Adam diturunkan dari surga ke dunia sebagai bentuk hukuman. Ketahuilah, jatuhnya seseorang di dunia bukanlah seperti jatuh biasa; siapa yang memuliakannya (terlalu mencintainya), ia akan dihinakan olehnya. Dunia ini setiap saat memiliki korban.Maka jadilah engkau di dunia ini, wahai Amirul Mukminin, seperti orang yang mengobati lukanya; ia bersabar menghadapi pahitnya obat karena takut penyakitnya akan semakin parah. Wassalam.”Perkataan ulama salaf tentang Al-Hasan Al-BashriAbu Burdah bin Abi Musa Al-Asy‘ari berkata,ما رأيتُ رجلًا قط لم يصحَبِ النبيَّ صلى الله عليه وسلم أشبهَ بأصحاب رسولِ الله صلى الله عليه وسلم، مِن هذا الشيخ؛ يعني الحسن“Aku tidak pernah melihat seorang pun yang tidak bersahabat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi lebih mirip dengan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada syekh ini, yakni Al-Hasan.”Asy-Sya‘bi menyebut Al-Hasan Al-Bashri lalu berkata,ما رأيتُ مِن أهل تلك البلاد رجلًا قطُّ أفضلَ منه“Aku tidak pernah melihat seorang pun dari penduduk negeri itu yang lebih utama daripadanya.”Al-‘Ala’ bin Ziyad berkata,ما أُحِبُّ أن أؤمِّن على دعاء أحدٍ حتى أسمع دعاءه إلا الحسن“Aku tidak suka mengaminkan doa seseorang sampai aku mendengar doanya terlebih dahulu kecuali doa Al-Hasan.”Ayyub As-Sikhtiyani berkata,كان الرجلُ يجلس إلى الحسن ثلاثَ حِجَجٍ، ما يسأله عن المسألة هيبةً له“Seorang lelaki bisa duduk belajar kepada Al-Hasan selama tiga tahun, tetapi tidak berani bertanya tentang suatu masalah karena rasa segan dan hormat kepadanya.”Qatadah berkata,ما جلستُ إلى أحدٍ، ثم جلست إلى الحسن، إلا عرَفتُ فضلَ الحسن عليه“Aku tidak pernah duduk bersama seorang pun (dari kalangan ulama), kemudian aku duduk bersama Al-Hasan, melainkan aku melihat keunggulan Al-Hasan atas orang tersebut.”Yunus bin ‘Ubaid berkata,كان الرجلُ إذا نظر إلى الحسنِ البصري انتفع به، وإن لم يسمَعْ كلامه، ولم يرَ عملَه“Seseorang yang hanya melihat Al-Hasan Al-Bashri saja sudah bisa mengambil manfaat darinya, meskipun ia tidak mendengar ucapannya dan tidak melihat amalnya.”Wasiat Hasan Al-Bashri sebelum wafatAbu Thariq As-Sa‘di berkata,شهِدتُ الحسن عند موتِه يُوصِي، فقال لكاتبٍ: اكتُبْ، هذا ما يشهَدُ به الحسن بن أبي الحسن، يشهد أن لا إله إلا الله، وأن محمدًا رسول الله، مَن شهِد بها صادقًا عند موته دخل الجنة“Aku menyaksikan Al-Hasan ketika menjelang wafatnya sedang berwasiat. Ia berkata kepada seorang penulis, ‘Tulislah: Inilah yang disaksikan oleh Al-Hasan bin Abi Al-Hasan. Ia bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Barang siapa bersaksi dengan kalimat ini secara jujur ketika menjelang kematiannya, maka ia akan masuk surga.’”Wafatnya Al-Hasan Al-BashriAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله wafat pada malam Jumat di bulan Rajab tahun 110 Hijriah, dalam usia 89 tahun.Jenazahnya dihadiri oleh banyak sekali orang. Ia disalatkan setelah salat Jumat di Bashrah. Begitu besar jumlah manusia yang mengiringi pemakamannya hingga terjadi kepadatan yang luar biasa, bahkan disebutkan bahwa salat Asar di masjid jami‘ tidak dapat ditegakkan karena seluruh orang sibuk menghadiri dan mengiringi jenazahnya.Baca juga: Kisah Menawan Al Hasan Al Bashri[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Gazzetta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dan disusun ulang oleh penulis dari: https://www.alukah.net/culture/1186


Daftar Isi ToggleIbadah Al-Hasan Al-BashriJihad Al-Hasan Al-BashriSikap Al-Hasan Al-Bashri dalam perang fitnahAllah menjaga Al-Hasan dari kezaliman Al-HajjajAl-Hasan menjadi qadhi (hakim)Nasihat Al-Hasan kepada Khalifah Umar bin Abdul AzizPerkataan ulama salaf tentang Al-Hasan Al-BashriWasiat Hasan Al-Bashri sebelum wafatWafatnya Al-Hasan Al-BashriIbadah Al-Hasan Al-BashriAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله dikenal sebagai seorang yang tekun beribadah dan sangat menjaga hubungannya dengan Allah.As-Sarri bin Yahya berkata,كان الحسن يصومُ مِن السنة أيام البيض، وأشهر الحرم، والاثنين والخميس“Al-Hasan biasa berpuasa dalam setahun pada Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriyah), pada bulan-bulan haram, serta pada hari Senin dan Kamis.”Al-Fasawi meriwayatkan dari Ibnu Syauzab, dari Mathar, bahwa ia berkata,كان الحسن البصري صاحبَ ليلٍ“Al-Hasan Al-Bashri adalah seorang yang memiliki malam.”Maksudnya, beliau adalah orang yang banyak menghidupkan malam dengan ibadah, terutama salat malam. Ini menunjukkan kesungguhan dan ketekunan beliau dalam beribadah serta kedekatannya dengan Allah pada waktu-waktu sunyi.Humaid Ath-Thawil berkata,لم يحجَّ الحسنُ إلا حجتينِ: حجة في أول عمره، وأخرى في آخر عمره“Al-Hasan tidak menunaikan haji kecuali dua kali: satu kali di awal kehidupannya dan satu kali lagi di akhir kehidupannya.”Alqamah bin Martsad berkata,انتهى الزهد إلى ثمانيةٍ مِن التابعين؛ فمنهم الحسن بن أبي الحسن، فما رأينا أحدًا من الناس كان أطول حزنًا منه، ما كنا نراه إلا أنه حديث عهد بمصيبة“Kezuhudan mencapai puncaknya pada delapan orang dari kalangan tabi‘in, dan di antaranya adalah Al-Hasan bin Abi Al-Hasan. Kami tidak pernah melihat seseorang yang lebih panjang rasa sedihnya daripada dia. Kami melihatnya seakan-akan ia baru saja tertimpa musibah.”Jihad Al-Hasan Al-BashriAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله bukan hanya dikenal sebagai ulama dan ahli ibadah, tetapi juga pernah ikut berjihad di medan perang.Abu ‘Ubaidah meriwayatkan bahwa ia mendengar seseorang bertanya kepada Al-Hasan, “Wahai Abu Sa‘id, apakah engkau pernah ikut berperang?” Beliau menjawab,نعم، غزوة كَابُلَ مع عبدالرحمن بن سَمُرَة رضي الله عنه“Ya, aku pernah mengikuti perang Kabul bersama Abdurrahman bin Samurah رضي الله عنه.”Hisyam bin Hassan berkata,كان الحسن أشجع أهل زمانه“Al-Hasan adalah orang yang paling berani di zamannya.”Ja‘far bin Sulaiman juga berkata bahwa Al-Hasan termasuk orang yang paling tegar ketika berada di tengah manusia. Ia adalah orang yang paling tampan, paling luas ilmunya, paling dermawan, dan paling fasih berbicara. Ketika Al-Muhallab bin Abi Shufrah memerangi kaum musyrikin, Al-Hasan termasuk di antara para kesatria yang berada di barisan depan.Sikap Al-Hasan Al-Bashri dalam perang fitnahAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله dikenal memiliki sikap yang tegas dan penuh pertimbangan dalam menghadapi konflik dan pemberontakan di masa fitnah, khususnya pada peristiwa pemberontakan Ibnu Al-Asy‘ats melawan Al-Hajjaj bin Yusuf.Ketika terjadi fitnah tersebut, sekelompok orang datang kepada Al-Hasan dan bertanya tentang hukum memerangi Al-Hajjaj, yang mereka sebut sebagai penguasa zalim karena menumpahkan darah dan melakukan berbagai pelanggaran. Al-Hasan menjawab agar mereka tidak memeranginya. Beliau berkata bahwa jika apa yang terjadi adalah hukuman dari Allah, maka mereka tidak akan mampu menolaknya dengan pedang. Dan jika itu adalah ujian, maka hendaknya mereka bersabar sampai Allah memberi keputusan, karena Allah adalah sebaik-baik Hakim. Namun orang-orang itu tidak menerima nasihatnya, bahkan meremehkannya, lalu mereka tetap ikut berperang bersama Ibnu Al-Asy‘ats dan akhirnya terbunuh semuanya.Dalam kesempatan lain, ketika ada yang berkata kepadanya, “Mengapa engkau tidak keluar untuk mengubah keadaan (dengan perang)?”; beliau pun menjawab,إن الله إنما يُغيِّر بالتوبة، ولا يُغيِّر بالسيف“Sesungguhnya Allah mengubah keadaan dengan tobat, bukan dengan pedang.”Ini menunjukkan bahwa menurut beliau, perbaikan umat harus dimulai dari perbaikan diri dan kembali kepada Allah, bukan dengan kekerasan.Pernah pula seseorang bertanya tentang sikap dalam fitnah seperti yang melibatkan Yazid bin Al-Muhallab dan Ibnu Al-Asy‘ats. Al-Hasan menjawab agar tidak berpihak kepada salah satu dari mereka. Ketika ditanya lagi, “Tidak juga bersama Amirul Mukminin?” beliau menegaskan, “Tidak juga bersama Amirul Mukminin.” Maksudnya, beliau memilih menjauh dari keterlibatan dalam konflik bersenjata yang membawa pertumpahan darah di antara kaum muslimin.Beliau juga berkata bahwa jika manusia bersabar ketika diuji oleh penguasa mereka, niscaya Allah akan segera memberi jalan keluar. Tetapi jika mereka tergesa-gesa mengambil pedang, maka mereka akan diserahkan kepada pedang itu sendiri. Dan beliau menegaskan bahwa tindakan seperti itu tidak pernah mendatangkan kebaikan.Allah menjaga Al-Hasan dari kezaliman Al-HajjajDiriwayatkan bahwa Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi beberapa kali berniat membunuh Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله. Namun, Allah melindunginya dari kejahatan tersebut. Pernah suatu waktu Al-Hasan bersembunyi selama dua tahun di rumah Ali bin Zaid bin Jud‘an, dan di waktu lain ia bersembunyi di sebuah penggilingan milik Abu Muhammad Al-Bazzaz. Setiap kali itu pula Allah menyelamatkannya.Suatu hari yang sangat panas di musim panas, Al-Hajjaj tiba-tiba mengirim pasukan untuk menangkap Al-Hasan pada waktu yang tidak terduga. Enam orang pengawal masuk dan membawanya dengan perlakuan kasar. Ketika kabar itu sampai kepada para muridnya, seperti Ayyub, Tsabit Al-Bunani, dan lainnya, mereka segera menuju istana dengan membawa kain kafan dan kapur barus, karena mereka yakin Al-Hasan akan dibunuh.Namun setelah beberapa waktu, Al-Hasan keluar dari istana dalam keadaan tersenyum. Mereka pun memuji Allah atas keselamatannya.Al-Hasan kemudian menceritakan bahwa ketika ia masuk menemui Al-Hajjaj, ia berada di sebuah ruangan yang sejuk dengan es di atapnya untuk mengurangi panas. Al-Hajjaj bertanya, “Engkaukah yang mengatakan ucapan-ucapan tentang kami seperti yang sampai kepadaku?” Ucapan itu berisi kritik keras terhadap para penguasa yang menjadikan hamba Allah sebagai pelayan mereka, mempermainkan Kitab Allah, dan mempergunakan harta Allah untuk kepentingan yang tidak benar, serta mengingatkan bahwa kelak ada hari perhitungan di hadapan Allah.Al-Hasan menjawab dengan tegas bahwa ia memang mengatakan hal itu, karena Allah telah mengambil janji dari para ulama untuk menjelaskan kebenaran dan tidak menyembunyikannya. Mendengar jawaban itu, Al-Hajjaj terdiam sejenak, lalu memerintahkan agar kepala dan janggut Al-Hasan diberi minyak wangi sebagai bentuk penghormatan. Ia kemudian menasihati Al-Hasan agar tidak menyebut para penguasa kecuali dengan kebaikan.Al-Hasan menjawab dengan menyampaikan hadis tentang menghormati pemimpin, namun ia juga menegaskan syarat keadilan. Pada akhirnya, Al-Hajjaj tidak jadi mencelakainya dan bahkan mempersilahkannya pulang dengan baik.Al-Hasan menjadi qadhi (hakim)Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله pernah menjabat sebagai qadhi (hakim) di Bashrah pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz رحمه الله.Abu Harrah Ar-Raqasyi berkata,كان الحسنُ لا يأخذ على قضائه أجرًا“Al-Hasan tidak mengambil upah atas tugasnya sebagai hakim.”Nasihat Al-Hasan kepada Khalifah Umar bin Abdul AzizDiriwayatkan bahwa ketika Umar bin Abdul Aziz رحمه الله diangkat menjadi khalifah, Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله menulis surat nasihat kepadanya. Dalam surat itu ia berkata,أما بعد، فإن الدنيا دارٌ مُخيفة، إنما أُهبِط آدم من الجنة إليها عقوبةً، واعلَمْ أن صرعتها ليست كالصرعة، مَن أكرمها يُهَنْ، ولها في كل حينٍ قتيل، فكن فيها يا أمير المؤمنين كالمداوي جرحَه؛ يصبِرُ على شدة الدواء؛ خيفةَ طول البلاء، والسلام“Amma ba‘du. Sesungguhnya dunia adalah negeri yang penuh bahaya dan ketakutan. Adam diturunkan dari surga ke dunia sebagai bentuk hukuman. Ketahuilah, jatuhnya seseorang di dunia bukanlah seperti jatuh biasa; siapa yang memuliakannya (terlalu mencintainya), ia akan dihinakan olehnya. Dunia ini setiap saat memiliki korban.Maka jadilah engkau di dunia ini, wahai Amirul Mukminin, seperti orang yang mengobati lukanya; ia bersabar menghadapi pahitnya obat karena takut penyakitnya akan semakin parah. Wassalam.”Perkataan ulama salaf tentang Al-Hasan Al-BashriAbu Burdah bin Abi Musa Al-Asy‘ari berkata,ما رأيتُ رجلًا قط لم يصحَبِ النبيَّ صلى الله عليه وسلم أشبهَ بأصحاب رسولِ الله صلى الله عليه وسلم، مِن هذا الشيخ؛ يعني الحسن“Aku tidak pernah melihat seorang pun yang tidak bersahabat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi lebih mirip dengan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada syekh ini, yakni Al-Hasan.”Asy-Sya‘bi menyebut Al-Hasan Al-Bashri lalu berkata,ما رأيتُ مِن أهل تلك البلاد رجلًا قطُّ أفضلَ منه“Aku tidak pernah melihat seorang pun dari penduduk negeri itu yang lebih utama daripadanya.”Al-‘Ala’ bin Ziyad berkata,ما أُحِبُّ أن أؤمِّن على دعاء أحدٍ حتى أسمع دعاءه إلا الحسن“Aku tidak suka mengaminkan doa seseorang sampai aku mendengar doanya terlebih dahulu kecuali doa Al-Hasan.”Ayyub As-Sikhtiyani berkata,كان الرجلُ يجلس إلى الحسن ثلاثَ حِجَجٍ، ما يسأله عن المسألة هيبةً له“Seorang lelaki bisa duduk belajar kepada Al-Hasan selama tiga tahun, tetapi tidak berani bertanya tentang suatu masalah karena rasa segan dan hormat kepadanya.”Qatadah berkata,ما جلستُ إلى أحدٍ، ثم جلست إلى الحسن، إلا عرَفتُ فضلَ الحسن عليه“Aku tidak pernah duduk bersama seorang pun (dari kalangan ulama), kemudian aku duduk bersama Al-Hasan, melainkan aku melihat keunggulan Al-Hasan atas orang tersebut.”Yunus bin ‘Ubaid berkata,كان الرجلُ إذا نظر إلى الحسنِ البصري انتفع به، وإن لم يسمَعْ كلامه، ولم يرَ عملَه“Seseorang yang hanya melihat Al-Hasan Al-Bashri saja sudah bisa mengambil manfaat darinya, meskipun ia tidak mendengar ucapannya dan tidak melihat amalnya.”Wasiat Hasan Al-Bashri sebelum wafatAbu Thariq As-Sa‘di berkata,شهِدتُ الحسن عند موتِه يُوصِي، فقال لكاتبٍ: اكتُبْ، هذا ما يشهَدُ به الحسن بن أبي الحسن، يشهد أن لا إله إلا الله، وأن محمدًا رسول الله، مَن شهِد بها صادقًا عند موته دخل الجنة“Aku menyaksikan Al-Hasan ketika menjelang wafatnya sedang berwasiat. Ia berkata kepada seorang penulis, ‘Tulislah: Inilah yang disaksikan oleh Al-Hasan bin Abi Al-Hasan. Ia bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Barang siapa bersaksi dengan kalimat ini secara jujur ketika menjelang kematiannya, maka ia akan masuk surga.’”Wafatnya Al-Hasan Al-BashriAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله wafat pada malam Jumat di bulan Rajab tahun 110 Hijriah, dalam usia 89 tahun.Jenazahnya dihadiri oleh banyak sekali orang. Ia disalatkan setelah salat Jumat di Bashrah. Begitu besar jumlah manusia yang mengiringi pemakamannya hingga terjadi kepadatan yang luar biasa, bahkan disebutkan bahwa salat Asar di masjid jami‘ tidak dapat ditegakkan karena seluruh orang sibuk menghadiri dan mengiringi jenazahnya.Baca juga: Kisah Menawan Al Hasan Al Bashri[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Gazzetta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dan disusun ulang oleh penulis dari: https://www.alukah.net/culture/1186

Bolehkah Istri Bekerja untuk Menafkahi Orang Tuanya jika Suami Melarang?

Tidak sedikit muslimah menghadapi dilema setelah menikah. Di satu sisi, mereka ingin tetap berbakti kepada kedua orang tua yang telah lanjut usia atau sedang mengalami kesulitan ekonomi. Namun di sisi lain, muncul persoalan ketika suami tidak mengizinkan istri bekerja atau membantu kedua orang tuanya. Lalu, bagaimana Islam mengatur persoalan ini? Apakah seorang istri harus memilih antara berbakti kepada orang tua atau menaati suami? Mari kita simak penjelasan syariat secara utuh.Apakah seorang istri yang telah menikah masih berkewajiban menafkahi kedua orang tuanya? Bagaimana jika suami melarang istri bekerja atau membantu orang tuanya? Simak penjelasan para ulama beserta dalil Al-Qur’an, hadis, dan solusi syariat dalam menyelesaikan persoalan yang banyak terjadi di tengah keluarga muslim.  Daftar Isi tutup 1. Islam Tidak Mengajarkan Mempertentangkan Hak 2. Berbakti kepada Orang Tua Tidak Berakhir Setelah Menikah 3. Perintah Berbakti kepada Orang Tua Bersifat Umum 4. Berbakti Tidak Hanya dengan Ucapan 5. Menikah Tidak Menghapus Bakti, tetapi Menambah Amanah 6. Siapa yang Wajib Menafkahi Orang Tua? 7. Nafkah Orang Tua Menjadi Kewajiban Ketika Mereka Membutuhkan 8. Kewajiban Ini Berlaku bagi Anak Laki-laki Maupun Anak Perempuan 9. Bagaimana Jika Masih Ada Saudara Lain? 10. Jika Ayah Masih Mampu Bekerja 11. Apakah Anak Perempuan yang Sudah Menikah Tetap Berkewajiban? 12. Suami Tidak Wajib Menafkahi Mertua 13. Benang Merah Pembahasan 14. Penutup 14.1. Referensi  Islam Tidak Mengajarkan Mempertentangkan HakSetiap orang memiliki hakhak Allahhak orang tuahak suamiSyariat datang untuk menjaga seluruh hak.فَإِنَّ الْوَاجِبَ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يُعْطِيَ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ؛ لِحَدِيثِ:. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا.“Sesungguhnya yang wajib atas seorang muslim adalah memberikan kepada setiap pemilik hak akan haknya.Hal ini berdasarkan nasihat Salman pada Abu Darda’ yang dibenarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، فَأَعْطِ كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.”Kemudian Abu Darda’ mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi. Beliau lantas bersabda, “Salman itu benar.” (HR. Bukhari no. 1968).Syariat Islam tidak memerintahkan mengorbankan satu hak demi hak yang lain, melainkan menempatkan setiap hak pada porsinya.Baca juga: Nasehat Salman pada Abu Darda’, Tunaikan Hak Allah, Hak Dirimu dan Keluargamu Berbakti kepada Orang Tua Tidak Berakhir Setelah MenikahSebagian muslimah merasa bingung ketika telah menikah. Di satu sisi, ia mengetahui bahwa Islam sangat menekankan bakti kepada kedua orang tua. Namun di sisi lain, ia kini memiliki kewajiban baru kepada suaminya. Akibatnya muncul pertanyaan, apakah setelah menikah kewajiban berbakti kepada orang tua menjadi gugur?Jawabannya adalah tidak. Pernikahan tidak menghapus kewajiban seorang anak untuk tetap berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Yang berubah hanyalah bahwa setelah akad nikah, syariat memberikan hak-hak baru kepada suami yang juga wajib ditunaikan. Perintah Berbakti kepada Orang Tua Bersifat UmumAllah Ta’ala berfirman,﴿وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا﴾“Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Isrā’: 23)Dalam ayat ini, Allah tidak membedakan antara anak yang masih lajang maupun yang telah menikah. Selama seseorang masih hidup dan kedua orang tuanya masih hidup, kewajiban berbuat ihsan kepada keduanya tetap berlaku.Begitu pula firman Allah Ta’ala,﴿أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ﴾“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.” (QS. Luqmān: 14)Baca juga: Cara Membahagiakan Orang TuaImam Al-Qurthubi rahimahullah berkata,قيل: الشكر لله على نعمة الإيمان، وللوالدين على نعمة التربية، وقال سفيان بن عيينة: من صلى الصلوات الخمس فقد شكر الله تعالى، ومن دعا لوالديه في أدبار الصلوات فقد شكرهما.“Ada ulama yang berkata bahwa bersyukur kepada Allah itu atas nikmat iman, sedangkan bersyukur kepada kedua orang tua itu atas nikmat tarbiyyah (didikan orang tua). Sufyan bin ‘Uyainah berkata, “Barang siapa shalat lima waktu, maka ia telah bersyukur kepada Allah. Barang siapa yang berdoa kepada Allah di akhir shalat lima waktu tersebut, berarti ia telah bersyukur atau berterima kasih kepada kedua orang tuanya.” (Tafsir Al-Qurthubi, 16:475)Ayat ini menunjukkan bahwa bersyukur kepada orang tua merupakan kewajiban yang terus melekat sepanjang kehidupan seorang anak. Berbakti Tidak Hanya dengan UcapanBanyak orang memahami birrul wālidain sebatas berbicara lembut atau sering berkunjung. Padahal maknanya jauh lebih luas.Di antara bentuk bakti kepada orang tua adalah:mendoakan mereka;menghormati dan memuliakan mereka;memenuhi kebutuhan mereka;merawat ketika sakit;dan memberikan nafkah apabila mereka benar-benar membutuhkan, sementara anak memiliki kemampuan.Karena itu, nafkah kepada orang tua dalam kondisi tertentu termasuk bagian dari birrul wālidain, bukan sekadar sedekah sunnah.Baca juga: Ibu, Ayah, Aku Ingin Meraih Surga Menikah Tidak Menghapus Bakti, tetapi Menambah AmanahKesalahan yang sering terjadi di tengah masyarakat adalah menganggap bahwa setelah akad nikah seorang wanita hanya memiliki kewajiban kepada suaminya, sedangkan kewajibannya kepada kedua orang tua telah selesai.Anggapan ini tidak tepat.Yang benar, setelah menikah seorang wanita memiliki dua amanah besar:Tetap berbakti kepada kedua orang tuanya.Menunaikan hak-hak suaminya sebagai pemimpin rumah tangga.Ketika kedua hak tersebut berjalan seiring, tidak ada persoalan. Namun apabila pada kondisi tertentu tampak terjadi benturan, syariat memberikan aturan dan prioritas agar kedua hak tersebut tetap dapat dijaga semaksimal mungkin. Inilah yang akan dibahas pada bagian berikutnya mengenai siapa yang berkewajiban menafkahi orang tua, bagaimana kedudukan hak suami, dan apa solusi ketika keduanya tampak saling berbenturan. Siapa yang Wajib Menafkahi Orang Tua?Islam sangat memuliakan kedua orang tua. Bahkan setelah memerintahkan manusia untuk mentauhidkan-Nya, Allah Ta’ala langsung memerintahkan agar berbuat baik kepada kedua orang tua.Allah Ta’ala berfirman,﴿وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا﴾“Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Isrā’: 23)Berbuat baik kepada orang tua memiliki banyak bentuk, mulai dari bertutur kata yang lembut, mendoakan mereka, merawat ketika sakit, hingga memberikan nafkah apabila mereka benar-benar membutuhkan.Namun, muncul pertanyaan, siapakah yang sebenarnya berkewajiban menanggung nafkah kedua orang tua? Nafkah Orang Tua Menjadi Kewajiban Ketika Mereka MembutuhkanPara ulama menjelaskan bahwa apabila kedua orang tua berada dalam keadaan fakir, tidak memiliki harta, dan tidak mampu mencari nafkah, maka anak yang mampu berkewajiban mencukupi kebutuhan mereka. Imam Ibnul Mundzir rahimahullah berkata,أَجْمَعَ أَهْلُ الْعِلْمِ عَلَى أَنَّ نَفَقَةَ الْوَالِدَيْنِ الْفَقِيرَيْنِ اللَّذَيْنِ لَا كَسْبَ لَهُمَا وَلَا مَالَ وَاجِبَةٌ فِي مَالِ الْوَلَدِ.“Para ulama telah bersepakat bahwa nafkah kedua orang tua yang fakir, tidak memiliki penghasilan dan tidak memiliki harta, merupakan kewajiban yang diambil dari harta anaknya.”Kesepakatan ulama (ijma’) ini menunjukkan bahwa nafkah kepada orang tua bukan sekadar anjuran, tetapi dapat berubah menjadi kewajiban apabila syarat-syaratnya terpenuhi.Baca juga: Menafkahi Orang Tua yang Tidak Mampu Kewajiban Ini Berlaku bagi Anak Laki-laki Maupun Anak PerempuanDi masyarakat masih berkembang anggapan bahwa yang wajib menanggung nafkah orang tua hanyalah anak laki-laki. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar.IslamQA menjelaskan,يَجِبُ عَلَى الْوَلَدِ الْمُسْتَطِيعِ ـ ذَكَرًا كَانَ أَوْ أُنْثَى ـ أَنْ يُنْفِقَ عَلَى وَالِدَيْهِ الْفَقِيرَيْنِ الْمُحْتَاجَيْنِ لِمَا يَكْفِيهِمَا.“Wajib bagi anak yang mampu, baik laki-laki maupun perempuan, untuk menafkahi kedua orang tuanya yang fakir dan membutuhkan sesuai kecukupan mereka.Dasarnya adalah karena lafaz الولد (anak) dalam nash syariat mencakup laki-laki dan perempuan, kecuali ada dalil yang mengkhususkannya. Bagaimana Jika Masih Ada Saudara Lain?Apabila orang tua memiliki beberapa anak yang mampu, maka kewajiban itu tidak harus dipikul oleh satu orang saja.Syaikh Abdullah bin Jibrin rahimahullah menjelaskan,وَإِذَا كَانَ مَعَهَا إِخْوَةٌ ذُكُورٌ وَإِنَاثٌ، وَقَامَ أَحَدُهُمْ بِالنَّفَقَةِ عَلَى الْوَالِدَيْنِ، سَقَطَ ذَلِكَ الْوَاجِبُ عَنِ الْبَاقِينَ، وَلَهُ الْأَجْرُ، أَوْ أَنْ يَتَّفِقَ الْجَمِيعُ عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ مَبْلَغٌ مُعَيَّنٌ.“Apabila terdapat anak laki-laki dan perempuan, lalu salah seorang di antara mereka telah mencukupi nafkah kedua orang tua, gugurlah kewajiban dari yang lain dan ia mendapatkan pahala. Atau mereka dapat bermusyawarah untuk membagi besarnya tanggungan masing-masing.”Ini menunjukkan bahwa syariat mengajarkan tanggung jawab bersama, bukan membebankan seluruh kebutuhan orang tua kepada satu anak saja. Jika Ayah Masih Mampu BekerjaBerbeda halnya apabila ayah masih mampu bekerja atau masih memiliki harta yang mencukupi.Dalam kondisi seperti ini, nafkah anak kepada orang tua tidak lagi menjadi kewajiban, tetapi tetap merupakan bentuk bakti dan ihsan yang sangat dianjurkan.Karena itu, perlu dibedakan antara nafkah yang wajib dengan bantuan yang bersifat sunnah. Apakah Anak Perempuan yang Sudah Menikah Tetap Berkewajiban?Inilah bagian yang paling banyak dipertanyakan.Sebagian orang beranggapan bahwa setelah seorang wanita menikah, seluruh tanggung jawabnya kepada orang tua telah selesai. Padahal para ulama tidak menjelaskan demikian.IslamQA menjelaskan,الْأَوْلَادُ اسْمٌ يَعُمُّ الذُّكُورَ وَالْإِنَاثَ.“Istilah ‘anak-anak’ dalam syariat mencakup anak laki-laki maupun anak perempuan.”Karena itu, apabila seorang anak perempuan memiliki kelebihan harta, sedangkan kedua orang tuanya benar-benar membutuhkan, maka ia tetap berkewajiban membantu mereka sesuai kemampuannya.Syaikh Abdullah bin Jibrin rahimahullah berkata,وَإِذَا افْتَقَرَ الْوَالِدَانِ وَعِنْدَ الْبِنْتِ مَالٌ زَائِدٌ عَنْ حَاجَتِهَا، فَيَلْزَمُهَا أَنْ تُنْفِقَ عَلَى وَالِدَيْهَا قَدْرَ حَاجَتِهِمَا دُونَ أَنْ تَنْقُصَ مِنْ حَاجَاتِهَا.“Apabila kedua orang tua jatuh miskin, sedangkan anak perempuan memiliki harta yang melebihi kebutuhannya, maka ia wajib menafkahi kedua orang tuanya sesuai kebutuhan mereka tanpa mengurangi kebutuhan pokok dirinya.”Perhatikan bahwa syariat juga memperhatikan kondisi anak tersebut. Ia tidak dibebani hingga mengorbankan kebutuhan pokok dirinya. Suami Tidak Wajib Menafkahi MertuaDi sisi lain, syariat juga menjelaskan bahwa suami tidak memiliki kewajiban hukum untuk menanggung nafkah kedua orang tua istrinya.Hal ini ditegaskan dalam fatwa IslamQA dan juga dijelaskan oleh Syaikh Abdullah bin Jibrin bahwa kewajiban nafkah mertua tidak dibebankan kepada menantu, meskipun membantu mereka termasuk akhlak mulia dan bentuk ihsan yang sangat dianjurkan. Benang Merah PembahasanDari penjelasan para ulama dapat disimpulkan beberapa kaidah penting:Nafkah kepada orang tua menjadi wajib apabila mereka fakir dan anak mampu.Kewajiban tersebut berlaku bagi anak laki-laki maupun anak perempuan.Beban nafkah hendaknya dipikul bersama oleh seluruh anak yang mampu, bukan dibebankan kepada satu orang.Anak perempuan yang telah menikah tidak otomatis gugur kewajibannya kepada orang tua, namun pelaksanaannya harus tetap memperhatikan hak-hak suami sesuai tuntunan syariat.Suami tidak wajib menafkahi mertua, tetapi membantu mereka merupakan bentuk ihsan, kasih sayang, dan akhlak yang luhur. PenutupDari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa Islam tidak mengajarkan seorang istri memilih antara berbakti kepada orang tua atau menaati suami. Syariat justru mengajarkan agar setiap hak ditunaikan sesuai porsinya.Jika kedua orang tua benar-benar membutuhkan nafkah, maka pertama-tama pastikan apakah hal itu telah menjadi kewajiban syar’i. Selanjutnya, bangun komunikasi yang baik dengan suami, libatkan saudara-saudara yang lain dalam membantu orang tua, dan carilah solusi yang paling sedikit menimbulkan mudarat bagi kehidupan rumah tangga. Jangan menjadikan persoalan ini sebagai ajang mempertahankan ego, tetapi selesaikan dengan musyawarah, ilmu, dan kasih sayang.Rasulullah ﷺ telah meletakkan kaidah agung dalam menunaikan berbagai hak: “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.”Inilah prinsip yang menjadi solusi dalam persoalan ini. Ketika setiap hak ditunaikan sesuai tuntunan syariat, insya Allah akan terwujud keluarga yang penuh keberkahan, saling memahami, dan tetap menjaga bakti kepada orang tua tanpa mengabaikan hak suami.اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى بِرِّ وَالِدَيْنَا، وَأَدَاءِ حُقُوقِ أَزْوَاجِنَا، وَاجْعَلْ بُيُوتَنَا مَلِيئَةً بِالْمَوَدَّةِ وَالرَّحْمَةِ. آمِينَ.“Ya Allah, bantulah kami untuk berbakti kepada kedua orang tua, menunaikan hak-hak pasangan kami, dan jadikanlah rumah tangga kami dipenuhi kasih sayang dan rahmat-Mu. Amin.”Baca Juga:Haruskah Suami Terbuka Soal Gaji? Ini Jawaban Syariat dan Solusi Rumah TanggaMenafkahi Orang Tua yang Tidak MampuReferensiAl-Qurṭubī, M. A. A. (2006). Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān (Vol. 16). Mu’assasah Al-Risālah.Al-Bukhārī, M. ibn Ismā‘īl. (2002). Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Dār Ṭawq al-Najāh.IslamQA. (n.d.). Hal tunfiqu ‘alā wālidayhā al-faqīrayn bidūni riḍā zawjihā?https://islamqa.info/ar/answers/44995IslamQA. (n.d.). Hal lil-wālidayn ḥaqqun fī māl al-bint al-mutazawwijah? https://islamqa.info/ar/answers/12214IslamQA. (n.d.). Mas’ūliyyat al-zawjah tijāha wālidayhā. https://islamqa.info/ar/answers/21737IslamQA. (n.d.). Tu‘īlu wālidayhā wa yashtaritu man taqaddama lizawājihā an tatruka al-‘amal, famādhā taf‘alu?https://islamqa.info/ar/answers/487173IslamWeb. (n.d.). Ḥudūd nafaqat al-bint ‘alā abīhā. https://www.islamweb.net/ar/fatwa/148897/Muslim ibn al-Ḥajjāj. (2006). Ṣaḥīḥ Muslim. Dār Ṭaybah. —- Selesai ditulis dari Pondok Pesantren Darush Sholihin  dalam perjalanan menuju Masjid Kampus UGM (Kajian Mutia), 4 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsbakti kepada orang tua bakti orang tua birrul walidain fikih keluarga hak suami hukum Islam istri bekerja keluarga Islami kewajiban nafkah konsultasi syariah menikah nafkah nafkah orang tua rumah tangga

Bolehkah Istri Bekerja untuk Menafkahi Orang Tuanya jika Suami Melarang?

Tidak sedikit muslimah menghadapi dilema setelah menikah. Di satu sisi, mereka ingin tetap berbakti kepada kedua orang tua yang telah lanjut usia atau sedang mengalami kesulitan ekonomi. Namun di sisi lain, muncul persoalan ketika suami tidak mengizinkan istri bekerja atau membantu kedua orang tuanya. Lalu, bagaimana Islam mengatur persoalan ini? Apakah seorang istri harus memilih antara berbakti kepada orang tua atau menaati suami? Mari kita simak penjelasan syariat secara utuh.Apakah seorang istri yang telah menikah masih berkewajiban menafkahi kedua orang tuanya? Bagaimana jika suami melarang istri bekerja atau membantu orang tuanya? Simak penjelasan para ulama beserta dalil Al-Qur’an, hadis, dan solusi syariat dalam menyelesaikan persoalan yang banyak terjadi di tengah keluarga muslim.  Daftar Isi tutup 1. Islam Tidak Mengajarkan Mempertentangkan Hak 2. Berbakti kepada Orang Tua Tidak Berakhir Setelah Menikah 3. Perintah Berbakti kepada Orang Tua Bersifat Umum 4. Berbakti Tidak Hanya dengan Ucapan 5. Menikah Tidak Menghapus Bakti, tetapi Menambah Amanah 6. Siapa yang Wajib Menafkahi Orang Tua? 7. Nafkah Orang Tua Menjadi Kewajiban Ketika Mereka Membutuhkan 8. Kewajiban Ini Berlaku bagi Anak Laki-laki Maupun Anak Perempuan 9. Bagaimana Jika Masih Ada Saudara Lain? 10. Jika Ayah Masih Mampu Bekerja 11. Apakah Anak Perempuan yang Sudah Menikah Tetap Berkewajiban? 12. Suami Tidak Wajib Menafkahi Mertua 13. Benang Merah Pembahasan 14. Penutup 14.1. Referensi  Islam Tidak Mengajarkan Mempertentangkan HakSetiap orang memiliki hakhak Allahhak orang tuahak suamiSyariat datang untuk menjaga seluruh hak.فَإِنَّ الْوَاجِبَ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يُعْطِيَ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ؛ لِحَدِيثِ:. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا.“Sesungguhnya yang wajib atas seorang muslim adalah memberikan kepada setiap pemilik hak akan haknya.Hal ini berdasarkan nasihat Salman pada Abu Darda’ yang dibenarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، فَأَعْطِ كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.”Kemudian Abu Darda’ mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi. Beliau lantas bersabda, “Salman itu benar.” (HR. Bukhari no. 1968).Syariat Islam tidak memerintahkan mengorbankan satu hak demi hak yang lain, melainkan menempatkan setiap hak pada porsinya.Baca juga: Nasehat Salman pada Abu Darda’, Tunaikan Hak Allah, Hak Dirimu dan Keluargamu Berbakti kepada Orang Tua Tidak Berakhir Setelah MenikahSebagian muslimah merasa bingung ketika telah menikah. Di satu sisi, ia mengetahui bahwa Islam sangat menekankan bakti kepada kedua orang tua. Namun di sisi lain, ia kini memiliki kewajiban baru kepada suaminya. Akibatnya muncul pertanyaan, apakah setelah menikah kewajiban berbakti kepada orang tua menjadi gugur?Jawabannya adalah tidak. Pernikahan tidak menghapus kewajiban seorang anak untuk tetap berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Yang berubah hanyalah bahwa setelah akad nikah, syariat memberikan hak-hak baru kepada suami yang juga wajib ditunaikan. Perintah Berbakti kepada Orang Tua Bersifat UmumAllah Ta’ala berfirman,﴿وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا﴾“Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Isrā’: 23)Dalam ayat ini, Allah tidak membedakan antara anak yang masih lajang maupun yang telah menikah. Selama seseorang masih hidup dan kedua orang tuanya masih hidup, kewajiban berbuat ihsan kepada keduanya tetap berlaku.Begitu pula firman Allah Ta’ala,﴿أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ﴾“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.” (QS. Luqmān: 14)Baca juga: Cara Membahagiakan Orang TuaImam Al-Qurthubi rahimahullah berkata,قيل: الشكر لله على نعمة الإيمان، وللوالدين على نعمة التربية، وقال سفيان بن عيينة: من صلى الصلوات الخمس فقد شكر الله تعالى، ومن دعا لوالديه في أدبار الصلوات فقد شكرهما.“Ada ulama yang berkata bahwa bersyukur kepada Allah itu atas nikmat iman, sedangkan bersyukur kepada kedua orang tua itu atas nikmat tarbiyyah (didikan orang tua). Sufyan bin ‘Uyainah berkata, “Barang siapa shalat lima waktu, maka ia telah bersyukur kepada Allah. Barang siapa yang berdoa kepada Allah di akhir shalat lima waktu tersebut, berarti ia telah bersyukur atau berterima kasih kepada kedua orang tuanya.” (Tafsir Al-Qurthubi, 16:475)Ayat ini menunjukkan bahwa bersyukur kepada orang tua merupakan kewajiban yang terus melekat sepanjang kehidupan seorang anak. Berbakti Tidak Hanya dengan UcapanBanyak orang memahami birrul wālidain sebatas berbicara lembut atau sering berkunjung. Padahal maknanya jauh lebih luas.Di antara bentuk bakti kepada orang tua adalah:mendoakan mereka;menghormati dan memuliakan mereka;memenuhi kebutuhan mereka;merawat ketika sakit;dan memberikan nafkah apabila mereka benar-benar membutuhkan, sementara anak memiliki kemampuan.Karena itu, nafkah kepada orang tua dalam kondisi tertentu termasuk bagian dari birrul wālidain, bukan sekadar sedekah sunnah.Baca juga: Ibu, Ayah, Aku Ingin Meraih Surga Menikah Tidak Menghapus Bakti, tetapi Menambah AmanahKesalahan yang sering terjadi di tengah masyarakat adalah menganggap bahwa setelah akad nikah seorang wanita hanya memiliki kewajiban kepada suaminya, sedangkan kewajibannya kepada kedua orang tua telah selesai.Anggapan ini tidak tepat.Yang benar, setelah menikah seorang wanita memiliki dua amanah besar:Tetap berbakti kepada kedua orang tuanya.Menunaikan hak-hak suaminya sebagai pemimpin rumah tangga.Ketika kedua hak tersebut berjalan seiring, tidak ada persoalan. Namun apabila pada kondisi tertentu tampak terjadi benturan, syariat memberikan aturan dan prioritas agar kedua hak tersebut tetap dapat dijaga semaksimal mungkin. Inilah yang akan dibahas pada bagian berikutnya mengenai siapa yang berkewajiban menafkahi orang tua, bagaimana kedudukan hak suami, dan apa solusi ketika keduanya tampak saling berbenturan. Siapa yang Wajib Menafkahi Orang Tua?Islam sangat memuliakan kedua orang tua. Bahkan setelah memerintahkan manusia untuk mentauhidkan-Nya, Allah Ta’ala langsung memerintahkan agar berbuat baik kepada kedua orang tua.Allah Ta’ala berfirman,﴿وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا﴾“Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Isrā’: 23)Berbuat baik kepada orang tua memiliki banyak bentuk, mulai dari bertutur kata yang lembut, mendoakan mereka, merawat ketika sakit, hingga memberikan nafkah apabila mereka benar-benar membutuhkan.Namun, muncul pertanyaan, siapakah yang sebenarnya berkewajiban menanggung nafkah kedua orang tua? Nafkah Orang Tua Menjadi Kewajiban Ketika Mereka MembutuhkanPara ulama menjelaskan bahwa apabila kedua orang tua berada dalam keadaan fakir, tidak memiliki harta, dan tidak mampu mencari nafkah, maka anak yang mampu berkewajiban mencukupi kebutuhan mereka. Imam Ibnul Mundzir rahimahullah berkata,أَجْمَعَ أَهْلُ الْعِلْمِ عَلَى أَنَّ نَفَقَةَ الْوَالِدَيْنِ الْفَقِيرَيْنِ اللَّذَيْنِ لَا كَسْبَ لَهُمَا وَلَا مَالَ وَاجِبَةٌ فِي مَالِ الْوَلَدِ.“Para ulama telah bersepakat bahwa nafkah kedua orang tua yang fakir, tidak memiliki penghasilan dan tidak memiliki harta, merupakan kewajiban yang diambil dari harta anaknya.”Kesepakatan ulama (ijma’) ini menunjukkan bahwa nafkah kepada orang tua bukan sekadar anjuran, tetapi dapat berubah menjadi kewajiban apabila syarat-syaratnya terpenuhi.Baca juga: Menafkahi Orang Tua yang Tidak Mampu Kewajiban Ini Berlaku bagi Anak Laki-laki Maupun Anak PerempuanDi masyarakat masih berkembang anggapan bahwa yang wajib menanggung nafkah orang tua hanyalah anak laki-laki. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar.IslamQA menjelaskan,يَجِبُ عَلَى الْوَلَدِ الْمُسْتَطِيعِ ـ ذَكَرًا كَانَ أَوْ أُنْثَى ـ أَنْ يُنْفِقَ عَلَى وَالِدَيْهِ الْفَقِيرَيْنِ الْمُحْتَاجَيْنِ لِمَا يَكْفِيهِمَا.“Wajib bagi anak yang mampu, baik laki-laki maupun perempuan, untuk menafkahi kedua orang tuanya yang fakir dan membutuhkan sesuai kecukupan mereka.Dasarnya adalah karena lafaz الولد (anak) dalam nash syariat mencakup laki-laki dan perempuan, kecuali ada dalil yang mengkhususkannya. Bagaimana Jika Masih Ada Saudara Lain?Apabila orang tua memiliki beberapa anak yang mampu, maka kewajiban itu tidak harus dipikul oleh satu orang saja.Syaikh Abdullah bin Jibrin rahimahullah menjelaskan,وَإِذَا كَانَ مَعَهَا إِخْوَةٌ ذُكُورٌ وَإِنَاثٌ، وَقَامَ أَحَدُهُمْ بِالنَّفَقَةِ عَلَى الْوَالِدَيْنِ، سَقَطَ ذَلِكَ الْوَاجِبُ عَنِ الْبَاقِينَ، وَلَهُ الْأَجْرُ، أَوْ أَنْ يَتَّفِقَ الْجَمِيعُ عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ مَبْلَغٌ مُعَيَّنٌ.“Apabila terdapat anak laki-laki dan perempuan, lalu salah seorang di antara mereka telah mencukupi nafkah kedua orang tua, gugurlah kewajiban dari yang lain dan ia mendapatkan pahala. Atau mereka dapat bermusyawarah untuk membagi besarnya tanggungan masing-masing.”Ini menunjukkan bahwa syariat mengajarkan tanggung jawab bersama, bukan membebankan seluruh kebutuhan orang tua kepada satu anak saja. Jika Ayah Masih Mampu BekerjaBerbeda halnya apabila ayah masih mampu bekerja atau masih memiliki harta yang mencukupi.Dalam kondisi seperti ini, nafkah anak kepada orang tua tidak lagi menjadi kewajiban, tetapi tetap merupakan bentuk bakti dan ihsan yang sangat dianjurkan.Karena itu, perlu dibedakan antara nafkah yang wajib dengan bantuan yang bersifat sunnah. Apakah Anak Perempuan yang Sudah Menikah Tetap Berkewajiban?Inilah bagian yang paling banyak dipertanyakan.Sebagian orang beranggapan bahwa setelah seorang wanita menikah, seluruh tanggung jawabnya kepada orang tua telah selesai. Padahal para ulama tidak menjelaskan demikian.IslamQA menjelaskan,الْأَوْلَادُ اسْمٌ يَعُمُّ الذُّكُورَ وَالْإِنَاثَ.“Istilah ‘anak-anak’ dalam syariat mencakup anak laki-laki maupun anak perempuan.”Karena itu, apabila seorang anak perempuan memiliki kelebihan harta, sedangkan kedua orang tuanya benar-benar membutuhkan, maka ia tetap berkewajiban membantu mereka sesuai kemampuannya.Syaikh Abdullah bin Jibrin rahimahullah berkata,وَإِذَا افْتَقَرَ الْوَالِدَانِ وَعِنْدَ الْبِنْتِ مَالٌ زَائِدٌ عَنْ حَاجَتِهَا، فَيَلْزَمُهَا أَنْ تُنْفِقَ عَلَى وَالِدَيْهَا قَدْرَ حَاجَتِهِمَا دُونَ أَنْ تَنْقُصَ مِنْ حَاجَاتِهَا.“Apabila kedua orang tua jatuh miskin, sedangkan anak perempuan memiliki harta yang melebihi kebutuhannya, maka ia wajib menafkahi kedua orang tuanya sesuai kebutuhan mereka tanpa mengurangi kebutuhan pokok dirinya.”Perhatikan bahwa syariat juga memperhatikan kondisi anak tersebut. Ia tidak dibebani hingga mengorbankan kebutuhan pokok dirinya. Suami Tidak Wajib Menafkahi MertuaDi sisi lain, syariat juga menjelaskan bahwa suami tidak memiliki kewajiban hukum untuk menanggung nafkah kedua orang tua istrinya.Hal ini ditegaskan dalam fatwa IslamQA dan juga dijelaskan oleh Syaikh Abdullah bin Jibrin bahwa kewajiban nafkah mertua tidak dibebankan kepada menantu, meskipun membantu mereka termasuk akhlak mulia dan bentuk ihsan yang sangat dianjurkan. Benang Merah PembahasanDari penjelasan para ulama dapat disimpulkan beberapa kaidah penting:Nafkah kepada orang tua menjadi wajib apabila mereka fakir dan anak mampu.Kewajiban tersebut berlaku bagi anak laki-laki maupun anak perempuan.Beban nafkah hendaknya dipikul bersama oleh seluruh anak yang mampu, bukan dibebankan kepada satu orang.Anak perempuan yang telah menikah tidak otomatis gugur kewajibannya kepada orang tua, namun pelaksanaannya harus tetap memperhatikan hak-hak suami sesuai tuntunan syariat.Suami tidak wajib menafkahi mertua, tetapi membantu mereka merupakan bentuk ihsan, kasih sayang, dan akhlak yang luhur. PenutupDari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa Islam tidak mengajarkan seorang istri memilih antara berbakti kepada orang tua atau menaati suami. Syariat justru mengajarkan agar setiap hak ditunaikan sesuai porsinya.Jika kedua orang tua benar-benar membutuhkan nafkah, maka pertama-tama pastikan apakah hal itu telah menjadi kewajiban syar’i. Selanjutnya, bangun komunikasi yang baik dengan suami, libatkan saudara-saudara yang lain dalam membantu orang tua, dan carilah solusi yang paling sedikit menimbulkan mudarat bagi kehidupan rumah tangga. Jangan menjadikan persoalan ini sebagai ajang mempertahankan ego, tetapi selesaikan dengan musyawarah, ilmu, dan kasih sayang.Rasulullah ﷺ telah meletakkan kaidah agung dalam menunaikan berbagai hak: “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.”Inilah prinsip yang menjadi solusi dalam persoalan ini. Ketika setiap hak ditunaikan sesuai tuntunan syariat, insya Allah akan terwujud keluarga yang penuh keberkahan, saling memahami, dan tetap menjaga bakti kepada orang tua tanpa mengabaikan hak suami.اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى بِرِّ وَالِدَيْنَا، وَأَدَاءِ حُقُوقِ أَزْوَاجِنَا، وَاجْعَلْ بُيُوتَنَا مَلِيئَةً بِالْمَوَدَّةِ وَالرَّحْمَةِ. آمِينَ.“Ya Allah, bantulah kami untuk berbakti kepada kedua orang tua, menunaikan hak-hak pasangan kami, dan jadikanlah rumah tangga kami dipenuhi kasih sayang dan rahmat-Mu. Amin.”Baca Juga:Haruskah Suami Terbuka Soal Gaji? Ini Jawaban Syariat dan Solusi Rumah TanggaMenafkahi Orang Tua yang Tidak MampuReferensiAl-Qurṭubī, M. A. A. (2006). Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān (Vol. 16). Mu’assasah Al-Risālah.Al-Bukhārī, M. ibn Ismā‘īl. (2002). Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Dār Ṭawq al-Najāh.IslamQA. (n.d.). Hal tunfiqu ‘alā wālidayhā al-faqīrayn bidūni riḍā zawjihā?https://islamqa.info/ar/answers/44995IslamQA. (n.d.). Hal lil-wālidayn ḥaqqun fī māl al-bint al-mutazawwijah? https://islamqa.info/ar/answers/12214IslamQA. (n.d.). Mas’ūliyyat al-zawjah tijāha wālidayhā. https://islamqa.info/ar/answers/21737IslamQA. (n.d.). Tu‘īlu wālidayhā wa yashtaritu man taqaddama lizawājihā an tatruka al-‘amal, famādhā taf‘alu?https://islamqa.info/ar/answers/487173IslamWeb. (n.d.). Ḥudūd nafaqat al-bint ‘alā abīhā. https://www.islamweb.net/ar/fatwa/148897/Muslim ibn al-Ḥajjāj. (2006). Ṣaḥīḥ Muslim. Dār Ṭaybah. —- Selesai ditulis dari Pondok Pesantren Darush Sholihin  dalam perjalanan menuju Masjid Kampus UGM (Kajian Mutia), 4 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsbakti kepada orang tua bakti orang tua birrul walidain fikih keluarga hak suami hukum Islam istri bekerja keluarga Islami kewajiban nafkah konsultasi syariah menikah nafkah nafkah orang tua rumah tangga
Tidak sedikit muslimah menghadapi dilema setelah menikah. Di satu sisi, mereka ingin tetap berbakti kepada kedua orang tua yang telah lanjut usia atau sedang mengalami kesulitan ekonomi. Namun di sisi lain, muncul persoalan ketika suami tidak mengizinkan istri bekerja atau membantu kedua orang tuanya. Lalu, bagaimana Islam mengatur persoalan ini? Apakah seorang istri harus memilih antara berbakti kepada orang tua atau menaati suami? Mari kita simak penjelasan syariat secara utuh.Apakah seorang istri yang telah menikah masih berkewajiban menafkahi kedua orang tuanya? Bagaimana jika suami melarang istri bekerja atau membantu orang tuanya? Simak penjelasan para ulama beserta dalil Al-Qur’an, hadis, dan solusi syariat dalam menyelesaikan persoalan yang banyak terjadi di tengah keluarga muslim.  Daftar Isi tutup 1. Islam Tidak Mengajarkan Mempertentangkan Hak 2. Berbakti kepada Orang Tua Tidak Berakhir Setelah Menikah 3. Perintah Berbakti kepada Orang Tua Bersifat Umum 4. Berbakti Tidak Hanya dengan Ucapan 5. Menikah Tidak Menghapus Bakti, tetapi Menambah Amanah 6. Siapa yang Wajib Menafkahi Orang Tua? 7. Nafkah Orang Tua Menjadi Kewajiban Ketika Mereka Membutuhkan 8. Kewajiban Ini Berlaku bagi Anak Laki-laki Maupun Anak Perempuan 9. Bagaimana Jika Masih Ada Saudara Lain? 10. Jika Ayah Masih Mampu Bekerja 11. Apakah Anak Perempuan yang Sudah Menikah Tetap Berkewajiban? 12. Suami Tidak Wajib Menafkahi Mertua 13. Benang Merah Pembahasan 14. Penutup 14.1. Referensi  Islam Tidak Mengajarkan Mempertentangkan HakSetiap orang memiliki hakhak Allahhak orang tuahak suamiSyariat datang untuk menjaga seluruh hak.فَإِنَّ الْوَاجِبَ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يُعْطِيَ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ؛ لِحَدِيثِ:. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا.“Sesungguhnya yang wajib atas seorang muslim adalah memberikan kepada setiap pemilik hak akan haknya.Hal ini berdasarkan nasihat Salman pada Abu Darda’ yang dibenarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، فَأَعْطِ كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.”Kemudian Abu Darda’ mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi. Beliau lantas bersabda, “Salman itu benar.” (HR. Bukhari no. 1968).Syariat Islam tidak memerintahkan mengorbankan satu hak demi hak yang lain, melainkan menempatkan setiap hak pada porsinya.Baca juga: Nasehat Salman pada Abu Darda’, Tunaikan Hak Allah, Hak Dirimu dan Keluargamu Berbakti kepada Orang Tua Tidak Berakhir Setelah MenikahSebagian muslimah merasa bingung ketika telah menikah. Di satu sisi, ia mengetahui bahwa Islam sangat menekankan bakti kepada kedua orang tua. Namun di sisi lain, ia kini memiliki kewajiban baru kepada suaminya. Akibatnya muncul pertanyaan, apakah setelah menikah kewajiban berbakti kepada orang tua menjadi gugur?Jawabannya adalah tidak. Pernikahan tidak menghapus kewajiban seorang anak untuk tetap berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Yang berubah hanyalah bahwa setelah akad nikah, syariat memberikan hak-hak baru kepada suami yang juga wajib ditunaikan. Perintah Berbakti kepada Orang Tua Bersifat UmumAllah Ta’ala berfirman,﴿وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا﴾“Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Isrā’: 23)Dalam ayat ini, Allah tidak membedakan antara anak yang masih lajang maupun yang telah menikah. Selama seseorang masih hidup dan kedua orang tuanya masih hidup, kewajiban berbuat ihsan kepada keduanya tetap berlaku.Begitu pula firman Allah Ta’ala,﴿أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ﴾“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.” (QS. Luqmān: 14)Baca juga: Cara Membahagiakan Orang TuaImam Al-Qurthubi rahimahullah berkata,قيل: الشكر لله على نعمة الإيمان، وللوالدين على نعمة التربية، وقال سفيان بن عيينة: من صلى الصلوات الخمس فقد شكر الله تعالى، ومن دعا لوالديه في أدبار الصلوات فقد شكرهما.“Ada ulama yang berkata bahwa bersyukur kepada Allah itu atas nikmat iman, sedangkan bersyukur kepada kedua orang tua itu atas nikmat tarbiyyah (didikan orang tua). Sufyan bin ‘Uyainah berkata, “Barang siapa shalat lima waktu, maka ia telah bersyukur kepada Allah. Barang siapa yang berdoa kepada Allah di akhir shalat lima waktu tersebut, berarti ia telah bersyukur atau berterima kasih kepada kedua orang tuanya.” (Tafsir Al-Qurthubi, 16:475)Ayat ini menunjukkan bahwa bersyukur kepada orang tua merupakan kewajiban yang terus melekat sepanjang kehidupan seorang anak. Berbakti Tidak Hanya dengan UcapanBanyak orang memahami birrul wālidain sebatas berbicara lembut atau sering berkunjung. Padahal maknanya jauh lebih luas.Di antara bentuk bakti kepada orang tua adalah:mendoakan mereka;menghormati dan memuliakan mereka;memenuhi kebutuhan mereka;merawat ketika sakit;dan memberikan nafkah apabila mereka benar-benar membutuhkan, sementara anak memiliki kemampuan.Karena itu, nafkah kepada orang tua dalam kondisi tertentu termasuk bagian dari birrul wālidain, bukan sekadar sedekah sunnah.Baca juga: Ibu, Ayah, Aku Ingin Meraih Surga Menikah Tidak Menghapus Bakti, tetapi Menambah AmanahKesalahan yang sering terjadi di tengah masyarakat adalah menganggap bahwa setelah akad nikah seorang wanita hanya memiliki kewajiban kepada suaminya, sedangkan kewajibannya kepada kedua orang tua telah selesai.Anggapan ini tidak tepat.Yang benar, setelah menikah seorang wanita memiliki dua amanah besar:Tetap berbakti kepada kedua orang tuanya.Menunaikan hak-hak suaminya sebagai pemimpin rumah tangga.Ketika kedua hak tersebut berjalan seiring, tidak ada persoalan. Namun apabila pada kondisi tertentu tampak terjadi benturan, syariat memberikan aturan dan prioritas agar kedua hak tersebut tetap dapat dijaga semaksimal mungkin. Inilah yang akan dibahas pada bagian berikutnya mengenai siapa yang berkewajiban menafkahi orang tua, bagaimana kedudukan hak suami, dan apa solusi ketika keduanya tampak saling berbenturan. Siapa yang Wajib Menafkahi Orang Tua?Islam sangat memuliakan kedua orang tua. Bahkan setelah memerintahkan manusia untuk mentauhidkan-Nya, Allah Ta’ala langsung memerintahkan agar berbuat baik kepada kedua orang tua.Allah Ta’ala berfirman,﴿وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا﴾“Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Isrā’: 23)Berbuat baik kepada orang tua memiliki banyak bentuk, mulai dari bertutur kata yang lembut, mendoakan mereka, merawat ketika sakit, hingga memberikan nafkah apabila mereka benar-benar membutuhkan.Namun, muncul pertanyaan, siapakah yang sebenarnya berkewajiban menanggung nafkah kedua orang tua? Nafkah Orang Tua Menjadi Kewajiban Ketika Mereka MembutuhkanPara ulama menjelaskan bahwa apabila kedua orang tua berada dalam keadaan fakir, tidak memiliki harta, dan tidak mampu mencari nafkah, maka anak yang mampu berkewajiban mencukupi kebutuhan mereka. Imam Ibnul Mundzir rahimahullah berkata,أَجْمَعَ أَهْلُ الْعِلْمِ عَلَى أَنَّ نَفَقَةَ الْوَالِدَيْنِ الْفَقِيرَيْنِ اللَّذَيْنِ لَا كَسْبَ لَهُمَا وَلَا مَالَ وَاجِبَةٌ فِي مَالِ الْوَلَدِ.“Para ulama telah bersepakat bahwa nafkah kedua orang tua yang fakir, tidak memiliki penghasilan dan tidak memiliki harta, merupakan kewajiban yang diambil dari harta anaknya.”Kesepakatan ulama (ijma’) ini menunjukkan bahwa nafkah kepada orang tua bukan sekadar anjuran, tetapi dapat berubah menjadi kewajiban apabila syarat-syaratnya terpenuhi.Baca juga: Menafkahi Orang Tua yang Tidak Mampu Kewajiban Ini Berlaku bagi Anak Laki-laki Maupun Anak PerempuanDi masyarakat masih berkembang anggapan bahwa yang wajib menanggung nafkah orang tua hanyalah anak laki-laki. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar.IslamQA menjelaskan,يَجِبُ عَلَى الْوَلَدِ الْمُسْتَطِيعِ ـ ذَكَرًا كَانَ أَوْ أُنْثَى ـ أَنْ يُنْفِقَ عَلَى وَالِدَيْهِ الْفَقِيرَيْنِ الْمُحْتَاجَيْنِ لِمَا يَكْفِيهِمَا.“Wajib bagi anak yang mampu, baik laki-laki maupun perempuan, untuk menafkahi kedua orang tuanya yang fakir dan membutuhkan sesuai kecukupan mereka.Dasarnya adalah karena lafaz الولد (anak) dalam nash syariat mencakup laki-laki dan perempuan, kecuali ada dalil yang mengkhususkannya. Bagaimana Jika Masih Ada Saudara Lain?Apabila orang tua memiliki beberapa anak yang mampu, maka kewajiban itu tidak harus dipikul oleh satu orang saja.Syaikh Abdullah bin Jibrin rahimahullah menjelaskan,وَإِذَا كَانَ مَعَهَا إِخْوَةٌ ذُكُورٌ وَإِنَاثٌ، وَقَامَ أَحَدُهُمْ بِالنَّفَقَةِ عَلَى الْوَالِدَيْنِ، سَقَطَ ذَلِكَ الْوَاجِبُ عَنِ الْبَاقِينَ، وَلَهُ الْأَجْرُ، أَوْ أَنْ يَتَّفِقَ الْجَمِيعُ عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ مَبْلَغٌ مُعَيَّنٌ.“Apabila terdapat anak laki-laki dan perempuan, lalu salah seorang di antara mereka telah mencukupi nafkah kedua orang tua, gugurlah kewajiban dari yang lain dan ia mendapatkan pahala. Atau mereka dapat bermusyawarah untuk membagi besarnya tanggungan masing-masing.”Ini menunjukkan bahwa syariat mengajarkan tanggung jawab bersama, bukan membebankan seluruh kebutuhan orang tua kepada satu anak saja. Jika Ayah Masih Mampu BekerjaBerbeda halnya apabila ayah masih mampu bekerja atau masih memiliki harta yang mencukupi.Dalam kondisi seperti ini, nafkah anak kepada orang tua tidak lagi menjadi kewajiban, tetapi tetap merupakan bentuk bakti dan ihsan yang sangat dianjurkan.Karena itu, perlu dibedakan antara nafkah yang wajib dengan bantuan yang bersifat sunnah. Apakah Anak Perempuan yang Sudah Menikah Tetap Berkewajiban?Inilah bagian yang paling banyak dipertanyakan.Sebagian orang beranggapan bahwa setelah seorang wanita menikah, seluruh tanggung jawabnya kepada orang tua telah selesai. Padahal para ulama tidak menjelaskan demikian.IslamQA menjelaskan,الْأَوْلَادُ اسْمٌ يَعُمُّ الذُّكُورَ وَالْإِنَاثَ.“Istilah ‘anak-anak’ dalam syariat mencakup anak laki-laki maupun anak perempuan.”Karena itu, apabila seorang anak perempuan memiliki kelebihan harta, sedangkan kedua orang tuanya benar-benar membutuhkan, maka ia tetap berkewajiban membantu mereka sesuai kemampuannya.Syaikh Abdullah bin Jibrin rahimahullah berkata,وَإِذَا افْتَقَرَ الْوَالِدَانِ وَعِنْدَ الْبِنْتِ مَالٌ زَائِدٌ عَنْ حَاجَتِهَا، فَيَلْزَمُهَا أَنْ تُنْفِقَ عَلَى وَالِدَيْهَا قَدْرَ حَاجَتِهِمَا دُونَ أَنْ تَنْقُصَ مِنْ حَاجَاتِهَا.“Apabila kedua orang tua jatuh miskin, sedangkan anak perempuan memiliki harta yang melebihi kebutuhannya, maka ia wajib menafkahi kedua orang tuanya sesuai kebutuhan mereka tanpa mengurangi kebutuhan pokok dirinya.”Perhatikan bahwa syariat juga memperhatikan kondisi anak tersebut. Ia tidak dibebani hingga mengorbankan kebutuhan pokok dirinya. Suami Tidak Wajib Menafkahi MertuaDi sisi lain, syariat juga menjelaskan bahwa suami tidak memiliki kewajiban hukum untuk menanggung nafkah kedua orang tua istrinya.Hal ini ditegaskan dalam fatwa IslamQA dan juga dijelaskan oleh Syaikh Abdullah bin Jibrin bahwa kewajiban nafkah mertua tidak dibebankan kepada menantu, meskipun membantu mereka termasuk akhlak mulia dan bentuk ihsan yang sangat dianjurkan. Benang Merah PembahasanDari penjelasan para ulama dapat disimpulkan beberapa kaidah penting:Nafkah kepada orang tua menjadi wajib apabila mereka fakir dan anak mampu.Kewajiban tersebut berlaku bagi anak laki-laki maupun anak perempuan.Beban nafkah hendaknya dipikul bersama oleh seluruh anak yang mampu, bukan dibebankan kepada satu orang.Anak perempuan yang telah menikah tidak otomatis gugur kewajibannya kepada orang tua, namun pelaksanaannya harus tetap memperhatikan hak-hak suami sesuai tuntunan syariat.Suami tidak wajib menafkahi mertua, tetapi membantu mereka merupakan bentuk ihsan, kasih sayang, dan akhlak yang luhur. PenutupDari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa Islam tidak mengajarkan seorang istri memilih antara berbakti kepada orang tua atau menaati suami. Syariat justru mengajarkan agar setiap hak ditunaikan sesuai porsinya.Jika kedua orang tua benar-benar membutuhkan nafkah, maka pertama-tama pastikan apakah hal itu telah menjadi kewajiban syar’i. Selanjutnya, bangun komunikasi yang baik dengan suami, libatkan saudara-saudara yang lain dalam membantu orang tua, dan carilah solusi yang paling sedikit menimbulkan mudarat bagi kehidupan rumah tangga. Jangan menjadikan persoalan ini sebagai ajang mempertahankan ego, tetapi selesaikan dengan musyawarah, ilmu, dan kasih sayang.Rasulullah ﷺ telah meletakkan kaidah agung dalam menunaikan berbagai hak: “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.”Inilah prinsip yang menjadi solusi dalam persoalan ini. Ketika setiap hak ditunaikan sesuai tuntunan syariat, insya Allah akan terwujud keluarga yang penuh keberkahan, saling memahami, dan tetap menjaga bakti kepada orang tua tanpa mengabaikan hak suami.اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى بِرِّ وَالِدَيْنَا، وَأَدَاءِ حُقُوقِ أَزْوَاجِنَا، وَاجْعَلْ بُيُوتَنَا مَلِيئَةً بِالْمَوَدَّةِ وَالرَّحْمَةِ. آمِينَ.“Ya Allah, bantulah kami untuk berbakti kepada kedua orang tua, menunaikan hak-hak pasangan kami, dan jadikanlah rumah tangga kami dipenuhi kasih sayang dan rahmat-Mu. Amin.”Baca Juga:Haruskah Suami Terbuka Soal Gaji? Ini Jawaban Syariat dan Solusi Rumah TanggaMenafkahi Orang Tua yang Tidak MampuReferensiAl-Qurṭubī, M. A. A. (2006). Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān (Vol. 16). Mu’assasah Al-Risālah.Al-Bukhārī, M. ibn Ismā‘īl. (2002). Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Dār Ṭawq al-Najāh.IslamQA. (n.d.). Hal tunfiqu ‘alā wālidayhā al-faqīrayn bidūni riḍā zawjihā?https://islamqa.info/ar/answers/44995IslamQA. (n.d.). Hal lil-wālidayn ḥaqqun fī māl al-bint al-mutazawwijah? https://islamqa.info/ar/answers/12214IslamQA. (n.d.). Mas’ūliyyat al-zawjah tijāha wālidayhā. https://islamqa.info/ar/answers/21737IslamQA. (n.d.). Tu‘īlu wālidayhā wa yashtaritu man taqaddama lizawājihā an tatruka al-‘amal, famādhā taf‘alu?https://islamqa.info/ar/answers/487173IslamWeb. (n.d.). Ḥudūd nafaqat al-bint ‘alā abīhā. https://www.islamweb.net/ar/fatwa/148897/Muslim ibn al-Ḥajjāj. (2006). Ṣaḥīḥ Muslim. Dār Ṭaybah. —- Selesai ditulis dari Pondok Pesantren Darush Sholihin  dalam perjalanan menuju Masjid Kampus UGM (Kajian Mutia), 4 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsbakti kepada orang tua bakti orang tua birrul walidain fikih keluarga hak suami hukum Islam istri bekerja keluarga Islami kewajiban nafkah konsultasi syariah menikah nafkah nafkah orang tua rumah tangga


Tidak sedikit muslimah menghadapi dilema setelah menikah. Di satu sisi, mereka ingin tetap berbakti kepada kedua orang tua yang telah lanjut usia atau sedang mengalami kesulitan ekonomi. Namun di sisi lain, muncul persoalan ketika suami tidak mengizinkan istri bekerja atau membantu kedua orang tuanya. Lalu, bagaimana Islam mengatur persoalan ini? Apakah seorang istri harus memilih antara berbakti kepada orang tua atau menaati suami? Mari kita simak penjelasan syariat secara utuh.Apakah seorang istri yang telah menikah masih berkewajiban menafkahi kedua orang tuanya? Bagaimana jika suami melarang istri bekerja atau membantu orang tuanya? Simak penjelasan para ulama beserta dalil Al-Qur’an, hadis, dan solusi syariat dalam menyelesaikan persoalan yang banyak terjadi di tengah keluarga muslim.  Daftar Isi tutup 1. Islam Tidak Mengajarkan Mempertentangkan Hak 2. Berbakti kepada Orang Tua Tidak Berakhir Setelah Menikah 3. Perintah Berbakti kepada Orang Tua Bersifat Umum 4. Berbakti Tidak Hanya dengan Ucapan 5. Menikah Tidak Menghapus Bakti, tetapi Menambah Amanah 6. Siapa yang Wajib Menafkahi Orang Tua? 7. Nafkah Orang Tua Menjadi Kewajiban Ketika Mereka Membutuhkan 8. Kewajiban Ini Berlaku bagi Anak Laki-laki Maupun Anak Perempuan 9. Bagaimana Jika Masih Ada Saudara Lain? 10. Jika Ayah Masih Mampu Bekerja 11. Apakah Anak Perempuan yang Sudah Menikah Tetap Berkewajiban? 12. Suami Tidak Wajib Menafkahi Mertua 13. Benang Merah Pembahasan 14. Penutup 14.1. Referensi  Islam Tidak Mengajarkan Mempertentangkan HakSetiap orang memiliki hakhak Allahhak orang tuahak suamiSyariat datang untuk menjaga seluruh hak.فَإِنَّ الْوَاجِبَ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يُعْطِيَ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ؛ لِحَدِيثِ:. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا.“Sesungguhnya yang wajib atas seorang muslim adalah memberikan kepada setiap pemilik hak akan haknya.Hal ini berdasarkan nasihat Salman pada Abu Darda’ yang dibenarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، فَأَعْطِ كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.”Kemudian Abu Darda’ mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi. Beliau lantas bersabda, “Salman itu benar.” (HR. Bukhari no. 1968).Syariat Islam tidak memerintahkan mengorbankan satu hak demi hak yang lain, melainkan menempatkan setiap hak pada porsinya.Baca juga: Nasehat Salman pada Abu Darda’, Tunaikan Hak Allah, Hak Dirimu dan Keluargamu Berbakti kepada Orang Tua Tidak Berakhir Setelah MenikahSebagian muslimah merasa bingung ketika telah menikah. Di satu sisi, ia mengetahui bahwa Islam sangat menekankan bakti kepada kedua orang tua. Namun di sisi lain, ia kini memiliki kewajiban baru kepada suaminya. Akibatnya muncul pertanyaan, apakah setelah menikah kewajiban berbakti kepada orang tua menjadi gugur?Jawabannya adalah tidak. Pernikahan tidak menghapus kewajiban seorang anak untuk tetap berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Yang berubah hanyalah bahwa setelah akad nikah, syariat memberikan hak-hak baru kepada suami yang juga wajib ditunaikan. Perintah Berbakti kepada Orang Tua Bersifat UmumAllah Ta’ala berfirman,﴿وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا﴾“Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Isrā’: 23)Dalam ayat ini, Allah tidak membedakan antara anak yang masih lajang maupun yang telah menikah. Selama seseorang masih hidup dan kedua orang tuanya masih hidup, kewajiban berbuat ihsan kepada keduanya tetap berlaku.Begitu pula firman Allah Ta’ala,﴿أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ﴾“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.” (QS. Luqmān: 14)Baca juga: Cara Membahagiakan Orang TuaImam Al-Qurthubi rahimahullah berkata,قيل: الشكر لله على نعمة الإيمان، وللوالدين على نعمة التربية، وقال سفيان بن عيينة: من صلى الصلوات الخمس فقد شكر الله تعالى، ومن دعا لوالديه في أدبار الصلوات فقد شكرهما.“Ada ulama yang berkata bahwa bersyukur kepada Allah itu atas nikmat iman, sedangkan bersyukur kepada kedua orang tua itu atas nikmat tarbiyyah (didikan orang tua). Sufyan bin ‘Uyainah berkata, “Barang siapa shalat lima waktu, maka ia telah bersyukur kepada Allah. Barang siapa yang berdoa kepada Allah di akhir shalat lima waktu tersebut, berarti ia telah bersyukur atau berterima kasih kepada kedua orang tuanya.” (Tafsir Al-Qurthubi, 16:475)Ayat ini menunjukkan bahwa bersyukur kepada orang tua merupakan kewajiban yang terus melekat sepanjang kehidupan seorang anak. Berbakti Tidak Hanya dengan UcapanBanyak orang memahami birrul wālidain sebatas berbicara lembut atau sering berkunjung. Padahal maknanya jauh lebih luas.Di antara bentuk bakti kepada orang tua adalah:mendoakan mereka;menghormati dan memuliakan mereka;memenuhi kebutuhan mereka;merawat ketika sakit;dan memberikan nafkah apabila mereka benar-benar membutuhkan, sementara anak memiliki kemampuan.Karena itu, nafkah kepada orang tua dalam kondisi tertentu termasuk bagian dari birrul wālidain, bukan sekadar sedekah sunnah.Baca juga: Ibu, Ayah, Aku Ingin Meraih Surga Menikah Tidak Menghapus Bakti, tetapi Menambah AmanahKesalahan yang sering terjadi di tengah masyarakat adalah menganggap bahwa setelah akad nikah seorang wanita hanya memiliki kewajiban kepada suaminya, sedangkan kewajibannya kepada kedua orang tua telah selesai.Anggapan ini tidak tepat.Yang benar, setelah menikah seorang wanita memiliki dua amanah besar:Tetap berbakti kepada kedua orang tuanya.Menunaikan hak-hak suaminya sebagai pemimpin rumah tangga.Ketika kedua hak tersebut berjalan seiring, tidak ada persoalan. Namun apabila pada kondisi tertentu tampak terjadi benturan, syariat memberikan aturan dan prioritas agar kedua hak tersebut tetap dapat dijaga semaksimal mungkin. Inilah yang akan dibahas pada bagian berikutnya mengenai siapa yang berkewajiban menafkahi orang tua, bagaimana kedudukan hak suami, dan apa solusi ketika keduanya tampak saling berbenturan. Siapa yang Wajib Menafkahi Orang Tua?Islam sangat memuliakan kedua orang tua. Bahkan setelah memerintahkan manusia untuk mentauhidkan-Nya, Allah Ta’ala langsung memerintahkan agar berbuat baik kepada kedua orang tua.Allah Ta’ala berfirman,﴿وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا﴾“Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Isrā’: 23)Berbuat baik kepada orang tua memiliki banyak bentuk, mulai dari bertutur kata yang lembut, mendoakan mereka, merawat ketika sakit, hingga memberikan nafkah apabila mereka benar-benar membutuhkan.Namun, muncul pertanyaan, siapakah yang sebenarnya berkewajiban menanggung nafkah kedua orang tua? Nafkah Orang Tua Menjadi Kewajiban Ketika Mereka MembutuhkanPara ulama menjelaskan bahwa apabila kedua orang tua berada dalam keadaan fakir, tidak memiliki harta, dan tidak mampu mencari nafkah, maka anak yang mampu berkewajiban mencukupi kebutuhan mereka. Imam Ibnul Mundzir rahimahullah berkata,أَجْمَعَ أَهْلُ الْعِلْمِ عَلَى أَنَّ نَفَقَةَ الْوَالِدَيْنِ الْفَقِيرَيْنِ اللَّذَيْنِ لَا كَسْبَ لَهُمَا وَلَا مَالَ وَاجِبَةٌ فِي مَالِ الْوَلَدِ.“Para ulama telah bersepakat bahwa nafkah kedua orang tua yang fakir, tidak memiliki penghasilan dan tidak memiliki harta, merupakan kewajiban yang diambil dari harta anaknya.”Kesepakatan ulama (ijma’) ini menunjukkan bahwa nafkah kepada orang tua bukan sekadar anjuran, tetapi dapat berubah menjadi kewajiban apabila syarat-syaratnya terpenuhi.Baca juga: Menafkahi Orang Tua yang Tidak Mampu Kewajiban Ini Berlaku bagi Anak Laki-laki Maupun Anak PerempuanDi masyarakat masih berkembang anggapan bahwa yang wajib menanggung nafkah orang tua hanyalah anak laki-laki. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar.IslamQA menjelaskan,يَجِبُ عَلَى الْوَلَدِ الْمُسْتَطِيعِ ـ ذَكَرًا كَانَ أَوْ أُنْثَى ـ أَنْ يُنْفِقَ عَلَى وَالِدَيْهِ الْفَقِيرَيْنِ الْمُحْتَاجَيْنِ لِمَا يَكْفِيهِمَا.“Wajib bagi anak yang mampu, baik laki-laki maupun perempuan, untuk menafkahi kedua orang tuanya yang fakir dan membutuhkan sesuai kecukupan mereka.Dasarnya adalah karena lafaz الولد (anak) dalam nash syariat mencakup laki-laki dan perempuan, kecuali ada dalil yang mengkhususkannya. Bagaimana Jika Masih Ada Saudara Lain?Apabila orang tua memiliki beberapa anak yang mampu, maka kewajiban itu tidak harus dipikul oleh satu orang saja.Syaikh Abdullah bin Jibrin rahimahullah menjelaskan,وَإِذَا كَانَ مَعَهَا إِخْوَةٌ ذُكُورٌ وَإِنَاثٌ، وَقَامَ أَحَدُهُمْ بِالنَّفَقَةِ عَلَى الْوَالِدَيْنِ، سَقَطَ ذَلِكَ الْوَاجِبُ عَنِ الْبَاقِينَ، وَلَهُ الْأَجْرُ، أَوْ أَنْ يَتَّفِقَ الْجَمِيعُ عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ مَبْلَغٌ مُعَيَّنٌ.“Apabila terdapat anak laki-laki dan perempuan, lalu salah seorang di antara mereka telah mencukupi nafkah kedua orang tua, gugurlah kewajiban dari yang lain dan ia mendapatkan pahala. Atau mereka dapat bermusyawarah untuk membagi besarnya tanggungan masing-masing.”Ini menunjukkan bahwa syariat mengajarkan tanggung jawab bersama, bukan membebankan seluruh kebutuhan orang tua kepada satu anak saja. Jika Ayah Masih Mampu BekerjaBerbeda halnya apabila ayah masih mampu bekerja atau masih memiliki harta yang mencukupi.Dalam kondisi seperti ini, nafkah anak kepada orang tua tidak lagi menjadi kewajiban, tetapi tetap merupakan bentuk bakti dan ihsan yang sangat dianjurkan.Karena itu, perlu dibedakan antara nafkah yang wajib dengan bantuan yang bersifat sunnah. Apakah Anak Perempuan yang Sudah Menikah Tetap Berkewajiban?Inilah bagian yang paling banyak dipertanyakan.Sebagian orang beranggapan bahwa setelah seorang wanita menikah, seluruh tanggung jawabnya kepada orang tua telah selesai. Padahal para ulama tidak menjelaskan demikian.IslamQA menjelaskan,الْأَوْلَادُ اسْمٌ يَعُمُّ الذُّكُورَ وَالْإِنَاثَ.“Istilah ‘anak-anak’ dalam syariat mencakup anak laki-laki maupun anak perempuan.”Karena itu, apabila seorang anak perempuan memiliki kelebihan harta, sedangkan kedua orang tuanya benar-benar membutuhkan, maka ia tetap berkewajiban membantu mereka sesuai kemampuannya.Syaikh Abdullah bin Jibrin rahimahullah berkata,وَإِذَا افْتَقَرَ الْوَالِدَانِ وَعِنْدَ الْبِنْتِ مَالٌ زَائِدٌ عَنْ حَاجَتِهَا، فَيَلْزَمُهَا أَنْ تُنْفِقَ عَلَى وَالِدَيْهَا قَدْرَ حَاجَتِهِمَا دُونَ أَنْ تَنْقُصَ مِنْ حَاجَاتِهَا.“Apabila kedua orang tua jatuh miskin, sedangkan anak perempuan memiliki harta yang melebihi kebutuhannya, maka ia wajib menafkahi kedua orang tuanya sesuai kebutuhan mereka tanpa mengurangi kebutuhan pokok dirinya.”Perhatikan bahwa syariat juga memperhatikan kondisi anak tersebut. Ia tidak dibebani hingga mengorbankan kebutuhan pokok dirinya. Suami Tidak Wajib Menafkahi MertuaDi sisi lain, syariat juga menjelaskan bahwa suami tidak memiliki kewajiban hukum untuk menanggung nafkah kedua orang tua istrinya.Hal ini ditegaskan dalam fatwa IslamQA dan juga dijelaskan oleh Syaikh Abdullah bin Jibrin bahwa kewajiban nafkah mertua tidak dibebankan kepada menantu, meskipun membantu mereka termasuk akhlak mulia dan bentuk ihsan yang sangat dianjurkan. Benang Merah PembahasanDari penjelasan para ulama dapat disimpulkan beberapa kaidah penting:Nafkah kepada orang tua menjadi wajib apabila mereka fakir dan anak mampu.Kewajiban tersebut berlaku bagi anak laki-laki maupun anak perempuan.Beban nafkah hendaknya dipikul bersama oleh seluruh anak yang mampu, bukan dibebankan kepada satu orang.Anak perempuan yang telah menikah tidak otomatis gugur kewajibannya kepada orang tua, namun pelaksanaannya harus tetap memperhatikan hak-hak suami sesuai tuntunan syariat.Suami tidak wajib menafkahi mertua, tetapi membantu mereka merupakan bentuk ihsan, kasih sayang, dan akhlak yang luhur. PenutupDari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa Islam tidak mengajarkan seorang istri memilih antara berbakti kepada orang tua atau menaati suami. Syariat justru mengajarkan agar setiap hak ditunaikan sesuai porsinya.Jika kedua orang tua benar-benar membutuhkan nafkah, maka pertama-tama pastikan apakah hal itu telah menjadi kewajiban syar’i. Selanjutnya, bangun komunikasi yang baik dengan suami, libatkan saudara-saudara yang lain dalam membantu orang tua, dan carilah solusi yang paling sedikit menimbulkan mudarat bagi kehidupan rumah tangga. Jangan menjadikan persoalan ini sebagai ajang mempertahankan ego, tetapi selesaikan dengan musyawarah, ilmu, dan kasih sayang.Rasulullah ﷺ telah meletakkan kaidah agung dalam menunaikan berbagai hak: “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.”Inilah prinsip yang menjadi solusi dalam persoalan ini. Ketika setiap hak ditunaikan sesuai tuntunan syariat, insya Allah akan terwujud keluarga yang penuh keberkahan, saling memahami, dan tetap menjaga bakti kepada orang tua tanpa mengabaikan hak suami.اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى بِرِّ وَالِدَيْنَا، وَأَدَاءِ حُقُوقِ أَزْوَاجِنَا، وَاجْعَلْ بُيُوتَنَا مَلِيئَةً بِالْمَوَدَّةِ وَالرَّحْمَةِ. آمِينَ.“Ya Allah, bantulah kami untuk berbakti kepada kedua orang tua, menunaikan hak-hak pasangan kami, dan jadikanlah rumah tangga kami dipenuhi kasih sayang dan rahmat-Mu. Amin.”Baca Juga:Haruskah Suami Terbuka Soal Gaji? Ini Jawaban Syariat dan Solusi Rumah TanggaMenafkahi Orang Tua yang Tidak MampuReferensiAl-Qurṭubī, M. A. A. (2006). Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān (Vol. 16). Mu’assasah Al-Risālah.Al-Bukhārī, M. ibn Ismā‘īl. (2002). Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Dār Ṭawq al-Najāh.IslamQA. (n.d.). Hal tunfiqu ‘alā wālidayhā al-faqīrayn bidūni riḍā zawjihā?https://islamqa.info/ar/answers/44995IslamQA. (n.d.). Hal lil-wālidayn ḥaqqun fī māl al-bint al-mutazawwijah? https://islamqa.info/ar/answers/12214IslamQA. (n.d.). Mas’ūliyyat al-zawjah tijāha wālidayhā. https://islamqa.info/ar/answers/21737IslamQA. (n.d.). Tu‘īlu wālidayhā wa yashtaritu man taqaddama lizawājihā an tatruka al-‘amal, famādhā taf‘alu?https://islamqa.info/ar/answers/487173IslamWeb. (n.d.). Ḥudūd nafaqat al-bint ‘alā abīhā. https://www.islamweb.net/ar/fatwa/148897/Muslim ibn al-Ḥajjāj. (2006). Ṣaḥīḥ Muslim. Dār Ṭaybah. —- Selesai ditulis dari Pondok Pesantren Darush Sholihin  dalam perjalanan menuju Masjid Kampus UGM (Kajian Mutia), 4 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsbakti kepada orang tua bakti orang tua birrul walidain fikih keluarga hak suami hukum Islam istri bekerja keluarga Islami kewajiban nafkah konsultasi syariah menikah nafkah nafkah orang tua rumah tangga

Matang Bersama Al-Qur’an di Usia Empat Puluh

Daftar Isi ToggleMenangkap isyarat kematangan usiaInteraksi dengan Al-Qur’an di usia kepala tigaMempersiapkan diri menjadi ahlul Qur’anKematangan spiritual pada usia empat puluhSegala puji hanya milik Allah, Rabb yang telah menetapkan usia 40 tahun sebagai masa kematangan seorang hamba. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad ﷺ, sang teladan agung yang dengan mencontohnya kita akan selalu berada dalam petunjuk Allah, juga kepada keluarga, sahabat, dan setiap orang yang berusaha taat kepada Rabb-nya.Izinkan kami mengajak saudara seiman yang saat ini sedang berada di fase usia antara 30 hingga 40 tahun untuk merenung sejak. Sadarkah Anda bahwa angka-angka umur yang terus merangkak naik ini adalah alarm yang sangat kencang, sebuah fase krusial di mana lembaran masa muda yang penuh dengan canda tawa dan kelalaian mulai ditutup, menuju sebuah gerbang kepastian yang bernama kematangan. Sungguh menyedihkan jika di sisa waktu emas ini, hati kita masih terpaut pada angan-angan dunia yang menipu, sementara interaksi kita dengan petunjuk hidup dari Sang Pencipta masih sekadarnya saja.Ingatlah, usia 40 tahun ialah sebuah angka yang secara eksplisit diabadikan oleh Allah Ta’ala di dalam Al-Qur’an al-Karim. Ketika seseorang menyentuh angka ini, akalnya telah mencapai puncak kesempurnaan, pemahamannya telah matang, dan watak aslinya biasanya sudah sulit untuk diubah lagi. Pertanyaannya, maukah kita menghadap Allah pada usia matang tersebut dalam keadaan menjadi orang asing bagi kitab suci-Nya? Ataukah kita ingin menjadi hamba pilihan yang diakui sebagai Ahlul Qur’an di hadapan-Nya?Fase usia 30-an ini adalah waktu persiapan, sebuah jembatan emas untuk menata kembali hubungan kita dengan Allah Ta’ala (hablun minallah) sebelum semuanya terlambat. Menjadi Ahlul Qur’an di usia 40 membutuhkan ikhtiar yang benar-benar terencana dengan matang, hasil dari cucuran keringat, komitmen ibadah yang konsisten, dan kesungguhan tobat sejak hari ini. Melalui tulisan singkat ini, mari kita bedah bersama-sama bagaimana langkah konkret yang diajarkan oleh syariat agar kita mampu menduduki derajat mulia tersebut di usia 40 tahun kelak.Menangkap isyarat kematangan usiaAllah Ta’ala berfirman,حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ“… sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia berdoa, ‘Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku..'” (QS. Al-Ahqaf: 15)Ayat yang mulia ini mengisyaratkan dengan sangat jelas bahwa usia 40 tahun adalah batas garis pemisah antara masa muda yang penuh gelora dengan masa dewasa yang penuh dengan kebijaksanaan dan kemandirian spiritual. Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya bahwa pada usia 40 tahun ini, akal seseorang telah sempurna, pemahamannya telah lengkap, dan sifat penyabar atau pengendalian dirinya telah mencapai titik kulminasi. Kebiasaan apa saja yang sering dia lakukan pada umur ini, biasanya akan menjadi karakternya yang menetap hingga ajal menjemputnya kelak.Oleh karenanya, para ulama terdahulu menganggap usia ini sebagai lampu kuning yang sangat terang untuk segera memutar haluan hidup. Imam Malik rahimahullah dalam At-Tadzkirah (hal. 149), pernah berkata,أَدْرَكْتُ أَهْلَ الْعِلْمِ بِبَلَدِنَا يَطْلُبُونَ الدُّنْيَا وَيُخَالِطُونَ النَّاسَ، حَتَّى إِذَا أَتَى عَلَى أَحَدِهِمْ أَرْبَعُونَ سَنَةً اعْتَزَلُوا“Aku mendapati para ahli ilmu di negeri kami (Madinah) mencari dunia dan berbaur dengan manusia. Namun apabila salah seorang dari mereka telah mencapai usia empat puluh tahun, mereka pun menarik diri (dari kesibukan duniawi).”Beliau menyatakan bahwa para ulama di negeri Madinah dahulunya juga bergaul dengan manusia dan mencari dunia. Namun, begitu usia mereka menyentuh angka 40 tahun, mereka segera menarik diri dari kesibukan duniawi yang sia-sia, melipat kasur-kasur mereka untuk menghidupkan malam, dan fokus sepenuhnya pada ibadah. Mereka sadar betul bahwa sisa umur yang ada sudah tidak bisa lagi dihambur-hamburkan untuk perkara yang tidak mendatangkan rida Allah.Jika kita melihat sirah Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau pun tidak diangkat menjadi Rasul melainkan tepat ketika usianya menginjak 40 tahun. Ini adalah dalil sahih dari sejarah bahwa tugas-tugas besar kenabian, termasuk mengemban amanah Al-Qur’an, menuntut kematangan jiwa yang prima. Maka sungguh mengherankan jika ada seorang muslim yang sudah mendekati atau berada di usia 40 tahun, namun waktunya masih habis untuk memikirkan perkara megah-megahan dunia, sementara ia tidak memiliki target yang jelas terhadap interaksinya dengan Al-Qur’an.Interaksi dengan Al-Qur’an di usia kepala tigaBagi Anda yang saat ini berada di rentang usia 30 hingga 40 tahun, cara berinteraksi dengan Al-Qur’an harus segera dirombak total dari kebiasaan masa lalu. Di masa remaja dulu, mungkin kita membaca Al-Qur’an sekadar untuk menggugurkan kewajiban atau sekadar mengejar target khatam tanpa sisa makna yang membekas di dada. Kini, di usia kepala tiga, interaksi tersebut harus dinaikkan levelnya menjadi interaksi yang berbasis pada tadabbur, perenungan mendalam, dan aplikasi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kita harus mulai duduk di majelis ilmu untuk memahami apa yang Allah inginkan dari Anda melalui ayat-ayat-Nya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari no. 5027)Hadis ini tidak membatasi kata “belajar” hanya pada masalah membaguskan makhraj huruf dan tajwid bagi anak-anak kecil saja. Belajar di sini mencakup ruang lingkup yang luas, yaitu mempelajari huruf-hurufnya, memahami kandungan maknanya, serta berusaha keras untuk mengamalkan hukum-hukumnya. Di usia menjelang 40 tahun ini, jadikanlah Al-Qur’an sebagai penasihat pribadi yang mengoreksi setiap langkah kaki, keputusan bisnis, hingga cara kita mendidik keluarga atau rumah tangga kita.Ingatlah nasihat berharga dari tabi’in, Masruq rahimahullah dalam Kitab Az-Zuhd (الزهد) (hal. 283), beliau berkata,إذا بلغ أحدكم أربعين سنة، فليأخذ حذره من الله“Jika usiamu telah mencapai empat puluh tahun, maka hati-hatilah kamu dalam berbuat.”Mengapa kita harus berhati-hati? Karena Al-Qur’an yang kita baca setiap hari kelak akan menjadi saksi yang meringankan atau justru menjadi penuntut yang memberatkan kita di akhirat. Jangan sampai di usia matang ini, lisan kita lancar melantunkan ayat-ayat tentang larangan riba, gibah, atau durhaka, namun seluruh kemaksiatan tersebut justru masih melekat erat dalam keseharian kita.Mempersiapkan diri menjadi ahlul Qur’anMenjadi bagian dari ahlul Qur’an, memerlukan perencanaan yang matang dan realistis di sisa usia produktif ini. Langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah membangun komitmen waktu yang tidak bisa diganggu gugat oleh urusan dunia, atau yang sering kita sebut sebagai wirdul Qur’an. Sediakan waktu khusus—bukan waktu sisa—misalnya 30 menit sebelum subuh atau setelah salat malam, untuk benar-benar berduaan dengan mushaf, membaca, dan menghafalnya dengan penuh ketenangan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadis sahih,إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَنْ هُمْ ؟ قَالَ : هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ ، أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia.” Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Para ahli Al-Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan orang-orang khusus-Nya.” (HR. Ibnu Majah no. 215; Ahmad no. 12292; An-Nasa’i dalam Al-Kubra, no. 7977; dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Al-Albani)Untuk meraih predikat mulia sebagai ahlul Quran ini, pasanglah target hafalan yang realistis sebelum Anda mengetuk pintu usia 40 tahun. Jika Anda memulainya di usia 35 tahun, Anda masih memiliki waktu 5 tahun penuh untuk konsisten menghafal. Tidak perlu muluk-muluk langsung menargetkan 30 juz jika kemampuan kita terbatas, namun mulailah dari surah-surah yang sering dibaca atau juz-juz terakhir (Juz Amma dan Juz 29) dengan pemahaman tafsir yang kuat. Konsistensi (istiqamah) dalam mengulang hafalan jauh lebih dicintai oleh Allah daripada hafalan banyak yang langsung hilang dalam sekejap.Selain menghafal secara mandiri, carilah seorang guru yang mutqin (ahli) untuk menyimak bacaan Anda secara berkala. Usia 30-an bukanlah alasan untuk merasa malu atau gengsi duduk mengeja ayat di hadapan seorang guru ngaji. Justru di sinilah letak ujian keikhlasan dan kematangan jiwa Anda, di mana Anda menurunkan ego keduniawian, jabatan, dan gelar akademik Anda demi tunduk mengoreksi bacaan kitab suci di hadapan pewaris ilmu Nabi.Kematangan spiritual pada usia empat puluhKetika fajar usia 40 tahun itu akhirnya terbit dalam kehidupan Anda, pastikan diri Anda telah bertransformasi menjadi pribadi yang baru melalui madrasah Al-Qur’an. Seseorang yang matang bersama Al-Qur’an di usia ini akan memiliki ketenangan hati yang luar biasa dalam menghadapi berbagai badai ujian kehidupan dunia. Ia tidak lagi mudah mengeluh atas kehilangan materi, tidak lagi ambisius mengejar pujian manusia, dan lisannya senantiasa basah dengan untaian istigfar serta syukur.Saudaraku, matang bersama Al-Qur’an berarti kita siap menjadi teladan yang baik bagi keluarga dan generasi setelah kita. Doa di usia 40 tahun dalam Al-Qur’an secara khusus menyebutkan permohonan kebaikan untuk anak cucu keturunan kita. Bagaimana mungkin kita bisa melahirkan generasi yang cinta Al-Qur’an, jika mereka tidak pernah melihat ayah atau ibunya membuka mushaf di rumah? Mari manfaatkan sisa waktu di usia 30-an ini dengan sebaik-baiknya, dekaplah Al-Qur’an erat-erat, agar kelak di usia 40 tahun kita dikumpulkan sebagai hamba yang matang imannya dan mulia kedudukannya di sisi Allah Ta’ala.Wallahu a’lam.Baca juga: Keutamaan Membaca Al Qur’an***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslimah.or.id

Matang Bersama Al-Qur’an di Usia Empat Puluh

Daftar Isi ToggleMenangkap isyarat kematangan usiaInteraksi dengan Al-Qur’an di usia kepala tigaMempersiapkan diri menjadi ahlul Qur’anKematangan spiritual pada usia empat puluhSegala puji hanya milik Allah, Rabb yang telah menetapkan usia 40 tahun sebagai masa kematangan seorang hamba. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad ﷺ, sang teladan agung yang dengan mencontohnya kita akan selalu berada dalam petunjuk Allah, juga kepada keluarga, sahabat, dan setiap orang yang berusaha taat kepada Rabb-nya.Izinkan kami mengajak saudara seiman yang saat ini sedang berada di fase usia antara 30 hingga 40 tahun untuk merenung sejak. Sadarkah Anda bahwa angka-angka umur yang terus merangkak naik ini adalah alarm yang sangat kencang, sebuah fase krusial di mana lembaran masa muda yang penuh dengan canda tawa dan kelalaian mulai ditutup, menuju sebuah gerbang kepastian yang bernama kematangan. Sungguh menyedihkan jika di sisa waktu emas ini, hati kita masih terpaut pada angan-angan dunia yang menipu, sementara interaksi kita dengan petunjuk hidup dari Sang Pencipta masih sekadarnya saja.Ingatlah, usia 40 tahun ialah sebuah angka yang secara eksplisit diabadikan oleh Allah Ta’ala di dalam Al-Qur’an al-Karim. Ketika seseorang menyentuh angka ini, akalnya telah mencapai puncak kesempurnaan, pemahamannya telah matang, dan watak aslinya biasanya sudah sulit untuk diubah lagi. Pertanyaannya, maukah kita menghadap Allah pada usia matang tersebut dalam keadaan menjadi orang asing bagi kitab suci-Nya? Ataukah kita ingin menjadi hamba pilihan yang diakui sebagai Ahlul Qur’an di hadapan-Nya?Fase usia 30-an ini adalah waktu persiapan, sebuah jembatan emas untuk menata kembali hubungan kita dengan Allah Ta’ala (hablun minallah) sebelum semuanya terlambat. Menjadi Ahlul Qur’an di usia 40 membutuhkan ikhtiar yang benar-benar terencana dengan matang, hasil dari cucuran keringat, komitmen ibadah yang konsisten, dan kesungguhan tobat sejak hari ini. Melalui tulisan singkat ini, mari kita bedah bersama-sama bagaimana langkah konkret yang diajarkan oleh syariat agar kita mampu menduduki derajat mulia tersebut di usia 40 tahun kelak.Menangkap isyarat kematangan usiaAllah Ta’ala berfirman,حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ“… sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia berdoa, ‘Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku..'” (QS. Al-Ahqaf: 15)Ayat yang mulia ini mengisyaratkan dengan sangat jelas bahwa usia 40 tahun adalah batas garis pemisah antara masa muda yang penuh gelora dengan masa dewasa yang penuh dengan kebijaksanaan dan kemandirian spiritual. Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya bahwa pada usia 40 tahun ini, akal seseorang telah sempurna, pemahamannya telah lengkap, dan sifat penyabar atau pengendalian dirinya telah mencapai titik kulminasi. Kebiasaan apa saja yang sering dia lakukan pada umur ini, biasanya akan menjadi karakternya yang menetap hingga ajal menjemputnya kelak.Oleh karenanya, para ulama terdahulu menganggap usia ini sebagai lampu kuning yang sangat terang untuk segera memutar haluan hidup. Imam Malik rahimahullah dalam At-Tadzkirah (hal. 149), pernah berkata,أَدْرَكْتُ أَهْلَ الْعِلْمِ بِبَلَدِنَا يَطْلُبُونَ الدُّنْيَا وَيُخَالِطُونَ النَّاسَ، حَتَّى إِذَا أَتَى عَلَى أَحَدِهِمْ أَرْبَعُونَ سَنَةً اعْتَزَلُوا“Aku mendapati para ahli ilmu di negeri kami (Madinah) mencari dunia dan berbaur dengan manusia. Namun apabila salah seorang dari mereka telah mencapai usia empat puluh tahun, mereka pun menarik diri (dari kesibukan duniawi).”Beliau menyatakan bahwa para ulama di negeri Madinah dahulunya juga bergaul dengan manusia dan mencari dunia. Namun, begitu usia mereka menyentuh angka 40 tahun, mereka segera menarik diri dari kesibukan duniawi yang sia-sia, melipat kasur-kasur mereka untuk menghidupkan malam, dan fokus sepenuhnya pada ibadah. Mereka sadar betul bahwa sisa umur yang ada sudah tidak bisa lagi dihambur-hamburkan untuk perkara yang tidak mendatangkan rida Allah.Jika kita melihat sirah Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau pun tidak diangkat menjadi Rasul melainkan tepat ketika usianya menginjak 40 tahun. Ini adalah dalil sahih dari sejarah bahwa tugas-tugas besar kenabian, termasuk mengemban amanah Al-Qur’an, menuntut kematangan jiwa yang prima. Maka sungguh mengherankan jika ada seorang muslim yang sudah mendekati atau berada di usia 40 tahun, namun waktunya masih habis untuk memikirkan perkara megah-megahan dunia, sementara ia tidak memiliki target yang jelas terhadap interaksinya dengan Al-Qur’an.Interaksi dengan Al-Qur’an di usia kepala tigaBagi Anda yang saat ini berada di rentang usia 30 hingga 40 tahun, cara berinteraksi dengan Al-Qur’an harus segera dirombak total dari kebiasaan masa lalu. Di masa remaja dulu, mungkin kita membaca Al-Qur’an sekadar untuk menggugurkan kewajiban atau sekadar mengejar target khatam tanpa sisa makna yang membekas di dada. Kini, di usia kepala tiga, interaksi tersebut harus dinaikkan levelnya menjadi interaksi yang berbasis pada tadabbur, perenungan mendalam, dan aplikasi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kita harus mulai duduk di majelis ilmu untuk memahami apa yang Allah inginkan dari Anda melalui ayat-ayat-Nya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari no. 5027)Hadis ini tidak membatasi kata “belajar” hanya pada masalah membaguskan makhraj huruf dan tajwid bagi anak-anak kecil saja. Belajar di sini mencakup ruang lingkup yang luas, yaitu mempelajari huruf-hurufnya, memahami kandungan maknanya, serta berusaha keras untuk mengamalkan hukum-hukumnya. Di usia menjelang 40 tahun ini, jadikanlah Al-Qur’an sebagai penasihat pribadi yang mengoreksi setiap langkah kaki, keputusan bisnis, hingga cara kita mendidik keluarga atau rumah tangga kita.Ingatlah nasihat berharga dari tabi’in, Masruq rahimahullah dalam Kitab Az-Zuhd (الزهد) (hal. 283), beliau berkata,إذا بلغ أحدكم أربعين سنة، فليأخذ حذره من الله“Jika usiamu telah mencapai empat puluh tahun, maka hati-hatilah kamu dalam berbuat.”Mengapa kita harus berhati-hati? Karena Al-Qur’an yang kita baca setiap hari kelak akan menjadi saksi yang meringankan atau justru menjadi penuntut yang memberatkan kita di akhirat. Jangan sampai di usia matang ini, lisan kita lancar melantunkan ayat-ayat tentang larangan riba, gibah, atau durhaka, namun seluruh kemaksiatan tersebut justru masih melekat erat dalam keseharian kita.Mempersiapkan diri menjadi ahlul Qur’anMenjadi bagian dari ahlul Qur’an, memerlukan perencanaan yang matang dan realistis di sisa usia produktif ini. Langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah membangun komitmen waktu yang tidak bisa diganggu gugat oleh urusan dunia, atau yang sering kita sebut sebagai wirdul Qur’an. Sediakan waktu khusus—bukan waktu sisa—misalnya 30 menit sebelum subuh atau setelah salat malam, untuk benar-benar berduaan dengan mushaf, membaca, dan menghafalnya dengan penuh ketenangan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadis sahih,إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَنْ هُمْ ؟ قَالَ : هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ ، أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia.” Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Para ahli Al-Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan orang-orang khusus-Nya.” (HR. Ibnu Majah no. 215; Ahmad no. 12292; An-Nasa’i dalam Al-Kubra, no. 7977; dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Al-Albani)Untuk meraih predikat mulia sebagai ahlul Quran ini, pasanglah target hafalan yang realistis sebelum Anda mengetuk pintu usia 40 tahun. Jika Anda memulainya di usia 35 tahun, Anda masih memiliki waktu 5 tahun penuh untuk konsisten menghafal. Tidak perlu muluk-muluk langsung menargetkan 30 juz jika kemampuan kita terbatas, namun mulailah dari surah-surah yang sering dibaca atau juz-juz terakhir (Juz Amma dan Juz 29) dengan pemahaman tafsir yang kuat. Konsistensi (istiqamah) dalam mengulang hafalan jauh lebih dicintai oleh Allah daripada hafalan banyak yang langsung hilang dalam sekejap.Selain menghafal secara mandiri, carilah seorang guru yang mutqin (ahli) untuk menyimak bacaan Anda secara berkala. Usia 30-an bukanlah alasan untuk merasa malu atau gengsi duduk mengeja ayat di hadapan seorang guru ngaji. Justru di sinilah letak ujian keikhlasan dan kematangan jiwa Anda, di mana Anda menurunkan ego keduniawian, jabatan, dan gelar akademik Anda demi tunduk mengoreksi bacaan kitab suci di hadapan pewaris ilmu Nabi.Kematangan spiritual pada usia empat puluhKetika fajar usia 40 tahun itu akhirnya terbit dalam kehidupan Anda, pastikan diri Anda telah bertransformasi menjadi pribadi yang baru melalui madrasah Al-Qur’an. Seseorang yang matang bersama Al-Qur’an di usia ini akan memiliki ketenangan hati yang luar biasa dalam menghadapi berbagai badai ujian kehidupan dunia. Ia tidak lagi mudah mengeluh atas kehilangan materi, tidak lagi ambisius mengejar pujian manusia, dan lisannya senantiasa basah dengan untaian istigfar serta syukur.Saudaraku, matang bersama Al-Qur’an berarti kita siap menjadi teladan yang baik bagi keluarga dan generasi setelah kita. Doa di usia 40 tahun dalam Al-Qur’an secara khusus menyebutkan permohonan kebaikan untuk anak cucu keturunan kita. Bagaimana mungkin kita bisa melahirkan generasi yang cinta Al-Qur’an, jika mereka tidak pernah melihat ayah atau ibunya membuka mushaf di rumah? Mari manfaatkan sisa waktu di usia 30-an ini dengan sebaik-baiknya, dekaplah Al-Qur’an erat-erat, agar kelak di usia 40 tahun kita dikumpulkan sebagai hamba yang matang imannya dan mulia kedudukannya di sisi Allah Ta’ala.Wallahu a’lam.Baca juga: Keutamaan Membaca Al Qur’an***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslimah.or.id
Daftar Isi ToggleMenangkap isyarat kematangan usiaInteraksi dengan Al-Qur’an di usia kepala tigaMempersiapkan diri menjadi ahlul Qur’anKematangan spiritual pada usia empat puluhSegala puji hanya milik Allah, Rabb yang telah menetapkan usia 40 tahun sebagai masa kematangan seorang hamba. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad ﷺ, sang teladan agung yang dengan mencontohnya kita akan selalu berada dalam petunjuk Allah, juga kepada keluarga, sahabat, dan setiap orang yang berusaha taat kepada Rabb-nya.Izinkan kami mengajak saudara seiman yang saat ini sedang berada di fase usia antara 30 hingga 40 tahun untuk merenung sejak. Sadarkah Anda bahwa angka-angka umur yang terus merangkak naik ini adalah alarm yang sangat kencang, sebuah fase krusial di mana lembaran masa muda yang penuh dengan canda tawa dan kelalaian mulai ditutup, menuju sebuah gerbang kepastian yang bernama kematangan. Sungguh menyedihkan jika di sisa waktu emas ini, hati kita masih terpaut pada angan-angan dunia yang menipu, sementara interaksi kita dengan petunjuk hidup dari Sang Pencipta masih sekadarnya saja.Ingatlah, usia 40 tahun ialah sebuah angka yang secara eksplisit diabadikan oleh Allah Ta’ala di dalam Al-Qur’an al-Karim. Ketika seseorang menyentuh angka ini, akalnya telah mencapai puncak kesempurnaan, pemahamannya telah matang, dan watak aslinya biasanya sudah sulit untuk diubah lagi. Pertanyaannya, maukah kita menghadap Allah pada usia matang tersebut dalam keadaan menjadi orang asing bagi kitab suci-Nya? Ataukah kita ingin menjadi hamba pilihan yang diakui sebagai Ahlul Qur’an di hadapan-Nya?Fase usia 30-an ini adalah waktu persiapan, sebuah jembatan emas untuk menata kembali hubungan kita dengan Allah Ta’ala (hablun minallah) sebelum semuanya terlambat. Menjadi Ahlul Qur’an di usia 40 membutuhkan ikhtiar yang benar-benar terencana dengan matang, hasil dari cucuran keringat, komitmen ibadah yang konsisten, dan kesungguhan tobat sejak hari ini. Melalui tulisan singkat ini, mari kita bedah bersama-sama bagaimana langkah konkret yang diajarkan oleh syariat agar kita mampu menduduki derajat mulia tersebut di usia 40 tahun kelak.Menangkap isyarat kematangan usiaAllah Ta’ala berfirman,حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ“… sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia berdoa, ‘Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku..'” (QS. Al-Ahqaf: 15)Ayat yang mulia ini mengisyaratkan dengan sangat jelas bahwa usia 40 tahun adalah batas garis pemisah antara masa muda yang penuh gelora dengan masa dewasa yang penuh dengan kebijaksanaan dan kemandirian spiritual. Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya bahwa pada usia 40 tahun ini, akal seseorang telah sempurna, pemahamannya telah lengkap, dan sifat penyabar atau pengendalian dirinya telah mencapai titik kulminasi. Kebiasaan apa saja yang sering dia lakukan pada umur ini, biasanya akan menjadi karakternya yang menetap hingga ajal menjemputnya kelak.Oleh karenanya, para ulama terdahulu menganggap usia ini sebagai lampu kuning yang sangat terang untuk segera memutar haluan hidup. Imam Malik rahimahullah dalam At-Tadzkirah (hal. 149), pernah berkata,أَدْرَكْتُ أَهْلَ الْعِلْمِ بِبَلَدِنَا يَطْلُبُونَ الدُّنْيَا وَيُخَالِطُونَ النَّاسَ، حَتَّى إِذَا أَتَى عَلَى أَحَدِهِمْ أَرْبَعُونَ سَنَةً اعْتَزَلُوا“Aku mendapati para ahli ilmu di negeri kami (Madinah) mencari dunia dan berbaur dengan manusia. Namun apabila salah seorang dari mereka telah mencapai usia empat puluh tahun, mereka pun menarik diri (dari kesibukan duniawi).”Beliau menyatakan bahwa para ulama di negeri Madinah dahulunya juga bergaul dengan manusia dan mencari dunia. Namun, begitu usia mereka menyentuh angka 40 tahun, mereka segera menarik diri dari kesibukan duniawi yang sia-sia, melipat kasur-kasur mereka untuk menghidupkan malam, dan fokus sepenuhnya pada ibadah. Mereka sadar betul bahwa sisa umur yang ada sudah tidak bisa lagi dihambur-hamburkan untuk perkara yang tidak mendatangkan rida Allah.Jika kita melihat sirah Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau pun tidak diangkat menjadi Rasul melainkan tepat ketika usianya menginjak 40 tahun. Ini adalah dalil sahih dari sejarah bahwa tugas-tugas besar kenabian, termasuk mengemban amanah Al-Qur’an, menuntut kematangan jiwa yang prima. Maka sungguh mengherankan jika ada seorang muslim yang sudah mendekati atau berada di usia 40 tahun, namun waktunya masih habis untuk memikirkan perkara megah-megahan dunia, sementara ia tidak memiliki target yang jelas terhadap interaksinya dengan Al-Qur’an.Interaksi dengan Al-Qur’an di usia kepala tigaBagi Anda yang saat ini berada di rentang usia 30 hingga 40 tahun, cara berinteraksi dengan Al-Qur’an harus segera dirombak total dari kebiasaan masa lalu. Di masa remaja dulu, mungkin kita membaca Al-Qur’an sekadar untuk menggugurkan kewajiban atau sekadar mengejar target khatam tanpa sisa makna yang membekas di dada. Kini, di usia kepala tiga, interaksi tersebut harus dinaikkan levelnya menjadi interaksi yang berbasis pada tadabbur, perenungan mendalam, dan aplikasi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kita harus mulai duduk di majelis ilmu untuk memahami apa yang Allah inginkan dari Anda melalui ayat-ayat-Nya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari no. 5027)Hadis ini tidak membatasi kata “belajar” hanya pada masalah membaguskan makhraj huruf dan tajwid bagi anak-anak kecil saja. Belajar di sini mencakup ruang lingkup yang luas, yaitu mempelajari huruf-hurufnya, memahami kandungan maknanya, serta berusaha keras untuk mengamalkan hukum-hukumnya. Di usia menjelang 40 tahun ini, jadikanlah Al-Qur’an sebagai penasihat pribadi yang mengoreksi setiap langkah kaki, keputusan bisnis, hingga cara kita mendidik keluarga atau rumah tangga kita.Ingatlah nasihat berharga dari tabi’in, Masruq rahimahullah dalam Kitab Az-Zuhd (الزهد) (hal. 283), beliau berkata,إذا بلغ أحدكم أربعين سنة، فليأخذ حذره من الله“Jika usiamu telah mencapai empat puluh tahun, maka hati-hatilah kamu dalam berbuat.”Mengapa kita harus berhati-hati? Karena Al-Qur’an yang kita baca setiap hari kelak akan menjadi saksi yang meringankan atau justru menjadi penuntut yang memberatkan kita di akhirat. Jangan sampai di usia matang ini, lisan kita lancar melantunkan ayat-ayat tentang larangan riba, gibah, atau durhaka, namun seluruh kemaksiatan tersebut justru masih melekat erat dalam keseharian kita.Mempersiapkan diri menjadi ahlul Qur’anMenjadi bagian dari ahlul Qur’an, memerlukan perencanaan yang matang dan realistis di sisa usia produktif ini. Langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah membangun komitmen waktu yang tidak bisa diganggu gugat oleh urusan dunia, atau yang sering kita sebut sebagai wirdul Qur’an. Sediakan waktu khusus—bukan waktu sisa—misalnya 30 menit sebelum subuh atau setelah salat malam, untuk benar-benar berduaan dengan mushaf, membaca, dan menghafalnya dengan penuh ketenangan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadis sahih,إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَنْ هُمْ ؟ قَالَ : هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ ، أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia.” Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Para ahli Al-Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan orang-orang khusus-Nya.” (HR. Ibnu Majah no. 215; Ahmad no. 12292; An-Nasa’i dalam Al-Kubra, no. 7977; dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Al-Albani)Untuk meraih predikat mulia sebagai ahlul Quran ini, pasanglah target hafalan yang realistis sebelum Anda mengetuk pintu usia 40 tahun. Jika Anda memulainya di usia 35 tahun, Anda masih memiliki waktu 5 tahun penuh untuk konsisten menghafal. Tidak perlu muluk-muluk langsung menargetkan 30 juz jika kemampuan kita terbatas, namun mulailah dari surah-surah yang sering dibaca atau juz-juz terakhir (Juz Amma dan Juz 29) dengan pemahaman tafsir yang kuat. Konsistensi (istiqamah) dalam mengulang hafalan jauh lebih dicintai oleh Allah daripada hafalan banyak yang langsung hilang dalam sekejap.Selain menghafal secara mandiri, carilah seorang guru yang mutqin (ahli) untuk menyimak bacaan Anda secara berkala. Usia 30-an bukanlah alasan untuk merasa malu atau gengsi duduk mengeja ayat di hadapan seorang guru ngaji. Justru di sinilah letak ujian keikhlasan dan kematangan jiwa Anda, di mana Anda menurunkan ego keduniawian, jabatan, dan gelar akademik Anda demi tunduk mengoreksi bacaan kitab suci di hadapan pewaris ilmu Nabi.Kematangan spiritual pada usia empat puluhKetika fajar usia 40 tahun itu akhirnya terbit dalam kehidupan Anda, pastikan diri Anda telah bertransformasi menjadi pribadi yang baru melalui madrasah Al-Qur’an. Seseorang yang matang bersama Al-Qur’an di usia ini akan memiliki ketenangan hati yang luar biasa dalam menghadapi berbagai badai ujian kehidupan dunia. Ia tidak lagi mudah mengeluh atas kehilangan materi, tidak lagi ambisius mengejar pujian manusia, dan lisannya senantiasa basah dengan untaian istigfar serta syukur.Saudaraku, matang bersama Al-Qur’an berarti kita siap menjadi teladan yang baik bagi keluarga dan generasi setelah kita. Doa di usia 40 tahun dalam Al-Qur’an secara khusus menyebutkan permohonan kebaikan untuk anak cucu keturunan kita. Bagaimana mungkin kita bisa melahirkan generasi yang cinta Al-Qur’an, jika mereka tidak pernah melihat ayah atau ibunya membuka mushaf di rumah? Mari manfaatkan sisa waktu di usia 30-an ini dengan sebaik-baiknya, dekaplah Al-Qur’an erat-erat, agar kelak di usia 40 tahun kita dikumpulkan sebagai hamba yang matang imannya dan mulia kedudukannya di sisi Allah Ta’ala.Wallahu a’lam.Baca juga: Keutamaan Membaca Al Qur’an***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslimah.or.id


Daftar Isi ToggleMenangkap isyarat kematangan usiaInteraksi dengan Al-Qur’an di usia kepala tigaMempersiapkan diri menjadi ahlul Qur’anKematangan spiritual pada usia empat puluhSegala puji hanya milik Allah, Rabb yang telah menetapkan usia 40 tahun sebagai masa kematangan seorang hamba. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad ﷺ, sang teladan agung yang dengan mencontohnya kita akan selalu berada dalam petunjuk Allah, juga kepada keluarga, sahabat, dan setiap orang yang berusaha taat kepada Rabb-nya.Izinkan kami mengajak saudara seiman yang saat ini sedang berada di fase usia antara 30 hingga 40 tahun untuk merenung sejak. Sadarkah Anda bahwa angka-angka umur yang terus merangkak naik ini adalah alarm yang sangat kencang, sebuah fase krusial di mana lembaran masa muda yang penuh dengan canda tawa dan kelalaian mulai ditutup, menuju sebuah gerbang kepastian yang bernama kematangan. Sungguh menyedihkan jika di sisa waktu emas ini, hati kita masih terpaut pada angan-angan dunia yang menipu, sementara interaksi kita dengan petunjuk hidup dari Sang Pencipta masih sekadarnya saja.Ingatlah, usia 40 tahun ialah sebuah angka yang secara eksplisit diabadikan oleh Allah Ta’ala di dalam Al-Qur’an al-Karim. Ketika seseorang menyentuh angka ini, akalnya telah mencapai puncak kesempurnaan, pemahamannya telah matang, dan watak aslinya biasanya sudah sulit untuk diubah lagi. Pertanyaannya, maukah kita menghadap Allah pada usia matang tersebut dalam keadaan menjadi orang asing bagi kitab suci-Nya? Ataukah kita ingin menjadi hamba pilihan yang diakui sebagai Ahlul Qur’an di hadapan-Nya?Fase usia 30-an ini adalah waktu persiapan, sebuah jembatan emas untuk menata kembali hubungan kita dengan Allah Ta’ala (hablun minallah) sebelum semuanya terlambat. Menjadi Ahlul Qur’an di usia 40 membutuhkan ikhtiar yang benar-benar terencana dengan matang, hasil dari cucuran keringat, komitmen ibadah yang konsisten, dan kesungguhan tobat sejak hari ini. Melalui tulisan singkat ini, mari kita bedah bersama-sama bagaimana langkah konkret yang diajarkan oleh syariat agar kita mampu menduduki derajat mulia tersebut di usia 40 tahun kelak.Menangkap isyarat kematangan usiaAllah Ta’ala berfirman,حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ“… sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia berdoa, ‘Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku..'” (QS. Al-Ahqaf: 15)Ayat yang mulia ini mengisyaratkan dengan sangat jelas bahwa usia 40 tahun adalah batas garis pemisah antara masa muda yang penuh gelora dengan masa dewasa yang penuh dengan kebijaksanaan dan kemandirian spiritual. Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya bahwa pada usia 40 tahun ini, akal seseorang telah sempurna, pemahamannya telah lengkap, dan sifat penyabar atau pengendalian dirinya telah mencapai titik kulminasi. Kebiasaan apa saja yang sering dia lakukan pada umur ini, biasanya akan menjadi karakternya yang menetap hingga ajal menjemputnya kelak.Oleh karenanya, para ulama terdahulu menganggap usia ini sebagai lampu kuning yang sangat terang untuk segera memutar haluan hidup. Imam Malik rahimahullah dalam At-Tadzkirah (hal. 149), pernah berkata,أَدْرَكْتُ أَهْلَ الْعِلْمِ بِبَلَدِنَا يَطْلُبُونَ الدُّنْيَا وَيُخَالِطُونَ النَّاسَ، حَتَّى إِذَا أَتَى عَلَى أَحَدِهِمْ أَرْبَعُونَ سَنَةً اعْتَزَلُوا“Aku mendapati para ahli ilmu di negeri kami (Madinah) mencari dunia dan berbaur dengan manusia. Namun apabila salah seorang dari mereka telah mencapai usia empat puluh tahun, mereka pun menarik diri (dari kesibukan duniawi).”Beliau menyatakan bahwa para ulama di negeri Madinah dahulunya juga bergaul dengan manusia dan mencari dunia. Namun, begitu usia mereka menyentuh angka 40 tahun, mereka segera menarik diri dari kesibukan duniawi yang sia-sia, melipat kasur-kasur mereka untuk menghidupkan malam, dan fokus sepenuhnya pada ibadah. Mereka sadar betul bahwa sisa umur yang ada sudah tidak bisa lagi dihambur-hamburkan untuk perkara yang tidak mendatangkan rida Allah.Jika kita melihat sirah Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau pun tidak diangkat menjadi Rasul melainkan tepat ketika usianya menginjak 40 tahun. Ini adalah dalil sahih dari sejarah bahwa tugas-tugas besar kenabian, termasuk mengemban amanah Al-Qur’an, menuntut kematangan jiwa yang prima. Maka sungguh mengherankan jika ada seorang muslim yang sudah mendekati atau berada di usia 40 tahun, namun waktunya masih habis untuk memikirkan perkara megah-megahan dunia, sementara ia tidak memiliki target yang jelas terhadap interaksinya dengan Al-Qur’an.Interaksi dengan Al-Qur’an di usia kepala tigaBagi Anda yang saat ini berada di rentang usia 30 hingga 40 tahun, cara berinteraksi dengan Al-Qur’an harus segera dirombak total dari kebiasaan masa lalu. Di masa remaja dulu, mungkin kita membaca Al-Qur’an sekadar untuk menggugurkan kewajiban atau sekadar mengejar target khatam tanpa sisa makna yang membekas di dada. Kini, di usia kepala tiga, interaksi tersebut harus dinaikkan levelnya menjadi interaksi yang berbasis pada tadabbur, perenungan mendalam, dan aplikasi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kita harus mulai duduk di majelis ilmu untuk memahami apa yang Allah inginkan dari Anda melalui ayat-ayat-Nya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari no. 5027)Hadis ini tidak membatasi kata “belajar” hanya pada masalah membaguskan makhraj huruf dan tajwid bagi anak-anak kecil saja. Belajar di sini mencakup ruang lingkup yang luas, yaitu mempelajari huruf-hurufnya, memahami kandungan maknanya, serta berusaha keras untuk mengamalkan hukum-hukumnya. Di usia menjelang 40 tahun ini, jadikanlah Al-Qur’an sebagai penasihat pribadi yang mengoreksi setiap langkah kaki, keputusan bisnis, hingga cara kita mendidik keluarga atau rumah tangga kita.Ingatlah nasihat berharga dari tabi’in, Masruq rahimahullah dalam Kitab Az-Zuhd (الزهد) (hal. 283), beliau berkata,إذا بلغ أحدكم أربعين سنة، فليأخذ حذره من الله“Jika usiamu telah mencapai empat puluh tahun, maka hati-hatilah kamu dalam berbuat.”Mengapa kita harus berhati-hati? Karena Al-Qur’an yang kita baca setiap hari kelak akan menjadi saksi yang meringankan atau justru menjadi penuntut yang memberatkan kita di akhirat. Jangan sampai di usia matang ini, lisan kita lancar melantunkan ayat-ayat tentang larangan riba, gibah, atau durhaka, namun seluruh kemaksiatan tersebut justru masih melekat erat dalam keseharian kita.Mempersiapkan diri menjadi ahlul Qur’anMenjadi bagian dari ahlul Qur’an, memerlukan perencanaan yang matang dan realistis di sisa usia produktif ini. Langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah membangun komitmen waktu yang tidak bisa diganggu gugat oleh urusan dunia, atau yang sering kita sebut sebagai wirdul Qur’an. Sediakan waktu khusus—bukan waktu sisa—misalnya 30 menit sebelum subuh atau setelah salat malam, untuk benar-benar berduaan dengan mushaf, membaca, dan menghafalnya dengan penuh ketenangan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadis sahih,إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَنْ هُمْ ؟ قَالَ : هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ ، أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia.” Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Para ahli Al-Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan orang-orang khusus-Nya.” (HR. Ibnu Majah no. 215; Ahmad no. 12292; An-Nasa’i dalam Al-Kubra, no. 7977; dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Al-Albani)Untuk meraih predikat mulia sebagai ahlul Quran ini, pasanglah target hafalan yang realistis sebelum Anda mengetuk pintu usia 40 tahun. Jika Anda memulainya di usia 35 tahun, Anda masih memiliki waktu 5 tahun penuh untuk konsisten menghafal. Tidak perlu muluk-muluk langsung menargetkan 30 juz jika kemampuan kita terbatas, namun mulailah dari surah-surah yang sering dibaca atau juz-juz terakhir (Juz Amma dan Juz 29) dengan pemahaman tafsir yang kuat. Konsistensi (istiqamah) dalam mengulang hafalan jauh lebih dicintai oleh Allah daripada hafalan banyak yang langsung hilang dalam sekejap.Selain menghafal secara mandiri, carilah seorang guru yang mutqin (ahli) untuk menyimak bacaan Anda secara berkala. Usia 30-an bukanlah alasan untuk merasa malu atau gengsi duduk mengeja ayat di hadapan seorang guru ngaji. Justru di sinilah letak ujian keikhlasan dan kematangan jiwa Anda, di mana Anda menurunkan ego keduniawian, jabatan, dan gelar akademik Anda demi tunduk mengoreksi bacaan kitab suci di hadapan pewaris ilmu Nabi.Kematangan spiritual pada usia empat puluhKetika fajar usia 40 tahun itu akhirnya terbit dalam kehidupan Anda, pastikan diri Anda telah bertransformasi menjadi pribadi yang baru melalui madrasah Al-Qur’an. Seseorang yang matang bersama Al-Qur’an di usia ini akan memiliki ketenangan hati yang luar biasa dalam menghadapi berbagai badai ujian kehidupan dunia. Ia tidak lagi mudah mengeluh atas kehilangan materi, tidak lagi ambisius mengejar pujian manusia, dan lisannya senantiasa basah dengan untaian istigfar serta syukur.Saudaraku, matang bersama Al-Qur’an berarti kita siap menjadi teladan yang baik bagi keluarga dan generasi setelah kita. Doa di usia 40 tahun dalam Al-Qur’an secara khusus menyebutkan permohonan kebaikan untuk anak cucu keturunan kita. Bagaimana mungkin kita bisa melahirkan generasi yang cinta Al-Qur’an, jika mereka tidak pernah melihat ayah atau ibunya membuka mushaf di rumah? Mari manfaatkan sisa waktu di usia 30-an ini dengan sebaik-baiknya, dekaplah Al-Qur’an erat-erat, agar kelak di usia 40 tahun kita dikumpulkan sebagai hamba yang matang imannya dan mulia kedudukannya di sisi Allah Ta’ala.Wallahu a’lam.Baca juga: Keutamaan Membaca Al Qur’an***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslimah.or.id

Berbakti Kepada Orang Tua yang Zalim: Masih Wajibkah Kita Berbakti?

Daftar Isi ToggleKedudukan berbakti kepada orang tuaDalil wajibnya berbakti kepada orang tua yang zalimHikmah diwajibkannya berbakti kepada orang tua yang zalimPertama, kunci masuk surgaKedua, memulai siklus kebaikanPenutupKetika kita mendengar atau membaca pertanyaan seseorang, “Apa alasan kita perlu berbakti kepada orangtua?” Tentunya hal yang aneh bagi kita mendengar pertanyaan tersebut. Orang tua jelas sekali memiliki jasa yang besar dalam kehidupan kita sehingga kita perlu berbakti kepada mereka. Akan tetapi di luar sana, ada orang-orang yang orang tuanya malah menjadi sumber luka mereka, luka batin maupun luka fisik.Bagi mereka, berbakti kepada orang tua merupakan suatu hal yang tidak adil, masa kecil mereka yang harusnya penuh ceria dan kasih sayang, mereka habiskan untuk menelan trauma. Dari siapa trauma tersebut? Ternyata dari orang tua mereka sendiri. Lalu ketika mereka beranjak dewasa, mereka merasa bahwa berbakti kepada orang tua adalah suatu ketidakadilan.Lalu bagaimana hal tersebut dalam pandangan Islam? Apakah berbakti kepada orang tua yang zalim masih diwajibkan sebagaimana berbakti kepada orang tua pada umumnya? Ternyata dalam Islam, kewajiban berbakti kepada orang tua tidaklah hilang meskipun mereka zalim terhadap anak-anaknya.Sekilas memang terlihat tidak adil bagi saudara kita yang dizalimi oleh orang tua mereka. Masa kecil mereka direnggut dan yang tersisa hanyalah trauma dan rasa sakit. Akan tetapi, di balik itu ada hikmah mengapa kita tetap wajib berbakti kepada orang tua yang zalim.Kedudukan berbakti kepada orang tuaBerbakti kepada orang tua merupakan sebuah amalan mulia dalam Islam. Hal tersebut ditunjukkan dari beberapa ayat Al-Quran yang menyandingkan berbakti kepada orang tua dengan tujuan ibadah paling utama, yaitu bertauhid. Allah Ta’ala berfirman,وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.” (QS. Al-Isra’: 23)Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (QS. An-Nisa: 36)Dari kedua ayat di atas, kita bisa melihat bahwa Allah menyebutkan berbakti kepada orang tua setelah bertauhid. Para ulama banyak yang menjelaskan bahwa hal tersebut menunjukkan istimewanya berbakti kepada orang tua. Mengapa demikian? Karena berbakti kepada orang tua beberapa kali disandingkan dengan perintah untuk bertauhid dan menjauhi syirik yang merupakan landasan utama agama Islam.Dalil wajibnya berbakti kepada orang tua yang zalimBerbakti kepada orang tua merupakan suatu amalan yang mulia, dan kedudukannya tidaklah berubah walaupun orang tua tersebut zalim. Ada beberapa dalil yang menunjukkan wajibnya berbakti kepada orang tua yang zalim, di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا“Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15)Pada ayat di atas, bisa kita lihat bahwa Allah tetap memerintahkan kita untuk memperlakukan orang tua kita dengan baik walaupun mereka memaksa kita untuk berbuat syirik. Bayangkan, hal apa yang lebih kejam dibandingkan memaksa seorang anak agar kekal di neraka (dengan berbuat syirik)? Akan tetapi, Allah tetap memerintahkan kita untuk tetap berbuat baik kepada mereka.Hikmah diwajibkannya berbakti kepada orang tua yang zalimMungkin terlihat tidak adil bagi orang-orang yang merasa hidupnya dizalimi dan disakiti oleh orang tuanya. Mereka menghabiskan masa kecilnya dengan rasa sakit lahir maupun batin yang diberikan oleh orang tuanya. Setelah mereka dewasa, mereka malah harus berbakti kepada orang yang menjadi sumber rasa sakitnya.Akan tetapi jika direnungkan kembali, ada hikmah yang besar di balik berbakti kepada orang tua, walaupun mereka orang tua yang zalim.Pertama, kunci masuk surgaBerbakti kepada orang tua merupakan salah satu kunci yang bisa mengantarkan kita untuk masuk surga. Suatu hal yang merugi ketika kita memiliki orang tua, tapi tidak bisa memanfaatkannya untuk bisa masuk surga. Hal tersebut sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ، قِيلَ: مَنْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ، أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ“Celakalah dia (hidungnya tersungkur ke debu), celakalah dia, celakalah dia!” Ada yang bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Barang siapa yang mendapati kedua orang tuanya di masa tua, salah satunya atau keduanya, namun hal itu tidak membuatnya masuk surga.” (HR. Muslim)Berbakti kepada orang tua juga merupakan salah satu tiket masuk surga yang paling utama, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadis,الوالد أوسط أبواب الجنة، فإن شئت فأضع هذا الباب، أو احفظه“Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah. Jika engkau mau, engkau boleh menyia-nyiakan pintu tersebut, atau engkau boleh menjaganya.” (HR. Tirmidzi)Syekh Al-Mubarakfuri menjelaskan tentang maksud dari pintu yang paling tengah,أَيْ خَيْرُ الْأَبْوَابِ وَأَعْلَاهَا وَالْمَعْنَى أَنَّ أَحْسَنَ مَا يُتَوَسَّلُ بِهِ إِلَى دُخُولِ الْجَنَّةِ، وَيُتَوَسَّلُ بِهِ إِلَى وُصُولِ دَرَجَتِهَا الْعَالِيَةِ، مُطَاوَعَةُ الْوَالِدِ وَمُرَاعَاةُ جَانِبِهِ“Maksudnya adalah pintu paling baik dan paling tinggi derajatnya. Maknanya bahwa sarana paling baik yang mengantarkan seseorang untuk masuk surga, dan merupakan sarana yang paling tinggi derajatnya, yaitu menaati orang tua dan menjaga hak dan kehormatannya.”Jangan sampai kebencian kita kepada orang tua kita malah menghilangkan kesempatan kita untuk meraih pintu surga yang paling utama. Bayangkan jika orang yang memiliki orang tua saleh yang menyayanginya dari lahir hingga akhirnya dipisahkan dengan kematian, ketika mereka berbakti kepada orang tua, surga adalah balasannya. Apalagi seorang anak yang memiliki orang tua yang zalim, ujiannya lebih besar, tentu balasannya lebih besar juga.Kedua, memulai siklus kebaikanKeburukan tidak selamanya harus dibalas dengan keburukan, terkadang membalas keburukan dengan kebaikan adalah solusi. Mari renungkan firman Allah berikut,وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُۗ اِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْم“Tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) dengan perilaku yang lebih baik sehingga orang yang ada permusuhan denganmu serta-merta menjadi seperti teman yang sangat setia.” (QS. Fushshilat: 34)Bermusuhan dengan orang tua bukanlah hal yang baik untuk dilakukan. Hal tersebut bisa melebar ke keburukan lainnya. Bisa berupa terputusnya silaturahmi, ketidakharmonisan antar keluarga, ataupun konflik-konflik lainnya. Terkadang mengalah dan berbuat baik kepada orang tua yang zalim tersebut merupakan pilihan yang terbaik.Jangan sampai konflik dan perpecahan yang ada terus-menerus terjadi. Mulailah memulai siklus kebaikan di keluarga dengan berbakti kepada orang tua walaupun mereka telah berlaku zalim. Kelembutan dan bakti Anda bisa saja menyadarkan orang tua dan mulai mau berubah. Biarlah yang lalu telah berlalu.Selain itu, ada satu sosok yang butuh teladan untuk mendapatkan tiket surga di masa mendatang. Mereka adalah anak-anak, mereka butuh teladan dalam berbakti kepada orang tua. Bagaimana mungkin mereka bisa tertanam kesadaran yang tinggi untuk berbakti kepada orang tua nantinya jika Anda tidak mencontohkannya?PenutupBerbakti kepada orang tua merupakan perkara mulia yang mungkin mudah untuk diucapkan, tapi sulit untuk dipraktekkan. Terlebih lagi jika seorang anak tidak diperlakukan baik oleh orang tuanya, apalagi jika orang tuanya malah jadi sumber rasa sakit lahir dan batin mereka. Akan tetapi, semua itu tidaklah menggugurkan kewajiban seorang anak untuk berbakti kepada orang tuanya.Memang hal tersebut merupakan perkara yang sulit, semoga kita semua dimudahkan untuk berbakti kepada orang tua dan mendapatkan balasan yang setimpal di surga nanti.Baca juga: Bagaimana Berbakti Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal?***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Sumber: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/428662

Berbakti Kepada Orang Tua yang Zalim: Masih Wajibkah Kita Berbakti?

Daftar Isi ToggleKedudukan berbakti kepada orang tuaDalil wajibnya berbakti kepada orang tua yang zalimHikmah diwajibkannya berbakti kepada orang tua yang zalimPertama, kunci masuk surgaKedua, memulai siklus kebaikanPenutupKetika kita mendengar atau membaca pertanyaan seseorang, “Apa alasan kita perlu berbakti kepada orangtua?” Tentunya hal yang aneh bagi kita mendengar pertanyaan tersebut. Orang tua jelas sekali memiliki jasa yang besar dalam kehidupan kita sehingga kita perlu berbakti kepada mereka. Akan tetapi di luar sana, ada orang-orang yang orang tuanya malah menjadi sumber luka mereka, luka batin maupun luka fisik.Bagi mereka, berbakti kepada orang tua merupakan suatu hal yang tidak adil, masa kecil mereka yang harusnya penuh ceria dan kasih sayang, mereka habiskan untuk menelan trauma. Dari siapa trauma tersebut? Ternyata dari orang tua mereka sendiri. Lalu ketika mereka beranjak dewasa, mereka merasa bahwa berbakti kepada orang tua adalah suatu ketidakadilan.Lalu bagaimana hal tersebut dalam pandangan Islam? Apakah berbakti kepada orang tua yang zalim masih diwajibkan sebagaimana berbakti kepada orang tua pada umumnya? Ternyata dalam Islam, kewajiban berbakti kepada orang tua tidaklah hilang meskipun mereka zalim terhadap anak-anaknya.Sekilas memang terlihat tidak adil bagi saudara kita yang dizalimi oleh orang tua mereka. Masa kecil mereka direnggut dan yang tersisa hanyalah trauma dan rasa sakit. Akan tetapi, di balik itu ada hikmah mengapa kita tetap wajib berbakti kepada orang tua yang zalim.Kedudukan berbakti kepada orang tuaBerbakti kepada orang tua merupakan sebuah amalan mulia dalam Islam. Hal tersebut ditunjukkan dari beberapa ayat Al-Quran yang menyandingkan berbakti kepada orang tua dengan tujuan ibadah paling utama, yaitu bertauhid. Allah Ta’ala berfirman,وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.” (QS. Al-Isra’: 23)Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (QS. An-Nisa: 36)Dari kedua ayat di atas, kita bisa melihat bahwa Allah menyebutkan berbakti kepada orang tua setelah bertauhid. Para ulama banyak yang menjelaskan bahwa hal tersebut menunjukkan istimewanya berbakti kepada orang tua. Mengapa demikian? Karena berbakti kepada orang tua beberapa kali disandingkan dengan perintah untuk bertauhid dan menjauhi syirik yang merupakan landasan utama agama Islam.Dalil wajibnya berbakti kepada orang tua yang zalimBerbakti kepada orang tua merupakan suatu amalan yang mulia, dan kedudukannya tidaklah berubah walaupun orang tua tersebut zalim. Ada beberapa dalil yang menunjukkan wajibnya berbakti kepada orang tua yang zalim, di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا“Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15)Pada ayat di atas, bisa kita lihat bahwa Allah tetap memerintahkan kita untuk memperlakukan orang tua kita dengan baik walaupun mereka memaksa kita untuk berbuat syirik. Bayangkan, hal apa yang lebih kejam dibandingkan memaksa seorang anak agar kekal di neraka (dengan berbuat syirik)? Akan tetapi, Allah tetap memerintahkan kita untuk tetap berbuat baik kepada mereka.Hikmah diwajibkannya berbakti kepada orang tua yang zalimMungkin terlihat tidak adil bagi orang-orang yang merasa hidupnya dizalimi dan disakiti oleh orang tuanya. Mereka menghabiskan masa kecilnya dengan rasa sakit lahir maupun batin yang diberikan oleh orang tuanya. Setelah mereka dewasa, mereka malah harus berbakti kepada orang yang menjadi sumber rasa sakitnya.Akan tetapi jika direnungkan kembali, ada hikmah yang besar di balik berbakti kepada orang tua, walaupun mereka orang tua yang zalim.Pertama, kunci masuk surgaBerbakti kepada orang tua merupakan salah satu kunci yang bisa mengantarkan kita untuk masuk surga. Suatu hal yang merugi ketika kita memiliki orang tua, tapi tidak bisa memanfaatkannya untuk bisa masuk surga. Hal tersebut sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ، قِيلَ: مَنْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ، أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ“Celakalah dia (hidungnya tersungkur ke debu), celakalah dia, celakalah dia!” Ada yang bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Barang siapa yang mendapati kedua orang tuanya di masa tua, salah satunya atau keduanya, namun hal itu tidak membuatnya masuk surga.” (HR. Muslim)Berbakti kepada orang tua juga merupakan salah satu tiket masuk surga yang paling utama, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadis,الوالد أوسط أبواب الجنة، فإن شئت فأضع هذا الباب، أو احفظه“Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah. Jika engkau mau, engkau boleh menyia-nyiakan pintu tersebut, atau engkau boleh menjaganya.” (HR. Tirmidzi)Syekh Al-Mubarakfuri menjelaskan tentang maksud dari pintu yang paling tengah,أَيْ خَيْرُ الْأَبْوَابِ وَأَعْلَاهَا وَالْمَعْنَى أَنَّ أَحْسَنَ مَا يُتَوَسَّلُ بِهِ إِلَى دُخُولِ الْجَنَّةِ، وَيُتَوَسَّلُ بِهِ إِلَى وُصُولِ دَرَجَتِهَا الْعَالِيَةِ، مُطَاوَعَةُ الْوَالِدِ وَمُرَاعَاةُ جَانِبِهِ“Maksudnya adalah pintu paling baik dan paling tinggi derajatnya. Maknanya bahwa sarana paling baik yang mengantarkan seseorang untuk masuk surga, dan merupakan sarana yang paling tinggi derajatnya, yaitu menaati orang tua dan menjaga hak dan kehormatannya.”Jangan sampai kebencian kita kepada orang tua kita malah menghilangkan kesempatan kita untuk meraih pintu surga yang paling utama. Bayangkan jika orang yang memiliki orang tua saleh yang menyayanginya dari lahir hingga akhirnya dipisahkan dengan kematian, ketika mereka berbakti kepada orang tua, surga adalah balasannya. Apalagi seorang anak yang memiliki orang tua yang zalim, ujiannya lebih besar, tentu balasannya lebih besar juga.Kedua, memulai siklus kebaikanKeburukan tidak selamanya harus dibalas dengan keburukan, terkadang membalas keburukan dengan kebaikan adalah solusi. Mari renungkan firman Allah berikut,وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُۗ اِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْم“Tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) dengan perilaku yang lebih baik sehingga orang yang ada permusuhan denganmu serta-merta menjadi seperti teman yang sangat setia.” (QS. Fushshilat: 34)Bermusuhan dengan orang tua bukanlah hal yang baik untuk dilakukan. Hal tersebut bisa melebar ke keburukan lainnya. Bisa berupa terputusnya silaturahmi, ketidakharmonisan antar keluarga, ataupun konflik-konflik lainnya. Terkadang mengalah dan berbuat baik kepada orang tua yang zalim tersebut merupakan pilihan yang terbaik.Jangan sampai konflik dan perpecahan yang ada terus-menerus terjadi. Mulailah memulai siklus kebaikan di keluarga dengan berbakti kepada orang tua walaupun mereka telah berlaku zalim. Kelembutan dan bakti Anda bisa saja menyadarkan orang tua dan mulai mau berubah. Biarlah yang lalu telah berlalu.Selain itu, ada satu sosok yang butuh teladan untuk mendapatkan tiket surga di masa mendatang. Mereka adalah anak-anak, mereka butuh teladan dalam berbakti kepada orang tua. Bagaimana mungkin mereka bisa tertanam kesadaran yang tinggi untuk berbakti kepada orang tua nantinya jika Anda tidak mencontohkannya?PenutupBerbakti kepada orang tua merupakan perkara mulia yang mungkin mudah untuk diucapkan, tapi sulit untuk dipraktekkan. Terlebih lagi jika seorang anak tidak diperlakukan baik oleh orang tuanya, apalagi jika orang tuanya malah jadi sumber rasa sakit lahir dan batin mereka. Akan tetapi, semua itu tidaklah menggugurkan kewajiban seorang anak untuk berbakti kepada orang tuanya.Memang hal tersebut merupakan perkara yang sulit, semoga kita semua dimudahkan untuk berbakti kepada orang tua dan mendapatkan balasan yang setimpal di surga nanti.Baca juga: Bagaimana Berbakti Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal?***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Sumber: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/428662
Daftar Isi ToggleKedudukan berbakti kepada orang tuaDalil wajibnya berbakti kepada orang tua yang zalimHikmah diwajibkannya berbakti kepada orang tua yang zalimPertama, kunci masuk surgaKedua, memulai siklus kebaikanPenutupKetika kita mendengar atau membaca pertanyaan seseorang, “Apa alasan kita perlu berbakti kepada orangtua?” Tentunya hal yang aneh bagi kita mendengar pertanyaan tersebut. Orang tua jelas sekali memiliki jasa yang besar dalam kehidupan kita sehingga kita perlu berbakti kepada mereka. Akan tetapi di luar sana, ada orang-orang yang orang tuanya malah menjadi sumber luka mereka, luka batin maupun luka fisik.Bagi mereka, berbakti kepada orang tua merupakan suatu hal yang tidak adil, masa kecil mereka yang harusnya penuh ceria dan kasih sayang, mereka habiskan untuk menelan trauma. Dari siapa trauma tersebut? Ternyata dari orang tua mereka sendiri. Lalu ketika mereka beranjak dewasa, mereka merasa bahwa berbakti kepada orang tua adalah suatu ketidakadilan.Lalu bagaimana hal tersebut dalam pandangan Islam? Apakah berbakti kepada orang tua yang zalim masih diwajibkan sebagaimana berbakti kepada orang tua pada umumnya? Ternyata dalam Islam, kewajiban berbakti kepada orang tua tidaklah hilang meskipun mereka zalim terhadap anak-anaknya.Sekilas memang terlihat tidak adil bagi saudara kita yang dizalimi oleh orang tua mereka. Masa kecil mereka direnggut dan yang tersisa hanyalah trauma dan rasa sakit. Akan tetapi, di balik itu ada hikmah mengapa kita tetap wajib berbakti kepada orang tua yang zalim.Kedudukan berbakti kepada orang tuaBerbakti kepada orang tua merupakan sebuah amalan mulia dalam Islam. Hal tersebut ditunjukkan dari beberapa ayat Al-Quran yang menyandingkan berbakti kepada orang tua dengan tujuan ibadah paling utama, yaitu bertauhid. Allah Ta’ala berfirman,وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.” (QS. Al-Isra’: 23)Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (QS. An-Nisa: 36)Dari kedua ayat di atas, kita bisa melihat bahwa Allah menyebutkan berbakti kepada orang tua setelah bertauhid. Para ulama banyak yang menjelaskan bahwa hal tersebut menunjukkan istimewanya berbakti kepada orang tua. Mengapa demikian? Karena berbakti kepada orang tua beberapa kali disandingkan dengan perintah untuk bertauhid dan menjauhi syirik yang merupakan landasan utama agama Islam.Dalil wajibnya berbakti kepada orang tua yang zalimBerbakti kepada orang tua merupakan suatu amalan yang mulia, dan kedudukannya tidaklah berubah walaupun orang tua tersebut zalim. Ada beberapa dalil yang menunjukkan wajibnya berbakti kepada orang tua yang zalim, di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا“Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15)Pada ayat di atas, bisa kita lihat bahwa Allah tetap memerintahkan kita untuk memperlakukan orang tua kita dengan baik walaupun mereka memaksa kita untuk berbuat syirik. Bayangkan, hal apa yang lebih kejam dibandingkan memaksa seorang anak agar kekal di neraka (dengan berbuat syirik)? Akan tetapi, Allah tetap memerintahkan kita untuk tetap berbuat baik kepada mereka.Hikmah diwajibkannya berbakti kepada orang tua yang zalimMungkin terlihat tidak adil bagi orang-orang yang merasa hidupnya dizalimi dan disakiti oleh orang tuanya. Mereka menghabiskan masa kecilnya dengan rasa sakit lahir maupun batin yang diberikan oleh orang tuanya. Setelah mereka dewasa, mereka malah harus berbakti kepada orang yang menjadi sumber rasa sakitnya.Akan tetapi jika direnungkan kembali, ada hikmah yang besar di balik berbakti kepada orang tua, walaupun mereka orang tua yang zalim.Pertama, kunci masuk surgaBerbakti kepada orang tua merupakan salah satu kunci yang bisa mengantarkan kita untuk masuk surga. Suatu hal yang merugi ketika kita memiliki orang tua, tapi tidak bisa memanfaatkannya untuk bisa masuk surga. Hal tersebut sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ، قِيلَ: مَنْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ، أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ“Celakalah dia (hidungnya tersungkur ke debu), celakalah dia, celakalah dia!” Ada yang bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Barang siapa yang mendapati kedua orang tuanya di masa tua, salah satunya atau keduanya, namun hal itu tidak membuatnya masuk surga.” (HR. Muslim)Berbakti kepada orang tua juga merupakan salah satu tiket masuk surga yang paling utama, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadis,الوالد أوسط أبواب الجنة، فإن شئت فأضع هذا الباب، أو احفظه“Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah. Jika engkau mau, engkau boleh menyia-nyiakan pintu tersebut, atau engkau boleh menjaganya.” (HR. Tirmidzi)Syekh Al-Mubarakfuri menjelaskan tentang maksud dari pintu yang paling tengah,أَيْ خَيْرُ الْأَبْوَابِ وَأَعْلَاهَا وَالْمَعْنَى أَنَّ أَحْسَنَ مَا يُتَوَسَّلُ بِهِ إِلَى دُخُولِ الْجَنَّةِ، وَيُتَوَسَّلُ بِهِ إِلَى وُصُولِ دَرَجَتِهَا الْعَالِيَةِ، مُطَاوَعَةُ الْوَالِدِ وَمُرَاعَاةُ جَانِبِهِ“Maksudnya adalah pintu paling baik dan paling tinggi derajatnya. Maknanya bahwa sarana paling baik yang mengantarkan seseorang untuk masuk surga, dan merupakan sarana yang paling tinggi derajatnya, yaitu menaati orang tua dan menjaga hak dan kehormatannya.”Jangan sampai kebencian kita kepada orang tua kita malah menghilangkan kesempatan kita untuk meraih pintu surga yang paling utama. Bayangkan jika orang yang memiliki orang tua saleh yang menyayanginya dari lahir hingga akhirnya dipisahkan dengan kematian, ketika mereka berbakti kepada orang tua, surga adalah balasannya. Apalagi seorang anak yang memiliki orang tua yang zalim, ujiannya lebih besar, tentu balasannya lebih besar juga.Kedua, memulai siklus kebaikanKeburukan tidak selamanya harus dibalas dengan keburukan, terkadang membalas keburukan dengan kebaikan adalah solusi. Mari renungkan firman Allah berikut,وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُۗ اِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْم“Tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) dengan perilaku yang lebih baik sehingga orang yang ada permusuhan denganmu serta-merta menjadi seperti teman yang sangat setia.” (QS. Fushshilat: 34)Bermusuhan dengan orang tua bukanlah hal yang baik untuk dilakukan. Hal tersebut bisa melebar ke keburukan lainnya. Bisa berupa terputusnya silaturahmi, ketidakharmonisan antar keluarga, ataupun konflik-konflik lainnya. Terkadang mengalah dan berbuat baik kepada orang tua yang zalim tersebut merupakan pilihan yang terbaik.Jangan sampai konflik dan perpecahan yang ada terus-menerus terjadi. Mulailah memulai siklus kebaikan di keluarga dengan berbakti kepada orang tua walaupun mereka telah berlaku zalim. Kelembutan dan bakti Anda bisa saja menyadarkan orang tua dan mulai mau berubah. Biarlah yang lalu telah berlalu.Selain itu, ada satu sosok yang butuh teladan untuk mendapatkan tiket surga di masa mendatang. Mereka adalah anak-anak, mereka butuh teladan dalam berbakti kepada orang tua. Bagaimana mungkin mereka bisa tertanam kesadaran yang tinggi untuk berbakti kepada orang tua nantinya jika Anda tidak mencontohkannya?PenutupBerbakti kepada orang tua merupakan perkara mulia yang mungkin mudah untuk diucapkan, tapi sulit untuk dipraktekkan. Terlebih lagi jika seorang anak tidak diperlakukan baik oleh orang tuanya, apalagi jika orang tuanya malah jadi sumber rasa sakit lahir dan batin mereka. Akan tetapi, semua itu tidaklah menggugurkan kewajiban seorang anak untuk berbakti kepada orang tuanya.Memang hal tersebut merupakan perkara yang sulit, semoga kita semua dimudahkan untuk berbakti kepada orang tua dan mendapatkan balasan yang setimpal di surga nanti.Baca juga: Bagaimana Berbakti Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal?***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Sumber: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/428662


Daftar Isi ToggleKedudukan berbakti kepada orang tuaDalil wajibnya berbakti kepada orang tua yang zalimHikmah diwajibkannya berbakti kepada orang tua yang zalimPertama, kunci masuk surgaKedua, memulai siklus kebaikanPenutupKetika kita mendengar atau membaca pertanyaan seseorang, “Apa alasan kita perlu berbakti kepada orangtua?” Tentunya hal yang aneh bagi kita mendengar pertanyaan tersebut. Orang tua jelas sekali memiliki jasa yang besar dalam kehidupan kita sehingga kita perlu berbakti kepada mereka. Akan tetapi di luar sana, ada orang-orang yang orang tuanya malah menjadi sumber luka mereka, luka batin maupun luka fisik.Bagi mereka, berbakti kepada orang tua merupakan suatu hal yang tidak adil, masa kecil mereka yang harusnya penuh ceria dan kasih sayang, mereka habiskan untuk menelan trauma. Dari siapa trauma tersebut? Ternyata dari orang tua mereka sendiri. Lalu ketika mereka beranjak dewasa, mereka merasa bahwa berbakti kepada orang tua adalah suatu ketidakadilan.Lalu bagaimana hal tersebut dalam pandangan Islam? Apakah berbakti kepada orang tua yang zalim masih diwajibkan sebagaimana berbakti kepada orang tua pada umumnya? Ternyata dalam Islam, kewajiban berbakti kepada orang tua tidaklah hilang meskipun mereka zalim terhadap anak-anaknya.Sekilas memang terlihat tidak adil bagi saudara kita yang dizalimi oleh orang tua mereka. Masa kecil mereka direnggut dan yang tersisa hanyalah trauma dan rasa sakit. Akan tetapi, di balik itu ada hikmah mengapa kita tetap wajib berbakti kepada orang tua yang zalim.Kedudukan berbakti kepada orang tuaBerbakti kepada orang tua merupakan sebuah amalan mulia dalam Islam. Hal tersebut ditunjukkan dari beberapa ayat Al-Quran yang menyandingkan berbakti kepada orang tua dengan tujuan ibadah paling utama, yaitu bertauhid. Allah Ta’ala berfirman,وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.” (QS. Al-Isra’: 23)Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (QS. An-Nisa: 36)Dari kedua ayat di atas, kita bisa melihat bahwa Allah menyebutkan berbakti kepada orang tua setelah bertauhid. Para ulama banyak yang menjelaskan bahwa hal tersebut menunjukkan istimewanya berbakti kepada orang tua. Mengapa demikian? Karena berbakti kepada orang tua beberapa kali disandingkan dengan perintah untuk bertauhid dan menjauhi syirik yang merupakan landasan utama agama Islam.Dalil wajibnya berbakti kepada orang tua yang zalimBerbakti kepada orang tua merupakan suatu amalan yang mulia, dan kedudukannya tidaklah berubah walaupun orang tua tersebut zalim. Ada beberapa dalil yang menunjukkan wajibnya berbakti kepada orang tua yang zalim, di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا“Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15)Pada ayat di atas, bisa kita lihat bahwa Allah tetap memerintahkan kita untuk memperlakukan orang tua kita dengan baik walaupun mereka memaksa kita untuk berbuat syirik. Bayangkan, hal apa yang lebih kejam dibandingkan memaksa seorang anak agar kekal di neraka (dengan berbuat syirik)? Akan tetapi, Allah tetap memerintahkan kita untuk tetap berbuat baik kepada mereka.Hikmah diwajibkannya berbakti kepada orang tua yang zalimMungkin terlihat tidak adil bagi orang-orang yang merasa hidupnya dizalimi dan disakiti oleh orang tuanya. Mereka menghabiskan masa kecilnya dengan rasa sakit lahir maupun batin yang diberikan oleh orang tuanya. Setelah mereka dewasa, mereka malah harus berbakti kepada orang yang menjadi sumber rasa sakitnya.Akan tetapi jika direnungkan kembali, ada hikmah yang besar di balik berbakti kepada orang tua, walaupun mereka orang tua yang zalim.Pertama, kunci masuk surgaBerbakti kepada orang tua merupakan salah satu kunci yang bisa mengantarkan kita untuk masuk surga. Suatu hal yang merugi ketika kita memiliki orang tua, tapi tidak bisa memanfaatkannya untuk bisa masuk surga. Hal tersebut sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ، قِيلَ: مَنْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ، أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ“Celakalah dia (hidungnya tersungkur ke debu), celakalah dia, celakalah dia!” Ada yang bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Barang siapa yang mendapati kedua orang tuanya di masa tua, salah satunya atau keduanya, namun hal itu tidak membuatnya masuk surga.” (HR. Muslim)Berbakti kepada orang tua juga merupakan salah satu tiket masuk surga yang paling utama, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadis,الوالد أوسط أبواب الجنة، فإن شئت فأضع هذا الباب، أو احفظه“Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah. Jika engkau mau, engkau boleh menyia-nyiakan pintu tersebut, atau engkau boleh menjaganya.” (HR. Tirmidzi)Syekh Al-Mubarakfuri menjelaskan tentang maksud dari pintu yang paling tengah,أَيْ خَيْرُ الْأَبْوَابِ وَأَعْلَاهَا وَالْمَعْنَى أَنَّ أَحْسَنَ مَا يُتَوَسَّلُ بِهِ إِلَى دُخُولِ الْجَنَّةِ، وَيُتَوَسَّلُ بِهِ إِلَى وُصُولِ دَرَجَتِهَا الْعَالِيَةِ، مُطَاوَعَةُ الْوَالِدِ وَمُرَاعَاةُ جَانِبِهِ“Maksudnya adalah pintu paling baik dan paling tinggi derajatnya. Maknanya bahwa sarana paling baik yang mengantarkan seseorang untuk masuk surga, dan merupakan sarana yang paling tinggi derajatnya, yaitu menaati orang tua dan menjaga hak dan kehormatannya.”Jangan sampai kebencian kita kepada orang tua kita malah menghilangkan kesempatan kita untuk meraih pintu surga yang paling utama. Bayangkan jika orang yang memiliki orang tua saleh yang menyayanginya dari lahir hingga akhirnya dipisahkan dengan kematian, ketika mereka berbakti kepada orang tua, surga adalah balasannya. Apalagi seorang anak yang memiliki orang tua yang zalim, ujiannya lebih besar, tentu balasannya lebih besar juga.Kedua, memulai siklus kebaikanKeburukan tidak selamanya harus dibalas dengan keburukan, terkadang membalas keburukan dengan kebaikan adalah solusi. Mari renungkan firman Allah berikut,وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُۗ اِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْم“Tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) dengan perilaku yang lebih baik sehingga orang yang ada permusuhan denganmu serta-merta menjadi seperti teman yang sangat setia.” (QS. Fushshilat: 34)Bermusuhan dengan orang tua bukanlah hal yang baik untuk dilakukan. Hal tersebut bisa melebar ke keburukan lainnya. Bisa berupa terputusnya silaturahmi, ketidakharmonisan antar keluarga, ataupun konflik-konflik lainnya. Terkadang mengalah dan berbuat baik kepada orang tua yang zalim tersebut merupakan pilihan yang terbaik.Jangan sampai konflik dan perpecahan yang ada terus-menerus terjadi. Mulailah memulai siklus kebaikan di keluarga dengan berbakti kepada orang tua walaupun mereka telah berlaku zalim. Kelembutan dan bakti Anda bisa saja menyadarkan orang tua dan mulai mau berubah. Biarlah yang lalu telah berlalu.Selain itu, ada satu sosok yang butuh teladan untuk mendapatkan tiket surga di masa mendatang. Mereka adalah anak-anak, mereka butuh teladan dalam berbakti kepada orang tua. Bagaimana mungkin mereka bisa tertanam kesadaran yang tinggi untuk berbakti kepada orang tua nantinya jika Anda tidak mencontohkannya?PenutupBerbakti kepada orang tua merupakan perkara mulia yang mungkin mudah untuk diucapkan, tapi sulit untuk dipraktekkan. Terlebih lagi jika seorang anak tidak diperlakukan baik oleh orang tuanya, apalagi jika orang tuanya malah jadi sumber rasa sakit lahir dan batin mereka. Akan tetapi, semua itu tidaklah menggugurkan kewajiban seorang anak untuk berbakti kepada orang tuanya.Memang hal tersebut merupakan perkara yang sulit, semoga kita semua dimudahkan untuk berbakti kepada orang tua dan mendapatkan balasan yang setimpal di surga nanti.Baca juga: Bagaimana Berbakti Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal?***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Sumber: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/428662

Biografi Al-Hasan Al-Bashri (Bag. 1)

Daftar Isi ToggleNama dan nasabKelahiran Al-Hasan Al-BashriSifat dan penampilan fisik Al-HasanKeberkahan rumah kenabian bagi Al-Hasan Al-BashriDisusui oleh Ummu Salamah dan doa para sahabatMasuk ke rumah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamGuru-guruMurid-muridKedudukan ilmiah Al-Hasan Al-BashriKemuliaan akhlak Al-Hasan Al-BashriNama dan nasabBeliau adalah Al-Hasan bin Abi Al-Hasan Al-Bashri. Nama ayahnya adalah Yasar, seorang maula (bekas budak yang telah dimerdekakan) milik Zaid bin Tsabit Al-Anshari. Beliau termasuk salah satu imam besar dan tokoh terkemuka dalam Islam, serta dikenal sebagai salah satu penghafal Al-Qur’an. Kun-yah (nama panggilan kehormatan) beliau adalah Abu Sa‘id.Kelahiran Al-Hasan Al-BashriAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله lahir di Madinah pada tahun 21 H, dua tahun sebelum berakhirnya masa kekhalifahan Umar bin Al-Khattab رضي الله عنه.Beliau pernah menghadiri salat Jumat bersama Khalifah Utsman bin Affan رضي الله عنه dan mendengar khotbahnya. Ia juga menyaksikan peristiwa “Yaum Ad-Dar” (peristiwa pengepungan rumah Utsman). Saat itu usianya sekitar empat belas tahun.Sifat dan penampilan fisik Al-HasanImam Muhammad bin Sa‘d رحمه الله berkata tentangnya,كان الحسن جامعًا، عالِمًا، عاليًا، رفيعًا، فقيهًا، ثقةً، مأمونًا، عابدًا، ناسكًا، كبير العلم، فصيحًا، جميلًا وسيمًا“Al-Hasan adalah seorang yang memiliki banyak keutamaan; berilmu, berkedudukan tinggi, mulia, faqih, terpercaya, amanah, ahli ibadah, zuhud, luas ilmunya, fasih berbicara, serta berwajah tampan dan rupawan.”Seorang wanita bernama Amat Al-Hakam berkata,ان الحسن يجيء إلى حِطَّانَ الرَّقَاشيِّ، فما رأيت شابًّا قط كان أحسن وجهًا منه“Al-Hasan biasa datang menemui Hittan Ar-Raqasyi. Aku belum pernah melihat seorang pemuda yang lebih tampan wajahnya daripada dia.”Hammad bin Salamah berkata,رأيت الحسن يُصفِّر لحيته“Aku melihat Al-Hasan mewarnai janggutnya dengan warna kekuningan.”Amir Asy-Sya‘bi berkata kepada seseorang yang hendak pergi ke Bashrah,إذا نظرتَ إلى رجلٍ أجمل أهل البصرة وأهيبهم، فهو الحسن، فأقرِئه مني السلام“Jika engkau melihat seorang lelaki yang paling tampan dan paling berwibawa di Bashrah, maka dialah Al-Hasan. Sampaikan salamku kepadanya.”Keberkahan rumah kenabian bagi Al-Hasan Al-BashriDisusui oleh Ummu Salamah dan doa para sahabatIbu Al-Hasan Al-Bashri bernama Khairah. Ia adalah pelayan Ummul Mukminin Ummu Salamah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Suatu ketika, ibunya sedang keluar untuk suatu keperluan dan Al-Hasan masih bayi, lalu Ummu Salamah menggendongnya dan menyusuinya. Air susunya pun mengalir, lalu Al-Hasan menyusu darinya. Oleh karena itu, para ulama berpendapat bahwa hikmah dan ilmu yang dianugerahkan kepada Al-Hasan itu berasal dari keberkahan susuan tersebut.Ibunya juga sering membawa Al-Hasan yang masih kecil menemui para sahabat agar mereka mendoakannya. Di antara yang mendoakan beliau adalah Umar bin Al-Khattab رضي الله عنه, yang berdoa,اللهم فقِّهه في الدين، وحبِّبه إلى الناس“Ya Allah, pahamkanlah dia dalam agama dan jadikanlah dia dicintai oleh manusia.”Masuk ke rumah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamIbnu Sa‘d meriwayatkan bahwa Al-Hasan berkata,كنتُ أدخُلُ بيوت أزواج النبي صلى الله عليه وسلم في خلافةِ عثمان بن عفان، فأتناول سقف البيت بيدي“Aku pernah masuk ke rumah-rumah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, dan aku dapat menyentuh atap rumah itu dengan tanganku.”Hal ini menunjukkan bahwa sejak kecil, beliau tumbuh dekat dengan lingkungan para sahabat dan rumah tangga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tentu memberi pengaruh besar terhadap pembentukan keilmuan dan kepribadiannya.Guru-guruAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله belajar dan meriwayatkan hadis dari banyak sahabat Nabi ﷺ. Di antara mereka adalah Imran bin Husain, Al-Mughirah bin Syu‘bah, Abdurrahman bin Samurah, Samurah bin Jundub, Abu Bakrah Ats-Tsaqafi, An-Nu‘man bin Basyir, Jabir bin Abdullah, Jundub Al-Bajali, Abdullah bin Abbas, Amr bin Taghlib, Ma‘qil bin Yasar, Al-Aswad bin Sari‘, dan Anas bin Malik, serta sahabat lainnya. Beliau juga membaca dan mempelajari Al-Qur’an kepada Hitthan bin Abdullah Ar-Raqasyi. Selain meriwayatkan dari para sahabat, beliau pun mengambil ilmu dari banyak tabi‘in, sehingga sanad keilmuannya sangat luas dan kuat.Murid-muridBanyak ulama besar yang menjadi murid Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله dan meriwayatkan ilmu darinya. Di antara mereka adalah Ayyub As-Sakhtiyani, Syaiban An-Nahwi, Yunus bin Ubaid, Ibnu ‘Aun, Humaid Ath-Thawil, Tsabit Al-Bunani, Malik bin Dinar, Hisyam bin Hassan, Jarir bin Hazim, Ar-Rabi‘ bin Shabih, Yazid bin Ibrahim At-Tustari, Mubarak bin Fudhalah, Aban bin Yazid Al-‘Aththar, Qurrah bin Khalid, Hazm Al-Qath‘i, Sallam bin Miskin, Syumait bin Ajlan, dan Shalih Abu ‘Amir Al-Khazzaz, serta banyak lagi lainnya. Hal ini menunjukkan betapa luasnya pengaruh dan kedudukan beliau dalam dunia ilmu, hingga menjadi rujukan bagi banyak tokoh besar generasi setelahnya.Kedudukan ilmiah Al-Hasan Al-BashriAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله memiliki kedudukan ilmiah yang sangat tinggi di kalangan para sahabat dan tabi‘in. Banyak ulama besar yang mengakui keutamaannya dalam ilmu dan pemahaman agama.Ibnu Sa‘d رحمه الله berkata,كان الحسن البصري جامعًا، عالِمًا، عاليًا، رفيعًا، فقيهًا، ثقةً، مأمونًا، عابدًا، ناسكًا، كبيرَ العلم، فصيحًا، جميلًا وسيمًا، وكان ما أسند مِن حديثه وروى عمَّن سمع منه فحسنٌ حجَّةٌ، وما أرسل مِن الحديث، فليس بحجة، وقدِم مكةَ فأجلَسوه على سريرٍ، واجتمع الناس إليه فحدَّثهم، وكان فيمَن أتاه: مجاهدٌ، وعطاء، وطاوس، وعمرو بن شُعَيب، فقال بعضهم: لم نرَ مثلَ هذا قط“Al-Hasan Al-Bashri adalah seorang yang memiliki banyak keutamaan; berilmu, berkedudukan tinggi, mulia, faqih (ahli fikih), terpercaya, amanah, ahli ibadah, zuhud, luas ilmunya, fasih berbicara, serta berwajah tampan dan rupawan. Hadis-hadis yang ia riwayatkan dengan sanad yang bersambung dari orang yang ia dengar darinya adalah hadis yang baik dan dapat dijadikan hujah. Adapun hadis yang ia riwayatkan secara mursal (tanpa menyebut sahabat), maka tidak dijadikan hujah.Beliau pernah datang ke Makkah, lalu orang-orang mempersilahkannya duduk di atas sebuah tempat tinggi (seperti kursi kehormatan). Manusia pun berkumpul mengelilinginya untuk mendengarkan hadis darinya. Di antara yang hadir saat itu adalah Mujahid, ‘Atha’, Thawus, dan ‘Amr bin Syu‘aib. Sebagian dari mereka berkata, ‘Kami belum pernah melihat yang seperti ini sebelumnya.’”Ibnu Sa‘d meriwayatkan dari Khalid bin Riyah bahwa suatu ketika, Anas bin Malik رضي الله عنه ditanya tentang suatu masalah. Maka beliau berkata,عليكم مولانا الحسن، فسَلُوه“Datangilah Al-Hasan dan tanyakan kepadanya.”Orang-orang pun berkata, “Wahai Abu Hamzah, kami bertanya kepadamu, tetapi engkau menyuruh kami bertanya kepada Al-Hasan?”Anas menjawab,إنا سمِعنا وسمِع، فحفِظ ونسينا“Kami dahulu mendengar (ilmu) dan dia juga mendengar. Namun dia menghafal, sedangkan kami lupa.”Ibnu Sa‘d meriwayatkan dari Humaid bin Hilal, ia berkata, “Abu Qatadah رضي الله عنه pernah berkata kepada kami,عليكم بهذا الشيخ – يعني الحسنَ بن أبي الحسن – فإني واللهِ ما رأيتُ رجلًا قط أشبهَ رأيًا بعمر بن الخطاب منه“Ikutilah syekh ini, maksudnya Al-Hasan bin Abi Al-Hasan. Demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang pun yang pendapat dan cara berpikirnya lebih mirip dengan Umar bin Al-Khattab daripada dia.”Yunus bin ‘Ubaid berkata,كان الحسنُ – واللهِ – مِن رؤوس العلماء في الفتنِ والدماء“Demi Allah, Al-Hasan termasuk pemimpin para ulama dalam menghadapi persoalan fitnah dan urusan darah (perkara besar seperti konflik dan pertumpahan darah).”Qatadah bin Di‘amah berkata,كان الحسنُ مِن أعلم الناس بالحلال والحرام“Al-Hasan termasuk orang yang paling berilmu tentang halal dan haram.”Qatadah juga berkata,ما جمعتُ علمَ الحسن إلى أحد من العلماء، إلا وجدتُ له فضلًا عليه، غيرَ أنه إذا أشكل عليه شيء كتب فيه إلى سعيد بن المسيب يسأله، وما جالستُ فقيهًا قط إلا رأيت فضل الحسن“Setiap kali aku membandingkan ilmu Al-Hasan dengan ilmu seorang ulama lainnya, pasti aku melihat kelebihannya atas ulama tersebut. Hanya saja, jika ada suatu masalah yang sulit baginya, ia menuliskannya kepada Sa‘id bin Al-Musayyib untuk bertanya. Dan aku tidak pernah duduk bersama seorang ahli fikih pun kecuali aku melihat keunggulan Al-Hasan atasnya.”Imam Adz-Dzahabi رحمه الله berkata, “Apabila Al-Hasan Al-Bashri meriwayatkan hadis ini (tentang batang pohon kurma yang merintih karena rindu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), beliau menangis. Kemudian beliau berkata,يا عباد الله، الخشبةُ تحنُّ إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، شوقًا إليه، فأنتم أحقُّ أن تشتاقوا إلى لقائه“Wahai hamba-hamba Allah, sebatang kayu saja merindukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menangis karena ingin bertemu dengannya. Maka kalian lebih berhak untuk merindukan pertemuan dengan beliau.”Kemuliaan akhlak Al-Hasan Al-BashriAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله dikenal bukan hanya karena keluasan ilmunya, tetapi juga karena kemuliaan akhlaknya. Ilmu yang beliau miliki benar-benar tampak dalam sikap, tutur kata, dan kehidupannya sehari-hari.Jarir bin Hazim berkata, “Kami sedang duduk bersama Al-Hasan, sementara hari sudah lewat tengah hari dan semakin siang. Lalu putranya berkata, ‘Ringankanlah beban syekh, karena kalian telah memberatkannya. Ia belum makan dan belum minum.’Al-Hasan pun berkata, ‘Sudahlah!’ sambil menegurnya, ‘Biarkan mereka. Demi Allah, tidak ada sesuatu yang lebih menyejukkan mataku daripada melihat mereka atau bersama mereka. Sesungguhnya jika seorang muslim mengunjungi saudaranya, lalu keduanya berbincang, saling mengingatkan, dan memuji Rabb mereka, hingga waktu istirahat siang pun terlewatkan, maka itu (adalah kebaikan).’”‘Ubais Abu ‘Ubaidah berkata,كان الحسن البصري إذا اشترى شيئًا، وكان في ثمنه كسرٌ، جَبَره لصاحبه“Apabila Al-Hasan Al-Bashri membeli sesuatu, dan pada harganya ada pecahan (kekurangan kecil), maka ia membulatkannya untuk penjual.”Kultsum bin Jausyan berkata, “Ada seseorang meminta bantuan kepada Al-Hasan untuk suatu keperluan. Maka Al-Hasan pun langsung keluar bersamanya. Orang itu berkata, ‘Aku tadi juga meminta bantuan kepada Ibnu Sirin dan Farqad, tetapi mereka berkata, “Tunggu sampai kami menghadiri jenazah, nanti setelah itu kami akan keluar bersamamu.”’Maka Al-Hasan berkata,أمَا إنهما لو مشَيَا معك لكان خيرًا‘Ketahuilah, seandainya mereka langsung berjalan bersamamu (untuk membantumu), itu tentu lebih baik.’”[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Biografi Al-Hasan Al-Bashri (Bag. 1)

Daftar Isi ToggleNama dan nasabKelahiran Al-Hasan Al-BashriSifat dan penampilan fisik Al-HasanKeberkahan rumah kenabian bagi Al-Hasan Al-BashriDisusui oleh Ummu Salamah dan doa para sahabatMasuk ke rumah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamGuru-guruMurid-muridKedudukan ilmiah Al-Hasan Al-BashriKemuliaan akhlak Al-Hasan Al-BashriNama dan nasabBeliau adalah Al-Hasan bin Abi Al-Hasan Al-Bashri. Nama ayahnya adalah Yasar, seorang maula (bekas budak yang telah dimerdekakan) milik Zaid bin Tsabit Al-Anshari. Beliau termasuk salah satu imam besar dan tokoh terkemuka dalam Islam, serta dikenal sebagai salah satu penghafal Al-Qur’an. Kun-yah (nama panggilan kehormatan) beliau adalah Abu Sa‘id.Kelahiran Al-Hasan Al-BashriAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله lahir di Madinah pada tahun 21 H, dua tahun sebelum berakhirnya masa kekhalifahan Umar bin Al-Khattab رضي الله عنه.Beliau pernah menghadiri salat Jumat bersama Khalifah Utsman bin Affan رضي الله عنه dan mendengar khotbahnya. Ia juga menyaksikan peristiwa “Yaum Ad-Dar” (peristiwa pengepungan rumah Utsman). Saat itu usianya sekitar empat belas tahun.Sifat dan penampilan fisik Al-HasanImam Muhammad bin Sa‘d رحمه الله berkata tentangnya,كان الحسن جامعًا، عالِمًا، عاليًا، رفيعًا، فقيهًا، ثقةً، مأمونًا، عابدًا، ناسكًا، كبير العلم، فصيحًا، جميلًا وسيمًا“Al-Hasan adalah seorang yang memiliki banyak keutamaan; berilmu, berkedudukan tinggi, mulia, faqih, terpercaya, amanah, ahli ibadah, zuhud, luas ilmunya, fasih berbicara, serta berwajah tampan dan rupawan.”Seorang wanita bernama Amat Al-Hakam berkata,ان الحسن يجيء إلى حِطَّانَ الرَّقَاشيِّ، فما رأيت شابًّا قط كان أحسن وجهًا منه“Al-Hasan biasa datang menemui Hittan Ar-Raqasyi. Aku belum pernah melihat seorang pemuda yang lebih tampan wajahnya daripada dia.”Hammad bin Salamah berkata,رأيت الحسن يُصفِّر لحيته“Aku melihat Al-Hasan mewarnai janggutnya dengan warna kekuningan.”Amir Asy-Sya‘bi berkata kepada seseorang yang hendak pergi ke Bashrah,إذا نظرتَ إلى رجلٍ أجمل أهل البصرة وأهيبهم، فهو الحسن، فأقرِئه مني السلام“Jika engkau melihat seorang lelaki yang paling tampan dan paling berwibawa di Bashrah, maka dialah Al-Hasan. Sampaikan salamku kepadanya.”Keberkahan rumah kenabian bagi Al-Hasan Al-BashriDisusui oleh Ummu Salamah dan doa para sahabatIbu Al-Hasan Al-Bashri bernama Khairah. Ia adalah pelayan Ummul Mukminin Ummu Salamah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Suatu ketika, ibunya sedang keluar untuk suatu keperluan dan Al-Hasan masih bayi, lalu Ummu Salamah menggendongnya dan menyusuinya. Air susunya pun mengalir, lalu Al-Hasan menyusu darinya. Oleh karena itu, para ulama berpendapat bahwa hikmah dan ilmu yang dianugerahkan kepada Al-Hasan itu berasal dari keberkahan susuan tersebut.Ibunya juga sering membawa Al-Hasan yang masih kecil menemui para sahabat agar mereka mendoakannya. Di antara yang mendoakan beliau adalah Umar bin Al-Khattab رضي الله عنه, yang berdoa,اللهم فقِّهه في الدين، وحبِّبه إلى الناس“Ya Allah, pahamkanlah dia dalam agama dan jadikanlah dia dicintai oleh manusia.”Masuk ke rumah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamIbnu Sa‘d meriwayatkan bahwa Al-Hasan berkata,كنتُ أدخُلُ بيوت أزواج النبي صلى الله عليه وسلم في خلافةِ عثمان بن عفان، فأتناول سقف البيت بيدي“Aku pernah masuk ke rumah-rumah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, dan aku dapat menyentuh atap rumah itu dengan tanganku.”Hal ini menunjukkan bahwa sejak kecil, beliau tumbuh dekat dengan lingkungan para sahabat dan rumah tangga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tentu memberi pengaruh besar terhadap pembentukan keilmuan dan kepribadiannya.Guru-guruAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله belajar dan meriwayatkan hadis dari banyak sahabat Nabi ﷺ. Di antara mereka adalah Imran bin Husain, Al-Mughirah bin Syu‘bah, Abdurrahman bin Samurah, Samurah bin Jundub, Abu Bakrah Ats-Tsaqafi, An-Nu‘man bin Basyir, Jabir bin Abdullah, Jundub Al-Bajali, Abdullah bin Abbas, Amr bin Taghlib, Ma‘qil bin Yasar, Al-Aswad bin Sari‘, dan Anas bin Malik, serta sahabat lainnya. Beliau juga membaca dan mempelajari Al-Qur’an kepada Hitthan bin Abdullah Ar-Raqasyi. Selain meriwayatkan dari para sahabat, beliau pun mengambil ilmu dari banyak tabi‘in, sehingga sanad keilmuannya sangat luas dan kuat.Murid-muridBanyak ulama besar yang menjadi murid Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله dan meriwayatkan ilmu darinya. Di antara mereka adalah Ayyub As-Sakhtiyani, Syaiban An-Nahwi, Yunus bin Ubaid, Ibnu ‘Aun, Humaid Ath-Thawil, Tsabit Al-Bunani, Malik bin Dinar, Hisyam bin Hassan, Jarir bin Hazim, Ar-Rabi‘ bin Shabih, Yazid bin Ibrahim At-Tustari, Mubarak bin Fudhalah, Aban bin Yazid Al-‘Aththar, Qurrah bin Khalid, Hazm Al-Qath‘i, Sallam bin Miskin, Syumait bin Ajlan, dan Shalih Abu ‘Amir Al-Khazzaz, serta banyak lagi lainnya. Hal ini menunjukkan betapa luasnya pengaruh dan kedudukan beliau dalam dunia ilmu, hingga menjadi rujukan bagi banyak tokoh besar generasi setelahnya.Kedudukan ilmiah Al-Hasan Al-BashriAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله memiliki kedudukan ilmiah yang sangat tinggi di kalangan para sahabat dan tabi‘in. Banyak ulama besar yang mengakui keutamaannya dalam ilmu dan pemahaman agama.Ibnu Sa‘d رحمه الله berkata,كان الحسن البصري جامعًا، عالِمًا، عاليًا، رفيعًا، فقيهًا، ثقةً، مأمونًا، عابدًا، ناسكًا، كبيرَ العلم، فصيحًا، جميلًا وسيمًا، وكان ما أسند مِن حديثه وروى عمَّن سمع منه فحسنٌ حجَّةٌ، وما أرسل مِن الحديث، فليس بحجة، وقدِم مكةَ فأجلَسوه على سريرٍ، واجتمع الناس إليه فحدَّثهم، وكان فيمَن أتاه: مجاهدٌ، وعطاء، وطاوس، وعمرو بن شُعَيب، فقال بعضهم: لم نرَ مثلَ هذا قط“Al-Hasan Al-Bashri adalah seorang yang memiliki banyak keutamaan; berilmu, berkedudukan tinggi, mulia, faqih (ahli fikih), terpercaya, amanah, ahli ibadah, zuhud, luas ilmunya, fasih berbicara, serta berwajah tampan dan rupawan. Hadis-hadis yang ia riwayatkan dengan sanad yang bersambung dari orang yang ia dengar darinya adalah hadis yang baik dan dapat dijadikan hujah. Adapun hadis yang ia riwayatkan secara mursal (tanpa menyebut sahabat), maka tidak dijadikan hujah.Beliau pernah datang ke Makkah, lalu orang-orang mempersilahkannya duduk di atas sebuah tempat tinggi (seperti kursi kehormatan). Manusia pun berkumpul mengelilinginya untuk mendengarkan hadis darinya. Di antara yang hadir saat itu adalah Mujahid, ‘Atha’, Thawus, dan ‘Amr bin Syu‘aib. Sebagian dari mereka berkata, ‘Kami belum pernah melihat yang seperti ini sebelumnya.’”Ibnu Sa‘d meriwayatkan dari Khalid bin Riyah bahwa suatu ketika, Anas bin Malik رضي الله عنه ditanya tentang suatu masalah. Maka beliau berkata,عليكم مولانا الحسن، فسَلُوه“Datangilah Al-Hasan dan tanyakan kepadanya.”Orang-orang pun berkata, “Wahai Abu Hamzah, kami bertanya kepadamu, tetapi engkau menyuruh kami bertanya kepada Al-Hasan?”Anas menjawab,إنا سمِعنا وسمِع، فحفِظ ونسينا“Kami dahulu mendengar (ilmu) dan dia juga mendengar. Namun dia menghafal, sedangkan kami lupa.”Ibnu Sa‘d meriwayatkan dari Humaid bin Hilal, ia berkata, “Abu Qatadah رضي الله عنه pernah berkata kepada kami,عليكم بهذا الشيخ – يعني الحسنَ بن أبي الحسن – فإني واللهِ ما رأيتُ رجلًا قط أشبهَ رأيًا بعمر بن الخطاب منه“Ikutilah syekh ini, maksudnya Al-Hasan bin Abi Al-Hasan. Demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang pun yang pendapat dan cara berpikirnya lebih mirip dengan Umar bin Al-Khattab daripada dia.”Yunus bin ‘Ubaid berkata,كان الحسنُ – واللهِ – مِن رؤوس العلماء في الفتنِ والدماء“Demi Allah, Al-Hasan termasuk pemimpin para ulama dalam menghadapi persoalan fitnah dan urusan darah (perkara besar seperti konflik dan pertumpahan darah).”Qatadah bin Di‘amah berkata,كان الحسنُ مِن أعلم الناس بالحلال والحرام“Al-Hasan termasuk orang yang paling berilmu tentang halal dan haram.”Qatadah juga berkata,ما جمعتُ علمَ الحسن إلى أحد من العلماء، إلا وجدتُ له فضلًا عليه، غيرَ أنه إذا أشكل عليه شيء كتب فيه إلى سعيد بن المسيب يسأله، وما جالستُ فقيهًا قط إلا رأيت فضل الحسن“Setiap kali aku membandingkan ilmu Al-Hasan dengan ilmu seorang ulama lainnya, pasti aku melihat kelebihannya atas ulama tersebut. Hanya saja, jika ada suatu masalah yang sulit baginya, ia menuliskannya kepada Sa‘id bin Al-Musayyib untuk bertanya. Dan aku tidak pernah duduk bersama seorang ahli fikih pun kecuali aku melihat keunggulan Al-Hasan atasnya.”Imam Adz-Dzahabi رحمه الله berkata, “Apabila Al-Hasan Al-Bashri meriwayatkan hadis ini (tentang batang pohon kurma yang merintih karena rindu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), beliau menangis. Kemudian beliau berkata,يا عباد الله، الخشبةُ تحنُّ إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، شوقًا إليه، فأنتم أحقُّ أن تشتاقوا إلى لقائه“Wahai hamba-hamba Allah, sebatang kayu saja merindukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menangis karena ingin bertemu dengannya. Maka kalian lebih berhak untuk merindukan pertemuan dengan beliau.”Kemuliaan akhlak Al-Hasan Al-BashriAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله dikenal bukan hanya karena keluasan ilmunya, tetapi juga karena kemuliaan akhlaknya. Ilmu yang beliau miliki benar-benar tampak dalam sikap, tutur kata, dan kehidupannya sehari-hari.Jarir bin Hazim berkata, “Kami sedang duduk bersama Al-Hasan, sementara hari sudah lewat tengah hari dan semakin siang. Lalu putranya berkata, ‘Ringankanlah beban syekh, karena kalian telah memberatkannya. Ia belum makan dan belum minum.’Al-Hasan pun berkata, ‘Sudahlah!’ sambil menegurnya, ‘Biarkan mereka. Demi Allah, tidak ada sesuatu yang lebih menyejukkan mataku daripada melihat mereka atau bersama mereka. Sesungguhnya jika seorang muslim mengunjungi saudaranya, lalu keduanya berbincang, saling mengingatkan, dan memuji Rabb mereka, hingga waktu istirahat siang pun terlewatkan, maka itu (adalah kebaikan).’”‘Ubais Abu ‘Ubaidah berkata,كان الحسن البصري إذا اشترى شيئًا، وكان في ثمنه كسرٌ، جَبَره لصاحبه“Apabila Al-Hasan Al-Bashri membeli sesuatu, dan pada harganya ada pecahan (kekurangan kecil), maka ia membulatkannya untuk penjual.”Kultsum bin Jausyan berkata, “Ada seseorang meminta bantuan kepada Al-Hasan untuk suatu keperluan. Maka Al-Hasan pun langsung keluar bersamanya. Orang itu berkata, ‘Aku tadi juga meminta bantuan kepada Ibnu Sirin dan Farqad, tetapi mereka berkata, “Tunggu sampai kami menghadiri jenazah, nanti setelah itu kami akan keluar bersamamu.”’Maka Al-Hasan berkata,أمَا إنهما لو مشَيَا معك لكان خيرًا‘Ketahuilah, seandainya mereka langsung berjalan bersamamu (untuk membantumu), itu tentu lebih baik.’”[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleNama dan nasabKelahiran Al-Hasan Al-BashriSifat dan penampilan fisik Al-HasanKeberkahan rumah kenabian bagi Al-Hasan Al-BashriDisusui oleh Ummu Salamah dan doa para sahabatMasuk ke rumah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamGuru-guruMurid-muridKedudukan ilmiah Al-Hasan Al-BashriKemuliaan akhlak Al-Hasan Al-BashriNama dan nasabBeliau adalah Al-Hasan bin Abi Al-Hasan Al-Bashri. Nama ayahnya adalah Yasar, seorang maula (bekas budak yang telah dimerdekakan) milik Zaid bin Tsabit Al-Anshari. Beliau termasuk salah satu imam besar dan tokoh terkemuka dalam Islam, serta dikenal sebagai salah satu penghafal Al-Qur’an. Kun-yah (nama panggilan kehormatan) beliau adalah Abu Sa‘id.Kelahiran Al-Hasan Al-BashriAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله lahir di Madinah pada tahun 21 H, dua tahun sebelum berakhirnya masa kekhalifahan Umar bin Al-Khattab رضي الله عنه.Beliau pernah menghadiri salat Jumat bersama Khalifah Utsman bin Affan رضي الله عنه dan mendengar khotbahnya. Ia juga menyaksikan peristiwa “Yaum Ad-Dar” (peristiwa pengepungan rumah Utsman). Saat itu usianya sekitar empat belas tahun.Sifat dan penampilan fisik Al-HasanImam Muhammad bin Sa‘d رحمه الله berkata tentangnya,كان الحسن جامعًا، عالِمًا، عاليًا، رفيعًا، فقيهًا، ثقةً، مأمونًا، عابدًا، ناسكًا، كبير العلم، فصيحًا، جميلًا وسيمًا“Al-Hasan adalah seorang yang memiliki banyak keutamaan; berilmu, berkedudukan tinggi, mulia, faqih, terpercaya, amanah, ahli ibadah, zuhud, luas ilmunya, fasih berbicara, serta berwajah tampan dan rupawan.”Seorang wanita bernama Amat Al-Hakam berkata,ان الحسن يجيء إلى حِطَّانَ الرَّقَاشيِّ، فما رأيت شابًّا قط كان أحسن وجهًا منه“Al-Hasan biasa datang menemui Hittan Ar-Raqasyi. Aku belum pernah melihat seorang pemuda yang lebih tampan wajahnya daripada dia.”Hammad bin Salamah berkata,رأيت الحسن يُصفِّر لحيته“Aku melihat Al-Hasan mewarnai janggutnya dengan warna kekuningan.”Amir Asy-Sya‘bi berkata kepada seseorang yang hendak pergi ke Bashrah,إذا نظرتَ إلى رجلٍ أجمل أهل البصرة وأهيبهم، فهو الحسن، فأقرِئه مني السلام“Jika engkau melihat seorang lelaki yang paling tampan dan paling berwibawa di Bashrah, maka dialah Al-Hasan. Sampaikan salamku kepadanya.”Keberkahan rumah kenabian bagi Al-Hasan Al-BashriDisusui oleh Ummu Salamah dan doa para sahabatIbu Al-Hasan Al-Bashri bernama Khairah. Ia adalah pelayan Ummul Mukminin Ummu Salamah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Suatu ketika, ibunya sedang keluar untuk suatu keperluan dan Al-Hasan masih bayi, lalu Ummu Salamah menggendongnya dan menyusuinya. Air susunya pun mengalir, lalu Al-Hasan menyusu darinya. Oleh karena itu, para ulama berpendapat bahwa hikmah dan ilmu yang dianugerahkan kepada Al-Hasan itu berasal dari keberkahan susuan tersebut.Ibunya juga sering membawa Al-Hasan yang masih kecil menemui para sahabat agar mereka mendoakannya. Di antara yang mendoakan beliau adalah Umar bin Al-Khattab رضي الله عنه, yang berdoa,اللهم فقِّهه في الدين، وحبِّبه إلى الناس“Ya Allah, pahamkanlah dia dalam agama dan jadikanlah dia dicintai oleh manusia.”Masuk ke rumah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamIbnu Sa‘d meriwayatkan bahwa Al-Hasan berkata,كنتُ أدخُلُ بيوت أزواج النبي صلى الله عليه وسلم في خلافةِ عثمان بن عفان، فأتناول سقف البيت بيدي“Aku pernah masuk ke rumah-rumah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, dan aku dapat menyentuh atap rumah itu dengan tanganku.”Hal ini menunjukkan bahwa sejak kecil, beliau tumbuh dekat dengan lingkungan para sahabat dan rumah tangga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tentu memberi pengaruh besar terhadap pembentukan keilmuan dan kepribadiannya.Guru-guruAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله belajar dan meriwayatkan hadis dari banyak sahabat Nabi ﷺ. Di antara mereka adalah Imran bin Husain, Al-Mughirah bin Syu‘bah, Abdurrahman bin Samurah, Samurah bin Jundub, Abu Bakrah Ats-Tsaqafi, An-Nu‘man bin Basyir, Jabir bin Abdullah, Jundub Al-Bajali, Abdullah bin Abbas, Amr bin Taghlib, Ma‘qil bin Yasar, Al-Aswad bin Sari‘, dan Anas bin Malik, serta sahabat lainnya. Beliau juga membaca dan mempelajari Al-Qur’an kepada Hitthan bin Abdullah Ar-Raqasyi. Selain meriwayatkan dari para sahabat, beliau pun mengambil ilmu dari banyak tabi‘in, sehingga sanad keilmuannya sangat luas dan kuat.Murid-muridBanyak ulama besar yang menjadi murid Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله dan meriwayatkan ilmu darinya. Di antara mereka adalah Ayyub As-Sakhtiyani, Syaiban An-Nahwi, Yunus bin Ubaid, Ibnu ‘Aun, Humaid Ath-Thawil, Tsabit Al-Bunani, Malik bin Dinar, Hisyam bin Hassan, Jarir bin Hazim, Ar-Rabi‘ bin Shabih, Yazid bin Ibrahim At-Tustari, Mubarak bin Fudhalah, Aban bin Yazid Al-‘Aththar, Qurrah bin Khalid, Hazm Al-Qath‘i, Sallam bin Miskin, Syumait bin Ajlan, dan Shalih Abu ‘Amir Al-Khazzaz, serta banyak lagi lainnya. Hal ini menunjukkan betapa luasnya pengaruh dan kedudukan beliau dalam dunia ilmu, hingga menjadi rujukan bagi banyak tokoh besar generasi setelahnya.Kedudukan ilmiah Al-Hasan Al-BashriAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله memiliki kedudukan ilmiah yang sangat tinggi di kalangan para sahabat dan tabi‘in. Banyak ulama besar yang mengakui keutamaannya dalam ilmu dan pemahaman agama.Ibnu Sa‘d رحمه الله berkata,كان الحسن البصري جامعًا، عالِمًا، عاليًا، رفيعًا، فقيهًا، ثقةً، مأمونًا، عابدًا، ناسكًا، كبيرَ العلم، فصيحًا، جميلًا وسيمًا، وكان ما أسند مِن حديثه وروى عمَّن سمع منه فحسنٌ حجَّةٌ، وما أرسل مِن الحديث، فليس بحجة، وقدِم مكةَ فأجلَسوه على سريرٍ، واجتمع الناس إليه فحدَّثهم، وكان فيمَن أتاه: مجاهدٌ، وعطاء، وطاوس، وعمرو بن شُعَيب، فقال بعضهم: لم نرَ مثلَ هذا قط“Al-Hasan Al-Bashri adalah seorang yang memiliki banyak keutamaan; berilmu, berkedudukan tinggi, mulia, faqih (ahli fikih), terpercaya, amanah, ahli ibadah, zuhud, luas ilmunya, fasih berbicara, serta berwajah tampan dan rupawan. Hadis-hadis yang ia riwayatkan dengan sanad yang bersambung dari orang yang ia dengar darinya adalah hadis yang baik dan dapat dijadikan hujah. Adapun hadis yang ia riwayatkan secara mursal (tanpa menyebut sahabat), maka tidak dijadikan hujah.Beliau pernah datang ke Makkah, lalu orang-orang mempersilahkannya duduk di atas sebuah tempat tinggi (seperti kursi kehormatan). Manusia pun berkumpul mengelilinginya untuk mendengarkan hadis darinya. Di antara yang hadir saat itu adalah Mujahid, ‘Atha’, Thawus, dan ‘Amr bin Syu‘aib. Sebagian dari mereka berkata, ‘Kami belum pernah melihat yang seperti ini sebelumnya.’”Ibnu Sa‘d meriwayatkan dari Khalid bin Riyah bahwa suatu ketika, Anas bin Malik رضي الله عنه ditanya tentang suatu masalah. Maka beliau berkata,عليكم مولانا الحسن، فسَلُوه“Datangilah Al-Hasan dan tanyakan kepadanya.”Orang-orang pun berkata, “Wahai Abu Hamzah, kami bertanya kepadamu, tetapi engkau menyuruh kami bertanya kepada Al-Hasan?”Anas menjawab,إنا سمِعنا وسمِع، فحفِظ ونسينا“Kami dahulu mendengar (ilmu) dan dia juga mendengar. Namun dia menghafal, sedangkan kami lupa.”Ibnu Sa‘d meriwayatkan dari Humaid bin Hilal, ia berkata, “Abu Qatadah رضي الله عنه pernah berkata kepada kami,عليكم بهذا الشيخ – يعني الحسنَ بن أبي الحسن – فإني واللهِ ما رأيتُ رجلًا قط أشبهَ رأيًا بعمر بن الخطاب منه“Ikutilah syekh ini, maksudnya Al-Hasan bin Abi Al-Hasan. Demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang pun yang pendapat dan cara berpikirnya lebih mirip dengan Umar bin Al-Khattab daripada dia.”Yunus bin ‘Ubaid berkata,كان الحسنُ – واللهِ – مِن رؤوس العلماء في الفتنِ والدماء“Demi Allah, Al-Hasan termasuk pemimpin para ulama dalam menghadapi persoalan fitnah dan urusan darah (perkara besar seperti konflik dan pertumpahan darah).”Qatadah bin Di‘amah berkata,كان الحسنُ مِن أعلم الناس بالحلال والحرام“Al-Hasan termasuk orang yang paling berilmu tentang halal dan haram.”Qatadah juga berkata,ما جمعتُ علمَ الحسن إلى أحد من العلماء، إلا وجدتُ له فضلًا عليه، غيرَ أنه إذا أشكل عليه شيء كتب فيه إلى سعيد بن المسيب يسأله، وما جالستُ فقيهًا قط إلا رأيت فضل الحسن“Setiap kali aku membandingkan ilmu Al-Hasan dengan ilmu seorang ulama lainnya, pasti aku melihat kelebihannya atas ulama tersebut. Hanya saja, jika ada suatu masalah yang sulit baginya, ia menuliskannya kepada Sa‘id bin Al-Musayyib untuk bertanya. Dan aku tidak pernah duduk bersama seorang ahli fikih pun kecuali aku melihat keunggulan Al-Hasan atasnya.”Imam Adz-Dzahabi رحمه الله berkata, “Apabila Al-Hasan Al-Bashri meriwayatkan hadis ini (tentang batang pohon kurma yang merintih karena rindu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), beliau menangis. Kemudian beliau berkata,يا عباد الله، الخشبةُ تحنُّ إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، شوقًا إليه، فأنتم أحقُّ أن تشتاقوا إلى لقائه“Wahai hamba-hamba Allah, sebatang kayu saja merindukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menangis karena ingin bertemu dengannya. Maka kalian lebih berhak untuk merindukan pertemuan dengan beliau.”Kemuliaan akhlak Al-Hasan Al-BashriAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله dikenal bukan hanya karena keluasan ilmunya, tetapi juga karena kemuliaan akhlaknya. Ilmu yang beliau miliki benar-benar tampak dalam sikap, tutur kata, dan kehidupannya sehari-hari.Jarir bin Hazim berkata, “Kami sedang duduk bersama Al-Hasan, sementara hari sudah lewat tengah hari dan semakin siang. Lalu putranya berkata, ‘Ringankanlah beban syekh, karena kalian telah memberatkannya. Ia belum makan dan belum minum.’Al-Hasan pun berkata, ‘Sudahlah!’ sambil menegurnya, ‘Biarkan mereka. Demi Allah, tidak ada sesuatu yang lebih menyejukkan mataku daripada melihat mereka atau bersama mereka. Sesungguhnya jika seorang muslim mengunjungi saudaranya, lalu keduanya berbincang, saling mengingatkan, dan memuji Rabb mereka, hingga waktu istirahat siang pun terlewatkan, maka itu (adalah kebaikan).’”‘Ubais Abu ‘Ubaidah berkata,كان الحسن البصري إذا اشترى شيئًا، وكان في ثمنه كسرٌ، جَبَره لصاحبه“Apabila Al-Hasan Al-Bashri membeli sesuatu, dan pada harganya ada pecahan (kekurangan kecil), maka ia membulatkannya untuk penjual.”Kultsum bin Jausyan berkata, “Ada seseorang meminta bantuan kepada Al-Hasan untuk suatu keperluan. Maka Al-Hasan pun langsung keluar bersamanya. Orang itu berkata, ‘Aku tadi juga meminta bantuan kepada Ibnu Sirin dan Farqad, tetapi mereka berkata, “Tunggu sampai kami menghadiri jenazah, nanti setelah itu kami akan keluar bersamamu.”’Maka Al-Hasan berkata,أمَا إنهما لو مشَيَا معك لكان خيرًا‘Ketahuilah, seandainya mereka langsung berjalan bersamamu (untuk membantumu), itu tentu lebih baik.’”[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleNama dan nasabKelahiran Al-Hasan Al-BashriSifat dan penampilan fisik Al-HasanKeberkahan rumah kenabian bagi Al-Hasan Al-BashriDisusui oleh Ummu Salamah dan doa para sahabatMasuk ke rumah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamGuru-guruMurid-muridKedudukan ilmiah Al-Hasan Al-BashriKemuliaan akhlak Al-Hasan Al-BashriNama dan nasabBeliau adalah Al-Hasan bin Abi Al-Hasan Al-Bashri. Nama ayahnya adalah Yasar, seorang maula (bekas budak yang telah dimerdekakan) milik Zaid bin Tsabit Al-Anshari. Beliau termasuk salah satu imam besar dan tokoh terkemuka dalam Islam, serta dikenal sebagai salah satu penghafal Al-Qur’an. Kun-yah (nama panggilan kehormatan) beliau adalah Abu Sa‘id.Kelahiran Al-Hasan Al-BashriAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله lahir di Madinah pada tahun 21 H, dua tahun sebelum berakhirnya masa kekhalifahan Umar bin Al-Khattab رضي الله عنه.Beliau pernah menghadiri salat Jumat bersama Khalifah Utsman bin Affan رضي الله عنه dan mendengar khotbahnya. Ia juga menyaksikan peristiwa “Yaum Ad-Dar” (peristiwa pengepungan rumah Utsman). Saat itu usianya sekitar empat belas tahun.Sifat dan penampilan fisik Al-HasanImam Muhammad bin Sa‘d رحمه الله berkata tentangnya,كان الحسن جامعًا، عالِمًا، عاليًا، رفيعًا، فقيهًا، ثقةً، مأمونًا، عابدًا، ناسكًا، كبير العلم، فصيحًا، جميلًا وسيمًا“Al-Hasan adalah seorang yang memiliki banyak keutamaan; berilmu, berkedudukan tinggi, mulia, faqih, terpercaya, amanah, ahli ibadah, zuhud, luas ilmunya, fasih berbicara, serta berwajah tampan dan rupawan.”Seorang wanita bernama Amat Al-Hakam berkata,ان الحسن يجيء إلى حِطَّانَ الرَّقَاشيِّ، فما رأيت شابًّا قط كان أحسن وجهًا منه“Al-Hasan biasa datang menemui Hittan Ar-Raqasyi. Aku belum pernah melihat seorang pemuda yang lebih tampan wajahnya daripada dia.”Hammad bin Salamah berkata,رأيت الحسن يُصفِّر لحيته“Aku melihat Al-Hasan mewarnai janggutnya dengan warna kekuningan.”Amir Asy-Sya‘bi berkata kepada seseorang yang hendak pergi ke Bashrah,إذا نظرتَ إلى رجلٍ أجمل أهل البصرة وأهيبهم، فهو الحسن، فأقرِئه مني السلام“Jika engkau melihat seorang lelaki yang paling tampan dan paling berwibawa di Bashrah, maka dialah Al-Hasan. Sampaikan salamku kepadanya.”Keberkahan rumah kenabian bagi Al-Hasan Al-BashriDisusui oleh Ummu Salamah dan doa para sahabatIbu Al-Hasan Al-Bashri bernama Khairah. Ia adalah pelayan Ummul Mukminin Ummu Salamah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Suatu ketika, ibunya sedang keluar untuk suatu keperluan dan Al-Hasan masih bayi, lalu Ummu Salamah menggendongnya dan menyusuinya. Air susunya pun mengalir, lalu Al-Hasan menyusu darinya. Oleh karena itu, para ulama berpendapat bahwa hikmah dan ilmu yang dianugerahkan kepada Al-Hasan itu berasal dari keberkahan susuan tersebut.Ibunya juga sering membawa Al-Hasan yang masih kecil menemui para sahabat agar mereka mendoakannya. Di antara yang mendoakan beliau adalah Umar bin Al-Khattab رضي الله عنه, yang berdoa,اللهم فقِّهه في الدين، وحبِّبه إلى الناس“Ya Allah, pahamkanlah dia dalam agama dan jadikanlah dia dicintai oleh manusia.”Masuk ke rumah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamIbnu Sa‘d meriwayatkan bahwa Al-Hasan berkata,كنتُ أدخُلُ بيوت أزواج النبي صلى الله عليه وسلم في خلافةِ عثمان بن عفان، فأتناول سقف البيت بيدي“Aku pernah masuk ke rumah-rumah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, dan aku dapat menyentuh atap rumah itu dengan tanganku.”Hal ini menunjukkan bahwa sejak kecil, beliau tumbuh dekat dengan lingkungan para sahabat dan rumah tangga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tentu memberi pengaruh besar terhadap pembentukan keilmuan dan kepribadiannya.Guru-guruAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله belajar dan meriwayatkan hadis dari banyak sahabat Nabi ﷺ. Di antara mereka adalah Imran bin Husain, Al-Mughirah bin Syu‘bah, Abdurrahman bin Samurah, Samurah bin Jundub, Abu Bakrah Ats-Tsaqafi, An-Nu‘man bin Basyir, Jabir bin Abdullah, Jundub Al-Bajali, Abdullah bin Abbas, Amr bin Taghlib, Ma‘qil bin Yasar, Al-Aswad bin Sari‘, dan Anas bin Malik, serta sahabat lainnya. Beliau juga membaca dan mempelajari Al-Qur’an kepada Hitthan bin Abdullah Ar-Raqasyi. Selain meriwayatkan dari para sahabat, beliau pun mengambil ilmu dari banyak tabi‘in, sehingga sanad keilmuannya sangat luas dan kuat.Murid-muridBanyak ulama besar yang menjadi murid Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله dan meriwayatkan ilmu darinya. Di antara mereka adalah Ayyub As-Sakhtiyani, Syaiban An-Nahwi, Yunus bin Ubaid, Ibnu ‘Aun, Humaid Ath-Thawil, Tsabit Al-Bunani, Malik bin Dinar, Hisyam bin Hassan, Jarir bin Hazim, Ar-Rabi‘ bin Shabih, Yazid bin Ibrahim At-Tustari, Mubarak bin Fudhalah, Aban bin Yazid Al-‘Aththar, Qurrah bin Khalid, Hazm Al-Qath‘i, Sallam bin Miskin, Syumait bin Ajlan, dan Shalih Abu ‘Amir Al-Khazzaz, serta banyak lagi lainnya. Hal ini menunjukkan betapa luasnya pengaruh dan kedudukan beliau dalam dunia ilmu, hingga menjadi rujukan bagi banyak tokoh besar generasi setelahnya.Kedudukan ilmiah Al-Hasan Al-BashriAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله memiliki kedudukan ilmiah yang sangat tinggi di kalangan para sahabat dan tabi‘in. Banyak ulama besar yang mengakui keutamaannya dalam ilmu dan pemahaman agama.Ibnu Sa‘d رحمه الله berkata,كان الحسن البصري جامعًا، عالِمًا، عاليًا، رفيعًا، فقيهًا، ثقةً، مأمونًا، عابدًا، ناسكًا، كبيرَ العلم، فصيحًا، جميلًا وسيمًا، وكان ما أسند مِن حديثه وروى عمَّن سمع منه فحسنٌ حجَّةٌ، وما أرسل مِن الحديث، فليس بحجة، وقدِم مكةَ فأجلَسوه على سريرٍ، واجتمع الناس إليه فحدَّثهم، وكان فيمَن أتاه: مجاهدٌ، وعطاء، وطاوس، وعمرو بن شُعَيب، فقال بعضهم: لم نرَ مثلَ هذا قط“Al-Hasan Al-Bashri adalah seorang yang memiliki banyak keutamaan; berilmu, berkedudukan tinggi, mulia, faqih (ahli fikih), terpercaya, amanah, ahli ibadah, zuhud, luas ilmunya, fasih berbicara, serta berwajah tampan dan rupawan. Hadis-hadis yang ia riwayatkan dengan sanad yang bersambung dari orang yang ia dengar darinya adalah hadis yang baik dan dapat dijadikan hujah. Adapun hadis yang ia riwayatkan secara mursal (tanpa menyebut sahabat), maka tidak dijadikan hujah.Beliau pernah datang ke Makkah, lalu orang-orang mempersilahkannya duduk di atas sebuah tempat tinggi (seperti kursi kehormatan). Manusia pun berkumpul mengelilinginya untuk mendengarkan hadis darinya. Di antara yang hadir saat itu adalah Mujahid, ‘Atha’, Thawus, dan ‘Amr bin Syu‘aib. Sebagian dari mereka berkata, ‘Kami belum pernah melihat yang seperti ini sebelumnya.’”Ibnu Sa‘d meriwayatkan dari Khalid bin Riyah bahwa suatu ketika, Anas bin Malik رضي الله عنه ditanya tentang suatu masalah. Maka beliau berkata,عليكم مولانا الحسن، فسَلُوه“Datangilah Al-Hasan dan tanyakan kepadanya.”Orang-orang pun berkata, “Wahai Abu Hamzah, kami bertanya kepadamu, tetapi engkau menyuruh kami bertanya kepada Al-Hasan?”Anas menjawab,إنا سمِعنا وسمِع، فحفِظ ونسينا“Kami dahulu mendengar (ilmu) dan dia juga mendengar. Namun dia menghafal, sedangkan kami lupa.”Ibnu Sa‘d meriwayatkan dari Humaid bin Hilal, ia berkata, “Abu Qatadah رضي الله عنه pernah berkata kepada kami,عليكم بهذا الشيخ – يعني الحسنَ بن أبي الحسن – فإني واللهِ ما رأيتُ رجلًا قط أشبهَ رأيًا بعمر بن الخطاب منه“Ikutilah syekh ini, maksudnya Al-Hasan bin Abi Al-Hasan. Demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang pun yang pendapat dan cara berpikirnya lebih mirip dengan Umar bin Al-Khattab daripada dia.”Yunus bin ‘Ubaid berkata,كان الحسنُ – واللهِ – مِن رؤوس العلماء في الفتنِ والدماء“Demi Allah, Al-Hasan termasuk pemimpin para ulama dalam menghadapi persoalan fitnah dan urusan darah (perkara besar seperti konflik dan pertumpahan darah).”Qatadah bin Di‘amah berkata,كان الحسنُ مِن أعلم الناس بالحلال والحرام“Al-Hasan termasuk orang yang paling berilmu tentang halal dan haram.”Qatadah juga berkata,ما جمعتُ علمَ الحسن إلى أحد من العلماء، إلا وجدتُ له فضلًا عليه، غيرَ أنه إذا أشكل عليه شيء كتب فيه إلى سعيد بن المسيب يسأله، وما جالستُ فقيهًا قط إلا رأيت فضل الحسن“Setiap kali aku membandingkan ilmu Al-Hasan dengan ilmu seorang ulama lainnya, pasti aku melihat kelebihannya atas ulama tersebut. Hanya saja, jika ada suatu masalah yang sulit baginya, ia menuliskannya kepada Sa‘id bin Al-Musayyib untuk bertanya. Dan aku tidak pernah duduk bersama seorang ahli fikih pun kecuali aku melihat keunggulan Al-Hasan atasnya.”Imam Adz-Dzahabi رحمه الله berkata, “Apabila Al-Hasan Al-Bashri meriwayatkan hadis ini (tentang batang pohon kurma yang merintih karena rindu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), beliau menangis. Kemudian beliau berkata,يا عباد الله، الخشبةُ تحنُّ إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، شوقًا إليه، فأنتم أحقُّ أن تشتاقوا إلى لقائه“Wahai hamba-hamba Allah, sebatang kayu saja merindukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menangis karena ingin bertemu dengannya. Maka kalian lebih berhak untuk merindukan pertemuan dengan beliau.”Kemuliaan akhlak Al-Hasan Al-BashriAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله dikenal bukan hanya karena keluasan ilmunya, tetapi juga karena kemuliaan akhlaknya. Ilmu yang beliau miliki benar-benar tampak dalam sikap, tutur kata, dan kehidupannya sehari-hari.Jarir bin Hazim berkata, “Kami sedang duduk bersama Al-Hasan, sementara hari sudah lewat tengah hari dan semakin siang. Lalu putranya berkata, ‘Ringankanlah beban syekh, karena kalian telah memberatkannya. Ia belum makan dan belum minum.’Al-Hasan pun berkata, ‘Sudahlah!’ sambil menegurnya, ‘Biarkan mereka. Demi Allah, tidak ada sesuatu yang lebih menyejukkan mataku daripada melihat mereka atau bersama mereka. Sesungguhnya jika seorang muslim mengunjungi saudaranya, lalu keduanya berbincang, saling mengingatkan, dan memuji Rabb mereka, hingga waktu istirahat siang pun terlewatkan, maka itu (adalah kebaikan).’”‘Ubais Abu ‘Ubaidah berkata,كان الحسن البصري إذا اشترى شيئًا، وكان في ثمنه كسرٌ، جَبَره لصاحبه“Apabila Al-Hasan Al-Bashri membeli sesuatu, dan pada harganya ada pecahan (kekurangan kecil), maka ia membulatkannya untuk penjual.”Kultsum bin Jausyan berkata, “Ada seseorang meminta bantuan kepada Al-Hasan untuk suatu keperluan. Maka Al-Hasan pun langsung keluar bersamanya. Orang itu berkata, ‘Aku tadi juga meminta bantuan kepada Ibnu Sirin dan Farqad, tetapi mereka berkata, “Tunggu sampai kami menghadiri jenazah, nanti setelah itu kami akan keluar bersamamu.”’Maka Al-Hasan berkata,أمَا إنهما لو مشَيَا معك لكان خيرًا‘Ketahuilah, seandainya mereka langsung berjalan bersamamu (untuk membantumu), itu tentu lebih baik.’”[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

4 Kesalahan dalam Memahami Tawakal yang Harus Kita Waspada – Syaikh Shalih As-Sindi #NasehatUlama

Apa itu tawakal kepada Allah? Hakikat tawakal kepada Allah tersusun dari dua perkara: Pertama, hati bersandar dan menyerahkan urusan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seseorang bersandar dan menyerahkan segala urusannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kedua, mengerahkan sebab-sebab yang memungkinkan untuk ditempuh. Ketika seseorang menggabungkan kedua perkara ini: bersandar kepada Allah, percaya kepada Allah, dan menyerahkan urusan kepada Allah, sekaligus menempuh sebab-sebab yang disyariatkan dan dihalalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka saat itulah ia telah bertawakal dengan tawakal yang syar’i. Karena itu, sebagian ulama mendefinisikan tawakal dengan mengatakan, “Tawakal adalah memalingkan perhatian dari sebab-sebab setelah sebab-sebab itu dipersiapkan.” Kapan perhatian kepada sebab-sebab itu dipalingkan? Setelah sebab-sebab tersebut ditempuh. Atau sebagaimana dinukil Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Madarij As-Salikin. Beliau menukil perkataan indah dari sebagian ulama: “Tawakal adalah gerak tanpa diam, dan diam tanpa gerak.” “Gerak tanpa diam, dan diam tanpa gerak.” Apa maksudnya? Gerak berarti anggota badan terus bergerak dan berusaha. Sedangkan diam adalah ketenangan dan kepercayaan hati kepada Allah ‘Azza wa Jalla, tanpa gejolak hati, keraguan, ataupun keputusasaan. Jadi, apa itu tawakal? Gerak tanpa diam, dan diam tanpa gerak. Dengan inilah seseorang benar-benar bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Renungkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.” (HR. At-Tirmidzi). Hadis ini menunjukkan adanya keyakinan dan penyerahan diri kepada Allah, sekaligus menempuh sebab. Sebab, burung itu tidak hanya duduk diam. Apa yang dilakukan burung itu? Ia pergi pada pagi hari mencari rezeki. Kemudian ia kembali setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan rezeki kepadanya. Demikianlah tawakal yang syar’i. Manusia terjerumus dalam beberapa kesalahan dalam memahami tawakal. Di antara kesalahan yang paling penting untuk diperhatikan adalah: Kesalahan pertama, seseorang bertawakal kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla dalam perkara yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini terjadi pada orang yang tidak mengagungkan Allah ‘Azza wa Jalla sebagaimana mestinya dan berbuat syirik kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini banyak terjadi pada para penyembah kubur. Hati mereka bergantung kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menghilangkan kesusahan, melapangkan kegundahan, mengampuni dosa, dan menyingkirkan berbagai rintangan. Bahkan, hampir seluruh urusannya ia serahkan kepada orang yang ia jadikan sesembahan, baik masih hidup maupun telah meninggal. Ini adalah perkara yang sangat besar. Karena itu, sebagian orang sering melantunkan bait-bait syair yang menunjukkan penyerahan diri yang mengandung kesyirikan ini. Mereka bersyair, “Jika pada hari kembaliku kelak engkau tidak menggandeng tanganku sebagai karunia, maka sungguh celakalah aku karena tergelincir.” Ucapan ini ditujukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Menurut keyakinannya, kepercayaan dan penyerahan urusannya tertuju kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika tidak demikian, menurutnya kebinasaan akan terjadi di akhirat. Ia bertawakal kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam urusan keselamatan di akhirat! Tidak diragukan lagi, ini adalah tawakal yang mengandung kesyirikan. Semoga Allah melindungi saya dan kalian darinya. Maka waspadalah terhadap perkara ini, semoga Allah menjagamu. Kesalahan kedua, sebagian orang terjerumus dalam syirik kecil, yaitu ketika hatinya berpaling kepada makhluk dan menggantungkan sebagian sandarannya kepada makhluk dalam suatu urusan dunia. Maksudnya, terkadang seseorang sedang memerlukan sesuatu. Jika engkau memerlukan bantuan seseorang dan terpaksa meminta kepadanya, dalam perkara yang memang berada dalam kemampuannya, ia mampu membantumu, menjadi perantara bagimu, atau menyampaikan permohonan untukmu, maka perhatikanlah bahwa kebolehan meminta bantuan di sini disyaratkan agar hatimu tetap bersandar hanya kepada Allah.Yang meminta hanyalah anggota badanmu, sedangkan hatimu tetap percaya kepada Allah ‘Azza wa Jalla, bukan kepada makhluk. Kita telah mengetahui sebelumnya bahwa tawakal adalah memalingkan perhatian dari sebab-sebab setelah menempuh sebab-sebab tersebut. Maka siapa yang hatinya berpaling kepada makhluk dalam memperoleh manfaat atau menolak bahaya, ia telah terjerumus ke dalam jenis syirik kecil. Ini ibarat lautan yang tidak bertepi. Betapa banyak orang yang keliru di dalamnya! Kita memohon kepada Allah agar memberi kita keselamatan dan mengampuni kita. Kesalahan ketiga, sebagian orang dalam perkara tawakal justru lalai menempuh sebab-sebab. Ia mengira bahwa tawakal yang benar adalah meninggalkan sebab. Ia tidak melakukan apa-apa, hanya duduk seraya berkata, “Jika Allah menghendaki memberiku ini dan menjadikan untukku begini dan begitu, tentu hal itu akan terjadi.”Ia berkata demikian tanpa bergerak dan tanpa mengerahkan kemampuan. Hakikatnya, ini adalah tawakul, bukan tawakal. Sebagaimana telah kita ketahui, tawakal harus menghimpun dua perkara: kepercayaan dan penyerahan hati kepada Allah ‘Azza wa Jalla, disertai dengan menempuh sebab. “Niscaya Allah memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.” Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam, penghulu orang-orang yang bertawakal, tidak meninggalkan sebab. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenakan dua lapis baju besi pada Perang Uhud. Dalam peperangan, beliau juga mengenakan mighfar, yaitu pelindung kepala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menempuh sebab untuk menghalangi kaum musyrikin mencapai Madinah, yaitu dengan menggali parit. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyimpan persediaan makanan untuk keluarganya selama setahun. Jadi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, meskipun beliau adalah orang yang paling sempurna tawakalnya, tapi beliau tidak meninggalkan sebab. Maka menempuh sebab sama sekali tidak mencederai tawakal. Menempuh sebab tidak mencederai tawakal. Justru meninggalkan sebablah yang mencederai tawakal. Sebagian orang melakukan kesalahan besar dalam perkara ini. Anehnya, orang yang mengaku meninggalkan sebab karena bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sebenarnya telah keliru sekaligus berdusta.Ia pendusta! Mustahil seseorang sama sekali tidak melakukan sebab apa pun. Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan kisah seseorang yang mengaku bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla sehingga ia sama sekali tidak mau menempuh sebab apa pun. Ia bepergian melintasi padang tandus dari satu tempat ke tempat lain tanpa membawa bekal. Namun ia berkata, “Aku tetap harus membawa tiga benda: wadah untuk berwudu, jarum, dan benang.” Ia berkata, “Barangkali pakaianku robek, maka aku perlu menjahitnya agar auratku tidak tersingkap sehingga salatku batal. Aku juga harus membawa wadah untuk menaruh air ketika hendak berwudu.” Jadi, apa yang ternyata tidak mampu dilakukan orang ini? Meninggalkan sebab! Bahkan, perpindahannya dari satu tempat ke tempat lain untuk tujuan apa pun, pada hakikatnya sudah merupakan bentuk menempuh sebab. Jadi, tidak seorang pun mampu meninggalkan seluruh sebab secara mutlak. Tidak seorang pun dapat mengklaim hal seperti itu. Kesalahan keempat, dan ini sangat penting: sebagian orang ketika mendengar pembahasan tawakal, pikirannya hanya tertuju kepada urusan dunia. Ia mengira bahwa tawakal hanya terbatas pada perkara rezeki dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Seolah-olah hanya itulah tawakal! Padahal ini merupakan kekeliruan dan kekurangan. Ada tawakal yang jauh lebih agung daripada itu, yaitu bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam menaati-Nya Jalla wa ‘Ala, dalam menuntut ilmu, dan dalam berdakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini jauh lebih agung! Demi Allah, engkau tidak akan mampu melakukan satu pun dari perkara-perkara itu kecuali dengan pertolongan Allah ‘Azza wa Jalla. Karena itu, tingkatan tekad manusia dalam perkara ini berbeda-beda. Jauh sekali perbedaan antara orang yang tawakalnya hanya untuk memperoleh sepotong roti, dengan orang yang seluruh tawakalnya ia arahkan untuk menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menunaikan ibadah kepada-Nya. Jadi, jika bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam urusan rezeki, pekerjaan, dan semisalnya merupakan perkara yang dianjurkan, dan memang termasuk perkara baik yang dianjurkan,maka bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, memohon pertolongan kepada-Nya, menyerahkan urusan kepada-Nya, serta bersandar kepada-Nya Jalla wa ‘Ala dalam menaati-Nya, jauh lebih utama dan lebih penting. Karena itu, apa yang diucapkan seorang muslim ketika mendengar hai’alatain dalam azan (“Hayya ‘alash-sholah” dan “Hayya ‘alal-falah”)? Apa yang dia ucapkan? Ia mengucapkan, “Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.” — tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Engkau baru saja dipanggil menuju salat: “Marilah menuju salat, marilah menuju keberuntungan.” Jawabanmu adalah dengan menyerahkan urusan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan menyatakan bahwa engkau bersandar kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Pada dirimu sendiri tidak ada daya apa pun, engkau tidak mampu bergerak ataupun melakukan sesuatu hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengizinkan dan menguatkanmu dengan pertolongan serta taufik-Nya Jalla wa ‘Ala. Maka perhatikanlah, semoga Allah menjagamu. Dalam setiap urusan dunia, dan yang lebih penting lagi dalam setiap urusan agama, bertawakallah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Jangan mengandalkan dirimu sendiri. Jangan mengandalkan imanmu, kesungguhanmu, kecerdasanmu, ataupun merasa yakin karena dahulu engkau telah melakukan berbagai amal. Boleh jadi engkau tidak diberi pertolongan justru karena terlalu mengandalkan diri sendiri. Yang semestinya menjadi sikapmu dalam setiap keadaan adalah bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== التَّوَكُّلُ عَلَى اللهِ مَا هُوَ؟ التَّوَكُّلُ عَلَى اللهِ حَقِيقَةٌ مُرَكَّبَةٌ مِنْ أَمْرَيْنِ اعْتِمَادٌ وَتَفْوِيضٌ قَلْبِيٌّ عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَعْتَمِدُ الْإِنْسَانُ وَيُفَوِّضُ الْأَمْرَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْأَمْرُ الثَّانِي: بَذْلُ الْأَسْبَابِ الْمُمْكِنَةِ فَمَتَى مَا جَمَعَ الْإِنْسَانُ بَيْنَ هَذَيْنِ الْأَمْرَيْنِ: اعْتَمَدَ عَلَى اللهِ وَوَثِقَ بِاللهِ، فَوَّضَ الْأَمْرَ إِلَى اللهِ مَعَ كَوْنِهِ قَدْ قَامَ بِالْأَسْبَابِ الَّتِي شَرَعَهَا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَحَلَّهَا، فَإِنَّهُ حِينَئِذٍ يَكُونُ قَدْ تَوَكَّلَ التَّوَكُّلَ الشَّرْعِيَّ وَلِذَا عَرَّفَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ التَّوَكُّلَ بِقَوْلِهِ: هُوَ قَطْعُ النَّظَرِ إِلَى الْأَسْبَابِ بَعْدَ تَهْيِئَةِ الْأَسْبَابِ قَطْعُ النَّظَرِ إِلَى الْأَسْبَابِ مَتَى؟ بَعْدَ بَذْلِ الْأَسْبَابِ أَوْ كَمَا نَقَلَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ فِي “مَدَارِجِ السَّالِكِينَ”، نَقَلَ كَلِمَةً جَمِيلَةً عَنْ بَعْضِهِمْ، أَلَا وَهِيَ أَنَّ التَّوَكُّلَ اضْطِرَابٌ بِلَا سُكُونٍ، وَسُكُونٌ بِلَا اضْطِرَابٍ اضْطِرَابٌ بِلَا سُكُونٍ، وَسُكُونٌ بِلَا اضْطِرَابٍ، مَا مَعْنَى هَذَا الْكَلَامِ؟ اضْطِرَابٌ يَعْنِي حَرَكَةً بِلَا سُكُونٍ، وَذَلِكَ بِالْجَوَارِحِ وَسُكُونٌ طُمَأْنِينَةٌ وَثِقَةٌ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِالْقَلْبِ، بِدُونِ اضْطِرَابٍ، بِدُونِ حَرَكَةِ قَلْبٍ وَلَا شَكٍّ وَلَا يَأْسٍ إِذًا التَّوَكُّلُ هُوَ مَاذَا؟ اضْطِرَابٌ بِلَا سُكُونٍ، وَسُكُونٌ بِلَا اضْطِرَابٍ. بِهَذَا يَكُونُ الْإِنْسَانُ قَدْ تَوَكَّلَ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَقَّ التَّوَكُّلِ تَأَمَّلْ فِي قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا هَذَا الْحَدِيثُ يَدُلُّ عَلَى حُصُولِ يَقِينٍ وَتَفْوِيضٍ، وَعَلَى بَذْلِ سَبَبٍ؛ لِأَنَّ الطَّيْرَ مَا جَلَسَتْ الطَّيْرُ مَاذَا فَعَلَتْ؟ ذَهَبَتْ وَغَدَتْ تَبْحَثُ عَنِ الرِّزْقِ، ثُمَّ عَادَتْ وَقَدْ مَنَّ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَيْهَا بِالرِّزْقِ. إِذًا هَكَذَا يَكُونُ التَّوَكُّلُ الشَّرْعِيُّ يَقَعُ النَّاسُ فِي أَخْطَاءٍ فِي هَذَا الْبَابِ، أَهَمُّ تِلْكَ الْأَخْطَاءِ مَا يَأْتِي أَوَّلًا، أَنْ يَتَوَكَّلَ الْإِنْسَانُ عَلَى غَيْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فِيمَا لَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ إِلَّا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَهَذَا يَقَعُ فِي حَالِ مَنْ لَمْ يَقْدِرِ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَقَّ قَدْرِهِ، وَمَنْ أَشْرَكَ بِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَيَكْثُرُ هَذَا فِي عُبَّادِ الْقُبُورِ، يَكُونُ قَلْبُهُ مُعَلَّقًا بِغَيْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي تَفْرِيجِ الْكُرُوبِ، وَتَنْفِيسِ الْهُمُومِ، وَمَغْفِرَةِ الذُّنُوبِ، وَإِزَالَةِ الْعَقَبَاتِ بَلْ يَكَادُ أَنْ يَكُونَ قَدْ فَوَّضَ كُلَّ شَيْءٍ إِلَى سَيِّدِهِ الَّذِي يَعْبُدُهُ، حَيًّا كَانَ أَوْ مَيِّتًا. وَهَذَا أَمْرٌ عَظِيمٌ وَلِذَا كَمْ يَتَدَاوَلُ بَعْضُ النَّاسِ أَبْيَاتًا تَدُلُّ عَلَى هَذَا التَّفْوِيضِ الشِّرْكِيِّ. تَجِدُ أَنَّهُمْ يُنْشِدُونَ إِنْ لَمْ تَكُنْ فِي مَعَادِي آخِذًا بِيَدِي فَضْلًا، وَإِلَّا فَقُلْ يَا زَلَّةَ الْقَدَمِ. يُخَاطِبُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهَذَا عِنْدَهُ أَنَّ ثِقَتَهُ وَتَفْوِيضَهُ إِنَّمَا هِيَ فِي النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَإِلَّا فَالْهَلَاكُ حَاصِلٌ فِي الْآخِرَةِ تَوَكَّلَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَأْنِ النَّجَاةِ فِي الْآخِرَةِ! وَلَا شَكَّ أَنَّ هَذَا تَوَكُّلٌ شِرْكِيٌّ، عَافَانِيَ اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنْ ذَلِكَ. إِذًا تَنَبَّهْ يَا رَعَاكَ اللهُ إِلَى هَذَا الْأَمْرِ الأَمْرُ الثَّانِي: بَعْضُ النَّاسِ يَقَعُ فِي شِرْكٍ أَصْغَرَ، وَذَلِكَ بِأَنَّهُ يُلَاحِظُ الْمَخْلُوقَ بِقَلْبِهِ وَيَعْتَمِدُ عَلَيْهِ بَعْضَ الِاعْتِمَادِ فِي شَأْنٍ مِنَ الْأُمُورِ الدُّنْيَوِيَّةِ يَعْنِي بَعْضُ النَّاسِ يَكُونُ فِي حَاجَةٍ إِلَى شَيْءٍ مَا. الَّذِي يَنْبَغِي عَلَيْكَ أَنَّكَ إِذَا احْتَجْتَ إِلَى أَحَدٍ، وَاضْطَرَرْتَ إِلَى سُؤَالِ أَحَدٍ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَى شَيْءٍ، يَقْدِرُ عَلَى إِعَانَتِكَ، يَقْدِرُ عَلَى أَنْ يَتَوَسَّطَ لَكَ أَوْ يَشْفَعَ لَكَ فَإِنَّكَ يَنْبَغِي أَنْ تُلَاحِظَ أَنَّ الْجَوَازَ هَا هُنَا مَشْرُوطٌ بِكَوْنِ قَلْبِكَ مُعْتَمِدًا عَلَى اللهِ فَقَطْ إِنَّمَا أَنْتَ تَطْلُبُ بِجَوَارِحِكَ، أَمَّا قَلْبُكَ فَإِنَّهُ وَاثِقٌ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا بِالْمَخْلُوقِ وَنَحْنُ قَدْ عَلِمْنَا قَبْلَ قَلِيلٍ أَنَّ التَّوَكُّلَ هُوَ قَطْعُ النَّظَرِ فِي الْأَسْبَابِ بَعْدَ بَذْلِ الْأَسْبَابِ فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ الْتِفَاتٌ فِي قَلْبِهِ إِلَى مَخْلُوقٍ فِي تَحْصِيلِ مَنْفَعَةٍ أَوْ دَفْعِ مَضَرَّةٍ، فَإِنَّهُ يَكُونُ قَدْ وَقَعَ فِي جِنْسِ الشِّرْكِ الْأَصْغَرِ وَهَذَا بَحْرٌ لَا سَاحِلَ لَهُ، وَمَا أَكْثَرَ الْمُخْطِئِينَ فِيهِ! نَسْأَلُ اللهَ أَنْ يُعَافِيَنَا وَأَنْ يَغْفِرَ لَنَا الْأَمْرُ الثَّالِثُ: أَنَّ بَعْضَ النَّاسِ فِي مَسْأَلَةِ التَّوَكُّلِ يَغْفَلُ عَنِ اتِّخَاذِ الْأَسْبَابِ يَظُنُّ أَنَّ التَّوَكُّلَ الصَّحِيحَ هُوَ أَنْ يَتْرُكَ الْإِنْسَانُ اتِّخَاذَ الْأَسْبَابِ لَا يَفْعَلُ شَيْئًا، يَجْلِسُ، وَيَقُولُ: إِنْ شَاءَ اللهُ أَنْ يُعْطِيَنِي وَأَنْ يَصْنَعَ لِي كَذَا وَكَذَا فَإِنَّهُ سَيَكُونُ دُونَ أَنْ يَتَحَرَّكَ وَدُونَ أَنْ يَبْذُلَ الْمُسْتَطَاعَ، وَهَذَا فِي الْحَقِيقَةِ تَوَاكُلٌ لَا تَوَكُّلٌ التَّوَكُّلُ كَمَا قَدْ عَلِمْنَا لَا بُدَّ أَنْ يَجْتَمِعَ فِيهِ الْأَمْرَانِ: يَجْتَمِعُ الثِّقَةُ بِالْقَلْبِ وَالتَّفْوِيضُ مِنَ الْقَلْبِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ، مَعَ بَذْلِ الْأَسْبَابِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَعُودُ بِطَانًا هَذَا النَّبِيُّ الْكَرِيمُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي هُوَ سَيِّدُ الْمُتَوَكِّلِينَ، مَا تَرَكَ اتِّخَاذَ الْأَسْبَابِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَبِسَ فِي أُحُدٍ دِرْعَيْنِ، كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَلْبَسُ فِي الْحُرُوبِ الْمِغْفَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّخَذَ سَبَبًا يَمْنَعُ الْمُشْرِكِينَ مِنَ الْوُصُولِ إِلَى الْمَدِينَةِ، أَلَا وَهُوَ حَفْرُ الْخَنْدَقِ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْتَفِظُ بِقُوتِ أَهْلِهِ مُدَّةَ سَنَةٍ إِذًا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ أَنَّهُ أَعْظَمُ النَّاسِ تَوَكُّلًا لَا يَتْرُكُ اتِّخَاذَ الْأَسْبَابِ إِذًا اتِّخَاذُ الْأَسْبَابِ لَيْسَ قَدْحًا فِي التَّوَكُّلِ. اتِّخَاذُ الْأَسْبَابِ لَيْسَ قَدْحًا فِي التَّوَكُّلِ بَلْ تَرْكُ الْأَسْبَابِ هُوَ الْقَدْحُ فِي التَّوَكُّلِ وَبَعْضُ النَّاسِ يُخْطِئُ فِي هَذَا الْبَابِ خَطَأً عَظِيمًا وَالْعَجِيبُ أَنَّ الَّذِي يَدَّعِي أَنَّهُ يَتْرُكُ اتِّخَاذَ السَّبَبِ تَوَكُّلًا عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَخْطَأَ وَكَذَبَ فِي نَفْسِ الْوَقْتِ هُوَ كَاذِبٌ، مُسْتَحِيلٌ أَنَّ إِنْسَانًا يَمْتَنِعُ عَنْ فِعْلِ أَيِّ سَبَبٍ عَلَى الْإِطْلَاقِ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ ذَكَرَ قِصَّةً عَنْ أَحَدِهِمْ وَهِيَ أَنَّهُ ادَّعَى أَنَّهُ مُتَوَكِّلٌ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَبِالتَّالِي فَإِنَّهُ لَا يَتَّخِذُ أَيَّ سَبَبٍ عَلَى الْإِطْلَاقِ فَكَانَ يُسَافِرُ وَيَتَنَقَّلُ فِي الْقِفَارِ مِنْ مَكَانٍ إِلَى آخَرَ دُونَ أَنْ يَحْمِلَ زَادًا مَعَهُ. لَكِنَّهُ يَقُولُ: لَا بُدَّ أَنْ أَحْمِلَ مَعِي ثَلَاثَةَ أَشْيَاءَ إِنَاءً لِلْوُضُوءِ، وَإِبْرَةً، وَخَيْطًا. يَقُولُ: رُبَّمَا يَنْقَطِعُ ثَوْبِي فَأَنَا بِحَاجَةٍ إِلَى أَنْ أَخِيطَ ثَوْبِي حَتَّى لَا تَظْهَرَ عَوْرَتِي فَتَبْطُلَ صَلَاتِي وَلَا بُدَّ لِي مِنْ إِنَاءٍ أَضَعُ فِيهِ الْمَاءَ إِذَا أَرَدْتُ الْوُضُوءَ. إِذًا هَذَا الرَّجُلُ مَا اسْتَطَاعَ مَاذَا؟ أَنْ يَتْرُكَ اتِّخَاذَ الْأَسْبَابِ بَلْ حَتَّى خُرُوجُهُ مِنْ مَكَانٍ إِلَى آخَرَ لِأَيِّ هَدَفٍ كَانَ، هُوَ فِي الْحَقِيقَةِ اتِّخَاذٌ لِلسَّبَبِ إِذًا لَا يَسْتَطِيعُ إِنْسَانٌ أَنْ يَكُونَ تَارِكًا لِفِعْلِ الْأَسْبَابِ مُطْلَقًا، هَذَا أَمْرٌ لَا يُمْكِنُ لِأَحَدٍ أَنْ يَدَّعِيَهُ الْأَمْرُ الرَّابِعُ، وَهِيَ مَسْأَلَةٌ مُهِمَّةٌ: أَنَّ بَعْضَ النَّاسِ إِذَا سَمِعَ مَا يَتَعَلَّقُ بِالتَّوَكُّلِ لَا يَنْصَرِفُ ذِهْنُهُ إِلَّا إِلَى الْأُمُورِ الدُّنْيَوِيَّةِ يَعْنِي يَظُنُّ أَنَّ التَّوَكُّلَ مَحْصُورٌ فِي مَسْأَلَةِ الرِّزْقِ وَمَا يَدُورُ فِي فَلَكِ هَذَا الْأَمْرِ فَقَطْ، هَذَا هُوَ التَّوَكُّلُ وَهَذَا فِي الْحَقِيقَةِ خَطَأٌ، وَهَذَا فِي الْحَقِيقَةِ نَقْصٌ. بَلْ ثَمَّ تَوَكُّلٌ أَعْظَمُ مِنْ هَذَا وَهُوَ أَنْ تَتَوَكَّلَ عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي شَأْنِ طَاعَتِهِ جَلَّ وَعَلَا، وَفِي شَأْنِ طَلَبِ الْعِلْمِ، وَفِي شَأْنِ الدَّعْوَةِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هَذَا أَعْظَمُ بِكَثِيرٍ! وَاللهِ إِنَّكَ لَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تَفْعَلَ شَيْئًا مِنْ هَذِهِ الْأُمُورِ إِلَّا بِإِعَانَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِذَا هِمَمُ النَّاسِ فِي هَذَا الْبَابِ مُتَفَاوِتَةٌ. شَتَّانَ بَيْنَ مَنْ يَكُونُ تَوَكُّلُهُ فِي حُصُولِ رَغِيفٍ وَمَنْ يَكُونُ تَوَكُّلُهُ فِي طَاعَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَدَاءِ عِبَادَتِهِ إِذًا إِذَا كَانَ مِمَّا يُطْلَبُ وَهَذَا مِنَ الْأَمْرِ الْحَسَنِ الْمَطْلُوبِ أَنْ يَتَوَكَّلَ الْإِنْسَانُ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي شَأْنِ الرِّزْقِ وَالْأَعْمَالِ وَمَا إِلَيْهَا فَإِنَّ التَّوَكُّلَ عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَالِاسْتِعَانَةَ بِهِ، وَتَفْوِيضَ الْأَمْرِ إِلَيْهِ، وَالِاعْتِمَادَ عَلَيْهِ جَلَّ وَعَلَا فِي طَاعَتِهِ هَذَا أَوْلَى وَأَوْلَى وَأَهَمُّ وَلِذَا مَاذَا يَقُولُ الْمُسْلِمُ إِذَا سَمِعَ الْحَيْعَلَتَيْنِ فِي الْأَذَانِ؟ يَقُولُ مَاذَا؟ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ أَنْتَ دُعِيتَ الْآنَ إِلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، جَوَابُكَ بِأَنْ تُفَوِّضَ الْأَمْرَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَتُعْلِنَ اعْتِمَادَكَ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنَّكَ لَا شَيْءَ، لَا يُمْكِنُ أَنْ تَتَحَرَّكَ وَلَا تَفْعَلَ شَيْئًا حَتَّى يَأْذَنَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَيُمِدَّكَ بِعَوْنِهِ وَتَوْفِيقِهِ جَلَّ وَعَلَا إِذًا لَاحِظْ يَا رَعَاكَ اللهُ، فِي كُلِّ أَمْرٍ مِنْ أُمُورِ الدُّنْيَا وَأَهَمُّ مِنْهَا فِي كُلِّ أَمْرٍ مِنْ أُمُورِ الدِّينِ، أَنْ تَتَوَكَّلَ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ إِيَّاكَ أَنْ تَثِقَ بِنَفْسِكَ، تَثِقَ بِإِيمَانِكَ، تَثِقَ بِاجْتِهَادِكَ، تَثِقَ بِذَكَائِكَ، تَثِقَ بِأَنَّكَ فَعَلْتَ وَفَعَلْتَ فِي السَّابِقِ رُبَّمَا تُخْذَلُ بِسَبَبِ هَذِهِ الثِّقَةِ فِي النَّفْسِ الْوَاجِبُ أَنْ يَكُونَ شَأْنُكَ فِي كُلِّ حَالِهِ هُوَ الثِّقَةُ بِاللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

4 Kesalahan dalam Memahami Tawakal yang Harus Kita Waspada – Syaikh Shalih As-Sindi #NasehatUlama

Apa itu tawakal kepada Allah? Hakikat tawakal kepada Allah tersusun dari dua perkara: Pertama, hati bersandar dan menyerahkan urusan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seseorang bersandar dan menyerahkan segala urusannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kedua, mengerahkan sebab-sebab yang memungkinkan untuk ditempuh. Ketika seseorang menggabungkan kedua perkara ini: bersandar kepada Allah, percaya kepada Allah, dan menyerahkan urusan kepada Allah, sekaligus menempuh sebab-sebab yang disyariatkan dan dihalalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka saat itulah ia telah bertawakal dengan tawakal yang syar’i. Karena itu, sebagian ulama mendefinisikan tawakal dengan mengatakan, “Tawakal adalah memalingkan perhatian dari sebab-sebab setelah sebab-sebab itu dipersiapkan.” Kapan perhatian kepada sebab-sebab itu dipalingkan? Setelah sebab-sebab tersebut ditempuh. Atau sebagaimana dinukil Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Madarij As-Salikin. Beliau menukil perkataan indah dari sebagian ulama: “Tawakal adalah gerak tanpa diam, dan diam tanpa gerak.” “Gerak tanpa diam, dan diam tanpa gerak.” Apa maksudnya? Gerak berarti anggota badan terus bergerak dan berusaha. Sedangkan diam adalah ketenangan dan kepercayaan hati kepada Allah ‘Azza wa Jalla, tanpa gejolak hati, keraguan, ataupun keputusasaan. Jadi, apa itu tawakal? Gerak tanpa diam, dan diam tanpa gerak. Dengan inilah seseorang benar-benar bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Renungkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.” (HR. At-Tirmidzi). Hadis ini menunjukkan adanya keyakinan dan penyerahan diri kepada Allah, sekaligus menempuh sebab. Sebab, burung itu tidak hanya duduk diam. Apa yang dilakukan burung itu? Ia pergi pada pagi hari mencari rezeki. Kemudian ia kembali setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan rezeki kepadanya. Demikianlah tawakal yang syar’i. Manusia terjerumus dalam beberapa kesalahan dalam memahami tawakal. Di antara kesalahan yang paling penting untuk diperhatikan adalah: Kesalahan pertama, seseorang bertawakal kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla dalam perkara yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini terjadi pada orang yang tidak mengagungkan Allah ‘Azza wa Jalla sebagaimana mestinya dan berbuat syirik kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini banyak terjadi pada para penyembah kubur. Hati mereka bergantung kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menghilangkan kesusahan, melapangkan kegundahan, mengampuni dosa, dan menyingkirkan berbagai rintangan. Bahkan, hampir seluruh urusannya ia serahkan kepada orang yang ia jadikan sesembahan, baik masih hidup maupun telah meninggal. Ini adalah perkara yang sangat besar. Karena itu, sebagian orang sering melantunkan bait-bait syair yang menunjukkan penyerahan diri yang mengandung kesyirikan ini. Mereka bersyair, “Jika pada hari kembaliku kelak engkau tidak menggandeng tanganku sebagai karunia, maka sungguh celakalah aku karena tergelincir.” Ucapan ini ditujukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Menurut keyakinannya, kepercayaan dan penyerahan urusannya tertuju kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika tidak demikian, menurutnya kebinasaan akan terjadi di akhirat. Ia bertawakal kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam urusan keselamatan di akhirat! Tidak diragukan lagi, ini adalah tawakal yang mengandung kesyirikan. Semoga Allah melindungi saya dan kalian darinya. Maka waspadalah terhadap perkara ini, semoga Allah menjagamu. Kesalahan kedua, sebagian orang terjerumus dalam syirik kecil, yaitu ketika hatinya berpaling kepada makhluk dan menggantungkan sebagian sandarannya kepada makhluk dalam suatu urusan dunia. Maksudnya, terkadang seseorang sedang memerlukan sesuatu. Jika engkau memerlukan bantuan seseorang dan terpaksa meminta kepadanya, dalam perkara yang memang berada dalam kemampuannya, ia mampu membantumu, menjadi perantara bagimu, atau menyampaikan permohonan untukmu, maka perhatikanlah bahwa kebolehan meminta bantuan di sini disyaratkan agar hatimu tetap bersandar hanya kepada Allah.Yang meminta hanyalah anggota badanmu, sedangkan hatimu tetap percaya kepada Allah ‘Azza wa Jalla, bukan kepada makhluk. Kita telah mengetahui sebelumnya bahwa tawakal adalah memalingkan perhatian dari sebab-sebab setelah menempuh sebab-sebab tersebut. Maka siapa yang hatinya berpaling kepada makhluk dalam memperoleh manfaat atau menolak bahaya, ia telah terjerumus ke dalam jenis syirik kecil. Ini ibarat lautan yang tidak bertepi. Betapa banyak orang yang keliru di dalamnya! Kita memohon kepada Allah agar memberi kita keselamatan dan mengampuni kita. Kesalahan ketiga, sebagian orang dalam perkara tawakal justru lalai menempuh sebab-sebab. Ia mengira bahwa tawakal yang benar adalah meninggalkan sebab. Ia tidak melakukan apa-apa, hanya duduk seraya berkata, “Jika Allah menghendaki memberiku ini dan menjadikan untukku begini dan begitu, tentu hal itu akan terjadi.”Ia berkata demikian tanpa bergerak dan tanpa mengerahkan kemampuan. Hakikatnya, ini adalah tawakul, bukan tawakal. Sebagaimana telah kita ketahui, tawakal harus menghimpun dua perkara: kepercayaan dan penyerahan hati kepada Allah ‘Azza wa Jalla, disertai dengan menempuh sebab. “Niscaya Allah memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.” Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam, penghulu orang-orang yang bertawakal, tidak meninggalkan sebab. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenakan dua lapis baju besi pada Perang Uhud. Dalam peperangan, beliau juga mengenakan mighfar, yaitu pelindung kepala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menempuh sebab untuk menghalangi kaum musyrikin mencapai Madinah, yaitu dengan menggali parit. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyimpan persediaan makanan untuk keluarganya selama setahun. Jadi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, meskipun beliau adalah orang yang paling sempurna tawakalnya, tapi beliau tidak meninggalkan sebab. Maka menempuh sebab sama sekali tidak mencederai tawakal. Menempuh sebab tidak mencederai tawakal. Justru meninggalkan sebablah yang mencederai tawakal. Sebagian orang melakukan kesalahan besar dalam perkara ini. Anehnya, orang yang mengaku meninggalkan sebab karena bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sebenarnya telah keliru sekaligus berdusta.Ia pendusta! Mustahil seseorang sama sekali tidak melakukan sebab apa pun. Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan kisah seseorang yang mengaku bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla sehingga ia sama sekali tidak mau menempuh sebab apa pun. Ia bepergian melintasi padang tandus dari satu tempat ke tempat lain tanpa membawa bekal. Namun ia berkata, “Aku tetap harus membawa tiga benda: wadah untuk berwudu, jarum, dan benang.” Ia berkata, “Barangkali pakaianku robek, maka aku perlu menjahitnya agar auratku tidak tersingkap sehingga salatku batal. Aku juga harus membawa wadah untuk menaruh air ketika hendak berwudu.” Jadi, apa yang ternyata tidak mampu dilakukan orang ini? Meninggalkan sebab! Bahkan, perpindahannya dari satu tempat ke tempat lain untuk tujuan apa pun, pada hakikatnya sudah merupakan bentuk menempuh sebab. Jadi, tidak seorang pun mampu meninggalkan seluruh sebab secara mutlak. Tidak seorang pun dapat mengklaim hal seperti itu. Kesalahan keempat, dan ini sangat penting: sebagian orang ketika mendengar pembahasan tawakal, pikirannya hanya tertuju kepada urusan dunia. Ia mengira bahwa tawakal hanya terbatas pada perkara rezeki dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Seolah-olah hanya itulah tawakal! Padahal ini merupakan kekeliruan dan kekurangan. Ada tawakal yang jauh lebih agung daripada itu, yaitu bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam menaati-Nya Jalla wa ‘Ala, dalam menuntut ilmu, dan dalam berdakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini jauh lebih agung! Demi Allah, engkau tidak akan mampu melakukan satu pun dari perkara-perkara itu kecuali dengan pertolongan Allah ‘Azza wa Jalla. Karena itu, tingkatan tekad manusia dalam perkara ini berbeda-beda. Jauh sekali perbedaan antara orang yang tawakalnya hanya untuk memperoleh sepotong roti, dengan orang yang seluruh tawakalnya ia arahkan untuk menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menunaikan ibadah kepada-Nya. Jadi, jika bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam urusan rezeki, pekerjaan, dan semisalnya merupakan perkara yang dianjurkan, dan memang termasuk perkara baik yang dianjurkan,maka bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, memohon pertolongan kepada-Nya, menyerahkan urusan kepada-Nya, serta bersandar kepada-Nya Jalla wa ‘Ala dalam menaati-Nya, jauh lebih utama dan lebih penting. Karena itu, apa yang diucapkan seorang muslim ketika mendengar hai’alatain dalam azan (“Hayya ‘alash-sholah” dan “Hayya ‘alal-falah”)? Apa yang dia ucapkan? Ia mengucapkan, “Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.” — tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Engkau baru saja dipanggil menuju salat: “Marilah menuju salat, marilah menuju keberuntungan.” Jawabanmu adalah dengan menyerahkan urusan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan menyatakan bahwa engkau bersandar kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Pada dirimu sendiri tidak ada daya apa pun, engkau tidak mampu bergerak ataupun melakukan sesuatu hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengizinkan dan menguatkanmu dengan pertolongan serta taufik-Nya Jalla wa ‘Ala. Maka perhatikanlah, semoga Allah menjagamu. Dalam setiap urusan dunia, dan yang lebih penting lagi dalam setiap urusan agama, bertawakallah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Jangan mengandalkan dirimu sendiri. Jangan mengandalkan imanmu, kesungguhanmu, kecerdasanmu, ataupun merasa yakin karena dahulu engkau telah melakukan berbagai amal. Boleh jadi engkau tidak diberi pertolongan justru karena terlalu mengandalkan diri sendiri. Yang semestinya menjadi sikapmu dalam setiap keadaan adalah bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== التَّوَكُّلُ عَلَى اللهِ مَا هُوَ؟ التَّوَكُّلُ عَلَى اللهِ حَقِيقَةٌ مُرَكَّبَةٌ مِنْ أَمْرَيْنِ اعْتِمَادٌ وَتَفْوِيضٌ قَلْبِيٌّ عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَعْتَمِدُ الْإِنْسَانُ وَيُفَوِّضُ الْأَمْرَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْأَمْرُ الثَّانِي: بَذْلُ الْأَسْبَابِ الْمُمْكِنَةِ فَمَتَى مَا جَمَعَ الْإِنْسَانُ بَيْنَ هَذَيْنِ الْأَمْرَيْنِ: اعْتَمَدَ عَلَى اللهِ وَوَثِقَ بِاللهِ، فَوَّضَ الْأَمْرَ إِلَى اللهِ مَعَ كَوْنِهِ قَدْ قَامَ بِالْأَسْبَابِ الَّتِي شَرَعَهَا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَحَلَّهَا، فَإِنَّهُ حِينَئِذٍ يَكُونُ قَدْ تَوَكَّلَ التَّوَكُّلَ الشَّرْعِيَّ وَلِذَا عَرَّفَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ التَّوَكُّلَ بِقَوْلِهِ: هُوَ قَطْعُ النَّظَرِ إِلَى الْأَسْبَابِ بَعْدَ تَهْيِئَةِ الْأَسْبَابِ قَطْعُ النَّظَرِ إِلَى الْأَسْبَابِ مَتَى؟ بَعْدَ بَذْلِ الْأَسْبَابِ أَوْ كَمَا نَقَلَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ فِي “مَدَارِجِ السَّالِكِينَ”، نَقَلَ كَلِمَةً جَمِيلَةً عَنْ بَعْضِهِمْ، أَلَا وَهِيَ أَنَّ التَّوَكُّلَ اضْطِرَابٌ بِلَا سُكُونٍ، وَسُكُونٌ بِلَا اضْطِرَابٍ اضْطِرَابٌ بِلَا سُكُونٍ، وَسُكُونٌ بِلَا اضْطِرَابٍ، مَا مَعْنَى هَذَا الْكَلَامِ؟ اضْطِرَابٌ يَعْنِي حَرَكَةً بِلَا سُكُونٍ، وَذَلِكَ بِالْجَوَارِحِ وَسُكُونٌ طُمَأْنِينَةٌ وَثِقَةٌ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِالْقَلْبِ، بِدُونِ اضْطِرَابٍ، بِدُونِ حَرَكَةِ قَلْبٍ وَلَا شَكٍّ وَلَا يَأْسٍ إِذًا التَّوَكُّلُ هُوَ مَاذَا؟ اضْطِرَابٌ بِلَا سُكُونٍ، وَسُكُونٌ بِلَا اضْطِرَابٍ. بِهَذَا يَكُونُ الْإِنْسَانُ قَدْ تَوَكَّلَ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَقَّ التَّوَكُّلِ تَأَمَّلْ فِي قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا هَذَا الْحَدِيثُ يَدُلُّ عَلَى حُصُولِ يَقِينٍ وَتَفْوِيضٍ، وَعَلَى بَذْلِ سَبَبٍ؛ لِأَنَّ الطَّيْرَ مَا جَلَسَتْ الطَّيْرُ مَاذَا فَعَلَتْ؟ ذَهَبَتْ وَغَدَتْ تَبْحَثُ عَنِ الرِّزْقِ، ثُمَّ عَادَتْ وَقَدْ مَنَّ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَيْهَا بِالرِّزْقِ. إِذًا هَكَذَا يَكُونُ التَّوَكُّلُ الشَّرْعِيُّ يَقَعُ النَّاسُ فِي أَخْطَاءٍ فِي هَذَا الْبَابِ، أَهَمُّ تِلْكَ الْأَخْطَاءِ مَا يَأْتِي أَوَّلًا، أَنْ يَتَوَكَّلَ الْإِنْسَانُ عَلَى غَيْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فِيمَا لَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ إِلَّا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَهَذَا يَقَعُ فِي حَالِ مَنْ لَمْ يَقْدِرِ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَقَّ قَدْرِهِ، وَمَنْ أَشْرَكَ بِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَيَكْثُرُ هَذَا فِي عُبَّادِ الْقُبُورِ، يَكُونُ قَلْبُهُ مُعَلَّقًا بِغَيْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي تَفْرِيجِ الْكُرُوبِ، وَتَنْفِيسِ الْهُمُومِ، وَمَغْفِرَةِ الذُّنُوبِ، وَإِزَالَةِ الْعَقَبَاتِ بَلْ يَكَادُ أَنْ يَكُونَ قَدْ فَوَّضَ كُلَّ شَيْءٍ إِلَى سَيِّدِهِ الَّذِي يَعْبُدُهُ، حَيًّا كَانَ أَوْ مَيِّتًا. وَهَذَا أَمْرٌ عَظِيمٌ وَلِذَا كَمْ يَتَدَاوَلُ بَعْضُ النَّاسِ أَبْيَاتًا تَدُلُّ عَلَى هَذَا التَّفْوِيضِ الشِّرْكِيِّ. تَجِدُ أَنَّهُمْ يُنْشِدُونَ إِنْ لَمْ تَكُنْ فِي مَعَادِي آخِذًا بِيَدِي فَضْلًا، وَإِلَّا فَقُلْ يَا زَلَّةَ الْقَدَمِ. يُخَاطِبُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهَذَا عِنْدَهُ أَنَّ ثِقَتَهُ وَتَفْوِيضَهُ إِنَّمَا هِيَ فِي النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَإِلَّا فَالْهَلَاكُ حَاصِلٌ فِي الْآخِرَةِ تَوَكَّلَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَأْنِ النَّجَاةِ فِي الْآخِرَةِ! وَلَا شَكَّ أَنَّ هَذَا تَوَكُّلٌ شِرْكِيٌّ، عَافَانِيَ اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنْ ذَلِكَ. إِذًا تَنَبَّهْ يَا رَعَاكَ اللهُ إِلَى هَذَا الْأَمْرِ الأَمْرُ الثَّانِي: بَعْضُ النَّاسِ يَقَعُ فِي شِرْكٍ أَصْغَرَ، وَذَلِكَ بِأَنَّهُ يُلَاحِظُ الْمَخْلُوقَ بِقَلْبِهِ وَيَعْتَمِدُ عَلَيْهِ بَعْضَ الِاعْتِمَادِ فِي شَأْنٍ مِنَ الْأُمُورِ الدُّنْيَوِيَّةِ يَعْنِي بَعْضُ النَّاسِ يَكُونُ فِي حَاجَةٍ إِلَى شَيْءٍ مَا. الَّذِي يَنْبَغِي عَلَيْكَ أَنَّكَ إِذَا احْتَجْتَ إِلَى أَحَدٍ، وَاضْطَرَرْتَ إِلَى سُؤَالِ أَحَدٍ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَى شَيْءٍ، يَقْدِرُ عَلَى إِعَانَتِكَ، يَقْدِرُ عَلَى أَنْ يَتَوَسَّطَ لَكَ أَوْ يَشْفَعَ لَكَ فَإِنَّكَ يَنْبَغِي أَنْ تُلَاحِظَ أَنَّ الْجَوَازَ هَا هُنَا مَشْرُوطٌ بِكَوْنِ قَلْبِكَ مُعْتَمِدًا عَلَى اللهِ فَقَطْ إِنَّمَا أَنْتَ تَطْلُبُ بِجَوَارِحِكَ، أَمَّا قَلْبُكَ فَإِنَّهُ وَاثِقٌ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا بِالْمَخْلُوقِ وَنَحْنُ قَدْ عَلِمْنَا قَبْلَ قَلِيلٍ أَنَّ التَّوَكُّلَ هُوَ قَطْعُ النَّظَرِ فِي الْأَسْبَابِ بَعْدَ بَذْلِ الْأَسْبَابِ فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ الْتِفَاتٌ فِي قَلْبِهِ إِلَى مَخْلُوقٍ فِي تَحْصِيلِ مَنْفَعَةٍ أَوْ دَفْعِ مَضَرَّةٍ، فَإِنَّهُ يَكُونُ قَدْ وَقَعَ فِي جِنْسِ الشِّرْكِ الْأَصْغَرِ وَهَذَا بَحْرٌ لَا سَاحِلَ لَهُ، وَمَا أَكْثَرَ الْمُخْطِئِينَ فِيهِ! نَسْأَلُ اللهَ أَنْ يُعَافِيَنَا وَأَنْ يَغْفِرَ لَنَا الْأَمْرُ الثَّالِثُ: أَنَّ بَعْضَ النَّاسِ فِي مَسْأَلَةِ التَّوَكُّلِ يَغْفَلُ عَنِ اتِّخَاذِ الْأَسْبَابِ يَظُنُّ أَنَّ التَّوَكُّلَ الصَّحِيحَ هُوَ أَنْ يَتْرُكَ الْإِنْسَانُ اتِّخَاذَ الْأَسْبَابِ لَا يَفْعَلُ شَيْئًا، يَجْلِسُ، وَيَقُولُ: إِنْ شَاءَ اللهُ أَنْ يُعْطِيَنِي وَأَنْ يَصْنَعَ لِي كَذَا وَكَذَا فَإِنَّهُ سَيَكُونُ دُونَ أَنْ يَتَحَرَّكَ وَدُونَ أَنْ يَبْذُلَ الْمُسْتَطَاعَ، وَهَذَا فِي الْحَقِيقَةِ تَوَاكُلٌ لَا تَوَكُّلٌ التَّوَكُّلُ كَمَا قَدْ عَلِمْنَا لَا بُدَّ أَنْ يَجْتَمِعَ فِيهِ الْأَمْرَانِ: يَجْتَمِعُ الثِّقَةُ بِالْقَلْبِ وَالتَّفْوِيضُ مِنَ الْقَلْبِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ، مَعَ بَذْلِ الْأَسْبَابِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَعُودُ بِطَانًا هَذَا النَّبِيُّ الْكَرِيمُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي هُوَ سَيِّدُ الْمُتَوَكِّلِينَ، مَا تَرَكَ اتِّخَاذَ الْأَسْبَابِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَبِسَ فِي أُحُدٍ دِرْعَيْنِ، كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَلْبَسُ فِي الْحُرُوبِ الْمِغْفَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّخَذَ سَبَبًا يَمْنَعُ الْمُشْرِكِينَ مِنَ الْوُصُولِ إِلَى الْمَدِينَةِ، أَلَا وَهُوَ حَفْرُ الْخَنْدَقِ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْتَفِظُ بِقُوتِ أَهْلِهِ مُدَّةَ سَنَةٍ إِذًا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ أَنَّهُ أَعْظَمُ النَّاسِ تَوَكُّلًا لَا يَتْرُكُ اتِّخَاذَ الْأَسْبَابِ إِذًا اتِّخَاذُ الْأَسْبَابِ لَيْسَ قَدْحًا فِي التَّوَكُّلِ. اتِّخَاذُ الْأَسْبَابِ لَيْسَ قَدْحًا فِي التَّوَكُّلِ بَلْ تَرْكُ الْأَسْبَابِ هُوَ الْقَدْحُ فِي التَّوَكُّلِ وَبَعْضُ النَّاسِ يُخْطِئُ فِي هَذَا الْبَابِ خَطَأً عَظِيمًا وَالْعَجِيبُ أَنَّ الَّذِي يَدَّعِي أَنَّهُ يَتْرُكُ اتِّخَاذَ السَّبَبِ تَوَكُّلًا عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَخْطَأَ وَكَذَبَ فِي نَفْسِ الْوَقْتِ هُوَ كَاذِبٌ، مُسْتَحِيلٌ أَنَّ إِنْسَانًا يَمْتَنِعُ عَنْ فِعْلِ أَيِّ سَبَبٍ عَلَى الْإِطْلَاقِ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ ذَكَرَ قِصَّةً عَنْ أَحَدِهِمْ وَهِيَ أَنَّهُ ادَّعَى أَنَّهُ مُتَوَكِّلٌ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَبِالتَّالِي فَإِنَّهُ لَا يَتَّخِذُ أَيَّ سَبَبٍ عَلَى الْإِطْلَاقِ فَكَانَ يُسَافِرُ وَيَتَنَقَّلُ فِي الْقِفَارِ مِنْ مَكَانٍ إِلَى آخَرَ دُونَ أَنْ يَحْمِلَ زَادًا مَعَهُ. لَكِنَّهُ يَقُولُ: لَا بُدَّ أَنْ أَحْمِلَ مَعِي ثَلَاثَةَ أَشْيَاءَ إِنَاءً لِلْوُضُوءِ، وَإِبْرَةً، وَخَيْطًا. يَقُولُ: رُبَّمَا يَنْقَطِعُ ثَوْبِي فَأَنَا بِحَاجَةٍ إِلَى أَنْ أَخِيطَ ثَوْبِي حَتَّى لَا تَظْهَرَ عَوْرَتِي فَتَبْطُلَ صَلَاتِي وَلَا بُدَّ لِي مِنْ إِنَاءٍ أَضَعُ فِيهِ الْمَاءَ إِذَا أَرَدْتُ الْوُضُوءَ. إِذًا هَذَا الرَّجُلُ مَا اسْتَطَاعَ مَاذَا؟ أَنْ يَتْرُكَ اتِّخَاذَ الْأَسْبَابِ بَلْ حَتَّى خُرُوجُهُ مِنْ مَكَانٍ إِلَى آخَرَ لِأَيِّ هَدَفٍ كَانَ، هُوَ فِي الْحَقِيقَةِ اتِّخَاذٌ لِلسَّبَبِ إِذًا لَا يَسْتَطِيعُ إِنْسَانٌ أَنْ يَكُونَ تَارِكًا لِفِعْلِ الْأَسْبَابِ مُطْلَقًا، هَذَا أَمْرٌ لَا يُمْكِنُ لِأَحَدٍ أَنْ يَدَّعِيَهُ الْأَمْرُ الرَّابِعُ، وَهِيَ مَسْأَلَةٌ مُهِمَّةٌ: أَنَّ بَعْضَ النَّاسِ إِذَا سَمِعَ مَا يَتَعَلَّقُ بِالتَّوَكُّلِ لَا يَنْصَرِفُ ذِهْنُهُ إِلَّا إِلَى الْأُمُورِ الدُّنْيَوِيَّةِ يَعْنِي يَظُنُّ أَنَّ التَّوَكُّلَ مَحْصُورٌ فِي مَسْأَلَةِ الرِّزْقِ وَمَا يَدُورُ فِي فَلَكِ هَذَا الْأَمْرِ فَقَطْ، هَذَا هُوَ التَّوَكُّلُ وَهَذَا فِي الْحَقِيقَةِ خَطَأٌ، وَهَذَا فِي الْحَقِيقَةِ نَقْصٌ. بَلْ ثَمَّ تَوَكُّلٌ أَعْظَمُ مِنْ هَذَا وَهُوَ أَنْ تَتَوَكَّلَ عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي شَأْنِ طَاعَتِهِ جَلَّ وَعَلَا، وَفِي شَأْنِ طَلَبِ الْعِلْمِ، وَفِي شَأْنِ الدَّعْوَةِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هَذَا أَعْظَمُ بِكَثِيرٍ! وَاللهِ إِنَّكَ لَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تَفْعَلَ شَيْئًا مِنْ هَذِهِ الْأُمُورِ إِلَّا بِإِعَانَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِذَا هِمَمُ النَّاسِ فِي هَذَا الْبَابِ مُتَفَاوِتَةٌ. شَتَّانَ بَيْنَ مَنْ يَكُونُ تَوَكُّلُهُ فِي حُصُولِ رَغِيفٍ وَمَنْ يَكُونُ تَوَكُّلُهُ فِي طَاعَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَدَاءِ عِبَادَتِهِ إِذًا إِذَا كَانَ مِمَّا يُطْلَبُ وَهَذَا مِنَ الْأَمْرِ الْحَسَنِ الْمَطْلُوبِ أَنْ يَتَوَكَّلَ الْإِنْسَانُ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي شَأْنِ الرِّزْقِ وَالْأَعْمَالِ وَمَا إِلَيْهَا فَإِنَّ التَّوَكُّلَ عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَالِاسْتِعَانَةَ بِهِ، وَتَفْوِيضَ الْأَمْرِ إِلَيْهِ، وَالِاعْتِمَادَ عَلَيْهِ جَلَّ وَعَلَا فِي طَاعَتِهِ هَذَا أَوْلَى وَأَوْلَى وَأَهَمُّ وَلِذَا مَاذَا يَقُولُ الْمُسْلِمُ إِذَا سَمِعَ الْحَيْعَلَتَيْنِ فِي الْأَذَانِ؟ يَقُولُ مَاذَا؟ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ أَنْتَ دُعِيتَ الْآنَ إِلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، جَوَابُكَ بِأَنْ تُفَوِّضَ الْأَمْرَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَتُعْلِنَ اعْتِمَادَكَ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنَّكَ لَا شَيْءَ، لَا يُمْكِنُ أَنْ تَتَحَرَّكَ وَلَا تَفْعَلَ شَيْئًا حَتَّى يَأْذَنَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَيُمِدَّكَ بِعَوْنِهِ وَتَوْفِيقِهِ جَلَّ وَعَلَا إِذًا لَاحِظْ يَا رَعَاكَ اللهُ، فِي كُلِّ أَمْرٍ مِنْ أُمُورِ الدُّنْيَا وَأَهَمُّ مِنْهَا فِي كُلِّ أَمْرٍ مِنْ أُمُورِ الدِّينِ، أَنْ تَتَوَكَّلَ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ إِيَّاكَ أَنْ تَثِقَ بِنَفْسِكَ، تَثِقَ بِإِيمَانِكَ، تَثِقَ بِاجْتِهَادِكَ، تَثِقَ بِذَكَائِكَ، تَثِقَ بِأَنَّكَ فَعَلْتَ وَفَعَلْتَ فِي السَّابِقِ رُبَّمَا تُخْذَلُ بِسَبَبِ هَذِهِ الثِّقَةِ فِي النَّفْسِ الْوَاجِبُ أَنْ يَكُونَ شَأْنُكَ فِي كُلِّ حَالِهِ هُوَ الثِّقَةُ بِاللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
Apa itu tawakal kepada Allah? Hakikat tawakal kepada Allah tersusun dari dua perkara: Pertama, hati bersandar dan menyerahkan urusan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seseorang bersandar dan menyerahkan segala urusannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kedua, mengerahkan sebab-sebab yang memungkinkan untuk ditempuh. Ketika seseorang menggabungkan kedua perkara ini: bersandar kepada Allah, percaya kepada Allah, dan menyerahkan urusan kepada Allah, sekaligus menempuh sebab-sebab yang disyariatkan dan dihalalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka saat itulah ia telah bertawakal dengan tawakal yang syar’i. Karena itu, sebagian ulama mendefinisikan tawakal dengan mengatakan, “Tawakal adalah memalingkan perhatian dari sebab-sebab setelah sebab-sebab itu dipersiapkan.” Kapan perhatian kepada sebab-sebab itu dipalingkan? Setelah sebab-sebab tersebut ditempuh. Atau sebagaimana dinukil Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Madarij As-Salikin. Beliau menukil perkataan indah dari sebagian ulama: “Tawakal adalah gerak tanpa diam, dan diam tanpa gerak.” “Gerak tanpa diam, dan diam tanpa gerak.” Apa maksudnya? Gerak berarti anggota badan terus bergerak dan berusaha. Sedangkan diam adalah ketenangan dan kepercayaan hati kepada Allah ‘Azza wa Jalla, tanpa gejolak hati, keraguan, ataupun keputusasaan. Jadi, apa itu tawakal? Gerak tanpa diam, dan diam tanpa gerak. Dengan inilah seseorang benar-benar bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Renungkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.” (HR. At-Tirmidzi). Hadis ini menunjukkan adanya keyakinan dan penyerahan diri kepada Allah, sekaligus menempuh sebab. Sebab, burung itu tidak hanya duduk diam. Apa yang dilakukan burung itu? Ia pergi pada pagi hari mencari rezeki. Kemudian ia kembali setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan rezeki kepadanya. Demikianlah tawakal yang syar’i. Manusia terjerumus dalam beberapa kesalahan dalam memahami tawakal. Di antara kesalahan yang paling penting untuk diperhatikan adalah: Kesalahan pertama, seseorang bertawakal kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla dalam perkara yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini terjadi pada orang yang tidak mengagungkan Allah ‘Azza wa Jalla sebagaimana mestinya dan berbuat syirik kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini banyak terjadi pada para penyembah kubur. Hati mereka bergantung kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menghilangkan kesusahan, melapangkan kegundahan, mengampuni dosa, dan menyingkirkan berbagai rintangan. Bahkan, hampir seluruh urusannya ia serahkan kepada orang yang ia jadikan sesembahan, baik masih hidup maupun telah meninggal. Ini adalah perkara yang sangat besar. Karena itu, sebagian orang sering melantunkan bait-bait syair yang menunjukkan penyerahan diri yang mengandung kesyirikan ini. Mereka bersyair, “Jika pada hari kembaliku kelak engkau tidak menggandeng tanganku sebagai karunia, maka sungguh celakalah aku karena tergelincir.” Ucapan ini ditujukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Menurut keyakinannya, kepercayaan dan penyerahan urusannya tertuju kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika tidak demikian, menurutnya kebinasaan akan terjadi di akhirat. Ia bertawakal kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam urusan keselamatan di akhirat! Tidak diragukan lagi, ini adalah tawakal yang mengandung kesyirikan. Semoga Allah melindungi saya dan kalian darinya. Maka waspadalah terhadap perkara ini, semoga Allah menjagamu. Kesalahan kedua, sebagian orang terjerumus dalam syirik kecil, yaitu ketika hatinya berpaling kepada makhluk dan menggantungkan sebagian sandarannya kepada makhluk dalam suatu urusan dunia. Maksudnya, terkadang seseorang sedang memerlukan sesuatu. Jika engkau memerlukan bantuan seseorang dan terpaksa meminta kepadanya, dalam perkara yang memang berada dalam kemampuannya, ia mampu membantumu, menjadi perantara bagimu, atau menyampaikan permohonan untukmu, maka perhatikanlah bahwa kebolehan meminta bantuan di sini disyaratkan agar hatimu tetap bersandar hanya kepada Allah.Yang meminta hanyalah anggota badanmu, sedangkan hatimu tetap percaya kepada Allah ‘Azza wa Jalla, bukan kepada makhluk. Kita telah mengetahui sebelumnya bahwa tawakal adalah memalingkan perhatian dari sebab-sebab setelah menempuh sebab-sebab tersebut. Maka siapa yang hatinya berpaling kepada makhluk dalam memperoleh manfaat atau menolak bahaya, ia telah terjerumus ke dalam jenis syirik kecil. Ini ibarat lautan yang tidak bertepi. Betapa banyak orang yang keliru di dalamnya! Kita memohon kepada Allah agar memberi kita keselamatan dan mengampuni kita. Kesalahan ketiga, sebagian orang dalam perkara tawakal justru lalai menempuh sebab-sebab. Ia mengira bahwa tawakal yang benar adalah meninggalkan sebab. Ia tidak melakukan apa-apa, hanya duduk seraya berkata, “Jika Allah menghendaki memberiku ini dan menjadikan untukku begini dan begitu, tentu hal itu akan terjadi.”Ia berkata demikian tanpa bergerak dan tanpa mengerahkan kemampuan. Hakikatnya, ini adalah tawakul, bukan tawakal. Sebagaimana telah kita ketahui, tawakal harus menghimpun dua perkara: kepercayaan dan penyerahan hati kepada Allah ‘Azza wa Jalla, disertai dengan menempuh sebab. “Niscaya Allah memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.” Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam, penghulu orang-orang yang bertawakal, tidak meninggalkan sebab. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenakan dua lapis baju besi pada Perang Uhud. Dalam peperangan, beliau juga mengenakan mighfar, yaitu pelindung kepala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menempuh sebab untuk menghalangi kaum musyrikin mencapai Madinah, yaitu dengan menggali parit. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyimpan persediaan makanan untuk keluarganya selama setahun. Jadi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, meskipun beliau adalah orang yang paling sempurna tawakalnya, tapi beliau tidak meninggalkan sebab. Maka menempuh sebab sama sekali tidak mencederai tawakal. Menempuh sebab tidak mencederai tawakal. Justru meninggalkan sebablah yang mencederai tawakal. Sebagian orang melakukan kesalahan besar dalam perkara ini. Anehnya, orang yang mengaku meninggalkan sebab karena bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sebenarnya telah keliru sekaligus berdusta.Ia pendusta! Mustahil seseorang sama sekali tidak melakukan sebab apa pun. Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan kisah seseorang yang mengaku bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla sehingga ia sama sekali tidak mau menempuh sebab apa pun. Ia bepergian melintasi padang tandus dari satu tempat ke tempat lain tanpa membawa bekal. Namun ia berkata, “Aku tetap harus membawa tiga benda: wadah untuk berwudu, jarum, dan benang.” Ia berkata, “Barangkali pakaianku robek, maka aku perlu menjahitnya agar auratku tidak tersingkap sehingga salatku batal. Aku juga harus membawa wadah untuk menaruh air ketika hendak berwudu.” Jadi, apa yang ternyata tidak mampu dilakukan orang ini? Meninggalkan sebab! Bahkan, perpindahannya dari satu tempat ke tempat lain untuk tujuan apa pun, pada hakikatnya sudah merupakan bentuk menempuh sebab. Jadi, tidak seorang pun mampu meninggalkan seluruh sebab secara mutlak. Tidak seorang pun dapat mengklaim hal seperti itu. Kesalahan keempat, dan ini sangat penting: sebagian orang ketika mendengar pembahasan tawakal, pikirannya hanya tertuju kepada urusan dunia. Ia mengira bahwa tawakal hanya terbatas pada perkara rezeki dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Seolah-olah hanya itulah tawakal! Padahal ini merupakan kekeliruan dan kekurangan. Ada tawakal yang jauh lebih agung daripada itu, yaitu bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam menaati-Nya Jalla wa ‘Ala, dalam menuntut ilmu, dan dalam berdakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini jauh lebih agung! Demi Allah, engkau tidak akan mampu melakukan satu pun dari perkara-perkara itu kecuali dengan pertolongan Allah ‘Azza wa Jalla. Karena itu, tingkatan tekad manusia dalam perkara ini berbeda-beda. Jauh sekali perbedaan antara orang yang tawakalnya hanya untuk memperoleh sepotong roti, dengan orang yang seluruh tawakalnya ia arahkan untuk menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menunaikan ibadah kepada-Nya. Jadi, jika bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam urusan rezeki, pekerjaan, dan semisalnya merupakan perkara yang dianjurkan, dan memang termasuk perkara baik yang dianjurkan,maka bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, memohon pertolongan kepada-Nya, menyerahkan urusan kepada-Nya, serta bersandar kepada-Nya Jalla wa ‘Ala dalam menaati-Nya, jauh lebih utama dan lebih penting. Karena itu, apa yang diucapkan seorang muslim ketika mendengar hai’alatain dalam azan (“Hayya ‘alash-sholah” dan “Hayya ‘alal-falah”)? Apa yang dia ucapkan? Ia mengucapkan, “Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.” — tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Engkau baru saja dipanggil menuju salat: “Marilah menuju salat, marilah menuju keberuntungan.” Jawabanmu adalah dengan menyerahkan urusan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan menyatakan bahwa engkau bersandar kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Pada dirimu sendiri tidak ada daya apa pun, engkau tidak mampu bergerak ataupun melakukan sesuatu hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengizinkan dan menguatkanmu dengan pertolongan serta taufik-Nya Jalla wa ‘Ala. Maka perhatikanlah, semoga Allah menjagamu. Dalam setiap urusan dunia, dan yang lebih penting lagi dalam setiap urusan agama, bertawakallah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Jangan mengandalkan dirimu sendiri. Jangan mengandalkan imanmu, kesungguhanmu, kecerdasanmu, ataupun merasa yakin karena dahulu engkau telah melakukan berbagai amal. Boleh jadi engkau tidak diberi pertolongan justru karena terlalu mengandalkan diri sendiri. Yang semestinya menjadi sikapmu dalam setiap keadaan adalah bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== التَّوَكُّلُ عَلَى اللهِ مَا هُوَ؟ التَّوَكُّلُ عَلَى اللهِ حَقِيقَةٌ مُرَكَّبَةٌ مِنْ أَمْرَيْنِ اعْتِمَادٌ وَتَفْوِيضٌ قَلْبِيٌّ عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَعْتَمِدُ الْإِنْسَانُ وَيُفَوِّضُ الْأَمْرَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْأَمْرُ الثَّانِي: بَذْلُ الْأَسْبَابِ الْمُمْكِنَةِ فَمَتَى مَا جَمَعَ الْإِنْسَانُ بَيْنَ هَذَيْنِ الْأَمْرَيْنِ: اعْتَمَدَ عَلَى اللهِ وَوَثِقَ بِاللهِ، فَوَّضَ الْأَمْرَ إِلَى اللهِ مَعَ كَوْنِهِ قَدْ قَامَ بِالْأَسْبَابِ الَّتِي شَرَعَهَا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَحَلَّهَا، فَإِنَّهُ حِينَئِذٍ يَكُونُ قَدْ تَوَكَّلَ التَّوَكُّلَ الشَّرْعِيَّ وَلِذَا عَرَّفَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ التَّوَكُّلَ بِقَوْلِهِ: هُوَ قَطْعُ النَّظَرِ إِلَى الْأَسْبَابِ بَعْدَ تَهْيِئَةِ الْأَسْبَابِ قَطْعُ النَّظَرِ إِلَى الْأَسْبَابِ مَتَى؟ بَعْدَ بَذْلِ الْأَسْبَابِ أَوْ كَمَا نَقَلَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ فِي “مَدَارِجِ السَّالِكِينَ”، نَقَلَ كَلِمَةً جَمِيلَةً عَنْ بَعْضِهِمْ، أَلَا وَهِيَ أَنَّ التَّوَكُّلَ اضْطِرَابٌ بِلَا سُكُونٍ، وَسُكُونٌ بِلَا اضْطِرَابٍ اضْطِرَابٌ بِلَا سُكُونٍ، وَسُكُونٌ بِلَا اضْطِرَابٍ، مَا مَعْنَى هَذَا الْكَلَامِ؟ اضْطِرَابٌ يَعْنِي حَرَكَةً بِلَا سُكُونٍ، وَذَلِكَ بِالْجَوَارِحِ وَسُكُونٌ طُمَأْنِينَةٌ وَثِقَةٌ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِالْقَلْبِ، بِدُونِ اضْطِرَابٍ، بِدُونِ حَرَكَةِ قَلْبٍ وَلَا شَكٍّ وَلَا يَأْسٍ إِذًا التَّوَكُّلُ هُوَ مَاذَا؟ اضْطِرَابٌ بِلَا سُكُونٍ، وَسُكُونٌ بِلَا اضْطِرَابٍ. بِهَذَا يَكُونُ الْإِنْسَانُ قَدْ تَوَكَّلَ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَقَّ التَّوَكُّلِ تَأَمَّلْ فِي قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا هَذَا الْحَدِيثُ يَدُلُّ عَلَى حُصُولِ يَقِينٍ وَتَفْوِيضٍ، وَعَلَى بَذْلِ سَبَبٍ؛ لِأَنَّ الطَّيْرَ مَا جَلَسَتْ الطَّيْرُ مَاذَا فَعَلَتْ؟ ذَهَبَتْ وَغَدَتْ تَبْحَثُ عَنِ الرِّزْقِ، ثُمَّ عَادَتْ وَقَدْ مَنَّ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَيْهَا بِالرِّزْقِ. إِذًا هَكَذَا يَكُونُ التَّوَكُّلُ الشَّرْعِيُّ يَقَعُ النَّاسُ فِي أَخْطَاءٍ فِي هَذَا الْبَابِ، أَهَمُّ تِلْكَ الْأَخْطَاءِ مَا يَأْتِي أَوَّلًا، أَنْ يَتَوَكَّلَ الْإِنْسَانُ عَلَى غَيْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فِيمَا لَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ إِلَّا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَهَذَا يَقَعُ فِي حَالِ مَنْ لَمْ يَقْدِرِ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَقَّ قَدْرِهِ، وَمَنْ أَشْرَكَ بِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَيَكْثُرُ هَذَا فِي عُبَّادِ الْقُبُورِ، يَكُونُ قَلْبُهُ مُعَلَّقًا بِغَيْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي تَفْرِيجِ الْكُرُوبِ، وَتَنْفِيسِ الْهُمُومِ، وَمَغْفِرَةِ الذُّنُوبِ، وَإِزَالَةِ الْعَقَبَاتِ بَلْ يَكَادُ أَنْ يَكُونَ قَدْ فَوَّضَ كُلَّ شَيْءٍ إِلَى سَيِّدِهِ الَّذِي يَعْبُدُهُ، حَيًّا كَانَ أَوْ مَيِّتًا. وَهَذَا أَمْرٌ عَظِيمٌ وَلِذَا كَمْ يَتَدَاوَلُ بَعْضُ النَّاسِ أَبْيَاتًا تَدُلُّ عَلَى هَذَا التَّفْوِيضِ الشِّرْكِيِّ. تَجِدُ أَنَّهُمْ يُنْشِدُونَ إِنْ لَمْ تَكُنْ فِي مَعَادِي آخِذًا بِيَدِي فَضْلًا، وَإِلَّا فَقُلْ يَا زَلَّةَ الْقَدَمِ. يُخَاطِبُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهَذَا عِنْدَهُ أَنَّ ثِقَتَهُ وَتَفْوِيضَهُ إِنَّمَا هِيَ فِي النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَإِلَّا فَالْهَلَاكُ حَاصِلٌ فِي الْآخِرَةِ تَوَكَّلَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَأْنِ النَّجَاةِ فِي الْآخِرَةِ! وَلَا شَكَّ أَنَّ هَذَا تَوَكُّلٌ شِرْكِيٌّ، عَافَانِيَ اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنْ ذَلِكَ. إِذًا تَنَبَّهْ يَا رَعَاكَ اللهُ إِلَى هَذَا الْأَمْرِ الأَمْرُ الثَّانِي: بَعْضُ النَّاسِ يَقَعُ فِي شِرْكٍ أَصْغَرَ، وَذَلِكَ بِأَنَّهُ يُلَاحِظُ الْمَخْلُوقَ بِقَلْبِهِ وَيَعْتَمِدُ عَلَيْهِ بَعْضَ الِاعْتِمَادِ فِي شَأْنٍ مِنَ الْأُمُورِ الدُّنْيَوِيَّةِ يَعْنِي بَعْضُ النَّاسِ يَكُونُ فِي حَاجَةٍ إِلَى شَيْءٍ مَا. الَّذِي يَنْبَغِي عَلَيْكَ أَنَّكَ إِذَا احْتَجْتَ إِلَى أَحَدٍ، وَاضْطَرَرْتَ إِلَى سُؤَالِ أَحَدٍ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَى شَيْءٍ، يَقْدِرُ عَلَى إِعَانَتِكَ، يَقْدِرُ عَلَى أَنْ يَتَوَسَّطَ لَكَ أَوْ يَشْفَعَ لَكَ فَإِنَّكَ يَنْبَغِي أَنْ تُلَاحِظَ أَنَّ الْجَوَازَ هَا هُنَا مَشْرُوطٌ بِكَوْنِ قَلْبِكَ مُعْتَمِدًا عَلَى اللهِ فَقَطْ إِنَّمَا أَنْتَ تَطْلُبُ بِجَوَارِحِكَ، أَمَّا قَلْبُكَ فَإِنَّهُ وَاثِقٌ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا بِالْمَخْلُوقِ وَنَحْنُ قَدْ عَلِمْنَا قَبْلَ قَلِيلٍ أَنَّ التَّوَكُّلَ هُوَ قَطْعُ النَّظَرِ فِي الْأَسْبَابِ بَعْدَ بَذْلِ الْأَسْبَابِ فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ الْتِفَاتٌ فِي قَلْبِهِ إِلَى مَخْلُوقٍ فِي تَحْصِيلِ مَنْفَعَةٍ أَوْ دَفْعِ مَضَرَّةٍ، فَإِنَّهُ يَكُونُ قَدْ وَقَعَ فِي جِنْسِ الشِّرْكِ الْأَصْغَرِ وَهَذَا بَحْرٌ لَا سَاحِلَ لَهُ، وَمَا أَكْثَرَ الْمُخْطِئِينَ فِيهِ! نَسْأَلُ اللهَ أَنْ يُعَافِيَنَا وَأَنْ يَغْفِرَ لَنَا الْأَمْرُ الثَّالِثُ: أَنَّ بَعْضَ النَّاسِ فِي مَسْأَلَةِ التَّوَكُّلِ يَغْفَلُ عَنِ اتِّخَاذِ الْأَسْبَابِ يَظُنُّ أَنَّ التَّوَكُّلَ الصَّحِيحَ هُوَ أَنْ يَتْرُكَ الْإِنْسَانُ اتِّخَاذَ الْأَسْبَابِ لَا يَفْعَلُ شَيْئًا، يَجْلِسُ، وَيَقُولُ: إِنْ شَاءَ اللهُ أَنْ يُعْطِيَنِي وَأَنْ يَصْنَعَ لِي كَذَا وَكَذَا فَإِنَّهُ سَيَكُونُ دُونَ أَنْ يَتَحَرَّكَ وَدُونَ أَنْ يَبْذُلَ الْمُسْتَطَاعَ، وَهَذَا فِي الْحَقِيقَةِ تَوَاكُلٌ لَا تَوَكُّلٌ التَّوَكُّلُ كَمَا قَدْ عَلِمْنَا لَا بُدَّ أَنْ يَجْتَمِعَ فِيهِ الْأَمْرَانِ: يَجْتَمِعُ الثِّقَةُ بِالْقَلْبِ وَالتَّفْوِيضُ مِنَ الْقَلْبِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ، مَعَ بَذْلِ الْأَسْبَابِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَعُودُ بِطَانًا هَذَا النَّبِيُّ الْكَرِيمُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي هُوَ سَيِّدُ الْمُتَوَكِّلِينَ، مَا تَرَكَ اتِّخَاذَ الْأَسْبَابِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَبِسَ فِي أُحُدٍ دِرْعَيْنِ، كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَلْبَسُ فِي الْحُرُوبِ الْمِغْفَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّخَذَ سَبَبًا يَمْنَعُ الْمُشْرِكِينَ مِنَ الْوُصُولِ إِلَى الْمَدِينَةِ، أَلَا وَهُوَ حَفْرُ الْخَنْدَقِ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْتَفِظُ بِقُوتِ أَهْلِهِ مُدَّةَ سَنَةٍ إِذًا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ أَنَّهُ أَعْظَمُ النَّاسِ تَوَكُّلًا لَا يَتْرُكُ اتِّخَاذَ الْأَسْبَابِ إِذًا اتِّخَاذُ الْأَسْبَابِ لَيْسَ قَدْحًا فِي التَّوَكُّلِ. اتِّخَاذُ الْأَسْبَابِ لَيْسَ قَدْحًا فِي التَّوَكُّلِ بَلْ تَرْكُ الْأَسْبَابِ هُوَ الْقَدْحُ فِي التَّوَكُّلِ وَبَعْضُ النَّاسِ يُخْطِئُ فِي هَذَا الْبَابِ خَطَأً عَظِيمًا وَالْعَجِيبُ أَنَّ الَّذِي يَدَّعِي أَنَّهُ يَتْرُكُ اتِّخَاذَ السَّبَبِ تَوَكُّلًا عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَخْطَأَ وَكَذَبَ فِي نَفْسِ الْوَقْتِ هُوَ كَاذِبٌ، مُسْتَحِيلٌ أَنَّ إِنْسَانًا يَمْتَنِعُ عَنْ فِعْلِ أَيِّ سَبَبٍ عَلَى الْإِطْلَاقِ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ ذَكَرَ قِصَّةً عَنْ أَحَدِهِمْ وَهِيَ أَنَّهُ ادَّعَى أَنَّهُ مُتَوَكِّلٌ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَبِالتَّالِي فَإِنَّهُ لَا يَتَّخِذُ أَيَّ سَبَبٍ عَلَى الْإِطْلَاقِ فَكَانَ يُسَافِرُ وَيَتَنَقَّلُ فِي الْقِفَارِ مِنْ مَكَانٍ إِلَى آخَرَ دُونَ أَنْ يَحْمِلَ زَادًا مَعَهُ. لَكِنَّهُ يَقُولُ: لَا بُدَّ أَنْ أَحْمِلَ مَعِي ثَلَاثَةَ أَشْيَاءَ إِنَاءً لِلْوُضُوءِ، وَإِبْرَةً، وَخَيْطًا. يَقُولُ: رُبَّمَا يَنْقَطِعُ ثَوْبِي فَأَنَا بِحَاجَةٍ إِلَى أَنْ أَخِيطَ ثَوْبِي حَتَّى لَا تَظْهَرَ عَوْرَتِي فَتَبْطُلَ صَلَاتِي وَلَا بُدَّ لِي مِنْ إِنَاءٍ أَضَعُ فِيهِ الْمَاءَ إِذَا أَرَدْتُ الْوُضُوءَ. إِذًا هَذَا الرَّجُلُ مَا اسْتَطَاعَ مَاذَا؟ أَنْ يَتْرُكَ اتِّخَاذَ الْأَسْبَابِ بَلْ حَتَّى خُرُوجُهُ مِنْ مَكَانٍ إِلَى آخَرَ لِأَيِّ هَدَفٍ كَانَ، هُوَ فِي الْحَقِيقَةِ اتِّخَاذٌ لِلسَّبَبِ إِذًا لَا يَسْتَطِيعُ إِنْسَانٌ أَنْ يَكُونَ تَارِكًا لِفِعْلِ الْأَسْبَابِ مُطْلَقًا، هَذَا أَمْرٌ لَا يُمْكِنُ لِأَحَدٍ أَنْ يَدَّعِيَهُ الْأَمْرُ الرَّابِعُ، وَهِيَ مَسْأَلَةٌ مُهِمَّةٌ: أَنَّ بَعْضَ النَّاسِ إِذَا سَمِعَ مَا يَتَعَلَّقُ بِالتَّوَكُّلِ لَا يَنْصَرِفُ ذِهْنُهُ إِلَّا إِلَى الْأُمُورِ الدُّنْيَوِيَّةِ يَعْنِي يَظُنُّ أَنَّ التَّوَكُّلَ مَحْصُورٌ فِي مَسْأَلَةِ الرِّزْقِ وَمَا يَدُورُ فِي فَلَكِ هَذَا الْأَمْرِ فَقَطْ، هَذَا هُوَ التَّوَكُّلُ وَهَذَا فِي الْحَقِيقَةِ خَطَأٌ، وَهَذَا فِي الْحَقِيقَةِ نَقْصٌ. بَلْ ثَمَّ تَوَكُّلٌ أَعْظَمُ مِنْ هَذَا وَهُوَ أَنْ تَتَوَكَّلَ عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي شَأْنِ طَاعَتِهِ جَلَّ وَعَلَا، وَفِي شَأْنِ طَلَبِ الْعِلْمِ، وَفِي شَأْنِ الدَّعْوَةِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هَذَا أَعْظَمُ بِكَثِيرٍ! وَاللهِ إِنَّكَ لَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تَفْعَلَ شَيْئًا مِنْ هَذِهِ الْأُمُورِ إِلَّا بِإِعَانَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِذَا هِمَمُ النَّاسِ فِي هَذَا الْبَابِ مُتَفَاوِتَةٌ. شَتَّانَ بَيْنَ مَنْ يَكُونُ تَوَكُّلُهُ فِي حُصُولِ رَغِيفٍ وَمَنْ يَكُونُ تَوَكُّلُهُ فِي طَاعَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَدَاءِ عِبَادَتِهِ إِذًا إِذَا كَانَ مِمَّا يُطْلَبُ وَهَذَا مِنَ الْأَمْرِ الْحَسَنِ الْمَطْلُوبِ أَنْ يَتَوَكَّلَ الْإِنْسَانُ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي شَأْنِ الرِّزْقِ وَالْأَعْمَالِ وَمَا إِلَيْهَا فَإِنَّ التَّوَكُّلَ عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَالِاسْتِعَانَةَ بِهِ، وَتَفْوِيضَ الْأَمْرِ إِلَيْهِ، وَالِاعْتِمَادَ عَلَيْهِ جَلَّ وَعَلَا فِي طَاعَتِهِ هَذَا أَوْلَى وَأَوْلَى وَأَهَمُّ وَلِذَا مَاذَا يَقُولُ الْمُسْلِمُ إِذَا سَمِعَ الْحَيْعَلَتَيْنِ فِي الْأَذَانِ؟ يَقُولُ مَاذَا؟ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ أَنْتَ دُعِيتَ الْآنَ إِلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، جَوَابُكَ بِأَنْ تُفَوِّضَ الْأَمْرَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَتُعْلِنَ اعْتِمَادَكَ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنَّكَ لَا شَيْءَ، لَا يُمْكِنُ أَنْ تَتَحَرَّكَ وَلَا تَفْعَلَ شَيْئًا حَتَّى يَأْذَنَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَيُمِدَّكَ بِعَوْنِهِ وَتَوْفِيقِهِ جَلَّ وَعَلَا إِذًا لَاحِظْ يَا رَعَاكَ اللهُ، فِي كُلِّ أَمْرٍ مِنْ أُمُورِ الدُّنْيَا وَأَهَمُّ مِنْهَا فِي كُلِّ أَمْرٍ مِنْ أُمُورِ الدِّينِ، أَنْ تَتَوَكَّلَ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ إِيَّاكَ أَنْ تَثِقَ بِنَفْسِكَ، تَثِقَ بِإِيمَانِكَ، تَثِقَ بِاجْتِهَادِكَ، تَثِقَ بِذَكَائِكَ، تَثِقَ بِأَنَّكَ فَعَلْتَ وَفَعَلْتَ فِي السَّابِقِ رُبَّمَا تُخْذَلُ بِسَبَبِ هَذِهِ الثِّقَةِ فِي النَّفْسِ الْوَاجِبُ أَنْ يَكُونَ شَأْنُكَ فِي كُلِّ حَالِهِ هُوَ الثِّقَةُ بِاللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى


Apa itu tawakal kepada Allah? Hakikat tawakal kepada Allah tersusun dari dua perkara: Pertama, hati bersandar dan menyerahkan urusan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seseorang bersandar dan menyerahkan segala urusannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kedua, mengerahkan sebab-sebab yang memungkinkan untuk ditempuh. Ketika seseorang menggabungkan kedua perkara ini: bersandar kepada Allah, percaya kepada Allah, dan menyerahkan urusan kepada Allah, sekaligus menempuh sebab-sebab yang disyariatkan dan dihalalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka saat itulah ia telah bertawakal dengan tawakal yang syar’i. Karena itu, sebagian ulama mendefinisikan tawakal dengan mengatakan, “Tawakal adalah memalingkan perhatian dari sebab-sebab setelah sebab-sebab itu dipersiapkan.” Kapan perhatian kepada sebab-sebab itu dipalingkan? Setelah sebab-sebab tersebut ditempuh. Atau sebagaimana dinukil Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Madarij As-Salikin. Beliau menukil perkataan indah dari sebagian ulama: “Tawakal adalah gerak tanpa diam, dan diam tanpa gerak.” “Gerak tanpa diam, dan diam tanpa gerak.” Apa maksudnya? Gerak berarti anggota badan terus bergerak dan berusaha. Sedangkan diam adalah ketenangan dan kepercayaan hati kepada Allah ‘Azza wa Jalla, tanpa gejolak hati, keraguan, ataupun keputusasaan. Jadi, apa itu tawakal? Gerak tanpa diam, dan diam tanpa gerak. Dengan inilah seseorang benar-benar bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Renungkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.” (HR. At-Tirmidzi). Hadis ini menunjukkan adanya keyakinan dan penyerahan diri kepada Allah, sekaligus menempuh sebab. Sebab, burung itu tidak hanya duduk diam. Apa yang dilakukan burung itu? Ia pergi pada pagi hari mencari rezeki. Kemudian ia kembali setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan rezeki kepadanya. Demikianlah tawakal yang syar’i. Manusia terjerumus dalam beberapa kesalahan dalam memahami tawakal. Di antara kesalahan yang paling penting untuk diperhatikan adalah: Kesalahan pertama, seseorang bertawakal kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla dalam perkara yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini terjadi pada orang yang tidak mengagungkan Allah ‘Azza wa Jalla sebagaimana mestinya dan berbuat syirik kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini banyak terjadi pada para penyembah kubur. Hati mereka bergantung kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menghilangkan kesusahan, melapangkan kegundahan, mengampuni dosa, dan menyingkirkan berbagai rintangan. Bahkan, hampir seluruh urusannya ia serahkan kepada orang yang ia jadikan sesembahan, baik masih hidup maupun telah meninggal. Ini adalah perkara yang sangat besar. Karena itu, sebagian orang sering melantunkan bait-bait syair yang menunjukkan penyerahan diri yang mengandung kesyirikan ini. Mereka bersyair, “Jika pada hari kembaliku kelak engkau tidak menggandeng tanganku sebagai karunia, maka sungguh celakalah aku karena tergelincir.” Ucapan ini ditujukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Menurut keyakinannya, kepercayaan dan penyerahan urusannya tertuju kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika tidak demikian, menurutnya kebinasaan akan terjadi di akhirat. Ia bertawakal kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam urusan keselamatan di akhirat! Tidak diragukan lagi, ini adalah tawakal yang mengandung kesyirikan. Semoga Allah melindungi saya dan kalian darinya. Maka waspadalah terhadap perkara ini, semoga Allah menjagamu. Kesalahan kedua, sebagian orang terjerumus dalam syirik kecil, yaitu ketika hatinya berpaling kepada makhluk dan menggantungkan sebagian sandarannya kepada makhluk dalam suatu urusan dunia. Maksudnya, terkadang seseorang sedang memerlukan sesuatu. Jika engkau memerlukan bantuan seseorang dan terpaksa meminta kepadanya, dalam perkara yang memang berada dalam kemampuannya, ia mampu membantumu, menjadi perantara bagimu, atau menyampaikan permohonan untukmu, maka perhatikanlah bahwa kebolehan meminta bantuan di sini disyaratkan agar hatimu tetap bersandar hanya kepada Allah.Yang meminta hanyalah anggota badanmu, sedangkan hatimu tetap percaya kepada Allah ‘Azza wa Jalla, bukan kepada makhluk. Kita telah mengetahui sebelumnya bahwa tawakal adalah memalingkan perhatian dari sebab-sebab setelah menempuh sebab-sebab tersebut. Maka siapa yang hatinya berpaling kepada makhluk dalam memperoleh manfaat atau menolak bahaya, ia telah terjerumus ke dalam jenis syirik kecil. Ini ibarat lautan yang tidak bertepi. Betapa banyak orang yang keliru di dalamnya! Kita memohon kepada Allah agar memberi kita keselamatan dan mengampuni kita. Kesalahan ketiga, sebagian orang dalam perkara tawakal justru lalai menempuh sebab-sebab. Ia mengira bahwa tawakal yang benar adalah meninggalkan sebab. Ia tidak melakukan apa-apa, hanya duduk seraya berkata, “Jika Allah menghendaki memberiku ini dan menjadikan untukku begini dan begitu, tentu hal itu akan terjadi.”Ia berkata demikian tanpa bergerak dan tanpa mengerahkan kemampuan. Hakikatnya, ini adalah tawakul, bukan tawakal. Sebagaimana telah kita ketahui, tawakal harus menghimpun dua perkara: kepercayaan dan penyerahan hati kepada Allah ‘Azza wa Jalla, disertai dengan menempuh sebab. “Niscaya Allah memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.” Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam, penghulu orang-orang yang bertawakal, tidak meninggalkan sebab. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenakan dua lapis baju besi pada Perang Uhud. Dalam peperangan, beliau juga mengenakan mighfar, yaitu pelindung kepala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menempuh sebab untuk menghalangi kaum musyrikin mencapai Madinah, yaitu dengan menggali parit. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyimpan persediaan makanan untuk keluarganya selama setahun. Jadi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, meskipun beliau adalah orang yang paling sempurna tawakalnya, tapi beliau tidak meninggalkan sebab. Maka menempuh sebab sama sekali tidak mencederai tawakal. Menempuh sebab tidak mencederai tawakal. Justru meninggalkan sebablah yang mencederai tawakal. Sebagian orang melakukan kesalahan besar dalam perkara ini. Anehnya, orang yang mengaku meninggalkan sebab karena bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sebenarnya telah keliru sekaligus berdusta.Ia pendusta! Mustahil seseorang sama sekali tidak melakukan sebab apa pun. Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan kisah seseorang yang mengaku bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla sehingga ia sama sekali tidak mau menempuh sebab apa pun. Ia bepergian melintasi padang tandus dari satu tempat ke tempat lain tanpa membawa bekal. Namun ia berkata, “Aku tetap harus membawa tiga benda: wadah untuk berwudu, jarum, dan benang.” Ia berkata, “Barangkali pakaianku robek, maka aku perlu menjahitnya agar auratku tidak tersingkap sehingga salatku batal. Aku juga harus membawa wadah untuk menaruh air ketika hendak berwudu.” Jadi, apa yang ternyata tidak mampu dilakukan orang ini? Meninggalkan sebab! Bahkan, perpindahannya dari satu tempat ke tempat lain untuk tujuan apa pun, pada hakikatnya sudah merupakan bentuk menempuh sebab. Jadi, tidak seorang pun mampu meninggalkan seluruh sebab secara mutlak. Tidak seorang pun dapat mengklaim hal seperti itu. Kesalahan keempat, dan ini sangat penting: sebagian orang ketika mendengar pembahasan tawakal, pikirannya hanya tertuju kepada urusan dunia. Ia mengira bahwa tawakal hanya terbatas pada perkara rezeki dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Seolah-olah hanya itulah tawakal! Padahal ini merupakan kekeliruan dan kekurangan. Ada tawakal yang jauh lebih agung daripada itu, yaitu bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam menaati-Nya Jalla wa ‘Ala, dalam menuntut ilmu, dan dalam berdakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini jauh lebih agung! Demi Allah, engkau tidak akan mampu melakukan satu pun dari perkara-perkara itu kecuali dengan pertolongan Allah ‘Azza wa Jalla. Karena itu, tingkatan tekad manusia dalam perkara ini berbeda-beda. Jauh sekali perbedaan antara orang yang tawakalnya hanya untuk memperoleh sepotong roti, dengan orang yang seluruh tawakalnya ia arahkan untuk menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menunaikan ibadah kepada-Nya. Jadi, jika bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam urusan rezeki, pekerjaan, dan semisalnya merupakan perkara yang dianjurkan, dan memang termasuk perkara baik yang dianjurkan,maka bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, memohon pertolongan kepada-Nya, menyerahkan urusan kepada-Nya, serta bersandar kepada-Nya Jalla wa ‘Ala dalam menaati-Nya, jauh lebih utama dan lebih penting. Karena itu, apa yang diucapkan seorang muslim ketika mendengar hai’alatain dalam azan (“Hayya ‘alash-sholah” dan “Hayya ‘alal-falah”)? Apa yang dia ucapkan? Ia mengucapkan, “Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.” — tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Engkau baru saja dipanggil menuju salat: “Marilah menuju salat, marilah menuju keberuntungan.” Jawabanmu adalah dengan menyerahkan urusan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan menyatakan bahwa engkau bersandar kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Pada dirimu sendiri tidak ada daya apa pun, engkau tidak mampu bergerak ataupun melakukan sesuatu hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengizinkan dan menguatkanmu dengan pertolongan serta taufik-Nya Jalla wa ‘Ala. Maka perhatikanlah, semoga Allah menjagamu. Dalam setiap urusan dunia, dan yang lebih penting lagi dalam setiap urusan agama, bertawakallah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Jangan mengandalkan dirimu sendiri. Jangan mengandalkan imanmu, kesungguhanmu, kecerdasanmu, ataupun merasa yakin karena dahulu engkau telah melakukan berbagai amal. Boleh jadi engkau tidak diberi pertolongan justru karena terlalu mengandalkan diri sendiri. Yang semestinya menjadi sikapmu dalam setiap keadaan adalah bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== التَّوَكُّلُ عَلَى اللهِ مَا هُوَ؟ التَّوَكُّلُ عَلَى اللهِ حَقِيقَةٌ مُرَكَّبَةٌ مِنْ أَمْرَيْنِ اعْتِمَادٌ وَتَفْوِيضٌ قَلْبِيٌّ عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَعْتَمِدُ الْإِنْسَانُ وَيُفَوِّضُ الْأَمْرَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْأَمْرُ الثَّانِي: بَذْلُ الْأَسْبَابِ الْمُمْكِنَةِ فَمَتَى مَا جَمَعَ الْإِنْسَانُ بَيْنَ هَذَيْنِ الْأَمْرَيْنِ: اعْتَمَدَ عَلَى اللهِ وَوَثِقَ بِاللهِ، فَوَّضَ الْأَمْرَ إِلَى اللهِ مَعَ كَوْنِهِ قَدْ قَامَ بِالْأَسْبَابِ الَّتِي شَرَعَهَا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَحَلَّهَا، فَإِنَّهُ حِينَئِذٍ يَكُونُ قَدْ تَوَكَّلَ التَّوَكُّلَ الشَّرْعِيَّ وَلِذَا عَرَّفَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ التَّوَكُّلَ بِقَوْلِهِ: هُوَ قَطْعُ النَّظَرِ إِلَى الْأَسْبَابِ بَعْدَ تَهْيِئَةِ الْأَسْبَابِ قَطْعُ النَّظَرِ إِلَى الْأَسْبَابِ مَتَى؟ بَعْدَ بَذْلِ الْأَسْبَابِ أَوْ كَمَا نَقَلَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ فِي “مَدَارِجِ السَّالِكِينَ”، نَقَلَ كَلِمَةً جَمِيلَةً عَنْ بَعْضِهِمْ، أَلَا وَهِيَ أَنَّ التَّوَكُّلَ اضْطِرَابٌ بِلَا سُكُونٍ، وَسُكُونٌ بِلَا اضْطِرَابٍ اضْطِرَابٌ بِلَا سُكُونٍ، وَسُكُونٌ بِلَا اضْطِرَابٍ، مَا مَعْنَى هَذَا الْكَلَامِ؟ اضْطِرَابٌ يَعْنِي حَرَكَةً بِلَا سُكُونٍ، وَذَلِكَ بِالْجَوَارِحِ وَسُكُونٌ طُمَأْنِينَةٌ وَثِقَةٌ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِالْقَلْبِ، بِدُونِ اضْطِرَابٍ، بِدُونِ حَرَكَةِ قَلْبٍ وَلَا شَكٍّ وَلَا يَأْسٍ إِذًا التَّوَكُّلُ هُوَ مَاذَا؟ اضْطِرَابٌ بِلَا سُكُونٍ، وَسُكُونٌ بِلَا اضْطِرَابٍ. بِهَذَا يَكُونُ الْإِنْسَانُ قَدْ تَوَكَّلَ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَقَّ التَّوَكُّلِ تَأَمَّلْ فِي قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا هَذَا الْحَدِيثُ يَدُلُّ عَلَى حُصُولِ يَقِينٍ وَتَفْوِيضٍ، وَعَلَى بَذْلِ سَبَبٍ؛ لِأَنَّ الطَّيْرَ مَا جَلَسَتْ الطَّيْرُ مَاذَا فَعَلَتْ؟ ذَهَبَتْ وَغَدَتْ تَبْحَثُ عَنِ الرِّزْقِ، ثُمَّ عَادَتْ وَقَدْ مَنَّ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَيْهَا بِالرِّزْقِ. إِذًا هَكَذَا يَكُونُ التَّوَكُّلُ الشَّرْعِيُّ يَقَعُ النَّاسُ فِي أَخْطَاءٍ فِي هَذَا الْبَابِ، أَهَمُّ تِلْكَ الْأَخْطَاءِ مَا يَأْتِي أَوَّلًا، أَنْ يَتَوَكَّلَ الْإِنْسَانُ عَلَى غَيْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فِيمَا لَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ إِلَّا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَهَذَا يَقَعُ فِي حَالِ مَنْ لَمْ يَقْدِرِ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَقَّ قَدْرِهِ، وَمَنْ أَشْرَكَ بِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَيَكْثُرُ هَذَا فِي عُبَّادِ الْقُبُورِ، يَكُونُ قَلْبُهُ مُعَلَّقًا بِغَيْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي تَفْرِيجِ الْكُرُوبِ، وَتَنْفِيسِ الْهُمُومِ، وَمَغْفِرَةِ الذُّنُوبِ، وَإِزَالَةِ الْعَقَبَاتِ بَلْ يَكَادُ أَنْ يَكُونَ قَدْ فَوَّضَ كُلَّ شَيْءٍ إِلَى سَيِّدِهِ الَّذِي يَعْبُدُهُ، حَيًّا كَانَ أَوْ مَيِّتًا. وَهَذَا أَمْرٌ عَظِيمٌ وَلِذَا كَمْ يَتَدَاوَلُ بَعْضُ النَّاسِ أَبْيَاتًا تَدُلُّ عَلَى هَذَا التَّفْوِيضِ الشِّرْكِيِّ. تَجِدُ أَنَّهُمْ يُنْشِدُونَ إِنْ لَمْ تَكُنْ فِي مَعَادِي آخِذًا بِيَدِي فَضْلًا، وَإِلَّا فَقُلْ يَا زَلَّةَ الْقَدَمِ. يُخَاطِبُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهَذَا عِنْدَهُ أَنَّ ثِقَتَهُ وَتَفْوِيضَهُ إِنَّمَا هِيَ فِي النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَإِلَّا فَالْهَلَاكُ حَاصِلٌ فِي الْآخِرَةِ تَوَكَّلَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَأْنِ النَّجَاةِ فِي الْآخِرَةِ! وَلَا شَكَّ أَنَّ هَذَا تَوَكُّلٌ شِرْكِيٌّ، عَافَانِيَ اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنْ ذَلِكَ. إِذًا تَنَبَّهْ يَا رَعَاكَ اللهُ إِلَى هَذَا الْأَمْرِ الأَمْرُ الثَّانِي: بَعْضُ النَّاسِ يَقَعُ فِي شِرْكٍ أَصْغَرَ، وَذَلِكَ بِأَنَّهُ يُلَاحِظُ الْمَخْلُوقَ بِقَلْبِهِ وَيَعْتَمِدُ عَلَيْهِ بَعْضَ الِاعْتِمَادِ فِي شَأْنٍ مِنَ الْأُمُورِ الدُّنْيَوِيَّةِ يَعْنِي بَعْضُ النَّاسِ يَكُونُ فِي حَاجَةٍ إِلَى شَيْءٍ مَا. الَّذِي يَنْبَغِي عَلَيْكَ أَنَّكَ إِذَا احْتَجْتَ إِلَى أَحَدٍ، وَاضْطَرَرْتَ إِلَى سُؤَالِ أَحَدٍ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَى شَيْءٍ، يَقْدِرُ عَلَى إِعَانَتِكَ، يَقْدِرُ عَلَى أَنْ يَتَوَسَّطَ لَكَ أَوْ يَشْفَعَ لَكَ فَإِنَّكَ يَنْبَغِي أَنْ تُلَاحِظَ أَنَّ الْجَوَازَ هَا هُنَا مَشْرُوطٌ بِكَوْنِ قَلْبِكَ مُعْتَمِدًا عَلَى اللهِ فَقَطْ إِنَّمَا أَنْتَ تَطْلُبُ بِجَوَارِحِكَ، أَمَّا قَلْبُكَ فَإِنَّهُ وَاثِقٌ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا بِالْمَخْلُوقِ وَنَحْنُ قَدْ عَلِمْنَا قَبْلَ قَلِيلٍ أَنَّ التَّوَكُّلَ هُوَ قَطْعُ النَّظَرِ فِي الْأَسْبَابِ بَعْدَ بَذْلِ الْأَسْبَابِ فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ الْتِفَاتٌ فِي قَلْبِهِ إِلَى مَخْلُوقٍ فِي تَحْصِيلِ مَنْفَعَةٍ أَوْ دَفْعِ مَضَرَّةٍ، فَإِنَّهُ يَكُونُ قَدْ وَقَعَ فِي جِنْسِ الشِّرْكِ الْأَصْغَرِ وَهَذَا بَحْرٌ لَا سَاحِلَ لَهُ، وَمَا أَكْثَرَ الْمُخْطِئِينَ فِيهِ! نَسْأَلُ اللهَ أَنْ يُعَافِيَنَا وَأَنْ يَغْفِرَ لَنَا الْأَمْرُ الثَّالِثُ: أَنَّ بَعْضَ النَّاسِ فِي مَسْأَلَةِ التَّوَكُّلِ يَغْفَلُ عَنِ اتِّخَاذِ الْأَسْبَابِ يَظُنُّ أَنَّ التَّوَكُّلَ الصَّحِيحَ هُوَ أَنْ يَتْرُكَ الْإِنْسَانُ اتِّخَاذَ الْأَسْبَابِ لَا يَفْعَلُ شَيْئًا، يَجْلِسُ، وَيَقُولُ: إِنْ شَاءَ اللهُ أَنْ يُعْطِيَنِي وَأَنْ يَصْنَعَ لِي كَذَا وَكَذَا فَإِنَّهُ سَيَكُونُ دُونَ أَنْ يَتَحَرَّكَ وَدُونَ أَنْ يَبْذُلَ الْمُسْتَطَاعَ، وَهَذَا فِي الْحَقِيقَةِ تَوَاكُلٌ لَا تَوَكُّلٌ التَّوَكُّلُ كَمَا قَدْ عَلِمْنَا لَا بُدَّ أَنْ يَجْتَمِعَ فِيهِ الْأَمْرَانِ: يَجْتَمِعُ الثِّقَةُ بِالْقَلْبِ وَالتَّفْوِيضُ مِنَ الْقَلْبِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ، مَعَ بَذْلِ الْأَسْبَابِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَعُودُ بِطَانًا هَذَا النَّبِيُّ الْكَرِيمُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي هُوَ سَيِّدُ الْمُتَوَكِّلِينَ، مَا تَرَكَ اتِّخَاذَ الْأَسْبَابِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَبِسَ فِي أُحُدٍ دِرْعَيْنِ، كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَلْبَسُ فِي الْحُرُوبِ الْمِغْفَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّخَذَ سَبَبًا يَمْنَعُ الْمُشْرِكِينَ مِنَ الْوُصُولِ إِلَى الْمَدِينَةِ، أَلَا وَهُوَ حَفْرُ الْخَنْدَقِ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْتَفِظُ بِقُوتِ أَهْلِهِ مُدَّةَ سَنَةٍ إِذًا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ أَنَّهُ أَعْظَمُ النَّاسِ تَوَكُّلًا لَا يَتْرُكُ اتِّخَاذَ الْأَسْبَابِ إِذًا اتِّخَاذُ الْأَسْبَابِ لَيْسَ قَدْحًا فِي التَّوَكُّلِ. اتِّخَاذُ الْأَسْبَابِ لَيْسَ قَدْحًا فِي التَّوَكُّلِ بَلْ تَرْكُ الْأَسْبَابِ هُوَ الْقَدْحُ فِي التَّوَكُّلِ وَبَعْضُ النَّاسِ يُخْطِئُ فِي هَذَا الْبَابِ خَطَأً عَظِيمًا وَالْعَجِيبُ أَنَّ الَّذِي يَدَّعِي أَنَّهُ يَتْرُكُ اتِّخَاذَ السَّبَبِ تَوَكُّلًا عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَخْطَأَ وَكَذَبَ فِي نَفْسِ الْوَقْتِ هُوَ كَاذِبٌ، مُسْتَحِيلٌ أَنَّ إِنْسَانًا يَمْتَنِعُ عَنْ فِعْلِ أَيِّ سَبَبٍ عَلَى الْإِطْلَاقِ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ ذَكَرَ قِصَّةً عَنْ أَحَدِهِمْ وَهِيَ أَنَّهُ ادَّعَى أَنَّهُ مُتَوَكِّلٌ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَبِالتَّالِي فَإِنَّهُ لَا يَتَّخِذُ أَيَّ سَبَبٍ عَلَى الْإِطْلَاقِ فَكَانَ يُسَافِرُ وَيَتَنَقَّلُ فِي الْقِفَارِ مِنْ مَكَانٍ إِلَى آخَرَ دُونَ أَنْ يَحْمِلَ زَادًا مَعَهُ. لَكِنَّهُ يَقُولُ: لَا بُدَّ أَنْ أَحْمِلَ مَعِي ثَلَاثَةَ أَشْيَاءَ إِنَاءً لِلْوُضُوءِ، وَإِبْرَةً، وَخَيْطًا. يَقُولُ: رُبَّمَا يَنْقَطِعُ ثَوْبِي فَأَنَا بِحَاجَةٍ إِلَى أَنْ أَخِيطَ ثَوْبِي حَتَّى لَا تَظْهَرَ عَوْرَتِي فَتَبْطُلَ صَلَاتِي وَلَا بُدَّ لِي مِنْ إِنَاءٍ أَضَعُ فِيهِ الْمَاءَ إِذَا أَرَدْتُ الْوُضُوءَ. إِذًا هَذَا الرَّجُلُ مَا اسْتَطَاعَ مَاذَا؟ أَنْ يَتْرُكَ اتِّخَاذَ الْأَسْبَابِ بَلْ حَتَّى خُرُوجُهُ مِنْ مَكَانٍ إِلَى آخَرَ لِأَيِّ هَدَفٍ كَانَ، هُوَ فِي الْحَقِيقَةِ اتِّخَاذٌ لِلسَّبَبِ إِذًا لَا يَسْتَطِيعُ إِنْسَانٌ أَنْ يَكُونَ تَارِكًا لِفِعْلِ الْأَسْبَابِ مُطْلَقًا، هَذَا أَمْرٌ لَا يُمْكِنُ لِأَحَدٍ أَنْ يَدَّعِيَهُ الْأَمْرُ الرَّابِعُ، وَهِيَ مَسْأَلَةٌ مُهِمَّةٌ: أَنَّ بَعْضَ النَّاسِ إِذَا سَمِعَ مَا يَتَعَلَّقُ بِالتَّوَكُّلِ لَا يَنْصَرِفُ ذِهْنُهُ إِلَّا إِلَى الْأُمُورِ الدُّنْيَوِيَّةِ يَعْنِي يَظُنُّ أَنَّ التَّوَكُّلَ مَحْصُورٌ فِي مَسْأَلَةِ الرِّزْقِ وَمَا يَدُورُ فِي فَلَكِ هَذَا الْأَمْرِ فَقَطْ، هَذَا هُوَ التَّوَكُّلُ وَهَذَا فِي الْحَقِيقَةِ خَطَأٌ، وَهَذَا فِي الْحَقِيقَةِ نَقْصٌ. بَلْ ثَمَّ تَوَكُّلٌ أَعْظَمُ مِنْ هَذَا وَهُوَ أَنْ تَتَوَكَّلَ عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي شَأْنِ طَاعَتِهِ جَلَّ وَعَلَا، وَفِي شَأْنِ طَلَبِ الْعِلْمِ، وَفِي شَأْنِ الدَّعْوَةِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هَذَا أَعْظَمُ بِكَثِيرٍ! وَاللهِ إِنَّكَ لَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تَفْعَلَ شَيْئًا مِنْ هَذِهِ الْأُمُورِ إِلَّا بِإِعَانَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِذَا هِمَمُ النَّاسِ فِي هَذَا الْبَابِ مُتَفَاوِتَةٌ. شَتَّانَ بَيْنَ مَنْ يَكُونُ تَوَكُّلُهُ فِي حُصُولِ رَغِيفٍ وَمَنْ يَكُونُ تَوَكُّلُهُ فِي طَاعَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَدَاءِ عِبَادَتِهِ إِذًا إِذَا كَانَ مِمَّا يُطْلَبُ وَهَذَا مِنَ الْأَمْرِ الْحَسَنِ الْمَطْلُوبِ أَنْ يَتَوَكَّلَ الْإِنْسَانُ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي شَأْنِ الرِّزْقِ وَالْأَعْمَالِ وَمَا إِلَيْهَا فَإِنَّ التَّوَكُّلَ عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَالِاسْتِعَانَةَ بِهِ، وَتَفْوِيضَ الْأَمْرِ إِلَيْهِ، وَالِاعْتِمَادَ عَلَيْهِ جَلَّ وَعَلَا فِي طَاعَتِهِ هَذَا أَوْلَى وَأَوْلَى وَأَهَمُّ وَلِذَا مَاذَا يَقُولُ الْمُسْلِمُ إِذَا سَمِعَ الْحَيْعَلَتَيْنِ فِي الْأَذَانِ؟ يَقُولُ مَاذَا؟ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ أَنْتَ دُعِيتَ الْآنَ إِلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، جَوَابُكَ بِأَنْ تُفَوِّضَ الْأَمْرَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَتُعْلِنَ اعْتِمَادَكَ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنَّكَ لَا شَيْءَ، لَا يُمْكِنُ أَنْ تَتَحَرَّكَ وَلَا تَفْعَلَ شَيْئًا حَتَّى يَأْذَنَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَيُمِدَّكَ بِعَوْنِهِ وَتَوْفِيقِهِ جَلَّ وَعَلَا إِذًا لَاحِظْ يَا رَعَاكَ اللهُ، فِي كُلِّ أَمْرٍ مِنْ أُمُورِ الدُّنْيَا وَأَهَمُّ مِنْهَا فِي كُلِّ أَمْرٍ مِنْ أُمُورِ الدِّينِ، أَنْ تَتَوَكَّلَ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ إِيَّاكَ أَنْ تَثِقَ بِنَفْسِكَ، تَثِقَ بِإِيمَانِكَ، تَثِقَ بِاجْتِهَادِكَ، تَثِقَ بِذَكَائِكَ، تَثِقَ بِأَنَّكَ فَعَلْتَ وَفَعَلْتَ فِي السَّابِقِ رُبَّمَا تُخْذَلُ بِسَبَبِ هَذِهِ الثِّقَةِ فِي النَّفْسِ الْوَاجِبُ أَنْ يَكُونَ شَأْنُكَ فِي كُلِّ حَالِهِ هُوَ الثِّقَةُ بِاللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Tafsir Surah Abasa (Bag. 3): Takut dan Berlarian di Hari Kiamat

Setelah Allah menceritakan tentang kufurnya sebagian manusia, mereka tidak beriman kepada Allah, padahal Allah telah memberikan berbagai kenikmatan pada dirinya yang dapat dia saksikan sendiri, maka setelahnya Allah menjelaskan tentang nikmat-nikmat yang ada di alam semesta ini sebagai bukti bahwa Dia adalah Sang Maha Pencipta.Setelah itu, Allah menjelaskan tentang keadaan manusia di hari kiamat, dimana mereka berlari kencang dan menjauh dari orang-orang dekat mereka di dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَلْيَنْظُرِ الْاِنْسَانُ اِلٰى طَعَامِهٖٓ “Maka, hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (QS. Abasa: 24)Allah memerintahkan kita semua untuk merenungi berbagai makanan yang manusia makan sehari-hari. Bukan sekedar melihat lalu mengetahui ini makanan enak, ini rasanya manis, yang ini pahit, dan sebagainya. Bukan hanya itu yang Allah inginkan; akan tetapi lebih jauh, Allah ingin kita merenung bagaimana makanan ini bisa ada, siapa yang menciptakannya, bagaimana bisa makanan ini cocok dengan manusia, nikmat, dan menjadi sebab manusia tetap hidup.Semua makanan tidak terjadi dengan tiba-tiba, akan tetapi mereka telah didesain oleh Allah agar cocok bagi manusia. Merenungi bahwa ada Dzat yang Maha Tahu akan siklus dan sistem tubuh manusia, menumbuhkan berbagai tumbuhan yang dekat dengan manusia, mengajari manusia cara bercocok tanam, serta mempermudah manusia dengan memberikan kemampuan memasak agar bisa menikmati hasilnya.Dengan merengungi adanya nikmat makanan, yang secara umum berasal dari tanah, maka manusia bisa merenungkan bahwa Allah mampu menumbuhkan sesuatu dari tanah yang kosong dan tandus, maka Allah juga mampu menumbuhkan kembali manusia di hari kiamat nanti.Allah kemudian menjelaskan secara umum bagaimana makanan bisa ada di tengah-tengah kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اَنَّا صَبَبْنَا الْمَاۤءَ صَبًّاۙ , ثُمَّ شَقَقْنَا الْاَرْضَ شَقًّا“Sesungguhnya Kami telah mencurahkan air (dari langit) dengan berlimpah. Kemudian, Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya.” (QS. Abasa: 26-27)Allah menurunkan hujan dari awan yang ada di langit dengan bentuk hujan yang bermanfaat, bukan dengan sekali siraman yang akan merusak bumi, akan tetapi dengan rintikan yang lembut dan bermanfaat. Air tersebut kemudian Allah alirkan dan simpan ke berbagai lapisan bumi, sebagiannya merendam biji-biji yang ada di tanah, sebagiannya mengalir sebagai sungai, dan sebagiannya menguap menjadi awan kembali.Setelah biji mendapatkan airnya sebagai “starter” pertumbuhan, Allah bantu tumbuhan muda yang lemah ini dengan cara membelah lapisan tanah yang ada di atasnya, agar tumbuhan ini segera bisa muncul ke atas tanah, lalu dapat menjalankan proses fotosintesis dan membuat makanan bagi dirinya sendiri.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا حَبًّاۙ , وَّعِنَبًا وَّقَضْبًاۙ , وَّزَيْتُوْنًا وَّنَخْلًاۙ , وَّحَدَاۤىِٕقَ غُلْبًا“Lalu, Kami tumbuhkan padanya biji-bijian, anggur, sayur-sayuran, zaitun, pohon kurma, kebun-kebun (yang) rindang, buah-buahan, dan rerumputan.” (QS. Abasa: 27-31)Kemudian tumbuhlah berbagai tumbuhan dengan bermacam-macam kegunaanya bagi manusia, sebagian sebagai makanan pokok, sebagian sebagai buah yang segar, sebagian sebagai obat, sebagian sebagai bahan perabot rumah, sebagian sebagai makanan bagi hewan ternak, dan berbagai kegunaan lainnya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِاَنْعَامِكُمْ“(Semua itu disediakan) untuk kesenanganmu dan hewan-hewan ternakmu.” (QS. Abasa: 32)Sebuah ayat yang seharusnya kita renungi dalam-dalam, kemudian berlinanglah air mata kita, karena begitu besar nikmat yang Allah berikan kepada manusia. Allah berikan berbagai fasilitas hidup bagi segala makhluk yang ada di bumi ini semuanya untuk kebutuhan manusia. Kebutuhan untuk mempertahankan hidupnya serta memiliki keturunan. Setelah itu, seharusnya manusia sadar bahwa satu-satunya yang berhak disembah adalah Allah, yang telah merancang sistem hidup seindah ini.Allah sebutkan berbagai kenikmatan dunia ini, selanjutnya manusia akan dimintai pertanggungjawaban tentang bagaimana nikmat-nikmat ini digunakan, apakah untuk taat kepada Allah atau malah menggunakannya untuk menentang Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاِذَا جَاۤءَتِ الصَّاۤخَّةُ “Maka, apabila datang suara yang memekakkan (dari tiupan sangkakala).” (QS. Abasa: 33)Suara yang sangat keras dan memekakkan telinga ini adalah tiupan sangkakala ketika kiamat tiba. Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan,قال البغوي: الصاخة: يعني صيحة يوم القيامة، سميت بذلك؛ لأنها تصخّ الأسماع وتصمّ الآذان لشدتها، أي تبالغ في إسماعها حتى تكاد تصمّها“As-Shakhkhah bermakna pekikan (suara dahsyat) hari kiamat. Ia dinamakan demikian karena suaranya yang memekakkan pendengaran dan menulikan telinga karena saking dahsyatnya. Artinya, suara tersebut sangat mengerikan dan keras menusuk pendengaran hingga hampir-hampir membuatnya tuli.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ اَخِيْهِۙ , وَاُمِّهٖ وَاَبِيْهِۙ , وَصَاحِبَتِهٖ وَبَنِيْهِۗ , لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَىِٕذٍ شَأْنٌ يُّغْنِيْهِ“Pada hari itu, manusia lari dari saudaranya, (dari) ibu dan bapaknya, serta (dari) istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (QS. Abasa: 34-37)Ketika telah ditiupkan sangkakala yang kedua kalinya, manusia muncul kembali dari kuburnya, Allah mampu untuk menyatukan kembali jasad yang telah hancur dan remuk, menyatukan anggota tubuh yang telah tercerai-berai ribuan kilo, menjadi satu jasad utuh yang sama dengan jasad yang digunakan di dunia. Allah satukan kembali dan Allah tumbuhkan jasad tersebut, kemudian Allah kembalikan ruh kepada jasadnya masing-masing tanpa ada yang tersesat menggunakan jasad orang lain.Allah mampu melakukannya sebagaimana awal potongan surat, mampu untuk menumbuhkan biji dari dalam tanah yang gersang dan tandus.Setelah ruh jiwa kembali kepada jasadnya, semua orang merasa takut dan berlarian, lari dengan kencang karena saking ketakutannya bahwa hari kiamat benar-benar datang. Kaum kafir yang mengingkari kiamat merasa amat takut karena ternyata yang dikabarkan telah datang, tinggal menunggu penyiksaan tiada henti di neraka.Kaum muslimin yang meyakini hari kiamat juga merasa takut, mereka takut harus mempertanggungjawabkan semua hal yang telah dikerjakan di dunia, takut karena belum menjalankan dengan baik amanah dari Allah, takut karena ada nikmat yang harus diaudit oleh Rabb semesta alam.Lebih mengerikan lagi, semua orang takut dan lari dari orang-orang terdekat mereka. Saudara lari dari saudaranya yang lain, anak berlari menghindari ibunya, suami berlari menghindari istrinya, orang tua juga berlari menghindari anak-anaknya. Mengapa? Karena mereka takut dituntut, takut diperberat hisabnya karena melalaikan hak orang-orang terdekat.Semakin sering seseorang bergaul dengan seseorang, kemungkinan untuk saling melakukan kezaliman semakin besar, maka semakin takutlah seseorang bertemu orang dekatnya.Kemudian Allah sebutkan dari urutan dengan tingkat kedekatan yang jauh dahulu, baru yang lebih dekat. Memberikan kesan bahwa tanggungjawab akan semakin berat dengan semakin dekatnya hubungan. Seakan-akan dikatakan bahwa kita akan lari dari saudara kita karena pernah manzalimi, maka lebih lagi kita akan berlari dari orang tua kita, lebih lagi kita akan berlari dari istri kita, dan lebih lagi kita berlari dari anak kita. Karena kita semakin takut akan tuntutan yang mereka layangkan kepada kita.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَىِٕذٍ شَأْنٌ يُّغْنِيْهِ“Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (QS. Abasa: 37)Semua manusia sibuk merenungi amalnya, merenungi nasibnya, kemana kehidupan setelah ini? Apakah kesengsaraan yang tiada akhir, ataukah kenikmatan yang kekal abadi?.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ مُّسْفِرَةٌۙ , ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌ ۚ“Pada hari itu, ada wajah-wajah yang berseri-seri, tertawa lagi gembira ria.” (QS. Abasa: 38-39)Pada hari ini, hari kiamat, manusia akan melihat bagaimana nasibya. Ada wajah-wajah yang berseri-seri dan gembira, mereka adalah kaum mukminin yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mereka juga beramal kebaikan yang ikhlas di dunia.Maka sekaranglah saatnya untuk istirahat, menemukan kenikmatan abadi dan kekal, ditambah kenikmatan untuk melihat wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala, Sang Pancipta kita, yang kita senantiasa rindukan. Hari itu datang, hari keabadian dalam kenikmatan, maka akan abadi wajah berseri dan gembira ini.Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah pernah ditanya, kapan waktu kita beristirahat? Beliau menjawab ketika kita telah melangkahkan kedua kaki kita di surga. Kepada semua pembaca tulisan ini, semoga Allah pertemukan kita di surga-Nya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَوُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌۙ , تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ ۗ , اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُ ࣖ“Pada hari itu, ada (pula) wajah-wajah yang tertutup debu (suram) dan tertutup oleh kegelapan (ditimpa kehinaan dan kesusahan). Mereka itulah orang-orang kafir lagi para pendurhaka.” (QS. Abasa: 40-42)Namun, ada juga manusia yang wajahnya tertutup dengan debu dan kegelapan. Mereka adalah orang-orang kafir dan fasik, menggabungkan sikap tidak beriman kepada Allah dan kezaliman pada sesama makhluk. Mereka sudah mengetahui kesudahan mereka adalah neraka, selama-lamanya merasakan kesengsaraan.Semoga Allah lindungi kita semua dari kekafiran, dari kefasikan, serta dari azab neraka.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 2***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/

Tafsir Surah Abasa (Bag. 3): Takut dan Berlarian di Hari Kiamat

Setelah Allah menceritakan tentang kufurnya sebagian manusia, mereka tidak beriman kepada Allah, padahal Allah telah memberikan berbagai kenikmatan pada dirinya yang dapat dia saksikan sendiri, maka setelahnya Allah menjelaskan tentang nikmat-nikmat yang ada di alam semesta ini sebagai bukti bahwa Dia adalah Sang Maha Pencipta.Setelah itu, Allah menjelaskan tentang keadaan manusia di hari kiamat, dimana mereka berlari kencang dan menjauh dari orang-orang dekat mereka di dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَلْيَنْظُرِ الْاِنْسَانُ اِلٰى طَعَامِهٖٓ “Maka, hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (QS. Abasa: 24)Allah memerintahkan kita semua untuk merenungi berbagai makanan yang manusia makan sehari-hari. Bukan sekedar melihat lalu mengetahui ini makanan enak, ini rasanya manis, yang ini pahit, dan sebagainya. Bukan hanya itu yang Allah inginkan; akan tetapi lebih jauh, Allah ingin kita merenung bagaimana makanan ini bisa ada, siapa yang menciptakannya, bagaimana bisa makanan ini cocok dengan manusia, nikmat, dan menjadi sebab manusia tetap hidup.Semua makanan tidak terjadi dengan tiba-tiba, akan tetapi mereka telah didesain oleh Allah agar cocok bagi manusia. Merenungi bahwa ada Dzat yang Maha Tahu akan siklus dan sistem tubuh manusia, menumbuhkan berbagai tumbuhan yang dekat dengan manusia, mengajari manusia cara bercocok tanam, serta mempermudah manusia dengan memberikan kemampuan memasak agar bisa menikmati hasilnya.Dengan merengungi adanya nikmat makanan, yang secara umum berasal dari tanah, maka manusia bisa merenungkan bahwa Allah mampu menumbuhkan sesuatu dari tanah yang kosong dan tandus, maka Allah juga mampu menumbuhkan kembali manusia di hari kiamat nanti.Allah kemudian menjelaskan secara umum bagaimana makanan bisa ada di tengah-tengah kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اَنَّا صَبَبْنَا الْمَاۤءَ صَبًّاۙ , ثُمَّ شَقَقْنَا الْاَرْضَ شَقًّا“Sesungguhnya Kami telah mencurahkan air (dari langit) dengan berlimpah. Kemudian, Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya.” (QS. Abasa: 26-27)Allah menurunkan hujan dari awan yang ada di langit dengan bentuk hujan yang bermanfaat, bukan dengan sekali siraman yang akan merusak bumi, akan tetapi dengan rintikan yang lembut dan bermanfaat. Air tersebut kemudian Allah alirkan dan simpan ke berbagai lapisan bumi, sebagiannya merendam biji-biji yang ada di tanah, sebagiannya mengalir sebagai sungai, dan sebagiannya menguap menjadi awan kembali.Setelah biji mendapatkan airnya sebagai “starter” pertumbuhan, Allah bantu tumbuhan muda yang lemah ini dengan cara membelah lapisan tanah yang ada di atasnya, agar tumbuhan ini segera bisa muncul ke atas tanah, lalu dapat menjalankan proses fotosintesis dan membuat makanan bagi dirinya sendiri.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا حَبًّاۙ , وَّعِنَبًا وَّقَضْبًاۙ , وَّزَيْتُوْنًا وَّنَخْلًاۙ , وَّحَدَاۤىِٕقَ غُلْبًا“Lalu, Kami tumbuhkan padanya biji-bijian, anggur, sayur-sayuran, zaitun, pohon kurma, kebun-kebun (yang) rindang, buah-buahan, dan rerumputan.” (QS. Abasa: 27-31)Kemudian tumbuhlah berbagai tumbuhan dengan bermacam-macam kegunaanya bagi manusia, sebagian sebagai makanan pokok, sebagian sebagai buah yang segar, sebagian sebagai obat, sebagian sebagai bahan perabot rumah, sebagian sebagai makanan bagi hewan ternak, dan berbagai kegunaan lainnya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِاَنْعَامِكُمْ“(Semua itu disediakan) untuk kesenanganmu dan hewan-hewan ternakmu.” (QS. Abasa: 32)Sebuah ayat yang seharusnya kita renungi dalam-dalam, kemudian berlinanglah air mata kita, karena begitu besar nikmat yang Allah berikan kepada manusia. Allah berikan berbagai fasilitas hidup bagi segala makhluk yang ada di bumi ini semuanya untuk kebutuhan manusia. Kebutuhan untuk mempertahankan hidupnya serta memiliki keturunan. Setelah itu, seharusnya manusia sadar bahwa satu-satunya yang berhak disembah adalah Allah, yang telah merancang sistem hidup seindah ini.Allah sebutkan berbagai kenikmatan dunia ini, selanjutnya manusia akan dimintai pertanggungjawaban tentang bagaimana nikmat-nikmat ini digunakan, apakah untuk taat kepada Allah atau malah menggunakannya untuk menentang Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاِذَا جَاۤءَتِ الصَّاۤخَّةُ “Maka, apabila datang suara yang memekakkan (dari tiupan sangkakala).” (QS. Abasa: 33)Suara yang sangat keras dan memekakkan telinga ini adalah tiupan sangkakala ketika kiamat tiba. Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan,قال البغوي: الصاخة: يعني صيحة يوم القيامة، سميت بذلك؛ لأنها تصخّ الأسماع وتصمّ الآذان لشدتها، أي تبالغ في إسماعها حتى تكاد تصمّها“As-Shakhkhah bermakna pekikan (suara dahsyat) hari kiamat. Ia dinamakan demikian karena suaranya yang memekakkan pendengaran dan menulikan telinga karena saking dahsyatnya. Artinya, suara tersebut sangat mengerikan dan keras menusuk pendengaran hingga hampir-hampir membuatnya tuli.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ اَخِيْهِۙ , وَاُمِّهٖ وَاَبِيْهِۙ , وَصَاحِبَتِهٖ وَبَنِيْهِۗ , لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَىِٕذٍ شَأْنٌ يُّغْنِيْهِ“Pada hari itu, manusia lari dari saudaranya, (dari) ibu dan bapaknya, serta (dari) istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (QS. Abasa: 34-37)Ketika telah ditiupkan sangkakala yang kedua kalinya, manusia muncul kembali dari kuburnya, Allah mampu untuk menyatukan kembali jasad yang telah hancur dan remuk, menyatukan anggota tubuh yang telah tercerai-berai ribuan kilo, menjadi satu jasad utuh yang sama dengan jasad yang digunakan di dunia. Allah satukan kembali dan Allah tumbuhkan jasad tersebut, kemudian Allah kembalikan ruh kepada jasadnya masing-masing tanpa ada yang tersesat menggunakan jasad orang lain.Allah mampu melakukannya sebagaimana awal potongan surat, mampu untuk menumbuhkan biji dari dalam tanah yang gersang dan tandus.Setelah ruh jiwa kembali kepada jasadnya, semua orang merasa takut dan berlarian, lari dengan kencang karena saking ketakutannya bahwa hari kiamat benar-benar datang. Kaum kafir yang mengingkari kiamat merasa amat takut karena ternyata yang dikabarkan telah datang, tinggal menunggu penyiksaan tiada henti di neraka.Kaum muslimin yang meyakini hari kiamat juga merasa takut, mereka takut harus mempertanggungjawabkan semua hal yang telah dikerjakan di dunia, takut karena belum menjalankan dengan baik amanah dari Allah, takut karena ada nikmat yang harus diaudit oleh Rabb semesta alam.Lebih mengerikan lagi, semua orang takut dan lari dari orang-orang terdekat mereka. Saudara lari dari saudaranya yang lain, anak berlari menghindari ibunya, suami berlari menghindari istrinya, orang tua juga berlari menghindari anak-anaknya. Mengapa? Karena mereka takut dituntut, takut diperberat hisabnya karena melalaikan hak orang-orang terdekat.Semakin sering seseorang bergaul dengan seseorang, kemungkinan untuk saling melakukan kezaliman semakin besar, maka semakin takutlah seseorang bertemu orang dekatnya.Kemudian Allah sebutkan dari urutan dengan tingkat kedekatan yang jauh dahulu, baru yang lebih dekat. Memberikan kesan bahwa tanggungjawab akan semakin berat dengan semakin dekatnya hubungan. Seakan-akan dikatakan bahwa kita akan lari dari saudara kita karena pernah manzalimi, maka lebih lagi kita akan berlari dari orang tua kita, lebih lagi kita akan berlari dari istri kita, dan lebih lagi kita berlari dari anak kita. Karena kita semakin takut akan tuntutan yang mereka layangkan kepada kita.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَىِٕذٍ شَأْنٌ يُّغْنِيْهِ“Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (QS. Abasa: 37)Semua manusia sibuk merenungi amalnya, merenungi nasibnya, kemana kehidupan setelah ini? Apakah kesengsaraan yang tiada akhir, ataukah kenikmatan yang kekal abadi?.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ مُّسْفِرَةٌۙ , ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌ ۚ“Pada hari itu, ada wajah-wajah yang berseri-seri, tertawa lagi gembira ria.” (QS. Abasa: 38-39)Pada hari ini, hari kiamat, manusia akan melihat bagaimana nasibya. Ada wajah-wajah yang berseri-seri dan gembira, mereka adalah kaum mukminin yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mereka juga beramal kebaikan yang ikhlas di dunia.Maka sekaranglah saatnya untuk istirahat, menemukan kenikmatan abadi dan kekal, ditambah kenikmatan untuk melihat wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala, Sang Pancipta kita, yang kita senantiasa rindukan. Hari itu datang, hari keabadian dalam kenikmatan, maka akan abadi wajah berseri dan gembira ini.Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah pernah ditanya, kapan waktu kita beristirahat? Beliau menjawab ketika kita telah melangkahkan kedua kaki kita di surga. Kepada semua pembaca tulisan ini, semoga Allah pertemukan kita di surga-Nya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَوُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌۙ , تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ ۗ , اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُ ࣖ“Pada hari itu, ada (pula) wajah-wajah yang tertutup debu (suram) dan tertutup oleh kegelapan (ditimpa kehinaan dan kesusahan). Mereka itulah orang-orang kafir lagi para pendurhaka.” (QS. Abasa: 40-42)Namun, ada juga manusia yang wajahnya tertutup dengan debu dan kegelapan. Mereka adalah orang-orang kafir dan fasik, menggabungkan sikap tidak beriman kepada Allah dan kezaliman pada sesama makhluk. Mereka sudah mengetahui kesudahan mereka adalah neraka, selama-lamanya merasakan kesengsaraan.Semoga Allah lindungi kita semua dari kekafiran, dari kefasikan, serta dari azab neraka.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 2***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/
Setelah Allah menceritakan tentang kufurnya sebagian manusia, mereka tidak beriman kepada Allah, padahal Allah telah memberikan berbagai kenikmatan pada dirinya yang dapat dia saksikan sendiri, maka setelahnya Allah menjelaskan tentang nikmat-nikmat yang ada di alam semesta ini sebagai bukti bahwa Dia adalah Sang Maha Pencipta.Setelah itu, Allah menjelaskan tentang keadaan manusia di hari kiamat, dimana mereka berlari kencang dan menjauh dari orang-orang dekat mereka di dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَلْيَنْظُرِ الْاِنْسَانُ اِلٰى طَعَامِهٖٓ “Maka, hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (QS. Abasa: 24)Allah memerintahkan kita semua untuk merenungi berbagai makanan yang manusia makan sehari-hari. Bukan sekedar melihat lalu mengetahui ini makanan enak, ini rasanya manis, yang ini pahit, dan sebagainya. Bukan hanya itu yang Allah inginkan; akan tetapi lebih jauh, Allah ingin kita merenung bagaimana makanan ini bisa ada, siapa yang menciptakannya, bagaimana bisa makanan ini cocok dengan manusia, nikmat, dan menjadi sebab manusia tetap hidup.Semua makanan tidak terjadi dengan tiba-tiba, akan tetapi mereka telah didesain oleh Allah agar cocok bagi manusia. Merenungi bahwa ada Dzat yang Maha Tahu akan siklus dan sistem tubuh manusia, menumbuhkan berbagai tumbuhan yang dekat dengan manusia, mengajari manusia cara bercocok tanam, serta mempermudah manusia dengan memberikan kemampuan memasak agar bisa menikmati hasilnya.Dengan merengungi adanya nikmat makanan, yang secara umum berasal dari tanah, maka manusia bisa merenungkan bahwa Allah mampu menumbuhkan sesuatu dari tanah yang kosong dan tandus, maka Allah juga mampu menumbuhkan kembali manusia di hari kiamat nanti.Allah kemudian menjelaskan secara umum bagaimana makanan bisa ada di tengah-tengah kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اَنَّا صَبَبْنَا الْمَاۤءَ صَبًّاۙ , ثُمَّ شَقَقْنَا الْاَرْضَ شَقًّا“Sesungguhnya Kami telah mencurahkan air (dari langit) dengan berlimpah. Kemudian, Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya.” (QS. Abasa: 26-27)Allah menurunkan hujan dari awan yang ada di langit dengan bentuk hujan yang bermanfaat, bukan dengan sekali siraman yang akan merusak bumi, akan tetapi dengan rintikan yang lembut dan bermanfaat. Air tersebut kemudian Allah alirkan dan simpan ke berbagai lapisan bumi, sebagiannya merendam biji-biji yang ada di tanah, sebagiannya mengalir sebagai sungai, dan sebagiannya menguap menjadi awan kembali.Setelah biji mendapatkan airnya sebagai “starter” pertumbuhan, Allah bantu tumbuhan muda yang lemah ini dengan cara membelah lapisan tanah yang ada di atasnya, agar tumbuhan ini segera bisa muncul ke atas tanah, lalu dapat menjalankan proses fotosintesis dan membuat makanan bagi dirinya sendiri.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا حَبًّاۙ , وَّعِنَبًا وَّقَضْبًاۙ , وَّزَيْتُوْنًا وَّنَخْلًاۙ , وَّحَدَاۤىِٕقَ غُلْبًا“Lalu, Kami tumbuhkan padanya biji-bijian, anggur, sayur-sayuran, zaitun, pohon kurma, kebun-kebun (yang) rindang, buah-buahan, dan rerumputan.” (QS. Abasa: 27-31)Kemudian tumbuhlah berbagai tumbuhan dengan bermacam-macam kegunaanya bagi manusia, sebagian sebagai makanan pokok, sebagian sebagai buah yang segar, sebagian sebagai obat, sebagian sebagai bahan perabot rumah, sebagian sebagai makanan bagi hewan ternak, dan berbagai kegunaan lainnya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِاَنْعَامِكُمْ“(Semua itu disediakan) untuk kesenanganmu dan hewan-hewan ternakmu.” (QS. Abasa: 32)Sebuah ayat yang seharusnya kita renungi dalam-dalam, kemudian berlinanglah air mata kita, karena begitu besar nikmat yang Allah berikan kepada manusia. Allah berikan berbagai fasilitas hidup bagi segala makhluk yang ada di bumi ini semuanya untuk kebutuhan manusia. Kebutuhan untuk mempertahankan hidupnya serta memiliki keturunan. Setelah itu, seharusnya manusia sadar bahwa satu-satunya yang berhak disembah adalah Allah, yang telah merancang sistem hidup seindah ini.Allah sebutkan berbagai kenikmatan dunia ini, selanjutnya manusia akan dimintai pertanggungjawaban tentang bagaimana nikmat-nikmat ini digunakan, apakah untuk taat kepada Allah atau malah menggunakannya untuk menentang Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاِذَا جَاۤءَتِ الصَّاۤخَّةُ “Maka, apabila datang suara yang memekakkan (dari tiupan sangkakala).” (QS. Abasa: 33)Suara yang sangat keras dan memekakkan telinga ini adalah tiupan sangkakala ketika kiamat tiba. Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan,قال البغوي: الصاخة: يعني صيحة يوم القيامة، سميت بذلك؛ لأنها تصخّ الأسماع وتصمّ الآذان لشدتها، أي تبالغ في إسماعها حتى تكاد تصمّها“As-Shakhkhah bermakna pekikan (suara dahsyat) hari kiamat. Ia dinamakan demikian karena suaranya yang memekakkan pendengaran dan menulikan telinga karena saking dahsyatnya. Artinya, suara tersebut sangat mengerikan dan keras menusuk pendengaran hingga hampir-hampir membuatnya tuli.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ اَخِيْهِۙ , وَاُمِّهٖ وَاَبِيْهِۙ , وَصَاحِبَتِهٖ وَبَنِيْهِۗ , لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَىِٕذٍ شَأْنٌ يُّغْنِيْهِ“Pada hari itu, manusia lari dari saudaranya, (dari) ibu dan bapaknya, serta (dari) istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (QS. Abasa: 34-37)Ketika telah ditiupkan sangkakala yang kedua kalinya, manusia muncul kembali dari kuburnya, Allah mampu untuk menyatukan kembali jasad yang telah hancur dan remuk, menyatukan anggota tubuh yang telah tercerai-berai ribuan kilo, menjadi satu jasad utuh yang sama dengan jasad yang digunakan di dunia. Allah satukan kembali dan Allah tumbuhkan jasad tersebut, kemudian Allah kembalikan ruh kepada jasadnya masing-masing tanpa ada yang tersesat menggunakan jasad orang lain.Allah mampu melakukannya sebagaimana awal potongan surat, mampu untuk menumbuhkan biji dari dalam tanah yang gersang dan tandus.Setelah ruh jiwa kembali kepada jasadnya, semua orang merasa takut dan berlarian, lari dengan kencang karena saking ketakutannya bahwa hari kiamat benar-benar datang. Kaum kafir yang mengingkari kiamat merasa amat takut karena ternyata yang dikabarkan telah datang, tinggal menunggu penyiksaan tiada henti di neraka.Kaum muslimin yang meyakini hari kiamat juga merasa takut, mereka takut harus mempertanggungjawabkan semua hal yang telah dikerjakan di dunia, takut karena belum menjalankan dengan baik amanah dari Allah, takut karena ada nikmat yang harus diaudit oleh Rabb semesta alam.Lebih mengerikan lagi, semua orang takut dan lari dari orang-orang terdekat mereka. Saudara lari dari saudaranya yang lain, anak berlari menghindari ibunya, suami berlari menghindari istrinya, orang tua juga berlari menghindari anak-anaknya. Mengapa? Karena mereka takut dituntut, takut diperberat hisabnya karena melalaikan hak orang-orang terdekat.Semakin sering seseorang bergaul dengan seseorang, kemungkinan untuk saling melakukan kezaliman semakin besar, maka semakin takutlah seseorang bertemu orang dekatnya.Kemudian Allah sebutkan dari urutan dengan tingkat kedekatan yang jauh dahulu, baru yang lebih dekat. Memberikan kesan bahwa tanggungjawab akan semakin berat dengan semakin dekatnya hubungan. Seakan-akan dikatakan bahwa kita akan lari dari saudara kita karena pernah manzalimi, maka lebih lagi kita akan berlari dari orang tua kita, lebih lagi kita akan berlari dari istri kita, dan lebih lagi kita berlari dari anak kita. Karena kita semakin takut akan tuntutan yang mereka layangkan kepada kita.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَىِٕذٍ شَأْنٌ يُّغْنِيْهِ“Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (QS. Abasa: 37)Semua manusia sibuk merenungi amalnya, merenungi nasibnya, kemana kehidupan setelah ini? Apakah kesengsaraan yang tiada akhir, ataukah kenikmatan yang kekal abadi?.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ مُّسْفِرَةٌۙ , ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌ ۚ“Pada hari itu, ada wajah-wajah yang berseri-seri, tertawa lagi gembira ria.” (QS. Abasa: 38-39)Pada hari ini, hari kiamat, manusia akan melihat bagaimana nasibya. Ada wajah-wajah yang berseri-seri dan gembira, mereka adalah kaum mukminin yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mereka juga beramal kebaikan yang ikhlas di dunia.Maka sekaranglah saatnya untuk istirahat, menemukan kenikmatan abadi dan kekal, ditambah kenikmatan untuk melihat wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala, Sang Pancipta kita, yang kita senantiasa rindukan. Hari itu datang, hari keabadian dalam kenikmatan, maka akan abadi wajah berseri dan gembira ini.Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah pernah ditanya, kapan waktu kita beristirahat? Beliau menjawab ketika kita telah melangkahkan kedua kaki kita di surga. Kepada semua pembaca tulisan ini, semoga Allah pertemukan kita di surga-Nya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَوُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌۙ , تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ ۗ , اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُ ࣖ“Pada hari itu, ada (pula) wajah-wajah yang tertutup debu (suram) dan tertutup oleh kegelapan (ditimpa kehinaan dan kesusahan). Mereka itulah orang-orang kafir lagi para pendurhaka.” (QS. Abasa: 40-42)Namun, ada juga manusia yang wajahnya tertutup dengan debu dan kegelapan. Mereka adalah orang-orang kafir dan fasik, menggabungkan sikap tidak beriman kepada Allah dan kezaliman pada sesama makhluk. Mereka sudah mengetahui kesudahan mereka adalah neraka, selama-lamanya merasakan kesengsaraan.Semoga Allah lindungi kita semua dari kekafiran, dari kefasikan, serta dari azab neraka.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 2***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/


Setelah Allah menceritakan tentang kufurnya sebagian manusia, mereka tidak beriman kepada Allah, padahal Allah telah memberikan berbagai kenikmatan pada dirinya yang dapat dia saksikan sendiri, maka setelahnya Allah menjelaskan tentang nikmat-nikmat yang ada di alam semesta ini sebagai bukti bahwa Dia adalah Sang Maha Pencipta.Setelah itu, Allah menjelaskan tentang keadaan manusia di hari kiamat, dimana mereka berlari kencang dan menjauh dari orang-orang dekat mereka di dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَلْيَنْظُرِ الْاِنْسَانُ اِلٰى طَعَامِهٖٓ “Maka, hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (QS. Abasa: 24)Allah memerintahkan kita semua untuk merenungi berbagai makanan yang manusia makan sehari-hari. Bukan sekedar melihat lalu mengetahui ini makanan enak, ini rasanya manis, yang ini pahit, dan sebagainya. Bukan hanya itu yang Allah inginkan; akan tetapi lebih jauh, Allah ingin kita merenung bagaimana makanan ini bisa ada, siapa yang menciptakannya, bagaimana bisa makanan ini cocok dengan manusia, nikmat, dan menjadi sebab manusia tetap hidup.Semua makanan tidak terjadi dengan tiba-tiba, akan tetapi mereka telah didesain oleh Allah agar cocok bagi manusia. Merenungi bahwa ada Dzat yang Maha Tahu akan siklus dan sistem tubuh manusia, menumbuhkan berbagai tumbuhan yang dekat dengan manusia, mengajari manusia cara bercocok tanam, serta mempermudah manusia dengan memberikan kemampuan memasak agar bisa menikmati hasilnya.Dengan merengungi adanya nikmat makanan, yang secara umum berasal dari tanah, maka manusia bisa merenungkan bahwa Allah mampu menumbuhkan sesuatu dari tanah yang kosong dan tandus, maka Allah juga mampu menumbuhkan kembali manusia di hari kiamat nanti.Allah kemudian menjelaskan secara umum bagaimana makanan bisa ada di tengah-tengah kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اَنَّا صَبَبْنَا الْمَاۤءَ صَبًّاۙ , ثُمَّ شَقَقْنَا الْاَرْضَ شَقًّا“Sesungguhnya Kami telah mencurahkan air (dari langit) dengan berlimpah. Kemudian, Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya.” (QS. Abasa: 26-27)Allah menurunkan hujan dari awan yang ada di langit dengan bentuk hujan yang bermanfaat, bukan dengan sekali siraman yang akan merusak bumi, akan tetapi dengan rintikan yang lembut dan bermanfaat. Air tersebut kemudian Allah alirkan dan simpan ke berbagai lapisan bumi, sebagiannya merendam biji-biji yang ada di tanah, sebagiannya mengalir sebagai sungai, dan sebagiannya menguap menjadi awan kembali.Setelah biji mendapatkan airnya sebagai “starter” pertumbuhan, Allah bantu tumbuhan muda yang lemah ini dengan cara membelah lapisan tanah yang ada di atasnya, agar tumbuhan ini segera bisa muncul ke atas tanah, lalu dapat menjalankan proses fotosintesis dan membuat makanan bagi dirinya sendiri.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا حَبًّاۙ , وَّعِنَبًا وَّقَضْبًاۙ , وَّزَيْتُوْنًا وَّنَخْلًاۙ , وَّحَدَاۤىِٕقَ غُلْبًا“Lalu, Kami tumbuhkan padanya biji-bijian, anggur, sayur-sayuran, zaitun, pohon kurma, kebun-kebun (yang) rindang, buah-buahan, dan rerumputan.” (QS. Abasa: 27-31)Kemudian tumbuhlah berbagai tumbuhan dengan bermacam-macam kegunaanya bagi manusia, sebagian sebagai makanan pokok, sebagian sebagai buah yang segar, sebagian sebagai obat, sebagian sebagai bahan perabot rumah, sebagian sebagai makanan bagi hewan ternak, dan berbagai kegunaan lainnya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِاَنْعَامِكُمْ“(Semua itu disediakan) untuk kesenanganmu dan hewan-hewan ternakmu.” (QS. Abasa: 32)Sebuah ayat yang seharusnya kita renungi dalam-dalam, kemudian berlinanglah air mata kita, karena begitu besar nikmat yang Allah berikan kepada manusia. Allah berikan berbagai fasilitas hidup bagi segala makhluk yang ada di bumi ini semuanya untuk kebutuhan manusia. Kebutuhan untuk mempertahankan hidupnya serta memiliki keturunan. Setelah itu, seharusnya manusia sadar bahwa satu-satunya yang berhak disembah adalah Allah, yang telah merancang sistem hidup seindah ini.Allah sebutkan berbagai kenikmatan dunia ini, selanjutnya manusia akan dimintai pertanggungjawaban tentang bagaimana nikmat-nikmat ini digunakan, apakah untuk taat kepada Allah atau malah menggunakannya untuk menentang Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاِذَا جَاۤءَتِ الصَّاۤخَّةُ “Maka, apabila datang suara yang memekakkan (dari tiupan sangkakala).” (QS. Abasa: 33)Suara yang sangat keras dan memekakkan telinga ini adalah tiupan sangkakala ketika kiamat tiba. Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan,قال البغوي: الصاخة: يعني صيحة يوم القيامة، سميت بذلك؛ لأنها تصخّ الأسماع وتصمّ الآذان لشدتها، أي تبالغ في إسماعها حتى تكاد تصمّها“As-Shakhkhah bermakna pekikan (suara dahsyat) hari kiamat. Ia dinamakan demikian karena suaranya yang memekakkan pendengaran dan menulikan telinga karena saking dahsyatnya. Artinya, suara tersebut sangat mengerikan dan keras menusuk pendengaran hingga hampir-hampir membuatnya tuli.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ اَخِيْهِۙ , وَاُمِّهٖ وَاَبِيْهِۙ , وَصَاحِبَتِهٖ وَبَنِيْهِۗ , لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَىِٕذٍ شَأْنٌ يُّغْنِيْهِ“Pada hari itu, manusia lari dari saudaranya, (dari) ibu dan bapaknya, serta (dari) istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (QS. Abasa: 34-37)Ketika telah ditiupkan sangkakala yang kedua kalinya, manusia muncul kembali dari kuburnya, Allah mampu untuk menyatukan kembali jasad yang telah hancur dan remuk, menyatukan anggota tubuh yang telah tercerai-berai ribuan kilo, menjadi satu jasad utuh yang sama dengan jasad yang digunakan di dunia. Allah satukan kembali dan Allah tumbuhkan jasad tersebut, kemudian Allah kembalikan ruh kepada jasadnya masing-masing tanpa ada yang tersesat menggunakan jasad orang lain.Allah mampu melakukannya sebagaimana awal potongan surat, mampu untuk menumbuhkan biji dari dalam tanah yang gersang dan tandus.Setelah ruh jiwa kembali kepada jasadnya, semua orang merasa takut dan berlarian, lari dengan kencang karena saking ketakutannya bahwa hari kiamat benar-benar datang. Kaum kafir yang mengingkari kiamat merasa amat takut karena ternyata yang dikabarkan telah datang, tinggal menunggu penyiksaan tiada henti di neraka.Kaum muslimin yang meyakini hari kiamat juga merasa takut, mereka takut harus mempertanggungjawabkan semua hal yang telah dikerjakan di dunia, takut karena belum menjalankan dengan baik amanah dari Allah, takut karena ada nikmat yang harus diaudit oleh Rabb semesta alam.Lebih mengerikan lagi, semua orang takut dan lari dari orang-orang terdekat mereka. Saudara lari dari saudaranya yang lain, anak berlari menghindari ibunya, suami berlari menghindari istrinya, orang tua juga berlari menghindari anak-anaknya. Mengapa? Karena mereka takut dituntut, takut diperberat hisabnya karena melalaikan hak orang-orang terdekat.Semakin sering seseorang bergaul dengan seseorang, kemungkinan untuk saling melakukan kezaliman semakin besar, maka semakin takutlah seseorang bertemu orang dekatnya.Kemudian Allah sebutkan dari urutan dengan tingkat kedekatan yang jauh dahulu, baru yang lebih dekat. Memberikan kesan bahwa tanggungjawab akan semakin berat dengan semakin dekatnya hubungan. Seakan-akan dikatakan bahwa kita akan lari dari saudara kita karena pernah manzalimi, maka lebih lagi kita akan berlari dari orang tua kita, lebih lagi kita akan berlari dari istri kita, dan lebih lagi kita berlari dari anak kita. Karena kita semakin takut akan tuntutan yang mereka layangkan kepada kita.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَىِٕذٍ شَأْنٌ يُّغْنِيْهِ“Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (QS. Abasa: 37)Semua manusia sibuk merenungi amalnya, merenungi nasibnya, kemana kehidupan setelah ini? Apakah kesengsaraan yang tiada akhir, ataukah kenikmatan yang kekal abadi?.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ مُّسْفِرَةٌۙ , ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌ ۚ“Pada hari itu, ada wajah-wajah yang berseri-seri, tertawa lagi gembira ria.” (QS. Abasa: 38-39)Pada hari ini, hari kiamat, manusia akan melihat bagaimana nasibya. Ada wajah-wajah yang berseri-seri dan gembira, mereka adalah kaum mukminin yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mereka juga beramal kebaikan yang ikhlas di dunia.Maka sekaranglah saatnya untuk istirahat, menemukan kenikmatan abadi dan kekal, ditambah kenikmatan untuk melihat wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala, Sang Pancipta kita, yang kita senantiasa rindukan. Hari itu datang, hari keabadian dalam kenikmatan, maka akan abadi wajah berseri dan gembira ini.Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah pernah ditanya, kapan waktu kita beristirahat? Beliau menjawab ketika kita telah melangkahkan kedua kaki kita di surga. Kepada semua pembaca tulisan ini, semoga Allah pertemukan kita di surga-Nya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَوُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌۙ , تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ ۗ , اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُ ࣖ“Pada hari itu, ada (pula) wajah-wajah yang tertutup debu (suram) dan tertutup oleh kegelapan (ditimpa kehinaan dan kesusahan). Mereka itulah orang-orang kafir lagi para pendurhaka.” (QS. Abasa: 40-42)Namun, ada juga manusia yang wajahnya tertutup dengan debu dan kegelapan. Mereka adalah orang-orang kafir dan fasik, menggabungkan sikap tidak beriman kepada Allah dan kezaliman pada sesama makhluk. Mereka sudah mengetahui kesudahan mereka adalah neraka, selama-lamanya merasakan kesengsaraan.Semoga Allah lindungi kita semua dari kekafiran, dari kefasikan, serta dari azab neraka.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 2***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/

Pintu Terdekat Menuju Allah: Semakin Fakir Kepada-Nya, Semakin Bahagia – Syaikh Shalih As-Sindi

Poin kelima: Pintu terdekat yang mengantarkan seseorang kepada Allah Jalla wa ‘Ala adalah menampakkan kefakirannya kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Yaitu engkau menampakkan kefakiran dan ketergantunganmu kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Demi Allah, inilah hakikat kebahagiaan seorang hamba. Inilah keadaan hamba-hamba Allah Jalla wa ‘Ala yang tulus: engkau menampakkan kefakiranmu kepada Allah dengan hati, lisan, dan anggota badanmu. Menampakkan kefakiran ini termasuk perkara terbesar yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena itu, ucapan seorang hamba, “Laa haula wa laa quwwata illaa billaah,” merupakan salah satu perbendaharaan surga, sebagaimana dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini adalah kalimat yang agung. Di dalamnya seorang hamba menyatakan dengan jelas kefakirannya kepada Allah Jalla wa ‘Ala, dan bahwa Rabbnya adalah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Selama engkau menyadari kefakiranmu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketahuilah bahwa engkau berada dalam kebaikan yang besar. Engkau merasa fakir kepada Allah Jalla wa ‘Ala, bahkan menampakkan kefakiran itu dengan seluruh relung jiwa dan anggota badanmu. Hatimu menyuarakan kefakirannya kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Hatimu meyakini bahwa manusia tidak memiliki sesuatu pun dari dirinya sendiri dan tidak ada sesuatu pun yang bergantung kepadanya. Segala urusan terlaksana dengan pertolongan Allah dan seluruhnya harus ditujukan kepada Allah. Inilah yang harus tertanam dalam hatimu pada setiap saat dalam hidupmu. Demikian pula, engkau menampakkan kefakiran itu dengan lisanmu. Karena itu, di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana diriwayatkan Abu Dawud dan selainnya, dan ini termasuk doa orang yang sedang ditimpa kesusahan, seorang hamba berdoa, “Ya Allah, rahmat-Mu yang kuharapkan. Janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata. Perbaikilah seluruh urusanku. Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata.” (Lihat HR. Abu Daud no. 5090, dengan lafaz yang berbeda). Mengapa? Karena jika manusia diserahkan kepada dirinya sendiri, niscaya ia akan tersesat. Ia akan terombang-ambing dalam kegelapan yang pekat. Sama sekali tidak ada harapan baginya untuk selamat, kecuali jika Allah mengurusnya dan ia berada dalam penjagaan, perlindungan, pemeliharaan, serta petunjuk-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Maka lisanmu senantiasa mengucapkannya. Lisanmu terus melantunkan hauqalah: “Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.” — tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Engkau menyatakan kepada Allah bahwa engkau berlepas dari daya dan kekuatanmu sendiri, lalu bersandar kepada daya dan kekuatan-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Engkau menyatakan bahwa dirimu tidak memiliki apa pun bagi dirimu sendiri, dan bahwa seluruh urusan adalah milik Allah. Demikian pula engkau menampakkan kefakiran kepada Allah Jalla wa ‘Ala melalui anggota badanmu, yaitu dengan bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antara bentuk terbesar dalam menampakkan kefakiran adalah salat, terutama rukuk, dan yang lebih agung lagi adalah sujud. Rukuk adalah pengagungan kepada Allah, sedangkan sujud adalah ketundukan dan kerendahan diri di hadapan-Nya. Keduanya merupakan wujud kefakiran kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka perbanyaklah salat, perbanyaklah rukuk, dan perbanyaklah sujud. Sebab, ini merupakan sarana yang mendatangkan rida Rabbmu Subhanahu wa Ta’ala kepadamu. Wallahul musta’an. ===== الْمَسْأَلَةُ الْخَامِسَةُ: أَقْرَبُ الْأَبْوَابِ الْمُوصِلَةِ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا إِظْهَارُ الِافْتِقَارِ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ تُظْهِرَ فَقْرَكَ وَحَاجَتَكَ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَهَذَا وَاللهِ عَيْنُ سَعَادَةِ الْعَبْدِ وَهَذَا شَأْنُ الْخُلَّصِ مِنْ عِبَادِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا أَنْ تُظْهِرَ افْتِقَارَكَ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا بِقَلْبِكَ وَلِسَانِكَ وَجَوَارِحِكَ هَذَا الْإِظْهَارُ مِنْ أَعْظَمِ مَا يُحِبُّهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلِذَا كَانَ قَوْلُ الْعَبْدِ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، كَانَ كَنْزًا مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ، كَمَا أَخْبَرَ بِهَذَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ كَلِمَةٌ عَظِيمَةٌ فِيهَا تَصْرِيحُ الْعَبْدِ بِافْتِقَارِهِ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا، وَأَنَّ رَبَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ فَمَهْمَا كُنْتَ مُفْتَقِرًا إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، فَاعْلَمْ أَنَّكَ عَلَى خَيْرٍ عَظِيمٍ تَفْتَقِرُ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا، بَلْ تُظْهِرُ هَذَا الِافْتِقَارَ بِكُلِّ حَنَايَاكَ وَجَوَارِحِكَ فَقَلْبُكَ يَنْطِقُ بِالِافْتِقَارِ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا هُوَ مُنْعَقِدٌ عَلَى أَنَّ الْإِنْسَانَ لَيْسَ مِنْهُ شَيْءٌ وَلَا إِلَيْهِ شَيْءٌ وَأَنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ بِاللهِ وَيَجِبُ أَنْ يَكُونَ لِلهِ. هَذَا مَا يَجِبُ أَنْ يَنْعَقِدَ عَلَيْهِ قَلْبُكَ فِي كُلِّ لَحْظَةٍ مِنْ لَحَظَاتِ حَيَاتِكَ وَكَذَلِكَ أَنْ تُظْهِرَ هَذَا الِافْتِقَارَ بِلِسَانِكَ وَلِذَا كَانَ مِنْ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ وَغَيْرِهِ وَهُوَ مِنْ دُعَاءِ الْمَكْرُوبِ أَنْ يَقُولَ الْعَبْدُ اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو، فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍوَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ لَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ لِمَاذَا؟ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ لَوْ وُكِلَ إِلَى نَفْسِهِ فَإِنَّهُ سَيَضِيعُ سَيَتِيهُ فِي ظَلَامٍ دَامِسٍ، فَلَيْسَ لَهُ أَمَلٌ فِي النَّجَاةِ قَطُّ إِلَّا بِأَنْ يَتَوَلَّاهُ اللهُ، وَأَنْ يَكُونَ فِي حِفْظِهِ وَكَلَاءَتِهِ وَرِعَايَتِهِ وَهِدَايَتِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَيَلْهَجُ لِسَانُكَ بِهَذَا، يَلْهَجُ لِسَانُكَ بِالْحَوْقَلَةِ. تَقُولُ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ تَبْرَأُ إِلَى اللهِ مِنْ حَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ إِلَى حَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى تُعْلِنُ أَنَّكَ لَا تَمْلِكُ شَيْئًا لِنَفْسِكَ، وَأَنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ لِلهِ وَأَيْضًا أَنْ تُظْهِرَ الِافْتِقَارَ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا بِجَوَارِحِكَ، وَذَلِكَ بِأَنْ تَجْتَهِدَ فِي عِبَادَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمِنْ أَعْظَمِ مَا يُظْهِرُ الِافْتِقَارَ عِبَادَةُ الصَّلَاةِ، وَلَا سِيَّمَا الرُّكُوعُ، وَأَعْظَمُ مِنْهُ السُّجُودُ فَالرُّكُوعُ تَعْظِيمٌ لِلهِ، وَالسُّجُودُ ذُلٌّ بَيْنَ يَدَيْهِ، وَكِلَاهُمَا افْتِقَارٌ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَأَكْثِرْ مِنَ الصَّلَاةِ، وَأَكْثِرْ مِنَ الرُّكُوعِ، وَأَكْثِرْ مِنَ السُّجُودِ فَإِنَّ هَذَا وَسِيلَةٌ مُرْضِيَةٌ لِرَبِّكَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَنْكَ. وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ

Pintu Terdekat Menuju Allah: Semakin Fakir Kepada-Nya, Semakin Bahagia – Syaikh Shalih As-Sindi

Poin kelima: Pintu terdekat yang mengantarkan seseorang kepada Allah Jalla wa ‘Ala adalah menampakkan kefakirannya kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Yaitu engkau menampakkan kefakiran dan ketergantunganmu kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Demi Allah, inilah hakikat kebahagiaan seorang hamba. Inilah keadaan hamba-hamba Allah Jalla wa ‘Ala yang tulus: engkau menampakkan kefakiranmu kepada Allah dengan hati, lisan, dan anggota badanmu. Menampakkan kefakiran ini termasuk perkara terbesar yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena itu, ucapan seorang hamba, “Laa haula wa laa quwwata illaa billaah,” merupakan salah satu perbendaharaan surga, sebagaimana dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini adalah kalimat yang agung. Di dalamnya seorang hamba menyatakan dengan jelas kefakirannya kepada Allah Jalla wa ‘Ala, dan bahwa Rabbnya adalah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Selama engkau menyadari kefakiranmu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketahuilah bahwa engkau berada dalam kebaikan yang besar. Engkau merasa fakir kepada Allah Jalla wa ‘Ala, bahkan menampakkan kefakiran itu dengan seluruh relung jiwa dan anggota badanmu. Hatimu menyuarakan kefakirannya kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Hatimu meyakini bahwa manusia tidak memiliki sesuatu pun dari dirinya sendiri dan tidak ada sesuatu pun yang bergantung kepadanya. Segala urusan terlaksana dengan pertolongan Allah dan seluruhnya harus ditujukan kepada Allah. Inilah yang harus tertanam dalam hatimu pada setiap saat dalam hidupmu. Demikian pula, engkau menampakkan kefakiran itu dengan lisanmu. Karena itu, di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana diriwayatkan Abu Dawud dan selainnya, dan ini termasuk doa orang yang sedang ditimpa kesusahan, seorang hamba berdoa, “Ya Allah, rahmat-Mu yang kuharapkan. Janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata. Perbaikilah seluruh urusanku. Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata.” (Lihat HR. Abu Daud no. 5090, dengan lafaz yang berbeda). Mengapa? Karena jika manusia diserahkan kepada dirinya sendiri, niscaya ia akan tersesat. Ia akan terombang-ambing dalam kegelapan yang pekat. Sama sekali tidak ada harapan baginya untuk selamat, kecuali jika Allah mengurusnya dan ia berada dalam penjagaan, perlindungan, pemeliharaan, serta petunjuk-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Maka lisanmu senantiasa mengucapkannya. Lisanmu terus melantunkan hauqalah: “Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.” — tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Engkau menyatakan kepada Allah bahwa engkau berlepas dari daya dan kekuatanmu sendiri, lalu bersandar kepada daya dan kekuatan-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Engkau menyatakan bahwa dirimu tidak memiliki apa pun bagi dirimu sendiri, dan bahwa seluruh urusan adalah milik Allah. Demikian pula engkau menampakkan kefakiran kepada Allah Jalla wa ‘Ala melalui anggota badanmu, yaitu dengan bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antara bentuk terbesar dalam menampakkan kefakiran adalah salat, terutama rukuk, dan yang lebih agung lagi adalah sujud. Rukuk adalah pengagungan kepada Allah, sedangkan sujud adalah ketundukan dan kerendahan diri di hadapan-Nya. Keduanya merupakan wujud kefakiran kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka perbanyaklah salat, perbanyaklah rukuk, dan perbanyaklah sujud. Sebab, ini merupakan sarana yang mendatangkan rida Rabbmu Subhanahu wa Ta’ala kepadamu. Wallahul musta’an. ===== الْمَسْأَلَةُ الْخَامِسَةُ: أَقْرَبُ الْأَبْوَابِ الْمُوصِلَةِ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا إِظْهَارُ الِافْتِقَارِ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ تُظْهِرَ فَقْرَكَ وَحَاجَتَكَ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَهَذَا وَاللهِ عَيْنُ سَعَادَةِ الْعَبْدِ وَهَذَا شَأْنُ الْخُلَّصِ مِنْ عِبَادِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا أَنْ تُظْهِرَ افْتِقَارَكَ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا بِقَلْبِكَ وَلِسَانِكَ وَجَوَارِحِكَ هَذَا الْإِظْهَارُ مِنْ أَعْظَمِ مَا يُحِبُّهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلِذَا كَانَ قَوْلُ الْعَبْدِ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، كَانَ كَنْزًا مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ، كَمَا أَخْبَرَ بِهَذَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ كَلِمَةٌ عَظِيمَةٌ فِيهَا تَصْرِيحُ الْعَبْدِ بِافْتِقَارِهِ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا، وَأَنَّ رَبَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ فَمَهْمَا كُنْتَ مُفْتَقِرًا إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، فَاعْلَمْ أَنَّكَ عَلَى خَيْرٍ عَظِيمٍ تَفْتَقِرُ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا، بَلْ تُظْهِرُ هَذَا الِافْتِقَارَ بِكُلِّ حَنَايَاكَ وَجَوَارِحِكَ فَقَلْبُكَ يَنْطِقُ بِالِافْتِقَارِ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا هُوَ مُنْعَقِدٌ عَلَى أَنَّ الْإِنْسَانَ لَيْسَ مِنْهُ شَيْءٌ وَلَا إِلَيْهِ شَيْءٌ وَأَنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ بِاللهِ وَيَجِبُ أَنْ يَكُونَ لِلهِ. هَذَا مَا يَجِبُ أَنْ يَنْعَقِدَ عَلَيْهِ قَلْبُكَ فِي كُلِّ لَحْظَةٍ مِنْ لَحَظَاتِ حَيَاتِكَ وَكَذَلِكَ أَنْ تُظْهِرَ هَذَا الِافْتِقَارَ بِلِسَانِكَ وَلِذَا كَانَ مِنْ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ وَغَيْرِهِ وَهُوَ مِنْ دُعَاءِ الْمَكْرُوبِ أَنْ يَقُولَ الْعَبْدُ اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو، فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍوَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ لَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ لِمَاذَا؟ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ لَوْ وُكِلَ إِلَى نَفْسِهِ فَإِنَّهُ سَيَضِيعُ سَيَتِيهُ فِي ظَلَامٍ دَامِسٍ، فَلَيْسَ لَهُ أَمَلٌ فِي النَّجَاةِ قَطُّ إِلَّا بِأَنْ يَتَوَلَّاهُ اللهُ، وَأَنْ يَكُونَ فِي حِفْظِهِ وَكَلَاءَتِهِ وَرِعَايَتِهِ وَهِدَايَتِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَيَلْهَجُ لِسَانُكَ بِهَذَا، يَلْهَجُ لِسَانُكَ بِالْحَوْقَلَةِ. تَقُولُ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ تَبْرَأُ إِلَى اللهِ مِنْ حَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ إِلَى حَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى تُعْلِنُ أَنَّكَ لَا تَمْلِكُ شَيْئًا لِنَفْسِكَ، وَأَنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ لِلهِ وَأَيْضًا أَنْ تُظْهِرَ الِافْتِقَارَ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا بِجَوَارِحِكَ، وَذَلِكَ بِأَنْ تَجْتَهِدَ فِي عِبَادَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمِنْ أَعْظَمِ مَا يُظْهِرُ الِافْتِقَارَ عِبَادَةُ الصَّلَاةِ، وَلَا سِيَّمَا الرُّكُوعُ، وَأَعْظَمُ مِنْهُ السُّجُودُ فَالرُّكُوعُ تَعْظِيمٌ لِلهِ، وَالسُّجُودُ ذُلٌّ بَيْنَ يَدَيْهِ، وَكِلَاهُمَا افْتِقَارٌ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَأَكْثِرْ مِنَ الصَّلَاةِ، وَأَكْثِرْ مِنَ الرُّكُوعِ، وَأَكْثِرْ مِنَ السُّجُودِ فَإِنَّ هَذَا وَسِيلَةٌ مُرْضِيَةٌ لِرَبِّكَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَنْكَ. وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ
Poin kelima: Pintu terdekat yang mengantarkan seseorang kepada Allah Jalla wa ‘Ala adalah menampakkan kefakirannya kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Yaitu engkau menampakkan kefakiran dan ketergantunganmu kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Demi Allah, inilah hakikat kebahagiaan seorang hamba. Inilah keadaan hamba-hamba Allah Jalla wa ‘Ala yang tulus: engkau menampakkan kefakiranmu kepada Allah dengan hati, lisan, dan anggota badanmu. Menampakkan kefakiran ini termasuk perkara terbesar yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena itu, ucapan seorang hamba, “Laa haula wa laa quwwata illaa billaah,” merupakan salah satu perbendaharaan surga, sebagaimana dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini adalah kalimat yang agung. Di dalamnya seorang hamba menyatakan dengan jelas kefakirannya kepada Allah Jalla wa ‘Ala, dan bahwa Rabbnya adalah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Selama engkau menyadari kefakiranmu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketahuilah bahwa engkau berada dalam kebaikan yang besar. Engkau merasa fakir kepada Allah Jalla wa ‘Ala, bahkan menampakkan kefakiran itu dengan seluruh relung jiwa dan anggota badanmu. Hatimu menyuarakan kefakirannya kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Hatimu meyakini bahwa manusia tidak memiliki sesuatu pun dari dirinya sendiri dan tidak ada sesuatu pun yang bergantung kepadanya. Segala urusan terlaksana dengan pertolongan Allah dan seluruhnya harus ditujukan kepada Allah. Inilah yang harus tertanam dalam hatimu pada setiap saat dalam hidupmu. Demikian pula, engkau menampakkan kefakiran itu dengan lisanmu. Karena itu, di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana diriwayatkan Abu Dawud dan selainnya, dan ini termasuk doa orang yang sedang ditimpa kesusahan, seorang hamba berdoa, “Ya Allah, rahmat-Mu yang kuharapkan. Janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata. Perbaikilah seluruh urusanku. Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata.” (Lihat HR. Abu Daud no. 5090, dengan lafaz yang berbeda). Mengapa? Karena jika manusia diserahkan kepada dirinya sendiri, niscaya ia akan tersesat. Ia akan terombang-ambing dalam kegelapan yang pekat. Sama sekali tidak ada harapan baginya untuk selamat, kecuali jika Allah mengurusnya dan ia berada dalam penjagaan, perlindungan, pemeliharaan, serta petunjuk-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Maka lisanmu senantiasa mengucapkannya. Lisanmu terus melantunkan hauqalah: “Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.” — tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Engkau menyatakan kepada Allah bahwa engkau berlepas dari daya dan kekuatanmu sendiri, lalu bersandar kepada daya dan kekuatan-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Engkau menyatakan bahwa dirimu tidak memiliki apa pun bagi dirimu sendiri, dan bahwa seluruh urusan adalah milik Allah. Demikian pula engkau menampakkan kefakiran kepada Allah Jalla wa ‘Ala melalui anggota badanmu, yaitu dengan bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antara bentuk terbesar dalam menampakkan kefakiran adalah salat, terutama rukuk, dan yang lebih agung lagi adalah sujud. Rukuk adalah pengagungan kepada Allah, sedangkan sujud adalah ketundukan dan kerendahan diri di hadapan-Nya. Keduanya merupakan wujud kefakiran kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka perbanyaklah salat, perbanyaklah rukuk, dan perbanyaklah sujud. Sebab, ini merupakan sarana yang mendatangkan rida Rabbmu Subhanahu wa Ta’ala kepadamu. Wallahul musta’an. ===== الْمَسْأَلَةُ الْخَامِسَةُ: أَقْرَبُ الْأَبْوَابِ الْمُوصِلَةِ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا إِظْهَارُ الِافْتِقَارِ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ تُظْهِرَ فَقْرَكَ وَحَاجَتَكَ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَهَذَا وَاللهِ عَيْنُ سَعَادَةِ الْعَبْدِ وَهَذَا شَأْنُ الْخُلَّصِ مِنْ عِبَادِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا أَنْ تُظْهِرَ افْتِقَارَكَ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا بِقَلْبِكَ وَلِسَانِكَ وَجَوَارِحِكَ هَذَا الْإِظْهَارُ مِنْ أَعْظَمِ مَا يُحِبُّهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلِذَا كَانَ قَوْلُ الْعَبْدِ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، كَانَ كَنْزًا مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ، كَمَا أَخْبَرَ بِهَذَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ كَلِمَةٌ عَظِيمَةٌ فِيهَا تَصْرِيحُ الْعَبْدِ بِافْتِقَارِهِ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا، وَأَنَّ رَبَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ فَمَهْمَا كُنْتَ مُفْتَقِرًا إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، فَاعْلَمْ أَنَّكَ عَلَى خَيْرٍ عَظِيمٍ تَفْتَقِرُ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا، بَلْ تُظْهِرُ هَذَا الِافْتِقَارَ بِكُلِّ حَنَايَاكَ وَجَوَارِحِكَ فَقَلْبُكَ يَنْطِقُ بِالِافْتِقَارِ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا هُوَ مُنْعَقِدٌ عَلَى أَنَّ الْإِنْسَانَ لَيْسَ مِنْهُ شَيْءٌ وَلَا إِلَيْهِ شَيْءٌ وَأَنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ بِاللهِ وَيَجِبُ أَنْ يَكُونَ لِلهِ. هَذَا مَا يَجِبُ أَنْ يَنْعَقِدَ عَلَيْهِ قَلْبُكَ فِي كُلِّ لَحْظَةٍ مِنْ لَحَظَاتِ حَيَاتِكَ وَكَذَلِكَ أَنْ تُظْهِرَ هَذَا الِافْتِقَارَ بِلِسَانِكَ وَلِذَا كَانَ مِنْ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ وَغَيْرِهِ وَهُوَ مِنْ دُعَاءِ الْمَكْرُوبِ أَنْ يَقُولَ الْعَبْدُ اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو، فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍوَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ لَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ لِمَاذَا؟ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ لَوْ وُكِلَ إِلَى نَفْسِهِ فَإِنَّهُ سَيَضِيعُ سَيَتِيهُ فِي ظَلَامٍ دَامِسٍ، فَلَيْسَ لَهُ أَمَلٌ فِي النَّجَاةِ قَطُّ إِلَّا بِأَنْ يَتَوَلَّاهُ اللهُ، وَأَنْ يَكُونَ فِي حِفْظِهِ وَكَلَاءَتِهِ وَرِعَايَتِهِ وَهِدَايَتِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَيَلْهَجُ لِسَانُكَ بِهَذَا، يَلْهَجُ لِسَانُكَ بِالْحَوْقَلَةِ. تَقُولُ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ تَبْرَأُ إِلَى اللهِ مِنْ حَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ إِلَى حَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى تُعْلِنُ أَنَّكَ لَا تَمْلِكُ شَيْئًا لِنَفْسِكَ، وَأَنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ لِلهِ وَأَيْضًا أَنْ تُظْهِرَ الِافْتِقَارَ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا بِجَوَارِحِكَ، وَذَلِكَ بِأَنْ تَجْتَهِدَ فِي عِبَادَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمِنْ أَعْظَمِ مَا يُظْهِرُ الِافْتِقَارَ عِبَادَةُ الصَّلَاةِ، وَلَا سِيَّمَا الرُّكُوعُ، وَأَعْظَمُ مِنْهُ السُّجُودُ فَالرُّكُوعُ تَعْظِيمٌ لِلهِ، وَالسُّجُودُ ذُلٌّ بَيْنَ يَدَيْهِ، وَكِلَاهُمَا افْتِقَارٌ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَأَكْثِرْ مِنَ الصَّلَاةِ، وَأَكْثِرْ مِنَ الرُّكُوعِ، وَأَكْثِرْ مِنَ السُّجُودِ فَإِنَّ هَذَا وَسِيلَةٌ مُرْضِيَةٌ لِرَبِّكَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَنْكَ. وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ


Poin kelima: Pintu terdekat yang mengantarkan seseorang kepada Allah Jalla wa ‘Ala adalah menampakkan kefakirannya kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Yaitu engkau menampakkan kefakiran dan ketergantunganmu kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Demi Allah, inilah hakikat kebahagiaan seorang hamba. Inilah keadaan hamba-hamba Allah Jalla wa ‘Ala yang tulus: engkau menampakkan kefakiranmu kepada Allah dengan hati, lisan, dan anggota badanmu. Menampakkan kefakiran ini termasuk perkara terbesar yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena itu, ucapan seorang hamba, “Laa haula wa laa quwwata illaa billaah,” merupakan salah satu perbendaharaan surga, sebagaimana dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini adalah kalimat yang agung. Di dalamnya seorang hamba menyatakan dengan jelas kefakirannya kepada Allah Jalla wa ‘Ala, dan bahwa Rabbnya adalah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Selama engkau menyadari kefakiranmu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketahuilah bahwa engkau berada dalam kebaikan yang besar. Engkau merasa fakir kepada Allah Jalla wa ‘Ala, bahkan menampakkan kefakiran itu dengan seluruh relung jiwa dan anggota badanmu. Hatimu menyuarakan kefakirannya kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Hatimu meyakini bahwa manusia tidak memiliki sesuatu pun dari dirinya sendiri dan tidak ada sesuatu pun yang bergantung kepadanya. Segala urusan terlaksana dengan pertolongan Allah dan seluruhnya harus ditujukan kepada Allah. Inilah yang harus tertanam dalam hatimu pada setiap saat dalam hidupmu. Demikian pula, engkau menampakkan kefakiran itu dengan lisanmu. Karena itu, di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana diriwayatkan Abu Dawud dan selainnya, dan ini termasuk doa orang yang sedang ditimpa kesusahan, seorang hamba berdoa, “Ya Allah, rahmat-Mu yang kuharapkan. Janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata. Perbaikilah seluruh urusanku. Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata.” (Lihat HR. Abu Daud no. 5090, dengan lafaz yang berbeda). Mengapa? Karena jika manusia diserahkan kepada dirinya sendiri, niscaya ia akan tersesat. Ia akan terombang-ambing dalam kegelapan yang pekat. Sama sekali tidak ada harapan baginya untuk selamat, kecuali jika Allah mengurusnya dan ia berada dalam penjagaan, perlindungan, pemeliharaan, serta petunjuk-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Maka lisanmu senantiasa mengucapkannya. Lisanmu terus melantunkan hauqalah: “Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.” — tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Engkau menyatakan kepada Allah bahwa engkau berlepas dari daya dan kekuatanmu sendiri, lalu bersandar kepada daya dan kekuatan-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Engkau menyatakan bahwa dirimu tidak memiliki apa pun bagi dirimu sendiri, dan bahwa seluruh urusan adalah milik Allah. Demikian pula engkau menampakkan kefakiran kepada Allah Jalla wa ‘Ala melalui anggota badanmu, yaitu dengan bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antara bentuk terbesar dalam menampakkan kefakiran adalah salat, terutama rukuk, dan yang lebih agung lagi adalah sujud. Rukuk adalah pengagungan kepada Allah, sedangkan sujud adalah ketundukan dan kerendahan diri di hadapan-Nya. Keduanya merupakan wujud kefakiran kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka perbanyaklah salat, perbanyaklah rukuk, dan perbanyaklah sujud. Sebab, ini merupakan sarana yang mendatangkan rida Rabbmu Subhanahu wa Ta’ala kepadamu. Wallahul musta’an. ===== الْمَسْأَلَةُ الْخَامِسَةُ: أَقْرَبُ الْأَبْوَابِ الْمُوصِلَةِ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا إِظْهَارُ الِافْتِقَارِ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ تُظْهِرَ فَقْرَكَ وَحَاجَتَكَ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَهَذَا وَاللهِ عَيْنُ سَعَادَةِ الْعَبْدِ وَهَذَا شَأْنُ الْخُلَّصِ مِنْ عِبَادِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا أَنْ تُظْهِرَ افْتِقَارَكَ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا بِقَلْبِكَ وَلِسَانِكَ وَجَوَارِحِكَ هَذَا الْإِظْهَارُ مِنْ أَعْظَمِ مَا يُحِبُّهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلِذَا كَانَ قَوْلُ الْعَبْدِ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، كَانَ كَنْزًا مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ، كَمَا أَخْبَرَ بِهَذَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ كَلِمَةٌ عَظِيمَةٌ فِيهَا تَصْرِيحُ الْعَبْدِ بِافْتِقَارِهِ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا، وَأَنَّ رَبَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ فَمَهْمَا كُنْتَ مُفْتَقِرًا إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، فَاعْلَمْ أَنَّكَ عَلَى خَيْرٍ عَظِيمٍ تَفْتَقِرُ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا، بَلْ تُظْهِرُ هَذَا الِافْتِقَارَ بِكُلِّ حَنَايَاكَ وَجَوَارِحِكَ فَقَلْبُكَ يَنْطِقُ بِالِافْتِقَارِ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا هُوَ مُنْعَقِدٌ عَلَى أَنَّ الْإِنْسَانَ لَيْسَ مِنْهُ شَيْءٌ وَلَا إِلَيْهِ شَيْءٌ وَأَنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ بِاللهِ وَيَجِبُ أَنْ يَكُونَ لِلهِ. هَذَا مَا يَجِبُ أَنْ يَنْعَقِدَ عَلَيْهِ قَلْبُكَ فِي كُلِّ لَحْظَةٍ مِنْ لَحَظَاتِ حَيَاتِكَ وَكَذَلِكَ أَنْ تُظْهِرَ هَذَا الِافْتِقَارَ بِلِسَانِكَ وَلِذَا كَانَ مِنْ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ وَغَيْرِهِ وَهُوَ مِنْ دُعَاءِ الْمَكْرُوبِ أَنْ يَقُولَ الْعَبْدُ اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو، فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍوَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ لَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ لِمَاذَا؟ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ لَوْ وُكِلَ إِلَى نَفْسِهِ فَإِنَّهُ سَيَضِيعُ سَيَتِيهُ فِي ظَلَامٍ دَامِسٍ، فَلَيْسَ لَهُ أَمَلٌ فِي النَّجَاةِ قَطُّ إِلَّا بِأَنْ يَتَوَلَّاهُ اللهُ، وَأَنْ يَكُونَ فِي حِفْظِهِ وَكَلَاءَتِهِ وَرِعَايَتِهِ وَهِدَايَتِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَيَلْهَجُ لِسَانُكَ بِهَذَا، يَلْهَجُ لِسَانُكَ بِالْحَوْقَلَةِ. تَقُولُ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ تَبْرَأُ إِلَى اللهِ مِنْ حَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ إِلَى حَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى تُعْلِنُ أَنَّكَ لَا تَمْلِكُ شَيْئًا لِنَفْسِكَ، وَأَنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ لِلهِ وَأَيْضًا أَنْ تُظْهِرَ الِافْتِقَارَ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا بِجَوَارِحِكَ، وَذَلِكَ بِأَنْ تَجْتَهِدَ فِي عِبَادَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمِنْ أَعْظَمِ مَا يُظْهِرُ الِافْتِقَارَ عِبَادَةُ الصَّلَاةِ، وَلَا سِيَّمَا الرُّكُوعُ، وَأَعْظَمُ مِنْهُ السُّجُودُ فَالرُّكُوعُ تَعْظِيمٌ لِلهِ، وَالسُّجُودُ ذُلٌّ بَيْنَ يَدَيْهِ، وَكِلَاهُمَا افْتِقَارٌ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَأَكْثِرْ مِنَ الصَّلَاةِ، وَأَكْثِرْ مِنَ الرُّكُوعِ، وَأَكْثِرْ مِنَ السُّجُودِ فَإِنَّ هَذَا وَسِيلَةٌ مُرْضِيَةٌ لِرَبِّكَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَنْكَ. وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ

Prinsip-Prinsip Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleMengapa mereka disebut Al-Jama’ah?Ciri-ciri Ahlus Sunnah wal Jama’ahBersikap pertengahan (wasathiyyah)Sabar dan teguh di atas kebenaranAhlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Mereka disebut Al-Jama’ah karena bersatu di atas kebenaran, bukan karena banyaknya jumlah atau fanatisme kepada golongan tertentu.Mengapa mereka disebut Al-Jama’ah?Mereka disebut Al-Jama’ah karena bersatu di atas kebenaran. Salah satu karakteristik mereka adalah tetap bersatu di atas kebenaran. Mereka menjadikan kebenaran sebagai pegangan dan tidak berpaling kepada selainnya. Oleh karena itu, ketika terjadi perbedaan pendapat dan perselisihan, mereka kembalikan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk mengetahui pendapat yang benar, lalu mengikutinya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا“Kemudian jika kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih baik dan lebih bagus akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59)Apabila terjadi perselisihan di antara mereka, mereka tidak bersikeras mempertahankan pendapat masing-masing dan tidak pula fanatik terhadap pandangannya. Sebaliknya, mereka mengembalikan perkara yang diperselisihkan tersebut kepada Al-Qur’an dan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Apa yang terbukti sejalan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah akan mereka ikuti, meskipun bertentangan dengan pendapat mereka. Sebaliknya, apa yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah mereka tinggalkan dan tolak, meskipun sesuai dengan keinginan atau hawa nafsu mereka. Inilah jalan dan manhaj yang ditempuh oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah.Adapun orang-orang yang enggan untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, karena masih fanatik pada pendapatnya, atau lebih memilih mengikuti pendapat kelompoknya meskipun menyelisihi kebenaran, atau menuruti hawa nafsunya, lalu mengaku berada di atas manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, maka hakikatnya ia tidak berada di atas manhaj tersebut, meskipun ia mengaku demikian.Karena Ahlus Sunnah adalah mereka yang bersatu dalam Al-Jama’ah, bukan persatuan di atas berbagai macam kelompok atau golongan dengan segala pemikirannya untuk menyelisihi kebenaran. Maka, yang dimaksud dengan Al-Jama’ah bukanlah dari banyaknya jumlah mereka, tetapi yang dimaksud adalah orang yang berada di atas kebenaran, meskipun hanya seorang diri.Jadi, orang yang berada di atas kebenaran itulah yang pantas disebut sebagai Al-Jama’ah dan termasuk juga Ahlus Sunnah. Siapa pun yang berada di atas kebenaran berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, baik jumlahnya sedikit maupun banyak, maka merekalah yang termasuk Al-Jama’ah.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ“Dan jika engkau menuruti kebanyakan orang yang ada di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan, dan mereka hanyalah membuat dugaan-dugaan.” (QS. Al-An’am: 116)Ayat ini menunjukkan bahwa kebenaran tidak selalu diukur dengan banyaknya pengikut. Yang menjadi ukuran kebenaran adalah kesesuaiannya dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.Ciri-ciri Ahlus Sunnah wal Jama’ahDi antara ciri-ciri yang paling menonjol dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari berbagai golongan ataupun kelompak yang ada yaitu:Bersikap pertengahan (wasathiyyah)Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah golongan yang selamat yang Allah ‘Azza wa Jalla istimewakan di antara berbagai golongan yang ada. Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa umat Islam merupakan umat yang pertengahan di antara berbagai umat yang ada, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا“Dan demikianlah Kami telah menjadikan kalian sebagai umat yang pertengahan.” (QS. Al-Baqarah: 143)Dan Ahlus-Sunnah wal Jama’ah bersikap pertengahan di antara tujuh puluh tiga golongan yang ada. Mereka berada di posisi pertengahan di antara berbagai golongan di dalam umat ini, karena mereka tetap berpegang teguh kepada apa yang diamalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum.Sikap pertengahan ini tampak dalam segala aspek ajaran Islam. Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak bersikap berlebihan dalam beragama dan tidak pula meremehkannya. Mereka senantiasa berpegang kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum, sehingga tetap berada di atas jalan yang lurus. Mereka menjadikan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai landasan dalam beragama, bukan berdasarkan hawa nafsu, akal semata, maupun fanatik terhadap golongan tertentu.Sabar dan teguh di atas kebenaranAhlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang memiliki kesabaran dan keteguhan yang luar biasa di atas kebenaran. Mereka tidak tergoyahkan meskipun banyak fitnah, ujian, dan cobaan yang datang silih berganti. Mereka tetap kokoh di atas manhaj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامًا الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ الْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ، لِلْعَامِلِ فِيهِنَّ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِكُمْ، قيل: يا رسول الله أجر خمسين رجلًا منا أو منهم؟ قال: بَلْ أَجْرُ خَمْسِينَ رَجُلًا مِنْكُمْ“‘Sesungguhnya setelah kalian akan datang masa-masa yang penuh dengan kesabaran. Pada masa itu, orang yang berpegang teguh kepada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api. Orang yang tetap beramal pada masa tersebut akan mendapatkan pahala seperti pahala lima puluh orang yang melakukan amalan seperti kalian.’ Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, pahala lima puluh orang dari kami atau dari mereka?’ Beliau menjawab, ‘Bahkan pahala lima puluh orang dari kalian.’” (HR. At-Tirmidzi no. 3058)Berpegang teguh kepada sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada masa-masa fitnah dan banyaknya penyimpangan memiliki keutamaan yang besar, karena beratnya ujian yang ia hadapi berupa kesulitan, celaan, ancaman, hujatan, ejekan, dan perendahan diri. Ditambah lagi sedikitnya orang yang mau mendukung kebenaran, serta banyaknya musuh dan orang-orang yang menentang kebenaran.Oleh sebab itu, seseorang harus bersabar dalam menempuh manhaj as-Salafus-Shalih, meskipun harus menghadapi berbagai bentuk gangguan, baik berupa celaan maupun tekanan yang lebih berat dari itu.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ“Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali asing sebagaimana awal mulanya. Maka beruntunglah Al-Ghuraba.” (HR. Muslim no. 145)Pertanyaannya adalah siapakah Al-Ghuraba? Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الَّذِينَ يُصْلِحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ“Mereka adalah orang-orang yang senantiasa berbuat kebajikan ketika manusia rusak.” (HR. Ahmad no. 16690)Dalam riwayat lain disebutkan,الَّذِينَ يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ“Mereka adalah orang-orang yang memperbaiki apa yang telah dirusak oleh manusia.” (HR. At-Tirmidzi no. 2630)Oleh karena itu, mereka disebut Al-Ghuraba atau asing karena mereka teguh di atas manhaj yang benar meskipun jumlah mereka sedikit dibandingkan kebanyakan manusia sehingga mereka membutuhkan kesabaran, ketenangan dalam bersikap, dan mengharap pahala dari Allah ‘Azza wa Jalla semata. Oleh karena itulah, tidak banyak orang yang mampu bertahan di atasnya, kecuali mereka yang diberi taufik oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Inilah jalan yang harus ditempuh oleh setiap muslim yang menginginkan keselamatan dan keberuntungan di dunia maupun di akhirat.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Ma’alim Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah karya Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 13-16.

Prinsip-Prinsip Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleMengapa mereka disebut Al-Jama’ah?Ciri-ciri Ahlus Sunnah wal Jama’ahBersikap pertengahan (wasathiyyah)Sabar dan teguh di atas kebenaranAhlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Mereka disebut Al-Jama’ah karena bersatu di atas kebenaran, bukan karena banyaknya jumlah atau fanatisme kepada golongan tertentu.Mengapa mereka disebut Al-Jama’ah?Mereka disebut Al-Jama’ah karena bersatu di atas kebenaran. Salah satu karakteristik mereka adalah tetap bersatu di atas kebenaran. Mereka menjadikan kebenaran sebagai pegangan dan tidak berpaling kepada selainnya. Oleh karena itu, ketika terjadi perbedaan pendapat dan perselisihan, mereka kembalikan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk mengetahui pendapat yang benar, lalu mengikutinya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا“Kemudian jika kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih baik dan lebih bagus akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59)Apabila terjadi perselisihan di antara mereka, mereka tidak bersikeras mempertahankan pendapat masing-masing dan tidak pula fanatik terhadap pandangannya. Sebaliknya, mereka mengembalikan perkara yang diperselisihkan tersebut kepada Al-Qur’an dan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Apa yang terbukti sejalan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah akan mereka ikuti, meskipun bertentangan dengan pendapat mereka. Sebaliknya, apa yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah mereka tinggalkan dan tolak, meskipun sesuai dengan keinginan atau hawa nafsu mereka. Inilah jalan dan manhaj yang ditempuh oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah.Adapun orang-orang yang enggan untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, karena masih fanatik pada pendapatnya, atau lebih memilih mengikuti pendapat kelompoknya meskipun menyelisihi kebenaran, atau menuruti hawa nafsunya, lalu mengaku berada di atas manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, maka hakikatnya ia tidak berada di atas manhaj tersebut, meskipun ia mengaku demikian.Karena Ahlus Sunnah adalah mereka yang bersatu dalam Al-Jama’ah, bukan persatuan di atas berbagai macam kelompok atau golongan dengan segala pemikirannya untuk menyelisihi kebenaran. Maka, yang dimaksud dengan Al-Jama’ah bukanlah dari banyaknya jumlah mereka, tetapi yang dimaksud adalah orang yang berada di atas kebenaran, meskipun hanya seorang diri.Jadi, orang yang berada di atas kebenaran itulah yang pantas disebut sebagai Al-Jama’ah dan termasuk juga Ahlus Sunnah. Siapa pun yang berada di atas kebenaran berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, baik jumlahnya sedikit maupun banyak, maka merekalah yang termasuk Al-Jama’ah.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ“Dan jika engkau menuruti kebanyakan orang yang ada di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan, dan mereka hanyalah membuat dugaan-dugaan.” (QS. Al-An’am: 116)Ayat ini menunjukkan bahwa kebenaran tidak selalu diukur dengan banyaknya pengikut. Yang menjadi ukuran kebenaran adalah kesesuaiannya dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.Ciri-ciri Ahlus Sunnah wal Jama’ahDi antara ciri-ciri yang paling menonjol dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari berbagai golongan ataupun kelompak yang ada yaitu:Bersikap pertengahan (wasathiyyah)Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah golongan yang selamat yang Allah ‘Azza wa Jalla istimewakan di antara berbagai golongan yang ada. Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa umat Islam merupakan umat yang pertengahan di antara berbagai umat yang ada, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا“Dan demikianlah Kami telah menjadikan kalian sebagai umat yang pertengahan.” (QS. Al-Baqarah: 143)Dan Ahlus-Sunnah wal Jama’ah bersikap pertengahan di antara tujuh puluh tiga golongan yang ada. Mereka berada di posisi pertengahan di antara berbagai golongan di dalam umat ini, karena mereka tetap berpegang teguh kepada apa yang diamalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum.Sikap pertengahan ini tampak dalam segala aspek ajaran Islam. Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak bersikap berlebihan dalam beragama dan tidak pula meremehkannya. Mereka senantiasa berpegang kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum, sehingga tetap berada di atas jalan yang lurus. Mereka menjadikan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai landasan dalam beragama, bukan berdasarkan hawa nafsu, akal semata, maupun fanatik terhadap golongan tertentu.Sabar dan teguh di atas kebenaranAhlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang memiliki kesabaran dan keteguhan yang luar biasa di atas kebenaran. Mereka tidak tergoyahkan meskipun banyak fitnah, ujian, dan cobaan yang datang silih berganti. Mereka tetap kokoh di atas manhaj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامًا الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ الْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ، لِلْعَامِلِ فِيهِنَّ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِكُمْ، قيل: يا رسول الله أجر خمسين رجلًا منا أو منهم؟ قال: بَلْ أَجْرُ خَمْسِينَ رَجُلًا مِنْكُمْ“‘Sesungguhnya setelah kalian akan datang masa-masa yang penuh dengan kesabaran. Pada masa itu, orang yang berpegang teguh kepada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api. Orang yang tetap beramal pada masa tersebut akan mendapatkan pahala seperti pahala lima puluh orang yang melakukan amalan seperti kalian.’ Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, pahala lima puluh orang dari kami atau dari mereka?’ Beliau menjawab, ‘Bahkan pahala lima puluh orang dari kalian.’” (HR. At-Tirmidzi no. 3058)Berpegang teguh kepada sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada masa-masa fitnah dan banyaknya penyimpangan memiliki keutamaan yang besar, karena beratnya ujian yang ia hadapi berupa kesulitan, celaan, ancaman, hujatan, ejekan, dan perendahan diri. Ditambah lagi sedikitnya orang yang mau mendukung kebenaran, serta banyaknya musuh dan orang-orang yang menentang kebenaran.Oleh sebab itu, seseorang harus bersabar dalam menempuh manhaj as-Salafus-Shalih, meskipun harus menghadapi berbagai bentuk gangguan, baik berupa celaan maupun tekanan yang lebih berat dari itu.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ“Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali asing sebagaimana awal mulanya. Maka beruntunglah Al-Ghuraba.” (HR. Muslim no. 145)Pertanyaannya adalah siapakah Al-Ghuraba? Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الَّذِينَ يُصْلِحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ“Mereka adalah orang-orang yang senantiasa berbuat kebajikan ketika manusia rusak.” (HR. Ahmad no. 16690)Dalam riwayat lain disebutkan,الَّذِينَ يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ“Mereka adalah orang-orang yang memperbaiki apa yang telah dirusak oleh manusia.” (HR. At-Tirmidzi no. 2630)Oleh karena itu, mereka disebut Al-Ghuraba atau asing karena mereka teguh di atas manhaj yang benar meskipun jumlah mereka sedikit dibandingkan kebanyakan manusia sehingga mereka membutuhkan kesabaran, ketenangan dalam bersikap, dan mengharap pahala dari Allah ‘Azza wa Jalla semata. Oleh karena itulah, tidak banyak orang yang mampu bertahan di atasnya, kecuali mereka yang diberi taufik oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Inilah jalan yang harus ditempuh oleh setiap muslim yang menginginkan keselamatan dan keberuntungan di dunia maupun di akhirat.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Ma’alim Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah karya Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 13-16.
Daftar Isi ToggleMengapa mereka disebut Al-Jama’ah?Ciri-ciri Ahlus Sunnah wal Jama’ahBersikap pertengahan (wasathiyyah)Sabar dan teguh di atas kebenaranAhlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Mereka disebut Al-Jama’ah karena bersatu di atas kebenaran, bukan karena banyaknya jumlah atau fanatisme kepada golongan tertentu.Mengapa mereka disebut Al-Jama’ah?Mereka disebut Al-Jama’ah karena bersatu di atas kebenaran. Salah satu karakteristik mereka adalah tetap bersatu di atas kebenaran. Mereka menjadikan kebenaran sebagai pegangan dan tidak berpaling kepada selainnya. Oleh karena itu, ketika terjadi perbedaan pendapat dan perselisihan, mereka kembalikan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk mengetahui pendapat yang benar, lalu mengikutinya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا“Kemudian jika kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih baik dan lebih bagus akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59)Apabila terjadi perselisihan di antara mereka, mereka tidak bersikeras mempertahankan pendapat masing-masing dan tidak pula fanatik terhadap pandangannya. Sebaliknya, mereka mengembalikan perkara yang diperselisihkan tersebut kepada Al-Qur’an dan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Apa yang terbukti sejalan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah akan mereka ikuti, meskipun bertentangan dengan pendapat mereka. Sebaliknya, apa yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah mereka tinggalkan dan tolak, meskipun sesuai dengan keinginan atau hawa nafsu mereka. Inilah jalan dan manhaj yang ditempuh oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah.Adapun orang-orang yang enggan untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, karena masih fanatik pada pendapatnya, atau lebih memilih mengikuti pendapat kelompoknya meskipun menyelisihi kebenaran, atau menuruti hawa nafsunya, lalu mengaku berada di atas manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, maka hakikatnya ia tidak berada di atas manhaj tersebut, meskipun ia mengaku demikian.Karena Ahlus Sunnah adalah mereka yang bersatu dalam Al-Jama’ah, bukan persatuan di atas berbagai macam kelompok atau golongan dengan segala pemikirannya untuk menyelisihi kebenaran. Maka, yang dimaksud dengan Al-Jama’ah bukanlah dari banyaknya jumlah mereka, tetapi yang dimaksud adalah orang yang berada di atas kebenaran, meskipun hanya seorang diri.Jadi, orang yang berada di atas kebenaran itulah yang pantas disebut sebagai Al-Jama’ah dan termasuk juga Ahlus Sunnah. Siapa pun yang berada di atas kebenaran berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, baik jumlahnya sedikit maupun banyak, maka merekalah yang termasuk Al-Jama’ah.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ“Dan jika engkau menuruti kebanyakan orang yang ada di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan, dan mereka hanyalah membuat dugaan-dugaan.” (QS. Al-An’am: 116)Ayat ini menunjukkan bahwa kebenaran tidak selalu diukur dengan banyaknya pengikut. Yang menjadi ukuran kebenaran adalah kesesuaiannya dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.Ciri-ciri Ahlus Sunnah wal Jama’ahDi antara ciri-ciri yang paling menonjol dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari berbagai golongan ataupun kelompak yang ada yaitu:Bersikap pertengahan (wasathiyyah)Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah golongan yang selamat yang Allah ‘Azza wa Jalla istimewakan di antara berbagai golongan yang ada. Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa umat Islam merupakan umat yang pertengahan di antara berbagai umat yang ada, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا“Dan demikianlah Kami telah menjadikan kalian sebagai umat yang pertengahan.” (QS. Al-Baqarah: 143)Dan Ahlus-Sunnah wal Jama’ah bersikap pertengahan di antara tujuh puluh tiga golongan yang ada. Mereka berada di posisi pertengahan di antara berbagai golongan di dalam umat ini, karena mereka tetap berpegang teguh kepada apa yang diamalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum.Sikap pertengahan ini tampak dalam segala aspek ajaran Islam. Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak bersikap berlebihan dalam beragama dan tidak pula meremehkannya. Mereka senantiasa berpegang kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum, sehingga tetap berada di atas jalan yang lurus. Mereka menjadikan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai landasan dalam beragama, bukan berdasarkan hawa nafsu, akal semata, maupun fanatik terhadap golongan tertentu.Sabar dan teguh di atas kebenaranAhlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang memiliki kesabaran dan keteguhan yang luar biasa di atas kebenaran. Mereka tidak tergoyahkan meskipun banyak fitnah, ujian, dan cobaan yang datang silih berganti. Mereka tetap kokoh di atas manhaj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامًا الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ الْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ، لِلْعَامِلِ فِيهِنَّ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِكُمْ، قيل: يا رسول الله أجر خمسين رجلًا منا أو منهم؟ قال: بَلْ أَجْرُ خَمْسِينَ رَجُلًا مِنْكُمْ“‘Sesungguhnya setelah kalian akan datang masa-masa yang penuh dengan kesabaran. Pada masa itu, orang yang berpegang teguh kepada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api. Orang yang tetap beramal pada masa tersebut akan mendapatkan pahala seperti pahala lima puluh orang yang melakukan amalan seperti kalian.’ Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, pahala lima puluh orang dari kami atau dari mereka?’ Beliau menjawab, ‘Bahkan pahala lima puluh orang dari kalian.’” (HR. At-Tirmidzi no. 3058)Berpegang teguh kepada sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada masa-masa fitnah dan banyaknya penyimpangan memiliki keutamaan yang besar, karena beratnya ujian yang ia hadapi berupa kesulitan, celaan, ancaman, hujatan, ejekan, dan perendahan diri. Ditambah lagi sedikitnya orang yang mau mendukung kebenaran, serta banyaknya musuh dan orang-orang yang menentang kebenaran.Oleh sebab itu, seseorang harus bersabar dalam menempuh manhaj as-Salafus-Shalih, meskipun harus menghadapi berbagai bentuk gangguan, baik berupa celaan maupun tekanan yang lebih berat dari itu.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ“Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali asing sebagaimana awal mulanya. Maka beruntunglah Al-Ghuraba.” (HR. Muslim no. 145)Pertanyaannya adalah siapakah Al-Ghuraba? Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الَّذِينَ يُصْلِحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ“Mereka adalah orang-orang yang senantiasa berbuat kebajikan ketika manusia rusak.” (HR. Ahmad no. 16690)Dalam riwayat lain disebutkan,الَّذِينَ يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ“Mereka adalah orang-orang yang memperbaiki apa yang telah dirusak oleh manusia.” (HR. At-Tirmidzi no. 2630)Oleh karena itu, mereka disebut Al-Ghuraba atau asing karena mereka teguh di atas manhaj yang benar meskipun jumlah mereka sedikit dibandingkan kebanyakan manusia sehingga mereka membutuhkan kesabaran, ketenangan dalam bersikap, dan mengharap pahala dari Allah ‘Azza wa Jalla semata. Oleh karena itulah, tidak banyak orang yang mampu bertahan di atasnya, kecuali mereka yang diberi taufik oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Inilah jalan yang harus ditempuh oleh setiap muslim yang menginginkan keselamatan dan keberuntungan di dunia maupun di akhirat.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Ma’alim Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah karya Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 13-16.


Daftar Isi ToggleMengapa mereka disebut Al-Jama’ah?Ciri-ciri Ahlus Sunnah wal Jama’ahBersikap pertengahan (wasathiyyah)Sabar dan teguh di atas kebenaranAhlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Mereka disebut Al-Jama’ah karena bersatu di atas kebenaran, bukan karena banyaknya jumlah atau fanatisme kepada golongan tertentu.Mengapa mereka disebut Al-Jama’ah?Mereka disebut Al-Jama’ah karena bersatu di atas kebenaran. Salah satu karakteristik mereka adalah tetap bersatu di atas kebenaran. Mereka menjadikan kebenaran sebagai pegangan dan tidak berpaling kepada selainnya. Oleh karena itu, ketika terjadi perbedaan pendapat dan perselisihan, mereka kembalikan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk mengetahui pendapat yang benar, lalu mengikutinya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا“Kemudian jika kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih baik dan lebih bagus akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59)Apabila terjadi perselisihan di antara mereka, mereka tidak bersikeras mempertahankan pendapat masing-masing dan tidak pula fanatik terhadap pandangannya. Sebaliknya, mereka mengembalikan perkara yang diperselisihkan tersebut kepada Al-Qur’an dan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Apa yang terbukti sejalan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah akan mereka ikuti, meskipun bertentangan dengan pendapat mereka. Sebaliknya, apa yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah mereka tinggalkan dan tolak, meskipun sesuai dengan keinginan atau hawa nafsu mereka. Inilah jalan dan manhaj yang ditempuh oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah.Adapun orang-orang yang enggan untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, karena masih fanatik pada pendapatnya, atau lebih memilih mengikuti pendapat kelompoknya meskipun menyelisihi kebenaran, atau menuruti hawa nafsunya, lalu mengaku berada di atas manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, maka hakikatnya ia tidak berada di atas manhaj tersebut, meskipun ia mengaku demikian.Karena Ahlus Sunnah adalah mereka yang bersatu dalam Al-Jama’ah, bukan persatuan di atas berbagai macam kelompok atau golongan dengan segala pemikirannya untuk menyelisihi kebenaran. Maka, yang dimaksud dengan Al-Jama’ah bukanlah dari banyaknya jumlah mereka, tetapi yang dimaksud adalah orang yang berada di atas kebenaran, meskipun hanya seorang diri.Jadi, orang yang berada di atas kebenaran itulah yang pantas disebut sebagai Al-Jama’ah dan termasuk juga Ahlus Sunnah. Siapa pun yang berada di atas kebenaran berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, baik jumlahnya sedikit maupun banyak, maka merekalah yang termasuk Al-Jama’ah.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ“Dan jika engkau menuruti kebanyakan orang yang ada di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan, dan mereka hanyalah membuat dugaan-dugaan.” (QS. Al-An’am: 116)Ayat ini menunjukkan bahwa kebenaran tidak selalu diukur dengan banyaknya pengikut. Yang menjadi ukuran kebenaran adalah kesesuaiannya dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.Ciri-ciri Ahlus Sunnah wal Jama’ahDi antara ciri-ciri yang paling menonjol dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari berbagai golongan ataupun kelompak yang ada yaitu:Bersikap pertengahan (wasathiyyah)Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah golongan yang selamat yang Allah ‘Azza wa Jalla istimewakan di antara berbagai golongan yang ada. Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa umat Islam merupakan umat yang pertengahan di antara berbagai umat yang ada, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا“Dan demikianlah Kami telah menjadikan kalian sebagai umat yang pertengahan.” (QS. Al-Baqarah: 143)Dan Ahlus-Sunnah wal Jama’ah bersikap pertengahan di antara tujuh puluh tiga golongan yang ada. Mereka berada di posisi pertengahan di antara berbagai golongan di dalam umat ini, karena mereka tetap berpegang teguh kepada apa yang diamalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum.Sikap pertengahan ini tampak dalam segala aspek ajaran Islam. Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak bersikap berlebihan dalam beragama dan tidak pula meremehkannya. Mereka senantiasa berpegang kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum, sehingga tetap berada di atas jalan yang lurus. Mereka menjadikan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai landasan dalam beragama, bukan berdasarkan hawa nafsu, akal semata, maupun fanatik terhadap golongan tertentu.Sabar dan teguh di atas kebenaranAhlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang memiliki kesabaran dan keteguhan yang luar biasa di atas kebenaran. Mereka tidak tergoyahkan meskipun banyak fitnah, ujian, dan cobaan yang datang silih berganti. Mereka tetap kokoh di atas manhaj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامًا الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ الْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ، لِلْعَامِلِ فِيهِنَّ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِكُمْ، قيل: يا رسول الله أجر خمسين رجلًا منا أو منهم؟ قال: بَلْ أَجْرُ خَمْسِينَ رَجُلًا مِنْكُمْ“‘Sesungguhnya setelah kalian akan datang masa-masa yang penuh dengan kesabaran. Pada masa itu, orang yang berpegang teguh kepada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api. Orang yang tetap beramal pada masa tersebut akan mendapatkan pahala seperti pahala lima puluh orang yang melakukan amalan seperti kalian.’ Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, pahala lima puluh orang dari kami atau dari mereka?’ Beliau menjawab, ‘Bahkan pahala lima puluh orang dari kalian.’” (HR. At-Tirmidzi no. 3058)Berpegang teguh kepada sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada masa-masa fitnah dan banyaknya penyimpangan memiliki keutamaan yang besar, karena beratnya ujian yang ia hadapi berupa kesulitan, celaan, ancaman, hujatan, ejekan, dan perendahan diri. Ditambah lagi sedikitnya orang yang mau mendukung kebenaran, serta banyaknya musuh dan orang-orang yang menentang kebenaran.Oleh sebab itu, seseorang harus bersabar dalam menempuh manhaj as-Salafus-Shalih, meskipun harus menghadapi berbagai bentuk gangguan, baik berupa celaan maupun tekanan yang lebih berat dari itu.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ“Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali asing sebagaimana awal mulanya. Maka beruntunglah Al-Ghuraba.” (HR. Muslim no. 145)Pertanyaannya adalah siapakah Al-Ghuraba? Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الَّذِينَ يُصْلِحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ“Mereka adalah orang-orang yang senantiasa berbuat kebajikan ketika manusia rusak.” (HR. Ahmad no. 16690)Dalam riwayat lain disebutkan,الَّذِينَ يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ“Mereka adalah orang-orang yang memperbaiki apa yang telah dirusak oleh manusia.” (HR. At-Tirmidzi no. 2630)Oleh karena itu, mereka disebut Al-Ghuraba atau asing karena mereka teguh di atas manhaj yang benar meskipun jumlah mereka sedikit dibandingkan kebanyakan manusia sehingga mereka membutuhkan kesabaran, ketenangan dalam bersikap, dan mengharap pahala dari Allah ‘Azza wa Jalla semata. Oleh karena itulah, tidak banyak orang yang mampu bertahan di atasnya, kecuali mereka yang diberi taufik oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Inilah jalan yang harus ditempuh oleh setiap muslim yang menginginkan keselamatan dan keberuntungan di dunia maupun di akhirat.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Ma’alim Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah karya Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 13-16.

Allah Memasukkan Manusia ke Surga dan Neraka dengan Keadilan-Nya (Bag. 1)

Daftar Isi ToggleBantahan keras dari Allah ﷻ atas potensi perbuatan tersebutAllah memasukkan manusia ke surga dan neraka dengan keadilan-NyaTerdapat sebuah pertanyaan: mungkinkah Allah ﷻ menghukum orang yang taat luar biasa kepada-Nya di neraka dan orang yang mendurhakai-Nya diberi nikmat di surga? Pertanyaan ini muncul dari kajian pemikiran atau penalaran sebagian orang yang sibuk menguji konsep ketuhanan. Lantas, bagaimana perspektif ahlus sunah dalam hal ini?Ibnul Qayyim rahimahullah sudah menjawab hal ini dalam kitabnya, Ad-Daa wa Ad-Dawaa,لَمْ يَقْدِرْهُ حَقَّ قَدْرِهِ مَنْ قَالَ أَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يُعَذِّبَ أَوْلِيَاءَهُ، وَمَنْ لَمْ يَعْصِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَيُدْخِلَهُمْ دَارَ الْجَحِيمِ، وَيُنَعِّمَ أَعْدَاءَهُ وَمَنْ لَمْ يُؤْمِنْ بِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَيُدْخِلَهُمْ دَارَ النَّعِيمِ“Tidaklah mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya orang yang mengatakan bahwa mungkin saja bagi Allah mengazab para wali-Nya dan orang-orang yang tidak pernah bermaksiat kepada-Nya, lalu memasukkan mereka ke dalam neraka Jahanam, serta memberikan nikmat kepada para musuh-Nya dan orang-orang yang tidak pernah beriman kepada-Nya, kemudian memasukkan mereka ke dalam surga.” (Ad-Daa wa Ad-Dawaa, hal. 141; cet. Darul Marifah)Syubhatnya adalah bahwa Allah ﷻ itu maha kuasa untuk melakukan sesuatu. Daya-Nya tiada batas sehingga Dia berhak melakukan apa saja, termasuk menenggelamkan wali-Nya ke neraka dan memasukkan orang paling bejat ke surga. Dua tindakan ini, di sisi mereka sama saja dari segi potensi. Namun, menurut mereka, Allah ﷻ melakukan itu sebagai suatu bentuk ketetapan saja, tanpa menyelisihi sikap hikmah dan keadilan-Nya. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah,وَأَنَّ كِلَا الْأَمْرَيْنِ بِالنِّسْبَةِ إِلَيْهِ سَوَاءٌ، وَإِنَّمَا الْخَبَرُ الْمَحْضُ جَاءَ عَنْهُ بِخِلَافِ ذَلِكَ، فَمَعْنَاهُ لِلْخَبَرِ لَا لِمُخَالَفَةِ حِكْمَتِهِ وَعَدْلِهِ“Menurut orang ini, dua perkara itu sama di sisi-Nya. Kabar dari-Nya yang bertentangan dengan hal itu hanya pengabaran belaka. Dengan kata lain, tujuannya hanya pengabaran, tidak menyelisihi hikmah dan keadilan-Nya.” (Ad-Daa wa Ad-Dawaa, hal. 141; cet. Darul Marifah)Bantahan keras dari Allah ﷻ atas potensi perbuatan tersebutNamun, sungguh Allah mengingkari hal ini dengan pengingkaran yang serius. Allah ﷻ menyebutkan praktik memasukkan wali-Nya ke neraka dan sebaliknya sebagai tindakan yang terburuk. Maha suci Allah ﷻ dari perbuatan semacam itu. Allah ﷻ berfirman,أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ“Pantaskah Kami memperlakukan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi? Atau pantaskah Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang jahat.” (QS. Shad: 27-28)Allah ﷻ secara tegas mengatakan dengan kalimat pertanyaan, namun dengan maksud sebagai bentuk bantahan bahwa tindakan itu tidak pantas dilakukan oleh Allah ﷻ.Allah ﷻ mulai argumen ini dengan menyatakan bahwa penciptaan langit dan bumi itu tidaklah sia-sia. Pasti ada tujuan dan hikmah di baliknya.وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia.”Dalam bagian ayat ini, terdapat tiga penetapan:1) Allah ﷻ memiliki tujuan dalam perbuatan-Nya;2) Allah ﷻ memiliki sifat hikmah;3) Penciptaan langit dan bumi memiliki tujuan sesuai hikmah Allah ﷻ.Allah ﷻ menegaskan dugaan bahwa penciptaan langit dan bumi itu tidak ada tujuannya adalah pemikiran orang kafir. Atas dasar keyakinan ini, mereka pun masuk neraka. Allah ﷻ berfirman,ذَلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ“Itu anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang yang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.” (QS. Shad: 27-28)Maka, berbagai isme yang memiliki keyakinan semacam ini, mulai dari sebutan mazhab rasionalisme, materialisme, hingga ateisme, semuanya mendapatkan ancaman ini.Allah memasukkan manusia ke surga dan neraka dengan keadilan-NyaKonstruksi argumen keadilan Allah ﷻ juga disebutkan dalam QS. Al-Jatsiyah, di mana tujuan keadilan itu lebih tegas dinyatakan. Allah ﷻ berfirman,أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ – وَخَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ وَلِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ“Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mereka? Alangkah buruknya penilaian mereka itu. Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan.” (QS. Al-Jatsiyah: 21-22)Dalam ayat ini, Allah ﷻ menggunakan susunan argumen yang sama dengan QS. Shad yang disebutkan, yaitu:1) Menafikan sangkaan bahwa Allah ﷻ akan menyamakan tindakan mukmin dan kafir;2) Menegaskan bahwa Allah ﷻ menciptakan langit dan bumi dengan tujuan.Apa tujuan itu? Tujuan utamanya yakni menjadi arena ujian untuk memisahkan hamba yang pantas masuk surga dan yang cocoknya menjadi penghuni neraka. Di ayat ke-22, Allah ﷻ menegaskan bahwa penciptaan alam semesta dilakukan bil haqq. Maksudnya, menurut Ibnu Katsir rahimahullah, adalah Allah ﷻ menciptakan alam semesta dengan keadilan. Yakni, adil dalam membalas perbuatan setiap orang tanpa menzalimi mereka sedikitpun.Firman Allah ﷻ ini sama seperti apa yang diungkapkan dalam firman-Nya yang lain,لَا يَسْتَوِىٓ أَصْحَٰبُ ٱلنَّارِ وَأَصْحَٰبُ ٱلْجَنَّةِ ۚ أَصْحَٰبُ ٱلْجَنَّةِ هُمُ ٱلْفَآئِزُونَ“Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 20)Ibnu Katsir rahimahullah, tokoh otoritatif ahlus sunah, berkata dalam tafsirnya,سَاءَ مَا ظَنُّوا بِنَا وَبِعَدْلِنَا أَنْ نُسَاوي بَيْنَ الْأَبْرَارِ وَالْفُجَّارِ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ، وَفِي هَذِهِ الدَّارِ“Betapa buruknya dugaan mereka terhadap Allah ﷻ, padahal mustahil Allah ﷻ menyamakan di antara orang-orang yang bertakwa dengan orang-orang yang pendurhaka dalam kehidupan di negeri akhirat nanti dan juga dalam kehidupan di dunia ini.” (Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Jatsiyah: 21, tafsir.app)Dugaan orang kafir yang diterangkan Ibnu Katsir rahimahullah ini jelas bertentangan dengan realita. Nyatanya, kehidupan orang yang saleh secara hakiki akan mendapatkan nikmat di dunia, apalagi di akhirat sebagai kampung sejati. Demikian pula kesudahan orang yang membangkang pasti tersiksa. Ini adalah sesuatu yang pasti terjadi. Adapun kita mendapati orang saleh mengalami kesulitan di dunia, hakikatnya tetaplah iman memberikan rasa lapang di hatinya. Atau sebaliknya, ketika orang kafir seakan mendapatkan nikmat di dunia, sejatinya jiwanya kosong dari rasa bahagia. Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menyatakan ini menyelisihi akal yang lurus. Demikian pula dalam tafsirnya, beliau menyatakan,بل الحكم الواقع القطعيُّ أنَّ المؤمنين العاملين الصالحات، لهم النَّصر والفلاح والسعادة والثواب في العاجل والآجل؛ كلٌّ على قدر إحسانه، وأنَّ المسيئين لهم الغضبُ والإهانةُ والعذاب والشقاء في الدُّنيا والآخرة.“Bahkan keputusan yang benar dan pasti adalah bahwa orang-orang beriman yang beramal saleh akan memperoleh pertolongan, keberuntungan, kebahagiaan, dan pahala di dunia maupun di akhirat, masing-masing sesuai kadar kebaikan yang mereka lakukan. Adapun orang-orang yang berbuat keburukan, bagi mereka kemurkaan, kehinaan, azab, dan kesengsaraan di dunia dan di akhirat.’ (Taisir Karimir Rahman fi Tafsir Kalamil Mannan, hal. 825; cet. Ar-Risalah)Dasarnya adalah karena Allah ﷻ mengharamkan diri-Nya dari kezaliman. Allah ﷻ berfirman melalui lisan Nabi ﷺ dalam hadis qudsi,يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi. Wahai hamba-Ku, kalian semua sesat kecuali orang yang telah Kami beri petunjuk, maka hendaklah kalian minta petunjuk kepada-Ku, pasti Aku memberinya.” (HR. Muslim no. 6737 dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu)Allah ﷻ mengharamkan kezaliman atas diri-Nya dan menetapkan sifat hikmah. Allah ﷻ tidak mungkin melakukan dan memutuskan perkara yang menyelisihi keadilan, sedangkan menghukum orang saleh dan mengganjar pahala bagi orang kafir adalah salah satu bentuk kezaliman.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id

Allah Memasukkan Manusia ke Surga dan Neraka dengan Keadilan-Nya (Bag. 1)

Daftar Isi ToggleBantahan keras dari Allah ﷻ atas potensi perbuatan tersebutAllah memasukkan manusia ke surga dan neraka dengan keadilan-NyaTerdapat sebuah pertanyaan: mungkinkah Allah ﷻ menghukum orang yang taat luar biasa kepada-Nya di neraka dan orang yang mendurhakai-Nya diberi nikmat di surga? Pertanyaan ini muncul dari kajian pemikiran atau penalaran sebagian orang yang sibuk menguji konsep ketuhanan. Lantas, bagaimana perspektif ahlus sunah dalam hal ini?Ibnul Qayyim rahimahullah sudah menjawab hal ini dalam kitabnya, Ad-Daa wa Ad-Dawaa,لَمْ يَقْدِرْهُ حَقَّ قَدْرِهِ مَنْ قَالَ أَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يُعَذِّبَ أَوْلِيَاءَهُ، وَمَنْ لَمْ يَعْصِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَيُدْخِلَهُمْ دَارَ الْجَحِيمِ، وَيُنَعِّمَ أَعْدَاءَهُ وَمَنْ لَمْ يُؤْمِنْ بِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَيُدْخِلَهُمْ دَارَ النَّعِيمِ“Tidaklah mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya orang yang mengatakan bahwa mungkin saja bagi Allah mengazab para wali-Nya dan orang-orang yang tidak pernah bermaksiat kepada-Nya, lalu memasukkan mereka ke dalam neraka Jahanam, serta memberikan nikmat kepada para musuh-Nya dan orang-orang yang tidak pernah beriman kepada-Nya, kemudian memasukkan mereka ke dalam surga.” (Ad-Daa wa Ad-Dawaa, hal. 141; cet. Darul Marifah)Syubhatnya adalah bahwa Allah ﷻ itu maha kuasa untuk melakukan sesuatu. Daya-Nya tiada batas sehingga Dia berhak melakukan apa saja, termasuk menenggelamkan wali-Nya ke neraka dan memasukkan orang paling bejat ke surga. Dua tindakan ini, di sisi mereka sama saja dari segi potensi. Namun, menurut mereka, Allah ﷻ melakukan itu sebagai suatu bentuk ketetapan saja, tanpa menyelisihi sikap hikmah dan keadilan-Nya. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah,وَأَنَّ كِلَا الْأَمْرَيْنِ بِالنِّسْبَةِ إِلَيْهِ سَوَاءٌ، وَإِنَّمَا الْخَبَرُ الْمَحْضُ جَاءَ عَنْهُ بِخِلَافِ ذَلِكَ، فَمَعْنَاهُ لِلْخَبَرِ لَا لِمُخَالَفَةِ حِكْمَتِهِ وَعَدْلِهِ“Menurut orang ini, dua perkara itu sama di sisi-Nya. Kabar dari-Nya yang bertentangan dengan hal itu hanya pengabaran belaka. Dengan kata lain, tujuannya hanya pengabaran, tidak menyelisihi hikmah dan keadilan-Nya.” (Ad-Daa wa Ad-Dawaa, hal. 141; cet. Darul Marifah)Bantahan keras dari Allah ﷻ atas potensi perbuatan tersebutNamun, sungguh Allah mengingkari hal ini dengan pengingkaran yang serius. Allah ﷻ menyebutkan praktik memasukkan wali-Nya ke neraka dan sebaliknya sebagai tindakan yang terburuk. Maha suci Allah ﷻ dari perbuatan semacam itu. Allah ﷻ berfirman,أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ“Pantaskah Kami memperlakukan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi? Atau pantaskah Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang jahat.” (QS. Shad: 27-28)Allah ﷻ secara tegas mengatakan dengan kalimat pertanyaan, namun dengan maksud sebagai bentuk bantahan bahwa tindakan itu tidak pantas dilakukan oleh Allah ﷻ.Allah ﷻ mulai argumen ini dengan menyatakan bahwa penciptaan langit dan bumi itu tidaklah sia-sia. Pasti ada tujuan dan hikmah di baliknya.وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia.”Dalam bagian ayat ini, terdapat tiga penetapan:1) Allah ﷻ memiliki tujuan dalam perbuatan-Nya;2) Allah ﷻ memiliki sifat hikmah;3) Penciptaan langit dan bumi memiliki tujuan sesuai hikmah Allah ﷻ.Allah ﷻ menegaskan dugaan bahwa penciptaan langit dan bumi itu tidak ada tujuannya adalah pemikiran orang kafir. Atas dasar keyakinan ini, mereka pun masuk neraka. Allah ﷻ berfirman,ذَلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ“Itu anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang yang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.” (QS. Shad: 27-28)Maka, berbagai isme yang memiliki keyakinan semacam ini, mulai dari sebutan mazhab rasionalisme, materialisme, hingga ateisme, semuanya mendapatkan ancaman ini.Allah memasukkan manusia ke surga dan neraka dengan keadilan-NyaKonstruksi argumen keadilan Allah ﷻ juga disebutkan dalam QS. Al-Jatsiyah, di mana tujuan keadilan itu lebih tegas dinyatakan. Allah ﷻ berfirman,أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ – وَخَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ وَلِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ“Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mereka? Alangkah buruknya penilaian mereka itu. Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan.” (QS. Al-Jatsiyah: 21-22)Dalam ayat ini, Allah ﷻ menggunakan susunan argumen yang sama dengan QS. Shad yang disebutkan, yaitu:1) Menafikan sangkaan bahwa Allah ﷻ akan menyamakan tindakan mukmin dan kafir;2) Menegaskan bahwa Allah ﷻ menciptakan langit dan bumi dengan tujuan.Apa tujuan itu? Tujuan utamanya yakni menjadi arena ujian untuk memisahkan hamba yang pantas masuk surga dan yang cocoknya menjadi penghuni neraka. Di ayat ke-22, Allah ﷻ menegaskan bahwa penciptaan alam semesta dilakukan bil haqq. Maksudnya, menurut Ibnu Katsir rahimahullah, adalah Allah ﷻ menciptakan alam semesta dengan keadilan. Yakni, adil dalam membalas perbuatan setiap orang tanpa menzalimi mereka sedikitpun.Firman Allah ﷻ ini sama seperti apa yang diungkapkan dalam firman-Nya yang lain,لَا يَسْتَوِىٓ أَصْحَٰبُ ٱلنَّارِ وَأَصْحَٰبُ ٱلْجَنَّةِ ۚ أَصْحَٰبُ ٱلْجَنَّةِ هُمُ ٱلْفَآئِزُونَ“Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 20)Ibnu Katsir rahimahullah, tokoh otoritatif ahlus sunah, berkata dalam tafsirnya,سَاءَ مَا ظَنُّوا بِنَا وَبِعَدْلِنَا أَنْ نُسَاوي بَيْنَ الْأَبْرَارِ وَالْفُجَّارِ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ، وَفِي هَذِهِ الدَّارِ“Betapa buruknya dugaan mereka terhadap Allah ﷻ, padahal mustahil Allah ﷻ menyamakan di antara orang-orang yang bertakwa dengan orang-orang yang pendurhaka dalam kehidupan di negeri akhirat nanti dan juga dalam kehidupan di dunia ini.” (Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Jatsiyah: 21, tafsir.app)Dugaan orang kafir yang diterangkan Ibnu Katsir rahimahullah ini jelas bertentangan dengan realita. Nyatanya, kehidupan orang yang saleh secara hakiki akan mendapatkan nikmat di dunia, apalagi di akhirat sebagai kampung sejati. Demikian pula kesudahan orang yang membangkang pasti tersiksa. Ini adalah sesuatu yang pasti terjadi. Adapun kita mendapati orang saleh mengalami kesulitan di dunia, hakikatnya tetaplah iman memberikan rasa lapang di hatinya. Atau sebaliknya, ketika orang kafir seakan mendapatkan nikmat di dunia, sejatinya jiwanya kosong dari rasa bahagia. Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menyatakan ini menyelisihi akal yang lurus. Demikian pula dalam tafsirnya, beliau menyatakan,بل الحكم الواقع القطعيُّ أنَّ المؤمنين العاملين الصالحات، لهم النَّصر والفلاح والسعادة والثواب في العاجل والآجل؛ كلٌّ على قدر إحسانه، وأنَّ المسيئين لهم الغضبُ والإهانةُ والعذاب والشقاء في الدُّنيا والآخرة.“Bahkan keputusan yang benar dan pasti adalah bahwa orang-orang beriman yang beramal saleh akan memperoleh pertolongan, keberuntungan, kebahagiaan, dan pahala di dunia maupun di akhirat, masing-masing sesuai kadar kebaikan yang mereka lakukan. Adapun orang-orang yang berbuat keburukan, bagi mereka kemurkaan, kehinaan, azab, dan kesengsaraan di dunia dan di akhirat.’ (Taisir Karimir Rahman fi Tafsir Kalamil Mannan, hal. 825; cet. Ar-Risalah)Dasarnya adalah karena Allah ﷻ mengharamkan diri-Nya dari kezaliman. Allah ﷻ berfirman melalui lisan Nabi ﷺ dalam hadis qudsi,يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi. Wahai hamba-Ku, kalian semua sesat kecuali orang yang telah Kami beri petunjuk, maka hendaklah kalian minta petunjuk kepada-Ku, pasti Aku memberinya.” (HR. Muslim no. 6737 dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu)Allah ﷻ mengharamkan kezaliman atas diri-Nya dan menetapkan sifat hikmah. Allah ﷻ tidak mungkin melakukan dan memutuskan perkara yang menyelisihi keadilan, sedangkan menghukum orang saleh dan mengganjar pahala bagi orang kafir adalah salah satu bentuk kezaliman.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleBantahan keras dari Allah ﷻ atas potensi perbuatan tersebutAllah memasukkan manusia ke surga dan neraka dengan keadilan-NyaTerdapat sebuah pertanyaan: mungkinkah Allah ﷻ menghukum orang yang taat luar biasa kepada-Nya di neraka dan orang yang mendurhakai-Nya diberi nikmat di surga? Pertanyaan ini muncul dari kajian pemikiran atau penalaran sebagian orang yang sibuk menguji konsep ketuhanan. Lantas, bagaimana perspektif ahlus sunah dalam hal ini?Ibnul Qayyim rahimahullah sudah menjawab hal ini dalam kitabnya, Ad-Daa wa Ad-Dawaa,لَمْ يَقْدِرْهُ حَقَّ قَدْرِهِ مَنْ قَالَ أَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يُعَذِّبَ أَوْلِيَاءَهُ، وَمَنْ لَمْ يَعْصِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَيُدْخِلَهُمْ دَارَ الْجَحِيمِ، وَيُنَعِّمَ أَعْدَاءَهُ وَمَنْ لَمْ يُؤْمِنْ بِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَيُدْخِلَهُمْ دَارَ النَّعِيمِ“Tidaklah mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya orang yang mengatakan bahwa mungkin saja bagi Allah mengazab para wali-Nya dan orang-orang yang tidak pernah bermaksiat kepada-Nya, lalu memasukkan mereka ke dalam neraka Jahanam, serta memberikan nikmat kepada para musuh-Nya dan orang-orang yang tidak pernah beriman kepada-Nya, kemudian memasukkan mereka ke dalam surga.” (Ad-Daa wa Ad-Dawaa, hal. 141; cet. Darul Marifah)Syubhatnya adalah bahwa Allah ﷻ itu maha kuasa untuk melakukan sesuatu. Daya-Nya tiada batas sehingga Dia berhak melakukan apa saja, termasuk menenggelamkan wali-Nya ke neraka dan memasukkan orang paling bejat ke surga. Dua tindakan ini, di sisi mereka sama saja dari segi potensi. Namun, menurut mereka, Allah ﷻ melakukan itu sebagai suatu bentuk ketetapan saja, tanpa menyelisihi sikap hikmah dan keadilan-Nya. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah,وَأَنَّ كِلَا الْأَمْرَيْنِ بِالنِّسْبَةِ إِلَيْهِ سَوَاءٌ، وَإِنَّمَا الْخَبَرُ الْمَحْضُ جَاءَ عَنْهُ بِخِلَافِ ذَلِكَ، فَمَعْنَاهُ لِلْخَبَرِ لَا لِمُخَالَفَةِ حِكْمَتِهِ وَعَدْلِهِ“Menurut orang ini, dua perkara itu sama di sisi-Nya. Kabar dari-Nya yang bertentangan dengan hal itu hanya pengabaran belaka. Dengan kata lain, tujuannya hanya pengabaran, tidak menyelisihi hikmah dan keadilan-Nya.” (Ad-Daa wa Ad-Dawaa, hal. 141; cet. Darul Marifah)Bantahan keras dari Allah ﷻ atas potensi perbuatan tersebutNamun, sungguh Allah mengingkari hal ini dengan pengingkaran yang serius. Allah ﷻ menyebutkan praktik memasukkan wali-Nya ke neraka dan sebaliknya sebagai tindakan yang terburuk. Maha suci Allah ﷻ dari perbuatan semacam itu. Allah ﷻ berfirman,أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ“Pantaskah Kami memperlakukan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi? Atau pantaskah Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang jahat.” (QS. Shad: 27-28)Allah ﷻ secara tegas mengatakan dengan kalimat pertanyaan, namun dengan maksud sebagai bentuk bantahan bahwa tindakan itu tidak pantas dilakukan oleh Allah ﷻ.Allah ﷻ mulai argumen ini dengan menyatakan bahwa penciptaan langit dan bumi itu tidaklah sia-sia. Pasti ada tujuan dan hikmah di baliknya.وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia.”Dalam bagian ayat ini, terdapat tiga penetapan:1) Allah ﷻ memiliki tujuan dalam perbuatan-Nya;2) Allah ﷻ memiliki sifat hikmah;3) Penciptaan langit dan bumi memiliki tujuan sesuai hikmah Allah ﷻ.Allah ﷻ menegaskan dugaan bahwa penciptaan langit dan bumi itu tidak ada tujuannya adalah pemikiran orang kafir. Atas dasar keyakinan ini, mereka pun masuk neraka. Allah ﷻ berfirman,ذَلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ“Itu anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang yang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.” (QS. Shad: 27-28)Maka, berbagai isme yang memiliki keyakinan semacam ini, mulai dari sebutan mazhab rasionalisme, materialisme, hingga ateisme, semuanya mendapatkan ancaman ini.Allah memasukkan manusia ke surga dan neraka dengan keadilan-NyaKonstruksi argumen keadilan Allah ﷻ juga disebutkan dalam QS. Al-Jatsiyah, di mana tujuan keadilan itu lebih tegas dinyatakan. Allah ﷻ berfirman,أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ – وَخَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ وَلِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ“Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mereka? Alangkah buruknya penilaian mereka itu. Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan.” (QS. Al-Jatsiyah: 21-22)Dalam ayat ini, Allah ﷻ menggunakan susunan argumen yang sama dengan QS. Shad yang disebutkan, yaitu:1) Menafikan sangkaan bahwa Allah ﷻ akan menyamakan tindakan mukmin dan kafir;2) Menegaskan bahwa Allah ﷻ menciptakan langit dan bumi dengan tujuan.Apa tujuan itu? Tujuan utamanya yakni menjadi arena ujian untuk memisahkan hamba yang pantas masuk surga dan yang cocoknya menjadi penghuni neraka. Di ayat ke-22, Allah ﷻ menegaskan bahwa penciptaan alam semesta dilakukan bil haqq. Maksudnya, menurut Ibnu Katsir rahimahullah, adalah Allah ﷻ menciptakan alam semesta dengan keadilan. Yakni, adil dalam membalas perbuatan setiap orang tanpa menzalimi mereka sedikitpun.Firman Allah ﷻ ini sama seperti apa yang diungkapkan dalam firman-Nya yang lain,لَا يَسْتَوِىٓ أَصْحَٰبُ ٱلنَّارِ وَأَصْحَٰبُ ٱلْجَنَّةِ ۚ أَصْحَٰبُ ٱلْجَنَّةِ هُمُ ٱلْفَآئِزُونَ“Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 20)Ibnu Katsir rahimahullah, tokoh otoritatif ahlus sunah, berkata dalam tafsirnya,سَاءَ مَا ظَنُّوا بِنَا وَبِعَدْلِنَا أَنْ نُسَاوي بَيْنَ الْأَبْرَارِ وَالْفُجَّارِ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ، وَفِي هَذِهِ الدَّارِ“Betapa buruknya dugaan mereka terhadap Allah ﷻ, padahal mustahil Allah ﷻ menyamakan di antara orang-orang yang bertakwa dengan orang-orang yang pendurhaka dalam kehidupan di negeri akhirat nanti dan juga dalam kehidupan di dunia ini.” (Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Jatsiyah: 21, tafsir.app)Dugaan orang kafir yang diterangkan Ibnu Katsir rahimahullah ini jelas bertentangan dengan realita. Nyatanya, kehidupan orang yang saleh secara hakiki akan mendapatkan nikmat di dunia, apalagi di akhirat sebagai kampung sejati. Demikian pula kesudahan orang yang membangkang pasti tersiksa. Ini adalah sesuatu yang pasti terjadi. Adapun kita mendapati orang saleh mengalami kesulitan di dunia, hakikatnya tetaplah iman memberikan rasa lapang di hatinya. Atau sebaliknya, ketika orang kafir seakan mendapatkan nikmat di dunia, sejatinya jiwanya kosong dari rasa bahagia. Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menyatakan ini menyelisihi akal yang lurus. Demikian pula dalam tafsirnya, beliau menyatakan,بل الحكم الواقع القطعيُّ أنَّ المؤمنين العاملين الصالحات، لهم النَّصر والفلاح والسعادة والثواب في العاجل والآجل؛ كلٌّ على قدر إحسانه، وأنَّ المسيئين لهم الغضبُ والإهانةُ والعذاب والشقاء في الدُّنيا والآخرة.“Bahkan keputusan yang benar dan pasti adalah bahwa orang-orang beriman yang beramal saleh akan memperoleh pertolongan, keberuntungan, kebahagiaan, dan pahala di dunia maupun di akhirat, masing-masing sesuai kadar kebaikan yang mereka lakukan. Adapun orang-orang yang berbuat keburukan, bagi mereka kemurkaan, kehinaan, azab, dan kesengsaraan di dunia dan di akhirat.’ (Taisir Karimir Rahman fi Tafsir Kalamil Mannan, hal. 825; cet. Ar-Risalah)Dasarnya adalah karena Allah ﷻ mengharamkan diri-Nya dari kezaliman. Allah ﷻ berfirman melalui lisan Nabi ﷺ dalam hadis qudsi,يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi. Wahai hamba-Ku, kalian semua sesat kecuali orang yang telah Kami beri petunjuk, maka hendaklah kalian minta petunjuk kepada-Ku, pasti Aku memberinya.” (HR. Muslim no. 6737 dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu)Allah ﷻ mengharamkan kezaliman atas diri-Nya dan menetapkan sifat hikmah. Allah ﷻ tidak mungkin melakukan dan memutuskan perkara yang menyelisihi keadilan, sedangkan menghukum orang saleh dan mengganjar pahala bagi orang kafir adalah salah satu bentuk kezaliman.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleBantahan keras dari Allah ﷻ atas potensi perbuatan tersebutAllah memasukkan manusia ke surga dan neraka dengan keadilan-NyaTerdapat sebuah pertanyaan: mungkinkah Allah ﷻ menghukum orang yang taat luar biasa kepada-Nya di neraka dan orang yang mendurhakai-Nya diberi nikmat di surga? Pertanyaan ini muncul dari kajian pemikiran atau penalaran sebagian orang yang sibuk menguji konsep ketuhanan. Lantas, bagaimana perspektif ahlus sunah dalam hal ini?Ibnul Qayyim rahimahullah sudah menjawab hal ini dalam kitabnya, Ad-Daa wa Ad-Dawaa,لَمْ يَقْدِرْهُ حَقَّ قَدْرِهِ مَنْ قَالَ أَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يُعَذِّبَ أَوْلِيَاءَهُ، وَمَنْ لَمْ يَعْصِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَيُدْخِلَهُمْ دَارَ الْجَحِيمِ، وَيُنَعِّمَ أَعْدَاءَهُ وَمَنْ لَمْ يُؤْمِنْ بِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَيُدْخِلَهُمْ دَارَ النَّعِيمِ“Tidaklah mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya orang yang mengatakan bahwa mungkin saja bagi Allah mengazab para wali-Nya dan orang-orang yang tidak pernah bermaksiat kepada-Nya, lalu memasukkan mereka ke dalam neraka Jahanam, serta memberikan nikmat kepada para musuh-Nya dan orang-orang yang tidak pernah beriman kepada-Nya, kemudian memasukkan mereka ke dalam surga.” (Ad-Daa wa Ad-Dawaa, hal. 141; cet. Darul Marifah)Syubhatnya adalah bahwa Allah ﷻ itu maha kuasa untuk melakukan sesuatu. Daya-Nya tiada batas sehingga Dia berhak melakukan apa saja, termasuk menenggelamkan wali-Nya ke neraka dan memasukkan orang paling bejat ke surga. Dua tindakan ini, di sisi mereka sama saja dari segi potensi. Namun, menurut mereka, Allah ﷻ melakukan itu sebagai suatu bentuk ketetapan saja, tanpa menyelisihi sikap hikmah dan keadilan-Nya. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah,وَأَنَّ كِلَا الْأَمْرَيْنِ بِالنِّسْبَةِ إِلَيْهِ سَوَاءٌ، وَإِنَّمَا الْخَبَرُ الْمَحْضُ جَاءَ عَنْهُ بِخِلَافِ ذَلِكَ، فَمَعْنَاهُ لِلْخَبَرِ لَا لِمُخَالَفَةِ حِكْمَتِهِ وَعَدْلِهِ“Menurut orang ini, dua perkara itu sama di sisi-Nya. Kabar dari-Nya yang bertentangan dengan hal itu hanya pengabaran belaka. Dengan kata lain, tujuannya hanya pengabaran, tidak menyelisihi hikmah dan keadilan-Nya.” (Ad-Daa wa Ad-Dawaa, hal. 141; cet. Darul Marifah)Bantahan keras dari Allah ﷻ atas potensi perbuatan tersebutNamun, sungguh Allah mengingkari hal ini dengan pengingkaran yang serius. Allah ﷻ menyebutkan praktik memasukkan wali-Nya ke neraka dan sebaliknya sebagai tindakan yang terburuk. Maha suci Allah ﷻ dari perbuatan semacam itu. Allah ﷻ berfirman,أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ“Pantaskah Kami memperlakukan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi? Atau pantaskah Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang jahat.” (QS. Shad: 27-28)Allah ﷻ secara tegas mengatakan dengan kalimat pertanyaan, namun dengan maksud sebagai bentuk bantahan bahwa tindakan itu tidak pantas dilakukan oleh Allah ﷻ.Allah ﷻ mulai argumen ini dengan menyatakan bahwa penciptaan langit dan bumi itu tidaklah sia-sia. Pasti ada tujuan dan hikmah di baliknya.وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia.”Dalam bagian ayat ini, terdapat tiga penetapan:1) Allah ﷻ memiliki tujuan dalam perbuatan-Nya;2) Allah ﷻ memiliki sifat hikmah;3) Penciptaan langit dan bumi memiliki tujuan sesuai hikmah Allah ﷻ.Allah ﷻ menegaskan dugaan bahwa penciptaan langit dan bumi itu tidak ada tujuannya adalah pemikiran orang kafir. Atas dasar keyakinan ini, mereka pun masuk neraka. Allah ﷻ berfirman,ذَلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ“Itu anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang yang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.” (QS. Shad: 27-28)Maka, berbagai isme yang memiliki keyakinan semacam ini, mulai dari sebutan mazhab rasionalisme, materialisme, hingga ateisme, semuanya mendapatkan ancaman ini.Allah memasukkan manusia ke surga dan neraka dengan keadilan-NyaKonstruksi argumen keadilan Allah ﷻ juga disebutkan dalam QS. Al-Jatsiyah, di mana tujuan keadilan itu lebih tegas dinyatakan. Allah ﷻ berfirman,أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ – وَخَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ وَلِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ“Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mereka? Alangkah buruknya penilaian mereka itu. Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan.” (QS. Al-Jatsiyah: 21-22)Dalam ayat ini, Allah ﷻ menggunakan susunan argumen yang sama dengan QS. Shad yang disebutkan, yaitu:1) Menafikan sangkaan bahwa Allah ﷻ akan menyamakan tindakan mukmin dan kafir;2) Menegaskan bahwa Allah ﷻ menciptakan langit dan bumi dengan tujuan.Apa tujuan itu? Tujuan utamanya yakni menjadi arena ujian untuk memisahkan hamba yang pantas masuk surga dan yang cocoknya menjadi penghuni neraka. Di ayat ke-22, Allah ﷻ menegaskan bahwa penciptaan alam semesta dilakukan bil haqq. Maksudnya, menurut Ibnu Katsir rahimahullah, adalah Allah ﷻ menciptakan alam semesta dengan keadilan. Yakni, adil dalam membalas perbuatan setiap orang tanpa menzalimi mereka sedikitpun.Firman Allah ﷻ ini sama seperti apa yang diungkapkan dalam firman-Nya yang lain,لَا يَسْتَوِىٓ أَصْحَٰبُ ٱلنَّارِ وَأَصْحَٰبُ ٱلْجَنَّةِ ۚ أَصْحَٰبُ ٱلْجَنَّةِ هُمُ ٱلْفَآئِزُونَ“Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 20)Ibnu Katsir rahimahullah, tokoh otoritatif ahlus sunah, berkata dalam tafsirnya,سَاءَ مَا ظَنُّوا بِنَا وَبِعَدْلِنَا أَنْ نُسَاوي بَيْنَ الْأَبْرَارِ وَالْفُجَّارِ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ، وَفِي هَذِهِ الدَّارِ“Betapa buruknya dugaan mereka terhadap Allah ﷻ, padahal mustahil Allah ﷻ menyamakan di antara orang-orang yang bertakwa dengan orang-orang yang pendurhaka dalam kehidupan di negeri akhirat nanti dan juga dalam kehidupan di dunia ini.” (Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Jatsiyah: 21, tafsir.app)Dugaan orang kafir yang diterangkan Ibnu Katsir rahimahullah ini jelas bertentangan dengan realita. Nyatanya, kehidupan orang yang saleh secara hakiki akan mendapatkan nikmat di dunia, apalagi di akhirat sebagai kampung sejati. Demikian pula kesudahan orang yang membangkang pasti tersiksa. Ini adalah sesuatu yang pasti terjadi. Adapun kita mendapati orang saleh mengalami kesulitan di dunia, hakikatnya tetaplah iman memberikan rasa lapang di hatinya. Atau sebaliknya, ketika orang kafir seakan mendapatkan nikmat di dunia, sejatinya jiwanya kosong dari rasa bahagia. Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menyatakan ini menyelisihi akal yang lurus. Demikian pula dalam tafsirnya, beliau menyatakan,بل الحكم الواقع القطعيُّ أنَّ المؤمنين العاملين الصالحات، لهم النَّصر والفلاح والسعادة والثواب في العاجل والآجل؛ كلٌّ على قدر إحسانه، وأنَّ المسيئين لهم الغضبُ والإهانةُ والعذاب والشقاء في الدُّنيا والآخرة.“Bahkan keputusan yang benar dan pasti adalah bahwa orang-orang beriman yang beramal saleh akan memperoleh pertolongan, keberuntungan, kebahagiaan, dan pahala di dunia maupun di akhirat, masing-masing sesuai kadar kebaikan yang mereka lakukan. Adapun orang-orang yang berbuat keburukan, bagi mereka kemurkaan, kehinaan, azab, dan kesengsaraan di dunia dan di akhirat.’ (Taisir Karimir Rahman fi Tafsir Kalamil Mannan, hal. 825; cet. Ar-Risalah)Dasarnya adalah karena Allah ﷻ mengharamkan diri-Nya dari kezaliman. Allah ﷻ berfirman melalui lisan Nabi ﷺ dalam hadis qudsi,يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi. Wahai hamba-Ku, kalian semua sesat kecuali orang yang telah Kami beri petunjuk, maka hendaklah kalian minta petunjuk kepada-Ku, pasti Aku memberinya.” (HR. Muslim no. 6737 dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu)Allah ﷻ mengharamkan kezaliman atas diri-Nya dan menetapkan sifat hikmah. Allah ﷻ tidak mungkin melakukan dan memutuskan perkara yang menyelisihi keadilan, sedangkan menghukum orang saleh dan mengganjar pahala bagi orang kafir adalah salah satu bentuk kezaliman.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id

Cara Berdakwah kepada Teman Kerja Tanpa Menggurui – Syaikh Shalih Alu Syaikh #NasehatUlama

Adapun di tempat kerja, medannya sangat berbeda dengan rumah. Membina orang-orang di rumah lebih mudah daripada membina rekan-rekan kerja. Mengapa? Karena mereka sudah dewasa. Mereka memiliki keyakinan dan karakter masing-masing. Namun tidak diragukan, keadaan mereka berbeda-beda. Karena itu, jangan memandang mereka semua dengan cara pandang yang sama. Setiap orang memiliki keadaan, cara berpikir, dan perasaan yang berbeda. Di antara cara terbaik untuk memberi pengaruh kepada rekan kerja adalah adanya dua atau tiga orang yang berinisiatif mengadakan pertemuan rutin. Tiga kali dalam sebulan, mereka berkumpul dan berbincang santai tentang apa saja. Lalu sekali dalam sebulan, seorang ahli ilmu datang dan berdiskusi bersama mereka sekitar satu jam tentang suatu pembahasan. Ini salah satu cara membangun kedekatan, tanpa memaksakan figur tertentu kepada mereka. Sebab, di antara mereka ada yang tidak menerima jika setiap kali selalu didatangkan seseorang untuk berbicara tentang masalah agama. Namun jika pada awalnya dilakukan sekali dalam dua bulan atau sekali sebulan, itu masih bisa diterima. Ini salah satu sarana dakwah. Sarana kedua: menyebarkan materi bermanfaat di tempat kerja, seperti fatwa sebagian ulama, baik secara langsung maupun tidak langsung, menyebarkan rekaman kajian yang bermanfaat dan memberi pengaruh, atau menjalin pertemanan secara khusus, membantu sebagian mereka, menjadi perantara kebaikan bagi mereka, serta berusaha memberi manfaat melalui akhlak yang telah kita sebutkan. Maksudnya, ketika berinteraksi di tempat kerja, orang lain melihat darinya perhatian dan pengorbanan yang tidak mereka dapatkan dari orang lain. Ini sarana yang penting, karena dapat memasukkan kebaikan ke dalam hati, meskipun hasilnya baru tampak setelah sekian lama. Demikian pula jika ada orang yang bertanggung jawab di tempat kerja. Ketika kita mengatakan “penanggung jawab”, jangan dibayangkan hanya sebagai jabatan struktural resmi tertentu. Jika penanggung jawab itu orang yang baik dan saleh, dapat diadakan pertemuan bagi seluruh karyawan, yang melalui pertemuan itu mereka dapat diarahkan kepada kebaikan. Artinya, di hadapanmu ada banyak peluang untuk melakukan upaya dakwah secara pribadi di tempat kerja, yang dapat menghasilkan berbagai kebaikan. Tentu kita tidak bisa membahas seluruh caranya. Namun siapa yang telah mencobanya, hendaknya ia berbagi pengalamannya dengan orang lain. Jika seseorang baru hendak memulainya, hendaknya ia bermusyawarah dengan saudara-saudaranya. Tentu ada banyak pengalaman berharga dalam bidang ini. ===== بِالنِّسْبَةِ لِلْعَمَلِ، الْعَمَلُ مَيْدَانٌ آخَرُ مُخْتَلِفٌ تَمَامًا عَنِ الْبَيْتِ مُعَالَجَةُ الْبُيُوتِ أَسْهَلُ مِنْ مُعَالَجَةِ زُمَلَاءِ الْعَمَلِ لِيش؟ لِأَنَّ هَؤُلَاءِ قَدْ بَلَغُوا مِنَ الْعُمْرِ مَا بَلَغُوا، لَهُمْ قَنَاعَاتُهُمْ، وَلَهُمْ شَخْصِيَّاتُهُمْ لَكِنَّ هَؤُلَاءِ لَا شَكَّ أَنَّهُمْ دَرَجَاتٌ يَخْتَلِفُونَ هَؤُلَاءِ لَا تَنْظُرْ إِلَيْهِمْ نَظَرًا وَاحِدًا بَلْ كُلُّ وَاحِدٍ لَهُ وَضْعُهُ، لَهُ تَفْكِيرُهُ، وَلَهُ عَوَاطِفُهُ الَّتِي فِي دَاخِلِهِ زُمَلَاءُ الْعَمَلِ مِنْ أَحْسَنِ مَا يُؤَثَّرُ بِهِ عَلَيْهِمْ، أَنْ يَكُونَ هُنَاكَ اثْنَانِ أَوْ ثَلَاثَةٌ يَبْتَدِئُونَ بِوَضْعِ شَيْءٍ مِمَّا يُسَمِّيهِ بَعْضُ النَّاسِ دَوْرِيَّةً، وَيَكُونُ فِيهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فِي الشَّهْرِ جَلْسَةٌ عَامَّةٌ يَتَحَدَّثُونَ كَمَا يَشَاؤُونَ وَمَرَّةً فِي الشَّهْرِ يَأْتِيهِمْ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ، وَيَتَنَاقَشُونَ مَعَهُ فِي سَاعَةٍ مِنَ الزَّمَانِ فِي أَمْرٍ مِنَ الْأُمُورِ هَذَا نَوْعٌ مِنَ الرَّبْطِ، الرَّبْطُ الَّذِي مَعَهُ عَدَمُ فَرْضِ الشَّخْصِيَّاتِ عَلَى أُولَئِكَ لِأَنَّ مِنْهُمْ مَنْ لَا يَقْبَلُ أَنْ يَأْتِيَ كُلَّ مَرَّةٍ وَاحِدٌ يَتَحَدَّثُ لَهُمْ فِي هَذِهِ الْمَجَالَاتِ، يَعْنِي الْمَجَالَاتِ الدِّينِيَّةِ لَكِنْ إِذَا كَانَ مَرَّةً فِي الشَّهْرَيْنِ أَوْ مَرَّةً فِي الشَّهْرِ فِي أَوَّلِ الْأَمْرِ، هَذَا مَقْبُولٌ. هَذِهِ وَسِيلَةٌ مِنَ الْوَسَائِلِ الْوَسِيلَةُ الثَّانِيَةُ: نَشْرُ أَشْيَاءَ فِي الْعَمَلِ، مِنْ جِهَةِ فَتَاوَى لِبَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ بِطَرِيقَةٍ مُبَاشِرَةٍ أَوْ غَيْرِ مُبَاشِرَةٍ مِنْ نَشْرِ أَشْرِطَةٍ نَافِعَةٍ يَكُونُ فِيهَا الْأَثَرُ، مِنْ قَبِيلِ صُحْبَةٍ خَاصَّةٍ نَفْعٍ لِبَعْضِهِمْ، التَّوَسُّطِ لِبَعْضِهِمْ، السَّعْيِ فِي نَفْعِهِمْ بِالْأَخْلَاقِيَّاتِ الَّتِي ذَكَرْنَا يَعْنِي أَنْ يَكُونَ الْمَرْءُ فِي عَمَلِهِ الَّذِي يُخَاطِبُ الْآخَرِينَ يَكُونُ رَأَى مِنْهُ ذَاكَ، أَنَّهُ يَبْذُلُ لَهُ مَا لَا يَبْذُلُهُ غَيْرُهُ وَهَذِهِ وَسِيلَةٌ مُهِمَّةٌ لِأَنَّهَا تُدْخِلُ الْخَيْرَ فِي النُّفُوسِ وَلَوْ بَعْدَ زَمَنٍ كَذَلِكَ إِذَا كَانَ هُنَاكَ مَسْؤُولُ الْعَمَلِ يَعْنِي وَإِذَا قُلْنَا مَسْؤُولَ عَمَلٍ، لَا يُتَصَوَّرُ أَنَّهُ مَثَلًا وَظِيفَةٌ رَسْمِيَّةٌ فِي أَيِّ مَجَالٍ مِنْ مَجَالَاتِ الْعَمَلِ إِذَا كَانَ مَسْؤُولُ الْعَمَلِ رَجُلًا جَيِّدًا وَصَالِحًا يُمْكِنُ أَنْ تُعْقَدَ لِقَاءَاتٍ لِكُلِّ الْعَامِلِينَ وَيُؤَثَّرَ عَلَيْهِمْ عَنْ طَرِيقِهَا يَعْنِي أَمَامَكَ مَجَالَاتٌ لِجُهْدٍ فَرْدِيٍّ فِي الْعَمَلِ يُمْكِنُ أَنْ تَبْذُلَهُ، وَيَكُونَ مَعَهُ أَشْيَاءُ مِنَ الْخَيْرِ وَلَا يُمْكِنُ طَرْقُ جَمِيعِ الْجَوَانِبِ، لَكِنْ إِذَا كَانَ هُنَاكَ مَنْ سَعَى فِي ذَلِكَ فَيَجُودُ بِخِبْرَتِهِ عَلَى الْآخَرِينَ أَوْ إِذَا رَأَى الْمَرْءُ أَنَّهُ سَيَبْدَأُ فِي ذَلِكَ، يُشَاوِرُ إِخْوَانَهُ وَلَا بُدَّ أَنَّ هُنَاكَ تَجَارِبَ كَثِيرَةً فِي هَذَا الْمَجَالِ

Cara Berdakwah kepada Teman Kerja Tanpa Menggurui – Syaikh Shalih Alu Syaikh #NasehatUlama

Adapun di tempat kerja, medannya sangat berbeda dengan rumah. Membina orang-orang di rumah lebih mudah daripada membina rekan-rekan kerja. Mengapa? Karena mereka sudah dewasa. Mereka memiliki keyakinan dan karakter masing-masing. Namun tidak diragukan, keadaan mereka berbeda-beda. Karena itu, jangan memandang mereka semua dengan cara pandang yang sama. Setiap orang memiliki keadaan, cara berpikir, dan perasaan yang berbeda. Di antara cara terbaik untuk memberi pengaruh kepada rekan kerja adalah adanya dua atau tiga orang yang berinisiatif mengadakan pertemuan rutin. Tiga kali dalam sebulan, mereka berkumpul dan berbincang santai tentang apa saja. Lalu sekali dalam sebulan, seorang ahli ilmu datang dan berdiskusi bersama mereka sekitar satu jam tentang suatu pembahasan. Ini salah satu cara membangun kedekatan, tanpa memaksakan figur tertentu kepada mereka. Sebab, di antara mereka ada yang tidak menerima jika setiap kali selalu didatangkan seseorang untuk berbicara tentang masalah agama. Namun jika pada awalnya dilakukan sekali dalam dua bulan atau sekali sebulan, itu masih bisa diterima. Ini salah satu sarana dakwah. Sarana kedua: menyebarkan materi bermanfaat di tempat kerja, seperti fatwa sebagian ulama, baik secara langsung maupun tidak langsung, menyebarkan rekaman kajian yang bermanfaat dan memberi pengaruh, atau menjalin pertemanan secara khusus, membantu sebagian mereka, menjadi perantara kebaikan bagi mereka, serta berusaha memberi manfaat melalui akhlak yang telah kita sebutkan. Maksudnya, ketika berinteraksi di tempat kerja, orang lain melihat darinya perhatian dan pengorbanan yang tidak mereka dapatkan dari orang lain. Ini sarana yang penting, karena dapat memasukkan kebaikan ke dalam hati, meskipun hasilnya baru tampak setelah sekian lama. Demikian pula jika ada orang yang bertanggung jawab di tempat kerja. Ketika kita mengatakan “penanggung jawab”, jangan dibayangkan hanya sebagai jabatan struktural resmi tertentu. Jika penanggung jawab itu orang yang baik dan saleh, dapat diadakan pertemuan bagi seluruh karyawan, yang melalui pertemuan itu mereka dapat diarahkan kepada kebaikan. Artinya, di hadapanmu ada banyak peluang untuk melakukan upaya dakwah secara pribadi di tempat kerja, yang dapat menghasilkan berbagai kebaikan. Tentu kita tidak bisa membahas seluruh caranya. Namun siapa yang telah mencobanya, hendaknya ia berbagi pengalamannya dengan orang lain. Jika seseorang baru hendak memulainya, hendaknya ia bermusyawarah dengan saudara-saudaranya. Tentu ada banyak pengalaman berharga dalam bidang ini. ===== بِالنِّسْبَةِ لِلْعَمَلِ، الْعَمَلُ مَيْدَانٌ آخَرُ مُخْتَلِفٌ تَمَامًا عَنِ الْبَيْتِ مُعَالَجَةُ الْبُيُوتِ أَسْهَلُ مِنْ مُعَالَجَةِ زُمَلَاءِ الْعَمَلِ لِيش؟ لِأَنَّ هَؤُلَاءِ قَدْ بَلَغُوا مِنَ الْعُمْرِ مَا بَلَغُوا، لَهُمْ قَنَاعَاتُهُمْ، وَلَهُمْ شَخْصِيَّاتُهُمْ لَكِنَّ هَؤُلَاءِ لَا شَكَّ أَنَّهُمْ دَرَجَاتٌ يَخْتَلِفُونَ هَؤُلَاءِ لَا تَنْظُرْ إِلَيْهِمْ نَظَرًا وَاحِدًا بَلْ كُلُّ وَاحِدٍ لَهُ وَضْعُهُ، لَهُ تَفْكِيرُهُ، وَلَهُ عَوَاطِفُهُ الَّتِي فِي دَاخِلِهِ زُمَلَاءُ الْعَمَلِ مِنْ أَحْسَنِ مَا يُؤَثَّرُ بِهِ عَلَيْهِمْ، أَنْ يَكُونَ هُنَاكَ اثْنَانِ أَوْ ثَلَاثَةٌ يَبْتَدِئُونَ بِوَضْعِ شَيْءٍ مِمَّا يُسَمِّيهِ بَعْضُ النَّاسِ دَوْرِيَّةً، وَيَكُونُ فِيهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فِي الشَّهْرِ جَلْسَةٌ عَامَّةٌ يَتَحَدَّثُونَ كَمَا يَشَاؤُونَ وَمَرَّةً فِي الشَّهْرِ يَأْتِيهِمْ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ، وَيَتَنَاقَشُونَ مَعَهُ فِي سَاعَةٍ مِنَ الزَّمَانِ فِي أَمْرٍ مِنَ الْأُمُورِ هَذَا نَوْعٌ مِنَ الرَّبْطِ، الرَّبْطُ الَّذِي مَعَهُ عَدَمُ فَرْضِ الشَّخْصِيَّاتِ عَلَى أُولَئِكَ لِأَنَّ مِنْهُمْ مَنْ لَا يَقْبَلُ أَنْ يَأْتِيَ كُلَّ مَرَّةٍ وَاحِدٌ يَتَحَدَّثُ لَهُمْ فِي هَذِهِ الْمَجَالَاتِ، يَعْنِي الْمَجَالَاتِ الدِّينِيَّةِ لَكِنْ إِذَا كَانَ مَرَّةً فِي الشَّهْرَيْنِ أَوْ مَرَّةً فِي الشَّهْرِ فِي أَوَّلِ الْأَمْرِ، هَذَا مَقْبُولٌ. هَذِهِ وَسِيلَةٌ مِنَ الْوَسَائِلِ الْوَسِيلَةُ الثَّانِيَةُ: نَشْرُ أَشْيَاءَ فِي الْعَمَلِ، مِنْ جِهَةِ فَتَاوَى لِبَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ بِطَرِيقَةٍ مُبَاشِرَةٍ أَوْ غَيْرِ مُبَاشِرَةٍ مِنْ نَشْرِ أَشْرِطَةٍ نَافِعَةٍ يَكُونُ فِيهَا الْأَثَرُ، مِنْ قَبِيلِ صُحْبَةٍ خَاصَّةٍ نَفْعٍ لِبَعْضِهِمْ، التَّوَسُّطِ لِبَعْضِهِمْ، السَّعْيِ فِي نَفْعِهِمْ بِالْأَخْلَاقِيَّاتِ الَّتِي ذَكَرْنَا يَعْنِي أَنْ يَكُونَ الْمَرْءُ فِي عَمَلِهِ الَّذِي يُخَاطِبُ الْآخَرِينَ يَكُونُ رَأَى مِنْهُ ذَاكَ، أَنَّهُ يَبْذُلُ لَهُ مَا لَا يَبْذُلُهُ غَيْرُهُ وَهَذِهِ وَسِيلَةٌ مُهِمَّةٌ لِأَنَّهَا تُدْخِلُ الْخَيْرَ فِي النُّفُوسِ وَلَوْ بَعْدَ زَمَنٍ كَذَلِكَ إِذَا كَانَ هُنَاكَ مَسْؤُولُ الْعَمَلِ يَعْنِي وَإِذَا قُلْنَا مَسْؤُولَ عَمَلٍ، لَا يُتَصَوَّرُ أَنَّهُ مَثَلًا وَظِيفَةٌ رَسْمِيَّةٌ فِي أَيِّ مَجَالٍ مِنْ مَجَالَاتِ الْعَمَلِ إِذَا كَانَ مَسْؤُولُ الْعَمَلِ رَجُلًا جَيِّدًا وَصَالِحًا يُمْكِنُ أَنْ تُعْقَدَ لِقَاءَاتٍ لِكُلِّ الْعَامِلِينَ وَيُؤَثَّرَ عَلَيْهِمْ عَنْ طَرِيقِهَا يَعْنِي أَمَامَكَ مَجَالَاتٌ لِجُهْدٍ فَرْدِيٍّ فِي الْعَمَلِ يُمْكِنُ أَنْ تَبْذُلَهُ، وَيَكُونَ مَعَهُ أَشْيَاءُ مِنَ الْخَيْرِ وَلَا يُمْكِنُ طَرْقُ جَمِيعِ الْجَوَانِبِ، لَكِنْ إِذَا كَانَ هُنَاكَ مَنْ سَعَى فِي ذَلِكَ فَيَجُودُ بِخِبْرَتِهِ عَلَى الْآخَرِينَ أَوْ إِذَا رَأَى الْمَرْءُ أَنَّهُ سَيَبْدَأُ فِي ذَلِكَ، يُشَاوِرُ إِخْوَانَهُ وَلَا بُدَّ أَنَّ هُنَاكَ تَجَارِبَ كَثِيرَةً فِي هَذَا الْمَجَالِ
Adapun di tempat kerja, medannya sangat berbeda dengan rumah. Membina orang-orang di rumah lebih mudah daripada membina rekan-rekan kerja. Mengapa? Karena mereka sudah dewasa. Mereka memiliki keyakinan dan karakter masing-masing. Namun tidak diragukan, keadaan mereka berbeda-beda. Karena itu, jangan memandang mereka semua dengan cara pandang yang sama. Setiap orang memiliki keadaan, cara berpikir, dan perasaan yang berbeda. Di antara cara terbaik untuk memberi pengaruh kepada rekan kerja adalah adanya dua atau tiga orang yang berinisiatif mengadakan pertemuan rutin. Tiga kali dalam sebulan, mereka berkumpul dan berbincang santai tentang apa saja. Lalu sekali dalam sebulan, seorang ahli ilmu datang dan berdiskusi bersama mereka sekitar satu jam tentang suatu pembahasan. Ini salah satu cara membangun kedekatan, tanpa memaksakan figur tertentu kepada mereka. Sebab, di antara mereka ada yang tidak menerima jika setiap kali selalu didatangkan seseorang untuk berbicara tentang masalah agama. Namun jika pada awalnya dilakukan sekali dalam dua bulan atau sekali sebulan, itu masih bisa diterima. Ini salah satu sarana dakwah. Sarana kedua: menyebarkan materi bermanfaat di tempat kerja, seperti fatwa sebagian ulama, baik secara langsung maupun tidak langsung, menyebarkan rekaman kajian yang bermanfaat dan memberi pengaruh, atau menjalin pertemanan secara khusus, membantu sebagian mereka, menjadi perantara kebaikan bagi mereka, serta berusaha memberi manfaat melalui akhlak yang telah kita sebutkan. Maksudnya, ketika berinteraksi di tempat kerja, orang lain melihat darinya perhatian dan pengorbanan yang tidak mereka dapatkan dari orang lain. Ini sarana yang penting, karena dapat memasukkan kebaikan ke dalam hati, meskipun hasilnya baru tampak setelah sekian lama. Demikian pula jika ada orang yang bertanggung jawab di tempat kerja. Ketika kita mengatakan “penanggung jawab”, jangan dibayangkan hanya sebagai jabatan struktural resmi tertentu. Jika penanggung jawab itu orang yang baik dan saleh, dapat diadakan pertemuan bagi seluruh karyawan, yang melalui pertemuan itu mereka dapat diarahkan kepada kebaikan. Artinya, di hadapanmu ada banyak peluang untuk melakukan upaya dakwah secara pribadi di tempat kerja, yang dapat menghasilkan berbagai kebaikan. Tentu kita tidak bisa membahas seluruh caranya. Namun siapa yang telah mencobanya, hendaknya ia berbagi pengalamannya dengan orang lain. Jika seseorang baru hendak memulainya, hendaknya ia bermusyawarah dengan saudara-saudaranya. Tentu ada banyak pengalaman berharga dalam bidang ini. ===== بِالنِّسْبَةِ لِلْعَمَلِ، الْعَمَلُ مَيْدَانٌ آخَرُ مُخْتَلِفٌ تَمَامًا عَنِ الْبَيْتِ مُعَالَجَةُ الْبُيُوتِ أَسْهَلُ مِنْ مُعَالَجَةِ زُمَلَاءِ الْعَمَلِ لِيش؟ لِأَنَّ هَؤُلَاءِ قَدْ بَلَغُوا مِنَ الْعُمْرِ مَا بَلَغُوا، لَهُمْ قَنَاعَاتُهُمْ، وَلَهُمْ شَخْصِيَّاتُهُمْ لَكِنَّ هَؤُلَاءِ لَا شَكَّ أَنَّهُمْ دَرَجَاتٌ يَخْتَلِفُونَ هَؤُلَاءِ لَا تَنْظُرْ إِلَيْهِمْ نَظَرًا وَاحِدًا بَلْ كُلُّ وَاحِدٍ لَهُ وَضْعُهُ، لَهُ تَفْكِيرُهُ، وَلَهُ عَوَاطِفُهُ الَّتِي فِي دَاخِلِهِ زُمَلَاءُ الْعَمَلِ مِنْ أَحْسَنِ مَا يُؤَثَّرُ بِهِ عَلَيْهِمْ، أَنْ يَكُونَ هُنَاكَ اثْنَانِ أَوْ ثَلَاثَةٌ يَبْتَدِئُونَ بِوَضْعِ شَيْءٍ مِمَّا يُسَمِّيهِ بَعْضُ النَّاسِ دَوْرِيَّةً، وَيَكُونُ فِيهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فِي الشَّهْرِ جَلْسَةٌ عَامَّةٌ يَتَحَدَّثُونَ كَمَا يَشَاؤُونَ وَمَرَّةً فِي الشَّهْرِ يَأْتِيهِمْ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ، وَيَتَنَاقَشُونَ مَعَهُ فِي سَاعَةٍ مِنَ الزَّمَانِ فِي أَمْرٍ مِنَ الْأُمُورِ هَذَا نَوْعٌ مِنَ الرَّبْطِ، الرَّبْطُ الَّذِي مَعَهُ عَدَمُ فَرْضِ الشَّخْصِيَّاتِ عَلَى أُولَئِكَ لِأَنَّ مِنْهُمْ مَنْ لَا يَقْبَلُ أَنْ يَأْتِيَ كُلَّ مَرَّةٍ وَاحِدٌ يَتَحَدَّثُ لَهُمْ فِي هَذِهِ الْمَجَالَاتِ، يَعْنِي الْمَجَالَاتِ الدِّينِيَّةِ لَكِنْ إِذَا كَانَ مَرَّةً فِي الشَّهْرَيْنِ أَوْ مَرَّةً فِي الشَّهْرِ فِي أَوَّلِ الْأَمْرِ، هَذَا مَقْبُولٌ. هَذِهِ وَسِيلَةٌ مِنَ الْوَسَائِلِ الْوَسِيلَةُ الثَّانِيَةُ: نَشْرُ أَشْيَاءَ فِي الْعَمَلِ، مِنْ جِهَةِ فَتَاوَى لِبَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ بِطَرِيقَةٍ مُبَاشِرَةٍ أَوْ غَيْرِ مُبَاشِرَةٍ مِنْ نَشْرِ أَشْرِطَةٍ نَافِعَةٍ يَكُونُ فِيهَا الْأَثَرُ، مِنْ قَبِيلِ صُحْبَةٍ خَاصَّةٍ نَفْعٍ لِبَعْضِهِمْ، التَّوَسُّطِ لِبَعْضِهِمْ، السَّعْيِ فِي نَفْعِهِمْ بِالْأَخْلَاقِيَّاتِ الَّتِي ذَكَرْنَا يَعْنِي أَنْ يَكُونَ الْمَرْءُ فِي عَمَلِهِ الَّذِي يُخَاطِبُ الْآخَرِينَ يَكُونُ رَأَى مِنْهُ ذَاكَ، أَنَّهُ يَبْذُلُ لَهُ مَا لَا يَبْذُلُهُ غَيْرُهُ وَهَذِهِ وَسِيلَةٌ مُهِمَّةٌ لِأَنَّهَا تُدْخِلُ الْخَيْرَ فِي النُّفُوسِ وَلَوْ بَعْدَ زَمَنٍ كَذَلِكَ إِذَا كَانَ هُنَاكَ مَسْؤُولُ الْعَمَلِ يَعْنِي وَإِذَا قُلْنَا مَسْؤُولَ عَمَلٍ، لَا يُتَصَوَّرُ أَنَّهُ مَثَلًا وَظِيفَةٌ رَسْمِيَّةٌ فِي أَيِّ مَجَالٍ مِنْ مَجَالَاتِ الْعَمَلِ إِذَا كَانَ مَسْؤُولُ الْعَمَلِ رَجُلًا جَيِّدًا وَصَالِحًا يُمْكِنُ أَنْ تُعْقَدَ لِقَاءَاتٍ لِكُلِّ الْعَامِلِينَ وَيُؤَثَّرَ عَلَيْهِمْ عَنْ طَرِيقِهَا يَعْنِي أَمَامَكَ مَجَالَاتٌ لِجُهْدٍ فَرْدِيٍّ فِي الْعَمَلِ يُمْكِنُ أَنْ تَبْذُلَهُ، وَيَكُونَ مَعَهُ أَشْيَاءُ مِنَ الْخَيْرِ وَلَا يُمْكِنُ طَرْقُ جَمِيعِ الْجَوَانِبِ، لَكِنْ إِذَا كَانَ هُنَاكَ مَنْ سَعَى فِي ذَلِكَ فَيَجُودُ بِخِبْرَتِهِ عَلَى الْآخَرِينَ أَوْ إِذَا رَأَى الْمَرْءُ أَنَّهُ سَيَبْدَأُ فِي ذَلِكَ، يُشَاوِرُ إِخْوَانَهُ وَلَا بُدَّ أَنَّ هُنَاكَ تَجَارِبَ كَثِيرَةً فِي هَذَا الْمَجَالِ


Adapun di tempat kerja, medannya sangat berbeda dengan rumah. Membina orang-orang di rumah lebih mudah daripada membina rekan-rekan kerja. Mengapa? Karena mereka sudah dewasa. Mereka memiliki keyakinan dan karakter masing-masing. Namun tidak diragukan, keadaan mereka berbeda-beda. Karena itu, jangan memandang mereka semua dengan cara pandang yang sama. Setiap orang memiliki keadaan, cara berpikir, dan perasaan yang berbeda. Di antara cara terbaik untuk memberi pengaruh kepada rekan kerja adalah adanya dua atau tiga orang yang berinisiatif mengadakan pertemuan rutin. Tiga kali dalam sebulan, mereka berkumpul dan berbincang santai tentang apa saja. Lalu sekali dalam sebulan, seorang ahli ilmu datang dan berdiskusi bersama mereka sekitar satu jam tentang suatu pembahasan. Ini salah satu cara membangun kedekatan, tanpa memaksakan figur tertentu kepada mereka. Sebab, di antara mereka ada yang tidak menerima jika setiap kali selalu didatangkan seseorang untuk berbicara tentang masalah agama. Namun jika pada awalnya dilakukan sekali dalam dua bulan atau sekali sebulan, itu masih bisa diterima. Ini salah satu sarana dakwah. Sarana kedua: menyebarkan materi bermanfaat di tempat kerja, seperti fatwa sebagian ulama, baik secara langsung maupun tidak langsung, menyebarkan rekaman kajian yang bermanfaat dan memberi pengaruh, atau menjalin pertemanan secara khusus, membantu sebagian mereka, menjadi perantara kebaikan bagi mereka, serta berusaha memberi manfaat melalui akhlak yang telah kita sebutkan. Maksudnya, ketika berinteraksi di tempat kerja, orang lain melihat darinya perhatian dan pengorbanan yang tidak mereka dapatkan dari orang lain. Ini sarana yang penting, karena dapat memasukkan kebaikan ke dalam hati, meskipun hasilnya baru tampak setelah sekian lama. Demikian pula jika ada orang yang bertanggung jawab di tempat kerja. Ketika kita mengatakan “penanggung jawab”, jangan dibayangkan hanya sebagai jabatan struktural resmi tertentu. Jika penanggung jawab itu orang yang baik dan saleh, dapat diadakan pertemuan bagi seluruh karyawan, yang melalui pertemuan itu mereka dapat diarahkan kepada kebaikan. Artinya, di hadapanmu ada banyak peluang untuk melakukan upaya dakwah secara pribadi di tempat kerja, yang dapat menghasilkan berbagai kebaikan. Tentu kita tidak bisa membahas seluruh caranya. Namun siapa yang telah mencobanya, hendaknya ia berbagi pengalamannya dengan orang lain. Jika seseorang baru hendak memulainya, hendaknya ia bermusyawarah dengan saudara-saudaranya. Tentu ada banyak pengalaman berharga dalam bidang ini. ===== بِالنِّسْبَةِ لِلْعَمَلِ، الْعَمَلُ مَيْدَانٌ آخَرُ مُخْتَلِفٌ تَمَامًا عَنِ الْبَيْتِ مُعَالَجَةُ الْبُيُوتِ أَسْهَلُ مِنْ مُعَالَجَةِ زُمَلَاءِ الْعَمَلِ لِيش؟ لِأَنَّ هَؤُلَاءِ قَدْ بَلَغُوا مِنَ الْعُمْرِ مَا بَلَغُوا، لَهُمْ قَنَاعَاتُهُمْ، وَلَهُمْ شَخْصِيَّاتُهُمْ لَكِنَّ هَؤُلَاءِ لَا شَكَّ أَنَّهُمْ دَرَجَاتٌ يَخْتَلِفُونَ هَؤُلَاءِ لَا تَنْظُرْ إِلَيْهِمْ نَظَرًا وَاحِدًا بَلْ كُلُّ وَاحِدٍ لَهُ وَضْعُهُ، لَهُ تَفْكِيرُهُ، وَلَهُ عَوَاطِفُهُ الَّتِي فِي دَاخِلِهِ زُمَلَاءُ الْعَمَلِ مِنْ أَحْسَنِ مَا يُؤَثَّرُ بِهِ عَلَيْهِمْ، أَنْ يَكُونَ هُنَاكَ اثْنَانِ أَوْ ثَلَاثَةٌ يَبْتَدِئُونَ بِوَضْعِ شَيْءٍ مِمَّا يُسَمِّيهِ بَعْضُ النَّاسِ دَوْرِيَّةً، وَيَكُونُ فِيهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فِي الشَّهْرِ جَلْسَةٌ عَامَّةٌ يَتَحَدَّثُونَ كَمَا يَشَاؤُونَ وَمَرَّةً فِي الشَّهْرِ يَأْتِيهِمْ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ، وَيَتَنَاقَشُونَ مَعَهُ فِي سَاعَةٍ مِنَ الزَّمَانِ فِي أَمْرٍ مِنَ الْأُمُورِ هَذَا نَوْعٌ مِنَ الرَّبْطِ، الرَّبْطُ الَّذِي مَعَهُ عَدَمُ فَرْضِ الشَّخْصِيَّاتِ عَلَى أُولَئِكَ لِأَنَّ مِنْهُمْ مَنْ لَا يَقْبَلُ أَنْ يَأْتِيَ كُلَّ مَرَّةٍ وَاحِدٌ يَتَحَدَّثُ لَهُمْ فِي هَذِهِ الْمَجَالَاتِ، يَعْنِي الْمَجَالَاتِ الدِّينِيَّةِ لَكِنْ إِذَا كَانَ مَرَّةً فِي الشَّهْرَيْنِ أَوْ مَرَّةً فِي الشَّهْرِ فِي أَوَّلِ الْأَمْرِ، هَذَا مَقْبُولٌ. هَذِهِ وَسِيلَةٌ مِنَ الْوَسَائِلِ الْوَسِيلَةُ الثَّانِيَةُ: نَشْرُ أَشْيَاءَ فِي الْعَمَلِ، مِنْ جِهَةِ فَتَاوَى لِبَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ بِطَرِيقَةٍ مُبَاشِرَةٍ أَوْ غَيْرِ مُبَاشِرَةٍ مِنْ نَشْرِ أَشْرِطَةٍ نَافِعَةٍ يَكُونُ فِيهَا الْأَثَرُ، مِنْ قَبِيلِ صُحْبَةٍ خَاصَّةٍ نَفْعٍ لِبَعْضِهِمْ، التَّوَسُّطِ لِبَعْضِهِمْ، السَّعْيِ فِي نَفْعِهِمْ بِالْأَخْلَاقِيَّاتِ الَّتِي ذَكَرْنَا يَعْنِي أَنْ يَكُونَ الْمَرْءُ فِي عَمَلِهِ الَّذِي يُخَاطِبُ الْآخَرِينَ يَكُونُ رَأَى مِنْهُ ذَاكَ، أَنَّهُ يَبْذُلُ لَهُ مَا لَا يَبْذُلُهُ غَيْرُهُ وَهَذِهِ وَسِيلَةٌ مُهِمَّةٌ لِأَنَّهَا تُدْخِلُ الْخَيْرَ فِي النُّفُوسِ وَلَوْ بَعْدَ زَمَنٍ كَذَلِكَ إِذَا كَانَ هُنَاكَ مَسْؤُولُ الْعَمَلِ يَعْنِي وَإِذَا قُلْنَا مَسْؤُولَ عَمَلٍ، لَا يُتَصَوَّرُ أَنَّهُ مَثَلًا وَظِيفَةٌ رَسْمِيَّةٌ فِي أَيِّ مَجَالٍ مِنْ مَجَالَاتِ الْعَمَلِ إِذَا كَانَ مَسْؤُولُ الْعَمَلِ رَجُلًا جَيِّدًا وَصَالِحًا يُمْكِنُ أَنْ تُعْقَدَ لِقَاءَاتٍ لِكُلِّ الْعَامِلِينَ وَيُؤَثَّرَ عَلَيْهِمْ عَنْ طَرِيقِهَا يَعْنِي أَمَامَكَ مَجَالَاتٌ لِجُهْدٍ فَرْدِيٍّ فِي الْعَمَلِ يُمْكِنُ أَنْ تَبْذُلَهُ، وَيَكُونَ مَعَهُ أَشْيَاءُ مِنَ الْخَيْرِ وَلَا يُمْكِنُ طَرْقُ جَمِيعِ الْجَوَانِبِ، لَكِنْ إِذَا كَانَ هُنَاكَ مَنْ سَعَى فِي ذَلِكَ فَيَجُودُ بِخِبْرَتِهِ عَلَى الْآخَرِينَ أَوْ إِذَا رَأَى الْمَرْءُ أَنَّهُ سَيَبْدَأُ فِي ذَلِكَ، يُشَاوِرُ إِخْوَانَهُ وَلَا بُدَّ أَنَّ هُنَاكَ تَجَارِبَ كَثِيرَةً فِي هَذَا الْمَجَالِ

4 Amalan yang Memberatkan Timbangan di Hari KIamat – Syaikh Shalih As-Sindi #NasehatUlama

Sesungguhnya, di antara amal ada yang memiliki keistimewaan khusus dalam memberatkan timbangan. Karena itu, orang-orang yang cerdas dan berakal semestinya benar-benar memperhatikan amalan-amalan ini, dan bersungguh-sungguh untuk meraihnya. Sebab, akhir keadaanmu, wahai hamba Allah, pada hari kiamat — apakah mendapat nikmat atau azab —bergantung pada hasilmu di tempat yang agung ini, yaitu saat amal ditimbang. “Adapun orang yang berat timbangan kebaikannya, maka ia berada dalam kehidupan yang menyenangkan. Adapun orang yang ringan timbangan kebaikannya, maka tempat kembalinya adalah Hawiyah.” (QS. Al-Qari’ah: 6–9) Maka bersemangatlah, bersemangatlah. Bersungguh-sungguhlah dalam meraih amal saleh, terutama amalan yang paling memberatkan timbangan. Sebab, siapa tahu? Bisa jadi satu kebaikan saja menjadi sebab keselamatanmu pada hari kiamat. [PERTAMA] Saya ulangi. Di antara kebaikan itu adalah kalimat tauhid (La ilaha illallah), yang diucapkan seorang hamba dengan ilmu, keyakinan, dan keikhlasan. Betapa beratnya kalimat itu dalam timbangan seorang hamba. Bahkan, tidak ada sesuatu pun yang lebih berat darinya, sebagaimana ditunjukkan oleh hadis bithaqah yang masyhur. [KEDUA] Demikian pula ucapan “Alhamdulillah” yang diucapkan dengan lisan yang selaras dengan hati. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, sebagaimana dalam Shahih Muslim, “Alhamdulillah memenuhi timbangan.” (HR. Muslim). [KETIGA]Yang ketiga: akhlak mulia. Sungguh, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang hamba pada hari kiamat daripada akhlak yang mulia.” (Lihat HR. Abu Dawud no. 4799, dengan perbedaan lafaz). [KEEMPAT]Di antaranya juga, hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sungguh menakjubkan lima perkara ini. Betapa beratnya dalam timbangan: Subhanallah, alhamdulillah, la ilaha illallah, dan Allahu akbar. Serta anak saleh yang meninggal dunia, lalu ayahnya bersabar dan mengharap pahala.” (Lihat HR. An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubra no. 9923; HR. Ahmad no. 15662, dengan perbedaan lafaz). Ini termasuk perkara-perkara agung yang dengannya timbangan seorang hamba menjadi berat pada hari kiamat.Maka carilah amalan-amalan itu, wahai orang yang diberi taufik. Dan bersemangatlah untuk mengamalkannya. ==== فَأَنَّ مِنَ الْأَعْمَالِ مَا لَهُ مَزِيدُ اخْتِصَاصٍ بِثِقَلِ الْمِيزَانِ وَيَنْبَغِي عَلَى الْفُطَنَاءِ وَالْأَذْكِيَاءِ أَنْ يَحْرِصُوا عَلَى هَذِهِ الْأَعْمَالِ، وَأَنْ يَجْتَهِدُوا فِي تَحْصِيلِهَا فَإِنَّ نَتِيجَتَكَ يَا عَبْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ حَيْثُ النَّعِيمُ أَوِ الْعَذَابُ بِحَسَبِ نَتِيجَتِكَ فِي هَذَا الْمَقَامِ الْعَظِيمِ، وَهُوَ الْوَزْنُ فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ، وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ فَالْحِرْصَ الْحِرْصَ، وَالِاجْتِهَادَ الِاجْتِهَادَ فِي تَحْصِيلِ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ، وَلَا سِيَّمَا مَا يَثْقُلُ بِهِ الْمِيزَانُ أَكْثَرَ فَمَا يُدْرِيكَ؟ لَرُبَّمَا كَانَتْ حَسَنَةٌ وَاحِدَةٌ سَبَبًا لِنَجَاتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعُودُ فَأَقُولُ: مِنْ تِلْكَ الْحَسَنَاتِ كَلِمَةُ التَّوْحِيدِ الَّتِي يَقُولُهَا الْعَبْدُ عَنْ عِلْمٍ وَيَقِينٍ وَإِخْلَاصٍ فَمَا أَثْقَلَهَا فِي مِيزَانِ الْعَبْدِ، بَلْ لَا شَيْءَ أَثْقَلُ مِنْهَا، كَمَا دَلَّ عَلَى هَذَا حَدِيثُ الْبِطَاقَةِ الْمَشْهُورُ كَذَلِكَ قَوْلُ: الْحَمْدُ لِلهِ، قَوْلًا يَتَوَاطَأُ فِيهِ اللِّسَانُ مَعَ الْقَلْبِ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا عِنْدَ مُسْلِمٍ: وَالْحَمْدُ لِلهِ تَمْلَأُ الْمِيزَانَ الثَّالِثُ: حُسْنُ الْخُلُقِ فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَمِنْ ذَلِكَ أَيْضًا مَا أَخْرَجَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ فِي مُسْنَدِهِ مِنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَخٍ بَخٍ لَخَمْسٌ، مَا أَثْقَلَهُنَّ فِي الْمِيزَانِ سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ وَالْوَلَدُ الصَّالِحُ يَمُوتُ، فَيَحْتَسِبُهُ وَالِدُهُ هَذِهِ مِنَ الْأُمُورِ الْعَظِيمَةِ الَّتِي يَثْقُلُ بِهَا مِيزَانُ الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَتَتَبَّعْهَا يَا أَيُّهَا الْمُوَفَّقُ، وَاحْرِصْ عَلَى الْعَمَلِ بِهَا

4 Amalan yang Memberatkan Timbangan di Hari KIamat – Syaikh Shalih As-Sindi #NasehatUlama

Sesungguhnya, di antara amal ada yang memiliki keistimewaan khusus dalam memberatkan timbangan. Karena itu, orang-orang yang cerdas dan berakal semestinya benar-benar memperhatikan amalan-amalan ini, dan bersungguh-sungguh untuk meraihnya. Sebab, akhir keadaanmu, wahai hamba Allah, pada hari kiamat — apakah mendapat nikmat atau azab —bergantung pada hasilmu di tempat yang agung ini, yaitu saat amal ditimbang. “Adapun orang yang berat timbangan kebaikannya, maka ia berada dalam kehidupan yang menyenangkan. Adapun orang yang ringan timbangan kebaikannya, maka tempat kembalinya adalah Hawiyah.” (QS. Al-Qari’ah: 6–9) Maka bersemangatlah, bersemangatlah. Bersungguh-sungguhlah dalam meraih amal saleh, terutama amalan yang paling memberatkan timbangan. Sebab, siapa tahu? Bisa jadi satu kebaikan saja menjadi sebab keselamatanmu pada hari kiamat. [PERTAMA] Saya ulangi. Di antara kebaikan itu adalah kalimat tauhid (La ilaha illallah), yang diucapkan seorang hamba dengan ilmu, keyakinan, dan keikhlasan. Betapa beratnya kalimat itu dalam timbangan seorang hamba. Bahkan, tidak ada sesuatu pun yang lebih berat darinya, sebagaimana ditunjukkan oleh hadis bithaqah yang masyhur. [KEDUA] Demikian pula ucapan “Alhamdulillah” yang diucapkan dengan lisan yang selaras dengan hati. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, sebagaimana dalam Shahih Muslim, “Alhamdulillah memenuhi timbangan.” (HR. Muslim). [KETIGA]Yang ketiga: akhlak mulia. Sungguh, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang hamba pada hari kiamat daripada akhlak yang mulia.” (Lihat HR. Abu Dawud no. 4799, dengan perbedaan lafaz). [KEEMPAT]Di antaranya juga, hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sungguh menakjubkan lima perkara ini. Betapa beratnya dalam timbangan: Subhanallah, alhamdulillah, la ilaha illallah, dan Allahu akbar. Serta anak saleh yang meninggal dunia, lalu ayahnya bersabar dan mengharap pahala.” (Lihat HR. An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubra no. 9923; HR. Ahmad no. 15662, dengan perbedaan lafaz). Ini termasuk perkara-perkara agung yang dengannya timbangan seorang hamba menjadi berat pada hari kiamat.Maka carilah amalan-amalan itu, wahai orang yang diberi taufik. Dan bersemangatlah untuk mengamalkannya. ==== فَأَنَّ مِنَ الْأَعْمَالِ مَا لَهُ مَزِيدُ اخْتِصَاصٍ بِثِقَلِ الْمِيزَانِ وَيَنْبَغِي عَلَى الْفُطَنَاءِ وَالْأَذْكِيَاءِ أَنْ يَحْرِصُوا عَلَى هَذِهِ الْأَعْمَالِ، وَأَنْ يَجْتَهِدُوا فِي تَحْصِيلِهَا فَإِنَّ نَتِيجَتَكَ يَا عَبْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ حَيْثُ النَّعِيمُ أَوِ الْعَذَابُ بِحَسَبِ نَتِيجَتِكَ فِي هَذَا الْمَقَامِ الْعَظِيمِ، وَهُوَ الْوَزْنُ فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ، وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ فَالْحِرْصَ الْحِرْصَ، وَالِاجْتِهَادَ الِاجْتِهَادَ فِي تَحْصِيلِ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ، وَلَا سِيَّمَا مَا يَثْقُلُ بِهِ الْمِيزَانُ أَكْثَرَ فَمَا يُدْرِيكَ؟ لَرُبَّمَا كَانَتْ حَسَنَةٌ وَاحِدَةٌ سَبَبًا لِنَجَاتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعُودُ فَأَقُولُ: مِنْ تِلْكَ الْحَسَنَاتِ كَلِمَةُ التَّوْحِيدِ الَّتِي يَقُولُهَا الْعَبْدُ عَنْ عِلْمٍ وَيَقِينٍ وَإِخْلَاصٍ فَمَا أَثْقَلَهَا فِي مِيزَانِ الْعَبْدِ، بَلْ لَا شَيْءَ أَثْقَلُ مِنْهَا، كَمَا دَلَّ عَلَى هَذَا حَدِيثُ الْبِطَاقَةِ الْمَشْهُورُ كَذَلِكَ قَوْلُ: الْحَمْدُ لِلهِ، قَوْلًا يَتَوَاطَأُ فِيهِ اللِّسَانُ مَعَ الْقَلْبِ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا عِنْدَ مُسْلِمٍ: وَالْحَمْدُ لِلهِ تَمْلَأُ الْمِيزَانَ الثَّالِثُ: حُسْنُ الْخُلُقِ فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَمِنْ ذَلِكَ أَيْضًا مَا أَخْرَجَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ فِي مُسْنَدِهِ مِنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَخٍ بَخٍ لَخَمْسٌ، مَا أَثْقَلَهُنَّ فِي الْمِيزَانِ سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ وَالْوَلَدُ الصَّالِحُ يَمُوتُ، فَيَحْتَسِبُهُ وَالِدُهُ هَذِهِ مِنَ الْأُمُورِ الْعَظِيمَةِ الَّتِي يَثْقُلُ بِهَا مِيزَانُ الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَتَتَبَّعْهَا يَا أَيُّهَا الْمُوَفَّقُ، وَاحْرِصْ عَلَى الْعَمَلِ بِهَا
Sesungguhnya, di antara amal ada yang memiliki keistimewaan khusus dalam memberatkan timbangan. Karena itu, orang-orang yang cerdas dan berakal semestinya benar-benar memperhatikan amalan-amalan ini, dan bersungguh-sungguh untuk meraihnya. Sebab, akhir keadaanmu, wahai hamba Allah, pada hari kiamat — apakah mendapat nikmat atau azab —bergantung pada hasilmu di tempat yang agung ini, yaitu saat amal ditimbang. “Adapun orang yang berat timbangan kebaikannya, maka ia berada dalam kehidupan yang menyenangkan. Adapun orang yang ringan timbangan kebaikannya, maka tempat kembalinya adalah Hawiyah.” (QS. Al-Qari’ah: 6–9) Maka bersemangatlah, bersemangatlah. Bersungguh-sungguhlah dalam meraih amal saleh, terutama amalan yang paling memberatkan timbangan. Sebab, siapa tahu? Bisa jadi satu kebaikan saja menjadi sebab keselamatanmu pada hari kiamat. [PERTAMA] Saya ulangi. Di antara kebaikan itu adalah kalimat tauhid (La ilaha illallah), yang diucapkan seorang hamba dengan ilmu, keyakinan, dan keikhlasan. Betapa beratnya kalimat itu dalam timbangan seorang hamba. Bahkan, tidak ada sesuatu pun yang lebih berat darinya, sebagaimana ditunjukkan oleh hadis bithaqah yang masyhur. [KEDUA] Demikian pula ucapan “Alhamdulillah” yang diucapkan dengan lisan yang selaras dengan hati. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, sebagaimana dalam Shahih Muslim, “Alhamdulillah memenuhi timbangan.” (HR. Muslim). [KETIGA]Yang ketiga: akhlak mulia. Sungguh, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang hamba pada hari kiamat daripada akhlak yang mulia.” (Lihat HR. Abu Dawud no. 4799, dengan perbedaan lafaz). [KEEMPAT]Di antaranya juga, hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sungguh menakjubkan lima perkara ini. Betapa beratnya dalam timbangan: Subhanallah, alhamdulillah, la ilaha illallah, dan Allahu akbar. Serta anak saleh yang meninggal dunia, lalu ayahnya bersabar dan mengharap pahala.” (Lihat HR. An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubra no. 9923; HR. Ahmad no. 15662, dengan perbedaan lafaz). Ini termasuk perkara-perkara agung yang dengannya timbangan seorang hamba menjadi berat pada hari kiamat.Maka carilah amalan-amalan itu, wahai orang yang diberi taufik. Dan bersemangatlah untuk mengamalkannya. ==== فَأَنَّ مِنَ الْأَعْمَالِ مَا لَهُ مَزِيدُ اخْتِصَاصٍ بِثِقَلِ الْمِيزَانِ وَيَنْبَغِي عَلَى الْفُطَنَاءِ وَالْأَذْكِيَاءِ أَنْ يَحْرِصُوا عَلَى هَذِهِ الْأَعْمَالِ، وَأَنْ يَجْتَهِدُوا فِي تَحْصِيلِهَا فَإِنَّ نَتِيجَتَكَ يَا عَبْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ حَيْثُ النَّعِيمُ أَوِ الْعَذَابُ بِحَسَبِ نَتِيجَتِكَ فِي هَذَا الْمَقَامِ الْعَظِيمِ، وَهُوَ الْوَزْنُ فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ، وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ فَالْحِرْصَ الْحِرْصَ، وَالِاجْتِهَادَ الِاجْتِهَادَ فِي تَحْصِيلِ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ، وَلَا سِيَّمَا مَا يَثْقُلُ بِهِ الْمِيزَانُ أَكْثَرَ فَمَا يُدْرِيكَ؟ لَرُبَّمَا كَانَتْ حَسَنَةٌ وَاحِدَةٌ سَبَبًا لِنَجَاتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعُودُ فَأَقُولُ: مِنْ تِلْكَ الْحَسَنَاتِ كَلِمَةُ التَّوْحِيدِ الَّتِي يَقُولُهَا الْعَبْدُ عَنْ عِلْمٍ وَيَقِينٍ وَإِخْلَاصٍ فَمَا أَثْقَلَهَا فِي مِيزَانِ الْعَبْدِ، بَلْ لَا شَيْءَ أَثْقَلُ مِنْهَا، كَمَا دَلَّ عَلَى هَذَا حَدِيثُ الْبِطَاقَةِ الْمَشْهُورُ كَذَلِكَ قَوْلُ: الْحَمْدُ لِلهِ، قَوْلًا يَتَوَاطَأُ فِيهِ اللِّسَانُ مَعَ الْقَلْبِ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا عِنْدَ مُسْلِمٍ: وَالْحَمْدُ لِلهِ تَمْلَأُ الْمِيزَانَ الثَّالِثُ: حُسْنُ الْخُلُقِ فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَمِنْ ذَلِكَ أَيْضًا مَا أَخْرَجَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ فِي مُسْنَدِهِ مِنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَخٍ بَخٍ لَخَمْسٌ، مَا أَثْقَلَهُنَّ فِي الْمِيزَانِ سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ وَالْوَلَدُ الصَّالِحُ يَمُوتُ، فَيَحْتَسِبُهُ وَالِدُهُ هَذِهِ مِنَ الْأُمُورِ الْعَظِيمَةِ الَّتِي يَثْقُلُ بِهَا مِيزَانُ الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَتَتَبَّعْهَا يَا أَيُّهَا الْمُوَفَّقُ، وَاحْرِصْ عَلَى الْعَمَلِ بِهَا


Sesungguhnya, di antara amal ada yang memiliki keistimewaan khusus dalam memberatkan timbangan. Karena itu, orang-orang yang cerdas dan berakal semestinya benar-benar memperhatikan amalan-amalan ini, dan bersungguh-sungguh untuk meraihnya. Sebab, akhir keadaanmu, wahai hamba Allah, pada hari kiamat — apakah mendapat nikmat atau azab —bergantung pada hasilmu di tempat yang agung ini, yaitu saat amal ditimbang. “Adapun orang yang berat timbangan kebaikannya, maka ia berada dalam kehidupan yang menyenangkan. Adapun orang yang ringan timbangan kebaikannya, maka tempat kembalinya adalah Hawiyah.” (QS. Al-Qari’ah: 6–9) Maka bersemangatlah, bersemangatlah. Bersungguh-sungguhlah dalam meraih amal saleh, terutama amalan yang paling memberatkan timbangan. Sebab, siapa tahu? Bisa jadi satu kebaikan saja menjadi sebab keselamatanmu pada hari kiamat. [PERTAMA] Saya ulangi. Di antara kebaikan itu adalah kalimat tauhid (La ilaha illallah), yang diucapkan seorang hamba dengan ilmu, keyakinan, dan keikhlasan. Betapa beratnya kalimat itu dalam timbangan seorang hamba. Bahkan, tidak ada sesuatu pun yang lebih berat darinya, sebagaimana ditunjukkan oleh hadis bithaqah yang masyhur. [KEDUA] Demikian pula ucapan “Alhamdulillah” yang diucapkan dengan lisan yang selaras dengan hati. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, sebagaimana dalam Shahih Muslim, “Alhamdulillah memenuhi timbangan.” (HR. Muslim). [KETIGA]Yang ketiga: akhlak mulia. Sungguh, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang hamba pada hari kiamat daripada akhlak yang mulia.” (Lihat HR. Abu Dawud no. 4799, dengan perbedaan lafaz). [KEEMPAT]Di antaranya juga, hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sungguh menakjubkan lima perkara ini. Betapa beratnya dalam timbangan: Subhanallah, alhamdulillah, la ilaha illallah, dan Allahu akbar. Serta anak saleh yang meninggal dunia, lalu ayahnya bersabar dan mengharap pahala.” (Lihat HR. An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubra no. 9923; HR. Ahmad no. 15662, dengan perbedaan lafaz). Ini termasuk perkara-perkara agung yang dengannya timbangan seorang hamba menjadi berat pada hari kiamat.Maka carilah amalan-amalan itu, wahai orang yang diberi taufik. Dan bersemangatlah untuk mengamalkannya. ==== فَأَنَّ مِنَ الْأَعْمَالِ مَا لَهُ مَزِيدُ اخْتِصَاصٍ بِثِقَلِ الْمِيزَانِ وَيَنْبَغِي عَلَى الْفُطَنَاءِ وَالْأَذْكِيَاءِ أَنْ يَحْرِصُوا عَلَى هَذِهِ الْأَعْمَالِ، وَأَنْ يَجْتَهِدُوا فِي تَحْصِيلِهَا فَإِنَّ نَتِيجَتَكَ يَا عَبْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ حَيْثُ النَّعِيمُ أَوِ الْعَذَابُ بِحَسَبِ نَتِيجَتِكَ فِي هَذَا الْمَقَامِ الْعَظِيمِ، وَهُوَ الْوَزْنُ فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ، وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ فَالْحِرْصَ الْحِرْصَ، وَالِاجْتِهَادَ الِاجْتِهَادَ فِي تَحْصِيلِ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ، وَلَا سِيَّمَا مَا يَثْقُلُ بِهِ الْمِيزَانُ أَكْثَرَ فَمَا يُدْرِيكَ؟ لَرُبَّمَا كَانَتْ حَسَنَةٌ وَاحِدَةٌ سَبَبًا لِنَجَاتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعُودُ فَأَقُولُ: مِنْ تِلْكَ الْحَسَنَاتِ كَلِمَةُ التَّوْحِيدِ الَّتِي يَقُولُهَا الْعَبْدُ عَنْ عِلْمٍ وَيَقِينٍ وَإِخْلَاصٍ فَمَا أَثْقَلَهَا فِي مِيزَانِ الْعَبْدِ، بَلْ لَا شَيْءَ أَثْقَلُ مِنْهَا، كَمَا دَلَّ عَلَى هَذَا حَدِيثُ الْبِطَاقَةِ الْمَشْهُورُ كَذَلِكَ قَوْلُ: الْحَمْدُ لِلهِ، قَوْلًا يَتَوَاطَأُ فِيهِ اللِّسَانُ مَعَ الْقَلْبِ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا عِنْدَ مُسْلِمٍ: وَالْحَمْدُ لِلهِ تَمْلَأُ الْمِيزَانَ الثَّالِثُ: حُسْنُ الْخُلُقِ فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَمِنْ ذَلِكَ أَيْضًا مَا أَخْرَجَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ فِي مُسْنَدِهِ مِنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَخٍ بَخٍ لَخَمْسٌ، مَا أَثْقَلَهُنَّ فِي الْمِيزَانِ سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ وَالْوَلَدُ الصَّالِحُ يَمُوتُ، فَيَحْتَسِبُهُ وَالِدُهُ هَذِهِ مِنَ الْأُمُورِ الْعَظِيمَةِ الَّتِي يَثْقُلُ بِهَا مِيزَانُ الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَتَتَبَّعْهَا يَا أَيُّهَا الْمُوَفَّقُ، وَاحْرِصْ عَلَى الْعَمَلِ بِهَا

Cara Menyelesaikan Masalah: 8 Langkah Problem Solving Islami

Semua orang pasti pernah menghadapi masalah, baik berupa utang, konflik keluarga, perselisihan bisnis, maupun musibah lainnya. Sayangnya, banyak orang terburu-buru mencari jalan keluar sebelum mampu memahami letak persoalan yang sebenarnya. Islam mengajarkan bahwa penyelesaian masalah tidak hanya membutuhkan kecerdasan berpikir, tetapi juga ketenangan hati, kejujuran, muhasabah, ikhtiar yang benar, dan tawakal kepada Allah. Inilah delapan langkah problem solving Islami yang dapat menjadi panduan seorang muslim dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.  Daftar Isi tutup 1. Langkah Pertama: Tenangkan Hati Sebelum Mencari Solusi 2. Langkah Kedua: Uraikan Masalah dengan Jujur 3. Langkah Ketiga: Muhasabah dan Mengoreksi Diri 4. Langkah Keempat: Cari Akar Masalah, Jangan Hanya Mengobati Akibatnya 5. Langkah Kelima: Bermusyawarah dengan Orang yang Tepat 6. Langkah Keenam: Tempuh Semua Sebab yang Dibenarkan Syariat 7. Langkah Ketujuh: Bersabar dan Istiqamah Menjalankan Solusi 8. Langkah Kedelapan: Serahkan Hasilnya kepada Allah 9. Penutup  Langkah Pertama: Tenangkan Hati Sebelum Mencari SolusiInilah langkah pertama yang sering dilupakan.Orang yang sedang marah, panik, takut, atau sedih biasanya tidak mampu melihat masalah dengan jernih.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Allah Ta’ala juga berfirman,أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Maka sebelum memikirkan solusi, tenangkan hati terlebih dahulu dengan shalat, tilawah Al-Qur’an, dzikir, doa, dan tawakal.Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan,التَّوَكُّلُ جَامِعٌ لِمَقَامِ التَّفْوِيضِ وَالِاسْتِعَانَةِ وَالرِّضَا، لَا يَتَصَوَّرُ وُجُودُهُ بِدُونِهَا.“Hakikat tawakal merupakan perpaduan antara menyerahkan seluruh urusan kepada Allah, memohon pertolongan hanya kepada-Nya, dan menerima dengan lapang dada segala keputusan-Nya. Tanpa ketiga hal ini, tawakal yang sesungguhnya tidak akan terwujud.” (Sumber: Islamweb)Dałam tawakal berarti ada tiga hal:التَّفْوِيض (at-tafwīḍ): menyerahkan seluruh urusan dan hasil akhirnya kepada Allah.الِاسْتِعَانَة (al-isti‘ānah): memohon pertolongan kepada Allah dalam setiap ikhtiar.الرِّضَا (ar-riḍā): menerima dengan lapang dada segala ketetapan Allah setelah berusaha.Kalimat ini menunjukkan bahwa tawakal bukan sekadar pasrah, tetapi merupakan gabungan dari tiga amalan hati: berserah diri kepada Allah, bergantung kepada pertolongan-Nya, dan ridha terhadap apa pun keputusan-Nya setelah menempuh sebab-sebab yang dibenarkan syariat. Langkah Kedua: Uraikan Masalah dengan JujurSering kali yang kita hadapi bukan masalah sebenarnya.Misalnya berkata, “Saya hancur.”Padahal yang benar adalah:Saya memiliki utang Rp500 juta.Saya berselisih dengan saudara.Bisnis saya rugi.Semakin jelas masalah, semakin dekat kepada solusi.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ“Wahai orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah: 119)Kejujuran kepada diri sendiri merupakan awal dari setiap perbaikan.Baca juga: Jujur yang Menyelamatkan, Pelajaran Besar dari Tobat Ka’ab bin Malik Langkah Ketiga: Muhasabah dan Mengoreksi DiriAllah Ta’ala berfirman,وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ“Musibah yang menimpa kalian adalah akibat perbuatan tangan kalian sendiri.” (QS. Asy-Syura: 30)Bukan berarti setiap musibah pasti hukuman, tetapi ayat ini mengajarkan agar kita terlebih dahulu mengoreksi diri.Tanyakan:Apa kesalahan saya?Apa sebab yang mengantarkan masalah ini?Apa yang harus saya perbaiki?Muhasabah membantu seorang muslim memperbaiki dirinya sebelum sibuk menyalahkan orang lain.Baca juga: Musibah Datang Karena Maksiat dan Dosa Langkah Keempat: Cari Akar Masalah, Jangan Hanya Mengobati AkibatnyaMisalnya: Utang bukan selalu masalah utama.Bisa jadi penyebabnya adalah:boros,kurang ilmu,salah memilih partner,malas bekerja,atau bahkan maksiat yang menghilangkan keberkahan.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah,تَعْسِيرُ أُمُورِهِ عَلَيْهِ، فَلَا يَتَوَجَّهُ لِأَمْرٍ إِلَّا يَجِدُهُ مُغْلَقًا دُونَهُ أَوْ مُتَعَسِّرًا عَلَيْهِ، وَهَذَا كَمَا أَنَّ مَنْ اتَّقَى اللَّهَ جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا، فَمَنْ عَطَّلَ التَّقْوَى جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ عُسْرًا، Kesulitan yang menimpa seseorang sering kali terlihat dalam urusan-urusannya yang menjadi serba sulit. Setiap kali ia mencoba menghadapi suatu perkara, ia mendapati jalannya tertutup atau penuh hambatan. Sebagaimana orang yang bertakwa kepada Allah akan dimudahkan dalam urusannya, maka siapa yang meninggalkan takwa akan mendapati urusannya menjadi sulit.وَيَا لَلَّهِ الْعَجَبُ! كَيْفَ يَجِدُ الْعَبْدُ أَبْوَابَ الْخَيْرِ وَالْمَصَالِحِ مَسْدُودَةً عَنْهُ وَطُرُقَهَا مُعَسَّرَةً عَلَيْهِ، وَهُوَ لَا يَعْلَمُ مِنْ أَيْنَ أُتِيَ؟Sungguh mengherankan! Bagaimana seorang hamba bisa merasakan bahwa pintu-pintu kebaikan dan kemaslahatan tertutup baginya, serta jalannya terasa penuh kesulitan, namun ia tidak menyadari dari mana asal kesulitan itu datang? (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa‘, hlm. 85-86). Bahasan ini bisa diperoleh dari buku Dosa itu Candu (Penerbit Rumaysho). Islam mengajarkan agar seorang muslim memperbaiki sebab sebelum sibuk mengatasi akibat. Langkah Kelima: Bermusyawarah dengan Orang yang TepatAllah Ta’ala berfirman,وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ“Bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali ‘Imran: 159)Tidak semua masalah harus dipikul sendirian. Mintalah nasihat kepada orang tua, guru, ulama, atau ahli yang amanah sesuai bidangnya. Musyawarah membuka peluang untuk melihat solusi yang mungkin luput dari pandangan kita.Baca juga: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Masih Menerima Masukan Pemilihan Tempat Saat Perang Badar dari Al-Hubab bin Al-Mundzir Langkah Keenam: Tempuh Semua Sebab yang Dibenarkan SyariatInilah inti terbesar problem solving dalam Islam.Allah Ta’ala berfirman,فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ“Apabila engkau telah bertekad maka bertawakallah kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 159)Perhatikan. Tawakal datang setelah ikhtiar.Nabi ﷺ juga bersabda,اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ“Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah.” (HR. Tirmidzi)Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,وَلَا بُدَّ مَعَ هَذَا الِاعْتِمَادِ مِنْ مُبَاشَرَةِ الْأَسْبَابِ، وَإِلَّا كَانَ مُعَطِّلًا لِلْأَمْرِ وَالْحِكْمَةِ وَالشَّرْعِ، فَلَا يَجْعَلِ الْعَبْدُ عَجْزَهُ تَوَكُّلًا، وَلَا تَوَكُّلَهُ عَجْزًا. “Harus disertai dengan mengambil sebab-sebab. Jika tidak, berarti ia telah menelantarkan perintah, hikmah, dan syariat. Janganlah seseorang menjadikan kelemahannya sebagai tawakal, dan jangan pula menjadikan tawakalnya sebagai alasan untuk tidak berusaha.” Langkah Ketujuh: Bersabar dan Istiqamah Menjalankan SolusiBanyak orang memiliki rencana bagus, tetapi berhenti di tengah jalan.Allah Ta’ala berfirman,وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ“Bersabarlah, dan kesabaranmu hanyalah dengan pertolongan Allah.” (QS. An-Nahl: 127)Problem solving bukan selesai saat menemukan solusi. Tetapi saat solusi dijalankan dengan istiqamah. Langkah Kedelapan: Serahkan Hasilnya kepada AllahSetelah semua sebab ditempuh, hasilnya diserahkan kepada Allah.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertawakal kepada Allah maka Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Ingatlah bahwa hasil tidak selalu langsung sesuai keinginan manusia. Yang dituntut adalah kesempurnaan ikhtiar dan ketulusan tawakal; adapun hasil akhirnya berada di bawah hikmah dan ketetapan Allah. PenutupDi era serba instan, banyak orang menginginkan jalan keluar yang cepat, tetapi enggan memperbaiki akar persoalannya. Padahal Islam mengajarkan bahwa penyelesaian masalah dimulai dari memperbaiki hati, memperbaiki diri, kemudian memperbaiki ikhtiar. Jangan biarkan emosi mengalahkan hikmah, dan jangan pula menjadikan tawakal sebagai alasan untuk berhenti berusaha. Semoga setiap masalah yang Allah takdirkan menjadi jalan untuk semakin mengenal-Nya, memperbaiki diri, dan menguatkan keimanan. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.Allāhumma aṣliḥ lanā dīnanā alladzī huwa ‘iṣmatu amrinā, wa aṣliḥ lanā dunyānā allatī fīhā ma’āsyunā, wa aṣliḥ lanā ākhiratanā allatī fīhā ma’ādunā, waj’alil-ḥayāta ziyādatan lanā fī kulli khair, waj’alil-mauta rāḥatan lanā min kulli syarr.Ya Allah, perbaikilah agama kami, karena agama itulah yang menjaga seluruh urusan kami. Perbaikilah kehidupan dunia kami, tempat kami menjalani kehidupan. Perbaikilah akhirat kami, tempat kami kembali. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan, dan jadikanlah kematian sebagai istirahat bagi kami dari segala keburukan. —– Malam Rabu, 28 Juli 2026Perjalanan dari @ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdoa Dzikir ikhtiar menyelesaikan masalah motivasi Islam muhasabah musyawarah problem solving islami sabar tawakal

Cara Menyelesaikan Masalah: 8 Langkah Problem Solving Islami

Semua orang pasti pernah menghadapi masalah, baik berupa utang, konflik keluarga, perselisihan bisnis, maupun musibah lainnya. Sayangnya, banyak orang terburu-buru mencari jalan keluar sebelum mampu memahami letak persoalan yang sebenarnya. Islam mengajarkan bahwa penyelesaian masalah tidak hanya membutuhkan kecerdasan berpikir, tetapi juga ketenangan hati, kejujuran, muhasabah, ikhtiar yang benar, dan tawakal kepada Allah. Inilah delapan langkah problem solving Islami yang dapat menjadi panduan seorang muslim dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.  Daftar Isi tutup 1. Langkah Pertama: Tenangkan Hati Sebelum Mencari Solusi 2. Langkah Kedua: Uraikan Masalah dengan Jujur 3. Langkah Ketiga: Muhasabah dan Mengoreksi Diri 4. Langkah Keempat: Cari Akar Masalah, Jangan Hanya Mengobati Akibatnya 5. Langkah Kelima: Bermusyawarah dengan Orang yang Tepat 6. Langkah Keenam: Tempuh Semua Sebab yang Dibenarkan Syariat 7. Langkah Ketujuh: Bersabar dan Istiqamah Menjalankan Solusi 8. Langkah Kedelapan: Serahkan Hasilnya kepada Allah 9. Penutup  Langkah Pertama: Tenangkan Hati Sebelum Mencari SolusiInilah langkah pertama yang sering dilupakan.Orang yang sedang marah, panik, takut, atau sedih biasanya tidak mampu melihat masalah dengan jernih.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Allah Ta’ala juga berfirman,أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Maka sebelum memikirkan solusi, tenangkan hati terlebih dahulu dengan shalat, tilawah Al-Qur’an, dzikir, doa, dan tawakal.Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan,التَّوَكُّلُ جَامِعٌ لِمَقَامِ التَّفْوِيضِ وَالِاسْتِعَانَةِ وَالرِّضَا، لَا يَتَصَوَّرُ وُجُودُهُ بِدُونِهَا.“Hakikat tawakal merupakan perpaduan antara menyerahkan seluruh urusan kepada Allah, memohon pertolongan hanya kepada-Nya, dan menerima dengan lapang dada segala keputusan-Nya. Tanpa ketiga hal ini, tawakal yang sesungguhnya tidak akan terwujud.” (Sumber: Islamweb)Dałam tawakal berarti ada tiga hal:التَّفْوِيض (at-tafwīḍ): menyerahkan seluruh urusan dan hasil akhirnya kepada Allah.الِاسْتِعَانَة (al-isti‘ānah): memohon pertolongan kepada Allah dalam setiap ikhtiar.الرِّضَا (ar-riḍā): menerima dengan lapang dada segala ketetapan Allah setelah berusaha.Kalimat ini menunjukkan bahwa tawakal bukan sekadar pasrah, tetapi merupakan gabungan dari tiga amalan hati: berserah diri kepada Allah, bergantung kepada pertolongan-Nya, dan ridha terhadap apa pun keputusan-Nya setelah menempuh sebab-sebab yang dibenarkan syariat. Langkah Kedua: Uraikan Masalah dengan JujurSering kali yang kita hadapi bukan masalah sebenarnya.Misalnya berkata, “Saya hancur.”Padahal yang benar adalah:Saya memiliki utang Rp500 juta.Saya berselisih dengan saudara.Bisnis saya rugi.Semakin jelas masalah, semakin dekat kepada solusi.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ“Wahai orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah: 119)Kejujuran kepada diri sendiri merupakan awal dari setiap perbaikan.Baca juga: Jujur yang Menyelamatkan, Pelajaran Besar dari Tobat Ka’ab bin Malik Langkah Ketiga: Muhasabah dan Mengoreksi DiriAllah Ta’ala berfirman,وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ“Musibah yang menimpa kalian adalah akibat perbuatan tangan kalian sendiri.” (QS. Asy-Syura: 30)Bukan berarti setiap musibah pasti hukuman, tetapi ayat ini mengajarkan agar kita terlebih dahulu mengoreksi diri.Tanyakan:Apa kesalahan saya?Apa sebab yang mengantarkan masalah ini?Apa yang harus saya perbaiki?Muhasabah membantu seorang muslim memperbaiki dirinya sebelum sibuk menyalahkan orang lain.Baca juga: Musibah Datang Karena Maksiat dan Dosa Langkah Keempat: Cari Akar Masalah, Jangan Hanya Mengobati AkibatnyaMisalnya: Utang bukan selalu masalah utama.Bisa jadi penyebabnya adalah:boros,kurang ilmu,salah memilih partner,malas bekerja,atau bahkan maksiat yang menghilangkan keberkahan.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah,تَعْسِيرُ أُمُورِهِ عَلَيْهِ، فَلَا يَتَوَجَّهُ لِأَمْرٍ إِلَّا يَجِدُهُ مُغْلَقًا دُونَهُ أَوْ مُتَعَسِّرًا عَلَيْهِ، وَهَذَا كَمَا أَنَّ مَنْ اتَّقَى اللَّهَ جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا، فَمَنْ عَطَّلَ التَّقْوَى جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ عُسْرًا، Kesulitan yang menimpa seseorang sering kali terlihat dalam urusan-urusannya yang menjadi serba sulit. Setiap kali ia mencoba menghadapi suatu perkara, ia mendapati jalannya tertutup atau penuh hambatan. Sebagaimana orang yang bertakwa kepada Allah akan dimudahkan dalam urusannya, maka siapa yang meninggalkan takwa akan mendapati urusannya menjadi sulit.وَيَا لَلَّهِ الْعَجَبُ! كَيْفَ يَجِدُ الْعَبْدُ أَبْوَابَ الْخَيْرِ وَالْمَصَالِحِ مَسْدُودَةً عَنْهُ وَطُرُقَهَا مُعَسَّرَةً عَلَيْهِ، وَهُوَ لَا يَعْلَمُ مِنْ أَيْنَ أُتِيَ؟Sungguh mengherankan! Bagaimana seorang hamba bisa merasakan bahwa pintu-pintu kebaikan dan kemaslahatan tertutup baginya, serta jalannya terasa penuh kesulitan, namun ia tidak menyadari dari mana asal kesulitan itu datang? (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa‘, hlm. 85-86). Bahasan ini bisa diperoleh dari buku Dosa itu Candu (Penerbit Rumaysho). Islam mengajarkan agar seorang muslim memperbaiki sebab sebelum sibuk mengatasi akibat. Langkah Kelima: Bermusyawarah dengan Orang yang TepatAllah Ta’ala berfirman,وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ“Bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali ‘Imran: 159)Tidak semua masalah harus dipikul sendirian. Mintalah nasihat kepada orang tua, guru, ulama, atau ahli yang amanah sesuai bidangnya. Musyawarah membuka peluang untuk melihat solusi yang mungkin luput dari pandangan kita.Baca juga: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Masih Menerima Masukan Pemilihan Tempat Saat Perang Badar dari Al-Hubab bin Al-Mundzir Langkah Keenam: Tempuh Semua Sebab yang Dibenarkan SyariatInilah inti terbesar problem solving dalam Islam.Allah Ta’ala berfirman,فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ“Apabila engkau telah bertekad maka bertawakallah kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 159)Perhatikan. Tawakal datang setelah ikhtiar.Nabi ﷺ juga bersabda,اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ“Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah.” (HR. Tirmidzi)Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,وَلَا بُدَّ مَعَ هَذَا الِاعْتِمَادِ مِنْ مُبَاشَرَةِ الْأَسْبَابِ، وَإِلَّا كَانَ مُعَطِّلًا لِلْأَمْرِ وَالْحِكْمَةِ وَالشَّرْعِ، فَلَا يَجْعَلِ الْعَبْدُ عَجْزَهُ تَوَكُّلًا، وَلَا تَوَكُّلَهُ عَجْزًا. “Harus disertai dengan mengambil sebab-sebab. Jika tidak, berarti ia telah menelantarkan perintah, hikmah, dan syariat. Janganlah seseorang menjadikan kelemahannya sebagai tawakal, dan jangan pula menjadikan tawakalnya sebagai alasan untuk tidak berusaha.” Langkah Ketujuh: Bersabar dan Istiqamah Menjalankan SolusiBanyak orang memiliki rencana bagus, tetapi berhenti di tengah jalan.Allah Ta’ala berfirman,وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ“Bersabarlah, dan kesabaranmu hanyalah dengan pertolongan Allah.” (QS. An-Nahl: 127)Problem solving bukan selesai saat menemukan solusi. Tetapi saat solusi dijalankan dengan istiqamah. Langkah Kedelapan: Serahkan Hasilnya kepada AllahSetelah semua sebab ditempuh, hasilnya diserahkan kepada Allah.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertawakal kepada Allah maka Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Ingatlah bahwa hasil tidak selalu langsung sesuai keinginan manusia. Yang dituntut adalah kesempurnaan ikhtiar dan ketulusan tawakal; adapun hasil akhirnya berada di bawah hikmah dan ketetapan Allah. PenutupDi era serba instan, banyak orang menginginkan jalan keluar yang cepat, tetapi enggan memperbaiki akar persoalannya. Padahal Islam mengajarkan bahwa penyelesaian masalah dimulai dari memperbaiki hati, memperbaiki diri, kemudian memperbaiki ikhtiar. Jangan biarkan emosi mengalahkan hikmah, dan jangan pula menjadikan tawakal sebagai alasan untuk berhenti berusaha. Semoga setiap masalah yang Allah takdirkan menjadi jalan untuk semakin mengenal-Nya, memperbaiki diri, dan menguatkan keimanan. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.Allāhumma aṣliḥ lanā dīnanā alladzī huwa ‘iṣmatu amrinā, wa aṣliḥ lanā dunyānā allatī fīhā ma’āsyunā, wa aṣliḥ lanā ākhiratanā allatī fīhā ma’ādunā, waj’alil-ḥayāta ziyādatan lanā fī kulli khair, waj’alil-mauta rāḥatan lanā min kulli syarr.Ya Allah, perbaikilah agama kami, karena agama itulah yang menjaga seluruh urusan kami. Perbaikilah kehidupan dunia kami, tempat kami menjalani kehidupan. Perbaikilah akhirat kami, tempat kami kembali. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan, dan jadikanlah kematian sebagai istirahat bagi kami dari segala keburukan. —– Malam Rabu, 28 Juli 2026Perjalanan dari @ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdoa Dzikir ikhtiar menyelesaikan masalah motivasi Islam muhasabah musyawarah problem solving islami sabar tawakal
Semua orang pasti pernah menghadapi masalah, baik berupa utang, konflik keluarga, perselisihan bisnis, maupun musibah lainnya. Sayangnya, banyak orang terburu-buru mencari jalan keluar sebelum mampu memahami letak persoalan yang sebenarnya. Islam mengajarkan bahwa penyelesaian masalah tidak hanya membutuhkan kecerdasan berpikir, tetapi juga ketenangan hati, kejujuran, muhasabah, ikhtiar yang benar, dan tawakal kepada Allah. Inilah delapan langkah problem solving Islami yang dapat menjadi panduan seorang muslim dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.  Daftar Isi tutup 1. Langkah Pertama: Tenangkan Hati Sebelum Mencari Solusi 2. Langkah Kedua: Uraikan Masalah dengan Jujur 3. Langkah Ketiga: Muhasabah dan Mengoreksi Diri 4. Langkah Keempat: Cari Akar Masalah, Jangan Hanya Mengobati Akibatnya 5. Langkah Kelima: Bermusyawarah dengan Orang yang Tepat 6. Langkah Keenam: Tempuh Semua Sebab yang Dibenarkan Syariat 7. Langkah Ketujuh: Bersabar dan Istiqamah Menjalankan Solusi 8. Langkah Kedelapan: Serahkan Hasilnya kepada Allah 9. Penutup  Langkah Pertama: Tenangkan Hati Sebelum Mencari SolusiInilah langkah pertama yang sering dilupakan.Orang yang sedang marah, panik, takut, atau sedih biasanya tidak mampu melihat masalah dengan jernih.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Allah Ta’ala juga berfirman,أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Maka sebelum memikirkan solusi, tenangkan hati terlebih dahulu dengan shalat, tilawah Al-Qur’an, dzikir, doa, dan tawakal.Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan,التَّوَكُّلُ جَامِعٌ لِمَقَامِ التَّفْوِيضِ وَالِاسْتِعَانَةِ وَالرِّضَا، لَا يَتَصَوَّرُ وُجُودُهُ بِدُونِهَا.“Hakikat tawakal merupakan perpaduan antara menyerahkan seluruh urusan kepada Allah, memohon pertolongan hanya kepada-Nya, dan menerima dengan lapang dada segala keputusan-Nya. Tanpa ketiga hal ini, tawakal yang sesungguhnya tidak akan terwujud.” (Sumber: Islamweb)Dałam tawakal berarti ada tiga hal:التَّفْوِيض (at-tafwīḍ): menyerahkan seluruh urusan dan hasil akhirnya kepada Allah.الِاسْتِعَانَة (al-isti‘ānah): memohon pertolongan kepada Allah dalam setiap ikhtiar.الرِّضَا (ar-riḍā): menerima dengan lapang dada segala ketetapan Allah setelah berusaha.Kalimat ini menunjukkan bahwa tawakal bukan sekadar pasrah, tetapi merupakan gabungan dari tiga amalan hati: berserah diri kepada Allah, bergantung kepada pertolongan-Nya, dan ridha terhadap apa pun keputusan-Nya setelah menempuh sebab-sebab yang dibenarkan syariat. Langkah Kedua: Uraikan Masalah dengan JujurSering kali yang kita hadapi bukan masalah sebenarnya.Misalnya berkata, “Saya hancur.”Padahal yang benar adalah:Saya memiliki utang Rp500 juta.Saya berselisih dengan saudara.Bisnis saya rugi.Semakin jelas masalah, semakin dekat kepada solusi.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ“Wahai orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah: 119)Kejujuran kepada diri sendiri merupakan awal dari setiap perbaikan.Baca juga: Jujur yang Menyelamatkan, Pelajaran Besar dari Tobat Ka’ab bin Malik Langkah Ketiga: Muhasabah dan Mengoreksi DiriAllah Ta’ala berfirman,وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ“Musibah yang menimpa kalian adalah akibat perbuatan tangan kalian sendiri.” (QS. Asy-Syura: 30)Bukan berarti setiap musibah pasti hukuman, tetapi ayat ini mengajarkan agar kita terlebih dahulu mengoreksi diri.Tanyakan:Apa kesalahan saya?Apa sebab yang mengantarkan masalah ini?Apa yang harus saya perbaiki?Muhasabah membantu seorang muslim memperbaiki dirinya sebelum sibuk menyalahkan orang lain.Baca juga: Musibah Datang Karena Maksiat dan Dosa Langkah Keempat: Cari Akar Masalah, Jangan Hanya Mengobati AkibatnyaMisalnya: Utang bukan selalu masalah utama.Bisa jadi penyebabnya adalah:boros,kurang ilmu,salah memilih partner,malas bekerja,atau bahkan maksiat yang menghilangkan keberkahan.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah,تَعْسِيرُ أُمُورِهِ عَلَيْهِ، فَلَا يَتَوَجَّهُ لِأَمْرٍ إِلَّا يَجِدُهُ مُغْلَقًا دُونَهُ أَوْ مُتَعَسِّرًا عَلَيْهِ، وَهَذَا كَمَا أَنَّ مَنْ اتَّقَى اللَّهَ جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا، فَمَنْ عَطَّلَ التَّقْوَى جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ عُسْرًا، Kesulitan yang menimpa seseorang sering kali terlihat dalam urusan-urusannya yang menjadi serba sulit. Setiap kali ia mencoba menghadapi suatu perkara, ia mendapati jalannya tertutup atau penuh hambatan. Sebagaimana orang yang bertakwa kepada Allah akan dimudahkan dalam urusannya, maka siapa yang meninggalkan takwa akan mendapati urusannya menjadi sulit.وَيَا لَلَّهِ الْعَجَبُ! كَيْفَ يَجِدُ الْعَبْدُ أَبْوَابَ الْخَيْرِ وَالْمَصَالِحِ مَسْدُودَةً عَنْهُ وَطُرُقَهَا مُعَسَّرَةً عَلَيْهِ، وَهُوَ لَا يَعْلَمُ مِنْ أَيْنَ أُتِيَ؟Sungguh mengherankan! Bagaimana seorang hamba bisa merasakan bahwa pintu-pintu kebaikan dan kemaslahatan tertutup baginya, serta jalannya terasa penuh kesulitan, namun ia tidak menyadari dari mana asal kesulitan itu datang? (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa‘, hlm. 85-86). Bahasan ini bisa diperoleh dari buku Dosa itu Candu (Penerbit Rumaysho). Islam mengajarkan agar seorang muslim memperbaiki sebab sebelum sibuk mengatasi akibat. Langkah Kelima: Bermusyawarah dengan Orang yang TepatAllah Ta’ala berfirman,وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ“Bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali ‘Imran: 159)Tidak semua masalah harus dipikul sendirian. Mintalah nasihat kepada orang tua, guru, ulama, atau ahli yang amanah sesuai bidangnya. Musyawarah membuka peluang untuk melihat solusi yang mungkin luput dari pandangan kita.Baca juga: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Masih Menerima Masukan Pemilihan Tempat Saat Perang Badar dari Al-Hubab bin Al-Mundzir Langkah Keenam: Tempuh Semua Sebab yang Dibenarkan SyariatInilah inti terbesar problem solving dalam Islam.Allah Ta’ala berfirman,فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ“Apabila engkau telah bertekad maka bertawakallah kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 159)Perhatikan. Tawakal datang setelah ikhtiar.Nabi ﷺ juga bersabda,اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ“Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah.” (HR. Tirmidzi)Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,وَلَا بُدَّ مَعَ هَذَا الِاعْتِمَادِ مِنْ مُبَاشَرَةِ الْأَسْبَابِ، وَإِلَّا كَانَ مُعَطِّلًا لِلْأَمْرِ وَالْحِكْمَةِ وَالشَّرْعِ، فَلَا يَجْعَلِ الْعَبْدُ عَجْزَهُ تَوَكُّلًا، وَلَا تَوَكُّلَهُ عَجْزًا. “Harus disertai dengan mengambil sebab-sebab. Jika tidak, berarti ia telah menelantarkan perintah, hikmah, dan syariat. Janganlah seseorang menjadikan kelemahannya sebagai tawakal, dan jangan pula menjadikan tawakalnya sebagai alasan untuk tidak berusaha.” Langkah Ketujuh: Bersabar dan Istiqamah Menjalankan SolusiBanyak orang memiliki rencana bagus, tetapi berhenti di tengah jalan.Allah Ta’ala berfirman,وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ“Bersabarlah, dan kesabaranmu hanyalah dengan pertolongan Allah.” (QS. An-Nahl: 127)Problem solving bukan selesai saat menemukan solusi. Tetapi saat solusi dijalankan dengan istiqamah. Langkah Kedelapan: Serahkan Hasilnya kepada AllahSetelah semua sebab ditempuh, hasilnya diserahkan kepada Allah.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertawakal kepada Allah maka Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Ingatlah bahwa hasil tidak selalu langsung sesuai keinginan manusia. Yang dituntut adalah kesempurnaan ikhtiar dan ketulusan tawakal; adapun hasil akhirnya berada di bawah hikmah dan ketetapan Allah. PenutupDi era serba instan, banyak orang menginginkan jalan keluar yang cepat, tetapi enggan memperbaiki akar persoalannya. Padahal Islam mengajarkan bahwa penyelesaian masalah dimulai dari memperbaiki hati, memperbaiki diri, kemudian memperbaiki ikhtiar. Jangan biarkan emosi mengalahkan hikmah, dan jangan pula menjadikan tawakal sebagai alasan untuk berhenti berusaha. Semoga setiap masalah yang Allah takdirkan menjadi jalan untuk semakin mengenal-Nya, memperbaiki diri, dan menguatkan keimanan. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.Allāhumma aṣliḥ lanā dīnanā alladzī huwa ‘iṣmatu amrinā, wa aṣliḥ lanā dunyānā allatī fīhā ma’āsyunā, wa aṣliḥ lanā ākhiratanā allatī fīhā ma’ādunā, waj’alil-ḥayāta ziyādatan lanā fī kulli khair, waj’alil-mauta rāḥatan lanā min kulli syarr.Ya Allah, perbaikilah agama kami, karena agama itulah yang menjaga seluruh urusan kami. Perbaikilah kehidupan dunia kami, tempat kami menjalani kehidupan. Perbaikilah akhirat kami, tempat kami kembali. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan, dan jadikanlah kematian sebagai istirahat bagi kami dari segala keburukan. —– Malam Rabu, 28 Juli 2026Perjalanan dari @ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdoa Dzikir ikhtiar menyelesaikan masalah motivasi Islam muhasabah musyawarah problem solving islami sabar tawakal


Semua orang pasti pernah menghadapi masalah, baik berupa utang, konflik keluarga, perselisihan bisnis, maupun musibah lainnya. Sayangnya, banyak orang terburu-buru mencari jalan keluar sebelum mampu memahami letak persoalan yang sebenarnya. Islam mengajarkan bahwa penyelesaian masalah tidak hanya membutuhkan kecerdasan berpikir, tetapi juga ketenangan hati, kejujuran, muhasabah, ikhtiar yang benar, dan tawakal kepada Allah. Inilah delapan langkah problem solving Islami yang dapat menjadi panduan seorang muslim dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.  Daftar Isi tutup 1. Langkah Pertama: Tenangkan Hati Sebelum Mencari Solusi 2. Langkah Kedua: Uraikan Masalah dengan Jujur 3. Langkah Ketiga: Muhasabah dan Mengoreksi Diri 4. Langkah Keempat: Cari Akar Masalah, Jangan Hanya Mengobati Akibatnya 5. Langkah Kelima: Bermusyawarah dengan Orang yang Tepat 6. Langkah Keenam: Tempuh Semua Sebab yang Dibenarkan Syariat 7. Langkah Ketujuh: Bersabar dan Istiqamah Menjalankan Solusi 8. Langkah Kedelapan: Serahkan Hasilnya kepada Allah 9. Penutup  Langkah Pertama: Tenangkan Hati Sebelum Mencari SolusiInilah langkah pertama yang sering dilupakan.Orang yang sedang marah, panik, takut, atau sedih biasanya tidak mampu melihat masalah dengan jernih.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Allah Ta’ala juga berfirman,أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Maka sebelum memikirkan solusi, tenangkan hati terlebih dahulu dengan shalat, tilawah Al-Qur’an, dzikir, doa, dan tawakal.Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan,التَّوَكُّلُ جَامِعٌ لِمَقَامِ التَّفْوِيضِ وَالِاسْتِعَانَةِ وَالرِّضَا، لَا يَتَصَوَّرُ وُجُودُهُ بِدُونِهَا.“Hakikat tawakal merupakan perpaduan antara menyerahkan seluruh urusan kepada Allah, memohon pertolongan hanya kepada-Nya, dan menerima dengan lapang dada segala keputusan-Nya. Tanpa ketiga hal ini, tawakal yang sesungguhnya tidak akan terwujud.” (Sumber: Islamweb)Dałam tawakal berarti ada tiga hal:التَّفْوِيض (at-tafwīḍ): menyerahkan seluruh urusan dan hasil akhirnya kepada Allah.الِاسْتِعَانَة (al-isti‘ānah): memohon pertolongan kepada Allah dalam setiap ikhtiar.الرِّضَا (ar-riḍā): menerima dengan lapang dada segala ketetapan Allah setelah berusaha.Kalimat ini menunjukkan bahwa tawakal bukan sekadar pasrah, tetapi merupakan gabungan dari tiga amalan hati: berserah diri kepada Allah, bergantung kepada pertolongan-Nya, dan ridha terhadap apa pun keputusan-Nya setelah menempuh sebab-sebab yang dibenarkan syariat. Langkah Kedua: Uraikan Masalah dengan JujurSering kali yang kita hadapi bukan masalah sebenarnya.Misalnya berkata, “Saya hancur.”Padahal yang benar adalah:Saya memiliki utang Rp500 juta.Saya berselisih dengan saudara.Bisnis saya rugi.Semakin jelas masalah, semakin dekat kepada solusi.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ“Wahai orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah: 119)Kejujuran kepada diri sendiri merupakan awal dari setiap perbaikan.Baca juga: Jujur yang Menyelamatkan, Pelajaran Besar dari Tobat Ka’ab bin Malik Langkah Ketiga: Muhasabah dan Mengoreksi DiriAllah Ta’ala berfirman,وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ“Musibah yang menimpa kalian adalah akibat perbuatan tangan kalian sendiri.” (QS. Asy-Syura: 30)Bukan berarti setiap musibah pasti hukuman, tetapi ayat ini mengajarkan agar kita terlebih dahulu mengoreksi diri.Tanyakan:Apa kesalahan saya?Apa sebab yang mengantarkan masalah ini?Apa yang harus saya perbaiki?Muhasabah membantu seorang muslim memperbaiki dirinya sebelum sibuk menyalahkan orang lain.Baca juga: Musibah Datang Karena Maksiat dan Dosa Langkah Keempat: Cari Akar Masalah, Jangan Hanya Mengobati AkibatnyaMisalnya: Utang bukan selalu masalah utama.Bisa jadi penyebabnya adalah:boros,kurang ilmu,salah memilih partner,malas bekerja,atau bahkan maksiat yang menghilangkan keberkahan.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah,تَعْسِيرُ أُمُورِهِ عَلَيْهِ، فَلَا يَتَوَجَّهُ لِأَمْرٍ إِلَّا يَجِدُهُ مُغْلَقًا دُونَهُ أَوْ مُتَعَسِّرًا عَلَيْهِ، وَهَذَا كَمَا أَنَّ مَنْ اتَّقَى اللَّهَ جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا، فَمَنْ عَطَّلَ التَّقْوَى جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ عُسْرًا، Kesulitan yang menimpa seseorang sering kali terlihat dalam urusan-urusannya yang menjadi serba sulit. Setiap kali ia mencoba menghadapi suatu perkara, ia mendapati jalannya tertutup atau penuh hambatan. Sebagaimana orang yang bertakwa kepada Allah akan dimudahkan dalam urusannya, maka siapa yang meninggalkan takwa akan mendapati urusannya menjadi sulit.وَيَا لَلَّهِ الْعَجَبُ! كَيْفَ يَجِدُ الْعَبْدُ أَبْوَابَ الْخَيْرِ وَالْمَصَالِحِ مَسْدُودَةً عَنْهُ وَطُرُقَهَا مُعَسَّرَةً عَلَيْهِ، وَهُوَ لَا يَعْلَمُ مِنْ أَيْنَ أُتِيَ؟Sungguh mengherankan! Bagaimana seorang hamba bisa merasakan bahwa pintu-pintu kebaikan dan kemaslahatan tertutup baginya, serta jalannya terasa penuh kesulitan, namun ia tidak menyadari dari mana asal kesulitan itu datang? (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa‘, hlm. 85-86). Bahasan ini bisa diperoleh dari buku Dosa itu Candu (Penerbit Rumaysho). Islam mengajarkan agar seorang muslim memperbaiki sebab sebelum sibuk mengatasi akibat. Langkah Kelima: Bermusyawarah dengan Orang yang TepatAllah Ta’ala berfirman,وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ“Bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali ‘Imran: 159)Tidak semua masalah harus dipikul sendirian. Mintalah nasihat kepada orang tua, guru, ulama, atau ahli yang amanah sesuai bidangnya. Musyawarah membuka peluang untuk melihat solusi yang mungkin luput dari pandangan kita.Baca juga: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Masih Menerima Masukan Pemilihan Tempat Saat Perang Badar dari Al-Hubab bin Al-Mundzir Langkah Keenam: Tempuh Semua Sebab yang Dibenarkan SyariatInilah inti terbesar problem solving dalam Islam.Allah Ta’ala berfirman,فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ“Apabila engkau telah bertekad maka bertawakallah kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 159)Perhatikan. Tawakal datang setelah ikhtiar.Nabi ﷺ juga bersabda,اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ“Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah.” (HR. Tirmidzi)Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,وَلَا بُدَّ مَعَ هَذَا الِاعْتِمَادِ مِنْ مُبَاشَرَةِ الْأَسْبَابِ، وَإِلَّا كَانَ مُعَطِّلًا لِلْأَمْرِ وَالْحِكْمَةِ وَالشَّرْعِ، فَلَا يَجْعَلِ الْعَبْدُ عَجْزَهُ تَوَكُّلًا، وَلَا تَوَكُّلَهُ عَجْزًا. “Harus disertai dengan mengambil sebab-sebab. Jika tidak, berarti ia telah menelantarkan perintah, hikmah, dan syariat. Janganlah seseorang menjadikan kelemahannya sebagai tawakal, dan jangan pula menjadikan tawakalnya sebagai alasan untuk tidak berusaha.” Langkah Ketujuh: Bersabar dan Istiqamah Menjalankan SolusiBanyak orang memiliki rencana bagus, tetapi berhenti di tengah jalan.Allah Ta’ala berfirman,وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ“Bersabarlah, dan kesabaranmu hanyalah dengan pertolongan Allah.” (QS. An-Nahl: 127)Problem solving bukan selesai saat menemukan solusi. Tetapi saat solusi dijalankan dengan istiqamah. Langkah Kedelapan: Serahkan Hasilnya kepada AllahSetelah semua sebab ditempuh, hasilnya diserahkan kepada Allah.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertawakal kepada Allah maka Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Ingatlah bahwa hasil tidak selalu langsung sesuai keinginan manusia. Yang dituntut adalah kesempurnaan ikhtiar dan ketulusan tawakal; adapun hasil akhirnya berada di bawah hikmah dan ketetapan Allah. PenutupDi era serba instan, banyak orang menginginkan jalan keluar yang cepat, tetapi enggan memperbaiki akar persoalannya. Padahal Islam mengajarkan bahwa penyelesaian masalah dimulai dari memperbaiki hati, memperbaiki diri, kemudian memperbaiki ikhtiar. Jangan biarkan emosi mengalahkan hikmah, dan jangan pula menjadikan tawakal sebagai alasan untuk berhenti berusaha. Semoga setiap masalah yang Allah takdirkan menjadi jalan untuk semakin mengenal-Nya, memperbaiki diri, dan menguatkan keimanan. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.Allāhumma aṣliḥ lanā dīnanā alladzī huwa ‘iṣmatu amrinā, wa aṣliḥ lanā dunyānā allatī fīhā ma’āsyunā, wa aṣliḥ lanā ākhiratanā allatī fīhā ma’ādunā, waj’alil-ḥayāta ziyādatan lanā fī kulli khair, waj’alil-mauta rāḥatan lanā min kulli syarr.Ya Allah, perbaikilah agama kami, karena agama itulah yang menjaga seluruh urusan kami. Perbaikilah kehidupan dunia kami, tempat kami menjalani kehidupan. Perbaikilah akhirat kami, tempat kami kembali. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan, dan jadikanlah kematian sebagai istirahat bagi kami dari segala keburukan. —– Malam Rabu, 28 Juli 2026Perjalanan dari @ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdoa Dzikir ikhtiar menyelesaikan masalah motivasi Islam muhasabah musyawarah problem solving islami sabar tawakal
Prev     Next